Ceritasilat Novel Online

Asmara Dibalik Dendam Membara 1

Eps 1 Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Dibalik Dendam Membara - Kho Ping Hoo.

Asmara Dibalik Dendam Membara (Judul Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01

"Budhi, engkau hendak kemanakah?"

Wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik jelita itu bertanya dengan suara lembut. Anak berusia sepuluh tahun bernama Budhi itu menahan langkahnya, lalu membalikkan tubuh memandang Ibunya.

"Aku hendak memetik dawegan (kelapa muda) di tepi anak sungai itu, Ibu. Dan juga buah-buah sawo di dekat sawah itu sudah banyak yang tua dan masak. Kalau tidak diambil, tentu akan didahului kelelawar, Ibu."

Ni Sawitri, Ibu muda yang cantik jelita itu tersenyum dan memandang kepada puteranya dengan sinar mata penuh kebanggaan dan kasih sayang.

Puteranya itu rajin sekali dan baru berusia sepuluh tahun tubuhnya sudah nampak berisi, jelas memperlihatkan hasil penggemblengan Ayahnya dalam ilmu kanuragan.

"Kalau begitu, kau sekalian bantu Ibumu, Budhi. Di dusun Gedangan di bawah itu terdapat beberapa orang anak yang sedang menderita penyakit murus. Aku harus mengobati mereka karena keadaan mereka gawat. kau carikan pupus daun jambu biji, adas pulosari, kunyit dan temulawak secukupnya."

Budhi membelelekkan matanya yang bersinar tajam, lalu menggelengkan kepalanya dan tertawa.

"Wah, Ibu. Aku khawatir tidak dapat mencarikan itu semua. Selain terlalu banyak dan aku lupa lagi namanya, juga aku tidak mengenal rempah-rempah itu. Sebaiknya Ibu ikut agar dapat memilih sendiri di ladang yang Ibu tanami penuh dengan rempa-rempa itu."

Ni Sawitri tertawa.

"Ih, engkau ini membikin malu Ibu saja. Ibumu seorang ahli jamu akan tetapi puteranya tidak mengenal adas pulosari! Baiklah, aku pergi bersamamu agar engkau dapat belajar mengenal rempa-rempa itu. Akan tetapi kita pamit dulu kepada Ayahmu."

Budhidarma, anak itu, yang sudah berada di ambang pintu depan, masuk kembali mengikuti Ibunyamenuju ke sebuah ruangan di bagian belakang yang menjadi sanggar pamujan di mana Ayah-nya melakukan puja semadhi.

Ni Sawitri mengetuk pintu kamar itu dan tak lama kemudian terdengar helaan napas panjang disambung suara seorang pria.

"Engkau kah itu, Diajeng?"

"Benar, Kakang Margono. Aku dan Budhi hendak pamit karena kami hendak pergi mencari rempa-rempa dan buah-buahan."

"Masuklah dulu, diajeng. Dan engkau juga Budhi, aku ingin melihat kalian."

Sepasang alis Sawitri agak berkerut karena ia merasa heran sekali mendengar ucapan itu.

Ia segera menggandeng tangan puteranya dan didorongnya pintu kamar itu lalu keduanya masuk ke dalam.

Mereka melihat Ki Margono sedang duduk bersila di atas tikar di lantai.

Ada apakah, kangmas?

Ni Sawitri juga duduk bersimpuh di depan suaminya dan Budhidarma juga duduk bersila di samping Ibunya dan memandang kepada Ayahnya.

Ki Margono adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi wajahnya kelihatan lebih tua dari usianya.

Pada wajah yang tampan itu terdapat goresan-goresan penderitaan bathin dan sinar matanya sayu.

Melihat betapa isterinya memandang kepadanya dengan khawatir, dia mencoba tersenyum.

"Tidak apa-apa, diajeng. Aku hanya ingin melihat kalian. Hatiku merasa tidak nyaman, karena itu jangan lama-lama kalian pergi."

"Ah, kalau begitu aku tidak jadi pergi saja!"

Kata Ni Sawitri.

"Pergilah, diajeng. Engkau hendak mencari rempa-rempa untuk mengobati anak-anak di dusun Gedangan itu, bukan? Jangan sia-siakan tugasmu, diajeng."

"Akan tetapi aku khawatir..."

"Apa yang dikhawatirkan? Di atas semua kekusaan masih ada kekuasaan tunggal yang tertinggi, yang menentukan segala yang akan terjadi di dunia ini. Aku telah memasrahkan diriku kepada kekuasaan Hyang Widhi, maka apapun yang terjadi akan kuterima sebagai kehendaknya. Apapun yang terjadi menimpa diri kita, yang baik maupun yang buruk bukan lain hanyalah buah hasil perbuatan kita sendiri, karena itu aku sudah siap dan rela menerimanya, diajeng. Perasaan khawatir akan terjadinya sesuatu yang akan menimpa diri kita hanya menunjukkan bahwa kita masih ragu dan kurang teguh iman kita kepada kekuasaan Hyang Widhi. Nah, pergilah, diajeng, pergilah melaksanakan tugas suci itu."

Ni Sawitri mengangguk, akan tetapi ketiak ia hendak meninggalkan kamaritu, ia berpesan.

"Kakang Mas, aku pergi takkan lama. Tinggallah di dalam kamar saja, Kakang Mas, jangan pergi kemana-mana dan tunggu sampai kami kembali."

Ki Margono tersenyum dan mengangguk.

Tentu, aku takkan pergi ke manapun.

Dan engkau tahu bahwa aku cukup mampu menjaga diriku sendiri andaikata ada marabahaya.

Nah, pergilah isteriku dan anakku yang terkasih.

Ibu dan anak itu meninggalkan pondok mereka yang sederhana.

Keluarga ini tinggal di pondok yang berdiri di lereng bukit itu, tanpa tetangga karena mereka memang sengaja hidup menyendiri di lereng bukit dekat anak sungai.

Dusun yang menjadi tetangga mereka adalah dusun Gedangan yang nampak dari lerang itu, sebuah dusun kecil dengan hanya sekitar tiga puluh rumah.

Sudah lima tahun keluarga yang terdiri dari tiga orang ini tinggal di lereng bukit itu, di ujung timur daerah Kerajaan Daha.

Para penduduk dusun di sekitar tempat itu tidak ada yang tahu dari mana keluarga ini berasal, akan tetapi tidak ada yang berani bertanya karena suami isteri dengan seorang itu jelas bukan orang dusun.

Hal ini jelas nampak dari sikap dan cara mereka bicara yang halus.

Juga keterbukaan tangan mereka untuk menolong penduduk dusun, terutama sekali mengobati mereka yang sedang menderita sakit, membuat mereka sungkan dan menaruh hormat.

Setelah meninggalkan rumahnya, Ni Sawitri merasa gelisah.

Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, akan tetapi jantungnya seringkali berdebar.

Apakah sudah waktunya mereka harus berpindah tempat lagi?

Selama sepuluh tahun ini, ia dan suaminya berpindah-pindah tempat.

Baru sekarang ini mereka tinggal menetap di sebuah tempat sampai lima tahun lamanya.

Biasanya mereka berpindah-pindah dan tidak pernah tinggal di suatu tempat lebih lama dari setahun.

Mereka hanya pindah lagi!

Ia mengambil keputusan.

Ia akan mengajak suaminya pergi dari situ dan pindah ke lain tempat lagi.

Siapa tahu para pengejar itu telah berhasil menemukan tempat tinggal mereka.

Ia bergidik.

"Budhi...!"

Ia memanggil puteranya. Budhi yang sedang memanjat pohon sawo dan mencari buahnya yang sudah tua, menjawab dari atas pohon.

"Ada apakah Ibu?"

"Turunlah kita pulang sekarang!"

"Tapi aku baru mendapatkan sedikit..."

"Turunlah, nanti kita cari lagi. Kita harus pulang sekarang juga!"

Suara Ibunya bergitu mendesak sehingga Budhidharma lalu turun dan mengumpulkan dawegan dan sawo yang telah dipetiknya.

Kemudian dia memanggul keranjang berisi buah-buahan itu, dan bersama Ibunya yang membawa rempa-rempa dia pulang.

Ni Sawitri melangkah dengan cepat sekali sehingga puteranya harus setengah berlari agar tidak tertinggal.

Tak lama kemudian sampailah mereka di pondok mereka.

Sunyi saja di sekitar pondok seolah tidak terjadi sesuatu.

Ni Sawitri menghela napas lega.

Akan tetapi ketika mereka tiba di halaman depan pondok mereka, Ni Sawitri melihat banyak jejak kaki di atas tanah.

Wajahnya seketika menjadi pucat sekali, matanya terbelalak dan berbisik, penuh kakhawatiran dan bisikannya gemetar.

"Kakang Margono...!"

Kemudian berlarilah ia ke arah pintu depan pondoknya lalu menerjang daun pintu yang tertutup.

Daun pintu terbuka dan ia melompat ke dalam.

Budhidharma tercengang dan anak ini hanya berdiri memandang Ibunya, tidak mengerti mengapa Ibunya demikian gelisah.

"Kakang Margono...!!"

Teriakan melengking suara Ibunya itu membuat Budhi melonjak kaget dan dia melepaskan keranjanganya lalu berlari memasuki pondok.

Begitu melangkahi ambang pintu, Budhi tertegun terbelalak memandang ke dalam.

Dia melihat Ayahnya mandi darah, kepalanya di atas pangkuan Ibunya yang merangkulnya sambil menangis.

Saking terkejut dan bingungnya, dia hanya berdiri seperti patung, tidak mampu mengeluarkan suara, juga tidak tahu harus berbuat apa.

Akan tetapi dia memandang penuh perhatian.

Dilihatnya Ayahnya menggerakkan tangan kanannya yang yang berlumuran darah, merangkul dan menarik leher Ibunya sehingga kepala Ibunya menunduk, lalu terdengar suara Ayahnya yang parau, seolah suara itu hanya sampai di lehernya "...

Me...

mereka...

datang...

Gagak Seto...

ahhhh..."

Tangan itu jatuh kembali, kepala itu terkulai diatas pangkuan.

"Kakang Margono...! Kakang...!! Ni Sawitri memekik, suaranya melengking tinggi kemdian tubuhnya terkulai lemas, pingsan sambil merangkul suaminya! Melihat ini, Budhi berlari dan berlutut di dekat Ayah Ibunya, menangis.

"Ibu... ayah...!"

Dia mengguncang-guncang pundak Ibunya dan dengan hati ngeri dia melihat betapa darah membasahi seluruh tubuh Ayahnya.

"Ibu... bangunlah, Ibu...! Ibuuu...!"

Budhi berteriak-teriak sambil menangis.

Ni Sawitri bergerak, membuka mata dan terbelalak memndang suaminya, akan tetapi ketika ia melihat puteranya, ia kelihatan ketakutan, memandang liar ke kanan kiri, kemudian ia memegang kedua pundak Budhi sehingga pundak yang tak berbaju itu belepotan darah pula.

"Cepat, engkau harus cepat pergi dari sini! Budhi, engkau larilah, tinggalkan tempat ini!"

Katanya dengan suara gemetar.

"Akan tetapi, kenapa, Ibu...?"

Budhi memandang bingung. Ni Sawitri mengambil seluruh benda dari balik kembennya dan menyerahkannya kepada Budhi.

"Ini... bawa ini... kalau engkau tertangkap, perlihatkan ini dan mereka tidak akan berani membunuhmu."

"Mereka siapakah Ibu yang telah membunuh Ayah dan membuat Ibu ketakutan?"

"Orang-orang perkumpulan Gagak Seto dari Gua Tengkorak di Gunung Anjasmoro... sudahlah, pergi sekarang, tinggalkan rumah ini cepat!"

Karena Budhi masih juga meragu, Ni Sawitri lalu menyambar lengannya dan menariknya keluar. Setelah tiba di halaman depan, wanita itu mendorang pundak Budhi.

"Cepat lari...!"

"Tapi, Ibu...!"

Budhi menangis, kebingungan. Pada saat itu, terdengar bunyi burung gagak yang parau dan nyaring.

"Goak, goak, goaaaak...!"

Ni Sawitri terbelalak dan ia sudah mencabut sebatang keris dari ikat pinggangnya.

"Budhi, cepat lari! Taatilah Ibumu!"

Ia membentak dan sekali ini Budhi tidak berani membantah lagi.

Dia meloncat dan melarikan diri, benda pemberian Ibunya itu masih di gengamnya.

Akan tetapi belum jauh ia lari.

terdengar suara tawa bergelak dan ketika dia menengok ke belakang, dia melihat belasan orang berpakaian serba hitam berloncatan ke halaman pondoknya.

Melihat Ibunya dikepung belasan orang itu, Budhi tidak melanjutkan larinya.

Dia mendekam di balik semak-semak yang rimbun dan mengintai dengan jantung berdebar.

Ni Sawitri dengan keris di tangan menghadapi mereka dan memandang kepada seorang pria tinggi besar yang menjadi pimpinan gerombolan orang itu.

Seperti juga anak buahnya, pria tinggi besar ini juga memakai pakaian serba hitam dan di bagian dadanya, baju itu terdapat gambar seekor burung gagak putih.

Hanya bedanya, kalau semua anak buahnya memakai ikat pinggang berwarna putih, pria ini mengenakan ikat pinggang berwarna kuning gading.

"Hemmm, kiranya andika yang datang bersama pasukan Gagak Seto, Kakang Klabangkoro!"

Kata Ni Sawitri dan sepasang mata wanita ini berkilat penuh kemarahan.

"Tidak perlu kutanyakan lagi, tentu andika yang pula yang telah membunuh Kakang Margono!"

"Ha-ha-ha-ha! Selama sepuluh tahun lebih engkau dapt menyembunyikan diri bersama kekasihmu itu dan baru sekarang kami temukan tempat persembunyianmu. Benar, kami yang membunuh Margono si penghianat itu, atas perintah bapa Guru, pimpinan kami. Dan atas perintah beliau pula kami harus membunuhmu, Sawitri."

Pria tinggi besar yang berusia empat puluh tahun itu tertawa bergelak dan memandang kepada Sawitri dengan matanya yang besar.

"Berani andiaka bersikap begini terhadap aku, Klabangkoro!"

Ni Sawitri membentak marah.

"Ha-ha-ha-ha! Dahulu engkau menjadi adik seperguruanku, kemudian menjadi Ibu guruku. Akan tetapi sekarang tidak lagi, Sawitri. Engkau bukan apa-apa bahkan engkau seorang pengkhianat yang sudah sepantasnya dihukum berat. Bapa guru memerintahkan aku untuk membunuhmu pula. Akan tetapi... hemmm, setelah sepuluh tahun lamanya, engkau tidak kelihatan semakin tua bahkan menjadi semakin denok, semakin ayu manis. Sayang kalau dibunuh begitu saja, ha-ha-ha!"

"Keparat Klabangkoro! Engkau telah membunuh Kakang Margono. Aku tidak dapat mengampunimu. Engkau atau aku yang akan mengeletak di sini tanpa nyawa. Heiiiiiiittt...!"

Dengan tangkas sekali Ni Sawitri menerjang ke depan sambil menusukkan kerisnya ke arah dada yang bidang itu.

Klabangkoro tidak berani menganggap rendah lawannya.

Ni Sawitri pernah menjadi murid terkasih dari ketua perkumpulan Gagak Seto, dan biarpun dia pernah menjadi Kakang seperguruan wanita itu, belum pernah dia dapat menandingi ilmu kesaktiannya.

Bahkan dibandingkan Margono, tingkat kepandaian Ni Sawitri masih lebih tinggi.

Akan tetapi selama ini Klabangkoro juga telah diberi ilmu baru oleh gurunya, yaitu ilmu cambuk yang disebut Pecut Dahono(Cambuk api).

Biasanya dia bersenjata golok, dan sekarang pun dia memegang golok dan menghadapi tusukan keris di tangan Ni Sawitri, dia mengelak sambil memutar goloknya melindungi dirinya.

"Trang-trang-trang...!!"

Tiga kali keris di tangan Ni Sawitri bertemu dengan tangkisan golok tergetar dan panas. Tahukah dia bahwa sampai sekarang dia masih kalah kuat, maka dia lalu berseru kepada anak buahnya.

"Kepung dan tangkap! Akan tetapi jangan membunuhnya, tangkap hidup-hidup!"

Tujuh belas orang anak buah gagak Seto itu lalu mengepung dengan senjata golok di tangan kanan.

Mereka mengelilingi wanita itu dengan sikap mengancam.

Akan tetapi Ni Sawitri tidak merasa takut, bahkan ia menjadi semakin marah dan bertekat untuk memmbunuh semua orang yang telah menewaskan suaminya itu.

"Majulah kalian semua, keparat-keparat busuk, manusia-manusia kejam berhati binatang. Akan kubasmi kalian semua!"

Ni Sawitri berdiri tegak dengan kaki terpentang, keris di depan dada dan tangan kirinya diankat ke atas dengan jari tangan terbuka, siap untuk melancarkan tamparan maut.

Karena belasan orang itu masih meragu dan jerih untuk maju menangkap wanita yang mereka tahu amat perkasa itu, Ni Sawitri mendahului mereka, menerjang maju dan kerisnya berkelebatan menyambar-nyambar dan dalam beberapa gebrakan saja, dua orang roboh terkena tamparan dan seorang roboh berkelejotan dengan dada terluka tusukan keris!

"Tar-tar-tar...!"

Cambuk panjang di tangan Klabangkoro meledak-ledak dan mematuk ke arah Ni Sawitri yang sedang menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Gagak Seto.

Ia berusaha untuk mengelak, namun karena perhatiannya terbagi dan serangan cambuk itu cepat sekali, tetap saja tubuhnya dua kali disengat ujung cambuk dan kainnya terobek di dua tempat, juga kulitnya terasa panas seperti terbakar!

Kain nya robek di bagian paha kiri dan pinggang kanan sehingga nampak kulit tubuhnya yang putih mulus.

"Ha-ha-ha! Menyerahlah saja, Wong ayu, dari pada tubuhmu menderita nyeri!"

Kata Klabagkoro sambil tertawa bergelak.

Ni Sawitri marah sekali dan menerjang ke arah pria tinggi besar itu, akan tetapi kembali anak buah Gagak Seto mengepungnya sehingga terpaksa ia menyambut mereka dan kembali merobohkan dua orang di antara mereka.

Akan tetapi selagi ia mengamuk kembali cambuk di tangan Klabangkoro meledak dan melecut-lecut sehingga kain yang menutupi tubuh Ni Sawitri menjadi compang-camping, robek di sana sini membuatnya hampir telanjang.

Tiba-tiba cambuk itu menyambar ke bawah dan tanpa dapat terhindarkan lagi, cambuk yang panjang itu sudah melibat kedua kaki Ni Sawitri, dari mata kaki sampai ujung lutut.

Wanita itu terkejut, mencoba untuk meloncat, akan tetapi karena kedua kakinya terlibat kuat, iapun terpelanting dan roboh!

"Ha-ha-ha, cepat ringkus ia.

Ikat kaki tangannya!

Ha-ha-ha!"

Melihat banyak tangan yang berotot kasar dijulurkan ke arahnya, tahulah Ni Sawitri bahwa perlawanannya telah berakhir.

Tak mungkin ia mampu meloloskan diri dari tangan mereka dan ia tahu bahwa kalau sampai ia tertangkap hidup-hidup oleh Klabangkoro ia akan mengalami malapetaka yang lebih mengeriakn dari pada maut.

Sejak lama Klabangkoro menaruh hati kepadanya, akan tetapi ia selalu menjauhkan diri.

Tentu Klabangkoro mendendam sakit hati dan iri ketika ia melarikan diri bersama Margono dan kalau ia tertangkap hidup-hidup, tentu ia akan diperkosadan menderita penghinaan yang hebat.

"Kakang Margono, Tunggu aku, Kakang...!"

Wanita itu memekik lantang, kemudian cepat sekali kerisnya sudah menghujam dadanya sendiri!

Peristiwa itu cepat sekali terjadi sehingga tidak keburu dicegah oleh Klabangkoro dan anak buahya.

Tahu-tahu tubuh Ni Sawitri sudah terkulai miring dan keris itu menancap di dada sampai ke gagangnya.

"Ibuuuu...!!"

Budhidhama yang sejak tadi mengintai dengan jantung berdebar tegang, ketika melihat Ibunya roboh kemudian terkulai mandi darah, tak dapat menahan diri lagi, meloncat keluar dari balik semak belukar dan lari menghampiri Ibunya.

Melihat Ibunya rebah miring dengan pakaian koyak-koyak dan tubuh bagian atas bersimbah darah, Budhi menubruk dan merangkul tubuh Ibunya.

"Ibu... Ibu...!"

Dia menangis sambil memanggil-manggil Ibunya.

Ni Sawitri membuka matanya dan menggerakkan lengan kanan dengan lemah, merangkul anaknya.

Suaranya terdengar lirih dan lemah ketika ia berkata, seperti berbisik saja.

"... Anakku... Budhidharma... Larilah dan... jangan... jangan membalas dendam..."

Mata itu terpejam kembali dan napasnyapun berhenti. Budhi menjerit dan merangkul jenazah Ibunya.

"Heiii, ini anaknya! Bunuh saja! Terdengar bentakan di atasnya dan ketika mengangkat mukanya, dia melihat pria tinggi besar bernama Klabangkoro yang membunuh Ibunya. Diapun meloncat berdiri dan dengan air mata masih bercucuran, dia menudingkan telunjuk tangan kananya ke arah muka Klabngkoro.

"Kau... kau... Jahanam! kau membunuh Ayah Ibuku!"

Setelah berkata demikian, dengan nekat Budhidharma menerjang ke arah Klabangkoro dengan kedua tangan terkepal.

Biarpun dia hanya seorang anak berusia sepuluh tahun, kalau hanya orang dewasa biasa saja belum tentu akan mampu menandinginya, Akan tetapi kini ia melawan Klabangkoro.

Ibu dan Ayahnya sendiri saja roboh dan tewas oleh raksasa ini, apalagi dia.

Menghadapi serangan pukulan anak itu, Klabangkoro tertawa tergelak dan dengan mudah saja dia menagkis semua pukulan Budhi.

Tangkisan itu membuat tangan Budhi terpental dan nyeri, akan tetapi anak ini sudah nekat dan terus menerus menyerang dengan kedua tangannya.

"Ha-ha-ha, setan cilik! Engkau sudah bosan hidup, ya?"

Kaki yang besar itu mencuat dalam tendangan.

"Dukkk!"

Tubuh Budhidharma terlepar sampai tiga meter jauhnya dan terguling-guling.

Akan tetapi anak itu meloncat bangun lagi, dan lari ke depan untuk menyerang lagi, sama sekali tidak memperdulikan dadanya yang tersa nyeri sehingga napasnya sesak.

Ketika Budhi memukul perutnya, Klabangkoro tidak menangkis dan menerima pukulan-pukulan itu dengan kekebalannya.

Kedu tangan anak itu terasa nyeri seperti memukul batu ketika bertemu dengan perut itu.

Merasa betapa pukualannya tidak mempan, Bhudhi lalu menggigit kulit perut itu dan sekali ini Klabangkoro berteriak dengan kesakitan.

Raksasa ini dengan marahnya lalu mengangkat lututnya kuat sekali.

"Desss...!"

Dada Budhi di hantam lutut seperti dihantam palu godam.

Serasa pecah dada itu dan tubuhnya terjengkang dan terbanting keras.

Saking nyeri rasa pada dadadnya, anak ini tidak mampu berdiri lagi, hanya bangkit dududk dan matanya saja yang melotot penuh kebencian memandang Klabangkoro.

Melihat ketahanan dan kebandelan anak ini, Klabangkoro bergidik.

Anak ini kelak akan berbahaya sekali kalau tidak dibunuh, pikirnya.

Dia menyeringai buas lalu mencabut pecut Dahono yang terselip di ikat pinggangnya.

"Bocah setan keparat! Akan kubikin lumat tubuhmu!"

Dia lalu menggerakkan cambuk itu di udara. Kemudian sambil mengeluarkan suara ledakan, cambuk itu menyambar turun dan melucuti tubuh Budhidharma.

"Tar-tar-tar-tar...!"

Ujung cambuk itu bagaikan moncong ular mematuk dan mematuk lagi ke arah tubuh Budhi yang sudah tidak mampu mengelak.

Setiap kali ujung cambuk mematuk, tubuh itu tersentak dan bagian yang terpantuk itu bercucuran darah.

Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan anak itu.

Agaknya Klabangkoro membatasi tenaganya sehingga cambuknya tidak sampai membunuh, melainkan mendatangkan luka yang panasdan pedih.

Kedua paha, lambung, dada dan pundak Budhi sudah terluka, kulit dan dagingnya pecah sehingga mengeluarkan banyak darah.

Dia hanya menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu di atas tanah itu.

Akan tetapi, sedikitpun ia tidak mengeluh, bahkan menangispun tidak dan sianr matanya masih berapi-api di tujukan kepada penyiksanya.

Melihat ini, Klabnagkoro merasa ngeri dan diapun membentak.

"Bocah setan, sekarang akan kuhancurkan kepalamu. Mampuslah kau !"

Dengan sekuat tenaga dia mengayun cambuknya yang akan dipukulkan ke arah kepala anak itu.

"Siuuuuuuuuuttt... plakk!"

Klabangkoro terkejut sekali ketika cambuknya tertahan di belakangnya.

Dia cepat memutar tubuhnya dan melihat bahwa ujung cambuk itu dipegang oleh seorang Kakek tua berpakaian serba putih yang entah kapan telah berdiri di situ.

"Sadhu-sadhu-sadhu... seorang gagah perkasa menyiksa seorang anak kecil sungguh tidak tahu malu!"

Suara Kakek itu lirih, akan tetapi jelas terdengar oleh mereka semua dan di dalam suara yang lembut itu terkandung wibawa yang kuat.

"Keparat, siapa andika, seorang tua bangka hendak mencampuri urusan kami!"

Klabangkoro membentak dan tanpa menanti jawaban lagi dia sudah merenggut cambuknya dan dengan buas diapun mengayun cambuk itu menghantam ke arah kepala Kakek yang rambutnya sudah putih itu.

Akan tetapi Kakek itu tidak membuat gerakan mengelak atau menangkis, melainkan tangan kirinya mendorong ke arah Klabangkoro dan tubuh yang tinggi besar itu terlempar bagaikan sehelai daun kering terbawa angin.

Melihat ini, anak buah Gagak Seto menjadi marah dan belasan orang itu sudah menggerakkan golok masing-masing dan menerjang dari empat jurusan.

Akan tetapi, Kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan ujung bagian bajunya mengeluarkan angin yang kuat sekali dan belasan orang itupun berpelantingan terdorong oleh kebutan angin yang kuat itu.

Tentu saja semua orang menjadi terkejut sekali.

Akan tetapi Klabangkoro adalah seorang yang sudah terbiasa di taati dan ditakuti orang, maka setelah ia dapat meloncat bangun kembali, dia sudah menggenggam cambuknya dengan erat dan dia lalu menerjang maju, memukul dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

Cambuk itu menyambar dengan dahsyat, mengancam kepala Kakek itu.

"Hemm, manusia budak nafsu yang berwatak kejam!"

Dia berseru lirih dan tangan kirinya menyambut cambuk yang meluncur ke arah kepalanya itu.

"Wuuuuttt... setttt...!"

Cambuk itu telah ditangkap oleh tangan kiri dan dengan marah Klabangkoro berusaha untuk menarik senjatanya lepas dari pegangan tangan kiri lawan.

Akan tetapi, betapapun dia berusaha sekuat tenaga, cambuk itu tidak dapat terlepas.

Bahkan sekali renggut saja dengan perlahan, cambuk itu sudah terlepas dari pegangan Klabangkoro dan dapat dirampas Kakek baju putih.

Masih tidak mau melihat kenyataan dan dia kini mencabut goloknya dan menerjang dengan ganas.

Golok itu membacok ke arah ke arah leher Kakek itu.

Akan tetapi Kakek itu menggerakkan cambuk rampasannya menangkis dan golok itupun terpental lepas dari tangan miliknya.

Kini Kakek itu memutar-mutar tubuhnya sambil mengembangkan kedua lengannya.

Klabangkoro dan belasan orang anak buahnya tak mampu bertahan lagi, mereka terdorong roboh bergelimpangan dan barulah Klabangkoro mengakui bahwa dia berhadapan dengan seorang Kakek yang sakti.

Dia melarikan diri diikuti belasan orang itu, berlari cepat seperti dikejar setan.

Kakek itu tidak mengejar, melainkan membuang cambuk rampasan dan memutar tubuhnya memandang ke arah Budhidharma yang masih tak mampu berdiri.

Anak itu berhasil menggunakan sisa tenaga untuk dapat duduk dan dengan tubuh lemas dan nyeri, kepala pening, dia masih dapat mengikuti peristiwa pengeroyokan atas diri Kakek berbaju putih itu.

Tubuh Budhi sudah berlepotan darahnya yang keluar dari luka-luka dari paha dan pundaknya.

Akan tetapi anak itu tidak menagis, bahkan tidak mengeluh sedikitpun juga dan hal ini membuat Kakek itu memandang dengan sianr mata kagum bukan main.

Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang bocah berusia kurang lebih sepuluh tahun yang seberani dan sekuat itu menahan nyeri.

Setelah semua penjahat pergi, Budhi teringat lagi kepada Ayah Ibunya.

Dia menoleh dan melihat jenazah Ibunya masih menggeletak mandi darah, tiba-tiba dia seperti memperoleh tenaga baru.

Dia bangkit berdiri, bahkan dapat berlari menghampiri jenazah Ibunya, menubruk dan menangis.

"Ibuu...!"

Setelah memanggil-manggil Ibunya sambil menangis, dia teringat Ayahnya dan kembali dia bangkit dan lari memasuki pondok, menubruk jenazah Ayahnya yang mengegletak di lantai pondok.

"Bapa... ahh, bapaaaa...!"

Diapun menangis mengangguk dan bingung apa yang harus dilakukannya.

Ayah dan Ibunya mati dengan menyedihkan, dibunuh orang di depan matanya!

Setelah dia menangis beberapa lamanya, terdengar suara yang lembut.

"Kulup, sudah cukup engkau menangisi kematian Ayah dan Ibumu. Akan tetapi mereka telah kembali ke alam asal, di panggil pulang oleh Yang Maha Kuasa dan tak seorangpun dapat menghidupkan mereka kembali."

Tangis dan kesedihan anak mereka hanya akan menjadi penghalang bagi perjalanan mereka.

Karena itu, hentikanlah tangismu dan marialh kita menghadapi kenyataan.

Mendengar ucapan itu, Budhi menengok dan ternyata Kakek yang menolongnya tadi telah berdiri di belakangnya.

Karena dia sudah kehilangan segala-galanya, tidak adalagi manusia yang yang dapat menjadi teman hidupnya, maka kehadiran Kakek itu membuka saluran baginya untuk mencurahkan perasaan hatinya.

Dia menubruk ke arah kaki orang tua itu dan menangis.

"Aduh, Eyang...!"

Bagaimana saya tidak akan berduka dan merasa hacur hati saya?

Di dunia ini saya hanya mempunyai Ayah dan Ibu berdua dan sekarang tiba-tiba mereka dibunuh orang.

Saya tidak mempunyai seorangpun keluarga lagi, tidak mempunyai siapa-siapa lagi..."

"Tidak ada orang yang hidup sebatang kara di dunia ini. Bukankah jutaan manusia lain inipun menjadi saudaramu? Sudahlah, nanti kita bicara lagi tentang diri dan masa depanmu. Sekarang yang terpenting adalah menyempurnakan jenazah Ayah dan Ibumu."

"Eyang katakanlah apa yang harus saya lakukan. Saya tidak tahu harus berbuat apa."

"Hemm, jenazah Ayah dan Ibumu perlu mendapat perawatan sebagaimana mestinya ke-mudian diperbukan. Apakah engkau tidak mempunyai kenalan atau tetangga yang sekiranya dapat membantu kita?"

"Tetangga kami hanyalah penduduk dusun di sebelah bawah lereng di sana itu, Eyang."

"Bagus. Nah, pergilah engkau ke dusun itu dan beritahu mereka bahwa Ayah Ibumu terbunuh gerombolan penjahat dan mintalah bantuan mereka untuk mengurus jenazah Ayah Ibumu."

"Baik, Eyang..."

Budhi lalu bangkit berdiri dan hendak berlari pergi.

Akan tetapi baru belasan langkah dia berlari, dia mengeluh dan terguling roboh.

Melihat ini Kakek berbaju putih itu segera menghampiri.

Melihat anak itu pingsan, dia lalu membawa anak itu ke bawah sebatang pohon di samping pondok.

Dia memeriksa tubuh anak itu dan menggeleng-geleng kepalanya dengan kagum.

Tubuh anak ini mengalami siksaan yang hebat.

Matang biru dan bengkak-bengkak, kedua paha dan pundak terluka.

Kakek itu lalu menggunakan kedua tanganya untuk memijit-mijit menekan dan mengurut tubuh Budhi.

Tak lama kemudian, Budhi mengeluh dan dia siuman.

Ajaib, setelah dipijit dan diurut oleh Kakek itu, Budhi merasa tubuhnya sehat kembali dan tidak terasa nyeri lagi.

Bahkan luka-luka lecutan cambuk yang tadinya terasa pedih dan amat panas, kini tidak merasa nyeri lagi.

Dia lalu bangkit duduk bersimpuh di depan Kakek itu.

"Bagaimana rasanya sekarang, kulup? Apakah masih nyeri rasa tubuhmu? "Terima kasih, Eyang. Nyeri-nyeri pada tubuh saya tidak terasa nyeri."

"Nah, kalau begitu, pergilah memberi tahu kkepada penduduk dusun di bawah. Akan tetapi, katakanlah dulu kepadaku siapakah namamu?"

"Nama saya Budhidharma, Eyang."

Kakek itu tersenyum mengangguk-angguk.

"Bagus, bagus! Mudah-mudahan saja kelak sepak terjangmu akan sesuai dengan namamu. Nah, pergilah, kulup!"

Budhi lalu berlari pergi dari situ, menuruni lereng menuju dusun Gedangan.

Ingatannya penuh lagi dengan bayangan Ayah Ibunya yang menggeletak mandi darah, maka tak tertahankannya lagi air matanya bercucuran ketika dia berlari itu.

Penduduk dusun Gedangan terheren-heren melihat Budhi datang dengan berlari-lari sambil bercucuran air mata.

Biasanya anak ini selalu kelihatan cerah, bahkan suka berkelakar dan sifatnya periang.

Segera mereka merubung Budhi dan bertanya-tanya.

Ketua dusun yang sudah mengenal baik Ayah Ibu Budhi, bahkan pernah disembuhkan dari penyakit berat oleh Ni Sawitri, segera maju dan memegang pundak Budhi.

"Anakmas Budhidharma, apakah yang telah terjadi? Kenapa andika menangis?"

"Paman... ah, paman... tolonglah merawat... jenazah bapa dan Ibu... mereka terbunuh gerombolan penjahat."

Terdengar seruan di sana sini dan semua terbelalak dengan muka pucat.

Kemudian berbondong-bondong mereka mengikuti Budhidharma menuju rumah yang terpencil di lereng itu.

Setelah tiba di tempat tinggal anak itu.

Mereka semua merasa ngeri melihat jenazah Ni Sawitri dan Margono yang mandi darah.

Dan merekapun bertanya-tanya siapa adanya Kakek yang berada di situ.

"Eyang ini yang menyelamatkan aku dari tangan penjahat itu, kalau tidak ada Eyang ini, aku tentu tewas pula seperti kedua orang tuaku."

Setelah mendapatkan keterangan dari Budhi, penduduk dusun bersikap hormat dan tidak lagi mencurigai Kakek berpakaian serba putih itu.

Atas permintaan Budhi sendiri, jenazah kedua orang tuanya tidak diperabukan melainkan dikubur di dalam tanah, di halaman depan rumah itu.

"Saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi, Eyang. Biarlah kedua kuburan ini menjadi sisa peringatan bagi kedua orang tua saya."

Katanya.

"Hal ini boleh saja, Budhi. Jasmani ini memang terbentuk sebagian besar dari tiga zat itu, tanah, air, dan api. Oleh karena itu, setelah ditinggalkan rohnya, jasad dapat dikembalikan kepada salah satu di antaranya. Dibakar, dikubur, atau di larung ke samudera. Hanya saja, kalau dikubur dalam tanah, maka masih ada ikatan antara keluarganya dengan yang mati."

Kata Kakek itu.

Setelah Penguburan selesai dilakukan dan semua penduduk dusun sudah kembali ke Gedangan, Budhidharma masih saja berlutut di depan mamamayah Ibunya.

Kesedihan membuat anak ini lemas lunglai seperti kehilangan semangat dan biarpun dia sudah tidak menangis lagi, namun matanya masih selalu basah.

Kakek itu duduk di atas batu besar, di lereng Budhi yang bersimpuh di depan makam.

Dia membiarkan anak itu menenggelamkan diri dalam lamunan kesediahn beberapa lamanya, kemudian tiba-tiba tubuhnya melayang ke arah pohon di tepi halaman.

Dipegangnya batang pohon sebesar tubuh orang dewasa itu dengan kedua tangannya, lalu diguncangnya pohon itu.

Pohon bergoyang dan tergoncang keras seperti ditiup badai mengeluarkan bunyi yang berisik dan daun-daun rontok berterbangan.

Budhi terkejut mendengar ini dan ketika dia memandang, diapun terbelalak keheranan.

Sampai beberapa lamanya Kakek itu menggoncang pohon.

Budhi bangkit berdiri, menghampiri dan bertanya dengan suara mengandung keheranan.

"Eyang, apa yang Eyang lakukan ini? Kenapa menggoncang pohon ini?"

Kakek itu tertawa dan menghentikan perbuatannya, lalu menggandeng tangan Budhi diajaknya anak itu duduk di atas batu besar.

"Budhi, lihatlah hati dan pikiranmu sekarang, saat ini. Apakah engkau masih berduka? Apakah engkau masih berduka? Apakah engkau masih ingin menangisi orang tuamu?"

Budhi adalah seorang anak yang cerdik. Dia segera mendapat kenyataan bahwa kedukaan itu sama sekali tidak adalagi, atau sudah terlupa olehnya. Yang ada hanyalah keheranan.

"Tidak, Eyang. Saya hanya merasa heran dan sudah melupakan kedukaan saya. Akan tetapi Eyang mengingatkan dan..."

"Nah, kalau begitu engkau sudah mengerti sekarang bahwa kedukaan itu hanyalah per-mainan dari ingatan sendiri saja. Ingatan mengunyah-ngunyah keadaanmu yang kehilangan orang tua, seperti si rakus melahap makanan yang enak dan ahtimupun seperti ditusuk-tusuk rasanya. Hal itu menimbulkan duka. Begitu pikiran dikuasai oleh keadaan lain, duka yang tadinya membuat orang seperti kehilangan semangat hidup itupun akan lenyap tanpa bekas lagi. Kalau hati akal pikiran itu selalu ditujukan kepada apa yang terjadi saat demi saat, tidak mengingat-ingat hal yang telah lalu, maka orang tidak akan dicengkeram duka. Mengertilah engkau, kulup?"

Biarpun masih belum jelas benar, namun Budhi dapat mengerti.

Memang kedukaan hatinya timbul lagi kalau dia kembali kepada alam ingatan, mengingat-ingat hal yang telah berlalu.

Dan semua itu sudah tidak berguan lagi.

Biarpun dia menangis air mata darah, Ayah dan Ibunya taidak dapt hidup lagi.

Yang terpenting ialah sekarang, saat ini, apa yang haryus dialakukan setelah ia hidup seorang diri.

Dan dia meliaht betapa Kakek itu seorang yang sakti, seorang yang bijaksana dan baik budi, maka dia segera menghampiri dan berlutut menyembah ke arah kaki orang tua itu.

"Eh, ada apakah, Budhi? Apa artinya penghormatan ini dan engkau hendak bicara apa?"

Kakek itu menjulurkan tangannya, menarik lengan anak itu ke atas dan menyuruhnya duduk di dekatnya.

"Eyang, saya hidup seorang diri di dunia ini, bahkan kalau Eyang tadi tidak meyelamatkan saya, sekarangpun saya tidak ada lagi di dunia ini. Karena itu, kalau Eyang sudi menerimanya, satya mohon agar Eyang mengijinkan saya ikut, menjadi murid eyang, saya akan melakukan pekerjaan apa saja untuk membantu Eyang."

Kakek itu tersenyum mengelus jenggot putihnya yang tipis dengan tangan kiri dan menganguk-angguk.

"Baiklah, Budhi. Agaknya memang sudah ditentuakn oleh Hyang Widhi bahwa engakau berjodoh untuk menjadi muridku. Akan tetapi jangan dikira enak menjadi murid seorang tua miskin seperti aku. Aku berjuluk Bhagawan Tejolelono, pekerjaanku hanya berkelana, tidak memiliki kekayaan apapun. Tempat tinggalku tidak menentu. Langit atapku, Bumi lantaiku dan pohon-pohon merupakan dindingku. Engkau akan menderita kelaparan kalau tidak mencari makan sendiri. Nah, kalau engakau ikut aku menjadi muridku, engkau harus rajin sekali, bukan saja untuk mempelajari ilmu dariku tetapi juga untuk bekerja mencari makan. Sanggupkah engkau, Budhi?"

"Eyang, sejak kecil saya sudah biasa bekerja keras karena kami bukanlah keluarga kaya. Harap Eyang tidak khawatir, saya akan bekerja keras dan rajin. Dan saya berjanji akan mentaati semua perintah dan petunjuk Eyang."

Tejoleleono mengangguk-angguk dan hatinya merasa gembira sekali.

Sejak tadi dia merasa sudah mengambil keputusan untuk mengangkat bocah ini menjadi muridnya.

Dia meliaht betapa Budhi memiliki keberanian, ketabahan dan kegagahan yang luar biasa.

Selain hatinya yang teguh keras, anak inipun memiliki bakat yang maat baik untuk menjadi orang yang sakti mandraguna.

Ketika jari-jari tangannyamemijit tubuh anak itu, dia mendapat kenyataan bahwa Budhi memiliki tulang yang baik.

"Nah, kalau begitu berkemaslah, Budhi. Kumpulkan barang yang akan kau bawa karena kta akan pergi sekarang juga."

Akhirnya Kakek itu berkata. Mendengar ini Budhidharma berpikir sejenak lalu berkata dengan hormat.

"Eyang, saya merasa sayang kalau rumah dan semua isinya ini saya tinggalkan begitu saja tidak terawat dan digunakan. Oleh karena itu, kalau Eyang mengijinkan, saya hendak memasrahkan rumah ini dan semua isinya kepada seorang kenalan yang tinggal di dusun Gedangan. Dengan demikian, maka ruamh ini akan terpelihara, dan juga dapat bermanfaat baginya."

Bhagawan Tejolelono mengangguk-angguk. Seorang bocah yang berpikir panjang.

"Baik, pergilah engkau ke dusun Gedangan. Aku akan menantimu di sini, Budhi."

Budhi lalu pergi ke dusun Gedangan dan menemui seorang kenalan dan sahabat Ayahnya bernama Karyosikun.

Karyosiku hidup berdua dengan isterinya dan mereka tidak mempunyai ruamh, hanya tinggal mondok di ruamah seorang janda.

Budhi sudah mengenal baik suami isteri yang miskin ini karena biasanya Ayah dan Ibunya kalau sedang repot membutuhkan tenaga bantuan, selalu menggunakan tenaga suami isteri ini.

Tentu saja kunjungan Budhi disambut dengan heran oleh Kayosikun dan isterinya yang bernama Sawiji.

Suami isteri inipun tadi ikut pula datang melayat.

Ketiak meliaht mereka Budhi segera mengutaraka kehendaknya.

"Paman Karyosikun dan bibi Sawiji. Hari ini aku akan pergi mengikuti Eyang Bhagawan Tejolelono dan menjadi muridnya. Karena itu, lebih dulu aku ingin menyerahkan rumah kami dan semua isinya, juga kebun dan ladang kepada paman berdua."

"Eh, eh, apa maksudmu, Gus?"

Tanya Karyosikun heran dan tidak mengerti.

"Begini, paman. Aku tidak ingin rumah itu kosong dan tidak terpelihara. Oleh karena itu, selama aku pergi, paman berdua tinggallah di rumahku. Sawah dan ladang kerjakanlah dan hasilnya untuk paman berdua. Rumah dan semua isinya pergunakanlah untuk keperluan hidup paman. Aku hanya ingin agar rumah itu, terpelihara dan rumah itu, Beserta sawah ladangnya, baru paman kembaliakn kalau aku membutuhkannya."

"Wah..., ini... bagaimana kami berani..."

Karyosikun berseru gugup.

"Siapa yang mau percaya kepada kami? Jangan-jangan kami akan dituduh merampas rumahmu, Bagus Budhi!"

"Jangan khawatir, paman karyo, marilah kita pergi ke rumah kepala dusun. Saya akan menyerahkan rumah dan sawah ladang kepadamu, disaksikan oleh kepala dusun."

Melihat Karyosikun dan isterinya masih meragu, Budhi lalu memegang tangan oarang itu dan diajaknya pergi ke rumah kepala dusun.

Kepala dusun Gedangan mengerti dan bahkan memuji tindakan Budhidharma itu.

Memang sebaiknya kalau anak itu hendak pergi mengikuti gurunya, rumah itu dan sawah ladangnya diserahkan kepada seorang yang dapat dipercaya untuk mengurusnya, menikmati hasil sawah ladang dan memelihara rumah agar tidak menjadi rusak.

Dan Karyosikun adalah orang yang dapat dipercaya untuk hal itu.

"Baiklah, kami yang menjadi saksinya dan engkau jangan khawatir kalau ada yang men-uduhmu yang bukan-bukan, Karyosikun."

Kata kepala dusun itu.

Suami isteri itu langsung saja diajak oleh Budhi untuk ikut dia ke rumahnya.

Setelah menyerahkan segala harta milik peninggalan orang tuanya, Budhi lalu pergi bersama Bhagawan Tejolelono, diantar sampai ke luar halaman oleh Karyosikun dan Sawiji.

Anak itu hanya membawa pakaian, dibuntal sehelai kain milik Ibunya.

Dan diapun membawa keris milik Ibunya.

Keris itulah yang oleh Ibunya dipakai melakukan perlawanan terhadap gerombolan Gagak Seto kemudian dipakai membunuh diri karena ia tidak mau tertangkap hidup-hidup oleh Klabangkoro.

Sambil melangkah di belakang Bhagawan tejolelono yang berjalan tanpa menoleh dan tanpa ragu-ragu bermacam kenangan menyelinap dalam kepala Budhidharma.

Bayangan rumahnya, lalu Ayah Ibunya, memenuhi benaknya.

Membayangkan kedua orang tuanya terkapar dengan mandi darah, membuat dia mengatupkan kedua bibirnya dan menggigit gigi sendiri.

Kemudian terbayanglah wajah yang amat dibencinya itu, wajah klabangkoro yang tinggi besar seperti raksasa bermuka hitam.

Selama hidupnya dia tidak akan pernah dapat melupakan wajah raksasa pembunh Ibunya itu.

Akan tetapi hatinya lebih sakit kalau dia mengingat bahwa Klabangkoro itu hanyalah seorang utusan saja dan pembunuh yang sebenarnya dari orang tuanya adalah yang mengutus Klabangkoro, Yaitu ketua perkumpulan Gagak Seto setelah dia dewasa dan kuat, dia pasti akan mencari perkumpulan di Gunung Anjasmoro itu, membunuh ketuanya dan membasmi perkumpulan itu sampai ke akar-akarnya.

Akan tetapi, teringat akan pesan yang terakhir, dia mengerutkan alisnya.

Sebelum Ibunya menghembuskan napas terakhir, dalam rangkulannya, Ibunya berpesan agar dia tidak membalas dendam.

Tidak membalas dendam?

Bagaimana mungkin itu?

Dia teringat ketika Ibunya memberi sebuah benda kepadanya.

Selama ini, benda itu disimpannya dan hampir dia melupakan benda itu.

Kini teriangat akan semua itu, dia mengambil benda itui dari kantung bajunya dan mengamatinya, sebuah benda kecil, dari perak, berbentuk seekor burung Gagak Putih!

"Perlihatkan ini kalau engkau tertangkap dan mereka tidak akan berani membunuhmu!"

Benda apakah ini?

Agaknya ada hubungannya dengan mereka yang menyerang dan membunuh Ayah bundanya.

Akan tetapi mengapa Ibunya memiliki benda itu daqn mengapa Ibunya tidak mempergunakannya untuk meyelamatkan nyawanya?

Dia menjadi bingung.

Tidak mengerti.

Kemudian dia menghela napas dan menyimpan kembali benda itu.

"Biarlah aku harus bersabar. Kelak kalau akan mencari perkumpulan Gagak Putih di Gua Tengkorak gunung anjasmoro, tetu akan mengetahui semua rahasia ini."

Budhidharma harus mengikuti Bhagawan Tejolelono, melakukan perjalan jauh menuju ke Gunung Kawi.

Setelah mendaki gunung itu akhirnya mereka tiba di sebuah di antara puncak-puncak di gunung itu, terdapat sebuah rumah kediaman Bhagawan Tejolelono di mana dia hidup sebagai seorang pertapa.

Mulai hari itu, tinggallah Budhidharma bersama Bhagawan Tejolelono di puncak Gunung Kawi Dengan tekun anak itu mulai mempelajari ilmu-ilmu dari pertapa yamh sakti itu, Dan seperti biasa ketiak masih tinggal dengan Ayah Ibunya, anak ini dengan rajin sekali bekerja di ladang untuk kebutuhan makan mereka berdua.

Sang Bhagawan merasa suka sekali kepada anak yang tahu diri dan amat rajin itu.

Makin berkembanglah perasaan sayang di hatinya terhadap anak itu dan diapun mencurahkan segala kemampuannya untuk mendidik Budhidharma dengan semua ilmu yang dikuasainya.

Di Puncak GunungAnjasmoro terdapat sebuah perkumpulan orang gagah bernama Perkumpulan Gagak Seto.

Perkumpulan ini merupakan perkumpulan orang gagah disegani orang-orang gagah senusantara, dan ditakuti orang-orang yang biasa melakukan kejahatan seperti para perampok, bajak sungai dan pencuri.

Orang-orang gagah dari Gagak Seto tidak pernah memberi ampun kepada mereka yang melakukan kejahatan.

Apa yang membuat perkumpulan Gagak Seto menjadi perkumpulan kuat yang disegani kawan ditakuti lawan?

Yalah karena ketuanya orang yang gagah perkasa, berilmu tinggi dan berwatak keras, adil dan pembasmi kejahatan.

Ketua itu seorang laki-laki tionggi besar yang sekarang telah berusia lima puluh tahun.

Seorang pria yang tidak dapat disebut tampan, bahkan segala yang ada padanya serba kasar dan besar.

Namun dia memiliki watak yang jantan dan ghagah perkasa.

Mula-mula dia membuka sebuah perguruan silat yang diberi nama Gagak Seto, diambil dari julukannya sendiri karena sejak muda rambutnya yang panjang berwarna putih sehingga dia mendapat julukan Gagak Seto.

Lama-kelamaan perkumpulan silat ini menjadi semakin besar dan menjadi perkumpulan orang gagah yang ternama, dengan anak buah atau murid tidak kurang dari 500 orang jumlahnya.

Ketua ini bernama Sudibyo, akan tetapi orang lebih mengenal nama julukannya, yaitu Gagak Seto.

Dia tinggal di sebuah bangunan besar dan dikelilingi banyak bangunan-bangunan kecil yang menjadi tempat tinggal para muridnya.

Puncak Anjasmoro yang menjadi pusat perkumpulan Gagak Seto ini sudah menjadi perkampungan yang cukup besar.

Pada suatu hari, Sudibyo meneriam kedatangan kembali Klabnagkoro, seorang di antara para muridnya yang paling tangguh.

Karena pentingnya tugas yang dilaksanakan oleh Klabangkoro, maka kedatangannya merupakan peristiwa penting bagi ketua Gagak Seto.

Dia menyuruh para murid lain menyingkkir sehingga tinggal dia sendiri yang berhadapan dengan muridnya itu.

Kedua orang pria yang bertubuh sama tinggi besarnya ini saling pandang dan dengan penuh ketegangan Sudibyo menegur muridnya.

"Bagaimana baritannya, Klabangkoro? Bagaimana hasil tugas yang kau laksanakan?"

"Bapa guru, sukar bukan main mengikuti jejek mereka karena mereka itu selalu berpindah-pindah. Akan tetapi, akhirnya dapat juga saya menemukan tempat persembunyian mereka di Bukit Batok dekat dengan dusun Gedangan."

Mendengar ini, Sudibyo terbelalak dan mencondongkan tubuhnya ke depan, memandang muridnya dengan sinar mata seolah hendak menelannya.

"Sudah dapat? Bagus! Lalu bagaimana... bagaimana selanjutnya? Berhasilkah engkau membunuh si keparat Margono?"

Dengan wajahnya yang hitam itu berseri gembira Klabangkoro berkata.

"Berkat pengestu Paduka saya telah berhasil membikin mampus keparat Margono itu, Bapa guru."

"Plakk...!"

Tangan yang lebar itu menepuk pahanya sendiri sehingga terdengar suara nyaring.

"Bagus! HA-ha-ha-ha, bagus sekali! Keparat Margono itu memang sudah layak mampus. Dia seoarang yang tidak mengenak budi, tidak mengenal susila dan merusak pagar ayu! Dan bagimana dengan ia? Bagaimana dengan Sawitri? Kenapa engkau tidak mengajak ia pulang bersamamu? Aku siap mengampuninya dan melupakan semua yang telah terjadi, di mana ia?"

"Ampun, Bapa. Ia... Ni Sawitri... ia juga tewas..."

Kata Klabangkoro dengan suara agak gugup. Sepasang mata yang besar itu terbelalak, sehingga sinarnya berapi, dan wajahnya yang gagah perkasa itu nampak pucat sekali.

"Apa...? Andika... Andika telah membunuh Ni Sawitri?"

"Tidak, Bapa, Mana saya berani membunuhnya? Seperti perintah Bapa, saya melaksanakan tugas, yaitu membunuh Margono dan membawa Ni Sawitri pulang. Saya, dibantu teman-teman, berhasil membunuh Margono. Ni Sawitri marah dan menyerang kami, akan tetapi kami berhasil meringkusnya. Saya telah merobohkannya dengan Pecut Dahono, akan tetapi ketika teman-teman hendak meringkusnya, Ni Sawitri menggunakan kerisnya sendiri untuk suduk sarira (bunuh diri dengan keris). Hamba tidak keburu mencegahnya dan iapun tewas di ujung kerisnya sendiri, Bapa Guru, Ampunkan saya karena saya sama sekali tidak menyangka ia akan melakukan suduk sarira sehingga tidak dapat mencegahnya."

Kepala yang rambutnya sudah putih itu menunduk dalam-dalam, agaknya untuk menyembunyikan air mata yang mengalir menuruni pipinya, Klabangkoro melanjutkan ceritanya, merasa lega bahwa gurunya tidak melanjutkan kemarahnnya.

Pada waktu itu, seorang bocah berusia sepuluh tahun menyerang kami.

Bocah itu adalah putera Ni Sawitri.

Karena kami tidak ingin kelak anak itu menimbulkan keributan, maka kami hendak membunuhnya pula.

Akan tetapi, muncul seorang Kakek yang sakti dan kami tak mampu menandinginya.

Terpaksalah kami meninggalkan mereka.

Akan tetapi agaknya Sudibyo tidak mendengarkan lagi, bahkan tubuhnya terkulai dan dia tergelimpang, roboh dari kursinya!

Tentu saja Klabangkoro terkejut bukan main.

Dia meneriaki anak buah Gagak Seto yang berlarian masuk dan beramai-ramai mereka mengangkat tubuh sang guru ke dalam.

Sejak saat itu Sudibyo jatuh sakit-sakitan dan dia selalu menyendiri dalam kamarnya.

Dia mengusir semua orang yang mencoba mendekati dan menghiburnya.

Sudibyo, ketua perkumpulan Gagak Seto dapat menguasai dirinya dan bangkit lagi dari tempat tidurnya.

Akan tetapi semenjak hari ia mendengar bahwa Ni Sawitri telah tewas, dia menjadi sakit-sakitan.

Tubuhnya yang tinggi besar itu menjadi kurus, mikanya semakin pucat dan tubuhnya lemah.

Dia tidak lagi bersemangat mengurus perkumpulan dan mengangkat Klabangkoro dan seorang murid lain bernama Mayangmurko untuk mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan perkumpulan Gagak Seto.

Ki Sudibyo sendiri lebih sering duduk bersemadhi di dalam kamarnya atau duduk termenung mengenangkan semua peristiwa masa lalu ketika Ni Sawitri masih menjadi isterinya.

Semua yang terjadi sepuluh tahun yang lalu itu terbayang seolah baru terjadi kemarin saja.

Ketika itu, sudah lama dia mendirikan perkumpulan Gagak Seto dan sudah menerima banyak murid yang mempelajari ilmu kanuragan.

Para muridnya bukan hanya kau m pria, karena ada pula beberapa orang murid wanita.

Pada waktu itu Ki Sudibyo adalah seorang pria yang berusia empat puluh tahun yang gagah perkasa ini memang belum pernah jatuh cinta.

Akan tetapi setelah dia menjadi guru dan juga ketua perkumpulan Gagak Seto.

Dia jatuh hati setengah mati kepada seorang muridnya sendiri dan waktu itu bukan lain adalah Ni Sawitri yang ketika itu berusia delapan belas tahun.

Bagaikan setangkai bunnga mawar, Ni Sawitri sedang mekar semerbak mengharum dan Ki Sudibyo menjadi seorang di antara para pria yang tergila-gila kepada Ni Sawitri.

Ki Sudibyo tidak membuang banyak waktu dan dia lalu meminang Ni Sawitri kepada Ibu gadis itu yang sudah menjadi janda.

Ibu janda itu tentu saja menjadi girang dan meneriama pinangan itu dengan tangan terbuka.

Ki Sudibyo terkenal sebagai seorang pria yang gagah perkasa dan suak menolong orang, disegani dan dihormati.

Tentu saja ia meneriam pinangan itu dengan bangga.

Pernikahan dilangsungkan dengan meriah.

Akan tetapi, kalau pengantin pria merasa berbahagia sekali dengan pernikahan itu, sebaliknya pengantin wanitanya merasa berduak walaupun ia tidak berani memperlihatkan kedukaan hatinya di depan gurunya yang kini menjadi suaminya itu.

Hal ini bukan karena pengantin pria itu kurang gagah atau kurang baik, sama sekali tidak.

Hanya karena Ni Sawitri telah menjalin hubungan dengan seorang saudara seperguruan yang bernama Margono, maka tentu saja pernikahannya itu menghancurkan hatinya.

Akan tetapi Ni Sawitri tidak berdaya.

Ibunya telah meneriama pinangan itu dan yang meminang adalah gurunya yang amat dihormatinya.

Mulailah Ni Sawitri hidup dalam keadaan tersiksa hatinya.

Ia menjadi isteri yang terhormat.

Semua murid menganggap nya sebagai Ibu guru yang patut dihormati.

Akan tetapi, setiap hari ia bertemu dengan Margono, bahkan berlatih ilmu kanuragan bersama pemuda yang dikasihinya itu.

Dan terjadilah peristiwa itu.

Setelah tiga bulan menjadi isteri Ki Sudibyo, pada suatu senja ketika secara kebetulan Ki Sudibyo berjalan-jalan memasuki taman, dia meliaht dari jauh betapa isteriny menangis terisak-isak bersandar di dada yang bidang dari Ki Margono yang merangkulnya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya Ki Sudibyo ketika melihat isterinya yang tercinta ber-pelukan dengan seorang muridnya.

Serasa akan meledak dadanya, dan seperti dibakar rasa hatinya.

Akan tetapi Ki Sudibyo adalah guru perkumpulan Gagak Seto dan dia menjaga kehormatannya.

Dia menahan diri sekuat mungkin, lalu dengan terhuyung seperti menderita luka hebat dia kembali ke dalam ruamahnya.

Dia merasa bingung sendiri.

Apa yang akan dilakukannya.

Sudah jelas bahwa Sawitri mengkhianatinya, menyeleweng.

Dan tahulah dia bahwa tentu sejak dahulu Ni Sawitri menjalin cinta kasih dengan Margono dan itulah yang membuatnya menyesal dan marah sekali.

Kalau saja Ni Sawitri menolak pinangannya karena sudah mempunyai seorang pilihan hati, tentu dia dapat memakluminya dan tidak akan memaksanya menjadi isterinya.

Akan tetapi sekarang, Sawitri telah menjadi isterinya, kenapa masih melanjutkan hubungan dengan pria lain?

Itu penyelewengan namanya, pengkhianatan dan merupakan dosa yang besar.

Dan Margono?

Si keparat itu telah berani menghina gurunya, menginjak-injak kehormatan gurunya!

Padahal, Sawitri dan Margono adalah murid-murid kesayangannya, merupakan dua orang murid yang terpandai di antara semua muridnya.

Hati Ki Sudibyo terbakar hangus!

Kebahagiaan yang baru dia nikmati selama tiga bulan itu kini telah hancur, bukan saja kebahagiaan itu lenyap, bahkan berubah bentuk menjadi siksaan batin yang hampir membuatnya menjadi gial.

Kalau menuruti panasnya hati, ingin dia seketiaka itu membunuh dua orang manusia yang dianggapnya tidak mengenal budi, rendah budi dan kotor itu.

Akan tetapi dia menjaga namanya, dan pula dia masih menaruh harapan tipis, harap-harap cemas barangkali Ni Sawitri akan memyadari kesalahannya dan dapat mengubah jalan hidupnya.

Tak lama kemudian dia melihat isterinya melangkah masuk.

Demikian lemah gemulai langkahnya ketiak memasuki ambang pntu.

Rambut yang hitam panjang itu yang dia tahu pasti harum semerbak dengan harum melati, keliahatan mengkilap dalam cuaca senja yang remang-remang itu.

Kulitnya yang lembut dan hangat itu juga nampak berkilauan.

Akan tetapi segera terbayang olehnya betapa rambut itu kusut karena bersandar di dalam rangkulan pria lain!

Dia merasa seolah mukanya dicoreng-moreng, perasaannya diinjak-injak.

Dadanya terasa panas sekali dan dia tidak mampu bertahan lagi.

"Diajeng Sawitri...!"

Dia memanggil dan suara panggilannya itu mengejutkan hati Sawitri.

Biasanya, guru nya yang kini menjadi suaminya itu kalau memanggil namanya, halus lembut dan penuh kasih sayang.

Akan tetapi mengapa panggilan itu sekarang terdengar demikian kaku dan nyaring?

"Ya, Kakang mas...!"

Ia menjawab dan dan memasuki kamar itu dengan jantung berdebar.

Ia melihat suaminya duduk bersila, tak bergerak seperti patung di atas lantai, di depan kedua kakinya, nampak sebatang keris telanjang.

Dalam keremangan di kamar itu, keris telanjang itu nampak mengeluarkan cahaya.

Inilah keris pusaka milik suaminya yang disebut Sang Megantoro!

Kenapa suaminya duduk bersama dengan keris pusaka itu telanjang di depannya?

Rasa takut meayap ke dalam hati Ni Sawitri ketiak perlahan-lahan ia duduk bersimpuh di dekat ki Sudibyo, di atas tikar yang digelar di lantai itu.

"Kakang mas memanggil aku...?"

Tanyanya lirih.

Sampai lama tidak terdengar jawaban.

Suasana semakin menegangkan sehingga Ni Sawitri seolah dapat mendengar degup jantungnya sendiri yang menembus kembennya.

Kemudian terdengar suara suaminya, suara yang dingin dan kaku sekali.

"Diajeng, sudah bertahun-tahun kau menjadi murid Ggak Seto selain ilmu kanuragan engkau juga mempelajari tentang nilai-nilai kegagahan. Katakan, diajeng, apa hukumannya bagi pengkhianat yang mengkhianati kepercayaan orang orang kepadanya? Apa hukumannya bagi seorang yang menginjak-injak kehormatan kita, seorang yang membalas madu kebaikan kita dengan racun kebusukan? Jawablah, diajeng."

Ni Sawitri merasa jantungnya berdebar tegang dan seluruh tubuhnya terasa gemetar.

"Kita... kita harus membunuhnya, Kakang Mas Sudibyo..."

"Bagus, engkau masih ingat akan nilai kehormatan itu. Dan sekarang, jawablah sejujur-nya. Apakah engkau mencintai aku?"

Sawitri terkejut sekali dan memandang ke arah wajah suaminya.

Suaminya tidak memandang kepadanya, akan tetapi melihat wajah suaminya itu dari samping saja sudah cukup menimbulkan kengerian di hatinya.

Wajah itu kaku dan dingin seperti arca besi, penuh kemarahan terpendam.

"Aku... tentu saja mencintaimu, Kakang Mas. Kenapa engkau tanyakan? Aku sudah menjadi isterimu, bukan? Itu saja sudah menandakan bahwa aku mencintaimu, Kakang Mas."

"Tidak ada madu semanis kata-kata bercumbu yang keluar dari bibir seorang wanita cantik, namun sayang, di situ pula bersarang kebohongan dan pengkhianatan."

Kata ki Sudibyo lirih tanpa menoleh.

"Kakang Mas...! Apa... apa... maksudmu...?"

Sawitri bertanya dengan suara gemetar. (Lanjut ke

Jilid 02) Asmara Dibalik Dendam Membara (Judul Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02

"Sudahlah, pergilah ke kamarmu, diajeng. Jangan terlalu lama di sini! Pergi, cepat!!"

Ni Sawitri menjadi pucat wajahnya.

Belum pernah ia mendengar suara suaminya membentak-bentak seperti itu, penuh kemarahan dan kebencian.

Sambil menahan tangisnya, iapun keluar dari kamar itu.

Perang hebat terjadi di hati akal pikiran Ki Sudibyo.

Segala macam perasaan teraduk menjadi satu dalam pikirannya.

Ada rasa kecewa, sedih, marah, dan cinta.

Kalau menuruti dorongan nafsu kemarahannya karena dia merasa ditipu, dikhianati, dilanggar kehormatannnya, ingin rasanya dia membunuh orang itu.

Akan tetapi perasaan cintanya kepada isterinya menjadi penghalang besar.

Dia terlalu mecintai osterinya dan tidak ingin membunuh isterinya, tidak ingin melihat isterinya menderita sengsara.

Setelah perang itu berkecamuk dalam hatinya selama semalam suntuk.

Menjelang pagi barulah dia mengambil keputusan yang harus dipilihnya pada saat terakhir nanti.

Dua keputusan itui adalah pertama .

Memaafkan mereka dengan menyadari bahwa Ni Sawitri tidak mencintainya melainkan mencintai Margono, maka lebih tepat kalau mereka menjadi suami isteri dan meninggalkan Anjasmoro.

Keputusan kedua, membunuh mereka berdua sebagai pelanggar-pelanggar kesusilaan dan pengkhianat.

Dia bangkit dari duduknya, menyarungkan keris pusaka Megantoro, lalu melangkah keluar dari dal;am sanggar pamujan.

Karena merasa dadanya sesak, dia lalu keluar dari dalam rumah.

Setibanya di halaman depan, dia merasa betapa angin sejuk menerpa wajah dan dadanya.

Segar rasanya seperti disiram air dingin.

Dia mengembangkan kedua lengannya sambil menghirup hawa sejuk itu sebanyaknya.

Kepalanya ditengadahkan.

Pagi masih remang-remang, bintang-bintang diangkasa masih tanpak.

Ayam jantan sedang berkokok dan dia mengenal suara Si Jagal, ayam jagonya.

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat.

"Siapa itu!"

Bentak Ki Sudibyo sambil memutar tubuh ke kiri. Bayangan laki-laki tinggi besar berusia tiga puluh tahun menghampirinya.

"Ah, Bapa Guru. Kebetulan sekali, saya memang sedangencari Bapa Guru untuk melaporkan sesuatu."

Katanya sambil memberi hormat.

"Hemm, kiranya engkau, Klabangkoro. Sepagi ini, apa yang hendak kau laporkan kepadaku? "Bapa, tadi saya melihat bayangan orang dua menyelinap keluar dari perkampungan kita. Karena curiga, saya lalu menghampiri, akan tetapidua bayangan itu bukan lain adalah adi Margono bersama... bersama..."

Raksasa tinggi besar itu agaknya takut untuk melanjutkan laporannya.

Api kemarahan yang tadinya sudah hampir padam itu mulai menyala lagi di dalam dada dan kepala Ki Sudibyo.

Tidak perlu dijelaskan lagi siapa yang melarikan diri bersama Margono itu.

Akan tetapi untuk mendapatkan keyakinan, dia membentak.

"Hayo cepat katakan, bersama siapa Mrgono melarikan diri!"

"Saya... saya takut... kalau bapa marah..."

"Kalau tidak kau katakan, aku bahkan akan marah sekali dan menghancurka kepalamu!"

Bentak Ki Sudibyo.

"Saya melihat dia bersama... Ni Sawitri, bapa..."

"Keparat!!"

Sudibyo melompat ke dalam rumah, mencari isterinya di dalam kamar-kamar rumah itu.

Tentu saja isterinya tidak ada, seperti yang sudah diduganya, dan diapun hanya inginmendapat kepastian saja.

Dia lari lagi keluar dan melihat Klabangkoro masih berdiri di depan pintu.

"Di mana kau melhat mereka? Tanyanya dengan suara tegas.

"Di sana, bapa. Mereka lari ke utara!"

Tubuh ketua Gagak Seto itu melesat ke arah utara dan kini keris Pusaka Megantoro telah terselip di pinggangnya.

Pusaka itu diambil ketika mencari isterinya k dalam rumah tadi.

Klabangkoro berdiri sambil menyeringai.

Hatinya juga terasa sakit ketika melihat Ni Sawiti bergandengan tangan dengan Margono dan keduanya berlari ke utara.

Sejak dahulupun dia tahu bahwa kedua adik seperguruannya itu saling mencintai.

Akan tetapi Ni Sawitri ditarik menjadi isteri guru mereka.

Dan dia hanya menjadi penonton yang iri hati.

Sudah lama dia menaruh hati kepada Ni Sawitri, namun tak pernah ditanggapi gadis itu sampai akhirnya ia diambil isteri oleh Ki Sudibyo.

Sekarang rasakanlah kalian semua!

Hatinya bersorak, karena bukan dia seoranglah yang menderita karena gadis itu.

Dengan hati panas terbakar Sudibyo melakukan pengejaran ke utara, namun dia tidak menemukan jejak dua orang yang melarikan diri itu.

Setelah mencari dan melakukan pengejaran sehari lamanya, akhirnya dia pulang denagn tangan dan hati hampa.

Dia mengutus Klabangkoro dan belasan orang murid lain untuk melakukan pengejaran dan pencarian, namun sampai bertahun-tahun mereka tidak pernah berhasil.

Ki Margono dan Ni Sawitri seperti lenyap ditelan bumi.

Kalau ada berita bahwa mereka berada di suatu tempat, cepat melakukan pengejaran, akan tetapi mereka sudah pergi lebih dulu.

Sepasang burung itu telah terbang pergi meninggalkan pohon sewaktu para pemburunya berindap datang dengan busur dan anak panah di tangan!

Bertahun-tahun pengejaran itu dilakukan dan akhirnya, pada hari itu Klabangkoro melaporkan bahwa muridnya telah berhasil membunuh Ki Margono.

Bahkan Ni Sawitri juga telah tewas membunuh diri!

Semua kenangan itu muncul dalam ingatan Ki Sudibyo seperti nonton sandiwara.

Berulang kali dia menghela napas.

Sebetulnya, dia tiadak menghendaki terbunuhnya Ki Margono, apa lagi sampai Ni Sawitri membunuh diri pula.

Akan tetapi perbuatan mereka berdua itu sungguh menyakitkan hatinya, memadamkan semua gairah hidup dan kegembiraannya, melenyapkan semua kebahagiaannya.

Dan kini setelah kedua orang itu tewas, tidak ada sedikitpun kepuasan terasa di hatinya.

Dia tidak menjadi bahagia karenanya, bahkan sebaliknya, dia menjadi semakin bersedih.

Kalau dia teringat akan saat-saat mesra penuh kasih sayang bersama isterinya, walaupun hanya sekitar tiga empat bulan yaitu sejak mereka menikah, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, Dia amat mencintai Ni Sawitri dan menurut perasaannya, Ni Sawitri juga amat mencintainya.

Mengapa lalu timbul persoalan dengan Ki Margono itu?

Dia merasa menyesal sakali harus membunuh mereka.

Penyesalan yang ditebusnya dengan kesehatannya yang makin memburuk.

Hanya demi kepentingan perkumpulan Gagak Seto, Ki Sudibyo masih mau hidup dan berusah mengatasi gangguan kesehatannya untuik memimpin perkumpulan itu.

Akan tetapi, semua urusan keluar dia serahkan kepada ua orang murid kepercayaannya, Yaitu Klabangkoro dan Mayangmurko.

Kalau saja dia mempunyai pandangan siapa yang pantas menggantikan kedudukannya sebagai ketua Gagak Seto, tentu hatinya akan terasa tenang.

Akan tetapi dia belum melihat adanya pengganti itu.

Klabangkoro terlalu kasar, sedangkan Mayangmurko memiliki kecondongan untuk berbuat culas dan licik.

Demikianlah, semenjak Klabangkoro memberitakan tentang kematian Margono dan Sawitri, kehidupan Ki Sudibyo seperti kosong dan tidak ada artinya lagi.

Dia telah banyak mengurung diri di dalam kamarnya, bersamadhi.

Usianya baru lima puluh tahun, akan tetapi rambutnya sudah putih semua dan wajahnya yang penuh keriputan mambuat dia nampak jauh lebih tua.

Urusan Gagak Seto dia serahkan kepada Klabangkoro dan Mayangmurko.

Sudibyo sama sekali tidak tahu bahwa setelah kini dia tidak lagi langsung memegang kemudi perkumpulannya, perkumpulan Gagak Seto mulai meninggalkan garis-garis yang telah di ditentukan.

Tadinya, perkumpulan Gagak Seto adalah perkumpulan orang gagah yang di segani perkumpulan orang gagah lainnya, dan ditakuti gerombolan-gerombolan yang menyusahkan rakyat.

Akan tetapi kini, tidak jarang anak buah Gagak Seto bahkan melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, mengambil milik orang yang kebetulan lewat dengan paksa, bahkan menculik wanita-wanita cantik.

Bukan para anak buahnya saja yang melakukan perbuatan maksiat, bahkan dua orang pemimpin mereka, Klabangkoro dan Mayangmurko, menerima ketika ada pendekatan dilakukan para pimpinan perkumpulan Jambuka Sakti (srigala sakti), sebuah perkumpulan lama dan besar dari segerombolan penjahat yang terkenal buas dan kejam.

Dan semua peristiwa yang terjadi di luar kamarnya ini sama sekali tidak diketahui oleh Ki Sudibyo yang hanya membiarkan dirinya tenggelam ke dalam duka nestapa.

Tidak jauh dari perkampungan Gagak Seto, kurang lebih sepuluh kilometer jauhnya, terdapat sebuah air terjun yang airnya jernih sekali dan air terjun itu membentuk sebuah telaga kecil sebelum air mengalir menjadi anak sungai dan menuruni dusun di kaki bukit.

Air terjun ini oleh rakyat setempat dinamakan Grojokan Kluwung (Air Terjun Pelangi)karena di situ sering muncul pelangi ketika uap air yang terjun ditembusi sinar matahari.

Pada suatu hari yang sunyi, Ki Sudibyo meninggalkan pondoknya dan seperti orang yang kehilangan semangat akhirnya tibalah ia di tepi gerojokan kluwung itu.

Sampi lama dia berdiri memandangi air yang terjun dan menimpa telaga dan dia membayangkan betapa dahulu, ketiak masih brepengantin, dia sering mandi di telaga itu bersama isterinya Ni Sawitri.

Seolah ada sesuatu yang mendatangkan rasa nyaman di hatinya ketika dia berada di tempat itu dan sejak hari itu, kurang lebih dua tahun semenjak ia menerima berita tentang kematian isterinya, Ki Sudibyo menemukan tempat baru untuk menghibur hatinya.

Hampir setiap hari dia pergi ke tempat itu dan duduk dekat air terjun, melamun dan menenggelamkan semangatnya bersama air yang terjun.

Sudah lebih dari satu bulan Ki Sudibyo ssetiap hari pergi keair terjun itu, bahkan pernah dia bermalam di situ, duduk bersila setengah tidur di bawah pohon beringin yang tumbuh di dekat air terjun.

Pada suatu pagi, ketiak dia sedang duduk melamun di bawah pohon, dua pasang mata mengintainya.

Pandang kedua pasang mata itu buas dan tajam, dan ternyata itu adalah dua pasang mata milik dua orang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang sedang mengintai dari balik semak-semak.

Dua orang laki-laki yang membawa keris telanjang di tangan dan kini setelah saling memberi isyarat dengan kedipan mata, keduanya bergerak perlahan menuju ke arah bawah pohon beringin di mana Ki Sudibyo masih duduk bersila.

Setelah dekat, seorang yang matanya agak juling bergerak lebih dulu.

Dengan tangan kanan memegang keris, dia melompat keluar dari balik semak-semak dan lari menghampiri Ki Sudibyo yang masih bersila dan seolah tidak tahu bahwa dirinya diserang orang.

Akan tetapi tentu saja ketua Gagak Seto itu sudah tahu dari tadi.

Seorang yang sudah dapat menangkap suaraning asepi (suara kesunyian)tentusaja suadh dapat membedakan suara yang tidak lajim dan Ki Sudibyo tadi sudah mendengar gerakan kedua orang ini ketika mengintai mendekatinya.

Ketika si mata juling menubruk dan menyerangnya dari belakang, mengjunjamkan keris ke arah punggungnya Ki Sudibyo merendahkan tubuh dengan membungkuk sehingga serangan tusukan keris itupun luput.

Dan ketiak tubuh orang itu terdorong hempir menabraknya, Ki Sudibyo cepat mengangkat tangan kanannya, menangkis lengan yang memegang keris dan sekali mengerahkan tenaga, tubuh si mata juling itu telah mencelat ke depan!

Akan tetapi si mat juling kiranya bukian penjahat sembarangan.

Tubuhnya yang terlontar itu membuat gerakn jungkir balik beberapa kali sehingga dia dapat turun ke atas kedua kakinya tidak sampai terbanting.

Sementar itu orang ke dua juga sudah menubruk dengan kerisnya, Akan tetapi, Ki Sudibyo kini sudah siap siaga.

Kaki yang tadinya di lipat bersila kini telah di bukanya dan sebelum penyerang itu mampu mendekat, kakinya sudah mencuat mengirim tendangan.

"Dukk!"

Orang yang kumisnya tebal itu menangkis tendangan dengan lengan kirinya, akan tetapi kekuatan tendang itu membuat dia terhuyung ke belakang.

Kini Ki Sudibyo bangkit berdiri dengan tenang dia memandang ke kanan kiri, ke arah kedua orang penyerang itu.

Dia tidak mengenal mereka, maka merasa heran mengapa mereka itu hendak membunuhnya.

"Ki sanak, kalian siapakah dan mengapa pula kalian menyerang saya tanpa sebab?"

Tanyanya dengan suara yang tenang berwibawa.

Dua orang itu melangkah maju dari kanan kiri dan memainkan keris dengan sigapnya.

Melihat gerakan keris mereka, Ki Sudibyo sebagai seorang pendekar besar yang berpengalaman lalu tersenyum.

"Hemm, kalau tidak salah kalian ini tentu Sepasang Keris Maut dari Nusa Barung. Kabarnya kalian pembunuh bayaran yang mahal. Siapakah sekali ini yang menyuruh kalian membunuh aku, dan dengan bayaran berapa mahalnya?"

"Ketua Gagak Seto, bersiaplah untuk mampus di tangan kami! Haiiiit...!"

Si mata juling sudah menerjang pula dari kanan.

Serangan mereka memang hebat sekali, gerakan mereka cepat dan keris yang menusukkan itu mengeluarkan bunyi mencicit tanda bahwa tangan yang menggerakkannya mengandung tenaga yang dasyat.

Namun dengan sigap pula Ki Sudibyo telah siap siaga.

Tidak lari dari serangan kanan kiri itu, akan tetapi setelah kedua penyerangnya tiba dekat, tubuhnya meloncat ke atas dan kedua kakinya di kembangkan menendang ke kanan kiri.

"Duuuk! Dukk!"

Kedua kaki itu dengan tepatnya mengenai ulu hati kedua orang penyerangnya sehingga dua orang itu terjengkang keras dan merasa dada mereka seperti ditumbuk alu besi dengan amat kuatnya.

Dua orang itu ternyata kebal juga.

Hanya sejenak mereka terjengkang dan terbanting terengah-engah akan tetapi mereka segera dapat bangkit kembali dan keduany menyerang lagi lebih buas.

Ki Sudibyo tahu bahwa dua orang itu hanya menjalankan tugas demi mencari upah besar, maka diapun tidak ingin membunuh mereka.

Ketika mereka datang dekat, dengan berapa langkah kaki saja dia telah membuat tusukan-tusukan keris mereka mengenai tempat kosong, kemudian kedua tangannya bergerak cepat sekali bagaikan sambaran kilat, ke arah kedua orang pengeroyoknya.

Akan tetapi dia membatasi tenaganya, hanya kurang lebih seperempat bagian tenaga saja yang dia pergunakan, akan tetapi dia menampar dengan aji Hasta Bajra (Tangan Kilat).

Ilmu pukulan hasta Bajra ini merupakan ilmu simpanan yang ampuh dari Ki Sudibyo dan biarpunhanya sebagian kecil saja dari aji ini dipergunakan, akan tetapi ketika tampatannya mengenai muka kedua orang lawannya, mereka terpelanting keras dan mengaduh-aduh.

"Aduhhh... tobatttt...!!"

Keduanya merangkak bangun lalu melarikan diri tanpa berani menoleh pula.

Ki Sudibyo menggosok kedua telapak tangannya yang mengandung hawa panas, lalu mengusap sedikit peluh dari lehernya dan duduk kembali bersila di dekat air mancur seolah tidak pernah terjadi sesuatu kepadanya.

Akan tetapi setelah duduk bersila kembali, Ki Sudibyo mengatur pernapasannya.

Makin yakinlah dia bahwa cara hidupnya yang terendam duka dan semenjak mendengar berita tentang tewasnya Sawitri mendatangkan pukulan yang amat hebat di dalam dadanya dan membuatnya lemah sekali.

Kemudian teringatlah dia.

Melihat tubuhnya yang lemah itu, agaknya dia tidak dapat mempertahankan nyawanya berusia panjang.

Dia tidak memikirkan diri sendiri.

Kematian bukan apa-apa baginya, bahkan membebaskannya dari pada duka.

Akan tetapi yang dipikirkan adalah perkumpulan Gagak Seto.

Siapa yang akan menggantikannya?

Dia tidak mempunyai keturunan dan juga tidak ada seorangpun muridnya, pria maupun wanita, yang pantas untuk dijadikan penggantinya.

Kalau Gagak Seto kelak dipimpin oleh seorang yang tidak luhur budinya, tentu akan berbahaya sekali dan dapat dibawa menyeleweng.

Tiba-tiba, ada gerakan di seberang danau kecil itu menarik perhatiannya.

Tadinya disangka seekor binatang yang bergerak di sana.

Akan tetapi ketika dia mengamati, ternyata bukan binatang, melainkan seorang anak perempuan.

Anak perempuan itu berpakaian compang-camping.

Tubuhnya hanya tertutup sehelai kain berkemben yang sudah roberk-robek, rambutnya yang panjang terurai lepas dan di bagian pundaknya kelihatan berlepotan darah.

Usia anak itu sekitar sepuluh tahun.

Jantung Ki Sudibyo berdebar tegang.

Anak itu berada di tebing, di atas danau yang berada di depannya itu.

Tidak kurang dari lima belas meter tingginya dan tebing-tebing itu8 penuh dengan batu-batu yang tajam.

Anak itu kini merangkak-rangkak, sikapnya ketakutan seperti hendak melarikan diri dari suatu yang ditakutinya.

"Heiii, hati-hati, engkau bisa jatuh!"

Teriak Ki Sudibyo. Akan tetapi peringatan itu terlambat sudah. Terdengar anak itu menjerit dan tubuhnya tergelincir jatuh ke bawah! "Byuuurrr...!! !"

Air telaga muncrat ke atas dan tubuh anak perempuan itu tertelan lenyap.

"Celaka...!"

Ki Sudibyo sudah cepat bangkit dan meloncat ketelaga, lalu berenang secepatnya ke arah jatuhnya anak tadi.

Di situ dia menyelam dan tak lama kemudian dia sudah muncul kembali sambil mengangkat tubuh anak perempuan itu dengan sebelah tangannya, sedangkan sedangkan dengan kakinya dan sebelah tangannya dia cepat berenang ke tepi danau.

Anak itu tidak terluka parah, keadaannya tidak berbahaya, hanya pingsan.

Setelah dirawat sebentar, anak itu siuman lalu menangis ketakutan.

"Diamlah, nini, jangan menangis. Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku yang telah menolongmu dari dalam telaga tadi. Tenaglah."

Anak itu memang tadinya menangis karena takut.

Mendengar ucapan itu, ia berhenti me-nangis, menurunkan kedua tangan dari depan mukanya dan kini sepasang mata memandang wajah Ki Sudibyo baru melihat kenyataan bahwa anak perempuan ini cantik sekali.

Kulitnya halus kuning, rambutnya panjang hitam subu, matanya bersinar-sinar seperti sepasang bintang kejora.

Hidungnya kecil mancung, bibirnya mungil dan manis sekali, seperti wajah puteri bangsawan.

"Benarkah, paman? Engkau... engkau bukan seperti mereka yang jahat. Mereka yang membunuh... ayahku...? "Gadis cilik itu agaknya baru teringat akan Ayah Ibunya. Ia lalu menangis memanggil-manggil nama Ayah Ibunya.

"Tenangkan hatimu, Nini. Aku bukan orang jahat dan aku akan membantu Ayah Ibumu kalau mereka terancam bahaya. Apakah yang telah terjadi dengan Ayah Ibumu? Siapakah mereka dan di mana mereka sekarang?"

Kembali anak itu berhenti menangis dan kini memandang kepada Ki Sudibyo dengan sinar mata penuh permohonan dan harapan.

"Paman, namaku adalah Niken Sasi"

Ki Sudibyo mendengarkan sambil mengobati luka di pundak anak itu dengan daun picisan dan widoro upas, karena hanya dua macam rempa-rempa itu yang bisa didapatkan di situ.

Akan tetapi obat ini cukup mujarap, menghentikan keluarnya darah dan mendatangkan rasa dingin sejuk pada bagian yang terluka.

Akan tetapi ketika anak itu melanjutkan penuturannya.

Ki Sudbyo makin tertarik, bahkan kini dia memandang dengan mata terbelalak.

"Ayahku adalah Raden Mas Rangsang dan Ibuku Dewi Muntari dan kami tinggal di Kota Raja..."

"Ayahmu Raden Mas Ramsang, mantu sang Prabu?"

Tanya Ki Sudibyo dengan hati kaget bukan main. Anak itu mengangguk.

"Ayah dan Ibu mengadakan tamasya di sekitar gunung Anjasmoro, diiringkan belasan orang pengawal. Akan tetapi di lerenga gunung kami diserang oleh puluhan orang penjahat... aku melihat Ayah roboh mandi darah... dan Ibu... ibuku dilarikan penjahat..."

Anak itu menangis lagi, teringat kepada orang tuanya.

"Jagat dewo Bathoro...!"

Ki Sudibyo berseru.

"Siapa berani mengganggu keluarga kerajaan Daha? Gusti Puteri, bagimana hal itu bisa terjadi? Bukankah ada belasan orang pengawal yang melinduangi Paduka sekeluarga?"

"Entahlah, para pengawal itu juga memberikan perlawanan, akan tetapi mereka segera melarikan diri meninggalkan Ayah seorang diri melawan penjahat. Akan tetapi sebelum itu, Ibuku menyuruh aku melarikan diri. Aku turun naik jurang, tubuhku luka-luka, pernah aku terguling ke dalam jurang. Untung tidak sampai mati... dan dan aku tiba di sini, tergelincir masuk danau... untung ada andika yang menyelamatkan aku, paman."

"Jangan khawatir, Gusti Puteri Paduka akan hamba antarkan kembali ke kotaraja dan tentu keluarga kerajaan akan mengirim pasukan untuk mencari Ibunda Paduka dan..."

"Jangan...! Ah, paman, kasihanilah aku, jangan bawa aku ke istana. Setelah Ayah meninggal dan Ibuku lenyap, aku tidak berani kembali ke istana. Jangan bawa aku ke sana, paman. Dan biarkan aku tinggal disini bersama paman...!"

Anak itu memegang tangan Ki Sudibyo dengan tangan gemetar ketakutan. Ki Sudibyo memandang heran.

"Harap Paduka jangan takut, tidak akan ada orang yang berani mengganggu Paduka, selama ada hamba di sini. Gusti puteri."

"Tidak, biarkan aku mati saja menyusul Ayahku kalau engkau akan mengantar akau kembali ke istana!"

Tentu saja Ki Sudibyo terkejut dan heran bukan main. Seorang cucu Sang Prabu Jayabaya tidak mau diantar kembali ke istana! Sungguh aneh sekali.

"Akan tetapi kenapa, Gusti? Kenapa Paduka tidak mau kembali ke istana?"

"Di sana tempat orang-orang jahat yang membenciku, yang membenci kami. Tidak, aku lebih senang tinggal di sini bersamamu, paman. Boleh, ya, paman Boleh, Ya?"

Suara anak itu demikian merengek manja sehingga Ki Sudibyo merasa tidak tega untuk membantah.

"Dn harap jangan sebut aku gusti puteri, jangan memberitahu kepada siapapun juga bahwa aku adalah cucu Eyang Prabu. Paman, aku ingin ikut paman, menjadi anak dusun biasa."

Ki Sudibyo mengangguk-angguk.

Tentu anak itu mempunyai alasan kuat sekali mengapa mengajukan permintaan aneh itu.

Biarlah untuk sementara dia tidak membantah karena anak ini agaknya menalami guncangan batin yang hebat.

"Baiklah, Niken Sasi, mari engkau kuantar pulang dulu. Engkau perlu beristirahat di rumah kami dan aku akan mencoba mencari Ibumu."

Karena anak ini masih gemetar tubuhnya dan masih amat lemah, Ki Sudibyo lalu memon-dongnya dan membawanya pulang.

Tentu saja para anggota dan murid Gagaki Seto merasa heran bukan main melihat ketua mereka pulang sambil memondong seorang anak perempuan yang agaknya pingsan atau tidur dalam pondongannya.

"Anak ini terpisah dari orang tuanya dan terjatuh ke dalam telaga. Coba tolong memberi kain kering kepadanya."

Ktanya kepada beberapa orang murid wanita. Anak itu segera dibaringkan ke atas dipan dan mendapat perawatan para murid wanita. Setelah Niken Sasi terbangun. Ki Sudibyo berkata dengan lembut kepadanya.

"Niken Sasi, engkau istirahat dulu bersama para muridku. Engkau akan aman di sini. Aku akan mencoba mencari Ibumu."

Anak perempuan itu mengangguk-angguk, memandang kepada empat wanita yang gagah yang berada di situ, lalu memegang tangan KI Sudibyo.

"Paman, janagn lama-lama, ya paman. Aku... aku takut kalau ditinggal paman..."

Ki Sudibyo merasa hatinya tertusuk rasa haru.

Gadis cilik ini agaknya jarang mendapatkan kasih sayang orang sehingga ia takut menghadapi orang-orang yang belum di kenalnya.

Gadis itu percaya kepadanya karena sudah terbukti tadi bahwa dia menolongnya.

"Jangan khawatir, Niken Sasi. Aku pergi takkan lama, dan tidak ada seorangpun di sini yang berani mengganggumu."

Katanya sambil mengelus rambut kepala anak itu.

Niken Sasi memandang kepadanya dengan mata yang bersinar-sinar kemudian mengangguk dengan punuh kepasrahan dan kepercayaan.

Ki Sudibyo melupakan keadaan tubuhnya yang tidak sehat, bahkan ketika dia menuruni lereng bukit Anjas noro, dia merasakan sesuatu kegembiraan baru dalam hatinya.

Dia seolah merasa seperti dahulu, di waktu kedukaan belum melanda hatinya, di waktu dia masih belum jatuh hati kepada Ni Sawitri, masih menjadi seorang pendekar yang suka melakukan perjalanan merantau seorang diri, menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadailan.

Dengan melakukan perjalanan cepat, sambil berlari cepat, Akhirnya tibalah dia di tempat yang diceritakan Niken Sasi tadi, di atas sebuah diantara lereng-lereng gunung Anjasmoro.

Dan tidak sukar baginya menemukan jenazah Ayah anak perempuan itu.

Hanya ada satu saja jenazah menggeletak di situ, maka tidak ragu lagi bahwa ini tentunya jenazah Raden Mas Ramsang, mantu Sang Prabu Jayabaya di daha.

Seorang laki-laki yang tampan dan matinya juga gagah, dengan tubuh penuh luka.

Dia merasa heran sekali bagaimana bangsawan muda ini dapat mati dikeroyok sedangkan para pengawalnya yang belasan orang banyaknya itu tidak seorangpun tewas.

Dan mengapa pula para pengawal yang melarikan diri itu lupa menyingkirkan jenazah bangsawan itu?

Melihat jenazah orang muda itu menggeletak di tempat sunyi, Ki Sudibyo merasa iba.

Kalau tidak diurusnya jenazah itu, tentu akan membusuk atau dimakan binatang buas.

Dia lalu menggali lubang di bawah pohon kenanga, dan dikuburnya jenazah itu dengan sederhana.

Kemudian, dia meletakkan sebuah batu sebesar gentong di atas kuburan sebagai tanda kalau-kalau kelak puteri Raden Mas Rangsang itu akan mencari kuburan Ayahnya.

Setelah selesai mengubur jenazah Raden Mas Rangsang dan hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap gerakan orang.

Ki Sudibyo berdiri tegak dengan kaki terpentang.

Dia tadi menanggalkan bajunya ketika menggali lubang dan menguburkan jenazah itu, dan kini bajunya itu masih belum dipakainya kembali, masih tergantung di pundak kirinya.

Dia hanya memakai celana hitam sebatas lutut dan kain yang dipakainya dicincangkan ke atas.

Rambut yang panjang dan bercampur putih itu diikatnya dengan kain hitam pula dan selebihnya, badannya tidak mengenakan pakaian lain.

Tubuh itu nampak jangkung dan agak kurus, namun ketika di berdiri, dai nampak kokoh dan anggun penuh wibawa.

Keris pusaka Sang Megantoro terselip di ikat pinggangnya.

Tubuhnya yang berdiri tegak itu sama sekali tidak bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak perlahan, melirik ke kanan kiri penuh kewaspadaan.

Dia bagaikan Sang Bima sena sedang menghadapi bahaya, begitu tenang, santai penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

Tak lama kemudian nampak bermunculan belasan orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan mereka memegang sebatang golok telanjang yang berkilauan saking tajamnya.

Bentuk golok ini semua sama, melengkung dan gagangnya terukir kepala anjing srigala, dengan ronce merah sebagai lidah kepala srigala itu.

Dengan sikap beringas dan penuh ancaman, tiga belas orang itu sudah mengepung dan mengitari kI Sudibyo.

"Keparat"

Terdengar Ki Sudibyo berkata dengan suaranya yang dalam parau dan berpengaruh.

"Gerombolan anjing dari mana berani mengacau daerah Anjasmoro yang di kuasai Gagak Seto?"

Tiga belas orang itu, seperti menanti sebuah komando, tertawa bergelak mendengar ucapan Ki Sudibyo itu. Dan berkat dengan suara garang.

"Bagus Ki Sudibyo. Engkau hendak menggertak kami dengan dengan nama Gagak Seto yang sebentar lagi akan kami hancurkan? Kami memang membiarkan engkau mengburkan jenazah itu, setelah itu engkau sendiri yang akan menggantikan jenazah itu, menggeletak di sini menanti datangnya binatang buas yang akan memangsamu, ha-ha-ha!"

Wajah Ki Sudibyo menjadi merah karena marahnya.

"Bukankah kalian ini anak buah kelom-pok Jembuka Sakti (Srigala Sakti) dari Lereng Bromo? Setahuku ketua kalian, Brotokeling, tidak pernah memusuhi Gagak Seto! Apa yang kalian kehendaki?"

"Kami menghendaki nyawamu"

Bentak tiga belas orang itu dan mereka sudah menerjang maju dari segala jurusan, menyerang dengan golok mereka.

Ki Sudibyo merasa heran, akan tetapi juga marah sekali.

Baru saja, dia juga diserang oleh dua orang yang dikenalnya sebagai Sepasang Keris Maut dari Nusa barung, diserang tanpa sebab oleh dua orang tokoh yang dikenalnya sebagai pembunuh-pembunuh bayaran itu.

Jelasa ada orang yang menghendaki kematiannya dan kenyewa dua orang itu.

Untung dia dapat menandingi mereka dan membuat mereka melarikan diri.

Dan sekarang tahu-tahu geroembolan.

Jambuka Sakti dari lereng Bromo mengepung dan menyerangnya.

Padahal, walaupun mungkin ketua mereka, Brotokeling yang terkenal jagoan, menganggap dia sebagai saingan.

Dia tidak pernah bergaul dengan kelompok seperti Jambuka Sakti itu, karena dia tahu bahwa perkumpulan itu adalh perkumpulan para penjahat yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan.

Akan tetapi, biarpun jalan mereka bersimpang, KI Sudibyo merasa belum pernah bentrok dengan mereka.

Melihat gerakan tiga belas orang itu ketika memainkan golok, diam-diam Ki Sudibyo terkejut.

Ternyat bukan anak buah rendahan yang datang menyerangnya, tentu merupakan murid-murid pilihan karena gerakan golok mereka cukup tangkas, cepat dan bertenaga sehingga terdengar suara berdesing berbisik ketika mereka semua menggerakkan golok.

Tiga batang golok menyerang dari arah belakang.

Ki Sudibyo menggerakkan tangan kirinya yang memegang baju hitamnya sambil memutar tubuh.

Baju itu terkembang dan dan menangkis tiga batang golok.

Para penyerang itu terkejut bukan main karena tangkisan baju itu membuat golok mereka terpental dan kalau mereka tidak cepat melompat ke belakang, tentu mereka akan kena hantaman baju yang ketika digerakkan oleh Ki Sudibyo berubah menjadi senjata yang amat kuat.

Belasan orang itu menjadi marah dan menyerang serentak.

Ki Sudibyo maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya, maka sambil memutar baju hitamnya dengan tangan kiri, diapun mencabut keris pusakanya.

Ketika dia menggerakkan keris, nampak seperti ada awan aatau uap putih menyambar dan terdengar pekik seorang pengeroyok yang roboh dengan tangan berdarah.

Kiranya Goloknya tadi patah dan terlempar ketika bertemu dengan keris dan tangannyapun terluka.

KI Sudibyo terus mengamuk dengankeris.

Sepak terjangnya mengerikan sekali.

Dia seperti Bimasena mengamuk dengan Pancanaka-nya.

Setiap kali ada kilatan keris Megantoro menyambar, tentu ada seorang pengeroyok yang roboh!

Dalam waktu tak lama, sudah ada enam orang pengeroyok yang roboh, baik oleh kerisnya, maupun hantaman baju hitamnya.

Para pengeroyok itu agaknya maklum bahwa mereka tidak akan menang, maka sambil menyeret tubuh kawan-kawan yang terluka merekapun melarikan diri dari situ.

Ki Sudibyo masih berdiri tegak membiarkan mereka pergi melarikan diri.

Tubuhnya mengkilap oleh keringat dan biarpun nampaknya dia tenag saja akan tetapi dari dadanya yang kembang kempis, perutanya yang naik turun dapat diketahui bahwa pendekar perkasa ini terengah-engah melalui hidungnya.

Dia memejamkan kedua matanya dan setelah pernapasannya biasa kembali, barulah dia mengebut-ngebutkan bajunya dan mengenakan baju itu setelah menempelkan keris pada dahi dan dadanya lalu menyarungkannya.

Dia menahan rasa nyeri pada dadanya.

Aku harus menjauhkan diri dari perkelahian, pikirnya.

Kalau dia bertemu dan bertanding dengan lawan tangguh, dia bisa celaka.

Padahal dalam keadaan biasa belasan orang tadi sama sekali tidak ada arti baginya.

Tubuhnya lemah sekali.

Setiap kali mengerahkan tenaga sakti, tentu dadanya terasa nyeri dan pernapasannya memburu dan tertekan.

Akan tetapi Ki Sudibyo masih mempertahankan diri dan dia melanjutkan usahanya mencari Dewi Muntari, Ibu Niken Sasiyang menurut anak perempuan itu katanya ditangkap dan dialrikan diri penjahat.

Akan tetapi sampai hari menjadi sore, dia tidak berhasil menemukan jejak wanita itu.

Apakah Dewi Muntari ditangkap oleh gerombolan Jambul Sakti?

Aku akan mengirim utusan dan minta dengan hormat kepada Ki Brotokeling agar membebaskannya, kalau benar wanita itu ditawannya.

Tentu Brotokeling masih mau memandang kepadanya untuk memnuhi permintaannya.

Kalau permintaannya ditolak, hemm, bagaimana nanti sajalah.

Akhirnya dia kembali ke Anjasmoro.

Kalau menuruti kata hatinya, andaikat dia seperti dahulu yang berwatak penuh semangat dan tubuhnnya tidak selemah ini, dia tentu langsung saja pergi mengunjungi Brotokeling dilereng Bromo!

Setibanya di Anjasmoro, dia disambut oleh Niken Sasi yang berlari keluar menyambutnya.

Diam-diam Ki Sudibyo kagum sekali.

Anak itu kini sudah penuh semangat, tidak seperti ketika ditinggalkan.

Ia sudah meniru dandanan para murid Gagak Seto, ringkas dengan celana, kain dan baju hitam, rambutnya diikat sutera merah.

Nampak cantik manis dan gagah sekali.

"Paman, bagaimana, paman? Sudahkah paman dapat menemukan Ibuku?"

Ki Sudibyo memegang tangan kanan anak itu dan hatinya sendiri merasa tertegun.

Kenapa jantungnya berdebar begini tegang dan mengapa ada perasaan gembira dan bahagia menyelinap di hatinya ketiak melihat anak itu datang menyambutnya dan ketika tanganya memgang dan menggandeng tangan kecil itu?

Dia menarik Niken Sasi ke dalam rumah sambil berkata singkat.

"Niken mari kita bicara di dalam."

Anak ini rupanya cerdik pula.

I teringat bahwa ia ingin menyembunyikan siapa dirinya yang sebetulnya, oleh karena itu, iapun tidak bertanya lagi dan mengikuti ketua Gagak Seto itu masuk ke ruangan dalam.

Setelah tiba di ruanan dalam, kI Sudibyo membiarkan para muridnya yang bertugas melayaninya, menyediakan minum dan mengganti pakaiannya.

Setelah selesai, dia lalu memberi isyarat kepada mereka untuk meninggalkan dia berdua saja dengan Niken Sasi.

"Niken Sasi, aku telah menemukan jenazah Ayahmu dan telah menguburkannya dengan baik. Kuberi tanda dengan batu agar kelak engkau dapat mencari kuburan Ayahmu itu."

Pendekar itu lalu diam biarpun dia maklum betapa anak itu menanti kelanjutan ceritanya, terutama mengenai Ibunya.

Setelah agak lama Ki Sudibyo berdiam diri, Niken lalu bertanya dengan suara yang bening.

"Dan bagaimana dengan Ibuku, paman? Sudahkah paman menemukannya dan bagimana keadaan Ibuku?"

Ki Sudibyo menghela napas panjang lalu memandang kepada anak itu dan menggeleng kepalanya.

"Sayang sekali aku tidak berhasil menemukan jejak Ibumu, Niken."

Dia melihat betapa sinar penuh duka dan kecewa menyelubungi pandangan mata nak itu, maka dia cepat berkat.

"Akan tetapi jangan putus asa dan jangan khawatir, Niken. Sekarang juga aku akan mengutus anak buahku untuk mencari di seluruh pelosok Anjasmoro ini.

"Mudah-mudahan saja anak buahku akan berhasil menemukan Ibumu."

"Ah, terima kasih, paman!"

Kata Niken dengan girang.

"Aku telah menyusahkan paman. Aku hanya ingin memperoleh kepastian tentang keadaan Ibuku paman."

"Aku mengerti, Niken."

Ki Sudibyo segera bertepuk tangan dan dua orang muridnya muncul."

Panggil Klabangkoro dan Mayangmurko ke sini."

Murid-murid wanita itu keluar dan taklama kemudian muncullah dua orang laki-laki yang selain menjadi murid juga menjadi wakil ketua itu selama bertahun-tahun ini.

Selain orang-orang muda dari dusun yang masuk menjadi murid Gagak Seto mempelajari ilmu kanuragan juga terdapat banyak sekali gerombolan penjahat yang telah ditaklukan Gagak Seto kemudian menggabungkan diri dengan perkumpulan ini setelah bersumpah untuk mengubah jalan hidup mereka.

Di antara para gerombolan itu terdapat Klabangkoro dan Mayangmurko ini.

Dan Ki Sudibyo merasa puas melihat keduanya karena selama ini memperlihatkan sikap yang baik, taat dan setia kepadanya.

Karena itu, mengingat bahwa di antara para muridnya, kedua orang ini yang paling tangguh ilmunya, dia mengangkat keduanya menjadi wakilnya.

Setelah dua orang itu masuk ke ruangan itu, mereka memberi hormat kepada Ki Sudibyo dan Klabangkoro bertanya.

"Bapa guru memanggil kami? Ada petunjuk apakah, Bapa guru?"

"Klabangkoro dan Mayangmurko, engkau bawalah anak buah secukupnya dan carilah seorang wanita, Ibu anak ini yang kabarnya ditangkap penjahat. Carilah ia sampai ketemu atau setidaknya sampai mendengar di mana ia berada dan bagaimana keadaan. Juga, perlu kalian ke lereng Bromo, menemui Ki Brotokeling."

"Ki Brotokeling ketua Jambuka Sakti, Bapa guru?"

Klabangkoro bertaya dan matanya yang lebar itu terbelalak.

"Benar. Kalian pergilah menghadap Brotokeling dan berikan suratku kepadanya, minta balasan."

"Baik, Bapa guru. Kapan kami berdua berangkat?"

"Sekarang juga. Bawa perbekalan secukupnya."

Dua orang pembantu itu memberi hormat dan keluar dari rumah itu untuk melaksanakan tugas mereka. Setelah kedua orang itu pergi Ki Sudibyo menoleh kepada Niken Sasi sambil tersenyum.

"Nah, engkau mendengar sendiri. Niken. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencari Ibummu."

Niken Sasi tiba-tiba berlutut dan menyembah kepada pendekar itu.

Ki Sudibyo terkejut sekali dan cepat-cepat dia mengangkat anak itu bangun.

Anak perempuan itu adalah seorang puteri cucu Sang Prabu Jayabaya, bagaimana boleh menyembahnya?

"Ahhh, Niken!

Apa yang kau lakukan ini?

Engkau tidak boleh memberi hormat seperti itu kepadaku.

Ingat, engkau seorang puteri!"

"Paman. Harap jangan sebut itu lagi. Paman sudah berjanji akan merahasiakan asal-usul dariku."

Kata anak itu memperingatkan.

"Biarlah aku menjadi muridmu, paman. Perkenankan aku menyebut paman sebagai bapa guru, seperti para kakak yang berada di sini. Aku ingin mempelajari ilmu kanuragan agar kelak kemudian hari aku dapat..."

"Membalas dendam?"

Ki Sudibyo menyambung.

"Tidak, Bapa. Membalas kepad siapa? Aku akan mempergunakan kepandaianku untuk menentang para penjahat, membela kau m lemah tertindas, mempertahankan kebenaran dan keadilan!"

Sudibyo tersenyum.

Dia memang sudah merasa suka sekali kepada anak perempuan ini.

Merasa iba dan juga kagum dan dua perasaan ini berkembang menjadi rasa kasih sayang.

Kemudian dia teringat.

Sudah lama dia merindukan seorang murid yang baik, seorang murid yang dapat dia wariskan seluruh ilmunya, seorang murid yang kelak akan menggantikan dia memimpin Gagak Seto, yang akan mengangkat tinggi namanya dan nama Gagak Seto.

Mengapa tidak?

Agaknya Niken Sasi memiliki bakat yang baik dan anak ini memiliki ketabahan, keberanian dan semangat.

Hal ini tidak mengherankan karena di dalam tubuhnya masih mengalir darah bangsawan tinggi, tarahing kusumo rembesing madu.

Keturunan Sang Prabu Jayabaya, seorang raja yang sakti mandraguna dan arif bijaksana.

Tentun saja keturunannya, biarpun wanita, bukan orang biasa!

"Baiklah, Nini!

Baiklah, dengan bangga dan girang sekali aku menerima permintaanmu dan mulai saat ini, engkau menjadi muridku!

Engkau rajinlah belajar dan bersiaplah, niken, karena aku, gurumu akan mengajarkan semua ilmu yang kukuasai kepadamu, yang tak pernah kuajarkan kepada murid lain.

Akan tetapi, ada satu hal yang ingin sekali kuketahui.

Mengapa engkau tidak ingin kembali ke istana, di mana terdapat keluarga istana, keluargamu?

Padahal, semestinya, aku membawamu ke istana dan di sana engkau akan diteriam dengan baik, bahkan Gusti Prabu tentu akan berusaha mencari Ibumu.

Nah ceritakanlah kenapa engkau hendak menyembunyikan dirimu dan tidak ingin kembali ke istana?"

Anak itu mengerutkan alisnya, menghela napas beberapa kali kemudian berkata.

"Sebetulnya tidak baik aku menceritakan semua ini kepadamu, paman. Akan tetapi kalau tidak aku ceritakan tentu paman bertanya-tanya. Baiklah, terus terang saja aku benci hidup di dalam istana, paman!"

"Eh, kenapa? Bukankah eyangmu Sang Prabu Jayabaya adalah seorang raja yang agung biantara dan sakti mandraguna, juga arif bijaksana?"

"Memang benar, akan tetapi beliau selalu sibuk dengan pekerjaan dan dikelilingi oleh para penjilat yang kesemuanya memakai bermacam-macam kedok."

"Ehh? , Memakai kedok?"

"Benar, paman. Memang tidak ada yang melihatnya kecuali aku. Aku melihatnya betapa muka mereka selau dipasangi kedok kalau mereka menghadap Eyang Prabu. Dan dengan kedok itu mereka bersikap manis dan baik, dan bermuka-muka menjilat-jilat. kau tahu, paman, di istana aku selalu menerima penghinaan dan cemohan. Aku dikatakan gadis dusun, darah petani sama sekali tidak mempunyai darah bangsawan. Katanya, Eyang puteri hanya anak pendeta, sedangkan Ayahku juga hanya seorang biasa, bukan bangsawan, hanya seorang perwira muda yang karena jasa-jasanya lalu dinikahkan dengan Ibuku. Katanya aku bocah dusun. Tidak, aku tidak sudi kembali ke istana. Bahkan sebelum meninggal dunia, Ayah seringkali bicara dengan Ibu tentang keinginannya pindah keluar istana. Aku lebih suka di isni, menjadi gadis petani, paman."

Ki Sudibyo menghela napas panjang.

Gadis ini masih kecil akan tetapi sudah mempunyai perasaan yang halus, memiliki harga diri yang tinggi dan dia pun diam-diam terkejut, tidak mengira bahwa di dalam istana, di mana tinggal keluarga bangsawan tertinggi yang penuh dengan tata-susila dan kebudayaan, Ternyata terdapat perasaan iri hati dan persaingan, bahkan seperti kata Niken Sasi, menjadi sarangnya para penjilat yang memakai topeng palsu!

Dan murid barunya ini, Niken Sasi yang baru berusia sepuluh tahun, ternyata telah mampu melihat topeng-topeng palsu yang dipakai manusia.

Hal ini sungguh merupakan suatu kewaspadaan yang luar biasa bagi seorang anak sekecil itu.

Maka mulai hari itu dia menggembleng anak itu dengan penuh kesunguhan hati, dengan tekun dan rahasia sehingga para murid lain tidak tahu bahwa baru sekali ini guru mereka menurunkan ilmu-ilmunya yang hebat kepada seorang murid.

Karena mengira bahwa Niken sasi juga hanya menerima pelajaran ilmu kanuragan seperti yang mereka pelajari pula, maka bahkan Klabangkoro dan Mayangmurko tidak terlalu memperdulikan bocah itu.

Apa sesungguhnya yang terjadi dengan Dewi Muntari, isteri Raden Mas Rangsang dan Ibu Niken Sasi itu?

Dewi Muntari adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik jelita dan nampak jauh lebih muda dari usia yang sebnarnya.

Bagaikan buah, ia sedang masak-masaknya.

Wajahnya yang bulat telur itu berdagu runcing manis.

Kulit nya putih kemerahan seperti kulit bayi.

Rambutnya hitam lebat dan panjang iakl mayang, ngandan-andan.

Alisnya hitam kecil melengkung menjaga sepasang mata yang pandanganya sayu, sepasang mata yang jeli dan kedua ujung pelupuk mata agak menjungkat ke atas sehingga mata itu nampak indah menggairahkan.

Hidungnya kecil mancung dan mulutnya juga kecil, lebar sedikit saja dari hidungnya, dengan bibir yang selalu segar merah basah.

Sungguh Dewi Muntari adalah seorang wanita muda yang cantik jelita.

Kecantikan selalu mendatangkan berkah.

Sejak masih perawan tanggung, Dewi Muntari sudah menderita karena kecantikan wajahnya.

Para puteri istana lainnya merasa iri hati kepadanya.

Padahal Dewi Muntari berwatak baik, rendah hati dan juga pandai membawa diri.

Iapun menyadari bahwa dari pihak Ibu, ia hanyalah keturunan sorang pertapa sederhana yang hidup melarat di puncak gunung.

Ibu kandungnya puteri seorang pertapa, bahkan Ibunya tidak sempat diboyong sebagai selir oleh Sang Prabu Jayabaya.

Ibunya telah meninggal dunia di tempat pertapaan kakeknya, dan ketika dia berusia lima belas tahun, ia diantar kakeknya menghadap Sang Prabu Jayabaya.

Ia lalau diakui oleh Sribaginda dan mulai saat itulah ia hidup di istana sebagai puteri raja.

Akan tetapi, hal ini mendatangkan iri dalam hati para puteri lainnya.

Apa lagi Dewi Muntari demikian cantik sehingga hampir semua pria muda di lingkungan istana memuji-muji kecantikannya.

Empat tahun saja Muntari hidup sebagai puteri raja.

Seorang perwira muda bernama Rangsang berjasa membasmi gerombolan pengacau di sebelah barat Kota Raja.

Ramsang menerima anugerah dan di jodohkan dengan Dewi Muntari.

Hal inipun merupakan hasil siasat para saingan Muntari yang melalui penasihat raja melaksanakan dendamnya kepada Muntari agar gadis ini menikah dengan Ramsang dan tidak lagi menjadi saingan dalam istana!

Dewi Muntari adalah seorang puteri yang setia dan taaat kepada Sribaginda Raja.

Ia sama sekali tidak memperlihatkan sikap menentang ketika soal perjodohan disampaikan padanya.

Ia percaya sepenuhnya kepada Ayahnya dan ia yakin tentu selalu Ayahnyamenghendaki hal yang terbaik baginya.

Dan kenyataannya memang demikianlah.

Ternyata suaminya yang kini mendapat sebutan Raden Mas Rangsang itu adalah seorang pemuda yang baik hati, berwajah tampan dan gagah perkasa.

Pendeknya seorang satria sejati!

Dengan mudah Muntari dapat jatuh cinta kepada suaminya dan mereka hidup berbahagia.

Sang Prabu Jayabaya yang suka menyayang Muntari kerena puterinya ini sudah kehilangan Ibu dan sejak kecil hidup sebagai bocah petani di pegunungan, menahan puterinya itu dan membolehkan menempati beberapa ruangan di dalam istana bersama suaminya.

Suami isteri yang saling mencintai itu setahun kemudian mendapatkan seorang anak perempuan yang mereka beri nama Niken Sasi.

Penderitaan yang dirasakan Dewi Muntari karena kecantikannya, ternyata dirasakan pula oleh Niken Sasi yang sejak kecil sudah dapat merasakan hal ini.

Anak yang mungil ini disayang oleh kakeknya, dan banyak pula yang menyayangnya, dan hal ini mendatangkan rasa iri dan dengki kepada mereka yang membenci Dewi Muntari.

Inilah sebabnya Niken Sasi merasa tidak kerasan tinggal di dalam istana.

Ia seringkali mendapat makian dan ejekan yang menghina dari para puteri lain.

Dewi Muntari memang merencanakan untuk pindah dan meninggalkan istana, akan tetapi rencana ini tidak pernah dapat terlaksana karena Sang Prabu Jayabaya menyayang keluarga ini dan menahannya.

Suami isteri ini tentu saja tidak berani berterus terang kepada Sang Prabu Jayabaya tentang permusuhan yang mereka hadapi, karena pelaporan seperti ini akan mendatangkan kesan buruk kepada mereka sendiri.

Demikianlah, uantuk menghibur hati mereka ketika Niken Sasi sudah berusia sepuluh tahun, Raden Mas Rangsang mohon ijin kepada Sang Prabu Jayabaya untuk berpesiar bersama anak isterinya.

Dia diijinkan dan disuruh membawa pasukan pengawal.

Akan tetapi, agar tidak menimbulkan iri kepada Pangeran lainnya yang juga memandang rendah kepadanya, Raden Mas Ramsang hanya membawa dua belas orang perajurit pengawal.

Ketika pada pagi hari itu mereka tiba di penggunungan Anjasmoro, mereka menikmati keindahan gunung itu.

Tiba-tiba bermunculan puluhan orang.

Tidak kurang dari lima puluh orang mengepung mereka dan tanpa banyak cakap lagi mereka menyerang Raden Mas Ramsang.

Tentu saja panglima muda ini mengamuk untuk mempertahankan diri dan membela anak isterinya.

Juga selosin orang pengawalnya nampak menyambut serangan puluhan orang itu.

Mungkin karena terdesak oleh jumlah lawan yang jauh lebih banyak, dua belas perajurit dah inipun mundur dan akhirnya melarikan diri.

Tinggal Raden Mas Rangsang yang masih mengamuk dengan kerisnya.

Hebat memang sepak terjang panglima muda ini.

Bagaikan seekor singa yang membela anak isterinya dia berloncatan dan berkelebatan dengan cepat dan tangkas.

Tidak kurang dari sepuluh orang sudah roboh terkena tikaman kerisnya, hantaman tangan kirinya atau tendangan kakinya.

Akan tetapi, betapapun kuatnya, dia hanya seorang diri.

Bagaimana mungkin dapat melawan puluhan orang lawan yang kesemuanya jelas merupakan orang yang sudah biasa berkelahi?

Raden Mas Ramsang yang telah mendapat beberapa luka di tubuhnya, meneriaki isterinya agar membawa lari Niken Sasi.

"Diajeng, larilah! Bawa anak kita berlari...!"

Dia berteriak, akan tetapi terpelanting ketika sebatang golok menyerempet pundak kirinya.

"Kakang Mas...!"

Dewi Muntari menjerit melihat suaminya roboh. Ia mendorong punggung puterinya.

"Niken larilah! Cepat!!"

Didorong sampai terhuyung oleh Ibunya dan mendengar Ibunya berteriak agar ia melarikan diri, Niken Sasi yang biasanya taat kepada Ibunya itu, kini menanatinya dan larinya anak inipun menantinya, dan larilah anak ini tunggang langgang.

Sang Ibu, bagaikan seekor singa betina, menerjang ke depan dengan sebatang keris kecil.

Dengan kerisnya itu ia berhasil merobohkan dua orang pengeroyok.

Akan tetapi tusukan kerisnya yang kedua itu terselip di antara tualang iga lawan dan sukar dicabutnya kembali, dan pada saat itu, Sebuah tangan yang besar menangkap pergelangan tangannya, memutar pergelangan tangan itu sehingga ia terpaksa melepaskan kerisnya.

Pada saat itu, tubuhnya sudah ditelikung dan dipondong seorang pria tinggi besar yang tertawa bergelak sambil memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Raden Mas Ramsang.

Biarpun luka-luka di tubuhnya sudah membuat dia mandi darah tenaganya hampir habis, akan tetapi melihat isterinya dipondong seorang penjahat, Raden Mas Ramsang mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau dan diapun melompat maju untuk menyerang Si tinggi besar yang memondong isterinya.

Akan tetapi dia disambut oleh lima orang yang menggerakkan golok mereka.

Kerisnya dapat merobohkan seorang lawan, akan tetapi dia sendiri roboh dengan dada dan leher robek-robek!

"Kakang Mas...!!"

Dewi Muntari terkulai lemas dalam pondongan penawannya, pingsan karena duka dan ngeri melihat kematian suaminya.

Gerombolan itu meninggalkan tempat itu sambil membawa teman-teman mereka yang terluka atau tewas, dan meninggalkan mayat Raden Mas Ramsang menggeletak di tempat yang kembali menjadi sunyi.

Yang memondong tubuh Dewi Muntari adalah pimpinan rombongan, seorang raksasa bermuka penuh bopeng yang tubuhnya kuat sekali.

Mereka menuju ke balik bukit dan Dewi Muntari mulai siuman dari pingsannya.

Ia menggeliat dan ketiak mendapatkan dirinya dalam pondongan lengan yang besar itu, ia terkejut dan segera teringat akan segala yang telah terjadi.

Cepat ia mengepal tangannya dan menghantam ke arah leher orang yang memondongnya.

"Wuuuttt... plakk...!!"

Pukulan itu cukup kuat dan si raksasa bopeng terkejut bukan main, lehernya terasa nyeri dan terpaksa ia melepaskan wanita itu.

Dewi Muntari sudah meloncat ke atas tanah dan biarpun ia sudah tidak memegang senjata, ia bertekat melakukan perlawanan sampai mati.

Ia berdiri tegak.

Kedua tangan terkepal dan siap melakukan bela diri.

"Ha-ha-ha. Kakang Blendu, engkau kena sepak kuda betina itu?. Ha-ha-ha!"

Yang menertawakan itu adalah seorang pria jangkung bermuka pucat, yang merupakan pembantu atau wakil dari Ki Blendu, pimpinan gerombolan itu.

"Hushh, jangan mengejek kau !"

Bentak Ki Blendu dengan suara geram dan dia mengusap-usap leher yang terpukul tadi.

Kulitnya kebal dan tebal seperti kulit badak, dan biarpun pukulan yang dilakukan Dewi Muntari tadi mengandung kekuatan dan hawa sakti, namun hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit, sama sekali tidak melukainya.

Setelah mengusap lehernya, Ki Blendu melangkah maju menghadapi Dewi Muntari dan dia tertawa.

Tawanya sampai mengakak menyeramkan dan Dewi Muntari bergidik.

Orang ini seperti bukan manusia, pikirnya.

Mukanya penuh bopeng yang besar-besar, seperti kulit salak, dan matanya begitu besar seperti mendelik terus, hidung dan mulutnya juga besar.

Otot melingkar-lingkar di seluruh tubuh pria ini yang usiany tentu tidak kurang dari empat puluh tahun.

"Hua-ha-ha-ha, bojleng-bojleng iblis laknat! Setiap mawar yang harum tentu mengandung duri! Akan tetapi tamparanmu tadi bagiku seperti dipijat, wong ayu! Terasa hangat, nyaman dan enak! Mari mari manis, mari kupondong lagi. Tak lama lagi kita kan sampai di tempat tinggalku dan engkau akan menjadi isteriku yang tersayang, terkasih, ha-ha-ha-ha!"

"Keparat jahanam! Engkau kejam, engkau tidak berprikemanusiaan. Kalian mengeroyok dan membunuh suamiku Raden Mas Rangsang dan engkau hendak menagkap aku! Padahal di antara kita belum pernah saling mengenal atau ada urusan kenapa engkau bertindak begini kejam kepada kami? Ha-ha-ha, jangan salah mengerti, wong ayu. Aku, Ki Blendu, sama sekali tidak kejam, bah-kan amat menyayang wanita cantik jelita seperti andinda. Kami hanya menjadi orang-orang suruhan manis. Bukan kami yang bermaksud memusuhi keluargamu. Semua ini adalah untuk memnuhi keinginan Gusti Pangeran Panjiluwih. Ha-ha-ha-ha!"

Ki Blendu merasa aman membuka rahasianya itu karena Raden Mas Rangsang kini telah terbunuh dan isterinya kini sudah berada di tangannya.

Wajah Dewi Muntari menjadi pucat sekali dan kedua matanya terbelalak, Tangan kirinya diangkat ke depan mulutnya yang ternganga saking terkejut dan herannya mendengar pengakuan raksasa itu.

Pangeran Panjiluwih?

Akan tetapi, Pangeran itu adalah kakak sendiri lain Ibunya.

Kakak tirinya.

Pangeran Panjiluwih juga seorang putera Sang Prabu Jayabaya yang lahir dari seorang selir yang bersal dari Blambangan.

Akan tetapi kenapa?

Selama ini hubungan di antara mereka baik dan biasa-biasa saja, bahkan keluarga Pangeran Panjiluwih juga agaknya memnadang rendah kepadanya sehingga diantara mereka taidak ada hubungan dekat.

Dengan sendirinya tidak ada permusuhan di antara mereka.

Mengapa kini Pangeran itu menyuruh gerombolan untuk membunuh keluarganya?

Terbayang di mata Dewi Muntari suaminya yang roboh mandi darah dan tewas, juga wajah puterinya yang melarikan diri entah ke mana.

"Jangan bohong kau !"

Ia membentak karena masih juga belum dapat percaya.

"Ha-ha-ha-ha, wanita cantik itu memang biasanya bodoh!"

Ki Blendu tertawa lagi.

"Percaya atau tidak terserah wong ayu. Yang penting, kami sudah melaksanakan tugas dan menerima upahnya. Nah, sekarang ke sinilah, akan kupondong engkau agar kedua kakimu yang indah itu tidak menjadi kelelahan manis."

Ki Blendu menubruk ke depan untuk merangkul Dewi Muntari. Akan tetapi sang puteri mengelak dan tangannya menampar ke arah muka raksasa itu.

"Ha-ha-ha!"

Ki Blendu menangkis dan langsung menangkap lengan itu.

Dewi Muntari hanya belajar ilmu kanuragan dari suaminya setelah ia menikah maka tentu saja ilmunya tidak dapat dibandingkan dengan tenaga Ki Blendu yang besar.

Ia sudah diringkus lagi dan meronta-ronta dalam pondongan dua lengan besar itu, ditertawakan oleh Ki Blendu dan anak buahnya.

Tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan menyeramkan.

Suara tawa itu pendek-pendek, bukan seperti suara tawa melainkan seperti suara leher tercekik.

"Kek-kek-kek-kekkk! Kerbau gendut tolol, Lepaskan ia!"

Ki Blendu tiba-tiba merasa kedu lengannya seperti lumpuh sehingga di terpaksa melepaskan pondongannya dan Dewi Muntari cepat melompat ke dekat seorang Kakek yang tiba-tiba saja muncul dan berada di situ.

Melihat Kakek ini, Dewi Muntari merasa ngeri juga.

Muka Kakek itu seperti muka tengkorak dibungkus kulit saja, demikian kurus.

Apalagi sepasang matanya yang cekung ke dalam itu mengeluarkan sinar berapi-api.

Usianya tentu sudah tua sekali, sedikitnya sembilan puluh tahun, pakaiannya juga hanya kain dilibat-libatkan tubuhnya yang kurus kering.

Kain itu sudah kuamal dan kotor sehingga keadaan Kakek ini menjijikkan, seperti seorang gembel tua berpenyakitan.

Akan tetapi, tentu saja ia memilih dekat dengan Kakek ini daripada dengan Ki Blendu dan anak buahnya, maka iapun lalu berdiri di belakang Kakek itu untuk berlindung.

"Kek-kek-kekkk... laki-laki macam kalian ini tidak berharga untuk mendekati seorang dewi kahyangan, kek-kek-kekkk!"

Kakek itu menudingkan telunjuknya yang tinggal tulang terbungkus kulit dan kini Dewi Muntari melihat persamaan antara Kakek ini dengan seorang tokoh pewayangan, yaitu seorang tokoh yang amat sakti, cerdik licik dan curang, yaitu bernama Begawan atau Danyang Durna!

Tubuh yang kurus bongkok itu, muka yang seperti tengkorak, sungguh amat menyeramkan, akan tetapi karena Kakek itu agaknya hendak melindunginya, maka Dewi Muntari memberanikan diri mendekat.

"Babo-babo, Kakek tuwek elek!"

Bentak Ki Blendu marah sekali.

"Siapa andika tua bangka mau mampus berani mencampuri urusanku dengan isteriku sendiri! Dia isteriku, jangan mencampuri urusan rumah tangga orang!"

"Tidak, Eyang... saya bukan isterinya. Dia penjahat besar, dia bahkan telah membunuh suamiku!"

Kata Dewi Muntari.

"Kek-kek-kekk...! Tentu saja kerbau gendut ini berbohong. Ah, nini dewi, siapakah namamu? "Nama saya Dewi Muntari, Eyang. Harap suka menyelamatkan saya dari tangan para penjahat keji ini."

"Kek-kek-kekk... benar dugaanku. Engkau seorang dewi. Heh, kerbau-kerbau busuk, hari ini kalian bertemu. Kolokrendo, sama saja dengan bertemu Yamadipati, kalian akan mampus semua, kek-kek-kekkk!"

Ki Blendu menjadi marah sekali. Dia menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menyerbu.

"Bunuh Kakek tua bangka gila ini, biarkan aku menangkap kembali calon isteriku!"

Puluhan orang itu berbesar hati.

Kalau cuma membunuh seorang tua bangka kerempeng seperti itu mudah saja.

Sekali bacokpun beres.

Tiga orang yang berada paling depan sudah mengayun golok mereka ke arah tubuh Kakek itu.

Kakek itu agaknya sama sekali tidak mengelak dan Dewi Muntari sudah merasa ngeri.

Tulang-tulang Kakek itu tentu akan berantakan diserang tiga batang golok yang bergerak cepat dan amat kuat itu.

"Krak-krak-krak...!"

Tiga batang golok itu bertemu tulang tangan terbungkus kulit dan patah-patah!

Dan tiga orang itu terbelalak, lalu memekik mengerikan ketika jari-jari tangan yang panjang melengkung itu berturut-turut menancap di batok kepala mereka dan mereka pun terjengkang roboh dengan kepala berlubang-lubang, mengucurkan darah bercampur otak!

Dewi Muntari sampai hampir muntah meliahat ini, akan tetapi para penjahat itu menjadi marah sekali.

Merekapun seperti sekumpulan semuat maju mengeroyok dengan golok mereka.

Bahkan Ki Blendu juga merasa penasaran, lalu sekali meloncat dia sudah berda di belakang Kakek yang mengaku bernama Kolokrendo itu.

Goloknya menyambar ke arah kepala Kakek itu.

"Wuuuuuttt... plakkk!"

Kepala itu tepat dihantam golok dalam tangan Ki Blendu, akan tetapi bukan (Lanjut ke

Jilid 03) Asmara Dibalik Dendam Membara (Judul Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 kepala itu yang pecah, melainkan Ki Blendu yang terhuyung ke belakang.

Dia merasa seperti sedang membacok baja yang amat kuat.

Dan selagi dia terhuyung, Kakek itu membalikkan tubuhnya, tangan kirinya mencuat ke depan dan terdengar Ki Blendu menjerit mengerikan.

Tangan kiri Kakek itu ternyata sudah mencengkeram dada Ki Blendu dan jari-jari tangan yang kurus itu telah menencap dan masuk ke dalam dada yang bidang itu!

Tangan itu mencengkeram ke dalam dan ketika ditarik keluar...

jari-jari tangan yang berlepotan darah itu telah menggenggam sepotong jantung yang masih menggelempar hidup!

"Keke-kek-kekkk...

jamu obat kuat, obat muda, kek-kek-kekk!"

Kemudian Dewi Muntari menyaksikan penglihatan yang sedemikian mengerikan sehingga ia menutupi muka dengan kedua tangannya.

Kakek kurus itu ternyata makan jantung yang segar itu dengan lahapnya, dan kaki tangannya terus bergerak ke sana sini dan terdengar pekik-pekik keskitan dari mereka yang nyawanya direnggut maut.

Setiap tendangan atau setiap tamparan itu mematikan.

Dalam waktu singkat saja dua puluh orang lebih telah tewas!

Tentu saj kini yang lain menjadi ngeri dan ketakutan.

Mereka hendak melarikan diri, akan tetapi kini Kakek itu seperti dapat terbang ke sana sini, menyambar-nyambar dan sisa gerombolan itu roboh malang melintang dengan kepala pecah!

Akhirnya, tidak seorangpun di antara mereka dapat lolos dari maut di tangan Kolokrendo!

Bahkan mereka yang tadinya terluka oleh pengamukan Raden Mas Rangsang dan sedang dibawa oleh kawan-kawan mereka kini tidak terbebas dari pada maut yang lebih mengerikan lagi.

"Keke-kek-kek-kekkkk...!"

Kakek itu tertawa-tawa aneh dan menggunakan pakaian para korbannya untuk mengusap mulut dan kedua tangannya.

Kemudian baru dia menghampiri Dewi Muntari.

Wanita ini memang tadinya girang mendapat pertolongan Kakek itu, akan tetapi ketika menyaksikian sepak terjang Kakek itu, ia merasa ngeri dan ketakutan.

Ia berhadapan dengan makhluk yang tidak seperti manusia lagi.

Seorang iblis haus darah!

Maka, ketiak Kolorendo maju menghampirinya, Dewi Muntari mundur-mundur dengan ketakutan.

"Kek-kek-kekkkk, mereka semua telah mampus, Dewi."

Dewi Muntari merangkap kedua tangan memberi hormat.

"Terima kasih atas pertolongan Eyang. Sekarang saya harus pergi dari sini!"

Bergegas diankatnya ujung kainnya agar ia dapat berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh lagi.

Hatinya sudah merasa tenang karena tidak terdengar suara apapun.

Kakek ituagaknya mengejarnya.

Akan tetapi ketika ia tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba saja ia terperanjat melihat Kakek itu suadh berada di depan sana, berdiri membungkuk sambil mengeluarkan bunyi tawa seperti leher tercekik.

Dengan jantung berdebar tidak karuan, badan panas dingin Dewi Muntari memutar tubuhnya dan berlari pergi kelain jurusan.

Ia mengerahkan tenaga berlari secepat mungkin dan kini ia hampir yakin bahwa Kakek itu tidak mengejarnya.

Hampir putus napasnya dipakai berlari cepat itu.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua kakinya tertahan dan ia tidak mampu bergerak saking takutnya.

Terdengar suara itu.

"Kek-kek-kek-kekkk...!"

Akan tetapi orangnya tidak nampak. Selagi memandanf ke kanan kiri, tiba-tiba terdengar suara dari atas.

"Dewiku, engkau tidak akan dapat pergi begitu saja. Engkau harus ikut denganku!"

Muntari memandang ke atas dan ternyata Kakek itu sudah duduk ongkang-ongkang di atas sebatang dahan pohon.

"Eyang... ahh, biarkan saya pergi, Eyang. Saya memohon... biarkan saya pergi..."

Katanya dengan suara lirih saking takutnya.

"Kek-kek-kekkk...! Enak saja. Andika harus menemani aku, mengusir kesepian hidupku, kek-kek-kekkkk!"

Kini tubuh Kakek itu melayang turun dari atas dahan pohon.

Dewi Muntari hendak lari, akan tetapi begitu tangan Kakek itu menyambar dan menyentuh pundaknya, ia tidak lagi dapat bergerak dan berdiri saja seolah tubuhnya sudah berubah menjadi patung!

"Kek-kek-kekkk..., andika cantik, Dewiku!"

Jari-jari yang kurus dan keras itu membelai dagu dan Dewi Muntari masih dapat merasa betapa jari-jari tangan itu dingin seperti batang pohon pisang.

Mengerikan sekali!

Dan lebih mengerikan lagi, ketika ia berusaha untuk menghindarkan diri dari tangan itu, ia tidak mampu menggerakkan kepalanya!

Seolah ada daya yang amat kuat yang membuat kepalanya menempel pada jari-jari tangan itu.

Pada saat tangan yang berjari kurus kering itu hendak merayap lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara yang lebih menyeramkan lagi.

Kalau suara tawa Kakek itu seperti leher dicekik, suara tawa ini mengiki seperti suara siluman dari balik kubur.

"Hih-hih-hih-hih!"

Aneh sekali, Kakek tengkorak hidup yang sakti mandraguna itu, begitu mendengar suara tawa ini, kelihatan terkejut sekali dan dijauhkannya tangannya dari tubuh Dewi Muntari, bahkan dia melangkah mundur.

Matanya memandang ke arah satu tempat.

Dewi Muntari memutar tubuhnya memandang dan iapun terkejut bukan main, merasa seolah ia tidak berada di dunia tempat tinggal manusia, melainkan di ambang neraka tempat tinggal jin setan iblis.

Di depannya berdiri seorang nenek yang walaupun tidak lebih buruk dari pada Ki Kolokrendo, namun tidak kalah aneh dan mengerikan.

Usia nenek itu sekitar delapan puluh tahun, tubuhnya pendek gendut.

Wajahnya biasa-biasa saja, akan tetapi yang aneh dan menjadi mengerikan adalah betapa wajah ini tertutup bedak putih yang tebal, Ditempat alis yang sudah tidak berbulu itu dicoreti penghitam alis yang panjang melengkung, dan pada pipi dan bibirnya diberi pemerah bibir yang menyolok sekali.

Pakaiannya hanya merupakan kain yang dilibat-libatkan tubuh, akan tetapi kain itu terbuat dari pada sutera halus dan mahal!

Dan gerak geriknya!

Minta ampun!

Lebih genit daripada seorang dara remaja!

Akan tetapi saat itu agaknya nenek ini sedang marah sekali.

Mulutnya menyeringai, tersenyum tidak cemberut pun tidak, hanya menyeringai seperti memamerkan giginya yang masih lengkap sehingga nampaknya semakin aneh.

Mukanya yang ditutupi bedak putih seperti topeng itu tidak menuenjukkan perasaan apapun, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang ditujukan kepada Kakek itu, tanda bahwa ia sedang marah.

"Keparat busuk kau Kolokrendo! Batas terakhir kau langgar, berarti engkau harus siap menerima kematianmu sebagai hukuman!"

Aneh sekali.

Kakek yang demikian sakti mandraguna, yang membunuhi puluhan orang muda perkasa dengan amat mudahnya, kini menjadi pucat dan tubuhnya menggigil menghadapi wanita pendek gembrot itu.

Dan demikian besar rasa takutnya sehingga diapun menjatuhkan diri berlutut sambil menangis!

Dan tangisnya juga bersuara seperti leher dicekik.

"Kek-kek-kek-kekkk...! Ampunkan aku sekali ini, Ni Durgogini. Ampunkan aku... aku belum ingin mati..."

"Hih-hi-hi-hik! Beberapa kali sudah engkau minta ampun seperti ini? Lupakah engkau yang terakhir kali ketika engkau menagkap dua orang gadis dusun itu? Aku masih mengampunimu dan mengatakan itu yang terakhir kalinya dan kalau engkau melanggar aku akan membunuhmu! Dan apa yang kau lakukan sekarang? Tetap saja engkau menyakitkan hatiku, tergila-gila seorang wanita muda yang cantik. Akan tetapi mengingat bahwa sudah banyak berjasa di waktu dahulu, aku memberi kesempatan kepadamu. Kalau engkau mampu menahan seranganku selama lima puluh jurus, engkau boleh bebas dan boleh pergi dari sini!"

"Ahh, Ni Durgogini. Mana berani aku melawanmu? Ampunkan aku, aku sudah bertaubat, sungguh mati..."

"Sumpahmu tidak ada harganya secuil pun! Sejak dahulu engkau kuperlakukan dengan baik, kuberi pelajaran segala macam ilmu, bahkan kuberikan tubuhku kepadamu. Akan tetapi berulang kali engkau menyakiti hatiku. Sudahlah, bersiaplah untuk menghadapi seranganku selama lima puluh jurus, atau aku akan bunuh engkau seketika juga walaupun engkau tidak akan melawanku!"

Nenek itu berbicara dengan amat cepat dan cerewet sekali.

Suaranya melengkin-lengkin.

Akan tetapi, ada sesuatu pada nama itu.

Terdengar tidak asing baginya, atau setidaknya, ia pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Ayahnya, Sang Prabu Jayabay.

Ah, sekarang teringatlah ia.

Terjadinya belasan tahun yang lalu.

Ia berusia enam belas tahun ketika itu, dan belum lama datang dari gunung diantar kakeknya menghadap Sang Prabu Jayabaya dan diteriam sebagai seorang puterinya.

Pada suatu pagi ia mendengar para pengawal dan para puteri bicara bahwa Sang Prabu Jayabaya semalam menerima seorang tamu yang aneh.

Tamu itu seorang nenek yang tua dan penuh rahasia, kabarnya tahu-tahu berada di istana, tanpa ada yang mengetahui kapan masuknya!

Tentu saja menimbulkan geger, akan tetapi Sang Prabu Jayabaya muncul dan melarang para pengawal untuk mengganggu nenek yang katanya hendak menghadap itu.

Bahkan nenek itu diterima oleh Sang Prabu Jayabaya di ruangan dalam dan bercakap-cakap berdua saj.

Dan nenek itupun tahu-tahu telah pergi, tanpa ada orang lain mengetahui kepergiannya.

Hal yang aneh ini mengganggu pikirannya dan sebagai puteri baru yang lebih berani karena belum mengenal adat istiadat di istana.

Dewi Muntari lalu bertanya kepada Ayahnya tentang tamu yang penuh rahasia itu.

Dan ketika itulah Ayahnya menyebut nama Ni Durgogini!

Menurut Ayahnya, Ni Durgogini adalah seorang tokoh besar di dunia orang-orang sakti dan menghadapnya untuk menghaturkan sebatang keris pusaka.

Menurut penuturan para penghuni istana, Ayahnya adalah seorang raja yang sakti mandraguna dan mata bijaksana, sehingga banyak orang sakti di dunia ini tunduk kepadanya dan menyerah tanpa dipergunakan kekerasan.

Kini Dewi Muntari menonton dengan hati penuh ketegangan.

Biarpun Kakek yang bernama Ki Kolokrendo itu ketakutan, akan tetapi ketika dia diserang, diapun cepat melompat, menghindar dan membalas serangan nenek itu.

Dewi Muntari adalah seorang yang pernah mempelajari ilmu kanuragan dari mendiang suaminya.

Karena itu ia tidak merasa asing dengan gerakan silat.

Akan tetapi sekali ini ia hanya bengong, sama sekali tidak mampu mengikuti gerakan dua orang yang sedang bertanding itu.

Hebat sekali pertandingan itu.

Kalau tadi Ki Kolokrendo membunuhi puluhan orang dengan enak dan mudah seperti orang membubuti rumput saja, sekali ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk membela diri dari serangan wanita yang selama ini menjadi isterinya, juga gurunya!

Mereka berdua menggunakan tenaga sakti sehingga di sekitar tempat itu dilanda angin yang mengemuk seperti badai, seolah-oleh dalam hutan itu terdapat banyak raksasa atau iblis yang mengamuk.

Dan sambil berkelahi mati-matian, mereka berdua tetap mengeluarkan suara mereka yang khas.

"Kek-kek-kek-kekkkk...!"

"Hihi-hi-hi-hi-hik...!"

Dewi Muntari bersembunyi di balik sebatang pohon besar.

Angin pukulan kedua orang itu terasa sekali olehnya, kadang ada hawa panas seperti apai menyergapnya dan terkadang ada hawa dingin seperti ampak-ampak.

Dengan bersembunyi di belakang pohon besar ia merasa aman terlindung.

Ia mengintai dan kedua orang itu telah lenyap bentuk tubuh mereka, yang nampak hanyalah bayangan dua orang saling kejar dan saling serang dengan dahsyatnya.

Ia tidak tahu berapa jurus lamanya mereka bertanding.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berhi-hi itu semakin nyaring dan suara berkek-kek makin lemah dan akhirnya ia mendengar bentakan.

"Mampuslah laki-laki tidak setia!"

Dewi Muntari melihat tubuh Kakek itu melayang ke atas dan menabrak cabang dan daun pohon, lalu jatuh seperti sepotong batu ke atas tanah, tak jauh dari tempat ia berdiri.

Ia dapat melihat betapa Kakek itu sama sekali tidak terluka, akan tetapi dari matanya, telinganya, hidung dan mulutnya bercucuran darah segar dan mata Kakek itupun terpentang lebar.

Dia sudah tewas!

Kini nenek itu berdiri memandang tubuh yang sudah tak bernyawa lagi itu, kemudian terdengar dari mulutnya suara yangseperti tawa dan juga seperti tangis itu.

"Hi-hi-hi-hi-hi-hi...! Ki Kolokrendo, kenapa engkau mati meninggalkan aku? Lalu bagaimana hidupku, siapa yanga akan menemaniku...? Hi-hi-hi-hi-hi...!"

Kini Dewi Muntari dapat menduga bahwa suara itu tetulah merupakan tangis dan ia merasa kasihan.

Alangkah anehnya.

Tadi mengamuk dan membunuh Kakek itu, dan sekarang setelah mati ditangisi!

Ia lalu melangkah keluar dari balik pohon besar dan gerakan ini dilihat oleh Ni Durgogini.

Ia segera menghampiri Dewi Muntari dengan langkah lebar dan berhenti di depannya sambil memandang tajam penuh ancaman.

"Hemm, engkau! Ya, engkaulah yang membuat suamiku mati! Engkau harus menebusnya dengan nyawamu!"

Akan tetapi dalam saat yang amat gawat bagi keselamatan nyawanya itu timbul keberanian dalam hati Dewi Muntari.

Tidak percuma ia menjadi puteri Sang Prabu Jayabaya.

Dalam tubuhnya mengalir darah satria linuwih.

Dengan berdiri tegak ia menentang pandang mata yang mencorong itu, lalu ia berkata dengan suara tegas penuh ketenangan.

"Ni Durgogini, kalau engkau hendak membunuhku, tentu mudah kau lakukan. Akan tetapi, aku tidak takut karena Kanjeng romo tentu tidak akan mengampunimu kalau engkau menggangu seujung rambutku saja."

"Hi-hi-hi-hik! Babo-babo keparat! Siapa takut kepada Kanjeng romomu? Siapa dia? Akan kubuh sekalian!"

"Datanglah ke Kota Raja Daha kalau engkau berani. Ayah kandungku adalah Kanjeng romo Prabu Jayabaya!"

Sepasang mata yang tadinya mencorong itu terbelalak kepada Dewi Muntari penuh selidik.

"Ni Durgogini, aku mengetahui ketika belasan tahun yang lalu andika menghadap Kanjeng Romo untuk menyerahkan sebatang keris pusaka!"

Kini keraguan nenek aneh itu menghilang dan sikapnya berubah lunak.

"Tobil-tobil...! Jadi andika ini puteri Sang Prabu Jayabaya? Si keparat Kolokrendo, pantas mati sretus kali, berani mengganggu puteri Sang Prabu Jayabaya. Akan tetapi, kenapa andika dapat berada seorang diri di tempat sunyi ini, gusti puteri?"

"Ah, malapetaka telah menimpa keluarga kami, bibi."

Kata Dewi Muntari dan teringat akan suami dan puteri, tak tertahankan lagi ia menangis.

Kini sikap Ni Durgogini sama sekali berubah.

Dengan gerakan halus ia menghampiri dan mengelus rambut kepala Dewi Muntari.

"Hemm, tenanglah, gusti puteri. Apa yang telah terjadi? Ceritakanlah kepada Nini Durgogini dan akulah yang akan membasmi anjing dan tikus yang berani menggangumu."

Dewi Muntari menahan tangisnya.

Lalu ia menceritakan semua peristiwa yang menimpa dirinya, betapa suaminya tewas ketika gerombolan penjahat menyerang mereka.

Pasukan pengawal lari kocar-kacir, suaminya tewas dan puterinya mudah-mudahan dapat meloloskan diri.

"Aku sempat memberi perlawanan akan tetapi akhirnya tertangkap. Kemudian mucul... dia itu..."

Ia menuding ke arah jenazah Ki Kolokrendo. Dia membunuh semua gerombolan penjahat yang hendak memaksanya menjadi teman hidupnya. Aku lari sampai ke sini dan andika muncul menyelamatkan aku, bibi."

"Hemm, kalau begitu para penjahat itu sudah tewas semua. Dendammu sudah terbayar lunas. Juga Ki Kolokrendo sudah mampus. Apa yang hendak kau lakukan sekarang, gusti puteri?"

"Bibi, pertama-tama kuharap andika tidak menyebut gusti puteri kepadaku. Kalau boleh, aku akan ikut denganmu, mempelajari ilmu kanuragan dan aji kesaktian. Aku ingin menjadi muridmu, bibi."

"Ehh? ? Hi-hi-hi-hi! Mana aku berani? Sang Prabu Jayabaya akan marah kepadaku kalau aku berani lancang mengambil murid puterinya. Sebaiknya Paduka kuantarkan kembali ke istana gusti."

"Bibi Durgogini, namaku Dewi Muntari. Aku sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke istana. Banyak orang membenciku di sana, dan akupun curiga atas peristiwa yang menimpa keluargaku. Patut dicurigai bahwa yang mengatur semua ini berada di Kota Raja!"

"Hi-hi-hi-hi-hik, begitukah? Biar aku yang menyelidikinya dan membekuk pelakunya!"

"Tidak usah, bibi. Aku sendiri yang akan melakukan, akan tetapi tentu saja kalau bibi mau menerimaku sebagai murid. Kalau Kanjeng romo kelak menegur, biarlah aku yang akan menghadapi dan siap meneriam hukuman!"

Akhirnya Ni Durgogini tak dapat menolak lagi.

"Baiklah, Dewi! Mulai sekarang namamu Dewi saja dan engkau akan kugembleng aji kesaktian. Muridku hanyalah Ki Kolokrendo seorang. Setelah dia kini mampus, engkaulah yamh menjadi penggantinya."

Ia menggandeng tangan Dewi Muntari.

"Mari kita pergi!"

Wanita yang mulai sekarang menggunakan nama Dewi, memandang kearah jenazah Kakek itu dan berkata.

"Akan tetapi, Bibi. Bagaimana dengan jenazah itu? Apakah tidak perlu disempurnkan dulu?"

"Hi-hi-hi-hik, dia sudah mati, mau diapakan lagi? Dia hanyalah sebatang mayat, bukan lagi Kolokrendo. Hayo pergi!"

Sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan Dewi merasa betapa tubuhnya terayun seperti dibawa terbang!

Ia pasrah.

Ia sudah mengambil keputusan bulat.

Ia akan mempelajari aji-aji kesaktian dan kelak ia sendiri yang akan melakukan penyelidikan dan membalas dendam kepada mereka yang mengatur jatuhnya malapetaka yang menimpa keluarganya.

Tentang nasib puterinya, ia serahkan saja kepada Hyang Widhi.

Tekatnya sudah bulat.

Kembali ke istana ia sudah tidak mau.

Hidup berdua dengan puterinya saja juga berbahaya karena ia tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi dai mereka berdua.

Sang waktu melesat dengan cepatnya, melewati segala apa yang terdapat dan terjadi di alam maya pada ini.

Tidak ada yang dapat mengalahkan Sang Waktu.

Bagaikan Bathara Kalla Sang Waktu mencaplok dan melahap semua yang ada.

Yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang muda menjadi tua, yang tua menjadi mati dan demikianlah semua itu terus menerus mengalir melalui Sang Waktu.

Kita sudah biasa menjadi permainan waktu, dengan masa lalu yang mengalir pada masa kini untuk menuju masa depan.

Kita hidup di dalam waktu, semua tergantung kepada waktu.

Sebenarnya, apakah waktu itu?

Masa lalu kini dan masa depan, benarkah ada hubungannya?

Tentu saja berhubungan kalau hidup ini menjadi ajang dari kenangan dan pikiran.

Pikiran adalah aku, maka selalu hendak mempertahankan keadaan dirinya.

Dan tanpa waktu, keberadaan dirinya akan terancam musnah.

Siapa aku ini tanpa masa lalu, masa kini dan masa depan?

Justeru hidup lepas dari pada permainan waktu adalah hidup yang sejati.

Hidup dari saat ke saat, tidak terpengaruh oleh masa lalu atau masa depan.

Tidak ada dendam, tidak ada budi dihutang, yang ada hanyalah saat ini dan segala yang terjadi adalah wajar.

Segala yang terjadi adalah kenyataan yang tak dapt dipungkiri lagi, lepas dri segala bentuk dendam maupun pamrih.

Kalau begitu, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja.

Kekuasaan Tuhan mengatur segalanya, melalui segala macam kekuatan yang ada di permukaan bumi ini.

Juga melalui tenaga yang ada pada diri manusia.

Semua itu menjadi alat Tuhan dan semua akan berjalan sesuai dengan alur dan jalurnya.

Kalau orang memperhatikan jalannya waktu, maka akan ternyatalah bahwa waktu berjalan amatlah lambatnya, seperti siput.

Kalau diperhatikan, sejam rasanya sehari, sehari rasanya sebulan, dan sebulan rasanya setahun.

Akan tetapi kalau diperhatikan, waktu melesat lewat seperti anak panah dilepas sebuah gendawa sakti.

Bertahun-tahun lewat seperti beberapa hari saja!

Sepuluh tahun telah lewat sejak Budhidharma hidup sebagai murid Sang Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi.

Bocah yang dulu berusia sepuluh tahun itu kini menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun!

Seorang pemuda dewasa yang bertubuh tegap dan kuat, dengan dada yang bidang dan kalau berdiri tegak dan kokoh seperti batukarang, kalau berjalan langkahnya gontai namun tegap seperti langkah seekor harimau.

Gerak geriknya lembut dan tutur sapanya halus.

Dari sikapnya saj tentu orang dapat menduga bahwa dia bukanlah pemuda dusun biasa, lebih mirip seorang pemuda bangsawan dari Kota Raja yang menyamar sebagai seorang pemuda dusun.

Juga sikapnya yang rendah hati dan sama sekali tidak congkak ini sama sekali tidak membayangkan bahwa pemuda ini adalah seorang pemuda yang digdayadan sakti mandraguna!

Dia lembut namun bukan berarti pendiam.

Tidak, Budhidharma pandai bicara dan dipun pembawaannya lincah gembira sehingga semua orang di sekitar lereng Gunung Kawi, Yaitu rakyat yang tinggal di dusun-dusun sekitarnya mengenalnya dengan baik dan pergaulan mereka cukup akrab.

Terutama sekali para perawan dusun, hampir semua tertarik dan tergila-gila kepada pemuda ini.

Budhidharma memang seorang pemuda rupawan.

Wajahnya tampan gagah, kulitnya kuning bersih.

Rambut di kepalanya hitam panjang dan berombak.

Sepasang alisnya berbentuk seperti golok, hitam tebal membayangkan kejantanan.

Sepasang matanya begitu lembut akan tetapi kadang dapat mencorong seperti mata naga atau mata harimau di dalam gelap.

Hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis, dagunya yang runcing itu agak berlekuk membuat wajah itu nampak jantan.

Kalau dibuat perbandingan dalam tokoh pewayangan, Budhidharma bukan seorang satria tampan halus seperti seorang bambang misalnya Sang Arjuna atau Sang Lesmana, akan tetapi dia seorang satria yang lembut gagah ganteng seperti Sang Gatutkaca.

Dalam hal kesaktian pemuda ini sudah digembleng siang malam selama sepuluh tahun oleh Bhagawan Tejolelono di lereng Gunung Kawi.

Sebelum pindah ke Gunung Kawi, Bhagawan Tejolelono tinggal di Gunung Kelud dan disana terkenal dengan julukan Sang Mbaurekso Gunung Kelud.

Setelah belasan tahun yang lalau orang-orang sakti berdatangan ke Kelud untuk meperebutkan kedudukan sebagai datuk atau yang berkuasa atas Panca Giri (Lima Gunung) yaitu Semeru, Bromo, Kelud, Arjuna Anjasmoro, dia tidak mau terlibat dalam perebutan nama atau kekuasaan itu dan pergi pindah ke Gunung Kawi.

Dia memilih sebuah lereng yang sunyi dan indah pemendangannya, lalau bertapa di tempat itu.

Bhagawan Tejolelono yang sudah beberapa tahun tinggal di lereng Kawi, jarang meninggalkan tempat itu, ketika dia meninggalkan pertapaannya, menurutkan getarnya hati, lalu menyelamatkan Budhidharma, di menganggap bahwa sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa bahwa dia harus menjadi guru pemuda itu.

Dia ternyata pilihannya yang tidak keliru.

Budhidharma membuktikan dirinya menjadi murid yang berbakat dan rajin sekali, akan tetapi bahkan juga menjadi seorang cantrik yang berbakti dan sayang kepadanya.

Baca Juga: Cheng Hoa Kiam 6

Baca Juga: Jodoh Rajawali 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert