Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 12

Eps 12 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

Sahut ketua Kui Bin Pang..

"Ng!"

Tio Bun Yang mengangguk. Sebab aku akan mengendalikan mereka dengan ilmu hitamku"

"Betul. Ha ha ha!"

Toa Sat Kui tertawa "Ketua bisa memerintah mereka untuk menyerang Pulau Hong Hoang To."

"Tujuanku memang begitu. Tapi...."

Mendadak ketua Kui Bin Pang tertawa terkekeh-keke "Kalian harus baik-baik memperlakukan gadis yang bernama Goat Nio!"

"Ya,"

Sahut Ngo Sat Kui dan kedua Pelindung serentak "He he he!"

Ketua Kui Bin Pang tertaw terkekeh-kekeh lagi.

"Gadis itu sungguh cantik Tio Bun Yang akan menggigit jari!"

"Ketua,"

Ujar Toa Hu Hoat (Pelindung Tertua).

"Bu Ceng Sianli itu berkepandaian tinggi sekali, Ngo Sat Kui agak kewalahan menghadapinya."

"Benar."

Toa Sat Kui mengangguk.

"Sunggu lihay dan dahsyat ilmu jari tangannya!"

"Oh? Dia berani melawan kita? Hmm!"

Dengus ketua Kui Bin Pang.

"Aku akan turun tangan membunuhnya!"

"Ketua!"

Toa Sat Kui memberitahukan.

"Bu Ceng Sianli itu cantik sekali, sayang kalau di bunuh."

"Siapa yang lebih cantik, Siang Koan Goal Nio atau Bu Ceng Sianli itu?"

Tanya ketua Kui Bin Pang mendadak.

"Bu Ceng Sianli lebih cantik, sebab dia agak ivlindung itu pun satu kamar. Setelah berada di genit,"

Jawab Toa Sat Kui.

"Sedangkan Siang Koan Goat Nio agak dingin."

"Betul,"

Sambung Toa Hu Hoat.

"Siang Koan Goat Nio tidak dapat menyenangkan Ketua. Tapi aku yakin Bu Ceng Sianli pasti dapat menyenangkan Ketua."

"Oh, ya?"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. Kalau begitu, bila kalian bertemu Bu Ceng Sianli, undanglah kemari!"

"Bagaimana kalau dia tidak mau?"

Tanya Toa lu Hoat.

"Dengan cara apa pun kalian harus mengun-langnya ke mari,"

Tegas ketua Kui Bin Pang.

"Tapi kepandaiannya sangat tinggi sekali. Kami tidak sanggup melawannya,"

Ujar Toa Hu Hoat dengan jujur.

"Aku tidak menyuruh kalian melawannya, melainkan mengundangnya ke mari dengan cara baik-laik! Mengerti?"

Bentak ketua Kui Bin Pang.

"Mengerti,"

Sahut mereka serentak.

"Kami pasti berusaha mengundang Bu Ceng Sianli kemari? "Bagus! Bagus! Ha ha ha...!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Nah! Sekarang silakan kalian pergi beristirahat."

"Terimakasih, Ketua!"

Ngo Sat Kui dan Toa He Hu Hoat itu segera ke kamar.

Ternyata Ngo Sat Kui satu kamar, kedua Pelindung itu pun satu kamar, kedua Pelindung naik ke tempat tidur.

Mereka berdua tidak tidur, melainkan duduk berhadapan di atas tempat tidur itu.

"Hari ini capek sekali, mari kita tidur!"

Aja Pelindung Tertua.

"Benar. Lebih baik kita tidur,"

Sahut Pelir dung Kedua. Walau mereka mengatakan begitu, tapi keduanya sama sekali tidak tidur, melainkan menulis di atas tempat tidur dengan jari telunjuk.

"Cara bagaimana kita memberi kabar kepada Tetua itu?"

Tulis Pelindung Tertua lalu memandang Pelindung Kedua. Pelindung Kedua menggelengkan kepala, kemudian ia pun menulis.

"Kita harus berhati-hati, sebab kalau kita menimbulkan kecurigaan ketua, nyawa kita pasti melayang."

Pelindung Tertua manggut-manggut dan menulis.

"Kita harus mencari jalan untuk memberi kabar kepada Tetua. Kalau tidak, Lim Peng Hai dan lainnya pasti celaka."

Pelindung Kedua mengangguk.

Mereka berdua diam lalu berpikir dengan kening berkerut kerut.

-oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh tujuh Masuk perangkap Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa bersenda gurau di halaman istana, kemudian mereka berdua pun saling mengejar sambil tertawa riang gembira.

"Hi hi!"

Bokyong Sian Hoa tertawa.

"Kalau engkau dapat mengejarku, maka engkau boleh...."

"Boleh menciummu?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Ya."

Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Nah, kejarlah aku!"

"Baik."

Toan Beng Kiat segera melesat ke arah Bokyong Sian Hoa. Akan tetapi, gadis itu bergerak cepat menghindar. Oleh karena itu, Toan Beng Kiat menangkap angin.

"Hi hi hi!"

Bokyong Sian Hoa tertawa geli.

"Engkau mau menangkapku atau menangkap angin?"

"Engkau curang!"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Kok aku curang? Engkau tidak dapat menangkapku malah bilang aku curang! Dasar licik!"

Ujar Bokyong Sian Hoa.

"Engkau menggunakan Kui Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), itu berarti curang."

"Engkau menggunakan ginkang, apakah itu tidak curang?"

"Sudahlah! Mari kita duduk saja!"

Ajak Bokyong Sian Hoa.

"Lebih baik kita bercakap-cakap."

"Baik."

Toan Beng Kiat mengangguk. Mereka duduk di dekat taman bunga. Toa Beng Kiat terus memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Eeeh?"

Wajah Bokyong Sian Hoa memerahi "Kenapa engkau terus memandangku sih?"

"Adik Sian Hoa,"

Sahut Toan Beng Kiat sambi tersenyum.

"Terus terang, engkau makin dipandang makin cantik lho!"

"Idiiih!"

Bokyong Sian Hoa tertawa cekikikan "Hi hi hi! Engkau sudah pandai merayu ya!"

"Aku tidak merayu, melainkan berkata sesungguhnya,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Engkau memang cantik sekali."

"Sudahlah, jangan terus memuji diriku! Kalau aku sudah jadi nenek-nenek, engkau pasti menjauhiku."

"Kalau engkau sudah jadi nenek-nenek, tentu aku pun sudah jadi kakek-kakek. Ya, kan? Nah bagaimana mungkin aku menjauhimu? Sebaliknya aku pasti terus mendampingimu."

"Engkau memang pandai merayu. Oh ya, sebelum engkau kenal aku, apakah pernah jatuh cinta terhadap gadis lain?"

"Tidak pernah,"

Jawab Toan Beng Kiat dengan jujur.

"Tapi aku pernah tertarik pada seorang gadis."

"Oh? Siapa gadis itu?"

"Siang Koan Goat Nio!"

"Eh? Engkau gila ya?"

Bokyong Sian Hoa melotot.

"Bukankah Siang Koan Goat Nio kekasih Kakak Bun Yang?"

"Benar."

Toan Beng Kiat menjelaskan.

"Tapi pada waktu itu. Siang Koan Goat Nio belum bertemu Tio Bun Yang."

"Oooh!"

Bokyong Sian Hoa manggut-mang-put.

"Lalu bagaimana?"

"Aku pernah bilang kepada Goat Nio, bahwa aku tertarik padanya. Akan tetapi...."

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Dia memang gadis yang tegas. Dia langsung bilang tidak tertarik padaku. Sejak itu, aku tidak berani mendekatinya lagi. Ternyata diam-diam dia sangat tertarik kepada Tio Bun Yang, walau belum bertemu pemuda itu."

"Kalau begitu..."

Goda Bokyong Sian Hoa sambil tertawa kecil.

"Engkau pasti kecewa sekali. Ya, kan?"

"Tidak juga."

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Aku cuma tertarik kepadanya, bukan berarti telah mencintainya. Lagi pula... cinta tidak boleh cuma sepihak, tiada gunanya sama sekali."

"Oh ya,"

Tanya Bokyong Sian Hoa mendadak.

"Kok Goat Nio bisa tertarik kepada Kakak Bun Yang? Padahal dia belum pernah bertemu Kakak Bun Yang."

"Itu dikarenakan Ai Ling sering menceritakan kepadanya tentang Bun Yang, lagi pula mereka memang berjodoh,"

Ujar Toan Beng Kiat.

"Tio Bun Yang memiliki suling kumala, sedangkan Goat Nio memiliki suling emas. Nah, bukankah mereka berjodoh?"

"Benar."

Bokyong Sian Hoa manggut-manggut dan menambahkan.

"Mereka pun mahir meniup suling. Kelak bila bertemu mereka, aku ingin menyuruh mereka meniup suling."

"Bagus."

Toan Beng Kiat tertawa.

"Aku memang ingin mendengar suara suling mereka."

"Kakak Beng Kiat, aku merasa kasihan pada Soat Lan,"

Ujar Bokyong Sian Hoa mendadak.

"Lho, memangnya kenapa?"

Toan Beng Kiat heran.

"Karena...."

Bokyong Sian Hoa menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia belum ketemu pemuda idaman hatinya."

"Oh, itu!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Kalau sudah waktunya, dia pasti akan ketemu pemuda idaman hatinya! Percayalah!"

"Ng!"

Bokyong Sian Hoa manggut-manggut "Kakak Beng Kiat...."

"Ada apa, sayang?"

Toan Beng Kiat memandangnya.

"Katakanlah!"

"Sudah cukup lama aku tinggal di sini, maksudku..."

Ujar Bokyong Sian Hoat dengan suara rendah.

"Bagaimana kalau kita ke Tionggoan?"

"Adik Sian Hoa,"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Apakah engkau sudah tidak betah tinggal di sini?"

"Bukan masalah itu, melainkan... aku sangat rindu kepada Kakak Bun Yang dan lainnya. Bagal mana kalau kita ke markas pusat Kay Pang menemui mereka?"

"Aku sih setuju saja. Tapi... harus minta ijin dulu kepada orang tuaku. Kita tidak boleh pergi secara diam-diam."

"Eeeh?"

Bokyong Sian Hoa cemberut.

"Siapa yang mengajakmu pergi secara diam-diam?"

"Maaf, maaf!"

Ucap Toan Beng Kiat cepat.

"Aku...."

"Hi hi!"

Bokyong Sian Hoa tertawa geli.

"Kok engkau jadi kalut sih?"

"Aku... aku takut engkau marah,"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Engkau tidak marah kan?"

"Bagaimana mungkin aku marah?"

Bokyong Sian Hoa tertawa lagi.

"Aku bukan gadis pemarah lho!"

"Adik Sian Hoa...."

Toan Beng Kiat menggenggam tangannya.

"Kita sudah saling mencinta, bagaimana kalau kita... menikah?"

"Kakak Beng Kiat...."

Bokyong Sian Hoa menundukkan kepala "Aku tidak mau cepat-cepat menikah."

"Kenapa?"

"Karena usiaku masih terlalu muda. Lagi pula aku tidak mau cepat-cepat punya anak, karena aku tidak bisa mengurusi anak."

"Adik Sian Hoa,"

Ujar Toan Beng Kiat lembut.

"Engkau sudah cukup umur. Seandainya kita menikah dan punya anak, engkau tidak akan repot mengurusi anak."

"Aku tahu."

Bokyong Sian Hoa manggut manggut.

"Maksudmu dayang-dayang di sini bisa bantu mengurusi anak kita. Ya, kan?"

"Ya."

"Kakak Beng Kiat!"

Bokyong Sian Hoa me mandangnya seraya berkata.

"Seorang ibu harus mengurusi anaknya sendiri, tidak boleh orang lain yang mengurusinya."

"Kenapa?"

"Sebab kalau sang ibu tidak mengurusi anak nya sendiri, maka kelak akan terasa jauh dengan anaknya."

"Oooh!"

Toan Beng Kiat manggut-manggut "Adik Sian Hoa...."

"Kakak Beng Kiat."

Ujar Bokyong Sian Uni lembut.

"Aku sangat mencintaimu, namun aku belum mau menikah sekarang, tunggu satu dua tahun lagi!"

"Baiklah."

Toan Beng Kiat mengangguk "Eeeeh?"

Terdengar suara seruan, lalu munci Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka.

"Kalian berdua sudah mau menikah?"

"Ti... tidak."

Bokyong Sian Hoa menggelengkan kepala dengan wajah tampak agak kemerah-merahan.

"Jangan menyangkal...."

"Soat Lan!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Aku memang ingin menikahinya, namun dia belum siap."

"Oh?"

Lam Kiong Soat Lan memandang mereka.

"Bukankah lebih cepat menikah lebih baik, kok Sian Hoa belum mau sih?"

"Karena aku... belum bisa mengurusi anak, lagi pula lebih baik tunggu satu dua tahun,"

Ujar Bokyong Sian Hoa.

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.

"Soat Lan!"

Toan Beng Kiat heran.

"Kenapa engkau menghela nafas panjang?"

"Aku rindu kepada Kakak Bun Yang, Goat Nio dan lainnya,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Oh ya, bagaimana kalau kita ke Tionggoan?"

"Tadi aku telah mengusulkan kepada Kakak Beng Kiat."

Bokyong Sian Hoa memberitahukan.

"Katanya harus minta ijin dulu kepada orang tuanya."

"Itu memang benar, kita harus minta ijin dulu."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Kalau tidak, orang tua kami pasti gusar."

"Kalau begitu...."

Bokyong Sian Hoa memandang mereka.

"Kapan kita minta ijin?"

"Nanti,"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Kakak Beng Kiat,"

Tanya Bokyong Sian Hoa mendadak.

"Apakah Kakak Bun Yang sudah bertemu Goat Nio?"

"Mudah-mudahan mereka sudah bertemu!"

Jawab Toan Beng Kiat, kemudian menghela nafas pula.

"Entah bagaimana Kam Hay Thian dan Li Hui San...."

"Mudah-mudahan mereka bertemu kembali dan... saling mencinta!"

Sahut Bokyong Sian Hoa "Yaaah!"

Toan Beng Kiat menggcleng-gclengj| kan kepala.

"Kam Hay Thian begitu keras hati bagaimana mungkin dia...."

"Ayohlah!"

Potong Lam Kiong Soat Lan.

"Mari kita ke ruang tengah menemui orang tua kita untuk minta ijin ke Tionggoan!"

"Baik."

Toan Beng Kiat mengangguk lalu menarik Bokyong Sian Hoa ke dalam.

-oo0dw0oo-Sementara itu.

di ruang tengah juga sedang berlangsung pembicaraan serius.

Mereka adalah Toan Wie Kie, Gouw Sian Eng, Lam Kiong Bl Liong dan Toan Pit Lian.

"Menurut aku, lebih baik Beng Kiat dan Sian Hoa dinikahkan, sebab mereka sudah saling mencinta."

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Kami memang bermaksud demikian,"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Tapi... itu pun tergantung pada mereka berdua, kami tidak boleh memaksanya."

"Lho?"

Gouw Sian Eng heran.

"Memangnya kenapa?"

"Mungkin mereka masih ingin bebas."

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Kalau mereka sudah manikah, tentunya akan punya anak. Nah, itu cukup merepotkan mereka."

"Mengurusi anak memang sudah merupakan tugas kewajiban orang tua, begitu pula mereka berdua,"

Ujar Gouw Sian Eng dan menambahkan.

"Kakak Wie Kie, lebih baik suruh mereka cepat-cepat menikah!"

"Adik Sian Eng!"

Toan Wie Kie tersenyum.

"Kita boleh mengusulkan, namun tidak boleh memaksa, lho!"

"Ya."

Gouw Sian Eng mengangguk.

"Kalian berdua sudah tenang,"

Ujar Toan Pit Lian sambil menarik nafas dalamdalam.

"Sedangkan kami...."

"Kenapa kalian?"

Tanya Toan Wie Kie heran.

"Hingga kini Soal Lan masih belum punya kekasih,"

Sahut Toan Pit Lian sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Entah kapan dia akan bertemu pemuda idaman hatinya?"

"Jangan khawatir?"

Lam Kiong Bie Liong lertawa.

"Aku yakin tidak lama lagi Soat Lan akan bertemu pemuda idaman hatinya."

"Oh?"

Toan Pit Lian tersenyum.

"Suamiku, putri kita tinggal di Tayli ini. Bagaimana mungkin akan bertemu pemuda idaman hatinya?"

"Kalau bintang jodohnya sudah terbuka, dia pasti akan bertemu pemuda idaman hatinya. Percayalah!"

Ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Kalau dia sudah menikah, legalah hatiku."

Bersamaan itu, muncullah Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ayah, Ibu!"

Panggil Toan Beng Kiat dan La Kiong Soat Lan.

"Paman, Bibi!"

Panggil Bokyong Sian Hoa.

"Duduklah!"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Wajah Ayah dan Ibu tampak serius sekali, apa yang sedang dibicarakan ayah dan ibu?"

Tanya Toan Beng Kiat.

"Oooh!"

Toan Wie Kie tersenyum sambf manggut-manggut.

"Ayah dan ibu sedang membicarakan engkau dan Sian Hoa."

"Oh? Kenapa kami?"

Tanya Toan Beng Kiat dengan wajah agak kemerah-merahan, karena dapat menerka apa yang dibicarakan kedua orang tuanya.

"Engkau dan Sian Hoa sudah saling mencinta, maka..."

Sahut Gouw Sian Eng dan menambahkan "Alangkah baiknya kalian berdua melangsungkan pernikahan saja!"

"Ibu!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Tadi kami berdua telah membicarakan tentang ini, namun...

"Kenapa?"

Tanya Gouw Sian Eng sambil memandang mereka.

"Sian Hoa belum mau menikah?"

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Alasannya?"

Tanya Gouw Sian Eng lagi.

"Ibu...."

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Terus terang, kami berdua memang tidak ingin cepat-icpat menikah."

"Memangnya kenapa?"

Gouw Sian Eng mengerutkan kening.

"Kalau kalian berdua sudah menikah, legalah hati kami."

"Ibu...."

Toan Beng Kiat tersenyum lagi.

"Kami bermaksud ke Tionggoan. karena kami sangat rindu kepada Bun Yang dan lainnya."

"Kalian semua ingin ke Tionggoan?"

Tanya Toan Wie Kie.

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Maka kami ke mari untuk minta ijin. Ayah dan ibu tidak akan melarang kami ke Tionggoan kan?"

"Aku juga ikut!"

Sela Lam Kiong Saot Lan.

"Soat Lan!"

Lam Kiong Bie Liong menatapnya.

"Engkau juga ingin ke Tionggoan?"

"Ya. Ayah."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Ayah dan Ibu tidak akan melarangku ke Tionggoan kan?"

"Itu...."

Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian saling memandang, kemudian mereka memandang Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng.

"Baiklah."

Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Kita memang tidak boleh mengekang mereka, biarlah mereka ke Tionggoan menemui Bun Yang dan lainnya."

"Kapan kalian akan berangkat ke Tionggoan?"

Tanya Gouw Sian Eng.

"Besok pagi, Ibu,"

Jawab Toan Beng Kiat.

"Besok pagi?"

Toan Wie Kie memandang mereka, kemudian manggut-manggut seraya berkata "Baiklah, kalian boleh berangkat besok pagi."

"Terimakasih, Ayah!"

Ucap Toan Beng Kiat.

"Terimakasih, Paman! Terimakasih, Bibi!"

Ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.

"Ayah, Ibu,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Aku boleh ikut kan?"

"Tentu boleh,"

Sahut Toan Pit Lian.

"Tapi engkau tidak boleh nakal dan jangan suka menimbulkan masalah!"

"Ya, Ibu."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk "Terimakasih Ayah, Ibu!"

Keesokan paginya, berangkatlah mereka bei tiga menuju Tionggoan.

Tujuan mereka adalah markas pusat Kay Pang.

Beberapa hari kemudian mereka bertiga sudah memasuki daerah Tiong goan.

-oo0dw0oo-Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan terus melanjutkan perjalanan sambil bercanda ria.

Dalam perjalanan ini, yang paling gembira adalah Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa.

Kegembiraan mereka justru membuat Lam Kiong Soat Lan kadang melamun.

Ketika mereka beristirahat di bawah pohon.

Toan Beng Kiat memandangnya seraya bertanya.

"Soat Lan, kenapa kadang-kadang engkau melamun?"

"Aku...."

Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala.

"Aku tahu,"

Sela Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.

"Dia belum ketemu pemuda idaman batinya, maka sering melamun."

"Eh? Engkau...."

Lam Kiong Soat Lan cemberut.

"Tidak salah, kan?"

Bokyong Sian Hoa tertawa kecil dan menambahkan.

"Soat Lan, engkau tidak perlu melamun. Aku yakin, tidak lama lagi engkau akan bertemu pemuda idaman hatimu."

"Betul,"

Toan Beng Kiat mengangguk sambil lersenyum.

"Aku pun yakin begitu...."

Ucapan Toan Beng Kiat terhenti, karena tiba-tiba melavang turun lima orang di hadapan mereka.

Kelima orang itu berpakaian serba putih dan memakai kedok setan warna hijau.

Mereka ternyata Ngo Sat Kui.

Betapa terkejutnya Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan.

Mereka bertiga langsung meloncat bangun, sekaligus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Akan tetapi, salah seorang berpakaian serba putih itu justru tertawa gelak, kemudian membeil hormat seraya berkata.

"Selamat bertemu! Kami tahu kalian dari Tayli."

"Maaf!"

Sahut Toan Beng Kiat.

"Kalian dari perkumpulan mana?"

"Kui Bin Pang,"

Ujar Toa Sat Kui memberitahukan.

"Maaf kehadiran kami di sini telah mengganggu ketenangan kalian!"

"Ada urusan apa kalian ke mari menemui kami?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan sambil menatap mereka dengan dingin sekali.

"Ha ha ha!"

Toa Sat Kui tertawa terbahak bahak.

"Kami ke mari menemui kalian dengan maksud baik."

"Oh?"

Toan Beng Kiat mengerutkan keningj "Kami pun tahu, kalian sedang menuju marka pusat Kay Pang kan?"

Ujar Toa Sat Kui.

"Betul."

Toa Beng Kiat mengangguk dan ber tanya.

"Sebetulnya siapa kalian? Bolehkah kami tahu?"

"Kami berlima adalah Ngo Sat Kui,"

Sahut Toa Sat Kui memberitahukan.

"Kami ke mari dengan maksud mengundang kalian ke markas kami."

"Kalau kami tidak mau?"

Tanya Lam Kiong' Soat Lan dingin.

"Kalian harus tahu,"

Ujar Toa Sat Kui denga nada serius.

"Kini Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Siang Koan Goat Nio, Kam Hay Thian dan Lie Ai Ling sudah berada di maikas kami sebagai tamu terhormat, maka kami mengundang kalian bertiga ke sana."

"Oh?"

Kening Toan Beng Kiat berkerut-kerut.

"Betulkah mereka berada di markas kalian?"

"Tidak salah,"

Sahut Jie Sat Kui dan menambahkan.

"Bahkan Sie Keng Hauw dan Lu Hui San pun berada di sana."

"Oh?"

Toan Beng Kiat mengerutkan kening lagi.

"Apakah Tio Bun Yang juga berada di sana?"

"Tidak."

Toa Sat Kui menggelengkan kepala.

"Kenapa dia tidak berada di sana?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan curiga.

"Ha ha ha!"

Toa Sat Kui tertawa gelak.

"Karena dia sedang sibuk mengobati para ketua tujuh partai besar."

"Kenapa para ketua tujuh partai besar?"

Tanya Toan Beng Kiat terkejut.

"Mereka sudah menjadi gila semua,"

Sahut Toa Sat Kui memberitahukan.

"Karena terpukul oleh pukulan Seng Hwee Sin Kun."

"Oh?"

Air muka Toan Beng Kiat berubah.

"Siapa yang menyuruh kalian mengundang kami ke sana?"

"Ketua Kui Bin Pang dan teman-temanmu, sebab mereka sudah sangat rindu kepada kalian,"

Sahut Toa Sat Kui.

"Kalian tidak berdusta?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Ha ha ha!"

Toa Sat Kui tertawa terbahak bahak.

"Untuk apa kami harus berdusta? Tiada gunanya kan?"

Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening kemudian memandang Toan Beng Kiat serta bertanya.

"Bagaimana? Apakah kita harus memenuhi undangan mereka?"

"Itu...."

Toan Beng Kiat berpikir keras Ia memandang Bokyong Sian Hoa dan bertanja "Adik Sian Hoa, bagaimana menurutmu?"

"Menurut aku..."

Jawab Bokyong Sian H serius.

"Lebih baik kita penuhi saja undang mereka."

"Baiklah."

Toan Beng Kiat manggut-manggut dan berkata kepada Toa Sat Kui.

"Kami ikut kalian."

"Bagus! Bagus!"

Toa Sat Kui tertawa.

"Kali memang tahu diri. Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Tio Bun Yang telah tiba di kuil Siauw Lim Ngo Khong Taysu, adik seperguruan Hui Kho Taysu menyambut kedatangannya dengan hormat. Hui Khong Taysu, yang dalam keadaan dipasung "Omitohud!"

Ucap Ngo Khong Taysu.

"Engkau sudah ke mari, syukurlah!"

"Taysu!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku telah memperoleh rumput Liong Kak Cauw."

"Omitohud! Omitohud!"

Ucap Ngo Khong Taysu dengan wajah berseri.

"Mari ikut aku ke dalam!"

Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti Ngo Khong Taysu ke ruang dalam tempat Hui Khong Taysu dipasung. Karena ketua partai Siauw Lim itu sering mengamuk, maka terpaksa dipasung.

"Jangan cemas. Taysu!"

Ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan sebatang rumput Tanduk Naga.

"Hui Khong Taysu pasti sembuh."

"Omitohud!"

Ucap Ngo Khong Taysu.

"Apabila kakak seperguruan bisa sembuh, itu betul-betul jasamu!"

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang cuma menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh ya! rumput Tanduk Naga ini harus digodok dengan semangkok air. Berselang beberapa saat setelah mendidih, barulah dituang ke mangkok lagi, lalu diberikan kepada Hui Khong Taysu."

"Ya."

Ngo Khong Taysu mengangguk sambil menerima rumput Tanduk Naga tersebut, kemudian melangkah ke dalam.

Sedangkan Tio Bun Yang terus memandang Hui Khong Taysu yang dlam keadaan dipasung.

Tiba-tiba ketua Siauw Lim itu meronta-ronta sekuat tenaga, bahkan juga berteriak-teriak sekeras-kerasnya.

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

Berselang beberapa saat kemudian, Ngo Khong Taysu sudah kembali dengan membawa semang-kok obat, yaitu rumput Tanduk Naga yang telah digodok.

"Harus ditotok jalan darahnya dulu, agar tidak merontaronta,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Setelah itu barulah dicekoki dengan obat itu."

"Ya."

Ngo Khong Taysu mengangguk, lalu menaruh mangkok itu di atas meja dan mendekatil Hui Khong Taysu.

Mendadak ia menotok jalan darah di punggung Hui Khong Taysu, agar ketuai Siauw Lim itu tak mampu bergerak, barulah Ngo Khong Taysu mencekoki Hui Khong Taysu dengan obat itu.

"Buka saja totokan itu!"

Ujar Tio Bun Yang.

Ngo Khong Taysu segera membuka totokan!

tersebut.

Seketika juga Hui Khong Taysu mulai meronta-ronta, sekaligus berteriak-teriak pula Beberapa saat kemudian, Hui Khong Taysu memejamkan matanya, kemudian ketua Siauw tertidur pulas.

"Taysu!"

Tio Bun Yang memberitahukan sambil tersenyum.

"Kalau Hui Khong Taysu sudah mendusin, berarti beliau sudah sembuh."

"Omitohud!"

Ucap Ngo Khong Taysu.

"T rimakasih atas bantuan Anda!"

"Terimakasih kembali!"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum, namun senyumnya tampak agak getir. Tak seberapa lama, Hui Khong Taysu membuka matanya perlahan-lahan, lalu menengok ke sana ke mari dan tampak tersentak.

"Haaah...?"

Ternyata Hui Khong Taysu terkejut, karena mendapatkan dirinya dalam keadaan dipasung.

"Sute, kenapa aku...."

"Omitohud!"

Ucap Ngo Khong Taysu dengan wajah berseri.

"Syukurlah suheng telah sembuh!"

"Eh? Bun Yang...."

Hui Khong Taysu terbelalak.

"Engkau ada di sini? Maaf, aku...."

"Taysu,"

Ujar Tio Bun Yang kepada Ngo Khong Taysu.

"Cepat buka pasungan itu!"

Ngo Khong Taysu segera membuka pasungan itu. Setelah bebas. Hui Khong Taysu mendekati Tio Bun Yang.

"Omitohud!"

Ucapnya dan bertanya.

"Kok engkau berada di sini?"

"Taysu, aku ke mari memberikan obat."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Untuk jelasnya, biar Ngo Khong Taysu yang menceritakannya."

"Suheng terkena pukulan Seng Hwee Sin Kun...."

Ngo Khong Taysu menutur tentang ke-ladian itu, kemudian menambahkan.

"Para ketua partai besar lain pun terkena pukulan itu."

"Oh?"

Hui Khong Taysu terkejut bukan main.

"Kalau begitu, mereka masih dalam keadaan gila?"

"Ya."

Ngo Khong Taysu mengangguk.

"Bun Yang...."

Hui Khong Taysu memandangnya.

"Sudikah engkau menolong mereka?"

"Tentu."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Namun aku harus minta bantuan pihak Taysu. 'Bantuan apa? Katakanlah!"

Ujar Hui Khong Taysu.

"Aku tidak bisa mendatangi partai-partai besar lainnya, maka aku harap Taysu sudi mengutus beberapa orang ke sana dengan membawa rumput Tanduk Naga."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Sebab aku masih ada urusan lain."

"Baik."

Hui Khong Taysu mengangguk.

"Akan kuutus beberapa orang mendatangi partai-partai besar itu."

"Terimakasih, Taysu!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Oh ya!"

Hui Khong Taysu memandangnl seraya bertanya.

"Sebetulnya masih ada urusan apa yang harus engkau selesaikan?"

"Aku harus berusaha mencari kakekku. Kakek Gouw, Goat Nio dan lainnya. Mereka diculik."

"Omitohud! Siapa yang menculik mereka? "Taysu, Seng Hwee Sin Kun telah mati. Namun...."

Tio Bun Yang menutur tentang kejadian itu.

"Omitohud!"

Hui Khong Taysu menggeleng gelengkan kepala.

"Tidak disangka Kui Bin Pang telah muncul di rimba persilatan! Omitohud!"

"Karena itu, aku tidak punya waktu untuk mendatangi partai-partai besar lainnya."

Ujar Tio Bun Yang sambil menyerahkan rumput Tanduk Naga kepada Hui Khong Taysu secukupnya, namun ia masih menyimpan sedikit.

"Terimakasih!"

Ucap Hui Khong Taysu sambil menerima rumput Tanduk Naga tersebut dan bertanya.

"Kini apa rencanamu, Bun Yang?"

"Aku...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Mungkin aku akan ke markas Ngo Tok Kauw untuk menemui Kakak Ling Cu. Mudah-mudahan dia bisa memberi petunjuk kepadaku!"

"Petunjuk mengenai markas Kui Bin Pang?"

Tanya Hui Khong Taysu.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang."

Pesan Hui Khong Taysu.

"Apabila engkau sudah tahu markas Kui Bin Pang itu berada di mana, alangkah baiknya engkau pulang ke Pulau Hong Hoang To untuk berunding dengan orang tuamu!"

"Ya, Taysu."

"Setelah para ketua partai-partai besar itu sembuh, mereka pun pasti membantumu mencari kelua Kay Pang dan lainnya."

"Terimakasih, Taysu!"

Ucap Tio Bun Yang sekaligus berpamit.

"Taysu, aku mohon diri!"

"Omitohud! Selamat jalan!"

Sahut Hui Khong Taysu, yang kemudian bersama Ngo Khong Taysu mengantar Tio Bun Yang sampai di luar kuil.

"Sampai jumpa, Taysu!"

Ucap Tio Bun Yang sambil melesat pergi.

"Omitohud!"

Sahut Hui Khong Taysu, setelah itu ia melangkah ke dalam kuil, diikuti Ngo Khong Taysu dari belakang. Sampai di ruang tengah, mereka berdua lalu duduk berhadapan.

"Suheng!"

Ngo Khong Taysu memberitahukan.

"Kalau Tio Bun Yang tidak ke daerah Miauw mangambil rumput Tanduk Naga itu, entah bagaimana jadinya suheng dan para ketua partai partai besar lain itu?"

"Omitohud!"

Ucap Hui Khong Taysu.

"Siauw Lim Sie telah berhutang budi kepadanya, begitu pula para ketua partai besar lain. Omitohud!"

"Suheng, aku dan beberapa muridku harus segera berangkat ke Gunung Butong, Kun Lun dan lainnya."

"Ya."

Hui Khong Taysu mengangguk.

"Ceritakan juga mengenai apa yang telah terjadi di Kay Pang!"

"Ya, Suheng."

Ngo Khong Taysu mengangguk dan menambahkan.

"Aku pun akan minta bantuan mereka untuk menyelidiki markas Kui Bin Pang itu."

"Omitohud! Omitohud!"

Hui Khong Taysu manggutmanggut. -oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh delapan Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesat Pembetot Sukma) "Ha ha ha! Ha ha ha...!"

Ketua Kui Bin Pang terus tertawa gelak, kemudian berkata.

"Kini mereka telah berada di tangan kita, termasuk Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan!"

"Namun kita belum berhasil menangkap Tio Bun Yang,"

Ujar Toa Sat Kui memberitahukan.

"Apakah ketua punya suatu ide?"

"Ha ha ha! Aku yakin kini Tio Bun Yang pasti cemas sekali! Yang paling dicemaskannya adalah Siang Koan Goat Nio!"

Sahut ketua Kui Bin Pang dan menambahkan.

"Gadis itu harus tempatkan di ruang lain, jangan dicampur dengan yang lain!"

"Ketua!"

Toa Sat Kui memberitahukan.

"Tadi kami telah memindahkan gadis itu ke ruang lain."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha...!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak.

"Oh ya! Kalian semua harus baik-baik memperlakukannya, sama sekali tidak boleh menyakitinya!"

"Ya!"

Sahut mereka serentak sambil mengangguk, kemudian Toa Sat Kui bertanya.

"Apa rencana Ketua sekarang?"

"Rencanaku sekarang, kalian harus mencekoki mereka dengan obat penghilang kesadaran,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Mereka dalam keadaan tak bergerak karena telah kutotok jalan darah mereka, jadi tidak sulit mencekoki mereka"

"Ketua,"

Tanya Toa Hu Hoat.

"Kapan kami mencekoki mereka dengan obat itu?"

"Nanti sore,"

Sahut ketua Kui Bin Pang.

"Itu tugas kalian, tapi jangan mencekoki Siang Koan Goat Nio dengan obat itu, gadis itu adalah urusanku."

"Ya."

Mereka mengangguk.

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Setelah mereka dicekoki dengan obat itu, barulah aku menggunakan Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesal Pembetot Sukma) untuk mengendalikan pikiran mereka! Ha ha ha!"

"Setelah mereka di bawah pengaruhku, aku akan perintahkan mereka membunuh kaum persilatan golongan putih! Ha ha ha...!"

Sore harinya, Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat itu ke ruang dalam tempat Lim Peng Hang Gouw Han Tiong dan lainnya ditahan.

"He he he!"

Toa Sat Kui tertawa terkekeh kekeh. Mereka masing-masing membawa semangkok obat.

"Kalian semua harus minum obat! He he he...!"

"Kalian... kalian...."

Suara Lim Peng Hang lemah sekali.

"Kami cukup baik lho!"

Sahut Toa Sat Kui "Sebab masih mau memberi kalian obat."

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya tidak menyahut. Toa Hu Hoat mendekati Lam Kiong Soat Lan, namun gadis itu langsung membuang muka.

"Nona, namaku Yo Kiam Heng."

Toa Hu Hoat itu memberitahukan dengan ilmu penyampai suara, maka Ngo Sat Kui dan lainnya tidak mengetahuinya sama sekali.

"Engkau tidak usah menyahut, cukup mendengar saja!"

Lam Kiong Soat Lan mendongakkan kepala memandangnya, namun cuma melihat kedok setan warna kuning. Bagaimana wajah Toa Hu Hoat di balik kedok setan itu, Lam Kiong Soat Lan tidak mengetahuinya.

"Nona jangan takut, aku dan Jie Hu Hoat bukan orang jahat!"

Lanjut Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Yang ada di dalam mangkok itu obat penghilang kesadaran. Siapa yang minum obat itu, pasti akan kehilangan kesadarannya. Setelah itu, ketua bermaksud menggunakan semacam ilmu sesat untuk mengendalikan pikiran kalian."

Lam Kiong Soat Lan tidak menyahut, namun mendengarkan dengan penuh perhatian dengan kening berkerut-kerut.

"Mangkok yang di tanganku ini telah kutukar dengan obat biasa, maka engkau tidak akan kehilangan kesadaran."

Yo Kiam Heng melanjutkan.

"Tapi engkau harus pura-pura seperti kehilangan kesadaran. Meskipun engkau tetap akan terpengaruh oleh ilmu sesat ketua, tetapi dalam waktu sepuluh hari, engkau akan normal kembali."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut. dan Yo Kiam Heng melanjutkan lagi.

"Apabila pikiranmu sudah tidak terpengaruh, engkau harus tetap bersikap seperti masih dibawah pengaruh ilmu sesat itu. Aku akan berusaha mengusulkan agar ketua mengirim kalian pergi menyerbu Pulau Hong Hoang To. Nah, aku yakin Pek Ih Sin Hiap mampu menolong kalian."

"Engkau...."

Sebetulnya Lam Kiong Soat Lan ingin menanyakan sesuatu, namun mendadak dibatalkannya.

"Dasar gadis tak tahu diri!"

Bentak Yo Kiam Heng.

"Aku bersikap baik terhadapmu, tapi engkau malah tidak mau minum obat! Hm...!"

"Toa Hu Hoat!"

Seru Toa Sat Kui sambi tertawa.

"Cekoki saja!"

"Ha ha ha!"

Yo Kiam Heng tertawa gelak.

Ditotoknya jalan darah Lam Kiong Soat Lan, kemudian dicekokkannya obat itu ke dalam mulut Seusai mencekokinya, Yo Kiam Heng membebaskan totokannya seraya berkata dengan ilmu menyampaikan suara.

"Teman-temanmu sudah mulai kehilangan kesadaran, maka engkau pun harus pura-pura seperti mereka! Oh ya, Nona Siang Koan Goat Nio, berada di ruang lain, dia dalam keadaan baik-baik saja."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut perlahan, kemudian melirik yang lain. Dilihatnya mereka tampak termenung semua, maka ia segera bersikap seperti mereka.

"Ha ha ha!"

Yo Kiam Heng tertawa gelak. Ngo Sal Kui, tugas kita sudah selesai. Mari kita lapor kepada ketua!"

"Baik."

Ngo Sat Kui mengangguk.

Mereka meninggalkan ruang itu.

Sementara lam Kiong Soat Lan tidak habis berpikir, siapa Yo Kiam Heng dan kenapa berniat menolong mereka?

Lam Kiong Soat Lan betul-betul tidak habis pikir, kemudian ia memandang Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya, yang semua tampak linglung.

Bukan main obat itu!

Pikirnya dalam hati.

-oo0dw0oo-Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat telah sampai di ruang tengah.

Toa Hu Hoat Yo Kiam Heng langsung melapor.

"Ketua, kami telah mencekoki mereka dengan obat penghilang kesadaran itu."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha...!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gembira.

"Kalau begitu, kini kesadaran mereka pasti sudah hilang."

"Kapan Ketua akan menggunakan Toh Hun Tay Hoat untuk mempengaruhi mereka?"

Tanya Toa Sat Kui.

"Sebentar,"

Sahut ketua Kui Bin Pang, yang kemudian menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Itu membuat Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat saling memandang.

Mereka tidak mengerti, kenapa mendadak ketua mereka menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Ketua,"

Tanya Toa Sat Kui kemudian.

"Kenapa Ketua...."

"Aku...."

Ketua Kui Bin Pang menggeleng-gelengkan kepala lagi, lalu melanjutkan ucapannya.

"Tadi aku ke ruang itu menemui Siang Koan Goat Nio, namun dia langsung mencaci maki diriku. Padahal aku...."

"Ketua menyukainya?"

Tanya Yo Kiam Heng mendadak.

"Ya."

Ketua Kui Bin Pang mengangguk.

"Kelihatannya dia sangat benci kepadaku."

"Ketua,"

Ujar Toa Sat Kui sambil tertawa.

"Kalau Ketua ingin mendapatkan dirinya, pergunakan saja Toh Hun Tay Hoat! Bukankah dia akan menurut kepada Ketua?"

"Tapi itu percuma,"

Sahut ketua Kui Bin Pang sambil menghela nafas panjang.

"Karena aku cuma akan memperoleh sebuah patung, itu tak berarti sama sekali."

"Betul, Ketua,"

Ujar Yo Kiam Heng.

"Itu memang tiada artinya, lebih baik Ketua bersabar, lambat laun gadis itu pasti akan tertarik kepada Ketua."

"Toa Hu Hoat!"

Ketua Kui Bin Pang menatapnya.

"Bersediakah engkau membantuku dalam hal tersebut?"

"Tentu bersedia, Ketua,"

Sahut Yo Kiam Heng cepat.

"Terimakasih!"

Ucap ketua Kui Bin Pang gilang.

"Nah. sekarang pergilah, bujuk gadis itu! Aku akan pergi ke ruang lain bersama Ngo Sat Kui dan Jie Hu Hoat."

"Ya, Ketua."

Yo Kiam Heng mengangguk, lalu segera menuju ke ruangan tempat Siang Koan Goat Nio dikurung.

Siang Koan Goat Nio duduk bersandar di dinding ruangan itu.

Begitu melihat Yo Kiam Heng memasuki ruangan tersebut, ia langsung mencacinya.

"Kalian semua binatang! Kenapa mengurung kami di sini? Ayoh! Mari kita bertarung!"

"Nona Siang Koan, tenanglah! Aku bernama Yo Kiam Heng, Toa Hu Hoat dalam perkumpulan Kui Bin Pang. Aku tahu, Tio Bun Yang adalah kekasihmu,"

Ujar Yo Kiam Heng menggunakan ilmu menyampaikan suara, agar orang lain tidak dapat mendengar.

"Ketua Kay Pang dan lainnya telah dicekoki obat penghilang kesadaran, kini ketua pergi mempengaruhi mereka dengan ilmu Toh Hun Tay Hoat."

Siang Koan Goat Nio tidak menyahut, namun mendengarkan dengan penuh perhatian. Yo Kiam Heng menatapnya, kemudian melanjutkan.

"Aku tidak mencekoki Nona Lam Kiong dengan obat itu...."

Yo Kiam Heng memberitahukan tentang itu dan menambahkan.

"Bahkan aku akan mengusulkan agar ketua perintahkan mereka menyerbu ke Pulau Hong Hoang To, karena hal itu merupakan jalan satu-satunya menolong mereka."

"Kenapa engkau ingin menolong mereka?"

Tanya Siang Koan Goat Nio juga menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Sebab aku tidak setuju terhadap perbuatan ketua,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"Temanku bernama Kwan Tiat Him juga orang baik. Dia adalah Jie Hu Hoat. Yang jahat adalah Ngo Sat Kui, para anggota dan ketua."

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio menatapnya dalam-dalam.

"Kalau begitu, kenapa kalian berdua tidak mau berontak secara terang-terangan?"

"Kepandaian kami berdua masih di bawah tingkat kepandaian ketua, maka kalau kami berontak secara terangterangan, sama juga cari mati,"

Ujar Yo Kiam Heng melanjutkan.

"Kami tidak mau mati sia-sia, maka harus bergerak secara diam-diam."

"Oh ya, kenapa aku dikurung di ruang ini tidak bersama mereka?"

"Ketua sangat mengistimewakanmu, karena dia tertarik kepadamu."

Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Hmm!"

Dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Nona Siang Koan,"

Pesan Yo Kiam Heng.

"Engkau harus bersabar dan jangan membuat ketua gusar, sebab engkau pasti celaka bila dia menggunakan Toh Hun Tay Hoat terhadapmu, engkau pasti menurutinya!"

"Oh?"

Wajah Siang Koan Goat Nio berubah pucat.

"Aku... aku harus bagaimana?"

"Yang penting engkau jangan membuatnya gusar,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"Aku disuruh ke mari untuk membujukmu. Agar ketua lebih mempercayaiku, engkau harus pura-pura bersikap agak baik terhadapnya. Seandainya ketua Kay Pang dan lainnya diperintahkan untuk menyerbu ke Pulau Hong Hoang To, aku akan berpesan kepada Nona Lam Kiong, agar pihak Pulau Hong Hoang To ke mari menolongmu."

"Terimakasih!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Ingat! Jie Hu Hoat Kwan Tiat Him adalah temanku, namun engkau harus berhati-hati terhadap Ngo Sat Kui, karena mereka sangat jahat sekali!"

Pesan Yo Kiam Heng, lalu berbicara seperti biasa, tidak menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Engkau harus tahu, ketua sangat baik terhadapmu, maka engkau harus baik pula terhadapnya!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk, kemudian bertanya mendadak menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Siapa ketua Kui Bin Pang?"

"Kami semua tidak mengetahuinya,"

Jawab Yo Kiam Heng menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Yang jelas dia masih muda seperti aku dan Kwan Tiat Him."

"Oh?"

Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Nona Siang Koan, aku tahu kekasihmu adalah Tio Bun Yang,"

Ujar Yo Kiam Heng serius menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Aku akan berusaha menemuinya untuk memberitahukannya tentang dirimu di sini."

"Terimakasih, Saudara Yo!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya, kelihatannya engkau tertarik kepada Soat Lan, bukan?"

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk. Tapi...."

"Jangan khawatir!"

Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Kalau aku berhasil meloloskan diri dari sini kelak, aku pasti membantumu."

"Terimakasih, Nona Siang Koan!"

Ucap Yo Kiam Heng kemudian berbicara seperti biasa tanpa menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Ketua begitu baik terhadapmu, maka engkau pun harus baik terhadapnya...."

Disaat bersamaan, mendadak pintu ruang itu terbuka, tampak ketua Kui Bin Pang berjalan masuk.

"Ketua!"

Panggil Yo Kiam Heng.

"Ngmm!"

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut dan berkata.

"Urusanku di ruang itu telah beres. Bagaimana urusanmu di sini?"

"Juga sudah beres. Ketua,"

Sahut Yo Kiam Heng sambil tertawa.

"Aku telah berhasil membujuknya."

"Oh?"

Ketua Kui Bin Pang kurang percaya, lalu mendekati Siang Koan Goat Nio.

"Nona Siang Koan, bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?"

"Aku...."

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Baikbaik saja."

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak, karena biasanya Siang Koan Goat Nio tidak pernah menjawab, melainkan terus mencacinya, namun kali ini gadis tersebut justru menjawab.

Tentunya hal itu sangat menggembirakan ketua Kui Bin Pang itu, maka ia lalu memandang Yo Kiam Heng seraya berkata.

"Toa Hu Hoat, engkau boleh ke kamar untuk beristirahat."

"Ya, Ketua."

Yo Kiam Heng mengangguk dan segera meninggalkan ruang itu.

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak, kemudian mendadak memegang bahu Siang Koan Goat Nio.

"Kalau ketua berlaku kurang ajar terhadapku, aku pasti akan marah!"

Ujar gadis itu sungguh-sungguh.

"Baik! Baik!"

Ketua Kui Bin Pang cepat-cepat menurunkan tangannya.

"Oh ya, apa yang dikatakan Toa Hu Hoat itu kepadamu?"

"Dia... dia menyuruhku bersikap baik terhadapmu, sebab...."

Siang Koan Goat Nio memandang ke arah lain.

"Katanya, ketua sangat menaruh perhatian kepadaku."

"Betul! Betul! Ha ha ha...!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa.

"Aku memang sangat menaruh perhatian kepadamu. Kalau engkau menjadi isteriku kelak, pasti hidup senang dan bahagia."

Ucapan tersebut nyaris membuat Siang Koan Goat Nio muntah seketika, bahkan juga nyaris mencaci makinya. Namun ia tetap bersabar, karena teringat akan pesan Yo Kiam Heng.

"Nona Siang Koan, percuma engkau mencintai Tio Bun Yang. Sebab banyak gadis menyukai nya, dia pasti akan menyeleweng di belakangmu"

Ujar ketua Kui Bin Pang.

"Kakak Bun Yang tidak bersifat begitu, aku mempercayainya,"

Sahut Siang Koan Goat Nio.l "Oh? Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa.

"Kini engkau mempercayainya, tapi kelak engkau pasti membencinya."

"Aku tidak akan membencinya."

"Kalau engkau melihat dia berbuat yang bukan-bukan dengan gadis lain, apakah engkau tetap tidak membencinya?"

"Aku...."

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa lagi.

"Setelah terbukti, engkau pasti mempercayaiku!"

"Aku...."

Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Nona Siang Koan...."

Ketua Kui Bin Pang mulai merayunya, namun tidak menggunakan ilmu Toh Hun Tay Hoat.

Seandainya ia menggunakan ilmu sesat itu, Siang Koang Goat Nio pasti celaka.

-oo0dw0oo-Di dalam kamar Yo Kiam Heng juga sedang berlangsung pembicaraan serius.

Yang duduk di hadapannya adalah Jie Hu Hoat Kwan Tiat Him.

"Tiat Him!"

Tanya Yo Kiam Heng menggunakan ilmu penyampai suara, agar tidak terdengar nleh orang lain.

"Apakah ketua telah menggunakan ilmu sesat itu mempengaruhi mereka?"

"Ya,"

Sahut Kwan Tiat Him, yang juga menggunakan ilmu tersebut.

"Ketua telah berhasil mengendalikan pikiran mereka."

"Aaaah...!"

Yo Kiam Heng menghela nafas panjang.

"Oh ya, aku tidak mencekoki Nona Lam kiong dengan obat penghilang kesadaran."

"Itu telah kuduga."

Kwan Tiat Him manggut-manggut. Tapi... apakah dia bisa berpura-pura setelah sadar nanti?"

Aku yakin dia bisa, sahut Yo Kiam Heng.

"Sebab dia bukan gadis bodoh."

Kiam Heng, kelihatannya engkau sangat tertank kepada gadis itu. Ya, kan?"

Kwan Tiat Him menatapnya.

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk.

"Aku memang sangat tertarik kepadanya, maka aku menempun bahaya demi dia pula.."

Cinta memang bisa membuat orang menjadi nekad. Kwan liat Him menggeleng-gelengkan kepala. Biar bagaimana pun, kita berdua harus berhati-hati!"

"Oh ya, aku pun sudah bercakap-cakap dengan Nona Siang Koan."

Ujar Yo Kiam Heng "Yah!"

Kwan Tiat Him menghela nafas panjang.

"Mudahmudahan dia bisa menahan diri untuk bersabar! Kalau tidak, gadis itu pasti celaka di tangan ketua."

"Itu yang kukhawatirkan. Oleh karena itu timbullah suatu ide."

"Ide apa?"

"Aku ingin mengusulkan agar ketua perintahkankan mereka menyerbu ke Pulau Hong Hoang To secara tidak langsung aku menyelamatkan mereka."

"Maksudmu ketua Kay Pang dan lainnya?"

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk.

"Sudah barang tentu ketua juga akan perintahkan puluhan anggota untuk menyertai mereka "

"Ide itu memang bagus. Tapi...."

Kwan Tiat Him menggeleng-gelengkan kepala. Belum tentu ketua akan menerima idemu itu."

"Justru itu, engkau harus mendukung ideku,"

Ujar Yo Kiam Heng.

"Barulah ketua akan menerimanya"

"Aku pasti mendukung idemu, namun... belum tentu Ngo Sat Kui akan setuju lho!"

"Itu tidak iadi masalah. Yang penting kita harus menemukan alasan-alasan yang tepat,"

Kwan Tiat Him mengangguk.

"Oh ya, hingga kini aku masih tidak habis pikir. Sebetulnya siapa ketua itu, dan kenapa begitu mendendam kepada Tio Bun Yang "Kalau kita melihat wajahnya, belum tentu kita akan mengenalnya,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"sebab kita bukan orang Tionggoan.

"Yaaah! Kwan Tiat Him menghela nafas panjang.

"Entah bagaimana nasib Nona Siang Koan...."

"Kita...."

Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala.

"Tiada jalan sama sekali untuk melolongnya. Aaaah...!" -oo0dw0oo-Sementara itu, Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan ke kota Kang Shi. Beberapa hari kemudian, ia telah tiba di tempat tujuan dan langsung ke markas Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...."

Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu menyambut kedatangannya dengan mata terbelalak saking tercengang.

"Kakak Ling Cu!"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum getir.

"Duduklah!"

Ucap Ngo Tok Kauwcu. Tio Bun Yang duduk, kemudian menghela nafas panjang dengan kening berkerut-kerut.

"Adik Bun Yang...."

Air muka Ngo Tok Kauwcu berubah.

"Kenapa engkau? Apa yang telah terjadi?"

"Kakak Ling Cu...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Telah terjadi sesuatu..."

"Beritahukanlah!"

"Engkau sudah dengar tentang para ketua tujuh partai besar itu?"

"Ya."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Aku sudah dengar tentang itu, para ketua semuanya telah gila."

"Engkau tahu siapa yang membuat para ketua itu menjadi gila?"

"Seng Hwee Sin Kun."

"Tidak salah."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Namun Seng Hwee Sin Kun telah mati di tangan Bu Ceng Sianli dan Kam Hay Thian."

"Oh?"

Ngo Tok Kauwcu terbelalak.

"Adik Bun Yang, tuturkanlah mengenai kejadian itu!"

"Pada waktu itu, aku dan Goat Nio ke kuil Siauw Lim untuk memeriksa Hui Khong Taysu. Ternyata ketua Siauw Lim Pay itu terkena semacam ilmu pukulan, maka menjadi gila. Namun masih dapat disembuhkan dengan rumput Tanduk Naga, yang tumbuh di daerah Miauw."

"Engkau ke daerah Miauw mengambil rumput Tanduk Naga itu?"

"Ketika kami kembali ke markas pusat Kay Pang, justru telah terjadi sesuatu di sana,"

Lanjut Tio Bun Yang.

"Seng Hwee Sin Kun telah mati, lapi kakekku dan Kakek Gouw telah diculik."

"Oh?"

Ngo Tok Kauwcu tersentak.

"Siapa vang menculik mereka?"

"Kui Bin Pang,"

Sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Atas saran Bu Ceng Sianli, aku dan Goat Nio pergi ke daerah Miauw untuk mengambil rumput Tanduk Naga, kebetulan aku kenal ketua suku Miauw."

"Engkau berhasil mengambil rumput obat itu?"

"Berhasil, namun...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ketika pulang, kami menginap di sebuah penginapan dengan kamar terpisah. Keesokan harinya Goat Nio...."

"Kenapa dia?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu tegang.

"Hilang entah ke mana,"

Sahut Tio Bun Yang dengan wajah murung.

"Dia hilang?"

Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening.

"Mungkinkah dia diculik oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Memang mungkin."

Tio Bun Yang mengangguk, sekaligus memperlihatkan sepucuk surat kepada Ngo Tok Kauwcu.

"Heran!"

Gumam Ngo Tok Kauwcu seusa membaca surat tersebut.

"Nadanya si penulis surat ini sangat mendendam kepadamu. Apakah engkau punya musuh?"

"Seingatku aku sama sekali tidak punya musuh."

"Kalau begitu...."

Ngo Tok Kauwcu berpikir sejenak lalu melanjutkan.

"Yang menculik Goatl Nio bukan pihak Kui Bin Pang."

"Kakak Ling Cu!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku... bingung sekali, tidak tahu harus berbuat apa."

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.

"Engkau belum kembali ke markas pusat Kay Pang?"

"Aku sudah kembali ke sana, justru telah terjadi sesuatu lagi di sana."

"Oh?"

Air muka Ngo Tok Kauwcu berubah.

"Apalagi yang terjadi di markas pusat Kay Pang?!"

"Kam Hay Thian. Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San yang berada di sana pun telah hilang."

"Apa?"

Betapa terkejutnya Ngo Tok Kauwcu.

"Siapa yang menculik mereka?"

"Kui Bin Pang,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Cian Chiu Lo Kay yang memberitahukan kepadaku."

"Itu...."

Ngo Tok Kauwcu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu bagaimana?"

"Aku berangkat ke kuil Siauw Lim...."

Tio Bun Yang memberitahukan dan menambahkan.

"Kemudian aku langsung ke mari."

"Sungguh di luar dugaan!"

Ngo Tok Kauwcu menggelenggelengkan kepala.

"Setelah Seng Hwee Kauw musnah, malah muncul Kui Bin Pang!"

"Yaaah!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian bertanya.

"Di mana Pat Pie Lo Koay? Kok tidak kelihatan?"

"Dia pergi mengurusi sesuatu, mungkin dalam satu dua hari ini dia akan pulang."

Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Kakak Ling Cu!"

Tio Bun Yang memandangnya.

"Engkau tahu di mana markas Kui Bin Pang?"

"Aku...."

Ngo Tok Kauwcu menggelengkan kepala.

"Aku tidak tahu."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kakak Ling Cu, beri aku petunjuk!"

"Petunjuk apa?"

Ngo Tok Kauwcu heran.

"Aku harus bagaimana?"

Tio Bun Yang memberitahukan dengan wajah cemas sekali.

"Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Begini!"

Ngo Tok Kauwcu menyarankan.

"Engkau harus segera pulang ke Pulau Hong Hoang To, memberitahukan tentang kejadian itu."

"Tapi...."

"Engkau harus pulang memberitahukannya, ujar Ngo Tok Kauwcu sungguh-sungguh.

"Kalau tidak, engkau pasti dipersalahkan. Sebab engka harus tahu, Goat Nio adalah putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Bagaimana sifat Kou Hun Bijin itu, tentunya engkau tahu."

"Itu...."

Tio Bun Yang berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk.

"Baiklah, aku akan pulang ke Pulau Hong Hoang To."

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Aku pun akan mengutus beberapa orang untuk menyelidiki markas Kui Bin Pang. Kalau pihakku berhasil memperoleh informasi tentang markas Kui Bin Pang, aku pasti ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepada Cian Chiu Lo Kay."

"Terimakasih, Kakak Ling Cu!"

Ucap Tio Bui Yang lalu berpamit.

"Aku mau mohon diri!"

"Hati-hati!"

Pesan Ngo Tok Kauwcu.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Sama jumpa. Kakak Ling Cu!" -oo0dw0oo-Setelah meninggalkan markas Ngo Tok Kauwcu, Tio Bun Yang melanjutkan perjalanan dengan hati cemas dan kacau. Ketika ia berada di dalam sebuah rimba, tiba-tiba melayang turun sosok bayangan di hadapannya, terdengar pula suara tawa cekikikan. Tio Bun Yang mengenali suara tawa itu, maka langsung berseru dengan girang sekali.

"Kakak Siao Cui! Kakak Siao Cui...!"

"Adik Bun Yang!"

Terdengar suara sahutan. Tidak salah, yang berdiri di hadapannya memang Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.

"Eeeh? Kenapa engkau tampak kurusan? Kok tidak bersama Goat Nio?"

"Kakak Siao Cui...."

Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Mereka semuanya telah hilang."

"Siapa mereka?"

Bu Ceng Sianli tersentak. 'Kenapa bisa hilang?"

"Goat Nio hilang di kamar penginapan..."

Tutur Tio Bun Yang, lalu memperlihatkan sepucuk surat kepada wanita itu.

"Eh?"

Kening Bu Ceng Sianli berkerut.

"Aku yakin penculiknya kenal denganmu. Bahkan dia sangat mendendam kepadamu. Coba engkau ingat, kira-kira siapa musuhmu itu!"

"Kakak Siao Cui!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah punya musuh."

"Buktinya si penculik itu sangat mendendam kepadamu, pertanda engkau punya musuh. Namun engkau masih bilang tidak. Mungkin engkau lupa."

"Seingatku, selama aku berkecimpung di dalam rimba persilatan,' sama sekali tidak pernah membunuh siapa pun. Lalu dari mana muncul musuh itu? Aku sungguh tidak habis pikir!"

"Aku yakin engkau memang tidak pernah membunuh siapa pun, namun tentunya engkau pernah memusnahkan kepandaian para penjahat. Nah, mungkin si penculik itu salah satu penjahat yang pernah engkau musnahkan kepadaiannya."

"Mungkin."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Tapi aku tidak ingat siapa penjahat itu."

"Yaaah!"

Bu Ceng Sianli menghela nafas panjang.

"Adik Bun Yang, biar bagaimana pun engkau harus tabah."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kakak Siao Cui, aku justru bingung, apakah si penculik itu punya hubungan dengan Kui Bin Pang?"

"Entahlah!"

Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala.

"Aku sudah ke sana ke mari menyelidiki markas Kui Bin Pang, tapi tiada hasilnya sama sekali."

"Kakak Siao Cui pernah menangkap anggota Kui Bin Pang?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Pernah. Tapi... tiada gunanya sama sekali."

"Lho? Kenapa?"

"Karena sebelum kutanyakan pada mereka, mereka sudah mati duluan."

Bu Ceng Sianli mcmberitahukan.

"Ternyata di bawah lidah mereka menyimpan semacam racun. Apabila mereka tertangkap, maka mereka akan menggigit hancur racun itu."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Jadi Kakak tidak bisa mengorek keterangan dari mulut mereka?"

"Ya."

Bu Ceng Sianli mengangguk.

"Oh ya, teman-temanmu itu juga ditangkap oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Ya."

Tio Bun Yang menghela nalas panjang.

"Itu membuatku cemas sekali."

"Adik Bun Yang!"

Bu Ceng Sianli menatapnya.

"Engkau harus tenang, tidak boleh putus asa."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi.

"Oh ya, aku sudah ke markas Ngo Tok Kauw di kota Kang Shi."

"Jadi engkau sudah bertemu Phang Ling Cu?"

"Ya.' "Dia juga tidak tahu di mana markas Kui Bin Pang?"

"Tidak tahu. Namun dia menyarankan agar aku segera pulang ke Pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini."

"Ngmm!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

"Itu memang baik juga, sebab Goat Nio adalah putri kesayangan Kou Hun Bijin. Kalau engkau tidak pulang memberitahukan kepadanya, dia pasti marah besar."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Adik Bun Yang, aku pasti membantumu mencari Goat Nio!"

Ujar Bu Ceng Sianli berjanji.

"Jadi engkau tenang saja!"

"Terimakasih, Kakak!"

"Oh ya!"

Bu Ceng Sianli menatapnya.

"Lebih baik engkau mampir di markas pusat Kay Pang, siapa tahu pihak Kay Pang sudah mendengar informasi tentang markas Kui Bin Pang."

"Baik, aku akan mampir di markas pusat Kay Pang."

"Adik Bun Yang!"

Bu Ceng Sianli tersenyum.

"Sampai jumpa! Semoga engkau cepat berkumpul kembali dengan Goat Nio! Hi hi hi...!"

"Kakak Siao Cui!"

Panggil Tio Bun Yang Namun Bu Ceng Sianli sudah melesat pergi.

"Adik Bun Yang! Aku pasti membantumu mencari Goat Nio!"

Serunya sayup-sayup.

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

Ia berdiri termangu-mangu di tempat, berselang sesaat barulah melesat pergi.

Arah tujuannya adalah markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-Dua hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Cian Chiu Lo Kay menyambutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Lo Kay!"

Tanya Tio Bun Yang.

"Apakah sudah ada informasi mengenai markas Kui Bin Pang?"

"Tidak ada."

"Selama kepergianku, apakah pernah terjadi sesuatu di sini?"

"Tidak pernah."

Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala lalu memberitahukan.

"Aku su-ilah mengutus beberapa pengemis handal untuk menyelidiki tentang markas Kui Bin Pang, tapi tiada hasilnya sama sekali."

"Bu Ceng Sianli juga tidak berhasil menyelidiki tentang markas Kui Bin Pang, namun dia berjanji membantuku mencari Goat Nio."

"Oooh!"

Cian Chiu Lo Kay manggut-manggut. Syukurlah dia bersedia membantumu, sebab kepandaiannya tinggi sekali!"

"Aku justru bingung sekali."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Mungkinkah Goat Nio diculik pihak Kui Bin Pang?"

"Belum bisa dipastikan, maka kita hanya menyelidikinya."

Sahut Cian Chiu Lo Kay dan menambahkan.

"Yang penting kita hanya menyelidiki markas Kui Bin Pang, sebab Pangcu dan lainnya pasti dikurung di sana!"

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Oh ya!"

Cian Chiu Lo Kay memandangnya seraya bertanya.

"Apa rencanamu sekarang?"

"Aku harus pulang ke Pulau Hong Hoang To."

"Memang benar engkau pulang ke sana, sebab engkau harus memberitahukan tentang semua kejadian ini. Tapi... alangkah baiknya engkau tinggal di sini beberapa hari, siapa tahu ada informasi mengenai markas Kui Bin Pang."

"Ng!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya, engkau sudah mengobati Hui Khong Taysu?"

Tanya Cian Chiu Lo Kay.

"Sudah."

Tio Bun Yang mengangguk sekaligus memberitahukan tentang itu, kemudian menggelenggelengkan kepala.

"Kedua orang tua Goat Nio sangat mempercayaiku, tapi... kini Goat Nio malah diculik. Aku...."

"Itu kejadian di luar dugaan, mereka pasti tidak akan mempersalahkanmu."

"Tapi...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kalau terjadi sesuatu atas diri Goat Nio entah bagaimana aku jadinya!"

"Jangan cemas!"

Hibur Cian Chiu Lo Kay.

"Tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri Goat Nio. Percayalah!"

"Lo Kay...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tinggallah engkau di sini beberapa hari, siapa tahu akan memperoleh informasi mengenai markas Kui Bin Pang!"

"Baiklah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu baru berangkat ke Pulau Hong Hoang To." -oo0dw0oo-Bagian ke lima puluh sembilan Penyerbuan ke Pulau Hong Hoang To Ketua Kui Bin Pang duduk diam di kursi, kelihatannya sedang mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng memandangnya dengan hati berdebar-debar, dikarenakan menyangkut keselamatan Lim Peng Hang, Gouw Uang Tiong, Lam Kiong Soat Lan dan lainnya.

"Usul Toa Hu Hoat memang masuk akal,"

Ujar ketua Kui Bin Pang kemudian sambil manggut-manggut.

"Itu agar mereka saling membunuh."

"Ketua!"

Toa Sat Kui kurang setuju.

"Para penghuni Pulau Hong Hoang To berkepandaian tinggi, tentu Lim Peng Hang dan lainnya tidak akan sanggup melawan mereka."

"Itu tidak jadi masalah,"

Sela Jie Hu Hoat-Kwan Tiat Him.

"Yang penting mereka saling membunuh. Apabila pihak Pulau Hong Hoang To membunuh mereka, bukankah pihak Pulau Hong Hoang To akan menyesal seumur hidup?"

"Betul!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Ha ha ha! Itu merupakan pukulan hebat bagi para penghuni Pulau Hong Hoang To!"

"Ngmmm!"

Toa Sat Kui manggut-manggut.

"Kalau begitu, siapa yang akan mengepalai mereka?"

Tanyanya.

"Itu..."

Sahut ketua Kui Bin Pang setelah berpikir sejenak.

"Akan kuperintahkan dua puluh anggota berkepandaian tinggi untuk ikut menyerbu ke Pulau Hong Hoang To."

"Bagus!"

Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng tertawa gelak.

"Ha ha ha! Pulau Hong Hoang To pasti kacau balau!"

"Ketua,"

Ujar Toa Sat Kui sungguh-sungguh.

"Siapa yang akan memimpin mereka itu?"

"Salah seorang anggota yang berkepandaian tinggi,"

Sahut ketua Kui Bin Pang dan menambahkan.

"Kalian punya suatu usul mengenai itu?"

"Aku punya usul, Ketua,"

Ujar Toa Sat Kui.

"Apa usulmu? Beritahukanlah!"

Ketua Kui Bin Pang memandangnya.

"Usul yang baik dan tepat pasti kuterima."

"Setahuku..."

Ujar Toa Sat Kui sambil memandang kedua Hu Hoat.

"Kepandaian mereka berdua sangat tinggi, maka bagaimana kalau mereka berdua yang memimpin penyerbuan itu?"

"Itu...."

Ketua Kui Bin Pang menatap Toa Hu Hoat dan Jie Hu Hoat.

"Bagaimana menurut kalian?"

"Kalau Ketua perintahkan kami untuk memimpin penyerbuan itu, tentu kami menurut,"

Sahut Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng.

"Baiklah."

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Kuperintahkan kalian berdua memimpin penyerbuan ke Pulau Hong Hoang To."

"Tapi..."

Tanya Toa Hu Hoat-Yo Kaim Heng mendadak.

"Apakah Lim Peng Hang dan lainnya akan menuruti perintahku?"

"Mereka tidak akan menuruti perintah kalian berdua,"

Sahut ketua Kui Bin Pang dengan tertawa.

"Ha ha ha! Namun ada satu cara untuk membuat mereka patuh kepada perintah kalian berdua."

"Bagaimana caranya?' tanya Yo Kiam Heng. Ketua Kui Bin Pang tidak menyahut, melainkan bersiul panjang. Seketika juga muncul Lim Peng Hang. Gouw Han Tiong dan lainnya. Mereka berbaris rapi di tengah-tengah ruangan itu, kelihatannya sedang menunggu perintah dari ketua Kui Bin Pang.

"Kalian semua harus patuh kepada perintah kedua orang itu!"

Ujar ketua Kui bin Pang sambil menunjuk kedua Hu Hoat.

"Ya,"

Sahut Lim Peng Hang dan lainnya.

"Toa Jie Hu Hoat!"

Ketua Kui Bin Pang memandang mereka.

"Kalian pendengarkan suara!"

Kedua Hu Hoat itu segera memperdengarkan suara masingmasing, Lim Peng Hang dan lainnyajl mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Lim Peng Hang! Kalian semua sudah mengenali suara kedua orang itu?"

Tanya ketua Kui Bin Pang.

"Kami sudah mengenali suara kedua orang itu,"

Sahut Lim Peng Hang dan lainnya serentak.

"Kami semua harus mematuhi perintah mereka berdua."

"Bagus! Bagus!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gembira.

"Ha ha ha! Toa Sat Kui, cepat ambilkan kedok setan warna biru!"

"Ya, Ketua."

Toa Sat Kui segera melaksanakan perintah itu. Tak lama ia sudah kembali dengan membawa beberapa buah kedok setan warna biru.

"Berikan kepada mereka!"

Perintah Ketua Kui Bin Pang..Toa Sat Kui langsung membagi-bagikan kedok setan warna biru itu kepada Lim Peng Hang dan lainnya.

"Kalian semua harus memakai kedok setan itu!"

Seru ketua Kui Bin Pang. Lim Peng Hang dan lainnya segera memakai kedok setan tersebut. Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Ha ha ha! Kini kalian semua dipanggil Setan Muka Biru!" .

"Ya,"

Sahut Lim Peng Hang dan lainnya serentak.

"Toa Hu Hoat!"

Ujar ketua Kui Bin Pang.

"Coba berilah mereka perintah!"

"Ya."

Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng mengangguk, kemudian berseru.

"Setan Muka Biru! Cepatlah kalian duduk di lantai!"

Lim Peng Hang dan lainnya langsung duduk di lantai. Kemudian Toa Hu Hoat memberi perintah lagi.

"Setan Muka Biru, kalian berdirilah!"

Lim Peng Hang dan lainnya cepat-cepat bangkit berdiri. Itu sungguh menggirangkan ketua Kui Bin Pang.

"Nah! Kini mereka semua sudah di bawah peintah kalian berdua. Besok pagi kalian berdua dan mereka serta dua puluh anggota yang berkepandaian tinggi harus berangkat ke Pulau Hong Hoang To!"

"Ya, Ketua."

Kedua Hu Hoat itu mengangguk. Kami berdua siap berkorban demi Kui Bin Pang!"

"Bagus! Bagus!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa lerbahakbahak.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Pulau Hong Hoang To. Yang menjadi penunjuk jalan adalah Lim Peng Hang. Enam tujuh hari kemudian, tampak sebuah perahu layar berlabuh di pantai Pulau Hong Hoang To. Ternyata mereka telah tiba ke pulau tersebut "Siapa kalian?"

Mendadak terdengar suar; bentakan, yang tidak lain adalah Lie Man Chiu Betapa terkejutnya Lie Man Chiu ketika melihat para pendatang itu memakai kedok setan.

Tahulah ia bahwa mereka dari perkumpulan Kui Bin Pang "Ha ha ha!"

Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng tertawa gelak.

"Kami ke mari ingin bertemu Tocu (Majikan Pulau)!"

"Itu..."

Kening Lie Man Chiu berkerut.

"Baik lah. Mari ikut aku!"

Lie Man Chiu melesat pergi.

Kedua Hu Hoat dan lainnya segera mengikutinya dengan menggunakan ginkang.

Berselang beberapa saat kemudian, sampaila mereka di tempat tinggal Tio Tay Seng, dan Li Man Chiu segera berseru.

"Kui Bin Pang datang berkunjung...!"

Belum juga suaranya sirna, muncullah Tio Ta Seng, Kou Hun Bijing, Kim Siauw Suseng. Sa Gan Sin Kay, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im da Tio Hong Hoa.

"Ha ha ha!"

Tio Tay Seng tertawa gelak "Angin apa yang meniup kalian ke mari? Ingin damai atau bertarung di sini?"

"Kami ingin membasmi para penghuni pulau ini!"

Sahut para anggota Kui Bin Pang serentak.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Sungguh kebetulan, tanganku sudah gatal sekali!"

"Toa Jie Hu Hoat,"

Ujar salah seorang anggota.

"Cepatlah perintahkan Setan Muka Biru menyerang mereka!"

"Baik."

Yo Kiam Heng mengangguk dan berseru.

"Setan Muka Biru, cepatlah kalian bunuh mereka yang memakai kedok setan muka putih!"

"Toa Hu Hoat! Engkau,,, engkau berani berkhianat?"

Salah seorang anggota menudingnya. Ketua pasti tidak akan mengampuni kalian berdua...."

Ucapannya terhenti, karena orang itu mulai diserang oleh salah seorang yang memakai kedok setan warna biru.

Di saat itu mendadak seseorang yang memakai kedok setan biru berlari ke arah Tio Cie Hiong sambil melepaskan kedok setan yang dipakainya.

"Paman! Cepat bantu orang-orang yang memakai kedok setan warna biru!"

Orang itu ternyata Lam Kiong Soat Lan.

"Mereka adalah Kakek Lim, Kakek Gouw, Kam Hay Thian dan lainnya!"

"Oh?"

Tio Cie Hiong terkejut bukan main. Sebelum ia bergerak, Kou Hun Bijin, Sam ? ian Sin Kay, Kim Siauw Suseng dan Tio Tay Seng sudah bergerak lebih dahulu membunuh para anggota Kui Bin Pang.

"Jangan membunuh orang yang memakai kedok setan warna kuning!"

Teriak Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Mereka berdua berpihak kepada kita!"

Dalam waktu sekejap, para anggota Kui Bin Pang itu sudah menjadi mayat Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Sungguh puas hatiku!"

"Pengemis bau,"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Engkau berhasil membunuh berapa orang?"

"Empat."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan "Aku berhasil membunuh lima orang."

"Bangga ya?"

Tanya Sam Gan Sin Kay bernadaj sindiran.

"Dasar...."

"Pengemis bau...."

Kou Hun Bijin melotot.

"Istriku,"

Bisik Kim Siauw Suseng.

"Sudahlah! Jangan ribut dengan pengemis bau!"

Sementara kedua Hu Hoat berdiri mematung di tempat, Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka sambil tersenyum.

"Siapa di antara kalian yang bernama Yo Kiam Heng?"

Tanya gadis itu lembut.

"Aku,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"Saudara Yo, bolehkah engkau melepaskan! kedok setan yang menyeramkan itu?"

Tanya Lam Kiong Soat Lan sambil memandangnya.

"Boleh."

Perlahan-lahan Yo Kiam Heng melepaskan kedok setan yang di mukanya.

"Haaa...!"

Seru Lam Kiong Soat Lan tak tertahan. Ternyata dia menyaksikan seraut wajah yang sangat tampan.

"Engkau...."

"Aku Yo Kiam Heng."

"Oooh!"

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut dengan wajah kemerah-merahan.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Tak disangka sama sekali, engkau begitu tampan"

"Terimakasih atas pujian lo cianpwce!"

Ucap Yo Kiam Heng.

"Engkau!"

Sam Gan Sin Kay menunjuk yang lain.

"Cepat lepaskan kedok setan yang menjijikkan itu!"

"Ya."

Kwan Tiat Him segera melepaskan kedok setan itu.

"Hah?"

Mulut Sam Gan Sin Kay terngangga lebar, karena Kwan Tiat Him juga seorang pemuda tampan.

"Siapa engkau?"

"Namaku Kwan Tiat Him, lo cianpwee."

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Bagus! Bagus!"

Sementara Lim Peng Hang dan lainnya terus berdiri mematung di tempat, tidak bergerak sama sekali.

"Saudara Yo. cepat perintahkan mereka melepaskan kedok setan itu!"

Ujar Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk lalu berseru.

"Setan Muka Biru, cepatlah lepaskan kedok setan kalian!"

Lim Peng Hang dan lainnya segera melepaskan kedok masing-masing seketika terdengari suara seruan yang tak tertahan.

"Ayah! Ayah...!"

Yang berseru itu adalah Lim Ceng Im, dan langsung berlari mendekatinya.

"Ayah...!"

Akan tetapi, Lim Peng Hang tetap diam dani berdiri mematung, sama sekali tidak menghiraukan Lim Ceng Im.

"Ayah! Ayah...!"

Lim Ceng Im memegang lengan Lim Peng Hang erat-erat.

"Ayah...!"

"Adik Im,"

Ujar Tio Cie Hiong.

"Ayah terkena semacam ilmu sesat, tidak akan mengenalimu!"

"Benar."

Yo Kiam Heng mengangguk.

"Lo cianpwee itu terkena ilmu Toh Hun Tay Hoat, hanya ketua yang mampu menyadarkannya."

"Oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"tapi kenapa Soat Lan tidak terpengaruh oleh ilmu sesat itu?"

"Sebab aku tidak mecekokinya dengan obat penghilang kesadaran,"

Jawab Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Maka ilmu sesat itu cuma beri tahan sekitar sepuluh hari."

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Bagaimana mereka yang dicekoki obat itu?"

Tanyanya.

"Itu berarti Toh Hun Tay Hoat akan bertahan tahunan, dan membuat mereka menjadi gila,"

Jawab Yo Kiam Heng dan menambahkan.

"Namun ada satu macam ilmu yang dapat menghilangkan ilmu sesat itu."

"Ilmu apa itu?"

Tanya Tio Cie Hiong cepat.

"Ilmu Penakluk Iblis."

Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum.

"Aku memang memiliki ilmu tersebut."

"Oh?"

Wajah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him berseri.

"Kalau begitu... syukurlah!"

"Kakak Cie Hiong."

Ujar Lim Ceng Im.

"Cepatlah sadarkan mereka dengan ilmu itu!"

"Baik."

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Karena sulingku tidak ada, maka aku akan menggunakan suara siulan untuk menyadarkan mereka."

"Cepatlah!"

Desak Lim Ceng Im.

Tio Cie Hiong menarik nafas dalam-dalam, kemudian bersiulan panjang menggunakan ilmu Penakluk Iblis.

Di saat bersamaan, terdengar pula suara suling mengiring suara siulan tersebut, yang juga menggunakan ilmu Penakluk Iblis, lalu melayang turun seseorang yang tidak lain adalah Tio Bun Yang.

Hal 80-81 hilang "Dia...

dia...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Ketika kami pulang dari daerah Miauw, kami bermalam di sebuah penginapan...."

"Apa?"

Betapa cemasnya Kou Hun Bijin.

"Goat Nio diculik? Siapa yang menculiknya?"

"Aku... aku tidak tahu."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidur di kamar lain...."

"Goblok sekali engkau!"

Bentak Kou Hun Bijin.

"Kenapa engkau tidak tidur sekamar dengan dia? Karena engkau tidak tidur sekamar dengan dia, maka dia diculik! Engkau...."

"Tenanglah, isteriku!"

Ujar Kim Siauw Suseng.

"Mari kita masuk rumah dulu, setelah itu barulah kita tanyakan kepada Bun Yang!"

"Goat Nio telah diculik, bagaimana mungkin aku bisa tenang?"

Bentak Kou Hun Bijin.

"Tenang!"

Bisik Kim Siauw Suseng.

"Ayohlah! Mari kita masuk!"

Kim Siauw Suseng menariknya ke dalam.

Yang lain pun ikut ke dalam.

Setelah duduk, Kou Hun Bijin terus melotot ke arah Tio Bun Yang.

Sedangkan Lim Ceng Im segera pergi ke dapur untuk menggodok rumput Tanduk Naga.

Berselang beberapa saat kemudian, ia sudah kembali ke ruang depan dengan membawa obat yang telah dimasaknya.

Ia memberikan obat itu kepada Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya.

Kemudian ia duduk sambil menunggu bagaimana reaksi mereka yang telah diberi minum obat tersebut.

Beberapa saat kemudian, mendadak Toan Beng Kiat berlari ke arah Gouw Han Tiong seraya berseru.

"Kakek! Kakek...!"

"Beng Kiat cucuku!"

Sahut Gouw Han Tiong.

"Beng Kiat...."

"Kakek! Kakek...!"

Panggil Toan Beng Kiat. Sementara yang lain saling memandang, kemudian Bokyong Sian Hoa berseru girang.

"Hui San! Hui San...!"

"Sian Hoa! Sian Hoa...!"

Sahut Lu Hui San penuh kegirangan. Itu membual suasana agak ramai, tapi jadi semarak.

"Ha ha ha!"

Tio Tay Seng tertawa gelak. Ayoh, duduklah!"

Mereka segera duduk. Sementara Kou Hun Bijin terus memandang Tio Bun Yang. Setelah mereka semua duduk, barulah ia membuka mulut.

"Bun Yang, beritahukan bagaimana Goat Nio bisa diculik orang!"

"Setelah memperoleh rumput Tanduk Nada di daerah Miauw, kami pulang dengan hati riang gembira."

Tio Bun Yang mulai menutur.

"Kemudian kami bermalam di sebuah penginapan...."

"Mana surat itu?"

Tanya Kou Hun Bijin. Tio Bun Yang segera menyerahkan sepucuk surat kepada Kou Hun Bijin. Setelah membaca bersama Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin bertanya.

"Engkau tahu siapa penculik itu?"

"Tidak tahu."

"Engkau memang goblok!"

Tegur Kou Hun Bijin melotot.

"Kenapa engkau berpisah kamar dengan Goat Nio?"

"Aku...."

Wajah Tio Bun Yang memerah.

"Aku...."

"Bijin, mereka berdua cuma merupakan sepasang kekasih, bukan sepasang suami isteri. Nah, bagaimana mungkin mereka tidur sekamar?"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Itu tidak apa-apa,"

Ujar Kou Hun Bijin lantang.

"Yang penting tidak berbuat begitu."

"Kalau sudah sekamar, mungkinkah mereka tidak akan kontak?"

Tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.

"Kalau mau kontak, di tempat mana pun bisa,"

Sahut Kou Hun Bijin, lalu menatap Tio Bun Yang seraya bertanya.

"Kenapa.engkau dan Goat Nio pergi ke daerah Miauw?"

"Untuk mengambil rumput Tanduk Naga."

"Jadi kalian berdua sudah tahu mereka minuml obat penghilang kesadaran?"

Tanya Kou Hun Bijinl "Kami sama sekali tidak tahu, itu dikarenakanl ingin menolong para ketua partai-partai besar yang terkena pukulan yang dilancarkan Seng Hwe Sin Kun."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mereka menjadi gila, hanya dapat disembuhkan dengan rumput Tanduk Naga. Justru aku tidak menyangka sama sekali, rumput Tanduk Naga itu pun dapat menyembuhkan kakek dan lainnya."

"Seng Hwee Sin Kun?"

Tio Tay Seng tampak terkejut.

"Jadi dia telah berpihak pada Kui Bin Pang?"

"Dia...."

Tio Bun Yang memberitahukan tentang keadaan Seng Hwee Sin Kun, kemudian menambahkan.

"Namun dia telah mati di tangan Bu Ceng Sianli dan Kam Hay Thian."

"Betul,"

Sambung Kam Hay Thian.

"Bu Ceng Sianli membantuku membunuh Seng Hwee Sin Kun. Di saat itulah Kakek Lim dan Kakek Gouw ditangkap Kui Bin Pang."

"Oooh!"

Tio Tay Seng manggut-manggut.

"Aaaah...."

Mendadak Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku sudah ke sana ke mari mencari Goat Nio, tapi tiada hasilnya! Aku... aku bingung dan cemas sekali, entah dia diculik oleh siapa?"

"Ketua kami yang menculiknya,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"Apa?"

Seru Tio Bun Yang tak tertahan.

"Ketua Kui Bin Pang yang menculik Goat Nio?"

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk.

"Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?"

Tanya Tio Bun Yang tegang sambil rnenanlapnya.

"Dia baik-baik saja,"

Sahut Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Bahkan aku pun sempat bercakap-cakap dengan dia...."

Yo Kiam Heng menutur mengenai ketua Kui Bin Pang menyuruhnya membujuk gadis itu.

"Ketua Kui Bin Pang memang sangat tertarik kepada Goat Nio,"

Ujar Kwan Tiat Him.

"Sebab dia berpesan kepada kami, harus baik-baik memperlakukannya."

"Kalian tahu siapa ketua Kui Bin Pang itu?"

Tanya Tio Cie Hiong.

"Maaf, Paman,"

Jawab Yo Kiam Heng.

"Kami tidak tahu. Yang jelas dia semuda kami."

"Aku pun yakin, ketua Kui Bin Pang itu punya dendam pribadi dengan Saudara Bun Yang."

Kwan Tiat Him memberitakukan.

"Karena dia pernah bilang akan mencincang Saudara Bun Yang."

"Heran?"

Gumam Tio Bun Yang.

"Siapa ketua Kui Bin Pang itu? Kenapa dia begitu dendam kepadaku?"

"Siapa ketua Kui Bin Pang itu tidak perlu dibicarakan,"

Tandas Kou Hun Bijin sambil memandang Yo Kiam Heng.

"Yang penting kalian berdua harus mengantar kami ke markas Kui Bin Pang itu."

"Tidak bisa."

Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Bentak Kou Hun Bijin.

"Sebab di sana banyak sekali jebakan."

Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Kalau aku mengantar kalian ke sana, sama juga pergi cari mati."

"Engkau tidak tahu jebakan-jebakan itu?"

Tanya Kim Siauw Suseng.

"Kami semua tidak tahu, kecuali ketua sendiri,"

Jawab Yo Kiam heng jujur dan menambahkan.

"Tapi kami akan berusaha menolong Nona Siang Koan."

"Aaaah...!"

Kou Hun Bijin menghela nafas panjang.

"Kiam Heng!"

Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya.

"Sebetulnyanya siapa kalian berdua?"

"Kakek kami adalah anggota Kui Bin Pang. Kedudukan kakek kami tinggi sekali, yakni Dua Pelindung,"

Jawab Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Kakek kami menutur tentang Kui Bin Pang kepada ayah kami, lalu ayah kami menutur kepada kami. Maka kami tahu jelas mengenai Kui Bin Pang. Ketika melihat kembang api aneh di angkasa, kami pun tahu bahwa itu kode dari Kui Bin Pang untuk memanggil para anggotanya berkumpul. Aku berangkat ke tempat tujuan, di tengah jalan bertemu saudara Kwan. Kami bercakap-cakap, dan sejak itu kami menjadi teman baik."

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Lalu kenapa kalian berdua berkhianat?"

"Karena kami tahu bahwa Kui Bin Pang itu perkumpulan jahat. Lagi pula sebelum kami mencapai tempat tujuan, kami bertemu seorang tua."

Ujar Yo Kiam Heng.

"Orang tua itu adalah anak Tetua Kui Bin Pang. Beliau menasihati kami dan lain sebagainya. Setelah kami bertemu ketua Kui Bin Pang, kami pun sering memberi informasi tentang kegiatan Kui Bin Pang kepada orang tua itu"

"Oooh!"

Tio Cie Hiong manggut-manggut lagi dan bertanya.

"Bagaimana kepandaian ketua Ku Bin Pang?"

"Sangat tinggi sekali."

Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Bahkan dia pun memiliki sebuah genta maut."

"Genta maut?"

Tio Cie Hiong mengerulk; kening.

"Ya."

Yo Kiam Heng mengangguk.

"Apabil genta maut itu dibunyikan, maka pihak lawan pasti mati."

"Oh?"

Tio Cie Hiong mengerutkan kening lagi, namun kemudian manggut-manggut.

"Kini para anggota itu telah mati semua, apa rencana kalian sekarang?"

"Tentunya kami harus kembali ke markas", jawab Yo Kiam Heng.

"Sebab kami harus berusaha menolong Nona Siang Koan."

"Terimakasih, Saudara Yo! "

Ujar Tio Bun Yang.

"Oh ya! Bagaimana kalau aku meny; salah seorang di antara kalian?"

"Jangan!"

Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Sebab akan membahayakan diri kita. Biar kami saja yang berupaya menolong Nona Siang Koan karena ketua Kui Bin Pang telah mempercayai kami".

"Itu..."Tio Bun Yang nampak ragu.

"Saudara Tio!"

Kwan Tiat Him tersenyum.

"Percayalah! Kalau Saudara yang muncul justru akan membahayakan diri Nona Siang Koan."

"Kalau begitu...."

Tio Bun Yang memandang Kou Hun Bijin seakan minta pendapat.

"Baiklah."

Kou Hun Bijin manggut-manggut. Kalian berdua harus dapat menolong putriku!"

"Ya."

Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him mengangguk.

"Agar aman dan tidak terjadi lagi hal-hal yang tak diinginkan, maka alangkah baiknya Sie Keng Hauw, Lie Ai ling, Lu Kam Hay Thian dan Lu Hui San tinggal di pulau ini, tidak boleh ke Tionggoan."

"Kami..."

Mereka berempat saling memandang.

"Benar."

Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan.

"Sedangkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soal Lan dan Bokyong Sian Hoa harus segera pulang ke Tayli."

"Memang harus begitu,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Ilu agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

"Paman,"

Tanya Lam Kiong Soat Lan pada Tio Cie Hiong.

"Mereka berdua pulang ke markas Kui Bin Pang, apakah ketua Kui Bin Pang tidak akan mencurigai mereka?"

"Kalau mereka berdua pulang dalam keadaan seperti sekarang, tentunya akan menimbulkan kecurigaan ketua Kui Bin Pang itu,"

Sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Oleh karena itu, sebelum mereka ke Tionggoan, aku harus melukai mereka seberat-beratnya."

"Paman...."

Lam Kiong Soat Lan terkejut bukan main.

"Adik Soat Lan,"

Ujar Yo Kiam Heng.

"Memang harus begitu, agar ketua Kui Bin Pang tidak mencurigai kami."

Wajah Lam Kiong Soat Lan agak memerah, karena Yo Kiam Heng memanggilnya adik, namun gadis itu bergirang dalam hati.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay yang usil itu langsung tertawa terbahak-bahak.

"Soat Lan, pemuda itu memanggilmu adik, maka engkau pun harus memanggilnya kakak lho! Jangan malu-malu, aku tahu kalian berdua sudah saling jatuh hati! Ha ha ha...!"

"Kakek Tua!"

Wajah Lam Kiong Soat Lan bertambah merah.

"Kami...."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan seraya berkata.

"Kiam Heng, kalau engkau berhasil menolong putriku, barulah kuijinkan Soat Lan mencintaimu."

"Isteriku!"

Bisik Kim Siauw Suseng.

"Tidak boleh mengatakan begitu."

"Itu mendorong semangatnya untuk menolong Goat Nio,"

Sahut Kou Hun Bijin dengan berbisik pula.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Bisik-bisik nih ya!"

"Pengemis bau, jangan terus menyindir!"

Bentak Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Hati-hati engkau, sebab aku sedang kesal nih!"

"Oh?"

Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Ayah,"

Tanya Lim Peng Hang mendadak.

"Apakah Bun Yang seorang yang menyertai kami ke Tionggoan?"

"Ya."

Sam Gan Sin Kay mengangguk.

"Cukup dia seorang diri saja."

"'Kapan kami kembali ke Tionggoan?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Peng Hang!"

Bentak Sam Gan Sin Kay.

"Engkau sudah sedemikian tua, tapi masih seperti anak kecil! Pikir sendiri harus berangkat kapan, tidak perlu bertanya padaku! Dasar!"

"Baik."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Kami akan kembali ke Tionggoan esok pagi."

"Ayah kok begitu cepat kembali ke Tionggoan?"

Mata Lim Ceng Im mulai basah.

"Ceng Im!"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Anakmu sudah begitu besar, kok engkau malah seperti anak kecil!"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Tadi pengemis bau menegur Lim Peng Hang, kini Lim Peng Hang menegur anaknya! Dasar penyakit turunan!"

"Eh? Bijin...."

Sam Gan Sin Kay melotot.

"Engkau sudah bisa tertawa? Bukankah engkau masih kesal?"

"Sudahlah!"

Ujar Tio Tay Seng.

"Kalian jangan terus ribut saja! Urusan akan jadi runyam lho!"

Kou Hun Bijin dan Sam Gan Sin Kay masih saling melotot, namun mulut mereka tidak mengeluarkan suara.

"Kalian...."

Tio Tay Seng memandang Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soal Lan dan Bokyong Sian Hoa seraya berkata.

"Kalian bertiga pun harus pulang ke Tayli esok pagi!"

"Kami...."

Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Bokyong Sian Hoa saling memandang.

"Beng Kiat,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kalian bertiga memang harus pulang esok pagi. Setelah ketua Kui Bin Pang dibasmi, barulah kalian boleh pesiar kemari lagi."

"Ya, Kakek."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oh ya!"

Gouw Han Tiong memandangnya sambil tersenyum.

"Kalau memang engkau dan Sian Hoa sudah saling mencinta, lebih baik cepat-cepat menikah saja!"

"Kakek...."

Wajah Toan Beng Kiat kemerah-merahan.

"Kakek tidak salah,"

Ujar Bokyong Sian Hoa.

"Setelah sampai di Tayli, kami pasti segera menikah."

"Ha ha ha!"

Gouw Han Tiong tertawa gembira.

"Bagus! Bagus!"

"Adik Sian Hoa, engkau tidak bohong?"

Tanya Toan Beng Kiat dengan wajah berseri.

"Aku tidak bohong. Tapi...."

Bokyong Sian Hoa menghela nafas panjang.

"Dalam keadaan begini, pantaskah kita melangsungkan pernikahan?"

"Itu...."

Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala.

"Memang tidak pantas, maka aku lidak akan mendesakmu."

"Kakak Beng Kiat, engkau sungguh berpengertian!"

Ujar Bokyong Sian Hoa dengan tersenyum mesra.

"Yaaah...!"

Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Kalau begitu, selelah Bun Yang berkumpul kembali dengan Goat Nio, barulah kalian menikah."

"Ya, Kakek."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Kini hari sudah mulai gelap, kalian boleh beristirahat,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Ya. Kakek."

Toan Beng Kiat mengangguk, lalu menarik Bokyong Sian Hoa ke belakang, Lam Kiong Soat Lan terpaksa ikut ke belakang.

Sedangkan Yo Kiam Heng terus memandang gadis itu, tentunya tidak terlepas dari mata Sam Gan Sin Kay.

"Ha ha ha!"

Pengemis tua itu tertawa.

"Anak muda, tunggu apalagi? Cepatlah susul dia ke belakang!"

"Kakek Pengemis, aku...."

Yo Kiam Heng tampak ragu-ragu dan malu-malu.

"Cepat susul gadis pujaan hatimu itu!"

Seru Sam Gan Sin Kay.

"Dia sangat mengharap kedatanganku, lho!"

"Ya."

Yo Kiam Heng segera ke belakang.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gembira.

"Kini Soat Lan pun sudah punya kekasih! Bagus! Bagus!"

"Dasar pengemis bau!"

Kou Hun Bijin melotot.

"Sudah hampir mampus tapi masih tetap usil!"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Kalau aku mampus, pasti jadi setan usil!"

Sementara Tio Bun Yang, Kwan Tiat Him, Kam Hay Thian dan Lu Hui San terus memJ bungkam..

"Bun Yang, kalian pun boleh ke belakang. Temanilah mereka!"

Ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk, lalui mengajak Kwan Tiat Him, Kam Hay Thian dara Lu Hui San ke belakang.

-oo0dw0oo.

Setelah berada di halaman belakang, suasana di situ pun menjadi ramai, diselingi pula dengan suara tawa yang riang gembira.

"Aku sama sekali tidak menyangka,"

Ujar Toan Beng Kiat sambil memandang Kam Hay Thian dan Lu Hui San.

"Kalian berdua bisa akur, bahkan saling mencinta pula."

"Ini yang disebut jodoh,"

Sahut Kam Hay Thian sambil tertawa.

"Seperti kalian berdua."

"Oh, ya?"

Toan Beng Kiat juga tertawa, kemudian memandang Lam Kiong Soat Lan.

"Benarkah engkau sudah jatuh hati kepada Saudara Yo?"

"Eh?"

Lam Kiong Soat Lam cemberut.

"Kok sekarang engkau jadi usil sih? Mau tahu saja urusan orang!"

"Aku boleh dikatakan sebagai kakakmu, ten-tunva aku harus tahu. Ya, kan?"

Sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum, lalu memandang Yo Kiam Heng serava bertanya.

"Saudara Yo. engkau belum punya anak isteri kan?"

"Belum,"

Sahut Yo Kiam Heng.

"Bahkan aku pun belum punya kekasih."

"Kalau begitu...."

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Engkau sungguh-sungguh jatuh hati kepada Soat Lan?"

"Ya,"

Sahut Yo Kiam Heng cepat tanpa berpikir sejenak pun.

"Aku memang telah jatuh hati kepadanya. Maka, aku tidak mencekokinya dengan obat penghilang kesadaran."

"Saudara Yo,"

Sela Kam Hay Thian.

"Seandainya engkau tidak jatuh hati kepada Soat Lan, tentu kami celaka semua."

"Jangan berkata begitu, Saudara Kam!"

Ujar Yo Kiam Heng sungguh-sungguh.

"Kalau pun aku tidak jatuh hati kepada Soat Lan, aku juga akan berupaya menolong kalian."

"Terimakasih, Saudara Yo!"

Ucap Kam Hay Thian. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan langsung memandang Toan Beng Kiat seraya bertanya.

"Bagaimana kalian tertangkap oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Ketika kami sedang melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang, mendadak muncul lima orang berpakaian putih dan memakai kedok setan warna hijau. Mereka mengundang kami ke markas Kui Bin Pang dengan alasan bahwa kalian berada di sana. Maka, kami memenuhi undangan mereka. Ternyata undangan itu cuma merupakan perangkap saja."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Oooh!"

Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Karena itu, Soat Lan pun bertemu saudara Yo!"

"Jodoh!"

Sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa, kemudian memandang Tio Bun Yang, yang duduk diam dari tadi.

"Eh? Kenapa engkau terus melamun?"

"Aaah...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku sedang memikirkan Goni Nio "

"Jangan khawatir, Saudara Bun Yang!"

Ujat Yo Kiam Heng.

"Aku dan Tiat Him pasli hei upaya menolongnya, percayalah!"

"Aku mempercayai kalian, namun tetap mengkhawatirkannya,"

Sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di saat bersamaan, Tio Bun Yang melihat Lam Kiong Soat Lan berjalan ke tempat lain, dan memandang ke arah Yo Kiam Heng.

"Saudara Yo!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Soat Lan ke tempat lain, cepatlah engkau susul dia! Mungkin dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu."

"Oh?"

Yo Kiam Heng segera menoleh. Dilihatnya Lam Kiong Soat Lan berjalan ke arah sebuah pohon. Segeralah pemuda itu berlari ke arahnya.

"Adik Soat Lan...."

"Kakak Kiam Heng..."

Sahut Lam Kiong Soat Lan sambil duduk di bawah pohon itu.

"Mari kita duduk di sini!"

"Ya."

Yo Kiam Heng duduk di sebelahnya.

"Kakak Kiam Heng,"

Tanya Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah.

"Setelah engkau berhasil menolong Goat Nio, maukah engkau ke Tayli menengokku?"

"Itu sudah pasti. Tapi...."

Yo Kiam Heng menatapnya dalam-dalam.

"Entah engkau merasa senang apa tidak?"

"Aku senang sekali bila engkau ke Tayli menengokku,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan sambil menundukkan kepala.

"Kakak Kiam Heng, betulkah engkau sudah jatuh hati kepadaku?"

"Betul."

Yo Kiam Heng mengangguk dan bertanya.

"Engkau juga sudah jatuh hatikah kepadaku?' "Ya."

Lam Kiong Soat Lan tersenyum manis.

"Adik Soat Lan...."

Mendadak Yo Kiam Heng menggenggam tangannya erat-erat seraya berbisik.

"Aku sungguh gembira sekali!"

"Sama,"

Bisik Lam Kiong Soat Lan sekaligus balas menggenggam tangannya.

Di saat Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan sedang saling mencurahkan isi hati masing-masing, di saat bersamaan Tio Bun Yang dan Kwan Tiat Him juga sedang berbicara serius.

"Sudara Kwan, aku sangat mengharapkan bantuanmu."

"Tapi itu akan membahayakan dirimu,"

Sahut Kwan Tiat Him sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Biar aku dan Kiam Heng menolong Nona Siang Koan."

"Aku ingin tahu berada di mana markas Kui Bin Pang itu,"

Desak Tio Bun Yang.

"Engkau ingin ke sana menolong Nona Siang Koan kan?"

"Ya."

"Aaaah...!"

Kwan Tiat Him menghela nafas panjang.

"Engkau harus tahu bahwa di sana banyak jebakan. Kalau aku beritahukan itu sama juga mencelakai dirimu."

"Saudara Kwan,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh sungguh.

"Biar bagaimana pun aku harus ke sana menolong Goat Nio, tidak bisa cuma mengandalkan kalian."

Kwan Tiat Him berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk seraya berkata dengan kening berkerut-kerut.

"Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu"

"Terimakasih, Saudara Kwan!"

Ucap Tio Bun Yang girang.

"Tapi engkau tidak boleh berangkat ke sana sekarang!"

Pesan Kwan Tiat Him.

"Engkau harus ke markas pusat Kay Pang dulu, setelah itu barulah ke markas Kui Bin Pang, sebab aku dan Kiam Heng akan membantumu dari dalam."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Markas Kui Bin Pang terletak di puncak Gunung Mo Kui San (Gunung Setan Iblis),"

Bisik kwan Tiat Him memberitahukan.

"Namun engkau harus berhati-hati, karena banyak jebakan di sana!"

"Terimakasih! Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang girang.

"Terimakasih!"

Keesokan harinya, Tio Cie Hiong menyuruh Tio Bun Yang memanggil Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him.

"Paman panggil kami?"

Tanya Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him setelah berdiri di hadapan Tio Cie Hiong.

"Ya."

Tio Cie Hiong mengangguk dengan wajah serius.

"Hari ini kalian semua harus ke Tionggoan. Oleh karena itu, aku harus melukai kalian berdua."

"Silakan turun tangan, Paman!"

Ujar Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him serentak.

"Paman!"

Lam Kiong Soat Lan dengan wajah agak memucat.

"Adik Soal Lan,"

Ujar Yo Kiam Heng lembut.

"Paman Cie Hiong memang harus melukai kami. Kalau tidak, ketua Kui Bin Pang pasti mencurigai kami."

"Tapi...."

Mata Lam Kiong Soal Lan mulai basah.

"Soat Lan, engkau tidak usah cemas, aku cuma melukainya, tidak akan membuat dirinya celaka."

Sela Tio Cie Hiong dengan tersenyum.

"Paman...."

"Soat Lan, engkau harus tenang. Kalau mereka tidak dilukai, justru mereka akan celaka,"

Sambung Lim Ceng Im lembut.

"Bibi...."

Sementara Tio Cie Hiong sudah bangkit dari duduknya, lalu dengan perlahan-lahan mendekati Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Setelah itu, mendadak Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya.

"Aaaaakh...!"

Jerit Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Mereka berdua terpental beberapa depa. kemudian roboh dengan mulut mengeluarkan darah.

"Kakak Kiam Heng! Kakak Kiam Heng!"

Terriak Lam Kiong Soat Lan sambil menghampiri pemuda itu.

"Bagaimana lukamu? Apakah parah sekali?"

"Adik...."

Wajah Yo Kiam Heng pucat pias, begitu pula Kwan Tiat Him.

"Aku yakin ketua Kui Bin Pang mampu mengobati kalian,"

Ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.

"Walau kalian berdua telah terluka parah, namun jangan khawatir! Aku akan memberi kalian obat. tapi jangan dimakan sekarang, harus dimakan nanti! Kalau kalian makan sekarang, ketua Kui Bin Pang pasti curiga, karena dia akan memeriksa luka kalian."

"Te... terimakasih, Paman..."

Ucap Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian memberi mereka seorang sebutir obat, lalu kembali ke tempat duduk.

"Sekarang kalian boleh meninggalkan pulau ini."

Ujar Tio Tay Seng dan melanjutkan.

"Beng Kiat. Sian Hoa dan Soat Lan pun boleh berangkat ke Tayli sekarang."

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Peng Hang!"

Sam Gan Sin Kay memandangnya.

"Engkau dan Han Tiong serta Bun Yang boleh kembali ke markas sekarang."

"Kakek...!"

Seru Lim Ceng Im tak tertahan, karena merasa berat berpisah dengan ayahnya.

"Ceng Im, mereka harus berangkat sekarang, kalau tidak, Kay Pang pasti berantakan,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Benar."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Ceng Im, ayah dan Han Tiong serta Bun Yang memang harus berangkat sekarang.' "Ayah...."

Lim Ceng Im mulai terisak-isak.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Sudah berusia empat puluh lebih, tapi kok masih cengeng?"

"Ibu!"

Tio Bun Yang mentapnya.

"Kami harus berangkat sekarang."

"Hati-hati, Nak!"

Pesan Lim Ceng Im.

"Ya, Ibu."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang!"

Tio Cie Hiong menatapnya serius.

"Biar bagaimana pun, engkau harus menolong Goat Nio. Tapi... harus berhati-hati, jangan ceroboh!"

"Ya, Ayah."

Tio Bun Yang mengangguk lagi.

"Bun Yang!"

Kou Hun Bijin mulai bersuara.

"Hilangnya Goat Nio adalah tanggung jawabmu, maka engkau harus mencarinya!"

"Ya,"

Ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Kalau terjadi apa-apa atas diri Goat Nio, aku pun tidak akan hidup lagi."

"Bun Yang...."

Lim Ceng Im terkejut.

"Ibu...."

Mata pemuda itu tampak basah.

"Aku-aku sangat mencintai Goat Nio." -oo0dw0oo-Bagian ke enam puluh Mengosongkan Markas untuk menjebak Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him telah tiba di Gunung Mo Kui San. Karena mereka telah melakukan perjalanan, sehingga membuat luka mereka bertambah parah. Tiba-tiba muncul beberapa anggota Kui Bin Pang. Begitu melihat mereka, terkejutlah para anggota Kui Bin Pang itu.

"Toa Jie Hu Hoat...."

"Kalian... kalian..."

Sahut Yo Kiam Heng lemah.

"Cepat papah kami ke markas!"

Para anggota Kui Bin Pang itu segera memapah mereka. Berselang beberapa saat kemudian, sampailah di markas tersebut. Ketua Kui Bin Pang langsung memeriksa mereka, lalu memberi mereka semacam obat.

"Makanlah obat itu!"

Ujar ketua Kui Bin Pang.

"Terimakasih, Ketua!"

Sahut Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him, lalu makan obat tersebut.

"Luka kalian cukup parah,"

Ujar ketua Kui Bin Pang.

"Orang yang melukai kalian itu memiliki Iweekang yang sangat tinggi. Beritahukanlah kepadaku siapa orang itu!"

"Dia adalah Tio Cie Hiong."

Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Kepandaiannya memang tinggi sekali. Kami berdua tidak sanggup melawannya, untung masih dapat meloloskan diri."

"Bagaimana yang lain?"

Tanya ketua Kui Bin Pang.

"Para anggota itu telah terbunuh semua,"

Jawab Kwan Tiat Him.

"Sedangkan Lim Peng Hang dan lainnya telah sembuh."

"Apa?"

Ketua Kui Bin Pang tampak terkejut.

"Mereka telah sembuh?"

"Ya."

Kwan Tiat Him mengangguk.

"Siapa yang menyembuhkan mereka?"

"Tio Cie Hiong,"

Jawab Yo Kiam Heng dan menambahkan.

"Sungguh tak disangka, dia memiliki ilmu Penakluk Iblis!"

"Oooh!"

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Pantas dia dapat menyembuhkan mereka!"

"Ketua,"

Tanya Toa Sat Kui.

"Kini apa rencana kita?"

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Siang Koan Goat Nio masih berada di tangan kita, maka aku yakin mereka pasti akan menyerbu ke mari!"

"Itu tidak mungkin."

Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Sebab mereka tidak tahu berada di mana markas kita!"

"Lambat laun mereka pasti tahu,"

Sahut katun Kui Bin Pang.

"Oleh karena itu, aku justru punya suatu rencana."

"Ketua punya rencana apa?"

Tanya Kwan liat Him.

"Kita akan mengosongkan markas ini,"

Sahut ketua Kui Bin Pang sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha...!"

"Mengosongkan markas ini?"

Kwan Tiat Him bingung.

"Betul,"

Ketua Kui Bin Pang melanjutkan.

"Berhubung Siang Koan Goat Nio masih berada di sini, maka aku yakin mereka pasti akan menyerbu ke mari. Nah, markas kosong ini akan mengubur mereka. Ha ha ha...!"

"Maksud Ketua mengosongkan markas ini untuk menjebak mereka?"

Tanya Toa Sat Kui. 'Tidak salah."

"Kalau begitu... kita akan pindah ke mana?"

"Pindah ke Gurun Sih Ih."

"Apa?"

Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat itu tercengang.

"Kita semua pindah ke Gurun Sih Ih?"

"Ya."

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Di gurun itu terdapat sebuah tempat yang sangat indah, namun sangat misteri. Markas Kui Bin Pang dulu berada di sana. Bagi orang luar sulit mencapai tempat itu!"

"Oh?"

Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat saling memandang, kemudian Toa Sat Kui bertanya.

"Ketua sudah pernah ke sana?"

"Pernah."

Ketua Kui Bin Pang mengangguk.

"Kok ketua tahu tempat itu?"

Yo Kiam Heng heran.

"Ha ha ha!"

Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Ketua Kui Bin Pang lama meninggalkan sebuah peta. Aku mengikuti petunjuk dari peta itu, maka sampai di tempat misteri tersebut, ternyata terdapat sebuah bangunan besar yang penuh jebakan."

"Bangunan itu adalah markas Kui Bin Pang lama?"

Tanya Toa Sat Kui.

"Betul. Tempat itu berada di Gurun Sih Ih."

Ketua Kui Bin Pang memberitahukan.

"Bagi orang luar tidak mudah mencapai tempat itu. Kalau pihak Kay Pang atau pihak Hong Hoang To berani ke sana, mereka pasti mati di sana."

"Kalau begitu, tanya Toa Sat Kui.

"Kapan kita berangkat ke Gurun Sih Ih?"

"Sekarang,"

Sahut ketua Kui Bin Pang singkat.

"Sekarang?"

Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him tampak terkejut.

"Ya."

Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Aku yakin ada orang membuntuti kalian, maka pihak Kay Pang maupun pihak Hong Hoang To pasti sudah tahu markas kita ini. Oleh karena itu. kita harus segera meninggalkan markas ini. Sebelum kita berangkat, aku akan menggerakkan semua alat jebakan. Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Tio Bun Yang telah tiba di markas pusat Kay Pang. Betapa gembiranya para anggota Kay Pang dan Cian Chiu Lo Kay. Mereka bersorak sorai sambil memukul-mukulkan tongkat bambu ke tanah.

"Pangcu! Tetua!"

Panggil Cian Chiu Lo Kay sambil memberi hormat. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong manggut-manggut lalu duduk. Tio Bun Yang pun segera duduk.

"Syukurlah Pangcu dan Tetua sudah pulang!"

Ucap Cian Chiu Lo Kay.

"Lo Kay, selama ini apakah pernah terjadi sesuatu di sini?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Tidak, Pangcu,"

Jawab Cian Chiu Lo Kay dan menambahkan.

"Namun kami menerima suatu informasi dari istana."

"Oh?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Informasi tentang apa?"

"Menteri Ma yang sangat berkuasa itu telah mengutus beberapa orang ke Manchuria. Kalau tidak salah, menteri Ma bermaksud meminjam pasukan Manchuria untuk menghancurkan para pemberontak yang dipimpin Lie Tsu Seng, sebab kini Lie Tsu Seng telah berhasil menguasai beberapa kota."

"Oooh!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Itu urusan kerajaan, kita tidak perlu ikut campur."

"Pangcu!"

Cian Chiu Lo Kay menghela nafas panjang.

"Dulu Kay Pang pernah ikut berjuang menggulingkan Dinasti Goan (Mongol), setelah itu berdirilah Dinasti Beng (Ming)."

"Tidak salah."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Tapi pada waktu itu, negeri Han dijajah oleh bangsa Mongol. Maka Kay Pang ikut berjuang, kini...."

"Pangcu, kalau pasukan Manchuria memasuki Tionggoan, rakyat Han pasti menderita,"

Ujar Cian Chiu Lo Kay memberitahukan.

"Lo Kay...."

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu urusan politik, kita tidak perlu mencampurinya. Apabila pasukan Manchuria menyerbu Tionggoan, barulan kita menahan pasukan Manchuria itu."

"Ya, Pangcu."

Cian Chiu Lo Kay mengangguk.

"Bun Yang, kenapa engkau diam saja?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Kakek, aku...."

Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Memikirkan Goat Nio?"

"Ya."

"Bun Yang...."

Lim Peng Hang menatapnya.

"Bukankah engkau bermaksud pergi menolong Goat Nio?"

"Memang."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi... aku khawatir Kakek tidak memperbolehkan aku pergi."

"Kakek memperbolehkan engkau pergi, namun engkau harus berhati-hati!"

Pesan Lim Peng Hang dan berkata.

"Kakek pun tahu, engkau pasti sudah tahu markas Kui Bin Pang itu berada dimana. ya, kan?"

"Kok Kakek bisa menduga begitu?"

Tio Bun Yang heran.

"Engkau bersama Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him, mungkinkah engkau tidak bertanya kepada mereka?"

Sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Kakek...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Memang tidak bisa mengelabui mata Kakek."

"Engkau harus ingat, berhasil atau tidak menolong Goat Nio, engkau harus kembali ke sini!"

Pesan Lim Peng Hang.

"Agar engkau tidak terus melamun, engkau boleh berangkat sekarang."

"Terimakasih, Kakek!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Terimakasih!"

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya.

"Markas Kui Bin Pang itu berada di mana?"

"Di Gunung Mo Kui San!"

"Gunung Mo Kui San?"

Cian Chiu Lo Kay tampak terkejut.

"Gunung itu merupakan tempat bermukimnya setan iblis, maka dinamai Gunung Setan Iblis."

"Lo Kay!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Itu cuma tahyul. Oh ya, Lo Kay pernah ke gunung itu?"

"Tidak pernah."

Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala.

"Tapi gunung itu sulit sekali didaki, karena banyak batu curam dan pasir hidup."

"Pasir hidup?"

Tio Bun Yang tidak mengerti.

"Apa itu pasir hidup?"

"Siapa yang menginjak pasir itu, jangan harap bisa keluar lagi."

Cian Chiu Lo Kay menjelaskan.

"Sebab pasir itu dapat menyedot makhluk apa pun, karena itu, janganlah menginjaknya."

"Ya!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang!"

Pesan Gouw Han Tiong.

"Yang penting engkau harus berhati-hati, jangan bertindak ceroboh!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk lagi. lalu berpamit.

"Kakek, Kakek Gouw, aku mohon diri untuk berangkat ke Gunung Mo Kui San!"

"Baiklah."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Engkau berhasil atau tidak menolong Goat Nio, haruslah kembali ke sini!"

"Ya. Kakek,"

Ujar Tio Bun Yang "Aku akan kembali ke sini."

"Bun Yang,"

Ucap Gouw Han Tiong.

"Mudah mudahan engkau berhasil menolong Goat Nio!"

"Terimakasih, Kakek Gouw!"

Tio Bun Yang manggutmanggut kemudian melangkah pergi.

Setelah meninggalkan markas pusat Kay Pang, Tio Bun Yang langsung menuju arah Gunung Mo Kui San.

sesuai dengan petunjuk Kwan Tiat Him.

Beberapa hari kemudian, ia telah memasuki sebuah desa kecil.

Kebetulan ia melihat seorang tua dan segera menghampirinya.

"Paman tua, bolehkah aku bertanya?"

"Anak muda!"

Orang tua itu menatapnya.

"Engkau ingin bertanya apa?"

"Di mana letak Gunung Mo Kui San?"

"Gunung Mo Kui San?"

Orang tua itu tampak terkejut sekali.

"Anak muda, engkau mau ke gunung itu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Anak muda!"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lebih baik engkau jangan ke sana?"

"Kenapa?"

"Di sana banyak setan dan iblis."

Orang tua itu memberitahukan.

"Maka sering terdengar suara siulan yang sangat menyeramkan."

"Paman tua!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku ke sana justru ingin membasmi setan iblis itu."

"Oh?"

Orang tua itu memandangnya dengan mata terbelalak.

"Anak muda, engkau jangan bergurau!"

"Aku tidak bergurau. Paman tua,"

Sahut Tio Bun Yang. Mendadak badannya bergerak menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), dan seketika ia menghilang dari hadapan orang tua itu.

"Haaah?"

Mulut orang tua itu ternganga lebar sambil menengok ke sana ke mari.

"Anak muda, engkau berada di mana?"

"Paman tua, aku berada di sini,"

Sahut Tio Bun Yang, yang tahu-tahu sudah berdiri di hadapan orang tua itu.

"Eeeeh?"

Orang tua itu tertegun.

"Engkau... engkau bisa menghilang?"

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa membasmi setan iblis?"

Sahut Tio Bun Yang sambil tertawa.

"Sudah percaya. Paman tua?"

"Engkau..."

Orang tua itu terbelalak.

"Apakahl engkau jelmaan Dewa?"

"Kira-kira begitulah."

Tio Bun Yang terpaksa' berdusta, agar orang tua itu memberitahukannya letak Gunung Mo Kui San.

"Haaah...?"

Orang tua itu langsung menjatuh kan diri berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Maaf! Maaf, aku tidak tahu kehadiran Dewa."

"Di mana letak Gunung Mo Kui San?"

"Sudah tampak dari sini."

Orang tua itu memberitahukan sambil menunjuk ke arah timur.

"Gunung Mo Kui San itu kadang-kadang tidak tampak karena tertutup awan, bentuknya sangat menyeramkan."

"Terimakasih, Paman tua!"

Ucap Tio Bun Yang sambil melesat pergi.

"Dewa...!"

Panggil orang tua itu.

Karena tiada sahutan maka orang tua itu segera mendongakkan kepalanya.

Namun ia tidak melihat Bun Yang.

Cepat-cepat ia bangkit berdiri sambil menengok ke sana ke mari sekaligus bergumam.

"Dewa itu bisa menghilang. Tapi... kalau dia jelmaan Dewa, kenapa tidak tahu letak Gunung Mo Kui San? Mungkinkah dewa itu baru turun dari kahyangan, maka tidak tahu jalan?"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan pergi dan bergumam lagi.

"Bisa bertemu dewa, pertanda aku sangat beruntung. Tapi... buktinya aku hidup melarat. Mudah-mudahan selelah bertemu dewa itu, hidupku bisa berubah beruntung!"

Plak! Mendadak sebuah bungkusan jatuh di hadapan orang tua itu.

"Hah?"

Orang tua itu terkejut bukan main. Kemudian dipandangnya bungkusan itu dengan kening berkerut-kerut.

"Bungkusan apa itu?"

"Aku dewa memberikan kepadamu, Paman tua."

Terdengar suara sahutan, ternyata Tio Bun Yang yang menyahut, ia belum pergi jauh karena ingin melihat bagaimana sikap orang tua itu, justru malah mendengar gumaman orang tua itu, maka ia melempar sebungkus uang perak ke hadapannya.

"Terimakasih, dewa! Terimakasih!"

Orang tua itu langsung menyembah. Setelah itu barulah ia memungut bungkusan tersebut.

"Haaah? Betul-betul uang perak! Cukup untuk membeli sawah! Terimakasih, dewa!"

Tiba-tiba orang tua itu mengerutkan kening, kemudian menggaruk-garuk kepala sambil bergumam.

"Heran! Kenapa dewa itu memanggil aku paman tua? Jangan-jangan dia dewa kecil, maka memanggilku dewa tua! Ha ha ha...!"

Orang tua itu tertawa gembira sambil berjalan pergi.

-oo0dw0oo-Sementara Tio Bun Yang sudah hampir tiba di Gunung Mo Kui San.

Gunung tersebut menjulang tinggi, bentuknya memang sangat menyeramkan.

Bagi yang tak bernyali, tentu tidak akan berani mendekati gunung itu.

"Hik! Hik! Hik...!"

Mendadak terdengar suara tawa yang menyeramkan.

"Hik! Hik! Hik!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening, kemudian menengok ke sana ke mari.

Namun tidak melihat apa-apa, kecuali ranting pohon bergoyang-goyang terhembus angin.

Di saat itulah terdengar suara tawa yang menyeramkan lagi.

"Hik! Hik! Hik...!"

Menyusul terdengar pula suara yang amat menyeramkan.

"Aku ingin makan daging manusia! Aku ingin makan daging manusiai"

"Setan iblis dari mana?"

Bentak Tio Bun Yang.

"Cepatlah keluar, jangan terus bersembunyi!"

"Hik! Hik! Hik! Aku akan menghisap darahmu! Aku akan menghisap darahmu!"

Mendadak melayang turun sosok bayangan. Tanpa banyak bertanya lagi, Tio Bun Yang langsung menyerangnya, sehingga membuat sosok bayangan itu kelabakan. ' "Berhenti! Berhenti...!"

"Siapa engkau?"

Bentak Tio Bun Yang.

"Manusia atau setan iblis?"

"Aku manusia, bukan setan iblis,"

Sahut sosok bayangan itu.

"Anak muda! Engkau sudah lupa kepadaku ya?"

"Manusia...."

Tio Bun Yang menegasi sosok yang berdiri di hadapannya, ternyata seorang tua berkaki pincang.

"Eh? Lo cianpwee...."

"Ha ha ha!"

Orang tua pincang itu tertawa gelak. Dia tidak lain adalah guru Sie Keng Hauw.

"Aku ingin menakutimu, malah hampir terkena pukulanmu!"

"Lo cianpwee...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Sungguh kebetulan kita bertemu di sini!"

Ujar orang tua pincang dan bertanya.

"Bagaimana muridku itu, dia baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kini dia berada di Pulau Hong Hoang To."

"Syukurlah!"

Ucap orang tua pincang sambil tersenyum.

"Oh ya, engkau mau ke mana?"

"Mau ke Gunung Mo Kui San."

"Maksudmu ke markas Kui Bin Pang?"

"Ya."

"Percuma engkau ke sana."

"Kenapa?"

"Aku justru dari sana."

Orang tua pincang memberitahukan.

"Markas Kui Bin Pang itu telah kosong. Untung aku tahu tentang jebakan! Kalau tidak, aku sudah jadi mayat di sana."

"Apa?"

Wajah Tio Bun Yang berubah pucat pias.

"Markas Kui Bin Pang itu telah kosong?"

"Benar."

Orang tua pincang mengangguk.

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Anak muda!"

Orang tua pincang itu terbelalak.

"Kenapa engkau menghela nafas panjang?"

"Goat Nio dikurung di markas Kui Bin Pang itu. entah bagaimana nasibnya?"

Sahut Tio Bun Yang.

"Aku harus ke sana."

"Tunggu!"

Cegah orang tua pincang.

"Ada apa?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Goat Nio adalah kekasihmu kan?"

Orang tua' pincang menatapnya.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Gadis itu telah dibawa pergi tidak ada di markas itu."

Orang tua pincang memberitahukan.

"Siapa yang membawanya pergi?"

Tanya Tio Bun Yang cemas.

"Ketua Kui Bin Pang,"

Jawab orang tua pincang.

"Ketua Kui Bin Pang dan lainnya telah pergi semua."

"Mereka pergi ke mana?"

"Ke Gurun Sih Ih."

"Ke Gurun Sih Ih?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Mau apa mereka pergi ke sana?"

"Di Gurun Sih Ih terdapat sebuah tempat misteri."

Orang tua pincang memberitahukan.

"Markas Kui Bin Pang lama berada di tempat misteri itu."

"Kalau begitu, mereka ke markas itu. Ya, kan?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Betul."

Orang tua pincang manggut-manggut.

"Lo cianpwee tahu tempat itu?"

Tanya Tio Bun Yang penuh harap.

"Aku pernah dengar mengenai tempat itu, tapi...."

Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak tahu jelas berada di mana tempat misteri itu. Kalau tidak salah berada di tengah-tengah Gurun Sih Ih!"

"Di tengah-tengah Gurun Sih Ih?"

"Kalau tidak salah. Akan tetapi, tempat itu bisa hilang mendadak."

"Hilang mendadak?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Kok bisa hilang mendadak? Bolehkah lo cian-. pwee menjelaskannya?"

"Itu memang merupakan tempat misteri. Kalau kita berada di Gurun Sih Ih, kita akan melihat tempat itu."

Orang tua pincang menjelaskan.

"Namun begitu kita dekati tempat itu akan hilang mendadak pula."

"Kok bisa begitu?"

Tio Bun Yang heran.

"Entahlah."

Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.

"Maka sulit sekali untuk mencapai tempat itu.

"Lo cianpwee pernah ke sana?"

"Tidak pernah."

"Kalau begitu...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bagaimana mungkin ketua Kui Bin Pang mencapai tempat tersebut?"

"Dia dan lainnya pasti bisa mencapai tempat itu."

Sahut orang tua pincang memberitahukan.

"Ketua Kui Bin Pang itu pasti memperoleh peta peninggalan Pek Kut Lojin, maka dia dan lainnya bisa mencapai tempat itu."

"Aaaah...!"

Keluh Tio Bun Yang.

"Aku harus bagaimana?"

"Anak muda,"

Pesan orang tua pincang.

"Lebih baik engkau jangan ke sana, sebab sangat membahayakan dirimu!"

"Akan kupikirkan,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Sekarang aku harus ke markas Kui Bin Pang di Gunung Mo Kui San!"

"Percuma engkau ke sana, markas Kui Bin Pang itu sudah musnah!"

"Sudah musnah?"

"Ya. Telah kumusnahkan dengan bahan peledak, dan kini tinggal puing-puingnya saja."

"Oh! Kalau begitu..."

"Anak muda,"

Usul orang tua pincang.

"Lebih baik engkau kembali ke markas pusat Kay Pang, berunding dengan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong!"

"Ya, lo cianpwee."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Anak muda,"

Ujar orang tua pincang menghiburnya.

"Jangan cepat putus asa, percayalah! Engkau pasti akan berkumpul kembali dengan kekasihmu itu."

"Terimakasih. lo cianpwee!"

"Anak muda, sampai jumpa..."

Ucap orang tua pincang, sekaligus melesat pergi.

Tio Bun Yang berdiri termangu-mangu di tempat.

Beberapa saat kemudian barulah ia melesat pergi dengan tujuan kembali ke markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-Tio Bun Yang tiba di markas pusat Kay Pang dengan wajah murung.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong cuma memandangnya tanpa bertanya apa pun.

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang sambil duduk. Setelah Tio Bun Yang duduk, barulah Lim Peng Hang bertanya kepadanya.

"Bagaimana? Kau tidak berhasil mencari Goat Nio?"

"Yaaah...!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ketika hampir sampai di Gunung Mo Kui San, aku bertemu orang tua pincang."

"Orang tua pincang?"

Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Siapa dia?"

"Dia adalah guru Sie Keng Hauw. Putra tetua lama Kui Bin Pang,"

Ujar Tio Bun Yang memberitahukan.

"Aku sudah memberitahukan kepada Kakek, Kakek sudah lupa'"

Lim Peng Hang manggut-manggut "Lalu bagaimana?"

"Orang tua pincang itu memberitahukan kepadaku, bahwa markas Kui Bin Pang yang di Gunung Mo Kui San itu telah kosong."

"Apa?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertegun.

"Markas Kui Bin Pang itu telah kosong?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Orang tua pincang itu justru dari markas itu, ternyata ketua Kui Bin Pang telah membawa pergi Goat Nio."

"Oh?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Orang tua pincang itu pun telah memusnahkan markas Kui Bin Pang itu."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Dengan cara meledakkannya."

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya.

"Orang tua pincang itu memberitahukan kepadamu, ke mana ketua Kui Bin Pang dan lainnya?"

"Mereka semua ke Gurun Sih Ih."

"Apa?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terbelalak.

"Ke Gurun Sih Ih?"

"Ya."

"Kui Bin Pang memang berasal dari Gurun Sih Ih."

Ujar Lim Peng Hang dan menambahkan.

"Berarti mereka ke markas Kui Bin Pang lama yang di Gurun Sih Ih."

"Kakek tahu di Gurun Sih Ih itu terdapat sebuah tempat misteri?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Pernah dengar tapi tidak tahu jelas tentang tempat misteri itu,"

Sahut Lim Peng Hang sambil menggelengkan kepala.

"Aku pun pernah dengar, tapi tidak pernah ke tempat misteri itu,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Ayahku yang memberitahukan kepadaku, namun sayang sekali ayahku sudah tiada."

"Tui Hun Lojin tahu jelas mengenai tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Entahlah."

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Tapi ayahku pernah ke Gurun Sih Ih."

"Sayang sekali...."

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Ayahmu sudah tiada!"j "Oh ya!"

Gouw Han Tiong teringat sesuatu.

"Mungkin Cian Chiu Lo Kay tahu mengenai tempat misteri itu."

"Mungkin."

Lim Peng Hang manggut-manggut lalu bertepuk tangan. Tak lama muncullah seorang pengemis.

"Pangcu memanggilku?"

Tanya pengemis itu sambil memberi hormat.

"Cepat panggil Cian Chiu Lo Kay ke mari!"

Sahut Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu."

Pengemis itu segera ke depan. Berselang sesaat muncullah Cian Chiu Lo Kay, yang kemudian memberi hormat seraya bertanya.

"Ada urusan apa Pangcu memanggilku?"

"Duduklah Lo Kay!"

Sahut Lim Peng Hang. Setelah Cian Chiu Lo Kay duduk, barulah Lim Peng Hang bertanya.

"Engkau tahu tentang suatu tempat misteri di Gurun Sih Ih?"

"Pernah dengar,"

Jawab Cian Chiu Lo Kay tercengang.

"Kenapa Pangcu menanyakan tentang tempat misteri itu?"

"Sebab perkumpulan Kui Bin Pang telah ke tempat misteri itu."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Bahkan ketua Kui Bin Pang itu pun membawa Goat Nio ke sana."

"Oh?"

Air muka Cian Chiu Lo Kay tampak berubah.

"Kalau begitu, sulitlah mencarinya."

"Maksudmu?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Aku dengar, siapa pun tidak akan bisa mencapai tempat misteri itu,"

Jawab Cian Chiu Lo Kay memberitahukan.

"Sebab tempat misteri itu sepertinya cuma merupakah halusinasi saja, tidak nyata sama sekali, dapat dilihat tapi tak bisa dicapai bahkan bisa menghilang kalau didekati."

"Oh?"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Itu tidak mungkin,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Hanya omong kosong!"

"Bukan omong kosong."

Cian Chiu Lo Kay memberitahukan dengan wajah serius.

"Belasan tahun lalu, ada beberapa pendekar mencoba ke tempat misteri itu, namun mereka tidak pernah kembali."

"Kalau begitu...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bagaimana mungkin ketua Kui Bin Pang dan para anak buahnya mencapai tempat misteri itu?"

"Iya."

Cian Chiu Lo Kay manggut-manggut.

"Berarti ada suatu jalan menuju tempat misteri tersebut."

"Tidak salah,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Sebab markas Kui Bin Pang lama berada di tempat misteri itu, hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara menuju tempat misteri itu."

"Bun Yang!"

Cian Chiu Lo Kay memandangnya.

"Engkau bermaksud ke Gurun Sih Ih mencari tempat misteri itu?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu, tinggallah engkau di sini beberapa hari!"

Ujar Cian Chiu Lo Kay.

"Aku akan pergi menemui beberapa kawan karib untuk menanyakan tentang tempat misteri di Gurun Sih Ih itu."

"Terimakasih, Lo Kay!"

Ucap Tio Bun Yang.

Karena itu ia tinggal di markas pusat Kay Pang beberapa hari untuk menunggu informasi tersebut.

-oo0dw0oo-Bagian ke enam puluh satu Berangkat ke Gurun Sih Ih Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Bok yong Sian Hoa yang kembali ke Tayli, kini sudah tiba di kerajaan kecil itu.

Tentunya sangat menggembirakan Toan Hong Ya dan kedua orang tua mereka.."Ayah!

Ibu!"

Panggil Lam Kiong Soat Lan dengan air mata berderai-derai, itu sungguh me-f ngcjutkan kedua orang tuanya.

"Nak!"

Toan Pit Lian langsung merangkulnya.

"Kenapa engkau menangis? Beritahukanlah kepada ibu, siapa yang telah menghinamu?"

"Ibu...."

Lam Kiong Soat Lan terisak-isak. Ternyata gadis itu selalu memikirkan Yo Kiam Heng yang telah mencuri hatinya.

"Nak!"

Lam Kiong Bic Liong membelainya.

"Kenapa engkau? Beritahukanlah kepada ayah!"

Menyaksikan itu, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng pun tertegun. Perlahan-lahan Toan Wie Kie mendekati putranya, falu bertanya dengan suara rendah.

"Beng Kiat. apa yang terjadi atas diri Soat Lan?"

"Tidak terjadi apa-apa."

Toan Beng Kiat tersenyum dan berbisik.

"Dia mulai jatuh cinta...."

"Oooh-'"

Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Dia sangat kesal karena engkau memaksanya pulang. Ya, kan?"

"Tidak, Ayah."

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Kalau tidak, lalu kenapa?"

Tanya Toan Wie Kie heran.

"Ayah...."

Toan Beng Kiat menghela nafas.

"Panjang sekali kalau dituturkan, maka lebih baik kita ke ruang tengah saja."

"Baik."

Toan Wie Kie mengangguk.

"Mari kita ke ruang tengah!"

Mereka semua ke ruang tengah. Setelah duduk Toan Wie Kie berkata kepada putranya.

"Beng Kiat, tuturkanlah apa yang telah terjadi!"

"Setelah kami memasuki daerah Tionggoan, mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan. Ternyata mereka adalah Ngo Sat Kui dari perkumpulan Kui Bin Pang."

"'Haaah?"

Bukan main terkejutnya Toan Wie Kie.

"Lalu bagaimana?"

"Mereka mengundang kami ke markas dengan alasan bahwa ketua Kay Pang dan lainnya sudah berada di sana. Oleh karena itu, kami bertiga pun memenuhi undangan itu."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Begitu sampai di markas Kui Bin Pang, kami dikurung...."

"Oh?"

Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening.

"Jadi Ngo Sat Kui menjebak kalian?"

"Ya."

Toan Beng Kiat mengangguk dan melanjutkan.

"Ternyata Kakek Lim, Kakek Gouw, Kam Hay Thian, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling juga berada di dalam ruang balu itu."

"Goat Nio pun berada di situ,"

Sela Lam Kiong Soat Lan dan menambahkan.

"Tapi kemudian dia dipindahkan ke ruang lain!"

"Oh?"

Kening Lam Kiong Bie Liong berkerut-kerut.

"Setelah itu bagaimana?" -oo0dw0oo-

Jilid . 13

"Kami dicekoki semacam obat, setelah itu kami mulai kehilangan kesadaran."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Apa yang terjadi selanjutnya, kami sama sekali tidak mengetahuinya."

"Aku tahu,"

Sela Lam Kiong Soat Lan.

"Apa?"

Toan Beng Kiat terbelalak.

"Engkau tahu?"

"Ya."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Pada waktu itu, orang yang memakai kedok setan warna kuning tidak mencekoki aku dengan obat penghilang kesadaran melainkan dengan obat biasa. Dia pun memberitahukan namanya, sekaligus menyuruhku harus pura-pura seperti kehilangan kesadaran...."

"Dia adalah Yo Kiam Heng kan?"

Tanya Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Ng!"

Lam Kiong Soat Lan mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Memang dia."

"Oh ya!"

Toan Beng Kiat memandangnya.

"Engkau tidak terpengaruh oleh ilmu sesat itu?"

"Juga terpengaruh, namun ketika sampai di Pulau Hong Hoang To, aku sudah tersadar."

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Apa?"

Toan Wie Kie terbelalak.

"Kalian ke Pulau Hong Hoang To?"

"Itu atas saran Yo Kiam Heng kepada ketua Kui Bin Pang,"

Sahut Lam Kiong Soat.

"Dia dan temannya memimpin kami serta dua puluh anggota Kui Bin Pang pergi menyerbu Pulau Hong Hoang To."

"Oooh!"

Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut.

"Sungguh pintar Yo Kiam Heng itu!"

"Bagaimana hasil penyerbuan itu?"

Tanya Toan Wie Kie.

"Begitu sampai di Pulau Hong Hoang To, Yo Kiam Heng langsung memerintahkan kami membunuh para anggota itu. Kebetulan aku tersadar dari pengaruh ilmu sesat itu, maka langsung saja aku berseru agar pihak Pulau Hong Hoang To membunuh para anggota itu."

"Oooh!"

Toan Wie Kie manggut-manggut sambil tersenyum.

"Para anggota itu pasti mati semua. Ya, kan?"

"Ya."

Lam Kiong Soat Lan mengangguk dan melanjutkan.

"Di saat itu, barulah Paman Cie Hiong tahu mereka terpengaruh oleh ilmu sesat."

"Ilmu sesat apa itu?"

Tanya Lam Kiong Bie l umg.

"Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesat Pembetot Sukma)."

Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. Siapa yang terpengaruh oleh ilmu sesat itu, pasti akan menuruti perintah ketua Kui Bin Pang."

"Kenapa mereka menuruti juga perintah Yo Kiam Heng?"

Tanya Toan Wie Kie tidak mengerti.

"Ketua Kui Bin Pang menggunakan suatu cara agar mereka menuruti perintah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him,"

Jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa Kwan Tiat Him itu?"

Tanya Lam Kiong bu' Liong.

"Teman Yo Kiam Heng atau termasuk salah satu pelindung perkumpulan Kui Bin Pang,"

Jawab Toan Beng Kiat.

"Secara tidak langsung mereka malah menyelamatkan kami."

"Bagaimana setelah itu?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Setelah itu..."

Jawab Lam Kiong Soat Lan melanjutkan.

"Paman Cie Hiong mulai menyadarkan mereka dengan suara siulan. Di saat itu terdengar pula suara suling mengiringi suara siulan itu, dan tak lama muncullah Tio Bun Yang."

"Mereka berdua berhasil menyadarkan Kakek Lim dan lainnya?"

Tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Berhasil! Tapi...."

"Kenapa?"

"Ternyata Kakek Lim dan lainnya belum sadar betul, sebab mereka masih terpengaruh oleh obat penghilang kesadaran."

"Lalu bagaimana?"

"Paman Cie Hiong memeriksa mereka."

La Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Harus dengan rumput Tanduk Naga, barulah mereka bisa pulih"

"Oh?"

Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening.

"Apakah Cie Hiong memiliki rumput obat itu?"

"Tidak, tapi Kakak Bun Yang membawa rumput Tanduk Naga itu,"

Jawab Lam Kiong So Lan.

"Itu memang kebetulan sekali. Rumput obat itu digodok lalu diberikan kepada kakek Lim dan lainnya, tak seberapa lama kemudian, pulihlah mereka seperti sedia kala."

"Oooh!"

Lam Kiong Bie Liong menghela nafas panjang.

"Paman Cie Hiong menyuruh kami segera pulang."

Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Sedangkan Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Kai Hay Thian dan Lu Hui San tetap tinggal di Pulau Hong Hoang To!"

"Ngmm!"

Toan Wie Kie manggut-manggu "Itu demi keamanan kalian semua. Oh ya, bagaimana dengan Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him?"

"Mereka berdua kembali ke markas Kui Bi Pang. Tujuan mereka untuk menolong Goat Nio "

Jawab Lam Kiong Soat Lan dengan wajah muram.

"Itu..."

Kening Toan Wie Kie berkerut-kerut.

"Bukankah ketua Kui Bin Pang akan mencurigai mereka?"

"Sebelum kembali ke markas Kui Bin Pang,terlebih dahulu Paman Cie Hiong melukai mereka..."

Ujar Lam Kiong Soat Lan, yang air matanya mulai meleleh lagi.

"Luka Yo Kiam Heng parah sekali."

"Memang harus begitu,"

Sahut Toan Wie Kie. Kalau tidak, ketua Kui Bin Pang pasti mencurigai mereka."

"Paman Cie Hong pun memberi mereka obat."

Dan Beng Kiat memberitahukan, kemudian melambaikan sambil tersenyum.

"Malam itu.... Soat Loan berduaan dengan Yo Kiam Heng."

"Eeeh?"

Wajah Lam Kiong Soat Lan langsung ?merah.

"Beng Kiat!"

Tanya Toan Pit Lian penuh perhatian.

"Yo Kiam Heng masih muda?"

"Masih muda dan tampan,"

Jawab Toan Beng kiat memberitahukan.

"Dia dan Soat Lan sudah saling jatuh hati."

"Oh?"

Toan Pit Lian tersenyum sambil bertanya pada putrinya.

"Soat Lan, betulkah engkau jatuh hati kepada pemuda itu?"

"Beng Kiat omong kosong,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan cemberut.

"Dia omong sembarangan."

"Baik."

Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Kalau aku bertemu Yo Kiam Heng, aku akan memberitahukannya mengenai ucapanmu ini."

"Hah?"

Lam Kiong Soan Lan terkejut buka main.

"Jangan diberitahukan, aku... aku cuma.."

"Cuma apa?"

Toan Beng Kiat menatapnya sambil tersenyum.

"Soat Lan,"

Sela Bokyong Sian Hoa yang diam dari tadi.

"Lebih baik engkau mengaku, bahwa engkau telah jatuh hati kepada Yo Kiam Heng Kalau tidak, aku pun akan mengadu kepadanya mengenai ucapanmu barusan."

"Sian Hoa!"

Lam Kiong Soat Lan melotot "Engkau kok begitu jahat sih?"

"Makanya engkau harus mengaku!"

Sahi Bokyong Sian Hoa sambil tertawa geli.

"Hi hi hi Ayoh, cepatlah mengaku!"

"Aku...."

Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala.

"Aku dan dia memang sudah saling, saling...."

"Saling apa? Lanjutkanlah!"

Desak Bokyong Sian Hoa.

"Saling jatuh hati,"

Sahut Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah.

"Bagus! Hi hi hi!"

Bokyong Sian Hoa tertail geli lagi.

"Malam itu kalian berdua saling mencurahkan perasaan masingmasing, kan?"

"Kalian berdua juga begitu kan?"

Sahut Lam Kiong Soat Lan balas menggodanya.

"Bahkan kalian berdua pun sudah saling mencium. Ya, kan?"

"Eh? Soan Lan?"

Wajah Toan Beng Kiat memerah.

"Engkau...."

"Soat Lan,"

Ujar Bokyong Sian Hoa.

"Kalau sudah saling mencinta, apa salahnya saling mencium pula? Nah, tanyakan kepada kedua orang tuamu, apakah mereka tidak pernah saling mencium?"

"Lho?"

Wajah Toan Pit Lian kemerah-merahan.

"Kenapa kami terbawa-bawa dalam pembicaraan kalian?"

"Boleh kan?"

Bokyong Sian Hoa tertawa.

"Agar menyemarakan suasana."

"Oh ya!"

Toan Wie Kie teringat sesuatu.

"Bagaimana keadaan Goat Nio di markas Kui Bin Pang itu?"

"Dia baik-baik saja. Tapi...."

Lam Kiong Soat Lan menghela nafas panjang.

"Kakak Kiam Heng memberitahukan kepadaku, bahwa ketua Kui Bin Pang jatuh hati kepada Goat Nio."

"Oh?"

Toan Wie Kie mengerutkan kening. 'Kalau begitu... ketua Kui Bin Pang itu pasti masih muda? Kalian tahu siapa dia?"

"Tidak tahu."

Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Sebab dia memakai kedok setan warna merah, jadi kami tidak pernah melihat wajahnya."

"Oooh!"

Toan Wie Kie manggut-manggut. kini kalian bertiga telah tiba dengan selamat. Maka, mulai sekarang kalian bertiga tidak boleh ? Tionggoan."

"Ayah...."

Toan Beng Kiat menatapnya.

"Kalau ketua Kui Bin Pang itu sudah dibasmi, tentunya kami boleh ke Tionggoan lagi kan?"

"Tentu boleh."

Toan Wie Kie manggut-manggut dan menambahkan.

"Namun sementara ini, kalian bertiga tidak boleh ke mana-mana."

"Ya, Ayah."

Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oh ya!"

Lam Kiong Bie Liong memandang putrinya seraya bertanya.

"Bukankah Kam Hay Thian telah berpisah dengan Lu Hui San? Kok mereka bisa bersama di markas Kui Bin Pang?"

"Mereka telah akur dan saling mencinta,"

Ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Syukurlah!"

Ucap Lam Kiong Bie Liong sambil manggutmanggut. Di saat bersamaan, Lam Kiong Soat Lan pun menghela nafas panjang.

"Aaaah...!"

"Soan Lan!"

Lam Kiong Bie Liong menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa engkau menghela nafas panjang? Ada sesuatu yang terganjal di dalam hatimu?"

"Aku...."

Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala.

"Dia pasti mencemaskan pemuda pujaan hatinya itu,"

Ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.

"Ya, kan?"

"Sian Hoa...."

Lam Kiong Soat Lan cemberut.

"Jangan cemas!"

Ujar Toan Beng Kiat sungguh-sungguh.

"Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya. Oh ya, bukankah dia telah berjanji...."

"Kakak Beng Kiat,"

Tanya Bokyong Sian Hoa bernada menggoda Lam Kiong Soat Lan.

"Pemuda ganteng itu pernah berjanji apa kepada Soat Lan?"

"Kalian...."

Lam Kiong Soat Lan membanting-lunting kaki.

"Kalau tidak salah..."

Sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa.

"Yo Kiam Heng pernah berjanji akan berkunjung ke mari, tujuannya menengok Soat Lan lho!"

"Kalian... kalian sungguh jahat!"

Lam Kiong Soat Lan membanting-banting kaki lagi.

"Beng Kiat,"

Tanya Lam Kiong Bie Liong dengan wajah berseri.

"Betulkah Yo Kiam Heng akan kemari?"

"Betul, Paman."

Toan Beng Kiat mengangguk dan menambahkan.

"Kelihatannya dia sangat mencintai Soat Lan."

"Oh?"

Wajah Lam Kiong Bie Liong bertambah berseri.

"Dia adalah pemuda baik yang juga lemah lembut?"

"Betul, Paman."

Toan Beng Kiat mengangguk lagi.

"Dia memang cocok dengan Soat Lan, mereka berdua merupakan pasangan yang serasi."

"Syukurlah!"

Ucap Lam Kiong Bie Liong sambil tertawa gembira.

"Ha ha ha! Kini legalah hati kami!"

"Soat Lan,"

Tanya Toan Pit Lian mendadak.

"Engkau mencintai Yo Kiam Heng?"

"Ibu...."

Wajah Lam Kiong Soat Lan memerah "Sebab ibu dengar bahwa Yo Kiam Heng mencintaimu. Kaiau kau tidak mencintainya, bukankah percuma? Ya, kan?"

Toan Pit Lian tersenyum.

"Oleh karena itu, ibu ingin tahu bagamana engkau, mencintainya atau tidak."

"Ibu, aku...."

Lam Kiong Soat Lan menundukkan wajahnya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara rendah.

"Aku juga mencintainya."

"Apa? Ibu tidak mendengar. Coba ulangi sekali lagi!"

Ujat Toan Pit Lian sambil tertawa "Ibu jahat!"

Lam Kiong Soat Lan menghempas-hempaskan kakinya dan mulutnya pun terus cemberut.

"Ha ha ha!"

Toan Wie Kie tertawa gelak.

"Syukurlah kini Soat Lan sudah punya kekasih kami turut bergembira!"

"Paman...."

Wajah Lam Kiong Soat Lan memerah.

"Jangan terus menggodaku.... Mendadak gadis itu berlari ke dalam menuju kamarnya. Sedangkan Toan Wie Kie dan La Kiong Bie Liong terus tertawa gembira. Toan Pit Lian juga putrinya. tersenyum, lalu ke dalam menyusul putrinya. Lam Kiong Soan Lan duduk di pinggir ranjang sambil melamun. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah, ternyata Toan Pit Lian berjalan perlahan menghampirinya.

"Ibu..."

Panggil Lam Kiong Soat Lan.

"Nak!"

Sahut Toan Pit Lian, kemudian duduk di sisinya sambil tersenyum.

"Kenapa engkau melamun? Memikirkan Yo Kiam Heng ya?"

"Ibu...."

Lam Kiong Soat Lan menghela nafas panjang.

"Aku... aku mencemaskannya."

"Nak!"

Toan Pit Lian membelainya.

"Jangan emas, dia tidak akan terjadi apa-apa! Percayalah"

"Tapi...."

Air mata gadis itu mulai meleleh. Kalau ketua Kui Bin Pang mencurigainya, dia pasti celaka."

"Tidak mungkin ketua Kui Bin Pang akan mencurigainya,"

Ujar Toan Pit Lian dan menambahkan.

"Sebab Cie Hiong telah melukai mereka, itu akan menghapus kecurigaan ketua Kui Bin Pang."

"Tapi...."

Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening.

"Dia dan Kwan Tiat Him masih harus nenyelamatkan Goat Nio. Bila ketua Kui Bin Pang mengetahuinya, mereka berdua pasti celaka."

"Jangan khawatir!"

Toan Pit Lian tersenyum, Mereka berdua pasti berhati-hati, dan akan memperhitungkan keadaan, tidak akan bertindak ceroboh."

"Ibu...."

Lam Kiong Soat Lan terisak-isak.

"Aku baru mulai jatuh cinta kepadanya, namun harus berpisah dengan dia pula! Aaaah...!"

"Bukankah dia telah berjanji akan ke mari menengokmu?"

"Betul. Tapi kapan?"

"Nak!"

Toan Pit Lian tersenyum.

"Engkaii harus bersabar, suatu hari nanti dia pasti ke mari"

"Tapi...."

"Jangan cemas!"

Toan Pit Lian membelainya "Oh ya, Bun Yang masih berada di Pulau Hong Hoang To?"

"Kami berangkat bersama, namun berpencar setelah memasuki daerah Tionggoan. Dia bersama Kakek Lim dan Kakek Gouw ke markas pusi Kay Pang, kami menuju ke mari, sedangkan Kiam Heng dan Kwan Tiat Him ke markas Kui Bin Pang."

"Kalau begitu..."

Pikir Toan Pit Lian dan melanjutkan.

"Bun Yang pasti akan pergi menolong Goat Nio. Berarti dia akan bertemu Kiam Heng dan Kwan Tiat Him."

"Tapi...."

Lam Kiong Soat Lan mengerutld kening.

"Kakak Bun Yang tidak tahu tempat markas Kui Bin Pang."

"Nak!"

Toan Pit Lian tersenyum.

"Ibu yakin Bun Yang tahu itu."

"Kok Ibu begitu yakin?"

Lam Kiong Soat Lan heran.

"Bun Yang pasti bertanya kepada Kwan Tiat Him. Nah, tentunya Bun Yang sudah tahu markas Kui Bin Pang berada di mana. Oleh karena itu dia pasti ke sana menolong Goat Nio."

"Setelah Kakak Bun Yang berhasil menolongGoat Nio, apakah Yo Kiam Heng akan meninggalkan markas Kui Bin Pang?"

"Itu sudah pasti,"

Sahut Toan Pit Lian.

"Di saat itulah dia akan ke mari menengokmu, maka engkau tidak usah khawatir."

"Ya, Ibu."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut, kemudian dengan wajah agak berseri ia bergumam.

"Dia pasti ke mari. Dia pasti kemari menengokku." -oo0dw0oo-Tio Bun Yang sama sekali tidak bisa duduk diam. Sudah tiga hari ia berada di markas pusat Kay Pang, namun Cian Chiu Lo Kay masih belum kembali. Itu membuatnya resah dan gelisah "Bun Yang!"

Lim Peng Hang menatapnya.

"Bersabarlah! Mungkin dalam satu dua hari ini Lo Kay akan kembali."

"Engkau harus tenang!"

Ujar Gouw Han Tiong. Namun ketika baru melanjutkan, mendadak muncul Cian Chiu Lo Kay.

"Pangcu...."

Cian Chiu Lo Kay memberi homat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Duduklah, Lo Kay!"

Sahut Lim Peng Hang Setelah Cian Chiu Lo Kay duduk Tio Bun Yang segera bertanya.

"Bagaimana, Lo Kay, apakah sudah ada infomasi mengenai tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?"

"Aaaah...!"

Cian Chiu Lo Kay menghela nafas panjang.

"Aku sudah menemui beberapa kawan karibku namun mereka .."

"Mereka tidak tahu tentang tempat misteri itu?"

Tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening "Mereka cuma pernah mendengar, tapi tidak tahu jelas mengenai tempat misteri itu,"

Jawab Cian Chiu Lo Kay.

"Sebaliknya mereka malah menganjurkan agar tidak ke sana."

"Kenapa?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Kata mereka, siapa yang pergi cari tempat misteri itu, pasti tidak bisa kembali,"

Jawab Cia Chiu Lo Kay "Maka..."

"Biar bagaimana pun..."

Ujar Tio Bun Yang tegas.

"Aku harus ke Gurun Sih Ih."

"Bun Yang...."

Lim Peng Hang menatapnya dengan kening berkerut-kerut.

"Engkau sudal mengambil keputusan itu?"

"Ya, Kakek."

Tio Bun Yang mengangguk "Aku lelaki, harus bertanggung jawab terhada| sesuatu.

Lagi pula....

Goat Nio adalah kekasihki dia berada di tangan ketua Kui Bin Pang.

Apakah aku harus tinggal dlam?

Kalau begitu aku Jadi Lelaki macam apa?"

"Ngmm!"

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Bun Yang engkau memang harus menyelamatkannya sebab itu adalah tugas kewajibanmu."

"Tapi...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kenling-"Gurun Sih Ih begitu luas, bagaimana mungkin engkau bisa mencari tempat misteri itu?"

"Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan,"

Sahut Tio Bun Yang dan melanjutkan.

"Sebagai leaki sejati dan gagah berani, harus sanggup menempuh bahaya apa pun. Kalau tidak, aku pasti mempermalukan Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To. Ya, kan? "Benar."

Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Tapi alangkah baiknya dipikirkan masak-masak, jangan bertindak ceroboh!"

"Ya"

Tio Bun Yang mengangguk.

Setelah berunding cukup lama, akhirnya Lim Peng Hang memperbolehkan Tio Bun Yang berangkat ke Gurun Sih Ih.

Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang ke gurun tersebut dengan menunggang kuda.

-oo0dw0oo-Tujuh delapan hari kemudian, Tio Bun Yan telah tiba di Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan) Ia mampir di sebuah kedai teh.

Setelah duduk, ia memesan teh dan makanan ringan kepada seorang pelayan.

Pelayan itu segera menyajikan apa yang di pesannya.

Namun ketika baru mau menghiru tehnya, Tio Bun Yang mendadak tersentak karen mendengar percakapan beberapa pedagang.

"Kini daerah di sekitar Gurun Sih Ih tidak akan aman lagi, sebab belasan hari lalu telah muncul setan iblis di gurun itu."

"Setan iblis apa?"

"Sungguh menyeramkan! Setan iblis itu berpakaian serba putih, wajah mereka sangat menakutkan, bahkan juga mengeluarkan suara yan, amat menyeramkan."

"Oh? Kalau begitu, kita kaum pedagang tida bisa melewati Gurun Sih Ih lagi!"

"Memang begitulah. Aaah, tidak disangka setan iblis itu muncul lagi di Guruh Sih Ih!"

"Kakekku pernah bercerita, dulu setan iblis itu pernah muncul, tapi kemudian hilang begitu saja. Tak disangka kini mereka muncul lagi, ini sungguh membuat gelisah kaum pedagang!"

"Bahkan juga menggelisahkan beberapa suku kecil di sekitar Gurun Sih Ih...."

Ketika mereka berbicara sampai di situ, mendadak Tio Bun Yang menghampiri mereka, kemudian memberi hormat seraya berkata.

"Maaf, Tuan-tuan, bolehkah aku bertanya?"

"Mau tanya apa?"

Sahut salah seorang pedagang yang berusia empat puluhan.

"Duduklah!"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang sambil duduk.

"Paman tahu tentang tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?"

Tanyanya. Pertanyaan tersebut membuat para pedagang itu saling memandang dengan air muka berubah, dan kemudian menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian.

"Anak muda, kenapa engkau bertanya tentang tempat misteri itu?"

Tanya pedagang yang berusia empat puluhan.

"Aku ingin ke tempat misteri itu,"

Sahut Tio Bun Yang jujur.

"Haaah...?"

Para pedagang itu terbelalak.

"Anak muda, engkau sedang mabuk atau sedang bergurau dengan kami?"

"Aku bersungguh-sungguh, Paman."

"Bersungguh-sungguh?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku memang ingin ke tempat misteri itu, mohon Paman memberi petunjuk!"

"Anak muda!"

Pedagang berusia empat puluhan itu menggeleng-gelangkan kepala.

"Engkau masih muda, kenapa mau cari mati?"

"Paman...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku ke tempat misteri itu dengan tujuan mencari orang."

"Mencari orang?"

Para pedagang itu terperangah.

"Anak muda, setahu kami di tempat misteri itu cuma terdapat setan iblis, tidak ada orang sama sekali."

"Paman,"

Desak Tio Bun Yang.

"Berilah petunjuk, agar aku bisa sampai di tempat misteri itu!"

"Maaf, Anak muda!"

Sahut pedagang berusia empat puluhan itu.

"Kami sama sekali tidak tahu jalan menuju tempat misteri itu, sebab kami tidak pernah ke sana."

"Paman,"

Tanya Tio Bun Yang.

"Kira-kira siapa yang pernah ke tempat misteri itu?"

"Tidak ada."

Pedagang berusia empat puluhan itu menggelengkan kepala.

"Kaum pedagang tidak pernah berani ke tempat itu.

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Oh ya, di mana ada rumah penginapan?"

"Keluar dari kedai teh ini, engkau berbelok ke kiri, tak lama akan sampai di rumah penginap. Peng Lay."

"Terimakasih, Paman!"

Ucap Tio Bun Yan lalu kembali ke tempatnya, dan duduk termenung di situ.

Para pedagang itu mulai berbisik-bisik membicarakannya.

Lama sekali Tio Bun Yang termenung.

setelah itu barulah ia meneguk tehnya, kemudian bersantap.

Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 3

Baca Juga: Istana Pulau Es 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert