Ceritasilat Novel Online

Ilmu Ulat Sutera 9

Eps 9 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

"Aku hanya ingin mencari seseorang,"

Sahut Wan Fei-yang.

"Siapa?"

Bentak Tok-ku Hong kembali.

"Sekarang ini aku masih belum bisa mengatakannya."

"Siapa sebetulnya orang itu?"

"Seandainya aku bisa memberi tahu kepadamu, hari itu juga aku sudah mengatakannya di hadapan ayahmu!"

"Kau berdusta!"

Wajah Tok-ku Hong merah padam. Tangannya menggenggam gagang golok.

"Percaya atau tidak, terserah. Apa yang aku katakan memang kenyataan,"

Sahut Wan Fei-yang seraya menarik napas panjang.

"Kalau kau memang merasa harus membunuh aku, silakan turun tangan."

Tok-ku Hong tidak menghunus goloknya. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa. Wan Fei-yang memandangnya dengan 948 termangu-mangu. Dia juga berdiam diri. Entah berapa lama sudah berlalu.

"Kau pernah menolong aku dua kali. Kalau aku membunuhmu sekarang, bukankah aku menjadi manusia yang melupakan budi?"

Kembali dia menghentikan kata-katanya. Dia seperti sedang merenungkan sesuatu. Beberapa saat kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya.

"Sekarang aku akan melepaskan dirimu. Kelak apabila kita bertemu lagi, maka di antara kita sudah tidak ada utang piutang lagi."

Wan Fei-yang tertawa getir.

"Oh ya ... bagaimana kau bisa berada dalam rumah Lu Wang?"

Tanya Tok-ku Hong. Nada suaranya sudah berubah lembut.

"Aku terluka parah dan jatuh pingsan di depan pintu gedung keluarga Lu. Kalau bukan berkat pertolongan Lu-loya, mungkin aku tidak bisa hidup sampai hari ini,"

Sahut Wan Fei-yang terus terang.

"Mengapa ada yang mengatakan bahwa kau adalah cucu luar sahabat lamanya?"

"Hal itu baru diketahui belakangan. Gwakongku dulu pernah menjabat sebagai kepala pengawal di daerah Bu Ciu. Ternyata dia memang sahabat baik Lu-loya."

"Demikian kebetulan?"

Wan Fei-yang tertawa getir. 949

"Kabar yang didapat oleh anggota Bu-ti-bun kalian juga hebat sekali."

"Kami mengutus orang menyelinap ke dalam keluarga Lu dan meringkus pelajar she Wan adalah karena ingin menyelidiki suatu persoalan. Kami sama sekali tidak tahu bahwa kaulah yang dimaksudkan oleh anggota kami."

Wan Fei-yang merasa heran sekali.

"Apa yang ingin kalian selidiki?"

Tanyanya penasaran.

"Tujuan Ci-bu-kim-hoan ke rumah Lu Wang."

"Oh .... Dia merupakan teman lama Lu-loya. Kali ini kedatangannya hanya sekadar singgah saja,"

Wan Fei-yang menyahut lalu bertanya lagi.

"Apakah kalian ada dendam dengan Ci-bu-kim-hoan Lu Ci itu?"

"Kalau dikatakan kau juga tidak akan mengerti. Lebih baik jangan banyak ikut campur urusan orang lain,"

Mata Tok-ku Hong mengerling sekilas.

"Biar aku antar kau pulang."

"Kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan dan sekarang kan ingin menanyakannya langsung kepada Lu-loya bukan?"

"Sejak kapan otakmu menjadi demikian encer!"

Mata Tok-ku Hong langsung mendelik kepada Wan Fei-yang.

"Nanti kalau aku bertanya apa-apa, lebih baik kau jangan ikut campur."

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya dengan wajah ketolol-tololan.

Kadang-kadang dia seperti berubah bodoh di hadapan gadis itu.

Dia sama sekali tidak sanggup 950 mengemukakan pendapat apa-apa.

***** Ketika Tok-ku Hong keluar dari gedung keluarga Lu, matahari sudah hampir terbenam.

Wan Fei-yang mengantarkan sampai di depan pintu.

"Sekarang mestinya kau sudah percaya bahwa aku tidak mendustaimu,"

Kata Wan Fei-yang.

"Siapa suruh sebelumnya kau selalu berdusta!"

Mulut Tok-ku Hong berkata demikian, tapi nada suaranya sudah tidak mengandung kemarahan.

"Lu-loya adalah orang tua yang baik hati. Lebih baik kau jangan mempunyai maksud yang tidak-tidak."

"Mana mungkin?"

Wan Fei-yang tertawa getir. Seorang anggota Bu-ti-bun berlari menghampiri dengan napas tersengal-sengal. Dia berhenti di depan Tok-ku Hong, kemudian menjura dalam-dalam.

"Buncu ada perintah, harap Toasiocia segera kembali ke kantor pusat. Ada urusan penting yang akan dirundingkan,"

Lapor anggota Bu-ti-bun itu.

"Kau berangkat dulu, aku akan menyusul sebentar lagi,"

Kata Tok-ku Hong kemudian merenung. Sampai anggota Bu-ti-bun itu pergi dari hadapan mata, Tok-ku Hong baru menolehkan wajahnya ke arah Wan Fei-yang. Ada tersirat rasa bersalah di mata gadis itu.

"Baik-baiklah kau beristirahat di rumah Lu-loya. Kalau urusan di sana sudah selesai, aku akan datang menjengukmu lagi,"

Katanya tersipu-sipu.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.

Dia juga tidak bertanya urusan apa sampai Tok-ku Bu-ti memanggilnya pulang, karena dia sama sekali tidak melupakan bahwa ilmu silatnya sudah punah.

Dan dalam dunia Kangouw sudah tidak ada tempat baginya untuk memijakkan kaki.

***** Senja hari.

Saat itu merupakan senja hari pada hari kelima.

Seratus tiga puluh enam ekor kuda bersama penunggangnya mengiringi dua buah kereta besar.

Rombongan itu melintasi jalan pegunungan.

Ci-bu-kim-hoan beserta keempat pengawalnya sudah berdiri menanti di ujung sana.

Di dalam kereta yang pertama duduk utusan dari Raja Nepal.

Sedangkan di antara seratus tiga puluh enam penunggang kuda itu, dua puluh empat di antaranya memakai pakaian kaum persilatan.

Dandanan mereka merupakan kaum persilatan yang biasa dikenakan di daerah Nepal.

Sedangkan sisanya sudah pasti tentara kerajaan setempat yang bertugas mengawal mereka.

Kepala pengawal yang mendapat tugas tersebut bernama Su Cong.

Melihat Ci-bu-kim-hoan sudah menunggu di sana, Su Cong cepat-cepat turun dari kudanya dan menghampiri.

"Lu-tayjin pasti sudah menunggu cukup lama." 952

"Baru saja sampai ...."

Sahut Lu Ci yang juga menyongsong ke depan menyambut kepala pasukan tersebut.

Sambil bercakap-cakap kedua orang itu menghampiri kereta kuda.

Pintu kereta segera terbuka.

Dari kedua kereta itu keluar dua orang utusan Raja Nepal.

Yang belakang tentu yang menjadi wakil.

Dandanan mereka sangat istimewa, jauh berbeda dengan dandanan orang Tionggoan.

Wajah mereka juga tidak sama dengan orang Tionggoan umumnya.

Yang keluar dari kereta depan dan usianya lebih lanjut memeluk sebuah kotak persegi yang indah.

Demikian hati-hatinya seakan takut kotak itu terjatuh dan isinya akan hancur.

Lu Ci segera menjura dalam-dalam.

"Jenderal Pasukan Pakaian Perak dari wilayah utara, Lu Ci menyambut kedatangan utusan Raja Nepal."

"Terima kasih atas kerja sama Lu-tayjin,"

Sahut orang yang lebih tua.

"Dengar-dengar Lu-tayjin adalah tokoh kelas satu dalam pemerintahan sekarang. Setelah bertemu, ternyata kabar ini memang benar."

Bahasa yang digunakannya adalah bahasa Han.

Meskipun tidak lancar sekali, tapi tidak sulit ditangkap artinya.

Perkataannya merupakan basa-basi belaka, tapi sangat bermanfaat.

Hati Lu Ci merasa bangga mendapat pujian itu.

"Kuisu terlalu sungkan,"

Sahutnya sambil menjura sekali lagi.

"Tugas Punsu sangat berat. Aku berharap dapat kembali secepatnya ke Nepal. Sekarang tugas sudah dapat diselesaikan dengan baik. Tentu aku tidak perlu khawatir lagi. Perjalanan kembali ke Nepal juga tidak perlu berputar-putar 953 lagi."

"Tentu saja,"

Sahut Lu Ci dengan wajah penuh senyum. Suaranya juga yakin sekali.

"Setelah melintasi jalan ini, anak buah Komandan Su Cong juga sudah boleh kembali ke markasnya."

"Apakah jalanan ini tidak mudah dilalui?"

"Tidak begitu mudah."

"Berapa lama waktu yang kita perlukan untuk keluar dari wilayah ini?"

"Lima hari ...."

Wajah Lu Ci tetap tersenyum. Sedangkan kedua orang utusan Raja Nepal tersebut sama sekali tidak bisa mengembangkan seulas pun senyuman.

"Tapi Kuisu berdua tidak usah khawatir. Sepanjang perjalanan kami sudah menyiapkan semuanya dengan baik,"

Kata Lu Ci selanjutnya.

"Semoga demikian."

"Untuk memudahkan pelayanan, aku yang rendah memberanikan diri meminta kedua Kuisu duduk dalam satu kereta saja."

"Boleh juga. Dengan demikian sepanjang perjalanan kita bisa mengobrol panjang lebar sehingga tidak terasa membosankan,"

Utusan dari Nepal itu juga bukan jenis manusia yang banyak tuntutannya. Dia mengikuti saja apa yang dianggap baik oleh Lu Ci.

"Kalau begitu malam ini kita berkemah sini saja."

"Di tempat ini?"

"Tidak ada tempat lain yang lebih sesuai dari sini,"

Kata-kata Lu Ci seakan mengandung maksud tertentu. Dia langsung memerintahkan menyalakan api unggun dan menanak nasi.

"Bukankah Lu-tayjin tadi mengatakan bahwa kita akan berkemah di sini? Apakah Siaute perlu mendirikan kemahnya sekarang?"

Tanya Su Cong.

"Maksudku berkemah di langit terbuka,"

Sahut Lu Ci tersenyum simpul.

"Toh kedua Kuisu bisa beristirahat di dalam kereta."

Su Cong mempersiapkan segalanya. Kemudian dia menghampiri Lu Ci. Tanpa dapat menahan rasa ingin tahunya, dia bertanya dengan suara berbisik.

"Apakah Lu-tayjin menemukan sesuatu yang mencurigakan sepanjang perjalanan tadi?"

Lu Ci tersenyum simpul.

"Tidak perlu khawatir. Untuk sementara mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa,"

Katanya.

"Mereka?"

"Orang-orang yang mengincar soat-lian."

"Apa yang mereka tunggu?" 955

"Mereka menunggu kesempatan dan tempat yang tepat." ***** Ini memang bukan tempat yang tepat untuk melakukan gerakan apa-apa. Oleh karena itu, para anggota Bu-ti-bun hanya mengawasi dari kejauhan. Mereka berada di atas gunung. Jumlah mereka juga banyak. Tok-ku Hong, Kongsun Hong, Cian-bin-hud, Kiu-bwe-hu, dan tongcu bagian luar dan dalam. Hanya Tok-ku Bu-ti yang tidak terlihat. Meskipun Tok-ku Bu-ti tidak muncul, tapi dia selalu berhubungan dengan mereka. Oleh karena itu juga, Kongsun Hong yang biasanya paling tidak sabaran juga hanya duduk termenung menanti perintah.

"Menurut pendapatku, kita menggunakan kesempatan ketika kuda dan orang-orang mereka sedang keletihan. Pada malam hari nanti kita serang mereka, siapa tahu ...."

Ini merupakan ketiga kalinya Kongsun Hong memberi saran yang serupa. Tok-ku Hong merasa tidak sabar mendengar ocehannya.

"Buat apa diulangi terus kata-kata itu?"

Kongsun Hong menatap Tok-ku Hong sekilas. Mulutnya terdiam seketika. Cian-bin-hud yang berada di samping tertawa lebar.

"Buncu tidak mengizinkan kita mengambil tindakan di sini, pasti ada sesuatu yang diragukannya."

Kongsun Hong meraba dagunya sendiri. Dia tertawa dingin.

"Hanya seorang Ci-bu-kim-hoan, apanya yang harus ditakuti?" 956

"Dia bisa menjabat kedudukan Jenderal Pasukan Pakaian Perak, tentu ilmunya tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa. Tetapi, kalau hanya orang itu saja, tentu tidak sulit dihadapi. Pokok persoalannya justru selain kita masih Hek-pai-siang-mo dan pihak lain yang mengincar soat-lian tersebut. Seandainya kita sampai bergebrak dengan Lu Ci, tentu mereka akan memancing di air keruh dan meraih keuntungan besar."

Mata Kiu-bwe-hu mengerling tajam.

"Kedatangan Hek-pai-siang-mo kali ini ke Tionggoan pasti untuk mendapatkan soat-lian tersebut,"

Katanya. Menurut sumber yang dapat dipercaya, arah mereka juga menuju ke tempat ini. Kalau bukan untuk mengincar soat-lian, apa lagi?"

Sahut Cian-bin-hud.

"Entah mereka sudah sampai atau belum?" ***** Sejak tadi Hek-pai-siang-mo sudah tiba. Mereka malah bersembunyi di tempat yang tidak seberapa jauh dari kerumunan anggota Bu-ti-bun. Gerak-gerik para anggota Bu-ti-bun selama ini selalu di bawah pengawasan mereka. Jangkrik mengirik di depan, burung kenari menunggu di belakang. Hati mereka semakin lama semakin senang. Asal para anggota Bu-ti-bun itu bergerak, mereka tinggal menunggu kesempatan baik lalu menculik kedua utusan Raja Nepal tersebut. 957 Tentu saja Kuan Tiong-liu dan Yi Pei-sa juga ikut bersama mereka. Sepanjang perjalanan, meskipun mereka membutuhkan Kuan Tiong-liu sebagai penunjuk jalan, tapi mulut mereka sama sekali tidak sungkan-sungkan mengeluarkan kata-kata yang pedas. Kuan Tiong-liu tidak menyimpan dalam hati. Dia sudah mengalami berbagai cobaan pahit. Sikapnya jauh lebih sabar dan wataknya berubah menjadi pendiam. Biar bagaimana menyakitkannya pun kata-kata yang dilontarkan Hek-pai-siang-mo, dia tidak pernah menunjukkan kemarahan di hadapan mereka. Sepanjang perjalanan justru dia yang bertugas melayani kebutuhan kedua iblis dari Tibet itu. Yi Pei-sa sebetulnya tidak sampai hati melihat keadaan Kuan Tiong-liu. Berkali-kali dia membela anak muda itu di hadapan kedua suhunya. Perasaan hati mereka pun semakin lama semakin dalam. ***** Jangkrik mengirik di depan. Burung kenari menunggu di belakang. Ternyata di belakang burung kenari juga sudah menanti seorang pemburu. Hal itu sama sekali di luar dugaan Hek-pai-siang-mo. Di atas gunung yang berliku-liku tidak seberapa jauh dari mereka, telah berkumpul segerombolan manusia. Yang mengepalai rombongan ini ialah Thian-ti. Selain itu, Hujan, Angin, Geledek, Kilat, Manusia Tanpa Wajah juga sudah berkumpul. Bahkan Fu Hiong-kun juga tidak ketinggalan. Mereka mendapat kabar dari tabib Cai Hua-to yang sudah 958 diancam akan dibongkar rahasianya berzina dengan selir Cian-bin-hud, lalu dipaksa menjadi mata-mata Siau-yau-kok. Thian-ti bertekad mendapatkan soat-lian dengan cara apa pun. Hujan pernah mengatakan bahwa soat-lian dapat membuat orang awet muda bahkan bisa menambah tenaga dalam seperti hasil latihan selama berpuluh tahun. Hal belakangan itulah yang menarik perhatian Geledek, Kilat maupun Angin. Tentu saja Fu Hiong-kun paling paham khasiat soat-lian bila dibandingkan yang lainnya. Minatnya juga besar sekali untuk mendapat benda langka tersebut. Meskipun tujuannya bukan untuk diri sendiri, namun dia ingin mencampurnya menjadi racikan obat untuk menolong sesama umat manusia. Dia juga tidak menutupi rahasia hatinya. Tekadnya mendapatkan soat-lian malah menjadi bahan tertawaan anggota Siau-yau-kok lainnya. Mereka memang terdiri dari dua jenis manusia yang berbeda. Sekarang para jago Siau-yau-kok sudah berkumpul semua. Tentu saja mereka sudah bertekad untuk mendapat soat-lian dari Ping-san itu. ***** Meskipun Lu Ci tahu ada beberapa orang yang mengawasi mereka di sekitar tempat itu, tapi dia sama sekali tidak menduga bahwa kekuatan orang-orang yang datang jauh lebih besar daripadanya, bahkan mereka termasuk jago-jago dunia Kangouw yang paling sulit dihadapi. Rombongan mana pun yang bergerak duluan, seandainya mereka dapat mempertahankan soat-lian, tetap tidak dapat menghindarkan diri dari luka parah atau kematian, dan tentu saja tidak sanggup lagi menghadapi gelombang kedua yang 959 akan menggunakan kesempatan meraih keuntungan. Memang dia juga termasuk orang dunia Kangouw, tapi dia sudah lama bertugas di dalam istana. Mengenai seluk-beluk dunia Kangouw pengetahuannya tidak seluas dulu lagi. Lagi pula dia selalu membanggakan ilmu silatnya yang tinggi dan selalu memandang sebelah mata terhadap orang lain. Inilah penyebab utama kekalahannya kelak. Sudah pasti Siau-yau-kok tidak akan turun tangan terlebih dahulu. Sedangkan Hek-pai-siang-mo juga menanti kesempatan untuk mengail di air keruh. Rombongan pertama yang akan turun tangan duluan, kemungkinan besar anggota Bu-ti-bun. Wi-tian-wei-toa, Ju-jit-pang-tiong. Kalau ditilik dari kekuatan Bu-ti-bun sekarang semestinya tidak ada lagi hal yang perlu mereka ragukan. ***** Pagi hari kedua, kereta dan kuda mulai bergerak. Keempat pengawal Lu Ci mengajak dua puluh tentara berkuda membuka jalan di depan, sisanya mengawal di belakang kereta. Lu Ci sendiri sudah duduk di dalam kereta yang satunya. Bentuk kedua kereta itu tidak ada perbedaannya sama sekali. Para jago negara Nepal yang datang bersama kedua utusan itu mengiringi dari dua sisi. Kalau dilihat dari luarnya saja tentu sulit memastikan kereta mana yang membawa kedua utusan itu. Lu Ci yang cerdik sudah memikirkan kemungkinan itu. 960 Tujuan orang-orang yang mengincar soat-lian pasti kedua utusan tersebut. Apabila mereka masih duduk masing-masing dalam sebuah kereta, salah satunya pasti akan menjadi korban. Sekarang mereka tentu harus mempertimbangkan baik-baik kereta mana yang akan diserangnya. ***** Lewat tengah hari, rombongan itu sudah memasuki jalan setapak sebuah hutan yang rimbun. Jalan setapak itu kecil. Di kedua sisi terdapat pohon-pohon yang tinggi. Begitu rapatnya sehingga hampir tidak bercelah. Situasi keadaan seperti ini, paling sesuai untuk melakukan penyerangan. Tanpa perlu diperingatkan oleh Lu Ci, seluruh rombongan itu sudah waspada dan meningkatkan pengawalan. Jalanan itu hanya pas-pasan dilewati kereta kuda. Para jago Nepal yang tadi mengiringi di kedua sisi terpaksa mengambil jalan memutar dan mengikuti dari belakang tentara berkuda untuk sementara. Rombongan itu berjalan perlahan. Tiba-tiba terdengar suara gemeresik dari hutan sebelah kiri. Seorang manusia berpakaian hitam melesat keluar dari rimbunan pepohonan bagai sebatang anak panah. Orang itu meluncur ke arah kereta yang ada di depan. Tubuhnya menukik tegak lurus, seperti anak panah yang dibidikkan oleh seseorang. Dia menerobos lewat jendela sebelah kanan langsung menembus keluar lewat jendela sebelah kiri kemudian melesat ke dalam hutan yang terletak di sebelah kanan. Suara gemerencing tirai yang terbuat dari kulit kerang yang mana menghiasi jendela kereta masih terdengar. 961 Sekelebat terlihat tangan manusia berpakaian hitam itu menggenggam sebuah kotak yang indah. Kotak itu justru berisi soat-lian yang langka. Kedua utusan Nepal itu menyembulkan kepalanya lewat jendela dengan gaya panik. Wajah mereka menyiratkan rasa ketakutan yang dalam. Para tentara kerajaan langsung menyerbu mengikuti arah manusia berpakaian hitam. Ginkang manusia berpakaian hitam itu memang tinggi sekali. Tanpa ginkang setinggi itu, tentu dia tidak akan mendapatkan kotak berisi soat-lian dengan cara demikian mudah. Dia meluncur ke dalam hutan. Tubuhnya melesat ke udara. Pada saat itu juga Lu Ci sudah menyusul tiba. Dia langsung menghantamkan sepasang telapak tangannya. Manusia berpakaian hitam itu sama sekali tidak menduga. Wajahnya sudah hancur terhantam telapak tangan Lu Ci sebelum rasa terkejutnya sirna. Tubuhnya terkulai dan jatuh di atas tanah. Lu Ci tidak menunggu sampai tubuhnya jatuh ke bawah, dia segera mengulurkan tangannya menyambut kotak berisi soat-lian yang melayang turun. Lu Ci melirik pun tidak pada mayat orang itu. Dia berjalan dengan langkah lebar keluar dari hutan. Pada waktu itu, para tentara kerajaan baru menyerbu datang. Melihat keberhasilan Lu Ci, mereka bersorak gembira. Lu Ci sendiri hanya tertawa datar. Dia menghampiri kereta kuda dan menyodorkan kotak berisi soat-lian kepada kedua utusan Nepal itu.

Jilid 21

"Ternyata ilmu silat Lu-tayjin memang tinggi sekali,"

Kata kedua utusan Nepal itu memuji tiada hentinya. Sejenak kemudian yang usianya lebih tua bertanya.

"Entah orang dari golongan mana yang mempunyai nyali sebesar itu?"

"Dia adalah seorang kepala perampok yang menguasai wilayah Kang-pak, namanya Cong Siau-yan."

"Sampai-sampai perampok dari Kang-pak juga ikut mengincar soat-lian?"

"Seharusnya dia tidak perlu datang!"

Lu Ci tertawa dingin.

"Ini bukan benda yang dapat diperolehnya dengan mudah. Bisa datang pasti tidak bisa kembali lagi!"

"Tidak mengukur kekuatan sendiri, patut menerima kematian!"

"Benar-benar patut mati!"

Tiba-tiba tangan kiri Lu Ci bergerak.

Sembilan rencengan gelang sebesar telapak tangan melesat keluar dan meluncur ke arah atas sebatang pohon.

Cahaya berkilauan.

Terdengar dengusan dingin dari atas pohon.

Seorang gadis berpakaian hijau melesat keluar dari rimbunan pohon.

Gayanya aneh sekali.

Ternyata dia meluncur turun dalam keadaan tidak bernyawa.

Sembilan gelang sebesar telapak tangan itu menancap di tenggorokan gadis itu.

Semua orang menatap dengan mata terbelalak.

Lu Ci malah tenang-tenang saja seakan tidak terjadi apa-apa.

"Tiga tahun yang lalu Cong Siau-yan menikahi Ce Yin-cu. Mereka berdua 963 suami istri selalu menghadapi musuh bersama-sama!"

Katanya dengan bibir menyunggingkan seulas senyuman.

Bukan saja dia mengetahui asal-usul orang-orang ini.

Telinga dan matanya juga luar biasa waspada.

Lebih-lebih cara turun tangannya.

Dia selalu keji dan kekejaman hatinya tidak usah diragukan lagi.

Menghadapi manusia seperti ini, tidak heran sampai-sampai Bu-ti-bun dan Hek-pai-siang-mo memilih jalan yang aman dan menguntungkan.

Rombongan itu meneruskan perjalanannya.

Senja pada hari yang sama, mereka sudah memasuki provinsi Yang-cuan.

Pejabat setempat Li Sou sejak dini sudah menerima perintah.

Siang-malam dia menyuruh orang bekerja secepat mungkin membuat sebuah ruangan rahasia untuk menyimpan soat-lian yang langka.

Pada dasarnya dia bermaksud baik.

Bukan saja dia akan mendapat penghargaan, malah dia dapat membuktikan bahwa pejabat wilayah ini juga merupakan orang yang berbakat serta cerdas.

Sayangnya tukang yang dipanggil justru orang yang licik.

Dia juga termasuk anggota sebuah organisasi yang selalu melakukan kejahatan.

Kepalanya bernama Kuo Ming.

Tukang itu melaporkan kepada ketuanya tentang soat-lian yang akan disimpan dalam ruangan rahasia.

Kuo Ming tentu saja tidak ingin kehilangan kesempatan baik.

Dia menyuruh tukang itu membuat papan dasar yang dapat terbalik secara otomatis apabila diletakkan suatu benda di atasnya.

Begitu sampai, Lu Ci segera memasukkan kotak tersebut ke dalam ruang rahasia.

Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang tidak beres dan cepat-cepat membuka kembali ruang rahasia 964 tersebut.

Papan kayu sudah berbalik dan menjatuhkan kotak ke dalam ruang lain di bawahnya.

Meskipun dia berhasil membunuh seorang anggota organisasi itu yang sedang membalikkan kembali papan otomatis tersebut, tapi kotak itu sendiri sudah dilarikan oleh anggotanya yang lain.

Lu Ci tidak mengejar.

Dia sama sekali tidak bisa mengejar.

Lantai di mana dia berdiri berguncang-guncang.

Ruangan rahasia itu sudah tertutup kembali.

Rupanya masih ada anggota lain dari organisasi itu yang memijit tombol rahasia di dalam sana.

Tempat itu pasti dikerjakan dengan tergesa-gesa sehingga kurang sempurna.

Pintu batu ruangan itu anjlok ke bawah dengan keras sampai-sampai tanah pun ikut bergerak hebat.

Perlu waktu yang cukup lama untuk membetulkannya.

Setelah selesai, Lu Ci segera membalikkan mayat tadi dan memeriksa seluruh pakaiannya.

Dari lencana yang dibawanya dalam saku, Lu Ci dapat menduga siapa orang itu.

Perintah segera diturunkan.

Para tentara berkuda disebar untuk mencari markas organisasi tersebut.

Dalam sekejap saja mereka sudah berhasil menemukannya.

Dua ratus lebih anggota organisasi tersebut dibantai habis-habisan.

Bahkan gedungnya sendiri dibakar sampai rata dengan tanah.

Sementara itu kaucu organisasi itu, Kuo Ming, sudah jauh menyeberangi sungai.

Dia langsung buron setelah mendapat kotak yang dipersembahkan anggotanya.

Setelah merasa aman, dia langsung membuka kotak itu dan "bum!"

Tubuh Kuo Ming hancur lebur terkena ledakan.

Itulah sebabnya Lu Ci yang cerdas tidak mengejar orang yang membawa kotak itu.

Karena isinya bukan soat-lian melainkan obat peledak.

965 Selama ini Kuo Ming tidak terlalu memandang tinggi Lu Ci.

Sampai dia menyadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan yang mahabesar, tubuhnya sudah terledak menjadi keping-kepingan kecil.

Benda yang dimasukkan Lu Ci ke dalam kotak adalah obat peledak istimewa dari luar perbatasan.

Apabila kotak itu dibuka, maka obat di dalamnya akan meledak sendiri.

Sebelum kejadian ini, dia sama sekali tidak pernah mengatakan rencana ini kepada siapa pun.

Orang ini bukan saja memiliki ilmu silat yang tinggi, tangan yang telengas, hati yang keji tapi juga banyak akal licik.

***** Menjelang tengah hari keesokannya, kereta kuda baru melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan tidak ada gangguan.

Dua keuntungan berikutnya mereka memasuki wilayah lembah Tiang-sing-sia.

Di kedua sisi terdapat gunung yang tinggi.

Jalanan berada di tengah-tengah.

Semakin jauh semakin sempit dan curam.

Kalau ditilik dari keadaannya, cocok untuk melakukan penyerangan.

Rombongan pertama dari pihak tentara kerajaan yang berjumlah dua belas orang menerjang ke depan.

Sepanjang perjalanan tidak terlihat jejak manusia.

Kedua gunung yang terdapat di sisi kiri dan kanan juga tidak tampak ada yang mencurigakan.

Enam pengendara kuda masuk lagi ke dalam lembah.

Tidak lama kemudian mereka masuk kembali dan melaporkan bahwa kedua belas orang dari 966 rombongan pertama sudah melintasi lembah dengan selamat.

Melihat semuanya lancar dan tidak ada gangguan, kereta kuda itu baru melanjutkan perjalanannya.

Tentu saja mereka tidak tahu bahwa dua belas orang yang pertama masuk ke dalam dan dikatakan selamat sekarang sudah menjadi mayat semua.

Yang membunuh mereka adalah dua belas pembunuh andalan Bu-ti-bun.

Mereka menerjang keluar secara mendadak dari gua di belakang gunung.

Dengan cara yang penuh perhitungan dan cepat mereka membunuh tentara kerajaan itu.

Kedua belas orang itu bahkan tidak sempat menjerit sekali pun.

Pada dasarnya ilmu silat mereka memang tidak seberapa tinggi.

Yang mereka kuasai adalah perang di tempat terbuka.

Apalagi yang mereka hadapi saat itu adalah pembunuh yang sudah banyak pengalaman, bagaimana mungkin nyawa mereka masih dapat dipertahankan?

Pada saat itu, rombongan sudah berada di tengah-tengah lembah yang sempit.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan batu-batu besar kecil menggelinding dari atas gunung.

Sebagian besar rombongan itu menjadi kalang kabut.

Batu-batu masih terus bergelindingan dari atas sehingga menutup jalan kedua sisi depan dan belakang.

Dalam waktu yang bersamaan, ratusan anak buah Bu-ti-bun memunculkan diri mereka dari tempat persembunyian dan membidikkan anak panah secara serabutan.

Anak panah bagai hujan deras.

Di tengah lembah itu tidak ada lagi tempat persembunyian.

Dalam sekejap mata, sebagian besar pengawal mati tertembus hujan anak panah.

Suara ringkikan kuda, jeritan manusia bagai irama yang tinggi-967 rendah.

Melihat keadaan itu, para anggota Bu-ti-bun segera mengeluarkan senjata masing-masing dan menyerbu ke kaki gunung.

Cian-bin-hud dan Kiu-bwe-hu mendahului di depan.

Ruyung berkelebat, pecut menyambar.

Siapa yang menghalangi di depan pasti dapat bagian.

Gerakan Kongsun Hong dan Tok-ku Hong juga tidak lambat.

Mereka mengajak empat orang anggota Bu-ti-bun dan menerjang ke arah kereta kuda di mana Ci-bu-kim-hoan Lu Ci duduk.

Keempat orang itu adalah tancu dari berbagai cabang.

Tangan mereka masing-masing membawa sebuah kotak besi dan langsung memencarkan diri mengepung kereta kuda tersebut.

Kuda-kuda yang menarik kereta itu sudah roboh mati tertancap anak panah.

Keretanya sendiri masih tegak di sana.

Tiba-tiba atap kereta pecah berhamburan.

Ci-bu-kiam-hoan Lu Ci melesat keluar dari dalam kereta.

"Serang!"

Teriak Kongsun Hong segera memberi perintah.

Keempat orang tancu itu langsung menekan tombol di kotak besi.

Penutup kotak segera terbuka dan beratus-ratus jarum beracun yang berwarna kebiru-biruan meluncur keluar dalam waktu yang bersamaan.

Tubuh Lu Ci bagai terkurung dalam sinar biru tersebut.

Belum lagi rasa terkejutnya sirna, tubuhnya sudah melorot turun dan jatuh di atas tanah dengan ratusan batang jarum beracun memenuhi seluruh tubuhnya.

Dia menjerit histeris.

Tubuhnya masih sempat bergulingan di atas berbatuan.

Akhirnya berhenti.

Seluruh tubuhnya sudah membengkak dan berubah warna menjadi keungu-unguan.

Melihat keadaan itu, Kongsun Hong tertawa dingin.

"Lihat, 968 apakah kau yang lebih hebat atau Jarum Pembetot Sukma dari Tujuh Bocah Ajaib lebih hebat?"

Katanya sinis.

Tujuh Bocah Ajaib berasal dari pedalaman Wi-san.

Seumur hidup mereka dihabiskan untuk meneliti berbagai jenis senjata rahasia beracun.

Menurut kabar yang tersebar, untuk membuat tujuh kotak besi berisi jarum beracun ini mereka telah menghabiskan waktu selama sepuluh tahun.

Dalam waktu semalaman saja rambut mereka langsung berubah putih semua karena terlalu memeras otak.

Akhirnya mereka berhasil.

Mereka hanya menggunakan satu kotak untuk menghadapi musuh bebuyutan mereka.

Tapi karena musuh terlalu lihai, mereka sendiri juga terluka parah.

Sekembalinya ke tempat persembunyian mereka itu, satu per satu dari mereka mati tanpa tertolong.

Banyak tokoh hitam maupun putih kangouw yang berusaha mencari keenam kotak besi berisi paku beracun itu.

Namun mereka tidak berhasil menemukannya.

Malah lama-kelamaan cerita tentang kotak besi berisi jarum beracun itu hanya tinggal legenda.

Siapa pun tidak menyangka bahwa senjata rahasia yang mematikan itu ternyata jatuh ke tangan Tok-ku Bu-ti.

Jarum beracun itu meluncur keluar apabila tombol otomatis di luar kotak ditekan.

Jumlah per kotak empat puluh sembilan batang.

Sedangkan saat itu yang digunakan seluruhnya, empat kotak.

Jarum-jarum itu keluar dalam waktu yang bersamaan, walaupun ilmu silat Ci-bu-kim-hoan lebih tinggi lagi juga tidak sanggup menghindarkan diri.

Itulah sebabnya dikatakan bahwa dia terlalu membanggakan kepandaiannya sendiri dan selalu tidak memandang sebelah mata pun kepada orang lain.

Sementara itu, Cian-bin-hud menghantamkan ruyungnya 969 menghancurkan atap kereta kuda yang satunya lagi.

Salah satu dari utusan raja Nepal itu menyurutkan dirinya ke sudut kereta dengan tangan memeluk kotak erat-erat.

Wajahnya pucat pasi.

Pecut Kiu-bwe-hu segera menyambar membelit kotak itu.

Dengan sekali entak, kotak tersebut pun langsung tertarik ke tengah udara.

Utusan raja Nepal tersebut panik sekali.

Tangan dan kakinya membuat gerakan-gerakan kalang kabut.

Mulutnya terkunci dan bibirnya gemetar.

Sepatah kata pun tidak bisa diucapkan.

Sementara itu ruyung Cian-bin-hud sudah sampai di depan mata dan menghancurkan batok kepalanya dengan sekali gerakan.

Pecut Kiu-bwe-hu ditarik dan kotak itu pun langsung melayang ke arahnya.

Belum sempat Kiu-bwe-hu mengulurkan tangan menyambutnya, bayangan putih melintas cepat dan kotak itu sudah hilang entah ke mana.

"Siapa?"

Teriak Kiu-bwe-hu sambil membalikkan tubuhnya secara otomatis.

Dia segera melihat dua orang manusia yang satu hitam dan yang lainnya putih.

Hek-pai-siang-mo!

Kotak yang indah dan berisi soat-lian ada dalam genggaman Pek-mo-cian.

Wajah kedua orang itu berseri-seri.

Cian-bin-hud, Kongsun Hong, dan Tok-ku Hong segera menghambur menghampiri.

Mereka mengurung Hek-pai-siang-mo dari segala penjuru.

Tangan Tok-ku Hong langsung menuding ke depan.

"Siapa kau?"

"Hek-pai-siang-mo,"

Sahut Kiu-bwe-hu sambil mundur satu 970 langkah. Tok-ku Hong tertawa dingin.

"Tidak peduli Hek-pai-siang-mo atau Pai-hek-siang-mo. Pokoknya kalau hari ini tidak menyerahkan kembali Ping-san Soat-lian, jangan harap tinggalkan tempat ini!"

Cian-bin-hud yang melihat jumlah mereka jauh lebih banyak, menjadi besar nyalinya.

"Tidak salah!"

Bentaknya lantang.

Sementara itu, para anggota Bu-ti-bun yang lain langsung berhamburan menghampiri.

Pada saat itu, tidak ada satu pun pengawal utusan raja Nepal yang masih bernyawa.

Sinar mata Hek-mo-cian mengedar sekilas.

"Apakah orang-orang Bu-ti-bun hanya bisa mengeroyok mengandalkan jumlah banyak?"

"Jangan banyak bicara!"

Teriak Kongsun Hong sambil menggetarkan sepasang Jit-goat-lunnya. Dia berniat menerjang ke depan. Sedangkan para anggota Bu-ti-bun lainnya juga sudah bersiap-siap.

"Tahan!"

Sebuah suara yang memekakkan telinga berkumandang dari atas.

Sesosok bayangan berkelebat.

Tok-ku Bu-ti melayang turun bagai seekor burung rajawali.

Tongkat kepala naganya mengentak di tanah.

Dia tersenyum ke arah Hek-pai-siang-mo.

"Kalian berdua sudah menggetarkan dunia kangouw sekian lama. Dengan cara begini menghadapi angkatan yang lebih muda, juga bukan sesuatu hal yang patut dibanggakan!" 971 katanya tenang. Pek-mo-cian mendongakkan kepalanya.

"Oh ... ternyata Tok-ku Buncu juga sudah datang."

"Kedatangan Siaute terhitung cukup tepat."

Tok-ku Bu-ti mengentakkan tongkat kepala naganya sekali lagi ke atas tanah.

"Kalau Siaute meminta kalian berdua menyerahkan kotak tersebut begitu saja, aku yakin kalian pasti tidak bersedia."

"Kami justru ingin meminta pelajaran dari ilmu silat Tok-ku Buncu yang konon tinggi sekali,"

Kata Pek-mo-cian dengan nada dingin dan angkuh. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Menurut kabar, kalian selalu menghadapi semua musuh dengan menggabungkan diri!"

"Ini memang kenyataan. Boleh dibilang Tok-ku Buncu menghadapi dua lawan sekaligus!"

"Bagaimana kalau kalian berdua kalah di tanganku?"

"Tentu saja soat-lian harus diserahkan kepada Buncu, kalau tidak ...."

"Kalau aku yang kalah, tentu soat-lian menjadi milik kalian dan aku juga akan mengantar sampai perbatasan."

"Tanpa memberi kepercayaan, diri sendiri tidak akan dihargai. Ucapan Tok-ku Bu-ti bagai uang emas. Kita tetapkan demikian saja!"

Pek-mo-cian meletakkan kotak berisi soat-lian di atas tanah.

Tubuhnya berkelebat menerjang ke depan.

972 Gerakan tubuh Hek-mo-cian tidak kalah cepat dengan Pek-mo-cian.

Tapi gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti lebih cepat lagi.

Belum lagi kedua orang itu berdiri mantap.

Tok-ku Bu-ti sudah tegak di hadapan mereka.

"Ilmu ginkang Tok-ku Buncu ternyata baik sekali!"

Hek-mo-cian memuji setulusnya.

"Entah bagaimana dengan permainan tongkat kepala naganya?"

Tanya Pek-mo-cian.

Ucapannya baru selesai, tangan kedua iblis itu sudah menggenggam sebatang golok yang tipis dan melengkung.

Golok tersebut memantulkan cahaya berkilauan dan menyerang Tok-ku Bu-ti dari dua arah.

Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah digerakkan.

Dia menyambut tujuh puluh dua serangan kedua iblis itu.

Dalam sekejap mata kedua pihak telah bertarung dengan seru.

Para hadirin yang menyaksikan jalannya pertarungan lebih tegang lagi.

Ilmu mereka rata-rata jauh lebih rendah dari Cian-bin-hud, Kiu-bwe-hu, Kongsun Hong bahkan Tok-ku Hong.

Mereka hanya melihat cahaya-cahaya saling berkelebat dan suara benturan senjata.

Mana yang menang dan mana yang kalah sama sekali tidak dapat mereka duga.

Tiba-tiba gerakan Tok-ku Bu-ti menjadi lambat.

Bayangan tubuhnya mulai terlihat, kemudian terdengar dia tertawa terbahak-bahak.

Tongkat kepala naganya berkelebat mengunci sepasang golok Hek-pai-siang-mo.

Sekali sentak kedua batang golok segera terlepas dari tangan.

Namun gerakan kedua orang itu memang cukup cepat.

Golok terlepas, sepasang telapak tangan masing-masing dikembangkan dan meluncur menghantam ke arah Tok-ku Bu-973 ti.

Sepasang telapak tangan Hek-pai-siang-mo sangat aneh.

Makin mendekat makin pucat.

Tok-ku Bu-ti sadar mereka sudah mengeluarkan jurus andalannya.

Tongkat kepala naganya segera dilempar ke samping dan sepasang telapak tangannya juga direntangkan ke depan.

Telapak tangan Tok-ku Bu-ti lain lagi.

Semakin lama semakin merah.

Seperti api yang membara.

Itulah Mit-kip-sin-kang tingkat kesembilan.

Tubuh mereka saling bergerak suara deruan angin dari ketiga pasang telapak itu membuat hati para hadirin semakin tegang.

Debu beterbangan.

Sepasang telapak kaki Tok-ku Bu-ti ambles ke dalam tanah.

Sambil meraung keras Tok-ku Bu-ti menghantamkan telapak tangannya ke depan.

Hek-pai-siang-mo terkejut sekali.

Hanya deruan angin dari telapak tangan lawan saja sudah sanggup membuat tubuh mereka terpental sejauh beberapa depa.

Untung saja gerakan mereka cukup gesit.

Belum sampai membentur gunung, keduanya berjungkir balik dua kali lalu melayang turun di tanah dengan wajah pucat pasi.

Untung saja telapak tangan Tok-ku Bu-ti bukan dihantamkan ke tubuh mereka.

Kalau tidak, mereka pasti sudah cacat seperti Wan Fei-yang.

Para anggota Bu-ti-bun segera bersorak riang.

Tok-ku Hong dan Kongsun Hong menghampiri dari arah yang berlawanan.

Kongsun Hong memungut tongkat kepala naga dan menyodorkannya kepada suhunya.

Sedangkan Tok-ku Hong cepat-cepat mengambil kotak berisi soat-lian dan dipersembahkan juga kepada ayahnya.

Tok-ku Bu-ti tersenyum lebar.

Tangan kanannya menerima kotak tersebut.

Tangan kiri menerima tongkat kepala naga dari Kongsun Hong.

Tiba-tiba wajahnya berubah kelam.

Dia tidak membuka kotak itu.

"Untuk kalian saja!"

Katanya sambil melemparkan kotak tersebut ke arah Hek-pai-siang-mo.

Pada saat itu, dengan hati penasaran Hek-pai-siang-mo sudah berniat meninggalkan tempat itu.

Mendengar teriakan Tok-ku Bu-ti keduanya terpana.

Pek-mo-cian segera mengulurkan tangan menyambut kotak yang dilemparkan Tok-ku Bu-ti.

Dia langsung membukanya.

Di dalam kotak berisi dua buah gelang emas.

Yang satu kecil seukuran dengan pergelangan tangan bayi, sedangkan yang besar seukuran dengan telapak tangan.

Tok-ku Bu-ti mengulurkan tangannya ke hadapan Tok-ku Hong.

"Kemarikan golokmu,"

Katanya.

Meskipun merasa heran tapi Tok-ku Hong tetap menyodorkan goloknya.

Mata setiap orang terpusat pada diri Tok-ku Bu-ti.

Dengan langkah perlahan, Tok-ku Bu-ti menghampiri mayat Lu Ci.

Kulit tubuh orang itu berwarna keungu-unguan sedangkan tubuh dan wajahnya membengkak.

Yang mengherankan justru wajah itu tidak berubah warna.

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

Dia mengayunkan golok di tangannya ke arah wajah mayat itu.

Tidak terlihat darah mengalir.

Rupanya di balik wajah itu masih ada wajah lainnya.

Wajah yang terlihat belakangan sudah berubah keungu-unguan, tapi orang-orang yang ada di sana segera mengenali sebagai wajah salah satu dari keempat pengawal Lu Ci.

Mata setiap orang yang hadir terbelalak.

Tidak ada satu pun yang tidak terkejut.

Tok-ku Bu-ti mengembalikan golok kepada Tok-ku Hong.

Kembali dia tertawa dingin.

"Kotak itu palsu, orangnya juga pasti palsu. Yang asli pasti sudah mengambil jalan lain dan sekarang tentu sudah jauh."

Mata Tok-ku Bu-ti beralih kepada Hek-pai-siang-mo.

"Kalian berdua merupakan orang yang sudah berpengalaman di dunia kangouw. Soat-lian tumbuh di dalam air sungai yang sudah membeku di sekitar gunung es. Begitu kotak itu tersentuh oleh tangan, rasa dingin tidak terasa sama sekali. Hal ini sudah patut dicurigai. Kalian malah mempertaruhkan nyawa bertarung denganku. Apalagi kejadian ini sampai tersebar di luaran, tentu kita akan ditertawakan dan diejek sampai gigi mereka rontok."

Wajah tua Hek-pai-siang-mo merah padam.

Mereka berdua mendengus sekali, kemudian membalikkan tubuh dan melangkah pergi.

Baru seberapa langkah, Pek-mo-cian melempar kotak yang dipegangnya ke atas tanah.

Para anggota Bu-ti-bun berniat mengejar, tapi mereka dicegah oleh Tok-ku Bu-ti.

"Sudahlah ...."

Sinar matanya memerhatikan sepasang gelang yang terjatuh dari dalam kotak dan masih berputaran di atas tanah. Sekali lagi dia tertawa dingin.

"Bagus! Lu Ci ternyata tidak mengecewakan aku!" ***** Pada saat itu, Ci-bu-kiam-hoan Lu Ci dan kedua pengawalnya yang mengiringi dua orang utusan raja Nepal berjalan di tengah pegunungan. Salah seorang utusan raja Nepal itu tidak dapat menahan diri menarik napas panjang dan memuji.

"Selain cerdas, Lu-tayjin juga gagah berani. Benar-benar tidak salah kalau dikatakan jago nomor satu dalam istana."

"Kalau para penjahat itu sudah berhasil mengetahui apa yang telah terjadi, aku yakin mereka pun merasa kagum,"

Tukas utusan yang satunya. Lu Ci tertawa datar.

"Apa pun yang mereka katakan, kita toh tidak dapat mendengar lagi."

"Bukankah kita sudah berjanji dengan para pengawal itu untuk bertemu di depan sana?"

"Janjinya sih memang begitu, tapi kalau masih ada yang hidup. Orang yang menyerang kita bukan orang yang tidak punya nama. Ilmu mereka rata-rata tinggi sekali. Namun biar bagaimana mereka tidak berani secara terang-terangan melawan tentara kerajaan. Apalagi pihak mereka mudah dikenali. Coba kau bayangkan, mungkin tidak mereka membiarkan satu pun dari pengawal itu meloloskan diri dan melaporkan siapa adanya mereka itu?"

Wajah kedua orang utusan raja Nepal itu langsung pucat seketika.

Tiba-tiba enam ekor kuda beserta pengendaranya melesat keluar dari dalam hutan yang rimbun.

Sekali lagi kedua utusan raja Nepal itu terkejut.

Lu Ci sama sekali tidak mengambil tindakan apa-apa.

Dia berdiri tersenyum-senyum.

"Mereka adalah orang yang telah mengadakan perjanjian dengan kita untuk datang menyambut."

Keenam ekor kuda dengan cepat berlari semakin dekat.

Yang pertama membuka jalan adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahunan dan berpakaian merah mencolok.

Di 977 belakangnya mengikuti dua orang laki-laki setengah baya mengenakan pakaian berwarna kuning.

Paling akhir merupakan enam orang pengawal yang berpakaian sama dengan pengawal Lu Ci.

"Kepala komandan departemen kerahasiaan negara, Tian-liong-siang-jin. Wakil kedua dan ketiga komandan pasukan perang, Jit Sang serta Tai Cu-pei,"

Kata Lu Ci memperkenalkan laki-laki berbaju merah dan dua laki-laki berbaju kuning, kemudian dia menoleh ke arah mereka.

"Bagus! Kedatangan kalian memang tepat saatnya!" ***** Lu Ci berkata bagus, di atas gunung terdapat beberapa orang yang mengintai, mereka malah mengeluh celaka! Orang itu adalah Angin. Dengan kepesatan seperti angin pula dia kembali dari tempat pengintaiannya. Thian-ti, Fu Hiong-kun, Kilat, Geledek, dan Hujan sudah menyusul dari depan. Melihat tampang Angin, Thian-ti segera dapat menduga beberapa bagian.

"Apakah sudah ada orang yang menyambut kedatangan mereka?"

Thian-ti langsung mengajukan pertanyaan ini. Angin menganggukkan kepalanya. Thian-ti tertawa lebar.

"Manusia bernama Lu Ci ini benar-benar tidak dapat dipandang remeh. Sepanjang perjalanan dia sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,"

Kata ketua Siau-yau-kok itu selanjutnya.

"Toaya menduga bahwa Lu Ci akan mengambil jalan yang satu ini. Tentu sejak semula juga sudah terpikir bahwa ada 978 orang yang akan datang menyambut."

"Memang sudah ada dalam dugaanku,"

Thian-ti tetap tersenyum.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kejar terus ...!"

Thian-ti mengelus-elus jenggotnya.

"Pasti akan datang kesempatan yang baik." ***** Pengejaran kali ini malah memburu sampai ke tempat tinggal Lu Wang. Lu Ci tidak berniat untuk menginap. Tapi salah satu utusan raja Nepal tidak sanggup mempertahankan diri lagi dan jatuh sakit. Kebetulan di sekitar daerah itu, orang yang dapat dipercayai oleh Lu Ci hanya Lu Wang seorang. Mendengar bahwa orang yang sakit itu adalah utusan raja Nepal, Lu Wang tidak menunda waktu lagi. Bersama-sama Wan Fei-yang, dia sibuk mencari tabib. Di sekitar daerah itu, yang paling terkenal adalah tabib Ong dari Hue-cun-tong. Bagaimanapun Lu Wang tidak menyangka bahwa Hue-cun-tong merupakan markas rahasia pihak Siau-yau-kok. Manusia Tanpa Wajah dan Suma Hong yang bersembunyi di luar gedung keluarga Lu melihat Wan Fei-yang berjalan keluar. Mereka terkejut sekali. Manusia Tanpa Wajah menyuruh Suma Hong segera kembali ke markas untuk melaporkan perkembangan ini, dia berdiri mengikuti Wan Fei-yang. Sampai di depan Hue-cun-tong, dia 979 melihat Wan Fei-yang melangkah masuk, dia semakin terkejut. ***** Pada saat itu Suma Hong sudah menyelinap dari pintu belakang tempat pertemuan mereka. Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang menunggu berita sudah berkumpul di taman belakang. Mendengar keterangan Suma Hong, tidak ada satu pun yang tidak merasa heran. Belum lagi mereka mengambil tindakan apa-apa, Manusia Tanpa Wajah sudah meloncat turun dari tembok tinggi. Dia mengatakan bahwa Wan Fei-yang masuk ke dalam Hue-cun-tong. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek terkejut setengah mati. Geledek yang berangasan sudah berniat mencari anak muda itu dan membunuhnya di tempat. Tapi Thian-ti malah mencegah dan meminta mereka tidak usah khawatir. Dia yakin kedatangan Wan Fei-yang ke Hue-cun-tong bukan karena mengetahui rahasia tempat itu yang merupakan markas Siau-yau-kok. Dia juga lupa dengan berita yang disampaikan salah seorang anak buah kepercayaannya bahwa ilmu silat Wan Fei-yang sudah punah karena terjungkal di tangan Tok-ku Bu-ti. Tapi dia juga tidak menolak ketika yang lain menyatakan ingin keluar melihat-lihat keadaan. Pada saat itu Wan Fei-yang sudah bersiap-siap untuk pergi. Tabib Ong sedang tidak ada di tempat. Dalam waktu satu atau dua kentungan juga belum tentu bisa kembali, kata seorang pegawai tabib tersebut. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk meninggalkan pesan saja. Dia berkata pada pegawai itu agar meminta tabib Ong segera datang ke rumah Lu-tayjin 980 sekembalinya nanti. Dia membalikkan tubuh untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan Fu Hiong-kun yang kebetulan sedang melangkah masuk. Dua pasang mata saling pandang. Mereka sama-sama terpaut. ***** "Kau?"

Fu Hiong-kun yang pertama-tama membuka suara.

Tidak tahunya jawaban Wan Fei-yang juga merupakan kata-kata yang sama.

Tentu saja mereka sama sekali tidak menduga akan bertemu lagi di tempat seperti ini.

"Mengapa kau bisa ada di sini?"

Tanya Fu Hiong-kun keheranan.

"Aku datang untuk mengundang tabib Ong memeriksa penyakit seorang tamu di rumah Lu-loya. Kau?"

Fu Hiong-kun merenung sejenak.

"Aku memang sering belajar pengobatan dengan tabib Ong,"

Sahutnya kemudian. Hal ini memang benar, hanya saja bukan sekarang dia belajar dengan tabib Ong tapi beberapa tahun yang lalu. Fu Hiong-kun memerhatikan Wan Fei-yang dengan saksama.

"Rona wajahmu terlihat pucat. Apakah kau sedang sakit?"

Tanya gadis itu selanjutnya. Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

"Tadi kau mengatakan ingin mengundang tabib Ong ke rumah 981 keluarga Lu. Apakah itu nama keluargamu? Bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau tidak mempunyai rumah?"

Tanya Fu Hiong-kun penasaran.

"Sekarang aku menumpang di rumah seorang cianpwe."

"Tabib Ong kebetulan sedang memenuhi panggilan pasiennya. Mungkin aku bisa membantu?"

Wan Fei-yang langsung tertawa lebar.

"Kau masih merantau ke mana-mana untuk mempelajari ilmu pengobatan?"

Fu Hiong-kun mengangguk kecil.

"Kalau begitu, ilmu pengobatanmu pasti sudah dalam sekali,"

Kata Wan Fei-yang selanjutnya. Fu Hiong-kun tersipu-sipu.

"Bagaimana dengan silatmu? Banyak kemajuan?"

Tanyanya. Wan Fei-yang menarik napas panjang.

"Ilmu silatku sudah punah,"

Katanya lirih.

"Punah?"

Fu Hiong-kun terkejut sekali.

"Bagaimana bisa begitu?"

"Kalau mau diceritakan bisa sepanjang malam. Singkat kata aku dikalahkan oleh musuh. Dia menghantamku dengan telapak tangannya sehingga urat penting di tubuhku tergetar dan ada beberapa yang putus. Meski tidak sampai mati, tapi aku sudah menjadi orang cacat seumur hidup,"

Kata Wan Fei-yang sambil tersenyum getir. 982

"Orang itu pasti jahat sekali,"

Fu Hiong-kun menarik napas panjang.

"Sekarang ini, hendak jadi orang baik memang susah sekali. Lebih banyak ruginya daripada untungnya."

Dia merandek sejenak. Matanya mengerling.

"Mari kita pergi ke kedai arak itu dan berbincang-bincang,"

Ajaknya.

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

Pertemuan mereka yang tidak terduga-duga baginya bukan suatu hal yang tidak menggembirakan.

Kilat, Angin, dan Geledek justru yang merasa tidak senang.

Mata Thian-ti mengantar kepergian Fu Hiong-kun dan Wan Fei-yang yang meninggalkan Hue-cun-tong.

Wajahnya juga tidak sedap dipandang.

Hanya Hujan seorang yang tertawa terkekeh-kekeh.

"Ternyata budak Fu Hiong-kun itu saling kenal dengan Wan Fei-yang. Kita bisa menggunakan hubungan ini menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu dan mencari kesempatan untuk bertindak."

Thian-ti mempertimbangkan sejenak.

Akhirnya dia setuju juga.

***** Pada saat itu para pengunjung di kedai arak tidak begitu banyak.

Kesempatan yang baik untuk bercakap-cakap.

Tapi Fu Hiong-kun dan Wan Fei-yang justru gagap-gugup karena tidak tahu bagaimana harus membuka bahan pembicaraan.

Perkenalan antara mereka tempo dulu hanya kebetulan.

Kali ini mereka bertemu lagi Wan Fei-yang malah berubah seperti orang yang berbeda.

Perbedaan seseorang yang demikian drastis memang membuat keduanya bingung untuk memulai 983 percakapan.

Wan Fei-yang tidak banyak menceritakan tentang luka yang dideritanya.

Dia bahkan tidak mengatakan siapa yang melukainya sampai sedemikian rupa.

Hari-hari yang dilaluinya setelah ilmu silatnya punah sudah direnunginya baik-baik.

Di dunia ini entah berapa banyak manusia yang tidak bisa ilmu silat, toh mereka dapat melewati hari dengan baik.

Lalu, mengapa dia tidak?

Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi Fu Hiong-kun dapat melihat penderitaan hatinya.

Dia benar-benar berharap bahwa dia bisa mengembalikan ilmu silat Wan Fei-yang yang punah dengan ilmu pengobatannya.

Terhadap maksud baik gadis itu, Wan Fei-yang merasa terharu sekali.

Tapi dia menolak secara halus.

Karena dia tahu penyakit yang dideritanya hampir tidak ada obatnya di dunia ini.

Setelah berbincang-bincang panjang lebar, Fu Hiong-kun baru ingat bahwa sampai saat ini dia masih belum tahu nama Wang Fei-yang.

"Sebetulnya aku she Gi ...."

Sahut Wan Fei-yang dengan pandangan berterima kasih atas keramahan gadis itu terhadapnya.

"Kalau begitu, kelak aku akan memanggilmu Gi-toako saja." ***** Setelah menyelidiki beberapa saat, Thian-ti dan bawahannya mendapat kenyataan bahwa Fu Hiong-kun sama sekali tidak tahu asal usul Wan Fei-yang. Hal ini benar-benar di luar dugaan mereka. Dan Tentu saja mereka tidak akan memberitahukan apa-apa. 984 Hujan adalah seorang wanita yang sudah banyak pengalaman. Dapat dipastikan bahwa dia paham sekali hati seorang wanita. Setelah berputar balik beberapa kali, akhirnya dia berhasil membujuk Fu Hiong-kun menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu dan menyelidiki di mana adanya bunga soat-lian dari Ping-san itu. Dia berjanji apabila berhasil mendapatkan soat-lian tersebut, dia akan memohon kepada Thian-ti untuk membagi Fu Hiong-kun setengahnya agar dapat memulihkan ilmu silat Wan Fei-yang. Karena dia juga tahu bahwa itu hanya satu-satunya kemungkinan yang ada untuk menyembuhkan luka Wan Fei-yang. Mereka yang akan membantu melancarkan kembali urat nadi anak muda itu agar ilmu silatnya bisa pulih kembali walau tidak secara keseluruhan. Fu Hiong-kun hanya bertekad menyembuhkan luka Wan Fei-yang dan memulihkan ilmu silatnya. Hal yang lainnya tidak dipikirkan terlalu mendalam. Sedangkan di pihak Thian-ti, tentunya mereka sudah mempunyai rencana tersendiri. ***** Wan Fei-yang baru kembali ke gedung keluarga Lu. Fu Hiong-kun sampai tidak lama kemudian. Mendapat laporan dari para pelayan, Wan Fei-yang segera keluar menyambutnya. Lu Wang diberi tahu bahwa Fu Hiong-kun adalah ahli waris tabib Ong. Hatinya merasa sedikit penasaran. Pada zaman itu, perempuan yang mempelajari ilmu pengobatan memang masih segelintir. Tapi dia tidak curiga apa-apa. Kelihatannya Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati. Lagi pula 985 Wan Fei-yang mengatakan bahwa Fu Hiong-kun adalah kenalan lamanya. Lu Ci dan Tai Cu-pei memang rada curiga. Tian-liong-siang-jin malah menatap gadis itu dengan wajah cengar-cengir. Kepala komandan yang satu ini memang terkenal hidung belang. Fu Hiong-kun sama sekali tidak menyadari, tapi Wan Fei-yang memerhatikan secara diam-diam. Ternyata utusan raja Nepal itu hanya tidak cocok dengan hawa dan makanan setempat. Penyakit sepele seperti ini sama sekali tidak dianggap oleh Fu Hiong-kun. Dia langsung membuka resep untuk orang itu dan berpesan agar untuk sementara tidak boleh sembarang makan. Lu Ci memerhatikan cara kerja Fu Hiong-kun dengan saksama. Akhirnya dia melihat bahwa ilmu pengobatan gadis itu cukup tinggi. Kecurigaannya mulai berkurang. Tian-liong-siang-jin langsung mengajukan permintaan untuk menginap selama beberapa malam di rumah Lu Wang. Alasannya agar tidak repot di perjalanan apabila utusan raja Nepal itu jatuh sakit lagi. Dia juga meminta Fu Hiong-kun menetap agar mempermudah pemeriksaannya terhadap sang pasien. Meskipun orang-orang lainnya tidak tahu apa yang terkandung dalam isi hatinya, Wan Fei-yang agak merasa heran juga ketika Fu Hiong-kun menyatakan kesediaannya. Terpaksa dia memamerkan wajah gembira menyambut keputusan gadis itu. Pada saat itu juga Lu Wang menyuruh Wan Fei-yang mengantarkan Fu Hiong-kun ke kamar tamu untuk beristirahat. Setelah sampai di halaman depan, Wan Fei-yang tidak dapat menahan rasa herannya lagi.

"Aku sudah menyiapkan kata-986 kata untuk menolak permintaan orang itu, kau kok malah menyetujuinya. Apakah kau tidak tahu bahwa laki-laki berpakaian merah itu mengandung niat yang tidak baik?"

Tanyanya penasaran.

"Jangan khawatir. Sejak kecil aku sudah berkelana di dalam dunia persilatan. Aku tahu bagaimana caranya menjaga diriku sendiri,"

Sahut Fu Hiong-kun seakan-akan tidak ada masalah yang harus diributkan.

Melihat gaya gadis itu yang penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri, Wan Fei-yang merasa apa boleh buat.

Tapi hatinya masih terselip rasa khawatir.

Dia berpesan berulang kali agar Fu Hiong-kun lebih waspada dan berhati-hati.

Akhirnya Fu Hiong-kun terpaksa memberitahukan tujuannya menetap di rumah keluarga Lu ini.

Dia juga mengatakan bahwa ada orang yang menunggunya di luar dan mereka akan segera bertindak bila terjadi apa-apa terhadapnya.

Wan Fei-yang tahu Fu Hiong-kun bersedia melakukan semua ini dengan tujuan tertentu.

Apalagi kalau bukan menyembuhkan lukanya dengan soat-lian yang mujarab itu?

Hatinya semakin terharu.

Akhirnya dia sendiri menyetujui usul Fu Hiong-kun.

Pada dasarnya dia memang tidak ingin kehilangan harapan begitu saja, apalagi masih banyak urusan yang harus diselesaikannya, terutama dendam ayah sekaligus suhunya.

"Setelah berhasil, ke mana kau akan membawa aku?"

Sebetulnya Wan Fei-yang ingin bertanya lebih jelas tentang orang-orang yang akan membantunya melancarkan kembali urat nadinya yang tergetar dan putus.

987 Tapi tampaknya Fu Hiong-kun tidak ingin bercerita banyak.

"Pokoknya aku akan mengatur segalanya dengan baik. Sekarang lebih baik kau mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat ini. Besok pagi-pagi sekali kau tunggu aku dekat jembatan kecil di sebelah barat kota. Seandainya aku tidak keburu datang, aku pasti akan menyuruh orang lain menyambutmu."

Kemudian dia melepaskan sepasang gelang yang di ujungnya tergantung sebuah keleningan.

"Pada saat itu, apabila kau tidak melihat aku, kau harus menggoyangkan keleningan ini. Dengan demikian, pasti ada orang yang akan menghampiri dan menyambutmu."

Wan Fei-yang menerima sepasang gelang tersebut. Sekali lagi dia berpesan.

"Hati-hati terhadap Tian-liong-siang-jin." ***** Pada kentungan kedua, ternyata Tian-liong-siang-jin benar-benar datang. Bentuk tubuhnya terlihat rada gemuk dan kekar, tapi gerak-geriknya gesit sekali. Langkah kakinya tidak memperdengarkan suara sama sekali. Pintu kamar itu hanya dirapatkan. Dengan mendorong perlahan saja, pintu tersebut sudah terbuka. Di dalam kamar masih ada penerangan. Dari balik kelambu, samar-samar terlihat Fu Hiong-kun tidur menghadapkan wajahnya ke arah tembok. Tampaknya dia telah tertidur pulas. Tian-liong-siang-jin segera merapatkan sekaligus memalangnya. Kemudian dia berjalan ke arah tempat tidur, menyingkap kelambu dan tanpa sungkan duduk di atas 988 ranjang.

"Gadisku yang cantik, Hudya sudah datang menemuimu dan akan mengajakmu bersenang-senang,"

Sambil berkata, tangan Tian-liong-siang-jin meraba bahu Fu Hiong-kun yang mulus.

Dia membalikkan tubuh gadis itu perlahan.

Di luar dugaan, bukan saja Fu Hiong-kun tidak memberontak malah seakan membiarkan.

Sejinak merpati dia menyusup ke bawah jenggot Tian-liong-siang-jin yang lebat.

Hati laki-laki itu tambah senang.

Bibirnya yang tebal segera mencium gadis itu.

Tepat pada saat itulah, dia merasa gadis yang ada di depannya bukan Fu Hiong-kun.

Meskipun belum terlalu tua, tapi tetap saja sudah tidak pantas disebut anak gadis.

Pada dasarnya usia Hujan memang sudah cukup tinggi, tapi tampangnya sama sekali belum tua.

Dia malah seperti wanita berusia tiga puluhan yang sudah matang.

Penampilannya selalu menawan dan memesona hati para laki-laki.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Tian-liong-siang-jin berseru terkejut.

Baru sepatah kata "Kau ...."

Kesadarannya mulai hilang.

Sinar mata Hujan seakan mengandung magnet yang tidak bisa dihindari.

Juga seperti jurang yang dalam.

Tian-liong-siang-jin sama sekali tidak berjaga-jaga.

Kesadarannya mulai terhanyut dalam sinar mata itu.

Dia juga merasakan sesuatu yang rada tidak beres.

Tapi dalam waktu yang bersamaan, di pelupuk matanya terlihat bayangan puluhan gadis yang menari-nari dengan tubuh telanjang bulat.

Mereka menggapaikan tangan memanggilnya.

Pada dasarnya memang hidung belang.

Sebagai seorang manusia yang sudah terbiasa menjadi budak nafsu, mana mungkin dia bisa 989 menghindarkan diri dari jerat ini?

Untuk menyelinap ke dalam gedung keluarga Lu, bukan hal yang sulit bagi Hujan.

Setelah mendengarkan keterangan yang disampaikan Fu Hiong-kun, Hujan sudah mempunyai rencana tersendiri.

Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian Fu Hiong-kun.

Lalu dia naik ke atas tempat tidur gadis itu dan menunggu kedatangan Tian-liong-siang-jin.

Begitu laki-laki itu mulai lupa diri, dia langsung menyirapnya dengan ilmu wanita cantik membetot sukma.

Yang penting laki-laki itu akan masuk ke kamar tersebut.

Dia sudah tahu Tian-liong-siang-jin paling lemah menghadapi wanita cantik.

Dia yakin dia dapat memengaruhi laki-laki itu dengan ilmunya.

Ternyata sekarang dia benar-benar berhasil.

***** Sepanjang malam bercumbu mesra.

Sampai pagi hari menjelang, Tian-liong-siang-jin sudah terpengaruh penuh oleh Hujan.

Pikirannya hampir kosong.

Yang di ngatnya hanya Hujan.

Hujan mengeluarkan sebuah keleningan.

Dia menggoyang-goyangkannya di depan mata Tian-liong-siang-jin.

Biji mata laki-laki itu berputar mengikuti gerakan keleningan tersebut.

Persis seperti sebuah boneka orang-orangan.

"Lihat aku, lihat keleningan ini ...."

Suara Hujan berulang-ulang seperti sedang menghafalkan ayat-ayat doa.

"Jawab pertanyaanku .... Apakah kau bertugas mengawal soat-lian dari Ping-san?" 990 Tian-liong-siang-jin tidak bersuara, dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Kalau begitu, aku memerintahkan engkau segera ambil soat-lian tersebut. Apabila ada yang menghalangi, ulurkan telapak tanganmu dan hantam sampai mati."

Kembali Tian-liong-siang-jin menganggukkan kepalanya. Tampaknya dia memerhatikan sekali apa yang dikatakan oleh Hujan.

"Kemudian kau segera berangkat menuju jembatan kecil yang ada di sebelah barat kota. Dengar suara keleningan ini,"

Hujan menggoyang-goyangkan keleningan di tangannya.

"Berikan soat-lian tersebut kepada orang yang membawa keleningan seperti ini. Ingat baik-baik apa yang kukatakan!"

Wajah Tian-liong-siang-jin tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Kepalanya manggut-manggut terus.

***** Ilmu pengobatan Fu Hiong-kun ternyata memang cukup hebat.

Dia memberi obat yang sangat mujarab.

Pada hari kedua saja penyakit utusan raja Nepal sudah sembuh sama sekali.

Lu Ci senang sekali.

Dia memerintahkan setiap orang untuk membereskan bekal masing-masing dan siap melanjutkan perjalanan.

Pada saat itu semua orang sudah berkumpul, kecuali Tian-liong-siang-jin.

"Mungkin hwesio itu terlalu banyak minum arak sehingga 991 masih pulas dalam mimpi."

Justru karena tahu rekannya yang satu ini selain hidung belang juga gemar minum arak, maka Jit Sang baru mengeluarkan kata-kata seperti ini.

"Semestinya dia tahu kalau sekarang bukan waktunya untuk bermabuk-mabukan!"

Nada suara Lu Ci terdengar kurang senang.

"Cepat panggil dia bangun!"

Baru saja ucapannya selesai, Tian-liong-siang-jin sudah masuk ke dalam ruangan dengan langkah terhuyung-huyung.

Sepasang matanya kosong, mulutnya mengoceh sendiri.

Tai Cu-pei yang melihat keadaan orang itu langsung menghampiri dan bertanya dengan penuh perhatian.

"Siang-jin, bagaimana keadaanmu? Tian-liong-siang-jin tidak memedulikannya. Tiba-tiba dia melesat ke depan dan mengambil kotak soat-lian yang terletak di atas meja kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Lu Ci mengerutkan keningnya. Belum lagi dia membentak, Tai Cu-pei yang berdiri di sebelah sana sudah menghalangi di depannya.

"Kotak ini ...."

Belum lagi ucapannya selesai, Tian-liong-siang-jin sudah menghantamnya dengan telapak tangan kanan.

Tai Cu-pei tidak menyangka Tian-liong-siang-jin akan turun tangan terhadapnya, tubuhnya langsung terpental sejauh setengah depa.

Tian-liong-siang-jin justru terkenal karena ilmu telapak tangannya.

Sekali hantam, dia bisa menghancurkan batu karang yang besar.

Dalam keadaan seperti sekarang ini, 992 memang dia tidak bisa mengerahkan tenaga sepenuhnya, tapi hantaman telapak tangannya itu memang tak dapat diterima oleh sembarangan orang.

Lu Ci yang melihat keadaan itu, langsung menyadari bahwa telah terjadi sesuatu pada diri Tian-liong-siang-jin.

Dia tidak ayal lagi.

"Tahan dia!"

Perintahnya dengan suara lantang. Para pengawal itu segera menghunus golok masing-masing. Tapi mereka tetap terlambat sedikit. Tian-liong-siang-jin sudah menghambur keluar.

"Kejar!"

Teriak Lu Ci sekali lagi.

Tubuhnya meluncur bagai sebatang anak panah.

Dia menerobos lewat jendela dan mengejar keluar.

Para pengawal berhamburan mengejar.

Tai Cu-pei dan Jit Sang juga tidak ketinggalan.

Tian-liong-siang-jin yang berhasil meloloskan diri dari gedung keluarga Lu, berlari terus ke depan sambil memeluk kotak soat-lian itu erat-erat.

Ilmu meringankan tubuhnya tidak di bawah Ci-bu-kim-hoan Lu Ci.

Ilmu silat mereka pun hampir berimbang.

Kecuali Ci-bu-kim-hoan, orang lainnya terpaksa mengejar dengan napas tersengal-sengal.

Sambil berlari, Tian-liong-siang-jin tidak memilih-milih.

Kadang-kadang dia melesat ke atas genting rumah orang dan menginjak-injak seenaknya.

Otomatis genting-genting itu pada hancur berantakan.

Apalagi kalau dia melayang turun kembali.

Siapa pun yang ada di depannya diterjang sampai jatuh terpontang-panting.

Lu Ci sendiri tentu saja tidak bisa melakukan tindakan seperti itu.

Pada dasarnya Tian-liong-siang-jin sudah mirip orang yang tidak waras.

Lu Ci harus 993 menggeser sedikit demi sedikit di antara keramaian orang yang berlalu-lalang baru bisa meneruskan niatnya mengejar.

Dengan demikian lama-kelamaan dia semakin ketinggalan.

Tidak seberapa jauh di depan sana ada sebuah hutan kecil.

Tian-liong-siang-jin menghambur ke dalam hutan tersebut.

Ci-bu-kim-hoan Lu Ci tertawa dingin.

Sepuluh gelang emasnya telah tergenggam di tangan.

"Singg!"

Sebuah gelang berukuran kecil meluncur ke dalam hutan dan melukai punggung Tian-liong-siang-jin.

Ternyata orang itu masih bisa merasakan kenyerian yang menggigit di belakang punggungnya.

Secara otomatis dia membalikkan tubuhnya.

Lu Ci mencelat secepat kilat dalam waktu yang bersamaan dan melayang turun di hadapan Tian-liong-siang-jin.

"Tian-liong! Siapa yang memerintahkan engkau melakukan hal ini? Jawab!"

Bentaknya marah. Tian-liong-siang-jin tidak menyahut. Matanya tetap memandang kosong ke depan.

"Kembalikan kotak itu kepadaku. Mengingat hubungan kita yang cukup akrab, mungkin aku akan mengampuni selembar nyawamu!"

Tian-liong-siang-jin semakin erat memeluk kotak tersebut.

Kakinya mundur satu langkah.

Tubuh Lu Ci melesat ke depan dan mengulurkan tangannya namun serangannya sanggup dihindari oleh Lu Ci.

Tangan Lu Ci yang sebelah lagi langsung merebut kotak di 994 tangan Tian-liong-siang-jin.

Orang itu mana mau memberikan dengan begitu saja, dia memutar tubuhnya lalu menggeser ke samping.

Tapi dia justru membiarkan punggungnya menghadap Lu Ci.

Lu Ci memanfaatkan kesempatan itu baik-baik.

Dengan keras telapak tangannya menghantam belakang punggung Tian-liong-siang-jin.

Orang itu hanya mendengus satu kali kemudian melesat menerjang ke depan.

Lu Ci segera menutulkan kakinya melesat ke udara dan melayang di hadapan Tian-liong-siang-jin.

Sekali lagi tangannya terulur untuk mencengkeram kotak tersebut.

Sepasang telapak tangan Tian-liong-siang-jin dikembangkan di udara.

Rupanya dia sedang melempar kotak tersebut.

Lu Ci sempat melihatnya.

Dia kembali mengentakkan kakinya ke tanah dan melesat ke atas untuk merebut kotak tersebut.

Sekilas cahaya berkilauan seperti kilat menyambar dari samping.

Pedang itu sepanjang enam cun.

Tajamnya tidak terkira.

Lu Ci yang sedang melayang di udara terpaksa melekukkan pinggangnya ke samping untuk menghindari serangan itu.

Kotak berisi soat-lian pun luput diraihnya.

Kotak itu melayang kembali ke tangan Tian-liong-siang-jin.

Dengan erat dipeluknya kotak tersebut dan dibawanya berlari kembali.

Lu Ci tidak mengejar, bukan dia tidak mau.

Tapi Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek sudah mulai menyerangnya.

Pedang Kilat tidak berhasil menebasnya, golok Geledek sudah menyusul tiba.

Jarum Hujan mengikuti ketat gerakan golok Geledek, tapi satu demi satu serangan itu berhasil dihindarkan oleh Lu Ci.

995 Tubuhnya tidak berhenti berkelebat, sekali lagi dia berhasil menghindar dari kibasan lengan baju Angin.

Dia langsung berniat mengejar Tian-liong-siang-jin.

Tapi di depannya sudah mengadang Thian-ti.

Tinju dan kakinya bergerak cepat menghalangi Lu Ci maju ke depan.

Sementara itu, Tai Cu-pei, Jit Sang, dan para pengawal lainnya sudah berdatangan.

Terjadilah pertempuran yang seru.

Fu Hiong-kun baru bersiap membantu, Thian-ti sudah menghardiknya.

"Hiong-kun, cepat pergi ambil kotak itu!"

Lu Ci melihat gadis itu melesat pergi. Dia marah sekali. Gelang di tangannya segera dilemparkan tapi sanggup ditangkis oleh Thian-ti.

"Bunuh! Jangan biarkan seorang pun lolos!"

Teriak Thian-ti kalap.

***** Akhirnya iseng-iseng Wan Fei-yang menggoyang-goyangkan keleningan di tangannya.

Dia sudah menunggu cukup lama di bawah jembatan sebelah barat kota.

Kebetulan Tian-liong-siang-jin sedang menghambur ke arahnya.

Begitu mendengar suara keleningan, dia tertegun sebentar.

Sejenak kemudian dia berlari lagi ke arah sumber suara.

Dari jauh Wan Fei-yang sudah melihat Tian-liong-siang-jin yang sedang berlari ke arahnya.

Dia malah berdiri termangu-mangu.

Apakah orang yang datang menyambutku justru di hidung belang Tian-liong-siang-jin ini?

Apakah Tian-liong-siang-jin sebetulnya satu komplotan dengan orang-orang Fu 996 Hiong-kun?

Dia masih berdiri terheran-heran.

Tian-liong-siang-jin sudah berada di depannya.

Dalam pandangan Tian-liong-siang-jin, orang yang berdiri di depannya bukan Wan Fei-yang, tapi Hujan.

Matanya tetap kosong, namun bibirnya menyunggingkan senyuman.

Tiba-tiba dia memeluk Wan Fei-yang erat-erat dan bibirnya yang tebal menciumi sekujur wajah anak muda itu.

"Sayangku, aku sudah membawakan soat-lian untukmu!"

Sambil tersenyum cengar-cengir Tian-liong-siang-jin berkata dengan suara kenes.

Dia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.

Ternyata soat-lian itu besarnya seperti kepalan tangan.

Warnanya putih berkilauan.

Sekali lihat saja, orang sudah yakin bahwa tumbuhan ini benar-benar pusaka yang langka.

Di dalam pandangan Tian-liong-siang-jin hanya ada Hujan.

Tanpa banyak kata lagi, dia langsung menyusupkan soat-lian tersebut ke dalam mulut Hujan yang mungil.

Wan Fei-yang sudah kehilangan ilmu silatnya.

Dia sama sekali tidak dapat mengadakan perlawanan.

Bahkan memberontak saja tidak bisa, mau tidak mau, dia terpaksa menelan soat-lian tersebut.

Serangkum hawa yang sejuk dan segar segera menyelusupi jantungnya.

Kemudian mengalir ke seluruh tubuh.

Sementara itu, Tian-liong-siang-jin sudah menggendong Wan Fei-yang dan menciuminya dengan rakus.

Fu Hiong-kun menyusul tiba.

Dari jauh dia sudah dapat melihat kejadian antara Tian-liong-siang-jin dengan Wan Fei-yang.

Wajahnya menyiratkan perasaannya yang bingung.

Tapi 997 dia terus berlari menghampiri dan menepukkan telapak tangannya ke arah batok kepala Tian-liong-siang-jin.

Orang itu tidak menghindar.

Dia jatuh pingsan seketika.

Sementara itu, tubuh Wan Fei-yang berguncang-guncang dan gemetaran.

Melihat keadaannya, Fu Hiong-kun cemas sekali.

Dia segera menghampiri dan memapah tubuh Wan Fei-yang.

Kemudian dia mengulurkan tangan meraba kening anak muda itu.

Dia terkejut sekali sebab kening anak muda itu dingin bagai balok es.

"Gi-toako, apa yang terjadi?"

Tanya Fu Hiong-kun sambil menarik tangannya dari kening Wan Fei-yang.

Anak muda itu berusaha membuka mulutnya.

Serangkum uap putih yang dingin memancar keluar.

Seluruh wajahnya mengalir keringat sedingin es.

Tubuh Fu Hiong-kun bergetar.

Tiba-tiba pikirannya tergerak.

Apalagi setelah dia melihat kotak kosong yang tergeletak di atas tanah.

Dia ingat Tian-liong-siang-jin pernah dihipnotis dengan ilmu pembetot sukma oleh Hujan, maka dia segera dapat menduga apa yang telah terjadi.

Cepat-cepat dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Dia tidak berani berdiam lama-lama di tempat itu.

Dengan gugup dia memapah Wan Fei-yang berjalan ke depan.

Tubuh anak muda itu masih menggigil terus.

Wajahnya sudah semakin pucat.

***** Meskipun ilmu silat Lu Ci tinggi sekali, tapi di bawah keroyokan lima pentolan dari Siau-yau-kok, dia hanya dapat 998 menangkis dan menghindarkan diri.

Jit Sang dan Tai Cu-pei sudah roboh di tangan Geledek dan Kilat sejak tadi.

Para pengawal itu sungguh-sungguh tak dapat diharapkan lagi.

Dengan mengandalkan ilmu silat mereka, tentu saja bukan tandingan Hujan, Angin, Kilat, maupun Geledek.

Lu Ci yang melihat rekan dan para pengawalnya roboh satu per satu merasa sangat marah sekaligus panik.

Sekali perhatiannya terpencar, telapak tangan Thian-ti langsung menghantamnya dan waktu yang bersamaan pedang Kilat juga berhasil melukainya.

Dia sadar kalau bertarung terus, dia pasti akan mati di sini.

Dan dia juga sadar Tian-liong-siang-jin pasti sudah diperalat oleh mereka.

Kalau hanya berdasarkan tenaganya sendiri, apalagi dalam keadaan seperti ini, tentu sulit merebut kembali soat-lian dari tangan mereka.

Padahal dia sendiri terluka, perhatiannya tidak dapat terpusat lagi.

Dia menarik napas dalam-dalam, berturut-turut dia melemparkan empat buah gelang emasnya untuk membuka jalan dan melarikan diri secepat kilat.

Jarum Hujan langsung disebarkan, namun tidak sanggup mengejar bayangan tubuh Lu Ci.

Baru saja orang yang lainnya bermaksud mengejar, tapi mereka kembali dicegah oleh Thian-ti.

Lu Ci berlari ke arah pusat kota di mana dia datang tadi.

Hal ini membuktikan bahwa untuk sementara dia sudah tidak berminat merebut kembali soat-lian tersebut.

Sedangkan tujuan Thian-ti hanya soat-lian itu.

Fu Hiong-kun seorang diri pergi menemui Tian-liong-siang-jin.

Mereka masih belum dapat memastikan apakah tidak akan terjadi sesuatu pada diri gadis itu.

Thian-ti memberi perintah 999 dengan bentakan lantang.

Dalam sekejap Angin, Hujan, Kilat, dan Geledek segera menerjang ke arah Fu Hiong-kun pergi.

Thian-ti menyusul di belakang.

Belum lama kelima orang itu pergi, Tok-ku Hong dan beberapa pentolan Bu-ti-bun menyusul tiba.

Melihat keadaan di tempat itu, mereka sadar telah terlambat setindak.

Apalagi setelah memerhatikan bekas luka para pengawal yang sudah menjadi mayat, mereka segera dapat diketahui bahwa semua ini adalah hasil perbuatan orang-orang Siau-yau-kok.

Mereka hanya berdiri terpaku sambil menarik napas panjang.

Bagaimanapun tidak terpikir oleh mereka bahwa hasil kerja orang-orang Siau-yau-kok juga sia-sia belaka.

Soat-lian yang diperebutkan itu sekarang sudah berada dalam perut Wan Fei-yang.

***** Empat puluh tujuh hari kemudian, Fu Hiong-kun sudah kurus banyak, tapi wajahnya malah selalu ramai oleh senyuman.

Wan Fei-yang masih terendam dalam segentong air yang permukaannya terus menggelegak dan mengepulkan uap putih.

Air itu air panas.

Saat itu Wan Fei-yang sedang berendam di dalamnya untuk mempertahankan nyawa.

Soat-lian dari Ping-san itu mengandung daya im yang tinggi sekali.

Juga merupakan pusaka tak ternilai satu-satunya di dunia.

Tentu saja kelak akan tumbuh soat-lian semacam itu lagi.

Tapi hal itu baru akan terjadi lagi seribu tahun kemudian.

Siapa yang dapat menduga apa yang akan terjadi seribu tahun kemudian.

Bagi orang yang penyakitnya tidak parah atau hanya ingin menambah kekuatan tenaga dalam, hanya dengan menggunakan sedikit saja dari soat-lian tersebut atau 1000 dengan kata lain sehelai bunganya saja sudah dapat memperlihatkan khasiat yang tidak terkira.

Sedangkan Wan Fei-yang menelannya bulat-bulat dan sudah pasti tidak memakai peraturan yang diharuskan.

Itulah sebabnya hawa dingin dari soat-lian itu langsung menjalar di seluruh peredaran darah tubuhnya.

Seandainya tidak ditemukan oleh Fu Hiong-kun, pasti saat ini dia sudah mati beku.

Fu Hiong-kun sudah cukup lama melakukan berbagai penelitian dalam ilmu pengobatan.

Dia paham sekali khasiat soat-lian tersebut, juga tahu bagaimana cara memakannya.

Tapi ketika hal ini diketahuinya, Wan Fei-yang sudah keburu menelan soat-lian itu bulat-bulat.

Sekarang satu-satunya jalan adalah mencari akal untuk membangkitkan hawa yang ada dalam tubuh Wan Fei-yang sendiri untuk membantunya.

Dia sendiri belum berani memastikan apakah dengan cara merendam Wan Fei-yang dalam air panas ini ada manfaatnya atau tidak.

Namun ini hanya jalan satu-satunya untuk mempertahankan nyawa Wan Fei-yang.

Dia harus memberanikan diri untuk mencoba.

Setelah berjalan tujuh hari, dia baru membawa Wan Fei-yang ke tempat ini.

Pada waktu itu, seluruh tubuh Wan Fei-yang sudah kaku, kulitnya sudah membeku seperti es.

Setelah berendam satu hari satu malam di dalam gentong berisi air panas, kesadaran Wan Fei-yang baru pulih kembali.

Sekarang dia sudah bisa membangkitkan hawa murninya.

Bahkan peredaran hawa murni dalam tubuhnya jauh lebih deras daripada sebelum dia terluka.

Tapi dia tetap tidak keluar dari dalam gentong berisi air panas tersebut.

Dia tidak lupa apa yang dikatakan Fu Hiong-kun, bahwa dia harus menembus seluruh urat nadinya yang tersumbat dan bahkan 1001 yang sudah tergetar.

Kalau tidak, tenaganya tetap tidak dapat pulih meskipun hawa murninya sudah mengalir.

Malah ada kemungkinan semakin parah.

Fu Hiong-kun tetap menjaga dan merawatnya tanpa mengenal lelah.

Melihat jerih payah usaha gadis itu untuk menyembuhkannya, Wan Fei-yang merasa terharu dan sangat berterima kasih.

Setiap hari apabila dia membuka matanya, pasti dia mengucapkan beberapa kata untuk menyatakan penghargaannya dan rasa terima kasihnya.

Demikian juga hari ini.

"Fu-kouwnio, kau sampai mencapaikan diri merawatku sedemikian rupa ...."

Ucapan Wan Fei-yang baru setengahnya saja sudah ditukas oleh Fu Hiong-kun.

"Kau merasa tidak enak hati, merasa sangat terharu, bukan?"

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya.

"Entah sudah berapa kali kau mengucapkan kata-kata seperti ini."

Dia mengambil sebutir telur dari permukaan air yang menggelegak itu dan mengupasnya.

Dengan penuh kesabaran serta perhatian dia menyuapkannya ke mulut Wan Fei-yang.

Telur itu sudah matang sekali.

Pada dasarnya, air tempat Wan Fei-yang merendamkan diri memang seperti sepanci air yang baru mendidih.

Wan Fei-yang menelan telur itu sedikit demi sedikit.

Dia menarik napas panjang.

"Ada suatu persoalan yang membuat hatiku resah dan terasa sangat bersalah,"

Katanya. 1002

"Persoalan apa lagi?"

"Demi aku, kau sudah tinggal di sini beberapa hari. Orang-orang rumahmu pasti khawatir sekali."

"Mereka hanya bisa memaksa aku melakukan hal-hal yang tidak ingin aku lakukan,"

Sahut Fu Hiong-kun dengan nada sedih. Wan Fei-yang semakin terharu.

"Kadang-kadang aku malah merindukan sebuah keluarga yang tidak bosan-bosannya memarahi aku."

Fu Hiong-kun tertegun.

"Apakah kau sudah yatim piatu?"

"Semestinya aku masih mempunyai seorang kakek luar. Akhirnya dia dibunuh juga."

Wan Fei-yang menggertakkan giginya erat-erat.

"Aku tidak akan pernah melupakan pedang yang panjang kurang lebih lima enam cun dan bercahaya bagai kilat itu!"

Sekali lagi Fu Hiong-kun tertegun.

"Siapa kau sebetulnya? Mengapa begitu banyak orang yang tidak senang terhadapmu?"

"Sebetulnya aku sendiri juga kurang mengerti,"

Wan Fei-yang tertawa getir.

"Sejak kecil aku sudah dibawa ke Bu-tong-san."

"Rupanya kau adalah murid Bu-tong-pay!"

"Hanya pantas disebut seorang bawahan,"

Sahut Wan Fei-yang sambil mengenang masa lalunya yang pahit.

"Di atas gunung, setiap orang selalu menghina aku. Belum pernah ada 1003 satu pun orang yang menghargaiku. Terakhir aku malah difitnah sebagai murid murtad yang membunuh ciangbunjin Bu-tong-pay!"

Tubuh Fu Hiong-kun tergetar mendengar kata-katanya.

"Gi-toako, sebetulnya apa marga keluargamu?"

"Sebetulnya aku memang she Gi, tapi karena ayahku menyucikan diri dan menjadi ciangbunjin Bu-tong-pay, maka aku mengikuti she ibu ...."

"She Wan?"

Bahkan suara Fu Hiong-kun pun ikut bergetar sekarang.

"Kau adalah Wan Fei-yang?"

Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya tanpa rasa curiga sedikit pun.

"Tentunya kau juga sudah mendengar selentingan di dunia kangouw. Semua itu hanya fitnahan dan siasat agar aku terjebak. Fu-kouwnio, coba kau bayangkan, bagaimana mungkin aku akan membunuh ayahku sendiri!"

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Tapi mereka semua tetap tidak percaya ...."

"Aku percaya,"

Sahut Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya juga. Wan Fei-yang langsung tersenyum mendengar ucapannya.

"Kalian orang-orang dari marga Fu semuanya baik-baik. Setidaknya yang pernah aku temui semuanya terdiri dari orang baik. Di Bu-tong-san saat ini, aku yakin juga hanya Fu-toako seorang yang masih memercayaiku."

"Fu-toako?"

"Namanya Fu Giok-su!"

Hati Fu Hiong-kun tertekan seketika.

"Seharusnya aku mendatangi Bu-tong-san dan mencari Fu-toako untuk menjelaskan semuanya,"

Kata Wan Fei-yang selanjutnya.

"Jangan sekali-kali kau pergi lagi ke Bu-tong-san!"

Kata Fu Hiong-kun tanpa sadar.

"Kenapa?"

Tanya Wan Fei-yang bingung. Fu Hiong-kun termangu-mangu sesaat.

"Aku takut lukamu belum sembuh sama sekali. Kalau kau pergi ke Bu-tong-san, mungkin kau justru akan menemui bahaya."

Wan Fei-yang sama sekali tidak mendengar nada suara Fu Hiong-kun yang mengandung kesedihan.

Hati Hiong-kun semakin tertekan.

Dia berpesan kepada Wan Fei-yang agar jangan banyak pikiran dulu.

Yang paling penting sekarang adalah menyembuhkan lukanya.

Dia tidak berkata apa-apa lagi.

Gentong tempat Wan Fei-yang dicurahi air panas alami yang memancar dari sebuah lubang di atas kepalanya.

Mereka berada di dalam sebuah gua yang dalam dan terpencil.

Tidak ada orang yang datang mengganggu.

Hari ini berlalu dengan 1005 sunyi dan tenang.

Namun hati Fu Hiong-kun semakin resah dan serbasalah.

Dari keterangan Wan Fei-yang, sedikit-banyaknya dia sudah tahu apa yang terjadi pada diri anak muda itu.

Justru hal inilah yang membuat hatinya tidak tenang.

Dia ingin mengaku terus terang di depan Wan Fei-yang, tapi dia tidak mempunyai keberanian itu.

Dia sungguh menyesali dirinya sendiri yang terlahir dalam keluarga pentolan manusia-manusia terlicik di dunia.

Pagi-pagi buta pada hari kedua.

Dia keluar dari tempat persembunyian mereka dan menuju sebuah dusun terdekat.

Dibelikannya Wan Fei-yang satu setel pakaian.

Dia juga meminjam kertas serta mopit untuk menulis sepucuk surat yang ringkas, kemudian bergegas kembali ke gua itu.

Tidak diragukan lagi bahwa dia sebenarnya adalah seorang gadis yang berjiwa luhur dan berhati besar.

Tapi dia tetap memerlukan keberanian besar untuk mengungkapkan kata-katanya dalam surat.

Dia harus mengatakan bahwa dia adalah adik kandung Fu Giok-su.

Sedangkan Fu Giok-su itulah pembunuh yang sebenarnya.

Sekembalinya ke gua tersebut, tengah hari sudah menjelang.

Wan Fei-yang masih berendam di dalam gentong berisi air panas dengan mata terpejam rapat.

Keringat menetes dari keningnya.

Fu Hiong-kun menatap anak muda itu sekian lama.

Kemudian dia meletakkan pakaian serta surat tadi di atas sebuah batu di sisi gentong.

Dengan hati tertekan dia menyeret langkah kakinya meninggalkan tempat itu.

Perlahan dia berjalan keluar.

Baru sampai di luar gua, dia langsung melihat seseorang.

Orang itu mengenakan pakaian abu-abu dan memakai sebuah 1006 topi pandan di atas kepalanya.

Seperti sebuah patung, dia berdiri tegak di depan gua.

Tidak terdengar sedikit pun suara dan juga tidak mendongakkan kepala.

"Siapa?"

Tanya Fu Hiong-kun sambil menghentikan langkah kakinya.

Orang itu mendongakkan kepalanya terbahak-bahak.

Dia melepaskan topi pandan yang dipakainya.

Tampaklah seraut wajah yang dipenuhi cambang yang lebat.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah gelang berukuran besar dari keranjang pandan yang disandangnya di bahu.

Jilid 22 Tanpa mengeluarkan gelang besar itu saja, Fu Hiong-kun sudah mengenalinya sebagai Ci-bu-kim-hoan Ci. Hatinya tergetar. Tanpa disadari kakinya mundur satu langkah. Lu Ci tertawa dingin.

"Kau tentu masih kenal siapa diriku. Mana soat tian dari Ping san itu?"

Bentaknya lantang. Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya dengan perasaan panik.

"A ... aku ... aku tidak tahu."

"Tempo hari kau yang pergi mengejar Tian-liong-siang-jin. Kalau kau tidak tahu, siapa lagi yang bisa mengetahuinya. Jawab!"

Mata Lu Ci bersinar tajam.

"Apakah kau menyimpannya di dalam gua ini?"

Tanpa sadar Fu Hiong-kun melirik ke dalam gua. Dia menggoyangkan tangannya dengan gugup.

"Bukan ... bukan!" 1007

"Iya atau bukan, masuk saja ke dalam kita akan mengetahuinya!"

Kata Lu Ci sambil melangkah ke dalam.

Fu Hiong-kun menghalanginya dengan kalang kabut.

Sepasang telapak tangannya menghantam ke depan.

Gelang sebesar Lu Ci bergerak.

Keduanya saling menyerang dan menghindar.

Tidak sampai tiga belas jurus, Lu Ci sudah berhasil memuntir pergelangan tangan Fu Hiong-kun.

"Budak cilik, aku sudah mengikuti sejak dari dusun tadi. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Dengan mengandalkan ilmu silatmu yang demikian rendah, kau berani melawan aku?"

Sindirnya tajam.

Begitu ucapannya selesai, telapak tangan Lu Ci langsung menghantam punggung Fu Hiong-kun sehingga gadis itu terpental sejauh dua depa.

Tubuhnya segera berkelebat dan menyelinap ke dalam gua.

Wan Fei-yang masih berendam di dalam gentong air panas.

Matanya terpejam rapat dan napasnya kadang-kadang tersengal-sengal, kadang-kadang teratur.

Lu Ci menatapnya dengan saksama.

Keningnya berkerut ketat.

"Bocah beloon ini ... mengapa dia duduk di dalam gentong berisi air mendidih? Kalau dilihat dari tampangnya dia seperti tidak merasa kepanasan sedikit pun, apakah soat lian dari Ping san itu sudah termakan olehnya?"

Lu Ci bertanya-tanya dalam hati. Dia masih menatap Wan Fei-yang dengan bingung, Fu Hiong-kun menerjang masuk kembali ke dalam gua.

"Keluar!"

Bentak Lu Ci sambil menghantamkan telapak tangannya sekali lagi.

Tubuh Fu Hiong-kun tergetar hebat dan terpental keluar dari gua tersebut.

Tapi dengan nekat, dia merangkak bangun dan maju lagi.

Mengingat bahwa dia sudah kehilangan soat lian itu, dia sudah dapat membayangkan kalau dirinya akan disalahkan oleh kaisar.

Bukan saja jabatannya akan terlepas, bahkan nyawanya pun belum tentu dapat dipertahankan.

Hatinya semakin panas.

Amarah meluap di dadanya.

Kekejian dalam jiwanya timbul seketika.

Dia bersuit aneh dan tubuhnya melesat ke angkasa, sepasang tangannya menghantam ke arah ubun-ubun kepala Wan Fei-yang.

Tepat pada saat itu, sepasang mata Wan Fei-yang tiba-tiba terbelalak.

Sepasang telapak tangannya terangkat ke atas.

"Plakkk!"

Tepat menyambut sepasang telapak Lu Ci, lalu tubuhnya mencelat keluar dari gentong air seketika itu juga.

Telapak tangan kedua orang itu saling menekan, ternyata Lu Ci malah terhentak oleh tenaga Wan Fei-yang sampai berjungkir balik lalu melayang turun ke tanah.

Telapak tangan mereka pun terpisah.

Tangan kanan Lu Ci bergerak.

Gelang emasnya sudah tergenggam, di antara suara desingan yang memekakkan telinga, gelang itu meluncur menyerang bagian tubuh Wan Fei-yang.

Urat penting pada tubuh Wan Fei-yang sudah tersambung kembali berkat bantuan soat lian, dan setelah berendam dalam air panas sekian lama, tenaga dalamnya juga sudah pulih kembali.

Sepasang telapak tangannya mengincar dengan gencar.

Suara angin menderu.

Gelang emas Lu Ci 1009 tidak mempunyai kesempatan mendekatinya sama sekali.

Oleh karena itu, Lu Ci semakin panik juga kemarahannya bertambah.

Tubuhnya secara tiba-tiba terjungkir balik di tengah udara, sebuah demi sebuah gelang emas kecil meluncur saling susul menyusul membuka sebuah liang di antara kibasan telapak tangan Wan Fei-yang.

Tubuhnya segera menerjang masuk ke tempat yang lowong dan gelangnya yang besar dihantam ke depan.

Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang dirangkapkan lalu bergeser ke samping.

Dia menghindarkan diri dari gelang emas yang meluncur, lalu dia membalikkan tubuhnya, sepasang telapak tangannya direnggangkan kemudian maju dua langkah dan secepat kilat menjepit gelang besar tersebut.

Lu Ci terkejut sekali.

Tapi dia cukup gesit, tangan kanannya agak menekuk sedikit membentuk cakar harimau dan meluncur mengincar tenggorokan Wan Fei-yang.

Anak muda itu menundukkan kepalanya, mendadak telapak tangannya direnggangkan dan gelang besar pun terlepas dari jepitannya, lalu telapak tangannya seperti angin kencang menghantam dada Lu Ci.

Sebetulnya dia hanya bermaksud menggetarkan tubuh Lu Ci agar menjauh darinya, tapi dia lupa pernah mempelajari salah satu dari Bu-tong-liong-kiat yang terkenal, yaitu Pik-lek-ciang.

Bukan saja tenaga dalamnya sudah pulih, malah kekuatannya berlipat ganda dibandingkan sebelumnya.

Dapat dipastikan bahwa saat ini dia dapat menghancurkan sebuah bukit dengan mudah.

Bahkan lebih dahsyat dari ilmu telapak tangan yang dikuasai oleh Tian-liong-siang-jin semasa jayanya.

Isi perut dan dada Lu Ci tergetar hancur.

Tubuhnya terpental 1010 jauh lalu menghantam dinding gua.

Wan Fei-yang yang melihat keadaan itu langsung tertegun.

Tanpa sadar dia termangu-mangu dan berulang kali menatap sepasang telapak tangannya sendiri.

Tiba-tiba dia berteriak lantang.

"Fu-kouwnio, ilmu silatku sudah pulih kembali seperti dulu!"

Sambil berteriak, dia menerjang ke depan.

Fu Hiong-kun justru sudah melihat bahwa ilmu silat Wan Fei-yang telah pulih kembali dan sedang bertarung melawan Lu Ci.

Hatinya gembira sekaligus cemas.

Dia mundur ke depan gua tapi tidak meninggalkan tempat tersebut.

Dia takut terjadi perubahan pada diri Wan Fei-yang.

Sekarang tiba-tiba Wan Fei-yang berteriak sambil menerjang keluar.

Tanpa sadar dia mundur dua langkah.

Wan Fei-yang melesat mendekati lalu memeluk bahunya erat-erat.

"Fu-kouwnio, kau lihat, aku sudah sembuh!"

Katanya penuh semangat. Tentu saja Fu Hiong-kun ikut gembira juga sedih. Dia menarik napas panjang.

"Wan-toako, syukurlah kau sudah sembuh. Hatiku menjadi lega sekarang."

Wan Fei-yang memandanginya dengan tatapan penuh terima kasih. Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata sebagai pernyataan hatinya, Fu Hiong-kun sudah menukas.

"Aku ... aku akan pergi sekarang!"

Wan Fei-yang tertegun seketika.

"Mengapa kau harus pergi?"

Tanyanya seperti orang linglung. 1011

"Kalau kau sudah membaca surat itu, kau tentu akan mengerti sendiri."

"Surat? Surat apa?"

Wan Fei-yang semakin tidak mengerti.

"Surat itu ada di atas tumpukan pakaianmu yang baru. Aku meletakkannya di atas batu."

"Kalau kau bermaksud mengatakan sesuatu, katakan saja langsung. Untuk apa harus menulis surat segala macam?"

Desak Wan Fei-yang. Fu Hiong-kun tertawa pahit.

"Lebih baik kau masuk ke dalam dan baca dulu surat itu. Nanti baru kita bicarakan hal lainnya."

"Baik. Aku akan masuk mengambil surat itu."

Wan Fei-yang tidak lupa menambahkan "Kau tunggu sebentar di sini."

Fu Hiong-kun menganggukkan kepalanya.

Matanya telah mengembangkan air mata.

Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam gua.

Air mata Fu Hiong-kun tak tertahankan lagi.

Dia menangis tanpa suara.

***** Surat yang dikatakan Fu Hiong-kun tidak ada di atas batu, tapi di dalam air.

Pasti terbang terembus kibasan telapak tangan Wan Fei-yang dan Lu Ci ketika bertarung tadi.

Cepat-cepat Wan Fei-yang mengambil surat itu.

Dia membuka lipatannya dan langsung tertegun.

1012 Surat itu sudah luntur oleh air.

Sama sekali tidak terbaca apa yang tertulis di atasnya.

"Fu-kouwnio ...!"

Sambil memanggil dia menerjang keluar dari dalam gua.

Tapi Fu Hiong-kun sudah tidak terlihat lagi.

Wan Fei-yang tidak habis pikir.

Dia masih berteriak beberapa kali memanggil gadis itu, tapi meskipun tenggorokannya hampir kering, tetap saja tidak terdengar sahutan dari Fu Hiong-kun.

Akhirnya Wan Fei-yang menerjang terus ke depan.

Khasiat soat lian telah menyebar secara menyeluruh dalam jangka waktu tujuh minggu, yakni empat puluh sembilan hari.

Dia berteriak memanggil dengan suara mengandung tenaga dalam yang tinggi.

Tentu saja kumandang suaranya dapat terpancar sampai jauh.

Mana mungkin Fu Hiong-kun tidak mendengarnya?

Sebetulnya dia berada di antara rimbunan dedaunan dan ranting yang terletak tidak seberapa jauh dari gua tersebut.

Dia tidak bergerak atau bersuara sedikit pun.

Dia mendengar Wan Fei-yang berteriak memanggil namanya berulang kali, kemudian melesat melintas di depannya.

Hampir saja dia tidak dapat menahan hatinya untuk memanggil pemuda itu, namun akhirnya dia mengeraskan hatinya juga.

Dia memandang bayangan tubuh Wan Fei-yang yang menghilang di kejauhan.

Tanpa dapat dibendung lagi, air matanya mengalir dengan deras.

***** Tubuh Wan Fei-yang melesat seperti angin.

Sebentar saja dia sudah berlari kurang lebih sepuluh li.

Tentu saja sepanjang jalan dia tidak berhasil menemukan jejak Fu Hiong-kun.

Dia 1013 berlari lagi sejauh setengah li.

Akhirnya dia menghentikan kakinya.

Baru saja dia membalikkan tubuhnya untuk kembali, telinganya mendengar suara teriakan dan benturan senjata orang yang sedang bertarung.

Pikirannya tergerak.

Dia langsung melesat ke arah sumber suara tadi.

Sampai saat ini, dia masih juga belum sadar bahwa dengan mengandalkan ilmu ginkangnya sekarang, apabila Fu Hiong-kun juga mengambil jalan yang sama, tidak mungkin belum terkejar olehnya.

Meskipun dia belum tahu soat lian yang dimakannya adalah tumbuhan langka yang hanya berbunga seribu tahun sekali dan sangat berkhasiat, tapi karena ilmunya pulih dalam waktu sedemikian singkat, malah dia sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan ini.

Hanya beberapa kali loncat, dia sudah mencapai tempat terjadinya pertarungan.

Di sana ada empat orang, tapi yang bertarung hanya tiga orang.

Salah satu dari ketiga orang itu dikenalnya dengan baik.

Orang itu bukan Fu Hiong-kun yang sedang dicarinya, tetapi Kuan Tiong-liu.

Yang bergabung melawan Kuan Tiong-liu adalah Hek-pai-suang-mo.

Boleh dibilang mereka bertarung dengan main-main.

Keduanya hanya menggunakan tangan kosong.

Tidak membawa senjata apa pun.

Kuan Tiong-liu menggerakkan pedangnya dengan gencar.

Tetapi bukan saja dia tidak sanggup melukai Hek-pai-siang-mo, malah beberapa kali tangannya tertangkap dan terpelintir sampai jatuh bergulingan di tanah.

Tampaknya Hek-pai-siang-1014 mo masih belum berminat membunuhnya.

Cara turun tangan mereka masih diperhitungkan baik-baik.

Yi Pei-sa yang berdiri di samping tidak hentinya berteriak agar mereka menghentikan pertarungan itu.

Hek-pai-siang-mo tidak memedulikannya.

Sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan mengandalkan kepandaiannya yang cetek itu, dia tidak mungkin dapat membantu banyak kepada Kuan Tiong-liu.

Bukannya dia tidak mencoba, tapi hanya dalam sekali gebrak, dia sudah terdesak mundur oleh Hek-pai-siang-mo.

Rambut Kuan Tiong-liu yang biasanya terikat rapi sudah terlepas dari riap-riapan.

Pakaiannya koyak tidak keruan.

Juga kotor oleh tanah dan debu.

Tampangnya mengenaskan sekali.

Namun dia masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Dia tidak memohon ampun atau meratap kesakitan.

Dia hanya mengertakkan giginya erat-erat dan memberi perlawanan sebisanya.

Wan Fei-yang yang memerhatikan sekian lama dari sudut jalan, tidak dapat menahan dirinya lagi.

Dia berteriak lantang dan melesat ke depan.

Suara teriakannya bagai guruh yang menggelegar di atas langit.

Hati keempat orang itu sampai tergetar serentak.

Tanpa sadar orang-orang yang sedang bertarung menghentikan gerakannya seketika.

Wan Fei-yang melayang turun tepat di tengah-tengah Kuan Tiong-liu dan Hek-pai-siang-mo.

"Kau rupanya!"

Melihat yang datang adalah Wan Fei-yang, Kuan Tiong-liu tertegun di tempat.

"Siapa kau?"

Bentak Hek-mo-cian dengan mata mendelik. 1015

"Apakah kau kaki tangan manusia she Kuan ini?"

Tanya Pek-mo-cian.

"Boanpwe bernama Wan Fei-yang. Hanya kebetulan lewat di tempat ini."

"Kalau hanya kebetulan lewat, teruskan saja perjalananmu. Jangan ikut campur urusan kami,"

Kata Hek-mo-cian masih dengan lagak garang. Sinar mata Wan Fei-yang berputar ke sekeliling.

"Kalian berdua Cianpwe menghina dua anak muda dengan cara demikian, apakah tidak takut akan menjadi bahan tertawaan teman-teman dunia kangouw?"

Pek-mo-cian tertawa dingin.

"Tahukah kau siapa adanya budak perempuan itu? Dia adalah murid kami. Bocah she Kuan ini bukan saja merayunya agar bersedia melarikan diri bersama-sama, dia malah membujuknya untuk mencuri ilmu pusaka perguruan kami. Coba kami beri keadilan, apa yang harus kami lakukan terhadap kedua bocah itu?"

Wan Fei-yang terpana mendengar keterangan itu. Sesaat kemudian dia menoleh kepada Kuan Tiong-liu.

"Kuan-heng, apabila yang dikatakan kedua Cianpwe ini benar adanya, maka engkaulah yang bersalah."

Kuan Tiong-liu merasa rada malu, tapi pada dasarnya dia memang orang yang keras kepala. Dia masih berusaha untuk 1016 mungkir.

"Siapa yang salah dan siapa yang benar, sulit dijelaskan dalam waktu ini. Aku orang she Kuan tidak berminat banyak bicara!"

"Kuan-toako ...!"

Yi Pei-sa seperti mengatakan sesuatu, tapi kemudian dibatalkannya.

"Kau tidak perlu takut. Paling banter kita mati bersama di sini!"

Kata Kuan Tiong-liu menghiburnya.

"Kalau begitu, Lohu akan mengabulkan niatmu!"

Teriak Pek-mo-cian.

Tubuhnya berkelebat.

Telapak tangannya meluncur ke depan.

Hek-mo-cian tidak mau ketinggalan, dia ikut-ikutan menyerang Kuan Tiong-liu.

Wan Fei-yang cepat-cepat maju dan meluruskan lengannya mengadang kedua orang itu.

Sepasang telapak tangan Hek-pai-siang-mo tepat menghantam lengannya itu, tapi Wan Fei-yang sama sekali tidak apa-apa.

"Cianpwe berdua .... Ada apa-apa kita bisa bicarakan baik-baik,"

Katanya gugup.

"Bocah busuk!"

Teriak Pek-mo-cian.

"Berani benar kau mencampuri urusan kami berdua!"

"Kalau kau benar-benar merasa dirimu hebat, kalahkan dulu kami berdua. Urusan ini biar kau yang selesaikan!"

Wan Fei-yang menatap Hek-pai-siang-mo secara bergantian. Kemudian dia beralih memandang Yi Pei-sa dan Kuan Tiong-liu, lalu melihat telapak tangannya sendiri. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

"Baik. Boanpwe terpaksa kurang 1017 ajar!"

Hek-pai-siang-mo saling lirik sekilas.

Mereka tertawa Dengan berdiri berdampingan, mereka menyerang Wan Fei-yang serentak.

Mereka dapat menduga bahwa ilmu silat anak muda itu pasti cukup tinggi.

Oleh karena itu, begitu turun dari tangan mereka segera mengerahkan tenaga sebanyak sepuluh bagian.

Mereka berniat menyelesaikan pertarungan itu secepatnya dan meringkus Wan Fei-yang.

Siapa sangka setelah bertarung sebanyak seratus jurus lebih, bukan saja mereka tidak berhasil meringkus Wan Fei-yang, malah ilmu anak muda itu tampaknya semakin sempurna.

Bukan hanya Hek-pai-siang-mo saja yang kebingungan, sampai-sampai Kuan Tiong-liu ikut menyaksikan jalannya pertarungan dengan mata terbelalak.

Selama ini dia sudah pernah dikalahkan dua kali oleh Wan Fei-yang.

Terhadap ilmu yang dikuasai oleh anak muda itu, boleh dibilang dia cukup memahami kehebatannya.

Tapi apa yang dilihat olehnya di depan mata sekarang, ilmu silat Wan Fei-yang bukan saja tidak punah malah lebih hebat beberapa kali lipat.

Pada mulanya gerakan Wan Fei-yang memang agak kaku.

Hal ini disebabkan oleh terlukanya dia di tangan Tok-ku Bu-ti sehingga ilmu silatnya punah selama beberapa waktu.

Selama ini dia tidak pernah berlatih silat lagi.

Bahkan ingatannya tentang gerak jurus-jurus juga harus di ngatnya kembali.

Namun setelah lewat beberapa saat, dia mulai terbiasa kembali.

Itulah sebabnya orang yang tidak mengerti, mengira ilmu kepandaiannya telah mengalami kemajuan pesat.

Padahal ilmunya masih yang itu-itu juga.

Hanya tenaga 1018 dalamnya yang bertambah beberapa kali lipat.

Sekarang tiba-tiba ilmunya sudah pulih kembali berkat soat lian yang ditelannya.

Wan Fei-yang ibarat bocah kecil mendapatkan kembali mainannya yang sudah lama hilang.

Semakin bertarung, dia semakin bersemangat.

Sedangkan di pihak Hek-pai-siang-mo, berbeda lagi ceritanya.

Semakin bertarung mereka semakin kewalahan.

Makin lama hati mereka jauh semakin kecut.

Beberapa kali mereka berusaha menggabungkan tenaga dan mengerahkan ilmu andalan mereka.

Mereka bermaksud menggunakan ilmu Ping-hun-sin-kang, semacam ilmu yang mengerahkan tenaga dingin ke dalam lawan sehingga darahnya membeku.

***** Beberapa kali mereka berhasil menghantam Wan Fei-yang dengan ilmu istimewanya itu, tapi tampaknya anak muda tersebut tidak terpengaruh sama sekali.

Bahkan ada serangkum hawa dingin yang menolak lewat tubuh Wan Fei-yang, yang berbalik menyerang tubuh mereka.

Tentu saja Hek-pai-siang-mo tidak tahu bahwa Wan Fei-yang telah menelan bunga soat lian yang dinginnya entah berapa kali lipat ilmu Ping-hun-sin-kang mereka.

Tentu saja Wan Fei-yang tidak menunjukkan apa-apa terkena hantaman mereka, malah hawa dingin dalam tubuhnya segera menolak balik hawa dingin tersebut.

Tiga ratus jurus telah berlalu.

Tiba-tiba sepasang telapak tangan Wan Fei-yang melihat titik kekosongan di antara kedua iblis hitam putih itu, ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Hek-pai-siang-mo.

Sekejap kemudian dia 1019 melepaskannya kembali dan mencelat mundur beberapa depa.

"Terima kasih karena kedua Cianpwe telah mengalah,"

Katanya dengan rendah hati.

Hek-pai-siang-mo sampai terpaku sekian lama di tempatnya.

Sejenak kemudian Pek-mo-cian berniat menyerang kembali, tapi ditahan oleh Hek-mo-cian.

Iblis hitam itu menghampiri Wan Fei-yang.

"Pahlawan memang lahir dari generasi muda. Orang she Wan, Hek-pai-siang-mo mengaku bukan tandinganmu. Urusan ini biar kau saja yang selesaikan."

Wan Fei-yang langsung menoleh kepada Kuan Tiong-liu.

"Kuan-heng, harap kau kembalikan kitab ilmu pusaka kedua Cianpwe ini!"

Mendengar ucapannya, bukan hanya Kuan Tiong-liu saja yang tertegun, bahkan Hek-pai-siang-mo juga kebingungan.

Mereka benar-benar tidak menyangka pendirian Wan Fei-yang begitu adil.

Kuan Tiong-liu memerhatikan Wan Fei-yang sejenak.

Akhirnya dia mengeluarkan selembar kulit kambing dari balik pakaiannya dan menyodorkannya ke arah Hek-pai-siang-mo.

Pek-mo-cian menerima lembaran kulit kambing tersebut dan membentangkannya.

Di atasnya terdapat tulis-tulisan kecil dengan huruf dan beberapa gambar yang aneh-aneh.

Pek-mo-cian menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana dengan Yi Pei-sa?"

Tanyanya. 1020 Kuan Tiong-liu menatap ke arah Yi Pei-sa kilas kemudian menoleh kembali kepada Hek-pai-siang-mo.

"Cinta kasih kami sudah dalam, kami masih berharap agar kalian berdua orang tua akan merestuinya,"

Kata Kuan Tiong-liu. Pek-mo-cian mendengus dingin.

"Kami tidak bertanya kepadamu. Yi Pei-sa, kau jawab sendiri!"

Yi Pei-sa langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan kedua iblis hitam putih.

"Harap Suhu berdua maafkan murid yang tidak berbakti ini ...!"

Wajah Pek-mo-cian langsung berubah. Dia tertawa dingin.

"Kalau begitu kau pun sudah mengambil keputusan untuk mengikutinya!"

Yi Pei-sa mengalirkan air mata tanpa menyahut.

"Kalau niatmu sudah demikian, kau dengar baik-baik. Mulai saat ini hubungan kau sebagai murid dengan Hek-pai-siang-mo sebagai guru putus sampai di sini saja!"

"Suhu ...!"

Ratap Yi Pei-sa. Hek-mo-cian mengibaskan lengan bajunya.

"Kau tidak pantas memanggil kami dengan nama demikian lagi. Kami juga tidak pantas menerimanya,"

Sindirnya ketus. Hek-mo-cian membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri Wan Fei-yang. Dia berhenti di depan anak muda itu.

"Bocah she Wan, kau adalah orang yang berbakat tinggi dalam ilmu silat. Tetapi kau harus hati-hati terhadap manusia-manusia dunia kangouw yang licik. Mereka bisa saja mencelakaimu,"

Katanya dengan hati tulus.

Dia mengedipkan matanya kepada Pek-mo-cian.

Tubuh mereka mencelat dalam waktu yang bersamaan dan sebentar saja sudah menghilang dari pandangan.

Wan Fei-yang menoleh kembali.

Kebetulan Kuan Tiong-liu pun sedang memandangnya dua pasang mata saling menatap.

Kuan Tiong-liu langsung memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Biarpun kau sudah menggebah mereka dari sini, aku tetap tidak akan berterima kasih kepadamu!"

Wan Fei-yang jadi terpana mendengar ucapannya.

"Kuan-heng, kau ...."

"Kau tidak perlu memanggil aku semesra itu. Aku juga tidak mempunyai saudara yang kampungan sepertimu!"

Kuan Tiong-liu menoleh kepada Yi Pei-sa.

"Mari kita berangkat!"

Wan Fei-yang masih berdiri termangu-mangu.

***** Setelah berjalan kurang lebih setengah Yi Pei-sa masih menangis terus.

Kuan Tiong-liu menghentikan langkah kakinya.

Dia mengusap air mata yang mengalir di pipi Yi Pei-sa dengan lengan bajunya.

"Jangan sedih lagi,"

Katanya menghibur.

"Suhu sudah tidak mengakui aku lagi,"

Sahut Yi Pei-sa masih 1022 mengalirkan air mata.

"Bukankah lebih baik kalau ada aku yang mendampingimu?"

"Kuan-toako, kau jangan tinggalkan aku!"

Yi Pei-sa menyusupkan kepalanya ke dalam dada Kuan Tiong-liu.

"Jangan khawatir. Ke mana pun aku pergi, aku akan membawamu serta."

Mata Kuan Tiong-liu beredar.

"Untung saja kita sudah menghafal ilmu pusaka kedua suhumu itu!"

"Lalu apa yang harus kita lakukan kelak?"

"Kita harus mencari suatu tempat untuk tinggal sementara. Tunggu sampai aku berhasil mempelajari Ping-hun-sin-kang dan menyempurnakan Lok-jit-kiam-hoat yang sudah aku kuasai. Setelah itu baru kita pikirkan lagi apa yang akan kita lakukan."

"Bocah she Wan yang menolong kita tadi, Siapa dia sebetulnya?"

"Dia bukan orang baik-baik,"

Kening Kuan Tiong-liu bertaut erat.

"Aku pernah mendengar bahwa ilmu silatnya sudah punah oleh Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti. Tapi kalau melihat kenyataannya tadi, bukan saja ilmunya tidak punah, bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Apakah dia mendapatkan mukjizat yang tidak terduga?"

Dari mata Kuan Tiong-liu tebersit sinar dendam dan iri.

***** Berita yang tersebar di dunia kangouw bukan saja tepat, tapi 1023 juga cepat.

Tentang ilmu silat Wan Fei-yang yang sudah pulih kembali, bahkan sanggup mengalahkan Hek-pai-siang-mo sudah tersebar ke mana-mana.

Namun Tok-ku Hong sama sekali tidak tahu.

Karena selama hampir sebulan ini dia tinggal di gedung keluarga Lu.

Maksudnya datang ke rumah Lu Wang untuk mencari Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang tidak ada.

Lu Wang sendiri tidak tahu ke mana perginya anak itu.

Tok-ku Hong hanya meninggalkan pesan kepada Lu Wang agar memberi tahu Wan Fei-yang bahwa dia datang mencarinya.

Nanti setengah bulan kemudian dia akan datang lagi.

Tok-ku Hong memang datang kembali, malah beberapa kali.

Namun dia tetap tidak bertemu dengan Wan Fei-yang.

Justru hubungannya dengan Lu Wang semakin akrab.

Akhirnya dia malah tinggal di rumah orang tua itu.

Sebetulnya hal ini malah sebuah keuntungan bagi Lu Wang.

Tentu saja dia tidak tahu dengan adanya Tok-ku Hong di rumah itu, mereka sekeluarga terhindar dari bencana kematian.

Kalau tidak, Kongsun Hong pasti sudah menyerbu gedung tersebut dan memaksa Lu Wang mengatakan di mana soat lian dari Ping san itu.

Apabila orang tua itu tidak bisa menjawab, sudah pasti dia akan membunuhnya.

Selama ini sikap Tok-ku Hong terkenal tidak sabaran.

Dengan menunggu sampai begitu lama di gedung keluarga Lu tanpa mengeluh, dia sendiri hampir tidak mengerti apa sebabnya.

Apakah Wan Fei-yang demikian berarti baginya?

Ketika kesabarannya habis dan tidak sanggup menunggu lebih lama lagi, dia segera memohon diri kepada Lu Wang.

1024 Baru saja dia meninggalkan gedung keluarga Lu tidak seberapa jauh, Wan Fei-yang pun kembali.

Mereka berjalan dari arah yang berlawanan.

Tok-ku Hong masih tidak menyadarinya.

Dia berjalan tanpa semangat dengan kepala tertunduk.

Tiba-tiba ada orang yang menyentuh bahunya.

Tok-ku Hong terkejut sekali.

Telapak tangannya sudah siap menghantam.

Ketika dia melihat orang yang menyentuhnya adalah Wan Fei-yang.

"Siau-yang ...."

Sapa Tok-ku Hong tanpa sadar. Hatinya tergetar. Wan Fei-yang menatapnya lekat-lekat.

"Sudah berapa hari kau menunggu aku di sini?"

Tanyanya tiba-tiba.

"Kapan aku menunggumu?"

Tok-ku Hong mana mau mengaku. Dia merasa malu. Kemudian dia berbalik bertanya.

"Kau sendiri ke mana saja begitu lama baru muncul lagi?"

Sebetulnya dengan mengajukan pertanyaan itu, dia sendiri sama saja sudah mengakui bahwa dia sudah menunggu beberapa hari.

Wan Fei-yang paham sekali sifat Tok-ku Hong.

Dia tidak membongkar rahasia kebohongannya.

Malah dia agak terharu.

"Beberapa hari ini, bagiku bagaikan hidup dalam mimpi,"

Katanya.

"Pokoknya kau harus menceritakan semuanya kepadaku sampai hal sekecil-kecilnya,"

Sahut Tok-ku Hong.

"Bukankah hal itu sama saja dengan kau menyuruh aku bercerita sampai pagi menjelang?"

"Aku tidak peduli!"

Kata Tok-ku Hong sambil mendorong tubuh 1025 Wan Fei-yang ke depan.

Tentu saja Wan Fei-yang tidak dapat menolak.

Kedua orang itu berjalan di bawah mentari yang hampir tenggelam.

Mereka sama sama tidak menyadari bahwa tindakan mereka sudah di bawah pengawasan orang-orang Tok-ku Bu-ti.

Mereka masih bercakap-cakap dengan asyik.

***** Tok-ku Bu-ti sudah mengetahui peristiwa Wan Fei-yang menelan soat lian tanpa sengaja.

Dia juga sudah mendengar bahwa bukan saja ilmu silat anak muda itu sudah pulih kembali tetapi malah lebih hebat dari sebelumnya.

Tempo hari memang mereka datang terlambat.

Mereka tidak bertemu dengan orang-orang Siau-yau-kok, malah mereka bertemu dengan Tian-liong-siang-jin.

Pada saat itu Tian-liong-siang-jin sudah sadar kembali.

Dia memang terkena ilmu pembetot sukma Hujan, tapi karena tepukan Fu Hiong-kun di belakang kepalanya, pengaruh ilmu pembetot sukma itu malah hilang seketika.

Namun dia tetap tidak dapat mengingat urusan yang terjadi setelah dia terkena pengaruh ilmu iblis itu.

Tok-ku Bu-ti menggunakan segala cara untuk memaksanya berbicara.

Sampai-sampai hampir dia memutuskan seluruh urat nadi di anggota tubuh Tian-liong-siang-jin untuk menyiksanya agar mau berbicara.

Setelah diperlakukan semena-mena dan tanpa perasaan oleh Tok-ku Bu-ti, Tian-liong-siang-jin hanya dapat mengatakan bahwa yang terakhir di ngatnya adalah dia memasukkan soat lian tersebut ke dalam mulut seorang pemuda.

Dia juga mengatakan bahwa belum tentu keterangannya benar karena dia hampir tidak 1026 dapat membedakan apakah benar-benar terjadi atau dalam mimpi saja.

Ingatannya sadar sekilas ketika Fu Hiong-kun menghantam kepalanya, tapi hanya sekian saja.

Bahkan bagaimana rupa Wan Fei-yang pun tidak dapat di ngatnya kembali.

Pertama-tama Tok-ku Bu-ti tidak habis pikir siapa pemuda yang dimaksudkannya.

Sampai di mendengar kabar tentang Wan Fei-yang yang berhasil mengalahkan Hek-pai-siang-mo, dia segera sadar apa yang telah terjadi.

Apalagi setelah mendapat laporan bahwa Tok-ku Hong berada bersama-sama Wan Fei-yang, dadanya hampir meledak karena marah.

Dia segera menurunkan perintah agar memanggil Tok-ku Hong kembali ke kantor pusat.

***** Tok-ku Hong yang menerima perintah itu tidak segera pulang.

Malah beberapa anak buah Tok-ku Bu-ti yang digotong pulang.

Ketika ditanyakan, mereka serentak memberi jawaban bahwa Tok-ku Hong tidak bersedia pulang.

Mereka mencoba memaksa, tetapi mereka dipukul satu per satu oleh Wan Fei-yang dan diusir dari tempat itu.

Tok-ku Bu-ti marah sekali.

Baru saja dia berniat menurunkan perintah agar Wan Fei-yang dibunuh, lalu Tok-ku Hong diseret pulang untuk menerima hukuman sesuai peraturan yang berlaku, Tok-ku Hong sudah muncul di depan pintu.

Tadinya Tok-ku Hong bersikeras tidak mau kembali ke Bu-ti-bun, tapi Wan Fei-yang membujuknya.

Dia tidak mau gadis itu menjadi buronan yang dikejar dan dianggap sebagai murid murtad.

Lagi pula dia sendiri harus ke Bu-tong-san untuk 1027 menyelidiki siapa pembunuh Ci-siong Tojin.

Dengan demikian terpaksa dia harus berpisah untuk sementara dengan Tok-ku Hong.

Gadis itu masih mencoba bersikeras, tapi dalam keadaan seperti ini, dia terpaksa membenarkan saran Wan Fei-yang.

Melihat kemunculan putrinya, Tok-ku Bu-ti merasa kurang senang.

Tapi dia tidak menunjukkan perasaannya dari luar.

Diam-diam dia menurunkan perintah kepada semua anggota Bu-ti-bun untuk menyelidiki jejak Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang menelan soat lian sehingga ilmunya pulih kembali.

Hal ini memang di luar dugaan Tok-ku Bu-ti, tapi sejak dia bertarung dengan Wan Fei-yang tempo hari, dia sudah mengetahui bahwa anak muda itu mempunyai bakat yang tinggi untuk mempelajari ilmu silat.

Sejak itu pula dia sudah merasakan bahwa Wan Fei-yang kelak akan menjadi duri dalam matanya, maka dia tidak segan-segan turun tangan keras terhadap anak muda tersebut.

Dia menggetarkan urat nadi seluruh tubuh Wan Fei-yang sampai sebagian besar putus dengan ilmu Mit-kip-sin-kang miliknya yang juga pernah mengalahkan Ci-siong Tojin tiga kali berturut-turut.

Sampai saat ini mau tidak mau dia harus mengakui bahwa nasib Wan Fei-yang selalu beruntung.

Menghadapi musuh setangguh ini, dia harus waspada dan hati-hati sekali, karena kadang-kadang kita bukan kalah oleh kepandaian seseorang, tapi kalah oleh takdir hidupnya yang bagus.

***** 1028 Kabar memang meluas dengan cepat.

Bahkan seluruh Bu-tong-san sudah mendengarnya.

Tentu saja orang yang paling terkejut dan tergetar hatinya adalah Fu Giok-su.

Wan Fei-yang dilukai dengan ilmu Mit-kip-sin-kang oleh Tok-ku Bu-ti dalam keadaan parah.

Ilmu silatnya punah dan dia menjadi orang cacat.

Tetapi sekarang bukan saja ilmunya sudah pulih kembali tetapi malah jauh lebih hebat dari sebelumnya.

Wan Fei-yang malah sanggup mengalahkan Hek-pai-siang-mo.

Apakah dia sudah mempelajari Tian-can-kiat?

Tapi siapa yang mengajarinya?

Teringat akan hal ini yang mungkin saja terjadi karena anak muda itu selalu menemukan kejadian yang tidak terduga, hati Fu Giok-su rasanya hampir meledak karena marah.

Sekali lagi dia membolak-balikkan kitab berisi pelajaran Tian-can-kiat di ruang penyimpanan kitab, tapi tetap saja dia tidak berhasil menemukan apa-apa.

Dalam keadaan murka, dia membuang kitab tersebut ke dalam tungku perapian.

Sebentar saja kitab itu sudah terlalap api.

Isinya langsung menjadi abu.

Tapi tidak demikian dengan sampulnya.

Hanya lapisan luarnya saja yang terbakar.

Lapisan dalamnya entah terbuat dari bahan apa.

Bukan saja tidak terbakar, malah mengeluarkan cahaya berkilauan.

Fu Giok-su sudah berniat meninggalkan ruangan penyimpan kitab tersebut, tiba-tiba matanya terbelalak menatap tungku perapian.

Kecurigaan langsung menyelinap di dalam hatinya.

Cepat-cepat dia mengeluarkan pedangnya dan mengungkit sampul kitab tersebut dari api yang membara.

Dia melihat sampul tersebut penuh dengan tulisan-tulisan kecil.

Setelah perhatikan dengan saksama, ternyata surat peninggalan Tio 1029 Sam-hong (Pendiri Bu-tong-pay).

--Setelah berhasil berlatih Tian-can-kiat dalam waktu empat belas tahun.

Tanpa sengaja suatu hari melewati sebuah padang rumput yang luas dan menyaksikan seekor rajawali sakti bertarung dengan seekor ular.

Perhatian langsung terpusat penuh.

Sekembali ke atas gunung, peristiwa itu bagai gambar hidup yang terus membayang di depan mata.

Kemudian dari pertarungan itu, terciptalah ilmu Tiau-coa-cap-sa-sut (Tiga belas jurus rajawali dan ular).

Ilmu ini tidak kalah dahsyatnya dengan Tian-can-kiat.

Malah ada kesan lebih keji.

Kala digunakan pada orang yang sesat, pasti akan mengerikan akibatnya, tapi dibuang pun sayang.

Oleh sebab itu diambil keputusan untuk menyimpan ilmu ini di balik sampul Tian-can-kiat.

Apabila ada yang menemukannya, maka dialah yang berjodoh mempelajari ilmu ini.

Tapi ingat!

Kejahatan selamanya tidak pernah menang!--Fu Giok-su cepat-cepat membalikkan sampul kitab Tian-can-kiat tersebut.

Ternyata sama dengan bagian depan sampul.

Setelah terbakar terbukalah lapisan keduanya yang berisi teori ilmu Tiau-coa-cap-sa-sut yang dikatakan dalam surat tadi.

Tentu saja Fu Giok-su senang sekali.

Apalagi setelah mengetahui bahwa ilmu itu tidak kalah dahsyatnya dengan Tian-can-kiat, malah lebih keji lagi.

Tepat pada saat itu, dia merasa ada angin yang lewat di sampingnya.

Sebuah batu kecil dilempar dari luar melalui jendela.

Fu Giok-su langsung membalikkan tubuhnya dan menyambut batu tersebut.

Dia memandang keluar jendela.

Dia melihat seseorang berpakaian hitam tersembunyi di atas pohon yang rimbun dan sedang menggapaikan tangan kepadanya.

1030 --Han Tiong?

Apakah telah terjadi sesuatu hal lagi di dalam Siau-yau-kok?

Bayangan manusia tanpa wajah langsung melintas di depan matanya.

Cepat-cepat dia masukkan rahasia ilmu yang ditemukannya ke dalam balik pakaiannya.

Tubuhnya melesat menerobos dari jendela dan sebentar saja dia sudah berada di kejauhan.

***** Manusia berpakaian hitam itu terus berlari dengan di kuti oleh Fu Giok-su ke bagian belakang gunung Bu-tong-san.

Akhirnya dia menghentikan langkah kakinya.

"Apa sebetulnya maksudmu?"

Bentak Fu Giok-su. Dia marah sekali. Karena sebelumnya Manusia Tanpa Wajah tidak pernah berbuat demikian. Manusia berpakaian hitam itu segera melepaskan kain penutup wajahnya.

"Fu-toako, ini aku!"

Ternyata dia adalah Wan Fei-yang. Fu Giok-su tentu saja terkejut setengah mati.

"Kau ...?"

"Sekian lama tidak bertemu, entah bagaimana kabar Fu-toako sekarang?"

Tanya Wan Fei-yang sopan.

"Untung masih belum mati!"

Fu Giok-su menenangkan hatinya.

"Apa maksud kedatanganmu kali ini?" 1031

"Aku memang sengaja datang untuk menemui Fu-toako. Hanya engkau yang masih memercayaiku,"

Wan Fei-yang menarik napas panjang.

"Aku benar-benar difitnah. Ciangbunjin bukan mati di tanganku. Ketika aku menemukannya, Ciangbunjin sudah sekarat. Sayangnya dia tidak sempat lagi memberi tahu kepadaku siapa orang yang demikian keji itu."

Diam-diam Fu Giok-su tertawa dalam hati.

Kalau mendengar ucapan Wan Fei-yang, dia sama sekali tidak usah khawatir.

Anak muda ini pasti belum tahu apa-apa.

Tapi dia memang pandai menyembunyikan perasaannya.

"Setelah mengenalmu sekian lama, aku juga tidak percaya kau adalah jenis manusia seperti itu."

Dia ikut-ikutan menarik napas panjang.

"Sayangnya orang lain tidak ada yang mau percaya."

"Asal Fu-toako bersedia menjelaskan semuanya di depan para murid Bu-tong ...."

"Menjelaskan apa maksudmu?"

Hati Fu Giok-su tergetar kembali.

"Maksud Siaute, sebagai ciangbunjin Bu-tong-pay generasi sekarang tentu para murid Bu-tong memercayai ucapanmu. Asal Fu-toako menyatakan yakin bukan aku yang membunuh Ci-siong Tojin, tentu mereka tidak berani menuduhku lagi."

"Aku rasa percuma saja,"

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya. Hatinya tenang kembali. 1032

"Tapi ... Fu-toako kan sudah menjadi ciangbunjin sekarang ...."

"Justru itulah aku harus mematuhi peraturan yang berlaku. Kau harus ikut dulu denganku, baru nanti kita buktikan apakah kau bersalah atau tidak,"

Sahut Fu Giok-su sambil turun tangan secepat kilat.

Telapak tangannya sudah mengancam bagian berbahaya tubuh Wan Fei-yang.

Meskipun Wan Fei-yang sama sekali tidak menyangka, tapi telinganya sangat peka.

Sedikit embusan angin saja, kakinya sudah bergeser dan luput dari serangan Fu Giok-su.

Pemuda berhati keji dan licik itu mana mau menyudahi begitu saja.

Tubuhnya bergerak dengan gesit.

Sepasang telapak tangannya terulur dan menghantam ke kiri serta kanan.

Lima belas kali berturut-turut dia mengerahkan ilmu Pik-lek-ciang, selain itu dia masih juga sempat menimpukkan senjata rahasia ke arah Wan Fei-yang.

Kakinya melangkah dengan gerakan Hu-hun-cong, hampir seluruh ilmu Bu-tong-liok-kiat dimainkannya sekaligus.

Wan Fei-yang juga tidak kalah cepat.

Satu demi satu serangan itu berhasil dihindarinya.

Setelah menerima seratus lebih serangan Fu Giok-su, tiba-tiba pergelangan tangan Wan Fei-yang memutar.

Dengan gerakan secepat kilat, telapak tangannya sudah dikembangkan dan menempel di bagian punggung Fu Giok-su.

Tentu saja Fu Giok-su terkejut setengah mati.

Tapi Wan Fei-yang bukan saja tidak menghantamkan telapak tangannya, dia malah melepaskannya.

"Kalau aku memang pembunuhnya, saat ini aku tentu akan membunuh Fu-toako sekalian!"

Fu Giok-su terkejut sekaligus 1033 marah. Tapi dia menahan hatinya untuk tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

"Ternyata kau memang seorang laki-laki sejati,"

Katanya dengan nada lembut.

Baru saja ucapannya selesai, dari kejauhan sudah terdengar suara bising langkah kaki dan suara pembicaraan orang ramai.

Rupanya suara pertarungan mereka sempat terdengar oleh beberapa murid Bu-tong yang sedang meronda.

Kemudian sinar lentera mulai terlihat.

Mata Fu Giok-su bersinar terang.

"Saat kita sama sekali tidak mempunyai bukti yang menguntungkan dirimu. Meskipun aku percaya padamu, tapi di hadapan sesama saudara seperguruan, aku juga belum bisa membelamu. Lebih baik kau menyembunyikan diri untuk sementara. Masalah ini pasti akan kuperhatikan baik-baik. Apalagi aku sudah mendapatkan bukti yang menyatakan kau tidak bersalah, aku pasti akan memberi tahu dirimu."

"Tapi .... Bagaimana membuktikan bahwa aku memang tidak bersalah?"

"Tentu kalau kita sudah menemukan pembunuh yang sebenarnya. Dengan demikian, segala tuduhan yang jatuh kepada dirimu tentu akan beres seketika,"

Kata Fu Giok-su cerdik.

Wan Fei-yang hanya dapat menarik napas panjang.

Dia melesat secepat kilat meninggalkan tempat itu.

Dalam waktu yang singkat Gi-song dan Cang-song sudah sampai di hadapan Fu Giok-su.

Melihat ciangbunjinnya berdiri dengan termangu-mangu, mereka merasa heran.

"Apakah barusan Ciangbunjin sedang berlatih ilmu? Soalnya kami mendengar suara pertarungan,"

Tanya Cang-song. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

"Tidak. Kita kedatangan musuh."

"Siapa?"

Tanya Gi-song panik.

"Wan Fei-yang!"

Sahut Fu Giok-su sepatah demi sepatah. Setiap orang yang di sana mendengarkan dengan mata terbelalak. Tidak ada satu pun yang tidak terkejut.

"Untung saja dia cepat-cepat kabut! Kalau tidak, hm ...."

Dia berhenti sejenak.

"Semua orang dengarkan baik-baik! Kali ini Wan Fei-yang menyelinap ke Bu-tong-san, tujuannya masih belum jelas. Kalau ada yang memergoki dia, jangan sekali-kali membiarkan dia lolos. Kalian harus waspada dan kompak agar musuh besar yang satu ini dapat kita tumpas!"

Ucapan yang satu ini mungkin baru benar-benar keluar dari hatinya yang paling dalam.

***** Pada hari kedua tengah malam ternyata Wan Fei-yang datang lagi ke Bu-tong-san.

Kali ini dia malah menyelinap ke gua Gi-tong.

Tempat itu merupakan sebuah gua yang besar di mana jenazah para angkatan tua dan ciangbunjin generasi sebelumnya dimakamkan.

Wan Fei-yang menyalakan hio dan lilin yang dibawanya.

Dia 1035 menyembah di hadapan papan nama Ci-siong Tojin.

Hal ini sudah terduga dalam hati Fu Giok-su.

Dia yakin Wan Fei-yang pasti akan berziarah di hadapan abu Ci-siong Tojin.

Tapi dia tidak mengatakan hal kepada siapa pun.

Hanya mempersiapkan penjagaan di sekitar tempat itu.

Begitu Wan Fei-yang muncul, jejaknya sudah ketahuan.

Lewat kode-kode sandi, para murid Bu-tong-pay segera berkumpul di gua Gi-tong.

Ketika Wan Fei-yang sudah selesai bersembahyang dan keluar dari gua tersebut, dia sudah terkepung oleh para murid Bu-tong.

Lentera memancarkan cahaya terang benderang.

Belum lagi obor yang dibawa sebagian besar murid Bu-tong.

Tujuh orang tosu yang membentuk Jit-sing-kiam-ceng langsung mengurungnya.

Pada waktu inilah Gi-song dan Cang-song baru menampakkan diri.

"Wan Fei-yang, kau sudah terkurung oleh Sing-kiam-ceng, meskipun tubuhmu tumbuh sayap sekarang, kau tetap tidak bisa meloloskan diri lagi!"

Bentak Gi-song dengan keyakinan penuh. Nada suaranya bahkan tegas sekali.

"Kau benar-benar sudah makan nyali harimau. Masih berani datang ke Bu-tong-san!"

Sahut Cang-song yang tidak pernah mau kalah.

"Aku tidak membunuh siapa pun! Kalian jangan main tuduh saja! Semua ini hanya fitnahan belaka!"

Tanpa hujan tanpa angin, Wan Fei-yang langsung membela dirinya sendiri.

"Fitnah? Apa buktinya? Coba keluarkan!" 1036

"Tentu saja aku mempunyai bukti yang kuat."

Sekali lagi Wan Fei-yang menyerocos tanpa sadar.

"Aku tidak mungkin membunuhnya karena Ciangbunjin adaiah..."

Tiba-tiba dia teringat bahwa hal ini adalah rahasia besar yang menyangkut nama baik Ci-siong Tojin, walaupun ayahnya itu sudah tiada. Dia tidak jadi mengatakannya.

"Ciangbunjin adalah apa?"

Desak Gi-song. Mulut Wan Fei-yang terbuka tapi dia tidak sanggup mengatakannya. Cang-song tertawa dingin.

"Biar aku yang mengatakannya saja, bagaimana? Karena Ciangbunjin adalah duri dalam mataku, sehingga aku terpaksa membunuhnya meskipun tidak mau. Iya bukan?"

"Bukan ... bukan begitu persoalannya ...."

Sejak kecil Wan Fei-yang memang tidak pandai berkata-kata. Meskipun pada dasarnya dia adalah seorang anak yang cerdas. Semakin ditekan dia semakin gugup.

"Masih membantah? Dia tidak sudi menerima kau sebagai murid. Malah dia menghukummu memikul air dari bawah sampai ke atas gunung. Tentu diam-diam kau membencinya bukan?"

Wan Fei-yang tidak diberi kesempatan untuk berbicara.

Namun dia juga tahu, menghadapi manusia seperti Gi-song dan Cang-song berbicara pun tidak ada gunanya.

Akhirnya dia hanya dapat menarik napas panjang.

"Taruh kata kau membenci Ci-siong-suheng mungkin kami masih dapat mengerti. Tapi apa kesalahan Yan-suheng dan 1037 Wan-ji kepadamu sehingga kau melenyapkan mereka juga? Manusia seperti engkau ini benar-benar binatang!"

Bentak Gi-song selanjutnya dengan nada parau. Tampaknya dia benar-benar marah. Kali ini giliran Wan Fei-yang yang bagaikan tersambar petir. Matanya membelalak.

"Yan-supek dan Wan-ji juga sudah mati?"

Tanyanya kurang percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Bagaimana cara kematian mereka?"

"Masih bersandiwara? Tampaknya kulit mukamu juga cukup tebal. Maju!"

Pedang Gi-song diangkat tinggi.

Tujuh murid Bu-tong segera menerjang.

Barisan Jit-ling-kiam-ceng dikerahkan.

Cahaya pedang beterbangan dan berkilatan.

Bayangan tubuh berkelebat membentuk ratusan bayangan.

Wan Fei-yang menarik napas perlahan.

Kakinya mengambil kuda-kuda kemudian tubuhnya melesat.

Tempo hari, demi menolong Tok-ku Hong, Ci-siong Tojin sudah pernah mengajarkan Wan Fei-yang cara memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng.

Daya ingatannya sangat baik dan ilmu ginkangnya juga tinggi sekali.

Setiap kali kakinya bergeser, selalu berpijak pada tempat yang tepat.

Meskipun serangan ketujuh batang pedang dari tujuh orang tosu itu sangat gencar, tapi tidak sampai membahayakan dirinya.

Bahkan menyentuhnya saja pun tidak.

Semakin diperhatikan, hati Gi-song dan Cang-song semakin kecut.

Tanpa sadar jarak mereka semakin dekat merapat.

Tubuh Wan Fei-yang berkelebat lagi beberapa kali.

Akhirnya ia sudah menerobos keluar dari barisan Jit-sing-kiam-ceng.

"Tahan!"

Terdengar bentakan suara yang memecahkan keheningan malam.

Akhirnya Fu Giok-su memunculkan dirinya juga.

Sebetulnya sejak tadi dia mengintip dari kegelapan.

Seandainya barisan Jit-ling-kiam-ceng dapat menahan Wan Fei-yang atau membunuhnya apabila perlu, dia pasti tidak akan berteriak dan memunculkan diri pada saat ini.

Sekarang dia berteriak menghentikan pertarungan itu.

Hal ini disebahkan karena Jit-sing-kiam-ceng tidak bisa lagi menahan Wan Fei-yang.

Dengan kata lain, teriakannya tadi sebenarnya sia-sia belaka.

"Kembali kau datang menimbulkan gara-gara!"

Teriaknya pura-pura marah besar. Matanya mendelik dan jari tangannya menuding Wan Fei-yang.

"Fu-toako, aku hanya datang bersembahyang di depan abu jenazah Ciangbunjin. Sama sekali tidak ada maksud lainnya."

Wan Fei-yang menarik napas panjang. Kemudian di melanjutkan lagi kata-katanya.

"Benarkah Supek dan Wan-ji sudah mati?"

"Sudah tahu pura-pura tanya. Mereka pasti mati di tanganmu!"

Bentak Gi-song.

"Sejak meninggalkan Bu-tong-san, aku tidak pernah bertemu lagi dengan mereka,"

Kata Wan Fei-yang menjelaskan. Gi-song tertawa dingin.

"Ciangbunjin sendiri yang mengatakannya. Mungkinkah dia berbohong?"

Sindirnya tajam. Mendengar kata-kata Gi-song si tua bangka, hati Fu Giok-su 1039 langsung menjerit.

"Celaka!"

Ternyata Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan mendesaknya.

"Fu-toako, sebetulnya bagaimana kejadiannya?"

Pikiran Fu Giok-su bekerja cepat.

"Begini, beberapa waktu yang lalu, di dunia kangouw tersiar berita bahwa ada orang yang melihat kau berjalan bersama makhluk tua yang dulu terkurung dalam telaga dingin di luar kota dekat Kian-wei-piaukiok. Aku bersama Yan-supek beserta Wan-ji segera menyusul. Namun aku terpancing oleh musuh ke tempat lain. Tahu-tahu Yan-supek dan Wan-ji sudah dicelakai orang!"

"Lalu di mana kau menemukan mayat mereka?"

Tanya Wan Fei-yang kembali.

"Aku tidak berhasil menemukannya. Tapi dari robekan baju Yan-supek dan dompet kecil milik Wan-ji yang terdapat di permukaan sungai, aku yakin mereka tentu sudah mengalami hal yang tidak di nginkan."

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

"Kalau tidak menemukan mayatnya, Yan-supek dan Wan-ji belum tentu sudah mati. Andai kata benar, urusan ini tidak ada hubungannya denganku. Apabila aku benar-benar telah membunuh mereka, tidak mungkin aku begini bodoh untuk naik lagi ke Bu-tong-san dan membiarkan diriku terperangkap."

Kata-katanya memang beralasan. Tanpa sadar sebagian besar murid Bu-tong menganggukkan kepalanya dengan diam-diam. Bahkan Gi-song dan Cang-song pun 1040 memperlihatkan keraguan di wajahnya.

"Orang yang membunuh ataupun mencelakai mereka tentu merupakan orang yang sama dengan pembunuh Ciangbunjin. Aku harus menemukan pembunuh ini!"

Dia membalikkan tubuhnya menghadap Fu Giok-su.

"Fu-toako dapatkah kau mengatakan di mana Yan-supek dan Wan-ji dicelakai?" --Bagus! Aku akan menggunakan kesempatan ini memancing kau masuk ke dalam Siau-yau-kok--pikir Fu Giok-su dalam hatinya. Dia langsung mengambil keputusan.

"Kau bisa datang ke dusun Saho-ceng, Kian-wei-piaukiok dan menemui Kim-to-congpiautau,"

Katanya. Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya. Ia langsung membalikkan tubuh dan melangahkan kakinya, tapi dia dipanggil kembali oleh Fu Giok-su.

"Aku memberimu waktu tiga bulan untuk membawa pembunuh itu ke Bu-tong-san!"

Wan Fei-yang memandangnya dengan terharu.

"Terima kasih, Fu-toako."

Dia meneruskan langkah kakinya lagi. Gi-song segera menggetarkan pedangnya dan mengadang.

"Ingin kabur? Tidak begitu mudah!"

Bentaknya garang.

Wan Fei-yang tidak memedulikannya.

Tubuhnya melesat dengan kecepatan tinggi.

Bagai sebatang anak panah yang sedang meluncur.

Para murid Bu-tong yang memandang kepergiannya, tidak ada satu pun yang tidak mengeluarkan 1041 seruan terkejut.

Meskipun wajah Gi-song tidak menampilkan perasaan apa-apa, tapi melihat kehebatan Wan Fei-yang hatinya rada tergetar.

Mana berani lagi dia mengejar.

***** Setengah kentungan kemudian, seekor merpati pos terbang dari kamar Fu Giok-su.

Tujuannya sudah pasti Siau-yau-kok.

Meskipun ilmu silat Wan Fei-yang sangat tinggi, namun di dalam Siau-yau-kok ada Hujan, Angin, Kilat, Geledek ditambah lagi Thian-ti.

Mereka merupakan pentolan-pentolan dunia kangouw yang telah malang melintang selama puluhan tahun.

Setelah menerima berita tersebut, mereka pasti akan mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan Wan Fei-yang.

Fu Giok-su tidak percaya kalau anak muda itu tidak terjebak dalam perangkapnya.

Sedangkan Yang Cong-tian yang jauh lebih pengalaman saja masih kena terjebak oleh tipu daya mereka.

Tampaknya keberangkatan Wan Fei-yang kali ini, lebih banyak celakanya daripada selamatnya.

***** Pada saat ini Fu Hiong-kun sudah kembali ke Siau-yau-kok.

Kecuali Siau-yau-kok, dia memang tidak mempunyai tujuan yang lain lagi.

Berkelana di dunia kangouw terlalu lama juga membuatnya jenuh.

Ketika ditanyakan hasilnya pada waktu mengejar Tian-liong-siang-jin.

Dia hanya mengatakan bahwa belakangan dia kepergok oleh Ci-bu-kim-hoan, lalu soat lian itu terpaksa diserahkannya kembali kepada orang itu.

1042 Gi bu kim hoan sudah mati.

Bahkan tidak ada saksi kecuali Wan Fei-yang.

Dia tidak yakin bahwa orang-orang Siau-yau-kok akan menemukan mayat Ci-bu-kim-hoan Lu Ci.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek tidak begitu percaya akan keterangan Fu Hiong-kun.

Tapi karena ada Thian-ti di sana, mereka tidak berani banyak bertanya.

Thian-ti sendiri juga kurang senang.

Tetapi dia tidak menyalahkan Fu Hiong-kun.

Di hanya memaki Lu Ci panjang lebar.

Terhadap cucu perempuannya yang satu ini, dia benar-benar sayang sekali.

Seluruh kemarahannya sudah pasti disalurkan pada diri Yan Cong-tian.

Pecutnya disabetkan dengan sekuat tenaga.

Habislah kulit tubuh Yan Cong-tian sampai pecah dan berlumuran darah.

Sampai saat ini, entah sudah berapa banyak penderitaan dan siksaan yang dialaminya.

Tapi sedikit pun dia tidak mengeluarkan suara rintihan apalagi memohon ampun.

Meskipun Thian-ti berharap sekali dia akan berteriak histeris dan menjerit ketakutan seperti apa yang terjadi dengannya waktu terkurung d telaga dingin, tapi Yan Cong-tian tetap menggigit bibirnya erat-erat sehingga berdarah.

Orang itu tetap tidak bersuara.

Akhirnya Thian-ti kewalahan dan kehabisan akal.

Kalau sudah begitu, dia akan seperti anak kecil yang merengek dan mengentakkan kakinya dengan kesal.

Sebetulnya Fu Hiong-kun tidak sampai hati melihat penderitaan Yan Cong-tian, tapi dia tidak menemukan akal untuk menolongnya ke luar dari tempat itu.

Ilmu silatnya sangat rendah.

Mana mungkin dia sanggup menggotong seorang bertubuh tinggi besar seperti Yan Cong-tian dan 1043 melarikan diri siang dan malam.

Pasti dalam waktu sekejap mereka akan menemukannya.

Dan apabila terjadi demikian, Fu Hiong-kun tidak berani membayangkan akibat yang akan diterimanya bersama Yan Cong-tian.

Jangan-jangan dia malah memercayai kematian orang tua itu.

Dia hanya bisa mengendap-endap ketika tidak ada seorang pun dalam Siau-yau-kok dan mengantarkan makanan atau sedikit obat-obatan untuk dimakan dan diminum oleh Yan Cong-tian.

Mungkin inilah salah satu faktor mengapa Yan Cong-tian masih hidup sampai saat ini.

Seluruh Siau-yau-kok kembali tenggelam dalam ketenangan.

Sampai surat yang dikirim Fu Giok-su tiba, baru mereka mengadakan persiapan dan sibuk tidak keruan.

Setelah selesai mengadakan pertemuan, seluruh anggota Siau-yau-kok sibuk dengan tugasnya masing-masing.

Hanya Fu Hiong-kun yang merupakan kekecualian.

Hujan, Angin, Kilat maupun Geledek tidak ingin Fu Hiong-kun ikut campur dalam urusan ini.

Sedangkan Thian-ti sendiri takut Fu Hiong-kun akan menemukan bahaya.

Dia juga tidak merasa perlunya turut campur Fu Hiong-kun dalam urusan ini.

Dengan kata lain, dia setuju dengan usul Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Tentang soat lian yang menurut Fu Hiong-kun telah diambil kembali oleh Lu Ci, Thian-ti sebetulnya curiga juga.

Oleh karena itu, masalah meringkus dan menjebak Wan Fei-yang, dia tidak mengatakan apa-apa.

Pokoknya seperti tidak ada masalah yang terjadi dalam Siau-yau-kok.

Tapi pada dasarnya Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang cerdas.

Meski Hujan, Kilat, Angin, dan Geledek bahkan Thian-1044 ti tidak pernah menunjukkan apa-apa di hadapannya, tapi dari gerak-gerik para anggota Siau-yau-kok yang keluar masuk dengan tergesa-gesa, beberapa kali lihat saja, Fu Hiong-kun sudah curiga.

Dia tidak berkata apa-apa.

Kelakuannya setiap hari diam-diam saja.

Namun di balik ketenangannya, dia memerhatikan gerak-gerik Thian-ti dan keempat bawahannya dengan saksama.

Sampai suatu hari dia melihat kelima orang itu keluar bersama-sama.

Hatinya semakin waspada.

Siau-yau-kok adalah tempat yang terpencil.

Kecuali Yan Cong-tian, belum pernah ada orang yang berhasil menemukan tempat ini.

Sedangkan Yan Cong-tian saja dijebak oleh Fu Giok-su.

Ditilik dari keadaannya, Thian-ti dan anak buahnya pasti sedang menghadapi seorang musuh tangguh.

Dan mereka tidak membawa perbekalan apa-apa.

Hal ini membuktikan bahwa tujuan mereka pasti tidak seberapa jauh.

Siapakah orangnya yang begitu menggetarkan hati Thian-ti dan rombongan sehingga mereka harus menghadapinya bersama-sama?

Fu Hiong-kun langsung teringat akan Wan Fei-yang.

Mungkinkah Wan Fei-yang telah membaca surat yang ditinggalkannya lalu pergi mencari Fu Giok-su?

Lalu abangnya yang licik itu kembali menjalankan siasat menjebaknya ke Siau-yau-kok?

Kecerdasan Fu Hiong-kun tidak perlu diragukan lagi.

Meskipun dugaannya tidak seratus persen tepat, tapi sebagiannya memang hampir benar.

Hanya saja untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

***** 1045 Belum lagi Wan Fei-yang sampai ke Kian-wei-piaukiok, dia sudah bertemu dengan orang yang ingin dicarinya.

Siapa lagi kalau bukan Suma Hong yang merupakan anggota Siau-yau-kok juga!

Suma Hong mengiringi kereta kawalan yang berjalan ke arah Wan Fei-yang.

Panji bertuliskan Kian-wei-piaukiok yang sangat mencolok sudah berkibar-kibar dari kejauhan.

Mana mungkin Wan Fei-yang tidak melihatnya.

Wan Fei-yang yang lugu itu sama sekali tidak curiga.

Dia malah memuji dirinya yang sangat beruntung dan bernasib baik.

Suma Hong pura-pura sibuk memerintahkan ini dan itu.

Tapi tatkala mendengar bahwa Wan Fei-yang datang untuk menyelidiki kematian Yan Cong-tian serta Wan-ji, dia langsung meninggalkan kereta kawalannya begitu saja dan mengantarkan Wan Fei-yang ke tempat di mana Yan Cong-tian dan Wan-ji menginap.

Tentu saja semuanya hanya permainan Suma Hong yang sudah diberi petunjuk oleh Thian-ti.

Penginapan itu tidak seberapa besar.

Suma Hong mengajak Wan Fei-yang ke sebuah kamar yang terletak di bagian timur penginapan tersebut.

"Wan-tayhiap ...."

Sapa Suma Hong sambil mempersilakan Wan Fei-yang duduk.

"Apakah Ciangbunjin sudah menerima kabar dari anak buah kami?"

"Kabar apa?"

Tanya Wan Fei-yang tidak mengerti.

"Anak buah kami sudah menemukan mayat Yan-supek dan 1046 Lun Wan-ji Suci,"

Kata Suma Hong dengan wajah sendu.

"Hah?"

Wan Fei-yang benar-benar terkejut. Hilanglah harapannya bahwa ada kemungkinan Yan Cong-tian serta Lun Wan-ji masih hidup.

"Di mana mayat mereka sekarang?"

"Kalau Wan-tayhiap tidak lelah, mari Siaute antarkan sekarang juga,"

Kata Suma Hong pura-pura tulus.

Tentu saja Wan Fei-yang tidak merasa lelah lagi.

Dia ingin melihat mayat Yan Cong-tian dan Lun Wan-ji sekarang juga.

***** Tempat itu letaknya tidak seberapa jauh.

Merupakan sebuah gedung kosong yang tidak terurus.

"Kedua peti mati ini seharusnya diantarkan ke Bu-tong-san kemarin. Tapi karena anak buah yang bekerja di piaukiok kami rata-rata penakut, apalagi Bu-tong-san sendiri masih dalam suasana berkabung dan orang-orang Siau-yau-kok berkeliaran di mana-mana, terpaksa di letakkan di sini untuk sementara,"

Kata Suma Hong.

Tentu saja Wan Fei-yang percaya penuh apa yang Suma Hong katakan.

Dia juga tidak bertanya mengapa mayat Yan-supeknya serta Lun Wan-ji sudah dimasukkan ke dalam peti sebelum dilihat oleh Ciangbunjin Bu-tong-pay.

Tapi dia berpikir mungkin karena mayat mereka sudah terlalu rusak sehingga mengeluarkan bau busuk dan harus dimasukkan secepatnya.

Oleh karena itu juga dia tidak berjaga-jaga terhadap kedua peti mati tersebut.

1047 Tangannya meraba kayu peti mati.

Terbayang olehnya wajah Yan Cong-tian yang berwibawa namun berhati welas asih.

Sekarang mereka sudah dipisahkan oleh dua dunia yang berbeda.

Biar bagaimanapun, perlakuan Yan Cong-tian selama dia berada di Bu-tong-san terhitung boleh juga.

Apalagi Lun Wan-ji.

Gadis itu yang paling sering membelanya.

Senyuman yang lembut, ucapannya yang selalu menyentuh.

Satu per satu terbayang kembali di lubuk hatinya.

Tanpa sadar Wan Fei-yang menarik napas panjang.

Pada saat itulah, tutup peti tiba-tiba terbuka.

Serangkum asap beracun memancar dari dalamnya.

Wan Fei-yang berseru terkejut.

Dia bergulingan di atas tanah.

Kebetulan sebatang golok meluncur keluar dari dalam peti mati, maka dia pun terhindar.

Meskipun gerakannya cukup cepat, tapi dia sempat menghirup asap beracun dalam jumlah yang cukup banyak.

Kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang seketika.

Dalam waktu yang bersamaan, peti mati kedua pun tersingkap.

Hujan mencelat ke udara.

Sepasang tangannya mengibas.

Sekumpulan jarum beracun melesat keluar.

Dengan bertumpu tanah, Wan Fei-yang kembali menggelinding di atas tanah.

Baru saja ia berusaha bangkit, dari kerumunan pohon dan gerombolan semak-semak meluncur sebatang pedang yang bercahaya bagai kilat.

Angin pun menyusul melayang turun dari atap gedung itu.

Sepasang lengan bajunya mengembang mengadang jalan pergi Wan Fei-yang.

Dengan nekat anak muda itu menerobos dalam kibasan lengan baju Angin, kemudian dia menggeser sedikit untuk 1048 menghindari serangan pedang Kilat, lalu melesat ke arah timur.

Dari balik dinding taman yang tinggi berhamburan puluhan manusia berpakaian hitam.

Mereka seperti puluhan batang anak panah meluncur mengejar Wan Fei-yang.

Anak muda itu mulai kelabakan, dia membelok ke kanan.

Tapi pada saat itu juga, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek sudah menyusul tiba dan langsung mengepungnya.

Suara tawa terbahak-bahak berkumandang memecahkan keheningan yang mencekam.

Thian-ti melayang turun dari atas sebatang pohon yang lebat.

Dengan diam-diam Wan Fei-yang mengumpulkan hawa murninya dengan maksud menekan asap beracun yang terhirup olehnya tadi.

"Jit-sing-kiam-ceng dari Bu-tong-pay tidak sanggup menahanmu. Bagaimana kalau kau coba barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek dari Siau-yau-kok?"

Thian-ti berkata dengan nada mengejek.

"Rupanya kau!"

Wan Fei-yang baru melihat jelas siapa yang ada di hadapannya.

"Mengingat kebaikanmu mengantarkan makanan untukku selama terkurung dalam telaga dingin, maka ... Wan Fei-yang! Aku akan membiarkan mayatmu dalam keadaan utuh!"

"Apa yang telah kau lakukan terhadap Yan-supek dan Lun Wan-ji?"

"Yan Cong-tian telah mengurung aku dalam telaga dingin selama dua puluh tahun. Kalau aku membunuhnya begitu saja, bukankah kebencian dalam hati ini tidak dapat 1049 tersalurkan?"

Wan Fei-yang tertegun.

"Kalau begitu Yan-supek belum mati. Wan-ji dia ...."

"Lebih baik kau urus dulu dirimu sendiri. Sekarang kau sudah menghirup asap beracun. Lagi pula terkurung dalam barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek. Mungkin ada baiknya kau bunuh diri saja, daripada merasakan sakit dan penderitaan sebelum dibunuh!"

Wan Fei-yang tidak menyahut.

Dia masih berusaha mendesak keluar racun dalam tubuhnya.

Melihat keadaan anak-muda itu, Thian-ti segera mengibaskan tangannya.

Barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek segera dikerahkan.

Golok Geledek menyerang dengan gencar.

Pedang Kilat mempunyai jurus-jurus yang keji.

Jarum Hujan penuh dengan racun jahat, sedangkan kibasan lengan baju Angin bagai sebilah pisau yang tajam.

Wan Fei-yang sudah menghunus pedangnya.

Dia menjalankan jurus Liong-gi-kiam-hoat dan menerobos dalam kelebatan barisan Hujan angin kilat dan geledek.

Asap beracun dalam dirinya mulai bekerja.

Semakin bertarung, rasa pusing di kepalanya semakin terasa.

Dia sadar kalau begini terus dia akan mati dalam barisan tersebut.

Oleh karena itu, dia segera mencari kesempatan yang baik.

Ketika lengan baju Angin berkibas, dia menerjang dengan nekat dan melesat keluar mengikuti dorongan angin kibasan lengan baju itu.

1050 Ilmu meringankan tubuh Wan Fei-yang memang tinggi sekali.

Gerakannya demikian cepat dan tidak terduga sama sekali.

Bukan Angin saja yang terkesima, bahkan ketiga orang lainnya juga ikut terpana.

Tidak satu pun dari mereka yang sempat mencegah.

Thian-ti yang menyaksikan dari samping langsung membentak lantang.

Gerakan tubuhnya bagaikan kuda terbang menerjang tiba.

Sepasang telapak tangannya mengancam kepala Wan Fei-yang.

Anak muda itu menggerakkan pedangnya ke kanan dan menyusup ke antara sepasang telapak tangan Thian-ti.

Tubuhnya membungkuk kemudian berkelebat.

Sekejap mata dia sudah sampai di bawah dinding yang tinggi.

Manusia-manusia berpakaian hitam langsung menyerangnya dengan anak panah.

Tidak satu pun yang sempat menyentuh tubuh Wan Fei-yang.

Mereka meraung kalap.

Masing-masing menghunus golok dan melayang turun.

Pedang Wan Fei-yang digetarkan.

Dua manusia berpakaian hitam rubuh seketika.

Sekali lagi dia menusukkannya ke arah kiri.

Seorang lagi tertancap dadanya.

Telapak tangan kirinya ikut menghantam seorang lawan yang menerjang tiba.

Jilid 23 Terdengar suara embusan angin.

Seorang manusia berpakaian hitam melesat ke arahnya.

Rupanya ilmu meringankan tubuh orang ini lebih tinggi dari yang lainnya.

Golok di tangannya menekan pedang Wan Fei-yang.

"Terima cepat telan!"

Seru orang itu tidak terduga.

Tangan kirinya mengibas.

Dua bungkus obat meluncur ke arah Wan 1051 Fei-yang.

Mendengar suara orang itu, Wan Fei-yang tertegun sesaat, tapi tangannya tetap diulurkan untuk menyambut datangnya bungkusan obat tersebut.

Tanpa menunda waktu lagi, dia membuka bungkusan obat itu dan dua butir pil ditelannya tanpa ragu.

Ternyata obat itu sangat mujarab.

Begitu masuk mulut, serangkum hawa segar segera beredar di seluruh jalan darahnya.

Semangat Wan Fei-yang terbangkit seketika.

Sepasang lengannya berputar.

Telapak tangannya menghantam ke kiri dan kanan.

Dua orang manusia berpakaian hitam kembali roboh di tanah.

Dia melesat mendekati manusia berpakaian hitam yang memberinya obat tadi.

"Mengapa kau bisa datang ke tempat ini?"

Tanyanya heran.

"Cepat pergi!"

Bentak orang itu tanpa memedulikan pertanyaannya. Baru saja ucapannya selesai, Hujan yang berdiri di sudut sana sudah membentaknya dengan suara lantang.

"Hiong-kun, apa lagi yang kau lakukan sekarang?"

Tubuh manusia berpakaian hitam itu bergetar.

Dengan panik dia melesat ke atas dinding pekarangan.

Wan Fei-yang yang melihat tindakannya, cepat-cepat menyusul.

Hujan mengibaskan tangannya.

Sekumpulan jarum beracun meluncur datang.

Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya dan menggerakkan pedangnya dengan arah memutar.

Jarum-jarum beracun itu tersapu jatuh ke tanah.

Kemudian dia 1052 terjungkir balik ke atas dinding.

Dia langsung menyeret manusia berpakaian hitam tadi dan mengajaknya pergi dengan cepat.

Kain penutup wajah manusia berpakaian hitam itu sudah dilepas.

Ternyata Fu Hiong-kun adanya.

Meskipun dia sudah menyamar dengan rapi tapi tetap saja Hujan dapat mengenalinya.

Jarum yang diluncurkan oleh Hujan tidak mengenai sasaran.

Angin mendahului melesat naik ke atas dinding pekarangan.

Thian-ti malah lebih cepat lagi daripada Angin.

Dari dinding yang tinggi dia memandang ke bawah.

Matanya mengedar ke sekeliling dengan saksama.

Kebetulan pada saat yang sama Fu Hiong-kun juga sedang menolehkan kepalanya.

Dua pasang mata bertemu pandang.

Tanpa dapat menahan diri lagi Thian-ti meraung murka.

Hati Fu Hiong-kun tergetar dan sedih.

Tanpa disadari, kakinya berhenti melangkah.

Wan Fei-yang segera memeluk pinggangnya dan membawanya lari.

Dengan demikian mereka dapat melesat lebih cepat dari sebelumnya.

Dengan marah Thian-ti melayang turun.

Langkahnya dipercepat.

Dia terus mengejar ke depan dengan segenap kemampuannya.

Namun jaraknya dengan Wan Fei-yang tetap seperti tadi juga.

Sedangkan Wan Fei-yang mencelat lagi ke udara lalu melayang turun kembali.

Dengan memeluk pinggang Fu Hiong-kun dia sudah melesat ke dalam sebuah hutan.

Sekali lagi Thian-ti menghentikan kakinya melesat ke depan untuk mengejar.

Ketika dia sampai di dalam hutan, bayangan Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun sudah tidak terlihat lagi.

1053 Dengan marah dia menghantamkan sepasang telapak tangannya kalang kabut.

"Blam! Blam!"

Dua batang pohon besar roboh seketika.

Dada Thian-ti seakan hampir meledak.

Matanya mencorot bagai kobaran api.

Rambutnya yang riap-riap seakan berdiri tegak.

Seandainya diri orang tua itu adalah sebuah bom, pasti saat ini dia sudah meledak.

Sebuah kuil tua yang sudah bobrok.

Pekarangannya tidak terurus.

Dinding pekarangan maupun dalamnya sudah retak dan pecah-pecah.

Sarang laba-laba memenuhi seluruh ruangan luar dan dalam.

Meja-meja persembahan sudah menjadi kepingan kayu yang hancur dimakan rayap.

Entah dewa apa yang disembah di kuil ini sebelumnya.

Patung-patungnya saja sebagian besar tidak berkepala atau somplak di sana-sini sehingga bentuknya tidak terlihat lagi.

Senja hari sudah menjelang.

Sinar matahari menyorot lewat celah-celah jendela yang tidak berbentuk lagi.

Cahayanya tepat menyinari wajah Fu Hiong-kun.

Mata gadis itu berkilauan.

Bukan karena cahaya matahari, tapi karena air mata yang mengembang.

Sekarang dia baru tahu bahwa Wan Fei-yang sama sekali tidak membaca surat yang ditinggalkannya karena basah oleh air sehingga tulisannya luntur.

Hal inilah yang menyebabkan Fu Giok-su dapat menjebak Wan Fei-yang datang ke tempat ini.

Hatinya semakin tertekan.

Dia merasa sedih dan menyesali perbuatan abangnya.

Akhirnya ia memberanikan diri dan menceritakan apa yang diketahuinya, sekalipun mungkin Wan Fei-yang akan membencinya.

Dia tidak dapat menutupi kenyataan ini berlarut-larut.

1054 Wan Fei-yang mendengarkan keterangannya dengan mata terbelalak dan mulut menganga.

Tapi nada suara serta mimik wajah Fu Hiong-kun demikian yakin dan serius.

Bahkan cara mengucapkannya pun demikian pilu mengenaskan.

Dia tidak ragu mengenai apa yang dikatakan oleh Fu Hiong-kun.

Meskipun semuanya benar-benar di luar dugaan.

Tapi setelah dia membayangkan kembali, sebetulnya banyak kesalahan yang dilakukan Fu Giok-su tanpa disadarinya.

"Thian membiarkan aku terlahir dalam keluarga yang hanya tahu melakukan berbagai kejahatan. Mengapa tidak sekalian membiarkan aku mempunyai hati yang keji dan kejam?"

Setelah mengucapkan kata-kata ini, tanpa dapat ditahan lagi air mata Fu Hiong-kun mengalir dengan deras.

"Fu-kouwnio, jangan berkata begitu. Untung saja dalam Siau-yau-kok masih ada manusia yang berhati manis sepertimu. Kalau tidak, malam ini aku pasti mati. Bahkan mungkin sejak tempo hari. Aku tidak menyalahkanmu. Bahkan dalam hati ini, aku berterima kasih tidak terkira. Kau sudah menyelamatkan nyawaku berkali-kali. Bukan salahmu kalau kau terlahir dalam keluarga Siau-yau-kok. Jangan juga menyalahkan Thian. Suatu hari nanti Thian pasti akan memberikan kebahagiaan kepadamu. Aku akan menjagamu baik-baik!"

Kata-kata yang diucapkan Wan Fei-yang keluar dari hatinya yang tulus.

Dia memapah Fu Hiong-kun duduk di lantai lalu mengusap air mata gadis itu dengan lengan bajunya.

Pada saat itu, hatinya kacau sekali.

Dia tidak tahu bagaimana caranya menghibur Fu Hiong-kun.

Malam itu, Thian-ti tidak dapat tidur nyenyak.

Apa yang dilakukan Fu Hiong-kun bagai sebilah pisau yang menyayat hatinya.

Kata-kata yang diucapkan oleh Hujan bagai jarum 1055 beracun yang menusuki kulit tubuh Thian-ti sedikit demi sedikit.

Sampai saat ini, apa lagi yang dapat dikatakan Thian-ti untuk membela cucu perempuannya itu ...?

Kesunyian di dalam Siau-yau-kok terasa semakin mencekam.

Apalagi pada hari kedua.

Pagi-pagi sekali di depan gua yang merupakan pintu masuk Siau-yau-kok berjajar lima buah peti mati.

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan peti-peti mati tersebut diletakkan di sana.

Di atas masing-masing peti tertulis nama Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Tanpa diragukan lagi pasti Wan Fei-yang yang mengirimkan peti-peti mati ini.

Setelah Fu Hiong-kun berkhianat dan memihak kepada anak muda itu, tidak heran kalau markas Siau-yau-kok segera diketahuinya.

Melihat kelima peti mati itu beserta nama yang tertera di atasnya, Thian-ti sudah hampir kalap.

Apalagi setelah dia menerima laporan dari anak buahnya bahwa Suma Hong ditemukan sudah menjadi mayat di luar lembah tersebut.

Hampir saja Thian-ti muntah darah.

Di atas mayat Suma Hong masih terdapat secarik tulisan.

"Siapa yang menyamar murid Bu-tong-pay, harus mati!"

Wajah setiap anggota Siau-yau-kok langsung berubah kelam.

Semua ini pasti hasil karya Wan Fei-yang.

Pembalasannya mulai terlihat.

Thian-ti mencak-mencak dan berteriak seperti geledek bergemuruh.

Dia memerintahkan kepada anak buahnya untuk memeriksa seluruh Siau-yau-kok.

Setelah sibuk sehari penuh, mereka tidak berhasil menemukan apa-apa yang mencurigakan.

Akhirnya Thian-ti mengumpulkan Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat.

Mereka 1056 langsung mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini.

"Bocah she Wan ini sama sekali tidak boleh dipandang remeh. Coba kalau sejak semula Giok-su membunuhnya. Sekarang ilmu silatnya sudah demikian tinggi. Mungkin bahkan lebih tinggi dari Ci-siong Tojin sendiri semasa hidupnya,"

Kata Geledek menggerutu.

"Betul. Tapi kita tidak usah khawatir. Setingginya tupai melompat, suatu hari pasti akan jatuh juga. Kalau bukan Hiong-kun yang menolongnya, kita pasti sudah berhasil melenyapkan kutu busuk itu. Kita perlu mencari akal untuk menjebaknya,"

Tukas Angin.

"Aku yakin dia sengaja membuat kita kalang kabut sehingga kewaspadaan kita berkurang. Kalian berempat harus menjaga ketat telaga buatan kita. Aku yakin tujuannya pasti menyelamatkan Yan Cong-tian dari tempat ini!"

Kata Thian-ti memperingatkan.

***** Tempat untuk mengurung Yan Cong-tian mempunyai lima jalan tembus.

Mereka berlima menjaga di setiap jalan.

Sebatang seruling sebagai isyarat panggilan sudah tersedia di tangan masing-masing.

Siapa pun yang pertama-tama melihat Wan Fei-yang harus meniup seruling tersebut agar mereka semuanya berkumpul.

Dengan cara demikian, mereka dapat bergabung mengeroyok Wan Fei-yang.

Persis seperti lima jari tangan kita sendiri.

Kalau hanya satu jari tangan, tentu tidak banyak yang dapat 1057 dilakukannya.

Tapi seandainya kelima jari digabungkan, banyak keuntungan yang dapat diraih.

Setelah mengatur segalanya, Thian-ti kembali ke pos penjagaannya.

Tiba-tiba dia melihat Manusia Tanpa Wajah menghampiri dengan tergesa-gesa.

"Han Cong, apakah kau menemukan sesuatu?"

Tanyanya gugup.

Manusia Tanpa Wajah tidak menyahut.

Dia langsung menerjang ke depan Thian-ti.

Pada saat itulah, si makhluk tua baru merasakan sesuatu yang kurang beres.

Tapi terlambat, orang yang dipanggil Han Cong itu sudah menghantam dadanya dengan sepasang telapak tangan.

Seluruh isi perut Thian-ti tergetar.

Dia terhitung kuat.

Daya tahan dirinya hebat sekali.

Mungkin ada pengaruhnya dengan terkurungnya dia dalam telaga dingin selama dua puluh tahun.

Sepasang tangannya segera dikembangkan untuk menyambut serangan ketiga dari manusia berpakaian hitam itu.

"Siapa kau sebenarnya?"

Bentak Thian-ti garang. Manusia berpakaian hitam segera melepas topi pandannya lalu melemparkannya ke hadapan Thian-ti. Terlihatlah seraut wajah yang tidak asing lagi. Mata Thian-ti bersinar tajam.

"Wan Fei-yang!"

Baca Juga: Seruling Samber Nyawa Chin Yung

Baca Juga: Nona Berbaju Hijau Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert