Ceritasilat Novel Online

Pedang Angin Berbisik 5

Eps 5 Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.

"Huh! Berita ini tersebar sudah begitu lama dan sampai sekarang tidak ada seorangpun di antara mereka yang muncul untuk menengok keadaan kita. Kaulah yang lebih dahulu datang Ding Tao dan setelah mendengar ceritamu, kami pun bisa mengerti mengapa kedatanganmu tertunda. Bukan karena kau tidak peduli atau takut, tapi karena memang kau belum mendengar berita itu."

"Ya benar, jika mereka yang di cabang masih peduli dengan keadaan keluarga Huang yang menjadi tempat mereka bergantung selama ini, tentu sudah ada yang menengok. Kenyataannya tidak seorang pun ada yang datang."

Alis Ding Tao berkerut.

"Apakah terjadi sesuatu juga dengan anak cabang keluarga Huang?"

Liu Chun Cao menggeleng dan menjawab.

"Tidak kami dengar sedikitpu tentang hal itu. Jika memang ada kejadian demikian, tentu beritanya akan menyebar cukup cepat, menilik pusat keluarga Huang baru saja diserang habis. Serangan susulan tentu akan menarik perhatian orang banyak. Sebenarnya aku sendiri juga cukup heran dengan kejadian ini."

"Tidak ada yang perlu diherankan, kukira mereka semua lupa daratan dan tiba-tiba menjadi raja kecil di tempatnya masing-masing", desis seseorang dengan kesal.

"Hmmm... kukira tentang hal itu perlu dipastikan lebih dulu.", ujar Ding Tao perlahan. Menoleh pada Liu Chun Cao dia bertanya.

"Pendeta Liu, tinggal satu orang terakhir, apakah sebaiknya kita pergi ke sana hari ini juga?"

"Kukira lebih baik begitu, dengan demikian malam ini tidak ada lagi ganjalan dan kita secepatnya bisa mulai membuat rencana, apa yang akan kita lakukan berikutnya", jawab Liu Chun Cao.

"Baiklah, mari, silahkan Pendeta Liu yang menunjukkan jalan. Saudara-saudara yang lain boleh ikut atau mungkin hendak menunggu di sini?", kata Ding Tao sambil menengok ke belasan pengikutnya yang baru.

"Kami akan ikut denganmu Anak Ding, kurasa kami semua ingin melihat saudara lain yang berhasil selamat dari pembantaian malam itu.", ujar Tabib Shao Yong mewakili teman-teman yang lain, didukung dengan anggukan kepala oleh mereka semua.

"Baiklah, kita pergi beramai-ramai.", jawab Ding Tao pendek. Hari sudah siang, matahari sudah mulai condong ke barat. Perut beberapa orang sudah mulai lapar, tapi semangat mereka masih berkobar, meskipun matahati panas membakar. Melewati gang-gang sempit Liu Chun Cao memimpin mereka menuju keluar kota Wuling, ke sebuah desa kecil di barat kota Wuling.

"Pendeta Liu, apakah dia tinggal di luar kota?", tanya Ding Tao.

"Ya, saat itu kebetulan saja aku menemukannya. Baru saja selesai menyelidiki urusan di Wuling, aku dan Saudara Tong Fu ingin mengambil jalan sedikit memutar. Saat kami beristirahat di sebuah kedai teh kecil, kami bertemu dengannya. Saudara Tong Fu yang melihat bekas luka terbakar di lengan orang itu bertanya sambil lalu. Ketika dia nampak ketakutan, kami pun mulai bertanya lebih teliti. Mungkin karena baru saja mengadakan penyelidikan di Wuling hingga pikiran kami jadi lebih mudah curiga daripada biasanya.", jawab Liu Chun Cao menceritakan pertemuannya dengan orang terakhir yang akan mereka temui hari ini.

"Ah.. paman berdua sungguh teliti.", puji Ding Tao.

"Jika mereka tidak terkenal dengan ketelitiannya tentu Guru Chen tidak akan meminta bantuan mereka berdua untuk mencari informasi ke kota Wuling", sahut Wang Xiaho.

"Hmph, jangan terlalu memuji, aku tahu kau dari tadi mengincar arak simpananku", sahut Liu Chun Cao sambil mengerling ke arah Wang Xiaho, disambut tawa oleh yang bersangkutan. Ding Tao tersenyum melihat tingkah laku kedua orang tua itu. Sesungguhnya mereka semua mengkhawatirkan keadaan Ding Tao. Pukulan yang dirasakannya akibat bencana yang menimpa Huang Ying Ying tentu tidaklah kecil. Cerita Tabib Shao Yong semakin membuat mereka yakin bahwa nona muda itu tidak selamat dari pembantaian yang terjadi malam itu. Pertemuan dengan orang terakhir yang mungkin bisa memberikan mereka informasi lebih tentang nasib nona muda itu, terasa seperti menunggu ketukan palu dari hakim, setelah sebelumnya sang hakim menyatakan keputusannya. Itu sebabnya sepanjang perjalanan, ada saja yang mencoba membuat suasana jadi lebih ringan. Mendekati kedai kecil tempat Liu Chun Cao menemukan orang yang mereka cari, Liu Chun Cao bertanya pada Ding Tao.

"Hari sudah siang, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar dan mengisi perut sejenak?"

Menengok ke arah yang lain Ding Tao jatuh kasihan dan menjawab.

"Baiklah, mari kita beristirahat sebentar."

Kedai kecil itu segera saja jadi penuh oleh kedatangan mereka, beberapa orang tidak mendapatkan tempat duduk dan memilih untuk mencari tempat yang teduh di luar sambil menunggu mie dan the pesanan mereka.

Ding Tao melihat semuanya itu dengan hati yang tidak enak.

Ingin rasanya dia ikut duduk di luar, tapi dia sadar bahwa tindakannya itu justru akan membuat yang berada di dalam merasa sungkan.

Bisa-bisa mereka semua akan duduk di luar, bahkan Tabib Shao Yong yang tertua dan terlemah di antara mereka.

Oleh karenanya dengan mengeraskan hati dia duduk juga di dalam.

Setelah itu pun, persoalan belum selesai.

Hendak makan dan minum tentu harus membayar, bagusnya selama dalam perjalanannya Ding Tao hidup berhemat, bekal uang yang didapatnya dari Huang Ren Fu hampir-hampir tak tersentuh.

Tapi untuk memastikan bahwa uangnya cukup, diam-diam Ding Tao membuka kantung uangnya dan menghitung.

Gerakan Ding Tao itu tentu tidak lepas dari mata Wang Xiaho dan juga yang lain.

Wang Xiaho pelan-pelan menepuk pundak pemuda itu dan sambil tersenyum berbisik.

"Hee... makan kita kali ini, biar aku saja yang membayar."

Tersipu malu Ding Tao sadar perbuatannya diperhatikan orang, cepat-cepat dia menjawab.

"Ah, jangan paman, bukankah mereka sudah menjadi pengikutku, biarlah aku yang membayar makanan kali ini. Masih ada cukup uang untuk membayar, tidak ada masalah. Sungguh tidak ada masalah."

Wang Xiaho hendak membujuk pemuda itu untuk menerima saja pemberiannya, namun pengikut baru Ding Tao rupanya cukup cepat tanggap pula.

Ketika ada yang melihat perbuatan Ding Tao memeriksa kantung uangnya, orang itu dengan cepat menggamit bahu temannya lalu berbisik.

Tidak lama kemudian, beberapa orang di sekitarnya mengumpulkan uang masing-masing.

Uang yang terkumpul itu dibawanya pada Ding Tao.

"Ding Tao, kita sudah berniat untuk bersumpah janji menjadi satu saudara, segolongan satu perkumpulan. Soal makan dan minum, soal penghidupan tentu kita tanggung bersama pula, ini, ambillah saat ini kita hanya mengumpulkan seadanya saja. Untuk selanjutnya mungkin kau perlu memilih seseorang untuk menjadi bendahara dan mengurus soal keuangan kita.", ujarnya sambil mengulurkan sekantung kecil penuh uang. Tentu saja berat bagi Ding Tao untuk menerima uang itu, tapi ketika dia membuka mulut hendak mengucap, cepat Wang Xiaho memotong.

"Ding Tao, jangan kau tolak pemberian itu. Jika kau menolak, sama saja kau meragukan kesungguhan mereka, meragukan kehormatan mereka, dan itu akan menyakitkan hati mereka."

Akhirnya dengan terharu Ding Tao berdiri lalu membungkuk pada semua orang yang mengikutinya itu.

"Terima kasih saudara sekalian, paman sekalian, kepercayaan kalian padaku tidak akan aku sia-siakan. Masalah keuangan biarlah kuserahkan pada Tabib Shao Yong saja. Tabib Shao, tolong kau pegang uang kas kita ini."

Ding Tao pun mengulurkan kantung uang itu dan kantung uangnya sendiri pada Tabib Shao Yong. Tabib Shao Yong yang tidak menduga jadi tergopoh-gopoh menerimanya.

"Wah, apakah tidak sebaiknya kau simpan sendiri saja Ding Tao?"

"Tidak Tabib Shao, lebih baik Tabib Shao Yong yang memegangnya, bukankah tadi pun Tabib Shao sudah memiliki rencana untuk membuka usaha yang nantinya akan jadi sumber pemasukan kita? Nah, kukira sudah jelas di antara kita semua Tabib Shao Yong yang paling tepat untuk mengurus soal keuangan perkumpulan kita ini", ujar Ding Tao sambil kembali mengangsurkan kantung-kantung uang tersebut.

"Hmm... baiklah kalau begitu, aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengatur keuangan kita.", ujar Tabib Shao sambil menghembuskan nafas panjang-panjang. Beberapa orang yang berada di dekat Tabib Shao menepuk-nepuk pundaknya memberi selamat. Melihat suasana yang baik, Wang Xiaho mengambil keputusan, dia berdiri dan mengangsurkan kantung uangnya pada Tabib Shao Yong yang dengan heran menerima uang itu.

"Ketua Wang apakah ini maksudnya?", tanya Tabib Shao Yong.

"Paman Wang Xiaho, jangan begitu, paman membuatku merasa semakin sungkan saja. Persahabatan paman jauh lebih penting dari uang itu", ujar Ding Tao berusaha mengembalikan uang itu. Tapi Wang Xiaho mengulapkan tangan, memberi tanda pada Tabib Shao Yong agar uang itu tetap dia pegang. Kemudian dengan bersungguh-sungguh dia berbalik lalu membungkuk hormat pada Ding Tao.

"Sudah sejak melihat kemampuanmu yang mampu mengalahkan aku dan Guru Chen bersama dua orang muridnya dengan satu jurus saja, aku memiliki keinginan untuk mendukung dirimu menjadi Wulin Mengzhu. Hari ini aku melihat ada belasan orang yang memiliki keinginan yang sama, telah mengambil keputusan untuk bersumpah setia, mendirikan satu perkumpulan di bawah pimpinanmu. Aku Wang Xiaho, jika kau tidak memandang rendah diriku, ingin memohon agar boleh diterima pula dalam perkumpulanmu.", ujar tokoh tua itu sambil membungkuk hormat, setelah selesai berkata-kata tidak juga dia menegakkan badannya melainkan menunggu jawaban dari Ding Tao. Sebelum Ding Tao sempat menjawab, kejutan lain sudah menunggu dirinya. Liu Chun Cao yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba ikut berdiri dan membungkuk hormat pada Ding Tao.

"Orang she Liu merasa ketua Ding memegang nilai-nilai yang sejalan, memiliki keinginan yang sama. Dan akan bersumpah setia, selama Ketua Ding tetap teguh dalam kebenaran dan kehormatan."

Melihat itu, belasan orang yang lainnya bersama-sama dengan bersungguh-sungguh mengucapkan sumpah yang serupa.

Ding Tao berdiri di tengah-tengah mereka, merasa canggung dengan keadaan saat itu, namun meresapi kesungguhan mereka, pemuda itu merasa terharu.

"Ding Tao tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan kalian semua. Aku menerima keinginan kalian dan berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan harapan kalian."

Seusai mengucapkan itu, Ding Tao membungkuk dengan hormat ke empat penjuru, mengangkat cangkir teh di tangannya kemudian dengan hikmat meminumnya, diikuti oleh yang lainnya.

Meskipun hanya dengan teh dan diadakan di sebuah kedai kecil di pinggir jalan, tanpa upacara dan kata pengantar yang panjang, segala sesuatunya berjalan dengan khidmat dan sungguh-sungguh.

"Saudara-saudara, silahkan duduk semua.", ujar Ding Tao dengan perlahan namun tegas, menutup mata terhadap pemilik kedai yang menyaksikan tingkah laku mereka dengan mulut terbuka. Sesuatu yang tidak pada tempatnya sudah sewajarnya bila jadi terasa lucu dan konyol. Namun melihat kesungguhan mereka, mau tidak mau pemilik kedai teh itu pun jadi terdiam. Sudah kepalang basah, Ding Tao sadar saat ini sudah tidak mungkin lagi mundur dari jalan yang dipilih bagi dirinya oleh orang-orang di sekitarnya. Jika dia harus menjadi ketua dari sebuah perkumpulan, maka dia berniat untuk melakukannya dengan sebaik mungkin. Pekerjaan yang setengah-setengah hanya akan mempersulit banyak pihak. Ketika beberapa orang yang tidak mendapatkan tempat duduk hendak kembali keluar, Ding Tao cepat-cepat mencegah mereka.

"Jangan terlalu jauh, yang tidak mendapat tempat duduk, untuk sementara bisa berdiri di dalam."

Mendengar itu serentak mereka bergerak mendekat dan perhatian pun tertuju pada Ding Tao.

Ketika Ding Tao melihat ke sekelilingnya dan mendapati wajah-wajah yang serius dan bersemangat, semangatnya jadi ikut bangkit.

Meskipun bayangan kesedihan masih ada dalam hatinya, namun kesedihan itu tidak sampai membuat dirinya beku, tidak mampu untuk berpikir dan bertindak.

Sejenak dia berpikir, kemudian dia pun menyampaikan apa yang ada dalam benaknya.

"Saudara sekalian, kita sudah sepenuh hati untuk membentuk satu perkumpulan. Sebuah organisasi, tentunya harus memiliki satu tujuan dan satu semangat yang sama jika kita menginginkan organisasi itu menjadi organisasi yang kuat. Jika sebuah organisasi tidak memiliki tujuan yang jelas, hanya berdasarkan pada arahan pemimpinnya, maka akan ada kecenderungan organisasi itu semata-mata menjadi perpanjangan tangan dari ambisi pribadi dari ketuanya.", ujar Ding Tao membuka penjelasannya.

"Dan siauwtee tidak menginginkan organisasi semacam itu. Di saat yang sama, siauwtee juga tidak menginginkan untuk menjadi ketua dari satu organisasi yang tujuannya tidak sejalan dengan pendirianku pribadi."

Ding Tao berhenti sejenak dan melihat ke sekelilingnya, mencoba meraba reaksi mereka yang mendengarkan.

Ketika dilihat setiap orang masih mendengarkan dengan seksama, kalaupun ada beberapa yang nampak sedikit bingung ke mana arah pembicaraan Ding Tao, tapi tidak ada tanda-tanda ketidak sukaan.

"Karena itu pada awal pendirian organisasi baru kita, yang pertama hendak aku tegaskan adalah pendirianku, prinsip dasar dari organisasi yang kita bentuk dan tujuannya. Bila nanti ada yang merasa tidak setuju pada prinsip dasar dan tujuan dari organisasi ini, janganlah malu atau segan untuk mengundurkan diri. Hal itu lebih baik daripada disimpan dalam hati, kemudian menjadi batu sandungan di kemudian hari."

Beberapa wajah yang tadi tampak ragu dan bingung, sekarang mengangguk-anggukkan kepala.

Tapi justru setelah mereka paham maksud perkataan Ding Tao, baru mulailah muncul pertanyaan dan keraguan dalam hati mereka.

Apa yang ada dalam pikiran Ding Tao saat ini?

Tujuan dan prinsip dasar apa yang hendak ia bangun di atas organisasi yang baru mereka dirikan ini?

Bagaimana jika apa yang diserukan Ding Tao nanti tidak sesuai dengan keinginan mereka?

"Yang pertama, organisasi ini didirikan dengan tujuan untuk menciptakan keadaan yang damai dalam dunia persilatan.

Hal ini dilakukan dengan cara, melindungi yang lemah, menegakkan kebenaran dan memberikan perlindungan bagi yang membutuhkan.

Prinsip dasarnya adalah pengampunan, kebenaran dan kehormatan, dalam upayanya mencapai tujuan, prinsip-prinsip dasar ini tidak boleh dilanggar."

Pada awalnya ucapan Ding Tao itu dianggap biasa.

Tidak ada yang aneh atau berbeda dengan ucapan-ucapan tokoh dunia persilatan pada umumnya.

Tapi setelah kata-kata itu mulai meresap, baru muncul pertanyaan-pertanyaan dalam benak pendengarnya.

Hanya Liu Chun Cao dan Tabib Shao Yong yang tampaknya mampu menangkap maksud Ding Tao dan menyetujuinya sepenuh hati.

Wang Xiaho sedikit banyak menangkap maksud Ding Tao, namun dia merasakan sedikit ganjalan dalam penerimaannya.

Meskipun dalam hatinya, sebagai orang yang sudah berumur dia dapat menerima pemikiran Ding Tao itu.

Hanya saja, tampaknya akan ada perbedaan antara jalan yang dipilih Ding Tao dengan jalan yang biasa diambil oleh orang-orang dalam dunia persilatan.

Ketika Wang Xiaho melihat beberapa orang yang lain juga merasakan ganjalan terhadap pernyataan Ding Tao itu, Wang Xiaho memutuskan untuk menjadi perantara bagi mereka.

"Ding Tao, kukira secara umum, kita semua setuju dan sejalan dengan apa yang kau ungkapkan. Hanya saja, kata pengampunan mungkin terasa sedikit janggal bagi kita orang persilatan. Apakah maksudmu para pembuat onar akan diberikan kesempatan kedua? Bagaimana dengan pelaku kejahatan besar seperti, pembantaian atas keluarga Huang?"

Ding Tao menghela nafas, dia sadar saat itu setiap orang di dalam kedai makan itu sedang menantikan jawaban darinya.

Pada dasarnya Ding Tao tidak menginginkan kedudukan, oleh kerenanya tidak berat beban dalam diri Ding Tao untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya.

"Memang itu yang ada dalam pikiran siauwtee, tapi tentu saja, berat ringannya kejahatan, latar belakang, alasan mereka melakukan kejahatan, semuanya harus ikut menjadi bahan pertimbangan. Bila pelaku pembunuhan keluarga Huang misalnya, melakukan pembantaian itu karena tekanan dari pihak lain. Tentu hukuman yang diberikan akan berbeda dengan apabila dia melakukannya hanya karena keserakahan semata", jawab Ding Tao atas pertanyaan Wang Xiaho. Mendengar jawaban Ding Tao mulailah terdengar bisik-bisik tidak puas di antara mereka yang tadinya dengan bersemangat bersumpah setia untuk mengikut dan mendukung Ding Tao. Wang Xiaho melirik ke arah Liu Chun Cao, dilihatnya pendeta itu sedikit mengangguk saat dia melihat Wang Xiaho melirik ke arah dirinya. Wang Xiaho pun kembali bertanya pada Ding Tao.

"Ding Tao, jika seseorang membunuh, bukankah adil jika kita balas membunuhnya?"

"Jika kemudian, saudara atau sahabat dari orang yang kita bunuh menggunakan penalaran yang sama, maka sampai kapan bunuh membunuh itu akan berakhir?", jawab Ding Tao.

"Jika demikian di manakah letaknya keadilan?", tanya Wang Xiaho.

"Jika berbicara keadilan, maka pertanyaannya, siapakah yang berhak mengadili? Adakah di antara kita yang tidak pernah berbuat kesalahan? Dalam dunia di mana kekerasan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita, ada berapa orang yang tangannya bersih dari kekerasan? Yang pasti bukanlah diriku, baru beberapa bulan yang lalu belasan nyawa orang melayang karena ulahku."

Mereka sudah mendengar tentang pertarungan Ding Tao dengan kelompok Fu Tsun dan Laba-laba kaki tujuh beberapa bulan yang lalu, sehingga cepat saja salah seorang dari mereka menjawab.

"Tidak bisa disamakan, waktu itu kau membunuh dalam upaya membela diri."

Ding Tao tersenyum.

"Setiap pembunuhan apapun alasannya, adalah tindakan yang menghilangkan nyawa sesama. Siauwtee masih muda, harus mengakui bahwa tentang kebenaran, kehormatan, keadilan, banyak hal yang tidak bisa kupahami. Namun dari sekilas pengalaman yang sudah siauwtee rasakan, ada satu keinginan untuk melihat dunia persilatan yang berbeda, bukan tempat yang dibayangi dendam dan kekerasan."

"Karena itu, dirimu memilih untuk memberi kelonggaran pada bakal lawanmu?"

"Kurang lebih begitu, selain itu terkadang siauwtee merasa, banyak kejadian di mana, seandainya saja situasinya sedikit berbeda. Seandainya saja ada orang yang mau mencoba mengerti. Kebanyakan dari mereka yang kita katakan sebagai iblis, mungkin tidak sampai menjadi iblis", seulas senyuman mekar di wajah Ding Tao, teringat percakapannya Sepasang Iblis Muka Giok. Ding Tao mengedarkan pandangan matanya ke orang-orang yang ada di sekitarnya, dia melihat ada beberapa orang yang tampak tidak puas dengan pandangannya, sebagian yang lain ada yang termenung memikirkan ucapannya, ada pula yang nampak mendukung pandangannya. Di antara mereka yang mendukung pandangannya adalah Tabib Shao Yong, Liu Chun Cao dan Wang Xiaho. Melihat mereka mendukung dirinya Ding Tao merasa berbesar hati. Sekali lagi dia mengedarkan pandangan, ditatapnya tiap-tiap orang, kemudian dia berkata.

"Apa artinya kemenangan, apa artinya kemuliaan, jika kita harus hidup saling membenci, dihantui dendam yang berlanjut sampai keturunan-keturunan yang berikutnya?"

"Kehormatan, keadilan, kebenaran, adalah nilai-nilai yang patut diperjuangkan demi menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis, penuh kedamaian, kuat dan maju. Suatu masa depan yang lebih baik bagi generasi yang selanjutnya. Tapi jika atas nama kehormatan, keadilan dan kebenaran kemudian manusia saling bunuh, menanamkan dendam turun temurun. Bukankah perlu dipertanyakan, apakah tidak terjadi kesalahan dalam mengartikan nilai-nilai yang sedang diperjuangkan?"

Ding Tao memandangi mereka yang sedang mendengarkan uraiannya.

"Memang benar, akan ada pihak-pihak yang tidak bersandar pada kebenaran dan kehormatan. Dan adalah tugas seorang pendekar untuk menentang kejahatan mereka. Tapi tujuannya adalah menghentikan proses perusakan tatanan masyarakat yang ada, bukan justru menambah kekacauan dengan tindakan balas dendam."

"Lalu sakit hati ini, apakah tidak akan dibalaskan?", tanya seseorang dengan nada sengit.

"Seseorang bisa dikatakan pahlawan jika tindakannya bukan semata-mata untuk memuaskan keinginan hatinya sendiri, melainkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar bagi kemaslahatan banyak orang."

Orang yang bertanya itu berdiri dari tempat duduknya, pandang matanya menyorotkan kekesalan, bahkan mungkin kebencian, dengan kemarahan yang ditekan dia berkata.

"Hmph... perkataanmu terlampau tinggi, kukira aku tidak sesuai berada di sini. Maafkan aku Ding Tao, kukira kau tak ada bedanya dengan orang-orang di anak cabang keluarga Huang."

"Kau hanya bisa menutupi kepengecutanmu dengan kata-kata yang indah! Aku pergi!"

Selesai bicara, tanpa menunggu jawaban dari Ding Tao, orang itu pergi meninggalkan kedai teh itu, berjalan kembali ke arah kota Wuling.

Mengikuti kepergian orang itu, beberapa orang yang lain ikut berdiri, ada yang dengan ragu-ragu, tapi ada pula yang bersikap ketus seperti dia.

Dalam waktu yang singkat, hanya tinggal 7 orang tersisa, 4 di antaranya adalah Ding Tao, Wang Xiaho, Liu Chun Cao dan Tabib Shao Yong.

Tiga orang yang lain adalah seorang tua bernama Li Yan Mao, seorang berumur pertengahan tiga puluhan bernama Tang Xiong dan seorang muda yang bahkan lebih muda dari Ding Tao bernama Qin Bai Yu.

Li Yan Mao, mungkin adalah orang tertua yang bekerja pada keluarga Huang, umurnya sedikit lebih tua dari Huang Yun Shu, paman Tuan besar Huang Jin.

Seorang yang pendiam dan jarang berbicara, lebih suka menyendiri, mengerjakan tugasnya tanpa banyak berbicara.

Bukan berarti Li Yan Mao seorang yang sombong karena Li Yan Mao suka sekali tertawa bahkan pada orang yang baru dikenalnya.

Jika tertawa maka terlihatlah giginya yang sudah hampir habis.

Anak-anak kecil, termasuk Ding Tao sewaktu masih kecil, suka menjulukinya Kakek berlidah 1/2 cun, karena saking pendiamnya dia.

Tang Xiong adalah sahabat dekat Wang Sanbo, jagoan tua yang pernah bertanding melawan Ding Tao.

Seperti juga Wang Sanbo, Tang Xiong sering dikirim untuk menagih hutang.

Tang Xiong lebih mirip juru bicara Wang Sanbo yang dingin dan pendiam jika mereka sedang bertugas bersama.

Perawakannya sedang dengan wajah yang menyenangkan, seperti bumi dan langit dibandingkan Wang Sanbo yang terlihat galak.

Jika dikatakan ada ciri-ciri yang menonjol dari Tang Xiong, maka itu adalah tidak adanya ciri-ciri yang menonjol.

Perawakannya sedang, wajahnya tidak buruk tidak pula tampan.

Dengan sedikit mengubah penampilan Tang Xiong bisa berubah menjadi orang yang berbeda dalam sekejap saja.

Qin Bai Yu, anak muda ini mulai tinggal dalam kediaman keluarga Huang sejak ujian ilmu silat, di mana Ding Tao lulus sebagai peserta terbaik.

Karena itu Ding Tao tidak begitu mengenal pemuda ini, hanya kenal nama dan tidak lebih dari itu.

Wajahnya tampan, gerak-geriknya halus, tubuhnya sedikit mungil buat ukuran seorang anak laki-laki, ditambah lagi dengan kulit yang putih, jika didandani dengan baju perempuan, mungkin orang akan salah mengenalinya.

Ding Tao mengedarkan pandangan pada enam orang yang tertinggal, lalu dengan senyum kecut dia bertanya.

"Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian tidak ingin pergi juga?"

Wang Xiaho tertawa dan menjawab.

"Banyak orang bilang aku ini orang keras kepala, jika aku sudah memutuskan sesuatu jangan harap bisa mengubah keputusanku."

Liu Chun Cao menghirup tehnya perlahan-lahan sebelum menjawab.

"Hmm... kukira keberadaanku di sini sudah menjadi jawaban buatmu."

Tabib Shao Yong mengangguk-angguk mendengar perkataan dua orang itu dan berkata.

"Pekerjaanku adalah seorang tabib, seorang tabib berusaha menyembuhkan manusia. Seorang tabib berusaha menyelamatkan jiwa manusia. Pandanganmu justru sangat mencocoki hatiku."

Li Yan Mao tersenyum lebar, mempertontonkan giginya yang sudah jarang-jarang.

"Heh, sebenarnya ada sedikit kesamaan antara apa yang kau utarakan dengan pandangan pendiri keluarga Huang. Itu salah satu sebab mengapa dia berpesan agar keluarga Huang lebih baik memilih penghidupan sebagai pedagang dan tidak terlalu banyak berurusan dengan dunia persilatan. Ayah tuan besar Huang Jin sangat patuh pada ayahnya dan tidak pernah melupakan pesan itu."

Giliran berikutnya adalah Tang Xiong.

"Mungkin Ding Tao dan yang lain juga tahu, aku ini sahabat dekat Wang Sanbo. Sejak pertandingan persahabatan melawan Ding Tao, Wang Sanbo jatuh hati pada sikap Ding Tao yang sederhana dan tulus. Tidak henti-hentinya dia memuji-muji dirimu saat kami sedang mengobrol. Hari ini kulihat kenyataannya, memang kau seorang pemuda yang memiliki sifat yang unik tapi terpuji."

Terdiam sejenak, mengenangkan sahabatnya yang sudah mendahului dia, Tang Xiong melanjutkan.

"Sebagai sahabat Wang Sanbo, aku bisa merasakan, bahwa jika saat ini dia yang berada di sini, dia akan berdiri di pihak Ding Tao. Sebagai sahabatnya, aku ingin mewakili dirinya mendukung Ding Tao mencapai cita-citanya."

Pandangan semua orang akhirnya tertuju pada Qin Bai Yu, Qin Bai Yu masih sangat muda dibandingkan yang lain, sebenarnya dia tidak ada cukup keberanian untuk ikut bicara, namun sekarang semua orang menanti perkataannya dengan terbata-bata akhirnya dia menjawab.

"Sejak melihat Kakak Ding Tao bertarung pada ujian kelulusan beberapa tahun yang lampau. Siauwtee sudah merasa sangat kagum."

Sesaat lamanya dia terdiam, tapi melihat yang lain masih menunggu dia melanjutkan jawabannya akhirnya dia berkata.

"Asalku dari kota Lu Jiang, di salah satu kantor cabang keluarga Huang, lulus dari ujian aku terpilih untuk meneruskan pelajaranku di bawah salah satu anggota keluarga Huang. Orang tua dan keluargaku masih ada di Lu Jiang. Aku tahu banyak yang penasaran karena tidak ada satu pun orang-orang dari anak cabang yang muncul."

"Banyak yang curiga dan segera menghakimi mereka. Tapi kakak Ding Tao tidak bersikap demikian. Kupikir, alangkah baiknya jika dunia persilatan seperti dalam bayangan Kakak Ding Tao, di mana orang tidak dengan mudahnya menghakimi orang lain dan darah bertumpahan hanya karena salah paham atau terlalu kukuh terhadap prinsip sendiri tanpa memandang kesulitan orang lain."

Liu Chun Cao mengangguk-angguk lalu bangkit berdiri dan menepuk pundak anak muda itu. Menoleh pada Ding Tao dia bertanya.

"Anak muda ini benar, urusan cabang-cabang keluarga Huang memang terasa janggal. Bagaimana dengan rencanamu, apakah kita akan ikut campur tangan untuk menyelidiki keadaan di tiap-tiap anak cabang?"

Ding Tao menjawab.

"Ya, siauwtee kira sebaiknya begitu. Masalah itu sudah bisa dipastikan menyimpan satu rahasia. Tidak mungkin seluruh anak cabang lupa diri seperti yang disangka beberapa saudara yang lain. Tapi sebelumnya kita selesaikan dulu urusan di Wuling ini."

Kebetulan saat itu pemilik kedai sedang mengangkat beberapa mangkok mie, mengantarkan pesanan mereka. Liu Chun Cao menoleh dan menjawab.

"Ya, segera setelah kita makan, kita akan pergi ke sana. Lebih baik memikirkan urusan penting dengan perut kenyang."

Pemilik kedai yang menyajikan mie bawaannya, sebelum kembali ke dapur tiba-tiba berkata.

"Perkataan Pahlawan muda ini benar, aku bukan orang dunia persilatan, tapi kupikir jika pahlawan muda ini berhasil, kehidupan banyak orang pun akan merasakan perubahan yang baik."

Sekali lagi dia mengangguk hormat pada Ding Tao, lalu pada enam orang yang lain, kemudian pergi berlalu untuk kembali ke dapur.

"Hmm... jika orang awam bisa berkata demikian, kukira kita tidak perlu ragu, bahwa yang kita lakukan itu benar adanya.

", ujar Liu Chun Cao sambil memandangi punggung pemilik kedai itu. Mereka berenam melanjutkan makan dan minum mereka dalam diam. Masing-masing sedang merenungkan keputusan yang telah mereka ambil. Tidak perlu diragukan lagi, meskipun akan ada yang mendukung, akan ada banyak pula yang akan memandang rendah mereka. Setelah mereka selesai makan, Tabib Shao Yong berdiri hendak memanggil pemilik kedai teh dan membayar. Namun Ding Tao yang merasa sebagai yang lebih muda, buru-buru menahannya dan pergi untuk membayar biaya makan dan minum mereka. Karena pemilik kedai tidak kunjung keluar dari dapur, Ding Tao pergi menyusulnya. Ding Tao melongokkan kepala ke dalam dapur dan melihat pemilik kedai sedang berdiri menunggu kedatangannya. Pemilik kedai itu menggamit Ding Tao untuk masuk ke dalam dapur, jauh dari pandangan mata orang lain. Dengan suara berbisik, pemilik kedai itu memperkenalkan dirinya dan membungkuk hormat pada Ding Tao.

"Tuan Ding Tao, perkenalkan namaku Song Luo, orang biasa memanggilku si tua Song. Sebelum membuka kedai teh ini aku hanya seorang pelayan di dapur sebuah rumah makan di kota Wuling. Suatu hari seorang yang tidak kukenal menawariku modal untuk membuka kedai di pinggir jalan ini, dengan satu syarat, yaitu agar aku selalu memperhatikan orang yang mampir dan lewat di jalan ini. Sesekali orang itu akan datang dan menanyakan sesuatu padaku."

Menelan ludah membasahi tenggorokan, si tua Song kembali bercerita.

"Dalam hati sebenarnya ada perasaan bersalah, karena aku pun tidak tahu, informasi yang kusampaikan itu apakah digunakan untuk mencelakai orang atau untuk kebaikan. Namun untuk menolak aku pun gentar jika memikirkan nasibku dan keluarga. Hari ini aku mendengar perkataan Tuan, hatiku jadi tergerak. Jika tuan bersedia, aku akan berhenti bekerja untuk orang itu, biarlah aku bekerja untuk tuan, menjadi mata dan telinga tuan di kedai ini. Meskipun tiada kepandaian, biarlah orang tua ini ikut pula menyumbang sedikit yang ada untuk menciptakan keadaan yang seperti tuan impikan."

Ding Tao merasa terkejut mendengar pengakuan si tua Song, sekaligus merasa terharu bahwasannya orang tua yang tidak bisa bersilat ini memiliki keberanian untuk menentukan sikap, meskipun maut ancamannya.

"Bapak tua, sungguh bapak seorang yang pemberani", ujar Ding Tao dengan spontan. Setelah berpikir sejenak, Ding Tao pun berkata.

"Bapak, apa yang bapak tawarkan sangatlah berharga. Memang, jika hendak melakukan pekerjaan besar, seseorang harus punya banyak mata dan telinga. Namun akupun tidak ingin bapak mengambil resiko yang terlalu besar. Dengarlah, aku ada akal yang baik. Biarlah bapak tetap memberikan informasi pada orang itu jika dia memintanya. Namun di saat yang sama, jika dia datang pada bapak dan menanyakan sesuatu, atau ada kejadian lain yang bapak rasa menarik segera bapak laporkan hal itu padaku juga."

Wajah pemilik kedai itu menjadi cerah, sebelumnya dia sudah membayangkan akan menyongsong kematian demi melakukan sesuatu yang akan membersihkan hati nuraninya dari perasaan bersalah.

Tapi apa yang diajukan Ding Tao, memberikan dia harapan bahwa dia bisa melakukannya tanpa terancam oleh kematian.

"Ah, terima kasih banyak atas perhatian tuan. Tapi dengan cara bagaimana saya menghubungi tuan?", tanyanya.

"Untuk masalah itu, biarlah siauwtee pikirkan lebih dahulu. Jika siauwtee mendapat cara yang baik, siauwtee akan menghubungi bapak", jawab Ding Tao sambil menepuk pundak pemilik kedai tersebut.

"Baiklah, aku akan menunggu kabar dari tuan", jawab pemilik kedai itu, lalu setelah meragu sejenak dia menambahkan.

"Tuan, jika bisa biarlah hal ini menjadi rahasia antara tuan dan saya, setidaknya pada orang-orang yang benar-benar bisa tuan percaya. Dari enam orang yang ada di luar, tampaknya ada beberapa yang baru hari ini menyatakan kesetiaan pada tuan. Saya harap tuan sadar ada kemungkinan orang yang jahat menyusup juga dalam organisasi bentukan tuan."

Ding Tao mengangguk.

"Ya.. siauwtee juga sadar akan hal itu, meskipun siauwtee berharap bisa mempercayai setiap orang dalam organisasi ini nanti, tapi kemungkinan seperti itu tetap saja ada. Bapak jangan kuatir, sebelum siauwtee bisa percaya penuh pada seseorang, tidak akan siauwtee membocorkan rahasia yang menyangkut keselamatan orang lain."

"Terima kasih tuan, semoga apa yang tuan cita-citakan bisa berhasil. Dahulu banyak kisah tentang pahlawan yang berjuang dan berkorban demi kepentingan orang banyak. Hari ini banyak orang yang mengaku pahlawan, namun menindas yang lemah demi kepentingannya sendiri. Sungguh baik cita-cita tuan, orang seperti tuan dan mereka yang bersumpah setia pada tuan hari inilah yang sesungguhnya pantas disebut pahlawan", ujar pemilik kedai itu dengan nada prihatin. Muka Ding Tao jadi memerah karena malu.

"Sudahlah paman, aku pun hanya orang biasa, bukan pahlawan. Ini pembayaran untuk makanan dan minuman yang kami habiskan."

"Eh, tidak perlu tuan, jangan, bukankah mulai hari ini, saya pun sudah termasuk menjadi pengikut tuan?", ujar pemilik kedai itu sambil berusaha mengembalikan uang yang diberikan Ding Tao.

"Ah kalau benar begitu, tentu bapak harus menurut pada keputusanku dan inilah keputusanku, bapak harus menerima pembayaran ini. Anggap saja, ini biaya bagi bapak untuk terus membuka kedai serta menyerap informasi bagiku", balas Ding Tao sambil tertawa. Setelah beberapa kali didesak Ding Tao, akhirnya pemilik kedai itupun mau menerima uang yang diberikan Ding Tao. Ketika Ding Tao kembali ke mejanya, Wang Xiaho bertanya pula.

"Eh, kenapa begitu lama hanya untuk membayar makan dan minum? Apakah dia mempersulit kita?"

"Bukan-bukan, justru dia hendak menolak pembayaran. Itu sebabnya siauwtee agak lama di sana, karena harus mendesak-desaknya lebih dahulu. Dia berkeras untuk memberi kita makan dan minum gratis, karena merasa bersimpati pada perjuangan kita", jawab Ding Tao dengan cerdik tanpa menceritakan alasan yang sesungguhnya.

"Hehe, kalau di setiap kedai dan rumah makan ada kejadian yang sama, boleh juga kita terima kebaikan mereka", sahut Li Yan Mao sambil tertawa. Tawa Li Yan Mao menular pada yang lain, sambil tertawa bergelak mereka meninggakan kedai makan itu, mengikuti Liu Chun Cao yang memimpin di depan. Untuk sementara kabut yang membayang tersapu bersih dari hati dan pikiran, oleh tawa lepas yang mengiringi langkah kaki mereka. Liu Chun Cao mengetuk pintu rumah tempat persembunyian orang yang mereka cari. Beberapa kali dia mengetuk namun tidak ada jawaban.

"Apakah dia sedang tidak ada di rumah?", tebak Qin Bai Yu. Liu Chun Chao mengerutkan alisnya.

"Hmm... cobalah kau pergi tanyakan pada tetangga sebelah."

Qin Bai Yu mengangguk, Li Yan Mao mengikut di belakangnya sambil berkata.

"Mari kutemani engkau bertanya-tanya ke sekitar."

Ding Tao berlima sedang menunggu Qin Bai Yu dan Li Yan Mao, ketika seseorang berjalan melewati mereka.

Lima orang asing berkerumun di depan pintu rumah, tentu saja menarik perhatian.

Orang itu menengok kemudian berhenti, sepertinya seikit ragu, tapi akhirnya dia menyapa dan bertanya.

"Apakah kalian sedang mencari Mao Bin?"

Ding Tao berlima menoleh ke belakang, ke arah suara yang menyapa mereka.

Penampilan orang itu sedikit aneh, pakaiannya sedikit compang camping tapi dipakai dengan sangat rapi.

Orang itu berdiri dengan bersandar pada sebuah tongkat yang dia bawa-bawa.

Meskipun tertutup oleh bajunya, tapi dari postur tubuhnya, terlihat salah satu kakinya lebih pendek dari kaki yang sebelah.

Menilik pakaian yang dimiliki, tempat dia tinggal dan cacat di tubuhnya, wajarnya orang demikian tentu seorang yang rendah diri.

Tapi orang ini justru tampi percaya diri bahkan cenderung bersikap seperti menantang orang lain untuk menghina dirinya.

Pakaiannya yang sederhana dan sedikit compang camping dipakai dengan rapi dan teliti.

Rambutnya disisir dan digelung dengan rapi, meskipun tali pengikatnya sudah pudar warnanya dan terlihat rapuh dimakan usia.

Dengan alis terangkat, Wang Xiaho menjawab.

"Ya, kami sedang mencari Mao Bin, apa kau tahu dia sedang ada di mana? Ini benar rumahnya kan? Beberapa kali kami mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban."

"Ya memang benar ini rumahnya, aku pun tidak tahu dia ada di mana, tapi pagi tadi ada pula orang yang mencari dia dan bertanya di mana rumah Mao Bin. Mungkin mereka sedang ada di luar, entahlah.", jawab orang itu.

"Boleh kami tahu, seperti apa ciri-ciri orang itu?", tanya Liu Chun Cao. Orang yang ditanya memandang mereka dengan tatapan ingin tahu, sejenak kemudian dia menjawab.

"Orang itu cukup tinggi, lebih tinggi daripada kebanyakan orang. Meskipun tidak setinggi tuan muda yang di sana.

", katanya sambil menunjuk pada Ding Tao.

"Kupikir agak aneh menemukan orang seperti itu di daerah seperti ini. Kulitnya putih, alis berbentuk golok, kumisnya yang tipis dicukur dengan rapi. Giginya terlihat putih bersih. Meskipun potongan pakaiannya sederhana tapi kulihat terbuat dari bahan yang baik, lagipula terlihat bersih."

"Apa ada ciri-ciri yang tidak umum?", tanya Wang Xiaho.

"Ciri-ciri yang tidak umum? Hmm.. entahlah, aku tidak yakin, wajahnya tidak ada ciri khusus, tapi kupikir orang ini adalah seorang kidal yang sudah berlatih menggunakan tangan kanannya dengan baik."

"Hmm... dari mana kau bisa berpendapat demikian?", tanya Liu Chun Cao sambil memandang orang itu penuh selidik. Sekilas mata orang itu berkilat nakal, jawabnya.

"Orang itu menenteng-nenteng pedang dan dari penampilannya sudah jelas dia orang yang memiliki cukup harta. Dia memakai pakaian yang sederhana jelas maksudnya hendak menutupi identitasnya. Namun orang itu juga terlalu yakin pada diri sendiri sehingga tidak mau bersusah payah untuk menyembunyikan wajahnya atau sedikit mengotori tangan dan tubuhnya."

"Tentu saja, hatiku jadi tertarik. Tanpa sengaja saat dia hendak berpamitan, tanganku hendak menggaruk punggungku yang gatal, tanpa sengaja menyenggol topi bambuku dan menyebabkannya terjatuh. Secara refleks orang itu membungkuk hendak mengambil topiku dengan tangan kirinya, terlihat dari tubuh sebelah kiri lebih condong ke depan, tapi teringat tangan kirinya membawa pedang, dengan cepat tangan kanannya bergerak untuk menangkap topiku yang jatuh itu."

Mata Liu Chun Cao berkilat, dia mengamati orang yang di depannya itu dengan penuh rasa tertarik.

"Menarik sekali... lalu apa kesimpulanmu?"

Bukan hanya Liu Chun Cao yang tertarik mendengar pengamatan orang itu, yang lain pun demikian juga.

Tidak disangka hari ini mereka bertemu orang-orang yang menarik.

Pertama pemiliki kedai yang tiba-tiba ikut berbicara memuji pandangan Ding Tao tentang dunia persilatan.

Lalu sekarang, mereka bertemu orang yang punya pengamatan yang tajam dan rasa ingin tahu yang besar.

"Menurutku orang itu adalah seorang pendekar yang cukup punya nama dari sebuah perguruan atau kalangan yang terhormat. Terlihat dia berusaha menolong menangkap topiku yang jatuh. Dia hendak melakukan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain, itu sebabnya dia menyamar. Tapi dia begitu yakin dengan kemampuannya sendiri sehingga dia pun tidak takut bila sampai ketahuan."

Selesai menguraikan kesimpulannya orang itu pun menatap mata mereka berlima dengan membusungkan dada.

Tabib Shao Yong dan Liu Chun Cao mengamati orang di depannya itu dengan wajah heran dan tertarik.

Sementara Wang Xiaho merasa sedikit kesal dengan sikap sombong orang itu tapi masih bisa menahan diri.

Adalah Tang Xiong yang membuka mulut lebih dulu.

"Sahabat, sungguh pandai benar dirimu. Membuat orang jadi heran, mengapa orang macam dirimu bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini? Apakah kau ini seorang sastrawan yang gagal lulus ujian kenegaraan?"

Kata-kata Tang Xiong dikeluarkan begitu saja tanpa pikir panjang, dimaksudkan untuk menyindir.

Siapa tahu justru kata-kata itu kena tepat pada sasaran, wajah orang itu berubah dan dengan ketus dia menjawab.

"Hmph! Apakah yang bodoh menguji yang lebih pandai? Apakah yang korup menghakimi yang benar? Siapa sudi ambil pusing pada hasil ujian negara?"

Mendengar jawaban orang itu tentu saja, mereka langsung tahu bahwa kata-kata Tang Xiong justru menebak dengan tepat keadaan orang itu saat ini.

Tang Xiong baru saja hendak membuka mulut dan membalas dengan pedas sikap sombong orang itu ketika dia merasakan tangan Ding Tao menggamitnya mundur ke belakang.

Tang Xiong terkejut dan cepat-cepat menutup mulutnya yang usilan saat dia melihat Ding Tao membungkuk hormat pada orang cacat yang sombong di hadapan mereka itu.

"Ah, harap tuan memaafkan kami, tadinya sikap tuan yang sombong membuat kami merasa penasaran, tapi sebenarnya kalau dipikir, pengamatan tuan sungguh tajam. Tuan sombong bukan tanpa alasan yang jelas, tidak banyak orang dapat berpikir secerdik tuan ini. Bolehkah aku tahu nama tuan?"

Sejak bertemu dan bercakap-cakap dengan pemillik kedai yang ternyata juga bertugas sebagai mata-mata seorang misterius, Ding Tao mulai sadar bahwa lawan-lawannya tidak bisa dikalahkan hanya dengan kepandaian ilmu silat saja.

Dia bukan sedang berhadapan dengan satu atau beberapa orang lawan saja, yang menjadi lawannya adalah sebuah organisasi yang besar.

Jika dia hendak mendirikan organisasinya sendiri, dia memerlukan orang dengan berbagai macam kepandaian dan bakat.

Termasuk orang dengan kepandaian seperti orang yang ada di hadapannya saat ini.

Sikap Ding Tao yang demikian tiba-tiba mengejutkan banyak orang, termasuk pelajar cacat yang disapanya.

Untuk sesaat sikap sombong yang dia tampilkan tampak goyah, tapi cepat dia pulih dari rasa kagetnya dan dengan nade sinis bertanya.

"Hmm... jika seseorang bersikap sopan padaku, biasanya itu karena dia ingin memanfaatkanku. Anak muda bukankah benar demikian?"

Tang Xiong yang merasa kesal Ding Tao diperlakukan demikian sudah membuka mulut untuk menyergah, namun Liu Chun Cao cepat menggamit tangannya dan memberi tanda agar dia diam.

Dengan terpaksa Tang Xiong hanya bisa memelototi orang yang sombong tersebut.

Berbeda dengan Tang Xiong, Ding Tao justru bisa tertawa sopan mendapat dampratan dari orang tersebut, kemudian dia mengangguk membenarkan.

"Tidak bisa siauwtee pungkiri, kenyataannya memang siauwtee memerlukan bakat dan lemampuan tuan. Apakah siauwtee boleh tahu siapa nama tuan?", untuk kedua kalinya Ding Tao menanyakan nama pelajar cacat itu.

"Hmm... kau ini punya impian setinggi langit, tapi mengapa mandah saja aku hina?"

"Siauwtee punya cita-cita yang tinggi, tuan punya kemampuan yang bisa membantu siauwtee meraih cita-cita itu, sedikit penghinaan, adalah harga yang murah."

"Jika aku memintamu untuk berlutut dan menghormat tiga kali sebelum aku mau membantumu apa yang akan kau lakukan?"

Kali ini Ding Tao tidak memberikan jawaban dengan kata-kata, melainkan dengan perbuatan, tanpa ragu pemuda itu berlutut dan hendak menghormat pada pelajar cacad yang sombong itu.

Tapi segera saja pelajar itu menahan pundak Ding Tao dan dengan susah payah berlutut di depan pemuda itu lalu balik menghormatnya.

Ujar pelajar cacat itu.

"Bertahun-tahun belajar, tidak ada yang menghargai jerih payah dan segenap pengetahuan yang siauwtee kumpulkan, hari ini bisa bertemu dengan tuan sungguh merupakan keberuntungan. Sedikit yang siauwtee miliki, biarlah jadi kayu bakar bagi perjuangan tuan."

Perubahan sikap yang demikian tiba-tiba tentu saja membuat orang jadi melengak keheranan.

"Nama siauwtee adalah Chou Liang, ayah siauwtee pernah menjabat sebagai pejabat militer dan berharap agar siauwtee mengikuti jejaknya mengabdi pada negara. Sayang saat masih kecil siauwtee terkena penyakit aneh, sehingga sebelah kaki siauwtee tidak tumbuh dengan semestinya. Untuk memenuhi harapan ayah, maka siauwtee menghabiskan waktu untuk mempelajari tulisan-tulisan orang bijak di masa lampau dan berniat untuk mengikuti ujian negara dalam bidang sastra."

"Tunggu, mari bangunlah, jangan berlutut seperti itu.", ujar Ding Tao sambil menarik berdiri pelajar cacat tersebut. Tang Xiong yang tadinya ingin mendamprat dan mengolok-olok pelajar cacat itu, sekarang setelah terbukti perkataannya tepat mengena justru berdiam diri dan dalam hati menyesal sudah mengeluarkan kata-kata tersebut. Menanti pelajar cacat itu berdiri dan membenahi pakaiannya, barulah Ding Tao bertanya lebih lanjut.

"Saudara, silahkan lanjutkan ceritamu. O ya sebelumnya, perkenalkan nama siauwtee..."

"Nama tuan adalah Ding Tao, lahir dan dibesarkan dalam keluarga Huang, kurang lebih 2.5 tahun yang lalu menghilang secara diam-diam bersamaan dengan menghilangnya salah seorang pelatih silat keluarga Huang, Gu Tong Dang. Saudara yang lain, bernama Tang Xiong, Tabib Shao Yong, dan Pendeta Liu Chun Cao. Yang seorang lagi sepertinya baru kali ini datang ke Wuling karena aku tidak mengenalnya.", ujar Chou Liang memotong perkataan Ding Tao "Heheh, namaku Wang Xiaho", jawab Wang Xiaho sambil sedikit membungkuk memberi hormat.

"Siauwtee Chou Liang", ujar Chou Liang, membungkuk membalas salam dari Wang Xiaho, sekalian dia memberi hormat juga pada yang lain.

"Kira-kira 6 bulan yang lalu, Tuan Ding Tao, kembali pula ke kota Wuling dan mengunjungi keluarga Huang. Kunjungan kali ini membawa bencana, setidaknya satu orang meninggal dan tuanpun terpaksa harus melarikan diri secara diam-diam. Kemungkinan besar dalam keadaan terluka. Sekarang tuan kembali untuk menyelesaikan urusan, entah apapun urusan itu, tapi di luar dugaan sebelum kedatangan tuan, justru keluarga Huang tertimpa bencana besar dan tuan pun berkeinginan untuk menyelidikinya", dengan lancar dia mengemukakan apa yang berhasil dia ketahui mengenai Ding Tao.

"Kurang lebih itulah yang siauwtee mengerti, tentu jika tuan berkenan untuk bercerita lebih lanjut, siauwtee akan bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan bisa memberikan pandangan-pandangan yang mungkin membantu tuan", ujarnya mengakhiri uraian yang cukup panjang. Ding Tao berlima tentu saja merasa kagum dengan uraian itu. Liu Chun Cao bahkan merasa sedikit curiga dan bertanya.

"Saudara, kau sepertinya tahu banyak hal tentang dunia persilatan, apakah semua yang kau ceritakan itu hasil pengamatanmu semata?"

"Ah, jika harus berbicara sejujurnya, nama Ding Tao sudah kudengar bertahun-tahun sebelumnya. Sejak gagal dalam ujian negara, sifatku menjadi sinis terhadap setiap orang, terutama pejabat negara. Siauwtee merasa jauh lebih pandai dari mereka semua dan ingin membuktikan hal itu. Itu sebabnya setiap ada kejadian yang janggal dalam kota, apapun itu, siauwtee pasti berusaha mencari tahu dan memecahkannya. Diminta atau tidak. Tapi meskipun berhasil memecahkan banyak kasus, siauwtee tidak menyiarkan penemuan siauwtee, hanya merasa puas karena berhasil membuktikan pada diri siauwtee sendiri bahwa kenyataannya siauwtee masih lebih pandai dari mereka."

"Wah, orang ini benar-benar sombong", umpat Tang Xiong dengan berbisik. Jika Ding Tao suka tersipu malu saat memamerkan kepandaiannya, seratus delapan puluh derajat bedanya dengan Chou Liang. Saat menceritakan kesuksesannya itupun dia menampilkan ekspresi seakan apa yang dia lakukan itu adalah satu hal yang remeh. Tang Xiong yang tadinya menyesal sudah mengingatkan Chou Liang pada kegagalannya dalam ujian negara jadi gatal-gatal untuk memaki orang tersebut. Chou Liang rupanya mendengar pula umpatan Tang Xiong itu, dengan senyum mengejek dia memainkan matanya ke arah Tang Xiong.

"Ya memang demikianlah perasaan orang yang berotak dangkal ketika bertemu orang lain yang berotak encer."

"Apa? Apa katamu? Wah, rupanya kau ini perlu dihajar supaya mengerti sopan santun", ujar Tang Xiong dengan muka merah padam. Yang lain tertawa bergelak melihat Tang Xiong ketemu batunya, Ding Tao menepuk-nepuk pundaknya berusaha menenangkan jagoan yang lagi marah tersebut.

"Sudahlah jangan marah Paman Tang Xiong, Saudara Cou Liang sudah menyatakan keinginannya untuk bergabung, berarti sejak hari ini diapun sudha menjadi saudara kita. Di antara saudara sedikit perkataan menggoda tidak perlu dimasukkan dalam hati."

Karena Ding Tao sudah menengahi, Chou Liang pun tidak melanjutkan gurauannya, hanya sedikit memutar mata sambil tersenyum pada Tang Xiong.

Kata-kata Ding Tao juga cukup menyadarkan Tang Xiong, Tang Xiong pun teringat bahwa sebelumnya dia juga sempat mengeluarkan kata-kata yang tentu menyakitkan Chou Liang.

Sambil menghela nafas jagoan itu pun ikut tersenyum saja.

"Ya sudahlah, anggap saja otakku memang dangkal. Tapi sikap sombongmu itu suatu hari tentu akan menyebabkan orang datang untuk menghajarmu."

"Hehe, kalau ada orang datang untuk menghajarku, bukankah aku masih bisa lari untuk minta perlindungan dari Kakak Tang Xiong", jawab Chou Liang "Dan akan aku biarkan dia memberi satu dua pukulan sebelum aku ikut campur, biar jadi pelajaran buat dirimu", jawab Tang Xiong pula.

"Wah, wah rupanya otak Kakak Tang Xiong tidak sedangkal yang kuduga, bisa pula memiliki siasat meminjam pedang orang untuk menghajar lawan", jawab Chou Liang sambil mengacungkan jempolnya disambut tawa oleh yang lain. Menunggu tawa mereka mereda, Chou Liang berbalik pada Ding Tao dan bertanya dengan nada yang serius.

"Tuan Ding Tao, meskipun sedikit banyak siauwtee sudah punya gambaran tentang apa yang terjadi, sekiranya tuan berkenan untuk menceritakan pengalaman tuan saat berada dalam kediaman keluarga Huang, siauwtee rasa segalanya bisa jadi lebih jelas."

"Baiklah, akan aku ceritakan, tapi pertama-tama kuharap Saudara Chou Liang jangan terus menerus memanggilku tuan, panggil saja Saudara Ding Tao.", jawab Ding Tao pada Chou Liang.

"Mana bisa begitu? Jika perkumpulan sudah didirikan, meskipun didasarkan pada persaudaraan, kedudukan haruslah jelas dari awal, jika tidak maka organisasi bisa menjadi kacau, jika keberatan dipanggil tuan, setidaknya dipanggil sebagai ketua. Urutan dan jalur otoritas haruslah jelas, baru sebuah perkumpulan bisa berjalan dengan efektif, karenanya tidak boleh ada kata sungkan dalam hal ini. Ketua Ding Tao harus bisa melupakan masalah umur dan kedudukan yang lampau jika mau perkumpulan yang didirikan menjadi kuat. Bukan tanpa alasan jika ada peribahasa, tidak boleh ada dua matahari di atas langit."

Perkataan Chou Liang ikut menyadarkan yang lain.

Wang Xiaho yang sering memandang Ding Tao yang jauh lebih muda, seperti anak atau keponakan sendiri.

Liu Chun Cao yang merasa lebih banyak makan asam garam dibanding Ding Tao.

Tabib Shao Yong dan Tang Xiong yang belum sepenuhnya melupakan kedudukan Ding Tao sebagai tukang kebun di masa lalu.

Wang Xiaho menepuk pundak Ding Tao perlahan.

"Ketua Ding Tao , perkataannya itu masuk akal dan baik untuk diikuti."

"Wah paman, kenapa jadi ikut-ikutan?", ujar Ding Tao merasa serba salah. Liu Chun Cao menyahut.

"Ketua Ding Tao, tidak boleh merasa sungkan, sejak hari ini, harus sadar dengan kedudukan, bukan berarti melupakan persahabatan. Tapi segala sesuatu memang harus ada pengaturannya."

Tabib Shao Yong ikut pula menguatkan pendapat mereka.

"Benar sekali Ketua Ding Tao, jangan merasa bersalah menerima panggilan itu, apalah artinya perubahan panggilan, yang terpenting adalah hatimu sendiri. Jika kau tetap menghargai kami yang lebih tua, bagaimanapun caranya kami memanggil dirimu tentu tidak akan menjadi ganjalan."

"Ketua Ding Tao, jangan sungkan-sungkan lagi, memang sudah nasibmu harus memikul tanggung jawab ini, masakan sekarang hendak llari hanya karena kami memanggilmu ketua?", ujar Tang Xiong sambil memutar-mutar matanya dan tersenyum lebar.

"Ah... kalau kalian semua berkata begitu, aku bisa berkata apa lagi. Terserah kalian sajalah", ujar Ding Tao menyerah. Kemudian mulailah Ding Tao menceritakan kejadian yang dia alami beberapa bulan sebelumnya saat dia kembali ke kediaman keluarga Huang setelah dua tahun menghilang. Diceritakannya sejak dari awal pertemuan, sikap dan kebaikan keluarga Huang. Pertandingan persahabatan memperbutkan Pedang Angin Berbisik, sampai pada malam di mana Pedang Angin Berbisik direbut dari tangannya dan bagaimana dia akhirnya bisa lepas berkata bantuan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying. Saat Ding Tao sedang bercerita Li Yan Mao dan Qin Bai Yu sudah kembali, namun melihat Ding Tao sedang bercerita mereka tidak berani mengganggu, diam-diam keduanya berkumpul kembali dengan yang lain. Dengan berbisik Li Yan Mao bertanya pada Tang Xiong sambil menggerakkan kepala ke arah Chou Liang.

"Siapa itu?"

Dengan singkat Tang Xiong menjelaskan, Li Yan Mao dan Qin Bai Yu mengangguk-angguk mendengar penjelasan Tang Xiong.

Ding Tao menjelaskan dengan sedetail-detailnya tanpa menceritakan hal-hal yang sifatnya pribadi.

Karena kejadian itu terjadinya sudah cukup lama, beberapa kali Ding Tao harus berhenti untuk mengingat kejadian itu dengan jelas.

Ding Tao berbuat demikian karena dia yakin Chou Liang, menanyakan hal itu tentu dengan maksud yang tulus hendak membantu.

Selesai Ding Tao bercerita, Chou Liang menghela nafas.

"Ketua Ding Tao, rasa-rasanya dugaanku sembilan dari sepuluh bagian sudah cukup tepat, hanya saja apakah Ketua Ding Tao akan senang mendengarnya atau tidak aku tidak tahu."

Berkerut alis Ding Tao.

"Saudara Chou Liang, jika punya pendapat atau pandangan, utarakan saja. Aku percaya maksudmu baik dan tulus, tentang apakah aku bisa menerimanya atau tidak, itu masalah yang berbeda. Sebisa mungkin aku akan menelaah masukan dari tiap orang tanpa tergantung padanya."

Chou Liang sejenak merenungi jawaban Ding Tao kemudian mengangguk puas.

"Baiklah, kalau begitu aku akan mengemukakan pendapatku, apakah ada gunanya atau tidak, kita lihat nanti."

"Aku yakin peristiwa di mana Ketua Ding Tao hampir mati kena serangan gelap saat ada dua orang bertopeng mencuri pedangnya, hal itu bisa jadi memang dilakukan Tiong Fa tapi yang memerintahkan adalah Tuan besar Huang Jin sendiri."

"Jangan bicara sembarangan !", sergah Qin Bai Yu sambil tangannya meraba pedang, tapi Li Yan Mao yang berada di dekatnya cepat menahan tangan pemuda itu.

"Jangan... dengarkan dulu", ucapnya dengan sabar, wajahnya yang biasa tertawa, terlihat begitu serius sehingga Qin Bai Yu jadi terdiam. Chou Liang diam menunggu, memandangi wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya, baru setelah dia melihat Ding Tao mengangguk ke arahnya dia baru melanjutkan penuturannya.

"Ada beberapa dasar mengapa aku berpendapat demikian. Yang pertama, kejadian itu terjadi dalam kediaman keluarga Huang, jika Tiong Fa memang bekerja sendiri, apa salahnya menunggu waktu 2-3 hari? Dari reputasi yang kudengar, Tiong Fa adalah orang yang berpikir panjang tentu saja ada kurang lebihnya dalam rencana untuk menunggu sampai Ding Tao berada di luar wilayah keluarga Huang. Tapi dari segi keamanan jauh lebih mendukung."

"Yang kedua, rencana itu sendiri baru menjadi rencana baik, dikarenakan Ketua Ding Tao meminum obat yang membantu dia untuk tidur. Tapi dari penuturan Ketua Ding Tao, sejak kapan dia terserang rasa kantuk? Sebelum atau sesudah Nona muda Huang memberikan obat itu? Bukankah dari saat sebelum meminum obat buatan Nona muda Huang, Ketua Ding Tao sudah merasakan kantuk? Jadi kapan Ketua Ding Tao meminum obat itu?"

Perlahan Chou Liang mengedarkan pandangan ke para pendengarnya. Adalah Liu Chun Cao yang menjawab dengan suara perlahan.

"Tuan besar Huang Jin, sudah meracuninya pada saat dia mengajak Ding Tao bersulang...."

Memerah wajah-wajah bekas pengikut keluarga Huang, termasuk Ding Tao sendiri juga merasakan wajahnya memanas.

"Lalu mengapa Adik Huang Ying Ying, memberikan pula obat yang memulihkan tenagaku dan membantu menghimpun hawa murni yang membuyar? Bukankah lebih baik jika aku tertidur dalam keadaan lemah?"

Chou Liang menjawab dengan nada prihatin.

"Ketua Ding Tao, kurasa selain Tuan besar Huang Jin dan beberapa orang kepercayannya, tidak ada yang lain yang mengerti tentang rencana itu. Bagaimana pun juga hal ini menyangkut nama baik keluarga Huang. Nona muda Huang, kurasa menaruh kasih padamu dan dengan inisiatifnya sendiri memberikan obat itu, di luar perintah ayahnya."

Tabib Shao Yong mendesah, teringat dengan peristiwa malam itu yang tepat sesuai uraian Chou Liang.

Meskipun berat hatinya untuk memburukkan nama keluarga Huang, namun demi meluruskan segala permasalahan dia pun membenarkan perkataan Chou Liang.

"Sesungguhnya, apa yang dituturkan oleh Saudara Chou Liang tidak jauh dari kenyataan sebenarnya. Malam itu Nona muda mendapat pesan dari Tuan besar Huang Jin untuk mengambil obat yang akan membantu Ketua Ding Tao tertidur pulas, ada secarik surat pendek yang ditanda-tangani oleh Tuan besar Huang Jin sebagai pengantarnya. Sedangkan tentang obat pemulih tenaga, adalah inisiatif Nona muda Huang sendiri. Sebenarnya obat itu termasuk obat simpanan keluarga Huang, namun karena yang meminta adalah Nona muda Huang sendiri dan menimbang hubungan baik di masa lalu, aku pun memberikannya pada Nona muda Huang."

Qin Bai Yu mendesis.

"Tidak mungkin..."

Li Yan Mao hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan sedihnya.

Tang Xiong yang mendengar cerita dari Wang Sanbo tentang pertandingan persahabatan demi merebut Pedang Angin Berbisik dari tangan Ding Tao terdiam dan merenungi kembali satu per satu percakapan mereka mengenai hal itu.

Melihat perkataannya, meskipun dengan berat hati, sudah mulai diterima oleh bekas pengikut keluarga Huang, Chou Liang melanjutkan penuturannya.

"Yang ketiga adalah sikap Tuan besar Huang Jin sendiri saat Tiong Fa mengajukan usul untuk mengadakan pertandingan persahabatan demi menentukan siapa yang layak untuk menyimpan Pedang Angin Berbisik. Kita semua sudah cukup dewasa di sini, sudah cukup bisa belajar menimbang apa yang ada dibalik perkataan seseorang. Banyak alasan bisa diajukan ketika seseorang menginginkan sesuatu. Alasan untuk membenarkan keinginannya, untuk menenangkan hati nuraninya yang berontak."

"Bukankah sepanjang malam itu Tuan besar Huang Jin berdiam diri, mendengarkan berbagai alasan yang diajukan Tiong Fa? Jika dia tidak setuju, tentu dia sudah menghentikan Tiong Fa. Kalau melihat dari kejadiannya, justru kurasa Tiong Fa maju sebagai perisai dari Tuan besar Huang Jin."

Ding Tao terdiam dan berpikir.

"Apakah sudah sebegitu liciknya manusia? Ataukah dirinya saja yang terlalu bodoh dan mudah ditipu?"

"Ketua Ding Tao tidak perlu berkecil hati, Ketua Ding Tao tumbuh dan besar di sana, setiap hari Ketua Ding Tao belajar untuk percaya bahwa Tuan besar Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya sebagai orang yang terhormat. Jangankan Ketua Ding Tao, bahkan putera dan puterinya pun tentu berpikir demikian. Selain segelintir orang dalam pertemuan malam itu, aku yakin yang lainnya berpikir sama seperti Ketua Ding Tao.", ucap Chou Liang yang melihat Ding Tao termenung. Qin Bai Yu masih menggeleng-gelengkan kepala, menolak untuk mempercayai perkataan Chou Liang. Li Yan Mao tampak tertunduk dengan mata membasah. Tabib Shao Yong hanya bisa terdiam dengan mulut kelu, terbayang bagaimana dia justru mengharap keselamatan dari Tuan besar Huang Jin. Terbayang juga dua orang muda yang berperan paling besar dalam keselamatannya justru ikut mati terbakar dan dia tidak mampu berbuat apa-apa. Tang Xiong menggeram, menghilangkan kesesakan di hatinya. Wang Xiaho dan Liu Chun Cao sebagai orang luar, tidak bisa mengucapkan apa-apa. Dalam hati mereka bisa ikut merasakan goncangan yang dirasakan oleh mereka. Chou Liang sebagai orang yang menyampaikan kebenaran ini pada mereka pun, ikut larut dalam kesedihan, kesombongan yang dijadikan topeng untuk menyembunyikan kekecewaan dan perasaan rendah dirinya ikut larut dalam kediaman itu. Ding Tao bertanya pada Chou Liang dengan suara sedikit serak.

"Saudara Chou Liang, apakah kau yakin dengan uraianmu?"

Chou Liang yang kepalanya tertunduk cepat-cepat menengadahkan kepala dan menjawab.

"Sembilan dari sepuluh bagian, aku pun bukan dewa dan tidak bisa memberikan kepastian 100%. Namun jika keluarga Huang tulus ingin mengamankan pedang dan bukan memilikinya, mereka toh bisa membiarkan pedang tetap berada di tangan Ketua dan sebaliknya menyediakan perlindungan bagi Ketua Ding Tao sekaligus pedangnya. Bukankah tidak ada bedanya?"

Li Yan Mao yang sejak tadi diam perlahan berkata.

"Sejak meninggalnya ayah dari Tuan besar Huang Jin, ambisinya untuk ikut berusaha merajai dunia persilatan mulai nampak. Berdua bersama dengan Tiong Fa mereka memupuk kekuatan. Kenyataan ini berat untuk diterima, tapi jika kita mau maju ke masa depan yang lebih baik. Tidak ada jalan lain kecuali harus menerima dan belajar dari kesalahan di masa lalu."

Semua perlahan-lahan mengangguk, membenarkan perkatan Li Yan Mao. Meskipun berat dan pahit, kenyataan itu harus mereka terima dan akui.

"Paman Li, jika demikian, apakah yang sedang kulakukan ini bukannya sama saja dengan apa yang hendak dilakukan Tuan besar Huang Jin?", tanya Ding Tao pada orang tua itu.

"Tentu saja tidak, tujuanmu yang mula-mula adalah menjadi pelindung, baik bagi negara maupun bagi sesama. Impianmu adalah mengarahkan pergerakan dunia persilatan ke arah yang lebih manusiawi. Mengurangi kekerasan dan kekejaman dalam dunia persilatan. Mengenalkan satu pandangan baru bagi jalan pedang. Menjadi Wulin Mengzhu hanyalah salah satu jalannya. Itu yang harus kau ingat-ingat selalu, sehingga ketika jalan tidak lagi sesuai dengan tujuan yang mendasarinya, jalan itupun harus ditinggalkan", ujar Li Yan Mao menjawab pertanyaan Ding Tao.

"Ding Tao, bukankah kita sudah pernah membahas hal ini? Dan saat itu, kaupun sudah sampai pada kesimpulan yang sama? Mengapa sekarang hatimu meragu kembali? Teguhkan niatmu, perketat pengawasanmu terhadap gejolak akal dan rasa", timpal Liu Chun Cao. Ding Tao memandangi kedua orang itu, kemudian mengitarkan pandangan pada orang-orang yang berkumpul di sekitarnya. Dari Liu Chun Cao dan Li Yan Mao dia mendapati kebijakan. Dari Wang Xiaho, Tang Xiong dan Qin Bai Yu dia mendapatkan persahabatan yang tidak tergoyahkan. Dari Tabib Shao Yong dia mendapati terpancar kelembutan. Dan dari Chou Liang dia mendapati seorang penasihat yang cerdik dan banyak akal. Tiba-tiba beban berat di pundaknya terasa ringan, dia tahu dia tidak sendirian. Ding Tao tersenyum memandang mereka semua, kemudian pandangannya beralih pada Qin Bai Yu dan Li Yan Mao.

"Bagaimana, ada kabar mengenai Mao Bin?"

Qin Bai Yu menengok ke arah Li Yan Mao, baru setelah Li Yan Mao memberi tanda agar dia yang menyampaikan laporan, Qin Bai Yu menjawab pertanyaan Ding Tao.

"Kami sudah berkeliling ke sekitar tempat ini, bertanya pada orang-orang yang ada. Dari apa yang kami kumpulkan, sepertinya Mao Bin tidak pernah keluar dari rumahnya sejak pagi hari ini."

"Jangan-jangan ada yang mencelakai dia...", ujar Liu Chun Cao. Mendengar itu wajah Ding Tao memucat.

"Paman kalau begitu, cepat dobrak pintunya."

"Tahan dulu", ucap Chou Liang menahan Wang Xiaho yang sudah bergerak hendak mendobrak pintu. Mendengar teriakan Chou Liang otomatis gerakan itu terhenti dan berbalik dia menanya pada Chou Liang.

"Kenapa ?"

"Soal Mao Bin dicelakai orang sudah hampir pasti itu memang benar terjadi dan kukira yang mencelakai tentu orang yang mencarinya tadi pagi. Kejadiannya sudah cukup lama, menilik situasinya, kukira sudah tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong Mao Bin.", ucap Chou Liang dengan santai.

"Ho.. lalu maksudmu kita diam saja?", tanya Wang Xiaho.

"Bukan begitu, hanya saja, daripada kita mendobrak masuk, lalu menjadi tersangka, lebih baik kita menghubungi dulu kepala perkampungan ini dan menyampaikan kecurigaan kita, biar kita bersama orang-orang beramai-ramai mendobraknya. Aku tahu bagi kalian urusan pemerintahan bukan masalah penting, tapi jika bisa menghindari kesulitan, mengapa harus mencarinya.", jawab Chou Liang dengan enteng.

"Baiklah, kalau begitu Saudara Chou Liang dan disertai dua tiga orang, biarlah mencari kepala perkampungan di sini. Aku dan sisanya akan menunggu dan berjaga jangan sampai ada orang menyatroni rumah ini.", ujar Ding Tao dengan tenang, dia dapat menerima alasan Chou Liang dan mengambil keputusan yang terbaik.

"Baiklah, biarkan aku, Pendeta Liu Chun Cao dan Saudara Wang Xiaho pergi menemui kepala perkampungan. Ayolah...", ujar Chou Liang sambil menggamit Wang Xiaho yang berada di dekatnya. Bertiga mereka pergi meninggalkan Ding Tao bersama empat orang yang lain. Selama menunggu kedatangan Chou Liang bersama kepala perkampungan, kelima orang itu tidak dapat berdiri dengan tenang. Ding Tao beberapa kali menggertakkan gigi. Akhirnya ketika dia tidak tahan lagi, dia menoleh pada empat orang yang lain dan bertanya.

"Menurut kalian, bagaimana dengan saudara-saudara yang memisahkan diri dari kita tadi?"

"Maksud Ketua Ding Tao, saudara-saudara yang tidak setuju dengan pandangan Ketua Ding Tao?", tanya Li Yan Mao menegas.

"Ya, maksudku mereka."

"Jika benar ada yang mencelakai Mao Bin, maka ada kemungkinan mereka pun terancam bahaya. Tapi kita tidak bisa pula meninggalkan tempat ini sebelum ada kepastian.", jawab Li Yan Mao.

"Bagaimana kalau kita berpencar, sebagian menunggu di sini, sebagian lagi menyusul dan memperingatkan saudara-saudara yang lain?", tanya Qin Bai Yu ikut memberikan pendapat. Tang Xiong berpandangan untuk sejenak lamanya dengan Li Yan Mao, kemudian menjawab.

"Sayangnya orang yang berpencar dari Ketua Ding Taolah yang akan terancam bahaya. Bicara terus terang, untuk saat ini hanya Ketua Ding Tao saja yang ilmu silatnya bisa diandalkan."

Kemudian diceritakannya uraian Chou Liang tentang orang misterius yang menanyakan kediaman Mao Bin sebelum mereka datang.

Dari reaksi Ding Tao yang berdiam diri dan tidak menyetujui pendapat Qin Bai Yu, bisa diperkirakan jika Ding Tao pun memiliki pemikiran yang sama dan tidak tega untuk meninggalkan ke-empat orang yang lain.

"Apakah sehebat itu?", tanya Qin Bai Yu setengah tak percaya.

"Hmm... ini kebetulan saja, tapi di malam penyerangan itu, aku sempat bertarung bersama-sama saudara yang lain mempertahankan bangunan utama. Di pihak kita pertahanan dipimpin oleh Tuan besar Huang Jin sendiri, Tetua Huang Yunshu dan Tuan muda Huang Ren Jin. Kehebatan ilmu mereka jauh di atas dugaanku. Beberapa kali mereka mengeluarkan ilmu yang jelas-jelas bukan milik keluarga Huang. Pada saat-saat terakhir bahkan kulihat Tuan muda Huang Ren Jin mengeluarkan sebuah pedang pusaka.", ujar Tang Xiong bercerita.

"Apakah itu Pedang Angin Berbisik?", tanya Qin Bai Yu setengah berbisik. Mata Tang Xiong menerawang ke langit sambil bercerita, mengenangkan kejadian malam itu.

"Kukira demikian, pedang lawan hampir terpapas kutung oleh pedang pusaka itu. Namun ketiga lawan mereka, masih berada di atas angin. Bisa dikatakan mereka bertiga sama sekali tidak memiliki kesempatan, padahal sesekali kami-kami inipun masih sempat memberikan bantuan."

"Apakah paman melihat dengan cara apa mereka dikalahkan?", tanya Qin Bai Yu dengan mata terbelalak lebar.

"Tidak, sebuah pukulan lawan membuatku terlempar dan terjatuh tidak sadarkan diri", jawab Tang Xiong.

"Siapa yang memukul paman hingga jatuh pingsan itu? Apakah salah satu dari ketiga orang jagoan dari pihak lawan itu?", tanya Qin Bai Yu.

"Bukan, bukan mereka bertiga, saat itu meskipun keadaan Tuan besar Huang Jin bertiga semakin memburuk, tapi keadaan kami yang lain justru perlahan-lahan mulai membaik. Segera setelah selesai menghabiskan lawan, tentu kami bisa menolong mereka bertiga, setidaknya meringankan tekanan atas mereka. Tapi tiba-tiba saja datang seorang lagi yang berkepandaian tinggi, gerakannya sangat cepat dan tangkas. Barisan pertahanan yang mulai merapat mengepung lawan, tiba-tiba buyar diterjang olehnya.", jawab TangXiong sambil menggeleng-gelengkan kepala. Geramnya.

"Kalau teringat peristiwa malam itu, mau tidak mau hati ini jadi penasaran sekali."

"Tidak perlu disesali, justru karena pukulan itu, dirimu tidak sampai mati.", kata Li Yan Mao sambil tertawa. Jika orang lain yang tertawa mungkin akan membuat Tang Xiong naik darah, tapi tawa Li Yan Mao bukan tawa menghina, ada ketulusan dan juga terasa kesedihan dan kepahitan di sana. Tentu saja nasib Li Yan Mao tidak jauh berbeda dengan nasih dirinya dan beberapa orang lain yang selamat. Qin Bai Yu termenung kemudian berkata.

"Setidaknya paman masih sempat bertarung dan melawan. Aku justru tidak sadarkan diri karena tertimpa runtuhan bangunan yang terbakar. Belum sempat menarik pedang sedikit pun."

"Heh, kalau mau adu kebodohan, akulah juaranya, aku Cuma bersembunyi sementara kalian semua berusaha sekuat tenaga untuk melawan.", ujar Tabib Shao Yong dengan jenaka berusaha menghibur Qin Bai Yu.

"Apa pun yang terjadi, aku bersyukur hal itu membuat kalian semua selamat, sehingga hari ini aku masih bisa berbicara dengan kalian. Hargailah hidup kalian, jangan sia-siakan dengan tindakan yang terburu nafsu. Guru Gu Tong Dang pernah berkata padaku, dalam keadaan terjepit, sebisa mungkin lebih baik aku mundur melarikan diri.", ujar Ding Tao berusaha menghibur mereka semua.

"Hah, si tua Gu Tong Dang, ingin aku berjumpa lagi dengannya, biar kumaki dia sudah mengajari muridnya jadi penakut.", ujar Tang Xiong sambil tertawa, jelas tidak ada maksud menghina di dalam perkataannya yang pedas. Tabib Shao Yong mengangguk-angguk katanya.

"Ding Tao, di manakah Pelatih Gu Tong Dang sekarang? Aku pun ingin juga bertemu lagi dengan orang tua itu."

Ding Tao menggelengkan kepala.

"Terus terang aku pun tidak tahu, di mana guru tinggal sekarang ini. Dia sudah menjelaskan rencananya, begitu aku memulai perjalanan kembali ke kota Wuling, dia akan menghilangkan jejak dan pergi merantau."

"Hmmm... benar-benar orang tua yang panjang akal. Ketua Ding Tao, budi baiknya padamu demikian dalam, jika kedudukanmu sudah mapan, seharusnyalah kita mencarinya sampai dapat.", ucap Tang Xiong, diikuti dengan anggukan kepala oleh Ding Tao.

"Akupun berniat demikian."

"Paman Tang, mengapakah Pelatih Gu harus menghilangkan jejak?", tanya Qin Bai Yu yang maish muda.

"He, Ketua Ding Tao pergi berkelana membawa pedang, jika kau tidak bisa mengalahkan Ketua Ding Tao, tentu saja, sasaran selanjutnya adalah titik lemah dari Ketua Ding Tao. Dalam hal ini Pelatih Gu Tong Dang, memandang dirinya sebagai titik lemah, jika musuh berhasil menawan dirinya, mau tidak mau Ketua Ding Tao akan dengan terpaksa menyerahkan Pedang Angin Berbisik.", ujar Tang Xiong menerangkan.

"Ya kira-kira demikianlah penjelasan guru. Sungguh sayang, Pedang Angin Berbisik tetap saja hilang dari tanganku. Sungguh aku malu sudah menyia-nyiakan kepercayaan guru.", desah Ding Tao teringat tugas yang dibebankan Gu Tong Dang pada dirinya.

"Hmm... selama masih hidup, kesempatan masih ada. Lagipula, Ketua Ding Tao kehilangan pedang tapi sebaliknya berhasil mengumpulkan sahabat dan membentuk satu perkumpulan. Aku yakin dengan bantuan saudara sekalian kita akan bisa membentuk perkumpulan yang cukup besar pula.", hibur Li Yan Mao.

"Ya aku mengandalkan bantuan kalian semua untuk dapat menyelesaikan tugas yang dibebankan guru", jawab DingTao dengan senyum cerah.

"Lihat itu mereka datang", ujar Tang Xiong menunjuk ke arah Chou Liang bertiga, yang datang bersama beberapa orang penduduk kampung situ. Dengang singkat rumah Mao Bin dibuka dengan paksa, disaksikan beberapa penduduk kampung itu yang ikut datang bersama kepala perkampungan dan benar saja di dalam rumah mereka menemukan Mao Bin dalam keadaan tak bernyawa.

"Astaga... aku harus melaporkan hal ini pada Hakim Huo di kota Wuling, kalian...", kepala perkampungan itu ragu harus memerintahkan apa pada Ding Tao dan teman-temannya. Jelas-jelas mereka orang persilatan, mau datang dan pergi dia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Lebih-lebih sudah jelas bukan mereka pelakunya, untuk apa dia memaksakan diri untuk menahan mereka? Namun untuk membiarkan mereka begitu saja, bisa-bisa dia kena damprat Hakim Huo. Melihat kepala kampung itu ragu-ragu, Chou Liang cepat memberikan jalan.

"Sudah jelas kami tidak ada urusannya dengan pembunuhan ini, kalau kami diam dan kalian diam toh tidak ada yang perlu tahu. Kalau kalian ada yang berani buka mulut, itulah cari mati sendiri.Ular diam mengapa harus kau ganggu, benar kan?"

Beberapa orang penduduk kampung yang ikut menjadi saksi dan kepala kampung itu pun mengangguk-angguk.

"Nah, kalian cepat saja pergi memberi laporan, biarkan kami di sini sebentar untuk menyelidiki keadaan, demi kepentingan kami sendiri. Kalau ada yang ditanyakan Hakim Huo, bilang saja kalian cepat-cepat melapor, sehingga lupa tidak menyiapkan orang berjaga di sini. Apa yang terjadi saat kalian pergi tentu tidak ada yang tahu. Aku tanggung saat Hakim Huo tiba, kami sudah menghilang dari tempat ini", ujar Chou Liang. Kepala kampung masih berdiri ragu, meskipun hatinya condong untuk mengikuti anjuran Chou Liang.

"Ayo cepat sana melapor, mau tunggu apa lagi?", ujar Chou Liang.

"Ah iya, iya, apa kau yakin kalian semua sudah menghilang saat aku kembali bersama Hakim Huo?", tanyanya sekali lagi sebelum meninggalkan rumah.

"Iya, iya, sana kalian semua pergi sana.", ujar Chou Liang sambil mengibas-kibaskan tangannya. Bergegas Kepala kampung dan beberapa orang yang mengikut pergi meninggalkan Ding Tao dan kelompoknya sendirian.

"Sekarang bagaimana?", tanya Qin Bai Yu setelah semua orang itu pergi meninggalkan mereka.

"Buka mata, masing-masing memeriksa salah satu bagian dari rumah ini. Rumah ini tidak terlalu besar, kurasa sebentar saja pemeriksaan kita selesai.", ujar Chou Liang. Dalam waktu singkat setiap orang sudah memilih bagiannya sendiri-sendiri, memeriksa setiap sudut rumah, melihat-lihat bila bisa ditemukan petunjuk tentang pembunuhan itu. Tinggal Ding Tao, Tabib Shao Yong dan Chou Liang berdiri di dekat Mao Bin dan mengamati luka yang membunuh Mao Bin. Sebuah luka tepat di tengah pelipis Mao Bin, menembus lurus hingga ke belakang kepala, cairan otak dan darah, meleleh keluar membasahi lantai.

"Apakah menurutmu luka itu yang membunuhnya?", tanya Ding Tao pada Chou Liang. Perlahan-lahan Chou Liang menggelengkan kepala dengan ragu-ragu, kemudian menoleh pada Tabib Shao Yong.

"Entahlah, luka itu tentu luka yang mematikan, tapi lihat ceceran darah yang memanjang ini, sepertinya dia masih sempat menyeret dirinya bergerak sebelum akhirnya mati, menurut Tabib Shao Yong bagaimana?"

"Ya, luka di kepala hingga menembus ke belakang, sudah tentu menyebabkan kerusakan otak yang parah, tetapi tidak menyebabkan kematian secara langsung. Jika diobati dengan benar, masih ada kesempatan untuk hidup meskipun mungkin dia akan jadi manusia yang tidak berguna...", jawab Tabib Shao Yong sambil memandangi mayat di depannya itu. Perlahan-lahan, Tabib Shao Yong mengeluarkan sebilah pisau kecil, tipis dan sangat tajam. Pisau yang biasa digunakannya untuk membedah pasiennya. Dengan gerakan yang tepat dan cermat, dia menyobek baju Mao Bin. Mao Bin mati tertelungkup, dengan sendirinya bagian punggungnya yang dibuka oleh Tabib Shao Yong, bagian punggung tepat di daerah jantung. Sebuah luka lebam terlihat di sana. Luka itu tidak besar, kira-kira setebal dua jari dan sepanjang jari telunjuk. Tabib Shao Yong dengan hati-hati meletakkan bagian sisi dasar telapak tangannya ke bagian yang lebam itu. Mereka melihat bentuknya sesuai. Liu Chun Cao yang baru selesai memeriksa bagiannya memperhatikan apa yang mereka kerjakan dan sambil memperagakan sebuah pukulan dengan sisi dasar tangan dia bertanya.

"Hmm... kira-kira seperti ini?"

Tabib Shao Yong menoleh, berpikir sejenak dan mengangguk.

"Kukira begitu dan bukan sekedar pukulan dengan tenaga luar, memang benar pukulan itu menyebabkan lebam, tapi kerusakan di bagian dalam kurasa jauh lebih parah. Satu pukulan yang mematikan, aku tidak heran bila orang yang membedah mayat ini akan mendapati jantungya sudah dalam keadaan hancur."

"Hancur?", tanya Liu Chun Cao menegas.

"Ya, itu sebabnya tidak terlalu banyak dara menggenang, jantung yang berfungsi memompa darah rusak dan berhenti berdetak dalam waktu sekejap. Sehingga darah pun berhenti berjalan seketika.", ujar Tabib Shao Yong sambil berdiri, menegakkan badan dan mengambil nafas dalam-dalam.

"Apakah Pendeta Liu, tahu ilmu pukulan yang seperti itu?", tanya Ding Tao.

"Ilmu pukulan yang mementingkan hawa murni dan bertujuan merusak bagian dalam tubuh akan meninggalkan bekas yang demikian. Menggunakan sisi dasar telapak tangan, sepertinya ada beberapa. Tidak ada bekas hangus kehitaman atau luka membusuk oleh racun. Berarti bukan ilmu pukulan geledek, juga bukan tangan beracun", ujar Liu Chun Cao berpikir.

"Bukan pula ilmu tangan pasir besi, karena ilmu itu lebih mementingkan kekuatan keras, jika terpukul oleh pukulan itu, beberapa tulangnya pasti sudah patah atau remuk. Kenyataannya hanya ada lebam saja, tulang tidak ada yang patah, namun jantung yang di dalam hancur", sambung Tabib Shao Yong.

"Pukulan tenaga dalam dari Wudang sufatnya jauh lebih lembut, melumpuhkan, tentu saja masih bisa mematikan, tapi tidak seketika. Ilmu pedangnya yang lebih kejam dari ilmu pukulan.", ucap Liu Chun Cao.

"Seperti ilmu tinju 7 luka?", Tanya Ding Tao.

"Ya seperti itu, selain itu masih ada pukulan penggetar jantung milik Hoasan. Pukulan tengkorak putih, dari aliran sesat.", ucap Liu Chun Cao sambil menghitung.

"Tapi hampir tidak ada gunanya mengetahui jenis pukulan apa yang membunuhnya. Ciri-ciri sebuah pukulan terkadang bisa dipalsukan, apalagi ketika lawan sudah dalam keadaan tidak berdaya", ujar Tabib Shao Yong.

"Hmm... pukulan yang mematikan, sebuah tusukan tepat di kepala dan korban yang masih sempat menyeret dirinya beberapa langkah sejak terkena luka pedang. Jadi pertama pembunuhnya menyerang dengan sebuah tusukan pedang yang membuat korban tidak berdaya. Kemudian dengan tidak tergesa-gesa dia melancarkan sebuah pukulan yang mematikan", ucap Chou Liang sambil memperhatikan mayat Mao Bin. Beberapa orang yang lain mulai ikut bergabung dan mendengarkan serta memperhatikan keadaan mayat Mao Bin.

"Jika demikian, luka tusukan oleh pedang itu justru lebih penting daripada bekas luka pukulan yang ditinggalkan. Karena pukulan dilakukan dengan waktu yang cukup, sementara serangan pedang harus dilakukan dengan cepat dan tepat", kata Wang Xiaho yang sudah ikut bergabung bersama mereka. Liu Chun Cao berjongkok di dekat mayat Mao Bin, memperhatikan luka tusukan pedang di kepalanya. Dengan menggunakan gagang pedangnya, digerakkannya kepala Mao Bin yang tertelungkup menghadap ke lantai, sehingga sekarang menghadap ke samping. Bekas luka dari dahi sebelah kanan dan tembus di belakang kepala.

"Jika dilihat dari bekas lukanya, penyerang menusuk dengan menggunakan tangan kiri, saat dirinya berhadapan dengan Mao Bin. Serangan itu sangat cepat hingga Mao Bin tidak sempat bereaksi, bahkan pedang itu dicabut dengan cepat pula sebelum Mao Bin jatuh oleh lukanya. Terlihat dari jalur luka yang lurus, setebal mata pedang dan tidak terkoyak melebar, baik di ujung masuknya maupun di ujung yang lain", ujar Liu Chun Cao. Wang Xiaho seorang jago golok, demikian pula Tang Xiong, Li Yan Mao lebih suka menggunakan tongkat, sedangkan baik Ding Tao maupun Qin Bai Yu, meskipun sama-sama pengguna pedang namun dalam hal pengalaman mereka harus mengakui kelebihan Liu Chun Cao. Ding Tao merenungi perkataan Liu Chun Cao, kemudian tiba-tiba dia mencabut pedangnya dan menusuk setinggi dahi. Gerakannya cepat dan bertenaga, yang melihat mau tidak mau merasa kagum oleh kecepatan pedangnya.

"Apakah kira-kira seperti ini?", tanya Ding Tao pada Liu Chun Cao.

"Hmm... kurang lebih, tapi kalau Ketua Ding Tao perhatikan jalur arah mata pedang ketua saat menusuk dan saat menarik kembali serangan tidaklah dalam jalur yang lurus, melainkan ada sedikit gerakan mengungkit, karena titik awal serangan lebih rendah dari serangan yang dituju", ujar Liu Chun Cao. Ding Tao berpikir sejenak dan beberapa kali menggerakkan pedangnya dalam gerakan menusuk, mencoba menghasilkan serangan yang akan meninggalkan jejak yang sama pada dahi Mao Bin. Tapi beberapa kali dia mencoba, tidak juga didapati gerakan yang akan meninggalkan bekas seperti pada dahi Mao Bin. Ketika dia mendapatkan satu gerakan yang akan meninggalkan bekas yang sama, dia justru merasa betapa tidak wajarnya gerakan itu.

"Hmm... sulit sekali, gerakan ini justru terasa tidak wajar.", ujarnya sambil memandang ke arah mereka yang ikut memperhatikan percobaannya itu. Pada saat itu orang yang terakhir, Li Yan Mao, ikut bergabung, di tangannya dia membawa beberapa lembar kertas dan berseru.

"Lihat ini, rupanya Mao Bin adalah kaki tangan Tiong Fa!"

"Coba berikan padaku", ujar Chou Liang sambil cepat menghampiri Li Yan Mao dengan terpincang-pincang. Penemuan yang didapatkan Li Yan Mao dengan segera menyerap perhatian mereka semua. Dengan tidak sabar mereka memperhatikan Chou Liang yang membaca surat-surat itu dengan cepat. Tapi setelah membaca semua surat itu dalam waktu singkat, bukannya dia memberikan surat itu kepada yang lain, Chou Liang justru mengingatkan mereka.

"Ini penemuan penting, semuanya sudah selesai bukan?", ujarnya sambil melihat berkeliling. Semuanya ikut saling menghitung jumlah mereka yang berkumpul dan mengangguk setelah melihat semuanya lengkap ada di situ.

"Baiklah sekarang kita pergi secepatnya. Sudah cukup banyak waktu kita habiskan di sini, sebentar lagi Hakim Huo dan para polisi pasti akan sampai."

"Ah benar, hampir saja aku lupa. Tabib Shao Yong, biarlah kau kugendong, kita lewat jalan belakang saja, melompati dinding belakang rumah. Bagaimana?", ujar Ding Tao sambil menoleh ke arah Chou Liang yang tentunya lebih mengenali jalan-jalan di perkampungan itu. Chou Liang berpikir sejenak kemudian mengangguk.

"Ya kurasa jalan itupun cukup bagus, aku tahu beberapa jalan kecil di situ. Sebentar saja kita akan sampai dekat gerbang kota Wuling."

Bergegas mereka pergi ke bagian belakang rumah, Tang Xiong menggendong Chou Liang di punggungnya sementara Tabib Shao Yong digendong oleh Ding Tao.

Yang lain berlompatan dengan ringan melompati tembok halaman belakang yang tidak terlalu tinggi.

Dalam waktu singkat, Ding Tao dan rombongannya sudah tidak terlihat, tepat saat Hakim Huo dan para polisinya sampai di tempat.

Di sepanjang jalan menuju ke penginapan, tiba-tiba Ding Tao berseru.

"Astaga, gara-gara terlampau memikirkan pembunuhan Mao Bin aku jadi lupa dengan nasib saudara-saudara yang lain. Sebaiknya kita periksa keadaan mereka dahulu, bagaimana?"

Sepikir dengan Ding Tao, rombongan kecil itupun mengubah arah, berbalik hendak menelusuri kembali perjalanan mereka pagi ini, menjenguk satu per satu bekas pengikut keluarga Huang yang berhasil lolos.

Chou Liang yang saat itu menekuni surat-surat antara Tiong Fa dengan Mao Bin dengan alis berkerut, mengikut saja dalam diam, tapi tiba-tiba dia berhenti.

"Tunggu... tunggu sebentar.", ujar Chou Liang.

"Ada apa?", tanya Ding Tao.

"Aku sudah membaca habis surat-surat ini, dari beberapa bagian yang kubaca, ada petunjuk tempat markas besar Tiong Fa saat ini. Bukankah ini lebih penting daripada memastikan keselamatan orang-orang yang menolak dirimu? Selalu saja ada kemungkinan Tiong Fa akan menghilangkan jejak, setiap waktu tentu berarti.", jawab Chou Liang sambil memandangi Ding Tao, menunggu pilihannya. Ding Tao berdiri terdiam dan berpikir sejenak kemudian menjawab.

"Kita kunjungi saudara-saudara kita sebentar saja, untuk melihat apakah mereka baik-baik saja, sekaligus menyampaikan berita pembunuhan Mao Bin dan meminta mereka untuk berhati-hati."

Chou Liang tidak mau berhenti dan bertanya lagi.

"Tapi mendapatkan Tiong Fa di markas besarnya, berarti bukan hanya kau bisa membalaskan dendam keluarga Huang tapi juga mendapatkan Pedang Angin Berbisik."

Ding Tao menggelengkan kepala.

"Tidak, aku tidak ingin pembalasan dendam bagiku lebih penting menyelamatkan nyawa orang. Selisih satu atau dua hari tidak masalah. Kalaupun memang terlambat dan harus kehilangan jejak Pedang Angin Berbisik untuk kesekian kalinya, berarti itu bukan jodohku. Yang penting hati nuraniku tidak akan terganggu oleh karenanya."

Chou Liang masih belum mau menyerah.

"Dari surat-surat ini, nasib anak cabang keluarga Huang juga disinggung-singgung. Kenyataannya mereka semua jatuh ke dalam kekuasaan Tiong Fa, yang melawan berarti memilih kematian. Dengan menangkap dan mengadili Tiong Fa, akan ada lebih banyak yang bisa diselamatkan."

Mendengar perkataan Chou Liang yang terakhir, Qin Bai Yu maju dan bertanya dengan suara penuh kekuatiran.

"Bagaimana dengan anak cabang di kota Jiangling, apakah ada kabar mengenao keluargaku? Ayahku Qin Yang Xiu, bagaimana dengan dia?"

Chou Liang menengok ke arah Qin Bai Yu dan menggeleng dengan simpati.

"Maaf nak, tidak ada kabar mengenao mereka dalam surat ini."

Kembali pada Ding Tao dia berkata.

"Ada banyak urusan bisa diselesaikan dalam satu gebrakan, jika kita mulai bergerak untuk menggebrak kedudukan Tiong Fa sekarang ini. Meskipun dia bukan otak utama dari pembantaian keluarga Huang tapi dia adalah satu-satunya titik awal yang bisa kita telusuri. Dan sekarang kita sudah menemukan jejaknya, tidak boleh ada keterlambatan."

Ding Tao diam berpikir, sementara yang lain menunggu keputusan darinya. Chou Liang berkata sekali lagi.

"Sebagai seorang pimpinan, terkadang kita harus memilih antara dua hal yang sama-sama tidak menyenangkan. Dalam satu perjuangan pasti ada korban, seorang pimpinan tidak boleh lemah hati dan meragu dalam keputusannya. Adalah dosa seorang pimpinan jika dia gagal mencapai tujuannya, karena itu berarti orang-orang yang percaya padanya akan mati sia-sia."

Ding Tao memandangi Chou Liang kemudian mengangguk.

"Saudara Chou Liang, sungguh kau penasihat yang baik. Tujuan didirikannya perkumpulan ini bukan untuk merebut kekuasaan, tapi untuk menjadi pelindung bagi yang membutuhkan. Saat ini ada kemungkinan saudara-saudara kita di kota ini sedang diincar bahaya. Kita tidak boleh menutup mata. Pada saat yang sama, jejak Tiong Fa juga tidak boleh sampai hilang."

Sejenak Ding Tao diam, memandangi orang-orang di sekelilingnya yang memperhatikan dia dengan serius.

"Apa gunanya satu perkumpulan yang terdiri dari beberapa orang jika segala sesuatu harus dikerjakan bersama-sama? Sebelumnya aku selalu ragu untuk memecah kelompok kita ini. Seperti induk ayam, mengkhawatirkan anak-anaknya. Sekarang aku sadar, sikapku ini tidak benar dan merendahkan kalian semua. Untuk itu aku minta maaf", ujarnya dengan tulus sambil sedikit membungkuk.

"Menyelidiki jejak Tiong Fa membutuhkan pengamatan yang tajam dan otak yang cerdik, Chou Liang sudah membuktikan itu siang tadi, demikian juga Pendeta Liu Chun Cao. Bagaimana kalau aku mengutus kalian berdua untuk mendahului kami melakukan penyelidikan? Kalian bisa memilih beberapa saudara untuk pergi bersama kalian. Hanya saja Paman Li Yan Mao akan kubutuhkan untuk menghadapi saudara-saudara dari keluarga Huang, meskipun mereka tidak menyukai pendirianku, tapi terhadap Paman Li Yan Mao tentu masih ada rasa hormat mereka."

Demikianlah akhirnya Ding Tao memulai perannya yang baru sebagai pemimpin sebuah perkumpulan.

Sikapnya yang malu-malu dan rendah diri, sudah mulai terkikis, terbentuk oleh rasa tanggung jawab dan kepercayaan yang diberikan padanya.

Pandangan yang menghormat dan menghargai dia dari para pengikutnya, membantu dia untuk membuang sikapnya yang tidak menguntungkan sebagai seorang pimpinan.

Ding Tao sadar, mulai hari ini, dia harus bisa bersikap sebagai seorang pemimpin dari sebuah perkumpulan.

Jika tidak maka bukan saja orang akan menghina dirinya, tapi mereka juga akan merendahkan para pengikutnya, dan itu tidak dia inginkan.

Orang-orang ini telah mempercayakan kehidupan mereka di tangannya, demi bersama meraih satu tujuan.

Ding Tao berketetapan hati untuk melakukan yang terbaik bagi mereka.

Chou Liang mengangguk puas.

"Baiklah, sepertinya itu jalan keluar yang terbaik. Hmm... menyelidiki markas besar Tiong Fa... Kebetulan dia bermarkas besar di kota Jiang Ling, jadi biarlah Saudara kecil Qin Bai Yu ikut bersama kami. Aku juga ingin mengajak Saudara Tang Xiong untuk menambah banyak mata dan telinga. Biarlah Paman Wang Xiaho dan Paman Li Yan Mao yang menemani Ketua Ding Tao, bagaimana?"

"Baik, dalam satu-dua hari ini tentu aku sudah akan menyusulmu, segera setelah urusan di kota Wuling selesai. Sebelumnya kita tentukan saja tempat pertemuan kita. Saudara Qin Bai Yu, kau yang tinggal lama di Jiang Ling, menurutmu di mana kita bisa bertemu dengan tanpa menarik banyak perhatian?", tanya Ding Tao pada Qin Bai Yu.

"Hmm... mungkin di Penginapan keluarga Cang, usahanya tidak terlalu besar dan ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Letaknya ada sedikit di tengah kota, namun tidak dekat dengan keramaian pasar. Banyak orang yang menyukai suasananya yang tenang.", jawab Qin Bai Yu setelah berpikir-pikir.

"Bagus kalau begitu kita bertemu di sana saja, coba jelaskan jalan yang nanti harus kami ambil", ujar Ding Tao. Qin Bai Yu pun berusaha menjelaskan jalan yang harus diambil seta tanda-tanda untuk membantu mereka menemukan simpangan dan jalan yang benar. Chou Liang dan Liu Chun Cao, juga ikut bertanya, tentang tempat-tempat yang ramai dan yang sepi, jalan-jalan kecil yang ruwet dan menyesatkan yang perlu dihindari oleh orang asing. Tempat yang tepat jika orang ingin menghilangkan jejak dan banyak pertanyaan lain. Setelah selesai tanya jawab mereka, gambaran yang cukup jelas sudah dimiliki setiap orang mengenai keadaan di kota Jiang Ling. Meskipun tidak sepaham Qin Bai Yu yang besar di sana, setidaknya mereka bisa membayangkan, apa yang harus mereka lakukan jika menemui kesulitan dan jalan-jalan yang baik untuk diambil jika tidak ingin mudah ditemukan orang.

"Aku rasa sudah cukup jelas, jika kita ingin mengejar waktu, sebaiknya kita pergi sekarang", ujar Liu Chun Cao.

"Benar-benar tapi apakah kita akan berjalan kaki saja atau naik kuda?", tanya Tang Xiong.

"Tentu saja naik kuda, kenapa? Apa kau takut aku suruh untuk menggendongku lagi?", tanya Chou Liang. Sambil terkekeh, Tabib Shao Yong yang menyimpan uang perbekalan mereka, segera mengeluarkan kantung uang, menghitungnya lalu menyerahkannya pada Chou Liang.

"Nah, kurasa ini cukup untuk membeli 4 ekor kuda dan makan-minum kalian selama beberapa hari."

Chou Liang menerimanya dan berkata.

"Nah, ini bagian yang paling kusuka, Saudara Tang Xiong, aku akan traktir dirimu bebek panggang malam ini."

Kemudian berbalik pada Ding Tao, Li Yan Mao, Wang Xiaho dan Tabib Shao Yong dia membungkuk dan berpamitan.

"Ketua Ding Tao, saudara-saudara sekalian, kalau begitu aku pamit dulu sekarang, sampai ketemu lagi di Kota Jiangling."

"Selamat jalan, hati-hatilah kalian semua. Hindari konflik, ingat kalian pergi ke sana hanya untuk mengamat-amati saja, jangan lakukan apapun sebelum kita berkumpul lagi.", ujar Ding Tao sambil tersenyum. Setelah Chou Liang dan rombongannya tidak terlihat lagi, tiba-tiba Wang Xiaho menyeletuk.

"Pandai juga Chou Liang mengatur, kita orang-orang tua tidak diikutkan dalam rombongannya. Aku tidak bisa membayangkan duduk di atas kuda selama berhari-hari. Bisa putus pinggang tuaku ini."

Mendengar itu yang lain pun ikut tertawa, termasuk Ding Tao yang membayangkan bagaimana dia memaksa Wang Xiaho untuk berkuda sepanjang malam dengan istirahat yang minim.

Dalam hati dia jadi merasa terharu pada kebaikan orang tua itu.

"Baiklah Chou Liang dan yang lain sudah mulai bekerja, kitapun juga. Siapa yang sebaiknya kita temui terlebih dahulu?"

Tanya Ding Tao setelah tawa mereka mereda. Li Yan Mao menjawab.

"Chu Xiang yang paling tua di antara mereka tapi Lu Feng yang paling menonjol dan berpengaruh. Tadi pun saat mereka memisahkan diri dari kita, bukankah Lu Feng yang pertama-tama menentang pendapatmu? Dia pula yang kemudian diikuti oleh yang lain. Jadi kurasa, saat ini mereka tentu berkumpul di tempat Lu Feng. Jika tidak ada di sana, baru kita lihat ke tempat kediaman Chu Xiang."

"Hmm, masuk akal, bagus, kebetulan aku juga masih ingat tempat persembunyian Lu Feng. Ayolah kita ke sana, lebih cepat urusan ini selesai lebih baik", ujar Ding Tao. Rumah tempat Lu Feng tinggal saat ini cukup besar dan berada di dekat sebuah pasar. Sewaktu masih bekerja pada keluarga Huang, Lu Feng sudah menunjukkan kelebihannya dalam memutar uang. Tapi Lu Feng tidak pernah curang dalam pekerjaannya, secara berterang dia meminta ijin pada Tuan besar Huang Jin untuk mencoba peruntungannya dengan membuka usaha dalam bidang barang pecah belas. Tuan besar Huang Jin bukan saja memberikan ijin tapi juga membantu dia mendapatkan pelanggan. Pada saat terjadi serangan Lu Feng sedang berada di rumahnya sendiri, rumah yang juga menjadi toko pribadinya. Itu yang menyelamatkan dia dari pembantaian. Itu juga sebabnya tidak seperti bekas orang keluarga Huang yang lain, Lu Feng tidak merasa takut dengan para penyerang itu. Tentu saja dia jadi lebih berhati-hati karena jika keluarga Huang saja bisa dihancurkan apalagi dirinya. Namun pengertian ini tidak sampai merasuk ke dalam hatinya, karena dia belum merasakan sendiri kehebatan mereka. Seperti dugaan Li Yan Mao pada saat itu, semua orang yang meninggalkan Ding Tao sedang berkumpul di kediaman Lu Feng. Di depan pintu rumah kediaman Lu Feng terlihat dua orang berjaga. Ding Tao yang mengenal dua orang itu dengan segera menghampiri dan menyapa dengan ramah.

"Saudara Si Sun, Saudara Yan Bao, apakah yang lain juga sedang berkumpul di sini? Bisakah aku bertemu sejenak dengan kalian semua?"

"Ding Tao? Apa maumu ke mari? Apakah kau hendak membujuk kami untuk mengikutimu lagi? Jangan bermimpi, kami tidak mau mengikuti seorang pengecut seperti dirimu!", jawab Si Sun dengan ketus. Beruntung mereka yang mengikut Ding Tao sudah cukup berumur dan memiliki kesabaran di atas rata-rata, hanya Wang Xiaho saja yang mengerutkan alisnya, merasa tersinggung dengan sambutan mereka. Ding Tao yang sempat melihat itu, segera meletakkan tangannya di atas pundak Wang Xiaho.

"Tidak apa-apa."

Berbalik menghadapi Si Sun dan Yan Bao untuk kedua kalinya Ding Tao berkata.

"Jangan salah paham, aku kemari hendak mengabarkan kejadian yang kami temui di rumah Mao Bin."

Mendengar jawaban Ding Tao, Si Sun dan Yan Bao saling berpandangan, kemudian Yan Bao bertanya dengan hati-hati pada Ding Tao.

"Maafkan sikap Si Sun, Ding Tao, terus terang banyak dari kami yang kecewa terhadap sikapmu. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi dengan Mao Bin?"

Ding tao berpikir dan memutuskan bahwa sepertinya dari cara mereka menyambutnya kecil kemungkinan dia akan diijinkan masuk, sementara kedatangannya adalah untuk memperingatkan mereka agar lebih berhati-hati.

Bukan masalah jika mereka tidak bisa menerima dirinya, asalkan dia sudah bisa memperingatkan mereka.

Setelah berpikir demikian tanpa ragu Ding Tao menjelaskan.

"Mao Bin dibunuh orang, ketika kami sampai di sana dia sudah meninggal. Dari bekas-bekas yang ada, bisa disimpulkan bahwa penyerangnya punya kepandaian yang tidak bisa diremehkan. Aku berharap, kalian pun berhati-hati. Bisa jadi orang ini masih mengincar orang-orang yang tersisa dari keluarga Huang."

Ding Tao dengan sengaja tidak menyebutkan tentang penemuan mereka akan hubungan Mao Bin dengan Tiong Fa.

Dia tidak tega untuk memburukkan nama orang yang sudah meninggal itu.

Kabar yang disampaikan Ding Tao mengejutkan dua orang yang berjaga tersebut, muka mereka memucat, teringat dengan penyerangan yang terjadi beberapa bulan yang lalu.

Tanpa sadar keduanya melihat ke sekitar mereka, seakan-akan pembunuh Mao Bin berada di dekat mereka dan sedang bersiap-siap untuk menyerang.

"Ding Tao, kau tidak berbohong bukan?", tanya Si Sun dengan sikap yang sedikit melunak. Ding Tao menggelengkan kepala.

"Tidak, aku tidak berbohong. Kalian bisa mengirim salah seorang dari kalian untuk memeriksa kebenarannya. Kalian toh kurang lebih, sudah tahu di mana rumah Mao Bin. Tidak jauh lagi dari kedai tempat kita beristirahat, kurasa pemilik kedai itu pun sudah mendengar kabar tentang pembunuhan Mao Bin sekarang ini. Kalian bisa bertanya pada dia."

Si Sun dan Yan Bai saling berpandangan sekali lagi, Yan Bao kemudian berkata pada Ding Tao.

"Ding Tao, kalian tunggu sebentar di sini, aku akan masuk untuk memberitahukan hal ini pada saudara-saudara yang lain."

"Baiklah, aku akan menunggu di sini, tapi aku datang hanya untuk memperingatkan kalian, jika kalian ada keperluan dan tidak bisa menerimaku di sini pun tidak menjadi masalah.", ucap Ding Tao dengan tegas, mengingat kedudukannya saat ini dan perasaan mereka yang mengikut dia, dia tidak ingin terlalu merendah juga. Yan Bao pun masuk ke dalam rumah, sementara Si Sun masih berjaga di luar. Si Sun berdiri menunggu dengan perasaan campur aduk dan serba salah. Dia teringat dengan perkataannya yang terlalu ketus pada Ding Tao tapi untuk meminta maaf dia juga merasa malu. Ding Tao yang menyadari kecanggungan Si Sun, jadi jatuh kasihan. Sambil tersenyum dia mencoba mengajak Si Sun berbicara.

"Saudara Si Sun, bagaimana dengan rencanamu setelah ini?"

Sekesal-kesalnya Si Sun pada keputusan Ding Tao sebelumnya, disapa dengan ramah membuat permusuhan dalam hatinya sedikit mencair meskipun dengan sedikit canggung dia menjawab.

"Entahlah, aku capek hidup dalam ketakutan. Aku memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi. Mau mati atau tidak, biarlah aku sudah pasrah saja."

Ding Tao merasa trenyuh mendengar hal itu, dengan tulus dia berkata.

"Kuharap semuanya sudah berakhir dengan kematian Mao Bin. Sungguh aku berharap kalian semua bisa hidup dengan tenang."

Si Sun memandangi Ding Tao untuk beberapa lama, menimbang ketulusan Ding Tao, akhirnya dengan suara perlahan dia menjawab.

"Terima kasih Ding Tao, aku pun berharap demikian."

Sedikit ragu Si Sun menambahkan.

"Apakah kau akan tinggal di Wuling atau pergi lagi ke tempat lain?"

"Aku ada keperluan di tempat lain, guru memberi tugas padaku dan aku akan coba untuk menyelesaikannya", jawab Ding Tao.

"Kalau kau mampir ke Wuling kembali, jangan lupa untuk mencari diriku. Kau bisa mampir dan berbagi cerita, kau banyak pergi ke berbagai tempat tentu memiliki banyak cerita", ujar Si Sun, di luar dugaan Ding Tao. Senyum merekah di wajah Ding Tao.

"Tentu saja, aku tidak akan lupa."

Si Sun mengangguk sambil tersenyum, sebelum dia berkata sesuatu, Yan Bao keluar dan mendekati mereka dengan wajah mendung.

Setelah sampai di depan Ding Tao dan kawan-kawan, dia terdiam sejenak dan tidak bisa berbicara.

Menilik keadaannya Ding Tao merasa bahwa jawaban dari dalam tentu tidak sesuai dengan harapan Yan Bao.

Merasa kasihan dengan kedudukan Yan Bao, Ding Tao segera menyapanya.

"Saudara Yan Bao, terima kasih sudah menyampaikan berita itu pada saudara-saudara lain yang ada di dalam. Sepertinya urusanku di sini sudah selesai, biarlah aku dan saudara yang lain berpamitan dulu untuk saat ini, mungkin lain kali kami akan mampir kembali."

"Maafkan sikap kami Ding Tao", ujar Yan Bao pendek, tidak tahu harus berkata apa lagi.

"Ah sudahlah, tidak apa-apa, dalam hubungan antara manusia denga manusia lain memang sering ada salah paham. Aku tidak menyimpan sakit hati pada kalian. Baiklah aku pamit lebih dahulu.", ujar Ding Tao sambil sedikit membungkuk hormat dan berpamitan.

"Hati-hati di perjalanan Ding Tao, sampai ketemu lagi", ujar Si Sun dengan nada yang ramah, membuat Yan Bao menengok ke arah temannya itu dengan heran. Tapi tidak lama kemudian Yan Bao lah yang sedikit berteriak pada Ding Tao dan rombongannya yang mulai menjauh.

"Ding Tao, Li Yan Mao, Tabib Shao Yong, hati-hatilah kalian di perjalanan."

Teriakannya itu disambut dengan lambaian tangan dari Ding Tao dan mereka yang mengikutinya. Setelah mereka cukup jauh dari rumah kediaman Lu Feng, Li Yan Mao bertanya pada Ding Tao.

"Ketua Ding Tao, apa rencana kita selanjutnya, akankah kita segera pergi menyusul saudara-saudara yang lain, ataukah kita hendak beristirahat dahulu malam ini dan besok pagi-pagi kita baru bergerak?"

"Kita berangkat besok pagi-pagi, malam ini aku ingin berjaga sebentar di dekat kediaman Lu Feng. Aku ingin memastikan tidak akan terjadi apa-apa atas mereka sebelum pergi meninggalkan Wuling", jawab Ding Tao dengan mata lurus menatap ke depan. Li Yan Mao dan yang lain tidak ada yang menentang, mereka sudah cukup mengenal sikap Ding Tao sekarang ini. Wang Xiaho bertanya.

"Ketua Ding Tao, bagaimana kalau aku ikut menemani berjaga?"

Ding Tao berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Tidak perlu, tapi hari ini kita perlu mencari tempat yang baik untuk bermalam, kalian pun tidak boleh lengah. Bukan tidak mungkin pembunuh itu juga mengincar kita."

"Kita cari tempat menginap di dekat kediaman Lu Feng saja, jika ada sesuatu, kalian bisa memberi tanda padaku dan aku akan segera datang", lanjut Ding Tao setelah berpikir lagi.

"Malam hari, tanda paling baik adalah panah api, biarlah aku akan mencari sebuah busur panah dan membeli sedikit minyak untuk bersiap", sahut Li Yan Mao.

"Aku akan pergi bersamamu", kata Ding Tao. Li Yan Mao tersenyum menunjukkan giginya yang ompong.

"Jangan begitu Ketua Ding Tao, berikanlah sedikit kepercayaan pada orang tua ini. Masa untuk membeli sedikit barang saja harus ditemani. Aku bukan anak kecil yang baru belajar berjalan."

Memerah muka Ding Tao mendengar jawaban Li Yan Mao.

"Maafkan aku Paman Li Yan Mao, jika tidak ada kejadian pembunuhan Mao Bin tentu aku tidak akan bersikap demikian. Entahlah aku jadi merasa selalu kuatir dia akan menyerang salah satu dari kita."

"Kita semua sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan dan kami memilih untuk mengikuti dirimu dengan segala resikonya. Hidup dalam dunia persilatan memang harus berhadapan dengan bahaya. Tenangkanlah hatimu, kami tentu akan berhati-hati tapi apapun yang terjadi, Ketua tidak perlu merasa bersalah. Ini adalah keputusan kami sendiri", ujar Li Yan Mao dijawab dengan anggukan kepala oleh Ding Tao.

"Aku mengerti paman, maafkan sikapku yang sebelumnya."

Li Yan Mao dengan senyum bijak menjawab.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan Ketua Ding Tao, justru sikap Ketua itu membesarkan hatiku. Sudahlah, cukup pembicaraan kita mengenai hal itu, mengenai penginapan, jika hendak mencari penginapan dekat kediaman Lu Feng, sepertinya Penginapan Burung Hong Emas yang paling dekat."

Ding Tao membuat keputusan dan berkata.

"Hmm.. baiklah, aku dan Paman Wang Xiaho harus mengambil barang-barang dan kuda kami dari penginapan kami yang sebelumnya, sekalian juga mengantar Tabib Shao Yong untuk berkemas. Sementara Paman Li Yan Mao mencari busur dan minyak untuk menyiapkan panah api sebagai isyarat. Setelah selesai semuanya berkumpul di Penginapan Burung Hong Emas."

"Aku tidak perlu diantar Ketua Ding Tao, jangan kuatir, doakan saja semoga semuanya berjalan lancar.", ujar Tabib Shao Yong. Ding Tao yang ingin melarang, teringat dengan perkataan Li Yan Mao, dengan berat hati akhirnya dia mengijinkan.

"Baiklah Tabib Shao Yong, cepatlah selesaikan berkemas dan menemui kami di Penginapan Burung Hong Emas."

"Ketua Ding Tao, mengapa tidak menemani Tabib Shao Yong saja? Aku bisa mengurus barang-barang kita sendirian", ujar Wang Xiaho memberi jalan, bagaimanapun di antara mereka berempat Tabib Shao Yong-lah yang paling lemah. Ding Tao merasa gembira, namun tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dua kali, dia pun menengok pada Tabib Shao Yong dan bertanya.

"Tabib Shao Yong, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tabib Shao Yong terkekeh.

"Hahaha, kalau Saudara Wang Xiaho mau bersusah-susah, ya sudahlah, aku tidak mau jadi orang yang tidak tahu terima kasih."

Setelah tercapai kesepakatan, mereka berempat tidak membuang-buang waktu lagi.

Masing-masing menuju ke tempat masing-masing dan mengerjakan bagiannya.

Sebelum hari gelap, ke empatnya sudah berkumpul di Penginapan Burung Hong Emas.

Ding Tao masih sempat bercakap-cakap bahkan memberi petunjuk satu-dua gerakan pada Li Yan Mao dan Wang Xiaho.

Bahkan Tabib Shao Yong yang sudah terlalu tua untuk mulai belajar ilmu silat pun, minta untuk diajari beberapa gerakan untuk dipelajari.

Ketika hari sudah jauh malam, Ding Tao pun keluar dari penginapan dengan diam-diam, memakai baju berwarna gelap, dia bersembunyi dalam bayang-bayang bangunan di sekitarnya.

Dengan cepat namun tanpa menarik banyak perhatian, Ding Tao mendekat ke arah kediaman Lu Feng.

Keadaan terlihat tenang saat Ding Tao sampai di sana, hatinya pun merasa lega.

Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena sesaat kemudian telinganya yang tajam menangkap bunyi denting pedang dan keluhan tertahan seseorang yang mendapatkan luka.

Suara itu tidak terlalu keras, namun dalam suasana malam yang sunyi dan dari tempat Ding Tao mengintai, suara itu masih bisa tertangkap.

"Astaga, aku terlambat", keluh Ding Tao. Tanpa membuang waktu,c epat-cepat dia berlari menuju ke arah kediaman Lu Feng. Sampai di depan rumah, dilihatnya pintu sedikit terbuka, dengan hati-hati Ding Tao mendorong pintu hingga terbuka. Terlihat ada dua orang yang tergeletak tak berdaya dengan luka kecil di keningnya. Mereka berdua mati seketika dengan satu serangan yang mematikan. Tidak mau membuang waktu Ding Tao cepat-cepat masuk ke dalam rumah Lu Feng, dipasangnya telinga baik-baik, sambil terus berjalan mencoba memeriksa dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Keringat dingin menetes saat dia menemukan dua orang lagi dalam keadaan tewas, salah seorang di antara mereka terlihat sedang menghunus pedang, sementara yang lain tewas di atas pembaringannya. Ketika denting pedang yang lain terdengar, cepat Ding Tao berlari menuju ke arah sumber suara sambil berteriak.

"Awas ada pembunuh!"

Setelah beberapa kali berteriak, mulailah rumah itu dipenuhi dengan suara aktivitas manusia penghuninya.

Di saat yang sama Ding Tao berhasil mencapai sumber suara perkelahian itu, kedatangannya masih terlambat, karena pembunuh itu sudah berhasil membunuh satu orang lagi, meskipun kali ini orang itu masih sempat mengadakan sedikit perlawanan.

Tapi berkat kecepatan Ding Tao, pembunuh itupun tidak sempat untuk melarikan diri dan dalam waktu yang singkat, belasan orang yang tersisa, mengepungnya bersama-sama dengan Ding Tao.

Tapi pembunuh itu tidak menjadi gugup atau takut, sebaliknya dia justru tertawa dingin melihat mereka semua.

Ditatapnya Ding Tao lekat-lekat.

"Hmm... anak muda, sengaja aku tidak menyatroni dirimu untuk kuberi kesempatan hidup dan kulampiaskan rasa kesalku pada cecunguk-cecunguk ini. Siapa sangka kau justru tidak sayang nyawa dan mencari mati. Kuberi kau satu kali lagi kesempatan untuk hidup, pergi dari sini atau kau akan mati."

"Jangan main-main, mengapa aku harus pergi? Apa aku harus takut pada orang yang tidak berani untuk menunjukkan mukanya sendiri? Jika kau memanggil saudara-saudaraku ini cecunguk, lalu apa sebutan yang pantas untuk orang bertopeng macam dirimu? Cucu kura-kura?", balas Ding Tao. Melihat keberanian Ding Tao, semangat yang lain jadi ikut terbangkit, dari beberapa orang terdengar dengusan menghina dan tawa kecil sambil menyebut-nyebut panggilan cucu kura-kura. Orang bertopeng itu tampaknya belum pernah dihina orang sebelumnya, begitu mendengar jawaban Ding Tao dan sikap dari sisa-sisa keluarga Huang yang lain, sorot matanya berubah jadi semakin beringas.

"Baguslah kalau kau tidak mau pergi, tanganku pun sudah gatal-gatal untuk memenggal kepalamu", dengus orang itu. Dengan senyum-senyum Ding Tao menjawab.

"Ah sobat, apa kau ini jarang mandi sehingga tanganmu pun sering diserang rasa gatal?"

Lepas sudah kendali diri dari pembunuh bertopeng tersebut, sambil membentak keras dia menyerang Ding Tao.

"Kurang ajar!"

Dilepaskan dengan segenap amarah, serangan itu datang begitu cepat.

Untung Ding Tao sudah bersiap, bekas luka yang ditinggalkan pada mayat Mao Bin dan analisa Liu Chun Cao akan kecepatan serangan dari pembunuh itu, memberikan satu pegangan sendiri bagi Ding Tao.

Apalagi saat memasuki rumah Lu Feng, korban-korban yang lain juga mati oleh luka tusukan.

Dengan gesit Ding Tao berkelit menghindar, bukannya mundur dia justru berkelit lalu maju mendekat.

Dalam perhitungan Ding Tao, jika lawan hendak menyerang, tentu dengan menabasnya bukan dengan cara menusuk.

Siapa sangka ternyata mata pedang lawan bisa berbalik arah dengan cepat, pergerakan tangan lawan begitu luwesnya, pedang yang di genggamannya, sekarang digenggam terbalik.

Dengan demikian dia bisa menusuk Ding Tao meskipun posisi Ding Tao berada di sebelahnya.

Ding Tao yang pada saat itu hendak melancarkan serangan, terpaksa membatalkan niatnya saat dia merasakan desiran angin dari arah belakang tubuhnya.

Tanpa memikirkan gengsi, dia membuang tubuhnya ke depan dan bergulingan untuk menyelamatkan diri.

Tidak urung ujung pedang lawan masih sempat merobek sebagian dari bajunya.

Pedang yang digenggam terbalik dengan cepat dioperkan ke tangan yang lain dan tusukan kilat kembali menyambar.

Bagusnya Ding Tao bukan lagi pemuda yang tidak berpengalaman, meskipun dalam keadaan terdesak, pedangnya masih bisa menahan serangan lawan, sambil tubuhnya menghindar dan mencari kedudukan yang lebih baik.

Dalam sekejapan 7-8 tusukan dan tangkisan terjadi, bunga api berpercikan dan hawa pedang memenuhi seluruh ruangan.

Ding Tao tidak sempat menyerang namun dia berhasil memperbaiki kedudukannya.

Lawan yang melihat Ding Tao sudah berhasil memperbaiki kedudukan, tidak memaksakan diri untuk menyerang secara serampangan, melainkan berdiam diri dengan pedang masih dalam posisi siap menyerang.

Sedikit saja Ding Tao menunjukkan lubang kelemahan pada pertahanannya, tentu pedang itu akan kembali berkelebat dengan kecepatan kilat.

Sebagian rambut Ding Tao lepas dari ikatan, beberapa bagian dari bajunya koyak oleh serangan pedang lawan, namun matanya menatap tajam lawan, siap bertahan dan juga siap menyerang jika lawan menunjukkan sedikit saja kelemahan.

Jarak di antara mereka berdua sedikit berjauhan setelah Ding Tao berhasil menghindar tadi.

Keduanya diam dengan tenang, pernafasan mereka tidak memburu meskipun baru saja mereka bertarung dengan ketatnya.

Dalam bertarung dengan menggunakan senjata, kelengahan sedikit sja bisa berakibat fatal.

Pertarungan yang terjadi bukan hanya masalh fisik dan tehnik tapi juga masalah mental.

Pada awalnya Ding Tao memiliki sedikit keunggulan karena dia sudah memiliki sedikit pegangan mengenai jurus andalan lawan, ditambah dengan keberhasilannya memancing amarah lawan.

Tapi keuntungan itu berbalik, ketika lawan mengeluarkan jurus serangan di luar dugaannya.

Lawan yang merasa berada di atas angin tidak mau melepaskan kesempatan.

Tapi begitu melihat Ding Tao berhasil memperbaiki kedudukan dan dia tidak lagi memiliki kelebihan atas Ding Tao, dia memilih berhenti dan menunggu munculnya kesempatan lain yang lebih baik.

Diam-diam pembunuh bertopeng itu mengakui bahwa tingkatan Ding Tao tidaklah rendah.

Sedari tadi dia dengan mudah membunuhi penghuni rumah ini, kecepatan dan ketepatan pedangnya , serta keunikan dari jurus yang dilancarkan, membuat dia berhasil membunuh lawan dalam 1-2 gerakan saja.

Siapa sangka kali ini, sasaran pedangnya, Ding Tao berhasil meloloskan diri dari serangannya, padahal posisi Ding Tao sudah tidak menguntungkan.

Pertarungan antara dua jago pedang itu mendatangkan perasaan yang berbeda-beda pada sisa-sisa anggota keluarga Huang.

Meskipun mereka mendengar cerita tentang kehebatan Ding Tao, baru kali inilah mereka menyaksikannya sendiri.

Demikian juga kecepatan pedang dari pembunuh bertopeng itu, membayangkan bahwa mereka harus berhadapan dengan pembunuh bertopeng itu, keringat dingin menetes di punggung mereka.

Antara tercekam oleh kehebatan pedang pembunuh bertopeng dan terkagum-kagum melihat kelihaian Ding Tao, apapun yang mereka pikirkan tentang Ding Tao sebelumnya, saat ini Ding Tao adalah sosok malaikat pelindung bagi mereka.

Diam-diam mereka berdoa demi kemenangan pemuda itu, meskipun jika mereka melihat keadaan Ding Tao saat ini, bulu kuduk merekapun meremang, membayangkan kekalahan Ding Tao dan kematian mereka.

Meskipun malam sudah larut dan di luar rumah hawa terasa dingin, namun di dalam rumah udara malam tidak leluasa untuk bertiup, semilir angin malam yang memasuki pintu depan rumah yang terbuka lebar, tidak mencapai ruangan tempat mereka berkumpul.

Tapi bukan hawa dinginnya malam yang membuat setiap orang menggigil gemetar, melainkan hawa pembunuh yang menyebar keluar dari pembunuh bertopeng itu yang membuat mereka menggigil ketakutan.

Hanya Ding Tao yang masih berdiri dengan tenang, meskipun dialah yang berhadapan langsung dengan pembunuh bertopeng itu.

"Sobat, mengapa diam, apa kau menunggu aku yang memulai?", tanyanya dengan nada santai.

"Hmm... kenapa? Apa kau sudah tidak tahan lagi untuk terus hidup dan ingin cepat-cepat mati?", jawab pembunuh bertopeng itu.

"Hoho... bukankah kau tadi sudah menyerangku dan buktinya aku masih hidup sampai sekarang. Hanya saja aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pertarungan ini, karena aku sudah mulai mengantuk, menunggu kau berani menyerangku", jawab Ding Tao dengan senyum mengejek.

"Heh... kalau kau mau cepat, kenapa tidak kau saja yang mulai menyerang", dengus pembunuh bertopeng itu. Mulut mereka bercakap-cakap dengan santai, namun sorot tajam mata mereka memperlihatkan bahwa sekejap pun mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Siapapun tahu bahwa saat menyerang akan ada lubang yang terbuka, jika mereka tidak yakin akan keberhasilan dari serangannya tidak nanti mereka akan bergerak. Baik pembunuh itu maupun Ding Tao, tidak berani bergerak sembarangan. Otak Ding Tao pun berputar keras, setiap kali dia hendak bergerak, dia bisa merasakan ujung pedang lawan seakan-akan hendak menusuk bagian yang terbuka oleh gerakannya itu. Saat dia beringsut sedikit ke belakang, tentu lawan pun beringsut ke depan, menutup jarak yang hendak diciptakan. Dengan demikian Ding Tao selalu berada dalam tekanan lawan, bagaimanapun juga lawan tidak ingin melepaskan kedudukannya yang lebih baik dari Ding Tao. Tentu saja hal ini sangat merugikan Ding Tao dan pemuda itu sadar, dia harus terlebih dahulu menyerang lawan, jika tidak akan tiba saatnya ketika dia kehilangan kewaspadaannya sebentar saja dan yang sesaat itu bisa berarti nyawanya. Keringat dingin mulai menetes di dahinya, rambut yang lepas dari ikatan sesekali melambai menggelitik kelopak matanya, namun Ding Tao tidak berani untuk berkedip sedikitpun. Melihat lawan bisa dengan sabar menanti dia lengah, jantungnya berdegup semakin kencang. Dalam hati dari memaki pula saudara-saudara yang lain, yang hanya bisa terdiam terpaku. Tapi Ding Tao tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya, hawa pembunuh dari pembunuh bertopeng itu harus dia akui sangat mencengkam. Akhirnya Ding Tao memutuskan untuk berjudi, hawa murni mulai dialirkan, bersiap untuk melakukan serangan. Jika dia beruntung, setelah gebrakan-gebrakan ini berakhir, dia akan mendapatkan posisi yang sama kuatnya dengan lawan. Jika dia kurang beruntung, bisa jadi kedudukannya akan makin memburuk atau malah nyawanya melayang. Selama ini, sejak dia menghilang dua tahun yang lalu dan memperdalam ilmu silatnya, baru kali ini dia bertemu lawan yang sedemikian tangguh. Bahkan saat melawan Sepasang Iblis Muka Giok pun, keadaannya masih lebih baik daripada sekarang. Dia masih bisa menyelami ilmu pedang lawan dan menguraikannya. Namun kali ini jagoan pedang yang dia hadapi tidaklah demikian. Serangannya begitu cepat dan tajam, sehingga Ding Tao kesulitan untuk bertahan sambil mengamati serangan lawan. Jurus-jurusnya pun terasa menyimpan berbagai kejutan yang tidak bisa dia pikirkan dalam keadaan bertarung seperti saat ini. Di luar jurus serangan pembunuh bertopeng ini terlihat sederhana, namun Ding Tao mengambil pelajaran dari kecerobohannya yang pertama, jurus-jurus pembunuh bertopeng ini menyimpan kejutan yang tak terduga. Jika bukan seorang yang sangat ahli tentu tidak bisa menggunakan jurus-jurus tersebut dengan baik. Mengubah pegangan pada pedang yang sedang menyerang dengan kecepatan tinggi dan tanpa jeda berbalik menyerang kemudian, pedang dengan kecepatan dan ketepatan yang sama beralih ke tangan yang lain, menyerang beruntun dengan kecepatan kilat. Meskipun Ding Tao tahu apa yang dilakukan lawan, dia tahu tidak mungkin dirinya bisa meniru jurus itu dalam waktu singkat tanpa latihan yang tekun selama bertahun-tahun. Pedang Ding Tao mulai bergetar, bersiap untuk menyerang, namun lawan masih berdiri bagai benteng yang kokoh dan Ding Tao belum bisa memutuskan dengan cara bagaimana dia akan menyerang lawan. Pembunuh bertopeng itu tentu saja melihat gelagat ini, dibalik topengnya, dia tersenyum sinis. Di saat yang kritis itu, tiba-tiba terdengar suitan melengking dari luar ruangan. Diikuti dengan melesatnya sebuah senjata dengan kecepatan yang pesat, ke arah punggung pembunuh bertopeng. Senjata itu dilemparkan melewati pintu ruangan dari sudut yang sangat sempit, tidak ada yang bisa melihat siapa pelempar senjata itu.

"Pengecut!", bentak pembunuh bertopeng dengan rasa kesal yang memuncak. Mau tidak mau dia harus bergerak menghindari senjata lempar tersebut dan Ding Tao yang sudah ada dalam kondisi siap menyerang, bagaikan busur sudah dipentang penuh dan hanya tinggal menunggu kesempatan, dengan refleks melontarkan jurus serangan ke arah pembunuh bertopeng tersebut, begitu dia melihat ada lubang kelemahan dalam pertahanan pembunuh bertopeng itu. Serangan Ding Tao datang dengan membadai, bukan hanya menyerang bagian atas, terkadang Ding Tao tiba-tiba bergulingan dan menyerang kaki dari pembunuh bertopeng. Meskipun semua serangan bisa ditangkis atau dihindari, namun Ding Tao tidak memberi kesempatan pada pembunuh bertopeng itu untuk menarik napas. Serangan demi serangan dilancarkan, nafas keduanya sedikit demi sedikit mulai memburu. Tapi Ding Tao dengan hawa murni tenaga inti buminya ternyata memiliki cadangan tenaga yang lebih kuat daripada lawan. Pembunuh bertopeng itupun mulai sadar akan keadaannya yang tidak menguntungkan, setelah berpuluh-puluh jurus dia menunggu serangan Ding Tao untuk mengendor, ternyata serangan Ding Tao tidak juga mengendor. Sementara dirinya sudah mulai kelelahan, jika diteruskan tentu saja akan berakibat buruk bagi dirinya. Dengan menggertak gigi pada salah satu serangan Ding Tao yang mengarah ke lengan kanannya, dengan sengaja dia tidak menghindar namun balik menyerang. Sebuah luka pun menggores dalam-dalam lengan kanannya, namun karena dia membalas menyerang, Ding Tao tidak bisa melanjutkan serangannya dan harus cepat-cepat menarik serangan untuk menghadapi jurus pembunuh bertopeng. Jurus yang dikeluarkan oleh pembunuh bertopeng kali ini sungguh memusingkan. Mata pedang bergerak-gerak, seakan arah serangannya belum ditentukan. Tidak berani untuk menganggap remeh serangan lawan, Ding Tao memilih untuk menempatkan dirinya untuk bertahan dengan rapat terhadap serangan lawan. Pertimbangan Ding Tao, lawan sudah mulai terluka sementara dirinya belum terluka. Tujuan utama dari serangannya tadi adalah untuk menyamakan kedudukan, tapi berbalik justru dia berhasil mengambil keuntungan dari lawan. Ding Tao tidak mau terlalu serakah seperti pada permulaan pertarungan, di mana justru lawan berhasil membuat kejutan yang membalikkan keadaan. Di luar dugaannya pembunuh bertopeng itu bukan mengejar dirinya atau membenahi kedudukannya, pembunuh bertopeng itu justru melesat mundur ke belakang sambil tangannya menjambret orang-orang yang dia lewati dan melemparkannya ke arah Ding Tao. Sungguh hebat tenaga orang itu dan bukan hanya ilmu pedangnya yang mengerikan, ilmu cengkeraman tangannya juga tidak kalah hebat. Setiap kali lawan terpegang oleh tangannya, dengan sendirinya tidak mampu melepaskan diri, diiringi dengan totokan yang kuat menggunakan gagang pedang, lawan dibuat tidak mampu bergerak dalam sekejapan mata. Dengan cara yang ganas ini, pembunuh bertopeng itu tidak memberi kesempatan pada Ding Tao untuk mengejar, karena yang menghalangi jalannya adalah kawan-kawan sendiri. Ding Tao tentu saja tidak bisa menggunakan tangan dan kakinya untuk menangkis tubuh kawan-kawan yang dilemparkan pada dirinya. Dalam keadaan tertotok, tidak bisa bergerak dan mengerahkan tenaga, jika Ding Tao menyingkirkan mereka dari jalannya dengan sembarangan tentu mereka akan terluka berat. Bukan terluka di tangan pembunuh bertopeng itu melainkan terluka oleh Ding Tao. Orang yang paling dekat dengan pintu keluar tidak seberuntung teman-teman lainnya yang dijadikan penghalang bagi kejaran Ding Tao, melihat Ding Tao kerepotan untuk menangkap dan menurunkan teman-temannya tanpa melukai mereka, pembunuh bertopeng itu melepaskan kekesalan hatinya dengan membunuh orang tersebut. Gerakannya cepat, bisa dikatakan dia membunuh atau langsung pergi, tidak selisih jauh waktu yang dia butuhkan untuk menghilang. Tinggallah Ding Tao ditinggalkan sendiri, memandangi belasan tubuh yang terbaring tak berdaya, melengong dan menyesali kekurangan diri sendiri. Menyaksikan pembunuh bertopeng itu pergi tanpa bisa berbuat apa-apa. Lebih pahit lagi dia harus menyaksikan korban jatuh, tanpa bisa berbuat apa-apa/ Tentu saja terlampau keras Ding Tao menilai diri sendiri, jika malam itu dia tidak datang, korban yang jatuh tentu akan lebih banyak lagi. Setelah semua kawan yang dilemparkan terbaring di lantai dengan selamat, Ding Tao bergegas mengejar keluar, tapi bayangan pembunuh bertopeng itu sudah tidak kelihatan sama sekali. Ding Tao berdiri termangu, matanya memandang ke arah Penginapan Burung Hong Emas dan mencemaskan keadaan ketiga pengikutnya. Tapi di saat yang sama orang-orang sisa keluarga Huang yang ada di dalam rumah Lu Feng juga dalam keadaang tidak berdaya. Sehebat-hebatnya ilmu meringankan tubuh Ding Tao, toh dia masih manusia biasa dan tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Apalagi ilmu meringankan tubuhnya tidak bisa dibilang nomor satu. Dalam keragua itulah tiba-tiba dia merasakan hadirnya dua orang di belakang tubuhnya. Cepat dia berbalik dan betapa terkejutnya Ding Tao saat dia melihat sepasang pendekar lelaki dan perempuan, yang lelaki gagah dan yang perempuan cantik.

"Eh... siapa kalian?", tanya Ding Tao dengan terbata.

"Ah tunggu, apakah kalian tadi yang membantuku dengan melemparkan senjata rahasia ke arah orang bertopeng itu?", tiba-tiba dia teringat dengan kejadian yang membuat dia berbalik menjadi unggul di saat keadaannya sangat kritis.

"Hehehe, Ding Tao, setelah menjadi ketua perkumpulan silat, kau sudah lupa dengan kami?", tanya pendekar wanita itu sambil terkekeh geli dengan suara lembut. Mendengar suara itu segeralah Ding Tao mengetahui siapa yang ada di hadapannya.

"Ah kalian berdua rupanya", dengan penuh rasa terima kasih Ding Tao tersenyum memandangi keduanya.

"Sungguh aku berhutang banyak pada kalian kali ini."

"Heh, tak usah dipikirkan, sekarang cepatlah kau kembali ke penginapan, kuharap teman-temanmu tidak apa-apa, arah larinya pembunuh bertopeng tadi bukan ke arah sana. Tapi tetap saja lebih baik kau memastikan keselamatan mereka. Tentang keselamatan orang-orang di dalam, serahkan saja padaku. Setelah itu, kau bisa kemari secepatnya bersama tabib itu untuk memeriksa keadaan mereka.", ujar iblis jantan dengan senyum bersahabat. Ya siapa lagi sepasang pendekar itu jika bukan Sepasang Iblis Muka Giok. Mengikuti Ding Tao dari kejauhan, membekal ilmu meringankan tubuh yang mumpuni dan ilmu menyamar yang tiada tandingan, keduanya bagaikan bayangan tubuh Ding Tao sendiri. Ding Tao tidak membuang-buang waktu, setelah mengangguk hormat kepada keduanya, dia pun segera berlari secepat mungkin, ke arah Penginapan Burung Hong Emas. Betapa besar rasa percaya Ding Tao pada sepasang iblis itu. Kepergian Ding Tao yang demikian buru-buru, mendatangkan perasaan bersahabat yang luar biasa dalam hati sepasang iblis itu. Lebih daripada jika Ding Tao menghujani mereka dengan kata-kata terima kasih yang tiada putusnya. Mengapa? Tentu saja karena hal itu menunjukkan rasa percaya Ding Tao pada mereka. Tanpa ragu dia meninggalkan orang-orang yang tidak berdaya di tangan sepasang iblis. Jika ada tokoh persilatan yang melihat hal itu, tentu dia akan menggeleng tidak percaya. Bagaimana mungkin, sepasang iblis yang terkenal kejam hendak dipercaya untuk menjaga keselamatan orang? Apakah bukan seperti mempercayakan sekumpulan domba pada sepasang serigala? Apakah Ding Tao seorang yang bodoh? Atau dia seorang yang memiliki mata batin yang jernih dan mampu menembusi isi hati seseorang? Biarlah pembaca sendiri yang menentukan, yang pasti sepasang iblis itu kian yakin pada persahatan yang ditawarkan Ding Tao. Bisa saja mereka dulu adalah sepasang iblis, tapi perlakuan Ding Tao pada mereka sudah mengubah mereka menjadi sepasang sahabat, setidaknya bagi Ding Tao dan kawan-kawannya. Demikianlah Ding Tao meninggalkan Sepasang Iblis Muka Giok untuk berjaga di rumah Lu Feng. Ding Tao berlari mengerahkan segenap kemampuannya, dia tidak lagi peduli apakah ada orang yang memergoki dirinya atau tidak. Dengan sendirinya waktu yang dia butuhkan untuk sampai ke penginapan jauh lebih cepat daripada waktu dia pergi. Saat dia sampai, keadaan terlihat tenang dan damai, tapi hatinya tidaklah tenang. Bukankah rumah kediaman Lu Feng juga tadinya terlihat tenang? Dengan mengendap-endap Ding Tao melompat ke lantai dua, tempat kamarnya berada. Mereka menyewa dua kamar, Ding Tao bersama Tabib Shao Yong sementara Li Yan Mao bersama Wang Xiaho. Perlahan diketuknya jendela kamar.

"Siapa itu?", terdengar suara Tabib Shao Yong bertanya dengan suara perlahan.

"Ini, Ding Tao...", jawab Ding Tao. Dengan segera jendela pun terbuka dan Ding Tao melompat masuk ke dalam. Di dalam kamar terlihat penuh, karena Li Yan Mao dan Wang Xiaho pun ternyata ikut menunggu Ding Tao.

"Ah, Paman Wang Xiaho dan Paman Li Yan Mao jadi ikut berjaga di sini?", tanya Ding Tao sambil tersenyum, suasana hatinya masih hangat karena teringat persahabatan yang ditawarkan oleh sepasang iblis muka giok.

"Haha, orang tua susah tidur, daripada Tabib Shao Yong sendirian, sekalian saja kami menunggumu di sini sambil mengobrol.", jawab Li Yan Mao dengan tawa gigi ompongnya.

"Heh Ding Tao, wajahmu terlihat cerah, kukira itu artinya kabar bagus yang kau bawa", ujar Wang Xiaho. Diingatkan oleh kejadian di rumah Lu Feng, wajah Ding Tao pun berubah menjadi murung. Dengan singkat dia menceritakan kejadian yang sebenarnya.

"Hoo.. tapi mengapa wajahmu terlihat cerah tadi?", tanya Wang Xiaho dengan keheranan. Orang tua ini sudah merasa mengenal watak Ding Tao dengan baik, sehingga tidak ada pikiran buruk tentang Ding Tao yang ada hanyalah keheranan. Demikian juga Tabib Shao Yong dan Li Yan Mao.

"Ah..., ya sejenak aku terlupa dengan kemalangan yang menimpa teman-teman di kediaman Saudara Lu Feng. Hal itu adalah karena aku bertemu kembali dengan Sepasang Iblis Muka Giok", jawab Ding Tao, teringat kembali dengan sepasang iblis itu hatinya jadi sedikit terhibur.

"Ha? Ini lebih aneh lagi, apakah kau berhasil menghajar mereka untuk ketiga kalinya sehingga perasanmu jadi ringan?"

"Bukan paman, bukan, justru mereka datang untuk membantu. Bukankah tadi aku bercerita tentang seseorang yang menyambit pembunuh bertopeng itu dengan senjata rahasia, nah sepasang iblis itulah yang melakukannya."

Saat menceritakan kebaikan sepasang iblis itu, wajah Ding Tao tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Berbeda lagi dengan ketiga orang yang mendengarkan, betapa keheranan menghiasi wajah mereka.

"Lalu saat aku kebingungan, antara kembali ke penginapan dan menilik keadaan kalian atau tinggal di rumah Lu Feng untuk menjaga mereka sampai mereka mampu menjaga diri sendiri. Sepasang iblis itu menyanggupi untuk menjaga mereka, itu sebabnya aku bisa dengan tenang kembali ke penginapan. Itulah sebabnya perasaanku terasa hangat, oleh tali persahabatan yang mereka ulurkan.", ujar Ding Tao mengakhiri penuturannya. Wajah ketiga orang pendengarnya pun berubah menjadi pucat pasi. Hendak memaki, tapi yang akan dimaki adalah pimpinan mereka, lagipula wajah Ding Tao yang polos membuat mereka tidak tega untuk memaki. Hendak memuji, orang bodoh mana yang mempercayakan sekumpulan orang tertotok pada sepasang pembunuh yang terkenal sadis dan kejam. Dengan suara agak gemetar Tabib Shao Yong berkata.

"Kalau mereka dalam keadaan terluka, sebaiknya aku pergi ke sana secepatnya untuk melihat apakah aku dapat menolong mereka. Apakah kau bisa mengantarkanku Ding Tao?"

Li Yan Mao dan Wang Xiaho mengangguk-angguk setuju, dalam hati memuji kecerdikan Tabib Shao Yong yang bisa menutupi kekhawatirannya dengan alasan yang baik.

Dengan demikian mereka akan kembali secepatnya ke rumah Lu Feng, meskipun jika sepasang iblis itu benar menurunkan tangan kejam, tentu saja kedatangan mereka akan sangat terlambat.

Tapi hati mereka bertiga tentu saja tidak tenang jika mereka berlama-lama di penginapan.

"Ayolah cepat, biar tidak lama biar Tabib Shao Yong aku yang gendong", kata Wang Xiaho.

"Jangan paman, biar aku saja", jawab Ding Tao. Jika dalam keadaan biasa tentu Tabib Shao Yong menolak digendong-gendong berlarian di tengah kota, meskipun dalam malam hari. Namun kali ini Tabib Shao Yong tidak mau buang waktu, begitu Ding Tao memberikan punggungnya segera saja tabib itu melompat naik ke punggung Ding Tao.

"Tabib Shao Yong, sudah siap?", tanya Ding Tao.

"Ya, ya, ya, aku sudah siap cepatlah.", ujar Tabib Shao Yong dengan sedikit geram melihat betapa santainya Ding Tao. Ke empat orang itu pun berlarian melintasi jalanan kota menuju ke rumah Lu Feng. Untung malam sudah benar-benar larut dan tidak ada orang yang nelihat mereka. Jadi bagaimana nasib sisa-sisa anggota keluarga Huang di rumah Lu Feng? Apakah benar kepercayaan Ding Tao pada sepasang iblis itu? Ataukah kekhawatiran Wang Xiaho bertiga yang lebih tepat? Begitu sampai di depan rumah Mao Bin, Tabib Shao Yong, Wang Xia Ho dan Li Yan Mao buru-buru masuk ke dalam rumah. Pintu tertutup tapi tidak dikunci, Ding Tao menyusul di belakang mereka. Langkah mereka terhenti saat mereka berhadapan dengan Sepasang Iblis Muka Giok. Sebenarnya dandanan sepasang iblis itu tidak menyeramkan, tidak seperti yang mereka bayangkan. Seandainya Ding Tao tidak bercerita bahwa Sepasang Iblis Muka Giok sedang menunggui rumah itu, mungkin mereka juga tidak akan menduga. Iblis jantan dan iblis betina menyambut mereka dengan senyum ramah dan membungkuk menyapa dengan sopan.

"Selamat malam saudara sekalian, Tabib Shao Yong, kuharap kau memeriksa keadaan mereka. Kami sudah mencoba membuka totokan mereka, namun beberapa di antara mereka masih lemah, meskipun totokannya sudah terbuka."

Tabib Shao Yong dengan terbata-bata dan sedikit gemetar menjawab.

"Ah.. begitu ya... eh di mana mereka, biar coba kulihat."

Iblis jantan menunjuk ke arah ruangan, tempat Ding Tao tadi bertarung dengan pembunuh bertopeng itu.

"Mereka ada di sana."

Tabib Shao Yong, Wang Xiaho dan Li Yan Mao pun bergegas ingin melihat keadaan mereka, namun sedikit banyak kekhawatiran dalam hati mereka jauh berkurang ketika melihat sikap sepasang iblis itu yang tidak bermusuhan.

Sementara itu Ding Tao tidak mengikuti ketiganya melainkan menemui sepasang iblis muka giok untuk mengucapkan terima kasih.

Membungkuk hormat pemuda itu dengan tulus menyampaikan rasa terima kasihnya.

"Kakak, Cici, terima kasih banyak atas bantuan kalian. Bukan saja kalian menyelamatkan nyawaku, kalian juga bersedia bersusah payah untuk menjaga bahkan mencoba merawat luka teman-temanku."

"Hmm... sudahlah, anggap saja ini cara kami untuk membayar hutang kami padamu.", ujar iblis jantan.

"Ah, hutang apa? Justru sekarang aku yang berhutang pada kalian", jawab Ding Tao. Iblis betina tersenyum dengan manis dan menjawab.

"Sudahlah, tidak perlu berpura-pura tidak tahu, sekarang ini kami pun juga tidak malu-malu untuk mengakuinya. Tempo hari jika bukan Adik Ding Tao yang mengalah, tentu salah satu dari kami sudah mati di ujung pedangmu."

"Ya... dan jika satu dari kami mati, itu sama saja kematian bagi yang lain", tambah iblis jantan dan ketika dia melihat Ding Tao hendak menyanggah pula cepat dia berkata.

"Nah, cukup sudah, jangan kau menyanggah lagi. Aku paling tidak suka bertele-tele masalah kecil."

Ding Tao yang sudah membuka mulut, akhirnya tidak jadi berkata, hanya tersenyum kecut.

"Hehe... Saudara Iblis Jantan, tetap saja menyeramkan."

"Hahaha, menyeramkan kentut busuk, ilmumu sudah makin maju saja, jika lain kali kita bertarung lagi mungkin justru aku akan ketakutan dan lari", jawab Iblis Jantan sambil tertawa terbahak-bahak. Iblis betina tertawa sambil menutup mulutnya, saat tawa mereka mereda diapun berkata.

"Adik Ding Tao, jangan kau panggil lagi kami dengan sebutan iblis jantan dan betina. Kami sudah memutuskan untuk berhenti bermain setan-setanan."

"Ah, bagus sekali. Kalau begitu siapa nama Kakak dan Cici berdua? Apa aku boleh mengetahuinya?", ujar Ding Tao dengan kegembiraan tulus yang tidak disembunyikan.

"Kami memutuskan untuk mengubur masa lalu kami, jadi kami membuat nama kami sendiri", Iblis betina menjelaskan. Menunjuk ke arah Iblis jantan, dia memperkenalkan.

"Nah, perkenalkan, nama kakak yang ganteng ini adalah Tuan Ma Songquan."

Kemudian sambil membungkukkan badan dengan luwes dia berkata.

"... dan namaku adalah Nyonya Ma Songquan tentu saja, Chu Lin He."

Senyum lebar menghiasi wajah Ding Tao saat dia ikut membungkuk dengan hormat.

"Ah, senang bertemu dengan kalian Tuan dan Nyonya Ma Songquan."

Iblis jantan atau Tuan Ma Songquan tertawa terbahak-bahak kemudian berkata.

"Hahaha, Ding Tao kami sudah berpikir beberapa lamanya dan jika kau tidak keberatan, biarlah kami bergabung dengan perkumpulan yang baru kau dirikan. Sebenarnya kami tidak ingin membantu dirimu dengan berterang karena masa lalu kami. Tapi melihat keadaanmu saat ini yang sering kesulitan dalam membagi tugas karena keterbatasan orang dalam perkumpulanmu, kami memutuskan untuk secara resmi bergabung dalam perkumpulanmu, bagaimana?"

Ding Tao terkejut mendengar itu, namun tanpa berpikir panjang dia menerimanya dengan bersemangat.

"Wah, kalau kalian mau bergabung, tentu saja aku dengan senang hati menerimanya. Tapi apakah tidak salah? Rasanya aku yang muda ini jadi tidak enak kalau kalian memanggilku ketua."

"Ha.., kami juga tidak setua beberapa orang dalam perkumpulanmu, nah apakah kami perlu mengucapkan sumpah dan melakukan upacara?", ujar Ma Songquan dengan senyum lebar di wajahnya.

"Tunggu dulu kakak, Ding Tao aku tahu dirimu tidak menyimpan pikiran buruk tentang kami, tapi bukankah sebaiknya kau bertanya dulu terhadap pengikutmu yang lain? Kelamnya masa lalu kami tidak bisa dipandang ringan. Bisa jadi kau akan kehilangan lebih banyak orang jika kau menerima kami sebagai pengikutmu", ujar Nyonya Ma Songquan, Chu Lin He. Ma Songquan mengerutkan alis dan hendak mengucapkan sesuatu, tapi Chu Lin He meletakkan tangannya menyentuh tangan Ma Songquan. Ma Song quan menoleh dan melihat Chu Lin He menggeleng dengan lembut, diapun batal berkata apa-apa. Ding Tao menghela nafas dan berpikir. Bukannya dia takut kehilangan pengikut, namun dia juga tidak ingin menyakiti atau mengecewakan beberapa gelintir orang yang sudah bersumpah setia pada dirinya. Dalam waktu yang singkat dia merasakan jalinan yang kuat. Setelah berpikir beberapa lama akhirnya Ding Tao berkata.

"Aku menerima kalian, bukan hanya karena aku membutuhkan kalian, tapi karena kalian adalah sahabat-sahabatku. Tidak mungkin aku mengorbankan seorang sahabat demi sahabatku yang lain. Jikalau mereka kemudian menjauhiku karena aku bersahabat dengan kalian, biarlah itu terjadi, dalam hatiku mereka tetap seorang sahabat."

Pada saat itu justru Tabib Shao Yong, Wang Xiaho, Li Yan Mao, diikuti mereka yang berhasil diselamatkan, datang mendekat dan ikut pula mendengar jawaban Ding Tao.

Ding Tao, Ma Songquan dan Chu Lin He yang menyadari kehadiran mereka, mengalihkan pandanganmereka ke arah mereka yang baru datang.

"Tabib Shao Yong, bagaimana hasil pemeriksaanmu? Saudara sekalian, bagaimana keadaan kalian?", tanya Ding Tao.

"Semua dalam kedaan baik-baik Ketua Ding Tao, memang ada beberapa yang mengalami gangguan pada tubuhnya karena totokan dari lawan yang terlalu kuat. Tapi setelah kugunakan tusuk jarum untuk melancarkan jalur energi mereka, sekarang mereka sudah membaik.", jawab Tabib Shao Yong. Kemudian Tabib Shao Yong dan yang lain mengalihkan pandangan ke arah Sepasang Iblis Muka Giok. Dengan hormat dan sopan Tabib Shao Yong sedikit membungkuk lalu berkata.

"Aku mewakili saudara-saudara yang lain mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan Tuan dan Nyonya berdua."

"Kebetu;an kami ikut mendengar tentang keinginan Tuan dan Nyonya berdua untuk ikut menyumbangkan tenaga bagi perkumpulan kami yang baru dibentuk, bahkan belum bernama. Kami juga mendengar penerimaan Ketua Ding Tao juga kekhawatiran kalian. Untuk itu biarlah kami mengucapkan selamat datang dan menegaskan bahwa bagi kami, tidak ada lagi Sepasang Iblis Muka Giok, yang ada adalah Saudara Ma Songquan dan Nyonya Ma Songquan."

Mendengar perkataan Tabib Shao Yong, wajah Ding Tao pun menjadi cerah, meskipun tidak mengatakan apa-apa, perasaan hatinya dengan mudah terbaca.

Wajah tuan dan nyonya Ma SongQuan juga ikut berubah, jika tadinya Ma Songquan sudah seperti ayam kago yang hendak bertarung, ketegangan di wajahnya sekarang meleleh, digantikan rasa terima kasih.

Salah satu dari mereka yang kemarinnya tidak setuju dengan pemikiran Ding Tao tiba-tiba berucap.

"Ketua Ding Tao, tadinya aku tidak habis mengerti dengan apa yang Ketua impikan, tapi sekarang ini, mataku jadi terbuka dan aku minta maaf atas sikapku sebelumnya. Kalau dipikir, memalukan sebenarnya, dalam beberapa saat setelah bersumpah setia, justru aku berubah pikiran dan menentang Ketua Ding Tao. Jika Ketua Ding Tao mau memaafkan kami, biarlah kami kembali mengikut Ketua Ding Tao."

"Ah, Saudara Yu Wan, tidak perlu bersikap terlalu sungkan. Tentu saja aku gembira jika kalian bisa menerima pemikiranku. Soal yang lalu, lupakan saja. Lebih baik, kita pikirkan saja, apa yang akan kita lakukan sekarang", jawab Ding Tao.

"Pertama-tama, biarlah aku dan saudara yang lain mengurus mereka yang terbunuh. Besok juga hasur ada orang yang melapor pada pertugas keamanan di Kota Wuling. Juga masalah keluarga yang ditinggalkan. Biarpun kebanyakan dari kita sudah tinggal sendirian saja di dunia ini sejak penyerbuan kediaman keluarga Huang beberapa bulan yang lalu. Kebetulan salah satu yang menjadi korban malam ini adalah Saudara Lu Feng, setelah pemberitahuanmu tadi sore, dia memindahkan keluarganya ke rumah yang lain.", ujar Li Yan mao diiringi anggukan kepala dari beberapa orang, rupanya tadi mereka sudah sempat bercakap-cakap pula di dalam.

"Baiklah, aku akan ikut membantu", jawab Ding Tao.

"Biarlah kita semua bekerja bersama, siapapun yang tidak ikut bekerja tentu akan merasa tidak enak. Selain itu, semakin cepat selesai semakin baik. Salah satu dari kita, yang mengenal dekat keluarga dari yang meninggal sebentar lagi bisa menghubungi mereka sekarang juga. Langit sudah mulai berubah warna, sebentar lagi sudah pagi", kata Ma Songquan sambil membuka jendela dan melihat ke arah langit. Melihat langit yang mulai berubah warna, barulah terasa betapa semalaman dirinya tidak sempat tidur sama sekali, tiba-tiba saja kantuk menyerang dan Ding Tao menguap. Sambil tertawa Wang Xiaho berkata.

"Ketua, jika merasa mengantuk, tidak apalah kalau mau tidur sejenak. Jangan disamakan dengan orang tua seperti diriku yang memang susah tidur."

Ding Tao menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak, tidak tenang hati ini kalau tidur sementara saudara yang lain masih sibuk bekerja. Segera setelah segala sesuatunya beres aku kan tidur, tapi tidak sebelumnya."

Apapun dikerjakan bersama-sama, akan terasa lebih ringan, apalagi jika dikerjakan bersama kawan-kawan yang senasib sepenanggungan.

Begitu hari sudah mulai terang, semua mayat sudah selesai diurus.

Beberapa orang segera pergi menemui petugas keamanan, yang lain ada yang menghubungi toko peti mati dan menyiapkan upacara sembahyangan dan beberapa orang lagi, pergi untuk menemui keluarga Lu Feng untuk menyampaikan berita duka ini.

Selain Lu Feng ada pula beberapa korban, yang memiliki keluarga di kota Wuling, mereka ini pun tentu saja harus diberi kabar.

Tapi untuk sementara waktu, sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali menunggu.

Ding Tao yang merasa sangat lelah dan ngantuk pun berpamitan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat.

Serta berjanji akan kembali siang nanti.

Ding Tao hanya kembali sendirian saja, Wang Xiaho, Li Yan Mao dan Tabib Shao Yong memilih untuk beristirahat di rumah Lu Feng yang sekarang ini untuk sementara jadi rumah duka.

Tentu saja Ding Tao merasa tidak enak, namun karena desakan mereka dan juga memang keadaan yang tidak memungkinkan untuk beristirahat di rumah itu, Ding Tao akhirnya kembali ke penginapan.

Sendirian di kamar tidurnya, jauh dari segala kebisingan dan masalah dunia persilatan, barulah Ding Tao bisa sedikit memanjakan hatinya sendiri.

Kenangan akan Huang Ying Ying mulai berkelebatan dalam benaknya.

Tanpa terasa air mata mulai meleleh keluar dari kedua matanya.

Hatinya terasa sesak dan tenggorokannya tercekat.

Ingin dia meraung-raung menangisi apa yang sudah terjadi tapi Ding Tao hanya bisa menangis dalam diam.

Ingin rasanya dia lari, pergi ke hutan yang terasing, ke puncak gunung yang tertinggi.

Menyendiri menjauhi kehidupan, menutup diri pada dunia.

Hanya dirinya sendiri dan kenangan akan Huang Ying Ying, menghabiskan waktu, meratapi cintanya yang hilang.

Tapi Ding Tao sadar dirinya tidak boleh larut dalam kesedihan, amarah dan dendam.

Dia sedang memikul sebuah tanggung jawab demi kepentingan bersama.

Kepentingan dirinya pribadi, tidak boleh membuat dia melupakan hal itu.

Dia tidak bisa menyerah pada tuntutan hatinya yang cengeng dan lemah.

Dia tidak bisa berhari-hari meratapi keadaan.

Huang Ying Ying sudah meninggal dan dia meninggal justru saat Ding Tao bermesraan dengan wanita lain.

Kenyataan itu pahit buat dirinya, kesalahan itu tidak terhapuskan dan tidak termaafkan.

Huang Ying Ying sudah meninggal, dengan cara apa dia hendak memperbaiki kesalahannya?

Tiba-tiba saja dia menyesali pertemuannya dengan Murong Yun Hua, ada sebagian kecil dari dirinya yang menyalahkan gadis itu, karena sudah menyalakan api cinta dalam hatinya.

Dalam hati yang seharusnya hanya ada Huang Ying Ying seorang.

Tapi Ding Tao bukan pemuda pengecut yang melemparkan kesalahan pada orang lain.

Walau pahit, dia mengakui, bahwa dirinya lah yang lebih patut dipersalahkan.

Imannya lah yang kurang teguh.

Ada juga kalanya Ding Tao mengingat perbuatan Tuan besar Huang Jin dan mencoba mengatakan alam hati bahwa apa yang terjadi pada keluarga Huang dan di dalamnya Huang Ying Ying adalah hukuman atas dosa-dosa Tuan besar Huang Jin.

Tapi sekali lagi hati nuraninya tidak mengijinkan dia untuk lari dari kesalahannya sendiri dan mencari jalan yang mudah.

Apalagi lepas dari apa yang dilakukan Tuan besar Huang Jin, perlakuan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying pada dirinya terkampau baik dan tulus untuk dia abaikan.

Ketika bersama-sama dengan yang lain, semua pikiran ini secara tidak sadar dia tekan jauh ke dalam hatinya.

Sekarang semuanya muncul bersamaan seperti air memancar dari bendungan yang pecah.

Ding Tao yang biasanya selalu bisa menguasai diri sendiri, apa pun keadaannya kali ini menyerah pada perasaannya.

Lelah secara fisik dan mental, pemuda itu tertidur lelap dengan pembaringan basah oleh air mata.

----------------------------o ---------------------------Begitu lelahnya Ding Tao hingga tanpa sadar, matahari sudah jauh berjalan ke arah barat baru dia terbangun.

Di luar keadaan sudah mulai remang senja, Ding Tao yang tersadar buru-buru mencuci muka dengan sebaskom air yang disediakan, merapikan diri lalu bergegas keluar kamar.

Di luar ternyata sudah ada dua orang yang menunggunya.

"Ah, maafkan aku, tidak terasa tiba-tiba sudah sore, baru saja aku terbangun. Bagaimana keadaannya?"

"Semua berjalan dengan baik Ketua Ding, saudara-saudara yang meninggal sudah di tempatkan dalam peti, upacara sembahyangan juga sudah dilakukan. Besok pagi-pagi kita akan menguburkan mereka, jika Ketua ingin datang untuk bersembahyang sekarang, mari kami antarkan.", jawab salah seorang di antara mereka.

"Tentu saja, mari cepat kita ke sana. Sungguh hatiku merasa tidak enak sudah tidur seharian.", jawab Ding Tao dengan wajah serba salah.

"Tidak apa Ketua Ding, kami tahu semalaman Ketua tidak tidur dan memeras tenaga."

Bertiga mereka berjalan ke arah rumah Lu Feng, dari kejauhan terlihat tamu-tamu yang berdatangan untuk ikut mengucapkan bela sungkawa dan menunggui hingga esok pagi saat jenazah akan dimakamkan.

"Apakah semua saudara hadir di sana?", tanya Ding Tao.

"Sebagian besar ya, hanya Tuan dan Nyonya Ma Songquan yang tidak ada. Mereka berdua hendak menelusuri kota mencari jejak pembunuh bertopeng itu. Yang dikhawatirkan dalam suasana duka ini, pembunuh bertopeng itu kembali muncul dan mencari gara-gara."

"Ah, baguslah kalau begitu. Kita boleh merasa tenang kalau mereka berdua sudah mau turun tangan."

"Tapi menurut sepasang i ... eh maksudku menurut sepasang pendekar itu, ilmu Ketua justru berada di atas mereka."

"Mungkin, ada selisih sedikit, tapi seperti yang kalian lihat kemarin, di atas langit masih ada langit. Pembunuh bertopeng itu sungguh lihay, jika bukan karena bantuan Ma Songquan berdua, tentu aku akan berada dalam kesulitan."

"Jangan berkecil hati Ketua, ilmu pedang pembunuh bertopeng itu memang aneh. Jika bukan ketua yang menghadapinya semalam, tentu baru satu dua jurus sudah mati oleh tusukan pedangnya. Justru ketenangan ketua membuat kami berbesar hati."

"Hmm... jangan terlalu memuji, kalian pun bisa menghadapi pembunuh bertopeng itu asalkan rajin berlatih. Kalian sudah memiliki dasar-dasar ilmu pedang keluarga Huang, sebelum aku pergi menyusul saudara lain yang menyelidiki markas Tiong Fa, akan aku tinggalkan petunjuk-petunjuk bagi kalian untuk menyelami tingkat yang selanjutnya."

"Terima kasih banyak Ketua Ding, tapi apa maksud Ketua Ding tentang markas Tiong Fa?"

Teringatlah Ding Tao bahwa hubungan Mao Bin dan Tiong Fa sebenarnya masih dirahasiakan, cepat otaknya berputar untuk mengarang cerita.

"Ehm... sepertinya Mao Bin sedang menelusuri jejak Tiong Fa dan menemukan beberapa petunjuk, mungkin itu sebabnya dia dibunuh. Namun saat kami memeriksa rumahnya, kami berhasil menemukan beberapa catatan."

"Ah rupanya begitu... baguslah, Tiong Fa tidak boleh dibiarkan meraja lela semaunya."

Sambil bicara tak terasa sampai juga mereka ke rumah Lu Feng, dengan hormat Ding Tao maju ke depan, peti mati berjajar, mereka yang kemarin masih hidup dalam semalam sudah berubah menjadi mayat.

Keluarga yang ditinggalkan berbaju putih sebagai tanda berkabung, berdiri di kiri dan kanan.

Tanpa terasa Ding Tao mendesah sedih, selesai memberi penghormatan terakhir pada yang meninggal dan keluarga, Ding Tao pun diantarkan ke meja di mana Li Yan Mao, Tabib Shao Yong dan Wang Xiaho sudah duduk menunggu.

"Maafkan aku paman, tertidur begitu lelap hingga tak tahu waktu. Paman sekalian, apakah tidak ganti beristirahat sejenak?", tanya Ding Tao setelah selesai saling menyapa.

"Tidak perlu, kami pun tadi sudah sempat beristirahat sejenak.", jawab Li Yan Mao.

"Yang lebih penting sekarang adalah memikirkan rencana kita selanjutnya. Mungkin terlihat kurang baik dalam keadaan berduka seperti sekarang. Tapi kita harus ingat bahwa Tiong Fa dan organisasi rahasia yang menyerang Keluarga Huang, juga masalah pemilihan Wulin Mengzhu tidak diam menunggu."

"Ya, ya, aku mengerti, baiklah mari kita bicarakan masalah-masalah itu. Untuk mudahnya, marilah kita pilah masalah dan urusan yang ada, baru kita lihat bagaimana sebaiknya kita mengatasi masalah-masalah tersebut.", ujar Ding Tao dengan prihatin.

"Baiklah, coba kita uraikan setiap masalah yang ada, yang pertama adalah masalah penyerangan terhadap keluarga Huang dan hilangnya Pedang Angin Berbisik. Yang kedua adalah masalah pemilihan Wulin Mengzhu. Kemudian yang ketiga adalah masalah yang paling utama, yaitu masalah ancaman Ren Zuocan. Bagaimana, kira-kira masih ada yang lain?", Wang Xiaho mencoba menguraikan masalah yang mereka hadapi.

"Masalah ketiga bisa dilupakan saja untuk saat ini", ujar Ding Tao mengundang pertanyaan yang tertera di wajah Wang Xiaho.

"Bukan karena tidak penting, tapi karena dua masalah sebelumnya menyangkut erat dengan masalah ketiga. Baik itu dengan menjadi Wulin Mengzhu ataupun berhasil mengungkap organisasi rahasia yang menyerang keluarga Huang, keduanya akan menuntun kita pada masalah yang ketiga, yaitu masalah ancaman dari Ren Zuocan.", ujar Ding Tao menjelaskan sambil tersenyum simpul.

"Hoho, begitu rupanya, kalau melihat cara berbicara ketua yang lancar sepertinya Ketua Ding sudah punya suatu rencana. Mengapa tidak dijelaskan saja?"

"Rencana yang matang sebenarnya belum, hanya saja sempat terkilas satu gambaran. Untuk masalah yang pertama dan kedua sebenarnya juga berkaitan. Sudah bisa dipastikan Tiong Fa tidak bekerja sendiri, aku pernah beradu pedang dengan Tiong Fa, ilmunya jauh di bawah pembunuh bertopeng tadi malam. Hal itu membuktikan ada sosok yang lebih besar lagi di belakang Tiong Fa."

"Sosok itu adalah Ren Zuocan.", tukas Wang Xiaho dengan penuh keyakinan.

"Mungkin Paman Wang Xiaho benar, tapi pembunuh bertopeng kemarin malam aku yakin bukanlah Ren Zuocan, dialek yang dipakai bukan dialek orang luar perbatasan."

"Itulah yang kita curigai, bahwa ada orang-orang dalam sendiri yang sudah diam-diam bergabung dengan Ren Zuocan."

"Jika pembunuh bertopeng itu adalah salah satu di antaranya, maka orang-orang yang terlibat juga bukan ikna-ikan teri. Tapi tokoh kenamaan dalam dunia persilatan. Dari cerita Paman Li Yan Mao dan yang lain, bisa kita bilang ada lebih dari satu atau dua tokoh yang sudah menyeberang dan berkhianat pada negaranya. Untuk menghadapi mereka tidak cukup, kita-kita yang ada sekarang ini."

"Ya, memang kekuatan kita sekarang ini jelas masih jauh dari cukup.", ujar Li Yan Mao sambil menghela nafas.

"Itu sebabnya, meskipun masalah pertama tidak boleh dilupakan, tapi yang lebih penting adalah masalah yang kedua, karena pada sukses tidaknya mengurus masalah yang kedua inilah, dua masalah yang lain bergantung.", jawab Ding Tao menutup uraiannya.

"Hmm... benar juga, lalu bagaimana rencana ketua mengenai masalah yang kedua ini?", tanya Li Yan Mao.

"Justru dalam hal ini aku belum punya pegangan yang jelas, jika paman-paman sekalian punya usul tentu akan sangat membantu.", jawab Ding Tao terus terang.

"Untuk maju menjadi calon Wulin Mengzhu, jelas kau harus punya dukungan yang kuat dari banyak orang dalam dunia persilatan, jika tidak maka hanya akan jadi bahan tertawaan. Itu sebabnya tidak selalu orang yang paling tangguh dalam dunia persilatan yang menjadi Wuling Mengzhu", kata Wang Xiaho. Li Yan Mao menimpali pula.

"Dan keputusan untuk membentuk satu perkumpulan adalah langkah awal yang cukup baik, dengan begitu ada wadah yang jelas bagi mereka yang ingin mendukung dirimu. Tidak ada salahnya mulai dipikirkan juga nama yang akan dipakai. Mungkin sepertinya tidak penting, tapi dalam operasinya sehari-hari tentu akan menyulitkan bila perkumpulan kita tidak bernama."

Demikian Li Yan Mao dan Wang Xiaho saling menimpali, saling mengisi, perlahan-lahan, bentuk dari perkumpulan yang dibentuk Ding Tao makin menunjukkan wujudnya.

Diskusi mereka itu berlanjut hingga larut malam.

Saat akhirnya sudah dicapai satu kesepakatan, tiap-tiap orang sudah beberapa kali menguap menahan kantuk.

"Sebaiknya kita beristirahat sebentar, jika memang ingin pergi menyusul Chou Liang dan yang lain besok pagi-pagi benar", kata Tabib Shao Yong, disetujui dengan anggukan kepala oleh yang lain.

"Kalian pergilah beristirahat lebih dulu. Aku akan menemui saudara-saudara yang ada dan menjelaskan bahwa besok kita akan pergi menelusuri jejak Tiong Fa, sementara itu mereka bisa mempersiapkan perkumpulan yang akan kita dirikan", ujar Li Yan Mao.

"Kalau begitu, uang yang sudah terkumpul kemarin biarlah aku titipkan saja padamu", kata Tabib Shao Yong sambil menyerahkan kantung uang kepada Li Yan Mao.

"Hoo... Tabib Shao Yong, jangan bilang kalau selama ini uang itu selalu kau bawa ke manapun kita pergi", ujar Li Yan Mao sambil mengangkat alis.

"Hehehe, kenyataannya demikian, menyimpan uang banyak orang hati jadi berdebar terus, akhirnya supaya hatiku tenang, kubawa-bawa saja terus kantung uang itu. Jumlahnya mungkin tidak seberapa, tapi itu tanda kepercayaan dari kalian semua", jawab Tabib Shao Yong sambil tersenyum.

"Hmm... ya, secara keuangan perkumpulan kita masih terlalu miskin. Aku harap nama besar keluarga Huang di masa lalu bisa membantu kita.", ujar Li Yan Mao.

"Keuangan Biro Pengawalan Golok Emas dakan segera aku masukkan ke dalam kas perkumpulan kita, moga-moga bisa jadi sedikit bantuan", ujar Wang Xiaho.

"Paman Wang Xiaho, tidak perlu begitu, apakah tidak sayang dengan tabungan bertahun-tahun?", ujar Ding Tao.

"Heh, uang tidak akan kubawa mati, ada tujuan bagus kenapa harus disayang, setidaknya sekarang aku yakin uang itu tidak akan habis sia-sia", jawab Wang Xiaho.

"Benar, perkumpulan yang nantinya dibangun adalah penyatuan segala usaha dan jerih payah kita untuk mencapai satu tujuan yang sama. Kita semua rela berkorban nyawa demi tercapainya tujuan, apalah artinya sedikit uang", ujar Li Yan Mao.

"Ayolah, kita segera kembali ke penginapan, tidak akan ada habisnya kalau mau dibicarakan", ujar Tabib Shao Yong sambil bangkit berdiri, diikuti oleh mereka yang lain. Setelah selesai memberikan penghormatan kepada yang meninggal dan berpamitan pada keluarga mereka, Ding Tao dan kawan-kawan pun pergi untuk beristirahat. Kecuali Li Yan Mao yang masin menyempatkan diri untuk meninggalkan pesan pada saudara-saudara yang masih berjaga. Tapi sebelum Ding Tao dan yang lain mencapai penginapan, Li Yan Mao sudah menyusul mereka. Bersama-sama mereka sampai di penginapan dan beristirahat. Esok paginya mereka bergegas pergi ke Jiang Ling, untuk berkumpul kembali dengan Chou Liang dan yang lainnya. Bayangan Ma Songquan dan isterinya tidak juga kelihatan sejak semalam hingga mereka meninggalkan Wuling, namun Ding Tao dan yang lain tidak mengkhawatirkan sepasang jagoan yang sudah malang melintang dan membuat nama di dunia persilatan tersebut. Perjalanan mereka tidak mengalami banyak hambatan, dalam waktu yang relatif singkat Ding Tao dan pengikut-pengikutnya sampai juga di kota Jiang Ling. Di dalam kota, petunjuk yang diberikan Qin Bai Yu terasa sangat berguna, jika bukan oleh petunjuk-petunjuk darinya mungkin Ding Tao dan rombongan kecilnya akan butuh waktu cukup lama untuk menemukan Penginapan Keluarga Cang, penginapan itu dikelola oleh seisi rumah. Dari Tuan Cang hingga anak-anaknya. Suasana yang ditawarkan pun sangat lebih terasa seperti berada di rumah seorang teman daripada sedang berada di sebuah penginapan. Dengan cepat Ding Tao dan rombongannya merasa akrab dengan pemilik penginapan tersebut dan betah tinggal di penginapan keluarga Cang tersebut. Satu hari lewat tanpa kejadian apa-apa, tidak ada seorang pun yang muncul di penginapan keluarga Cang, tidak Chou Liang, tidak pula yang lain. Baru pada malam hari kedua Qin Bai Yu menemui mereka diam-diam. Ding Tao terbangun ketika dia mendengar sebuah ketukan pelan dari luar jendela kamarnya. Bergegas dia membuka jendela perlahan tanpa suara.

"Qin Bai Yu...", bisiknya dengan bersemangat. Cepat Qin Bai Yu masuk ke dalam kamar tanpa suara, segera dia memberi hormat pada Ding Tao.

"Ketua Ding Tao."

"Bagaimana dengan yang lain? Baik-baik saja bukan?", tanya Ding Tao dengan sedikit nada khawatir dalam suaranya.

"Baik-baik saja ketua, semuanya baik-baik saja. Kami sudah berhasil memastikan keberadaan Tiong Fa di sini.", jawab Qin Bai Yu.

"Ah, baguslah kalau begitu, tunggu sebentar di sini, aku akan membangunkan saudara yang lain", kata Ding Tao.

"Jangan ketua, aku tidak punya waktu banyak, aku ke mari hanya memberikan pesan dan kemudian harus segera kembali ke tempat pengintaian kami. Saudara Tang Xiong yang di sana, sudah berjaga cukup lama, dia tentu perlu beristirahat."

"Oh, begitu, baiklah ada pesan apa?"

"Paman Chou Liang memintaku untuk memberikan pesan ini, kita bertemu besok di tempat ini.", ujar Qin Bai Yu sambil menyerahkan selembar kertas kecil. Ding Tao membuka dan membacanya, di sana tertera nama sebuah tempat dan sebuah denah kasar.

"Hmm.. baiklah, kapan waktunya ?"

"Selepas pagi, menjelang tengah hari, kebanyakan penduduk sedang tidur siang jadi Ketua dan saudara yang lain akan mendapati jalan tidak ramai di sana. Lewat jalan kecil ini ketua akan sampai di markas sementara kita.", jawab Qin Bai Yu.

"Baik, aku mengerti, sekarang kau hendak pergi ke tempat pengintaian?", tanya Ding Tao sambil tersenyum ramah.

"Ya ketua, Saudara Tang Xiong bisa mengomel berjam-jam kalau aku datang terlampai lama", sahut Qin Bai Yu sambil tersenyum kecil. Rupanya Qin Bai Yu yang pemalu pun mulai tertular sifat Tang Xiong dan Chou Liang yang suka beradu mulut. Ding Tao mengangguk sambil menepuk pundak pemuda itu dia berkata.

"Baiklah, pergilah, hati-hati dalam tugasmu."

Seperti kedatangannya, kepergiannya pun dilakukan dengan diam-diam.

Ding Tao masih memandangi jalanan yang kosong dan menajamkan telinga, sebelum akhirnya dia menutup jendela dan pergi untuk tidur kembali.

Tidak mudah untuk tidur kembali, ada berbagai perasaan yang selalu mengejar-ngejarnya, sejak dia mengetahui penyerangan atas keluarga Huang.

Ada rasa sedih, rasa bersalah dan akhir-akhir ini timbul perasaan marah dan dendam pada Tiong Fa.

Ding Tao yang berusaha untuk selalu menyadari gejolak perasaan dan pikirannya, akhirnya memilih untuk bermeditasi dan memfokuskan pikiran pada hal lain.

Keesokan paginya Ding Tao memberitahu teman-teman yang lain tentang pertemuannya dengan Qin Bai Yu semalam.

Setelah satu hari lewat tanpa ada kabar berita, berita ini membuat semangat mereka jadi bangkit kembali.

"Syukurlah tidak terjadi apa-apa, aku sudah khawatir kita terlalu lama menghabiskan waktu di Wuling. Jika sampai terjadi sesuatu pada saudara yang ada di sini, tentu akan sangat menyesal sekali", ujar Wang Xiaho sambil menghembuskan nafas lega. Ding Tao tersenyum mengerti, bagi Wang Xiaho yang tidak memiliki masa lalu sebagai bagian dari keluarga Huang, tentu saudara-saudara yang ada di Jiangling lebih dekat di hatinya daripada mereka di Wuling yang sempat berdiri di pihak yang bertentangan.

"Ya, syukurlah tidak terjadi apa-apa. Siang ini kita akan pergi ke markas sementara dan bertemu lagi dengan mereka.", ujar Ding Tao dengan ringan, hatinya juga merasa lega sejak bertemu dengan Qin Bai Yu semalam. Mereka berangkat dari penginapan keluarga Cang sebelum matahari sampai tepat di atas kepala, sampai di tempat yang dituju, tepat pada saat makan siang. Rumah yang dijadikan markas sementara terletak di seberang kantor cabang keluarga Huang. Pintu belakang rumah itu dihimpit oleh beberapa bangunan lain, sehingga menyerupai sebuah lorong kecil yang tidak diduga oleh orang yang lewat. Jika Qin Bai Yu tidak memberikan peta pada Ding Tao, merekapun akan kesulitan untuk mendapati jalan belakang dari rumah itu. Tapi dengan peta itu, Ding Tao dan rombongan kecilnya berhasil memasuki rumah itu tanpa diketahui oleh siapapun. Ding Tao mengetuk perlahan pintu belakang rumah, satu ketukan, tiga ketukan, tiga ketukan dan satu ketukan.

"Cari siapa?" , terdengar dari dalam orang bertanya.

"Mencari Paman Wang", jawab Ding Tao.

"Paman Wang sedang keluar, sebaiknya kalian kembali sore nanti."

"Tapi saat matahari terbenam, langit sudah gelap, kami bekerja di terang hari dan bukan dalam kegelapan."

Pintu terbuka dan dari dalam terlihat wajah Tang Xiong yang menyengir lebar.

"Selamat datang Ketua, selamat datang semuanya, jangan salahkan aku kalau kode rahasianya kedengaran aneh. Chou Liang memaksa kami untuk menggunakan kode rahasia."

Sambil tertawa-tawa, mereka semua masuk ke dalam rumah.

Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dengan irama yang berbeda.

Tang Xiong kembali ke belakang pintu dan melakukan sederetan percakapan dengan orang yang mengetuk, sebelum membukakan pintu.

Muncul Liu Chun Cao yang berpakaian seperti seorang pengemis.

Ding Tao-lah yang pertama-tama berseru.

"Pendeta Liu Chun Cao, apakah tadi itu adalah dirimu yang kulihat sedang mengemis di pinggir jalan?"

"Wah, mata Ketua Ding Tao benar-benar tajam, kukira samaranku sudah cukup sempurna", jawab Liu Chun Cao sambil tertawa.

"Ah, Pendeta Liu Chun Cao, jika kau tidak datang dengan samaran yang sama, tentu aku pun tidak akan mengetahuinya", jawab Ding Tao masih dengan sorot mata kagum.

"Chou Liang menugaskan Pendeta Liu untuk berjaga di belakang kalian, siapa tahu ada orang yang mengenali dan kemudian membuntuti kalian", ujar Tang Xiong sambil tertawa.

"Chou Liang itu benar-benar seekor musang, untung saja dia ada di pihak kita", sahut Li Yan Mao sambil tersenyum.

"Omong-omong, di mana Chou Liang? Apakah dia sedang keluar?", tanya Wang Xiaho.

"Ya, tapi sebentar lagi tentu akan kembali", jawab Tang Xiong. Sambil berjalan menuju ke ruang utama mengikuti Tang Xiong dan Liu Chun Cao, Li Yan Mao bertanya pula.

"Pergi ke mana orang itu?"

"Silahkan duduk ketua", ujar Tang Xiong saat mereka sudah sampai di ruang utama, sambil menarik sebuah bangkut untuk Ding Tao. Beberapa saat kemudian, mereka semua sibuk menata bangku dan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka di atas bangku, sementara Tang Xiong menuangkan secangkir teh untuk Ding Tao dan yang lain sibuk melayani diri sendiri. Setelah semua bisa duduk dengan enak dan menikmati sedikit minuman dan cemilan yang ada, baru Tang Xiong menjawab pertanyaan Li Yan Mao.

"Saudara Chou Liang, setiap hari tentu menyempatkan diri untuk berkeliling kota dan mencoba merekrut beberapa orang untuk menjadi informan bagi perkumpulan kita. Dalam dua tiga hari ini dia sudah berhasil mendapatkan 4-5 orang yang bekerja bagi dirinya."

"Wah, benar-benar orang satu ini sangat bersemangat dalam bekerja", puji Wang Xiaho.

"Hehehe, ya memang, terlalu bersemangat sampai membuat kita jadi malu hati untuk bermalas-malasan", jawab Tang Xiong. Ding Tao mendengarkan itu sambil tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala, merasa senang dengan cara kerja Chou Liang, sekaligus teringat pula dengan pemilik kedai di dekat rumah Mao Bin. Sekarang dia sudah mendapatkan orang yang tepat untuk dipercaya dalam mengurus jaringan informasi bagi perkumpulan mereka.

"Chou Liang memang cerdik dan berpandangan jauh ke depan, memiliki jaringan informasi seperti yang sedang dia bentuk, tentu sangat menguntungkan pergerakan kita. Sun Tzu mengatakan, tahu akan diri sendiri memenangkan sebagian pertempuran dan kalah di sebagian yang lain. Tahu diri sendiri dan tahu lawan, tidak terkalahkan dalam setiap pertempuran. Lawan yang kita hadapi bersembunyi dalam kegelapan, jika kita ingin menang melawan mereka, maka sambil menyembunyikan kekuatan sendiri, berusaha mencari tahu kekuatan lawan", ujar Liu Chun Cao menjelaskan dan disambut oleh anggukan kepala oleh yang lain.

"Wah, tidak kusangka, kepalamu yang kurus kering itu ternyata berisi bermacam-macam ilmu juga", kata Wang Xiaho berolok-olok. Liu Chun Cao dan Tang Xiong saling berpandangan kemudian tertawa, Liu Chun Cao kemudian menjawab.

"Jangan salah, perkataan itu hanya kujiplak dari Chou Liang saja. Aku sendiri meskipun bisa mengerti maksudnya tentu tidak bisa menjabarkannya dengan cara demikian."

Jawaban Liu Chun Cao yang jujur disambut gelak tawa oleh yang lain. Li Yan Mao yang terlihat puas dengan cerita kawan-kawannya kemudian berkata.

"Ketua Ding Tao mendapatkan bantuan Chou Liang, benar-benar menunjukkan dukungan langit pada usahanya. Seperti Liu Bei yang berjodoh dengan Zhuge Liang."

"Ya, ya aku setuju, asal Saudara Li Yan Mao jangan kemudian menyamakan diri dengan Zhao Yun, karena aku tidak bisa membayangkan seorang Zhao Yun yang tidak bergigi", ujar Tang Xiong menyahut membuat ruangan itu semakin penuh dengan tawa. Pada saat itu terdengar sebuah kelenengan kecil berbunyi, Tang Xiong segera melompat berdiri sambil berseru.

"Astaga, aku lupa berjaga di pintu belakang, Chou Liang bisa mengomeliku sepanjang malam."

Bergegas Tang Xiong berlari menuju ke pintu belakang, sementara Liu Chun Cao tertawa ringan. Wang Xiaho yang melihat kejadian itu pun dengan heran bertanya.

"Suara kelenengan apa itu dan mengapa Tang Xiong tiba-tiba berlari seperti kesetanan?"

"Haha, kelenengan kecil itu beberapa dari jebakan yang kita pasang di sekitar rumah, tujuannya bukan untuk mencelakai orang, hanya untuk memberitahukan pada kita jika ada orang yang datang ke rumah ini dan lewat jalan mana mereka ke mari. Tang Xiong lari seperti kesetanan, karena hari ini adalah tugasnya untuk berjaga di pintu belakang, tapi saat kalian datang dia lupa pada tugasnya.", jawab Liu Chun Chao sambil tertawa kecil.

"Oh begitu rupanya, kalau begitu jalan mana lagi yang bisa digunakan untuk ke rumah ini dan siapa yang berjaga di sana?", tanya Wang Xiaho lebih lanjut.

"Tentu saja ada pintu depan, Qin Bai Yu yang berjaga di sana. Sisi kiri dan kanan diapit oleh bangunan lain jadi kita tidak berjaga di sana. Tapi di tingkat dua ada jendela yang bisa dilalui orang karena tidak ada yang bisa berjaga di sana, maka kami memutuskan untuk menutup saja jalan dari tingkat dua ke lantai ini dengan papan-papan kayu."

"Hohoho, lawan boleh saja lewat tapi kita tidak akan terperangkap oleh kejutan lawan. Bagus-bagus, apakah ini juga diatur oleh Chou Liang?", tanya Li Yan Mao.

"Tentu saja, sejak kita sampai di sini, bisa dikatakan Chou Liang yang mengatur segala sesuatunya", jawab Liu Chun Cao tanpa merasa malu. Memang demikianlah sifat Liu Chun Cao, jika ada orang yang dia anggap lebih baik dari dirinya, dia tidak akan malu-malu mengakui hal itu. Sebaliknya jika ada orang yang dipandang rendah oleh dirinya, meskipun seluruh dunia hendak memuji orang itu, dia tidak akan ambil peduli. Dia tidak akan sudi memberikan kata-kata yang baik mengenai orang itu, pun jika hal itu menguntungkan dirinya.

"Lalu siapa yang berjaga untuk mengamati pergerakan Tiong Fa?", tanya Ding Tao.

"Saat malam, kita semua berkumpul dan salah satu dari kita akan pergi mengawasi Tiong Fa. Tapi di pagi hari, ada orang-orang hasil rekrut Chou Liang yang mengerjakan hal itu.", jawab Liu Chun Chao.

"Ah..., kalian semua tentu kurang tidur beberapa hari ini", desah Ding Tao sambil memandangi wajah Liu Chun Chao yang terlihat lelah meskipun terpancar juga ekspresi puas di wajahnya. Kepuasan yang muncul karena telah bekerja keras demi sesuatu yang berarti, sambil tersenyum dia menjawab.

"Sama sekali tidak ada masalah. Sedikit tidur baik juga buat mendisiplinkan diri."

"Hm.. sekarang kami ada di sini, kalian boleh beristirahat dengan puas. Biarlah untuk satu-dua hari ini kami yang menggantikan kalian mengerjakan tugas-tugas yang ada.", ujar Li Yan Mao penuh semangat.

"Haha, ya aku tahu, tentu saja aku tidak akan membiarkan kalian bersantai-santai besok pagi. Bukankah dua hari ini kalian sudah cukup beristirahat.", jawab Liu Chun Cao.

"Heh, ya dua hari ini kami sudah beristirahat dengan sangat nyaman, aku yakin hal ini bukan pula hasil pemikiranmu, tapi hasil pemikiran Chou Liang, benar tidak?", ujar Wang Xiaho sambil menyodok kawan lamanya itu.

"Hehehe, tentu saja, kalau terserah aku, akan kupaksa kalian bekerja begitu kalian menginjakkan kaki di kota ini", jawab Liu Chun Cao.

"Pendeta Liu Chun Cao, boleh kutahu apa saja yang sudah kalian dapatkan tentang Tiong Fa selama beberapa hari ini?", tanya Li Yan Mao setelah tawa mereka mereda.

"Hmm.. soal itu biarlah dijelaskan oleh Chou Liang saja, dia sudah bersusah payah mengatur rencana dan bekerja, kukira lebih pantas jika dia saja yang menjelaskan apa yang kami dapatkan selama beberapa hari ini.", jawab Liu Chun Cao. Derit pintu terdengar dan suara langkah kaki yang mendekat memberi tahukan mereka ada yang sedang berjalan ke arah ruangan utama di mana mereka sedang bersantai. Tidak lama kemudian muncul Chou Liang yang segera pergi untuk menghormat pada Ding Tao.

"Ketua Ding Tao, selamat datang", ujarnya sambil membungkuk hormat.

"Tidak perlu sungkan-sungkan, kudengar kau sudah bekerja keras beberapa hari ini", jawab Ding Tao sambil berdiri dan menarik sebuah bangku untuk Chou Liang duduk. Cara Ding Tao menunjukkan betapa dia menghargai hasil kerjanya membuat Chou Liang merasa terharu dalam hati. Di luar tentu saja hal itu tidak dia tunjukkan, senyum setengah senyum setengah tidak masih saja menempel di wajahnya. Namun senyumnya yang setengah mengejek, tidak lagi menyebalkan hati yang melihatnya. Chou Liang tidak punya kemampuan limu silat, namun Liu Chun Cao dan yang lain, yang bisa saja menghajarnya dengan sebelah tangan, menunjukkan rasa hormat mereka pada orang itu. Rasa hormat yang timbul dari pengakuan akan kelebihan-kelebihan dalam diri Chou Liang. Bukan hanya kecerdikan dan kepandaiannya, tapi terlebih lagi pada pengabdiannya pada apa yang menjadi tanggung jawabnya.

"Terima kasih banyak ketua, memang benar sudah kukerjakan beberapa hal sepanjang beberapa hari ini. Namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.", jawab Chou Liang.

"Nah, nah, jangan terlalu keras pada diri sendiri, sekarang coba aku ingin mendengar apa hasil yang kau dapatkan selama beberapa hari ini", ujar Ding Tao sambil tertawa. Chou Liang ikut tertawa kemudian berkata.

"Yah, memang hasilnya tidak cukup memuaskan, tapi aku yakin orang lain tidak akan bisa mendapatkan hasil sebaik yang kudapatkan."

Jawaban Chou Liang ini disambut tawa oleh yang lain, Li Yan Mao menyeletuk.

"Nah, ini lebih mirip Chou Liang yang aku kenal."

Celetukan Li Yan Mao ini membuat tawa beberapa orang semakin keras.

Setelah puas dengan tertawa, mereka pun kembali memusatkan perhatian pada Chou Liang, karena mereka yakin akan mendengar hal-hal yang cukup penting dari orang ini.

Mengitarkan pandangan ke sekitarnya, Chou Liang mengangguk dan kemudian memulai penjelasannya.

"Seperti yang kukatakan, tidak banyak yang berhasil kami ketahui dalam beberapa hari ini.", ujar Chou Liang membuka penjelasannya. Dari caranya berbicara terlihat Chou Liang menikmati saat-saat seperti ini, di mana kekurangannya dalam hal fisik, bisa dia kompensasikan dengan pengamatannya yang tajam. Orang toh tidak perlu rendah diri akan kekurangan yang dibawa sejak lahir, selama dia bisa berjuang untuk memaksimalkan bakat dan kelebihan yang dikaruniakan pada dirinya. Orang seharusnya lebih malu, jika dia dikaruniai tubuh yang sehat atau akal yang cerdik, tapi menggunakannya melulu untuk kepentingannya sendiri, sehingga dia bukan memberikan manfaat pada kehidupan di sekitarnya, melainkan menjadi benalu bahkan ancaman bagi orang-orang di sekitarnya. Orang semacam ini jelas lebih busuk daripada seorang cacat yang hidupnya tergantung pada kebaikan orang lain. Chou Liang bukan orang busuk, dia juga bukan seorang cacat yang membebani kehidupan orang lain, dia adalah seorang cacat yang masih memiliki kelebihan dibandingkan kebanyakan manusia dan dia mengasahnya sedemikian rupa hingga kelebihannya itu bersinar dan kemudian menggunakannya demi suatu tujuan yang baik.

"Hasil pengamatan kami yang pertama adalah, bisnis usaha keluarga Huang berjalan seperti biasa, tanpa ada kendala yang berarti. Meskipun keluarga Huang sudah musnah, namun roda mesin penghasil uang mereka masih bekerja dengan kapasitas penuh."

"Hasil pengamatan kami yang kedua, orang-orang penting yang berhubungan keluarga dengan Tuan besar Huang Jin, mereka yang dipercaya untuk mengepalai cabang Jiang Ling, tidak pernah terlihat lagi, beberapa saat setelah terjadinya pembunuhan besar-besaran dalam keluarga Huang."

"Hasil pengamatan kami yang ketiga menunjukkan bahwa kesetiaan orang-orang dalam keluarga Huang, tidak sepenuhnya beralih pada Tiong Fa. Setiap 2-3 minggu sekali, akan ada orang asing yang datang berkunjung ke cabang Jiang Ling ini. Ia akan menetap selama 1-2 hari, kemudian pergi kembali. Orang asing ini tidak pernah menunjukkan wajahnya secara jelas, bahkan di dalam rumah sekalipun, hanya Tiong Fa seorang yang menemui orang asing ini."

"Hal-hal ini berhasil kami ketahui setelah kami mencoba menjalin hubungan dengan beberapa orang bekas keluarga Huang yang ada di Jiang Ling ini lewat Qin Bai Yu dan Tang Xiong. Selama kami mengawasi, kami juga melihat orang asing yang mereka ceritakan itu, baru saja sampai di kota Jiang Ling, kira-kira 1 hari sebelum kedatangan ketua."

"Ah... jangan-jangan itu pembunuh yang membunuh Mao Bin dan beberapa saudara-saudara yang lain.", ujar Li Yan Mao begitu mendengar adanya orang asing yang datang 1 hari lebih dulu dari mereka.

"Ada kemungkinan begitu, Chou Liang dari arah mana orang itu memasuki kota, apakah kau tahu?", tanya Ding Tao.

"Dari Wuling, kebetulan waktu itu kami mengawasi jalan dari Wuling untuk melihat apakah ketua dan kawan-kawan yang lain datang. Apakah ada orang lain yang terbunuh selain Mao Bin? Apakah kalian bertemu dengan pembunuhnya?", tanya Liu Chun Cao dengan tertarik, matanya berpindah dari satu orang ke orang yang lain. Wang Xiaho, Tabib Shao Yong dan Li Yan Mao saling berpandangan, sedangkan Ding Tao sedang terdiam, sibuk oleh pikirannya sendiri. Wang Xiaho akhirnya berkata pada Li Yan Mao.

"Sebaiknya kau saja yang bercerita."

Li Yan Mao mengangguk kemudian menceritakan dengan serba singkat tentang apa saja yang terjadi selama mereka berada di kota Wuling.

Mendengar kisah Li Yan Mao, Chou Liang dan kawan-kawan terdiam untuk beberapa saat lamanya, pikiran mereka bekerja mencerna kejadian yang baru saja dituturkannya.

"Benar-benar mengejutkan... Sepasang Iblis Muka Giok...", ujar Liu Chun Cao sambil menggelengkan kepala tak percaya. Chou Liang merenungi setiap detail kejadian, kemudian dia melihat ke arah Ding Tao yang masih terdiam merenungi penjelasan Chou Liang sebelumnya.

"Ketua..., ketua Ding Tao.", ujar Chou Liang berusaha mendapatkan perhatian dari Ding Tao.

"Ah ya, ada apa Saudara Chou Liang?", tanya Ding Tao, lepas dari lamunannya.

"Ketua Ding Tao, kau yang pernah berhadapan langsung dengan pembunuh Mao Bin, menurutmu apakah kau bisa mengalahkannya satu lawan satu, jika kau harus bertarung melawan orang itu lagi?", tanya Chou Liang. Mendengar pertanyaan Chou Liang itu, kepala setiap orang diarahkan ke arah Ding Tao, ingin tahu jawaban Ding Tao. Ding Tao tidak langsung menjawab, tapi berpikir beberapa lama sebelum perlahan-lahan dia menjawab.

"Hal yang sama sudah aku pikirkan selama beberapa hari ini, kurasa, asal diberikan waktu beberapa hari lagi untuk merenungkan dan melatih diriku untuk menghadapi jurus-jurus pedangnya yang sulit diduga. Ada kemungkinan cukup besar, kali kedua kami bertarung aku bisa mendapatkan kemenangan."

Jawaban Ding Tao yang optimis membangkitkan semangat para pengikutnya. Wajah Chou Liang sedikit menegang sebelum kemudian berkata.

"Kalau begitu aku ingin mengusulkan agar kita menyerang Tiong Fa sekarang secara berterang."

"Wah, apa maksudmu? Kedudukan mereka sedang kuat-kuatnya, sebelumnya kami sudah sempat berdiskusi dengan Ketua Ding Tao dan kami berpikir, langkah yang terbaik saat ini adalah memperkuat perkumpulan kita dengan menarik lebih banyak lagi pengikut dan barulah kita melakukan gerakan melawan Tiong Fa.", ujar Wang Xiaho sedikit penasaran. Ding Tao menggerakkan tangannya menenangkan Wang Xiaho.

"Tunggu sebentar Paman Wang Xiaho, sesungguhnya itulah yang kita bicarakan dan setujui sebelumnya. Tapi setelah mendengar penjelasan Saudara Chou Liang, ada beberapa bagian yang aku sepaham dengannya, mengapa ini adalah waktu yang baik untuk menyerang Tiong Fa, lepas dari kedudukan kita yang masih lemah."

"Benarkah?", tanya Wang Xiaho.

"Dari uraian Saudara Chou Liang, bisa kita simpulkan genggaman Tiong Fa atas sisa-sisa keluarga Huang masih rapuh. Dia berkuasa atas mereka hanya berdasarkan rasa takut. Terutama pada beberapa jagoan misterius yang berdiri di belakangnya. Jika aku berhasil mengalahkan salah satu jagoan misterius itu dalam pertarungan satu lawan satu. Maka belenggu yang membuat mereka tunduk pada Tiong Fa akan patah.", ujar Ding Tao coba menjelaskan.

"Benar sekali dan akibat dari kemenangan Ketua Ding Tao tidak akan terhenti di kota Jiang Ling saja, tapi dengan seiring menyebarnya cerita itu, cabang-cabang keluarga Huang yang lain akan mendapatkan kembali semangat mereka. Sementara ketenaran dan kekuatan perkumpulan kita akan meningkat, satu per satu cabang keluarga Huang dapat kita rebut dari tangan Tiong Fa.", lanjut Chou Liang.

"Hmm... tapi jika kita gagal dalam gebrakan yang awal ini...", ujar Wang Xiaho sedikit ragu-ragu.

"Keadaannya sama-sama sulit, jika kita menunggu kekuatan kita bertambah, di saat yang sama kekuatan lawan juga semakin mapan. Dalam pertandingan menggalang kekuatan ini, kita berada di pihak yang lebih lemah.", ujar Chou Liang. Kemudian sambil mengitarkan pandangannya ke arah mereka semua, dia coba menjelaskan.

"Tiong Fa menguasai cabang-cabang keluarga Huang dan penghasilan mereka dalam berdagang. Sementara kita masih tertatih-tatih dalam mewujudkan satu bentuk perkumpulan. Meskipun saat ini kita masih memiliki keunggulan dari segi semangat dan kesetiaan anggota perkumpulan kita. Dengan uang yang dia miliki Tiong Fa bisa menutupi kekurangan tersebut dalam waktu yang singkat. Tidak bisa dipungkiri uang memiliki kekuatan untuk menarik orang."

Terdengar desahan nafas dari beberapa orang, Wang Xiaho adalah salah satunya, dengan nada berat orang tua itu berkata.

"Penjelasan yang sangat baik, aku rasa, menyerang Tiong Fa sekarang juga adalah perjudian yang sangt berbahaya. Jika ingin ikut dalam pertaruhan ini, seluruh modal harus dikeluarkan. Sementara kesempatan menang boleh dikatakan masih 50.50."

Ding Tao berdiri menghampiri Wang Xiaho dan menepuk pundak orang tua itu.

"Tidak apa paman, kita hanya perlu memastikan kemenangan ada di pihak kita dan membuat ang 50.50 itu jadi kepastian bagi kita."

Chou Liang terdiam sejenak kemudian berkata.

"Tapi jika Ketua Ding Tao tidak punya keyakinan untuk memenangkan pertarungan itu, sebaiknya rencana ini dibatalkan. Jika kita mati dalam perjuangan tidaklah mengapa, karena sebagai perkumpulan kita masih bisa bangkit lagi. Tapi tidak demikian jika hal itu terjadi pada diri ketua, karena keberadaan diri ketua sebagai perwujudan kesatuan cita-cita, tekad dan ketulusan kami."

Semua kepala sekarang menoleh ke arah Ding Tao, Ding Tao terdiam beberapa lama sebelum akhirnya dia berkata.

"Beri aku waktu satu hari satu malam untuk merenungkan hal ini, setelah itu baru aku bisa memberikan jawaban."

Tanpa terasa ketegangan menyelimuti mereka yang hadir di ruangan itu, apalagi setelah memberikan jawaban, saat itu juga Ding Tao kembali tenggelam dalam perenungannya.

Kali ini tidak ada yang berani mengganggunya.

Mau bicara salah, mau pergi juga terasa tidak sopan, akhirnya mereka semua sama diamnya dengan Ding Tao.

Berbagai macam hal lewat dalam benak masing-masing orang.

Chou Liang memikirkan rencana penyerangan.

Li Yan Mao merenungkan sifat-sifat Ding Tao dan keputusannya untuk menaruh seluruh hidupnya ke dalam usaha pemuda itu mewujudkan impiannya.

Liu Chun Cao justru memikirkan jurus-jurus pedang barunya yang dia dapatkan ilhamnya setelah bertarung dengan Ding Tao.

Tabib Shao Yong merenung tentang perjalanan hidup Ding Tao, perubahan-perubahan yang terjadi sejak dari kanak-kanak Ding Tao hingga sekarang.

Mendesah tabib tua itu mengambil kesimpulan betapa pemuda itu sendiri tidak pernah berubah, hanya keadaan dan kejadian, menempatkan pemuda itu dalam posisi yang jauh berbeda.

Secara pribadi, dia tetap pribadi yang sama, atau mungkin lebih tepatnya, Ding Tao yang sekarang ini adalah versi Ding Tao kecil yang lebih dewasa dan matang.

Dengan sifat-sifat yang baik semakin terasah tajam dan sifat-sifat buruknya makin diredam.

Cukup lama mereka diam dalam keadaan itu sampai Ding Tao tersadar akan keadaan dalam ruangan itu.

Pemuda itu pun tersipu malu, kemudian buru-buru bangkit berdiri.

"Saudara sekalian, sepertinya aku ingin beristirahat terlebih dahulu. Kalian silahkan teruskan saja obrolan kalian. Maaf gara-gara aku melamun, suasana jadi tidak enak", ujar pemuda itu sambil membungkuk berpamitan.

"Tidak, tentu saja tidak apa-apa ketua, silahkan, silahkan jika hendak beristirahat terlebih dahulu", ujar Chou Liang.

"Ya, sebaiknya ketua beristirahat lebih dulu", sahut Wang Xiaho sambil tersenyum. Setelah bertukar kata beberapa saat lagi, akhirnya Ding Tao pun diantarkan menuju ke kamar yang sudah disediakan untuknya oleh Chou Liang. Dalam perjalanan itu Ding Tao mendesah sedih, terbayang betapa banyak keakraban yang jadi terhalang oleh kedudukannya saat ini. Perlakuan mereka menjadi sedikit kaku dengan adanya embel-embel ketua.

"Apakah ketua sedang memikirkan ucapanku tadi? Tentang pertarungan antara ketua dengan pembunuh misterius itu?", tanya Chou Liang yang mendengar desahan Ding Tao. Ding Tao menoleh kemudian menggeleng.

"Bukan, masalah itu tidak perlu kau khawatirkan, jika aku merasa bisa pasti aku akan katakan bisa dan demikian juga sebaliknya. Bukan, bukan itu, tapi masalah ketua dan pengikut, sepertinya jadi ada jarak antara diriku dengan yang lain."

Chou Liang merenungi perkataan Ding Tao dan menjawab.

"Mungkin itu salah satu pengorbanan yang harus ketua berikan demi tercapainya cita-cita. Setiap perjuangan menuntut pengorbanan dan bentuk pengorbanan itupun berbeda-beda. Bahkan di masa yang mendatang, mungkin akan ada saatnya ketua harus mengeraskan hati dan meninggalkan orang-orang yang dekat dengan ketua dalam bahaya demi perjuangan itu."

Mereka sudah sampai di depan pintu kamar saat Chou Liang mengatakan hal itu.

Ding Tao terdiam merenungi perkataan Chou Liang, dalam hati dia bertanya, apakah saat seperti itu akan tiba.

Jika ya, apa yang akan dia lakukan?

Chou Liang yang bisa menduga pergumulan hati Ding Tao ikut terdiam.

Perlahan Ding Tao membuka pintu kamar dan mengambil nafas dalam-dalam, kemudian berkata.

"Perkataanmu itu berat untuk dijalani, kukira hingga saat seperti itu tiba aku tidak akan pernah tahu pilihan apa yang nantinya akan kuambil."

Chou Liang tersenyum dan menjawab.

"Jika saatnya tiba, aku yakin ketua akan mengambil keputusan yang tepat."

"Semoga saja begitu, baiklah aku beristirahat terlebih dahulu", jawab Ding Tao sambil membalas senyum Chou Liang. Chou Liang pun berpamitan, Ding Tao pun masuk ke dalam kamar dan mulai bermeditasi, menyatukan pikiran dan segenap rasa untuk merenungi pertarungannya dengan pembunuh misterius yang harus dia hadapi untuk kedua kalinya sebagai batu loncatan, jika dia ingin perkumpulan yang dia dirikan menjadi kuat. Semalaman Ding Tao bekerja keras untuk memikirkan cara melawan pemubunuh misterius yang memiliki ilmu pedang yang sulit ditandingi itu.Para pengikutnya tidak ingin mengganggu konsentrasinya, karena itu meskipun Ding Tao tidak muncul pada saat makan malam, mereka tidak pergi untuk mengingatkan Ding Tao. Hanya saja satu baki hidangan, makan dan minum, diletakkan di depan pintu kamar Ding Tao. Keesokan paginya mereka melihat Ding Tao tidak menyentuh hidangan itu sedikitpun, tanpa banyak tanya, mereka pun mengganti hidangan itu dengan satu baki hidangan yang baru. Tengah hari, di hari kedua, Ding Tao berjalan keluar dari kamar, badannya terasa lemas karena sehari semalam tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Badannya boleh lemas, tapi semangatnya justru sedang bangkit, karena Ding Tao merasa mendapatkan satu cara untuk menghadapi pembunuh misterius itu. Begitu Ding Tao membuka pintu dia mendapati makanan dan minuman yang sudah disediakan baginya. Dengan rasa haru, Ding Tao membawa makanan dan minuman itu ke dalam kamarnya. Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang besar, namun bagi Ding Tao yang tumbuh dan besar sebagai tukang kebun dalam keluarga Huang, mendapatkan pelayanan semacam ini adalah hal yang baru. Setelah sedikit makan dan minum, Ding Tao kembali mulai dengan latihannya. Apa yang ada dalam bayangannya perlahan dia tuangkan dalam gerak. Saat keringat sudah mulai membasahi tubuhnya dia beristirahat sekaligus kembali makan dan minum secukupnya. Demikian hal itu berlanjut sampai hari mulai malam. Saat Ding Tao akhirnya selesai dengan perenungan dan latihannya, diapun duduk mengumpulkan kembali kekuatan dan semangatnya. Setelah nafasnya kembali teratur dan seluruh tubuhnya terasa segar, pemuda itupun mengumpulkan mangkok dan piring yang kosong, ke atas baki. Lalu dibukanya pintu hendak membawa cucian piring itu ke tempatnya. Saat pintu terbuka, Ding Tao pun melihat ternyata sudah ada Chou Liang dan Tabib Shao Yong yang berdiri menunggunya. Chou Liang bergegas mengambil baki makanan yang sudah kosong dari tangan Ding Tao dan berkata.

"Ketua, biar aku yang membereskan ini, sementara biarlah Tabib Shao Yong memeriksa kesehatan ketua. Satu hari satu malam ketua berlatih tentu menghabiskan banyak tenaga, sedangkan besok adalah hari penentuan yang penting."

Ding Tao tak kuasa mencegah Chou Liang, akhirnya dia pun mengangguk dan tersenyum, menyerah pada pengikutnya itu.

"Baiklah, sebenarnya aku merasa baik-baik saja tapi memang sebaiknya Tabib Shao Yong memeriksa kembali untuk memastikan."

Berdua Tabib Shao Yong dan Ding Tao masuk kembali ke dalam kamar, duduk di pinggir pembaringan, Tabib Shao Yong mulai memeriksa denyut nadi Ding Tao dengan meletakkan 3 jarinya di pergelangan tangan Ding Tao.

Muka tabib tua itu berkerut saat dia berkonsentrasi mengamati denyut nadi Ding Tao.

Jari-jari dan perasaannya yang sudah terlatih, begitu pekanya hingga bisa mengamati keadaan tubuh seseorang lewat denyut nadi pada pergelangan tangan.

Sesaat kemudian tabib tua itu menghembuskan nafas lega.

"Kukira keadaan ketua sehat-sehat saja, bahkan sangat sehat. Kondisi ketua jauh di atas orang-orang pada umumnya. Tapi untuk memastikan, apakah ketua tidak keberatan jika aku memeriksa lebih lanjut?"

"Tentu saja, tidak perlu sungkan, Tabib Shao Yong yang lebih mengerti tentang masalah kesehatan tubuh manusia."

Tabib Shao Yong pun memeriksa kedua bola mata Ding Tao, meminta Ding Tao untuk menjulurkan lidahnya dan sebagainya.

Alis tabib tua itu sedikit berpikir dan merenung, membuat hati Ding Tao sedikit berdebar.

"Ketua, sebenarnya semuanya terlhat baik-baik saja dan seperti yang aku katakan, justru kondisi ketua jauh lebih baik dari orang pada umumnya. Bahkan pada pesilat pada umumnya. Dari pemeriksaan yang kulakukan, aku mendapati reaksi dan daya kerja urat dan syaraf ketua beberapa kali lebih cepat daripada kewajaran.", kata Tabib Shao Yong. Ding Tao pun jadi teringat obat sakti pemberian Murong Yun Hua, dalam hati dia berterima kasih pada gadis itu. Sudah beberapa lama dia hidup dalam keadaan demikian hingga daya pikir dan daya tangkapnya yang beberapa kali lipat dibanding sebelum meminum obat itu, tidak lagi menjadi satu hal yang luar biasa. Tapi Ding Tao tidak berani mengungkapkan hal itu pada Tabib Shao Yong, ada kekuatiran dalam hatinya jika dia bercerita tentang obat sakti itu, maka cerita itu bisa merembet pula sampai pada kisah cintanya dengan Murong Yun Hua. Padahal Ding Tao justru ingin mengubur dalam-dalam kisah itu, karena kisah itu bertalian erat pula dengan perasaannya terhadap Huang Ying Ying. Perasaan bersalah membuat Ding Tao terlampau menutup diri dalam satu hal ini. Ding Tao bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak mampu menghindarinya. Ding Tao terkadang merasa malu bahwasannya dia tidak memiliki keberanian untuk mengakui apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Murong Yun Hua. Dia merasa bersalah, baik pada Huang Ying Ying, juga pada Murong Yun Hua. Sejenak lamanya Ding Tao terdiam sebelum dia berani memandang wajah Tabib Shao Yong yang menunggu dia menanggapi perkataannya.

"Apakah ada masalah dengan hal itu?", tanya Ding Tao pada Tabib Shao Yong dengan wajah tersipu. Tabib Shao Yong pun tersenyum maklum, dia sudah cukup tua dan sudah mengenal Ding Tao cukup lama untuk memahami bahwa ada hal yang tidak ingin diceritakan oleh pemuda di depannya ini.

"Tidak ada masalah, justru sepertinya ketua akan mampu meningkatkan kemampuan ketua dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan orang lain. Gerak refleks dan kecepatan reaksi ketua menghadap lawan pun akan beberapa kali lebih cepat dibanding orang biasa."

"Oh, begitu...", ujar Ding Tao tidak tahu harus berkata apa.

"Mari ketua, kita pergi ke ruang tengah, seluruh saudara yang lain sudah berkumpul di sana. Bahkan Tuan dan Nyonya Ma Songquan pun sudah ikut bergabung dengan kita di sini.", kata Tabib Shao Yong memecahkan suasana yang jadi sedikit kaku.

"Ah... Kakak Ma Songquan berdua juga sudah bergabung, sungguh bagus sekali. Tapi dari mana mereka bisa tahu kita berada di sini?"

"Rupanya mereka berdua sudah mengikuti kita sejak kita keluar dari kota Wuling dan kemudian memutuskan untuk melakukan sedikit penyisiran di kota Jiang Ling sebelum bergabung kembali dengan kita. Tentu saja mereka berdua tidak tahu kode untuk masuk ke dalam rumah, tapi dengan sabar mereka berdua menanti sampai melihat Saudara Li Yan Mao keluar dari pintu itu dan menyapanya.", ujar Tabib Shao Yong, menceritakan serba singkat tentang kedatangan sepasang pendekar tersebut.

"Ah, kedua orang itu selalu saja mengejutkan, kalau begitulah ayolah cepat, jangan biarkan orang-orang menunggu.", kata Ding Tao sambil bergegas pula menuju ke ruang tengah diikuti oleh Tabib Shao Yong di belakangnya. Di ruang tengah semua orang sudah berdiri menunggu, begitu Ding Tao memasuki ruangan, mereka semua berdiri dengan hikmat dan memberi hormat. Ding Tao membalas penghormatan mereka kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya. Baru setelah Ding Tao duduk yang lain mengikuti. Qin Bai Yu, Tang Xiong dan Chou Liang memilih untuk berdiri karena jumlah kursi yang terbatas. Ding Tao memandang Chou Liang kemudian menganggukkan kepala. Melihat itu Chou Liang pun berjalan ke depan dan menyapa sekalian yang hadir.

"Seperti yang sudah kita semua ketahui, kita berencana untuk berhadapan muka dengan muka, melawan Tiong Fa dan orang-orang yang berada di belakangnya. Laporan terakhir mengabarkan munculnya kurir yang sepertinya mengirimkan satu kabar pada Tiong Fa, sebelum kemudian pergi dengan diam-diam."

"Kemungkinan besar, keberadaan Ketua Ding Tao dan kita di sini sudah berhasil diketahui lawan. Atau mungkin ada perkembangan lain dalam organisasi lawan yang tidak kita ketahui. Selain kabar yang kurang menyenangkan ini, ada kabar lain yang cukup membuat kita berbesar hati. Orang-orang dalam yang berhasil kita hubungi, sudah menyatakan siap untuk berdiri di belakang kita jika kita hendak melakukan serangan terhadap Tiong Fa."

Mendengar kabar itu sekalian yang datang mengangguk dengan puas, dengan bertambahnya pendukung tentu kesempatan mereka untuk menang menjadi semakin besar.

"Meskipun demikian, mereka memberikan satu syarat.", ujar Chou Liang melanjutkan penjelasannya.

"Syarat apa?", tanya Ding Tao.

"Mereka tidak akan segera terjun maju dalam pertempuran itu, melainkan akan berdiri menunggu, dan akan menentukan sikap selanjutnya setelah melihat hasil pertarungan antara Ketua Ding Tao dengan jagoan misterius yang menjadi tulang belakang Tiong Fa. Itu artinya, sampai dengan Ketua Ding Tao berhasil mengalahkan orang tersebut, kita akan bertarung sendirian melawan orang-orang Tiong Fa yang lebih banyak dari segi jumlah.", urai Chou Liang menjelaskan syarat yang diajukan oleh orang-orang bekas pengikut keluarga Huang di kota Jiang Ling. Muka Li Yan Mao memerah, sambil menggeram jago tua itu memaki.

"Pengecut! Apa maksud syarat mereka itu?"

Ding Tao segera mengangkat tangannya sehingga kekecewaan dan kemarahan yang mulai menyebar itu terhenti.

"Sebentar, sebentar, jangan emosi kalian menjadi tinggi karena hal itu. Syarat yang mereka berikan aku terima dan aku pun bisa memahaminya. Sebagian besar yang berada di Jiang Ling adalah perajin dan pedagang, mereka bukan orang yang hidup dengan pedang. Mereka pun tentu tidak ingin keluarganya mengalami nasib seperti apa yang terjadi di kota Wuling."

"Kita datang meminta mereka untuk mempertaruhkan keamanan yang mereka miliki saat ini. Janji yang mereka berikan menunjukkan bahwa merekapun tidak menerima keadaan saat ini. Bukan suatu hal yang salah jika mereka menunggu sampai kita bisa memberikan bukti akan kemampuan kita, kesediaan mereka untuk tidak turun dalam pertempuran saja sudah merupakan satu keberanian. Karena jika nanti ternyata kita kalah, tentu sikap mereka itupun akan dihadapi dengan tangan besi oleh Tiong Fa. Akan ada orang yang menanggung hukuman atas sikap menunggu mereka.", ujar Ding Tao berusaha meredakan amarah yang hadir saat itu. Chou Liang mengangguk-anguk puas dan kemudian menyahut.

"Sebenarnyalah uraian Ketua Ding Tao cukup tepat mewakili kejadian sesungguhnya. Adalah orang dalam keluarga Huang yang kita hubungi yang berusaha membujuk anggota yang lain untuk bersikap menunggu. Akhirnya mereka semua setuju setelah orang tersebut berjanji akan maju mempertanggung jawabkan semuanya jika kita kalah dalam pertempuran itu."

Mendengar penjelasan Ding Tao dan Chou Liang, amarah orang-orang itupun jadi sedikit mereda.

"Siapakah orang yang pemberani itu?", tanya Wang Xiaho.

"Nama orang itu adalah Qin Hun, ayah saudara kita Qin Bai Yu", jawab Chou Liang sambil tersenyum pada Qin Bai Yu. Tang Xiong yang berada di samping Qin Bai Yu menepuk pundak pemuda itu dengan rasa sayang, yang lain pun menganggukkan kepala pada pemuda itu. Wajah Qin Bai Yu jadi kemerahan karena malu, dalam hati pemuda itu merasa bangga akan sikap jantan ayahnya, sekaligus merasakan kekhawatiran pada nasib yang akan menimpa ayahnya jika sampai mereka gagal. Dengan penuh harap pemuda itu memalingkan wajah pada Ding Tao, orang yang akan menjadi kunci dari pergerakan mereka kali ini. Chou Liang pun berpaling pada Ding Tao dan mewakili yang lain menanyakan apa yang ada dalam pikiran mereka semua.

"Ketua, bagaimana hasil latihan ketua? Akankah kita maju atau menunggu lagi sampai beberapa waktu?"

Pertanyaan itu menggantung dalam ruangan yang sunyi senyap untuk beberapa lamanya, sebelum kemudian Ding Tao menjawab dengan tegas.

"Kita laksanakan rencana itu, jika langit berkenan, besok saat aku bertarung dengannya adalah hari penghabisa bagi dirinya."

Tidak terdengar sorak-sorai, namun bagi yang hadir dalam ruangan itu terasalah bagaimana udara dalam ruangan itu serasa dipenuhi oleh sorak-sorai.

Ketegangan yang tadi menyelimuti ruangan itu segera meleleh, diganti dengan ketegangan yang berbeda.

Ketegangan seekor kuda liar dalam kekangan yang ingin lepas dan berlari di padang rumput.

Atau kuda pacuan yang menunggu aba-aba untuk berlari.

Hanya Ding Tao yang sedikit berbeda, bukan berarti dia tidak memiliki kemauan atau kesungguhan sekuat pengikutnya, namun bayangan bahwa dirinya harus membunuh seseorang tidaklah menyenangkan hatinya.

Sejak peristiwa yang mengakibatkan terbunuhnya Fu Tsun oleh siasat Ding Tao, pemuda ini berusaha untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah.

Namun Ding Tao menyadari pentingnya kemenangan esok hari dan pembunuh itu terlalu kuat untuk dapat dia kalahkan tanpa menumpahkan darah.

Malam itu mereka membahas rencana mereka untuk keesokan harinya.

Tidak ada yang terlampau rumit karena lawan jauh lebih mapan dari kedudukan mereka, sehingga kecil kemungkinan lawan merasa perlu untuk menghadapi Ding Tao dengan siasat.

Di saat yang sama, Ding Tao dan kawan-kawannya pun tidak ingin memenangkan pertempuran lewat siasat, karena mereka justru hendak menunjukkan kekuatan mereka kepada orang-orang bekas pengikut keluarga Huang.

Menang lewat siasat tidak akan menarik bagi mereka.

Ding Tao perlu memenangkan pertarungannya dengan gemilang.

Setelah pertemuan yang cukup singkat, masing-masing pergi ke ruangannya untuk beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk pertempuran esok pagi.

Masing-masing dengan isi benak dan hati yang berbeda.

Pagi itu seperti pagi biasa di kota Jiang Ling, tidak ada yang berbeda.

Para pedagang yang mulai memenuhi pasar, berdatangan seperti biasa.

Yang pergi bekerja juga pergi bekerja seperti biasa, yang biasa bermalas-malasan mencari kesenangan masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.

Tapi ada yang tidak biasa di satu tempat di kota Jiang Ling itu.

Di depan sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal Tiong Fa terasa satu ketegangan yang mencekam.

Orang yang biasa berlalu lalang lewat jalan itu, terhenti beberapa jauh dari bangunan itu.

Tidak berani untuk melangkah lebih dekat, tapi tidak kuasa pula untuk berbalik dan menjauh.

Hawa pembunuhan memenuhi tempat itu dengan pekat.

Berjajar di depan bangunan itu Ding Tao dan segelintir pengikutnya.

Di kiri dan kanan Ding Tao berdiri Ma Songquan dan Chu Lin He.

Berjajar sedikit di belakang mereka bertiga adalah Tang Xiong, Qin Bai Yu, Li Yan Mao, Wang Xiaho dan Liu Chun Cao.

Mereka berdiri dengan tenang, meskipun pedang belum terhunus namun setiap orang yang hendak lewat bisa melihat bahwa mereka sedang mencari gara-gara.

Pemandangan itu sekilas nampak konyol bagi orang bayaran Tiong Fa yang sedang berjaga di depan gerbang.

Kebetulan ada tiga orang yang bertugas berjaga saat itu.

Mereka baru saja membuka gerbang rumah usaha mereka, ketika melihat Ding Tao dan yang lainnya berdiri berjajar, dengan mata tajam memandangi mereka.

Sejenak ketiga orang itu saling berpandangan dengan wajah keherenan dan geli, akhirnya salah seorang dari mereka mengangkat bahu lalu maju ke depan.

Sambil menunjuk ke arah wajah Ding Tao dan yang lain dia bertanya.

"He, kalian ini mau apa? Apa mau cari gara-gara di sini? Sudah sana cepat pergi jangan ganggu usaha orang atau kami akan mengusir kalian dengan jalan kekerasan."

Ditunjuk-tunjuk dengan kasar Ding Tao tidak menunjukkan kemarahan, dengan tenang dia mengangguk dan menjawab.

"Aku memang kemari untuk mencari perkara dengan kalian. Kami kemari ingin menuntut keadilan bagi keluarga Huang di Wuling. Katakan pada tuanmu, Tiong Fa untuk keluar dan menghadapi kami."

Mendengar jawaban Ding Tao yang diucapkan dengan tenang ketiga orang itu makin heran dan tidak habis pikir.

Sekali lagi mereka memperhatikan keadaan sekelilingnya, membayangkan ada puluhan orang yang tak terlihat sedang berbaris siap menyerang.

Tapi seperti apapun dipandang, yang berdiri di hadapan mereka dan berkata hendak membuat perhitungan jumlahnya tidak lebih dari sepuluh jari mereka.

Ingin tertawa dan berolok-olok, namun ketenangan dan keseriusan wajah Ding Tao dan rekan-rekannya membuat hati ketiga orang itu tergetar juga.

"Laporkan ke dalam", salah seorang dari antara mereka yang bertindak sebagai pemimpin bagi kawannya akhirnya berkata.

"Apa yang harus dilaporkan?", bisik salah seorang dari mereka bertanya, sambil memandangi rombongan Ding Tao dengan wajah bingung.

"Bodoh, ceritakan saja apa yang terjadi di sini.", ujar yang seorang lagi.

"Pada Tuan besar Tiong Fa?", tanya kawannya lagi, tidak sempat merasa tersinggung oleh makian temannya, karena jantungnya berdebaran dengan kencang menyaksikan tingkah polah Ding Tao dan rekan-rekannya.

"Jangan, laporkan saja pada Kakak Fu Shien, biar dia yang memutuskan", jawab yang memimpin di antara mereka, sambil menjawab matanya tidak lepas-lepas mengamati Ding Tao dan rombongannya. Setelah mendapat kepastian, bergegas orang yang dari bertanya masuk kembali ke dalam bangunan. Pada dasarnya jantungnya sudah mengerut melihat ketenangan Ding Tao dan rombongannya. Sebenarnya bukan hanya dia, tapi dua rekannya pun merasakan kegawatan situasi mereka saat itu. Jika segelintir orang bisa mendatangi markas mereka dan dengan tenang menantang Tiong Fa, pimpinan mereka, tentu orang-orang ini punya pegangan yang tidak bisa dianggap enteng. Hanya saja nyali dua orang itu lebih besar dari nyali kawannya yang masuk untuk melapor tadi. Ingin melihat bagaimana reaksi Ding Tao, pemimpin penjaga gerbang itu menggerakkan kepalanya, menunjuk kawannya yang berlari masuk.

"Kau lihat, kawanku tadi sudah masuk untuk melapor. Jika kalian masih sayang badan, kusarankan kalian pergi saja sekarang. Jika kalian berlambat-lambat, tentu akan menyesal."

Wang Xiaho tidak tahan dan mendengus.

"Heh... jangan kau anggap kami anak kecil yang tidak memiliki perhitungan dan bisa kau gertak dengan ancaman macam itu. Jika kami berani datang, tentu kami punya perhitungan sendiri pula."

Wajah kedua penjaga gerbang itu pun menjadi gelap dan mengeras, tangan mereka meraba gagang golok yang tergantung di pinggang, sadar bahwa sebentar lagi akan terjadi pertarungan hidup dan mati.

Ding Tao yang melihat gerak-gerik kedua orang itu berkata pula.

"Urusan kami sebenarnya hanyalah dengan Tiong Fa, aku tahu kalian hanya orang bayaran. Jika kalian mau minggir, kami pun tidak akan menurunkan tangan keras pada kalian. Tapi siapapun yang berani menghalangi, kami tidak akan sungkan-sungkan, jika ada darah tertumpah, jangan salahkan kami karena pedang tidak bermata."

Kedua orang itu menggertakkan gigi mereka, salah seorang di antara mereka menjawab.

"Tidak usah banyak bicara, kita hidup dengan pedang, sudah wajar jika matipun oleh pedang. Jika darah kami bisa tertumpah, demikian pula dengan darah kalian, karena golok kamipun tidak bermata."

"Hmm... apakah kalian berdua tidak tahu kejadian di Wuling, kami datang menuntut keadilan. Tumpahnya darah kami dan tumpahnya darah kalian tentu saja beda harganya. Jika kami mati, kami mati berusaha menegakkan keadilan. Jika kalian mati, kalian mati hanya karena masalah harta.", jawab Ding Tao dengan dingin.

"Hmph... Omong kosong dengan keadilan, kalian datang menghantar nyawa, apa kalian tidak tahu berapa jumlah orang yang ada dalam gedung ini?", jawab salah satu penjaga, matanya menyipit tajam, biarpun tidak kentara dan singkat saja, suara golok yang dicabut dari sarungnya terdengar oleh setiap orang. Dengan senyum mengejek Ma Songquan menjawab.

"Hmm... jika hal kecil begitu saja kami tidak tahu, anggap saja kami memang pantas mati di tangan cecurut macam kalian. Jumlah lelaki yang mampu mengangkat senjata seluruhnya ada 68 orang. 35 di antaranya adalah bekas-bekas pengikut keluarga Huang yang kalian taklukkan. Sedangkan 33 orang sisanya adalah orang-orang bayaran Tiong Fa. Dari 33 orang itu yang bisa dibilang ada harganya tidak lebih hanya 7-8 orang saja dan kalian berdua ini bukan termasuk di antaranya."

Memerah wajah kedua penjaga itu, antara menahan marah dan juga tegang karena lawan ternyata bukan hanya bisa bicara kosong saja.

Apa yang dikatakan sungguh tepat dengan keadaan sebenarnya.

Ada sementara orang semakin ketakutan justru semakin marah untuk menutupi rasa takutnya, demikian juga dengan salah seorang dari penjaga itu.

Dengan tangan gemetaran dia mencabut goloknya dan mengacung-acungkannya ke arah Ma Songquan.

"Jaga mulutmu, atau kurobek mulutmu yang kurang ajar itu dengan golokku ini!"

Ma Songquan tersenyum dingin mendengar ancaman itu, jika kata-kata yang sama didengarnya beberapa waktu yang lalu, orang itu tentu sudah tidak bernyawa saat ini.

Beruntung sifatnya sudah banyak berubah setelah bertemu Ding Tao.

"Hoo, kau diam saja, apa kau merasa takut sekarang?", ejek orang itu sambil menggoyangkan goloknya. Ding Tao yang bisa merasakan kemarahan yang menggelegak dalam hati Ma Songquan, meletakkan tangannya ke pundak Ma Songquan, kemudian dengan nada menegur dia menasihati penaga yang mengacung-acungkan goloknya.

"Sobat, sarungkan golokmu, tidak ada perlunya mengusik kemarahan kawanku ini. Jika kau memang ingin bertarung, tunggu sebentar sampai tuanmu, Tiong Fa memberikan jawaban. Janganlah ketakutanmu membuatmu kehilangan akal."

Dinasihati demikian tentu saja membuat orang itu semakin kebakaran jenggot, dia bergerak seperti akan melangkan maju, namun rekannya jauh lebih bijaksana.

Dia segera menahan temannya untuk tidak maju ke depan.

"Tunggu dulu, tidak perlu kehilangan kesabaran. Jangan tolol dan maju sembarangan, apa kau mau menjual nyawa sia-sia?"

Kemudian dengan dingin dia mengangguk pada Ding Tao, seperti berterima kasih telah bermurah hati pada rekannya.

Tampaknya orang itu cukup disegani dan dihormati oleh rekannya, sehingga rekannya tersebut tidak lagi mengumbar caci maki.

Suasanapun diliputi kesunyian, karena dari dua kelompok itu tidak seorangpun mencoba mengajak berbicara yang lain.

Kesunyian itu baru pecah ketika terdengar suara tertawa keras dari dalam gedung.

Seorang lelaki berpakaian mewah keluar dari dalam gedung tapi dia bukan Tiong Fa.

Ding Tao memandangi orang yang baru tiba ini dengan kening berkerut.

Di belakang lelaki itu mengikut kira-kira tiga puluhan orang lainnya.

"Hahahaha, kusangka siapa tamu yang datang, ternyata ada juga wajah kenalan lama di sini. Wang Xiaho! Liu Chun Cao! Apa-apaan kalian ini, mengapa urusan anak kecil seperti inipun kalian bisa ikut tersangkut di dalamnya?", ujar lelaki berpakaian mewah tersebut sambil tertawa-tawa. Wang Xiaho dan Liu Chun Cao pun mengamati orang itu baik-baik, Liu Chun Cao yang terlebih dahulu membuka mulut.

"Fu Pendekar pedang ganda, Fu Shien, rupanya kau di sini sekarang."

Wang Xiaho yang mulai teringat pula dengan sosok di hadapannya itu menyahut pula.

"Bukankah kau jadi pengawal seorang pejabat di istana? Kenapa sekarang berada pula di sini?"

Fu Shien tertawa tawa saja.

"Wah syukurlah kalau kalian tidak lupa dengan namaku, pejabat itu tertangkap sedang bermain mata dengan isteri seorang pangeran, apa boleh buat aku pun terpaksa mencari pekerjaan baru. Karena itu harap kalian memberi muka dan tidak mengganggu periuk nasiku."

"Maafkan kami, tapi kedatangan kami bukan sekedar mencari gara-gara, tapi menuntut keadilan atas nama keluarga Huang", jawab Ding Tao mewakili yang lain. Fu Shien dengan senyum sedikit terpaksa memalingkan wajahnya menghadap ke arah Ding Tao, sebagai angkatan yang lebih tua dia memandang sebelah mata pemuda di depannya ini.

"Menuntut keadilan? Apakah kalian memiliki bukti dan saksi bahwa Tuan Tiong Fa tersangkut dalam urusan itu?", tanyanya dengan dingin.

"Tentu saja ada, beberapa saudara di sini adalah saksi dari kejadian itu, mereka pun mengetahui ketika Tiong Fa pertama kali berkhianat pada keluarga Huang.", jawab Ding Tao dengan tenang.

"Oh, tentang hal itu Tuan Tiong Fa telah bercerita pula pada kami, kejadian itu adalah satu siasat yang sudah disetujui oleh Tuan besar Huang Jin sendiri, untuk mengelabui satu kelompok rahasia yang diduga hendak menyerang keluarga Huang. Siapa sangka serangan itu terjadi lebih cepat dari dugaan mereka berdua. Sekarang Tuan besar Tiong Fa berusaha menyelamatkan sisa-sisa yang ada, agar jerih payah Tuan besar Huang Jin tidak musnah begitu saja.", ujar Fu Shien dengan cerdiknya. Tiba-tiba terdengar teriakan dari kerumunan orang yang menonton kedua kelompok itu dari kejauhan.

"Pembohong! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Tiong Fa menerima perintah dan bekerja sama dengan orang-orang yang membantai keluarga Huang di Wuling malam itu!"

"Siapa itu? Jika bukan pengecut, keluarlah. Kalau tidak berbohong, mengapa harus bersembunyi!", bentak Fu Shien dengan suara menggelegar. Ding Tao dan orang-orang di sekelilingnya mengerutkan alis, rupanya mereka mengenal suara Tabib Shao Yong yang berteriak dari antara kerumunan orang. Sudah menjadi kesepakatan mereka semalam, bahwa Tabib Shao Yong dan Chou Liang yang tidak memiliki dasar-dasar ilmu silat yang cukup untuk mempertahankan diri dalam satu pertempuran, untuk bersembunyi dan tidak ikut dalam penyerbuan itu. Siapa sangka Tabib Shao Yong tidak mampu menahan diri dan justru menunjukkan keberadaannya pada lawan. Sejak awal Tabib Shao Yong selalu dihantui oleh kejadian saat pembantaian tersebut. Saat dirinya beku oleh rasa takut, bersembunyi dari lawan, tanpa melakukan apa-apa untuk menolong kawan-kawannya. Rasa malu dan penyesalan menumpuk dalam hatinya, saat mendengar Fu Shien memutar balikkan kenyataan dan memuji-muji Tiong Fa, Tabib Shao Yong pun tidak bisa lagi menahan perasaannya. Denga wajah merah padam oleh kemarahan, tabib tua itu berjalan dengan gagah ke arah dua kelompok yang saling berhadapan, penampilannya begitu berbeda dari keadaan biasanya yang penuh belas kasih. Fu Shien memandangi Tabib Shao Yong dengan pandang tertarik, saat Tabib Shao Yong makin mendekat diapun maju ke arah Tabib Shao Yong dan bertanya.

"Orang tua, apakah benar perkataanmu bahwa kau adalah saksi mata keterlibatan Tuan besar Tiong Fa dalam penyerangan atas keluarga Huang?"

"Tentu saja benar, saudara yang lain kebetulan berada di tempat yang berbeda, hingga mereka tidak menyaksikannya secara langsung. Tapi aku kebetulan berada di tempat yang tepat dan melihat dengan mata kepalaku sendiri Tiong Fa bekerja sama dengan para pembunuh itu!", jawab tabib tua itu dengan tegas.

"Hmm, kalau begitu kau adalah satu-satunya saksi mata. Apakah perkataanmu bisa dipercaya?", ujar Fu Shien dengan pandang menghina. Bertonjolan urat di dahi Tabib Shao Yong ditanya demikian.

"Tentu saja bisa dipercaya..."

Tiba-tiba selarik garis gelap berbau amis, melesat ke arah Tabib Shao Yong, Fu Shien saat itu berdiri di antara Ding Tao dan Tabib Shao Yong, menghalangi pandangan Ding Tao, sehingga pemuda itu terlambat beberapa saat untuk menolong Tabib Shao Yong.

Liu Chun Cao yang lebih awas dan berada di posisi yang lebih tepat, masih sempat bergerak hendak menolong Tabib Shao Yong, tapi Fu Shien sudah siap dan dengan cepat memotong pergerakan Liu Chun Cao.

Nyawa Tabib Shao Yong sudah berada di ujung tanduk, tapi tiba-tiba, satu desingan yang sangat kuat menyambar melewati belakang kepala Fu Shien yang sedang menghadang Liu Chun Cao.

Lemparan yang kedua ini lebih kuat dan cepat dari lemparan senjata rahasia beracun yang dilemparkan ke arah Tabib Shao Yong.

Bukan hanya kuat dan cepat, tapi ketepatannya pun nomor satu.

Lemparan yang kedua dengan tepat menghadang jalan senjata rahasia beracun itu sehingga Tabib Shao Yong pun selamat dari usaha pembunuhan.

Waktu yang terciptakan sangat singkat, tapi di saat yang singkat itu dengan cepat Ding Tao sudah melompat melindungi Tabib Shao Yong.

Wajah tabib tua itu menjadi pucat, namun tidak dalam waktu yang lama.

Tabib Shao Yong sudah cukup dengan rasa takutnya, tidak mau lagi dia membeku oleh rasa takut.

Kali ini tabib tua itu bukannya bersembunyi ketakutan, namun justru membusungkan dada dan berteriak.

"Pengecut kalian semua! Bukti apa lagi yang kalian perlukan, perbuatan kalian justru membuktikan kebusukan kalian."

Liu Chun Cao juga marah karena pihak lawan sudah menyerang secara menggelap.

"Fu Shien, manusia rendah, kiranya masih ada yang bersembunyi! Siapa itu? Apa manusia beracun dari Utara?"

Fu Shien hanya mendengus saja, dengan satu gerakan tangan, mereka yang berkumpul di belakangnya segera bergerak menyerang Ding Tao dan rombongannya.

Ding Tao dan rombongannya tidak kalah sigap, tanpa ragu Ding Tao menggunakan jurus ciptaannya untuk membentuk perisai pelindung bagi dirinya dan Tabib Shao Yong.

Ma Songquan dan Chu Lin He dengan sigap memimpin sisanya untuk bertahan menghadapi lawan yang berjumlah lebih banyak.

Liu Chun Cao tidak salah menebak, orang yang melemparkan senjata rahasia beracun ke arah Tabib Shao Yong adalah si racun dari utara, beruntung di antara mereka ada Ma Songquan dan Chu Lin He yang keahliannya dalam melempar senjata rahasia tidak berada di bawah jagoa tersebut.

Beberapa jagoan ternama lain ikut pula bermunculan di antara tiga puluh orang tersebut.

Pertempuran pun terjadi dengan seru, meskipun kalah jumlah, namun Ma Songquan, Chu Lin He dan Ding Tao memiliki kemampuan beberapa tingkat di atas lawan mereka.

Serangan ketiganya mampun membuat barisan lawan kocar kacir.

Jika bukan karena permintaan Ding Tao semalam, sepasang suami isteri Ma Songquan dan Chu Lin He mungkin sudah berhasil membunuh beberapa orang lawan.

Namun tujuan serangan mereka kali ini adalah untuk memancing pembunuh misterius yang mereka jadikan sandaran untuk keluar.

Fu Shien dan rekan-rekannya mulai terbuka matanya, tidak berani lagi mereka meremehkan pemuda yang sedang mengamuk dengan jurus pedangnya yang mengurung ke segala arah itu.

Ding Tao sendiri sudah mulai ragu-ragu, apakah rencana mereka akan berjalan sesuai rencana.

Ataukah orang yang mereka incar tidak mau terpancing dan sudah pergi jauh dari Jiang Ling?

Kekhawatiran yang tidak perlu muncul karena pada saat itu sebuah desingan yang tajam menyerang ke arah perisai hawa pedang yang diciptakan Ding Tao untuk melindungi Tabib Shao Yong.

Belasan jagoan tidak mampu menggetarkan sedikit mungkin benteng yang diciptakan Ding Tao itu, tapi sebilah pedang dengan jurus yang cepat dan tajam merobeknya tanpa ampun.

Ding Tao dengan cekatan mengubah jurus.

Tenaga yang menyebar dikumpulkan pada satu titik, kemudian dengan indah dia membentur serangan yang baru datang itu.

Dua bilah pedang yang penuh dengan hawa murni berbenturan, dua tenaga sama kuat, suara dentang dan dengungan kedua pedang memekakkan telinga mereka yang berada di dekatnya.

Dua orang pendekar pedang berdiri tegak dengan pedang bersilangan, para pendekar tertegun, tergoncang oleh hebatnya benturan yang terjadi.

Sejenak mereka terdiam, dengan tegang memandangi Ding Tao dan seorang lelaki bertopeng yang saling berhadapan dan menggenggam pedang yang saling bersilang.

Jika diamati baik-baik, maka terlihatlah bagaimana kedua pedang itu bergetar, karena pemiliknya berusaha saling mendorong.

"Kita bertemu lagi rupanya", ujar orang bertopeng itu menyapa Ding Tao.

"Begitulah, pertemuan kemarin belum ada hasil yang memuaskan", jawab Ding Tao.

"Hehehehe, waktu itu perintah yang kuterima adalah untuk membiarkanmu hidup", jengek orang bertopeng itu.

"O... apakah itu berarti sekarang perintahnya sudah berubah? Dan kau merasa sekarang kau bakal bisa mengalahkanku?"

"Hohoho, kenyataannyalah demikian, rupanya perasaan orang padamu sudah berubah, mungkin matanya sudah terbuka dan melihat betapa tidak pentingnya orang macam dirimu ini. Hari ini akan jadi penentuan antara dirimu dan diriku.", jawab pembunuh bertopeng itu dengan nada jumawa.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 2

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert