Eps 2 Perintah Maut - Buyung Hok
Baca online Perintah Maut - Buyung Hok
Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.
"Oh ya kau Ce Mei, entah ada urusan apa kau mencariku ?"
Semua mata yang berada diluaran itu tertuju pada diri gadis baju biru itu, seorangpun tiada yang membuka suara.
Ditanya demikian, gadis yang bernama Ce Mei itu menjadi tercengang heran, matanya ber-kedip2 dan sahutnya .
"Bagaimana Than sianseng bisa melupai urusan kemarin sore ? Bukankah aku telah mengundang Than sianseng kerumah untuk memeriksa penyakit majikanku ? Entah obat apakah yang Than sianseng berikan kepada majikanku ?"
"Ha Ha, tidak salah kalau saja tidak kau mengatakannya hampir2 aku lupa, Kok, Kok, dengan sendirinya aku memberi obat menurut penyakitnya."
"Hm ! Bukankah yang kau beri itu racun ?"
Mendengarnya hati Goan Tian Hoat menjadi terkejut dan cepat ia berpaling kearah suhunya.
Nampak wajah suhunya sedikit berobah, ia menggelengkan kepalanya pelan menyuruh muridnya sabar dan mendengarkan lebih lanjut.
Dituduh demikian air muka Than Hoa Toh berobah marah .
"Apakah nona tidak berkelakar ?"
"Siapa yang sedang berkelakar denganmu ? Setelah minum obat yang kau berikan itu dari mulut majikanku mengeluarkan busa putih hingga tidak sadarkan diri. Kalau tidak masakan jauh2 begini aku datang mencarimu ?"
Sinar mata Than Hoa Toh berkilatan tajam .
"Telah puluhan tahun aku mengobati orang sakit mana bisa aku salah memberikan obat ? Lagi pula pada kemarin sore sedikitpun aku tidak pernah memeriksa penyakit majikanmu. Sebenarnya nona diperalat oleh siapakah hingga hendak mencari gara2 denganku?"
Dituduh demikian Ce Mei menjadi marah dan balasnya sengit .
"Hm ! Sungguh pintar kau memungkirinya ! Dirimulah yang diperalat oleh orang lain untuk meracuni orang. Kini dihadapkan Kuo lopiauwto kau katakanlah dengan jelas siapakah yang telah memperalat dirimu ?"
Walaupun usianya masih sangat muda tapi kata2 yang diucapkannya sangat pedas, bagi Kuo Se Fen serta muridnya Goan Tian Hoat ucapannya bagai suara geledek yang menggetarkan hati mereka, se-olah2 suara angin puyuh bersama damparan badai mendengung-dengung ditelinga mereka, hingga diam2 mereka menjadi bergidik.
Ditegor demikian Than Hoa Toh tertawa pahit, ia meng-goyang2kan kepalanya dan ucapnya sambil berpaling kearah Kuo Se Fen .
"Kuo lotee, selama puluhan tahun pernahkah kau mendengar bahwa aku pernah mencelakai orang? Kata2 nona ini sungguh tidak masuk diakal. Jelas dibelakangnya ada orang yang hendak memfitnahku dan mencemarkan namaku !"
Kemudian ia menjura beberapa kali pada Kuo Se Fen serta katanya.
"Lebih baik aku permisi dulu."
Melihat orang hendak berlalu Ce Mei cepat menghalang didepannya dengan sebelah tangannya memeluk pinggang.
"Hm ! Jangan harap dapat berlalu dari sini kalau tidak mau mengeluarkan obat pemunahnya ! Kau telah mencelakai majikanku masih hendak mencelakai murid Hai Yang Pay?"
Than Hoa Toh menjadi sangat marah dan bentaknya .
"Jahanam ! Ada permusuhan apakah sampai kau dendam sedemikian padaku hingga memfitnahku ?"
"Hm ! Sungguh berani kau memakiku ! Kau telah memberi racun pada majikanku apakah ini salah? Baiklah kini aku beritahukan, semalam ketika kau memeriksa penyakit majikanku, nyonya majikanku telah membedakan suaramu agak berlainan, sebenarnya tak seperti Than..."
Tiba2 Than Hoa Toh membentak keras .
"Jahanam ! Sungguh berani kau menghinaku !"
Dan bersamaan telapakan tangannya menghantam kedepan.
Pukulan tangannya sangat cepat menimbulkan dorongan angin yang luar biasa besarnya.
Kuo Se Fen terkejut, sungguh ia tidak sangka karena belum pernah ia mendengar bahwa Than Hoa Toh pernah belajar ilmu silat, tanpa sadar ia tertawa.
"Ha Ha, kalau begitu Than sianseng selain mahir dalam pengobatan pun mempunyai ilmu kepandaian tinggi pula."
Than Hoa Toh berpaling kepadanya dan sahutnya .
"Walaupun aku bukanlah kaum bulim, tapi belajar sedikit ilmu silat untuk menjaga diri........"
Sementara itu Ce Mei berhasil mengelakan serangan angin pukulan dengan mudah. *** Bab CE MEI sangat mendongkol, bertolak pinggang, katanya marah .
"Hmm! Kau takut aku mengatakannya? Aku tetap mau bicara, majikanku telah beberapa tahun dirawat oleh Than Hoa Toh, masakan suaranya tidak dapat dikenalkannya ? Jelas kau adalah seorang penipu yang menggunakan namanya untuk mengelabui orang !"
Dalam hati Than Hoa Toh sungguh merasa terkejut, ia tak dapat menduga lebih2 melihat dengan cara bagaimana si gadis bisa melumerkan tenaga pukulannya yang selalu ia andalkan, walaupun demikian, ia tak memperlihatkan perasaan terkejutnya.
Tiba2 ia membalikkan tubuh kearah Kuo Se Fen, ucapnya marah2 .
"Lo piauwto, apakah dia adalah orang dari piauwkimu ?"
"Tidakkah tuan Than melihat ia nyerobot masuk sendiri ?"
"Ha ha ha ha ! Orang luar mana bisa begitu mudah masuk kemari, tentu ia ada kaum muda dari Hai Yang piauwkiokmu."
Ce Mei berkata sengit .
"Tidak usah kau bawa2 diri ketua Kuo, aku sendiri yang membuntuti kau datang kesini."
"Hm! Tidak sudi aku berdebat denganmu !"
"Karena kau takut rahasia dirimu kebongkar !"
Sahut Ce Mei. Muka Than Hoa Toh terkilas pucat pasi, dengan suara dingin ia berkata .
"Diriku mendapat penghinaan dalam Hai Yang piauwki ini, adalah berkat kebaikan budi luhur dari Kuo piauwto."
Kuo Se Fen hanya mesem2 kecil, sahutnya .
"Tadi telah kuterangkan bahwa ia bukanlah orang dari piauwki kami."
"Kalau ia bukan orang dari piauwkimu, masakan penghinaan atas diriku ini kau hanya diam saja !"
"Ucapanmu memang tidak salah, ia datang dari jauh2 karena mempunyai persoalan atas tuan majikannya yang telah minum obatmu, ini menyangkut jiwa seseorang, sebelum menjadi terang duduk persoalannya, pantaskah aku mengusirnya ?"
"Kuo lopiauwto tidak perlu berlaku sungkan padanya, dia bukanlah Than Hoa Toh,"
Ucap Ce Mei. Than Hoa Toh menjadi panas ia melangkah maju, membentak .
"Apa katamu ?"
"Aku kata kau bukanlah Than Hoa Toh !"
"Ha ha ha ha ! Didaerah utara ini tak seorangpun yang tidak mengenal diriku, masakan ada orang yang bisa menyamar diriku !"
Jika kata2nya itu diucapkan beberapa jam sebelumnya, bagi Kuo Se Fen tentu akan membenarkannya, tapi hal yang aneh semacam ini baru saja ia alami sendiri, si cambuk naga harimau Ban Cen San, kalau saja ia tidak uji kebenarannya, ia pun tak akan dapat mengetahui samaran Ban Cen San, maka kini terhadap diri Than Hoa Toh yang dikatakan palsu oleh Ce Mei, hatinya merasa bimbang, maka ia pun tak mau cepat2 memberi komentar ia diam saja.
Terdengar lagi Ce Mei mencemoh .
"Orang lain tidak dapat membedakan, karena belum tahu kedokmu, hem ! Kau kira aku pun tidak dapat mengenali ?"
"Apa yang kau kenali ?"
Ucap Than Hoa Toh sengit.
"Pasti kau memakai topeng kulit,"
Sahut Ce Mei dingin.
Goan Tian Hoat pernah mempelajari ilmu mengubah muka, ia menganggap dirinya mahir dibidang ini, selama Ce Mei menampakan diri dan bertengkar dengan Than Hoa Toh, ia senantiasa mengikuti pembicaraan mereka serta mengawasi air muka Than Hoa Toh, tapi selain logat katanya dan gerak-geriknya agak nampak tak sabar, sedikitpun ia tak dapat mengenali perbedaan yang mencurigakan.
Kini mendengar bahwa Than Hoa Toh memakai topeng kulit, hatinya merasa terkejut dan pikirnya, menurut keterangan yang pernah ia pelajari bila mengenakan topeng kulit, air muka orang itu agak kaku tidak leluasa, ini tidak sama dengan ilmu mengubah muka yang sukar dilihat ciri2nya, kecuali bagi orang yang benar2 paham dalam ilmu ini.
Sekali lagi diam2 meng-amat2i air muka Than Hoa Toh, tapi tetap tak dapat ia melihat bahwa Than Hoa Toh memakai topeng kulit.
Sinar mata Than Hoa Toh berkilatan tajam, ia berkata dengan suara dingin .
"Aku memakai topeng kulit ?"
"Ya, aku akan membuka topengmu itu !"
Ce Mei pura2 hendak mengerahkan tangannya, katanya.
"Tidak percaya, mari kukesetkan."
Sambil melangkah maju mendekati, gerakannya sedemikian cepat dan gesit sehingga membuat orang tidak berani memandang enteng padanya.
Than Hoa Toh mundur dua langkah menghindari, ia meletakkan kotak obatnya diatas meja serta berkata marah .
"Kau bukan orangnya Hai Yang piauwki akupun tidak perlu berlaku sungkan terhadapmu."
Nampak tubuhnya berkelebat menerjang maju, sebelah tangannya diangkat memukul bagian muka Ce Mei.
Angin pukulannya sangat luar biasa hebat, karena sebagian besar tenaga sinkangnya ia pusatkan disebelah tangannya ini.
Menghadapi serangan orang, Ce Mei sedikitpun tidak merasa gentar, tubuhnya tidak digeser sedikit pun, ia tersenyum kecil berkata.
"Memang sejak tadi tidak perlu sungkan2."
Begitu serangan tangan Than Hoa Toh hampir mengenai mukanya, dengan kecepatan yang luar biasa lima jari tangan kanan Ce Mei menyodok kedepan, nampak bagaikan hendak mencengkeram menotok jalan darah tangan lawannya, namun kelihatannya seperti hendak mengibaskan untuk menangkis.
Walau gerakannya tampak sedemikian sederhana, tapi didalamnya mengandung perobahan2 yang aneh serta sukar diterka, kecepatan serta kegesitannya sungguh sukar diikuti oleh pandangan mata.
Melihat gerakan yang luar biasa aneh dan gesit, diam2 hati Kuo Se Fen tercengang, ia tidak dapat menerka ilmu apa yang digunakan Ce Mei dan baru pertama kali ini ia melihat ilmu pukulan yang sangat aneh dan hebat.
Melihat serangan pukulannya tidak dapat mengenai sasarannya, Than Hoa Toh cepat menarik tangannya untuk menghindari cengkeraman jari tangan gadis itu, sambil kaki kanannya ditendangkan kebagian perut lawannya dengan cepat.
Nampak jari2 tangan Ce Mei berobah dan kini ditundingkan kebawah untuk menotok jalan darah pusar2nya.
Than Hoa Toh terkejut, cepat kaki kirinya menekan ketanah dan tubuhnya mencelat kebelakang.
Baru saja tubuhnya sampai ditanah, nampak olehnya bayangan gadis itu berkelebat tiba, kedua tangannya diulurkan menyerang.
Than Hoa Toh sungguh tidak menyana seorang gadis yang sedemikian muda belianya mempunyai ilmu kepandaian yang sedemikian hebat, dengan berseru marah ia pun serentak menyodorkan kedua telapaknya untuk balas menyerang.
Ilmu kepandaian gadis itu sungguh luar biasa, nampak ia memukul, tahu2 berubah menjadi menotok atau mencengkeram, hingga dua tiga jurus saja sudah membuat Than Hoa Toh gelagapan, napasnya ter-engah2, untung baginya gadis itu nampaknya tidak mempunyai maksud untuk melukai orang, hingga walaupun ia telah dapat mendesak serta membuat orang tidak berdaya, tetap ia tidak mengeluarkan pukulan yang dapat membinasakan.
Sebagai ketua sesuatu partai, Kuo Se Fen seharusnya dapat mengenali dan sedikitnya bisa menduga ilmu silat si gadis dari golongan mana, tapi kini ia sungguh dibuat tercengang karena bagaimanapun ia tidak dapat mengetahui ilmu silat yang digunakan oleh gadis itu dan golongannya ?
Sementara Than Hoa Toh sudah terdesak mundur tujuh delapan langkah, sesampainya dipojokan dinding, nampak Ce Mei mendorongkan telapak langannya keatas mukanya, menepok dengan cepat, Than Hoa Toh menyeringai masam dan tangan kirinya menangkis, berbarengan tangan kanannya disodokkan dengan tiba2 dengan kecepatan yang luar biasa, nampak telapak tangannya berobah menjadi hitam hangus, meluncur kearah dada si gadis.
Hati Kuo Se Fen terkejut.
"Go Tok Cang (telapak lima beracun) ! Jangan nona memapaknya!"
Serunya cepat.
"Kau cari mati !"
Ce Mei membentak dengan memiringkan tubuhnya kesamping, telapak tangan yang tadinya hendak menepok dengan cepat bagaikan kilat berobah turun kebawah, kini jari2nya terbuka, bagaikan cakar burung elang menerkam mangsanya, ia mencengkeram atas pundak kanan, terdengar jeritan yang mengerikan dan menyayat hati, tubuh Than Hoa Toh jatuh duduk di atas lantai dengan muka menyeringai kesakitan.
"Bila kau tidak menggunakan ilmu silat yang keji itu, aku tak akan melumpuhkan sebelah lenganmu."
Ucap Ce Mei dengan suara dan wajah dingin.
Than Hoa Toh memandang sengit penuh kebencian, kemudian ia memejamkan kedua matanya.
Mendengar ucapan si gadis, semua mata memandang keatas lengan kanan Than Hoa Toh, benar saja ia lunglai turun kebawah, nampaknya telah putus lumpuh untuk se-lama2nya.
Kuo Se Fen diam2 kagum dan tercengang, luar biasa hebatnya ilmu kepandaian gadis ini, benar2 baru kali ini selama hidupnya menyaksikan ilmu aneh dan hebat dari seorang gadis muda belia.
Ce Mei berpaling kearah Kuo Se Fen berkata.
"Ia telah dapat kulumpuhkan, benar tidaknya ia samaran dari Than Hoa Toh kalian periksanyalah sendiri, kini kupermisi pergi !"
Tanpa menunggu jawaban tubuhnya berkelebat keluar.
"Nona tunggu sebentar !"
Cepat Kuo Se Fen mengejar keluar, tapi ternyata ia tidak mendapatkan jejak si gadis.
Hatinya menjadi lebih kagum dan heran, sebagai seorang ketua partai, dengan hanya selisih sedetik waktu saja, ternyata sampai bayangannyapun tak dapat dilihat.
Sejenak ia bengong, kemudian masuk kembali sementara itu muridnya Goan Tian Hoat sedang jongkok memeriksa leher Than Hoa Toh.
"Suhu, Than Hoa Toh telah mati !"
Ucap Yen Yuh Sing.
"Bagaimana ia bisa mati ?"
Tanya Kuo Se Fen kaget.
"Ia bunuh diri dengan menelan racun."
Sahut Goan Tian Hoat.
"Apakah ia memakai topeng kulit ?"
Tanya Kuo Se Fen mengerutkan keningnya.
"Aku belum berhasil menemuinya, kalau memang benar demikian itu merupakan topeng kulit yang terhalus dalam dunia kangouw."
"Mudah2an tidak terdapat sehelai pula !"
Selama Than Hoa Toh berada disitu Kang Han Cing diam saja tidak turut bicara, baru kini ia membuka mulut dan katanya.
"Ietio, apakah nona itu telah pergi ?"
Kuo Se Fen mengeluh perlahan sahutnya .
"Ai ! Aku mengejar keluar tapi tidak tampak bayangannya pula, asal usul dari nona itu sungguh mengherankan dan mencurigakan."
Tiba2 terdengar seruan Goan Tian Hoat.
"Benar saja ia memakai topeng kulit !"
Nampak tangannya meraba ke leher Than Hoa Toh dan jari tangannya dapat mengeset selapis kulit yang tipis seperti kulit bawang.
Hari telah menjadi gelap maka Yen Yuh Sing menyalakan lampu pelita hingga ruangan menjadi terang.
Kuo Se Fen memandang kearah orang yang telah tampak wajah aslinya, jelas wajahnya kuning pucat, tulang pipinya agak nonjol tinggi, kedua matanya sipit bagaikan mata tikus serta parasnya kurus kering, melambangkan ia adalah seorang yang licik dan memuakan.
Dari mulutnya mengalir keluar darah hitam, benar saja ia telah bunuh diri menelan racun.
Mata Kuo Se Fen terbelalak ucapnya sengit .
"Sungguh tak disangka dia adanya."
"Apakah Ietio mengenalnya ?"
Tanya Goan Tian Hoat.
"Ia adalah Cui Cang Lim yang mempunyai julukan Yauw Miang Lang Tio dalam dunia kangouw (perengut nyawa)."
"Mengapa ia menyamar diri Than Hoa Toh ?"
Terdengar suara langkahan orang yang tergesa2 mendatangi dan nampak muridnya yang kedua Cau Yun Tai melangkah masuk .
"Suhu....."
Begitu ia melihat mayat Yauw Miang Lang Tio ia menjadi bengong dan tercengang.
"Apakah benar mengandung racun ?"
Tanya suhunya.
"Seperti diperintahkan suhu teecu memberikan obat itu pada seekor anjing ternyata setelah memakannya anjing itu menjadi lemas lesu, bagaimana diusirpun ia tidak mau berjalan, mungkin benar bahwa obat itu mengandung racun lunak."
Ternyata tadi setelah mendengar kata2 Ce Mei diam2 Kuo Se Fen jadi curiga maka tanpa setahu orang ia menyuruh muridnya Cau Yun Tai membawa sebungkus obat yang diletakan Than Hoa Toh palsu diatas meja untuk diuji pada seekor anjing apakah mengandung racun lunak.
Kedua alis Kuo Se Fen berkerut dengan memandangi diri Kang Han Cing ia berkata lirih .
"Dengan demikian si Yauw Miang Lang Tio ini benar2 adalah utusan dari musuh kalian, mungkin mereka telah dapat menduganya bahwa kalian tentu berada disini....."
Kemudian ia berpaling pula keatas mayat si Yauw Miang Lang Tio dan nampak darah yang keluar dari mulut hidung serta mata kuping mulai membusuk dan beku hingga terendus bau muak yang menusuk hidung.
Kuo Se Fen jadi panas, bentaknya sengit .
"Sungguh jahat racun ini ! Mungkin sebentar lagi tubuhnya akan membusuk pula, cepatlah kubur dibelakang."
Kemudian Cau Yun Tai mengangkat mayat Yauw Miang Lang Tio itu untuk dibawa pergi ke halaman belakang, disertai oleh Luk Tek Kui.
Baru saja Cau Yun Tai meninggalkan ruangan itu, dari ruangan muka terdengar pula langkah orang yang tergesa-gesa.
Kemudian terdengar suara Hang Ka Han dari luar .
"Suhu, samsusiok (paman guru yang ketiga) telah datang."
Sekonyong-konyong nampak olehnya seorang yang berlumuran darah melangkah masuk.
Orang itu mempunyai perawakan sedang dan berusia kurang lebih empat puluh lima enam tahun, ia mengenakan baju panjang yang dibuat dengan bahan sutra warna hijau, pada baju panjangnya terdapat beberapa lobang bekas bacokan senjata tajam, dan pundak kirinya berlumuran darah hingga menjadi merah, keadaannya sungguh mengejutkan.
Wajah Kuo Se Fen berubah, cepat ia memapakinya .
"Losam, kau terluka ?"
Memang laki2 setengah umur itu adalah Si anak panah tanpa bulu Mo Ie Cien, adik seperguruan Kuo Se Fen yang ketiga. Begitu melihat kakak seperguruannya, ia lantas menjura memberi hormat .
"Suheng !"
"Kau duduklah baru bicara, apakah yang terjadi ?"
Mo Ie Cien bernama Cu Siu Hu menurut duduk diatas sebuah kursi, cepat Yen Yuh Sing menuangkan teh .
"Susiok silahkan minum dulu !"
Cu Siu Hu menerima teh dan meminumnya setengguk, kemudian ia mengangkat mukanya serta ucapnya .
"Sungguh tidak disangka kalau saja tidak ada orang menolong dengan tersembunyi, mungkin siauwtee tidak bisa melihat toasuheng pula."
Alis Kuo Se Fen yang tebal nampak bergerak, dengan suara tertekan ia bertanya pula .
"Siapakah yang kau pergoki ?"
"Begitu siauwtee menerima surat dari toasuheng, siauwtee lantas berangkat kesini, tapi baru saja tiba dekat sebuah jembatan di sebelah timur kota, siauwtee dicegat oleh lima orang yang berseragam hitam...."
Sahut Cu Siu Hu sambil mengusap-usapkan pundak kirinya yang terluka. Mendengar penuturan itu, Kuo Se Fen menjadi marah, bentaknya.
"Benar2 si keparat2 itu !"
"Toasuheng telah mengenali mereka ?"
Tanya Cu Siu Hu heran.
"Ceritanya sangat panjang, kau lanjutkanlah dahulu."
"Kelima orang yang berseragam hitam itu agaknya memang sengaja menunggu di pinggir jembatan, begitu melihat diri siauwtee terus mencegat, seorang diantaranya lalu menegor siauwtee "Apakah saudara adalah Cu samhiap?"
Siauwtee tidak mengetahui asal-usul mereka lalu siauwtee menjura dan menjawab.
"Benar aku bernama Cu Siu Hu, kemudian......"
Belum habis ucapan siauwtee yang menjadi kepala mereka itu memotongnya.
"Entah ada keperluan apakah Cu samhiap datang ter-gesa2 dari kota Tai Hin ?"
Karena mereka mencegat dihadapan kuda siauwtee maka timbul kecurigaan siauwtee, mereka tentu mengandung maksud2 yang kurang baik terhadap diri siauwtee, toasuheng mengutus orang memanggil siauwtee datang, maka dalam pikiran siauwtee mungkin ada terjadi sesuatu yang penting, dicegat demikian oleh mereka hati siauwtee menjadi sengit, kemudian menjawab dengan dingin.
"Ada urusan apakah hingga kalian mencegat dan meng-halang2i perjalananku."
Orang itu menjawab.
"Kami menunggu Cu samhiap disini tak lain adalah hendak menasehatkan Cu samhiap supaya segera kembali kekota Tai Hin."
"Apa sebabnya?"
Tanya siauwtee dan kemudian disahutnya dengan ketawa dingin.
"Untuk jangan sampai terbunuh."
Mendengar sampai disitu hati Goan Tian Hoat tergerak. Cu Siu Hu melanjutkan ceritanya.
"begitu mendengar ucapan orang itu siauwtee menjadi panas, menyahut.
"Ha Ha, apakah kalian berlima sanggup melakukannya ?"
"Bila memang masih berkeras hati Cu samhiap hendak melanjutkan perjalanan masuk kedalam kota, kami pun tidak dapat memaksanya, tapi mungkin Cu samhiap tidak akan berhasil sampai kepintu gerbang timur."
"Siauwtee menjadi sangat marah diejek demikian hingga kemudian bertempur dengan mereka. Ai! Sungguh tidak disangka ternyata mereka mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi, setelah bertempur lima puluh gebrakan siauwtee telah terdesak hebat hingga hanya bisa mempertahankan diri. Akhirnya pundak kiri siauwtee berhasil mereka lukai."
"Siauwtee menggigit bibir menahan sakit dan setelah lewat sepuluh jurus pula siauwtee merasa sangat kewalahan untuk bisa mempertahankan diri, tiba2 dari belakang tidak jauh terdengar ada orang berseru.
"Serang".
"Siauwtee melihat senjata orang yang mengurung itu pada berjatuhan keatas tanah, mereka melompat kebelakang. Nampak mereka semuanya memegangi tangannya masing2 lalu lari terbirit-birit."
"Adakah samtee melihat orang yang membantu secara sembunyi2 itu?"
Tanya Kuo Se Fen kemudian.
"Ai ! Ketika itu napas siauwtee sedang ter-engah2 setelah mereka kabur pergi baru siauwtee menengok kebelakang, tapi ia telah pergi. Hanya suaranya siauwtee mendengar jelas, suaranya lengking halus seperti suara wanita."
Hati Goan Tian Hoat terkejut pula.
"Dalam segebrakan saja orang itu dapat membuat jatuh kelima senjata dari tangan mereka, entah senjata rahasia apakah yang digunakannya,"
Tanya Kuo Se Fen.
"Pada waktu itu siauwteepun tidak melihat dengan jelas, tapi setelah mereka kabur pergi dari atas tanah siauwtee ketemukan tiga buah seri."
Kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan tiga buah seri yang besarnya seperti gundu. Kuo Se Fen menerima dan memandangi dengan penuh kesima.
"Memukul jatuh senjata lima orang yang berilmu kepandaian tinggi hanya dengan menggunakan buah seri yang amat kecil ini, ilmu menotok orang itu sungguh luar biasa tingginya dan sukar dicari tandingannya dalam dunia kangouw ini."
"Memang benar apa yang toasuheng ucapkan. Dahulu........"
Tiba2 Kuo Se Fen seperti terpikir sesuatu ia mendongak keatas dan katanya.
"Samsutee yang datang dari kota Tai Hin telah tiba, dia yang tinggal dikota Kau Yu lebih dekat kesini mengapakah hingga kini masih belum juga tiba ? Jangan2....."
"Toasuheng memanggil jisuheng pula?"
Dengan wajah menunjukkan kegelisahan yang sangat Kuo Se Fen memanggut.
"Ya. Aku menyuruh Ka Han cepat2 mengundang kalian datang."
Hang Ka Han bicara dari samping.
"Suhu menyuruh kedua susiok datang selambat-lambatnya sebelum tengah hari besok, mungkin jisusiok besok pagi baru bisa tiba disini."
Kuo Se Fen menggeleng-gelengkan kepalanya serta sahutnya .
"Benar memang aku menghendaki mereka datang sebelum tengah hari besok, tapi samsusiokmu telah tiba dini hari juga, perangai ji-tee tidak sabaran, mana mau ia menunggu sampai esok ?"
Tiba2 dari luar terdengar suara ketawa orang yang amat nyaring dan keras .
"Ha ha, toasuheng sungguh dapat meraba tabiat diri siauwtee. Kau mengutus orang dengan kesusu memanggil siauwtee pantaskah tidak siauwtee segera datang ?"
Bersamaan itu nampak seorang laki-laki yang berusia limapuluh tahun melangkah masuk, tangannya menenteng sebuah pipa rokok, ia memakai baju panjang yang warnanya hijau pula.
Laki2 itu bukan lain adalah adik seperguruan Kuo Se Fen yang kedua Jen Pek Coan si Kai Pit Souw tangan maut.
Kekuatiran hati Kuo Se Fen lenyap ketika begitu melihat adik seperguruannya dan sambutnya gembira.
"Hei, bagaimana hingga kini baru kau muncul?"
Si tangan maut Jen Pek Coan menjura memberi hormat katanya.
"Harap toa suheng maklum karena ditengah jalan siauwtee kepergok dengan beberapa orang cecunguk............"
Pandangan matanya pindah kearah diri Cu Siu Hu adik seperguruannya.
"Ah! Losam, mengapa kau terluka?"
Tanyanya terkejut.
"Duduklah dahulu baru bicara."
Ucap Kuo Se Fen. Kemudian mereka masing2 duduk. Hang Ka Han dan Yen Yuh Sing lalu menjura untuk memberi hormat pada jisusioknya.
"Toasuheng, siapakah mereka ini?"
Tanya Jen Pek Coan begitu matanya melihat diri Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing. Kuo Se Fen tersenyum, sahutnya .
"Baru saja tiba kau telah kesusuh untuk bicara, memang akupun hendak memberitahukannya. Mereka adalah keponakanku bernama Ong Ka Siong dan Ong Ka Ling."
Lalu ia berpaling pada Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat berdua serta katanya.
"Cepat kalian memberi hormat kepada Jen jiesuk dan Cu samsuk."
Goan Tian Hoat cepat memegang tangan Kang Han Cing membantunya berdiri dan kemudian menjura untuk memberi hormat. Kuo Se Fen berpaling pada muridnya Hang Ka Han dan suruhnya.
"Ka Han, kau beritahukan pada pelayan didapur sediakan dan minuman untuk menyambut kedatangan kedua susiokmu."
"Ya, suhu."
Lalu ia melangkah pergi.
"Jisuheng, bukankah kau bilang bahwa ditengah jalan bersamprokan dengan beberapa orang cecunguk, entah apakah mereka berseragam hitam seluruhnya?"
Tanya Cu Siu Hu tak sabar. Ditanya demikian Jen Pek Coan terkejut, dengan menatap keatas bahu kirinya ia balik bertanya .
"Apakah kau pun bertemu dengan mereka ?"
"Barusan siauwtee telah menceritakannya pada toasuheng, cobalah kau ceritakan pengalamanmu lebih dahulu."
"Ya, kau ceritakanlah !"
Ucap Kuo Se Fen. Jen Pek Coan menghela napas, ucapnya sambil meng-geleng2kan kepala .
"Betapa memalukan! Bila saja tidak ada nona itu membantu mungkin kini tubuhku sudah tergeletak diluar pintu gerbang selatan."
"Kalau begitu kau dicegat dan diserang orang dalam perjalanan,"
Ucap Kuo Se Fen.
"Ya. Setibanya siauwtee dipintu gerbang selatan, hari belum gelap benar, tiba2 muncul lima orang yang berseragam hitam menyerang diri siauwtee. Sungguh diluar dugaan didalam daerah kekuasaan Hai Yang Pay ada orang yang berani menyerang diri siauwtee dan tidak disangka pula kelima orang itu mempunyai ilmu kepandaian yang sedemikian tinggi, hingga membuat siauwtee kewalahan menghadapi keroyokan mereka, hanya bisa mempertahankan diri saja, tapi kian lama kian membuat siauwtee terdesak hebat. Ketika itu hari mulai remang2, tiba2 dari dalam rimba berkelebat keluar seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak suka melihat orang bertempur secara keroyokan dan kemudian dengan segebrakan saja ia berhasil merampas senjata kelima orang itu serta menghadiahkan sebuah tamparan keras pada pipi mereka masing2..."
"Kira2 ada berapakah usianya gadis itu?"
Tanya Kuo Se Fen menatapnya.
"Ai ! Sungguh membuat orang sukar untuk bisa mempercayainya, usianya paling2 hanya enam tujuh belas tahun akan tetapi ilmu kepandaiannya sungguh luar biasa tingginya, selama hidup baru kini siauwtee dapat menyaksikan orang bersilat sedemikian cepat dan anehnya !"
Keluhnya.
"Apa gadis itu mengenakan baju berwarna biru dan mempunyai rambut berkepang dua ?"
Tanya Kuo Se Fen pula.
"Oh kalau begitu toasuheng telah mengenalnya ! Siapakah ia sebenarnya ?"
Kuo Se Fen tersenyum sambil tangannya mengelus jenggotnya yang panjang ia berkata .
"Apa yang diucapkannya kepadamu ?"
Dari dalam saku bajunya Jen Pak Coan mengeluarkan sehelai kertas dan sahutnya .
"Ia memesan pada siauwtee supaya memberikan surat ini pada toasuheng katanya ia lupa memberitahukan sesuatu tadi padamu."
"Apakah yang ia tulis dalam kertas itu?"
"Ketika itu hari telah menjadi gelap dan siauwtee hendak cepat2 datang kesini maka surat itu hanya siauwtee masukan dalam saku hingga belum membaca apa isinya."
Lalu ia memberikan surat itu pada Kuo Se Fen.
Kuo Se Fen membukanya dan nampak tulisannya agak kecil dan indah, memang adalah tulisan seorang perempuan, hanya mungkin karena ter-buru2 hingga kurang begitu rapih.
Ternyata dalam surat itu hanya terdapat ampat kata yang hampir mirip sebuah pantun .
"Bukan berlalu pun bukan mendatang, bukan pagi pun bukan sore, dalam kehampaan tumbuh, atas ucapan juga."
Begitu melihat isinya Kuo Se Fen nampak mengerutkan keningnya serta tanyanya.
"Selain itu apa pula yang diucapkannya ?"
"Ia tidak mengucapkan apa2 pula hanya katanya surat ini sangat penting dan toa-suheng tentu dapat mengerti."
Kuo Se Fen lalu mengembalikan surat itu pada Jen Pek Coan serta keluhnya .
"Hemm ! Ia menyuruh kau membawa surat ini tentu ada maksud tertentu........"
Jen Pek Coan lalu turut membacanya dan ucapnya heran .
"Entah apa arti kata2nya ini?"
Kemudian ia serahkan pada Cu Siu Hu. Begitupun Cu Siu Hu ia tidak bisa pula memecah makna dari isinya .
"Baiknya kita jangan hiraukan dahulu. Toasuheng, sebenarnya apakah yang terjadi dalam piauwki kita ini ?"
Tanyanya. Yen Yuh Sing berdiri disamping dan ia dapat melihat pula tulisan dalam surat itu, ia berpaling ke Goan Tian Hoat serta ucapnya .
"Samsuheng, kau lihatlah teka-teki apa yang ia maksudkan?"
Jen Pek Coan menoleh kepadanya dan ucapnya bertanya .
"Mana samsuhengmu?"
Ditanya demikian oleh susioknya Yen Yuh Sing menjadi merah, ia tahu telah kelepasan omong tapi ia tak berani berterus terang untuk memberitahukan yang sebenarnya, maka ia jadi serba salah dan diam tidak bersuara, melihat ini cepat Kuo Se Fen berkata .
"Jisute, mengenai ini sungguh panjang ceritanya, akupun tidak perlu menerangkannya lebih lama, baiklah kini kuterangkan semua ini."
Lalu ia menunjuk pada diri Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing serta ucapnya.
"Ia adalah Tian Hoat dan ia adalah ji-kongcu dari keluarga Kang, Kang Han Cing."
Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu menjadi tercengang. Sementara Goan Tian Hoat telah cepat menjura memberi hormat dan ucapnya.
"Teecu Goan Tian Hoat memberi hormat pada susiok berdua !"
Kang Han Cing pun menuruti memberi hormat.
"Jen jihiap, Cusamhiap, terimalah hormat boanpwee Kang Han Cing!"
Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu dibuat bengong dan heran, sambil membalas hormat mereka bertanya bareng .
"Toasuheng, bagaimana bisa demikian ?"
Kuo Se Fen lalu menyuruh Yen Yuh Sing menjaga depan pintu, kemudian menceritakan semua kejadian pada kedua sutee-nya. Jen Pek Coan sangat tercengang.
"Sungguh aneh bisa ada kejadian demikian. Oh, ya, losam bagaimanakah kau bisa terluka ?"
Tanyanya.
"Kejadian yang siauwte alami hampir serupa dengan yang jiko alami."
Sahut Cu Siu Hu dengan menyeringai. Kemudian ia menceritakan segala kejadian yang ia alami. Sementara dua orang pelayan telah menyediakan makanan dan minuman diatas meja.
"Marilah kita pergi makan sambil mengobrol,"
Ajak Kuo Se Fen bangkit dari tempat duduk serta menghampiri meja makan dan diikuti oleh Goan Tian Hoat yang menuntun Kang Han Cing.
Setelah mereka duduk kembali Jen Pek Coan mengerutkan keningnya dan dengan memandangi Kang Han Cing ia berkata .
"Aku pernah berjumpa beberapa kali dengan kakak saudara, tapi dalam kesanku ia adalah seorang yang jujur dan bijaksana, sungguh tidak diduga ia sampai hati berbuat sedemikian kejamnya terhadap saudara sendiri !"
"Entah bisakah karena diancam orang hingga toakongcu terpaksa berbuat demikian kejamnya terhadap saudara sendiri?"
Tanya Cu Siu Hu terharu.
"Ai ! Sungguh malang nasib keluarga boanpwee. Terhadap ada atau tidaknya toako diancam oleh orang ini boanpwee tidak mengetahuinya,"
Sahut Kang Han Cing dengan muka sedih.
Tiba2 hati Kuo See Fen teringat sesuatu dan ia ber-pikir2 Si Cambuk naga harimau terbukti telah digantikan oleh yang palsu dan disamar orang, jangan2....walaupun ia mempunyai pikiran demikian tapi ia tidak menyatakannya dugaannya ini, sambil tertawa ia berkata.
"Kalian mungkin telah merasa lapar makanlah dahulu."
"Toasuheng, gadis itu ada memesannya bahwa surat yang siauwtee bawa itu sangat penting adanya. Marilah kita saling tukar pikiran mungkin sedikit banyak kita bisa memecahkan artinya."
Ucap Jen Pek Coan. Kuo Se Fen mengelus-elus jenggotnya lalu ucapnya.
"Aku ada mendengar Kang jihiantit sangat paham soal kesasteraan, Tian Hoat kau bawalah surat itu dan perlihatkan pada Kang jihiantit."
Goan Tian Hoat bangkit mengambil surat itu lalu diberikannya pada Kang Han Cing.
"Jikongcu, coba apakah bisa memecahkan artinya?"
"Goanhiung, lebih baik kita saling memanggilnya saudara saja dan janganlah sekali2 memanggil siauwtee jikongcu pula."
Kuo Se Fen menganggut dan ucapnya tertawa.
"Ha, Ha, jihiantitt telah berkata demikian maka kau pun tidak usah berlaku sungkan pula, kini panggil saja siauwtee terhadapnya. Tapi janganlah kalian lupa bahwa kini kalian adalah keponakanku maka terhadapku haruslah memanggil itio."
Sementara Kang Han Cing telah menerima surat itu kemudian membacanya dua kali, dan nampak ia mengerutkan alisnya sambil ber-pikir2 ia berkata lirih .
"Dalam empat patah tulisannya ini bagaikan terkandung empat arti....."
"Jikongcu,"
Potong Jen Pek Coan tak sabar.
"Eh jite, lihat kau telah lupa pula, dirinya kini adalah keponakanku seharusnya kau pun turut memanggil hiantitt kepadanya."
Ucap Kuo Se Fen.
"Ha, Ha, baiklah siauwte akan mengingatnya."
"Hiantitt, apakah kau telah dapat memecahkan artinya ?"
Tanya Kuo Se Fen.
"Siauwtit hanyalah menerkanya dan tidak berani memastikannya."
"Cobalah cepat hiantitt menerangkannya."
Ucap Jen Pek Coan tak sabar.
"Pertama dari kata2nya yaitu "Bukan yang lalu bukan yang akan datang, ini tentu berarti sekarang atau hari ini. Kedua, ia menulis Bukan pagi bukan sore, ini mempunyai arti yang sama dengan kata2 pertama, dari pagi hari hingga sore hari adalah sehari, maka bukan pagi bukan sore ini tentu mengandung arti waktu malam."
Sorot mata Kuo Se Fen mengkilat tajam dan ucapnya .
"Jadi dua patah ini berarti ini malam, coba yang dua patah lainnya apa artinya ?"
"Ketiga "Hidup dalam kehampaan"
Ini mengandung arti bahwa walaupun dalam kehampaan namun hidup dan tidak mati, maka ini berarti juga ada.
Kata terakhir Awas atas ucapan ini berarti harus hati2 dan waspada.
Maka dari dua patah ini bermaksud memberitahukan ada bahaya harus hati2 dan waspada."
Wajah Kuo Se Fen nampak berobah dan ucapnya sengit.
"Perbuatan mereka ternyata memang mempunyai rencana yang keji."
"Hm ! Biarlah mereka datang masakan bisa membuat kita menjadi takut ?"
Ucap Cu Siu Hu panas.
"Ai ! Samsute, tentu mereka telah dapat mengetahui dengan jelas kekuatan yang ada pada kita, syukurlah bila mereka tidak datang pada ini malam. Kalau benar ini malam ia menyerang kesini, maka kita harus menghadapinya dengan menggunakan seluruh kekuatan yang kita miliki."
Keluh Kuo Se Fen.
"Kata2 toasuheng memang tidak salah, ada kata2 bahwa bila hendak memperoleh kemenangan yang mutlak haruslah bisa mengetahui kekuatan musuh dan diri sendiri. Mereka memerintah orang untuk mencegat siauwte dan samsute dalam perjalanan, ini sudah menandakan bahwa mereka dapat mengetahui dengan mudah segala gerak-gerik kita, tapi sebaliknya sampai2 asal-usul diri merekapun kita tidak mengetahui sedikitpun, ini telah merugikan kita."
"Toasuheng, apakah kedatangan Ban Cen San dan Cu Ju Hung mempunyai hubungannya dengan mereka ?"
Tanya Cu Siu Hu agak kerutkan keningnya.
"Ini sudah pasti. Ia hanyalah samarannya Ban Cen San dan bukan tidak mungkin dari golongan mereka."
Sahut Kuo Se Fen kemudian keluhnya.
"Ai ! Semula aku masih ragu2 terhadap dugaan Tian Hoat bahwa Kang toakongcu mungkin adalah si Lengcu baju hitam itu, tapi kenyataannya memang demikian dan bukan tidak mungkin mereka itu dikepalai oleh Kang toakongcu."
Tubuh Kang Han Cing jadi menggigil mendengarnya dan ucapnya sengit .
"Bila memang benar kenyataannya sungguh ia telah hilang keperibadiannya dan menjadi sadis!"
"Toasuheng, lebih baik kita ber-siap2 untuk menghadapi segala kemungkinan yang bisa terjadi ini malam."
Ucap Cu Siu Hu. Kuo Se Fen berpikir sejenak lalu ucapnya.
"Kini hari baru saja gelap bila mereka memang akan muncul dalam sekejap saja aku bisa siapkan semuanya untuk menghadapinya. Baiknya kita makan dahulu baru ber-siap2."
Kemudian ia berpaling dan menyuruh pelayan untuk memanggilkan Hang Ka Han datang.
Setelah si pelayan berlalu mereka cepat2 mengisi perut tanpa minum arak karena kuatir menjadi mabok hingga lalai dalam urusan yang sangat genting yang mungkin menimpa sebentar malam.
Tidak seberapa lama nampak Hang Ka Han muncul masuk dan menjura memberi hormat.
"Ada perintah apakah suhu memanggil teecu ?"
"Siapakah yang telah kembali kesini ?"
"Ho susiok (paman) yang pergi ke kota Kim Hoa dan Siang susiok yang berangkat ke kota Ha Hui mereka telah kembali pada siang tadi."
"Kini ada berapa piauwsukah dalam piauwki ?"
"Dengan Ho susuk serta Siang susuk semuanya ada tujuh orang."
"Para pembantu ada berapa orang?"
Ditanya demikian diam2 hati Hang Ka Han menjadi heran dengan memandang wajah suhunya ia menyahut.
"Kira2 kurang lebih ada seratus orang."
"Cukup. Apakah kini semuanya berada dalam piauwki ?"
"Ya."
"Kau suruh Luk Tek Kui untuk memberitahukan pada semua orang bahwa malam ini piauwki kita ada urusan penting, maka semua orang harus berdiam dalam piauwki tidak boleh pergi keluar untuk menerima perintah lebih lanjut."
Setelah ia keluar untuk menyuruh Luk Tek Kui menyampaikan pesan gurunya kepada para pembantu piauwki kemudian ia masuk kembali dan perintah gurunya pula .
"Kau panggillah tujuh orang piauwsu itu menemuiku."
Setelah muridnya berlalu Kuo Se Fen berpaling pada si anak panah tanpa bulu Cu Siu Hu.
"Sam sute, luka pada pundak kirimu..."
"Toasuheng, luka siauwte ini tidak menjadi soal."
Potongnya cepat.
"Ha, Ha, aku tahu pribadimu. Baiklah kau mempunyai tugas menjaga disini.'' "Siauwte telah berada disini dengan sendirinya mempunyai niat untuk bisa turut menguji kepandaian musuh, kini toasuheng menugaskan siauwtee disini, apakah karena toasuheng kuatir siauwte tidak mempunyai tenaga untuk menghadapi musuh ?"
Melihat sutenya menolak, Kuo Se Fen cepat menjelaskan dengan sungguh2.
"Harap samsute jangan salah paham, aku menugaskanmu disini sama sekali bukan karena melihat dirimu terluka dan menyuruh kau beristirahat disini, musuh mengerahkan orang2nya menyerbu kesini malam ini kemungkinan besar mereka telah mengetahui diri Kang Han Cing berada disini, maka itu aku menugaskanmu disini untuk melindungi keselamatannya."
Setelah mengetahui jelas maksud dari suhengnya Cu Siu Hu menjadi tidak enak maka ia berkata.
"Siauwte menerima perintah toasuheng untuk berjaga disini."
Mendengarnya hati Kang Han Cing menjadi terharu dan ucapnya penuh terima kasih;
"Sungguh membuat hati siauwte merasa tidak enak karena kedatangan siauwte hingga menyusahkan kalian."
"Janganlah hiantitt berkata demikian seandainya hiantit tidak kemari mereka pun tetap tak akan membiarkan Hai yang pay begitu saja, Ban Cen San adalah suatu contoh."
Hibur Kuo Se Fen.
Baru saja ucapannya habis dari halaman muka terdengar derap langkahan orang dan kemudian nampak tujuh orang piauwsu masuk yang dikepalai oleh seorang piauwsu tua berusia kira2 lima puluh tahun, serta nampak muridnya Hang Ka Han, Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing berjalan dibelakang mereka.
Piauwsu tua itu menjura kearah Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu memberi hormat dan ucapnya.
"Kiranya Jen loya Cu loya telah datang."
"Selamat berjumpa !"
Sahut kedua orang balas menghormat. Kuo Se Fen telah bangkit dan sambutnya tertawa.
"Silahkan duduk!"
"Congpiauwto, timbul kejadian apakah dalam piauwki kita ?"
Tanya piauwsu tua itu setelah mereka duduk.
"Belakangan ini telah muncul suatu perkumpulan yang gerak-geriknya sangat misterius dan dipimpin oleh seorang berseragam hitam yang menyebut dirinya Lengcu, ia mempunyai banyak anak buah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi....."
Siang sepuh si piauwsu tua itu tercengang mendengarnya ia berpaling ke enam orang piauwsu lainnya dan ucapnya heran.
"He-i Lengcu? Baru kali ini aku mendengar nama ini, entah pernahkah kalian mendengarnya dikalangan dunia kangouw?"
Keenam orang piauwsu itu pada menggelengkan kepalanya dengan wajah heran.
"Kini kuberitahukan beberapa kejadian, mungkin sedikit banyak dari kejadian itu kalian bisa mengetahuinya. Misalnya pada sepuluh hari yang lalu Yap cungkuan dari keluarga Lie Ka di Ho Pei yang terbunuh dekat Fai Yin. Pada beberapa hari yang lalu, Kang toakongcu dari Kim Lin pun terluka karena dikeroyok orang, tempat kejadian berada di dekat Hia Cu, Cen Yen piauwki telah kehilangan barang kirimannya karena dirampas orang dalam perjalanan. Waktu kejadian hampir bersamaan. Kejadian2 yang beruntun ini katanya adalah dilakukan oleh Lengcu berbaju hitam........"
Betapa terkejutnya para piauwsu itu begitu mendengar keterangan yang diberi oleh ketua mereka. Kuo Se Fen masih melanjutkan keterangannya.
"Aku mendapat kabar yang boleh diandalkan, rencana selanjutnya dari Lengcu berbaju hitam ditujukan kepada Hai yang piauwki kita ini. Maka aku menyuruh Ka Han untuk memberitahukan pada pengurus sementara jangan menerima barang kiriman. Selain ini, aku mengutus orang untuk memanggil loji dan losam, tidak disangka, setibanya di luar kota mereka dicegat oleh beberapa orang yang mengenakan seragam hitam hingga losam mendapat luka...."
Lojie berarti orang tua kedua dan losam berarti orang tua ketiga.
"Sungguh besar hati mereka sampai2 dalam kota Yang Cou pun mereka berani mencari gara2 dengan kita ?"
"Ai ! Bukan hanya hingga disini saja, ada kemungkinan kalau di malam ini mereka melakukan serangan besar2an pada kita untuk melenyapkan Hai-yang-pay serta membunuh semua orang2 kita......"
Keluh Kuo Se Fen. Wajah tujuh orang piauwsu berobah merah, dan terdengar diantaranya berseru marah .
"Bila para jahanam itu berani muncul disini, kita hajar saja habis2an !"
"Biarlah kita akan mengadu jiwa dengan mereka."
Ujar seorang lainnya.
"Apakah congpiauwto telah mengetahui asal-usul mereka?"
Tanya piauwsu tua itu.
"Aku pun tidak mengetahui dengan jelas, maka dari itu mereka telah memperoleh keuntungan dari pihak kita, karena segala sesuatu yang mengenai diri kita dapat diketahui oleh mereka. Mereka berdiri ditempat yang terang, sedangkan kita berada ditempat yang gelap. Sedikit pun belum bisa kita merabanya."
"Congpiauwto, orang kita pun tidak sedikit, tambah pula kini ada Jen loya dan Cu loya, masakan Lengcu berbaju hitam itu bisa mempunyai kekuatan lebih dari kita ?"
Tanya seorang piauwsu.
"Jangan hanya melihatnya dari sebelah pihak saja, sebenarnya tidak semudah itu, mereka dapat mengetahui kekuatan kita dengan jelas, bila hendak menyerang kita malam ini, tentu dengan kekuatan yang melebihi kita, maka dari itu aku memanggil kalian datang kesini untuk saling tukar pikiran."
"Memang benar pendapat congpiauwto, mereka telah mengetahui kita telah bersiap-siaga, tapi masih tetap berani menyerang kesini, tentu mempunyai kekuatan yang boleh diandalkan. Menurut pendapatku, cara yang terbaik bagi kita adalah bertahan, dengan demikian, keadaan baru bisa menguntungkan kita. Karena kedudukan kita berbalik menjadi pihak yang terang dan mereka dipihak yang gelap,"
Ucap Siang piauwsu. Kuo Se Fen memanggut tertawa dan ucapnya .
"Ha, Ha, sungguh bersamaan pendapatmu denganku, memang ini adalah cara yang terbaik untuk menghadapi mereka."
Kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sehelai kertas. Kuo Se Fen berkata lagi .
"Untuk rencana ini, aku telah membuat daftar nama yang membagi tugas bertahan, cobalah kalian lihat apakah ada usul lain."
Siang piauwsu lalu menerimanya dan membacanya .
"Bagian halaman muka. Hu piauwsu dan Sun piauwsu memimpin dua puluh anak buah bertiarap dengan persiapan panah diruangan timur."
Siang piauwsu masih membaca .
"Khen piauwsu dan piauwsu memimpin dua puluh anak buah bersembunyi diruangan barat dan siapkan panah."
Rencana selanjutnya.
Lie piauwsu dan Oey piauwsu membawa dua puluh anak buah dengan panah menjaga bagian tengah.
Halaman belakang .
Cu Siu Hu, Wang Ka Ling dan Goan Tian Hoat menjaga ruangan istirahat.
Dan Cau Yun Tai, Yen Yuh Sing memimpin dua puluh anak buah bertiarap di kedua samping halaman belakang dan persiapkan panah.
Ketua pimpinan .
Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.
Bagian penghubung.
Siang Coan Cin dan Hang Ka Han memimpin dua puluh anak buah dengan persenjataan panah siap untuk membantu kubu pertahanan yang memerlukan pertolongan."
Sebelah tangan Kuo Se Fen meng-elus2 jenggotnya yang panjang dan matanya memandang pada para piauwsu .
"Bagaimana pendapat kalian ?"
Tanyanya.
"Sungguh baik rencana persiapan cung-piauwto ini, kami setuju !"
"Bila kalian tiada usul lain, baiklah kita lakukan rencana ini saja. Kini waktunya pun tinggal sedikit, walaupun belum tentu mereka datang, tapi lebih baik kita mengerjakan rencana ini sekarang."
Dengan diikuti oleh yang lain Siang piauwsu bangkit berdiri dan ucapnya minta diri .
"Baiklah kami permisi dulu."
Sambil memberi hormat mereka kemudian berlalu.
Begitu pun Hang Ka Han, Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing bertiga minta diri untuk melaksanakan tugasnya masing2.
Setelah mereka pergi Kuo Se Fen berpaling pada Kang Han Cing dan ucapnya mesem .
"Sudah tiba waktunya hiantit pergi tidur, walaupun malam ini agak genting, tapi belum tentu mereka bisa berhasil, maka harap hiantit jangan merasa kuatir."
Telah sedari tadi hati Kang Han Cing merasa panas, betapa tidak membuat ia marah, ia datang kesini berniat untuk bisa menyembunyikan dirinya, tapi tidak disangka, baru saja ia tiba baru sehari, telah menimbulkan kejadian2 yang melibatkan Hai-yang-pai, hanya karena tenaganya lenyap habis, sampai2 jalanpun harus dituntun oleh orang, maka walaupun ia menyadari dirinya sungguh mendatangkan kekuatiran saja pada tuan rumah, iapun tak bisa berbuat apa2, tapi ia adalah seorang yang sifatnya sangat pendiam, maka walaupun hatinya panas dan marah, tetap tidak tertampak dari air mukanya, ia hanya mesem dan sahutnya;
"Baiklah kalau itio pesan demikian."
Goan Tian Hoat lalu menuntunnya pergi. Kuo Se Fen mengeluh pelahan sambil memandangi tubuh belakangnya.
"Ai ! Kang hiantit mempunyai bakat yang mempunyai hari depan tidak kalah dengan ayahnya almarhum, hanya sayang ia kini terkena racun lunak, hingga tak dapat memperkembangkan bakatnya itu, sungguh bagaikan sang naga kehabisan air."
"Tentu Than Hoa Toh telah jatuh ke tangan mereka, hingga yang datang kesini hanyalah samaran si tabib. Dalam lingkungan daerah kita ini, hanya ia yang bisa mengobati segala penyakit aneh-2 dan parah, tapi keadaan Kang hiantit demikian seriusnya hanya kuatir tidak dapat menunggu lebih lama lagi."
Ucap Jen Pek Coan. Kuo Se Fen mengerutkan keningnya dan ucapnya terharu.
"Dalam dunia kangouw ini kebanyakan orang hanya namanya saja sebagai tabib untuk menipu orang yang minta berobat, orang yang benar2 mahir dan ahli dalam ilmu pengobatan betul2 jarang terdapat."
Tiba2 Cu Siu Hu turut bicara dan ucapnya.
"Toasuheng, Tian-hung totiang dari Pak Yun Koan di gunung Pe Sia San bukankah adalah seorang ahli ilmu pengobatan?"
"Walau Tian-hung totiang terkenal seorang ahli obat2an didunia kangouw, tapi sifat dan wataknya sangat aneh dan tinggi hati, ia telah mengatakan bahwa dirinya tidak mau lagi mencampuri urusan2 dalam dunia kangouw, sudah beberapa kali kaum bulim yang pergi kesana untuk minta pertolongannya tapi selalu ditolak, berapa tahun yang lalu ketua dari golongan Pat-kuat-men, Ku Hung Ce telah terluka oleh Hian Ing Kiu Coan Cang dan pergi kepadanya untuk minta pertolongannya, tapi bagaimanapun tetap tidak diterimanya, untung murid2nya berhasil mendapatkan Kiu Coan Han Hen Cau, hingga nyawanya dapat diselamatkan, Kita Hai-yang-pai belum pernah berhubungan dengannya maka mungkin iapun tidak mau mengobati penyakit Kang jihiantit........"
Tiba2 ia teringat diri si Telapak dewa Lie Kuang Tie dari keluarga Lie dari utara, bukankah iapun sedang berobat diatas gunung Pek Sia San ? Ia memikir sejenak kemudian lanjutnya .
"Tapi kecuali Tian-hung totiang, tiada lagi orangnya yang mungkin bisa mengobati penyakitnya, baiklah bila telah selesai semuanya malam ini kita berangkat kesana untuk mencobanya."
Sementara sedang omong2, dari halaman luar terdengar serentetan derap langkahan kaki yang pelan dan cepat terpencar kedua arah yang kemudian lenyap dalam sekejap saja.
Keadaan kembali menjadi sunyi dan kemudian nampak Cau Yun Tai dan Yen Yuh Sing ber-sama2 masuk serta menjura memberi hormat .
"Tecu telah selesai mengatur mereka bersembunyi tiarap, entah masih ada pesan lainkah suhu?"
"Baiklah sebentar bila mereka datang hendak menyerobot kedalam rumah kalian perintahkan untuk memanahnya. Tapi ingat kalau tidak dalam keadaan terpaksa janganlah menampakkan diri dihadapan mereka."
Pesan Kuo Se Fen.
Setelah kedua muridnya pergi Kuo Se Fen lalu mengibaskan lengan bajunya memadamkan lampu diruangan itu hingga menjadi gelap gulita.
Menjelang pukul dua malam, semua persiapan telah selesai dan seluruh anggota Hai-yang piauwki berada dalam keadaan siap siaga untuk menantikan kedatangan musuh.
Mereka mengambil tempat persembunyiannya masing2 seperti yang telah direncanakan.
Keadaan disekelilingnya gedung Hai-yang piauwki sangat gelap dan sunyi, karena semua penerangan disitu telah dipadamkan hingga nampaknya seluruh penghuni dari gedung itu telah pergi tidur, siapapun tak akan menduga didalam suasana yang gelap dan sunyi itu tersembunyi penjagaan yang ketat.
Dalam kesunyian tiba2 terdengar beberapa kali suara yang hampir menyerupai hembusan angin dan disusul suara rentetan desiran anak panah, suara itu datangnya dari halaman muka hal ini menandakan bahwa musuh yang dinantikan itu nampaknya telah mulai muncul dihalaman muka.
Penyerangan musuh tiba !
"Toasuheng, benar2 mereka datang !
Marilah kita pergi menyambutnya,"
Ujar si Tangan maut Jen Pek Coan sambil bangkit berdiri. Kuo Se Fen tetap duduk dengan tenang dan sahutnya sambil mengelus jenggotnya .
"Kini belumlah waktunya kita menampakan diri karena yang baru datang ini paling2 hanyalah para anak buahnya saja untuk mengetahui apakah kita ada persiapan, maka untuk menghadapinya cukup orang2 kita yang berada disana saja."
Benar saja, setelah suara desiran anak panah itu lalu, terdengar beberapa kali suara jeritan yang menyayatkan, dan kemudian suasana menjadi sunyi kembali.
Menjelang tidak seberapa lama, terdengar pula suara desiran anak panah yang kemudian disusul oleh suara seruan keras serta beradunya senjata yang tidak henti2nya, hingga suara huru-hara itu membelah kesunyian ditengah malam yang menyeramkan.
Nampak wajah Kuo Se Fen berobah dan ia bangkit dari duduknya .
"Nampaknya bala bantuan mereka telah tiba!"
Ucapnya.
Baru saja kata2nya habis dari ruangan muka tiba2 terdengar suara seruan panjang yang melengking diudara dan kemudian terdengar suatu suara yang amat dingin hingga membangkitkan bulu-roma mengucapkan .
"Hai-yang samhiap, janganlah mengeram terus dalam rumah !"
Yang diartikan sebagai Hai-yang Sam-hiap adalah Kuo Se Fen, Jen Pek Coan dan Cu Siu Hu. Mendengar nada suaranya cepat Goan Tian Hoat mendekati suhunya serta ucapnya.
"Suhu, ialah lengcu berbaju hitam itu."
Kuo Se Fen memanggut dan ucapnya sambil berpaling pada Cu Siu Hu.
"Losam, kau harus menjaga disini dan jangan sampai mereka nyerobot masuk!"
"Baiklah,"
Sahut si anak panah tanpa ekor Cu Siu Hu itu.
"Jisutee, kau turutlah dengan aku!"
Sambung Kuo Se Fen yang melangkah keluar.
Nampak olehnya diatas genting rumah berdiri tiga orang yang mengenakan baju hitam.
Dandanan ketiga orang itu sangat aneh dan menyeramkan, seluruh tubuh mereka diselubungi oleh seragam hitam demikian pula kepala mereka ditutupi dengan kain hitam hingga yang nampak hanyalah sepasang matanya saja.
Diam2 Kuo Se Fen membenarkan apa yang telah diceritakan muridnya Goan Tian Hoat mengenai diri mereka.
Sementara itu ia telah mengepalkan tangannya menjura sambil berkata.
"Ha, Ha, siapakah kalian yang telah mengunjungi Hai yang piauwki? Maafkan kelambatan penyambutanku ini."
"Kuo congpiauwto, tahukah apa maksud kedatangan kami kesini ?"
Orang yang berdiri ditengah berpakaian hitam itu tidak membalas pertanyaan malah balas bertanya.
Nampak olehnya orang yang bertanya itu mempunyai bentuk tubuh yang tinggi serta gerak-gerik yang lemah lembut, hanya nada suaranya sangat dingin melenting.
Melihat dirinya orang itu Kuo Se Fen berpikir dalam hati, apakah orang ini benar-benar adalah Kang toakongcu ?
Memang bentuk tubuhnya sangat mirip dengan Kang toakongcu.
Kemudian ia menjura pula keatas sambil bertanya.
"Cobalah terangkan maksud kedatangan kalian."
Orang yang berdiri dipinggir kiri yang bertubuh tinggi besar itu kemudian mengeluarkan sehelai kain hitam yang bentuknya tiga persegi kecil, ia membuka kain tiga persegi kecil itu didepan dadanya sambil berkata.
"Apakah Kuo congpiauwto dapat mengenali bendera ini?"
Tanyanya.
Walaupun Kuo Se Fen mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia kang-ouw tapi belum pernah ia melihat bendera hitam persegi kecil itu dan sedikitpun ia tidak mengetahui arti serta asal-usulnya, maka begitu melihatnya hatinya terkejut dan ucapnya.
"Maafkan! Aku tidak mengenalnya !"
"Ini adalah He-lengci dan seluruh kaum persilatan dari daerah selatan dan utara ini, harus menghambakan diri dibawah kekuasaan He Ci-lengcu ini. Kini apakah kau sudah mengerti?"
Jawab orang yang tinggi besar itu.
Kuo Se Fen meneliti diri orang itu dan ia menduga bahwa orang yang memegang bendera hitam itu mempunyai persamaan bentuk tubuh dengan Cu Ju Hung, kemudian ia menyahut dengan ketawa lirih .
"Sungguh menyesal pengetahuanku sangat rendah hingga belum pernah mendengar tentang ini."
"Ha, Ha, bukankah kini aku telah beritahukan ?"
Ujar orang yang tinggi besar itu dengan ketawa kecut.
"Inikah maksud kedatangan kalian kesini ?"
Tanya Kuo Se Fen.
"Tidak salah ! Hay-yang-pay adalah suatu partai yang cukup mempunyai pengaruh di daerah utara, maka dari itu Lengcu mempunyai pendapat bahwa Hay-yang-pay harus menghambakan diri pada kekuasaan He-ci ini."
Mendengar ucapan orang itu hati Jen Pek Coan menjadi panas sahutnya tidak sabar.
"Hm! Sungguh omong besar dan menggelikan kata2mu itu !"
Orang yang tinggi besar itu tertawa dingin kemudian ucapnya .
"Ha, Ha, mungkin kau adalah Jen ji-hiap, si tangan maut itu? Kau anggap kami sombong karena kau tidak mengetahui sebenarnya dalam dunia kangouw."
"Dimana adanya lengcu kalian ?"
Tanya Kuo Se Fen.
"Aku,"
Sahut orang yang ditengah itu.
"Ha, Ha, Bila He-leng-ci sampai dapat menguasai daerah selatan dan utara sebagai lengcunya tentu orangnya mempunyai wajah dan kepala, mengapa tidak berani menampakan wajah sebenarnya dihadapan orang?"
"Cukup hanya kau ketahui bahwa aku adalah lengcu dari He-leng-ci ini."
"Seorang jantan tidak seharusnya berkelakuan sembunyi2,"
Ejek Jen Pek Coan tidak sabar.
"Memang tidak salah baiknya kalian melepaskan selubung kepala itu dulu baru membicarakannya,"
Ujar Kuo Se Fen.
"Apakah congpiauwto menganggap kenal pada kami ?"
Hati Kuo Se Fen menjadi bergerak mendengar kata2 itu, sungguh licin memuakan orang ini, bukankah dengan demikian berarti ia telah mengetahui bahwa dirinya mencurigakannya Kang toakongcu ?
Kemudian cepat2 ia berkata .
"Ha, Ha, terhadap orang yang cukup mempunyai nama dan disegani, bila tidak kukenal pun sedikit banyak pernah mendengarnya, lengcu telah datang kesini seharusnya tidak berkeberatan memperlihatkan wajahmu."
Dengan tertawa dingin yang bisa membuat orang bergidik si Lengcu itu tiba2 membuka selubung hitam dikepalanya.
Di bawah penerangan sang rembulan yang remeng2 itu, nampak oleh Kuo Se Fen sebuah wajah agak persegi empat yang bersih tidak berkumis sedikit pun, usia orang itu pertengahan, melihatnya hati Kuo Se Fen menjadi tercengang.
"Dia bukan Kang Puh Cing !"
Lalu tanyanya .
"Yang dua orang lagi ?"
Kedua orang itupun kemudian melepaskan selubung kepalanya, nampak orang yang berada disebelah kiri itu adalah seorang tua yang berusia kira2 limapuluh lebih dan mempunyai wajah beralis tebal serta bermata sipit, yang satu lainnya yang berdiri di sebelah kanannya adalah seorang tua pula usianyapun limapuluh lebih dan wajahnya agak kurus serta ke-hitam2an.
Kuo Se Fen ternyata satupun tidak mengenalnya.
Orang ini bukan Cu Ju Hung !
Si He Ci lengcu kemudian memakai kembali selubung hitam itu sambil tanyanya dingin.
"Apakah congpiauwto kenal diriku ?"
Tiba2 hati Kuo Se Fen bergerak dan terpikir olehnya betapa tololnya diri sendiri, bukankah mereka telah dapat menyamar wajah Ban Ceng San dan Than Hoa Toh, ini berarti mereka mahir dalam mengubah muka, maka untuk apakah dan bukankah sangat menggelikan bila hendak melihat wajah mereka yang sebenarnya ?
Terpikir demikian Kuo Se Fen merasa heran dan terkejut lalu sahutnya.
"Maafkan pengetahuanku yang tipis hingga tidak bisa mengenali diri kalian."
"Kenal atau tidaknya bukanlah hal yang penting, tapi hanya ada satu jalan hidup bagi orang yang telah melihat wajahku ini,"
Ujar He Ci lengcu itu dingin.
"Jalan apakah itu ?"
"Menghambakan diri pada He-leng-ci !"
"Hm ! Belum tentu."
Sahut Jen Pek Coan marah. He Ci lengcu mendongak keatas, berkata dingin dengan amat congkak.
"Apakah kalian rela membiarkan Hay-yang-pay yang telah berdiri ratusan tahun hancur musnah dalam sekejapan?"
Mendengar kata2 itu hati Kuo Se Fen menjadi panas, hingga kemarahannya tidak tertahan lagi, wajahnya berobah merah padam sahutnya dengan suara tertekan.
"Hm ! Dengan mengandalkan kekuatan apakah kalian akan memusnahkan Hay yang-pay ?"
"Kuo Se Fen ! Apakah kau kira kata2ku hanya gertakan ?"
"Jahanam yang tidak tahu diri, sungguh beruntung bila kalian dapat meloloskan diri malam ini!"
Bentak Jen Pek Coan sengit.
"Mungkin kalau belum melihat mengalirnya air sungai Huang Ho, hatimu belum juga mau menyerah dan takluk."
Lalu ia memberi isyarat pada orang disebelah kirinya dengan memanggutkan kepalanya.
Nampak orang disebelah kirinya itu kemudian mengibaskan bendera persegi tiga kali di udara.
Melihat ini hati Kuo Se Fen men-duga2, apakah itu berarti suatu tanda perintah untuk menyerang?
Dugaannya ternyata tidak salah, karena dalam sekejap saja nampak olehnya diatas genting dari rumah yang berada disebelah kiri dan kanannya telah muncul lima enam orang yang berseragam hitam pula, hingga kini dirinya terkurung di-tengah2.
Bersamaan dengan itu orang yang berdiri disebelah kanannya si He Ci lengcu itu tiba2 mengibaskan lengan bajunya dan nampak sebuah sinar biru berkelebat ke-atas udara hingga dalam kegelapan sinar biru itu sangat jelas dan terang nampaknya.
Sekejap saja dari halaman muka, terdengar suara huru hara yang ternyata adalah suara jeritan dan seruan orang banyak, kemudian disusul oleh suara beradunya senjata.
Alis Kuo Se Fen nampak berdiri, darahnya bergejolak cepat ia mencabut keluar senjatanya Siang-ling-to, golok sayap elang yang berat dan tebal, hingga begitu ia cabut mengeluarkan bunyi lenting.
Dengan mata melotot ia membentak marah .
"Bila Hai yang-pay tidak dapat menghajar kalian, aku bersumpah akan undurkan diri dari dunia kangouw !"
Tiba2 ia melihat dari belakang tubuh He Ci lengcu bertiga, berkelebat sesosok bayangan hitam, dibarengi meluncurnya sebarisan anak panah kearah tubuh belakang si He Ci lengcu bertiga.
Anak panah itu meluncur dengan cepatnya, tapi gerakan ketiga orang berseragam hitam itu pun tidak kalah cepat, karena begitu barisan anak panah itu hampir mengenai tubuh belakang mereka, dengan tanpa menoleh mereka memutar miringkan tubuh hingga anak panah itu berkelebat lewat dari samping dan lenyap dalam kegelapan.
Bersamaan dengan itu orang disebelah kanan si He Ci lengcu tiba2 mencabut senjatanya sebuah golok bengkok kemuka yang berwarna ungu dari punggungnya, dengan cepat tubuhnya berkelebat menyambut datangnya bayangan hitam itu, bentaknya .
"Jahanam kau sudah bosan hidup?"
Ternyata si bayangan hitam itu adalah Hang Ka Han yang baru saja datang dari halaman muka dengan berlari diatas genting, setibanya ia dapat mendengar pembicaraan suhunya dengan si He Ci lengcu, maka begitu melihat dilepaskannya sinar isyarat ia pun cepat menyerang mereka dengan panah.
Berbarengan tubuhnya mencelat sambil membacokan goloknya.
Begitu melihat musuhnya menerjang ke-arahnya ia merobah dari membacok ganti menusuk lurus dengan jurus masukan benang kelobang jarum.
Si baju hitam itu memiringkan tubuhnya dan goloknya membabat miring kearah lengannya.
Melihat tusukannya dapat dielakan dan lengannya terancam ia cepat memutar goloknya dan dengan merendahkan tubuh, ia membabatkan goloknya kearah kedua kaki musuh.
Diserang demikian si baju hitam itu tertawa dingin cepat goloknya ditekankan kebawah untuk memukul senjata musuh dan "Trang"
Dua buah golok beradu keras hingga memancarkan kembang api yang terang.
Hati Hang Ka Han sangat terkejut, karena ia dapat merasai betapa besarnya tenaga sinkang musuh, hingga tangannya merasa kesemutan dan hampir2 saja goloknya terlepas dari genggamannya.
Maka cepat2 tubuhnya mencelat kebelakang untuk mengelakan serangan musuh lebih lanjut.
Melihat Hang Ka Han mengelak mundur, si baju hitam menjadi penasaran karena tidak berhasil memukul jatoh senjata lawan, dengan berseru keras ia lancarkan serangan yang bertubi-tubi, goloknya diputar untuk mendesak hebat musuhnya.
Hang Ka Han dapat menyadari bahwa tenaga sinkang musuhnya ini lebih hebat dari dirinya, maka ia tidak mau menangkis dengan mengadu senjata melainkan ia menggunakan ginkangnya untuk mengimbangi serangan lawan.
Sementara itu keenam orang baju hitam yang muncul belakangan masing2 telah mencabut senjatanya dan kemudian melompat turun untuk menyerang Kuo Se Fen dan Jen Pek Coan.
Ketika munculnya enam orang baju hitam itu, dalam hati Kuo Se Fen telah bisa membandingkan kekuatan musuh dan ia dapat menduga bahwa diantara mereka tentu orang yang bernama si He Ci lengcu kedudukan maupun ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari enam orang ini.
Kini si He Ci lengcu serta orang yang disebelah kirinya belum juga mau turun tangan, maka untuk menghadapi keenam orang baju hitam ini tidak perlu ia dan suteenya turun tangan sendiri maka cepat ia memanggil dengan suara tertekan.
"Yun Tai, Yu Sing kalian hadapi mereka !"
Sebenarnya Cau Yun Tai bersama Yan Yuh Sing telah tidak sabaran lagi tapi karena mereka belum diperintahkan oleh suhu mereka hingga tak berani keluar dari tempat persembunyiannya menghadapi musuh.
Maka kini begitu dapat perintah merekapun tak mau menunggu-nunggu lebih lama dan langsung menerjang kearah musuh dengan golok diputarkannya cepat.
Ilmu kepandaian enam orang baju hitam itu pun cukup tinggi, begitu melihat musuhnya menerjang kearah mereka, mereka cepat menangkis dengan senjatanya dan kemudian berpencar mengurungnya.
Sekejap saja pertempuran berlangsung pula.
Melihat murid toakonya dikeroyok oleh enam orang musuh yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, hati Jen Pek Coan menjadi gelisah dan kuatir.
"Toasuheng, akan kubantu mereka."
Ucapnya pelan.
Kuo Se Fen mengangguk dan nampak Jen Pek Coan mencabut senjatanya yang diselipkan dipinggang, sebuah pipa bako yang terbuat dari baja murni, kemudian tubuhnya mencelat, belum sampai ia turun tangan, terdengar suara orang tertawa dingin yang datangnya dari atas genting .
"Ha, Ha, ternyata Jen jihiap pun ingin bermain-main, baiklah aku akan menemanimu !"
Ternyata orang yang bicara adalah si baju hitam tinggi besar yang disebelah kiri lengcu itu.
Begitu ucapannya habis, ia melayang turun, telapak tangannya memukul kearah kiri Jen Pek Coan.
Melihat dirinya diserang dengan kecepatan yang luar biasa, Jen Pek Coan memindahkan senjatanya ketangan kiri dan tangan kanannya berobah mencengkeram dengan jurus Toa-lit-ing-coa-kong membalas serangan musuh.
(Bersambung 4) ***
Jilid 4
"TOA LIT-ING COA KONG"
Atau cakar elang bertenaga besar, adalah jurus cengkeraman dari ilmu kepandaian tunggal Hay-yang pay yang ditakuti oleh kaum bulim, Jen Pek Coan dijuluki si tangan sakti, maka cengkeramannya mengandung angin pukulan yang luar biasa besarnya.
Si baju hitam tinggi besar dapat menyadari musuhnya ini tentu mempunyai tenaga sinkang yang tidak boleh dipandang enteng dan benar saja ia merasai adanya dorongan angin yang maha hebat dari cengkeraman musuhnya itu, maka ia tidak berani menangkis dengan kekerasan cepat ia menarik tangan kanan untuk menghindari cengkeraman lawan, kemudian tangan kirinya diulurkan memukul bagian atas lengan kanan lawannya.
Jen Pek Coan merendahkan tubuhnya sedikit dan menyelipkan pipa bako itu dipinggangnya kemudian tangan kirinya yang telah kosong itu diulurkannya untuk balas memukul serta melompat mundur.
Si baju hitam tinggi besar itupun cepat melompat mundur untuk menghindari dirinya dari bahaya.
Kini saling berhadapan dan masing2 mengakui dalam hati bahwa baru pertama kali inilah mendapat lawan yang tangguh selama hidupnya.
"Jen jihiap, mengapa kau tidak menggunakan senjata ?"
Tanya si baju hitam tinggi besar itu dengan dingin.
"Dimanakah senjatamu ?"
Jen Pek Coan balas tanya dengan dingin pula. Si baju hitam tinggi besar itu lalu mengeluarkan sebuah kipas bertulang besi dari dalam baju dan ucapnya .
"Inilah senjataku."
Melihat senjata lawannya yang aneh itu, dalam hati Jen Pek Coan dapat menduga bahwa senjata lawannya itu tentu ada rahasianya, ini tidak boleh dipandang enteng pikirnya.
Kemudian iapun mencabut pipa rokoknya pula serta ucapnya .
"Aku menggunakan ini."
Setelah saling mempersilahkannya, mereka lalu bertempur dengan menggunakan senjata.
Setelah liwat belasan jurus si baju hitam yang bersenjata logam ungu itu dapat merasai bahwa ilmu kepandaian musuhnya ini ada di tingkat yang lebih rendah darinya maka dengan memandang enteng ia memperhebat serangannya untuk mendesak terus.
Goloknya yang besar dan berat itu kini ia gerakan dengan sepenuhnya tenaganya hingga membawa angin yang menderu-deru saking cepatnya, nampak Hang Ka Han terdesak hebat dan ia hanya bisa mempertahankan serangan musuh dengan terus menerus mundurkan diri.
Melihat musuhnya terdesak hebat dan serangannya mendapat angin si baju hitam tertawa sinis, ia gerakan goloknya lebih cepat lagi untuk bisa merobohkan musuhnya, ia mengerahkan goloknya ke bagian yang berbahaya, hingga diri Hang Ka Han kini terkurung oleh bayangan putih dan terancam rengutan maut.
Tubuhnya kian menjadi basah oleh keringat karena ia maklum bila gerakannya lambat niscaya jiwanya akan melayang maka ia pun mempercepat gerakannya dan mengeluarkan kepandaian yang dimiliki seluruhnya untuk bisa mempertahankan diri.
"Hang lote serahkanlah ia padaku."
Dan berkelebat sebuah bayangan dan langsung menyerang bagian belakang tubuh si baju hitam itu.
Diserang demikian hati si baju hitam itu menjadi panas dan marah, cepat ia putarkan tubuhnya sambil goloknya menyapu ke belakang dengan seluruh tenaganya.
"Tranggg..."
Terdengar suara beradunya senjata yang amat keras dan ternyata kedua2nya masing2 merasa tangannya menjadi kesemutan dan sakit, mereka berbarengan melompat mundur tiga langkah.
Hang Ka Han mengetahui orang yang datang ini bukan lain adalah si piauwsu tua she Siang itu maka begitu mereka bergebrakan ia cepat mengundurkan diri dengan napas terengah-engah.
Siang Coan Cing adalah anak murid Sauw lim pay dan senjata yang digunakannya adalah sebuah toya besi yang sangat berat dan panjang.
Begitu kedua senjata beradu hatinya diam2 menjadi terkejut, karena ia dapat menaksir betapa hebat senjata yang digunakan si baju hitam ini, paling sedikit mempunyai bobot berat limapuluh kilo keatas, sungguh ia tidak nyana, si baju hitam ini bisa menggerakan senjata yang sedemikian beratnya dengan cepat.
Sementara ia berpaling ke diri Hang Ka Han serta ucapannya.
"Hang lote, dapat kau bantu kedua sutemu."
Tanpa me-nunggu2 Hang Ka Han cepat berlari pergi.
"Tentu kau adalah si Ta hu Ciong, pemukul harimau Siang Coan Cing."
Tegur si baju hitam dengan ketawa dingin.
"Memang ! Tidak salah."
"Kaupun menjadi anak buahnya Hay-yang pay pula ?"
Kata si baju hitam dengan dingin pula.
"Ini bukan urusanmu."
Ejek Siang Coan Cing.
"Ha ! Ha ! Kemauanmu sendiri hendak membela Hai yang pay dan nanti janganlah menyalahkanku."
Sambil mengucapkan demikian dengan 'Li pi Hoa san' atau jurus membelah gunung Hoa San, dengan tenaga penuh si baju hitam membacokkan goloknya kearah kepala Siang Coan Cing.
"Bagus,"
Bentak Siang Coan Cing dan cepat ia palangkan toyanya keatas, memapak datangnya bacokan golok musuhnya dan "Trang...."
Sekali lagi senjata mereka beradu keras, telapak tangan Siang Coan Cing terasa panas, kedua lengannya kesemutan, kakinya menginjak pecah belasan genting rumah.
Jantung si baju hitampun bergetar hebat, angin pukulan yang amat dahsyat itu mendorong tubuhnya hingga mundur setengah langkah.
Diam2 hati mereka masing2 mengagumi kehebatan lawannya, membuat mereka tidak berani saling pandang enteng, karena maklum ini akan membawa maut bagi dirinya.
Setelah itu mereka bertempur pula dengan seru, masing-masing harus keluarkan kepandaiannya untuk bisa menandingi keunggulan lawan.
Semula Cau Yun Tai dan Yan Yuh Sing telah terdesak hebat karena dikeroyok oleh enam orang berseragam hitam, untunglah Hang Ka Han datang membantu, hingga mereka masing2 hanya harus melawan dua orang dan tidak dibuat terlalu repot, walaupun sulit untuk bisa merobohkan musuhnya, tapi keadaan tidak begitu membahayakan, dan cukup untuk mereka bertahan.
Kini hanya tinggal si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen yang masih tetap tenang berdiri diserambi rumah dengan si lengcu panji hitam yang berdiri diatas genting masih belum turun tangan, terhadap pertempuran yang sedang terjadi sedikitpun mereka tidak menghiraukannya, bagaikan dua patung yang saling berhadapan di medan pertempuran.
Sementara dari halaman muka, terus menerus terdengar suara bentrokan senjata yang kian menghebat.
Ini menandakan bahwa para piauwsu yang berada dibarisan depanpun sedang menghadapi serangan yang hebat dari gerombolan berseragam hitam, maka tidak mungkinlah bagi mereka untuk membantu dibagian halaman dalam.
Sedangkan bagian halaman dalam terdapat kekuatan inti dari gerombolan ini dan tentu saja yang berada didalam pun tak bisa membagi kekuatan untuk menolong keluar.
Melihat keadaan yang sangat menguatirkan ini, hati Kuo Se Fen menjadi sangat gelisah, ia maklum bahwa ini sungguh tidak menguntungkan bagi Hai yang pay.
"Kuo congpiauwto ! Tentu kau sudah dapat membayangkan apa akibat dari tindakanmu ini ?"
Tiba2 si lengcu baju hitam yang berdiri diatas genting mengeluarkan bentakan. Mata Kuo Se Fen menjadi merah, tangannya memegangi golok Ya yi to dengan melotot sengit ia menjawab .
"Apakah akibatnya ?"
"Ha, Ha ! Kekuatan yang dimiliki oleh Hai yang pay hanya begitu saja apakah kau sampai hati melihat orang2 Hai yang pay jatuh terbunuh satu demi satu ?"
Hati Kuo Se Fen bergetar mendengar ucapan itu, tanyanya pula .
"Apakah kau masih ada bala bantuan ?"
"Ha, Ha ! Yang datang ini hanyalah regu kesatu. Regu kedua dan regu ketiga sebentar pun akan tiba. Kini aku beri peringatan terakhir, lebih baik kau bersedia menghambakan diri dibawah perintah panji hitam, kalau kau menurut peringatanku yang terakhir ini kau akan tetap diangkat sebagai ketua dari Hay yang pay dan orang2mu tetap selamat."
Golongan panji hitam sedang pasang propaganda ! Mendengar kata2 itu, hati Kuo Se Fen jadi tambah sengit, bentaknya marah.
"Diam ! Kau anggap diriku apa? Kini belum tiba waktunya untuk kau membual, siapa yang kalah atau menang belum bisa ditentukan. Kalau memang pihakku yang jatuh kalah, aku tetap akan bertempur sampai titik darah yang terakhir dan jangan kau mimpi aku akan tunduk menghamba dibawah perintah panji hitam yang terkutuk ini. Kalau memang kau mempunyai kepandaian, marilah kita bertempur sampai ada yang binasa."
"Hm ! Hanya dengan mengandalkan kepandaianmu belumlah pantas untuk bertanding denganku. Ha, Ha ! Sayang kau tetap mau memilih jalan yang ke akherat, baiklah kau tunggulah ajalmu sebentar."
Hati Kuo Se Fen bergejolak panas, sebenarnya ia berniat melompat keatas genting untuk menerjang, tapi terpaksa ia harus urungkan niatnya itu, ia sadar dirinya harus bisa menahan perasaan panasnya untuk tetap berjaga diserambi rumah karena ia kuatir kalau sampai benar2 datang bala bantuan musuh, belum tentu samsutenya yang sedang terluka serta muridnya Goan Tian Hoat bisa menahannya, bukankah ini akan membahayakan diri Kang Han Cing yang sedang menderita lumpuh ?
Melihat keadaan yang sangat genting hatinya kian gelisah dan kuatir, kalau bala bantuan musuh datang tiba ini tentu lebih membahayakan Hai yang pay, dan boleh jadi Hai yang pay akan musnah berantakan.
Nampak olehnya Jen Pek Coan sedang bertempur dengan si baju hitam tinggi besar itu, keadaannya belumlah bisa dilihat siapa yang berada diatas angin karena ilmu kepandaian mereka seimbang.
Siang Coan Cing masih bertempur dengan seru, ia menggunakan jurus Ta hu kue hoat dari Sauw lim pay menghadapi si golok ungu itu, karena senjata mereka masing-masing adalah senjata berat, hingga terdengar deruan angin kencang yang menggetarkan.
Mereka saling mengeluarkan kemahirannya bergempur seru dari atas genting sampai turun kebawah tanah.
Hang Ka Han bertiga masih bisa paksakan diri untuk bertahan, tapi dikeroyok oleh dua orang masing2 menjadi kualahan, boleh dikatakan mereka bertempur dengan mengadu jiwa saja.
Walaupun situasi pertempuran belum bisa menentukan siapa pihak yang menang tapi Kuo Se Fen dapat membayangkan bahwa pihaknya pasti akan kalah.
Walaupun bala bantuan musuh tidak datang.
Sedang ia berpikir2, tiba2 terdengar dua pekikan panjang berdengung diudara !
Mendengar pekikan panjang yang menggema itu wajah Kuo Se Fen berobah, cepat ia mengangkat kepalanya, dan benar saja nampak olehnya diatas genting kini tambah pula dua orang yang berseragam hitam.
Kedua orang berbaju hitam itu, berdiri satu didepan dan seorang lagi dibelakang, orang yang didepan tubuhnya agak pendekan, sepasang tangannya menggenggam Ca liong pang atau pentungan naga, dan orang yang berdiri dibelakang adalah seorang yang bertubuh tinggi dan kurus, tangannya memegang sebuah pedang panjang.
Bersamaan dengan munculnya dua orang itu diatas genting bagian timur dan barat bermunculan pula tujuh delapan orang berseragam hitam yang semua membawa senjata.
Orang yang bertubuh agak pendek itu kemudian menjura memberi hormat pada si lengcu berbaju hitam serta berkata .
"Maafkan hamba datang terlambat. Entah lengcu akan perintahkan apa ?"
Si lengcu berbaju hitam itu mengibaskan tangannya, berkata dengan suara dingin .
"Tangkap Kuo Se Fen !"
Si baju hitam bertubuh pendek tiba2 membalikkan tubuhnya, ia memandang tajam diri Kuo Se Fen sejenak, kemudian ucapnya rendah .
"Sute, mari kita turun !"
Dua bayangan hitam mencelat turun bagaikan burung elang hendak menyambar anak ayam, dengan kecepatan yang tinggi mereka menuju ke serambi rumah.
Diikuti oleh ketujuh delapan orang baju hitam lainnya, melompat turun ke tengah2 pertempuran membantu mengeroyok orang2 Hai yang pay.
Saat itu Kuo Se Fen telah siap melangkah ke depan menghadapi serangan dua orang baju hitam yang mencelat menyerang kearahnya dari atas genting.
"Aku akan adu jiwa dengan kalian jahanam !"
Bentaknya sengit.
Dengan melintangi goloknya didepan dada bersiap-siap menempuh jalan maut.
Kemarahan Kuo Se Fen telah memuncak, hingga membuat ia tidak segan mengeluarkan jurus2 berbahaya untuk berhadapan dengan dua orang baju hitam itu.
Dua orang berbaju hitam bertubuh agak pendek dan tinggi menghadapi musuh tangguh itu tidak berani memandang enteng, mereka cepat membagi diri dikanan kiri untuk mengempung Kuo Se Fen.
Kemudian mereka menyerang dengan ilmu kepandaian yang tidak kalah hebatnya dengan ilmu silat Kuo Se Fen.
Pertempuran berlangsung dengan serunya, masing-masing terkurung oleh bayangan lingkaran putih dari senjata mereka, kian lama diri mereka lenyap dalam gulungan putih, karena makin mempercepat gerakannya.
"Toasuheng, serahkan seorang padaku !"
Tiba-tiba Cu Siu Hu menerjang keluar dan langsung menuyukan pedang panjangnya ke diri si baju hitam bertubuh tinggi itu.
Si jangkung itu terpaksa menghentikan serangannya pada Kuo Se Fen, dengan cepat mengelak, dengan memutar tubuhnya lalu balas menyerang Cu Siu Hu.
Menghadapi seorang lawan membuat Kuo Se Fen tidak begitu repot, kini ia lebih banyak menyerang daripada mengelak.
Dengan turunnya tujuh delapan orang musuh, membuat orang2 Hai yang pay terdesak hebat, keadaan mereka kian berbahaya, kini mereka hanya bisa menangkis dan mengelak saja.
Goan Tian Hoat yang berada di dalam kamar dapat mengintip keluar, hatinya merasa sangat gelisah dan kuatir.
Melihat pertempuran-pertempuran yang sangat tidak menguntungkan pihaknya ini, ia bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa Hai yang pay, sebelah tangannya menggenggam golok dan yang sebelah lagi memegang panah.
Ia berniat keluar untuk membantu, tapi ia kuatir, bila ia melakukannya akan membahayakan keselamatan Kang Han Cing yang harus dijaga.
Kongcu kedua dari keluarga Kang itu sedang menderita sakit.
Sebaliknya hatinya merasa tidak enak melihat para susiok dan saudara2 seperguruannya menghadapi bahaya.
Keadaan Goan Tian Hoat sungguh bagaikan semut diatas kuali panas, ia berdiri di balik pintu dengan perasaan sangat gelisah, entah apa yang harus dibuat.
Sedang dalam keadaan serba salah, tiba2 dari atas udara ia mendengar suara bentakan orang yang sangat mendengungkan telinga.
"Keledai dungu ! Benar saja kalian membuat gaduh disini !"
Dan baru saja suara bentak itu lenyap nampak dari atas udara berkelebat turun sesosok bayangan hitam, bagaikan seekor burung bango melayang turun, belum lagi tubuh bayangan itu memijak tanah kedua tangannya didorongkan kedepan dan "Buk !"
Dua orang baju hitam terpukul mental lebih dari satu tombak.
Walaupun orang2 baju hitam dapat menyaksikan bahwa tenaga sinkang dari orang yang baru muncul ini sungguh luar biasa besarnya, tapi karena mereka merasa berjumlah banyak, hingga mereka tidak terlalu gentar, begitu orang itu menginjakan kakinya diatas tanah lantai sudah ada tiga empat orang mengurung.
Dengan ketawa mengejek, orang itu cepat mendorongkan tangan kirinya kedepan dan terdengarlah desiran angin pukulan sinkangnya yang amat dahsyat, tiga orang baju hitam yang berada di depannya terpental jatuh.
Kemudian orang itu menarik tangan kanannya bagaikan tertarik oleh kekuatan besi berani, dua orang baju hitam sempoyongan serta jatuh pula.
Berturut-turut ia menggunakan cara demikian, hingga para anggota Panji Hitam yang berada disitu satu persatu dibuatnya terpelanting jatuh dengan mata berkunang-kunang serta senjatanya terlepas dari genggamannya.
Kejadian yang aneh dan ajaib ini sungguh bukan saja membuat anggota panji hitam merasa heran, karena dirinya dirobohkan tanpa mengetahui siapa orang yang merobohkan mereka, bahkan para orang2 Hai-yang pay pun menjadi kesima dan melongo atas datangnya pertolongan yang sekonyong-konyong ini.
"Sret !"
Si lengcu baju hitam tiba2 mencabut keluar pedangnya, lalu bentaknya .
"Kau cari mati !"
Dan tubuh si lengcu mencelat tinggi kemudian melayang turun sambil memutar pedangnya diatas udara, hingga dirinya lenyap terkurung oleh sinar pedang yang berkilauan dingin.
Menyaksikan si lengcu baju hitam menggunakan jurus yang luar biasa itu, membuat orang yang berada disitu menjadi kagum termasuk orang2 Hay yang pay.
"Ha, Hah! Keledai dungu ! Apakah dengan mengandalkan permainan anak2 ini saja kau sudah berani menonjolkan keburukanmu dihadapan si orang tua?"
Baru saja habis suara kata itu, terdengarlah suara tertahan dan "Buk !"
Terdengar suara pukulan keras diudara, nampak tubuh si lengcu panji hitam itu terpental ke belakang ter-huyung2, pedang panjangnya jatuh ketanah patah menjadi dua.
Orang yang datang memiliki kepandaian hebat !
Setelah berdiri tegak kembali si lengcu baju hitam itu memandang tajam dan bertanya .
"Siapa kau ?"
Mendengar pertanyaan si lengcu baju hitam membuat semua mata pada menoleh ke diri orang yang ditanya, ternyata ia adalah seorang kakek2 berbaju kelabu, jenggot serta kumisnya yang panjang telah menjadi putih semuanya, nampak punggungnya agak bongkok.
Kakek2 itu mengibaskan tangannya lalu bentaknya mengejek .
"Keledai dungu ! Lihatlah mukamu, apakah pantas mengetahui namaku? Cepat merat dari sini, jangan sampai hilang kesabaranku !"
Diejek demikian, si lengcu baju hitam merasa dongkol dan marah tapi ia tidak berani banyak omong, karena ia maklum dirinya bukan tandingan si kakek bongkok, maka cepat ia balikan tubuhnya, dengan kesal mengajak anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.
Penyerangan Panji Hitam berhasil digagalkan.
Setelah mereka pergi, si kakek berpaling dan ucapnya pada Kuo Se Fen sambil memberi hormat .
"Aku si tua datang terlambat harap Kuo congpiauwto maklum. Kini aku permisi pergi."
Baru saja ia hendak mencelat pergi, Kuo Se Fen bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi cepat2 melangkah, dengan mengepalkan kedua tangannya memberi hormat, katanya .
"Locianpwe, mohon tunggu dulu."
"Ha, Ha ! Aku si tua bangka mendapat perintah dari majikanku untuk pergi kesini membantu kalian mana berani aku menerima penghormatan panggilan locianpwe ini?"
Tubuhnya lantas mencelat dan sekejap saja dirinya telah melayang diudara kemudian lenyap dari pandangan.
Ternyata si kakek bongkok yang hebat hanya seorang pesuruh ?
Pandangan mata Kuo Se Fen mengikuti melayang tubuh si kakek itu dengan kesima serta kagum, dalam hatinya sungguh membuat ia berterima kasih, karena bila saja tidak ada si kakek itu yang menolong, Hay yang-pay yang telah berdiri ratusan tahun akan musnah dalam tangan si lengcu panji hitam pada malam ini.
Ia termenung, bertanya pada dirinya sendiri .
"Siapakah orang yang menyuruhnya ?"
Si telapak sakti Jen Pek Coan menghampiri suhengnya dan ucapnya pelahan .
"Toa suheng, dilihat dari ilmu silat yang digunakan orang tua tadi agak mirip dengan ilmu pukulan cung-ku-kin liong sou (Bango membujur menerkam naga) yang pernah didesas-desuskan."
"Jadi pendapatmu orang tua tadi adalah anak murid Kun lun-pay ?"
Tanya Kuo Se Fen tercengang.
"Walaupun Kun-lun-pay telah puluhan tahun tidak menampakkan diri dalam dunia kangouw, tapi ini bukanlah berarti Kun-lun-pay tidak mempunyai ahli waris."
Kuo Se Fen mengangguk dan sahutnya .
"Memang ada kemungkinan ! Oh ya ! Tadi sebelum pergi ia mengatakan bahwa ia diperintahkan oleh majikannya, tapi entah siapakah majikannya itu ?"
"Itio, siaute pernah melihat majikannya."
Tahu2 Goan Tian Hoat telah berada ditempat itu dan turut bicara. Kuo Se Fen berpaling dan ucapnya dengan heran.
"Cepat kau jelaskan !"
"Silahkan itio masuk dahulu, akan siaute terangkan kelak !"
Bisik Goan Tian Hoat perlahan. Sambil mengeluskan jenggotnya Kuo Se Fen lalu berkata pada muridnya Hang Ka Han dan tanyanya .
"Ka Han, apakah dipihak kita ada jatuh korban ?"
"Yang berada dibagian belakang hanya Cau sute mendapat luka ringan dan lainnya selamat. Segera tecu pergi kedepan untuk memeriksanya."
Kuo Se Fen mengangguk kemudian katanya .
"Loji, losam, Siang, saudara marilah kita masuk kedalam !"
"Silahkan congpiauwto istirahat dahulu aku hendak melihat-lihat keluar."
Siang Coan Cing menjura memberi hormat dan permisi pergi bersama Hang Ka Han. Setelah berada dalam kamar, Kuo Se Fen bertanya pada muridnya Goan Tian Hoat .
"Apakah Kang hianti telah pergi tidur ?"
"Maafkan karena kuatir ia dapat mendengar keadaan diluar, maka tecu menotok jalan darahnya supaya ia tertidur, hingga kini belum sadar."
Kuo Se Fen mengangguk lalu duduk diatas sebuah kursi, lalu berkata .
"Loji, losam, kalian duduklah."
Sementara itu datang seorang pelayan mengantarkan teh. Setelah menenggak secangkir teh, Jen Pek Coan bertanya .
"Tian Hoat, dimanakah pernah kau melihat kakek tua itu ?"
"Dikota Kua Cou."
Kemudian ia menceritakan pengalamannya di kota Kua Cou dimana si kakek tua itu mendayung sebuah perahu dan penumpangnya adalah seorang pelajar muda yang berpakaian serba putih.
Setelah mendengar ceritera Goan Tian Hoat, Kuo Se Fen bertanya .
"Kira2 berapa tahunkah usianya si pelajar berbaju putih itu ?"
"Kurang lebih berusia delapan sembilan belas tahun, orangnya sangat gagah, mempunyai wajah tampan."
Mendengar keterangan itu, Kuo Se Fen diam saja, hanya sebelah tangannya mengelus-elus jenggot.
Ketika itu nampak Hang Ka Han ter-gesa2 melangkah masuk, kemudian menjura memberi hormat pada gurunya serta ucapnya .
"Suhu, yang menyerang bagian depan kira2 berjumlah tiga puluh orang lebih, Sun piauwsu dan Lie piausu berdua mendapat luka, para pembantu yang luka ringan berjumlah belasan orang dan yang agak parah lima orang. Disamping ini terdapat tiga mayat musuh yang terkena oleh panah kita dan mati terkena racun."
Mendengar laporan dari muridnya itu Kuo Se Fen agak tercengang, dia heran lalu bertanya .
"Ah ! Panah yang kita gunakan semua kan tidak ada racunnya."
"Maafkan teecu kurang menjelaskan pada suhu. Setelah mereka terluka kena panah mungkin karena tidak dapat berkutik hingga mereka menelan racun bunuh diri. Untuk menutup rahasia golongannya."
"Ai ! Bisa dibayangkan betapa kejamnya peraturan mereka terhadap bawahan. Takut kalau rahasia golongannya terbongkar keluar, maka para bawahan diancam dengan siksaan yang tidak berperikemanusiaan, bila terbukti memberitahukannya pada orang luar. Maka mereka masing2 pada menyediakan obat racun untuk bunuh diri, bila dirinya akan tertawan. Mereka lebih rela mati dengan bunuh diri dari pada disiksa serta dibunuh oleh atasannya."
"Masih ada sesuatu yang belum teecu laporkan pada suhu."
"Apakah itu ?"
"Musuh yang menyerang bagian depan terdiri dari jago2 kelas satu, semuanya mempunyai ilmu kepandaian tinggi, maka walaupun para piauwsu dan pembantu melawannya dengan gigih, tidak bisa juga menahan amukan mereka. Menurut keterangan para piauwsu, ada seseorang yang membantu secara diam2 dari tempat gelap. Orang itu membantunya dengan menyambitkan batu sebagai senjata rahasia, bilamana diantara pihak kita ada yang terdesak, ia lalu menyambitkan batu secara diam2 dari tempat gelap, hingga akhirnya semua musuh terkena serangan. Kalau bukan di bagian otaknya, tentu hidungnya pada bercucuran darah, tanpa mereka ketahui siapa yang menyerangnya. Untung ada orang yang membantu secara diam2 hingga pihak kita tidak sampai jatuh korban lebih besar."
Jen Pek Coan tertawa lalu berkata.
"Orang yang membantu kita itu tentu adalah si gadis berbaju hijau."
"Menurut keterangan Lie piauwsu orang yang menolong secara diam2, tidak hanya seorang saja, ia melihat dari kedua sisi genting rumah, ada orang yang menyambit batu kebawah."
"Toasuheng, menurut pandangan siauwte, si pemuda sasterawan serta si kakek bongkok dengan si gadis baju hijau itu tentu dari satu golongan."
Kata Cu Siu Hu. Jen Pek Coan mengangguk serta katanya.
"Rupanya mereka telah mengetahui gerak gerik musuh, hingga dapat membantu kita secara diam2."
Kuo Se Fen mengerutkan keningnya kemudian katanya .
"Telah beberapa kali mereka mengulurkan bantuan pada kita, tapi sebaliknya kita belum juga dapat tahu sedikitpun mengenai diri mereka."
"Menurut pendapat teecu, si pemuda sasterawan baju putih itu ada kemungkinan bertujuan hendak menjaga keselamatan jikongcu, kalau tidak, mengapa ia mengikuti perahu kami hingga kemari ?"
Berkata Goan Tian Hoat. Mendengar suara Goan Tian Hoat Hang Ka Han merasa heran ia mengamat-amati diri Goan Tian Hoat sambil bertanya .
"Bukankah kau adalah samsute ?"
Kuo Se Fen mesem2, menggoyangkan tangannya sambil berkata .
"Siapapun tidak boleh diberitahukan bahwa ia berada disini."
Kemudian dengan menganggukkan kepala ia berkata pula .
"Kata-kata Tian Hoat memang tidak salah, terhadap diri si kakek bongkok serta si gadis itu hingga kini belum juga bisa kuketahui asal usulnya, dengan sendirinya mereka tidak mempunyai hubungan apa2 dengan Hai yang pay. Tapi sebaliknya mereka selalu membantu kita, dari sini kita bisa ketahui bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menjaga keselamatan jikongcu secara diam2."
Setelah bicara habis, ia lalu bangkit berdiri serta sambungnya .
"Loji, losam kalian istirahatlah karena besok pagi ada sesuatu yang harus kita kerjakan."
"Toasuheng, urusan apakah itu ?"
Tanya Cu Siu Hu ingin tahu.
"Sampai waktunya kau akan tahu sendiri."
"Ka Han, mari kita menengok Sun piauwsu dan Lie piauwsu."
Kata Kuo Se Fen pula.
*** Besok paginya, nampak sebuah perahu dengan muatan sayur mayur berlabuh ditepian sungai yang terdapat dibelakang Hai yang piauwki.
Nampak beberapa orang petani sedang mengangkut sayur2an itu ke dalam piauwki.
Sayur2an itu adalah bekal makanan orang-orang piauwki yang jumlahnya banyak, memang tiap pagi para petani dari luar kota pada mengantar sayuran ke piauwki untuk dijual.
Hari kian menjelang siang.
Kang Han Cing terbangun dari tidurnya, karena kupingnya mendengar suara desiran air.
ia menjadi heran dan cepat membuka mata, betapa terkejutnya karena mendapatkan dirinya kini berada dalam sebuah perahu !
Nampak olehnya tidak jauh darinya duduk tiga orang yang berpakaian seperti petani, baru saja ia hendak duduk bangun, terdengar suara Kuo Se Fen pelan .
"Hiante kau baru bangun ?"
Kang Han Clng terkejut, ia mengamati diri ketiga orang petani itu dan ternyata mereka adalah ketua Hai yang pay, si rajawali bersayap emas Kuo Se Fen serta sutenya Jen Pek Coan dan Goan Tian Hoat bertiga.
Hati Kang Han Cing bertambah heran dan tidak mengerti, pelan2 ia bangun duduk kemudian ia bertanya .
"Susiok, sebenarnya apakah yang telah terjadi ?"
Sambil mengeluskan jenggotnya yang panjang Kuo Se Fen berkata mesem .
"Hiante kau tentu telah lapar, makanlah dahulu kelak akan kujelaskan."
Goan Tian Hoat mengambil sebuah bungkusan lalu disodorkannya sambil berkata .
"Ini memang disediakan untuk saudara Kang sarapan, silakanlah makan selagi masih hangat !"
Ternyata didalam bungkusan itu berisi santapan yang wangi dan lezat yang merupakan makanan kenamaan dari kota Hai yang.
Melihat ketiga orang itu pada menggunakan pakaian seperti petani, hatinya jadi menduga-duga apakah malam tadi telah terjadi sesuatu yang dilakukan oleh perkumpulan berseragam hitam ?
Kalau ternyata demikian jangan2......
Berpikir sampai disini hatinya merasa tergetar hebat, cepat ia menanya penuh gelisah .
"Susiok, bagaimanakah akibatnya akan kejadian semalam ?"
"Janganlah hiante kuatir ! Walaupun mereka mengerahkan kekuatan yang besar tapi syukurlah kita dibantu oleh orang yang berkepandaian tinggi hingga serangan mereka dapat digagalkan dan dipukul mundur. Karenanya korban yang jatuh di pihak kita tidak seberapa."
Jawab Kuo Se Fen mesem. Setelah mendengar keterangan itu getaran hati Kang Han Cing lenyap, kemudian tanyanya pula .
"Kalau begitu, mengapakah susiok mengenakan samaran demikian dan kini hendak pergi kemanakah ?"
"Ha, Ha ! Menurut dugaanku, rencana serangan mereka tadi malam tidak berhasil maka sementara waktu mereka tentu tidak berani datang kembali. Untuk mempercepat sembuhnya penyakit hiante, aku menggunakan kesempatan ini untuk menemani pergi berobat ke biara Pak yun kuan diatas gunung Pek sia san."
Hati Kang Han Cing menjadi terharu dan ucapnya sedih .
"Betapa besar kasih sayang susiok terhadap siauwte, sungguh membuat siauwte ......"
"Terhadap sesama kaum kangouw,"
Potong Kuo Se Fen.
"Harap hiante janganlah berlaku sungkan."
"Budi ini siauwte tidak akan melupakan untuk seumur hidup !"
Kemudian Kang Han Cing memakan santapan itu, memang ternyata masakannya sangat lezat dan wangi, sebentar saja ia menghabiskan makanan itu sampai bersih.
Kuo Se Fen menjadi mesem melihatnya sambil mengelus jenggotnya ia berkata lirih.
"Ada sesuatu yang hendak kutanyakan pada hiante......"
"Silahkan susiok !"
Jawab Kang Han Cing.
"Selagi ayah hiante masih hidup, pernahkah ia menyebut2 nama Tian Hung totiang ?"
Setelah berpikir sejenak, Kang Han Cing berkata .
"Sedari kecil siauwte sering sakit, maka selama itu tinggal dirumah nenek, hingga nenek meninggal pada tahun yang lalu, baru hiante pulang kembali kerumah. Tapi belum pernah mendengar ayah menyebut2 diri Tian hung totiang."
Tapi tiba2 ia teringat sesuatu maka sambungnya .
"Oh ya ! hampir siauwte lupa, pada tahun yang lalu, ketika ayah merayakan ulang tahunnya yang kelima puluh, ada seorang hwesio kecil mengantarkan dua butir pil obat yang katanya adalah antaran dari Tian-hung totiang."
Mendengar keterangan itu Kuo Se Fen tertawa girang .
"Ha Ha! tidak salah lagi pil obat itu tentu adalah Lin ci tan."
"Apakah Lin ci tan itu sangat berharga ?"
Tanya Kang Han Cing.
"Menurut kabar pada beberapa tahun yang lalu Tiang hung totiang dengan sangat kebetulan mendapatkan dua buah Sia lianci (kembang terate salju) yang telah berusia lima ratus tahun diatas gunung Tian san, belakangan diatas gunung Huang San ia mendapatkan sebatang pohon Lin Ci pula. Hatinya sangat girang mendapatkan kedua pusaka yang luar biasa berharganya itu, setelah memakan waktu beberapa tahun lamanya, dengan mencampurkan bahan2 obat lain, akhirnya ia berhasil mengolah jadi sekwali banyaknya obat yang diberi nama Lin ci tan. Pada mulanya ia beranggapan bahwa obat yang ia bikin itu yaitu Lin ci tan tentu mempunyai khasiat membuat orang yang memakannya tidak bisa mati, akan tetapi setelah ia coba beberapa kali dengan memakan obat pil itu, ternyata dugaannya meleset, karena kenyataan pil itu hanya bisa untuk menambah tenaga dalam serta membuat orang yang memakannya panjang umur saja. Walaupun demikian, ia tetap menganggapnya sebagai barang pusaka, dan tidak sembarang orang ia berikan. Ia telah memberikan dua butir kepada ayah hiante inipun sangat beruntung."
Mendengar cerita Kuo Se Fen, Jen Pek Coan tertawa dan turut bicara .
"Dari sini kita menarik kesimpulan bahwa hubungan persahabatan antara Tian hung totiang dengan Kang Siang Fung almarhum tentu sangat erat."
Kuo Se Fen memanggut serta ucapnya.
"Syukurlah kalau demikian adanya, aku kuatir setibanya di Pak yun kuan nanti kedatangan kita akan ditolaknya mentah-mentah."
"Bagaimanakah tabiatnya Tian hung totiang itu ?"
Tanya Kang Han Cing.
"Sebenarnya ia adalah suhengnya Tian yen totiang dari gunung Lo san. Seharusnya ia adalah ahli waris dari golongan Losiantu, karena se-hari2 ia kecanduan dan mabok dalam ilmu pengobatan saja, maka ia menolak untuk menggantikan kedudukan suhunya sebagai ketua dari golongan Lo san itu. Setelah suhunya wafat, dia menghilang tanpa bekas. Hingga duapuluh tahun kemudian, baru ada orang menemukan sebuah biara di suatu lembah gunung yang sunyi, gunung Pek siak san. Di sekeliling biara itu terdapat tanaman pohon-obat dan akhirnya baru diketahui bahwa kaucu dari biara itu adalah Tian hung totiang."
Kuo Se Fen menghentikan ceritanya sejenak, menenggak air teh kemudian sambungnya pula.
"Ia mempunyai tabiat yang aneh, selalu mengasingkan diri dari pergaulan dan juga sangat jarang berkecimpungan dalam dunia kangouw. Walaupun ia mahir dalam ilmu obat2an karena memang sepanjang hidupnya digunakan untuk memperdalam pengetahuan dibidang pengobatan, tapi jarang sekali mau mengobati orang. Alasannya ia tidak mau sampai terlibat dalam suka dan duka dunia kangouw. Dahulu, ketua golongan Pat kuat men yang bernama Men Ku Hun Ce terluka oleh ilmu pukulan Hian yin kiu coan cang, pernah mendatanginya untuk minta pengobatannya, tapi Tiang hung lotiang menolak dan tidak mau menemuinya."
"Menurut ceritera kaum bulim, walaupun pada waktu itu Thian-hung totiang tidak mau menemuinya, tapi anak murid Ku Hun Cu itu berhasil mendapatkan obat Kiu-coan-huan hun-cau dari kamar penyimpanan obat Pak yung koan itu. Sebenarnya ini adalah atas petunjuk Tian hung totiang sendiri yang diberikan secara diam2. Betapa tidak, seorang anak murid golongan Pat kuat-men, mana bisa mengenali serta mengetahui obat untuk menyembuhkannya itu ?"
Selak Jen Pek Coan.
"Pergaulan susiok sangat luas, entah apakah kenal dengan Tian hung totiang itu ?"
Tanya Kang Han Cing. Kuo Se Fen menggeleng kepala serta sahutnya .
"Telah lama aku mendengar namanya tapi belum pernah melihat orangnya."
"Kalau memang tabiatnya dingin dan angkuh, maka terhadap siauwtepun tentu ia tidak mau mengobatinya."
Kata Kang Han Cing mengeluh.
"Sayang Than Hoa Toh telah ditawan oleh lengcu panji hitam, kalau tidak, ia pun seorang ahli dalam ilmu pengobatan. Kini selain Tian hung totiang, aku belum terpikir siapa pula yang dapat menyembuhkan penyakit hiante. Kali ini kita pergi kesana, sebenarnya aku pun tidak berani memastikan bahwa Tian hung totiang mau memberi pertolongan. Tapi bila mengingat ketika ayah hiante berulang tahun ia ada memberikan dua butir pil Lin ci tan, tentu ia mempunyai hubungan yang sangat baik dengan ayah hiante, kalau tidak, mana mungkin ia mau mengantarkan barang yang dianggapnya pusaka itu sebagai kado? Maka dari itu hal ini sedikit banyak telah membesarkan hatiku."
Setelah tiba di luar kota, nampak terdapat sebuah kereta kuda dipinggir jalan.
Mereka melabuhkan perahu dan kemudian ganti naik kereta itu, langsung melarikannya ke barat menuju kota An Wie.
Gunung Pek siak-san terletak dekat sebelah utara kota Tung-seng.
Ada juga orang yang menyebutnya Kuo-siak-se.
Puncak gunung itu sangat tinggi dan curam.
Untuk menuju keatas gunung harus melalui lorong jalan yang kecil sempit dan penuh dengan batu karang dikiri kanannya.
Kereta itu dikemudikan oleh si tangan sakti Jen Pek Coan.
Walaupun jalanan itu sempit serta berbahaya, tapi ini tidak membuat ia merasa sulit dan takut.
Ia melarikan kereta itu dengan sangat cepatnya diatas jalanan gunung yang berliku-liku.
Selain kedua matanya mengawasi jalanan, ia juga meng-amat2i disekelilingnya, untuk mengetahui keadaan dari pegunungan yang sunyi itu.
Hatinya merasa lega karena tidak nampak sesuatu yang mencurigakan hingga perjalanan mereka tidak terganggu.
Menjelang tengah hari, mereka telah sampai dekat kaki gunung Pek-siak-san dan menitipkan kereta kuda itu pada seorang penghuni disitu.
Kemudian mereka mendaki gunung dan Goan Tian Hoat menggendong Kang Han Cing untuk mempercepat waktu.
Pemandangan sekitar gunung itu sangat indah menakjubkan, disini-sana penuh dengan perumputan yang baru tumbuh, hingga gunung itu seperti dihiasi oleh selimut hijau menyegarkan.
Udara tidak begitu panas, karena musim semi belum berganti, angin meniup sepoi2 dengan sejuknya membuat perjalanan mereka tidak merasa lelah.
Pegunungan Pek-siak-san menjulang tinggi dan berjejer dari arah timur ke barat, nampak seperti sebuah rantai raksasa terpentang diatas jagat.
Setengah jam kemudian, mereka telah tiba disebuah lembah yang mulai penuh dengan batu2 karang, batu2 itu meruncing dan tinggi, jalanan kini bertambah sulit, penuh bahaya, tapi bagi yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi seperti mereka, hal ini tidaklah berarti apa2.
Walaupun berjalan diatas batu karang yang runcing, mereka tetap seperti berjalan diatas tanah datar saja.
Tidak lama kemudian, tibalah mereka di ujung lembah.
Nampak Kuo Se Fen berhenti sejenak, sambil menunjuk keatas puncak gunung, ia berkata .
"Disebelah kiri dari puncak gunung itu terdapat sebuah jurang yang berhubungan dengan gunung lainnya, dan disitulah letaknya lembah Pak Yun Siak."
Mereka mendongak keatas dan nampak puncak gunung itu menjulang tinggi keangkasa, seperti sebuah tiang besar yang menancap keatas langit.
Batu karang dari puncak itu licin dan rata seperti diraut saja dan penuh dengan kabut hingga tidak kelihatan ujungnya.
"Apakah Pak Yun Koan terletak dalam kabut itu?"
Tanya Jen Pek Coan.
"Ya. Menurut kata orang, ada beberapa macam tetumbuhan obat2an yang harus ditanam dalam tempat yang sangat dingin. Puncak gunung itu sepanjang masa tertutup oleh kabut, hanya pada jam duabelas tengah hari, kabut bisa dibuyarkan oleh sorotan sinar matahari. satu jam kemudian, kabut itu menebal kembali. Maka Tian Hung totiang memilih puncak itu untuk mendirikan Pak Yun Kuan."
"Menurut cerita orang, dulu ada seorang berkepandaian tinggi dari golongan hitam yang pernah ditolong olehnya kemudian ia insyaf dan menjadi pembantunya untuk menjaga kelentingnya, melarang kaum bulim memasuki Pak Yun Siak, kita........"
"Ia adalah si muka angker Oey Can Hoa. Tapi kaum bulim tidak ada seorangpun yang mengenal, mungkin nama itu hanyalah samaran saja."
"Apakah ilmu kepandaiannya luar biasa ?"
Tanya Goan Tian Hoat.
"Menurut cerita, tidak ada orang yang bisa bertahan sampai sepuluh jurus melawannya."
Sebentar saja mereka telah tiba dikaki puncak gunung, begitu menuju kearah kiri, tiba2 dari balik sebuah batu besar terdengar suara tegoran.
"Tunggu dulu !"
Nampak keluar dua orang laki2 pertengahan umur berbaju biru menghadang didepan mereka. Setelah mengamat-amati diri mereka, laki2 yang berdiri disebelah kiri menanya sambil menjura.
"Apakah kalian hendak menuju ke Pak-yun kuan ?"
Kuo Se Fen balas menghormat dan sahutnya .
"Ya. Kalian adalah........"
"Kalian tidak usah kesana, karena Kuancu sedang bepergian."
Ucap laki2 sebelah kanan. Kuancu adalah panggilan kepada seorang penanggung jawab kelenteng, disini berarti ketua kelenteng Pak yun kuan. Mendengar keterangan itu Kuo Se Fen agak tercengang, katanya .
"Kuancu sedang bepergian ?"
Tiba2 terpikir olehnya, bukankah Lie Kong Tie sedang berobat disana ?
Mana mungkin Tian hung totiang pergi meninggalkannya, tentu ini hanya alasan belaka.
Maka kemudian ia berkata sambil mengelus jenggot .
"Ha, Ha ! Pinto dengan dia adalah kenalan lama, karena keponakan sakit berat, maka pinto mengantarkan kesini untuk minta pertolongannya. Kalau ia sedang pergi, biarlah pinto menunggu."
Kedua orang itu agak tercengang, seperti ada sesuatu kesukaran, hingga hanya bisa memandangi diri Kuo Se Fen, sambil menjura, laki laki sebelah kiri itu berkata .
"Setelah sebulan ia baru kembali, lebih baik nanti datang pula."
Mendengar ia sebutkan waktunya maka hati Kuo Se Fen menjadi curiga, katanya .
"Pinto datang dari jauh, sebulan tidak begitu lama, lebih baik pinto tunggu disini saja."
Wajah kedua orang itu jadi berubah, mereka saling berpandangan, karena merasa serba susah.
"Harap loenghiong bisa memaafkan, sebenarnya kami mendapat tugas untuk melarang siapapun memasuki lembah dalam sebulan ini. Walaupun loenghiong adalah kawan baiknya juga tidak ada terkecuali."
Hati Kuo Se Fen menjadi panas dan sengit, katanya dengan suara tertekan .
"Siapa yang menugaskan kalian ?"
"Sudah tentu atas perintah Kuancu."
Sahut laki laki sebelah kanan dingin. Dengan memandang tajam Kuo Se Fen berkata .
"Kalian bukan orang Pak Yun Kuan."
Wajah mereka berubah merah, ucap laki2 sebelah kanan itu sengit .
"Kami hanya jalankan perintah, lebih baik kalian balik kembali."
"Ha, Ha, Ha, Ha ! Kalau pinto tetap pergi kesana?"
Kedua laki2 itu mundur setindak, sahutnya.
"Boleh cobalah kalau memang hendak berkeras kepala !"
Lalu mereka mencabut senjata masing2, ternyata senjata orang yang sebelah kiri adalah sepasang kaitan yang lainnya adalah sepasang tongkat pendek.
Melihat senjata mereka, hati Kuo Se Fen bisa menduga siapa adanya mereka ?
Karena senjata sepasang kaitan, sepasang tongkat pendek beserta sepasang cambuk dan sepasang garpu merupakan empat pasang senjata terkenal yang digunakan olah empat pengawal keluarga Lie di Ho Peh.
Kedua orang itu bukan orang Pek yan-koan !
Mereka adalah anak murid dari keluarga besar Lie.
Keluarga Lie adalah salah satu dari 4 datuk persilatan dimasa itu.
Ketuanya terluka dan meminta obat di Pek-yan-koan.
Mereka melarang orang mengganggu !
Tapi Kuo Se Fen tidak mau membuka kedok mereka, ia hanya mengerutkan kening saja.
Jen Pek Coan tidak sabar lagi, sambil menudingkan senjata pipa rokoknya berkata sengit .
"Kalian berkacalah dulu apakah ada kemampuan berngomong besar ?"
Tiba2 tubuhnya mencelat setindak, sambil memukulkan pipa rokoknya kearah pundak laki2 sebelah kiri.
Laki2 itu cepat menangkis serangan dengan kaitan yang berada ditangan kiri, disaat yang bersamaan, tangan kanannya menyabet kearah pinggang lawan.
Senjata yang digunakan oleh Jen Pek Coan bukanlah hanya pipa rokok saja, karena tempat bako yang tergantung dipipa itu pun ternyata dibuat dengan bahan besi, sebenarnya pukulannya tadi hanyalah pancingan saja.
Hatinya girang karena pancingannya berhasil, begitu lawannya menangkis, tubuhnya mencelat tinggi dan tempat bako itu memukul keras ke kaitan lawan.
"Tranggg...."
Laki itu merasa tangannya panas dan kesemutan, cepat ia melompat kebelakang. Jen Pek Coan tertawa girang, berbarengan telapak tangannya memukul kearah laki2 sebelah kanan.
"Wutt"
Sungguh luar biasa angin pukulan yang mengandung tenaga sinkang sangat besar itu, laki2 itu dapat merasai betapa hebatnya pukulannya hingga ia tidak berani menangkis, hanya mengelak dengan miringkan sedikit tubuh saja.
Sebetulnya ilmu kepandaian kedua laki2 itu juga tinggi karena dalam segebrakan saja Jen Pek Coan telah dapat membuat mereka terdesak, hingga mereka dibuat melongo.
Sebentar saja mereka menjadi tenang kembali dan dengan membentak keras maju menyerang pula.
"Trang......Trang....."
Dengan tenang Jen Pek Coan menyambut senjata kedua lawannya itu, pipa dan tempat bako itu menyambar kesini kesana dengan disertai angin pukulan sangat dahsyat, hingga berulangkali terdengar suara aduan senyata.
Kuo Se Fen hanya mesem sambil mengelus-eluskan jenggotnya yang panjang, ia menontonnya dari pinggir.
Kang Han Cing sudah diturunkan dari gendongan, duduk diatas sebuah batu karang.
Sebentar saja mereka telah bertanding puluhan jurus.
Nampak gerakan Jen Pek Coan makin lama makin cepat hingga tubuhnya terkurung oleh gulungan putih.
Ia mendesak terus kedua lawannya itu dengan pukulan2 serta totokan2 yang luar biasa.
Serangannya sungguh membuat kedua lawan itu kualahan dan dibikin tidak berdaya.
Walaupun kedua orang itu masing2 mempunyai sepasang senjata, tapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang, hanya bisa mengelak dan menangkis, hingga acap kali terdengar suara benturan senjata yang disertai percikan-percikan kembang api.
Tiba2 terdengar suara 'Pek, Pek', nampak seekor burung dara warna kelabu terbang ke luar dari balik batu karang yang kemudian lenyap kearah lembah itu.
Melihat itu, hati Kuo Se Fen menjadi curiga.
Benar saja, terlihat olehnya dari belakang batu karang itu berkelebat dua bayangan hitam yang cepatnya bagaikan burung elang menyambar anak ayam.
Dua bayangan itu dalam sekejap saja telah ikut mengeroyok Jen Pek Coan.
Ternyata kedua orang itu adalah laki-laki yang masing2 menggunakan senjata sepasang cambuk dan sepasang garpu besar.
"Suhu, mereka adalah dari......?"
Bisik Goan Tian Hoat.
Belum habis bisikannya cepat Kuo Se Fen mengedipkan matanya mencegah ia meneruskan kata-katanya.
Nama keluarga Lie pantang disebut.
Mendapat bantuan baru, kedua orang itu jadi mendapat angin.
Mereka bukanlah kaum bulim yang rendahan, tapi masing2 mempunyai ilmu kepandaian tinggi.
Begitu mereka bergabung dan mengeroyok Jen Pek Coan, bagaikan tembok besi, terus mendesak lawannya dengan hebat.
Melihat jisutenya dikeroyok hingga terdesak hebat, hati Kuo Se Fen menjadi panas.
Ia mengerutkan keningnya, memandang Goan Tian Hoat dan berkata .
"Tian Hoat, aku akan menggantikan susiokmu, jagalah Kang hiantite baik-baik !"
Ia mencabut senjatanya, ucapnya pula .
"Jisute, kau ngasolah dahulu, serahkan mereka padaku !"
Hati Jen Pek Coan gelisah, ia masih penasaran karena bertempur sekian lama belum juga berhasil, bahkan dirinya malah terdesak hebat.
Betapa tidak, keempat orang itu sebenarnya hanyalah bujang dari keluarga Lie di Ho Peh, karena telah bekerja lama, hingga mendapat kepercayaan keluarga Lie untuk sekedar diberi pelajaran ilmu silat.
Walaupun demikian, karena yang mereka dapatkan adalah ilmu silat tinggi, maka dalam dunia kangouw diri merekapun disegani oleh kaum bulim, hingga mendapat julukan empat jendral keluarga Lie.
Jen Pak Coan menyadari bila dapat menundukkan keempat bujang keluarga Lie ini juga bukan hal yang boleh dibanggakan.
Toasuheng adalah ketua dari suatu partay besar dan berpengaruh, tidaklah pantas serta memalukan kalau sampai turun tangan sendiri menghadapinya.
Maka terhadap ucapan suhengnya, ia pura-pura tidak mendengar, sambil mengertakkan gigi, ia mempercepat gerakannya untuk balas menyerang lawan dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Dalam hati, bukan ia tidak tahu dirinya tidak akan bisa memenangkan pengeroyokan ini, untuk memukul mundur desakan empat orang itu pun sangat sulit.
Tapi tiba2 ia dapat merasai laki2 yang bersenjata sepasang cambuk itu serangannya berobah kendor.
Bagi kaum bulim yang telah berpengalaman seperti Jen Pak Coan, kesempatan ini tidak disia-siakan, cepat ia memutar tubuhnya, sambil mengulurkan senjata kearah dada lawan.
Laki2 bersenjata sepasang cambuk tidak menyangka kepada gerakan lawan yang begitu cepat, maka ia tidak keburu untuk bisa mengelak.
"Buk !"
Dadanya kena ditotok, hingga ia terpental kebelakang, robohnya tidak bisa ditawar.
Kawannya yang bersenjata sepasang tongkat hendak menolong, tapi terlambat.
Dengan membentak marah ia menghadang dengan senjata disimpangkan.
Melihat serangannya berhasil, Jen Pak Coan jadi bersemangat.
Tiba-tiba ia merasa ada endusan angin menyerang bagian belakang tubuh, cepat ia membalik, berbareng menangkis dengan memakai tempat bako itu kearah datangnya serangan.
"Trangg......."
Ternyata yang menyerangnya adalah si laki2 bersenjata sepasang garpu, karena senjatanya terpukul oleh senjata musuh, hingga jari tangannya terasa sakit, tubuhnya terpental kebelakang.
Ketika terpental, karena kedua lengannya terasa kesemutan hingga laki2 bersenjata sepasang garpu itu tidak dapat mengangkat senjata untuk berjaga diri.
Sebenarnya tidak mungkin laki2 itu tidak mengetahui kalau dirinya terbuka lowongan yang dapat mendatangkan bahaya.
Dikata hendak memancing lawannya pun bukan !
Ketika tadi, disaat ia memukul senjata lawan, Jen Pak Coan hanya bermaksud untuk menangkis serta memukul mundur serangan orang itu baru kemudian balik menghadapi dua orang lainnya.
Sungguh ia tidak menduga kalau lawan yang terpental itu tidak berjaga diri dengan senjatanya.
Walaupun hanya dalam sekejap, tapi ia tidak mau me-nyia2kan kesempatan baik, maka sambil menangkis, tubuhnya menerobos dari rintangan senjata dua orang lainnya, dengan jurus Anak Panah Menerobos Awan, ia menerjan maju, dengan menudingkan pipa rokok yang terbuat dari baja murni.
Terhadap serangannya laki2 itu bagai orang yang sedang melamun, tidak mengelak atau menangkis hingga pundaknya kena tertotok, senjata yang dipegangnya terlepas dan ia jatuh duduk seperti balon kempes.
Kejadian ini sungguh diluar dugaan siapa pun.
Jen Pak Coan sendiri juga tidak menyangka, dalam sekejap mata, ia bisa merobohkan dua orang lawan sekaligus.
Ia tertawa girang, lalu dengan sangat cepat, tubuhnya mencelat dan menyerang kearah laki2 yang bersenjata sepasang kaitan.
Melihat ia berhasil merobohkan dua orang rekannya dalam segebrakan, hati laki2 itu jadi merasa jeri, maka begitu kini dirinya diserang, ia jadi kelabakan gugup, seperti tersandung, ter-huyung2 hendak mengelak, tapi sial nasibnya, karena senjata lawan telah berhasil bersarang diatas pinggang, gedubrakk ........
Dia juga jatuh.
"Ha, Ha, Ha, Ha ! Tidak disangka si empat jendral dari keluarga Lie hanya mempunyai nama kosong belaka !"
Jen Pak Coan tertawa mengejek.
Ia telah lupa bahwa dirinya barusan terdesak hebat serta dibuat kualahan oleh si empat jendral dari keluarga Lie.
Melihat tiga rekannya telah dibikin tidak berdaya, hati laki2 yang memegang senjata sepasang tongkat itu jadi terkejut serta gelisah.
"Akan kuadu jiwa denganmu !"
Bentaknya serta tubuhnya menerjang maju sambil memukul sepasang tongkatnya ke atas kepala lawan, ia menyerang tanpa memperdulikan dirinya seperti orang yang telah kalap lupa daratan, kedua tongkat itu dimainkan dengan sangat gesitnya, hingga tubuhnya lenyap dalam gulungan putih yang terus mendesak kearah diri lawannya.
Menghadapi serangan yang kalap itu hati Jen Pek Coan jadi terkejut, tubuhnya berkelebat kesamping menyerang serta mengancam lawannya dengan menghujani totokan2 kearah jalan darah bagian pundak serta bawah pusar laki2 itu.
Tadi ketika sutenya dikeroyok hingga terdesak hebat, hati Kuo Se Fen merasa cemas serta kuatir.
Ia hendak maju turun tangan sendiri.
Tapi ternyata sutenya tidak mau digantikan serta mengundurkan diri, maka ia hanya bisa mengawasi pertandingan itu dari samping.
Karena untuk menghadapi keempat lawannya itu sebagai seorang ketua dari suatu partay yang besar, ia tidak mau turun berbareng dengan sutenya.
Di luar dugaannya dalam sekejap saja, suteenya berhasil merobohkan tiga orang pengeroyoknya.
Hatinya merasa heran dan tidak bisa mengerti, karena kalau dilihat dari ilmu kepandaian empat jago keluarga Lie itu, tidak mungkin Jen Pek Coan dapat memenangkannya demikian mudah.
Kalau untuk menghadapi dua orang diantaranya bagi jisutee bukanlah hal yang sulit, tapi dikeroyok oleh empat orang, jangankan bisa memenangkan, untuk mempertahankan diripun tidak gampang.
Pandangan mata Kuo Se Fen menoleh ke kiri kanan, tapi tidak nampak ada sesuatu yang mencurigakan.
Mungkinkah kemenangan Jen Pek Coan mendapat bantuan gelap?
Kini pertempuran kedua orang itu bertambah hebat, walaupun senjata pipa rokok Jen Pek Coan berukuran pendek, karena gerakannya sangat cepat, hingga se-olah2 lawannya terkurung oleh bayangan kelebatan senjatanya.
"Berhenti !"
Tiba2 terdengar suara seruan orang dari dalam lembah muncul dua bayangan orang mendatangi.
Ketika dari balik batu karang beterbangan keluar seekor burung dara kelabu, dalam hati Kuo Se Fen telah menduga kemungkinan ini, maka munculnya dua bayangan itu tidak terlalu mengejutkan.
Ia menoleh kearah dua orang itu, mereka mengenakan pakaian berwarna kelabu, memakai ikat pinggang yang lebar dan sepatu yang umumnya digunakan untuk jalan jauh.
Kedua orang itu mempunyai tampang yang brangasan.
Orang yang berdiri disebelah kiri mempunyai bentuk tubuh yang tinggi besar, paras mukanya panjang seperti kuda, diatas pundaknya terselip sebuah pedang lebar.
Yang satunya bertubuh sedang dan wajahnya kuning keijo2an, diatas pinggangnya terselip dua potong tombak.
Setelah mengetahui jelas orang yang baru muncul itu, Kuo Se Fen jadi mengerutkan kening.
"Sepasang jago dari gunung yea san !"
Kuo Se Fen mengeluh didalam hati.
Benar saja orang dari keluarga Lie pula !
Mungkin bentrokan dengan keluarga Lie dari Ho Peh tidak dapat dielakan.
Hati ketua Hay-yang pay mengeluh.
Memang tidak salah, mereka adalah Yen San Suang Kiat yang merupakan pembantu terpercaya dari datuk persilatan Lie Kuan Tie.
Si muka kuda bernama Gan Bun Hui, ia adalah anak murid dari golongan Pat Kuat Men, ilmu kepandaian sangat tinggi dan ilmu silat Liong Hui Pat Kuat Kiam yang ia pelajarinya jarang mendapatkan tandingan.
Si muka kuning itu bernama Yang Si Kiat.
Ilmu silat "I Kang Yang Ka Ciang"
Yang dipermainkannya pun sangat hebat, sangat disegani oleh kaum bulim.
Mendengar seruan mereka, kedua orang yang sedang bertempur itu lalu berhenti.
*** Bab SETELAH mengamat-amati Kuo Se Fen serta Jen Pek Coan, si muka kuda Kang Bun Hui jadi tergetar hatinya lalu ia memberi hormat dengan mengepalkan kedua tangannya, katanya .
"Bukankah kalian adalah Kuo tayhiap dan Jen jihiap, dua pendekar yang sangat menggetarkan daerah utara ?"
Melihat ia dapat mengenali dirinya, Kuo Se Fen pun tidak berlaku sungkan pula, dengan wajah pura2 merasa heran ia membalas hormat .
"Aku Kuo Se Fen memberi hormat pada kalian ! Kalian tentu adalah Yen San suang kiat !"
Setelah membebaskan ketiga orang yang kena totokan itu, Yang Si Kuat memandang ke arah Jen Pek Coan, katanya .
"Jen jihiap, sungguh hebat ilmu totokanmu."
"Sungguh memalukan kepandaianku yang tidak seberapa ini sangat minim sekali, orang2 yang kukalahkan tentunya adalah si empat jendral dari keluarga Lie."
"Kalian sudah tahu !"
Saut laki bersenjata sepasang tongkat itu sengit.
"Mengapa masih meneruskan tangan jahat itu ?"
Sorot mata Jen Pek Tioan berkelelepan, katanya tertawa .
"Aku tidak tahu, apakah yang kau bilang baik itu ?"
Alis Kan Bun Hui berkerut, sambil menghormat ia berkata .
"Kuo tayhiap, Jen jihiap, kalian jauh2 datang kesini, apakah mempunyai urusan penting ?"
Dengan berpaling dan menunjuk pada diri Kang Han Cing dan Goan Tian Hoat yang sedang duduk diatas batu karang, Kuo Se Fen berkata .
"Gan toako bertanya, akupun tidak perlu menutup-nutupi hal ini, mereka berdua adalah keponakanku. Yang tua bernama Ong Ka Siong, pada tiga bulan yang lalu ia kena dicelakai oleh orang hingga mendapat cidera dalam, karena telah berobat ke mana2 belum juga sembuh, maka aku sendiri mengantarnya untuk minta pertolongan pada Pak Yun Kuan koancu."
Mendengar keterangan Kuo Se Fen, wajah Gan Bun Hui nampak serba susah, ia menoleh pada Yang Si Kiat lalu ucapnya .
"Sayang kedatangan Kuo taihiap ini terlambat !"
Kuo Se Fen memang telah menduga, tentunya mendapat jawaban yang seperti itu, tapi ia pura-pura tercengang dan tanyanya kemudian .
"Gan toako, mengapakah terlambat ?"
"Tian hung totiang sedang keluar, belum pulang kembali."
Kuo Se Fen ketawa getir dan sahutnya .
"Barusan, dari keterangan keempat pengurus keluarga Lie, aku telah mengetahui. Biarlah ! Aku hendak menunggu, karena disamping hendak minta pertolongannya, aku telah lama kangen dan ingin ketemu."
"Ini sungguh membuat diriku serba susah,"
Ucap Gan Bun Hui.
"Apa yang membuat kalian merasa serba susah ?"
"Kuo taihiap mungkin tidak mengetahui bahwa Lie coancu kini sedang berobat dan untuk ini tidaklah boleh terganggu."
Hati Jen Pek Coan menjadi panas tapi ia tahan kemarahannya.
"Ha, Ha ! Memang aku ada mendengar bahwa Lie coancu sedang berobat disini tapi ini bukan urusanku. Dan kami pun tidak akan mengganggunya."
Ucap Kuo Se Fen dengan mengelus jenggot.
"Selama Lie coancu ada disini siapapun tidak boleh memasuki Pak Yun Kuan !"
Ujar Yang Si Kiat dingin. Jen Pak Coan tidak dapat menahan hati sahutnya sengit .
"Peraturan siapakah ini? Apakah Pek Yun Kuan kepunyaan keluarga Lie?"
"Jite kau diam saja."
Ucap Kuo Se Fen pelahan lalu ia menjura pada kedua orang itu.
"Lie coancu dan kami masing2 mempunyai urusan sendiri dan tidak ada hubungannya. Sesama kaum bulim segalanya mudah dirundingkan."
Gan Bun Hui balas menghormat, katanya .
"Harap Kuo tayhiap Jen jihiap bisa memaklumi soal ini."
Kuo Se Fen mengetahui bagaimana omong pun tidak ada guna, katanya dengan sabar .
"Ha, Ha ! Dari jauh2 aku kesini, apakah harus pulang kembali hanya karena Lie cuancu ? Katakanlah, bagaimana sebaiknya ?"
Gan Bun Hui bukan tidak mengerti arti dari kata2nya. Sambil menjura ia berkata .
"Kami yang rendah mana berani menghalang-halangi seorang ketua suatu partay besar yang disegani didaerah Hay yang. Harap Kuo tayhiap maklum, karena kami hanya menjalankan tugas untuk menjaga serta melarang siapapun memasuki Pek Yun Siak. Bagi Kuo tayhiap, hanya ada satu jalan, yaitu harus mengalahkan kami supaya tidak disalahkan Lie cuancu."
Lie cuancu adalah sebutan yang lazim kepada Datuk Persilatan Lie Kuan Tie "Kalau memang tidak ada jalan lain, terpaksa kami menuruti kehendak kalian !"
"Harap Kuo tayhiap dapat memaafkannya !"
"Ha, Ha ! Janganlah Gan toako berlaku sungkan. Entah bagaimanakah caranya ?"
"Kita bertanding ? Satu lawan satu ?"
"Baiklah ! Silahkan keluarkan senjata."
Lalu Kuo Se Fen keluarkan golok pusaka. Gan Bun Hui turut mencabut pedang, serta mendongakan didepan dada memberi hormat .
"Silahkan Kuo tayhiap !"
"Silahkan Gan toako mulai !"
Melihat lawannya tidak mau menyerang dulu, Gan Bun Hai pun tidak berlaku sungkan, menusukan pedang lebarnya, yang diarah pundak lawan.
Melihat gerakan serangan lawan itu, dalam hati Kuo Se Fen dapat menduga, ini hanya untuk menunjukan bahwa ia tidak mempunyai maksud bermusuhan dengan dirinya.
Ia maju setindak sambil mengelak lalu dengan gerakan yang gesit ia putarkan senjatanya menyerang kesisi tubuh lawan.
Gan Bun Hui cepat memutar tubuh dan menangkis dengan pedang dipalangkan keatas berbarengan pedangnya tiba2 meluncur ke arah iga kanan lawan.
Walau baru dua gebrakan Kuo Se Fen telah dapat merasai betapa hebatnya ilmu pedang dari anak murid Patkuat Men ini.
Maka ia tidak berani memandang enteng lawannya.
Dengan sebilah golok Yah Ling To di-tangan, Kuo Se Fen memainkan ilmu silat "Kiu Kung To Hoat"
Dari Hay-yang-pay yang hebat.
Berkelebatnya sinar golok yang kesana-sini, bagai amukan badai, menderu deru diudara, disertai deruan angin dingin mengancam lawannya.
Menghadapi ketua Hay-yang-pay yang namanya telah menggetarkan daerah Kang Hai itu, Gan Bun Hui pun tidak berani memandang enteng, maka terpaksa ia keluarkan ilmu silat "Liong Sin Pat Kuat Kiam Sut"
Yang tidak sembarang digunakan untuk mengimbangi ketangguhan lawannya.
Seperti seekor naga menari, tubuhnya bergerak cepat, dengan putarkan pedangnya.
Sebenarnya pedangnya bukan diputarkan, melainkan dikibaskan, menurut bentuk pat kuat atau delapan persegi, karena gerakannya cepat luar biasa hingga bila dilihat seperti bundaran.
Sedangkan langkahan kakinyapun menurut pat kuat.
Mereka bertanding dengan seru dan hebat!
Puluhan jurus telah liwat tapi belum juga kelihatan mana yang lebih unggul.
Melihat kawannya bertanding, tangan Yang Si Kiat jadi gatal, ia mencabut senjatanya yang berupa sepasang tombak pendek, kemudian disambungkan hingga menjadi sebuah tombak panjang yang berkepala dua.
"Ngung.........."
Ia putarkan tumbaknya diudara, bagaikan roda jari2 berputar siam, senjatanya menjelma jadi suatu lingkaran putih.
"Jen jihiap, marilah kitapun menguji kepandaian !"
Tantangnya memandang enteng.
Melihat orang memandang enteng pada dirinya, hati Jen Pek Coan jadi panas, betapa sombongnya orang ini, kalau tidak diberi pelajaran, tentu tidak tahu diri dan memandang enteng pada Hay-yang-pay.
Tapi ia senyum2 saja, sautnya .
"Ha, Ha ! Terserahlah ! Kalau Yang toako menghendakinya !"
Yang Si Kiat menudingkan tombaknya, katanya dingin .
"Silahkan Jen jihiap !"
Pelan2, dari pinggangnya Jen Pek Coan keluarkan pipa rokok itu, ucapnya .
"Silahkan Yang toako !"
Melihat senjata pipa yang demikian pendek, Yang Si Kiat semakin memandang enteng, maka katanya mengejek .
"Apakah Jen jihiap memakai pipa rokok itu sebagai senjata ?"
Jen Pek Coan mengangkat-angkat bahunya .
"Sudah sepuluh tahun aku menggunakan pipa rokok, belum pernah ada kekurangan apa2. Tapi kalau dibandingkan dengan tombak Yang toako, agaknya terlalu pendek."
"Lebih baik Jen jihiap ganti senjata yang lain saja !"
"Pendek sedikit tidaklah menjadi soal. Walaupun pendek, asal bisa dipakai."
"Dalam pertandingan tentu akan timbul korban, hanya janganlah Jen jihiap kuatir, aku tidak akan merengut jiwamu paling hanya melukaimu."
Ucap Yang Si Kiat dingin. Mendengar ucapannya ia tidak menjadi marah, hanya menyahut dengan menjura.
"Banyak terima kasih atas kemurahan hati Yang toako !"
"Hati2lah !"
Tiba2 tombaknya berputaran berobah menjadi sebuah lingkaran putih, berkilauan menerjang ke-diri Jen Pek Coan.
"Trangg..."
Jen Pek Coan menyambarkan senjatanya, hingga dua senjata beradu, mengeluarkan suara keras. Dirinya terhuyung, nampak seperti terdorong oleh getaran senjata yang amat keras tadi.
"Ha, ha! Hanya demikianlah kehebatan si telapak sakti yang kesohor ini,"
Ejek Yang Si Kiat dingin.
Ia jadi lebih memandang enteng, timbul nafsunya untuk bisa menundukan lawan dalam waktu yang cepat.
Ia menerjang lawannya pula, menghujankan tusukan2 yang sangat gencar.
Melihat lawan masuk perangkap, Jen Pek Coan merasa girang, cepat tubuhnya direndahkan kebawah dengan miring sedikit, ia mencelat maju nampak suatu bayangan hitam bagaikan kecepatan bintang jatuh dari langit meluncur kearah dada Yang Si Kiat.
Serangannya sungguh diluar dugaannya, hatinya sangat terkejut, karena ia dapat merasai berkelebatnya suatu bayangan mengancam dadanya.
Untuk mengelak sudah tidak mungkin, maka cepat ia tangkis dengan tombak dipalangkan depan dada.
"Trangg.............."
Serangan tempat bakonya dapat tertangkis hingga lagi2 terdengar beradunya senjata yang keras.
Pundak Yang Si Kiat terasa sakit dan nyeri, ia terkejut dan menyesal, karena orang yang dipandang enteng itu ternyata mempunyai lweekang demikian hebatnya, hingga dirinya kena terpancing.
Begitu tempat bakonya dapat ditangkis, berbarengan pipa rokok itu menyambar ke-arah batok kepalanya !
Yang Si Kiat jadi kualahan, untuk mengelak serangan itu sudah tidak mungkin, maka cepat menyedot napas, ia mengenjotkan kaki, hingga tubuhnya mencelat kebelakang !
Jen Pek Coan tertawa kecil, tubuhnya pun mencelat, mengubar sambil menghunyam pukulan2 serta totokan2 yang membuat lawannya tidak berdaya.
Yang Si Kiat terdesak hebat !
Sebenarnya, senjata tombaknya dapat dibuka menjadi dua, tapi karena didesak terus oleh lawan, hingga Yang Si Kiat tidak mempunyai kesempatan untuk ini, memang, bila bertanding dengan jarak jauh, ia dapat keuntungan dari lawannya yang menggunakan senjata lebih pendek dari pada senjatanya.
Tapi Jen Pek Coan bukanlah kaum bulim tingkat rendah, ia adalah seorang yang berilmu kepandaian tinggi dan luas pengalamannya, maka dalam sekejap saja, ia bisa merasakan kelemahan2 yang terdapat pada diri lawannya.
Hingga ia menggunakan kelemahan lawannya untuk bikin ia tidak berdaya.
Sebentar saja, diri Yang Si Kiat terdesak hebat, hanya bisa mengelak serta menangkis sambil mundur kebelakang.
Ketika Yang Si Kiat menusukan tombaknya kearah iga, ia memutarkan tubuh, hingga tombak itu menusuk di tempat kosong, berbarengan tangan kirinya diulurkan memukul kearah pundak lawan.
Sedangkan tempat bako itu yang berada ditangan kanannya menyambar kearah muka lawan.
Begitu tombaknya menusuk ketempat kosong, Yang Si Kiat cepat miringkan tubuhnya sedikit, mengelak pukulan yang mengancam pundaknya, tangan kiri mendorong ke depan, menangkis tempat bako itu.
Disaat yang sama, pipa rokok Jen Pek Coan pun menusuk kearah dengkul kaki kirinya dengan sangat cepatnya !
"Duk !"
Serangan pipa itu mengenai sasarannya, hingga dengkul kiri Yang Si Kiat kesemutan nyeri, tubuhnya terhuyung kedepan !
Jen Pek Coan tidak meliwati kesempatan yang baik, cepat kakinya menendang kedepan !
"Bruk !"
Tubuh Yang Si Kiat terpental dan jatuh keatas tanah !
Dari pertama bertanding hingga roboh terpelanting, Yang Si Kiat tidak mempunyai kesempatan untuk melawan dengan ilmu tombaknya yang sangat disegani oleh kaum bulim.
Maka begitu tubuhnya berdiri, hatinya jadi sangat marah bercampur malu dengan muka merah padam serta mata melotot besar serunya sengit .
"Keparat ! Biarlah aku mengadu jiwa !"
Cepat ia menusukan tombaknya kearah dada Jen Pek Coan serta menerjang maju.
"Aiiiih ! Jangan marah Yang toako, jatuh sedikit kan tidak apa2 !"
Ejek Jen Pek Coan sambil mengegoskan tubuhnya mengelak serangan.
"Anjing tua! Hayo kita bertanding tiga ratus jurus pula !"
Ia menusukan tombaknya pula yang lantas dielakan oleh Jen Pek Coan.
"Ha, Ha! Harap Yang toako jangan gusar. Kalau menang merupakan hal biasa, terhadap sesama kaum bulim, kalau dalam pertandingan bukanlah hal yang memalukan seorang enghiong harus berani mengakuinya secara jantan bila kalah dalam pertandingan !"
Yang Si Kiat jadi bertambah marah mendengar ucapan yang separo ngejek.
"Diam kau anjing tua ! Aku belum kalah ! Barusan kau mendapat keuntungan, karena menggunakan tipu muslihat saja dan bukan bertanding secara jantan !"
Bentaknya. Ia menerjang pula kearah lawan, Jen Pek Coan mengelak lalu lari kebalik batu karang, katanya tertawa.
"Sudahlah Yang toako, kehebatan ilmu tombakmu telah kumengujinya ! Hebat..... hebat..... Memang luar biasa hebatnya ! Ha, ha, ha, ha !"
Diolok demikian Yang Si Kiat merasa dadanya se-akan2 hendak meledak saking sengitnya.
Tapi ia hanya bisa me-maki2 sambil mengubar dengan me-nusuk2kan tombak ke balik batu karang.
Jen Pek Coan tidak meladeni kekalapan lawannya.
Ia ber-lari2 menghindarkan diri dengan mengejek terus.
Pertandingan antara Kuo Se Fen dengan Gan Bun Hui makin lama makin menjadi seru.
Setelah liwat duaratus jurus hati Gan Bun Hui dapat menyadari, betapapun ia tidak kalah dalam ilmu silat, tapi dalam kekuatan tenaga sinkang, dirinya berada di bawah kekuatan lawan.
Lambat laun dan akhirnya, ia tentu harus mengaku kalah.
Hati Gan Bun Hui tambah gelisah, ketika melihat kawannya berhasil ditendang roboh oleh Jen jihiap.
Sewaktu pikirannya kalut, disaat perhatiannya terpecah, kesempatan ini digunakan se-baik2nya oleh Kuo Se Fen.
Gan Bun Hui merasa tangannya bergetar hebat, pedangnya telah berhasil tertangkis, ditekan kesamping oleh lawan.
Hatinya terkejut nampak sebuah bayangan hitam berkelebat kearah dadanya.
Ternyata bayangan hitam itu adalah lima jari tangan Kuo Se Fen -Inilah ilmu "Yin Cau Kung"
Atau ilmu cakar elang yang sangat disegani oleh kaum bulim.
Gan Bun Hui terkejut, baru saja hendak mengelak.
Terlambat !
Karena seketika dadanya teraba ditekan oleh jari tangan lawan.
Cepat tubuhnya mencelat kebelakang.
Si Cakar elang Kuo Se Fen berdiri tenang dihadapannya sambil tersenyum.
Gan Bun Hui dapat menyadari, andai si Cakar elang itu hendak mencelakainya dengan mudah cakar maut itu dapat bersarang diatas dada !
Wajahnya berobah merah, ia menyimpan pedangnya serta katanya menjura.
"Banyak terima kasih atas kemurahan hati Kuo tayhiap! Aku mengaku kalah !"
"Ilmu pedang Gan toako sungguh membuat hatiku kagum !"
Gan Bun Hui menoleh kearah diri kawannya, nampak ia sedang menguber-nguber lawannya sambil me-maki2. Ia jadi mengerutkan alis serta membentak.
"Sudahlah Yang jietee !"
Ditegor demikian Yang Si Kiat berhenti menguber, sahutnya penasaran .
"Toako, aku tidak kalah ditangannya !"
"Mari kita pergi !"
Ucap Gan Bun Hui dengan menekuk muka.
Setelah ia menjura pada Kuo Se Fen kemudian berlalu masuk kedalam lembah, diikuti oleh Yang Si Kiat serta keempat orang pengawal itu.
Para jago dari keluarga Lie itu berhasil dikalahkan !
Setelah bayangan mereka lenyap dari pandangan, Kuo Se Fen menghela napas dan berkata.
"Marilah kita berangkat !"
Jen Pek Coan mengisikan bako kedalam pipa lalu menyalakannya, ia mengisap dua kali kemudian berkata.
"Mungkin dikemudian hari, keluarga Lie akan dendam hati pada kita."
"Aih ! Terserahlah pada mereka ! Karena mereka yang memaksa kita !"
Sahutnya tegas.
Goan Tian Hoat menggendong Kang Han Cing pula, lalu mereka meninggalkan tempat itu menuju kedalam lembah.
Tidak lama, mereka tiba disuatu jalan kecil serta sempit.
Mereka mendongak nampak kedua sisinya batu2 karang yang pemukaannya licin dan rata, menjulang tinggi keangkasa, hingga dari jauh nampak jalan kecil itu seperti retakan gunung saja.
Jalan kecil itu ber-liku2 serta menanjak tinggi.
Angin meniup sangat kencangnya membuat pakaian mereka ber-kibar2 bagai bendera dan mengeluarkan suara deruan.
Setelah beberapa lama jalan itu mulai lebar, ternyata mereka kini berada dibalik puncak gunung.
Kabut tebal menutupi sekeliling puncak membuat baju mereka basah.
Kuo Se Fen meng-amat2i keadaan disekelilingnya, kemudian berkata sambil menunjuk kedepan .
"Mungkin Pek-yun-kuan berada didepan sana."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju suatu lereng gunung.
Benar saja, mereka melihat sekelilingnya lereng itu penuh dengan pohon-pohon bahan obat yang ditanam oleh Tian Hung totiang.
Angin sepoi-sepoi meniup pohon-pohon obat yang telah berbunga membuatnya berbuah, hingga hidung mereka terangsang bau harum yang menyegarkan.
Ditengah-tengah pohon-pohon obat terdapat sebuah jalan kecil berliku yang pada ujungnya nampak sebuah bangunan kecil.
Dalam bangunan kecil itu terdapat meja serta bangku-bangku yang terbuat dari batu.
Dibawah wuwungan nampak sebuah papan merek berbunyi "Cia-ci-teng"
Atau depot mengaso.
Tidak jauh dari situ terdapat sebuah bangunan yang dikelilingi oleh pagar bambu, tembok dari bangunan itu berwarna kuning, inilah Pek-yun kuan, tempat kediaman Tian Hung totiang.
Baru saja mereka tiba didepot itu, dari dalam Pek-yun-kuan berkelebat beberapa bayangan menuju kearah mereka.
Alis Kuo Se Fen berkerut, dalam hati men-duga2, apakah mereka orang2 dari keluarga Lie pula?
"Toa-suheng, apakah mereka itu dari keluarga Lie pula ?"
Tanya Jen Pek Coan melangkah dekat.
"Biarlah, kita mengaso dahulu sejenak !"
Setelah duduk, Kang Han Cing berkata terharu .
"Sungguh membuat hati siauwtee merasa tidak enak, kalau saja bukan karena urusan siauwtee, paman berdua tidaklah sampai bermusuhan dengan keluarga Lie !"
"Sungguh keterlaluan mereka ini, masakan karena Lie Kang Tie berobat saja lalu melarang lain orang datang kesini !"
Ucap Jen Pek Coan sengit.
"Janganlah jitee berkata demikian, mungkin mereka mempunyai kesulitan hingga terpaksa berbuat demikian !"
Nampak oleh mereka seorang pemuda, wajahnya putih bersih, berjalan menghampiri.
Pemuda itu mengenakan pakaian panjang warna biru yang terbuat dari bahan sutra, berumur dua puluh lebih, alisnya kereng serta lentik, pandangan matanya terang tajam.
Bentuk wajahnya agak kurus serta membayangkan sifatnya yang tinggi hati.
Yang berada di belakang pemuda itu adalah keempat pengawal keluarga Lie.
Setelah tiba dihadapan rombongan Kuo Se Fen, pemuda itu memandang tajam sambil tersenyum dingin.
Tiba2 sambil menudingkan kipas ditangannya berkata dingin.
"Mereka orangnya ?"
"Ya !"
Wajah pemuda itu berubah terbayang tidak senang, ia me-nuding2kan kipasnya serta ucapnya dingin .
"Kalian dari Hai-yang-pay, yang mana bernama Kuo Se Fen ?"
Melihat tingkah lakunya yang sangat congkak serta kurang ajar dari pemuda ini, lebih2 memanggil suhengnya tidak hormat, hati Jen Pek Coan jadi panas, baru saja ia hendak mendampratnya...."Aku bernama Kuo Se Fen.
Siapakah siauwko ini ?"
Sahut Kuo Se Fen bangkit dari duduknya dengan memberi hormat.
"Ia adalah tuan muda kami !"
Ujar seorang dari empat pengawal itu.
"Oh ! Lie kongcu ! Terimalah hormatku !"
Kata Kuo Se Fen dengan menjura.
"Mungkin kau telah mengetahui ayahku sedang berobat disini !"
Dia putra Lie Kong Tie ! "Ya. Gan toako telah memberitahukannya."
"Kalau begitu, kalian pulang kembali saja ! Karena ayahku tidak boleh terganggu !"
Katanya dingin.
Betapa sombongnya pemuda berwajah putih itu, ucapannya se-olah2 suatu perintah.
Kuo Se Fen sebagai seorang ketua partai biarpun mempunyai ketabahan yang luar biasa, mendengar ucapan dingin yang memandang rendah serta menghina itu, hatinya menjadi panas.
Walaupun demikian, Kuo Se Fen tetap bersabar, katanya .
"Tubuh keponakanku ini terkena racun dan hanya Tian Hong totianglah yang dapat menyembuhkannya ... ."
"Aku tidak suka banyak omong ! Lebih baik kalian meninggalkan tempat ini !"
Ucap pemuda itu tidak sabar dan dingin. Jen Pek Coan jadi tidak sabar pula, ucapnya sengit .
"Ha, Ha, Ha, Ha ! Apakah Pek-yun-kuan sudah dibeli kalian ?"
Pemuda itu memandang dingin tajam dan tanyanya menoleh kebelakang .
"Siapakah dia ?"
"Dia adalah wakil ketua Hai-yang-pay bernama Jen Pek Coan, mempunyai julukan si tangan sakti."
Ucap seorang pengawal.
"Tidak salah ! Aku bernama Jen Pek Coan."
Dengan wajah dingin dan congkak, sambil meng-goyang2kan kipas ditangan, pemuda itu berkata .
"Hm ! Memang didaerah utara agak disegani orang. Tapi bagi keluargaku sedikit pun tidak dipandang !" (Bersambung 5) ***
Jilid 5 TIDAK lama sejak Put-im suthay dan Ciok Sim taysu tiba ditempat itu, tiba2 terdengar satu suara yang garing tertawa, katanya .
"Selamat datang kepada Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, Kang Han Cing sudah menunggu lama."
Put-im suthay dan Ciok Sim taysu menoleh kearah datangnya suara itu, disana berdiri seorang pemuda berbaju hijau dengan alis lentik wajahnya tampan, tertawa memandang mereka, itulah Kang Han Cing.
Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan memberi hormat dan berkata .
"Omitohud ! Membuat siecu menunggu lama."
Put-im suthay belum pernah bertemu muka dengan Kang Han Cing, ditatapnya pemuda itu sekian saat, dan ia bertanya dingin.
"Kau inikah yang bernama Kang Han Cing?"
"Betul ! Aku yang bernama Kang Han Cing."
"Manusia terkutuk,"
Berkata Put-im suthay.
"Masih berani kau menemui orang?"
Alis lentiknya Kang Han Cing terjingkat, ia tersenyum kecil berkata .
"Eh, datang2 memaki orang? Undanganku bukan ditujukan untuk kalian berbuat seperti itu. Gunakanlah sedikit etiket baik."
"Manusia durjana, sesudah memperkosa dan membunuh muridku, apalagi yang kau mau."
Memang adat Put-im suthay agak aseran, mentang2 berkepandaian silatnya tinggi, maka sering menghina orang.
Mau menang sendiri.
Apa lagi didalam persoalan ini, ia memang harus mendapat kemenangan, ia harus segera menyingkirkan orang yang sudah memperkosa dan membunuh muridnya.
Kang Han Cing tersenyum2.
Put-im suthay membentak lagi .
"Hayo ! Masih mau menyangkal ? Hendak putar lidah ? Akuilah perbuatanmu, kau sudah memperkosa dan membunuh muridku, bukan ?"
"Baiklah,"
Berkata Kang Han Cing tertawa.
"Aku mengakui, aku tidak menyangkal lagi. Yen Siu Lan sudah kuperkosa, Yen Siu Lan sudah kubunuh mati. Apa lagi yang kau mau? Apa yang kau bisa lakukan kepada Kang Han Cing ?"
"Tidak menyangkal lagi ?"
Berkata Put-im suthay.
"Tidak perlu menyangkal. Kalian bisa apa ?"
Berkata Kang Han Cing menantang. Srettt ....Put-im suthay sudah mencabut keluar pedangnya, dihadapi Kang Han Cing dengan gemas geregetan ia berkata .
"Akan kucincang seiris demi seiris tubuhmu, baru bisa melampiaskan rasa sakit hatiku."
"Inikah kata2 seorang biarawati?"
"Lekas keluarkan pedangmu. Mari kita bertempur tiga ratus jurus."
Berkata Put im suthay.
"Eh, masih berani menantang?"
Berkata Kang Han Cing. Ciok Sim taysu berkerut alis, ia merangkapkan kedua tangan, menyebut nama Budha dan berkata .
"Sabar ! Kuharap suthay menjadi sabar. Kedatangan kita ketempat ini atas undangannya. Tanyakan dahulu, apa maksudnya mengundang datang ?"
Put-im suthay berkata.
"Sudah kau dengar sendiri, dia mengakui semua perbuatan itu, bukan? Apalagi yang hendak ditanya?"
Dengan tertawa Kang Han Cing berkata.
"Kuundang jiehui berdua ketempat ini, karena aku hendak memberi sedikit keterangan."
"Lekas katakan keteranganmu itu."
Berkata Put-im suthay dingin. Kang Han Cing tidak segera lekas2 mengucapkan suaranya, lebih dahulu ia menggibrik2kan bajunya yang kena debu, sesudah itu dengan sepatah demi sepatah ia berkata.
"Kang Han Cing belum pernah melakukan sesuatu dengan dibawah ancaman, maka kalau mau mendengar keteranganku, simpan dahulu pedang itu. Agar tidak membawa mesiu peperangan."
Put-im suthay geregetan sekali, tapi apa boleh buat, ia menancapkan pedangnya di tanah, sesudah itu ia berkata .
"Nah ! Lekas katakan, keterangan yang hendak kau beritahu !"
Kang Han Cing tertawa kecil, memandang kedua jago silat itu lalu berkata.
"Jiewie berdua telah berkunjung ke gedung keluarga Kang ?"
"Tidak salah."
Berkata Ciok Sim taysu.
"Kami baru saja meninggalkan rumahmu."
"Mengapa pergi kesana ?"
Bertanya Kang Han Cing. Dengan marah Put-im suthay berkata .
"Kau telah melakukan suatu perbuatan nista, aku kesana mencarimu untuk meminta pertanggungan jawab !"
"Sekarang aku sudah berada didepan jiewie berdua, bukan?"
Berkata Kang Han Cing menantang. Put-im suthay berkata.
"Kau adalah putra kedua dari Datuk selatan Kang Sang Fung, kalau tidak mengunjungi gedung keluarga Kang, kemana harus mencari dirimu?"
Kang Han Cing berkata.
"Kuberi peringatan keras, untuk selanjutnya jangan sekali2 mengacau gedung keluarga Kang. Jangan sekali-kali mengganggu ketenangan keluargaku. Jangan sekali2 mengganggu toako. Kalau saja....hem.....hem...jangan katakan Kang Han Cing keterlaluan."
Nada suara Kang Han Cing menjadi begitu congkak dan terkebur, sangat temberang. Ciok Sim taysu merangkapkan kedua tangan dan berkata .
"Omitohud, apa hanya kata2 ini yang hendak siecu keluarkan ?"
"Masih mau apa lagi ?"
Berkata Kang Han Cing.
"Omitohud."
Berkata Ciok Sim taysu.
"Lolap kira akan mendengar keterangan yang lebih penting, ternyata hanya pepesan kosong."
Kang Han Cing berkata .
"Kalau kalian percaya dan yakin kepada ilmu kepandaian sendiri, kalau kalian bisa memenangkan diriku, langsung saja membuat perhitungan dengan aku, jangan mengganggu toako, jangan mengganggu gedung keluarga Kang."
"Bocah kurang ajar,"
Bentak Put-im Suthay.
"sampai dimanakah tingginya ilmu kepandaianmu, berani menantang orang? Baik. Aku hendak mencoba, sampai dimana ilmu kepandaian Kang jiekongcu."
Betul2 Put-im taysu melaksanakan ancamannya, ia mencabut kembali pedang yang tertancap di tanah, siap menempur Kang Han Cing.
Kang Han Cing memang bermaksud menempur kedua orang itu, sengaja memancing insindent2 ia berkata.
"Apa hanya seorang saja? Lebih baik maju berbareng."
Kecepatan Put-im suthay begitu hebat, tanpa menunggu selesainya ucapan Kang Han Cing, ia mengayun pedang menabas sepasang kaki pemuda ugal2an itu.
Sebagai seorang saudara ketua partai Ngo-bie-pay, Put-im suthay mendapat nama yang cukup harum, tidak kalah dibelakang nama Bu Houw taysu, gerakan ilmu pedangnya begitu cepat, mengancam dengan jitu.
Gerakan Put-im suthay sangat cepat, tapi gerakan Kang Han Cing juga sangat cekatan, wingg.....
serangan pedang itu lolos dari bawah ujung kaki.
"Ha, ha...."
Kang Han Cing tertawa, Sreet....
dia juga menghunus pedang.
Put-im suthay tidak mau banyak bicara lagi, giliran pedang yang bicara ia menyabet, menusuk, dan membacok.
Semakin lama, tekanan cahaya pedang itu semakin rapat, se-olah2 sudah mengurung seluruh jalan Kang han Cing.
DENGAN bajunya yang berkibar-kibar, Kang Han Cing mengelakan setiap serangan.
Berputar disekitar tempat itu, tidak hentinya tangan menyebar sesuatu.
Bagaikan bayangan seseorang, Put-im suthay mengikuti larinya pemuda itu.
"Bocah terkutuk."
Put-im suthay memaki.
"hanya sampai disinikah ilmu kepandaianmu ?"
Satu saat, cahaya pedang berobah menjadi enambelas batang, menuju kearah batok kepala Kang Han Cing, inilah ilmu kebanggaan Put-im Suthay !
Kang Han Cing menggelengkan kepala dengan satu cara yang tidak mudah dilihat, ia berhasil mengelakan datangnya ancaman maut.
Sesudah keluar menerobos kepungan cahaya pedang, ia mulai mengayun senjata, mulutnya berkata .
"Nenek tua, inilah serangan balasanku."
Tubuhnya menyempong kesamping, tangannya dijulurkan kedepan, maka pedang itu bergerak dari jurusan yang sulit diduga, menyerang Put-im suthay.
Put-im suthay juga termasuk salah seorang ahli pedang, melihat cara2 gerakan Kang Han Cing, hatinya tercekat, serangan yang seperti itu tidak boleh ditangkis, jalan yang terbaik adalah mengelakan.
Mengenjot tubuh, Put-im suthay lompat kebelakang.
Giliran Kang Han Cing yang mengambil inisiatif penyerangan, berulang kali menusukkan senjatanya.
Agak repot juga Put-im suthay mengelakkan datangnya serangan2 itu.
Tiba2 ia rasakan perubahan sesuatu, tenaganya banyak berkurang.
Dengan tertawa Kang Han Cing berkata .
"Nenek tua, hanya sampai disini sajakah ilmu kepandaianmu ?"
Situasi berubah, dunia berputar.
Kalau dalam serangan pertama tadi Put-im suthay mendesak dan merangsak Kang Han Cing, kini keadaan telah berputar seratus delapan puluh derajat, Kang Han Cing yang memegang inisiatif mengancam dan mendesak lawannya.
Put-im Suthay berusaha mengelak dan menangkis serangan itu, agak sulit juga, semakin lama tenaganya semakin pudar.
Kang Han Cing menusuk lagi !
Put-im suthay mengertak gigi, menyentilkan pedangnya, menukik dan menghajar.
Indah ilmu kepandaian terakhir, ilmu kepandaian simpanan yang sering membuat mematahkan semangat lawan.
Sebagai seorang ahli pedang puluhan tahun, Put-im Suthay mengancam delapan jalan darah Kang Han Cing.
Kalau saja salah satu dari ancaman itu mengenai sasarannya, tubuh Kang Kan Cing akan terkapar di tanah.
Kang Han Cing tertawa dingin, pundaknya terangkat, menangkis datangnya serangan itu.
Tranggggg....
Pedang Put-im suthay diterbangkan !
Secepat itu pula, Kang Han Cing meneruskan serangan, menotok jalan darah Put-im suthay.
Tubuh Put-im suthay jatuh ngusruk di tanah, dia bingung memikirkan kejadian2 tadi, bagaimana dengan mendadak sontak tenaganya bisa lumer dan lembek?
Apa yang telah terjadi?
Karena itulah, tanpa ada pegangan kekuatan, pedangnya diterbangkan Kang Han Cing.
Tentu telah terjadi sesuatu.
Menyaksikan jatuhnya sang kawan, Ciok Sim taysu terkejut, ia melejitkan tubuh menyelak di tengah dan membentak.
"Kang Han Cing, jangan kau main gila !"
Kang Han Cing memperlihatkan sikapnya yang angkuh dan sombong, melirik kearah Ciok Sim Taysu dan berkata .
"Nah ! Kini giliranmu !"
Jarak Ciok Sim Taysu dan Kang Han Cing sudah sangat dekat, padri tua itu menganggukan kepala berkata .
"Baik. Giliranku yang hendak meminta pelajaran."
Kang Han Cing telah menjatuhkan Put-im suthay dalam waktu yang sangat singkat, hal ini membuat Ciok Sim taysu tidak berani memandang ringan kepada lawannya.
Ia lebih berhati-hati, menyedot napasnya dalam2.
Dicurahkan kearah kedua telapak tangan, siap menghadapi pertempuran.
"Aaaaah......."
Tiba2 saja Ciok Sim Taysu tercekat, tangannya tidak bisa diangkat, wajahnya berubah, ia telah terkena semacam racun yang tidak terlihat, karena itu seperti keadaannya Put-im Suthay yang tidak bisa memegang pedangnya, kekuatan Ciok Sim taysu juga lenyap, karena adanya sesuatu yang berada di luar dugaan ini, sepasang matanya memandang wajah Kang Han Cing, menduga kalau putera dari keturunan Datuk Persilatan itu main gila, si padri mengeluarkan bentakan .
"Kang Han Cing, berani kau main gila? Racun apa yang sudah kautebarkan kepadaku ! Mengapa menjadi seperti ini ?"
Kang Han Cing menengadahkan kepala, tertawa dingin dan berkata .
"Lucu ! Apa2an kau ini ?"
Dengan mengertak gigi Ciok Sim taysu berkata .
"Kang Han Cing, kau telah membuat perkosaan melakukan pembunuhan, masih berani menaburkan racun kepadaku dan Put-im suthay? Betul2 jahat, betul2 jahat...."
"Tutup mulut !"
Bentak Kang Han Cing.
"Berulang kali kau berlaku tidak sopan. Akan kubunuh dirimu."
Pedangnya disodorkan kedepan, menjurus kearah Ciok Sim taysu.
Betapa lihaypun ilmu kepandaian Ciok Sim Taysu, karena ia sudah mendapat taburan obat racun lemas, tanpa bisa dielakan, pedang Kang Han Cing menotok jalan darahnya.
Gedebrok, ia jatuh di tanah.
"Ha, ha, ha....."
Kang Han Cing tertawa besar, menudingkan jari kearah Put-im suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata .
"Ha, ha.... tokoh2 Ngo-bie-pay dan Siauw-lim-pay, hanya seperti ini sajakah kepandaianmu ! Kalau betul2 kalian mempunyai ilmu kepandaian, langsung berhadapan dengan aku, jangan kau mengganggu saudaraku lagi. Jangan berani2 mengganggu gedung keluarga Kang, heee!"
Wajah Put-im suthay pucat pasi, peredaran jalan darahnya membeku, ia tidak bisa bergerak, hanya mulutnya yang masih mendapat kebebasan ia mengumpat caci.
"Manusia terkutuk. Durjana, sudah memperkosa orang, membikin pembunuhan, berani kau menghina lagi ? Bah ! Hayo ! Kalau kau mempunyai keberanian, bunuh aku sekalian."
Sepasang mata Kang Han Cing berkilat-kilat ia berkata.
"Maksudku bukan hendak membikin pembunuhan, tapi...kau sendiri yang minta mati, baiklah. Kau kira aku takut kepada Ngo-bie-pay, lebih baik kuputuskan sepasang telingamu untuk memberi peringatan....."
Secepat itu pula, pedang Kang Han Cing melayang, meluncur kearah kepala Put-im suthay, dengan maksud membabat sepasang telinga biarawati itu.
Disaat ini, satu bayangan meluncur datang, mulutnya berteriak keras.
"Jiete, jangan!"
Bayangan yang datang adalah putra tertua dari gedong keluarga Kang, Kang Puh Cing!
Kang Han Cing mendongakkan kepala, mengenali siapa yang datang, segera ia berdehem keras, melirik kearah Put-im suthay Ciok-sim Taysu lalu berkata.
"Sepasang telinga masih beruntung!"
Sesudah itu, Kang Han Cing melejitkan kaki meluncur kearah utara, meninggalkan Kang Puh Cing. Kang Puh Cing segera berteriak .
"Jietee....."
Tapi Kang Han Cing tidak menghiraukan panggilan itu, meluncur lari pergi ! Kang Puh Cing menghampiri Put-im Suthay dan Ciok Sim taysu, ia berkata .
"Eh, bagaimana bisa terjadi kejadian yang seperti ini ?"
Ciok Sim taysu menyebut nama budha berkata .
"Kedatangan Kang toakongcu sangat kebetulan. Lolap dan suthay ini telah diracuni oleh adikmu, menderita keracunan dalam."
"Ah..."
Kang Puh Cing terkejut.
"Betul ? jiete...."
Disaat ini, lain bayangan lagi meluncur datang, ia memotong pembicaraan Kang Puh Cing.
"Seharusnya toakongcu bisa membedakan, orang tadi bukanlah Kang Jie kongcu yang asli !"
Orang yang datang belakangan ini adalah pendekar cerdik pandai Goan Tian Hoat. Kang Puh Cing terkejut, hatinya tergetar, dengan memaksa tertawa ia menoleh kearah Goan Tian Hoat dan berkata.
"Eh mengapa saudara Goan datang turut serta?"
Dengan tertawa Goan Tian Hoat berkata.
"Untuk menjaga sesuatu dari ketidak-beresan, dengan membawa beberapa orang kita, kita selalu siap untuk membantu."
Apa yang Goan Tian Hoat kemukakan memang betul terjadi.
Empat orang laki2 berpakaian ringkas dengan golok dipinggang lari mendatangi, mereka adalah anak buah gedung keluarga Kang.
Kang Puh Cing menganggukkan kepala berkata.
"Put-im suthay dan Ciok Sim taysu telah menderita keracunan dalam, mari kita menggotong dan menolong mereka." *** Meninggalkan cerita Kang Puh Cing, Goan Tian Hoat, dan orang2 gedung keluarga Kang yang membawa Put-im suthay dan Ciok sim taysu kembali ke gedung datuk persilatan daerah selatan. Menyusul jejak bayangan Kang Han Cing yang melesat kearah utara ini. Tidak lama dari berkelebatnya bayangan Kang Han Cing, dari balik semak2 muncul pula lain bayangan, mengikuti bayangan Kang Han Cing didepan. Yang mengherankan, bayangan yang dibelakang juga adalah bayangan Kang Han Cing, ada dua Kang Han Cing, sampai di sini sudah waktunya kita membuka sedikit tabir rahasia, bayangan yang didepan adalah benar Kang Han Cing palsu yang dikatakan oleh Goan Tian Hoat tadi dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing yang asli, yang palsu adalah orang yang sudah membunuh Yen Siu Lan divihara Ciok-cuk-am, dan bayangan yang dibelakang adalah Kang Han Cing aseli, hendak membekuk lehernya si penjahat, mencari tahu dengan alasan apa orang hendak mencelakakan dirinya. Dua bayangan itu saling meluncur, yang didepan cepat, tapi Kang Han Cing mengikuti dengan berhati2, agar jejaknya tidak kelihatan oleh orang yang dibuntuti. Waktu sudah menjelang sore, pohon2 sudah tunduk kebawa, matahari sebagian sudah berada di bawah tanah. Mereka masih meluncur dengan kecepatan maksimum. Semakin lama hari menjadi gelap, tiga puluhan lie telah mereka liwatkan. Tidak jauh lagi, didepan tampak semak2 pohon belukar, dimana ada cahaya lampu yang dipasang, itulah sebuah bangunan, bangunan di tengah2 semak belukar. Kang Han Cing palsu melesatkan diri memasuki tempat bangunan itu. Kang Han Cing asli menyedot napasnya dalam2, ia tidak membiarkan musuhnya lewat lepas begitu saja, juga harus dijaga agar tidak diketahui orang, kalau ia membuat pembuntutan. Ia juga turut masuk kedalam gedung itu. Hampir disaat yang bersamaan, kedua orang tadi memasuki gedung didalam rimba belukar. Orang yang didepan langsung menuju ke arah pekarangan, langkahnya diarahkan ke kamar bagian selatan. Disana tampak lampu penerangan. Kang Han Cing mengawasinya dengan mata tidak berkesiap. Sebentar kemudian, si Kang Han Cing palsu sudah mengetok jendela, suaranya sangat perlahan sekali. Tidak lama jendela terbuka, disana tampak seorang gadis pelayan berpakaian hijau menongolkan kepalanya dan bersorak girang .
"Nona baru kembali ?"
"Ya !"
Orang yang menyamar menjadi Kang Han Cing adalah seorang wanita, maka gadis pelayan ini memanggilnya sebagai nona.
Kang Han Cing palsu segera lompat masuk kedalam kamar itu.
Dan sekejap kemudian, jendelapun sudah ditutup kembali.
*** SI GADIS pelayan berbaju hijau membukakan sepatu sang majikan, maka tampak kakinya yang kecil.
Kini, Kang Han Cing palsu membuka baju luarnya, tampak tubuh montok berpakaian ringkas.
Dadanya membusung ke-depan, pinggangnya ramping, pinggulnya nonjol keluar, sangat menarik pria.
Dia duduk disebuah kursi, dan membuka topi, rambutnya yang panjang hitam jengat terurai panjang.
Gadis ini mempunyai wajah yang cantik memikat, mempunyai potongan tubuh yang padat.
Setelah memperhatikan itu semua Kang Han Cing melayang masuk, ia harus segera bisa membongkar penyamaran jahat.
Si gadis pelayan berbaju hijau bisa melihat adanya pria yang nyelonong itu, sret, ia mengeluarkan pisau belati, ter-kaing2 dan desingan, membawa deru serangan, pisau menusuk Kang Han Cing di tiga tempat.
Kang Han Cing mengelakkan serangan itu, tangkas dan cepat.
Si gadis yang menyamar Kang Han Cing sudah membereskan ikat rambutnya ia mengeluarkan panggilan .
"Siao Siang mundur, kau bukan tandingannya !"
Ternyata ia bisa melihat dan menduga asal usul Kang Han Cing.
Peringatannya sudah terlambat !
Pelayan berbaju hijau yang dipanggil Siao Siang sudah menusukkan belatinya, Kang Han Cing menggerakkan tangan, dengan dua jari menjepit pisau itu.
Siao Siang berusaha menarik kembali pisaunya tapi tidak berhasil.
Dicabutnya, juga tidak berhasil.
Dua jari jepitan Kang Han Cing seperti berakar keras, tidak bergeming.
Siao Siang memiliki ilmu kepandaian cukup kuat, ia segera melepaskan pisaunya lalu kedua jarinya dikeraskan, menotok jalan darah Kang Han Cing.
Serangan ini mengenai sasaran, terdengar suara, puk, tapi Siao Siang yang kaget, se-olah2 membentur besi, tangan itu hampir patah, ia berteriak, aduh, dan mundur kebelakang.
Kang Han Cing melepaskan jepitannya menjatuhkan pisau dilantai.
Gadis berbaju hijau yang menyamar Kang Han Cing tertawa dingin, diperhatikannya pemuda itu dan berkata .
"Ilmu kepandaian hebat ! Sedang berdemontrasi !"
"Hei,"
Berkata Kang Han Cing.
"Dengan maksud apa kau mencelakakan orang ?"
"Maksudmu ?"
Bertanya si gadis berbaju hijau.
"Aku ingin mengetahui jelas, siapa yang melakukan perkosaan dan pembunuhan di Ciok-cuk-am."
Gadis berbaju hijau berkata dingin .
"Hendak memeriksa hal perkosaan ? Ha, kau salah cari."
"Mengapa salah cari ?"
Bertanya Kang Han Cing. Selembar wajah gadis berbaju hijau itu menjadi merah, membanting kaki dan berkata .
"Nah ! Kau sudah ketahui. Aku juga seorang wanita. Mana mungkin bisa memperkosa wanita?"
Keterangannya memang tepat.
Tapi siapa yang memperkosa Yen Siu Lan ?
Siapa yang membunuhnya ?
Sedangkan Kang Han Cing sudah mengikuti bayangan gadis berbaju hijau ini, gadis ini dengan menyamar dan menggunakan kedok tipis, hampir saja ia mencelakakan Ciok Sim Taysu dan Put-im Suthay.
Kalau saja tidak ada Goan Tian Hoat yang meng-ojok2 sang toako, fitnah jatuh pula keatas dirinya.
"Kang jiekongcu,"
Berkata si gadis berbaju hijau.
"Kau sudah mengikutiku lama ?"
"Ya,"
Berkata Kang Han Cing. Gadis berbaju hijau itu bertanya lagi .
"Apa maksudmu ?"
"Mudah saja,"
Berkata Kang Han Cing.
"Kupersilahkan kau menggunakan kedok tipis tadi, mengenakan pakaian yang sepertiku. Dan turut aku."
"Dengan alasan apa? Aku harus turut dirimu?"
Si gadis menantang.
"Lebih baik nona mengikuti saja."
Berkata Kang Han Cing perlahan.
"Kalau tidak, bagaimana ?"
Bertanya gadis berbaju hijau itu.
"Apa boleh buat, aku harus menggunakan kekerasan."
Berkata Kang Han Cing.
"Eh, mau ngajak berantam ?"
"Nona sendiri yang memaksa,"
Berkata Kang Han Cing.
"Dalam keadaan apa boleh buat, harus juga kulakukan."
"Bagus."
Berkata si gadis berbaju hijau.
"Sudah lama kudengar ilmu kepandaian silat Kang jiekongcu yang hebat, tapi belum kucoba. Mari kita bergebrak beberapa jurus."
"Boleh saja,"
Berkata Kang Han Cing.
"Kalau nona tidak bisa mengambil kemenangan kuharap saja bisa turut aku."
"Tentu."
Berkata si gadis berbaju hijau.
"Nah ! Mulailah."
"Silahkan kau yang mulai !"
Berkata Kang Han Cing.
"Baik. Terima seranganku."
Pedangnya disentak sedikit, menusuk perut Kang Han Cing.
Kang Han Cing tidak pernah gentar, sret, ia mengeluarkan pedang, dan menepuk serangan pedang si gadis.
Gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan, pedangnya sebagai seekor ular yang licin, bergelut dan meluncur kebawah, dari sana meletik keatas, cahaya kilatan pedang berkelebat, mengancam tenggorokan.
Kang Han Cing terkejut, kecepatan ilmu pedang gadis ini sungguh luar biasa, karena itu, untuk mengimbanginya ia pun bergerak cepat menutup kearah luar.
Si gadis tidak berhenti sampai disitu, di tengah jalan ia mengubah arah, tusukan pedang mengancam, kini menggores dari atas kebawah.
Se-olah2 mau membelah perut Kang Han Cing.
Baca Juga: Darah Pendekar 9
Baca Juga: Pendekar Super Sakti Kho Ping Hoo