Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 14

Eps 14 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

"Jangan kurang ajar terhadap gadis itu!"

Berkelebat sosok bayangan ke hadapan lelaki bertampang seram itu.

Semula lelaki tersebut tampak terkejut, namun begitu melihat yang ber-diri di hadapannya adalah seorang pemuda, seketika juga ia tertawa gelak.

"Ha ha ha! Anak muda! Engkau ingin cari mati ya?"

Ujarnya.

"Mm!"

Dengus pemuda itu, yang tidak lain "Ialah Tio Bun Yang.

"Cepatlah kalian enyah! Kalau tidak...."

"Anak muda!"

Bentak lelaki bertampang seram itu.

"Aku adalah perampok sadis. Kalau berani menggangguku, engkau pasti mampus! Serang dia!"

Belasan anak buah perampok itu langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

"Hati-hati!"

Seru gadis itu cemas.

Tio Bun Yang tersenyum, kemudian mendadak mengibaskan lengan bajunya dan seketika terdengar suara hiruk-pikuk.

Trang!

Ting!

Biang!

Semua senjata mereka terpental entah kemana.

Kemudian badan Tio Bun Yang berputar bagaikan angin puyuh dan terdengarlah suara jeritan.

"Aaakh! Aaaakh...!"

Belasan orang itu terpental beberapa depa dan jatuh gedebuk dengan mulut mengeluarkan darah segar.

"Haah...?"

Mulut laki-laki berwajah seram itu ternganga lebar, begitu pula gadis tersebut. Setelah merobohkan perampok-perampok itu. Tio Bun Yang segera mendekati kepala perampok itu.

"Anak muda!"

Bentak kepala perampok gusar "Engkau harus mampus di tanganku!"

Kepala perampok itu menyerangnya dengan golok. Tio Bun Yang tersenyum dan badannya bergerak. Seketika juga ia menghilang dari hadapan kepala perampok itu.

"Haaah?"

Kepala perampok itu terbelalak. Ia menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat Tio Bun Yang.

"Aku berada di belakangmu!"

Terdengar suara di belakangnya. Kepala perampok itu cepat-cepat mengayunkan goloknya ke belakang, tapi cuma mengenai tempat kosong, sebab Tio Bun Yang sudah tidak berada di situ.

"Hah?"

Kepala perampok itu terkejut bukan main. Dalam waktu bersamaan mendadak muncul Tio Bun Yang di hadapannya sambil tersenyum-senyum.

"Engkau sering merampok dan memperkosa kan?"

Tanya Tio Bun Yang perlahan sambil menatapnya tajam.

"Aku...."

Kepala perampok itu betul-betul ciut nyalinya menghadapi Tio Bun Yang.

"Aku...."

"Terus terang aku tidak pernah membunuh, namun aku tetap akan menghukummu."

"Apa?"

Kepala perampok itu melotot.

"Engkau berani menghukumku?"

"Kenapa tidak?"

Sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum.

"Aku... aku harus membunuhmu!"

Teriak kepala perampok itu sambil menyerang Tio Bun Yang dengan goloknya.

Tio Bun Yang tetap berdiri diam di tempat, etlika golok itu mengarah kepadanya, barulah ia mengibaskan lengan bajunya.

Trang!

Golok itu terpental.

"Hah?"

Betapa terkejutnya kepala perampok itu. Ia memandang Tio Bun Yang dengan wajah pucat pias.

"Aku tidak akan membunuhmu,"

Ujar Tio Bj Yang.

"Tapi aku akan memusnahkan kepandaian mu."

"Ampun, Siauhiap! Ampun!"

Kepala perampok itu langsung berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Aku telah mengampuni, maka tidak membunuhmu. Hanya akan memusnahkan kepandaianmu."

"Siauhiap, jangan engkau musnahkan kepandaianku, aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan lagi!"

"Bersumpah?"

Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala.

"Itu percuma."

"Siauhiap...."

Akan tetapi, mendadak tangan Tio Bun Yang bergerak dan seketika kepala perampok itu menjerit.

"Aaaakh...!"

Mulutnya mengeluarkan darah Ternyata Tio Bun Yang telah memusnahkan kepandaiannya.

"Ayoh, cepat pergi!"

Bentak Tio Bun Yan Kepala perampok itu berjalan pergi dengan sempoyongan.

Para anak buahnya mengikuti dengan langkah tertatih-tatih, membuat gadis itu tertawa geli.

Di saat itulah mendadak Tio Bun Yang menepuk punggung gadis itu untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok oleh kepala perampok.

Begitu jalan darahnya terbuka, gadis itu Iangsung meloncat bangun, kemudian menatap lio Bun Yang dengan kagum.

"Nona,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kini engkau sudah aman, boleh meninggalkan tempat ini."

"Aku..."

Gadis itu menundukkan kepala.

"Kenapa engkau?"

Tio Bun Yang heran.

"Aku... aku tidak tahu harus ke mana,"

Sahut padis itu sambil menghela nafas panjang.

"Apa?"

Tio Bun Yang terbelalak.

"Nona...."

"Aku... aku minggat dari rumah,"

Gadis itu memberitahukan dengan jujur.

"Jadi aku tidak tahu harus ke mana."

"Nona!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Kenapa engkau minggat dari rumah? Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?"

"Tidak."

Gadis itu menggelengkan kepala.

"Aku tidak mau pulang, karena aku benci kepada ayah-ku."

"Nona!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Tidak baik engkau membenci ayahmu sendiri, engkau akan jadi anak durhaka lho!"

"Tapi ayahku sangat jahat."

Gadis itu menundukkan kepala.

"Ayahmu tidak jahat terhadapmu kan?"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayo kuantar pulang! Mungkin ayahmu sangat mencemaskan."

"Ayahku tidak akan mencemaskanku."

Sahut gadis itu."Dia... dia cuma mementingkan diri sendiri."

"Nona!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau engkau tidak mau pulang, lalu mau ke mana?"

"Aku..."

Gadis itu menatap Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar.

"Aku ikut engkau saja."

"Mana boleh."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Itu tidak baik"

"Kalau begitu..."

Gadis itu membanting-bantingkan kakinya.

"Lebih baik aku dibunuh kepa perampok itu saja."

"Dia tidak bermaksud membunuhmu, melainkan ingin memperkosamu lho!"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kepandaianmu masih rendah, tidak baik berkecimpung di rimba persilatan."

"Siapa bilang aku berkecimpung di rimba pel* silatan?"

"Lho? Bukankah kini engkau telah mulai berkecimpung di rimba persilatan?"

"Aku... aku cuma ingin berkelana."

"Nona...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku masih ada urusan lain, tidak bisa terus-menerus menemanimu di sini."

"Engkau...."

Gadis itu terisak-isak.

"Engkau kejam!"

"Apa?"

Tio Bun Yang terbelalak.

"Aku kejam? Padahal aku telah menyelamatkanmu barusan, kenapa engkau masih bilang aku kejam?"

"Karena... karena engkau tidak mau mengajakku pergi."

Ujar gadis itu dengan suara rendah.

"Nona...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Hei!"

Mendadak wajah gadis itu berseri.

"Kita jangan bercakap-cakap dengan cara berdiri begini, mari kita duduk di bawah pohon!"

"Nona...."

"Ayolah!"

Desak gadis itu. Tio Bun Yang menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk di bawah pohon dan gadis itu segera duduk di sisinya.

"Nona, aku tidak bisa lama-lama di sini."

"Lho?"

Gadis itu menatapnya.

"Aku tidak menyuruhmu lama-lama di sini, melainkan Cuma ingin bercakap-cakap denganmu."

"Nona ingin mengatakan apa?"

"Hei!"

Gadis itu menatapnya dalam-dalam.

"Bolehkah aku tahu namamu?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Tio Bun Yang..."

Gadis itu manggut-manggut, lalu memandangnya seakan sedang menunggu sesuatu, namun Tio Bun Yang diam saja.

"Hei! kenapa engkau tidak menanyakan namaku?"

"Aku..."

Tio Bun Yang memandang jauh ke depan.

"Namaku Ma Giok Ceng."

Ternyata gadis itu adalah puteri kesayangan Menteri Ma, yang minggat dari rumah. Ia terus memandang Tio Bun Yang.

"Oh ya, bolehkah aku memanggilmu kak Bun Yang?"

"Boleh."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu..."

Wajah Ma Giok Ceng berseri.

"Engkau harus memanggilku adik lho!"

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang, kepandaianmu tinggi sekali. Bolehkah engkau mengajar aku ilmu silat?"

Tanya Ma Giok Ceng mendadak.

"Apa?"

Tio Bun Yang terbelalak.

"Aku tidak punya waktu."

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng cemberutl "Kenapa sih engkau? Kok kelihatannya tidak begitu senang kepadaku? Apakah engkau merasa sebal kepadaku?"

"Aku tidak merasa sebal kepadamu, melainkankan hatiku sedang resah"

Tio Bun Yang menghela nafas "Resah kenapa? Ditinggal kekasih ya?"

Tanya Ma Giok Ceng sambil tertawa.

"Aaaah..."

Tio Bun Yang menghela nafas lagi. kemudian memandangnya seraya berkata.

"Engkau gadis periang, tidak seharusnya minggat dari rumah. Aku yakin ayahmu sangat memanjakanmu."

"Yaah!"

Ma Giok Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu memang benar, tapi...."

"Adik Giok Ceng, beritahukanlah kepadaku siapa ayahmu dan kenapa engkau pergi meninggikan rumah?"

"Aku akan memberitahukanmu, namun engkau tidak boleh memberitahukan kepada orang lain! Karena akan mencelakai diriku!"

Pesan Ma Giok Ceng sungguh-sungguh.

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku berjanji! Nah, beritahukanlah!"

"Sebetulnya aku adalah putri menteri Ma di ibu kota."

Ma Giok Ceng memberitahukan.

"Belum lama ini, muncul seorang pemuda di rumahku, Dia mampu mengalahkan guruku, maka ayahku mengangkatnya sebagai kepala pengawal."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut dan bertanya.

"Siapa pemuda itu?"

"Kalau tidak salah, dia bernama Kwee Teng An."

Ma Giok Ceng memberitahukan lagi.

"Kepandaiannya tinggi sekali dia mampu mengalahkan guruku dalam sepuluh jurus."

"Oh?"

Kening Tio Bun Yang berkerut.

"Kwee Teng An...."

"Engkau kenal dia?"

"Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut, tapi... sudah lupa."

Tio Bun Yang mengelengkan kepala dan bertanya.

"Lalu kenapa engkau minggat dari rumah?"

"Sebab.... kelihatan dia bukan pemuda baik. Aku khawatir ayahku akan menjodohkanku padanya, maka aku minggat."

"Sebetulnya engkau tidak usah minggat, kankah engkau bisa menolak apabila ayahmu mej jodohkanmu dengan pemuda itu? Ya, kan?"

"Itu tidak bisa, sebab ayahku pasti terus menerus mendesakku. Lagi pula... kepandaian pemuda itu sangat tinggi, dia pasti bisa memaksaku."

"Adik Giok Ceng,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Lebih baik kuantar engkau pulang, biar aku yang bicara dengan ayahmu."

"Tiada gunanya."

Ma Giok Ceng menggeleng gelengkan kepala.

"Engkau tidak pernah mendengar tentang ayahku?"

"Memang tidak."

"Ayahku sangat berpengaruh di sana. Entah sudah berapa banyak menteri dan jenderal yang mati di tangan ayahku."

"Ayahmu juga berkepandaian tinggi?"

"Ayahku tidak mengerti ilmu silat, namun kaisar sangat mempercayainya."

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut "Jadi ayahmu memfitnah mereka di hadapan kaisar, maka kaisar menurunkan perintah menghukum mati mereka. Begitu kan?"

"Ya."

Ma Giok Ceng mengangguk dengan wajah murung.

"Dulu yang berpengaruh di istana adalah Lu Thay Kam, namun sudah mati. Kini malah muncul ayahmu."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Engkau kenal Lu Thay Kam?"

Tanya Ma Giok Ceng dengan heran.

"Kenal."

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menutur tentang itu.

"Oooh!"

Ma Giok Ceng manggut-manggut.

"Aku tidak menyangka engkau mencintai putri angkatnya itu."

"Engkau jangan salah paham. Yang mencintai Lui Hui San adalah Kam Hay Thian, bukan aku."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kini mereka berdua sudah saling mencinta."

"Karena itu...."

Ma Giok Ceng tersenyum.

"Engkau pun menjadi patah hati. Ya kan?"

"Tentu tidak,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Aku menganggap Lu Hui San sebagai adik. Masih ada Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan, namun mereka semua sudah punya kekasih."

"Bagaimana engkau? Sudah punya kekasih?"

"Aku...."

Tio Bun Yang menghela nafas.

"Aku."

"Kalau engkau belum punya kekasih, aku... bersedia menjadi kekasihmu."

Ujar Ma Giok Ceng dengan suara rendah dan wajah kemerah-merahan.

"Eh? Engkau...."

Tio Bun Yang terbelalak.

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng tersenyum lembut. 'Begitu melihatmu, aku pun sangat tertarik kepadamu. Aku...."

"Adik Giok Ceng...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku hanya bisa menerimamu sebagai adik bukan sebagai kekasih "Kenapa?"

Ma Giok Ceng tampak kecewa "Sebab aku sudah punya kekasih, namanya Sian Koan Goat Nio."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi...."

"Kenapa?"

"Dia diculik oleh ketua Kui Bin Pang, aku sedang mencarinya."

"Oooh!"

Ma Giok Ceng manggut-manggut "Pantas engkau bilang tidak punya waktu untuk mengajarku ilmu silat, ternyata karena itu!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng menatapnya seraya berkata.

"Perkenankanlah aku ikut engkau! Kalau tidak, aku tidak tahu harus ke mana."

"Tapi...."

"Engkau tega membiarkan aku berkeliaran ke sana ke mari? Bagaimana kalau aku bertemu penjahat lagi?"

"Itu... itu...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng memandangnya dengan penuh harap.

"Apakah engkau tega meninggalkanku seorang diri di sini?"

"Aku...."

Mendadak wajah Tio Bun Yang berseri.

"Kebetulan aku akan ke markas Ngo Tok kauw di kota Kang Shi, engkau boleh ikut aku kesana."

"Terimakasih, kakak Bun Yang!"

Ucap Ma Giok Ceng dengan wajah berseri.

"Terimakasih."

"Ketua Ngo Tok Kauw bernama Phang Ling Cu, dia kakak angkatku."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Engkau akan aman tinggal di sana."

"Ya."

Ma Giok Ceng mengangguk.

"Terima-kasih!"

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!"

Tio Bun Yang bangkit berdiri.

Ma Giok Ceng juga ikut berdiri, kemudian mereka berdua berangkat ke kota Kang Shi.

Dalam perjalanan menuju markas Ngo Tok Kauw, Tio Bun Yang mengajar Ma Giok Ceng ilmu silat tingkat tinggi, tentunya sangat menggembirakan gadis itu.

Ia terus belajar dengan giat sekali, maka tidak heran kalau kepandaiannya mengalami kemajuan pesat.

Hari ini mereka beristirahat di sebuah lembah.

Ma Giok Ceng memanfaatkan kesempatan ini untuk berlatih.

Sedangkan Tio Bun Yang duduk termenung di bawah pohon, ternyata sedang mjemikirkan Siang Koan Goat Nio.

Kemudian menghela nafas panjang sambil mengeluarkan sulingnya Terdengarlah suara suling yang sangat menggetarkan kalbu.

Ma Giok Ceng berhenti berlatih dan segera mendekati Tio Bun Yang, lalu duduk di sisinya sambil mendengar suara suling itu.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Bun Yang berhenti meniup sulingnya dan wajahnya tampak murung sekali.

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng memandangnya kagum.

"Engkau pandai sekali meniup suling."

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng menghela nafas panjang.

"Engkau teringat kepada Goat Nio?"

"Ng!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku rindu sekali kepadanya. Aaah...!"

"Kakak Bun Yang...."

Mendadak Ma Giok teng terisak-isak.

"Aku tidak pernah jatuh hati kepada pemuda mana pun, namun setelah bertemu denganmu, aku justru jatuh hati tapi engkau sudah punya kekasih."

"Adik Giok Ceng, aku menganggapmu sebagai adik, maka aku pun akan menyayangimu."

"Aaah...!"

Keluh Ma Giok Ceng.

"Aku akan lebih bahagia apabila menjadi isterimu. Namun itu cuma merupakan suatu mimpi di siang hari lolong."

"Adik Giok Ceng...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku...."

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng tersenyum."

Aku kagum kepadamu, karena walau kita berduaan, engkau tidak pernah kurang ajar terhadapku."

"Adik Giok Ceng...."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku yakin kelak engkau pasti ketemu pemuda tampan dan baik percayalah!"

"Kakak Bun Yang?"

Tanya Ma Giok Ceng mendadak.

"Bagaimana engkau seandainya terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Aku tidak bisa hidup lagi."

"Kalau engkau tidak bisa hidup, aku pun akan... mati,"

Ujar Ma Giok Ceng dengan suara rendah.

"Apa?"

Tio Bun Yang tertegun, kemudia menghela nafas panjang.

"Adik Giok Ceng, engkau tidak boleh begitu"

"Yaaah!"

Ma Giok Ceng menghela nafas panjang "Siapa tahu kelak aku maIah akan menjadi biarawati." -oo0dw0oo-Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan Ma Giok Ceng sudah tiba di kota Kang Shi.

Tio Bun Yang langsung mengajaknya ke markas Nno Tok Kauw.

Kedatangan Tio Bun Yang bersama gadis itu sungguh mencengangkan Phang Ling Cu ketua Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...."

"Kakak Ling Cu!"

Tio Bun Yang tersenyum "Mari kuperkenalkan, gadis ini bernama Ma Giok Ceng."

"Oooh!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggui "Kakak Ling Cu!"

Ma Giok Ceng segera memberi hormat.

"Terimalah hormatku!"

Ngo Tok Kauwcu balas memberi hormat, la mempersilakan mereka duduk.

"Adik Bun Yang ke mari ada urusan penting?"

Tanyanya kemudian "Aaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku..."

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu menatapnya.

"Engkau belum berhasil mencari Goat Nio ?"

"Belum."

Tio Bun Yang menggelengkan ke pala kemudian menutur tentang semua kejadian itu dan menambahkan.

"Entah dibawa ke mana Goat Nio?"

"Biar bagaimanapun engkau harus tabah,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Aku pun akan membantu mencari jejak Ketua Kui Bin Pang itu."

"Terimakasih, Kakak Ling Cu!"

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana cara engkau berkenalan dengan Giok Ceng?"

"...."

Tio Bun Yang memberitahuan.

".... maka aku menyelamatkannya."

"Oooh!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, kemudian memandang Ma Giok Ceng seraya bertanya.

"Bolehkah aku tahu identitasmu?"

"Boleh."

Ma Giok Ceng mengangguk.

"Tapi Kakak Ling Cu tidak boleh memberitahukan kepada orang lain, sebab akan mencelakai diriku."

"Baik."

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Aku berjanji!"

"Aku adalah putri menteri Ma...."

Ma Giok Ceng memberitahukan tentang semua itu.

"Maka aku minggat dari rumah."

"Sungguh tak disangka!"

Ngo tok kauwcu menggelenggelengkan kepala.

"Ternyata engkau adalah putri menteri Ma yang sangat berpengaruh istana!"

"Aaah...!"

Ma Giok Ceng menghela nafas panjang.

"Ayahku adalah menteri jahat, aku... aku mengkhawatirkannya."

"Oh ya!"

Tanya Ngo Tok Kauwcu.

"Engkau tahu Pemuda itu berasal dari penguruan mana?"

"Tidak tahu."

Ma Giok Ceng menggelengkan kepala.

"Guruku telah berpesan kepadaku harus berhati-hati terhadapnya. Kata guruku, dia pemuda yang sangat licik."

"Ngmm!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut "Lalu apa rencanamu sekarang?"

Ma Giok Ceng segera memandang Tio Bun Yang, dan pemuda itu langsung berkata.

"Kakak Ling Cu, sementara ini biar dia tinggal di sini agar dirinya aman."

"Baiklah."

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Dia boleh tinggal di sini. Tapi... markasku ini tentunya tidak bisa menyamai rumah menteri Ma lho!"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Ma Giok Ceng cepat "Aku lebih senang tinggal di sini, sungguh!"

