Eps 3 Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Baca online Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Cersil Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong.
dia menghampiri kembali lelaki tadi dan berbisik sambil tertawa paksa.
"Sudahlah, jangan kelewat bersedih hati, dia sanak keluargamu telah datang."
Tiba tiba lelaki berbaju putih itu mendongakkan kepalanya lalu mengawasi nyonya setengah umur itu lekat lekat. Buru buru nyonya setengah umur itu berkata sambil tertawa.
"Kau ingin tahu siapa yang telah datang? yang datang adalah anakmu yang tak pernah kau jumpai selama lima belas tahun gembirakah kau?"
Lelaki berbaju putih itu sudah itu masih saja mengawasi nyonya setengah umur tersebut tanpa berkedip, dia seakan akan tidak percaya. Dengan suara yang lembut kembali nyonya setengah umur itu berkata.
"Kapan sih aku pernah membohongimu? Sungguh. anakmu telah datang menengokmu, gembirakah kau? Kalau gembira ayo tertawa."
Manusia berbaju putih itu benar-benar tertawa, dia cuma tertawa kepada nyonya setengah umur itu dan sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap Wi Tiong hong.
Diam diam Wi Tiong Hong berkerut kening setelah menyaksikan kejadian ini pikirnya.
"Orang ini mah seorang bloon. kalau toh kepingin menyamar sebagai ayahku. mestinya jangan berlagak seperti begitu. Aaah jangan jangan ayahku terkena racun yang sangat jahat sehingga dia betul betul jadi bloon?"
Teringat akan hal ini, tiba tiba saja hatinya menjadi kecut dan hampir saja air matanya bercucuran. Sementara itu sang nyonya setengah umur tadi telah menggapai sembari berseru.
"Pui kongcu. kemarilah"
Wi Tiong hong menurut dan beranjak maju kemuka.
Seraya berpaling kembali nyonya setengah umur itu berkata "mungkin kau masih belum percaya kalau dia adalah ayah kandungmu, hingga kini akupun masih belum tahu siapa namamu, tak ada salahnya kau sebutkan dua haruf namamu, coba kau lihat apakah dia mengerti apa tidak"
Wi Tiong hong segera berpikir.
"Kau sengaja mengundang kedatanganku kemari, sudah barang tentu kaupun sudah menyelidiki segala hal ikhwal tentang diriku secara jelas, apa anehnya kesemuanya"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia dongakkan kepalanya sambil bertanya.
"Apakah dia tak bisa berbicara?"
Nyonya setengah umur itu manggut manggut.
"Bukankah aku pernah berbicara denganmu, setelah keracunan dia mendapat pengobatan yang kelewat terlambat sehingga racun jahat itu keburu merasuk kedalam tulangnya, ini berakibat urat syarafnya terganggu, mendingan sekarang, kalau tujuh delapan tahun berselang kau datang kesini ia masih berbaring terus diatas pembaringan tak tahu apa apa. Berapa tahun belakangan ini keadaannya sudah agak mendingan, dia dapat memahami apa yang kubicarakan dengannya diapun sudah belajar tertawa dan mengangguk, sewaktu lagi senang, diapun bisa memberi pelajaran ilmu pedang kepada orang lain."
"Sudah sekian lama aku datang kemari. tapi dia seperti tidak melihatnya saja"
"Dia tentu dapat melihat kehadiran cuma enggan berbincang bincang dengan orang asing."
Sementara pembicaraan berlangsung mendadak kursi goyang lelaki berbaju putih itu bergoyang pelan. Ccpat cepat nyonya setengah umur itu berpaling seraya bisiknya lembut. 'Kekasih Pui, ada urusan apa?"
Lelaki berbaju patih itu mengalihkan sorot matanya kewajah Wi Tiong hong, kemudian menengok kembali nyonya setengah umur itu, Sambil berpaling nyonya setengah umur itu lantas berkata.
"Dia bertanya siapakah kau? Cepat katakan, siapa namamu?"
"Kau benar-benar tidak mengetahui namaku?"
"Aku hanya tahu nama samaranmu adalah Wi Tiong hong, sedang siapa nama sesungguhnya sama sekali tidak kuketahui."
"Wi Tiong hong adalah nama pemberian pamanku, cukup kau sebut saja namaku secara terbalik"
Dia sengaja enggan menyebutkan namanya guna melihat bagaimanakah reaksi si manusia berbaju putih itu. Nyonya setengah umur itu mengiakan benar benar berbisik disisi telinga manusia berbaju putih itu.
"Dia adalah Tiong wi, coba lihat bukankah dia sudah menanjak jadi dewasa?"
Manusia berbaju putih itu hanya menengok sekejap kearah Wi Tiong hong lalu berpaling kembali ke arah nyonya setengah umur itu, hal tersebut bisa dilihat oleh Wi Tiong hong secara jelas, agaknya dibalik sorot mata tersebut terselip suatu kecurigaan yang besar.
Nyonya setengah umur itu segera mendengus dingin, kemudian menegur.
'Kongcu, namamu tidak benar rasanya"
"Aku sama sekali tidak berbohong, cuma kata Tiong merupakan urutan dalam dengan nama keturunan, waktu kecil mungkin ayah cuma memanggil Wi ji kepadaku, dalam hal ini aku sendiripun kurang begitu jelas Perkataan ini sudah dipikirkan jauh sebelumnya. sudah barang tentu sewaktu utarakan kedengarannya sangat lancar leluasanya."
"Ooooh, rupanya begitu"
Nyonya setengah umur itu manggut manggut. Menyusul kemudian diapun berbisik .
"Dia adalah Wi ji, mengapa kau lupa? Coba lihatlah, bukankah dia memiliki raut wajah yang mirip sekali denganmu?"
Sementara berbicara, dia menarik tangan Wi Tiong hong dan dihantarkan kehadapan lelaki berbaju putih itu sambil bisiknya.
"Sekarang kau sudah dapat mengingatnya kembali bukan, cepat kau genggam tangan anak Wi."
Berada didalam keadaan seperti ini, kendatipun Wi Tiong hong merasa tidak percaya seratus persen namun diapun merasa kurang baik untuk menampik, dia membiarkan tangannya dihantar kehadapan manusia baju putih itu oleh nyonya setengah umur tersebut.
Ia merasakan telapak tangan lelaki berbaju putih yang tebal itu menarik tangannya lalu secara tiba tiba terasa sedikit getaran yang sangat aneh.
Inilah suatu pertanyaan tanpa suara pancaran rasa sedih dan gembira yang tumbuh lubuk hatinya.
Wi Tiong hong sendiri ikut merasakan semacam gejolak perasaan yang sangat aneh walaupun dia belum percaya secara penuh bahwa lelaki berbaju putih yang berada di hadapannya adalah ayahnya.
Dalam pada itu, nyonya setengah umur tadi sudah berbisik lagi disisi telinga lelaki berbaju putih itu dengan lembut.
"Ayah dan anak bisa berkumpul kembali akupun turut bergembira untukmu, mengapa kau tidak tertawa?"
Sekulum senyuman segera menghiasi wajah lelaki berbaju putih itu, naman dibalik senyuman tadi tiba tiba dua baris air mata jatuh berlinang.
000OdewiO000 WI TIONG HONG jadi termangu mangu tiba tiba saja diapun merasakan suatu kesedihan hati yang belum pernah di rasakan sebelumnya.
Dalam perasaan hati kecilnya, tiba2 saja dia seperti menaruh perasaan rapat hangat terhadap lelaki berbaju putih hampir saja ia hendak msnubruk kedalam pelukannya serta memanggil ayah.
Betapa besarnya dia mengharapkan kasih sayang seorang ayah.
Betapa rindunya selama ini terhadap ayahnya.
Namun dia harus berusaha keras untuk menahan diri, dia tidak boleh membiarkan perasaan tersebut terpancar keluar, sebab ia belum dapat memastikan bahwa lelaki berbaju putih yang berada dihadapan mukanya sekarang adalah ayah kandungnya atau bukan.
Dia percaya dengan perkataan dari Raja langit bertangan keji Liong Cay thian, diapun tahu bahwa dalam selat Tok seh sia pasti terdapat pula seorang manusia berbaju putih, diantara kedua orang tersebut, satu diantaranya sudah pasti ayah kandungnya.
maka dia mengambil keoutusan didalam hati kecilnya, tiga bulan kemudian, bagaimanapun juga dia tetap akan mengunjungi selat Tok seh sia, Sementara itu nyonya setengah umur tadi berbisik lagi kepada lelaki berbaju putih itu.
"Kekasih Pui, sekarang kalian ayah dan anak telah berjumpa kembali, kejadian tersebut merupakan suatu peristiwa yang patut digembirakan, coba kau mainkan jurus jarus pedangmu untuk diperlihatkan kepada anak Wi....."
Leiaki berbaju putih itu mengangguk pelan pelan diapun melepaskan tangan Wi Tiong hong.
Nyonya setengah umur itu mengangsurkan kembali pedang kayu tadi ketangan laki berbaju putih, kemudian katanya dengan suara lembut.
"Bukankah belakangan ini kau sudah ingat kembali beberapa jurus ilmu pedang Nah, mainkan beberapa jurus serangan itu."
Lelaki berbaju putih itu mengawasi wajah nyonya setengah umur tersebut lekat lekat, wajahnya menunjukkan rasa kebingungan, pedang kayu yang digenggam tetap tidak bergerak barang sedikitpun.
Sambil tertawa nycnya setengah itu segera berkata lagi.
"Apa sudah lupa? Bukankah beberapa hari yang lalu kau mengajarkan ilmu yang kau sebut kepada Pek bwee dan Pek lan."
Tiba tiba air muka lelaki berbaju putih itu berubah, pergelangan tangan kanannya bergetar, pedang kayunya melakukan beberapa gerakan ditengah udara.
setelah itu menengok kembali kewajah nyonya setengah umur tersebut.
Nyonya setengah umur itu manggut manggut, katanya lagi sambil tertawa ringan.
"Yaa, betul beberapa jurus serangan inilah yang kumaksudkan, ayo cepat perlihatkan kepada anak Wi?"
Sementara itu paras muka Wi Tiong Hong telah berubah hebat, sekarang ia dapat melihat beberapa gerakan itu dengan jelas, Ternyata didalam melakuksn gerakan pedangnya tadi, lelaki berbaju patih itu telah menggunakan ilmu Kan sam ceng yang pernah menggemparkan dunia persilatan dimasa lalu, suatu ilmu pedang andalan suhunya Sian soat kiam kek dimasa lampau.
biarpun gerakan yang dilakukan oleh lelaki berbaju putih itu dilakukan dengan sederhana, namun dapat terlihat betapa halus dan matangnya gerakan pedang tadi.
Dengan perasaan tersebut bercampur keheranan dia lantas berpikir.
"Ilmu pedang ini merupakan ilmu pedang andalan sucou dimasa lampau, tidak mungkin orang luar bisa mempelajarinya, jangan jangan orang ini memang ayahku?"
Tapi ingatan lain segera melintas didalam benaknya.
"Aaaah, tidak mungkin, bila ayah memang tidak mati dan terjatuh ke tangan mereka apa anehnya bila merekapun ada yang bisa memainkan ketiga jurus serangan tersebut?"
Berpikir sampai disini, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya sambil menukas.
"Cukup, tak usah berlatih lagi, aku sudah mengganggu kelewat lama, kini harus mohon diri lebih dulu"
"Apakah kougcu menganggap dia bukan ayahmu ?"
Tanya nyonya setengah umur tertegun. Wi Tiong hong menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa getir, kemudian jawabnya.
"Terus terang saja kukatakan. semenjak kecil aku dipelihara dan dibesarkan oleh paman, kesanku terhadap ayahku hampir tak ada sama sekali. bagaimana caraku untuk membedakan antara yang palsu dan sungguhan? Sekali pun dia benar benar ayahku, sekarang akupun tak dapat mengenalinya?"
"Apakah kau tak ingin duduk sebentar lagi sambil mengawasi gerak geriknya? Siapa tahu hal tersebut akan bermanfaat bagimu?"
Rupanya dia masih belum tahu kalau jurus pedang yang dipergunakan manusia berbaju putih itu adalah ilmu Kan sam ceng, Wi Tiong hong berhasil mengenalinya.
Paras muka Wi Tiong hong menjadi amat murung dan sedih, air mata mengembang dalam matanya, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak usah. coba bayangkan sendiri bila seorang anak melihat ayahnya dalam keadaan begini. terlepas apakah dia tulen atau palsu, siapa yang bisa tega dan tahan?"
Melihat pemuda itu berbicara dengan bersungguh hati tanpa terasa nyonya setengah umur itu mengangguk.
"Yaa, perkataanmu memang benar. bila kongcu ingin pergi, akupun merasa kurang leluasa untuk menahanmu lebih lama"
Berbicara sampai disini dia lantas membalikan badan dan berbisik kepada lelaki berbaju putih itu.
"Wi ji baru datang dari jauh dan belum bersantap sekarang aku akan mengajaknya bersantap dulu. kau beristirahatlah sebentar."
Kali ini lelaki berbaju putih itu mengalihkan sorot matanya kewajah Wi Tiong hong serta menatap wajahnya lekat lekat seolah-olah dia berharap Wi Tiong hong bisa memberikan sedikit kesan yang mendalam baginya.
Ketika sorot mata Wi Tiong hong saling bertemu dengan sorot matanya, entah mengapa tiba tiba saja hatinya menjadi kecut sehingga tak tahan lagi air matanya jatuh bercucuran.
Buru-buru nyonya setengah umur itu berkata sambil tertawa ringan.
"Setelah bersantap nanti dia akan datang menengokmu lagi, duduklah yang baik sambil beristirahat."
Wi Tiong hong dapat melihat bagaimana cara perempuan itu membujuknya seperti sedang membujuk seorang anak kecil saja, seandainya lelaki berbaju putih itu benar benar adalah ayahnya, lima belas tahun belakangan ini kehidupan ayahnya sudah jelas bergantung pada perawatan dan perhatiannya yang seksama Setelah mengajak Wi Tiong hong turun loteng dengan penuh perhatian nyonya setengah umur itu bertanya lagi.
"Benarkah kongcu tidak lapar? Apakah perlu kusuruh mereka untuk persiapkun hidangan bagimu?"
"Tidak usah aku hendak mobon diri dulu"
Nyonya setengah umur itu menghela nafas panjang.
"Aaai, apa yang hendak kongcu lakukan untuk membuktikan bahwa dia benar benar adalah ayahmu?"
"Aku pun tidak tahu, tapi aku pikir bila ibuku berhasil ditemukan. sudah pasti dia orang tua dapat mengenalinya kembali."
"Sekarang ibumu berada dimana?"
"Aaai, lima belas tahun belakangan ini akupun tak pernah bersua dengan ibuku"
Sahut Wi Tiong hong sedih "Jadi kaupun tidak tahu dimanakah dia berada?"
"Menurut keterangan pamanku. ibu baru bersedia menjumpaiku bila aku telah genap berusia dua puluh tahun."
"Sekarang berapa usiamu?"
"Sembilan belas. bulan tiong ciu tahun depan adalah saatku bersua kembali dengan ibu."
"Itu berarti masih ada satu tabun lagi, Ehmm baiklah, bila kongcu dapat menjumpai ibumu, ajaklah ibumu kemari, memang satu masa yang bahagia bila kalian sekeluarga bisa berkumpul kembali....."
Sewaktu berbicara sampai disitu, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran. Setelah berhenti sejenak, diapun berkata lebih jauh.
"Pui kongcu, kau sudah datang setengah harian, tentunya kau dapat merasakan bukan. bahwa aku tidak menaruh maksud jahat kepadamu."
"Soal ini aku tahu."
Wi Tiong hong segera menjura. Sambil tersenyum nyonya setengah umur itu berkata lagi.
"Selain daripada itu, tahukah kau bahwa maksudku mengundang kedatanganmu masih dikarenakan suatu masalah lain?" 'Entah urusan apakah nyonya."
Wi Tiong bong tertegun dan segera menghentikan kata katanya. karena dia lupa dan sudah menggunakan istilah 'nyonya' lagi, namun buru buru sambungnya lebih jauh.
"Entah urusan apakah kau mencariku?"
Nyonya setengah umur itu tertawa "Sebelum kuundang kehadiranmu disini, sudah kuduga kalau kau tak akan percaya bahwa dia adalah ayahmu, tapi bagaimanapun juga aku telah berbuat sebisaku untuk mempertemukan kalian berdua, tahukah kau semenjak ayahmu memperoleh kembali sedikit perasaannya berapa tahun berselang.
dia begitu merindukan keluarganya."
Ketika berbicara sampai disitu, suaranya kedengaran sedikit agak sesenggukan, tapi segera menyambung lebih jauh.
"Tapi yang terpenting adalah berhasilnya aku mendapat kabar bahwa di dunia persilatan dewasa ini muncul seorang, pendekar muda yang bernama Wi Tiong hong dan dia memiliki sebutir mutiara penolak pedang."
"Oleh sebab itu aku lantas menduga besar kemungkinannya kau adalah ahli waris dari pendekar berbaju putih, oleh sebab aku kuatir kau percaya begitu saja dengan ucapan orang sehingga mengalami nasib yang sama seperti ayahmu mau tak mau aku rnesti menerangkan hal yang sesungguhnya kepadamu"
Wi Tiong hong yang mendengar perkataan tersebut, dimana seolah olah perempuan itu sudah tahu kalau pihak selat Tok sia telah mempersiapkan seseorang yang menyaru sebagai ayahnya, tergerak hatinya dengan segera.
Sementara itu si nyonya setengah umur itu sudah melanjutkan kembali kata katanya "Selain itu, orang orang Tok seh sia sudah mulai munculkan diri dalam dunia persilatan, ini membuktikan kalau kekuatan mereka sudah tumbuh, padahal aku mempunyai ikatan dendam kesumat sedalam lautan dengan bajingan tua she Liong itu dan bertekad hendak mencarinya untuk membalas dendam dengan kepergianku ini, nasibmu menjadi tanda tanya besar, malah bisa jadi aku akan mati bersama dengan bajingan she Liong itu.
bila aku tewas, maka ayahmu...."
Tiba tiba ia berhenti berbicara sambil menghela napas sedih, terusnya kemudian.
"Baiklah, sebelum kau dan ibumu datang kemari, terpaksa aku harus menunggu satu tahun lagi, aaai... berbicara yang sejujurnya ayahmu memang tak mungkin bisa hidup tanpa perawatan seseorang..."
Hingga saat ini meski Wi Tiong hong belum yakin kalau lelaki berbaju putih itu adalah ayahnya, namun setelah mendengar perkataannya yang bersungguh sungguh dan tandas, tanpa terasa hatinya jadi tergerak.
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu sudah tiba kembali di ruangan tengah, Wi Tiong hong segera membalikkan seraya menjura, katanya.
"Harap nyonya berhenti menghantar sampai disini saja aku hendak mohon diri lebih dulu"
Nyonya setengah umur itu benar benar menghentikan langkahnya, katanya kemudian.
"Untuk menghindarkan diri diri pengintaian lawan, selama lima belas tahun ini aku selalu hidup ditempat yang terpencil ini maaf bila aku tidak akan menghantarmu lebih jauh, semoga tahun depan kau bisa datang kemari bersama ibumu, tempat kediamanku ini berada dibukit Tay bun san."
"Akan kuingat selalu"
Habis berkata pemuda itu membalik badan dan beranjak keluar dari ruangan itu, dari belakang tubuhnya berkumandang suara helaan napas panjang dari nyonya setengah umur itu, Setelah melalu pelataran, seorang manusia berbaju hitam membukakan pintu gerbang baginya dan berkata sambil memberi hormat.
"Didepan pintu telah disiapkan seekor kuda untuk kongcu, silahkan kongcu, mempergunakannya!"
Wi Tiong hong manggut manggut seraya mengucapkan terima kasih, begitu dia melangkah keluar dari pintu, manusia berbaju hitam itu menutup pintu gerbang rapat rapat.
Melihat hal ini, Wi Tiong hong segera berpikir.
"Mereka bersikap begitu rahasia, agaknya benar benar sedang menghindarkan diri dari intaian orang orang Tok seh sia, kalau begitu apa yang dikatakan nyonya setengah umur itu kepadaku ada beberapa bagian yang dapat dipercaya."
Ketika menengok kedepan, betul juga, didekat pintu tertambat seekor kuda jempolan yang jelas dipersiapkan untuk dirinya, maka tanpa sungkan sungkan dia menuntun kuda melompat naik keatas punggungnya dan setelah mengawasi pemandangan disekeliling tempat itu, dia larikan kudanya menyusuri jalan kecil didepan situ, Dengan menelusuri jalan setapak yang itu, Wi Tiong hong harus menempuh perjalanan sejauh ratusan li sebelum tiba di Lan ki ceng pada senjanya.
Waktu itu Wi Tiong hong sudah seharian penuh tidak bersantap, dia mengisi perut lebih dulu disebuah rumah makan sebelum mencari rumah penginapan untuk beristirahat.
Keesokan harinya selesai membereskan rekening, dia mencari tahu jalan menuju kebukit Thian bok san.
Setelah diperoleh keterangan.
pemuda itu baru tahu kalau kemarin sudah menempuh perjalanan jauh yang tak ada gunanya, maka setelah keluar dari pintu rumah penginapan, dia larikan kudanya menuju keutara.
Sebelum hari menjadi gelap, dia telah tiba dikota Leng an, tempat ini sudah berjarak hanya beberapa puluh li saja dari bukit Thian bok san sebelah timur, Rencananya dia akan menginap semalam disitu baru keesokan harinya pergi ke perkumpulan Thi pit pang Maka diapun melompat turun dari kudanya didepan rumah penginapan Tong he dan minta kamar disitu.
Setelah menghidangkan air teh, sambil tertawa mendadak pelayan itu menyapa.
"Tuan. apakah kaupun hendak berpesiar ke bukit Thian bok san sebelah timur?"
Pertanyaan tersebut membuat Wi Tiong Hong tertegun.
markas besar perkumpulan Thi pit pang memang terletak disebelah timur bukit Thian bok san, sudah barang tentu tujuannya sekarang adalah Thian bok san sebelah timur "Darimana kau bisa tahu?"
Ia lantas bertanya Pelayan itu segera tertawa.
"Biasanya para pesiar sebagian besar pergi ke Thian bok san sebelah barat dan jarang sekali berkunjung ke Thian bok san sebelah timur, tapi beberapa hari belakangan ini hampir semua tamu yang datang bertujuan untuk pasang hio dikuil Tay ong bio bukit Thian bok san sebelah timur, itulah sebabnya hambapun bertanya kepada Tuan."
Perlu diketahui, wilayah seputar Ci say adalah merupakan wilayah kekuasaan perkumpulan Thi pit pang, bila ada orang yang mencurigakan memasuki daerah seluas puluhan li di seputar Thian bok san.
pihak besar Thi pit pang tentu akan mendapatkan laporannya.
Mimpipun Wi Thian hong tidak menyangka kalau pelayan tersebut sesungguhnya sedang berbicara dengan kata kata sandi, dia masih menganggap Tay ong bio adalah nama suatu tempat.
Karena perasaan ingin tahunya, tanpa terasa pemuda itu bertanya lagi.
"Bagaimana cara kita menuju Tay ong bio? Aku pun ingin menonton keramaian disitu"
Yang disebut "Tay ong bio"
Tentu saja bukan nama sebuah kuil, melainkan kata sandi untuk mengartikan markas besar perkumpulan Thi pit pang.
Tiba tiba saja air muka pelayan itu berubah hebat, sambil tertawa paksa katanya kemudian "Tuan bisa masuk lewat dusun bagian hilir, tidak sampai tiga li akan tiba di kuil Tay ong bio, setibanya disitu tentu ada orang yang akan menyambut kedatanganmu."
Selesai berkata dia lantas mengundurkan diri dari situ Wi Tiong hong juga tidak memperhatikan terlalu serius atas kejadian itu, selesai bersantap malam diapun memadamkan lampu dan tidur.
Keesokan barinya, setelah membayar rekening dia meneruskan perjalanannya menuju kebukit Thian bok san sebelah timur.
Kuda jempolan yang dinaikinya berlari sangat cepat, puluhan li dilewatkan dalam waktu singkat, tak lama kemudian ia sudah tiba diluar kota.
Baru saja dia hentikan lari kudanya dan bermaksud untuk mencari tahu letak markas besar perkumpulan Thi pit pang.
Mendadak dari depan sana muncul tiga orang lelaki berbaju biru yang menyoreng golok, dengan langkah tegap mereka datang mendekat lalu berhenti ditengah jalan dan menghalangi jalan perginya.
Kemudian terdengar lelaki yang berada disebelah kiri membentak dengan suara nyaring.
"Barang siapa tiba disekitar wilayah ini harap turun dari kudanya sobat, mengerti kau akan peraturan ini?"
Wi Tiong hong yang duduk diatas kuda dapat mengenali ketiga manusia berbaju biru itu sebagai anggota perkumpulan Thi pit pang maka setelah mendengar Kalau ada peraturan harus turun dari kudanya diapun merasa berkewajiban untuk menaatinya.
Dengan cepat pemuda itu melompat turun dari kudanya,.
kemudian sambil menjura katanya.
"Aku rasa kalian bsrtiga tentunya saudara saudara dan perkumpulan Thi pit pang. aku...."
Sebelum dia menyelesaikan kata katanya ielaki yang berdiri ditengah sudah menarik mukanya secara tiba tiba sambil membentak "Sobat berasal darimana?
Apakah kau tidak pernah mendengar tentang Tay ong bio?"
Mendadak saja Wi Tiong hong jadi ingat kembali dengan pakaian ringkas berwarna biru yang dikenakan olehnya karang, rupanya mereka telah salah sangka dengan menganggap dia sebagai anggota perkumpulan pula.
Cepat cepat dia berkata kemudian.
"Aku bukan anggota perkumpulan kalian."
"Oooh, kalau begitu sobat memang ada maksud untuk menyelundup kedalam tubuh organisasi kami."
Tukas lelaki yang berada ditengah sambil tertawa dingin.
"Heeeh... heeeh.... bukankah semalam kau menginap dirumah penginapan Tong heng? Sejak pagi tadi kami sudah menantikan kedatanganmu."
Begitu selesai berkata tiba tiba saja dia mengulapkan tangannya berulang kali.
000OdewiO000 DENGAN Diulapkan tangannya itu, dari balik dusun segera bermunculan enam tujuh orang lelaki kekar bersamaan waktunya dari belakang tubuh Wi Tiong hong juga muncul empat lima orang manusia.
Dalam waktu singkat mereka sudah mengepung Wi Tiong hong ditengah arena.
Ketika mendengar orang itu menyinggung soal rumah penginapan Tong heng dimana ia menginap semalam, dengan cepat Tiong hong menjadi paham kembali apa gerangan yang telah terjadi, rupanya pelayan itulah si pembawa berita.
Ini menunjukkan pula kalau perkumpulan Thi pit pang benar benar merupakan suatu organisasi yang amat ketat penjagaannya, jangan harap orang luar bisa menyelundup masuk kedalamnya.
Maka sambil tersenyum diapun berkata.
"Saudara sekalian, apa yang terjadi hanya merupakan suatu kesalahan paham belaka."
"Tak usah banyak bicara lagi."
Tukas laki2 ditengah sembari membentak keras "Lebih baik kau menyerahkan diri saja atau memang bendak memaksa kami untuk turun tangan?"
Agaknya orang yang berada ditengah merupakan pimpinan dari rombongan tersebut.
Sudah tiga kali Wi Tiong hong berusaha menjelaskan duduknya persoalan, namun tiap kali selalu ditukas oleh orang tersebut lama kelamaan dia menjadi naik pitam sendiri, dengan kening berkerut segera bentaknya keras.
"Aku datang untuk menengok Ting pangcu, bila kalian bersedia masuk dan memberi laporan, segera akan kalian ketahui siapa gerangan diriku."
SLelaki yang berada ditengah itu tertawa dingin.
"Dalam pandangan mata seorang lelaki sejati tak akan kemasukan secuil pasir. kau ingin mencatut nama orang lain untuk berlagak sok dihadapan kami?"
Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling seraya membentak.
"Saudara sekalian, mengapa tidak kalian bekuk cecunguk tersebut?"
Belasan orang Ielaki kekar itu serentak menggulung ujung lengan masing masing sambil mendesak maju kemuka menghampiri Wi Tiong hong.
Salah seorang diantara mereka segera berteriak dengan suara yang parau seperti hampir retak "Bocah keparat, lebih baik menyerah saja untuk kami belenggu!"
Saat ini amarah Wi Tiong hong sudah memuncak.
namun mengingat dia adalah wakil pangcu, apalagi mesti memberi muka kepada Ting toakonya, sudah barang tentu anak muda tersebut tak ingin beribut ribut dengan mereka.
Berpikir akan hal ini, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya, tiba tiba dia saksikan sederet pohon siong yang tumbuh tiga kaki dihadapannya sana, satu ingatan segera melintas didalam benaknya mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa nyaring.
Dengan sorot mata memancarkan cahaya tajam tiba tiba ia membentak nyaring.
"Berhenti semua ! Bila kalian berani maju selangkah lagi kedepan, pohon tersebut adalah contohnya!"
Ditengah bentakan keras, telapak tangan kanannya segera diayunkan kemuka membacok sebatang pohon siong yang tumbuh tiga kaki dihadapannya sana.
Bentakan tersebut keras bagaikan suara guntur yang membelah bumi, sedemikian kerasnya sampai belasan lelaki kekar merasakan telinganya mendengung keras.
Sementara semua orang dibuat terperanjat oleh bentakan itu, mendadak....
"Kraaaakkk!"
Sebatang pohon siong besar yang tumbuh tiga kaki dihadapan mereka telah tersambar hingga patah menjadi dua bagian dan roboh keatas tanah dengan menimbulkan suara keras.
Padahal batang pohon itu besar sekali, tapi sekarang tumbang keatas tanah bagaikan dipapas dengan golok tajam.
Peristiwa tersebut segera membuat beberapa orang lelaki kekar itu mati kutunya.
Semua orang saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun, sebab setiap orang sadar bahwa tubuh mereka tidak sekekar dan sekeras batang pohon tersebut.
Sementara semua orang diliputi suasana tegang bercampur panik mendadak dari kejauhan sana bergema datang suara derap kaki kuda yang amat ramai berapa saat kemudian terdengar ada orang bersorak gembira.
"Hooree.... Tam huhuat telah datang."
Wi Tiong hong segera berpaling kedepan, mmuncul juga, yang muncul adalah si telapak tangan baja Tam See hoa!
Dari atas kudanya Tam See hoa sudah membawa belasan orang anggota perkumpulannya sedang berkumpul menjadi satu, sementara disisi jalan tergeletak sebatang pohon siong yang tumbang, dia sadar bahwa suatu peristiwa telah terjadi disitu.
Dengan cepat dia menarik tali les kudanya lalu menegur.
"Hei, apa yang tefah terjadi disini?"
Waktu itu Wi Tiong hong mengenakan pakaian ringkas berwarna biru, wajahnya juga telah diubah dengan obat penyaru, tak heran kalau Tam See hoa tak mengenalinya Belasan orang lelaki itu serentak memberi hormat.
kemudian pemimpin mereka menjawab.
"Hamba mendapat laporan semalam bahwa ada seorang manusia yang mencurigakan menginap dirumah penginapan Tong heng, konon orang itu sedang berusaha mencari alamat markas besar kita, maka tadi hamba lakukan pemeriksaan yang ke dimulut bukit, betul juga, hamba segera menjumpai orang yang dimaksud..."
Sesudah mendengar laporan tersebut Tam See hoa baru berpaling dan mengamati wajah Wi Tiong hong Buru buru Wi Tiong hong memberi hormat sambil menyora.
"Selamat bersua saudara Tam,"
Tam See hoa tertegun lalu menegur "Siapa anda? Maaf bila aku orang she Tam tidak mengenal dirimu...."
Tatkala mendengar Wi Tiong bong menyebut Tam See hoa sebagai saudara Tam tadi, lelaki pemimpin rombongan tersebut tampak terperanjat, tapi setelah mengetahui kalau Tam See hoa tidak kenal dengan ia keberaniannnya muncul kembali.
Tiba tiba saja dia menimbrung.
"Sobat ini berkata hendak datang menjumpai pangcu?"
Wi Tiong hong segera tertawa terbahak bahak.
"Haaah.... haaah... haaah... saudara Tam, akupun sudah tidak kau kenali lagi."
Kali ini Tam See hoa dapat mengenali suara tersebut sebagai suara Wi Tiong hong, tiba2 saja dia melompat turun dari kudanya, kemudian dengan perasaan terkejut bercampur gembira serunya.
"Kau adalah Wi tayhiap!"
Wi Tiong hong tersenyurn "Benar, aku adalah Wi Tiong hong."
Ketika nama "Wi Tiong hong"
Masuk ke dalam telinga lelaki pemimpin rombongan itu.
seketika itu juga ia berdiri bodoh.
Mimpipun dia tak menyangka kalau lelaki bermuka merah yang berada dihadapannya sekarang tak lain adalah sahabat karib Ting pangcu mereka dimana hingga saat ini merupakan pejabat pangcu mereka.
Seketika paras mukanya berubah menjadi merah padam, dengan gugup dan ketakutan ia membungkukkan diri memberi hormat kemudian serunya dengan suara memelas "Hamba memang benar benar pantas mati, sungguh mati hamba tak tahu kalau pejabat pangcu Wi tayhiap yang telah berkunjung tiba, bilamana hamba telah melakukan kesalahan tadi mohon Wi tayhiap sudi maafkan."
Saat itu Si telapak tangan baja Tam See hoa lebih banyak gembiranya daripada kejut, sambil berpaling ia membentak.
"Manusia yang tak punya mata, mengapa kalian menyalahi Wi tayhiap? Sekembalinya nanti tunggu hukuman diruang belakang."
Buru buru Wi Tiong hong menggoyangkan tangannya berulang kali, cegahnya.
"Mereka tidak kenal diriku, siapa tidak tahu dia tak bersalah. biar urusan disudahi sampai disini saja, Asal lain kali mereka tahu diri dan bertanyalah sampai jelas jika ada sahabat kangouw yang berkunjung kebukit Thian bok san sebelum bertindak, sehingga kesalahan paham dapat dihindari."
"Kalian sudah mendengar?"
Tam See hoa segera membentak "Bila kalian berani bertindak sembrono sebelum duduk persoalan menjadi jelas, hukuman akan menanti kalian semua."
Lelaki pemimpin rombongan itu segera mengiakan berulang kali Tam See hoa tidak menggubris orang itu lagi kepada Wi Tiong hong katanya kemudian seraya menjura.
"Wi Tayhiap, silahkan naik keatas kuda."
Wi Tiong hong melompat naik ke punggung kuda disusul oleh Tam See hoa, dengan jalan bersanding kedua orang itu melanjutkan perjalananrya naik gunung Kurang lebih beberapa puluh kaki kemudian Tam See hoa baru berbicara setelah menengok kesekitar situ dan yakin tiada manusia disekitarnya.
"Kedatangan Wi tayhiap sangat kebetulan sekali, sepuluh hari berselang siaute telah mengutus lima orang kepercayaanku untuk mencari jejak Wi tayhiap dimana mana namun hingga kini tak ada kabarnya, sementara siaute sedang gugup dan panik, untung sekali Wi tayhiap muncul tepat pada saatnya."
Berbicara sampai disini, tanpa terasa ia mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas lega.
Wi Tiong hong tidak berhasil menangkap kejanggalan didalam nada suara Tam see hoa tersebut, katanya kemudian;
"Berapa hari berselang, secara tidak sengaja aku berhasil mendapat kabar mengatakan Ting toako berhasil pulang dengan selamat, itulah sebabnya aku khusus meluangkan waktu untuk menengoknya."
Selapis Kabut gelap dengan cepat menyelimuti wajah Tam See Hoa katanya sambil menghela napas! "Aaaai rupanya Wi Tayhiap juga telah mengetahui peristiwa tersebut?"
"Aku mendengar hal ini dari saudara saudara kita yang berada dikantor pusat yang sedang mengadakan pertemuan disebuah rumah makan."
Sekali lagi Tam See Hoa menghela napas panjang. Wi Tiong hong berkata lebih lanjut.
"Sesungguhnya kedatanganku kali ini kemari karena sudah lama tak pernah bersua dengan Ting Toako, maka mumpung ada kesempatan aku ingin berkumpul dengannya, kedua akupun hendak mengembalikan lencana pena baja yang sementara kusimpankan itu kepada perkumpulan kalian. Cuma sungguh patut disesalkan gara gara aku bersikap kurang hati hati mengakibatkan lencana Thi Pit Leng itu menderita sedikit cedera."
Dengan wajah yang sedih Tam see hoa manggut manggut.
"Tempo dulu lo pangcu pernah meninggalkan ramalan dia bilang saat lencana Thi Pit leng menderita cedera, disaat itulah hari kiamat perkumpulan kami tiba agaknya ramalan tersebut memang cocok sekali dengan kenyataan yang sesungguhnya."
Ucapan mana segera menimbulkan perasaan menyesal dalam hati Wi Tiong Hong dia berkata kemudian.
"Siaute tak pernah mendengar orang membicarakan soal ini, benda apa sih yang tersimpan didalamnya?"
"Lou Bun Si"
"Lou Bun Si?"
Sekujur badan Tam See Hoa bergetar keras, ia berseru keheranan.
"Tata lencana Thi Pit leng hanya dilapisi kulit besi bagian luarnya saja, sedang didalamnya terbungkus sebatang Lou Bun si."
"Lou bun si yang tulen atau yang palsu?"
Tanya Tam See Hoa sambil membelalakan matanya.
"Tentu saja yang asli."
Wi Tiong hong tertawa. Tam see hoa manggut manggut.
"Tak heran kalau dalam dunia persilatan tersiar berita yang mengatakan bahwa dua macam benda mustika dunia yaitu lou bun si dan mutiara penolak pedang sudah terjatuh ketangan Wi Tayhiap..."
Mendadak dia berpaling kemudian tanyanya.
"Apakah kedatangan Wi Tayhiap kali ini bertujuan hendak mengembalikan lou bun si tersebut kepada perkumpulan kami?"
"Benda itu merupakan hak perkumpulan kalian tentu saja aku menyerahkannya agar disimpan sendiri oleh Ting toako."
Tam see Hoa menundukkan kepalanya tidak berbicara, lewat beberapa saat kemudian dia baru berkata kembali.
"Siaute mempunyai suatu permintaan yang kurang lazim untuk diutarakan, entah Wi tayhiap bersedia untuk menyetujui atau tidak?"
Wi Tiong Hong menjadi keheranan setelah menyaksikan rekannya berbicara dengan wajah yang sangat ragu cepat dia berkata "Silahkan saudara Tam utarakan"
Setelah ragu sejenak Tam see hoa baru berkata "Siaute tahu kalau Wi Tayhiap mempunyai hubungan persahabatan yang sangat akrab dengan Ting pangcu, tapi demi perkumpulan kami siaute minta Wi Tayhiap jangan menyinggung dulu persoalan tersebut untuk sementara waktu disaat kau berjumpa dengan Ting Pangcu nanti."
"Mengapa harus demikian?"
Tanya Wi Tiong Hong tertegun. Tam see Hoa tertawa getir.
"Siaute pernah mendengar dari cerita umat persilatan yang mengatakan bahwa Lou bun si dapat dipakai untuk menawarkan berbagai macam racun keji, oleh sebab itu untuk sementara waktu kuharap Wi Tayhiap sudi menyimpannya dulu. Siapa tahu bisa membantu beribu orang saudara dari perkumpulan kami sehingga lolos dari bencana besar kali ini."
"Apa? semua anggota perkumpulan telah keracunan? "
Tanya Wi Tiong Hong terkejut.
"Hingga sekarang keadaannya masih belum jelas, siaute hanya berharap agar sementara waktu ini jangan tayhiap serahkan benda tersebut kepada Ting Pangcu."
Berbicara sampai disitu tiba tiba dia tutup mulut dan tidak berbicara lebih jauh, Wi Tiong Hong sangat terkejut disamping curiga, dia cukup tahu sitapak tangan baja Tam see hoa sebagai pelindung hukum dalam perkumpulan Thi Pit pang yang mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam perkumpulannya.
Diapun tahu kalau orang itu setia jujur dan berpribadi luhur selama ini sikapnya terhadap Ting Toako sangat menaruh hormat dan menjunjungnya mati matian.
Tapi hari ini mengapa dia justeru mengucapkan kata kata macam ini kepadanya?
Ketika menengok kembali kedepan tak jauh disana terlihat sepasukan peronda berbaju ketat warna biru sedang berdiri sejajar ditepi jalan agaknya mereka melihat kemunculan kedua orang itu sehingga sama sama memberi jalan sambil menjura.
Tam See hoa segera menuding kedepan sana sambil berhasil berkata lagi.
"Markas besar perkumpulan kami berada didepan sana, mari Wi Tayhiap kita kesana?"
Mereka berdua segera mempercepat lari kudanya dan berangkat menuju kedepan sana.
Menanti kedua orang itu sudah lewat pasukan peronda tadi baru berdiri tegak dan melanjutkan tugasnya.
Kuda berlari amat kencang, tak selang beberapa saat kemudian sampailah kedua orang itu didepan sebuah perkampungan yang berdiri di kaki bukit.
Didepan pintu gerbang yang berwarna hitam berdiri empat orang lelaki berbaju biru tampak dua tiga orang lelaki berbaju biru hilir mudik, dilihat dari gerak mereka nampaknya sedang sibuk sekali sewaktu keempat penjaga dan saudara saudara lain yang sedang hilir mudik itu melihat kemunculan Tam See Hoa, serentak mereka membungkukkan badan memberi hormat.
Menggunakan kesempatan melompat turun dari kudanya, tiba tiba Tam See Hoa berbisik kepada Wi Tiong Hong dengan ilmu menyampaikan suara.
"Ingat baik baik perkataanku tadi Wi tayhiap, keadaan yang sejelasnya akan aku ceritakan malam nanti."
Selesai berkata dia serahkan tali les kudanya ketangan seorang centeng yang berdiri disisinya sambil berpesan.
"Cepat masuk memberi laporan kepada pangcu, katakan Wi Tayhiap telah datang."
Seorang centeng yang lain mengiakan dan segera lari masuk kedalam gedung untuk memberi laporan Tam See Hoa menunggu sampai Wi Tiong Hong datang turun dari kudanya. Kemudian baru berkata dengan hormat.
"Silahkan masuk Wi Tayhiap!"
Diiringi Tam see hooa akhirnya Wi Tiong Hong melangkah masuk kedalam gedung.
Belum jauh mereka masuk dari kejauhan sana Ting ci kang sudah berlari mendekat dengan langkah terburu buru, sambil berjalan mendekat dia berseru sambil tertawa terbahak bahak.
"Haah... Haaah... Haaah... Saudara Wi angin apa yang telah..."
Tapi setelah mengetahui bahwa orang yang masuk bersama Tam See hoa adalah seorang lelaki berwajah merah yang belum pernah dikenalnya Ting Ci kang tertegun dan tiba tiba membungkam.
Dengan cepat Wi Tiong Hong maju menyambut kedatanganna seraya berseru.
"Ting toako, siaute adalah Wi Tiong Hong."
Setelah mendengar seruan itu, Ting Ci kang baru menggengam tangan Wi Tiong Hong sambil serunya dengan gembira.
"Saudara Wi penyaruanmu hampir membuat aku tidak mengenalimu lagi. kita masuk keruangan."
Kemudian sambil berpaling ia bertanya pula.
"Saudara Tam kau berhasil menjumpai saudara Wi dimana?"
"Setiap pagi hamba selalu melakukan perondaan disekitar wilayah bukit ini. Didepan dusunlah aku berjumpa dengan Wi Tayhiap, waktu itu hambapun hampir tidak mengenalinya untuk Wi Tayhiap menyapa hamba lebih dahulu."
Ting ci kang tidak menunggu sampai Tam see Hoa menyelesaikan kata katanya sambil tersenyum dia lantas berkata kepada Wi Tiong Hong.
"Sejak kembali ke perkumpulan, aku sudah banyak mendengar kabar berita tentang saudara, haah.. haah.. hanya beberapa bulan kita tak bersua, tak nyana kalau nama besar saudara Wi sudah menggetarkan dunia persilatan sekarang."
Sementara pembicaraan berlangsung, mereka sudah menelusuri beranda disisi ruangan tamu menuju ke ruang dalam.
Setelah semua orang mengambil tempat duduk, dengan senyuman dikulum Ting Ci Kang baru berkata.
"Dari laporan saudara Tam dapat kuketahui bahwa perkumpulan kita bisa bertahan terus sampai sekembalinya diriku tak lain berkan bimbingan dan perlindunganmu, budi kebaikan ini benar benar sangat mengharukan siauheng. terimalah hormatku ini sebagai pertanda rasa terima kasih segenap anggota kami kepadamu."
Selesai berkata ia lantas menjura dalam dalam. Buru buru Wi Tiong Hong balas memberi hormat sambil ujarnya.
"Ting Toako mengapa kau berkata demikian? kita adalah sesama saudara sendiri sudah sewajarnya bila kubantu usahamu selama Ting toako tidak berada dirumah apalagi kebesaran perkumpulan Thi Pit Pang tak lebih berkat perjuangan keras saudara Tam sedang siaute cuma menyandang nama belaka, bicara soal pekerjaan aku tak pernah menyumbangkan sedikit tenagapun."
Berbicara sampai disini dia lantas mendongakkan kepalanya dan berkata kembali.
"Setelah Toako lenyap dari dunia persilatan, siaute mengira kau masih tetap berada ditangan orang orang ban kiam hwee, kemudian berjumpa dengan ban kiam hweecu dan seh tootiang dari tok seh sia siaute pun gagal menemukan suatu berita tentang toako, untung sekali toako berhasil lolos dari marabahaya. dengan begitu siaute pun bisa merasa berlega hati. Ting toako, sebenarnya kau telah diculik oleh siapa?"
Ting ci kang menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Pengalamanku tak akan habis untuk diceritakan. Ringkasnya saja waktu itu siautee jatuh ketangan congkoan pasukan pedang berpita hitam Chin Tay Seng dari Ban Kiam Hwee, Chin tay seng bersikeras mengatakan bahwa Lou bun si sudah terjatuh ketangan orang orang Thi Pit pang Terhadao siau heng, diapun melakukan penyiksaan berat untuk memaksa aku mengaku, ketika itu siaute mengira jiwaku pasti melayang maka dibalik pakaianku kutinggalkan pesan surat berdarah yang menetapkan saudara Wi sebagai penerus kedudukan ketua perkumpulan Thi Pit Pang.... Mendengar hal mana Wi Tiong Hong segera berseru dengan marah.
"Bajingan tua she Chin ini telah menghianati perkumpulan Ban Kiam Hwee, untung dia berhasil dibekuk oleh Ban kiam Hweecu. Aku yakin dia tentu tak bisa mati secara baik baik?"
"Apa? Chin Tay seng telah menghianati Ban Kiam hwee?"
Tanya Ting Ci Kang keheranan.
Perlu diketahui masalah berhianatnya Chin tay senga dari perkumpulan Ban Kiam Hwee tak pernah disebar luaskan oleh pihak Ban Kiam Hwee sedang pihak Tok seh sia yang terlibat sudah barang tentu enggan mengumumkannya pula, Itulah sebabnya tiada orang persilatan yang mengetahui akan kejadian tersebut.
Sementara itu Ting Ci kang telah berkata lebih jauh.
"Kemudian aku dengar saudara Wi telah mempergunakan lencana siu lo ci leng minta orang kepada Chin Tay Seng, dimana akhirnya dia perintahkan wakilnya Pak Bun si untuk menyamar sebagai siauheng dan merampas Lou bun su dari tanganmu, waktu itu sebenarnya mereka berniat membunuh siauheng guna menghilangkan jejak bila hal tersebut terjadi tentunya kejadian ini tak bakal diketahui orang. Pada saat itu siauheng menderita luka parah, keadaanku kritis sekali, mereka sudang mengirimku ke sik jin tian guna menggantung aku telah memperolah pertolongan dari seorang loocianpwee, dimana beliau telah membunuh Pak bun hwi dan menolong siauheng sampai lukaku sembuh kembali, setelah sehat kembali siauheng langsung kembali kesini!"
Cerita tersebut sama sekali tidak terperinci, baru datang sehingga dia hanya menceritakan garis besarnya saja.
Tam See Hoa yang duduk disampingnya tanpa terasa menengok sekejap kearah Wi Tiong Hong.
Sementara itu Wi Tiong Hong mendengarkan dengan seksama, sampai Ting Ci Kang selesai berkisah, dia baru menghembuskan napas panjang seraya bertanya.
"Entah siapakan locianpwee yang telah menyelamatkan toako itu?"
Ting ci kang segera tertawa.
"Atas undangan siauheng kini cianpwee tersebut telah berdiam dibukit thian bok san maka jarang sekali bertemu dengan orang. Sekarang saudaraku baru datang, berdiamlah beberapa hari dulu. tentunya siauheng akan mengajakmu menjumpainya."
Sekali lagi Tam See Hoa melirik sekejap kearah Wi Tiong Hong, namun sayang Wi Tiong Hong tidak memperhatikan akan hal tersebut.
Sambil bersantap siang, Tam See Hoa bangkit untuk mohon diri sebentar selang beberapa saat kemudian dia muncul kembali dalam ruanga.
Ting ci kang segera bertanya.
"Saudara Tam disini tak ada kejadian apa apa bukan?"
"Saudara saudara kita dari kantor cabang Thian Heng dan Go Heng datang memberi laporan, hamba telah mengaturkan tempat beristirahat bagi mereka."
"Bagus sekali !"
Ting ci kang sambil manggut manggut. Setelah Tam See Hoa duduk kembali dibangkunya sambil tersenyum Ting Ci kang baru berkata lagi kepada Wi Tiong Hong.
"Setelah berpisah beberapa bulan, namamu sudah tak asing lagi bagi dunia persilatan, disamping aku bergirang untuk keberhasilanmu maka akupun cuma mendengar sepotong sepotong, bagaimanakah keadaan yang sebenarnya? harap Saudara Wi suka bercerita."
Wi Tiong Hong bercerita secara garis besarnya. Selesai mendengar penuturan itu, dengan girang Ting Ci Kang segera berseru.
"Rupanya saudara Wi adalah keturunan dari pek ih Tayhiap tak heran kalau wibawamu luar biasa serta melebihi orang lain haah... haaahh... sekarang asal usulmu sudah menjadi jelas asal empek masih hidup dalam dunia ini suatu ketika duduknya persoalan tentu akan menjadi jelas dengan sendirinya.
"Soal kepergianmu ke selat Tok seh sia aku rasa kurang baik jika kau pergi seorang diri kebetulan siauheng tak ada urusan apalagi soal perkumpulan bisa diselesaikan saudara tam, bagaiman kalau aku menemani perjalananmu nanti?"
Dengan perasaan berterima kasih sekali buru buru Wi Tiong Hong berseru.
"Maksud baik toako, siaute terima dengan senang hati."
Ia sama sekali tidak menerangkan kepada Ting Ci Kang kalau Ban Kiam Hweecu telah meminjamkan kitab pusakanya setelah berhenti sejenak katanya kembali.
"Sebelum berpisah dengan paman siaute telah mewarisi serangkaian ilmu pedang, paman minta siaute pulang ke bukit Hwee Giok san untuk melatih diri, sedang sekarang siaute belum tahu dimanakah letak tok seh sia yang sesungguhnya.
"Ditambah lagi tiga bulan mendatang siaute masih punya janji dengan Ban Kiam Hweecu siapa tahu mereka mengetahui letak selat pasir beracun itu. Maka siaute pikir hendak memenuhi janji dengan Ban Kiam Hwee cu lebih dulu sebelum berangkat ke selat pasir beracun."
Ting Ci Kang segera termenung tanpa berbicara. Wi Tiong Hong mengangkat kepalanya lalu berkata lebih jauh.
"kedatangan siaute kali ini, kesatu karena mendengar toako lolos dari bahaya dan berhasil pulang dengan selamat sehingga buru buru ingin bertemu dengan toako..."
Rupanya tanpa disadari hari telah menjadi gelap, pelayan muncul secara tiba tiba untuk memasang lentera serta mempersiapkan kembali hidangan malam.
Menggunakan kesempatan itu, Tam See Hoa segera mengerling sekejap kearah Wi Tiong Hong sambil memberi tanda, kemudian berkata.
"Wi Tayhiap baru saja datang dari tempat yang jauh, santapan siang tadi diselenggarakan terburu buru maka malam ini khusus dipersiapkan hidangan yang lebih baik untuk menyambut kedatangan tayhiap, mari kita bersantap dulu."
Sebagai orang yang berjiwa terbuka Ting Ci kang segera bangkit berdiri seraya tergelak.
"Betul, betul saudara Wi baru datang dari jauh mari kita minum arak sampai puas" 000000dw00000 Sesudah perkataannya ditukas ditengah jalan oleh Tam See Hoa tadi, kecurigaan yang muncul dihati Wi Tiong Hong semakin bertambah, apalagi diapun menyadari sesuatu gejala yang aneh, dia seolah olah merasakan hubungan yang aneh dengan Ting Ci Kang, Tanpa terasa segera pikirnya.
"Bagaimanapun juga aku toh baru datang baiklah, biar Lou Bun Si kukembalikan kepada Ting toako dalam kesempatan mendatang."
Maka diapun bangkit berdiri seraya berkata.
"Siaute kan bukan orang luar, buat apa toako mesti bersikap sungkan sungkan?"
Kembali Ting Ci Kang tertawa bergelak.
"Haah... Haaah.. Haah... siaute baru saja datang sudah sepantasnya bila aku sebagai toako menjadi tuan rumah yang baik, mari mari jangan biarkan hidangan menjadi dingin."
Dia menarik Wi Tiong Hong untuk mengambil tempat duduk, sedangkan Tam See Hoa mendampingi disampingnya.
Hidangan kali ini memang lezat dan mewah, mereka bertiga bersantap sampai betul2 kenyang sebelum bubar.
Selesai bersantap, hidangan air teh wangi lalu disuguhkan, Mereka bertiga berbincang lagi beberapa saat, Ting Ci kang baru melihat cuaca sambil berkata.
"Saudara Wi, kau tentu merasa letih sesudah menempuh perjalanan jauh, lebih baik beristirahatlah dahulu, mari tidur dikamarku saja, dengan begini kita dua bersaudara bisa berbincang bincang lagi lebih mendalam."
Tam See Hoa segera menimbrung.
"Hambe telah menyiapkan sebuah kamar tamu yang tenang dan bersih untuk Wi Tayhiap, Hamba rasa Wi Tayhiap menempuh perjalanan jauh, maka entah sedang beristirahat ataukah bersemedi, seorang diri didalam kamar yang tersendiri rasanya jauh lebih leluasa, entah bagaimanakah pendapat pangcu?"
Sambil tertawa Ting Ci Kang segera manggut manggut.
"Benar aku memang lupa memikirkan tentang persoalan ini, kalau begitu harap saudara Tam suka mengantar saudara Wi untuk pergi beristirahat?"
Tam See Hoa segera mengiakan, kemudian sambil tersenyum katanya kepada sianak muda.
"Wi Tayhiap harap ikut siaute?"
Wi Tiong Hong mengikuti Tam See Hoa keluar dari ruang tengah melalui serambi depan dan membelok kekiri menikung ke kanan dan akhirnya tiba di sebuah bangunan mungil yang berdiri menyendiri.
Sekeliling bangunan tersebut penuh tumbuh anekan bungan dan pepohonan sehingga terasa rindang dan nyaman setitik cahaya lentera nampak menyorot keluar dari balik kertas jendela, Sambil mendorong pintu kamarnya Tam see hoa berkata kemudian sambil tersenyum.
"Kamar tamu ini khusus disediakan untuk Wi Tayhiap maaf kalau aku tidak masuk kedalam berhubung masih ada urusan lain"
"Oh silahkan saudara Tam,"
Buru buru Wi Tiong Hong berseru.
Setelah memberi hormat Tam See Hoa membalikkan badan dan mengundurkan diri tapi sebelum membalikkan badan itulah mendadak bisiknya lagi kepada Wi Tiong Hong dengan ilmu menyampaikan suara.
"Aku akan datang selewatnya kentongan pertama nanti, akan kujelaskan semua masalah kepadamu."
Sementara Wi Tiong Hong masih tertegun oleh bisikan tersebut, Tam See Hoa telah beranjak keluar dari halaman rumah dengan langkah lebar.... Melihat hal tersebut, iapun segera berpikir.
"Agaknya Tam See hoa memang ada maksud untuk mengatur aku tinggal disini, sikapnya luar biasa serta usahanya mencegah aku berbicara soal Lou Bun si dengan Ting Toako sungguh mencurigakan hatiku... entah apa saja yang hendak ia bicarakan setelah kentongan pertama malam nanti?"
Berpikir sampai disitu, dia lantas melangkah masuk kedalam ruangan, ternyata gedung itu semuanya diatur dengan indahnya, lengkap dengan perabotan dan dekorasi yang mewah. -oo0dw0ooo-
Jilid 8 DEKAT DINDING terdapat sebuah pembaringan kayu dengan seprei dan kelambu yang bersih dan indah, disisi kiri dekat meja terdapat sebuah meja baca, selain alat tulis disitu terdapat pula beberapa
Jilid kitab dan sepoci air teh.
Sebuah tempat lilin terbuat dari perak dengan sebatang lilin merah, memancarkan sinarnya menerangi seluruh ruangan Ketika Wi Tiong hong merasa waktu masih pagi, diapun duduk di depan meja sambil menghirup teh, sementara pikirannya melayang membayangkan kembali kejadian demi kejadian yang dialaminya selama ini.
Akhirnya dia menyimpulkan bahwa masalah dalam dunia persilatan memang amat kalut, bila seseorang sudah terjun ke dalam dunia persilatan, maka selamanya dia tak akan bisa hidup tenang.
Setelah duduk berapa saat, ia merasa pikiran dan perasaannya makin bertambah kalut, maka pelan-pelan dia pun bangkit berdiri dan naik ke atas pembaringan untuk merebahkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba didepan pintu muncul sesosok bayangan hitam disusul seseorang mendeham.
Wi Tiong hong segera merasakan akan hal tersebut, baru saja ia hendak menegur.
Mendadak terdengar orang itu berbisik lirih.
"Wi tayhiap, apakah kau sudah tertidur?"
Wi Tiong hong dapat mengenali suara itu sebagai suara dari Tan See hoa dengan cepat ia melompat bangun kemudian serunya.
"Saudara Tam kah diluar? Silahkan masuk..."
Tapi Tam See hoa tetap berdiri didepan. pintu sambil berkata dengan suara rendah.
"Tempat ini bukan tempat yang sesuai untuk berbicara, harap Wi tayhiap sudi mengikuti diriku."
Wi Tiong hong semakin bertambah curiga setelah menyaksikan gerak-geriknya yang begitu berhati-hati serta main sembunyi, tanpa terasa ia bertanya.
"Saudara Tam hendak mengajak aku pergi kemana?"
"Ditempat ini banyak terdapat mata-mata, aku ingin mengajak Wi tayhiap berbincang bincang diluar saja."
Wi Tiong hong segera berpikir.
"Biarpun aku baru berbicara empat mata dengannya dua kali dengan pertemuan kali ini, namun rasanya dia tidak mirip orang licik yang berbahaya, namun anehnya mengapa hari ini dia justru memperlihatkan gerak-gerik semacam ini? Jangan-jangan dia memang benar-benar mempunyai urusan penting?"
Berpikir sampai disitu, dia pun lantas mengangguk.
"Baiklah, harap saudara Tam sudi membawa jalan."
Tam See hoa tidak banyak berbicara lagi, dia segera membalikkan badan dan menuju keluar.
Wi Tiong hong mengikuti dibelakangnya setelah melalui dua lapis gedung, sampailah mereka dibawah sebuah dinding pekarangan tersebut...
Wi Tiong hong segera mengikuti dibelakangnya dan ikut melompat keluar dari dinding pekarangan.
Tanah perbukitan terbentang diluar pagar pekarangan tersebut ternyata mereka sudah tiba di kaki bukit.
Tam See hoa segera mengajak Wi Tiong hong meneluri sebuah jalan setapak yang membentang didepan situ.
Ketika Wi Tiong hong menyaksikan gerak-gerik Tam See hoa semakin mencurigakan, tanpa terasa ia meraba pedangnya lebih dulu, kemudian baru menyusul dibelakangnya.
Selayang mata memandang, batuan karang tersebar dimana-mana, sepanjang jalan setapak itu tumbuhan bambu tumbuh penuh dengan rimbunnya Kali ini Tam See hoa bergerak maju terus kedepan, tak selang berapa saat kemudian, sampailah mereka diatas sebuah tebing batu yang menonjol keluar.
Tam See hoa berhenti bergerak dan membalikkan badan sambil menjura kepada pemuda itu.
katanya.
"Nah, kita sudah sampai ditempat tujuan silahkan Wi Tayhiap duduk dibatu."
"Saudara Tam, bila kau ada persoalan katakan saja."
Tam See hoa tertawa.
"Apakah Wi Tayhiap merasa gerakku ini sangat aneh dan mencurigakan?"
"Benar. aku memang merasa demikian."
Tam See hoa segera menghela napas panjang.
"Aaaai persoalan ini menyangkut masalah hidup matinya perkumpulan Thi pit-pang, karena itu mau tidak mau aku harus bertindak sangat berhati-hati, dengan berada ditempat yang tinggi maka kita tidak usah kuatir ada orang akan menyadap pembicaraan kita, dengan begitu akupun bisa berbicara secara blak-blakan."
Wi Tiong hong merasa semakin keheranan lagi setelah melihat ia berbicara dengan serius, tak tahan lagi segera katanya.
"Saudara Tam, kau berbicara dengan begitu serius, sesungguhnya apa yang telah terjadi ?"
"Aku tahu, Wi tayhiap pasti mempunyai banyak kecurigaan tentang diriku, mungkin saja kau menganggap gerak-gerikku banyak yang melampaui kebiasaan, aaai... selama sepuluh harian ini. saban hari aku selalu berharap kehadiran Wi tayhiap, boleh dibilang waktu-waktu yang kulewati selama ini selalu kulewati dalam kegugupan dan kepanikan."
"Sungguh beruntung akhirnya Wi tayhiap datang tepat pada waktunya, mungkin hal ini disebabkan perkumpulan Thi pit pang selalu menolong kaum fakir miskin dihari-hari biasa hingga tidak sampai mengalami kehancuran..."
Semakin mendengar, Wi Tiong hong merasa semakin bertambah curiga, ia pun merasa semakin keheranan, akhirnya dengan kening berkerut katanya.
"Saudara Tam, sebenarnya apa yang telah terjadi, harap saudara Tam sudi menerangkan"
"Sesudah pembicaraan yang begitu lama dengan pangcu hari ini, apakah Wi tayhiap tidak menjumpai sesuatu yang aneh atas dirinya?"
"Apa maksud saudara Tam berkata demikian ? "
Tanya Wi Tiong hong dengan perasaan bergetar keras.
"Maksudku, harap Wi tayhiap suka berpikir dengan seksama, apakah didalam pembicaraan panrgcu hari ini, terdapat bagian-bagian yang rasanya kurang berterus terang."
"Soal ini siaute sama sekali tidak merasakan."
"Misalkan saja seperti kisah pangcu sewaktu meloloskan diri, apakah kau tidak merasakan ada bagian-bagian yang patut dicurigakan ?"
"Apakah saudara Tam maksudkan, penjelasan dari Ting toako kurang terperinci ?"
Tam See hoa manggut-manggut.
"Pangcu sudah tiga bulan lamanya lenyap dari dunia persilatan, tapi dia pun hanya menerangkan sampai lukanya sembuh, ia baru pulang untuk menutupi kejadian ini, kepada Wi tayhiap menerangkan begitu, kepadaku pun berkata demikian"
Wi Tiong hong lantas teringat kembali dengan perbuatan Chin Tay seng tempo hari, dimana ia telah memerintahkan wakil congkoannya Pak Bun siu untuk menyamar sebagai Ting Ci kong.
Tiba-tiba saja hatinya terkejut, tanyanya tanpa terasa.
"Apakah saudara Tam menaruh curiga bahwa orang yang kita jumpai tadi bukan Ting toako ?"
Tam See hoa segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Dia adalah pangcu yang asli tak bakal salah lagi."
"Kalau memang benar Ting toako, lantas apa lagi yang patut saudara Tam curigai?"
Tanya Wi Tiong hong lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya. Tam See hoa menghela napas sedih.
"Aaaai. justru disinilah letak kesukaran tersebut, sejak kecil Ting pangcu sudah di asuh dan dididik oleh lo pangcu kami, dia jadi orang berjiwa terbuka dan amat setia kawan, sikapnya terhadap saudara-saudara seperkumpulan pun akrab seperti saudara sendiri, justru karena sikap inilah dia selalu disanjung dan dihormati oleh segenap anggota perkumpulannya."
Berbicara sampai disitu, lanbat laun ia semakin dipengaruhi emosi, katanya lagi setelah berhenti sejenak.
"Tapi sejak kembali dari pengasingan kali ini, sifat pangcu justru berubah sama sekali, setiap perbuatannya bahkan bersimpangan ataupun bertolak belakang dengan wataknya dimasa lampau, dia selalu berusaha untuk melenyapkan anggota-anggota perkumpulan secara halus..."
Wi Tiong hong kontan mengerutkan dahinya rapat-rapat, katanya kemudian.
"Dapatkah saudara Tam memberi penjelasan lebih terperinci lagi..?"
Tam See hoa menghela napas panjang.
"Aaaai, panjang sekali untuk menceritakan kejadian ini. sejak pulang pangcu sudah berada disini selama tiga belas hari, tapi peristiwa itu berlangsung juga sebelum pangcu kembali. Suatu ketika, mendadak beberapa orang anggota perkumpulan kami terserang penyakit menular, mereka tumpah-tumpah dan berak-berak tidak sampai berapa jam kemudian, berapa orang saudara kami itu tewas dalam keadaan yang mengenaskan. Sampai keesokan harinya, orang yang kejangkitan penyakit menular itu semakin bertambah banyak, belasan anggota kami tewas secara beruntun, hingga hari ke tiga, keadaan semakin bertambah payah, seratus orang lebih yang berada dalam markas besar hampir semuanya kejangkitan penyakit tersebut..."
"Jangan-jangan ada orang menyebarkan racun jahat ?"
Tanya Wi Tiong hong mendadak dengan kening berkerut. Tam See hoa segera menepuk pahanya seraya berseru.
"Perkataan Wi tayhiap sangat tepat, pada waktu itu akupun berpendapat demikian, air untuk makan minum kami datangnya dari sumber air diatas gunung, seandainya ada orang menyebarkan racun dalam sumber air tersebut, niscaya segenap anggota kami akan keracunan..."
Bercerita sampai disini, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan lebih jauh.
"Untung saja tengah hari ke tiga pangcu pulang secara tiba-tiba, bersama pangcu mengikuti pula tuan penolong yang telah menyelamatkan pangcu, yakni seorang kakek berjubah tosu beserta dua orang tosu kecil..."
"Pangcu menjadi sangat gelisah setelah mengetahui segenap anggota perkumpulan menderita penyakit menular, tapi kakek itu segera tersenyum, ia bilang penyakit menular semacam itu bukan masalah yang gawat dan tak usah dikuatirkan.
"Saat itu juga dia memerintahkan bocah tosu yang mendampinginya untuk mengeluarkan sebotol obat dan membagikan sebutir pil setiap korban yang menderita sakit. Ternyata obat itu memang mujarab sekali, hanya dalam waktu singkat setelah menelan pil tadi, semua sakit menjadi hilang dan para penderita menjadi sembuh kembali"
"Apakah saudara Tam ikut menelan obat tersebut?"
Tanya Wi Tiong hong kemudian.
"Dua hari sebelumnya kebetulan sekali aku sedang ada urusan keluar markas, baru pagi hari ketiga aku pulang, hari itu aku hanya minum secawan teh sehingga muntah berak tiada hentinya meski sakitnya tidak terlampau parah, tapi akupun ikut menelan pil pemberiannya..."
"Apakah saudara Tam merasakan sesuatu yang aneh"
Tam See hoa mendehem pelan.
"Waktu itu aku sendiri tidak terlalu menaruh curiga, tapi setelah kejadian, makin kupikirkan hatiku merasa semakin bertambah curiga, beberapa kali aku telah mencoba mengatur napas untuk memeriksa keadaan tubuhku, namun tak pernah menjumpai sesuatu yang aneh, kejadian ini benar-benar membuat aku merasa tak percaya."
"Kalau toh saudara Tam tidak menemukan sesuatu yang aneh, apalagi yang membuatmu tak percaya?"
Sekali lagi Tam See hoa menghela napas panjang.
"Aaaai, mungkin juga aku yang banyak curiga, tapi aku sudah dua puluhan tahun berkelana dalam dunia persilatan, atas dasar pengalaman yang kurang baik."
"Apa yang saudara Tam maksudkan?"
"Setelah pangcu lolos dari bahaya dan pulang dalam keadaan selamat, kemudian atas pertolongannya semua penyakit menular dapat diberantas, hal mana membuat segenap anggota perkumpulan menjadi gembira dan sama-sama menganggap dia sebagai dewa penolong."
"Selang sehari kemudian, tiba-tiba orang itu memberitahukan kepada pangcu bahwa tak lama lagi kemudian daerah, sekitar Ci say akan terjangkit penyakit menular pula dia menganjurkan kepada pangcu agar sedia payung sebelum hujan."
Wabah penyakit menular adalah bencana alam yang tak bisa diperhitungkan sebelumnya mana mungkin bisa sedia payung sebelum hujan ?
Dia menganjurkan kepada pangcu agar memberi perintah kepada segenap anggota perkumpulan dikantor-kantor cabang agar pada saatnya datang untuk menerima pil pencegah racun buatannya, setiap orang sebutir sehingga wabah penyakit itu bisa dihindari.
Wi Tionghong yang mendengar perkataan tersebut, segera berpikir dalam hatinya.
"Tidak heran kalau orang-orang dari cabang Phu kang tempo hari pada berkumpul dirumah makan, rupanya mereka sedang berunding untuk bersama-sama datang mengambil obat."
Sementara itu terdengar Tam See hoa berkata lebih lanjut.
"Pada saat itu juga aku sudah merasa kalau kejadian ini mengandung hal yang kurang beres, cuma aku merasa sungkan untuk menjelaskan secara langsung kepada pangcu terpaksa perintah itu kuturunkan ke semua kantor cabang agar melaksanakan sesuai dengan apa yang diperintahkan.."
"Selama belasan hari terakhir ini, hampir delapan sembilan puluh persen dari anggota kantor-kantor cabang telah berdatangan kemari serta menelan obat penolak wabahnya, bahkan dia selalu memerintahkan kedua orang kacung tosunya untuk melaksanakan hal ini langsung kepada yang berkepentingan, siapa pun dilarang untuk diwakili."
"Tatkala Wi tayhiap datang hari ini, bukankah kau melihat ada saudara-saudara perkumpulan kami yang berbondong bondong masuk melalui pintu gerbang? mereka tak lain adalah saudara-saudara kami yang datang untuk mendapat pil penawar racun."
Berbicara sampai disitu, ia mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang, kemudian terusnya.
"Walaupun kejadian ini sudah mendekati akhir, namun kecurigaan dalam hatiku masih belum juga bisa teratasi, beberapa kali aku pernah mencoba untuk menyelidiki asal-usul orang itu dari pangcu. Tapi saban kali, pangcu selalu mengatakan bahwa kakek ini tak ingin namanya diketahui orang, karena itu dia tak ingin mengutarakannya kepada siapa pun, malah dia sengaja menghindar bila ditanyakan soal pengalamannya selama terluka serta dimanakah ia merawat lukanya dalam tiga bulan terakhir ini."
"Meskipun persoalan ini memang tamat mencurigakan"
Kata Wi Tiorng-hong kemudian.
"tapi aku tahu, Ting toako adalah seorang yang sangat memegang janji, siapa tahu dia sudah menyanggupi permintaan kakek tersebut untuk tidak membocorkan asal-usulnya kepada orang lain, sehingga dia merasa kurang leluasa untuk memberi tahukan kepada saudara Tam...."
"Aku pun berpendapat demikian, cuma menurut pengamatanku agaknya kakek tersebut tidak mirip seorang tokoh sakti yang sudah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan, sebaliknya dia justru datang dengan suatu rencana tertentu, bisa jadi masa ambruknya perkumpulan kami sudah berada di depan mata."
Wi Tiong hong menjadi tertegun.
"Kalau toh saudara Tam merasa persoalan ini bisa berkembang menjadi begitu serius pernahkah kau bicarakan hal, tersebut dengan Ting toako?"
Sambil tertawa getir Tam See hoa menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku lihat bisa jadi kejernihan otak pangcu sudah dipengaruhi oleh semacam obat, sehingga akibatnya dia menjadi tak sanggup untuk mengendalikan diri!"
Wi Tiong hong semakin tertegun lagi, selang berapa saat kemudian ia baru berkata.
"Mengapa aku sendiri tak bisa melihat akan hal tersebut?"
"Aku sepuluh tahun lebih tua daripada usia pangcu, boleh dibilang aku melihat ia tumbuh menjadi dewasa, segala gerak gerik pangcu boleh dibilang tak bisa mengelabuhi diriku, sekalipun aku bisa melihat perubahan dari dirinya, belum tentu Wi tayhiap bisa menemukan hal yang sama."
Wi Tiong hong dapat melihat bahwa Tam See hoa berbicara dengan wajah murung dan sedih, setiap patah katanya diutarakan dengan tegas dan tidak mirip kata-kata khayalan belaka, makin lama ia merasa persoalan ini semakin mencurigakan, akhir nya ia bertanya lagi.
"Darimana pula saudara Tam bisa tahu kalau pihak lawan datang dengan membawa suatu maksud tertentu?"
"Hal ini antara lain disebabkan aku selalu merasa bahwa gerak gerik kakek tersebut amat rahasia dan misterius, dalam curiganya aku pun segera mengutus beberapa orang kepercayaanku untuk melakukan pengintaian secara diam-diam, ternyata tindakanku ini segera memberikan banyak data yang menguntungkan."
"Apa yang berhasil saudara Tam temukan?"
"Berhubung kakek itu suka ketenangan dan tak ingin ketenangannya diganggu orang, maka pangcu sengaja menyerahkan gedung Ling long san koan sebagai tempat tinggal mereka guru dan murid tiga orang."
"Ling long san koan terletak dipunggung bukit Ling long san, dulu tempat tersebut merupakan tempat pertapaan Lo pangcu, kemudian setelah lo pangcu wafat, tempat tersebut pun dirubah menjadi gedung penerima tamu agung. Pada hari pertama guru dan murid tiga orang itu berdiam disitu, pangcu telah mengirim beberapa orang centeng dan pelayan untuk membersihkan gedung serta melayani keperluan mereka siapa tahu hari kedua mereka telah dikirim kembali oleh si kakek itu, katanya mereka tidak membutuhkan pembantu."
"Kemudian dengan alasan di wilayah Ci say bakal terjangkit penyakit menular, dan demi menolong umat manusia dari mara bahaya mereka butuh membuat obat penawar racun, maka daerah tersebut semakin dilarang untuk dikunjungi siapa pun, akhirnya Ling long san koan pun berubah menjadi suatu wilayah daerah terlarang."
Wi Tiong hong segera berpikir.
"Kalau orang begitu sih masih belum bisa dibilang ada sesuatu yang tak beres."
Ooo)0d0w0(ooo SEMENTARA dia masih termenung, terdengar Tam See hoa berkata lagi.
"Seandainya kakek itu hanya bertapa di situ, sehingga tak ingin diganggu orang, keadaan mana sih tidak mengapa, tapi menurut hasil pengamatan-saudara saudara yang kuutus untuk memata-matai tempat itu konon setiap lewat kentongan kedua. Ling long san koan pasti dikunjungi orang.
"Bahkan yang masuk bukan hanya satu dua orang saja, bahkan mereka rata-rata adalah jagoan yang berilmu tinggi, saudara-saudara yang kuutus kesana hanya sempat melihat beberapa sosok bayangan manusia yang berkelebat lewat saja."
"Waah kalau begitu memang ada sesuatu yang tak beres ditempat tersebut"
Seru Wi Tiong hong kemudian dengan wajah berubah. Tam See hoa kembali menghela napas panjang.
"Ada satu hal yang lebih lebih sukar di percaya lagi, yakni setiap malam selewatnya kentongan pertama, pangcu harus pergi pula ke Ling long san, paling tidak sekali setiap kali."
"Aaah, masa iya?"
Wi Tiong hong semakin tertegun.
Setelah menerima laporan itu, pada mulanya akupun tidak percaya sampai malam empat hari berselang, aku benar-benar menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pangcu masuk kewilayah Ling long san selewatnya kentongan pertama dan selewatnya kentongan kedua baru pulang ke rumah.
"Tak lama sepeninggalan pangcu, secara beruntun berdatangan pula empat lima sosok bayangan manusia, hingga fajar menyingsing keesokan harinya ternyata mereka belum juga pergi, menurut penilaianku, kelihayan kungfu yang dimiliki beberapa orang itu jauh diatas kemampuanku, dengan sendirinya ilmu silat dari kakek tersebut lebih hebat lagi."
Selama ini Wi Tiong hong selalu beranggapan bahwa Ting toa ko nya adalah seorang enghiong yang mengutamakan kesetiaan kawan, mustahil dia akan bersekongkol dengan orang luar untuk menyabot perkumpulan Thi pit pang.
"Apalagi dia seorang pangcu, setiap patah kata yang diucap itu perintah, siapa membangkang akan perintah itu? Jadi apa guna dia berbuat begitu terhadap perkumpulan Thi pit pang?"
Masalah tersebut benar-benar membingungkan pikirannya, untuk sesaat dia menjadi kalut pikirannya dan tak tahu apa yang mesti dilakukan... Dalam pada itu, Tarn See hoa telah ber kata lagi.
"Selama berapa hari ini, aku benar-benar merasa gugup dan tidak tahu apa yang mesti di perbuat, aku hanya berharap Wi tayhiap mendengar kabar tentang kembalinya pang cu dan secepatnya menyusul kemari..."
"Menurut pendapat saudara Tam, apa maksud dan tujuan dari kakek tersebut?"
Tanya Wi Tiong-hong setelah termenung sebentar.
"Hal ini sulit untuk dibicarakan, mungkin saja dia menganggap perkumpulan Thi pit pang masih mempunyai sedikit kekuatan di wilayah Kanglam, maka dia berniat untuk mengkup perkumpulan ini, Bisa juga dia mempunyai maksud dan tujuan Iain, dia hendak memanfaatkan kemampuan dan pengaruh dari perkumpulan kami menjadi dasar dari tujuan ekspansi mereka ke luar. Tapi bisa juga mereka mempunyai musuh tangguh yang berkemampuan hebat, sehingga maksudnya hendak memperalat kemampuan kami untuk menjual nyawa bagi dirinya"
Diam-diam Wi Tiong hong merasa kagum sekali, andaikata manusia misterius itu benar-benar mempunyai suatu maksud tujuan tertentu, maka ke tiga hal yang disebut Tam See hoa telah mencakup keseluruhannya.
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia manggut-manggut.
"Semua perkataan saudara Tam memang masuk diakal, seandainya Ting toako benar-benar sudah diracuni oleh kakek tersebut, sudah pasti aku tak akan berpeluk tangan belaka.."
Baru berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan bertanya.
"Saudara Tam, dimana sih letak Ling long san koan tersebut ?"
"Apakah Wi tayhiap berniat untuk melihat-lihat keadaan?"
"Benar"
Wi Tlorg hong mengangguk.
"aku berniat untuk melihat-lihat keadaan, sebenarnya manusia macam apakah dia itu ?"
Tam See hoa termenung sejenak, kemudian baru katanya.
"Menurut pendapatku, lebih baik Wi tayhiap berdiam beberapa hari lagi disini, siapa tahu pangcu dengan sendirinya akan mengajak kau untuk berjumpa dengannya?"
Wi Tiong bong berpikir sebentar, lalu sahutnya.
"Sayang sekali aku masih mempunyai tujuan lain sehingga tak dapat berdiam terlalu lama disini, seandainya Ting toako yang memperkenalkan kami, hal ini malah mempersulit usahaku untuk menyelidiki intrik busuk di balik kesemuanya itu."
"Namun bila dilihat dari adanya orang yang hilir mudik setiap malam, sudah jelas mereka mempunyai suatu rencana besar maka dari itu aku bertekad untuk melakukan penyelidikan sendiri"
"Sungguh tak nyana Wi tayhiap begitu bersetia kawan"
Seru Tam See hoa kemudian dengan terharu.
"baik, biar aku yang menjadi petunjuk jalanmu."
Setelah mendongakkan kepalanya dan memandang cuaca, dia berkata kembali.
"Sekarang kentongan ke dua belum tiba, mungkin pangcu masih berada disana."
Berangkatlah ke dua orang itu menuruni bukit dengan cepat, dengan Tam Se hoa sebagai penunjuk jalan berangkatlah mereka menuju ke arah selatan dengan kecepatan tinggi.
Sepuluh li sudah lewat dengan cepat.
"Belum sampai ?"
Tanya Wi Tiong hong kemudian keheranan. Sambil menuding ke depan, sahut Tam See hoa.
"Bukit yang memencil didepan sana adalah Ling long san, pesanggrahan Ling long san koan terletak dibagian selatan, bila kita mendaki lewat bagian utara maka jejak kita akan sulit ketahuan."
Sementara pembicaraan berlangsung, kedua orang itu mempercepat langkahnya berlarian mendaki bukit, tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka dibukit sebelah utara.
Sambil menghimpun tenaga dalamnya, Tam See hoa bergerak menelusuri sebuah jalan setapak yang terbentang disitu, dalam beberapa kali lompatan yang ringan.
Wi Tiong hong membuntuti dibelakangnya.
Tak sampai seperminum teh kemudian, Tam See hoa sudah tiba lebih dulu dipuncak bukit itu, baru saja ia menginjak tanah, mendadak terdengar desisan tajam menyambar lewat, sesosok bayangan manusia sudah melayang turun dihadapannya.
Tam See hoa mengira Wi Tiong hong yang mendahului mencapai atas puncak, tanpa terasa ia berseru sambil tertawa.
"Wah, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Wi tayhiap jauh mengungguli.."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, dibawah sinar rembulan ia dapat melihat dengan jelas bahwa bayangan manusia yang berdiri dihadapannya bukan Wi Tiong hong seperti apa yang diduganya semula, ternyata orang itu adalah seorang lelaki berkerudung.
Dengan sorot mata yang tajau bagaikan sembilu, lelaki berkerudung itu mengawasi dirinya lekat-lekat, kemudian menegur dengan suara sedingin es.
"Sobat, siapakah kau??"
Dengan perasaan terkejut Tam See hoa menggerakkan tangannya siap mencabut ke luar senjatanya. Lelaki berkerudung itu segera mengancam lagi sambil mendengus dingin.
"Sobat. lebih baik kau jangan menggerakkan senjata"
Tahu-tahu sebilah pedang sudah ditempelkan diatas ulu hatinya. Tapi pada saat itulah terdengar suara Wi Tiong hong berkumandang pula darl belakang tubuh lelaki berkerudung itu sambil tertawa.
"Sahabat. lebih baik kau jangan main senjata, perlu kau ketahui, apabila tenaga dalam yang kumiliki ini kulontarkan keluar, niscaya isi perutmu akan hancur berantakan, dan tentunya kau pun tahu bukan bahwa hal tersebut merupakan suatu pekerjaan yang teramat mudah bagiku, ."
Pada hakekatnya Tam See hoa tak sempat melihat dengan cara apakah Wi Tiong hong bergerak naik keatas, tahu-tahu si pemuda tersebut sudah menyelinap kebelakang punggung manusia berkerudung tersebut...
Ketika mendengar seruan tadi, dengan perasaan amat gembira ia lantas berseru.
"Wi tayhiap cepat nian gerakan tubuhmu..."
Tubuhnya segera bergerak kesamping untuk menghindarkan diri dari ancaman.
Oleh karena ulu hatinya sudah ditempeli telapak tangan lawan, manusia berkerudung itu benar-benar tak berani bergerak lagi, hanya ujarnya dengan suara dingin.
"Sobat, mau apa kau?"
Dengan suatu gerakan yang cepat Wi Tiong hong menotok kedua buah jalan darah penting di tubuh manusia berkerudung itu. kemudian setelah merampas pedang dari tangannya, ia berkata sambil tertawa.
"Tak usah kuatir, aku tidak bakal merenggut nyawamu, aku cuma ingin mengajakmu berbincang-bincang"
"Jangan harap kau bisa memperoleh keterangan apa pun dari mulutku"
Seru lelaki berkerudung itu ketus.
"Kau tak ingin bicara? Aku lihat sulit sekali.."
Manusia berkerudung itu memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian membungkam diri dalam seribu bahasa.
"Apakah sobat murid orang tua itu?"
Tanya Tan See hoa kemudian. Lelaki berkerudung itu tertawa dingin, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Sobat, bila kau enggan menjawab pertanyaanku, berarti kau sedang mencari penyakit buat diri sendiri"
Ancam Tam See hoa kemudian. Manusia berkerudung itu segera tertawa dingin.
"Heeh... heaeh..heeh.. kematian sudah berada didepan mata, kau masih..."
Sorot matanya seperti sengaja memandang sekejap ke bawah bukit.
Wi Tiong hong tak menunggu sampai ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak ia menotok jalan darah bisunya, lalu membentak dengan suara lirih.
"Saudara Tam, ada orang datang, cepat kau tukar pakaiannya"
Tam See hoa terkejut, ia menurut dan segera melepaskan jubah panjang lelaki berkerudung itu dan mengenakan ditubuhnya, laIu mengerudungi pula kepalanya dengan kain kerudong yang ada.
Sementara lelaki tadi dicengkeram dan disembunyikan secara terburu-buru dibalik sebuah batu cadas.
Sementara itu terdengar Wi Tiong hong telah berkata lagi dengan ilmu menyampaikan suara.
"Saudara Tam, cepat kemari, berdirilah di hadapanku..."
Tam See hoa melompat ke hadapan Wi Tiong hong, dan pemuda itu mengerling sekejap ke arahnya sambil berkata.
"Sobat, semalam kau bertanya siapakah aku, lebih baik terangkan dahulu siapakah dirimu itu ?"
Tam See hoa sudah lama berkelana di dalam dunia persilatan, dengan cepat dia mengerti apa yang diharapkan pemuda itu dari nya Maka sambil menirukan logat pembicaraan dari manusia berkerudung yang pertama, sambil mendengus dingin katanya.
"Sobat, ditengah malam buta begini kau datang ke Ling long san, tentunya ada suatu tujuan tertentu bukan?"
"Sreeet !"
Mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, kembali ada seorang manusia berkerudung melayang turun disisi Wi Tiong hong. Begitu tiba, manusia berkerudung itu segera menegur.
"Lo ngo, buat apa kan mesti banyak ngebacot dengan orang itu. pokoknya barang siapa berani mendatangi bukit ini, kita bekuk batang lehernya dan diserahkan kepada kaucu."
Rupanya manusia berkerudung yang pertama tadi bernama Lo ngo.
"Justru karena orang ini mengatakan hendak berjumpa dengan kaucu, maka aku perlu menanyainya sampai jelas."
Sahut Tam See hoa dengan segera. Manusia berkerudung itu berpaling dan memperhatikan Wi Tiong hong sekejap, kemudian tanyanya lagi.
"Siapakah kau ? Ada urusan apa mencari kaucu ?"
Tanpa terasa Wi Tiong hong berpikir kembali.
"Entah siapakah kaucu mereka dan bagaimanakah macamnya ? Lebih baik Iagi jika aku berhasil mendapatkan sedikit informasi dari mulutnya..."
Berpikir demikian, dengan angkuh dia mendongakkan kepalanya lalu menjawab.
"Kau siapa ? Aku hendak menjumpai kaucu, tentu saja ada urusan yang hendak dibicarakan!"
Dari keangkuhan si anak muda itu, manusia berkerudung tersebut malah dibikin tertegun, akhirnya dia menjura sembari ujarnya.
"Aku nomor tiga dari huruf Hian, harap sobat menyebutkan namamu sehingga aku bisa segera kembali keistana untuk memberikan laporan.."
"Aku adalah Wi Tong hong"
"Kau adalah Wi Tiong hong?"
Hian nomor tiga terkejut, kemudian sambil berpaling ia berkata lagi.
"Lo ngo, harap kau tetap berada disini menemani sahabat Wi. segera akan kulaporkan kunjungannya kepada kaucu."
"Tunggu dulu"
Wi Tiong hong segera mencegah sambil tersenyum.
"bila kau hendak melaporkan kepada Kaucu, paling baik sekali kau membawa serta kan sesuatu"
Sambil berkata ia benar-benar mengambil secarik kertas dari sakunya dan dilontarkan kedepan.
Hian nomor tiga nampak semakin tertegun, sudah jarang sekali jago persilatan yang membawa kartu nama.
Tapi berhubung nama "Wi Tiong hong"
Boleh dibilang sedang top-topnya dalam dunia persilatan saat ini, bahkan Ban kiam hweecu yang begitu tersohor pun kalah diujung pedangnya, maka seorang kenamaan yang membawa kartu nama memang merupakan suatu kejadian yang amat lumrah.
Apalagi beberapa kali diapun mendengar kaucunya menyinggung tentang nama Wi Tiong hong, itu berarti orang ini ingin sekali dijumpainya dengan segera.
Karenanya untuk sesaat dta tak berani berayal, tanpi curiga barang sedikitpun jua dia mengulurkan tanrgannya siap menterima kartu namqa tersebut.
Padra saat itulah secepat sambaran kilat Wi Tiong hong mencengkeram urat nadi pada pergelengan tangannya, kemudian sambil tertawa ringan katanya.
"Ternyata kemampuan yang sobat miliki masih kurang matang!"
Tak terlukiskan rasa kaget Hian nomor tiga menjumpai kejadian tersebut, cepat-cepat dla mengerahkan tenaganya siap untuk meronta.
Tapi Tam See hoa sudah menotok jalan darah Kiong hiat nya dengan cepat, bahkan serunya pula.
"Lo sam, jangan berisik!"
Hian nomor tiga semakin terperanjat lagi.
"Kau bukan lo ngo?"
"Lo ngo berada disana, dan aku adalah bapakmu!"
Tiba tiba Hian nomor tiga menarik napas panjang sambil mendongakkan kepalanya.
Sambil mendengus dingin Wi Tiong hong segera mengancam "Kau ingin berpekik untuk memberitahukan konco-konco mu?
Hmm Pingin mampus nampaknya."
Dengan kecepatan bagaikan kilat dia segera menotok jalan darah Thian to hiatnya, kemudian sambil tertawa katanya.
"Aku ingin menengok kaucumu dan ini memang benar-benar hendak kulakukan, cuma aku ingin meminjam pakaianmu itu, tentunya sobat tak akan keberatan bukan?"
Sembari berkata, ia segera turun tangan melepaskan pakaian yang dikenakan Hian nomor tiga dan dikenakan ditubuh sendiri, lalu melepaskan juga kain kerudung hitamnya serta dikenakan diwajah sendiri.
Begitu turun tangan, dia segera menemukan kalau disakunya tergantung pula sebuah lencana tembaga yang diatasnya terukir kata-kata yang berbunyi "Hian sam"
Wi Tiong hong segera menyembunyikan pedang Jit siu-kiamnya baik-baiknya, menggantungkan pedang milik orang itu diluar kemudian setelah menggantungkan pula lencana tembaganya, sambil mendongakkan kepala ia berkata.
"Saudara Tam, cepat yang tertera pada lencana tembaga disakumu !"
Tam See hoa mengeluarkan lencana tembaga itu dan diperiksa tulisannya, lalu sahutnya.
"Gi ngo, mungkin huruf Gi nomor lima"
"Apakah saudara Tam telah berhasil mengetahui asal-usul mereka... ?"
Tam See hoa menggeleng.
"Biarpun di dalam dunia persilatan terdapat banyak perkumpulan rahasia, namun belum pernah kudengar ada perkumpulan dengan kode rahasia semacam ini."
Sementara pembicaraan berlangsung. Wi Tiong-hong telah menyeret Hian nomor tiga ke belakang batu besar, katanya sambil tertawa.
"Harap kalian berdua beristirahat dulu semalaman disini, maaf bila menyiksa kalian kelewatan.."
Kemudian dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari balik batu, katanya pula kepada Tam See hoa sambil tertawa.
"Saudara Tam, sekarang kita sudah boleh turun."
"Bila kita turun cara begini, meski bisa menyelundup masuk kedalam, tetapi mana mungkin bisa mengelabui kaucu mereka?"
Wi Tiong hong tertawa.
"Kalau tidak masuk ke sarang harimau,., bagaimana-mungkin bisa mendapatkan anak harimau? Asal kita bisa mengikuti keadaan dengan sebaik-baiknya dan cukup mengetahui maksud dan tujuan mereka, aku rasa hal ini masih bisa teratasi dengan mudah."
"Baik, bila Wi tayhiap hendak berbuat demikian, tentu saja aku akan mengiringi kemauanmu"
"Bilamana keadaan tidak terlalu mendesak, janganlah turun tangan secara sembarangan, lagipula sebelum fajar menyingsing kita harus harus sudah meninggalkan Ling long san koan tersebut dan membawa pulang kedua orang ini kedalam markas kita secara rahasia..."
"Soal ini aku mengerti,"
Kata Tam See hoa berangkatlah mereka menelusuri jalan setapak menuju ke kaki bukit, tak selang berapa saat kemudian mereka sudah turun dari punggung bukit tersebut.
Ketika Wi Tiong hong mencoba untuk memandang kedepan, tampak diantara pepohohan siong yang lebat berdiri sebuah gedung yang amat kokoh dan megah.
Waktu itu sudah mendekati tengah malam cahaya bintang sangat redup, malam pun kelam, angin gunung berhembus kencang menggoyangkan pepohonan serta daunan.
Bukit Ling long san yang gelap gulita terasa penuh diliputi suasana misterius yang gelap mengerikan.
Sebelum kedua orang itu berjalan mendekat, mendadak dari depan bukit situ tampak sesosok bayangan manusia bergerak mendekat, gerakan tubuhnya enteng lagi cepat, dalam sekejap mata ia sudah berhenti di muka pesanggrahan Ling long san koan lalu melompat masuk dengan melompati pagar pekarangan.
Dalam sekejap mata itulah Wi Tiong hong sudah melihat dengan jelas potongan baju serta dandanan orang itu, ternyata tak jauh berbeda seperti mereka berdua, wajahnya pun diliputi kain kerudung hitam.
Tanpa terasa dia menjadi tertegun, segera pikirnya.
Orang ini cuma berhenti sejenak di muka pesanggrahan dan segera melompat masuk ke dalam, apakah kami berdua pun harus menggunakan cara yang sama?
Tiba-tiba terdengar Tam See hoa berbisik.
"Bila ditinjau dari arah yang dituju orang itu, semestinya dia pergi ke Cing sim sian dibagian timur gedung, jangan-jangan kaucu mereka berada di ruang Cing sim sian."
Wi Tiong hong segera menyurut ke belakang, kemudian berbisik dengan suara lirih.
"Ada orang yang datang lagi, coba kita lihat apakah dia pun masuk menuju ke arah yang sama ?"
Belum selesai dia berkata, kembali tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang seperti juga orang yang pertama tadi, setelah mendekati pesanggrahan, ia berhenti sejenak kemudian melompat masuk melewati pagar pekarangan.
"Yaa benar."
Seru Tam See hoa kemudian.
"mereka semua menuju ke arah ruangan Cing sim-sian, harap Wi tayhiap mengikuti dibelakangku. mari kita pun masuk ke dalam !"
Dengan cepat dia melompat ke depan dan meluncur ke arah pesanggrahan Ling long san koan.
Wi Tiong hong tak berani berayal, dengan cepat dia mengikuti dibelakangnya, hanya didalam beberapa kali lompatan saja, mereka sudah mendekati pesanggrahan tersebut.
Tam See hoa menarik napas panjang dan menghentikan langkahnya kemudian melambung ke udara dan masuk dengan melalui pagar pekarangan.
Wi Tiong hong hanya selisih setengah langkah dibelakangnya, mereka berdua serentak melayang turun kedalam halaman hampir bersamaan waktunya.
Sudah barang tentu Tam See hoa sangat hapal dengan daerah didalam pesanggerahan Ling long san koan, dia segera mengajak Wi Tiong hong menuju keruang Cing sim sian.
Sepanjang perjalanan, sorot mata mereka yang tajam tiada hentinya memperhatikan keadaan disekitar situ, meskipun langkahnya tak melamban namun kewaspadaan ditingkatkan, mereka sama tak berani bertindak secara gegabah.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di ruang Cing sim sian, tampak dua orang manusia berkerudung yang dahulu tadi, kini sedang berdiri didepan pesanggrahan dengan tangan lurus kebawah, sikap mereka sangat menaruh hormat.
Ruang pesanggrahan tertutup oleh sebuah tirai, sehingga tak bisa dilihat keadaan dalam ruangan tersebut.
Sebagai seorang yang berpengalaman luas Tam See hoa yang melihat dua lelaki terdahulu masih berdiri hormat di luar ruangan, dia segera menyimpulkan bahwa sebelum mendapat panggilan, siapa pun tak boleh masuk secara sembarangan.
ooo)0dw0(ooo BERPENDAPAT demikian, dia pun segera memperingat langkah kakinya dan berdiri dibelakang ke dua orang itu.
Wi Tiong hong menyusul berdiri dibelakang Tam See-hoa sambil memasang telinga mengamati keadaan disekitar sana.
Terdengar dari dalam ruangan sana seseorang dengan suara yang tua berkata.
"bagus sekali kau boleh pergi"
"Baik."
Seseorang mengiakan, menyusul suara langkah kaki yang ringan berkumandang.
Setitik cahaya lentera mencorong keluar bersamaan dengan disingkapnya tirai, seorang manusia berbaju hijau muncul dari balik ruangan tersebut.
Sesudah melangkah turun dari undak-undak batu, orang itu segera melejit ketengah udara.
Tampak sesosok bayangan hitam meluncur keluar dari halaman tersebut dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya..
Memandang gerakan tubuh orang itu, boleh dibilang ia termasuk salah seorang jago kelas satu didalam durnia persilatan.
Sementara dia masih termenung, terdengar dari dalam ruangan berkumandang seruan nyaring.
"Kaucu memerintahkan Thian nomor satu masuk."
Manusia berkerudung yang berdiri dibarisan paling muka segera mengiakan dan melangkah masuk kedalam.
Berhubung wi Tiong hong merasa dia sendiripun bakal masuk kedalam, maka dengan kewaspadaan yang tinggi dia mendengarkan pembicaraan tersebut.
Terdengar Thian nomor satu berkata dengan hormat.
"Tecu menjumpai kaucu"
Begitu orang itu buka suara Wi Tiong hong segera merasakan hatinya segera merasakan hatinya bergetar keras dan pikirnya.
"Heran, mengapa suara Thian nomor satu ini seperti sangat kukenal? Siapakah dia?"
Terdengar suara yang tua nyaring itu bertanya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Tecu telah mendapat persetujuan dari ayahku."
"Bagus sekali, bagaimana dengan tugas ke dua? Pil emas penolak racun penting sekali artinya bagi perkumpulan kita, apakah kau tidak mempunyai kesempatan untuk turun tangan terhadap bocah perempuan itu.. ?"
"Pil emas penolak racun ?"
Satu ingatan segera melintas di dalam benak Wi Tiong hong.
Tiba-tiba saja dia teringat bagaimana dirinya terkena jarum beracun keluarga Lan yang ditimpukkan Lan Kun pit ke arah nya, untung sekali So Siau hui menghadiahkan sebutir pil emas penolak racun kepadanya sehingga selamatlah selembar jiwanya.
"Ya, suara dari Thian nomor satu ini mirip sekali dengan suara Lan Kun pit, jangan-jangan memang dia."
Terdengar Thian nomor satu berkata lebih jauh.
"Dalam kunjungan piau moay ke daratan Tionggoan kali ini, dia selalu didampingi oleh malaikat berlengan emas Ou Sian, hal ini membuat tecu tak bisa turun tangan untuk sementara waktu, karenanya harap kaucu sudi memberi waktu lebih lama."
Wi Tiong hong terkejut sekali, rupanya Lan Kun pit memang bermaksud untuk mencelakai adik misannya, padahal dia berhutang budi kepada nona So, jadi setelah rahasia tersebut diketahui olehnya ia tak bisa berpeluk tangan belaka.
Terdengar suara tua nyaring tadi bergema lagi.
"So loji hanya mempunyai seorang putri yang dipandang sebagai mutiara kesayangan, bila kita tak berhasil menyandera putrinya, tak mungkin ia bersedia mempersembahkan pil emas penolak racun kepada kita."
"baiklah sekali lagi kuberi waktu selama satu bulan, nah kau boleh pergi !"
"Tecu masih ada satu masalah lagi yang hendak dilaporkan kepada kaucu."
"Soal apa ?"
"Lou bun si telah diperoleh seorang murid tercatat dari Bu Tong pay yang bernama Wi Tiong hong."
Sebelum ucapan tersebut selesai diutarakan, orang itu sudah menukas sambil tertawa.
"Soal ini sudah kuketahui, malah tengah hari tadi Wi Tiong hong sudah sampai di sini dan sekarang berada dalam markas besar Thi pit pang, aku sudah memerintahkan kepada Ting Ci kang agar mengajaknya menghadapku besok, bila tiada urusan lain, kau boleh pulang."
Diam-diam Wi Tiong-hong berpikir lagi "Kalau didengar dari nada pembicaraan nya, Ting toako seperti tak ada yang menyaru, hmmm; besok dia suruh Ting toako mengajakku kemari, sudah jelas dia mengandung maksud tak baik, aaai...sebenarnya Ting toako adalah seorang manusia yang cekatan, mengapa dia begitu percaya dengan omongannya?"
Thian nomor satu melangkah keluar dari ruangan dan segera melesat keluar lewat pagar pekarangan. Dari dalam segera berkumandang lagi suara panggilan yang amat nyaring.
"Kaucu memerintahkan Ui nomor empat masuk ke dalam"
Manusia berkerudung yang berdiri didepan Tam See hoa segera mengiakan dan masuk ke dalam sambil berkata.
"Tecu menjumpai kaucu."
"Bangun, bagaimana dengan tugasmu ?"
"Tecu mendapat kabar, berapa hari berselang orang-orang dari Tok seh sia kena di kurung oleh Ban kiam hweecu dalam sebuah barisan aneh, kemudian alasan dari kedua belah pihak menarik diri adalah karena Ban kiam hwecu meski berhasil mengurung begitu banyak jago-jago Tok seh sia, namun Ban kiam hweecu pribadi justru kena dikurung oleh Liong Cay thian diatas puncak."
"Dengan cara apa Liong Cay thian berhasil mengurung Ban kiam hwee cu...?"
"Khabar yang tecu peroleh mengatakan bahwa Liong Cay thian membawa anak buah yang dilengkapi dengan empat butir peluru sakti api beracun serta delapan buah gendewa racun cairan emas"
Suara tua itu termenung berapa saat, katanya, kemudian baru bertanya lagi.
"Dari-mana ia dapatkan barang-barang tersebut ?"
"Konon Liong Cay thian berhasil membelinya dengan harga tinggi diwilayah Im kui"
Mendadak suara tua tadi mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya amat keras dan amat menusuk pendengaran.
bahkan kedengaran pula begitu mengerikan hati.
Setelah berhenti tertawa, ia baru berkata lagi.
"Bagus sekali, berita ini sangat penting artinya bagiku, coba kau menyingkir dulu ke samping"
Dan dari dalam ruanganpun berkumandang lagi teriakan nyaring.
"Hian nomor tiga masuk"
Kali ini undangan disebutkan tanpa mengikuti urutan yang berbaris, ini menunjukkan kalau tugas yang dibebankan pada Hian nomor tiga jauh lebih penting daripada Gi nomor lima.
Biarpun Wi Tiong hong memiliki nyali yang besar dan kepandaian silat yang tinggi pun, tak urung hatinya bergetar juga setelah mendengar dirinya dipanggil.
Buru-buru dia membungkukkan badannya sambil mengiakan, kemudian dengan langkah lebar masuk ke dalam ruangan.
Siapa tahu setelah melangkah masuk ke dalam ruangan apa yang terlihat membuat hatinya bergetar keras.
Tempat itu merupakan sebuah ruangan dalam yang lebar, empat penjuru ditutup dengan kain hitam sedang sebuah lentera dengan cahaya yang lembut mencorong ditengah ruangan, cukup membuat suasana disitu terasa redup dan menyeramkan.
Pada kursi utama duduk seorang kakek berjubah lebar warna hitam dan memelihara jenggot sepanjang dada, disamping bangku terletak pula sebuah tongkat bambu.
Di depan kakek itu terdapat sebuah meja kecil, diatas meja terletak hiolo yang mengepulkan asap dupa wangi.
Wi Tiong hong boleh dibilang sangat mengenal face"s itu.
dia bukan lain adalah Tok seh siacu Dibelakang kakek tersebut berdiri dua orang gadis berambut panjang, sementara di sisi kiri sebelah bawah berdiri seorang manusia berkerudung yang berdiri dengan sikap menghormat, agaknya orang itu adalah Ui nomor empat.
Bertemu dengan Toh seh siacu, Wi Tiong hong malah merasa hatinya jauh lebih lega, diam-diam ia mendengus sambil berpikir.
"Rupanya siluman yang membuat ulah dalam perkumpulan Thi pit pang adalah kau!"
Berpikir sampai disitu, dia maju memberi hormat seraya katanya.
"Tecu menjumpai kaucu.!"
"Bagaimana dengan tugas yang diserahkan padamu?"
Tanya si kakek berambut putih itu sambil menatap wajah pemuda itu lekat-lekat.
Semenjak tadi Wi Tiong hong sudah mempersiapkan jawaban dengan dengan sebaik-baiknya dengan kepala tertunduk dan membungkukkan badan memberi hormat jawabnya.
"Tecu mohon diampuni.."
Dia sengaja menghentikan kata-katanya sampai ditengah jalan. Kakek berambut putih itu segera manggut-manggut.
"Apakah kau telah menjumpai kesulitan sehingga tugas tersebut tak bisa dilaksanakan dengan sempurna?"
"Benar!"
Buru-buru Wi Tiong hong menyahut. Dua orang gadis yang berdiri dibelakang kakek itu segera menunjukkan perasaan kaget bercampur keheranan, serentak mereka berpaling kearah Wi Tiong hong.
"Bagus sekali"
Kata kakek berjtenggot putih itqu kemudian sambil mengulapkan tangannya.
"harap kau berdiri dulu disitu"
Diam-diam Wi Tiong hong menghembuskan napas panjang, akhirnya keadaan yang paling gawat ini berhasil diatasi olehnya, maka dia menurut dan segera menyingkir ke samping.
Kakek berjenggot putih itu kembali mengangkat tangannya, seorang gadis yang berdiri dibelakangnya segera berseru dengan merdu.
"Gi nomor lima masuk!"
Tam See hoa melangkah masuk kedalam ruangan, sambil memberi hormat katanya.
"Tecu menjumpai kaucu,"
Kakek berjenggot putih itu memandang sekejap kearahnya, lalu sambil manggut-manggut katanya.
"Kau juga ikut datang? Betul sekali, harap berdiri dulu disana."
Ternyata ia sama sekali tidak bertanya tugas apa pun kepada Gi nomor lima tersebut.
Kendatipun Tam See hoa merasa hal ini sama sekali diluar dugaan, toh ia memberi hormat juga sambil berdiri disamping Wi Tiong hong.
Kakek berjenggot putih itu segera berpaling kearah Ui nomor empat sambil mengelus jenggotnya, bibirnya bergetar lirih, agaknya ia sedang berpesan sesuatu.
Tak selang berapa saat kemudian.
Ui nomor empat membungkukkan badannya sambil menyahut.
"Tecu terima perintah"
Sambil membalikkan badan ia pun beranjak pergi dari situ.
Wi Tiong hong yang menyaksikan hal ini menjadi curiga, secara tiba-tiba si kakek itu menyampaikan pesannya kepada Ui nomor empat dengan ilmu menyampaikan suara, berarti pasti ada sebab musababnya.
Sementara dia masih termenung, si kakek berjenggot putih itu dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu telah menatap wajah Wi Tiong hong serta Tam See hoa, kemudian pelan-pelan katanya.
"Besar amat nyali kalian berdua."
Biarpun ia beinicara dengan suara yang mendatar, namun kedua orang tersebut menjadi amat terperanjat, sudah jelas rahasia penyaruan mereka telah ketahuan.
Sambil tersenyum kembali si kakek berjenggot putih itu berkata.
"Bukankah kalian mempunyai keberanian untuk menyelundup masuk ketempat kediaman ku? Mengapa sekarang menjadi ketakutan sehingga berbicarapun tak mampu ?"
Melihat jejak penyaruannya sudah berhasil dibongkar lawan. Wi Tiong hong pun mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha...hahaah... ternyata ketajaman matamu memang cukup mengagumkan !"
Dengan satu gerakan yang cepat ia melepaskan jubah panjangnya dan meraba gagang pedang Jit-siu kiam.
Sementara itu Tam See hoa telah melepaskan jubahnya sambil mempersiapkan senjatanya.
Dua orang gadis yang berdiri dibelakang kakek berjenggot putih itu kontan saja dibuat kaget sampai paras maka mereka turut berubah hebat.
Kakek berjenggot putih itu segera menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berkata lagi.
"Aku sama sekali tidak berniat untuk turun tangan melawan kalian berdua, jadi kalian tak perlu merasa takut."
"Aku sama sekali tak takut."
Dengan sorot mata yang tajam Wi Tiong hong tertawa tergelak. Sikap kakek berjenggot putih itu masih tetap sangat tenang, kembali ia berkata.
"Setelah kalian berdua datang kemari, mengapa tidak sekalian melepaskan kain kerudung muka itu?"
"Boleh saja kulepaskan kain kerudung muka ini, cuma semestinya kau pun harus melepaskan topeng yang menutupi wajahmu itu"
Kakek berjenggot putih itu nampak agak tertegun, kemudian sambil mengelus jenggotnya yang putih, pelan-pelan dia berkata lagi.
"Sejak kapan sih aku mengenakan topeng?"
"Haaahh,.haaaah.a. hhaaahh..bila kuhitung dengan jari, maka engkau adalah orang ke tiga yang kujumpai dengan dandanan seperti ini"
Berkilat sepasang mata kakek berjenggot putih itu, tiba-tiba ia menegur.
"Sebenarnya siapa sih sobat ?"
"Aku ingin mengetahui lebih dulu siapakah kau ?"
Kakek berjenggot putih itu termenung sebentar, kemudian jawabnya.
"Aku adalah Kiu tok kaucu."
"Ternyata dia bukan Tok seh siacu!"
Wi Tiong hang segera berpikir dihati kecilnya. Dengan cepat dia merobek lain kerudung mukanya, kemudian berseru dengan lantang.
"Aku adalah Wi Tiong-hong ."
Tam See hoa juga segera merobek kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya. Kakek berjenggot putih itu kelihatan bergetar keras karena terperanjat kemudian serunya sambil menjura.
"Oooh rupanya Wi tayhiap, sudah lama aku mendengar akan namaku..hahaheh.rupanya Tam huhoat juga datang tapi mengapa dengan menyaru?"
"Bila aku tidak datang dengan cara menyamar, bagaimana mungkin bisa mendapat tahu asal usul kaucu?"
Jawab Tam See hoa sambil tenaga seram.
"Kiu tok, darimana kau bisa tahu kalau kami berdua datang dengan cara menyamar?"
Tanya Wi Tiong hong kemudian. Kiu tok kaucu tertawa hambar.
"Aku dengar belum lama Wi tayhiap munculkan diri dalam dunia persilatan, tapi berhasil mengalahkan Ban kiam hweecu diujung pedangmu serta menahan Tok seh siaucu dengan telapak tangan, belum pernah dunia persilatan digemparkan oleh pemuda muda usia semacam kau, boleh dibilang kemampuanmu memang sangat luar biasa, belum pernah ada keduanya sedari dulu.."
Nada ucapannya sangat datar dan tenang, ternyata ia berusia untuk memuji kelihayan ilmu silat wi Tiong hoag. Tam See hoa segera berkata.
"Tahukah kaucu bahwa Wi tayhiap adalah saudara angkat dari Ting pangcu perkumpulan kami? Disaat Ting pangcu masih disekap oleh penjahat, Wi tayhiaplah wakil pangcu dari perkumpulan kami ?"
Perkataan ini sama artinya sedang memberi peringatan kepada Kiu tok kaucu, bahwa perkumpulan Thi pit pang bukan sekelompok manusia yang bisa di permainkan dengan semaunya.
Melirik sekejap kearah Tam See hoa pun tidak dilakukan oleh Kiu tok kaucu, terdengar ia berbicara lebih jauh.
"Biarpun Wi tayhiap memiliki ilmu silat yang teramat tangguh, tapi sesudah memasuki pesanggerahan Cing sim sien ku ini, pada hakekatnya seperti menghantar diri ke mulut harimau."
Sikapnya masih tetap tenang dan lembut, namun ucapannya penuh kepercayaan diri, jadi tampaknya perkataan yang diutarakan dengan maksud memuji-muji kehebatan ilmu silat Wi Tiong hong tersebut tak lebih hanya untuk menekankan kata-kata akhirnya ini.
Atau dengan perkataan lain, dia hendak mengartikan demikian.
"Biarpun kau dapat mengalahkan Ban kiam hweecu diujung pedangmu, dapat membekuk Tok seh siacu dengan tangan kosong, namun setelah berjumpa dengan Kiu tok kaucu, segala kemampuan yang kau miliki itu tak lebih hanya cukup untuk melindungi keselamatanmu sendiri."
Wi Tiong hong yang mendengar perkataan tersebut segera menyela.
"Mengapa tidak kulihat kelihayan dari pesanggrahan Cing sim sian ini ?"
Kiu tok kaucu tertawa hambar.
"Berhubung Wi tayhiap dan Tam huhoat telah datang menghantarkan diri, sekalipun aku punya rahasia juga tak boleh sampai bocor keluar, oleh karenanya apa pun yang ditanyakan Wi tayhiap tentu akan kuberi tahu."
"Wi tayhiap datang dengan menyamar sebagai Hian nomor tiga, padahal Hian nomor tiga cuma mendapat perintahku untuk menyebarkan bubuk obat pembangkit wabah disungai yang mengalir disekeliling kota Hang ciu.
"Tugas semacam ini boleh dibilang teramat mudah untuk dilaksanakan, tetapi didalam kenyataan kau datang minta maaf karena tugasnya tak bisa diselesaikan, cukup berdasarkan hal ini sudah bisa dibuktikan kalau kau bukan Hian nomor tiga yang asli, itu berarti kau cuma orang gadungan."
"Sedangkan mengenai Gi nomor lima, dia adalah orang yang bertugas meronda pada malam ini, sebelum fajar menyingsing semestinya dia tak akan balik kemari, tentu saja dia pun manusia gadungan yang datang mencatut namanya..."
"Oooh.."
Wi Tirong hong baru tahu sekarang, apa sebabnya penyaruan mereka begitu mudah diketahui lawan.
Tapi sewaktu mendengar kalau Hian nomor tiga mendapat tugas untuk menyebar obat pembangkit wabah disekitar sungai kota Hang cio.
ia menjadi amat terkesiap, tanpa terasa bentaknya penuh amarah.
"Jadi kau telah mengutus anak buahmu untuk menyebar obat racun disungai yang mengalir dalam kota Hang ciu?"
"Omong kosong"
Seru Kiu tok kaucu marah.
"Justru lantaran kulihat di daerah sekitar Ci say sudah kejangkitan wabah menular, maka kuutus Hian nomor tiga untuk menebarkan bubuk obat penawar wabah ditempat tersebut, biarpun tak sampai melenyapkan semua wabah yang sedang terjangkit, paling tidak dapat menyembuhkan sebagian orang yang menderita..."
Wi Tiong hong jadi setengah percaya setengah tidak oleh perkataan itu, untuk sesaat dia terbungkam. Mendadak terdengar Tam See hoa menjengek sambil tertawa dingin.
"Seandainya diwilayah Ci say benar-benar kejangkitan wabah menular, maka wabah tersebut sudah pasti merupakan hasil karya dari kaucu..."
"Darimana kau bisa tahu kalau wabah menular itu merupakan hasil karyaku?"
"Terjadinya peristiwa keracunan atas tubuh segenap anggota Thi pit pang sudah jelas merupakan hasil perbuatanmu yang telah meracuni mereka semua secara diam-diam."
"Tam huhoat, kau terlalu banyak curiga, andaikata akulah yang telah meracuni mereka, lantas mengapa pula kuobati mereka semua? Bila aku hendak turun tangan terhadap perkumpulan Thi pit pang, mengapa pula kubiarkan Ting Ci kang pulang?"
"Kau telah menggunakan sesuatu obat untuk mempengaruhi jalan pemikiran Ting pangcu, aku ingin tahu, sebetulnya apa maksud dan tujuanmu?"
Bentak Tam See hoa keras-keras. Kiu tok kaucu melirik sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian tersenyum.
"Wi tayhiap, apakah kau dapat merasakan bahwa jalan pemikiran Ting pangcu telah terpengaruh sehingga tidak waras?" -ooo0dw0ooo-
Jilid 9 WI TIONG HONG DI BUAT TERTEGUN atas datangnya pertanyaan tersebut, pikirnya.
"Yaa, nampaknya jalan pemikiran Ting toako memang tidak seperti terpengaruh. Cuma...."
Walaupun timbul kesangsian serta kecurigaan didalam hatinya, namun untuk sesaat ia tak dapat mengemukakan kecurigaan tersebut. Sambil tertawa dingin kembali Tam See Hoa menyela.
"Paling tidak kau toh tidak mengandung maksud dan tujuan yang baik"
"Oooh, kalau begitu aku memang tidak seharusnya menolong Ting Ci Kang dari cengkeraman Chin Tay Seng di perkumpulan Ban kiam hwee?"
Jengek Kiu Tok Kaucu sambil tertawa seram.
Pertanyaan tersebut kontan saja membungkamkan Tam See Hoa dalam seribu bahasa.
Betul seandainya Ting Ci Kang tidak diselamatkan oleh Kiu Tok Kaucu, maka orang yang tergeletak mati di kuil Sik Jin Tian tempo hari sudah pasti bukan wakil Cong Koan pedang berpita hitam Pak Bun Siu, melainkan Ting Ci Kang sendiri.
Pernyataan tersebut segera menyusahkan dirinya, tapi diapun jelas sadar bahwa kehadiran Kiu Tok Kaucu di tempat tersebut sudah jelas mempunyai suatu maksud tertentu.
Berpikir demikian, tanpa terasa ia mendongakkan kepalanya lagi seraya berkata.
"Walaupun kaulah yang telah menyelamatkan Ting pangcu, tapi kaupun mempunyai suatu maksud tertentu atas perkumpulan Thi Pit Pang ini, yang ingin kutanyakan sekarang tak lain adalah persoalan tersebut"
Sikap Kiu Tok Kaucu masih tetap amat tenang, pelan pelan ujarnya.
"Waktu, itu Ting pangcu menderita luka yang sangat parah. Dengan penuh ketelitian dan kesabaran kuobati semua luka yang di deritanya, aku harus membuang waktu selama tiga bulan lebih untuk menyembuhkan luka luka yang dideritanya. Betul, antara aku dengan Ting pangcu kalian memang terikat perjanjian. Setelah lukanya sembuh maka dia wajib membantuku untuk menyelesaikan suatu keinginan yang sudah lama kudambakan. Aku pun menjamin kepadanya jikalau usaha tersebut telah berhasil, bukan saja aku akan memberi banyak keuntungan kepada kalian, yang pasti aku tak akan melukai seujung rambutpun anggota perkumpulan Thi pit pang kalian. Tentang latar belakang persoalan tersebut maaf dewasa ini masih belum dapat kuungkapkan kepada kalian"
"Kau meminta kepada Ting pangcu yang jernih belum kau pengaruhi, bagaimana mungkin ia sanggup permintaanmu itu dengan begitu saja...?"
Kata Tam See Hoa. Kiu Tok Kaucu tersenyum.
"Keliru besar, ucapanmu itu justru merupakan kebalikannya. Justru yang hendak kulakukan dengan bantuan Ting pangcu adalah melenyapkan kaum durjana serta manusia laknat dari persilatan. Aku tidak mempunyai niat untuk melakukan sesuatu kejahatannya...."
Berbicara yang sebenarnya, Wi Tiong Hong adalah seorang pemuda yang cerdik.
Semenjak memasuki pesanggrahan Ling Long San Koan, ia selalu meningkatkan kewaspadaannya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Apalapi setelah mengetahui dari ucapan Kiu Tok Kaucu bahwa mereka sudah menghantar diri kemulut harimau Tanpa terasa pikirnya dihati "Apabila ilmu silat yang dimiliki Kiu Tok Kaucu benar-benar mampu mengungguli kami berdua, kenapa dia hanya duduk saja dikursinya tanpa berusaha untuk turun tangan?
Jikalau dibilang ia tidak bermaksud untuk turun tangan terhadap kami berdua, mengapa pula dibilang kami sudah menghantar diri ke mulut harimau dan rahasianya tak bakal tersiar keluar?"
Bila dua hal tersebut dipikirkan dengan lebih seksama lagi, maka pemuda tersebut segera menemukan kejanggalan-kejanggalan dibaliknya...
Mungkinkah ia sedang menantikan sesuatu?
Kesatu, tadi ia telah memberi perintah kepada Ui nomor empat dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, sudah jelas ia sedang mengumpulkan jago jago lihaynya.
Kedua, ia menyebut diri sebagai Kiu Tok Kaucu ini berarti dia pandai sekali di dalam penggunaan racun jahat.
siapa tahu secara diam-diam ia telah melepaskan racun ke dalam tubuh mereka berdua....?
Teringat akan hal tersebut, dengan cepat dia mencoba mengatur pernapasan serta memeriksa sekujur badannya.
Kalau tidak diperiksa keadaan masih mendingan, begitu dia mulai mengerahkan tenaganya, seketika itu juga pemuda tersebut merasakan hal-hal yang tak beres.
la merasakan kepalanya mendadak menjadi pusing dan terasa amat berat, sudah jelas ia telah terkena serangan gelapnya.
Penemuan tersebut segera membuat Wi Tiong Hong merasa tak terlukiskan kagetnya terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menutup beberapa buah jalan darah pentingnya, kemudian berkata.
"Saudara Tam, apa yang diucapkan kaucu mungkin saja ada benarnya. Lebih baik kita pulang saja lebih dulu untuk menanyakan persoalan ini kepada toako"
Tam See Hoa adalah jago kawakan yang sudah cukup lama melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, sudah barang tentu ia dapat menangkap arti lain dibalik perkataan tersebut, maka ia segera mengangguk.
"Perkataan dari Wi tayhiap memang benar. Asalkan pangcu benar benar sudah menyanggupinya, sudah barang tentu aku pun tak dapat berbicara apa-apa lagi...."
Wi Tiong Hong segera mengerling sekejap memberi tanda kepadanya agar beranjak pergi lebih dulu Tam See Hoa tak berani berayal lagi, ia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ Tiba tiba Kiu Tok Kaucu tertawa seram.
"Hee.. Hee... bagaimana? Apakah kalian berdua hendak pergi?"
"Kaucu masih ada urusan apalagi?"
Tanya Wi Tiong Hong sambil tangannya meraba gagang pedang. Kiu Tok Kaucu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Oooh tidak ada, cuma didepan pintu masih terdapat tiga orang pembantuku yang melakukan penjagaan. Mereka adalah Hian nomor tiga, Ui nomor empat serta Yu nomor lima. Mereka semua telah berkumpul disini, apabila aku belum menurunkan perintah pelepasan, mungkin tak mudah bagi kalian berdua untuk bisa menembusi pertahanan mereka semua"
Ternyata kawanan jago yang dibawa olehnya di pesanggarahan Ling Long Han Koan tersebut tidak banyak jumlahnya, selain dia sendiri cuma ada dua orang gadis dan Hian nomor tiga sekalian tiga orang jago tangguh.
Melihat ia tidak berniat turun tangan kepadanya lantas atas dasar kemampuan dari Hian nomor tiga sekalian, mana mungkin mereka sanggup untuk menghalangi perjalanan dirinya berdua?
Tam See Hoa merasa keberaniannya timbul kembali, serunya sambil tertawa tergelak "Biarpun kaucu tidak menurunkan perintah pelepasan, memangnya kau anggap kami tak sanggup untuk menerjang secara kekerasan?"
Sikap Kiu Tok Kaucu masih tetap tenang seperti sedia kala, dia malah berkata sambi tersenyum.
"Apa salahnya bila kalian berdua mencoba sendiri."
Tam See Hoa membentak keras, tahu-tahu tubuhnya sudah menyerbu kedepan pintu serta menyingkap tirainya.
Betul juga, ia segera menyaksikan seorang lelaki berkerudung berdiri menanti didepan pintu.
Selain itu masih ada dua orang manusia berkerudung lagi yang berdiri tak jauh di belakangnya, dengan begitu semua jalan keluar telah tersumbat sama sekali.
Tam See Hoa terpaksa menghentikan langkahnya, kemudian membentak keras keras "Ayo menyingkir saja kalian!"
Senjata Poan koanpit yang berada di tangan kanannya langsung disodokkan ke dada lawan.
Lelaki berkerudung yang berada didepan pintu itu bukan lain adalah Hian nomor tiga.
Ia sama sekali tidak meloloskan pedangnya.
Telapak tangan kanannya dibalik menangkis datangnya ancaman pena dari Tam See Hoa, kemudian berkata.
"Balik!"
Tam See Hoa berjulukan si pena baja.
Permainan Poan koan pit nya boleh dibilang telah memiliki kesempurnaan yang luar biasa.
Biarpun serangan tersebut dilancarkan hanya mempergunakan sebuah pena saja yang berada ditangan kanan, namun kekuatan yang disertakan didalam serangan tersebut amat dahsyat dan kuat.
Tapi kenyataannya pihak lawan hanya menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan tangan sebelah saja bukankah hal ini sama artinya dengan ia sudah tidak maui tangan kanannya lagi?
Tapi kalau dibilang aneh, disinilah letak keanehan tersebut.
Setelah Tam See Hoa melancarkan serangannya, ia baru merasakan ada sesuatu yang tak beres, ternyata ia tak mampu menyertakan setitik tenaga pun dalam serangan tersebut.
Dalam pada itu Hian nomor tiga sudah melepaskan tangkisan yang persis membentur diatas tubuh penanya.
Termakan oleh getaran tersebut, Tam See Hoa jadi sempoyongan dan mundur sejauh empat-lima langkah, kemudian tubuhnya roboh terduduk diatas tanah.
Mula-mula sepasang matanya masih sempat melotot besar, tapi kemudian ia pejamkan matanya dan roboh tak sadarkan diri.
Tirai yang semula tersingkap, sekarang tertutup kembali seperti sedia kala.
Semua peristiwa tersebut boleh dibilang berlangsung hanya didalam sekejap.
Semula Wi Tiong Hong bermaksud membiarkan Tam See Hoa beranjak pergi lebih dulu kemudian ia sebagai penahan gempuran lawan barulah setelah keluar dari pesanggerahan Cing Sim Sian.
Masalah tersebut baru dibicarakan lagi Siapa sangka Tam See Hoa yang baru tiba didepan pintu, tiba tiba saja roboh tak sadarkan diri, kejadian tersebut kontan saja mengejutkan hatinya.
Buru-buru dia maju kedepan menghampiri tubuh Tam See Hoa.
kemudian serunya sambil membungkukkan badan.
"Saudara Tam, kenapa kau?"
Sambil tertawa terbahak-bahak Kiu Tok Kaucu menggoyangkan tangannya seraya menyahut.
"Haaah... haah.... haaah.... tidak menjadi soal, dia cuma terendus dupa tidurku yang hebat sehingga tertidur. Apakah kaupun ingin tidur sejenak?"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Wi Tiong Hong, segera bentaknya keras.
"Tua bangka celaka, kau berani mencelakai orang dengan cara yang licik?"
Menyaksikan sorot mata sang pemuda yang begitu tajam bagaikan sembilu itu, diam diam Kiu Tok Kaucu merasa amat terkejut.
Nyata sekali tenaga dalam yang dimiliki anak muda tersebut betul-betul amat sempurna.
Ini terbukti dari kemampuannya untuk mengendalikan daya kerja obat tidur yang terserang kedalam tubuhnya, tanpa terasa pikirnya.
"Hmmm... biarpun tenaga dalammu amat sempurna akan kulihat seberapa lama kemampuanmu untuk mempertahankan diri..."
Berpikir demikian sambil mengelus jenggotnya yang putih ia berkata sambil tertawa seram.
"Di dalam kamarku ini, setahun empat musim selalu memasang dupa tidur yang harum baunya. Hal ini bukan bermaksud atau bertujuan jahat untuk mencelakai kalian berdua. Ini mesti disalahkan kalian belum mendapat persetujuanku telah menyelonong masuk sendiri, sekarang bagaimana mungkin bisa menyalahkan aku?"
Ketika Wi Tiong Hong melihat orang itu masih tetap duduk tak bergerak ditempat semula, ia merasa waktu berharga sekali ketika itu dan tidak boleh dibuang dengan begitu saja.
Mendadak sambil mengangkat kepala hardiknya.
"Mana obat penawar racunnya?"
Tangan kanannya bergerak cepat dan secepat sambaran petir meloloskan pedangnya.
Jit Seng Kiam tak lebih hanya sebuah pedang karat yang sama sekali tak bersinar, tapi gerak serangannya betul betul cepat sekali, dimana ujung pedangnya bergetar keras, secepat petir ia sudah mengancam dada Kiu Tok Kaucu.
Sesungguhnya Kiu Tok Kaucu melihat dengan jelas bagaimana Wi Tiong Hong melancarkan serangannya, namun ia masih tetap duduk tak bergerak ditempat semula.
Mendadak terdengar dua orang gadis yang berdiri disisinya membentak keras.
"berada dihadapan kaucu, kau pun berani bersikap kurang ajar"
Cahaya tajam nampak berkelebat lewat.
Sepasang pedang meluncur saling menyilang ke depan untuk membendung datangnya ancaman pedang dari Wi Tiong Hong.
Belum lenyap suara bentakan itu cahaya pedang sudah berpancar ke mana mana....
"Criiing! Criingg....!"
Kedua bilah pedang tersebut bukan saja gagal untuk membendung serangan ini musuh, malah sebaliknya pedang mereka terpapas kutung menjadi dua bagian oleh pedang karat lawan....
"Criiing.... traaangg!"
Kutungan kutungan pedang tersebut segera rontok ke atas tanah....
Wi Tiong Hong sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya lagi, namun ujung pedangnya telah menempel diatas dada Kiu Tok Kaucu.
Peristiwa tersebut kontan saja mengejutkan kedua orang gadis muda itu.
Saking kagetnya paras muka mereka sampai berubah menjadi pucat pias seperti mayat Kiu Tok Kaucu sendiripun merasa terperanjat didalam gugupnya dia menyambar tongkat bambunya dan dilintangkan didepan dada untuk menahan serangan Wi Tiong Hong kemudian sepasang kakinya menjejak tanah tubuh berikut bangkunya segera melejit ke belakang.
Wi Tiong Hong tertawa dingin, pedang karatnya ditusuk kedepan.
Seperti bayangan tubuh saja, dia menyusul pula kedepan seraya membentak keras.
"Kaucu tak usah menghindar atau mencoba untuk berkelit, aku sama sekali tak bermaksud mencelakaimu, tapi akupun tak sudi dicelakai orang lain. Asal kau bersedia menyerahkan obat pemunah racun itu aku orang she Wi pun tak akan banyak berurusan denganmu"
Kiu Tok Kaucu mundur selangkah seraya mengangguk, sahutnya.
"tidak sulit apabila Wi tayhiap mengkehendaki aku serahkan obat penawar racun itu tapi paling tidak kau mesti membuat aku kalah dengan perasaan puas"
Wi Tiong Hong segera menarik kembali pedang Jit Seng Kiam nya, lalu berkata dingin.
"Apakah kaucu bermaksud untuk mencoba kemampuanku?"
"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu bertaruh"
"Bagaimana caranya bertaruh?"
Kiu Tok Kaucu tertawa seram.
"Jika aku kalah, tentu saja akan kuberikan obat penawar racun itu kepadamu, tapi bagaimana pula jika aku yang berhasil menang?"
"Bila aku kalah, terserah pada kemauanmu sendiri. Cuma saudara Tam terkena oleh seranganmu, jadi aku tetap menuntut obat penawar racun tersebut"
Kiu Tok Kaucu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh... haahh.... haaahh.... soal itu mah tak usah Wi tayhiap kuatirkan. Aku dan Ting pangcu masih terikat perjanjian sedang orang she Tam itu merupakan pelindung hukum perkumpulan pena baja, sudah barang tentu aku akan memberi obat penawar racun kepadanya. Cuma bila Wi tayhiap kalah, kau tak boleh mungkir lagi lho...."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Sekali lagi Kiu Tok Kaucu tertawa terbahak bahak.
"Diantara kita sudah berbicara dengan amat jelas, sedang diantara aku dengan Wi tayhiap pun tidak terikat dendam sakit hati apa pun. Oleh sebab itu aku pun tidak mempunyai niat untuk bermusuhan denganmu. Aku tak lebih hanya menginginkan Lou bun-si yang berhasil diperoleh Wi tayhiap itu"
Wi Tiong Hong mendengus dingin.
"Apakah kau sudah mengincarnya"
Kiu Tok Kaucu tertawa seram.
"tapi jika Wi tayhiap kalah, maka aku ingin meminjam pakai selama tiga bulan. Selewatnya tiga bulan benda itu pasti akan kukembalikan lagi kepadamu, entah...."
Sebelum ucapan tersebut selesai diutarakan, Wi Tiong Hong kembali telah menukas.
"Tidak bisa, Lou bun-si bukan benda milikku, jadi aku tak bisa meminjamkan kepada siapa pun"
"Ini berarti Wi tayhiap tidak bersedia untuk bekerja sama dengan diriku?"
"Benda yang bukan menjadi milikku, tentu saja tak dapat pula kuputuskan sendiri"
"Aku ingin bertanya sekarang, apakah Lou-bun-si tersebut berada disakumu sekarang?"
Tanya Kiu Tok Kaucu dingin Wi Tiong Hong tertawa nyaring.
"Sekalipun berada disaku, belum tentu kaucu dapat mengungguli diriku"
"Asal berada itu sudah berada dalam sakumu, urusan lebih mudah untuk diselesaikan"
Kata Kiu Tok Kaucu dingin. Wi Tiong Hong segera menggetarkan pedangnya lagi, kemudian berseru dengan gusar.
"Berbicara dari tadi sampai sekarang, kau tak lebih hanya bermaksud mengincar Lou-bun-si tersebut. Baiklah kita tak sepaham dan tak sependapat, jadi lebih baik kau bersiap siap menghadapi serangankul"
Kiu Tok Kaucu mendengus.
"Hmm! Aku mengajakmu berunding, hal ini disebabkan ingin kuberi muka untukmu. Pokoknya aku sudah bertekad akan mendapatkan Lou-bun-si itu dengan cara apapun. Kau anggap aku tak mampu untuk merebutnya dari tanganmu?"
Sementara berbicara, pelan pelan dia mencabut keluar sebatang penggaris kemalanya dibalik tongkat bambunya.
Wi Tiong Hong dapat melihat senjata penggaris kemala itu berwana hijau muda, tanpa terasa pikirnya.
"ia menyembunyikan senjata penggaris kemalanya dibalik tongkat bambu, berarti benda tersebut mempunyai kegunaan lain aku harus menghadapinya dengan berhati hati..."
Sementara dia masih termenung, selangkah demi selangkah Kiu Tok Kaucu telah maju kedepan, katanya tiba tiba sambil tertawa seram.
"Aku tak usah mempersiapkan diri lagi, silahkan saja Wi tayhiap memberi petunjuk"
Wi Tiong Hong meraba pedangnya, kemudian berkata.
"Silahkan kaucu melancarkan serangan"
Pedang Jit Sin Kiam-nya diayunkan kedepan, tak lamban tidak pula cepat pedang itu langsung menusuk kedepan meski tubuhnya masih tetap tak bergerak ditempat semula.
Mendadak Kiu Tok Kaucu bergetar keras, berkilat sepasang matanya, ia bertanya gelisah.
"Kau berasal dari perguruan Siu Lo Kau?"
Ternyata serangan pedang yang dipergunakan Wi Tiong Hong barusan adalah jurus pembukaan dari Siu Lo Cap Sa Kiam.
Berhubung ia tak tahu kemampuan musuh, ia kawatir ilmu Ji Gi Kiam-hoat-nya tak sanggup menghadapi kemampuan lawan.
Sekalipun Siu Ji Cap Sa Si belum lama di pelajari, tapi perubahan jurus serangannya sudah pasti jauh lebih hebat daripada ilmu pedang Ji Gi Kiam-hoat itulah sebabnya begitu muiai melepaskan serangan, dia lantas mengeluarkan ilmu simpanan tersebut.
Namun anak muda itu terkejut juga setelah lihat kesanggupan Kiu Tok Kaucu untuk menyebutkan identitas ilmu pedangnya secara jitu, segera piklrnya.
"Pengetahuan serta pengalaman yang di miliki si gembong iblis tua ini sungguh amat luas dan hebat. Agaknya dia bukan seorang jagoan yang dapat dihadapi secara mudah."
Berpikir demikian, dengan nada angkuh sahutnya.
"Aku bukan anggota perguruan Siu Lo Bun"
Jengek Kiu Tok Kaucu dingin.
"setelah memasungi tunanganku ini, terpaksa akupun akan berbuat salah kepadamu"
Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak ia melepaskan sebuah serangan kearah pedang Wi Tiong Hong dengan pergunakan senjata penggaris kemala itu. Diam diam Wi Tiong Hong tertawa dingin, pikirnya.
"Sekalipun senjata penggaris kemalamu itu keras dan kuat, jangan harap bisa di bandingkan dengan Jit Siu Kiam ku yang mampu memotong emas ini. Hmm, sekarang kau telah mencari gara gara kepadaku, biar kusuruh kau rasakan betapa tajamnya pedangku ini!"
Belum lenyap ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, senjata penggaris kemala lawan telah saling beradu dengan pedangnya sehingga menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring "Traaaang....!"
Kedua belah pihak sama sama merasakan pergelangan tangan kanannya bergetar keras sehingga akibatnya mereka semua mundur selangkah kebelakang.
Agaknya Kiu Tok Kaucu sangat menaruh kepercayaan atas kemampuan senjata penggaris kemala miliknya itu dan tak akan menderita cacad akibat bentrokan tadi, ia sama sekali tidak melirik sekejap pun atas senjata andalannya itu.
Malahan sebaliknya dengan sorot mata yang amat tajam dia awasi pedang milik Wi Tiong Hong tersebut Tatkala dilihatnya pedang karat tersebut masih tetap utuh tanpa cacad, bahkan mata pedangnya sama sekali tidak terpengaruh oleh bentrokan yang barusan terjadi, tanpa terasa ia berseru memuji "Pedang bagus!"
Tubuhnya kembali bergerak maju sambil melancarkan serangan, dimana senjata penggaris kemalanya berputar, segera terciptalah selapis bayangan senjata berwarna hijau.
Jurus demi jurus serangan dilontarkan berulang kali, hampir semuanya tertuju ke bagian bagian yang mematikan ditubuh lawan.
Sementara itu, Wi Tiong Hong yang baru saja bentrok dengan musuhnya, lamat lamat segera merasakan munculnya segulung hawa dingin yang memancar masuk dari tubuh pedang itu langsung menembusi telapak tangannya yang menggenggam pedang, hal mana membuat hatinya segera terkesiap.
Sementara dia masih tertegun dan serangannya belum sempat dilancarkan keluar, Kiu Tok Kaucu telah melepaskan serangkaian serangan berantai yang cepat dan dahsyat kearahnya, hal tersebut membuatnya seketika terdesak hebat dan mundur beberapa mgkah dari posisinya semula....
Begitu berhasil merebut posisi yg menguntungkan, Kiu Tok Kaucu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Wi Tiong Hong untuk berganti napas.
Senjata penggaris kemalanya secara beruntun melancarkan serangkaian bacokan serta babatan dia lebih banyak melancarkan serangan ketimbang pertahanan.
Posisi Wi Tiong Hong segera terdesak di bawah angin, sekali lagi ia terdesak mundur sampai sejauh berapa langkah.
Mendadak pergelangan tangan kanannya digetarkan, segulung bayangan pedang segera berhamburan keluar ke empat penjuru...
"Triinggg...."
Sekali lagi pedang dan senjata penggaris kemala itu saling membentur satu sama lainnya.
Kali ini senjata penggaris Kiu Tok kaucu berhasil disingkirkan.
Tiba tiba saja Kiu Tok Kaucu amat terkejut, tanpa terasa tubuhnya mundur selangkah lagi.
Atas bentrokan senjata yang barusan berlangsung, sekali lagi Wi Tiong Hong merasakan timbulnya segulung hawa dingin yang menyusup masuk lewat pedangnya langsang menyerang telapak tangannya.
Hal ini membuatnya ikut terkejut, diam diam pikirnya "jangan-jangan senjata penggaris kemalanya itu mempunyai sesuatu keistimewaan?"
Belum selesai dia berpikir, terdengar Kiu Tok Kaucu telah berkata sambil tertawa seram.
"Haaahh.... haaahh... haaahh.... kemampuan Wi tayhiap di dalam permainan pedang, sungguh hebat dan luar biasa sempurnanya...."
Selapis bayangan hijau sekali lagi meluncur ke depan dan mengurung seluruh badan Wi Tiong Hong Dengan cepat si anak muda itu memutar pedangnya sambil menyongsong datangnya ancaman tersebut.
"Traaangg....!"
Sekali lagi pedang itu bentrok keras dengan senjata penggaris kemala yang meluncur datang.
Tenaga getaran yang dipergunakan olehnya kali ini jelas jauh lebih kuat dan tangguh ketimbang tadi, seketika itu juga Kiu Tok Kaucu kena digetarkan tubuhnya sehingga mencelat setinggi satu depa lebih dari posisi semula.
Tapi setelah terpental ke belakang, dia segera manfaatkan kesempatan tersebut untuk menerkam Wi Tiong-hong sekali lagi dari tengah udara, senjata penggaris kemala nya menciptakan berpuluh puluh titik bayangan hijau yang bersama sama mengurung tubuh anak muda itu seperti hujan gerimis.
Sudah tiga kali pedang Wi Tiong Hong saling beradu kekerasan dengan senjata penggaris kemala Kiu Tok Kaucu, dalam setiap bentrokan yang kemudian terjadi, ia selalu merasakan munculnya segulung hawa dingin yang menyusup masuk melalui pedangnya langsung merembes ke dalam lengan kanannya yang makin lama semakin membekukan lengan tersebut.
Hal semacam ini segera membikin hatinya merasa terkejut sekali....
Di dalam gelisahnya, tatkala melihat tibanya berpuluh puluh titik bayangan hijau yang mengurung tubuhnya, pemuda itu membentak keras, pedangnya kembali di putar kencang menciptakan selapis cahaya pedang yang sangat tebal.
Jurus serangan ini dilancarkan karena terdesak oleh keadaan, tanpa disadari ia telah imempergunakan Siu Lo Cap Sa Si yang maha dahsyat tersebut.
Dimana pedangnya dilepaskan, tampak tiga belas titik cahaya tajam bersama sama meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.
Perlu diketahui ilmu Siau Lo Cap Sa Si tersebut baru permulaan di pelajari.
Bila keadaan tidak mendesak, mustahil ia bisa mempergunakan jurus serangan tersebut hingga mencapai kemampuan yang begini dahsyat.
"Criiing, criiing, criiing...."
Serangkaian bunyi bentrokan nyaring berkumandang susul menyusul di tengah udara.
Dalam waktu sekejap mata saja.
senjata penggaris kemala yang dipergunakan Kiu Tok Kaucu untuk menyerang dari tengah udara itu sudah terkena tiga belas buah bacokan dari pedang Jit Siu Kiam anak muda tersebut.
Seandainya senjata penggaris kemalanya itu bukan terbuat dari batu kemala yang telah berusia seribu tahun, sehingga benda itu mernpakan benda mestika yang tidak takut dibacok ataupun ditusuk mungkin sedari tadi ia sudah tewas dalam genangan darah.
Atau paling tidak, sekujur tubuhnya akan kena terbacok oleh ketiga belas buah serangan tadi sehingga terluka parah.
Biarpun demikian akibat yang dirasakan Kiu Tok Kaucu atas datangnya serangan tersebut cukup hebat.
Tubuhnya yang berada di tengah udara segera merasakan suatu kekuatan getaran yang kuat sekali sehingga ia terjatuh dari udara dan berjumpalitan beberapa kali, terakhir badannya terlempar sampai sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
Mimpi pun Wi Tiong hoag tidak pernah menyangka kalau tanpa sengaja ia berhasil mempelajari jurus Cap Sa Kiam Tang-hoa (tiga belas serangan pedang dilancarkan bersama) yang merupakan jurus serangan tersusah dalam Siu Lo cap Sa Si bahkan berhasil mempergunakannya secara sempurna hal ini kontan saja membuat hatinya merasa amat gembira.
Tidak, akibat yang diterima atas bentrokan itupun dirasakan juga olehnya sendiri tiba tiba saja ia bersin berulang kali dengan tubuh menggigil, Kini seluruh lengan kanannya sudah menjadi kaku karena kedinginan, pedang Jit Siu Kiamnya juga tergetar sampai terlepas dari genggaman dan..
"Criing!"
Senjata tersebut akhirnya menancap di atas dinding sebelah kiri...
Bukan cuma begitu, kakinya kembali mundur sejauh enam tujuh langkah dengan sempoyongan dia bersin semakin keras dan sekujur badannya merasa kedinginan sampai merasuk kedalam tulang sumsum.
Kiu Tok Kaucu sendiri juga turut merasakan bergolaknya hawa darah dalam dadanya akibat menerima tiga belas jurus serangan lawan, selang beberapa saat kemudian ia baru dapat melompat bangun.
Dengan sorot mata yang tajam melebihi sembilu ditatapnya Wi Tiong Hong tanpa berkedip Kemudian setelah tertawa tergelak ia berseru.
"Haaahh... haaa.... haa... kini, hawa dingin beracun telah menyerang ke dalam tulangmu, tidak sampai satu jam kemudian seluruh cairan darah didalam tubuhmu akan menjadi beku. Tanpa pil emas racun api milikku, jangan harap kau bisa membebaskan diri dari pengaruh hawa dingin tersebut...."
Dengan masih tetap memegang senjata penggaris kemalanya, selangkah demi selangkah dia maju ke muka mendekati Wi Tiong Hong, terdengar ia berkata lebih jauh.
"Sekarang, kau sudah tidak berkekuatan lagi untuk melancarkan serangan. Antara mati dan hidupmu, kini sudah berada dalam kekuasaanku...."
Sebagaimana diketahui didalam saku Wi Tiong Hong masih menggembol pena Lou-bun-si.
Hal itulah yang menyebabkan dia tidak terpengaruh oleh asap dupa pemabuk yang di sudut dalam ruangan tersebut, sekalipun kepalanya terasa rada pusing pusing.
Tapi setelah terjadi bentrokan berulang kali dengan senjata penggaris kemala lawan dimana hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya, pemuda itu tak mampu lagi untuk membendung keadaan tersebut.
Terutama sekali lengan kanannya kini sudah membeku dan hilang rasanya sama sekali.
Selain tak bisa digerakkan, dirasakan pun sudah tak mampu lagi, kejadian ini segera merisaukan hatinya.
Sekarang musuh telah mendesak kearahnya, padahal ia sudah tak bersenjata lagi.
Ditambah pula lengan kanannya bagaikan cacad, pada hakekatnya ia sudah tak berkemampuan lagi untuk melanjutkan pertarungan.
Dalam keadaan begini, tiba tiba alis matanya berkernyit, dengan cepat tangan kirinya merobek pakaian senjata lalu merogoh keluar Lou-bun-si.
Kemudian sambil membentak keras tubuhnya menubruk kedepan, lengan kirinya diputar dan langsung menyerang jalan darah Siao ki hiat hoa kay hiat dan sim kan hiat didada Kiu Tok Kaucu dengan jurus Hong bong sam tian tan (burung bong mengangguk tiga kali) Tak terkirakan rasa terperanjat Kiu Tok Kaucu menyaksikan keadaan tersebut.
Mimpi pun dia tak menyangka Wi Tiong Hong yang sudah terserang hawa dingin beracun ternyata masih mampu melancarkan serangan dengan pergunakan tangan kirinya.
Melihat datangnya ancaman yang teetuju kearahnya, buru-buru dia menggerakkan senjata penggaris kemalanya untuk membendung ancaman tersebut.
"Traaangg, traaaang, traaaaanggg....."
Terdengar tiga kali bentrokan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.
Sekali lagi Wi Tiong Hong merasakan lengan kirinya menjadi kaku akibat bentrokan tersebut.
Sekali lagi tubuhnya terdorong mundur sejauh satu langkah.
Mendadak Kiu Tok Kaucu mendengar ada sesuatu yang aneh, cepat cepat ia melompat.
mundur sejauh berapa depa dan cepat cepat menundukkan kepalanya untuk memeriksa.
Apa yang terjadi?
Rupanya senjata penggaris kemala yang di andalkan olehnya selama ini sebagai senjata yang tidak mempan dibacok ataupun ditusuk itu, sekarang sudah bertambah dengan tiga buah lobang kecil akibat tusukan pena kemala lawan.
Bisa dibayangkan betapa geramnya hati Kiu Tok Kaucu menyaksikan kerusakan pada benda kesayangnnnya itu...
Mencorong sinar bengis yang menggidikkan hati dari balik mata Kiu Tok Kaucu.
Ia terkejut, marah dan sakit hatl.
Terutama sekali atas kerusakan yaog dialami atas senjata andalannya itu.
Biarpun dihari hari biasa hatinya kejam dan tak berperasaan, namun sekarang dia masti menahan diri terutama setelah timbulnya parasaan ngeri dan bergidik didalam hati kecilnya.
Masih tetap menggenggam senjata penggaris kemala tersebut, selangkah demi selangkah dia mundur terus ke belakang Berhasil dengan serangannya, Wi Tiong Hong merasakan semangatnya kembali berkobar.
Dia mendesak ke muka dengan langkah lebar, bentaknya keras keras.
"Nah, jawablah sekarang dengan jelas, sesunggubnya mati hidupku berada ditangan kaucu? Ataukah mati hidup kaucu yang berada ditanganku....?"
Biarpun Kiu Tok Kaucu masih tetap menggenggam senjata penggaris kemala nya, namun ia tidak berani turun tangan lagi secara gegabah, mengikuti desakan Wi Tiong Hong yang semakin ke depan.
Selangkah demi selangkah dia mundur pula ke belakang.
Tiba tiba sorot matanya mengawasi benda ditangan Wi Tiong Hong itu lekat lekat, kemudian serunya tertahan.
"Hei, bukankah benda yang berada dalam genggamanmu itu adalah Lou-bun-si?"
Rupanya dia sama sekali tidak tahu kalau Lou-bun-si selain bermanfaat untuk memunahkan pelbagai macam racun, ternyata benda tersebut dapat pula dipergunakan sebagai senjata.
"Benar"
Jawab Wi Tiong Hong "benda yang berada dalam genggamanku sekarang adalah Lou-bun-si.
Aku ingin bertanya kepada kaucu, sebetulnya kau ingin mampus di ujung senjata Lou-bun-si ku ini ataukah bersedia untuk membicarakan pertukaran syarat denganku..."
Belum selesai ia berkata, tanpa terasa pemuda itu bersih lagi berulang kali.
Kiu Tok Kaucu dapat melihat bagaimana sekujur badan Wi Tiong Hong gemetar keras.
Sudah jelas racun hawa dingin telah mulai bekerja didalam tubuhnya, hal ini membuatnya sangat kegirangan.
Sambil sengaja mengulur waktu, pelan-pelan tanyanya.
"Pertukaran syarat apakah yang hendak kau bicarakan denganku...?"
Sementara itu Wi Tiong Hong masih tetap berdiri sambil menggenggam senjata Lou-bun-si nya, tiba-tiba ia melihat sorot mata Kiu Tok Kaucu tanpa sengaja melirik ke belakang tubuhnya, kejadian ini kontan saja menggerakkan hatinya.
Tanpa berpiklr panjang lagi dia membalikkan tangan kirinya dengan jurus "memutar balik mata uang".
Cahaya hijau menyambar keluar dari ujung Lou-bun-si dan langsung menyapu ke belakang tubuhnya.
"Criiiingg....."
"Criiiiinggg......"
Sekali lagi terdengar dua kali bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kebeningan, tahu-tahu dua bilah pedang yang menyergap datang dari belakang sudah terpapas hingga kutung menjadi dua bagian.
Wi Tiong Hong sama sekali tidak berpaling untuk melihat kebelakang tubuhnya walau hanya sekejap mata pun.
mendadak tangan kirinya kembali diayunkan ke depan.
Setitik bayangan hijau langsung menyambar kedepan dan mengancam dada Kiu Tok Kaucu, hardiknya.
"Aku pikir, dada kaucu sudah pasti tak akan sekuat dan sekeras pedang mestika apa pun juga bukan? Sekarang, bila aku berniat untuk merenggut selembar jiwamu, maka hal ini semestinya bukan suatu pekerjaan yang memerlukan tenaga besar bagiku, lebih baik kaucu memerintahkan kepada mereka untuk mundur saja..."
"Baik"
Kata Kiu Tok Kaucu sambil mengangkat kepalanya "kalian segara mundur semua dari sini!"
Wi Tiong Hong segera merasakan langkab kaki yang ringan dan cepat benar benar mengundurkan diri dari ruangan, tapi saat itu pula ia merasakan hawa dingin yang luar biasa dan tak tertahankan lagi semakin menyusup kedalam tubuhnya.
Dalam keadaan seperti ini, disamping dia masih mengerahkan tenaganya untuk melawan pengaruh hawa dingin tersebut, kembali bentaknya dengan suara dingin.
"Kaucu, apa kau sudah mengaku kalah?"
"Haa... haa... ha... Wi tayhiap sudah pernah mengalahkan Ban kiam hweecu, sudah pernah membekuk Tok Seh Siancu, bila sekarang akupun dikalahkan olehmu, aku rasa hal ini masih belum terhitung seberapa"
Sekali lagi Wi Tiong Hong bersin keras keras, kemudian katanya setelah itu.
"Asal kaucu sudah mengakui, ini lebih baik lagi. Sekarang tentunya kau sudah bersedia menyerahkan obat penawar racun bukan?"
Dari dalam sakunya Kiu Tok Kaucu mengeluarkan sebuah botol dan mengambil sebutir pil yang segera disodorkan ke depan.
Sebenarnya Wi Tiong Hong bendak menyambut obat itu, tapi secara tiba tiba saja ia teringat kalau lengan kanannya masih membeku dan mati rasa, sedangkan tangan kirinya masih menggenggam senjata Lou-bun-si, bagaimana mungkin ia bisa menerima pil tadi?"
Ia bisa saja menyimpan dulu senjata Loa bun si nya kemudian baru menerima pil tersebut, namun dia pun enggan sampai dipecundangi si iblis tua tersebut.
Dalam keadaan begini, diapun mundur selangkah ke belakang kemudian serunya.
"Harap kaucu mencekokan pil tadi kemulut saudara Tam!"
Berhubung Kiu Tok Kaucu merasakan ujung pena Lou-bun-si yang tajam berwaraa hijau itu masih menempel diatas jalan darah sendiri, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti dilakukan kecuali menuruti perkataan lawan.
Karenanya terpaksa ia maju menghampiri Tam See Hoa dan menjejalkan obat itu ke dalam mulutnya, kemudian baru berkata.
"Wi tayhiap masih ada petunjuk apa lagi?"
Dalam pada itu seluruh wajah Wi Tiong Hong telah berubah menjadi merah kebiru-biruan akibat kedinginan.
tubuhnya juga gemetar tiada hentinya.
Sambil memaksakan diri, ia tetap menggenggam Lou bun si itu erat-erat.
Serunya kemudian.
"Apakah kaucu bersedia menghadiahkan sebutir pil pemunah juga untuk menghilangkan racun hawa dingin yang menyerang tubuhku?"
Sambil berkata tanpa sungkan-sungkan lagi tangannya menyambar kedepan.
Lou bun si benar-benar lebih tajam daripada mata pedang, tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia telah merobek pakaian yang diletakan Kiu Tok Kaucu tersebut.
Tak terkirakan rasa gusar Kiu Tok Kaucu menghadapi kejadian tersebut.
Sekali lagi dia melirik sekejap ke arah Lau bun si itu dengan sinar mata iri, kemudian pikirnya "Sayang sekali, jika aku mendapat kesempatan selama seperminum teh lagi, tangan kirinya itu pasti akan turut menjadi kaku dan kehilangan sama sekali tenaga untuk melawan"
Ia menyesal telah mengutarakan keterangan tersebut terlalu cepat.
Coba kalau tidak dikatakan bahwa ia memiiiki pil emas racun api yang dapat nemunahkan racun hawa dingin tersebut, bisa jadi ia dapat mengulur waktu lebih lama lagi.
Tapi sekarang ia sudah berada dibawah tekanan senjata lawan.
Untuk mencari akal lain sudah tak sempat lagi.
Berpikir demikian, tanpa terasa katanya, kemudian sambil tertawa seram.
"Walaupun pil emas racun api ku dapat menghilangkan hawa racun dingin itu, namun kau mesti tahu bahwa obat itupun terbuat dari obat racun yang jahat. Asal Wi tayhiap tidak takut keracunan, sudah barang tentu aku bersedia untuk menghadiahkan kepadamu"
"Aku tidak takut dengan pengaruh racun apa pun..."
Sabut Wi Tiong Hong.
Biarpun perkataan ini tidak diutarakan pun, Kiu Tok Kaucu juga tahu kalau dia memiliki Lou bun si yang dapat memunahkan pengaruh racun apa saja.
Kiu Tok Kaucu mengangkat bahunya kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam sakunya, membuka penutup botol itu dan mengeluarkan sebutir pil sebesar gundu yang segera diangsurkan ke muka Pada waktu itu Wi Tiong Hong sudah kedinginan sampai kaku seluruh badannya, cairan darah dalam tubuhnya sudah hampir membeku rasanya....
Sambil mengawasi Kiu Tok Kaucu lekat-lekat, katanya kemudian sambil tertawa dingin.
"Apabila Kaucu hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencelakai aku. Heeh... heeh... jangan salahkan jika kukutungi pergelangan tangan kananmu lebih dulu!"
Selesai berkata dia mencukil butiran pil itu dengan senjata Lou bun si nya sehingga melejit setinggi tiga depa, kemudian ia membuka mulut sambil menghisapnya keras keras.
Pil tadi segera tertelan kedalam perutnya.
Dalam pada itu.
Tam See Hoa yang jatug tak sadarkan diri tiba tiba sudah duduk kembali.
Ia membuka matanya dan memperhatikan sekejap senjata Lou-bun-si ditangan Wi Tiong Hong yang masih mengancam tubuh Kiu Tok Kaucu itu, kemudian sambil melompat bangun bentaknya keras keras.
"Tua bangka celaka, kau berani mencelakai diriku dengan dupa pemabuk...."
Waktu, itu Wi Tiong Hong telah menelan pil emas racun api pemberian Kiu Tok Kaucu.
Betuk juga ia segera merasakan ada segulung hawa panas yang meluncur dari lambung ke dalam perutnya.
Dalam waktu singkat seluruh hawa dingin yang mencekam tubuhnya berkurang.
Ia tahu pil tersebut memang tidak palsu.
Setelah mengatur napas sebentar, ia mencoba untuk menggerakkan lengan kanannya, ternyata lengan itu dapat digerakkan kembali.
Maka ketika mendengar suara bentakan dari Tam See Hoa, buru buru ia bertanya.
"Saudara Tam tidak apa apa bukan?"
"Aku sudah sehat kembali"
Wi Tiong Hong segera mengawasi wajah Kiu Tok Kaucu lekat-lekat. kemudian berkata.
"Kini aku cuma mempunyai sebuah syarat lagi, apakah kaucu bersedia untuk menyanggupinya?"
"Coba kau utarakan keluar"
"Aku minta kau segera memimpin anak buahmu dan meninggalkan tempat ini secepatnya"
Sepanjang karier-nya, Kiu Tok Kaucu sangat mahir di dalam penggunaaa racun jahat, tapi sekarang ia menjadi gentar oleh Lou-bun-si yang berada ditangan lawan, oleh sebab itulah kendatipun ia mampu meracuni Wi Tiong Hong didalam sentilan jari tangannya saja, toh orang itu tak berani bertindak secara gegabah.
Ketika Wi Tiong Hong telah selesai berbicara, berkilat sepasang mata Kiu Tok Kaucu, ujarnya dingin.
"Apabila Wi tayhiap memojokkan diriku terus menerus sehingga tiada tempat lagi untuk berpijak, aku akan mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk mengajakmu beradu jiwa"
Wi Tiong Hong tertewa dingin.
"hee... hee... apabila Kaucu tak bersedia melepaskan perkumpulan Thi pit pang, jangan salahkan kalau aku tidak akan berbelas kasihan lagi..."
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan dengan kecepatan luar biasa, sambil menerobos masuk, teriaknya keras keras.
"Saudara Wi, cepat kau hentikan seranganmu itu!"
Wi Tiong Hong dapat menangkap suara itu berasal dari Ting Ci-kang, tanpa terasa ia menarik kembali pena kemalanya dan berkata dengan penuh amarah.
"Kedatangan toako memang kebetulan sekali. Sudah tahukah kau akan rencana busuk Kiu Tok Kaucu terhadap perkumpulan Thi pit pang...? Kiu Tok Kaucu aegera tertawa tergelak.
"Huah haah haah benarkah aku mempunyai suatu rencana busuk terhadap perkumpulan Thi pit pang. Aku yakin Ting pangcu mengetahui lebih jelas, tak ada salahnya jika Wi tayhiap menanyakan secara langsung kepada Ting pangcu"
Dengan wajah yang panik dan gelisah, buru buru Ting Ci-kang menjura berulang kali seraya berkata.
"Harap kaucu jangan sampai menjadi gusar. Tentang persoalan ini saudara Wi memang tidak mengetahui latar belakangnya. Mungkin saja sudah terjadi kesalahan pahaman atas dirinya"
Kemudian kepada Wi Tiong Hong, katanya pula.
"Saudara Wi, kaucu sudah melepaskan budi pertolongan kepadaku, mungkin kau telah menaruh kesalahan paham atas kejadian ini"
Dan akhirnya dia berkata kepada Tam See Hoa.
"Siaute minta maaf kepada saudara Tam. Sesungguhnya kedatangan kaucu kemari adalah atas undanganku lagipula aku pernah berjanji dihadapan kaucu tak akan menbocorkan identitas kaucu kepada siapa saja. Mungkin dikarenakan persoalan inilah sehingga menimbulkan kecurigaan pada saudara Tam..."
Sejak melihat sikap panik dan gelisah yang ditunjukkan Ting toako nya, Wi Tiong Hong sudah merasa amat tak senang. Mendengar perkataan itu segera ujarnya.
"Tahukah toako bahwa wabah penyakit menular yang berjangkit dalam tubuh perkumpulan Thi pit pang merupakan hasil karyanya seseorang?"
Ting Ci kang segera tertawa.
"Harap saudara jangan sembarangan berbicara. Seandainya tiada obat penawar racun pemberian Kaucu, aku rasa segenap anggota perkumpulan sudah tumpas dan perkumpulan Thi pit pang telah punah semenjak dahulu..."
"Pangcu, sesungguhnya perjanjian apakah yang terikat antara kau dengan dia? bolehkah hamba turut mengetahui?"
Tanya Tam See Hoa secara tiba tiba. Ting Ci kang memandang sekejap kearah Kiu Tok Kaucu. kemudian sahutnya serba salah.
"Saudara Tam sebagai pelindung hukum perkumpulan kami semestinya harus mengetahui hal itu. Namun masalahnya menyangkut kepentingan bersama. Dan lagi pihak lawan pun mempunyai mata mata yg kelewat banyak. Sebelum tiba waktunya, aku pernah menyanggupi permintaan Kaucu untuk marahasiakan kejadian ini, jadi aku pun tak dapat mengingkari janji. Tapi siaute berani memberi jaminan dengan mempertaruhkan nyawa bahwa persoalan ini mempunyai sangkut pautnya dengan keadaan situasi dunia persilatan. Kerja sama kita dengan Kaucu tak lebih untuk menghilangkan bencana besar dari dunia persilatan. Jadi apabila saudara Tam masih percaya kepadaku, harap kau tak usah banyak bertanya lagi...."
Mimpi pun Tam See Hoa tidak menyangka kalau semua perkataan ketua nya hanya di tujukan untuk melindungi Kiu Tok Kaucu, diam diam ia menghela napas sedih.
Tapi diluaran dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun sambil memberi hormat katanya kemudian "Perkataan pangcu terlalu serius, masa hamba berani banyak curiga...?"
Ting Ci-kang kembali tertawa terbahak bahak.
"Asal saudara Tam sudah tidak menaruh curiga lagi, aku pun sudahi pembicaraan sampai disini"
Dalam pembicaraan mana, Wi Tiong Hong telah mencabut keluar pedangnya dari atas dinding dan menyarungkan kemball. Maka terdengar Ting Ci-kang berkata kepada Kiu tok kaucu kemudian sambil menjura.
"Kaucu, harap kau sudi memandang diatas wajah orang she Ting agar tidak menjadi marah atas peristiwa ini"
Kiu Tok Kaucu segera tertawa terbahak bahak.
"Haah haah haah aku kan sudah pernah berkata bahwa diantara aku dengan Wi tayhiap sama sekali tidak terikat oleh dendam sakit hati apa pun jua. Apa yang telah lewat tentu saja akan kubiarkan lewat"
Ting Ci kang segera menarik tangan Wi Tiong Hong seraya berkata lagi.
"Saudara Wi, kalau begitu mari kita pergi"
Dengan seksama dan penuh perhatian Wi Tiong Hong mencoba untuk mengawasi toako nya ini.
Akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh atas sikap maupun gerak gerik orang itu.
Walaupun demikian, dalam hati kecilnya ia selalu berperasaan kalau Ting Ci-kang telah mengalami perubahan yang amat besar.
Begitulah setengah diseret ia ditarik oleh Ting Ci kang meninggalkan pesanggerahan Ling Long san koan, sedang Tam See Hoa mengikuti dibelakang ke dua orang itu dengan perbagai persoalan mencekam pikiran dan perasaannya.
Setelah menempuh perjalanan sekian waktu, tak tahan lagi Wi Tiong Hong berkata kemudian.
"Toako, apakah kau sudah mengetahui jelas tentang asal usul Kiu Tok Kaucu tersebut?"
"Kiu tok kaucu belum pernah berkelana di dalam dunia persilatan, jadi aku sendiri pun tidak begitu jelas tentang asal usulnya"
"Lantas mengapa toako bersedia untuk menjalin kerja sama dengan dirinya?"
"Sebagai umat persilatan, kita dibebani tugas menghentikan dunia ini dari kelaliman seseorang atau sekelompok manusia. Anak buah Kiu Tok Kaucu hanya delapan orang saja. Oleh karena itulah dia minta kepadaku untuk membantunya mewujudkan cita cita serta keinginannya. Berhubung daya pengaruh lawan sangat besar, lagipula terhitung seorang manusia bengis yang sudah termashur kejahatan dan kelalimannya, terutama sekali perbuatannya menteror dunia persilatan sudah tidak sehari dua hari lagi. Kesemuanya ini masih ditambah pula aku berhutang budi kepadanya karena telah menyelamatkan jiwaku. Karena itu perkumpulan Thi pit pang merasa rikuh untuk menampik permintaan bantuan darinya"
"Jikalau tujuannya memang hendak melenyapkan kaum durjana dari dunia persilatan, mengapa pula semua gerak geriknya di lakukan secara rahasia dan mencurigakan? Lagipula dia telah mengutus anak muridnya untuk menyebarkan racun disungai kota Hang ciu, apakah perbuatan semacam ini dapat di katakan sebagai perbuatan orang baik?"
"Saudaraku, diantara kita berdua bisa saja membicarakan persoalan apa pun, tapi tentang masalah Kaucu, kuharap saudara Wi tidak usah mencampurinya"
Mimpi pun Wi Tiong Hong tak menyangka kalau Ting toako nya bakal mengucapkan kata kata seperti ini, tanpa terasa ia jadi tertegun dibuatnya Mendadak ia mengeluarkan Lou bun si dari dalam sakunya, kemudian sambil menghentikan langkahnya dia berkata.
"Toako, Lou bun si ini semula memang menjadi milik toako, sebab benda ini tidak lain adalah lencana pena baja perkumpulanmu. Dikarenakan kekurang hati hatian siaute, dalam suatu pertarungan kulit luar pena ini tersayat rusak. Untuk itu siaute mohon maaf yang sebesar besarnya. Benda ini bisa memunahkan berbagai macam racun. Banyak orang persilatan yang telah berdaya upaya untuk memperoleh atau merebutnya, untung siaute dapat menjaganya sampai sekarang. Kini sudah waktunya kukembalikan benda ini kepada pemiliknya, harap toako menerimanya kembali"
Tatkala Tam See Hoa melihat anak muda itu mengeluarkan Lou-bun-si tersebut.
sebenarnya dia bermaksud untuk menghalangi itu, sayang keadaan sudah terlambat.
Ketika Ting Ci kang menyaksikan Lou-bun-si tersebut, sekilas perasaan girang sempat menghiasii wajahnya, cepat cepat ia menerima benda itu kemudian baru berkata.
"Lou-bun-si memang benda mestika di dunia ini, tapi benda ini memang berasal dari lencana pena baja perkumpulan kami, sebagai benda warisan ayah angkat ku, memang ada sebaiknya kuterimanya kembali"
Tam See Hoa yang melihat keadaan ini diam diam mengbela napas panjang, cuma ia rikuh untuk turut banyak berbicara.
Selesai mengembalikan Lou-bun-si tersebut, Wi Tiong Hong segaia menjura seraya berkata lagi.
"Sesungguhnya kedatangan siaute kali ini hanya bermaksud untuk menjenguk toako saja, tapi berhubung nasib ayahku masih merupakan tanda tanya dan siaute pun selalu merasa tak tenang, biar kumohon diri lebih dulu"
Ting Ci-kang menjadi tertegun, segera dia berseru.
"Saudara Wi, kalau toh sudah berkunjung kemari, semestinya kau menginap beberapa hari lagi sebelum pergi"
Tam See Hoa yang melihat Wi Tiong Hong telah menyerahkan Lou-bun-si kepada Ting Ci kang, apalagi malam itu mereka sudah membuat permusuhan dengan pihak Kiu tok kaucu sadarlah dia, bila berdiam sehari lebih lama didalam perkumpulan itu, tak urung mereka pasti akan terkena oleh racun jahat yang diam diam dilepaskan Kiu Tok Kaucu.
Maka dari itu dengan cepat dia menyela.
"Wi tayhiap adalah seorang manusia yang amat perasa. Sehari sebelum persoalan yang membebani pikirannya dapat diselesaikan, ia tak akan pernah merasa tenang. Apalagi sebagai putranya, sudah barang tentu saban hari ia memikirkan nasib orang tuanya. Pangcu, kau adalah saudara angkat Wi tayhiap, sudah sepantasnya bila kau tidak menahan dirinya"
"Bila saudara Wi memang memaksakan diri untuk berangkat, tentu saja In heng tak akan menahan secara paksa"
Sikapnya sangat tawar dan mulai dingin.
Betul juga, dia memang tidak berusaha untuk menahan si anak muda itu.
Mengambil kesempatan tersebut Tam See Hoa maju pula ke hadapan Ting Ci kang.
lalu setelah memberi hormat katanya.
"Hamba telah menyalahi Kiu Tok Kaucu. Tadi hampir saja aku celaka oleh obat pemabuknya, ini menyebabkan kehadiranku dalam perkumpulan rasanya kurang leluasa. Menlurut pendapat hamba ingin sekali kutemani Wi tayhiap pergi dari sini, harap pangcu sudi mengijinkan harapanku ini"
Agak berubah paras muka Ting Ci-kang sesudah mendengar perkataan itu, tapi tanyanya kemudian hambar.
"Apakah saudara Tam juga hendak pergi?"
Tapi setelah berhenti sejenak, dia pun manggut manggut seraya menjawab.
"Saudara Wi harus berkelana didalam dunia persilatan lantaran urusan empek, tak kurang banyak bahaya yang dijumpai olehnya. Biarpun kepandaian silat yang dimilikinya cukup tangguh, tak urung pengalamannya tentang dunia persilatan masih kurang. Bila saudara Tam bersedia menemaninya, hal ini memang jauh lebih baik sekali"
"Saudara Tam...."
Seru Wi Tiong Hong. Diam-diam Tam See Hoa memberi kerlingngan mata kearahnya, kemudian baru menjura sambil berkata "Bila pangcu memang mengijinkan, hemba ingin memohon diri lebih dahulu"
Dari kerlingan mata lawan, Wi Tiong Hong tahu bahwa dia berbuat demikian tentu mempunyai suatu maksud tertentu, karenanya ia tak banyak berbicara lagi.
Begitulah, kedua orang itupun segera berpamitan dengan Ting Ci-kang dan berangkat meninggalkan gunung.
Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah menempuh perjalanan sejauh berapa puluh li.
Saat itulah Tam See Hoa baru mengangkat kepala sambil menghela napas.
Wi Tiong Hong yang menjumpai hal tersebut tidak tahan lagi segera bertanya.
"Saudara Tam, kau pun ikut berpamitan dengan Ting toako, sebenarnya apa sih rencanamu?"
"Apakah Wi tayhiap tak dapat melihat kalau malam tadi pangcu seolah olah telah berubah seperti orang lanc? Caranya berbicara maupun gerak geriknya boleh dibilang senada dan seirama dengan nada pembicaraan Kiu Tok Kaucu"
"Ucapan saudara Tam benar, Ting toako memang telah berubah menjadi sangat aneh. Aku rasa dibalik kesemuanya ini mungkin terdapat hal hal yang tidak beres"
"Sewaktu siaute mendengar Kiu tok kaucu menyebutkan nama serta julukannya tadi, dalam hati kecil aku pun segera terbayang kembali suatu peristiwa lampau"
"Apa yang telah saudara Tam bayangkan?"
"Bisa jadi orang ini ada hubungannya dengan Kiu Tok sinkun di masa lampau"
"Kiu tok sinkun?"
Seru Wi Tiong Hong tercengang.
"belum pernah kudengar manusia tersebut"
"Peristiwa ini sudah berlangsung puluhan tahun berselang. Kiu tok sinkun adalah julukan yang dia berikan untuk diri sendiri, nama besarnya cukup termashur terutama di wilayah sebelah barat daya.
"Tapi dia belum pernah melangkah mesuk ke daratan Tionggoan. Oleh sebab itu umat persilatan di daratan Tionggoan hanya mengetahui dia bernama Kou lou tok kun (manusia beracun dari Kou lou san). Orang ini mahir dalam permainan racun. Banyak sekali umat persilatan dari golongan hitam yang berkunjung ke Kou lou san untuk membeli obat beracun darinya Konon racun yang dibeli darinya itu masing masing berbeda. Jika digunakan untuk mempolesi senjata pedang atau senjata rahasia, maka racun tersebut tak akan punah jika tidak diberi obat penawar racun khusus. Itulah sebabnya nama buruknya semakin populer di daratan Tionggoan..."
Menyinggung kembali soal Kou lou tok kun, tanpa terasa Wi Tiong Hong teringat kembeli akan letak selat Tok seh sia yang berada pula dibukit Kou lou san.
mungkinkah antara Kiu Tok Kaucu dengan Tok Seh Sia ada sangkut pautnya?
Tapi ia segera merasakan jalan pemikirannya kurang tepat.
Tok Seh Sia didirikan oleh si pedang racun Kok In.
Setelah kabur pulang deri pulau Lam hay, semestinya tak ada hubungan apa pun dengan Kiu tok sin kun.
Tapi inipun kurang tepat, sebab bila di tinjau dari dandanan yang dikenakan Kiu Tok kaucu, bahkan sampai sebatang tangkat bambu yang dibawanya dibilang hampir serupa dengan dandanan Tok seh siaucu.
Kejadian inilah membuat pemuda tersebut semakin membayangkan semakin kalut saja jalan pemikirannya.
ooo00dw00ooo Tiba tiba terdengar Tam See Hoa berkata lebih jauh.
"Konon Kou lou tok kun tersebut selain pandai mempergunakan racun, diapun sangat pandai didalam ilmu penyaruan muka, sehingga saban kali ada orang datang membeli racun kepadanya, orang yang dijumpai selalu berbeda"
"Bila didengar dari pembicaraan saudara Tam, itupun hanya bisa menerangkan kalau Kiu tok sinkun selalu pandai maramu racun. Dia juga pandai didalam ilmu manyaru muka, biarpun Kiu tok kaucu terhitung anak muridnya, tapi hal ini toh sama sekali tak ada hubungannya dengan parubahan watak serta sikap dari Ting toako"
"Tentu saja ada hubungannya. Kesatu, bila Kiu tok kaucu benar benar adalah ahli waris dari Kou lou tok kun yang pernah populer di masa lampau, maka hal ini membuktikan kalau kakek yang kita jumpai tadi sesungguhnya bukan wajah aslinya..."
Wi Tiong Hong segera mengangguk dan menyetujui jalan pemikiran ini... Kembali Tam See Hoa berkata.
"Kedua, asal kita dapat membuktikan kalau dia adalah ahli waris dari Kou lou tok kun, maka kita pun bisa menyimpulkan bahwa Ting pangcu telah terpangaruh jalan pikirannya oleh semacam obat beracun yang jahat sekali"
"Atas dasar apa kau berkata demikian?"
"Menurut cerita yang beredar di dalam dunia persilatan, waktu itu dalam kalangan hitam terdapat dua bersaudara kembar yang bernama Leng lam sianghiong. Ilmu silatnya lihay sekali. Sang lotoa telah beristeri sedang loji belum kawin, tapi ia mengincar kecantikan wajah enso-nya itu. Suatu ketika sang lotoa sedang keluar rumah, dia pun memaksa enso nya agar mau tidur dengannya. Alhasil rayuan itu ditolak mentah mentah. Loji takut disaat lotoa kembali, ensonya menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadanya, maka dia pun pergi ke Kou lou tok kun untuk membeli sebungkus obat beracun yang secara diam diam diminumkan kepada ensonya. Akibat dari minum racun tersebut, tiba tiba saja jalan pemikiran serta watak enso nya berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan dia sendiri yang turun tangan membunuh suaminya sebelum kawin dengan sang ioji. Hingga sepuluh tahun kemudian, waktu ensonya sudah beranak empat, entah bagaimana tiba tiba ia sadar kembali dan memperoleh kejernihan otaknya lagi separti sedia kala..."
"Dia pasti bunuh diri karena malu?"
Sela Wi Tiong Hong.
"Yaa, akhirnya dia pun meracuni loji sampai mati, meracuni pula ke empat anaknya yang tak berdosa sebelum bunuh dirinya sendiri. Akibat dengan terjadinya peristiwa tersebut, timbullah kemarahan umum dari segenap umat persilatan. Semua orang beranggapan Kou lou tok kun tidak seharusnya menggunakan obat beracun sebagai barang dagangannya untuk mencelakai sesama umat manusia" -oo0dw0oo-
Jilid 10 PADA WAKTU ITU ADA BEBERAPA orang jago lihay dari golongan putih yang berhasil mencapai bukit Kou Lou san, tapi konon mereka tak berhasil menemukan Kou Lou tok kun, entah lewat berapa saat kemudian, beberapa orang itu ditemukan tewas akibat keracunan.
"Tentu saja mereka tewas karena racun keji yang rupanya secara diam diam disebarkan ketubuh mereka oleh Kou lou tok kun, akibatnya semenjak saat itu tiada orang lagi yang berani pergi ke Kou lou san untuk mencari gara gara.
"Kalau begitu Kiu tek kaucu bisa jadi merupakan anak murid Kou lou tok kun dimasa lampau, perubahan watak yang ditunjukkan Ting toako pun bisa jadi ada hubungannya dengan orang itu"
Tam See hoa mengangguk "Yaa, aku curiga kesemuanya ini merupakan hasil permainan busuknya,"
Wi Tiong hong termenung sejenak. lalu ujarnya lagi.
"Entah Lou bun si tersebut dapat dipakai untuk memunahkan racun didalam tubuh Ting toako atau tidak."
"Jika dugaanku tak keliru, mungkin Lou bun si tersebut sudah terjatuh ketangan Kiu tok kaucu sekarang!"
Mendadak Wi Tiorg hong teringat kembali dengan perintah Kiu tok kaucu kepada Lan Pit kun untuk turun tangan terhadap So Siau hui dan mencoba untuk mendapatkan pil Pit tok kim wan diam dian pikirnya kemudian.
"Jangan jangan pil Pit tok kim wan merupakan satu satunya obat penawar yang dapat memunahkan racun jahat ramuannya. Aku masih berhutang budi pada So Siau hui, aku tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan ia terjatuh ketangan orang jahat."
"Aku harus berusaha keras untuk menemukan so Siau hui agar dia tahu keadaan yang sebenarnya, disamping itu akupun bisa minta sebutir pil Pit tok kim wan kepadanya untuk menawarkan racun yang mengeram ditubuh Ting toako. bukankah tindakan ini berarti sekali tepuk mendapat dua lalat."
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa berkilat sepasang matanya, buru buru katanya kemudian.
"Saudara Tam, satu satunya jalan yang bisa kita tempuh sekarang adalah menemukan nona So dari Lam hay bun, bisa jadi adalah satu satunya orang yang dapat menawarkan racun dalam tubuh Ting toako"
"Tapi dimanakah nona So saat ini?"
"Entahlah. tapi bisa jadi dia masih berada diseputar wilayah Kanglam"
"Asal nona So masih tetap diwilayah Kanglam kita pasti akan berhasil untuk menemukannya"
Wi Tiong hong masih ingat, sewaktu berpisah dengan So Siau hui waktu itu, perpisahan diseputar kota Hu yang, padahal wilayah Kang say dengan Kwi tang sangat berdekatan.
bila ia belum pulang ke Selatan maka bila ingin menemukannya, mereka harus bergerak menuju kewilayah Kang say, siapa tahu bisa bertemu dengannya ditengah jalan.
Maka setelah dia menyampaikan jalan pemikirannya itu kepada Tam See boa berangkatlah kedua orang itu menelusuri bukit Hway giok san memasuki propinsi Cisay dan menuju ke Kang say dari situ mereka bergerak terus menuju ke selatan, Pada sore hari ke tiga.
Sementara kedua orang itu masih menempuh perjalanan, tiba tiba Wi Tiong hong berseru tertahan.
"Aaah, ada yang tak beres!"
Tam See boa segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan tersebut, tanyanya.
"Wi tayhiap, apakah kau telah menemukan sesuatu ?"
Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis 2
Baca Juga: Pedang Asmara Kho Ping Hoo