Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 11

Eps 11 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

"Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke mari, tapi kemungkinan besar akan menyerbu ke markas pusat Kay Pang."

"Haah?"

Lim Ceng Im terkejut bukan main.

"Kalau begitu, bukankah ayahku dalam bahaya?"

"Itu...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ibu,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Sementara ini, Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke markas pusat kay Pang."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Lim Ceng Im heran.

"Karena pihak Kui Bin Pang belum menemukan tetua mereka, maka sementara ini Kui Bin Pang belum bisa bergerak,"

Jawab Tio Bun Yang memberitahukan.

"Namun entah bagaimana kelak?"

"Aku yakin...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kening seraya berkata.

"Tidak lama lagi Kui Bin Pang pasti bergerak dalam rimba persilatan. Sasaran Kui Bin Pang pasti Kay Pang dan tujuh partai besar."

"Benar."

Sam Gan Sin Kay manggut-manggu dan melanjutkan.

"Kui Bin Pang tidak beran menyerbu ke mari, tapi akan memancing kita ke Tionggoan."

"Tidak salah,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

"Itu lah tujuan Kui Bin Pang. Namun kalau Kui Bir Pang bertindak begitu, tentunya kita tidak akar tinggal diam."

"Kita semua sudah bersumpah tidak akar mencampuri urusan rimba persilatan. Bagaimana! mungkin kita ke Tionggoan?"

Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Tio Tocu!"

Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Itu bukan urusan rimba persilatan, melainkan urusan kita. Karena Kui Bin Pang menuntut balas terhadap kita."

"Memang."

Tio Tay Seng manggut-manggut "Ini urusan Pulau Hong Hoang To, tiada sangku pautnya dengan Kay Pang maupun tujuh parta besar...."

"Justru termasuk urusan Kay Pang."

Potong Sam Gan Sin Kay serius.

"Sebab Tio Cie Hiong menantu Lim Peng Hang, ketua Kay Pang. Sedangkan aku mantan tetua Kay Pang pula. Bahkan sudah sekian lama tinggal di Pulau Hong Hoang To ini. Nah, bukankah diriku termasuk bagian dari Pulau Hong Hoang To?"

"Sama,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

"Aku pun termasuk bagian dari pulau Hong Hoang To."

"Sama,"

Sela Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikian.

"Goat Nio adalah calon isteri Bun Yang. berarti kami akan berbesan dengan pihak Pulau Hiong Hoang To ini, bukan? Hi hi hi...!"

"Tidak salah, isteriku,"

Ujar Kim Siauw Suseng sambil tersenyum.

"Begitu mesranya!"

Goda Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha!"

"Bagaimana menurut kalian?"

Tanya Tio Tay Seng mendadak dengan wajah serius sekali.

"Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya. Beres kan?"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Beres?"

Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita semua berada di pulau ini, bagaimana bisa tahu perkembangan di Tiong-l-oan?"

"Kalau ada sesuatu, Peng Hang pasti mengutus orang ke mari memberitahukan kepada kita," -ahut Sam Gan Sin Kay.

"Masalah itu lebih baik kita bicarakan nanti jaja,"

Ujar Tio Tay Seng.

"Sekarang Bun Yang tlan lainnya perlu beristirahat dulu."

"Betul."

Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.

"Nah, kalian kaum muda pergilah beristirahat!"

"Ya."

Tio Bun Yang dan lainnya mengangguk lalu melangkah ke dalam.

"Goat Nio!"

Panggil Kou Hun Bijin.

"Engkau ke kamar, ibu ingin bicara denganmu."

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk lal melangkah ke kamarnya. Sementara Tio Bun Yang sudah berada dalam kamarnya. Tak seberapa lama kemudia muncullah Tio Cie Hiong.

"Bun Yang...."

Tio Cie Hiong memandangnya "Isyaratmu tadi...."

"Ayah, aku tidak bisa berterus terang di sana"

Ujar Tio Bun Yang sambil duduk.

"Kenapa?"

Tio Cie Hiong duduk di hadapannya.

"Sebab Sie Keng Hauw berada di situ,"

Jawal Tio Bun Yang melanjutkan.

"Orang tua yang kuceritakan tadi itu gurunya!"

"Apa?"

Tio Cie Hiong tertegun.

"Orang tua yang kau ceritakan itu guru Sie Keng Hauw?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Orang tua pincang itu berpesan kepadaku tidak boleh membuka rahasia dirinya pada Sie Keng Hauw, karena akan membahayakan dirinya."

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut "Kalau begitu, orang tua pincang itu pasti punya hubungan dengan Kui Bin Pang."

"Tidak salah. Ayah orang tua pincang itu tetua Kui Bin Pang, namun orang tua pincang itu tidak mau bergabung dengan Kui Bin Pang."

"Tapi...."

Tio Cie Hiong mengerutkan kenin "..almu silat mereka-"

"Orang tua pincang itu memang cerdik."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Sebelum menerima Sie Keng Hauw sebagai murid, beliau telah mengubah semua gerakan ilmu silat yang dimilikinya."

"Oooh!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Memang cerdik orang tua pincang itu. Jadi dia yang menceritakan kepadamu tentang Kui Bin Pang?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Dia memberitahukan kepadamu siapa ketua baru Kui Bin Pang?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Beliau juga tidak tahu siapa ketua baru perkumpulan itu, sebab mereka semua memakai kedok setan."

"Dia memberitahukan kepadamu mengenai ilmu silat ketua baru Kui Bin Pang itu?"

"Beliau memberitahukan,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Ketua Kui Bin Pang memiliki kepandaian yang mngat tinggi, yakni Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Jlawa Dingin Beracun) dan ilmu hitam. Tapi .Menurut orang tua pincang, ketua baru Kui Bin Pang juga memiliki ilmu lain. Jadi kepandaiannya jauh lebih tinggi dari ketua lama."

"Oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Mungkinkah ketua baru Kui Bin Pang itu berkepandaian lebih tinggi dari Seng Hwee Sin Kun?"

"Entahlah."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Tapi sungguh mengherankan, kenapa pi-hak Kui Bin Pang menolong kabur Seng Hwee Sin Kun?"

"Mungkin ketua Kui Bin Pang punya suatu rencana tertentu."

Tio Cie Hiong menggeleng gelengkan kepala.

"Kay Pang dan tujuh partai besar dalam bahaya."

"Kakak Cie Hiong...."

Muncul Lim Ceng Im "...barusan engkau bilang Kay Pang dan tujuh partai besar dalam bahaya! Lalu kita harus bagii mana? Apakah membiarkan ayahku dibunuh pihak Kui Bin Pang?"

"Itu belum terjadi, engkau tidak usah cemas Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kalau terjadi, itu sudah terlambat."

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Kita harus memikirkan hal itu."

"Kita akan berunding dengan paman, Sai Gan Sin Kay dan lainnya. Jadi engkau tidak peri begitu cemas."

Tio Cie Hiong menggengga tangannya.

"Heran!"

Gumam Lim Ceng Im.

"Kenapa rimba persilatan tidak pernah tenang? Setelah Bu Li Sam Mo mati, kini rimba persilatan malah be tambah kacau."

"Yaaah!"

Tio Cie Hiong menggeleng-gclen kan kepala.

"Oleh karena itu, kita hidup tenang di Pulau Hong Hoang To ini."

"Tapi kali ini...."

Wajah Lim Ceng Im tampak cemas.

"....menyangkut keselamatan ayahku."

"Adik Im, aku tahu itu."

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tentunya aku harus memikirkan jalan keluarnya kelak."

"Terimakasih, Kakak Cie Hiong,"

Ucap Lim Ceng Im.

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tersenyum lagi. 'Ayahmu adalah mertuaku, aku harus memikirkan keselamatannya."

"Kakak Cie Hiong!"

Lim Ceng Im tersenyum htihagia. Betapa gembiranya Tio Bun Yang menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya. Ia sangat bersyukur punya orang tua yang hidup bahagia.

"Ayah, Ibu,"

Ujarnya kemudian.

"Mengenai musuh Kui Bin Pang, Ayah dan Ibu tidak perlu Memikirkannya. Biar aku yang memikirkannya saja. Ayah dan Ibu tetap hidup tenang dan bahagia di pulau ini."

"Nak!"

Lim Ceng Im tersenyum.

"Oh ya, kapan engkau akan menikah dengan Goat Nio?"

"Sebetulnya aku sudah ingin menikahinya, tapi kini malah muncul urusan Kui Bin Pang. Oleh karena itu, terpaksalah harus menunggu urusan m selesai dulu, barulah bisa tenang,"

Jawab Tio Hun Yang.

"Ngmmm!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut. itu terserah engkau dan Goat Nio, kami pasti merestuinya."

"Terimakasih, Ayah,"

Ucap Tio Bun Yang. Sementara di kamar lain, yaitu di kamar Siang Koan Goat Nio, juga sedang berlangsung pembicaraan serius.

"Goat Nio,"

Ujar Kou Hun Bijin.

"Kapi engkau akan menikah dengan Bun Yang yang ganteng itu?"

"Kok Ibu yang kalut sih?"

Wajah gadis iti memerah.

"Goat Nio!"

Kou Hun Bijin tersenyum.

"Tahu kah engkau, ibu sudah ingin sekali menggendog cucu. Kalau engkau belum menikah dengan Bun Yang, bagaimana ibu menggendong cucu?"

"Ibu...."

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Sesungguhnya kami sudah mau menikah tapi...."

"Kenapa?"

"Kini justru muncul urusan Kui Bin Pang. itu menyangkut para penghuni pulau ini."

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Aku pernah menguntit para anggota Kui Bin Pang."

"Oh?"

Kou Hun Bijin terbelalak.

"Kalau begitu, Kay Pang dan tujuh partai besar memang dalam bahaya."

"Karena itu...."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin kami menikah? Kakak Bun Yang pasti memikirkan itu."

"Nak!"

Kou Hun Bijin tersenyum.

"Itu terserah kalian, dalam situasi ini kalian memang tidak bisa melangsungkan pernikahan."

"Terimakasih atas pengertian Ibu,"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Tapi...."

Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.

"Entah kapan ibu akan menggendong cucu?"

"Benar."

Terdengar suara sahutan kemudian Muncullah Kim Siauw Suseng sambil tersenyum, 'kapan ayah akan menggendong cucu?"

"Ayah...."

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Sebetulnya..."

Ujar Kim Siauw Suseng sungguh-sungguh.

"....engkau dan Bun Yang boleh menikah sekarang, tiada hubungannya dengan urusan Kui Bin Pang lho!"

"Memang!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Tapi Kakak Bun Yang pasti tidak mau."

"Biar ayah bicara dengan kedua orang tuanya,"

Ujar Kim Siauw Suseng dan menambahkan.

"Kalau kalian sudah menikah, legalah hati kami."

"Ayah jangan membicarakan tentang ini dengan kedua orang tua Bun Yang, aku malu kan?"

"Kenapa malu?"

Kou Hun Bijin tersenyum, itu urusan orang tua, ibu dan ayahmu akan menemui Tio Cie Hiong."

"Ibu...."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Suamiku,"

Ujar Kou Hun Bijin pada Kim Siauw Suseng.

"Ayolah! Mari kita ke kamar mereka!"

"Baik, isteriku sayang,"

Sahut Kim Siauw Suseng.

Mereka berdua lalu pergi ke kamar Tio Cie Hiong.

Siang Koan Goat Nio terpaksa ikut karena ingin menemui Tio Bun Yang.

Mereka justru berpapasan dengan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im yang sedang melangkah ke luar dari kamar Tio Bun Yang.

"Adik!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Mari kita ke ruang tengah, aku ingin bicara denganmu!"

"Baik."

Tio Cie Hiong mengangguk. Mereka lalu ke ruang tengah, sedangkan Sian Koan Goat Nio ke kamar Tio Bun Yang. Sebelum gadis itu melangkah ke dalam, Tio Bun Yaij sudah ke luar dari kamarnya.

"Adik Goat Nio!"

Panggil Tio Bun Yang dengan wajah berseri.

"Kakak Bun Yang...."

Siang Koan Goat Ni tersenyum mesra.

"Mari kita ke halaman depan, kita bercakap cakap di sana!"

Ajak Tio Bun Yang lembut.

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk. Mereka berdua menuju ke halaman depan kemudian duduk di bawah sebuah pohon rindang "Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya.

"Ada apa kedua orang tuan menemui orang tuaku?"

"Itu...."

Siang Koan Goat Nio tersenyum malu malu.

"Ingin membicarakan sesuatu."

"Mengenai Kui Bin Pang?"

"Bukan."

Wajah Siang Koan Goat Nio aga memerah.

"Mengenai kita...."

"Mengenai kita?"

Tio Bun Yang tertegun "Memangnya kenapa?"

"Kakak Bun Yang, aku berterus terang saja,"

Ujar Siang Koan Goat Nio dengan suara rendah.

"kedua orang tuaku menghendaki kita segera menikah."

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Sebetulnya aku pun ingin cepat-cepat menikah denganmu, tapi....

"Terhalang oleh urusan Kui Bin Pang, bukan?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau kita sudah menikah, tentu engkau akan hamil. Bagaimana kalau di saat itu pihak Kui Bin Pang menyerbu Kay Pang?"

"Itu...."

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

"Di saat itu, tentu engkau tidak akan membiarkan aku seorang diri ke Tionggoan kan? Sedangkan engkau dalam keadaan hamil, lalu kita harus bagaimana?"

"Kalau begitu, kita jangan menikah dulu,"

Ujar Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum dan melimbahkan.

"Yang penting kita selalu berkumpul, jangan berpisah."

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum.

"Adik Goat Nio, pokoknya mulai sekarang, kita tidak boleh berpisah lagi."

"Asyiiik!"

Terdengar suara tawa.

"Berduaan nih ya?"

Muncul Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw. Mereka menghampiri Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum-senyum.

"Kalian...."

Siang Koan Goat Nio melotot "Mengganggu orang saja!"

"Kalau tidak mau diganggu, lebih baik kalian di kamar saja,"

Sahut Lie Ai Ling sambil tertawa "Nah! Ketahuan ya!"

Siang Koan Goat Nio menunjuk Lie Ai Ling sambil tertawa-tawa.

"Engkau dan dia pasti sering berduaan di dalam kamar, Ya, kan?"

"Eh? Engkau...."

Wajah Lie Ai Ling langsung memerah.

"Engkau sudah bisa menggoda orang ya!"

"Siapa suruh engkau mulai duluan?"

Sahut Siang Koan Goat Nio.

"Boleh kan aku menbalasmu?"

"Tentu boleh."

Lie Ai Ling lalu duduk. Sie Keng Hauw juga ikut duduk di sisi gadis itu.

"Bun Yang,"

Ujar Sie Keng Hauw sambil menghela nafas panjang.

"Sungguh tak disangka kini malah muncul Kui Bin Pang!"

"Yaaah!"

Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Mau bilang apa, mungkin sudah merupakan nasib rimba persilatan."

"Oh ya!"

Ujar Lie Ai Ling mendadak.

"Entah bagaimana keadaan Sian Hoa yang berada di Tayli?"

"Tentunya selalu berduaan dengan Bong Kiat"

Sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan "Kita harus turut bergembira tentang itu."

"Goat Nio, tahukah engkau Bokyong Sian Moa itu sangat cantik?"

Lie Ai Ling memandangnya.

"Kalau dia belum bersama Beng Kiat, aku yakin engkau pasti cemburu padanya."

"Lho?"

Siang Koan Goat Nio tercengang.

"Memangnya kenapa?"

"Sebab..."

Sahut Lie Ai Ling dan bersikap serius.

"....gadis itu sangat baik terhadap Kakak bun Yang."

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Eh?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kok engkau lidak cemburu?"

"Karena aku mempercayai Kakak Bun Yang,"

Jawab Siang Koan Goat Nio sambil melirik Tio Bun Yang dengan mesra.

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Tapi kalau aku melihat ada gadis berlaku baik pada Keng Hauw, aku pasti merasa cemburu."

"Adik Ai Ling!"

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Itu namanya cemburu buta. Engkau tidak boleh begitu lho! Karena akan menimbuliean hal-hal yang tak diinginkan."

"Kakak Keng Hauw!"

Lie Ai Ling tersenyum manis.

"Aku percaya padamu."

"Nah!"

Sie Keng Hauw memandangnya mesra.

"Memang harus begitu."

"Oh ya!"

Tio Bun Yang teringat sesuatu.

"Entah bagaimana dan berada di mana Kam Hay Thian dan Lu Hui San?"

"Mereka...."

Sie Keng Hauw menghela nafa panjang.

"Sungguh kasihan mereka! Setelah Lu Thai Kam mati, Lu Hui San pun tiada kabar beritanya. Padahal mereka berdua merupakan pasangan yang serasi, hanya...."

"Kam Hay Thian terlampau keras hati, bahkan juga tidak tahu diri,"

Ujar Lie Ai Ling bernada kurang senang terhadap pemuda tersebut.

"Hui San begitu mencintainya, tapi dia malah...."

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang menggelengi gelengkan kepala.

"Dalam hal itu, kita tidak bisa menyalahkannya. Sesungguhnya dia pun sangat menderita sekali."

"Menderita apa?"

Sahut Lie Ai Ling scngill "Yang paling menderita adalah Hui San. Kalau bertemu Kam Hay Thian, rasanya ingin sekali aku menamparnya."

"Adik Ai Ling."

Sie Keng Hauw tersenyum.

"Jangan begitu galak, aku jadi takut nih."

"Jangan takut!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Aku tidak akan menamparmu, sebaliknya...."

"Engkau pasti akan menciumku kan?"

Sambung Sie Keng Hauw sambil tertawa kecil.

"Idiiih! Dasar tak tahu malu!"

Lie Ai Ling cemberut.

"Engkau yang sering mencium aku."

"Nah!"

Tio Bun Yang tertawa.

"Ketahuan ya. Kalian berdua sering cium-ciuman. Pantas di saat kalian berduaan, sering terdengar suara cup-cupan!"

"Eeeh?"

Sie Keng Hauw menatapnya terbelalak.

"Bisa juga engkau menggoda orang!"

"Sekali-kali,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Boleh kan?"

"Tentu boleh,"

Sahut Lie Ai Ling sambil memandang mereka.

"Kalian berdua tidak pernah berciuman ya?"

"Itu rahasia kami."

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Tidak boleh kuberitahukan."

"Oh ya, rahasia nih!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Tapi aku pernah melihat kalian berdua berpeluk-pelukan. Hi hi hi...!" -oo0dw0ooo-Bagian ke lima puluh dua Gadis gila dalam Rimba Seorang gadis duduk di bawah pohon. Pakaiannya kumal dan mukanya dekil sekali. Gadis itu ber-nyanyi-nyanyi kecil, kemudian menangis meraung-raung dan berteriak-teriak.

"Kam Hay Thian! Aku benci padamu! Aku benci padamu...."

Siapa gadis yang tak waras itu? Ternyata Lu Hui San, yang sungguh mengenasiean keadaannya.

"Engkau membunuh ayah angkatku, aku... aku benci padamu? Tapi...."

Lu Hui San terus bergumam sambil menangis, kemudian tertawa-tawa.

"...tapi aku mencintaimu! Tidak, aku benci padamu! Benci padamu...."

Mendadak melayang sosok bayangan ke hadapan Lu Hui San, yang tidak lain Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.

Setelah berdiri di hadapan Li Hui San, ia menatapnya dengan penuh perhatian Sedangkan Lu Hui San sama sekali tidak memperdulikannya, terus menangis dan bergumaan "Kam Hay Thian, aku mencintaimu!

Tapi.

kenapa engkau malah membunuh ayah angkatku!

Engkau tidak mencintaiku tidak jadi masalah, namun kenapa membunuh ayah angkatku?

Kam Haj Thian!

Aku benci padamu!

Aku benci padamu...."

"Sungguh kasihan gadis ini!"

Bu Ceng Sianli Tu Siao Cui menggeleng-gelengkan kepala.

"Gara gara cinta jadi tidak waras, aku harus menyembuhkannya."

"Kenapa aku harus membencinya? Kenapa.."

Lu Hui San bergumam lagi.

"Aku begitu mencintainya, kenapa harus membencinya? Aaaa Kam Hay Thian...."

"Gadis yang bernasib malang!"

Tu Siao Cui menatapnya dalam-dalam seraya bertanya.

"Siapa engkau?"

"Aku...."

Lu Hui San tampak tertegun.

"Siapa aku? Siapa engkau? Kenapa engkau berada sini?"

"Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui."

"Hi hi hi!"

Lu Hui San tertawa.

"Engkau tak punya perasaan? Tapi engkau begitu cantik lho! Kok tak punya perasaan?"

"Aku membenci kaum lelaki yang tak punya nurani,"

Sahut Tu Siao Cui memberitahukan.

"Maka aku sering membunuh mereka."

"Membunuh mereka?"

Lu Hui San terbelalak.

"Engkau begitu kejam? Aku masih ingat, Kakak Bun Yang selalu berkata, bahwa membunuh melupakan suatu dosa berat...."

"Engkau kenal Bun Yang?"

Tu Siao Cui tersentak.

"Kenal."

Lu Hui San tersenyum.

"Dia pemuda yang sangat baik, lemah lembut dan berhati bajik."

"Betul."

Tu Siao Cui tertawa.

"Bahkan dia juga sangat bijaksana dan adil, aku kagum dan salut padanya."

"Engkau kenal Kakak Bun Yang?"

"Kenal."

"Siapa engkau?"

"Bukankah aku sudah bilang tadi?"

"Kapan engkau bilang?"

"Tadi."

Tu Siao Cui memberitahukan.

"Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui, engkau siapa? Bolehkah memberitahukan padaku?"

"Aku...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sudah lupa, tapi aku ingat pada Kam Hay Thian. Dia... dia juga tak punya perasaan."

"Adik!"

Tu Siao Cui menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau mengalami tekanan batin, maka engkau jadi tidak waras."

"Apa itu tidak waras?"

"Tidak waras artinya gila."

"Hi hi hi!"

Lu Hui San tertawa cekikikan "Siapa bilang aku gila? Jangan-jangan engkau yang gila!"

"Adik!"

Tu Siao Cui tersenyum lembut, kemudian menggenggam tangannya seraya bertanya "Maukah engkau menjadi temanku?"

"Teman? Apa itu teman?"

"Teman artinya sangat baik satu sama lain bahkan juga saling menolong."

"Oooh!"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang juga sering bilang begitu."

"Nah! Kita harus menjadi teman,"

Ujar Tu Siao Cui dan menambahkan.

"Sebab aku jugi kenal Bun Yang. Dia memanggilieu kakak dan aku memanggilnya adik."

"Oh?"

Wajah Lu Hui San yang dekil itu tampak berseri.

"Baik. Kita jadi teman, aku memanggilmu kakak."

"Tapi...."

Tu Siao Cui menatapnya lembut.

"engkau harus menuruti perkataanku lho!"

"Ya, ya,"

Lu Hui San mengangguk.

"Aku pasti menuruti perkataanmu. Oh ya, engkau perempuan atau lelaki?"

"Perempuan."

"Bagus, bagus. Aku punya kakak perempuan. Aku... aku gembira sekali. Kakak pasti sayang kepadaku bukan?"

"Tentu."

Tu Siao Cui tersenyum lembut, lalu membelainya.

"Aku sangat sayang padamu, Dik."

"Terimakasih Kakak, terimakasih."

"Nah, engkau harus mandi agar badanmu jadi bersih."

"Aku tidak mau mandi ah!"

"Kenapa?"

"Nanti ada orang jahat mengintip."

"Jangan khawatir!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Aku akan menjagamu. Tidak akan ada orang jahat berani mengintipmu."

"Ya, ya."

Lu Hui San mengangguk.

"Nanti aku akan mandi!"

"Bagus!"

Tu Siao Cui menatapnya lembut.

"Sekarang aku akan memeriksamu, agar engkau tepat sembuh."

"Ya, ya."

Lu Hui San mengangguk lagi. Tu Siao Cui segera memeriksa Lu Hui San. Berselang sesaat kening Tu Siao Cui tampak berkerut-kerut seakan terkejut.

"Engkau memiliki Iweekang yang begitu tinggi. Siapa yang mengajarmu Iweekang?"

Tanya Tu Siao Cui seusai memeriksanya.

"Lweekang? Aku tidak kenal Iweekang,"

Sahut Luu Hui San sambil tertawa dan bertanya.

"Kenapa kakak periksaku? Apakah aku sakit?"

"Engkau memang sakit, maka engkau harus menuruti semua perkataanku,"

Ujar Tu Siao Cuil "Engkau adalah kakakku, aku harus menuruti perkataanmu,"

Sahut Lu Hui San dan menambahkan.

"Aku adikmu yang baik, kan?"

"Engkau adikku yang paling baik."

Tu Siao Cui menggenggam tangannya erat-erat.

"Adikl engkau mengalami suatu pukulan dahsyat. Itu membuat batinmu tergoncang hingga jadi tidal waras. Namun aku mampu menyembuhkanmu sebab aku memiliki Hian Goan Sin Kang!"

Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui memang baik sekali terhadap Lu Hui San yang tak waras itu.

Setiap hari ia pasti menyuruhnya mandi dan mengganti pakaian, bahkan juga mengobatinya dengan Hian Goan Sin Kang.

Belasan hari kemudian, Lu Hui San sudah tampak ada perubahan membaik, sehingga Tu Siao Cui merasa girang.

"Adik!"

Tu Siao Cui menatapnya.

"Sudah ingat siapa dirimu? Beritahukanlah!"

"Aku... aku...."

Kening Lu Hui San terus berkerut, kelihatannya ia sedang berpikir keras "Aku...."

"Engkau kenal Tio Bun Yang?"

"Tio Bun Yang? Dia Kakak Bun Yang..."

Sahut Lu Hui San.

"Dia adalah pemuda baik, dia... dia yang menolong Kam Hay Thian."

"Siapa Kam Hay Thian itu?"

"Dia... dia pemuda jahat. Dia... dia pembunuh ayah angkatku. Aku... aku benci dia."

"Engkau ingat Tio Bun Yang dan Kam Hay thian, tentunya juga ingat akan diri sendiri. Cobalah ingat siapa dirimu!"

"Aku... aku...."

Mendadak Lu Hui San berteriak.

"Aku sudah ingat!"

"Nah, beritahukanlah!"

Tu Siao Cui tampak gembira sekali.

"Aku Lu Hui San, Lu Thay Kam adalah ayah angkatku. Tapi...."

Kini Lu Hui San telah ingat semua itu.

"....ayah angkatku mati di tangan Kam Hay Thian."

"Adik Hui San!"

Tu Siao Cui memeluknya. 'Syukurlah engkau sudah sembuh, aku gembira sekali."

Katanya.

"Engkau...."

Lu Hui San terbelalak.

"Siapa enkau?"

"Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Aku yang menyembuhkanmu,"

Sahut Tu Siao Cui memberitahukan.

"Engkau...."

Lu Hui San mengerutkan kening, kemudian mendadak mendekap di dada Tu Siao Cui sambil menangis terisak-isak.

"Kakak"

"Jangan menangis, Dik!"

Tu Siao Cui membelainya.

"Kini engkau sudah sembuh, maka tidak boleh banyak berpikir yang bukan-bukan."

"Terimakasih, Kakak,"

Ucap Lu Hui San dengan air mata berderai-derai.

"Terimakasih...."

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikika "Tidak usah berterimakasih kepadaku, aku ini mengobatimu karena merasa cocok denganmu."

"Kakak...."

"Hui San, beritahukanlah kenapa Kam Hay Thian membunuh ayah angkatmu?"

"Karena...."

Lu Hui San memberitahukan sambil menangis terisak-isak.

"....padahal dia tahu aku sangat mencintainya. Namun dia tetap membunuh ayah angkatku."

"Cinta...."

Tu Siao Cui menggeleng-gelengkan kepala.

"Usiaku sudah delapan puluh lebih, namun aku tidak pernah bercinta dengan siapa pun "

"Apa.. ?"

Lu Hui Sian terbelalak "Usia kakak sudah delapan puluh lebih? Itu... bagaimana mungkin?"

"Adik!"

Tu Siao Cui tersenyum membohongimu, percayalah!"

"Aku tidak membohongimu, percayalah "

"Aku tidak mungkin percaya. Jangan-jangan Kakak juga tidak waras seperti aku tempo hari"

"Adik!"

Tu Siao Cui terpaksa menutur tentang apa yang dialaminya, sehingga membuat dirinya menjadi muda lagi.

"Haaah...?"

Mulut Lu Hui San ternganga lebar.

"Itu sungguh tak masuk akal lho!"

"Engkau harus tahu,"

Ujar Tu Siao Cui memberitahukan.

"Di alam semesta ini memang mengandung kegaiban dan kemujizatan. Apa yang kualami cuma merupakan sebagian kecil dari itu."

"Oh?"

Lu Hui San terbelalak.

"Oleh karena itu, menghadapi segala sesuatu luruslah tabah!"

Tu Siao Cui menasihatinya.

"Dan hingan terlampau cepat putus harapan maupun lulus asa!"

"Ya, Kakak."

Lu Hui San mengangguk.

"Aku tahu...."

Tu Siao Cui menatapnya sambil tersenyum.

"Engkau sangat mencintai Kam Hay Thian. Ya, kan?"

"Ya, Kakak."

Wajah Lu Hui San tampak kemerah-merahan.

"Yapi..."

"Dia membunuh ayah angkatmu, itu membuat hatimu terpukul hebat, sehingga menjadi tidak waras sekaligus membencinya pula "

Tu Sioa Cui menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan "kalau engkau masih mencintainya, carilah dia!"

"Itu...."

Lu Hui San menghela nafas panjang. Hiu tidak mungkin, sebab dia sama sekali tidak mencintaiku."

"kalau begitu...."

Tu Siao Cui menatapnya dalam dalam.

"Apa rencanamu sekarang?"

"Aku...."

Mata Lu Hui San mulai basah.

"Aku ingin menjadi biarawati saja. Bagaimana menurut Kakak?"

"Adik!"

Tu Siao Cui tersenyum.

"Itu terserah engkau, namun apabila engkau dan Kam Hay Thian berjodoh, pasti akan berjumpa kembali."

"Kakak...."

Lu Hui San menundukkan kepala "Oh ya, Kakak kenal Tio Bun Yang?"

"Kenal."

Tu Siao Cui tertawa.

"Kami sudah mengangkat saudara. Dia memang pemuda yang baik, lemah lembut, sopan, jujur, bijaksana, adil dai berpengertian. Aku kagum dan salut padanya."

"Dia sudah tahu akan asal-usul, Kakak?"

"Sudah tahu."

"Sekarang dia berada di mana?"

"Entahlah?"

"Aaaah!"

Lu Hui San menghela nafas panjang "Kalau Kam Hay Thian bersifat seperti dia...."

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikika "Sifat orang mana bisa sama, pasti berbeda."

"Kakak...."

Lu Hui San memandangnya dengan air mata berderai.

"Aku... aku telah berhutang budi kepadamu."

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring "Jangan berkata begitu, Adik! Engkau sama seki tidak berhutang budi kepadaku."

"Tapi Kakak telah menyembuhkanku, sudah barang tentu aku berhutang budi kepada Kakak"

Ujar Lu Hui San sungguhsungguh.

"Aku menyembuhkanmu tanpa pamrih, maka engkau tidak berhutang budi kepadaku."

Tu Siao Cui menatapnya penuh perhatian.

"Betuliean eng-kau ingin menjadi biarawati?"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk pasti.

"Kalau begitu...."

Tu Siao Cui menghela nafas panjang.

"Tak jauh dari sini terdapat sebuah kuil biarawali, engkau ke sanalah!"

"Kakak...."

"Adik!"

Tu Siao Cui tersenyum lembut.

"Jangan berduka, kita akan berjumpa lagi kelak!"

"Kakak...."

"Kita berpisah di sini. Kalau tekadmu telah niat, berangkatlah engkau ke kuil biarawati itu!"

"Ya."

"Adik, sampai jumpa!"

Ucap Tu Siao Cui sambil melesat pergi.

"Kakak! Kakak...!"

Teriak Lu Hui San memanggilnya, namun Tu Siao Cui sudah tidak kelihatan.

Lu Hui San menghela nafas panjang, lalu melesat pergi menuju kuil biarawati tersebut.

-oo0dw0oo-Lu Hui San berdiri di depan Pek Yun Am (Kuil biarawati Awan Putih).

Berselang beberapa saat kemudian, pintu kuil itu terbuka.

Tampak dua biarawati berjalan ke luar.

Segeralah Lu Hui San memberi hormat "Maaf, aku ingin menemui ketua kuil ini!"

"Oh?"

Kedua biarawati menatapnya deng penuh perhatian.

"Ada urusan apa engkau ingi menemui ketua kami? "Aku...."

Lu Hui San menundukkan kepal "Aku ingin menjadi biarawati di sini. Maka, pq kenankanlah aku menemui ketua kalian!"

"Siancay! Siancay!"

Pujian para biarawati pada Sang Budha.

"Mari ikut kami ke dalam!"

"Terimakasih!"

Ucap Lu Hui San dan kemudian mengikuti mereka ke dalam.

"Silakan duduk! Kami ke dalam membe tahukan kepada ketua,"

Ujar salah seorang biar] wati itu "Terimakasih!"

Ucap Lu Hui San sambil duduk Tak seberapa lama kemudian, kedua biaraw itu sudah kembali ke sana dengan wajah berse "Ketua bersedia menemuimu, mari ikut ka ke ruang samadi!"

Biarawati itu memberitahuku sekaligus mengantar Lu Hui San ke ruang samaj Tampak seorang biarawati tua duduk bersih kedua biarawati itu berdiri di luar "Sian Kouw (Biarawati Welas Asih)!"

Pangj Lu Hui San sambil bersujud di hadapan biarawa* tua itu. Biarawati tua itu menatapnya tajam tapi lembut, berselang sesaat ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Siancay! Siancay! Duduklah!"

Ucap biarawati lua itu.

"Ya!"

Lu Hui San segera duduk dengan kepala tunduk.

"Aku adalah Khong Sim Nikouw. Siapa engkau dan mau apa ke mari?"

Tanya biarawati tua itu sambil tersenyum lembut.

"Khong Sim Nikouw, aku... aku ingin menjadi 'iarawati,"

Jawab Lu Hui San dengan mata basah.

"Namamu?"

"Lu Hui San."

"Hui San!"

Khong Sim Nikouw tersenyum lagi.

"Engkau tidak berjodoh menjadi biarawati, sebab engkau harus menikah dan punya anak."

"Tapi...."

"Siancay! Siancay! Engkau ingin menjadi biarawati karena merasa putus asa terhadap sesuatu, artiinya tidak dengan setulus hati, maka engkau tidak bisa menjadi biarawati."

"Khong Sim Nikouw, terimalah aku...."

Lu Hui San menangis terisak-isak.

"Siancay! Siancay!"

Khong Sim Nikouw memndangnya lembut.

"Engkau cuma menghadapi suatu percobaan, haruslah tabah menghadapinya. Kaau engkau menjadi biarawati, engkau tidak akan mencapai kesempurnaan, malah akan membuatmu menderita kelak."

"Aku... aku sudah membulatkan tekad menjadi biarawati."

"Itu dikarenakan engkau merasa putus asa Padahal sesungguhnya itu cuma merupakan suatu percobaan."

"Khong Sim Nikouw...."

"Engkau berkepandaian tinggi, namun masih tidak bisa memusatkan pikiran dan mcnguatkan batinmu. Akhirnya engkau menjadi tidak waras Kalau tiada seseorang menyembuhkanmu, saat ini engkau masih dalam keadaan tidak waras."

"Haaah?"

Lu Hui San terkejut. Ia tidak menyangka Khong Sim Nikouw tahu tentang itu.

"Siancay! Siancay!"

Khong Sim Nikouw tersenyum.

"Aku bisa melihat sampai ke dalam hatimu"

"Oh?"

Lu Hui San semakin terkejut.

"Karena suatu hal dan putus cinta, maka engkau ingin menjadi biarawati. Begitu kan?"

"Ya."

"Oleh karena itu, aku tidak bisa menerimanl Engkau tidak berjodoh menjadi biarawati, namun engkau boleh tinggal di sini."

"Terimakasih, Khong Sim Nikouw!"

Ucap Lu Hui San dan cepat-cepat bersujud di hadapan biarawati tua itu.

"Siancay! Siancay!"

Khong Sim Nikouw itu senyum lembut dan penuh welas asih, kemudian menambahkan.

"Kebahagiaan sudah berada di ambang pintu, tunggulah dengan sabar!"

Ucapan itu membuat Lu Hui San tertegun, la memandang Khong Sim Nikouw dengan tidak mengerti, sedangkan biarawati tua itu hanya tersenyum-senyum.

-oo0dw0oo-Di sebuah kedai arak di suatu kota, tampak seorang pemuda dekil sedang meneguk arak.

Pemuda itu sudah dalam keadaan mabuk, namun masih terus meneguk arak yang di atas meja.

"Ha ha ha!"

Pemuda itu tertawa gelak.

"Aku telah membunuh ayah angkatnya, dia... dia pasti membenciku! Sesungguhnya... aku pun sangat mencintainya, hanya saja...."

Pemuda itu terus tertawa sambil mengoceh. Siapa pemuda itu? Ternyata Hay Thian, yang tidak berhasil mencari Lu Hui San. Karena merasa berdosa terhadap gadis itu, maka ia terus ber-mabuk-mabukan.

"Tuan...."

Pelayan mendekatinya kemudian bertanya.

"Engkau sudah mabuk, jangan minum lagi!"

"Engkau takut aku tidak mampu bayar?"

Sahut Kam Hay Thian.

"Ha ha ha! Aku memang tidak punya uang."

"Tuan...."

Pelayan itu mengerutkan kening.

"Jangan khawatir, aku pasti bayar!"

Ujar Kam Hay Thian, yang kemudian meneguk araknya sambil tertawa-tawa.

"Ha ha ha! Hidup tiada artinya, lebih baik bermabuk-mabukan sepanjang hari! Ha ha ha...!"

Di saat bersamaan, seorang gadis cantik jelita melangkah ke dalam kedai arak itu.

Para tamu terbelalak seketika.

Kecantikan gadis itu telah membuat mereka terpukau.

Kam Hay Thian yang dalam keadaan mabuk pun telah melihat kehadiran gadis itu.

dan lansung tertawa gelak seraya bergumam.

"Gadis cantik selalu bernasib malang. Di mana ada gadis cantik, di situ pasti akan timbul masalah Ha ha ha...!"

"Hi hi hi!"

Gadis itu tertawa cekikikan sambil menghampirinya, lalu duduk.

"Pemuda dekil, kenapa engkau mencela kaum gadis cantik?"

Tanyanya.

"Engkau memang cantik...."

Kam Hay Thian menatapnya.

"Tapi nasibmu sial."

"Omong kosong!"

Gadis itu melotot, kemudian tertawa seraya bertanya.

"Pemuda dekil, siapa engkau?"

"Aku Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)! Siapa Nona?"

"Hi hi hi! Aku Bu Ceng Sianli."

Sungguh diluar dugaan, gadis itu ternyata adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.

"Bidadari Tanpa Perasaan?"

Kam Hay Thian terbelalak.

"Engkau memang secantik bidadari, bagaimana mungkin tak berperasaan? Itu tidak mungkin!"

"Aku memang tak berperasaan terhadap kaum lelaki."

Tu Siao Cui menatapnya penuh perhatian.

"Kelihatannya engkau sangat membenci kaum wanita, itu apa sebabnya?"

"Sebetulnya aku tidak membenci kaum wanita, malah aku... aku telah melakukan suatu dosa terhadap seorang wanita,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Maka dia sangat membenciku."

"Kenapa begitu?"

"Dia sangat mencintaiku, namun aku menolak tintanya karena suatu hal. Aaaah! Memang aku yang bersalah."

"Chu Ok Hiap, bolehkah aku tahu namamu!"

"Namaku Kam Hay Thian."

"Apa?"

Mata Tu Siao Cui langsung membara, dan tangannya melayang ke arah pipi Kam Hay thian. Plaak! Plook! Plaaak! Plooook! "Aduuuh!"

Kam Hay Thian menjerit kesakitan, mabuknya pun langsung lenyap. Ia mengusap pipinya sambil memandang Tu Siao Cui dengan mata terbelalak.

"Kenapa engkau menamparku?"

"Aku memang harus menghajarmu?"

Sahut Tu Siao Cui.

"Eeeh?"

Kam Hay Thian segera melesat k luar.

"Engkau kok tidak tahu aturan? Aku tida berlaku kurang ajar terhadapmu, tapi kenapa engkau ingin menghajarku?"

"Aku mewakili Lu Hui San menghajarmu!"

"Apa?"

Kam Hay Thian tertegun.

"Lu Hui San?"

"Ya."

Tu Siao Cui mengangguk.

"Nah, bersiap-siaplah! Aku akan mulai menghajarmu!"

"Silakan!"

Sahut Kam Hay Thian.

"Terimalah tendanganku!"

Seru Tu Siao Cui sambil menendangnya beberapa kali dengan sekuat tenaga.

Duuk!

Duuuk!

Duuuuk!

Kam Hay Thian tetap tak bergeming dari tempatnya dan membiarkan dirinya ditendang.

Untung Tu Siao Cui tidak mengerahkan lweekangnya.

Seandainya Tu Siao Cui mengerahkan lweekangnya untuk menendang, Kam Hay Thiai pasti sudah terluka parah.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa.

"Ternyata engkau masih tahu diri, sama sekali tidak melawan!"

"Aku malah sangat berterimakasih kepadamu, sebab engkau bersedia mewakilinya menghajari ku?"

Sahut Kam Hay Thian.

"Ayolah! Hajar aku lagi!"

"Tidak!"

Tu Siao Cui menggelengkan kepala.

"Kini engkau telah sadar akan kesalahanmu, maka aku tidak akan menghajarmu lagi!"

"Terimakasih!"

Ucap Kam Hay Thian.

"Oh ya, aku...."

"Engkau ingin tahu Lu Hui San berada di mana kan?"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Betul, betul. Nona, beritahukanlah!"

"Aku akan memberitahukan, tapi harus ada syaratnya."

"Apa syaratmu?"

"Syaratku...."

Tu Siao Cui tersenyum-senyum.

"Engkau harus menyembah di hadapanku."

"Baik."

Kam Hay Thian langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tu Siao Cui.

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Ternyata engkau masih punya nurani! Engkau membunuh ayah angkatnya, namun dia tetap mencintaimu. Karena itu, dia jadi gila."

"Apa?"

Wajah Kam Hay Thian memucat.

"Dia... dia jadi gila?"

"Tapi kini sudah sembuh."

"Oooh!"

Kam Hay Thian menghela nafas lega.

"Siapa yang menyembuhkannya?"

"Aku,"

Sahut Tu Siao Cui.

"Aku yang menyembuhkannya."

"Terimakasih, Nona!"

Ucap Kam Hay Thian sambil membentur-benturkan kepalanya di tanah.

"Terimakasih...!"

"Hi hi hi!"

Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Lu Hui San berada di Pek Yun Am, engkau harus menuju ke timur."

"Terimakasih! Terimakasih!"

Ucap Kam Hay Thian. Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia terbelalak karena Tu Siao Cui sudah tidak berada di hadapannya.

"Sungguh tinggi kepandaian gadis itu!"

Setelah bergumam, barulah ia melesat pergi ke arah timur, sesuai dengan petunjuk Tu Siao' Cui.

-oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh tiga Berlutut dengan setulus hati Perlahan-lahan Kam Hay Thian mengetuk pinti Pek Yun Am.

Berselang sesaat terbukalah pintul itu.

Dua biarawati berdiri di situ sambil menatapnya dengan penuh keheranan.

"Maaf, aku telah mengganggu ketenangan Pek Yun Am!"

Ucap Kam Hay Thian sambil memberi hormat.

"Siancay! Siancay! Ada urusan apa engkau ke mari?"

"Aku... aku ingin bertemu Lu Hui San."

"Lu Hui San?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Dia berada di sini kan?"

"Betul."

Salah satu biarawati itu mengangguk.

"Lu Hui San memang berada di sini. Bolehkah kami tahu siapa engkau?"

"Namaku Kam Hay Thian."

"Oooh!"

Kedua biarawati itu manggut-manggut.

"Baiklah. Engkau tunggu di sini, kami kedalam memberitahukan kepada ketua! Ingat, jangan sembarangan masuk!"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk. Kedua biarawati itu berjalan ke ruang samadi. Sampai di pintu ruang itu, salah seorang dari mereka melapor.

"Ketua, Kam Hay Thian ke mari."

"Siancay! Siancay!"

Sahut Khong Sim Nikouw sambil manggut-manggut, kemudian memandang Luu Hui San yang duduk di sisinya.

"Hui San, engkau sudah dengar kan?"

"Ya, Sian Kouw (Biarawati Welas Asih)."

Lu Hui San mengangguk. Air mukanya tampak terus berubah tak menentu.

"Bagaimana? Engkau bersedia menemui pemuda itu?"

"Tidak,"

Jawab Lu Hui San.

"Aku tidak mau menemuinya, aku benci dia."

"Siancay! Siancay!"

Khong Sim Nikouw tersenyum.

"Kenapa ucapanmu berlawanan dengan suara hatimu?"

"Aku...."

Lu Hui San menundukkan kepala kemudian berjalan ke depan, dengan air mata berderai-derai.

Sementara Kam Hay Thian menunggu disitu "Dia ke mari pertanda dia telah sadar akan kesalahannya, maka engkau harus memaafkannya, sekaligus menerimanya pula,"

Ujar Khong Sing Nikouw dan menambahkan dengan sungguh-sund guh.

"Ketika engkau baru ke mari, bukankah ak pernah mengucapkan sesuatu?"

"Maaf, Sian Kouw! Aku... aku lupa."

"Kebahagiaan telah berada di ambang pinti tunggulah dengan sabar. Inilah yang kuucapkai hari itu, dan kini sudah tiba. Engkau mengerti "

"Sian Kouw...."

Lu Hui San terbelalak.

"Tapi..."

"Engkau masih ragu terhadapnya?"

"Ya"

"Kalau begitu...."

Khong Sim Nikouw "Engkau boleh mencoba bagaimana hatinya"

"Caranya?"

Lu Hui San tertarik.

"Kedua muridku itu akan memberitahukan kepadanya, bahwa engkau tidak sudi menemuinya. Apabila dia berlutut di depan kuil dengan setulus hati, berarti dia bersungguh-sungguh terhadapmu. Mengerti?"

"Mengerti."

"Siancay! Siancay!"

Ucap Khong Sim Nikou lalu berseru.

"Kalian berdua beritahukan kepada nya, bahwa Lu Hui San tidak sudi menemuinya"

"Ya, Guru,"

Sahut kedua biarawati itu kemudian berjalan kedepan. Sementara itu Kam Hay Thian menunggu disitu dengan hati berdebar-debar. Ketika melihat kedua biarawati menghampirinya, ia segera bertanya.

"Bagaimana, Sian Kouw?"

"Siancay! Siancay!"

Salah satu biarawati itu menggelenggelengkan kepala.

"Lu Hui San tidak sudi menemuimu. Maaf. kami tidak bisa berbuat apa-apa?"

"Sian Kouw...."

Wajah Kam Hay Thian pucat pasi "Siancay! Siancay!"

Kedua biarawati itu menghela nafas panjang, kemudian melangkah kedalam sekaligus menutup pintu "Adik Hui San! Adik Hui San! Aku ...aku rindu padamu..."

Gumam Kam Hay Thian kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Yun Am itu.

-oo0dw0oo-Khong Sim Nikouw, Lu Hui San dan kedua murid biarawati tua itu duduk di ruang samadi.

Wajah Lu Hui San terus berubah tak menentu.

"Siancay! Siancay!"

Ucap Khong Sim Nikouw sambil memandang Lu Hui San.

"Sudah tiga hari tiga malam Kam Hay Thian berlutut di situ tanpa makan dan minum, itu pertanda dia berlutut dengan setulus hati. Maka, engkau harus menyelami perasaannya sekarang."

"Sian Kouw...."

Lu Hui San menundukkan kepala.

"Hui San!"

Khong Sim Nikouw tersenyum lembut.

"Kini sudah saatnya engkau meninggaliean Pek Yun Am ini."

"Sian Kouw...."

"Oh ya!"

Mendadak wajah Khong Sim Nikouw berubah serius.

"Aku yakin Tu Siao Cui yang menyuruhnya ke mari. Tu Siao Cui muda kembali itu merupakan suatu berkah bagi dirinya. Kini di. telah berbuat kebaikan. Siancay! Siancay! Kalau engkau bertemu dia, sampaikan pesanku kepada nya! Dia harus banyak berbuat kebaikan untuk menebus dosanya terhadap Thian Gwa Sin Hiap Engkau harus menyampaikan pesanku ini kepada nya, karena demi kebaikannya pula."

"Ya, Sian Kouw. Aku pasti menyampaikan kepadanya."

"Siancay! Siancay!"

Ucap Khong Sim Nikow sambil memandangnya. Ia mengeluarkan sebuni tusuk konde lalu diserahkan kepada Lu Hui San. seraya berkata.

"Simpan tusuk konde ini baik-baik kalau engkau bertemu Tayli Lo Ceng, berikan kepadanya!"

"Haaah?"

Lu Hui San tertegun.

"Sian Ko kenal Tayli Lo Ceng?"

"Siancay! Siancay!"

Khong Sim Nikouw menghela nafas panjang.

"Sudah hampir delapan puluh tahun kami tidak bertemu. Siancay! Siancay! Semua itu telah berlalu, lagi pula aku...."

"Guru...."

Wajah kedua muridnya berubah pucat pias.

"Siancay! Sincay!"

Khong Sim Nikouw tersenyum.

"Segala apa yang ada di dunia, itu hanya kepalsuan belaka. Kosong dan segala itu memang kosong."

"Sian Kouw...."

Lu Hui San tercengang mendengarnya.

"Hui San!"

Khong Sim Nikouw tersenyum lembut.

"Engkau boleh pergi sekarang bersama pemuda itu. Tempuhlah hidup yang bahagia! Jangan menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat m! "Ya, Sian Kouw."

Lu Hui San segera bersujud.

"Sian Kouw, aku mohon diri!"

"Bangunlah, Hui San!"

Khong Sim Nikouw berpesan.

"Simpanlah baik-baik tusuk konde itu!"

"Ya, Sian Kouw."

Lu Hui San mengangguk sambil bangkit berdiri, kemudian berpamit dengan air mata bercucuran.

"Semoga engkau hidup bahagia, Hui San!"

Ucap Khong Sim Nikouw sambil memandangnya dengan lembut sekali.

"Sian Kouw...."

"Pergilah!"

Khong Si Nikouw memejamkan matanya.

Lu Hui San bersujud lagi.

Setelah memberi hormat kepada kedua biarawati itu, barulah melangkah ke luar.

Kedua biarawati itu men antarnya sampai di depan kuil, setelah itu mereka menutup pintu.

"Adik Hui San! Adik Hui San...!"

Seru Ka Hay Thian dengan mata bersimbah air.

"Adik Hui San...."

Lu Hui San tidak menyahut, namun air mata nya sudah berderai-derai. Perlahan-lahan Kam. Hay Thian mendekatinya, lalu menjatuhkan dan berlutut di hadapan gadis itu.

"Adik Hui San, maafkanlah aku!"

"Kakak Hay Thian...."

Lu Hui San juga menjatuhkan diri berlutut di hadapan pemuda itu "Aku... aku memaafkanmu."

"Terimakasih, Adik Hui San!"

Ucap Kam Hay Thian sambil menjulurkan tangannya untuk memegang bahu gadis itu.

"Adik Hui San, aku... aku cinta padamu."

"Kakak Hay Thian..-."

Lu Hui San menangis terisak-isak saking girang.

"Aku... aku sudah mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Tapi engkau..."

"Adik Hui San!"

Kam Hay Thian menatapnya lembut.

"Itu telah berlalu, jangan kau ungkit lagi Yang jelas... kini kita sudah saling mencintai takkan berpisah selama-lamanya."

"Kakak Hay Thian...."

Lu Hui San mendekap di dadanya.

"Aku... aku bahagia sekali."

"Adik Hui San, maafkanlah aku yang telah membunuh ayah angkatmu! Sekali lagi aku minta maaf!"

Ucap Kam Hay Thian sambil membelainya dengan penuh cinta kasih.

"Ibumu juga dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe. Yaaah! Sudahlah! Semua itu telah ber-lalu, anggaplah sebagai mimpi buruk saja!"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus mengangkatnya bangun.

"Adik Hui San, apa rencanamu sekarang?"

"Aku sudah rindu kepada pamanku. Bagaimana kalau kita ke sana?"

Sahut Lu Hui San malu-malu.

"Benar."

Kam Hay Thian manggut-manggut. Aku memang harus mengunjungi pamanmu."

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!"

Ajak Lu Hui San.

"Baik."

Kam Hay Thian mengangguk.

Mereka berdua berangkat ke tempat tinggal ie Kuang Han.

Dalam perjalanan itu mereka Li senda gurau penuh kegembiraan.

-oo0dw0oo-Dalam perjalanan menuju tempat tinggal Sie Kuang Han, Kam Hay Thian dan Lu Hui San juga mendengar tentang musnahnya markas Seng Hwe Kauw.

Itu sungguh menggembirakan mereka berdua.

Namun ada satu hal yang membuat Kam Hay Thian tidak habis pikir, yakni tidak adanya kabar mengenai Seng Hwee Sin Kun.

"Heran!"

Gumam Kam Hay Thian dengan kening berkerutkerut.

"Kenapa tiada kabar beritl mengenai Seng Hwee Sin Kun? Apakah Bun Yan berhasil membunuhnya?"

"Kalau Bun Yang berhasil membunuhnya, tentunya akan tersiar berita tersebut. Namun tidak. Mungkin..."

Ujar Lu Hui San setelah berpikir sejenak.

"Seng Hwee Sin Kun berhasil melolosieah diri."

"Itu memang mungkin."

Kam Hay Thian manggut-manggut "Lebih baik kita tanyakan kepada Kakek Lim nanti"

"Benar."

Lu Hui San mengangguk. Beberapa hari kemudian, mereka sudah sampai di tempat tinggal Sie Kuang Han. Betapa gembiranya orang tua itu ketika melihat Lu Hui San datang bersama seorang pemuda.

"Paman!"

Panggil gadis itu.

"Hui San!"

Sie Kuang Han tertawa gembira "Ha ha ha! Duduklah!"

"Paman, dia Kam Hay Thian...."

Lu Hui San memperkenalieannya, dan pemuda itu segera mem beri hormat.

"Paman, terimalah hormatku!"

Ucap Kam Hay I hian.

"Tidak usah sungkan-sungkan! Ha ha ha!"

Sie Kuang Han tertawa gelak.

"Ayolah! Duduk!"

Lu Hui San dan Kam Hay Thian lalu duduk. Sie Kuang Han memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Kenapa Keng Hauw tidak kemari?"

"Dia...."

Lu Hui San tersenyum.

"Dia berada di Pulau Hong Hoang To, dan sudah punya kekasih."

"Oh?"

Wajah Sie Kuang Han berseri.

"Siapa kekasihnya!"

"Lie Ai Ling, putri kesayangan Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa."

Lu Hui San memberitahukan.

"Oooh!"

Sie Kuang Han manggut-manggut gembira.

"Syukurlah!"

"Paman,"

Ujar Lu Hui San.

"Lu Thay Kam telah mati."

"Oh?"

Sie Kuang Han tampak terkejut.

"Apakah dia mati dibunuh?"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk.

"Siapa yang membunuhnya?"

Tanya Sie Kuang llan sambil menghela nafas panjang.

"Dia."

Lu Hui San menunjuk Kam Hay Thian.

"Apa?"

Sie Kuang Han terbelalak.

"Kok bisa begitu? Hui San, tuturkanlah kejadian itu!"

"Paman...."

Lu Hui San menutur tentang semua kejadian itu, kemudian menambahkan.

"Aku aku telah memaafkannya."

"Aaaah...."

Sie Kuang Han menghela nafas "Mungkin itu sudah merupakan takdir!"

"Paman,"

Ujar Kam Hay Thian sambit mengeleng-gelengkan kepala.

"Aku telah melakukan kesalahan, sebab kini istana bertambah kacau Muncul seorang menteri berniat berkhianat."

"Yaaah! Dinasti Beng sulit dipertahankan lagi segera akan tumbang!"

Sie Kuang Han menghela nafas panjang.

"Oh ya, kalian tinggal di sini beberapa hari!"

"Ya!"

Lu Hui San mengangguk.

"Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu hari berangkat ke markas pusat Kay Pang."

"Itu memang baik sekali."

Sie Kuang Han manggutmanggut.

"Oh ya, kalau kalian bertema! Keng Hauw, suruh dia kemari bersama Lie Ling!"

"Ya, Paman."

Lu Hui San tersenyum.

"Pama pasti akan menyayangi Ai Ling, sebab dia canti lincah dan periang."

"Syukurlah kalau begitu!"

Ucap Sie Kuang Ha sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha!" -oo0dw0oo-Beberapa hari kemudian, Lu Hui San dan Kam Hay Thian berpamit kepada Sie Kuang Han. Mereka berdua langsung menuju markas pusat Kay Pang. Kini jalinan cinta mereka bertambah dalam, maka tidak heran kalau wajah mereka tampak bahagia. Kira-kira empat hari kemudian, mereka sudah Sampai di markas pusat Kay Pang. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangan mereka dengan mulut ternganga lebar, karena mereka tahu tentang Lu Hui San dan Kam Hay thian. Namun kini mereka justru muncul bersama, maka mencengangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!"

Panggil Lu Hui san sambil tersenyum.

"Kalian...."

Lim Peng Hang terbelalak.

"Silakan duduk! Silakan duduk!"

Lu Hui San dan Kam Hay Thian duduk, sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong masih terus memandang mereka dengan penuh rasa heran.

"Kami...."

Lu Hui San menundukkan kepala.

"Bukankah kalian...."

Lim Peng Hang menggaruk-garuk kepala.

"Kok kini malah ke mari berduaan?"

"Kakek Lim, kami...."

Kam Hay Thian memberitahukan tentang kejadian mereka itu dan menambahkan.

"....kalau aku tidak bertemu Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui, mungkin tidak bisa bertemu Hui San."

"Oooh!"

Lim Peng Hang manggut-manggu "Ternyata begitu, syukurlah!"

"Kakak Hay Thian!"

Lu Hui San menatapnya "Jadi Kakak Siao Cui yang memberitahukanmu mengenai diriku berada di Pek Yun Am?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk sambil tersenyum.

"Kami bertemu dia di kedai arak. Setelah tahu aku adalah Hay Thian, maka dia langsung menampar dan menendangku."

"Dia yang menyembuhkan aku."

"Dia pun memberitahukan kepadaku."

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Hui San, aku...."

"Kakak Hay Thian!"

Lu Hui San tersenyum lembut.

"Itu telah berlalu, jangan diungkit sehingga merusak suasana!"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya kepandaian Nona Siao Cui itu sungguh tinggi sekali."

"Engkau tahu berapa usianya?"

Tanya Lu Hui San mendadak.

"Dua puluhan,"

Sahut Kam Hay Thian "masih begitu muda, tapi kepandaiannya sangat tinggi sekali."

"Engkau keliru."

Lu Hui San tertawa kecil "Keliru?"

Kam Hay Thian heran.

"Keliru napa?"

"Usia Kakak Siao Cui sudah hampir sembilan puluh, bukan dua puluhan lho!"

Lu Hui San memberitahukan.

"Apa?"

Kam Hay Thian terbelalak, kemudian tertawa gelak.

"Adik Hui San, aku tidak menyangka engkau bisa bergurau juga."

"Itu memang benar, aku tidak bergurau."

Ujar Lu Hui San sungguh-sungguh lalu menutur tentang apa yang dialami Tu Siao Cui.

"Itu... itu sungguh merupakan suatu kegaiban. Neneknenek berusia hampir sembilan puluh, namun masih tampak remaja. Tak masuk akal tapi nyata, sungguh luar biasa!"

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Seperti halnya dengan Kou Hun Bijin."

"Tapi kini Kou Hun Bijin sudah kelihatan tua, karena dia menikah dengan Kim Siauw Suseng,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Kalau tidak, dia dan Kim Siauw Suseng pasti tetap tampak seperti berusia empat puluhan."

"Kalau begitu..."

Tanya Lu Hui San.

"....Bu Ceng Sianli akan tua juga bila menikah?"

"Mungkin."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Oh ya! Di mana Kakak Bun Yang, Ai Ling dan lainnya?"

Tanya Lu Hui San mendadak.

"Mereka sudah pulang ke Pulau Hong Hoang to,"

Jawab Lim Peng Hang.

"Apakah kalian sudah laliu tentang Seng Hwee Kauw?"

"Sudah, tapi tidak begitu jelas,"

Ujar Kam Hay Thian dan bertanya.

"Kok tiada kabar beritanya mengenai Seng Hwee Sin Kun?"

"Aaah...."

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Seng Hwee Sin Kun terluka parah oleh pukulan yang dilancarkan Bun Yang, tapi disaat itu mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan."

"Oh?"

Kam Hay Thian terperanjat.

"Kui Bin Pang?"

Air muka Lu Hui San berubah.

"Ya."

Gouw Han Tiong manggut-manggut "Kelima orang itu membawa kabur Seng Hwe Sin Kun."

"Kakek Gouw, apakah Seng Hwee Sin Kun punya hubungan dengan Kui Bin Pang itu?"

Tanya Kam Hay Thian.

"Entahlah."

Gouw Han Tiong menggeleng gelengkan kepala, kemudian memandang Lim Pera Hang seraya berkata.

"Pangcu, engkau saja yang memberitahukannya!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang, lama sekali barulah membuka mulut dengan wajah serius.

"Ketua lama Kui Bin Pang punya dendam dengan majikan lama Pulau Hong Hoang To. Sebetulnya Kui Bin Pang cuma bergerak di sekita Gurun Sih Ih..."

Tutur Lam Peng Hang sejelas jelasnya, setelah itu menambahkan pula.

"...tiada seorang pun tahu siapa ketua baru Kui Bin Pari lu."

"Kakek Lim,"

Tanya Lu Hui San.

"Mungkinkah Kui Bin Pang akan menyerbu Pulau Hong Hoang To?"

"Kalau Kui Bin Pang berani menyerbu kesana, malah lebih baik,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Namun Kui Bin Pang tidak akan menyerbu kesana, mereka tidak sebodoh itu."

"Kalau begitu, apakah Kui Bin Pang diam saja?"

Tanya Kam Hay Thian.

"Sesungguhnya mereka sudah mulai bergerak, Tapi secara diam-diam,"

Jawab Lim Peng Hang. Buktinya kelima orang itu telah muncul menolong Seng Hwee Sin Kun. Ya, kan?"

"Heran?"

Gumam Kam Hay Thian.

"Kenapa Kui Bin Pang menolong Seng Hwee Sin Kun? Mungkinkah punya suatu tujuan tertentu?"

"Itu memang mungkin."

Gouw Han Tiong manggutmanggut.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin pihak Kui Bin Pang akan menolongnya? Hanya saja... kita tidak tahu apa tujuan Kui Bin Pang itu."

"Aaaah...."

Kam Hay Thian menghela nafas panjang.

"Seng Hwee Sin Kun belum mati, aku harus membunuhnya!"

"Kakak Hay Thian!"

Lu Hui San memancingnya dengan kening berkerut.

"Engkau...."

"Adik Hui San, aku...."

Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Hay Thian!"

Lim Peng Hang menatapny "Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahmu, memang pantas engkau membalas dendam! Tapi tidak boleh bertindak ceroboh, alangkah baiknya berunding dulu dengan Hui San."

"Ya, Kakek Lim."

Kam Hay Thian mengangguk pasti.

"Bagus! Bagus!"

Lim Peng Hang manggut manggut sambil tersenyum.

"Kalian harus ingat jangan ada kendala apa pun lagi di antara kalian!"

"Ya,"

Ujar Kam Hay Thian menambahkaij "Aku berjanji, pasti menuruti perkataan Hui San"

"Kakak Hay Thian...."

Wajah Lu Hui Sal langsung berseri.

"Engkau...."

"Adik Hui San,"

Ujar Kam Hay Thian sungguh, sungguh.

"Aku pernah bersalah terhadapmu, maka kini aku harus menuruti semua perkataanmu."

"Kakak Hay Thian!"

Lu Hui San terharu.

"Aku menuruti semua perkataanmu."

"Itu yang disebut saling mengerti, saling melindungi dan saling mencinta,"

Ujar Lim Peng Ha sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha...!"

"Oh ya, Kakek Lim,"

Tanya Lu Hui San mendadak.

"Apakah Kakak Bun Yang sudah bertemu Goat Nio?"

"Sudah."

Lim Peng Hang menutur tentang itu "Kini mereka semua berada di Pulau Hong Hoang To."

"Kakek Lim, apakah Beng Kiat dan Soat Lan juga berada di Pulau Hong Hoang To?"

Tanya Kam Hay Thian.

"Sudah lama mereka pulang ke Tayli."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Bun Yang mengajak Bokyong Sian Hoa ke sana, karena Bu Ceng Sianli mengacau di istana Tayli...."

Lim Peng Hang menutur, Kam Hay Thian dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian. Seusai Lim Peng Hang menutur, Kam Hay Thian bertanya dengan nada terkejut.

"Tayli Lo Ceng terluka oleh pukulan Bu Ceng Sianli?"

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Tapi sudah sembuh. Sedangkan Bokyong Sian Hoa malah tinggal di Tayli."

"Oh?"

Lu Hui San heran.

"Kenapa Sian Hoa tinggal di sana?"

"Sebab...."

Lim Peng Hang tersenyum.

"Ternyata Sian Hoa dan Beng Kiat saling jatuh hati."

"Oooh!"

Lu Hui San manggut-manggut sambil tertawa gembira.

"Syukurlah kalau begitu!"

"Kakek Lim,"

Tanya Kam Hay Thian.

"Apakah Bun Yang akan menikah dengan Goat Nio di Pulau Hong Hoang To?"

"Itu sudah pasti, namun tidak begitu cepat."

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lho? Kenapa?"

Kam Hay Thian bingung.

"Karena terhalang oleh kemunculan Kui Bin Pang."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Oleh karena itu, mereka tidak akan begitu cepat langsungkan pernikahan, mungkin harus menunggu...."

"Menunggu urusan dengan Kui Bin Pang itu selesai?"

Kam Hay Thian mengerutkan kening "Kira-kira begitu."

Lim Peng Hang manggut manggut.

"Tapi pernikahan mereka tiada kaitannya dengan urusan itu, kenapa mereka tidak mau segera melangsungkan pernikahan?"

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Lagi pula mereka sudah berada di Pulau Hong Hoang To."

"Yaah!"

Lim Peng Hang menghela nafas.

"Yang jelas mereka belum mau menikah, jadi tidak bisa dipaksa."

"Kakek Lim,"

Tanya Lu Hui San mendadak "Bolehkah kami ke Pulau Hong Hoang To?"

"Tentu boleh."

Lim Peng Hang mengangguk "Tapi alangkah baiknya kalian tinggal di sini dulu beberapa hari."

"Kakek Lim...."

Lu Hui San tercengang.

"Ke napa kami harus tinggal di sini dulu beberapa hari ?"

"Itu...."

Lim Peng Hang tidak melanjutkan cuma menghela nafas panjang.

"Kalau dalam beberapa hari ini terjadi sesuatu dalam rimba persilatan, bukankah kalian bisa memberitahukan kepada pihak Hong Hoang To?"

Lanjut Gouw Han Tiong.

"Sebab barubaru ini, situasi rimba persilatan agak lain. Sepertinya diselimuti suatu bencana."

"Oh?"

Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Kok Kakek Gouw tahu akan itu?"

"Yaah!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Kami dapat merasakannya, itu membuat kami cemas sekali."

"Mungkinkah Kui Bin Pang akan menimbuliean bencana?"

Tanya Lu Hui San.

"Kira-kira begitulah,"

Sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Oleh karena itu, kami mengutus Cian Chiu Lo Kay (Pengemis Tua Lengan Seribu), wakil Pangcu bergerak di luar untuk menyelidiki situasi dalam rimba persilatan."

"Kalau begitu..."

Ujar Lu Hui San.

"Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah berangkat ke Pulau Hong Hoang To."

"Ngmmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian bertanya mendadak sambil tersenyum.

"Oh ya, kapan kalian menikah?"

"Masih lama,"

Jawab Kam Hay Thian.

"Lebih cepat lebih baik lho."

Ujar Lim Peng Hang sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh empat Tujuh Partai Besar dilanda bencana Di ruang tengah markas Kui Bin Pang, duduk beberapa orang dengan wajah serius. Mereka adalah ketua Kui Bin Pang, Dua Pelindung dan Lima Setan Algojo. Berselang sesaat, ketua Kui Bin Pang tertawa gelak seraya berkata.

"Ha ha ha! Kini Seng Hwee Sin Kun telah pulih, bahkan aku telah mempengaruhinya dengan ilmu hitam, maka dia selalu mematuhi perintah ku."

"Kalau begitu, kapan Ketua akan perintahkan dia beraksi dalam rimba persilatan?"

Tanya Ton Sat Kui.

"Tentunya dalam beberapa hari ini. Ha hii ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak lagi.

"Aku pun telah mengajarnya Toh Hun Ciang (Pukulan Perusak Sukma), siapa yang terkena pukulan itu pasti jadi gila."

"Jadi Seng Hwee Sin Kun tidak membunuh para ketua tujuh partai besar?"

Tanya Toa Sal Kui.

"Cukup membuat mereka gila,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Namun dia akan membunuh para murid partai besar."

"Lalu bagaimana dengan Kay Pang?"

Tanya salah satu Pelindung.

"Setelah memberesiean para ketua partai besar itu, barulah turun tangan terhadap Lim Peng liang dan Gouw Han Tiong,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Ketua akan perintahkan Seng Hwee Sin Kun memukul mereka dengan Toh Hun Ciang?"

Tanya Sam Sat Kui.

"Tidak."

Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala.

"Itu akan kuatur nanti. Ha ha ha!"

"Ketua!"

Salah satu Pelindung memberitahukan.

"Kay Pang sangat kuat, itu harus dipikirkan masak-masak."

"Sudah kupikirkan masak-masak,"

Sahut ketua kui Bin Pang lalu menatap Ngo Sat Kui seraya hertanya.

"Apakah kalian sudah memperoleh informasi mengenai para penghuni Pulau Hong Hoang To?"

"Sudah,"

Jawab Toa Sat Kui.

"Para penghuni Pulau Hong Hoang To terdiri dari Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Itijin, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Bun Yang, Siang Koan iioat Nio, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw."

"Ngmmm!"

Ketua Kui Bin Pang manggut-kanggur.

"Tapi Tio Cie Hiong punya hubungan dengan Tayli."

Toa Sat Kui memberitahukan.

"Yang berkepandaian paling tinggi adalah Tayli Lo Ceng!"

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak bernada angkuh.

"Aku sama sekali tidak takut kepada mereka!"

"Apakah kepandaian Ketua lebih tinggi dari mereka?"

Tanya salah satu Pelindung mendadak "Tentu,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berani memunculiean Kui Bin Pang dalam rimba persilatan?"

"Tapi...."

Pelindung itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita masih belum menemukan Tetua"

"Itu tidak jadi masalah,"

Ujar ketua Kui Bin Pang.

"Sebab kini sudah saatnya Kui Bin Pang muncul di rimba persilatan secara resmi. Seng Hwee Sin Kun merupakan perintis. Ha ha ha...l" -oo0dw0oo-Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Kam Hay Thian dan Lu Hui San duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.

"Sudah beberapa hari kami tinggal di sini. namun masih belum ada kejadian apa pun dalam rimba persilatan,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Kakek Lim, apakah kami masih harus tinggal di sini?"

"Kalian sudah tidak betah di sini?"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Kalau memang kalian sudah tidak betah tinggal di sini, besok kalian boleh berangkat ke Pulau Hong Hoang To."

"Ya."

Kam Hay Thian manggut-manggut. Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul seorang pengemis tua, yang tidak lain adalah Cian Chiu Lo Kay, wakil ketua Kay Pang.

"Pangcu...."

Wajahnya tampak serius sekali.

"Duduklah!"

Sahut Lim Peng Hang. Cian Chiu Lo Kay duduk, kemudian menghela nafas panjang seraya berkata.

"Pangcu, tujuh partai besar telah dilanda bencana."

"Apa?"

Bukan main terkejutnya Lim Peng Uang.

"Bencana apa yang menimpa tujuh partai besar itu?"

"Puluhan murid tujuh partai besar mati terbumuh dan para ketua pun...."

Cian Chiu Lo Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Para ketua sudah jadi gila semua."

"Haah...?"

Mulut Gouw Han Tiong ternganga lebar saking terkejut.

"Siapa yang melakukan itu?"

"Seng Hwee Sin Kun,"

Sahut Cian Chiu Lo kay.

"Seng Hwee Sin Kun?"

Seru Lim Peng Hang dan lainnya tak tertahan.

"Ya."

Cian Chiu Lo Kay mengangguk.

"Seng Hwee Sin Kun kelihatan dikendalikan orang, lagi pula dia memiliki semacam ilmu pukulan aneh."

"Oh?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Ilmu pukulan apa?"

"Entahlah."

Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala.

"Para ketua terkena pukulannya, maka jadi gila."

"Kalau begitu..."

Ujar Gouw Han Tiong.

"Seng Hwee Sin Kun pasti dikendalikan oleh ketua Ku Bin Pang. Mungkin juga ketua Kui Bin Pang yangjj mengajarkan ilmu pukulan aneh itu."

"Memang tidak salah,"

Ujar Cian Chiu Lo Kay "Seng Hwee Sin Kun mengaku dirinya utusan Kun Bin Pang."

"Ternyata begitu...."

Lim Peng Hang manggut manggut.

"Pihak Kui Bin Pang menolongnya hanya ingin mengendalikannya. Kalau begitu, kita harus bersiap siap. Sebab sasaran berikutnya past kita."

"Benar."

Gouw Han Tiong manggut-manggut "Lo Kay,"

Ujar Lim Peng Hang memberi perintah.

"Engkau harus segera ke markas cabang-suruh mereka berhati-hati menghadapi segala ke mungkinan!"

"Ya, Pangcu."

Cian Chiu Lo Kay menganggu sambil memberi hormat, lalu meninggaliean markas pusat itu.

"Aaaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Kini Kui Bin Pang sudah bertindak, rimba persilatan telah dibanjiri darah."

"Kakek Lim,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Karnj harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini."

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Kalau begitu, kalian harus berangkat sekarang. Tapi kalian harus berhati-hati!"

"Ya. Kakek Lim."

Kam Hay Thian dan Lu Hui San langsung berpamit. Setelah mereka berdua meninggaliean markas pusat Kay Pang, Lim Peng Hang dan Gouw Han liong saling memandang, kemudian menghela nafas panjang.

"Entah kapan Seng Hwee Sin Kun akan ke mari?"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau dia ke mari, kita berdua terpaksa bertarung matimatian dengan dia,"

Sahut Gouw Han Tiong.

"Kita harus mati secara gagah."

"Kita berdua bukan tandingannya, jangan-jangan kita pun akan jadi gila terkena pukulan ilu,"

Ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Mudah-mudahan pihak Pulau Hong Hoang To segera tiba di sini!"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kalau tidak, Kay Pang pasti akan mengalami nasib yang serupa dengan partai-partai besar itu." -oo0dw0oo-Di dalam markas Kui Bin Pang, terdengari suara tawa yang bergema-gema, itu adalah suara tawa ketua Kui Bin Pang.

"Ha ha ha! Ha ha ha! Para ketua tujuh partai besar sudah jadi gila, itu berarti partai-partai itu telah lumpuh! Ha ha ha...!"

"Kini apa rencana Ketua?"

Tanya Toa Sat Kui.

"Tentunya giliran Kay Pang,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Namun harus dengan rencana istimewa."

"Ketua!"

Toa Sat Kui memberitahukan.

"Kam Hay Thian dan Lu Hui San berangkat ke Pulau Hong Hoang To, perlukah kami menangkap mereka?"

"Tidak perlu."

Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala.

"Biar mereka ke Pulau itu untuk melapor, jadi pihak Pulau Hong Hoang To pasti ke markas pusat Kay Pang. Nah, itu yang kuharapkan. Ha ha ha...!"

"Maksud ketua ingin membunuh mereka di markas pusat Kay Pang?"

Tanya salah satu Pelindung.

"Yang akan kubunuh adalah Tio Bun Yang Tio Cie Hiong, Tio Tay Seng dan Tio Hong Hoa Sebab mereka adalah turunan Tio Po Thian, maka harus dibunuh. Sedangkan yang lain cukup dibuat gila saja. Ha ha ha...!"

Sahut ketua Kui Bin Pang sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku harus mencincang Tio Bun Yang."

"Ketua!"

Tanya salah satu Pelindung.

"Apakah Ketua punya dendam pribadi terhadap Tio Bun Yang?"

"Tidak salah. Kebetulan aku punya dendam piibadi dengan dia,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Aku jatuh ke dalam jurang gara-gara dia."

"Ketua,"

Ujar salah satu Pelindung.

"Kami dengar, Tio Bun Yang berkepandaian tinggi sekali. Apakah Ketua mampu mengalahkannya?"

"Aku pasti mampu mengalahkannya,"

Sahut ketua Kui Bin Pang yakin.

"Pokoknya aku akan membuatnya menderita dan tersiksa, sebab aku tahu dia sudah punya kekasih bernama Siang Koan Goat Nio yang cantik jelita. He he he...!"

"Ketua...."

Salah satu Pelindung ingin mengatakan sesuatu, tapi dibatalieannya.

"Aku tahu...."

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Kalian khawatir aku tidak mampu melawan Tio Bun Yang, bukan?"

"Ya."

Salah satu Pelindung itu mengangguk.

"Aku telah mencoba kepandaian kalian semua. Kalau satu lawan satu, kalian memang bukan tandingannya,"

Ujar ketua Kui Bin Pang sungguh-sungguh.

"Tapi kalau dua lawan satu atau Ngo Sat Kui menggunakan Ngo Kui Tin (Formasi Lima Setan), aku yakin kalian bisa menang."

"Kami berdua melawan satu, Ngo Sat Kui mnggunakan Ngo Kui Tin bisa melawan berupa orang, namun..."

Ujar salah satu pelindung sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Pihak Pulau Hong Hoang To rata-rata memiliki kepandaian tinggi sekali."

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak "Kalian harus tahu, aku memiliki ilmu hitam yang dapat mengendalikan pikiran mereka."

"Tapi lweekang mereka begitu tinggi, bagi bagaimana mungkin mereka terpengaruh oleh ilmu hitam Ketua?"

Ujar salah satu Pelindung, seakan tidak percaya akan kehebatan ilmu hitam yang dimiliki ketuanya.

"Kalian ragu memang tidak salah, sebab kalian belum menyaksikan ilmuku itu,"

Ujar ketua K"

Bin Pang.

"Karena itu, aku terpaksa memperlihatkan ilmu tersebut."

Mendadak ketua Kui Bin Pang memandang kedua Pelindung itu sambil membentak keras.

"Kalian berdua!"

Suara bentakan ketua Kui Bin Pang mengandung suatu kekuatan yang tak dapat dilawan.

"Ketua.."

Kedua Pelinduing itu langsung berdiri mematung.

"Kalian Berdua harus berlutut "

Ujar ketua Kui Bin Pang dengan suara parau.

"Ya "

Kedua pelindung itu segera menjatuhkan diri berlutut.

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa geli otomatis menyadarkan kedua Pelindung itu.

"Haaah...?"

Betapa terkejutnya kedua Pelindung itu, karena diri mereka berlutut di situ.

"Apa yang telah terjadi?"

"Kalian telah terpengaruh oleh ilmu ketua."

Toa Sat Kui memberitahukan.

"Kalian sama sekali bisa melawan kekuatan ilmu itu"

"Oh?"

Ketua Pelindung itu bangkit berdiri sekaligus kembali ke tempat duduk masing-masing "ilmu hitam itu sungguh lihay sekali"

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. Iweekang kalian sangat tinggi, tapi toh tetap tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitamku."

"Kalau begitu, pihak Pulau Hong Hoang To ama sekali tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitam Ketua?"

Tanya salah satu Pelindung.

"Ya, kecuali...."

Ketua Kui Bin Pang memberitahukan.

"Kecuali mereka memiliki ilmu Penakluk Iblis, barulah tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitamku "

"Ilmu Penakluk Iblis?"

"Tidak salah. Itu merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, tidak gampang mempelajari ilmu itu. Maka aku yakin Pulau Hong Hoang To tidak memiliki ilmu tersebut "

"Oooooh"

Kedua Pelindung dan Lima Setan Algojo manggut-manggut.

"Lagi pula aku memiliki sebuah genta maut, bila aku membunyikan genta itu, pihak lawan pasti akan mati muntah darah."

Ketua Kui Bin Pang memberitahukan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha...!"

"Dari mana Kelua memperoleh genta maut itu?"

Tanya Toa Sat Kui.

"Ketika terpukul jatuh ke dalam jurang, Pek Kut Lojin masih kuat merangkak ke dalam sebuah goa di dasar jurang itu."

Ketua Kui Bin Panj memberitahukan.

"Ketua lama mendapat sebuah genta maut di dalam goa tersebut, berikut sebuah kitab kecil yang mengajarkan cara membunyikan genta itu. Kini kalian sudah tahu, maka tidak perlu takut terhadap pihak Pulau Hong Hoang To."

Kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui manggut manggut. Ketua Kui Bin Pang memandang mereka, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Kita harus menuntut balas terhadap pihak Pulau Hong Hoang To! Sebab Tio Po Thian, majikan lama Pulau Hong Hoang yang memukul jatuh Pek Kut Lojin!"

"Kita harus menuntut balas! Kita harus menuntut balas!"

Seru kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui serentak.

"Hidup Kui Bin Pang! Hidup Ketua!"

"Ha ha ha! Ha ha ha...!"

Kelua Kui Bin Pa terus tertawa gelak.

-ooo0dw0ooo-Sementara itu, Kam Hay Thian dan Lu Hui San telah tiba di Pulau Hoa Hoang To, kebetulan Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio, Sie leng Hauw dan Lie Ai Ling berada di luar.

Kemunculan Kam Hay Thian dan Lu Hui San sungguh mengejutkan mereka, sekaligus menggembirakan pula.

"Kalian...."

Lie Ai Ling terbelalak.

"Kalian...."

"Ai Ling!"

Panggil Lu Hui San sambil tersenyum malu-malu.

"Kapan engkau bertemu orang yang tak punya perasaan itu?"

Tanya Lie Ai Ling dengan mata tak berkedip, gadis itu terus menatap mereka.

"Ai Ling!"

Lu Hui San tertawa kecil dengan wajah ceria.

"Kini dia sudah punya perasaan."

"Oh?"

Lie Ai Ling masih kurang percaya, la menuding Kam Hay Thian seraya membentak.

"Kini engkau sudah sadar dan sudah memiliki perasaan serta nurani?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berkunjung ke mari bersama dia?"

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Syukurlah kalau begitu!"

"Hay Thian!"

Sie Keng Hauw segera memberi hormat.

"Aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua!"

"Terimakasih! Terimakasih!"

Ucap Kam Hay thian sambil balas memberi hormat dengan wajah berseri-seri.

"Hay Thian!"

Tio Bun Yang memegang bahu nya.

"Kami ikut gembira, karena kalian berdua sudah saling mencinta."

"Terimakasih, Bun Yang!"

Kam Hay Thian menarik nafas panjang.

"Semua itu adalah kesalahanku, tapi aku sudah mohon maaf kepat Hui San, dan dia sudi memaafkan aku."

"Syukurlah!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Hay Thian,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Tahukah kalian, kami di sini sangat mencemasiean kalian"

"Terimakasih untuk itu!"

Ucap Kam Hay Thiaj "Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian."

"Jangan berkata begitu!"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Kita semua adalah kawan baik."

"Bun Yang...."

Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Aku merasa malu sekali atas kejadian itu."

"Itu telah berlalu, lagi pula kini kalian berdua sudah saling mencinta, jadi tidak perlu diungkit itu lagi,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya!"

Tiba-tiba Lu Hui San menengok kesana kemari.

"Kok Yatsumi tidak kelihatan? Di berada di mana?"

"Dia sudah pulang ke Jepang."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Dia berhasil membunuh Takara Nichiba, ketua ninja itu."

"Oooh!"

Lu Hui San manggut-manggut.

"Hui San!"

Siang Koan Goat Nio memancingnya seraya bertanya.

"Selama itu engkau berada di mana?"

"Aku...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Entahlah!"

"Lho?"

Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Kok entahlah? Jadi engkau sama sekali tidak tahu dimana keberadaanmu selama itu?"

"ya."

Lu Hui San mengangguk.

"Sebab aku sudah gila."

"Apa?"

Kening Siang Koan Goat Nio ber-nit.

"Engkau sudah gila selama itu?"

"Ya."

Lu Hui San mengangguk lagi.

"Kok engkau tahu itu?"

Lie Ai Ling tercengang.

"Orang gila mana bisa tahu dirinya gila sih?"

"Aku tahu setelah sembuh,"

Sahut Lu Hui san.

"Siapa yang menyembuhkanmu?"

Tanya Lie Ai ling.

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui."

Lu Hui San memberitahukan.

"Kakak Siao Cui yang menyembuhkanmu?"

Tanya Tio Bun Yang dengan wajah berseri.

"Ya."

Lu Hui San mengangguk dan melanjutkan.

"Setelah aku sembuh, aku mengambil keputusan untuk menjadi biarawati. Maka, Bu Ceng sianli menyuruhku ke Pek Yun Am. Aku langsung ke kuil biarawati itu dan kemudian tinggal di sana."

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Lalu cara bagaimana engkau bertemu Kam Hay Thian?"

"Aku bertemu Bu Ceng Sianli di dalam kedai arak. Dia menghajarku setelah tahu siapa diriku"

Sahut Kam Hay Thian memberitahukan.

"Kemudian dia menyuruhku ke Pek Yun Am."

"Hui San,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Engkau begini cepat memaafkannya? Dia begitu tak punya perasaan."

"Aku berlutut tiga hari tiga malam di depan Pek Yun Am tanpa makan, minum dan tidur"

Kam Hay Thian memberitahukan lagi.

"Barulah dia ke luar menemuiku."

"Bagus! Bagus!"

Lie Ai Ling tertawa.

"Memang harus begitu! Seharusnya engkau berlutut tujuh hari tujuh malam."

"Aku pasti mati, dan itu akan membuat Hu San menderita sekali,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Kakak Hay Thian...."

Wajah Lu Hui Sian memerah.

"Waduh!"

Lie Ai Ling tertawa geli.

"Bukan main mesranya suaramu, itu sungguh menggetarkan kalbu!"

"Ai Ling...."

Wajah Lu Hui San bertambah memerah.

"Engkau mulai menggoda aku ya?"

"Boleh kan?"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Oh ya!"

Kam Hay Thian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.

"Engkau kenal Bu Ceng Sianli kan ?"

"Kenal. Kenapa?"

Sahut Tio Bun Yang.

"Engkau tahu berapa usianya?"

"Tentu tahu."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Usianya sudah hampir sembilan puluh. Ketika pertama kali bertemu dia, aku sama sekali tidak percaya!"

"Sama."

Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala.

"Siapa akan percaya dia sudah berusia sembilan puluh? Padahal kelihatannya baru berusia dua puluhan."

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui..."

Gumam Siang koan Goat Nio.

"Dia sudah berusia hampir sembilan puluh?"

"Adik Goat Nio, kenapa engkau bergumam?"

Tanya Tio Bun Yang heran.

"Ketika aku menuju ke Gunung Thian San, tengah jalan bertemu Bu Ceng Sianli itu..."

Sambil tersenyum jawab Siang Koan Goat Nio dan menutur.

"....aku tidak percaya dia sudah berusia hampir sembilan puluh. Dia... dia sungguh cantik sekali!"

Untung dia sudah berusia segitu, kalau tidak..."

Ujar Lu Hui San sambil tersenyum-senyum.

"Kakak Bun Yang bukan pemuda semacam itu, gampang tergoda oleh gadis cantik lain. Sekalipun bidadari yang turun dari kahyangan, diapun tidak akan tergoda,"

Ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Oh, ya?"

Lu Hui San tersenyum.

"Kok engkau berani mengatakan begitu?"

"Aku dan dia kakak beradik. Sejak kecil kami sudah bersama, jadi aku tahu jelas bagaimana sifatnya,"

Sahut Lie Ai Ling.

"Terimakasih, Adik Ai Ling!"

Ucap Tio Bu Yang sambil tersenyum "Kalau Ai Ling tidak mengatakan begitu, aku pun akan mengatakan begitu juga,"

Sela Sia Koan Goat Nio sambil tersenyum manis.

"Adik Ai Ling, bagaimana aku?"

Tanya Sie Keng Hauw mendadak.

"Harus seperti Kakak Bun Yang!"

Sahut Lie Ai Ling, kemudian merendahkan suaranya.

"Aku yakin engkau pasti mcncintai dan menyayangiku selama-lamanya."

"Pasti! Itu sudah pasti!"

Sie Keng Hauw ter tawa.

"Kakak!"

Panggil Lu Hui San dan memberi tahukan.

"Aku dan Kam Hay Thian sudah pergi menemui paman."

"Oh?"

Wajah Sie Keng Hauw berseri.

"Bagaimana keadaan ayah, baik-baik saja?"

"Paman baik-baik saja."

Lu Hui San manggut manggut.

"Aku pun memberitahukannya, bahwa Kakak sudah punya kekasih. Oleh karena itu paman berpesan apabila engkau sempat, ajaklah Ai Ling ke sana!"

"Ya."

Sie Keng Hauw mengangguk.

"Aku memang sudah rindu pada ayah!"

Mereka bercakap-cakap, berselang sesaat mendadak wajah Kam Hay Thian berubah serius sekali.

"Kami ke mari ingin menyampaikan sesuatu yang teramat penting, maka kami harus segera menemui Kakek Tio dan lainnya."

Kam Hay Thian memberitahukan.

"Oh?"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Kalau begitu, mari kita ke dalam!"

Mereka masuk ke dalam langsung menuju ruang tengah, karena Tio Tay Seng dan lainnya rdang berkumpul di situ.

"Eeeeh?"

Kou Hun Bijin terbelalak ketika melihat Lu Hui San bersama Kam Hay Thian. kalian berdua sudah akur ya?"

"Bijin...."

Wajah Lu Hui San kemerah-merahan. Sedangkan Kam Hay Thian segera memberi hormat kepada mereka semua, begitu pula Lu Hui San.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. Syukurlah kalau kalian sudah akur dan... saling mencinta!"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan, kalian berdua kok bisa bertemu dan akur kembali?"

"Itu atas jasa Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui."

H.un Hay Thian memberitahukan sekaligus menutur tentang itu.

"Tak disangka...."

Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

"Bu Ceng Sianli berbuat kebaikan! "Kalau begitu..."

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Dia tidak jahat, mungkin akan berada di pihak kita "Dia memang sudah berada di pihak kita, sela Kim Siauw Suseng.

"Maka kita boleh berlega hati."

"Ayah!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kan Hay Thian dan Lu Hui San ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting."

"Oh?"

Kening Tio Cie Hiong berkerut.

"Kalau begitu, kalian duduklah!"

Mereka duduk. Kemudian Kam Hay Thian berkata.

"Kami ingin menyampaikan tentang Kui Bin Pang. Kami datang dari markas pusat Kay Pang"

"Cepat beritahukan apa yang telah terjadi di markas pusat Kay Pang!"

Lim Ceng Im tidak sabar wajah pun tampak tegang.

"Di markas pusat Kay Pang tidak terjadi apa apa, namun dalam rimba persilatan telah terjadi sesuatu yang sangat menggemparkan,"

Ujar Kai Hay Thian melanjutkan.

"Para murid tujuh partai besar banyak yang mati, dan ketua sudah gila."

"Apa?"

Sam Gan Sin Kay terbelalak.

"Itu perbuatan siapa?"

"Seng Hwee Sin Kun,"

Sahut Kam Hay Thian menambahkan.

"Kini Seng Hwee Sin Kun telah dikendalikan oleh ketua Kui Bin Pang."

"Aaaah...!"

Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

"Sasaran berikutnya pasti Kay Pang, sebab Kui Bin Pang tidak berani menyerbu ke sini."

"Kalau begitu...."

Wajah Lim Ceng Im langsung tampak cemas.

"Ayahku dan paman Gouw pasti celaka."

"Maka Kakek Lim mengutus kami kemari memberitahukan,"

Ujar Kani Hay Thian.

"Karena kay Pang dalam bahaya."

"Itu... itu...."

Lim Ceng Im semakin cemas. Ayahku...."

"Adik Im, tenanglah!"

Bisik Tio Cie Hiong.

"Kakak Cie Hiong...."

Air mala Lim Ceng Im mulai meleleh.

"Ayahku sudah tua...."

"Tenang!"

Tio Cie Hiong menggenggam lengannya eraterat.

"Kalau begitu..."

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Aku harus segera ke markas pusat Kay Pang."

"Pengemis bau,"

Sahut Kim Siauw Suseng. Engkau sudah tua sekali, jangan cari mati di sana! lebih baik tetap hidup tenang di pulau ini saja!"

"Tapi...."

Kening Sam Gan Sin Kay yang keriput itu berkerut-kerut.

"Itu menyangkut Kay Pang."

"Pengemis bau, bukankah masih ada Tio Cie Hiong dan lainnya? Nah, engkau sudah begitu tua, tidak usah mencampuri urusan Kay Pang lagi!"

"Aaaah...!"

Sam Gan Sin Kay menghela nafas ranjang.

"Aku...."

"Pengemis bau!"

Kou Hun Bijin memandang nya sambil tertawa.

"Hi hi hi! Engkau tidak usah turut campur, biar tingkatan muda yang memberesi urusan itu!"

"Betul,"

Sela Lim Ceng Im.

"Kakek tidak usah memusingkan urusan itu, biar kami yang mem beresinya!"

"Tujuan Kui Bin Pang terhadap kita, namun sasarannya justru tujuh partai besar dan Kay Pang itu untuk memancing kita ke Tionggoan,"

Ujar Tio Tay Seng sambil mengerutkan kening.

"Kalau begitu, mari kita ke Tionggoan saja!"

Sahut Sam Gan Sin Kay dan menambahkan.

"Biar aku sudah tua sekali, masih cukup kuat untuk bertarung dengan pihak Kui Bin Pang."

"Yang jelas engkau pasti akan mampus!"

Ujai Kou Hun Bijin.

"Dari pada harus mampus di sana bukankah lebih baik tenang di sini?"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Aku tidak menyangka Kou Hun Bijin takut mati Ha ha ha...!"

"Pengemis bau!"

Bentak Kou Hun Bijin mc lotot.

"Engkau jangan menghinaku! Kalau perlu kita bertarung di sini!"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay masih tertawn gelak.

"Dari pada kita yang bertarung lebih bail kita bertarung dengan pihak Kui Bin Pang?"

"Baik. Kapan kita berangkat ke Tionggoan?' tanya Kou Hun Bijin.

"Eeeh? Bijin!"

Kim Siauw Suseng terbelalak. Betulkah engkau ingin berangkat ke Tionggoan?"

"Ya."

Kau Hun Bijin mengangguk.

"Pengemis bau itu menantangku, maka aku harus berangkat ke Tionggoan."

"Tenanglah, isteriku!"

Ujar Kim Siauw Suseng, kemudian melototi Sam Gan Sin Kay.

"Engkau laki laki, tidak pantas menantang wanita! Ayoh, tandinglah aku!"

"Engkau mana punya nyali untuk bertarung dengan pihak Kui Bin Pang? Buktinya dari tadi dia, saja!"

Sahut Sam Gan Sin Kay menyindir.

"Pengemis bau!"

Kim Siauw Suseng menudingnyaa.

"Kalau aku tidak memandang Tio Tocu, aku sudah hajar engkau!"

"Engkau dapat menghajarku?"

Sam Gan Sin ly tertawa.

"Ha ha ha! Kita berdua adalah Bu mi Jie Khie, bahkan sering bertanding pula. ngkau... pernah kalah sejurus kan?"

"Sekarang kita boleh bertarung lagi!"

Tantang im Siauw Suseng.

"Ayah!"

Tegur Siang Koan Goat Nio.

"Ayah kok seperti anak kecil sih? Kita sedang mengharu' masalah, Ayah, Ibu dan Sam Gan Sin Kay ulah ribut tidak karuan! Bukannya berpikir harus bagaimana baiknya, tapi malah ribut! Sungguh keterlaluan!"

"Adik Goat Nio,"

Bisik Tio Bun Yang.

"Tidak baik menegur orang tua!"

"Kalau tidak ditegur, mereka pasti ribut terus,"

Ujar Siang Koan Goat Nio sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik Goat Nio...."

Tio Bun Yang memberi isyarat agar gadis itu diam, namun Siang Koa Goat Nio masih tampak cemberut.

"Nak!"

Kou Hun Bijin tersenyum lembut "Engkau benar, kami yang salah karena terus ribut. Maafkan kami ya!"

"Ibu...."

Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Kau yang sudah mau mampus ini memang keterlaluan dan tak tahu diri! Ha ha ha...!"

"Sekarang kuharap tenang semua!"

Ujar Tu Tay Seng.

"Kita masing-masing harus berpikii jalan keluarnya!"

Ucapan Tio Tay Seng membuat hening suasana, sebab mereka mulai berpikir keras. Ber selang beberapa saat kemudian, barulah Sam Gai Sin Kay membuka mulut berbicara.

"Menurut aku, lebih baik urusan itu kita serahkan kepada Tio Cie Hiong dan Lim Ceng lm."

"Benar."

Kim Siauw Suseng dan Kou Hi Bijin mengangguk.

"Maaf!"

Ucap Tio Cie Hiong.

"Kami sudah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan, maka kami tidak boleh melanggar sumpah itu."

"Kakak Cie Hiong...."

Lim Ceng Im memancangnya.

"Ayahku dan Paman Gouw dalam bahaya."

"Aku tahu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut. Begini, kita utus Bun Yang ke markas pusat Kay l'ang."

"Dia... dia seorang diri?"

Lim Ceng Im menggelenggelengkan kepala.

"Aku pasti ikut,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Kami pun tidak mau ketinggalan,"

Sambung Lie Ai Ling.

"Betul."

Sie Keng Hauw mengangguk.

"Kami pasti ikut ke Tionggoan."

"Apakah kami akan makan angin di pulau ini?"

Ujar Lu Hui San sambil melirik Kam Hay thian.

"Kami pun harus ikut ke Tionggoan."

"Tidak salah."

Kam Hay Thian manggut-mangut.

"Kami semua harus membantu Kay Pang."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Biar generasi muda saja memberesi urusan itu."

"Setuju,"

Sambung Kim Siauw Suseng dan Kou hun Bijin serentak.

"Tapi...."

Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Mereka masih kurang berpengalaman."

"Justru itu akan menambah pengalaman mereka,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Jadi biarlah mereka pergi membantu Kay Pang."

"Cie Hiong, bagaimana menurut engkau?"

Tanya Tio Tay Seng sambil menatapnya.

"Aku setuju, Paman."

Tio Cie Hiong mengangguk.

"Tapi...."

Lie Ceng Im mengerutkan kening "Aku tidak begitu berlega hati, karena pihak Ku Bin Pang berkepandaian tinggi sekali."

"Adik Im!"

Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bu Yang dan lainnya juga berkepandaian tinggi. Aku yakin mereka sanggup menghadapi Kui Bin Pang"

"Yaaah...!"

Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

"Baiklah! Aku setuju!"

"Ayah, kapan kami boleh berangkat ke Tionggoan?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Lebih cepat lebih baik,"

Sahut Tio Cie Hiong "Kalian boleh berangkat besok pagi."

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak,"

Pesan Lim Ceng Im.

"Kalian semua harus berhatihati, jangan ceroboh!"

"Ya, Ibu."

Tio Bun Yang mengangguk lagi. Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan lainnya juga ikut memberikan berbagai wejangan.

"Ai Ling,"

Bisik Tio Hong Hoa.

"Engkau tidak boleh bersikap seperti anak kecil lagi, harus menuruti perkataan Keng Hauw!"

"Ya, Ibu."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Juga harus menuruti perkataan Bun Yang! tambah Lie Man Chiu.

"Dia kakakmu!"

"Ya, Ayah."

Lie At Ling mengangguk lagi.

"Keng Hauw,"

Pesan Lie Man Chiu sungguh-sungguh.

"Engkau harus baik-baik menjaga Ai Ling!"

"Ya, Paman."

Sie Keng Hauw mengangguk pasti.

"Aku berjanji itu, Paman dan Bibi tidak usah khawatir!"

"Ngmm!"

Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa manggutmanggut sambil tersenyum.

Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Tionggoan menuju markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh lima Pertarungan di Markas Kay Pang Dalam perjalanan ke Tionggoan, mereka sama sekali tidak mendapat halangan apa pun.

Walau hati mereka agak tercekam, namun masih bisa bersenda gurau.

"Sayang sekali!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Sian Hoa berada di Tayli, kalau tidak, kita semua akan berkumpul di markas pusat Kay Pang."

"Entah kapan Sian Hoa dan Beng Kiat akan mengunjungi kita?"

Ujar Lu Hui San.

"Kalau tidak menyangkut urusan dengan Kui Bin Pang, ingin rasanya pesiar ke Tayli."

"Benar."

Tio Bun Yang manggut-manggut "Pemandangan di Tayli indah sekali, siapa yang pernah ke Tayli, pasti tidak akan melupaku negeri kecil itu."

"Oh ya!"

Siang Koan Goat Nio teringat sesuatu, dan segeralah ia memberitahukan.

"Ketika aku mencuri dengar pembicaraan ketua Kui Bin Pang, itu membuatku tidak habis pikir."

"Memangnya kenapa?"

Tanya Tio Bun Yang heran.

"Kedengarannya dia sangat dendam kepada mu,"

Jawab Siang Koan Goat Nio "Apakah engkau punya musuh?"

"Aku tidak punya musuh, lagi pula aku tidak kenal ketua Kui Bin Pang itu."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kenapa dia dendam pada ku?"

"Ketua lama Kui Bin Pang mendendam pada majikan lama Pulau Hong Hoang To, otomatis ketua baru itu pun dendam pada pihak Pulau' Hong Hoang To,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Maka tidak usah merasa heran."

"Tapi...."

Siang Koan Goat Nio menggeleng gelengkan kepala.

"Menurut aku, ketua Kui Bin Pang itu punya dendam pribadi dengan Kakak Bun Yang!"

"Itu...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu tidak mungkin, sebab aku sama sekali tidak punya musuh."

"Sudahlah!"

Landas Lie Ai Ling.

"Tentang itu tidak usah dipusingkan, yang jelas Kui Bin Pang memang memusuhi kita."

"Aaaah...!"

Mendadak Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.

"Eeeh?"

Lie Ai Ling menatapnya heran.

"Kenapa engkau menghela nafas panjang? Apa yang terganjel dalam hatimu?"

"Aku teringat guruku. Entah bagaimana keadaan beliau?"

Sahut Sie Keng Hauw.

"Aku... rindu kepadanya."

"Oooh!"

Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Kukira engkau teringat gadis lain!"

"Aku mana punya gadis lain?"

Sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum.

"Aku... hanya mencintai egkau seorang."

"Kakak Keng Hauw...."

Lie Ai Ling tersenyum bahagia.

"Asyiiik!"

Seru Lu Hui San.

"Cinta nih ya!"

"Wuah!"

Lie Ai Ling memandangnya, lalu balas menggodanya.

"Ketika Kam Hay Thian meninggalkanmu, siang malam engkau terus-menerus menangis."

"Ai Ling!"

Wajah Lu Hui San langsung memerah.

"Engkau...."

"Makanya jangan coba-coba menggodaku! Nah, rasakan!"

Sahut Lie Ai Ling sambil bertawa.

"Kalian masih bisa bergurau!"

Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Aku justru merasa khawatir...."

"Mengkhawatirkan apa?"

Tanya Lie Ai Ling "Aku khawatir telah terjadi sesuatu di markas pusat Kay Pang,"

Jawab Tio Bun Yang sambi menghela nafas panjang.

"Kalau begitu, kita harus cepat-cepat ke sana, ujar Sie Keng Hauw.

"Jangan bergurau lagi." -oo0de0oo-Betapa leganya hati mereka ketika tiba di markas pusat Kay Pang, karena yang menyambu kedatangan mereka adalah Lim Peng Hang dai Gouw Han Tiong.

"Kakek! Kakek Gouw!"

Panggil Tio Bun Yang "Bun Yang!"

Sungguh gembira sekali Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Duduk, du duklah!"

Tio Bun Yang dan lainnya segera duduk kemudian saling memandang sambil menarik nafas lega.

"Kakek, selama ini tidak terjadi sesuatu di sini?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Tidak,"

Sahut Lim Peng Hang dan menambahkan-"Hanya saja... banyak pesilat golongan putih yang mati terbunuh."

"Siapa yang membunuh mereka?"

Tanya Kam hay Thian.

"Kalau tidak salah pihak Kui Bin Pang. Kelihatannya pihak Kui Bin Pang berniat menguasai rimba persilatan,"

Jawab Gouw Han Tiong.

"Pihak Kui Bin Pang tidak membunuh para anggota Kay Pang?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Itu yang membual kami tidak habis pikir, sebab pihak Kui Bin Pang sama sekali tidak mengganggu para anggota Kay Pang."

Lim Peng lang memberitahukan.

"Kakek, mungkinkah ketua Kui Bin Pang punya renana lain terhadap kita?"

Ujar Tio Bun Yang.

"Yaah!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjng.

"Mungkin saja. Sebab kini tujuh partai besar sudah lumpuh, karena para ketua partai itu dalam keadaan gila." .

"Oh ya! Kenapa para ketua itu jadi gila?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Apa yang menyebabkan mereka jadi gila?"

"Berdasarkan informasi yang kami terima...."

Liwab Gouw Han Tiong dengan wajah serius. , mereka terkena semacam ilmu pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun."

"Oh?"

Kening Tio Bun Yang berkerut.

"Ilmu pukulan apa itu? Kok bisa menyebabkan orang yang terkena pukulan itu berubah jadi gila?"

"Mungkin semacam ilmu pukulan sesat."

Tukas Lim Peng Hang dan menambahkan.

"Sebab ketua Kui Bin Pang memiliki ilmu hitam."

"Aaaah...!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Entah bagaimana keadaan para ketua itu?"

"Bun Yang!"

IJm Peng Hang memandangn seraya berkata.

"Engkau mahir ilmu pengobatan maka alangkah baiknya engkau ke kuil Siauw Lim memeriksa Hui Khong Taysu." 'Tapi di sini...." 'Tidak jadi masalah. Sebab ada Kam Hay Thian dan lainnya berada di sini. Engkau dan Goat Nio berangkat ke kuil Siauw Lim saja!"

"Baiklah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kapan kami boleh berangkat, Kakek?"

"Sekarang juga boleh,"

Sahut Lim Peng Han "Cepat pergi bisa cepat juga pulang."

"Kalau begitu, aku dan Goat Nio berangkai sekarang,"

Ujar Tio Bun Yang sekaligus berpamit lalu berangkai ke kuil Siauw Lim.

-oo0dw0oo-Dua hari kemudian setelah Tio Bun Yaa dan Siang Koan Goat Nio berangkat ke kuil Siauv Lim, di markas pusat Kay Pang justru terjadi sesuatu Malam itu ketika Lim Peng Hang.

Gouw lan Tiong dan lainnya sedang bercakap-cakap di uang depan, mendadak terdengar suara siulan aneh yang menyeramkan.

"Hah?"

Air muka Lim Peng Hang langsung berubah hebat.

"Kui Bin Pang "

"Tidak salah,"

Ujar Lie Ai Ling.

"Aku pernah mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan ini."

"Mari kita ke luar!"

Seru Lim Peng Hang sambil melesat ke luar, diikuti Gouw Han Tiong, kam Hay Thian dan lainnya dari belakang.

Mereka berdiri di halaman dengan perasaan mencekam dan tegang, sementara suara siulan aneh yang menyeramkan itu masih bergema.

Berselang beberapa saat, melayang turun delapan sosok bayangan putih.

"Kui Bin Pang muncul! Semua harus mati!"

Seru mereka serentak menggunakan lweekang, sehingga memekakkan telinga.

"Aku ketua Kay Pang!"

Ujar Lim Peng Hang.

"Setahuku kami Kay Pang tidak bermusuhan depan kalian Kui Bin Pang! Kenapa kalian muncul di sini?"

"Perintah dari ketua, maka kami ke mari mau membunuh kalian!"

Sahut salah seorang yang memakai kedok setan warna hijau.

Ternyata mereka adalah Ngo Sat Kui, yang dua orang lagi memakai ledok setan warna kuning, tidak lain adalah Dua Pelindung.

Sedangkan yang seorang lagi tidak memakai kedok setan, dia adalah Seng Hwee Sin Kun, berdiri diam di tempat seperti patung.

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Kalian kira gampang membunuh kami?"

"Kalau kami tidak mampu membunuh kalian semua, tentunya kami tidak akan ke mari!"

Sahut Toa Sat Kui.

"Toa Sat Kui,"

Bisik Toa Hu Hoat (Pelindung Tertua).

"Ketua menyuruh kita menangkap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong hidup-hidup."

"Aku tahu itu,"

Sahut Toa Sat Kui dengan suara rendah.

"Kalian berdua menangkap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, kami berlima dan Seng Hwee Sin Kun akan membunuh yang lain."

"Ng!"

Kedua Pelindung itu mengangguk.

"Ha ha ha!"

Mendadak Toa Sat Kui tertawa gelak.

"Malam ini kalian harus mati! Seng Hwee Sin Kun! Serang mereka!"

Seng Hwee Sin Kun segera menyerang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, namun mendadak Kam Hay Thian meloncat ke arah Seng Hwee Sin Kun.

"Hati-hati, Kakak Hay Thian!"

Seru Lu Hui San cemas.

Blaaam!

Terdengar suara benturan dahsyat.

Ternyata Kam Hay Thian menangkis pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun.

Kam Hay thian lerhuyunghuyung ke belakang beberapa langkah, sedangkan Seng Hwee Sin Kun cuma dua langkah.

"Seng Hwee Sin Kun! Cepat bunuh pemuda itu!"

Seru Toa Sat Kui.

Mereka berlima mendadak menyerang ke arah Lu Hui San, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw.

Sedangkan kedua Pelindung pun mulai menyerang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Kam Hay Thian bertarung mati-matian melawan Seng Hwee Sin Kun, bahkan bertekad membunuhnya, karena Seng Hwee Sin Kun pembunuh ayahnya.

Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan Seng Hwee Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Api Suci) yang mengandung api, sedangkan Kam Hay Thian mengeluarkan Pak Kek Sin Ciang (Ilmu Pukulan Kutub Utara) yang mengandung hawa dingin.

Setelah dibimbing oleh Tio Cie Hiong, Iweekang Kam Hay Thian bertambah tinggi, begitu pula ilmu pukulannya, sebab Tio Cie Hiong telah menyempurnakan ilmu pukulan tersebut.

Akan tetapi, lweekang Kam Hay Thian tetap di bawah tingkat Seng Hwee Sin Kun, maka puluhan jurus kemudian, pemuda itu mulai terdesak.

Sementara Lim Peng Hang dan Gouw Han Liong juga sudah terdesak oleh kedua Pelindung.

Puluhan jurus kemudian, kedua Pelindung itu berhasil menotok jalan darah Lim Peng Hang dari Gouw Han Tiong, sehingga membuat mereka roboh tak bergerak lagi.

Setelah berhasil menotol jalan darah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tio kedua Pelindung pun berdiri di tempat sambil menyaksikan pertarungan itu.

Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San juga sudah mulai terdesak.

Mereka bertiga cuma dapat bertahan.

Beberapa jurus kemudian, bahkan Lie Ai Ling sudah terluka.

Betapa terkejutnya Sie Keng Hauw, kemudian mati-matian melindungi kekasihnya.

Akan tetapi tak seberapa lama kemudian, tangannya pun terluka oleh pukulan Toa Sat Kui.

Kini keadaan mereka sungguh dalan bahaya!

Di saat itulah mendadak terdengar suara tawa yang amat nyaring, menyusul melayang turui sosok bayangan.

"Hi hi hi! Asyik sekali! Ada orang bertarung"

"Kakak!"

Seru Lu Hui San girang.

"Tolong, kami! Kakak!"

"Jangan khawatir, Adik!"

Terdengar suara sahutan yang sangat merdu.

"Kakak pasti bantl kalian!"

Siapa orang itu? Ternyata Bu Ceng Sianli Ti Siao Cui. Ia langsung menyerang ke arah Ngo San Kui dengan Hian Goan Ci. Betapa terkejutnya Ngo Sat Kui. Mereak berlima cepatcepat meloncat ke belakang.

"Siapa engkau?"

Bentak Toa Sai Kui.

"Jangan turut campur urusan ini!"

"Hi hi hi! Aku Bu Ceng Sianli, namaku Tu siao Cui! Aku justru harus mencampuri urusan ni! Hi hi hi...!"

Sahut Tu Siao Cui sambil tertawa nyaring. Sedangkan kedua Pelindung saling memandang, kemudian mendadak membopong Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong lalu melesat pergi seraya berseru.

"Ngo Sat Kui! Mari kita pergi!"

Begitu mendengar suara seruan kedua Pelindung, Ngo Sat Kui pun langsung melesai pergi lan berseru pula.

"Seng Hwee Sin Kun, cepat pulang ke markas!"

Kelika Seng Hwee Sin Kun mau melesat pergi, Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui menyerangnya lengan Hian Goan Ci.

Cesss!

Lengan jubah Seng Hwee Sin Kun berlubang.

Sementara Kam Hay Thian sudah dapat bernafas, setelah itu ia mulai menyerang Seng Hwee sin Kun menggunakan Pak Kek Sin Ciang.

Seng Hwee Sin Kun menggeram, kemudian secepat kilat menghindar sekaligus balas menyerang dengan ilmu Seng Hwee Sin Ciang.

Blaaam!

Terdengar suara benturan.

Seng Hwee Sin Kun tak bergeming sedikit pun, sedangkan Kam Hay Thian terdorong kebelakang beberapa langkah.

"Chu Ok Hiap!"

Seru Bu Ceng Sianli.

"Engkau mundurlah! Biar aku yang melawannya!"

"Tidak!"

Sahut Kam Hay Thian.

"Dia pembunuh ayahku, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri!"

"Baik! Aku akan membantumu menyerang nya!"

Ujar Bu Ceng Sianli sambil tertawa.

"Hi hi hi...!"

Sementara Seng Hwee Sin Kun terus meng geram sambil melotot-lotot. Mendadak ia memekik keras, kemudian sepasang telapak tangannya berubah kehijau-hijauan.

"Chu Ok Hiap! Hati-hati!"

Bu Ceng Sianli mengingatkan.

"Dia telah mengerahkan Iweekang nya pada puncaknya!"

Kam Hay Thian mengangguk, kemudian cepat-cepat mengerahkan Pak Kek Sin Kang, sedangkan Bu Ceng Sianli mengerahkan Hian Goan Sin Kang.

Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San tegang bukan main.

Mereka menyaksikan itu dengan wajah pucat pias, terutama Lu Hui San.

Mendadak Seng Hwee Sin Kun memekik keras lagi, sekaligus menyerang Kam Hay Thian dengan jurus Seng Hwee Sauh Thian (Api Suci Membakar Langit).

Bukan main dahsyatnya serangan itu, sebab pukulan itu mengandung api kehijau-hijauan.

Kam Hay Thian tidak berkelit, melainkan menangkis serangan itu dengan jurus Leng Swat leng Hai (Salju Menutupi Laut), yang penuh mengandung hawa dingin.

Di saat bersamaan Bu Ceng Sianli juga menyerang Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam!

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Pada waktu bersamaan terdengar pula suara jeritan.

"Aaaakh...!"

Ternyata Seng Hwee Sin Kun yang menjerit, karena punggungnya telah berlubang terserang Hian Goan Ci. Sedangkan Kam Hay Thian terpental beberapa depa, pakaiannya juga telah hangus, kemudian terkulai.

"Kakak Hay Thian!"

Seru Lu Hui San sambil hrrlari menghampirinya.

"Engkau... engkau terluka?"

"Aku...."

Kam Hay Thian menarik nafas dalam-dalam.

"Aku tidak apa-apa."

Kam Hay Thian bangkit berdiri, lalu mendekati Seng Hwee Sin Kun. Sementara Seng Hwee Sin Kun membalikkan badannya, lalu menatap Bu Ceng Sianli dengan mata membara.

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Engkau sudah tidak punya sukma, lebih baik mati !"

Tiba-tiba Seng Hwee Sin Kun menggeram, sekaligus menyerang Bu Ceng Sianli menggunakan jurus Thian Te Seng Hwee (Api Suci Langit Bumi), yakni jurus yang paling lihay dan dahsyat "Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa nyaring kemudian mendadak jari tangannya bergerak secepat kilat dan memancarkan cahaya putih.

Ternyata ia menggunakan jurus Cian Ci Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit) untuk me nangkis serangan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam!

Cesss!

Cesss!

Itu adalah suara benturan kedua lweekang yang memekakkan telinga Seng Hwee Sin Kun terpental beberapa depa Dada dan perutnya telah berlubang dan darah segar pun mengucur dari lubang itu.

Sedangkan Bu Ceng Sianli terdorong ke belakang lima enam langkah, wajahnya tampak pucat pias.

Di saat Seng Hwee Sin Kun terpental, di saat itu pula Kam Hay Thian menyerangnya dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Hai Dingin).

Blaaam!

Punggung Seng Hwee Sin Kun terkena pukulan itu.

"Aaaakh...!"

Jeritnya. Badannya terpental lagi ke arah Bu Ceng Sianli yang sedang mengatur pernafasannya.

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikat sambil menggerakkan jari tangannya.

"Eeekh!"

Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan suara tenggorokan, kemudian terkulai tak bergerak iagi, nyawanya sudah melayang.

"Kakak Hay Thian!"

Seru Lu Hui San sambil mendekatinya.

"Kakak Hay Thian...."

"Adik Hui San...."

Kam Hay Thian memanjangnya sambil tersenyum, namun wajahnya agak jiucat dan pakaian pun telah hangus.

"Aku tidak apa-apa. Engkau tidak usah khawatir!"

"VVuah! Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa geli.

"Kini sudah mesra ya!"

"Kakak...."

Wajah Lu Hui San memerah.

"Jangan menggoda aku!"

"Oh, ya?"

Bu Ceng Sianli menatapnya sambil tertawa cekikikan.

"Hi hi hi! Masih mau jadi biarawati?"

"Kakak...."

Lu Hui San menundukkan kepala.

"Celaka!"

Seru Sie Keng Hauw mendadak dengan wajah pucat pias.

"Betul-betul celaka!"

"Anak muda,"

Tanya Bu Ceng Sianli heran.

"Apa yang celaka?"

"Kakek Lim dan Kakek Gouw..."

Sahut Sie Keng Hauw.

"Mereka telah dibawa kabur."

"Haaah...?"

Barulah Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San tersentak, wajah mereka lalu berubah pucat pias.

"Celaka..."

"Mereka tidak akan celaka. Kalau mereka celaka, berarti mereka sudah mati dari tadi,"

Sahut Bu Ceng Sianli dan menambahkan.

"Sekarang kita kedalam, jangan terus berdiri di sini!"

"Bagaimana dengan mayat Seng Hwee Sin Kun?"

Tanya Lu Hui San.

"Suruh saja anggota Kay Pang menguburnya!' jawab Bu Ceng Sianli sambil menengok ke sara ke mari.

"Lho? Kok anggota Kay Pang tidak tampak seorang pun? Apakah mereka sudah marnpus semua?"

"Celaka!"

Seru Sie Keng Hauw. Pemuda itu segera melesat pergi, tapi tak lama kemudian sudah kembali dan berkata.

"Ternyata para anggota Kay Pang yang bertugas di luar markas masih dalam keadaan tertidur, karena terkena semacam obat bius!"

"Pantas mereka tidak kelihatan!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Syukurlah mereka kalau tidak mati!"

"Celaka!"

Seru Bu Ceng Sianli mendadak.

"Ada apa. Kakak?"

Lu Hui San terkejut.

"Ketularan kalian yang dari tadi terus menyebut 'Celaka', maka aku pun ikut-ikutan menyebut celaka. Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawl geli.

"Kakak ada-ada saja!"

Lu Hui San cemberut "Ayolah, mari kita ke dalam!"

Ajak Bu Ceng Sianli sambil melesat ke dalam markas, yang lain mengikutinya dari belakang. Sampai di ruang depan, mereka lalu duduk.

"Kakak adalah Tu Siao Cui?"

Tanya Lie A Ling mendadak sambil menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Tidak salah. Kenapa?"

Sahut Bu Ceng Sianli "Bukan main! Sungguh bukan main!"

Ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Eh? Kenapa engkau gadis manis?"

Tanya Bu Ceng Sianli.

"Apanya yang bukan main?"

"Kakak sungguh cantik sekali, kelihatannya baru berusia dua puluhan!"

Jawab Lie Ai Ling.

"Tapi sesungguhnya sudah berusia hampir sembilan puluh. Nah, itu bukan main, kan?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"gadis manis, beritahukanlah namamu!"

"Namaku Lie Ai Ling."

Gadis itu memperkenalkan diri sambil tersenyum, lalu memandang kekasihnya seraya berkata.

"Dia bernama Sie Keng Hauw, dia...."

"Aku sudah tahu, dia kekasihmu."

Bu Ceng sianli tertawa cekikikan.

"Ya, Kakak."

Lie Ai Ling mengangguk.

"Oh ya!"

Bu Ceng Sianli menengok ke sana kemari seraya bertanya.

"Kok tidak tampak Tio Bun Yang? Dia tidak berada di sini?"

"Dia dan Goat Nio pergi ke kuil Siauw Lim,"

Jawab Kam Hay Thian memberitahukan.

"Sebab "Ketua partai Siauw Lim jadi gila terkena pukulan Ceng Hwee Sin Kun, maka dia ke sana untuk mengobatinya."

"Oh?"

Bu Ceng Sianli tertegun.

"Bun Yang mahir ilmu pengobatan?"

"Dia memang mahir ilmu pengobatan, kepandaiannya pun sangat tinggi sekali."

Lie Ai Ling memberitahukan dengan wajah berseri-seri.

"Bahkan dia juga mahir meniup suling."

"Aku sudah tahu itu."

Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

"Oh ya, engkau punya hubungan apa dengan Bun Yang?"

"Aku adiknya."

"Apa?"

Bu Ceng Sianli mengerutkan kening "Bagaimana mungkin engkau adiknya?"

"Ayahnya dan ibuku bersaudara, sedangkan kakeknya dan kakekku saudara kandung."

Lie Ai Ling menjelasiean.

"Oooh!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut "Pantas, engkau begitu bangga, ternyata engkau memang termasuk adiknya!"

"Kakak...."

Lu Hui San mengerutkan kening "Kini Kakek Lim dan Kakek Gouw tidak ada, kita harus bagaimana?"

"Anggap saja kita tuan rumah!"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Beres, kan?"

"Tapi...."

Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Wakil ketua pun tidak ada di sini, kita...

"Tentunya kita harus menunggu Kakak Bun Yang dan Goat Nio, sebab Kakak Bun Yan adalah cucu ketua Kay Pang ini. Biar dialah yang mengatur!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Betul."

Bu Ceng Sianli manggut-manggu "Kita semua memang harus menunggu Bun Yan pulang."

"Kakak juga menunggu di sini?"

Tanya Lu Hui San girang.

"Aku mengucapkan 'kita semua', berarti termasuk diriku,"

Sabut Bu Ceng Sianli.

"Dasar goblok!"

"Aku memang goblok, Kak,"

Ujar Lu Hui San sambil tersenyum.

"Kalian sungguh...."

Bu Ceng Sianli menggelenggelengkan kepala.

"Padahal bahu dan lengan kalian terluka, namun masih bisa bergurau."

"Lukaku ringan, tidak apa-apa,"

Sahut Kam Hay Thian.

"Oh ya, aku harus mengucapkan terimakasih kepada Kakak, sebab Kakak telah membantuku membalas dendam."

"Tidak usah berterimakasih kepadaku. Seharusnya engkau berterimakasih kepada Lu Hui San,"

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Ingat! Engkau harus baik-baik terhadapnya! Kalau engkau masih berani menyakiti hatinya, aku pasti membunuhmu!"

"Ya, Kakak."

Kam Hay Thian mengangguk dan berjanji.

"Aku pasti mencintai dan menyayanginya selama-lamanya!"

"Bagus! Bagus!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Hi hi hi...!"

"Hi hi hi!"

Mendadak Lie Ai Ling juga tertawa cekikikan, itu membuat Bu Ceng Sianli terheran-inian.

"Hei!"

Bu Ceng Sianli melotot.

"Kenapa engkau ikut tertawa seperti aku? Menyindir ya?"

"Mana berani aku menyindir Kakak?"

Sahut Lie Ai Ling tersenyum-senyum.

"Aku teringat Kou Hun Bijin yang suka tertawa seperti Kakak."

"Oh, dia!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut.."Dia dan suaminya berada di mana?"

"Di Pulau Hong Hoang To."

Lie Ai Ling memberitahukan.

"Ngmm!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut lagi seraya berkata.

"Apabila aku sempat, pasti berkunjung ke sana."

"Kakak jangan ingkar janji lho!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Eh? Aku cuma bilang mau berkunjung ke sana, namun tidak berjanji,"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Kakak...."

Wajah Lie Ai Ling tampak kecewa.

"Kalau sempat, Kakak berkunjung ke Pulau Hong Hoang To ya!"

"Itu kalau aku sempat. Tapi tidak berjanji lho!"

Sahut Bu Ceng Sianli. Di saat itulah muncul beberapa pengemis tua. Mereka memberi hormat kepada Kam Hay Thian, Sie Keng Hauw dan lainnya.

"Maafkan kami..."

Ucap salah seorang dari mereka.

"Karena kami terkena semacam obat bius, sehingga membuat kami...."

"Kami sudah tahu itu,"

Sahut Sie Keng Hauw dan bertanya.

"Oh ya, di mana wakil ketua?"

"Beliau ditugasiean ke markas cabang, mungkin dalam waktu belasan hari ini beliau akan pulang."

"Kakek Lim dan Kakek Gouw ada urusan, maka meninggaliean markas pusat ini,"

Ujar Sie Keng Hauw dan menambahkan.

"Sekarang kalian boleh pergi, sekaligus kuburkan mayat yang di luar markas itu!"

"Ya."

Beberapa pengemis tua itu langsung pergi.

"Kakak Keng Hauw, kenapa engkau berdusta?"

Tanya Lie Ai Ling.

"Kalau aku tidak berdusta, Kay Pang pasti menjadi kacau,"

Sahut Sie Keng Hauw dan melanjutkan.

"Kita tunggu Bun Yang dan Goat Nio pulang, barulah kita berunding bersama."

"Oh ya!"

Ujar Bu Ceng Sianli mendadak.

"Apakah ada kamar kosong? Aku sudah lelah sekali, mau beristirahat."

"Ada, Kakak,"

Sahut Lie Ai Ling dan Lu Hui San serentak.

"Kami antar Kakak ke kamar itu."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa. Kalian cukup baik terhadapku! Bagus! Bagus! Aku sungguh gembira sekali!"

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sudah pulang. Betapa gembiranya hati Tio Bun Yang ketika melihat Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Ia langsung berseru dengan wajah berseri-seri.

"Kakak! Kakak!"

"Hi hi hi! Adik Bun Yang, engkau sudah pulang?"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Kakak Siao Cui!"

Panggil Siang Koan Goa Nio.

"Masih ingat padaku?"

"Engkau...."

Bu Ceng Sianli menatapnya dengan penuh perhatian.

"Aku ingat! Kita pernai bertemu di kedai teh, kemudian muncul belasan anggota Seng Hwee Kauw. Mereka kuajak ke tempat sepi lalu kubunuh. Ya, kan?"

"Betul."

Siang Koan Goat Nio tertawa gem bira.

"Kukira Kakak sudah lupa."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli memandang merek; sambil tertawa.

"Ternyata Adik Bun Yang kekasih mu! Engkau memang tidak salah pilih. Kalian berdua memang pasangan yang serasi."

"Kakak....."

Wajah Siang Koan Goat Nio agak kemerahmerahan.

Sementara Tio Bun Yang terus memandang Kam Hay Thian dan Sie Keng Hauw.

Dari wajah mereka, ia sudah tahu telah terjadi sesuatu di markas pusat Kay Pang ini "Keng Hauw,"

Tanya Tio Bun Yang.

"Di mana kakekku dan Kakek Gouw?"

"Mereka...."

Sie Keng Hauw memandang Bu Ceng Sianli.

"Adik Bun Yang,"

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Telah teradi sesuatu di markas ini. Kalau aku terlambat datang, mereka pasti sudah jadi mayat."

"Oh?"

Air muka Tio Bun Yang berubah hebat.

"Apa yang telah terjadi?"

"Seng Hwee Sin Kun dan beberapa anggota ,Kui Bin Pang ke mari..."

Tutur Kam Hay Thian, kemudian menghela nafas panjang.

"Apa?"

Wajah Tio Bun Yang langsung berubah pucat pias.

"Kakekku dan Kakek Gouw ditangkap mereka?"

"Ya."

Kam Hay Thian mengangguk.

"Kakek! Kakek...!"

Seru Tio Bun Yang cemas.

"Aaaah! Aku harus bagaimana? Harus bagaimana?"

"Tenanglah, Adik Bun Yang'"

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Kakekmu dan Kakek Gouw tidak akan terjadi apa-apa. Sebab seandainya Seng Hwee Sin Kun dan para anggota Kui Bin Pang itu menghendaki nyawa kakekmu dan Kakek Gouw, di saat itu juga kakekmu dan Kakek Gouw pasti sudah mati."

"Betul, Kakak Bun Yang!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Kalau Kakak Siao Cui terlambat datang, kami pasti sudah jadi mayat. Kepandaian mereka sangat tinggi sekali."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian jatuh terduduk di kursi.

"Entah bagaimana keadaan kakekku dan Kakek Gouw?"

"Adik Bun Yang,"

Tegas Bu Ceng Sianli.

"Pokoknya engkau harus tenang, tidak boleh kacau! Ingat, engkau pemuda gagah, maka tidak boleh cengeng!"

"Ya, Kakak!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya!"

Bu Ceng Sianli menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana keadaan ketua Siauw Lim Pay? Engkau dapat menyembuhkannya?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala kemudian menghela nafas panjang.

"Kakak Bun Yang tidak bisa menyembuhkan Hui Khong Taysu?"

Tanya Lie Ai Ling kurang percaya.

"Hui Khong Taysu dipasung karena sering mengamuk. Aku telah memeriksanya, ternyatwa syaraf otaknya telah rusak tergempur oleh semacam ilmu pukulan."

Tio Bun Yang memberi tahukan.

"Tiada obat yang dapat menyembuhkannya? tanya Bu Ceng Sianli.

"Ada,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Hanya rumput obat Liong Kak Cauw (Rumput Tanduk Naga) yang dapat menyembuhkannya."

"Kalau begitu, cepatlah Kakak Bun Yang pergi mengambil rumput obat itu!"

Ujar Lie Ai Ling.

"Adik Ai Ling!"

Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala.

"Tidak gampang mencari Liong Kak Cauw, sebab rumput Tanduk Naga itu cuma tumbuh di daerah Miauw."

"Oh?"

Lie Ai Ling terbelalak.

"Ayah dan aku kenal baik ketua suku Miauw, bahkan aku pernah ke sana,"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi...."

"Adik Bun Yang!"

Bu Ceng Sianli menatapnya.

"Engkau merasa berat berangkat ke daerah Biauw, karena memikirkan kakekmu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Menurut aku..."

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Pihak Kui Bin Pang tidak akan membunuh kakekmu maupun Kakek Gouw, paling juga mereka akan dibikin gila. Berarti kelak engkau pun membutuhhkan rumput Tanduk Naga untuk menyembuhkan mereka. Maka, apa salahnya engkau berangkat ke daerah Miauw untuk mengambil rumput obat itu?"

"Ini...."

Tio Bun Yang masih ragu.

"Kakak, bagaimana kalau aku ke Pulau Hong Hoang To memberitahukan kedua orang tuaku?"

"Jangan!"

Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala.

"Itu akan mencemaskan semua orang di sana. engkau sudah dewasa, jadi engkau harus menanganinya, jangan masih bersikap seperti anak kecili!"

"Ya, Kakak."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi bagaimana di sini?"

"Serahkan pada kami!"

Sahut Kam Hay Thian dan Sie Keng Hauw serentak.

"Kami tetap berada disini menunggu engkau pulang."

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang,"

Tanya Lie Ai Ling.

"Engkau cuma memeriksa Hui Khong Taysu saja?"

"Ya."

"Kenapa Kakak Bun Yang tidak pergi memeriksa ketua partai lain?"

"Itu tidak perlu, sebab penyakit mereka pasti sama. Lagi pula aku harus memburu waktu."

"Adik Bun Yang!"

Bu Ceng Sianli memandangnya.

"Aku mau pergi sekarang, kelak kita akan berjumpa lagi!"

"Kakak...!"

Panggil Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling serentak, mereka merasa berat berpisah dengan wanita itu.

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan "Kalian jangan cengeng, aku pergi karena harus membantu kalian mencari Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong!"

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut "Terimakasih, Kakak!"

"Baiklah."

Bu Ceng Sianli bangkit berdiri "Sampai jumpa!"

"Kakak...!"

Panggil Siang Koan Goat Nio. Namun Bu Ceng Sianli sudah melesat pergi tinggal terdengar sayup-sayup seruannya.

"Kelak kita akan berjumpa lagi! Hi hi hi...!"

"Aaaah...!"

Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Ketika pertama kali aku bertemu Bu Ceng Sianli, aku anggap dia wanita jahat dan sadis! Kini aku baru tahu, dia berhati bajik!"

"Semula aku pun beranggapan begitu, sebab dia membunuh Hek Sim Popo, bahkan ingin membunuh yang lain juga. Oleh karena itu, aku berusaha mencegahnya..."

Ujar Tio Bun Yang dan menutur.

"Maka aku menganggapnya gadis berhati sadis. Pada waktu itu, aku tidak percaya kalau usianya sudah hampir sembilan puluh."

"Siapa yang akan percaya?"

Ujar Lu Hui San .ambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Entah siapa akan menjadi jodohnya?"

"Sepertinya...."

Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Dia sama sekali tidak tertarik pada lelaki yang mana pun."

"Aku harap dia akan ketemu pemuda yang baik!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya!"

Lu Hui San menatapnya.

"Goat Nio, kapan kalian akan berangkat ke daerah Miauw?"

"Besok pagi,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kami harus cepat berangkat dan cepat pulang."

"Kami tetap tinggal di sini. Sebelum kalian pulang, kami tidak akan ke mana-mana,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang.

-oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh enam Kejadian yang mencemaskan Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sudah berangkat ke daerah Miauw.

Tujuh delapan hari kemudian, mereka berdua sudah tiba di daerah itu dan langsung menemui kepala suku Miauw.

Dapat dibayangkan, betapa girangnya Cing Cing, putri kepala suku Miauw itu.

Ia memeluk Tio Bun Yang erat-erat, sekaligus mengecup pipi nya.

"Cing Cing...."

Wajah Tio Bun Yang langsung memerah.

"Maaf!"

Ucap ibu Cing Cing kepada Siang Koan Goat Nio.

"Itulah adat kami di sini, maka Nona jangan salah paham! Putriku itu sudah punya suami."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang,"

Tanya Cing Cing.

"Nona itu kekasihmu ya?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Namanya Siang Koan Goat Nio."

"Kakak Goat Nio, aku bernama Cing Cing,"

Ujar putri kepala suku Miauw sambil tersenyum "Jangan salah paham ya! Aku sudah punya suami, aku girang sekali atas kedatangan kalian."

"Adik Cing Cing!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum lembut.

"Aku tidak akan salah paham."

"Syukurlah!"

Ucap Cing Cing.

"Bun Yang!"

Ibu Cing Cing menatapnya seraya bertanya.

"Engkau ke mari tentu ada suatu penting. Ya, kan?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku ke mari mencari Liong Kak Cauw."

"Liong Kak Cauw?"

Ayah Cing Cing mengerutkan kening.

"Sulit sekali mengambil Liong Kak Cauw itu, sebab tumbuhnya di tebing yang sangat licin. Sudah banyak orang yang mati karena ingin mengambil rumput obat itu."

"Ayah, Kakak Bun Yang pasti berhasil mengambil rumput obat itu, karena kepandaian Kakak Hun Yang tinggi sekali,"

Ujar Cing Cing sambil tersenyum.

"Oh?"

Ayah Cing Cing manggut-manggut.

"Aku masih ingat, engkaulah yang menyelamatkan kami."

"Kepandaian Pahto begitu tinggi, tapi Kakak Hun Yang masih dapat merobohkannya, itu pertanda kepandaian Kakak Bun Yang tinggi sekali.' "Ngmm!"

Ayah Cing Cing mengangguk sambil insenyum.

"Kalau begitu, aku yakin engkau akan berhasil mengambil rumput obat itu."

"Paman, rumput Tanduk Naga itu tumbuh di tebing mana?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Di Gunung Tanduk Naga."

Ayah Cing Cing nenunjuk ke arah utara.

"Lihatlah gunung itu, bukankah mirip tanduk naga?"

Tio Bun Yang memandang ke arah utara, dilihatnya sebuah gunung menjulang tinggi, yang bentuknya memang mirip tanduk naga.

"Rumput Tanduk Naga tumbuh di tebing gunung itu?"

"Ya."

Ayah Cing Cing mengangguk dan memberitahukan.

"Gunung itu sangat berbahaya, maka engkau harus berhatihati! Di sana terdapat rawa hidup, siapa yang terpeleset ke rawa itu, jangan harap bisa ke luar lagi."

"Aku pasti berhati-hati,"

Ujar Tio Bun Yang, kemudian memandang Siang Koan Goat Nio seraya berkata.

"Goat Nio, engkau di sini saja! Jangan ikut aku ke gunung itu, sebab akan mem bahayakan dirimu."

"Kakak Bun Yang, aku... aku ikut!"

Sahut gadis itu.

"Goat Nio,"

Ujar ibu Cing Cing.

"Lebih baik engkau tinggal di sini, Cing Cing akan menemani mu. Karena apabila engkau ikut Bun Yang ke gunung itu, justru akan memecahkan perhatian nya. Jadi engkau harus mengerti itu!"

"Aku...."

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Kakak Goat Nio!"

Cing Cing memegang bahunya.

"kalau engkau ikut, tentunya Kakak Bun Yang harus menjagamu. Nah, bukankah engkau akan merepotkannya? Mungkin juga akan mem buatnya tidak bisa memusatkan perhatiannya, sungguh berbahaya sekali!"

"Ya,"

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Aku mengerti dan tidak ikut."

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang membelainya.

"Engkau memang gadis yang berpengertian."

"Tapi Kakak Bun Yang harus berhati-hati lho!"

Pesan Siang Koan Goat Nio sambil menatapnya mesra.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang,"

Tanya ayah Cing Cing.

"Kapan engkau akan berangkat ke gunung itu?"

"Sekarang,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Baiklah."

Ayah Cing Cing manggut-manggut.

"Walau engkau berkepandaian tinggi, namun engkau tetap harus berhati-hati!"

"Ya, Paman."

Tio Bun Yang mengangguk dan k-rpamit, lalu berangkat ke Gunung Tanduk Naga. Setelah Tio Bun Yang pergi, Siang Koan Goat Nio terus melamun. Cing Cing memandangnya "ambil tersenyum, kemudian ujarnya.

"Kakak Goat Nio, jangan melamun! Lusa kakak Bun Yang pasti pulang."

"Dia... dia pergi menempuh bahaya, sedangkan aku malah enak-enak duduk di sini. Aku...."

Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Kakak Goat Nio!"

Cing Cing tersenyum, kepandaian Kakak Bun Yang begitu tinggi, dia pasli selamat. Engkau tidak usah mengkhawatirkannya. Percayalah! Lusa dia pasti pulang."

"Goat Nio!"

Ibu Cing Cing tersenyum lembut.

"Bun Yang pasti pulang dengan membawa rumput Tanduk Naga, engkau tidak usah mencemasieannya!"

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Baiklah,"

Ujar ibu Cing Cing.

"Kalian mengobrollah di sini, kami mau ke dalam!"

Kedua orang tua Cing Cing masuk ke dalam, sedangkan Cing Cing dan Siang Koan Goat Nio tetap duduk di situ.

"Oh ya!"

Siang Koan Goat Nio memandangnya seraya bertanya.

"Di mana suamimu? Kok tidak kelihatan?"

"Dia pergi menengok orang tuanya. Dalam beberapa hari ini dia akan pulang."

Cing Cing memberitahukan.

"Kenapa engkau tidak ikut?"

"Malas."

"Kok malas?"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Itu tidak baik lho!"

"Kebetulan pada waktu itu aku kurang enak badan, maka malas ikut ke rumah orang tuanya,"

Ujar Cing Cing, yang kemudian menatapnya.

"Kakak Goat Nio, engkau dan Kakak Bun Yang sudah lama saling mencinta?"

"Cukup lama."

"Dia... dia pemuda baik, jujur, gagah dan tampan. Engkau beruntung sekali mendapatkan dia."

"Oh?"

"Ketika pertama kali aku bertemu dia, aku sangat tertarik kepadanya. Bahkan boleh dikatakan aku telah jatuh hati kepadanya,"

Ujar Cing Cing terus terang.

"Namun dia menganggapku sebagai adiknya, maka aku tidak berani memikirkannya lagi."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Oh ya! Aku masih tidak tahu, bagaimana dia bisa kenal kedua orang tuamu? Bolehkah engkau memberitahukan padaku?"

"Tentu boleh. Kedua orang tuaku ditangkap oleh Pahto yang berkepandaian sangat tinggi, maka ibuku menyuruhku ke Tionggoan minta bantuan kepada Paman Cie Hiong..."

Tutur Cing cing sejelas-jelasnya dan menambahkan.

"Dia berhasil mengalahkan Pahto."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-mang-j'ut.

"Ternyata begitu! Lalu di mana Pahto sekarang?" -oo0dw0oo-

Jilid . 12

"Entahlah."

Cing Cing menggelengkan kepala.

"Hingga kini dia tidak pernah muncul di daerah Miauw ini."

"Oh ya!"

Siang Koan Goat Nio memandangnya kiiaya bertanya.

"Engkau pernah belajar ilmu Silat?"

"Pernah."

Cing Cing mengangguk.

"Siapa yang mengajarmu ilmu silat!"

"Ibuku. Setelah bertemu Kakak Bun Yang, tlia pun mengajarku Iweekang dan ilmu pedang."

"Kakak Bun Yang mengajarmu Iweekang apa dan ilmu pedang apa?"

"Giok Li Sin Kang dan Lui Tian Kiam Hoat."

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum "Ibuku mengajarkan Giok Li Sin Kang pada ibu nya. ibunya mengajarkan padanya, setelah itu dia pun ajarkan padamu!"

"Kalau begitu, kepandaian Kakak pasti lihay sekali,"

Ujar Cing Cing. *Engkau mahir ilmu pedang?"

"Kakak Bun Yang tidak mengajarmu Gio Li Kiam Hoat?"

Tanya Siang Koan Goat Nio.

"Tidak."

"Kalau begitu..."

Ujar Siang Koan Goat Ni sambil tersenyum.

"Aku akan mengajarmu Gio Li Kiam Hoat, sebab engkau sudah memiliki Gio Li Sin Kang, maka harus belajar Giok Li Kiam Hoat."

"Terimakasih, Kakak!"

Ucap Cing Cing girang.

"Terimakasih!"

Siang Koan Goat Nio mulai mengajar Cing Cing Giok Li Kiam Hoat.

Pada hari berikutnya Cing Cing sudah dapat menguasai jurus-jurus Giok Li Kiam Hoat.

Karena gadis itu telah memiliki Giok Li Sin Kang, maka tidak sulit baginya mempelajari Giok Li Kiam Hoat.

Sore harinya, ketika Siang Koan Goat Nio sedang memberi petunjuk kepada Cing Cing mengenai ilmu pedang itu, mendadak melayang turun seseorang, yang ternyata Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang!"

Seru Siang Koan Goat Nio girang, dan langsung memeluknya mesra "Kakak Bun Yang...."

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang membelainya.

"Aku sudah pulang."

"Engkau berhasil mengambil rumput Tanduk Naga?"

Tanya Siang Koan Goat Nio.

"Ng!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Syukurlah!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Kakak Bun Yang!"

Panggil Cing Cing.

"Sudah melupakan aku ya?"

"Adik Cing Cing...."

Wajah Tio Bun Yang kemerah-merahan.

"Maaf, aku...."

"Aku tahu...."

Cing Cing manggut-manggut.

"Kalian saling merindukan. Ketika engkau berangkat ke gunung itu. Kakak Goat Nio terus melamun lho!"

"Oh?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Cing Cing...."

Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Hi hi!"

Cing Cing tertawa geli.

"Kenapa malu-malu kucing?"

Di saat bersamaan, muncullah kedua orang tua Cing Cing. Betapa gembiranya mereka ketika melihat Tio Bun Yang.

"Bun Yang, engkau berhasil mengambil rumput Tanduk Naga itu?"

Tanya ibu Cing Cing.

"Berhasil, Bibi."

Tio Bun Yang mengangguk sambil memperlihatkan rumput obat itu.

"Khasiat rumput Tanduk Naga ini menyembuhkan syaraf orang yang terganggu, bahkan juga dapat menyembuhkan penyakit lain."

"Betul."

Ayah Cing Cing mengangguk.

"Aku mengambil cukup banyak,"

Ujar Tio Bun Yang sambil memberikan Liong Kak Cauw itu kepada ayah Cing Cing.

"Paman, simpanlah rumput obat ini!"

"Bun Yang..."

Ayah Cing Cing terbelalak.

"Bukankah engkau sangat membutuhkan rumput obat ini?"

"Memang."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi dalam bajuku sudah cukup banyak, maka yang in untuk Paman simpan."

"Terimakasih!"

Ucap ayah Cing Cing sambi menerima rumput obat itu.

"Oh ya! Kalian berdua tinggallah di sini beberapa hari, kami ingin menjamu kalian!"

"Itu tidak perlu, Paman!"

Tolak Tio Bun Yang "Sebab kami harus buru-buru kembali ke Tiong goan."

"Kenapa Kakak Bun Yang harus begitu buru buru pulang ke Tionggoan?"

Tanya Cing Cing heran.

"Sebab...."

Tio Bun Yang memberitahukan tentang para ketua tujuh partai yang menjadi gila "Oleh karena itu, kami harus buru-buru pulang ke Tionggoan."

"Oooh!"

Ayah Cing Cing manggut-manggut.

"Kalau begitu, kami tidak akan menahan kalian! "Kakak Bun Yang kapan berangkat?"

Tanya Cing Cing dengan mata basah.

"Sekarang,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Sekarang?"

Cing Cing terbelalak.

"Sekarang hari sudah mulai gelap, lebih baik esok pagi saja"

"Cing Cing!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kami harus buru-buru kembali ke Tiong-goan. sebab...."

Tio Bun Yang memberitahukan juga tentang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong yang diculik Kui Bin Pang.

"Kakak Bun Yang...."

Cing Cing terisak-isak.

"Kapan kalian akan ke mari lagi?"

"Kalau ada kesempatan, kami pasti ke mari!"

"Kakak Bun Yang jangan bohong lho!"

"Cing Cing!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tidak pernah bohong, namun aku pun tidak berani berjanji pasti ke mari, sebab masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."

"Kakak Bun Yang...."' Air mata Cing Cing meleleh.

"Adik Cing Cing!"

Siang Koan Goat Nio memegang bahunya.

"Apabila ada kesempatan, kami pasti ke mari menengok kaiian!"

"Terimakasih, Kakak Goat Nio!"

Ucap Cing Cing.

"Paman, Bibi, kami mohon pamit!"

Ucap Tio Bun Yang dan kemudian membelai Cing Cing.

"Sampai jumpa!"

"Selamat jalan. Kakak Bun Yang dan Kakak Goat Nio!"

Sahut Cing Cing dengan terisak-isak.

"Kelak kalian harus ke mari tengok kami ya!"

"Ya!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Paman, Bibi! Sampai jumpa!"

"Selamat jalan, Bun Yang!"

Ucap ibu Cing Cing.

"Selamat jalan, Goat Nio!"

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio melangkah pergi, sedangkan Cing Cing masih berdiri di tempat dengan air mata berderai-derai "Kakak Bun Yang! Kakak Goat Nio! Jangan lupa ke mari lagi kelak!"

Seru Cing Cing sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Ya!"

Sahut Tio Bun Yang sekaligus bala-melambaikan tangannya ke arah Cing Cing.

"San| pai jumpa...!"

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dai Siang Koan Goat Nio sudah memasuki daerah Tionggoan.

Ketika sampai di sebuah kota, mereka mencari rumah penginapan karena hari sudah mulai gelap.

Mereka memasuki sebuah rumah penginapan.

Seorang pelayan segera menghampiri mereka dengan sikap hormat.

"Tuan dan Nyonya membutuhkan kamar?"

"Kami...."

Wajah Tio Bun Yang agak kemerah-merahan.

"Kami membutuhkan dua buah kamar."

"Oooh!"

Pelayan manggut-manggut tapi tidak banyak bertanya.

"Tuan, Nona, mari ikut aku ke dalam untuk melihatlihat kamar!"

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian mereka berdua mengikuti pelayan ke dalam. Sampai di dalam, pelayan itu menunjuk dua buah kamar.

"Bagaimana kedua kamar itu? Tuan dan Nona merasa cocok?"

"Ng!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tuan, Nona,"

Ujar pelayan memberi saran.

"Lebih baik satu kamar saja. Itu tidak jadi masalah, karena Tuan dan Nona adalah sepasang kekasih. Ya. kan?"

"Kami belum menikah, tidak baik tidur dalam ,atu kamar,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Baiklah!"

Pelayan itu manggut-manggut.

"Tuan dan Nona mau pesan teh atau arak dan makanan lilin?"

"Cukup teh saja,"

Sahut Tio Bun Yang.

Pelayan itu mengangguk, lalu segera pergi.

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio melangkah ke dalam kamar, lalu duduk berhadapan.

Pelayan itu muncul dengan membawa sebuah teko dan dua buah cangkir.

Ditaruhnya cangkir-cangkir itu di atas meja, kemudian dituangkannya teh itu ke dalam ke dua cangkir.

"Silakan minum!"

Ucap pelayan itu dengan sopan.

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang. Kemudian memberikan setael perak kepada pelayan itu.

"Tuan...."

Pelayan itu tidak berani menerimanya, sebab tiada seorang tamu pun pernah memberinya setael perak.

"Ambillah!"

Desak Tio Bun Yang.

"Terimakasih, Tuan!"

Ucap pelayan itu dengan wajah berseri.

"Terimakasih!"

"Sama-sama,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Permisi!"

Ucap pelayan itu dan segera per "Goat Nio...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Entah bagaimana keadaan di markas pusat Kay Pang?"

"Tidak akan terjadi apa-apa,"

Sahut Siang Koan Goat Nio bernada menghibur.

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi.

"Entah berada di mana kakekku dan Kakek Gouw?"

Siang Koan Goat Nio diam saja. Gadis itu, tidak tahu harus menjawab apa. Setelah malam, Siang Koan Goat Nio bangkit berdiri lalu memandangnya seraya berkata.

"Kakak Bun Yang, aku mau ke kamarku. Besok kila berjumpa lagi."

"Baik."

Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu mengantar Siang Koan Goat Nio ke kamar laini "Selamat malam, Kakak Bun Yang!"

Ucap Siang Koan Goat Nio sambil melangkah ke kamal "Selamat tidur, Adik Goat Nio!"

Sahut Tio Bun Yang lembut.

"Sampai besok!"

Siang Koan Goat Nio menutup pintu kamar, dan Tio Bun Yang kembali ke kamarnya.

Pemuda itu tidak langsung tidur, melainkan duduk di pinggir tempat tidur dengan pikiran menerawang.

Setelah larut malam, ia membaringkan dirinya ke tempat tidur, tetapi lama sekali barulah bisa pulas.

-oo0dw0oo-Pagi-pagi sekali Tio Bun Yang sudah bangun, la langsung pergi ke kamar Siang Koan Goat Nio.

Begitu sampai di depan kamar itu, keningnya berkerut karena pintu kamar itu terbuka sedikit.

Perlahan-lahan Tio Bun Yang mendorong pintu itu, dan ia terbelalak seketika karena tidak melihat Siang Koan Goat Nio di dalam kamar itu.

"Adik Goat Nio! Adik Goat Nio!"

Teriak Tio Bun Yang.

"Tuan!"

Muncul pelayan.

"Ada apa?"

"Di mana Adik Goat Nio? Di mana Adik Goat Nio?"

Tanya Tio Bun Yang dengan wajah pucat pias.

"Maksud Tuan.... Nona yang kemarin itu?"

"Ya. Engkau melihat dia?"

"Tidak."

Pelayan itu menggelengkan kepala.

"Aku tidak melihat Nona itu."

"Aaaah...!"

Keluh Tio Bun Yang.

"Kemari dia? Kemana dia?"

"Mungkinkah dia pergi ke luar sebentar?"

Ujaj pelayan.

"Tuan tunggu di sini saja!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, ke mudian duduk dengan wajah cemas.

Sedangkaj pelayan itu melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tio Bun Yang terus duduk menunggu dj dalam kamar.

Tak terasa hari sudah siang, namuT Siang Koan Goat Nio masih belum muncul, lu membuat hati Tio Bun Yang semakin cemas, la bangkit dari duduknya lalu berjalan mondar-maij dir di depan kamar itu.

"Tuan...."

Muncul pelayan sambil memandan nya.

"Nona sudah kembali?"

"Belum."

Tio Bun Yang menggelengkan k pala.

"Dia... dia pasti diculik penjahat!"

"Tuan...."

Pelayan itu menarik nafas panjang, kemudian melangkah pergi. Namun berselang se saat, ia kembali lagi dengan wajah serius.

"Tuan.."

"Ada apa?"

Tanya Tio Bun Yang kesal.

"Tadi ada seseorang menitip sepucuk suri untuk Tuan,"

Sahut pelayan itu sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang cepat-cepat menerima sur itu, sekaligus membacanya.

Surat tersebut berbunyi demikian.

Tio Bun Yang.

Kini kekasihmu lelah berada di tanganku!

Ha Ini Ini!

Rasakan pembalasanku!

Ha ha ha!

Seusai membaca surat itu, kening Tio Bun Yang terus berkerut.

Ia sama sekali tidak tahu siapa pengirim surat itu, lagi pula bunyi surat lersebut bernada membalas dendam padanya, itu membuat Tio Bun Yang tidak habis pikir.

"Siapa orang itu? Kenapa dia menulis begitu? l'adahal aku tidak punya musuh."

Gumam Tio Bun Yang lalu bertanya kepada pelayan.

"Siapa yang memberikan surat ini kepadamu?"

"Seorang pemuda,"

Jawab pelayan.

"Setelah memberikan surat itu kepadaku, dia langsung pergi."

"Engkau kenal dia?"

"Maaf, Tuan! Aku sama sekali tidak kenal dia."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang nyaris pingsan seketika.

"Adik Goat Nio! Adik Goat Nio!"

"Tuan...."

Pelayan menggeleng-gelengkan ke-jiala.

"Kemarin aku sudah bilang, lebih baik kalian lidur sekamar."

"Engkau...."

Tio Bun Yang tersentak.

"Engkau sudah tahu akan kejadian ini? Engkau pelakunya"

"Bukan."

Pelayan itu memberitahukan.

"Belum lama ini, sudah banyak anak gadis hilang mendadak."

"Kenapa kemarin engkau tidak memberitahukan kepadaku?"

Bentak Tio Bun Yang.

"Aku...."

Pelayan itu menggeleng-gelengka kepala.

"Aku justru tidak mau membuat kalian takut, maka aku tidak beritahukan."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang jatuh terduduk di kursi.

"Sudahlah! Engkau boleh pergi!"

"Ya, Tuan."

Pelayan itu melangkah pergi sari bil menghela nafas panjang.

"Sudah ada gadis yang hilang di sini! Kalau berita ini tersiar ke luar, penginapan ini pasti sepi."

Sementara Tio Bun Yang terus duduk dengan wajah cemas.

Ia tidak tahu harus berbuat apa Akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali ke markas pusat Kay Pang.

Maka, setelah membayar ongkos kamar, berangkatlah ia ke markas Kay Pang dengan wajah murung.

-oo0dw0oo.

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Yang menyambutnya adalah Cian Chiu Lo Koay, wakil ketul Kay Pang.

"Tuan!"

Panggil Cian Chiu Lo Koay, kemudian menghela nafas panjang.

"Lo Koay,"

Tanya Tio Bun Yang sambil duduk.

"Di mana Kam Hay Thian dan lainnya?"

"Mereka... mereka...."

Cian Chiu Lo Koay ergagap.

"Apa yang terjadi atas diri mereka?"

Tanya Tio Bun Yang cemas.

"Cepat ceritakan!"

"Beberapa hari lalu, aku baru pulang. Kam Hay Thian menceritakan tentang Pangcu dan ketua..."

Tutur Cian Chiu Lo Koay.

"Malam harinyaa justru mendadak muncul Kui Bin Pang...."

"Apa?"

Bukan main terkejutnya Tio Bun Yang. 'Jadi mereka ditangkap semua?"

"Ya."

Cian Chiu Lo Koay mengangguk.

"Kebelulan pada waktu itu aku berada di luar. Begitu mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan itu, tak lama aku dan para anggota Kay Pang jatuh pingsan. Entah berapa lama kemudian, barulah kami siuman, tapi Kam Hay Thian dan lainnya sudhi tidak ada di tempat."

"Aaaah!"

Keluh Tio Bun Yang.

"Mereka pasti diculik oleh Kui Bin Pang!"

"Tuan!"

Cian Chiu Lo Koay memandangnya.

"kalau tidak salah, Tuan pergi bersama Nona Goat Nio. Kenapa dia tidak kembali bersama tuan?"

"Dia...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Dia hilang di penginapan."

"Apa?"

Bukan main terkejutnya Cian Chiu Lo Koay.

"Apakah dia juga diculik oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Mungkin juga,"

Sahut Tio Bun Yang, lalu memperlihatkan sepucuk surat.

"Aku menerima surat ini dari pelayan penginapan, katanya dari seorang pemuda."

"Aku yakin itu perbuatan pemuda tersebut"

Ujar Cian Chiu Lo Koay dan melanjutkan.

"Pemuda itu pasti punya dendam pada Tuan, coba Tuan ingat! Kira-kira siapa pemuda itu?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak punya musuh, bagaimana mungkin aku mengingatnya?"

"Kalau begitu..."

Gumam Cian Chiu Lo Koay "Sungguh mengherankan dan membingungkan!"

"Lo Koay, aku cemas sekali,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Tidak tahu harus berbuat apa. Kakekku, Kakek Gouw, Goat Nio, Kam Hay Thian dan lainnya telah diculik oleh Kui Bin Pang. Apakah aku harus memberitahukan kepada orang tuaku"

"Seharusnya Tuan memberitahukan. Tapi..."

Cian Chiu Lo Koay menghela nafas panjang.

"Itu pasti akan menggemparkan Pulau Hong Hoang To, sekaligus mencemaskan mereka. Jadi lebih baik sementara ini Tuan tidak usah kembali ke Pulau Hong Hoang To, selidiki saja sendiri!"

"Oh ya! Tuan sudah memperoleh rumput obat ilmu hitamku."

Itu?"

Tanya Cian Chiu Lo Koay.

"Sudah."

Tio Bun Yang mengangguk "Kalau begitu, alangkah baiknya tuan segera ke kuil Siauw Lim mengobati Hui Kong Taysu sekaligus menyelidiki jejak Pangcu dan lainnya "Baik."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Aku akan berangkat sekarang."

"Hati-hati!"

Pesan Cian Chiu Lo Koay dan Lcnambahkan.

"Kalau sudah tiada jalan, barulah kian ke Pulau Hong Hoang To!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk, lalu berangkat ke kuil Siauw Lim.

-ooo0dw0oo-Sementara itu, di markas pusat Kui Bin Pang terdengar suara tawa terbahak-bahak.

Yang tertawa itu adalah Ketua Kui Bin Pang, yang kelihatan gembira sekali.

"Ha ha ha! Kini Lim Peng Hang, Gouw Han liong, Kam Hay Thian dan lainnya sudah berada di tangan kita! Ha ha ha...!" 'Ketua,"

Tanya Toa Sat Kui.

"Perlukah kita menyiksa mereka?"

"Tidak perlu."

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 10

Baca Juga: Rajawali Emas 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert