Ceritasilat Novel Online

Perintah Maut 3

Eps 3 Perintah Maut - Buyung Hok

Baca online Perintah Maut - Buyung Hok

Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.

Kang Han Cing menubruk tempat kosong, rasa kagetnya tidak kepalang.

Cepat2 menyedot perut mundur satu langkah.

Inisiatif penyerangan masih berada di tangan si gadis berbaju hijau, pedangnya ber-kilat2, sekaligus menyerang ditujuh tempat.

Setiap tempat yang diarah adalah tempat yang berbahaya.

Betapa bunga hati si gadis berbaju hijau, menyaksikan kecepatan gerakannya yang berhasil menekan Kang Han Cing, si pemuda sudah berada didalam situasi posisi terjepit, tentu saja si gadis tidak melepaskan kesempatan baik, terus menerus menyerang lagi, mulutnya membentak, tangannya terayun, membuat gerakan istimewa, terjadi delapan kali getaran pedang, ujung pedang mengancam delapan tempat, delapan tempat itu adalah delapan jalan darah kematian Kang Han Cing.

Bilamana salah satu dari kedelapan ancaman serangan pedang itu mengenai sedikit saja tubuhnya, Kang Han Cing akan luka parah.

Dan bila serangan pedang si gadis berhasil menusuk sedikit, Kang Han Cing akan mati segera.

Ancaman hebat dan luar biasa !

Tapi disaat inilah, terdengar suara Kang Han Cing.

"Awas nona !"

Terdengar suara tang, tang, ting, ting, semua serangan pedang si gadis ditangkis dengan baik.

Hanya dengan me-nyentil2 ujung pedang serangan istimewa si gadis berbaju hijau punah dan hancur.

Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing berhasil menekan pedang si gadis dengan kekuatan raksasa.

Si gadis berbaju hijau tidak menyangka kalau Kang Han Cing ini masih mempunyai banyak ilmu simpanan, ia hendak menarik pulang pedangnya, tapi sudah terlambat.

Pletok.....pedangnya tertekan dan jatuh berdentang dilantai.

Apa boleh buat gadis berbaju hijau melepaskan pegangan lompat jauh ke belakang.

Kang Han Cing sangat yakin kepada ilmu kepandaian yang dimiliki, tidak mengejar gadis tersebut, ia berdiri tenang, dengan kalem berkata .

"Nona sudah menderita kekalahan, mari turut aku !"

"Siapa yang kalah ?"

Berkata si gadis berbaju hijau.

"Nah ! Lihat lain acaraku!"

Tangannya terayun, jalur2 merah mengarungi ruangan itu, menelungkup kearah Kang Han Cing.

Menduga kepada datangnya senjata rahasia Kang Han Cing menggerakkan pedang, dengan tertawa dingin menangkis serangan2 itu.

Dugaan Kang Han Cing meleset, jalur2 merah yang ditaburkan oleh si gadis adalah jalur2 yang sangat halus, semacam sutera halus, terpecah dan buyar disekitar kepalanya, mengeluruk jatuh.

Yang lebih hebat, jalur2 sutera halus itu mempunyai kaitan2 kecil, kaitan tersebut khusus untuk menangkap orang, siapa saja yang terkait, tidak mungkin mengelakkan diri, dan selanjutnya bisa meringkusnya.

Kang Han Cing kurang pengalaman Kang-ouw, ia tidak kenal dari mana senjata luar biasa tadi.

Berulang kali pedangnya menangkis, tubuhnyapun mundur ke belakang.

Si gadis berbaju hijau tertawa cekikikan dan berkata .

"Jalaku ini bernama jala penembus langit, dewa dan iblispun tidak bisa mengelakkan. Apalagi seorang manusia? Menyerahlah !"

Dengan senjata yang aneh luar biasa itu, si gadis berbaju hijau mendesak Kang Han Cing.

Berulang kali Kang Han Cing menabas jala berlapis langit, jala itu aneh, alot, dipotong tidak putus, ditabas menjadi lembek, pedangnya tidak berdaya.

Yang lebih hebat lagi, kalau menangkis datangnya jala itu, ujung kaitannya yang tajam melengkung datang, semakin cepat ia bergerak, semakin cepat pula reaksinya, kecuali berlompatan kesana kemari, tidak ada lain jalan untuk memecahkan senjata aneh itu!

Bekerjanya jala penembus langit memang aneh luar biasa, si gadis berbaju hijau sudah melatih diri selama tahunan, mengurung Kang Han Cing.

Kang Han Cing berusaha mengelakan datangnya kurungan2 itu, terlalu sulit, ia berlompatan kian kemari, pedangnya menangkis dan memotong, tokh tidak berdaya.

Ia harus mengelakan datangnya kaitan2 kecil itu lagi, lebih2 sulit lagi.

Pedang Kang Han Cing juga termasuk pedang pusaka, pedang yang bisa memutuskan segala benda2 keras.

Menghadapi jala2 halus itu, ia tidak berdaya.

Tiba2 pikiran Kang Han Cing tergerak, dia tidak bisa membabat putus jala sutera halus.

Tapi kaitan2 yang ber-bengkok adalah terbuat dari logam, kini diincarnya logam2 itu.

Trang, sebuah kaitan yang datang berhasil dibabat putus.

Trang, lagi2 sebuah kaitan dari ujung jala penembus langit dipapas putus.

Trang, trang, trang.....

Kang Han Cing membabat putus kaitan2 yang berada diujung jala penembus langit itu.

Dengan terpapasnya kaitan2 logam pada jala itu, bobot berat yang menggerakkan jalur2 sutera menjadi lenyap, si gadis berbaju hijau kualahan, betapa hebatpun ilmu kepandaian tenaga dalam, ia tidak bisa lagi memainkan, sutera-sutera halus itu tiada bertenaga.

Kini kaitan2nya sudah terpapas habis, ia menjadi sangat marah, dilemparkan senjata istimewa itu, dengan marah membentak.

"Kang Han Cing! Bukan maksud kami membunuh dirimu. Tapi kau keliwatan, apa boleh buat. Nah! Terima ini !"

Begitu tangannya merogoh saku, ia melempar kearah Kang Han Cing, terjadi hujan jarum beracun, jarum-jarum itu sangat halus, bertaburan seperti air hujan.

Jarak mereka terlalu dekat, seharusnya tidak mudah mengelakkan serangan jarum beracun itu, tapi Kang Han Cing selalu sudah siap sedia, tangan kirinya diluncurkan, dengan tenaga dalam memukul jarum-jarum beracun yang sudah menyambar terdepan, tubuhnya berjumpalitan, meluncur ke belakang.

*** SI GADIS berbaju hijau telah memperhitungkan sesuatu, ia berani memalsukan Kang Han Cing, tentu mempunyai ilmu kepandaian yang cukup tinggi.

Sesudah pedang, jala penembus langit dan jarum beracun tidak berhasil, kini tangannya telah memegang sebilah belati, dengan belati ini, ia menyerang Kang Han Cing, membarengi serangan jarum beracunnya, ditujukan kearah si pemuda.

Disaat itu, tubuh Kang Han Cing sedang melengkung kebelakang, datangnya serangan belati sangat mendadak, sulit mengelakkannya, hal ini sudah termasuk salah satu perhitungan si gadis berbaju hijau, maka ia menusuk dengan pisau belati.

Ada dua cara untuk menangkis datangnya serangan itu.

Cara yang pertama adalah menggunakan senjata memukul pergi belati lawan, cara yang kedua adalah bergulingan ditanah, menjatohkan diri, tapi cara ini lebih celaka.

Kang Han Cing tidak menggunakan cara2 yang lazim, tiba2 saja badannya yang melengkung itu ditempangkan kembali !

Celaka !

Ini berani memajukan perutnya untuk ditublas oleh belati si gadis berbaju hijau.

Si gadis berbaju hijau menjadi kaget, mana mungkin ada cara perlawanan yang seperti itu?

Menjerit keras.

Ia bingung untuk meneruskan serangan belatinya yang sudah disodorkan ke depan itu.

Tak.......

Didalam situasi kebingungan itu, tiba2 jari Kang Han Cing menyentil belati si-gadis.

Belati itu jatuh terbang.

Kang Han Cing sudah berdiri berhadap-hadapan, jarak mereka cukup dekat, hampir bersampokkan kulit.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, Kang Han Cing berhasil mengelakan segala macam bahaya.

Ia sudah berada diambang pintu kemenangan, dengan sombong berkata .

"Nona, apa lagi permainanmu ? Silahkan..."

Sebelum kata2 Kang Han Cing dilepas habis, lain senjata rahasia lagi melepus, tangan kiri si gadis terayun, benda merah menghampiri Kang Han Cing.

Kang Han Cing sedang ber-pikir2 senjata rahasia macam apa lagi yang dikeluarkan ?

Tangannya menyaup, menerima datangnya gumpalan merah itu.

Aaaaa ....

Ternyata selembar saputangan merah, bau harum parfum seorang gadis menusuk hidung.

Hanya selembar saputangan merah yang digunakan untuk menyerang ?

Saputangan merah ini bukan saputangan biasa, hawa bau harum itu telah mendapat olahan2 istimewa pula, disaat Kang Han Cing mengendus bau harum itu, tiba2 sepasang kakinya menjadi lemas, ia terjatuh duduk.

Kang Han Cing keracunan secara halus.

Giliran gadis berbaju hijau yang tertawa cekikikan, katanya .

"Hi, Hi......... Kang-jie kongcu, sampai disini sajakah pertempuran kita?"

Kedua tangan dan kedua kaki Kang Han Cing tidak bertenaga lagi, ia bisa melihat ia bisa mendengar, bisa bersuara, tapi tidak bisa menggerakan tenaga.

Kekuatannya telah dihancurluluhkan oleh gumpalan racun itu.

Si gadis berbaju hijau memandang ke arah Kang Han Cing, kemudian menoleh kearah pelayannya dan berkata.

"Siao Siang, Kang jiekongcu adalah tamu kita, mana pantas membiarkan seorang tamu duduk numprah ditanah, Hayo ! Lekas bawakan kursi ! Bangunkan dan dudukkan diatas kursi."

Si pelayan Siao Siang bisa bekerja cepat menyeret sebuah kursi, diletakkan di-tengah2 lalu memayang Kang Han Cing yang sudah tiada daya, didudukkan diatas kursi itu.

Sesudah selesai, Siao Siang mengeluarkan keluhan dan berkata.

"Uh, orang ini berat sekali !"

Si gadis berbaju hijau mendelikkan mata, mendatangi Kang Han Cing dan berdiri didepan si pemuda, ia tertawa.

"Jiekongcu, apa masih ingin menyeret aku ke Ciok-cuk-am ?"

Kang Han Cing mengatupkan mata, tidak menggubris cemoohan tadi. Si gadis berbaju hijau berkata lagi .

"Saputangan merahku tidak mempunyai daya bius, hanya bisa menjinakkan seseorang yang galak. Mengapa Kang jiekongcu menutup mata, tidak berani menerima kenyataan ?"

Suaranya merdu, sangat menarik hati. Kang Han Cing merentangkan kedua mata, ia membentak .

"Bah! Mengapa tidak berani ?"

"Hi, hi....."

Gadis itu tertawa lagi.

"Ilmu kepandaian Kang jiekongcu memang hebat. Sudah boleh membanggakan diri di dalam dunia Kang-ouw."

Dengan marah Kang Han Cing membentak.

"Aku telah tertipu olehmu, kalau mau bunuh lekas bunuh, jangan banyak cingcong."

"Maaf !"

Berkata si gadis berbaju hijau.

"Tidak seharusnya aku menggunakan obat pelemas itu menjatuhkan jiekongcu. Tapi.....tidak ada jalan lain. Terpaksa aku harus menahan jiekongcu."

"Kau hendak menahan aku disini?"

Bertanya Kang Han Cing. Gadis berbaju hijau itu menganggukkan kepala.

"Maksudmu ?"

"Ayah angkatku ingin bertemu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata si gadis berbaju hijau hanya dalang, ia masih mempunyai seorang ayah angkat.

Ayah angkat itu hendak bertemu ?

Apa maksud tujuannya ?

Siapakah orang yang menjadi ayah angkat si gadis ?

Mungkinkah lengcu Panji Hitam?

Kang Han Cing menentang sepasang sinar mata si gadis yang jeli, ia bertanya.

"Lengcu Panji Hitam yang kau maksudkan ?"

"Tidak perlu ter-buru2,"

Berkata si gadis.

"Sebentar lagi kalian segera bertemu."

"Siapa nama ayah angkatmu ?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Tanya saja kepadanya, kalau ayah angkatku bersedia memberi tahu, ia bisa bicara sendiri. Tidak perlu meminta keteranganku."

Hati Kang Han Cing tergerak, dari pembicaraan tadi, ia bisa membuktikan bahwa ayah si gadis berbaju hijau bukanlah lengcu Panji Hitam.

Siapa ?

Oh!...mungkinkah orang yang menjadi pemimpin dari lengcu Panji Hitam ?

Sekali lagi Kang Han Cing menatap gadis didepannya, gadis itu sangat cantik, cukup menarik, badannya padat dan gempal, memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tinggi.

Berani menyamar dirinya, membuat fitnah yang jahat.

Rasa sakit hati Kang Han Cing itu segera mereda.

Mereka saling pandang sebentar, cepat2 Kang Han Cing bertanya .

"Bagaimana sebutan nona?"

"Ouw ..... aku lupa memberi tahu."

Berkata si gadis.

"Aku Suto Lan."

Nama si gadis berbaju hijau adalah Suto Lan ! Apa maksud tujuan Suto Lan menggunakan wajah Kang Han Cing, mencelakakan Kang Han Cing? Inilah yang harus diselidiki.

"Kapan aku bisa bertemu dengan ayah angkat nona ?"

Bertanya lagi Kang Han Cing. Gadis berbaju hijau Suto Lan berkata.

"Tidak lama. Tunggulah beritanya. Lebih baik jiekongcu menetap disini dahulu, sesudah kuberi tahu ayah angkatku itu, nanti jiekongcu akan mendapat panggilan."

Sesudah itu, dari dalam saku bajunya, Suto Lan mengeluarkan sebuah botol obat, dituangnya, dari sana meluncur sebutir obat berwarna putih, diletakkan ditangan dan diserahkan kepada Kang Han Cing, ia berkata .

"Inilah obat, agar kau bisa bebas dari pengaruh racun lemas itu !"

Kang Han Cing memandang obat itu dan bertanya .

"Apa kau tidak takut aku melarikan diri ?"

Dengan tertawa Suto Lan berkata.

"Obat lemas itu sangat istimewa, tidak bisa membius orang, kerjanya juga sangat lambat, tapi penyembuhannya pun sangat lambat. Kau harus membutuhkan waktu tiga hari, maka kau baru bisa bebas kembali. Sekarang obat yang kuberikan hanya sebutir, kau hanya bisa menyembuhkan sepertiga dari kelumpuhan2 itu. Kau bisa bergerak, tapi tidak bisa mengerahkan tenaga. Belum boleh menggunakan tenaga."

Dengan dingin Kang Han Cing berkata.

"Pantas saja nona begitu royal !"

"Jangan salahkan aku."

Berkata Suto Lan.

"Kau boleh menjadi tamu ditempat ini."

Suto Lan menjulurkan tangannya, menjudukan obat itu dan berkata .

"Bersediakah kau makan obat ini ?"

Keadaan Kang Han Cing begitu mengenaskan, ia duduk numprah dibangku, mengangkat tangannya saja sudah tidak bisa, apalagi untuk berjalan ?

Mendapat sodoran obat, ia segera merentangkan mulut.

Per-lahan2 Suto Lan meletakkan obat itu kedalam mulut Kang Han Cing, diberi minum dan ia berkata .

"Maafkan ! Aku masih ada lain urusan. Disini ada Siao Siang yang melayani segala kebutuhan jiekongcu, kalau perlu sesuatu, panggil saja dirinya."

Sesudah itu, ia berpesan kepada Siao Siang .

"Siao Siang, jiekongcu masih belum makan. Lekas siapkan barang santapan."

Siao Siang segera mengiyakan perintah itu, lari keluar untuk membuat makanan.

Suto Lan meninggalkan tempat itu !

Bekerjanya obat tadi sangat cepat sebentar kemudian Kang Han Cing bisa menggerakkan tangan dan kaki.

Tapi ia masih tidak bisa menggunakan tenaga, pengaruh bau harum semerbak dari saputangan merah itu memang hebat.

Kang Han Cing tidak menjadi khawatir atas kesulitan dirinya, ia harus membongkar rahasia, siapa orang yang membuat fitnah jahat itu?

Bintik2 terang mulai menampak, kalau saja ia meneruskan penyelidikannya, tidak sulit menemukan biang keladi dari segala biang kekerokan.

Si gadis berbaju hijau Suto Lan hanya sebuah pion, orang telah memalsukan dirinya, dengan maksud memperdalam fitnah-fitnah itu.

Kang Han Cing berjalan mundar-mandir diruangan tadi.

Ia sedang berusaha, bagaimana membebaskan diri dari kehilangan tenaga?

Tidak lama kemudian, tampak pintu terbuka, Siao Siang berjalan masuk dengan makanan.

Pelayan itu berkata .

"Jiekongcu, silahkan makan !"

Kang Han Cing memang mulai merasakan perutnya keroncongan, tidak segan2 melahap semua makanan itu. Siao Siang menantikan disamping, menunggu sampai selesai, si pelayan bertanya .

"Jie-kongcu masih mau tambah apa lagi ?"

"Tidak. Sudah cukup."

Siao Siang memberesi sisa2 makanan. Menggunakan kesempatan ini, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan .

"Siao Siang, apakah ditugaskan melayani kebutuhan nona Suto Lan tadi ?"

"Sekarang ditugaskan untuk melayani jie kongcu,"

Berkata Siao Siang tertawa.

"Karena majikanmu takut aku melarikan diri, maka kau mendapat tugas untuk mengawasiku, bukan ?"

"Jie kongcu jangan sampai memikir kesitu."

Berkata Siao Siang.

"Nonaku berlaku baik budi, sampaipun kamarnya diserahkan kepadamu. Terus terang saja aku bicara padamu, biasanya nona Suto Lan itu dingin dan angkuh, belum pernah berlaku baik kepada siapapun juga. Walau saudara2 seperguruannya, iapun acuh tak acuh. Terkecuali kau ! Jie-kongcu !"

Dari pembicaraan ini, Kang Han Cing bisa mengetahui lain rahasia, ternyata Suto Lan bukan seorang diri, si gadis berbaju hijau itu masih mempunyai banyak saudara seperguruan.

Siapakah saudara2 seperguruannya ?

Inilah yang perlu diselidiki.

*** "OH....."

Berkata Kang Han Cing, membawakan sikapnya yang terkejut.

"Tempat ini menjadi kamar nona Suto Lan ?"

"Tentu saja kamar nona Suto Lan. Apa kau tidak mempunyai mata melihat?"

Berkerutkan alis, Kang Han Cing berkata .

"Oh! Maaf! Mana baik mengangkangi kamar orang, lebih baik aku dipindahkan ke kamar lain saja."

Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata .

"Inilah perintah nona Suto Lan. Dikatakan olehnya, waktu sudah malam. Mencari kamar lain tidak mudah, juga harus memberes2kan. Takut kalau Jiekongiyu tidak betah maka ia menjediakan kamar ini."

"Sebelumnya, aku Kang Han Cing mengucapkan banyak terima kasih."

"Nanti saja, berterima kasih kepada nona Suto Lan,"

Berkata Siao Siang tertawa kecil.

"Oh ! Gedong ini apa milik ayah angkat nona Suto Lan ?"

"Boleh dianggap seperti itu."

Jawab Siao Siang dengan nada diplomatik.

"Aku belum pernah bertemu dengannya, tentunya jago silat luar biasa."

"Entah ya."

"Apa hartawan kaya?"

"Majikan tua kami..."

Tiba2 Siao Siang merasakan keceplosan bicara, ia menutup suaranya.

Hati Kang Han Cing memaki, pikirnya pelayan ini sangat ber-hati2.

Dan ia tidak bicara lagi.

Sesudah memberesi sisa makanan, Siao Siang meninggalkan kamar itu.

Menunggu kepergiannya Siao Siang, Kang Han Cing mengunci pintu, dan ia membaringkan diri ditempat tidur.

Inilah pembaringan yang biasa digunakan oleh Suto Lan, bau parfum dari seorang gadis terasa hangat merangsang.

Harumnya bedak dan gincu, terus menerus menyerang hidung Kang Han Cing.

Paling susah menerima kebaikan budi seorang gadis.

Demikianlah istilah ini bisa Kang Han Cing rasakan.

Tidur ditempat yang begitu empuk, dengan bau2 harum yang semerbak membuat pikirannya me-layang2 jauh.

Berkresak-kresek setengah malaman, Kang Han Cing belum bisa tertidur.

Karena itu akhirnya ia meninggalkan pembaringan, per-lahan2 memeriksa didalam kegelapan.

Waktu kentongan kedua sudah lewat, sebentar lagi kentongan ketiga akan dipukul.

Gedung itu sangat sunyi dan sepi, tenang tidak terdengar sedikit suarapun.

Kang Han Cing tidak menyalakan lampu, matanya yang lihai sudah biasa memeriksa sesuatu di tempat kegelapan.

Ia mem-buka2 laci, memeriksa kalau2 menemukan obat pemunah pelemas badan itu.

Setengah malaman Kang Han Cing ngaduk kamar Suto Lan, tentu saja ia tidak berhasil mendapatkan benda yang dicari, Suto Lan itu menggunakan obat pelemas melenyapkan kekuatan menjatuhkan Kang Han Cing, tentu ia tidak menaruh obat penawar racun tersebut didalam kamarnya.

Mengetahui akan hal ini, akhirnya Kang Han Cing berbaring kembali di tempat tidur.

Kang Han Cing berusaha menenangkan pikirannya, sedapat mungkin ia memeramkan mata, mata meram dengan pikiran yang melayang-layang, tentu saja ia tidak mudah tidur.

Beberapa saat kemudian terdengar ayam berkokok.

Tanpa disadari baru Kang Han Cing jatuh tertidur.

Kang Han Cing bangun sesudah matahari di-tengah2 langit, ia turun dari pembaringan dan membuka pintu.

Dipintu kamar Siao Siang sudah menanti, melihat Kang Han Cing yang sudah bangun, pelayan itu memberi hormat, dengan tertawa berkata .

"Jiekongcu bisa tidur nyenyak ?"

Wajah Kang Han Cing menjadi merah kalau saja teringat bagaimana ia gulang-guling ditempat tidur yang banyak pikiran kusut itu, ia menjadi malu kepada diri sendiri, dengan cengar-cengir berkata .

"Nonamu sudah kembali ?"

"Lebih dari satu kali."

Jawab Siao Siang.

"Kami takut mengganggu ketenangan jie-kongcu, maka tidak membangunkan."

"Eh, mengapa tidak mau mengetok pintu ?"

Dengan tertawa misterius Siao Siang berkata .

"Inilah perintah nona Suto Lan. Dia melarang hamba mengganggu ketenangan jie-kongcu."

Dengan masih tertawa misterius, Siao Siang berkata .

"Inilah perintah nona, hamba dilarang mengganggu kesenangan tidur Kongcu."

Sesudah itu, Siao Siang berkata lagi.

"Biar hamba ambilkan air buat cuci muka."

Pinggulnya diputarkan, meninggalkan Kang Han Cing.

Tidak lama kemudian Siao Siang membawa air buat cuci muka.

Sesudah itu ia mengundurkan diri.

Tak lama kembali dengan ransum makanan.

Kang Han Cing bercuci muka, membersihkan diri.

Setelah selesai membersihkan diri ia duduk dimuka meja menghabisi makanan pagi yang tersedia.

"Dimana nonamu ?"

Begitu Siao Siang menongolkan kepala, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan.

Sebelum Siao Siang menjawab, dipintu telah menongol seorang, itulah gadis berbaju hijau Suto Lan.

Hari ini Suto Lan mengenakan pakaian yang ketat, juga berwarna hijau muda, tepat di bagian dada terlukis sepasang burung Hong, indah sedang menari2.

Berbeda dengan semalam, kalau itu waktu Suto Lan mengenakan pakaian ringkas, gagah dan keren, ini kali Suto Lan membawakan sikapnya seorang gadis remaja, seorang gadis putri hartawan.

Mukanya dipupur, bibirnya dipoles merah, semakin cantik, semakin menarik.

Kedua sinar mata saling bertumbukkan, Suto Lan menundukkan kepala dan bertanya .

"Jiekongcu bisa tidur pulas ?"

Kang Han Cing mengelakkan lirikan mata itu, tertawa tawar berkata .

"Terima kasih. Bagaimana ? Apa nona sudah bertemu dengan ayah angkat nona?"

"Mengapa begitu ter-buru2 ?"

Bertanya Suto Lan.

"Tidak betah disini ?"

"Urusanku masih banyak."

Berkata Kang Han Cing.

"Secepat mungkin bisa menemui ayah angkat nona ! Dan cepat nona berikan obat penawar racun lemas itu."

"Tidak lama lagi. Sesudah bertemu dengan ayah angkatku, tentu saja kuberi obat penawar racun lemas itu."

Tiba2 Kang Han Cing teringat sesuatu, mengangkat kepala, memandang dengan berani pada wajah yang menarik itu, ia bertanya.

"Ada sesuatu yang aku tidak mengerti, bisakah nona memberi keterangan?"

"Keterangan apa?"

"Tentang perkosaan dan pembunuhan di vihara Ciok-cuk-am. Siapakah yang sudah melakukannya?"

Dengan tertawa kecil Suto Lan berkata.

"Oh! Tidak enak didengar."

"Mungkinkah bukan perkosaan?"

"Apa kau sudah melihat dengan mata sendiri ?"

Balik tanya Suto Lan. Selembar wajah si gadis menjadi merah. Kang Han Cing masih belum bisa men-duga2, bagaimana hal itu bisa terjadi ? Segera ia berkata .

"Disaat aku tiba ditempat itu, Yen Siu Lan sudah terbaring didalam keadaan telanjang, ia mati. Inilah yang kusaksikan."

"Kau hendak tahu urusan kematian Yen Siu Lan?"

"Didalam soal ini menyangkut nama baikku. Tentu saja harus tahu."

Suto Lan berkata.

"Yen Siu Lan mati dibawah kami."

Kang Han Cing merentangkan sepasang matanya lebar2, gadis secantik inikah yang membunuh orang? Dia hampir tidak percaya karena itu meminta ketegasan, katanya.

"Nona yang membunuh Yen Siu Lan?"

"Eh, tidak percaya ?"

Bertanya Suto Lan.

"Betul2 sulit diterima."

"Dengar."

Berkata Suto Lan perlahan.

"Karena Yen Siu Lan sudah berkhianat kepada golongan, karena itu harus mendapat hukuman kematian."

"Oh !"

Kang Han Cing terkejut.

"Yen Siu Lan juga termasuk salah satu dari anggota kalian?"

Suto Lan memberikan satu kerlingan mata yang menarik, ia berkata.

"Hanya ini yang bisa kuberitahu kepadamu. Lain tidak."

"Golongan apakah nama golongan kalian itu ?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Maaf ! Untuk sementara masih harus dirahasiakan !"

Berkata Suto Lan.

"Belum waktunya memberitahu kepadamu."

Hati Kang Han Cing mengeluh, ia sedang berhadapan dengan sesuatu golongan yang misterius, golongan baru yang tidak dikenal olehnya.

Suto Lan membiarkan Kang Han Cing termenung seperti itu, beberapa saat kemudian ia bertanya perlahan.

"Aku juga ada sesuatu yang hendak ditanyakan, bisakah kau memberi jawaban yang memuaskan?"

"Urusan apa?"

Bertanya Kang Han Cing. Sepasang mata Suto Lan yang jeli terputar, tidak henti2nya mengirim kerlingan mata. Ia berkata.

"Ilmu kepandaian jiekongcu betul menakjubkan. Orang pertama yang mendapatkan pujianku, siapakah yang berhasil mendidik kongcu seperti itu, bagaimana sebutan dan nama suhu jiekongcu ?"

Kang Han Cing berkata .

"Suhu tidak berkelana didalam rimba persilatan, namanya tidak mau diketahui orang. Sampaipun aku juga tidak mengetahui jelasnya."

"Bohong !"

Berkata Suto Lan tertawa.

"Mana ada murid yang tidak tahu nama gurunya ? Tentu jiekongcu tidak mau memberitahu."

"Sungguh."

Berkata Kang Han Cing.

"bukan tidak mau memberitahu. Kenyataan memang tidak tahu. Bilamana nona bertanya kepada toako, ia juga memberi keterangan yang seperti ini."

Suto Lan melicini bibirnya dan berkata .

"Hi, hi....kau pandai bicara."

Pembicaraan itu terputus kembali. Mereka duduk berhadap2an. Beberapa lama kejadian yang canggung itu diputuskan oleh tertawanya Suto Lan, ia berkata .

"Jiekongcu, kita mengganti bahan pembicaraan, bagaimana ?"

"Apa yang nona hendak percakapkan ?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Apa saja, seperti........"

Tiba2 terdengar suara derap langkah kaki yang bergerak cepat tiba di pintu dan ter-batuk2. Itulah suara Siao Siang.

"Nona Suto Lan......"

Panggil Siao Siang perlahan.

"Ada apa?"

Bentak Suto Lan. Horden tersingkap, Siao Siang berjalan masuk, ia memberi hormat dan berkata.

"Baru saja hamba menerima perintah khungcu, ia memberitahu kalau mengharap kedatangan nona dan jiekongcu. Segera !"

Suto Lan memperlihatkan sikapnya yang terkejut, dengan heran berkata.

"Biasanya ayah jarang mau menemui tamu. Baru saja ia melatih diri, hendak bertemu dengan Kang jiekongcu ?"

Sesudah itu ia bangkit dari tempat duduknya, berkata kepada Kang Han Cing.

"Mungkin ayah kangen kepada nama besar Kang jiekongcu, maka pagi2 sudah hendak bertemu. Mari kuajak."

Pikiran Kang Han Cing juga masih kacau, tenaganya juga sudah tiada, ia menjadi tawanan halus.

Dari rombongan baru yang tidak diketahui asal usulnya ini, karena itu ingin sekali bisa mengetahui yang lebih banyak .

Siapa ayah Suto Lan yang misterius ?

*** SUTO LAN mengajak Kang Han Cing meninggalkan kamar itu.

Mereka melalui lorong-lorong panjang, tiba disebuah ruangan.

Dan disini Suto Lan berkata .

"Inilah kamar ayah angkatku."

Didepan pintu berdiri dua orang gadis, masing2 menyoren pedang dipinggang, melihat kedatangan Suto Lan, kedua gadis pelayan itu memberi hormat.

Suto Lan menganggukkan kepala, mengajak Kang Han Cing memasuki ruangan tengah.

Dari dalam terdengar satu suara yang sangat dingin dan kaku.

"Suto Lan yang datang?"

"Ya."

Jawab Suto Lan.

"Anakmu telah membawa Kang jiekongcu."

"Suruh dia masuk."

Suara dingin dan ketus itu berkata. Suto Lan menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata .

"Itulah ayah angkatku. Mari masuk."

Ruangan itu serba sederhana, diatas sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu jati, dikedua ujung terdapat pot bunga, dengan bunga lain yang semerbak, meresap dan menusuk hidung.

Didepan bangku panjang itu terdapat empat kursi, terukir dengan baik.

Kini, diatas bangku panjang berduduk seorang tua bermuka keren, ia mengenakan pakaian hijau.

Tubuhnya tinggi besar, jenggotnya yang putih terurai panjang ke bawah.

Matanya bercahaya, menyorot ke arah Kang Han Cing.

"Kau inikah Kang jiekongcu ?"

Ia bertanya. Kang Han Cing menganggukkan kepala dan berkata .

"Betul. Boanpwee Kang Han Cing."

Dengan nada yang dingin dan kaku, orang tua itu berkata.

"Silahkan duduk !"

Tanpa diperintah kedua kali, Kang Han Cing mengambil kursi dan duduk disana.

Suto Lan juga mengambil kursi lain dan merendengi Kang Han Cing, mereka duduk berhadapan dengan orang tua itu.

Orang tua bermuka keren itu berkata .

"Selamat datang atas kunjungan Kang-jie kongcu ke rumah ini, aku mengucapkan selamat."

Kang Han Cing memperhatikannya beberapa saat, ia bertanya .

"Bolehkah boanpwee bertanya ? Bagaimana sebutan cianpwee yang mulia ?"

Dengan dingin dan ketus orang tua berbaju hijau itu berkata .

"Aku tidak suka memberitahu kepada orang lain."

Jawabnya temberang.

"Ho, ho......."

Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung.

"Aku paling tidak suka bicara dengan orang yang tak mempunyai nama."

Wajah orang tua itu berubah, ia berkata keras .

"Hei, berani kau berlaku kurang ajar ?"

"Kukira, orang yang kurang ajar itu adalah orang yang tidak bernama."

"Dihadapanku, kau berani mengucapkan kata2 ini lagi ?"

Dengan menantang Kang Han Cing berkata .

"Mengapa tidak? Ambil saja golok, pasang dileherku, akan kuucapkan lagi seribu kali, mau?"

"Bagus....bagus...."

Orang tua itu merengus.

"Hendak kulaksanakan permintaanmu itu."

Mendengar kata2 tadi, cepat2 Suto Lan berteriak .

"Ayah....."

Si orang tua berbaju hijau melirik ke arah Suto Lan, ia berkata .

"Ada urusan apa ?"

Suto Lan berkata .

"Bukankah kau hendak merundingkan sesuatu dengan Kang jiekongcu?"

"Uh !"

Orang tua berbaju hijau itu menganggukkan kepala. Dengan perlahan Suto Lan berkata .

"Maka bercakaplah baik2. Jangan bersitegang."

Orang tua berbaju hijau tertegun, sepasang sinar mata yang tajam menatap kearah sang puteri, dan pindah ke wajah Kang Han Cing, wajah itu sangat tampan, orangnya gagah, sikapnya baik.

Kedua muda mudi dihadapannya adalah pasangan yang setimpal, tanpa terasa, ia menganggukkan kepala, mengurut jenggotnya dan berkata .

"Ho, ho... ayahmu bukan bermaksud mengganggunya."

Selembar wajah Suto Lan menjadi merah menoleh kearah Kang Han Cing dan berkata .

"Jiekongcu, bisakah kau bersabar sedikit. Kita ber-cakap2 secara ramah tamah, bukankah lebih baik dari pada bersitegang."

Terdengar suara Kang Han Cing .

"Ada urusan apa yang hendak dirundingkan oleh ayah angkatmu, silahkan saja katakan."

Kini wajah orang berbaju hijau yang marah tadi mereda kembali, suaranyapun didatarkan serata mungkin, per-lahan2 berkata .

"Aku ada sedikit kesulitan yang hendak meminta keterangan Kang jiekongcu, kuharap saja kau bisa berterus terang."

"Urusan apakah itu ?"

Bertanya Kang Han Cing. Orang tua berbaju hijau berkata.

"Aku juga pernah bertemu muka beberapa kali dengan ayahmu. tiga bulan yang lalu tersebar berita tentang kematiannya. Dikatakan dia sudah almarhum. Apa betul ada kejadian yang seperti ini ?"

Kang Han Cing terpaksa berpikir sekali lagi, hatinya mengeluh.

"Dia masih menganggap ayah belum mati."

Untuk menjaga kehormatan dirinya, ia menjawab pertanyaan itu.

"Kesehatan ayah belum pernah terganggu. Mendadak ia menghembuskan napas yang terakhir, memang keadaan ini sangat membingungkan orang. Aku dan toako mendampinginya, mana mungkin bisa kematian palsu?"

Tampak sinar mata orang tua berbaju hijau itu menatap Kang Han Cing tajam-tajam, ia hendak me-nimbang2 benar tidaknya dari keterangan yang diberikan oleh si pemuda, mulutnya berdehem sebentar, ia berkata .

"Betul2 Kang toa sianseng sudah meninggal dunia !"

Hati Kang Han Cing berkata sendiri .

"Dari kata2nya ia masih meragukan kematian ayah. Mungkinkah orang2 ini mempunyai hubungan erat dengan hilangnya mayat ayah."

Dugaan Kang Han Cing tepat !

Sedari ia meninggalkan gedung keluarga Kang ber-sama2 Goan Tian Hoat, berulang kali mendengar cerita tentang manusia2 palsu.

Dari yang pertama2 manusia imitasi Ban Ceng San, dari manusia palsu Than Hoa Toh, dan manusia palsu dari si gadis berbaju hijau Suto Lan yang menyamar menjadi dirinya, dan hubungan2 itu ternyata mengkaitkan dirinya dalam serentetan pemalsuan-pemalsuan besar.

Orang2 pemalsu ini adalah turunan Su-khong Eng, tokoh misterius berkerudung hitam didalam cerita Pembunuh Gelap.

Untuk mengetahui cara2 pemalsuan, para pembaca bisa mencari buku cerita dengan judul PEMBUNUH GELAP, dimana dituturkan dengan terperinci, partai Raja Gunung menyamar diri mereka, dan mengubah wajah mereka.

Kang Han Cing menantang sepasang sinar mata orang tua berbaju hijau itu, dengan dingin ia berkata .

"Lotiang masih meragukan kematian ayah ? Alasan apa kalau kematian ayah itu adalah kematian palsu ?"

Wajah orang tua berbaju hijau tetap dingin beku, sepatah demi sepatah ia berkata .

"Orang yang mempunyai pikiran ini bukan aku seorang, kukira merekapun mempunyai pikiran yang sama."

Alis Kang Han Cing yang lentik terangkat, dengan marah ia bergeram.

"Dugaan yang tidak masuk diakal."

Orang tua berbaju hijau itu mengurut jenggot, ia berkata .

"Dimana yang tidak masuk akal. Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong. Inilah kenyataan."

Sepasang mata Kang Han Cing ber-kilat2, ia membentak .

"Ternyata tindakan lengcu Panji Hitam yang membongkar peti mati ayahku adalah instruksimu!"

Nah!

Orang tua berbaju hijau ini adalah salah satu tokoh penting dari golongan Perintah Maut.

Orang inilah yang sudah menyuruh lengcu Panji Hitam membongkar peti mati Datuk selatan Kang Sang Fung.

Orang ini juga yang menyuruh Suto Lan menyamar Kang Han Cing mempermainkan Put-im suthay dan Ciok Sim taysu.

Orang tua berbaju hijau itu tertawa tawar, ia berkata .

"Sesudah kematian ayahmu, peti mati itu kosong melompong. Apa salahnya aku menyuruh orang memeriksa?"

"Memeriksa ? Apa lagi yang diperiksa di kelenteng Ciok-cuk-am ? Mengapa menyuruh orang mencelakakan diriku ? Mengapa menyuruh orang memancing aku ke tempat itu? Sesudah membunuh Yen Siu Lan ! Mengapa mengundang Put-im suthay dan Ciok-sim taysu, menjebak diriku ?"

"Terlalu banyak sekali pertanyaan itu."

Berkata orang tua berbaju hijau.

"Kematian Yen Siu Lan hanya suatu kebetulan, kebetulan kau datang kesana. Salahmu sendiri."

"Dengan alasan apa kalian membunuh Yen Siu Lan ?"

Bentak Kang Han Cing.

"Yen Siu Lan adalah salah satu anggota kami yang sudah berkhianat. Kematian Yen Siu Lan tidak ada hubungannya denganmu, Kang jie-kongcu."

"Huh !"

Kang Han Cing mengeluarkan dengusan dari hidung. Terdengar lagi suara orang tua berbaju hijau .

"Undanganku kepadamu adalah untuk merundingkan sesuatu."

"Katakan lekas !"

"Kudengar cerita tentang ilmu kepandaianmu yang hebat, bagaimana kalau kau masuk menjadi anggota kita? Aku mendapat tugas untuk mengajak dirimu."

Hati Kang Han Cing tergerak, ternyata orang tua berbaju hijau ini juga bukan pimpinan tertinggi, ia hanya mendapat perintah saja. Memandang kepadanya dan bertanya .

"Siapakah yang memberi instruksi untuk mengajak aku?"

"Ketua Perintah Maut."

"Siapa yang menjadi ketua perintah Maut ?"

"Sebelum kau bersumpah menjadi anggota Perintah Maut, urusan ini tetap menjadi suatu rahasia."

"Bagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perintah Maut? Apa yang menjadi panji hidup Perintah Maut ?! Bagaimana haluan politik Perintah Maut ?"

"Legakan hatimu, golongan Perintah Maut adalah wadah untuk menampung semua tokoh-tokoh silat yang ada, menyatukan persengketaan2 yang terjadi didalam rimba persilatan. Kalau saja kau mau menjadi salah satu anggota, tidak nanti mengecewakan. Kukira kedudukanmu tidak berada dibawahku."

Kang Han Cing tidak segera memberikan jawaban, ia sedang memikir, golongan Perintah Maut adalah golongan baru, semboyannya masih gelap, dari tindak-tanduk yang dilakukan orang2 itu, golongan ini bukanlah golongan betul.

Ia tidak mau terjerumus kedalam kehinaan, sudah seharusnya ia menolak.

Sebelum Kang Han Cing membuka suara, orang tua berbaju hijau itu berkata lagi .

"Bagaimana ?"

Kang Han Cing mendongakkan kepala dan bertanya .

"Aku dipaksa harus masuk ?"

Orang tua berbaju hijau masih merocos terus, katanya .

"Bukan paksaan, hanya berapa anjuran. Kalau saja kau menerima tawaran ini, kedudukanmu sangat baik. Kedudukan hu-huat !"

"Apa artinya huhuat ?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Huhuat hanya berada dibawah ketua, sama saja dengan wakil ketua, kecuali ketua pribadi, kau bisa menggerakkan seluruh anggota kita."

"Oh......"

Orang tua berbaju hijau berkata lagi .

"Lebih jelas lagi kuceritakan. Beberapa tahun yang lalu, aku juga yang mendapat tugas menyambangi ayahmu, kukatakan kepada ayahmu, golongan kita menyediakan tempat huhoat kepadanya, dengan maksud agar ia bisa menerima jabatan itu........."

"Ayah tidak akan menerima tawaran itu !"

Potong Kang Han Cing singkat. (Bersambung 5)

Jilid 5

"HA, HA ! Keluarga Lie di Ho-peh adalah seorang dari empat datuk persilatan yang sangat disegani orang. Mana bisa memandang pada partay kecil seperti Hay yang-pay ? Kedatanganku kesini untuk berobat, bukan hendak mengadu kekuatan atau kebesaran nama !"

"Bila kau merasa penasaran marilah kita bertanding ! Tidak akan ada yang menghalang-halangi pula kalau kalian dapat mengalahkan diriku."

Berkata si pemuda she Lie.

"Ha, Ha ! Dari tadi saja kau katakannya. Hendak kulihat, apa kehebatan ilmu silat dari keluarga Lie, yang telah menggemparkan daerah utara ini, hingga membuat turunannya besar kepala !"

Ucap Jen Pek Coan mengejek.

"Hm ! Hanya dengan kemampuanmu saja?"

Ucap pemuda itu dengan mata menyorot tajam.

"Aku sendiri pun telah cukup untuk melawanmu !"

Kata Jen Pek Coan.

"Lebih baik kalian maju berbareng !"

Melihat sedikitpun orang tidak memandang mata, hati Jen Pek Coan bergelora panas, ia mencabut pipa rokok yang terselip dipinggang, katanya sengit .

"Jangan omong besar, kau robohkanlah aku lebih dulu !"

Pemuda itu mengerutkan alis, katanya lirih .

"Untuk merobohkan dirimu tidak terlalu sulit ! Bila kau dapat bertahan dua puluh jurus seranganku, biarlah Lie Wi Neng mengaku kalah !"

Betapa marahnya Jen Pek Coan diejek serta dihina demikian.

Ia berkelana di dunia kangouw puluhan tahun, belum pernah menemukan orang yang besar kepala seperti Lie Wi Neng ini.

Tiba2 kupingnya dapat mendengar suara suhengnya yang diucapkan dari jauh dengan kikang .

"Hati2lah jite. Ia berani omong besar tentu mempunyai kehebatan ilmu silat yang tidak boleh dipandang enteng !"

Jen Pek Coan adalah jago persilatan yang berpengalaman luas, ia jadi malu pada diri sendiri karena gampang terpengaruh oleh hawa panas hingga melanggar pantangan yang harus memiliki ketenangan jiwa bila hendak bertanding.

Cepat2 Jen Pek Coan menenangkan hatinya yang terbakar panas, dengan menjura ia berkata .

"Aku yang bodoh meminta petunjuk dari Lie kongcu !"

Berbareng dengan ucapannya, tangan kanan mendorong kedepan.

"Wutt !"

Tempat bako dari pipa itu melayang memukul kearah musuh. Inilah jurus "Liu sing cui nyet"

Atau bintang mengejar rembulan.

Jurus ini sebenarnya tidak akan cepat ia gunakan keluar, hanya karena Lie Wi Neng sangat memandang enteng hingga ia berniat bisa lebih cepat mengalahkannya.

Dalam hati Jen Pek Coan menduga, lawannya tentu akan terkena pancingan, maka berbareng pipa rokok itu memukul sangat cepatnya.

Lie Wi Neng tertawa dingin, tiba2 ia membukakan kipas yang dipegangnya, lalu mengibaskan kearah meluncurnya tempat bakok sambil kakinya melangkah maju setindak.

"Wutt !"

Tempat bakok itu terpukul hingga mental berbalik.

Betapa terkejutnya hati Jen Pek Coan, sungguh ia tidak duga sebelumnya, kalau lawannya mempunyai tenaga sinkang demikian besar, hingga hanya mengibaskan kipas saja bisa memukul kembali serangan senjatanya.

Untuk menahan senjatanya sudah tidak keburu, cepat ia miringkan tubuh serta melompat mundur setengah tindak !

"Hm !"

Lie Wi Neng tertawa dingin berbarengan tubuhnya mencelat maju sangat cepatnya, kipas ditangannya itu ditutupkan kembali lalu menotok kearah dada lawannya.

Gerakannya sedemikian cepat, hingga membuat Jen Pek Coan kuwalahan.

Cepat ia menyedot napas lalu tubuhnya melompat kebelakang delapan tombak.

Putra Lie Kong Tie Lie Wi Neng hanya berdiri tenang, dia tidak mau menguber.

Ia tertawa dingin serta berkata sambil mengipas2.

"Ini baru jurus kesatu !"

Si tangan sakti Jen Pek Coan adalah wakil ketua dari Hay yang-pay yang sangat disegani oleh kaum bulim di daerah utara.

Kini baru satu jurus telah dibuat terdesak oleh seorang anak muda dari keluarga Lie.

Hatinya sungguh merasa malu serta penasaran.

Darahnya tambah mendidih diejek lawannya.

Tanpa pikir lagi, ia menerjang maju, menyerang pemuda itu dengan pukulan2 yang luar biasa cepatnya, hingga angin pukulan menderu2 dan senjata pipa itu berobah menjadi sinar putih mengurung lawannya !

Lie Wi Neng tetap berdiri tenang, tidak menghiraukan serangan lawan, begitu serangan itu mendekat, ia hanya miringkan tubuh serta kipasnya ditutup kembali, lalu balas menyerang dengan totokan2 yang tidak kalah cepatnya !

"Trak !

Trak !"

Senjata mereka beradu dua kali hingga mengeluarkan suara yang amat keras.

Tiba2 berkelebat bayangan kipas menempel pada pipa, kemudian meluncur turun, menotok ke arah jalan darah telapak tangan kanan Jen Pek Coan.

Kecepatan yang tiada tara !

Jen Pek Coan terkejut, sedikitpun tidak dapat melihat bagaimana lawannya melakukan serangan ilmu silat yang aneh, serta sangat cepat ini.

Ia hanya merasai serangan pipa bakonya dielakannya dengan mudah.

Terpaksa Jen Pek Coan cepat menarik senjatanya serta melompat ke samping satu tindak.

Lie Wi Neng memandang lawan yang sudah dikalahkan itu, sikapnya sangat angkuh dengan suara yang dingin, ia mengejek dengan lirih.

"Hm ! Tidak disangka, pandanganku meleset, aku kira kau bisa bertahan sampai duapuluh jurus ! Dilihat dari kemampuanmu, paling kuat hanya sanggup bertahan sepuluh jurus saja ini baru jurus yang kedua !"

Ucapan itu beralasan, serta merupakan kenyataan yang tidak bisa dibantah.

Walaupun baru dua jurus, tapi untuk menghadapi ilmu silatnya yang serba aneh dan luar biasa hebatnya, Jen Pek Coan bukanlah tandingan dari pemuda berbaju biru itu.

Karena pertandingan itu ia lebih banyak hanya pertahankan diri daripada menyerang.

Kenyataan ini tidak bisa disangkal, Kuo Se Fen pun mengakuinya.

Ia merasa kuatir serta gelisah, takut jitenya benar2 tidak bisa bertahan sampai sepuluh jurus menghadapi serangan pemuda ini !

Kuo Se Fen menduga2, siapakah gerangan suhu dari Lie Wi Neng ?

Memang, ilmu tangan kosong dari keluarga Lie kehebatannya sangat tersohor didunia kang ouw, hingga Lie Kong Tie dapat julukan si telapak tangan dewa !

Biarpun ilmu cakar elang dari Hay yang-pay tidak sehebat dengan ilmu telapak tangan dewa tapi tidaklah mungkin kalah sedemikian jauhnya !

Kuo Se Fen belum pernah mendengar bahwa si telapak tangan dewa itu mahir dalam segala senjata, lebih2 senjata yang aneh2 seperti kipas putranya ini.

Maka ia dapat menduga putra si telapak tangan dewa ini tentu masih mempunyai suhu, selain mendapat pelajaran dari ayahnya sendiri.

Tapi hatinya dibikin bingung karena dalam dunia kangouw boleh dikata orang yang menggunakan kipas sebagai senjata sangat jarang, lebih2 yang mempunyai ilmu silat demikian anehnya !

Ketika Kuo Se Fen sedang berpikir-pikir, nampak Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing yang berada dalam depot pun sedang merundingkan sesuatu, sambil berbisik, Kang Han Cing menggoyang-goyangkan jari tangannya pula diatas meja batu itu.

Goan Tian Hoat mendengarkannya dengan penuh perhatian dan kadang2 kepalanya manggut-manggut.

*** Bab SEBAGAI orang yang telah lama berkecimpungan di dunia Kangouw, bagaimanapun Jen Pek Coan memiliki ketenangan dalam menghadapi segala hal maupun kesulitan.

Setelah bertanding dua jurus, maklumlah ia bahwa kini sedang berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, yang sebelumnya belum pernah ia temui.

Lebih2 yang sedang dihadapinya kali ini adalah ilmu silat yang sangat aneh dan selama hidup belum pernah dilihatnya.

Maka dalam hati ia mengambil keputusan dalam pertempuran ini akan bertahan serta membela diri saja.

Karena ia maklum menyerang akan lebih membahayakan dirinya.

Maka dalam pertempuran selanjutnya Jen Pek Coan hanya bertahan dan melindungi rapat seluruh bagian tubuh yang penting, walaupun mendapat serangan gencar dan hebat ia dapat mengelak setiap serangan, hingga membuat lawannya penasaran.

Sekejap saja pertempuran telah berlangsung hampir sepuluh jurus.

Lie Wi Neng yang menghadapi lawan hanya bertempur dengan bertahan, ia jadi sengit dan tidak sabar, ia maklum, bila tidak berhasil merobohkan lawannya dalam sepuluh jurus ini, niscaya ia akan mendapat malu besar atas kata2 sombong yang pernah diucapkan.

Berpikir demikian, hatinya jadi gelisah, darahnya mendidih panas, hingga wajah yang putih bersih itu berobah merah padam, air mukanya nampak beringas !

Tiba2 tubuhnya berputar sangat cepat, disusul dengan suara bentakannya yang melengking .

"Lepas !"

Bagaikan bintang meluncur jatuh, kipasnya menyabet ke arah pundak kanan Jen Pek Coan !

Secepat itu pula Jen Pek Coan membabatkan pipanya, menangkis datangnya serangan kipas, tempat bakoknya berkelebat meluncur ke pundak lawan pula !

Tapi diluar dugaan, Lie Wi Neng tiba2 menarik serangannya dengan mengedutkan sedikit tangan, serangan kipas itu balik menyabet ke atas.

"Trak !"

Terdengar suara beradunya dua senjata hingga mengeluarkan suara yang menggetarkan ulu hati.

Jen Pek Coan merasai betapa besarnya tenaga pukulan kipas lawan, hingga hampir saja melepaskan senjatanya.

Begitu senjata tertangkis, Lie Wi Neng tidak memberi kesempatan untuk lawannya bisa siap bertahan, berbarengan selagi senjata lawannya terbentur keras, cepat bagaikan halilintar, tangannya meluncur turun menotok pundak kanan lawan !

Pundak kanan Jen Pek Coan terasa kesemutan, sangat nyeri, tanpa bisa dihindari senjatanya terlepas dari genggamannya, mental tinggi keatas udara !

Hati Jen Pek Coan sangat gelisah, darahnya mendidih panas, sambil membentak keras jari tangan kiri yang terpentang bagai cakar elang itu menyerang ke dada lawan.

Lie Wi Neng terkejut, sungguh ia tidak sangka, kalau sang lawan yang sudah tertotok masih dapat membalas mengirimkan serangan mautnya itu.

Dengan gesit ia mengelak datangnya serangan itu dengan miringkan tubuh sedikit.

Akan tetapi terlambat, serangan jari tangan lawan berhasil menjambret sebagian baju didadanya hingga sobek !

Kalau saja Jen Pek Coan yang tertotok serangan Lie Wi Neng tidak memiliki tenaga sinkang besar, tidak mungkin ia bisa bertahan setelah pundaknya berhasil ditotok.

Tadi, begitu Jen Pek Coan merasakan pundaknya nyeri, cepat ia menahan napas serta memusatkan tenaga sinkangnya keatas tangan kiri untuk menyerang dengan cakar mautnya.

Akan tetapi sial !

Ia hanya berhasil membeset robek baju lawan saja.

Kakinya terasa lemas hingga jatuh duduk diatas tanah.

Melihat bajunya sobek dicakar lawan, Lie Wi Neng jadi bertambah beringas, matanya melotot, bentaknya dingin .

"Hm ! Bedebah ! Kau kira bisa bertahan sampai sepuluh jurus dengan menyobek bajuku !"

Tiba2 ia melangkah maju setindak, kakinya menendang Jen Pek Coan.

"Tahan, Lie kongcu !"

Kuo Se Fen berseru kaget tubuhnya mencelat maju.

Jen Pek Coan yang masih terduduk ditanah, begitu melihat lawan menendang dengan keras, cepat2 ia bergulingan menghindarkan ancaman bahaya maut dengan menggunakan jurus "Keledai menggelinding malas", setelah serangan tendangan lawan berhasil dielakan, ia lompat bangun lalu berkata .

"Cukup ! Sudah sepuluh jurus bukan?"

Ternyata jalan darah Jen Pek Coan tidak terkena totokan, ia jatuh duduk hanya karena kakinya merasa agak lemas akibat pukulan kipas diatas pundaknya.

Dengan wajah cemberut dingin, Lie Wi Neng mengipas2kan dirinya, sorot matanya berpindah kearah diri Kuo Se Fen, katanya sombong .

"Selanjutnya giliranmu, bukan ?"

Dihina demikian, Kuo Se Fen menjadi marah, wajahnya berubah.

Akan tetapi ia menyadari keadaan sangat menguatirkan, ia maklum pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya hingga sukar ditaklukan.

Bila mana ia tidak bisa memenangkan pertandingan ini habislah pamor serta nama baik partay Hay yang-pay di bawah tangannya.

Untuk mengundurkan diri dari sengketa ini juga tidak mungkin, karena dirinya akan ditertawai sebagai pengecut.

Setelah berpikir sejenak kemudian mengelus2 jenggotnya ia berkata .

"Ya. Dengan sendirinya aku minta pelajaran darimu !"

Baru saja ucapannya habis, tiba2 Goan Tian Hoat bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri suhunya .

"Itio, untuk menghadapi bocah ini, tidak perlu itio turun tangan sendiri. Biarlah siauwte yang melayaninya lebih dulu !"

Kuo Se Fen mengerutkan kening. Pikirnya .

"Susiokmu sendiri bukan tandingannya, lebih2 kau, bukankah berarti hanya mengantarkan jiwa mentah2."

Setelah berpikir begitu Kuo Se Fen menggelengkan kepala perlahan, katanya .

"Jaga saja saudaramu baik2, biarkan aku yang turun tangan."

Goan Tian Hoat bagai tidak mendengar kata2 suhunya, ia tetap berdiri tenang, katanya .

"Itio bila berhadapan dengan Lie cuangcu sudah sepantasnya itio sendiri yang turun tangan. Akan tetapi untuk melayani orang she Lie dari kaum muda, sebagai seorang ketua dari Hay yang pay, sungguh menurunkan harga diri itio, juga akan jadi buah tertawaan kaum bulim. Biarlah siauwte saja yang mewakili diri itio !"

Mendengar kata2 Goan Tian Hoat hati Kuo Se Fen tergerak, serta ber-pikir2 .

"Tian Hoat adalah seorang yang sangat cerdik serta banyak pengalaman. Apakah ia tidak menyadari bahwa dirinya bukan tandingan pemuda ini yang ilmu silatnya luar biasa tinggi serta aneh ? Jangan2 ia berbuat demikian karena hendak membela nama baik perguruan, hingga sudah tidak pikirkan jiwanya sendiri ! Akan tetapi untuk apa harus berbuat demikian ? Bukankah pengorbanannya sia2 belaka ?"

Berpikir demikian, wajah Kuo Se Fen ditekukan, bentaknya sungguh2 .

"Mundurlah ! Kau bukan tandingannya !"

"Harap itio jangan kuatir, siauwte rasa masih sanggup untuk menghadapi Lie kongcu."

Ucap Goan Tian Hoat pantang mundur.

Mendengar ucapan muridnya, ia jadi lebih mencurigai bahwa murid ini hendak mengadu jiwa untuk bisa membalas budi besarnya.

Kuo Se Fen sangat terharu atas kesetiaan serta kebaktian muridnya ini hingga membuat hatinya sangat berduka.

"Itio ! Izinkanlah ia mencobanya !"

Terdengar suara Kang Han Cing yang lemah pelahan dari depot itu.

Betapa terperanjat Kuo Se Fen mendengar permintaan Kang Han Cing ini.

Sungguh ia tidak dapat mengerti, mengapa Kang Han Cing menyokong muridnya yang hendak berkorban!

"Apakah perundingan kalian telah selesai,"

Tanya Lie Wi Neng tidak sabar.

"Sabarlah ! Biar bagaimanapun dirimu akan dapat diusir pergi !"

Ejek Goan Tian Hoat.

"Ha, ha, ha, ha! Diusir pergi? Hm ! Dalam dunia kangouw sukar untuk mencari orang yang bisa mengusir diriku !"

"Gunung tinggi masih ada yang lebih tinggi, manusia pandai, masih terdapat yang lebih pandai, Hm ! Janganlah kau sombong, menganggap sudah tidak ada orang yang dapat mengalahkan ilmu kepandaianmu !"

Kata Goan Tian Hoat sengit.

"Hm ! Akan tetapi terhadap Hai yang pay, ucapanku sedikitpun bukanlah sombong !"

"Syut !"

Goan Tian Hoat mencabut senjatanya, lalu bentaknya keras .

"Bedebah tidak tahu diri, kacailah mukamu, apakah kau kira ilmumu bisa mengalahkan ilmu silat Hai-yang-pay ?"

Darah Kuo Se Fen pun mendidih panas mendengar hinaan pemuda ini, ucapnya mengejek.

"Ha, ha ! Ka Ling, kau cobalah dulu ilmu silat orang sakti ini ! Aku sendiripun akan minta pelajaran padanya !"

Sinar mata Lie Wie Neng memandang tajam, menudingkan kipasnya berkata .

"Aku tidak ada waktu mendengarkan ocehan kalian, lebih baik kalian maju berbareng saja!"

Goan Tian Hoat berkata .

"Tadi sudah kukatakan bahwa untuk menghadapi dirimu tidak perlu pamanku turun tangan."

Wajah Lie Wie Neng merah padam, hatinya mendongkol, matanya melotot, ia membentak .

"Mari kita bertempur !"

"Ha, ha ! Jangan terburu nafsu, kukira kau akan kuwalahan menghadapi seranganku!"

Kata Goan Tian Hoat.

"Jahanam tidak tahu diri ! Terima serangan !"

Bentak Lie Wie Neng marah.

Berbareng dengan ucapannya, ia melipat kipasnya, menyerang Goan Tian Hoat dengan kecepatan luar biasa.

Serangan kipas itu berobah menjadi sebuah sinar berbentuk setengah bulat menyerang dada Goan Tian Hoat.

Goan Tian Hoat terkejut, betapa dahsyatnya angin dorongan yang keluar dari serangan kipas lawan.

Cepat2 melintangkan golok didepan dada, didorong kedepan dengan jurus "Cui-kong-tui-men"

Atau orang mabok mendorong pintu, dari ilmu Kiu-kong-to-huat.

"Trang !"

Terdengar suara dua senjata beradu keras, tangan kanan Goan Tian Hoat terasa sakit kesemutan dan hampir2 senjatanya terlepas, cepat tubuhnya mundur setengah tindak. Kuo Se Fen mengerutkan alis.

"Benar saja ia hendak mengadu jiwa."

Pikirnya gelisah. Lie Wie Neng tertawa dingin, tiba-tiba tubuhnya mencelat maju.

"Set...set"

Nampak dua buah sinar putih berkelebat keluar dari kipasnya, meluncur ke kedua pundak Goan Tian Hoat.

Goan Tian Hoat membongkokkan tubuhnya sedikit, ia berhasil menghindari dua serangan sinar putih itu, berbarengan dengan jurus "Ka-cu-an-ce-hu"

Atau pemburu menusuk harimau, goloknya menusuk ke perut lawan. Lie Wie Neng memiringkan tubuh sedikit, ia robah gerakan kipasnya, memukul ke balik golok yang liwat disamping tubuhnya.

"Trang !"

Kembali terdengar suara beradunya dua senjata yang sangat keras, tanpa dapat ditahan, tubuh Goan Tian Hoat terdorong mundur dua tindak.

Untung goloknya tidak terlepas karena digenggam dengan dua tangan, hanya telapak tangannya terasa panas dan sakit.

Hati Kuo Se Fen berdebar hebat, ia menggenggam senjata ditangan, ber-siap2 untuk menolong muridnya dari ancaman maut.

Ia sadar muridnya itu bukanlah tandingan Lie Wie Neng yang memiliki ilmu kepandaian tinggi serta aneh.

"Ha, ha! Lumayan juga ilmu kepandaianmu, sanggup bertahan sampai dua jurus! Jaga seranganku yang ketiga !"

Dengan menggoyangkan tangan, Lie Wie Neng menerjang maju, sekejap saja kipas itu lenyap dari pandangan mata, berobah menjadi segulungan sinar putih, disertai deruan angin yang luar biasa kerasnya.

Sinar putih itu bagaikan kabut menyerang mengurung tubuh Goan Tian Hoat.

Mendapat serangan yang sangat aneh serta luar biasa hebatnya, Goan Tian Hoat cepat2 mundur dua tindak, menghindari kurungan serangan kabut kipas lawan, sedang tangannya menggenggam goloknya erat.

Tiba2 Goan Tian Hoat berseru keras berbareng tubuhnya mencelat maju kembali dengan kecepatan luar biasa !

Trang !

Trang !

Terdengar dua kali suara bentrokan, kedua senjata yang sangat keras, mendadak gulungan sinar putih yang tadi mengurung diri Goan Tian Hoat buyar lenyap tanpa bekas.

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan menjadi tegang menyaksikan jalannya pertempuran yang seperti itu, tidak pernah mereka mengedipkan matanya, akan tetapi mereka tidak dapat melihat dengan cara bagaimana Goan Tian Hoat berhasil mengelakkan serangan lawannya yang sangat luar biasa aneh serta dahsyat.

Dalam hati mereka merasa heran, karena ilmu silat yang digunakan Goan Tian Hoat bukanlah jurus2 yang terdapat dalam "Kiu-kong-to-huat"

Dari Hai-yang-pay.

Goan Tian Hoat dan Lie Wie Neng lompat mundur.

Pertempuran terhenti.

Goan Tian Hoat berdiri bengong dengan muka bercucuran keringat !

Wajah Lie Wie Neng pucat pasi, tangan kirinya memegangi pundak kanan yang terluka berat, luka itu mengucurkan darah, membuat baju dibagian pundak kanan menjadi merah.

Kipasnya terjatuh ditanah.

Keempat pengawal Lie Wie Neng, ketika melihat kongcunya terluka, mereka terkejut, cepat lompat menghampirinya.

Lie Wie Neng dengan sinar mata berkilatan memandang tajam ke diri Goan Tian Hoat, katanya dingin .

"Ilmu silat yang kau gunakan itu adalah ilmu yang pertama kali berhasil memecahkan jurus2 ilmu kipasku. Siapakah yang mengajarimu ?"

"Ha, Ha ! Betapa lucunya kau ini, aku adalah anak murid Hai-yang-pay tentu saja aku mempelajarinya dari Hai-yang-pay !"

Sahut Goan Tian Hoat setelah menenangkan hatinya.

Lie Wie Neng tidak percaya atas keterangan itu, akan tetapi ia tidak banyak bicara lagi, mendengus dingin, berlalu dari tempat itu.

Dirinya diiringi oleh empat orang pengawalnya yang telah memungut kipasnya diatas tanah.

Setelah mereka pergi Kuo Se Fen cepat bertanya .

"Goan Tian Hoat, apakah kau terluka ?"

"Tidak. Hanya lengan teecu agak terasa kesemutan dan linu."

Ucap Goan Tian Hoat sambil mengusap keringat dimukanya.

"Syukurlah, kau telah menyelamatkan nama baik Hai-yang-pay."

Ucap Jen Pek Coan girang.

Kuo Se Fen tidak mengutarakan sesuatu apapun, hanya memandangi diri muridnya.

Goan Tian Hoat dapat merasai pandangan sinar mata gurunya yang penuh selidik, maka cepat ia berkata memberi penjelasan.

"Kebenaran saja teecu berhasil memecahkan serangan kipasnya. Jurus yang barusan teecu gunakan adalah petunjuk dari toako."

Mukanya menoleh kearah Kang Han Cing.

Karena mereka dalam samaran maka ia menyebut Kang Han Cing toako.

Mendengar penjelasan itu, Kuo Se Fen jadi tercengang, dengan mengusap jenggot, ia berkata terharu .

"Aih! Memang sungguh luar biasa ilmu sakti dari keluarga Kang !"

Walaupun dimulut Kuo Se Fen berkata demikian, akan tetapi dalam hati merasa heran.

Sedari kecil, Kang Han Cing dirawat oleh neneknya, keadaan tubuhnya lemah serta sakitan.

Lagi pula ilmu silat yang luar biasa anehnya ini tidak mirip seperti ilmu silat keluarga Kang.

"Ha, Ha ! Pantas saja aku tidak dapat mengikutinya dengan pandangan mata !"

Ucap Jen Pek Coan. Saat itu pandangan mata Jen Pek Coan dapat menangkap dari kejauhan ada sebuah bayangan orang sedang lari mendatanginya.

"Toasuheng, ada orang datang lagi !"

Kuo Se Fen menoleh dengan pandangan tajam, katanya mesem .

"Biarlah mereka datang ! Mungkin urusan ini hari berbuntut panjang !"

Sekejap saja bayangan itu telah tiba, ternyata adalah seorang imam yang memakai jubah warna hijau, tangannya membawa sebuah kebutan bulu.

"Apakah kalian dari Hai-yang-pay ?"

Tanya imam itu dengan memberi hormat.

"Benar."

Sahut Kuo Se Fen.

"Entah yang manakah Kuo tayhiap ketua Hai-yang-pay ?"

"Aku sendiri."

"Pinto diperintahkan Kuancu untuk menyambut kedatangan kalian."

Kuancu berarti pemilik kelenteng. Di sini, berarti Tian-hong totiang yang dimaksudkan.

"Mohon maaf atas kelancangan kami ini !"

"Silahkan ! Kuancu sedang menunggu kalian."

Ucap imam itu kemudian berjalan dimuka untuk menunjuk jalan.

Mereka lalu mengikutinya dari belakang.

Hati Kuo Se Fen gembira karena kekuatiran terhadap Tian Hong Totiang yang diduganya tidak mau bertemu kini lenyap.

Setelah berjalan limapuluh tombak jauhnya, mereka telah tiba dihalaman muka dari Pek-yun-kuan.

Halaman itu penuh dengan pohon2 obat yang mengeluarkan bau harum menyedapkan.

Sebenarnya halaman ini adalah sebuah lereng gunung yang berlatar rata.

*** Bab SEBELUMNYA tempat ini merupakan sebuah lereng yang kemudian dikerjakan hingga menjadi suatu dataran seluas belasan hektar.

Ditengah-tengah pohon2 obat, terdapat beberapa buah jalan kecil yang dibuat dengan batu berwarna putih.

Jalan2 kecil itu saling bersimpangan, dari jauh nampak berbentuk sebuah patkuat besar.

Pek-yun-kuan dibangun ditengah pat-kuat besar itu.

Disekitar Pek-yun-kuan, udara penuh dengan kabut tebal yang tidak tembus oleh sinar matahari, dari keadaan alam itu, orang menyebutnya Pek-yun-kuan (timbangan awan).

Tiba2 imam itu menghentikan langkah, menoleh kebelakang, sambil tertawa dia berkata .

"Harap kalian mengikuti pinto dibelakang !"

Kemudian ia melangkahkan kaki berjalan, mengikuti jalan berliku-liku diatas batu2 kecil berwarna putih itu.

Melihat cara imam itu berjalan, hati Kuo Se Fen merasa heran, dalam hati ia ber-tanya2, mengapa Tian Hung totiang membuka jalan sedemikian rupa, tidak membuat jalan lurus saja ?

Walaupun ia berpikir seperti itu, akan tetapi kakinya terus mengikuti langkah si imam itu dari belakang, sebentar saja mereka telah tiba disuatu kebon yang penuh dengan pohon2 bambu.

Si imam itu tidak bicara sepatahpun, ia berjalan terus, pandangan mata meneliti sekitar tempat itu dengan cermat.

Tiba2 Jen Pek Coan melangkah maju mendekati suhengnya, berkata dengan menggunakan ilmu "Coan-ing-jou-mih" (Menyampaikan suara dari jarak jauh yang hanya bisa didengar oleh orang yang dituju).

"Apakah toasuheng dapat merasai kebun obat ini agak aneh?"

Kuo Se Fen yang sedang ber-pikir2 jadi tersentak bangun, betapa tidak, ia pun heran atas cara imam itu mengambil jalan, bukankah dengan jalan lurus lebih mudah dan cepat?

Apa maksudnya harus ber-putar2?

Hatinya menyesal tidak memperhatikannya dari semula !

Setelah melewati kebun bambu dihadapan mereka nampak sebidang tanah lapang yang sangat luas serta penuh oleh rumput2 halus, hingga dari kejauhan nampak seperti sebuah selimut raksasa berwarna hijau muda.

Di-tengah2nya terdapat sebuah jalanan yang terbuat dari batu warna putih.

Nampak sebuah bangunan yang besar serta megah terbentang diujung jalan.

Sebuah papan merek yang tertulis tiga huruf emas "Pek -yun -kuan"

Tergantung diatas. Setibanya didepan bangunan itu, si imam baju hijau berbalik sambil menjura berkata .

"Silahkan Kuo tayhiap berempat ikut pinto ke ruangan tamu! Kuancu sedang menunggu kalian."

"Silahkan !"

Ucap Kuo Se Fen balas menghormat.

Si imam lalu berjalan masuk diikuti oleh Kuo Se Fen berempat.

Setelah melalui ruangan depan yang besar mereka belok ke kiri, nampak terdapat tiga buah kamar berderetan.

Didepan setiap kamar terdapat pot2 kembang yang jumlahnya puluhan buah, hingga sepanjang tia itu menjadi harum menyedapkan.

Dengan pandangan matanya Kuo Se Fen meng-amat2i keadaan sekelilingnya dalam hati bertanya-tanya, dimanakah Lie Kong Tie si telapak tangan dewa tinggal?

Tiba2 nampak olehnya seorang tosu tua yang mengenakan jubah berwarna hijau pula, keluar dari sebuah kamar dengan wajah berseri2.

Rambutnya digulung keatas wajahnya putih ke-merah2an, jenggotnya panjang sampai ke dada.

"Selamat datang Kuo tayhiap, Jen ji-hiap! Harap maafkan atas terlambatnya penyambutan pinto!"

Ucap tosu tua yang bukan lain adalah Tian Hung totiang, sambil cepat menjura memberi hormat.

Pandangan mata Kuo Se Fen tertuju ke diri tosu tua itu, hatinya sangat kagum melihat wajahnya yang putih ke-merah2an serta sangat bercahaya.

Akan tetapi hatinya menjadi tercengang dan heran, menurut cerita orang, Tian Hung totiang adalah seorang yang sifatnya angkuh serta sombong, kini nyatanya tidaklah demikian.

Cepat ia melangkah maju menjura memberi hormat, katanya .

"Harap totiang tidak menjadi gusar atas kedatangan kami yang mengganggu ketentraman totiang !"

"Ha, Ha! Janganlah Kuo tayhiap berlaku sungkan ! Pinto sangat gembira, dari jauh2 Kuo tayhiap sudi berkunjung! Mari silahkan kita mengobrol didalam."

Sambut Tian Hung Totiang.

Lalu mereka mengikutinya masuk ke dalam kamar.

Kamar itu sangat bersih, serta perabotannya teratur sangat rapih.

Tian Hung totiang kemudian mempersilahkan tamunya duduk.

Seorang tosu kecil mengantarkan teh yang masih hangat.

Begitu duduk, pandangan mata Tian Hung totiang jatuh ke diri Kang Han Cing serta Goan Tian Hoat, lalu tanyanya.

"Siapa mereka ini ?"

"Mereka adalah keponakan pinto, bernama Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling."

Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling adalah nama2 samaran Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat. Kang Han Cing, Goan Tian Hoat cepat bangkit, lalu menjura sambil berkata .

"Boanpwee memberi hormat pada kuancu !"

"Silahkan kalian duduk !"

Tian Hung totiang balas menghormat. Baru saja Kuo Se Fen hendak memberitahukan maksud kedatangannya, Tian Hung totiang sudah berpaling, katanya .

"Apakah keponakan Kuo tayhiap menderita sakit ?"

"Sungguh luar biasa tajamnya pandangan totiang, memang Ka Siong sedang sakit, terkena racun yang sangat aneh. Pinto membawanya kesini untuk minta pertolongan totiang, karena telah ke-mana2 ia berobat belum juga bisa sembuh."

Mendengar disebutnya racun yang sangat aneh, wajah Tian Hung totiang berobah kaget! "Racun aneh ? Racun apakah itu ?"

"Entahlah ! Tubuhnya makin lama makin lemah, serta sinkangnya terasa lenyap hingga akhirnya jalan pun harus dituntun."

"Ini ..... Ini......"

Tian Hung totiang bertambah kaget.

"Baiknya pinto periksa dahulu !"

Tian Hung totiang lalu mengambil sebuah kursi duduk berhadapan dengan Kang Han Cing.

Cepat Kang Han Cing mengulurkan tangan kiri keatas meja untuk diperiksa denyut nadinya, setelah itu berganti tangan kanannya.

Begitu selesai Tiang Hung totiang memandang Kang Han Cing dengan mengerutkan alis, kemudian ia menoleh kearah Kuo Se Fen katanya .

"Ada sesuatu yang hendak pinto tanya, harap Kuo tayhiap tidak menjadi gusar !"

"Mengenai soal apakah itu?"

"Apakah wajahnya memakai obat pengubah muka?"

Tanya Tian Hung totiang.

Ditanya demikian Kuo Se Fen terkejut, sungguh tidak disangka Tian-hung totiang mempunyai pandangan mata sedemikian tajam.

Setelah me-mikir2, Kuo Se Fen berpaling, serta ucapnya dengan wajah sungguh2 serta pelahan .

"Apakah totiang tidak keberatan, kalau kita bicara didalam. Karena ada sesuatu hal yang sangat penting hendak kusampaikan !"

"Ha, Ha! Walaupun Pek-yun-kuan bukan terbuat dari bahan logam, akan tetapi tanpa seizin pinto, siapapun jangan harap bisa masuk kesini. Maka janganlah Kuo tayhiap merasa kuatir, bicaralah, tidak akan ada orang luar mencuri dengar !"

Kuo Se Fen tidak dapat berkata apa2 maka katanya kemudian .

"Kalau begitu baiklah akan kujelaskan semuanya. Sebetulnya ia bukanlah keponakanku......"

Tian-hung totiang menganggukan kepala pelahan, katanya .

"Memang pinto telah mendugainya, akan tetapi siapakah ia sebenarnya ?"

"Ia adalah jikongcu dari almarhum Kang taysianseng !"

Tiang-hung totiang terkejut, sorot matanya memandang tajam ke arah diri Kang Han Cing, kemudian katanya heran .

"Kang jikongcu?"

"Tian Hoat, cepat kau bersihkan obat pengubah wajah jikongcu itu !"

Perintah Kuo Se Fen.

Dari dalam saku bajunya Goan Tian Hoat cepat mengeluarkan sebutir obat, setelah mengoleskan sedikit diatas handuk kecil kemudian ia berikan kepada Kang Han Cing.

Kang Han Cing lalu mengusapkan handuk itu keatas wajahnya dan sekejap saja berobah jadi sebuah wajah yang putih bersih serta tampan, beralis lenting dan kedua matanya bening jeli, nampak bibirnya agak ke-merah2an serta mempunyai gigi yang sangat putih bersih.

Hanya sayang, wajah setampan itu sangat pucat dan lesu karena sakit.

Sorot mata Tian Hung totiang terus meng-amat2i wajah Kang Han Cing.

Setelah lewat beberapa lama, baru ia mengulurkan tangan untuk memeriksa kedua mata Kang Han Cing.

"Hm ! Betul saja itu pula......"

Ia tidak meneruskan kata2nya seperti orang keterlepasan omong. Melihat Tian Hung totiang tidak meneruskan kata2nya, Kuo Se Fen jadi curiga, cepat bertanya .

"Apakah Totiang telah mengetahui penyakitnya ?"

Dengan mengusap jenggot Tian Hung totiang menjawab pelahan.

"Menurut pendapat pinto, tubuhnya bukanlah hanya terkena semacam racun saja !"

Kuo Se Fen sangat terkejut, tanyanya pula .

"Kalau begitu, ia terkena oleh beberapa racun yang diadukan menjadi satu?"

"Benar. Dari pemeriksaan dalam tubuhnya terdapat San-lung racun pembuyar tenaga, Pai-sia racun Penyurut darah, dan Siau lin racun melemahkan tubuh, tiga macam racun lunak. Mungkin masih ada racun lain yang hingga kini belum menjalar..."

Tian Hung-totiang tidak melanjutkan pula penjelasannya hingga menambah kecurigaan Kuo Se Fen. Hati Goan Tian Hoat jadi bergetar hebat karena sangat terkejut, tanyanya tidak sabar.

"Apakah ada obat untuk menyembuhkan ketiga macam racun itu ?"

Tian Hung totiang menjawab dengan menggelengkan kepala.

"Ai ! Kalau untuk menyembuhkan semacam saja mungkin masih bisa!"

"Kalau begitu tiga macam racun beraduk ini tidak dapat disembuhkan?"

"Sebenarnya obat pemunah racun itu dibuat berdasarkan jenis racunnya untuk dicairkan daya kerjanya. Cara memusnahkannya adalah dengan menggunakan racun jenis lain yang saling berlawanan hingga daya kerja kedua racun itu menjadi lemah dan musnah. Akan tetapi untuk menemukan jenis yang berlawanan ini tidaklah mudah, serta harus mencari yang kekuatanya daya kerjanya sama hingga tidak membahayakan. Misalnya senjata rahasia beracun dari seseorang, walaupun banyak kaum bulim yang mahir dalam ilmu obat racun, akan tetapi sangatlah sukar untuk bisa membuatkan obat pemunahnya dan harus dari orang itu juga. Jikongcu............"

Tiba2 ia berhenti bicara, sorotan matanya mengawasi kearah jendela, bentaknya.

"Siapa di luar ?"

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan bangkit berdiri.

Melihat bentakannya tidak digubris orang tubuh Tian Hung totiang mencelat sangat cepat kearah pintu, akan tetapi ia hanya mendapatkan sebuah bayangan orang berkelebat serta lenyap dari pandangannya.

Hati Tian Hong totiang jadi terkejut melihat kecepatan bayangan itu, ia berpikir keras, siapakah orang itu yang mempunyai ilmu ginkang demikian hebatnya ?

Dengan air muka tidak berobah ia balik masuk ke dalam, katanya mesem .

"Harap kalian janganlah ambil pusing, mungkin ia adalah seorang murid pinto yang kebetulan lewat dari belakang!"

Melihat wajahnya agak berlainan, Kuo Se Fen menjadi gelisah, akan tetapi ia merasa tidak enak untuk banyak bertanya, maka ia duduk kembali tanpa bicara apa pun.

"Entah bagaimanakah keadaan jikongcu ini ?"

Tanya Jen Pek Coan kemudian.

"Dari pemeriksaan, ternyata jikongcu terkena tiga macam obat racun lunak, selain itu masih belum kelihatan telah menjalar dalam tubuhnya......."

"Menurut pendapat totiang, penyakit boanpwee sukar untuk disembuhkan bukan?"

Ucap Kang Han Cing lirih. Sambil memandangi diri Kang Han Cing, Tian Hung totiang berkata .

"Memang tidak seorangpun tabib yang sanggup menyembuhkan penyakitmu."

Kuo Se Fen dapat menangkap arti kata2 itu, yang dimaksud tentu tidaklah termasuk dirinya. Maka katanya girang .

"Ilmu pengobatan totiang sangat tinggi, tentu bisa menolongnya."

"Pengetahuan pinto tidaklah seberapa, mungkin pintopun tidak bisa mengobatinya."

Kuo Se Fen jadi kecewa, katanya .

"Mohon totiang bisa mencarikan jalan !"

"Telah dua puluh tahun lamanya pinto bersahabat dengan Kang taysianseng. Kalau saja pinto menemukan cara untuk bisa menyembuhkan penyakit putra dari sahabat lama, tidak akan pinto berpeluk tangan tidak mengobatinya, hanya......."

Sekali lagi Kuo Se Fen dibuat kecewa oleh jawaban itu. Dengan tertawa kecil yang dipaksakan ia berkata .

"Bagaimana kalau totiang menyembuhkan semacam racun dulu, baru kemudian mencari jalan untuk menyembuhkan yang dua lainnya ?"

"Tidak mungkin bisa dengan cara demikian, untuk menghilangkan penyakitnya haruslah sekaligus. Karena racun2 didalam tubuhnya itu telah bercampur menjadi satu dan menjalar ke seluruh tubuh serta sampai di dekat jantungnya. Cara demikian bisa memperdalam penyakitnya."

"Kuo susiok, dari keterangan totiang penyakit siauwte ini mungkin tidak bisa disembuhkan pula. Terhadap diri siauwte tidaklah begitu menjadi soal, hanya siauwte sungguh berterima kasih atas budi kebaikan hati susiok berdua serta saudara Goan yang telah sudi mengantarkan siauwte berobat kesini !"

"Harap Kang jihiante jangan kecil hati, aku yakin dalam dunia seluas ini tentu ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit hiantit !"

Hibur Kuo Se Fen cepat.

"Ha, Ha! Kata2 Kuo tayhiap memang tidak salah ! Dalam dunia ini hanya ada dua macam obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya,"

Ucap Tiang Hung totiang. Semua orang jadi heran atas ucapan Tian Hung totiang, bukankah tadi ia mengatakan tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit Kang Han Cing.

"Apakah nama kedua obat yang totiang maksudkan itu ?"

Tanya Goan Tian Hoat tidak sabaran.

"Yang kesatu adalah Ban-ing-hui-tian dari Tong-hai Suan-hian (dua orang dewa dari laut Tong-hai). Obat ini dibuat dari tigaratus enampuluh satu macam bahan2 yang sangat jarang serta sukar didapat, maka sungguh merupakan barang mustika yang tak ternilai harganya. Tiada penyakit, luka atau keracunan yang tidak bisa disembuhkannya."

"Mengenai riwayat Tong-hai Suan-hian ini, semasa muda aku pernah mendengarnya dari suhu. Memang pada beberapa puluh tahun yang lalu Ban-ing-hui-lian-tan oleh kaum bulim telah dianggap sebagai barang mustika yang sangat berharga. Akan tetapi kini dimanakah harus kita cari obat mujijat itu?"

Kuo Se Fen heran. Tian Hung totiang menganggukan kepala, katanya .

"Memang obat ini sangat sukar didapat. Dulu karena sangat mengagumi Tong-Hai Suan-hian, pinto pernah menjelajahi sekeliling laut Tong-hay untuk mencari jejak mereka, akan tetapi ternyata kepergian itu sia2 belaka. Sekembalinya pinto berkeinginan untuk bisa mengolah obat seperti Ban-ing hui-tian-tan ini. Akan tetapi tidak disangka dari jerih payah puluhan tahun pinto hanya berhasil membuat sekuaali Sia-ce-tan saja, yang khasiatnya hanya bisa menambah tenaga saja. Aih !"

Mendengar cerita itu hati Goan Tian Hoat agak mendongkol, untuk apa me-nyebut2 obat Ban-ing-hui-tian-tan yang tidak mungkin didapat ? "Apakah obat yang kedua itu totiang ?"

Tanya Goan Tian Hoat kemudian.

"Yang kedua adalah rumput Toh-la !"

Jawab Tian Hung totiang tanpa pikir2.

"Apakah rumput Toh-la itu dapat menyembuhkan penyakit jikongcu ?"

Tanya Goan Tian Hoat lebih lanjut.

"Ha, Ha! Rumput Toh-la ini mempunyai khasiat yang luar biasa, terhadap segala macam racun. Jangan pula baru tiga macam racun terdapat dalam tubuh jikongcu, tigapuluh macam pun bisa dipunahkan !"

"Dalam sedemikian banyaknya pohon2 obat yang totiang tanam apakah terdapat rumput tersebut ?"

"Rumput Toh-la merupakan tanaman yang sangat terpantang bagi si penanam obat. Kalau saja ada sebatang pohon rumput itu, Pek yun-kuan ini tidak akan terdapat pohon obat lain."

"Apa sebabnya demikian ?"

Tanya Goan Tian Hoat heran.

"Rumput itu hanya terdapat didaerah Toh-si dalam propinsi Tien-nam. Ia mempunyai khasiat melunakan segala obat2an, bila ditaroh bersama dengan obat lain, ia akan menghilangkan khasiat obat lain itu. Maka bagi orang yang membuat obat2an paling takut menyimpan rumput Toh-la itu." *** Bab TERNYATA rumput Toh-la juga berupa racun bagi obat2an lainnya. Maka tidak ada yang berani menyimpan.

"Kalau memang rumput Toh-la itu bisa menyembuhkan penyakit jikongcu, segera boanpwee berangkat pergi ke Tien-nam untuk mencarinya. Entah bagaimanakah bentuk ciri2 rumput Toh-la itu ?"

"Rumput Toh-la mempunyai bentuk seperti kamlan dan berwarna hitam. Akan tetapi ditempat yang sama, kadang2 terdapat tumbuhan lain yang mempunyai bentuk serupa dengan rumput Toh-la. Tumbuhan itu sangat beracun bisa membuat tubuh menjadi hitam dan mati kalau memakannya ! Sedangkan pribumi disana pun tidak bisa membedakan mana rumput Toh-la dan mana rumput yang beracun !"

"Kedua tetumbuhan itu tentu mempunyai perbedaannya bukan?"

Tanya Goan Tian Hoat.

"Benar. Untuk bisa membedakannya harus menunggu ia berkembang, kalau warna kembangnya putih bersih, tidak salah lagi itulah rumput Toh-la sedang warna kembang yang beracun berwarna merah ke-ungu2an."

Goan Tian Hoat menjura memberi hormat, katanya kemudian .

"Boanpwee mengucapkan banyak terima kasih atas petunjuk totiang !"

"Dari sini ke Tien-nam jaraknya sangat jauh hingga perjalanannya cukup lama. Dari pemeriksaan racun dalam tubuh ji-kongcu, paling lama hanya bisa tertahan sebulan lagi racun itu tidak menyerang jantung."

"Boanpwee akan melakukan perjalanan siang dan malam, mungkin dalam waktu sebulan cukup untuk pulang pergi."

Tian Hung totiang bergeleng kepala, katanya.

"Harap siauwsicu bersabar, karena selain tidak paham soal obat2an, daerah Toh si itupun sangat asing bagi siauwsicu. Rumput Toh la itu hanya tumbuh dipuncak gunung yang curam berbahaya, serta sangat sukar didapat, maka pergi kesanapun belum tentu berhasil mendapatkannya !"

"Akan tetapi, jalan ini adalah lebih baik dari pada membiarkan penyakit jikongcu ber-larut2, tambah lama tambah berat totiang."

Tian Hung totiang tertawa mesem, katanya kemudian .

"Memang kata2 siauwsicu ini tidak salah. Akan tetapi menurut pendapat pinto, ji-kongcu lebih baik berdiam disini, kelak akan pinto mencari jalan untuk mengobatinya. Bilamana ternyata pinto tidak berhasil dalam waktu sebulan mengobatinya, dalam keadaan terpaksa pinto akan menggunakan cara lain........"

"Entah cara apakah itu?"

Tanya Goan Tian Hoat heran.

"Terpaksa harus menggunakan cara pengobatan Kim-cen-kuo-sia (menusukkan jarum2 emas ke jalan darah)."

"Kalau begitu mengapa tidak sekarang saja totiang mencobanya ?"

"Ha, ha ! Ini kalau dalam keadaan terpaksa karena pengobatan dengan cara Kim cen-kuo-sia, tenaga sinkang si pasien akan lenyap terlalu banyak. Maka walaupun jiwanya dapat tertolong, akan tetapi setelah sembuh orang itu tidak bisa lagi bersilat !"

Wajah Goan Tian Hoat berobah pucat katanya terkejut .

"Berarti ludeslah harapan saudara Kang Han Cing ? Dia akan menjadi seorang bercacat seumur hidup ?"

Tiang Hung totiang menganggukkan kepala, membenarkan kesangsian itu.

"Seorang akhli silat paling takut mengalami peredaran jalan darah Masuk Api,"

Berkata Goan Tian Hoat.

"Teristimewa takut kehilangan ilmu silatnya. Kehilangan ilmu silat sama saja dengan kehilangan jiwanya. Bagaimana bisa melakukan pengobatan seperti ini ?"

"Maka,"

Berkata Tian Hung totiang.

"Kalau tidak berada didalam keadaan terpaksa, aku tidak bersedia melakukan tugas berat tadi."

Goan Tian Hoat berkata .

"Lebih baik boanpwe segera pergi daerah Tien-nam mengambil obat Toh la."

"Bersabarlah beberapa waktu,"

Berkata Tian Hung totiang.

"Sesudah kalian datang ditempat ini, segalanya serahkan kepadaku."

Goan Tian Hoat mendebat, katanya .

"Sesudah totiang menghadapi jalan buntu, tokh harus melakukan pengobatan dengan penusukan jarum juga, bukan ? Celakalah sudah hari depan Kang jie kongcu."

Kuo Se Fen membiarkan muridnya mendebat Tian Hung totiang, hal ini dikarenakan beberapa sebab.

Sebab pertama, sebagai seorang ketua Hai-Yang Pay dia harus mempunyai kewibawaan dan keagungan, harus mempunyai pandangan yang jauh.

Karena itu, tidak pantas mendebat Tian Hung totiang yang ternama.

Lain lagi kedudukan bagi Goan Tian Hoat, sebagai kaum muda yang berdarah panas, sudah dianggap tidak janggal kalau dia melakukan sesuatu kesalahan.

Apa lagi hanya berupa kesalahan kecil, menyinggung dan mencemoohkan Tian Hung totiang.

Kesalahan sepele yang tiada artinya.

Sebab kedua dari bungkemnya mulut Kuo Se Fen, disebabkan karena beraninya Tian Hung totiang yang berkata seperti itu, tentu mempunyai sesuatu pegangan kuat yang belum diketahui, apakah pegangan Tian Hung totiang?

Inilah yang sedang diperkira-kirakan.

Semakin lama, sifat Goan Tian Hoat semakin kurang ajar.

Ini tidak boleh !

Sebagai rombongan yang hendak meminta pertolongan Pek-yun-kuan, mereka layak menaruh hormat kepada ketua yang bersangkutan.

Sopan santun bahasa harus dipegang teguh.

Sudah waktunya Kuo Se Fen turun gelanggang perdebatan, sudah waktunya menyetop ketidak puasan Goan Tian Hoat.

Tian Hung totiang lebih cepat, mengurut jenggot dan berkata .

"Ada lebih baik, kalau sicu tidak ter-buru2 menuju ke daerah Tien-nam. Karena muridku sudah melakukan perjalanan jauh itu, paling lambat satu bulan pasti ada beritanya."

Hati Kuo Se Fen tergerak, dia mengajukan pertanyaan .

"Mungkinkah Datuk Persilatan Lie Kong Tie juga menderita keracunan yang sama ? Membutuhkan obat Toh-la?"

Jen Pek Coan juga bertanya .

"Mungkinkah Totiang sangat membutuhkan obat yang bisa mengerusak segala macam ramuan2 jamu itu ?"

Tian Hung totiang melirik kepada orang2 yang berada didepannya, apa boleh buat, dia harus berterus terang, katanya .

"Adanya Datuk Persilatan Lie Kong Tie ditempat ini juga meminta pengobatan, dan obat yang dibutuhkan adalah......obat Toh-la itu."

"Aaaa...."

Berteriak Kuo Se Fen terkejut.

"Racun apakah yang bersarang di dalam tubuh Datuk Persilatan itu?"

"Racun yang sama dengan ramuan racun yang bersarang didalam tubuh Kang jie-kongcu."

Wajah Kuo Se Fen berubah.

"Bibit permusuhan dengan Lengcu berbaju hitam ?"

Dia bertanya. Tian Hung totiang berkerut alis, memandang para tamunya dan bertanya .

"Bagaimanakah asal usulnya lengcu berbaju hitam itu ?"

Kuo Se Fen memberikan keterangan .

"Lengcu berbaju hitam adalah pemimpin dari suatu golongan yang mengenakan seragam hitam, mengenakan kerudung tutup muka yang juga berwarna hitam. Di saat Kang Han Cing melakukan perjalanan menuju ke kota Yang-ciu, mendapat sergapan golongan baru yang misterius ini. Hai-yang-pay juga pernah mendapat serbuannya. Dari adanya kejadian ini, menurut dugaanku, racun2 jahat itu adalah hasil buah karya si lengcu berbaju hitam dan kawan2."

Mulut Tian Hung totiang berkemak-kemik .

"Lengcu berbaju hitam? Komplotan baru yang misterius? Mengapa aku belum pernah mendengar cerita tentang mereka?"

Berkata sampai disini, Tian Hung totiang meneruskan pembicaraan.

"Oh, suwie berampat adalah tamu2 Pek-yun kuan, sudah selayaknya kalau kami menghormat, masih tersedia dan sudah kami siapkan empat buah kamar, khusus tempat istirahat suwie berempat. Kalau membutuhkan sesuatu, beritahu saja kepada pelayan2 kami. Sebelumnya, maaf beribu maaf, bukan maksudku mengadakan pembatasan bergerak, seperti suwie berempat ketahui, kamar2 dibagian Barat adalah kamar tamu2 Datuk Persilatan keluarga Lie, agar tidak sampai terjadi yang tidak diinginkan, atau bentrokan2 yang membawa kegaduhan, kami harap suwie berempat tidak mendatangi tempat2 itu."

Kuo Se Fen tertawa dan berkata.

"Tentu...Tentu....tenangkanlah hati totiang. Asal saja mereka tidak mendatangi dan mencari setori ditempat ini, kami jamin tidak akan terjadi sesuatu."

"Satu keterangan lagi."

Berkata Tian Hung totiang.

"Kecuali kamar2 dibagian barat itu, suwie berampat bebas bergerak kemanapun suwie suka, suwie berampat tidak terikat. Hanya satu yang harap diperhatikan baik2. Rimba bambu diluar pagar rumput juga bukan tempat yang boleh sembarangan dipijak."

Dalam hati Jen Pek Coan berdesis.

"Seperti apa yang sudah kuduga, daerah pagar rumput itu berupa sesuatu yang mengandung barisan tin lihay."

Kuo Se Fen meng-angguk2kan kepalanya, memberi janji dan berkata .

"Akan kami perhatikan baik2 pesan totiang tadi."

"Nah! Sudah waktunya suwie berampat istirahat. Aku meminta diri."

"Silahkan."

Berkata Kuo Se Fen, dia tidak mencegah kepergian orang.

Tian Hung totiang meninggalkan tamu2nya.

Sesudah mengantar kepergian Tian Hung totiang, Kuo Se Fen memperhatikan tempat tempat yang sudah tersedia.

Satu ruangan makan, satu ruangan tamu dan dua ruangan tidur.

Dibelakang ruangan2 ini terdapat perlataran luas, ada pintu yang menembus ke-bagian lain, tapi sudah ditutup dan diselot.

Tempat ini berupa bagian2 yang tersendiri.

Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat menempati sebuah ruangan tidur.

Kuo Se Fen mengambil tempat bersama-sama Jen Pek Coan.

Meninggalkan cerita Kang Han Cing dan Goan Tian hoat.

Mengikuti gerak-gerik Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.

Jen Pek Coan terbaring dibale-bale, setiap ruangan terdapat dua tempat tidur, kamar itu tidak terkecuali.

Kuo Se Fen duduk ditepian meja, tangannya memegangi cawan teh yang disediakan untuk mereka, tapi tidak segera ditenggak, jago tua ini sedang melamun, memikirkan rangkaian kejadian2 yang serba misterius.

Suatu saat, dia menoleh kearah sang sutee dan mengajukan pertanyaan .

"Jietee, dikala menempur 4 jenderal dari Datuk Persilatan keluarga Lie tadi, kulihat kau agak keteter. Entah terjadi perubahan angin apa, dengan cara dan tipu baru yang kau dapat pelajari dari mana, mengapa bisa mengubah situasi, memenangkan pertempuran ?"

Hampir bersamaan, Jen Pek Coan juga berkata .

"Oh, Ya ! Kalau saja bukan bantuan toa suheng, aku sudah dikalahkan mereka."

"Huah !"

Kuo Se Fen terjengkit, cawan tehnya hampir terlepas dari pegangan.

"Apa? Bagaimana hal ini bisa terjadi?"

Jeng Pek Coan memperlihatkan sikapnya yang ke-bingung2an, ia bertanya .

"Mungkinkah bukan bantuan toa suheng ?"

Perlahan-lahan, Kuo Se Fen meletakkan cawannya, ia bertanya .

"Jietee, pernahkah kau melihat aku menggunakan senjata rahasia ?"

Sebagai saudara seperguruan, tentu saja Jen Pek Coan maklum, kalau suheng itu tidak mahir menggunakan senjata rahasia, maka belum pernah Kuo Sen Fen menggunakan senjata gelap.

Najis!

Katanya.

Dan anehnya, disaat dia berada didalam situasi kejepit, ada sesuatu yang membantu, itulah senjata gelap, maka 4 jendral dari Datuk Persilatan Lie bisa dikalahkan.

Tentu saja bukan bantuan sang toa suheng.

"Wah."

Dia mengeluh.

"Didalam keadaan terjepit dan sulit seperti itu, kalau tidak ada bantuan yang tepat, kukira nama Hai-yang-pay bisa terjungkel. Tapi....Siapakah yang membantu kita?"

Siapakah yang membantu Jen Pek Coan mengalahkan 4 jendral keluarga Lie ? "Benda apakah yang meluncur dan memberi bantuan gelap?"

Bertanya Kuo Se Fen.

"Tampaknya seperti butiran batu2 kecil,"

Berkata Jen Pek Coan.

"Tadinya kukira bantuan toa suheng. Maka tidak kutaruh perhatian. Orang2 yang kukalahkan sudah tertotok beku, maka bisa cepat menyelesaikan pertempuran maut itu."

Mulut Kuo Se Fen sudah terbuka, siap meneruskan pembicaraan.

Disaat ini, mendatangi dua tosu kecil, pesuruh kelenteng Pek-yun kuan.

Maka sang ketua Hai-yang pay menghentikan pembicaraannya.

Dua tosu kecil membawa baki kayu, di atas baki itu terdapat beberapa macam makanan, tentu saja terdiri dari sayur2an, para tosu dilarang memakan barang berjiwa, sebagai peng-ikut2 aliran yang beragama suci, kelenteng Pek-yun-kuan tidak menyediakan arak atau daging, juga tidak memakan ikan, yang tersedia hanya sayur mayur, demikianlah makanan untuk para tamu2nya.

Dua tosu kecil itu memberi hormat dan berkata kepada tamu2nya .

"Kuancu kami meminta maaf atas kekurangan persiapan kelenteng Pek-yu-kuan hanya sayur2an saja yang bisa kami sediakan. Silahkan para sicu mencoba makanan kami."

Sesudah itu mereka meletakkan makanan-makanan itu.

"Terima kasih,"

Berkata Kuo Se Fen.

"Dan tolong sampaikan rasa syukur kami kepada kuancu kalian."

Kedua tosu kecil itu tertawa, sesudah meletakkan makanan2nya, mereka meminta diri meninggalkan kamar2 itu. Jen Pek Coan sudah berkoar kearah kamar lainnya .

"Tian Hoat, ajak Kang jie kongcu untuk makan dan mengisi perut."

Dengan dibantu oleh Goan Tian Hoat, Kang Han Cing meninggalkan kamar istirahat.

Berempat menghabiskan makanan yang sudah tersedia.

Mungkin terlalu letih, Kang Han Cing meminta bantuan Goan Tian Hoat, dipepayang dan kembali ke kamarnya.

Jen Pek Coan juga sudah kenyang, ber-sama2 dengan sang toa suheng, mereka meninggalkan ruang makan.

Kuo Se Fen masih belum bisa beristirahat, terlalu banyak urusan yang ngeruwet pikiran.

Jen Pek Coan mengeluarkan pipa bakonya, menyulut api, menyedotnya beberapa kali, duduk dipapan pembaringan dan berkata .

"Menurut keterangan Tian Hung totiang, Datuk Persilatan Lie Kong Tie keracunan. Racun yang mengerusak pembuluh2 darah si Datuk Persilatan adalah racun yang tidak berbeda dengan keracunan Kang Han Cing. Suatu bukti kalau komplotan baru yang sering mengeluarkan Perintah Maut ini adalah golongan pemberani, hendak mengganggu datuk2 persilatan. Datuk Persilatan Kang Sang Fung sudah disingkirkan dari permukaan bumi, Lie Kong Tie hampir menemukan kehancurannya. Prestasi2 baru untuk Lengcu berbaju hitam."

Kuo Se Fen berkata.

"Lengcu baju hitam juga bukan merupakan otak dari komplotan misterius itu."

"Siapakah komplotan Perintah Maut? Sesudah membunuh mati Datuk Selatan Kang Sang Fung, meracuni Datuk Utara Lie Kong Tie, kukira tidak segan2 mereka bertindak kepada dua Datuk Persilatan lainnya."

"Tentu saja tidak."

"Satu kekuatan baru yang tidak boleh pandang ringan."

"Kekuatan jahat yang berupa bencana bagi ketenangan rimba persilatan."

Tiba2.....Jen Pek Coan menjerit kaget.

"Toa suheng......"

Matanya terbelalak, memandang ke arah belakang Kuo Se Fen.

Sebagai ketua partai Hai-yang-pay, Kuo Se Fen juga mempunyai telinga yang hebat, itu waktu terdengar desisan panjang....

syiuuut, syiuuuut ......

Secepat Kuo Se Fen menoleh, secepat itu pula mumbul ke atas roket berapi.

Mengkerutkan alisnya, Jen Pek Coan bertanya perlahan .

"Mungkinkah tanda bahaya bagi kelenteng Pek-yun-kuan ?"

Wajah Kuo Se Fen juga menjadi tegang, berpikir beberapa waktu, ia berkata .

"Tanda bahaya meluncur datang di arah bagian timur, kalau menurut perkiraan, sebelah kiri kelenteng Pek yun-kuan. Tentunya bertemu dengan musuh, atau tanda dari penyerangan lawan kita."

Jen Pek Coan sudah bersiap2 dengan pipa rokoknya, siap menghadapi pertempuran baru. Kuo Se fen masih bersikap tenang. Jen Pek Coan bertanya .

"Toa suheng, haruskah kita membantu mereka ?"

Kuo Se Fen mengeluarkan senjata, itulah golok pusaka, dia memberi perintah .

"Jaga ruangan tempat kita, bangunkan Tian Hoat. Hati2 dibagian belakang. Biar aku yang melihat keadaan."

Disaat ini, terdengar lagi beberapa pekikan-pekikan panjang, se-olah2 harimau mengaum, seperti kera yang saling sahut, berkumandang didaerah pegunungan, suaranya sangat jernih dan bersih.

Kuo Se Fen mengkerutkan alis dan berkata .

"Datangnya mereka begitu cepat. Kukira sudah berada di depan kelenteng Pek-yun-kuan."

Setelah berkata tubuhnya melejit meninggalkan Jen Pek Coan.

Jen Pek Coan ber-siap2 menghadapi situasi darurat, menuju kearah ruangan Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Mengikuti perjalanan Kuo Se Fen, gesit laksana kera, dia merambat naik.

Sayup2 mulai terdengar suara bentrokan senjata, kelenteng Pek-yun-kuan sudah mendapat penyerangan.

Kuo Se Fen mempunyai pengalaman yang luas, hanya sekali tangkap, dia sudah bisa menduga arah datangnya pertempuran itu, ternyata musuh sudah berada didepan kelenteng.

Sebagai salah seorang tamu Pek-yun-kuan, Kuo Se Fen harus berlaku tahu diri, musuh yang terlalu kuat bisa mengakibatkan hancurnya Pek-yun-kuan, dia harus membantu.

Tapi tenaga bantuan tidak dipaparkan secara terang2an, kalau saja pihak Pek-yun kuan salah mengerti, sembarang bergerak menghancurkan musuh, dia bisa dianggap kurang ajar, dianggap memalukan kelenteng Pek-yun-kuan.

Kalau tidak bisa diterima, tindakan itu bisa menimbulkan salah mengerti.

Demikianlah Kuo Se Fen merayap dan merayap, mengikuti arah yang dibagian gelap, dia menyembunyikan diri diatas pohon2.

Dari cahaya sinar rembulan yang suram, pelataran rumput bergulat dua orang, masing-masing mengeluarkan tenaga menempur lawannya.

Seorang adalah tosu tinggi besar yang mengenakan jubah abu2, kumis dan berewoknya jembros, senjatanya berupa ruyung halus, gerakannya gesit dan cekatan.

Lawan si tosu adalah laki2 setengah umur yang berbaju hijau, dia menggunakan sebatang pedang, gerakannya aneh dan banyak perobahan.

Menempur dan merangsak tosu berjubah abu2.

Kecuali kedua orang yang bertempur, masih ada dua orang lagi, kedua orang ini berdiri di belakang laki2 berbaju hijau.

Menggunakan tutup kerudung muka berwarna hijau.

Kecuali sitosu berbaju abu2, Kuo Se Fen tidak melihat hadirnya Tian Hung totiang ditempat itu, dia menjadi bertanya kepada diri sendiri, kemana kepergian kuancu pemilik Pek-yun-kuan itu?

Dua orang yang bertempur masih saling gebrak, tiga puluhan jurus lagi dilewatkan.

Hut....tosu berbaju abu2 memukul keras, bluk, ruyungnya menderu2.

Laki2 berpedang juga tidak kalah galaknya, dia mengubah cara, dengan kecepatan luar biasa, menyerang lima jurus.

Lima jurus serangan itu terdiri dari lima macam gerakan yang tidak sama, hal mana membuat Kuo Se Fen yang menonton pertandingan mengeluarkan suara tertahan, lima jurus tadi ber-turut2 terdiri dari jurus ilmu pedang Bu-tong-pay, Ngo bie-pay, Hoa-san-pay dan Heng-san-pay.

Tosu berjubah abu juga termasuk salah seorang kuat, ia adalah pembantu Tian Hung totiang ternama, namanya Ho-leng Koan-hoang Tian Hoa Tosu.

Sesudah terjadinya adu tempur itu, kedua jago terpisah.

Salah satu dari dua orang lainnya, mengeluarkan bentakan .

"Serahkan kepadaku!"

Maka orang yang berkerudung menggunakan pedang mengundurkan diri.

Disaat orang berkerudung yang berbadan besar ini hendak tampil kedepan, muncul sesuatu bayangan, inilah Tian Hung totiang.

Orang berkerudung tinggi besar menghadapi Tian Hung totiang.

Tiang Hung totiang memperhatikan ketiga lawannya, satu persatu diteliti dengan seksama, kemudian ia berkata .

"Sam-wie bertiga bisa melewati barisan Pat-kwa-ci dari kelenteng Pek-yun-kuan, suatu tanda kalau samwie bertiga memiliki kepandaian tinggi, tentunya bukan jago biasa, entah dari golongan mana sam-wie datang ?"

Orang berkerudung tinggi besar adalah pemimpin rombongan tiga orang itu, menganggukkan kepala berkata .

"Aaaa.....hanya aturan2 yang ada pada Pek-yun-kuan ini adalah peraturan biasa, barisan tin kalian mungkin bisa menjebak atau melarang masuknya binatang2 kecil, tapi tidak mungkin bisa mencegah kehadiran kami." *** Bab TlAN HUNG TOTIANG mengkerutkan alisnya, dia membentak.

"Sebutkan nama kalian !"

Sepasang sinar mata orang berkerudung berbaju hijau itu memancarkan cahaya kemilauan, ia tertawa sebentar dan berkata.

"Kuancu hendak bertanya ? Baiklah, aku adalah Lengcu Panji Hijau."

Rombongan ini mengenakan pakaian berwarna hijau, dengan tutup kerudung berwarna hijau, sang pemimpin menyebut namanya sebagai Lengcu Panji Hijau, ternyata setanding dengan Lengcu Panji Hitam.

Kuo Se Fen yang menonton jalannya pertandingan menganggukkan kepala, hatinya berkata.

"Sudah kuduga ! Komplotan dari pihak musuh."

Tian Hung totiang pernah mendengar cerita Kuo Se Fen tentang adanya Lengcu Panji Hitam yang menyerang Hai yang pay.

Kini Lengcu Panji Hijau yang menyerang Pek-yun kuan, tentunya dari komplotan yang sama, hatinya terkejut, dia berusaha menenangkan ketegangan itu dan menganggukkan kepala berkata .

"Ternyata Lengcu Panji Hijau. Sayang sekali kami jarang berkelana didalam rimba persilatan, belum pernah mendengar nama ini, maafkan ketololan kami."

Lengcu Panji Hijau tertawa besar, dia berkata .

"Kini kuancu sudah bisa mendengarnya, bukan ?"

Dengan sikap sungguh2 Tian Hun totiang bertanya .

"Apa maksud kedatangan samwie bertiga malam2 berkunjung kedalam kelenteng Pek-yun-kuan ?"

Lengcu Panji Hijau berkata .

"Menurut berita yang kami dapat, Datuk persilatan Lie Kong Tie menetap dan istirahat di dalam kelenteng ini, betulkah ada kejadian yang seperti itu ?"

Ternyata kedatangan rombongan berbaju dan berkerudung hijau dengan maksud tujuan si Datuk Persilatan Lie Kong Tie !

Wajah Tian Hung totiang berubah, tapi dia tidak menyangkal akan adanya Lie Kong Tie istirahat dan minta pengobatan didalam kelentengnya, dia menganggukkan kepala dan berkata .

"Ya !"

Lengcu Panji Hijau angkat tangan, memberi hormat dan berkata .

"Terima kasih, kami hendak membikin sedikit gangguan."

Sesudah itu, dia menganggukkan kepala kepada kedua orangnya, berkata kepada mereka.

"Mari ! Mari kita masuk."

Ketiga rombongan berbaju hijau itu hendak memasuki kelenteng Pek-yun-kuan. Hal ini betul2 melanggar keagungan Tian Hung totiang, dengan keren dia membentak .

"Berhenti !"

Lengcu Panji Hijau menghentikan langkahnya, diikuti juga oleh kedua anak buahnya yang berbaju hijau, menghadapi Tian Hung totiang dan bertanya .

"Maksud kedatangan kami adalah mengunjungi keluarga Lie, mengapa kuancu hendak menahan?"

Tian Hung totiang berkata.

"Lie Kong Tie sicu sedang istirahat tidak boleh diganggu, apalagi kelenteng Pek-yun-kuan bukan kelenteng biasa, kami melarang orang bertingkah."

Lengcu berbaju Hijau mendongakan kepala, memandang langit dan berkata.

"Kedatangan kami sangat penting, kalau saja Lie Kong Tie tayhiap tahu kedatangan kami, pasti datang menemui, urusan ini tidak ada hubungan dengan kuancu."

Tian Hung totiang mengeluarkan kebutannya, inilah senjata istimewa, ia siap menempur ketiga jago itu, dan dengan tenang berkata.

"Kelenteng Pek-yun-kuan tidak pernah melibatkan diri didalam persengketaan rimba persilatan, tapi bukan berarti takut pada pertempuran atau kekerasan, silahkan! Untuk mengunjungi tamu2 kami memang tidak sulit. Cukup sesudah mengalahkan kami."

Wajah Lengcu Panji Hijau yang tertutup kerudung itu tentunya berubah, terpeta sekali pada sepasang sinar matanya yang ber-kilat2, ia berkata .

"Jangan kuancu menyesal dikemudian hari. Melibatkan diri dalam urusan yang seperti ini, adalah langkah2 yang sang tolol."

Tiba2 dari dalam kelenteng berlari seseorang, itu adalah putra Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Dengan senjata kipasnya yang istimewa Lie Wie Neng siap ikut campur.

Langsung Lie Wie Neng menghadang Lengcu Panji Hijau dan membentaknya keras .

"Eh, dedemit dari mana yang berani malang melintang dikelenteng Pek-yun kuan ? Lekas enyah dari tempat ini !"

Menyaksikan kegesitan Lie Wie Neng, Kuo Se Fen juga mengeluarkan pujian dalam hati .

"Lie Wie Neng ini tidak kalah dari ayahnya, entah murid jago silat dari mana ?"

Lengcu Panji Hijau memberi hormat kepada Lie Wie Neng, katanya.

"Lie Wie Neng kongcu yang datang ?"

"Ya,"

Jawab Lie Wie Neng.

"Aku adalah putra dari Datuk Persilatan Lie Kong Tie."

"Ha, ha...."

Lengcu Panji Hijau tertawa.

"Inilah suatu yang tak terduga, sungguh kebetulan."

"Ada urusan apa?"

Bentak Lie Wie Neng.

"Kami mempunyai sesuatu urusan yang sangat penting."

Jawab Lengcu berbaju hijau.

"Katakanlah ! Urusan apa ?"

Lie Wie Neng berkata sombong.

"Urusan penting dengan ayahmu...."

"Aaaa...."

Lie Wie Neng semakin beringas.

"Ayahku menderita keracunan, tentunya dibokong olehmu ?"

"Tepat !"

Lengcu Panji Hijau tidak menyangkal tuduhan itu.

"Ha, ha...."

Sepasang alis Lie Wie Neng terjengkit.

"Kau akan kubunuh lebih dulu ! Terima serangan !"

Secepat itu pula, senjata Lie Wie Neng yang berupa kipas wasiat diluncurkan ke arah musuh, menyerang Lengcu berbaju hijau.

Gerakan Lie Wie Neng sangat cepat dan gesit, berada diluar dugaan.

Tapi gerakan Lengcu berbaju hijau juga tidak kalah gesitnya, melejit ke belakang mengelakan serangan Lie Wie Neng, ia tertawa dan berkata .

"Sabar ! Maksud kedatangan kami bermaksud baik. Mungkinkah Lie kongcu tidak bersedia diajak berunding?"

Lie Wie Neng membentak .

"Sesudah aku membunuhmu, sesudah mengambil obat penawar racun, baru berunding !"

Lie Wie Neng bisa bicara tanpa menghentikan serangannya, semakin gencar dan semakin cepat.

Lengcu Panji Hijau memang hebat, bagaikan bayangan, dia mengikuti setiap kibasan kipas Lie Wie Neng.

Menyedot napasnya dan melayang jauh, ia berkata tertawa .

"Yang sangat disayangkan, obat penawar racun itu tidak berada pada diriku."

Lie Wie Neng mendesak maju lagi, dengan dingin berkata .

"Tidak ada obat penawar racun itupun tidak menjadi soal, yang penting kau harus menjadi orang tawanan disini."

Lengcu Panji Hijau berusaha mengelakan setiap serangan Lie Wie Neng, ia menghindari bentrokan yang lebih keras, berputar ditengah lapangan, suatu ketika ia berhasil juga meloloskan diri, maka ia sempat berkata .

"Huh ! Sangkamu, setelah mendapatkan obat Toh-la itu, kau bisa mengobati penyakit ayahmu ?"

Dan sesudah melakukan pembicaraan tadi Lengcu Berbaju Hijau mengelakan serangan Lie Wie Neng lagi. (Bersambung 6) ***

Jilid 6 HATI Kuo Se Fen yang menonton jalannya pertandingan juga terkejut, gumamnya .

"Ilmu kepandaian Lengcu Panji Hijau ini cukup hebat, agaknya tidak berada di-bawah Lie Wie Neng."

Lie Wie Neng menyerang semakin kalap, sayang sekali, betapa hebatpun dia menyerang, tidak satu juruspun yang bisa mengenai sasarannya.

Ilmu meringankan tubuh Lengcu Panji Hijau memang lumayan, dia mengelak lagi dan berkata .

"Kipas wasiat memang hebat ! Murid pendekar kipas wasiat Kim Tong telah mendapat kemajuan lumayan. Sampai disini saja kita melakukan pertempuran, sudah waktunya melakukan perundingan, bukan ?"

Lagi2 Kuo Se Fen terkejut, ternyata Lie Wie Neng ini adalah murid kesayangan Kim Tong !

Pantas saja memiliki kipas wasiat, tentu saja memiliki ilmu kepandaian hebat.

Lie Wi Neng bisa mengukur sampai dimana tingginya kepandaian silat si Lengcu Berbaju Hijau.

Mengetahui tidak mudah mengalahkan lawan, ia melipat kipas menghentikan serangan.

Dengan dingin berkata.

"Perundingan apa lagi yang hendak kau katakan ?"

"Dengarlah baik2."

Berkata lengcu Panji Hijau.

"Sesudah mengetahui jelas duduknya perkara, kalau kau masih belum puas menghendaki diteruskannya pertempuran, aku bersedia melayanimu !"

"Lekas katakan !"

Bentak Lie Wie Neng. Dengan tenang Lengcu Baju Hijau berkata .

"Sebelum aku membuka acara perundingan, terlebih dahulu akan kuperlihatkan seseorang."

Setelah itu Lengcu Baju Hijau bertepuk tangan tiga kali.

Bersamaan dengan suara tepukan Lengcu Baju Hijau, dari luar rimba muncul tiga orang, satu adalah tosu berbaju kelabu, diiringi oleh dua orang berseragam hijau.

Lagi2 anak buah Lengcu Panji Hijau !

Ketiga orang itu segera memberi hormat kepada Lengcu Panji Hijau.

Sesudah tampilnya Lie Wie Neng, Tian Hung totiang berdiri ditepi, membiarkan Lie Wie Neng menempur musuh.

Munculnya tosu yang baru datang sangat mengejutkan Tian Hung totiang, tosu itu adalah murid kesayangannya, ia bernama Cin Su Can, mendapat tugas untuk mengambil obat Toh-la didaerah Tien-Nam.

Tapi kini keadaan sudah berubah, ia bersama-sama dengan dua orang berbaju hijau yang datang, tentu sudah berkhianat.

Cin Su Can sudah memberi hormat kepada Lengcu Panji Hijau.

Suatu tanda bahwa sang murid itu sudah berganti politik.

Alis Tian Hung totiang yang lentik berdentik, ia membentak kearah sang murid durhaka.

"Cin Su Can, berani kau berkhianat? Berkomplot dengan musuh."

Cin Su Can meskipun telah mendapat dukungan kuat, sesudah berkhianat kepada sang guru, tentu saja tidak berani menentang bentakan itu, ia menundukkan kepala diam.

Terdengar suara Lengcu Panji Hijau berkata .

"Cin Su Can, ceritakan kesulitanmu."

Dari jarak yang cukup jauh, Cin Su Can bertekuk lutut, diarahkan kepada Tian Hung totiang, dia menangis dan berkata .

"Suhu, teecu sangat malu kepada kau si orang tua."

Tian Hung totiang membentak .

"Murid durhaka, sesudah kau menjual rahasia kepada musuh, masih berani kau memanggil suhu segala ?"

Air mata Cin Su Can jatuh berceceran, dia menundukkan kepala semakin rendah, ia berkata .

"Teecu telah menjadi murid selama dua puluh lima tahun, budi suhu belum terbalaskan, teecu sangat menyesal, apa boleh buat, sayang sekali teecu mempunyai kesulitan yang tidak bisa dipecahkan, harap suhu bisa memaafkan kesalahan teecu."

Menyaksikan sang murid yang seperti itu, rasa sedihnya Tian Hung totiang tidak tertahan, sedari kecil ia mendidik sang murid, akhirnya berkhianat dan berdiri dipihak musuh.

Kemarahannya menggelora tidak terhingga, ia menggeram dan membentak.

"Murid durhaka, enyahlah kau dari tempat ini !"

Seiring dengan suaranya Tian Hung totiang menyerang, kebutannya diarahkan kearah kepala Cin Su Can, hendak menamatkan riwayat hidup sang murid durhaka.

Disaat yang sama, tangan Lengcu Panji Hijau juga bergerak, menahan turun serangan Tian Hung totiang, sambil berkata.

"Sebagai seorang beribadah, mengapa kuancu mengambil langkah yang ter-buru2 ?"

Tian Hung totiang merasakan satu kekuatan yang tidak terlihat menahan datangnya pukulan, membuat tangannya tidak bisa terjulur panjang, hal ini membuat ia terkejut, hatinya mengeluh.

"Kekuatan tenaga dalam orang ini betul2 hebat, ia seorang musuh tangguh."

Tiang Hung totiang mengetahui pengkhianatan sang murid disebabkan oleh Lengcu Panji Hijau yang misterius ini, memancarkan cahaya mata yang beringas, ia membentak .

"Pantas saja ia berani berkhianat. Ternyata mendapat backing kuat, eh ? Baiklah, untuk membikin bersih nama pintu perguruan, sebelumnya aku harus menempur dirimu."

"Bukan maksudku untuk menempur kuancu."

Berkata Lengcu Panji Hijau sabar.

"Tenanglah. Kau harus menggunakan sedikit aturan."

Dengan marah Tian Hung totiang membentak .

"Siapa yang tidak menggunakan aturan ?"

Lengcu Panji Hijau berkata .

"Walau Cin Su Can itu murid kesayanganmu, sudah selayaknya bertanya dan menyelidiki terlebih dahulu. Dari sebab apa ia tidak menjalankan perintah ? Apakah boleh membunuh orang tanpa alasan?"

"Tanpa alasan ?!"

Tian Hung totiang semakin marah.

"Dia sudah tidak menjalankan perintah, menjual diri kepada lain golongan, membuka rahasia kepada musuh. Apa belum cukup dengan kesalahan-kesalahan ini ?"

Lengcu Panji Hijau berkata .

"Bukan dia yang tidak menjalankan perintah, dia bernaung dibawah panji kebesaran Panji Hijau, karena desakan dan perintah ibunya."

"Aaaa....."

Tian Hung totiang menganggukkan kepala.

Kini jelas sudah, ternyata sang murid adalah seorang anak yang berbakti, sangat taat kepada perintah ibunya, ia hanya memiliki seorang ibu yang sudah tua, mengingat keadaan itu, tentu saja Cin Su Can harus taat kepada perintah ibunya, ternyata ibu Cin Su Can sudah berada dibawah kekuasaan Lengcu Panji Hijau.

"Kau sudah menculik ibunya ?"

Tian Hung totiang bertanya.

"Jangan berkata seperti itu."

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Kami memperlakukan ibunya dengan baik. Kami beri kecukupan yang serba mewah, tentu saja lebih enak seribu kali dari pada hidup melarat didaerah pegunungan."

Tian Hung totiang melirik kearah sang murid, menganggukkan kepala berkata .

"Hanya karena ibumu, kau telah menelantarkan urusan besar ?"

"Dia tidak pernah menelantarkan urusanmu."

Berkata Lengcu Panji Hijau. Tian Hung totiang tidak mau berdebat dengan Lengcu Panji Hijau, memandang kearah sang murid, berkata dengan sabar .

"Baiklah. Mengingat kebaktianmu kepada seorang ibu, aku tidak menarik panjang urusan ini. Mulai saat ini, kau ! Cin Su Can ! Kau sudah kuusir dari pintu perguruan. Kau bukan anak murid dari kelenteng Pek-yun-kuan. Pergilah ! Jangan sekali2 menemuiku lagi."

"Suhu,"

Berteriak Cin Su Can sedih.

"Atas desakan ibu, kalau bukan mengingat umur ibuku yang sudah tua, aku bersedia mati didepanmu."

Tian Hung totiang berkata .

"Kau sudah bukan anak murid Pek yun-kuan, jangan panggil aku suhu lagi. Lekas pergi !"

Memberi hormat dan menyoja tiga kali, Cin Su Can mengundurkan diri. Lengcu Panji Hijau mendongakkan kepala, ia berkata .

"Tian Hung totiang, sudah kukatakan kalau muridmu itu tidak menelantarkan urusanmu. Apa kau masih belum percaya?"

"Aku tidak mengerti."

Jawab Tian Hung totiang singkat. Lengcu Panji Hijau berkata .

"Kau memberi tugas kepada Cin Su Can untuk mengambil obat Toh-la didaerah Tien-nam, dapat atau tidaknya obat Toh-la itu sudah tidak penting."

Tian Hung totiang berkata .

"Pengambilan obat Toh-la yang begitu jauh memakan waktu yang lama, dan kalau betul obat Toh-la didatangkan ke tempat ini, ludeslah semua obat2anku, hancur tiada guna, sekarang kau sudah datang, kukira......"

Lengcu Panji Hijau menganggukkan kepala dan berkata.

"Tepat ! Kukira Lie tayhiap sudah tidak membutuhkan obat Toh-la lagi."

Tian Hung totiang berkata .

"Maksudku, sesudah kau berada dikelenteng Pek-yun-kuan, obat Toh-la itu sudah tidak kubutuhkan, mengapa men-cari2 yang jauh, meninggalkan yang dekat?"

"Kedatanganku adalah persoalan tentang urusan ini."

Berkata Lengcu Panji Hijau. Tian Hung totiang berkata .

"Maksudku adalah menawan dirimu, maka sama juga untuk pengganti obat Toh-la, bukan?"

Lengcu Baju Hijau menganggukkan kepala dan berkata .

"Untuk mengobati Lie tayhiap, jiwaku memang lebih penting seribu kali dari obat Toh-la."

Tian Hung totiang mengedipkan mata kearah Ho-leng-koan-hoang Can Hoa Tosu, mereka siap menyergap lengcu berbaju hijau itu, kalau saja mereka berhasil meringkus Lengcu Panji Hijau, mungkinkah takut tidak bisa mengobati Lie Kong Tie ?

*** Bab LENGCU Panji Hijau tidak menjadi tegang, kini dia memandang kearah Lie Wie Neng dan bertanya.

"Apakah Kongcu sudah mengerti?"

"Tidak mengerti."

Berkata Lie Wie Neng singkat. Lengcu Panji Hijau tertawa dan berkata .

"Obat Toh-la sudah tidak dibutuhkan lagi, karena....."

Bicara sampai disini, tiba2 ia menghentikan suara kata2nya.

Dalam hal ini bukan berarti Lengcu Panji Hijau berhenti bicara, hanya pembicaraannya itu tidak diumumkan, ia menggunakan gelombang tekanan suara tinggi, langsung bicara dengan Lie Wie Neng.

Mulut Lengcu Panji Hijau berkemak-kemik, mengucapkan kata2 yang hanya bisa ditangkap oleh Lie Wie Neng seorang.

Sebentar2 terjadi perubahan pada wajah Lie Wie Neng, ragu2, khawatir dan akhirnya dia bertanya .

"Apa betul ?"

Lengcu Panji Hijau berkata lagi .

"Inilah maksud tujuanku yang utama. Kalau saja Lie kongcu tidak percaya boleh periksa dahulu. Disini kunantikan jawabanmu."

Secepat itu pula, Lie Wie Neng membalikkan badan, memberi hormat kepada Tian Hung totiang dan berkata .

"Harap totiang bisa menjaga sebentar boanpwe hendak melihat ke dalam."

Secepat itu pula tubuh Lie Wie Neng melejit masuk kedalam kelenteng Pek-yun-kuan, Tian Hung totiang tidak mengerti apa yang dipercakapkan Lengcu Panji Hijau kepada Lie Wie Neng?

Mengapa terjadi perubahan yang seperti itu?

Bahaya masih belum dilenyapkan, Tian Hung totiang tidak berani lengah, membiarkan saja Lie Wie Neng meninggalkan posisi pertempuran.

Kuo Se Fen masih menonton diatas pohon, tentu saja terkejut, hatinya berdesis .

"Betul2 Lengcu Panji Hijau ini mempunyai rencana busuk!"

Tidak lama kemudian, Lie Wie Neng lari balik kembali, tangannya memegang sesuatu, itulah kedok kulit, kedok kulit tipis yang berupa kulit manusia, kedok yang berwajah Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Dibelakang Lie Wie Neng, turut dua orang pengiringnya, mereka menggotong seseorang yang sedang berbaring, seseorang yang terbaring tiada sadarkan diri.

Orang yang digotong dan terbaring tiada sadarkan diri itu adalah Datuk Persilatan Lie Kong Tie.

Tian Hung totiang terkejut, dengan alasan apa Lie Wie Neng menyerahkan ayahnya yang menderita luka?

Karena itu cepat2 ia bertanya .

"Bagaimana keadaan Lie siecu ?"

Dengan uring2an Lie Wie Neng berkata .

"Dia bukan ayahku !"

"Siapa ?"

Berteriak Tian Hung totiang terkejut. Lie Wie Neng mempaparkan wajah kulit ditangannya, dia berkata .

"Dia salah satu dari komplotan orang jahat, mukanya mengenakan kedok kulit manusia, sangat mirip dengan wajah ayah maka kita dikelabui ... ."

Dengan heran Tian Hung totiang berkata .

"Apa betul terjadi kejadian yang seperti ini? Mengapa aku tidak tahu?"

Hati Kuo Se Fen juga bertanya .

"Ya ! Kang Han Cing juga mengubah wajahnya, tapi hanya sepintas lalu, Tia Hung totiang yang lihay bisa membedakan kalau wajah itu adalah wajah palsu kalau betul Lie Kong Tie dipalsukan orang mengenakan kedok kulit, bagaimana Tiat Hung totiang tidak tahu ?"

Disaat ini, Lie Wie Neng sudah berhadapan dengan Lengcu Panji Hijau, dia membentak dengan suara yang sangat marah .

"Hei, dikemanakan ayahku itu ?"

Lengcu Panji Hijau berdiri tenang tersenyum sedikit dan berkata .

"Aku tidak bohong, bukan ?"

Sepasang mata Lie Wie Neng seperti hendak memancarkan cahaya api, ia membentak lebih keras.

"Dimana? Dikemanakan ayahku itu ?"

"Bersediakah Lie kongcu membikin sedikit perundingan?"

Disaat ini, dari dalam berlari pula dua orang, seorang wanita berpakaian hijau dan seorang gadis pelayan.

Itulah istri muda Datuk Persilatan Lie Kong Tie dan budak pelayannya.

Langsung menghadapi Lie Wie Neng, istri muda Lie Kong Tie menangis dan berkata .

"Kongcu, apa belum berhasil membekuk musuh? Dikemanakan loya kita?"

Sesudah itu, ia menangis dengan ter-isak2, nyonya itu berkata kepada Tian Hung totiang .

"Totiang kau adalah kawan lama dari loya kami, musuh telah melarikan loya kita diganti dengan yang palsu, tolonglah..........tolong cari kembali loya yang telah lenyap itu."

Ternyata Datuk Persilatan Lie Kong Tie sudah lenyap? Diganti dengan Lie Kong Tie palsu ? Tian Hung totiang cepat2 berkata .

"Harap Hujin bersabar, Lie Wie Neng sedang membikin perundingan."

Nyonya Lie Kong Tie berkata .

"Berapa banyak uang yang hendak diminta oleh mereka, kalau saja loya kita bisa dikembalikan, serahkan sajalah."

Lie Wi Neng menghadapi Lengcu Panji Hijau, ia bertanya dingin.

"Hei, apa yang kau kehendaki ?"

Lengcu Panji Hijau berkata.

"Sebetulnya Datuk Persilatan Lie Kong Tie telah menjuarai kedua tepian sungai Hoang-ho, tigapuluh tahun tidak pernah menemukan tandingan. Kini sudah tua, sudah waktunya istirahat, sudah waktunya meninggalkan berkecimpungan didalam rimba persilatan........"

"Maksudmu,"

Berkata Lie Wie Neng.

"Ayah mengundurkan diri dari rimba persilatan ?"

"Hanya berupa anjuran."

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Mau tidak mau, bukan urusanku. Seseorang ternama, tidak mudah untuk dipertahankan, kalau sudah mendekati akhir tua lebih baik mengundurkan diri saja, hidup tenang2 dirumah, bukankah lebih enak dari pada main golok dan pedang ?"

Kuo Se Fen yang mengikuti pembicaraan itu berkata dalam hati .

"Apa yang dikatakan memang masuk diakal, seseorang yang sudah lanjut usianya ada lebih baik menghindarkan diri dari kericuhan rimba persilatan."

Berpikir sampai disini, tekad Kuo Se Fen semakin bulat, ia sudah hendak membubarkan partai Hai yang-pay. Terdengar suara Lie Wie Neng berkata.

"Ada syarat lainnya ?"

Lengcu Panji Hijau berkata .

"Masih ada satu persoalan lagi, janganlah dikatakan sebagai syarat. Golongan kami pernah mendengar dan memuji kecerdasan ilmu silat Lie kongcu. Golongan kami menghendaki kongcu menjadi wakil ketua. Bagaimana pendapat Lie kongcu?"

"Wakil ketua?"

Bertanya Lie Wie Neng.

"Ya,"

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Bersediakah Lie kongcu menerima jabatan wakil ketua Perintah Maut?"

Ternyata Lengcu Panji Hijau hanyalah salah satu anak buah dari golongan Perintah Maut.

Golongan Perintah Maut adalah golongan yang baru muncul didalam rimba persilatan.

Memiliki banyak jago2 sakti.

Diantaranya terdapat juga Lengcu Panji Hijau, dan Lengcu Panji Hitam, yang disebut belakangan pernah menyerang Hai yang-pay.

Lie Wie Neng ditawarkan kedudukan wakil ketua golongan Perintah Maut.

Inilah rencana tipu muslihat, kalau saja Lie Wie Neng bersedia menerima tawaran itu, hancurlah nama Datuk2 persilatan.

Lie Wie Neng harus berpikir lama, disitu menyangkut jiwa ayahnya.

Terdengar lagi suara Lengcu Panji Hijau .

"Bagaimana keputusan kongcu ?"

Sebelum Lie Wie Neng memberi jawaban, terdengar suara nyonya muda Lie Kong Tie berteriak .

"Kongcu, penuhilah permintaannya."

Sikap Lie Wie Neng semakin serius, memandang ke arah Lengcu Panji Hijau, berkata dengan sepatah demi sepatah .

"Bebaskan ayahku. Sesudah itu, akan kuusahakan agar ayah bisa melepaskan diri dari kancah kencana kerusuhan rimba persilatan."

"Bagaimana dengan kedudukan wakil ketua kami?"

Lie Wie Neng berkata .

"Tentang soal ini, lebih baik kita rundingkan dikemudian hari."

Dengan dingin Lengcu Panji Hijau berkata .

"Kongcu, ingat baik2, bukan waktunya tawar menawar."

Sepasang sinar mata Lie Wie Neng bercahaya terang, ia membentak .

"Maksudmu, kalau aku tidak menyetujui kau tidak membebaskan ayahku ?"

"Mana berani."

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Nama besar Lie kongcu sudah disegani oleh ketua kami, kami dilarang berlaku kurang ajar kepada Lie kongcu."

Nyonya Lie Kong Tie segera menubruk Lie Wie Neng, bertekuk lutut dihadapan sang anak tiri itu, dengan masih menangis sedih ia berkata .

"Kongcu, tolonglah ayahmu.......tolonglah......lulusi saja permintaannya.....umur loya sudah terlalu tua, kalau sampai terjadi sesuatu apa..."

"Bangun !"

Berkata Lie Wie Neng penuh wibawa.

"Aku mempunyai pendirian sendiri."

Dengan masih menangis, nyonya itu meninggalkan Lie Wie Neng dan mem-bujuk2 Tian Hung totiang. Terdengar Lengcu Panji Hijau berkata .

"Kalau saja Lie kongcu bersedia menerima anjuran2 tadi, kujamin ayahmu segera kembali dalam keadaan segar bugar."

Masih terjadi tarik urat, Lie Wie Neng tidak mau melulusi secara cepat.

Disaat ini, lagi2 terdengar suara bentakan-bentakan ditempat jauh.

Wajah Tian Hung totiang berubah, memandang kearah Lengcu Panji Hijau dan membentak .

"Hei, berapakah rombongan kalian yang menyergap kelenteng Pek yun-kuan ?"

Lengcu Panji Hijau berkata tenang .

"Legakan hatimu, kujamin tidak ada orang lain yang menyerang kelenteng Pek-yun-kuan."

Betul saja, suara bentakan2 itu lenyap dan mereda segera.

Kuo Se Fen berada diatas pohon, daya pendengarannya lebih hebat, ia sudah bisa menduga dari mana datangnya suara2 bentakan itu, ia lebih jelas.

Itulah tempat kamar2 yang tersedia untuknya.

Teringatnya kepada Kang Han Cing yang masih berada didalam bahaya, segera ia merosot perlahan, dan balik kembali ke kamarnya.

Tiba didalam kamarnya, hati Kuo Se Fen semakin terkejut, ia tidak mendapatkan jejak Jen Pek Coan.

"Kemana pula kepergian jiete itu?"

Ia bertanya didalam hati.

Keadaan Kuo Se Fen menjadi sangat tegang, beruntung dia lekas2 meninggalkan medan pertempuran didepan dan memeriksa kamarnya.

Tokh ia sudah terlambat, ia tidak bisa melihat jejak Jen Pek Coan.

Tentu ada sesuatu yang terjadi, hatinya berpikir .

"Sesudah jiete mengetahui kembalinya aku, mengapa tiada suara?"

Kuo Se Fen melintangkan golok didepan dada untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan.

Ber-indap2 ia memeriksa ruangan itu.

Memeriksa lagi ruangan sebelah, hati Kuo Se Fen tergetar, disana menggeletak dua orang, dua orang itu mengenakan seragam berbaju hitam, mengenakan kerudung berwarna hitam.

Itulah anak buah dari Lengcu Panji hitam.

Seperti apa yang dia sudah ketahui, dibawah ketua golongan Perintah Maut terdapat dua kekuatan yang hebat, Lengcu Panji Hijau dan Lengcu Panji Hitam.

*** Bab 11 LENGCU Panji hijau sedang bersitegang dengan Lie Wie Neng.

Ternyata Lengcu Panji Hitam menyatroni kamarnya.

Tentu bertujuan menculik Kang Han Cing.

Tapi......

Bagaimana dua anak buah Lengcu Panji Hitam itu bisa menggeletak ditanah ?

Kuo Se Fen memeriksa dengan lebih teliti, tiga orang berseragam hitam pula menggeletak dikamar sebelah, mereka sudah berada didalam keadaan tidak berdaya.

Ditotok orang.

Kecuali lima orang berseragam hitam itu, Kuo Se Fen juga menemukan Jen Pek Coan, tapi Jen Pek Coan duduk melenggut, tiada bersemangat.

Juga sudah ditotok orang.

Cepat2 Kuo Se Fen mendatangi jitenya, meng-urut2 jalan darah Jen Pek Coan.

Tidak berhasil !

Jalan darah Jen Pek Coan yang tertotok masih membeku, totokan itu adalah totokan istimewa dia tidak berhasil menghidupkannya.

"Heran !"

Bergumam Kuo Se Fen.

"Siapa yang datang ? mengapa menotok Jen jietee? mengapa menotok orang2 berbaju hitam itu ?"

Sesudah tidak berhasil menolong Jen Pek Coan, Kuo Se Fen menghampiri ke kamar Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat.

Sama dengan keadaan Jen Pek Coan, Goan Tian Hoat juga tertotok orang !

Berada didalam keadaan tidak berdaya.

Yang lebih mengejutkan Kuo Se Fen lagi adalah diatas pembaringan Kang Han Cing duduk seorang berbaju putih, tangan orang berbaju putih itu diletakan di-ubun2 Kang Han Cing, dia duduk bersila.

Kuo Se Fen menduga kepada musuh, goloknya diselorongkan kedepan, menusuk kearah orang berbaju putih yang berada didepan Kang Han Cing.

Gerakan Kuo Se Fen boleh dikata sangat cepat, tapi gerakan orang berbaju putih lebih hebat lagi, tanpa menoleh kebelakang tanpa melepas sebelah tangannya yang menempel di ubun2 Kang Han Cing, dengan lain tangannya, orang itu menyentil golok Kuo Se Fen.

Traaangg............

Tangan Kuo Se Fen dirasakan kesemutan.

Ia terpukul mundur.

Hebat !

Hanya menggunakan jarinya saja dia berhasil memukul pergi ketajaman golok.

Inilah ilmu istimewa.

Kuo Se Fen tidak mau mengalah, sebagai ketua Hai-yang-pay yang ternama, ia tidak mau menyerah mentah2.

Memegang kuat goloknya lebih erat, maju dan menyerang lagi.

Sekarang dengan menggunakan ilmu Sembilan golok maut.

Golok ditangan Kuo Se Fen berubah bercahaya, dan berubah menjadi sembilan buah bayangan, itulah ilmu golok tercepat menyerang ke arah si orang berbaju putih.

Orang berbaju putih itu tahu sampai dimana ilmu permainan golok Kuo Se Fen.

Dia mengelak kekanan dan kekiri, menghindari sembilan serangan golok Kuo Se Fen, tapi lain tangannya yang masih menempel pada ubun2 Kang Han Cing tetap tidak terlepas.

Lebih dari pada itu, tampak kekuatan yang tidak terlihat menyerang kearah Kuo Se Fen.

Sang ketua Hai-yang-pay terkejut, inilah tenaga dalam yang hebat.

Lagi2 ia terdesak mundur.

Siapakah orang berbaju putih ?

Kuo Se Fen berdiri dipintu dengan golok masih ditangan, ia bingung menghadapi situasi yang seperti itu.

Bagaimana harus menolong Kang Han Cing ?

Disaat ini, dikala Kuo Se Fen masih berada dalam kebingungan, muncul pula seorang gadis kecil, dengan kepang dua yang panjang, menghampiri Kuo Se Fen dia berteriak .

"Cong piauwtouw apa yang hendak kau kerjakan ?"

Gadis berkepang dua itu adalah gadis yang pernah membongkar rahasia penyamarannya Than Hoa Toh palsu.

Itulah gadis berkepandaian tinggi yang bernama Ce Mei.

Kuo Se Fen masih berada didalam keadaan bingung, kedatangan Ce Mei sangat mengejutkan dirinya.

Lagi2 terdengar suara Ce Mei yang garing merdu .

"Cong piauwtouw, apa yang hendak kau lakukan ?"

Dari munculnya Ce Mei ditempat ini Kuo Se Fen bisa menduga, orang berbaju putih adalah kawan, bukan lawan.

Dengan ilmu silat yang begitu tinggi, orang berbaju putih itu bisa saja menjatuhkannya dengan mudah, tapi kenyataan tidak.

Orang berbaju putih sedang menolong Kang Han Cing.

"Congpiauwtouw..............."

Lagi2 suara Ce Mei memanggil. Kuo Se Fen menghela napas, dia berkata .

"Kedatangan nona tepat pada waktunya, maksudku..............."

Betapa luaspun pengalaman Kuo Se Fen, didalam keadaan yang seperti itu, berat juga untuk mencurahkan isi hatinya.

Mudah dibayangkan, sebagai seorang ketua Hai-yang-pay yang ternama, bagaimana Kuo Se Fen tidak merasa malu kalau harus bertanya kepada seorang gadis kecil yang seperti Ce Mei, meminta penjelasan tentang situasi ditempat itu?

Bagaimana ia mempunyai muka untuk mengemukakan ke-ragu2annya.

Tapi keadaan sudah memaksa Kuo Se Fen, dia bertanya kepada Ce Mei .

"Orang berbaju putih itu..."

Tidak menunggu sampai ucapan Kuo Se Fen selesai dikatakan, Ce Mei tertawa cekikikan, dia berkata .

"Congpiauwtouw salah paham, ia adalah kongcu kami."

Lagi2 Kuo Se Fen terkejut, ternyata orang berbaju putih yang berada diatas tempat tidur Kang Han Cing adalah kongcu Ce Mei? Dengan heran ia berteriak .

"Kongcumu ?"

Ce Mei menutup mulutnya yang kecil, tidak tahan ia mengeluarkan tertawa gelinya, ia berkata .

"Ya......kongcu kami sedang berusaha mengusir racun jahat yang bersarang didalam tubuh Kang jikongcu, jauh2 ia pergi kedaerah Tong-hay mengambil obat penawar racun, akhirnya berhasil...."

Si baju putih yang masih meletakan sebelah tangannya pada pundak Kang Han Cing membalikkan kepala, dengan sepasang matanya yang tajam memandang Ce Mei sebentar, itulah suatu isyarat bahwa Ce Mei sudah waktunya untuk menutup mulut.

Betul2 Ce Mei dimengkerutkan, ia tidak meneruskan keterangannya.

Si baju putih meneruskan usahanya untuk menyembuhkan Kang Han Cing.

"Nona Ce Mei ... ."

Panggil Kuo Se Fen perlahan. Ce Mei juga berkata dengan suara yang perlahan sekali .

"Majikanku sudah memberi obat kepada Kang jie-kongcu, kini sedang membenarkan peredaran jalan darah yang tersesat, lebih baik jangan diganggu. Mari kita istirahat didepan saja."

Kuo Se Fen malu kepada diri sendiri, tidak seharusnya ia curiga pada si baju putih, dengan ilmu kepandaian si baju putih yang begitu tinggi, mana mungkin mencelakakan Kang HanCing dengan cara yang seperti itu?

Tangan si baju putih yang diletakan di-jalan darah Pek-hie-hiat adalah cara penyembuhan yang terbaik.

Dia harus merasa lega dan bersyukur.

Dan seperti apa yang Ce Mei sudah katakan, cara2 pengobatan yang seperti itu pantangan besar kalau terganggu, bisa saja mengalami peredaran jalan darah Masuk Api.

Kuo Se Fen pun menyadari akan hal itu, dan ia juga bisa maklum mengapa si baju putih tiada mengucapkan suara.

Ber-sama2 dengan Ce Mei, mereka meninggalkan tempat itu.

Diluar, baru ia teringat kepada Jen pek Coan dan Goan Tian Hoat.

Jalan darah Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat telah dibekukan orang, tidak tahu siapa yang membekukan jalan darah mereka.

Karena itu Kou Se Fen bertanya .

"Ada sesuatu yang harus meminta keteranganmu."

"Katakanlah."

Berkata Ce Mei ramah. Kuo Se Fen berkata .

"Jie-suteku dan muridku telah ditotok orang, cara2nya agak mirip dengan cara2 yang kongcu baju putih itu lakukan, mungkin......"

Ce Mei memotong pembicaraan itu .

"Cong piauw touw hendak melihat mereka ?"

"Inilah harapanku."

Ce Mei meng-goyang2kan siolo putih di tangan kemudian berkata .

"Tunggu sebentar. Biar kuserahkan obat Swat-ci-tan ini kepada kongcuku, dan setelah itu kita pergi ber-sama2."

Setelah berkata begitu ia pergi meninggalkan Kuo Se Fen.

Didalam hati Kuo Se Fen mengeluh, obat Swat-ci-tan adalah obat kesayangan Tian Hung totiang, dari mana Ce Mei bisa mendapatkan obat itu ?

Menyolong ?

Tidak baik terlalu banyak mengajukan pertanyaan, teka-teki itu disimpan didalam hati.

Ce Mei bisa bekerja gesit, cekatan, dia telah balik kembali, dengan lincah merendengi Kuo Se Fen berjalan bersama-sama.

"Cong piauw touw,"

Katanya.

"Mungkin kau tidak tahu, kalau kami selalu membayangi dibelakangmu."

Hati Kuo Se Fen bergerak, ia bisa mengerti, pantas saja sering terjadi keanehan-keanehan, seperti ketika Jen Pek Coan bertempur melawan empat jendral keluarga Lie, didalam keadaan terjepit mendadak bisa berbalik menang, tentunya mendapat bantuan gelap dari Ce Mei.

Ia menganggukkan kepala dan berkata .

"Betul2 aku tidak tahu kalau kongcumu juga turut membayangi kita."

"Tidak."

Ce Mei menyelak.

"Kongcu kami tidak mengikutimu, selama ini berpergian ke Tong-hay meminta obat, dia memberi perintah kepada aku dan cici Ce Tong berdua membayangimu untuk menjaga sesuatu kemungkinan."

"Apakah kongcumu itu baru kembali tadi ?"

Bertanya Kuo Se Fen.

"Ya."

Jawab Ce Mei.

"Begitu kongcu tiba, cici Ce Tong segera berangkat pergi, mendapat tugas baru."

"Hanya kau sendiri yang mendampinginya ?"

"Begitulah. Racun2 yang bersarang didalam tubuh Kang Han Cing kongcu bukan racun biasa, jumlahnya tidak sedikit, karena itu membutuhkan aneka macam obat yang banyak juga, diantaranya terdapat obat Swat-ci-tan, di tempat ini aku berhasil mendapatkannya, sedangkan kongcu menghadapi keroyokan2 banyak orang, masing-masing telah ditotok mati."

"Ditotok mati ?"

Hati Kuo Se Fen tercekat. Ce Mei tertawa dan berkata .

"Yang diartikan ditotok mati adalah para kurcaci itu, bukan Jen Pek Coan tayhiap dan Goan tayhiap."

Mereka berjalan sambil ber-cakap2.

Sebentar kemudian, mereka sudah berada disamping Jen Pek Coan, jago Hai-yang-pay itu menggeletak di tanah.

Per-lahan2 Ce Mei menepuknya, menghidupkan jalan darah Jen Pek Coan yang tertutup.

Jen Pek Coan menggeliat, matanya dibukakan, tampak sang toasuheng berdiri di depannya, cepat2 ia berkata .

"Toa suheng, apakah musuh sudah terusir pergi ?"

Kuo Se Fen tertawa dan berkata .

"Kukira sudah."

Ya !

Itu waktu sudah tidak terdengar suara pertempuran.

Sesudah menolong Jen Pek Coan, Ce Mei lari kebelakang, menghidupkan totokan Goan Tian Hoat.

Jen Pek Coan memandang ke arah gadis yang sedang berlari ke arah Goan Tian Hoat, ia berkata heran .

"Itulah gadis yang menolong diriku di luar kota Yang-ciu."

"Namanya Ce Mei."

Sang toako memberi keterangan.

"Hari itu, dialah yang membuka rahasia penyamaran Than Hoa Toh palsu. Dialah yang sering membantu usaha kita."

Jen Pek Coan memandang orang2 berbaju hitam yang menggeletak, ia bertanya.

"Apakah mereka jatuh didalam tangan Ce Mie?"

Kuo Se Fen berkata.

"Mereka rubuh dibawah tangan majikannya yang juga sudah datang. Kini sedang mengobati Kang Han Cing."

Jen Pek Coan semakin heran, dia bertanya.

"Siapa majikan Ce Mie?"

Sebelum Kuo Se fen menjawab, Ce Mie sudah mengajak Goan Tian Hoat mendatangi ke arah mereka. Jen Pek Coan memberi hormat dan berkata.

"Nona Ce Mie, dengan ini aku mengucapkan banyak terima kasih."

Ce Mie membalas hormat itu dan berkata .

"Sama2, sudah menjadi kuwajiban kita untuk saling tolong menolong."

Kuo Se Fen berkata .

"Ada sesuatu yang hendak kutanyakan, siapakah nama majikanmu ?"

Ce Mei tertawa kecil dan berkata .

"Cong piauwtouw langsung saja bertanya kepada orang yang bersangkutan. Urusan ini aku tidak berani banyak mulut."

Tidak menunggu pembicaraan Kuo Se Fen lagi, Ce Mei berkata .

"Mungkin majikanku masih membutuhkan bantuanku, aku harus kembali kesana melayaninya."

Sesudah itu, Ce Mei meninggalkan mereka. Goan Tian Hoat menundukkan kepala, dia merasa malu atas kejadian yang baru saja berlangsung, berkata dengan suara rendah.

"Teecu tiada guna, sehingga dibokong oleh musuh. Betul2 memalukan nama suhu saja."

Jen Pek Coan berkata .

"Kau tidak perlu merasa rendah diri, aku sebagai pamanmu pun ditotok orang tanpa bisa melihat orang yang menotokku itu."

Kuo Se Fen mengurut jenggotnya dan berkata .

"Orang yang menotok jalan darah kalian adalah majikan gadis Ce Mei tadi, kini dia sedang menyembuhkan luka2 Kang Han Cing."

Jen Pek Coan memandang Goan Tian Hoat dan berkata .

"Coba kau lihat, bagaimana keadaan orang itu ?"

Ia menujuk kearah lima orang berbaju hitam yang menggeletak di tanah. Satu persatu Goan Tian Hoat memeriksa mereka, orang2 itu sudah dingin dan beku, mereka sudah kehabisan napas, mati disana.

"Mereka sudah mati semua."

Goan Tian Hoat memberi laporan. Kuo Se Fen menganggukkan kepala dan berkata .

"Betul2 sudah ditotok jalan darah kematiannya."

Kini dia memandang kearah Jen Pek Coan dan bertanya .

"Apakah jiete melihat wajah kongcu itu ?"

"Tidak."

Jawab Jen Pek Coan.

"sesudah toasuheng berangkat, siaote menunggu ditempat ini, sehingga tadi ada bayangan musuh mendatangi, siaote takut mereka menerjang masuk. Musuh2 yang datang pada hari ini berjumlah besar, ilmu kepandaian mereka sangat tinggi. Disaat siaote hendak memapaki kedatangan mereka, entah bagaimana tiba2 satu persatu jatuh menggeletak, dan disaat itu pula, siaote merasa kesemutan kemudian hilang ingatan, apapun tidak ingat lagi."

Kuo Se Fen menganggukkan kepala, ia memuji kehebatan ilmu kepandaian si baju putih itu.

"Majikan Ce Mei menotok dari jarak jauh, ilmu kepandaiannya memang betul2 hebat! Dia adalah tokoh silat super sakti."

Jen Pek Coan berkata .

"Tentunya lengcu Panji Hitam itu telah menderita kekalahan."

Kuo Se Fen menggoyangkan kepala dan berkata .

"Yang datang pada malam ini adalah lengcu Panji Hijau, kukira keluarga besar Lie sudah bertekuk lutut dibawah kekuasaan mereka."

Jen Pek Coan terkejut, ia memandang kearah sang toako dan bertanya .

"Lengcu Panji Hijau? Begitu hebatkah ilmu kepandaian mereka? Hingga bisa mengalahkan keluarga besar Lie?"

Kuo Se Fen berkata .

"Lie Kong Tie yang istirahat dikelenteng Pek-yun-kuan adalah Lie Kong Tie palsu, dia adalah penyamaran musuh, Lie Kong Tie yang asli sudah jatuh kedalam tangan orang2 itu, bagaimana keluarga Lie tidak mau menyerah ?"

Secara singkat, diceritakan pula kejadian2 yang belum lama terjadi.

Hati Jen Pek Coan semakin terkejut, dua keluarga besar dari empat datuk persilatan disaat itu, yaitu keluarga Kang dari daerah Kanglam, keluarga Lie dari daerah utara telah mengalami kehancuran.

Kang Sang Fun sudah mati !

Lie Kong Tie menjadi tawanan musuh.

Maka dua datuk dari dua keluarga besar tokoh rimba persilatan yang ternama mulai kucar kacir.

Begitu hebatkah ilmu kepandaian Lengcu berbaju Hijau?

Begitu hebat pulakah ilmu kepandaian lengcu berbaju hitam ?

Dengan munculnya lengcu berbaju hitam dan lengcu berbaju hijau membuktikan mereka hanya pion2 terdepan, dibelakang mereka masih ada yang memegang peranan, siapakah dalang dibelakang layar itu?

Ketua Perintah Maut !

Siapa yang mengepalai rombongan baru ini ?

Goan Tian Hoat sedang mengasah otak, memikirkan ilmu kepandaian Lie Kong Tie yang hebat.

Lie Kong Tie adalah pemimpin dari keluarga besar Lie didaerah utara, sebagai salah satu dari empat datuk rimba persilatan disaat itu, ilmu kepandaiannya belum pernah mendapat tandingan, sulit untuk mengalahkannya, pengalamannya juga luas, tidak mudah diracuni.

Karena itu, siapa yang bisa menawan Lie Kong Tie?

Kalau didalam kehancuran keluarga Kang terdapat musuh dalam selimut, Kang Puh Cing yang berkhianat kepada keluarga sendiri, mungkinkah didalam keluarga Lie tidak ada pengkhianat pula?

Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat sedang memikir2 kemisteriusan itu.

Pintu kamar yang berada dibagian sebelah kiri terbuka, disana tampil seorang sastrawan berbaju putih, dibelakang sastrawan itu mengintil pelayannya Ce Mei, Ce Mei masih membawa buli2 putih.

Mengetahui kepada tuan penolongnya, cepat-cepat Kuo Se Fen menyongsong menyambut memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih kepada bantuan kongcu. Terima kasih kepada bantuan kongcu yang sudah menyembuhkan Kang Han Cing hiantit. Tadi, aku banyak kesilafan, maafkan kesalahanku."

Sastrawan berbaju putih itu tersenyum kecil, membalas hormat dan berkata.

"Sama2."

Disaat Kuo Se Fen menempur sastrawan berbaju putih ini, orang hanya menggunakan sebelah tangannya melawan, hanya tampak dari samping, tidak bisa melihat tegas wajahnya.

Kini mereka berhadap2an, Kuo Se Fen memperhatikan bentuk raut dan wajah si baju putih itu.

*** Bab 12 UMURNYA belum cukup dua puluh tahun, mukanya putih, bibirnya merah, sangat cantik dan menarik, apalagi dia mengenakan pakaian putih, semakin membawa suatu perasaan yang tidak mudah dihilangkan.

Disaat itu, Kuo Se Fen hampir lupa kepada diri sendiri.

Hampir ia tidak percaya sastrawan yang begini muda, memiliki ilmu yang luar biasa hebat !

Tentunya murid keturunan jago silat super sakti tanpa tandingan.

"Bisakah kami mengetahui gelar nama dan sebutan kongcu yang mulia ?"

Bertanya Kuo Se Fen. Tiba2 selembar wajah kongcu berbaju putih itu menjadi merah, ia berkata .

"Namaku Tong Jie Peng."

Sikap si-sastrawan berbaju putih sangat angkuh dan agung, tapi wajahnya bisa bersemu dadu, manakala ia membicarakan sesuatu.

Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat juga menghaturkan rasa terima kasih mereka.

Sastrawan berbaju putih Tong Jie Peng membalas hormat itu, tersenyum sebentar baru ia berkata.

"Maafkan atas kelancanganku tadi yang sudah menotok jiwie berdua."

Goan Thian Hoat bertanya .

"Bagaimana keadaan saudara Kang Han Cing?"

Sastrawan berbaju putih itu menjawab .

"Kang jie-kongcu menderita racun yang dalam, beruntung racun2 itu sudah terusir pergi. Hanya kondisi badannya masih lemah, terlalu lama dia menderita, kini sudah kupercepat peredaran jalan darahnya, tapi harus membutuhkan waktu istirahat yang cukup..........."

Berkata sampai disini, ia mengambil buli2 arak dan diserahkan kepada Kuo Se Fen dan berkata .

"Inilah obat Suat-ci-tan Tian Hung totiang, betul2 obat mujijat, obat ini sangat dibutuhkan oleh Kang jie-kongcu, dengan bantuan obat2, kukira Kang-jie-kongcu bisa sembuh. Didalamnya berisi seratus duapuluh butir, tiap kali makan sepuluh butir, satu hari tiga kali. Mungkin didalam empat hari ia bisa sembuh seperti sedia kala."

Kuo Se Fen menerima buli2 arak putih itu, berkata .

"Obat Swat-ci-tan adalah milik Tian Hung totiang, bagaimana..........."

Tong Jie Peng berkata .

"Aku sudah menyuruh Ce Mei memberikan pesan kata2 kepadanya, katakan saja aku yang mengambil, ia tidak berani banyak cingcong."

Suara ini menandakan betapa tinggi hatinya si sastrawan berbaju putih.

Kuo Se Fen tidak mengetahui asal-usul Tong Jie Peng, hanya kesannya kepada orang ini terlalu agung.

Apa yang diucapkan tidak boleh dibantah.

"Baiklah."

Berkata Kuo Se Fen.

"Akan kujaga baik2 Kang Han Cing."

Tong Jie Peng berkata lagi .

"Tadi, jalan darah tidur Kang-jie kongcu sudah kutotok, ia akan siuman besok pagi sebelum matahari terbit, tolong saja sampaikan salamku."

Sesudah itu ia memberi hormat dan meninggalkan tempat itu.

Diikuti oleh Ce Mei.

Kuo Se Fen, Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat mengantar sampai kedepan.

Sehingga sampai dipintu depan Tong Jie Peng membalikan kepala, memandang ke-arah ketiga orang itu dan berkata.

"Keadaan rimba persilatan sudah jauh berubah, adanya penyergapan2 yang teratur itu membuktikan betapa bagusnya rencana mereka, kuharap saja Cong piauw-touw bisa ber-hati2."

Sepintas lalu, Tong Jie Peng seperti tidak berpengalaman kang-ouw yang luas.

Disaat Kuo Se Fen bertanya nama dan gelar pemuda itu, ia tidak menjawab, wajahnya berubah merah kemalu-maluan.

Disaat dikala ia memberi petuah, sifatnya sangat gagah, suatu bukti kalau ia mempunyai pengalaman luas.

Cepat2 Kuo Se Fen memberi hormat dan berkata .

"Nasehatmu akan kami ingat baik2."

Mengajak Ce Mei, Tong Jie Peng meninggalkan tempat itu.

Mengantarkan kepergian Tong Jie Peng dan Ce Mei, Kuo Se Fen menambah pengalaman baru, pemuda berbaju putih yang misterius, ilmu kepandaiannya yang tidak bisa diukur, asal usulnya yang penuh rahasia.

Hanya didalam beberapa waktu saja, dia telah menemukan dua jago muda yang tiada tara.

Orang pertama adalah putra Lie Kong Tie yang bernama Lie Wi Neng, ilmu kepandaian jago muda itu begitu hebat, sulit dijejaki.

Sebagai seorang ketua partai, Kuo Se Fen masih belum bisa menandingi Lie Wi Neng.

Tokoh kedua adalah Kang Han Cing, walau ia sudah lama berkenalan dengan keluarga Kang, tapi belum diketahui kalau Kang Han Cing itu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Hanya memberi beberapa petunjuk kepada Goan Tian Hoat, dia berhasil memecahkan ilmu kipas Lie Wi Neng.

Orang berikutnya adalah Tong Jie Peng, umur Tong Jie Peng tidak lebih tua dari Lie Wi Neng dan Kang Han Cing, tapi ilmu kepandaiannya berada diatas dua tokoh yang kita sebut lebih dahulu.

Ketiga anak muda ini adalah tokoh2 silat kelas satu yang pernah dijumpai olehnya.

Betul2 generasi muda jaya !

Berpikir sampai disini, bila dibayangkan dan dibandingkan dengan keadaan dirinya yang sudah tua, Kuo Se Fen menghela napas.

Jen Pek Coan selalu mendamping Kang toasuheng, dia juga merasakan betapa lunturnya jago2 tua sebangsa mereka, sudah waktunya menyerahkan kekuasaan kepada generasi yang lebih muda.

Ter-batuk2 sebentar, Jen Pek Coan berkata .

"Tong Jie Peng tadi seperti menganjurkan agar kita mengundurkan diri dari kancah kekalutan didalam rimba persilatan."

Kuo Se Fen menoleh kearah sang sute dan berkata .

"Ya. Petuahnya itu cukup beralasan. Sudah kubayangkan selama kita membuka perusahaan Hai-yang-piauw-kiok, selama sepuluh tahun, belum pernah menemukan kegagalan, bukan karena kita memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, hanya karena kita mengandalkan bantuan2 dari para sahabat rimba persilatan. Maka bisa dipertahankan keadaan sampai disaat ini. Kalau melihat ilmu kepandaian orang2 yang bermunculan, betul2 mengerikan. Ilmu silat kita tidak ada artinya."

Jen Pek Coan bisa memaklumi apa yang dimaksud oleh sang toasuheng, maka ia bertanya .

"Menurut pandangan suheng, bagaimanakah kita harus menghadapi soal ini?"

Kuo Se Fen berkata .

"Kekalutan rimba persilatan samar2 mulai pecah, empat datuk persilatan, dua diantaranya sudah mulai rontok. Keluarga Kang hancur, keluarga Lie ditangkap orang. Sesudah selesai urusan pengobatan Kang jikongcu, aku ada niatan untuk membubarkan perusahaan piauwki kita. Agar kita tidak terpecah belah, kita tidak menimbulkan iri hati yang bukan2. Apa lagi mengingat kekuatan lengcu Panji Hitam, tidak mungkin mereka mau menyudahi perkara ini, lebih baik kita menyatukan kekuatan, membikin persiapan untuk menghadapi mereka !"

Jen Pek Coan berkata .

"Apa yang toasuheng kemukakan memang masuk diakal, sayang urusan sudah berkembang seperti ini, lengcu berbaju hitam telah menyatroni kita, mungkinkah Hai-yang-pay menyerah begitu saja ?"

Kuo Se Fen berkata .

"Hai yang-pay belum pernah takut kepada orang. Selama sepuluh tahun, pernahkah kita takut, atau gentar? Yang jelas, musuh2 berada di tempat gelap, kita berada ditempat terang. Musuh bisa mencari kita, kita tidak bisa menemukan jejaknya. Karena itu, kita harus membubarkan perusahaan piauwki kita, dan menggelapkan diri, sesudah itu kita berkutet melawan Perintah Maut. Apalagi mengingat keadaan keluarga Kang yang sudah terjatuh ke tangan musuh walaupun Kang Han Cing sudah bebas dari keracunan. Hanya kekuatan seorang, kukira belum cukup, dengan ditutupnya perusahan kita, kita bisa menggabungkan diri, memberi bantuan yang se-besar2nya. Membikin bersih musuh, yang lebih penting masih ada dua urusan lagi......."

"Dua urusan penting apa?"

Bertanya Jen Pek Coan. Kuo Se Fen menengadahkan kepalanya ke langit, perlahan ia berkata .

"Urusan penting yang pertama adalah mencari jejak orang yang mendalangi lengcu berbaju hitam, siapakah orang yang menjadi pemimpin komplotan jahat itu ? Kita harus bisa membeberkan rahasianya, memberitahu kepada rimba persilatan."

"Urusan penting yang kedua?"

Bertanya lagi Jen Pek Coan. Wajah Kuo Se Fen semakin tegang, kedua tangannya di-kepal2kan, dengan suara geram ia berkata perlahan .

"Kita harus bisa mencari tahu siapa yang menyebabkan kematian Kang Sang Fung."

"Aaaa....."

Jen Pek Coan berteriak.

"Maksud toa suheng, Kang Sang Fung mati dianiaya orang?"

"Tidak salah,"

Kuo Se Fen menganggukkan kepala.

"Sedari aku pergi ke Kim-lin dahulu, aku sudah menaruh banyak curiga kematian Kang Sang Fung sangat misterius. Sesudah itu, kedatangan Kang Hang Cing ke tempat kita sudah menambah kecurigaanku. Dan membuat aku menjadi pasti, disusul dengan kejadian yang menimpa keluarga Lie. Keluarga besar Kang hancur, kini kemalangan menyusul pada keluarga Lie, tidak bisa disangkal lagi, tentu ada satu kekuatan yang hendak menghancurkan empat datuk persilatan."

"Oh........."

"Ingat,"

Berkata Kuo Se Fen.

"Urusan ini hanya diketahui oleh kita berdua, jangan sampai diketahui oleh Kang Han Cing."

"Aku tahu."

Mereka balik keruang dalam, disana mayat kelima orang berbaju hitam itu sudah meleleh mencair.

Goan Tian Hoat berdiri disamping dengan tangan diturunkan kebawah.

Kuo Se Fen memandang kearah Goan Tian Hoat, mengkerutkan alis dan menegur .

"Hei, bilakah kau mempelajari ilmu hitam ? Menghancurkan mayat2 seperti ini ?"

Goan Tian Hoat tertegun sebentar, dengan hormat ia menjawab.

"Bukan teecu. Disaat teecu hendak mengebumikan jenazah2 ini, tiba2 saja merasa bau busuk, daging2 itu sudah mencair, per-lahan2 menyusut."

Jen Pek Coan berkata .

"Kukira gadis yang bernama Ce Mei itu yang mengerjakannya. Sukur sajalah, ia tidak membikin susah orang."

Kuo Se Fen mengurut jenggot dan berkata .

"Ce Mei hanya seorang pelayan, tapi ilmu kepandaiannya sudah jauh diatas kita, betul2 majikan yang misterius."

Jen Pek Coan menyalakan pipa bakonya disedotnya beberapa kali, memandang ke-arah Goan Tian Hoat dan bertanya .

"Bagaimana keadaan Kang Han Cing ?"

Goan Tian Hoat berkata .

"Ia masih tidur nyenyak."

"Apa betul racunnya sudah dipunahkan ?"

"Tentu saja sudah dipunahkan."

Jawab Kuo Se Fen tanpa ragu2. Dia bisa menduga hasilnya. Dengan heran Jen Pek Coan bertanya .

"Dengan ilmu ketabiban Tian Hung totiang yang luar biasa, juga tidak mempunyai pegangan kuat untuk menyembuhkan racun Kang Han Cing. Dengan cara bagaimana kongcu berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng itu bisa menyembuhkannya secara cepat?"

Kuo Se Fen berkata .

"Lupakah kepada ceritera si Ce Mei, bahwa obat yang dibawa oleh majikannya berasal dari daerah Tong-hay ?"

"Aku tahu. Di daerah Tong-hay, kecuali sepasang manusia ajaib, mana ada orang lain lagi yang memiliki obat itu ?"

Kuo Se Fen mengurut jenggot dan berkata .

"Kecuali obat Ban-ing-hui-tian-tan, mana ada obat lain yang bisa menyembuhkan racun Kang Han Cing?"

"Obat Ban-ing-hui-tian-tan ?"

Berseru Jen Pek Coan.

"Tidak mungkin! Sepasang manusia ajaib dari daerah Tong-hay hanyalah merupakan desas-desus orang saja, sesudah berselang empat puluh tahun siapa yang bisa menemuinya, apalagi obat mujarab yang seperti obat Ban-ing-hui tian-tan, dimana dia bisa mendapatkannya ?"

Kuo Se Fen ter-senyum2, dia berkata .

"Orang berbaju putih yang bernama Tong Jie Peng tadi, memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, tiada satu yang melekat pada tubuhnya yang istimewa. Kalau saja dugaanku tidak salah, dia mempunyai hubungan erat dengan sepasang manusia ajaib dari daerah Tong-hay."

Baru sekarang Jen Pek Coan menganggukkan kepala, menyetujui pendapat sang toa suheng, dia berkata .

"Aku tahu, asal-usulnya Tong Jie Peng tadi bukan asal-usul biasa........"

Kuo Se Fen sudah menoleh kearah Goan Tian Hoat, berkata kepada sang murid .

"Waktu sudah cukup malam. Pergilah istirahat."

"Baik."

Berkata Goan Tian Hoat mengiyakan perintah itu. Kemudian seperti terpikir sesuatu, ia berkata .

"Teecu terpikir sesuatu, bisakah teecu beritahu?"

Kuo Se Fen menoleh kearah murid itu, ia bertanya .

"Apa yang kau pikirkan ?"

"Menurut cerita suhu tadi, terjadi pertukaran Datuk persilatan Lie Kong Tie yang asli dan yang palsu, teecu mempunyai pandangan yang lain, bolehkah teecu mengutarakan pendapat itu ?"

"Katakanlah,"

Berkata Kuo Se Fen.

"Bagaimana kesanmu kepada kejadian itu ?"

Goan Tian Hoat berkata .

"Seharusnya, Datuk persilatan Lie Kong Tie yang sedang istirahat ditempat ini adalah Datuk persilatan yang asli, tapi lengcu berbaju hijau sengaja mengatakan bahwa orang itu adalah Lie Kong Tie palsu kukira adalah suatu tipu muslihat yang luar biasa............"

Kuo Se Fen bisa memaklumi betapa cerdiknya murid ini, ia lebih percaya kepada keterangan Goan Tian Hoat, mendapat keterangan itu, ia tertegun sebentar dan bertanya .

"Maksudmu ?"

Goan Tian Hoat berkata lagi .

"Sebagai salah satu dari empat Datuk persilatan, kedudukan Lie Kong Tie sangat tinggi, kedudukan Datuk persilatan Lie Kong Tie bukan kedudukan biasa, tokh masih bisa masuk kedalam perangkap jebakan golongan Panji Hitam dan Panji Hijau itu, terbukti musuh mempunyai dasar-dasar kekuatan yang hebat, tentunya sudah menyembunyikan mata2 didalam keluarga Lie itu, kalau tidak, tidak mungkin Lie Kong Tie bisa terjerumus masuk."

Pasti salah satu orang kepercayaan Lie Kong Tie yang berkhianat ! Kuo Se Fen menganggukkan kepala berkata .

"Penilaianmu benar."

Goan Tian Hoat berkata lagi.

"Datuk persilatan Lie Kong Tie jarang keluar rumah, sesudah menderita keracunan, dia mendapat penjagaan yang ketat, datang ke kelenteng Pek-yun-koan ini untuk meminta pengobatan, disampingnya masih ada sang putra yang lihai Lie Wi Neng. Juga ada empat jendralnya yang lihai, betapa kuatpun musuh, tidak mungkin bisa menyelundup masuk, tidak mudah untuk menyolongnya, dan menggantikan dengan seorang manusia palsu. Hal ini betul2 tidak mungkin terjadi."

Kuo Se Fen mengurut2 jenggot dan berkata .

"Tepat! Tapi Lie kongcu tadi sudah mencopot wajah sang Datuk persilatan Lie Kong Tie, betul terdapat selembar kedok tipis, dan itulah Lie Kong Tie palsu, bentuk dedak perawakan Lie Kong Tie palsu dan Lie Kong Tie asli memang sama, tapi orang itu bukan Lie Kong Tie."

"Menurut dugaan teecu,"

Berkata Goan Tian Hoat.

"Orang itu adalah Lie Kong Tie yang asli."

"Alasanmu ?"

Goan Tian Hoat mengemukakan alasannya .

"Lie Kong Tie terjaga ketat oleh jago2 kelas satu, siapakah yang bisa menukarnya ? Dimisalkan betul ada seseorang musuh dalam selimut yang berani berlaku seperti itu, bagaimana menyeret tubuh Lie Kong Tie yang cukup besar ?"

"Aku tidak mengerti."

Berkata Jen Pek Coan. Kuo Se Fen berkata lagi .

"Rimba persilatan telah muncul satu kekuatan baru, satu kekuatan baru yang mau menghapuskan kekuatan2 empat Datuk rimba persilatan, karena itu rencana mereka yang pertama adalah membunuh mati Datuk Kang Sang Fung, rencana kedua membunuh Datuk Lie Kong Tie, Lie Kong Tie sudah menderita luka parah, keracunan, karena itu ia istirahat dikelenteng ini tapi mereka belum puas, mereka telah menyiapkan satu rencana tipu muslihat yang lihai, mereka mencari seseorang yang mempunyai dedak perawakan yang seperti Lie Kong Tie, diubahnya wajah itu seperti betul2 Lie Kong Tie, disembunyikannya lebih dahulu........"

"Kemudian....."

"Karena mereka mempunyai banyak kaki tangan didalam keluarga besar Datuk Li Kong Tie, karena itu pada wajah Datuk persilatan Lie Kong Tie yang asli diubah menjadi wajah lain, kemudian ditutupnya dengan selembar kedok tipis Lie Kong Tie, jadi Datuk persilatan Lie Kong Ti yang sudah sakit itu menjadi bulan2an orang, diatas wajahnya terdapat wajah lain, diatas wajah itu terdapat wajah Lie Kong Tie pula, mereka hendak menyomot Lie Kong Tie, tapi tidak berdaya, sengaja mengatakan bahwa Lie Kong Tie itu palsu. Lie Wi Neng masuk perangkap, dia mencopot kedok kulit tipis itu, maka terpetalah satu wajah, satu wajah yang bukan wajah asli Lie Kong Tie, tapi wajah itu adalah wajah buatan, kalau saja Lie Wi Neng bisa memperhatikannya betul-betul, wajah itu masih bisa disingkap pula, dibalik wajah itu masih terdapat wajah asli Lie Kong Tie, tapi Lie Wi Neng dalam keadaan bingung, bingung karena menghadapi situasi yang seperti ini, bingung menghadapi penyakit ayahnya yang tidak bisa disembuhkan, akhirnya ia tertipu menyerahkan sang ayah kepada musuh begitu saja.........."

"Tipu muslihat lihay !"

"Ya! Tipu muslihat lihay ! Maka Lie Kong Tie yang asli dikatakan palsu, diserahkan kepada musuh. Jatuhlah ke tangan komplotan orang jahat."

"Yang benar dikatakan yang palsu ! Yang palsu itu adalah manusia aslinya !"

Goan Tian Hoat masih nyerocos terus .

"Lie Wi Neng yang masih berada didalam kesibukan tentu saja mudah terjerembab, cepat2 ia balik kembali, menyingkap kedok kulit tipis, betul2 bukan wajah ayahnya getaran jiwanya bergelora, tanpa periksa kembali dibiarkan saja musuh menggotong ayah sendiri. Dia menyerahkan ayahnya ke dalam komplotan jahat. Oh .... Maka menyusul tragedi keluarga Datuk Kang Sang Fung, maka Datuk Lie Kong Ti juga jatuh kedalam tangan musuh." *** Bab 13

"SESUDAH kematian Datuk Kang Sang Fung sesudah tertangkapnya Datuk Lie Kong Tie, sebagian besar dari dunia persilatan sudah berada dibawah kekuasaan musuh."

Jen Pek Coan berkata .

"Toa suheng, sesudah kita mengetahui rencana busuk ini, mungkinkah bisa berpeluk tangan ?"

Kuo Se Fen berkata .

"Sudah terlambat ! Ini waktu, sudah tidak ada gerakan musuh. Komplotan jahat itu sudah pergi jauh."

Jen Pek Coan berkata .

"Lie Wi Neng kongcu telah menerima syarat-syarat yang ditetapkan, bagaimana kita harus memberitahu kepadanya agar ia bisa ber-siap2 ?"

Kuo Se Fen meng-geleng2kan kepala dan berkata .

"Kecuali kita bisa membentangkan fakta-fakta didepannya, hanya dugaan2 seperti ini, kita tidak mempunyai bukti kuat. Siapa yang harus kita beritahu, siapa musuh yang bersembunyi di balik selimut datuk keluarga Lie ? Lebih baik kita diam2 agar musuh tidak mengetahui rencana kita dan tidak lebih bersiap siaga."

"Langkah apa yang bisa kita ambil?"

"Mari kita temukan Tian Hung totiang beri sedikit kisikan kepadanya, dengan hubungan baik Tian Hung totiang dan datuk Lie Kong Tie, kita serahkan pada Tian Hung totiang yang memberi tahu saja, sedang keluarga Datuk Lie Kong Tie tidak mempunyai hubungan baik dengan Hai-yang pay."

Demikian persepakatan itu diputuskan.

Suasana kelenteng Pek-yun-kuan sudah tenang kembali.

Pada hari keduanya ......

Kuo Se Fen sudah bangun dari tempat tidurnya, sesudah ber-kemas2, dan memasuki kamar Kang Han Cing, Kang Han Cing masih mengatupkan kedua mata, duduk bersila mengatur jalan pernapasan.

Goan Tian Hoat menyongsong kedatangan sang guru dan memberi hormat .

"Teecu Goan Tian Hoat mengucapkan selamat pagi kepada suhu."

"Bagaimana keadaan Kang Han Cing?"

Bertanya Kuo Se Fen. Goan Tian Hoat menjawab pertanyaan sang guru .

"Pagi-pagi sudah bangun, sudah diberi makan obat, kini sedang mengatur peredaran jalan darahnya."

Kuo Se Fen meng-angguk2an kepala, dan ia berjalan meninggalkan ruangan itu.

Racun jahat yang mengeram didalam tubuh Kang Han Cing per-lahan2 mereda, selama empat hari beruntun, dia telah memakan obat Swat-ci-tan, harus disertai dengan penyempurnaan tenaga dalam, mengusir sisa2 racun yang ada.

Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan bermakan pagi, membiarkan Goan Tian Hoat menjaga Kang Han Cing dikamarnya.

Mereka masih menunggu kedatangan Tian Hung totiang.

Siang harinya, dua tosu kecil membawakan nampan, berkata kepada Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan .

"Para siecu silahkan minum."

Kuo Se Fen bertanya .

"Dimana kuancu kalian ? Apa masih repot ?"

Seorang tosu kecil menjawab .

"Kuancu kami ada urusan penting, sudah turun gunung."

Kuo Se Fen tertegun.

"Kapan kepergiannya ?"

Ia bertanya. Tosu kecil itu menjawab .

"Kuancu pergi pada malam hari, karena ter-buru2, maka tidak bisa memberitahukan lagi, dikatakan agar para siecu tidak kuwatir, anggaplah seperti rumah sendiri. Tinggal disini tenang2."

Hati Kuo Se Fen tergetar, ia berpikir sebentar, lalu bertanya .

"Orang2nya Datuk persilatan dari daerah utara Lie Kong Tie apa sudah berangkat semua ?"

Tosu kecil itu menganggukkan kepala menjawab .

"Betul. Mereka sudah berangkat pergi semua. Pagi2 sekali mereka meminta diri dan turun gunung."

Sesudah itu, tosu pelayan menganggukkan kepala meninggalkan mereka.

Empat hari berikutnya sedari kejadian tadi, kelenteng Pek-yun-kuan sudah sepi dan sunyi.

Tiada gangguan lain.

Dan selama empat hari itu, Tian Hung totiang yang turun gunung juga tidak balik kembali.

Kang Han Cing mendapat pengobatan dari sastrawan berbaju putih Tong Jie Peng, juga mendapat makan seratus duapuluh butir obat Swat-ci-tan, obat Swat-ci-tan adalah obat buatan Tian Hung totiang yang sangat mujarab, selama empat hari itu keadaan ber-angsur2 menjadi baik.

Tentu saja, obat Swat-ci-tan dihasilkan oleh Tian Hung totiang yang memakan jerih payahnya belasan tahun, tokh hanya mentelorkan duaratus empatpuluh butir, separuh jumlah ini telah dimakan oleh Kang Han Cing.

Bagaimana ia tidak menjadi segar cepat?

Menurut cerita tokoh2 rimba persilatan, sebutir obat Swat-ci-tan saja cukup untuk menjaga kesehatan seumur hidup, penyakit tidak bisa dikambuhkan.

Memakan dua butir obat Swat-ci-tan, berarti memelihara kesehatan lebih kuat, rambut tetap hitam, tidak berubah.

Selama tiga tahun, orang itu bertahan tetap seperti sediakala.

Orang yang melatih ilmu silat, kalau bisa mendapatkan hadiah dua butir obat Swat-ci-tan dari Tian Hung totiang, maka tenaga latihannya bertambah tiga tahun.

Obat Swat-ci-tan adalah obat pusaka Tian Hung totiang, lebih disayangi dari apapun juga.

Dimisalkan dia hendak memberi obat Swat-ci-tan kepada orang, orang itu pasti orang penting, atau orang yang terdekat.

Baca Juga: Pendekar Tongkat Dari Liong San Kho

Baca Juga: Pendekar Bunga Merah Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert