Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Lembah Iblis 2

Eps 2 Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Lembah Iblis - Kho Ping Hoo.

"Kau memaki aku setan cilik, jahanam keparat dan anjing babi, hukuman apa yang harus ku balaskan kepadamu? Hayo kau pukul sendiri mukamu sebanyak sepuluh kali!"

Kata Ji Goat dengan marah. Karena sudah merasa bersalah dan mengharapkan pengampunan, Jaksa itu lalu menampari mukanya sendiri dengan kedua tangan sebanyak sepuluh kali sambil memaki diri sendiri.

"Anjing kau, babi kau, jahanam keparat kau...!"

"nah, sekarang kau harus berjanji, kalau engkau masih melanjutkan sikapmu seperti itu, menindas orang kecil dan menjilat orang besar, memeras orang dan koropsi, ayah pasti akan melaporkannya kepada Sri Baginda!".

"Ampun, saya tidak berani lagi....

"Jaksa itu meratap, mukanya pucat, hanya kedua pipinya yang membengkak merah karena di tampari sendiri tadi.

"Pergilah!"

Ji Goat membentak dan Jaksa yang gendut itu setengah merangkak meninggalkan ruangan itu. Setelah dia pergi, Ji Goat tertawa terkekeh-kekeh. Ayahnya mengerutkan alisnya.

"Ji Goat, engkau agak keterlaluan. Biarpun di depan kita dia tidak berani apa-apa, akan tetapi aku khawatir dia mendendam kepadamu."

"Takut apa, ayah? Kalau baru dia dan selusin pengawalnya saja, mampu berbuat apa kepadaku? Dan juga nama besar ayah tentu membuat dia ketakutan, lebih lagi kalau aku melapor kepada suhu, tentu dia akan di hajar."

"Sudahlah, jangan membawa-bawa gurumu dalam urusan kecil itu. Jangan urusan ini di besar-besarkan karena ku rasa Jaksa Gu sudah jera dan tidak akan berani bermain gila lagi."

"Aku akan tetap mengawasi orang-orang macam dia, ayah."

"Engkau akan kekurangan tenaga dan kelelahan, anakku. Di jaman ini, hamper semua pejabat tidak jujur. Akan tetapi sudahlah, lebih baik engkau membantu usaha gurumu yang menentang gerakan mereka yang hendak memberontak."

"Justeru pemberontak itu tidak akan terjadi kalau para pejabatnya bertindak adil dan jujur, memperhatikan kepentingan rakyat, ayah."

"Aih, engkau anak kecil tahu apa. Yang penting, kita bekerja untuk Kerajaan dan kita harus melaksanakan tugas dengan baik. Kalau tidak demikian, sebaiknya jangan menjadi seorang pejabat pemerintah."

"Ayah, aku akan pergi dulu,"

Gadis itu mengenakan kembali pakaian dan topinya. Ayahnya menghela napas.

"Ji Goat, aku khawatir sekali sekali waktu engkau akan mengalami malapetaka dengan ulahmu ini. Apakah engkau tidak dapat tinggal di rumah saja seperti puteri-puteri lain?".

"Dan untuk apa sejak kecil aku mempelajari ilmu silat, ayah? Aku dapat menjaga diri, dan kalaupun kekuatanku tidak mampu untuk menjaga diri, masih ada nama suhu dan nama ayah yang akan melindungiku!". Tanpa menanti jawaban ayahnya, Ji Goat sudah berlari keluar. Ayahnya hanya menggeleng kepalanya. Anak itu terlalu manja, pikirnya. Anaknya memang hanya satu itu dan dia amat menyayanginya. dan anak itu boleh dibuat kagum. Menurut Kok-su, yang menjadi guru anaknya, Ji Goat memiliki bakat yang besar sekali sehingga Koksu sendiri amat sayang kepada murid itu. Beberapa bulan yang lalu, seorang diri saja, Ji Goat sudah berhasil membongkar pencurian-pencurian di istana kaisar yang ternyata dilakukan oleh orang dalam, beberapa pengawal istana. Dengan ilmu silatnya yang tinggi, Ji Goat berhasil menangkap lima orang pencurinya yang kesemuanya juga lihai karena mereka adalah pengawal istana. Semenjak saat itu, nama Ji Goat dikenal orang sebagai puteri perdana menteri yang lihai ilmu silatnya. Akan tetapi kalau dia sudahmenyamar pria, tidak ada yang mengenalnya kecuali ayahnya sendiri dan orang kepercayaan ayahnya. Bahkan para penjaga tidak mengenalnya, maka ia selalu keluar masuk rumah itu melalui sebuah jalan rahasia. Perdana Menteri Ji Sun Cai bukan seorang koruptor. Bagi dia, tidak perlu melakukan korupsi, karena kaisar amat percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai tangan kanan sehingga kaisar amat royal dengan hadiah-hadiah untuknya. Dia mendapatkannya pembagian tanah yang cukup luas, rumah seperti istana serba lengkap. Dan Menteri Ji ini amat setia terhadap Kaisar. Dalam tugasnya ini, dia amat dekat dengan Koksu dankedua pejabat inilah yang merupakan tenaga terpenting bagi kaisar. Semua pejabat yang lain hanya akan mengekor saja apa yang di usulkan dua pejabat ini kepada kaisar yang telah mempercayai mereka berdua. Karena itu, hubungan antara perdana menteri Ji dan Lui Koksu amatlah akrabnya, demikian akrabnya sehingga Perdana menteri Ji mempercayakan puteri tunggalnya untuk menjadi murid Lui Koksu. Dalam segala hal menyangkut tugas kenegaraan, mereka selalu mengadakan perundingan. Ketika itu, terdapat perasaan permusuhan antara Perdana Menteri Ji berdua Lui Koksu terhadap seorang Panglima yang bertugas di selatan. Panglima ini menjaga keamanan di selatan dan Panglima Coa ini yang menjadi benteng Negara, menghalau semua kerusuhan dan musuh-musuh dari selatan, yaitu para raja muda di selatan yang berdiri sendiri di wilayah masing-masing. Mula-mula adalah suatu Kerajaan Sun yang cukup kuat di selatan. Menurut Perdana Menteri dan Koksu, Kerajaan Sun ini perlu di dekati dan di ajak bersahabat, karena memiliki pasukan yang kuat. Akan tetapi tidak demikian dengan sikap yang di ambil oleh Coa-ciangkun. Panglima ini tidak memandang bulu. Penguasa di selatan yang tidak mau tunduk, pasti akan di serbunya dan di tundukkan dengan kekerasan. Akhirnya, karena bujukan Ji-Sin-Siang (Perdana Menteri Ji) dan Lui Koksu, kaisar mengutus penguasa untuk pergi ke selatan, menyerahkan surat perintah Kaisar agar Coa-ciangkun tidak melanjutkan penyerbuannya terhadap Kerajaan Sun. Hal ini amat mengecewakan hati Coa-ciangkun yang menjadi marah sekali. Pasukan Sun selalu mengganggu perbatasan, melakukan perampokan dan perkosaan, mengapa dia tidak boleh di serbu? Dan dia mendengar akan usaha Sin-Siang dan Koksu yang hendak melakukan pendekatan kepada Kerajaan Sun. Hal ini membuatnya marah sekali. Apakah Sin-siang dan Koksu hendak menjual Negara? Timbul kecurigaannya dan dia mengira bahwa kedua pejabat tinggi itu agaknya hendak mengadakan persekutuan rahasia dengan Kerajaan Sun. Padahal, bukan itu yang dikehendaki mereka. Mereka hanya maklum akan kekuatan Kerajaan Sun dan kalau sampai Kerajaan Toba dapat bersekutu dengan mereka, tentu seluruh wilayah selatan akan dapat dikuasai dengan kerjasama dengan Kerajaan Sun. Permusuhan atau persaingan ini secara diam-diam masih dirasakan kedua pihak. Hanya mereka tidak berani bertindak lancing, karena selain kaisar juga mempercayai Coa-ciangkun, panglima ini memiliki pasukan besar yang kuat. Karena adanya permusuhan inilah maka Koksu lalu berkunjung kepada Im Yang Ciu-kwi, karena dia hendak menarik orang-orang pandai sebanyaknya agar dia dapat menyingkirkan para musuhnya yang hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan kedudukannya. Im Yang Ciu-kwi dan Akauw melakukan perjalanan seenaknya ke kota raja. Akauw merasa gembira karena dia membayangkan Bi Soan. Dia rindu sekali kepada sahabatnya ini dan mengharapkan akan dapat bertemu dengan Bi Soan di kota raja. Selama tinggal dengan Ciu-kwi, Akauw tidak pernah mengeluarkan uang, dan hanya karena kebetulan saja pada suatu hari gurunya itu melihat kantung uang berisi potongan-potongan emas mentah itu. Suhunya memeriksa potongan emas itu dan bertanya.

"Akauw, dari mana engkau mendapatkan potongan-potongan emas ini?". Akauw masih ingat akan pesan suhengnya, maka diapun berkata.

"Ini adalah pemberian mendiang suhu Yang Kok It."

Tentu saja Im Yang Ciu-kwi tidak menaruh curiga lagi dan hanya merasa heran darimana Yang Kok It mendapatkan potongan emas yang masih bercampur batu karang itu.

Ketika mereka tiba di sebuah padang rumput di luar hutan yang tandus, mereka melihat sebuah kedai arak di tempat sunyi itu.

Ciu-kwi yang mencium bau arak ingin mencoba arak dari kedai itu, maka dia mengajak muridnya berhenti.

Ada lima orang penjaga kedai, dan karena lalu lalang di situ sedang sepi, maka tidak nampak ada tamu seorangpun kecuali mereka.

Seorang pelayan segera menghampiri mereka.

"Bawa seguci arak terbaik ke sini,"

Kata Ciu-kwi.

"Dan sepoci air the untukku,"

Kata Akauw yang biarpun sudah pernah merasakan minum arak, tetap saja dia memilih air the daripada arak.

Ketika pelayan itu mengambilkan pesanan, sepasang mata Ciu-kwi yang berpengalaman melihat gerak-gerik mereka yang mencurigakan.

Oleh karena itu ketika arak dan air the datang, dia mencegah muridnya untuk minum air tehnya dan dia menangkap lengan pelayan itu.

"Hayo kau minum dulu arak ini!". Dia menuangkan sedikit arak dari guci ke dalam cawan kosong. Pelayan itu menjadi pucat wajahnya. Dia meronta dan menggeleng kepalanya.

"Tidak aku... tidak biasa minum arak......"

"Kalau begitu, engkau cicipi air the ini!"

Bentak Ciu-kwi dan ketika orang itu pun menggeleng kepala, Ciu-kwi memaksa mulutnya terbuka dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menuangkan air teh ke dalam mulutnya.

Lalu dia melepaskan orang itu yang nampak terhuyung-huyung lalu roboh pingsan!.

Empat penjaga lain sudah mencabut golok masing-masing.

"Kenapa dia suhu?"

"Mereka orang jahat, Akauw. Minuman kita diberi racun!"

Kata Im-yang Ciu-kwi.

Seorang di antara empat orang itu mengeluarkan sempritan yang di tiupnya nyaring dan dari belakang kedai bermunculan belasan orang yang kesemuanya memegang golok.

Im-yang Ciu-kwi duduk menghadapi meja, mengeluarkan arak dari gucinya sendiri dan sambil menghadapi guci dan cawan arak, dia berkata.

"Akauw, keluarkan pedangmu dan kau lawanlah penjahat-penjahat itu!".

"Baik, suhu,"

Kata Akauw dan dia sudah mencabut pedang Hek-liong-kiam dari sarungnya.

Begitu dia menggerakkan pedangnya, nampak gulungan sinar hitam berkelebat kian kemari dan menyambut pengeroyokan belasan orang itu.

Terdengar suara berkerontangan nyaring dan banyak golok menjadi patah ketika bertemu dengan Hek-liong-kiam.

Akauw yang hendak menyenangkan gurunya, menggunakan ilmu pedang yang dia pelajari dari gurunya, memainkan pedangnya sehingga sinar pedang itu bergulung-gulung merobohkan belasan orang itu dalam waktu singkat saja.

Penjahat harus di hajar, dia teringat pesan suhengnya, akan tetapi jangan mudah membunuh orang kalau tidak terpaksa sekali.

Maka diapun hanya merobohkan para pengeroyok nya tanpa membunuh, hanya melukai paha atau pundak mereka saja.

Dalam waktu beberapa menit saja, semua orang yang mengeroyoknya telah di robohkan, dan cepat pula pedang itu sudah memasuki sarung kembali.

"Ihh, Akauw, mengapa begitu engkau memainkan pedangmu? Coba beri aku pinjam sebentar,"

Kata Ciu-kwi.

Karena tidak mengerti maksud suhunya dan mengira suhunya itu hendak memperlihatkan jurus yang mungkin kurang benar dia menggerakkannya, maka dia mencabut pedangnya dan menyerahkannya kepada suhunya.

"Seharusnya begini engkau menggunakan pedang!"

Gurunya bergerak berloncatan ke sana sini dan Akauw terbelalak, karena gurunya telah membabati pengeroyoknya tadi, di tebasnya semua leher orang-orang itu termasuk pelayan yang tadi terbius sehingga dalam waktu singkat saja semua kepala terpisah dari badannya.

"Suhu... mengapa suhu....?"

Akauw berseru heran ketika gurunya mengembalikan pedang itu kepadanya.

Memang gurunya hebat.

Memenggal belasan batang leher itu pedangnya sama sekali tidak ternoda darah!

Hal ini hanya dapat terjadi saking kuat dan cepatnya pedangnya itu membabati leher belasan orang itu.

"Mengapa apa? Mereka menghendaki kematian kita, kenapa kita tidak mendahului saja mereka? Hayo kita pergi dari sini!".

"Tapi, mereka itu, suhu.....,"

Akauw teringat akan pelajaran dari kakek Yang Kok It bahwa mayat manusia haruslah di kubur sebagaimana mestinya.

"Mereka sudah mampus, tidak perlu di pikirkan lagi. Mereka hendak mencelakakan kita, berarti mereka itu musuh yang pantas di bunuh. hayolah, Akauw!"

Bentak Ciu-kwi agak kecewa melihat sikap muridnya yang di anggapnya lemah itu.

Terpaksa Akauw mengikuti gurunya dan beberapa kali dia menoleh memandang ke arah belasan mayat manusia yang berserakan itu.

Sejak sat itu Akauw mulai menaruh hati syak wasangka terhadap gurunya.

Tak dapat dia melupakan betapa gurunya itu memenggal kepala belasan orang yang sudah tidak berdaya itu secara kejam sekali.

Padahal menurut ajaran Yang Kok It dan juga suhengnya, seorang gagah tidak akan membunuh orang yang sudah tidak berdaya dan tidak dapat melawan.

Dan lebih lagi, gurunya meninggalkan belasan mayat itu begitu saja tanpa mau menguburkannya.

Ketika mereka memasuki kota raja Tiang-an, tiba di dekat pasar dimana terdapat banyak orang berlalu lalang, tiba-tiba Akauw melihat seorang pemuda bertopi butut.

"Bi Soan.....!"

Dia memanggil dan mengejar, akan tetapi Bi Soan menyelinap di antara orang banyak dan memasuki pasar.

Akauw mencari beberapa lamanya, akan tetapi dia tidak melihat lagi Bi Soan.

Dia tidak mungkin salah lihat.

Jelas yang dilihatnya tadi Bi Soan, pemuda remaja yang di rindukannya itu.

Dia merasa menyesal sekali mengapa Bi Soan tidak mau menemuinya.

Padahal dahulu pemuda remaja itu amat baik terhadap dirinya.

"Akauw, engkau mencari siapakah?"

Gurunya menegur setelah dapat mencari pemuda itu di dalam pasar.

"Suhu, aku mencari seorang kenalan yang tadi ku lihat berada di sini. Akan tetapi dia menghilang di antara orang banyak."

"Kenalan? Siapa dia?"

Tanya gurunya heran dan curiga. Tentu saja Akauw tidak ingin menceritakan pengalamannya bentrok dengan seorang jaksa, maka dia menjawab singkat.

"Dahulu aku pernah bertemu dan berkenalan dengannya dalam perjalananku, akan tetapi perkenalan itu hanya sepintas saja. Mungkin dia sudah lupa kepadaku, suhu."

"Sudahlah, jangan pedulikan sembarang orang. Kita akan menjadi tamu Koksu dan bahkan akan mendapatkan jabatan tinggi yang terhormat, jangan bergaul dengan segala macam orang. Mari kita lanjutkan perjalanan kita."

Akauw mengikuti suhunya, akan tetapi dia masih memandang ke sana sini mencari-cari dan hatinya merasa kecewa sekali.

Bi Soan merupakan orang yang selalu teringat olehnya, kenapa sekarang tidak lagi mau mengenalnya?

Apa barangkali Bi Soan sudah lupa kepadanya?

Dia sungguh kecewa karena tadinya dia mengira bahwa Bi Soan amat baik kepadanya, seperti halnya suhengnya.

Sangat mudah bagi Thian-te Ciu-kwi untuk mencari tahu dimana rumah Koksu Lui.

Semua orang juga mengetahui dimana istana tempat tinggal penasehat Kaisar itu.

Rumah besar seperti istana itu di jaga oleh belasan orang prajurit yang menghadang guru dan murid itu.

"Berhenti, siapa kalian dan ada keperluan apa datang ke sini?"

Bentak perwira jaga dengan keren. Ciu Kwi tertawa dan berkata.

"Heii, perwira, jangan bersikap kasar terhadap kami. Kalau Koksu mengetahui, pangkatmu tentu akan di turunkan. Cepat laporkan kepada Koksu bahwa Thian-te Ciu-kwi dan muridku sudah datang untuk bertemu dengan dia."

Melihat lagak dan mendengar ucapan kakek itu, si perwira menjadi ragu dan gentar juga.

Dia tahu bahwa Koksu adalah bekas seorang datuk persilatan dan tentu mengenal segala macam orang aneh dari dunia kangouw.

Kalau dia bersikap kasar dan kemudian ternyata bahwa mereka ini memang sahabat baik Koksu, tentu setidaknya dia akan mendapat teguran dari atasannya.

Akan tetapi untuk bersikap hormat kepada kakek dan pemuda yang pakaiannya seperti petanimiskin ini dia merasa enggan juga.

"Baiklah, harap kalian menanti si sini, aku hendak melapor ke dalam lebih dulu,"

Katanya dan perwira itu sendiri lalu melapor ke dalam.

Benar saja seperti di khawatirkan perwira itu, begitu mendengar di sebutnya nama Thian-te Ciu-kwi, Kok-su Lui menjadi gembira dan wajahnya berseri-seri.

"Cepat persilahkan mereka duduk di ruangan tamu, dan bersikaplah hormat kepada mereka!". Tentu saja perwira itu menjadi takut dan begitu berhadapan dengan Ciu-kwi dan Akauw, dia cepat memberi hormat dengan sikap merendah.

"harap lo-cianpwe berdua suka memberi maaf atas sambutan kami yang kurang hormat karena tidak mengenal lo-cianpwe. Lui-kosu mempersilahkan lo-cianpwe berdua menanti di kamar tamu. Silahkan!". Sambil tersenyum dan mengangkat dadanya yang kerempeng, Ciu-kwi mengikuti perwira itu bersama Akauw yang memandang bangunan seperti istana itu dengan penuh kagum. Belum pernah dia memasuki rumah semewah dan sebesar ini. Mereka duduk di kursi-kursi berukir yang berada di ruangan tamu itu dan perwira itu dengan hormat mempersilahkan mereka menunggu, lalu dia memberi hormat dan keluar dengan hati lega. Taklama mereka duduk menanti, Koksu itu memasuki ruangan tamu dari dalam, mengenakan pakaian yang mewah gemerlapan.

"Ha, Ciu-kwi, engkau datang juga!"

Tegurnya girang.

"Tentu saja, Giam-ong. Sekali berjanji kepadamu, tentu ku penuhi. Hanya tinggal menagih janjimu saja kepadaku untuk memberi kedudukan kepada aku dan muridku."

"Kebetulan aku memang hendak menghadap Sri Baginda Kaisar, mari kalian ikut aku menghadap dan kuperkenalkan kepada Sri Baginda. kami hendak membicarakan sikap Gubernur Gak yang agaknya condong melakukan hubungan dengan Coa-ciangkun, yang ku maksudkan dengan kami adalah aku dan Ji-taijin. Menteri Ji Sun Cai mendengar dari penyelidikan bahwa hubungan antara Gubernur Gak di perbatasan selatan amat dekat dengan Coa-ciangkun, orang keras kepala yang agaknya akan menjadi penghalang besar bagi kemajuan kami. Marilah sebelum ku ajak singgah di kediaman Perdana Menteri Ji Sun Cai untuk kuperkenalkan. Engkau harus tahu, Ciu-kwi, bahwa Perdana Menteri adalah rekan kerjaku yang baik dan di antara kami ada kerja sama yang cocok sekali "Baiklah, Giam-ong. Aku menurut saja apa katamu, yang penting kami berdua memperoleh kedudukan yang baik di kota raja ini."

Mereka bertiga lalu memasuki sebuah kereta yang sudah dipersiapkan oleh para penjaga di luar, dan berangkatlah mereka menuju ke kediaman Perdana Menteri, di kawal oleh beberapa orang yang mengiringkan kereta.

Benar saja, ketika tiba di gedung Perdana Menteri yang juga amat indah bagi Akauw, Lui-Koksu di terima dengan hormat oleh para penjaga dan langsung di antar ke kamar tamu.

Tak lama mereka duduk, muncullah Perdana Menteri Ji Sun Cai bersama seorang gadis yang cantik jelita.

Akauw terbelalak memandang gadis itu, bukan saja karena cantik jelitanya, melainkan karena dia merasa sudah sering melihat wajah itu dalam mimpi!

Setiap kali dia membayangkan wajah bidadari seperti itulah bentuk wajahnya!

Ketika gadis itu memandang kepadanya, Akauw tersipu dan cepat menundukkan mukanya karena menurut ajaran yang diterima dari suhengnya, sikap seperti itu, memandang langsung wajah seorang gadis yang tidak dikenalnya, apalagi dengan pandangan kagum, adalah sikap yang tidak sopan!.

Lui-Koksu Toat-beng Giam-ong segera memberi hormat kepada Perdana Menteri dan puterinya.

"Maafkan kalau kami mengganggu Ji-taijin dan Ji-siocia."

"ah, sama sekali tidak, suhu,"

Kata gadis itu yang bukan lain adalah Ji Goat.

"Akan tetapi suhu datang bersama... siapakah mereka ini, suhu?".

"Koksu, siapakah kedua orang ini yang kau ajak datang berkunjung?"

Perdana Menteri Ji juga bertanya.

"Taijin, inilah yang pernah saya bicarakan tempo hari. Ini adalah Thian-te Ciu-kwi."

"Ah, datuk kang-ouw itu? Siapakah nama lo-cianpwe yang mulia?"

Kata pula Perdana Menteri Ji dengan sikap cukup hormat. Agaknya Perdana Menteri ini dapat menghargai orang-orang pandai di dunia kang-ouw.

"He-he-he, Yang Mulia Perdana Menteri Ji, saya sendiri sudah lupa siapa nama saya pemberian orang tua. Harap sebut saja saya Ciu-kwi (Setan Arak), karena itu sudah menjadi nama saya, he-he-he."

"Begitukah? Dan siapakah orang muda yang gagah ini, Ciu-kwi?"

Tanya Perdana Menteri itu dengan ramah.

"Akauw, hayo perkenalkan dirimu."

"Tai-jin, nama saya Cian Kauw Cu, biasa di sebut Akauw,"

Berkata demikian die mengerling ke arah wajah gadis jelita itu yang kelihatan tersenyum manis.

"Dia murid saya, taijin "kata Ciu-kwi dengan bangga.

"Aih, dia muridmu, Ciu-kwi?"

Ji Goat berseru. Gadis ini tidak ragu lagi menyebut Ciu-kwi begitu saja, sesuai dengan perkenalan diri Thian-te Ciu-kwi kepada ayahnya tadi.

"Aku sudah pernah mendengar namamu di puji-puji suhu, akan tetapi belum pernah mendengar engkau mempunyai seorang murid. Menilai kelihaian gurunya dapat di lihat dari kepandaian muridnya, maka aku ingin sekali bertanding ilmu silat dengan Akauw ini!".

"Hsss, Ji Goat, jangan kurang ajar!"

Tegur ayahnya.

"Ha-ha-ha, apa salahnya, taijin? Ji Sio-cia adalah murid saya dan Akauw ini adalah murid Ciu-kwi. Kami berdua adalah sahabat sejak lama dan saya sudah pula menguji ilmunya. Apa salahnya kalau Ji Siocia menguji ilmu murid Ciu-kwi? Mari kita sama menonton!". Karena ruangan tamu itu cukup luas, maka Ji Goat yang ingin sekali menguji kepandaian Akauw sudah memasang kuda-kuda menghadapi pemuda tinggi besar itu dan berkata.

"Akauw, aku sudah siap, keluarkan ilmumu agar ayah dan aku dapat melihatnya."

"Akauw, kita hendak mencari pekerjaan di kota raja, maka perlihatkanlah kemampuanmu,"

Kata pula Thian-te Ciu-kwi kepada muridnya.

Sebetulnya Akauw merasa enggan sekali untuk bertanding melawan gadis itu.

Gadis yang demikian cantiknya lemah gemulai sehingga tertiup angina keras saja agaknya akan roboh, kulitnya begitu halus, bagaimana dia dapat memukul seorang gadis seperti itu?

Dia meragu, dan berdiri biasa saja, tidak memasang kuda-kuda seperti nona itu.

"Ha-ha-ha-ha, Akauw, jangan engkau memandang rendah nona ini. Ia adalah murid Toat-beng Giam-ong, tahukah engkau? Dan tingkat kepandaian Lui Koksu ini tidak berada di bawah tingkatku. Hati-hatilah jangan sampai engkau kena di robohkan!"

Ciu-kwi menegur muridnya yang kelihatan tidak bersungguh-sungguh.

"Lihat serangan!"

Tiba-tiba gadis itu menyerang dan Akauw betul-betul terkejut ketika matanya nyaris tertusuk jari tangan gadis itu yang menyambar sedemikian cepat dan kuatnya.

Baru angina pukulan tangan itu saja dapat dia rasakan dan ketahui bahwa gadis ini memiliki tenaga sakti yang amat kuat dan juga gerakannya tadi amatlah cepatnya.

Kalau dia tidak membuang diri ke belakang sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan terdorong naluri sebagai gerakan kera, tentu dia akan terkena totokan itu!

Diapun cepat membuat gerakan silat dan otomatis karena bertangan kosong dia lalu bergerak menurut ilmu silat yang di latihnya di dalam guha itu.

Dia tidak tahu bahwa ilmu silat itu adalah ilmu dari Bu-tek Cin-keng.

Sekarang Ji Goat yang terkejut karena dari gerakan tangan Akauw menyambar angina yang lembut namun dahsyat sekali, yang membuat serangannya berikutnya membalik.

Cepat ia lalu mengerahkan gin-kangnya dan dengan mengandalkan kecepatan gerakannya di lancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Akauw.

Pemuda ini bersikap tenang saja.

Memang gadis itu memiliki gerakan yang cepat, akan tetapi gerakan gadis itu cepat karena latihan gin-kang sedangkan dia sendiri memiliki gerakan cepat alami dan juga karena naluri.

Dia mampu mengimbangi gerakan gadis itu dan semua serangan dapat di hindarkan dengan elakan atau tangkisan.

Sebetulnya kalau Akauw menghendaki dan mau menggunakan tenaganya, tentu gadis itu akan dapat di robohkannya.

Akan tetapi tentu saja dia tidak mau merobohkan gadis sejelita itu.

Namanya keterlaluan kalau dia melakukan itu, dan suhengnya tentu akanmerasa tidak senang sekali.

Gadis itu menyerangnya hanya untuk menguji kepandaian, bukan berkelahi sungguh-sungguh maka tentu saja dia tidak ingin membuat malu dengan merobohkannya.

Akan tetapi hal ini amat merugikannya karena dia hanya mengelak dan menangkis saja.

dan tidak pernah membalas!

dan betapa pun rapat pertahanannya karena ilmu silat gadis itu yang di warisi dari datuk Toat-beng Giam-ong juga merupakan ilmu silat tinggi, akhirnya pundaknya terkena pukulan tangan kiri gadis itu.

"Dukkk..."!"

Akibatnya, tubuh Akauw terdorong ke belakang, akan tetapi sebaliknya Ji Goat juga terhuyung dan dia memegangi kepalan kirinya yang terasa nyeri.

Dia merasa seolah memukul pundak yang terbuat dari baja, bukan dari kulit daging!.

"Siocia amat lihai, saya mengaku kalah! "kata Akauw cepat-cepat agar gadis itu menyudahi pertandingan. Wajah Ji Goat berubah merah karena penasaran. Memang kelihatannya saja dia menang karena dia dapat memukul pundak itu, akan tetapi dia sendiri terhuyung dan tangannya sakit sedangkan yang dipukulnya tidak apa-apa!.

"Kepandaianmu hebat, tidak percuma menjadi murid Thian-te Ciu-kwi!"

Katanya sambil membalas penghormatan Akauw yang mengangkat kedua tangan depan dada.

Sementara itu, Ciu-kwi mengerutkan alisnya dan tidak merasa puas dengan pertandingan yang dilakukan muridnya itu.

Menurut dia, kalau Akauw bersungguh-sungguh tentu dia akan mampu mengalahkan gadis itu.

Baginya, tidak ada perasaan sungkan atau tenggang rasa seperti yang dirasakan Akauw terhadap seorang gadis.

Perdana Ji Girang sekali.

Dari pengamatannya tadi dia pun dapat menduga bahwa pemuda itu cukup gagah perkasa dan akan menjadi seorang pembantu yang amat baik.

Dia lalu mempersilahkan tamu-tamu duduk, sedangkan Ji Goat berpamit untuk masuk ke dalam.

Setelah kini duduk berempat saja, Perdana Menteri itu lalu berkata.

"Memang sebaiknya kalau lo-cianpwe ini dan muridnya di hadapkan kepada Sri Baginda dan sedapat mungkin diperbantukan padamu, Koksu. Dengan demikian kita dapat bekerjasama. aku ingin sekali agar Akauw atau gurunya melakukan penyelidikan kepada Gubernur Gak. Mereka belum di kenal dan akan mudah sekali melakukan penyelidikan ke sana tanpa khawatir diketahui orang."

"Tepat sekali, taijin. Memang saya pun berpendapat demikian, maka sebelum membawa mereka menghadap Sri Baginda, saya membawa mereka ke sini lebih dulu untuk mendapatkan persetujuan taijin."

"Tentu saja saya setuju sekali, Koksu. dan sebaiknya kalau koksu membawa mereka menghadap Kaisar, lebih cepat lebih baik. Jangan lupa untuk membujuk agar Sri Baginda suka memanggil pulang Coa-ciangkun dari garis depan agar penyerangan terhadap Kerajaan Sun dapat dihentikan. Tanpa di panggilnya pulang Coa-ciangkun, saya kira usaha kita tidak akan berhasil. Sementara itu, saya akan bertugas membujuk Sri Baginda agar bersikap lunak kepada Kerajaan Sun, menariknya sebagai sekutu agar lebih mudah bagi kita menguasai daerah selatan pada umumnya."

"Baiklah, taijin. Kita membagi tugas dan sebaiknya kalau taijin menghubungi para thaikam kepala agar ikut membujuk kaisar."

"Jangan khawatir, Koksu. Mereka semua sudah berada di tanganku."

Setelah berunding sebentar, Lui Koksu berpamit dan bersama Ciu-kwi dan Akauw mereka lalu naik kereta menuju ke istana.

kalau tadi melihat istana Kok-su dan Perdana Menteri yang mewah itu Akauw sudah merasa terkagum-kagum, kini begitu dibawa masuk istana, dia benar-benar terpesona.

Tak pernah dibayangkan semula ada rumah manusia seperti itu mewah dan megahnya.

Semuanya serba besar, serba indah dan serba mewah.

baru pintunya saja sudah begitu besar dan tinggi, agaknya pintu itu dibuat untuk masuk seekor gajah!.

Dan dimana-mana penuh tanaman buatan, taman-taman kecil, air pancuran, batu-batu karang beraneka bentuk, ukiran-ukiran, lukisan-lukisan,pendeknya, tidak habis-habisnya dia kagumi.

Sampai nanar dia di buatnya memandangi semua keindahan itu.

Para prajurit pengawal yang berjaga di setiap lorong dan tikungan istana itu memberi hormat kepada Koksu, dan setelah mereka tiba di bagian dalam, para pengawal yang berjaga adalah orang-orang sida-sida atau Thaikam.

Akhirnya mereka dibawa menghadap kaisar di sebuah ruangan yang amat indahnya.

Karena saat itu bukan waktu persidangan, maka Koksu di terima oleh kaisar diperpustakaan, dimana Sri Baginda sedang memilih buku untuk di bacanya.

Biarpun dia Kaisar bangsa Mongol (Toba), namun kaisar Julan Khan suka akan kesusastraan, di samping lihai pula ilmu silatnya.

Para pengawal thaikam itu segera di suruh keluar dari ruangan setelah kaisar melihat bahwa yang menghadapnya adalah Lui Koksu yang dipercaya penuh, bersama seorang kakek kecil kurus dan seorang pemuda yang gagah perkasa.

Mereka bertiga segera menjatuhkan diri berlutut menghadap kaisar.

Hal ini di lakukan oleh Akauw setelah lebih dulu dia diberitahu dan di ajari bagaimana harus bersikap kalau berhadapan dengan kaisar, akan tetapi ketika menjatuhkan dirinya berlutut, tetap saja caranya kasar karena memadang di dalam hatinya dia masih meragu mengapa dia harus berlutut seperti itu di depan seorang yang baru saja di jumpainya dan belum di kenalnya sama sekali.

"Oh, engkau, Koksu. Bangkit dan duduklah dan juga kalian berdua yang datang bersama Kok-su."

"Terima kasih Yang Mulia,"

Kata mereka hamper berbarengan.

Kini mereka menghadap Kaisar yang duduk di atas kursi berukir indah itu dengan berdiri saja, berdiri dengan kepala di tundukkan dan sama sekali tidak boleh kepala itu di angkat kalau tidak sedang di ajak bicara oleh Kaisar.

Juga setiap kali bicara, kedua tangan harus di rangkap di depan dada sebagai tanda penghormatan.

"Lui-koksu, siapakah yang kau bawa menghadap ini? Tadi pengawal memberitahu akan tetapi kami kurang memperhatikan."

"Yang Mulia, ini adalah seorang sahabat hamba di waktu muda. Julukannya adalah Thian-te Ciu-kwi, dan dia memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Yang muda ini adalah muridnya, bernama Cian Kauw Cu yang biasa di sebut Akauw. Mereka berdua ini menawarkan tenaga mereka untuk membantu paduka, untuk bekerja dengan hamba. Mengingat bahwa kepandaian mereka boleh di andalkan, maka hamba sengaja mengajak mereka untuk menghadap paduka, untuk mohon perkenan paduka agar mereka di perbolehkan membantu hamba dan di angkat sebagai panglima."

"Hemmm, kami percaya dengan semua keteranganmu, Koksu. Akan tetapi kau tahu tidak mudah begitu saja mengangkat seseorang menjadi panglima sebelum kami melihat sendiri kemampuan mereka."

Kaisar lalu bertepuk tangan dan bermunculan pengawal thaikam dari pintu dalam.

Agaknya para pengawal itu biarpun tidak diperbolehkan memasuki kamar, namun selalu mereka siap diluar pintu sehingga sekali di panggil mereka akan bermunculan dalam waktu cepat sekali.

"Coba panggil Ngo-heng Kiam-tin (Barisan Pedang Lima unsur) dan suruh mereka bersiap di lian-bu-thia (tempat berlatih silat)!"

Kata kaisar memerintah kepada para pengawal. Mereka memberi hormat dan pergi.

"Koksu, kami hendak melihat apakah guru dan murid ini akan mampu menghadapi Ngo-heng Kiam-tin!"

Kata Kaisar kepada Lui-Koksu. Tentu saja Toat-beng Giam-ong sudah tahu siapa itu Barisan Pedang Lima Unsur, maka dia menjawab.

"Hamba kira sobat Ciu-kwi akan mempu menghadapi mereka, Yang Mulia."

Mereka semua lalu mengikuti Kaisar pergi ke ruangan yang amat luas.

Ruangan yang memang biasanya dipergunakan untuk berlatih silat.

Seperti di ketahui, Kaisar Julan Khan sendiri adalah seorang yang kuat, ahli gulat dan ahli silat.

Ketika mereka tiba di sana, sudah menanti lima orang yang berpakaian aneh.

Pakaian mereka itu saling berbeda warnanya.

Ada yang serba merah, serba biru, serba kuning, hitam dan putih.

Lima macam warna!

Kaisar muncul, mereka berlima lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Bangkitlah!"

Perintah kaisar dan setelah mereka semua bangkit berdiri, kaisar berkata.

"kalian harus menguji kemampuan dua orang guru dan murid ini yang mencalonkan diri sebagai panglima pembantu Koksu,"

Katanya dan seorang thaikam segera mengangkat kursi kaisar ke belakang kaisar yang segera duduk dengan wajah gembira.

Kaisar ini memang suka sekali menonton orang bertanding mengadu ilmu silat.

Sementara itu, Lui Koksu sudah membisiki Ciu-kwi bahwa biarpun kepandaian lima orang itu tidak berapa hebat, akan tetapi karena merupakan barisan pedang yang bekerja sama dengan baik sekali, maka cukup berbahaya.

Akan tetapi dia percaya bahwa dengan tangan kosong saja dia atau Akauw mampu mengatasi mereka!.

Mendengar bisikan sahabatnya itu, Thian-te Ciu-kwi lalu berkata kepada Kaisar.

"Yang Mulia, kalau paduka mengijinkan, hamba akan lebih dahulu maju menghadapi Ngo-heng Kiam-tin ini dengan tangan kosong, baru sesudah hamba murid hamba akan menandingi mereka."

Mendengar ini, Kaisar mengerutkan alisnya.

Dia tahu akan kemampuan Ngo-heng Kiam-tin, dan kakek kecil kurus seperti orang pemadatan ini hendak menandingi dengan tangan kosong saja.

Ini hanya ada dua kemungkinan.

Kakek itu memang sakti atau sombong.

Kalau sombong, biarlah mendapat hajaran keras dari Ngo-heng Kiam-tin.

"Dengan tangan kosong, Ciu-kwi. Ingat, lima batang pedang itu dapat melukaimu!".

"Kalau memang demikian, sudah nasib hamba, Yang Mulia."

"Baiklah, kalau begitu Ngo-heng Kiam-tin, kalian siap menandingi Thian-te Ciu-kwi yang bertangan kosong!". Lima orang itu lalu berloncatan membentuk lingkaran segi lima. Tubuh mereka rata-rata tinggi besar dan dengan pakaian mereka yang saling berbeda warna itu, gerakan mereka tadi kelihatan indah sekali seperti lima orang penari. tahu-tahu mereka telah mencabut pedang mereka dan siap dengan bermacam pasangan kuda-kuda. Ada yang melintangkan pedang di depan dada, ada yang mengacungkan pedang di atas kepala, ada yang menyembunyikan pedang di bawah lengan. Mereka semua sudah siap untuk menyerang kakek yang berdiri seenaknya itu. Akan tetapi,lima orang ini tidak berani memandang rendah. Nama besar Thian-te Ciu-kwi sudah pernah mereka dengar sebagai datuk kang-ouw dari pantai timur dan kabarnya lihai bukan main.

"Apakah engkau sudah siap, Ciu-kwi?"

Tanya kaisar.

"Sejak tadi hamba sudah siap, Yang Mulia."

"Kalau begitu, mulailah!"

Kata kaisar, di tujukan kepada lima orang itu.

Mereka adalah jagoan-jagoan istana, merupakan anggota pasukan pengawal pribadi kaisar.

Mendengar seruan kaisar ini, lima orang itu mulai bergerak melangkah dengan teratur mengelilingi Ciu-kwi yang kelihatan masih berdiri dengan santai saja.

Tiba-tiba seorang di antara mereka, yang berpakaian putih dan agaknya menjadi pemimpin Ngo-heng Kiam-tim, mengeluarkan bentakan nyaring.

"Thian-te Ciu-kwi, lihat pedang!". Dan diapun sudah menyerang dari depan dengan gerakan dahsyat. Dua orang lain menggerakkan pedang mereka memperkuat serangan baju putih dan dua orang lagi menggerakkan pedang menjaga kalau lawan membalas serangan. Ciu Kwi mengeluarkan kecepatan gerakannya. Dengan mudah saja dia mampu menerobos di antara sambaran tiga batang pedang itu, berloncatan ke sana sini seperti orang mabok dan tahu-tahu kedua kakinya yang kecil itu mengirim tendangan, bukan membalas serangan tiga orang itu melainkan menyerang dua orang orang yang tadi berjaga-jaga. Dua orang itu terkejut, maklum lihainya tendangan itu dan berlompatan ke belakang. Mereka mengepung lagi dan dengan bergantian pedang mereka menyerang bertubi-tubi, namun tidak ada pedang yang mampu melukai Ciu-kwi. Dia mengelak, berloncatan dan kadang dengan tangannya menyapok pedang dari samping. Ciu-kwi memperlihatkan ilmu yang menjadi andalannya, yaitu Thian-te Sin-kun (Silat Sakti Langit Bumi) dan mencampurnya dengan gerakan Dewa Mabok untuk mengelak dan mengacaukan lawan. Ngo-heng Kiam-tin memang kuat sekali. Mereka itu saling tunjuang, saling bantu dan saling melindungi. Mereka dapat bekerja sama dengan rapid an teratur sehingga Ciu-kwi seperti melawan lima orang dengan satu hati dan pikiran. Namun, karena memang tingkatnya jauh lebih tinggi dari mereka, dia dapat selalu menghindarkan diri dan balasan serangannya beberapa kali membuat barisan pedang menjadi kacau. Setelah lewat tiga puluh jurus, Ciu-kwi mengeluarkan bentakan melengking dan begitu kedua tangannya berputar dan memukul ke depan angina pukulan dahsyat menyambar dan lima orang itu terhuyung ke belakang, bahkan dua di antara mereka terjengkang. Ciu-kwi cepat melangkah mundur dan memberi hormat kepada Sri Baginda."

Harap paduka maafkan hamba."

Sri Baginda bertepuk tangan memuji.

"Bagus, bagus sekali, Ciu-kwi. Engkau memang pantas menjadi sahabat dan pembantu Kok-su! Dan bagaimana dengan muridmu itu?."

"Hamba kira dengan menggunakan pedangnya, Akauw akan mampu menandingi Ngo-heng Kiam-tin."

Mendengar ucapan Ciu-kwi, Sri Baginda menjadi gembira sekali.

Orang yang mampu mengalahkan Ngo-heng Kiam-tin merupakan orang yang sakti dan tentu saja dia dapat mempergunakan tenaga orang-orang seperti itu.

Akan tetapi Lui-Koksu tidak heran karena dia sudah mendengar dari Ciu-kwi bahwa Akauw memiliki ilmu aneh dan juga memiliki Hek-liong-kiam yang ampuh.

"Akauw, lawanlah mereka dengan pedangmu. Akan tetapi jangan sekali-sekali melukai mereka,"

Pesan Ciu-kwi kepada muridnya.

"Baik, suhu,"

Kata Akauw yang telah melihat gerakan lima orang itu dan merasa dapat mengatasi mereka dengan pedangnya. Dia lalu memberi hormat kepada Kaisar.

"Mohon perkenan paduka, Yang Mulia."

"Baik, bangkit dan lawanlah Ngo-heng Kiam-tin dengan pedangmu, orang muda,"

Kata kaisar gembira. Akauw lalu bangkit berdiri, mencabut Hek-liong Po-kiam dari sarungnya dan nampaklah sinar hitam yang menyeramkan. Bahkan kaisar sendiri berseru kagum.

"Po-kiam yang hebat!". Ngo-heng Kiam-tin kini sudah maju lagi mengepung. Dalam pertandingan melawan Ciu-kwi tadi, jelas mereka telah kalah, akan tetapi tak seorang pun dari mereka mengalami luka sehingga kini mereka dapat maju dengan lengkap dan tenaga mereka masih tidak berkurang. Hanya mereka agak gentar menghadapi pedang hitam di tangan pemuda tinggi besar itu. Mereka pun dapat menduga bahwa pemuda itu memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh. Lima orang itu, seperti tadi mengepung Akauw dengan berbagai macam kuda-kuda. Akauw sendiri dengan tenang berdiri dengan pedang melintang di depan dada, seluruh saraf di tubuhnya menengang dalam keadaan siap siaga. Kembali si baju putih mengeluarkan bentakan.

"Lihat pedang!"

Dan dia mulai menyerang, di susul teman-temannya Kadang mereka menyerang bertubi-tubi, susul menyusul, kadang mereka menyerang berbarengan dan menyatukan tenaga dalam pedang mereka.

Namun Akauw telah maklum akan gerakan mereka.

Kalau mereka menyerang bertubi-tubi, dia pun mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menghindar, kalau mereka menyatukan pedang mereka, diapun menangkis dengan pengerahan tenaga.

Memang agak repot juga baginya kalau mengadu dengan tenaga lima orang yang menggabungkan tenaga mereka itu.

Di keroyok oleh lima orang, tenaganya tidak kuat bertahan dan beberapa kali dia terpaksa melangkah mundur.

Akan tetapi, setelah lewat dua puluh lima jurus, Akauw mengubah gerakan pedangnya berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membelit dan memutar.

"Kraakk!"

Terdengar suara keras dan pedang si baju putih patah menjadi dua ketika dia berani menangkis dengan langsung sambaran sinar hitam yang bergulung-gulung itu.

Kepatahan pedang baju putih sebagai pemimpin ini mengacaukan yang lain dan Akauw menggunakan kesempatan ini untuk menyambar pedangnya dan empat batang pedang yang lain juga patah semua!

Tentu saja Ngo-heng Kiam-tin menjadi rusak dan mereka berlima terpaksa berlompatan ke belakang karena sudah tidak ada senjata di tangan mereka.

Sri Baginda Kaisar Julan Khan bertepuk tangan memuji.

"Bagus, Kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus! "dia memuji lalu berkata kepada Lui-koksu, kami telah melihat ilmu Ciu-kwi dan Akauw. Mereka boleh kau terima menjadi panglima untuk membantu pekerjaanmu."

Ciu-kwi dan Akauw segera menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih.

Mereka bertiga meninggalkan istana dengan gembira dan semenjak hari itu, Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu dan Akauw menjadi seorang panglima muda yang di perbantukan pula kepada Kok-su.

Mereka berdua untuk sementara tinggal di tempat kediaman Kok-su.

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Yang Cien.

Seperti telah diceritakan di bagian depan.

Yang Cien tinggal seorang diri di dalam guha besar bawah tanah itu setelah di tinggal pergi oleh Akauw.

Dia segera dapat menghilangkan perasaan kesepiannya di tinggalkan sutenya itu, dan dengan tekun dia melanjutkan latihannya, mempelajari ilmu Bu-tek Cin-keng yang ternyata amat sulit di latih itu.

Dia tahu bahwa sutenya telah hafal akan semua gerakan ilmu silat itu, akan tetapi tanpa petunjuk kitab, ilmu yang di miliki sutenya itu hanyalah kulitnya saja, tanpa isi.

Dia berjanji pada diri sendiri bahwa kelak kalau dia bertemu kembali dengan sutenya, dia akan mengajarkan ilmu itu secara yang semestinya agar sutenya juga menguasai Bu-tek Cin-keng secara benar.

Setiap hari Yang Cien tekun berlatih, hidup secara sederhana sekali, tidak pernah berhubungan dengan manusia lain.

Dia seolah menjadi seorang pertapa yang hidup menyendiri di tempat sunyi itu, di Lembah Iblis.

Tiga tahun telah lewat tanpa terasa.

Yang Cien telah menyelesaikan pelajaran ilmu itu dan kini akibat racun jarum di kitab itu sudah hilang sama sekali.

Tanpa di sadarinya sendiri, dia telah menguasai ilmu yang amat dahsyat, yang di pelajari dan di latihnya selama lima tahun di tempat itu!

Juga dia tidak menyadari bahwa kini dia telah menjadi seorang pemuda yang sudah dewasa benar, pemuda yang berusia dua puluh lima tahun!.

Pada halaman terakhir kitab Bu-tek Cin-keng itu terdapat tulisan yang mengharuskan murid yang mempelajari kitab itu sampai habis, agar menutup guha itu.

"Gulingkan batu yang berada di atas tebing dan hujan batu besar akan menutup guha ini untuk selamanya,"

Demikian bunyi pesan itu.

Yang Cien melangkah keluar guha.

Biasanya, hanya untuk mencari makan saja dia keluar dari guha itu, paling banyak sekali dua kali dia keluar guha dalam sehari.

Dia tidak begitu memperhatikan di atas tebing dan baru sekarang dia berdongak memperhatikan keadaan di atas tebing.

Tebing itu tinggi dan permukaan dinding tebing memang penuh dengan batu besar yang kalau tertimpa batu dari atas tentu akan dapat terlepas dan runtuh ke bawah.

Tentu itu yang di maksudkan pesan dalam halaman terakhir kitab itu.

Dia masuk kembali lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap kerangka yang berada di kursi itu.

Kedudukan kerangka yang berada di kursi itu pun ternyata membantunya memecahkan rahasia dari jurus terakhir sebagai penutup kitab pelajaran itu.

Tadinya, sampai berhari-hari dia bingung, tidak dapat mengerti dengan baik gerakan jurus penutup.

Baru setelah dia melihat kedudukan kerangka itu, memperhatikan kedudukan kedua tangan dan kakinya, dia mengerti.

Kerangka itu justeru berkedudukan seperti yang di kehendaki dalam jurus terakhir tadi.

"Suhu, siapapun adanya suhu, teccu (murid) menghaturkan banyak terima kasih atas semua petunjuk suhu sehingga teecu dapat menyelesaikan pelajaran Bu-tek Cin-keng ini. Karena khawatir kalau sampai terjatuh ke tangan orang jahat, kitab ini teecu tinggalkan di sini bersama suhu, dan pedang Pek-liong-Po-kiam teecu bawa sedangkan Hek-liong-Po-kiam di bawa sute Akauw.

"Setelah berlutut dan memberi hormat delapan kali, di atas meja dan dia membawa Pedang Naga Putih keluar, bersama buntalan pakaiannya. Kemudian dia mendaki tebing itu ke atas dan baru dia mengetahui betapa mudahnya hal itu dilakukannya. Padahal, tadinya dia mengira bahwa memanjat tebing itu akan sukar sekali karena tebing itu terjal. Namun setelah kakinya memanjat, dia merasa ringan dan mudah saja! Dia sendiri tidak menyadari bahwa latihan-latihan itu telah meningkatkan sinking dan ginkangnya sehingga dia mampu bergerak seperti seekor cecak merayap dinding!. Setelah tiba di atas tebing, dia lalu mencari batu yang terbesar. Di temukan batu itu, sebesar gajah. Tadinya diapun meragukan apakah dia akan mampu, menggulingkan batu sebesar gajah itu, apakah tidak lebih baik memilih yang lebih kecil. Akan tetapi, begitu dia mencoba untuk menggerakkan batu itu, ternyata terasa tidak terlalu berat baginya dan dengan mudah dia mampu mendorong dan menggelindingkan batu ke tepi tebing, tepat di atas guha besar yang selama lima tahun menjadi tempat tinggalnya itu. Begitu batu terguling, terdengar suara gemuruh dan ketika dia melongok ke bawah, benar saja, batu itu menghantam batu-batu di bawah sehingga terlepas dari dinding tebing dan hujan batu besar terjadi di depan guha sehingga guha itu tertutup sama sekali oleh ratusan, bahkan mungkin ribuan batu besar! Tidak mungkin lagi bagi seorang atau beberapa orang manusia untuk membongkar batu-batu itu. Guha itu benar-benar telah menjadi kuburan bagi gurunya yang tak di kenal namanya itu. Kemudian, dia menuruni tebing kembali dan memasuki guha yang penuh emas. Sampai lama dia mengamati emas-emas yang menempel di dinding guha. Sekali waktu benda berharga ini akan berguna juga, entah kapan dan untuk apa, dia belum mampu membayangkan. Dia lalu mengambil secukupnya untuk bekal. kemudian mencari batu besar dan menggulingkan batu itu menutupi guha kecil itu sehingga tidak nampak sama sekali dari luar. Hanya dia yang tahu bahwa di balik batu besar itu terdapat sebuah guha penuh emas. Dalam guha-guha lain yang berjajar di daerah itu tidak terdapat apa-apa lagi, kecuali guha pertama yang penuh dengan arca yang tidak begitu penting untuk di sembunyikan. Setelah selesai menutup kedua guha yang di rahasiakannya itu, Yang Cien lalu pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa kali dia menoleh untuk memandang tempat yang di jadikan tempat tinggalnya selama lima tahun itu. Menduga-duga kapan kiranya dia akan dapat kembali ke tempat itu. Lembah Iblis! Dia tidak mengerti mengapa rakyat di wilayah itu menamakannya Lembah Iblis. Padahal baginya, lembah itu amat indah dan menjadi tempat dia menghabiskan waktunya bertahun-tahun. Sejak dia memasuki lembah itu bersama kakek nya, tidak kurang lebih sepuluh tahun dia tinggal di sana, lima tahun tinggal di gubuk atas pohon seperti kera, dan lima tahun tinggal di guha seperti pertapa. Dan kini, dia memasuki dunia ramai. Apakah yang menanti dia di depan? Dia tidak tahu, dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan. Nasib? Menurut pelajaran tentang kehidupan yang dia dapatkan dari kakeknya, dia tidak mau menggantungkan diri kepada nasib. Nasib tidak datang bagitu saja, nasib hanya merupakan mata rantai dari sebab akibat. Kalau orang menanam bibit baik lalu menuai hasil panen baik, itu bukan nasib namanya! Juga kalau menyebar bibit baik, itu juga dapat memetik panen baik, itu juga bukan nasib karena pasti ada penyebabnya! Entah karena pemupukannya kurang baik, atau penjagaannya kurang baik sehingga terusak oleh hujan atau oleh burung-burung atau hama lainnya. Jelas bukan karena nasib buruk dan sebagainya!. Kekuasaan Tuhan memang mutlak. Akan tetapi Kekuasaan Tuhan juga adil! Jadi tidak ada yang di sebut nasib baik atau nasib buruk karena semua yang terjadi sudah semestinya demikian, sesuai dengan hokum karma masing-masing. Dan karma itu siapa penyebabnya, siapa pembuatnya? Kita sendiri! Karena itu, setiap perbuatan adalah menyebar benih, setiap peristiwa yang terjadi menimpa diri adalah penuaian dari penyebaran benih tadi, atau akibat dari perbuatan kita. Maka orang bijaksana tidak mengeluh kalau sesuatu menimpa dirinya karena sadar bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri, lama atau baru, sedangkan kalau melakukan sesuatu, maka pekerjaan itu dilakukan tanpa pamrih imbalan apapun. Demikianlah apa yang telah dipelajari Yang Cien dari kakek nya, oleh karena itu, dia pun tidak gentar menghadapi apapun karena maklum bahwa segalanya tergantung dari padanya sendiri. Pemandangan di Telaga Tai-hu amatlah indah. Di tengah telaga yang besar itu terdapat beberapa pulau kecil dan banyak orang yang berpesiar naik perahu di telaga di samping perahu-perahu nelayan penangkap ikan. Ada pula orang-orang berpakaian sastrawan yang naik perahu kecil, menghadapi kitab sambil minum arak atau sambil memancing ikan. Seorang pemuda berpakaian sederhana naik sebuah perahu kecil dan mandayungnya mendekati sebuah pulau. Dia tertarik sekali kepada seorang laki-laki yang juga berperahu seorang diri sambil membaca sajak. Pemuda ini selain pakaiannya yang sederhana, juga gerak-geriknya amat sederhana. Rambutnya yang di gelung ke atas itu tertutup sebuah caping lebar, bajunya dari kain kasar berwarna biru dan potongannya seperti yang biasa di pakai para petani. Wajahnya yang terlindung caping itu tampan, berbentuk persegi dan berkulit putih. Alisnya tebal melindungi sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengembangkan senyum yang ramah. Wajah yang menyenangkan, akan tetapi juga mengandung wibawa yang kuat. Pemuda itu adalah Yang Cien. Dia menyembunyikan Pedang Pusaka Naga Putih di dalam buntalan pakaian yang di gendongnya. Pemuda ini dalam perjalanannya merantau telah membeli beberapa potong pakaian baru yang di gendongnya dalam buntalan kain kuning. Ketika melakukan perjalanan merantau karena sampai selesai melatih diri dengan Kitab Bu-tek Cin-keng sutenya belum juga pulang, dia tiba di Telaga Tai-hu dan menyewa sebuah perahu. Tertarik oleh pemandangan yang amat indah itu. Ketika tadi mendengar orang membaca sajak, dia tertarik oleh kata-kata dalam sajak itu.

"Pohonku dikuasai burung gagak Sarangku terancam musnah Namun apa dayaku? Semua burung dara pergi ketakutan Tidak ada yang berani melawan gagak Tiada harapan kecuali menanti munculnya Sang Garuda Pengusir burung gagak dari pohonku "

Dia tertarik sekali karena dia dapat menangkap inti dari sajak atau nyanyian itu.

Pohon dikuasai burung gagak, yaitu termasuk burung liar seperti yang terjadi sekarang.

Cina bagian utara sepenuhnya di kuasai bangsa Mongol (Toba) dan semua burung dara pergi ketakutan.

Bukan hanya ketakutan bahkan banyak penduduk pribumi yang menghambakan dirinya kepada kekuatan asing itu.

Bahkan mendiang ayahnya juga menghambakan dirinya kepada kaisar Toba.

Hal ini sebetulnya tidak di setujui kakeknya.

Kakeknya seringkali menyesalkan hal itu.

Bagaimanapun juga, seorang patriot haruslah menentang penjajahan, bukannya membantu kaum penjajah untuk memakmurkan rakyat,"

Kata kakek nya.

Di dalam sajak di sebutkan bahwa semua burung dara tidak ada yang berani melawan gagak, maka di harapkan munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak.

Mengusir Bangsa Toba dari tanah air?

Bukan pekerjaan mudah!.

"Ayahmu salah langkah,"

Kata kakeknya dahulu.

"sepatutnya dia membantu mereka yang menentang Kaisar Toba, bukan menghambakan diri kepadanya. Di bawah kekuasaan Kaisar Toba, para pejabat melakukan koropsi dan penindasan terhadap rakyat. Mereka tidak memperdulikan nasib rakyat jelata karena menganggap tidak perlu bekerja dengan sungguh-sungguh mengingat bahwa pemerintahan itu adalah Kerajaan Mongol. Semua pejabat berlomba untuk menggendutkan diri, menebalkan kantung sendiri dan berlomba untuk mewah-mewahan. Para pendekar yang berjiwa patriot melihat penindasan oleh Bangsa Mongol merasa prihatin sekali. Namun pasukan Kerajaan Toba amat kuat sehingga setiap pemberontakan mengalami kegagalan. Para pejabat yang bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kesejahteraan rakayt, seperti mendiang ayahmu, malah di musuhi oleh pejabat-pejabat tinggi yang berkuasa. Nah, mendiang ayahmu telah salah langkah, dan tidak seharusnya engkau mengikuti jejaknya itu."

"Kakek pernah mengatakan bahwa yang membunuh ayah ibu adalah Koksu."

"Benar. Anak buah Toat-beng Giamh-ong Lui Tat yang kini menjadi Koksu itu yang telah mengeroyok dan membunuh ayah ibumu. Dia tidak senang melihat ayahmu membela rakyat yang terindas dan berani memprotes kenaikan pajak dan kerja paksa. Pemeritah penjajah memang sifatnya menindas dan memeras, dan ayahmu telah berani menentang arus. Akan tetapi, singkirkan dendammu pribadi itu, Yang Cien. Engkau harus mempergunakan segala daya dan kepandaianmu untuk mempersatukan rakyat, mempersatukan semua kekuatan agar tidak terpecah-belah dan hanya dengan persatuan saja kiranya penjajah Mongol akan dapat di halau dari negeri kita."

Demikianlah, percakapan itu mengiang di telinga Yang Cien ketika dia tertarik mendengar bunyi sajak yang mengandung semangat menantang penjajah itu.

Dia lalu mendayung perahunya mendekat perahu orang itu.

Ternyata yang membaca sajak tadi adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang berpakaian seperti pengemis!

Kakek itu menghadapi seguci arak dan dia tadi membaca sajak sambil di seling minum arak.

Yang Cien dapat menduga bahwa kakek itu tentulah bukan seorang pengemis biasa saja.

Mana ada seorang pengemis berperahu, menikmati arak sambil membaca sajak?

"Lo-cianpwe, sajakmu tadi sungguh indah!"

Katanya memuji. Kakek itu menoleh dan melihat bahwa yang memujinya seorang pemuda tampan gagah berpakaian sederhana dan bercaping lebar, dia tersenyum ramah.

"Orang muda, kalau engkau suka sajak dan minum arak, naiklah ke perahuku. Berdua lebih menggembirakan daripada seorang diri saja."

"Baik, lo-cianpwe dan terima kasih,"

Kata Yang Cien gembira.

Akan tetapi pada saat dia mengikatkan tali perahunya pada perahu kakek pengemis itu, tiba-tiba saja datang sebuah perahu besar.

Perahu itu sudah dekat sekali dan dari perahu besar itu meluncur banyak anak panah ke arah mereka!.

Kakek itu cepat menangkis dengan kedua tangannya sambil berseru "Jahanam penjilat Mongol yang busuk!"

Dan tubuhnya sudah melompat ke atas perahu besar.

Melihat kegagahan kakek itu, Yang Cien khawatir kalau kakek itu akan menghadapi pengeroyokkan, maka diapun ikut pula melompat ke atas perahu besar.

Benar seperti yang di khawatirkannya, kakek itu telah di kepung dan di keroyok oleh belasan orang yang memegang golok.

Kakek pengemis itu menggerakkan tongkat bambunya dan mengamuk.

Yang Cien kagum karena kakek itu ternyata lihai sekali.

Biarpun dia hanya bersenjatakan sebatang tongkat bamboo sedangkan para pengeroyoknya menggunakan golok tajam, namun dia dapat menghindarkan semua serangan dengan elakkan atau tangkisan, bahkan sebentar saja sudah merobohkan empat orang pengeroyok dengan tendangan atau totokan tongkat bambunya.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Kam-lokai, mata-mata busuk, kalau engkau tidak menyerah, akan mampus di tangan kami!"

Dan seorang laki-laki jangkung kurus meloncat ke depan lalu menggerakkan senjatanya yang menyeramkan, yaitu sepasang kapak yang besar dan berkilauan saking tajamnya.

"Gu-Mo-ko, kiranya engkau sudah menjual dirimu kepada orang Mongol!"

Bentak kakek itu dan diapun menerjang ke arah orang kurus yang bersenjatakan sepasang kapak itu.

Entah bagaimana orang tinggi kurus begitu mendapat julukan Gu Mo-ko (Setan Kerbau), mungkin sekali karena matanya yang besar seperti mata kerbau itu, atau sepasang kapaknya itu dapat di umpamakan sepasang tanduk kerbau.

Akan tetapi ternyata Gu Mo-ko in ilihai sekali.

Begitu dia menyerang dengan sepasang kapaknya yang berat, kakek itu segera terdesak karena Gu Mo-ko masih di bantu belasan orang anak buahnya.

Melihat itu, sekarang Yang Cien tidak meragu lagi untuk membantu.

Tadi dia melihat kakek itu tidak terdesak, maka dia pun tidak membantu dan hanya menonton.

Akan tetapi sekarang, kakek itu sungguh terdesak hebat, maka diapun sudah mengambil pedangnya dari buntalan pakaiannya dan meloncat ke depan.

Dia segera dihadang lima orang anak buah Gu Mo-ko yang menyerangnya dengan golok.

Akan tetapi begitu memutar Pek-liong-Po-Kiam, terdengar suara nyaring berturut-turut dan lima batang golok patah menjadi dua!

Tentu saja lima orang itu terkejut bukan main, dan Yang Cien hendak melompat maju.

Pada saat itu terdengar kakek Kam Lo-kai (Pengemis Tua Kam) mengeluh dan dia terhuyung ke belakang, pundaknya terbabat sebatang kapak dan dia terluka parah.

Kapak kedua menyusul membabat ke arah lehernya, akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan biru dan "tranggg..."

"kapak yang menyambar leher Kam Lo-kai itu pun patah menjadi dua! Tentu saja Gu Mo-ko terkejut dan meloncat ke belakang. Kesempatan itu dipergunakan Yang Cien untuk menyambar tubuh Kam Lo-kai dan membawanya meloncat ke bawah, ke perahunya sendiri, merebahkan kakek itu di dalam perahu dan dia cepat mendayung perahunya meninggalkan perahu besar. Beberapa batang anak panah menyambar dari perahu besar. Yang Cien menyampok dengan tangannya dan menangkap sebatang anak panah, kemudian melontarkan ke atas perahu dan terdengarlah seorang pemanah menjerit dan roboh terkena anak panahyang di lemparkan Yang Cien. Melihat kehebatan anak muda itu, semua orang di atas perahu besar menjadi gentar dan mereka tidak melakukan pengejaran, membiarkan Yang Cien pergi membawa kakek yang sudah terluka parah itu. Setibanya di darat, Yang Cien menalikan perahunya dan terdengar kakek itu merintih. Yang Cien berlutut di perahu.

"Bagaimana, lo-cianpwe, keadaanmu?"

Kakek itu menggeleng kepala dan ketika Yang Cien memeriksa dia terkejut.

Pundah itu putus terbabat kapak dan lukanya parah sekali sampai ke dada.

Keselamatan orang yang terluka seperti itu sukar di pertahanankannya.

"Orang muda.... Siapapun adanya engkau.... Bantulah kami yang berusaha mengusir penjajah dari tanah air.... Kausampaikan suratku... ambil surat itu dari saku bajuku....

"Yang Cien mengambil sepucuk surat itu dari saku dalam baju pengemis itu.

"Untuk apa surat ini, lo-cianpwe?".

"Kauberikan.... Surat... kepada..... Gubernur Gak di Nam-kiang...""..

"kakek itu terkulai dan tewas. Yang Cien menghela napas panjang dan menutupkan kedua mata yang masih terbuka itu. Kemudian dia memondong jenazah itu dan membawanya ke darat. Dia merebahkan mayat itu di atas tanah di tepi danau, lalu menggali lubang sambil termenung. kakek itu, walaupun melihat namanya memang seorang tokoh pengemis kang-ouw, ternyata mempunyai jiwa patriot. Agaknya dia menjadi mata-mata untuk memata-matai pemerintah. Dan agaknya Gubernur Gak di Nam-kiang juga seorang pejuang. Dia sendiri, seorang yang tadinya tidak mempunyai sangkut paut dengan perjuangan, kini tiba-tiba saja menjadi seorang yang membantu para pejuang! Akan tetapi dia belum mengambil keputusan untuk membantu Gubernur Gak karena dia belum mengerti dan belum tahu apa yang diperjuangkan oleh Gubernur Gak. Pada saat ini dia hanya membantu Kam Lo-kai yang di anggapnya seorang sahabat yang kebetulan bertemu di Tai-hu dan yang hanya mengharapkan pertolongannya menyampaikan sepucuk surat kepada Gubernur Gak. Setelah selesai mengubur jenazah itu dan memberi hormat sekadarnya dengan sederhana tanpa upacara sembahyang, Yang Cien lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke selatan. Ketika Yang Cien berjalan tiba di lereng sebuah bukit, tiba-tiba saja dari balik semak belukar berloncatan banyak orang dan nampak tiga orang tinggi besar bersama dua belas orang anak buahnya telah menghadang perjalanannya!. Yang Cien sudah menduga bahwa mereka itu memang menghadangnya, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan hendak melangkah terus. Akan tetapi tiga orang tinggi besar itu menghalangi jalannya dan berseru keras.

"Orang muda, berhenti kau!"

Yang Ciean berhenti dan memandang mereka penuh perhatian.

Tiga orang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu seperti tiga orang raksasa, sekepala lebih tinggi darinya dan wajah mereka nampak bengis.

Seorang yang tertua memegang sebatang golok, orang kedua memegang sebatang pedang dan orang ketiga memegang sebatang ruyung besi.

Mereka nampak kuat sekali dan orang pertama yang memegang golok maju ke depan.

Mereka bertiga itu terkenal dengan julukan Huang-ho Sam-how (Tiga Harimau Sunagi Kuning), terdiri dari tiga orang kakak beradik bernama Ceng Hauw, Ceng Kiat dan Ceng Lung.

Ceng Hauw orang tertua berkata dengan suaranya yang parau kasar.

"Orang muda, engkaukah yang telah membantu Kam Lo-kai dan mengubur mayatnya?".

"Benar, aku yang mengubur jenazah Kam Lo-kai,"

Jawab Yang Cien.

"Hemmm, siapakah namamu, orang muda?"

"Namaku Yang Cien."

"Kami masih menyayangi usia mudamu. Yang Cien, sebaiknya engkau cepat menyerahkan surat yang kau terima dari Kam Lo-kai itu kepada kami!".

"Mendiang Kam Lo-kai tidak pernah menitipkan surat kepadaku untuk di serahkan kepada kalian!"

Kata Yang Cien dengan suara sungguh-sungguh.

"Memang bukan untuk kami. Surat itu untuk Gubernur Gak, bukan? Nah, serahkan kepada kami, cepat!".

"Kalau kalian tahu bahwa surat itu bukan untuk kalian, mengapa kalian memintanya? Itu tidak sopan dan tidak benar."

Tiga orang Huang-ho Sam-houw itu menjadi marah.

"Toako, bunuh saja bocah ini dan rampas suratnya!"

Kata Ceng Kiat.

"Benar, hajar saja dia!"

Kata pula Ceng Lung "Hem, aku merasa sayang karena sebetulnya dia tidak tersangkut hanya kebetulan saja menerima surat dari Kam Lo-kai.

Orang muda, ku harap engkau menyerahkan surat itu.

Kalau tidak, tubuhmu akan menjadi seperti ini!"

Berkata demikian, Ceng Houw mengayun goloknya membabat sebatang pohon dan batang pohon itu roboh seketika, terpotong oleh golok tajam yang di gerakkan dengan tenaga amat kuatnya itu.

"Atau seperti ini!"

Kata pula Ceng Kiat dan sebatang pohon lain tumbang oleh sabetan pedangnya.

"Atau ini?"

Bentak Ceng Lun dan terdengar suara keras, batu gunung sebesar kepala kerbau itu remuk di hantam ruyungnya.

Melihat ini, Yang Cien tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki tenaga besar dan merupakan lawan cukup tangguh.

Namun, tentu saja dia tidak takut dan tidak ingin menyerahkan surat yang seolah baginya merupakan wasiat seorang yang telah meninggal dunia.

"Maaf, sam-wi tidak berhak menerima surat itu, terpaksa saya tidak dapat menyerahkan."

"Engkau mencari mampus!"

Bentak tiga orang tinggi besar itu dan mereka sudah menggerakkan senjata untuk menyerang.

Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan dua orang dan muncullah seorang to-kouw (Pendeta perempuan) dan seorang gadis cantik berdiri di situ.

Tokouw itu memegang sebuah kebutan yang bulunya putih.

"Tahan senjata!"

Seru Tokouw itu dengan suara nyaring.

"Kalian ini orang-orang banyak hendak memaksa seorang pemuda? Kalau dia tidak mau menyerahkan sesuatu, tidak semestinya kalau kalian memaksanya."

Huang-ho Sam-houw mengerutkan alisnya.

"Tokouw, harap engkau jangan mencampuri urusan kami!"

Bentak Ceng Hauw marah.

"Pergilah dan jangan usil."

"Kami tidak usil, dan tentu saja kami akan campur tangan kalau melihat kejahatan dilakukan orang. Kalian tidak boleh memaksa pemuda ini melakukan sesuatu yang tidak dia sukai."

Ceng Haouw memberi aba-aba kepada anak buahnya.

"Serang...""! "

Dua belas orang anak buahnya mengepung sambil menghunus senjata golok atau pedang mereka.

Akan tetapi, nampak dua sianr berkilat ketika To-kouw dan gadis itu mencabut pedang mereka dan segera terjadi pertempuran yang berat sebelah.

Dalam waktu singkat saja, gadis dan tokouw itu sudah merobohkan enam orang.

Melihat ini, Huang-ho Sam-houw menjadi marah.

Dengan teriakan ganas mereka menerjang dengan senjata mereka.

Ceng Haouw yang bergolok dan Ceng Kiat yang berpedang menyerang tokouw itu, sedangkan Ceng Lun menggunakan rutungnya untuk menerjang gadis yang memegang pedang dengan ronce merah.

Sisa enam orang anak buah gerombolan itu pun ikut pula mengeroyok, akan tetapi dari jarak jauh karena mereka gentar menghadapi pedang tokouw dan nona itu.

Yang Cien yang berdiri di pinggiran memandang dengan kagum.

Dia melihat betapa tokouw dan nona itu amat lihai sehingga tidak perlu di bantu.

Maka dia pun hanya menonton saja.

Tokouw itu amat lihainya, bukan saja pedangnya mampu menahan golok dan pedang lawan, akan tetapi juga kebutan di tangan kiri nya merupakan senjata yang ampuh sekali.

Bulu-bulu hudtim (kebutan pendeta) itu kadang dapat menjadi tegang dan keras oleh kekuatan sinking yang terkandung di dalamnya.

Dapat pula dipakai melibat, dapat pula di pakai menotok.

Baru belasan jurus saja, Ceng Haouw dan Ceng Kiat terdesak hebat.

Tiga orang anak buah yang mencoba-coba untuk membantu, sudah lebih dulu roboh.

Pertandingan antara Ceng Lund an gadis itu pun tidak seimbang.

Ruyung di tangan Ceng Lun itu memang berat dan di gerakkan dengan tenaga gajah sehingga berbunyibersiutan ketika menyambar.

Batu saja remuk kena hantaman ruyung ini, apalagi tubuh gadis cantik itu.

Akan tetapi nyatanya, gerakan gadis itu cepat seperti seekor burung wallet sehingga semua sambaran ruyung tidak pernah mengenai sasaran dan sebaliknya.

Serangan balik dari pedang di tangan gadis itu beberapa kali hampir saja mengenai leher dan dada Ceng Lun.

Juga tiga orang anak buah yang membantunya sudah lebih dulu roboh di sambar sinar pedang gadis itu.

Akhirnya, Huang-ho Sam-houw maklum bahwa kalau di lanjutkan, mereka tidak akan menang.

Mereka lalu berteriak memberi aba-aba dan semua anak buahnya melarikan diri secepatnya, ada yang terpincang, ada yang berloncat-loncatan, bahkan ada yang merangkak pergi.

Huang-ho Sam-houw sendiri sudah melarikan diri dengan cepat meninggalkan tokouw dan gadis yang berbahaya itu.

Tokouw dan gadis itu tidak mengejar, hanya mengikuti mereka yang melarikan diri sambil tersenyum.

Kalau mereka mengejar, tentu semua anak buah itu dapat mereka bantai karena lari mereka tidak cepat.

Yang Cien cepat memberi hormat kepada mereka.

"Ji-wi telah menolong saya. Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih."

"Orang muda, siapakah engkau? Siapa namamu?"

"Nama saya Yang Cien, Sian-kouw "

"Perkenalkan, pin-ni (aku yang bodoh) di sebut Im-yang Tokouw dan aku adalah wakil ketua dari Thian-li-pang, dan ini adalah murid pin-ni bernama Kwe Sun Nio. Yang Cien, kami melihat engkau tadi menguburkan jenazah Kam Lo-kai, engkau mempunyai hubungan apakah dengan Kam Lo-kai?".

"Tidak ada hubungan apapun, Sian-kouw. Kami hanya bertemu ketika kami berdua berperahu di Tai-hu, kemudian dia tewas di keroyok orang jahat dank arena dia tidak mempunyai siapa-siapa aku lalu menguburkan jenazahnya. Tentu sangat sederhana, di tepi telaga."

"Bagus, engkau seorang yang berperikemanusiaan, Yang Cien. Dan sebelum Kam Lo-kai meninggal dunia, dia memesan apa kepadamu?". Yang Cien mengerutkan alisnya.

"Sian-kouw, maafkan aku. Pesanan seorang mati merupakan wasiat, apalagi dia berpesan agar aku tidak memberitahukan siapapun, oleh karena itu terpaksa aku juga tidak dapat memberitahukan kepadamu."

"Begini, Yang Cien, engkau harus dapat membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Kami yakin engkau menerima pesan penting dari mendiang Kam Lo-kai dan kalau kau pertahankan pesan itu untukmu sendiri, bagaimana kalau nanti bermunculan orang jahat seperti tadi? Tidak aman kalau berada padamu. Oleh karena itu, berikan saja kepada pin-ni yang tentu pesan itu akan di sampaikan dengan selamat kepada yang berhak menerimanya.

"Sekali lagi maaf, Sian-kow. Aku tidak dapat memberitahukan apa-apa atau memberikan kepadamu. Apa yang terjadi antara Kam Lo-kai dan aku merupakan rahasia yang tidak akan ku katakana kepada siapa pun juga."

"Yang Cien, engkau sungguh keras kepala, Bagaimana kalau aku memaksamu?"

"Terserah kepadamu, Sian-kouw. Tetap tidak akan ku berikan."

"Engkau berani menentangku?".

"Apa boleh buat, engkau yang memaksaku."

"Bocah sombong, rasakan ini!"

Tokouw itu lalu menggerakkan kebutannya.

Bulu kebutan menjadi tegang dan meluncur dengan totokan ke arah pundak Yang Cien.

Yang Cien merasa penasaran juga.

Ternyata tokouw ini juga menghendaki surat dari Kam Lo-kai itu.

Akan tetapi, bagaimana pun, tokouw dan nona ini tadi sudah membantunya, bagaimana kini akan menjadi lawannya.

Totokan kebutan itu di elakkannya dengan mudah, akan tetapi agaknya tokouw itu ingin mengujinya atau memang marah.

Kebutannya sudah bergerak lagi, berputaran dan mendatangkan gulungan sinar putih melakukan totokan berulang-ulang.

Yang Cien terpaksa mengerahkan tenaga dan sekali tangannya menangkis dengan sentilan jari tangannya, kebutan itu membalik dan beberapa helai bulunya rontok!.

"Ihhh.....! "Sian-kouw itu terkejut bukan main, hampir tidak percaya bahwa sentilan jari tangan itu dapat membuat kebutannya membalik dan merontokkan bulu kebutannya. Akan tetapi ketika di lihatnya, pemuda itu telah melompat jauh dan gerakannya sedemikian cepatnya sehingga dengan beberapa kali lompatan saja tubuhnya sudah lenyap. Im Yang Sian-kouw menarik napas panjang dan berkata kepada muridnya.

"Hebat...".! Tak ku sangka pemuda itu demikian hebatnya. Kalau begitu, kita tidak perlu khawatir surat itu akan dapat terampas orang, hanya siapa tahu pemuda itu tidak akan menyampaikannya kepada Gubernur Gak?"

Yang Cien memang mempergunakan ilmunya berlari secepat terbang meninggalkan Im Yang Sian-kouw dan Kwe Sun Nio karena dia tidak ingin berkelahi melawan kdeua orang itu.

Ketika tiba di Nam-kiang dengan mudah saja dia dapat menemukan rumah Gubernur Gak, akan tetapi seperti biasanya, tidak mungkin setiap orang dapat menemui orang yang tertinggi kedudukannya di daerah itu.

Yang Cien di tahan oleh para penjaga di depan pintu gerbang gedung tempat tinggal Gubernur Gak.

"Tidak mungkin menghadap Gubernur Gak. Lebih dulu daftarkan nama dan keperluannya, baru kami laporkan ke dalam dan kalau Gubernur berkenan menerimamu, baru engkau boleh pergi menghadap,"

Kata kepala jaga.

Yang Cien menghela napas panjang.

Betapa sulitnya bertemu orang besar, pikirnya.

Dia lalu mendaftarkan namanya dan untuk keperluannya dia menerangkan bahwa dia mohon menghadap Gubernur Gak untuk menyampaikan pesan dari Kam Lo-kai.

Ternyata nama Kam Lo-kai itu amat berpengaruh.

Kepala jaga yang melihat nama ini di sebut, segera membawa daftar itu ke dalam untuk melapor kepada Gubernur Gak dan tak lama kemudian dia keluar lagi dan sikapnya berubah ketika dia mempersilahkan Yang Cien masuk dan menunggu di kamar tamu.

Terdengar langkah kaki dari dalam, akan tetapi bukan hanya satu orang.

Muncullah seorang laki-laki setengah tua d\yang dari pakaiannya saja Yang Cien dapat menduga bahwa orang inilah gubernurnya.

Akan tetapi yang membuat dia kaget dan bengong adalah dua orang yang ikut datang bersama gubernur itu.

Im Yang Sian-kouw dan Kwee Sun Nio!

Dengan sendirinya semua urat syaraf di tubuh Yang Cien menegang dan alisnya berkerut, matanya dengan tajam menatap kedua orang wanita itu.

"Engkaukah yang bernama Yang Cien dan membawa pesan dari Kam Lo-kai untuk kami?"

Tanya Gubernur itu. Yang Cien baru menyadari sikapnya dan dia cepat memberi hormat kepada gubernur itu.

"Benar, taijin. Saya bernama Yang Cien dan hendak menyampaikan pesan dari mendiang Kam Lo-kai, akan tetapi...""

"dia memandang kepada dua orang wanita itu.

"Jangan heran, Yang Cien. Ketahuilah bahwa Im Yang Sian-kouw hanya hendak mengujimu, hendak mengetahui apakah engkau setia kepada mendiang Kam Lokai dan apakah engkau memiliki kemampuan untuk mempertahankan surat pesanan itu. Iam Yang Sian Kouw adalah utusan kami untuk menjemput Kam Lokai akan tetapi dia dan muridnya terlambat."

Barulah Yang Cien mengerti dan dia pun menceritakan pertemuannya dengan Kam Lokai sampai terlukanya Kam Lokai dan tewasnya pengemis tua itu, juga tentang pesan yang diberikan kepadanya.

Lalu dia mengeluarkan surat itu dan menyerahkannya kepada Gubernur Gak.

Gubernur membuka surat itu dan membacanya.

Dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah, kemudian dia memandang kepada Yang Cien.

"Yang Cien, kami berterima kasih sekali atas bantuanmu ini. Engkau telah berjasa dan kami akan memberi hadiah besar kepadamu."

"Ah, bukan hadiah yang saya harapkan, taijin. Saya melakukan ini untuk mendiang Kam Lokai, bukan untuk taijin. OLeh karena itu saya tidak mengharapkan hadiah sama sekali. Nah, sesudah saya menyampaikan surat ini kepada yang berhak menerimanya, perkenankan saya berpamit, taijin."

"Engkau benar tidak ingin menerima hadiah, Yang Cien?".

"Terima kasih, taijin. Saya tidak menghendaki apapun. Selamat tinggal."

Yang Cien lalu mengundurkan diri, keluar dari ruangan tamu itu. Setelah Yang Cien pergi, Gubernur Gak memuji.

"Seorang pemuda yang baik. Akan tetapi kita tidak boleh membiarkan dia mengetahui urusan kita, karena siapa tahu dia berdiri di pihak mana. Dia tentu seorang yang berwatak pendekar, akan tetapi mungkin saja dia tidak setuju dengan pendirian kita."

"Benar, taijin. Kalau belum yakin betul tentang watak dan sikapnya, tentu saja tidak semestinya kita memberitahu kepadanya. Taijin maaf, apakah pesan yang di bawa Kam Lokai itu?".

"Penting sekali. Ternyata kini Koksu telah menghimpun tenaga, bahkan Kaisar Julan Khan telah menerima seorang yang lihai dan mengangkatnya menjadi pembantu Koksu."

"Siapakah dia, taijin?"

"Dia seorang datuk dari timur, julukannya Thian-te Ciu-kwi."

"Ah, dia? Kalau begitu, kedudukan Koksu kini menjadi semakin kuat. Kalau dia mengumpulkan datuk-datuk persilatan untuk memperkuat kedudukannya, maka pengaruhnya akan menjadi semakin besar."

"Koksu dan Perdana Menteri Ji memang merupakan penghalang besar dari gerakan kita, taijin. Sebelum menghancurkan kedua orang itu dan para pembantunya, kiranya akan sukar untuk mengusir penjajah Toba dari tanah air."

"Dan lebih celaka lagi, Kaisar telah memanggil pulang Coa-ciangkun dan menarik mundur pasukan. Aku heran, mengapa kaisar tiba-tiba saja melakukan sesuatu hal ini? Apakah dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia sudah mendengar sesuatu yang membuat dia curiga kepada Coa-ciangkun?".

"Pin-ni khawatir bahwa ini adalah ulah Perdana Menteri Ji dan Koksu Lui. Sejak dahulu mereka berdua ini tidak akur dengan Coa-ciangkun. Bahkan Coa-ciangkun sampai di kirim ke selatan adalah karena kaisar makan bujukan mereka berdua agar Coa-ciangkun jauh dari kota raja dimana Coa-ciangkun suka menentang peraturan yang menindas rakyat. Akan tetapi kenapa sekarang tiba-tiba Panglima Coa di panggil pulang?".

"memang mencurigakan sekali. Sekarang harap tokouw suka pergi ke perbatasan menemui Panglima Coa, juga melaporkan tentang masuknya datuk sesat Thian-te Ciu-kwi menjadi pembantu Koksu. Kalau mungkin, harap bujuk agar Panglima Coa tidak kembali ke kota raja karena aku khawatir sekali bahwa panggilan ini merupakan jebakan bagi Panglima Coa."

"Baik, taijin. Mari Sun Nio, kita berangkat sekarang juga."

Guru dan murid itu lalu meninggalkan gedung Gubernur Gak untuk melaksanakan tugas mereka mendatangi Panglima Coa di garis depan, perbatasan dengan Kerajaan Sun.

Yang Cien berjalan-jalan seorang diri di kota Nam-kiang.

Ketika melihat sebuah rumah makan, dia pun merasa lapar dan memasuki rumah makan itu.

Begitu dia memasuki rumah makan, bukan pelayan yang menghampirinya, melainkan seorang berpakaian satrawan yang usianya sekitar tiga puluh tahun.

"Selamat siang, sobat. Apakah engkau ingin makan minum?".

"Benar,"

Jawab Yang Cien dengan heran, karena tidak mungkin kalau orang ini pelayannya. Pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

"Aku melihat engkau datang seorang diri, dan kebetulan sekali akupun seorang diri sedang makan minum di sini. Sejak tadi aku mencari-cari seorang kawan untuk makan minum karena aku merasa kesepian sekali. Kebetulan engkau muncul, maka kalau engkau tidak berkeberatan, aku mengundangmu untuk makan minum bersamaku sambil mengobrol. Maukah engkau, sobat?". Ajakan itu sungguh ramah dan orang itupun kelihatan sopan terpelajar. Yang Cien menjadi tertarik sekali dan diapun mengangguk sambil tersenyum.

"Terima kasih, sobat. Tentu saja aku merasa senang sekali."

Orang itu lalu membawa Yang Cien ke sebuah meja yang penuh makanan dan belum di jamah.

"Nah, silahkan makan minum bersamaku, saudara..."..."

"Yang Cien, namaku Yang Cien."

"Bagus, saudara Yang Cien. Namaku Thio Swi,"

Orang itu memperkenalkan dirinya.

Dia lalu menuangkan arak ke dalam cawan di depan Yang Cien, juga di depannya sendiri.

Pada saat itu, masuklah seorang berpakaian pengemis yang membawa tongkat dan mangkok retak, meminta-minta sedekah dari para tamu.

Dan dia mendekati Yang Cien menadahkan tangannya kepada pemuda itu.

Gerakan tangan itu menarik perhatian Yang Cien karena seperti gerakan silat dan ketika dia memandang dia melihat dua buah.

Dan huruf-huruf itu mengejutkan hatinya karena tertulis ARAK BERACUN.

Akan tetapi Yang Cien telah melatih diri sehingga dia mampu menguasai dirinya.

Pengemis setengah tua itu sudah pergi lagi tanpa satrawan itu mengetahui bahwa diam-diam pengemis ini memberi peringatan kepada Yang Cien.

"Saudara Yang Cien, mari kita minum untuk pertemuan dan persahabatan."

"Maafkan, saudara Thio Swi. Aku sedang berpantang minum arak. Aku baru saja bersumpah kepada ibuku untuk tidak minum arak setetespun. Aku tidak berani, biar aku minum the saja."

"Eh, kenapa begitu? Kenapa engkau bersumpah kepada ibumu tidak akan minum arak setetespun?". Yang Cien tersipu.

"Aku pulang dalam keadaan mabok keras. Ibuku marah dan menyuruh aku bersumpah bahwa selama tiga bulan aku tidak akan menyentuh arak dan tidak minum setetespun. Baru berjalan satu bulan, masih dua bulan lagi aku berpantang minum arak."

Sastrawan itu kelihatan mengerutkan alisnya dan sekarang berubahlah sikapnya yang tadinya sopan.

"Aih, saudara Yang Cien. Kalau engkau minum secawan ibumu juga tidak akan tahu. Asal engkau tidak minum sampai mabok. Ini hanya untuk merayakan pertemuan kita.....

"kata Thio Swi sambil mengangkat cawannya, mengajak Yang Cien minum.

"Maaf, saudara Thio Wi. Aku tidak berani."

"Yang Cien, kalau engkau tidak mau minum, berarti engkau tidak menghormatiku, tidak menerima maksud baikku, bahkan menghinaku!". Yang Cien bangkit berdiri.

"Kalau begitu, biarlah aku duduk di meja lain dan tidak akan mengganggumu, saudara Thio Wi."

Thio Swi mendadak bangkit berdiri dan menggebrak meja.

"Engkau bahkan berani menolak undanganku yang bermaksud baik? Sungguh engkau menghinaku, engkau menantangku!". Dan Thio Swi melemparkan arak dalam cawannya ke arah muka Yang Cien. Namun Yang Cien telah waspada dan dengan mudah dia miringkan kepalanya mengelak. Akan tetapi Thio Swi semakin marah. Dia melompati meja dan menyerang dengan pukulan tangan kanan. Gerakannya gesit dan ringan, pukulannya juga mengandung tenaga yang kuat. Yang Cien menggerakkan tangan menangkis.

"Dukkk!"

Kedua lengan bertemu dan akibatnya Thio Swi menyerengai karena merasa lengannya nyeri seolah tulangnya akan patah.

Dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

Kiranya dia menyembunyikan pedang di balik jubah sastrawan yang longgar itu.

Kembali Yang Cien mengelak dan dia di serang secara bertubi-tubi oleh sebuah bangku dan melontarkan bangku itu ke depan.

Thio Swi membacok bangku itu sehingga terpotong menjadi dua, akan tetapi pada saat itu kaki Yang Cien telah mencuat dan mengenai pahanya.

"Desssss! Tubuh Thio Swi terlempar ke belakang dan menimpa meja. Thio Swi terbelalak, agaknya sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana dia yang berpedang dapat di robohkan demikian mudah nya oleh lawan. Sementara itu, perkelahian telah menarik perhatian banyak orang dan para pelayan dan pemilik rumah makan berteriak-teriak membujuk agar mereka jangan berkelahi di tempat itu. Thio Swi yang maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat berbahaya, setelah dapat bangkit berdiri lalu mengambil langkah panjang meninggalkan rumah makan itu. Yang Cien dengan tenang memanggil pemilik rumah makan dan berkata.

"Harap paman hitung semua kerugian yang di akibatkan keributan ini. Aku akan mengganti semua kerugian ini. Aku akan mengganti semua kerugian itu!"

Dan dia pun mengambil secawan arak yang di suguhkan kepadanya, lalu mencelupkan telunjuknya lalu menjilat telunjuk itu.

Dia dapat merasakan sesuatu yang keras pada lidahnya dan tahulah dia bahwa pengemis tadi tidak berbohong.

Arak itu beracun!

Dia menuangkan arak ke atas lantai dan setelah kerugiannya di hitung, Yang Cien mengeluarkan sepotong emas dan membayar kerugian yang di derita rumah makan itu.

Kemudian dia keluar dari rumah makan tanpa memesan makanan apa-apa karena dia tidak ingin menjadi perhatian orang.

Ketika tiba di sebuah tikungan, dia melihat pengemis yang tadi memberi peringatan kepadanya berdiri di tepi jalan sambil menadahkan tangannya yang memegang mangkok retak.

Di dalam mangkok itu telah terdapat beberapa uang receh.

Yang Cien menghampirinya dan dia berkata.

"Sobat, banyak terima kasih atas peringatanmu tadi."

Pengemis itu berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, dia memandang ke kanan kiri setelah mendapat kenyataan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, dia lalu berbisik.

"Taihap kami semua ingin berkenalan dan menghaturkan terima kasih kepada taihap atas apa yang taihiap lakukan terhadap mendiang Kam Lokai. Karena itu, apabila taihiap tidak merasa rendah mari ikuti aku ke tempat kami, taihiap."

Yang Cien terkejut.

Dia heran sekali melihat apa yang telah di alami selama ini di daerah selatan ini.

Agaknya di tempat ini tersebar banyak mata-mata yang tahu belaka akan gerak-geriknya.

Huang-ho Sam-houw, kemudian mereka yang menghadangnya di hutan, dan tokouw bersama muridnya itu, selanjutnya pemuda sastrawan bernama Thio Swi dan yang terakhir pengemis ini.

Mereka itu semua telah mengetahui apa yang telah dia lakukan tanpa dia tahu sama sekali mengenai mereka.

Agaknya dia akan mendapat keterangan yang jelas dari pengemis ini.

Mengingat bahwa semua peristiwa itu berawal dari pertemuannya dengan seorang kakek pengemis, maka sebaiknya di akhiri dengan pertemuannya dengan pertemuannya dengan para pengemis, agas emua persoalannya menjadi jelas "Baiklah,"

Katanya dan diapun mengikuti pengemis itu yang keluar dari kota Nam-kiang.

Pengemis itu tanpa menoleh terus berjalan di ikuti dari jarak jauh oleh Yang Cien agar tidak menarik perhatian orang lain.

Ketika tiba di kaki sebuah bukit, pengemis itu berbelok ke kiri dan mendaki sebuah bukit itu.

Bukit yang penuh dengan hutan bamboo dan akhirnya mereka tiba di sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi di lereng bukit itu.

Dan di situ nampak banyak sekali pengemis, semua tinggal di gubuk-gubuk yang di dirikan di sekitar lereng bukit itu.

Yang Cien di terima di ruangan kuil yang luas dan sudah kosong.

Mereka semua duduk di atas lantai bertilamkan jerami kering.

Seorang pengemis berusia lima puluh tahun, berjenggot panjang dan memegang sebatang tongkat hitam, diperkenalkan sebagai ketua mereka.

Pengemis itu nampak berwibawa sekali walaupun pakaiannya dari kain hitam yang penuh tambalan.

"Selamat datang di tempat kami, Yang Taihiap.

"Kembali orang ini sudah mengenal namanya, pikir Yang Cien, tidak heran lagi.

"Engkau siapakah, paman?"

Tanyanya karena tadi diperkenalkan tanpa menyebut nama.

"Aku bernama Song Pa, ketua dari perkumpulan pengemis di sini. Perkumpulan kami memakai nama Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Pakaian Hitam) dan aku adalah ketua cabang Nam-kiang. Pusat kami berada di Nan-king. Dan Kam Lo-kai yang tewas itu adalah seorang tokoh dari pusat."

"Ahhhh...""! "Kini mengertilah Yang Cien mengapa dia menjadi pusat perhatian. Kiranya kakek pengemis yang di tolongnya itu merupakan tokoh besar di antara mereka.

"Duduklah, taihiap,"

Kata Song Pa, dan Yang Cien ikut bersama mereka duduk di lantai, bersila.

"Kami semua menghaturkan terima kasih atas semua kebaikan yang taihiap lakukan kepada Kam Lokai!"

Dan tiba-tiba ketua cabang itu berlutut di turut oleh semua anak buah nya. Tentu saja Yang Cien menjadi gugup sekali.

"Ah, jangan begitu, pangcu. Yang ku lakukan itu adalah secara kebetulan saja karena aku merasa kagum kepada Kam Lokai yang pandai bersajak. Harap jangan bersikap begini, atau aku akan meninggalkan tempat ini!". Semua orang bangkit dari berlutut dan duduk kembali.

"Semenjak taihiap menguburkan jenazah Kam Lokai, anak buah kami selalu membayangi taihiap sehingga sempat menolong taihiap ketika taihiap terancam oleh Thio Swi itu."

"Akan tetapi, aku menjadi bingung dengan semua rentetan peristiwa yang ku alami, pangcu. Maukah engkau memberi penjelasan kepadaku? Siapakah Kam Lokai dan apa pekerjaannya yang berhubungan dengan surat yang di sampaikan kepada Gubernur Gak itu. Dan siapa pula orang-orang yang membunuhnya, dan orang-orang yang menghadangku untuk merampas surat? Kemudian, siapa pula Thio Swi dan apa hubungan kalian dengan Gubernur Gak? Apa artinya surat itu dan apakah yang sesungguhnya sedang terjadi?". Ketua pengemis itu mengelus jenggot panjangnya dan berkata.

"Agaknya taihiap adalah seorang pendekar yang baru saja memasuki dunia kang-ouw dan yang secara kebetulan dan tidak di sengaja terlibat dalam urusan ini. Ketahuilah bahwa Kam Lokai seperti kami katakan tadi adalah seorang tokoh Hek I Kaipang, dan perkumpulan kami adalah perkumpulan yang mendukung usaha para pendekar patriot yang hendak membebaskan tanah air dari penjajahan bangsa Toba. Karena itu, Kam Lokai tidak menolak ketika di mintai bantuan oleh Coa-ciangkun, seorang yang menjadi Panglima bangsa Toba, untuk menyelidiki keadaan di kota raja, terutama keadaan Koksu dan Perdana Menteri. Ketahuilah, taihiap, bahwa sebetulnya kaisar Julan Khan adalah seorang kaisar yang tidak becus dan berenang dalam kemewahan. Bahwa sebetulnya yang berkuasa penuh adalah Perdana Menteri Ji Sun Cai dan Koksu Lui Tat. Terutama Koksu Lui Tat adalah seorang yang besar kekuasaan nya dan dia pun seorang yang amat pandai dan lihai, dengan julukan Toat-beng Giam-ong". Diam-diam Yang Cien terkejut bukan main mendengar nama julukan ini karena yang membunuh orang tuanya adalah Toat-beng Giam-Ong dan yang mengejar-ngejar dia dan kakeknya dahulu juga adalah orang ini, atau tentu saja anak buahnya.

"Hemmm, nama Toat-beng Giam-ong itu pernah ku dengar, pangcu. Lalu bagaimana?".

"Nah, Kam Lokai mendapat tugas itu lalu melakukan penyelidikan. Tentu saja dengan bantuan anak buah Hek I Kaipang yang banyak pula berada di kota raja karena perkumpulan kita memiliki cabang hamper di seluruh negeri. Dia mendengar bahwa Koksu telah memperoleh bantuan seorang yang juga amat lihai bernama Thian-te Ciu-kwi bersama seorang muridnya. Dengan demikian, maka tentu saja kekuatan Koksu itu semakin besar dan inilah yang di sampaikan dalam surat itu oleh Kam Lokai. Kebetulan dia bertemu taihiap ketika di serang oleh anak buah Koksu dan dapat menitipkan surat itu kepadamu."

"Hem jadi pembunuh Kam Lokai adalah anak buah Toat-beng Giam-ong?"

"Benar, taihiap. Juga mereka yang menghadang taihiap untuk minta surat itu adalah anak buahnya. Dia memiliki mata-mata dan anak buah di mana-mana dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Juga Thio Swi itu adalah seorang di antara kaki tangannya, seorang anak buah kami melihat taihiap di undang makan minum, dia segera memberi peringatan kepada taihiap tentang arak beracun."

Yang Cien mengangguk-angguk maklum.

"Dan siapa pula Im Yang Tokouw dan muridnya itu?".

"Mereka? Mereka adalah tokoh-tokoh Thian-li-pang, sebuah perkumpulan yang berjiwa patriot yang sedang mempersiapkan kekuatan untuk menumbangkan kekuasaan Toba."

Yang Cien tertarik sekali. Memang mendiang kakeknya juga berulang kali berpesan agar dia berusaha untuk mempersatukan semua kekuatan untuk mengusir Bangsa Toba dari tanah air.

"Kapan akan di adakan gerakan perjuangan itu?"

Tanyanya. Song Pancu menghela napas dan mengepal tinju.

"Tidak mudah, sama sekali tidak mudah, taihiap. Memang bangsa kita banyak yang masih bodoh. mudah tergiur oleh harta dan kemuliaan, banyak pula yang berambisi ingin mencari kesenangan sendiri. banyak sekali panglima dan pasukan yang bahkan membantu bangsa Toba, seperti halnya Perdana Menteri Ji dan Kok su Lui itu. Hanya sedikit saja yang seperti Coa-ciangkun. Maka kekuatan masih jauh tak berimbang. Selain banyak bangsa kita rela di perbudak oleh bangsa Toba dengan mendapatkan kedudukan dan harta benda, juga masih terdapat banyak sekali orang keras kepala yang tidak mau bersatu, bahkan merajalela berdiri sendiri. Bukan saja gubernur-gubernur dan raja-raja muda berdiri sendiri, tidak mau bersatu untuk mengusir bangsa asing, bahkan juga perkumpulan-perkumpulan dijadikan rebutan karena ingin memperoleh kekuasaan. Ahhh, kalau di pikirkan sungguh menyedihkan sekali."

Yang Cien teringat akan sajak yang di nyanyikan Kam Lokai. Semua burung dara pergi ketakutan tidak berani melawan burung gagak, dan menanti munculnya sang garuda untuk mengusir burung gagak!.

"Kenapa mereka saling berebutan kekuasaan?".

"Inipun merupakan siasat yang dilakukan Koksu yang licik itu. Dia sengaja melempar fitnah ke sana sini, mengadu domba antar golongan dan antar perorangan di antara tokoh kangouw. Bahkan diapun menggunakan kaki tangannya untuk menyusup ke dalam tubuh Hek I Kaipang kami. Baru saja ketahuan seorang diantara tokoh yang di calonkan untuk menggantikan aku menjadi ketua cabang di sini karena aku hendak di tarik ke pusat, ternyata adalah seorang mata-mata pemerintah, anak buah Koksu. Dia sempat melarikan diri, oleh karena itu hari ini kami hendak mengadakan pemilihan ketua baru untuk cabang Nam-kiang. Kebetulan sekali taihiap dapat hadir dan menjadi saksi."

Pertemuan untuk mengadakan pemilihan pangcu cabang itu di lakukan di halaman belakang yang lebih luas, dimana di dirikan sebuah panggung darurat.

Semua anggota cabang Nam-kiang yang jumlahnya seratus lebih orang itu sudah terkumpul di situ.

Di panggung kehormatan duduk Song Pangcu dan para pembantunya, yaitu calon-calon yang akan di angkat menjadi penggantinya.

Juga Yang Cien mendapat kehormatan di atas panggung.

Pemilihan itu di lakukan atas dasar suara para anggota, jadi bukan ketua yang menentukan.

Ketua hanya menunjuk calon-calonnya, di ukur dari ilmu kepandaian silat dan juga ilmu pengetahuan dan kecerdikannya.

Yang di pilih menjadi calon di antara para pembantu Song Pancu itu ada tiga orang, yaitu Kiang Si Gun, Phang Kim dan Ciok Kui.

Setelah Song pangcu melihat semua orang berkumpul, dia lalu bangkit berdiri dan mengangkat tangan ke atas minta agar semua anggota tidak rebut.

"Saudara-saudara sekalian, hari ini kita tentukan pemilihan pangcu yang baru. Seperti kalian sudah mengetahui, oleh ketua pusat aku akan di tarik ke sana untuk tugas-tugas yang lebih penting. Oleh karena itu haruslah diadakan pemilihan pangcu baru untuk menggantikan aku. Dan menurut wawasanku, di pandang dari sudut ilmu kepandaian, pengalaman dan kebijaksanaan, aku menunjuk tiga orang calon yang sudah kalian ketahui baik sifat baik buruknya. Mereka itu adalah Kiang Si Gun, Phang Kim dan Ciok Kui. Sekarang terserah kepada kalian untuk menentukan pilihan, siapa di antara tiga calon itu yang di angkat menjadi pangcu baru. Sekarang kami minta agar kalian memberikan suaranya. kami mulai dengan Kiang Si Gun lebih dulu. Siapa yang memilih dia menjadi ketua?". Banyak tangan di acungkan dan Song-Pangcu sendiri menghitung suara itu. Dari banyak tangan yang di acungkan itu, setelah di hitung jumlah nya ada empat puluh dua.

"Sekarang, siapa yang memilih Phang Kim menjadi ketua?"

Kembali banyak tangan mengacung dan ketika di hitung jumlahnya ada empat puluh.

"Dan siapa memilih Ciok Kui menjadi ketua?"

Kembali tangan yang mengacung di hitung dan jumlahnya ada tiga puluh tujuh.

"Kiang Si Gun mendapatkan empat puluh dua suara, Phang Kim mendapatkan empat puluh dan Ciok Kui mendapatkan tiga puluh tujuh. Berarti bahwa pemilihan terbanyak jatuh kepada Kiang Si Gun. Kalian sendiri yang menentukan, maka hari ini Kiang Si Gun..."."

"Maaf, pangcu!"

Terdengar teriakan dan yang berdiri di antara semua orang yang duduk di atas tanah itu adalah seorang pengemis muda yang usianya sekitar Dua puluh tiga tahun.

"Saya ingin mengajukan protes!". Song-pangcu memandang penuh perhatian.

"Siapa engkau? Anggota baru?"

"Saya bernama Lai Seng, pangcu. Memang saya anggota baru, baru sekitar enam bulan menjadi anggota Hek I Kai-pang. Akan tetapi, saya sudah mempelajari peraturan di Hek I Kai-pang bahwa seorang ketua baru haruslah memiliki kelihaian yang melebihi semua anggota kalau tidak, bagaimana kalau ada anggota yang bertindak salah? Apakah pangcu itu akan mampu menghukumnya? Juga, menurut peraturan, semua orang dapat saja di angkat menjadi ketua asalkan dia anggota Hek I Kaipang. Sekarang pangcu mengangkat tiga calon tanpa memberi kesempatan kepada para anggota, apakah ini adil? Bagaimana kalau ada anggota yang ternyata lebih lihai dan pandai dari pada calon itu?". Semua orang terkejut dan heran mendengar ini, akan tetapi juga banyak mengangguk gembira karena ucapan itu memang tepat sekali. Orang merasa heran karena Lai Seng itu biasanya pendiam, dan baru beberapa bulan menjadi anggota dan jarang sekali bicara dengan rekan-rekannya. Kini, tahu-tahu pemuda itu berani memrotes kepada ketua! Benar-benar merupakan kejutan yang menegangkan.

"Ucapanmu memang benar, Lai Seng. Akan tetapi ketahuilah bahwa ketika kami mengangkat mereka bertiga menjadi calon, kami telah mengetahui dengan baik kepandaian mereka masing-masing, dan kami rasa kepandaian mereka lebih tinggi tingkatnya dari semua anggota kaipang."

"Bagaimana hal itu dapat di pastikan tanpa di uji lebih dahulu, pangcu?"

"Di uji bagaimana maksudmu?"

Tanya Song-pangcu penasaran bahwa ada seorang muda begini cerewet.

"Di uji oleh para anggota, yaitu apa bila ada anggota yang merasa mampu, maka dia boleh menguji calon ketuanya. Kalau calon ketua itu kalah oleh seorang anggota, maka anggota itulah yang lebih pantas di calonkan menjadi Ketua, bukan?"

"Hemmm, memang sepantasnya begitu. Akan tetapi siapa di antara anggota yang hendak menguji Kiang Si Gun? Silahkan kalau ada yang berani."

"Saya akan mengujinya, pangcu. Biar hati ini tidak menjadi penasaran, dapat mengetahui sampai dimana kelihaian ketuanya yang baru."

"Baik, aku perkenankan engkau maju untuk menguji kepandaian Kian Si Gun!".

"Kiang Si Gun, engkau di tantang oleh Lai Seng, seorang anggota baru, berilah dia bukti bahwa engkau mampu menjadi ketua!". Kiang Si Gun juga sudah menjadi merah mukanya. Kalau yang mengajukan protes itu seorang anggota Hek I Kaipang yang lama dan sudah berpengalaman, dia masih akan dapat mengerti. Akan tetapi, bocah ini, anggota baru, berani mengujinya? Dia harus memberi hajaran kepada pemuda itu!.

"Lai Seng, aku di calonkan oleh Song-pangcu dan di pilih oleh para anggota, dan engkau masih tidak percaya kepadaku? Kalau engkau hendak mengujiku, majulah dan coba keluarkan kepandaianmu!". Kini Kiang Si Gun sudah berdiri di tengah panggung, tongkat hitamnya di tangan. Orang ini berusia empat puluhan tahun, tubuhnya kurus namun tubuhnya nampak kuat dengan otot-otot yang menonjol. Dia merupakan sute dari Song Pang-cu, maka semua orang tidak meragukan lagi kepandaiannya. Semua orang menduga bahwa Kiang Si Gun, seperti juga Song Pang-cu, tentu mahir sekali dengan ilmu Hek tung hoat (Ilmu Tongkat Hitam) yang amat lihai. Lai Seng dengan sikap tenang lalu naik ke atas panggung, dan dia memberi hormat kepada Kiang Si Gun.

"Kiang-twako harap tidak tersinggung. Saya melakukan ini justru untuk membuktikan bahwa twako memang pantas menjadi ketua. Coab bayangkan kalau melawan aku saja twako tidak mampu menang, apakah mungkin twako di jadikan ketua cabang yang memimpin seratus orang anggota lebih?".

"Lai Seng tidak perlu banyak cakap lagi. Kami semua sudah mendengar omonganmu dan mengerti akan maksudmu. Nah, keluarkan tongkatmu dan mari kita mengadu kepandaian!".

"Kiang-twako, engkau sudah memegang tongkat, akan tetapi biarlah aku bertangan kosong saja, hendak ku lihat sampai dimana tingkatmu dalam ilmu Hek-tung-hoat!"

Kata pemuda itu dan diapun sudah berdiri di depan Kiang Si Gun dengan sikap yang sigap, namun tenang sekali.

Kiang Si Gun menjadi merah mukanya.

Dia di tantang oleh seorang anggota biasa yang hendak melawan tongkatnya dengan tangan kosong saja!.

"Bagus, semua orang mendengar dan menjadi saksi akan kesombonganmu. Nah sambutlah tongkatku ini! "Kiang Si Gun sudah menggerakkan tongkatnya menghantam ke arah kepala pemuda itu. Namun dengan lincahnya pemuda yang bernama Lai Seng itu telah dapat mengelak dengan mudahnya. Melihat serangannya luput, Kiang Si Gun menyusulkan serampangan tongkatnya ke arah kedua kaki lawan, akan tetapi kembali Lai Seng dapat menghindar dengan lompatan tinggi ke atas. Tubuhnya naik dan menukik sambil kedua tangannya menyerang kepala Kiang Si Gun yang menjadi terkejut bukan main melihat gerakan yang seperti seekor burung saja cepatnya itu. Terpaksa dia melempar tongkatnya untuk melindungi kepala sehingga serangan Lai Seng juga gagal. Karena merasa penasaran Kiang Si Gun lalu mainkan Hek-tung-hoat dengan gencar, melakukan gerakan Hek-tung-ta-kouw (Tongkat Hitam Pemukul Anjing), gerakannya cepat dan tongkat itu mengeluarkan suara berdesir ketika menyambar-nyambar secara bertubi-tubi. Akan tetapi dia menjadi semakin terkejut ketika pemuda itu menangkis tongkat dengan kedua lengannya. Terdengar suara dak-duk yang keras seolah kedua lengan pemuda itu berubah menjadi baja dan Kiang Si Gun merasa betapa kedua tangannya tergetar ketika tongkatnya bertemu lengan pemuda itu. Dia terkejut lalu memutar kembali tongkatnya, melanjutkan serangannya dengan jurus Hek-liong-hoan-bwe (Naga Hitam mengubah ekor), tongkatnya menyambar dengan pukulan ke arah pinggang lawan. Kembali Lai Seng melompat tinggi dan kembali dia menukik untuk menyerang kepala sehingga Kiang Si Gun terdesak dan harus berlompatan mundur. Lai Seng menyerang terus dengan pukulan dan tendangannya yang dahsyat. Biar pun Kiang Si Gun berusaha untuk menangkis namun tetap saja dia terkena tendangan sehingga tubuhnya terpental dari atas panggung! Baru belasan jurus saja calon ketua ini telah di kalahkan oleh seorang anggota muda.

"Ah, Cuma sebegitu saja kemampuan seorang calon ketua?"

Lai Seng mengejek.

Yang Cien merasa tidak senang.

Pemuda ini sombong sekali.

Memang dia melihat tadi bahwa ilmu silat pemuda itu lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Kiang Si Gun, suatu hal yang amat mengherankan.

Kiang Si Gun adalah sute dari ketua Song Pa, dan pemuda itu hanyalah anggota atau anak buah yang kepandaiannya tentu hanya setingkat dengan murid sang ketua.

"Lai Seng!"

Kini Song Pangcu melompat ke atas panggung.

"Darimana engkau mempelajari ilmu silat yang kau pakai mengalahkan Kiang Si Gun tadi?"

"Song-pangcu, sebelum menjadi anggota Hek I Kaipang, saya sudah mempelajari banyak ilmu silat. Apakah hal ini tidak boleh!". Song-pangcu marah sekali.

"Boleh, boleh, dan aku sendiri ingin menguji kepandaianmu!".

"Aih, pangcu, lebih baik jangan. Kalau sampai pangcu kalah, tentu pangcu akan kehilangan muka dan...".. Pada saat itu, Yang Cien yang maklum bahwa pemuda itu lihai dan memang tidak semestinya seorang ketua melawan anak buahnya sendiri, telah maju dan berdiri dekat Song-pangcu.

"Pangcu, apa yang di katakana Lai Seng ini benar. Dia hanya seorang anggota biasa, bagaimana akan melawan ketuanya? Kalau pangcu menghajarnya, tentu pangcu hanya akan menjadi buah tertawaan karena melawan seorang anggota muda. Aku bukan anggota, akan tetapi sahabat Hek I Kaipang, biarlah aku yang menghadapinya. Eh, orang she Lai, kalau aku mewakili Song-pangcu maju untuk menandingimu, apakah engkau berani?". Yang Cien bersikap cerdik. Dia sengaja bertanya apakah Lai Seng berani karena dengan pertanyaan seperti itu, tentu Lai Seng tidak dapat mengajukan alasan apapun dan akan merasa malu kalau menolak, di sangka tidak berani.

"Baik, akan tetapi karena engkau mewakili Song-pangcu, kalau engkau kalah berarti aku telah mengalahkan Song-pangcu dan dengan begitu, akulah yang berhak menggantikan dia menjadi pangcu di cabang Nam-kiang ini kalau dia pergi ke pusat."

Song-pangcu sudah maklum atau setidaknya dapat menduga bahwa tamunya itu lihai sekali, maka tanpa banyak pikir lagi dia menjawab.

"Baik, Lai Seng kalau engkau mampu mengalahkan Yang-Taihiap, biarlah engkau yang menjadi ketua cabang menggantikan aku. Engkau memang pantas untuk kedudukan itu."

Wajah Lai Seng berseri dan dia lalu menantang Yang Cien.

"Orang asing, engkau bukan anggota Hek I Kaipang, sebelum kita bertanding, aku ingin lebih dulu mengenal namamu. Dalam pertandingan, mungkin saja orang roboh dan tewas, maka jangan sampai ada yang tewas tanpa nama."

Bukan main sombongnya, pikir Yang Cien. Akan tetapi pemuda ini pandai mengatur kata-kata sehingga ucapannya yang memandang rendah itu tidak terdengar kasar.

"Dengarlah Lai Seng, namaku Yang Cien. Nah engkau majulah!".

"Engkau yang menantangku, engkau yang maju lebih dulu, Yang Cien!"

Kata Lai Seng.

Sikap ini saja menunjukkan bahwa pemuda ini memang lihai, tahu bahwa dalam suatu pertandingan antara orang setingkat kepandaiannya, siapa maju lebih dulu berarti rugi karena setiap penyerangan berarti pula membuka diri untuk dapat di serang lawan.

Yang Cien tersenyum dan dengan sembarangan saja dia maju dan berseru.

"Lihat pukulan!"

Tangan kirinya meluncur dan menampar ke arah pipi kanan lawan.

Melihat pukulan yang sederhana ini, Lai Seng mengeluarkan suara dengus mengejek.

Dia menarik mukanya ke belakang dan tiba-tiba saja dari bawah, kaki nya sudah mencuat dan mengirim tendangan kilat ke arah pusar Yang Cien.

Semua orang terkejut karena serangan pertama ini benar-benar amat berbahaya sekali.

Namun hati mereka lega melihat betapa Yang Cien juga dapat menghindarkan diri dengan amat mudah.

kakinya melangkah ke kiri dan dengan sedikit miringkan tubuh, tendangan itu hanya mengenai angina belaka.

"Wuuuttt....!"

Kaki itu melayang cepat dan di ikuti pula oleh kaki kedua yang juga melayang dan mengejar ke mana tubuh Yang Cien bergerak.

Kiranya pemuda itu melakukan tendangan berantai dan tubuhnya seperti terbang saja ketika kedua kakinya melakukan tendangan bertubi.

"Plak! Plak! "Tangan Yang Cien menangkis dan tubuh Lai Seng agak terhuyung karena kedua kakinya terdorong dengan amat kuat. Dia terkejut dan kini senyum mengejek itu hilang dari mukanya karena dia tidak lagi berani memandang rendah lawannya.

"Bagus, engkau berisi juga!"

Bentaknya dan kini dia sudah menyerang kalang kabut dengan kedua tangan dan kedua kakinya.

memukul dan menendang seperti singa mengamuk.

Namun, dengan tenang Yang Cien melayani dengan elakan dan tangkisan, bahkan sempat pula membalas dan dapat di tangkis pula oleh lawannya.

"Haaiiiitttttt...!"

Tiba-tiba pemuda itu mengubah gerakannya dan kini tubuhnya bergerak ke sana sini dalam bentuk pat-kwa (segi delapan) dan pukulannya mengeluarkan angina yang dahsyat.

Itulah ilmu Pat-hong-hong-I (Pukulan delapan angina hujan) yang amat dahsyat.

Namun dengan ilmunya Bu-tek Cin-keng Yang Cien dengan mudah dan tenang dapat menghalau semua serangan itu.

Bahkan dengan dorongan kedua telapak tangannya dia sempat membuat Lai Seng bertolak ke belakang dan terhuyung dua kali.

Lai Seng menjadi semakin penasaran.

Selama ini memang dia yang mengambil peran sebagai penyerangn namun selalu gagal.

Tiba-tiba dia melompat dan menubruk sambil menggereng seperti seekor harimau.

Itulah jurus Go-houw-poksit (Macan kelaparan sambar makanan) yang dahsyat sekali.

Tubuhnya melayang di udara, kaki tangannya seperti kaki harimau yang mencengkram.

Kedua tangannya membentuk cakar dan kedua kakinya siap untuk menendang.

"Bagus....! "kata Yang Cien dan ia pun dengan jurus Kong-ciak khay-peng (Merak membuka sayap) dia menghadapi serangan itu, lalu menyambut kedua tangan itu dengan tangkisan ke kanan kiri sedangkan tubuhnya bergeser ke kanan dan dari arah itu dia membalas dengan dorongan jurus Te-tiu-kim-ciang (Mendorong roboh lonceng emas). Kembali tubuh Lai Seng tidak kuat menerima hawa dorongan itu dan diapun terhuyung ke samping. Dia menjadi marah, begitu tubuhnya sudah dapat memulihkan keseimbangannya, dia menyerang dengan gerakan Siauw-cu-twi (Tendangan berantai). Kedua kakinya seperti kitiran, kanan kiri terus menendang tanpa dapat di hentikan. Yang Cien menjadi gemas juga. Sudah beberapa kali dia membuat lawan ini terdorong dan terhuyung, akan tetapi Lai Seng tetap tidak mau mengaku kalah dan bahkan menyerang lebih dahsyat. Dia lalu mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng, menangkis kedua kaki itu sambil mendorong.

"Brukkk..."!"

Tubuh Lai Seng terpelanting dan terdorong roboh terjengkang.

Sorak-sorak dan tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan Yang Cien ini.

Akan tetapi agaknya Lai Seng adalah seorang pemuda yang tinggi hati dan selama ini tidak pernah menemui tanding.

Juga dia kecewa karena dia sudah memperhitungkan bahwa kalau Song-pangcu yang maju, dia pasti menang.

Kini, tanpa di sangka-sangka, muncul seorang pemuda asing yang mengalahkannya.

Dia meloncat lagi dan ketika tangannya bergerak ke bawah bajunya, dia telah mencabut sebatang suling perak yang berkilauan putih.

"Yang Cien, dalam hal ilmu tangan kosong, aku kalah setingkat. Akan tetapi aku menantangmu untuk menggunakan senjata. Engkau boleh memilih senjata apa saja!"

Tantangnya dengan sikap congkak, agaknya suling perak itu merupakan senjata yang amat di andalkan dan ampuh.

Yang Cien juga maklum bahwa sebetulnya pemuda ini memiliki ilmu yang tinggi.

Kalau dia tidak mempelajari Bu-tek Cin-keng, tentu diapun akan kalah.

Kini, pemuda itu mengeluarkan senjata suling, tentu senjata itupun ampuh sekali.

Maka, tanpa ragu dia mengeluarkan pedangnya dari buntalan pakaian yang di tinggalkan di atas meja.

Begitu dia mencabut pedangnya, semua orang berseru kagum.

Sinar putih berkelebat dan pedang putih berkilauan, bahkan lebih menyilaukan dibandingkan suling perak di tangan Lai Seng.

"Nah, Lai Seng, aku sudah siap!"

Kata Yang Cien sambil melintangkan pedangnya di depan dada dan mengangkat tangan kirinya ke atas menunjuk langit.

"Lihat senjata!"

Bentak Lai Seng dan dia mulai memainkan sulingnya yang panjangnya sama dengan pedang itu.

Terdengar suara melengking nyaring ketika suling itu bergerak dan berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung.

Akan tetapi sinar putih kedua juga bergulung-gulung dan kini beberapa kali terdengar suara berdentingan dan nampaklah bara api berpijar-pijar menyilaukan mata.

Kedua orang pemuda itu sudah saling serang dengan hebat.

Sebetulnya, kalau Yang Cien menghendaki, dengan tangan kosong pun dia akan mampu mengalahkan lawannya yang memegang suling.

Akan tetapi dia tidakmau kelihatan congkak seperti lawannya, maka dia melayaninya dengan Pek-liong Po-kiam di tangan.

Setelah lewat belasan jurus, Yang Cien mengerahkan tenaga Bu-tek Cin-keng dan menggerakkan pedangnya.

Pedang menyambar dahsyat bertemu dengan suling dan terdengar suara keras.

"Traaanngggg.... Traakkk....!"

Lai Seng memekik, melompat mundur dan terhuyung, tangannya berdarah karena terluka dan sulingnya patah menjadi dua potong.

Ternyata dia hanya mampu bertahan sampai belasan jurus saja.

Dengan mata mencorong dia memandang Yang Cien kemudian dia melompat dari atas panggung, melompat jauh dan melarikan diri dari tempat itu.

"Haiii, tunggu.....!!"

Teriak Song Pangcu yang hendak mengejar, akan tetapi Yang Cien berkata.

"Tak usah di kejar, pangcu. Ku rasa dia itu bukan anggota Hek I Kaipang yang sesungguhnya."

"Ahh.... Benar katamu itu taihiap! Ilmunya begitu hebat, dan sekarang aku baru menyadari bahwa dia tentulah seorang mata-mata dari Kok-su yang menyeludup. Lima bulan yang lalu dia di bawa seorang anggota yang mengatakan bahwa pengemis muda itu menyatakan hendak bergabung dan masuk menjadi anggota Hek I Kaipang. Karena sikapnya amat baik dan sopan, kami pun merasa tidak berkeberatan untuk menerimanya sebagai anggota dan selama ini diapun nampak baik dan tidak mencurigakan. Siapa tahu, agaknya dia mengincar kedudukan ketua cabang dan hanya menanti kesempatan saja. Aku yakin bahwa dia tentulah seorang anak buah Koksu yang memang banyak tersebar di mana-mana."

"Hemm, kalau di cabangKok-su mengirim orang untuk menguasai kedudukan ketua, apalagi di pusat. Bagaimana kau pikir, Song-pangcu?". Song-pangcu menjadi berubah air mukanya.

"Aah, aku belum berpikir sejauh itu, taihiap. Akan tetapi Cu Lokai, yaitu pangcu dari Hek I Kaipang pusat di kota raja, memanggil aku untuk membantunya, aku merasa heran juga. Entah apa maksud Cu Lokai memanggil aku. Sekarang, mendengar pendapatmu tadi, aku merasa khawatir juga."

"Song-pangcu, kapan engkau akan berangkat ke kota raja?".

"Sekarang juga dan sudah ku putuskan bahwa Kiang Si Gun menjadi ketua cabang, di bantu oleh Phang Kim dan Ciok Kui, agar kedudukannya lebih kuat."

"Kalau begitu, aku akan menyertaimu, pangcu. Aku juga ingin melihat-lihat keadaan di kota raja."

"Bagus sekali kalau begitu, taihiap. Kekhawatiranku jadi lenyap seketika dan aku yakin bahwa engkau yang akan dapat membantu apa bila terjadi kesulitan menimpa Hek I Kaipang."

Demikianlah, setelah mengatur perkumpulan itu dan meninggalkan pesan-pesan, Song-pangcu lalu berangkat bersama Yang Cien meninggalkan Nam-kiang menuju ke kota raja.

Lui Koksu duduk di ruangan dalam bersama Thian-te Ciu-kwi dan Cian Kauw Cu.

"Aku baru saja kembali dari istana dank arena tugas kita sekali ini berat, maka aku memanggil kalian untuk ku ajak berunding."

"tugas apakah itu, Giam-ong?"

Tanya Thian-te Ciu-kwi yang biasa menyebut Koksu itu Giam-ong begitu saja kalau sedang berada berdua saja.

Kalau di depan umum, tentu saja dia menyebut Koksu untuk menjaga martabat dan kehormatan sang Koksu.

"Kami mendengar bahwa Gubernur Yen di timur sedang mengumpulkan kekuatan secara diam-diam dan hal ini amat mencurigakan. Kalau sampai Gubernur Yen memberontak, maka amatlah berbahaya. Karena itu sebelum hal ini terjadi, kita harus lebih dahulu menyelidiki sampai dimana kebenaran berita itu. Kalau sudah yakin benar barulah kita akan menggempurnya sebelum dia sempat bertindak lebih jauh. Dan untuk tugas ini sebaiknya ku serahkan kepada Kauw Cu. Kalau engkau yang pergi, Ciu-kwi, engkau di timur sudah di kenal sebagai datuk dan gerak-gerikmu tidaklah leluasa lagi. Aku sudah berunding dengan Perdana Menteri Ji dan beliau juga sudah menyetujui kalau aku mengutus Kauw Cu yang melakukan penyelidikan."

"Hemm, muridku ini dalam hal ilmu silat memang sudah boleh sekali di andalkan, akan tetapi dalam urusan menyelidik, dia kurang pengalaman."

"Justeru sekarang dia memperoleh pengalaman. Kauw Cu, beranikah engkau melaksanakan tugas ini? Engkau menyelidiki keadaan Gubernur Yen, apa betul die mempersiapkan pasukan besar dan apa betul dia memiliki rencana untuk memberontak terhadap kerajaan."

"Tentu saja saya berani, taijin. Suhu, saya akan melaksanakan tugas dengan baik dan saya akan berhati-hati,"

Kata Akauw gembira karena dia merasa bosan kalau harus menganggur saja di kota raja.

Dengan tugas itu, dia akan memperoleh pengalaman yang menarik.

Apa sih cukarnya melakukan penyelidikan?

Bertanya-tanya, mendengar dan melihat!

"Baiklah, kalau memang engkau merasa sanggup.

Akan tetapi berhati-hatilah, Akauw.

Karena di Timur banyak terdapat orang pandai.

Kalau kalau sewaktu engkau mengalami kesukaran, asalkan engkau menyebut namaku sebagai guru, kiranya tidak sembarang orang akan berani mengganggumu."

"Baik, suhu."

Demikianlah, setelah berkemas, membawa pakaian, Pedang Naga Hitam, sejumlah uang untuk bekal di perjalanan dan berpakaian biasa bukan sebagai panglima melainkan sebagai petani biasa, berangkatlah Akauw meninggalkan kota raja.

Pemuda ini tidak menarik perhatian orang.

Seorang pemuda tinggi besar yang bertubuh kokoh kekar, kulit mukanya kecoklatan gelap, menggendong buntalan pakaian warna kuning!

Alisnya tebal dan hitam melindungi sepasang mata yang lebar dan sinarnya tajam mencorong, hidungnya mancung dan besar, dengan mulut dan bibirnya menunjukkan kekerasan hatinya.

Dagunya berlekuk dan tulang pipinya menonjol.

Wajahnya jantan, daya tariknya terletak kepada kejantanan dan kekerasannya.

Pakaiannya seperti seorang petani biasa.

dan pedangnya dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian itu.

Langkahnya tegap, seperti langkah harimau dan sikapnya membuat orang jahat berpikir dua kali sebelum berani mengganggunya.

Belum dua li meninggalkan pintu gerbang timur kota raja, melalui jalan yang sunyi, terdengar orang memanggilnya.

"Akauw.... Berhenti dulu, Akauw....!". Akau berhenti dan menengok, wajahnya berseri karena dia mengenal suara itu. Suara yang sudah lama dia rindukan, suara seorang sahabat baiknya yang hanya sempat dikenalnya dalam waktu singkat saja.

"Bi Soan..."!"

Teriaknya dengan girang ketika dia melihat pemuda remaja itu berlari-lari mendatangi.

Pemuda remaja itu nampak sehat, akan tetapi pakaiannya lebih bersih daripada biasanya, walaupun masih penuh tambalan.

Wajahnya berseri ketika dia memandang kepada Akauw.

"Hei, Akauw, engkau hendak kemanakah?".

"Aku? Aku hendak pergi ke Lok-yang dan engkau kemana saja selama ini, Bi Soan? Kenapa ketika aku melihatmu dulu, ku panggil-panggil engkau malah melarikan diri?".

"Benarkah engkau memanggilku? Aku tidak mendengarnya. Mau apa engkau ke Lok-yang, Akauw?".

"Merantau, mau apa lagi? Aku memang perantau dan senang berpesiar."

"Akauw, aku ikut denganmu!". Wajah Akauw berseri tanda bahwa dia merasa gembira sekali.

"Betulkah? Baik, aku senang sekali kalau engkau mau pergi bersamaku, Bi Soan. Ada temanku dalam perjalanan."

"Akauw, aku kau anggap sebagai teman?".

"Ya, tentu saja. Temanku yang paling baik, sahabatku yang selama ini ku kenang dank u rindukan."

"Eh? Kenapa?"

"Kenapa apa?".

"Kenapa seorang pemuda merindukan pemuda lain?".

"Apa tidak boleh? Aku senang sekali bergaul denganmu, maka aku rindu kepadamu. Dan sekarang, engkau ingin melakukan perantauan bersamaku, tentu saja aku senang sekali."

"Akauw, engkau percaya kepadaku?"

"Tentu saja, engkau sahabat baik, ingat ketika kita di kejar-kejar orangnya jaksa gendut itu?". Bi Soan tertawa dan Akauw menganggumi sederetan gigi yang seperti mutiara itu. Pemuda remaja yang pakaiannya tambal-tambalan dan mukanya kusut dengan rambut awut-awutan itu ternyata memiliki wajah yang tampan sekali.

"kalau engkau percaya, ku harap engkau menceritakan riwayat dirimu. Engkau darimana, asal mana, siapa orang tuamu dan bagaimana bisa sampai ke Tiang-an? Ayo ceritakan semua, kalau tidak berarti engkau tidak percaya padaku dan aku akan marah."

"Eh, jangan marah Bi Soan. Tentu saja aku mau bercerita. Akan tetapi aku takut engkau tidak percaya dan marah kepadaku. Aku khawatir engkau tidak percaya kepadaku."

"Ah, mengapa begitu? Orang seperti engkau ini pasti jujur dan tidak suka berbohong."

"Bagaimana kalau kita berteduh di bahwa pohon sana itu? Dengan duduk berteduh, akan lebih enak aku bercerita, tidak sambil berjalan begini."

"Baiklah, mari kita duduk di sana. matahari telah naik tinggi dan panasnya bukanmain."

Mereka duduk di bawah pohon dan Akauw mengeluarkan sebuah guci dari dalam buntalannya.

"Engkau haus? Minumlah!"

Dia menawarkan.

"Ah, aku tidak begitu suka minum arak, apalagi dalam keadaan cuaca panas begini."

"bukan arak, biarpun gucinya guci arak, isinya air the!"

Kata Akauw sambil tertawa dan Bi Soan juga tertawa lalu minum dari mulut guci. Setelah Bi Soan minum, Akauw juga minum, barulah dia bercerita.

"Pertama-tama, namaku Cian Kauw Cu, biasa di sebut Akauw saja, dan orang tuaku.... Aku tidak pernah mengenalnya."

"Ah, masa? Engkau bohong..."..!"

"Nah, nah. Apa kataku tadi, aku khawatir engkau menganggap aku berbohong, baru satu kalimat ku keluarkan engkau sudah menuduhku bohong!"

Kata Akauw sedih. Melihat wajah yang gagah itu tiba-tiba berubah sedih, Bi Soan lalu memegang tangan Akauw.

"Maafkan, bukan makduku menuduh, tapi...""

Bagaimana mungkin orang tidak pernah mengenal ayah ibunya sendiri? "Sungguh mati, aku tidak pernah mengetahui siapa ayah ibuku, tidak pernah melihat mereka dan tidak tahu mereka itu siapa."

"Lalu, kenapa engkau mempunyai nama dan mempunyai nama keluarga Cian?".

"Oh, itu? Nama keluargaku di ambil dari kalung yang ku pakai ini. Aku menemukan kalung ini, ku pakai dan selanjutnya oleh Aki aku di sebut Cian Kauw Cu."

"Aki, siapa pula itu?".

"Namanya Boan Ki, akan tetapi aku biasanya memanggilnya Aki. Dialah manusia pertama yang ku jumpai dan yang mengajarku bicara."

"Eh? Apa pula ini? Manusia pertama..... mengajarmu bicara... apa sih artinya?".

"Dengarkan sajalah Bi Soan, dan engkau akan mengerti. Kalau selalu kau potong-potong begini, takkan ada habisnya ceritaku nanti. nah sebenarnya begini, sejak kecil sekali, sejak aku dapat ingat, aku adalah anak seekor kera besar..."

"Waahhh, mana mungkin!"

Bi Soan berteriak, sedemikian kerasnya sampai Akauw sendiri kaget mendengarnya.

"Nah, nah, mulai lagi!".

"ya, sudahlah, berceritalah. Seperti dongeng saja riwayatmu, Akauw! Akauw....? Namamu ini.... Akauw...."

"memang, namaku juga Kauw-cu (monyet), sesuai dengan keadaanku waktu itu. Ku lanjutkan ceritaku. Aku tidak tahu apakah aku ini anak monyet, yang jelas, sejak kecil aku hidup di antara kera-kera besar. Aku tentu saja mempunyai kebiasaan seperti kera, dalam hal makan, berloncatan ke pohon-pohon, bahkan bicara dank era-kera itu memberi nama aku... Kercak."

"Apa?"

"Kercak!"

Ketika mengeluarkan kata atau nama itu, suara Akauw memang suara monyet sehingga sukar di tangkap oleh Bi Soan.

"Ya sudahlah, lalu bagaimana?"

"Sejak kecil sekali sampai berusia kurang lebih sepuluh tahun aku hidup seperti monyet. Aku menemukan kalung ini pada tulang kerangka manusia dan ku pakai kalung ini, juga aku menemukan sebatang golok. Setelah aku berusia sepuluh tahun, aku melihat dua rombongan manusia masuk ke Lembah Iblis dan mereka bertempur saling serang. Banyak orang tewas dan setelah mereka yang menang pergi, ada seorang di antara mayat-mayat itu yang tidak mati. Dia adalah Aki dan sejak itu, Aki yang mengajarku bicara seperti manusia, bahkan memberi nama Cian Kauw Cu kepadaku."

"Ahhh, luar biasa sekali! Kisahmu ini seperti dongeng dan kalau bukan aku, tentu orang tidak akan percaya kepadamu."

"Jadi, kau percaya padaku, Bi Soan?"

"Percaya sekali!". Tiba-tiba sepasang lengan yang panjang dan besar itu memeluk tubuh Bi Soan yang kecil sehingga tubuh itu tenggelam ke dalam rangkulan dan di tekan-tekan seperti akan remuk rasanya. Akan tetapi sekali meronta, Bi Soan dapar terlepas dari rangkulan itu dan mukanya berubah merah sekali matanya mencorong ketika dia bangkit berdiri.

"Akauw, aku larang engkau memeluk aku seperti itu lagi! Kalau sekalai lagi kau lakukan itu, aku akan pergi meninggalkanmu!". Akauw terbelalak.

"Ah, tidak.... Tidak akan ku lakukan lagi. Akan tetapi kenapa, Bi Soan? Aku memelukmu karena kegirangan bahwa engkau percaya kepadaku."

"Girang ya girang, akan tetapi jangan memeluk seperti itu. Di rangkul dan di tekan seperti itu, bisa remuk semua tulangku, tahu? Sudah, lanjutkan ceritamu yang menarik tadi."

"Sampai tiga tahun lamanya Aki tinggal bersamaku di hutan, akan tetapi aku semakin tahu setelah dia mengajari aku bicara dan tentang segala kehidupan manusia, bahwa dia seorang yang jahat. Malah suatu hari, dia bermaksud untuk membunuhku!".

"Ihhh, engkau yang menolong sehingga dia tetap hidup, lalu dia hendak membunuhmu? "Bi Soan berseru kaget.

"Betapa jahatnya? Akan tetapi kenapa dia hendak membunuhmu Akauw?."

Hampir saja Akauw bercerita tentang emas, akan tetapi dia teringat akan pesan suhengnya agar tidak bercerita kepada siapapun juga tentang guha-guha itu, maka dia lalu menjawab.

"Mungkin dia bosan dengan aku dan hendak hidup sendiri. Akan tetapi untung sekali pada saat yang gawat itu muncul lah suhu dan suheng."

"Kau punya suhu dan suheng? Siapa mereka?"

"Tadinya tidak punya. Seorang kakek tua dan seorang pemuda muncul menolongku dari ancaman Aki yang kemudian tewas terjatuh ke dalam jurang. Aku lalu berguru kepada kakek itu dan si pemuda menjadi suhengku. Guruku itu bernama Yang Kok It dan suhengku itu cucunya, bernama Yang Cien."

"yang Kok It? Hemmm, rasanya nama itu tidak asing bagiku, seperti pernah aku mendengarnya. Lalu bagaimana, Akauw? Ceritamu semakin menarik saja."

Karena menerima pujian dari sahabatnya yang amat di sayangnya itu, Akauw menjadi semakin bersemangat untuk bercerita.

"Aku dan suheng belajar ilmu silat dari Suhu Yang Kok It sampai suhu meninggal dunia karena usia tua. Kemudian, aku masih tinggal lagi berdua saja dengan suheng di Lembah Iblis, kemudan aku pergi merantau sampai di sini."

"Dan di sini engkau bekerja membantu Koksu, ya?". Akauw terkejut. Dia sedang bertugas dalam penyelidikan, maka dia harus merahasiakan pekerjaannya. Tak di sangka bahwa sahabatnya ini telah mengetahuinya.

"Eh, bagaimana engkau dapat tahu?". Bi Soan tersenyum mengejek.

"Tentu saja aku tahu segalanya, aku mempunyai banyak sahabat di antara kaum pengemis. Akauw, belum lama ini kita bicara tentang para pembesar dan pejabat yang korup dan menindas rakyat dan sekarang engkau menjadi seorang pembesar!"

Suaranya terdengar mencela.

"Aku tidak menjadi pembesar! Aku.. aku hanya terpaksa ikut dengan suhu dan di perbantukan kepada Koksu Lui. Aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan, tidak akan membantu kalau Koksu menindas rakyat."

"Hem, engkau agaknya belum tahu orang macam apa Koksu Lui itu. Dan sekarang ini, engkau melaksanakan tugas apakah?".

"Bi Soan, sahabatku, jangan bertanya tentang tugasku, ini tugas rahasia. Tak boleh seorangpun boleh mengenal bahwa aku bekerja untuk Koksu Lui, apalagi nanti di Lok-yang."

"Hemm, aku sudah tahu tanpa kau beritahu. Dan kita akan melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang, bukan? Bagaimana aku dapat membantumu kalau aku tidak mengetahui apa tugasmu? Aku harus tahu karena kalau tugas itu untuk menindas rakyat aku tidak sudi bekerjasama denganmu!".

"Tidak, tidak, Bi Soan-te (adik Bi Soan). Aku hanya mendapat tugas untuk melakukan penyelidikan terhadap Gubernur Yen di Lok-yang karena menurut para penyelidik, Gubernur Liu itu bermaksud untuk menyusun kekuatasn dan memberontak terhadap pemerintah."

"Benarkah itu, Akauw?"

Kini sikap Bi Soan nampak sungguh-sungguh.

"Begitulah yang di katakana oleh Koksu. Oleh karena itu Koksu dan suhu mengutus aku pergi ke Lok-yang dan melakukan penyelidikan seksama akan kebenaran berita itu. Kalau memang benar gubernur itu hendak memberontak, sebelum dia bergerak, akan lebih dulu di serbu dan di gagalkan pemberontakannya."

Bi Soan mengangguk-angguk.

"Wah, kalau begitu tugasmu itu penting sekali, Akauw. Apakah engkau pernah ke Lok-yang? Sudahkah engkau mengenal keadaan dan daerah itu?". Akauw memandang bodoh dan menggeleng kepalanya. Bi Soan menarik napas panjang.

"Aih, kenapa Lui Koksu begitu bodoh menyuruh seseorang yang sama sekali belum mengenal medannya? Sudahlah, biar aku menyertai dan membantumu Akauw. Aku sudah hafal betul keadaan di Lok-yang."

Bukan main girangnya hati Akauw.

"Terima kasih, Bi Soan. Aku tahu sejak semula bahwa engkau adalah seorang sahabat sejati yang amat baik kepadaku.

"Nah, sekarang engkau yang mendapat giliran menceritakan riwayat hidupmu kepadaku, agar akupun dapat mengenal dirimu dengan baik."

"Aku? Ah, tidak ada apa-apanya yang menarik mengenai diriku. Aku hidup sebatangkara, seorang gelandangan yang tidak tentu tempat tinggalnya, hidup bebas lepas seperti seekor burung gereja.

"Bi Soan bangkit berdiri, mengembangkan kedua tangannya seperti seekor burung yang mengepakkan kedua sayapnya.

"Mari kita lanjutkan perjalanan, Akauw."

"Eh, nanti dulu, Bi Soan. Engkau belum menceritakan siapa orang tuamu dan dimana mereka tinggal!"

Kata Akauw yang ikut pula berdiri.

"Aku Bi Soan tidak mempunyai orang tua, tidak mempunyai siapapun di dunia ini kecuali mempunyai seorang sahabat yang bernama Akauw! Nah, itulah Bi Soan yang kau kenal, Akauw dan jangan Tanya apa-apa lagi karena engkau hanya membuat hatiku menjadi sedih saja."

Akauw merasa terharu.

"Aih, kasihan sekali engkau, Bi Soan."

"Karena engkau tidak mempunyai orang tua lagi."

"Dan engkau? Engkaupun tidak mempunyai orang tua. Sudahlah, jangan merasa iba kepada orang lain kalau keadaan mu sendiri sama. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan agar jangan terlalu lama membuang waktu di sini."

Akauw terpaksa melepaskan kedua tangan Bi Soan yang dipegangnya tadi karena dia merasa iba kepada kawan ini, karena Bi Soan kini merenggutkan kedua tangannya dan pemuda remaja itu sudah berjalan meninggalkannya.

"Heeiii, tunggu Bi Soan,"

Kata Akauw yang terpaksa mengerahkan tenaganya karena ternyata Bi Soan dapat berlari cepat sekali.

Dia terkejut juga dan menduga bahwa kawannya itu agaknya mengerti pula ilmu silat dan belum menceritakan tentang ilmunya itu, dan siapa pula gurunya.

Akauw merasa beruntung sekali dapat bertemu dengan Bi Soan dan melakukan tugasnya di bantu oleh pemuda remaja itu.

Karena andaikata tidak di bantu Bi Soan, tentu dia akan mengalami banyak kesukaran.

Bi Soan mengenal baik kota Lok-yang dan ternyata pemuda remaja yang mengaku gelandangan ini cerdik bukan main.

Bahkan setelah mereka berada di Lok-yang, Bi Soan lah yang seolah menjadi pemimpin.

Karena kepandaian Bi Soan yang cerdik, maka Akauw dapat melakukan penyelidikan dengan baik.

dan benar saja, dia melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyaknya pemuda-pemuda dusun yang berbondong-bondong datang untuk mendaftarkan dirii sebagai prajurit.

Gubernur Yen benar-benar hendak memperkuat pasukannya di Lok-yang, tentu saja dengan bekerjasama dengan para panglima di Lok-yang.

Akan tetapi, ini saja belum menjadi bukti bahwa gubernur itu hendak memberontak.

Padahal inti tugas Akauw adalah untuk menyelidiki apakah benar gubernur itu akan memberontak dan dia harus dapat memperoleh buktinya.

"Jangan khawatir, kita harus tekun dan sabar menanti dan mengintai, siapa tahu akan tiba saatnya kita dapat peroleh bukti itu,"

Kata Bi Soan ketika Akauw menyatakan kekesalannya karena dia tidak melihat suatu cara untuk mendapatkan bukti itu.

Tadinya dia bermaksud memasuki rumah gubernur itu sebagai pencuri dan memeriksa ke kamarnya untuk mencari bukti, akan tetapi keinginannya ini di larang oleh Bi Soan.

"Kau gila? Memasuki rumah gubernur sedangkan rumah itu di jaga ketat! Selain amatlah sukar untuk dapat memasuki kamarnya, juga besar sekali kemungkinan engkau akan di tangkap dan kalau hal itu terjadi, bahkan baru dipergoki saja, maka gagallah semua usahamu."

"Habis, bagaimana kita dapat memperoleh bukti itu, Soan-te?"

"Kauw-ko (Kakak Kauw), kiranya ada satu jalan saja yang memungkinkan engkau berhasil. Kita mendaftarkan diri sebagai prajurit!".

"Ahhh...??? Bukankah itu malah berbahaya sekali?"

"apa bahayanya? Kau lihat, banyak pemuda mendaftarkan diri, dari segala golongan bahkan terbanyak dari dusun, Kita mengaku dari dusun dan mendaftarkan diri, kalau di uji kau jangan menonjolkan kekuatan atau kepandaianmu, biasa-biasa saja. Nah, kalau kita sudah menjadi calon prajurit, tentu akan mudah bagi kita untuk melihat dan memperoleh bukti."

"Wah, kalau begitu bagus sekali, Soan-te (Adik Soan). Mari kita mendaftarkan diri sekarang juga "

"Akan tetapi janji, kita tidak boleh berpisah dan kalau memperoleh kamar di barak, kita harus sekamar."

"Tentu, tentu."

"Dan seperti biasa, engkau tidur di bawah dan aku di atas."

"Engkau ini memang aneh. Di rumah penginapan pun engkau selalu mengusir aku dari pembaringan. Engkau ini pemuda remaja yang amat aneh."

"Tidak aneh. Engkau tahu sendiri bahwa aku tidak bisa tidur kalau ada teman di dekatku. Kalau engkau tidak mau turun dari pembaringan, biar aku yang tidur di bawah dan pembaringannya boleh kau pakai sendiri."

"Wah, jangan nagmbek, Soan-te. Engkau ini kadang membuat aku tidak mengerti. Tidur tidak mau di dekati, bahkan kalau mandi engkau minta terpisah."

"Engkau yang tidak tahu malu. Kita bukan kanak-kanak lagi, bagaimana mungkin mandi bersama? Ih, memalukan!"

Bi Soan kelihatan marah.

"Sudahlah, maafkan aku, Soan-te. Aku tidak akan memaksamu mandi dan tidur bersama. Nah, mari kita mendaftarkan "

Keduanya lalu ikut dengan rombongan pemuda yang berbondong itu menuju ke benteng untuk mendaftarkan diri.

Mereka ikut berdiri dalam antrian panjang dan setelah mereka di daftar sebagai Cian Kauw Cu dan Bi Soan, mereka memperoleh sebungkus pakaian tentara dan mendapatkan petunjuk dimana letak kamar di barak.

Ternyata tidak di adakan ujian sama sekali dan ini berarti bahwa siapa saja dapat di terima sebagai prajurit dan agaknya Gubernur Yen benar-benar membutuhkan pasukan yang sebesar-besarnya.

Baru setelah mereka tinggal di barak, mereka memperoleh latihan dari seorang perwira.

Latihan berbaris,latihan gerakan silat dalam pertempuran.

Akauw memandang kagum ketika temannya mengenakan pakaian tentara.

Memang kecil tubuhnya, akan tetapi dia nampak tampan sekali!

Dan dalam latihan pertempuran, juga Bi Soan kelihatan lincah dan tidak kalah oleh yang lain.

Setelah berada di benteng, mulailah mereka bertanya-tanya tentang maksud dikumpulkannya banyak tentara suka rela itu.

Akan tetapi semua rekan mereka juga tidak tahu.

Mereka semua tertarik untuk masuk tentara karena dengan demikian akan terjamin makan dan pakaian mereka, juga mereka memperoleh gaji.

Sedangkan kehidupan di luar sedemikian sukarnya.

Rakyat kecil di himpit pajak, lintah darat dan tuan tanah, di tambah lagi dengan kerja paksa membangun tembok besar.

Hidup di luar membuat mereka sukar sekali mengisi perut dengan teratur, sedangkan di benteng itu mereka dapat makan kenyang dan pakaian mereka tidak robek dan butut.

Pada suatu malam, selagi Bi Soan dan Akauw bersama rekan-rekan lain melakukan penjagaan mereka melihat gubernur datang ke benteng langsung masuk ke bangunan yang besar yang menjadi tempat tinggal panglimanya.

Gubernur Yen berusian lima puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar gagah.

Panglima menyambutnya di luar rumah dan mengiringkannya masuk ke dalam rumah besar itu.

Yang menarik perhatian Akauw dan Bi Soan adalah munculnya beberapa orang tamu aneh.

Tamu-tamu ini, yang jumlahnya ada tujuh orang, mengenakan pakaian pengemis dan ternyata mereka di terima dengan hormat pula oleh panglima-panglima yang keluar untuk menyambut dalam suasana yang bersahabat.

Tentu saja melihat ini Akauw dan Bi Soan tertarik sekali.

Akan tetapi mereka sedang bertugas jaga.

"Kauw-ko, dengar baik-baik. Engkau menyelinap pergi dari sini dan menyelidik mereka itu, kalau ada yang bertanya akan ku katakana bahwa engkau sakit perut dan pergi ke belakang. Aku yang akan melakukan penjagaan di sini."

"Baik, Soan-te."

"Berhati-hatilah, Kauw-ko."

"Engkau juga, Bi Soan. Tunggu aku kembali membawa berita."

Setelah keadaan memungkinkan, yaitu para penjaga lain sedang meronda, Akauw lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam kegelapan malam.

Dengan kepandaiannya yang tinggi dan nalurinya yang peka mudah saja baginya untuk menyusup-nyusup menghampiri bangunan induk itu, kemudian dia meloncat ke atas genteng dan berhasil masuk ke dalam.

Tak lama kemudian dia sudah mengintai mereka yang berada di ruangan itu.

Gubernur Yen, beberapa orang panglima dan tujuh orang berpakaian pengemis itu.

"Benarkah para pimpinan Hek I Kaipang dari seluruh penjuru di panggil ke kota raja dan banyak di antara mereka yang hilang tidak kembali?"

Tanya Gubernur Yen.

"Benar, taijin. Kami semua mencurigai bahwa ini adalah perbuatan Koksu Lui yang hendak memperlemah Hek I Kaipang karena dia tahu bahwa kami adalah perkumpulan yang menentang pemerintah Mongol."

"Ah, dan kita belum dapat bergerak. Kita sedang menghimpun tenaga dan tenaga bantuan itu belum terlatih baik, belum dapat di andalkan dalam pertempuran. Bersabarlah, saudara-saudara Kaipang, kalau sudah tiba saatnya, kita mempersatukan tenaga yang ada dan menggempur kota raja!".

"Kami sudah tidak sabar lagi, taijin. Yang kami prihatinkan bukan para anggota kami karena hanyalah pengemis-pengemis yang hidup dari belas kasihan orang. Yang kami prihatinkan adalah kehidupan rakyat jelata di pedusunan. Mereka terhimpit oleh para pejabat daerah yang memeras mereka dengan kerja paksa, dengan pajak. Kalau pemerintah Mongol yang kejam ini tidak segera di robohkan, rakyat akan hidup sengsara."

"Kami mengerti, saudara. Akan tetapi harus di ketahui bahwa kekuatan pasukan pemerintah besar sekali. Apalagi di sana terdapat Koksu yang licik dan lihai, juga Perdana Menteri Ji amat pandai mengatur siasat. Kalau tergesa-gesa, dapat gagal seluruhnya. Jangan khawatir, kami sedang memperkuat diri dan kalau saatnya tiba, pasti kami akan mengajak kalian semua dan para pendukung lain untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari tangan penjajah Toba."

Akauw sudah merasa cukup mendengarkan percakapan itu.

Jelas sudah, bahwa Gubernur Yen memang ingin memberontak dan sedang mengumpulkan kekuatan, bahkan bersekutu dengan perkumpulan pengemis Hek I Kaipang.

Dia harus cepat memberitahu Bi Soan.

Maka dengan hati-hati diapun meninggalkan tempat itu.

Selagi dia berjalan di atas genteng, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar bentakan seorang perwira yang kebetuln mengadakan perondaan di atas atap.

"Siapa di situ!"

Akauw terkejut sekali, akan tetapi dengan cekatan tubuhnya sudah melompat dan melayang ke atas pohon besar, kemudian dari pohon di taman itu dia melompat ke pohon lain dan sebentar saja tubuhnya sudah lenyap di telan kegelapan malam.

Sang perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi segera kehilangan jejak sehingga perwira itu meragu apakah benar dia melihat ada orang, ataukah hanya bayangan burung atau pohon saja.

Kalau memang orang, tidak mungkin bergerak sedemikian cepatnya dan menghilang.

Akauw sudah kembali kepada Bi Soan yang sudah khawatir kenapa kawannya lama benar.

Dia sudah tiga kali di Tanya penjaga lain tentang Akauw yang dikatakannya sakit mencret dan berulang kali pergi ke belakang.

"Bagaimana, Kauw-ko?"

Bisiknya ketika pemuda itu berada di dekatnya.

"Wah, gawat, Soan-te. memang benar akan terjadi pemberontakan."

Dengan berbisik-bisik, Akauw lalu menceritakan semua yang di lihat dan di dengarnya, di dengarkan penuh perhatian oleh Bi Soan.

"Hemmm, gubernur tak tahu diri itu hendak memberontak, ya? Kita harus menghalanginya, Kauw-ko. Pemberontakan sama sekali tidak akan membebaskan rakyat dari pada kesengsaraan, bahkan menambahnya. Perang hanya akan mencelakakan rakyat."

"Soan-te, jadi menurut engkau, lebih baik kalau tanah air ini di perintah oleh Bangsa Mongol?".

"Bukan begitu maksudku. Akan tetapi, sudah menjadi kenyataan bahwa setelah di pegang bangsa Toba, barulah Negara ini menjadi kuat. Kalau memang ingin membahagiakan rakyat, banyak jalannya. Jadilah pejabat yang adil dan bijaksana, dan rakyat akan berbahagia. Biarpun Kaisarnya bangsa Toba, akan tetapi kalau para pejabatnya berbangsa Han dan bertindak adil dan bijaksana bukankah rakyat juga dapat hidup Makmur? Biarpun kaisarnya bangsa Han sendiri, akan tetapi kalau para pejabatnya brengsek, kaisarnya lalim, rakyat juga menderita."

Akau sendiri merasa asing dengan urusan pemerintahan.

Baginya pegangannya hanya satu, yaitu yang ditekankan oleh kakek Yang Kok It dan suhengnya, jangan melakukan kejahatan dan harus selalu membela keadilan dan kebenaran.

Dia tidak mengerti tentang pemberontakan, dan dia mau membantu Koksu asal jangan di suruh melakukan perbuatan jahat.

Kini mendengar ucapan Bi Soan, die mengangguk-angguk dan menganggap ucapan Bi Soan itu benar.

Pada keesokan harinya, karena tugasnya sudah selesai, Akauw dan Bi Soan menggunakan kesempatan selagi mendapat waktu luang, mereka keluar dari benteng dan melarikan diri kembali ke kota raja.

Dalam perjalanan itu, Bi Soan memancing pendapat Akauw tentang ayahnya yaitu tentang Perdana Menteri Ji Sun Cai.

"Kauw-ko, pernahkan engkau bertemu dengan Perdana Menteri Ji Sun Cai yang ku tahu adalah seorang sahabat baik Lui Koksu?"

"Ah, pernah aku sekali di ajak ke sana oleh Lui-Koksu, bersama suhuku."

"Hemm, bagaimana pendapatmu tentang dia?".

"Dia? Biasa saja. Karena aku tidak mengenalnya dengan baik. Hanya puterinya....."

"Puterinya? Ah, ya, puterinya? Siapa nama puterinya itu? "

"Namanya Ji Goat."

"Bagaimana pendapatmu tentang ia?".

"Ia seorang gadis yang luar biasa. Ilmu silatnya tinggi..."."

"Bagaimana engkau tahu bahwa ia memiliki ilmu silat yang tinggi?".

"Ia mengajakku latihan silat dan ternyata ia memang lihai sekali, dan selain itu.... Hemmm, ia cantik jelita."

Akauw tidak tahu betapa senangnya hati Bi Soan mendengar pujian itu.

Gadis mana yang tidak akan senang hatinya mendengar dirinya di puji pandai dan cantik, apalagi pujian itu keluar dari mulut seorang pemuda yang menarik hatinya?

"Ah, masa?

Aku mendengar puteri Perdana Menteri Ji itu orangnya buruk, galak dan tidak menyenangkan hati."

"Siapa bilang? Yang berkata demikian itu belum pernah melihatnya atau matanya buta, atau memang sinting. Ji-siocia itu seorang gadis yang luar biasa cantik menariknya dan ilmu silatnya juga lihai sekali. Ia tidak galak dan amat menyenangkan hati."

"Senangkah engkau kepadanya, Kauw-ko?".

"Senang? Tentu saja senang!".

"Hemmm, engkau tentu mencintanya, ya?".

"Wahh, mana aku berani? Aku memang senang melihatnya, akan tetapi aku ini siapa berani mencinta puteri Perdana Menteri?"

"Kenapa? Apa salahnya? Engkau seorang pemuda dan ia seorang gadis, apa salahnya kalau engkau mencintanya?".

"Aku tidak berani. Tentu ia akan merasa terhina sekali kalau mendengar bahwa aku mencintanya. Sudahlah, Soan-te, jangan bicarakan hal itu, hal yang tidak akan mungkin terjadi. Soan-te, apa jadinya kalau kita lapor kepada Kok-su tentang Gubernur Yen itu?".

"Engkau yang lapor, bukan aku."

"Oya, aku sampai lupa. Aku akan melapor apa yang telah ku lihat dan ku dengar,lalu apa akibatnya?"

"Mungkin Koksu akan mengirim pasukan untuk menangkap gubernur itu. dan mungkin saja engkau pula yang di utus untuk memimpin pasukan dan menangkapnya. Tentu akan terjadi sedikit pertempuran, akan tetapi karena gubernur itu belum siap dengan pasukannya tentu dia dapat di hancurkan."

Setelah tiba di kota raja, Bi Soan berkata "Nah engkau pergilah menghadap Koksu,Kauw-ko. Aku harus pergi."

"Nanti dulu, Soan-te. bagaimana kalau aku ingin berjumpa denganmu? kemana aku harus mencarimu?".

"Kau tahu kuil tua di luar kota itu? Nah, ke sanalah kau cari aku."

"kalau engkau tidak berada di sana?".

"Pergilah di waktu malam hari kalau bulan sedang purnama, aku pasti berada di sana. Nah, selamat berpisah Kauw-ko. Perjalanan ke Lok-yang itu sungguh menyenangkan."

"Selamat berpisah, Soan-te. Banyak terima kasih atas bantuan-bantuanmu."

Mereka berpisah dan Akauw segera pergi ke rumah Kok-su. Kok-su Lui dan gurunya, Thian-te Ciu-kwi, merasa gembira sekali mendengar laporannya.

"Sudah ku duga memang benar gubernur itu hendak memberontak. Dan bersekutu dengan Hek I Kaipang, memang perkumpulan itu sudah lama ku incar, bahkan banyak pemimpin mereka sudah ku jebloskan dalam tahanan, tinggal menanti pelaksanaan hukuman saja,"

Kata Toat-beng Giam-ong Lui Tat.

Baca Juga: Pedang Sinar Emas 14

Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert