Eps 2 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi karena Warsiyem seorang janda yang pandai membawa diri, pandai menjaga kehormatan tidak melayani senda-gurau laki-laki iseng, ditambah lagi orang-orang merasa segan terhadap mendiang suaminya, maka tidak ada laki-laki yang berani bersikap kurang ajar, walaupun banyak yang menjual lagak dan mencoba memikat janda itu dengan mermacam gaya.
Adanya Aji juga merupakan perisai yang kuat bagi Warsiyem.
Semua orang tahu bahwa Aji, biarpun berusia lima belas tahun, namun merupakan seorang pemuda yang memiliki kedigdayaan.
Selain itu, ibu dan anak ini bersikap ramah dan baik sekali kepada semua penduduk dusun Gampingan, ringan tangan dan lapang hati membantu orang lain yang sedang kesusahan.
Pada suatu siang seperti biasa Warsiyem menjaga warung nasinya.
Biasanya, warung nasinya itu ramai dikunjungi para langganan di waktu pagi untuk sarapan, juga di waktu sore menjelang tutup.
Kalau siang, tidak banyak yang datang makan karena kebanyakan penduduk Gampingan di waktu siang sibuk bekerja di sawah ladang atau pergi mencari ikan di laut.
Siang itupun tidak banyak orang berkunjung dan di warung itu hanya ada dua orang penduduk Gampingan yang kebetulan lewat dan mereka hanya berhenti untuk sekedar mengopi.
Tiba-tiba muncul tiga orang yang lagak dan sikapnya menyeramkan.
Mereka mengenakan pakaian serba hitam, tubuh mereka tinggi besar dengan perut gendut dan mereka muncul di depan pintu warung sambil menyeringai menakutkan.
Warsiyem terbelalak dan terkejut bukan main.
Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat orang terdepan.
Biarpun laki-laki tinggi besar itu kini sudah berusia lima puluh tahun lebih dan tampak agak lebih tua dari pada dahulu, namun Warsiyem masih mengenalnya.
Dia bertubuh tinggi besar, gendut, bajunya terbuka sehingga tampak dadanya yang berbulu, mukanya bulat, sepasang mata lebar melotot dihias sepasang alis yang hitam tebal, brewoknya pendek dan kasar kaku, di pinggangnya tergantung sebatang golok.
Dia adalah Singowiro yang pada enam belas tahun yang lalu pernah mencoba untuk menculiknya, kemudian akan menikahinya, bahkan yang telah membunuh ayahnya!
Sambil bertolak pinggang dan langkah digagah-gagahkan, Singowiro memasuki warung, diikuti dua orang temannya yang juga bermata liar.
Melihat dua orang yang sedang ngopi, Singowiro mendekati dan menghardik dengan sikap galak.
"Heii, kalian monyet-monyet busuk, cepat pergi dari sini!"
Dua orang petani itu terkejut dan memandang Singowiro dengan heran, akan tetapi melihat laki-laki tinggi besar itu meraih gagang golok dan mencabutnya sedikit, mereka menjadi ketakutan, bangkit berdiri lalu melarikan diri karena dapat melihat dengan jelas dari sikap tiga orang itu bahwa mereka bukan orang baik-baik dan pasti akan membuat keributan.
Kini Singowiro memandang Warsiyem yang masih berdiri di belakang meja warungnya.
Laki-laki itu mengamati wajah dan tubuh Warsiyem, tersenyum senang karena baginya wanita itu masih seperti dulu, bahkan kini semakin denok dan matang!
"Heh-heh-heh, Warsiyem, mana suamimu?"
Tanyanya sambil melangkah maju menghampiri. Warsiyem tidak menjawab, melainkan perlahan mundur menjauhi.
"Ha-ha-ha, setan itu sudah mampus, bukan? Hemm, kalau saja dulu engkau tidak menjadi isteri setan itu dan menjadi isteriku, sekarang engkau tidak menjadi janda! Akan tetapi sekarangpun belum terlambat, Warsiyem. engkau bisa menjadi isteriku yang ke tiga, Heh-heh-heh!"
Dia menghampiri dekat dan mengulur tangan hendak mengelus pipi wanita itu. Warsiyem mengelak mundur.
"Singowiro, engkau penjahat dan pembunuh keji! Jangan mengganggu aku dan pergi dari sini!"
Warsiyem menuding ke arah pintu.
"Pergi atau aku akan menjerit!"
"Menjerit? Ha-ha-ha, menjeritlah, aku suka mendengar jerit wanita cantik!"
Kata Singowiro dan kembali tangannya meraih ke depan.
Warsiyem mengelak, akan tetapi tangannya dapat ditangkap.
Singowiro menyambar dengan tangan kirinya dan kini kedua pergelangan tangan Warsiyem telah dipegangnya.
"Heh-heh-heh, hayolah manis. engkau sudah ditinggalkan mati suamimu, tentu kesepian. Hayo kita bersenang-senang sebentar. Mana kamarmu?"
Singowirom menarik kedua tangan Warsiyem, hendak dipaksanya masuk ke dalam rumah itu. Warsiyem menjerit-jerit. Dua orang kawan Singowiro terkekeh-kekeh dan menganggap adegan itu lucu sekali.
"Tolong! Toloooongggg..... Aji..... tolooonggg.....!!"
Warsiyem menjerit-jerit dan hendak bertahan agar jangan terseret. akan tetapi ia kalah tenaga. Akan tetapi sebelum Warsiyem terseret sampai ke dalam rumah, dua orang kawan Singowiro menghampiri.
"Kang Singo, jangan di sini! Kalau orang-orang datang, kan repot? Lebih baik dibawa saja perempuan ini, dan dibawa pulang. Di sana engkau kan lebih leluasa dapat bersenang-senang dengannya sepuas hatimu."
Mendengar peringatan kawannya ini, Singowiro sadar.
"Hemmm, benar juga kalian!"
Setelah berkata demikian, dengan ringan dan mudah dia mengangkat dan memanggul tubuh Warsiyem dan memegangi dua pergelangan tangan wanita itu dengan satu tangan saja.
"Mari kita pergi dari sini"
Kata Singowiro dan mereka bertiga cepat berlari keluar tanpa memperdulikan Warsiyem yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.
Pada saat itu para pria hampir semua meninggalkan dusun dan bekerja di sawah ladang atau di laut, maka yang berada di dusun hanyalah kaum wanita dan kanak-kanak.
tentu saja mereka hanya kebingungan bahkan ketakutan mendengar jeritan Warsiyem, tidak berani keluar rumah, apa lagi melihat apa yang terjadi.
Karena itu, dengan leluasa Singowiro dan dua orang kawannya melarikan diri keluar dari dusun Gampingan.
Setelahm tiba di tempat yang cukup jauh dari dudun Gampingan, mereka berhenti dan dua orang kawan Singowiro itu berkata kepadanya.
"nah, sekarang kita berpisah, Kang singo. Bawalah pengantinmu itu pulang dan bersenang-senanglah. Kami tidak mau mengganggumu. Besok saja kita bertemu lagi di rumahmu, kami akan datang berkunjung dan memberi selamat kepada sepasang pengantin."
Singowiro terkekeh.
"Heh-heh, baiklah, sekarang tidak akan ada yang berani mengganggu lagi. terima kasih, kawan-kawan. Sampai besok!"
Dia lalu melangkah lebar memasuki jalan berbukit dan dua orang kawannya mengambil jalan lain.
Warsiyem tidak hentinya meronta dan menjerit-jerit sampai suaranya menjadi parau, akan tetapi Singowiro bahkan merasa senang sekali karena tubuh wanita itu bergerak-gerak di atas pundaknya.
Ratap tangis dan jerit wanita bagaikan nyanyian merdu dan janji-janji mesra dan muluk memasuki telinganya.
Tiba-tiba saja, Singowiro merasa pundaknya dan tangannya yang memegang kedua pergelangan tangan Warsiyem seperti lumpuh dan wanita itu sudah terlepas dari pondongannya!
Wanita yang tadi dipondongnya itu seperti melompat ke belakang, maka cepat dia memuter tubuh.
Warsiyem telah berdiri dengan ketakutan, dan di dekatnya berdiri seorang pria tua renta yang rambutnya sudah hampir putih semua.
laki-laki tua itu berusia lanjut, tentu kurang lebih delapan puluh tahun, tubuhnya jangkung kurus, akan tetapi berdirinya masih tegak.
Bukan hanya rambutnya yang putih, juga sedikit kumis dan jenggotnya sudah putih.
sepasang matanya bersinar lembut sekali penuh kesabaran dan pengertian.
bajunya lurik penuh tambalan, terbuka di bagian dada.
celananya dari kain tebal berwarna kekuningan yang sudah lusuh pula.
kedua kakinya telanjang dan dia memegang sebatang tongkat kayu sederhana.
ingowiro dapat menduga bahwa tentu kakek ini yang tadi telah membebaskan Warsiyem dari pundaknya, S Akan tetapi dia sungguh tidak mengerti bagaimana caranya dan sukar dipercaya bahwa kakek yang tampak begini lemah, seolah tertiup anginpun akan roboh, dapat membebaskan Warsiyem dari panggulannya.
"Hei, kakek tua bangka pikun! Engkaukah yang melepaskan isteriku dari pondonganku tadi?"
Bentaknya sambil melotot. Pelototan matanya ini biasanya sudah cukup untuk membuat orang ketakutan dan tidak berani menentangnya.
"Dia bohong! Saya sama sekali bukan isterinya! Dia malah menculik saya dan hendak memaksa saya menjadi isterinya yang ke tiga!"
Teriak Warsiyem.
"Ki sanak, sadarlah bahwa berbuat jahat sama dengan menanam benih beracun dan kelak andika sendirilah yang akan memetik buahnya yang beracun juga. Sadarlah sebelum terlanjur."
Kata kakek itu, suaranya lembut dan ramah.
"Babo-babo, tua Bangka busuk. Jangan mencampuri urusanku. Minggat kau!"
Bentak Singowiro marah. Akan tetapi kakek itu berdiri tegak dengan tangan kiri di belakang pinggul dan tangan kanan memegangi tongkat yang ditekankan ke atas tanah.
"Ki sanak, semoga Gusti Allah mengampunimu."
Kata pula kakek itu.
"Jahanam, engkau sudah bosan hidup!"
Bentak Singowiro dengan marah sekali.
Warsiyem merasa ngeri.
Ia meremas-remas tangan sendiri di depan dadanya, merasa khawatir sekali akan keselamatan kakek yang tua renta itu.
Ngeri hatinya menyaksikan wajah yang tua itu dihancurkan Singowiro yang kuat dan kejam.
singowiro sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan dia menghantam dengan kepalan tangan kanannya ke arah muka tua itu.
"Wuuuussss......!!"
Pukulan itu menyambar ke arah muka kakek itu dan Warsiyem memejamkan matanya, tidak tahan melihat muka itu dipukul.
Akan tetapi telinganya tidak mendengar apa-apa, tidak mendengar kakek itu roboh atau berteriak kesakitan, melainkan mendengar suara Singowiro berseru seperti orang heran.
"Ehhh..... ??"
Singowiro memang merasa heran bukan main.
jelas kepalan tangannya menyambar ke arah muka kakek itu yang berada dekat di depannya, akan tetapi aneh, pukulannya tidak mengenai muka kakek itu, melainkan lewat saja di depannya seolah tangannya tidak sampai.
Dia merasa penasaran dan kembali dia memukul, kini kepalannya menonjok ke arah dada yang kerempeng itu.
"Wuuuttt......!"
Pukulan itu meluncur kuat tetapi ketika hampir mengenai dada kakek itu, tiba-tiba Singowiro merasa kepalan tangannya seperti bertemu sesuatu yang lunak akan tetapi kuat sekali, seperti ada hawa yang kuat menerima pukulannya dan membuat pukulan tangannya membalik sehingga dia terhuyung ke belakang.
Warsiyem yang telah membuka matanya juga melihat peristiwa ini dan ia memandang bengong.
Betapapun juga, hatinya kembali merasa ngeri ketika ia melihat Singowiro mencabut goloknya.
Melihat golok yang mengkilat saking tajamnya itu ia bergidik.
teringat ia akan ayahnya yang dahulu juga tewas karena bacokan golok orang ini.
Biarpun sudah dua kali pukulannya tidak mengenai sasaran dan secara aneh pukulannya membalik pada hal kakek itu tidak membuat gerakan apa-apa, melainkan hanya berdiri tegak, Singowiro tidak mundur bahkan menjadi semakin penasaran dan marah.
"Setan! Mampuslah!"
Bentaknya dan kini menyerang dengan goloknya membacok sekuat tenaga ke arah leher kakek itu.
Kakek itu diam saja dan bahkan memejamkan mata seolah tidak terjadi sesuatu.
Golok di tangan kanan singowiro itu menyambar ke arah leher dengan kuat sekali.
kembali Warsiyem memejamkan matanya karena tidak tega melihat darah muncrat dari leher yang terbacok.
Akan tetapi ketika golok sudah menyambar dekat sekali dengan leher, tiba-tiba golok itupun membalik dengan kuat sekali.
Saking kuatnya golok itu terpental membalik, tubuh Singowiro terbawa dan diapun terjengkang dan terbanting ke atas tanah sampai terguling-guling.
Sekali ini Singowiro bangkit dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Dia merasa tengkuknya meremang dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi dia lalu lari tunggang-langgang meninggalkan tempat itu!
Setan, pikirnya.
Dia bertemu setan di tengah hari!
Warsiyem menghampiri kakek itu, menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Paman, terima kasih atas pertolongan paman yang telah membebaskan saya dari malapetaka....."
Kata Warsiyem dengan terharu dan penuh hormat.
"Bangkitlah, nini dan bersyukurlah kepada Gusti Allah karena hanya kekuasaan Gusti Allah yang telah menolongmu. Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Mari kuantar engkau pulang ke rumahmu, nini."
Setelah berhenti bicara, kakek itu batuk-batuk tiga kali dan napasnya terengah-engah. Warsiyem bangkit dan memandang dengan penuh kekhawatiran.
"Paman..... maafkan, apakah..... paman sakit..... ?"
Kakek itu mengangguk.
"Benar, dan beginilah jasmani seorang yang sudah tua, nini. Mari....., kuantar engkau....."
Warsiyem mengangguk dan berjalan.
Kakek itu mengikutinya dan langkahnya tertatih-tatih, gemetaran, wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah.
Melihat keadaan kakek itu, Warsiyem merasa heran bukan main.
Kakek ini sudah tua renta dan sedang sakit, begitu ringkih dan lemahnya, akan tetapi bagaimana mungkin seorang yang kuat dan jahat seperti Singowiro dibuat lari tunggang langgang?
Ia juga merasa iba sekali, maka ia lalu mendekat dan berkata.
"Paman, mari saya tuntun. Paman kelihatan lemah sekali."
Tanpa menanti jawaban ia lalu memegang tangan kiri kakek itu dan menuntunnya. telapak tangan kiri itu demikian halus dan juga agak dingin.
"Tangan paman dingin sekali, tentu paman masuk angin,"
Kata Warsiyem sambil menuntun kakek itu dan perlahan-lahan mereka berjalan menuju ke dusun Gampingan.
"Nini, andika seorang yang baik hati. Siapakah namamu dan bagaimana andika sampai dilarikan orang tadi?"
Tanya kakek itu dengan suara lirih dan gemetar.
"Nama saya Warsiyem, paman. Saya seorang janda dan hidup berdua dengan anak saya. Saya tinggal di dusun Gampingan di depan itu., membuka warung nasi. Orang jahat tadi adalah Singowiro. Dia memang jahat sekali, paman, dahulupun pernah hendak memaksa saya menjadi isterinya, enam belas tahun yang lalu. Bahkan dialah yang telah membunuh ayah saya. Setelah suami saya meninggal tiga bulan yang lalu. dia muncul lagi dan menculik saya."
Kakek itu diam saja dan mereka berjalan terus.
akhirnya mereka sampai di dusun Gampingan.
Ketika mereka tiba di depan warung nasi Warsiyem, di situ sudah berkumpul empat orang tetangga laki-laki yang sudah mendengar bahwa Warsiyem dilarikan orang jahat.
mereka menjadi girang sekali dan juga heran melihat Warsiyem yang dikabarkan telah diculik penjahat itu kini pulang dalam keadaan selamat bersama seorang kakek tua renta yang dituntunnya!
Pada saat itu, dari jauh Lindu Aji datang berlari lari dan melihat ibunya berdiri di depan warung bersama seorang kakek tua renta, dia segera merangkul ibunya.
"Ibu..... apa yang terjadi? Aku tadi disusul Kimin dan Sarjo yang bilang bahwa warung kita kedatangan tiga orang penjahat. Apa yang terjadi, ibu? Dan di mana mereka sekarang?"
Aji menengok ke arah warung dan dilihatnya yang berada di warung adalah orang-orang dusun Gampingan yang dia kenal baik sebagai para langganan ibunya.
Akan tetapi sebelum Warsiyem menjawab, kakek itu berkata kepadanya.
"Nini, andika sudah pulang dengan selamat, sekarang aku hendak melanjutkan perjalananku."
Kakek itu lalu melangkah hendak pergi.
"Paman, silakan masuk dan duduk dulu, paman sedang sakit....."
Warsiyem menahan.
"Aku..... aku tidak ingin merepotkan....."
Kakek itu tetap melangkah pergi dari situ.
Akan tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba tubuhnya terkulai dan diapun roboh.
Trengginas aji melompat dan berhasil menyangga punggung kakek itu seningga kepalanya tidak sampai terbanting ke atas tanah.
Dia memegang tangan kiri kakek itu yang duduk dengan kedua kaki terjulur dan punggung bersandar pada rangkulan tangan kanan Aji.
Warsiyem mendekati dan membujuk dengan halus.
"Paman, marilah singgah dulu di rumah kami. Paman sedang sakit dan memerlukan perawatan dan pengbatan. Biarlah kami merawat paman sampai sembuh."
"Ibu, dia pingsan, tak dapat diajak bicara,"
Kata Aji.
"Ohh.....! Cepat angkat dia ke dalam, Aji. Kasihan dia....."
Tanpa diperintah ibunyapun, Aji sudah berniat menolong kakek itu.
Maka dia lalu memondong tubuh tua itu dan mengangkatnya, membawanya masuk ke dalam rumah dan merebahkan kakek itu di atas pembaringan di dalam kamarnya sendiri.
Setelah memeriksa keadaan kakek itu, Aji berpendapat bahwa tubuh kakek itu lemah sekali dan agaknya dia kelaparan, Juga tubuhnya panas sekali.
"Ibu. dia perlu diberi makan bubur tajin karena agaknya dia kelaparan. Tubuhnya panas seperti terkena demam. Tolong ibu buatkan bubur tajin dan aku akan mencarikan jamu untuknya. sementara ini akan kubasahi kepalanya dengan perasan jeruk nipis dan brambang agar panasnya turun."
Warsiyem mengangguk lalu keluar menuju ke warungnya.
Warung itu memang juga menjadi dapurnya.
Ketika ia membuatkan bubur tajin, di warung itu sudah berkumpul belasan orang tetangga laki-laki.
Ia dihujani pertanyaan.
Sambil bekerja membikin bubur tajin, Warsiyem menceritakan dengan singkat bahwa tadi ia diculik Singowiro dan dua orang kawannya.
Akan tetapi di tengah perjalanan ia ditolong dan diselamatkan kakek tua yang sedang sakit itu.
Semua orang terheran-heran mendengar cerita Warsiyem, akan tetapi mereka juga marah sekali.
siapa yang belum mendengar nama Singowiro?
Di daerah pegunungan selatan sampai ke daerah pesisiran nama gegedug (jagoan) yang sering kali memaksakan kehendaknya dengan kekerasan dan sudah banyak mencelakai orang.
Ketika Warsiyem menceritakan kepada mereka betapa Singowiro itu belasan tahun yang lalu juga sudah menculiknya dan penjahat itu dikalahkan mendiang suaminya, Harun, semua orang timbul semangatnya.
"Agaknya selama ini dia tidak berani mengganggu mereka karena takut kepada kakang Harun. Akan tetapi setelah kakang Harun meninggal, dia muncul lagi mengganggu, mungkin disangkanya bahwa tidak ada orang di Gampingan yang berani menentangnya."
Warsiyem menutup ceritanya dengan nada sedih karena teringat kepada suaminya. Parto, sahabat karib Harun, menjadi panas hatinya. dia bangkit berdiri dan berseru kepada teman-temannya.
"Kita hadapi jahanam itu! Biarkan dia datang lagi, kita keroyok dia sampai mampus. Hayo kawan-kawan, kita mengadakan pertemuan, kumpulkan semua laki-laki yang berani dan kita siap menghadapi jahanam itu sewaktu-waktu dia berani datang ke dusun kita!"
Semua orang menyatakan setuju dan merekapun keluar dari warung itu untuk mengadakan pertemuan dengan warga yang lain.
Aji sudah menyiapkan jamu dari Daun Kendal, Daun Jintan, dan Akar Alang-alang lalu merebusnya.
Setelah kekek itu sadar dari pungsannya, dia membuka mata dan batuk-batuk kecil beberapa kali.
Aji dan ibunya cepat menghampiri.
Kakek itu memandang kepada mereka dan tersenyum!
Senyum dan pandang matanya demikian tenang, sedikitpun tidak tampak sedih atau kesal, sama sekali tidak seperti orang yang sedang menderita sakit.
Aji merasa semakin kagum.
Tadi, ketika kakek itu belum siuman, ibunya sudah menceritakan semua apa yang telah terjadi, menceritakan keanehan ketika kakek berpenyakitan ini secara aneh membuat Ki Singowiro lari tunggang langgang!
Dia merasa penasaran sekali karena dahulu ibunya pernah menceritakan tentang Singowiro yang telah membunuh kakeknya, ayah dari ibunya yang bernama Sutowiryo.
"Setelah bapak meninggal dia berani datang lagi mengganggu ibu? Sungguh keparat!"
Aji berkata marah, akan tetapi pada saat itu kakek tadi siuman dan bergerak sehingga mereka menghentikan percakapan tentang Singowiro itu.
"Ah, tepat seperti yang kukhawatirkan. Orang tua tiada guna ini hanya membikin repot orang saja....."
Katanya dengan suara lemah seperti berbisik. Aji segera membungkuk mendekatkan mukanya dan berkata kirih.
"Eyang, mohon eyang jangan berkata demikian. Eyang adalah penyelamat ibu saya, sudah sepatutnya kalau kami merawat eyang, bahkan mengorbankan apa saja untuk membalas budi kebaikan eyang. Bahkan kalau eyang tidak pernah melakukan apapun juga kepada kami untuk membantu seorang tua yang sebatang kara dan sedang menderita sakit."
Kakek itu memandang kepada Aji, tersenyum lebar dan ternyata biarpun dia sudah tua sekali, ketika tersenyum lebar itu masih tampak deretan gigi yang sehat.
akan tetapi sebelum dia bicara, Warsiyem mendahuluinya.
"Paman, sebaiknya paman jangan banyak bicara dulu. Paman harus minum jamu yang sudah disediakan anak saya, dan makan bubur tajin yang sudah saya persiapkan."
"Mari, eyang, silakan minum jamu ini lebih dulu. Eyang tentu akan sehat kembali."
Kata Aji dan dia mendekatkan secangkir jamu itu ke mulut kakek itu sedangkan dia membantunya bangkit duduk.
Kakek itu tidak menolak dan minum jamu itu sampai habis.
setelah itu, Aji merebahkannya kembali dan kini Warsiyem yang duduk di tepi pembaringan dekat kakek itu sambil membawa semangkok bubur tajin dan sendok.
"Paman, silakan makan bubur tajin agar tubuh paman menjadi kuat kembali."
Katanya dan iapun menyuapi kakek itu dengan hati-hati. Kakek itupun tidak menolak dan semangkok bubur tajin itupun dihabiskannya. Setelah itu, dia memandang kepada ibu dan anak itu dan dia tersenyum.
"Kalian berdua ibu dan anak sungguh baik sekali. Semoga Gusti allah akan selalu memberi berkah dan bimbingan kepada kalian."
"Paman, bukankah paman juga baik sekali kepada kami, kepada saya? Budi paman tidak akan saya lupakan selama hidup, saya akan selalu berterima kasih, paman,"
Kata Warsiyem.
"Ah, nini Warsiyem. sudah kukatakan bahwa bukan aku yang menolongmu, melainkan kekuasaan Gusti Allah, maka kalau hendak berterima kasih, bersukurlah kepada Gusti Allah."
"Maafkan kami, eyang. Sesungguhnya kami inipun sama sekali tidak menolong eyang, melainkan hanya melaksanakan kewajiban kami sebagai manusia. Yang menolong eyang adalah Gusti Allah. Tidakkah begitu, eyang?"
Kakek itu tertawa lirih. Sepasang matanya yang bersinar lembut itu terpejam lucu ketika dia tertawa.
"Heh-heh-heh-heh, engkau sudah mengerti akan kenyataan itu, kulup. bagus sekali. siapa namamu, angger?"
"Nama saya lindu Aji, eyang."
"Eh? Lindu.....?"
Kakek itu memandang heran.
"Begini, paman. Ketika saya mengandung tua, terjadi gempa bumi yang hebat di sini, sampai rumah kami ini ambruk. Untung kami selamat dan anak saya inipun terlahir dengan selamat. Maka kami beri nama Lindu Aji."
Kakek itu mengangguk-angguk sambil tersenyum dan dia memejamkan mata, tertidur.
Aji memberi tanda dengan telunjuknya di depan bibir agar mereka tidak bicara lagi, kemudian memberi isyarat agar ibunya keluar dengan dia dari kamar itu.
Setelah tiba di luar kamar dia berbisik.
"Dia tentu akan sembuh, ibu. Dia perlu istirahat , biarkan dia tidur."
Ibu dan anak itu keluar dan Warsiyem mulai melayani para langganan yang mulai berdatangan karena sudah ada beberapa orang yang pulang dari sawah ladang atau lautan.
Aji lalu berbaring di kamar ibunya karena dia merasa lelah sekali.
Selain semalam tidak tidur, juga dia banyak mengenang kematian bapaknya, ditambah lagi peristiwa tadi yang sempat mengguncang perasaannya mendengar ibunya diganggu orang jahat.
Dia rebah mengasokan badan, juga pikirannya agar bebas dari ketegangan.
Seperti biasa, setelah melakukan sesuatu demi kepentingan orang lain, misalnya seperti ketika dia membantu ayahnya dahulu kalau mengobati orang, kini ada perasaan bahagia di dalam hatinya bahwa dia dan ibunya telah menolong kakek itu.
Perasaan seperti itu juga dirasakan oleh Warsiyem, bahkan tentu oleh semua orang yang telah melakukan kebaikan secara tulus, menolong orang tanpa pamrih, semata-mata berdasarkan kasih kepada sesama yang menimbulkan perasaan belas kasihan kepada orang lain yang menderita.
Tanpa disadarinya, Aji jatuh pulas.
tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang selama ini berat memikirkan kematian bapaknya, membuat dia letih lahir batin dan tidur merupakan obat yang ampuh baginnya.
Beberapa jam lamanya dia pulas sampai sore dan tiba-tiba dia terbangun oleh suara rrbut-ribut yang datangnya dari luar rumah.
Aji terbangun menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, kemudian dia teringat akan ibunya dan seketika dia sadar sepenuhnya.
Dia melompat turun dari pembaringannya dan berlari keluar.
Dan alisnya berkerut, wajahnya berubah merah ketika melihat keadaan di luar rumahnya.
Tiga orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam, masing-masing memegang sebatang golok, berdiri di pekarangan, mengayun-ayun golok mereka dan di atas tanah menggeletak tiga orang yang terluka dan berlepotan darah.
Belasan orang laki-laki tetangga berdiri di sekitar situ, akan tetapi mereka mundur-mundur ketakutan dan hanya ada Parto dan dua orang tetangga lain yang berada di depan warung, akan tetapi mereka tampak jerih.
"Hayo siapa lagi yang berani menghalangi kami!"
Bentak seorang di antara tiga orang berpakaian hitam itu, yang perutnya gendut dan mukanya brewok sambil mengangkat goloknya ke atas.
"Aku adalah Singowiro gegedug Gunung Kidul! Warsiyem adalah isteriku dan tak seorangpun boleh menghalangi aku membawa pergi isteriku!"
Kemudian dia menghampiri pintu rumah dan berseru ke arah dalam.
"Hei, Warsiyem isteriku, keluarlah kau dan ikut denganku, atau akan kurobohkan rumah ini!"
Akan tetapi tiba-tiba ada sebuah bangku mendorongnya dari dalam dan Singowiro cepat melompat ke belakang, melotot memandang kepada seorang pemuda remaja yang memegang sebuah bangku dan dipergunakan untuk mendorongnya tadi.
Aji melompat ke pekarangan menghadapi tiga orang berpakaian hitam itu.
Mendengar laki-laki gendut brewok itu tadi menyebut namanya, tahulah dia bahwa orang ini yang telah menculik ibunya, dan orang ini pula yang telah membunuh kakeknya belasan tahun yang lalu.
Hatinya dipenuhi kemarahan dan matanya mencorong ketika dia memandang kepada Singowiro.
"Aji.....! Jangan mendekati mereka.....!"
Teriakan Warsiyem yang sudah muncul dari dalam ini membuat Aji menoleh. Hatinya merasa lega bahwa ibunya tidak apa-apa, maka ia berkata lantang.
"Ibu, jangan khawatir. Aku akan menghajar penjahat-penjahat ini."
Sementara itu, mendengar teriakan Warsiyem, Singowiro juga memandang dan dia tertawa.
"Ha-ha-ha, Warsiyem calon isteriku! Jadi pemuda remaja ini anakmu? Heh-heh, bocah bagus. Ibumu benar, jangan coba-coba untuk menentang kami. Aku adalah calon ayahmu dan aku suka menerimamu menjadi anakku asalkan engkau menaati semua omonganku, heh-heh!"
Aji menatap wajah Singowiro dengan sinar mata mencorong dan dia berkata lantang.
"Heh, Singowiro! Engkau selalu mengganggu ibuku, dan engkau sudah beberapa kali dihajar oleh bapakku Harun Hambali! Sekarang karena bapak telah meninggal, akulah yang menjadi penggantinya untuk menghajarmu! Akan kubalaskan kakekku Sutowiryo yang dulu kau bunuh."
Tentu saja Singowiro menjadi marah sekali.
"Bocah sombong, kalau engkau menjadi penghalang, aku akan membunuhmu lebih dulu!"
Setelah berkata demikian, dia menggerakkan goloknya menyerang dengan dahsyat.
Aji memang tidak mempunyai pengalaman berkelahi, akan tetapi ilmu-ilmu silat yang dipelajari dan dilatihnya sejak kecil telah mendarah daging dengan dirinya.
Gerakannya menjadi otomatis dan ketika golok itu menyambar ke arah kepalanya, dia mengelak dengan gesit sekali.
Singowiro menjadi penasaran dan marah melihat bacokannya tidak mengenai sasaran.
dia memutar goloknya dan menyerang secara bertubi-tubi, membacok, menusuk, membabat.
Namun, semua serangan itu sia-sia, seperti menyerang bayangan saja karena gerakan Aji ketika mengelak jauh lebih gesit dan cepat.
"Singggg.....!"
Golok menyambar lagi membabat ke arah leher Aji.
Pemuda ini merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua lututnya.
Golok meluncur cepat di atas kepalanya dan pada detik itu juga, bangku ditangannya menyambar dari samping ke arah tubuh lawannya.
"Wuuuttt..... desss.....!"
Bangku itu menghantam pinggang Singowiro sehingga tubuhnya terpelanting.
"Aduh.....!"
Singowiro roboh dan dia bergulingan menjauh, lalu meloncat bangun sambil meringis karena pinggangnya terasa nyeri.
Aji berdiri tegak, menanti.
Dia tak pernah menggunakan bangku itu untuk menagkis, maklum bahwa hal itu dia lakukan, tentu bangkunya akan hancur.
Singowiro baru maklum bahwa ternyata pemuda itu tangkas sekali dan menguasai ilmu silat.
Dia teringat akan Harun Hambali yang dulu pernah mengalahkannya, bahkan yang memperisteri Warsiyem.
Selama ada Harun di samping Warsiyem, dia tidak berani mencoba-coba untuk merampas wanita yang membuatnya tergila-gila itu.
Kini setelah Harun meninggal dunia, ternyata puteranya menggantikannya melindungi Warsiyem dan menjadi penghalang baginya.
"Bunuh dia!"
Teriaknya kepada dua orang kawannya dan kini tiga orang itu mengepung Aji dari tiga jurusan.
Singowiro di depan dan dua orang kawan jagoan itu di kanan kiri.
Mereka bertiga mengamangkan golok dengan wajah bengis.
Akan tetapi Aji tak merasa gentar sedikitpun.
Dia tetap tenang.
Pada saat terdengar jerit ibunya.
"Aji.....!"
Suara itu mengandung penuh kekhawatiran.
Ngeri rasa hati ibu ini melihat puteranya diancam tiga orang jahat yang memegang golok itu.
Mendengar jeritan ibunya, Lindu Aji menjadi marah kepada tiga orang itu.
Dia mengambil keputusan untuk segera merobohkan mereka agar ibunya tidak dicekam kekhawatiran lagi.
Sementara itu, Singowiro sudah mulai dengan serangannya.
Goloknya menyambar dahsyat dari atas ke bawah membacok ke arah kepala Aji.
"Yaaaahhhh !"
Dia membentak dan membacok sekuat tenaga.
Akan tetapi hanya dengan miringkan tubuhnya Aji mengelak dari bacokan itu.
dari kanan kiri menyambar pula golok kedua kawan Singowiro.
Aji melompat ke belakang sehingga bacokan merekapun hanya mengenai tempat kosong.
Tiaga orang itu mengejar dan kembali mereka sudah mengepung dari tiga jurusan.
Aji sudah memperhitungkan dengan baik.
Ketika tiga orang itu mengangkat golok masing-masing, siap menyerangnya, dia mengeluarkan teriakan nyaring sekali.
"Haaaiiiiittt.....!!"
Dia membuat gerakan memutar sambil menyerang dengan bangku yang dipegang kakinya dengan kedua tangannya dan pada saat itu juga, kaki kanannya mencuat dan menendang ke arah tubuh Singowiro yang berada di depannya.
"Dukkk.....! Takkk.....! Bluggg.....!"
Dua orang kawan Singowiro terkena hantaman ujung bangku pada muka mereka sedangkan perut gendut Singowiro diterjang kaki kanan Aji.
"Aduhhh..... aduhhh..... hekkk.....!"
Tiga orang itu terpelanting dan terjengkang.
Aji yang sudah marah sekali tidak berhenti sampai disitu saja.
Melihat tiga orang lawannya itu merangkak hendak bangkit, diapun melompat dan bangkunya menari-nari, menyambar dan menghantami tiga orang itu berganti-ganti sampai mereka jatuh bangun terguling-guling dan tidak mampu bangkit lagi.
"Aji.......!"
Tiba-tiba Warsiyem lari menghampiri anaknya dan merangkulnya, menariknya ke rumah menjauhi tiga orang yang masih mendekam sambil mengaduh-aduh itu.
muka mereka berdarah-darah karena beberapa kali dihantam bangku.
Aji tidak membantah dan menurut saja ketika ditarik ibunya.
Tiba-tiba terdengar sorak sorai dan puluhan orang laki-laki penduduk dusun Gampingan yang telah berkumpul di situ serentak bergerak maju dan mengeroyok tiga orang penjahat yang sudah tidak berdaya itu.
agaknya melihat betapa Aji mampu merobohkan tiga orang itu, timbul keberanian dalam hati penduduk dusun Gampingan yang marah itu dan mereka kini mengeroyok dan memukuli tiga orang itu dengan senjata apa saja yang berada di yangan mereka.
Ada yang menggunakan parang, linggis, pacul, bahkan ada yang menggunakan batu atau tangan saja.
Tiga orang itu menjerit-jerit ketakutan dan kesakitan, minta-minta ampun, akan tetapi puluhan orang yang sudah kesetanan itu tidak mau berhenti sampai akhirnya tiga orang itu tewas dengan tubuh lumat!
Aji berangkulan dengan ibunya.
Warsiyem menutupi kedua telinganya dan memejamkan matanya, dirangkul oleh Aji yang seolah hendak melindunginya.
Tiba-tiba terdengan suara lembut namun demikian jelas terdengar mengatasi keributan orang-orang yang sedang mengamuk itu.
"Saudara-saudara sekalian, hentikan semua itu........!"
Suara yang lembut itu mengandung wibawa yang demikian kuat, membuat semua orang menghentikan amukan mereka dan mereka menghadap ke arah kakek yang muncul di ambang pintu warung, berdiri ditopang tongkatnya.
tubuhnya tegak, wajahnya masih membayangkan kelembutan namun sepasang matanya kini mencorong mengandung teguran sehingga orang-orang yang berada di situ tidak berani menentang pandang matanya melainkan menundukkan pandang mata.
"Ya Allah, gusti.......! Saudara-saudara, apa yang kalian lakukan ini? Tidak sadarkah andika sekalian bahwa kalian telah dikuasai iblis melalui nafsu amarah dan kebencian sehingga tega melakukan kekejaman yang amat mengerikan ini? Lupakah kalian bahwa mereka bertiga juga manusia-manusia seperti andika, manusia-manusia yang tidak sempurna dan berdosa? Ampun, Gusti, semoga Paduka mengampuni kita semua......."
Hening mengikuti ucapan kakek itu seolah menyusup ke dalam hati sanubari mreka. Mereka tidak menyesal atas apa yang mereka lakukan terhadap tiga orang yang mereka anggap kejam dan jahat (Lanjut ke
Jilid 05) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05 itu, akan tetapi kini mereka merasa malu kepada kakek itu. Parto mewakili kawan-kawannya dan berkata.
"Akan tetapi, paman. Tiga orang ini adalah pembunuh-pembunuh yang kejam."
"Benar, mereka bertiga adalah pembunuh-pembunuh yang kejam. Akan tetapi sekarang pandanglah sisa tubuh mereka itu dan lihatlah tangan kalian sendiri. Bukankah kalian juga membunuh dengan cara yang kejam sekali? Lalu apa bedanya antara mereka dan kalian?"
Wajah Parto menjadi pucat dan dia tidak membantah lagi. Akan tetapi seorang penduduk lain berkata.
"Akan tetapi, paman. Mereka itu datang membuat kekacauan di dusun kami, hendak menculik Warsiyem, dan melukai tiga orang teman kami yang mencoba untuk mengingatkan mereka. Apakah kita harus diam berpangku tangan saja melihat tiga orang itu melakukan kejahatan. membiarkan mereka menculik wanita dan membiarkan mereka melukai atau membunuh orang?"
Semua orang diam-diam menyetujui pertanyaan itu dan kini semua mata memandang ke arah kakek itu yang tampak tersenyum. Kakek itu mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus ! pertanyaan dan sikap kalian ini menunjukkan bahwa kalian mempunyai rasa keadilan, menentang yang jahat dan melindungi yang lemah. Akan tetapi cara yang kalian pakai itu keliru. kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan. Kalau kalian belum mampu menghadapi kejahatan dengan kebaikan, maka hadapilah kejahatan dengan keadilan. Akan tetapi bukan keadilan yang ngawur, bukan keadilan yang dilaksanakan seenak hatinya sendiri. Harus dilaksanakan oleh pengadilan berdasarkan hukum pemerintah yang berwenang. Apa artinya mempunyai pemerintah kalau kita bertindak sendiri? Apa gunanya ada hukum dan pengadilan kalau kita melaksanakan hukum sendiri? Ini namanya sewenang-wenang. tugas kita membantu pemerintah menjaga ketenteraman dan keamanan. Kalau kalian menangkap, tiga orang itu dan menyerahkan kepada petugas pemerintah untuk mengadilinya, itu sudah tepat dan benar namanya."
Kini Aji maju menghampiri kakek itu dan berkata.
"Kami telah bertindak salah menuruti kemarahan dan kebencian, eyang. Biarlah saya yang menanggung semua kesalahan ini, jangan salahkan kepada saudara-saudara ini karena tadi sayalah yang merobohkan tiga orang itu."
Kakek itu menatap wajah Aji dan mengangguk-angguk.
"mengakui kesalahan dan mempertanggung jawabkan perbuatan merupakan langkah yang benar. Sudahlah, semua telah terjadi. Lapor saja kepada ketua dusun dan kubur tiga jenasah itu baik-baik."
Kakek itu lalu masuk kembali ke dalam rumah, diikuti oleh Warsiyem dan Aji.
Para penduduk Gampingan lalu bekerja.
Meraka melapor kepada kepala dusun yang tidak menyalahkan mereka.
Membunuh penjahat pada waktu itu tidaklah melakukan pelanggaran besar, apa lagi kalau pelakunya adalah rakyat banyak.
Jenasah tiga orang itu lalu dikuburkan sebagaimana mestinya, walaupun di tempat terpisah dari kuburan umum.
Mereka bertiga duduk di ruangan depan dekat warung.
Ketika itu tengah hari dan seperti biasa pada siang hari, warung itu sepi.
Warsiyem, Lindu Aji, dan kakek itu duduk bercakap-cakap sehabis makan siang, duduk saling berhadapan di atas bangku.
Sudah tiga hari kakek itu tinggal di situ, sejak dia jatuh sakit dan ditolong oleh Aji dan ibunya.
Dia kini sudah sembuh benar.
Wajahnya yang kurus tampak kemerahan.
Bajunya lurik dan celana kuning yang dipakainya tampak bersih karena sudah dicuci oleh Warsiyem dan kakek itu diberi pakaian peninggalan Harun untuk penggantinya.
Akan tetapi setelah pakaiannya sendiri bersih dan kering, kakek itu berganti lagi dengan pakaiannya sendiri.
"Paman. maafkan pertanyaan saya. Sejak paman berada di sini, kami sudah merasa seolah paman ini keluarga kami sendiri, seperti bapakku sendiri atau seperti kakeknya Aji. Akan tetapi paman belum pernah bercerita tentang diri paman. bahkan nama pamanpun belum kami ketahui. Paman, bolehkah kami mengetahui nama paman yang mulia?"
"Ibu benar, eyang. Semua orang di dusun ini bertanya kepada saya siapa nama eyang, akan tetapi saya tidak dapat menjawabnya."
Kata Aji yang menjadi berani setelah ibunya lebih dulu menyinggung soal itu.
entah mengapa, sikap kakek yang halus budi dan penyabar itu bahkan membuat Aji merasa segan, hormat dan takut mengeluarkan kata-kata yang salah di depan kakek itu.
Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya yang sudah putih seperti benang-benang perak.
"Nini Warsiyem dan engkau angger Aji, terus terang saja, selama bertahun-tahun ini aku tidak pernah memperkenalkan nama kepada siapapun juga sehingga aku sendiri hampir tidak mengenal namaku sendiri. Dahulu aku ingin membebaskan diri dari segala ikatan, tanpa keluarga, tanpa tempat tinggal, tanpa nama. Namun agaknya Gusti Allah menentukan lain sehingga mempertemukan aku dengan kalian ibu dan anak yang memberiku ikatan kekeluargaan, sandang, pangan dan papan. Karena itu sudah sepantasnya kalau aku memperkenalkan namaku. Dahulu, aku biasanya disebut orang Ki Tejobudi."
"Di mana danya keluarga paman? Isteri, saudara, anak, atau cucu?"
Tanya Warsiyem. Ki Tejobudi menggeleng kepalanya.
"Tidak, tidak ada, aku hidup seorang diri. Atau..... lebih tepat lagi, bukankah manusia sedunia ini sesungguhnya adalah keluarga kita?"
Mendengar jawaban ini, Aji dan ibunya memandang dan Ki Tejobudi tertawa.
"kalian heran? Yang ada hanyalah sebangsa manusia, yang berbeda dengan mahluk lain. Di antara manusia yang berbeda hanya warna kulit dan rambut terpengaruh iklim, pakaian dan bahasa terpengaruh kebudayaan setempat. Suara batinnya sama persis. dengarkan suara tawa dan tangis mereka. Dari golongan atau bangsa apapun dia datang, suara tawa dan tangisnya, suara batin itu, tentu sama. bahkan pada saat lahir, suara pertama manusia, yaitu tangis, tiada bedanya sama sekali."
"Maaf, eyang. menurut penuturan ibu saya, ketika eyang menghadapi mendiang Singowiro dan eyang yang diserang olehnya, semua serangan Singowiro tidak mengenai tubuh eyang sehingga dia lari tunggang langgang. Saya percaya bahwa eyang tentu seorang yang sakti mandraguna."
Ki Tejobudi tersenyum.
"Apa sih yang dinamakan sakti mandraguna itu, kulup? Berapa kuat dan pintarnya seseorang, pasti ada yang melebihinya. Kekuatan manusia itu terbatas, sesuai dengan kodrat dan kemampuannya. Kekuatan yang tidak sesuai dengan kodrat, yang mengambil dari luar alam manusia, hanya sementara dan lebih banyak mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri daripada kebaikan. Yang Maha Sakti adalah Gusti Allah. Semua kekuatan dan kesaktian berasal dari Kekuasaan Gusti Allah. Kalau dipergunakan untuk kejahatan menjadi kekuatan iblis. Kalau kekuasaan Gusti Allah melindungi seorang manusia, kekuatan apakah di dunia ini yang akan mampu mengganggunya? Aku manusia biasa yang terikat oleh kodrat Yang maha sakti adalah Gusti Allah dan aku berlindung di dalam kekuasaanNya."
Pada saat itu, ada tiga orang memasuki warung dan Warsiyem bergegas memasuki warung untuk melayani pembelinya.
aji ditinggalkan berdua dengan Ki Tejobudi.
Kakek itu mengamati wajah pemuda itu dan bertanya dengan suara lembut.
"Aji, aku tadi mendengar bahwa engkau telah mengalahkan tiga orang yang membuat keributan itu. Agaknya engkau menguasai ilmu pencak silat. Dari siapakah engkau mempelajari ilmu itu?"
"Dahulu saya mempelajarinya dari bapak, eyang. Bapakku adalah seorang Sunda dan dia menguasai ilmu pencak silat aliran Cimande."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Pantas kalau begitu. Aliran itu mengandalkan kecepatan gerak, mengubah tangkisan menjadi serangan dan terutama ampuh dalam penggunaan kaki menyerang lawan."
"Wah. eyang tentu menguasai banyak ilmu silat yang tangguh. Saya percaya bahwa eyang tentu seorang yang sakti mandraguna."
Ki Tejobudi menghela napas panjang.
"Dahulu, puluhan tahun yang lalu memang kesukaanku mempelajari dan memperdalam olah kanuragan."
"Akan tetapi, maat, eyang. Eyang demikian sakti mengapa sampai menjadi sakit dan lemah? Bagaimana bisa begitu, eyang?"
Ki Tejobudi tertawa.
"Heh-heh, kenapa tidak begitu, Aji? Sudah kukatakan tadi bahwa kekuatan dan kepandaian manusia itu terbatas. Manusia tidak mungkin dapat membebaskan diri dari kodratnya. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa tubuhnya akan menjadi tua, digerogoti usia menjadi lemah dan mudah diserang penyakit. Tidak ada kesaktian yang mampu mencegah datangnya penyakit dan datangnya usia tua, kulup. Pada akhirnya semua orang harus tunduk kepada kekuasaan Gusti Allah dan bertekuk lutut kepada kodratnya. Seberapa sih kepandaian manusia? Menghitung rambut jenggotnya sendiripun tidak mampu! Seberapa kekuatannya? Menghentikan detak jantungnya sendiripun tidak dapat! Jasmani yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga, kotor dan lemah. Kalau aku menjadi lemah dan sakit, apa anehnya itu."
Aji teringat akan ucapan mendiang ayahnya dulu yang menyatakan bahwa betapa tinggipun tingkat jiwa seseorang, kalau dia masih hidup di dunia ini, dia tidak akan terbebas daripada usia tua, penyakit, dan kematian.
Kakek ini sakti mandraguna, akan tetapi sikapnya demikian rendah hati.
Dia menjadi semakin kagum dan entah kekuasaan apa yang mendorongnya, tiba-tiba saja dia turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada Ki Tejobudi.
"Eyang, saya mohon sudilah kiranya eyang menerima saya sebagai murid eyang dan mengajarkan ilmu-ilmu eyang kepada saya agar saya dapat menjadi seorang manusia yang berguna."
Ki Tejobudi tersenyum dan menghampiri Aji, menepuk-nepuk pundaknya.
"Engkau ingin menjadi seorang manusia yang berguna, Aji? Kalau begitu, tanyalah kepada dirimu sendiri lebih dulu, engkau ingin berguna untuk siapa? Untuk dirimu sendiri, untuk keuntunganmu dan kesenanganmu sendiri?"
"Tidak, eyang. Saya ingin menjadi seorang manusia yang berguna bagi Tuhan."
Ki Tejobudi terkekeh.
"Heh-heh-heh, lalu apa yang kaulakukan agar engkau berguna bagi Gusti Allah?"
Dengan cerdik Aji mengambil sikap rendah hati dan bodoh.
"Untuk menjawab itu saya mohon petunjuk dari eyang."
"Aji, Gusti Allah itu Maha Ada, Maha Punya, dan Maha Cukup. Gusti Allah tidak pernah kekurangan, tidak pernah membutuhkan, apa yang dapat kau haturkan kepadaNya? Jadilah manusia yang beguna bagi keluargamu, lalu berkembang menjadi berguna bagi semua orang, bagi bangsamu dan negaramu. Yang terakhir, menjadi berguna bagi manusia dan dunia. dengan begitu berarti engkau menjadi manusia yang berguna bagi Gusti allah, karena engkau menjadi alatNya yang baik dan berguna."
"Terima masih, eyang. Untuk dapat menjadi manusia berguna seperti yang eyang terangkan tadi, maka saya mohon eyang sudi mengajarkan ilmu-ilmu kepada saya. Tanpa ilmu bagaimana saya dapat berguna bagi orang lain?"
"Heh-heh-heh, agaknya Gusti allah telah menghendaki demikian. Baik, aku suka menerimamu menjadi murid, suka mewariskan semua yang kuketahui kepadamu agar jerih payahku mempelajari semua itu di masa lalu tidak sia-sia dan tidak hilang begitu saja. akan tetapi hanya satu syarat, yaitu ibumu harus menyetujuinya."
"Saya setuju! Saya setuju sepenuh hati saya, paman!"
Kata Warsiyem yang baru saja memasuki ruangan itu dan mendengar ucapan Ki Tejobudi. Ia lalu menghampiri dan ikut berlutut menembah di samping anaknya.
"Baiklah, aku menerima Aji sebagai muridku. Sekarang kalian bangkit dan duduklah."
Ibu dan anak itu lalu bangkit dan duduk di atas bangku, akan tetapi kembali Warsiyem harus memasuki warung karena ada lagi tamu yang hendak makan.
"Aji, dengarkan baik-baik. Ilmu kanuragan baik saja dilatih dan dikuasai untuk menguatkan tubuh dan untuk melindungi diri dari ancaman kekerasan yang datang dari luar. Akan tetapi ingat, ilmu ini hanyalah ilmu jasmani yang amat terbatas sekali. Betapapun tingginya ilmu kanuragan ini, pasti ada yang menunggulinya. Ilmu kanuragan baru menjadi ilmu yang baik kalau kaupergunakan ilmu itu demi kepentingan negara dan bangsa. Mengertikah engkau, Aji?"
Dari tempat duduknya Aji menyembah.
"Saya mengerti, eyang. Mendiang bapak juga seringkali mengingatkan saya agar mempergunakan semua ilmu yang diajarkan bapak untuk membela kebenaran dan keadilan, dan menentang kejahatan."
"Bagus, kalau begitu. Aku percaya bahwa mendiang bapakmu tentu seorang yang bijaksana sehingga kebijaksanaannya itu masih tampak pada isteri dan puteranya. Sekarang ketahuilah, Aji bahwa ada ilmu, yaitu ilmu menyerah, pasrah sepenuhnya dan sebulat-bulatnya kepada Gusti Allah."
"Ilmu menyerah, eyang? Apa itu dan bagaimana?"
Aji tidak mengerti.
"Menyerah atau pasrah kepada kekuasaan Gusti Allah yang akan bekerja dalam dirimu, membimbingmu dan melindungimu. Kalau sudah begini, kekuasaan apakah yang akan mampu mengganggumu? Jadi ingatlah, Aji. Semua ikhtiarmu, semua usaha yang dilakukan badan dan hati akal pikiranmu harus disandarkan kepada kepasrahan yang mutlak kepada Gusti Allah. Dengan demikian maka semua usaha dan tindakanmu pasti mendapat tuntunan. Dan Ingat dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada apapun yang tidak mungkin bagi Gusti Allah. KekuasaanNya bekerja di mana saja, setiap saat dan abadi. Mau dan siapkah engkau untuk membuka hati nuranimu, menyerahkan jiwa ragamu dalam kekuasaan dan bimbingan Gusti Allah dengan sepenuh iman, ikhlas, dan tawakal?"
"Saya mau dan siap, eyang!"
Kata Aji dengan tegas.
"Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam kamar dan pesan kepada ibumu agar jangan mengganggu kita sebelum kita keluar dari dalam kamar."
Aji lalu berlari keluar, ke warung nasi ibunya.
"Ibu, Eyang Guru minta agar ibu tidak mengganggu kami berdua yang berada dalam kamar. Eyang hendak memberi pelajaran kepadaku."
Warsiyem mengangguk-angguk dan tersenyum senang.
"Baiklah, Aji. Taati semua perintah dan petunjuk gurumu dengan sepenuh hati."
"Baik, ibu."
Aji memasuki kamarnya yang kini diperuntukkan Ki Tejobudi.
"Ji, berdirilah di dekatku dan tirukan gerakan tanganku dan ulangi ucapanku. Lakukan dengan seluruh perasaan hatimu dan dengan segala kerendahan hati karena kita menghadap ke hadirat Gusti Allah."
Aji lalu berdiri, di samping kakek itu agak dibelakangnya dan mengheningkan cipta seperti yang pernah diajarkan mendiang bapaknya.
Seluruh cita rasa dan batinnya dia tujukan kepada keberadaan Gusti Allah.
Dia mengikuti gerakan kakek itu ketika Ki Tejobudi mengangkat kedua tangannya dan menirukan kata-kata yang diucapkan dengan lirih dan dengan suara menggetar oleh kakek itu.
"Duh Gusti Allah sesembahan dan pujaan hamba. Disaksikan langit dan bumi beserta segala isinya, hamba berjanji bahwa akan mempergunakan segala kepandaian yang Paduka karuniakan kepada hamba untuk prikemanusiaan sejalan dengan kehendak Paduka. Hamba menyerahkan jiwa dan raga hamba ke dalam kekuasaan Paduka, semoga Paduka menerima dan memberi bimbingan dan perlindungan kepada setiap langkah dalam kehidupan hamba. Amin!"
Ki Tejobudi menggerakkan kedua tangan bertemu di depan dada membentuk sembah.
Setelah diam beberapa saat lamanya, di mana Aji merasa seperti tenggelam ke dalam kehampaan yang mendatangkan perasaan seolah dia sedang melayang-layang mulailah Ki Tejobudi menggerakkan kedua tangannya dalam gerakan silat yang lembut sekali.
Gerakannya seperti orang menari saja, sama sekali tidak mengandung kekerasan seperti gerakan silat pasa umumnya.
Aji memperhatikan dan meniru gerakan kakek itu dengan seksama.
Dari bekal ilmu silat yang dipelajarinya dari mendiang ayahnya dan dia tahu bahwa ilmu silat harus dilakukan dengan gerakan sempurna, setiap gerak jari dan pergelangan tangan harus tepat dan setiap gerakan harus diikuti oleh perasaan sehingga gerakan itu tidak menjadi kaku dan dapat menyatu dengan seluruh anggauta tubuh, Dengan latihan yang tekun, menyatukan perasaan dengan setiap gerakan, maka gerakan itu akan menjadi gerakan otomatis, merupakan gerakan yang dipimpin oleh reflex sehingga gerakan itu dalam menaggapi gangguan dari luar amat cepatnya, lebih cepat daripada jalannya pancaindera ke pikiran.
Ki Tejobudi hanya bergerak selama lima jurus saja.
"Ingat baik-baik lima gerakan pertama tadi, Aji. Sekarang coba engkau bergerak sendiri."
Aji mengingat-ingat, lalu bergerak seperti tadi.
Mula-mula kedua tangan diangkat ke atas, lalu membuat sembah dan mulailah dia bergerak seperti tadi.
Ki tejobudi memperhatikan dan kadang memberi petunjuk apabila ada gerakan Aji yang dianggapnya kurang sempurna.
"Nah, kaulatih lima gerakan itu sampai menjadi gerakan otomatis, Aji. Sekarang dengarkanlah baik-baik. Semua gerakan itu adalah olah raga, namun herus didasari kepasrahan kepada kekuasaan Gusti Allah, tidak lagi dikendalikan oleh pikiran. Mulai sekarang, seperti yang sudah kaujanjikan tadi, engkau harus menyerahkan segala sesuatunya kepada kekuasaan Gusti Allah, biarlah kekuasaan Gusti Alah yang akan membimbingmu dalam segala langkah hidupmu."
"Apakah Eyang guru maksudkan bahwa saya tidak lagi boleh berusaha dengan kemauan sendiri, melainkan menyerah secara bulat kepada Gusti Allah?"
"Jangan salah mengerti penyerahan, Aji. bukan berarti penyerahan secara mandeg dan mati, membiarkan Gusti Allah bekerja sendiri dan kita tinggal enak-enak saja! Itu berarti malah menentang kehendak Gusti Allah. Manusia dilahirkan disertai alat-alat yang serba lengkap. anggauta tubuh yang sempurna, hati akal pikiran dan disertai nafsu-nafsu, semua itu untuk membantu kita dalam hidup ini dan dapat menikmati hidup. Sudah menjadi kehendak Gusti Allah bahwa semua perlengkapan itu harus kita pergunakan, harus kita kerjakan! Manusia hidup wajib berikhtiar, berusaha sekuat kemampuannya, menggunakan anggauta tubuhnya dan hati akal pikirannya. Kita tidak boleh menggantungkan kepada kekuasaan Gusti Allah semata, melainkan harus membantu! Akan tetapi, segala ikhtiar itu kita landaskan kepada penyerahan dengan keyakinan bahwa hasil keputusan terakhir berada dalam kekuasaanNya. bukan tergantung kepada usaha kita. mengertikah engkau, Aji?"
"Saya berusaha untuk mengerti, Eyang. Akan tetapi Eyang mengajarkaan agar saya menyerah kepada kekuasaan Tuhan, di samping itu mengajarkan agar saya beusaha sekuat kemampuan saya. Bukankah dua hal ini berlawanan?"
"Sama sekali tidak, Aji. Kalau engkau sudah dapat berpasrah diri secara total, pasrah lahir batin, kepasrahan yang mendasari semua langkah hidupmu, maka Gusti Allah akan manunggal dengan jiwamu dan kekuasaan itu atau Sang Dewa Ruci (Roh Suci) yang akan menuntun semua hati akal pikiranmu, ucapanmu, dan tindakanmu. Sudahlah, Aji, hal ini amat gawat, tidak dapat kau jangkau dengan hati akal pikiranmu. Menyerah saja dengan ikhlas, beriman dan tawakal, dan Gusti Allah akan membuatmu mengerti sendiri."
Demikianlah, mulai hari itu Ki Tejobudi memberi gemblengan kepada Lindu Aji, bukan saja penggemblengan olah raga, melainkan juga olah jiwa.
Selain ilmu-ilmu silat yang tinggi tingkatnya, Aji juga memperdalam ilmu pencak silat yang dipelajari dari mendiang ayahnya dengan petunjuk Ki Tejobudi.
Dan sebagai puncaknya, dia menerima pelajaran yang disebut Aji Tirta Bantala (Ilmu Air dan Bumi) yaitu dua unsur yang pada hakekatnya selalu mengalah dan menyerah, namun yang pada akhirnya mengandung kekuatan yang luar biasa, mengalahkan segala yang tampak kuat dan keras.
Aji Tirta Bantala ini yang didasari penyerahan kepada kekuasaan kepada Gusti Allah seperti yang diajarkan Ki Tejobudi.
Adapun ilmu-ilmu silat yang diajarkan kepada Lindu Aji adalah apa yang disebut Aji Surya Candra (Matahari dan Rembulan), Aji Guruh Bumi yang berdasarkan tenaga sakti, dan ilmu pencak silat Wanara Sakti (kera Sakti).
Selama lima tahun Aji belajar dengan tekun di bawah bimbingan Ki Tejobudi.
Sang Bathara Kala (sang Waktu) berlalu cepat sekali tanpa terasa dan kini Lindu Aji telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun.
Tubuhnya jangkung tegap, wajahnya tampan manis, sikapnya sederhana dan rendah hati, sama sekali tidak berkesan seorang jagoan, akan tetapi langkahnya seperti seekor harimau dan sepasang matanya yang bersinar lembut itu kadang dapat mencorong penuh wibawa.
Ki Tejobudi kini semakin tua dan sakit-sakitan.
Akhirnya dia jatuh sakit dan tidak dapat turun lagi dari atas pembaringannya.
Aji merawatnya dengan penuh kebaktian, Juga ibunya, Warsiyem merawat kakek itu seperti kepada ayah sendiri sehingga Ki Tejobudi merasa berterima kasih dan terharu sekali.
Ketika penyakitnya semakin parah, pada suatu pagi Ki Tejobudi memanggil Warsiyem dan Lindu Aji ke dalam kamarnya.
Ibu dan anak itu duduk di tepi pembaringan di mana tubuh yang kurus kering kakek itu rebah dan napasnya tinggal satu-satu.
"Nini Warsiyem,"
Kata Ki Tejobudi dengan suara yang lemah dan lirih, namun cukup jelas bagi ibu dan anak itu.
"Andika seorang wanita dan ibu yang baik budi. semoga Gusti Allah memberkahimu. Selama lima tahun andika menerima dan menganggap diriku seperti orang tua sendiri. Andika seorang janda dan aku melihat Ki Parto yang telah menjadi duda sejak tiga tahun yang lalu itu seorang yang baik, dia sahabat baik mendiang suamimu dahulu, dan aku dapat melihat bahwa dia mencintamu dan juga sayang kepada Aji. Kenapa andika menolak pinangannya? akan baik sekali kalau andika dapat menjadi isterinya."
"Paman, harap jangan berkata begitu....."
Warsiyem menundukkan muka dan kedua air matanya menjadi basah.
Memang, beberapa bulan yang lalu Parto pernah meminangnya.
Parto tetangganya itu kini sudah menjadi duda, kematian isterinya tiga tahun yang lalu dan dia tidak mempunyai anak.
Ia sendiri seorang janda berusia kurang lebih tiga puluh delapan tahun, masih manis menarik karena sudah empat kali ia dipinang orang dan selalu ditolaknya dengan halus.
Pinangan terakhir datang dari Parto yang juga ditolaknya dan sekarang, dalam keadaan gawat penyakitnya itu, kakek yang sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, menganjurkan ia menikah dengan Parto.
"Paman, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, berjanji kepada Akang Uun bahwa saya tidak akan menikah lagi. Tidak mungkin saya dapat melayani laki-laki lain, paman. Kang Uun adalah satu-satunya pria yang saya cinta, ngeri dan tidak dapat saya membayangkan harus berdua saja dengan anakku Aji, paman."
Teringat akan suaminya, Warsiyem menyeka air matanya.
"Ibu, apa yang dikatakan Eyang Guru tadi benar. Paman Parto itu orangnya amat baik kepada kita, Ibu masih muda dan aku sama skali tidak keberatan kalau ibu menikah dengan Paman Parto. Dia sudah seperti ayahku sendiri dan aku yakin, bapak tentu juga rela kalau ibu menjadi isteri Paman Parto."
Kata Aji dengan lembut. Dia mengira bahwa penolakan ibunya itu karena merasa rikuh kepadanya.
"Aji, cukup, jangan bicara lagi. Sampai mati aku tidak akan menikah lagi. Aku akan setia kepada bapakmu sampai ajal membawaku berkumpul kembali dengan bapakmu. Aku sudah bicara dengan Kang Parto. Ia kuanggap sebagai kakakku sendiri dan ia menerimaku sebagai adiknya. Maafkan saya, Paman. saya tidak dapat menaati anjuran paman tadi."
Ki Tejobudi menghela napas panjang.
"Demi Tuhan! Andika seorang wanita yang baik dan setia, nini. Aku kagum dan bangga. Mendiang suamimu sungguh beruntung mempunyai seorang isteri sepertimu dan Aji juga berbahagia sekali mempunyai seotrang ibu sepertimu. Sudahlah, lupakan anjuranku tadi, keputusanmu itu baik sekali. Aku tadi menganjurkan demikian karena puteramu Aji harus pergi mengabdikan diri kepada nusa dan bangsa, nini sehingga andika akan ditinggal seorang diri di sini."
"Kalau memang sudah seharusnya anakku pergi melaksanakan perintah Paman, saya sanggup hidup seorang diri. Bukankah di sebelah masih ada kang Parto yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri?"
"Bagus sekali kalau begitu. Sekarang, Aji, dengarkan baik-baik kata-kataku. Ini merupakan pesan terakhir dariku."
"Eyang......."
"Paman.......!"
Ibu dan anak itu terkejut.
"Kalian tenanglah. Aku bersukur kepada Gusti Allah bahwa pada saat terakhir ini ada kalian berdua yang menungguiku dengan kasih sayang. Dahulu aku juga mempunyai isteri, akan tetapi tidak sebaik nini Warsiyem. Aji, aku meninggalkan seorang anak, namanya Sudrajat, panggilannya Ajat. Dia ikut saudara tunggal guru denganku yang kini menjadi ayah tirinya yang namanya Ki Tejo Langit dan hidup di Banten tempat asalku. Carilah Ajat dan beritahukan bahwa aku, ayah kandungnya, telah meninggal dunia dengan tenteram dan bahagia."
"Akan saya ingat pesan eyang dan akan saya laksanakan."
Kata Aji sambil menahan keharuan hatinya.
Di dalam hatinya telah tumbuh rasa hormat, segan dan sayang kepada orang tua ini yang selain mewariskan ilmu-ilmu kedigdayaan kepadanya, juga telah membantunya dalam kebangkitan jiwanya.
"Pesanku yang kedua, angger, jangan membiarkan semua yang telah kaupelajari menjadi sia-sia. Segala macam kepandaian kalau tidak dipergunakan untuk perikemanusiaan, tidak ada gunanya dan mati. Karena itu, pergilah merantau dan di mana saja engkau berada, berjuanglah untuk kepentingan manusia, bela mereka yang lemah tertindas, dan tentanglah segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan orang. Engkau adalah kawula Mataram, membantu Sang Prabu Pandan Cokrokusumo, Sultan Agung, raja yang arif bijaksana dari Mataram yang sedang menghadapi sang angkara murka, Kumpeni Belanda."
Aji sudah mendengar penuturan gurunya itu tentang gerakan Kumpeni Belanda, maka diapun mengangguk-angguk.
"Pesan kedua eyang akan saya laksanakan sekuat kemampuan saya, Eyang."
"Bagus, engkau tentu masih ingat. Segala tindakan lakukanlah dengan sekuat kemampuanmu, namun harus dilandasi kepasrahan kepada kekuasaan Gusti allah."
"Saya mengerti dan masih ingat akan semua pelajaran Eyang."
"Nah, sekarang pesanku yang ketiga, terakhir dan juga terpenting. Kalian berdua pernah bercerita padaku tentang kematian Harun yang terbunuh oleh seorang jagoan dari Galuh bernama Raden Banuseta, putera dari mendiang Aom Bahrudin yang dahulu dibunuh oleh Harun."
Kakek itu menghela napas panjang.
"Aaahhh, hukum karma, dendam mendendam, balas membalas..... terima kasih kepada Gusti Allah bahwa aku tidak sampai terjerat oleh rantai karma. Aji, ingat dan taatilah nasihatku, jangan sekali-kali engkau mendendam kepada Raden Banuseta atas kematian ayahmu....."
"Akan tetapi, Paman!"
Warsiyem membantah.
"Bagaimana kami tidak boleh mendendam? Raden Banuseta itu telah membunuh suamiku tercinta, membunuh ayah Lindu Aji!"
"Ibu benar, Eyang. Eyang sendiri mengajarkan kepada saya untuk menentang orang yang bertindak jahat. Banuseta itu telah membunuh bapak saya, bukankah sudah menjadi kewajiban saya untuk menentangnya?"
Kakek itu menghela napas lagi dan suaranya kini semakin lirih dan agak sukar, seolah dia harus megeluarkan seluruh sisa tenaganya untuk dapat berbicara.
"dendam mendendam, benci membenci, balas membalas, bunuh mebunuh! Rantai beracun ciptaan iblis itu tidak akan ada hentinya kalau kita tidak berani memutusnya! Banuseta membunuh Harun karena Harun membunuh Aom Bahrudin. Kalau kemudian engkau membunuhnya, apa kaukira tidak ada anaknya, ataupun saudara dan sanak keluarganya yang tidak akan mendendam lalu berusaha untuk membalas dan membunuhmu? Kemudian mungkin keturunanmu atau kerabatmu kembali mendendam dan membalas. Tidak akan ada habisnya saling bunuh itu, membiarkan iblis menggunakan nafsu amarah dan kebencian untuk mempermainkan manusia."
"Eyang, lalu apa yang harus saya lakukan? Apakah saya tidak boleh menentang Banuseta yang melakukan kejahatan? Apakah saya harus mendiamkan saja orang itu melakukan kejahatan dan membunuhi orang ?"
Kembali kakek itu menghela napas panjang seperti hendak mengumpulkan tenaga.
"Sama sekali tidak, angger. Kalau ternyata dia jahat, tentu saja sudah menjadi kewajibanmu untuk menentangnya. Akan tetapi penentanganmu iu semata-mata berdasarkan karena dia jahat dan mengganggu orang lain yang tidak berdosa. Jangan sekali-kali penentanganmu itu berdasarkan kemarahan, kebencian dan dendam pribadi. mengertikah engkau, Aji?"
Lindu Aji menundukkan mukanya dan menjawab lirih dan patuh.
"Saya mengerti, Eyang."
"Jangan sekali-kali membiarkan kebencian dan dendam tumbuh dan berkembang dalam hatimu karena peasaan itu merupakan nafsu seta yang merupakan racun berbahaya dan yang akan menyeretmu ke dalam perbuatan yang tidak diridhoi Guti Allah. Kalau engkau belum mampu menghadapi perbuatan kejahatan dengan kebaikan, maka hadapi kejahatan dngan keadilan yang bebas dari marah, benci dan dendam. engkau masih ingat bagaimana jika iblis menggodamu dan membangkitkan kemarahan dan kebencian dalam hatimu, Aji?"
"Masih, Eyang. Saya akan berpasrah diri kepada Gusti Allah dan mohon petunjuk dan bimbinganNya."
"Bagus, wah, aku merasa berbahagia sekali. Nini warsiyem dan Lindu Aji, sudah cukup pesanku, sekali lagi aku berterima kasih kepada kalian..... semoga Gusti Allah selalu memberi berkah dan tuntunan kepada kalian berdua..... amin, amin, ya rabba"l alamin!"
Kakek itu memejamkan kdua matanya, melipat kedua lengan di atas dada dan bibirnya bergerak-gerak, terdengar bisikan berulang-ulang "Allahu Akbar..... Allahu Akbar..... Allahu Akbar....."
Makin lama suaranya semakin lemah sehingga akhirnya tak terdengar lagi, hanya bibirnya yang bergerak-gerak, kemudian bibir itupun terdiam dan kakek itu menghembuskan napas terakhir, Ibu dan anak itu merasakan benar bahwa kakek itu telah wafat, mereka berbisik-bisik.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun......!"
Para tetangga datang melayat.
Hampir semua penduduk dusun Gampingan datang melayat sampai jenasah itu dikebumikan.
Biarpun semua orang di Gampingan mengetahui bahwa kakek yang tua renta dan tampak lemah berpenyakitan itu menjadi guru Lindu Aji, akan tetapi tidak seorangpun menyangka bahwa dari kakek itu Aji telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi dan hebat.
Hal ini adalah karena Aji tidak pernah menonjolkan diri dan tidak pernah memperlihatkan ilmunya kepada orang lain.
Setelah Ki Tejobudi wafat, ibu dan anak itu setiap hari bekerja seperti biasa.
Warsiyem tetap berjualan nasi di S warungnya dan Aji bekerja di sawah ladang milik mereka.
Semua berjalan seperti biasa dan Aji melihat betapa sikap tetangga mereka, Parto, tetap baik dan ramah kepada mereka.
bahkan sikapnya terhadap ibunya tampak melindungi dan dalam percakapan dengan duda berusia lima puluh tahun itu, jelas terbayang bahwa laki-laki itu menganggap Warsiyem sebagai adiknya sendiri.
Hal ini membahagiakan hati Aji, karena bagaimanapun juga, hatinya merasa lebih bahagia kalau ibunya tetap setia kepada ayahnya dan tidak menikah lagi dengan pria lain.
Pagi itu Aji dan ibunya sudah sibuk.
Sebagai penjual nasi dan segala lauk pauknya, makanan dan minuman, sejak sebelum fajar mereka berdua sudah bangun dan sibuk di dapur, mempersiapkan masakan dan minuman.
Setiap pagi aji buka warung nasi dan menyapu pekarangan membersihkan rumah, barulah dia pergi ke ladang.
Setelah membantu ibunya membuka warung, pada pagi hari yang cerah itu Aji menyapu pekarangan.
dua batang pohon mangga di pekarangan itu mulai berbunga lebat.
Tiba-tiba terdengar jerit seorang wanita.
"..... anak-anakku.....! Tolong anak-anakku..... aduhhh..... tolong.....!"
Suara itu bercampur tangis, datangnya dari arah selatan.
Aji melepaskan sapunya dan berlari keluar dari pekarangan menuju ke jalan di depan.
Warsiyem juga mendengarnya dan iapun keluar dari warungnya, berlari menuju selatan.
Seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, gelung rambutnya sepanjang punggung itu awut-awutan, pakaiannya kusut dan mukanya basah air mata, berlari terhuyung-huyung memasuki dusun Gampingan dari selatan.
Karena rumah Warsiyem berada di ujung selatan dusun itu, maka ia dan Aji yang lebih dulu mendengar jerit tangis wanita itu.
"Bibi, ada apakah, bibi?"
Tanya Aji sambil menghadang di tengah jalan.
Melihat ada orang menegurnya, wanita itu mulai menangis tersedu-sedu dan yang keluar dari mulutnya hanyalah kata-kata ".....
anak-anakku.....
tolong anak-anakku....."
Akan tetapi kata-katanya itu tertutup oleh tangisnya dan matanya liar penuh rasa takut berulang kali memandang ke belakang, ke arah selatan. Warsiyem sudah tiba di situ dan ia merangkul wanita itu.
"Tenanglah, dik dan ceritakan apa yang telah terjadi dengan anak-anakmu."
Rangkulan dan ucapan Warsiyem itu agaknya dapat menenangkan hati wanita itu.
"Aduh, mbakyu..... anak-anakku..... dua orang anakku diculik orang."
"Diculik orang? Di mana?"
Tanya Aji. Wanita itu menghadap ke selatan dan menudingkan telunjuknya.
"Ketika kami berjalan sampai di luar dusun ini, tiba-tiba ada seorang perempuan berpakaian mewah bertemu dengan kami. Ia memandang anak-anakku, seorang anak laki-laki dan perempuan berusia tujuh dan lima tahun, dan bilang ia mau membeli anak-anakku. Tentu saja aku menolaknya dan tiba-tiba ia memondong kedua orang anakku dan membawa mereka lari menuju selatan. Tolong..... tolonglah mereka....."
"Ibu, ajak bibi ini ke rumah, aku akan mencoba melakukan pengejaran!"
Kata Aji dan diapun sudah melompat dan lari ke arah selatan.
"Aji.....! Hati-hatilah.....!"
Seru ibunya.
"Baik ibu!"
Jawab Aji tanpa menghentikan larinya.
Dia pernah melatih diri dengan ilmu meringankan tubuh dan lari cepat yang disebut Aji Bayu Sakti.
Setelah mempergunakan aji itu, dia berlari cepat sekali seolah kedua kakinya tidak lagi menginjak bumi.
Bagaikan terbang tubuhnya meluncur ke arah selatan, ke arah Laut Kidul!
Akan tetapi dia tidak melihat orang.
Sejak tadi ia memperhatikan kalau-kalau ada orang di sepanjang perjalanan.
Akan tetapi daerah itu sepi saja.
Mungkin hari masih terlalu pagi.
Sampai dia tiba di pantai laut, dia tidak melihat seorangpun.
Dia termangu-mangu menyusuri pantai menuju ke arah bukit karang yang menjulang di tepi pantai.
Tiba-tiba hatinya tertarik sekali melihat ada jejak kaki memasuki pantai berpasir dan menuju ke bukit karang.
Dia sudah mengenal betul daerah pantai ini.
seringkali dia mencari ikan, bermain-main seorang diri, berenang dan berlatih silat kalau tidak ada orang melihatnya.
Karena sering bermain di laut inilah dia juga pandai sekali berenang.
Dia tahu bahwa di atas bukit karang itu terdapat banyak guha besar kecil yang tidak pernah dikunjungi orang, guha yang menjadi sarang burung-burung walet.
Dia merasa ragu, Apakah penculik dua orang anak itu mendaki bukit?
Jejaknya berhenti di kaki bukit.
Ini menunjukkan bahwa penculik itu tentu membawa dua orang anak yang diculiknya ke atas bukit.
Tetapi untuk apa?
Dan mengapa?
Dia belum tahu siapa wanita itu yang mengaku dua orang anaknya diculik.
Akan tetapi melihat sekelebatan saja dia tahu bahwa ia hanya seorang wanita dusun biasa.
Dari pakaiannya ia adalah seorang wanita tani.
Apanya yang berharga atau menarik minat seorang penculik akan diri dari dua orang anak petani miskin?
Sungguh aneh, mengherankan sekali.
Aji mulai mendaki bukit batu karang itu, perlahan-lahan sambil memandang ke sekeliling dan memperhatikan dengan pendengarannya.
tiba-tiba dia mendengar teriakan anak-anak, hanya satu kali lalu suara itu bungkam kembali.
suara itu terdengar dari arah atas, sebelah kirinya.
Dia lalu berloncatan menuju ke arah dari mana datangnya suara tadi.
Tidak tampak sesuatu yang mencurigakan di sana.
Selagi dia mencari-cari dengan pandang matanya, dia memutar tubuhnya memandang ke bawah kembali dan dia melihat bayangan seorang berkelebat, lari menuruni bukit batu karang itu.
Dia terkejut dan menjadi penasaran sekali, merasa tertipu oleh suara jerit kanak-kanak tadi.
Kiranya selagi dia berlari naik mendaki bukit, ada orang yang melarikan diri menuruni bukit batu karang itu.
Dia mengerahkan tenaga dan berloncatan turun.
Karena dia mengerahkan semua ilmunya berlari cepat berdasarkan ilmu meringankan tubuh, maka dia dapat berlari secepat terbang menuruni bukit itu.
Ketika dia tiba di kaki bukit karang, dia melihat seorang wanita berlari di atas pantai berpasir.
Larinya cepat sekali walaupun dia memondong dua orang anak kecil di kedua pundaknya.
Dua orang anak itu tampak diam saja dan tidak meronta lagi, seperti tertidur di atas pundak wanita itu.
Aji merasa tegang hatinya ketika timbul dugaan bahwa kedua orang anak itu jangan-jangan sudah mati!
Dia mengerahkan tenaga sekuatnya sehingga larinya cepat sekali dan akhirnya dia dapat menyusul wanita itu.
"Sobat, berhenti dulu!"
Seru Aji sambil melompat mendahului dan memutar tubuhnya menghadapi wanita itu.
Dia tertegun juga melihat seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun namun lagaknya seperti seorang gadis belasan tahun, rambutnya panjang ikal mayang dan hitam, dibiarkan terurai dan kepalanya terhias semacam tiara dari emas berhiaskan intan permata.
Wajah yang bentuknya bulat itu cantik sekali, kulitnya putih mulus, sepasang matanya lebar, hidungnya mancung dan mulutnya memiliki daya tarik luar biasa, bibirnya penuh dan merah membasah.
Mata dan mulut itu mengandung daya tarik dan memikat, senyum dan kerling matanya genit.
Tubuhnya yang ramping padat itu mengenakan pakaian mewah dari sutera halus, telinganya memakai hiasan telinga, lehernya berkalung emas, dan kedua lengannya juga terhias gelang emas.
Pantasnya ia seorang puteri bangsawan yang kaya raya!
Akan tetapi sinar matanya yang tajam dan genit itu mengandung kekerasan, kekejaman yang mengerikan.
Sejenak Aji bertatap pandang dengan mata wanita itu dan hatinya merasa lega ketika dia dapat melihat bahwa dua orang anak itu tidak mati melainkan tidur atau lebih mungkin sekali, pingsan.
Sepasang bibir berbentuk indah dan merah itu terbuka membentuk senyum dan tampak kilatan gigi yang berderet rapid an putih bersih.
"Aeh, pemuda tampan, siapakah andika dan kenapa andika berlari-lari mengejarku?"
Senyum itu melebar dan mata itu mengamati Aji dari kepala sampai ke kaki seperti mata seorang pedagang kuda mengamati seekor kuda yang hendak dibelinya!
Agak canggung dan rikuh juga rasa hati Aji berhadapan dengan seorang wanita cantik berpakaian mewah itu.
Biasanya dia hanya bergaul dengan para wanita dusun yang sederhana.
Dia menelan ludah menenagkan hatinya yang gugup, lalu menjawab sambil memandang kepada dua orang anak yang berada di atas kedua pundak wanita itu.
"Aku bernama Lindu Aji dan tadi aku bertemu dengan seorang ibu yang mengatakan bahwa dua orang anaknya diculik seorang wanita. tentu andika penculiknya dan kuharap andika suka membebaskan dua orang anak yang tidak berdosa itu agar mereka dapat kukembalikan kepada ibu mereka."
Wanita itu tertawa dan mulutnya terbuka semakin lebar sehingga kini giginya yang berderet rapi dan putih itu tampak lebih banyak. Juga tampak lidahnya yang merah muda berujung runcing.
"Heh-heh-hi-hi-hik! Lindu Aji, pemuda tampan, engkau menghendaki dua orang anak ini, boleh, akan kubebaskan mereka akan tetapi sebagai gantinya engkau harus ikut aku bersenang-senang selama tiga hari tiga malam!"
Wanita itu lalu melepaskan dua orang anak yang dipanggulnya ke atas tanah.
Dua orang anak itu rebah miring di atas tanah dan kini Aji merasa yakin bahwa mereka itu pingsan.
Wajah Aji menjadi merah mendengar ucapan itu.
Biarpun dia belum pernah akrab dengan wanita, namun dia sudah cukup dewasa untuk dapat menangkap apa yang dimaksudkan wanita itu.
"Aku hanya menghendaki agar engkau menyerahkan dua orang anak itu kepadaku untuk dikembalikan kepada ibunya. Aku tidak menginginkan apapun darimu!"
Katanya dengan suara tegas dan jelas mengandung penolakan atas ajakan wanita itu.
"Hei pemuda tampan tapi tolol! Engkau belum mengenal siapa aku, ya? Aku adalah Nyi Maya Dewi. di seluruh Pejajaran, dari puncak gunung-gunung sampai ke tepi laut selatan, tidak ada seorangpun laki-laki yang tidak merindukan diriku. Mereka akan berebutan untuk menjadi pilihanku, mereka akan rela mati asal dapat bersamaku semalam saja. Para muda bangsawan dan hartawan, semua merindukan aku dan sekarang andika berani menolak ajakanku?"
Nyi Maya Dewi mengerutkan alisnya dan marah karena merasa terhina.
Belum pernah selama hidupnya ia ditolak laki-laki, apalagi hanya seorang pemuda berpakaian petani seperti ini!
Aji juga mengerutkan alisnya.
"Nyi Maya Dewi, bagaimanapun juga, aku bukan seorang di antara laki-laki yang kau maksudkan tadi. Sudahlah, sekarang aku hendak mengembalikan anak-anak ini kepada ibu mereka, aku tidak ada waktu untuk melayanimu lebih lama lagi."
Setelah berkata demikian, Aji menghampiri dua orang anak yang masih rebah miring di atas tanah itu.
Akan tetapi tiba-tiba ada angin dahsyat menyambar.
Semua ilmu silat yang pernah dilatih oleh Aji sudah mendarah daging di tubuhnya, maka diapun segera mengetahui bahwa ada serangan dahsyat mengancamnya.
dengan gerakan lincah dia melompat ke belakang dan tendangan kaki Nyi Maya Dewi hanya mengenai tempat kosong.
Aji terheran-heran, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa seorang wanita cantik seperti Nyi Maya Dewi itu dapat menyerang dengan tendangan kaki yang demikian kuatnya sehingga angin tendangan itu menyambar dengan dahsyatnya.
Sebaliknya Nyi Maya Dewi juga terbelalak heran.
Tadi ia sudah yakin bahwa sekali tendang saja ia akan dapat merobohkan pemuda yang dianggapnya sombong itu.
Akan tetapi ternyata tendangannya luput dan dapat dielakkan pemuda itu.
Tentu saja ia menjadi penasaran.
Cepat ia melangkah maju mengejar dan kembali kaki kanannya mencuat dalam tendangan yang lebih kuat daripada tadi.
Kaki kecil mungil itu dengan kuatnya menyambar ke arah perut Aji.
Pemuda itu maklum betapa kuatnya tendangan itu dan dapat membahayakan dirinya kalu sampai perutnya terkena tendangan.
Dia mundur selangkah dan tangan kirinya bergerak ke bawah untuk menangkis kaki yang menendangitu.
Karena maklum bahwa wanita itu memiliki tenaga besar, maka diapun mengerahkan tenaga ke dalam tangan kirinya yang menangkis.
"Syuuuttt..... dukkkk!!"
Dengan tangan miring Aji menangkis tendangan itu.
Nyi Maya Dewi mengeluarkan teriakan kaget.
Kakinya yang tertangkis tadi terpental dan terasa nyeri.
Dengan gerakan ringan ia melangkah empat kali ke belakang.
Kaki kanannya terasa berdenyut-denyut nyeri seolah tadi bertemu dengan sepotong baja.
Maklumlah ia bahwa yang disangkanya hanya seorang pemuda petani biasa yang lemah itu ternyata seorang pemuda yang memiliki kegesitan dan tenaga besar.
Hatinya semakin tertarik dan gairahnya semakin besar untuk dapat memiliki pemuda itu.
Ia lalu berkemak kemik, megerahkan kekuatan sihirnya dan sepasang matanya mencorong menatap titik di antara kedua alis Aji lalu mulutnya berkata dengan suara mengandung wibawa.
"Lindu Aji, aku perintahkan ke padamu, berlututlah andika ke padaku!"
Tangannya digerakkan, telunjuknya menuding ke arah Aji.
Pemuda itu mendadak dikuasai tenaga aneh yang mendorongnya untuk menjatuhkan diri berlutut kepada wanita itu.
Akan tetapi saat itu dia teringat akan semua gemblengan yang diterimanya dari mendiang Ki Tejobudi dan tahulah dia bahwa ada kuasa gelap menyerangnya.
Dia segera mengangkat kedua tangan ke atas dan membaut gerakan menyembah di depan dada.
Perasaan sejuk, tenteram dan kuat sekali memasuki dirinya dan mengusir dorongan tidak wajar tadi, Dia memandang wanita itu, tersenyum dan berkata dengan lembut dan penuh kesabaran.
"Nyi Maya Dewi, kalau andika ingin berlutut, mengapa tidak andika lakukan saja sendiri?"
Terjadi keanehan.
mandadak saja wanita cantik itu menekuk kedua lututnya dan ia sudah berlutut menghadap Aji!
Akan tetapi hal ini terjadi hanya sebentar saja karena Nyi Maya Dewi segera menyadari akan keadaannya.
Ia memekik marah dan melompat berdiri.
Matanya mencorong seperti mengeluarkan api ketika ia memandang Aji.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pemuda ini selain bertenaga besar, juga mampu menolak sihirnya bahkan membalikkan daya sihirnya menyerang dirinya sendiri!
"Keparat, engkau sudah bosan hidup!"
Bentak wanita itu dengan suara melengking saking marahnya dan tangan kanannya melepaskan sehelai sabuk sutera berwarna emas yang panjangnya tidak kurang dari dua meter, Inilah senjata wanita itu, senjata yang aneh tetapi amat ampuh, disebut Sabuk Cinde Kencana.
Begitu ia menggerakkan sabuk sutera itu, tampak sinar emas berkelebat di udara dan terdengar bunyi ledakan nyaring.
"Tar-tar-tar.....!!"
Akan tetapi Aji tidak menjadi gentar.
Biarpun selama hidupnya baru satu kali berkelahi, yaitu ketika melawan mendiang Singowiro dan dua orang kawannya, namun ilmu-ilmu yang dipelajarinya telah mendarah daging sehingga setiap saat dapat saja dia pergunakan untuk membela diri dari ancaman bahaya yang menyerangnya.
Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang, lutut agak ditekuk sedikit, seluruh syaraf di tubuhnya siap namun tubuhnya tidak kaku melainkan lentur, kedua kakinya ringan dan sepasang matanya mencorong menatap wajah wanita itu.
"Nyi Maya Dewi, aku tidak ingin bermusuhan dan berkelahi denganmu. Akan tetapi katakanlah, mengapa engkau menculik dua orang anak ini? Apakah kesalahan mereka atau ibu mereka kepadamu. Dan akan engkau apakan mereka?"
Kata Aji sambil mengalihkan pandang matanya kepada dua orang anak itu.
Dua orang anak itu ternyata sudah sadar dan duduk di atas pasir.
Anak laki-laki yang berusia kurang lebih tujuh tahun itu merangkul adiknya, anak perempuan yang berusia lima tahun dan yang menangis lirih.
"Lindu Aji, apa perdulimu dengan urusan pribadiku! Aku hendak menculik atau membunuh siapapun juga, apa urusanmu?"
Bentak wanita itu dan kini bagi Aji, kecantikan wanita itu berubah menyeramkan, cantik akan tetapi wajah itu penuh sinar mengerikan, kejam dan jahat sekali, seperti wajah iblis betina!
Mata itu seperti mata seekor anjing gila yang pernah dia lihat di dusun kemudian dibunuh ramai-ramai oleh penduduk.
"Aku tidak akan perduli kalau urusan pribadimu tidak menyangkut orang lain. Engkau boleh jungkir balik, gulung koming (bergulingan), jatuh bangun atau terjun ke laut, aku tidak akan perduli. Akan tetapi kalau engkau menculik dua orang anak yang tidak berdosa, urusan itu sudah menyangkut keselamatan dua orang anak. Terpaksa aku harus mencampuri dan turun tangan."
"Hemm. begitukah, bocah sombong? Memangnya engkau ini seorang pendekar, seorang pahlawan, seorang kesatria?"
Wanita itu mengejek sambil memegang sabuk sutera emasnya, direntang melintang di depan dadanya yang membukit. Aji teringat akan pesan mendiang ayahnya dan juga mendiang gurunya dan dia menjawab gagah.
"Aku akan selalu berusaha untuk menjadi seorang penegak kebenaran dan keadilan, pembela mereka yang tertindas, dan penentang mereka yang jahat dan sewenang-wenang seperti engkau!"
"Babo-babo, Lindu Aji! Engkau bocah kemarin sore yang masih berbau brambang dan kencur! Engkau berani menentang aku, Nyi Maya Dewi yang terkenal sebagai jago betina tanpa tanding di sepanjang sungai Ci Sadea sampai ke muaranya di Laut Kidul?"
Aji tentu saja sama sekali belum pernah mendengar akan nama dan juga tempat itu yang berada jauh di barat, yang termasuk daerah Parahiyangan karena dia belum pernah beranjak dari dusunnya.
Akan tetapi dia sudah banyak mendengar dari cerita mendiang bapaknya, juga mendiang gurunya bahwa di seluruh Nusantara terdapat banyak sekali orang-orang yang sakti mandraguna, baik dari golongan bersih, yaitu para pendekar, maupun dari golongan kotor, yaitu para penjahat.
Dan agaknya wanita ini termasuk golongan kotor yang tidak segan melakukan perbuatan jahat mengandalkan kesaktiannya.
"Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu, Nyi Maya Dewi. Serahkan dua orang anak itu kepadaku dan aku akan minta maaf kepadamu atas sikapku ini."
"Engkau tidak ingin bemusuhan, akan tetapi aku ingin membunuhmu! Mampuslah! Tarrr.......!"
Sabuk di tangannya itu tiba-tiba berkelebat menyambar bagaikan kilat ke arah kepala Aji!
Aji merendahkan tubuhnya dan menggeser kakinya sehingga sambaran Sabuk Cinde Kencana itu luput mengenai kepalanya dan meluncur lewat di atas kepalanya.
Akan tetapi dengan cepat sekali sabuk bersinar keemasan itu datang menyambar lagi.
Aji mengelak lagi, hanya untuk dikejar oleh sambaran lain.
Sabuk itu bergerak cepat bukan main, menyambar-nyambar bagaikan seekor burung menyerang mangsanya.
Namun, Aji lalu memainkan ilmu silat Wanara Sakti (kera Sakti).
Sikap tubuhnya seperti seekor kera saja, berloncatan dan bergulingan, cekatan bukan main sehingga semua smbaran ujung sabuk itu tidak ada yang pernah menyentuh tubuhnya!
Mendiang Ki Tejobudi melatih Aji dengan ilmu silat yang mengandalkan kejelian penglihatan, ketajaman pendengaran, dan keringanan tubuh ini.
Ketika berlatih, Ki Tejobudi menyerangnya dengan sebatang ranting secara bertubi-tubi, makin lama semakin cepat dan Aji harus dapat mengelak dari semua serangan itu.
Bahkan lalu mempergunakan butir kacang untuk menghujaninya dengan sambitan dan pemuda itu harus mampu mengelak dari semua kacang yang menyambar.
Latihan ketajaman pendengaran dilatih dengan duduk di tepi laut mendengarkan suara air yang beraneka ragam, mencoba untuk menangkap satu-satu semua suara yang berbeda-beda itu, dan di waktu malam mendengarkan penuh perhatian akan suara kutu-kutu walang-atogo (binatang-binatang yang berbunyi di waktu malam), membedakan satu-satu semua suara yang bercampur aduk itu.
melatih kejeliaan mata dengan menampung air hujan lalu mempergunakan air dalam tempayan yang dipercik-percikkan dengan tangan ke arah kedua mata yang tetap dibuka.
Latihan seperti ini dilakukan bertahun-tahun lamanya, barulah Aji dapat melakukan ilmu silat Wanara Sakti dengan baik.
Nyi Maya Dewi menjadi penasaran bukan main.
Ia sudah menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya sehingga sabuk cinde itu lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar keemasan yang menyambar-nyambar.
Namun tak pernah senjatanya itu menyentuh pemuda yang bergerak seperti monyet sehingga tubuhnya berkelebatan dengan amat gesitnya.
Ilmu silat Wanara Sakti ini memang harus dilengkapi dengan sikap nakal seekor monyet, maka Aji lalu mengejek.
"Hayo, Nyi Maya Dewi, perlihatkan kepandaianmu. masa seorang jago betina begini lambat gerakannya? Heh-heh!"
Ejekan ini mengena. Wanita itu menjadi marah bukan main.
"Jahanam, mampus kau!"
Ia membentak dan sabuknya menyambar dengan kuat sekali.
Akan tetapi kemarahan membuat ia lengah.
Sabuknya menyambar dari atas ke bawah, ketika luput ujung sabuk menhantam batu karena tadi Aji melompat dan berdiri mengejek di atas batu itu.
"Pyarr.....!"
Batu itu pecah ketika dihantam ujung sabuk.
Kesempatan ini dipergunakan Aji untuk membalas menyerang.
Cepat sekali tangan kirinya menyambar ujung sabuk yang terhenti gerakannya sejenak setelah menghantam batu.
Dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menahan sabuk itu dan (Lanjut ke
Jilid 06) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 tangan kanannya lalu bergerak mendorong ke depan, ke arah dada lawan.
Pukulan ini juga masih merupakan jurus Wanara Sakti, akan tetapi dorongan tangan kanan itu diisi dengan tenaga sakti Surya Candra yang dahsyat.
maka ketika dia memukul, dorongan telapak tangan kanan itu mendatangkan sambaran hawa pukulan yang amat kuat.
Nyi Maya Dewi terkejut bukan main.
Tangan kanannya masih menahan dan mencoba untuk membetot lepas sabuk cindenya yang ujungnya tertangkap lawan.
Kini, melihat serangan lawan dengan dorongan tangan kanan yang mendatangkan hawa pukulan dahsyat itu, iapun cepat mendorongkan telapak tangan kirinya untuk menyambut.
inilah aji pukulannya yang ampuh, disebut Aji Wisa Sarpa (Ilmu Pukulan Bisa Ular).
Dua tenaga sakti yang keluar dari dua telapak tangan itu bertemu di udara dengan hebatnya.
"Dessss..... pratttt !!"
Tubuh Nyi Maya dewi terjengkang dan terhuyung sedangkan Aji hanya mundur dua langkah.
Wanita itu terkejut bukan main ketika melihat betapa sabuk di tangan kanannya tinggal sepotong.
ternyata sabuk itu putus di tengah-tengah!
Aji melempar potongan sabuk ke atas tanah dan berkata lembut.
"Nyi Maya Dewi, sudah kukatakan padamu bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Tinggalkan anak-anak itu dan pergilah, jangan ganggu orang lagi."
Akan tetapi Aji kecelik kalau dia menduga wanita itu akan mau sudah begitu saja.
Nyi Maya Dewi adalah seorang wanita keturunan bangsawan Pajajaran yang telah menyeleweng dan tersesat ke dalam kesesatan golongan hitam.
Ia dikenal sebagai seorang datuk wanita yang ditakuti, memiliki banyak macam ilmu kanuragan, sudah banyak pengalaman berkelahi dan banyak pula tipu muslihatnya.
Akan tetapi ia memiliki kelemahan, yaitu mata keranjang.
Ia tidak tahan melihat pria tampan, apa lagi yang gagah perkasa.
Ia tidak akan berhenti berusaha sebelum dapat memperoleh pria itu dalam pelukannya.
tentu saja hal ini tidak begitu sukar baginya karena ia memiliki kecantikan wajah dan keindahan tubuh yang membuat banyak pria tergila-gila.
Kalau sang pria menolak, ia masih dapat mengandalkan ilmu sihirnya untuk menundukkan pria itu, atau bahkan menggunakan kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya.
Kalau semua usaha gagal, ia akan membunuh pria itu!
Dan kalau berhasil, iapun hanya akan menjadikan pria itu sebagai permainan selama beberapa hari saja karena Nyi Maya Dewi adalah seorang wanita pembosan dan selalu haus akan laki-laki baru.
Mendengar ucapan Aji itu, tiba-tiba Nyi Maya Dewi tersenyum, manis sekali dan menghampiri Aji.
Dihampiri wanita itu yang makin mendekat, tentu saja Aji menjadi rikuh diapun mundur beberapa langkah.
"Aji, mengapa engkau menjauh? Aku kagum sekali padamu, Aji. Aku jatuh cinta padamu. Tidak maukah engkau menjadi sahabat baikku? Bukan saja aku akan menyerahkan anak-anak itu kepadamu, bahkan aku akan membantumu dalam segala hal. Akan tetapi bersikaplah manis padaku, jangan memusuhi aku, Aji."
Suaranya demikian merdu merayu dan memang dalam suaranya itu terkandung Aji pengasihan yang dapat menundukkan hati kaum pria.
Sejenak hati pemuda iti terguncang dan tiba-tiba dia merasa kasihan kepada wanita itu.
Akan tetapi dia tetap waspada dan menyadari bahwa perasaannya inipun tidak wajar.
Untung baginya bahwa dia telah banyak mempelajari tentang bahaya serangan ilmu sihir dan tenung dan dia telah memiliki kekuatan dasar, yaitu Aji Tirta Bantala yang berdasarkan penyerahan kepada kekuasaan Gusti Allah.
Begitu dia menyerah dan membiarkan kekuasaan gaib ini melindunginya, maka perasaan kasihan yang tidak wajar itupun lenyap.
Wajah wanita itu yang tadinya memelas tampak mengerikan kembali, wajah yang penuh rangsangan nafsu berahi.
"Nyi Maya Dewi, aku tidak memusuhimu. Pergilah dengan damai....."
"Hyaaaatttt.....!"
Tiba-tiba wanita itu menyerangnya dengan dahsyat sekali.
Kedua tangannya membentuk cakar dan sepuluh buah kuku tangannya berubah menghitam.
Bagaikan seekor kucing iapun menyerang dengan kedua cakarnya dan Aji mencium bau amis keluar dari kedua tangan itu.
Nyi Maya Dewi sudah menyerang dengan Aji Sarpa Naka (Kuku Ular) dan setiap kuku jarinya mengandung racun ular yang mematikan.
sekali kena guratan kuku itu sudah cukup menewaskan lawan.
Aji yang selalu waspada, cepat mengelak dan otomatis dia sudah bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti.
Akan tetapi ketika dia melompat ke belakang, wanita itu cepat menubruk ke arah dua orang anak itu.
Anak laki-laki itu berteriak, akan tetapi ia sudah diringkus dan dipondong Nyi Maya Dewi dan dibawa lari ke arah laut!
Anak perempuan yang direnggut lepas dari kakalnya itu menjerit-jerit ketakutan melihat kakaknya dilarikan wanita itu.
Aji tertegun sejenak.
Sama sekali tidak mengira bahwa serangan wanita yang dahsyat tadi hanya pancingan saja agar perhatiannya terpecah sehingga dengan mudah wanita itu dapat melarikan anak laki-laki yang tadi berpelukan dengan adiknya.
"Heii ! Berhenti, kembalikan anak itu!"
Aji berteriak marah dan dia lalu mengejar dan berlari cepat.
Akan tetapi Nyi Maya Dewi ternyata tidak berlari menyusuri pantai, melainkan terus ke arah lautan, menerjang ombak besar yang datang bergulung-gulung!
Tentu saja Aji merasa heran dan kaget, akan tetapi demi keselamatan anak laki-laki itu, dia mengejar terus.
Ketika gelombang menggulungnya, dia menyelam dan berenang.
Setelah ombak lewat, dia melihat Nyi Maya Dewi berenang ke tengah, memiting anak itu.
Aji tidak mau kalah dan diapun berenang secepatnya.
Untung bahwa dia juga mahir sekali berenang karena sudah terbiasa bermain-main di laut yang bergelombang itu.
"Nyi Maya Dewi, lepaskan anak itu atau aku akan terpaksa memusuhimu!"
Teriak Aji setelah dekat. Wanita itu tertawa dan tiba-tiba ia membalik dan berenang menhampiri Aji. Setelah dekat, ia melemparkan anak laki-laki itu ke arah Aji.
"Terimalah anak ini, hi-hi-hik!"
Aji menjulurkan kedua lengan dan menerima anak itu. ternyata ank itupun dapat bergerak dan berenang. Dia lalu mendorong anak itu ke arah pantai dan berkata.
"Adik, cepat berenang ke tepi. Cepat!"
Anak itu menurut, berenang ke arah pantai.
Untuk melindunginya menghadang.
Kini mereka berhadapan dan Nyi Maya dewi tertawa-tawa.
Di air, dengan rambutnya berderai dan pakaiannya basah kuyup melekat ketat di tubuhnya, ia Nampak seperti seekor ikan duyung atau bahkan seperti puteri Ratu Laut Kidul yang terkenal dalam dongeng.Akan tetapi suara tawa dan sinar matanya tetap mengerikan bagi Aji dan diapun bersiap-siap karena jelas tampak olehnya bahwa wanita itu pandai sekali bergerak di dalam air, tiada ubahnya seekor ikan saja!
"Hi-hi-hik, di darat engkau masih mampu menandingi aku, akan tetapi di sini?
Dalam air segara kidul ini, nyawamu berada di tanganku, Aji!"
Wanita itu tertawa-tawa gembira. Biarpun ada perasaan khawatir dalam hati Aji melihat betapa lincahnya wanita itu bergerak dalam air, namun dia berkata tegas.
"nyawaku selalu berada di Tangan Gusti Allah!"
"Hi-hik, kita lihat saja!"
Dan tiba-tiba wanita itu menghilang!
aji tahu bahwa wanita itu menyelam.
Ini berbahaya karena wanita itu tentu dapat menyerangnya dari bawah dan sukar baginya untuk melindungi dirinya.
Maka diapun menarik napas sampai dadanya penuh, lalu diapun menyelam.
Untung sudah terbiasa baginya menyelam smbil membuka mata kalau dia bermain-main di air untuk melihat ikan.
Matanya sudah terbiasa dan tidak pedas lagi terkena air laut.
Dia melihat bayangan wanita itu yang meluncur cepat ke arahnya dengan kedua tangan dijulurkan.
Dia mengelak ke samping san lengannya bergerak menangkap lengan lawan.
Memukul dalam air tiada gunanya karena tenaga pukulannya akan habis kekuatannya tertahan air.
Maka dia berusaha untuk menangkap lengan wanita itu.
Akan tetapi wanita itu dapat bergerak gesit bukan main.
Bukan saja telah dapat menarik kembali lengannya sehingga tidak dapat tertangkap, bahkan tubuhnya sudah meluncur melalui bawah tubuh Aji dan tiba di belakangnya!
Aji cepat bergerak membalik, akan tetapi di kalah cepat.
Sebuah tamparan mengenai pelipisnya.
Tamparan itu itu tidak terlalu keras karena tertahan air, namun tetap saja membuat dia terpelanting.
Sebelum dia dapat mengtur kedudukan tubuhnya, tiba-tiba kedua kakinya dipegang kedua tangan wanita itu.
Kuat sekali pegangannya.
Aji menendang-nendangkan kedua kakinya.
Akan tetapi wanita itu tetap menempel dengan memegangi kedua pergelangan kakinya seperti seekor lintah!
Pada saat itu, Aji sudah mulai kehabisan napas.
Hawa yang disedot dan ditampung dalam paru-parunya tadi sudah dihembuskan keluar semua.
Dan hampir tidak tahan lagi dan dia mengerahkan seluruh tenaga pada kaki dan tangannya sehingga tubuhnya meluncur ke atas.
Akan tetapi kedua tangan itu masih tetap memegangi kedua kakinya.
Aji berhasil muncul di permukaan air sebatas lehernya.
Paru-parunya yang kehausan itu mengisap hawa sebanyaknya.
akan tetapi baru satu kali dia menghirup udara, tubuhnya sudah ditarik lagi ke bawah!
Kembali mereka berdua bergulat dalam air.
Akan tetapi Aji harus mengakui bahwa lawannya amat mahir dan juga kuat menahan napas.
Setelah meronta-ronta dengan sia-sia, kembali dia kehabisan napas dan sudah beberapa kali terpaksa menelan air.
Dia gelagapan dan kepalanya menjadi pening.
Ketika akhirnya dengan sisa tenaganya dia berhasil munculkan kepalanya di permukaan air dan menghirup udara, tiba-tiba sebuah tamparan menghantam tengkuknya.
"Plakk"
Kuat sekali hanyaman itu dan Aji terkulai, pingsan.
Tamparan mengenai tengkuk itu dilakukan oleh tangan yang terlatih baik sehingga tepat mengenai sasaran, tidak mematikan, tidak mendatangkan luka dalam yang parah, namun membuat orang pingsan seketika.
Nyi Maya dewi lalu berenang ke tepi sambil merangkul Aji yang telentang.
Cara Nyi Maya Dewi menyeret Aji yang pingsan menunjukkan bahwa ia memang ahli bermain di air.
Aji diseret dengan dijambak pada rambutnya sehingga muka pemuda itu berada di atas permukaan air.
Tak lama kemudian Nyi Maya Dewi sudah tiba di pantai.
Ia menyeret Aji ke pinggir dan setelah tiba di kedalaman selutut ia memondong tubuh pemuda itu dengan ringannya dan membawanya ke pantai berpasir.
Ia terus naik sampai tiba di kaki bukit karang.
Ia mencari-cari dengan pandang matanya akan tetapi tidak menemukan dua orang anak yang tadi diculiknya.
Nyi Maya Dewi tertawa.
"Hi-hik, tidak apa aku kehilangan mereka berdua. Masih banyak anak yang lebih mungil dan sehat untuk kudapatkan sebagai penggantinya. Akan tetapi mendapatkan seorang pemuda setampan dan segagah ini sungguh amat sukar,"
Katanya.
Ia lalu mendekatkan mukanya dan mencium muka pemuda itu, kemudian ia merebahkan Aji di bawah sebatang pohon kelapa.
Setelah itu, tanpa malu dan tanpa khawatir kalau-kalau ada orang yang melihatnya, wanita itu lalu menanggalkan pakaiannya satu demi satu.
Dalam keadaan telanjang bulat ia memeras semua pakaiannya yang basah kuyup, mengebut-ngebutkannya agar cepat kering.
Kemudian ia mengenakan lagi pakaiannya dan menghampiri Aji yang masih menggeletak telentang di atas tanah.
"Kasep (bagus), sekali ini engkau harus menuruti keinginanku,"
Kata Nyi Maya Dewi mengeluarkan sebuah botol kecil yang tadi ia selipkan di ikat pinggangnya.
Botol kecil itu berisi cairan merah.
Ia membuka tutup botol kecil itu dan tangan kirinya membuka mulut Aji, siap hendak menuangkan isi botol ke dalam mulut pemuda itu.
Pada saat itu, Aji sadar dari pingsannya.
Biarpun kepalanya masih agak pening dan pikirannya masih gelap, namun dengan naluirinya yang tajam dia segera dapat merasakan adanya bahaya yang mengancam dirinya.
Maka, tiba-tiba saja tangannya bergerak memukul botol kecil yang sudah ditempelkan dibibirnya itu, meronta dan menggulingkan tubuhnya ke kiri.
Nyi Maya Dewi terkejut sekali.
Botol itu terlempar dan isinya tumpah, juga pegangannya pada kepala pemuda itu terlepas.
Melihat pemuda itu menjauhkan diri sambil bergulingan, ia cepat bangkit dan hendak mengejar dan menyerang.
Akan tetapi Aji yang kini sudah sadar betul, ingat bahwa dirinya tadi terpukul pingsan dan tertawan, maklum akan datangnya bahaya.
Dengan tubuh menelungkup, kaki tangan di atas tanah seperti merangkak, tiba-tiba dia mengeluarkan sura gerengan yang dahsyat sekali.
Gerengan itu menggetarkan tanah disekitarnya dan Nyi Maya Dewi juga tergetar dan terhuyung seolah-olah terjadi gempa bumi!
Itulah ilmu yang disebut aji Guruh Bumi yang kekuatannya hebat bukan main.
Nyi Maya Dewi terkejut melihat pemuda itu kini sudah bangkit berdiri, ia menjadi jerih.
Tadinya ia sudah merasakan kehebatan pemuda ini.
Ia telah memandang rendah dan merasa menyesal mengapa ketika pemuda itu pingsan, ia tidak mengikatnya agar dia tidak berdaya.
Kini, ia merasa jerih untuk melawan lagi dan sambil mengeluarkan suara melengking mirip tangis akan tetapi juga tawa, ia lalu melompat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Aji tidak mau mengejar.
Dia lalu mencari-cari dua orang anak yang ditolongnya tadi, Mereka tidak mungkin berlari jauh, pikirnya.
Kalau mereka melarikan diri, hendak lari ke mana?
Mungkin mereka masih bersembunyi di sekitar tempat ini.
Aji lalu mengerahkan tenaga, berteriak nyaring.
"Adik-adik, di mana kalian? ke sinilah, akan kuantar kalian kepada ibu kalian!"
Teriakannya melengking dan bergema di empat penjuru.
dugaannya tidak salah.
Dua orang anak itu masih bersembunyi, tak jauh dari situ, di balik batu-batu karang.
Mendengar seruan itu, mereka mengintai dari balik batu karang dan melihat bahwa yang berteriak dan berada di pantai berpasir hanya laki-laki yang tadi menolong mereka dan wanita iblis yang menculik mereka tadi tidak tampak lagi, mereka lalu bergandeng tangan dan berlari keluar menghampiri Aji.
Aji menyambut mereka dengan kedua lengan dikembangkan dan wajah penuh senyum gembira.
Hatinya merasa girang sekali melihat mereka dalam keadaan selamat.
Usahanya menolong mereka telah berhasil baik dan dia merasakan suatu kegembiraan yang luar biasa.
Inilah yang dimaksudkan mendiang Ki Tejobudi ketika dia mengatakan bahwa kepentingan orang lain merupakan kebahagiaan menolong orang itu.
Dua orang anak itu berlari menghampirinya dan setelah dekat, Aji merangkul kedua orang anak itu.
"Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan kakangmas kepada kami."
Kata anak laki-laki itu dan Aji memandang heran.
kedua orang anak itu berpakaian lusuh seperti anak dusun.
Dan anak laki-laki itu baru berusia tujuh tahun, akan tetapi cara dia bicara sama sekali bukan seperti anak dusun.
Bahasanya begitu teratur dan rapi, juga hormat seperti seorang anak yang berpendidikan.
Juga setelah kini dia mengamati, dua orang anak itu berwajah tampan dan manis.
"Adik-adik yang baik, siapakah nama kalian?"
"Nama saya Priyadi, dan ini adik saya bernama Wulandari,"
Jawab anak laki-laki itu.
Aji mengangguk-angguk.
Tidak salah dugaannya, mereka ini bukan anak-anak dusun biasa.
Baru nama mereka saja sudah menunjukkan bahwa mereka ini anak "priyayi", nama mereka begitu indah.
"Kakangmas yang telah menyelamatkan kami, siapakah nama andika?"
Tanya anak laki-laki yang mengaku bernama Priyadi itu.
"Namaku Lindu Aji, sebut saja aku Mas Aji."
"Mas Aji, di mana ibuku?"
Tanya anak perempuan berusia lima tahun yang bernama Wulandari itu. Anak inipun tidak pemalu dan kata-katanya juga teratur.
"Ia berada di rumahku, mari kalian kuantar menemui ibu kalian,"
Kata Aji yang lalu menggandeng dua orang anak itu dan berjalan menju pulang.
Sementara itu, ibu kedua orang anak yang diculik itu dihibur oleh Warsiyem.
Mereka berdua duduk di warung dan wanita itu sudah berhenti menangis setelah dihibur oleh Warsiyem.
Warsiyem melihat bahwa wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang berpakaian lusuh seperti orang dusun itu sebenarnya cukup cantik dan berkulit bersih, juga sikapnya tidak seperti orang dusun.
"Tenangkan hatimu, dik. Anakku Aji itu tangkas dan pemberani. Aku percaya dia akan dapat menemukan dan membawa kembali kedua orang anakmu itu."
"Mudah-mudahan begitu, mbakyu. Tanpa mereka, rasanya aku tidak akan dapat hidup sendiri. Hanya mereka berdua itulah yang kumiliki,"
Kata wanita itu sambil menyeka air mata. Warsiyem menuangkan air teh.
"Minumlah agar tenang hatimu, kemudian ceritakan siapa adik ini kalau tidak keberatan. Adik tentu bukan orang daerah sini dan mengapa adik dapat berada di sini."
Wanita itu menarik napas panjang.
"Namaku Jumintan, mbakyu. Sebaliknya, siapakah nama mbakyu yang telah menolongku?"
"Aku Warsiyem, suamiku telah tiada. aku tinggal hidup berdua di sini bersama anakku tadi, Dia bernama Lindu Aji."
"Aku juga seorang janda, mbakyu Warsiyem. Suamiku seorang perwira, meninggal dunia setengah tahun yang lalu, gugur dalam perang melawan pasukan Giri. Suamiku seorang perwira Mataram. Tadinya kami tinggal di kota raja Mataram. Setelah suamiku gugur, aku hanya hidup bertiga dengan dua orang anakku, Priyadi dan Wulandari yang diculik orang itu."
"Wah, kalau begitu engkau adalah seorang priyayi!"
Seru Warsiyem.
"Suamimu seorang perwira kerajaan Mataram!"
"Ah, tidak juga, mbakyu. Aku dulu seorang gadis dusun, kemudian menikah dengan suamiku yang memang keturunan prajurit Mataram. Sama sekali kami bukan trahing kusumo rembesing madu (berdarah bangsawan), melainkan rakyat biasa saja."
Mendengar ini, Warsiyem tersenyum dan teringatlah ia akan pendapat suaminya tentang kebangsawanan yang disebutnya keturunan "menak".
"kebangsawanan seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh darah keturunannya, melainkan oelh sepak terjangnya dalam hidup ini."
Demikian pendapat suaminya.
"Lalu bagaimana engkau sampai meninggalkan kota raja bersama anak-anakmu sehingga terjadi penculikan itu, dik Juminten?"
Janda muda itu menghela napas panjang, lalu mengamati majah Warsiyem.
"Sudah berapa lamakah mbakyu menjadi janda?"
"Hem, sudah lima tahun lebih, kenapa?"
"Kalau begitu, ketika mbakyu menjadi janda, tentu hanya lebih tua sedikit daripada aku. Mbakyu seorang wanita yang cantik, tentu telah merasakan betapa susahnya menjadi janda, banyak godaan datang menganggu."
"Benar sekali, dik juminten. memang aku juga pernah mendapat gangguan besar, Akan tetapi apakah yang telah terjadi denganmu?"
"Setelah suamiku gugur, ada seorang perwira lain, masih rekan mendiang suamiku, menggodaku dan mengejar-ngejar aku, bahkan hendak memaksaku untuk menjadi isterinya yang kedua. Dia menggunakan segala daya, halus maupun kasar untuk membujuk aku. Aku selalu menolak karena aku sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi. Tidak ada laki-laki yang akan dapat menggantikan suamiku dalam hatiku, dan aku bertekad untuk hidup bertiga saja dengan kedua orang anakku. Karena perwira itu nekat hendak memaksaku, terpaksa pada suatu malam aku melarikan diri bersama kedua anakku, meninggalkan kota raja."
"Hemm, laki-laki memang dapat menjadi biantang buas kalau sudah dikuasai nafsunya tergila-gila kepada seorang perempuan. siapakah nama durjana itu, dik Juminten?"
"Dia bernama Raden Kuncoro, entah radennya asli atau palsu. Dia seorang perwira atasan suamiku dan di kota raja dia memang terkenal sebagai laki-laki mata keranjang. setelah melarikan diri keluar kota raja, aku lau pergi ke dusun tempat kelahiranku di lembah Kali Progo. Akan tetapi setelah tiba di sana, ternyata kakakku yang merupakan satu-satunya keluargaku telah setahun lebih meninggalkan dusun kami dan tidak ada orang mengetahui ke mana pindahnya. Orang tuaku sudah lama meninggal dunia. Di dusun itu aku tidak mempunyai seorang keluargapun. Dan calakanya..... ah, nasibku sungguh buruk, mabkyu, di dusun kelahiranku itu, lurah dusun yang tadinya tampak baik dan menampungku, ternyata kemudian berniat menjadikan aku isteri mudanya. Diapun hendak menggunakan paksaan sehingga aku melarikan diri dari dusun itu."
Warsiyem memegang pundak juminten yang duduk di atas bangku, di sebelahnya.
"Ah, kasihan engkau, dik Juminten, digoda banyak laki-laki tanpa ada yang membelamu. Aku, biarpun digoda laki-laki tanpa ada yang membelamu. Aku, biarpun digoda laki-laki, selalu ada yang membela. Pertama laki-laki yang kemudian menjadi suamiku, kemudian ankku si Aji itu. Lalu bagaimana, dik Juminten?"
"Berbulan-bulan kami merantau, smua bekal yang kubawa telah habis kujual sehingga seringkali kami bertiga kekurangan makan. Ketika pagi tadi kami tiba di luar dusun ini, kami bertemu dengan seorang wanita cantik dan berpakaian seperti seorang bangsawan. ia tadinya hendak membeli anak-anakku, ketika kutolak, ia lalu menyambar dan memondong mereka dan lari ke selatan."
Juminten terisak lagi, teringat akan kedua orang anaknya.
"Aahh..... Priyadi, Wulandari, anak-anakku....."
"Kenapa engkau tadi tidak mengejarnya dan berusaha merampas mereka kembali? Penculik itu kan hanya seorang perempuan seperti kia?"
Tanya Warsiyem penasaran. Kalau ia yang dirampas anaknya seperti itu tentu ia akan mengamuk dan melawan mati-matian! "Sambil menahan isak Juminten berkata.
"Sudah kukejar, mbakyu, akan tetapi..... ia berlari seperti terbang..... cepat sekali sehingga sebentar saja aku kehilangan bayangannya. Maka aku lalu berlari memasuki dusun ini dan minta tolong....."
"Jangan khawatir, Aji tentu akan dapat menemukan mereka....."
Ucapan Warsiyem ini terputus oleh teriakan suara dua orang anak.
"Ibu.........!"
"Ibu.........!!"
Dua orang wanita itu terkejut dan menoleh ke luar.
"Anak-anakku.....!"
Juminten menjerit dan bangkit lalu keluar, menyambut kedua anaknya yang juga berlari menghampiri ibunya.
Mereka bertemu di pekarangan dan Juminten merangkul kedua anaknya sambil menangis sesenggukan saking bahagianya.
Warsiyem juga keluar dan sambil tersenyum ia memandang puteranya yang berdiri dengan pakaian masih basah.
"Mari kita masuk!"
Ajak Warsiyem kepada Juminten dan kedua orang anaknya.
"Kenapa pakaianmu basah semua, Aji?"
Dia bertanya kepada puteranya.
"Nanti kuceritakan di dalam sesudah aku berganti pakaian, ibu. Juga adik Priyadi itu pakaiannya basah semua. Biar dia berganti pakaianku, agar jangan masuk angin."
Setelah Aji berganti pakaian dan Priyadi juga mengenakan pakaian Aji yang tentu saja terlalu besar untuknya, mereka semua duduk di ruangan dalam.
Aji lalu menceritakan semua pengalamannya ketika menolong dua orang anak itu.
Dia tidak bercerita banyak tentang perkelahiannya melawan Nyi Maya Dewi, Wanita yang sakti mandraguna itu.
"Perempuan yang menculik dua orang adik itu mengaku dari Pasundan dan bernama Nyi Maya Dewi. Ia tangguh sekali, dan untung Gusti Allah melindungi aku sehingga aku dapat mengusirnya dan membawa kedua orang adik ini pulang."
"Kenalkah engkau dengan wanita bernama Nyi Maya Dewi itu, dik Juminten?"
Tanya Warsiyem. Juminten mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu ia menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku tidak pernah mendengar nama itu, juga belum pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, mungkin sengaja ia disuruh oleh Raden Kuncoro untuk menculik anak-anakku sehingga ia dapat memaksaku menuruti kehendaknya."
"Raden Kuncoro? Siapakah dia, bibi?"
Tanya Aji heran. Warsiyem lalu menceritakan riwayat Juminten kepada Aji. Aji mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian dia berkata.
"Mungkin saja wanita itu utusan Raden Kuncoro, akan tetapi mengapa ia mengaku datang dari Pasundan? Dan logat bicaranya memang menunjukkan bahwa ia adalah seorang Sunda."
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lagi hal itu. Perempuan jahat itu sudah pergi dan anak-anakmu sudah selamat, adik Juminten."
Warsiyem menghibur, melihat Juminten masih menahn isak sambil merangkul kedua anaknya, wajahnya diliputi kegelisahan.
mendengar kata-kata hiburan ini, Juminten malah menangis tersedu-sedu.
Warsiyem menjadi bingung dan saling pandang dengan Aji.
"Bibi, ada apakah lagi yang menyusahkan hati bibi? Katakanlah, kami akan berusaha membantumu sedapat kami,"
Kata Aji.
"Benar apa yang dikatakan anakku, dik Juminten. Kenapa engkau masih kelihatan sedih dan khawatir pada hal kedua orang anakmu sudah kembali kepadamu dengan selamat?"
Tanya Warsiyem. Juminten menyusut air matanya. Setelah menghela napas panjang berulang kali, barulah ia dapat bicara, suaranya lirih penuh kesedihan, mukanya menunduk.
"Bagaimana saya tidak akan menjadi sedih dan bingung, mbakyu Warsiyem? kami bertiga tidak punya apa-apa lagi, tidak tahu ke mana harus pergi dan sekarang terancam..... tidak ada sanak saudara yang dapat menolong dan menampung kami..... tidak ada orang yang dapat kuharapkan, bahkan Gusti Allah pun agaknya tidak sudi mendengar rintihan dan keluh kesah kami.....! Mbakyu Warsiyem, ke manakah kami harus pergi?"
Ibu dan Anak itu kembali bertemu pandang.
demikian kuat hubungan batin antara ibu dan anak ini, membuat mereka saling peka terhadap satu sama lain.
Tanpa bicarapun, melalui pandang mata mereka, keduanya dapat mengerti isi hati masing-masing.
Warsiyem seolah minta pendapat dan persetujuan puteranya dan Aji seolah menyetujui maksud hati ibunya.
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk pasrah, ada sinar mata bangga dalam pandang matanya terhadap ibunya yang dia tahu memiliki hati yang penuh welas asih.
Warsiyem menyentuh pundak juminten yang masih sesenggukan dan berkata lirih, menghibur.
"Hentikan tangismu dan jangan bersedih atau gelisah lagi, dik Juminten. Aku juga seorang janda, hanya hidup berdua dengan anakku Aji dan rumah kami cukup besar. Kalau engkau mau bekerja sama denganku, membantu aku berjualan nasi dan mengurus rumah tangga, kami dapat menyingget sebuah kamar lagi untuk engkau dan anak-anakmu dan kalian bertiga boleh hidup dan tinggal bersama kami di rumah ini, tentu saja kalau engkau suka."
Mendengar ini, tiba-tiba Juminten mengangkat mukanya, matanya terbelalak, bergantian memandang ternganga penuh keheranan, seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya, kemudian mulutnya mewek-mewek menangis lagi.
"..... kalau aku mau..... ? Duh gusti.....! Mbakayu Warsiyem..... anakmas Aji..... apa yang dapat kukatakan?"
Ia memegang tangan kedua anaknya dan menyeret mereka sehingga mereka bertiga menjatuhkan diri berlutut di depan ibu dan anak itu, menyembah-nyembah.
"..... anakmas Aji telah menyelamatkan anak-anakku..... dan sekarang..... kalian sudi menerima kami tinggal di sini.....? Terima kasih ...... terima kasih atas pertolongan dan budi kebaikan kalian yang amat besar.....!"
Ia menyembah sambil menangis.
Warsiyem merasa terharu dan kedua matanya juga basah.
Ia cepat membungkuk, merangkul dan menarik Juminten agar duduk kembali.
Juga Aji menarik kedua anak itu yang ikut ibunya menangis karena mereka juga mengerti bahwa mereka mendapat pertolongan sehingga mereka bertiga kini duduk kembali dengan air mata masih mengalir di pipi mereka.
"Dik Juminten, tidak usah berterima kasih kepada kami. Apa yang kami lakukan ini memang menjadi kewajiban kami. Kukira engkau sendiripun akan melakukan perbuatan yang sama kalau keadaanmu mengijinkan. Kita manusia memang sudah sepatutnya saling tolong menolong, bukan? kami membantumu memberikan tempat tinggal kepadamu, dan engkau juga membantu kami dalam mengurus rumah tangga ini. Berarti kita saling bantu dan saling menguntungkan. akan tetapi kita ini bukan hartawan dan kita hanya dapat hidup sederhana, dik."
"Ibu berkata benar, bibi Juminten. Bibi tadi keliru kalau mengatakan bahwa Gusti Allah tidak sudi mendengarkan keluh kesahmu. Nah, sekarang berterima kasihlah kepada Gusti Allah, bukan kepada kami, karena sesungguhnya hanya Gusti Allah yang dapat menolong kita semua dan sekarang Gusti Allah telah mengulurkan tanganNya yang suci dan penuh cinta kasih kepada bibi bertiga melalui kami. Kami hanyalah merupakan alat yang kebetulan dipakai oleh Gusti Allah untuk membantu bibi yang berada dalam kesusahan."
Dengan air mata bercucuran dan diseling isak Juminten merangkap kedua tangan membentuk sembah di depan dad dan berbisik.
"Duh Gusti..... hamba menghaturkan terima kasih dan mengucap syukur bahwa Paduka pada hari ini telah mempertemukan hamba denagn manusia-manusia bijaksana ini. hayo anak-anakku, haturkan terima kasih kepada Bude Warsiyem dan Mas Aji!"
Juminten lalu memberi salam kepada Warsiyem, lalu kepada aji, diikuti kedua orang anaknya.
"Matur sembah nuwun, bude Warsiyem! Matur sembah nuwun mad Aji!"
Kaya mereka.
Aji dan ibunya merangkul kedua orang anak itu.
Hati mereka segera terpikat oleh sikap kedua orang anak yang pandai membawa diri dan sopan santun itu.
Demikianlah, mulai hari itu Juminten dan kedua anaknya tinggal dalam rumah Warsiyem.
Aji menggunakan bilik bambu dan membuat sebuah kamar untuk mereka.
Warsiyem memperkenalkan Juminten sebagai adik angkatnya kepada para tetangga.
Para penduduk di dusun Gampingan, terutama kaum prianya, berbisik-bisik dengan senyum penuh arti bahwa dusun mereka bertambah seorang janda yang masih muda lagi cantik manis!
Ternyata Juminten juga tahu diri.
Ia bekerja keras membantu Warsiyem dan semenjak ia tinggal di situ, rumah itu tampak lebih terawat dan bersih.
Iapun pandai masak, pandai membuat penganan dan gorengan yang lezat sehingga warung itu menjadi semakin ramai dikunjungi orang.
Semenjak pengalamannya bertanding melawan Nyi Maya Dewi yang membuat dia kewalahan, apalagi perkelahian dalam air yang membuat dia hampir saja celaka di tangan wanita itu, Aji seringkali pergi ke pantai berpasir yang sunyi.
Apalagi sekarang di rumah ada Juminten yang membantu ibunya.
Bahkan dua orang anak itupun rajin membantu, menyapu dan membersihkan rumah sehingga dia mempunyai banyak waktu untuk bermain di pantai berpasir.
Selain berlatih silat di pantai yang sunyi itu, juga Aji berlatih renang dan bermain-main dalam air.
dia memperdalam ilmunya ini setelah mengalami kekalahan ketika bertanding dalam air melawan Nyi Maya Dewi.
Dia tahu bahwa kekalahannya itu karena dia kalah bertahan napas dalam air.
Maka kini hampir setiap hari dia berlatih pernapasan dan melatih paru-parunya untuk menampung hawa sepadat mungkin sehingga dia dapat bertahan lebih lama tanpa bernapas di dalam air.
Pada suatu sore, setelah lelah berlatih menyelam dan bersilat, dia merebahkan diri telentang di atas pasir sambil mengeringkan celana pendeknya yang tadi dia pakai untuk berlatih menyelam dan bermain dengan gelombang lautan.
Matahari telah condong ke barat dan sinarnya tidaklah sekuat siang tadi.
Tiba-tiba matanya tertarik oleh sebuah titik hitam yang melayang-layang di udara.
Makin lama, titik hitam itu semakin membesar dan setelah pandang matanya menangkap, ternyata titik hitam itu adalah seekor burung yang besar dan gagah sekali.
Penduduk di situ menyebutnya alap-alap, semacam burung elang yang gagah bentuknya dan indah sekali kalau melayang dan terbang di angkasa.
Aji memandang dengan kagum sekali.
karena dia rebah telentang, maka dengan enaknya dia dapat mengikuti gerak gerik alap-alap itu.
Burung itu berkeliling, kemudian semakin menurun ke arah bukit.
Dia semakin tertarik.
Mungkin sarangnya di bukit karang itu, pikirnya.
karena dia sudah tidak akan berlatih lagi, tinggal pulang, maka diapun bangkit dan cepat mendaki bukit sambil terus mengamati alap-alap tadi.
Dia ingin mengetahui di mana sarang burung itu.
Siapa tahu ada anak-anaknya dan kalau dapat, dia ingin menangkap anaknya untuk dipelihara.
Setelah dia tiba di lereng bukit, di antara batu-batu karang di bukit itu, dia melihat pemandangan yang amat menarik hatinya.
Seekor burung alap-alap yang besar, sebesar ayam jago, menyambar turun dan menyerang seekor ular yang sebesar lengannya dan panjangnya tidak kurang dari satu meter.
Ular itu mendesis dan menyambut sambaran alap-alap itu dengan patukan moncongnya yang terbuka lebar.
dengan cepat alap-alap itu mengelak dan menyampok dengan sayapnya sebagai tangkisan lalu menyerang lagi, kini dengan paruhnya yang melengkung dan runcing kuat.
Namun dengan gerakan yang lentur kepala ular itu mengelak sehingga serangan paruh itupun luput.
Ular itu membalas menyerang dengan patukan ke arah leher alap-alap sambil mendesis.
Namun alap-alap itupun melompat ke atas sambil mengembangkan sayapnya.
Terjadilah perkelahian mati-matian antara ular dan burung alap-alap itu.
Aji menonton sambil bersembunyi di balik batu karang agar tidak membikin takut dua ekor binatang yang sedang berkelahi itu.
Alap-alap itu agaknya menyerang untuk memangsa ular itu, sebaliknya ular itupun membela diri dan balas menyerang karena burung alap-alap itupun dapat menjadi mangsanya yang mengenyangkan.
Aji menonton penuh perhatian dan dia merasa kagum sekali.
Gerakan dua ekor binatang itu sungguh hebat, mereka itu hanya binatang-binatang yang tidak berakal budi.
Akan tetapi gerakan naluri mereka dalam mempertahankan hidup sungguh indah dan mengandung kekuatan sepenuhnya.
Gerakan itu dapat ditiru dan akan menjadi gerakan silat yang tangguh.
Alap-alap itu bergerak dengan tangkas dan garang, serangan paruh dan kedua cakarnya dibantu kibasan kedua sayapnya membayangkan kelenturan, keluwesan, kelicikan dan menghadapi kekerasan dengan kelenturan yang mematikan.
Aji tahu bahwa sekali saja patukan moncong ular itu mengenai leher alap-alap itu, tentu gigitan itu tidak akan dilepaskan lagi yang membahayakan keselamatan nyawa burung itu.
Akan tetapi alap-alap itu sungguh tangkas.
Setiap patukan ular itu dielakkan sambil ditangkis dengan kibasan sayapnya yang juga kuat.
Perkelahian mati-matian itu berlangsung sampai setengah jam lebih.
Beberapa kali tubuh alap-alap itu terbelit tubuh ular, akan tetapi selalu terlepas lagi karena dengan paruhnya yang kuat burung itu menyerang dan melukai tubuh ular.
Tubuh ular itu mulai terluka dan berdarah.
Akhirnya alap-alap itu berhasil mematuk kepala ular dengan paruhnya.
Paruh itu seperti catut baja yang amat kuat, sekali menangkap kepala ular itu tidak dilepaskannya lagi.
Ular menggunakan tubuhnya untuk membelit tubuh alap-alap dan dihimpitnya.
Akan tetapi burung itu mengguncang-guncang kepala ular yang digigitnya itu dan memukul-mukulnya kepada batu karang yang tajam sehingga kepala ular itu menjadi pecah-pecah berdarah.
Libatan itupun mengendur dan akhirnya terlepas dari tubuh alap-alap.
Burung itu lalu mencengkeram perut ular itu dengan cakarnya yang runcing tajam.
Matilah ular itu.
Burung alap-alap itu masih mensengkeram tubuh ular dengan kedua cakarnya dan diam tak bergerak.
Agaknya burung itu hendak melepaskan lelah dan mengumpulkan tenaga beru.
Kemudia ia mementang sayapnya dan terbang ke atas, membawa bangkai ular dalam cengkeraman kedua kakinya.
Akan tetapi Aji melihat bahwa terbangnya seperti terhuyung-huyung, agaknya beban yang dibawanya itu terlalu berat baginya.
Akhirnya setelah sampai tinggi sekali, Aji melihat betapa burung itu melepaskan bebannya dan bangkai ular itu meluncur jatuh ke air laut yang bergelombang.
Agaknya burung itu tidak kuat membawa mangsanya yang terlalu besar dan berat.
perjuangan yang sia-sia, pikir Aji.
Akan tetapi dia telah menyaksikan sebuah perkelahian yang sangat hebat.
Dia memandang terus sampai burung alap-alap itu terbang jauh, menjadi sebuah titik hitam yang lambat laun menghilang.
Aji pulang ke dusunnya.
Pikirannya terus membayangkan perkelahian itu.
Semalam itu dia mengingat-ingat dan di dalam kamarnya dia menirukan beberapa gerakan alap-alap ketika berkelahi melawan ular.
Kedua lengannya bergerak menirukan gerakan sayap burung, kedua tangannya kadang-kadang meluncur ke depan dengan serangan tangan terbuka menirukan gerakan paruh alap-alap itu.
Juga kedua kakinya menendang-nendang seperti gerakan cakar.
Juga dia menggerakkan tubuh dengan putaran seperti gerakan burung tadi.
Semenjak itu kalau bermain di tepi laut, Aji bersilat menirukan gerakan burung alap-alap.
Dia dapat meniru dan merangkai gerakan burung itu menjadi gerakan silat, menyerang, mengelak, menangkis, memukul atau menendang.
Juga loncatan-loncatan untuk menghindar dan berbalik menyerang.
Karena dia telah memiliki dasar ilmu silat yang dalam maka dia dapat merangkai semacam ilmu silat alap-alap yang tangguh.
Selain itu, dia juga terus melatih diri berenang, menyelam dan bermain dalam air seperti ikan.
berlatih pernapasan sehingga dia dapat lebih lama bertahan di dalam air.
Pada suatu senja Aji masih rebah telentang di atas pasir seperti yang biasa dilakukan.
Sudah kampir enam bulan P sejak gurunya meninggal dunia dan dia selalu terkenang akan semua nasihat gurunya.
Gurunya meninggalkan pesan sebelum wafat.
Pesan pertama adalah agar dia mencari putera gurunya yang bernama Sudrajat atau panggilannya Ajat yang ikut dengan ayah tirinya yang bernama Ki Tejo Langit dan hidup di Banten dan mengabarkan tentang kematian gurunya itu.
Adapun pesan kedua dari gurunya adalah agar dia pergi merantau dan memanfaatkan semua ilmu yang telah dipelajarinya untuk kepentingan manusia, menegakkan kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas dan menentang segala macam kejahatan yang dilakukan orang.
Juga agar dia membela nusa bangsa, membela Mataram dan membantu Sultan Agung menghadapi bangsa Belanda.
Kemudian pesan ketiga yang dianggap amat penting oleh mendiang gurunya, akan tetapi justeru ini kadang memberatkan hatinya, yaitu agar dia tidak mendendam kepada Raden Banuseta, pembunuh ayahnya!
Aji menghela napas panjang.
sbetulnya sejak gurunya meninggal dunia, hatinya ingin sekali pergi merantau.
Diapun ingin mencari kakaknya, putera ayahnya yang bernama Hasanudin, selain untuk mengabarkan tentang kematian ayahnya, juga untuk membujuk kakak tirinya itu agar tidak membenci ayah mereka.
Sudah berbulan-bulan dia menahan keinginannya untuk meninggalkan dusun, pergi merantau.
Akan tetapi selama ini keinginan itu selalu ditahan-tahannya, bahkan tidak diberitahukan kepada ibunya karena dia merasa tidak tega untuk meninggalkan ibunya hidup seorang diri.
Akan tetapi sekarang ibunya tidak sendirian lagi.
Ada bibi Juminten di sana, bahkan ada dua orang anak yang mungil dan rajin, yaitu Priyadi dan Wulandari.
Ibunya tidak akan kesepian lagi, bahkan mendapatkan bantuan dari ibu dan dua orang anaknya itu!
Dia kini dapat pergi merantau, meninggalkan ibunya dengan hati ringan.
Tiba-tiba Aji yang rebah telentang itu melihat titik hitam melayang di angkasa.
Alap-alap itu!
Dengan pandang matanya dia mengikuti gerakan indah di angkasa.
Kini burung itu menukik turun dan melayang lagi berkeliling.
Gerakan sayapnya begitu kokoh dan indah, kepalanya mengamati keadaan di bawah, mencari mangsa.
Kemudian, burung itu terbang ke utara dan menghilang di balik puncak bukit.
Aji merasa kehilangan dan kesepian.
Makin mendesak keinginan hatinya untuk merantau, terbang melayang seperti alap-alap itu.
Dia bangkit duduk, mengatupkan mulutnya.
hatinya telah mengambil keputusan.
Dia harus pergi meninggalkan dusunnya, pergi merantau memenuhi pesan terakhir gurunya.
Bangkitlah dia, kemudian dengan langkah tegap dia meninggalkan pantai berpasir dan menuju ke dusun Gampingan, tempat tinggal ibunya.
Mereka telah menantinya untuk makan malam.
Melihat nasi dan lauk pauknya telah tersedia di atas meja dan mereka semua belum makan, Aji berkata kepada ibunya.
"Ibu, kenapa ibu dan bibi Juminten tidak makan saja dulu?"
"Ah, anak ini! Bagaimana makan bisa enak kalau kami meninggalkanmu? Hayo cepat pergi mandi lalu makan bersama!"
Tegur Warsiyem sambil tersenyum.
Aji cepat membersihkan diri dan berganti pakaian.
Setelah itu, mereka makan bersama.
Aji, ibunya, Juminten dan dua orang anaknya.
Biarpun lauknya hanya jangan (sayur) asem, sambal trasi, dan tempe goreng, mereka makan dengan sedap dan lahapnya.
Sehabis makan, minum air kendi juga terasa segar dan sejuk.
Kita akan selalu dapat menikmati apa yang ada pada kita dan bersukur atas semua berkah yang dilimpahkan Gusti Allah kepada kita kalau saja kita tidak dikuasai nafsu angkara murka.
Nafsu akan selalu menggoda kita, menimbulkan keinginan untuk menjangkau yang lebih sehingga apa yang ada pada kita tidak akan tampak cukup dan menyenangkan.
Nafsu keinginan untuk mendapatkan yang lebih, melenyapkan kebahagiaan, melenyapkan kenikmatan saat ini, mendatangkan kekecewaan dan penasaran, menimbulkan rasa iba diri dan duka.
Berbahagialah orang yang dapat menerima dan menikmati segala macam keadaan di mana dirinya berada dan mengucapkan puji sukur atas berkah Yang Maha Kasih.
Kalau kita mengerahkan pandangan kita ke bawah, kita akan melihat betapa banyaknya orang yang keadaannya lebih payah daripada kita, mereka yang lebih miskin daripada kita, mereka yang sedang sakit, mereka yang sedang kacau rumah tangganya, mereka yang sedang berduka cita karena kematian atau mengalami musibah.
Melihat semua yang berada di bawah kita itu akan menyadarkan bahwa sesungguhnya kita sepatutnya memuji sukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah atas segala berkahNya.
Sebaliknya kalau kita memandang ke atas, kita akan melihat orang-orang yang lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya, tampaknya lebih senang dan lebih berbahagia dari kita, melihat semua yang berada di atas kita itu akan timbul rasa iri hati dan iba diri dan membuat hidup ini tampak mengecewakan.
Kenyataannya adalah, betapapun tinggi keadaan kita, pasti ada yang lebih tinggi dan betapapun rendahnya keadaan kita, ada yang lebih rendah.
Orang yang berjalan menunduk akan melihat segala halangan dan rintangan, akan menjadi waspada.
Sebaliknya kalau berjalan sambil memandang ke atas, kita mudah tersandung dan terjatuh!
Setelah mereka selesai makan dengan nikmatnya karena mensyukuri keadaan seperti apa adanya.
Aji mengajak ibunya bicara berdua saja dalam kamar ibunya.
juminten dan dua orang anaknya berada di serambi depan.
janda yang tahu diri ini sengaja menjauhkan diri agar tidak mengganggu percakapan ibu dan anak itu.
"Ibu tentu masih ingat akan pesan terakhir dari mendiang Eyang Guru Ki Tejobudi kepadaku dulu."
Aji memulai. Warsiyem memandang wajah puteranya.
"pesan mana yang kau maksudkan?"
"Eyang guru berpesan agar aku pergi merantau, mencari puteranya yang bernama Sudrajat, kemudian aku harus berjuang membela nusa dan bangsa, membantu Kanjeng sultan Agung. Juga aku ingin mencari kakak tiriku, putera ayah yang bernama Hasanudin itu."
Warsiyem mengeritkan alisnya.
"Akan tetapi dia mengancam ayahmu dan hendak membunuhnya!"
"Justru itulah sebabnya mengapa aku harus menemuinya, ibu. Aku ingin menyadarkan kakakku itu dari kesalahannya, menyadarkan bahwa ayah tidak bersalah, bahwa ayah meninggalkannya karena terpaksa keadaan."
Kini Warsiyem mengamati wajah puteranya.
jantungnya berdebar tegang.
Saat seperti ini memang selalu dikhawatirkannya, saat yang tidak akan mungkin lolos.
suatu saat tentu ia harus bepisah dari puteranya.
Anaknya kini sudah menjadi seorang pemuda dewasa dan tentu saja ia tidak berhak untuk mengikat anaknya seperti memingit seorang anak perawan.
"Aji....., engkau..... engkau akan meninggalkan ibumu ini?"
Akhirnya ia bertanya lirih. Aji memandang ibunya. keduanya saling bertemu pandang. Aji melihat wajah yang dibayangi kekhawatiran dan kesedihan itu.
"Kalau ibu mengijinkan....."
Katanya lirih pula dan Warsiyem melihat betapa kekecewaan besar membayangi wajah puteranya di balik sikapnya yang berbakti kepadanya itu.
"Aji....."
Ia mengeluh dan kedua orang ibu dan anak itu saling rangkul. Sambil memeluk ibunya, Aji berkata.
"Sudah berbulan-bulan keinginan yang timbul sejak kematian Eyang Guru ini kutahan, ibu. Bagaimanapun juga aku tidak akan membiarkan ibu hidup seorang diri dan kutinggalkan. Akan tetapi, sekarang ada bibi Juminten, ada adik-adik Priyadi dan Wulandari....."
Warsiyem menyusut air matanya dan merenggangkan diri, lalu duduk di atas kursi. Ia sudah tenang kembali.
"Engkau benar, anakku,"
Katanya sambil tersenyum.
"Sekarang di sini ada Juminten dan anak-anaknya yang menemani aku dan aku merasa berbahagia sekali karena mereka adalah orang-orang yang baik dan sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Engkau memang harus pergi merantau memenuhi pesan gurumu, Aji. Pergilah dengan hati senang, anakku. Aku akan tinggal di rumah bersama adik Juminten dan dua orang anaknya, dan aku akan selalu mendoakan agar engkau selalu mendapat tuntunan dan perlindungan Gusti Allah."
"Terima kasih, ibu. Engkau memang seorang ibu yang paling baik dan bijaksana di dunia ini."
Kata Aji yang lalu mencium kedua pipi ibunya.
Mulai sore hari itu Aji bersiap-siap.
Ibunya sengaja membuatkan beberapa perangkat pakaian baru untuk Aji dan menyerahkan semua simpanan uang yang ada kepada puteranya itu untuk bekal dalam perjalanan.
Tiga hari kemudian, aji berkemas hendak berangkat.
Dia menggendong pakaiannya yang dibuntal sarung, disampingkan dibelakang pundaknya.
"Ibu, aku berangkat, ibu. Mohon doa restu."
Kata Aji sambil mencium tangan ibunya. Warsiyem memaksa diri tersenyum walaupun air matanya menetes netes. Ia merangkul dan mencium dahi puteranya itu.
"Aji, berhati-hatilah, nak. Jangan lupa untuk pulang. Ibu akan selalu menunggu kedatanganmu,"
Katanya lirih.
"Bibi, tolonglah bibi menjaga dan menemani ibuku agar ia tidak kesepian,"
Kata Aji sambil berpamit kepada wanita itu.
"Jangan khawatir, anak mas Aji. Aku sudah menganggap ibumu sebagai kakakku sendiri,"
Kata Juminten.
"Priyadi, engkau satu-satunya laki-laki di rumah ini. Jadilah seorang anak laki-laki yang jantan. Sementara aku pergi, gantikanlah aku untuk menjaga ibuku dan ibumu, juga adikmu,"
Aji lalu mencium pipi Wulandari dan diapun berangkat, diantar sampai ke pintu gerbang dusun itu oleh ibunya, Juminten, Priyadi dan Wulandari.
Mereka yang mengantarnya ini baru kembali ke rumah setelah bayangan Lindu Aji tidak tampak lagi dan menghilang di sebuah tikungan jalan, tertutup pohon-pohon.
Setelah berusaha dan melakukan perang selama belasan tahun sejak memegang tampuk kerajaan Mataram, akhirnya Sultan Agung berhasil menaklukkan daerah Jawa Timur dan Madura.
Hanya Blambangan saja yang belum dapat ditundukkan.
Daerah terakhir yang ditundukkan adalah Surabaya, kemudian Giri.
Akan tetapi, sesuai dengan politiknya yang hendak dan mempersatukan semua daerah dan menyusun kekuatan untuk menghadapi musuh utamanya, yaitu Kompeni Belanda, Sultan Agung sama sekali tidak menghukum para adipati dan bupati daerah-daerah yang ditundukkan itu.
Dia menghendaki agar daerah-daerah itu dapat membantu Mataram untuk menghadapi Kompeni Belanda.
Karena itu, setelah menundukkan Madura, dia lalu mengangkat putera Bupati Arisbaya yang bernama Praseno menjadi adipati yang menguasai seluruh Madura dengan gelar Pangeran Cakraningrat, berkedudukan di Sampang.
Demikian pula setelah Sultan Agung menundukkan Surabaya yang dipimpin adipatinya, Pangeran Pekik, dia tetap mengangkat Pangeran Pekik menjadi Adipati Surabaya, bahkan menikahkannya dengan puterinya, yaitu Ratu Wandansari.
Bahkan ketika dia berhasil menundukkan Sunan Giri, Sultan Agung tetap mengijinkannya untuk memimpin Giri, hanya tidak lagi bergelar Sunan, melainkan Panembahan Giri saja.
Semua ini membuktikan bahwa Sultan Agung bukan hendak memperluas kekuasaannya, melainkan hendak mempersatukan seluruh daerah yang sejak jaman eyangnya menjadi raja Mataram yaitu Panembahan Senopati, telah menjadi daerah kekuasaan Mataram.
Penyatuan seluruh daerah ini penting untuk menyusun kekuatan guna menghadapi kekuasaan Kompeni Belanda yang berpusat di Jayakarta yang kini disebut Batavia oleh orang Belanda.
Demikianlah, perang antara balatentara Mataram melawan para penguasa daerah telah padam.
Semua daerah, kecuali Blambangan, telah ditundukkan.
Perang selesai dan rakyat hidup aman kembali.
Beberapa tokoh daerah yang tidak mau tunduk kepada Mataram, melarikan diri dan mengungsi ke Blambangan.
Di antara para tokoh yang melarikan diri ke Blambangan ini, tidak mau tunduk kepada Mataram biarpun penguasa daerahnya sudah menakluk, adalah Ki Harya Baka Wulung.
Dia adalah seorang tokoh sakti yang dikenal sebagai datuk di Madura.
Usianya sudah hampir tujuh puluh tahun, namun semangatnya menentang Mataram masih amat kuat.
Setelah mati-matian membantu kadipaten Madura ketika melawan pasukan Mataram dan akhirnya pasukan Madura kalah.
Ki Harya Baka Wulung mengungsi ke Surabaya.
Ketika Surabaya jatuh, dia melarikan diri ke Giri.
Di sana diapun membantu Sunan Giri ketika Giri diserbu balatentara Mataram.
Akan tetapi Giri jatuh pula dan kembali Ki Harya Baka Wulung melarikan diri, kini dia mengungsi ke Blambangan.
Dengan tubuh tuanya yang kelelahan, lelah lahir batin, dengan hati yang mengandung dendam kebencian terhadap Mataram, Ki Harya Baka Wulung memasuki daerah Kadipaten Blambangan.
Biarpun seluruh Madura sudah takluk kepada Mataram, akan tetapi dia pribadi tidak sudi tunduk Ada dendam sakit hati pribadi dalam hatinya terhadap kerajaan Mataram, setelah putera tunggalnya tewas dalam perang terhadap Mataram.
Kini harapan satu-satunya hanya pada Kadipaten Blambangan karena adipatinya belum takluk kepada Mataram dan di sana terdapat seorang kawan baiknya, yaitu Wiku Menak Kuncar, datuk kenamaan di Blambangan.
Ketika Ki Harya Baka Wulung, kakek berusia hampir tjuh puluh tahun yang bertubuh tinggi besar kokoh kuat seperti raksasa, rambut dan kumis jenggotnya yang kaku seperti kawat itu sudah berwarna dua, matanya lebar dan liar, memasuki Blambangan, melangkah kelelahan dengan kepala menunduk, tidak ada orang yang memperhatikannya.
Dengan terhuyung-huyung karena kelelahan, Ki Harya Baka Wulung memasuki pekarangan sebuah rumah gedung yang berdiri di pinggir kota raja.
Rumah itu berdiri tegak agak terpencil dan keadaannya sunyi sekali.
Pekarangan, kebun di kanan kiri dan belakang rumah itu, luas dan ditanami bermacam sayuran.
Ketika dia memasuki pekarangan, tampak seorang laki-laki setengah tua berlarian menyambutnya.
Laki-laki berusia lima puluh tahun ini berpakaian seperti seorang petani dan sebetulnya dia bekerja di situ sebagai tukang kebun.
Melihat pendatang itu seorang kakek yang asing baginya, tukang kebun bertanya.
"Ki sanak, siapakah andika dan apakah maksud kunjungan andika ke sini?"
Ki Harya Baka Wulung adalah seorang yang berwatak keras kaku dan biasanya dia dahulu di Madura amat dihormati orang.
Bahkan Adipati Madura sendiri amat menghormatinya.
Semua bangsawan di Madura takut dan hormat kepadanya.
kebiasaan ini membentuk watak keras dan tinggi hati kepadanya.
Karena itu, biarpun kini dalam keadaan lari mengungsi dan sengsara, ketika ditegur seorang tukang kebun seperti itu dia menjadi marah.
seorang tukang kebun sudah bersikap tidak hormat kepadanya!
"Hemm, apakah Wiku Menak Koncar berada di rumah?"
Tanyanya sambil menahan kemarahannya.
"Ada, sang Wiku berada di rumah. Siapakah andika dan ada keperluan apa?"
"Hemm, laporkan saja kepada Wiku menak Koncar bahwa Ki Harya Baka Wulung datang berkunjung!"
Katanya agak menghardik karena kesabarannya hampir habis. Tukang kebun itu mengerutkan alisnya (Lanjut ke
Jilid 07) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 dan menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin, Ki sanak, Sang Wiku sedang bersamadhi kalau hari senja begini, sama sekali tidak berani mengganggunya."
Marahlah Ki Harya Baka Wulung.
"Cerewet benar kau ini! sudahlah, biar aku aku yang masuk dan mencarinya!"
Dia lalu melangkah lebar menuju ke serambi rumah, walaupun langkahnya agak terhuyung karena dia memang sudah lelah sekali.
Akan tetapi tukang kebun yang setia itu melompat dan berdiri menghadang di depan kakek itu.
Sebagai seorang Blambangan asli, tukang kebun inipun memiliki watak keras, apalagi kesetiaannya menuntut dia untuk membela majikannya.
"Nanti dulu! Kalau hendak menghadap Sang Wiku, harus sabar menanti dulu di sini sampai beliau selesai bersamadhi. Tidak boleh sembarangan memasuki rumah mengganggu Sang Wiku!"
"Hemm, siapa yang melarang?"
Hardik Ki Harya Baka Wulung.
"Saya yang melarang!"
Kata tukang kebun itu, sikapnya menantang, dan dia membusungkan dadanya di depan Ki harya Baka Wulung.
"Hemm, keparat!"
Tiba-tiba tangan kiri kakek itu menyambar ke depan.
Tukang kebun itu yang agaknya juga pernah mempelajari ilmu kanuragan, menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
Agaknya dia memandang rendah kepada penyerangnya yang sudah tua renta dan melangkahkan kakipun sudah terhuyung-huyung itu.
Disangkanya dengan tangkisannya itu dia akan mampu membuat kakek itu terpelanting.
akan tetapi alangkah kagetnya ketika lengannya bertemu dengan tangan kakek itu, seluruh tubuhnya seperti dibakar rasanya dan tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya dan terbanting keras ke atas tanah sampai kepalanya terasa pening dan pinggulnya yang terbanting berdenyut-denyut nyeri sekali!
Dia mencoba untuk bangkit dan merangkak.
"Tolol, kalau aku tidak ingat bahwa engkau ini adalah pembantu Wiku Menak Koncar, sekarang engkau tentu sudah menjadi mayat!"
Kata ki Harya Baka Wulung.
Pada saat itu, di pintu serambi rumah itu muncul seorang kakek yang usianya juga sudah hampir tujuh puluh tahun.
Tubuh yang sedang dan banyak keriput itu berwarna hitam seperti arang.
Pakaiannya mewah seperti seorang bangsawan.
Matanya agak sipit dan hidungnya pesek, bibirnya tebal sehingga muka itu agak menyeramkan.
Akan tetapi suaranya tinggi seperti suara wanita ketika dia berkata.
"Hei, Jaris, ada apakah ini?"
Dia melangkah keluar memandang kepada tukang kebun yang masih belum dapat bangkit berdiri.
Tukang kebun yang namanya Jaris itu menoleh kepada Ki Harya Baka Wulung, lalu menuding dengan telunjuk kanannya tanpa berani bicara karena merasa takut.
Sekarang baru dia menyadari bahwa kakek tua renta raksasa itu adalah seorang yang sakti mandraguna.
Kakek berkulit hitam arang itu menoleh dan memandang kepada Ki Harya Baka Wulung.
setelah saling tatap sejenak, kakek itu melebarkan matanya yang sipit, lalu berseru dengan kaget dan girang.
"Kakang Harya Baka Wulung! Andikakah ini?"
Teriaknya sambil bergegas melangkah maju.
"Adi Wiku Menak Koncar, aku datang untuk minta bantuanmu!"
Kata Ki Harya Baka Wulung sambil mengembangkan kedua lengan. Mereka berpelukan dan Wiku Menak Koncar, kakek berkulit hitam itu, menggandeng tangan sahabatnya.
"Ah, sahabatku. Beritanya dari Giri sudah sampai ke sini. Kami ikut prihatin. Mari masuk, kita bicara di dalam."
Mereka berdua lalu memasuki rumah itu.
Tukang kebun itu akhirnya dapat bangkit berdiri, menggaruk-garuk kepalanya dan dia bersukur bahwa dia masih hidup.
Kini dia tahu bahwa kalau saja tamu tadi tidak bersahabat baik dengan Sang Wiku, tentu dia sudah mati.
Ucapan kakek tadi bukan sekedar omong kosong.
apa lagi setelah dia melihat sikap Sang Wiku terhadap kakek itu.
Diapun pergi ke belakang dengan jalan agak terpincang karena pinggulnya masih terasa nyeri.
Dia harus cepat-cepat menyuguhkan minuman untuk tamu terhormat itu, untuk menebus kesalahan sikapnya tadi.
Sementara itu, setelah masuk ke ruangan dalam rumah itu, Ki Harya Baka Wulung segera menjatuhkan diri di atas lantai bertilam babut tebal.
Dia duduk bersila, memejamkan mata dan mengatur pernapasan untuk memulihkan kekuatannya.
dia lelah sekali, lelah lahir batin.
Melihat keadaan sahabatnya itu, Wiku Menak Koncar tersenyum dan mendiamkannya saja, tidak mengganggu karena dia tahu bahwa sahabatnya itu sedang menghimpun hawa murni dan memulihkan tenaganya.
dia sudah lama sekali menjadi sahabat baik Ki Harya Baka Wulung.
Bahkan beberapa tahun yang lalu mereka berdua bersama Kyai Sidhi Kawasa tokoh sakti Kerajaan Banten, bekerja sama menentang Mataram untuk membela Surabaya.
Ketika itu, daerah-daerah lain di Jawa Timur, kecuali Surabaya, Giri dan Blambangan, sudah jatuh ke tangan Mataram.
Mereka bertiga, tokoh-tokoh dari Madura, Blambangan, dan Banten itu membantu Surabaya jatuh juga karena Pangeran pekik bersikap lunak dan akhirnya Pangeran Pekik sebagai Adipati Surabaya malah menjadi mantu Sultan Agung.
Setelah Surabaya jatuh, Ki Harya Baka Wulung melarikan diri ke Giri, Wiku Menak Koncar kembali ke Blambangan dan Kyai Sidhi Kawasa juga kembali ke Banten.
Wiku Menak Koncar yang berada di Blambangan sebagai penasihat Adipati Blambangan mendengar akan jatuhnya Giri di tangan Sultan Agung.
Dia ikut prihatin namun tak dapat berbuat sesuatu.
Maka ketika tanpa disangka-sangka Ki Harya Baka Wulung muncul di pekaranganrumahnya, dia menyambutnya dengan girang.
Dia dapat melihat keadaan sahabatnya itu dan tahu bahwa Ki Harya Baka Wulung sedang dalam keadaan lelah lahir batin.
Maka dia lalu pergi menemui para abdinya dan memerintahkan mereka mempersiapkan hidangan makanan.
Setelah Ki Harya Baka Wulung menghentikan usahanya untuk memulihkan tenaga dan membuka mata, Wiku Menak Koncar lalu mengajaknya makan bersama.
"Kita makan dulu, baru nanti bercakap-cakap."
Katanya.
Ki Harya Baka Wulung mengangguk dan mereka makan bersama.
Setelah selesai makan, mereka bercakap-cakap di ruangan depan yang lebih luas dan lebih sejuk karena bagian depan ruangan itu terbuka sehingga hawa udara dari luar dapat masuk dengan bebas.
Mereka duduk berhadapan di atas kursi menghadapi meja dan di atasnya tergantung sebuah lampu yang cukup terang.
"Aku sudah mendengar bahwa Giri akhirnya jatuh juga ke tangan Sultan Agung. Kakang Harya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? bukankah Kanjeng Sunan Giri seorang yang sakti mandraguna? Bahkan andikapun berada di sana membantunya?"
Ki Harya Baka Wulung menghela napas dan mengepalkan tinju kanannya dengan gemas.
"Menyebalkan sekali, Adi Wiku! Sebetulnya pasukan Mataram dan Surabaya tidak mungkin dapat mengalahkan Giri. Akan tetapi Sultan Agung licik! Dia mengangkat puterinya, Ratu Wandansari, menjadi senopati. Menghadapi musuh seorang puteri, Kanjeng Sunan Giri menjadi lemah, apalagi mengingat bahwa puteri itu telah menjadi isteri Pangeran Pekik, muridnya yang tersayang. Apalagi Pangeran Pekik juga memihak Sultan Agung yang sudah menjadi mertuanya. Ah, aku merasa menyesal sekali dan dendam pribadiku terhadap Sultan Agung semakin mendalam. Karena itulah maka aku datang mengunjungimu, Adi Wiku. Aku ingin minta bantuanmu untuk membalas dendam kepada Sultan Agung!"
"Akan tetapi bagaimana caranya. Kakang Harya? Kedudukan Mataram semakin kuat dan Kadipaten Blambangan belum siap untuk melakukan srangan ke sana. Kami di sini hanya memperkuat diri untuk melakukan penjagaan dan pertahanan saja."
"Asalkan andika mau membantuku, Adi Wiku, tentu akan dapat mencari jalan. Marilah andika bantu aku dan kita menyeberang ke Madura. Aku akan membujuk Anakmas Raden Praseno yang kini diangkat oleh Sultan Agung menjadi Adipati Madura dan berkedudukan di Sampang. Dia adalah muridku, tentu akan mendengar bujukanku untuk memberontak terhadap kekuasaan Mataram membalaskan kekalahan lima kabupaten Arisbaya, Pamekasan, Sumenep, Sampang dan Balega."
Wiku Menak Koncar mengerutkan alisnya, berpikir sejenak, kemudian dia mengangguk-angguk.
"Kukira rencanamu itu cukup baik, Kakang Haryo. Kalau benar-benar seluruh kabupaten di Madura serentak bangkit dan melawan, kami dari Blambangan akan mengirim bala bantuan dan dengan mempersatukan tenaga, kurasa kita akan dapat mengalahkan Mataram."
"Kalau begitu, andika mau membantuku, Adi Wiku?"
Wiku Menak Koncar mengangguk.
"Baik, aku akan membantumu, Kakang Harya. Biar kusuruh mempersiapkan perahu yang baik, kita berangkat besok setelah menghadap Adipati Blambangan."
Harya Baka Wulung menjadi girang sekali.
Bangkit kembali semangatnya karena kini muncul harapan baru yang memberi jalan kepadanya untuk membalaskan dendamnya kepada Mataram.
Pada keesokan harinya mereka menghadap Adipati Blambangan yang menyatakan persetujuannya akan rencana dua orang datuk itu.
Setelah itu berangkatlah mereka berdua, berperahu melalui selat Bali terus ke utara kemudian menyeberangi selat Madura, menuju ke Sampang.
Ki Harya Baka Wulung adalah guru Raden Praseno yang kini menjadi adipati di Madura bergelar Pangeran Cakraningrat.
tentu saja kedatangan kedua datuk itu diterima dengan hormat oleh sang adipati.
juga Pangeran Cakraningrat menerima Wiku Menak Koncar dengan hormat.
Gia mengenal baik kakek itu apalagi Wiku Menak Koncar membawa salam dari Adipati Blambangan.
Untuk menghormati dua orang datuk itu Pangeran Cakraningrat mengadakan perjamuan makan.
Setelah selesai perjamuan, mereka bercakap-cakap dalam sebuah ruangan tertutup karena Ki Harya Baka Wulung minta kepada bekas muridnya itu untuk membicarakan urusan penting secara rahasia.
Setelah mereka bertiga duduk di ruangan tertutup Ki Harya Baka Wulung menceritakan rencananya, mengajak sang adipati untuk menghimpun kekuatan seluruh kabupaten di Madura untuk memerangi Mataram.
"Jangan khawatir, Anakmas Adipati, Sang Adipati Blambangan juga sudah siap untuk membantu gerakan kita. Kalau seluruh kekuatan di Madura dihimpun, kemudian dibantu oleh pasukan Blambangan, mustahil kita tidak mampu mengalahkan Mataram."
Ki Harya Baka Wulung menutup bicaranya.
Sejak tadi Pangeran Cakraningrat hanya mendengarkan saja.
Walaupun hatinya merasa terkejut bukan main, namun dia bersikap tenang dan hanya mendengarkan sampai bekas gurunya itu berhenti bicara.
Setelah itu baru dia berkata.
"Akan tetapi, Bapa Guru, itu berarti pemberontakan terhadap Mataram! Tidak mungkin saya memberontak terhadap Kanjeng Sultan Agung! Beliau tidak berniat menguasai Madura, melainkan hendak mempersatukan semua daerah untuk menghadapi Kumpeni Belanda. Untuk mempersatukan seluruh Madura beliau malah mengangkat saya menjadi Adipati Madura. Bagaimana sekarang Bapa Guru menganjurkan saya untuk memberontak terhadap Kanjeng Sultan Agung?"
"Heh-heh-heh!"
Ki Harya Baka Wulung memaksa diri tertawa sungguhpun di dalam hatinya dia marah mendengar ucapan bekas murid yang kini menjadi adipati itu.
"Anakmas Praseno! Semua itu hanya siasat licik Sultan Agung saja! Lupakah anakmas betapa banyaknya sanak keluarga kita yang tewas ketika Mataram datang menyerbu? Bukankah banyak para paman dan saudara anakmas yang juga terbunuh? Sultan Agung mengangkat anakmas sebagai adipati agar hanya anakmas melupakan semua itu! Lain waktu kalau saatnya tiba, tentu anakmas yang akan dibunuhnya. Lebih baik kita mendahului daripada didahului oleh raja Mataram yang kejam itu!"
Pangeran Cakraningrat menghela napas dalam.
"Bapa Guru, urusan ini bukanlah urusan kecil dan sepele. harus dipikirkan masak-masak dan disepakati oleh semua bupati. Saya kira tidak ada bupati yang akan menerima dan menyetujui pemberontakan, Bapa Guru. Maafkan saya, saya tidak mau menyengsarakan rakyat Madura dengan lain peperangan lagi. Kanjeng sultan Agung bukanlah musuh kita, melainkan pemimpin kita untuk menghadapi keserakahan Kumpeni Belanda."
Bukan main marahnya hati Harya Baka Wulung mendengar ucapan bekas muridnya itu.
Dia masih mencoba untuk membujuk, dibantu oleh Wiku menak Koncar, akan tetapi sama sekali kesetiaan Pangeran Cakraningrat terhadap Sultan Agung tidak goyah.
Dengan putus harapan dan marah Ki Harya Baka Wulung mengajak Wiku Menak Koncar untuk meninggalkan Sampang.
"Bagaimana kalau kita mencoba untuk membujuk Pangeran Pekik, adipati di Surabaya?"
Wiku Menak Koncar berkata kepada Ki Harya Baka Wulung ketika perahu mereka sudah meninggalkan pantai Madura dan memasuki selat Madura. Ki Harya Baka Wulung yang muram wajahnya itu menjawab kesal.
"Pangeran Pekik? Seperti mengharapkan matahari bersinar di malam hari! Tidak mungkin sama sekali. Setelah dia menikah dengan Ratu Wandansari, menjadi mantu Sultan Agung, mana mungkin dia diajak memberontak terhadap mertuanya?"
"Kalau begitu, apa yang akan andika lakukan sekarang, Kakang Harya? Kalau sudah tidak ada sesuatu lagi yang dapat kubantu, lebih baik aku kembali saja ke Blambangan,"
Kata Wiku Menak Koncar.
"Nanti duku, Adi Wiku,"
Kata Ki Harya Baka Wulung. Dia tampak mengerutkan alisnya, termenung, termenung dan mengolah pikirannya. Kemudian dia mengepal tangan kanannya dan memukul pahanya sendiri.
"Ah, inilah jalan terbaik! Kita harus dapat memberi pukulan yang tepat sekali untuk menghancurkan hati Sultan Agung dan melemahkan kedudukannya, merenggangkan hubungan Mataram dengan Surabaya dan Giri! dengan demikian, kita dapat membalas dendam kepada Sultan Agung!"
"Bagaimana caranya?"
Tanya Wiku Menak Koncar, ingin tahu sekali.
"Kita harus membunuh Ratu Wandansari!"
"Membunuh Ratu Wandansari? Mengapa? Dan apa untungya bagi kita?"
"Adi Wiku, jatuhnya Surabaya dan Giri karena puteri Sultan Agung itu. Pangeran Pekik menjadi lemah dan perlawanannya berhenti karena dia dinikahkan dengan Ratu Wandansari. Kemudian Giri jatuh karena Ratu Wandansari yang menjadi senopati memimpin pasukan menyerbu Giri. Sekarang, hubungan antara Surabaya dan Mataram menjadi kuat karena ada Ratu Wandansari dan Giri juga tunduk karena melihat Surabaya juga tidak lagi memusuhi Mataram. Nah, kalau Ratu Wandansari dibunuh, selain hati sultan Agung menjadi hancur karena kehilangan puterinya yang amat dikasihi, juga Pangeran Pekik tidak terikat lagi kepada Mataram. Setelah begitu, tentu Surabaya dan Giri siap untuk menentang Mataram. Bukankah siasat ini baik sekali?"
Wiku Menak Koncar mengangguk-angguk dan memandang kepada sahabatnya dengan kagum.
"Hebat! Siasat itu memang bagus sekali, Kakang Harya. akan tetapi, bagaimana kita akan dapat membunuh Ratu Wandansari? Ia adalah seorang wanita sakti mandraguna."
Ki Harya Baka Wulung tersenyum lebar.
"Aku tahu bahwa Ratu Wandansari adalah murid mendiang Bhagawan Sindusakti yang dulu menjadi ketua perguruan silat Jatikusumo. Akan tetapi betapapun saktinya, tidak mungkin dia dapat mengalahkan andika atau aku, apalagi kalau kita berdua melawannya."
"Akan tetapi, Kakang Harya. Ia telah menjadi isteri Pangeran Pekik. Ia tentu berada di istana Kadipaten Surabaya dan terjaga kuat. Bagaimana kita mendekatinya, apalagi membunuhnya?"
"Inilah yang harus kita selidiki, Adi Wiku. Kita selidiki ke Surabaya dan begitu ada kesempatan, kita bertindak. Bagaimana? apakah andika masih mau membantuku?"
"Baiklah, aku akan membantumu, Kakang Harya."
"Bagus, terima kasih, Adi Wiku."
"Tidak perlu berterima kasih karena kalau usaha kita berhasil berarti suatu keuntungan besar pula bagi Kabupaten Blambangan."
Mereka lalu memerintahkan anak buah untuk mengarahkan perahu ke Surabaya.
Setelah meninggalkan dusun Gampingan, Aji berhenti di persimpangan jalan, meragu sejenak.
Dia merasa bingung harus mengambil jurusan mana.
Biarpun ia mengemban tugas untuk mencari putera mendiang gurunya yang berada di Banten, yaitu daerah yang menurut gurunya berada jauh di barat, juga keinginannya mencari Hasanudin putera ayahnya mengharuskan dia pergi ke daerah Galuh di utara lalu ke barat, namun keinginannya merantau dapat dilakukan ke arah mana saja.
Tiba-tiba teringatlah dia akan burung alap-alap yang sering dilihatnya di atas pantai Laut Kidul.
Teringat akan ini, langkahnya membawanya ke selatan, ke arah laut.
Tak lama kemudian Aji Sudah berdiri di atas pantai berpasir, memandang ke arah laut yang begelombang.
Ombak besar bergulung-gulung, memanjang seperti naga, kepala ombak yang putih itu berkejaran, lalu bertumbukan dan pecah menimbulkan suara menggelegar.
Air laut bergerak dan bergelora, siang malam tak pernah berhenti.
Aji menengadah, memandang ke angkasa, mencari-cari.
tiba-tiba dia tersenyum dan matanya bersinar-sinar karena dia melihat apa yang dicarinya.
Titik hitam melayang-layang di antara awan itu.
Alap-alap Laut Kidul, demikian dia memberi nama burung yang telah menjadi kesayangannya itu.
Titik hitam itu semakin membesar, semakin turun sehingga akhirnya dia dapat melihat dengan jelas.
Alap-alap yang gagah perkasa, melayang-layang berputaran seolah-olah menyambutnya.
Kemudian burung itu terbang pergi ke arah timur.
Aji mengangguk-angguk.
"Baiklah, Alap-alap Laut Kidul, aku akan mengikuti ke arah mana engkau terbang!"
Katanya.
Burung itu seolah memberi prtunjuk kepadanya bahwa dia harus memulai perantauannya ke arah timur.
Mulailah Aji dengan perjalanannya.
Dia menuju ke timur.
Naik turun bukit-bukit yang seolah tiada habisnya itu.
Dari ketinggian bukit-bukit itu dia kadang dapat melihat Laut Kidul.
Dari jauh tampak tenang membiru.
Diam dan tenang.
Pasahal dia tahu benar bahwa laut itu tidak pernah diam.
Berhari-hari Aji melakukan perjalanan melalui Pegunungan Kidul atau Pegunungan Seribu yang memanjang dari barat ke timur itu.
Di waktu malam dia bermalam di dusun yang dilewatinya, kadang juga terpaksa harus bermalam di sebuah guha yang gelap.
beberapa hari kemudian tibalah dia di sebuah dusun di tepi pantai.
Dusun Wonocolo yang terletak di pantai teluk Panggul.
Karena hari telah menjelang senja, Aji mengambil keputusan untuk bermalam di dusun itu.
Pada saat dia memasuki dusun itu, tiba-tiba tampaklah olehnya seekor burung alap-alap melayang-layang di angkasa.
Aji merasakan jantungnya berdebar gembira.
Entah bagaimana, setiap kali melihat burung alap-alap terbang di angkasa, penglihatan itu begitu akrab dalam hatinya.
Penglihatan yang tidak asing.
seolah-olah yang melayang-layang itu adalah alap-alap yang dulu juga, yang suka melayang di atas pantai berpasir di sebelah selatan dusun tempat lahirnya, alap-alap yang pernah dilihatnya berkelahi melawan ular dan memenangkan perkelahian itu.
Alap-alap yang dengan perkelahian itu telah mengajarkan ilmu tata kelahi yang baru kepadanya.
Dan kini alap-alap itu terbang pergi, menuju ke utara!
Seolah menjadi pertanda baginya bahwa perjalanan selanjutnya adalah utara.
Demikianlah, setelah bermalam di rumah seorang petani tua di dusun Wonocolo itu selama satu malam, pada keesokan harinya Aji melanjutkan perjalanannya.
Kini dia melakukan perjalanan ke arah utara!
Dia merasa dirinya seekor burung alap-alap yang terbang bebas di udara, menuju ke manapun hati dan kakinya membawanya.
Beberapa hari kemudian tibalah dia di daerah Caruban.
Pada saat itu matahari sedang panas-panasnya dan tepat beradadi atas kepala.
Aji melepas lelah dan duduk di bawah sebatang pohon dadap.
Tempat itu sejuk sekali karena terlindung banyak pohon yang tumbuh di tepi jalan.
Agaknya dia telah tiba di jalan raya yang membentang dari timur ke barat.
Simpang tiga itu berada di daerah berhutan dan keadaan di situ sepi, agaknya jauh dari dusun.
Padahal perutnya sudah terasa lapar.
Dia harus bisa menemukan sebuah dusun untuk dapat memperoleh makanan.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang dari arah timur.
Dia menoleh dan tak lama kemudian, dari jalan yang menikung itu muncul tujuh orang laki-laki yang sedang berjalan menuju ke barat.
Entah mengapa, melihat tujuh orang laki-laki itu, timbul perasaan curiga dan tidak enak dalam hati Aji.
Maka dia cepat bersandar ke batang pohon itu dan dia memejamkan kedua matanya, pura-pura tertidur.
Dengan sedikit membuka matanya, melalui bulu matanya dia dapat memperhatikan mereka.
Yang menarik perhatiannya adalah dua orang kakek yang berjalan di depan dalam rombongan tujuh orang itu.
Seorang kakek bertubuh tinggi besar seperti raksasa.
Rambut dan brewoknay kaku seperti kawat, sudah berwarna dua.
Matanya lebar dan liar.
Kepalanya memakai kain pengikat kepala wulung.
Kakek yang tampak gagah dan kokoh kuat ini walaupun usianya sudah hampir tujuh puluh tahun, membawa sebatang keris dengan warangka dan gagang terukir indah, terselip di pinggangnya.
Kakek kedua yang berjalan di samping kakek pertama, juga menarik perhatian Aji.
Usia kakek ini sebaya dengan kakek petama.
tubuhnya sedang saja, akan tetapi kulitnya amat menarik perhatian karena kulit itu hitam sekali, seperti arang.
Pakaiannya mewah dan wajahnya buruk dengan matanya yang sipit, hidungnya yang pesek dan bibirnya yang tebal.
Kakek ini membawa sebatang senjata ruyung atau penggada yang tergantung di pinggang kirinya.
Juga kakek kedua ini, biarpun tubuhnya tidak sekokoh kakek pertama, menunjukkan kegagahan.
Sikap dan pandang mata dua orang kakek yang usianya sudah hampir tujuh puluh tahun ini menunjukkan bahwa mereka "berisi", yaitu dua orang yang memiliki kesaktian.
Lima orang laki-laki yang berjalan di belakang mereka juga merupakan orang-orang yang bersikap gagah.
Usia mereka dari empat puluh sampai lima puluh tahun dan Aji melihat keanehan pada pakaian mereka.
Lima orang itu mengenakan baju dan celana hitam.
Mereka membiarkan baju itu terbuka di bagian dada, dan celana hitam mereka sampai ke bawah lutut.
Yang menarik adalah ikat pinggang mereka.
Ikat pinggang itu merupakan kolor yang besar, hampir sebesar lengannya, panjang hampir menyentuh tanah dan bermacam-macam warnanya.
Aji yang belum pernah keluar dari dusun tempat lahirnya, paling jauh dia hanya pergi ke tepi laut, dan sama sekali belum berpengalaman.
sama sekali tidak tahu bahwa lima orang itu adalah para warok, yaitu jagoan dari daerah Ponorogo.
Ketika dalam perjalanannya beberapa hari yang lalu dia melewati Ponorogo, dia juga melihat banyak kaum pria yang berpakaian seperti lima orang itu, akan tetapi karena tidak pernah terjadi sesuatu, diapun tidak tahu siapa mereka, sama sekali tidak mengira bahwa mereka adalah para jagoan dan bahwa kolor yang besar itu merupakan senjata mereka yang ampuh.
Ketika rombongan itu tiba di dekat tempat Aji tersandar pada batang pohon, dua orang kakek itu menghentikan langkah mereka.
Lima orang itupun berhenti dan mereka mengamati Ajim dengan penuh perhatian.
Kemudian terdengar kakek berkulit hitam arang itu berkata dengan suara tinggi seperti suara wanita.
"Ah, untuk apa perhatikan dia? Dia hanya seorang bocah yang kelelahan dan mungkin kelaparan. Hayo jalan terus dan kita mencari tempat baik untuk menghadang."
Logat bicara kakek itu terdengar aneh bagi Aji, namun dia masih dapat mengerti artinya.
Tujuh orang itu melanjutkan perjalanan mereka.
Hati Aji sudah tergerak dan dia tertarik sekali.
Sikap mereka itu tidak seperti orang-orang biasa yang kebetulan lewat di jalan ini.
Mereka tentu mempunyai niat tertentu.
Kakek hitam tadi bicara tentang penghadangan!
Jangan-jangan mereka mempunyai niat buruk terhadap orang yang akan dihadang!
Setelah rombongan itu menghilang di tikungan jalan, Aji cepat bangkit, menggendong lagi buntalan pakaiannya dan diapun menyelinap di antara pohon-pohon dan membayangi rombongan itu dari jarak agak jauh sambil bersembunyi di balik pohon-pohon.
Setelah tiba di bagian hutan yang lebat, tujuh orang itu berhenti dan mereka lalu berpencar, bersembunyi di balik pohon besar atau semak-semak sehingga tidak tampak dari jalan.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 11
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 13