"Kini urusan ini telah beres, maka aku harus segera pergi mencari Goat Nio,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang...."

Wajah Ma Giok Ceng langsung berubah murung.

"Kok sudah mau pergi?"

"Aku...."

"Adik Bun Yang!"

Ngo Tok Kauwcu senyum.

"Lebih baik engkau bermalam di sini besok pagi baru berangkat."

"Tapi?!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening "Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng memandang dengan penuh harap, membuat Tio Bun Yang merasa tidak tega berangkat sekarang.

"Adik Bun Yang,"

Desak Ngo Tok Kauwu "Bermalam di sini saja, besok pagi baru berangkat."

"Baiklah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Terimakasih, Kakak Bun Yang!"

Wajah Ma Giok Ceng langsung ceria.

"Terimakasih!"

"Eh?"

Ngo Tok Kauwcu tertawa geli.

"Giok Ceng, kenapa engkau mengucapkan terimakasih padanya?"

"Aku...."

Wajah gadis itu kemerah-merahan.

"Aku...."

"Yaaah...!"

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Kalau Adik Bun Yang belum punya kekasih, kalian berdua memang serasi."

"Kakak Ling Cu,"

Tanya Ma Giok Ceng mendadak.

"Bukankah lelaki boleh punya isteri lebih dari satu?"

"Itu memang kemauan kaum lelaki,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu sambil tertawa.

"Seandainya engkau sudah punya suami, apakah memperbolehkan suamimu punya isteri muda?"

"Itu...."

Ma Giok Ceng menggelengkan kepala.

"Tentu aku tidak memperbolehkannya."

"Nah! Itulah...."

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Maka tidak mungkin Adik Bun Yang akan punya isteri lebih dari satu."

"Aaaah...!"

Keluh Ma Giok Ceng.

"Giok Ceng!"

Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Ketika pertama kali bertemu Adik Bun Yang. Aku pun sangat tertarik kepadanya. Pada waktu itu aku memakai cadar di muka."

"Oh?"

Ma Giok Ceng tertegun.

"Kenapa Kakak memakai cadar di muka?"

"Karena wajahku rusak karena racun."

Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Yang menyembuhkan mukaku adalah Adik Bun Yang."

"Oh?"

Ma Giok Ceng terkejut.

"Kakak Yang juga mahir ilmu pengobatan?"

"Ya."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Tentu nya engkau tahu, kepandaiannya tinggi sekali."

"Betul. Aku telah menyaksikan kepandaianya. Bahkan dia pun mengajarku ilmu silat tinggi tinggi."

Ma Giok Ceng memberitahukan.

"Bagus!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut kemudian menghela nafas panjang.

"Adik Bun Yang memang tampan, baik hati, lemah lembut berpengertian dan berperasaan."

"Wuah!"

Ma Giok Ceng tertawa kecil.

"Di borong semua!"

"Memang begitulah."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Kakak Ling Cu!"

Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala.

"Jangan terlampau memuji diri ku, karena sesungguhnya aku juga punya kekurangan."

"Kekuranganmu justru merupakan kelebihan bagi orang lain,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Kakak Ling Cu...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang pergi mencari Siang Koan Goat Nio.

Keberangkatannya justru membuat Ma Giok Ceng bermuram durja.

Ngo Tok Kauwcu terus menghibur gadis itu, namun malah meledakkan tangisnya yang ditahan-tahan.

Diam-diam Ngo Tok Kauwcu menghela nafas, gadis mana yang tidak akan jatuh cinta pada Tio Inn Yang?

Sebab Tio Bun Yang betul-betul pemuda baik dan sangat tampan.

-oo0dw0oo-Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan tanpa tujuan.

Sore ini ketika ia tiba disuatu tempat, mendadak terdengar suara pertempuran yang hiruk pikuk.

Tio Bun Yang mengerutkan kening, lalu meliat ke arah suara pertempuran itu.

Tampak pasukan kerajaan sedang menyerang para pembrontak.seorang wanita muda bertarung mati-matian.

Begitu melihat wanita itu, tersentaklah hatinya, karena wanita itu ternyata Tan Giok Lan yang ikut Yo Suan Hiang, Ketua Tiong Ngie Pay, kemudian Tiong Ngie Pay bergabung dengan Lie Hu Seng.

Betapa gembiranya Tio Bun Yang.

Ia segera melesat ke arah Tan Giok Lan.

Pasukan kerajaan yang sedang bertempur itu terkejut bukan main, karena melihat sosok bayangan laksana kilat di atas kepala mereka.

"Kakak Giok Lan!"

Panggil Tio Bun Yang setelah melayang turun di hadapan Tan Giok Lan "Haaah...?"

Tan Giok Lan terbelalak.

"Engkau... engkau Adik Bun Yang?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum, kemudian memandang pemimpin pasukan kerajaan itu seraya berkata.

"Paman, lebih baik pertempuran yang tak berarti ini dihentikan saja!"

"Anak muda!"

Pemimpin itu menatap Tio Bun Yang dan bertanya.

"Siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Apa?"

Pemimpin itu terbelalak.

"Engkau Giok Siauw Sin Hiap?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk sambil tci senyum.

"Paman, untuk apa mengorbankan begil banyak nyawa, dalam pertempuran yang tiada artinya ini?"

"Giok Siauw Sin Hiap,"

Sahut pemimpin itu "Aku ditugaskan untuk membasmi para pemberontak, bagaimana mungkin aku menghentikan pertempuran ini? Cobalah pikir!"

"Sebetulnya aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan. namun wanita ini adalah kakak angkatku"

"Giok Siauw Sin Hiap!"

Pemimpin itu menggelenggelengkan kepala.

"Sesungguhnya aku pun tidak menghendaki terjadinya pertempuran ini, tapi... apabila kuhentikan, sampai di markas aku pasti dihukum mati."

"Kalau begitu...."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Lebih baik Paman, tidak usah pulang."

"Tapi aku punya anak isteri."

"Bawa serta anak isteri Paman,"

Ujar Tio Bun Ihing.

"Kini situasi semakin gawat, terjadi pertempuran di mana-mana. Lebih baik Paman hidup tenang di suatu tempat, jangan bergelut lagi dengan situasi yang begini macam."

Pemimpin itu berpikir lama sekali, akhirnya Mengangguk seraya berkata sungguh-sungguh.

"Baiklah, aku menuruti nasehatmu."

"Terimakasih!"

Ujar Tio Bun Yang. Pemimpin itu memandang para anak buahnya yangg berjumlah ratusan, kemudian berseru lantang "Kalian semua dengar baik-baik! Pertempuran ini tidak perlu dilanjutkan lagi!"

Sambil menghela nafas panjang.

"Horee!"

Para prajurit itu bersorak girang.

"Siapa yang masih ingin pulang ke markas, silahkan!"

Lanjut pemimpin itu.

"Bagi siapa yang tidak mau pulang ke markas, diperbolehkan pulang! Setelah itu, terserah mau ke mana!"

Para prajurit itu saling memandang, lama sekali barulah mereka berseru serentak.

"kami mau pulang!"

"Baik!"

Pemimpin itu manggut-manggut.

"Sekarang kalian boleh pulang, tapi lebih baik lepaskan seragam kalian agar tidak menimbul kecurigaan pasukan lain!"

"Ya!"

Para prajurit itu mulai melepaskan seragam masingmasing, setelah itu barulah mereka meninggalkan tempat tersebut.

"Giok Siauw Sin Hiap,"

Ujar pemimpin sambil tersenyum.

"Aku akan pulang ke rumah selanjutnya kami akan hidup tenang di suatu tempat. Sampai jumpa!"

Pemimpin itu melesat pergi, Tio Bun Yang manggutmanggut, lalu memandang Tan Giok Lan seraya berkata.

"Kakak Giok Lan, kini sudah aman...."

"Adik Bun Yang...."

Tan Giok Lan menatapnya dengan mata basah.

"Sudah sekian lama kita tak bertemu, aku... aku rindu sekali kepadamu,' "Aku pun rindu sekali kepada Kakak,"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Oh ya, bagaimana keadaan Bibi Suan Hiang? Dia baik-baik saja?"

"Bibi Suan Hiang baik-baik saja. Dia pun rindu sekali kepadamu. Adik Bun Yang"

Tan Giok Lan menatapnya.

"Mari ikut kami pergi menemui Bibi Suan Hiang dan Paman Lie Tsu Seng, beliau pun sering teringat kepadamu!"

"Kakak Giok Lan...."

Tio Bun Yang tampak ragu "Aku masih ada urusan lain, tidak bisa...."

"Ayohlah!"

Desak Tan Giok Lan.

"Bibi Suan Hiang sangat merindukanmu, temuilah dia!"

"Kakak Giok Lan...."

Tio Bun Yang berpikir lama sekali, setelah itu barulah mengangguk.

"Baiklah!"

"Adik Bun Yang...."

Wajah Tan Giok Lan langsung berseri, kemudian berseru lantang.

"Mari kita kembali ke markas...!" -oo0dw0oo-Bagian ke enam puluh tujuh Pertarungan di Markas Lie Tsu Seng Di ruang tengah, tampak Menteri Ma dan Kwee Ceng An duduk dengan wajah serius, rupanya mereka berdua sedang membahas suatu masalah penting.

"Teng An,"

Ujar Menteri Ma.

"Aku telah mengajukan permohonan kepada kaisar, agar engkau diterima sebagai pemimpin pengawal di istana-Tapi...."

"Kenapa?"

Tanya Kwee Teng An dengan kening agak berkerut.

"Apakah kaisar tidak sudi menerima permohonan Ayah?"

"Kaisar akan menerima permohonanku, tapi aku harus memenuhi sebuah syaratnya."

"Apa syarat kaisar?"

"Aku harus mempersembahkan kepala Lie Tsu Seng."

"Maksud kaisar aku harus memenggal kepala pemimpin pemberontak itu?"

"Ya."

Menteri Ma mengangguk, lalu mengb nafas panjang.

"Itu... itu bagaimana mungkin."

"Ayah,"

Ujar Kwee Teng An dengan tersenyum.

"Aku akan pergi memenggal kepala Tsu Seng."

"Oh?"

Wajah Menteri Ma berseri.

Sesungguhnya ia tidak mengajukan permohonan tersebut kepada kaisar, hanya berbohong guna memperalat Kwee Teng An agar membunuh Lie Tsu Seng Sebetulnya Kwee Teng An sangat licik, namun masih kalah licik dibandingkan dengan Menteri Ma.

"Ayah,"

Ujar Kwee Teng An sungguh-sungguh "Kalau aku t,dak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, aku tidak akan kembali kesini "

"Bagus! Bagus! Menteri Ma tertawa gembira.

"Apabila engkau berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, kaisar pasti mengangkatmu sebagai pemimpin pengawal istana."

"Tapi...."

Mendadak Kwee Teng An mengerutkan kening.

"Ada apa?"

Menteri Ma menatapnya.

"Aku tidak tahu pemimpin pemberontak itu ada di mana Ayah tahu?"

"Tentu tahu"

Menteri Ma tersenyum dan memberitahukan "Kini markas Lie Tsu Seng berada di pinggir Kota Lam An."

"Kalau begitu...."

Kwee Teng An bangkit dari duduknya.

"Aku akan berangkat sekarang."

"Nak...."

Menteri Ma juga berdiri, lalu memegang bahunya seraya berkata.

"Semoga engkau berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng!"

"Percayalah kepadaku, Ayah!"

Sahut Kwee Ceng An sambil tersenyum.

"Aku pasti berhasil memenggal pemimpin pemberontak itu."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha!"

Menteri Ma tertawa gembira.

"Engkau berkepandaian begitu tinggi, tentunya mampu memenggal kepala Lie Tsu Seng! Ha ha ha...!"

"Ayah, aku berangkat."

Ujar Kwee Ceng An dan berjalan pergi.

Menteri Ma memandang punggungnya.

Setelah Kwee Ceng An lenyap dari pandangannya ia tertawa gembira lagi.

Namun berselang beberapa saat kemudian wajahnya tampak berubah ternyata ia teringat akan putrinya.

"Giok Ceng! Giok Ceng! Engkau berada di mana? Pulanglah, ayah rindu sekali kepadamu!" -oo0dw0oo. Kwee Teng An terus melakukan perjalan siang dan malam, fa bernafsu sekali memeng kepala Lie Tsu Seng, karena ingin menjadi pj mimpin pengawal istana. Apabila berhasil, ma ia pun tidak perlu bergantung pada Menteri lagi. Berpikir sampai di situ, mendadak K Teng An tertawa terbahak-bahak. Beberapa hari kemudian, ia sudah memasul daerah Lam An. Tampak puluhan tenda di depan sana. Kwee Teng melesat ke sana tersenyum senyum. Ia kelihatannya yakin berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng. Tiba-tiba muncul puluhan pemberontak memandangnya seraya bertanya.

"Siapa engkau? Mau apa engkau ke mari?! "Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa gelak dan menyahut.

"Kalian tidak usah tahu siapa aku. Aku. ke mari untuk memenggal kepala Lie Tsu Sen. Ha ha ha...!"

"Apa?"

Para pemberontak itu terbelalak.

"Kawan, engkau jangan bergurau dengan kami! Kami semua adalah pejuang...."

"Hm!"

Dengus Kwee Teng An dingin, kemudian mendadak bergerak.

"Aaakh! Aaaakh...!"

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak beberapa orang terpental dengan mulut menyemburkan darah segar dan kemudian nyawa mereka pun melayang.

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An terus tertawa gelak.

Kemudian badannya berkelebatan ke sana ke mari, dan seketika terdengar lagi suara jeritan Sangat menyayat hati.

Betapa terkejutnya para pemberontak itu, karena sudah belasan orang mati di tangan Kwee Teng An.

Salah seorang di antara mereka segera berlari ke tenda Lie Tsu Seng, dan melapor.

"Celaka! Di luar ada pembunuh."

"Pembunuh?"

Lie Tsu Seng mengerutkan kening.

"Siapa pembunuh itu?"

"Entahlah."

"Dia mau membunuh siapa?"

"Dia mau membunuh...."

"Dia mau membunuhku, kan?"

"Betul."

Sementara Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him saling memandang, kemudian semuanya memberi hormat kepada Lie Tsu Seng seraya berkata.

"Kami akan menghadapi mereka!"

"Hati-hati!"

Pesan Lie Tsu Seng.

Yo Suan Hiang dan lainnya segera meleset keluar ke tempat itu.

Mereka melihat Kwee Teng An sedang membantai para penjaga di sana.

Di saat mereka baru mau meleset ke hadapan pemuda itu, mendadak terdengar suara tawa cekikikan.

"Hi hi hi! Anak muda, ternyata engkau ke sini membantai para pejuang!"

Terdengar pula suara seruan merdu, lalu melayang turun seorang wanita muda yang sangat cantik, sepasang matanya mengerling mempesonakan.

Begitu melihat kecantikan wanita muda itu Kwee Teng An terpukau sehingga matanya terbelalak lebar.

"Nona cantik! Siapa engkau?"

Tanyanya dengan tersenyum lembut.

"Kenapa engkau mencampuri urusanku?"

"Wuah, bukan main lembutnya senyumanmu"

Wanita muda itu tertawa nyaring sambil menatapnya.

"Tapi... penuh kelicikan!"

"Nona manis!"

Kwee Teng An tertawa.

"Bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tu Siao Cui, juiukanku adalah Bu Ceng Sianli!"

Sungguh di luar dugaan, wanita muda itu ternyata Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui..

"Oooh!"

Kwee Teng An tersenyum.

"Nona Tu, engkau memang secantik bidadari, aku senang sekali bertemu denganmu."

"Oh, ya?"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan "Tapi sebaliknya aku malah tidak senang melihat mu."

"Lho? Kenapa?"

"Aku mengikutimu dari ibu kota, tak kusangka engkau ke mari membantai para pejuang!"

"Terimakasih atas kesediaanmu mengikuti aku dari ibu kota!"

Ujar Kwee Teng An sambil tertawa tawa.

"Itu pertanda engkau suka padaku! Ya. kan?"

"Hi hi hi! Kira-kira begitulah,"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Bolehkah aku tahu asal-usulmu?"

Tanyanya.

"Namaku Kwee Teng An. Mengenai asal usulku...."

Pemuda itu menatapnya dengan penuh gairah nafsu birahi.

"Kelak aku akan memberi-lahukan kepadamu!"

"Oh?"

Bu Ceng Sianli tersenyum.

"Sudah tiada kelak lagi bagimu!"

Ketika menyaksikan senyuman itu, Kwee Teng An nyaris menerjang untuk memeluknya.

"Nona Tu! Terus terang, aku sangat tertarik kepadamu! Rasanya ingin sekali menemani tidur. aku yakin engkau tidak berkeberatan, bukan?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Suanli hanya tertawa cekikikan, tidak menyahut.

Sementara Yo Suan Hiang dan lainnya me-mandang mereka dengan mata terbelalak.

Mereka tuntu sekali tidak kenal Kwee Teng An dan Bu Ceng Sianli, namun mereka berlega hati, karena Bu Ceng Sianli kelihatan berada di pihak mereka.

"Nona Tu, Setelah aku memenggal kepala Lie Tsu Seng, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang?"

"Idiih! Engkau kok begitu genit?"

"Engkau bersedia menemaniku bersenang-senang, kan?"

"Akan kupertimbangkan! Tapi...."

Mendadak Bu Ceng Sianli menatapnya tajam.

"Aku tidak mengizinkan engkau memenggal kepala Lie Tsu Seng!"

"Kenapa?"

Kwee Teng An mengerutkan kening.

"Engkau punya hubungan dengan pemimpin pemberontak itu?"

"Tidak ada hubungan apa-apa!"

"Kalau begitu, kenapa engkau ingin menghalangiku memenggal kepalanya? Apa alasanmu"

"Lie Tsu Seng adalah pejuang demi rakyat maka aku harus melindunginya."

"Oh?"

Kwee Teng An tersenyum, kemudian mendadak menatap Bu Ceng Sianli dengan tajam sekali sambil mengerahkan Toh Hun Tay Hoat untuk mempengaruhinya.

"Tu Siao Cui, engkau harus menuruti perintahku!"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli malah tertawa cekikikan.

"Anak muda, percuma engkau mengerahkan ilmu sesatmu, karena aku tidak akan terpengaruh."

"Hah?"

Bukan main terkejutnya Kwee Tcn An.

"Nona Tu...."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan lagi.

"Engkau perlu tahu sebelum engkau di lahirkan, aku sudah belajar ilmu sesat!"

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa.

"Nona Tu, engkau bergurau...."

"Diam!"

Bentak Bu Ceng Sianli mendadak "Cepatlah engkau enyah dari sini! Kalau tidak aku pasti turun tangan membunuhmu!"

"Oh?"

Kwee Teng An tertawa lagi.

"Ha ha ha! Engkau kok galak amat? Sungguh kebetulan, aku memang suka gadis galak! Ha ha ha...!"

"Anak muda!"

Bu Ceng Sianli mengerutkan kening.

"Betulkah engkau tidak mau enyah?"

"Aku sudah jatuh cinta kepadamu, bagaimana mungkin aku akan enyah dari sini?"

"Engkau memang ingin cari mampus!"

"Nona Tu!"

Kwee Teng An tersenyum.

"Berhubung aku sudah jatuh cinta kepadamu, maka aku tidak mau bertarung denganmu! Tapi... aku kan membunyikan sesuatu untuk engkau dengar!"

Bu Ceng Sianli tercengang, Kwee Teng An mengeluarkan sebuah benda. Ketika melihat benda itu, air muka Bu Ceng Sianli langsung berubah ia segera berseru.

"Cepatlah kalian semua menyingkir! Kalau tidak kalian semua pasti mati!"

Yo Suan Hiang dan lainnya saling memandang, lama sekali barulah Yo Suan Hiang berseru.

"Mari kita menyingkir!"

Mereka semua langsung menyingkir, membuat Bu Ceng Sianli menarik nafas lega.

"Nona Tu!"

Kwee Teng An menatapnya "Engkau kenal benda ini?"

"Tidak, tapi pernah mendengar,"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Benda itu adalah Genta Maut! Ya, kan?"

"Tidak salah!"

Kwee Teng An manggut-manggut.

"Engkau tahu Genta Maut ini, berarti l juga akan kelihayannya! Oleh karena itu, baik engkau menyerah."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa nyari "Engkau tidak tahu jelas tentang asal-usulku maka engkau berani omong besar di hadapanku"

"Nona Tu,"

Ujar Kwee Teng An sun sungguh.

"Lebih baik kita damai. Sebab aku sudah jatuh cinta kepadamu."

"Kita boleh damai, tapi engkau harus lepaskan Lie Tsu Seng!"

"Tidak bisa! Aku kemari justru ingin memenggal kepalanya. Kalau aku berhasil memenggal kepalanya, maka aku akan hidup senang mewah. Tentunya engkau boleh ikut mencicip nya! Ha ha ha...!"

"Kalau begitu...."

Wajah Bu Ceng Sianli berubah dingin.

"Aku terpaksa harus menghajarmu!"

"Baik! Aku akan melumpuhkanmu dengan Genta Maut ini!"

Sahut Kwee Teng An dan ia membunyikan Genta Maut tersebut.

Seketika sekujur badan Bu Ceng Sianli getar keras, sedangkan Yo Suan Hiang dan lain cepat-cepat menutup telinga.

Wajah mereka pucat pias, lalu menyingkir lebih jauh.

Di saat itu terdengar suara siulan panjang.

Ternyata Bu Ceng Sianli mengeluarkan suara siulan untuk menekan Genta Maut itu.

Maka terdengarlah suara siulan dan bunyi Genta Maut yang saling menyusul.

Kwee Teng terus membunyikan Genta Maut itu, bukan bermaksud membunuh Bu Ceng Sianli, melainkan iya ingin melumpuhkannya.

Sedangkan Bu Ceng sianli terus mengerahkan Lwee Kangnya bersiul untuk menekan bunyi Genta Maut itu.

Di saat bersamaan, Tio Bun Yang, Tan Giok Lan dan lainnya telah tiba di tempat itu.

Ketika mendengar suara-suara tersebut kening Tio Bun Yang langsung berkerut.

"Kakak Giok Lan, kalian semua harus menunggu di sini!"

Pesan Tio Bun Yang dan membertahukan.

"Sebab kalau kalian mendekati tempat itu, bunyi genta itu pasti mencelakai kalian! aku kenal wanita itu. Kelihatannya ia agak kewalahan menghadapi bunyi genta itu, maka aku harus ke sana membantunya!"

"Hati-hati, Adik Bun Yang!"

Ujar Tan Giok Lan.

"Ya!"

Tio Bun Yang mengangguk sambil mengeluarkan suling pusakanya.

Kemudian ia mencari ke tempat itu dan mulai meniupnya.

Terdengarlah alunan suling yang amat lembut menyamankan.

Begitu mendengar suara suling itu, wajah Bu Ceng Sianli langsung berseri, karena ia sudah tahu siapa peniupnya.

Sebaliknya Kwee Teng An malah terkejut.

Ia terus membunyikan Genta Mautnya sambil paling.

Ketika melihat siapa yang muncul, mukanya langsung berubah hebat, karena tidak menyangka kalau Tio Bun Yang akan muncul tempat itu.

Oleh karena itu, timbullah nafsu membunuhnya.

Kwee Teng An memperkeras bunyi Genta Mautnya.

Betapa terkejutnya Bu Ceng Sianli Namun di saat bersamaan, ia pun mendengar suara suling yang makin lembut tapi bernada tinggi dan terus meninggi.

Bu Ceng Sianli berhenti bersiul, lalu dia bersila di bawah sambil mengerahkan lweekang nya.

Sementara Kwee Teng An terus memperkuat bunyi Genta Mautnya, sedangkan suara suling Bun Yang semakin lembut dan bernada semakin tinggi.

Daaar!

Mendadak suara ledakan.

Ternyata Genta Maut itu meledak, sehingga membuat Kwee Teng An terpental beberapa depa.

Setelah berdiri ia menatap Tio Bun Yang dengan mata berapi "Adik!

Adik...!"

Seru Bu Ceng Sianli saambil bangkit berdiri.

"Kakak Siao Cui!"

Sahut Tio Bun Yang den girang.

"Kakak Siao Cui...."

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa gelak "Tio Bun Yang, engkau memang hebat karena suara sulingmu mampu meledakkan Genta Maut! Tapi engkau akan menderita sekali!"

"Oh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening, ketika ia baru mau maju justru Bu Ceng Sianli mencegahnya.

"Adik, biarlah aku yang menghadapinya! Dia berani menghinaku, maka aku harus mengajarnya!"

"Sungguh tak disangka!"

Kwee Teng An memandang Tio Bun Yang.

"Engkau punya seorang kakak perempuan yang begitu cantik! Ha ha ha! aku sudah jatuh cinta kepadanya!"

"Diam!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Bersiap-siplah! Aku akan menyerangmu!"

"Yaah!"

Kwee Teng An menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa kita harus bertarung? Bukankah lebih baik kita bersenang-senang di tempat tidur?"

"Binataang!"

Bentak Bu Ceng Sianli gusar, lalu menyerangnya dengan sengit.

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa gelak sambil berkelit, kemudian balas menyerang.

Bu Ceng Sianli terkejut karena tidak menyangka pemuda itu berkepandaian begitu tinggi.

Demikian pula Kwee Teng An, ia pun tidak penyangka wanita cantik itu berkepandaian tinggi "Berisi juga engkau!"

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Tentu,"

Sahut Kwee Teng An.

"Engkau pun berisi, terutama badanmu dan...."

Kwee Teng An tidak melanjutkan ucapannya.

Kwee Teng An terpental ke belakang berapa langkah, begitu pula Bu Ceng Sianli, namun tiada seorang pun yang terluka.

Kira-kira dua puluh jurus kemudian, mendadak Bu ceng Sianli menghentikan serangannya "Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa.

"Nona sungguh hebat Ilmu Jari Saktimu! Dadaku nyaris berlubang."

"Sambut lagi seranganku!"

Bentak Bu Ceng sianli dan menyerangnya.

Kali ini ia mengeluarkan jurus Cian Ci Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit).

Tampak bayanganbayangan jarinya berkelebatan mengarah kepada Kwee Ceng An.

Pemuda itu tertawa panjang dan tiba-tiba badannya berputar-putar sekaligus sepasang lengannya, Ia menangkis dengan salah satu jurus Pek Kut Im Sat Ciang.

Blaaaam...!!

Terdengar suara lagi suara benturan yang memekakkan telinga.

Kwee Teng An terpental beberapa depa, Bu Ceng Sianli pun terpental dengan wajah pucat pasi.

"Kakak Siao Cui!"

Seru Tio Bun Yang sambil melesat ke arahnya.

"Bagaimana? Engkau terluka?"

Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala, dan segera mengatur pernafasannya. Sedangkan Kwee Ceng An terus memandang mereka, kemudian tertawa gelak seraya berkata lantang.

"Ha ha ha! Nona Tu, engkau memang hebat! Ilmu jarimu mampu melubangi pakaianku! Tapi aku belum mengerahkan seluruh lweekang karena aku tidak berniat melukaimu! Ha ha Kelak kita akan berjumpa lagi!"

Mendadak Kwee Teng An melesat pergi seraya berseru.

"Tio Yang, kini engkau pasti tersiksa sekali hati Ha ha ha...!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening, Ia ti mengejar pemuda itu, karena khawatir Bu G Sianli terluka.

Oleh karena itu, ia cepat-cepat memeriksa Bu Ceng Sianli dan seusai memeriksa wanita itu, ia menarik nafas lega.

"Untung kakak tidak luka! Ilmu pukulan sungguh beracun! Kalau kakak tidak memiliki lweekang tinggi, tentu sudah celaka oleh beracun itu!"

"Aaah...!"

Bu Ceng Sianli menghela nafas panjang.

"Aku tak menyangka sama sekali. Kalau pemuda itu berkepandaian begitu tinggi! Kalau aku tidak memiliki Hian Goang Sin Kang, aku pasti sudah celaka di tangannya!"

Di saat mereka bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara seruan yang penuh kegembiraan "Bun Yang! Bun Yang...!"

Ternyata Yo Suan Hiang yang berseru sambil menghampirinya.

"Bibi! Bibi!"

Sahut Tio Bun Yang girang.

"Bun Yang!"

Yo Suan Hiang menatapnya kemudian membelainya.

"Engkau sudah bertambah besar dan ganteng, tapi... kenapa agak kurus ?"

"Bibi...."

Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Oh ya!"

Yo Suan Hiang memberi hormat kepada Bu Ceng Sianli.

"Terimakasih atas tertolong Adik! Kalau Adik tidak muncul, kami semua pasti sudah mati di tangan orang itu!"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Kakak!"

Tio Bun Yang memperkenalkan mereka.

"Ini bibiku."

"Adik!"

Bu Ceng Sianli tertawa lagi.

"Dia bibi asli atau cuma bibi-bibian?"

"Ayahnya adalah kakak angkatku, maka Bun Yang harus memanggilku bibi,"

Sahut Yo Suan Hiang dan menambahkan.

"Engkau pun harus memanggilku bibi!" .

"Oh ya?"

Bu Ceng Sianli tertawa nyaring, namamu?"

"Yo Suan Hiang!"

"Aku akan memanggil namamu saja."

"Apa?"

Yo Suan Hiang terbelalak dan membatin.

"Sungguh kurang ajar wanita muda ini!"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli menatapnya.

"Engkau mencaciku kurang ajar dalam hati! Ya, kan?"

Katanya.

"Itu...."

Yo Suang Hiang tersentak.

"Bibi, Kakak Siao Cui...."

Tio Bun Yang ingin memberitahukan tentang Bu Ceng Sianli, namun Yo Suan Hiang sudah memotongnya.

"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa."

Yo Suan Hiang tersenyum.

"Mari kita pergi menemui Lie Tsu Seng!"

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk Mereka semua menuju tenda di mana Lie Tsu Seng berdiri di situ. Ia pun sudah melihat kejadian tadi "Paman! Paman!"

Panggil Tio Bun Yang girang.

"Bun Yang!"

Lie Tsu Seng memegang bahunya.

"Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana Engkau baik-baik saja selama ini?"

"Aku baik-baik saja, Paman."

Sahut Tio Bun Yang.

"Syukurlah!"

Ucap Lie Tsu Seng, kemudian memandang Bu Ceng Sianli sambil memberi hormat.

"Lihiap (Pendekar Wanita), terimakasih atas pertolonganmu!"

"Ngmmm!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggui dengan penuh perhatian lalu menatapnya dengan penuh perhatian "Engkau memang gagah dan berwibawa, namun kalau engkau berhasil menjadi kaisar kelak, janganlah cuma tahu bersenang-senang dengan wanita cantik, harus memperhatikan nasib rakyat, jangan hanya mementingkan diri sendiri!"

"Tentu, tentu."

Lie Tsu Seng tertawa gelak Sikap Bu Ceng Sianli yang agak kurang ajar itu tidak membuatnya gusar maupun tersinggung, na mun membuat Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

Kemudian Lie Tsu Seng mempersilakan duduk.

"Silakan duduk!"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang sambil duduk. Bu Ceng Sianli juga duduk dan kemudian berkata kepada Tio Bun Yang.

"Adik, tak disangka kita bertemu di markas Lie Tsu Seng ini!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Memang sungguh di luar dugaan!"

"Bun Yang !"

Yo Suan Hiang memandangnya.

"Kok engkau kemari bersama Giok Lan?"

"Bibi!"

Tan Giok Lan segera menutur tentang kejadian itu.

"Oooh!"

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"kalau Bun Yang tidak muncul, kalian semua pasti celaka!"

"Ya!"

Tan Giok Lan mengangguk.

"Bun Yang!"

Lie Tsu Seng memandangnya "Engkau bertambah ganteng tapi kenapa badanmu agak kurus?"

"Paman aku ..."

Tio Bun Yang mengelengkan kepala "Bun Yang,.."

Yo Suan Hiang tersentak "Apa yang telah terjadi tuturkanlah pada kami,.."

"Aku...."

Tio Bun Yang menutur semua kejadian itu Yo Suan Hiang dan Lie Tsu Seng mendengarkan dengan penuh perhatian kemudian mereka.

menggeleng-gelengkan kepala "Jadi hingga saat ini engkau belum bertemu Goat Nio?"

Tanya Yo Suan Hiang dengan kening berkerut-kerut.

"Belum,"

Sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Aaaah...."

Lie Tsu Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Dinasti Beng makin bobrok, sedangkan rimba persilatan justru makin kacau-balau!"

"Lie Tsu Seng,"

Tanya Bu Ceng Sianli mendadak.

"Betulkah kalian telah berhasil merebut beberapa kota penting?"

"Betul."

Lie Tsu Seng mengangguk. Air mukanya tampak agak berubah, karena Bu Ceng Sianli memanggil namanya langsung.

"Bu Ceng Sianli!"

Yo Suan Hiang memandangnya dengan kening berkerut. Ia ingin menegurnya tapi merasa tidak enak, sebab wanita muda itu telah menyelamatkan mereka semua "Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan "Suan Hiang, engkau ingin menegur aku karena menurutmu aku sangat kurang ajar, bukan? Nah, perlukah aku minta maaf?"

"Itu...."

Apa yang diucapkan Bu Ceng Sianli sungguh membuat Yo Suan Hiang serba salah, namun bersamaan dengan itu Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Ha ha ha! Itu tidak perlu. Aku sama sekati tidak mempermasalahkan itu,"

Ujar Lie Tsu Seng sungguh-sungguh.

"Bagus! Bagus! Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli terawa nyaring.

"Lie Tsu Seng, engkau betul-betul berjiwa besar. Tidak sia-sia aku menyelamatkanmu. Hi hi hi!"

"Terimakasih,.terimakasih!"

Ucap Lie Tsu Seng. Sementara Yo Suan Hiang terus memandang Tio Bun Yang, kelihatannya menghendakinya menutur tentang Bu Ceng Sianli.

"Bibi...."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Kenapa kau terus memandangku?"

"Bun Yang, bibi justru merasa heran,"

Sahut Yo Suan Hiang.

"Nona Tu baru berusia dua puluhan, tapi kenapa engkau memanggilnya kakak?"

"Maksud bibi aku harus memanggilnya adik?"

Tanya Tio Bun Yang sambil tertawa geli.

"Seharusnya begitu."

Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Bibi, sebetulnya aku malah harus memanggilnya nenek tua."

Ujar Tio Bun Yang.

"Eh?"

Yo Suan Hiang terbelalak.

"Sekian lama tidak bertemu, bibi tidak menyangka engkau suka bergurau."

"Aku tidak bergurau, Bibi,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kalau menurut usia dan aturan, aku memang harus memanggilnya nenek tua. Mungkin Bibi dan Paman Lie pun harus memanggilnya nenek."

"Apa?"

Yo Suan Hiang melotot.

"Bun Yang, kau...."

"Bun Yang!"

Lie Tsu Seng menatapnya heran "Aku yakin engkau tidak bergurau, tapi... jelaskanlah'"

"Sesungguhnya kakak Siao Cui sudah berusia hampir sembilan puluh."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Maka dia tidak salah memanggil nama Bibi dan nama Paman."

"Haaah...?"

Mulut Lie Tsu Seng terngangalebar, kemudian menatap Tio Bun Yang sambil mengerutkan kening.

"Engkau... engkau sudah tidak waras ya?"

"Paman!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Kita melihat kakak Siao Cui berusia dua puluhan, tapi usianya memang sudah hampir sembilan puluh Itu karena kakak Siao Cui mengalami suatu kemujizatan alam."

"Oh?"

Yo Suan Hiang masih kurang percaya "Bibi!"

Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Semula aku pun seperti Bibi, sama sekali tidak percaya Tapi kemudian barulah aku percaya, karena ada buktinya "

"Bukan main!"

Lie Tsu Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Tu lihiap, bolehkah engkau menceritakan tentang kemujizatan itu?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan kemudian barulah menutur tentang apa yang dialaminya Yo Suan Hiang dan Lie Tsu Seng mendengarkan dengan mulut ternganga lebar saking takjubnya.

Apa yang dituturkan Bu Ceng Sianli mirip suatu dongeng, namun justru nyata.

"Itu sungguh merupakan kemujizatan alam!"

Ujar Yo Suan Hiang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau begitu, aku yang harus mohon maaf kepada lo cianpwee."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa geli.

"Jangan Memanggilku lo cianpwee, sebab akan membuat sekujur badanku jadi merinding. Engkau cukup memanggilku kakak saja."

"Kakak!"

Panggil Yo Suan Hiang girang.

"Ohya, kepandaian kakak tinggi sekali. Kami semua berhutang budi kepada kakak."

"Jangan berkata begitu!"

Bu Ceng Sianli tersenyum.

"Itu memang kebetulan sekali. Aku sedang menyelidiki seseorang, tanpa sengaja aku tiba di ibu kota dan melihat seseorang melakukan perjalanan tergesa-gesa. Itu menimbulkan kecurigaanku, maka aku terus menguntitnya. Akhirnya di tempat ini, aku melihat dia membunuh para pejuang yang menjaga di luar. Segeralah aku memunculkan diri dan melawannya, tapi tak di sangka kepandainnya begitu tinggi."

"Kalau aku tidak memiliki suling pusaka, tentu tidak bisa membuat genta itu pecah,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Entah genta apa itu? Begitu hebat!".

"Itu adalah Genta Maut."

Bu Ceng Sianli memberitahukan.

"Guruku pernah menceritakan Genta Maut itu, justru tidak disangka pemuda itu memiliki benda tersebut."

"Ilmu pukulannya sungguh ganas dan beracun!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kelihatannya dia masih belum mengerahkan seluruh lwekangnya. Aku sangat heran kenapa dia tidak mengerahkan seluruh Iweekangnya untuk melukai kakak?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikik;

"Itu karena dia telah jatuh cinta kepadaku. Apabila dia mengerahkan seluruh Iweekangnya, akupun akan mengerahkan Hian Goang Sin Kang sampai pada puncaknya."

"Oooh!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kakak tahu ilmu pukulan apa itu?"

Tanyanya.

"Sepasang telapak tangannya mengeluarkan uap, mirip...."

Bu Ceng Sianli terus berpikir, kemudian baru melanjutkan ucapannya.

"Itu mirip pukulan Pek Kut Im Sat Ciang."

"Apa?"

Tio Bun Yang nyaris meloncat bangun saking terkejut.

"Itu adalah ilmu pukulan Pek Im Sat Ciang?"

"Kalau tidak salah, sebab aku pernah mendengar tentang ilmu pukulan itu dari guruku Mendadak wajah Bu Ceng Sianli berubah hebat "Pemuda itu...."

"Dia ketua Kui Bin Pang!"

Seru Tio Bun Yang tak tertahan.

"Tidak salah."

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Hanya ketua Kui Bin Pang yang mahir ilmu pukulan tersebut."

"Kakak tahu nama pemuda itu?"

Tanya Tio u n Yang.

"Dia bernama Kwee Teng An."

Bu Ceng Sianli Memberitahukan..

"Aku mendengar namanya dipanggil seseorang."

"Kwee Teng An! Kwee Teng An...."

Gumam Tio Bun Yang "Dia...."

Mendadak Tio Bun Yang melesat pergi tanpa pamit lagi. Itu sungguh mengejutkan semua orang.

"Bun Yang!"

Teriak Yo Suan Hiang memangnya.

"Adik!"

Seru Bu Ceng Sianli.

"Adik...!"

Namun pemuda itu sudah tidak kelihatan, ternyata ia melesat pergi menggunakan ginkang.

"Heran?"

Gumam Yo Suan Hiang tidak mengerti.

"Kenapa mendadak dia melesat pergi?"

"Aku yakin dia pasti pergi mencari pemuda tadi"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Sebab Goat Nio berada di tangan Ketua Kui Bin Pang itu."

"Apa?"

Yo Suan Hiang terkejut bukan main.

"Pemuda itu adalah ketua Kui Bin Pang?"

"Menurutku memang tidak salah,"

Sahut Bu rng Sianli.

"Sebab dia tadi menangkis seranganku dengan ilmu Pek Kut Im Sat Ciang."

"Kalau begitu...."

Kening Yo Suan Hiang berkerut.

"Goat Nio masih berada di tangannya."

"Maka Bun Yang segera melesat pergi. Dia pasti pergi mencari pemuda itu."

Ujar Bu Ceng Sianli dan berpamit.

"Maaf, aku harus segera pergi menyusul Bun Yang."

Bu Ceng Sianli melesat pergi. Lie Tsu Sen dan Yo Suan Hiang dan lainnya hanya duduk mematung di tempat, kemudian mereka saling memandang dan menghela nafas panjang.

"Aaah...,"

Ujar Lie Tsu Seng.

"Aku telah berhutang budi kepada Tu lihiap! Dia menyelamatkan nyawaku!" -oo0dw0oo-Bagian ke enam puluh delapan Kim Coa Long Kun (Pendekar Pedang Ular Emas) Tio Bun Yang melakukan perjalanan siang malam ke ibu kota. Ternyata ia mengetahui tentang Kwi Teng An dari Ma Giok Ceng. Ketika mendengi nama pemuda itu, maka ia langsung meleset pergi sebab Bu Ceng Sianli juga mengatakan bahwa Kwee Teng An adalah ketua Kui Bin Pang. Sesampainya di ibu kota, tidak sulit mencari rumah Menteri Ma, Ia langsung ke rumah tersebut, tetapi para pengawal di situ jelas menghadangnya.

"Aku ingin menemui Menteri Ma,"

Ujar Tio m Yang.

"Siapa engkau dan ada urusan apa mau menemui Menteri .Ma?"

Tanya salah seorang pengawal.

"Engkau tidak usah tahu!"

Bentak Tio Bun Yang.

"Eh?"

Pengawal itu melotot.

"Engkau berani mengacau di rumah Menteri Ma?"

"Cepat antar aku ke dalam!"

Tio Bun Yang menatap para pengawal itu.

"Aku mau menemui menteri Ma!"

"Tidak bisa!"

Pengawal itu menggelengkan kepala.

"Kepala pengawal tidak ada, maka engkau tidak boleh sembarangan masuk!"

"Maksudmu Kwee Teng An?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Engkau kenal dia?"

Pengawal itu balik bertanya dengan heran.

"Aku memang kenal dia!"

Sahut Tio Bun Yang berdusta, pada hal ia tidak mengenalnya.

"Itu...."

Pengawal itu tampak ragu mempersilahkan Tio Bun Yang masuk.

"Kami...."

Di saat itulah Tio Bun Yang menerobos masuk menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat) dan seketika juga ia menghilang dari pandangan para pengawal.

"Hah?"

Para pengawal terbelalak..

"Ke mana pemuda itu? Kenapa bisa menghilang mendadak?"

"Dia... dia...."

Salah seorang pengawal menengok ke sana ke mari.

"Hah? Itu...."

Pengawal itu melihat sosok bayangan berkelebat memasuki rumah Menteri Ma, begitu juga yang lainnya.

"Mari kita kejar dia!"

Terdengar suara seruan "Celaka!"

Keluh seorang pengawal dengan wajah pucat pias.

"Pemuda itu telah menerobos ke dalam, kita semua pasti dihukum!"

"Ayoh, mari kita ke dalam!"

Seru seorang pengawal. Mereka segera berlari-lari ke dalam, sementara Tio Bun Yang sudah berada di dalam rumah itu.

"Menteri Ma? Menteri Ma...!"

Teriaknya.

"Ada apa?"

Menteri Ma muncul dari kamarnya. Ketika melihat Tio Bun Yang, tertegunlah menteri itu.

"Siapa engkau? Sungguh berani engkau memasuki rumahku!"

"Menteri Ma!"

Tio Bun Yang menatapnya "Di mana Kwee Teng An? Di mana Kwee Teng An?"

Tanyanya.

"Kwee Teng An?"

Menteri Ma mengerutkan kening.

"Anak muda, engkau punya hubungan apa dengannya?"

"Jangan bertanya! Cepat katakan di mana dia!"

Bentak Tio Bun Yang sambil melangkah maju.

"Engkau..., engkau mau apa?"

Menteri Ma ketakutan dan langsung berteriak-teriak.

"Pengawal...Pengawal...!"

Seketika muncullah para pengawal, yang langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

Tio Bun Yang cuma mengibaskan lengan bajunya, seketika beberapa pengawal terpental, lalu jatuh terbanting tak bangun lagi.

"Bunuh dia!"

Teriak menteri Ma.

"Cepat bunuh dia"

Para pengawal saling memandang, kemudian mereka mulai menyerang Tio Bun Yang lagi.

serperti barusan, Tio Bun Yang tetap mengibaskan lengan bajunya terus, sehingga membuat para pengawal itu terpental ke sana ke mari.

Setelah itu Tio Bun Yang mengarah memandang Menteri "Cepat katakan, di mana Kwee Teng An?"

"Dia..., dia tidak ada di sini,"

Sahut Menteri Ma dengan tubuh menggigil.

"Dia... pergi."

"Dia pergi ke mana?"

"Dia..., dia...."

"Kapan dia pergi?"

"Beberapa hari yang lalu."

Menteri Ma memberitahukan.

"Hingga kini dia masih belum pulang."

"Betulkah dia belum pulang?"

"Betul."

Menteri Ma mengangguk.

"Aku tidak bohong...."

"Hm!"

Dengus Tio Bun Yang dingin.

"Menteri Ma mengutusnya pergi memenggal kepala Lie Tsu Seng, kan?"

"Itu..., itu...."

Wajah menteri Ma berubah pucat.

"Aku...."

"Dia tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, sebab di saat itu muncul seorang pendekar wanita, kemudian aku pun tiba di sana,"

Ujar Bun Yang melanjutkan.

"Maka dia tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, sebaliknya malah kabur."

"Oh?"

Menteri Ma tampak kecewa sekali "Tahukah siauhiap dia ke mana?"

Tanyanya "Aku justru ke mari mencarinya."

"Kenapa engkau menduganya kabur mari?"

"Dia kepala pengawal di sini, tentunya kembali ke sini."

"Engkau...."

Menteri Ma menatapnya heran "Dari mana engkau bisa tahu dia kepala pengawal di sini?"

"Aku mendengar dari Giok Ceng."

Tio Bun Yang memberitahukan sambil memandangnya "Ma Giok Ceng adalah putrimu, kan?"

"Be..., betul."

Menteri Ma mengangguk tampak terkejut.

"Engkau kok tahu itu?"

"Aku bertemu Giok Ceng."

"Siauhiap,"

Bisik Menteri Ma.

"Mari ikut aku ke ruang tengah, kita bicara di sana saja!"

Menteri Ma melangkah ke ruang tengah. Tio Bun Yang terpaksa mengikutinya karena masih ingin bertanya tentang Kwee Teng An.

"Silakan duduk!"

Ucap Menteri Ma setelah duduk.

"Terimakasih!"

Tio Bun Yang duduk.

"Siauhiap!"

Menteri Ma menatapnya dalam-dalam. Entah apa sebabnya ia terkesan baik terhadap Tio Bun Yang.

"Di mana engkau bertemu anakku?"

Tio Bun Yang memberitahukan, dan Menterii Ma manggutmanggut sambil menarik nafas panjang "Terimakasih, siauhiap!"

Ucap Menteri Ma.

"Engkau telah menyelamatkan putriku. Oh ya, bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Ngmm!"

Menteri Ma manggut-manggut.

"Tio siauhiap, bolehkah aku tahu di mana putriku sekarang."

"Maaf! Aku tidak bisa memberitahukan. Yang jelas dia berada di tempat yang aman."

"Siauw hiap...."

Menteri Ma menghela nafas panjang.

"Hingga kini aku justru masih bingung, kenapa putriku pergi meninggalkan rumah."

"Ada dua sebab yang membuatnya minggat,"

Seru Tio Bun Yang.

"Dia telah memberitahukan padaku."

"Dua sebab?"

Menteri Ma mengerutkan kening.

"Siauhiap, beritahukanlah kepadaku aku mengetahuinya!"

"Pertama...."

Tio Bun Yang memberitahukan "Menteri Ma sering memfitnah menteri lain jenderal yang setia, sehingga mereka dihukum mati oleh kaisar.

Kedua dikarenakan menteri ingin menjodohkannya kepada Kwee Teng An maka dia langsung minggat."

"Aaaah...!"

Menteri Ma menghela nafas panjang.

"Padahal aku tidak bermaksud menjodohkannya kepada Kwee Teng An. Dia..., dia telah salah paham."

"Giok Ceng bilang ayahnya sangat menyukai Kwee Teng An...."

"Dia betul-betul telah salah paham,"

Potong menteri Ma.

"Sesungguhnya aku Cuma...."

"Memperalat Kwee Teng An, bukan?"

"Yaah!"

Menteri Ma menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tahu pemuda itu berhati licik, bahkan sangat berambisi pula. Kalau aku kurang berhati-hati, nyawaku pasti melayang di tangannya."

"Kalau sudah tahu itu, kenapa menteri Ma masih mau mengangkatnya sebagai kepala pengawal di sini?"

"Siauhiap...."

Menteri Ma menghela nafas panjang.

"Kepala pengawal lama ingin pulang ke kampung halamannya, maka aku terpaksa mencari penggantinya."

"Maksud Menteri Ma adalah guru Giok Ceng?"

"Ya."

Menteri Ma mengangguk, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Bun Yang, aku harap engkau jangan memanggilku Menteri Ma, lebih baik engkau memanggilku paman, sebab engkau adalah teman putriku."

"Baik, Paman."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya!"

Menteri Ma menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa engkau ingin menemui Kwee Teng An?"

"Ingin menanyakan sesuatu kepadanya,"

Sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Dia adalah penjahat besar, maka Paman harus berhati-hati terhadapnya."

"Ya."

Menteri Ma manggut-manggut.

"Bun Yang...."

"Ada apa, Paman?"

Tanya Tio Bun yang.

"Terus terang, aku..., aku rindu sekali kepada Giok Ceng,"

Jawab Menteri Ma sungguh sungguh.

"Maka aku mohon engkau sudi membujuknya pulang! Dia... adalah putriku satunya."

"Kalau Kwee Teng An masih berada di sini, aku yakin Giok Ceng tidak akan pulang."

"Bun Yang, Kwee Teng An tidak akan ke mari lagi,"

Ujar Menteri Ma memberitahukan.

"Lho? Kenapa?"

Air muka Tio Bun yang berubah.

"Kenapa dia tidak akan ke mari lagi?"

"Dia telah berjanji, apabila tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, dia tidak akan kemari lagi."

"Aaakh...!"

Keluh Tio Bun Yang dengan wajah murung.

"Kalau begitu, aku harus ke mana men carinya?"

"Bun Yang!"

Wajah Menteri Ma tampak serius.

"Bagaimana kalau kita saling membantu?"

"Saling membantu?"

Tio Bun Yang tertegun "Bagaimana caranya saling membantu?"

"Engkau pergi membujuk putriku pulang, sedangkan aku akan menahan Kwee Teng An disini jika dia ke mari. Bagaimana?"

"Itu...."

Tio Bun Yang berpikir lama sekali dan akhirnya mengangguk.

"Baik, aku setuju."

"Kapan engkau berangkat?"

Tanya Menteri Ma dengan wajah berseri.

"Sekarang,"

Sahut Tio Bun Yang singkat "Bagus! Bagus! Ha ha ha!"

Menteri Ma tertawa gembira.

"Bun Yang, mudah-mudahan engkau membujuk Giok Ceng pulang!"

"Mudah-mudahan, Paman!"

Tio Bun Yang manggutmanggut, lalu berpamit.

Menteri Ma mengantarnya sampai di halaman.

Begitu sampai di halaman, mendadak Tio Bun Yang melesat pergi menggunakan ginkang.

Dalam waktu sekejap, pemuda itu sudah hilang dari pandangan Menteri Ma.

"Sungguh hebat kepandaiannya!"

Gumamnya "Dia adalah pemuda baik.

Seandainya dia mecintai Giok Ceng, aku pasti merestuinya.

Mudah-mudahan dia berhasil membujuk Giok Ceng pulang" -oo0dw0oo-Tio Bun Yang terus melakukan perjalanan ke markas Ngo Tok Kauw di Kota Kang Shi.

Dua hari kemudian, ketika ia memasuki sebuah lembah, mendadak terdengar suara pertarungan.

Sebetulnya Tio Bun Yang memburu waktu kemarkas Ngo Tok Kauw, namun karena ingin tahu apa yang terjadi, maka ia melesat ke tempat pertarungan itu.

Tampak seorang pemuda berusia dua puluh limaan sedang bertarung melawan beberapa orang, belasan orang lainnya sudah tergeletak tak bernyawa.

Ketika melihat beberapa orang itu, tersentaklah hati Tio Bun Yang, ternyata mereka adalah It Hian Tojin ketua partai Butong, Wie Thian Cinjin ketua partai Kun Lun dan Ceng Sim suthay ketua partai Go Bie.

Itu sungguh membuat Tio Bun Yang tidak habis pikir, kenapa ketua-ketua partai itu mengeroyok pemuda itu?

Karena itu Tio Bun Yang memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.

Sebuah pedang berkelebatan di tangan pemud itu, bahkan memancarkan cahaya keemas-emas Tio Bun Yang terbelalak menyaksikan pedang itu, karena pedang itu berbentuk seperti ular.

Tiba-tiba Tio Bun Yang mengerutkan kening karena ketiga ketua partai itu mulai terdesak Bun Yang yakin, beberapa jurus lagi ketiga ketua partai itu pasti akan dilukai pemuda tersebut.

Justru karena itu, ia berteriak sambil melesat arah mereka yang sedang bertarung.

"Berhenti!"

Betapa terkejutnya ketiga ketua partai itu begitu pula pemuda tersebut. Mereka segera berhenti bertarung sekaligus memandang. Di saat bersamaan, Tio Bun Yang melayang turun ditengah-tengah mereka.

"Hah?"

Ketiga ketua partai itu terbelalak namun kemudian wajah mereka tampak berseri "Bun Yang!"

"Para ketua, apa kabar?"

Tanya Tio Bun Yang "Baik-baik saja?"

"Bun Yang!"

It Hian Tojin tertawa gembira "Kami baik-baik saja!"

"Bun Yang!"

Wie Hian Cinjin memandangnya seraya berkata.

"Kami berhutang budi lagi kepadamu. Kalau tiada rumput Tanduk Naga itu kami masih gila."

"Yang berjasa adalah Hui Khong Taysu,"

Ujar Tio Bun Yang merendah.

"Sebab Hui Khong taysu yang mengantar rumput Tanduk Naga itu."

"Hmm!"

Pemuda itu mendadak mendengus kngin.

"Kalian sudah usai berbasa-basi? Kalau sudah, mari lanjutkan pertarungan ini!"

"Maaf Saudara!"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kenapa kalian bertarung? Sudahlah! Jangan dilanjutkan lagi!"

"Hm!"

Dengus pemuda itu lagi sambil menatap Tio Bun Yang dengan dingin.

"Ketua Butong!"

Tanya Tio Bun Yang.

"Kenapa ketua bertarung dengan orang itu?"

"Dia telah membunuh para murid kami, maka kami turun tangan terhadapnya,"

Jawab It Hian cijin dan menambahkan.

"Dia adalah penjahat yang harus dibasmi."

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang dan bertanya.

"apakah ketua tahu sebab musababnya, kenapa orang itu membunuh para murid kalian?"

"Kami..."

It Hian Tojin tergagap-gagap.

"Kami baru bertanya kepadanya, namun dia tidak mau memberitahukan, sehingga terjadilah pertarungan ini"

"Para ketua..."

Ujar Tio Bun Yang.

"Urusan ini serahkan padaku saja, biar aku menyelesaikannya! Bagaimana?"

Ketiga ketua partai itu saling memandang, mereka bertiga tahu bahwa bila pertarungan itu lanjutkan, mereka bertigalah yang akan celaka.

"Baiklah."

It Hian Tojin manggut-manggut.

"Kami serahkan urusan ini kepadamu, terimakasih Bun Yang!"

Tio Bun Yang tersenyum, sedangkan ketiga ketua partai itu segera menyuruh murid-murid menggotong mayat-mayat yang tergeletak itu, dan meninggalkan tempat tersebut.

"Engkau memang cerdik,"

Ujar pemuda itu dingin.

"Engkau tahu mereka tidak sanggup melawanku, maka menyuruh mereka pergi secara halus."

"Saudara!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Sudahlah! Kenapa harus memperpanjang urusan ini ? Aku lihat kepandaianmu sangat tinggi, boleh aku tahu siapa engkau?"

"Terus terang,"

Sahut pemuda itu.

"Kalau tidak merasa suka kepadamu, bagaimana mungkin aku membiarkan mereka pergi begitu saja?"

"Oh?"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Terima kasih!"

"Mereka bertiga merupakan ketua partai besar, tapi justru tiada kewibawaannya."

"Maksudmu?"

"Aku tidak mau mengatakan, itu demi nama baik perguruan mereka. Tapi mereka malah menyerangku."

"Saudara?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Betulkah sebelumnya engkau telah membunuh murid-mu mereka?"

"Betul."

"Kenapa engkau membunuh murid-murid mereka ?"

Pemuda itu diam, tak menyahut.

"Saudara,"

Desak Tio Bun Yang.

"Beritahukanlah! Sebab aku akan menjernihkan urusan ini kepada ketua-ketua itu."

"Sebulan lalu, aku memergoki murid-murid partai Butong, Kun Lun dan Go Bie melakukan perbuatan terkutuk."

"Mereka melakukan perbuatan apa?"

"Memperkosa di sebuah desa."

"Haaah?"

Betapa terkejutnya Tio Bun Yang.

"Me... mereka memperkosa di sebuah desa?"

"Ya."

Pemuda itu mengangguk.

"Karena itu, aku membunuh mereka semua. Aku paling benci lelaki yang melakukan perbuatan itu."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mau menjelaskan kepada ketua-ketua itu?"

Tanya Tio Bun Yang sambil memandangnya.

"Percuma."

Pemuda itu menggelengkan kepala.

"Sebab ketiga ketua itu tidak akan percaya."

"Engkau bisa membuktikan itu?"

"Tentu."

"Kenapa engkau tidak mau membuktikan kepada ketiga ketua itu, agar tidak terjadi pertumpahan darah ini?"

"Ketiga ketua itu pasti tidak akan percaya, lagi pula aku... demi nama baik ketiga ketua itu. Tapi sebaliknya mereka bertiga malah salam paham kepadaku, itu sungguh mengesalkan."

"Baiklah."

Tio Bun Yang manggut-manggut "Apabila aku sempat, aku pasti pergi menemui ketiga ketua itu untuk menjernihkan urusan ini"

"Saudara...."

Pemuda itu menatapnya tajam "Sebetulnya tidak perlu, itu cuma akan menyita waktumu saja."

"Tidak apa-apa."

Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Itu agar tidak terjadi pertarungan lagi."

"Saudara!"

Pemuda itu menatapnya sabil tersenyum.

"Engkau bernama Bun Yang, apa julukanmu adalah Giok Siauw Sin Hiap?"

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk dan bertanya.

"Bolehkah aku tahu nama dan julukan mu?"

"Aku adalah Kim Coa Long Kun (Pendekar Pedang Ular Mas)."

Pemuda itu memberitahukan "Kim Coa Long Kun..."

Gumam Tio Bun Yang. Ia tidak pernah mendengarnya.

"Apakah engkau baru berkecimpung di rimba persilatan?"

"Ya."

Kim Coa Long Kun mengangguk.

"Oh, Mari kita duduk di bawah pohon, aku merasa cocok denganmu. Kita... mengobrol sebentar,"

"Baik."

Tio Bun Yang tersenyum. Mereka berdua duduk di bawah pohon, kemudian Kim Coa Long Kun menghela nafas panjang.

"Dalam rimba persilatan memang penuh dengan berbagai kelicikan, kejahatan dan kekejaman,"

Ujarnya sambil menggeleng-gelengkaan kepala.

"Bahkan sering terjadi pertumpahan darah, seperti halnya tadi. Aaaaaah...!"

"Saudara..."

Tio Bun Yang menatapnya tajam, Wajahmu penuh diliputi hawa membunuh, sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi atas dirimu?"

"Hmm!"

Mendadak Kim Coa Long Kun mendengus dingin.

"Itu dikarenakan perbuatan kaum Rimba persilatan."

"Oh? Bolehkah engkau menceritakannya?"

"Aku berasal dari keluarga baik-baik..."

Tutur Kim Coa Long Kun sambil memandang jauh ke lipan.

"Punya orang tua dan kakak perempuan, aku sangat disayang dan dimanja. Akan tetapi, pada suatu malam...."

"Apa yang terjadi?"

"Malam itu...."

Lanjut Kim Coa Long Kun sambil berkertak gigi. Wajahnya pun berubah kehijau-hijauan.

"Malam itu terjadi hujan gerimis. aku sedang belajar menulis di dalam kamar, mendadak muncul lima orang bertopeng, yang ternyata perampok. Kedua orang tuaku dan kakak perempuanku keluar dari kamar...."

"Kemudian bagaimana?"

"Kelima bertopeng itu langsung membunuh kedua orang tuaku."

Kim Coa Long Kun memberiahukan sambil mengepal tinju.

"Setelah memebunuh kedua orang tuaku, mereka berlima memperkosa kakak perempuanku itu."

"Haaah...!"

Mulut Tio Bun Yang ternganga lebar saking terkejut.

"Sungguh biadab mereka"

"Aku menyaksikan semua itu dengan mata kepala sendiri, karena aku mengintip dari kamar"

Ujar Kim Coa Long Kun dengan wajah dingin sekali.

"Untung kelima perampok itu tidak memasuki kamarku, maka aku lolos dari kematian"

"Saudara...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku belajar ilmu silat selama belasan tahun tujuanku untuk membalas dendam."

Ujar Kim Long Koan, yang wajahnya makin dingin.

"Aku harus membunuh kelima perampok itu. Aku harus bunuh mereka...."

"Apakah engkau berhasil membunuh mereka?"

"Aku tidak mengenali wajah mereka karena mereka memakai topeng. Namun aku akan terus menyelidiki mereka. Aku... aku harus membunuh mereka!"

"Saudara...."

Tio Bun Yang memegang tangan nya sambil menatapnya dengan penuh rasa simpati.

"Engkau harus tenang!"

"Setelah berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi, aku akan berkecimpung dalam rimba persilatan dan mulai membunuh para penjahat."

"Oooh!"

Tio Bun Yang menganguk.

"Aku tidak punya sanak famili maupun teman aku hidup seorang diri ditemani Pedang Emasku ini."

Kim Coa Long Kun memberitahukan.

"Apabila Pedang Ular Emasku keluar dari sarungnya, maka aku harus membunuh orang."

"Oh?"

Terbelalak Tio Bun Yang.

"Tadi...."

"Engkau lihat kan tadi? Pedang Ular Emasku ini belum keluar dari sarungnya, ketiga ketua itu masih bernasib mujur."

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Pedang Ular Emas itu tergolong pedang yang haus darah?"

"Ya."

Kim Coa Long Kun mengangguk, kemudian menatapnya tajam seraya berkata.

"Kudengar engkau berkepandaian tinggi sekali, oleh karena itu aku ingin bertanding denganmu."

"Saudara...."

"Engkau jangan menolak!"

"Tapi...."

"Ayolah!"

Desak Kim Coa Long Kun.

"Mari lah bertarung sebentar, jangan mengecewakan aku"

"Saudara...."

Tio Bun Yang mengerutkan keningnya.

"Untuk apa kita bertanding ?"

Kim Coa Long Kun tidak menyahut. Ia langsung bangkit berdiri, lalu menatap Tio Bun Yang higan dingin sekali.

"Kalau engkau tidak mau bertanding denganku maka aku akan pergi membunuh ketiga ketua itu"

"Saudara...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang dan bangkit berdiri seraya berkata.

"Baik. Kita akan bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Aku akan menggunakan pedangku,"

Sahut Kim Coa Long Kun.

"Engkau pun harus menggunakan senjata!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengeluarkan suling "Inilah senjataku."

"Giok Siauw!"

Kim Coa Long Kun manggut manggut.

"Pantaslah engkau memperoleh julukan Giok Siauw Sin Hiap!"

"Saudara!"

Tio Bun Yang menatapnya"kita sudah berkenalan, lagi pula tiada permusuhan antara kita, jadi... kita tidak perlu saling melukai"

"Ha ha ha!"

Kim Coa Long Kun tertawa.

"Kita bertanding cuma ingin mencoba kepandaian. Tentunya tidak perlu saling melukai"

"Oooh!"

Tio Bun Yang menarik nafas lega.

"Saudara!"

Kim Coa Long Kun menatapnya "Bersiapsiaplah, aku akan mulai menyerangmu"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Hati-hati!"

Seru Kim Coa Long Kun sambil menyerang.

Tio Bun Yang segera berkelit.

Kim Coa Kun menyerangnya lagi, sedangkan Tio Bun Yang tetap berkelit menggunakan Kiu Kiong San Pou (Ilmu Langkah Kilat).

Itu membuat Kim Coa Long Kun selalu menyerang tempat kosong, sehingga ia tampak panasaran dan mendadak menghentikan serangannya.

Kim Coa Long Kun berdiri tegak, pedangnya diluruskan ke samping dan keningnya berkerut-kerut.

Ternyata ia mulai mengerahkan lweekangnya, karena ingin menyerang Tio Bun Yang dengan Kim Coa Kiam Hoat (Ilmu Pedang Ular Emas).

Tio Bun Yang tidak berani main-main.

Ia pun segera mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sinkang.

Berselang sesaat, tiba-tiba Kim Coa Long Kun memekik keras sambil menyerang Tio Bun Yang.

Pedang Ular Emasnya berkelebatan dan memancarkan cahaya keemas-emasan mengarah kepada Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang bersiul panjang laIu mendadak badannya berputar-putar ke atas dan sulingnya itu bergerak-gerak Tranng!

Terdengar suara benturan, kim Coa Long Kun termundur-mundur berapa langkah, begitu pula Tio Bun Yang.

Mereka saling memandang, sejurus kemudian barulah Kim Coa Long Kun menyerang lagi.

Tio Bun Yang mengayunkan sulingnya, makin lama makin cepat, sehingga hanya tampak bayangan bayangan sulingnya.

Ternyata Tio Bun Yang mengeluarkan Cit Loan Kiam Hoat, menggunakan jurus Kiam In Ap San (Bayangan Pedang menekan Gunung) menangkis serangan Kim Coa kun.

Trangggg!!

Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga Kim Coa Long Kun terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, sedangkan Tio Bun Yang berdiri tak bergeming dari tempat.

Setelah berdiri tegak, barulah Kim Coa Lo Kun menatapnya dengan dingin sekali, kemudian mengangkat pedangnya sekaligus menghunusnya perlahan-lahan.

Akan tetapi, tiba-tiba ia menghela nafas panjang seraya berkata.

"Sudahlah! Kalaupun aku mencabut pedangku, belum tentu dapat mengalahkanmu. Lagi pula kita sudah menjadi kawan, kenapa harus bertanding hingga saling melukai?"

"Saudara!"

Tio Bun Yang berlega hati.

"Kau memang sudah menjadi kawan, aku..aku girang...sekali."

"Sama."

Kim Coa Long Kun tersenyum "Akupun senang sekali berkawan denganmu, usiaku lebih besar, maka engkau harus memanggilku kakak!"

"Kakak!"

Panggil Tio Bun Yang.

"Adik!"

Sahut Kim Coa Long Kun. Mereka saling memandang, kemudian tertawa gembira.

"Kakak....

"Ha ha ha!"

Kim Coa Long Kun masih tertawa "Sungguh menyenangkan, tak disangka kita bertemu di sini dan menjadi kawan baik! Ha ha ha"

"Kakak,"

Ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Aku membantu kakak menyelidiki kelima perampok itu."

"Terimakasih, Adik!"

Ucap Kim Coa Long Kun "oh ya bolehkah aku tahu asal usulmu?"

"Tentu boleh."

Tio Bun Yang segera menutur tentang asalusulnya dan lain sebagainya.

"Ooh!"

Kim Coa Long Kun manggut-manggut, kemudian nafas panjang seraya berkata .

"Jadi hingga saat ini engkau belum bertemu Goat Nio ?"

"Belum."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala dengan wajah murung.

"Hmm!"

Dengus Kim Coa Long Kun.

"Kalau aku bertemu pemuda bernama Kwee Teng An aku pasti membunuhnya!"

"Kakak...."

"Jangan khawatir! Sebelum membunuhnya, pasti bertanya kepadanya tentang Goat Nio."

"Terimakasih, Kakak!"

"Adik!"

Kim Coa Long Kun menatapnya.

"Kita paksa berpisah di sini, sebab aku harus menyelidiki kelima perampok itu, sedangkan engkau harus pergi ke markas Ngo Tok Kauw."

"Kakak...."

Tio Bun Yang merasa berat berpisah dengan Kim Coa Long Kun.

"Adik!"

Kim Coa Long Kun tersenyum.

"Sampai jumpa!"

"Kakak...!"

Teriak Tio Bun Yang memanggilnya.

Namun Kim Coa Long Kun telah melesat pergi.

Tio Bun Yang termangu-mangu di tempat, lama sekali barulah ia meninggalkan tempat itu.

-oo0w0oo-Bagian ke enam puluh sembilan Kenangan masa lalu Tio Bun Yang telah tiba di kota Kang Shi, langsung ke markas Ngo Tok Kauw.

Kedatangan sangat mencengangkan Ngo Tok Kauwcu dan Giok Ceng, namun juga membuat mereka gembira "Adik Bun Yang..."

Panggil Ngo Tok Kauwcu "Kakak Bun Yang...."

Wajah Ma Giok Ceng berseri-seri.

"Kakak Ling Cu!"

Sahut Tio Bun Yang sambil memandang mereka.

"Adik Giok Ceng..."

"Adik Bun Yang, duduklah!"

Ucap Ngo Tok Kauwcu sambil tersenyum. Tio Bun Yang duduk, Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana? Engkau sudah berhasil mencari Goat Nio?"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Belum,"

Sahutnya sambil menatap Ma Giok Ceng.

"Aku ke mari karena ada sedikit urusan dengan Adik Giok Ceng."

"Ada urusan apa?"

Gadis itu tertegun.

"Kwee Teng An ternyata ketua Kui Bin Pang."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Ayahmu mengutuskannya untuk membunuh Lie Tsu Seng, namun muncul Bu Ceng Sianli, maka Lie Tsu Seng dan lainnya selamat. Kemudian aku pun muncul sana. Aku menyaksikan pertarungan Kwee Teng An dengan Bu Ceng Sianli, akhirnya pemuda itu kabur."

"Oh?"

Ma Giok Ceng terbelalak.

"Dia pasti ke rumah."

"Setelah dia kabur, Bu Ceng Sianli mengatakan bahwa dia adalah ketua Kui Bin Pang,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Kenapa Bu Ceng Sianli mengatakan begitu?"

Tanya Ngo Tok Kauwcu heran.

"Itu berdasarkan ilmu pukulannya."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Bu Ceng Sianli menduga ilmu pukulan itu adalah Pek Kut Im Sat Ciang, yang hanya dimiliki oleh ketua Kui Bin Pang."

"Oooh!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Maka engkau segera mengejarnya?"

"Ya."

Sahut Tio Bun Yang melanjutkan.

"Aku pernah mendengar tentang Kwee Teng An dari adik Giok Ceng, karena itu aku langsung berangkat ke rumah menteri Ma."

"Engkau bertemu ayahku?"

Tanya Ma Giok Ceng terkejut.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk "Engkau...."

Wajah gadis itu berubah pucat "Engkau... engkau mencelakai ayahku?"

"Aku sudah tahu bahwa Menteri Ma adalah ayahmu, bagaimana mungkin aku mencelakai nya?"

Tio Bun Yang tersenyum getir dan menambahkan.

"Kwee Teng An tidak kembali ke sana. Ayahmu dan aku pun sepakat untuk saling membantu"

"Saling membantu?"

Ma Giok Ceng tertegun "Saling membantu dalam hal apa?"

"Aku ke mari membujukmu pulang, sedangkan ayahmu akan menahan Kwee Teng An, apbila dia kembali ke sana."

Tio Bun Yang membentahukan secara jujur.

"Kakak Bun Yang."tegas Ma Giok Ceng"Aku tidak mau pulang, pokoknya aku tidak mau pulang"

"Adik Giok Ceng!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Ayahmu sangat rindu kepadamu, maka engkau harus pulang."

"Tidak. Aku tidak mau pulang. Kalau aku bertemu pemuda itu, ayahku pasti menjodohkan ku kepadanya."

Ujar Ma Giok Ceng "Adik Giok Ceng...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Yang mengatakan itu siapa?"

"Itu... itu...."

Ma Giok Ceng tergagap.

"Itu cuma dugaan saja."

"Nah, Itu berarti belum tentu ayahmu akan berbuat begitukan?"

Ujar Tio Bun Yang "Sesungguhnya.. ayahmu sangat menyayangimu. Kesalahannya hanya ingin memperalat Kwee Teng An saja"

"Kakak Bun Yang.."

Ma Giok cng menundukkan kepala "Adik Giok Ceng..."

Ujar Ngo Tok Kauwcu tersenyum ,.Engkau arus menuruti perkataan Bun Yang, jangan membuatnya kecewa!"

"Tapi..tapi..."

Sahut Ma Giok Ceng "Aku tidak mau bertemu Kwee Ten An Aku merasa seram padanya sebab kadangkadang sepasang matanya menyorotkan sinar aneh"

"Jangan khawatir"

Ujar Tio Bun Yang berjanji "Aku pasti melindungimu percayalah!"

"Baiklah"

Ma Giok Ceng mengangguk "Aku ikut engkau pulang"

"Terimakasih, Adik Giok Ceng!"

Ucap Tio Bun Yang girang "Lho?"

Ma Giok Ceng tertawa geli.

"Kenapa engkau mengucapkan terimakasih kepadaku?"

"Engkau bersedia ikut aku puIang berarti aku tidak mengecewakan harapan ayahmu."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Kakak Bun Yang"

Ma Giok Ceng menghela nafas panjang "Padahal hatimu sedang resah masih bisa memikirkan kepentingan orang lain"

"Itu pun karena ayahmu bersedia membantuku,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Ayohlah! Mari pulang sekarang!"

Ma Giok Ceng mengangguk. Mereka berdiri lalu berpamit kepada Ngo Tok Kauwcu yang baik hati itu.

"Adik Bun Yang,"

Ujar Ngo Tok Kauwcu "Apabila engkau sempat, kunjungilah aku!"

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Adik Giok Ceng,"

Pesan Ngo Tok Kauwcu "Nasihatilah ayahmu agar tidak melakukan kejahatan lagi"

"Ya. Kakak Ling Cu."

Ma Giok Ceng menangguk.

"Aku pasti menasihati ayah...." -oo0dw0oo-Betapa gembiranya menteri Ma ketika melihat Tio Bun Yang datang bersama Ma Giok Ceng putrinya.

"Anakku...."

"Ayah...."

Ma Giok Ceng mendekap di dada menteri Ma.

"Ayah...."

"Nak!"

Menteri Ma membelainya.

"Syukurlah engkau sudah pulang, ayah... ayah rindu sekali kepadamu"

"Ayah...."

Ma Giok Ceng terisak-isak.

"Jangan menangis, sayang!"

Ucap menteri Ma sambil tersenyum.

"Mulai sekarang, engkau tidak boleh meninggalkan ayah lagi."

"Tapi ayah pun harus berjanji."

"Berjanji apa?"

"Tidak boleh melakukan kejahatan lagi dan tidak boleh menjodohkanku kepada Kwee Teng An."

"Baik, Ayah berjanji!"

"Paman?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Apakah Kwee Teng An sudah berada di sini?"

"Dia sama sekali belum ke mari,"

Sahut Menteri Ma.

"Mungkin dia tidak kemari lagi."

"Aaaah...!"

Keluh Tio Bun Yang.

"Kalau begitu, aku harus ke mana mencarinya?"

"Kakak Bun Yang,"

Ujar Ma Giok Ceng menahannya.

"Mungkin dia takut kepadamu, maka tidak begitu cepat ke mari. Oleh karena itu. alangkah baiknya engkau tinggal di sini dulu."

"Tapi...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bun Yang!"

Menteri Ma tertawa gembira.

"Apa yang dikatakan putriku memang masuk akal, lebih baik engkau tinggal di sini dulu. Siapa tahu Kwee Teng An akan muncul."

Menteri Ma berkata demikian, tidak lain hanya bermaksud menahannya, karena ia memang, sangat menyukainya.

"Tapi... bukankah aku akan mengganggu Paman dan Adik Giok Ceng?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng tersenyum "Kenapa engkau menjadi sungkan?"

"Aku...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku sangat mencemaskan Goat Nio, Kwee Teng An entah menyekapnya di mana?"

"Jangan cemas, Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng menatapnya lembut.

"Mudah-mudahan engkau akan berkumpul kembali dengan Goat Nio"

"Terimakasih!"

Ucap Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang tinggal di rumah menteri itu sungguh menggembirakan Ma Giok Ceng sehingga wajah gadis itu selalu tampak cerah ceria.

Namun wajah Tio Bun Yang malah semakin murung, karena Kwee Teng An belum muncul "Kakak Bun Yang,"

Ujar Ma Giok Ceng ketika mereka berdua berada di taman bunga.

"Bagai mana kalau engkau mengajarku ilmu pedang tingkat tinggi, jadi aku bisa menjaga diri?"

"Adik Giok Ceng...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sedang gelisah "

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng memandangnya penuh harap. Tio Bun Yang berpikir sejenak, kemudian Mengangguk.

"Baiklah. Mulai sekarang aku akan mengajarmu Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), yaitu ilmu pedang andalan It Sim Sin Ni, nenekku."

"Terimakasih, Kakak Bun Yang!"

Ucap Ma Giok Ceng girang.

"Terimakasih...."

"Adik Giok Ceng!"

Tio Bun Yang menatapnya sambil berkata sungguh-sungguh.

"Engkau harus belajar dengan giat, sebab ilmu pedang Lui Tian kiam Hoat sangat lihay dan dahsyat. Setelah menguasai ilmu pedang itu, engkau bisa melindungi ayahmu, jadi ayahmu tidak usah mencari kepala pengawal lagi."

"Hi hi hi!"

Ma Giok Ceng tertawa geli.

"Aku yang akan menjadi kepala pengawal!"

"Memang harus begitu."

Tio Bun Yang manggut-manggut dan mulai mengajar gadis itu ilmu pedang Lui Tian Kiam Hoat.

Setelah Ma Giok Ceng berhasil menguasai ilmu pedang tersebut, Tio Bun Yang mengajarnya Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan ayahnya.

"Waduuuh!"

Keluh Ma Giok Ceng.

"Kenapa jadi pusing menyaksikan engkau memainkan ilmu pedang itu?"

"Adik Giok Ceng,"

Sahut Tio Bun Yang serius.

"Ini adalah ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat yang sangat dahsyat. Engkau harus belajar dengan giat karena tidak gampang mempelajari ilmu pedang ini"

"Ya!"

Ma Giok Ceng memandangnya.

"Ya."

Ma Giok Ceng mengangguk.

"Ilmu pedang ini ciptaan ayahku."

Tio Bun Yang memberitahukan sekaligus berpesan.

"Kalau tidak dalam bahaya, janganlah engkau mengeluarkan ilmu pedang ini."

"Ya."

Ma Giok Ceng mengangguk. Tio Bun Yang mulai mengajar gadis itu Loan Kiam Hoat dan disaat itulah muncul Menteri Ma sambil tertawa-tawa.

"Ayah!"!"

Panggil Ma Giok Ceng.

"Paman!"

Panggil Tio Bun Yang sambil memberi hormat.

"Ha ha ha!"

Menteri Ma terus tertawa, kelihatannya gembira sekali.

"Bagus! Bagus! ayah tidak usah mencari kepala pengawal cukup engkau saja."

"Betul, Ayah!"

Ma Giok Ceng mengangguk "Aku bisa melindungi Ayah, percayalah!"

"Tentu Ayah percaya."

Menteri Ma tersenyum.

"Siapa yang mengajarmu? Ya, kan?"

"Ayah...."

Wajah Ma Giok Ceng memerah "Ha ha ha!"

Menteri Ma tertawa gelak.

"Ayolah! Kalian teruskan saja! Ayah mau ke dalam Menteri Ma berjalan ke dalam rumah. Tio Bun Yang memandang punggungnya sambil mengnafas panjang."Sebetulnya tidak jahat, hanya saja...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala dan melannjutkan.

"Terlampau berambisi. Adik Giok ceng...."

"Engkau harus berusaha membujuk ayahmu agar mau mengundurkan diri. Kalau tidak, aku khawatir...."

"Ayahku akan mati dibunuh kan?"

"Kira-kira begitulah."

"Baik. Aku akan berusaha membujuknya agar mengundurkan diri dari jabatannya. Ayahku sudah mulai tua, maka sudah waktunya hidup tenang."

Tak terasa sudah sebulan Tio Bun Yang tinggal di rumah menteri Ma, namun Kwee Teng An masih belum muncul.

Itu membuat hati Tio Bun Yang makin kacau.

Sedangkan Ma Giok Ceng telah berhasil menguasai ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat.

Memang harus diakui, gadis itu sungguh cerdas sekali.

"Aaaah...!"

Keluh Tio Bun Yang ketika duduk dekat taman bunga.

"Kakak Bun Yang!"

Ma Giok Ceng mendekatinya.

"Kenapa engkau melamun di sini?"

"Aku...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudah sebulan aku tinggal di sini, tapi Kwee Teng An masih belum muncul. Mungkin dia tidak kembali ke sini."

"Kakak Bun Yang,"

Ujar Ma Giok Ceng lembut.

"Engkau harus sabar, coba tunggu beberapa hari lagi!"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk Ia menunggu lagi beberapa hari, namun Kwee Teng An, yang ditunggutunggunya tetap tidak muncul, sehingga membuatnya yakin bahwa Kwee Teng An tidak akan kembali ke rumah menteri Ma, maka hari ini juga ia berpamit "Paman, aku...."

"Bun Yang!"

Menteri Ma menatapnya, kemudian menghela nafas panjang.

"Aku tahu, engkau mau pergi, bukan?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku mang mau mohon pamit."

"Kakak Bun Yang...."

Wajah Ma Giok Ce langsung berubah murung.

"Engkau... engkau sudah mau pergi?"

"Ya. Aku harus pergi mencari Kwee Te An,"

Ujar Tio Bun Yang.

"Sudah sebulan lebih aku tinggal di sini, tapi dia tidak muncul. berarti dia tidak akan ke mari lagi."

"Kakak Bun Yang...."

Air mata Ma Giok Ceng mulai meleleh.

"Kapan engkau akan ke mari lagi"

"Apabila ada kesempatan, aku pasti ke mari menengokmu,"

Sahut Tio Bun Yang sambil ter senyum.

"Kini kepandaianmu sudah tinggi, mampu menjaga diri dan melindungi ayahmu."

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng menatapnya dengan mata sayu.

"Aku...."

"Adik Giok Ceng!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Aku tidak bisa terus tinggal di sini. Aku harus, pergi mencari Kwee Teng An, sebab dia yang menculik Goat Nio."

"Kakak Bun Yang, engkau sungguh setia. Alangkah senangnya kalau aku jadi Siang Koan Goat Nio."

"Adik Giok Ceng!"

Tio Bun Yang menatapnya lembut.

"Aku telah menganggapmu sebagai adikku sendiri...."

"Tentu berbeda,"

Potong Ma Giok Ceng.

"Aaaah! Aku adalah Ma Giok Ceng, bukan Siang Koan Goat Nio! Maka... engkau pasti menganggap diriku sebagai bayangan lewat saja!"

"Adik Giok Ceng, engkau jangan berkata begitu!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Baiklah. Aku... mohon diri! Sampai jumpa"

Tio Bun Yang melangkah pergi. Begitu sampai di luar ia langsung melesat pergi menggunakan ginkang.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang...!"

Teriak Ma Giok Ceng memanggilnya dengan air mata berderai-derai.

"Aaaah...!"

Menteri Ma menghela nafas panjang, kemudian mendekati putrinya seraya berkata.

"Nak, dia pasti ke mari lagi kelak."

"Ayah...."

Ma Giok Ceng mendekap di dada Menteri Ma.

"Dia... dia tidak akan ke mari lagi Dia... dia...."

"Nak!"

Menteri Ma terus menghibur putrinya "Percayalah! Dia pasti ke mari kelak."

"Aaah...!"

Keluh Ma Giok Ceng.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang...!" -oo0dw0oo. Di halaman rumah di pulau Hong Hoang tampak beberapa orang sedang duduk-duduk sambil bercakap-cakap. Mereka adalah Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San.

"Aaaah...!"

Mendadak Kam Hay Thian menghela nafas panjang.

"Entah bagaimana Bun Yang apakah dia sudah berjumpa dengan Goat Nio"

"Aku yakin dia belum berjumpa Goat Nio"

Sahut Lu Hui San sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau dia sudah berjumpa dengan Goat Nio, mereka berdua pasti pulang ke mari."

"Kita berada di pulau ini, sama sekali tidak tahu bagaimana kabarnya,"

Ujar Sie Keng Hauw dan menambahkan.

"Kita pun tidak tahu bagai mana keadaan Yo Kiam Heng dan Kwan Tian Him, juga tidak tahu apakah Toan Beng Kiat dan lainnya sudah tiba di Tayli atau belum."

"Toan Beng Kiat dan lainnya pasti sudah tiba di Tayli,"

Sahut Lie Ai Ling, kemudian keningnya berkerut.

"Yang mencemaskan adalah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Sebab mereka berdua kembali ke markas Kui Bin Pang, apabila ketua Kui Bin Pang mencurigai mereka...."

"Mereka berdua pasti celaka,"

Sambung Sie Keng Hauw.

"Aaah! Kita tidak bisa membantu apa-apa!"

"Yaah!"

Lie Ai Ling tersenyum.

"Entah kapan kita akan diperbolehkan ke Tionggoan?"

"Kalau Bun Yang dan Goat Nio tidak pulang kemari, jangan harap kita bisa ke Tionggoan,"

Ujar Kam Hay Thian.

"Bagaimana kalau kita berunding dengan paman Cie Hiong dan kedua orang tuaku?"

Usul Lie Ai Ling.

"Percuma."

Sie Keng Hauw menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak mungkin kita diijinkan pergi ke Tionggoan."

"Lalu kita harus bagaimana?"

Tanya Lie Ai Ling kesal.

"Omitohud!"

Terdengar suara sahutan halus, lebih baik kalian jangan meninggalkan pulau "

"Siapa?"

Lie Ai Ling menengok ke sana kemari.

"Omitohud...."

Tampak sosok bayangan melayang turun di hadapan mereka, yang ternyata Tayli Lo Ceng.

"Hah? Padri tua...."

Mereka berempat segera bersujud di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Omitohud!"

Ucap padri tua itu sambil tersenyum.

"Bangunlah!"

Mereka berempat lalu bangun. Di saat bersamaan muncullah Sam Gan Sin Kay, Kim Sia Suseng dan Kou Hun Bijin.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa geli "Padri tua, angin apa yang meniupmu kemari''' "Tentunya bukan angin topan,"

Sahut Tap Lo Ceng sambil tersenyum.

"Aku ke mari atas kemauanku sendiri, tidak tertiup maupun terdorong oleh angin apa pun lho!"

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan "Kepala gundul! Kepalamu makin mengkilap ajal' "Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Tentunya tidak akan lebih mengkilap dibandingkan dengan wajahmu."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa lagi.

"Tumben, kepala gundul mau bergurau hari ini. Jangan-jangan langit sudah hampir runtuh!"

"Jangan khawatir!"

Tayli Lo Ceng tersenyum "Selagi Kou Hun Bijin masih hidup di kolong langit, langit tidak akan runtuh."

"Kalau begitu, engkau anggap diriku ini"Kepala gundul lah tiang yang menahan langit, agar tidak runtuh ?"

Tanya Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Kira-kira begitulah."

"Dasar kepala gundul!"

Caci Kou Hun Bijin.

"Setiap kali kemari pasti cari gara-gara."

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Aku kemari tidak bermaksud cari gara-gara, melainkan hanya mengunjungi kalian."

"Oh, ya?"

Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Tayli Lo Ceng mengunjungi kami? Sungguh luar biasa!"

"Padri tua,"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Mari kita ke dalam bercakap-cakap, jangan membuang-buang waktu di sini!"

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng mengangguk. Mereka melangkah ke dalam. Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan lainnya menyambut kedatangan Tayli Lo Ceng dengan penuh kegembiraan.

"Ha ha ha!"

Tio Tay Seng tertawa gelak "Selamat datang, Lo Ceng!"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Terima kasih atas penyambutan kalian, aku gembira sekali"

"Lo Ceng!"

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memberi hormat.

"Ha ha ha!"

Tayli Lo Ceng tertawa.

"Kalian berdua semakin mesra saja!"

"Idiiih!"

Seru Kou Hun Bijin.

"Kepala gundul tahu mesra lho! Sungguh luar biasa!"

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Lo Ceng!"

Kim Siauw Suseng menatapnya "Kedatangan Lo Ceng kali ini...."

"Sudah kukatakan tadi, aku ke mari hanya mengunjungi kalian,"

Ujar Tayli Lo Ceng.

"Sama sekali tiada urusan lain."

"Lo Ceng, bagaimana kabarnya rimba persilatan?"

Tanya Kim Siauw Suseng "Biasa-biasa saja,"

Jawab Tayli Lo Ceng.

"Habis gelap pasti terbit terang. Begitulah."

"Kalau begitu...."

Kim Siauw Suseng menghela nafas panjang.

"Bun Yang masih belum berkumpul dengan putri kami?"

"Jangan khawatir!"

Ujar Tayli Lo Ceng.

"Putri kalian pasti akan berkumpul kembali dengan Bun Yang."

"Terimakasih, Lo Ceng!"

Ucap Kim Siauw Suseng.

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng dan bertanya.

"Bagaimana keadaan kalian selama ini baik-baik saja?"

"Baik-baik saja,"

Jawab Tio Tay Seng.

"Tapi..."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng menatapnya.

"Telah terjadi sesuatu di sini?"

"Ya."

Tio Tay Seng menutur tentang kejadian penyerbuan pihak Kui Bin Pang. Tayli Lo Ceng mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Omitohud!"

Ucapnya dan melanjutkan.

"Syukurlah mereka telah sembuh!"

"Kepala gundul!"

Kou Hun Bijin menatapnya tajam.

"Setahuku engkau muncul pasti ada urusan penting, tidak mungkin hanya mengunjungi kami. Itu tidak mungkin."

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng.

"Entah apa sebabnya, hatiku seakan menyuruhku ke mari. Namun... sungguh mengherankan di sini tidak ada kejadian apa-apa."

"Lo Ceng...."

Mendadak Lu Hui San bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu menghampiri Tayli Lo Ceng lalu mengeluarkan suatu benda dan diserahkan kepada padri tua itu.

"Ada seorang Biarawati tua menitip tusuk konde ini untuk Lo Ceng."

"Haaaah...?"

Tayli Lo Ceng terbelalak ketika pelihat tusuk konde itu.

"Giok Cha (Tusuk Konde Kumala)! Aaaaah...!"

Serunya. Dengan tangan agak gemetar Tayli Lo Ceng menerima tusuk konde itu, bahkan matanya pun ta berkaca-kaca.

"Omitohud! Inilah dosaku...."

Apa yang terjadi itu sungguh mencengangkan Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Susng, Kou Hun Bijin dan lainnya.

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan memecahkan keheningan.

"Kepala gundul! Ternyata engkau punya kenangan manis dan pahit Hi hi hi...!"

"Omitohud..."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?"

"Biarawati tua itu kelihatan baik-baik saja. Pada jawab Lu Hui San dan menambahkan.

"Tapi ketika menyerahkan tusuk konde ini, biarawati tua itu tampak sedih sekali."

"Aaah...!"

Keluh Tayli Lo Ceng sambil mengeleng-gelengkan kepala.

"Aku telah berdosa terhadapnya! Aku...."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa.

"Kepala gundul, apakah pemilik tusuk konde itu mantan kekasihmu?"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Memang tidak salah, dia adalah kekasihku yang sangat setia. Dia... dia bahkan menjadi biarawati."

"Lo Ceng,"

Ujar Sam Gan Sin Kay.

"Bolehkah dituturkan mengenai kisah cinta itu?"

"Aaaah...!"

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Semua itu telah berlalu, tiada gunanya diceritakan."

"Kepala gundul,"

Desak Kou Hun Bijin.

"Ceritakanlah agar engkau merasa ringan terhadap dosamu! Kalau tidak, engkau harus terus memikirkan dosa itu lho!"

"Betul,"

Sambung Sam Gan Kin Kay.

"Kalau tidak diceritakan, dosa itu harus dipikul sampai ke pintu sorga, dan akhirnya engkau pasti di lempar ke dalam neraka."

"Omitohud...."

Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menutur.

"Ketika aku berusia sekitar dua puluh, justru merupakan seorang hweeshio muda yang sangat tampan. Suatu hari aku menyelamatkan seorang putri hartawan. Putri itu pergi sembahyangan, di tengah jalan dihadang para penjahat yang ingin memperkosanya. Putri hartawan itu bernama Pek Sian Nio. Aku antar dia pulang, tentunya membuat kedua orang tuanya terheran-heran. Pek Sian Nio segera menceritakan tentang kejadian tersebut membuat kedua orangnya sangat berterimakasih padaku, dan kemudian aku tinggal di sana."

"Kemudian bagaimana?"

Tanya Kou Hun Bijin.

"Pek Sian Nio baik sekali terhadapku, dan 1 bulan kemudian dia menyatakan cinta kepadaku. Aku tidak terkejut, karena aku pun menyukainya secara diam-diam."

"Hi hi hi!"

Kou Hun Bijin tertawa geli.

"Hweesio muda jatuh cinta, itu sungguh merupakan dosa berat!"

"Kalau itu adalah takdir, maka tidak berdosa."

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Aaah...!"

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang "Itu memang merupakan suatu dosa berat, sebab aku tinggal di sana.

Kalau aku tidak tinggal disana, tentunya tidak akan saling jatuh cinta, Beberapa hari setelah saling menyatakan cinta, Aku menghadiahkan sebuah tusuk konde kumala kepadanya."

"Tusuk konde itu?"

Tanya Kim Siauw Suseng "Ya!"

Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Memang tusuk konde ini. Beberapa bulan kemudian, aku berpamit kepadanya karena aku ingin pergi me nuntut ilmu. Aku berjanji kepadanya pasti pulang dalam waktu dua tiga tahun, akan tetapi, aku aku tidak pernah datang menemuinya lagi."

"Kenapa?"

Tanya Kou Hun Bijin heran.

"Setelah aku pergi menuntut ilmu lagi, aku tersadar dari kekeliruan itu...."

Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.

"Maka aku tidak pergi menemuinya, itu agar dia bisa menikah dengan pemuda lain. Dua puluh tahun kemudian, secara diam-diam aku ke rumahnya. Aku harap dia sudah punya anak dan hidup bahagia, namun tak sangka dia justru tidak ada di rumah. Aku bertanya kepada para tetangga di sana, mereka memberitahukan bahwa Pek Sian Nio sudah menjadi biarawati, namun mereka tidak tahu dia berada dimana. Sejak saat itulah aku tidak pernah bertemu dia lagi."

"Kepala gundul,"

Tegur Kou Hun Bijin.

"Engkau memang kejam sekali. Setelah pergi menuntut ilmu lagi, barulah tersadar. Otomatis membuat Pek Sian Nio hidup merana dan menderita. Dosa mu bertambah berat."

"Omitohud! Dosaku memang berat sekali ucap Tayli Lo Ceng sambil memandang Lu Hui San yang telah duduk.

"Apa gelarnya?"

"Khong Sim Ni Kouw,"

Jawab Lu Hui San.

"Khong Sim (Hati Hampa). Khong Sim..."

Gumam Tayli Lo Ceng dengan mata basah.

"Aku sungguh berdosa terhadapnya."

"Lo Ceng!"

Lu Hui San memberitahukan.

"Khong Sim Ni Kouw kelihatan mengharap sekali kedatangan Lo Ceng."

"Omitohud...."

"Jangan menyebut 'Omitohud' dulu!"

Potong Kou Hun Bijin.

"Sebab akan menambah dosamu. Lebih baik engkau segera pergi menemuinya. Kalau tidak, jangan harap engkau bisa berjumpa dengan Sang Budha."

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut, kemudian bertanya kepada Lu Hui San.

"Di -mana tempat tinggalnya?"

"Di kuil Pek Yun Am...."

Lu Hui San memberitahukan secara jelas.

"Omitohud! Terimakasih!"

Mendadak Tayli Lo Ceng melesat pergi tanpa pamit. Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin saling memandang, kemudian Kou Hun Bijin menghela nafas panjang seraya berkata.

"Mudah-mudahan kepala gundul itu bertemu khong Sim Ni Kouw! Aku..."

Kou Hun Bijin terisakisak.

"Aku.bersimpati dan merasa kasihan kepada Khong Sim Ni Kouw itu."

"Tidak disangka Tayli Lo Ceng punya kenangan itu!"

Sam Gan Sin Kay menggeleng-gelengkan kepala dan bergumam.

"Cinta...."

"He he he!"

Kim Siauw Suseng tertawa terkekeh-kekeh.

"Pengemis bau! Teringat kepada mendiang isteri ya?"

"Sastrawan sialan!"

Sahut Sam Gan Sin Kay "Urusi isterimu yang menangis itu! Jangan menggodaku!"

"Eh?"

Kim Siauw Suseng segera memandang Kou Hun Bijin.

"Isteriku...."

"Aku menangis sedih, engkau malah tertawa terkekehkekeh."

Tegur Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Nanti malam engkau tidur di lantai tidak boleh seranjang denganku!"

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa tebahak-bahak.

"Rasakan! Sastrawan sialan pasti kedinginan malam ini! Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Tayli Lo Ceng sudah sampai di kuil Pek Yu Am. Ia berdiri di depan pintu kuil itu dengan kening berkerut-kerut lantaran hatinya bimbang. Ia ingin mengetuk pintu kuil itu, namun hatinya merasa enggan. Di saat itulah mendadak pintu kuil itu terbuka dan tampak dua biarawati berdiri disitu "Siancay! Siaricay!"

Ucap kedua biarawati itu."Guru kami mempersilakan Lo Ceng masuk."

"Omitohud!.Terimakasih!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Mari ikut kami ke dalam, Lo Ceng!"

Ucap kedua biarawati itu sambil berjalan ke dalam. Tayli Lo Ceng mengikuti mereka dengan hati tak tenang. Tak lama mereka sudah sampai di ruang meditasi.

"Lo Ceng, silakan masuk!"

Ucap kedua biarawati tu.

"Terimakasih!"

Tayli Lo Ceng masuk ke dalam ruang itu dan dilihatnya seorang biarawati tua duduk bersila.

"Kong Sun Hok,"

Ujar biarawati tua itu.

"Engkau sudah datang, duduklah di hadapanku!"

"Pek Sian Nio,"

Sahut Tayli Lo Ceng sambil duduk bersila dihadapan biarawati tua.

"Aku...aku...."

"Sudahlah!"

Khong Sim Ni Kouw tersenyum lembut.

"Aku sama sekali tidak mempersalahkanmu. Sesungguhnya aku yang bersalah, karena tidaik pantas aku jatuh cinta kepada seorang Hweesio itu adalah dosaku...."

"Tidak, Sian Nio. Engkau tidak bersalah. Aku yang bersalah. Sian Nio, ampunilah aku!"

Tayli, Ceng terisak-isak.

"Kong Sun Hok!"

Khong Sim Ni Kouw tersenyum lembut lagi.

"Engkau sudah tua, namun kenapa masih seperti anakanak?"

"Sian Nio...."

Air mata Tayli Lo Ceng berderai derai.

"Garagara aku, engkau kehilangan masa remajamu. Aku... aku berdosa terhadapmu."

"Itu sudah merupakan takdir."

Khong Sim Ni Kouw menatapnya dalam-dalam, kemudian wajah nya berseri seraya berkata.

"Malam itu engkat memelukku, dan aku mendekap di dadamu. Bulan pun bersinar terang benderang, betapa bahagianya aku disaat itu."

"Sian Nio...."

Tayli Lo Ceng terisak-isak lagi "Tidak seharusnya aku menelantarkanmu. Aku...aku.."

"Kong Sun Hok!"

Khong Sim Ni Kouw mulai memandangnya dengan mata redup, namun wajahnya tetap berseri.

"Kini aku pun bahagia sekali sebab engkau masih sempat ke mari."

"Sian Nio! Engkau...."

Tayli Lo Ceng tersentak dan segera memeriksa nadinya.

Betapa terkejutnya padri tua itu, ternyata denyut nadi dan detak jantung Khong Sim Ni Kouw sudah lemah sekali, Cepat-cepatlah padri tua itu menyalurkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang ke dalam tubuh biarawati tua itu.

"Kong Sun Hok!"

Khong Sim Ni Kouw menggelenggelengkan kepala.

"Jangan menyia-nyiakan hawa murnimu, sebab sudah waktunya aku pergi.."

"Sian Nio...."

Air mata Tayli Lo Ceng mulai meleleh lagi.

"Kita... kita baru berjumpa...."

"Aku... aku bahagia..."

Ujar Khong Sim Ni Kouw dengan suara mulai lemah.

"Kong Sun Hok, maukah... engkau memelukku seperti malam itu?"

"Sian Nio....."

Tayli Lo Ceng langsung memeluknya dengan air mata berderai-derai.

"Sian Nio, aku...."

"Kong Sun Hok!"

Khong Sim Ni Kouw tersenyum bahagia.

"Engkau tidak berdosa dalam hal ini relakanlah aku pergi...."

"Sian Nio!"

Tayli Lo Ceng membelainya.

"Di dalam penitisan, aku pasti memperisterimu. Aku... aku pasti mencintai dan menyayangimu. Sian Nio, aku berjanji!"

"Terimakasih, Kong Sun Hok! Terimakasih...."

Khong Sim Ni Kouw tersenyum sambil berkata dengan suara yang semakin lemah.

"Kong Sun Hok... selamat... selamat tinggal...."

"Sian Nio! Sian Nio..."

Panggil Tayli Lo Ceng. Namun Khong Sim Ni Kouw tidak menyahut lagi, ternyata nafasnya telah putus.

"Omitohud...."

"Guru! Guru...."

Kedua biarawati yang berdiri diluar ruangan itu langsung menjatuhkan diri berlutut sambil menangis sedih.

"Guru...." -oo0dw0oo-Bagian ke tujuh puluh Dua Dhalai Lhama mengunjungi Markas Kay Pang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong duduk diruang depan dengan wajah serius, kelihatan mereka berdua sedang membicarakan sesuatu "Entah bagaimana Bun Yang?"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi sesuatu atas dirinya!"

"Yang kucemaskan adalah..."

Ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut.

"Apabila Goat Nio terjadi sesuatu, Bun Yang akan..."

"Tiada gairah hidup lagi?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Kira-kira begitulah,"

Sahut Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sebab Bun Yang sangat mencintai gadis itu."

"Aaah...!"

Keluh Lim Peng Hang.

"Aku justru tidak habis pikir, kenapa Bun Yang harus menghadapi percobaan itu? Padahal... dia pemuda baik dan berhati bajik, tapi malah...."

"Dulu kedua orang tuanya juga selalu mnghadapi percobaan-percobaan yang tak terduga akhirnya mereka berdua toh hidup bahagia,"

Seru Gouw Han Tiong dan melanjutkan.

"Maka Bun Yang harus tabah. Kalau tidak, dia akan gila."

"Yaaah!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Hidup memang penuh cobaan, setiap orang pasti akan mengalami."

"Mudah-mudahan Bun Yang berhasil mencari Goat Nio, jadi kita pun bisa berlega hati!"

Ucap Gouw Han Tiong.

"Aku justru masih tidak habis pikir, apa sebabnya ketua Kui Bin Pang itu tidak mau melepaskan Goat Nio,"

Ujar Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Dan juga entah disekap di mana gadis itu?"

"Mungkinkah...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kening.

"Ketua Kui Bin Pang itu punya maksud tertentu terhadap Goat Nio?" -oo0dw0oo-

Jilid . 15

"Aaah...."

Lim Peng Hang menghembuskan nafas panjang.

"Sungguh pusing memikirkannya!"

"Oh ya! Belum lama ini di rimba persilatan telah muncul Kim Coa Long Kun. Pendekar Pedang Ular Emas itu sadis sekali,"

Ujar Gouw Han Tiong mengalihkan pembicaraan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia masih muda, namun berkepandaian tinggi sekali."

"Tidak memberi ampun kepada para penjahat, tapi...."

Lim Peng Hang mengerutkan kening dan melanjutkan.

"Justru sungguh membingungkan, kenapa dia juga membunuh para murid Butong Pay, Kun Lun Pay dan Go Bie Pay? Kalau tidak salah, ketua-ketua partai itu telah bergabung untuk membasmi Kim Coa Long Kun itu."

"Rimba persilatan tidak pernah tenang, bahkan kini Dinasti Beng, pun berada di ambang keruntuhan,"

Ujar Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kelihatannya kita pun sudah harus hidup tenang di Pulau Hong Hoang To."

"Benar."

Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian memandang Gouw Han Tiong sambil tersenyum.

"Engkau tidak bisa tinggal di Pulau Hong Hoang To, harus tinggal di Tayli, sebab Sian Eng berada di sana."

"Sian Eng..."

Gumam Gouw Han Tiong.

"Karena engkau menyinggung dirinya, aku pun menjadi rindu lho!"

"Engkau berniat ke Tayli menengok Sian Eng?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Memang berniat, tapi bukan sekarang,"

Sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Setelah Bun Yang berkumpul kembali dengan Goat Nio, barulah aku berangkat ke Tayli."

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Saudara Gouw, engkau memang sangat setia kawan."

"Tentu."

Gouw Han Tiong juga tertawa. Dalam waktu bersamaan, muncullah Cian Chiu Lo Kay dengan wajah serius. Ia memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Pangcu, ada dua Dhalai Lhama ingin bertemu Pangcu,"

Lapor Cian Chiu Lo Kay.

"Apa?"

Lim Peng Hang tertegun.

"Maksudmu Dhalai Lhama dari Tibet?"

"Ya."

Cian Chiu Lo Kay mengangguk.

"Cepat undang mereka masuk!"

Ujar Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu."

Cian Chiu Lo Kay segera keluar, sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang dengan kening berkerut-kerut.

"Heran?"

Gumam Lim Peng Hang.

"Ada urusan apa kedua Dhalai Lhama itu ke mari?"

"Kay Pang tidak punya hubungan dengan Dhalai Lhama Tibet, memang mengherankan mereka ke mari."

Gouw Han Tiong tidak habis pikir.

"Hah?"

Mendadak Lim Peng Hang tersentak.

"Janganjangan ada kaitannya dengan Cie Hiong, sebab Cie Hiong pernah bertarung dengan ketua Dhalai Lhama?"

"Aku pernah mendengar tentang itu, tapi setelah itu bukankah Cie Hiong malah bersahabat dengan ketua Dhalai Lhama itu?"

"Benar."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Kalau begitu, kedatangan mereka...."

Ucapan ketua Kay Pang terhenti, karena Cian Chiu Lo Kay telah muncul bersama kedua Dhalai Lhama itu. Setelah berdiri di hadapan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, kedua Dhalai Lhama itu memberi hormat.

"Lim Pangcu, maaf!"

Ucap Dhalai Lhama berjubah merah.

"Kedatangan kami mengganggu ketenangan Pangcu."

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Tidak apa apa. Silakan duduk!"

"Terimakasih!"

Kedua Dhalai Lhama itu duduk. Yang mengherankan adalah wajah kedua Dhalai Lhama itu, karena tampak muram sekali.

"Kalian berdua jauh-jauh dari Tibet ke mari, tentunya ada suatu urusan penting. Ya, kan?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Betul,"

Sahut Dhalai Lhama berjubah kuning.

"Telah terjadi sesuatu di kuil kami...."

"Oh?"

Lim Peng Hang tertegun.

"Apa yang telah terjadi di kuil kaliah?"

"Aaaah...!"

Dhalai Lhama berjubah merah menghela nafas panjang.

"Belum lama ini telah muncul seorang pemuda Han di Tibet. Kepandaiannya sungguh tinggi sekali, sehingga para saudara seperguruanku tak mampu melawannya. Ternyata pemuda Han itu pun memiliki ilmu sesat yang dapat mengendalikan pikiran orang, maka semua saudara seperguruan kami terpengaruh, bahkan kemudian pemuda Han itu juga mengalahkan guru kami."

"Lalu bagaimana?"

Tanya Lim Peng Hang terkejut.

"Guru kami dikurung, sedangkan semua saudara seperguruan kami sangat patuh kepada perintah pemuda Han itu,"

Jawab Dhalai Lhama berjubah merah memberitahukan dengan wajah murung.

"Sebab pikiran mereka di bawah pengaruh ilmu sesat pemuda Han itu."

"Siapa pemuda Han itu?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Dia tidak menyebut namanya,"

Jawab Dhalai Lhama berjubah merah.

"Kini pemuda Han itu berkuasa di kuil kami."

"Sungguh diluar dugaan!"

Lim Peng Hang menggelenggelengkan kepala, kemudian memandang mereka seraya bertanya.

"Kok kalian tidak terpengaruh sama sekali, bahkan masih bisa kemari?"

"Kebetulan pada waktu itu kami tidak berada di kuil, karena sedang ada tugas di daerah lain."

Dhalai Lhama berjubah kuning memberitahukan.

"Setelah menyelesaikan tugas itu, kami berdua pulang ke Tibet. Di tengah jalan muncul belasan penduduk Tibet menghadang kami dan menceritakan tentang kejadian itu. Kami ingin segera kembali ke kuil, tapi para penduduk itu mencegah kami, sebab kami bukan lawan pemuda Han itu."

"Lalu bagaimana kalian?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Kami gugup dan panik, bahkan kebingungan sekali,"

Jawab Dhalai Lhama berjubah merah.

"Kemudian kami teringat kepada Pek Ih Sin Hiap-Tio Cie Hiong, maka kami segera berangkat ke Tionggoan. Kami ke mari karena tahu Pek Ih Sin Hiap .lilalah manlii I ini Pangcu."

"Oooh!"

I mi Pen 11iiii>t nittnggul manggut.

"Jaili maksud kalian ingin minta bantuan kepadanya?"

"Ya."

Kedua Dhalai Lhanin ilu mengangguk.

"Menurut kami, hanya Pek Ih Sin Hiap yang dapat mengalahkannya."

"Tapi...."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

"Cie Hiong tidak berada di sini, dia tinggal di Pulau Hong Hang To."

"Oh?"

Dhalai Lhama memandang Lim Peng Hang.

"Di mana pulau itu?"

"Jauh sekali."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Terletak di Pak Hai (Laut Utara)."

"Tidak apa-apa,"

Ujar Dhalai Lhama berjubah merah seakan telah mengambil keputusan.

"Kami akan berangkat ke sana."

"Percuma."

Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Kenapa?"

Dhalai Lhama berjubah merah heran.

"Sebab Cie Hiong sudah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan, maka percuma kalian ke sana."

Gouw Han Tiong menjelaskan.

"Dia tidak akan membantu kalian."

"Aaaah...!"

Dhalai Lhama jubah merah menghela nafas panjang.

"Kalau begitu kuil kami pasti terus dikuasai pemuda Han itu."

"Oh ya!"

Ujar Lim Peng Hang memberitahukan.

"Ada seorang yang bisa membantu kalian."

"Siapa?"

Tanya kedua Dhalai Lhama itu girang.

"Tio Bun Yang,"

Jawab Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Putra satu-satunya Tio Cie Hiong."

"Juga cucu Lim Pangcu, kan?"

Dhalai Lhama berjubah kuning menatapnya.

"Ya."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Aku yakin dia mampu membantu kalian, tapi...."

"Kenapa, Lim Pangcu?"

Tanya Dhalai Lhama berjubah merah.

"Dia pun tidak berada di sini."

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Apakah dia berada di Pulau Hong Hoang To?"

Tanya Dhalai Lhama berjubah kuning sambil menatapnya.

"Dia tidak ada di pulau itu, melainkan sedang pergi mencari seseorang,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Kapan did pulang?"

Tanya Dhalai Lhama itu penuh harap.

"Entahlah."

Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

"Kami tidak tahu kapan dia akan pulang."

"Kalau begitu...."

Kedua Dhalai Lhama itu saling memandang, kemudian manggut-manggut seraya berkata.

"Lim Pangcu, perkenankanlah kami menunggunya!"

"Boleh."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Namun kami tidak berani memastikan kapan dia pulang."

"Tidak jadi masalah,"

Ujar Dhalai Lhama berjubah merah "Kami akan menunggunya dengan sabar."

"Kalau begilu..."

Ujar Lim Peng Hang sambil manggutmanggut.

"Kalian berdua boleh tinggal di sini."

"Terimakasih!"

Ucap kedua Dhalai Lhama itu serentak.

"Lo Kay,' ujar Lim Peng Hang.

"Antar kedua Dhalai Lhama itu ke kamar untuk beristirahat!"

"Ya, Pangcu."

Cian Chiu Lo Kay mengangguk, lalu berkata kepada kedua Dhalai Lhama.

"Mari ikut aku ke belakang!"

"Terimakasih!"

Kedua Dhalai Lhama itu mengikuti Cian Chiu Lo Kay ke belakang.

"Tambah satu urusan lagi,"

Ujar Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Yaaah!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Sebagai orang gagah dalam rimba persilatan, kita memang harus membantu Dhalai Lhama itu. Lagi pula pemuda Han "itu telah mencemarkan nama baik bangsa Han, maka aku yakin Bun Yang pasti bersedia membantu Dhalai Lhama itu."

"Tapi...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kening.

"Entah kapan dia pulang? Dia sedang mencemaskan Goat Nio, itu akan mempengaruhi konsentrasinya. Jadi bagaimana mungkin dia dapat mengalahkan pemuda Han itu?"

"Aku yakin dia tidak akan begitu,"

Ujar Lim Peng Hang dan menambahkan.

"Mudah-mudahan dia akan pulang dalam beberapa hari ini!"

"Mudah-mudahan!"

Gouw Han Tiong mang-\gut-manggut.

"Dan semoga dia telah berkumpul dengan Goat Nio!" -oo0dw0oo. Setelah meninggalkan rumah Menteri Ma, Tio Bun Yang mulai mencari Kwee Teng An kemana-mana, bahkan juga telah menjelajahi beberapa kota. Akan tetapi, tetap sia-sia karena tiada jejak pemuda itu sama sekali. Ketika hari mulai gelap, Tio Bun Yang duduk di bawah pohon. Tak henti-hentinya ia menghela nafas panjang, lalu mengeluarkan sulingnya. Tak lama terdengarlah suara suling yang amat merdu menggetarkan kalbu. Ia meniup suling sambil melamun. Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia berhenti meniup sulingnya. Di saat bersamaan, muncullah seseorang sambil tertawa.

"Ha ha ha! Adik Bun Yang! Ternyata engkau yang meniup suling! Aku tak menyangka engkau begitu mahir meniup suling!"

"Hah?"

Tio Bun Yang tersentak dan menoleh. Dilihatnya seorang pemuda berdiri di belakangnya.

"Kim Coa Long Kun...."

"Engkau meniup suling sambil melamun, sehingga tidak tahu akan kehadiranku di sini."

Ujar pemuda itu, yang tidak lain Pendekar Pedang Ular Emas.

"Kim Coa Long Kun...."

Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Adik Bun Yang!"

Kim Coa Long Kun duduk di sisinya.

"Engkau belum berhasil mencari Goat Nio?"

"Belum."

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aaaah...!"

"Jangan putus asa!"

Ujar Kim Coa Long Kun.

"Engkau harus mencarinya terus, aku yakin engkau pasti berkumpul dengan dia."

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian bertanya.

"Bagaimana engkau? Apakah sudah berhasil menyelidiki kelima perampok itu?"

Kim Coa Long Kun menggelengkan kepala dan menyahut.

"Tapi aku akan terus menyelidiki mereka."

Wajah Kim Coa Long Kun berubah dingin sekali.

"Aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja."

"Kim Coa Long Kun!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Tak disangka kita bertemu di sini."

"Kebetulan aku lewat, suara sulingmu menarik perhatianku."

Kim Coa Long Kun tersenyum.

"Maka aku ke mari, sungguh diluar dugaan ternyata engkau yang meniup suling?"

"Kim Coa Long Kun...."

Tio Bun Yang ingin mengucapkan sesuatu, namun dibatalkannya.

"Adik Bun Yang!"

Kim Coa Long Kun menatapnya sambil tersenyum.

"Aku tahu engkau khawatir kekasihmu itu akan terjadi sesuatu. Ya, kan?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Percayalah!"

Kim Coa Long Kun memegang bahunya seraya berkata.

"Kekasihmu itu tidak akan terjadi apa-apa."

"Mudah-mudahan!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Oh ya, Adik Bun Yang!"

Mendadak wajah Kim Coa Long Kun tampak serius.

"Aku memperoleh suatu informasi, bahwa ada dua Dhalai Lhama berada di markas pusat Kay Pang. Entah ada urusan apa, lebih baik engkau segera kembali ke markas pusat Kay Pang!"

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Dhalai Lhama? Apakah ada urusan dengan ayahku?"

"Entahlah!"

Kim Coa Long Kun menggelengkan kepala.

"Adik Bun Yang, sebaiknya engkau segera ke sana."

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Adik Bun Yang!"

Kim Coa Long Kun bangkit berdiri.

"Aku mau pamit."

"Kim Coa Long Kun...."

Tio Bun Yang memandangnya.

"Adik Bun Yang!"

Kim Coa Long Kun melesat pergi.

"Sampai jumpa!"

"Kim Coa Long Kun...!"

Seru Tio Bun Yang dengan wajah murung.

Setelah Kim Coa Long Kun melesat pergi, ia tampak seakan kehilangan sesuatu.

Lama sekali barulah ia melesat pergi.

Tujuannya kembali ke markas pusat Kay Pang.

Rasa herannya timbul, karena Kim Coa Long Kun memberitahukan ada dua Dhalai Lhama berada di sana.

Ada urusan apa Dhalai Lhama itu berada di markas pusat Kay Pang?

Ia sungguh tak habis pikir.

-oo0dw0oo-Meskipun sudah beberapa hari menunggu dan Tio Bun Yang masih belum datang, namun kedua Dhalai Lhama itu tidak putus asa.

Mereka tetap menunggu dengan sabar.

"Heran..."

Gumam Lim Peng Hang.

"Kok Bun Yang belum pulang?"

"Aku khawatir...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kening.

"Dia tidak akan begitu cepat pu lang."

"Tidak apa-apa,"

Ujar Dhalai Lhama berjubah merah.

"Kami akan tetap menunggu, sebab kami yakin dia pasti kembali."

"Aaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Aku justru masih tidak habis pikir, sebetulnya siapa pemuda Han yang mengacau di kuil kalian itu?"

"Pemuda itu cukup tampan dan sering tersenyum-senyum, namun di balik senyumannya terdapat kelicikan."

Dhalai Lhama berjubah merah memberitahukan.

"Bahkan dia pun berhati kejam, karena dia telah membunuh beberapa orang."

"Setahuku..."

Ujar Gouw Han Tiong.

"Ketua Dhalai Lhama berkepandaian tinggi sekali, tapi... pemuda itu masih dapat mengalahkannya. Pertanda pemuda itu berkepandaian jauh lebih tinggi."

"Betul."

Dhalai Lhama itu manggut-manggut dan menambahkan.

"Kami tahu Pek Ih Sin Hiap memiliki ilmu Penakluk Iblis, apakah putranya juga memiliki ilmu tersebut?"

"Tentu."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Maksud kalian ilmu itu mampu membuyarkan ilmu sesat yang dimiliki pemuda Han itu?"

"Ya."

Dhalai Lhama berjubah merah mengangguk.

"Oh ya! Bagaimana kepandaian Tio Bun Yang?"

"Ha ha ha!"

Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Kepandaiannya sudah tinggi sekali.'..."

Pada waktu bersamaan, berkelebat sosok bayangan ke dalam dan terdengar suara seruan.

"Kakek! Kakek Gouw!"

Sosok bayangan itu ternyata Tio Bun Yang. Dapat dibayangkan betapa girangnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Bun Yang!"

Panggil mereka serentak.

Kedua Dhalai Lhama langsung memandang Tio Bun Yang.

Begitu lemah lembut pemuda itu, bagaimana mungkin berkepandaian tinggi?

Kedua Dhalai Lhama membatin, namun ketika melihat sepasang matanya, tersentaklah mereka berdua, karena sepasang matanya menyorotkan sinar yang begitu tajam, pertanda memiliki lweekang yang amat tinggi.

Tio Bun Yang memberi hormat kepada kedua Dhalai Lhama, dan kedua Dhalai Lhama segera bangkit berdiri sekaligus balas memberi hormat.

"Tio siauhiap, selamat bertemu!"

Ucap Dhalai Lhama berjubah merah.

"Selamat bertemu Dhalai Lhama!"

Sahut Tio Bun Yang.

"Ayoh! Duduklah!"

Ucap Lim Peng Hang Mereka segera duduk. Lim Peng Hang memandang Tio Bun Yang seraya bertanya dengan, penuh perhatian.

"Bun Yang, engkau sudah bertemu Goat Nio?"

"Belum."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tiada kabar beritanya sama sekali?"

Tanya Gouw Han Tiong. Tio Bun Yang mengangguk sambil menghela nafas panjang.

"Tapi aku sudah tahu siapa ketua Kui Bin Pang itu,"

Ujarnya^ "Oh?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terperanjat.

"Siapa ketua Kui Bin Pang itu?"

"Seorang pemuda bernama Kwee Teng An,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Kwee Teng An?"

Gumam Lim Peng Hang.

"Tidak pernah terdengar nama tersebut dalam rimba persilatan. Oh ya, engkau kok tahu ketua Kui Bin Pang itu adalah Kwee Teng An?"

"Tanpa sengaja aku menyelamatkan putri Menteri Ma..."

Tutur Tio Bun Yang tentang semua kejadian itu, kemudian menambahkah.

"Aku sedang mencari Kwee Teng An."

"Oh?"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Engkau bertemu Yo Suan Hiang, bagaimana kabarnya?"

"Bibi Suan Hiang baik-baik saja."

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi... dia masih belum menikah."

"Kemungkinan besar dia tidak akan menikah,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Sebab ia mencurahkan perhatiannya pada perjuangan itu."

"Oh ya!"

Tanya Lim Peng Hang.

"Betulkah Lie Tsu Seng telah berhasil merebut beberapa kota?"

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Rimba persilatan bertambah kacau, sedangkan kerajaan pun timbul berbagai pergolakan!"

"Bun Yang!"

Gouw Han Tiong menatapnya.

"Apakah barubaru ini engkau mendengar tentang sepak terjang Kim Coa Long Kun dalam rimba persilatan?"

"Kim Coa Long Kun?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Ya."

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Dia baru muncul di rimba persilatan, namun sadis sekali. Di mana dia berada, pasti terjadi pertumpahan darah."

"Oh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kami justru tidak habis pikir, sebetulnya dia tergolong lurus atau sesat?"

Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia memang sering membunuh para penjahat, tapi juga pernah membunuh para murid partai Butong, Kun Lun dan Go Bie. Maka para ketua ketiga partai itu bergabung untuk menumpasnya."

"Kakek!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku sudah bertemu Kim Coa Long Kun itu."

"Hah? Apa?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tersentak.

"Engkau dan dia bertarung?"

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk dan menutur tentang kejadian itu secara jelas, kemudian menambahkan.

"Kedua kalinya kami bertemu, dialah yang menyuruhku segera kembali, karena ada Dhalai Lhama di markas pusat ini."

"Oh?"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Jadi engkau sudah bersahabat dengan dia?"

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Dia bukan orang jahat. Kalau dia ingin membunuh ketiga ketua partai itu, boleh dikatakan segampang membalik telapak tangannya."

"Kalau begitu..."

Ujar Gouw Han Tiong.

"Yang bersalah adalah para murid ketiga partai itu, karena mereka telah melakukan perbuatan yang terkutuk itu."

"Yaah!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kim Coa Long Kun itu punya riwayat yang mengenaskan. Dia...."

Tio Bun Yang menutur tentang kejadian yang menimpa keluarga Kim Coa Long Kun, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Kalau begitu...."

Lim Peng Hang menggeleng-gelangkan kepala.

"Kita tidak bisa mempersalahkannya. Mudah-mudahan dia berhasil menyelidiki kelima perampok itu!"

"Kakek!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Sebetulnya ada urusan apa kedua Dhalai Lhama itu ke mari?"

"Mereka ingin mohon bantuan ayahmu."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Namun kakek sudah memberitahukan bahwa ayahmu telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi."

"Oh?"

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kalau begitu, kenapa mereka masih berada di sini?"

"Mereka menunggumu,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Menungguku?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Kenapa menungguku?"

"Mereka ingin mohon bantuanmu."

Lim Peng Hang memberitahukan.

"Maka mereka tinggal di sini menunggumu."

"Oh?"

Tio Bun Yang memandang kedua Dhalai Lhama seraya bertanya.

"Maaf! Ada urusan apa kalian berdua menungguku?"

"Tio siauhiap, kami ingin mohon bantuanmu,"

Jawab Dhalai Lhama berjubah merah dan menambahkan.

"Kami harap Tio siauw hiap sudi membantu kami!"

"Apa yang dapat kubantu?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Begini...."

Dhalai Lhama berjubah merah menutur.

"Belum lama ini telah muncul seorang pemuda Han di Tibet. Dia berkepandaian tinggi sekali, bahkan telah mengalahkan ketua kami, kini dia berkuasa di kuil kami."

"Jadi...."

Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kami tahu ayahmu berkepandaian sangat tinggi, maka kami ke mari mohon bantuannya,"

Ujar Dhalai Lhama berjubah merah.

"Tapi.... Lim Pangcu memberitahukan bahwa ayahmu telah bersumpah, tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi. Tapi Lim Pangcu juga menceritakan tentang Tio siauw hiap, karena itu kami menunggu di sini. Syukurlah, Tio siauw hiap sudah kembali!"

"Kalian mohon bantuanku untuk menumpas pemuda Han itu?"

Tanya Tio Bun Yang sambil menatap mereka.

"Ya."

Kedua Dhalai Lhama itu mengangguk.

"Tapi... urusanku belum beres, bagaimana mungkin aku bisa membantu kalian?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Tio siauw hiap...."

Wajah kedua Dhalai Lhama itu tampak murung sekali.

"Kalau Tio siauw hiap tidak sudi membantu kami, rusaklah nama baik para Dhalai Lhama di Tibet."

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang menolak.

"Aku tidak bisa membantu."

"Tio siauw hiap!"

Mendadak kedua Dhalai Lhama itu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Kalau Tio siauw hiap tidak sudi membantu kami, kami tidak akan bangun."

"Eeeh?"

Tio Bun Yang kelabakan, dan buru-buru membangunkan mereka.

Akan tetapi, secara diam-diam kedua Dhalai Lhama itu mengerahkan ilmu pemberat badan.

Maka, ketika Tio Bun Yang membangunkan mereka, badan mereka tak bergeming sama sekali.

"Kita bicarakan lagi tentang itu, kalian bangunlah!"

Ujar Tio Bun Yang.

Tapi kedua Dhalai Lhama itu tetap berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian mengerahkan Iweekangnya, dan mendadak mengibaskan lengan bajunya.

Terjadinya pemandangan yang menakjubkan, tampak badan kedua Dhalai Lhama itu melayang ke tempat duduk mereka.

"Haah?"

Betapa terkejutnya kedua Dhalai Lhama itu. Mereka memandang Tio Bun Yang dengan mata terbelalak. Mereka tidak menyangka kalau pemuda itu memiliki lweekang yang begitu tinggi.

"Tio siauw hiap...."

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Tio siauw hiap sungguh berkepandaian tinggi, kami kagum sekali."

Ujar Dhalai Lhama berjubah merah.

"Tio siauw hiap, kami para Dhalai Lhama Tibet sangat membutuhkan bantuanmu...."

"Kakek!"

Tio Bun Yang memandang Lim Peng Hang.

"Bagaimana menurut Kakek?"

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang tersenyum.

"Itu tergantung pada kebijaksanaanmu. Pikirkanlah baik-baik!"

"Kakek, sebetulnya aku sedang mencemaskan Goat Nio, bagaimana mungkin aku membantu mereka?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang menatapnya seraya berkata.

"Menolong orang lain sama juga menolong diri sendiri, engkau berbuat baik pada orang lain, tentunya akan menerima yang baik pula. Ingat itu"

"Ya, Kakek,"

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian memandang kedua Dhalai Lhama itu seraya bertanya.

"Kalian tahu siapa pemuda Han itu?"

"Kami tidak tahu,"

Sahut Dhalai Lhama berjubah merah.

"Sebab dia tidak pernah menyebut namanya."

"Bagaimana kepandaiannya?"

Tanya Tio Bun Yang lagi.

"Tinggi sekali."

Dhalai Lhama berjubah kuning memberitahukan.

"Bahkan dia pun memiliki ilmu sesat yang dapat mengendalikan pikiran orang lain."

"Apa?"

Tio Bun Yang tersentak dan wajahnya pun tampak berubah hebat.

"Bagaimana ilmu pukulannya?"

"Sungguh ganas dan mengandung racun."

Dhalai Lhama berjubah merah memberitahukan.

"Aku dengar beberapa saudara seperguruan kami mati secara mengenaskan di tangannya."

"Bagaimana cara kematian mereka?"

"Begitu terkena pukulan pemuda Han itu, badan mereka mengeluarkan asap lalu mencair."

"Hah?"

Tio Bun Yang meloncat bangun saking emosi.

"Dia... dia adalah Kwee Teng An, Ketua Kui Bin Pang yang sedang kucari!"

"Bun Yang!"

Lim Peng Hang terbelalak.

"Kakek!"

Tio Bun Yang memberitahukan.

"Pemuda Han itu adalah Kwee Teng An atau Ketua Kui Bin Pang, hanya dia yang memiliki ilmu pukulan Pek Kut Im Sat Ciang."

"Oh?"

Lim Peng Hang tertegun.

"Itu sungguh di luar dugaan!"

"Memang di luar dugaan."

Ujar Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Aku tidak menyangka kalau dia kabur ke Tibet."

"Tio siauw hiap...."

Kedua Dhalai Lhama tampak girang sekali.

"Engkau sudi membantu kami?"

"Sebetulnya aku pun sedang mencari pemuda itu, maka sungguh kebetulan sekali!"

Sahut Tio Bun Yang.

"Terimakasih, Tio siauw hiap!"

Ucap kedua Dhalai Lhama itu.

"Bun Yang!"

Tanya Lim Peng Hang.

"Kapan engkau akan berangkat ke Tibet bersama kedua Dhalai Lhama itu?"

"Sekarang,"

Sahut Tio Bun Yang singkat.

"Baiklah."

Lim Peng Hang manggut-manggut, karena tahu akan ketidak sabaran cucunya itu.

"Tapi engkau harus berhatihati menghadapi pemuda Han itu!"

"Ya, Kakek."

Tio Bun Yang mengangguk, sekaligus berpamit kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, kemudian berkata kepada kedua Dhalai Lhama.

"Mari kita berangkat!"

"Ya."

Kedua Dhalai Lhama mengangguk, kemudian mereka pun berpamit kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. Setelah mereka bertiga pergi, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang.

"Mudah-mudahan kali ini Bun Yang tidak akan gagal membekuk Kwee Teng An!"

Ujar Lim Peng Hang.

"Jadi dia bisa tahu Goat Nio disekap di mana."

"Tapi...."

Gouw Han Tiong mengerutkan kening.

"Kwee Teng An adalah ketua Kui Bin Pang yang menculik Goat Nio, kini dia berada di Tibet, lalu Goat Nio disembunyikan di mana? Mungkinkan...."

"Haaah...?"

Wajah Lim Peng Hang langsung berubah pucat.

"Itu...."

"Aku khawatir...."

Wajah Gouw Han Tiong pun sudah memucat.

"Telah terjadi sesuatu atas diri Goat Nio."

"Aaaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang, mendadak wajahnya tampak agak berseri.

"Mungkinkah Goat Nio berhasil meloloskan diri?"

"Kalau Goat Nio berhasil meloloskan diri, tentunya dia sudah ke mari,"

Sahut Gouw Han Tiong tidak begitu optimis akan itu.

"Siapa tahu Goat Nio ditolong seseorang, dan kini masih berada di tempat penolong itu,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Mudah-mudahan begini!"

Ucap Gouw Han Tiong karena tahu Lim Peng Hang seiiang menghibur dirinya sendiri.

-oo0dw0oo-Bagian ke tujuh puluh satu Pertarungan mati hidup di Kuil Dhalai Lhama Tio Bun Yang dan kedua Dhalai Lhama melakukan perjalanan siang malam.

Enam tujuh hari kemudian, mereka sudah memasuki daerah Tibet.

Para penduduk di sana semuanya tampak murung.

Namun ketika melihat kemunculan kedua Dhalai Lhama itu, segeralah para penduduk mengerumuni mereka, kemudian terjadilah percakapan yang tidak dimengerti Tio Bun Yang, sebab mereka menggunakan bahasa Tibet.

"Aaaah...!"

Dhalai Lhama berjubah merah menghela nafas panjang.

"Pemuda Han itu berbuat maksiat di dalam kuil kami."

"Ayohlah!"

Desak Tio Bun Yang.

"Kita cepat-cepat ke sana!"

Kedua Dhalai Lhama mengangguk, kemudian mereka bertiga mengerahkan ginkang menuju kuil tersebut.

Ketika mendekati kuil itu, mereka mendengar suara pertarungan.

Segeralah Tio Bun Yang melesat ke sana, tampak dua orang sedang bertarung dengan sengit sekali.

Terbelalaklah Tio Bun Yang, karena yang sedang bertarung itu ternyata Kwee Teng An dan Bu Ceng Sianli -Tu Siao Cui.

Ia tidak habis pikir, bagaimana Bu Ceng Sianli itu bisa berada di situ?

Terlihat pula puluhan Dhalai Lhama berdiri mematung di situ seperti kehilangan sukma.

"Tio siauw hiap!"

Dhalai Lhama berjubah merah memberitahukan.

"Kalau tidak salah, pemuda itu...."

"Dia Kwee Teng An,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Wanita muda yang bertarung dengan dia adalah Bu Ceng Sianli, aku kenal dia."

"Oooh!"

Kedua Dhalai Lhama itu manggut-manggul. Sementara pertarungan itu semakin sengit dan seru, tibatiba Kwee Teng An tertawa gelak.

"Nona Tu! Engkau sungguh setia kepadaku! Jauh-jauh dari Tionggoan engkau ke mari menyusulku, itu pertanda engkau sangat mencintaiku! Ha ha ha...!"

"Diam!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Hari ini aku harus membunuhmu!"

"Oh. ya!"

Kwee Teng An tertawa lagi.

"Ha ha ha! Kalau engkau membunuhku, siapa yang akan bersenang-senang denganmu?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Ajalmu telah tiba, bersiap-siaplah untuk mampus.

"Engkau ingin mengeluarkan ilmu andalanmu?"

"Ya!"

"Nona Tu!"

Kwee Teng An tersenyum.

"Engkau jangan memaksaku mengeluarkan ilmu andalan juga, sebab ilmu pukulan Pek Kut Im Sat Ciangku sangat ganas dan beracun, akan membuat tubuhmu yang montok mulus itu mencair lho!"

"Hm!"

Dengus Bu Ceng Sianli sambil mengerahkan Hian Goan Sin Kang.

Kwee Teng An mengerutkan kening, kemudian mengerahkan Pek Kut Im Sat Kangnya.

Mereka berdua sudah bersiap-siap untuk bertarung lagi, namun di saat itulah terdengar suara alunan suling yang sangat halus, tapi mengandung semacam kekuatan.

Begitu mendengar suara suling itu, berserilah wajah Bu Ceng Sianli, sedangkan Kwee Teng An tampak tersentak.

Para Dhalai Lhama yang terkena ilmu sesat itu pun mulai bergerak-gerak matanya, kemudian saling memandang, kelihatannya mereka mulai sadar.

Betapa terkejutnya Kwee Teng An, lapi kemudian tertawa gelak seraya berseru lantang.

"Ha ha ha! Tio Bun Yang! Sungguh tak disangka engkau sampai di sini juga!"

"Kwee Teng An!"

Tio Bun Yang melesat ke sisi Bu Ceng Sianli, sedangkan Dhalai Lhama berjubah merah, dan kuning melesat ke arah para Dhalai Lhama yang sedang mulai sadar itu.

Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Tibet, lalu memandang ke arah Tio Bun Yang.

"Dia bernama Tio Bun Yang."

Dhalai Lhama berjubah merah memberitahukan.

"Putra kesayangan Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong."

"Oooh!"

Para Dhalai Lhama manggut-manggut.

"Oh ya! Bagaimana keadaan guru?"

Tanya Dhalai Lhama berjubah kuning.

"Entahlah,"

Sahut Dhalai Lhama lain.

"Mari kita ke dalam menolong guru!"

Seru Dhalai Lhama berjubah merah. Kemudian ia segera ke dalam dan diikuti yang lainnya.

"Ha ha ha!"

Sementara Kwee Teng An terus tertawa.

"Kakakmu ini sangat mencintai aku. Dia jauh-jauh dari Tionggoan ke mari mencariku!"

"Kwee Teng An!"

Tio Bun Yang menatapnya dingin.

"Betulkah engkau adalah Ketua Kui Bin Pang?"

"Betul!"

Sahut Kwee Teng An sambil tertawa.

"Kenapa? Engkau merasa takut kepadaku?"

"Kwee Teng An!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa engkau menculik Siang Koan Goat Nio?"

"Aku menculik Siang Koan Goat Nio?"

Kwee Teng An tertawa terkekeh-kekeh.

"Dia ikut aku pergi, bukan aku menculiknya!"

"Omong kosong!"

Bentak Tio Bun Yang.

"Aku tidak omong kosong!"

"Cepat katakan!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Goat Nio berada di mana?"

"Dia...."

Kwee Teng An tertawa.

"Kenapa aku harus memberitahukan kalian? Dia senang dan bahagia ikut aku, jadi kalian tidak usah mengkhawatirkannya!"

"Kwee Teng An!"

Tio Bun Yang menatapnya.

"Engkau yang menitipkan sepucuk surat untukku?"

"Ha ha ha!"

Kwee Teng An tertawa gelak.

"Tidak salah! Memang aku yang menitipkan surat itu untukmu! Bunyi surat itu cukup menegangkan, bukan?"

"Kita tidak bermusuhan, kenapa engkau mendendam kepadaku?"

Tio Bun Yang menatapnya dengan kening berkerut.

"Jelaskanlah!"

"Ha ha!"

Kwee Teng An tertawa.

"Memang perlu kujelaskan! Namaku Kwee Teng An! Cobalah engkau ingat, pernahkah engkau mendengar namaku?"

"Rasanya tidak pernah!"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Aku tidak menyangka...."

Kwee Teng An tersenyum dingin.

"Engkau begitu cepat lupa! Beberapa tahun lalu di sebuah desa, bukankah engkau pernah memusnahkan kepandaian seseorang?"

"Di sebuah desa...."

Tio Bun Yang coba mengingat, lama sekali mendadak ia berseru tak tertahan.

"Kwee Teng An! Ternyata engkau adalah Cat Hoa Cat (Penjahat Pemetik Bunga) itu!"

"Betul!"

Kwee Teng An tertawa terkekeh-kekeh.

"Para penduduk desa itu melempar diriku ke dalam jurang! Namun aku tidak mati malah memperoleh kepandaian tinggi! He he he...!"

"Kwee Teng An!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Seharusnya engkau bersyukur karena tidak mati di jurang itu dan harus bertobat! Tapi...."

"Tio Bun Yang!"

Bentak Kwee Teng An.

"Aku dendam kepadamu dan hari ini aku harus membunuhmu!"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Akulah yang akan membunuhmu!"

"Nona Tu!"

Kwee Teng An tersenyum menyindir.

"Aku tahu engkau bukan kakaknya, jangan-jangan engkau sudah tidur dengan dia! He he he...!"

"Engkau...."

Bu Ceng Sianli ingin menyerangnya, tapi keburu dicegah oleh Tio Bun Yang.

"Kakak, biar aku yang menyelesaikannya!" 'Tio Bun Yang!"

Kwee Teng An menudingnya.

"Aku sudah bersenang-senang dengan Goat Nio, maka engkau akan memperoleh ampas!"

"Engkau...."

Wajah Tio Bun Yang berubah pucat pias.

"Sakit hati, kan?"

Kwee Teng An tertawa.

"Ha ha! Mari kita bertarung, hari ini aku harus membalas dendam karena engkau pernah memusnahkan kepandaianku!"

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 9

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert