Ceritasilat Novel Online

Alap Alap Laut Kidul 3

Eps 3 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo

Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo

Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.

Melihat ini, berdebar rasa jantung Aji.

Dugannya tidak keliru.

mereka itu tentu berniat buruk terhadap orang yang sedang mereka hadang.

Dia pun bersembunyi di balik semak belukar dan melakukan pengintaian.

Dua orang kakek itu bukan lain adalah Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar.

Seperti kita ketahui, dua orang datuk dari Madura dan Blambangan ini telah gagal membujuk Pangeran Cakraningrat untuk memberontak terhadap Mataram.

Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung tidak putus asa.

dendamnya terhadap Mataram sedemikian besarnya sehingga dia tidak akan berhenti sebelum dapat membalas dendam.

Dia berhasil membujuk Wiku Menak koncar, untuk membantunya mencari kesempatan untuk membunuh Ratu Wandansari, puteri Sultan Agung atau isteri Pangeran Pekik dalam usahanya membalas kematian anaknya.

Dengan membunuh Ratu Wandansari, dia dapat menghancurkan hati Sultan Agung dan sekaligus merenggangkan hubungan antara Mataram dan Surabaya, juga Giri.

Beberapa lamanya mereka menanti dan mengintai kesempatan dan sekarang kesempatan itu tiba!

Dari beberapa orang anak buah yang mereka sebar di Kadipaten Surabaya untuk melakukan penyelidikan, mereka mendengar bahwa pada hari itu Ratu Wandansari akan melakukan perjalanan menuju Mataram, seorang diri, tidak dengan Pangeran Pekik.

Dan seperti biasanya, puteri yang digdaya, sakti mandraguna dan memiliki kelebihan, mampu melindungi diri sendiri.

Mendengar berita ini, Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar menjadi girang bukan main.

Saat yang ditunggu-tunggu selama berpekan-pekan itu akhirnya tiba.

Kesempatan itu akhirnya terbuka.

Mereka cepat mendahului perjalanan sang puteri dan di daerah Madiun mereka berhasil menemui lima orang warok bersaudara yang terkenal sebagai Lima Macan Nganjuk.

Lima orang jagoan bersaudara ini berasal dari Ponorogo dan dulu pernah memperdalam aji kanuragan dari Ki Harya Baka Wulung sehingga mereka boleh disebut murid-murid datuk ini, walaupun mereka tidak menyerap seluruh kepandaian Ki Harya Baka Wulung, melainkan hanya memperdalam ilmu mereka sendiri menurut petunjuk datuk itu.

Akan tetapi hal ini sudah cukup untuk membuat mereka menaati perintah Ki Harya Baka Wulung yang mereka anggap sebagai guru mereka.

Ketika datuk itu minta bantuan mereka, dengan senang hati lima orang warok itu menyanggupi dan berangkatlah mereka bersama dua orang datuk itu, mencari tempat penghadangan yang baik di dalam hutan daerah Caruban.

Demikianlah pada siang hari itu mereka menanti dan menghadang di dalam hutan sambil bersembunyi.

Mereka telah memperhitungkannya dengan seksama bahwa kereta sang puteri pasti akan lewat di tempat itu pada siang hari ini.

Mereka tahu dengan pasti bahwa perhitungan mereka tidak akan meleset dan Ki Harya Baka Wulung sudah menggosok-gosok kedua telapak tangannya membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan berhasil membalas dendam kematian puteranya!

Kurang lebih satu jam kemudian, terdengarlah derap kaki kuda dan roda kereta datang dari arah timur.

Aji yang berada di sebelah timur gerombolan yang menghadang kereta itu dapat melihat lebih dulu rombongan yang datang dari arah timur itu.

Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda berjalan di depan, kusirnya seorang laki-laki setengah tua yang mengenakan pakaian khas sais kadipaten.

Yang duduk dalam kereta itu tidak tampak karena tirai pintu kereta itu tertutup.

Di belakang kereta terdapat dua belas orang prajurit menunggang kuda.

Rombongan itu berjalan sedang saja, tampaknya tidak tergesa-gesa.

Mungkin perjalanan lambat itu dilakukan agar kereta tidak terlalu terguncang.

Aji memandang dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Dia tidak tahu siapa yang berada dalam kereta akan tetapi dapat menduga bahwa mungkin sekali rombongan inilah yang dihadang oleh tujuh orang itu.

Bagaimanapun juga, hatinya merasa agak lega melihat bahwa kereta itu dikawal dua belas orang prajurit berkuda yang tampaknya gagah dan kuat.

Dengan hati-hati dia menyusup di antara pohon-pohon dan semak-semak untuk mendekat agar dapat melihat lebih jelas.

Perhitungan Ki Harya Baka Wulung dan kawan-kawannya tidaklah salah.

Ratu Wandansari yang berada dalam kereta yang dikawal selosin prajurit itu.

Siang itu hawanya panas sekali dan perjalanan jauh itu melelahkan, maka Ratu Wandansari yang duduk dalam kereta itu mengantuk dan melenggut.

Sedikitpun ia tidak merasa khawatir akan menemui halangan dalam perjalanan.

Ia adalah puteri Sultan Agung dan isteri Pangeran Pekik.

Siapa yang akan berani mengganggunya?

Pula, andaikata ada yang begitu berani mengganggu, ada selosin perajurit pilihan mengawalnya, dan dia sendiri tidak takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun.

Tiba-tiba sais kereta itu menahan empat ekor kuda penarik kereta.

Karena dia menarik kendali secara mendadak, maka kereta berhenti dengan tiba-tiba pula dan hal ini membuat Ratu Wandansari tersentak bangun dari keadaan setengah tidur.

Dua belas orang prajurit berloncatan turun dari atas kuda mereka dan berlari ke depan kereta untuk melindungim sang puteri.

Mereka melihat tujuh orang tiba-tiba berloncatan dari kanan kiri jalan dan berdiri menghadang dengan sikap mengancam.

Aji sudah menyelinap cukup dekat dan dia menonton dengan hati tegang.

Dia menghadapi pertentangan, mungkin pertempuran kedua pihak yang tidak dikenalnya, tidak tahu siapa di antara kedua pihak itu yang benar atau salah, siapa yang harus dibantu atau ditentang.

Perwira pasukan pengawal itu, seorang laki-laki tinggi tegap berkumis tebal seperti Raden Gatutkaca, menghadapi tujuh orang itu dan berkata dengan suara lantang berwibawa.

"Siapa kalian, berani mati menghadang perjalanan rombongan kami! Apakah kalian tidak tahu siapa yang berada dalam kereta? Beliau adalah Gusti Ratu Wandansari, puteri dari Kanjeng Gusti Sultan Agung, garwa (isteri) Pangeran Pekik Adipati Surabaya!"

"Heh-heh-heh, perwira precil (anak katak)! Apakah matamu sudah buta sehingga tidak mengenal lagi siapa kami berdua?"

Ki Harya Baka Wulung membentak setelah tertawa mengejek.

Sementara itu, dalam pengintaiannya, Aji terkejut bukan main ketika mendengar pengakuan perwira itu bahwa yang berada di dalam kereta adalah Ratu Wandansari, puteri Sultan Agung atau isteri Pangeran Pekik.

Nama-nama ini sudah didengarnya baik-baik dari mendiang gurunya.

bahkan gurunya juga memberitahu kepadanya bahwa yang namanya Ratu Wandansari itu adalah puteri Sultan Agung yang selain amat cantik, juga sakti mandraguna walaupun kesaktiannya tentu saja belum mampu menyamai kesaktian Sultan Agung sendiri.

Dan mendiang gurunya dulu memesan agar dia mengabdi dan membantu Sultan Agung.

Dengan sendirinya sekarang dia harus pula membantu Ratu Wandansari kalau sekiranya puteri itu membutuhkan bantuan.

Sekarang dia tahu di pihak siapa dia harus berdiri.

Kini agaknya perwira pasukan pengawal itu baru mengenal dua orang datuk yang dulu pernah membantu Pangeran Pekik ketika Surabaya berperang melawan Mataram.

Dia segera memberi hormat dengan membungkuk dan berkata kaget dan heran.

"Ah, kiranya Paman Harya Baka Wulung dan Paman Wiku Menak Koncar! Maafkan kalau saya tidak mengenal paman berdua tadi. Akan tetapi apa kehendak paman menghadang perjalanan kami yang mengawal Gusti Puteri Wandansari?"

"Sudah, minggirlah! Kami tidak ingin berbicara dengan orang-orang kecil macam kalian! Minggir! Kami hendak bicara langsung dengan puteri Wandansari!"

Kata Ki Harya Baka Wulung dengan lagak angkuh.

Pada saat itu, tirai kereta itu tersingkap dari dalam dan keluarlah seorang wanita dari dalam kereta.

Aji memandang dengan mata terbelalak kagum.

Belum pernah selama hidupnya dia melihat seorang wanita yang demikian anggun.

Usianya sekitar tiga puluh tahun.

Pakaiannya indah.

tubuhnya ramping padat.

Kepala dan tubuhnya tegak ketika ia berdiri sehingga tampak gagah dan berwibawa.

Rambutnya hitam panjang digelung dan dihias tusuk sanggul dari emas permata.

Sepasang matanya tajam dan mengandung wibawa yang kuat.

Sebatang pedang dengan sarung berukir indah tergantung di punggungnya, membuat wanita itu tampak semakin gagah.

Aji yang selama ini hanya bertemu dengan wanita dusun yang sederhana, tentu saja kini merasa seolah-olah sedang bermimpi dan bertemu dengan seorang puteri kahyangan atau bertemu dengan tokoh Srikandi, wanita perkasa dalam cerita wayang!

Ketika wanita itu bicara, suaranya merdu namun lantang dan berwibawa.

"Kiranya Paman Harya Baka Wulung dan Paman Wiku Menak koncar yang menghadang perjalananku. Seingatku, kami tidak mempunyai urusan apapun dengan andika berdua! Ada kepentingan apakah paman berdua menghadang perjalananku?"

"Heh-heh-heh, Ratu Wandansari! Andika harus mati di tanganku untuk menebus dosa ayahmu, Sultan Agung!"

Setelah berkata demikian, Ki Harya Baka Wulung memberi isyarat kepada lima orang warok yang sudah siap siaga.

Lima orang warok itu sambil memegangi kolor, memutar senjata itu dan menerjang maju.

Akan tetapi perwira yang memimpin pasukan pengawal tidak tinggal diam.

Dia meneriakkan aba-aba dan para perajurit segera menyambut terjangan lima orang warok itu, menggunakan pedang mereka.

Pasukan pengawal yang terdiri dari tiga belas orang berikut perwira tadi memang merupakan pengawal istimewa yang bersenjatakan pedang.

Mereka rata-rata pandai bersilat pedang dan tangguh sehingga para warok itu bertemu dengan lawan yang cukup tangguh.

Melihat ini, Wiku Menak Koncar mengambil ruyungnya dan dengan penggada ini dia membantu lima orang warok menghadapi pengeroyokan para perajurit pengawal.

"Ratu Wandansari, bersiaplah untuk mati di tanganku!"

Bentaknya sambil melompat ke depan puteri itu.

"Harya Baka Wulung keparat kau! Dahulu kanjeng rama masih mengampunimu, tidak membunuhmu dan membiarkan engkau lari dari Surabaya bersama Wiku Menak Koncar. Juga ketika aku memimpin pasukan menundukkan Giri, aku tidak menyuruh pasukan menangkapmu, membiarkan engkau melarikan diri mengingat engkau seorang tua yang dihormati di Madura! Akan tetapi hari ini engkau bertindak khianat dan curang, menghadangku di tengah hutan! Jangan mengira bahwa aku takut menghadapimu!"

"Babo-babo! Baru puas rasa hatiku kalau sudah dapat membunuhmu!"

Teriak Ki Harya Baka Wulung sambil menyerang dengan tusukan kerisnya.

Serangannya dahsyat bukan main karena tenaga tusukannya diperkuat tenaga sakti, didorong gerengan seperti seekor katak buduk.

Akan tetapi dengan gerakan tangkas sekali, Ratu Wandansari sudah melompat ke belakang dan begitu tangan kanannya meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan sinar mengkilap.

Ki Harya Baka Wulung menerjang lagi, menyerang dengan kerisnya.

Sekali ini, Ratu Wandansari menggerakkan pedangnya menangkis.

"Wuuuutttt ...... trang.....!"

Pedang bertemu keris.

Bunga api berpijar menyilaukan mata akibat benturan dua senjata yang didorong tenaga sakti dahsyat itu membuat sang puteri terhuyung ke belakang.

Ternyata ia masih kalah kuat!

Akan tetapi gerakannya trengginas sekali sehingga ketika Ki Harya Baka Wulung mendesak, ia sudah mampu mengendalikan diri dan mempergunakan kegesitannya dan menghindarkan serangan susulan.

Mulailah puteri perkasa ini bersilat dengan ilmu pedang Kartika Sakti, sebuah ilmu pedang yang amat ampuh, yang dipelajarinya dari mendiang Resi Limut Manik, pertapa di puncak Semeru.

Terjadilah pertempuran yang amat hebat antara Ki Harya Baka Wulung itu melawan Ratu Wandansari.

Sebetulnya, sang puteri masih kalah dalam hal tenaga sakti dan pengalaman bertanding, akan tetapi karena ia memiliki ilmu pedang yang amat ampuh itu, maka untuk sementara ia mampu mengimbangi serangan datuk dari Madura itu.

Aji menonton pertempuran dengan hati tegang.

Dia melihat betapa tiga belas orang prajurit, dibantu pula oleh sais kereta yang ternyata juga seorang yang digdaya, menggunakan cambuknya sebagai senjata, tetap saja mereka kewalahan menghadapi Wiku Menak Koncar dan lima orang warok.

Terutama sekali Sang Wiku amat hebat sepak terjangnya.

Penggada di tangannya itu amat ampuh.

setiap kali ada perajurit berani menangkis sambaran ruyungnya, perajurit itu tentu terpental dan terpelanting!

Juga amukan lima orang warok itu amat ganas.

Untung bahwa para perajurit itu merupakan pasukan yang dapat bekerja sama dengan baik karena terlatih sehingga mereka dapat saling bantu dan sebegitu lama masih mampu menandingi amukan Wiku Menak Koncar dan lima orang warok itu.

Akan tetapi menurut pandangan Aji, kalau pertempuran itu dilanjutkan, akhirnya tentu para perajurit akan kalah.

Demikian pula, sang puteri agaknya akan sulit mengalahkan kakek tinggi besar yang amat tangguh itu.

Akan tetapi dia masih merasa ragu untuk keluar membantu puteri itu.

Gurunya pernah menasihatinya agar dia tidak sembarangan mencampuri urusan orang lain dan juga banyak pendekar atau kesatria yang merasa tidak senang dibantu dalam perkelahian, apalagi kalau dia belum terancam oleh lawan.

Pada saat itu terdengar seruan-seruan lantang dan penuh daya getaran.

Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar mengeluarkan ilmu mereka yang dahsyat.

Datuk Madura itu dalam keadaan tubuh direndahkan mengembangkan kedua lengannya lalu mendorong ke depan.

Dari gerakannya itu tiba-tiba saja tampak asap hitam mengepul tebal menyerang ke arah sang puteri.

Itulah Aji Kukus Langking yang amat hebat.

Ratu Wandansari adalah seorang wanita yang sakti mandraguna.

Ia maklum akan bahayanya serangan yang menggunakan tenaga sakti dan kekuatan sihir itu.

Iapun lalu mengerahkan tenaga sakti dan mendorong dengan kedua tangannya, menggunakan Aji Gelap Musti.

"Aji Kukus Langking.....!"

Ki Harya Baka Wulung berseru dan memperkuat tenaga.

"Aji Gelap Musti!"

Ratu Wandansari juga berteriak melengking.

Dua tenaga sakti bertemu dan akibatnya, sang puteri terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung.

Jelas bahwa ia kalah kuat dalam pertandingan adu tenaga sakti ini.

Sementara itu, dalam saat yang hampir bersamaan, Wiku Menak Koncar juga mendorongkan kedua tangannya ke depan sambil berseru nyaring.

"Aji Bayu Bajra.....!"

Begitu dia berseru dan kedua tangannya mendorong, ada angin yang amat kuat menyambar ke arah para perajurit pengawal.

Demikian kuatnya dorongan angin ini sehingga lima orang perajurit terpelanting dan terguling-guling!

Tentu saja rekan-rekannya menjadi panik sehingga mereka terdesak mundur.

Melihat Ratu Wandansari terhuyung, Ki Harya Baka Wulung menjadi girang sekali.

Saatnya tiba baginya untuk membunuh sang puteri.

Dia sudah menyarungkan kerisnya kemudian dia melompat ke depan, berjongkok dan mendorongkan kedua tangan ke arah Ratu Wandansari, dari dalam perutnya yang menjadi gendut sekali itu keluar bunyi.

"kok-kok-kok!"

Nyaring sekali dan mulutnya berteriak nyaring lagi.

"Aji Cantuka Sakti.....!!"

Melihat hawa pukulan menyambar dahsyat, Ratu Wandansari kembali menyambut dengan Aji Gelap Musti, akan tetapi tubuhnya masih terhuyung.

"Wuuuutttt....., blarrrr.....!!"

Tubuh Ki Harya Baka Wulung terpental ke belakang.

Dia terbelalak kaget melihat betapa pukulan mautnya tadi disambut sepasang tangan yang amat kuat.

Ketika dia memandang, dia melihat seorang pemuda berpakaian seperti seorang petani dusun berdiri di depannya.

Akan tetapi pemuda yang tadi menangkis pukulannya itu seperti tidak memperdulikannya.

Pemuda itu bahkan menghadapi Ratu Wandansari dan berkata dengan sikap hormat.

"Maafkan kalau saya mengganggu dan terpaksa mencampuri, Gusti Puteri. Saya tidak mungkin membiarkan kakek itu membunuh paduka."

Ratu Wandansari memandang heran dan kagum, kemudian ia melirik ke arah pasukan pengawal yang terdesak oleh Wiku Menak Koncar dan lima orang warok setelah datuk Blambangan itu mengeluarkan ajinya yang mendatangkan angin kuat.

"Ki sanak, andika berani melawan Ki Harya Baka Wulung?"

Tanyanya cepat.

"Saya berani!"

Jawab Aji.

"Kalau begitu, wakili aku dan lawanlah. Aku harus membantu pasukan pengawal."

"Silahkan, Gusti Puteri!"

Kata Aji dengan nada suara gembira.

Ratu Wandansari mengangguk dan ia lalu memutar pedangnya dan menerjang ke arah Wiku Menak Koncar yang sedang dikeroyok perwira pasukan pengawal, sais kereta dan beberapa orang prajurit.

Sambaran pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar itu mengejutkan Wiku menak Koncar dan terpaksa dia memutar ruyungnya untuk melindungi dirinya.

Ki Harya Baka Wulung marah bukan main ketika mengenal Aji sebagai pemuda yang tadi dilihatnya tidur bersandar batang pohon.

Dia telah gagal membunuh Ratu Wandansari karena dihalangi dan ditangkis pemuda ini!

"Heh, bocah keparat!

Siapakah engkau, berani mencampuri urusan kami?"

Pada saat itu, entah mengapa, mungkin karena dia merasa gugup berhadapan dengan keadaan yang menegangkan seperti itu, juga karena dia tidak ingin memperkenalkan diri, Aji teringat kepada alap-alapnya.

Dia merasa bahwa keadaannya seperti alap-alap itu, maka begitu saja keluar pengakuan dari mulutnya.

"Aku? Aku Alap-alap dari Laut Kidul!"

Dia sendiri terkejut dan heran atas pengakuannya itu, akan tetapi juga geli sendiri sehingga dia tersenyum memandang kepada Ki Harya Baka Wulung.

Datuk Madura itu mengerutkan alisnya.

Dia menjadi semakin marah karena merasa dipermainkan.

Diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihir pada pandang mata dan dalam suaranya.

Matanya mencorong menatap wajah Aji, kemudian terdengar suaranya menggelegar.

"Orang muda! Aku Ki Harya Baka Wulung adalah sesembahanmu! Berlutut dan menyembahlah kepadaku!"

Bentakan ini mengandung kekuatan sihir amat kuat.

Lawan biasa saja pasti tidak akan kuat bertahan dan terpaksa menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

Akan tetapi Aji sudah siap siaga.

Dia tahu bahwa kakek ini sakti mandraguna, maka sejak tadi dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala macam penyerangan.

Begitu dia merasa adanya daya kekuatan dalam sinar mata kakek itu, dia sudah cepat melindungi dirinya dengan Aji Tirta Bantala.

Dengan ilmu ini dirinya mempunyai sifat seperti tirta (air) dan bantala (tanah) yang dapat menerima dan menyerap segala macam serangan tanpa perlawanan.

Serangan itu akan lewat begitu saja.

"Orang tua, sesembahanku hanyalah Gusti Allah. Orang yang mengandalkan ilmunya untuk melakukan kejahatan tidak patut dihormati. Sadarlah, sadarlah dan hentikan perbuatanmu yang sesat!"

Ki Harya Baka Wulung terkejut.

Sihirnya sama sekali tidak mempengaruhi pemuda itu!

Pada hal pemuda itu tidak melakukan apa-apa untuk menangkis serangan sihirnya.

Belum pernah dia menghadapi lawan seperti ini.

Apakah kekuatan sihirnya yang sudah punah?

Dia berkemak-kemik membaca mantera, lalu membentak lagi.

"Orang muda, kedukaan hebat mencengkeram hatimu. menangislah engkau!"

Akan tetapi pemuda itu malah tersenyum geli.

"Orang tua, apakah engkau sudah menjadi pikun? Ataukah pikiranmu sudah tidak waras lagi?"

Wajah Ki Harya Baka Wulung menjadi merah sekali, merah karena malu dan terutama karena marah.

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu berjongkok dan menyerang dengan dorongan pukulan kedua telapak tangannya sambil membentak.

"Aji Cantuka Sakti.....!"

Dari perutnya terdengar bunyi nyaring.

Serangkum hawa panas yang berbau amis menyambar keluar dari kedua telapak tangannya, menyerang ke arah Aji.

Biarpun dia belum mempunyai banyak pengalaman dalam perkelahian, namun Aji sudah seringkali mendengar penjelasan dari mendiang gurunya, maka dia selalu waspada.

Maka ketika kakek itu melancarkan pukulannya, dia sudah bergerak cepat dan mengelak dengan gerakan seperti seekor kera karena memang dia memainkan ilmu silat Wanara Sakti.

Melihat pukulan mautnya luput, Ki Harya Baka Wulung menjadi penasaran dan mendesak terus dengan serangkaian serangan.

Tubuhnya melompat-lompat dalam kedudukan berjongkok dan setiap kali memukul, dia mendorongkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka dan dari perutnya keluar suara berkokok nyaring.

Aji mempergunakan kecepatan gerakannya untuk selalu menghindar, kadang membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparan yang mengandung tenaga sakti Aji Surya Candra yang kuat.

Dari sambaran angin pukulan berupa tamparan ini, maklumlah Ki Harya Baka Wulung bahwa tamparan pemuda itupun ampuh sekali maka dia tidak berani menerimanya dengan mengandalkan ilmu kebalnya.

Terjadi pertandingan yang hebat antara kedua orang ini.

Kakek itu bergerak seperti seekor katak raksasa dan Aji bergerak lincah tiada ubahnya seekor kera, atau seperti tarian Sang Hanoman di kera putih dalam kisah Ramayana.

Ilmu silat Wanara Sakti yang diajarkan oleh mendiang Ki Tejobudi kepada Aji lebih merupakan ilmu silat untuk menghindarkan diri dari serangan lawan.

Ilmu ini memang ampuh untuk menyelamatkan diri karena gerakannya yang gesit dan penuh dengan gerakan menghindar sehingga sukar sekali terkena serangan lawan.

Akan tetapi ilmu silat ini kurang ampuh dalam penyerangan, hanya berupa tamparan-tamparan saja yang dilakukan cepat pula, inipun tidak mengesampingkan data pertahanannya.

Kalau saja tamparan itu tidak disertai Aji Surya Chandra, tentu hanya merupakan tepukan-tepukan main-main saja.

Akan tetapi melihat kenyataan betapa dengan ilmu silatnya ini dia dapat membela diri dengan baik, Aji merasa gembira sekali.

Tak disangkanya bahwa ilmunya ini dapat ia pergunakan untuk menandingi orang yang sakti mandraguna seperti kakek itu.

Timbul kegembiraannya dan dia lalu mencoba untuk mempraktekkan ilmu silat yang dia rangkai sendiri berdasarkan gerakan burung alap-alap dan ular ketika kedua binatang itu berkelahi.

Dia mengubah gerakan kera itu menjadi gerakan alap-alap dan ular yang selain kuat dalam bertahan juga kuat pula serangan-serangannya.

Bagaikan ular menggeliat dan kadang seperti gerakan alap-alap terbang meliuk, dia dapat menghindarkan serangan-serangan Ki Harya Baka Wulung.

Tiba-tiba Aji mengeluarkan pekik yang ditirunya dari suara alap-alap ketika melayang-layang di atas Laut Kidul dan tubuhnya yang meliuk ke kiri menghindarkan pukulan lawan mendadak melompat seperti terbang ke atas!

Datuk Madura itu terkejut dan dia tidak berjongkok dan mengerahkan tenaga sakti Cantuka Sakti membuat dia lelah bukan main.

Akan tetapi baru saja dia bangkit berdiri dan memandang ke atas, dia melihat pemuda itu sudah menukik ke bawah bagaikan seekor alap-alap (elang) menyambar ke arah kepalanya!

Kedua tangan pemuda itu menyerang dengan membantuk cakar, mencengkeram ke arah kedua pelipis kepalanya!

Ki Harya Baka Wulung mengenal serangan maut ini.

Karena serangan itu datangnya cepat sekali, maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menyambut serangan itu dengan kedua tangannya pula.

"Wuuuttt..... plakkk!"

Dua pasang tangan itu saling bertemu di udara. akan tetapi pada saat itu, kaki Aji yang tadinya ada di atas itu turun dan dengan kecepatan kilat kedua kakinya menghantam kakek yang ada di bawahnya.

"Dessss.....!!"

Ki Harya Baka Wulung berteriak mengaduh dan tubuhnya terjengkang keras lalu terbanting ke atas tanah.

Akan tetapi dia memang tangguh.

Dia bergulingan lalu melompat bangkit berdiri lagi.

Sekilas pandang tahulah dia bahwa keadaan teman-temannya juga dalam bahaya.

Wiku Menak Koncar repot menghadapi Ratu Wandansari yang dibantu perwira pengawal, sais kereta dan dua orang prajurit pengawal.

Datuk Blambangan itu hanya dapat memutar ruyungnya untuk menangkis serangan lima orang pengeroyoknya itu tanpa sempat membalas lagi.

Juga lima orang warok itu kini tinggal tiga orang, yang dua orang sudah roboh.

Tiga orang warok itu menghadapi pengeroyokan enam orang prajurit yang juga kehilangan empat orang rekan mereka yang sudah roboh dalam pertempuran itu.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bahkan membahayakan dirinya sendiri itu, Ki Harya Baka Wulung maklum bahwa usahanya membunuh Ratu Wandansari telah gagal.

Bahkan kalau dia tidak cepat melarikan diri, bukan mustahil kalau dia yang akan terbunuh.

Ratu Wandansari dan pasukannya itu sudah tangguh, ditambah lagi munculnya pemuda yang mengaku sebagai Alap-alap Laut Kidul dan yang ternyata sakti mandraguna ini, maka keadaan pihak musuh terlalu kuat baginya.

Melihat Ki Harya Baka Wulung roboh oleh tendangannya tadi, sebuah jurus dari gerakan alap-alap, Aji menjadi girang sekali.

Akan tetapi kakek itu bangkit kembali dengan cepat, maka diapun segera melangkah cepat menghampiri.

akan tetapi tiba-tiba Ki harya Baka Wulung mempergunakan Aji Kukus Kangking.

Begitu kedua tangannya bergerak mendorong, asap hitam tebal mengepul dan menyerang ke arah Aji.

Pemuda ini cepat menghindar ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan Ki Harya Baka Wulung untuk melompat dan melarikan diri, menghilang dalam hutan yang lebat.

Dia tidak memperdulikan lagi teman-temannya yang masih bertempur!

Dia tidak ingat lagi atau tidak mau perduli bahwa Wiku Menak Koncar dan lima orang warok itu bertanding mati-matian untuk membantunya!

Wiku Menak Koncar sedang terdesak hebat.

Ilmu pedang Kartika sakti yang dimainkan Ratu wandansari memang ampuh sekali, apalagi sang puteri ini dibantu perwira dan sais yang memiliki kedigdayaan yang cukup tinggi, ditambah dua orang prajurit pengawal.

Kalau saja sang puteri itu maju sendiri, tentu dia masih dapat menandinginya.

kini dia terdesak hebat dan menjadi bingung.

Apalagi ketika dia melihat Ki Harya Baka Wulung melarikan diri begitu saja tanpa memperdulikan dirinya!

tiba-tiba tiga orang warok yang juga dikeroyok dan didesak, berturut-turut roboh.

Tinggal dia seorang diri!

Wiku menak Koncar mengeluarkan gerengan yang mengandung getaran hebat sehingga empat orang yang membantu Ratu Wandansari yang mengeroyoknya terhuyung ke belakang.

Hanya sang puteri yang mampu bertahan terhadap serangan daya suara itu.

Wiku Menak Koncar tidak berpikir panjang lagi.

Dia sudah amat lelah dan panic, maka dia menggunakan kesempatan ini untuk melompat dan melarikan diri.

"Jahanam, hendak lari ke mana kau?"

Ratu Wandansari Membentak dan ia melakukan jurus serangan terakhir dari ilmu pedang Kartika Sakti.

Ia mengerahka n tenaganya, dengan suara bentakan ia melontarkan pedangnya ke arah tubuh Wiku Menak Koncar yang melarikan diri.

Bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya, pedang itu meluncur cepat sekali dan tepat mengenai punggung kakek itu.

"Capp.....!"

Pedang itu menusuk sampai setengahnya dan tubuh Wiku Menak Koncar roboh menelungkup dan tak bergerak lagi.

Ratu Wandansari melompat ke dekat mayat itu dan mencabut pedangnya, lalu dibersihkannya pedang itu dengan mengusap-usapkannya pada pakaian lawannya yang telah tewas.

Setelah menyarungkan kembali pedangnya, Ratu Wandansari menyapu keadaan sekitarnya dengan pandang matanya.

Ia melihat betapa selain Wiku Menak Koncar, lima orang warok itupun sudah roboh dan tewas.

Adapun di pihaknya, empat orang prajurit tewas dan dua orang lainnya terluka.

Kemudian ia memandang ke arah Lindu Aji yang masih berdiri memandang ke arah para korban dengan mata terbelalak.

Dia merasa kagum kepada sang puteri, akan tetapi juga merasa ngeri.

Baru dua kali selama hidupnya dia melihat orang terbunuh.

Pertama kali ketika tiga orang penjahat yang mengganggu ibunya dikeroyok penduduk dusun dan dipukuli sampai mati dengan tubuh hancur.

Ketika itupun dia sudah merasa ngeri.

Dan sekarang, dia melihat sepuluh orang tewas dengan tubuh berlumuran darah.

Pada saat itu, ia menoleh ke kiri dan bertemu pandang dengan Ratu Wandansari!

Sinar mata wanita itu demikian tajam penuh wibawa dan Aji segera menundukkan pandang matanya karena merasa rikuh.

Ratu Wandansari melangkah menghampirinya.

setelah saling berhadapan dan melihat pemuda itu menundukkan mukanya, wanita itu berkata.

"Ki sanak, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah membantuku menghadapi musuh yang berniat membunuhku. Kalau tidak ada andika yang membantu, kukira kami semua telah tewas oleh orang-orang jahat itu."

Aji teringat akan semua nasihat mendiang gurunya. Dia memberi hormat dengan sembah lalu berkata.

"Yang menolong paduka dan kita semua adalah Gusti Allah, dan kita semua hanya berusaha untuk melaksanakan kewajiban kita masing-masing sebaik mungkin, Gusti Puteri."

Ratu Wandansari melebarkan sepasang matanya yang jeli, merasa heran sekali mendengar ucapan itu keluar dari mulut (Lanjut ke

Jilid 08) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 seorang pemuda yang berpakaian demikian sederhana.

"Anda tahu siapa aku, ki sanak?"

"Saya mendengar percakapan tadi. Saya tahu bahwa paduka adalah Gusti Puteri Ratu Wandansari, puteri Kanjeng Gusti Sultan Agung dan garwa Adipati Surabaya."

Ratu Wandansari tersenyum, manis sekali. Dari logat bicara pemuda itu, yang bicara dengan teratur menunjukkan bahwa dia tahu tata susila, ia dapat menduga bahwa pemuda itu berasal dari daerah selatan.

"Kalau andika sudah tahu siapa aku, lalu kenapa andika membantuku menghadapi orang-orang yang memusuhiku tadi?"

Ia sengaja memancing.

"Mendiang bapa dan terutama sekali mendiang eyang guru saya memesan agar saya membela Mataram dan membantu Kanjeng Gusti Sultan Agung. Karena paduka adalah puterinya, maka tanpa ragu-ragu lagi saya membantu paduka. Apalagi karena dari pecakapan tadi saya menganggap bahwa kakek tadi yang jahat."

"Hemmm, begitukah? Lalu, siapa mendiang bapamu dan mendiang eyang gurumu itu? Dan siapa pula andika?"

Biarpun hatinya ingin mengatakan bahwa dia "Alap-alap Laut Kidul"

Akan tetapi dia tidak berani main-main di depan puteri itu.

"Mendiang bapa saya bernama Harun Hambali dan mendiang eyang guru saya bernama Ki Tejobudi......"

"Ki Tejobudi? Hemmm..... kami pernah mengenal nama Resi Tejo Wening, Kyai Tejo Langit, dan bukankah Ki Tejobudi itu masih saudara seperguruan mereka?"

Aji mengangguk.

"Mendiang eyang guru pernah bercerita tentang Eyang Resi Tejo Wening dan Eyang Kyai Tejo Langit."

"Bagus sekali kalau begitu. Andika murid seorang yang sakti mandraguna. Dan nama bapamu itu? Harun Hambali? Seperti nama seorang dari daerah Pasundan."

Aji kagum akan pengetahuan sang puteri yang amat luas itu.

"Memang benar, Gusti Puteri. Mendiang bapa berasal dari Galuh."

"Dan andika sendiri, siapakah nama andika?"

Tanya sang puteri sambil mengamati wajah pemuda itu penuh perhatian.

"Nama saya Lindu Aji."

"Lindu Aji? Nama yang aneh akan tetapi bagus."

Ratu Wandansari lalu menghadapi perwira pasukan pengawal yang menghampirinya dan memberi hormat kepadanya.

"Gusti Puteri, apakah yang harus hamba lakukan dengan mayat-mayat itu? Menanti perintah."

"Engkau dan sisa anak buahmu tinggal di sini. Urus mereka semua. Kubur baik-baik semua jenasah, kemudian pulanglah ke Surabaya dan laporkan kepada suamiku tentang apa yang terjadi di sini. Aku akan melanjutkan perjalanan ke Mataram bersama sais dan pemuda ini."

Ia lalu menghampiri Aji.

"Lindu Aji, maukah andika mengawal aku sampai ke Mataram? Andika tadi mengatakan hendak membantu Kanjeng Rama Sultan Agung. Nah, aku akan membawamu menghadap kalau andika memang hendak mengabdi kepada Mataram."

Aji mengangguk.

"Saya akan senang sekali, Gusti Puteri."

"Bagus."

Sang puteri lalu berkata kepada perwira pengawal.

"Pilihkan seekor kuda terbaik untuk Lindu Aji. Dia yang akan mengawalku sampai ke Mataram."

Perwira itu memberikan kuda tungganganya sendiri kepada Aji.

Ketika tinggal di dusun Gampingan, Aji sering menunggang kuda milik kepala dusun sehingga menunggang kuda bukan merupakan kesulitan baginya.

Dengan hati senang dia menunggang kuda dan berangkatlah sang puteri, menunggang kereta yang dikusiri sais dan Aji menunggang kuda di belakang kereta.

Di sepanjang perjalanan ke arah barat ini, Aji termenung.

Secara kebetulan sekali dia bertemu dengan Puteri Wandansari bahkan telah menolongnya dari ancaman bahaya.

Kini dia mengawal sang puteri menuju ke Mataram.

Dia dapat membayangkan apa yang akan terjadi.

Sang Puteri akan membawanya menghadap Sultan Agung!

dia akan menghadap Sri Baginda Raja Sultan Agung yang sudah sering dia dengar dari cerita eyang gurunya.

Mendiang Ki Tejobudi banyak bercerita tentang Sultan Agung yang dipujinya sebagai seorang raja yang bijaksana dan juga sakti mandraguna.

Dan eyang gurunya itu wanti-wanti memesan agar dia dapat membantu raja itu.

Tentu saja keadaan dirinya ini cocok sekali dengan pesan eyang gurunya.

Akan tetapi ada satu hal yang mengganjal hatinya.

Kalau dia dihadapkan Kanjeng Sultan Agung dan karena jasanya menolong sang puteri dia diangkat menjadi pejabat, lalu bagaimana dengan keinginannya untuk merantau seperti yang dia bayangkan?

Dia ingin hidup bebas, dapat merantau kemanapun dia suka, seperti seekor alap-alap terbang melayang di udara dengan bebasnya.

Kalau dia diangkat menjadi pejabat tentu dia akan terikat akan ugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

lalu bagaimana dia akan dapat mencari putera eyang gurunya yang bernama Sudrajat, dan mencari kakak tirinya yang bernama Hasanudin?

Juga dia ingin mencari Raden Banuseta yang telah membunuh ayahnya.

Bukan untuk membalas dendam kematian ayahnya, melainkan untuk melihat apakah orang itu melakukan kejahatan.

Kalau benar dia seorang penjahat, tentu akan ditentangnya!

Semua inilah yang mengganggu pikirannya sehingga membuat dia melamun.

Di samping rasa gembira akan dapat menghadap Sultan Agung, juga ada rasa khawatir dalam hatinya.

Tiba-tiba dia teringat akan cerita mendiang Ki Tejobudi bahwa Sultan Agung adalah seorang yang arif bijaksana.

Ingatan ini membesarkan hatinya dan mengusir kakhawatirannya.

Mengapa khawatir?

Kalau Sri Sultan demikian bijaksana, tentu dapat memaklumi keadaannya dan dapat mempertimbangkannya.

Dia akan mengaku terus terang tentang keadaan dan keinginan hatinya.

Setelah hatinya mengambil keputusan ini, Aji tidak merasa khawatir lagi dan dia dapat menikmati perjalanannya mengawal Puteri Wandansari itu.

Puteri Wandansari singgah di Kadipaten Madiun dan ia diterima dengan penuh penghormatan oleh Adipati Madiun.

Sang puteri menceritakan kepada adipati itu apa yang telah terjadi di hutan Caruban yang masih termasuk daerah Madiun.

Setelah bermalam di Kadipaten Madiun semalam.

pada keesokan harinya puteri Wandansari melanjutkan perjalanannya.

Kuda-kuda yang menarik kereta diganti dengan kuda baru agar tidak terlalu lelah.

Juga Aji diberi seekor kuda baru yang masih segar dan kuat.

Tawaran Adipati Madiun untuk memberi pengawalan ditolak oleh sang puteri.

Perjalanan dilakukan seperti hari-hari yang lalu, tidak tergesa-gesa agar kereta tidak sangat terguncang dan melelahkan.

Sang puteri berhenti di Sukowati dan setelah melewatkan malam di situ, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan sampai ke kota raja Mataram.

Aji memasuki kota raja Mataram dengan hati penuh kagum dan heran.

Sejak lahir dia berada di sebuah dusun yang sederhana.

Rumah terbesar dan paling megah di dusunnya adalah rumah kepala dusun yang terbuat dari kayu jati.

Ketika dia melakukan perjalanan melewati kota-kota kadipaten, dia melihat rumah-rumah yang lebih besar dan lebih megah.

Juga ketika dia yang mengawal Puteri Wandansari memasuki gedung kadipaten, dia merasa kagum bukan main.

Akan tetapi kini dia memasuki kota raja Mataram dan dia merasa dirinya kecil sekali.

akan tetapi, dia adalah seorang pemuda yang sudah digembleng sejak kecil, digembleng lahir batinnya.

Oleh karena itu, biarpun dia merasa takjub dan seperti dalam mimpi, namun keheranannya itu tidak tampak pada sikap atau wajahnya.

Dia tetap bersikap tenang seolah semua pemandangan itu sudah biasa dilihatnya!

Ketakjubannya mencapai puncaknya ketika dia diajak memasuki istana dan menghadap Sri Baginda Sultan Agung.

Jantungnya berdebar tegang, matanya melahap semua keindahan yang mempesona itu.

Tak pernah dia dapat membayangkan sebuah rumah sebesar dan seindah ini.

Puteri Wandansari membawanya menghadap Sri Baginda.

Melihat keagungan yang memancarkan wibawa kuat sekali dari pribadi Sang Sultan, Aji berlutut, lalu duduk bersila dan menyembah dengan sikap hormat.

Dia tidak berani mengangkat muka menatap wajah Sultan Agung, hanya menunduk dengan sikap menanti.

Dengan suaranya yang lembut dan merdu, Ratu Wandansari menghaturkan sembah sujud kepada ayahandanya, kemudian dengan singkat menceritakan keadaan Kadipaten Surabaya yang berkeadaan tertib dan tenteram.

Kemudian ia menceritakan tentang perjalanannya dan terutama tentang Ki Harya Baka Wulung dan Wiku Menak Koncar bersama lima orang warok yang menghadangnya dan bermaksud membunuhnya.

Ia menceritakan betapa ketika ia terancam bahaya dalam pertempuran itu, muncul Lindu Aji yang telah membantu dan menyelamatkannya.

"Dengan bantuan pemuda ini, akhirnya hamba berhasil menewaskan Wiku Menak Koncar. juga lima orang warok itu dapat dirobohkan. Hanya Ki Harya Baka Wulung seorang yang berhasil lolos setelah dia mengeluarkan ajinya yang mengeluarkan asap hitam tebal, kanjeng rama,"

Demikian Puteri Wandansari mengakhiri laporannya.

"Hemmmm. tentu dia mempergunakan Aji Kukus Langking."

Kata Sultan Agung.

"Tokoh Arisbaya itu memang sakti, kalau tidak salah dia adalah guru Raden Prasena yang telah kami angkat menjadi Pangeran Cakraningrat. Untung engkau dapat lolos dari tangannya."

"Karena pertolongan Lindu Aji inilah, kanjeng rama. Pemuda ini mampu menandingi dan membuat Ki Harya Baka Wulung melarikan diri. Dia adalah murid mendiang Ki Tejobudi. Dia seorang kawula yang setia dan siap membantu Mataram, kanjeng rama."

Sultan Agung mengangguk-angguk dan wajahnya yang masih tampak tampan dan anggun itu berseri. Walaupun usianya sudah lima puluh tahun namun raja yang bijaksana ini masih tampak anggun.

"Engkau tentu lelah, Wandansari. Masuk dan istirahatlah, temui para ibu dan saudaramu."

Mendengar ucapan ayahandanya, ratu Wandansari menghaturkan terima kasih lalu meninggalkan ruangan itu menuju ke bagian dalam istana itu.

Sultan Agung melayangkan pandang matanya kepada belasan orang yang duduk menghadapnya.

Hari itu bukan merupakan hari sebo (menghadap raja) yang biasa dilakukan pada setiap hari Senin dan Kamis.

Dalam hari sebo biasa itu, Sultan Agung dihadap para ponggawa besar kecil yang jumlahnya mencapai seratus orang lebih!

Akan tetapi pada saat itu yang menghadap hanya lima belas orang, terdiri dari patih, menteri dan senopati yang memang datang menghadap karena dipanggil untuk membicarakan urusan penting.

Di antara para senopati terdapat pula Tumenggung Wiroguno, Kyai Juru Kiting, Ki Mertoloyo, Suroantani dan lain senopati yang sudah berjasa besar dalam perang menundukkan daerah Jawa Timur yang tadinya menentang Mataram.

Mereka tampak gagah dalam pakaian kebesaran masing-masing.

Kemudian Sultan Agung memandang kepada Lindu Aji.

Pemuda itu tampak sederhana sekali duduk di antara para menteri dan senopati itu.

Berpakaian sederhana seperti seorang pemuda tani dan selalu menundukkan muka dengan sikap hormat.

Begitu sederhana, begitu polos dan sama sekali tidak tampak tanda-tanda bahwa dia seorang pemuda yang memiliki kesaktian.

Akan tetapi pemuda ini telah mampu menandingi bahkan mengalahkan Ki Harya Bak Wulung, datuk dari Madura yang sudah tersohor akan kesaktiannya itu!

Luar biasa sekali!

"Orang muada, siapakah namamu seperti yang dikatakan Puteri Wandansari tadi?"

Sultan agung bertanya kepada Aji.

Tanpa memandang Aji tahu bahwa dialah yang ditanya, karena di ruangan itu tidak ada orang mudanya, kecuali dia seorang.

Para ponggawa yang hadir di situ rata-rata sudah berusia lima puluh tahun lebih.

Dia menyembah sebelum menjawab.

"Nama hamba Lindu Aji dan hamba biasa disebut Aji, Gusti."

Sultan Agung makin memperhatikan.

Sikap dan cara bicara pemuda ini tidak menunjukkan bahwa dia seorang pemuda dusun yang kurang pendidikan, pikirnya.

Dia tahu tatakrama.

Dan nama itupun bukan nama sembarangan.

tentu orang tuanya, pemberi nama itu, seorang pemberani yang tidak lagi terpengaruh pendapat penduduk dusun bahwa memberi nama yang terlalu "tinggi"

Buat anak akan mendatangkan bencana bagi si anak karena tidak kuat! "Benarkah engkau murid Ki Tejobudi, orang sakti dari banten itu?"

"Benar sekali, Gusti. Guru hamba adalah mendiang Eyang Tejobudi."

"Siapa orang tuamu dan di mana engkau tinggal?"

"Bapa hamba sudah meninggal dunia, namanya Harun Hambali. Ibu hamba bernama Warsiyem, sekarang tinggal di dusun Gampingan dekat Laut Kidul. Hamba berasal dari dusun itu, Gusti."

Hemm, Gampingan. Sebuah dusun kecil di Pegunungan Kidul, pikir sultan Agung. Kalau begitu benar, seorang pemuda dusun.

"Aji, coba angkat mukamu dan pandang kami!"

Perintahnya.

Aji tidak berani menolak.

Dengan jantung berdebar dia mengangkat muka dan memandang wajah yang yang anggun dan agung itu.

Pandang matanya bertemu dengan sepasang mata yang demikian tajam penuh wibawa.

Sebaliknya, Sultan Agung juga terkejut.

Sepasang mata pemuda itu begitu lembut, penuh pengertian, namun juga mencorong dan membayangkan kekuatan batin yang hebat.

Aji tidak berani memandang lebih lama lagi dan perlahan-lahan dia menundukkan kembali mukanya.

Rasa kagum dan suka memenuhi hati Sultan Agung, Puterinya benar.

Pemuda ini seorang yang hebat dan dapat dijadikan pembantu yang boleh diandalkan.

"Aji, engkau tinggal di Gampingan yang berada di sebelah selatan kota raja. Bagaimana engkau dapat berada di hutan Caruban dan menolong puteri kami?"

"Hamba sedang melakukan perjalanan merantau, Gusti."

"Merantau? Tujuanmu ke mana?"

"Hamba tidak mempunyai tujuan tertentu. Hamba hanya mengikuti arah terbangnya Alap-alap Laut Kidul."

"Alap-alap Laut Kidul? Apa maksudmu?"

"Seekor burung alap-alap yang sering kali hamba lihat terbang melayang-layang di atas Laut Kidul. Hamba ingin merantau, bebas seperti alap-alap itu. Melihat alap-alap itu terbang ke arah timur, maka hamba lalu menuju ke timur di sepanjang pantai laut Kidul. Pada suatu hari hamba melihat alap-alap itu terbang ke utara, maka hamba lalu ke utara dan tiba di dalam hutan Caruban dan melihat Gusti Puteri diserbu gerombolan itu. Setelah mendengar bahwa yang diserang itu puteri paduka, Gusti Puteri Wandansari, hamba lalu membantu."

Sultan Agung mengangguk-angguk.

"Aji, kenapa engkau membantu puteri kami?"

Pertanyaan itu diajukan seperti hendak menyelidik. Aji merasakan benar persamaan antara Sultan Agung dan Puteri Wandansari. Pertanyaan yang sama.

"Mendiang bapa dan eyang guru hamba meninggalkan pesan dan memberi tugas kepada hamba, antara lain agar hamba membela Mataram dan membantu Paduka, Gusti. Karena itulah maka hamba membantu puteri paduka."

"Tanpa pamrih apapun di balik pertolonganmu itu?"

Sulatan Agung bertanya.

"Tanpa pamrih apapun, Gusti."

Sultan agung lalu menyapukan pandangannya ke arah ponggawanya.

"Bagaimana pendapat kalian, para menteri dan senopati?"

Ki Mertoloyo menyembah kepada Sultan Agung, lalu menoleh kepada Aji dan bertanya.

"Anakmas Aji, apakah andika tidak mengharapkan ganjaran apapun dari Gusti Sultan? Kalau ada, beritahukan saja. Gusti Sultan arif bijaksana, tentu akan memberimu ganjaran besar kepadamu."

"Maaf, paman. sesungguhnya saya tidak mengharapkan ganjaran apapun juga. Saya hanya melaksanakan tugas saya seperti yang dipesan oleh mendiang bapa dan mendiang eyang guru."

Senopati Suroantani menyembah kepada Sultan Agung.

"Ampunkan hamba, Gusti. Hamba hendak mengusulkan kalau paduka menyetujui agar anakmas Lindu Aji diangkat menjadi seorang senopati muda, mengingat dia mampu menandingi dan mengalahkan Ki Harya Baka Wulung."

Sultan Agung mengangguk-angguk.

"Luhur budi anak ini! Sudah sepantasnyalah kalau menjadi senopati muda Mataram. Aji, bersediakah engkau kalau kami angkat menjadi seorang senopati muda Mataram?"

Hal inilah yang dikhawatirkan Aji dalam perjalanan mengawal Puteri Wandansari.

Akan tetapi dia sudah mengambil keputusan tetap untuk tidak mengikatkan diri dengan jabatan.

Dari pertanyaan itupun dia tahu akan kebijaksanaan Sultan Agung.

Raja itu tidak memerintahkan dia menjadi senopati, melainkan bertanya apakah dia bersedia!

Maka dengan didahului sembah dia menjawab dengan hormat.

"Mohon beribu ampun, Gusti. Bukan sekali-kali hamba menolak anugerah yang paduka berikan kepada hamba. Akan tetapi, pada waktu ini hamba masih harus melaksanakan tugas-tugas yang dipesan mendiang bapak dan eyang guru. Tugas itu mengharuskan hamba melakukan perjalanan ke daerah Galuh dan Banten."

Sultan Agung mengangguk-angguk.

"Baik sekali keputusan hatimu itu, Aji. Memang sudah menjadi kewajibanmu untuk menjunjung tinggi pesan terakhir mendiang bapak dan eyang gurumu. Itu menandakan bahwa engkau seorang yang setia dan berbakti. Engkau hendak merantau ke Galuh dan Banten? Sungguh kebetulan sekali. Maukah engkau sambil melaksanakan tugasmu itu juga membantu kami?"

"Hamba bersedia dan siap mengabdikan diri membantu paduka kalau sudah selesai hamba melaksanakan tugas-tugas hamba itu, Gusti."

"Bukan demikian maksud kami, Aji. Engkau dapat melanjutkan pelaksanaan tugas-tugas pribadimu itu, akan tetapi dalam perjalananmu, engkau dapat pula membantu kami."

Aji merasa heran.

Kalau dia merantau ke Galuh dan Banten untuk mencari Hasanudin dan Sudrajat, bagaimana dia akan dapat membantu Sultan Agung?

"Ampun Gusti.

Hmba mohon penjelasan.

Bagaimana caranya hamba dapat membantu paduka kalau hamba merantau ke daerah Pasundan dan Banten?"

"Aji, tahukah engkau bahwa pada waktu ini Mataram mempunyai musuh yang amat kuat dan berbahaya, yaitu Kumpeni Belanda yang berkedudukan di Jayakarta?"

Aji menyembah.

"Hamba pernah mendengar keterangan mendiang Eyang Guru tentang Kumpeni belanda, Gusti."

"Baik sekali kalau begitu. Engkau tahu bahwa Kumpeni Belanda merupakan ancaman bahaya bagi rakyat dan tanah air kita. Mereka angkara murka, hendak memperluas cengkeraman mereka, menguasai daerah Nusantara kita dan menguasai perdagangan. Mereka juga mempengaruhi rakyat, meyebar telik sandi (mata-mata), bahkan mempengaruhi banyak tokoh sakti untuk membantu meraka dengan menggunakan umpan harta benda. Selain itu mereka juga berusaha untuk mengadu domba dengan membujuk para bupati dan adipati agar menentang Mataram. Paman Kyai Juru Kiting, ceritakanlah kepada Aji tentang usaha kita menyerbu kumpeni yang telah mengalami kegagalan agar dia mengetahui duduknya perkara."

Sultan Agung menoleh kepada senopati tua itu.

Senopati Kyai Juru Kiting yang sudah berusia enam puluh tahun itu menyembah lalu dengan suara yang lembut namun jelas dia menceritakan kepada Lindu Aji tentang usaha Mataram yang baru saja dilakukan dan mengalami kegagalan.

Aji mendengarkan dengan penuh perhatian.

Demikianlah cerita senopati itu.

Setelah Sultan Agung berhasil menundukkan para adipati dan bupati yang tadinya melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, memundukkan hampir seluruh daerah Jawa Timur kecuali Blambangan yang belum dapat dikalahkan, berhasil mempersatukan kekuatan seluruh Madura, Surabaya, Giri dan daerah Jawa Timur, Mataram lalu mengadakan penyerangan menuju Jayakarta atau Batavia.

Penyerangan besar-besaran pertama itu terjadi dalam tahun 1628.

Balatentara Mataram itu dipimpin oleh Senopati Baurekso dan dibantu pula oleh pasukan dari Madura dan Surabaya.

Juga setelah tiba di Pasundan, pasukan Mataram itu dibantu oleh pasukan Pasundan yang dipimpin oleh Dipati Ukur.

Pasukan pertama ini segera disusul oleh pasukan kedua yang cukup besar jumlahnya pula, dipimpin oleh tiga orang senopati terkenal, yaitu Suro Agul-agul, Kyai Adipati Mandurejo, dan Adipati Uposonto.

Pasukan kedua ini dipersiapkan untuk membantu pasukan pertama dari belakang, kalau diperlukan.

Serbuan itu hebat sekali.

Pasukan Kumpeni Belanda terkejut dan melakukan perlawanan mati-matian.

Pertempuran terjadi setiap hari karena pasukan Mataram dengan gigih mengepung perbentengan Belanda.

Pertempuran hebat itu terjadi sampai lebih dari dua bulan lamanya.

Akan tetapi pihak Kompeni Belanda memang licik.

Selain mereka memiliki persenjataan yang lebih lengkap dengan meriam-meriam dan senapan-senapan, mereka juga dapat membujuk para pendekar yang memiliki kedigdayaan untuk membantu mereka dengan memberi banyak harta benda.

Selain itu, juga Kumpeni Belanda menyebar banyak mata-mata.

Bahkan berhasil menarik pihak Banten untuk membantu mereka karena memang sudah terdapat persaingan dan permusuhan antara Banten dan Mataram.

Di samping itu, terjadi malapetaka ketika penyakit menular menjalar di antara para prajurit Mataram.

Ada desas desus yang mengatakan bahwa penyakit menular ini bukan lain adalah kekuatan sihir dan guna-guna yang dilepaskan oleh para ahli tenung dari Banten.

Penyerbuan tentara Mataram itu gagal, bahkan Senopati Baurekso yang kedudukannya adalah Adipati Kendal, gugur dalam peperangan itu.

Terpaksa sisa pasukan Mataram ditarik mundur meninggalkan Batavia.

Biarpun penyerbuan itu gagal, namun sempat mngejutkan Balanda dan menjatuhkan banyak korban pula di pihak Kumpeni.

"Demikianlah, anak mas Lindu Aji, penyerbuan pertama pasukan kita itu mengalami kegagalan."

Kyai Juru Kiting mengakhiri ceritanya.

"Nah, engkau sudah mendengar semua, Aji. Ketahuilah bahwa kami tidak akan berhenti berusaha sebelum Kumpeni Belanda dapst diusir dari Nusantara. Biarpun penyerbuan pertama kami itu gagal, namun kami merencanakan penyerbuan selanjutnya. Kami telah menusun kekuatan di daerah barat dan kami telah menyebar telik sandi untuk mengadakan persiapan di sekitar Batavia. Juga Kerajaan Galuh siap membantu. Karena itu, Aji, dalam perantauanmu ke daerah Pasundan, engkau dapat membantu kami. Engkau kami angkat menjadi telik sandi untuk membantu semua pihak yang mendukung Mataram dan menentang mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda. nah, sanggupkah engkau di samping melaksanakan tugas pribadimu, membantu kami?"

Aji menjawab.

"Hamba sanggup dan siap membantu, Gusti."

"Bagus sekali kalau begitu!"

Kata Sultan Agung dan dia mengambil sebatang keris dengan warangka terukir indah, lalu diserahkannya keris itu kepada Aji.

"Terimalah pusaka ini, Aji. Semua pejabat daerah dan semua telik sandi Mataram akan mengenal pusaka ini kalau engkau cabut dari sarungnya. Keris ini adalah satu diantara serangkaian pusaka Naga yang menjadi pusaka-pusaka khas kami. Namanya Kyai Nagawelang satu di antara pusaka-pusaka buatan Empu Warihanom yang terbaik."

Aji menerima pusaka itu dan menghaturkan terima kasih.

Selain keris pusaka ampuh itu, Aji juga mendapatkan seekor kuda dan sekantong uang untuk bekal dalam perjalanan.

Setelah persidangan dibubarkan Aji lalu berangkat meninggalkan ibu kota Mataram, menuju ke barat, memulai dengan pengembaraannya melaksanakan perintah bapak dan eyang gurunya, sekalian untuk membantu usaha gerakan Mataram menentang Kumpeni Belanda.

Siang itu udara cerah sekali.

Matahari bersinar sepenuhnya tanpa terhalang awan, menyengat segala sesuatu dengan sinarnya yang panas.

Aji menjalankan kudanya perlahan karena kuda itu sudah lelah, tubuhnya berpeluh dan sering mendengus-dengus.

Ketika di depannya tampak sebatang sungai, dia menghentikan kudanya, turun dari atas punggung kuda dan melepaskan kendali memberi kesempatan kepada kuda itu untuk makan rumput gemuk yang tumbuh disepanjang tepi sungai.

Aji sendiri duduk mengaso di bawah sebatang pohon mahoni.

Dia membuka kancing bajunya, membiarkan dadanya terbuka.

Semilir angin membelainya membuat dia mengantuk.

Perutnya juga sudah mulai lapar.

Akan tetapi tempat itu sunyi.

Agaknya jauh dari pedusunan.

Bahkan perjalanannya terhadang sebuah sungai yang cukup lebar.

Tidak ada tempat penyeberangan di situ, tidak pula tampak adanya perahu yang akan dapat menyeberangkannya.

Dia harus dapat menyeberangi sungai ini kalau hendak melanjutkan perjalanannya.

Biarlah dia membiarkan kudanya makan dan mengaso.

Nanti tentu ada orang dan dia dapat bertanya bagaimana biasanya penduduk di sekitar situ menyeberang ke barat.

Sambil menunggu orang lewat di tempat itu, Aji duduk bersandar pada batang pohon itu dan melenggut.

Semilir angin mengipasinya dan membuat dia merasa nyaman.

Tanpa disadari Aji jatuh pulas sambil duduk bersandar batang pohon mahoni itu, Dia terbangun oleh suara kuda meringkik nyaring.

Ketika membuka matanya, Aji melihat dua orang laki-laki tinggi besar berpakaian hitam sedang berusaha keras untuk menenangkan kudanya yang meringkik-ringkik sambil mengangkat kedua kakinya ke atas.

Dua orang laki-laki lain, juga berpakaian hitam, sedang membuka dan memeriksa buntalan pakaiannya.

Pada saat itu, sebuah perahu meluncur di atas sungai.

Di atas perahu duduk dua orang laki-laki berpakaian hitam pula dan seorang di antara mereka, yang usianya kurang lebih lima puluh tahun bertubuh tinggi kurus, menelikung dan memeluk seorang wanita yang meronta-ronta dan menangis.

Laki-laki kedua usianya agak lebih muda dan memegang dayung, mendayung perahu ke tepi, lalu berseru kepada empat orang yang sedang menangkap kuda dan membuka buntalan.

"Heii, kenapa kalian berhenti di situ? Ada apakah?"

"Ha-ha-ha-ha, lihat, kakang Jalak Uren! Apa yang kami dapatkan di sini? Rejeki nomplok! Seekor kuda yang besar dan bagus, tentu harganya amat mahal!"

Kata laki-laki yang kini sudah memegangi kendali kuda.

"Dan kini lihat! Ha-ha-ha-ha, sekantung uang emas! Wah, kita menjadi kaya raya tanpa bersusah payah!"

Kata seorang laki-laki yang telah menemukan kantung uang pemberian Sultan Agung dalam buntalan pakaian Aji.

Aji yang tadi keheranan itu kini menyadari bahwa mereka itu adalah perampok-perampok yang hendak merampas kuda dan buntalan pakaiannya.

Cepat dia melompat bangkit menghampiri mereka yang telah membawa buntalan dan kudanya.

"Hai..... kisanak! Itu adalah kudaku dan buntalan pakaianku! Kembalikan milikku itu kepadaku!"

Teriak Aji.

Seorang di antara empat orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam itu melompat ke depan Aji.

Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, tampak kokoh kuat seperti raksasa.

Usianya kurang lebih empat puluh tahun dan dia memiliki kumis yang tebalnya sekepal sebelah.

Dengan bertolak pinggang dia berkata dengan suaranya yang dalam dan parau.

"Heh, bocah sial! Jangan banyak cerewet. mengingat bahwa engkau telah memberi sumbangan yang lumayan untuk kami, aku mau mengampuni nyawamu dan cepat minggat dari sini!"

Aji mengerutkan alisnya.

"Kuda dan barang-barang itu adalah milikku. kembalikan kepadaku!"

Dia hendak menghampiri orang yang membawa pundi-pundi uangnya. Akan tetapi orang berkumis tebal itu menjadi marah sekali.

"Kalau begitu, kau ingin mampus!"

Tangan kanannya membentuk kepalan sebesar buah kelapa dan menyambar ke arah kepala Aji.

Serangan pukulan itu cepat dan kuat sekali, mendatangkan angin mengiuk.

Namun dengan mudahnya Aji miringkan tubuh mengelak dan ketika lengan itu menyambar lewat, dia cepat menangkap lengan itu, memutar tubuhnya dan sekali sentakan tubuh orang berkumis tebal itu terangkat, berjungkir balik dan terbanting ke atas tanah.

"Bres..... ngekkkk!"

Demikian kerasnya sentakan Aji sehingga orang yang terbanting itu seketika pingsan dan tulang pundak kanannya patah!

Aji tidak berhenti sampai di situ saja, dia sudah menerjang cepat ke arah orang yang masih memegang pundi-pundi uangnya.

"Kembalikan barang itu!"

Bentaknya dan bagaikan seekor burung alap-alap, tubuhnya menyambar, tangan kirinya mencengkeram dan di lain saat pundi-pundi uang itu telah berpindah ke tangannya sebelum lawannya itu menyadari apa yang terjadi.

Orang itu marah sekali.

Kini dia melihat betapa seorang kawannya roboh dan tak dapat bangkit kembali, dan pundi-pundi uang itu telah berpindah ke tangan pemuda yang kelihatan biasa saja itu.

Dia cepat mencabut sebatang golok yang tergantung di pinggangnya.

Aji melemparkan pundi-pundi itu ke arah buntalan pakaiannya yang masih terbuka dan terletak di atas tanah.

Ketika melihat sinar golok menyambar, dia mengelak dengan cepat ke kiri.

Akan tetapi lawannya itu agaknya mahir juga memainkan goloknya, karena begitu bacokannya luput, dia sudah membalikkan lagi goloknya dan menyerang dari lain jurusan.

Golok menyambar ke arah leher Aji.

Kembali Aji mengelak ke belakang sehingga golok hanya mengenai tempat kosong.

Orang itu mengejar dan tiba-tiba kaki kanannya mencuat, menyambar dengan tendangan kuat ke arah tubuh Aji.

Tendangan yang demikian berbahayanya dibandingkan serangan golok tadi.

"Wuuuttt.....!"

Aji miringkan tubuhnya dan ketika kaki yang besar dan kokoh itu menyambar ke atas, secepat kilat tangannya menyangga kaki itu dan dengan sentakan tenaga dahsyat dia mendorong ke atas.

tenaga tendangan kaki tadi kini ditambah tenaga dorongan aji, membuat si penendang itu tidak lagi dapat mempertahankan dirinya dan tubuhnya terdorong dan terlempar ke atas!

Dia mengeluarkan teriakan kaget ketika tubuhnya terbanting dengan kaki di atas dan kepala lebih dulu menhantam tanah.

"Dukkk..... bresss.....!"

Orang kedua itu roboh dan tidak mampu berkutik lagi, pingsan karena kepalanya menumbuk tanah keras.

Dua orang perampok yang tadinya memegang kuda, terkejut dan marah melihat betapa dua orang kawan mereka roboh dan tak dapat bangun lagi.

Mereka mengira bahwa dua orang kawan itu telah tewas terbunuh pemuda itu.

Mereka melupakan kuda yang mereka rampas dan dengan marah mereka mencabut golok lalu lari menghampiri Aji dengan golok diacungkan di atas kepala.

Aji siap menanti dengan sikap tenang.

ketika dua orang itu menerjang dengan golok mereka, Aji menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan luar biasa sehingga dua orang penyerang itu hanya melihat bayangan berkelebat dan serangan mereka luput!

Karena tidak melihat pemuda itu di depan mereka, keduanya memutar tubuh dan melihat bahwa pemuda itu telah berdiri di belakaang mereka sambil tersenyum.

Dua orang itu menjadi penasaran dan kembali mereka menggunakan golok untuk menyerang.

Akan tetapi, Aji tidak mau memberi kesempatan lagi kepada dua orang lawannya.

Dia melihat keadaan yang tidak wajar dari wanita di atas perahu dan dapat menduga bahwa wanita itu tentu ditawan atau diculik.

Dia harus cepat dapat merobohkan orang-orang ini agar dia dapat menyelamatkan wanita yang ditawan itu.

Maka, sebelum dua orang pengeroyoknya itu sempat menggerakkan golok untuk melakukan penyerangan yang kedua kalinya, dia mengukur jarak dan kemudian kedua kakinya mencuat ke kanan kiri, tepat menendang ke arah bawah pusar!

"Desss.....!

Desss.....!"

Dua orang itu terbelalak dan mengaduh aduh melepaskan golok dan kedua tangan meraba-raba bawah pusar dan mereka berjingkrak-jingkrak menahan rasa nyeri yang menusuk isi perut.

Aji menggerakkan tangan kirinya dua kali, menampar ke arah tengkuk dan dua orang itupun terpelanting dan roboh pingsan.

Empat orang perampok itu sudah roboh semua dan pingsan.

"Keparat, berani engkau menganiaya anak buahku?"

Bentak laki-laki yang mendayung perahu tadi dan disebut Kakang Jalak Uren oleh empat orang yang merampok.

Dengan marah dia meninggalkan kawannya yang masih menelikung wanita itu dan melompat ke daratan sambil mencabut sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya.

Sebentar saja orang yang bertubuh tinggi ini sudah berhadapan dengan Aji.

Melihat betapa empat orang anak buahnya masih menggeletak tak bergerak, dia mengira mereka telah tewas maka kemarahannya memuncak.

"Babo-babo, bocah keparat! Berani engkau membunuh empat orang anak buah perkumpulan para pendekar Gagak Rodra?"

Bentak Ki Jalak Uren, wakil ketua Gerombolan Gagak Rodra itu sambil menudingkan goloknya ke arah muka Aji.

"Aku tidak membunuh mereka, hanya membuat mereka pingsan agar mereka tidak dapat merampas kuda dan barang-barangku."

Kata Aji dengan sikap tenang.

Dia lalu berjongkok dan membungkus lagi pakaian dan pundi-pundi uangnya dalam buntalan kain.

Mendengar ucapan ini, Ki Jalak Uren menghampiri empat orang anak buahnya itu dan mendapat kenyataan bahwa yang diucapkan pemuda itu benar.

Mereka tidak tewas melainkan pingsan.

Akan tetapi kenyataan ini tidak mengurangi kemarahannya.

Dia menghampiri lagi Aji yang telah selesai membungkus barang-barangnya dan kini berdiri dengan sikap tenang namun waspada.

"Heh, pemuda yang kurang ajar! Siapa engkau, berani sekali engkau menentang Perkumpulan Gagak Rodra?"

"Aku tidak menentang siapa-siapa, hanya mempertahankan kuda dan barang-barangku yang hendak dirampas oleh empat orang ini. Namaku Lindu Aji."

"Keparat! Sepanjang Kali Bogawanta ini adalah menjadi wilayah kekuasaan kami dan siapa saja yang lewat di sini harus menaati peraturan kami. Akan tetapi engkau malah berani melawan dan merobohkan empat orang anak buah kami, berarti engkau sudah bosan hidup! Engkau sekarang berhadapan dengan Ki Jalak Uren, gembong Kali Bogawanta. Menyerahlah untuk kuringkus dan kuhadapkan ketua kami, daripada engkau menjadi bangkai makanan buaya di kali ini!"

"Hemmm, Ki Jalak Uren. Andika mengatakan bahwa andika sekalian adalah orang-orang gagah dari perkumpulan para pendekar Gagak Rodra. Akan tetapi mengapa para pendekar bersikap dan bertindak seperti segerombolan perampok dan penjahat yang suka mengganggu orang? Aku melihat di perahu itu kalian juga menawan seorang wanita. Apakah perbuatan kalian itu termasuk watak para pendekar, ataukah ulah para penjahat?"

"Babo-babo, keparat! berani engkau menghina kami? Berani engkau melawan aku, Ki Jalak Uren gembong Kali Bogawanta?"

"Jangankan hanya gembong Kali Bogawanta, biarpun setannya sekalipun, kalau berbuat jahat pasti akan kulawan!"

"Jahanam sombong! Ambrol dadamu!"

Bentak Ki Jalak Uren dan tiba-tiba saja kakinya yang besar dan panjang itu sudah mencuat melakukan tendangan kilat ke arah dada Aji.

Akan tetapi pemuda ini sudah waspada.

Latihan yang ditekuninya di bawah bimbingan mendiang Ki Tejobudi telah membuat ilmu silatnya mendarah daging dengan dirinya dan gerakannya sudah otomatis tanpa dikendalikan pikiran lagi.

Maka, ketika angin tendangan menyambar, dia sudah mengelak mundur ke samping kanan sehingga kaki lawan yang menyambar ke arah dadanya itu luput.

Namun Ki Jalak Uren ternyata bukan orang lemah.

Dia jauh lebih tangguh dibandingkan dengan anak buahnya tadi.

Orang ini adalah wakil ketua ke dua di Gerombolan Gagak Rodra, maka tentu saja lmu silat dikuasainya dengan baik di samping tubuhnya yang kebal dan kokoh kuat.

Begitu tendangannya luput dan kaki yang menendang itu sudah turun, tubuhnya sudah menerjang maju dan goloknya menyambar dahsyat.

Saking cepat dan kuatnya golok itu menyambar, golok lenyap bentuknya berubah menjadi sinar putih yang menyambar ke arah leher Aji.

"Singggg.....!!"

Aji merendahkan tubuhnya dan sinar golok itu lewat di atas keplanya.

Akan tetapi Ki Jalak Uren sudah menyusulkan serangan dengan tangan kirinya.

Jari-jari tangan kirinya membentuk cakar dan mencemngkeram ke arah perut Aji dari bawah!

Aji cepat menggerakkan lengan kanannya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Wuuuttt..... dukkk !"

Dua lengan bertemu dan akibatnya, Ki Jalak Uren terdorong mundur dan terhuyung.

Dia terkejut sekali.

Dia adalah seorang yang kebal dan bertenaga besar, akan tetapi pertemuan kedua lengan itu bukan saja membuat dia terhuyung menandakan bahwa dia kalah kuat, akan tetapi juga lengannya terasa nyeri menunjukkan bahwa kekebalannya dapat ditembus oleh lengan pemuda itu!

Maklumlah dia bahwa pemuda yang sederhana ini ternyata memiliki kesaktian.

Dia menjadi semakin marah dan penasaran.

Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor singa dia sudah menerjang lagi, menyerang dengan goloknya.

Aji bergerak dengan gerak silat Wanara Sakti.

Tubuhnya lincah dan trengginas, mengelak dan berlompatan ke sana sini dengan cepat sekali sehingga ke manapun sinar golok menyambar, selalu hanya mengenai tempat kosong.

Tiba-tiba dia mendengar jerit dari arah sungai.

"Tolooongggg.....!"

Aji melompat ke belakang dan menoleh.

Dia melihat laki-laki tinggi kurus yang tadi menelikung wanita itu kini mendayung perahunya ke tengah, agaknya hendak melarikan diri dengan perahu sambil membawa wanita itu.

Melihat ini, Aji bertekad untuk menolong wanita itu.

Dia harus merobohkan dulu Ki Jalak Uren kalau hendak mengejar laki-laki yang melarikan wanita itu.

Pada saat itu Ki Jalak Uren yang sudah merasa penasaran sekali kembali mengirim bacokan dengan goloknya.

Sekali ini Aji sudah mengambil keputusan untuk menyudahi perkelahian ini secepatnya karena dia harus menolong wanita yang dilarikan penjahat.

Begitu golok menyambar, dia tidak mengelak melainkan menyambut dengan sambaran tangan kirinya mendahului dan memegang golok, sementara tangan kanannya cepat menyambar ke depan, dengan jari-jari terbuka dia menotok ke depan.

"Dukkk..... ngekkk!!"

Ki Jalak Uren terjengkang dan roboh, tak mampu bergerak lagi karena diapun sudah klenger (pingsan)!

Aji tidak memperdulikannya lagi.

Cepat dia melompat ke tepi sungai dan melihat betapa perahu itu sudah tiba di tengah sungai.

Wanita itu masih menangis dan menjerit, meronta di bawah tekanan kaki laki-laki itu yang dilintangkan di atas pinggangnya.

Sedangkan kedua tangan itu menggerakkan dayung, mendayung perahu melawan arus menuju seberang.

Aji melompat ke air.

"Byurrrr.....!"

Air muncrat dan Aji cepat berenang.

Seperti seekor ikan saja dia meluncur di permukaan air.

Sebentar saja dia dapat menusul perahu itu.

Wanita itu kebetulan mukanya menghadap ke belakang perahu, melihat Aji lebih dulu.

Melihat seorang pemuda yang tadi dilihatnya berkelahi melawan para perampok kini sudah berenang dekat perahu, wanita itu berseru.

"Ki sanak, tolonglah aku, tolong.....!"

Laki-laki tinggi kurus yang mendayung perahu itu menoleh dan diapun melihat Aji yang sudah berenang dekat sekali dengan perahu.

Aji sudah berada di belakang perahu dan tangan kirinya meraih pinggiran perahu.

Melihat ini, laki-laki itu bangkit berdiri mengangkat dayungnya.

"Ha-ha-ha, engkau berani menggangguku? Aku Blekok Ireng, akan menjadikan engkau makanan ikan!"

Dayungnya menyambar ke arah tangan Aji yang berpegang pada perahu.

Terpaksa Aji melepaskan tangannya dari perahu agar jangan sampai terpukul.

Ki Blekok Ireng adalah wakil ketua pertama dari Gerombolan Gagak Rodra dan tentu saja tingkat ketangguhannya melebihi tingkat Ki Jalak Uren.

Bahkan diapun seorang ahli bermain di air, maka melihat Aji mengejar perahunya, dia menertawakannya.

"Ha-ha-ha, mampuslah!"

Katanya lagi dengan dayungnya dia memukul-nukul ke arah kepala Aji yang berenang di belakang perahu.

Sambil bereang Aji mengelak ke kanan kiri, mencari kesempatan.

Ketika mendapatkan kesempatan, cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah berhasil menangkap dayung yang dipukul-pukulkan ke arahnya.

Setelah dapat menangkap ujung dayung, Aji mengerahkan tenaga dan menarik dayung itu dengan tenaga sentakan kuat.

"Byurrrr.....!!"

Air muncrat dan kedua orang itu saling tarik dayung.

Saking kuatnya tenaga mereka, dayung patah tengahnya, menjadi dua potong!

Dan terjadilah perkelahian di air, menggunakan potongan dayung.

Saling pukul dan saling tangkis.

Sementara itu, perahu yang tidak dikuasai orang itu terbawa arus air yang mengalir perlahan.

Aji menggunakan kepandaiannya dan tiba-tiba dia menyelam.

Ki Blekok Ireng melihat ini juga segera menyelam dan perkelahian dilanjutkan dalam air!

Seperti dua ekor ikan saling serang.

akan tetapi segera terbukti bahwa Aji jauh lebih kuat.

Berulang kali ketika dua tangan beradu, tubuh Ki Blekok Ireng terpental.

Akhirnya wakil ketua Gerombolan Gagak Rodra ini maklum bahwa kalau dilanjutkan perkelahian itu, akhirnya dia akan kalah dan hal ini berbahaya baginya.

Maka, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berenang mengejar perahu!

Melihat ini Aji juga cepat berenang mengejar karena khawatir akan keselamatan wanita itu.

Ki Blekok Ireng berhasil menangkap perahu itu dan ketika dia melihat bahwa Aji sudah berada di belakangnya, tanpa ragu-ragu lagi dia membalikkan perahu.

"Aiiiihhh..... byurrr.....!"

Tubuh wanita yang menjerit itu terjatuh ke air.

Ternyata ia tidak pandai berenang dan megap-megap, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi.

Melihat ini, tentu saja Aji tidak membiarkannya tenggelam.

Dia lalu berenang mendekati dan menangkap pangkal lengan kiri wanita itu lalu mengangkatnya sehingga kepalanya berada di atas permukaan air.

Karena panik dan ketakutan, wanita itu merangkul leher Aji dengan kedua tangannya, merangkul erat-erat takut terlepas.

Tentu saja hal ini merepotkan Aji, menghalanginya untuk bergerak dengan leluasa.

hal inilah yang agaknya dimaksudkan oleh Ki Blekok Ireng ketika dia menggulingkan perahu.

Melihat aji kerepotan karena dirangkul erat-erat oleh kedua tangan wanita itu, Ki Blekok ireng cepat berenang menghampiri.

Dia sudah mencabut goloknya yang tadi belum sempat dia gunakan.

Aji melihat bahaya.

Wanita itu merangkulnya erat-erat karena takut terlepas sehingga tentu saja dia tidak dapat bergerak dengan leluasa.

Untuk dapat berenang dengan baikpun sukar baginya, apalagi menghadapi serangan Ki Blekok Ireng yang sudah memegang sebatang golok!

Dia dan juga wanita itu berada dalam ancaman bahaya maut!

Untuk melepaskan diri mereka berdua dari ancaman maut, tanpa ragu-ragu lagi Aji menekan tengkuk wanita itu dengan ibu jari dan telunjuk tangan kirinya.

Tekanan yang amat kuat itu membuat wanita itu terkulai, pingsan.

Setelah wanita itu pingsan, Aji menjambak rambut wanita itu yang terlepas sanggulnya dan terurai sehingga wajah wanita itu dapat tetap berada di atas permukaan air tanpa dia harus menggunakan banyak tenaga.

Dalam keadaan seperti itu dia menghadapi serangan Ki Blekok Ireng.

Wakil ketua pertama Gerombolan Gagak Rodra itu menyerang dengan bacokan goloknya.

Akan tetapi Aji menggerakkan kakinya yang meluncur ke depan, tepat menyambut lengan kanan itu sehingga bacokan tertahan.

Kemudian Aji melepaskan rambut wanita itu dan membalik, kedua tangannya bergerak cepat memukul tangan memegang golok, sedangkan tangan yang satu lagi menampar leher lawan.

Ki Blekok Ireng berteriak kaget, goloknya terlepas dari tangan dan dia berusaha mengelak dari tamparan ke arah lehernya.

Namun, tetap saja tangan kanan Aji mengenai pundaknya dan Ki Blekok Ireng merasa pundaknya panas dan nyeri bukan main.

Dia menjadi gentar dan cepat berenang menjauh ke hilir.

Aji tidak memperdulikannya lagi.

Dia membalik dan melihat wanita itu tenggelam.

Cepat dia menyelam dan tak lama kemudian dia sudah membawa wanita itu berenang ke tepi sungai di mana lima orang perampok masih rebah, ada yang masih pingsan, dan ada yang sudah siuman akan tetapi belum mampu bangkit.

Setibanya di daratan, Aji merebahkan tubuh wanita itu menelungkup lalu dia menekan-nekan punggung wanita itu.

Air mengalir keluar dari mulut wanita yang masih pingsan itu.

Aji lalu membalikkan tubuh itu telentang dan melihat kain yang membalut tubuh itu hampir terlepas ikatannya, Aji lalu mengikatnya kembali.

Dia baru merasa rikuh ketika memandang wanita itu lebih teliti.

Ternyata wanita itu masih amat muda, sekitar dua puluh tahun dan wajahnya yang basah kuyup dengan rambut terurai lepas tampak ayu dan manis sekali.

Juga baru sekarang dia melihat betapa tubuh yang berkulit putih mulus itu bentuknya indah menggairahkan.

Sadar J akan hal ini, barulah Aji merasa rikuh dan jantungnya berdebar tegang membuatnya salah tingkah.

Akan tetapi dengan kekuatan batinnya dia menenangkan kembali hatinya, kemudian dia mengurut bagian tengkuk wanita itu.

Mulut yang bibirnya merah dan mungil itu bergerak, mengeluh lirih.

Mata itu terbuka dan bertemu dengan pandang mata Aji.

Agaknya ia teringat dan cepat ia bangkit duduk, otomatis kedua tangannya hinggap didadanya yang indah untuk merasa yakin bahwa ikatan kainnya tidak terlepas.

Kemudian matanya yang dibuka lebar-lebar memandang ke kanan kiri, melihat ke arah sungai lalu melihat lima orang masih menggeletak di situ, ada yang diam saja dan ada yang mengaduh kesakitan.

"Ah..... aku..... aku telah tertolong.....!"

Ia menggerakkan tubuh menghadap Aji yang sudah bangkit berdiri, lalu menyembah.

"Ki sanak, terima kasih..... andika telah menyelamatkan diriku....."

Aji memutar tubuhnya, tidak mau menerima sembah itu.

"Sudahlah, nimas, jangan berlebihan. Berterima kasih saja kepada Gusti Allah dan mari kita tinggalkan tempat ini. Kuantar andika pulang ke tempat tinggal andika."

Wanita itu teringat akan para perampok itu dan ia cepat bangkit berdiri memandangi ke arah mereka.

"Apa yang akan kau lakukan kepada mereka, ki sanak?"

Ia bertanya. Tahu bahwa wanita itu telah bangkit berdiri, Aji membalikkan tubuhnya dan mendengar pertanyaan itu, dia memandang ke arah lima orang itu.

"Aku tidak melakukan apa-apa tehadap mereka. Mudah-mudahan saja mereka telah mendapat peringatan dan akan menyadari kesesatan mereka dan kembali ke jalan yang bersih. Tidak baik kita berlama-lama di sini. Tunjukkanlah jalan ke tempat tinggalmu, nimas, aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu."

Aji lalu mengambil buntalan pakaiannya dan menuntun kudanya. Wanita ayu itu menunjuk ke arah utara.

"Rumahku di sana, di dusun Loano."

"Andika naik dan duduklah di atas pelana kuda ini, nimas."

Kata Aji.

"Aku tidak bisa menunggang kuda, ki sanak."

Kata wanita itu, kini sudah mulai dapat tersenyum karena hatinya sudah merasa tenang dan Aji melihat betapa indah dan manisnya senyum itu!

"Duduklah saja seperti duduk di atas bangku, nimas.

Tidak apa-apa, tidak akan jatuh.

aku akan menjagamu.

dengan duduk di atas pelana kuda andika tidak akan terlalu lelah.

Apa lagi andika baru saja mengalami hal-hal yang melelahkan dan mencemaskan."

Wanita itu meragu dan dipandangnya kuda itu. Seekor kuda besar dan tinggi karena kuda itu pemberian Sultan Agung.

"Bagaimana aku dapat naik dan duduk di atas punggung kuda yang begini tinggi? aku tidak bisa, ki sanak. Biarlah aku berjalan saja."

Aji mengerutkan alisnya, lalu berkata.

"Kalau begitu, maafkan aku, nimas. Biar aku membantumu naik."

Tiba-tiba dia menggunakan kedua tangannya untuk memegang pinggang wanita itu dan sekali angkat, dia telah mendudukkan wanita itu di atas punggung kuda, duduk miring.

"Nah, berpeganglah pada pelana kuda, aku akan menuntunnya."

Kata Aji yang lalu menuntun kuda itu meninggalkan tempat itu.

Wanita itu tidak berkata-kata, hanya kedua pipinya berubah agak kemerahan.

Ia duduk di atas pelana dan memandang Aji berjalan di depan kuda dengan alis berkerut, diam-diam merasa heran, bukan saja atas ketangguhan pemuda itu yang telah mengalahkan para perampok, akan tetapi juga atas sikap yang lembut dan sopan itu.

"Jauhkah Loano dari sini, nimas?"

Tanya Aji tanpa menoleh.

"Jauh sekali. mereka itu membawaku sejak fajar tadi dengan perahu yang mereka dayung cepat-cepat."

Jawab wanita itu.

Aji berpikir.

berperahu mengikuti aliran air sungai ditambah dengan tenaga dayung tentu cepat sekali, jauh lebih cepat dari pada orang berjalan kaki.

Pada hal, wanita itu dilarikan dengan perahu sejak fajar tadi.

Sudah setengah hari lebih.

Kini, kalau dia mengantar wanita itu pulang, tentu sedikitnya akan makan waktu lebih dari satu hari, atau bahkan sampai dua hari.

Tiba-tiba angin semilir dan Aji merasa tubuhnya dingin.

Baru dia ingat bahwa seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup, denikian pula wanita itu.

Dia cepat menoleh dan melihat wanita itu menggigil kedinginan di atas kuda.

Dia berhenti dan kuda itupun ikut berhenti.

"Ah, Andika kedinginan, nimas?"

Wanita itu menaruh kedua tangan di kedua pundaknya.

"Ya, dingin sekali."

"Andik a harus berganti pakaian, kalau tidak dapat terserang masuk angin!"

Aji lalu menurunkan buntalan pakaiannya dari punggung, membantu wanita itu turun dari atas kuda dengan memegang pinggang yang ramping itu seperti tadi ketika membantunya naik.

"Akan tetapi aku tidak membawa ganti pakaian."

"Aku ada membawanya, sementara boleh andika pakai dulu."

Kata Aji sambil melepaskan buntalan dan mengeluarkan sehelai sarung dan baju, diberikannya kepada wanita itu.

"Di sana ada semak (Lanjut ke

Jilid 09) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 tebal, andika dapat berganti pakaian di sana. Aku juga akan berganti pakaianku yang basah ini."

Dia mengambil seperangkat pakaian terdiri dari celana dan baju, kemudian pergi ke belakang sebuah batu besar yang letaknya berlawanan arah dengan semak belukar itu.

Wanita itu agak ragu sejenak, kemudian setelah melihat Aji menghilang di balik batu besar, iapun melangkah menuju ke semak belukar dan menghilang di balik semak.

Aji telah selesai berganti pakaian.

Dia kembali ke kudanya, memeras pakaiannya yang basah lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol dan menanti wanita yang berganti pakaian itu.

Duduknya membelakangi semak-semak.

Tak lama kemudian dia mendengar langkah lembut dari arah belakangnya.

Aji bangkit dan memutar tubuhnya.

Wanita itu telah berganti pakaian.

Sarung itu melibat tubuhnya dari dada ke bawah.

Bagian atasnya tertutup baju putih yang terlalu besar.

Rambutnya sudah disanggul sederhana.

Tampak lucu sekali, akan tetapi bersih, kering dan tidak mengurangi keayuannya.

Kedua pipi itu kemerahan, mulutnya tersenyum malu-malu dibantu sinar matanya.

"Aku..... aku tentu kelihatan lucu sekali."

Katanya lirih.

"Ah, tidak! Andika kelihatan seperti seorang pemuda......"

"...... yang jelek dan tidak patut tentu!"

"Sebaliknya malah. Andika tampak tampan dan patut sekali."

Wanita itu menghela napas dan duduk di atas akar pohon, lalu memeras pakaiannya yang basah.

Aji berjongkok dan merapikan buntalannya lagi.

Wanita itu membawa pakaiannya di tempat yang terbuka lalu menjemur pakaiannya di atas batu.

Tanpa diminta ia mengambil pakaian Aji yang basah dan sudah diperas dari atas akar pohon dan menjemurnya pula.

"Sebaiknya kita berhenti di sini sebentar sampai pakaian kita itu menjadi kering."

Katanya. Aji mengangguk saja, kemudian mereka duduk di atas akar pohon, di bawah pohon yang teduh.

"Ki sanak, aku belum mengenal namamu, padahal andika sudah menyelamatkan aku dari bencana."

Kata wanita itu sambil menatap wajah Aji.

"Namaku Lindu Aji, aku seorang perantau."

Jawab Aji pendek.

"Akupun ingin sekali mengetahui siapa andika dan bagaimana sampai andika terjatuh ke tangan orang-orang jahat tadi?"

"Lindu Aji? Ahhh, nama yang aneh, langka, indah dan mengandung kegagahan, sesuai dengan orangnya yang gagah perkasa dan berjiwa satria."

Wanita itu memuji.

"Dan masih begitu muda remaja!"

Aji tersenyum.

"Muda remaja? Usiaku sudah dua puluh tahun!"

"Masih muda sekali. Aku lebih tua setahun. Karena itu, tidak semestinya andika menyebut aku nimas."

"Habis, harus menyebut apa?"

"Sepatutnya menyebut mbakayu. Mbakayu Winarsih, itu namaku. Dan aku menyebutmu adimas, Adimas Aji. Bukan saja karena aku lebih tua, akan tetapi juga karena aku sudah mempunyai suami, jadi sudah jauh lebih dewasa."

Aji menekan perasaan herannya.

"Akan tetapi..... andika kelihatan masih begini muda. Tadinya kukira baru berusia delapan belas tahun!"

Winarsih tersenyum dan deretan giginya yang rapi dan putih tampak, membuat wajah itu tampak semakin menarik dan manis.

"Dan andika yang baru berusia dua puluh tahun tampak bijaksana dan matang sikapmu, seperti orang yang jauh lebih tua, padahal wajahmu masih tampak muda sekali. andika tentu seorang satria, murid seorang yang sakti mandraguna. Suamiku banyak bercerita tentang orang-orang yang sakti mandraguna."

"Mbakayu Winarsih,"

Setelah menyebut wanita itu dengan mbakayu, Aji merasa lebih akrab dan tidak canggung lagi, merasa seolah bicara dengan mbakayunya sendiri.

Setelah tahu bahwa wanita itu lebih tua bahkan telah bersuami, dia merasa lega dan tidak rikuh.

"Kalau suamimu mengenal orang-orang sakti mandraguna, tentu suamimu juga seorang yang digdaya. Betulkah dugaanku ini?"

Winarsih menghela napas panjang.

"Tidak keliru dugaanmu, dimas Aji. Suamiku bernama Ki Sumali dan dia adalah seorang yang memiliki aji kadigdayaan. Akan tetapi semenjak aku menjadi isterinya, dia menyatakan ingin hidup tenang dan damai, tidak pernah lagi mencampuri urusan dunianya orang-orang yang suka mengadu ilmu kadigdayaan. Kami hidup bertani di Loano, hidup tenang dan tenteram."

"Akan tetapi bagaimana mbakayu tadi sampai ditawan mereka?"

"Itulah, dimas. Kukira ini juga ada hubungan dengan cara hidup suamiku ketika masih menjadi pendekar dahulu. Aku sendiri tidak mengenal dia orang yang menculikku. Pada waktu fajar tadi, seperti biasa aku mencuci pakaian di sungai yang berada dekat dengan rumahku. Tiba-tiba dua orang laki-laki tadi menangkap aku dan melarikan aku dengan perahu mereka. Di darat masih ada empat orang kawan mereka yang mengikuti perahu sambil berlari-lari. Aku tidak mengenal mereka, akan tetapi pernah aku mendengar orang yang tinggi kurus dan yang menelikung aku itu menyebut nama suamiku. Dia berkata sambil tertawa.

"Rasakan sekarang pembalasan kami, Ki Sumali!"

Maka aku menduga bahwa tentu perbuatan menculikku itu mereka lakukan untuk membalas dendam. mungkin mereka dahulu pernah bermusuhan dengan suamiku."

Aji mengangguk-angguk, diam-diam merasa heran mengapa seorang pendekar yang masih muda sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri untuk memanfaatkan ilmu-ilmu yang dengan susah payah dipelajarinya.

"Mendengar ceritamu, melihat keadaannya aku merasa yakin bahwa suamimu sebagai pendekar tentu pernah bentrok dengan mereka. Maksudku bukan bentrok dengan dua orang penculikmu itu, melainkan dengan Gerombolan Gagak Rodra."

"Mungkin dugaanmu benar, adimas Aji. Nanti kalau sudah tiba di rumah, tentu suamiku akan dapat menceritakan tentang permusuhannya itu. Sekarang tentang dirimu, adimas. Engkau tadi mengatakan bahwa engkau seorang perantau? Bagaiman dapat berada di sini?"

Aji tersenyum dan Winarsih memandang kagum. Pemuda itu memang tampak manis sekali kalau tersenyum.

"Aku memang seorang kelana, mbakayu. Dan kebetulan sekali aku ingin berkelana ke daerah barat. Aku berasal dari Gampingan, sebuah dusun kecil di dekat Laut Kidul. Kebetulan saja ketika aku berhenti mengaso di tepi sungai menanti orang lewat untuk bertanya bagaimana aku dapat menyeberangi sungai, muncul empat orang yang merampok kuda dan buntalan ini. Kemudian muncul pula dua orang dengan perahu yang menawanmu. Karena menduga bahwa engkau tentu diculik, maka setelah merobohkan para perampok, aku lalu berenang dan mengejar perahu itu."

"Aku juga ingin segera dapat berjumpa dengan suamimu, mbakayu. Mari kita lanjutkan perjalanan agar dapat tiba di sebuah dusun sebelum hari menjadi gelap."

"Baiklah, adimas."

Kini sikap Winarsih juga lebih akrab dan tidak canggung lagi karena iapun merasa seolah berhadapan dengan seorang adik sendiri.

"akan tetapi biar aku berjalan kaki saja, rasanya tidak enak menunggang kuda sedangkan engkau berjalan kaki."

"Akan tetapi kalau engkau berjalan kaki, selain engkau akan menjadi lelah sekali, juga perjalanan menjadi semakin lambat. Ah, kalau saja engkau dapat menunggang kuda dan melarikannya, tentu kita akan dapat tiba di rumahmu dengan cepat, mbakayu. Kalau dudukmu menghadap ke depan, tentu kuda dapat dilarikan lebih cepat dan aku dapat berlari sambil menuntun kuda."

"Wah, membiarkan engkau berlari-lari sambil menuntun kuda yang kutunggangi? Tak mungkin aku dapat membiarkan hal itu. Terlalu enak untukku dan tidak enak untukmu! Lagi pula, andaikata aku dapat duduk menghadap ke depan, akupun tidak berani kalau kuda berlari kencang. Aku takut jatuh. Eh, bukankah kudamu ini cukup besar dan kuat, adimas? Kulihat berbeda dengan kuda biasa yang pernah kulihat. apa kuda ini tidak kuat kalau kita tunggangi berdua? Kalau berboncengan denganmu, aku tidak takut!"

Tiba-tiba Aji menjadi rikuh kembali.

"Akan tetapi..... tidak apa-apakah kalau..... kalau kita berboncengan? Kalau dilihat orang..... apakah hal itu pantas?"

Winarsih tersenyum lebar, senyum yang tulus dan pandang matanya kagum. Pemuda ini jujur dan polos, juga amat tahu kesusilaan.

"Adimas Aji, aku mengerti apa yang kau maksudkan, mengerti apa yang kau ragukan. Engkau khawatir kalau-kalau orang yang melihat kita berboncengan lalu menuduh yang bukan-bukan. Akan tetapi kita berdua yakin benar akan alasan dan keadaan kiata. Pertama, kita berboncengan karena kita ingin cepat-cepat sampai ke tempat tinggalku dan tidak ada cara lain yang lebih cepat kecuali berboncengan menunggang kuda. Kedua, kita berdua yakin benar bahwa kita tidak melakukan, bahkan tidak pernah membayangkan hal tang tidak pantas atau melanggar kesusilaan. nah, kalau dua kenyataan itu masih belum dapat menghilangkan kekhawatiranmu, biarlah kita berjalan kaki saja. Kalau aku disuruh menunggang kuda sendiri dan engkau berjalan kaki, aku tidak mau."

Aji mendengar dengan kagum. Wanita lemah ini ternyata memiliki pandangan luas dan batin yang kuat. Dia teringat akan satu diantara petuah gurunya.

"Aji, kita harus selalu ingat dan waspada. Ingat setiap detik akan Gusti Allah, dan waspada setiap saat akan pikiran, kata-kata dan perbuatan kita sendiri. Yang terpenting dalam kewaspadaan itu adalah mawas diri. Biarpun orang sejagad menuduh kita pencuri, kalau, kita tidak mencuri, maka biarkan sajalah orang menuduh. sebaliknya, biarpun tidak ada orang yang tahu, kalau kita waspada dan merasa telah melakukan pencurian, hal inilah yang amat penting agar kita mawas diri dan mengubah kesalahan kita."

"Engkau benar, mbakyu Winarsih. Kita terpaksa harus berboncengan karena ingin agar engkau dapat segera sampai di rumahmu dan kita tidak melakukan atau memikirkan hal-hal yang tidak baik. Mengapa harus malu dan khawatir akan pendapat orang lain?"

Dia lalu membuka lagi buntalan pakaiannya dan mengeluarkan celan hitam dan memberikannya kepada Winarsih.

"Nah, kau kenakan calana ini mbakyu agar engkau leluasa menunggang kuda."

Winarsih tersenyum, menerima celana itu dan pergi lagi ke balik semak-semak untuk mengenakan celana itu di balik sarungnya.

Ia berterima kasih sekali kepada Aji yang demikian penuh pengertian.

Setelah selesai mengenakan celana dan keluar, ia melihat Aji sudah mengambil pakaian yang tadi dijemur dan dimasukkan dalam buntalannya.

"Sekarang kita berangkat, mbakayu,"

Kata Aji yang sudah menggendong buntalan pakaiannya.

Dia lalu membantu Winarsih naik ke atas pelana kuda.

Wanita itu duduk menghadap ke depan dan tentu saja merasa lebih enak dan lebih mudah daripada ketika ia menunggang kuda dengan duduk miring.

Aji lalu melompat ke belakang wanita itu, menjaga jarak agar tubuhnya tidak berhimpitan dengan tubuh Winarsih.

Demikianlah dengan berboncengn seperti itu, Aji memegang kendali kuda dan perjalanan kini dapat dilakukan jauh lebih cepat.

Semula Winarsih merasa rikuh juga dengan adanya seorang laki-laki duduk di belakangnya berdempetan.

Belum pernah ia begitu dekat dengan seorang pria kecuali dengan suaminya.

Akan tetapi ia merasa lega ketika tidak merasa tubuh pemuda itu menghimpit tubuh belakang dan ia menjadi semakin kagum saja kepada pemuda itu.

Seorang pemuda yang benar-benar sopan dan berhati bersih.

Ketika malam tiba.

mereka memasuki dusun Dadapan.

Dusun di tepi Kali Bogawanta ini kecil, akan tetapi Winarsih pernah berkunjung ke dusun ini bersama suaminya dan ia mengenal Ki Wirobandi, kepala dusun itu.

Maka ia mengajak Aji berkunjung ke rumah kepala dusun.

Ki Wirobandi mengenal dan menghormati Ki Sumali sebagai seorang pendekar gagah perkasa.

Maka, melihat Winarsih, dia mengenal istri pendekar itu dan menyambutnya dengan hormat.

Tadinya dia merasa heran melihat isteri Ki Sumali berboncengan dengan kuda bersama seorang pemuda tampan, akan tetapi setelah Winarsih memperkenalkan Lindu Aji sebagai seorang adiknya, diapun menyambut pemuda itu dengan ramah dan hormat.

Mereka berdua dijamu makan malam dan bermalam di rumah kepala dusun itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, setelah dijamu sarapan pagi, mereka mengucapkan terima kasih kepada Ki Wirobandi dan keluarganya, berpamit dan melanjutkan perjalanan dan berboncengan kuda.

Perjalanan dilakukan dengan cepat dan menjelang tengah hari mereka sudah tiba di luar dusun Loano.

"Kita berhenti di sini, dimas Aji."

Kata Winarsih. Aji menahan kudanya lalu melompat turun. Dia membantu Winarsih, memegang pinggangnya yang ramping dengan kedua tangannya lalu menurunkannya dari atas pelana kuda.

"Kenapa berhenti di sini, mbakayu?"

Winarsih memandang ke sekeliling. Kali Bogawanto berada di sebelah kiri dan sebelah kanan jalan itu tampak sawah luas membentang dan ada gubuk di sana sini.

"Kita sampai di luar dusun Loano. Itu dusunnya sudah tampak di depan."

Ia menuding ke depan di mana tampak gerombolan pohon dan atap-atap rumah.

"Semua penduduk mengenalku dan aku merasa rikuh kalau mereka melihat kita berboncengan kuda. Juga pakaian ini memalukan, tentu akan menjadi buah tertawaan orang. Sebaiknya kalau aku berganti pakaianku yang kemarin."

Aji tak berkata apa-apa. Dia membuka buntalannya dan mengeluarkan pakaian Winarsih terdiri dari tapih (kain panjang) dan baju yang sudah robek di bagian pundak dan punggung.

"Masih agak lembab, belum kering benar, mbakayu."

Katanya. Winarsih menerima pakaiannya.

"Tidak mengapa. nanti kalau sampai di rumah aku berganti lagi pakaian kering."

Ia mencari-cari dengan pandang matanya , kemudian menghampiri sebuah gubuk terdekat di persawahan itu untuk berganti pakaian.

Aji diam saja, duduk di atas batu di tepi jalan, membelakangi gubuk itu.

Kudanya dibiarkan makan rumput yang tumbuh di tepi jalan.

Tak lama kemudian dia mendengar suara Winarsih di belakangnya.

"Ini kukembalikan pakaianmu, dimas aji. Terima kasih!"

Aji bangkit dan memutar tubuhnya.

Winarsih sudah berdiri di depannya, berpakaian wanita, biarpun pakaiannya kusut dan rambutnya awut-awutan, namun ia tampak ayu manis.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara melengking-lengking, merdu sekali namun suara suling yang mendayu-dayu itu mengandung suara yang membayangkan kemarahan.

hal ini terasa benar oleh Aji yang juga pandai meniup dan memainkan suling.

Dia tahu bahwa peniup suling itu biasanya untuk mengiringi tembang orang yang sedang marah dan menantang!

Mendengar suling itu, Winarsih membelalakkan matanya, memutar tubuh menghadapi arah dari mana datangnya suara itu, melihat sebuah gubuk ditengah sawah agak jauh dari situ, lalu ia berseru "Dia di sana.....!"

Kemudian lari ke arah gubuk itu.

Aji tak tahu siapa yang dimaksudkan Winarsih.

Karena khawatir kalau keselamatan wanita itu terancam, maka dia lalu mengikutinya dari belakang.

Setelah tiba di depan gubuk, Aji melihat bahwa peniup suling itu seorang laki-laki yang sedang duduk bersila dipanggung gubuk itu.

seorang laki-laki berusia lima puluh empat tahun, rambutnya sudah bercampur banyak uban, mengenakan kain pengikat kepala bewarna biru, pakaiannya sederhana namun bersih dan rapi, bercelana hitam sebatas lutut, bajunya lurik berlengan panjang, sarungnya dilibatkan di pundak dan sebatang gagang keris tampak terselip di pinggangnya.

Orang ini bertubuh sedang namun masih tampak tegap.

Wajahnya yang setengah tua itu masih ganteng dan gagah.

Kedua tangannya memegang sebatang suling bambu yang sedang ditiup dan dimainkannya, dan dia duduk bersila dengan tubuh tegak.

"Kakang.....!"

Aji melihat Winarsih berseru dan wanita itu berlari menghampiri panggung gubug, tangannya dijulurkan hendak menyentuh pria itu.

Akan tetapi tiba-tiba pria itu menghentikan tiupan sulingnya dan sekali tangan kirinya bergerak seperti mendorong, ada angin keras menyambar dan tubuh Winarsih terpental ke belakang!

Ia tentu akan terjengkang roboh kalau saja Aji tidak cepat bergerak dan menahan dengan kedua tangan menangkap pundak Winarsih.

"Jangan sentuh aku!"

Pria itu membentak sambil menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Winarsih.

"Jangan kotori aku dengan tubuhnu yang ternoda dan hina!"

Mendengar ucapan ini, seperti lemas kaki Winarsih dan ia terkulai, menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah sawah depan gubuk, air matanya bercucuran lalu berkata di antara isak tangisnya.

"Kakang..... engkau kenapakah, kakang? Apa ...... apa dosaku kepadamu?"

Pria itu tersenyum mengejek dan pandang matanya yang tajam membayangkan kejijikan.

"Engkau masih berpura-pura menanyakan dosamu, perempuan tak tahu malu? Engkau pergi dua hari satu malam tanpa pamit. Kucari ke mana-mana tidak ada, tanpa meninggalkan jejak dan sekarang engkau muncul bersama seorang pemuda tampan, menunggang kuda berboncengan, berhimpitan, bahkan mengenakan pakaian pria, tentu milik pemuda itu. Baru ganti pakaian setelah tiba di sini. Aku melihat semua itu dan kini engkau masih bertanya tentang apa dosamu?"

Ketika tadi melihat pria itu, Aji menduga-duga siapa gerangan dia.

baru dia dapat menduga bahwa pria itu tentu suami Winarsih ketika ia menyebut kakang kepada pria tua itu.

tentu pria inilah yang bernama Ki Sumali, pendekar itu.

Dari dorongan jarak jauh yang membuat Winarsih terpental tadi saja dia tahu bahwa pria itu memiliki tenaga sakti yang kuat.

Mendengar betapa pria itu mencaci maki Winarsih, Aji menjadi penasaran dan cepat berkata.

"Paman, mbakayu Winarsih sama sekali tidak bersalah! Sama sekali tidak kotor ternoda seperti dugaan paman! Paman keterlaluan, mabok cemburu!"

Ki Sumali melotot ketika mendengar ucapan itu dan dia memandang wajah pemuda itu dengan tajam.

kemudian tiba-tiba tubuhnya yang tadinya duduk bersila itu melompat dan bagaikan seekor burung tahu-tahu dua sudah berdiri di depan Aji.

"Keparat! Dengan usia muda dan ketampananmu engkau berani menggoda isteri orang dan sekarang masih berani membuka suara seperti itu? Orang semacam engkau ini tidak patut hidup!"

Setelah berkata demikian, tangan kanannya bergerak ke arah kepala Aji.

Aji maklum betapa dahsyat dan berbahaya serangan ini, maka diapun mengerahkan tenaga dan menggerakkan tangan kiri untuk mengangkis.

"Wuuttt..... dukkkk!"

Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu melalui kedua lengan itu dan akibatnya Aji merasakan getaran hebat mengguncangkannya, akan tetapi Ki Sumali terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Pria itu terbelalak kaget.

"Babo-babo, kiranya engkau seorang yang digdaya juga. Bagus! Kalau begitu, mari kita selesaikan pertentangan ini di hutan sebelah timur itu!"

"Kakang.....! Dengarlah dulu keteranganku. Aku diculik orang dan adimas Lindu Aji ini yang menolongku....."

"Tutup mulutmu!"

Ki Sumali memotong.

"Tiada gunanya semua alasan yang kau cari-cari itu. Aku takkan percaya! Orang muda, pantang bagi orang gagah untuk berkelahi di depan wanita dan memperebutkannya. Demi membela kehormatan, aku tantang engkau untuk mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang di hutan sana. Kalau engkau tidak berani, berarti engkau seorang pengecut besar dan aku pasti akan mencarimu dan membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, Ki Sumali sudah melompat dan lari menuju hutan yang berada di ujung persawahan sebelah timur, tidak perduli akan jerit tangis Winarsih.

Mendengar ucapan itu, Aji merasa tersinggung kehormatannya.

Selain harus mempertahankan kehormatannya, juga dia merasa berkewajiban untuk menyadarkan pemarah itu dan membela Winarsih agar nama wanita itu kembali bersih dan suaminya menyadari kekeliruannya.

Maka, diapun pergi ke jalan, meloncat ke atas punggung kudanya dan mengejar Ki Sumali yang sudah berlari cepat sekali ke hutan.

Setelah tiba di dalam hutan, Aji melihat Ki Sumali sudah berdiri sambil memegang suling bambunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

Wajahnya yang gagah itu tampak kemerahan.

Aji melompat turun dari punggung kudanya, dengan tenang menambatkan kendali kuda pada sebatang pohon kemudian menghampiri kakek itu.

Mereka kini berdiri saling berhadapan, hanya disaksikan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu.

Dengan sikap tenang Aji berkata.

"Paman Sumali, kita baru saja saling berjumpa dan diantara kita tidak ada permusuhan apapun. Akan tetapi mengapa paman memusuhi aku?"

"Hemmm, orang muda, Siapa namamu tadi?"

"Lindu Aji"

"Ya, Lindu Aji. Aku memusuhimu bukan sekali-kali untuk memperebutkan wanita, melainkan untuk membela kehormatanku yang sudah kau injak-injak. Engkau mengandalkan ketampanan dan kedigdayaanmu untuk merusak pagar ayu (melanggar kesusilaan), berarti mencoreng arang di mukaku dan menginjak-injak kehormatanku. Karena itu, sebagai orang-orang yang menghargai kegagahan, engkau atau aku yang harus mati!"

"nanti dulu, Paman Sumali. Sabar dan tenanglah, dengarkan dulu penjelasanku. Isterimu diculik penjahat. Aku hanya membebaskannya dari tangan orang-orang jahat kemudian mengantarkannya pulang. sama sekali kami tidak melakukan hal-hal yang melanggar kesusilaan."

"Cukup! Ia mengenakan pakaianmu, ia berboncengan kuda denganmu, kalian tampak begitu akrab dan mesra. Semua itu kulihat sendiri! Aku belum buta untuk dapat melihat bahwa kalian berdua saling menyukai! Engkau masih berani menyangkal bahwa engkau suka dan mencinta Winarsih?"

"Tidak kusangkal bahwa aku kagum dan suka kepada mbakayu Winarsih! Akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku mencintanya dan bahwa kami telah melakukan hal-hal yang tidak patut. Aku bukan seorang laki-laki yang suka menggoda isteri orang lain! Kalau aku suka kepadanya karena ia seorang wanita yang bijaksana dan baik budi dan kalau ia suka kepadaku karena aku telah menyelamatkannya dan bersikap sopan kepadanya, apakah itu salah? Pikiranmu sudah dikotori bayangan nafsu, Paman Sumali, sehingga engkau membayangkan yang bukan-bukan. Rasa suka, bahkan cinta sekalipun, tidak selalu harus dikotori dengan perjinahan ulah nafsu!"

Panas juga rasa hati Aji karena dia dituduh sebagai perusak pagar ayu.

"Engkau boleh mengoceh apapun, akan tetapi mataku tidak buta. Winarsih pasti jatuh hati kepadamu dan hal itu apa anehnya? Engkau masih muda, tampan, dan pandai mengambil hati. sedangkan aku....."

"Paman, kiranya tuduhanmu itu timbul dari rasa rendah dirimu! Engkau merasa sudah tua dan sebagainya! Sungguh engkau keliru, paman. Aku merasa yakin bahwa mbakayu Winarsih adalah seorang isteri yang mencinta suaminya, seorang isteri yang setia....."

"Cukup! Katakan saja engkau takut dan aku akan membunuhmu sebagai seorang perusak pagar ayu yang berjiwa pengecut!"

Marahlah Aji mendengar ini.

"Dan engkau seorang laki-laki yang keras kepala, ingin benar dan menang sendiri, seorang suami yang sudah menjadi buta karena cemburu yang tak berdasar. Bodoh dan tolol, percuma saja menganggap diri sebagai seorang pendekar!"

"Bagus kalau engkau berani melawanku. nah, sambut seranganku ini!"

Ki Sumali lalu menyerang dengan sulingnya.

Biarpun senjata itu hanya sebatang suling bambu, akan tetapi ditangan seorang sakti dapat menjadi senjata yang ampuh dan berbahaya sekali.

Ketika suling itu digerakkan untuk memukul ke arah kepala Aji dan menyambar, terdengar suara melengking seolah suling itu ditiup!

Akan tetapi Aji sudah waspada.

Dia maklum bahwa orang ini memiliki kesaktian dan dia tahu benar betapa dahsyat dan berbahayanya serangan suling itu.

Maka diapun cepat bergerak seperti kera, memainkan ilmu silat Wanara Sakti dan dengan mudahnya dia mengelak dari serangkaian serangan suling yang berisi tujuh kali serangan bertubi-tubi itu.

Ki Sumali terkejut juga melihat betapa serangkai serangannya itu dengan mudah dapat dielakkan oleh lawannya yang masih begitu muda.

Padahal, serangkai serangan itu merupakan serangan andalannya dan jarang ada lawan mampu mengelak secara berturut-turut tujuh kali.

Diam-diam dia berkemak kemik membaca manteram, tiba-tiba dia mendorongkan tangan kirinya ke depan dan mulutnya mengeluarkan pekik melengking Lengkingan suara itu mengandung getaran yang amat dahsyat, membuat jantung Aji seperti diguncang dan dari telapak tangan kiri yang didorongkan itu keluar asap hitam yang panas!

Inilah Aji Jerit Bairawa, semacam pekik ditambah serangan asap hitam yang mengandung tenaga sihir yang amat berbahaya.

Jerit mengerikan itu dapat memecahkan jantung dan asap hitam itupun dapat membakar tubuh lawan!

Aji dapat menduga penyerangan semacam apa yang mengancam dirinya.

Serangan itu mengandung dua macam kekuatan.

Kekuatan sihir terkandung dalam pekik dahsyat itu yang dapat menyerang jantung dan melumpuhkan lawan, sedangkan serangan tangan kiri mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Maka diapun mengerahkan tenaga saktinya dan tiba-tiba dia berjongkok, kedua tangannya menyentuh tanah sambil menggebrak tanah dia mengeluarkan bentakan nyaring.

Dia telah mengerahkan tenaga Surya Candra dan mengeluarkan Aji Guruh Bumi yang dahsyat.

Dua kekuatan dahsyat bertemu di udara dan akibatnya, Ki Sumali kembali terhuyung!

Wajahnya berubah pucat, sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu mampu melawan ilmunya sehebat itu.

Saking merasa penasaran, dia menjadi marah dan sambil menggereng kembali dia melompat dan menerjang Aji dengan sulingnya!

Akan tetapi sekali ini Aji tidak hanya mengandalkan kelincahan gerakan ilmu silat Wanara Sakti untuk mengelak, melainkan untuk balas menyerang.

Terjadilah pertempuran yang amat seru.

Aji harus mengakui bahwa lawannya memang hebat, memiliki ilmu silat aneh yang dimainkan dengan senjata suling, yang dapat mengimbangi ilmu silatnya Wanara sakti.

Di lain pihak, Ki Sumali juga terheran-heran.

Belum pernah dia bertemu tanding seorang yang masih begini muda namun memiliki kepandaian yang demikian tinggi.

Mereka saling serang, balas membalas.

Hanya bedanya, kalau Aji hanya menyerang untuk merobohkan lawan tanpa membunuhnya, sebaliknya Ki Sumali menyerang dengan jurus-jurus maut!

Puluhan jurus lewat dan pertandingan itu masih berlangsung seru.

Tiba-tiba Winarsih datang berlari-lari.

Wanita ini merasa khawatir sekali melihat suaminya dan Aji pergi ke hutan itu.

Ia lalu melakukan pengejaran dan ketika tiba di dalam hutan itu ia melihat suaminya sedang berkelahi mati-matian dengan Aji.

Cepat ia nekat memasuki arena perkelahian dan mencabut sebatang pisau belati yang tadi diambilnya dari rumah sebelum mengejar ke hutan.

"Kalian berhenti atau aku akan membunuh diri!"

Teriakan ini mengejutkan hati Aji dan cepat ia melompat ke belakang sehingga Ki Sumali terpaksa menghentikan gerakannya juga. Dia sudah mandi keringat sendiri dan pernapasannya agak terengah.

"Kakang Sumali, engkau telah menuduhku secara keji sekali. Aku adalah isterimu yang sudah beberapa tahun mendapat bimbinganmu sehingga aku mengerti tentang harga diri seorang wanita! Harga diri seorang isteri adalah kesetiaannya terhadap suami. Aku bersumpah bahwa aku tetap setia kepada suamiku. Biarlah aku dikutuk para dewa kalau aku melanggar kesetiaanku dan bertindak jina dengan pria lain! Kakang Sumali, engkau boleh saja menuduh aku sesat, akan tetapi engkau berdosa besar sekali kalau kau menuduh adimas Aji. Dia telah menyelamatkan aku, aku berhutang budi dan nyawa kepadanya, dan apa balasanmu? Engkau malah hendak membunuhnya! Kalau dia mati di tanganmu, kakang, aku akan membunuh diri untuk menebus dosamu kepadanya. Adimas Aji, jangan lanjutkan perkelahian ini. Kalau sampai Kakang sumali tewas dalam perkelahian ini, apa gunanya aku hidup? Hanya dia seorang gantungan hidupku, kebahagiaanku, dan hanya dialah pria yang kucinta. Maka kalau dia tewas, aku akan membunuh diri pula!"

Setelah berkata demikian, Winarsih mengancam dengan menempelkan ujung belati di dadanya dan menangis sesenggukan.

"Paman Sumali, apakah engkau belum insaf betapa setia dan besar cinta kasih isterimu kepadamu? Apakah engkau belum juga mau mendengar penjelasanku?"

Tanya Aji dengan alis berkerut merasa iba kepada Winarsih dan merasa gemas kepada Ki Sumali.

Ki Sumali memandang kepada Winarsih dengan alis berkerut, lalu memandang kepada Aji.

Terbayang lagi dalam ingatannya keika ia melihat istrinya itu duduk berhimpitan dengan pemuda itu, berboncengan di atas punggung seekor kuda.

Teringat betapa pemuda itu membantu Winarsih turun dari kuda dengan mengangkatnya pada pinggangnya, lalu betapa isterinya bertukar pakaian dalam sebuah gubuk, dan sikap dan pandang mata dari kedua orang muda itu ketika saling bicara dan berhadapan.

Cemburu merupakan api yang berkobar membakar segalanya, merupakan racun yang menggerogoti hati, mengacaukan pertimbangan akal dan menggelapkan pandangan.

Ki Sumali menghela napas panjang, menyelipkan suling di pinggangnya.

Akan tetapi ketika Aji dan Winarsih sudah merasa lega melihat gerakan Ki Sumali ini, mereka dikejutkan ketika tiba-tiba tangan kanan Ki Sumali menghunus kerisnya!

Keris itu berluk Sembilan dan bentuknya seperti ular, warnanya hitam legam.

Itulah keris pusaka Sarpo Langking (Ular Hitam) yang mengandung bisa amat mematikan!

"Hayo, Lindu Aji, jangan kepalang tanggung.

engkau atau aku yang harus mati!"

Kata ki Sumali.

Aji menjadi marah sekali.

Bukan main kerasnya hati orang ini!

Sungguh buta mata batinnya, tidak tahu memiliki isteri yang demikian setia dan mencinta!

Orang macam ini harus diberi pelajaran keras.

Akan tetapi keris pusaka yang dipegangnya itu tampak ampuh dan berbahaya sekali.

Maka diapun segera menghampiri buntalan pakaiannya, membukanya dan mencabut keris pusaka Kyai Nagawelang pemberian Sultan Agung untuk menandingi keris hitam di tangan lawannya.

"Kalau itu kehendakmu, Paman Sumali, aku hanya ingin melayanimu!"

Kata Aji. Akan tetapi tiba-tiba Ki Sumali membelalakkan matanya memandang ke arah keris Kyai Nagawelang yang berada di tangan Aji. Suaranya terdengar gemetar ketika dia berkata lirih.

"..... pusaka itu..... luk tiga belas berkepala naga terhias jamang..... berlapis emas..... ahhh..... bukankah itu Kyai Nagawelang? Keris pusaka Mataram buatan Paman Empu Supa?"

Aji merasa heran akan perubahan sikap Ki Sumali yang tiba-tiba tampak jinak dan tenang, juga memandang keris pusakanya dengan sikap hormat.

"Benar sekali, paman. Pusakaku ini adalah Kyai Nagawelang."

"Akan tetapi..... pusaka itu milik Gusti Sultan agung! Bagaimana bisa berada di tanganmu?"

Tanyanya sambil memandang kepada Aji dengan sinar mata penuh selidik.

"Aku menerimanya sebagai anugerah dari Gusti Sultan, sebagai tanda bahwa aku adalah utusan beliau yang mendapatkan kekuasaan."

Jawab Aji sejujurnya.

Tiba-tiba Ki Sumali menekuk lututnya dan menyembah kepada Aji!

"Mohon beribu ampun, Raden.

Saya tidak tahu bahwa Raden adalah utusan Gusti Sultan yang diberi kekuasaan memiliki Kyai Nagawelang!

Saya berdosa besar telah tidak percaya kepada Raden!"

Aji tersenyum dan tahulah dia bahwa orang ini, betapapun keras hatinya, ternyata adalah seorang yang setia dan menghormati Sultan Agung sebagai junjungannya.

Dia cepat membungkuk, memegang kedua pangkal lengan Ki Sumali, mengangkatnya dan berkata.

"Ah, Paman Sumali, aku hanya seorang utusan, harap jangan menghormati aku secara berlebihan. Bersikaplah wajar saja dan jangan sebut aku raden agar kita dapat bicara dengan leluasa tanpa rikuh rikuh."

Diam-diam Aji mengerahkan tenaga saktinya, Ki Sumali dapat merasakan getaran kuat melalui telapak tangan pemuda itu yang memegang kedua bahunya.

Sekali lagi mereka ingin saling menguji dan dia mengerahkan aji kesaktiannya membuat tubuhnya menjadi berat sekali.

Akan tetapi tetap saja tubuh atasnya terangkat dan dia terpaksa berdiri.

Dia memandang wajah pemuda itu penuh kagum dan kini wajahnya cerah berseri dan mulutnya menyungging senyuman.

"Anakmas Aji, kini aku tidak merasa heran mengapa Gusti sultan Agung mengangkat engkau menjadi utusan dengan membekali Keris Pusaka Kyai Nagawelang sebagai tanda pengenal. Nah, sekarang ceritakanlah, anakmas, apa yang sesungguhnya terjadi dengan istriku Winarsih?"

"Isterimu Mbakayu winarsih, tadi telah berkata sebenarnya. Ia diculik orang dan dilarikan dari Loano dengan menggunakan perahu menuju ke hilir. Aku yang sedang melakukan perjalanan berkelana melihat ia dengan dua orang laki-laki penculiknya. Aku hendak dirampok oleh anak buah orang itu, bahkan yang seorang juga ikut mengeroyok. Setelah merobohkan lima orang yang mengeroyokku, aku lalu terjun ke air dan mengejar perahu yang didayung seorang pemimpin perampok dan yang melarikan Mbakayu Winarsih. Aku berhasil menyusul dan mengalahkan pemimpin perampok itu setelah berkelahi didalam air. Akan tetapi perahu itu dia gulingkan. Untung Mbakayu Winarsih belum sampai hanyut. Aku menolongnya dan membawanya berenang ke tepi sungai. Nah, karena kami basah kuyup, untuk mencegah ia masuk angin, aku lalu meminjamkan seperangkat pakaian untuk ia pakai sebagai pengganti pakaiannya yang basah kuyup. Kemudian aku mengantar ia pulang ke Loano. Karena perjalanan cukup jauh dan Mbakayu Winarsih ingin sekali segera dapat pulang dan bertemu denganmu, maka kami lalu berboncengan di atas kuda. percayalah, paman, aku cukup menghayati aturan tata susila yang pernah diajarkan mendiang bapa dan eyang guruku dan Mbakayu Winarsih adalah seorang wanita yang bersusila, baik budi dan setia kepada suami sehingga biarpun kami berboncengan, akan tetapi kami saling menjaga sehingga kami tidak berhimpitan. Karena itu tuduhanmu tadi terhadap isterimu sungguh tidak pantas dan amat menyakiti hati Mbakayu Winarsih yang kesetiaan dan kasih sayangnya kepadamu murni dan bersih."

Ki Sumali mengerutkan alisnya, matanya menunjukkan penyesalan besar ketika dia memandang kepada Winarsih yang masih bersimpuh di atas tanah dan menangis tersedu-sedu.

Wanita itu masih menggenggam gagang pisau belati dan mendengar pembelaan Aji, hatinya terasa perih seperti disayat-sayat sehingga tangisnya semakin mengguguk.

"Aduh, diajeng Winarsih.....!"

Ki Sumali berlutut dan merangkul isterinya.

"Maafkan aku, diajeng. Mataku seperti buta, telingaku seperti tuli sehingga aku tega menotori kesucianmu dengan tuduhan-tuduhan keji! Sudah sepatutnya kalau engkau tanamkan cundrik (belati) itu kedadaku, diajeng......!"

"Kakang Sumali.....!"

Winarsih melepaskan belatinya dan iapun menangis dalam dekapan suaminya.

Kedua orang suami isteri itu bertangisan dan pada saat itu terasa benar oleh mereka betapa mereka itu sesungguhnya saling mencinta.

Aji melangkah mundur dan mengalihkan pandangan sambil tersenyum.

Hatinya girang bukan main melihat sepasang suami isteri itu telah rukun kembali.

Betapa bahagianya seorang pria seperti Ki Sumali yang sudah tua itu memiliki seorang isteri seperti Winarsih yang masih muda, ayu manis dan baik budi penuh kasih sayang pula!

Diam-diam dia mengharapkan agar kelak dia dapat memperoleh jodoh seorang wanita seperti ini!

Setelah keharuan mereka agak mereda, Ki Sumali merangkul isterinya dan diajak bangkit berdiri.

"Ah, benar seperti yang dikatakan anak mas Aji tadi. Aku telah mabok, bahkan gila karena cemburu buta. Akan tetapi, anakmas Aji, dapatkah perasaan cemburu itu dihilangkan dari hati yang lemah ini? Aku jauh lebih tua dari diajeng Winarsih, bahkan ia sepantasnya kalau menjadi anakku. Bagaimana perasaan cemburu tidak akan menggoda hatiku kalau ia bertemu dengan pria lain yang jauh lebih muda dan tampan dariku?"

Ki Sumali bertanya sambil memandang wajah Aji.

Pemuda itu tersenyum.

Dia adalah seorang pemuda yang sama sekali belum mempunyai pengalaman tentang cinta dan cemburu.

Akan tetapi dia sudah memiliki dasar pengertian yang luas tentang kehidupan.

Dari mendiang Ki Tejobudi dia mendapat gemblengan batin dan diperkenalkan dengan nafsu-nafsu daya rendah dan segala macam ulahnya yang selalu mencoba untuk menguasai manusia.

"Paman Sumali, sesungguhnya saya pribadi belum pernah merasakan apa yang dinamakan cinta terhadap wanita dan bagaimana rasanya cemburu itu. Akan tetapi saya dapat menduga dan membayangkan. Paman, kalau saya tidak salah, cemburu timbul karena ketidak percayaan. Adalah keliru sekali kalau paman tidak percaya kepada Mbakayu Winarsih. Ia seorang wanita dan isteri yang kiranya sukar paman dapatkan keduanya di jagad ini. Berilah kepercayaan sepenuhnya kepadanya, paman, percaya dengan penuh keyakinan bahwa ia tidak akan sudi melakukan penyelewengan. Kepercayaan penuh keyakinan itu pasti akan mampu melenyapkan racun cemburu yang mengeram di dalam hati paman."

"Apa yang dikatakan dimas Aji itu tepat dan benar sekali. Kakang Sumali. Hal itu telah terbukti dalam hatiku. Aku percaya dengan penuh keyakinan bahwa engkau tidak akan menyeleweng dngan wanita lain dan selama ini aku tidak pernah merasa cemburu kepadamu, kakang, biarpun aku tahu bahwa engkau amat terkenal di Loano dan banyak wanita terkagum-kagum kepadamu."

Ki Sumali mengangguk-angguk dan memandang kepada Aji dengan pandang mata penuh kagum.

"Anakmas Aji, sungguh tak kusangka engkau yang semuda ini memiliki pandangan seluas itu. Akan tetapi, kiranya tidak dapat disangkal bahwa seorang pemuda setampan dan segagah engkau tentu mempunyai daya tarik kuat bagi wanita dan aku dapat merasakan bahwa isteriku tentu kagum dan suka kepadamu."

Ucapan ini sama sekali tidak mengandung amarah atau curiga, membuktikan bahwa dia tidak lagi dipengaruhi cemburu.

"Suka dan tertarik kepada orang lain, apalagi yang berlawanan jenis, merupakan hal yang wajar, paman. Akupun mengaku bahwa aku tertarik, suka dan kagum kepada Mbakyu Winarsih, seperti aku akan kagum terhadap seseorang atau sesuatu yang indah, baik dan menarik perhatian menimbulkan kagum. Mungkin saja Mbakyu Winarsih suka dan kagum kepadaku karena aku telah menyelamatkannya dari tangan orang-orang jahat. Apa salahnya dengan rasa kagum dan suka itu, paman? Kita adalah manusia, mahluk beradab yang dibatasi oleh tata susila dan tata hukum. Rasa kagum dan suka kita itu terbatas oleh kesusilaan dan hukum, tidak mendorong kita untuk memiliki apa yang kita kagumi dan sukai, apalagi kalau yang kita sukai dan kagumi itu telah menjadi milik orang lain. Kalau aku kagum melihat bunga yang indah dan timbul rasa suka, bukan berarti aku ingin memetik dan memilikinya, apalagi kalau bunga itu menjadi milik orang lain. Bukan rasa suka dan kagum, melainkan nafsu binatanglah yang mendorong orang melakukan penyelewengan. Coba paman renungkan lalu jawab dengan sejujurnya. Apakah paman tidak akan tertarik melihat wanita lain yang cantik, pandai, bijaksana dan memiliki sifat-sifat baik lain yang mengagumkan? Apakah paman tidak akan menjadi kagum dan suka?"

Ki Sumali memejamkan kedua matanya, mengerutkan alisnya, lalu tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Nah, itu jujur namanya. Laki-laki melihat wanita cantik menarik menjadi kagum dan suka atau sebaliknya wanita melihat pria tampan menarik menjadi kagum dan suka adalah suatu perasaan yang wajar dan sama sekali tidak perlu menjadikan malu. Kalau ada pria atau wanita mengaku bahwa dia tidak tertarik melihat lawan jenisnya yang mengagumkan, maka dia itu berbohong atau tidak normal. Suka dan kagum bukan berarti lalu menuruti nafsu dan menyeleweng. Semua itu tergantung pada pribudi manusianya, paman. siapa sih yang tidak akan tertarik melihat sesuatu, baik manusia atau benda, yang indah mengagumkan?"

Ki Sumali tersenyum lebar, senyum lega dan menandakan bahwa hatinya terbuka dan pandang matanya kepada isterinya penuh kasih sayang dan pengertian.

Betapapun juga, dia masih belum puas akan kebenaran yang telah dilihatnya, mengingat apa yang dialami dan dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

"Akan tetapi, anakmas Aji. Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, orang condong mengatakan bahwa kalau orang mudah tertarik melihat wanita cantik, dia disebut sebagai mata keranjang. Bagaimana ini?"

"Aku juga mendengar akan sesuatu itu, paman. Kukira sebutan itu hanya patut diberikan kepada seorang pria yang menjadi budak dari nafsu berahinya sendiri. Kalau seorang pria suka dan kagum melihat wanita yang menarik, lalu menyimpan rasa suka dan kagum itu dalam hati maka hal itu adalah wajar saja. Akan tetapi kalau rasa suka dan kagum itu lalu menimbulkan nafsu berahi dan mendorongnya untuk melakukan usaha untuk mendapatkan wanita itu sebagai pelampiasan nafsunya, maka pria seperti itulah yang pantas disebut mata keranjang. demikian pula kebalikannya dengan wanita. bukankah kaupikir demikian, paman?"

Kembali Ki Sumali mengangguk-angguk.

"Sungguh heran! Aku, laki-laki berusia lima puluh empat tahun yang banyak pengalaman, mendengarkan kebenaran ini keluar dari mulut seorang pemuda remaja seperti engkau, Anakmas Aji."

"Kakang Sumali dan Dimas Aji, kalian ini bagaimana sih? Bercakap-cakap di tengah hutan. Kakang, apakah tidak sebaiknya kalau kita undang Adimas Aji berkunjung ke rumah kita di mana kalian dapat bercakap-cakap lebih leluasa dan enak?"

"Ah, engkau benar sekali, diajeng! Aku masih ingin bercakap-cakap lebih banyak dengan Anakmas Aji. Mari, anakmas, kami persilakan anakmas berkunjung ke gubuk kami. Perkenalan ini harus dipererat!"

Aji tidak dapat menolak.

Mereka bertiga keluar dari hutan.

Winarsih dibantu suaminya naik ke atas punggung kuda dan dua orang pria itu berjalan kaki.

Rumah Ki Sumali cukup besar bagi keluarga yang belum mempunyai anak itu.

Yang tinggal di situ hanaya mereka berdua, seorang pelayan wanita setengah tua dan seorang pelayan pria juga mengurus kebun mereka.

Hari telah menjelang senja ketika mereka tiba di rumah Ki Sumali.

Aji dipersilakan mandi.

Setelah mereka semua mandi dan menikmati hidangan makan malam, Ki Sumali dan Winarsih lalu mengajak Aji bercakap-cakap di ruangan dalam.

Aji sudah dibujuk suami isteri itu untuk menginap di rumah mereka dan pemuda itu tidak dapat menolak keramahan mereka.

"Nah, sekarang kita dapat mengobrol dengan enak. Akan tetapi sebelum kita bicara, aku ingin sekali mengenalmu lebih baik lagi dan mengetahui banyak tentang dirimu. anak mas Lindu Aji, kami hanya mengetahui bahwa engkau adalah seorang pemuda yang sakti mandraguna, berbudi mulia dan sebegini muda telah menjadi kepercayaan Gusti Sultan Agung sehingga diberi Pusaka Kyai Nagawelang. Akan tetapi kami tidak mengetahui siapa sebenarnya engkau, anak mas, dari mana asalmu, siapa orang tuamu dan siapa pula gurumu yang mulia? Maukah engkau menceritakannya kepada kami?"

"Saya anak dusun, hidup bersama ibu yang telah menjadi janda di pantai Laut Kidul, dusun Gampingan. Guru saya juga sudah meninggal dunia, nama mendiang guru saya Ki Tejobudi. Pada suatu hari, secara kebetulan saya bertemu dengan Gusti Puteri Wandansari yang berkelahi dengan orang-orang jahat yang sakti mandraguna. Setelah saya mengetahui bahwa wanita itu adalah Sang Puteri yang namanya sudah saya dengar, saya langsung membantunya dan akhirnya orang-orang jahat itu dapat dikalahkan. Gusti Puteri Ratu Wandansari mengajak saya menghadap Gusti Sultan Agung dan saya dianugerahi pusaka ini, paman."

Keterangan Aji itu singkat saja karena memang dia tidak ingin banyak bercerita tentang dirinya.

akan tetapi agaknya keterangan itu, terutama sekali mendengar bahwa Aji pernah membantu Ratu Wandansari dan menghadap Sultan Agung, membuat Ki Sumali tampak bersemangat dan gembira.

"Sungguh pertemuanku dengan engkau ini merupakan berkah dari Gusti Allah, anak mas Aji! Bukan saja engkau telah menyelamatkan isteriku dari bencana, akan tetapi agaknya Gusti Allah mengirim engkau datang untuk membantu aku menghadapi musuh-musuhku, Kuharap engkau tidak menolak kalau aku minta bantuanmu untuk menghadapi musuh-musuhku, anak mas Aji."

Aji mengerutkan keningnya.

"Paman, maafkan aku. Kalau paman mempunyai musuh-musuh, aku tidak dapat mencampuri. Aku tidak tahu, siapa musuh paman itu dan apa urusannya dengan paman. Bagaimana aku dapat mencampuri urusan pribadi paman dan ikut-ikut memusuhi orang-orang yang aku tidak mengenalnya sama sekali?"

"Ha-ha-ha, aku mengerti apa yang kau pikirkan, anak mas Aji. Aku tidak menyalahkanmu. Memang sudah sepatutnya kalau engkau meragu dan menolak permintaan bantuanku karena engkau tidak mengenal siapa musuh-musuhku dan apa kesalahan mereka. Engkau tentu tidak mau salah tindak dan memusuhi orang-orang yang tidak berdosa. Baiklah kuceritakan persoalannya dan setelah engkau mendengar ceritaku, baru engkau boleh memutuskan apakah engkau mau membantuku menhadapi mereka atau tidak."

Ki Sumali lalu bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Lindu Aji.

Ki Sumali adalah penduduk asli Loano dan sejak dilahirkan dia tinggal di Loano.

Akan tetapi sejak mula dia suka berkelana dan mempelajari ilmu-ilmu kanuragan sehingga dia terkenal sebagai pendekar Loano yang disegani dan dohormati banyak orang.

Dia selalu menolong yang lemah dan menentang yang jahat.

Ketika Loano pada suatu ketika diserbu bajak sungai, Ki Sumali seorang diri membela dan mengamuk, menewaskan banyak anggauta gerombolan bajak dan perampok.

Dalam peristiwa itu dia menyelamatkan seorang perawan dusun yang diculik gerombolan.

Perawan itu adalah Winarsih yang ketika itu berusia delapan belas tahun.

Sejak itu nama Ki Sumali menjadi makin terkenal.

dan yang merupakan hadiah terbesar bagi Ki Sumali adalah Winarsih yang jatuh cinta kepadanya karena pertolongan itu.

Winarsih yang berusia delapan belas tahun itu dengan suka rela dan senang hati menjadi isterinya padahal waktu itu usianya sudah lima puluh satu tahun.

Ki Sumali yang tadinya seorang perjaka tua itu menikmati kebahagiaan berumah tangga dengan isterinya tersayang.

Ki Sumali yang namanya terkenal itu masih juga belum puas dengan ilmu kanuragan yang telah dikuasainya.

Dia masih ingin memperdalam ilmunya.

Untuk ini dia mengadakan hubungan dengan orang-orang yang memiliki kedigdayaan untuk bertukar pikiran dan menambah pengalaman.

Satu di antara kenalannya adalah Aki Somad, seorang pertapa yang sakti mandraguna dan berdiam di Nusa Kambangan.

Perkenalannya dengan Aki Somad yang berusia enam puluh tahun itu memperkaya ilmu kanuragan yang dimiliki Ki Sumali.

Biarpun mereka bersahabat, namun karena banyak yang dipelajarinya dari Aki Somad, maka Ki Sumali menganggap Aki Somad seperti seorang gurunya.

Akan tetapi persahabatan itu menjadi agak renggang, atau lebih tepat lagi, Ki Sumali yang sengaja menjauhkan diri setelah melihat betapa Aki Somad menjalin hubungan dengan Gerombolan Gagak Rodra yang dikenal oleh penduduk sebagai gerombolan yang condong untuk memusuhi Mataram.

Padahal, Gerombolan Gagak Rodra inilah yang dulu, tiga tahun yang lalu, pernah menyerbu dusun Loano.

Ketika pada suatu hari dia melihat beberapa orang anggauta gerombolan itu berada di Nusa Kambangan, mengantarkan bahan makanan dan barang-barang berharga untuk Aki Somad, Ki Sumali merasa tidak senang dan dia tidak pernah lagi mengunjungi Aki Somad yang tadinya dia anggap sebagai sahabat, bahkan sebagai guru itu.

Pada suatu hari, kurang lebih sebulan sebelum pertemuannya dengan Aji, Ki Sumali kedatangan tamu.

Yang datang itu bukan lain adalah Aki Somad.

Kakek berusia sekitar enam puluh tahun ini bertubuh kurus dan agak bongkok, tangan kanannya selalu memegang sebatang tongkat dari ular kering.

Mukanya meruncing ke depan seperti muka kuda, matanya yang sipit itu bersinar tajam penuh wibawa.

Pakaiannya serba hitam dan berkalung sarung yang masih baru.

Kedua lengannya mengenakan gelang akar bahar hitam dan jari-jari tangannya penuh cincin bermata akik yang besar-besar.

Ki Sumali dan Winarsih yang sudah tiga tahun menjadi isterinya menyambut Aki Somad dengan hormat.

Diam-diam Winarsih yang baru sekali itu berjumpa dengan Aki Somad, merasa ngeri melihat betapa sinar mata kakek itu menggerayangi tubuhnya dengan genit dan nakal.

Akan tetapi melihat suaminya amat menghormati kakek itu, iapun bersikap ramah dan hormat.

"Heh-heh, Adi Sumali. Inikah isterimu yang kabarnya masih amat muda itu? Hemm, engkau benar-benar beruntung, mendapatkan isteri yang muda, bahenol dan cantik!"

Kakek itu terkekeh.

Ki Sumali tersenyum dan tidak merasa tersinggung karena dia mengenal sahabat yang juga dianggap gurunya ini memang seorang yang berwatak terbuka sehingga kadang-kadang terdengar kasar dan kurang ajar.

Akan tetapi Winarsih menjadi sebal, mukanya berubah merah dan ia lalu mengundurkan diri, tidak mau keluar lagi.

Bahkan ketika menyuguhkan hidangan, ia menyuruh Mbok Ginah, pembantu yang baru dua bulan bekerja kepadanya, untuk membawa hidangan itu ke ruangan tamu.

Mbok Ginah yang berusia kurang lebih lima puluh tahun itu bekerja bersama suaminya, Pak Karto yang menjadi tukang kebun dan terkadang juga bekerja di ladang mereka.

Suami isteri tua ini tadinya memasuki Loano sebagai orang-orang yang terlantar meninggalkan kampung halaman di tepi sungai Bogawanta yang kebanjiran.

Ki Sumali menampung mereka yang sedang menderita itu dan menerima mereka sebagai pembantu.

"Kakang Somad, angin apakah yang meniup kakang berkunjung ke gubuk kali ini?"

Tanya Ki Sumali setelah mempersilahkan tamunya minum.

"Terus terang saja, saya agak kaget menerima kunjungan kakang yang saya tahu tidak pernah meninggalkan Nusa Kambangan."

"Heh-heh, benar apa yang kau katakan itu, Adi Sumali. Memang, kalau tidak karena urusan penting sekali, aku tidak pernah mau meninggalkan Nusa Kambangan. Akan tetapi, kedatanganku ini membawa urusan yang penting sekali. Aku ingin mengajak engkau untuk bekerja sama, atau lebih tepat lagi, aku ingin minta bantuanmu."

"Kerja sama? Bantuan? Saya akan merasa senang sekali kalau dapat membantumu, kakang. Katakanlah, urusan penting apakah itu yang membutuhkan bantuanku?"

"Begini, Adi Sumali. Engkau tentu sudah mendengar akan sepak terjang Sultan Agung di Mataram yang penuh angkara murka itu! Dia menggunakan kekerasan menaklukkan seluruh kabupaten dan kadipaten yang berada di JawaTimur, bahkan telah menaklukkan Madura, Surabaya dan Giri! Tentu engkau sudah mendengar akan hal itu, bukan?"

Ki Sumali mengangguk-angguk, akan tetapi sepasang alisnya berkerut.

"Tentu saja saya sudah mendengar bahwa Mataram telah berhasil menundukkan seluruh kadipaten di Jawa timur, Madura, Surabaya dan Giri, Kakang Somad. Akan tetapi yang saya ketahui, hal itu dilakukan Kanjeng Gusti Sultan Agung sama sekali bukan karena sifat angkara murka. Beliau menghendaki agar seluruh kadipaten di Nusantara ini bersatu padu untuk menghadapi ancaman yang berbahaya yaitu Kumpeni Belanda. Tanpa adanya persatuan, kiranya tidak mungkin untuk dapat mengusir Balanda dari Nusantara."

"Heh-heh-heh, agaknya engkau juga sudah terkena pengaruh Mataram! Ketahuilah, Adi Sumali, semua yang kaukatakan itu sebetulnya hanya merupakan akal licik Sultan Agung saja untuk mencari alasan agar keangkara murkaannya tidak tampak. Dia menggunakan dalih untuk mengusir Belanda. Pada hal, apa sih kesalahan Belanda? Mereka datang untuk berdagang. Kedatangan mereka di Nusantara menguntungkan bangsa kita. Mereka membawa kepandaian yang perlu kita pelajari. Mereka datang membawa kemakmuran karena mereka itu kaya raya. Karena itu, Adi Sumali, kita dapat mempergunakan kepandaian dan kekuatan Belanda untuk membendung keangkara murkaan Sultan Agung di Mataram!"

"Maksudmu, saya harus berbuat apa, Kakang Somad?"

Tanya Ki Sumali, menahan perasaan hatinya yang panas mendengar kata-kata yang jelas bernada memusuhi Mataram itu.

"Begini, Adi Sumali. Kami telah lama membantu pihak Belanda yang berjanji untuk membebaskan (Lanjut ke

Jilid 10) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 kami dari kekuasaan Mataram.

Kami telah berhasil menggagalkan usaha pasukan Mataram yang melakukan penyerangan ke Jayakarta.

Untuk itu, Kumpeni Belanda berterima kasih kepada kami dan memberikan banyak hadiah.

Akan tetapi, Kumpeni Belanda minta agar kami waspada karena mereka percaya bahwa pihak Mataram tentu akan melakukan penyerbuan lagi.

Maka, kami ditugaskan untuk menghimpun tenaga, membujuk para pejabat dan pamong praja di daerah Kadipaten Banyumas dan lain-lain, juga di daerah Loano ini, untuk menghimpun kekuatan dan menghalangi gerakan Mataram kalau mereka hendak melakukan penyerbuan ke barat lagi.

Untuk itu, semua biayanya akan diberikan oleh pihak Belanda dan kita akan mendapat hadiah harta kekayaan yang besar.

Bahkan besar kemungkinannya, kalau kumpeni Belanda dapat mengalahkan Mataram, kita akan mendapatkan kedudukan tinggi.

Bukan tidak mungkin, dan kami akan mengusulkan kepada Kompeni kelak, engkau sendiri akan diangkat menjadi Adipati yang menguasai Loano dan daerahnya, Adi Sumali."

Sejak tadi Ki Sumali sudah menahan kesabaran dan menekan kemarahannya.

"Maksud Kakang Somad agar saya ...... memberontak kepada Mataram?"

"Ya, memberontak terhadap raja yang lalim, Adi Sumali! Dan ini merupakan tugas seorang satria seperti adi! Menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang si angkara murka!"

Ki Sumali tersenyum dan menggeleng kepala.

"Kakang Somad telah salah duga! Kanjeng Sultan Agung di Mataram adalah seorang raja yang adil dan arif bijaksana, sama sekali bukan lalim. Yang lalim dan palsu adalah Belanda dan agaknya Kakang Somad telah dipengaruhi racun bujukan Belanda yang mempergunakan harta benda untuk membujuk orang agar menjadi pengkhianat! Tidak, Kakang Somad, maafkan saja, saya tidak dapat membantu kakang dalam hal ini!"

"Adi Sumali! engkau ingin mengorbankan persahabatan kita dengan menolak tawaran kerja sama itu?"

Aki Somad berseru marah.

"Apa boleh buat, Kakang Somad. Bagaimanapun juga, sampai mati saya tidak mau mengkhianati Mataram dan akan tetap setia kepada kanjeng Sultan!"

Aki Somad bangkit berdiri dengan marah.

"Babo-babo, Ki Sumali! Kalau kelak Kumpeni Belanda menggilasmu, aku tidak akan menolongmu dan persahabatan antara kita putus sampai di sini!"

Dia menggerakkan tongkat ularnya, dihantamkan ke atas meja.

"Brakkk !!"

Meja itu pecah berantakan dan semua hidangan yang berada di atas meja berloncatan dan jatuh berserakan di atas lantai!

Ki Sumali juga bangkit berdiri, akan tetapi dia masih bersikap tenang dan waspada.

"Terserah kepadamu, Kakang Somad! Engkau yang memutuskan, bukan aku."

Aki somad mendengus marah lalu memutar tubuh dan meninggalkan rumah itu dengan langkah lebar.

Mendengar suara ribut-ribut itu Winarsih berlari memasuki ruangan dan ia terbelalak memandang meja yang sudah remuk dan hidangan yang berserakan di atas lantai.

Akan tetapi hatinya lega melihat suaminya berdiri di situ dalam keadaan selamat.

"Kakang, ada terjadi apakah? Di mana tamunya dan semua ini....."

Ia menuding ke arah meja dan hidangan yang berserakan. Melihat mata terbelalak dan wajah pucat isterinya, Ki sumali mendekati dan merangkul pundaknya.

"Tenanglah dan jangan kaget, Narsih. Panggil saja Mbok Ginah dan Pak Karto agar mereka menyingkirkan dan membersihkan semua ini."

Winarsih menurut, memanggil dua orang pembantunya.

Suami isteri yang usianya sekitar lima puluh tahun itu masuk dan mereka segera membersihkan ruangan itu tanpa banyak bertanya.

Ki Sumali mengajak isterinya masuk ke ruangan dalam.

"Kakang, aku khawatir sekali. Aki Somad itu..... menyeramkan dan aku mendapat perasaan yang tidak enak, seolah ada bahaya besar mengancam kita, kakang."

"Tenanglah, Narsih, Gusti Allah akan selalu melindungi orang yang tidak bersalah. Kakang Somad tadi memang marah karena aku tidak mau diajak untuk memberontak terhadap Mataram. Kelak dia tentu merasa akan kesalahannya dan menyesal atas sikapnya hari ini."

Setelah menceritakan semua yang telah dialaminya kepada Aji, Ki Sumali memandang kepada pemuda itu dan menghela napas panjang.

"Demikianlah, anakmas Aji. Sejak hari itu, aku selalu waspada dan menjaga segala kemungkinan. Akan tetapi dua hari yang lalu kami kecolongan juga! Aku masih tidur ketika Winarsih meninggalkan rumah pada waktu fajar, mencuci pakaian di sungai belakang rumah. Hal ini kuanggap aman saja karena di sana ada kedua orang pelayan kami yang juga sudah bangun. Aku sama sekali tidak menduga bahwa kesempatan itu dipergunakan orang-orang jahat itu untuk menculiknya."

"Dua orang itu menepuk tengkukku dan aku tidak mampu megeluarkan suara. Dalam keadaan tidak mampu bersuara itu aku dilarikan kemudian dibawa perahu. Setelah beberapa lamanya, baru aku dapat mengeluarkan suara kembali dan melihat seorang pemuda berkelahi melawan anak buah penjahat itu, aku lalu berteriak minta tolong. Akhirnya dimas Aji berhasil menyelamatkan aku."

"Paman Sumali dan Mbakayu Winarsih, andika berdua sudah menceritakan semua itu kepadaku. Sekarang Mbakayu Winarsih telah pulang dengan selamat. Lalu bantuan apa lagi yang paman kehendaki dariku?"

"Begini, anak mas Aji. Engkau adalah orang kepercayaan Kanjeng Sultan Agung. tentu tidak akan tinggal diam melihat ada usaha pengkhianatan dan pemberontakan. Aku yakin bahwa penculikan atas diri Winarsih itu ada hubungannya dengan kemarahan Aki Somad kepadaku. Usahanya untuk membujuk para pamong praja untuk mengkhianati Mataram, untuk kelak menghalangi Mataram kalau pasukan Mataram hendak menyerbu ke Jayakarta atau Batavia, haruslah ditentang dan digagalkan."

"Paman Sumali, apakah engkau mengenal nama Ki Blekok Ireng?"

"Ehh?"

Ki Sumali memandang heran.

"Mengapa engkau menanyakan nama itu? Apakah engkau mengenal nama-nama kepala bajak dan rampok yang terkenal di seluruh Kadipaten Kedu itu?"

"Orang bernama Ki Blekok Ireng itulah yang memimpin penculikan atas diri Mbakayu Winarsih. Dia mengakui namanya ketika bertanding denganku dalam air."

"Ah, sudah kuduga! Dan ini menjadi bukti kebenaran kecurigaanku terhadap Aki Somad. Jelas sekarang, dialah dalang penculikan ini dengan niat untuk menghancurkan aku. Ketahuilah, anak mas Aji. Ki Blekok Ireng itu adalah ketua dari gerombolan Gagak Rodra yang terkenal bersikap menentang dan memusuhi Mataram. Bukan aneh kalau gerombolan itu kini diperalat oleh Kompeni Belanda, dan aku sudah mendengar bahwa Aki Somad menjalin hubungan dengan gerombolan itu. Hal itulah yang membuat aku enggan bersahabat lagi dengan dia. Kalau sekarang ketua gerombolan itu yang menculik Winarsih, mudah diduga bahwa Aki Somad berada di belakang peristiwa itu."

Aji mengangguk-angguk.

"Agaknya dugaan paman itu tidak salah. lalu, apa yang akan paman lakukan sekarang?"

"Kita harus hancurkan gerombolan Gagak rodra itu. Ya, kita. Engkau dan aku, anak mas Aji. Hancurnya gerombolan itu berarti lenyapnya penghalang dan gangguan bagi Mataram, juga berarti hancurnya segerombolan antek Belanda di daerah ini!"

Pada saat itu, seorang wanita memasuki ruangan itu.

Ia berusia sekitar lima puluh tahun, rambutnya sudah berwarna dua dan pakaiannya yang sederhana menunjukkan bahwa ia seorang pelayan.

Memang wanita itu adalah Mbok Ginah pembantu keluarga Ki Sumali.

Ia membawa sebuah piring besar berisi singkong rebus yang masih mengepul panas.

"Silakan makan singkong rebusnya raden."

Katanya kepada Aji. setelah berkata dmikian, ia keluar dari ruangan itu. Winarsih tersenyum.

"Silakan, dimas Aji. Selagi masih hangat, singkong rebus ini gurih sekali."

Ia menawarkan.

"Ya, silakan, anak mas Aji! Ini makanan desa, seadanya saja."

Kata pula Ki Sumali mempersilakan. Aji tersenyum.

"Ah, saya juga biasa makan singkong rebus seperti ini, paman."

Dia menggerakkan tangan kanan untuk mengambil makanan itu.

Akan tetapi terjadi keanehan.

Tangannya itu seperti bergerak di luar kehendaknya dan mendorong piring berisi singkong rebus itu sehingga piring itu terdorong jatuh dari atas meja dan isinya berserakan di atas lantai.

Ki Sumali dan Winarsih memandang heran dan keduanya hendak bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil makanan yang terjatuh berserakan itu.

Akan tetapi tiba-tiba Aji menjulurkan kedua tangan dan memegang lengan mereka.

"Harap kalian jangan bergerak dan biarkan ayam itu makan singkong rebus!"

Bisiknya.

tentu saja suami isteri itu merasa heran sekali dan mereka memandang kepada seekor ayam, ayam mereka, yang memasuki ruangan itu dari pintu depan.

Agaknya ayam itu tertarik melihat singkong rebus berceceran dan binatang itu lari mendekat dan mematuk sepotong singkong, terus memakannya dengan asik.

Aji dan suami isteri itu memandang, Aji dengan penuh perhatian, dan suami istri itu dengan heran dan tidak mengerti akan sikap Aji yang amat aneh itu.

Kemudian terjadi hal yang membuat suami isteri itu terbelalak dan Winarsih menahan jerit di balik tangannya.

mereka berdua melihat ayam itu tiba-tiba terguling dan berkelojotan, lalu mati!

Aji bangkit dari duduknya dan mengangguk-angguk.

"Sudah kuduga. Paman Sumali dan Mbakayu Winarsih. Singkong rebus itu mengandung racun yang amat berbahaya."

"Apa? Bagaimana mungkin?"

Ki Sumali berseru heran, lalu memandang ke arah dalam rumah dan berteriak memanggil.

"Mbok Ginah.....! Ke sinilah.....!"

Terdengar langkah kaki berlari-larian dari dalam dan muncullah Pak Karto dan Mbok ginah. Suami isteri pelayan ini agaknya terkejut mendengar panggilan Ki Sumali yang berteriak keras itu.

"Ada..... apakah..... ?"

Pak Karto bertanya gagap.

"Andika memanggil saya......?"

Mbok Ginah bertanya kepada ki Sumali yang memandang kepadanya dengan alis berkerut.

Aji cepat mengambil dua potong singkong rebus dari atas tanah dan menyerahkan dua potong singkong rebus itu kepada Pak Karto dan Mbok Ginah.

"Kami bertiga minta agar kalian bedua makan singkong rebus ini, sekarang juga, di muka kami!"

Kata Aji dengan nada memaksa.

Suami isteri tua itu menerima sepotong singkong rebus dan mereka tampak bingung dan heran, lalu keduanya saling pandang dan kemudian memandang kepada Ki Sumali dan Winarsih.

Ki Sumali yang maklum bahwa Aji mencurigai kedua orang pelayan itu menaruh racun pada singkong rebus dan kini sengaja menyuruh mereka makan, mengangguk dan berkata.

"Turuti saja permintaan anak mas Aji."

Winarsih memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ketika suami isteri itu dengan tenang membawa singkong rebus ke mulut mereka dan hendak menggigitnya.

Melihat ini, tiba-tiba tangan Aji menyambar dan kedua orang tua itu berseru kaget, singkong rebus di tangan mereka terpental dan jatuh ke atas tanah.

"Ah, apa artinya ini..... ?"

Keduanya berseru heran.

Ki sumali melihat mereka tadi benar-benar hendak makan singkong rebus itu, merasa lega karena hal itu membuktikan bahwa mereka berdua tidak tahu menahu tentang racun yang berada di singkong redus.

Kalau mereka tahu tidak mungkin mereka mau memakannya.

"Begini, Pak Karto dan Mbok Ginah, kami mendapatkan kenyataan bahwa singkong rebus ini mengandung racun yang mematikan."

"Racun..... ?"

Suami istri pelayan itu berseru kaget.

"Lihat ayam itu,"

Kata Ki Sumali.

"Ayam itu segera mati setelah makan singkong yang tercecer."

"Akan tetapi..... kenapa den mas ini menyuruh kami memakannya kalau sudah tahu bahwa singkong itu beracun?"

Tanya Mbok Ginah penasaran.

"dan kemudian mencegah kami memakannya?"

"Ah, saya tahu sekarang!"

Kata Pak Karto.

"Mbokne, den masnya ini agaknya mencurigai kita yang meracuni singkong itu dan hendak menguji kita!"

"Sebenarnyalah."

Kata Aji.

"memang aku tadi mencurigai kalian dan maafkan aku ternyata bukan kalian yang menaruh racun dalam singkong rebus itu. Akan tetapi ceritakanlah, siapa yang merebus singkong ini?"

"Saya yang merebusnya, denmas!"

Kata Mbok Ginah.

"Apakah ketika merebusnya, engkau menjaganya, ataukah kautinggalkan pergi, mbok?"

"Tentu saja saya tinggalkan untuk melakkan pekerjaan lain, denmas. Mosok nggodok singkong saja harus dijaga?"

"Dan apakah tadi kalian tidak melihat ada orang memasuki dapur, atau masuk ke pekarangan rumah ini?"

"Tidak ada, denmas."

Kata Mbok Ginah.

"Nanti dulu!"

Kata Pak Karto.

"Ketika tadi saya menyirami bunga, saya seperti melihat bayangan orang berkelebat di samping rumah. Karena heran dan tertarik, saya mengejar dan mencarinya di sekitar rumah. Akan tetapi tidak menemukan orang. Maka saya kira saya hanya salah lihat. Jangan-jangan...."

"Hemmm, tentu ada orang lain menyelinap masuk!"

Kata Ki Sumali.

"Sudahlah, kalian bawa singkong ini cepat tanam dalam tanah. Hati-hati, jangan tercecer. Bisa mati semua ayam kita. Dan jangan lupa bawa bangkai ayam itu, juga kubur bangkai itu."

Suami isteri itu lalu mengumpulkan singkong rebus yang tercecer dan mengambil bangkai ayam lalu meninggalkan ruangan itu. Setelah mereka pergi, Ki Sumali berkata kepada Aji.

"Nah, anak mas Aji. Engkau melihat sendiri betapa mereka itu berusaha untuk mencelakai dan membunuh kami. Karena itu, aku harus mendatangi gerombolan Gagak rodra, menuntut mereka yang telah menculik Winarsih. Kalau mereka tidak berterus terang siapa yang menyuruh mereka atau mendalangi semua ini, aku akan membasmi perkumpulan itu yang menjadi pengkhianat bangsa dan antek belanda. Dan aku mengharap engkau akan suka membantuku, mengingat bahwa engkau adalah orang kepercayaan Kanjeng sultan!"

Aji mengangguk.

"Setelah mendengar semua ceritamu dan melihat kenyataan tentang penculikan atas diri Mbakayu Winarsih dan usaha meracuni kita tadi, aku tahu bahwa aku harus membantumu, Paman Sumali. Pertama untuk menentang kejahatan, kedua untuk membela Mataram."

"Bagus!"

Ki Sumali berseru girang sekali.

"Terima kasih, anak mas Aji. Dengan bantuanmu, aku tidak takut menghadapi Kakang somad, seandainya benar-benar dia yang berdiri di belakang gerombolan Gagak Rodra. Sekarang sebaiknya kita mengaso dulu. Malam ini kita harus mengumpulkan tenaga dan besok pagi-pagi barulah kita akan berkunjung ke sarang geombolan Gagak Rodra."

"paman tahu di mana sarang gerombolan itu?"

Tanya Aji.

"Aku tahu. Mereka memiliki sebuah perkampungan yang menjadi sarang mereka di Lembah Kali Bogawanta."

Kata Ki Sumali.

"Akan tetapi jumlah mereka tentu banyak sekali. Bagaimana kalian yang hanya berdua akan menentang mereka? Tentu kalian akan di keroyok banyak orang!"

Kata Winarsih dengan khawatir sekali.

"Jangan khawatir, Narsih. Aku mendengar bahwa di sarang mereka itu terdapat keluarga mereka, isteri dan anak-anak mereka. Para anggauta gerombolan itupun manusia-manusia yang menyayangi anak isteri mereka. Kami berdua hanya akan menentang para pimpinan mereka saja. Kalau pimpinan mereka sudah dapat kami tundukkan, anak buahnya tentu akan tunduk pula. Selain itu, akupun akan mengumpulkan para muda di Loano untuk ikut dengan aku. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada Mataram dan disamping itu, mereka tentu siap kalau diajak menggempur gerombolan perampok yang sering mengganggu penduduk di daerah Kedu dan sekitarnya. Sekarang harap engkau suka beristirahat dulu, anak mas Aji. Aku bersama mbakayumu akan pergi mengunjungi para pemuda di Loano dan mempersiapkan mereka untuk ikut dengan kita besok pagi."

"Baiklah, paman. Aku akan beristirahat."

"Engkau pakailah kamar di sebelah ini, Dimas Aji. Jangan sungkan, minta saja kepada Mbok Ginah."

Kata Winarsih ramah.

"Terima kasih, Mbakayu Winarsih."

Suami isteri itu meninggalkan rumah dan Aji lalu memasuki kamar yang disediakan untuknya.

Ketika dia teringat akan kuda yang tadi ditungganginya bersama Winarsih, dia keluar dari kamar lalu menuju ke belakang untuk melihat keadaan kuda itu.

Diapun hendak melihat suami isteri pembantu rumah tangga itu.

Dia melangkah perlahan memasuki dapur.

Akan tetapi, suara bisik-bisik di dapur segera terhenti.

Ini menunjukkan bahwa langkah kakinya yang perlahan itu dapat tertangkap oleh pendengaran mereka yang berada di dalam dapur.

Dia memasuki dapur dan melihat suami isteri pelayan itu duduk di bangku berhadapan dan menengok kepadanya.

Mereka sudah menghentikan percakapan mereka.

"Ah. denmas Aji....., apa yang dapat kami lakukan untukmu?"

Tanya Mbok Ginah dan mereka berdua bangkit berdiri.

"Aku hendak bertanya kepada Pak Karto apakah kuda itu sudah dirawat dengan baik."

Kata Aji.

"Oh, jangan khawatir, den mas. Kuda itu sudah saya guyang (mandikan), sudah saya beri makan rumput."

Kata Pak Karto.

"Syukurlah kalau begitu dan terima kasih, Pak Karto."

Aji lalu masuk kembali dan di dalam kamarnya dia duduk termenung di atas pembaringan.

Dia merasa curiga kepada suami isteri tua itu.

Pertama, sikap dan ucapan mereka terkadang rapi teratur, tidak seperti orang dusun dan sikap ketololan itu agaknya dibuat-buat.

Kedua, tadi ketika disuruh makan singkong rebus, dia melihat Pak Karto memberi isyarat kedipan mata yang tidak kentara kepada isterinya, dan sikap mereka yang keheranan itupun dibuat-buat karena pandang mata mereka sama sekali tidak membayangkan keheranan melainkan penasaran.

Dan ketiga, baru saja kedua orang itu membuktikan bahwa mereka bukan orang sembarangan karena mereka berdua dapat menangkap langkah kakinya yang dibuat dengan hati-hati.

Dua orang itu patut dicurigai, biarpun belum ada bukti yang nyata.

Setelah jauh malam, Ki Sumali dan Winarsih pulang.

Ki Sumali tampak gembira ketika Aji keluar dari kamar menyambut mereka.

"Eh, anak mas Aji, engkau belum tidur?"

Tanya Ki Sumali.

"Kenapa engkau tidak mengaso, dimas Aji?"Tanya pula Winarsih. Aji tersenyum.

"Aku belum mengantuk, paman. Bagaimana hasilnya?"

"Wah, baik sekali! Para pemuda itu penuh semangat dan menyatakan untuk membantu kita besok. sedikitnya lima puluh orang pemuda akan ikut dengan kita!"

"Bagus."

Kata Aji.

"Akan tetapi kuharap paman memberi tahu kepada mereka agar tidak terburu nafsu turun tangan menyerang kalau keadaan tidak memaksa. Seperti paman katakan tadi, kalau bisa kita tundukkan para pemimpinnya agar anak buah mereka tidak melakukan perlawanan. Kalau sampai terjadi pertempuran, aku khawatir akan jatuh banyak korban di kedua pihak."

"Tepat sekali, cocok dengan jalan pikiranku, anak mas Aji. Aku memang sudah memesan demikian kepada mereka. Aku mengajak kepada merekapun hanya untuk menggertak agar para anak buah gerombolan Gagak Rodra tidak akan dapat melakukan perlawanan. Akan tetapi seandainya mereka nekat, apa boleh buat. Para pemuda Loano juga bukan orang-orang lemah. Mereka sedikit banyak sudah mempelajari ilmu kanuragan dan mereka bersemangat tinggi untuk membela Mataram dan menentang para penjahat yang mengganggu keamanan."

"Syukur, kalau begitu, paman."

"Sekarang sudah larut malam. Mari kita mengaso, anak mas Aji. Besok pagi kita berangkat."

Mereka lalu memasuki kamar masing-masing.

Aji segera merebahkan dirinya untuk tidur.

Akan tetapi dia tetap memasang kewaspadaannya karena dalam hati kecil dia tetap curiga kepda Pak Karto dan Mbok Ginah.

Biarpun dia tidur pulas, namun pendengaran telinganya tetap peka dan siap menangkap suara yang tidak wajar.

Saat itu jauh lewat tengah malam, bahkan sudah menjelang fajar.

Pada saat seperti itu, orang-orang sedang pulas-pulasnya tidur.

Bahkan ayam jantan pun belum ada yang bersuara.

Suasana sunyi sekali dan hawa udara amat dinginnya.

Rumah Ki Sumali juga masih sunyi sekali.

Agaknya semua penghuninya masih tidur pulas.

Dua sosok bayangan manusia bergerak dengan cepat dan ringan sekali dalam rumah itu.

Dua pasang kaki itu bergerak demikian ringan seperti kaki kucing saja.

Mereka menghampiri jendela kamar yang ditempati Aji.

Daun jendela yang cukup lebar itu mereka buka dengan mudah sekali, hanya ditarik begitu saja sudah terbuka.

Agaknya memang tidak dipalang dari dalam, hanya ditutupkan begitu saja.

Dua orang itu mencabut senjata, seorang mencabut sebatang parang dan yang seorang lagi mencabut sebatang pisau belati.

Setelah melongok ke dalam kamar yang gelap dan sunyi itu, mereka lalu bergerak melompat ke dalam kamar melalui lobang jendela.

Gerakan mereka yang gesit membuktikan bahwa kedua orang itu memiliki ketangkasan.

Dua orang itu tanpa ragu segera menghampiri pembaringan di mana Aji tidur.

Agaknya mereka sudah hafal benar akan keadaan dalam kamar itu.

Buktinya mereka dapat bergerak dalam kegelapan tanpa menabrak meja kursi.

Setelah tiba di tepi pembaringan, kedua orang itu dengan gerakan cepat dan kuat membacokkan parang dan menusukkan pisau belati ke atas pembaringan.

Mereka merasa yakin bahwa sekali serang, orang yang tidur di atas pembaringan itu tentu tewas seketika tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

"Wuuuttt..... brakkkk.....!"

Dua orang itu terkejut bukan main.

Senjata mereka mengenai papan pembaringan sehingga menimbulkan suara keras.

Agaknya tidak ada orang tidur di atas pembaringan itu!

Dua orang itu terkejut dan cepat mereka berloncatan ke luar dari kamar itu melalui jendela.

Di luar kamar tidak segelap dalam kamar karena tempat itu diterangi sebuah lampu gantung.

ketika mereka tiba di luar kamar, Aji sudah berdiri menunggu mereka.

"Pak Karto dan Mbok Ginah, kiranya kalian benar-benar mempunyai niat buruk untuk membunuh seperti yang kuduga!"

Kata Aji kepada dua orang yang bukan lain adalah Pak Karto dan Mbok Ginah.

Kini Pak Karto dan Mbok Ginah tidak tampak loyo seperti biasa.

mereka mengenakan pakaian ringkas dan tampak gesit dan bersemangat.

Ucapan Aji itu mereka sambut dengan serangan parang dan pisau belati mereka!

Melihat gerakan mereka yang tangkas dan serangan yang mengandung tenaga kuat itu, maklumlah Aji bahwa dua orang itu memiliki kepandaian tinggi.

Mereka yang menyamar sebagai pembantu itu ternyata adalah orang-orang yang digdaya.

Dia sudah bersiap siaga.

memang dia sudah menaruh curiga, apa lagi ketika semalam dia melihat bahwa jendela kamarnya hanya ditutup begitu saja, tidak dipalang.

Agaknya memang ada orang yang sengaja melakukan hal ini dan karena itu maka dia cepat bersiap ketika tadi mendengar suara gerakan mereka yang ringan.

Dia sudah meninggalkan pembaringan dan bersembunyi di balik almari di sudut.

Ketika dua bayangan itu masuk, diapun diam-diam ke luar melalui pintu dan menghadang mereka di luar jendela.

Kini, melihat serangan kedua orang itu, Aji cepat menggerakkan tubuhnya, bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti.

Tebasan parang ke arah lehernya itu dielakkan dngan merendahkan tubuhnya dan tusukan pisau belati ke arah perutnya dia tepis dengan tangan kirinya sehingga tangan Mbok Ginah terpental.

Akan tetapi dua orang itu cepat menyerang lagi dengan lebih ganas, bahkan kini serangan mereka bertubi-tubi.

Aji mempergunakan kecepatan gerakannya, mengelak dan tubuhnya berkelebat, tidak pernah dapat tersentuh dua senjata itu.

Dia melihat bahwa gerakan Pak Karto jauh lebih cepat dan lebih bertenaga dibandingkan gerakan Mbok Ginah.

Setelah menghindarkan diri dari serangan mereka selama belasan jurus, Aji menggerakkan kaki kirinya, menendang ke arah samping.

Dia tidak ingin melukai dua orang itu, dan kakinya hanya menyembar pergelangan tangan Mbok Ginah yang memegang pisau belati.

Wanita itu berteriak kesakitan dan pisau belatinya terlepas dari pegangannya dan terlempar, jatuh berkerontangan d atas lantai.

Suara ribut-ribut itu membangunkan Ki Sumali dan Winarsih.

"Heiii..... ada apakah ini..... ?"

Ki Sumali keluar dari kamarnya dan berseru heran ketika melihat Aji diserang Pak Karto Dengan parang.

Melihat munculnya Ki Sumali, Pak Karto yang sudah merasa gentar melihat ketangguhan Aji, segera melontarkan parangnya ke arah Aji, lalu dia melompat pergi, diikuti oleh Mbok Ginah.

Parang itu meluncur cepat ke arah dada Aji karena dilontarkan dari jarak dekat dengan tenaga yang kuat.

Akan tetapi Aji tidak menjadi gugup.

dengan tenang dua miringkan tubuhnya dan sekali tangan bergerak, dia telah berhasil menangkap gagang parang itu.

Ki Sumali masih merasa terkejut dan heran sekali.

"Anak mas Aji, ada apakah? Mengapa Pak Karto dan Mbok Ginah tadi bersikap demikian aneh?"

Winarsih juga keluar dari kamar dan wanita ini tampak gelisah.

"Apa..... apa yang terjadi..... ?"

"Tenanglah, Mbakayu Winarsih. Tidak ada apa-apa, bahaya telah lewat. Mari kita duduk, akan kuceritakan apa yang terjadi."

Mereka semua duduk di ruangan dalam.

"Seperti sudah kuduga, ternyata Pak Karto dan Mbok Ginah itu hanyalah pelayan-pelayan palsu, bahkan mungkin nama mereka bukan Karto dan Ginah. Mereka adalah orang-orang yang digdaya dan agaknya sengaja menyamar menjadi pelayan kalian, tentu dengan niat buruk. Apakah mereka telah lama menjadi pelayanmu, Paman Sumali?"

"Belum, baru beberapa bulan. mereka mengaku pengungsi karena kampung mereka kebanjiran dan karena merasa iba kami lalu menerima mereka menjadi pembantu-pembantu kami."

Kata Ki Sumali.

"Mereka itu memang sengaja diselundupkan ke sini, tentu untuk memata-mataimu, paman. Ketika aku datang dan kita merundingkan perlawanan terhadap Gagak Rodra, mereka berdua mencoba untuk membunuh kita dengan singkong beracun."

"Akan tetapi ketika engkau menyuruh mereka makan singkong itu, mereka tidak menolak dan hampir saja mereka memakannya."

Kata Winarsih.

"Memang, benar aku ingin menguji mereka. Kalau mereka menaruh racun pada singkong, tentu mereka tidak akan mau memakannya. Maka ketika melihat mereka mau memakannya, aku lalu mencegahnya. Pada waktu itu aku juga meragu apakah mereka sengaja meracuni singkong itu. Akan tetapi ada hal-hal yang mencurigakan hatiku. Pertama, sikap dan kata-kata mereka yang kadang-kadang teratur rapi itu menunjukkan bahwa mereka bukan orang-orang dusun yang bodoh, Kedua, ketika aku menyuruh mereka makan singkong, aku melihat Pak Karto memberi isarat berkedip kepada Mbok Ginah."

"Akan tetapi kalau ketika itu engkau tidak melarangnya, tentu mereka sudah mati karena makan singkong beracun itu, Dimas Aji!"

Kata Winarsih.

"Belum tentu, mbakayu. Baru semalam aku teringat bahwa orang yang pandai mempergunakan racun, tentu juga memiliki obat penawarnya. Aku yakin dua orang itu sudah makan obat penawar ketika mereka kuuji untuk makan singkong beracun itu. Kecurigaanku semakin kuat ketika aku melihat bahwa jendela kamarku tidak terpalang, hanya ditutup begitu saja sehingga mudah dibuka dari luar. Karena itu, aku telah siap siaga sehingga ketika mereka berdua memasuki kamar lewat jendela dan menyerang dengan senjata ke pembaringan, aku sudah meninggalkan pembaringan itu dan menghadang mereka di luar jendela. Maka terjadilah perkelahian itu."

"Ih, mengerikan sekali! Kalau diingat bahwa selama berbulan ini kami memelihara dua orang pembunuh ditengah-tengah akmi!"

Kata Winarsih.

"Kukira anak mas Aji betul. Mereka itu sengaja diselundupkan ke sini hanya untuk memata-matai aku. Mereka masih mengharapkan aku mau bekerja sama dengan mereka. Baru setelah dua orang mata-mata itu melihat aku dan anak mas Aji bertekad untuk menentang mereka, maka dua orang itu berusaha untuk membunuh,"

Kata Ki Sumali.

"Sayang sekali kita tidak dapat menangkap mereka, anak mas Aji. Kalau mereka dapat ditangkap tentu kita dapat memaksa mereka mengaku siapa yang mengirim mereka ke sini."

"Aku memang tidak tega melukai mereka, paman. Akan tetapi agaknya tak dapat diragukan lagi bahwa mereka berdua itu pasti ada hubungan dengan Gerombolan Gagak Rodra. Menurut apa yang paman ceritakan, Gerombolan Gagak Rodra memang mempunyai dendam permusuhan dengan paman. Pertama tentu saja ketika dahulu mereka menyerbu dusun ini dan paman memusuhi mereka dan kedua mungkin karena mereka itu menentang Mataram padahal paman bersikap setia kepada Mataram."

"Kurasa pendapatmu itu benar, anak mas Aji. Sekarang fajar hampir menyingsing. Sebaiknya kita bersiap-siap. Anak-anak sudah kupesan untuk berkumpul di luar dusun dan setelah matahari terbit, kita berangkat."

Kata Ki Sumali.

"Baiklah, paman."

Winarsih lalu sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi agar sebelum berangkat, kedua orang itu dapat makan lebih dulu.

Setelah sarapan, Ki Sumali mengajak Winarsih pergi ke rumah kepala dusun Loano.

Dia menitipkan isterinya di rumah kepala dusun itu agar isterinya aman selagi dia pergi bersama Aji.

Setelah menitipkan isterinya, Ki Sumali lalu mengajak Aji berangkat, Di luar dusun telah berkumpul kurang lebih lima puluh orang pemuda.

Mereka telah mempersiapkan diri, membawa senjata tajam apa saja yang mereka miliki.

Mereka semua sudah siap dan bertekad untuk bertempur melawan para gerombolan orang jahat itu.

Gerombolan Gagak Rodra mempunyai sebuah perkampungan di lembah Sungai Bogawanta.

Perkampungan yang khusus dihuni para anggauta gerombolan ini terpencil dari dusun-dusun lain dan menjadi sarang gerombolan itu.

Kurang lebuh limapuluh orang anak buah gerombolan tinggal di perkampungan itu dan anak istri merekapun tinggal di situ sehingga seluruh penghuni perkampungan itu berjumlah hampir dua ratus orang.

Pada pagi hari itu, pagi-pagi sekali perkampungan Gerombolan Gagak Rodra kedatangan seorang tamu istimewa.

Tamu itu seorang wanita cantik yang cantik jelita.

Usianya tampak masih jauh lebih muda walaupun usianya sudah tiga puluh tahun.

Rambutnya panjang hitam ngandan-andan (berombak) sampai ke punggung dan dibiarkan terurai.

Pakaiannya mewah sekali.

Wajahnya yang berbentuk bulat itu memang ayu manis dengan mata lebar dan hidung mancung.

Mulutnya memiliki bibir yang bentuknya indah dan menantang, menggairahkan hati setiap orang pria yang melihatnya.

Mata dan mulutnya mempunyai daya tarik yang kuat sekali, mulut yang selalu tersenyum manis dan mata jeli yang dapat mengerling dengan genit.

Tubuhnya yang berkulit putih mulus itupun ramping dan padat.

Akan tetapi.

kedatangan wanita ayu ini ternyata disambut penuh kehormatan oleh dua orang pimpinan Gagak Rodra, yaitu Ki Blekok Ireng dan Ki Jalak Uren.

Bagi anak buah Gagak rodra pun, wanita ini sudah amat dikenalnya juga ditakutinya.

mereka semua tahu bahwa wanita itu adalah seorang yang sakti mandraguna dan berwatak kejam sekali.

Kalau marah, siapa saja akan dibunuhnya dengan darah dingin.

Dan wanita itupun oleh mereka dianggap sebagai seorang iblis betina.

Walaupun cantik menarik, tak seorangpun diantara para anggauta Gagak Rodra yang kasar itu berani bersikap kurang ajar.

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 1

Baca Juga: Istana Pulau Es 22

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert