Ceritasilat Novel Online

Si Tangan Halilintar 2

Eps 2 Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo

Baca online Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo

Cersil Si Tangan Halilintar - Kho Ping Hoo.

Ouwyang Sin mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan sernua jurus maut golok emasnya, akan tetapi dia mengalami hal yang aneh dan payah juga harus mengejar ke manapun bayangan itu berkelebat.

Setiap kali diserang, bayangan itu lenyap dan tahu-tahu angin pukulan menyambar dari belakang, dari depan, dari atas, dan dari kanan kiri.

Dia merasa heran, kagum, akan tetapi juga penasaran.

Selama bertahun-tahun merajalela.

di dunia kang-ouw dengan goloknya, belum pernah dia bertemu tanding yang demikian gesitnya.

Dia mempercepat gerakan goloknya.

Namun, bagaikan mempermainkannya, gerakan Heng San ternyata lebih cepat lagi sehingga akhirnya serangan Ouwyang Sin hanya merupakan bacokan-bacokan ngawur saja karena bayangan itu seolah berada di mana-mana dan berubah banyak!

Thio-ciangkun dan Liok-tikoan merasa kagum sekali dan tak terasa lag1 mereka berdua bertepuk tangan memuji.

Belum habis tepukan tangan mereka, tiba-tiba terdengar keluhan Ouwyang Sin dan golok itu tahu-tahu telah ter1empar ke udara.

Agaknya golok itu akan menancap di langit-langit, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakan melayang ke atas dan dapat menangkap go1ok itu sebelum menancap di langit-langit ruangan lian-bun-thia itu.

Heng San melayang turun dan kakinya tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun ketika hinggap di atas lantai.

Heng San mengembalikan golok kepada Ouwyang Sin dan membungkuk.

Tanpa mengandung ejekan, melainkan dengan suara sungguh-sungguh dia berkata.

"Ouw yang-toako, terimalah kembali golokmu. harus kuakui bahwa permainan golokmu sangat hebat dan engkau pantas berjuluk Si Golok Emas!"

Ouwyang Sin menerima goloknya dan 'menghela napas pan jang.

"Sudahlah, jelas engkau bukan tandinganku, Lauw-te (adik Lauw)."

Thio-ciangkun dan Liok-tikoan merasa kagum dan memuji Heng San.

Bahkan para jagoan di situ juga merasa kagum sekali.

Ban Hok si Kerbang Belang yang menjadi jagoan nomor dua melihat betapa Ouwyang Sin dengan golok di tangan dipermainkan sedemikian oleh Heng San yang betangan kosong, merasa takluk dan maklum bahwa kepandaian silatnya yang hanya sedikit lebih tinggi daripada tingkat si golok emas, bukanlah lawan pemuda luar biasa itu.

Maka diapun berkata terus lerang kepada Thio-ciangkun.

"Ciangkun, terus terang saja saya mengaku bahwa tingkat kepandaian Sinkun Bu-tek Heng San benar-benar hebat dan masih jauh lebih tinggi dari pada kemampuan saya dan agaknya di antara kami para pembantu ciangkun tidak ada yang mampu mengalahkannya."

Thio-ciangkun mengangguk-anggukpuas. Akan tetapi Ui-bin-houw Lui Tiong, Si Harimau Muka Kuning tidak senang mendengar ini. Dia menjura kepada Thiociangkun dan berkata.

"Saudara Ban Hok sangat merendahkan diri sendiri. Biarpun kepandaian Sin-kun Bu-tek amat lihai, akan tetapi sebelum mencobanya sendiri, saya tentu menjadi penasaran juga. Bolehkah saya mengujinya, ciangkun?"

Thio-ciangkun tampak gembira sekali dan berkata kepada Heng San yang masih di tengah ruangan lian-bu-thia.

"Law-sicu, maukah engkau bermain sebentar dengan Lui-sicu?"

Heng San menjawab sambil memang ke arah Lui Tiong.

"Tentu saja saya sedia melayani Lui-toako."

Lui Tiong segera menggerakkan tubuh dan tubuh itu melesat dengan cepat melayang ke tengah lian-bu-thia dan ia berhadapan dengan Heng San.

t ini, Heng San maklum bahwa pertama yang menjadi jagoan Thio ini memiliki gin-kang.(ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat.

LuiTiong berkata kepada Heng San sambi1 menatap wajah yang tampan itu.

"Lauw-te sungguh mengagumkan. Masih begini muda sudah memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi. Ilmu silatmu selain lihai juga aneh sekali gerakannya. Bolehkah aku mengetahui dulu nama suhumu yang mulia?"

Dengan suara sederhana Heng San jawab.

"Suhuku berjuluk Pat-jiu Sin-kai"

Mendengar nama gurunya ini wajah Lui Tiong menjadi pucat dan tubuhnya agak gemetar. Dia mendengar pula seruan suara Thio-ciangkun.

"Apa? Si Pengemis Sakti Tangan Delapan?"

Heng San menoleh dan melihat betapa semua orang yang berada di situ, termasuk Thio-ciangkun dan para jagoannya, memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

Diam-diam dia merasa bangga sekali akan gurunya yang ternyata demikian terkenal dan besar wibawanya sehingga baru mendengar namanya sa ja membuat semua orang begitu terkejut!

"Aih, pantas sekali kalau begitu!

Tidak tahunya Lauw-sicu murid Pat-jiu Sin-kail Pantas begitu lihail"

Thiociangkun berkata lantang "Hayo, Lui-sicu, cobalah dia!"

Suaranya terdengar begitu gembira sekali.

"Marilah, Lauw-te!"kata Si Harimau Muka Kuning menantang.

"Saya telah siap, Lui-toako!"

Kata Heng San yang bersikap tenang namun dia waspada karena maklum bahwa ilmu lawan ini tentu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lawannya yang terdahulu.

"Hyaaatt!"

Lui Tiong menyerang dengan jurus pukulan Pai-in-jut-sui (Mendorong Awan Keluar Puncak).

Heng San mak1um akan kekuatan lawan.

Angin pukulan serangan itu amat kuat.

Maka diapun melayani dengan memainkan ilmu silat Lo Han Kun-hoat (Hmu Silat Orang Tua Gagah), yaitu ilmu silat aliran Siauw lim-pai, satu di antara banyak ilmu silat yang diajarkan Pat-jiu Sin-kai kepadanya.

Seperti ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai pada umumnya, Lo Han Kun-hoat ini gerakannya mantap dan kokoh sekali.

Tenyata ilmu silat Lui Tiong memang tangguh, namun kini dia bertemu lawan yang dapat mengimbanginya, baik dalam hal kecepatan maupun tenaga sakti.

Setelah mereka bertanding selama puluhan jurus, tahulah Heng San bahwa daiam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan lwe-kang (tenaga dalam) dia masih lebih unggul.

Maka dia segera mengubah gerakannya.

Kini dia mengerahkan gin-kang untuk bergerak lebih cepat dari lawan dan dia mulai menyerang sambi!

mengeluarkan ilmu silat Ngoheng Lian-huan Kun-hoat (IImu Silat Lima Unsur).

Lui Tiong terkejut sekali.

Dia melihat seolah bayangan tubuh lawan menjadi banyak dan mengeroyoknya.

Dia terdesak hebat dan hanya dapat mengelak dan menangkis sambil mundur berputaran di lian-bu-thia, sarna sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Para penonton hanya melihat bayangan Heng San seakan-akan terus mengejar ke manapun tubuh Lui Tiong bergerak.

Lui Tiong sudah mandi keringat dan napasnya mulai terengah.

Tiba-tiba bayangan itu melompat ke belakang dan tahu-tahu Heng San telah berdiri tiga tombak jauhnya dari Lui Tiong sambil menjura dan berkata.

"Lui-toako suka mengalah, terima kasih!"

Lui Tiong cepat memberi hormat.

"Lauw-te sungguh patut disebut Kepalan Sakti Tanpa Tanding! Aku mengaku kalah!"

Ketika orang-orang yang melihat dengan teliti, baju di bagian dada Lui Tiong telah bolong karena robek oleh jari-jari tangan Heng San!

Seandainya mereka berkelahi sungguh-sungguh, tentu nyawa Lui Tiong takkan tertolong lagi!

Tentu saja kemenangan Heng San atas jagoan nomor satu itu membuat semua orang kagum.

Terutama sekali Thio-ciangkun.

Perwira tinggi ini merasa senang sekali dan sambi!

tersenyum lebar dia menghampiri Heng San dan menangkap lengan tangan kanan pemuda itu.

Sebagai seorang perwira yang berpangkat tinggi Thio Ci Gan ini bukan orang sembarangan.

Sebagai seorang panglima yang berkedudukan tinggi dan rnenjadi seorang kepercayaan kaisar, dia memiliki ilmu silat tinggi di samping ilmu berperang dan diapun terkenal cerdik bukan main.

Ketika dia memegang lengan Heng San sebenarnya bukan sekedar memegang biasa, melainkan tangannya itu memegang lengan dengan sebuah cengkeraman ilmu kim-na-jiu yang dapat membuat robek kulit daging dan mematahkan tulang!

Pegangannya itu ternyata merupakan ujian pula bagi Heng San.

Pemuda ini mengetahui pula akan hal itu maka diapun telah siap siaga.

Ketika jari-jari Thio-ciangkun menyentuh lengannya, panglima itu terkejut bukan main.

Kulit lengan pemuda itu telah berubah lemas dan lembut bagaikan kapas sehingga tidak mungkin dapat dicengkeram, sedangkan ilmu cengkeramannya itu khusus dipelajari untuk mencengkeram benda keras.

Batu karang akan hancur kalau terkena cengkeramannya.

Akan tetapi sekarang menghadapi benda lunak lembut seperti kapas, cengkeramannya tidak berdaya dan mati kutu!

"Ah, engkau benar-benar gagah perkasa, Lauw-sicu.

Mari, kita harus merayakan pertemuan kita yang menggembirakan ini dengan minum arak sepuasnya!"

Hidangan ditambah dan Thio-ciangkun bahkan memerintahkan pengawal mengundang gadis-gadis penyanyi dan penari yang muda-muda.

dan cantik jelita.

Mereka makan minum sambil mendengarkan suara merduu yang keluar dari bibir mungil itu dan menonton lenggang tubuh muda dengan lekuk yang menggairahkan itu.

Di tengah-tengah perjamuan itu, Thiobertanya kepada Heng San riwayatnya, orang tuanya dan Gurunya.

Heng San memberi keterangan secara singkat saja.

Ketika dia ditanya tentang suhunya, dia menjawab.

Saya telah lebih setengah tahun berpisah dari suhu dan sekarang saya tidak tahu di mana ada.nya orang tua itu.

Thio-ciangkun menghela napas panjang "Ah, sudah lama sekali aku mendengar akan nama besar Pat-jiu Sin-kai.

Betapa senangnya kalau aku dapat bertemu dengan orang tua yang luar biasa itu."

Sementara itu, arak terus mengalir ke perut Heng San sampai pemuda itu menjadi mabok dan terpaksa digotong ke dalam sebuah kamar yang indah dan sudah tersedia untuknya.

Sejak hari itu, Heng San menjadi jagoan nomor satu yang amat disayang dan dipercaya oleh Thio-ciangkun, bahkan dia dipercaya untuk menjadi pengawal pribadi pembesar militer itu yang bertugas menjaga keamanan pribadi Thio Ci Gan atau Thio-ciangkun.

Beberapa hari kemudian, pada pagi hari Thio-ciangkun memanggil Heng San, Ban Hok dan Ouwyang Sin datang menghadap.

Tiga orang jagoan ini cepat menghadap Thio-ciangkun yang duduk di ruangan dalam, sebuah ruangan tertutup dan menjadi tempat rahasia kalau pembesar itu mengadakan pembicaraan penting dengan para pembantunya.

Setelah tiga orang pembantu itu datang menghadap, hanya Lui Tiong yang tidak ikut dipanggil, Thio-ciangkun lalu berkata kepada Heng San.

"Aku mendengar dari seorang penyelidik bahwa di dalam hutan sebelah timur kota Bun-koan terdapat segerombolan perampok yang seringkali mengganggu para pelancong atau para pedagang yang kebetulan lewat di daerah itu. Bahkan sudah dua kali gerombolan itu berani masuk dan mengadakan kekacauan dan perampokan ke dalam kota Bun-koan. Mereka itu harus dibasmi sebelum mendatangkan malapetaka yang lebih besar lagi. Lauw-sicu, engkau kuserahi tugas ini. Ban-sicu dan Ouwyang-sicu hanya membantumu. Bawalah selosin perajurit pilihan dan berangkatlah sekarang juga. Hati-hati, kabarnya di pihak gerombolan itu ada seorang yang tinggi kepandaiannya."

Heng San menerima tugas itu dengan gembira karena baru pertama kali ini dia mendapat tugas yang penting.

'Dia menganggap tugas itu sebagai pekerjaan yang penting dan baik, karena bukankah dia harus membasmi segerombolan perampok yang ganas dan yang mengganggu keaman an kehidupan rakyat?

Tugas itu sesuai dengan watak pendekar yang ditanamkan ke dalam hatinya oleh gurunya, Pat-jiu Sin-kai.

Setelah membuat persiapan, mereka diberi pakaian berwarna biru merah oleh Thio-ciangkun sehingga dalam pakaian seragam itu mereka tampak gagah.

Tiga orang jagoan itu memilih dua belas orang perajurit yang gagah be rani dan limabelas orang.

itu masing-masing menunggang kuda pilihan.

Pasukan itu tampak gagah sekali.

"Pasukan di bawah pimpinan Lauw-sicu ini kuberi nama Pasukan Garuda Sakti"

Kata Thio-ciangkun dan Heng San merasa girang dan bangga sekali.

Pasukan yang terdiri dari lima belas orang itu segera berangkat, merupakan barisan berkuda yang rapi sehingga di sepanjang perjalanan mereka menjadi perhatian para penduduk.

Ban Hok bersikap sombong.

Pada setiap orang yang memandang barisan itu.

dia berseru lantang.

"Heii, lihatlah! lnilah barisan Garuda Sakti"

Melihat kelakuan kawannya yang bertubuh tinggi besar ini, Heng San hanya tersenyum geli.

Setelah melakukan perjalanan sehari penuh, tibalah mereka di kota Bun-koan.

Ketika mereka memasuki kota, tentu saja menimbulkan perhatian dan pembesar yang menjadi kepala daerah lalu mengadakan penyambutan.

Heng.

San memperlihatkan surat perintah dari Thio-ciangkun.

Membaca surat perintah ini, kepala daerah itu tergopohgopoh melakukan penyarnbutan dengan hormat, mengadakan perjamuan dan mempersilakan mereka bermalam di kamar-kamar pilihan di gedung kepala daerah.

Pada kesokan harinya, kepala daerah itu datang berkunjung dengan memakai kereta.

Heng San sebagal komandan pasukan menyambutnya dan pemuda ini merasa heran sekali ketika kepala daerah itu menyerahkan sebuah bungkusan atau kantung kepadanya dan berkata dengan merendah.

"Kami tidak dapat memberi apa-apa, hanya sedikit bingkisan ini harap 5icu terima dengan senang hati untuk menambah biaya sekadarnya. Tolong sampaikan kepada Thio-ciangkun bahwa kami di sini baik-baik saja dan sampaikan pula hormat karni kepada beliau."

Heng San terheran-heran sehingga tidak.cIapat berkata-kata.

Dia cepat membuka mulut kantung dan ternyata isinya potongan-potongan emas yang berkilauan.

Dia terkejut dan cepat dia membawa bungkusan itu berlari keluar mengejar kepala daerah yang sudah naik ke keretanya.

"Taijin, tunggu! Ini kantung uangmu jangan ditinggalkan. Saya tidak membutuhkan inil"

Kata Heng San dengan muka merah. Wajah kepala daerah itu terheran dan matanya terbelalak.

"Tapi..... tapi, sicu.....!"

"Terimalah kembali dan jangan bicara lagi!"

Kata Heng San sambil melempar buntalan atau kantung uang itu ke atas pangkuan pembesar itu yang kini menjadi pucat wajahnya.

Tanpa memperdulikannya lagi Heng San lalu membalikkan tubuh kembali ke dalam rumah di mana dia dan rombongan bermalam.

Dia melangkah lebar dan mukanya menjadi merah.

Dia masih bersungut-sungut dengan hati sebal ketika Ban Hok dan Ouwyang Sin menghampirinya dan bertanya mengapa pemuda itu tampaknya kesal dan marah.

"Ah, aku sedang kesal dan jengkel sekali melihat ulah kepala daerah brengsek itu!"

Kata Heng San marah.

"Dikiranya siapakah kita ini? Berani-beraninya dia mencoba untuk menyuap dengan sekantung emas! Hemm, pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini, kalau tidak demikian, apa perlunya dia mencoba untuk menyogok? Hemm, sekembali kita dari hutan menumpas gerombolan penjahat, pasti akan. kuselidiki hal inil"

Mendengar ini, Ban Hok dan Ouwyang Sin saling pandang lalu tertawa sehingga Heng San memandang heran.

"Mengapa kalian tertawa?"

Tanyanya tak senang.

"Lauw-te agaknya tidak mengerti akan keadaan jaman! Memang sudah demikianlah keadaan waktu sekarang, sudah lajim. Pemberian itu tidak berarti apa-apa, hanya sebagai tanda penghormatan belaka dari pejabat itu kepada kita yang menjadi utusan Panglima Thio. Bukan hal aneh, bahkan amat aneh kalau engkau menjadi marah dan menolaknya, Lauw-te!"

Kata Ban Hok. Heng San memandang kepada Ban Hok dengan mulut ternganga. Ini merupakan hal yang baru baginya.

"Akan tetapi apa perlunya? Mengapa dia harus memberi emas kepada kita? Bukankah kita tidak melakukan sesuatu untuknya?"

Kini Ouwyang Sin yang menjawabnya.

"Lauw-te, bukankah kita hendak pergi membasmi perampok yang mengaeau daerahnya? Setidak-tidaknya kita akan mengamankan kota ini dari gangguan perampok dan sudah lumrah kalau kepala daera.h itu hendak menyampaikan terima kasihnya dengan sediki t hadiah kepada kita, bukan?"

Ouwyang Sin memandang rekan mudanya itu dengan pandang mata rnenyesal mengapa Heng San menolak "rejeki nomplok itu.

Kini mengertilah Heng San akan tetapi dia tetap merasa penasaran dan tidak sudi menerima pemberian orang dengan cara demikian.

Ia menganggap hal itu merendahkan namanya dan menghinanya.

Pasukan Garuda Sakti harus menjadi pasukan yang terhormat, gagah, berjuang yang akan dibanggakan oleh Panglima Thio Ci Gan yang demikian bijaksana.

dan jujur!

Pada kesokan harinya setelah mendapat keterangan jelas di mana hutan yang dijadikan sarang gerombolan itu berada, Heng San mengajak pasukannya berangkat.

Setibanya di luar hutan, Heng San memesan kepada para anak buahnya agar jangan ada yang bergerak sebelum mendapat perintah darinya.

Kemudian Ban Hok yang bertubuh tinggi besar itu mengeluarkan sebuah bendera pemberian Panglima Thio, sehelai bendera berwarna kuning yang tersulam gambar sekor burung garuda berwarna merah kemasan.

"Gagah sekali gambar ini, gambar yang serupa benar dengan sulaman gambar garuda yang terpasang di dada mereka. Kemudian, sambil mengibarkan bendera itu, mereka menjalankan kuda perlahan memasuki hutan yang lebat itu. Belum lama pasukan berkuda itu bergerak memasuki hutan, Heng San berada paling depan, di belakangnya Ban Hok dan Ouwyang Sin berdampingan dan dua belas orang anak buah pasukan berbaris dua-dua, tiba-tiba dari kanan kiri menyambar beberapa batang anak panah yang kesemuanya tertuju kepada Heng San yang jelas merupakan pemimpin pasukan itu. Heng San mengeluarkan suara tawa mengejek dan kedua tangannya menangkapi enam batang anak panah yang menyambar dari kanan kiri itu. Sekali remas, enam batang anak panah itu patah-patah dan dia membuangnya ke atas tanah.

"Para pelepas anak panah, keluarlah sebagai laki-laki, jangan menjadi penyerang gelap seperti para pengecut!"

Bentak Heng San dengan suara lantang dan karena dia mengerahkan tenaga sakti, maka suaranya mengeluarkan gaung dan menggema di seluruh penjuru hutan.

Tiba-tiba hutan yang sunyi itu berubah hiruk-pikuk dengan suara gemuruh orang bersorak dan berteriak-teriak.

"Bunuh anjing-anjing kaisar! Basmi para pengkhianat bangsa!!"

Banyak bayangan orang berkelebat, berlompatan dari palik batang-batang pohon dan semak belukar.

Kurang lebih empat puluh orang anak buah gerombolan yang tampak bengis dan pakaiannya bermacam-macam itu mengepung pasukan Garuda Sakti, dikepalai dua orang pria muda yang bersenjata golok besar.

"Hei, siapakah kepala gerombolan di sini?"

Heng San-memajukan kudanya dan bertanya. Dua orang muda itu melompat ke depan. Seorang di antara mereka berseru.

"Kami berdua yang memimpin! Engkau komandan pasukan, pengkhianat tak tahu malu. Apa maksudmu membawa pasukan datang ke hutan ini?"

Heng San melihat bahwa dua orang kepala gerombolan itu masih muda, sekitar dua puluh tahun usianya dan tampak gagah, maka dalam hatinya dia merasa sayang sekali bahwa dua orang muda seperti itu terperosok rendah menjadi pemimpin gerombolan perampok "Kalian orang-orang muda yang gagah mengapa merendahkan diri menjadi perampok?

Tidak adakah jalan hidup yang lain yang lebih bersih dan sempurna untuk kalian tempuh?"

Heng San menegur dengan suara berwibawa. Kedua orang kepala gerombolan itu saling pandang lalu mereka tertawa geli.

"Ini namanya anjing kecil memberi nasehat kepada harimau! Kami orang-orang golongan liok-lim walau bagaimanapun masih mempunyai kejantanan dan semangat kepahlawanan, tidak seperti kamu yang bermuka tebal, sudah menjadi anjing pemerintah asing dan menggigit betis bangsa sendiri"

Heng San tidak mengerti akan maksud kata-kata itu.

Dia hanya menganggap bahwa kepala gerombolan itu bicara kasar sekali.

Karena beberapa kali mendengar dia dimaki anjing, dia menjadi marah lalu membentak nyaring.

"Kalau kalian sayang nyawa, lebih baik kalian bubarkan orang-orangmu dan kalian ikutlah kami menjadi tawanan, barangkali saja nyawa kalian akan diampunil"

"Anjing hina! Kematianmu sudah di depan mata masih barani mengoceh."

Teriak seorang diantara dua orang pemimpin gerombolan dan secepat kilat goloknya sudah menyambar dengan serangan kilat.

Anak buahnya yang melihat pemimpin mereka sudah muIai turun tangan, segera bergerak dan berteriak-teriak.

"Bunuh merekal Bunuh anjing-anjing penjilat kaisarl"

Dan merekapun lalu menyerbu dan menyerang pasukan Garuda Sakti.

Heng San dan dua orang rekanya, juga selosin perajurit Garuda Sakti sudah berlompatan turun dari atas pungung kuda dan merekapun menyambut serbuan para gerombolan itu dengan gagah.

Heng San bermaksud untuk menangkap atau membunuh dua orang pimpinan gerombolan itu lalu membujuk anak buahmereka agar menakluk dan menyadarkan mereka.

Akan tetapi dua orang rekannya Ban Hok dan Ouwyang Sin, mengamuk dengan hebat, merobohkan banyak anak buah gerombolan.

Juga selosin perajurit Garuda Sakti mengamuk dan biarpun jumlah musuh Jebih banyak, namun para prajurit pilihan ini jauh lebih tangguh dan sebentar saja banyak anggauta gerombolan berjatuhan terbabat senjata tajam.

Melihat ini, Heng San mempercepat gerakannya.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat di antara dua orang pimpinan gerombolan yang mengeroyoknya dan dua orang itu terpelanting roboh, tak rnampu bangkit kembali.

Setelah merobohkan dua orang pirnpinan gerombolan perampok itu, Heng San lalu berseru kepada para anak buahnya.

"Saudara-saudara, tahan dan berhenti menyerang!"

Akan tetapi mana dia mampu menahan arnukan para perajurit yang sudah keranjingan itu.

Mayat para anggauta gerornbolan berjatuhan, banjir darah.

di tempat itu dan akhirnya, lebih dari separuh jumlah gerombolan itu roboh tewas dan selebihnya lalu melarikan diri cerai berai ke dalam hutan lebat.

Ketika para perajurit Garuda Sakti hendak melakukan pengejaran, Heng San berteriak lantang, mengerahkan tenaga saktinya.

"Berhenti, jangan dikejar!"

Semua orang berhenti dan Heng San berkata kepada dua orang rekannya, didengar pula oleh selosin perajurit yang tidak ada yang cedera parah itu.

"Kita tidak mengenal hutan lebat ini, jangan kejar, kita dapat saja terjebak. Dua orang pimpinan mereka telah tewas dan sebagian besar merekapun sudah terbasmi, tentu sisanya tidak akan berani lagi mernbuat kekacauan. Kita kernbali ke Keng-koan!"

Kepala daerah kota Bun-koan yang sudah rnendengar akan hasil baik pasukan Garuda Sakti menumpas gerombolan, menyambut dengan penuh penghormatan.

Segera kepala daerah itu mengadakan pesta pora menyambut kemenangan pasukan itu di rumah yang disediakan untuk tempat bermalam mereka.

Akan tetapi, sejak keluar dari hutan, wajah Heng San tidak gernbira seperti kedua orang rekan dan anak buah pasukan.

Wajah pemuda itu muram.

Diam-diam dia merasa menyesal, bersedih dan menyayangkan bahwa dalam pertempuran itu pasukannya melakukan pembunuhan terhadap dua puluh orang lebih anak buah gerombolan.

Memang benar, ada kebanggaan dalam hatinya bahwa dia telah melaksanakan tugas pertama itu dengan hasil baik.

Gerombolan perampok yang suka mengganggu kehidupan rakyat telah dapat dibasminya, berarti dia sudah berjasa terhadap negara dan bangsa, telah menentang kejahatan dan melindungi yang lemah tertindas, yang di ganggu keamanan hidupnya, sesuai dengan watak pendekar seperti yang diceriterakan gurunya.

Akan tetapi dia merasa sedih memikirkan bahwa orang-orang yang dibunuh itu bukan lain adalah bangsanya sendiri.

Kini dia melihat penyambutan kepala daerah kota Bun-koan yang demikian hangat dan hormatnya, diam-diam dia merasa amat muak karena mengingat betapa pembesar itu berusaha menyuaonya dengan emas.

Ingin dia mendamprat dan mencaci, akan tetapi Ban Hok dan Ouw-yang Sin, dua orang rekannya, mencegah dan menyabarkan hatinya.

Dia hanya menyembunyikan diri dalam kamar, tidak mau ikut berpesta, membiarkan anak buah pasukan Garuda Sakti bersenang-senang menikmati pesta perayaan kemenangan yang diadakan untuk mereka.

Di dalam kamarnya, Heng San selalu membayangkan para perampok yang telah terbunuh.

Terutama sekali dia tidak dapat melupakan dua orang pimpinan gerombolan yang dengan gagah dan gigihnya melakukan perlawanan.

Pada kesokan harinya Heng San mengajak pasukannya pagi-pagi meninggalkan kota itu untuk kembali ke Kengkoan.

Pasukan Garuda Sakti yang hanya terdiri dari lima belas orang berikut pimpinan mereka itu menjalankan kuda mereka berbaris rapi dan gagah.

Wajah mereka, kecuali Heng San yang dudukBukan hanya karena mereka telah melaksanakan tugas dengan baik dan berhasil sehingga tentu akan mendapat pujian dari Thio-ciangkun, akan tetapi terutama karena di luar tahu Heng San, saku mereka telah dipenuhi emas dan perak oleh kepala daerah kota Ban-koan!

Seperti telah mereka duga dan harapkan, kedatangan pasukan kecil ini disambut oleh Panglima Thio Ci Gan sendiri dengan wajah berseri dan mulut tersenyum gembira.

"Lauw-sicu tentu lelah. Kami merasa girang sekali mendengar betapa engkau telah melaksanakan tugasmu dengan oaik sekall. Gerombolan dapat ditumpas dan tak seorangpun perajurit kita tewas. Silakan duduk, sicu."

Heng San diajak duduk di ruangan dalam dan dijamu minuman bersama Ban Hok dan Ouwyang Sin, sedangkan selosin perajurit Garuda Sakti diperkenankan mengaso dan minum-minum di ruangan beiakang.

Setelah mereka minum-minum, Thio-ciangkun bertanya tentang pelaksanaan tugas pertarna rnereka, Heng San rnenceritakan dengan sederhana bahwa gerombolan perarnpok telah dapat dibasrni, dua orang pirnpinan rnereka telah tewas.

Keterangan Heng San yang sederhana itu sering diganggu Ban Hok dan Ouwyang Sin yang dengan getol rnenceritakan jalannya pertempuran dengan nada bangga dan.

menonjolkan jasa-jasa mereka.

Thio-ciangkun menghela napas panjang dan berkata.

"Kalian bertiga dan pasukan kalian memang hebat dan jasa kalian besar. Hanya agak kusayangkan bahwa masih ada sisa anak buah gerombolan penjahat yang sempat melo1oskan diri dan tidak semuanya dapat dibunuh. Penjahat-penjahat macam itu kalau dapat lolos, tidak urung tentu akan membentuk gerombolan lain dan mengacau kembali di lain tempat."

"Sisa mereka meiarikan diri ke daiam hutan. Karena saya tidak mengenal daerah hutan lebat itu, saya meiarang para perajurit melakukan pengejaran karena ada bahayanya kami dijebak mereka dan jatuh korban, ciangkun."

Kata Heng San.

"Sudahlah, mungkin tindakanmu itu ada benarnya juga. Biarlah sedikit anak buah gerombolan itu meloloskan diri, hal itu tidak berapa penting. Sekarang ada persoalan yang jauh lebih penting dan berbahaya daripada itu. Lui-sicu sudah kusuruh melakukan penyelidikan teliti akan hal itu. Kami memang sengaja menanti kalian kembali baru akan bertindak, karena sekali ini kita menghadapi lawan-lawan berat."

Thio-ciangkun bicara dengan sikap sungguh-sungguh sehingga Heng San menjadi tertarik sekali. Mendengar ucapan ini, Ban Hok si jagoan tinggi besar yang wataknya memang congkak segera berkata.

"Ada persoalan penting apakah, Thiociangkun? Harap ciangkun jangan khawatir. Sekarang pasukan istimewa Garuda Sakti telah kembali dan segala macam rintangan pasti akan dapat kami hancurkan!"

Thio-ciangkun mengangguk-angguk senang mendengar ucapan yang terdengar gagah ini, akan tetapi diam-diam Heng San mencela kesombongan rekannya, namun dia diam saja.

Thio-ciangkun yang cerdik dapat melihat kerut tak suka pada kening Heng San, maka diapun segera bertanya.

"Lauw-sicu, bagaimana pendapatrnu dengan ucapan Ban-sicu tadi?"

Heng San tersenyum dan menjawab tenang.

"Ban-toako terlalu takabur. Sebelum melihat kekuatan lawan, bagaimana kita dapat memandang rendah? Akan tetapi sebenarnya apakah yang terjadi dan apakah persoalan yang amat penting dan berbahaya itu, ciangkun? Tentu saja sudah menjadi kewajiban kami untuk menanggulanginya."

"Mari kalian bertiga ikut aku ke dalam. Pasukan Garuda Sakti diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing untuk mengaso."

Kata Panglima Thio Ci Gan.

Dua belas orang perajurit pilihan yang menjadi anggauta pasukan Garuda Sakti itu memang tinggal di luar gedung sang panglima, mernpunyai rumah masing-masing.

Akan tetapi empat orang jagoan itu mendapatkan kamar di dalam gedung sang panglima.

Setelah Thio-ciangkun, Ban Hok, Ouw-yang Sin, dan Heng San duduk di ruangan rahasia yang biasa mereka pergunakan untuk rapat, muncullah Si Harimau Muka Kuning Lui Tiong.

Terlebih dulu Lui Tiong memberi salam dan memberi selamat kepada tiga orang rekannya yang telah berhasil menunaikan tugas dengan baik.

Thio-ciangkun mempersilakan Lui Tiong duduk dan Lui Tiong segera memberi laporan dengan wajah serius.

"Sekarang saya merasa yakin bahwa mereka itu mengadakan kontak hubungan dengan kaki tangan pemberontak yang bersembunyi di kota ini, ciangkun."

Thio-ciangkun mengangguk-angguk, ke mudian sambil memandang kepada tiga 0rang jagoannya yang lain, dia berkata kepada Lui Tiong.

"Lui-sicu, sekarang setelah Lauw-sicu, Ban-sicu dan Ouwyang-sicu sudah kembali, kekuatan kita menjadi lengkap. Maka, sebelum kita merundingkan dan merencanakan tindak lanjut, lebih baik engkau menceritakan dulu semua persoalan itu kepada mereka bertiga."

Lui Tiong lalu bercerita dan Heng San mendengarkan hal-hal yang baru dan asing baginya, akan tetapi yang membuat dia bertekad untuk membantu perjuangan Thio-ciangkun yang dalam pandangannya adalah seorang pejabat militer yang bijaksana, baik hati dan gagah perkasa.

Menurut cerita Lui Tiong, pada bulan terakhir ini banyak sekali terdapat gerakan-gerakan para perusuh atau pemberontak yang memberontak dan merebut kekuasaan alat-alat pemerintah dengan tujuan merampok dan menguasai kota demi kepentingan para gerombolan penjahat itu sendiri.

Banyak sudah gerombolan pernberontak yang terdiri dari orang-orang kang-ouw (sungai telaga) dan bu-lim (rimba persilatan) yang dapat ditumpas dan dibubarkan oleh pasukan pemerintah.

Akan tetapi masih saja mereka bermunculan dengan sembunyi-sembunyi.

"Karena gawatnya keadaan di daerah Keng-koan ini, maka Sribaginda Kaisar sendiri mengutus dan memberi tugas kepada kami untuk memimpin pasukan di Keng-koan dan membasmi para pemberontak itu sampai habis!"

Kata Thio-ciangkun penuh semangat.

"Beberapa hari yang lalu,"

Lui Tiong melanjutkan penuturannya yang dipotong oleh ucapan Thio-ciangkun tadi.

"di kota ini muncul serombongan penari silat yang membuka pertunjukan. Mereka terdiri dari seorang laki-laki setengah tua, dua orang pemuda yang menjadi muridnya, dan seorang gadis muda dan cantik, yang diperkenalkan sebagai puterinya. Mereka itu sungguh menarik perhatian dan mencurigakan sekali dan Thio-ciangkun sudah memerintahkan agar aku melakukan penyelidikan dengan teliti terhadap mereka."

"Aah, Lui-toako, apa sih anehnya serombongan penari silat yang hanya terdiri dari empat orang.? Banyak rombongan penari silat yang menjual obat luka dan koyo (obat tempel), mereka adalah orang-orang yang tidak perlu dikhawatirkan."

Kata Ouwyang Sin dengan suara memandang rendah.

Jangan beranggapan begitu, Ouwyang-te (adik Ouwyang).

Mereka itu jauh berbeda dari rombongan penari silat biasa yang suka mengadakan pertunjukan di pasar-pasar.

Aku sudah menyaksikan sendiri ketika mereka mempertunjukkan kemahiran mereka bersilat.

Bukan sekedar tarian silat, melainkan gerakan silat yang sungguh tangguh, terutama sekali gerakan sang pemimpin rombongan dan gadisnya yang cantik."

"Hemm, sampai di manakah kehebatan mereka?"

Ban Hok juga berkata meremehkan.

"Aku telah menyelidiki mereka pada malam hari dengan mendatangi tempat mereka bermalam. Biarpun aku sudah mempergunakan. kepandaianku, mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh), namun agaknya mereka dapat mendengar langkah kakiku dan hampir saja aku menjadi korban sambaran piauw {senjata rahasia} yang menyambar cepat. Untung aku memang sudah curiga dan berhati-hati sehingga aku dapat menghindarkan diri dan pergi sebelum ketahuan mereka."

Heng San merasa tertarik sekali.

"Di manakah tempat mereka bermalam?"

"Di dalam kelenteng Hok-man-tong di luar kota sebelah selatan itu."

"Bagaimana engkau tahu bahwa rombongan penari itu mempunyai hubungan dengan mata-mata pemberontak yang bersembunyi di kota ini seperti yang kau ceritakan tadi, Lui-toako?"

Heng San bertanya.

"Ada buktinya yang amat kuat."

Lui Tiong bercerita.

"Dan ini menjadi laporan saya pula kepada Thio-ciangkun. Begini, ciangkun, kemarin saya menyusup di antara penonton untuk melihat dan menyelidiki rombongan penari silat itu dengan seksama. Mereka memang menawarkan obat-obat kuat, koyo dan obat luka lainnya seperti kebiasaan penari silat lainnya yang menjual obat, walaupun kesibukan ini mereka lakukan sambil lalu saja dan tanpa semangat. Kemudian gadis puteri kepala rombongan itu menari silat pedang. Akan tetapi, saya melihat kenyataan yang luar biasa. Dalam tarian itu terkandung inti ilmu silat pedang yang luar biasa dan saya mengenalnya sebagai Sian-li Kiam-hoat (Ilmu Pedang Bidadari)! Kemudian mereka semua memperlihatkan tarian silat. Dua orang pemuda yang menjadi murid itu juga memiliki gerakan cepat dan bertenaga, namun tingkat mereka itu tidaklah terlalu tinggi. Kepala rombongan itulah yang amat lihai dan sambaran pukulan dari tangannya jelas mengandung tenaga sakti yang kuat. Jadi, kepandaian kepala rombongan dan puterinya itulah yang patut diperhatikan. Kemudian, tiba-tiba terdengar pujian orang dan tampak seorang pengemis tua berlompatan ke dalam lingkaran. Dia berjungkir balik dan seolah-olah meniru gerakan silat yang tadi dipertontonkan, sambi! berkata-kata kacau balau. Semua orang tertawa dan menganggap dia itu seorang pengemis gila. Ucapannya hampir tidak ada artinya, akan tetapi saya memperhatikan semua ucapannya dan ada beberapa kata-kata terselip dalam ucapan kacau balau itu. Saya mendengar ada terselip kata-kata Garuda Sakti, dan pesan agar berhati-hati karena sedang diselidiki! Kemudian, tiba-tiba dia melompat keluar sambil berjungkir balik dan pergi diikuti sorak dan tawa penonton. Saya cepat menyelinap keluar dan mencoba untuk mengikutinya. Akan tetapi, pengemis tua itu telah lenyap tanpa meninggalkan jejak! Nah, karena itulah, Thio-ciangkun, saya merasa yakin bahwa rornbongan penari silat. itu memiliki hubungan dengan pihak pemberontak dan mungkin pengemis tua itu adalah seorang mata-mata pemberontak yang lihai sekali."

Lui Tiong mengakhiri laporannya. Heng San dan yang lain-lain mendengarkan dengan hati tertarik sekali. Thio-ciangkun mengerutkan alisnya. dan bertanya.

"Apakah engkau mendapatkan bukti lain yang lebih meyakinkan, Lui-sicu?"

"Ada bukti yang jelas, ciangkun. Semalam saya berhasil melakukan pengintaian tanpa mereka ketahui. Saya tidak berani mengambil jalan dari atas genteng. Saya menggunakan kekerasan dan mengancam seorang hwesio kelenteng Hok-man-tong. Hwesio itu menyembunyikan saya dalam sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar rombongan penari silat itu. Setelah menunggu sampai lama, akhirnya mereka berempat memasuki kamar itu dan dari percakapan mereka itu saya tahu bahwa mereka sudah mencatat nama kita. Bahkan nama-nama para anggauta Garuda Sakti mereka ketahui, demikian pula tempat tinggal kawan-kawan yang tinggal di luar. Kemudian mereka bicara tentang pengemis tua gila itu yang ternyata adalah susiok (paman guru) dari pemimpin rombongan itu."

"Hemm, kalau begitu jelas mereka adalah mata-mata dari para pemberontak. Apakah logat bicara mereka berlidah selatan?"

Tanya Thio-ciangkun. Lui Tiong mengangguk.

"Jelas bahwa mereka memang orang-orang selatan, ciangkun."

Kata-kata ini membuat sang panglima mengepal tinju kanannya.

"Kalau begitu mereka tentu anak buah si pemberontak Lo Hai Cin. Orang-orang selatan ini memiliki kepandaian tinggi, oleh karena itu kuminta kalian semua berhati-hati. Ban-sicu, sekarang juga kumpulkan semua anggauta Pasukan Garuda Sakti dan mulai malam ini mereka harus melakukan penjagaan ketat di sini, penjagaan dipimpin Ban-sicu dan Ouwyang-sicu. Sedangkan engkau, Lauw-sicu dan Lui-sicu, kalian berdua kuberi tugas untuk menangkap empat orang mata-mata itu. Boleh membawa beberapa orang teman. Aku minta semua perintah ini dilaksanakan dengan baik!"

Setelah berkata demikian, Thio-ciangkun memberi isarat agar pertemuan itu bubar dan semua pembantunya melaksanakan tugas masing-masing.

Ban Hok dan Ouwyang Sin segera pergi memanggil para anggauta Garuda Sakti yang duabelas orang banyaknya, sedangkan Lui Tiong dan Heng San membuat persiapan di luar gedung.

"Lui-toako, engkaulah yang lebih mengetahui akan keadaan para mata-mata pemberontak itu, karena itu sebaiknya kalau engkau yang memimpin penangkapan ini."

Kata Heng San dan sikap pemuda ini menyenangkan hati Lui Tiong.

Sudah jelas bahwa kini kedudukan jagoan nomor satu jatuh kepada Heng San, akan tetapi pemuda itu tidak menonjolkan kedudukannya itu sehingga Lui Tiong yang tergeser kedudukannya tidak merasa sakit hati karena sikap Heng San yang tetap menghormatinya dan tidak menganggap dia sebagai bawahan yang lebih rendah tingkatnya.

"Baiklah, Lauw-te. Rombongan penari silat itu hanya berempat, dan yang perlu kita hadapi berdua hanya sang ayah dan puterinya itu. Untuk menangkap dua orang muridnya, kukira cukup kalau kita dibantu Kam Seng dan Kam Eng berdua saja. Kepandaian mereka cukup tinggi."

"Terserah kepadamu, Lui-toako. Akan tetapi sebenarnya siapakah mereka itu? Mengapa begitu ditakuti, menimbulkan kekhawatiran Thio-ciangkun?"

Tanya Heng San.

"Yang dapat kuketahui hanya bahwa pemimpin rombongan penari silat itu adalah seorang bekas guru silat di daerah selatan yang terkenal dengan julukan Lam-Liong (Naga Selatan). Menurut penyelidikan orang-orangku, dia mengaku she Lim, akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang she (marga) Ma. Gadis itu adalah puterinya dan kedua orang pemuda itu murid-muridnya. Melihat gerakan mereka ketika mendemonstrasikan tarian silat, agaknya yang merupakan lawan berat hanyalah si ayah dan puterinya itu. Kedua orang muridnya boleh kita serahkan kepada kedua kakak beradik Kam. Nah, marilah kita berangkat."

Kata Lui Tiong setelah Kam Seng dan Kam Eng, dua orang jagoan pembantu Thio-ciangkun yang berusia tigapuluh dan tigapuluh tiga tahun.

Dua orang saudara she Kam ini merupakan jago-jago silat yang cukup lihai dengan permainan silat siang-kiam (sepasang pedang).

Malam mulai menyelimuti bumi ketika empat orang jagoan dari Thio-ciangkun ini berangkat menuju ke kelenteng Hok-man-tong yang berada di luar kota Keng-koan.

Di tengah perjalanan itu, Lui Tiong bertanya kepada Heng San.

"Lauw-sicu, mana senjatamu?"

Heng San tersenyum dan menggerakkan pundaknya.

"Aku tidak mempunyai senjata, Lui-toako."

"Ah, kalau begitu, pakailah pedangku ini. Aku akan mencari senjata lain."

"Terima kasih, Lui-toako. Terus terang saja, aku tidak pernah mempelajari ilmu silat pedang. Aku hanya mengandalkan kedua kaki tanganku saja."

Lui Tiong terheran.

"Ah, engkau gegabah sekali, siauw-te."

Di dalam hatinya, Lui Tiong sebagai seorang ahli silat yang berpengalaman tidak percaya akan keterangan pemuda itu.

Mana ada seorang ahli silat yang kepandaiannya sudah setinggi tingkat Heng San, mengaku sama sekali tidak pandai memainkan senjata?

Tentu pemuda ini mempunyai ketinggian hati dan ingin mempertahankan julukannya sebagai Kepalan Sakti Tanpa Tanding!

Ketika mereka sampai di depan kelenteng, Lui Tiong mengetuk daun pintu kelenteng yang tebal dan sudah tertutup.

Seorang hwesio penjaga membuka daun pintu.

Melihat empat orang yang pakaiannya gagah bergambar sekor burung garuda dan sikap mereka penuh wibawa, hwesio itu cepat merangkap kedua tangan di depan dada.

Dia sudah mendengar nama besar Pasukan Garuda Sakti yang terkenal, maka tergopoh-gopoh dia menanyakan keperluan mereka.

"Di mana adanya para tamu kelenteng empat orang penari silat itu? Hayo katakan dan jangan berbohong!"

Kata Lui Tiong.

"Pin-ceng (aku) tidak berani berbohong, ciangkun (perwira). Baru saja mereka tadi masuk dan kini tentu mereka berada di dalam kamar mereka, di bagian belakang."

"Suruh mereka keluar dan menyerah kepada kami. Jangan membawa senjata atau kami terpaksa akan bertindak keras"

Bentak Lui Tiong.

"Omitohud..., baik, ciangkun""

Hwesio itu berlari masuk dengan sikap ketakutan.

"Lauw-te, engkau dan Kam Seng jagalah di atas menghadang kalau mereka melarikan diri. Aku dan Kam Eng menunggu mereka di sini."

Kata Lui Tiong kepada Heng San.

Heng San mengangguk, lalu memberi isarat kepada Kam Seng.

Mereka berdua melompat ke atas genteng dengan gerakan tangkas sekali.

Untuk beberapa saat lamanya, Lui Tiong dan Kam Eng yang berjaga di luar tidak melihat hwesio tadi keluar lagi.

Lui Tiong sudah menjadi tidak sabar dan hendak menyerbu masuk.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring dari dalam kelenteng.

"Haii! Para anggauta Garuda Sakti! Anjing-anjing pengkhianat dan penjilat kaisar! Kalau memang berkepandaian, tunggulah kami di luar!"

"Jahanam gerombolan penjahat dan pemberontak tak tahu malu! Keluarlah kalian!"

Lui Tiong balas memaki dengan marah dan tangan kanannya sudah mencabut pedangnya.

Kam Eng yang berdiri di sampingnya juga sudah menggunakan kedua tangan mencabut sepasang pedangnya yang tipis dan tajam.

Tiba-tiba dari dalam kelenteng tampak sinar menyambar ke arah Lui Tiong, disusuli berkelebatnya sesosok bayangan yang berseru.

"Bangsat, makan piauwku!"

Lui Tiong menggunakan pedangnya menangkis senjata rahasia piauw yang runcing itu.

"Tranggg....!"

Senjata rahasia piauw yang disambitkan itu terpental.

Akan tetapi bayangan yang ternyata seorang laki-laki berusia sekitar limapuluh tahun itu sudah menggunakan sebatang pedang untuk menyerang Lui Tiong.

Serangannya cepat dan kuat sekali, langsung menusuk ke arah dada Lui Tiong yang tahu bahwa pimpinan rombongan penari silat itu lihai sekali, cepat mengelak ke samping lalu mengelebatkan pedangnya membacok ke arah perut lawan.

Namun, lawannya juga dapat bergerak dengan gesit sekali.

Dengan lompatan ke samping, serangan dari Tiong itupun dapat ditangkisnya dari samping.

"Tranggg..!"

Dua pedang bertemu dan keduanya terkejut mendapat kenyataan betapa kuatnya tenaga masing-masing.

Segera perkelahian dilanjutkan dengan seru, di bawah sinar lampu yang tergantung di de pan pintu kelenteng.

Sementara itu, Kam Eng juga sudah bertanding dengan seorang pemuda yang menjadi murid kepala rombongan penari silat itu.

Ternyata tingkat kepandaian merekapun seimbang.

Kam Eng memainkan siang-kiam di kedua tangannya dan pemuda itupun memainkan sebatang pedang yang bergerak cepat.

Terdengar bunyi berdentingan berulang kali disusul berpijarnya bunga api ketika pedang-pedang itu saling bertemu di udara.

Perhitungan Lui Tiong memang tepat.

Rombongan penari silat yang terdiri dari empat orang itu juga membagi rombongan menjadi dua.

Ketika Heng San dan Kam Seng menjaga di atas genteng, hanya diterangi sinar bulan yang remang-remang, tiba-tiba tampak dua bayangan berkelebat di atas genteng.

Begitu dua bayangan itu muncul, Heng San dan Kam Seng segera melompat dan menghadangnya.

Tiba-tiba dua sosok bayangan itu menggerakkan tangan dan tampak benda hitam meluncur, menyambar ke arah Heng San dan Kam Seng.

"Awas senjata rahasia!"

Teriak Heng San dan dia sudah menggunakan kedua tangan untuk menyambut.

Dia berhasil menangkap empat buah peluru besi yang disambitkan dan Kam Seng juga berhasil menyampok dua butir peluru besi yang jatuh berkerontangan di atas genteng.

Heng San membuang empat butir peluru itu dan kini dia bersama Kam Seng sudah melompat ke depan dua orang yang hendak melarikan diri itu.

Setelah berhadapan dengan dua orang itu, Heng San melihat bahwa mereka adalah seorang gadis dan seorang pemuda.

Ketika itu, sinar bulan menimpa wajah gadis itu dan Heng San terbelalak memandang dengan terheran-heran ketika dia mengenal wajah jelita itu yang bukan lain adalah Tit-Ie Li-hiap (Pendekar Wanita dari Tit-Ie) Ma Hong Lian!

Gadis yang pernah bertanding dengan dia di atas genteng pemilik toko obat di Leng-koan, gadis yang menjadi roh jahat yang ternyata seorang pencuri itu!

Sementara itu, pemuda yang keluar bersama Hong Lian, yaitu murid pimpinan rombongan penari silat yang seorang lagi, sudah cepat menyerang Kam Seng dengan pedangnya.

Kam Seng menyambut dengan tangkisan dan serangan balik dengan sepasang pedang di kedua tangannya, terjadilah perkelahian pedang antara kedua orang itu.

Adapun Hong Lian, ketika berhadapan dengan Heng San, juga segera dapat mengenal pemuda itu walaupun cuaca hanya remang oleh sinar bulan.

Sejenak dia menjadi bengong dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Eh, engkaukah ini, nona? Dahulu engkau menjadi roh jahat, sekarang engkau memegang peran sebagai apa pula?"

Tanya Heng San lirih agar jangan terdengar oleh Kam Seng yang sedang bertanding.

Gadis itu memandang kepadanya dengan mata berapi saking marahnya dan bibir yang mungil dan merah itu tersenyum menghina.

"Sudah kusangka bahwa engkau bukanlah manusia baik-baik. Ternyata sekarang bahwa engkau adalah seorang manusia yang lebih rendah daripada apa yang kusangka semula!"

"Nanti dulu, nona! Apa kesalahanku maka engkau datang-datang memaki aku sesuka hatimu?"

Heng San merasa penasaran dan heran sekali melihat betapa marah dan bencinya gadis itu kepadanya.

Pada hal menurut pendapatnya, dialah yang sepatutnya menegur gadis itu.

Dulu menjadi pengganggu penduduk Leng-koan dan sekarang malah menjadi mata-mata pemberontak!

"Tak usah banyak cerewet!

Malam ini kalau bukan aku, tentu engkau yang akan mati di sini"

Setelah berkata demikian, pedangnya sudah menyambar dengan sebuah serangan tusukan yang amat ganas ke arah dada Heng San.

Heng San cepat mengelak dan untuk kedua kalinya dia melayani gadis itu bertanding dengan menggunakan tangan kosong.

Akan tetapi dia hanya selalu menangkis dari samping dengan kedua tangan yang sudah dilindungi ilmu kebal Tiat-pou-san sehingga kedua tangannya tak dapat terluka oleh pedang itu, dan diapun mengerahkan ginkang untuk menghindarkan sinar pedang yang menyambar-nyambar dengan amat ganasnya.

Tubuhnya seakan berubah menjadi bayang-bayang yang amat sukar dijadikan sasaran pedang.

Sementara itu, kawan gadis itu ternyata tidak kuat menghadapi serangan Kam Seng yang amat lihai memainkan siang-kiamnya.

Setelah melawan matimatian selama tigapuluh jurus, tiba-tiba dia berteriak kesakitan dan tubuhnya terguling ke bawah genteng karena pundak kanannya terbacok pedang kiri Kam Seng.

Melihat lawannya sudah roboh dan melihat Heng San belum juga dapat mengalahkan lawan, Karn Seng hendak membantu.

Akan tetapi Heng San cepat berseru.

"Engkau bantulah Lui-toako di pawah! Mungkin dia membutuhkan bantuan. Biar yang ini aku yang akan menangkapnya!"

Mendengar perintah atasannya, KarnSeng segera melompat turun membantu Lui Tiong karena pemimpin rombongan penari silat itu ternyata memang lihai bukan main dan diapun tadi melihat bahwa Heng San tidak terdesak oleh lawan walaupun dia bertangan kosong.

Setelah melihat Kam Seng melompat turun, Heng San melompat ke belakang.

"Ma-lihiap (Pendekar wanita Ma), sudahlah tahan senjatamu. Mengapa kita selalu bermusuhan? Aku tidak ingin bermusuhan denganmu!"

"Pengkhianat jangan banyak mulut!"

Hong Lian menyerang lagi dengan tusukan pedangnya.

Heng San cepat mengelak dan kembali dia dihujani serangan yang kesemuanya dapat dihindarkannya.

Tiba-tiba terdengar teriakan orang mengaduh di bawah sana dan Hong Lian menjadi pucat wajahnya karena dia mengenal bahwa yang berteriak kesakitan itu adalah ayahnya!

Dengan isak tertahan Hong Lian hendak melompat ke bawah untuk membantu ayahnya yang agaknya terluka dan terancam bahaya.

Akan tetapi Heng San menghalanginya dengan kedua tangan terpentang.

Dia memandang dengan rasa haru dan iba memenuhi hatinya.

Entah mengapa, semenjak pertemuan pertama dengan Hong Lian ketika saling memperebutkan kantung uang curian itu, dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis itu.

Dia tidak tahu perasaan apakah yang menarik hatinya terhadap Hong Lian.

Entah perasaan apa namun yang jelas, dia tidak ingin melihat gadis itu celaka.

"Nona Ma, jangan turun. Kawan-kawanku di bawah lihai sekali engkau tentu akan celaka kalau turun"

Cegahnya.

Dalam kemarahan dan kebingungan, Hong Lian tertegun mendengar ucapan itu.

Ia sungguh tidak mengerti akan sikap pemuda ini.

Sejak perkelahian mereka yang pertama dulu, ia tahu benar bahwa pemuda itu memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripadanya, bahkan agaknya tidak kalah hebat dibandingkan tingkat ayahnya sendiri.

Akan tetapi mengapa pemuda yang ternyata merupakan pemimpin Pasukan Garuda Sakti ini tidak mau merobohkan dan menangkapnya dan sejak tadi hanya mengelak dan menangkis saja dan banyak mengalah, bahkan agaknya tidak ingin melihat dia celaka?

Siapakah pemuda ini yang menjadi lawan namun bersikap melindungi sebagai kawan?

Apa maksudnya?

Pada saat itu terdengar bentakan Lui Tiong dari bawah.

"Masih ada seorang musuh lagi di atas. Hayo kita tangkap"

Mendengar ini, Heng San cepat berkata lirih kepada Hong Lian.

"Cepat serang aku dengan senjata rahasiamu!"

Sambil berseru demikian, tangan Heng San bergerak cepat dan tahu-tahu pedang di tangan Hong Lian sudah dapat dirampasnya!

Hong Lian terkejut sekali dan mendengar ucapan tadi, ia cepat mengambil beberapa buah senjata rahasia piauw dan sambil melompat pergi kedua tangannya bergerak dan empat buah piauw menyambar ke arah tubuh Heng San.

Pemuda itu menyampok tiga buah dengan kedua tangannya, akan tetapi piauw yang ke empat sengaja dia sambut dengan pundak kirinya.

"Aduhhh...!"

Heng San berteriak kesakitan ketika piauw itu menancap di pundaknya.

Heng San sengaja menekan piauw itu sehingga menancap lebih dalam dan ketika dia mencabutnya, baju di pundak berikut kulit dagingnya terobek dan mengeluarkan banyak darah.

Pada saat itu, Lui Tiong dan kedua orang saudara she Kam berlompatan ke atas genteng dan mereka terkejut melihat Heng San terhuyung.

Heng San terhuyung ke arah Lui Tiong yang hendak mengejar Hong Lian yang melarikan diri.

Lui Tiong menangkap tubuh Heng San agar tidak jatuh dan tidak melanjutkan niatnya mengejar Hong Lian.

"Awas, toako... senjata rahasianya lihai sekali...!"

Kata Heng San.

"Coba kuperiksa lukamu, Lauw-te."

Kata Lui Tiong sambil membuka baju bagian pundak yang terobek. Akan tetapi dia hanya dapat melihat sebentar karena Heng San sudah menutupi lukanya itu dengan tangannya.

"Tidak berapa parah, toako. Bagaimana hasilnya di bawah, Lui-toako?"

Tanyanya.

"Orang she Ma itu telah terluka dan tertawan, sedangkan kedua muridnya tewas. Kali ini kita berhasil baik, hanya sayang gadis pemberontak liar itu dapat melarikan diri dan rnelukaimu."

"Ah, aku kurang hati-hati dan terlalu memandang rendah, Lui-toako. Pedangnya dapat kurampas, akan tetapi aku tidak mengira ia demikian lihai sehingga dapat menyerangku dengan empat buah piauw. Yang tiga dapat kutangkis, akan tetapi yang satu melukai pundakku."

Mereka kembali ke gedung Panglima Thio membawa Ma Giok sebagai tawanan.

Thio-ciangkun menyambut mereka dengan gembira sekali.

Setelah mengeluarkan pujian terhadap Lui Tiong dan Heng San, Panglima Thio memperkenankan mereka mengaso dan Ma Giok lalu dimasukkan ke dalam penjara yang berada di bagian belakang gedung itu, dikurung dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh dilapis baja dan berjeruji baja pula, masih dijaga oleh enam orang perajurit di luar kamar tahanan.

Heng San yang masih terkenang dengan rasa prihatin kepada Ma Hong Lian, segera memasuki kamarnya dan merebahkan diri di atas pembaringan tanpa berganti pakaian atau melepas sepatunya.

Dia rebah telentang dan termenung memikirkan keadaan Hong Lian.

Wajah gadis itu tak dapat dia lupakan, selalu terbayang dan ia merasa kasihan sekali.

Dia merasa menyesal mengapa gadis sehebat itu demikian tersesat dan mau menjadi anggauta pengacau dan pemberontak.

Teringat dia akan pertemuan mereka pertama dahulu.

Ketika itupun Hong Lian sedang melakukukan pencurian dan menotok tuan rumah dan isterinya.

Sekarang malah menjadi anggauta gerombolan pengacau dan pemberontak.

Sungguh sayang!

Sayang gadis sejelita dan segagah itu, yang arnat menawan hatinya, menjadi seorang penjahat!

"Ahh"..

Hong Lian".

Hong Lian".!"

Dia berbisik dan mencoba untuk memejamkan matanya, mencoba untuk tidur, melupakan segalanya, melupakan rasa nyeri di pundaknya yang terluka yang tidak berapa hebat kalau dibandingkan dengan rasa nyeri di dalam hatinya.

Heng San sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu, Lui Tiong yang baru saja memasuki kamarnya sendiri, harus keluar pula karena dipanggil Thio Ci Gan.

Panglima itu menerimanya dalam karnar rahasia, di mana kini hanya mereka berdua yang duduk berhadapan.

"Ciangkun memanggil saya""

Tanya Lui Tiong setelah memberi hormat. Dia dipersilakan duduk dan panglima i tu bertanya dengan suara tegas.

"Sekarang, ceritakanlah sejelasnya tentang,penyerbuan itu dan bagaimana mungkin sampai Lauw Heng San terluka oleh gadis puteri kepala gerombolan mata-mata pemberontak itu."

Lui Tiong merasa bahwa dalam suara atasannya terkandung kebimbangan dan, kecurigaan.

Hal ini menyenangkan hatinya karena dia sendiripun sudah menaruh hati curiga dalam peristiwa itu.

Di samping itu, di dasar hatinya Lui Tiong memang merasa tidak senang kepada Heng San, rasa tidak senang yang timbul dari iri hati.

Bagaimanapun juga pemuda itu telah menggeser kedudukannya sebagai orang ke dua dalam jajaran para jagoan di situ sedangkan pemuda itu menjadi orang pertama walaupun sikap Panglima Thio masih con dong percaya kepadanya.

"Saya sendiri juga merasa heran"

Ciangkun.

"Saya dan Kam Eng berjaga di luar dan kami berdua bertemu dan bertanding melawan Ma Ciok dan seorang muridnya. Ma Ciok itu lihai sekali, akan tetapi setelah Kam Eng merobohkan lawannya kemudian Kam Seng datang pula rnembantu, saya dapat melukai dan menangkapnya. Akan tetapi saya merasa heran mengapa Lauw-te yang memiliki ilmu Silat sedemikian tingginya, dapat terluka oleh gadis itu dan membiarkan ia lolos!"

Panglima Thio mengelus jenggotnya dan kedua alisnya berkerut. Tiba-tiba dia bertanya.

"Lui-sicu, engkau yang pernah melihat gadis itu, bagaimana wajahnya? Apakah dia cantik?"

"Cadis itu cantik jelita sekali, ciangkun. Usianya sekitar delapan belas tahun dan iapun memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan. Tarian pedangnya indah sekali. Pendeknya, ia memiliki daya tarik yang luar biasa bagi pria."

"Hemm". hemmm". apakah tidak mungkin Heng San sengaja melepaskannya karena dia jatuh hati kepada gadis itu?"

Thio-ciangkun menggumam, mengerutkan alisnya semakin dalam "Hal itu besar sekali kemungkinannya, ciangkun.

Lauw-te adalah seorang pemuda yang sudah cukup dewasa, tidak akan mengherankan kalaudia tergila-gila kepada wanita cantik."

"Akan tetapi setahuku, selama di sini dia tidak pernah keluar bersenang-senang dengan wanita seperti yang lain."

"Mungkin dia malu-malu dan takut-takut karena tidak ada pengalaman. Akan tetapi saya melihat sinar matanya bercahaya ketika dia melihat".melihat". Nona Siang... eh, maafkan kelancangan saya, ciangkun."

"Melihat Kui Siang maksudmu?"

Tanya Thio-ciangkun sambil memandang pembantunya dengan sinar mata penuh selidik "Tidak apa, aku tidak marah, ceritakan bagaimana ketika Heng San melihat Kui Siang."

Yang disebut Nona Siang adalah seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang tinggal di gedung itu dan disebut Siang Siocia (Nona Siang) oleh semua orang seperti yang dikehendaki gadis itu sendiri.

Ia seorang gadis yang cantik jelita dan lemah lembut, halus budi dan ramah.

Semua.

orang mengetahui bahwa biarpun ibu gadis itu merupakan seorang isteri kedua dari Panglima Thio yang amat disayang, namun Kui Siang bukanlah anak kandungnya, melainkan anak tirinya.

Dan agaknya gadis itu juga tidak merahasiakan bahwa ia bukan puteri kandung Thio Ci Gan, karena kalau ditanya she-nya (nama marganya) ia akan menjawab bahwa nama marganya adalah Bu, nama lengkapnya Bu Kui Siang!

Akan tetapi ia pandai membawa diri sehingga biarpun di dalam hatinya Thio-ciangkun tidak mempunyai perasaan sayang seorang ayah kepada anaknya, namun sikap pembesar itu cukup baik.

"Begini, ciangkun. Ketika untuk pertama kalinya Heng San melihat Nona Siang, dia seperti terpesona. Kemudian setelah kami berdua saja, dia banyak hertanya tentang Nona Siang dan terang-terangan mengatakan bahwa selama hidupnya dia belum pernah melihat seorang gadis secantik Nona Siang yang dikatakannya seperti bidadari. Oleh karena itu, saya tidak akan merasa heran kalau sekali ini dia sengaja meloloskan gadis pemberontak Itu karena dia tergila-gila. Ternyata dia adalah seorang pemuda mata keranjang, dan 1emah terhadap kecantikan wanita."

Kini Thio-ciangkun mengangguk-angguk, menundukkan muka, mengelus jenggotnya dan tiba-tiba dia berkata.

"Bagus! Aku mendapatkan gagasan bagus sekali Heng San amat lihai, kami amat membutuhkan dia dan sekarang ada jalan untuk mengikatnya kepada kami, untuk selamanya dan akan tetap setia sampai mati"

Lui Tiong memandang heran.

"Apa". apa maksud ciangkun?"

"Aku akan menikahkan dia dengan Kui Siang!"

Hampir saja Lui Tiong melompat dari kursinya saking heran dan kagetnya.

Dla melapor dengan niat untuk memburukkan Heng San, untuk menjatuhkan terdorong oleh rasa irinya, tidak tahunya laporannya itu malah membuat pemuda itu akan diambil mantu oleh atasannya!

Walaupun gadis itu puteri tiri, namun cantik jelita.

Thio-ciangkun merupakan kehormatan besar sekali yang membuat kedudukan Heng San akan lebih terangkat tinggi!

"Ciangkun".!

Akan tetapi".

tetapi "

"Tetapi apa? Heng San masih muda, tampan dan gagah, ilmu kepandaiannya tinggi. Dia cukup pantas menjadi suami Kui Siang."

Panglima itu kembali mengangguk-angguk.

"Maksud saya.... bagaimana kalau Heng San tidak mau, kalau dia menolak?"

Kata Lui Tiong penuh harap.

"Ha-ha-ha, bukankah engkau sendiri yang melaporkan bahwa Heng San jatuh cinta kepada Kui Siang? Aku yang akan mengatur agar dia mau, pasti mau dan harus mau. Ha-ha-ha!"

Dia lalu memberi isarat agar pembantunya itu mundur.

Thio-ciangkun tetap tertawa ketika Lui Jiong keluar dari ruangan itu, kembali ke dalam kamarnya, membanting diri di atas pembaringan dan bersungut-sungut.

Biarpun dia sudah pulas, namun ketika suara langkah lembut itu memasuki kamarnya, pendengaran Heng San yang terlatih baik dapat menangkapnya.

Seketika dia terbangun, namun begitu dia melihat siapa yang memasuki kamarnya sambil membawa sebuah baki dengan beberapa mangkok di atasnya, melangkah dengan lenggang yang lembut dan lemah gemulai, Heng San tidak dapat bergerak atau mengeluarkan suara saking herannya.

Mula-mula dalam pandangannya yang baru saja terbangun dari pulas, dia seolah melihat Ma Hong Lian yang melenggang memasuki kamarnya.

Hatinya tidak percaya dan dibantahnya penglihatannya sendiri dan perlahan-lahan bayangan Ma Hong Lian itu berubah dan tahulah dia bahwa yang memasuki kamarnya adalah Nona Siang.

Dia merasa seperti dalam mimpi.

Sudah beberapa kali dia bertemu dengan gadis ini, hal yang tidak dapat dihindarkan karena mereka tinggal di bawah satu atap walaupun gedung itu luas sekali.

Dalam setiap pertemuan, mereka hanya saling pandang dan Heng San selalu memberi hormat dengan membungkuk dan gadis itupun mengangguk sambil memandang dan tersenyum kepadanya.

Belum pernah mereka saling bertegur sapa dan sekarang, gadis itu memasuki kamarnya seorang diri.

Seperti dalam mirnpi dia melihat gadis itu rneletakkan baki di atas meja, lalu duduk di atas kursi dekat (Lanjut ke

Jilid 04) Si Tangan Halilintar (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 pembaringan di mana dia masih rebah telentang. Kemudian dia memaksa diri bangkit duduk dan berkata.

"Eh". ah". Nona Siang"., apakah artinya penghormatan yang diberikan kepadaku ini? Kenapa nona memasuki kamar saya?"

Gadis itu memandang dan tersenyum.

Heng San terpesona dan wajah itu sungguh mirip wajah Hong Lian.

Begitu manis, begitu cantik.

Bibir yang merah basah itu merekah, tampak deretan gigi putih mengintai sejenak dan mulut yang tersenyum itu seperti menebarkan beribu bunga, seperti meneteskan sari madu.

Mata itu seperti mata burung Hong dalam dongeng.

"Kenapa? Apakah tidak boleh aku. memasuki kamar ini, Lauw-sieu?"

Suara itu demikian lembut, merdu seperti nyanyian indah.

"Ah, tentu, tentu saja boleh sekali, nona. Akan tetapi aku tidak mengerti".."

Heng San hendak turun dari pembaringan, akan tetapi gadis itu bangkit berdiri dan menggerakkan kedua tangan mencegah dia turun.

"Berbaringlah saja, sicu. Dengarlah, aku disuruh oleh ayah untuk merawatmu, untuk mengobati luka di pundakmu dan memberimu obat. Karena itu, rebahlah saja, biar aku memeriksa keadaan luka di pundakmu."

"Akan tetapi....."

Heng San hendak membantah. Dengan lembut kedua tangan gadis itu mendorong pundak Heng San sehingga pemuda itu apa boleh buat merebahkan diri lagi, telentang.

"Lauw-sicu, aku adalah puteri seorang panglima dan aku telah banyak mempelajari ilmu pengobatan, khusus untuk mengobati luka-luka yang terjadi dalam pertempuran. Karena ayah sayang kepadamu, maka dia menyuruh aku sendiri yang merawatmu. Nah, biarlah aku memeriksa 1uka di pundakmu."

Dengan jari-jari lembut namun cekatan, gadis itu lalu merobek baju di pundak yang sudah berlubang itu agar dapat memeriksa lukanya dengan lebih teliti.

"Hemm, luka ini cukup lebar dan yang paling buruk adalah bahwa senjata rahasia itu agaknya mengandung racun sehingga luka ini agak kehitaman. Aku akan mencucinya lebih dulu."

Gadis 1tu ia1u mengambil air daiam tempayan, la1u mencuci 1uka itu dengan cekatan.

Heng San diam saja.

Biarpun matanya menatap ke langit-langit kamar, namun dia merasa betapa dekatnya gadis itu dengan dia sehingga dia dapat mencium keharuman yang keluar dari pakaian gadis itu dan seolah terasa kelembutan jari-jari tangan mengusap pundaknya, kehangatan tubuh itu seolah membakarnya.

Seteiah menaburkan obat bubuk ke atas luka di pundak itu dan membalutnya, Kui Siang mengambil sebuah mangkuk yang terisi ramuan obat godok ber warna coklat.

"Lauw-sicu, ayahku sengaja membuatkan obat ini untukmu. Aku tidak mengenal obat ini, akan tetapi kata ayah, obat ini baik sekali untuk menguatkan tubuh dan menjaga agar pengaruh racun tidak menjalar lebih jauh. Minumlah, sicu."

Heng San melihat obat dalam mangkok itu masih mengepulkan uap panas.

"Biarlah agak dingin dulu, nona. Thio-ciangkun sungguh baik sekali kepadaku, dan aku amat berterima kasih kepadanya."

"Ah, sicu. Ayah tentu saja suka kepada sicu karena sicu adalah orang kepercayaannya dan sicu sudah banyak membuat jasa besar membantu ayah."

"Akan tetapi engkaupun amat baik kepadaku, nona. Aku hanya mengenalmu sebagai Nona Siang. Sebetulnya, kalau boleh aku bertanya, siapakah nama lengkapmu?"

Gadis itu tersenyum dan menatap wajah yang tampan itu.

Diam-diam, sejak bertemu dengan Heng San, la memang merasa kagum dan tertarik.

Pemuda Ini tak pernah memandang dengan kurang ajar seperti para jagoan lain kepadanya, melainkan bersikap sopan sekali.

Sepasang mata bertemu pandang dan bertaut, lalu gadis itu menundukkan muka.

"Namaku".. Bu Kui Siang."

Heng San memandang heran.

"She".. Bu....?"

"Ah, belum tahukah engkau, sicu? Thio-ciangkun itu adalah ayah tiriku. Ketika ibuku menjadi isterinya, ibu sudah janda dan aku ketika itu baru berusia dua tahun."

"Dan".. ayah kandungmu?"

"Kata ibu, ayah kandungku dahulu adalah seorang perwira pengikut pasukan Gouw Sam Kui dan tewas dalam perang. Ibu dan aku menjadi tawanan dan akhirnya ibu diperisteri oleh ayah tiriku itu. Ah, sudahlah, sicu. Kau minumlah obat pemberian ayah ini."

Kata Kui Siang yang agaknya tidak suka menceritakan riwayat ayah kandungnya.

Sedikit keterangan ini mendatangkan keharuan dalam hati Heng San dan diapun tidak menolak lagi ketika disuruh minum obat.

Dia bangkit duduk dan gadis itu membantunya, memberi minum obat dari mangkok itu.

Obat itu rasanya agak pahit namun baunya sedap sehingga diminumnya sampai habis.

Rasanya hangat sekali ketika memasuki perutnya.

Kui Siang membantu dia rebah kembali.

"Sekarang mengasolah saja, sicu. Aku akan melaporkan kepada ayah bahwa keadaanmu sudah membaik."

Gadis itu meletakkan mangkok kosong di atas baki yang masih berada di meja.

Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut mendengar Heng San mengeluh.

la cepat membalik dan menghampiri.

Dilihatnya pemuda itu gelisah sekali, mengeluh, memejamkan mata dan mukanya berubah merah sekali.

Ketika ia mendekat dan meraba dahi pemuda itu, ia terkejut karena terasa kulit mukanya panas sekali.

"Lauw-sicu".. kau".. kau kenapakah"..?"

Gadisitu menjadi panik, memegangi kedua pundak Heng San.

Heng San tiba-tiba terserang penas yang amat aneh.

Dia merasa dirinya dilambungkan ke atas, lalu diombang-ambingkan seolah berada di lautan yang amat kuat ombaknya, membuat kepalanya pening sehingga dia tidak berani membuka matanya, seperti terapung-apung di Iangit.

Ketika mendengar suara gadis itu memanggil-manggil dan kedua pundaknya diguncang-guncang, dia memaksa diri membuka kedua matanya.

Dilihatnya wajah itu!

Wajah yang selama ini menjadi buah mimpinya.

Wajah Ma Hong Lian yang membuatnya tergila-gila, wajah gad is yang telah merebut hatinya, yang dicintanya.

Gairah yang teramat kuat merangsangnya, membakar berahinya dan diapun merangkul leher itu, ditarik dan didekapnya muka itu, diciuminya.

"Hong Lian..."

Desahnya.

Kui Siang terkejut setengah mati.

la hendak meronta melepaskan diri namun tidak mampu karena dekapan itu kuat sekali.

Ketika mukanya, pipinya, hidungnya dan bibirnya dihujani ciuman oleh pemuda yang dikaguminya itu, tiba-tiba ia menjadi lemas lunglai.

"Lauw-sicu".. ah, Lauw-sicu...."

Ia menangis ketika mukanya.

didekap di dada Heng San.

Pada saat itu, daun pintu kamar terbuka dari luar dan seorang wanita melangkah masuk.

Wanita itu rnenahan jerit ketika melihat Kui Siang dipeluk Heng San, menelungkup di atas dada pemuda itu.

Wanita itu adalah ibu kandung Kui Siang yang baru saja diberitahu suaminya bahwa anak gadisnya bermain gila dengan Lauw Heng San dan sekarang berada di kamar pemuda itu.

Mendengar ini, ibu ini tidak percaya dan langsung lari memasuki kamar itu dan apa yang dilihatnya membuat ia hampir pingsan.

"Kui Siang....!"

Lbu itu menjerit.

"Apa yang kau lakukan ini"..?? ya Tuhan, anak durhaka, anak tak tahu malu, mencemarkan nama orang tua"...!"

Ibu itu menjerit-jerit sehingga banyak pelayan berlari-lari mendatangi dan berkumpul di luar kamar yang pintunya terbuka.

Mereka semua melihat Nona Siang masih duduk di tepi pembaringan di mana Heng San rebah telentang dan keduanya tampak terbelalak kaget dan kebingungan.

Walaupun dia merasa betapa tubuhnya melayang-layang, kepala.

pening dan rangsangan gairah berahi seperti membakarnya, namun jeritan ibu Kui Siang itu seolah menyeretnya kembali ke alam kesadaran dan membuat Heng San terkejut setengah mati menyadari akan perbuatannya dan keadaannya.

Tiba-tiba Thio-dangkun muncul dan dia melompat ke dalam kamar itu, memandang kepada dua orang muda di pembaringan itu dengan muka merah dan mata melotot.

"Bagus sekali perbuatan kalian!"

Bentaknya. Kui Siang lebih dulu menguasai dirinya dan ia menangis sambil berlari dan menjatuhkan dirinya berlutut didepan ayah tirinya. Sambil menangis ia berkata tersendat-sendat.

"Ayah""

Anak telah bersalah""

Ampuni saya atau".. hukumlah, bunuhlah saya, ayah"""

Gadis itu merasa malu bukan main.

Peristiwa tadi sungguh di luar dugaan.

Ia merasa seperti lumpuh ketika dirangkul dan diciumi Heng San.

Tiba-tiba Heng San melompat dan berlutut di sebelah Kui Siang.

Biarpun dia berada dalam keadaan tidak normal, namun dia masih dapat menguasai dirinya dan dia tahu bahwa gadis itu terancam bahaya besar, akan rusak nama dan kehormatannya, bahkan mungkin akan dihukum mati.

Dia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi!

"Ciangkun, bukan Nona Siang yang bersalah, melainkan saya yang bersalah!

Saya mengaku salah, saya bersedia menerima hukuman apapun juga."

Ibu Kui Siang yang bagaimanapun juga menyayang puterinya, melihat puterinya terancam lalu ikut pula berlutut di depan suaminya sambil menangis.

".. pandanglah mukaku dan ampuni Kui Siang". Ia meratap. Thio Ci Gan menghela napas panjang dan mengelus jenggotnya.

"Hemm, sudahlah. Kalau memang kalian berdua sudah saling mendnta, kami akan segera mengatur pernikahan kalian."

Setelah berkata demikian, Thio-ciangkun meninggalkan kamar itu dan segera mengeluarkan perintah agar segera dipersiapkan pernikahan yang harus dilangsungkan tiga hari kemudian.!

Hanya Lui Tiong seorang yang dapat menduga bahwa semua itu tentu sudah diatur oleh atasannya.

Teringat dia akan kata-kata panglima itu bahwa Heng San pasti dan harus mau menikah dengan Kui Siang!

Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan?

Dia hanya menyesali nasibnya sendiri dan semakin iri akan nasib baik Heng San yang mendapatkan gadis jelita dan menjadi mantu Panglima Thio!

Di dalam hatinya, Heng San merasa menyesal sekali akan kejadian itu.

Dia menyesal mengapa dia sampai hanyut oleh rangsangan berahi.

Padahal, sesungguhnya dia harus mengaku pada diri sendiri bahwa walaupun dia suka kepada Kui Siang, namun sebetulnya cintanya adalah pada Ma Hong Lian!

Akan tetapi, dia tidak mungkin membiarkan Kui Siang celaka dan tercemar namanya karena dia.

Maka, diapun mau melaksanakan pernikahan dan memaksa dirinya agar jujur terhadap Kui Siang, agar dapat memperlihatkan kasih sayangnya sebagai suami kepada gadis yang tidak berdosa itu.

Dan ternyata setelah menikah, Kui Siang bersikap amat mesra dan mencintanya sehingga mau tidak mau timbul pula perasaan sayang dalam hati Heng San kepada isterinya.

Suami isteri ini tampak mesra dan saling mengasihi sehingga ibu Siang-siocia (Nona Siang) juga ikut merasa bahagia.

Demikian pula Thio-ciangkun merasa gembira sekali karena dia sudah dapat mengikat Heng San menjadi mantunya, berarti orang muda itu kini menjadi pembantunya yang tak dapat diragukan lagi kesetiaannya.

Enam bulan telah lewat sejak Lauw Heng San menikah dengan Bu Kui Siang, anak tiri PanglimaThio Ci Gan.

Harus diakuinya bahwa Bu Kui Siang amat mencintanya dan watak gadis itu memang baik sekali, seperti watak ibunya.

Halus, lembut dan berperasaan peka.

Ia telah mendengar cerita Kui Siang tentang riwayat ibunya.

Ayah kandungnya bernama Bu Kiat, seorang panglima pembantu dalam pasukan Go Sam Kui yang dahulu melakukan perlawanan terhadap bala tentara Mancu.

Setelah pasukan Go Sam Kui hancur, Panglima Bu Kiat gugur dalam perang.

Isterinya bersama puterinya, yaitu Nyonya Bu dan Kui Siang, menjadi tawanan.

Ketika itu, yang menjadi komandan pasukan Mancu adalah Thio Ci Gan, seorang Han yang terpikat bangsa Mancu menjadi seorang panglima.

Demikianlah, karena tertarik oleh kecantikan Nyonya Bu, Thio Ci Gan mengambilnya sebagai isteri kedua.

Nyonya Bu terpaksa mener imanya untuk menyelamatkan puterinya.

Kui Siang lalu menjadi anak tiri Thio-ciangkun dan iapun disayang oleh ayah tirinya.

Dari isterinya ini pula Heng San mendengar bahwa para pemberontak itu, menurut persangkaan isterinya yang mendengar dari ibunya, adalah pemberontak-pemberontak yang menentang pemerintah Mancu.

Malam itu Heng San duduk termenung memikirkan itu semua.

Biarpun ia selalu teringat kepada Ma Hong Lian, namun harus diakuinya bahwa kelembutan dan cinta kasih Kui Siang membuat dia dapat menyayang isterinya pula.

Apalagi isterinya kini telah mengandung dua bulan.

Akan tetapi dia tidak dapat melupakan Hong Lian, gadis yang amat dikaguminya itu.

Dia merasa menyesal mengapa Hong Lian menjadi anggauta pengacau, anggauta pemberontak sehingga terpaksa berhadapan dengan dia sebagai musuh.

Teringat dia betapa dalam pertemuannya yang pertama dengan Hong Lian, gadis itupun telah menjadi seorang pencuri.

Kui Siang tentu saja tidak mengetahui dengan jelas keadaan para pemberontak itu karena ia hanya mendengar penuturan ibunya dan ia baru berusia dua tahun ketika ayah kandungnya gugur dalam perang sebagai seorang pejuang patriot melawan bangsa Mancu yang datang menjajah tanah air.

Sebetulnya rombongan penari itu adalah serombongan pendekar patriot yang bertugas menghubungi para orang gagah di dunia kang-ouw untuk rencana pemberontakan terhadap pemerintah Mancu.

Pemimpin rombongan itu bernama Ma Giok, seorang guru silat yang terkenal gagah perkasa dan berjiwa patriot.

Ma Hong Lian adalah anaknya yang sejak kecil telah ditinggal mati ibunya.

Hong Lian dididik ilmu silat oleh ayahnya sendiri sehingga setelah dewasa ia menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan berjiwa patriot pula.

Di dunia persilatan Ma Hong Lian dikenal dengan julukan Tit-Ie Li-hiap (Pendekar Wanita Tit-Ie).

Karena merasa penasaran melihat sepak terjang para pembesar, baik bangsa Mancu maupun bangsa Han yang menjadi pengkhianat dan menghambakan diri kepada pemerintah Mancu, melihat betapa mereka itu memperkaya diri sendiri dengan menindas rakyat, memaksa rakyat membayar pajak untuk dikorup demi menggendutkan perut sendiri, para orang gagah di daerah selatan segera mengumpulkan kawan-kawan seperjuangan untuk menggerakkan pemberontakan.

Akan tetapi usaha mereka itu selalu kandas karena pemerintah memang cerdik dan mendapat dukungan banyak orang pribumi yang berilmu tinggi dan menjadi pengkhianat, orang-orang yang sudah dipengaruhi dengan umpan harta, kedudukan tinggi, atau wanita.

Oleh karena gerakan besar mereka selalu gagal untuk menyerang pasukan pemerintah penjajah Mancu, maka kini sisa-sisa para patriot hanya bergerak dengan hati-hati dan sangat terbatas sekali.

Mereka lebih mengutamakan gerakan menentang para pembesar korup yang menindas rakyat dan membasmi kaki tangan mereka.

Untuk memberontak terhadap pemerintah, mereka tidak mampu.

Maka, jalan satu-satunya untuk membela rakyat adalah secara langsung menentang pembesar-pembesar setempat dan kaki tangan mereka yang menyengsarakan kehidupan rakyat jelata.

Ma Giok atau yang biasa disebut Makauwsu (Guru silat Ma) mendapat tugas untuk menghubungi orang-orang di utara yang berjiwa patriot dan memiliki kegagahan.

Di samping itu juga bertugas menyelidiki para pembesar yang menjadi kepercayaan kaisar, para pembesar yang memiliki pengaruh besar.

Dalam perjalanan untuk melaksanakan tugas ini, Ma Giok menyamar sebagai pemimpin serombongan penari silat.

Para pembantunya adalah puterinya sendiri, Ma Hong Lian, dan dua orang murid yang sudah dapat diandalkan.

Dia mendengar bahwa di Keng-koan tinggal seorang pembesar militer yang berpengaruh dan mempunyai banyak kaki tangan yang pandai.

Juga dia mendehgar bahwa Thio-ciangkun (Panglima Thio) itu kini membentuk seregu pasukan yang terdiri dari perajurit-perajurit pilihan, dipimpin oleh perwira-perwira yang amat lihai sehingga merupakan pasukan yang tangguh yang diberi nama Pasukan Garuda Sakti.

Ma Giok segera mengajak rombongannya melakukan penyelidikan ke kota Keng-koan.

Akan tetapi, sekali ini Ma Giok terlalu memandang rendah kepada Pembesar Thio itu.

Thio-ciangkun terlalu cerdik baginya.

Sebelum Ma Giok dan rombongannya sempat berbuat sesuatu, sebaliknya keadaannya malah sudah diketahui para penyelidik yang disebar oleh Thio-ciangkun.

Sarna sekali Ma Giok tidak tahu bahwa di dalam kuil di mana dia serombongannya bermalam, atau di tempattempat makan dan di mana saja, telah tersebar mata-mata yang lihai dari Thiociangkun.

Kemudian, sarna sekali tidak tersangka-sangka olehnya, terjadilah penyerbuan itu.

Dia sendiri tertawan dan dua orang muridnya tewas, sedangkan anaknya Ma Hong Lian, tidak diketahui bagaimana nasibnya.

Malam itu Ma Giok duduk termenung dalam kamar tahanannya.

Sudah berbulan-bulan, sedikitnya sudah enam bulan, dia dikurung dalam kamar tahanan ini.

Dia dapat menduga mengapa sampai sekarang dia belum juga dibunuh atau dihukum.

Tentu Thio-ciangkun ingin mengorek semua rahasia kawan-kawannya dari mulutnya.

Namun dia tidak pernah mau mengaku.

Yang dia tidak tahu adalah bahwa dia tidak disiksa itu karena usaha Lauw Heng San yang membujuk kepada Thio-ciangkun agar Ma Giok tidak dipaksa dengan kekerasan, melainkan dibujuk dengan halus.

"Orang itu berwatak keras,"

Demikian Heng San berkata kepada atasannya yang juga kini telah menjadi ayah mertuanya.

"Semakin diancam, semakin dia menantang kematian. Sebaliknya kalau diperlakukan dengan halus, ada harapan dia akan tunduk. Pula, puterinya belum tertawan dan saya yakin bahwa kawan-kawannya tentu akan berusaha membebaskannya. Dengan demikian, dia dapat kita umpankan sebagai umpan untuk memancing datangnya kawan-kawannya."

Nasehat ini diturut dan Ma Giok tidak disiksa, dan memang hal ini yang dikehendaki Heng San yang merasa kasihan kepada ayah dari Ma Hong Lian, gadis yang tak pernah dilupakannya itu.

Malam semakin larut, Ma Giok duduk sambil melamun.

Enam bulan telah lewat.

Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Akan tetapi dia tidak peduli akan nasib dirinya.

Dia sudah cukup kenyang dan lama hidup di dunia, cukup banyak menderita, kematian isterinya dan mengalami kegagalan dalam perjuangan.

Dia tidak takut dan tidak sedih kalau harus mati.

Akan tetapi dia teringat kepada anaknya.

Dia tidak tahu di mana adanya Hong Lian dan bagaimana dengan nasib puterinya itu.

Namun dia tidak putus asa.

Hong Lian lolos, berarti puterinya itu tentu selamat.

Apalagi dia pernah melihat pengemis gila itu yang bukan lain adalah Tan Kok yang berjuluk Ngo-jiauw-eng (Garuda Kuku Lima), paman gurunya sendiri!

Dia juga percaya bahwa setiap saat susioknya (paman gurunya) itu pasti akan muncul untuk membebaskan dkinya.

Ma Giok memandang ke luar pintu dan melihat enam orang perajurit pengawal duduk minum arak sambil main catur dengan gembira.

Tidak ada seorangpun di antara mereka memperhatikannya.

Saking lamanya dia dikeram di situ, para penjaga itu sudah terbiasa dan menganggap dia sebagai seorang tawanan biasa yang tak berdaya.

Ma Giok mencari-cari dengan pandang matanya, namun dia tidak melihat perwira Lihai Ycmg dulu merobohkannya sehingga dia tertawan.

Dia masih merasa penasaran mengingat betapa perwira tinggi kurus itu dapat merobohkannya, padahal untuk daerah selatan, permainan goloknya jarang terkalahkan.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa yang menjatuhkannya adalah Lui Tiong yang berjuluk Ui-bin-houw (Harimau Muka Kuning), seorang tokoh ahli pedang yang sebelum Lauw Heng San datang, menjadi jagoan nomor satu di antara para pembantu Panglima Thio!

Pada saar itu, tiba-tiba berkelebat bayangan orang memasuki ruangan itu.

Ma Giok merasa heran melihat seorang pemuda telah berdiri di situ dan semua perajurit penjaga yang melihatnya lalu menyambut dengan hormat.

"Lauw-sicu!"

Sapa mereka. Pemuda itu adalah Heng San. Dia menaruh telunjuknya ke depan bibirnya dan berbisik.

"Sstt, jangan berisik, musuh datang. Kalian jagalah di sini dengan waspada, biar aku yang menyambut mereka di atas!"

Setelah berkata demikian, tubuh pemuda itu berkelebat dan lenyap dari ruangan itu.

Melihat gerakan Heng San, diam-diam Ma Giok menjadi terkejut sekali dan dia mengeluh dalam hatinya.

Pemuda tadi memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang agaknya lebih tinggi daripada tingkat perwira yang merobohkannya.

Tak disangkanya sarna sekali bahwa Panglima Thio ternyata memiliki jagoan-jagoan yang demikian banyak dan lihai.

Dengan menggunakan gin-kang yang hebat, Heng San sudah meluncur naik ke atas genteng.

Tadi dia sedang melamun dalam kamarnya membayangkan wajah Hong Lian yang tak pernah dapat dilupakannya biarpun ia sudah hidup senang di samping Kui Siang, isterinya yang tercinta dan mencintanya.

Kemudian ia teringat akan cerita Perwira Lui Tiong tentang adanya seorang pengemis gila, yang menurut Lui Tiong tentu seorang kawan rombongan Ma Giok.

Timbul keinginan daJam hatinya untuk dapat segera ."berternu kembali dengan Ma Hong Lian.

Ia, tahu gadis itu akan datang bersama-sama kawan-kawannya, mungkin pengemis itu, datang untuk mencoba membebaskan kawannya.

Semua harapan ini terdorong kerinduan hatinya untuk dapat ber'jumpa kembali dengan Hong Lian.

Dia menjadi geJisah dan segera dia membenahi pakaiannya dan melakukan perondaan di atas wuwungan rumah-rumah di Keng-koan.

Dalam perondaan ini, dia melihat berkelebatnya tiga bayangan orang.

Setelah dibayanginya, dia melihat bahwa mereka itu adalah gadis yang senantiasa dipikirkannya, Ma Hong Lian, bersarna seorang pengemis aneh dan seorang yang berpakaian seperti tosu (pendeta To).

Gerakan kedua orang kawan gadiS itu demikian ringan, menandakan bahwa mereka berdua memiliki silat yang tinggi.

Cepat Heng San mengambil jalan pintas, menyelinap ke tempat tahanan Ma Giok dan memberi peringatan kepada penpenjaga, kemudian dia sendiri melompat ke atas genteng dan dengan tabah menanti datangnya musuh dengan bertangan kosong saja!

Tak lama kemudian, tiga bayangan itu datang melayang di atas wuwungan dan tiba di atas rumah Panglima Thio yang besar, di mana terdapat tempat tahanan itu dan di mana terdapat pula para jagoan Thio-ciangkun.

Begitu mereka berhadapan, di bawah sinar bulan yang remang-remang dibantu sinar lampu yang menyorot dari bawah, Ma Hong Lian segera mengenal Heng San dan ia menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Heng San.

"Inilah sekor di antara anjing-anjing peliharaan pembesar jahanam Thio itu!"

Mendengar seruan Hong Lian ini, tangan pengemis aneh itu bergerak dan secepat kilat sinar menyambar ke arah tubuh Heng San.

Tadinya Heng San memperhatikan kakek pengemis ini dengan heran karena orang itu memang aneh.

Pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi diberi hiasan ronce-ronce di sana-sini sehingga aneh, wajahnya juga berlepotan lumpur, mulutnya seperti orang tersenyum-senyum geli, akan tetapi matanya mencorong seperti mata harimau di tempat gelap.

Apalagi ketika dia menyerang dengan sinar tadi, Heng San terkejut.

Dia melihat bahwa yang dilontarkan kakek itu adalah sebuah hui-to (pisau terbang) yang bentuknya melengkung bengkok.

Huito itu menyambar dengan mengeluarkan suara mendesing.

Ketika Heng San mempergunakan kegesitannya mengelak, pisau atau golok terbang itu meluncur lewat lalu dapat berputar dan terbang kembali kepada pemiliknya yang menerimanya dengan sambaran tangan kanan!

Bukan main, pikirnya.

Dia pernah mendengar akan senjata rahasia seperti ini, namun jarang yang mampu menggunakannya.

Orang yang mahir melempar hui-to yang dapat membalik seperti itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Pengemis aneh itu agaknya juga menyadari bahwa lawan yang mampu mengelakkan hui-tonya sedemikian mudah merupakan lawan tangguh.

Maka dia lalu menyimpan hui-tonya dan menggunakan tongkatnya yang panjang untuk menyerang HengSan.

"Heehhhh!"

Bentaknya.

Tongkatnya menyambar dengan dahsyat, menunjukkan betapa kuatnya tenaga sin-kang (tenaga sakti) pengemis itu.

Heng San melawan dengan mengerahkan kecepatannya.

Pemuda ini memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat dan menghadapi tongkat yang amat berbahaya itu dia segera bersilat dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, ilmu silatnya yang mengandung lima unsur dan berubah-ubah dengan amat cepatnya.

Melihat Heng San sudah saling serang melawan pengemis aneh, Hong Lian dan tosu itu hendak melompat ke bawah, Heng San yang sejak tadi menaruh perhatian, maklum bahwa gadis itu tentu akan nekat membebaskan ayahnya, maka cepat dia melompat, meninggalkan pengemis aneh dan menghadang di depan gadis itu.

"Nona, puiangiah! Engkau tidak akan berhasil, tiada gunanya, bahkan keseiamatanmu sendiri terancam!"kata Heng San.

"Keparat, siapa sudi mendengar nasehatmul"

Bentak Hong Lian dan iapun sudah menggerakkan pedangnya dengan tangan kanan untuk menyerang Heng San.

Heng San cepat rnengelak, akan tetapi dari samping menyambar serangkum angin yang dahsyat.

Dia terkejut dan melompat untuk mengelak.

Kiranya tosu itu yang menyerangnya dengan kebutan ujung lengan bajunya dan serangan tosu itu bukan main dahsyatnya.

Ketika Heng San melompat, dia dipapaki iagi oleh tongkat si pengemis dan kembali dia sudah bertanding melawan pengemis aneh itu, saling serang dengan serunya.

Pengemis itu berkata kepada dua orang kawannya.

"Ma-siocia, cepat turunlah bersama Ang-toheng (saudara Ang)!"

Setelah berkata demikian, dia memutar tongkatnya dengan cepat dan kuat sekali sehingga Heng San tak berdaya mencegah gadis dan tosu itu yang berlompatan ke bawah, tentu untuk membebaskan Ma Giok.

Heng San khawatir sekali kaiau-kalau gadis itu terancam bahaya.

Benar saja kekhawatirannya.

Tiba-tiba di bawah terdengar teriakan-teriakan para pengawal "Ada penjahat!

Ada penjahat"..!"

Terdengar suara senjata berkerontangan, tanda bahwa di bawah telah terjadi perkelhian.

Sebentar saja, keributan itu menarik perhatian dan para jagoanpun keluarlah.

Lui Tiong, Ban Hok, dan Auwyang Sin keluar dengan senjata di tangan dan segera mengepung gadis dan tosu itu.

Hong Lian dan tosu itu terkurung rapat oleh tiga orang jagoan daii sebelas orang perajurit pengawal yang sudah datang berlarian membantu.

"Ha-ha-ha! Memang niisib orang she Ma itu baik sekali"

Lui Tiong tertawa mengejek.

"Kini dia akan ditemani oleh puterinya dan seorang pendeta! Bagus! Jangan bunuh mereka, tangkap hiduphidup!"

Setelah berkata demikian, Lui Tiong rnemutar pedangnya maju mendesak, langsung menyerang tosu itu.

Akan tetapi di luar dugaan, tosu itu hebat sekali gerakannya.

Dengan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar, dia dapat melindungi dirinya bahkan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya daripada serangan Lui Tiong!

Juga Hong Lian mengamuk dengan pedangnya sehingga tidaklah mudah bagi para pengeroyoknya untuk merobohkannya, jangankan untuk menangkapnya hidup-hidup.

Melihat betapa keadaan tidak mungkin baginya untuk membebaskan ayahnya, Hong Lian menjadi marah sekali.

Gerakan pedangnya menjadi ganas dan begitu ia memekik panjang, pedang berkelebat dua kali ke kanan kiri dan robohlah dua orang perajurit yang mengeroyoknya menjadj korban pedangnya.

Juga tosu itu berteriak panjang dan sambaran ujung lenlgan bajunya merobohkan seorang pengeroyok karena kepalanya pecah disambar ujung lengan baju yang menjadi keras seperti baja itu.

Sementara itu, Heng San yang bertanding melawan pengemis bertongkat, menjadi gelisah sekali mendengar betapa hebatnya pertempuran di bawah.

Ada dua kekhawatiran yang bertentangan berkekecamuk dalam hatinya.

Di satu pihak khawatir kalau-kalau Hong Lian terluka atau tewas.

Kegelisahan ini menghirnpit hatinya dan dia tidak memperdulikan iagi lawannya.

Dia melompat rneninggalkan pengemis itu untuk dapat rnelihat dari dekat keadaan di bawah.

Pengemis itu memutar tongkatnya dan melompat turun untuk mengejar Heng San.

Akan tetapi ketika dia tiba di bawah, dia melihat betapa dua orang kawannya dikeroyok banyak musuh, maka diapun cepat membantu mereka.

Terjunnya pengemis dengan tongkatnya yang lihai itu membuat kepungan agak mengendur.

Akan tetapi Heng San tentu saja tidak dapat tinggal diam dan diapun menyerang lagi pengemis itu sehingga kembali tiga orang itu terdesak.

Diam-diam tosu dan pengemis itu merasa heran melihat sikap Heng San.

Terutama pengemis itu.

Dia tahu bahwa ilmu kepandaian Heng San amat tinggi dan kalau pemuda itu menghendaki, tadi tentu sudah dapat merobohkannya.

Akan tetapi pemuda itu tidak mau merobohkannya dan kelihatannya seperti ragu-ragu.

Seolah-olah pemuda itu mempermainkan mereka, juga mempermainkan kawan-kawannya sendiri.

Juga pengemis itu seperti mengenal gerakan Ilmu silat tangan kosong pemuda itu, mengingatkan dia akan kehebatan Ilmu tangan kosong gurunya sendiri!

Melihat keadaan mereka terancam bahaya, pengemis itu berseru.

"Mundur"

Dan tongkatnya berkelebat sedemikian rupa sehingga mengejutkan para pengeroyoknya.

Sebetulnya, Heng San mampu menyambut gerakan tongkat ini.

Akan tetapi karena dia memang menghendaki agar gadis itu dapat melarikan diri, diapun berpura-pura terkejut dan ikut mundur seperti para jagoan lain.

Kesempatan ini dipergunakan tosu dan pengemis Itu untuk melompat dan si pengemis memegang tangan Hong Lian diajak melarikan diri karena gadis itu agaknya nekat.

Melihat ini, Lui Tiong menjadi penasaran dan hendak mengejar, akan tetapi dia didahului Heng San yang berseru nyaring.

"Awas, Lui-toako!"

Tiba-tiba dari depan menyambar sinar berkelebat.

Semua jagoan terkejut karena serangan hui-to ini tidak terduga sebelumnya dan amat cepat datangnya, mengeluarkan suara mendesing.

Akan tetapi Heng San telah melompat ke depan dan berjungkir balik.

Dia menggunakan tangannya untuk menyampok sinar itu dari samping sehingga arah hui-to itu melenceng dan hilang di dalam kegelapan malam, tidak mendapatkan korban.

"Lihai sekali......!"

Seruan ini dikeluarkan kedua pihak, baik oleh Lui Tiong dan kawan-kawannya maupun oleh pengemis yang kagum akan gerakan Heng San menangkis hui-to.

Lui Tiong dan kawan-kawannya bernapas lega karena tawanan tidak sampai terampas musuh, akan tetapi merekapun menyesal tidak mampu menangkap tiga orang pengacau tadi, bahkan kehilangan tiga orang perajurit yang tewas.

Serangan tiga orang pemberontak itu membuat Thio-ciangkun menjadi marah sekali.

Dia lalu mengirim utusan ke kota raja untuk minta bala bantuan dan beberapa hari kemudian datanglah sepasukan prajurit kota raja dipimpin seorang panglima dan panglima itu ditemani seorang hwesio berusia kurang lebih enam puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berbulu seperti orang utan.

Heng San terkejut sekali ketika mendengar bahwa hwesio ini adalah Lui Im Hosiang, seorang tokoh kangouw yang terkenal sakti dan lihai sekali.

Semenjak terjadinya penyerbuan malam hari itu, Heng San sering kali kelihatan melamun di dalam rumahnya.

Perasaannya menjadi amat tidak enak.

Mulai timbul keraguan dalam hatinya.

Benarkah Hong Lian dan kawan-kawannya itu merupakan pemberontak-pemberontak yang jahat?

ataukah seperti diceritakan isterinya Kui Siang, mereka itu adalah golongan pahlawan, golongan patriot, yaitu orang-orang yang gagah perkasa yang siap membela bangsa dan tanah air dari kekuasaan bangsa asing dengan taruhan nyawa.

Dia menjadi ragu.

Dia sendiri adalah orang Han, seperti juga Thio-ciangkun, akan tetapi mengapa kini memperhambakan diri kepada kerajaan Mancu dan menentang bangsa sendiri yang menjadi patriot?

Dia menjadi bingung.

Hong Lian kah yang jahat ataukah dia yang tersesat?

Selagi dia duduk seorang diri melamun di kamar belakang, menghadapi seguci kecil arak, diminum lalu duduk lagi menghela napas panjang, terdengar langkah lembut dan Kui Siang telah berdiri dibelakangnya.

Dengan penuh rasa sayang kedua tangan isteri itu memegang pundak Heng San, memijat kedua pundak yang kokoh kuat itu.

"San-ko (Kakak San), kenapa sejak tadi engkau melamun dan minum arak seorang diri di sini?"

Tanya Bu Kui Siang dengan lembut. Heng San menangkap sebelah tangan isterinya, mencium tangan itu lalu berkata.

"Siang-moi (dinda Siang), mari duduklah dan kita bicara. Aku perlu sekali mendapatkan teman bicara yang dapat melegakan hatiku saat ini."

Kui Siang yang sudah tampak agak membesar perutnya dalam kehamilan tiga bulan itu lalu duduk berhadapan dengan suaminya. la melihat Wajah suaminya seperti orang yang lelah sekali.

"Ada apakah, suamiku? Apa yang merisaukan hatimu? Kulihat, semenjak terjadi penyerbuan penjahat yang hendak mernbebaskan tawanan, engkau tampak murung dan gelisah."

"Benar sekali ucapanmu, isteriku. Memang aku sedang gelisah memikirkan peristiwa itu."

"Apakah yang menggelisahkan hatimu?"

Tentu saja Heng San tidak mau mengatakan bahwa dia memikirkan Hong Lian.

"Aku sedang memikirkan kedudukanku sendiri dan kedudukan mereka yang kini aku tentang dan musuhi sesuai dengan kedudukan sebagai komandan pasukan keamanan Garuda Sakti. Sebetulnya, siapakah Ma Giok dan kawan-kawannya itu, Siang-moi? Benar-benarkah mereka itu penjahat, pemberontak yang membuat kekacauan? Ataukah mereka itu orang baik-baik dan aku yang jahat karena memusuhi mereka? Aku menjadi bingung, Siang-moi.

"San-ko, mengapa hal itu engkau risaukan? Memang, menurut ibu ada kemungkinan mereka itu adalah para patriot yang membela rakyat Han memusuhi pemerintah penjajah. Akan tetapi klta sarna sekali tidak tahu tentang urusan pemerintah. Yang jelas bagiku, ayah tiriku adalah seorang yang baik, yang memelihara dan mendidik aku dengan kasih sayang dan juga dia bersikap amat baik kepadamu. Oleh karena itu, wajarlah kalau engkau sebagai pembantu dan juga mantunya membelanya. Apa lagi kenyataannya, orang-orang yang menganggap diri mereka pejuang itu melakukan kekerasan dan kekacauan. Sudah menjadi kewajibanmu untuk membelanya, bukan?"

Heng San mengangguk-angguk dan menganggap ucapan isterinya itu cukup beralasan.

Orang-orang yang menjadi kawan-kawan Hong Lian itu adalah orang baginya.

Dia tidak tahu bagaimana watak mereka, bahkan dia tidak tahu benar orang macam apa adanya Hong Lian, gadis yang menjadi wanita pertama yang merebut hatinya.

Sebaliknya, dia mengenal baik ayah mertuanya.

Thio-ciangkun adalah seorang pembesar yang baik dan bijaksana.

Dan para pembantunya adalah pendekar-pendekar ternama.

Dia tahu, andaikata tidak ada Hong Lian di sana, dia tidak akan ragu memihak Thio-ciangkun.

Hanya rasa cintanya terhadap Hong Lian itulah yang membuat dia menjadi ragu dan gelisah!

"Engkau benar, Siang-moi, engkau benar....."

Suami isteri itu lalu bercakap-cakap dan tiba-tiba datang seorang perajurit anak buah Heng San, melaporkan bahwa dia dipanggil oleh Thio-ciangkun untuk urusan yang penting sekali.

Heng San bergegas menghadap Thio Ci Gan.

Panglima itu sedang duduk seorang diri dengan alis berkerut dan tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

"Ah, aku telah menunggu-nunggumu, Heng San. Duduklah!"

Setelah duduk, panglima itu menceritakan kepada Heng San bahwa setelah terjadinya penyerbuan para penjahat untuk membebaskan Ma Giok, dia menjadi tidak enak dan setiap malam selalu gelisah.

"Oleh karena itu aku merencanakan untuk memindahkan Ma Giok ke kota raja, biarlah para jaksa di sana yang akan memeriksanya."

"Rencana itu baik sekali, ayah,"

Kata Heng San kepada ayah mertuanya.

"Berarti kita bebas dari beban menjaga orang yang agaknya menjadi tokoh penting dalam gerombolannya. Heng San merasa ikut lega mendengar keterangan ini. Yang membuat dia gelisah adalah kalau memikirkan tentang Hong Lian yang terpaksa harus berhadapan dengan dia sebagai musuh.

"Akan tetapi, semenjak penyerbuan itu, tidak ada tanda-tanda mereka mengadakan aksi. Hal ini malah menggelisahkan hatiku, Heng San. Oleh karena itu, hari ini pergilah engkau melakukan penyelidikan di dalam dan di sekeliling kota. Juga selidiki sekitar jalan yang akan dilalui pasukan yang membawa Ma Giok ke kota raja besok lusa."

"Baiklah, ayah."

Heng San lalu pulang dan berkemas.

Dia tidak memakai pakaian yang ada gambar garuda di bagian dada, melainkan memakai pakaian sederhana dan biasa seperti pakaian penduduk biasa.

lsterinya membantunya dan dalam kesibukan itu isterinya mengerutkan alisnya.

"San-ko, aku melihat engkau begini pendiam seolah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu,"

Tegur sang isteri yang penuh perhatian terhadap suaminya. Heng San yang sudah selesai berkemas merangkul isterinya, mendekap muka isterinya ke dadanya dan dia menghela napas panjang.

"Isteriku, aku..... entah mengapa...... merasa amat tidak enak hati, seolah ada sesuatu yang buruk akan terjadi....."

"Aih, suamiku. Terus terang saja akupun demikian.... sejak aku bermimpi kemarin dulu...."

"Mimpi apa, isteriku?"

"Aku bermimpi, kita mendayung perahu berdua.... lalu tiba-tiba perahu terbakar dan aku terjatuh ke dalam lautan.... akan tetapi aku dapat berpegang kepada sepotong papan. Kulihat perahu kita terbakar dan engkau.....ah, engkau di perahuuuu...."

Kui Siang menangis. Heng San mempererat pelukannya dan mencium pipi isterinya.

"Siang-moi, itu hanya mimpi. Sudahlah, kita pasrahkan keselamatan kita kepada Thian (Tuhan). Bukankah orang yang melangkah di atas jalan kebenaran selalu dilindungi Thian?"

Setelah melepaskan rangkulannya, Heng San siap berangkat.

"Hati-hatilah, San-ko,"

Pesan isterinya.

Heng San mulai melaksanakan tugas yang diberikan oleh Thio-ciangkun.

Mula-mula dia berjalan-jalan dengan menyamar sebagai orang biasa dalam kota Keng-koan, menyelidiki rumah-rumah penginapan, taman-taman umum, bahkan rumah-rumah makan.

Namun tidak menemukan orang, yang mencurigakan.

Dia mulai merasa bosan dan kesal, dan juga mulai merasa lelah.

Ketika dia tiba di dekat pintu gerbang kota sebelah selatan, dia melihat seorang laki-laki tua berjubah lebar berjalan dengan cepat melintas di depannya.

Heng San melihat orang itu menoleh dan tersenyum kepadanya, lalu mempercepat langkahnya menuju ke pintu gerbang.

Dia menjadi curiga dan cepat membayangi karena merasa seperti mengenal wajah tadi.

Setelah orang itu keluar dari pintu gerbang dia menoleh lagi dan melihat Heng San di belakangnya dia lalu berlari cepat!

Heng San terkejut karena dia ingat bahwa wajah itu adalah wajah tosu yang ikut menyerbu untuk mernbebaskan Ma Giok, tosu yang amat lihai dan kuat sekali, dengan senjata kedua lengan bajunya yang panjang dan lebar.

Tentu saja dia merasa penasaran dan Heng San lalu menggunakan ilmu berlari cepat melakukan pengejaran.

Dengan pengerahan gin-kang (Ilmu meringankan tubuh) sehingga larinya secepat kijang, akhirnya Heng San dapat memperdekat jarak an tara dia dan orang itu.

Pada saat itu mereka sudah tiba di tepi sebuah hutan dan tosu itu berlari memasuki hutan.

Sebetulnya, mengejar lawan yang memasuki hutan amatlah berbahaya karena lawan itu akan bersembunyi dan melakukan serangan gelap atau jebakan.

Akan tetapi Heng San tidak menjadi gentar dan dengan berani dia mengejar terus, lari memasuki hutan itu.

Akan tetapi hutan itu cukup lebat dan dia tidak mengenal daerah hutan itu.

Setelah masuk ke dalam hutan, dia kehilangan orang yang dikejar, tidak tahu orang itu lari ke jurusan mana.

Heng San maklum bahwa akan percuma saja mengejar orang dalam hutan yang sudah lenyap dan tidak meninggalkan jejak.

Dia mengambil kepu!tusan untuk keluar dari hutan dan memanggil bala bantuan karena sudah diketahui bahwa tosu itu bersarang di dalam hutan sebelah selatan kota.

Akan tetapi tiba-tiba dia menghentikan langkahnya karena dia mendengar suara langkah orang dari belakang.

Cepat dia memutar tubuh dan memandang.

Jantungnya berdebar keras ketika dia melihat siapa yang menghampirinya.

Bukan lain adalah gadis yang selama ini menjadi kenangannya, gadis cantik jelita yang telah memikat hatinya sejak pertemuan pertama.

Ma HongLian si pendekar wanita dari Tit-Ie!

Hong Lian berhenti melangkah dan berhenti di depannya, dalam jarak empat meter, memandangnya dengan sepasang matanya yang tajam dan indah seperti mata burung Hong.

".... kau.... nona Hong Lian.... kau.... di sini?"

Tanya Heng San dengan suara gagap. Gadis itu menjawab tenang dan agak ketus.

"Akulah yang seharusnya bertanya, Sin-kun Bu-tek, engkau datang ke sini bukankah untuk mencari kami?"

Heng San tersenyum dan juga merasa heran.

"Bagaimana engkau dapat mengetahui nama lelucon yang diberikan orang kepadaku itu, nona?"

Gadis itu tersenyum mengejek.

"Hem, siapa yang tidak mengenal Sin-kun Butek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding), orang gagah perkasa yang telah menjual diri kepada orang kaya?"

Heng San tetap tersenyum dan menganggap bahwa gadis itu marah kepadanya dan hendak menang sendiri saja. Dia tetap bersabar dan memandang kagum.

"Nona, apakah nona juga sudah mengenal namaku? Aku she (bermarga) Lauw dan namaku...."

"Aku tidak perduli engkau she apa dan bernama siapa! Yang kutahu jelas adalah bahwa engkau seorang pemuda yang sudah tersesat jauh, tidak malu menjual diri kepada seorang pembesar kaki tangan kaisar kerajaan Mancu penjajah laknat! Engkau menjadi kaki tangan penindas rakyat!"

Heng San memandangnya dengan tersenyurn seolah merasa lucu melihat ulah seorang anak bengal.

"Aih, jangan memutar balikkan kenyataan, nona. Thio-ciangkun adalah seorang pembesar yang bijaksana, dan semua pembantunya adalah pendekar-pendekar gagah perkasa yang membela keadilan dan menjaga keamanan dan ketenteraman kehidupan rakyat. Adalah engkau dan kawan-kawanmu itulah yang tersesat dan mencari hasil dengan jalan yang mudah dan jahat. Engkau masih muda, nona, janganlah engkau ikut-ikut mereka yang jahat itu. Hiduplah sebagai seorang pendekar wanita yang budiman, sesuai dengan nama julukanmu itu. Aku merasa menyesal sekali melihat keadaanmu yang tersesat sedemikian jauhnya!"

Hong Lian memandang dengan heran dan marah, kemudian ia tersenyum meng ejek.

"Kalau engkau menganggap aku jahat, kalau aku kauanggap sesat, lalu kenapa beberapa kali engkau sengaja menolongku? Mengapa engkau sengaja membiarkan aku lolos? Apakah dengan cara itu engkau hendak memamerkan kepandaianmu dan hendak menghinaku?"

Heng San memandang dengan sinar mata tajam dan sikapnya bersungguh-sungguh.

"Memang aku bodoh, nona. Seharusnya orang-orang seperti engkau dan kawan-kawanmu itu kubasmi habis ltu telah menjadi kewajibanku, baik sebagai seorang yang mengaku menjadi orang gagah, maupun sebagai pemimpin pasukan Garuda Sakti yang kewajibannya rnenjaga keamanan dan membasmi para penjahat. Akan tetapi kepadamu...."

Muka Heng San berubah kemerahan dan berulang kali dia menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku.... aku tidak dapat melihat engkau tertangkap dan mendapat celaka; Aku..... aku rnerasa kasihan kepadamu, Nona Hong Lian...."

Wajah Hong Lian menjadi merah dan ia tampak marah sekali. Ia membantingbanting kakinya dan berkata galak.

"Huh! Tak bermalu! Siapa yang ingin kaubela? Siapa yang ingin mendapat kasihanmu? Aku tidak sudi!"

"Kau boleh mencaci maki aku, nona. Engkau boleh menganggap aku musuhmu yang menghalangi pekerjaanmu, akan tetapi betapapun juga, aku..... aku suka padamu....."

Tiba-tiba Hong Lian mendekap mukanya sendiri dengan kedua tangan dan ia menangis, tangis yang telah ditahan tahannya sejak tadi, tangis yang keluar dari hati yang jengkel, marah, gemas dan menyesal.

Heng San melangkah maju menghampiri dan memandang gadis.

itu dengan ragu-ragu.

"Nona.... kenapa engkau menangis? Menyesalkah engkau akan segala kesesatan yang telah kau lakukan selama ini? Maritah kembali ke jalan yang benar...."

Tiba-tiba Hong Lian membuka kedua tangan yang menutupi mukanya dan matanya yang kemerahan. karena tangis itu menatap tajam wajah pemuda yang berdiri di depannya itu.

"Siapa yang sesat? Aku memang menyesal......menyesal sekali.....!"

Heng San menjadi bingung dan tidak dapat menangkap apa yang dimaksudkan gadis itu.

"Nona Hong Lian, kalau sekiranya engkau takut kepada kawan-kawanmu untuk membebaskan diri dari gerombolan jahat itu, percayalah, aku sanggup untuk membebaskan engkau dari mereka. Kalau perlu, aku sanggup membasmi mereka semua dengan kedua tangankul"

Hong Lian masih terisak-isak.

"Sayang...... engkau menjadi komandan pasukan Garuda Sakti...."

"Kenapa sayang, nona? Akan tetapi..... kalau engkau mau melepaskan dirimu dan keluar dari gerombolan pemberontak dan pengacau jahat itu, akupun akan rela keluar dari pasukan Garuda Sakti. Karena sesungguhnya akupun tidak suka menjadi perwira karena walaupun pekerjaan membasmi para penjahat memang menjadi kewajiban seorang gagah, namun aku tidak suka harus bermusuhan dengan bangsaku sendiri."

"Kauw.... kau buta....!"

Sebelum Heng San dapat menjawab karena termangu heran dan tidak senang, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dan dari dalam rimba muncul dua orang yang segera dikenal Heng San dengan baik.

Mereka berdua itu adalah si tosu dan si pengemis aneh yang tempo hari menyerbu tempat tahanan bersama Hong Lian!

"Ha-ha-ha, ternyata Sin-kun Bu-tek bukan saja lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga lihai sekali memutar lidah!

Jika engkau memang seorang gagah seperti yang berkali-kali kaukatakan, jangan engkau memusuhi kami dan tinggalkan gedung Thio-ciangkun.

Akan tetapi kalau engkau berkukuh hendak membela pembesar anjing itu terpaksa kami melawan mati-matian.

Kalau perlu, kami harus melenyapkan engkau dari muka bumi"

Kata tosu itu. Heng San tersenyum mengejek mendengar omongan tosu itu.

"Engkau berpakaian sebagai pendeta, akan tetapi sesungguhnya engkau seorang jahat yang mengumpulkan kawan-kawan jahat. Perampok, pemberontak dan pengacau yang kerjanya hanya merampok dan mencuri. Akan tetapi aku tidak akan memperdulikan itu semua kalau kalian tidak membujuk dan menyeret seorang gadis memasuki duniamu yang kotor dan sesat itu. Sekarang, karena kejahatanmu sudah melewati batas dan kalian bertemu dengan aku, jangan harap aku akan dapat mengampuni kalian."

Heng San memang merasa benci sekali kepada kawan-kawan Hong Lian yang dianggapnya menjadi sebab kesesatan gadis itu, maka dengan cepat dia lalu maju menyerang tosu itu.

Tosu itu mengibaskan lengan bajunya untuk menangkis.

"Plakk!"

Kepalan tangan Heng San bertemu ujung lengan baju dan keduanya terdorong mundur. Tosu itu membentak marah.

"Pinto (aku) Ang Jit Tojin hari ini akan melawan mati-matian!"

Maka bertandinglah kedua orang itu dengan seru.

Akan tetapi Heng San yang sudah marah sekali dan menganggap bahwa dia bertanding demi kepentingan Hong Lian, untuk membebaskan gadis itu dari pengaruh mereka yang berdosa, tidak.

memberi banyak kesempatan k,epada lawannya.

Dia mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang hebat, memainkan ilmu silat tangan kosong Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat sehingga Ang Jit Tojin terdesak mundur oleh angin pukulan Heng San yang amat dahsyat.

Melihat ini, Tan Kok si Pengemis Aneh berseru marah dan dia memutar tongkatnya sambil berteriak.

"Sin Kun Bu-tek, engkau pengkhianat bangsa terimalah kematianmu!"

Tongkatnya berputar cepat dan menyambar dengan mengeluarkan angin menderu.

Akan tetapi Hengsan tidak merasa jerih.

DIa mempergunakan ginkang yang telah mencapai tingkat tinggi dan mengelak dan menangkis semua serangan dua orang lawan yang tua dan lihai itu, akan tetapi sekali ini dia hanya mengalah seperti tempo hari.

Dia bermaksud untuk dua orang yang dianggapnya telah menyeret Hong Lian ke dalam kesesatan mereka.

Hal ini membuat pengeroyok itu menjadi sibuk karena hasrus menghindarkan diri dari dua kepalan mau Heng San.

Hong Lian memandang dengan hati berdebar.

Ia tidak membantu karena perasaannya sangat tertekan.

Semenjak Ia bertemu dengan pemuda yang dulu merampas hasil curiannya, ia merasa amat kagum kepada pemuda itu.

Belum pernah ia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian lihai ilmu silatnya dan berwajah tampan, bersikap baik dan ramah.

Ketika ia bertemu lagi dengan Heng San dan mendapat kenyataan bahwa pernuda itu menjadi komandan pasukan Garuda Sakti, menjadi orang kepercayaan Thio-ciangkun, rasa kagum dan sukanya berubah menjadi perasaan benci dan menyesal.

Dan baru saja pemuda itu menyatakan cinta kepadanya.

Hal ini membuatnya menyesal dan bingung.

Memang ia sudah mempunyai dugaan bahwa pemuda itu memperhatikannya karena telah beberapa kali menolong dan membebaskannya, akan tetapi ia masih sangsi.

Kini mendengar pernyataan pemuda yang hendak membelanya, dan menyukainya, hatinya merasa sedih dan menyesal.

Ah, kalau saja Heng San berdiri di pihaknya.

Kalau saja pemuda itu seorang pendekar yang berjiwa patriot.

Alangkah bahagianya menyerahkan nasib dirinya kepada seorang pemuda seperti ini.

Ketika itu dari dalam rimba muncul lima orang yang bersenjata pedang dan golok.

Mereka segera mengeroyok Heng San yang rnasih mendesak dua orang lawannya.

"Hong Lian, kenapa engkau berpeluk tangan saja dan tidak membantu kami?"

Tosu itu menegur melihat Hong Lian masih tidak bergerak, hanya memandang seperti orang kehabisan akal.

Hong Lian tersentak kaget seperti baru sadar dari mimpi.

Ia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Heng San dengan gerakan cepat dan kuat.

Heng San mengelak dan dia menjadi bersedih.

Kalau hanya dikeroyok pengemis dan tosu itu ditambah lima orang muda yang tidak berapa tinggi kepandaiannya, dia masih dapat melayani mereka dengan mudah.

Akan tetapi kini Hong Lian maju mengeroyoknya dan hal ini membuat dia sedih dan juga.

marah sekali kepada kawan-kawan Hong Lian itu.

Dengan gesit Ia melompat ke sana sini dan kedua tangan kakinya bergerak cepat sehingga dalam waktu cepat dua orang muda yang mengeroyoknya telah dapat dia robohkan.

Melihat ketangguhan pemuda itu, si pengemis aneh mengeluarkan seruan yang merupakan isarat bagi para temannya untuk berkumpul di satu jurusan saja sambil mengeluarkan senjata rahasia masing-masing.

Pertama-tama, tiga orang muda dan Hong Lian menyerang dengan senjata rahasia piauw dan pelor besi.

Semua senjata rahasia itu meluncur bagaikan kilat menyambar ke arah tubuh Heng San.

Pemuda itu cepat melompat ke atas, tinggi sekali sehingga semua senjata rahasia itu meluncur lewat di bawah kakinya.

Akan tetapi ketika tubuhnya melayang turun, tiga sinar putih menyambar ke arah tububnya.

ltulah gin-piauw (piauw perak) yang dilepas oleh Ang Jit Tojin dengan kuat sekali.

Pada saat itu tubuh Heng San berada di udara.

Dia cepat mengerahkan gin-kang dan tubuhnya membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali di udara dan dengan cara ini dia berhasil menghindarkan diri dari sambaran tiga batang gin-piauw itu.

Baru saja kedua kakinya menginjak tanah, ada lagi tiga batang gin-piauw menyambar.

Sebuah menyambar ke arah lehernya, sebuah lagi menyambar ke arah ulu hati dan yang ketiga menyambar ke arah kaki.

Heng San tidak mempunyai waktu untuk mengelak dari semua sambaran piauw itu.

Dia menggunakan kaki kiri menendang piauw yang menyerang kaki, menggunakan tangan menyampok terpental piauw yang menyerang dada, lalu miringkan kepala untuk mengelak dari piauw yang mengarah leher.

Gerakan pemuda itu sungguh hebat, indah dan luar biasa sehingga mau tidak mau semua lawannya memuji.

Akan tetapi pujian yang dikeluarkan dengan suara keras itu membuat Heng San menjadi lengah dan tahu-tahu piauw ke empat meluncur dan biarpun Heng San sudah mencoba untuk miringkan tubuhnya, tetap saja piauw itu menancap di pundak kanannya!

Heng San mengaduh dan sambil menggertak giginya dia mencabut piauw itu.

Darah mengucur dari pundaknya.

Pada saat itu terdengar suara mengaum nyaring dan tahu-tahu sebuah huito (pisau terbang) telah dilontarkan pengemis aneh dan hui-to itu menyambar ke arah tubuh Heng San, disusul oleh hul-to ke dua dan ke tiga!

Karena terluka oleh piauw Ang Jit Tosu, Heng San menjadi marah sekali.

Sekarang ada tiga batang hui-to yang menyambar ke arahnya.

Dia menyambitkan piauw yang tadi dicabut dari pundaknya, menyambitkan piauw itu sehingga pisau terbang pertama terpukul runtuh ke atas tanah.

Hui-to ke dua menyambar dan Heng San meloncat ke atas, kemudian sambil melayang turun dia menendang hui-to ke tiga sehingga hui-to itu mencelat dan terbang ke lain jurusan dengan cepat sekali.

Terdengar pekik nyaring ketika hui-to yang tertendang itu menyambar dan disusul robohnya tubuh Hong Lian.

Hui-to tadi menancap di dada gadis itu.

Kiranya ketika Hong Lian melihat Heng San terluka oleh gin-piauw hatinya merasa kasihan dan ia tidak bergerak dan tidak lagi ikut mengeroyok, hanya memandang dengan gelisah.

Darah yang semakin banyak ke luar dari pundak Heng San, membasahi pakaiannya itu amat mengharukan hati Hong Lian sehingga ketika tiba-tiba hui-to yang tertendang oleh Heng San itu menyambar ke arahnya, ia tidak sempat mengelak dan tanpa dapat dicegah lagi hui-to yang tajam runcing itu menancap di dadanya sampai dalam!

Melihat peristiwa yang tidak disangka-sangkanya ini, Heng San menjerit keras dan dia melompat dan menubruk tubuh gadis itu.

Dia tidak memperdulikan apa-apa lagi, mengangkat kepala gadis itu ke pangkuannya dan berulang-ulang memanggil.

"Hong Lian.....! Hong Lian....."

Akan tetapi tubuh gadis itu terkulai lemas dalam rangkulannya. Perlahan-lahan kelopak mata gadis itu terbuka dan melihat Heng San memeluknya, ia tersenyum lemah.

"Hong Lian....!"

Gadis itu menggerak-gerakkan bibirnya akan tetapi yang keluar hanya suara bisikan lemah. Melihat ini Heng San mendekapnya dan mendekatkan telinganya pada mulut gadis itu.

"Hong Liang, engkau hendak memesan apakah? Katakan padaku, tentu akan kulaksanakan permintaanmu....."

"Kau.... engkau harus bebaskan ayahku...."

Sehabis berkata demikian, gadis itu terkulai dan tak bernapas lagi, menghembuskan napas terakhir di pangkuan Heng San.

Heng San ingin menjerit, ingin menangis, ingin mengamuk.

Dia menganggap kematian gadis i tu adalah kesalahan orang-orang yang sekarang mengepungnya.

Para pemberontak jahat ini telah menyesatkan Hong Lian dan kini gadis itu menjadi korban, mati dalam keadaan menyedihkan.

Mati di bawah tikaman senjata pemimpin mereka sendiri, digerakkan oleh tendangannya, mati dalam tangannya, padahal dia amat mencintai Hong Lian.

Dan ini semua gara-gara para pemberontak itu.

Ini semua gara-gara tosu jahanam dan pengemis gila itu!

Heng San mengangkat kepala dan memang ke kanan kiri dengan sinar mata nyeramkan.

Kawan-kawan Hong Lian melihat betapa serangan mereka malah menewas gadis itu, dan melihat betapa pemuda yang menjadi lawan mereka itu menubruk dan menangisi mayat Hong Lian menjadi terheran-heran, kesima dan tidak mampu bergerak.

Kini, melihat pemuda bangkit berdiri dengan sikap dan pandangan mata liar mengerikan, mereka siap dengan jantung berdebar tegang.

Wajah Heng San saat itu seperti wajah sekor harimau terluka yang sudah nekat dan haus darah.

"Kalian telah membunuhnya! Kalian orang-orang jahat telah menyeretnya ke jurang maut. Kalian harus membayar untuk itu!"

Teriaknya, dengan suara parau, mengandung tangis, menyeramkan seperti suara iblis yang penuh dendam.

Setelah mengeluarkan kata-kata itu dengan suara yang menyeramkan, Heng San ialu meloncat ke depan menubruk orang yang terdekat.

Seorang yang bersenjata golok terpegang olehnya.

Heng San menotok pemuda itu sehingga tidak mampu bergerak, lalu memegang kedua kakinya dan memutar-mutar tubuh itu, dipergunakan sebagai senjata dan menyerang semua orang yang mengepungnya.

Melihat pengamukan Heng San yang seperti kesetanan itu, bahkan Ang Jit Tojin dan pengemis aneh itu menjadi gentar juga dan mereka melangkah mundur.

Dua orang pemuda lain yang mencoba untuk menyerang, dalam beberapa detik saja sudah terkena tendangan kaki Heng San dan terpukul tubuh kawan sendiri sehingga roboh dan tidak mampu bangkit kembali.

Melihat pemuda yang dijadikan senjata itu telah menjadi mayat pula dengan kepala pecah, Heng San melemparkan mayat itu dan mengamuk dengankedua tangan kakinya.

Ang Jit Tojin dan pengemis aneh itu lalu menghujani Heng San dengan senjata rahasia mereka.

Dua orang itu memang ahli melempar senjata rahasia.

Heng San harus bersikap hati-hati dan mempergunakan kegesitan gerakan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini.

Dua orang lawan yang sudah merasa jerih itu mernpergunakan kesempatan ini rnelarikan diri ke dalam hutan.

"Jangan lari"

Heng San rnembentak mengejar.

"Ke manapun kalian pergi sebelum aku dapat rnernbunuh kalian, jangan harap dapat lolos dari tanganku!"

Dengan cepat sekali dia rnengejar dan karena ilrnunya berlari cepat memang luar biasa, sebentar saja dia dapat menyusul si pengernis Tan Kok yang lebih lemah gin-kangnya.

Dia menyerang pengemis itu dengan dahsyat dan Tan Kok melawan dengan tongkatnya.

Melihat ini Ang Jit Tojin juga berlari kernbali untuk membanntu kawannya.

Biarpun dikeroyok orang yang rnerupakan tokoh-tokoh dunia persilatan dengan ilrnu silat yang sudah tinggi tingkatnya, tetap saja Heng San dapat rnendesak mereka.

Tingkat ilmu silat tangan kosong Heng San rnernang sudah hebat sekali bukan hal berlebihan kalau Liok-tai-jin memberi julukan Sin-kun Bu-tek (Tangan Sakti Tanpa Tanding) kepadanya.

Setelah bertempur selama puluhan jurus, tiba-tiba Heng San yang sudah mendesak kedua orang lawannya itu mendapatkan peluang baik.

Sambaran lengan baju Ang Jit Tojin dapat dia tangkap dengan tangan kanan, sedangkan dia menggunakan tangan kiri untuk menghantam ke arah leher si pengemis Tan Kok dengan tangan miring.

Pada saat itu, tongkat pengemis itupun menyambar ke arah dadanya.

Namun Heng San tidak perduli akan serangan pada dadanya itu.

Dia memang bertekad untuk mengadu nyawa dan membiarkan dadanya menyambut pukulan tongkat itu.

"Prakkk.... bukkkl"

Dua pukulan itu hampir berbareng mengenai sasaran.

Akan tetapi kalau pukulan tangan kiri Heng San membuat tulang leher Tan Kok patah dan pengemis itu roboh dan tewas seketika, sebaliknya pukulan tongkat pengemis itu yang mengenai dada Heng San yang amat kokoh kuat hanya mendatangkan rasa nyeri dan luka yang tidak berbahaya.

Walaupun demikian, karena dia terluka dalam, dia merasa dadanya panas lalu muntahkan darah segar.

Melihat kawannya tewas dan tahu bah wa dia sendiri tidak akan mampu menandingi lawan, Ang Jit Tojin la1u melompat dan meiarikan diri.

Heng San mengejar terus.

Sebenarnya, walaupun ilmu berlari cepat tosu itu lebih tinggi dari ilmu berlari cepat si pengemis aneh, namun masih be1um dapat menandingi kecepatan lari Heng San.

Sekarang, daiam keadaan terluka o1eh hantaman tongkat Tan Kok tadi, hal ini tentu saja mengurangi kecepatan lari Heng San, maka kecepatan mereka menjadi berimbang dan sampai lama jarak antara mereka tetap.

tak berubah.

Setelah berlari beberapa li jauhnya, tibalah Ang Jit Tojin di depan sebuah kelenteng (kuil) tua yang berdiri di kaki sebuah bukit.

Tosu itu lalu melompat memasuki kuil itu dan lenyap.

Heng San berhenti, berdiri di depan pintu kuil dan berteriak-teriak.

"Tosu siluman! Keluarlah engkau untuk terima binasa. Jangan engkau mengotorkan tempat ibadah suci ini dengan darahmu yang kotor! Hayo keluar, atau aku akan menyeretmu ke luar!"

Heng San terengah-engah dan merasa dadanya panas dan nyeri.

Karena tidak mendengar tosu Itu menjawab dan tidak melihat dia ke luar, Heng San menjadi marah sekali.

Dia melompat maju, menendang daun pintu kuil sehingga terdengar suara gaduh.

Pintu terbuat dari kayu tebal itu pecah berantakan dan pecahannya terbang ke sana-sini.

"Tosu siluman, engkau hendak lari ke mana?"

Bentaknya sambil melompat ke belakang untuk menjaga kalau-kalau diserang senjata rahasia yang ampuh dari tosu itu.

Tiba-tiba sesosok tubuh tua tampak keluar darl daun pintu yang sudah pecah ambrol itu.

Seorang kakek tua renta berpakaian pengemis yang melangkah perlahan lalu berdiri di depan pintu, berhadapan dengan Heng San dalam jarak empat meter.

Heng San memandang wajah kakek itu dan dia membelalak-belalakkan kedua matanya, lalu menggunakan punggung kedua tangannya untuk menggosok-gosok kedua matanya.

Dia tak percaya akan apa yang dilihatnya mengira bahwa itu adalah akibat luka dalam dadanya.

Setelah menggosok-gosok kedua matanya, dia kembali memandanng penuh perhatian.

Seorang kakek pengemis yang tua sekali dan wajah..., wajah itu, tubuh yang kurus kering itu, pakaian tambal-tambalan itu....!

Kakek pengemis dengan sepasang mata mencorong marah.

Dan dia melihat lawannya tadi berada di belakang si kakek dengan sikap tegang dan jerih.

Dan belakang tosu itu muncul pula lima orang yang kesemuanya tampak gagah perkasa yang sikapnya keren dan penuh semangat.

Heng San merasa betapa matanya berkunang dan seluruh tubuhnya lemas.

Dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek pengemis tua renta itu.

"Suhu.......!"

Suaranya yang dalam keadaan biasa pasti akan terdengar gembira dan girang itu kini terdengar penuh keraguan melihat betapa Pat-jiu Sin-kai (Pengemis Sakti Tangan Delapan), yaitu gurunya sendiri, kini memandang marah dan betapa Ang Jit Tojin ternyata bersahabat dengan gurunya.

"Heng San sudah gilakah engkau?"

Pat-jiiu Sin-kai menegur dengan suara yang terdengar lebih sedih dari pada marah.

"Suhu, kalau tecu bersalah, silahkan suhu menghukum tecu. Akan tetapi, sesungguhnya tecu tidak mengerti apa kesalahan tecu sehingga suhu menjadi marah kepada tecu."

"Hemm, murid durhaka! tahukah engkau siapa orang-orang yang kau bunuh itu? Tahukah engkau, siapa Ma Giok yang kau tawan itu?"

Heng San memandang wajah suhunya dan melihat sepasang mata suhunya masih memancarkan sinar kemarahan, dia menunduk kembali dan menjawab dengan suara tetap walaupun dibayangi keraguan.

"Orang-orang yang tecu basmi itu adalah pemberontak-pemberontak jahat yang melakukan kekacauan dan merampok rakyat. Ma Giok adalah seorang pemimpin gerombolan perampok, seorang penjahat berbahaya, suhu."

Kemudian, setelah berhenti sebentar dia menambahkan dengan cepat "dan juga dia seorang ayah yang jahat yang menyeret puterinya sendiri ke dalam jurang kejahatan!"

Pat-jiu Sin-kai memandangnya dengan mata melotot, akan tetapi dia menahan perasaannya dan bertanya "Dan tahukah kau siapa Ngo-jiauw-eng yang kau bunuh tadi?"

"Ngo-jiauw-eng (Garuda Kuku Lima)? Suhu maksudkan pengemis aneh tadi? Ah, dia orang yang jahat pula. Dia menggunakan kepandaiannya untuk menjadi penjahat dan dia merupakan pemimpin gerombolan pengacau itu."

Wajah pengemis tua itu menjadi merah sekali, dadanya serasa hampir meledak saking marahnya dan terasa amat nyeri seperti ditusuk di bagian kiri dadanya.

Dia maklum bahwa tekanan perasaan yang amat berat ini membuat penyakitnya kambuh kembali dan jantungnya terserang hebat.

Akan tetapi dia masih menekan perasaan hatinya dan bertanya "Dan tahukah engkau, hai anak durhaka, hai murid murtad, siapakah Thio-ciangkun yang kaubela itu?"

Terkejutlah Heng San mendengar gurunya mencaci maki dengan marahnya.

Dia memandang gurunya dan merasa semakin heran melihat gurunya memandang kepadanya dengan marah, wajahnya merah dan tangannya menekan dadanya yang sebelah kiri.

Dia menjawab dengan bibir gemetar dan suara meragu.

"Thio-ciangkun.... adalah seorang pembesar yang.... bijaksana.... seorang yang mengutamakan keadilan yang membela dan menjaga keamanan rakyat yang membasmi para penjahat...."

"Cukup! Tutup mulutmu yang kotor, engkau..... engkau manusia rendah budi Engkau...... tidak saja melumuri muka gurumu dengan kotoran, akan tetapi engkau bahkan mengkhianati orang tuamu sendiri, engkau juga mengkhianati bangsa sendiri..... engkau..... engkau...... terkutuk!"

Pat-jiu Sin-kai terhuyung-huyung kearah Heng San dengan kedua tangan terkepal, sikapnya hendak menyerang tangan kanan terkepal dan tangan kiri menekan dada.

Akan tetapi sebelum dia memukulkan tangannya ke arah kepala Heng San, jantungnya yang terserang tekanan hebat itu tidak kuat lagi sehingga ia menyemburkan darah dari mulut, roboh terpelanting.

Heng San melompat dan memeluk tubuh suhunya, tidak peduli betapa darah dari mulut gurunya yang memancar itu membasahi seluruh pakaiannya, bahkan mukanya juga terkena darah.

Dia memeluk gurunya dan meratap-ratap.

"Suhu....., suhu..... ampunkan tecu,..... bunuhlah tecu kalau tecu bersalah".., tapi jangan".. jangan menyiksa diri begini".. suhu,".. ampuuun".. suhu"..!"

Kini San benar-benar menangis seperti anak kecil.

Dia rnemondong suhunya yang kurus dan ringan itu, membawanya lari ke sana sini seperorang kehilangan akal dan memanggilmanggil suhunya, akan tetapi si pengemis sakti telah mati.

Akhirnya Heng San mengetahui akan kenyataan ini.

Dia meletakkan mayat gurunya di atas tanah, lalu berlutut di dekat mayat suhunya, menangis sambil memukuli kepalanya sendiri.

Kemudian dia merangkak menghampiri Ang Jit Tosu dan orang-orang gagah lainnya yang berdiri memandang kepadanya dengan sinar mata dingin dan marah.

"Cu-wi (anda sekalian), kalau aku bersalah, mengapa diam saja? Aku, Lauw Heng San, kalau dianggap (Lanjut ke

Jilid 05) Si Tangan Halilintar (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 bersalah, katakanlah apa kesalahanku itu!

Kalau kalian tidak mau menga takan, nah, inilah aku.

Bunuhlah, aku tidak akan melawan.

Tapi sedikitnya, jelaskan dulu mengapa suhu begitu marah kepadaku agar aku tidak mati penasaran."

Seorang gagah.yang tinggi besar mencabut goloknya hendak ditimpakan ke leher Heng San yang sudah mandah sa ja dan tidak ingin mengelak atau menangkis. Akan tetapi Ang Jit Tojin cepat mencegah.

"Bersabarlah, Cui-enghiong (pendekar Cui. Agaknya anak ini benar-benar telah tertipu. Biarlah aku menceritakan dulu semua hal yang agaknya masih gelap baginya."

Mendengar ini, Heng San seger a berlutut di depan Ang Jit Tojin.

"Sikap totiang (bapak pendeta) ini saja sudah membuat aku orang she Lauw merasa berterima kasih sekali dan untuk kesalahanku yang sudah-sudah nanti totiang boleh membalas sesuka hatimu.!"

Ang Jit Tojin mengangkat bangun Heng San.

"Berdirilah dan dengarkan kata-kataku agar engkau mengerti duduknya persoalan."

Heng San lalu bangkit dan dengan mata masih mengalirkan air mata dia mengusap.; dengan punggung tangan dan mendengarkan dengan muka ditundukkan.

"KetahqHah, Lauw Heng San. Ma Giok yang sekarang menjadi tawanan Thio-ciangkun itu sebenarnya adalah seorang bekas panglima dari pasukan Gouw Sam Kwie, jenderal yang dengan gigih sampai detik terakhir melawan dan menentang pasukan penjajah Mancu. Biarpun pasukan Jenderal Gouw Sam Kwie telah mengalami kekalahan, namun dalam hati Ma Giok masih menyala api patriot yang tidak rela melihat bangsa Mancu menguasai Cina dan memeras rakyatnya. Ma Giok sama sekali bukan pemirripin gerombolan seperti yang kau sangka. Sebaliknya dia adalah seorang pemimpin segolongan pendekar pembela bangsa dan tanah air yang gagah perkasa dan berani mengorbankan dirinya demi membela bangsanya. Ma Giok menjadi buruan pemerintah penjajah Mancu dan dia melarikan diri ke selatan dan dia berhasil menggerakkan orang-orang gagah, para pendekar, untuk bersatu melawan pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi usahanya itu mengalami banyak kegagalan karena di antara para pendekar terdapat banyak pengkhianat yang pro pemerintah Mancu. Mereka ini sebetulnya juga orang-orang Han yang tadinya adalah pendekar-pendekar yang berjiwa patriot. Akan tetapi karena pemerintah Mancu mempunyai banyak penasihat yang cerdik pandai, maka banyak orang gagah yang terpengaruh oleh harta benda dan wanita cantik, mau saja menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu, tidak sadar bahwa mereka tertipu."

Mendengar ini Heng San mengerutkah alisnya, teringat akan pengalamannya sendiri.

Apakah dia termasuk orang yang tertipu karena pengaruh harta dan wanita?

Apakah isterinya, Kui Siang, juga merupakan umpan baginya?

"Para pembesar Mancu itu amat cerdik.

Mereka menggunakan harta"

Kedudukan tinggi, atau wanita cantik untuk memikat hati para pendekar sehingga mereka tunduk dan dapat diajak bekerja sama tanpa menyadari bahwa mereka d1jadikan antek penjajah untuk menindas bangsa sendiri.

Karena inilah maka usaha Ma Giok banyak mengalami kegagalan.

Dengan hati pedih Ma Giok lalu melarikan diri lagi dari pengejaran antek-antek Mancu.

Dia lari bersama puteri tunggalnya, yaitu Ma Hong Lian, merantau sambil tiada hentinya melanjutkan perjuangannya.

Dia mengumpulkan orang-orang gagah di mana saja untuk membasmi para pembesar kaki tangan kaisar yang menindas rakyat."

Heng San teringat kepada Hong Lian yang sudah tewas.

"Ahh, Hong Lian...."

Dia menengok ke arah mayat gadis itu yang dia tinggalkan tadi.

"Jenazahnya sudah kami urus,"

Kata Ang Jit Tojin. Heng San melihat betapa jenazah gurunya juga sudah diangkat ke dalam kuil oleh beberapa orang gagah.

"Usaha Ma Giok dan puterinya mendatangkan ban yak orang gagah yang tadinya tidak acuh, kini timbul dan bangkit kembali semangat mereka. Di antara mereka adalah pin-to (aku) sendiri, dan kawan-kawanku. Bahkan Pat-jiu Sinkai juga tergerak hatinya dan mendukung. Akan tetapi karena dia sendiri sudah sakit-sakitan, dia mencari suhengnya yang ternyata sudah menjadi per tapa di atas puncak bukit dan tidak mau mencampuri urusan dunia. Maka dia hanya dapat mengajak murid keponakannya, yaitu Ngo-jiauw-eng Tan Kok untuk ikut berjuang dan Tan Kok adalah pengemis aneh yang tewas di tanganmu."

Mendengar cerita ini, Heng San menutupi mukanya dengan tangan dan dia menangis penuh penyesalan.

Jadi Tan Kok si pengemis aneh itu adalah suhengnya (kakak seperguruannya) sendiri karena gurunya adalah paman guru Ngojiauw-eng Tan Kok.

Dia teringat bahwa suhunya, Pat-jiu Sin-kai telah lama berusaha mendapatkan seorang murid untuk dijadikan wakilnya dalam perjuangan yang dimaksud ini karena pengemis sakti itu sering terserang penyakit dan merasa dirinya sudah terlalu tua dan tidak kuat lagi.

Dan setel.ah mendapatkan dirinya sebagai murid, kini dia malah memusuhi kawan-kawan seperjuang gurunya, bahkan "Pin-to sendiri adalah seorang sahabat lama Pat-jiu Sin-kai, maka ketika dia datang kepada pin-to minta bantuan, segera pin-to meluluskan permintaannya dengan senang hati.

Pin-to berangkat lebih dulu ke Keng-koan untuk menyusul Ngo-jiauw-eng yang sudah lebih dulu menggabungkan diri dengan Ma-enghiong dan puterinya.

Adapun Pat-jiu Sin-kai sendiri hendak pergi ke Ciong-yang untuk mengumpulkan beberapa orang kawan lagi."

Heng San mendengarkan cerita itu dengan mata basah dan kini mulailah dia mengerti bahwa dia telah salah sangka, dia telah tertipu oleh ayah mertuanya dan para pembantu Thio-ciangkun.

"Sebagai tempat pertemuan telah ditetapkan di sini dan ternyata hari ini Pat-jiu Sin-kai telah dapat mengumpulkan beberapa kawan yang cukup kuat."

Ang Jit Tojin menunjuk kelima orang gagah yang berada di situ.

"Mereka ini adalah Ciong-yang Ngo-taihiap (Lima pendekar besar dari Ciong-yang) yang terkenal dengan kepandaian mereka yang tinggi."

Heng San pernah mendengar nama itu sering dipuji-puji gurunya sebagai pendekar-pendekar besar di jaman ini. Kemudian dia berkata kepada Ang Jit Tojin dengan hati penuh penyesalan.

"Tecu memang sudah pantas menerima binasa! Akan tetapi sebelum cuwi turun tangan membebaskan tecu dari tubuh yang kotor ber lumur darah kawan-kawan ini, tecu mohon sedikit keterangan tentang Thio-ciangkun dan para pembantunya. Thio-ciangkun bukan saja telah menjadi atasan tecu, bahkan menjadi ayah mertua tecu"..!"

"Bersiaplah untuk mendengar kenyataan yang amat pahit ini; Lauw Heng San. Kami sudah mengetahui bahwa engkau telah menjadi mantu Thio-dangkun dan bahwa isterimu telah mengandung. Engkau mau tahu siapa itu Thio--Ciangkun? Ketahuilah, engkau orang muda yang terlaIu bodoh sehingga dapat tertipu olehnya. Dia adalah sri gala yang berujud manusia, terkenal karena kecerdikan dan kekejamannya. Dia berkuasa besar sekali dan mempunyai pengaruh yang amat besar di istana Kaisar Mancu. Dialah tukang membasmi para patriot yang gagah perkasa. Dia pula yang membunuh banyak ahli-ahli sastra yang pandai karena mereka menggerakkan semangat rakyat dan membangun jiwa patriot para orang gagah. Entah sudah berapa banyak orang "gagah", pendekar.. pendekar sejati, pahlawan-pahlawan bangsa, tewas di tangannya yang berlumur darah. Thio-ciangkun yang kau junjung tinggi, yang menjadi ayah mertuamu itu bukan -lain adalah tangan kanan Kaisar Mancu dan dia itulah yang sebenarnya menindas rakyat. Thio-ciangkun itu bukan lain adalah seorang pangeran Mancu yang menyamar sebagai bangsa Han sehingga dia dapat mengelabui banyak orang gagah menjadi pengkhianat bangsa. Dan tahukah engkau, Lauw Heng San, bahwa isterimu itu, Kui Siang, bukan bermarga Thio melainkan bermarga Bu?"

Heng San mengangguk.

"Isteri tecu sudah mengatakan bahwa ia adalah anak tiri Thio-ciangkun."

"Hemm, dan tahukah engkau bagaimana ia menjadi anak tiri pangeran jahanam itu dan siapakah ayah kandungnya?"

Heng San menggeleng kepala.

"Ayah kandung Bu Kui Siang bernama Bu Kiat, seorang panglima gagah perkasa dalam pasukan Jenderal Gouw Sam K wi. Panglima Bu Kiat tewas dalam pertempuran. Isteri dan anaknya yang baru berusia dua tahun menjadi tawanan. Karena kecantikannya, maka Thio Ci Gan alias Pangeran Maneu itu mengambilnya sebagai selir. Nyonya Bu terpaksa tunduk demi menyelamatkan anak perempuannya, yaitu Bu Kui Siang."

Heng San mendengarkan dengan heran dan penasaran, menyesali kebodohannya sendiri. Teringatlah dia akan peristiwa"

Malam itu ketika dia seperti mabok dan terjadilah hubungan intim an tara dia dan Kui Siang.

Tidak mungkin, pikirnya.

Dia bukan laki-laki yang demikian lemah sehingga lupa diri oleh nafsu berahi.

Ini pasti ada sebabnya!

Kalau Kui Siang dijadikan umpan, berarti tentu ada sesuatu dalam minumannya, yang membuat dia iupa diri.

Ah, kasihan Kui Siang!

"Tentu engkau juga belum mengetahui siapa sebenarnya orang-orang yang menjadi pembantunya, yang kau anggap sebagai pendekar-pendekar gagah perkasa itu"

Tanya pula Ang Jit Tojin.

"Sepanjang penglihatan mata teeu yang hampir buta ini, para pembantu itu adalah orang-orang yang gagah perkasa, kecuali?eorang hwesio yang baru datang dari kota raja mengiringkan beberapa puluh perajurit bala bantuan."

"Hemm, jadi si iblis itu juga sudah datang?"

Ang Jit Tojin berseru.

"Harap to-heng jangan khawatir. Kalau baru Lui 1m Hosiang saja, kami masih sanggup melawannya."

Kata seorang di antara Ciong-yang Ngo-taihiap.

"Sekarang bersedialah untuk mendengarkan ceritaku yang terakhir"

Kata Ang Jit Tojin kepada Heng San dengan wajah keren "Teu sudah cukup mendengar dan tecu sudah cukup mengetahui akan kebodohan teeu sendiri.

Sekarang tecu hanya menyerahkan jiwa raga ke tangan cu-wi.

Terserah, mau disiksa, mau dibunuh, teeu tidak akan melawan.

Agaknya tidak ada hal lain yang lebih buruk daripada apa yang telah tecu lakukan.

Membunuh suheng sendiri, membunuhi orang-orang gagah pembela bangsa, membunuh"..

Hong Lian yang berjiwa patriot, menawan ayahnya yang ternyata seorang pendekar besar, kemudian"..

membunuh suhu sendiri.

Ya!

Suhu terbunuh oleh tecu!

Ada apalagi yang jahat daripada itu?

Tecu sudah selayaknya menerima binasa.

Hanya satu""

Kalau boleh tecu minta""

Mohon diselamatkan isteri tecu Bu Kui Siang dan anak dalam kandungannya, kalau bukan demi tecu, ya demi mendiang ayahnya yang patriot sejati".."

Sekali lagi air mata bercucuran dari kedua mata pemuda malang itu.

"Karena dosamu memang besar sekali, Lauw Heng San, maka biarlah kuceritakan hal ini padamu agar tampak jelas olehmu betapa tolol dan tersesat sikapmu selama ini. Tahukah engkau bahwa selama ini engkau telah membela dan membantu musuh-musuh besarmu sendiri? Musuh besar yang seharusnya kau basmi untuk membalaskan dendam sakit hati ayah-ibumu?"

Heng San terkejut dan memandang wajah pendeta itu dengan muka pucat sekali "Apa maksud to-tiang? Ada apa dengan ayah ibuku? Bukankah mereka rnasih berada di Lin-han-koan?"

Ang Jit Tojin menggeleng-geleng kepala dan bayangan pada wajah pendeta itu membuat Heng San menggigil.

"Apa yang terjadi dengan mereka?"

Dia berteriak.

"Katakan".. demi Tuhan katakanlah".."

"Tenanglah engkau, orang mudaI"

Seorang di antara lima. orang gagah itu menegur. Ang Jit Tojin berkata lirih.

"Orang tuamu. ayah ibumu telah mati terbunuh."

Heng San merasa seakan-akan nyawanya melayang.

Tiba-tiba tubuhnya menerima pukulan yang luar biasa hebatnya sehingga dadanya yang menderita luka dalam terasa nyeri bukan main.

Dia meloneat ke de pan dan menggunakan tangannya untuk mencengkeram ujung baju pendeta itu.

Kedua matanya melotot besar dan wajahnya menyeramkan, kedua lututnya menggigil.

Demikian kuat ia mencengkeram sehingga ujung kedua lengan baju itu hancur lebur bagaikan kertas tipis saja.

"Tolong".. tolong katakan siapa pembunuh ayah ibuku?"

Datanglah pukulan terakhir yang merupakan hukuman hebat bagi Heng San, keluar dari mulut Ang Jit Tojin.

"Siapa lagi? Siapa lagi pembunuh mereka kalau bukan orang yang kaupuji-puji, kau junjung tinggi, kau bela dan kausembah itu? Pembunuhnya bukan lain adalah Thio-ciangkun dan kaki tanganya"

Untuk sejenak Heng San bagaikan berubah menjadi mayat atau patung hidup.

Tubuhnya menjadi kaku dan diam tak bergerak, hanya kedua matanya yang bergerak-gerak memandang kepada Ang Jit Tojin dan pindah kepada kelima orang pendekar dari Ciong-yang itu.

Kemudian, tiba-tiba ia memekik keras dan dari mulutnya tersembur darah merah.

Baca Juga: Suling Emas 26

Baca Juga: Suling Emas 34

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert