Ceritasilat Novel Online

Suling Pusaka Kumala 5

Eps 5 Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Pusaka Kumala - Kho Ping Hoo.

Bukan hanya tertarik karena wajahnya yang cantik jelita, akan tetapi terutama sekali karena tertarik oleh wataknya yang amat bijaksana dan berbudi mulia.

"Kiok-moi......!"

Dia mengeluh lalu menggendong buntalannya dan melanjutkan perjalanan dengan hati terasa hampa.

Terasa benar himpitan cinta di dalam, hatinya pada saat itu.

Dengan penuh kewaspadaan dia meneliti perasaannya sendiri dan dapat merasakan bahwa cinta asmara membuat dia rindu kepada wanita yang dicintanya.

Rindu, ingin bertemu, ingin berkumpul, ingin mendekati, ingin menyenangkan, ingin menghibur dan ingin melindungi.

"Kiok-moi.....!"

Kembali dia mengeluh dan mempercepat langkahnya untuk mengusir pikiran yang mengganggu itu, akan tetapi juga dengan harapan mudah-mudahan dia akan dapat mengejar dan menyusul gadis itu!

Senja telah tiba dan Han Lin belum juga bertemu dengan dusun.

Dia berjalan menyusuri Sungai Huang-ho.

Matahari telah condong ke barat dan sinarnya membuat garis merah memanjang di permukaan sungai.

Burung-burung yang sehari sibuk mencari makan sudah berbondong-bondong terbang pulang ke sarang.

Cuaca mulai gelap.

Han Lin mengeluh.

Agaknya tidak terdapat dusun di dekat situ.

Tidak tampak sebuahpun perahu, dan tidak ada pula penggembala ternak yang menggiring ternak mereka pulang kandang.

Agaknya terpaksa dia harus melewatkan malam di alam terbuka.

Baginya sudah terbiasa melewatkan malam di tempat terbuka, akan tetapi entah mengapa.

Setelah ditinggalkan Kiok Hwa, dia merindukan kehadiran orang-orang lain dan dia akan merasa senang dan terhibur kalau dapat bermalam di rumah keluarga dusun.

Akan tetapi agaknya dia harus melewatkan malam di tepi sungai seorang diri.

Tidak akan ada makanan dan minuman hangat seperti kalau dia bermalam di rumah seorang dusun dengan keluarganya yang ramah.

Padahal perutnya terasa lapar sekali.

Terakhir kali perutnya terisi adalah ketika pergi tadi dia sarapan di sungai bersama Kiok Hwa.

Gadis itu masih membawa bekal roti kering dan dia menangkap ikan besar yang banyak berkeliaran di tepi sungai, kemudian ikan itu dibumbui oleh Kiok Hwa dan dipanggang.

Betapa lezatnya makan roti kering dengan panggang ikan!

Apalagi makan bersama Kiok Hwa.

Dan semenjak pagi tadi dia belum makan apa-apa, maka sekarang perutnya terasa lapar sekali.

Dia harus cepat mencari makanan, sebelum malam tiba, pikirnya.

Dia melepaskan buntalan pakaiannya dan meletakkan di bawah sebatang pohon yang tumbuh di tepi sungai.

Lalu dia mendekat ke tepi sungai, membawa sepotong bambu yang tadi dia pakai melawan Toa Ok.

Maksudnya hendak mencari kalau-kalau ada ikan berenang di tepi, akan ditangkapnya dengan tongkat bambu itu.

Akan tetapi hatinya kecewa karena di tepi sungai itu tidak ada ikan yang berenang.

Untuk mencari ke tengah tentu saja dia tidak mampu karena tidak ada perahunya.

Maka dia lalu meninggalkan tepi sungai dan mencari-cari di antara semak belukar.

Akhirnya dia melihat apa yang dicarinya.

Seekor kelenci bergerak hendak lari dari semak-semak.

Cepat Han Lin melemparkan tongkat bambunya dan tepat tongkat bambu itu mengenai kelenci dan tewaslah binatang itu.

Han Lin cepat mengambilnya.

Kalau ada Kiok Hwa, gadis itu mempunyai persediaan yang lengkap.

Pisau dan bumbu-bumbu.

Akan tetapi dia sama sekali tidak mempunyai perlengkapan.

Pisaupun tidak punya.

Terpaksa dia menggunakan Im-yang-kiam, bagian mata pedang yang putih, untuk menguliti kelenci itu!

Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi, Suaranya merdu dan Han Lin mengira bahwa yang bernyanyi itu seorang wanita, akan tetapi ternyata penyanyi itu seorang pemuda yang mendayung perahu ke tepi, dekat tempat dia duduk menguliti kelenci.

Dia memandang dan melihat seorang pemuda remaja yang pakaiannya seperti seorang petani, wajahnya tampan dan tersenyum-senyum, mata nya bersinar-sinar nakal.

"Aihh, menguliti kelenci menggunakan pedang! Ha-ha, betapa lucu dan canggungnya!"

Pemuda itu berkata sambil tertawa ketika menarik perahunya ke pinggir dan mengikat tali perahunya pada pohon di bawah mana Han Lin duduk.

Han Lin memperhatikan pemuda remaja itu.

Seorang pemuda biasa saja, pemuda dusun, agaknya nelayan atau petani.

Tampan dan gembira sikapnya.

"Terpaksa, kawan. Aku tidak mempunyai pisau, maka terpaksa menggunakan pedang."

Jawab Han Lin sambil tersenyum juga.

"Pedang yang begitu indah lagi. Sayang dipergunakan untuk menguliti kelenci. Aku mempunyai pisau kalau engkau membutuhkannya."

Kata pemuda itu dan dia mengambil sebuah pisau dari dalam perahunya, menyerahkannya kepada Han Lin. Han Lin tersenyum senang.

"Engkau baik sekali, sobat. Terima kasih. Maukah engkau menemani aku memanggang kelenci ini dan makan bersamaku?"

Dia menawarkan. Pemuda remaja itu mengernyitkan hidungnya, seperti memandang rendah.

"Panggang kelenci? Pakai bumbu apa?"

Han Lin menjadi rikuh.

"Aku tidak mempunyai bumbu, jadi dipanggang begitu saja."

"Ih, mana bisa dimakan? Daging apapun tidak enak rasanya tanpa bumbu. Aku tidak suka makan panggang daging tanpa bumbu, tentu rasanya hambar dan tidak enak. Kulitilah sampai bersih, buang isi perutnya. Nanti akan kuberi bumbu dan baru dipanggang."

"Engkau mempunyai bumbunya?"

"Jangan khawatir. Aku mempunyai persediaan lengkap."

Kata pemuda remaja itu.

"Bahkan aku mempunyai sepuluh buah bakpau yang masih baru, dan tadi aku menangkap enam ekor udang besar. Biarkan aku yang memanggang daging kelenci dan udang itu, ditanggung lezat!"

Han Lin merasa girang sekali. Harus diakui bahwa dia tidak begitu pandai memanggang daging, apalagi tanpa bumbu. Rasanya memang tidak enak dan tidak karuan, hambar seperti dikatakan pemuda remaja itu.

"Terima kasih. Engkau baik sekali. Aku sungguh beruntung dapat bertemu dan berkawan denganmu. Kenalkan, nama ku Han Lin. Engkau siapa?"

"Aku Eng-ji."

Jawab pemuda remaja itu dengan singkat dan dia mengeluarkan sebuah buntalan dari dalam perahunya, juga enam ekor udang besar yang masih hidup.

Dibukanya buntalan itu dan ternyata dia membawa perlengkapan masak yang lebih lengkap dibanding perlengkapan yang dibawa Kiok Hwa.

Bahkan terdapat pula panci, mangkok dan sumpit!

"Sudah selesai membersihkan kelenci itu?

Ke sinikan dagingnya dan buatkanlah api unggun yang besar."

Kata Eng-ji dengan suara memerintah.

Han Lin tidak membantah atau menjawab, melainkan memberikan daging kelenci dan pisaunya, mencuci tangannya lalu mencari dan mengumpulkan daun dan kayu kering untuk membuat api unggun.

Dengan cekatan dan trampil sekali Eng-ji memotong begini kelenci, memilih dagingnya dan membuang tulangnya, kemudian menusuk daging-daging itu dengan dua potong kayu.

Setelah itu, dia menyayat enam ekor udang itu, memberinya bumbu seperti juga daging kelenci tadi, bumbunya sederhana saja, garam, mrica dan bawang, lalu dia membungkus udang itu dengan tanah liat!

Han Lin memandang dengan heran dan tak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.

"Kenapa udang-udang itu dibungkus dengan tanah liat seperti itu? Apakah tidak menjadi kotor dan bagaimana memanggangnya?"

Eng-ji memandang kepadanya, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum. Han Lin melihat betapa manisnya pemuda remaja itu kalau tersenyum. Giginya putih kecil-kecil dan rata.

"Engkau belum pernah makan udang panggang bungkus tanah liat? Hem kau lihat dan coba saja nanti. Tidak ada masakan udang yang lebih lezat daripada di panggang dalam tanah liat begini."

Mulailah Eng-ji memanggang dua tusuk daging kelenci dan enam ekor udang yang dibungkus tanah liat itu. Sibuk dia bekerja, dan ketika Han Lin hendak membantunya, ditolaknya dengan keras.

"Memanggang begini memerlukan ke-ahlian dan perhitungan yang tepat. Kalau tidak, dapat hangus dan berbau sangit. Biarkan aku yang memanggangnya. Lebih baik engkau mencari air jernih di panci untuk dimasak dan untuk membuat air teh nanti."

"Air teh?"

"Habis kita mau minum apa? Aku ada membawa teh harum."

Han Lin terheran-heran.

Pemuda remaja ini sungguh luar biasa!

Akan tetapi hatinya menjadi senang sekali.

Dia mendapatkan seorang kenalan yang cekatan dan pandai masak.

Dia lalu mencari air jernih dalam panci, lalu membuat api unggun lagi untuk memasak air dalam panci.

Setelah airnya mendidih, Eng-ji menyuruh Han Lin mengambil bungkusan teh dari dalam buntalannya.

Nadanya memerintah, akan tetapi Han Lin menaati perintah itu dan jadilah air teh yang berbau harum!

Daging kelenci sudah masak pula.

"Nah, daging ini sudah masak! Nih, untuk kau setusuk. Ini bakpaunya. Bakpau dimakan dengan daging kelenci ini tentu enak."

Kata Eng-ji sambil mengambil buntalan bakpau yang sepuluh buah banyaknya itu. Bakpau itu masih baru dan lunak Mereka mulai makan bakpau dan daging kelenci yang rasanya amat gurih.

"Dan udangnya?"

Tanya Han Lin sambil memandang kepada enam ekor udang bungkus tanah liat yang masih dipanggang itu.

"Belum matang. Dan memang sebaiknya kita makan daging kelenci lebih dulu, karena kalau kita makan udangnya dulu, nanti daging kelencinya akan terasa kurang enak."

"Kenapa begitu?"

"Karena udangnya luar biasa lezatnya sih!"

Kata Eng-ji sambil menggigit daging kelenci dengan giginya yang putih berkilau.

Sementara itu, malam telah tiba dan cuaca mulai gelap.

Nyamuk mulai berdatangan.

Akan tetapi mereka aman dari gangguan nyamuk dan hawa udara yang mulai dingin karena adanya api unggun yang mengusir nyamuk dan hawa dingin, Agaknya Eng-ji juga lapar benar seperti halnya Han Lin.

Akan tetapi dia tidak dapat menghabiskan lima buah bakpau.

Setelah habis empat buah, dia memberikan yang sebuah lagi untuk Han Lin.

"Nih, satu lagi untukmu. Aku sudah kenyang. Apalagi nanti masih harus makan tiga ekor udang panggang!"

Kata Eng-ji.

Han Lin juga tidak sungkan-sungkan dan menerima tambahan sebuah bakpau itu.

Dia merasa berterima kasih sekali kepada sahabat barunya yang demikian ramah dan baik.

Akhirnya semua bakpau dan daging kelenci itu habis.

Han Lin harus diam-diam memuji pemuda remaja itu.

Masakannya daging kelenci walaupun hanya dipanggang, demikian lezat.

Daging kelenci gemuk itu lemaknya terasa gurih bukan main dan memanggangnya pun pas sekali, bagian luarnya agak kering dan bagian dalamnya lunak.

Rasa asinnya tepat dan merica serta bawangnya mendatangkan aroma amat sedap.

Han Lin menjilat-jilati bibirnya dan merasa puas.

"Enakkah panggang kelenci tadi?"

Tanya Eng-ji sambil tersenyum lebar melihat Han Lin menjilat bibir sendiri.

"Luar biasa sekali! Biarpun aku sering makan daging kelenci panggang, namun selamanya belum pernah makan yang selezat tadi. Engkau benar-benar hebat dan pandai sekali masak, Eng-ji. Kalau engkau membuka warung makan, tentu akan laku sekali."

"Itu belum seberapa. Coba rasakan sekarang udang ini!"

Dia mengambil seekor udang dari api, lalu menggunakan pisau untuk memukul tanah liat yang sudah menjadi kering.

Tanah liat itu pecah dan ternyata kulit udang besar itu ikut pula terbuka bersama tanah liat, meninggalkan dagingnya yang tampak kemerahan sebesar ibu jari kaki!

Eng-ji mengambil daging yang sudah terkelupas kulitnya itu dengan sepasang sumpit.

"Nah, terimalah ini dengan sumpit dan coba makan bagaimana rasanya!"

Kata Eng-ji dengan suara gembira.

Han Lin mengambil sepasang sumpit dan menerima daging udang itu.

Baru melihatnya saja sudah menimbulkan selera.

Daging putih kemerahan yang menghamburkan aroma yang khas udang.

Sedap dan gurih.

Dia meniup daging itu agar jangan terlalu panas, lalu mencoba menggigitnya.

Hebat!

Bukan main enaknya.

Gurih, manis dan sedap!

Han Lin sampai terbelalak saking heran dan kagum, lalu makan daging udang itu tergesa-gesa sampai mulutnya kepanasan dan melihat ini Eng-ji tertawa geli.

Diapun memecahkan lagi seekor udang lalu memakannya, sedikit demi sedikit tidak seperti Han Lin.

"Kalau menggigitnya sedikit demi sedikit, dikunyah lembut, tentu akan lebih lezat."

Katanya.

Tanpa ditawari lagi, setelah udang pertama habis, Han Lin mengambil udang kedua dan memecah tanah liatnya dengan pisau, lalu mengambil daging udangnya dengan sumpit.

Dia menurut nasehat Eng ji, menggigit dan makan sedikit-sedikit dan memang makin terasa benar lezatnya!

Air teh dituang dalam mangkok dan makan udang panggang sambil minum air, teh harum sungguh merupakan kenikmatan yang belum pernah dialami Han Lin.

Seperti juga tadi ketika makan bakpau, Eng-ji hanya makan dua ekor udang, yang satu dia berikan kepada Han Lin sehingga pemuda ini makan empat ekor.

Han Lin menerima dengan senang hati karena memang udang itu lezat sekali dan orang memberinya dengan ikhlas.

Setelah kenyang mereka mencuci tangan dan mulut.

Han Lin melihat betapa Eng-ji teliti sekali dalam membersihkan tangan dan mulut, bahkan pemuda remaja itu berkumur dan menggosok gigi.

"Sehabis makan malam orang harus membersihkan gigi dan mulut sampai bersih benar agar jangan mudah terkena penyakit."

Demikian pemuda remaja itu berkata dan Han Lin teringat akan nasihat Kiok Hwa yang sama benar.

Diapun mencontoh perbuatan Eng-ji dan membersihkan mulutnya.

Kemudian mereka duduk dekat api unggun dan bercakap-cakap.

"Engkau datang dari manakah, twako (kakak besar)?"

Tanya Lng-ji sambil meng amati wajah Han Lin yang tertimpa cahaya api unggun. Sepasang mata pemuda remaja itu berkilauan terkena cahaya api.

"Aku seorang perantau, datang dari tempat jauh sekali di utara."

Jawab Han Lin.

"Dan engkau sendiri, datang dari manakah, Eng-ji?"

"Aku juga seorang perantau, datang dari Cin-ling-san. Engkau dari mana?"

"Dari Thai-san."

"Wah, kita ini sama-sama perantau, sama-sama datang dari gunung yang jauh. Kita sama-sama pemuda gunung!"

Kata Eng-ji gembira.

"Engkau ini masih kecil bagaimana merantau seorang diri? Di manakah orang tuamu?"

Tanya Han Lin dengan perasaan iba.

"Di dunia yang begini luas dan berbahaya, banyak orang jahat, tentu penghidupanmu akan terancam sekali."

"Ayahku meninggalkan aku, dan ibuku..... sudah tidak ada. Engkau mengatakan aku masih kecil? Apa kau kira engkau ini sudah tua renta? Kalau aku masih kecil, engkaupun masih kecil, sobat!"

"Hemm, aku sudah hampir dua puluh satu tahun! Aku sudah dewasa dan aku dapat menjaga diriku sendiri dari bahaya."

"Huh! Hanya dua tahun lebih tua dari ku dan engkau berlagak seperti orang tua renta!"

"Benarkah?"

Kata Han Lin sambil mengamati wajah yang tampan itu.

"Tadi nya kukira engkau baru berusia empat belas atau lima belas tahun! Akan tetapi biarpun usia kita tidak terpaut banyak, aku pandai menjaga diri dari bahaya!"

"Hemm, akupun manusia hidup dan sehat kuat. Apa kau kira hanya engkau saja yang mampu menjaga diri? Akupun mampu, buktinya sampai sekarang semenjak aku meninggalkan Cin-ling-san, aku berada dalam keadaan selamat!"

Berkata demikian, ia mencoba untuk menutup bungkusan pakaiannya, akan tetapi terlambat karena Han Lin sudah dapat melihat sebatang pedang dengan sarungnya yang indah tersembul keluar.

"Ah, kiranya selain pandai memasak, agaknya engkau pandai bermain pedang pula, Eng-ji!"

Katanya kagum. Eng-ji tersenyum.

"Siapa yang bermain pedang? Aku hanya dapat menjaga diri, seperti juga engkau. Sudahlah, aku lelah dan mengantuk. Aku mau mandi dulu lalu terus tidur."

"Mandi? Sudah malam begini?"

"Apa salahnya? Aku tidak akan dapat tidur kalau belum membersihkan badan dan berganti pakaian. Di sana ada air sumber yang jernih, aku mau mandi dulu. Tolong jagakan buntalan pakaianku, ya?"

Tanpa menanti jawaban, Eng-ji sudah pergi membawa satu pasang pakaian pengganti dan menghilang di dalam kegelapan.

Han Lin membesarkan api unggun, duduk melamun dan teringat akan sahabat barunya itu.

Seorang yang lebih muda darinya dan hidupnya tampak demikian gembira.

Juga seorang perantau dan seorang yang terpisah dari ayahnya, sudah kehilangan ibunya pula.

Seperti dirinya!

Akan tetapi pemuda remaja itu tampaknya selalu gembira dan besar hati, pandai membawa dan menyesuaikan diri.

Ingin sekali dia melihat sampai di mana tingkat kepandaian pemuda remaja itu.

Agaknya tidak mungkin ilmu kepandaiannya cukup tinggi melihat dia masih begitu muda.

Dia masih berpendapat bahwa usia pemuda itu tidak akan lebih dari lima belas tahun.

Akan tetapi kalau ilmu silatnya rendah, bagaimana dia berani merantau sampai demikian jauhnya?

Sungguh seorang pemuda yang menarik hati dan mengandung rahasia.

Akan tetapi bukan seorang sahabat yang tidak menyenangkan.

Sebaliknya, sikapnya menyenangkan sekali.

Begitu ramah dan sebentar saja jika dia sudah merasa akrab.

"Lin-ko, engkau tidak mandi?"

Tiba-tiba dia mendengar suara dan ketika dia menengok, dia melihat Eng-ji sudah mandi dan wajahnya tampak segar, rambutnya basah digelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain hitam.

"Aku hanya akan mencuci muka saja."

Kata Han Lin.

"Harap engkau ganti berjaga di sini, aku hendak pergi ke sumber air itu."

Dia lalu bangkit dan berjalan pergi.

Dia merasa heran kepada dirinya sendiri.

Kenapa dia begitu percaya kepada pemuda remaja itu?

Dalam buntalan-nya terdapat Im-yang-kiam!

Bagaimana kalau pemuda itu mengambil Im-yang-kiam dan membawanya lari?

Dia menjadi ragu dan hatinya agak was-was.

Akan tetapi untuk kembali dan mengambil pedangnya itu dia merasa tidak enak, bukankah pemuda tadi juga meninggalkan semua isi buntalannya ketika pergi mandi?

Dia melanjutkan langkahnya menuju ke sumber air.

Sambil meraba-raba, diterangi sinar api unggun yang masih dapat mencapai tempat itu, dia membasuh muka, kaki dan lengannya.

Kemudian kembali ke tempat semula.

Hatinya lega melihat Eng-ji masih duduk mengeringkan rambut dekat api unggun dan buntalannya masih berada di tempat semula, tidak terusik.

Dia merasa malu kepada diri sendiri yang tadi telah meragukan kejujuran pemuda remaja itu!

"Aku mau tidur.

Tadi makan terlalu kenyang sehingga sekarang amat mengantuk."

Kata Eng-ji dan dia lalu bangkit berdiri, menghampiri perahunya yang sudah ditarik ke pinggir, memasuki perahu lalu merebahkan diri membujur di dalam perahunya, berbantalkan buntalan pakaian nya, tidak mengeluarkan kata-kata lagi.

Han Lin masih duduk di dekat api unggun dan beberapa kali dia menengok, memandang ke arah Eng-ji, akan tetapi agaknya pemuda itu telah tertidur karena sama sekali tidak bergerak atau bersuara.

Karena ingin tahu, Han Lin bangkit berdiri dan menghampiri ke dalam perahu.

Dia melihat pemuda itu tidur miring dengan menarik kedua kakinya ke dada, tanda bahwa dia kedinginan.

Memang hawa malam itu amat dingin dan pemuda itu tidurnya agak jauh dari api unggun.

Han Lin merasa kasihan juga.

Dia mengambil sehelai baju luarnya dan mempergunakan baju luar itu untuk menyelimuti Eng-ji.

Yang diselimutinya tidak bergerak, agaknya memang sudah tidur nyenyak.

Han Lin tidak tidur.

Dia berjaga di dekat api unggun sambil menjaga agar api unggun tidak padam, bahkan dia menggeser api unggun itu agar lebih mendekati perahu yang berada di tepi sungai agar Eng-ji mendapatkan kehangatannya.

Dia tidak berani tidur karena selain harus menjaga keselamatan mereka berdua, dia juga harus menjaga agar pedang mereka tidak diambil oleh orang.

Dia duduk sambil melamun.

Ketika dia melamun dengan pikiran kosong itu, mendadak muncul Kiok Hwa dalam lamunannya.

Dia tetap merindukan gadis itu dan mengharapkan akan dapat bertemu.

Akan tetapi kini tidak ada rasa kesepian tadi.

Bagaimanapun juga, dia sudah memperoleh seorang teman yang baik untuk menerima pembagian perhatiannya.

Tengah malam telah lewat dan Han Lin masih duduk melamun di dekat api unggun sambil memandang nyala api yang bergoyang-goyang ditiup angin.

"Lin-ko.....!"

Dia cepat menengok dan melihat Eng-ji sudah berdiri di situ, memegangi baju luar yang tadi diselimutkannya.

"Eh, kenapa terbangun Eng ji? Tidurlah."

"Tidak, aku sudah cukup lama tidur. Sekarang giliranmu beristirahat, twako. Biar aku yang berjaga di sini menggantikanmu. Ini bajumu, terima kasih bahwa engkau telah menyelimutiku. Pakailah agar engkau tidak kedinginan."

Dalam suara Eng-ji terdapat ketegasan yang memerintah sehingga Han Lin tidak dapat membantah lagi.

Dan dia merasa aneh.

Pemuda remaja itu memang luar biasa, kadang dalam suaranya dan sikapnya seperti orang yang suka memimpin!

"Baiklah, Eng-ji."

Katanya dan dia menerima bajunya lalu memasuki perahu itu dan merebahkan diri membujur di dalam perahu.

Karena dia memang perlu beristirahat untuk memulihkan tenaganya, maka tak lama kemudian diapun tertidur nyenyak.

Ketika ayam hutan jantan mulai berkokok dan burung-burung berkicau, Han Lin terbangun.

Malam baru saja bersiap-siap untuk meninggalkan bumi dan cuaca masih remang-remang ketika dia keluar dari dalam perahu yang menjadi tempat tidurnya itu.

Api unggun telah padam dan dia mendapatkan Eng-ji tertidur melengut sambil duduk di bawah pohon.

Pagi itu dingin sekali.

Han Lin menanggalkan baju luarnya yang semalam dia pakai untuk menyelimuti dirinya dan menyelimutkannya pada tubuh Eng-ji.

Lalu dia menyalakan lagi api unggun.

Dilihatnya Eng-ji tertidur nyenyak dan wajah pemuda remaja itu seperti wajah seorang kanak-kanak.

Dia tersenyum.

Memang dia masih kanak-kanak, pikirnya.

Akan tetapi seorang anak yang luar biasa!

Nyala api unggun itu agaknya membangunkan Eng-ji.

Dia terbangun dan menggosok-gosok matanya, melihat baju luar yang menyelimutinya dan diapun mengambil baju itu dan memandang kepada Han Lin yang duduk di dekat api unggun.

"Ah, celaka! Apakah aku tertidur? Wah, membikin engkau repot saja, Lin-ko. Nih bajumu, terima kasih."

"Kalau masih mengantuk, tidurlah, Eng-ji. Hari masih terlalu pagi."

"Apa? Tidur lagi? Tidak, aku sudah kenyang tidur, aku hendak mandi!"

Dan diapun bangkit berdiri, membawa kain penyeka badan lalu setengah berlari menuju ke sumber air yang berada tak berapa jauh dari situ dan terhalang batu besar.

Han Lin tersenyum.

Anak itu demikian suka mandi!

Lalu teringatlah dia akan nasihat Kiok Hwa yang juga menganjurkan agar orang sering mandi karena hal itu akan mendatangkan kesehatan.

Tal lama kemudian Eng-ji sudah selesai mandi dan Han Lin juga segera mandi untuk membersihkan diri.

Dia merasa sejuk dan segar sekali.

Ketika dia kembali ke tempat tadi, dia melihat Eng-ji sudah memegang dua batang pedang, yaitu pedangnya sendiri dan pedang Im-yang-kiam, dan pemuda remaja itu kelihatan tegang.

"Eh, Eng-ji, ada apakah?"

Tanyanya! Akan tetapi Eng-ji sudah melemparkan Im-yang-kiam yang telanjang itu kepadanya. Han Lin menerimanya dan pemudi itu berkata lirih.

"Ada orang datang! Kita harus berhati hati."

Katanya menuding ke arah sungai!

Han Lin menengok dan benar saja.

Dari tengah sungai tampak sebuah perahu meluncur ke pinggir, ke tempat mereka dan perahu itu ditumpangi dua orang.

Masih terlalu jauh untuk dapat melihat siapa adanya dua orang itu.

Hati Han Lin menjadi tegang karena dia melihat sikap Eng-ji yang juga tegang dan penuh kekhawatiran.

Setelah perahu itu datang dekat.

Han Lin terbelalak kaget bukan main karena dia mengenal dua orang itu.

"Hati-hati, Lin-ko. Mereka itu adalah Toa Ok dan Sam Ok, dua orang datuk yang amat lihai dan jahat!"

Terdengar Eng-ji berkata kepadanya dan Han Lin terkejut bukan main.

Bagaimana pemuda remaja ini dapat mengenal dua orang datuk sesat itu?

Dia menjadi semakin heran saja melihat Eng ji, apalagi melihat betapa Eng-ji sama sekali tidak kelihatan takut walaupun Lelah mengenal siapa ada nya dua orang itu.

"Mereka itu tentu datang untuk merampas pedangku ini,"

Kata Han Lin.

"Jangan khawatir. Lin-ko. Serahkan saja mereka kepadaku!"

Kata Eng-ji sambil mencabut pedangnya.

Han Lin melihat sinar kehijauan dari pedang yang terhunus itu dan dia menjadi semakin kagum.

Kiranya pemuda remaja itupun memiliki sebatang pedang yang ampuh.

Akan tetapi ketenangannya dan keberaniannya yang membuat dia terheran-heran.

Hanya orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi saja yang dapat bersikap demikian berani dan tenang menghadapi ancaman orang berbahaya seperti Toa Ok dan Sam Ok!

Toa Ok dan Sam Ok telah tiba di sungai dan mereka segera menarik perahu ke pinggir dan setelah mengikatkan perahu, mereka berdua berloncatan ke depan dua orang pemuda yang telah berdiri menanti dengan pedang di tangan itu!

Toa Ok telah bertemu dengan Sam Ok dan dia mengajak rekannya itu untuk mengejar Han Lin.

Dengan ditemani Sam Ok dia yakin bahwa dia tentu akan dapat mengalahkan Han Lin dan merampas Im-yang-kiam.

Dia terheran-heran melihat Han Lin sudah menantinya dengan Im-yang-kiam di tangan dan di sampingnya berdiri seorang pemuda remaja lain yang juga memegang sebatang pedang yang sinarnya kehijauan dan pemuda ini memandang kepadanya dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan!

"Wah, engkau benar, Toa Ok.

Dia adalah pemuda yang dulu itu.

Kini telah menjadi seorang pemuda yang amat ganteng!

Pedangnya boleh untukmu, akan tetapi pemudanya berikan kepadaku, Toa Ok!"

Terdengar Sam Ok berkata.

Han Lin melihat betapa wanita itu masih tampak cantik saja seperti dulu, cantik dan genit pesolek, padahal usianya tentu telah mendekati enam puluh tahun!

"Sam Ok, cepat engkau bunuh pemuda yang lain itu agar kita dapat sama-sama menghadapi dia dan merampas Im-yang-kiam!"

Kata Toa Ok. Sam Ok memandang kepada Eng-ji.

"Wah, yang ini juga ganteng sekali! Pedangnya juga merupakan pusaka yang baik. Orang muda, marilah engkau menyerah saja kepadaku, anak manis!"

Sambil berkata demikian, Sam Ok mencoba untuk menangkap lengan tangan Eng-ji.

Akan tetapi Eng-ji sudah mengelebatkan pedangnya yang bersinar hijau untuk membacok lengan tangan Sam Ok sehingga Sam Ok terkejut setengah mati dan cepat menarik kembali tangannya.

"Sam Ok, perempuan tua bangka yang tidak tahu malu! Kematianmu sudah di depan mata dan engkau masih berani banyak berlagak? Hari ini engkau akan mampus di tanganku!"

Bentak Eng-ji dengan garang dan Han Lin menjadi semakin terkejut.

Pemuda remaja itu berani mengeluarkan ucapan sesombong itu!

Terhadap seorang datuk sesat seperti Sam Ok yang amat lihai lagi!

Sam Ok marah sekali mendengar penghinaan itu.

"Bocah lancang mulut. Aku akan membuat engkau merangkak-rangkak minta ampun dan menjilati kakiku!"

Katanya dan iapun sudah menerjang maju sambil menggunakan jari-jarinya untuk mencengkeram dan menotok.

Itulah Ban-tok-ci (Jari Selaksa Racun) yang amat berbahaya sehingga Han Lin menjadi khawatir dan hendak maju melindungi Eng-ji.

Akan tetapi Eng-ji bergerak cepat sekali dan sudah memutar pedangnya sehingga bukan Sam Ok yang mengancam, bahkan jari-jari tangannya kini terancam oleh sinar pedang kehijauan!

Han Lin bernapas lega melihat betapa Eng-ji benar-benar mampu menjaga diri sendiri, maka perhatiannya kini tertuju kepada Toa Ok.

Toa Ok merasa terkejut juga melihat betapa pemuda remaja itu mampu menandingi Sam Ok, bahkan kini mereka sudah bertanding hebat karena Sam Ok juga sudah mencabut pedangnya, yaitu Hek-kong-kiam (Pedang Sinar Hitam) yang beracun.

Kalau Sam Ok menggunakan pedang, hal itu berarti bahwa lawannya tentu tangguh sekali.

Toa Ok merasa kecelik sekali.

Tadinya dia membawa Sam Ok untuk membantunya mengeroyok Han Lin, tidak tahunya di situ ada seorang pemuda remaja yang demikian tangguhnya, mampu menandingi Sam Ok!

Karena sudah kepalang dan diapun ingin sekali dapat memiliki Im-yang-kiam, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut Kim-liong-kiam (Pedang Naga Emas) miliknya dan menyerang Han Lin yang sudah memegang Im-yang-kiam.

Han Lin menangkis dan membalas menyerang.

Terjadi perkelahian yang amat seru.

Yang mengagumkan adalah Eng-ji.

Biarpun masih amat muda, namun ternyata ilmu pedangnya amat hebat gerakannya.

Hal ini sebetulnya tidak mengherankan karena Eng-ji sebetulnya adalah Suma Eng!

Dengan ilmu pedang Coa-tok Sin-kiam-sut (Ilmu Pedang Sakti Racun Ular) ia dapat mengimbangi permainan pedang Sam Ok.

Bahkan pedangnya yang bergerak dengan lenggang-lenggok seperti seekor ular itu membuat Sam Ok kewalahan!

Dengan penasaran sekali Sam Ok membantu pedang di tangan kanannya dengan tangan kiri yang menyerang dengan Ban-tok-ci.

Akan tetapi hal ini bahkan merugikannya karena Eng-ji kini juga membantu pedangnya dengan pukulan tangan kiri yang amat ampuh.

Tangan kiri itu mendorong dengan telapak tangan dan serangkum hawa panas sekali menyambar Sam Ok.

Itulah pukulan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa), sebuah pukulan jarak jauh yang mengandung racun panas yang ampuh sekali.

Sam Ok terhuyung dan ia terdesak terus.

Keadaan Toa Ok tidak lebih baik dari pada Sam Ok.

Diapun terdesak hebat oleh pedang Im-yang-kiam di tangan Han Lin.

Toa Ok kecewa sekali.

Dia memang sudah tahu bahwa ilmu kepandaian pemuda ini hebat sekali dan dia tidak mampu menandinginya.

Akan tetapi Sam Ok sama sekali tidak dapat membantunya bahkan ketika dia melirik ke arah rekannya itu, Sam Ok juga terdesak hebat oleh lawannya.

Melihat ini Sam Ok lalu mengambil sesuatu dari saku jubahnya dan membantingnya ke atas tanah.

Terdengar ledakan dan asap hitam tebal mengepul tinggi.

"Awas, mundur!"

Seru Han Lin dan Eng-ji juga melompat ke belakang karena khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun.

Setelah asap hitam membuyar dan menipis, ternyata dua orang itu telah lenyap bersama perahu mereka.

"Kita kejar mereka!"

Kata Eng-ji sam bil menghampiri perahunya siap untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi Han Lin mencegahnya.

"Tidak baik kita mengejar. Mereka itu licik dan curang sekali, amat berbahaya mengejar mereka. Apalagi di atas air di mana kita tidak berdaya. Kecuali kalau engkau mahir bermain di air, Eng-ji."

Eng-ji bergidik, dan menggeleng kepalanya. Dia teringat akan pengalamannya dengan para bajak sungai.

"Tidak, aku tidak pandai renang."

"Kalau begitu, jangan kejar. Eng-ji, aku kagum sekali kepadamu. Sama sekali tidak kusangka bahwa engkau akan mampu menandingi orang yang demikian lihai dan berbahaya seperti Sam Ok!"

Kata Han Lin sambil memandang kagum. Eng-ji tersenyum.

"Akupun kagum dan heran melihatmu. Engkau Bahkan dapat menandingi Toa Ok, raja datuk sesat yang sakti itu! Kepandaianmu hebat sekali, Lin-ko!"

"Engkau juga sudah mengenal mereka, Eng-ji. Bagaimana engkau dapat mengenal orang-orang macam itu?"

"Mereka adalah musuh besarku. Masih ada seorang lagi, yaitu Ji Ok. Mereka bertiga merupakan Thian-te Sam-ok yang menjadi musuh besarku karena mereka telah melukai guruku dan menyebab kan kematian guruku."

"Ah, begitukah? Melihat kelihaianmu, gurumu tentu seorang yang sakti. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah gurumu itu, Eng-ji?"

"Guruku seorang pertapa di Cin-ling-san, julukannya adalah Hwa Hwa Cinjin. Pada suatu hari dia didatangi Thian-te Sam-ok dan dikeroyok. Suhu mampu mengusir mereka akan tetapi dia terluka dan akhirnya tewas."

"Hemm, Thian-te Sam-ok itu jahat sekali. Dulu di waktu aku masih kecil merekapun sudah berusaha untuk membunuhku. Sekarang selelah aku dewasa, mereka masih mencoba untuk merampas Im-yang-kiam dan membunuhku."

"Baru sekarang aku menyadari bahwa kiranya engkau yang telah berhasil memiliki Im-yang-kiam, Lin-ko. Ayahku pernah bercerita tentang Im-yang-kiam itu, bahkan ayah sendiri tidak berhasil mencabutnya. Kiranya engkau yang berhasil mencabutnya. Tidak heran kalau Toa Ok datang hendak merampasnya. Kabarnya Im-yang-kiam itu merupakan pedang pusaka yang amat ampuh sekali."

"Eng-ji, melihat kepandaianmu, aku yakin bahwa ayahmu juga tentu seorang gagah yang berilmu tinggi. Boleh aku mengetahui siapa ayahmu?"

Eng-ji menghela napas panjang.

"Ayahku juga seorang perantau. Dia berjuluk Huang-ho Sin-liong bernama Suma Kiang."

Dapat dibayangkan betapa terkejutnya hati Han Lin mendengar ini.

Suma Kiang adalah musuh besarnya yang mengakibatkan tewasnya ibunya!

Suma Kiang yang berusaha untuk membunuhnya di waktu dia masih kecil, yang menculik dia dan ibunya dari perkampungan Mongol!

Ternyata pemuda remaja ini, yang dalam waktu semalam telah menjadi sahabat baiknya, bahkan yang telah membantunya dalam menghadapi Toa Ok dan Sam Ok, adalah putera Suma Kiang, musuh besarnya!

Biarpun Han Lin dapat menekan perasaannya dan tidak memperlihatkan sesuatu pada wajahnya, namun dia tertegun dan memandang Eng-ji dengan diam tak berkedip.

"Engkau kenapakah, Lin-ko? Engkau memandangku seperti orang merasa heran. Mengapa?"

Bocah ini memiliki pandang mata yang tajam dan amat cerdik, pikir Han Lin. Dia sadar dan pandang matanya menjadi biasa lagi.

"Ah, aku hanya terheran-heran melihat engkau yang masih begini muda ternyata telah memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Mengagumkan dan mengherankan, Eng-ji!"

"Hemm, kepandaianmu lebih tinggi lagi, Lin-ko. Aku dapat menandingi Sam Ok, akan tetapi kalau aku harus menandingi Toa Ok, agaknya sukar bagiku untuk mencapai kemenangan. Engkau sudah mengetahui nama guruku. Aku yakin bahwa gurumu tentu juga seorang yang sakti seperti guruku. Siapakah gurumu, Lin-ko?"

Karena pemuda itu sudah berterus terang kepadanya, walaupun dia putera musuh besarnya, Han Lin merasa tidak enak kalau tidak berterus terang pula.

Akan tetapi mengingat bahwa Go-bi Sam sian, tiga orang gurunya yang pertama, pernah bentrok dengan Suma Kiang, dia tidak menyebut tiga orang gurunya itu, melainkan dua orang gurunya yang terakhir.

"Guruku ada dua orang. Yang pertama bernama Cheng Hian Hwesio dan yang ke dua berjuluk Bu-beng Lo-jin."

"Ah, mereka tentu orang-orang sakti."

Kata Eng-ji.

"Sekarang engkau hendak melanjutkan perjalanan ke manakah, Lin-ko?"

"Aku hendak melanjutkan perjalanan ke selatan, ke kota raja untuk mencari pengalaman dan menambah pengetahuan. Dan engkau sendiri, Eng-te (adik laki-laki Eng)?"

"Aku juga hendak merantau ke selatan. Kebetulan aku sendiri juga ingin sekali berkunjung ke kota raja untuk melihat kebesaran kota raja dan keramaiannya, maka kuharap engkau tidak keberatan kalau kita melakukan perjalanan bersama, Lin-ko!"

Tentu saja Han Lin tidak merasa keberatan walaupun hatinya ragu mengingat bahwa pemuda ini adalah putera Suma Kiang.

Bagaimana kalau dalam perjalanan mereka berjumpa dengan Suma Kiang?

Dia tentu akan menentang datuk itu!

Dia merasa tidak enak sendiri.

"Aku tidak keberatan, Eng-ji. Akan tetapi bukankah engkau katakan hendak mencari ayahmu? Di manakah ayahmu itu sekarang?"

"Aku tidak tahu. Dia meninggalkan aku pada mendiang suhu dan tidak memberitahu ke mana akan pergi. Katanya dia akan menjemput di Puncak Ekor Naga di Cin-ling-san. Akan tetapi sampai suhu meninggal dunia dia tidak muncul. Terpaksa aku meninggalkan tempat itu. Akan tetapi aku pernah mendengar ayahku menyatakan bahwa dia ingin sekali pergi ke kota raja. Karena itu, kebetulan sekali (Lanjut ke

Jilid 14) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 kita pergi ke sana, siapa tahu aku akan bertemu dengan ayahku di sana."

"Akan tetapi untuk melakukan perjalanan ke selatan sebaiknya kita melakukan perjalanan darat. Terpaksa kita harus meninggalkan perahumu."

Eng-ji tertawa.

"Tentu saja! Untuk apa perahu macam itu? Aku sendiri juga sudah bosan berperahu, pula, aku tidak berani mendayung perahu ke tengah, selalu jalan di tepi."

"Kenapa?"

"Aku mengalami hal yang pahit sekali dan hampir membuat aku mati tenggelam. Aku bertemu bajak sungai. Kami berkelahi dan aku mengamuk dengan berloncatan dari satu perahu ke perahu yang lain. Akan tetapi bajak-bajak sungai yang curang itu menenggelamkan perahu sehingga aku tercebur ke dalam air dan nyaris tenggelam!"

"Ah, lalu bagaimana?"

Han Lin terkejut juga mendengar cerita pemuda itu.

"Untung muncul seorang pendekar dari Kun-lun-pai yang pandai renang. Dialah yang menyelamatkan aku dari mati tenggelam. Namanya Gui Song Cin dan orangnya baik sekali."

"Untung muncul seorang pendekar yang baik hati. Aku sendiripun tidak pandai renang. Itulah sebabnya aku mencegahmu ketika engkau hendak melakukan pengejaran terhadap Toa Ok dan Sam Ok yang melarikan diri dengan perahu mereka."

"Aku dapat memahami maksud baikmu, Lin-ko. Karena itu akupun tidak berkeras untuk mengejar mereka. Akan tetapi kalau saja perahu ini dapat kita jual, tentu akan dapat untuk menambah uang biaya perjalanan kita."

Dia berhenti sebentar lalu menoleh kepada Han Lin.

"Engkau membawa bekal uang untuk biaya, Lin-ko?"

Han Lin menggeleng kepalanya.Dia memang sudah tidak mempunyai uang.

"Jangan khawatir, Lin-ko. Aku masih mempunyai sisa uang cukup banyak.Lihat ini!"

Eng-ji memperlihatkan sisa uang nya dan memangcukup banyak.

"Lagi Pula, kalau kita kehabisan, apa sukarnya? Kita dapat mengambil uang dari para hartawan atau bangsawan yang kelebihan uang yang mereka dapatkan dengan tidak halal."

"Mencuri?"

Tanya Han Lin kaget.

"Apa salahnya? Kita mengambil uang mereka bukan untuk bersenang-senang, mengambil secukupnya saja untuk keperluan hidup dalam perjalanan kita. Atau kalau engkau tidak tega mengambil uang mereka, kita mengambil uang dari para perampok dan penjahat!"

Kata pula Eng-ji dengan suara gembira. Han Lin terpaksa hanya tersenyum saja karena diapuntidak melihat cara lain untuk mendapatkan uang bekal perjalanan.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Eng-te."

Katanya dan kedua orang muda itu lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Han Lin merasa tetap tidak enak melakukan perjalanan bersama putera musuh besarnya, akan tetapi dia tidak mempunyai alasan untuk memisahkan diri.

Pula, ayahnya jadi boleh jahat, menyebabkan ibunya hidup menderita, tidak dapat bicara bahkan akhirnya menyebabkan kematian ibunya.

Ayahnya memang jahat sekali, akan tetapi hal itu apa hubungannya dengan anaknya?

Kalau anaknya tidak jahat, tidak semestinya dia menentangnya.

Dia hendak melihat saja nanti bagaimana perangai Eng-ji yang sebenarnya.

Dia belum dapat menilai watak pemuda remaja itu yang baru dikenalnya semalam.

Melihat dia menentang orang-orang macam Thian-te Sam-ok saja sudah menimbulkan kesan baik di hatinya.

Ternyata kemudian oleh Han Lin bahwa Eng-ji bersikap amat ramah dan baik kepadanya.

Bahkan terlalu baik.

Kalau mereka kemalaman di hutan, Eng-ji selalu sibuk melayani segala keperluan Han Lin.

Membuatkan masakan dan ternyata pemuda itu pandai sekali masak.

Walaupun alat masak dan bumbunya sederhana, namun dia dapat membuatkan masakan yang enak-enak.

Bahkan ketika dia mencuci pakaian kotornya, dia minta pakaian Han Lin yang kotor untuk dicucikan sekalian.

Kalau mereka tiba di sebuah dusun atau kota, Eng-ji menggunakan uangnya untuk berbelanja dan selalu berusaha untuk menyenangkan hati Han Lin.

Han Lin sampai merasa canggung dan rikuh sekali melihat pelayanan Eng-ji.

Seolah-olah Eng-ji menganggap dia sebagai majikannya.

Karena sikap ini, Han Lin merasa semakin suka kepada pemuda putera musuh besarnya itu.

Akan tetapi ada kalanya Eng-ji bersikap seperti seorang anak yang nakal dan bandel.

Pada suatu hari ketika mereka memasuki sebuah rumah makan di sebuah kota, Han Lin melihat sebuah keluarga duduk menghadapi meja makan dan di antara mereka terdapat dua orang gadisnya yang cantik.

Dia hanya memandang biasa saja, akan tetapi Eng-ji menggodanya ketika mereka duduk menghadapi meja.

Godaan yang lebih bersifat tuduhan.

"Lin-ko, ternyata engkau seorang pemuda yang mata keranjang!"

Demikian katanya.

"Hah??? Mengapa engkau berkata demikian, Eng-ji?"

"Kau kira aku tidak melihatnya ketika kita lewat di depan meja keluarga itu? Matamu seperti hendak meloncat keluar ketika engkau memperhatikan dua orang gadis itu. Engkau tergila-gila kepada mereka, bukan?"

"Ah, aku hanya memandang biasa saja, Eng-ji."

"Memandang biasa? Engkau memandang mereka seperti seekor srigala melihat dua ekor domba! Aku paling benci melihat laki-laki yang mata keranjang! Memalukan sekali!"

Eng-ji tiba-tiba tampak marah dan bersungut-sungut. Han Lin merasa lucu, lalu timbul niatnya untuk menggoda.

"Eh, Eng-te, jangan pura-pura. Kurasa engkaupun tentu senang melihat seorang gadis yang cantik."

Eng-ji memandang Han Lin dan matanya berapi-api.

"Tidak sudi aku! Aku bukan seorang yang mata keranjang, melainkan seorang yang gagah! Sudahlah, kalau engkau mata keranjang, aku tidak sudi berdekatan denganmu!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan marah Eng-ji menyambar buntalannya dan duduk di meja lain!

Han Lin merasa terkejut juga.

Tidak disangkanya bahwa Eng-ji bersungguh-sungguh dan benar-benar menjadi marah besar kepadanya karena dia memandangi kedua orang gadis cantik itu.

Benarkah Eng-ji seorang pemuda yang tidak suka kepada gadis cantik?

Dan memandang rendah kepada pria yang suka melihat gadis cantik?

Dia mengalah, lalu bangkit berdiri dan menghampiri sahabatnya itu.

"Maafkan aku, Eng-te, aku telah membuat engkau marah."

Katanya sambil duduk di meja itu.

Akan tetapi Eng-ji tidak menjawab, hanya bersungut-sungut sambil melambaikan tangan memanggil pelayan, lalu memesan nasi dan masakan dengan singkat.

Biasanya dia mesti bertanya kepada Han Lin, masakan apa yang hendak dipesannya.

Sekali ini dia memesan sendiri, dengan sikap sembarangan saja.

Eng-ji bersikap dingin dan marah, tidak pernah memandang kepada Han Lin, bahkan ketika masakan datang, dia lalu makan tanpa mempersilakan Han Lin makan.

Han Lin merasa tidak enak sekali, akan tetapi diapun makan dan bersikap seperti biasa saja.

Melihat pemuda itu makan dalam keadaan tidak enak dan terpaksa, Han Lin merasa menyesal telah membikin marah sahabat yang biasanya bersikap baik itu maka sambil makan dia pun berkata.

"Eng-te, aku merasa menyesal sekali telah membuat engkau marah. Maafkanlah aku, demi persahabatan kita."

Eng-ji menunda sumpitnya dan menatap wajah Han Lin. Matanya basah! Dan suaranya terdengar parau ketika dia berkata agak ketus.

"Berjanjilah bahwa engkau tidak akan bersikap mata keranjang kalau melihat wanita cantik!"

Han Lin menelan ludahnya, diam-diam merasa geli, akan tetapi juga penasaran. Sekarang dia melihat watak yang lain dari pemuda remaja yang mempunyai segi-segi yang aneh itu.

"Baiklah, aku berjanji!"

Katanya sambil mengangguk.

Dan seketika sikap Eng-ji berubah!

Kembali ramah seperti biasa, bahkan memilihkan dan menyumpitkan daging pilihan dari masakan itu untuk Han Lin!

Ketika mereka selesai makan dan Eng-ji sudah membayar harga makanan, mereka meninggalkan rumah makan itu dan untuk menyenangkan hati sahabatnya itu, Han Lin menengokpun tidak ketika lewat dekat rombongan keluarga yang ada dua orang gadis cantiknya itu.

Atas ajakan Eng-ji, mereka langsung meninggalkan kota itu menuju ke selatan.

Sebentar saja mereka sudah meninggalkan kota dan tiba di tempat sunyi di luar kota sebelah selatan.

Han Lin menimbang-nimbang.

Akan diteruskan perjalanannya bersama Eng-ji ini?

Ataukah dia akan memisahkan dirinya?

Akan lebih enak kalau melakukan perjalanan seorang diri, dia dapat bebas sesuka hatinya dan tidak menyinggung atau membuat tidak senang hati sahabatnya itu.

Akan tetapi kalau dia teringat akan keramahan Eng-ji, akan sikapnya yang teramat baik dan ramah kepadanya, dia merasa tidak tega.

Bagaimana Eng-ji akan menerimanya kalau dia mengajak berpisahan?

Agaknya pemuda remaja itu sudah melekat kepadanya, dan agaknya Eng-ji akan berduka kalau diharuskan berpisah.

Eng-ji sudah dia anggap lebih dari pada sahabat biasa, bahkan menganggap seperti kakaknya sendiri.

Mencucikan pakaiannya!

Mempersiapkan makanan yang enak-enak.

Bahkan pernah ketika mereka bermalam di kamar sebuah rumah penginapan di kota, pada malam hari ketika dia terbangun, dia melihat Eng-ji tertidur di atas lantai, tidak disampingnya di atas tempat tidur!

Ketika pada pagi harinya dia menegur, pemuda remaja itu mengatakan bahwa dia merasa gerah sekali maka berpindah tidur di bawah, tidak berani membangunkannya!

Dalam segala hal pemuda remaja itu mengalah kepadanya dan menyediakan yang terbaik untuknya.

Dan dalam perjalanan selama beberapa hari itu dia merasa betapa perkenalan mereka telah menjadi persahabatan yang amat akrab.

Bagaimana dia akan tega untuk mengatakan kepada Eng-ji bahwa dia ingin memisahkan diri?

"Lin-ko, mengapa engkau melamun?

Apa yang kau lakukan?"

Han Lin tertegun. Pemuda remaja itu begitu penuh perhatian terhadap dirinya, seperti biasa! "Tidak apa-apa, Eng-te."

"Sejak tadi engkau berdiam diri saja. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Ah, tidak ada."

"Sukurlah kalau begitu. Aku khawatir bahwa aku telah membuat hatimu tidak senang."

"Tidak, tidak ada apa-apa, Eng-te."

"Sttt.... dari depan ada orang-orang yang mencurigakan. Mereka mempergunakan ilmu berlari cepat!"

Tiba-tiba Eng-ji memperingatkan.

Han Lin mengangkat muka memandang dan benar saja.

Jauh di depan di atas jalan yang lurus itu tampak bayangan enam orang menuju ke tempat mereka dengan gerakan cepat sekali seperti terbang.

Jelas mereka itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu berlari cepat dan sedang menghampiri mereka.

Han Lin bersikap waspada dan berhenti melangkah, memandang kepada mereka dengan sikap tenang walaupun hatinya merasa tegang.

"Wah, mereka datang lagi! Kini langkah mereka bertiga ditambah tiga orang lagi. Gawat keadaannya, Lin-ko!"

Bisik Eng-ji yang sudah cepat mengeluarkan Ceng-liong-kiam (Pedang Naga Hijau) dari buntalan pakaiannya!

Han Lin juga segera dapat mengenal mereka.

Dia mengenal Toa Ok dan Sam Ok.

Akan tetapi dia tidak mengenal Ji Ok, dan dari jarak jauh itu diapun tidak mengenal tiga orang lain yang datang bersama mereka.

Karena maklum bahwa munculnya orang-orang itu tentu dengan niat buruk, yaitu hendak merampas Im-yang-kiam, maka Han Lin juga membuat persiapan dan diapun sudah melolos Im-yang-kiam dari buntalan pakaiannya.

Akan tetapi setelah enam orang itu tiba di depan mereka dan Han Lin memandangi mereka satu demi satu, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.

Dia memandang kepada seorang wanita dan merasa bagaikan mimpi.

Wanita yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih cantik jelita, wanita yang selama hidupnya tidak akan pernah terlupakan oleh Han Lin karena wanita itu adalah ibunya!

"Ibuuuu.....!

Engkau adalah ibuku......!!"

Han Lin melompat di depan wanita itu sambil berteriak memanggil.

Wanita itu memang Chai Li adanya.

Seperti telah di ceritakan di bagian depan, Chai Li menjadi tawanan Ji Ok setelah diselamatkan oleh datuk sesat itu.

Ji Ok jatuh cinta kepada Chai Li dan dengan kekuatan sihirnya dia membuat Chai Li tunduk dan menyerah kepadanya menjadi isterinya.

Ternyata bagaimanapun juga, Ji Ok merupakan suami yang baik dan amat mencinta isterinya sehingga walaupun Chai Li berada dalam keadaan di bawah pengaruh sihir, namun ia hidup cukup bahagia dengan suaminya yang mencinta.

Juga Ji Ok telah menggembleng dan mendidiknya dengan ilmu silat sehingga Chai Li berubah menjadi seorang wanita yang lihai, akan tetapi wataknya juga sesuai dengan watak suaminya, keras dan kejam terhadap lawan.

Ketika Han Lin melompat ke depannya dan menyebutnya ibu, Chai Li mundur-mundur dengan wajah berubah pucat dan matanya terbelalak.

Ia tampak bingung sekali, seperti tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Melihat ibunya mundur-mundur dan memandang kepadanya dengan bingung, Han Lin melangkah maju.

"Ibu, aku adalah anakmu. Aku adalah Han Lin anakmu.......!!"

Chai Li menjadi semakin bingung. Mulutnya menggerakkan nama "Han Lin"

Tanpa mengeluarkan suara dan ia seperti orang yang kehilangan ingatan.

"Isteriku, serang bocah itu!"

Tiba-tiba Ji Ok berseru dengan suara mengandung penuh wibawa dan mendengar teriakan Ji Ok ini, tiba-tiba Chai Li menyerangnya dengan ganas, menggunakan tangan kanan untuk memukul dengan telapak tangan yang mengeluarkan hawa panas.

Itulah pukulan Ban-tok-ciang yang amat berbahaya.

Han Lin terkejut sekali dan cepat dia mengerahkan sinkang pada dadanya yang terkena pukulan itu sehingga dia terjengkang.

"Ibuuuu..... kenapa engkau memukul aku, anakmu?"

Han Lin bangkit lagi.

untung sinkangnya amat kuat sehingga pukulan itu tidak melukainya.

Mendengar seruan ini, kembali Chai Li ragu-ragu dan bingung sehingga tidak menyerang lagi, melainkan memandang dengan mata terbelalak.

Melihat kembali Chai Li-ragu-ragu dan bingung, Ji Ok berseru lagi, kini lebih berwibawa suaranya, mengandung kekuatan sihir yang menguasai Chai Li.

"Isteriku, pemuda ini musuh kita. Bunuh dia!"

Mendengar suara itu, Chai Li mencabut pedang yang berada di punggungnya dan menyerang Han Lin dengan tusukan maut.

Han Lin cepat mengelak dan dia menjadi bingung sekali.

Sementara itu, ketika melihat betapa Han Lin mengakui wanita cantik itu sebagai ibunya akan tetapi malah diserang oleh wanita itu atas perintah Ji Ok, Eng-ji menjadi marah sekali kepada Ji Ok.

"Jahanam terkutuk engkau!"

Bentaknya dan ia sudah menggunakan Ceng-liong-kiam untuk menyerang Ji Ok dengan dahsyatnya.

Menghadapi serangan Eng-ji yang hebat ini, Ji Ok cepat mempergunakan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk sutera putih, untuk melawannya.

Akan tetapi Sam Ok segera terjun ke dalam perkelahian itu sambil memutar Hek-kong-kiam di tangannya sambil berseru.

"Ji Ok, engkau bantu Toa Ok merampas Im-yang-kiam!"

Dan Sam Ok segera menyerang Eng-ji, dibantu oleh seorang kakek yang berpakaian seperti tosu yang tadi datang bersama mereka.

Mendengar ini, Ji Ok lalu melompat keluar dan mendekati Chai Li yang masih menyerang Han Lin.

"Terus serang dia, bunuh musuh kita ini, isteriku!"

Katanya dan diapun segera menggunakan sabuk sutera putihnya untuk membantu Chai Li menyerang Han Lin.

Melihat ini, Toa Ok tidak tinggal diam dan diapun sudah menggerakkan Kim-liong-kiamnya untuk mengeroyok Han Lin.

Tosu kedua yang datang bersama mereka, tanpa di minta juga mengeroyok Han Lin, Han Lin masih kebingungan melihat sikap ibunya yang menyerangnya dengan hebat itu, menjadi marah bukan main.

Tahulah dia bahwa ibunya berada dalam keadaan tidak wajar.

Berada di bawah pengaruh sihir.

Akan tetapi biarpun dia marah sekali, dia masih bingung dan sedih menghadapi ibunya seperti itu sehing ga karena perhatiannya tercurah kepada ibunya, dia menjadi kurang waspada dan ketika dia memutar pedang Im-yang-kiam untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan, tendangan kaki kiri Ji Ok mengenai dadanya dan diapun terjengkang dan terbanting roboh!

Dadanya terasa nyeri akan tetapi tidak dirasakannya karena pada saat itu dia melihat Chai Li udah menusukkan pedangnya ke arah lehernya.

Han Lin terpaksa menggulingkan dirinya agar terhindar dari tusukan maut itu dan kembali dia berseru.

"Ibuuu.....!"

Ini aku, Han Lin anakmu....!!"

Kembali Chai Li tersentak kaget, akan tetapi Ji Ok kembali berkata kepadanya.

"Jangan dengarkan ocehannya, isteriku. Dia musuh besar kita, serang dan bunuh dia!"

Kembali Chai Li menggerakkan pedangnya menusuk, disusul oleh Ji Ok yang mengelebatkan sabuk suteranya.

Bagai ikan seekor ular sabuk sutera putih itu meluncur dan ujungnya menotok ke arah tubuh Han Lin!

Pemuda ini menjadi penasaran sekali melihat ibunya.

Dia melompat berdiri dan menangkis pedang ibunya dan sabuk sutera putih yang menotoknya, akan tetapi dari belakang menyambar pedang Kim-liong-kiam di tangan Toa Ok dan sebatang pedang lain di tangan tosu pembantu Toa Ok.

Han Lin memutar pedangnya ke belakang.

"Ibu.......!"

Dia mencoba untuk memanggil lagi.

"Desss.....!"

Hebat sekali tamparan tangan kiri Toa Ok yang disertai ilmu pukulan Ban-tok-ciang.

Kalau bukan Han Lin yang punggungnya terkena pukulan itu, tentu akan roboh tewas atau setidaknya terluka parah.

Akan tetapi pemuda itu telah melindungi tubuhnya dengan sin-kang, maka biarpun dia terpelanting roboh, dia tidak terluka parah dan sudah melompat kembali sambil memutar pedang Im-yang-kiam melindungi dirinya.

Bukan pengeroyokan empat orang itu yang membuat Han Lin kewalahan, melainkan karena dia bingung dan sedih melihat keadaan ibunya yang tidak mengenalnya.

Kenyataan ini membuat dia lengah dan lemah sehingga beberapa kali dia terkena tendangan dan hantaman.

Masih untung bahwa dia tidak lupa untuk melindungi dirinya dengan sin-kang yang membuat tubuhnya kebal dan tidak dapat ditembusi oleh hawa beracun dari pukulan Ban-tok-ciang.

"Ibuuu.... ingatlah, ibuuu.....!"

Kembali dia berseru.

"Desss.....!"

Kembali dia terkena tendangan, sekali ini kaki Toa Ok yang menendangnya, keras sekali sehingga tubuhnya terpental sampai lima meter!

Empat orang pengeroyoknya itu mengejarnya dan kembali pedang ibunya menusuk ke arah dadanya.

Dia menangkap pedang itu dengan tangan kirinya.

"Ibu, aku Han Lin.....!"

Dia memperingatkan ibunya.

Akan tetapi Chai Li mengerahkan tenaga dan mencabut pedangnya.

Ia kini telah memiliki tenaga sin-kang cukup kuat sehingga Han Lin yang tidak mencengkeram pedang dengan sungguh-sungguh itu melepaskan pedang yang mengakibatkan telapak tangan kirinya tergores pedang dan berdarah!

"lbuuuu.....!

Desss.....!"

Kembali tubuh Han Lin terkena tendangan Ji Ok sehingga terpelanting dan terguling-guling.

Kepalanya terasa pening dan pada saat itu sadarlah dia bahwa kalau dia terus terbenam dalam kebingungan dan kedukaan, dia dapat tewas di tangan para pengeroyok itu.

Bangkitlah semangat Han Lin dan dia menjadi marah sekali, marah kepada mereka yang telah membuat ibunya seperti itu.

"Aaaaauuuungggg......!"

Tiba-tiba dia mengeluarkan pekik semacam auman yang melengking-lengking dan empat orang pengeroyoknya terpental mundur seperti dilanda angin badai.

Itulah Sai-cu Ho-kang (Ilmu Auman Singa) yang dikeluarkannya dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga akibatnya amat hebat, membuat para pengeroyoknya terhuyung-huyung ke belakang.

Juga sekaligus getaran suara itu menghancurkan semua kekuatan sihir sehingga pada saat itu Chai Li seolah-olah terbebas dari pengaruh sihir.

Ia terbelalak pucat, memandang kepada Han Lin.

"Kau..... kau.....?"

Katanya dengan suara tidak jelas.

Wanita itu masih dapat bicara walaupun kalau mengeluarkan suara tidak jelas karena lidahnya tinggal separuh.

Melihat dan mendengar suara ibunya, Han Lin menjadi timbul harapannya lagi dan diapun mendekati ibunya.

"Ibu, ini aku anakmu, Han Lin!"

Akan tetapi pada saat itu, kembali serangan datang bertubi.

Han Lin yang mencurahkan perhatiannya kepada ibunya, memutar pedang menangkis, akan tetapi dari belakang dia menerima hantaman tangan kiri Ji Ok.

"Plakk....!"

Punggungnya kena dihantam ilmu pukulan Ban-tok-ciang dan kembali Han Lin terpelanting jatuh.

Pedang Kim-liong-kiam di tangan Toa Ok menyambar dengan tusukan ke arah dadanya pada saat dia jatuh itu.

Han Lin masih sempat menggulingkan dirinya ke samping sehingga pedang itu menusuk dan menancap di atas tanah.

Han Lin menggulingkan tubuhnya menjauh dan pada saat itu, pedang tosu pembantu Toa Ok sudah membacok ke arah perut Han Lin.

Melihat datangnya pedang yang dibacokkan ke arah perutnya, Han Lin cepat menggerakkan kedua kakinya menendang.

Kaki kiri menendang pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga pedang itu terlepas, dan kaki kanan menendang ke arah dada lawan.

Tosu itu mengelak namun tetap saja dadanya tertendang sehingga dia terjengkang roboh.

Han Lin meloncat bangun dan sudah memutar Im-yang-kiam lagi untuk melindungi dirinya.

Yang amat menyedihkan hatinya adalah ketika dia melihat ibunya kembali sudah menyerangnya dengan ganas!

Sementara itu, Eng-ji yang dikeroyok oleh Sam Ok dan seorang tosu pembantu menjadi repot sekali.

Menghadapi Sam Ok seorang dia masih mampu menandingi bahkan mengungguli wanita datuk sesat itu, akan tetapi tosu yang mengeroyoknya itu lihai juga ilmu pedangnya sehingga dia mulai terdesak.

Apa lagi ketika dia melihat berulang kali Han Lin terpelanting roboh dan pemuda itu tampak bingung sekali memanggil-manggil ibunya dia sendiri menjadi kacau dan pada suatu saat, ujung pedang Sam Ok telah menyerempet paha kirinya sehingga celananya robek berikut kulitnya dan mengeluarkan banyak darah.

Akan tetapi hal ini tidak membuat Eng-ji menjadi gentar atau lemah, bahkan membuat dia menjadi marah sekali dan gerakan pedangnya menjadi semakin hebat!

"Haiiiittt....!"

Eng-ji mengeluarkan teriakan melengking dan hampir saja pedangnya membabat pundak Sam Ok yang menjadi terkejut sekali.

Akan tetapi datuk wanita itu masih mampu mengelak dan sebelum Eng-ji dapat mendesaknya, tosu yang mengeroyoknya telah datang membantu sehingga kembali Eng-ji menghadapi dua orang yang menyerangnya dengan bertubi-tubi.

Eng-ji memutar Ceng-liong-kiam di tangannya dan dia tidak hanya melindungi dirinya, akan tetapi dapat juga membalas serangan dua orang pengeroyoknya dengan tusukan atau bacokan yang berbahaya.

Ilmu pedang Coa-tok Sin-kiam yang dimainkannya memang merupakan ilmu pedang yang hebat dan ganas sekali.

Pedangnya seolah menjadi seekor ular yang melenggang-lenggok dan mematuk-matuk sehingga dua orang pengeroyoknya harus berlaku hati-hati sekali.

Han Lin yang selalu masih merisaukan ibunya kini terkepung dan terdesak hebat.

Terutama sekali pedang Toa Ok dan sabuk sutera putih Ji Ok amat mendesak nya sehingga dia menjadi repot.

Hal ini adalah karena perhatiannya lebih banyak ditujukan kepada ibunya yang juga ikut menyerangnya dengan ganas.

Han Lin merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat ibunyamati-matian menyerangnya dengan tusukan-tusukan maut itu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan sebatang tongkat kayu sederhana menyambar dan menangkis pedang Toa Ok yang mengancam Han Lin.

Ternyata yang datang membantu Han Lin itu adalah seorang gadis berpakaian putih yang bukan lain adalah Tan Kiok Hwa!

Melihat gadis ini membantu, Han Lin khawatir sekali kalau-kalau gadis itu celaka.

Maka dia lalu kembali mengeluarkan pekik aumannya yang dahsyat dan Han Lin kini mengamuk!

Sambil menghin darkan diri dari serangan ibunya, dia mengamuk dan melakukan penyerangan yang hebat terhadap Toa Ok, Ji Ok dan tosu pembantu mereka.

Pedangnya berubah menjadi seperti kilat yang menyambar-nyambar, amat dahsyatnya.

Dia sudah marah sekali.

Bukan marah karena dirinya dikeroyok dan diserang, melainkan marah karena melihat keadaan ibunya yang tidak mengenal dirinya lagi.

Dia mengamuk dan melihat ini.

Toa Ok menjadi terkejut sekali.

Datuk sesat ini merasa amat penasaran.

Dia ingin sekali merampas Im-yang-kiam.

Tadinya dia yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan Han Lin.

Akan tetapi, ternyata bertanding satu lawan satu dia tidak mampu menang.

Kemudian dia minta bantuan Sam Ok.

Juga gagal.

Sekarang dia dibantu Sam Ok dan Ji Ok bersama dua orang tosu lihai lagi, akan tetapi ternyata kembali dia gagal.

Han Lin dibantu pemuda remaja yang amat lihai itu dan kini bahkan dibantu pula oleh gadis berpakaian putih yang juga memiliki ilmu tongkat yang amat aneh dan gerakannya demikian luar biasa sehingga sukar disambar pedangnya.

Gadis berpakaian putih itu memiliki ilmu langkah yang ajaib sekali.

Maklum bahwa sekali inipun dia gagal, bahkan setelah Han Lin mengamuk keadaan dia dan kawan-kawannya berbalik terancam bahaya, Toa Ok lalu melempar bahan peledak.

Ledakan itu menimbulkan asap hitam tebal dan tanpa diberitahu, ledakan itu merupakan isarat kepada kawan-kawannya untuk melarikan diri.

Akan tetapi Han Lin tidak memperdulikan asap hitam tebal itu.

Dia menerjangnya sambil menahan napas.

"Ibuuu....! Jangan pergi, ibu.....!"

Dia berseru lalu berlari melakukan pengejaran.

Akan tetapi para pengeroyok itu telah lenyap dan Han Lin terus mengejar ke depan dengan nekat sambil memanggil-manggil ibunya.

Sementara itu, setelah terjadi ledakan dan timbulnya asap hitam tebal, Eng-ji melompat ke belakang.

Setelah para pengeroyoknya pergi, barulah terasa oleh nya betapa luka di pahanya perih dan nyeri.

Dia terhuyung.

"Engkau terluka.....!"

Terdengar teguran dan ketika dia menoleh, dia berhadapan dengan seorang gadis berpakaian serba putih yang cantik jelita.

Gadis itu membawa sebatang tongkat kayu di tangan kanannya dan sebuah buntalan besar tergendong di punggungnya.

Eng-ji melihat betapa gadis itu tadi menggunakan tongkat untuk membantu Han Lin.

Dia memandang tajam penuh perhatian, akan tetapi rasa nyeri di pahanya membuat dia menjatuhkan diri terduduk dan sambil memijati pahanya yang terluka dia bertanya.

"Kalau aku terluka mengapa?"

Kiok Hwa tersenyum mendengar jawaban yang ketus itu. Ia tadi melihat betapa pemuda remaja itu amat lihainya, mampu menandingi Sam Ok dan seorang tosu yang mengeroyoknya.

"Adik yang baik, kalau engkau terluka, aku dapat mengobatimu. Aku adalah seorang ahli pengobatan. Aku khawatir kalau lukamu itu mengandung racun."

Eng-ji terkejut dan juga girang.

Dia memandang kepada luka di pahanya dan melihat betapa luka itu tidak dalam akan tetapi di sekitar lukanya terdapat warna menghitam!

Itulah merupakan tanda bahwa luka itu memang mengandung racun!

"Ah, kalau begitu, periksalah lukaku dan obati, enci!"

Katanya khawatir.

Kiok Hwa tersenyum lalu menghampiri Eng-ji.

Ia berjongkok dan merobek celana itu agar terbuka lebih lebar dan memeriksa lukanya.

Ketika melihat bentuk paha dan kaki Eng-ji, Kiok-hwa berseru heran dan kaget.

"Engkau..... engkau seorang wanita....!"

"Hushh, enci. Ini rahasiaku dan jangan kau katakan kepada pemuda tadi."

"Maksudmu koko Han Lin?"

Tanya Kiok Hwa. Eng-ji memandang tajam.

"Engkau sudah mengenal Lin-ko?"

"Aku pernah bertemu dengannya dan kami saling mengenal."

"Hemm. Sekali lagi, harap engkau tidak membuka rahasiaku ini kepada Lin-ko. Dia tetap menganggap aku sebagai seorang pemuda yang bernama Eng-ji."

Kiok Hwa tersenyum heran. Akan tetapi ia mengangguk.

"Jangan khawatir, aku tidak membuka rahasiamu."

Ia memeriksa lagi dan berkata.

"Tahanlah, aku akan menotok dan memijat untuk mengeluarkan racun dari lukamu, agak nyeri sedikit."

"Cepat lakukan, aku akan bertahan. Cepat, jangan sampai Lin-ko melihat keadaanku ini."

Kiok Hwa lalu menotok ke jalan darah di sekitar luka, lalu memijit-mijit sehingga darah yang keracunan keluar dari luka.

Memang terasa nyeri, akan tetapi, Eng-ji menggigit bibirnya dan tidak mengeluarkan keluhan sehingga mengagumkan hati Kiok Hwa.

Gadis ini ternyata tabah dan tahan nyeri, seorang yang gagah sekali.

Setelah racunnya keluar semua, ia menaburkan bubuk obat kepada luka itu dan membalut paha itu dengan sehelai kain bersih.

Kemudian ia membantu Eng-ji menukar celananya yang robek.

Mereka bekerja cepat dan untung Eng-ji telah menukar celananya karena tak lama kemudian Han Lin muncul.

Melihat wajah pemuda itu yang muram, Eng-ji segera menyongsongnya dan jalannya agak terpincang.

"Bagaimana, Lin-ko? Apakah engkau dapat mengejar dan menyusul mereka?"

Han Lin menggeleng kepalanya dan menghela napas panjang.

"Tidak. Mereka menghilang dalam sebuah hutan. Aku menyesal sekali tidak dapat menyusul mereka..... ibuku..... ahhh....."

Han Lin menjatuhkan diri duduk di bawah pohon dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

Kedua matanya basah dan dia menahan isak tangisnya, mengeraskan hatinya sehingga kedua tangannya menjadi tegang dan kaku karena dia mengerahkan tenaganya untuk menahan tangisnya.

Kiok Hwa dan Eng-ji saling pandang sambil mengerutkan alisnya.

Kiok Hwa menggeleng kepalanya perlahan seolah hendak melarang Eng-ji berbuat sesuatu dan membiarkan Han Lin tenggelam ke dalam kesedihannya.

Akan tetapi Eng-ji tidak perduli dan dengan kaki terpincang dia menghampiri Han Lin dan menjatuhkan diri berlutut dekat pemuda itu, menaruh tangannya dengan lembut kepundak Han Lin.

"Lin-ko,"

Katanya lembut.

"Sudahlah jangan bersedih, Lin-ko. Benarkah wanita tadi ibumu?"

Tanpa menurunkan kedua tangannya dari depan mukanya, Han Lin. menjawab dengan suara lirih dan parau.

"Aku yakin bahwa ia itu ibuku....."

"Akan tetapi kenapa ia.... tidak mengakuimu dan seperti tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu dengan dahsyat?"

Eng-ji bertanya penasaran sekali. Han Lin menggeleng kepalanya lalu menghela napas panjang.

"Agaknya ia terpengaruh sihir laki-laki yang bersenjata sabuk sutera putih itu...."

"Dia adalah Ji Ok, Si Jahat Nomor Dua, jahanam keparat itu!"

Kata Eng-ji.

"Melihat keadaan bibi itu, kemungkinan besar ia telah minumracun perampas ingatan."

Kata Kiok Hwa dengan suara lembut.

Mendengar suara ini, Han Lin melepaskan kedua tangannya dari depan mukanya dan menoleh, memandang kepada Kiok Hwa.

Mukanya masih pucat dan kedua pipinya basah air mata.

"Kiok-moi! Aku sampai lupa kepadamu. Terima kasih, Kiok-moi, engkau tadi telah membantuku menghadapi iblis-iblis itu."

"Ah, tidak perlu dibicarakan lagi itu, Lin-ko. Aku ikut prihatin melihat ibumu."

Han Lin memandang kepada Eng-ji. Pandang matanya menuju ke pahanya.

"Dan engkau tadi agaknya terluka, Eng-ji? Aku khawatir sekali karena pedang di tangan Sam Ok itu tentu mengandung racun dan kalau melukaimu....."

"Memang ia yang melukai pahaku dan memang luka itu mengandung racun yang berbahaya. Akan tetapi untung ada enci ini yang mengobatiku. Eh, enci yang baik, sampai lupa aku bertanya. Siapakah namamu?"

Kiok Hwa tersenyum.

"Namaku Tan Kiok Hwa, adik Eng-ji."

"Untung ada Enci Kiok, kalau tidak mungkin kakiku harus dipotong!"

Han Lin memandang kepada Kiok Hwa.

"Kiok-moi, benarkah pendapatmu tadi bahwa mungkin ibuku telah minum racun perampas ingatan?"

"Besar sekali kemungkinannya, Lin-ko. Kalau ia hanya terpengaruh sihir, teriakanmu yang mengandung tenaga khi-kang sepenuhnya tadi tentu akan mampu membuyarkan sihir dan mengembalikan ingatannya. Akan tetapi kalau ia minum racun perampas ingatan, tentu saja tidak dapat disembuhkan dengan teriakanmu tadi."

Han Lin menggangguk-angguk lalu bangkit berdiri.

Eng-ji juga bangkit berdiri, akan tetapi dia terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Kiok Hwa tidak cepat merangkulnya.

Eng-ji juga merangkul gadis itu sehingga keduanya saling rangkul.

Eng-ji tertawa.

"Ah, ternyata masih terasa nyeri juga pahaku ini!"

Katanya, tanpa menyadari bahwa dia saling rangkul dengan Kiok Hwa.

Melihat sikap yang demikian mesra, saling rangkul dan tidak segera melepaskan rangkulan antara pemuda remaja dan gadis itu, tiba-tiba saja Han Lin merasa jantungnya seperti dicengkeram.

Sakit dan panas!

Tanpa dia sadari, dia telah dicengkeram oleh rasa cemburu yang besar.

Kiok Hwa dirangkul Eng-ji, demikian suara hatinya berteriak dengan marah!

Cemburu!

Suatu perasaan yang membuat orang merasa tidak enak sekali.

Panas, pedih dan menimbulkan sakit hati dan kemarahan besar.

Orang bilang bahwa cemburu adalah kembangnya cinta.

Bahwa adanya cinta harus ada cemburu, bahkan katanya cinta tidak sungguh-sungguh tanpa adanya cemburu!

Benarkah itu?

Cemburu menimbulkan kemarahan, membuat cinta berbalik menjadi benci!

Cemburu timbul karena perasaan bahwa orang yang dicintanya, yang dimilikinya, direbut orang.

Bahwa yang dicintanya itu ternyata mencinta orang lain.

Cemburu hanya timbul kalau cinta itu sifatnya ingin memiliki, ingin menguasai, ingin memonopoli orang yang dicintainya.

Cemburu timbul dari cinta yang ingin menyenangkan diri sendiri, sehingga menjadi marah dan benci kalau diri sendiri tidak disenangkan lagi.

Cemburu timbul dari cinta yang bergelimang nafsu berahi, nafsu memiliki dan nafsu ingin disenangkan.

Cinta sejati tidak akan menimbulkan cemburu!

Cinta sejati mendorong orang ingin menyenangkan hati orang yang dicintanya, ingin membahagiakan dan mengesampingkan keinginan untuk senang sendiri.

Kebahagiaan orang yang dicintanya mendatangkan kebahagiaan padanya juga.

Cinta sejati tidak ingin mengikat atau diikat, memberi kebebasan kepada orang yang dicintanya.

Akan tetapiHan Lin adalah seorang manusia biasa dan semua manusia tidak akan terlepas dari cengkeraman nafsunya sendiri.

Melihat Kiok Hwa berangkulan bersama Eng-ji, hatinya terasa seperti dibakar dan hal ini tampak dari pandang matanya yang berapi-api!

Kiok Hwa dapat melihat pandang mata itu dan seketika ia melepaskan rangkulannya kepada Eng-ji.

Ia baru sadar bahwa ia saling berangkulan dengan seorang "pemuda"

Menurut pandangan Han Lin.

Wajahnya berubah kemerahan, namun jantungnya berdebar tegang.

Kenapa Han Lin tampak marah melihat ia berangkulan dengan seorang "pemuda"?

Tentu hanya berarti satu, yaitu bahwa Han Lin tidak suka ia berangkulan dengan pemuda lain!

Untuk menutupi rasa rikuh ini, Kiok Hwa menegur Eng-ji.

"Engkau berhati-hatilah kalau berdiri Engkau bisa terjatuh. Racun di lukamu memang sudah hilang, akan tetapi luka itu sendiri belum sembuh benar."

Eng-ji sendiri tidak melihat pandang mata Han Lin yang berapi-api melihat dia berangkulan dengan Kiok Hwa tadi. Dia sendiri lupa bahwa tidak sepatutnya dia sebagai seorang "pemuda"

Berangkulan dengan Kiok Hwa demikian mesranya. Pada saat itu memang dia lupa bahwa dia seorang pemuda.

"Lin-ko, orang bersenjata sabuk sutera putih tadi adalah Ji Ok. Tadi mereka bertiga muncul dengan lengkap, yaitu Thian-te Sam-ok dan bersama wanita tadilah mereka menyerang guruku ketika itu."

Kata Eng-ji.

"Dan dua orang tosu tadi adalah tosu dari Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), tampak dari gambar teratai putih di balik jubah mereka."

Kata Kiok Hwa.

"Hemm, ternyata ibuku masih hidup dan ia telah terjatuh ke tangan Thian-te Sam-ok. Bagaimanapun juga aku harus membebaskan ibuku dari tangan mereka."

Kata Han Lin sambil mengepal tinjunya.

"Jangan khawatir, Lin-ko. Aku akan membantumu membebaskan ibumu!"

Kata Eng-ji penuh semangat.

"Akupun akan suka membantumu, Lin-ko,"

Kata Kiok Hwa.

"Akan tetapi bagaimana? Ke mana kita harus mencari mereka?"

"Enci Kiok Hwa, benarkah kata-katamu tadi bahwa dua orang tosu itu adalah tosu-tosu Pek-lian-kauw?"

Tanya Eng-ji kepada Kiok Hwa.

"Benar sekali, Eng-ji. Aku melihat gambar teratai putih itu di balik jubah mereka."

"Kalau begitu, Thian-te Sam-ok agaknya tentu berdiam di sarang Pek-lian-kauw dan aku tahu bahwa di balik gunung di sana itu terdapat sebuah bukit yang disebut Bukit Perahu dan di sana terdapat sarang cabang Pek-lian-kauw. Tentu mereka melarikan diri ke sana."

"Bagus kalau begitu!"

Kata Han Lin.

"Aku akan menyusul ke sana!"

"Aku ikut, Lin-ko!"

Kata Eng-ji.

"Akupun akan membantumu, Lin-ko."

Kata Kiok Hwa.

"Sebaiknya kalian tidak ikut, apalagi engkau, Kiok-moi. Perjalananku ini adalah untuk berusaha membebaskan ibuku dari cengkeraman Thian-te Sam-ok dan ini berbahaya sekali. Selain mereka bertiga itu sakti, juga Pek-lian-kauw memiliki tosu-tosu yang lihai. Aku tidak ingin kalian terancam bahaya kalau ikut denganku."

"Aku tidak takut bahaya, Lin-ko. Enci Kiok Hwa lebih baik tidak ikut, akan tetapi aku akan ikut denganmu. Aku tidak takut mati!"

Kata Eng-ji kukuh.

"Akan tetapi yakinkah engkau bahwa bibi tadi ibumu, Lin-ko?"

Tanya Kiok Hwa.

"Akupun heran, Lin-ko. Bukankah dulu engkau pernah mengatakan kepadaku hahwa ibumu telah meninggal dunia?"

Tanya pula Eng-ji. Han Lin menghela napas panjang. Teringat dia akan peristiwa ketika dia berusia sepuluh tahun dan mereka dikejar-kejar Suma Kiang itu.

"Aku melihat sendiri ketika ibuku dikejar-kejar seorang jahat, ibu terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam. Tak mungkin kiranya orang yang terjatuh ke dalam jurang tak berdasar seperti itu akan tinggal hidup. Akan tetapi aku yakin benar bahwa wanita tadi adalah ibuku! Akan tetapi sungguh aneh dan mengherankan sekali bagaimana ia muncul sebagai isteri Ji Ok dan sama sekali tidak mengenalku. Dan ibu yang dahulu tidak pandai ilmu silat itu sekarang menjadi demikian lihai."

Kembali dia menghela napas panjang dengan wajah muram.

"Sudahlah, Lin-ko, tidak perlu engkau bersedih terus. Yang penting sekarang marilah cepat mencari ibumu di sarang Pek-lian-kauw di Bukit Perahu!"

Kata Eng-ji penuh semangat. Mendengar ini, timbul pula semangat di hati Han Lin.

"Baiklah, mari kita berangkat. Sebaiknya engkau tidak ikut, Kiok-moi. Aku khawatir kalau-kalau engkau terancam bahaya."

Kata-kata ini keluar dari hati Han Lin yang mengkhawatirkan dara yang dicintanya itu.

"Jangan khawatir, aku dapat menjaga diriku, Lin-ko. Mari kita berangkat."

Kata Kiok Hwa.

Mereka lalu pergi dari situ menuju ke gunung yang tampak menghadang di depan.

Malam itu terang bulan.

Akan tetapi karena terhalang hutan yang lebat di gunung itu, terpaksa Han Lin, Eng-ji dan Kiok Hwa menghentikan perjalanan mereka dan melewatkan malam di tengah hutan.

Han Lin yang tampak murung dan berduka mendatangkan suasana sunyi dan diam.

Bahkan Eng-ji yang biasanya lincah itu tampak pendiam, mengetahui akan kedukaan yang mengganggu hati Han Lin.

Akan tetapi diam-diam diapun memperiapkan makanan malam untuk mereka bertiga, dibantu Kiok Hwa.

Mereka berdua menyambit jatuh tiga ekor burung yang cukup besar dan memanggang daging burung itu untuk menjadi teman roti kering yang dibawa Kiok Hwa.

"Lin-ko, mari makanlah. Kami telah memanggang daging burung untukmu."

Kata Eng-ji menawarkan. Han Lin memandang tak acuh. Hatinya sedang tertindih perasaan duka yang mendalam. Mana mungkin ada selera makan dalam keadaan seperti itu? Maka dia hanya menggeleng kepalanya.

"Lin-ko, makanlah dulu. Mari kita bertiga makan bersama, tidak baik perut dibiarkan kosong. Engkau bisa masuk angin."

Kembali Eng-ji membujuk sambil menarik-narik tangan Han Lin.

Kiok Hwa memandang ulah Eng-ji dan diam-diam ia merasa kasihan kepada Eng-ji.

Dari sikap Eng-ji, ia maklum bahwa yang menyamar pria itu sebenarnya mencinta Han Lin!

Hal ini mudah diduganya dari gerak-gerik dan pandang mata Eng-ji kepada pemuda itu.

Melihat Eng-ji tidak berhasil membujuk Han Lin untuk makan, padaha Eng-ji sudah susah payah memanggangkan daging burung untuk pemuda itu, Kiok Hwa menjadi kasihan juga.

"Eng-ji benar, Lin-ko. Engkau harus makan malam bersama kami. Tidak baik membiarkan hati berduka dan perut kosong. Engkau dapat jatuh sakit."

"Ah, aku tidak ada selera makan Kiok-moi."

"Harus dipaksa, Lin-ko. Bukan demi selera, melainkan demi kesehatan dan Eng-ji sudah bersusah payah membuatkan panggang daging burung untukmu."

Han Lin merasa tidak enak menolak terus, maka dengan sikap apa boleh buat diapun duduk di dekat api unggun dan mereka bertiga makan roti kering dan panggang daging burung sambil minum air teh.

Akan tetapi Han Lin hanya makan sedikit.

Malam terang bulan.

Bulan sepotonp itu cukup terang karena tidak terhalang awan.

Langit amat bersih dan cahaya bulan sepotong mendatangkan cahaya kebiruan yang mendatangkan suasana romantis.

Han Lin bangkit berdiri dan pergi menjauhi api unggun, menghampiri sebuah batu besar dan duduk di atas batu, melamun.

Eng-ji saling pandang dengan Kiok Hwa dan melihat wajah Eng-ji yang demikian muram dan nelangsa, ia merasa kasihan.

Ia menggunakan mukanya memberi isarat kepada Eng-ji untuk mendekati dan menemani Han Lin sedangkan ia sendiri menjaga agar api unggun tidak menjadi padam.

Eng-ji maklum akan isarat itu dan dia lalu bangkit dan menghampiri batu besar di mana Han Lin duduk melamun.

"Lin-ko......!"

Katanya lirih. Tanpa menoleh Han Lin berkata kepadanya.

"Eng-ji, kuminta dengan sangat agar engkau tidak menggangguku pada saat ini. Aku ingin bersendiri, tinggalkanlah aku dan beristirahatlah."

"Lin-ko, aku ingin menemanimu, menghiburmu....."

Kata pula Eng-ji dengan suara membujuk.

"Sudah kukatakan, jangan ganggu aku Eng-ji!"

Kata Han Lin dan suaranya terdengar agak ketus. Eng-ji mundur dar meninggalkannya. Dia duduk dekat apj unggun, di mana Kiok Hwa juga duduk.

"Enci Kiok, dia marah kepadaku."

Kata Eng-ji, penasaran dan kecewa, bahkan suaranya agak parau seperti orang mau menangis. Kiok Hwa merasa kasihan kepadanya.

"Dia sedang berduka, Eng-ji. Sebaiknya dalam keadaan seperti itu biarkan saja dia seorang diri sampai kedukaannya mereda. Lebih baik engkau istirahat saja, tidur, biar aku yang berjaga di sini."

Eng-ji memandang ke langit, ke arah bulan sepotong. Ada awan-awan tipis datang dan lewat, menipu penglihatan seolah-olah bulannya yang bergerak, bukan awannya.

"Kau lihat bulan itu, enci Kiok. Aku merasa seperti bulan itu."

Kiok Hwa menegadah.

"Eh, seperti bulan itu? Mengapa?"

"Menyendiri, kesepian!"

Jawab Eng-ji yang lalu bangkit dan menyambung kata-katanya.

"Sebaiknya aku tidur saja, untuk apa berjaga kalau tidak diperdulikan orang?"

Diapun pergi ke bawah pohon, membersihkan tanah di bawahnya, menaburkan daun-daun kering lalu dia merebahkan diri miring, berbantalkan buntalannya.

Sebentar saja dia tidak bergerak-gerak lagi dan pernapasannya halui tanda bahwa dia telah tidur pulas.

Kiok Hwa memandang kepadanya, tersenyum, lalu menoleh ke arah Han Lin.

Pemuda itu masih duduk termenung memandang ke langit, agaknya juga memandangi bulan.

Berulang kali dia menarik napas panjang.

Kiok Hwa merasa iba kepada pemuda itu.

Ia sendiri sudah tidak mempunyai ayah bunda sehingga tidak ada yang diharapkannya lagi, tidak ada yang disusahkannya.

Akan tetapi ia dapat merasakan betapa bingung dan hancur hati Han Lin yang menemukan kembali ibunya yang tadinya disangka telah mati itu dalam keadaan seperti itu.

Kiok Hwa menengok lagi ke arah Eng-ji.

Gadis yang menyamar pemuda itu masih tidur nyenyak.

Watak Eng-ji yang masih muda itu demikian mudah berubah.

Sebentar susah sebentar senang!

Orang yang lincah seperti dia itu tidak dapat berlama-lama dalam kesusahan.

Sebentar saja apa yang mengganjal hatinya akan lewat dan terlupa.

Kalau tadi kelihatan kecewa dan bersedih karena merasa diabaikan oleh Han Lin, kini dia sudah tidur dan terbuai di alam mimpi!

Sampai hampir tengah malam, Kiok Hwa melihat bahwa Han Lin masih saja duduk melamun seperti telah berubah menjadi arca batu, duduk diam tidak bergerak sama sekali di atas batu besar itu.

Ia merasa kasihan sekali dan perlahan-lahan ia bangkit berdiri setelah menaruh kayu-kayu bakar kedalam api unggun.

Lalu ia melangkah perlahan menghampiri batu besar dari arah belakang Han Lin.

Setelah tangannya menyentuh batu besar itu iapun berkata lirih seperti kepada diri sendiri.

"Susah dan senang datang silih berganti seperti ombak samudera yang bergerak ke kanan dan ke kiri. Yang satu tidak dapat berada tanpa yang lain, silih berganti saling menguasai singgasan hati. Membiarkan diri hanyut terlalu dalam ke dalam gelombang susah senang bukanlah perbuatan bijaksana."

Han Lin tersadar dari lamunannya merasa seolah ditarik oleh suara itu kembali ke dunia nyata.

Dia merasa seolah mendengar suara Bu-beng Lo-jin, karena pernah gurunya itu mengeluarkan kata-kata yang sama artinya dengan yang baru saja terdengar olehnya itu.

Dia menoleh dan melihat Kiok Hwa berdiri di bawah, di dekat batu besar yang didudukinya.

"Ah, engkau itu, Kiok-moi? Kata-katamu menyadarkan aku dari alam lamunan. Engkau benar. Aku terlalu membiarkan diriku terseret dan hanyut ke dalam duka. Kiok-moi, maukah engkau naik ke sini, duduk dan bercakap-cakap denganku untuk memberi kesadaran sepenuhnya kepadaku? Hatiku sedang merana, dan aku merasa kehilangan kepribadianku."

Kiok Hwa meragu, menoleh ke arah di mana Eng-ji tertidur. Ia melihat betapa Eng-ji masih pulas tidak bergerak-gerak, dan ia merasa kasihan kepada pemuda yang amat dikaguminya itu.

"Baiklah."

Katanya dan iapun melompat ke atas batu besar itu dengan gerakan ringan sekali.

"Aku akan menemanimu bercakap-cakap sebentar, akan tetapi Engkau perlu istirahat, Lin-ko."

Mereka duduk saling berhadapan di atas batu besar itu.

Batu itu mempunyai permukaan yang rata, maka mereka dapat duduk bersila dengan enak di atasnya.

Setelah duduk saling berhadapan di bawah sinar bulan itu, Han Lin mengamati dengan tajam wajah gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya itu.

"Kiok-moi, kata-katamu tadi menyadarkan aku, seolah aku ditarik kembali kealam kenyataan oleh suaramu. Dan kata-katamu tadi tidak asing bagiku karena kelima orang guruku sudah sering membicarakannya. Aku tahu bahwa susah senang adalah dua hal yang tak terpisahkan mempengaruhi kehidupan manusia, bahwa itu adalah dua sifat yang saling bertentangan akan tetapi saling mengis dari Im dan Yang, dua kekuatan yan membuat alam semesta ini berputar, du kekuatan yang kalau bertemu dapat menimbulkan kehidupan di alam semesta ini Aku tahu akan semua itu dan bahka hafal akan pelajaran tentang Im dan Yang itu. Orang tidak akan mengenal Yan kalau tidak mengenal Im. Orang tida akan mengenal kesusahan kalau tidak mengenal kesenangan dan sebaliknya Menurut ujar-ujar para bijaksana, manusia baru akan dapat membebaskan dirinya secara penuh kalau dia tidak terseret oleh gelombang yang diakibatkan oleh Im dan Yang (Positif dan Negatif) itu. Akan tetapi, Kiok-moi, aku manusia biasa. Kedukaan yang menyelubungi hatiku ini tidak kubuat-buat, melainkan datang dengan sendirinya sebagai akibat daripada kenyataan yang kuhadapi. Betapa hatiku tidak akan hancur melihat ibuku seperi itu? Ah, engkau tidak tahu apa yang pernah diderita ibuku tercinta! Ibuku ditinggal ayah kandungku, kemudian ibu dan aku diculik penjahat, hampir saja ibuku diperkosa sehingga ia menggigit putus lidahnya sendiri. Kami dikejar-kejar penjahat sehingga hidup penuh penderitaan lahir batin. Kemudian aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa ibuku terjungkal ke dalam jurang yang tak berdasar sehingga tadinya aku yakin bahwa ibuku telah meninggal dunia. Kalau ibu meninggal dunia ketika terjatuh itu, berarti ia telah terbebas dari kesengsaraan hidup di dunia. Akan tetapi ternyata ia masih hidup dan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis seperti Thian-te Sam-ok! Ah, dapat kubayangkan betapa hebat penderitaan ibuku yang tercinta itu! Bagaimana aku dapat menahan kedukaan yang begini besar, Kiok-moi? Ahhh, kasihan ibuku.....!"

Han Lin tidak dapat menahan kesedihan hatinya lagi dan teringat akan keadaan ibunya, kedua matanya basah dan dia menundukkan mukanya.

Sudah sejak pertemuan pertama, hati Kiok Hwa terpikat oleh Han Lin dan gadis yang bijaksana ini paham betul bahwa diam-diam ia jatuh cinta kepada pemuda itu.

Kini, melihat wajah pemuda itu diliputi kedukaan, kedua matanya basah dan seluruh tarikan mukanya menunjukkan kepedihan hati yang amat besar, hati Kiok Hwa terasa seperti diremas-remas.

Ia merasa kasihan sekali dan ingin ia menghibur hati pemuda itu sedapatnya.

Karena ia merasa terharu sekali, perasaan hatinya mendorongnya untuk menyentuh pundak Han Lin dengan tangannya.

"Lin-ko, kita memang manusia lemah Tak mungkin kita dapat menguasai hati kita sendiri. Karena itu, satu-satunya jalan hanyalah menyerah kepada Thian Yang Maha Kasih."

Suara gadis itu menggetar penuh keharuan.

Sentuhan tangan Kiok Hwa pada pundaknya mendatangkan getaran yang terasa menyusup ke seluruh dirinya.

Seakan mencari pegangan bagi hatinya yang sedang limbung itu Han Lin menangkap tangan itu, memegang dan meremasnya lembut.

Dua pasang mata saling bertemu dan bertaut.

"Kiok-moi.....!"

"Lin-ko.....!"

Entahlah siapa yang bergerak lebih dahulu, akan tetapi tahu-tahu Kiok Hwa telah rebah dalam pelukan Han Lin dan gadis itu menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu.

Han Lin mendekap kepala itu dengan kuat, seolah takut akan kehilangan sebuah mustika.

Sampai lama sekali mereka berdua tenggelam dalam keadaan seperti itu.

tak sepatahpun kata keluar dari mulut mereka, akan tetapi detak jantung mereka seperti bicara dalam seribu bahasa.

Seluruh tubuh mereka tergetar oleh kekuatan ajaib yang menyusup ke dalam diri mereka.

Pernapasan mereka seolah telah menjadi satu, detak jantung mereka pun menjadi seirama.

Akhirnya Han Lin yang berbisik, suaranya penuh getaran karena keharuan dan kebahagiaan menyelubungi hatinya.

"Terima kasih, Kiok-moi..... terima kasih.... engkau telah memberi kekuatan hidup kembali kepadaku....."

Han Lin menunduk dan mencium rambut kepala gadis itu.

Kiok Hwa terisak.

Air matanya bercucuran membasahi baju Han Lin dan menembus membasahi kulit dadanya, menembus lagi menyirami jantungnya.

Terasa sejuk segar mendatangkan gairah hidup baru, membangkitkan semangatnya.

Han Lin memperkuat rangkulannya.

"Engkau... engkau menangis, Kiok-moi...,?"

Perlahan dengan lembut Kiok Hwa melepaskan kedua lengan Han Lin yang merangkulnya.

Dengan mata basah ia memandang wajah pemuda itu dan tersenyum.

Di bawah sinar bulan, wajah yang tersenyum dengan kedua mata basah itu tampak demikian cantik menggairahkan.

"Aku..... aku bahagia, Lin-ko....."

Tiba tiba ia menoleh kepada Eng-ji.

Gadis yang menyamar sebagai pemuda itu telah membalikkan tubuhnya dan kini mukanya menghadap kepada mereka, akan tetapi kedua matanya masih terpejam dan tidak bergerak sama sekali.

"Akan tetapi..... disana ada Eng-ji....."

Han Lin juga baru teringat bahwa ada Eng-ji di situ.

"Apa hubungannya dengan dia, Kiok-moi? Kita saling mencinta dan dia..... eh, Kiok-moi, apakah..... apakah dia..... juga mencintamu?"

Kiok Hwa tersenyum.

"Bagaimana engkau dapat menduga begitu, Lin-ko?"

"Kulihat hubungan antara kalian demikian akrab dan mesra......!"

Kata Han Lin, cemburu mulai menggerogoti hatinya.

"Ah, kami memang saling menyayang, akan tetapi menyayang seperti saudara."

Kiok Hwa lalu melompat turun dari atas batu besar.

"Lin-ko, sekarang engkau harus beristirahat, biar aku yang menjaga api unggunnya."

Api unggun itu sudah mengecil karena hampir kehabisan kayu bakar.

Kiok Hwa menghampiri dan menambahkan kayu bakar.

Han Lin masih duduk di atas batu besar.

Seluruh tubuhnya masih gemetar karena gelora perasaannya ketika berpelukan dengan Kiok Hwa tadi.

"Engkau yang harus beristirahat, Kiok moi. Biar aku yang berjaga."

Katanya sambil melompat turun dari atas batu besar.

Dia menghampiri Kiok Hwa di dekat api unggun, duduk di dekatnya dan hendak merangkul lagi.

Akan tetapi dengan lembut Kiok Hwa mengelak dan menjauhkan diri.

"Sudahlah, Lin-ko. Kita harus merahasiakan perasaan hati kita."

Katanya sambil menoleh kepada Eng-ji.

"Dan engkau tidurlah dulu, engkau perlu beristirahat untuk mengusir pergi semua perasaan dukamu."

Han Lin merasa heran ketika tiba-tiba teringat betapa dia sama sekali sudah tidak merasa berduka, bahkan sama sekali telah melupakan ibunya!

Kini dia seperti diingatkan dan kemuraman mulai menyelubungi wajahnya kembali.

"Baiklah, Kiok-moi. Aku beristirahat lebih dulu, nanti kugantikan engkau berjaga." (Lanjut ke

Jilid 15) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 Han Lin menjauhi api unggun dan duduk bersila.

Begitulah caranya beristirahat dan dia tidak memerlukan tidur karena dengan bersila dia dapat mengendurkan semua urat syarafnya dan mengaso.

Dua orang itu sama sekali tidak tahu, tadi telah terlena oleh gelombang asmara sehingga tidak tahu bahwa Eng-ji membuka matanya dan melihat mereka saling berangkulan!

Hampir saja Eng-ji melompat bangun saking marahnya.

Akan tetapi dia menahan diri dan pura pura tertidur.

Padahal setelah melihat dan menyaksikan sendiri betapa Han Li dan Kiok Hwa saling mencinta, dia sama sekali tidak dapat tidur lagi dan diam diam, tanpa suara dia menangis.

Air matanya bercucuran dan dia mengepal kedua tangannya kuat-kuat, seolah hendak menahan dirinya melakukan sesuatu yang merusak.

Pada keesokan harinya, Eng-ji tidak berkata apa-apa dan tidak menyinggung tentang peristiwa yang dilihatnya semalam.

Akan tetapi dia bersikap pendiam tidak seperti biasanya, bahkan setiap kali dia memandang kepada Kiok Hwa, sinar matanya seperti mengeluarkan sinar kilat Kiok Hwa adalah seorang gadis yang berperasaan halus dan peka sekali.

Ia sudah melihat perubahan sikap Eng-ji dan menduga-duga apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu.

Diam-diam timbul kekhawatiran di dalam hatinya.

Jangan-jangan Eng-ji telah mengetahui tentang hubungan cintanya dengan Han Lin!

Ia terasa khawatir sekali karena ia dapat menduga bahwa gadis yang menyamar sebagai pria itu mencinta Han Lin!

Pada suatu hari tibalah mereka di kota Tai-goan yang besar dan ramai.

Mereka menyewa dua buah kamar.

Sebuah untuk Kiok Hwa seorang diri dan sebuah kamar lagi untuk Han Lin dan Eng-ji.

Kiok Hwa merasa tidak enak sekali melihat Han Lin tidur sekamar dengan Eng-ji akan tetapi karena mengingat bahwa Eng-ji dianggap pria oleh Han Lin, maka iapun menyingkirkan perasaan tidak enak itu.

Malam itu tanpa banyak cakap mereka makan di rumah makan, kemudian memasuki kamar masing-masing untuk mengaso.

Han Lin yang melihat Eng-ji diam saja tidak mengusik, maklum akan keanehan watak "pemuda"

Remaja itu.

Dianggapnya Eng-ji sedang mengambek, entah karena apa.

Tak lama kemudian Han Lin sudah tidur pulas.

Dia tidak tahu betapa Eng-ji turun dari pembaringannya, ada dua pembaringan di kamar itu, dan Eng-ji keluar dari kamar itu dengan hati-hati sambil membawa pedangnya!

Kiok Hwa sudah tidur pulas akan tetapi ia dapat menangkap suara yang tidak wajar pada jendela kamarnya.

Ketika bayangan itu berkelebat memasuki kamar, ia sudah melihatnya, bahkan dari sinar penerangan yang menerobos dari luar, ia mengenal bayangan itu yang bukan lain adalah Eng-ji!

Kiok Hwa terkejut, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan tetap tidur pulas, akan tetapi setiap urat syarafnya tegang berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.

Ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah Eng-ji, akan tetapi dengan melihat bahwa Eng-ji membawa sebatang pedang terhunus!

Kiok Hwa sudah berjaga-jaga.

Kalau Eng-ji menyerang dengan pedangnya, tentu ia akan mengelak.

Ia sudah bersiap siaga untuk menghadapi serangan itu.

Ia melihat Eng-ji melangkah maju menghampiri pembaringan di mana ia rebah telentang.

Di depan pembaringan ia berdiri mematung, tak bergerak seolah merasa ragu apa yang akan dilakukannya.

Tiba-tiba ia mengangkat pedangnya ke atas, siap untuk membacok.

Kiok Hwa juga sudah siap untuk menghindar.

Akan tetapi setelah pedang tiba di atas kepala, pedang itu berhenti dan tidak segera dibacokkan, bahkan pedang itu turun kembali, tergantung di sisi tubuh Eng-ji.

Kembali dia berdiri seperti berubah menjadi patung, sampai lama.

Kiok juga berdiam diri, sama sekali tidak bergerak.

Kembali pedang diangkat, siap membacok.

Kembali Kiok Hwa bersiap untuk mengelak.

Sampai lama pedang diangkat ke atas, tidak juga dibacokkan.

"Kau merebutnya dariku...... kau merebutnya dariku....."

Eng-ji berbisik-bisik dan kembali pedangnya bergerak, seperti hendak membacok, akan tetapi ditahannya. Akhirnya dia terisak, memutar tubuhnya dan membacokkan pedangnya pada sebuah bangku.

"Crokkk!!"

Bangku itu pecah menjadi dua potong.

Eng-ji melempar pedangnya di atas meja dan diapun menjatuhkan dirinya duduk di atas bangku dekat meja itu dan menangis.

Kiok Hwa bangkit dari pembaringan lalu turun.

"Eh, engkaukah itu, adik Eng ji? Engkau menangis? Kenapakah, dan apa maksudmu malam-malam begini datang berkunjung?"

Kiok Hwa menghampir dan merangkul pundak Eng-ji. Sambil terisak Eng-ji merenggutkar tangan Kiok Hwa yang memegang pundaknya.

"Jangan sentuh aku!"

"Aih, Eng-ji! Engkau kenapakah? Kenapa engkau marah-marah kepadaku? Apa kesalahanku kepadamu?"

Akan tetapi mendengar pertanyaan ini, tangis Eng-ji semakin mengguguk sampai pundaknya bergoyang-goyang Kiok Hwa membiarkannya menangis.

Setelah tangis itu mereda, ia bertanya lagi "Sekarang ceritakanlah, Eng-ji.

Kenapa engkau begini marah dan berduka.

Apa yang telah terjadi?"

Tanya Kiok Hwa padahal di dalam hatinya ia sudah dapat menduga mengapa Eng-ji bersikap seperti itu.

Tentu karena peristiwa beberapa hari yang lalu, di malam hari itu ketika ia saling menumpahkan rasa kasih sayangnya dengan Han Lin.

Tentu Eng-ji telah melihatnya!

"Engkau....

engkau pengkhianat!"

Eng-li akhirnya dapat mengeluarkan kata-kata.

"Apa..... apa maksudmu, Eng-ji?"

Kiok Hwa bertanya, hatinya berdebar keras.

"Engkau mengkhianatiku! Engkau merebut Lin-ko dariku......!"

Kata Eng-ji sambil bangkit dan menatap wajah Kiok Hwa dengan mata mencorong marah.

"Ah, itukah? Eng-ji, jadi engkau mencinta Lin-ko?"

"Aku mencintanya dengan sepenuh jiwa ragaku. Aku mencintanya lama sebelum engkau muncul. Dan engkau mencoba untuk merebut dia dariku. Karena itu, ingin aku membunuhmu...... akan tetapi...ah, aku benci kamu! Benci kamu!"

Eng-ji menangis lagi.

"Adik Eng-ji, kalau engkau memang demikian mencintanya......, engkau memang jauh lebih cocok dengan dia. Kalian sama-sama pendekar gagah perkasa, tukang berkelahi, sedangkan aku...."

"Awas, enci Kiok Hwa......!!"

Tiba-tiba Eng-Ji berseru.

Akan tetapi pada saat itu, sebuah benda dilemparkan orang dari jendela dan benda itu meledak, menimbulkan asap hitam yang tebal memenuhi kamar itu.

Eng-ji menahan napas dan dia masih dapat melihat beberapa sosok bayangan berkelebatan memasuk kamar itu dan seorang di antara bayangan itu melompat ke dekatnya.

Dengan hati marah sekali Eng-ji lalu mengerahkan tenaganya dan memukul dengan ilmu Toat-beng Tok-ciang, dengan jari-jari tangan terbuka.

"Wuuuttt..... desss.....!!"

Karena keadaannya gelap, pukulannya mengenai sasaran, tepat mengenai pundak orang itu.

Orang itu terpelanting, akan tetapi karena kamar itu penuh asap tebal, Eng-ji tidak melihat apa-apa.

Dia lalu melompat ke arah pintu kamar dan mendorong daun pintu terbuka.

Suara ribut-ribut itu menarik perhatian para tamu losmen yang lain.

Mereka keluar dari kamar dan terkejut melihat asap tebal keluar dari kamar Kiok Hwa.

Han Lin juga sudah berada di situ dan melihat Eng-ji keluar dari kamar itu sambil membawa pedang, Han Lin terkejut.

"Eng-ji, apa yang telah terjadi? Mana Kiok Hwa?"

Tanya Han Lin. Eng-ji terbatuk-batuk karena tadi menahan napas ketika keluar dari kamar yang penuh asap itu.

"Ia berada dalam kamar. Tadi kami berdua berada di dalam kamar ketika tiba-tiba ada yang melemparkan benda meledak di dalam kamar yang mengeluarkan asap tebal."

Kata Eng-ji bukan tanpa rasa cemburu karena Han Lin tampaknya demikian mengkhawatirkan Kiok Hwa.

Mendengar ini, Han Lin menahan napas dan melompat ke dalam kamar yang masih penuh dengan asap itu.

Dia melepaskan bajunya dan menggunakan tenaga sin-kang untuk me-ngebut-ngebut sehingga asap membubung keluar dari jendela dan pintu.

Setelah sap menipis, dan dia dapat melihat, ternyata Kiok Hwa tidak berada dalam kamar itu!

Eng-ji juga memasuki kamar dan dia pun merasa heran tidak dapat menemukan Kiok Hwa.

Ketika dia melihat pandang mata Han Lin kepadanya, dia berkata.

"Tadi enci Kiok Hwa masih berada di sini!"

Para penghuni kamar losmen yang lain bubaran setelah ternyata tidak terjadi apa-apa, meninggalkan Han lin dan Eng-ji yang masih berada di kamar itu.

"Ke mana perginya Kiok-moi?"

Tanya Han Lin kepada diri sendiri dan dia memeriksa keadaan kamar itu dengan teliti.

Buntalan pakaian Kiok Hwa masih berada di kamar itu.

Akan tetapi dia melihat bangku yang pecah menjadi dua potong bekas terbabat pedang dan dia memeriksa bangku itu.

"Agaknya terjadi penyerangan di sini."

Katanya dan Eng-ji diam saja karena bangku itu tadi dia yang membacoknya sehingga menjadi pecah.

"Jangan-jangan enci Kiok Hwa telah berlari keluar melalui jendela."

Katanya penuh harap.

"Ah, lihatlah ini!"

Han Lin menghampiri dinding di mana tertancap sebatang belati.

dan terdapat sehelai kertas berisi tulisan di pisau itu.

Han Lin mencabut pisau itu dan melemparkan pisau ke atas meja setelah mengambil suratnya.

Kertas itu mengandung tulisan yang singkat.

"Kalau ingin gadis itu dibebaskan, antarkan Im-yang-kiam ke Bukit Perahu."

"Jahanam!"

Han Lin mengepal tinjunya.

"Thian-te Sam-ok keparat!"

Eng-ji mengambil surat itu dari tangan Han Lin dan membacanya.

"Hemm, tentu Sam Ok yang telah menawan enci Kiok Hwa dan membawanya ke sarang Pek-lian-kauw. Sayang tadi keadaannya gelap sekali sehingga aku tidak dapat melihat apa-apa. Akan tetapi aku telah berhasil memukul roboh seorang di antara mereka. Pukulanku itui keras sekali, aku yakin orang yang kupukul tentu akan mampus!"

"Keparat Toa Ok!"

Kembali Han Lin memaki.

"Agaknya dia masih belum mau berhenti sebelum mendapatkan Im-yang-kiam. Berkali-kali dia mengajak teman-temannya untuk menyerangku dan merampas Im-yang-kiam dan sekarang dia menggunakan cara yang amat curang, menculik Kiok-moi."

"Sekarang apa yang akan kau lakukan, Lin-ko?"

"Tentu saja menyusul ke Bukit Perahu! Bukan hanya untuk membebaskan Kiok-moi, akan tetapi juga untuk membebaskan ibuku."

"Akan tetapi sekarang mereka telah mengetahui bahwa kita akan datang. Tentu mereka telah bersiap-siap dan keadaan itu berbahaya sekali, Lin-ko. Mereka itu kuat sekali, apalagi ditambah dengan para tosu Pek-lian-kauw."

"Aku tidak takut!"

Kata Han Lin.

"Aku juga tidak takut. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana membebaskan enci Kiok Hwa -dan ibumu agar tidak sampai gagal."

"Toa Ok menghendaki Im-yang-kiam. Kalau perlu aku akan menukar Im-yang-kiam dengan pembebasan Kiok-moi dan ibuku."

"Aku masih khawatir, Lin-ko. Mereka itu adalah datuk-datuk sesat yang curang dan licik. Aku khawatir mereka akan menggunakan kecurangan untuk menjebak kita."

"Aku harus berani menghadapi resika itu, Eng-ji. Kalau engkau khawatir, sudalah jangan engkau ikut. Biar aku sendiri yang menghadapi bahaya. Aku merasa tidak enak sekali kalau engkau sampai tertimpa bahaya karena membantuku membebaskan Kiok-moi dan ibuku."

Kata Han Lin dengan suara bersungguh-sungguh. Eng-ji marah sekali.

"Begitukah pendapatmu, Lin-ko? Engkau sama sekali tidak menghargai bantuan dan kesungguhan hatiku membantumu! Apa engkau hanya dapat menghargai enci Kiok Hwa saja?"

Han Lin terkejut dan memandang tajam kepada Eng-ji.

Dia tadi sudah menyalakan lilin di atas meja sehingga dapat menentang pandang mata Eng-ji dengatl jelas.

Mata pemuda remaja itu tampak berapi-api, penuh kemarahan.

"Apa.... apa maksudmu, Eng-ji?"

Eng-ji membanting kaki kanannya keatas lantai.

"Sudahlah, kalau engkau tidak suka melakukan perjalanan bersama-ku, biar aku seorang diri pergi ke Bukit Perahu untuk membebaskan enci Kiok Hwa!"

Setelah berkata demikian Eng-ji memutar tubuhnya dan bergegas kembali ke dalam kamarnya.

Tak lama kemudian Han Lin menyusul memasuki kamar.

Dia melihat Eng-ji sudah rebah miring menghadap ke dinding di atas pembaringan dan dia merasa menyesal sekali telah membuat marah sahabat baiknya yang selama ini ramah baik dan setia kepadanya itu.

Dia duduk di tepi pembaringan dan menghela napas panjang.

"Adik Eng-ji, aku minta maaf kepadamu. Bukan aku tidak menghargai bantuan mu, sama sekali tidak. Aku hanya mengkhawatirkan kalau akan terjadi apa-apa denganmu. Maafkan aku dan biarlah kita melakukan perjalanan bersama ke Bukit Perahu. Kalau mereka tidak mau membebaskan Kiok-moi dan ibuku, kita berdua akan mengobrak-abrik sarang mereka dan akan membasmi mereka!"

Eng-ji membalikkan tubuhnya dan Han Lin merasa heran sekali melihat mata dan pipi pemuda remaja itu basah.

Eng ji menangis!

Sungguh sulit dia membayangkan hal ini.

Pemuda yang demikian penuh keberanian, Jenaka cekatan nakal, Menangis!

"Aku hanya ingin membantu, Lin-ko."

Katanya dengan suara parau.

Han Lin merasa terharu.

Pemuda remaja ini sungguh amat baik terhadap dirinya.

Biarpun dia putera Suma Kiang yang dibencinya dan merupakan musuh besar ibunya, namun Eng-ji ternyata seorang pemuda yang baik hati dan gagah.

Sungguh jauh bedanya dibandingkan ayahnya yang seperti manusia iblis itu.

"Aku terima bantuanmu, adik Eng ji dan aku akan selalu berterima kasih dan bersukur atas bantuanmu yang amat berharga itu."

Malam itu Han Lin tidak tidur melainkan duduk bersila dan bersamadhi di atas pembaringannya sendiri.

Dia mencoba untuk menenteramkan hatinya yang penuh kegelisahan.

Memikirkan ibunya saja dia sudah gelisah, kini ditambah lagi memikirkan keadaan Kiok Hwa yang menjadi tawanan Sam Ok yang amat jahat.

Apa yang terjadi dengan Kiok Hwa?

Ketika benda itu meledak di dalam kamarnya dan mengeluarkan asap hitam yang amat tebal sehingga ia tidak dapat melihat apa-apa, tiba-tiba saja ada angin nenyambar dari sampingnya.

Kiok Hwa mencoba untuk mengelak, akan tetapi dari lain sisi menyambar pula jari tangan yang menotoknya.

Ia terkena totokan dan tidak mampu bergerak lagi.

Tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak berdaya ketika tubuhnya dipondong orang dibawa meloncat keluar jendela.

Selanjutnya ia dibawa lari dan di bawah sinar bulan ia melihat bahwa yang melarikannya ada tiga orang dan ternyata mereka adalah Thian-te Sam-ok!

Yang menotok dan membawanya lari itu adalah Toa Ok sendiri.

Ia dipanggul dalam keadaan lemas dan tidak mampu bergerak.

Tanpa diberitahu Kiok Hwa maklum bahwa ia dilarikan ke Bukit Perahu, ke sarang Pek-lian-kauw yang mempunyai cabang di tempat itu.

Mereka tiba pagi pagi sekali di perkampungan Pek-lian kauw di puncak Bukit Perahu.

Kiok Hwa yang dipanggul itu memperhatikan saja tadi ia melihat betapa Sam Ok berada dalam keadaan terluka dalam.

Wanita itu agak terhuyung dan mukanya pucat sekali Setelah tiba di pintu gerbang perkampungan itu, Toa Ok membebaskan Kiok Hwa dan membiarkan gadis itu berjalan sendiri.

Kiok Hwa memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Perkampungan Pek-lian kauw itu dikelilingi dinding yang cukup tinggi dan memiliki pintu gerbang yan cukup besar.

Di pintu gerbang terdapat belasan orang anggauta Pek-Iian-kau yang kepalanya diikat kain putih dan baju di dada mereka terdapat gambar bunga teratai putih.

Juga tampak beberapa orang tosu berjubah lebar dengan baju dalamnya juga digambari teratai putih.

Para penghuni perkampungan itu berbondong keluar dan Kiok Hwa menaksir bahwa jumlah para anggauta dan para tosu itu tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya.

Kedudukan mereka kuat juga, pikir Kiok Hwa dan ia mengkhawatirkan Han Lin.

Ia tahu bahwa Han Lin tidak akan tinggal diam dan pasti akan menyusul ke tempat ini untuk membebaskannya dirinya juga membebaskan ibunya.

Tiba-tiba ia melihat wanita itu!

Wanita yang diaku sebagai ibu oleh Han Lin.

Kiok Hwa memandang dengan penuh perhatian.

Wanita tu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan wajahnya masih cantik, walaupun agak pucat dan kurang semangat.

Pandang matanya kurang bergairah dan sinarnya aneh, kadang bersinar keras dan ganas.

Mulutnya yang bentuknya manis dan ramah itu tidak pernah tersenyum.

Kiok Hwa merasa kasihan sekali.

Sebagai seorang ahli pengobatan yang pandai ia dapat menduga bahwa wanita itu tidak sehat keadaannya.

Sebatang pedang beronce merah tergantung di punggung wanita.

itu.

Ia berjalan datang dan memandang kepada Kiok Hwa dengan tak acuh dan sambil lalu saja.

Kemudian ia mendekati Ji Ok yang segera memegang tangan wanita itu.

Dan Kiok Hwa melihat sesuatu yang amat luar biasa.

Ia melihat betapa Ji Ok memandang wanita itu dengan sinar mata penuh kasih sayang dan semnyumnya kepada wanita itupun membayangkan kasih sayang!

Melihat pandang mata dan sikapnya saja Kiok Hwa hampB merasa yakin bahwa Ji Ok amat mencinta wanita itu.

Ia diajak masuk ke dalam sebuam bangunan yang besar.

Tiga orang Sam Ok, wanita ibu Han Lin itu, dan dua orang tosu Pek-lian-kauw yang melihat sikap dan jubah mereka tentulah merupakan tokoh atau pimpinan di situ.

Setelah tiba di dalam, Toa Ok berkata kepada Kiok Hwa.

"Nona, engkau tahukah mengapa engkau kami tawan dan bawa ke sini?"

"Aku selalu dibutuhkan di mana terdapat orang sakit yang terancam maut untuk mengobatinya."

Kata Kiok Hwa dengan sikap tenang, seolah-olah ia tidak sedang berada di sarang musuh yang berbahaya.

Sam-ok saling pandang, demikian pula dua orang tosu yang menjadi ketua dan wakil ketua cabang Pek-lian-kauw.

Ketua cabang Pek-lian-kauw di Bukit Perahu itu adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun lebih yang bertubuh tinggi kurus dan berjuluk Lian Hoat Tosu.

Adapun wakilnya, yang sedikit lebih muda darinya dan bertubuh pendek gendut, adalah Lian Bok Tosu.

Ilmu kepandaian silat mereka cukup tinggi.

Juga mereka berdua adalah ahli-ahli sihir dan memiliki senjata bahan peledak yang mengeluarkan asap tebal, bahkan ada peledak yang mengandung asap beracun sehingga berbahaya sekali.

Anak buah mereka yang berjumlah lima puluh orang juga rata-rata memiliki ilmu silat aliran Pek-lian-kauw.

Toa Ok tertawa mendengar ucapan Kiok Hwa itu.

"Ha-ha-ha, engkau terlalu membanggakan ilmumu mengobati orang, nona. Akan tetapi sekali ini engkau menjadi tawanan kami, menjadi sandera untuk memaksa pemuda itu datang menyerahkan Im-yang-kiam kepada kami. Kami tidak membutuhkan pengobatanmu karena tidak ada orang yang sakit di sini."

Kiok Hwa dengan tenangnya tersenyum lalu menoleh kepada Sam Ok.

"Sam Ok, apakah engkau merasa sehat-sehat saja?"

Sam Ok terkejut dan mengerutkan alisnya.

"Tentu saja aku sehat."

"Aih, sungguh kasihan. Nyawa sudarara terancam maut masih merasa sehat. Coba engkau tekan Tiong-cu-hiat (jalan darah di belakang leher) perlahan saja kemudian tekan Kin-ceng-hiat (jalan darah di pundak kiri), dan engkau akan tahu bagaimana rasanya."

Biarpun meragu dan alisnya berkerut tanda tak senang hati, namun tangan wanita itu lalu menekan jalan darah di belakang leher lalu di pundak kirinya.

Dan ia menjerit lalu terpelanting roboh, mukanya pucat dan tubuhnya gemetaran menahan rasa nyeri.

"Engkau menggunakan sihir!"

Bentak Toa Ok marah. Kiok Hwa tersenyum.

"Siapa menggunakan sihir? Aku menggunakan ilmu pengobatanku dan aku tahu bahwa nyawa Sam Ok terancam bahaya maut karena ia telah mendapatkan pukulan beracun yang amat berbahaya."

Sam Ok bangkit berdiri sambil menyeringai menahan nyeri.

"Aku memang menerima pukulan di dalam kegelapan kamar yang penuh asap itu, dan aku sempat jatuh. Akan tetapi pukulan itu tidak keras dan kemudian tidak terasa apa-apa."

Ia membantah.

"Begitukah? Coba buka bajumu bagian pundak dan lihat pundak kirimu."

Kata Kiok Hwa. Sam Ok menyingkap bajunya dan semua orang melihat betapa pundak kiri yang berkulit putih itu kini telah menghitam dan ada tanda tiga buah jari tangan di pundak itu.

"Pukulan beracun tiga jari tangan!"

Kiok Hwa berseru.

"Kalau aku tidak keliru, itulah pukulan beracun yang dinamakan Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa)! Memang tidak terasa dan tidak keras, namun hawa beracun berbahaya sudah masuk ke tubuh melalui bagian yang terpukul dan kalau sudah menjalar sampai ke jantung biar dewa sekalipun tidak akan dapat menolong. Kalau tidak percaya coba tekan tengah-tengah luka itu."

Sam Ok menekan tengah-tengah tanda tiga jari tangan itu dengan ibu jarinya. Ia menjerit dan roboh pingsan! Toa Ok memandang Kiok Hwa dan berkata dengan suara mengandung ancaman.

"Nona, cepat sembuhkan Sam Ok!"

Kiok Hwa tersenyum. Sikapnya tenang sekali.

"Toa Ok, selama aku mengobati orang sakit, tidak ada yang memaksaku dan tidak ada yang mengancamku. Akan tetapi tanpa diminta sekalipun aku akan mencoba untuk menolong orang yang sakit. Apakah engkau masih menganggap aku sebagai seorang tawanan?"

Toa Ok sejenak menatap wajah gadis itu, kemudian wajahnya yang gagah dan tampan itu berseri, ia tersenyum dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada.

"Nona, aku hampir lupa bahwa engkau adalah Pek I Yok Sian-li (Dewi Obat Baju Putih) yang dihormati oleh semua orang kang-ouw. Tidak, Sian-li, kami tidak berani menganggap engkau sebagai tawananku. Kami harap engkau suka menaruh kasihan kepada Sam Ok dan suka menolong keselamatan nyawanya."

Kiok Hwa tersenyum manis.

"Toa Ok, guruku mengajarkan kepadaku bahwa untuk mengobati orang, aku tidak harus melihat apakah orang itu kaya atau miskin, pintar atau bodoh, dan baik atau jahat. Juga aku harus mengobatinya tanpa pamrih. Soal dapat sembuh atau tidak itu adalah berada dalam kekuasaan Thian. Kalau Thian menghendaki, tentu si sakit akan menjadi sembuh, akan tetapi sebaliknya kalau Thian menghendaki lain, biar dewa sekalipun tidak akan mampu menolongnya. Aku harus melihat dulu apakah keadaan Sam Ok sudah terlambat atau belum. Harap bawa ia ke dalam kamar dan rebahkan ke atas pembaringan. Kemudian, sediakan air mendidih untuk mencuci jarum-jarumku..... ah, betul sekali. Jarum-jarumku berada di dalam buntalan pakaianku, berada di dalam kamarku di rumah penginapan itu. Dapatkah engkau mencarikan pinjaman jarum-jarum emas dan perak dari tabib-tabib dari Tai-goan?"

Toa Ok lalu menoleh kepada Lian Hoat Tosu.

"Totiang, dapatkah engkau menolong? Barangkali totiang lebih tahu tentang para tabib di kota Taigoan yang kiranya memiliki jarum-jarum emas dan perak."

"Kami akan mencobanya. Kami dengar ada seorang tabib yang suka menggunakan jarum-jarum untuk pengobatan. Kami akan mencoba meminjam darinya."

Kata ketua itu yang lalu mengutus anak buahnya untuk mencari jarum yang dibutuhkan ke kota Taigoan.

Sementara itu, Sam-ok lalu digotong ke dalam kamar dan dibaringkan.

Kiok Hwa cepat menanggalkan baju wanita itu dan memeriksa keadaan luka di pundak.

ia tahu bahwa yang melakukan pemukulan itu tentu Eng-ji, karena di dalam kamar hanya ada dia dan Eng-ji.

Dan ia tidak merasa heran kalau Eng-ji memiliki ilmu pukulan sekeji itu, karena melihat sifat dan wataknya, sangat boleh jadi Eng-ji adalah murid seorang datuk sesat yang sakti.

Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata bahwa berkat tubuhnya yang terlatih dan kuat serta tenaga sin-kangnya yang juga kuat, Sam Ok dapat mempertahankan diri dan hawa beracun dari pukulan Toat-beng Tok-ciang itu belum menjalar ke jantungnya.

Melihat ini Kiok Hwa menjadi girang dan ia merasa yakin bahwa nyawa Sam Ok dapat tertolong.

Ia lalu menggunakan ilmunya untuk menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah beracun mengalir lebih jauh lagi, kemudian mengurut-urut di sekeliling tanda tiga jari tangan menghitam itu sampai warna hitamnya berkumpul di tengah-tengah dan bagian itu membengkak.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di belakangnya.

Ia menoleh dan melihat wanita yang dianggap ibu oleh Han Lin sudah berdiri di situ dengan tangan memegang pedang.

"Bibi, tolong pinjamkan pedangmu itu kepadaku,"

Katanya lembut.

"Untuk apa pinjam pedang?"

Suara itu kaku dan tidak jelas seperti suara kanak kanak.

"Engkau tidak boleh membunuh."

"Tidak ada yang membunuh,"

Jawab Kiok Hwa sambil tersenyum ramah dan halus.

"aku meminjam pedang untuk merobek sedikit kulit di pundaknya untuk mengeluarkan darah yang beracun."

Menunjuk ke arah pundak Sam Ok. Wanita itu tampak ragu lalu berkata dengan suara pelo.

"Lakukanlah, akan tetapi kalau engkau membunuh Sam Ok aku akan membunuhmu."

Ia menyerahkah pedangnya.

Kiok Hwa menerima pedang itu dan menahan diri untuk bicara.

ia tahu bahwa wanita itu masih belum menyadari keadaan dirinya, masih dikuasai pengaruh sihir dan racun perampas ingatan.

Biarpun ia bicara juga tidak ada gunanya.

Dalam keadaan seperti itu ia sendiripun tidak berdaya.

Semua obat penting yang selalu dibawanya berada dalam buntalan pakaiannya yang tertinggal kamar penginapan.

Ah, kalau saja ada jarum-jarum emas.

Tiba-tiba ia teringat.

Dengan jarum emas ia dapat membuka jalan darah tertentu untuk membuat wanita itu terbuka pula ingatannya, walaupun hanya untuk sebentar atau untuk sementara waktu.

Kalau saja ia mendapat kesempatan untuk mempergunakan jarum-jarum yang diusahakan oleh pihak tuan rumah untuk dipinjamkan itu!

Akan tetapi bagaimana caranya untuk mempergunakan jarum-jarum itu terhadap wanita ini?

Pada saat itu Toa Ok memasuki kamar itu dengan wajah riang.

Akan tetapi ketika dia melihat Kiok Hwa berdiri di dekat pembaringan sambil memegang sebatang pedang, dia terkejut dan memandang kepada wanita itu, lalu membentak Kiok Hwa.

"Apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu?"

Dia bersiap-siap untuk menyerang.

"Tenanglah, Toa Ok......"

Toa Ok membentak ke arah wanita itu.

"Bukankah itu pedangmu? Hayo ambil kembali!"

Mendengar kata-kata itu, wanita itu tiba-tiba menyerang Kiok Hwa dengan cengkeraman ke arah dada.

Kiok Hwa terkejut dan cepat mengelak dan cengkeraman itu berubah arah lalu merampas pedang yang dipegang Kiok Hwa.

Karena Kiok Hwa tidak ingin berkelahi, maka ia melepaskan pedang itu dirampas oleh pemiliknya.

"Hemm, Toa Ok. Apakah engkau tidak menghendaki kesembuhan Sam Ok? Apakah engkau ingin melihat ia mati?"

"Apa maksudmu?"

Tanya Toa Ok.

"Lihat pundak Sam Ok itu. Aku telah mengumpulkan darah beracun di tengah tengah bekas tapak jari dan aku meminjam pedang untuk menoreh dan membuka kulit itu agar darah yang beracun dapat keluar."

"Ah, begitukah? Maafkan aku, Sian li. Akan tetapi pedang itu beracun. Ini jarum-jarum emas dan peraknya sudah berhasil kami dapatkan. Apakah engkau tidak dapat mempergunakan jarum-jarum ini untuk mengeluarkan darah itu?"

"Bagus. Dengan jarum aku juga dapat menoreh kulit pundak ini. Tolong mintakan air mendidih, aku harus merendam dulu jarum-jarum itu ke dalam air mendidih."

Kata Kiok Hwa sambil menerima untaian kain putih berisi jarum-jarum itu.

Sementara wanita itu yang telah merampas pedangnya kembali, kini berdiri seperti patung dan hanya memandang kepada Kiok Hwa.

Ia seperti seorang anak kecil yang tidak tahu urusan dan bodoh.

Pada saat itu, anggauta Pek-lian-kauw yang memasak air datang membawa sepanci air mendidih.

"Letakkan di situ!"

Kata Toa Ok sambil menuding ke atas meja. Sepanci air panas itu lalu ditaruh di atas meja dan Kiok Hwa berkata kepada Toa Ok.

"Toa Ok, aku akan segera melakukan pengobatan atas diri Sam Ok, harap engkau suka keluar dari kamar ini. tidak pantas kalau seorang pria menonton pengobatan ini."

Toa Ok tertawa lalu berkata kepada wanita yang diaku sebagai ibu oleh Hai Lin itu.

"Engkau berjaga di sini, jaga jangan sampai nona ini membunuh Sam Ok."

"Baik,"

Jawab wanita itu dengan singkat dan iapun lalu duduk di atas bangku di sudut berjaga-jaga dengan pedang di tangan.

Kiok Hwa merendam tiga batang jarum emas dan tiga batang jarum perak di dalam air mendidih beberapa lamanya!

Kemudian ia mengambil sebatang jarum emas dan menggunakan jarum itu untul menoreh kulit pundak sehingga kulit dan sebagian dagingnya terobek.

Darah hitam mengalir keluar dari torehan kulit pundak itu.

Kiok Hwa tanpa rasa jijik lalu mencuci pundak itu dengan kain dan air panas.

Ia memijit-mijit sehingga banyak darah hitam keluar dari luka itu.

"Bibi, aku hendak menulis resep untuk membeli obat luka, harap bibi menyuruh orang mengambil kertas dan alat tulis."

Kata Kiok Hwa kepada wanita itu dengan suara lembut dan pandang mata ramah.

Wanita itu mengerutkan alis dan memandang ragu, akan tetapi ia melangkah juga keluar dari kamar dan muncul kembali bersama Toa Ok.

Kiranya datuk itu tidak pergi jauh dari kamar itu!

"Apalagi yang kau butuhkan, Sian-li?"

"Toa Ok, semua darah beracun telah dapat kukeluarkan. Bahaya telah lewat, akan tetapi aku harus mengobati luka Ini dan juga aku harus mengusir semua hawa beracun dari tubuhnya dengan tusukan jarum. Aku butuh kertas dan alat tulis untuk membuat resep agar dibelikan obatnya."

Toa Ok pergi dan kembali membawa kertas dan alat tulis.

Agaknya dia masih curiga kepada Kiok Hwa sehingga semua kebutuhannya dia yang melayani, bahkan dia ikut berjaga tidak jauh dari kamar itu!

Setelah menuliskan resep obat luka, Kiok Hwa lalu mulai melakukan pengobat dengann tusuk jarum ke bagian-bagian tubuh yang penting.

Setelah membiarkan jarum-jarum itu menancap di bagian tubuhnya yang penting, Kiok Hwa hanya mempergunakan dua jarum emas dan dua jarum perak, menyisakan dua macam jarum itu masing-masing sebatang.

Kemudian ia menoleh kepada wanita yang masih berjaga dengan pedang di tangan itu dari menghampirinya.

"Pengobatan telah selesai dan Sam Ok telah sembuh, hanya tinggal menanti ia siuman kembali,"

Katanya sambil tersenyum. Wanita itu menggerakkan bibirnya yang manis seperti hendak tersenyum pula, akan tetapi senyum itu urung, akan tetapi cukup membuat wajah itu tampak manis sekali.

"Engkau pandai mengobati,"

Demikian komentarnya dengan kata-kata yang tidak begitu jelas. Tiba-tiba Kiok Hwa mendekatinya dan berseru.

"Heii, engkau juga dalam keadaan tidak sehat, bibi!"

Wanita itu tampak kaget, akan tetapi ia menggeleng kepala.

"Tidak, aku tidak sakit."

"Kalau tidak percaya coba tekan ke dua pelipismu dengan kedua tangan, tentu akan terasa pening dan nyeri."

Kata Kiok Hwa dan suaranya mengandung kekuatan karena diam-diam ia mengerahkan khi-kang dalam suaranya.

Wanita itu tampak ragu, akan tetapi lalu menyarungkan pedangnya di punggung dan ia menggunakan dua buah jari tangan kanan kiri untuk menekan kedua jelipisnya.

Pada saat itu, dengan kecepatan kilat dan gerakan ringan sekali, tubuh Kiok Hwa berkelebat dan ia sudah berhasil menotok jalan darah thian-hu-liat di tubuh wanita itu.

Tanpa dapat berteriak wanita itu roboh dengan lemas.

Kiok Hwa menyambut tubuhnya dan merebahkan wanita itu telentang di atas lantai.

Kemudian dengan cepat ia menggunakan sebatang jarum emas dan sebatang jarum perak untuk menusuk dahi dan ubun-ubun kepala wanita itu.

Ia memutar-mutar dua batang jarum itu dan melihat wanita itu memejamkan kedua matanya dan alisnya berkerut-kerut.

"Bibi, engkau dicari puteramu yang bernama Han Lin,"

Berulang-ulang Kiok Hwa membisikkan kata-kata ini di dekat telinga wanita itu.

Setelah beberapa kali memutar-mutar dua batang jarum itu dan membisikkan kata-kata ini, wanita itu membuka matanya dan ia memandang kepada Kiok Hwa dengan sinar mata penuh pertanyaan.

Kiok Hwa yang melihat betapa sinar mata itu telah normal, cepat berkata.

"Bibi yang baik, Han Lin mencari-carimu."

Ia lalu mencabut kedua batang jarum itu. Wanita itu bangkit duduk.

"Han Lin..... Han Lin..... di mana Han Lin puteraku......? Han Lin....!"

Ia menjerit memanggil-manggil Han Lin.

Ia bangkit berdiri dan mencari-cari dengan pandang matanya ke kanan kiri.

Dua sosok bayangan berkelebat masuk dan mereka adalah Toa Ok dan Ji Ok.

Ji Ok segera menghampiri wanita itu, dan wanita itupun memegang lengannya.

"Suamiku, di mana Han Lin.....?"

Ia bertanya dan Ji Ok merangkulnya dengan mesra.

"Tenanglah, isteriku. Jangan khawatir aku akan mencarikan untukmu. Marilah ....!"

Dia merangkul dan mengajak wanita itu keluar dari kamar. Sementara itu, Toa Ok sudah mencabut pedangnya dan menodongkan pedang itu ke depan dada Kiok Hwa. Dia menghardik.

"Sian-li, apa yang kau lakukan terhadap wanita itu?"

Kiok Hwa menggerakkan kedua pundaknya.

"Apa yang kulakukan? Bukankah pertanyaan itu terbalik? Sepatutnya aku yang bertanya kepada kalian, apa yang kalian lakukan terhadap wanita itu! Aku hanya berusaha mengobatinya, karena ia berada dalam keadaan terbius racun perampas ingatan."

"Awas kau! Jangan mencampuri urusan kami. Wanita itu adalah isteri Ji Ok. Engkau tidak berhak mencampuri urusan suami isteri itu! Engkau di sini adalah eorang tawanan, tidak boleh berbuat semaumu sendiri!"

Pedang itu masih menodong dada, akan tetapi dengan tersenyum Kiok Hwa menggunakan tangannya untuk mendorong pedang itu ke samping.

"Begini sikap seorang tokoh besar dunia kang-ouw yang berjuluk Toat-beng Kui-ong Toa Ok? Baru saja terlepas dari mulutmu bahwa engkau tidak menganggap aku sebagai tawanan. Akan tetapi setelah aku mengobati Sam Ok sampai berhasil sembuh, engkau menjilat kembali kata-kata yang telah keluar dari mulutmu. Tidakkah engkau khawatir namamu akan jatuh menjadi rendah karena sikapmu ini?"

Setelah berkata demikian Kiok Hwa menghampiri Sam Ok dan memeriksa keadaannya.

Pernapasan datuk wanita itu sudah normal kembali, maka ia lalu mecabuti empat batang jarum dan mengurut tengkuk Sam Ok.

Diurut tengkuknya, Sam Ok membuka matanya dan menghela napas panjang.

Ketika ia melihat Kiofk Hwa berdiri di tepi pembaringan dan merasakan betapa tubuhnya tidak nyeri lagi ia segera menyadari bahwa Kiok Hwa telah menyembuhkannya.

Iapun cepat bangkit dan melihat Toa Ok masih memegang pedang mengancam gadis itu.

Sam Ok berdiri dan memandang kepada Toa Ok dengan alis berkerut.

"Toa Ok, apa yang kau lakukan itu? Bukankah gadis ini telah mengobati dan menyembuhkan aku? Aku tidak ingin engkau bersikap kasar kepadanya!"

"Hemm, Sam Ok berpikirlah yang sehat!"

Balas Toa Ok dengan bentakan!

"Memang benar Pek I Yok Sian-li ini telah menyembuhkanmu, akan tetapi tetap saja ia masih menjadi sandera kita dan ia merupakan satu-satunya jalan untuk mendatangkan Im-yang-kiam."

Sam Ok memandang kepada Kiok Hwa dengan sinar mata penuh selidik.

"Jadi Engkaukah Pek I Yok Sian-li yang terkenal itu? Apakah benar pemuda itu akan datang menukarkan Im-yang-kiam untuk membeli kebebasanmu?"

Kiok Hwa maklum bahwa ia berhadapan dengan orang-orang yang tidak segan melakukan kecurangan dan kejahatan apapun juga dan ia tidak dapat mengharapkan orang macam Sam Ok untuk mengenal budi pertolongan orang.

Maka iapun menjawab seenaknya.

"Kuharap saja tidak begitu bodoh untuk menyerahkan Im-yang-kiam kepadamu. Aku tidak peduli apa yang akan kalian lakukan kepada ku. Aku tidak takut mati."

Mendengar ucapan ini, Sam Ok yang baru saja diselamatkan nyawanya oleh gadis itu malah tertawa geli.

"Hi-hi-hi-hi , orang yang amat berguna seperti engkau ini sayang kalau mati begitu saja. Dengan adanya engkau di sisiku, aku tidak takut akan serangan musuh yang bagaimanapun juga. Engkau selalu akan dapat mengobatiku, hi-hi-hik! Toa Ok, gadis ini tidak seharusnya ditodong pedang! Ia harus dijaga sebaiknya agar jangan sampai lolos, akan tetapi juga jangan dibunuh. Kita membutuhkan tenaga ahli seperti gadis ini!"

"Ha-ha-ha, engkau benar sekali, Sam ok. Akan tetapi kita harus memancing bocah itu datang menyerahkan Im-yang-kiam. Dengan begitu kita akan mendapatkan kedua-duanya. Kalau pedang Im-yang-kiam berada bersama kita dan Pek I Yok Sianli selalu menemani kita, kita tidak takut apa-apa lagi."

Kiok Hwa sengaja tertawa mengejek "Bicara memang mudah, Toa Ok dan Sam Ok.

Kalian boleh merencanakan apa saja.

Akan tetapi Han Lin adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi.

Kalian semua akan kalah olehnya.

Apalagi dia dibantu oleh Eng-ji yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Lihat saja pukulan Toat-beng Tok-ciang yang dipergunakan Eng-ji terhadap Sam Ok.

Sekali pukul saja Sam Ok hampir mati!"

Mendengar ini, Sam Ok mengepal kedua tangannya dan ia berseru.

"Kiranya bocah remaja keparat itu yang telah memukulku. Aku akan membalasnya dan kalau dia berani datang ke sini, aku akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri!"

Berkata demikian ia mengamangkan tinjunya dan karena mengerahkan tenaga ini, lukanya mengeluarkan darah.

"Sam Ok, lukamu masih belum tertutup, menanti obat yang sedang dibelikan."

Kata Kiok Hwa dan pada saat seperti itu kembali ia menjadi seorang ahli pengobatan yang memperhatikan si-sakit yang dirawatnya.

Pada saat itu, anak buah Pek-lian-kauw yang membeli obat datang dan masuk, menyerahkan bungkusan obat kepada Toa Ok.

Toa Ok menerimanya dan memberikan kepada Kiok Hwa.

"Ini obatnya. Pergunakanlah untuk mengobati luka di pundak Sam Ok."

Kiok Hwa menerima obat itu sambil tersenyum.

Ia bersikap tenang sekali sehingga Toa Ok dan Sam Ok diam-diam merasa tidak enak juga.

Dua orang ini sudah terbiasa melakukan kejahatan dari terbiasa pula melihat korban mereka ketakutan setengah mati.

Kini melihat korban mereka bersikap demikian tenang, bahkan mengobati Sam Ok dengan ketelitian yang sama sekali tidak memperlihatkan permusuhan, mereka berdua merasa aneh dan tidak enak sekali.

Kalau Kiok Hwa menangis dan mohon ampun mereka tentu akan merasa gembira bukan main.

Akan tetapi melihat kini Kiok Hwa membubuhkan obat pada luka di pundak Sam Ok, mereka berdua merasa seolah-olah dipandang rendah dan ditertawakan oleh gadis itu.

Kiok Hwa mencurahkan perhatiannya kepada pundak Sam Ok dan sebentar saja ia sudah menutup luka torehan jarum tadi dengan obat bubuk yang dibeli menurut resepnya.

"Nah, sekarang tinggal menunggu luka itu kering. Darah dan hawa beracun sudah bersih, lukanyapun tidak seberapa dalam, dalam waktu satu dua hari akan kering dan sembuh."

Kata Kiok Hwa sambil membungkus lagi sisa obat dan enam batang jarum pinjaman itu.

Setelah membungkusnya, ia menaruhnya di atas meja.

Sam Ok dan Toa Ok saling pandang, merasa tidak enak sekali.

Kalau orang lain melihat sikap dan kata-kata Kiok Hwa tentu akan menjadi rikuh sekali.

Akan tetapi bagi dua orang datuk sesat ini, sudah lama rasa rikuh dan tenggang rasa sudah mati dalam batin mereka.

Mereka hanya merasa tidak enak.

Dari perasaan tidak enak dan merasa tidak dipandang sebelah mata oleh Kiok hwa yang kelihatan meremehkan keganasan dan kejahatan mereka, Toa Ok menjadi marah.

Orang yang tidak memandang Kepada kekuasannya sama dengan menghinanya!

"Gadis ini berbahaya, harus dikurung dan dijaga ketat agar tidak meloloskan diri!"

Katanya kepada Sam Ok. Kemudian kepada Kiok Hwa dia berkata.

"Hayo Sianli, keluar dari kamar ini dan ikut aku!"

Kiok Hwa tidak membantah.

Ia melangkah keluar digiring oleh Toa Ok menuju ke bagian belakang dari rumah besar itu.

Ternyata ia dibawa ke sebuah kamar yang agaknya memang dibuat untuk mengeram orang yang dianggap berbahaya.

Kamar itu sederhana sekali tetapi cukup lengkap dengan pembaringan meja dan kursi.

Akan tetapi pintu dan jendelanya terbuat dari jeruji besi yang kokoh kuat.

"Masuklah, engkau akan dilayani sebagai tamu kami di kamar ini. Asalkan engkau tidak mencoba untuk meloloskan diri, kami tidak akan mengganggumu"

Setelah berkata demikian, Toa Ok meninggalkan kamar itu, menutup dan mengunci pintunya, menyerahkan kunci kepada penjaga dan kamar itu dijaga oleh lima orang anak buah Pek-lian-kauw.

Malam itu Kiok Hwa duduk bersila diatas pembaringan dalam kamar tahanan itu.

Sedikitpun ia tidak merasa khawatir akan dirinya sendiri.

Ia tidak pernah mempunyai musuh dan tidak ada alasan bagi siapapun juga untuk memusuhinya, Ia selalu mengulurkan tangan untuk menolong orang, bukan untuk mengganggu orang atau memusuhinya.

Dalam membela diri sekalipun ia tidak ingin melukai orang lain.

Ia hanya memikirkan Han Lin.

Ia yakin bahwa Han Lin tidak akan tinggal diam dan tentu akan mencarinya, untuk membebaskannya dan sekalian membebaskan ibunya.

Ia merasa yakin kini bahwa wanita itu memang benar ibu Han Lin.

Tadi ketika ia berhasil menyadarkannya barang sebentar, wanita itu teringat kepada Han Lin dan memanggil-manggilnya.

Ia maklum bahwa Han Lin seorang yang tinggi ilmunya dan memiliki kebijaksanaan, juga cukup cerdik maka tidak perlu ia mengkhawatirkan keselamatannya.

Akan tetapi dengan adanya ia dan ibunya yang seolah menjadi sandera di situ, ia khawatir kalau-kalau Han Lin akan menjadi lemah dan terjatuh ke dalam perangkap musuh.

Ia tahu pula bahwa Eng-ji tentu akan membantu Han Lin dan Eng ji juga memiliki ilmu yang tinggi.

Akan tetapi Sam Ok amat lihai dan mereka berada di sarang Pek-lian-kauw yang anak buahnya amat banyak.

Bagaimana Han Lin berdua Eng-ji akan mampu membebaskan ia dan ibu Han Lin tanpa menempuh bahaya besar?

Teringat akan semua ini, tiba-tiba ia teringat kepada Eng-ji.

Gadis yang menyamar pria itu amat mencinta Han Lin.

Demikian hebat cintanya sehingga hampir-hampir saja gadis itu nekat membunuhnya karena cemburu!

Teringat akan kenyataan ini, sejenak hati Kiok Hwa diliputi kesedihan.

Ia tahu bahwa ia amat mencinta Han Lin dan ia pun tahu bahwa Han Lin juga mencintai-nya.

Akan tetapi, di sana ada Eng-ji yang cintanya mengebu-ngebu terhadap Han Lin.

Gadis itupun telah memperlihatkan kesetiaannya kepada Han Lin, walaupun Han Lin belum tahu bahwa Eng-Ji adalah seorang wanita.

Ia tahu bahwa kalau ia berkeras mempertahankan hubungannya dengan Han Lin, menjadikan Han Lin kelak sebagai suaminya, hal itu akan menghancurkan kebahagiaan dan mungkin kehidupan Eng-ji Dan ia tidak mau melakukan hal yang membuat hancur hati seseorang.

Tidak, ia harus mengalah!

Ia harus membiarkan Han Lin nenjadi jodoh Eng-ji, bukan jodohnya.

Ia rela berkorban.

Pula, belum tentu ia akan dapat hidup berbahagia di samping Han Lin.

Ia tidak menyukai kekerasan.

Ia tidak suka melihat orang saling melukai, apalagi saling membunuh.

Dan Han Lin dalah seorang pendekar yang selalu memusuhi para penjahat.

Banyak musuh-nya, padahal ia tidak ingin mempunyai seorang pun musuh.

Eng-ji lebih cocok menjadi isteri Han Lin.

Keduanya sama-sama pendekar, keduanya sama-sama memusuhi dunia penjahat.

Malam telah larut.

Lima orang pengawal di luar kamar tahanan telah diganti oleh lima orang lain, kunci diserah terima.

Kiok Hwa masih duduk bersila di atas pembaringan dan lima orang penjaga itu hanya menengok dan memandang padanya.

Biarpun tawanan itu seorang gadis yang cantik jelita, tidak seperti biasanya, lima orang anak-anak buah Pek-lian-kauw tidak berani mengganggunya karena mereka tahu bahwa tawanan ini adalah tawanan istimewa, seorang ahli pengobatan yang dijadikan tawanan juga tamu yang diperlakukan dengan baik dan hormat.

Bicarapun mereka berbisik bisik seolah-olah tidak mau mengganggu gadis yang sedang duduk bersila dan mejamkan kedua matanya seperti orang tertidur pulas itu.

Sementara itu, di luar, di bawah sinar bulan, dua sosok bayangan berkelebat dengan cepat sekali sehingga tidak dapat dilihat bayangan mereka.

Mereka menyelinap dari bawah pohon yang satu ke pohon yang lain mendekati perkampungan Pek-lian-kauw.

Mereka itu bukan lain adalah Han Lin dan Eng-ji.

Han Lin bergerak di depan dan Eng-ji mengikuti dari belakang.

Ini adalah kehendak Han Lin yang menduga bahwa sarang Pek-lian kauw tentu mengandung perangkap dan jebakan yang berbahaya.

Maka dia bergerak di depan dengan hati-hati dan dia menyuruh Eng-ji mengikutinya dari belakang.

Setelah tiba di luar tembok yang mengelilingi perkampungan itu, Han Lin berhenti dan memberi isarat kepada Eng-ji untuk berhenti bergerak pula.

Dia menuding ke atas tembok, memberi isarat bahwa dia akan menyelidiki medan terlebih dulu.

Eng-ji mengerti dan dia mengangguk.

Setelah memperhitungkan dengan hati-hati, Han Lin lalu membuat gerakan melompat.

Dia hinggap di atas pagar tembok itu dan berjongkok, memeriksa ke dalam.

Sunyi saja di situ dan di sebelah dalam pagar tembok itu adalah sebuah kebun.

Tidak ada yang berjaga di situ dan agaknya yang dijaga hanya di gapura pagar tembok itu, di mana terdapat lima orang penjaga.

Melihat ini dia menjadi girang dan cepat memberi isarat kepada Eng-ji yang menunggu di bawah untuk melompat naik.

Eng-ji melompat dan berjongkok di samping Han Lin.

Di bawah sinar bulan, dua orang itu tampak seperti dua ekor burung besar yang hinggap di atas pagar tembok itu.

"Mari kita ke bangunan besar yang dikelilingi bangunan kecil di sana itu,"

Han Lin berbisik sambil menuding ke depan.

Di bawah sinar bulan mereka dapat melihat sebuah bangunan besar yang dikelilingi setengah lingkaran oleh bangunan kecil sedangkan di belakang bangunan besar itu terdapat sebuah bukit besar.

"Akan tetapi hati-hati, ikuti jejakku. Kalau aku terjebak engkau dapat menolongku, jangan sampai kita keduanya terjebak musuh."

Eng-ji mengangguk.

Ia cukup cerdik untuk dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh Han Lin.

Iapun dapat menduga bahwa sarang perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw tentu dilindungi oleh perangkap-perangkap atau jebakan-jebakan yang berbahaya.

Han Lin melompat turun ke sebelah dalam pagar.

Kemudian dia dan Eng-ji menyusup-nyusup di antara pohon-pohon dan semak di kebun itu mendekati bangunan-bangunan di perkampungan itu.

Tidak terjadi sesuatu, tidak ada jebakan!

menghalangi mereka sampai mereka menyelinap di antara bangunan-bangunan kecil yang mengelilingi bangunan besar.

Mereka mendengar suara orang-orang di dalam bangunan-bangunan kecil, suara para anggauta Pek-lian-kauw.

Akan tetapi tidak banyak di antara mereka yang berada di luar sehingga Han Lin dan Eng-ji tidak dapat menemui kesulitan untuk menghampiri bangunan besar.

Mereka melihat betapa di depan bangunan besar itu terdapat sebuah gardu penjaga dan terdapat belasan orang penjaga di situ.

Tidak salah lagi, mereka menduga, bangunan ini tentu menjadi pusat dan tempat tinggal para pimpinan.

Sam Ok tentu berada di situ pula, bersama Kiok Hwa dan juga ibu Han Lin.

Maka, Han Lin mengambil jalan memutar ke belakang bangunan besar dan meloncat ke atas wuwungan rumah.

Eng-ji mengikutinya dari belakang.

Dari atas wuwungan mereka mengintai ke bawah dan melihat bahwa keadaan di bawah remang-remang.

Agaknya para penghuninyasudah masuk kamar atau tertidur, dan lampu-lampu besar telah dipadamkan, hanya tinggal beberapa lampu gantung saja yang menerangi ruangan tengah itu.

Bangunan itu besar dan di bagian tengah ada ruangan terbuka, semacam taman.

Tiba-tiba mereka melihat dua orang sedang meronda, membawa sebuah lampu di tangan kiri dan sebatang golok di tangan kanan.

Melihat mereka, Han Lin berbisik.

"Kita robohkah mereka tanpa suara"

Eng-ji mengangguk dan mereka berdua segera melayang turun.

Dua orang peronda itu terkejut sekali ketika tiba-tiba ada dua orang berada di depan mereka.

Sebelum mereka dapat bersuara atau bergerak, cepat sekali Han Lin dan Eng ji menyerang dengan totokan dan dua orang itu roboh dengan lemas.

Han Lin dan Eng-ji merampas lampu yang mereka bawa.

Han Lin mengambil sebatang dari golok mereka dan menodongkan golok itu di leher seorang di antara dua peronda yang sudah tidak mampu bergerak atau bersuara itu.

"Hayo tunjukkan kepadaku di mana gadis berbaju putih itu dikeram!"

Bisiknya kepada peronda itu sambil membebaskan totokannya sehingga orang itu dapat bergerak kembali akan tetapi membiarkan totokan yang membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara.

Orang itu bangkit berdiri dan mengangguk-angguk sambil menuding ke arah belakang rumah.

Han Lin lalu menyeret orang ke dua, disembunyikan di dalam kegelapan, kemudian Ia menodong peronda yang ditawannya untuk menjadi petunjuk jalan.

Eng-ji mengikutinya dari belakang dengan sikap waspada kalau-kalau mereka diserang orang dari belakang.

Melihat mereka berhasil sedemikian mudahnya, hati kedua orang muda itu bahkan merasa tidak enak sekali.

Mengapa sarang Pek-lian-Kiuw ini begitu lemah penjagaannya?

Akan tetapi karena mereka sudah menangkap seorang peronda yang menjadi penunjuk jalan, merekapun melanjutkan usaha mereka untuk membebaskan ibu lian Lin dan Kiok Hwa.

Dalam keadaan tidak mampu mengeluarkan suara dan ditodong, peronda itu tidak berdaya.

Dia berjalan di depan Han Lin, leher bajunya dicengkeram tangan kiri Han Lin dan punggungnya ditodong golok.

Dia membawa Han Lin ke belakang bangunan itu, melalui lorong sempit dan akhirnya dia berhenti, menunjuk ke depan di mana terdapat sebuah kamar dan di depan kamar itu terdapat lima orang penjaga.

Melihat peronda datang bersama Han Lin dan Eng-ji, lima orang penjaga itu menjadi terheran-heran, akan tetapi Han Lin sudah menotok roboh penunjuk jalan kemudian bersama Eng-ji dia menerjang maju.

Dua orang itu mengamuk, dengan mudah merobohkan lima orang itu dengam totokan-totokan.

Han Lin mempergunakan It-yang-ci sehingga tiga kali menggerahkan tangan dia telah merobohkan tiga orang, sedangkan Eng-ji mempergunakan Pek-lek-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Halilintar) yang membuat dua orang roboh pingsan dalam waktu singkat.

Han Lin lalu menggeledah dan dalam saku seorang di antara mereka dia menemukan kunci pintu kamar tahanan.

Cepat dia membuka pintu itu dan masuk, diikuti oleh Eng-ji.

Dalam kamar mereka melihat Kiok Hwa duduk bersila di atas pembaringan.

Ketika mendengar pintu terbuka, Kiok Hwa membuka matanya dan melihat Han Lin dan Eng-ji ia tidak menjadi terkejut karena memang sudah menduganya sejak semula.

Akan tetapi ia menjadi khawatir sekali.

"Hati-hati, cepat keluar!"

Katanya.

akan tetapi terlambat!

Terdengar suara ledakan-ledakan keras dan beberapa buah benda dilempar ke dalam kamar, juga pintu kamar itu telah tertutup dari luar dan dirantai kokoh kuat!

Ledakan itu diikuti oleh asap kebiruan yang memenuhi kamar itu.

"Asap beracun! Tahan napas!"

Teriak Ciok Hwa. Mendengar ini, Han Lin dan Eng-ji menahan napas mereka. Akan tetapi, Han Lin berpikir bahwa tidak mungkin mereka menahan napas terlalu lama. maka diapun berkata dengan nyaring.

"Eng-ji! Kiok-moi! Mari satukan tenaga dan dorong pintu agar jebol!"

Setelah berkata demikian, dia mengerahkan separuh tenaga sinkangnya mendorong ke arah pintu, dibantu oleh Eng-ji dan Kiok Hwi Tenaga sinkang tiga orang itu dikerahkan dan disatukan.

"Brolll......!"

Pintu yang terbuat dari besi jeruji itupun ambrol, terlepas dari tembok dan jatuh bergedubrakan diluar kamar tahanan.

Tiga orang itu lalu berloncatan keluar.

Han Lin memegang Im yang-kiam, Eng-ji memegang Ceng-hong kiam dan Kiok Hwa yang tadinya bertangan kosong diberi golok rampasan oleh Han Lin.

Mereka bertiga melompat keluar dan disambut oleh Sam Ok bertiga yang dibantu oleh dua orang pimpinan Pek-lian-kauw dan belasan orang anak buahnya!

"Ha-ha-ha-ha!"

Terdengar Toa Ok tertawa.

"Kalian seperti tikus-tikus yang sudah masuk perangkap!"

Akan tetapi Han Lin dan Eng-ji sama sekali bukan tikus-tikus yang tidak berdaya.

Sama sekali bukan.

Mereka mengamuk dan membuka jalan keluar!

Han Lin sengaja membiarkan Kiok Hwa di tengah, Eng-ji yang berada di depan dan dia dibelakang.

Dengan amukan mereka berdua, dibantu oleh Kiok Hwa yang ternyata mampu memainkan golok dengan indahnya melindungi dirinya dari serangan banyak orang, mereka mampu menerobos keluar dari kepungan dan melarikan diri keluar dari lorong itu.

Akan tetapi karena dihadang, mereka tidak dapat mengambil jalan semula, melainkan terdesak dan terpaksa mengambil jalan belakang yang membawa mereka tiba di bagian belakang gedung itu.

Mereka lalu melarikan diri di belakang gedung yang merupakan sebuah kebun dan jalan mendaki karena di belakang gedung itu terdapat sekuah bukit.

"Eng-ji, lari terus naik ke bukit itu!"

Han Lin berseru sambil memutar pedang-menahan para pengejar dan pengeroyok. Dia harus menghadapi Thian-te Sam Ok yang dibantu oleh ketua dan wakil ketua cabang Pek-lian-kauw (Lanjut ke

Jilid 16) Suling Pusaka Kumala (CeritaLepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16 yang cukup lihai sehingga Han Lin harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya tutuk menahan mereka sehingga Eng-ji dan Kiok Hwa sempat melarikan diri ke arah bukit.

Dengan It-yang-ci yang dikerahkan dengan tenaga sakti Jit-goat Sin-kang (Tenaga Sakti Matahari dan Bulan) dia memaksa lima orang pengeroyoknya untuk mundur dan dia lalu melompat dan mengejar Eng-ji dan Kiok Hwa yang sudah berlari lebih dahulu.

Akan tetapi Thian-te Sam-ok dan para anggauta Pek lian-kauw melakukan pengejaran dan di antara mereka ada yang membawa obor.

Han Lin dapat menyusul Eng-ji dan Kiok Hwa.

Mereka berlari terus mendaki bukit yang berbatu-batu itu.

Ketika melihat sebuah gua besar, Han Lin berseru "Mari kita masuk dan sembunyi dalam gua itu agar terhindar dari pengepungan dan pengeroyokan!"

Mereka bertiga lalu berlari menuju guha.

Kalau berada di guha, mereka tidak dapat dikepung dari dapat melakukan perlawanan lebih baik karena jumlah pengeroyoknya tidak dapat banyak.

mengingat guha itu terlalu sempit untuk mereka yang hendak mengeroyok!

Mulut guha itu ada dua meter lebarnya, akan tetapi sebelah dalamnya ternyata luas.

Akan tetapi sinar bulan tidak hanyak memasuki guha sehingga keadaan di dalam guha itu gelap sekali.

"Kita bersembunyi di dalam!"

Kata Han Lin sambil bergerak di depan, meraba-raba mencari jalan. Sementara itu, para pengejar juga sudah tiba di depan Guha.

"Ha-ha-ha-ha, kalian benar-benar seperti tikus-tikus dalam kurungan!"

Terdengar suara Toa Ok tertawa dan terdengarlah suara gemuruh.

Tiga orang pelarian itu cepat menengok dan di bawah sinar banyak obor mereka melihat betapa ada pintu baja yang berat dan kuat sekali tiba-tiba telah menutup mulut guha dari atas!

"Mari kita menerjang keluar!"

Ajak Eng-ji.

Dengan nekat ia telah memutar tubuhnya dan dengan pedang di tangan ia hendak menerjang dan membobol pintu haja.

Akan tetapi dari luar tiba-tiba meluncur banyak sekali senjata rahasia seperti pisau terbang, paku, jarum dan anak panah.

"Awas, Eng-ji. Cepat kembali masuk!"

Seru Han Lin yang melompat ke depan dan memutar Im-yang-kiam untuk menangkis semua senjata rahasia itu bersama Eng-ji.

Mereka lalu berlompat lagi masuk ke dalam guha.

Di situ mereka aman dari serangan senjata rahasia karena terowongan dalam guha itu membelok ke kanan dan mereka terlindung.

"Kita berlindung di sini. Mereka tidak akan mampu menyerang kita,"

Kata Han Lin.

"Akan tetapi, Lin-ko. Berapa lama kita akan mampu bertahan di sini? Jika tidak mampu keluar dan kita tentu akan mati kelaparan di tempat ini."

Kata Kiok Hwa dengan suara lembut dan sikap tenang.

"Kita tunggu sampai terang tanah baru mencari jalan untuk dapat keluar dari sini,"

Kata Han Lin.

Mereka bertiga tidak dapat berbuat lain kecuali menanti lewatnya malam yang gelap dalam guha itu.

Mereka bertiga duduk bersila dan menghimpun tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Diam-diam Han Lin merasa lega juga melihat sikap kedua orang itu.

Kiok Hwa tampak tenang sekali, sedangkan Eng-ji yang kelihatan marah kepada musuh juga sama sekali tidak kelihatan takut.

Bahkan Eng-ji bersikap seolah hendak menghibur dan membesarkan hati kedua orang kawannya.

"Kalian tunggu saja. Kalau mereka berani memasuki guha ini, mereka akan kubunuh semua! Jangan takut selama masih ada aku di sini."

Katanya kepada Han Lin dan Kiok Hwa. Kiok Hwa tersenyum melihat lagak Eng-ji.

"Masih baik kalau mereka memasuki guha dan mencoba menyerang kita, karena kita mendapat kesempatan untuk lolos. Akan tetapi kalau mereka hanya berjaga di luar dengan senjata rahasia mereka dan mencegah kita keluar dari sini, bagaimana?"

Tanya Kiok Hwa.

"Kita coba lagi untuk menerjang keluar!"

Kata Eng-ji penuh semangat.

"Kita tunggu sampai besok baru kita mencari jalan kejuar. Sekarang lebih baik kita beristirahat sambil menghimpun tenaga untuk menghadapi besok."

Kata Han Lin.

"Wah, mana mungkin aku dapat tidur? Dalam keadaan terperangkap, terkepung dan tidak berdaya begini? Lebih baik kita mengobrol dan menceritakan riwayat kita masing-masing. Kita sekarang sudah senasib sepenanggungan, sudah sewajarnya kalau kita lebih mengenal satu sama lain. Kalau kita sudah pernah bercerita tentang riwayat hidup kita, sekarang toleh diulang lagi dengan jelas. Giliran-ku lebih dulu, enci Kiok Hwa. Ceritakanlah siapa orang tuamu, siapa gurumu dan dari mana engkau berasal?"

Kiok Hwa menghela napas panjang.

Teringat akan keadaan dirinya yang sebatang kara dan tidak mempunyai keluarga lagi, ia menjadi sedih juga.

Ditelannya kesedihannya dan sambil mengembangkan senyum di wajahnya ia menjawab.

"Tidak ada yang menarik dalam riwayatku. Aku dilahirkan di sebuah dusun kecil yang tidak berarti. Ayahku seorang ahli sastra yang gagal menjadi sarjana dan hidup miskin bersama ibu dan aku di dusun, hidup sebagai petani penggarap karena tidak mempunyai tanah sendiri. Ilmu kesusasteraan yang dikuasainya sama sekali tidak ada harga dan gunanya di dusun yang kecil terpencil itu. Pada suatu waktu, dusun kami dilanda wabah penyakit yang amat ganas. Kami sekeluarga diserang penyakit. Pada waktu itu muncullah seorang ahli pengobatan yang merantau. Dia adalah Thian-beng Yok sian. Dia turun tangan mengobati penduduk dusun yang terserang penyakit. Dia juga mengobati kami, akan tetapi hanya aku yang dapat diselamatkan. Ayah dan ibuku sudah terlampau berat penyakitnya dan meninggal dunia, meninggalkan aku seorang diri di dunia ini. Aku lalu diambil murid oleh Thian-beng Yok-sian dan ikut suhu merantau sambil mempelajari ilmu silat dan ilmu pengobatan. Akan tetapi aku lebih tekun mendalami ilmu pengobatan karena setelah ayah dan ibu meninggal karena penyakit, aku mengambil keputusan untuk memerangi penyakit dan menyembuhkan orang-orang yang terserang penyakit tanpa membedakan kaya miskin, pintar bodoh atau baik maupun jahat."

Eng-ji mengerutkan alisnya.

"Hemm, sekarang mengertilah aku mengapa aku melihat Sam Ok masih segar bugar, pada hal ia telah terkena pukulan Toat-beng lok-ciang dariku. Tentu engkau yang telah mengobati dan menyembuhkannya, enci Kiok Hwa."

"Benar, Eng-ji. Aku melihat ia terluka keracunan lalu aku mengobatinya."

Eng-ji menghela napas.

"Boleh saja engkau tidak membedakan antara kaya miskin atau pandai dan bodoh. Akan tetapi kalau engkau menolong dan mengobati yang jahat, itu berarti mencari penyakit sendiri! Lihat buktinya, walau pun engkau telah menolong Sam Ok, tetap saja ia memusuhimu."

"Aku mengobati tanpa pamrih, tidak menuntut balas jasa, maka terserah apa yang akan ia lakukan, Eng-ji. Akan tetapi kalau ia hendak membunuhku atau mencelakakan aku, tentu aku akan membela diri sedapat mungkin."

"Enci Kiok Hwa, apa artinya membela diri kalau engkau tidak mau melukai atau membunuh orang?"

Eng-ji menegur.

Melihat betapa Eng-ji seperti mendesak Kiok Hwa, Han Lin lalu berkata "Eng-ji, sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan riwayatmu.

Aku pernah mendengar ceritamu, akan tetapi belum jelas benar."

"Benar, Eng-ji. Akupun ingin mendengar riwayatmu."

Kata Kiok Hwa. Eng-ji menghela napas panjang.

"Riwayatku tidak lebih baik daripada riwayatmu, enci Kiok Hwa. Akupun ditinggal mati ibuku dan ayahku juga meninggalkah aku, biarpun ketika itu dia masih hidup, Aku tidak tahu jelas di mana dia sekarang. Ayahku adalah seorang yang terkenal di dunia kang-ouw, bernama Suma Kiang dan berjuluk Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Huangho). Adapun ibuku, menurut ayahku, hanya seorang wanita dusun belaka, dari dusun Cia-ling bun di lereng Tai-hang-san. Akan tetapi ibuku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil dan ayah tidak memberitahukan mengapa ibuku meninggal dunia. Dia bahkan marah kalau aku minta penjelasan. Dia hanya mengatakan ibuku telah mati di dusun itu dan sejak itu aku hidup berdua bersama ayah, setelah untuk sepuluh lahun lamanya ayahku menitipkan aku kepada Bibi Cia, seorang janda yang baik hati. Dalam usia tiga belas tahun aku Ikut ayah merantau dan mempelajari Ilmu silat. Kemudian ayah membawaku ke Puncak Ekor Naga di Cin ling-san dan aku berguru kepada suhu Hwa Hwa Cin-jin, mempelajari ilmu sampai lima tahun. Akan tetapi pada suatu hari muncul Thian-te Sam-ok bersama wanita yang diaku Ibu oleh Lin-ko itu. Mereka mengeroyok dan biarpun suhu Hwa Hwa Cinjin berhasil memukul mundur dan mengusir mereka, akan tetapi dia terluka parah dan meninggal dunia. Dia memesan agar aku membakar jenazahnya dan menaburkan abu jenazahnya di Sungai Huang-ho, dan agar aku mencari ayah dan membalas dendam kepada Thian-te Sam-ok. Nah, ternyata sebelum aku berhasil membalas dendam kepada mereka, aku malah masuk dalam perangkap mereka!"

Eng-ji mengepal tinju dengan gemas.

"Ketika aku melihat engkau bertanding, aku melihat engkau mempergunakan pukulan dengan jari dan gerakanmu itu mirip sekali dengan ilmu It-yang-ci. Apakah engkau pernah mempelajari ilmu it Yang-ci?"

"Ilmu itu adalah Toat-beng Tok-cian. Menyerangnya dengan menggunakan tiga jari. Memang pada dasarnya ilmu itu adalah ilmu It-yang-ci yang oleh ayahku telah diubah menjadi Toat-beng Tok-cian yang mengandung hawa beracun. Ayah menguasai ilmu It-yang-ci, walaupun tidak sepenuhnya. Katanya pernah dia mempelajarinya dari seorang hwesio Siaw lim-pai."

Tentu saja Eng-ji tidak mengerti bahwa setelah mempelajari It-yang-Ci dari hwesio tua itu, Suma Kiang bahkan membunuh hwesio itu!

Han Lin mengangguk-angguk, diami diam mencatat dalam hatinya bahwa musuh besarnya itu, Suma Kiang, ternyata paham pula ilmu It-yang-ci.

Dia harus bersikap hati-hati kalau bertemu dan terpaksa bertanding dengan musuh besarnya.

"Guruku pernah bercerita bahwa Huang-ko Sin-liong adalah seorang tokoh di sepanjang Lembah Huang-ho yang terkenal sekali, Eng-ji."

Kata Kiok Hwa.

"Menurut suhu, belasan tahun yang lalu Huang-ho Sin-liong amat ditakuti di daerah itu,"

Eng-ji tersenyum bangga.

"Memang, menurut ayahku sendiri, belasan tahun yang lalu dia menjadi rajanya di Lembah huang-ho, semua perampok dan bajak sungai tunduk dan takluk belaka kepadanya!"

Kiok Hwa dan Han Lin saling pandang penuh arti.

Mereka merasa heran melihat kebandelan Eng-ji yang merasa bangga karena ayahnya adalah seorang datuk sesat yang menundukkan semua perampok dan bajak sungai!

Akan tetapi karena Eng-ji sendiri memperlihatkan sikap yang gagah dan baik, tidak seperti penjahat bahkan lebih cocok menjadi pendekar, keduanya hanya merasa heran saja.

Kiok Hwa memandang Han Lin.

"Kalau saja Lin-ko tidak keberatan, sekarang tiba gilirannya untuk menceritakan riwayatnya yang pasti menarik sekali."

Han Lin menunduk dan berpikir.

bagaimana dia dapat menceritakan riwayatnya yang sesungguhnya?

Satu kali ia pernah menceritakan riwayat yang sesungguhnya, yaitu kepada A-seng dan akibatnya, A-seng mencuri Suling Pusaka Kemala miliknya!

Tidak, dia harus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang pangeran!

Kalau hal itu diceritakan, maka hanya akan menimbulkan banyak urusaan saja.

"Lin-ko, kenapa diam saja? Bagaimana riwayatmu? Aku ingin sekali mendengar yang sejelasnya. Apalagi dengan keadaan ibumu di sini, sungguh membuat aku tertarik sekali untuk mengetahui sejelasnya duduk perkaranya."

Kata Eng-ji.

"Riwayatku juga tidak menarik dan hanya penuh dengan kesedihan belaka Aku tinggal di utara bersama ibuku. Ibuku adalah seorang Puteri Mongol, keponakan seorang kepala suku Mongol di sana."

"Ahhh......!"

Eng-ji berseru dan memandang kagum.

"Pantas wajah Lin-ko seperti agak asing dan menarik!"

Kiok Hwa tersenyum saja dan tidak mengeluarkan komentar.

"Akan tetapi ibuku bernasib malang, bahkan sampai sekarang juga....."

Han Lin menghela napas panjang. Kemudian Ia dapat menekan perasaannya.

"Aku tidak pernah mengenal ayahku. Ayah telah meninggalkan ibu sejak aku berada dalam kandungan."

"Ahh!"

Kembali Eng-ji berseru.

"Siapakah nama ayahmu, Lin-ko?"

"Ayahku seorang Han, kebetulan she Han juga, bernama Tung. Menurut ibuku, ayahku seorang laki-laki yang gagah perkasa dan bijaksana. Dia meninggalkan ibuku untuk merantau ke selatan, akan tetapi tidak pernah ada berita darinya sampai aku lahir dan berusia tiga tahun."

"Aneh sekali. Tentu telah terjadi apa-apa dengan ayahmu, Lin-ko."

Kata Kiok Hwa.

"Ibu juga mengira demikian. Menurut ibu, ayah seorang bijaksana, tidak mungkin melupakan ibu. Akan tetapi malapetaka menimpa diri kami ketika aku berusia tiga tahun. Seorang penjahat besar datang mengacau perkampungan kami dan menculik ibu dan aku. Dia lihai sekali sehingga penduduk perkampungan Mongol tidak berdaya. Kami dilarikan ke selatan oleh penjahat itu."

"Siapa penjahat terkutuk itu, Lin ko?"

Han Lin memandang kepada Eng-Ji dan tersenyum, menggeleng kepalanya "Aku tidak tahu namanya."

"Lalu bagaimana, Lin-Ko?"

Kata Kiok Hwa yang merasa tertarik sekali dan ikut terharu dengan nasib Han Lin dan ibunya.

"Penjahat itu membawa kami ke selatan,"

Kata Han Lin yang ingin mempersingkat riwayatnya karena dia tidak ingin menyebut-nyebut nama Gobi Sam-sian di depan Eng-ji.

"Si jahanam itu hendak memaksa ibu menjadi isterinya. Ibu tidak mau dan ketika dikejar penjahat itu, ibu melompat ke dalam jurang yang teramat dalam dan aku ketika itu menganggap bahwa tidak mungkin ibuku dapat selamat setelah terjatuh dari tempat yang sedemikian tingginya sampai seolah-olah tanpa dasar. Aku dijadikan perebutan antara penjahat itu dan Toa Ok, kemudian Toa Ok dan Sam Ok juga memperebutkan aku. Pada saat itulah aku ditolong oleh Bu-beng Lo-jin, yang kemudian menjadi guruku, bernama Cheng Hian Hwesio."

"Dan sampai sekarang engkau belum tahu di mana adanya penjahat itu, Lin ko?"

Tanya Eng-ji. Han Lin menggeleng kepalanya.

"Jahanam terkutuk. Kalau aku bertemu dia, akan kutabas batang lehernya untuk membalas sakit hatimu, Lin-ko"

Kata Eng-ji dan Han Lin diam saja, merasa tidak enak sekali karena pemuda remaja itu tidak tahu bahwa yang diancam itu adalah ayahnya sendiri!

"Dan engkau juga tidak tahu di mana ayahmu berada, Lin-ko?"

"Menurut ibuku, ayahku tadinya pergi hendak mencari pekerjaan di kota raja. Karena itu, aku hendak menyusul ke kota raja mencarinya."

Jawab Han Lin.

Setelah saling menceritakan riwayat masing-masing, ketiga orang muda itu lalu duduk beristirahat menghimpun kekuatan sambil menunggu datangnya pagi hari di mana diharapkan sinar matahari akan menerangi guha itu dan mereka dapat mencari jalan keluar.

Sinar matahari pagi mulai menerobos kasuk ke bagian luar dari guha itu dan sinar terang mulai mengusir kegelapan di dalam guha.

Tiga orang yang terperangkap itu sudah sadar dari samadhi mereka, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut di sebelah luar guha.

Eng-ji meletakkan telunjuknya di depan mulut memberi isyarat kepada dua orang kawannya untuk tidak mengeluarkan suara.

Lalu dia berindap keluar mendekati pintu jeruji baja dan mengintai keluar.

Ternyata yang ribut-ribut di luar dan saling berbantahan itu adalah Toa ok, Ji ok dan Sam Ok.

"Tidak, aku tidak akan menyerahkan mereka itu kepada kalian. Mereka semua harus dibunuh!"

Kata Toa Ok dengan sikap marah kepada Ji Ok dan Sam Ok.

"Toa Ok, sudah terlalu lama engkau bersikap seolah-olah engkau menguasai kami dan kami harus selalu tunduk terhadap kehendakmu! Sudah tiba saatnya bagi kita menentukan siapa yang pantas menjadi Toa Ok (si Jahat Nomor Satu)! bagaimanapun juga, dua orang pemuda itu harus diserahkan kepadaku!"

Kata Sam Ok dengan nada suara marah.

"Dan gadis ahli pengobatan itu harus menjadi milikku!"

Kata pula Ji Ok.

"Toa Ok, engkau sudah hendak memiliki Im-yang-kiam dan kami hanya minta orang-orang itu, mengapa engkau berkeras tidak menyetujui kehendak kami? Sikapmu membuat aku tidak mungkin mau tunduk lagi kepadamu!"

Toa Ok mengerutkan alisnya yang tebal.

"Sejak kapan kalian berani membantah kehendakku? Im-yang-kiam memang akan menjadi milikku dan tiga orang itu harus mati karena mereka akan merupakan ancaman bahaya bagi kita. Aku sudah memutuskan itu dan habis perkara!!"

"Ha-ha, Ji Ok dan Sam Ok. Kalian hanya diperalat oleh Toa Ok, hanya dijadikan antek untuk memenuhi semua kehendaknya. Kalian berdua telah dipandang rendah dan tidak dihargai oleh Toa Ok. Hal ini terjadi karena kalian adalah pengecut-pengecut yang tidak berani melawannya!"

Toa Ok marah sekali mendengar ucapan Eng-ji itu, apalagi ketika melihat Eng-ji mengintai dari balik pintu jeruji.

Dia menggerakkan tangan kirinya menghantam dengan pukulan jarak jauh ke arah Eng-ji.

Akan tetapi Eng-ji sudah mengelak dan melompat kembali ke dalam guha.

"Ji Ok dan Sam Ok, kalau kalian tidak berani menentang Toa Ok, ternyata kalian hanya boneka-boneka yang tidak ada harganya sama sekali!"

Kembali Eng-ji berteriak dari dalam guha.

Suara lantang Eng-ji ini terdengar oleh Ji Ok dan Sam Ok dan cukup membakar hati mereka.

Ji Ok yang biarpun usianya sudah enam puluh tahun namun tampak masih seperti orang berusia empat puluh tahun, tampan dan lemah-lembut itu berkata sambil tersenyum.

Baca Juga: Suling Naga 4

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert