Ceritasilat Novel Online

Ilmu Ulat Sutera 10

Eps 10 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

Sepasang telapak tangannya menyambut topi pandan yang meluncur datang. Dalam sekejap mata, topi pandan itu hancur berkeping-keping.

"Memang aku!"

Seru Wan Fei-yang sambil menerjang maju 1058 menyerang lagi. Thian-ti menyambut serangan itu beberapa kali berturut-turut.

"Benar-benar cara turun tangan yang keji dan licik,"

Sindirnya. Wan Fei-yang tertawa dingin.

"Masih belum terhitung apa-apa kalau dibandingkan dengan kau orang tua,"

Sahutnya tenang.

Serangannya semakin gencar.

Thian-ti terdesak mundur satu langkah.

Cepat-cepat dia mengeluarkan seruling bambu dan meniupnya sebanyak tiga kali.

Mendengar suara tiupan seruling itu, Wan Fei-yang segera mencelat mundur.

Thian-ti langsung mengejar.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang mendengar suara isyarat itu, serentak mereka berlari mendekati.

Keluar dari ruangan rahasia, Wan Fei-yang langsung menerjang ke dalam lembah.

Beberapa anggota Siau-yau-kok berusaha menghalangi, tapi satu demi satu terkapar roboh oleh sapuan pedang Wan Fei-yang.

Dia melesat ke arah air terjun.

Namun dia tidak menerobos ke dalamnya.

Kakinya mengentak, tubuhnya melesat ke atas air terjun!

Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek terus mengejar.

Para anggota Siau-yau-kok yang sedang meronda juga berpencaran keluar.

Sedangkan yang lainnya ada yang tergetar hatinya sehingga kocar-kacir.

Lentera-lentera segera dinyalakan.

Keadaan jadi terang benderang seketika.

Wan Fei-yang tidak memedulikan hal lainnya.

Dia terus melesat ke depan.

Sepanjang perjalanan dia juga tidak menghindar ataupun bersembunyi.

Di belakangnya Thian-ti berlima terus mengejar dengan ketat.

1059 Kurang lebih tiga li dari luar lembah terdapat sebuah pondok kecil.

Wan Fei-yang terus menerobos ke dalam rumah dan memalang pintunya rapat-rapat.

Di dalam rumah ada cahaya.

Wan Fei-yang melongok sekilas lewat jendela.

Kemudian melesat dan menghilang lagi.

Thian-ti berlima mengejar sampai tempat itu.

Mereka memencarkan diri mengepung dari lima penjuru.

Angin mengibaskan lengan bajunya.

Setitik cahaya api terlontar ke atas dan memijar di angkasa.

Cahaya lentera dan obor api yang ada di kejauhan dalam waktu singkat menghampiri arah mereka.

Dalam waktu sekejap juga pondok tersebut sudah terkurung oleh ratusan anggota Siau-yau-kok.

"Wan Fei-yang, kalau berani, hayo keluar!"

Teriak Thian-ti dengan mengerahkan tenaga dalamnya.

Baru saja ucapannya selesai, segumpal darah segar muncrat dari mulutnya.

Rupanya hantaman telapak tangan Wan Fei-yang tadi cukup keras.

Thian-ti sudah terluka cukup parah di dalam.

Ditambah lagi dia berteriak dengan mengerahkan tenaga dalam, maka tanpa dapat ditahan lagi, dia langsung muntah darah segar.

"Kalau berani, masuk saja kalian ke dalam!"

Terdengar sahutan Wan Fei-yang dari dalam pondok tersebut.

Disusul dengan terbukanya pintu pondok itu lebar-lebar.

Kemarahan Thian-ti meledak seketika.

Seluruh tubuhnya gemetar.

Angin cepat-cepat menghampirinya.

"Loyacu, bagaimana keadaanmu?"

Tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa,"

Sahut Thian-ti sambil mengibaskan tangannya.

Beberapa sosok bayangan segera menerjang ke 1060 depan.

Enam orang itu merupakan anggota pasukan berani mati dari Siau-yau-kok.

Pakaian mereka berbeda dengan anggota Siau-yau-kok lainnya.

Mereka mengenakan pakaian berwarna merah dengan strip hitam di sekitar kerah leher.

Tangan mereka semua menggenggam sebatang golok.

Keenam orang itu dengan nekat menerjang masuk.

Terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

Satu demi satu mereka terlempar keluar lalu terpelanting di atas tanah.

Semuanya memuntahkan darah segar dan tidak bangkit untuk selama-lamanya.

Thian-ti mengertakkan giginya erat-erat.

Sekali lagi dia mengibaskan tangannya.

Enam orang anggota pasukan berani mati kembali menyerbu.

Kali ini lebih mengenaskan lagi.

Belum juga mencapai pintu, satu demi satu sudah roboh tersampuk senjata rahasia yang ditimpukkan oleh Wan Fei-yang dari dalam pondok.

Hujan yang melihat keadaan itu, mengerutkan alisnya seketika.

"Bocah ini menguasai Bu-tong-liok-kiat. Jit-amgi yang dipelajarinya sudah mencapai taraf yang tinggi. Tidak mudah menghadapinya dengan cara begini,"

Katanya.

Mata Thian-ti mengedar ke sekeliling.

Dia melihat mimik wajah para anak buahnya sebagian besar sudah gugup dan ketakutan.

Hati mereka pasti tergetar menyaksikan kedua belas teman mereka mati dalam waktu sekejap mata.

Thian-ti mempertimbangkan sejenak.

"Siapkan Ci-cian-sen-kou (sejenis anak panah tapi berukuran lebih besar seperti kaitan dan ujungnya disambung dengan tali 1061 dari akar pohon yang kuat)!"

Perintahnya kemudian.

Anggota-anggota Siau-yau-kok itu baru bisa menghela napas lega.

Mereka berpencar menjadi dua bagian.

Dari dalam pondok tidak tampak sedikit reaksi pun.

Beberapa saat kemudian, para anggota Siau-yau-kok itu baru berkumpul kembali.

Mereka seperti sudah mengerti maksud Thian-ti.

Kaitan yang disambung tali dipersiapkan.

Begitu perintah Thian-ti diturunkan, mereka segera memanah kaitan itu dari segala penjuru.

Seratus lebih tali panjang meluncur di udara dan menancap di atas pondok tersebut.

Tampaknya lebih mirip sarang laba-laba yang kusut tidak keruan.

"Tarik!"

Teriak Thian-ti sekali lagi.

Para anggota Siau-yau-kok segera berkerumun di tali masing-masing dan menarik sekuat tenaga.

Tidak berbeda dengan anak kecil yang sedang bermain tarik tambang.

Hanya saja mereka bukan mengadu kekuatan dengan sesama teman, tapi mengadu kekuatan dengan pondok tersebut.

Terdengar suara desiran yang bising, perlahan-lahan atap rumah itu mulai tertarik, kemudian hancur berkeping-keping.

Di dalam pondok masih ada penerangan.

Wan Fei-yang duduk di samping meja.

Dia tidak bergerak sama sekali.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek menyerbu serentak.

Senjata rahasia dan golok serta pedang berkelebatan.

Wan Fei-yang yang berdandan seperti Manusia Tanpa Wajah masih tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.

Topi pandan tertebas oleh pedang Kilat.

Golok Geledek menyusul cepat menebas kepala orang itu.

Batok kepala menggelinding di atas tanah.

1062 Sekarang wajahnya terlihat jelas.

Ternyata memang Manusia Tanpa Wajah.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek tertegun.

Geledek marah sekali.

Dibacoknya lentera di atas meja.

Pedang Kilat juga menebas putus meja itu sendiri.

Tiba-tiba mata Hujan bersinar terang.

"Lihat!"

Ternyata di bawah meja terdapat sebuah lubang besar.

Thian-ti melesat masuk ke dalam pondok.

Dia langsung melihat batok kepala Manusia Tanpa Wajah yang tergeletak di atas tanah.

Kemarahannya semakin meluap.

"Kita benar-benar terjebak oleh bocah busuk itu!"

Teriaknya dengan geram. Wajah Angin berubah kelam seketika.

"Bocah itu pasti sudah melarikan diri dari lubang bawah tanah itu. Dia pasti pergi menolong Yan Cong-tian. Cepat kita susul dia!"

Thian-ti mengibaskan tangannya.

"Percuma! Pasti sudah terlambat!"

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

Tanya Angin panik.

Dengan tenang Thian-ti melangkah keluar.

Ia berdiri tegak di antara embusan angin kencang.

Kenyataannya dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tepat pada saat itu, orang anggota Siau-yau-kok berlari-lari menghampiri dengan gugup.

Dia berlutut di depan Thian-ti dan mengucapkan beberapa patah kata.

Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek yang menyaksikan kejadian itu, cepat-cepat menghampiri.

"Loya, ada berita apa?"

"Aku kira kita sudah kalah habis-habisan. Tidak tahunya masih ada sedikit harapan,"

Kata Thian-ti sambil mengelus-elus jenggotnya.

Meskipun dia tidak mengatakan secara terus terang, tapi sudah dapat dipastikan bahwa laporan yang diberikan oleh anggota mereka tadi pasti merupakan kabar yang menggembirakan.

***** Yang dilaporkan memang kabar baik.

Beberapa anggota Siau-yau-kok sudah berhasil menemukan tempat persembunyian Wan Fei-yang dan Fu Hiong-kun.

Thian-ti mengajak bawahannya mengejar ke tempat itu.

Namun mereka masih juga terlambat satu langkah.

Wan Fei-yang sudah berhasil menyelamatkan Yan Cong-tian.

Cepat-cepat dia kembali ke tempat persembunyiannya.

Setelah itu dia menyiapkan kereta kuda dan menyuruh Fu Hiong-kun naik lalu segera berangkat.

Hujan, Angin, Kilat, Geledek, dan Thian-ti yang mendengar ringkikan kuda langsung memutar ke bagian belakang kuil.

Hujan tidak peduli yang lainnya.

Dia langsung mencelat ke udara dan menimpukkan sekumpulan jarum racun dengan jurus Man-tian-hue-ho (hujan bunga memenuhi angkasa).

Wan Fei-yang memutar pedangnya ke sekeliling dan jarum-jarum Hujan berpencaran tanpa satu pun mengenai sasaran.

Hujan membuka mulutnya lebar-lebar.

Sebatang jarum beracun berukuran besar meluncur dari dalam mulutnya.

1064 Sasarannya kali ini bahu Fu Hiong-kun!

Kedua tangannya tidak bergerak.

Sedangkan mata Wan Fei-yang hanya memerhatikan sepasang tangannya saja.

Tentu saja dia tidak sempat menangkis jarum yang satu ini.

Jarum tersebut langsung meluncur ke dalam kereta.

Tubuh Wan Fei-yang berkelebat.

Dia menyergap ke dalam kereta, tangannya terangkat, cemetinya langsung dikibaskan ke bawah.

Kuda lari seperti kesetanan.

Pada saat itu Fu Hiong-kun baru tersadar bahwa bahunya telah tertancap sebatang jarum beracun Hujan.

Tubuh Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek melayang turun.

Mata mereka semua memandang ke arah kereta kuda yang sudah jauh di ujung jalan.

Wajah mereka sungguh tidak enak dipandang.

Kali ini mereka benar-benar kehilangan muka.

Geledek membanting goloknya ke atas tanah.

"Usia bocah ini benar-benar panjang!"

Makinya kesal. Hujan tertawa dingin.

"Budak Fu Hiong-kun itu telah terkena jarum beracunku. Dalam tujuh hari, apabila tidak menemukan obat penawarnya, dia pasti mati dengan penderitaan hebat. Aku ingin lihat bagaimana cara bocah she Wan itu menanganinya!"

Mendengar kata-kata itu, wajah Thian-ti semakin kelam.

***** Kereta kuda terus dikendarai sampai jauh.

Wan Fei-yang tetap 1065 tidak menghentikan pecut di tangannya.

Dari dalam kereta terdengar suara Yan Cong-tian.

"Fei-yang, hentikan kereta sebentar."

Wan Fei-yang segera mengiakan. Dia menghentikan kereta di pinggir jalan.

"Supek, ada apa?"

Tanyanya gugup.

"Coba kau lihat Fu-kouwnio!"

Wan Fei-yang terkejut sekali.

Cepat-cepat dia meloncat turun dari tempat duduknya di bagian depan.

Dia menyingkap tirai kereta tersebut dan masuk ke dalam.

Dia melihat Fu Hiong-kun duduk di sudut dengan tubuh bergetar tiada henti.

Wan Fei-yang segera menyalakan sebatang lilin.

Di bawah cahaya lilin tersebut, tampaklah wajah Fu Hiong-kun yang sudah pucat pasi bagai helaian kertas putih.

Bahkan ada kesan menyeramkan.

"Fu-kouwnio, bagaimana keadaanmu?"

Tanyanya cemas. Dia memapah tubuh Fu Hiong-kun dan membantunya duduk tegak. Pada saat itulah dia melihat jarum beracun yang menancap di bahu gadis itu.

"Jarum Hujan!"

Wajah Wan Fei-yang langsung berubah. Tentu saja Yan Cong-tian juga tahu betapa beracunnya jarum Hujan yang disebutkan oleh Wan Fei-yang. Dia tertawa sumbang.

"Fei-yang, gadis ini bukan saja sudah menanamkan budi kepada kita berdua. Dia juga berjasa besar terhadap Bu-tong-pay. Bagaimanapun kita harus mencari jalan menyelamatkannya,"

Kata Yan Cong-tian.

1066 Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

Tanpa diperintahkan oleh Yan Cong-tian sekalipun, dia tidak mungkin membiarkan Fu Hiong-kun begitu saja.

Dia cepat-cepat menutuk beberapa jalan darah di sekitar luka Fu Hiong-kun agar racunnya jangan menjalar.

Namun gadis itu sudah cukup lama terkena jarum beracun Hujan.

Racunnya sudah menjalar sebagian.

Dia tidak dapat bersuara lagi.

Bahkan merintih pun tidak.

Wan Fei-yang kalang kabut seperti seekor semut yang dipanggang di atas kompor.

Duduk salah, berdiri pun salah.

Tiba-tiba matanya bersinar terang.

Dia teringat akan seseorang.

Tanpa sadar dia berteriak.

"Jangan takut, Supek. Masih tertolong!"

"Akal apa lagi yang terpikir olehmu?"

Tanya Yan Cong-tian panik.

"Kita harus secepatnya membawa Fu-kouwnio ke tempat Hay-liong Lojin,"

Kata Wan Fei-yang.

"Hay-liong Lojin? Hay-liong Lojin dari Go-bi-pay?"

Tanya Yan Cong-tian. Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

"Orang yang tua ini sudah lama tidak cocok dengan It-im Taysu, Ciangbunjin Go-bi-pay yang sudah almarhum. Entah ke mana perginya dia setelah meninggalkan Go-bi-san. Kami tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi."

"Aku tahu di mana orang itu berada,"

Sahut Wan Fei-yang 1067 tanpa menunda waktu lagi.

Dia meloncat turun dan naik ke depan kereta.

Lalu memecut kuda seperti orang kesetanan.

Yan Cong-tian juga tidak banyak tanya lagi.

***** Meskipun jarum Hujan beracun ganas, tapi masih belum sanggup menyulitkan Hay-liong Lojin yang ilmu pengobatannya tinggi sekali itu.

Namun dia memerlukan waktu hampir sebulan untuk mendesak seluruh racun keluar sampai bersih.

Dalam jangka waktu ini, Wan Fei-yang selalu melayani di sampingnya.

Meskipun Fu Hiong-kun tidak mengatakan apa-apa, tapi dari sinar matanya terlihat jelas betapa dia terharu dan berterima kasih sekali kepada Wan Fei-yang.

Bila ada waktu senggang, atau apabila Fu Hiong-kun sudah tertidur nyenyak, Wan Fei-yang sering menemani Yan Cong-tian bercakap-cakap, seperti juga malam ini.

"Fei-yang, apabila mengingat perlakuan kami terhadapmu di masa lalu, Supek rasanya malu sekali,"

Kata Yan Cong-tian sambil menarik napas panjang. Wan Fei-yang tertawa getir.

"Supek jangan berkata demikian. Sekarang semuanya sudah jelas. Inilah yang terpenting."

"Betul. Tapi aku masih tidak mengerti. Mengapa ayahmu tidak mau mengatakan terus-terang kepadaku tentang dirimu? Seandainya dia berani menceritakan semuanya sejak semula, 1068 tentu tidak akan terjadi fitnahan terhadap dirimu."

Wan Fei-yang menarik napas panjang.

"Supek, maafkan kalau ada kata-kata Tecu yang menyinggung perasaanmu ...."

"Ada apa? Katakan saja ...."

"Kalau ditilik dari sifat Supek sebelumnya, belum tentu Supek bisa menerima kenyataan ini. Apalagi ayah sudah menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay. Dia terpaksa mengorbankan perasaannya sendiri demi kejayaan Bu-tong-pay. Tecu rasa semua ini memang sudah merupakan takdir dari Thian."

Yan Cong-tian tertawa lebar.

"Benar apa yang kau katakan, Fei-yang. Dulu aku pasti tidak bisa menerima kenyataan ini walaupun ayahmu ada keberanian untuk menceritakannya. Menurut adatku, aku pasti akan marah besar. Aih ... setelah melewati berbagai penderitaan dan bencana, aku baru menyadari bahwa pendirianku selama ini terlalu kukuh."

"Supek ...."

Kepala Wan Fei-yang tertunduk dalam-dalam. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya. Namun mata tua Yan Cong-tian mana dapat dikelabui.

"Apa lagi yang kau risaukan?"

"Wan-ji, dia ...."

Wajah Yan Cong-tian ikut muram seketika.

"Aku juga tidak tahu bagaimana nasibnya. Mungkin dia sudah ...."

"Tecu sudah berusaha menyelidiki ke Kian-wei-piaukiok, tapi 1069 perusahaan pengawalan itu sudah ditutup. Tidak ada seorang pun yang masih tersisa. Mudah-mudahan saja dia masih hidup. Menurut keterangan Fu-kouwnio, Thian-ti memang menyuruh Fu Giok-su membunuhnya. Namun dia tidak sampai hati. Sayangnya Fu-kouwnio tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan nasib Wan-ji."

"Huh! Manusia pengkhianat itu! Perbuatan apa juga bisa dilakukan olehnya. Mana ada kata-kata tidak sampai hati dalam kamus hidupnya!"

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Wan Fei-yang cepat-cepat membukanya. Hay-liong Lojin berdiri di depan pintu dengan wajah serius.

"Locianpwe ... belum tidur?"

Sapa Wan Fei-yang. Yan Cong-tian juga langsung menjura kepada orang tua itu.

"Hay-liong-heng, Siaute rasa kedatangan Hay-liong-heng pasti ada urusan penting, bukan?"

Hay-liong Lojin menganggukkan kepala kemudian berjalan masuk. Dia duduk di atas balai-balai.

"Mengenai penyakit Yan Toheng, Lohu sudah membongkar berbagai buku pengobatan. Hasilnya memang masih bisa tertolong ...."

"Benarkah? Kapan dimulai pengobatannya Locianpwe?"

Tanya Wan Fei-yang dengan wajah berseri-seri.

"Tunggu dulu. Ada sejenis obat yang bisa memulihkan tenaga 1070 dalam yang hilang serta menyambung kembali urat-urat yang putus. Namanya cang-pu, sejenis daun panjang yang akarnya berwarna merah. Hanya berkembang di musim panas. Jenis daun dan akar ini tidak sulit ditemukan. Namun yang kita butuhkan adalah cang-pu yang berakar tiga belas. Ini yang menjadi persoalan. Cang-pu biasanya hanya berakar sembilan. Sepuluh saja sudah sulit dicari, apalagi tiga belas. Jenis ini hanya terdapat di Fu-sang (Jepang) dalam sebuah lembah yang bernama Yi-ho-kok. Lembah itu penuh dengan racun. Lagi pula dijaga oleh suku Yi-ho-pai yang mengerti ilmu sihir."

"Tecu tidak peduli. Biar bagaimana pun Tecu harus pergi ke sana. Tidak ada salahnya berusaha bukan?"

Tadinya Yan Cong-tian masih melarang.

Begitu pula Hay-liong Lojin.

Tapi keputusan Wan Fei-yang tampaknya sudah tidak bisa diganggu-gugat.

Akhirnya mereka terpaksa mengabulkan juga permintaannya.

Dua bulan kemudian.

Pagi hari yang cerah.

Wan Fei-yang memohon diri kepada Yan Cong-tian dan Hay-liong Lojin untuk berangkat ke timur menuju negara Fu-sang.

Fu Hiong-kun mengantarkan sampai di depan pintu.

Berkali-kali dia mengingatkan Wan Fei-yang untuk berhati-hati.

Yan Cong-tian tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya memikirkan bagaimana membalas jasa Wan Fei-yang di masa depan.

Tentang riwayat hidup anak muda itu yang demikian pilu serta mengenaskan, dia merasa kasihan dan iba.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, dia ingin menyayangi Wan Fei-yang sepenuh hati.

Sedangkan tentang Ci-siong, dia hanya dapat menarik napas panjang.

Dia tahu 1071 penderitaan sutenya itu cukup berat.

Malah boleh dikatakan dia menyimpan semuanya rapat-rapat sampai ajalnya tiba.

Betapa pedihnya hati seorang laki-laki yang tidak bisa mengakui anaknya sendiri bahkan dalam seumur hidupnya belum pernah dipanggil ayah sekalipun.

Hay-liong Lojin malah mengantar Wan Fei-yang sampai di jalan keluar.

Rupanya dia masih menyimpan kata-kata yang ingin disampaikan kepada anak muda itu.

"Kalau kau bertemu lagi dengan Kuan Tiong-liu, tolong seret dia kemari. Seandainya kau patahkan kaki dan tangannya, aku tidak akan menyalahkan dirimu!"

Hay-liong Lojin mengatakannya dengan serius.

"Bocah kurang ajar itu dikejar oleh Hek-pai-siang-mo sampai kemari beberapa puluh hari yang lalu. Malah dia mengatakan kepada Hek-pai-siang-mo bahwa aku akan melamarkan budak perempuan bernama Yi Pei-sa itu. Akhirnya dia membuat aku bertarung dengan kedua iblis hitam-putih tersebut. Dia malah menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Sam Cun yang mencoba menghalangi di kat dengan tali ke sebatang pohon. Dia juga mencuri beberapa macam obat-obatanku yang susah didapatkan!"

Mendengar cerita orang tua itu, Wan Fei-yang hanya dapat tertawa pahit.

Dia tahu tujuan Kuan Tiong-liu sebenarnya rahasia ilmu pusaka Hek-pai-siang-mo.

Maka dia menggunakan segala macam akal bulus.

Namun tidak dinyana manusia itu malah berani mengecoh Hay-liong Lojin yang masih merupakan susioknya.

"Satu-satunya murid yang bisa diandalkan malah jenis orang yang licik. Tampaknya kejayaan Go-bi-pay benar-benar habis 1072 pada generasi itu,"

Kata Hay-liong Lojin sambil menatap langit dan menarik napas panjang berulang kali.

Matanya memandang kepergian Wan Fei-yang.

Kemudian dia membalikkan tubuh untuk kembali ke rumah.

Dari kejauhan tampak Sam Cun berlari-lari kecil mengiringi seorang murid Go-bi-pay.

Murid Go-bi-pay itu membawa kabar untuk Hay-liong Lojin.

Mestinya kabar itu kabar baik, tapi begitu mendengarnya Hay-liong Lojin malah berjingkrak marah.

"Tanpa izin dari Lohu, siapa yang berani memakai nama ciangbunjin mengumpulkan para murid Go-bi-pay?"

Orang tua itu memaki kalang kabut.

Dia memerintahkan kepada Sam Cun untuk membereskan perbekalan dan segera berangkat sekarang juga.

***** Hay-liong Lojin cepat-cepat menuju ke Pek-hua-lim, nama sebuah hutan yang pohonnya berbunga putih.

Itulah sebabnya tempat itu disebut Hutan Bunga Putih.

Para murid Go-bi-pay sudah berkumpul di tempat itu.

Yang memanggil mereka bukan orang lain, tetapi Kuan Tiong-liu!

Kuan Tiong-liu menggunakan kewibawaannya sebagai murid satu-satunya It-im Taysu.

Dia membujuk para murid Go-bi-pay yang berpencar di luaran untuk berkumpul di Pek-hua-lim ini.

Tujuannya adalah menggempur Bu-ti-bun serta membangkitkan kembali kejayaan Go-bi-pay.

Dia juga menekankan bahwa tujuan menggempur Bu-ti-bun ini, yang terutama adalah untuk membalas dendam bagi kematian It-im Taysu.

Oleh karena itu, rata-rata murid Go-bi-pay langsung menyetujui niatnya.

1073 Para murid Go-bi-pay yang mengira hati Kuan Tiong-liu begitu tulus dan setia segera memilihnya sebagai pengganti It-im Taysu yang sudah meninggal dunia menjabat sebagai ciangbunjin generasi baru.

Mereka baru saja menjatuhkan diri berlutut, ketika Hay-liong Lojin melayang turun di tengah-tengah sambil membentak dengan suara keras.

"Kuan Tiong-liu tidak pantas menjadi Ciangbunjin Go-bi-pay!"

Para hadirin tertegun seketika.

Berbondong-bondong mereka berdiri.

Kuan Tiong-liu masih tenang-tenang saja.

Tidak terlihat sedikit pun rasa gentar di wajahnya.

Dia malah maju ke depan menyambut Hay-liong Lojin.

"Kedatangan Susiok sungguh tepat. Dengan adanya Susiok yang memimpin upacara pengangkatan ini, semua akan berlangsung lancar dan meriah. Tidak ada lagi yang lebih pantas menjadi saksi dan juga merupakan satu-satunya angkatan tua yang masih hidup,"

Katanya sok serius. Hay-liong Lojin menuding Kuan Tiong-liu dengan mata mendelik.

"Nyalimu semakin hari semakin besar saja!"

Wajah Kuan Tiong-liu semakin serius.

"Sebelum menutup mata, Suhu memang tidak sempat menyampaikan pesan apa-apa. Tapi sebagai murid satu-satunya dari Ciangbunjin Go-bi-pay, Tecu merasa mempunyai hak untuk meneruskan jabatan ini. Rasanya memang pantas bukan?"

"Kau melarikan anak gadis Tibet. Mencuri belajar ilmu sesat 1074 Hek-pai-siang-mo. Kau sama sekali tidak pantas menjadi murid Go-bi-pay! Sekarang juga aku sebagai Tianglo Go-bi-pay memecat kau dari perguruan ini!"

Kata Hay-liong Lojin tegas. Para hadirin jadi kebingungan melihat perkembangan ini. Mereka saling pandang satu dengan lainnya. Kuan Tiong-liu malah tertawa terbahak-bahak.

"Waktu dulu, kau orang tua sendiri tidak bersedia mematuhi peraturan Go-bi-pay dan meninggalkan perguruan begitu saja. Sebetulnya kau sendiri sejak lama bukan lagi murid Go-bi-pay. Sekarang masih tidak malu menyebut diri sendiri sebagai Tianglo Go-bi-pay!"

Hay-liong Lojin marah sekali. Sekali lagi dia menuding Kuan Tiong-liu.

"Murid murtad. Mulutmu sungguh tidak sopan. Berani kau melawan angkatan tua. Hukuman apa yang harus kau terima?"

"Aku mengerti kau orang tua selama ini mengandung maksud tidak baik. Kau memang tidak berharap Go-bi-pay dapat bangkit kembali!"

Sahut Kuan Tiong-liu dengan suara datar.

"Kau berani sembarang mengoceh lagi, aku langsung membunuhmu!"

Teriak Hay-liong Lojin hampir pecah kepalanya.

"Tampaknya kau orang tua bukan hanya ingin membunuh aku. Kau memang ingin membunuh semua murid Go-bi-pay sampai tuntas. Diam-diam kau tentu senang It-im Taysu beserta saudara kita yang lainnya terbunuh habis-habisan. Dengan demikian, Go-bi-pay tidak mempunyai harapan untuk 1075 bangkit kembali, dan kau pun sama dengan sudah melampiaskan rasa dendammu sejak meninggalkan Go-bi-san!"

Kuan Tiong-liu paham sekali sifat orang tua itu. Setiap ucapan yang dikeluarkannya memang sengaja memancing kemarahan Hay-liong Lojin. Saking marahnya Hay-liong Lojin sampai tertawa terbahak-bahak.

"Bagus! Aku tidak menyangka It-im Suheng bisa mendidik seorang murid yang demikian setia dan menjunjung tinggi keadilan!"

Tingkah laku Kuan Tiong-liu masih ramah dan sopan seperti sebelumnya.

"Cianpwe terlalu memuji,"

Tapi sebutannya terhadap Hay-liong Lojin sudah berubah. Dia tidak memanggil Susiok lagi, melainkan Cianpwe.

"Bagus! Hari ini biar orang yang kau sebut Cianpwe ini membantu It-im Taysu membersihkan perguruannya!"

Pedangnya langsung dihunus. Terdengar.

"singg!"

Dan sekumpulan cahaya berkilauan.

"Maaf ...."

Dengan tenang Kuan Tiong-liu mencabut pedangnya.

Dua jari telunjuk dan tengah menekan gagang pedang.

Sebagai permulaan, dia langsung mengerahkan tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat.

Pedang Hay-liong Lojin diulurkan ke depan kemudian digetarkan.

Jurus yang dimainkannya sama dengan Kuan Tiong-liu.

Tiba-tiba kakinya bergerak dan meluncur ke depan.

Kuan Tiong-liu menyambut dari arah yang berlawanan.

"Trang!"

Pedang mereka berbenturan kemudian terlepas kembali.

Keadaan masih seimbang.

Mereka tidak berhenti 1076 tetapi terus melangsungkan pertarungan dengan seru.

Dalam sekejap sekitar tempat itu diselimuti oleh kilauan pedang yang menari-nari.

"Trang! Tring! Trang!"

Suara benturan pedang mereka bagaikan irama sumbang yang memekakkan telinga.

Tubuh mereka berkelebat cepat membentuk bayangan.

Tampaknya mereka bukan sedang bertarung tetapi mengadu kekuatan pedang masing-masing karena berkali-kali pedang mereka beradu kemudian terlepas lagi setelah itu berbenturan kembali.

Terus begitu berulang-ulang.

Kiam-hoat yang sama, gerakan pun tidak berbeda.

Pertama-tama melihat sepertinya sama-sama kuat alias seimbang.

Namun setelah serang-menyerang sebanyak tiga puluh enam kali, Kuan Tiong-liu mulai menguasai keadaan.

Hay-liong Lojin mulai kewalahan.

Kakinya terdesak mundur beberapa langkah.

Dia hanya sanggup mengikuti gerakan Kuan Tiong-liu saja.

Jurus yang dikerahkan oleh Kuan Tiong-liu memang tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat ajarannya.

Namun selain daya yang, dia sudah menambah kehebatan ilmu pedangnya dengan tenaga lembut im hasil curian dari Hek-pai-siang-mo.

Sekarang ilmu Lok-jit-kiam-hoatnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.

Itulah sebabnya dia berani melawan Hay-liong Lojin tanpa merasa gentar sedikit pun.

Sebelumnya dia sudah memperhitungkan kekuatannya sendiri sampai matang.

Kala ditilik dari sifatnya yang licik, sebelum yakin, mana mungkin dia berani mengumpulkan murid Go-bi-pay yang masih hidup dan mengumumkan dirinya sebagai ciangbunjin.

Dia tahu Hay-liong Lojin pasti akan marah sekali.

Tapi dengan mengandalkan kekuatannya sekarang, dia tidak memandang 1077 sebelah mata lagi kepada orang tua itu.

Dalam keadaan terdesak, api marah Hay-liong Lojin semakin berkobar.

Dari matanya tersorot sinar merah membara.

Dia meraung murka dan dengan nekat menerjang ke depan mengerahkan segenap tenaganya memainkan jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat.

Segurat cahaya pedang yang berkilauan menyinari wajah Kuan Tiong-liu.

Anak muda itu hanya menggeser kakinya dua langkah ke samping.

Serangan orang tua yang dahsyat itu pun luput dari sasaran.

Pedang Kuan Tiong-liu tidak berkilauan.

Bahkan setitik cahaya pun tidak tampak.

Tapi ketika sinar pedang Hay-liong Lojin hampir pudar secara keseluruhan, pedangnya baru memijarkan sinar yang menusuk mata.

Dia menggerakkan pedangnya menyerang tujuh kali berurut-turut.

Hay-liong Lojin meraung murka.

Tubuhnya yang sedang melayang turun tiba-tiba melemah.

Kening, tenggorokan, jantung, dada, dan bagian lain lagi sudah tertikam sebanyak tujuh kali.

Dari tujuh lubang lukanya terlihat darah mengalir dengan deras.

Pakaiannya penuh noda merah.

Tubuhnya terjatuh di atas tanah dengan keras.

Sepasang matanya masih terbelalak.

Tentu saja dia mati dengan penasaran.

Kuan Tiong-liu mengangkat pedangnya dan mulutnya mengambil gaya meniup, dia mengembuskan darah yang masih tersisa di pedangnya.

Penampilannya tenang sekali.

Dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung yang terselip di pinggang.

Seakan tidak ada sesuatu pun yang telah terjadi.

1078 Para anggota Go-bi-pay yang melihat kematian Hay-liong Lojin, tidak ada satu pun yang wajahnya tidak berubah.

Tapi juga tidak ada seorang pun yang berani meninggalkan tempat itu.

Kuan Tiong-liu mengedarkan pandangannya.

Dia tahu para murid Go-bi-pay sudah dibuat gentar oleh kehebatan ilmu pedangnya.

Wajahnya malah tidak menyunggingkan seulas senyum pun.

Dia menghadap ke arah timur dan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

"Hay-liong Lojin menghina perguruan. Hari ini akhirnya Tecu bisa juga membersihkan nama baik perguruan kita dengan membunuhnya. Harap Suhu damai di alam baka,"

Gumamnya lirih. Tanpa sadar para murid Go-bi-pay semuanya ikut menjatuhkan diri berlutut di atas tanah. Perlahan-lahan Kuan Tiong-liu membalikkan tubuhnya.

"Para murid Go-bi-pay, dengarkan baik-baik! Mulai hari ini, kita harus menjunjung tinggi keadilan dan mengutamakan pembalasan dendam. Basmi Bu-ti-bun dan bangkitkan kembali Go-bi-pay!"

Serunya lantang.

Tentu saja kata-kata ini bukan keluar dari hatinya yang tulus.

Dapat dibayangkan manusia sekeji dan selicik Kuan Tiong-liu, mana mungkin dia mementingkan pembalasan dendam bagi It-im Taysu dan sesama saudara seperguruannya.

Tujuannya yang utama adalah menonjolkan diri di dunia Kangouw dan mencari nama besar.

Dia belum melupakan Wan Fei-yang yang telah mengalahkannya beberapa kali berturut-turut.

Tapi dia sudah lupa budi pertolongan yang diberikan oleh anak muda itu.

1079 ***** Malam sudah larut.

Di bagian belakang gunung Bu-tong di mana terdapat sebuah hutan lebat, Fu Giok-su masih terlihat giat berlatih Coa-tiau-cap-sa-sut.

Malam itu ketika bertarung melawan Wan Fei-yang, dia merasakan bahwa setiap serangan yang dilakukannya berhasil dihindari atau disambut oleh Wan Fei-yang dengan mudah.

Hal ini semakin menguatkan keputusannya melatih Coa-tiau-cap-sa-sut lebih keras lagi.

Dari pagi sampai malam larut, kalau dia belum sampai letih sekali, dia tetap tidak mau berhenti.

Coa-tiau-cap-sa-sut mempunyai banyak perubahan.

Hal ini tidak mengherankan karena Tio Sam-hong menciptakannya dengan mengikuti pertarungan antara rajawali sakti dan ular.

Kecepatan kedua binatang ini hampir sama.

Perbedaannya yang satu lincah di darat sedangkan yang satunya lagi gesit di udara.

Tadinya Fu Giok-su berlatih di dalam ruangan rahasia tempat para ciangbunjin berlatih ilmu.

Tapi tempat itu kurang leluasa.

Dia tidak dapat mengembangkan jurus-jurusnya dengan baik.

Oleh karena itulah, dia memilih bagian belakang gunung ini untuk berlatih.

Para murid Bu-tong-pay jarang datang ke bagian belakang gunung ini.

Terlebih-lebih pada malam hari seperti sekarang.

Selama ini Fu Giok-su tidak pernah ada perasaan khawatir sama sekali.

Kecuali malam ini.

Baru berlatih sampai jurus kedua belas, dia sudah merasakan kehadiran seseorang yang mendekatinya dengan perlahan.

Dan ilmu ginkang orang itu tampaknya cukup tinggi.

Seandainya dia tidak kebetulan menginjak sebatang ranting kering serta menimbulkan sedikit 1080 suara, Fu Giok-su pasti masih belum mengetahui kehadirannya.

Fu Giok-su menahan kemarahannya.

Dia berlatih terus sampai ketiga belas jurus itu selesai dimainkan.

Kemudian tubuhnya mendadak melesat menerjang ke arah rimbunan pohon di mana orang itu bersembunyi.

Dalam waktu yang bersamaan, suara kibasan lengan baju memecahkan keheningan malam.

Sesosok bayangan berpakaian hitam meluncur dari balik pepohonan dan berkelebat secepat kilat ke depan.

Fu Giok-su terus mengejar.

Bayangan manusia berpakaian hitam itu lari secepat terbang.

Dia terus melesat kurang lebih setengah kemudian tahu-tahu dia menyelinap ke dalam gua di mana telaga dingin berada.

Dalam hati Fu Giok-su merasa curiga.

Dia mempertimbangkan sejenak, akhirnya mengejar ke dalam.

Hawa di dalam gua dingin sekali.

Keadaannya juga gelap gulita.

Sampai-sampai kelima jari tangan sendiri pun tidak terlihat.

Dengan berhati-hati Fu Giok-su mengendap-endap maju ke depan.

Kemudian telinganya menangkap desiran lengan baju.

"Siapa?"

Bentaknya dengan suara keras.

Tidak ada yang menyahut, tiba-tiba keadaan dalam gua menjadi terang benderang seketika.

Lima obor api menyala dalam waktu yang bersamaan.

Di belakang kelima obor tadi, ternyata duduk dengan berdampingan Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

1081 Fu Giok-su terkejut setengah mati.

"Yaya ...!"

Serunya tanpa sadar. Thian-ti tertawa datar.

"Giok-su, apakah kau merasa di luar dugaan melihat kemunculan kami?"

Fu Giok-su menenangkan hatinya. Dia mengangguk dua kali.

"Apakah telah terjadi sesuatu di dalam Siau-yau-kok?"

Kali ini Thian-ti yang menganggukkan kepalanya.

"Siau-yau-kok sudah diubrak-abrik oleh Wan Fei-yang. Kami tidak bisa menetap di sana lagi. Telaga dingin ini merupakan daerah terlarang bagi murid Bu-tong-pay. Dengan bersembunyi di tempat ini, aku yakin Wan Fei-yang pasti tidak akan menduganya."

Mata Fu Giok-su bersinar terang.

"Tidak salah. Seandainya bocah Wan Fei-yang itu benar-benar mencari sampai ke sini, Sun-ji pun tidak akan khawatir lagi!"

"Justru ini merupakan salah satu maksud kedatangan kami. Sekalian kami bersembunyi di sini. Rahasiamu sekarang sudah bocor. Cepat atau lambat dia pasti akan mencarimu. Dengan adanya kami di sini, setidaknya kau masih mempunyai bantuan yang dapat diandalkan. Tentu saja kami harap kedatangannya semakin lambat semakin baik!"

"Maksud Yaya ...."

Fu Giok-su tidak mengerti.

"Sebelum dia datang, kau harus mengerahkan para murid Bu-1082 tong untuk menggempur Bu-ti-bun. Pada saat itu aku yakin Wan Fei-yang pasti tidak akan berdiam diri. Kita biarkan sampai kedua belah pihak sama-sama terluka, barulah kita turun tangan membasmi Bu-ti-bun sekaligus Bu-tong-pay!"

Fu Giok-su langsung mengembangkan senyuman licik.

"Sun-ji merasa ide ini cemerlang sekali!"

Thian-ti mendongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

Suara tawanya bergema di gua tersebut dan menggidikkan hati siapa pun yang mendengarnya, tentu saja kecuali Fu Giok-su dan keempat bawahannya.

Fu Giok-su mengerutkan keningnya.

Seakan-akan dia teringat sesuatu yang tidak dimengertinya.

"Bagaimana Wan Fei-yang bisa menyerbu ke Siau-yau-kok? Padahal kita tidak memancingnya ke sana."

"Bocah itu benar-benar selalu menimbulkan kesulitan!"

Suara tawa Thian-ti sirap seketika.

"Siapa lagi kalau bukan gara-gara budak Hiong-kun!"

"Hiong-kun?"

Wajah Fu Giok-su menjadi kelam kembali.

"Jangan sebut nama budak itu lagi!"

Kemarahan Thian-ti mulai meluap. Dia berhenti sejenak untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak.

"Ohya .... Apakah kau sudah tahu bahwa Kuan Tiong-liu telah mengangkat dirinya menjadi Ciangbunjin Go-bi-pay? Dan dia sekarang dalam perjalanan membawa para muridnya menuju Bu-tong-san ini!"

Fu Giok-su mengerutkan alisnya sekali lagi. 1083

"Mungkinkah dia datang kemari untuk membuat perhitungan denganku atas kekalahannya di tangan Ci-siong Tojin tempo hari?"

"Mungkin juga dia ingin mengajak Bu-tong-pay bekerja sama menggempur Bu-ti-bun,"

Kata Thian-ti dengan mata setengah terpejam. Fu Giok-su langsung mengulaskan senyuman lebar.

"Seandainya benar demikian, tentunya bagus sekali. Dengan bergabungnya Go-bi-pay dan Bu-tong-pay, tidak takut Bu-ti-bun masih bisa berdiri lebih lama lagi."

Dia tertawa terbahak-bahak.

Kali ini suaranya lebih menyeramkan daripada suara tawa Thian-ti tadi.

***** Dugaan Thian-ti memang tidak salah.

Pada hari kedua menjelang matahari berada di atas kepala, surat undangan Kuan Tiong-liu sudah sampai.

Tentu saja Fu Giok-su menyambutnya sebagai Ciangbunjin Go-bi-pay.

Kuan Tiong-liu menyatakan minatnya mengajak Bu-tong-pay bekerja sama menggempur Bu-ti-bun.

Fu Giok-su menyambutnya dengan gembira.

Meskipun Kuan Tiong-liu adalah seorang pemuda yang cerdas, tapi dalam hal kelicikan, dia masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan Fu Giok-su.

Dalam dunia Kangouw, asal-usul Fu Giok-su masih merupakan misteri.

Sedangkan para murid Bu-tong-pay memercayai dia sepenuhnya tanpa pernah tebersit kecurigaan 1084 sedikit pun.

Apalagi partai lainnya.

Sikapnya tidak pernah meragukan.

Caranya berbicara ataupun menghadapi tamu jauh lebih berwibawa daripada Kuan Tiong-liu.

Pada dasarnya dia memang keturunan tokoh terkenal.

Nenek moyangnya pernah menggetarkan dunia persilatan sebagai tokoh paling misterius pada zamannya.

Baik didikan ataupun silsilah keluarga saja, Kuan Tiong-liu sudah bukan apa-apa dibandingkan dengannya.

"Bu-ti-bun adalah musuh seluruh Bu-lim. Asalkan Go-bi-pay dan Bu-tong-pay bergabung menyerangnya, partai lurus lainnya pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti turun tangan memberi bantuan untuk membasmi kejahatan Bu-ti-bun yang sudah sekian lama merajalela. Ajakan Kuan-ciangbunjin memang tepat. Kalau bukan kita yang memulai, partai lain tentu belum berani mengambil tindakan mengingat besar dan kuasanya Bu-ti-bun di dunia Kangouw saat ini."

"Tidak salah!"

Sahut Kuan Tiong-liu dengan nada berat.

"Tapi ular tidak mungkin tanpa kepala. Kita harus memilih seorang bengcu untuk memimpin penyerangan ini!"

Fu Giok-su merenung sejenak. Kemudian dia tertawa lebar.

"Kalau dihitung dari usia, bengcu seharusnya dijabat oleh Kuan-heng."

Diam-diam hati Kuan Tiong-liu senang sekali mendengar kata-kata Fu Giok-su. Tapi dia pura-pura menolaknya agar terlihat rendah diri dan tidak sok.

"Keputusan ini kurang adil. Menurut pandangan Siaute, lebih baik mengikuti peraturan Bu-lim. Memilih bengcu berdasarkan tingginya ilmu silat masing-masing." 1085 Kuan Tiong-liu berhasil mengalahkan Hay-liong Lojin dengan mengandalkan Lok-jit-kiam-hoatnya yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Tentu saja rasa percaya dirinya lebih besar lagi sekarang. Tentu saja Fu Giok-su juga tidak menolak. Tidak mudah mendapat seorang lawan seperti Kuan Tiong-liu. Kebetulan dia bisa menguji sampai di mana hasil latihan Coa-tiau-cap-sa-sut yang dilatihnya. Salah seorang murid Bu-tong segera turun ke bawah gunung untuk mengambil pedang Kuan Tiong-liu yang ditinggalkan di tempat itu. Fu Giok-su sendiri tidak menggunakan senjata yang biasa dipakainya. Dia sembarangan mengambil sebatang toya dari penyimpanan senjata. Kali ini dia sama sekali tidak berminat mengerahkan Bu-tong-liok-kiat dalam menghadapi lawannya. ***** Di luar pendopo angin bertiup dengan kencang. Batasnya memang hanya saling menutul saja. Tapi ketika kedua orang mulai bertarung dengan seru, tanpa terasa hati para murid Bu-tong menjadi tegang. Kuan Tiong-liu berniat menyelesaikan pertandingan itu dalam waktu secepatnya. Begitu berhadapan dengan Fu Giok-su, dia langsung memainkan tiga jurus terakhir dari Lok-jit-kiam-hoat. Serangannya gencar sekali. Pertama-tama Fu Giok-su menghindar serangan tersebut secara asal-asalan saja. Namun ketika jurus kedua mulai dimainkan oleh Kuan Tiong-liu, dia pun tidak ayal lagi. Coa-tiau-cap-sa-sut langsung dilancarkan. Tubuh Fu Giok-su meluncur bagai seekor rajawali sakti yang mengincar mangsanya. Kadang-kadang 1086 gerakannya berubah laksana seekor ular yang siap menggigit. Sekali waktu dia melayang di udara, sekejap kemudian dia seakan melata di atas tanah. Perubahan yang dilakukannya berturut-turut terlihat ruwet sekali. Bahkan orang yang ilmunya tidak seberapa tinggi langsung berkunang-kunang matanya mengikuti gerakan Fu Giok-su. Kuan Tiong-liu terkejut sekali. Tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat telah dikerahkan seluruhnya, tapi dia tetap tidak sanggup menahan Fu Giok-su apalagi menyentuh tubuhnya. Baru saja dia berniat mengerahkan kembali tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat, toya Fu Giok-su sudah meluncur mengancamnya. Kuan Tiong-liu tidak berani ayal. Cepat-cepat dia mencelat mundur beberapa langkah. Fu Giok-su malah bagaikan seekor ular yang menerjang terus. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Toya di tangannya juga ibarat seekor ular berbisa yang siap menggigit musuhnya. Enam puluh empat kali berturut-turut dia menyerang Kuan Tiong-liu. Pada serangan yang keenam puluh empat, Fu Giok-su melihat titik kelemahan Kuan Tiong-liu. Toyanya langsung menerjang masuk. Tampaknya toya itu akan menghantam hancur pangkal lengan Kuan Tiong-liu. Tapi pada detik yang menegangkan itu, tiba-tiba Fu Giok-su menarik kembali senjatanya kemudian gerakannya pun terhenti. Wajah Kuan Tiong-liu berubah hebat. Tapi dia berusaha menahan kekesalannya. Pedangnya sendiri ditarik kembali.

"Ilmu simpanan Bu-tong-pay ternyata merupakan pusaka yang tidak tertandingi. Aku Kuan Tiong-liu mengaku kalah. Kedudukan bengcu memang tepat dijabat oleh Fu-heng!"

Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

"Meskipun Siaute 1087 menang setengah jurus, tapi bagaimana pun pengalaman dalam dunia Kangouw masih dangkal. Menurut pendapat Siaute, lebih baik urungkan saja niat memilih bengcu. Urusan besar maupun kecil, kita rundingkan bersama dan mencari keputusan yang adil!"

"Ini ...."

Kuan Tiong-liu memerhatikan Fu Giok-su dengan tajam.

Tapi dia tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.

Ucapan yang dikeluarkan oleh Fu Giok-su demikian tulus.

Hatinya tergerak.

Dia sudah mempunyai perhitungan yang matang.

Akhirnya dia menganggukkan kepala tanda setuju dengan usul Fu Giok-su tadi.

Fu Giok-su langsung-mengajak Kuan Tiong-liu duduk di ruangan dalam.

Sementara itu, dia juga memerintahkan kepada salah seorang anak buahnya untuk mengantarkan surat tantangan kepada Tok-ku Bu-ti.

Dalam surat itu dinyatakan bahwa dia mengajak Tok-ku Bu-ti bertemu di Kuan-jit-hong, Giok-hong-teng, untuk bertanding secara adil.

Batas waktu setengah tahun yang dijanjikan juga sudah hampir sampai.

"Ketika aku bertarung melawan Tok-ku Bu-ti di Giok-hong-teng. Kuan-heng segera mengumpulkan para murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay dan mengadakan serangan ke Bu-ti-bun. Basmi perkumpulan itu sampai bersih,"

Fu Giok-su mengemukakan siasat yang sudah dipikirkannya matang-matang.

Tentu saja Kuan Tiong-liu setuju.

Dengan ilmu silat yang dimiliki oleh Fu Giok-su, seandainya dia dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti tapi dia sendiri pasti tidak terhindar dari luka yang cukup parah.

Pada saat itu, dia baru turun tangan menghadapi 1088 Fu Giok-su dan kalau perlu merampas kedudukannya sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pay.

Sudah pasti dia tidak mengemukakan hatinya kepada siapa pun.

Bahkan wajahnya pun tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Sampai dia memohon diri kepada Fu Giok-su dan turun ke bawah gunung, dia baru mengeluarkan suara tawa dingin dua kali.

Tapi hanya dua kali suara tawa dingin itu saja.

Fu Giok-su sendiri juga tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

***** Malam hari, kentungan ketiga baru saja terdengar.

Di dalam telaga dingin, Fu Giok-su mengemukakan siasat yang akan dijalankannya di hadapan Thian-ti.

"Dalam pertarungan hari ini, meskipun aku menempuh bahaya dengan memenangkan Kuan Tiong-liu secara nekat, tapi dalam pandangan para murid Bu-tong-pay, kedudukan sekarang bagaikan pohon besar dan kukuh. Di samping itu, aku juga tidak menghilangkan muka Kuan Tiong-liu di depan umum. Tentu saja diam-diam orang itu bersyukur dan para murid Bu-tong menganggap Sun-ji berjiwa besar. Kuan Tiong-liu adalah manusia yang angkuh dan tinggi hati. Ambisinya juga besar sekali. Aku tahu apa yang terkandung di hatinya. Dia tentu mengira dalam pertarungan melawan Tok-ku Bu-ti, setidaknya aku akan terluka parah. Dia sendiri pasti akan mengerahkan segenap tenaga untuk membasmi Bu-ti-bun. Pada saat itu, kita baru meringkusnya juga belum terlambat."

Thian-ti yang melihat cucunya demikian cerdas dan banyak akal, tentu saja hatinya girang tak terkatakan.

1089 ***** Pada malam yang sama, Tok-ku Bu-ti telah membuat sebuah keputusan.

Dia akan menikahkan Tok-ku Hong dengan Kongsun Hong.

Sudah pasti Kongsun Hong menerima keputusan itu dengan gembira.

Sedangkan Tok-ku Hong terkejut sekali.

Dia langsung mengunci dirinya dalam kamar dan tidak menemui siapa pun.

Berita dengan cepat tersebar ke seluruh kantor maupun cabang Bu-ti-bun.

Bahkan dayang Sen Man-cing yang bernama Guat Ngo juga sudah mendengar berita ini.

Setelah mendapat laporan dari Guat Ngo, Sen Man-cing tetap tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Dia duduk termenung kurang lebih setengah kentungan.

Akhirnya dia memerintahkan Guat Ngo untuk mengundang Tok-ku Bu-ti datang ke tempat tinggalnya.

Tok-ku Bu-ti sendiri juga mempertimbangkan sekian lama, baru melangkahkan kakinya menuju Liong-hong-kek.

***** Angin malam berembus dari tirai jendela.

Sen Man-cing masih duduk di tempatnya semula.

Di hadapannya ada sebuah lentera yang melambai-lambai tertiup angin.

Ketika telinganya menangkap suara langkah kaki manusia, baru dia menolehkan kepalanya.

Dia melihat Tok-ku Bu-ti melangkah ke dalam kamar, cepat-cepat dia memalingkan kepalanya.

Melihat keadaan itu, Tok-ku Bu-ti memperdengarkan suara tertawa dingin satu kali.

Dia 1090 membalikkan tubuhnya berjalan ke arah pintu.

Di situ dia menghentikan langkah kakinya.

"Apakah aku salah masuk?"

Tanyanya datar.

"Kau tidak salah masuk. Tetapi apa yang kau lakukan baru dapat dikatakan kesalahan besar!"

Nada Sen Man-cing bahkan lebih dingin lagi.

"Kesalahan besar?"

Tok-ku Bu-ti tentu tahu apa yang dimaksudkan oleh Sen Man-cing, tetapi dia pura-pura tidak tahu.

"Hal apa yang kau maksudkan?"

"Urusan yang satu ini!"

"Aku rasa yang kau maksudkan mungkin pernikahan Hong-ji."

Sen Man-cing tidak menyangkal.

"Akhirnya kau harus memohon kepadaku juga,"

Kata Tok-ku Bu-ti tertawa bangga.

"Aku hanya mengingatkan,"

Sahut Sen Man-cing sepatah demi sepatah.

"Hong-ji sama sekali tidak ada perasaan apa-apa terhadap Kongsun Hong."

"Perasaan bisa dibina perlahan-lahan."

"Apakah manusia seperti engkau mengerti apa yang dinamakan perasaan?"

"Aku hanya tahu bahwa aku mempunyai hak mengurus pernikahan Hong-ji!" 1091

"Tapi kau harus berpikir demi Hong-ji. Pernikahan bukan permainan. Ini masalah besar yang menyangkut seumur hidup Hong-ji!"

Nada Suara Sen Man-cing begitu pilu.

"Kau memaksanya menikahi seorang laki-laki yang tidak dicintainya. Bukankah sama saja kau ingin membuat dia menderita sepanjang hidup ini?"

"Urusan apa pun hanya aku yang berhak menentukan. Tidak ada hubungan denganmu!"

"Hong-ji adalah anak kandungku. Bagaimana kau bisa mengatakan tidak ada hubungannya?"

"Anak kandungmu!"

Wajah Tok-ku Bu-ti berubah menghijau.

"Lalu, mengapa kau tidak mengatakan terus terang apa yang telah kau lakukan tempo dulu?"

Dengan hati pedih Sen Man-cing menundukkan kepalanya.

Tok-ku Bu-ti juga tidak banyak bicara lagi.

Dia membalikkan tubuhnya berjalan keluar.

Dibantingnya pintu kamar keras-keras.

Sen Man-cing mendongakkan kepalanya.

Mulutnya membuka, tapi akhirnya dia tidak jadi memanggil.

Kepalanya tertunduk semakin rendah.

Berulang kali dia menarik napas panjang.

Entah berapa lama telah berlalu, Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong dari luar.

Sen Man-cing menghela napas sekali lagi.

"Apakah kau sudah mempertimbangkan kembali?"

Tanyanya dengan kepala tetap tertunduk.

"Ibu, apa yang harus dipertimbangkannya kembali?"

Yang 1092 masuk rupanya Tok-ku Hong. Sen Man-cing tertegun. Dia mendongakkan kepalanya perlahan-lahan.

"Hong-ji, sudah larut malam. Mengapa kau masih belum tidur juga?"

"Bukankah ibu juga sama saja?"

"Dalam keadaan begini, mana mungkin bisa tidur nyenyak?"

Sen Man-cing menarik napas sekali lagi. Tok-ku Hong terdiam.

"Ibu sudah tahu semuanya,"

Kata Sen Man-cing dengan nada pilu. Keduanya merenung sekian lama.

"Kau tidak ingin menikah dengan Kongsun Hong bukan?"

Kembali Sen Man-cing membuka suara. Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya. Sen Man-cing tertawa sumbang.

"Ada bagusnya keputusanmu itu. Daripada menderita seumur hidup,"

Kata Sen Man-cing selanjutnya.

"Tapi Tia berkeras ...."

"Ayahmu memang picik pikirannya. Hong-ji, bagaimana dengan keputusanmu sendiri?"

Mata Tok-ku Hong bersinar terang.

"Aku akan meninggalkan tempat ini!" 1093

"Apa yang kau rasa baik, lakukanlah!"

Sen Man-cing membelai rambut Tok-ku Hong.

"Tapi dunia Kangouw penuh dengan kejahatan dan kelicikan. Kau harus berhati-hati!"

"Kelak ibu akan lebih kesepian lagi!"

"Kau tidak perlu khawatir. Ibu sudah terbiasa."

"Ibu, lebih baik kita pergi bersama-sama saja!"

Sen Man-cing menggelengkan kepalanya. Tok-ku Hong merasa heran.

"Ibu, aku benar-benar tidak mengerti ...."

"Kelak tentu kau akan mengerti. Kalau aku pergi sekarang, kesalahan terletak pada ibumu ini. Sudahlah, lebih baik kau pergi sendiri saja!"

"Kalau begitu, sekarang juga Hong-ji mohon diri kepada Ibu. Harap Ibu menjaga diri baik-baik,"

Tok-ku Hong menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah.

Dia menyembah sebanyak tiga kali.

Ketika dia berdiri air matanya sudah mengembang.

Sen Man-cing menahan kepedihan hatinya dalam-dalam.

Sampai Tok-ku Hong meninggalkan kamar itu, barulah air matanya berderai dengan deras.

***** Siang terik pada hari kedua.

Tok-ku Bu-ti baru tahu bahwa Tok-ku Hong sudah menghilang.

Dia marah sekali.

Dia segera kembali ke ruangan pendopo dan menurunkan Panji Telapak Darah.

Dia memerintahkan kepada seluruh anggotanya untuk membunuh Tok-ku Hong apabila berhasil menemukan gadis 1094 itu.

Tidak ada orang yang berani melarang.

Demikian pula Kongsun Hong.

Kali ini marah Tok-ku Bu-ti tampaknya benar-benar meledak.

***** Suasana sunyi mencekam.

Pagi sudah tiba.

Sinar matahari yang timbul menerobos lewat jendela.

Tok-ku Hong sudah bangun.

Dipandangnya sekitar rumah tua di mana dia berada.

Tanpa sadar dia menarik napas panjang.

Sekarang merupakan hari kedua dia meninggalkan Bu-ti-bun.

Rasa kesepian dan kesendirian semakin lama semakin menggelayuti hatinya.

Keadaan saat ini tidak sama dengan saat pertama kali dia pergi dari Bu-ti-bun karena marah.

Sekarang dia tidak punya rumah lagi untuk pulang.

Ke mana tujuannya, dia sama sekali tidak tahu.

Asal di depannya masih ada jalan yang dapat ditempuh, dia melangkah terus.

Dia sama sekali tidak menyangka bahwa jejaknya sudah berada di bawah pengawasan para penyelidik Bu-ti-bun dan laporan sudah sampai di kantor pusat.

Suara helaan napas masih terdengar, seseorang sudah muncul di depan pintu.

Orang itu memandangnya dengan mulut cengar-cengir.

"Tampaknya kedatanganku saat ini memang tepat. Tidak sampai mengejutkan mimpi Toasiocia yang indah!"

"Kiu-bwe-hu!"

Seru Tok-ku Hong tanpa sadar setelah melihat 1095 jelas siapa orang yang masuk itu.

"Untuk apa kau datang kemari?"

Jilid 24 Tangan Kiu-bwe-hu bergerak. Dia telah menggenggam sebuah Panji Telapak Darah.

"Perintah dari Pangcu, harap Siocia ikut aku pulang sekarang juga!"

"Kalau aku tidak bersedia?"

"Pangcu juga menurunkan perintah, kalau membangkang boleh dibunuh!"

Tok-ku Hong tertawa dingin. Goloknya langsung dicabut.

"Kalau kau berani menghalangi aku, golokku ini juga tidak segan-segan membunuhmu!"

"Tampaknya aku tidak mempunyai pilihan lain. Maafkan kelancanganku!"

Sekali lagi tangan Kiu-bwe-hu bergetar.

"Tar!"

Sebuah pecut panjang disentakkan ke depan.

Golok Tok-ku Hong segera berputar.

Dua gulung sinar berkilauan menyelimuti tubuh Kiu-bwe-hu.

Pecut panjang di tangan Kiu-bwe-hu tidak dapat dilontarkan dengan leluasa dalam ruangan yang sempit itu.

Terdengar suara "crepp!"

Ujung cambuk tertebas putus oleh golok Tok-ku Hong.

Pada saat yang bersamaan, dari bagian ujung pecut yang bekas ditebas oleh Tok-ku Hong tadi keluar seembusan asap merah.

Tok-ku Hong sedang menerjang ke arahnya.

Otomatis 1096 asap merah itu pun terhirup olehnya.

Gadis itu terkejut sekali.

Dia cepat-cepat mundur dan menutup pernapasannya.

Namun bagaimanapun dia sudah sempat mengisap asap merah itu.

Kepalanya pening seketika.

Tubuhnya terkulai ke tanah.

"Ilmu silat Toasiocia tidak diragukan lagi memang cukup tinggi. Tapi pengalaman dunia Kangouw sayangnya masih terlalu cetek!"

Kiu-bwe-hu menyimpan kembali pecut panjangnya. Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Manusia rendah!"

Tok-ku Hong menekan goloknya di atas tanah dan berusaha bangkit.

Dia memaki-maki Kiu-bwe-hu secara serabutan.

Rasa pening di kepalanya semakin lama semakin berat.

Kiu-bwe-hu menghampiri gadis itu perlahan-lahan.

Tok-ku Hong mendelik kepadanya.

"Bunuh saja aku!"

Teriaknya dengan penuh kebencian.

"Membunuhmu? Aku tidak sebodoh itu. Pendirian Pangcu tidak dapat dipastikan. Apabila dia menyesal, aku malah kena getahnya. Bisa-bisa aku mati tanpa kuburan,"

Kiu-bwe-hu tertawa dingin.

"Lebih baik aku bawa kau pulang saja. Ada Kongsun Hong yang membelamu. Lagi pula kau toh putri Pangcu. Pasti tidak akan mati."

Hati Tok-ku Hong panik sekali. Otaknya segera bekerja mencari jalan keluar.

"Lebih baik kau lepaskan saja aku. Kalau kau bawa aku kembali ke Bu-ti-bun, aku akan melaporkan kepada Pangcu bahwa kau telah berbuat tidak senonoh kepadaku. Sampai saat itu aku ingin tahu ada berapa lembar nyawa yang kau miliki!" 1097 Mendengar kata-kata itu, Kiu-bwe-hu langsung tertegun. Tok-ku Hong tertawa dingin.

"Pertimbangkanlah baik-baik!"

Bola mata Kiu-bwe-hu mengerling ke sekitar tempat itu.

"Seandainya aku melepaskan engkau begitu saja, lalu diketahui oleh Pangcu, sama saja akibatnya. Belum tentu jiwaku bisa dipertahankan. Rasanya lebih baik aku pulang dan melaporkan bahwa kau membangkang dan aku telah kesalahan tangan membunuhmu."

"Kau berani membunuh aku?"

"Di sini hanya ada kita berdua. Dan orang mati sudah pasti tidak bisa berbicara!"

Kiu-bwe-hu tertawa seram. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan meraba pipi Tok-ku Hong sekilas.

"Dengan kata lain, bagaimanapun aku memperlakukanmu sebelum kau mati, Bu-ti belum tentu bisa tahu."

Bulu kuduk Tok-ku Hong merinding seketika, Kiu-bwe-hu membungkukkan tubuhnya dan tertawa cengar-cengir.

"Bisa bermesraan dengan nona secantik dirimu, mati pun aku rela!"

Dia mengulurkan tangan melepas kancing pakaian Tok-ku Hong satu per satu.

Gadis itu tidak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan.

Tanpa sadar air matanya mengalir turun.

Kiu-bwe-hu semakin senang.

Dia tertawa terbahak-bahak.

Tepat pada saat itu juga, suara angin terdengar mengembus.

Segurat cahaya dingin menghantam belakang punggung Kiu-1098 bwe-hu.

Orang itu menjerit ngeri.

Tubuhnya mencelat namun terjatuh lagi di depan Tok-ku Hong.

Belakang punggungnya telah tertancap sebuah Jit-goat-lun.

Tok-ku Hong segera mengenali bahwa senjata itu adalah milik Kongsun Hong, dia langsung mendongakkan wajahnya.

Kongsun Hong berdiri tegak di depan pintu.

Kemudian laki-laki itu melangkah ke dalam.

Dibalikkannya mayat Kiu-bwe-hu dengan ujung kaki.

Setelah itu dia menggeledah seluruh tubuh orang itu.

Dari saku Kiu-bwe-hu dia mengambil sebuah botol giok kecil.

Dibukanya tutup botol tersebut lalu diendusnya di depan hidung.

Kakinya menendang mayat Kiu-bwe-hu sampai terpental ke dinding yang ada di halaman.

Lalu menghampiri Tok-ku Hong.

Dia membungkuk di depan gadis itu dan meraba pipinya.

"Apa yang kau inginkan?"

Bentak Tok-ku Hong tanpa sadar.

Kongsun Hong hanya memencet kedua belah pipinya agar mulutnya terbuka.

Setelah itu dia memasukkan sebutir pil yang diambil dari botol giok kecil tadi dan memasukkannya ke mulut Tok-ku Hong.

Serangkum hawa segar langsung terasa di tenggorokan.

Perasaan Tok-ku Hong juga jauh lebih nyaman.

Saat itu dia baru menyadari bahwa Kongsun Hong memberinya obat penawar asap merah tadi.

Dia merasa malu karena telah menduga yang bukan-bukan.

Kongsun Hong melempar botol giok di tangannya ke atas tanah.

Dia membalikkan tubuh dan melangkah pergi.

Tetapi Tok-ku Hong memanggilnya dengan gugup.

"Apakah kau sudah mau pergi?" 1099

"Suhu kali ini benar-benar marah. Lain kali kau harus lebih berhati-hati!"

Nada suara Kongsun Hong berat sekali, tapi dia tidak menolehkan kepalanya.

"Sekarang kau toh sudah menemukan aku. Kau bisa menyeret aku pulang!"

"Kau kira aku sampai hati membawamu pulang lalu melihat kau mati di tangan Suhu!"

Kongsun Hong mendorong pintu, kepalanya tetap tidak menoleh.

Tubuhnya melesat lalu menerjang keluar.

***** Dengan tertegun Tok-ku Hong memandang kepergian Kongsun Hong.

Dia tidak dapat melukiskan bagaimana perasaannya saat itu.

Setelah meninggalkan rumah tua itu, Tok-ku Hong meneruskan langkahnya tanpa tujuan.

Hatinya semakin tertekan.

Dia tidak meragukan apa yang dikatakan oleh Kongsun Hong, dan dia juga mulai menyadari betapa dalam cinta kasih laki-laki itu kepadanya.

***** Orang yang berlalu-lalang di jalan raya tidak banyak.

Tapi setiap kali ada yang berpapasan dengannya, mereka pasti melihat Tok-ku Hong dengan tatapan aneh.

Namun dia tidak peduli.

Orang-orang itu juga tak acuh.

Hanya dua orang yang merupakan kekecualian.

Kedua orang itu mendatangi dari arah yang berlawanan.

Mereka sudah 1100 melewati Tok-ku Hong lalu mendadak menghentikan langkah kakinya.

Mereka saling pandang sekilas.

Kemudian kaki mengentak, tubuh melesat ke udara dan melayang turun di hadapan Tok-ku Hong.

Gadis itu terkejut.

Dia memerhatikan kedua orang di depannya dengan saksama.

"Hek-pai-siang-mo!"

Serunya tanpa sadar.

"Tok-ku-siocia, sudah lama tidak bertemu,"

Kata Pek-mo-cian sambil tertawa lebar. Tangan Tok-ku Hong perlahan-lahan meraba gagang goloknya. Belum lagi dia mencabut senjatanya itu, Hek-mo-cian sudah menukas.

"Apakah Tok-ku-siocia yakin dapat menandingi kami?"

Baru saja ucapannya selesai, tangan Hek-mo-cian sudah bergerak secepat kilat dan berhenti di atas bahu Tok-ku Hong.

Gadis itu merasa sepasang pundaknya kesemutan.

Tanpa sadar kelima jarinya merenggang dari gagang pedang.

Hek-pai-siang-mo mengambil sepasang golok Tok-ku Hong dan memutarnya beberapa kali.

Mereka tertawa terkekeh-kekeh.

"Maafkan kelancangan kami."

"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Hek-pai-siang-mo yang merupakan jago kelas satu di Tibet adalah dua orang manusia yang rendah,"

Bentak Tok-ku Hong marah. Hek-mo-cian tersenyum simpul.

"Kami tidak mempunyai maksud jahat. Kami hanya ingin membawa Tok-ku-siocia untuk ditukarkan dengan semacam 1101 benda."

"Benda apa?"

Tanya Tok-ku Hong kebingungan. Sekali lagi Hek-mo-cian tertawa lebar.

"Soat-lian dari Ping-san!"

"Kami sudah menyelidiki sampai jelas. Tian-liong-siang-jin merebut soat-lian yang akhirnya jatuh ke tangan Tok-ku Bu-ti,"

Tukas Pek-mo-cian. Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya.

"Kalian salah besar!"

Hek-mo-cian ikut-ikutan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Soat-lian dari Ping-san itu mempunyai khasiat besar. Sedikit saja sudah cukup untuk menambah tenaga dalam atau memperpanjang umur. Kami juga tidak serakah. Hanya ingin meminta separuhnya saja. Tok-ku Bu-ti sendiri toh tidak perlu begitu banyak. Kami membawa putri kesayangannya dan menukar sedikit soat-lian, rasanya tidak keterlaluan."

"Tujuan kami melewati perbatasan kali ini adalah untuk merebut soat-lian. Kalau belum berhasil, kami tidak akan kembali begitu saja!"

Tukas Pek-mo-cian kembali.

Mendengar ucapan kedua orang itu, Tok-ku Hong sadar percuma bicara banyak.

Mereka bukan jenis manusia yang mudah diberi pengertian.

Dengan mengandalkan ilmu silatnya, sudah pasti dia bukan tandingan Hek-pai-siang-mo.

Akhirnya dia hanya dapat menarik napas panjang.

1102 Mata Hek-mo-cian beralih ke arah golok di tangannya.

"Sepasang golok ini biar kami simpan sementara, bagaimana menurut pendapatmu?"

Tok-ku Hong tertawa.

"Andai kata aku bilang tidak boleh, apa kalian akan mengembalikannya kepadaku?"

Sindir gadis itu.

"Kami tetap akan menyimpannya,"

Hek-pai-siang-mo tertawa terbahak-bahak.

***** Angin bertiup kencang.

Tanah kuning menimbulkan debu yang beterbangan.

Setelah melewati daerah bertanah kuning itu, dari kejauhan sudah tampak pintu gerbang Bu-ti-bun yang megah.

Hek-pai-siang-mo membawa Tok-ku Hong berjalan di atas tanah kuning ini.

Tiba-tiba mereka menghentikan langkah kakinya.

Pek-mo-cian memandang Hek-mo-cian sekilas.

"Anggota Bu-ti-bun banyak sekali. Kita memang tidak takut jumlahnya yang banyak, tapi sebaiknya kita menjaga segala kemungkinan. Aku rasa lebih baik kita tinggalkan saja dia di tempat ini."

Hek-mo-cian menganggukkan kepalanya tanpa menyahut.

Tiba-tiba tangannya terulur dan menutuk jalan darah Tok-ku Hong.

Gadis itu terkulai di atas tanah.

Hek-mo-cian menyeret Tok-ku Hong dan menyembunyikan di balik semak-semak.

Pek-mo-cian menggerakkan golok di tangannya.

"Dengan membawa sepasang golok ini saja, sudah cukup membuktikan 1103 bahwa putri Tok-ku Bu-ti ada di tangan kita!"

Katanya dengan wajah berseri-seri.

***** Di bawah cahaya matahari, sepasang golok itu memancarkan cahaya yang dingin.

Tok-ku Bu-ti menerima pedang yang disodorkan ke hadapannya.

Matanya memandang sepasang golok itu lekat-lekat.

Sinar matanya lebih tajam dan lebih dingin dari cahaya yang dipancarkan golok tersebut.

"Ini memang senjata yang biasa digunakan Hong-ji. Aku sering mengajarkan bahwa golok ada, orangnya juga ada. Tampaknya Hong-ji benar-benar sudah di bawah cengkeraman kalian berdua,"

Kata Tok-ku Bu-ti sambil tersenyum lebar.

"Asalkan Buncu memberikan separuh dari Ping-san soat-lian kepada kami, putri kesayangan Buncu ini pasti akan kembali dengan selamat!"

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

"Baik!"

Bawa Tian-liong-siang-jin kemari!"

Dua orang anggota Bu-ti-bun segera mengundurkan diri.

Kongsun Hong juga keluar dari ruangan tersebut.

Sejak tadi dia memerhatikan Hek-pai-siang-mo lekat-lekat.

Kemudian sinar matanya terpusat pada tanah kuning di alas kaki kedua iblis hitam putih itu.

"Hek-pai-siang-mo tidak mungkin meninggalkan tawanannya terlalu jauh. Sedangkan di daerah sekitar sini hanya ada satu tempat yang tanahnya kuning." 1104 Kongsun Hong mengambil keputusan untuk mencoba-coba keberuntungannya. ***** "Soat-lian sudah dimakan oleh Wan Fei-yang,"

Jawaban Tian-liong-siang-jin mengejutkan Hek-pai-siang-mo. Tapi mereka tidak begitu heran.

"Kalian berdua sampai dikalahkan oleh Wan Fei-yang, apa sebabnya, sekarang kalian tentu sudah mengerti,"

Tukas Tok-ku Bu-ti sambil tersenyum lebar.

Hek-pai-siang-mo saling lirik sekilas.

Keduanya menarik napas panjang.

Seharusnya mereka sudah dapat menduga mengapa Wan Fei-yang yang usianya masih begitu muda dapat mengalahkan mereka berdua dalam sekejap mata.

"Kami dua saudara sudah salah paham terhadap Buncu. Untuk kesalahan ini, kami harap Buncu dapat memakluminya,"

Kata Hek-mo-cian.

"Hong-kouwnio sebentar lagi akan kembali dengan selamat. Kami dua saudara di sini juga memohon diri kepada Buncu,"

Tukas Pek cian.

"Tunggu dulu!"

Wajah Tok-ku Bu-ti serius.

"Datang sesuka hati, pergi seenaknya. Kalian berdua tampaknya memandang sebelah mata terhadap Bu-ti-bun!"

"Sama sekali tidak ada maksud demikian,"

Sahut Hek-mo-cian.

"Apa yang Buncu inginkan dari kami berdua?" 1105

"Aku hanya ingin bertaruh dengan kalian berdua,"

Kata Tok-ku Bu-ti tenang.

"Bertaruh? Bertaruh apa?"

"Bertaruh pertarungan silat. Lihat dalam seratus jurus apakah aku sanggup mengalahkan kalian berdua?"

Wajah Hek-pai-siang-mo berubah hebat.

"Selama ini aku sangat mengagumi ilmu silat kalian berdua. Apalagi sekarang Bu-ti-bun sedang membutuhkan tenaga. Seandainya kalian berdua bersedia membantu kejayaan Bu-ti ...."

"Maksud Buncu, apabila dalam seratus jurus kami berdua dikalahkan oleh Buncu, maka kami harus masuk menjadi anggota Bu-ti-bun dan mendengar perintah Buncu?"

"Kedudukan sebagai Wakil Buncu, rasanya tidak terlalu merendahkan derajat kalian berdua bukan?"

Hek-mo-cian tertawa datar.

"Kami berdua sudah terbiasa dengan kehidupan liar. Hidup bebas tanpa ada yang mengatur. Kalau dapat demikian seterusnya sampai tua, merupakan suatu hal yang paling bagus."

"Kalau begitu, kita harus lihat sampai di mana kemampuan kalian berdua!"

"Kami dua bersaudara sudah berada di tempat Bu-ti-bun, rasanya bagaimanapun kami harus bertaruh bukan?"

Hek-mo-1106 cian mengangkat matanya menatap langit-langit.

"Meskipun sinkang Buncu sangat luar biasa, tapi dalam seratus jurus, kami dua saudara mungkin masih bisa menghadapinya."

Tok-ku Bu-ti berdiri dari kursinya.

Tongkat kepala naganya sudah siap di tangan.

Dengan mengentakkan tongkat itu di tanah, dia berjalan turun dari undakan atas.

Hek-pai-siang-mo menenangkan hati untuk siap siaga.

Pertarungan seru sudah di depan mata.

Sebentar lagi akan dimulai.

Tok-ku Bu-ti dengan tongkat kepala naga menghadapi dua lawan sekaligus.

Langkahnya penuh percaya diri.

Dia bertekad untuk mengalahkan Hek-pai-suang-mo.

Di lembah sempit tempo hari, Hek-pai-siang-mo sudah dikalahkan satu kali oleh Tok-ku Bu-ti.

Sekarang mereka berada di kandang lawan, dalam kedudukan mereka sudah lemah tiga bagian.

Dalam pertarungan kali ini, sebetulnya Hek-pai-siang-mo sudah setengah kalah.

Masalahnya, apakah mereka sanggup menerima seratus jurus dari Tok-ku Bu-ti?

***** Begitu meninggalkan kantor pusat, Kongsun Hong langsung menghambur ke daerah bertanah kuning.

Setelah mencari dengan saksama, akhirnya dia berhasil menemukan Tok-ku Hong di balik semak-semak.

Dia melepaskan tutukan yang terdapat pada tubuh Tok-ku Hong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia membalikkan tubuh langsung meninggalkan tempat itu.

Gadis itu sendiri tidak tahu harus berkata apa.

Dengan berat dia menyeret kakinya pergi dari sana.

1107 Ketika Kongsun Hong kembali ke kantor pusat, Tok-ku Bu-ti sudah bertarung sebanyak sembilan puluh tujuh jurus.

Pada saat itu juga, dia berhasil membuat golok di tangan Hek-pai-siang-mo terlepas.

Hek-pai-siang-mo dikalahkan dengan hati ikhlas.

Mereka mengakui keunggulan Tok-ku Bu-ti.

Mereka langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tok-ku Bu-ti.

Setelah itu keduanya menuju daerah bertanah kuning untuk membawa Tok-ku Hong kembali.

Tapi mereka terkejut sekali ketika tidak dapat menemukan gadis itu.

Mereka cepat-cepat kembali ke Bu-ti-bun dan melaporkan kejadian tersebut dengan hati kecut kepada Tok-ku Bu-ti.

Ternyata Tok-ku Bu-ti tidak menyalahkan mereka.

"Selamanya nasib Hong-ji tidak terlalu buruk. Dia pasti dalam keadaan baik-baik. Urusan sekecil ini, kalian berdua tidak usah menyimpannya dalam hati,"

Dia hanya mengucapkan beberapa patah kata ini.

Setelah itu dia memerintahkan semua anggotanya keluar dari ruangan itu, kecuali muridnya sendiri, Kongsun Hong.

Anak muda itu merasa agak curiga.

Matanya tidak berani menatap langsung wajah Tok-ku Bu-ti.

Kepalanya tertunduk dalam-dalam.

Tok-ku Bu-ti melangkah perlahan menghampiri Kongsun Hong.

Tiba-tiba dia menepuk bahu muridnya dengan lembut.

"Benar-benar menyusahkan dirimu sampai-sampai kau harus lari bolak-balik,"

Katanya. 1108 Tubuh Kongsun tergetar. Dia menatap Tok-ku Bu-ti sekilas kemudian menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.

"Tecu bersedia menerima hukuman apa pun yang Suhu berikan,"

Sahutnya tenang. Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya.

"Lagi-lagi terjerat dalam huruf ‘asmara.’ Terlalu lugu bahkan terlalu bodoh."

Dia meneruskan langkah kakinya keluar dari ruang tersebut.

Tinggal ah Kongsun Hong sendiri di dalam ruangan dalam keadaan tetap berlutut.

***** Matahari bersinar dengan terik.

Angin kencang mengembuskan pasir.

Akhirnya Tok-ku Hong tidak kuat lagi.

Dia jatuh terkulai di pesisir pantai.

Ombak besar mendebur-debur.

Sudah beberapa hari ini dia seperti orang yang tidak waras.

Pertama-tama dia menyelinap ke atas Bu-tong-san.

Namun dia tidak berhasil menemukan Wan Fei-yang.

Dia balik kembali ke kota mencari ke rumah Lu Wang.

Tapi anak muda itu juga tidak ada di sana.

Dia teringat Wan Fei-yang pernah mengungkit persoalan Hai-liong Lojin kepadanya.

Dia mengambil keputusan untuk berspekulasi.

Beberapa hari berturut-turut dia berlari terus.

Makan tidak tetap, tidur tidak bisa nyenyak.

Belum lagi sepanjang hari diterpa angin kencang dan debu tebal.

Belum lagi dia mencapai tempat kediaman Hai-liong Lojin, tubuhnya sudah tidak kuat lagi.

Dia jatuh pingsan di tepi pantai.

1109 Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri.

Ketika kesadarannya mulai pulih, dia mendapatkan dirinya terbaring dalam sebuah kamar yang bersih.

Dengan terkejut dia melompat bangun.

Setelah merasakan bahwa dirinya tidak mengalami apa-apa, barulah hatinya menjadi tenang kembali.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Seorang gadis manis masuk dengan membawa sebaskom air.

Gadis itu adalah Fu Hiong-kun.

Dia sama sekali tidak tahu siapa Tok-ku Hong.

Hanya kebetulan saja dia menemukan gadis itu terkapar di pantai.

Dia langsung mengangkatnya pulang tanpa berpikir panjang lagi.

"Kouwnio, akhirnya kau sadar juga,"

Sapa Fu Hiong-kun sambil meletakkan baskom berisi air hangat itu di atas meja dekat samping tempat tidur.

"Kau yang menolong aku?"

Tok-ku Hong segera dapat menduga apa yang telah terjadi. Fu Hiong-kun menganggukkan kepalanya.

"Iya .... Mengapa kau bisa berjalan sampai ke tempat ini?"

"Aku tersesat di jalan,"

Sahut Tok-ku Hong yang merasa curiga terhadap Fu Hiong-kun. Gadis itu tidak menyadarinya.

"Bagaimana aku harus menyebutmu?"

Tok-ku mempertimbangkan sejenak.

"Aku bernama Sangkuan Hong,"

Sahutnya kemudian.

Fu Hiong-kun tetap tidak curiga sedikit pun.

1110 ***** Yan Cong-tian juga tidak menaruh kecurigaan terhadap Tok-ku Hong.

Dia malah tidak menutupi asal-usul dirinya.

Mendengar cerita orang tua itu, diam-diam Tok-ku Hong terkejut setengah mati.

Setelah menetap beberapa hari di tempat itu, dia terus mendengarkan dengan saksama pembicaraan mereka.

Dia tahu sebelumnya Wan Fei-yang ada bersama mereka.

Dan sekarang anak muda itu sedang menuju negara Fu-sang untuk mencari obat untuk menyembuhkan Yan Cong-tian.

Setelah mengetahui bahwa Yan Cong-tian bermaksud menjodohkan Fu Hiong-kun dengan Wan Fei-yang, hatinya kacau dan sedih sekali.

Rupanya diam-diam selama ini cinta kasihnya telah tumbuh terhadap anak muda itu.

Tadinya dia merasa Wan Fei-yang juga mempunyai perasaan yang sama.

Sekarang hatinya menjadi bimbang.

Apakah dia telah salah tanggap atas sikap Wan Fei-yang selama ini?

Dia merasa iri terhadap Fu Hiong-kun.

Tapi ia tidak menunjukkan perasaannya di depan mereka.

Kelembutan dan kecantikan Fu Hiong-kun membuat hatinya semakin rendah diri.

Perasaan Fu Hiong-kun terhadap Wan Fei-yang, dia juga tahu.

Tapi dia tidak ingin putus asa begitu saja.

Dia ingin menunggu Wan Fei-yang kembali dan menanyakannya dengan jelas.

Di bawah perawatan Fu Hiong-kun dan Yan Cong-tian, kesehatan Tok-ku Hong pulih dalam waktu yang singkat.

Meskipun kedua orang itu tidak mencurigai asal-usulnya, 1111 namun melihat Tok-ku Hong selalu bermuram durja sepanjang hari, mereka merasa penasaran juga.

Beberapa hari berlalu lagi.

Akhirnya Wan Fei-yang pulang dengan selamat dan membawakan obat yang dibutuhkan Yan Cong-tian.

Dia tidak bertemu dengan Tok-ku Hong.

Diminumkannya obat tersebut kepada supeknya.

Setelah mendengarkan cerita Fu Hiong-kun tentang gadis yang ditolongnya, semakin lama dia semakin curiga.

Dengan tergesa-gesa dia menghambur ke kamar di mana Tok-ku Hong menginap.

Kamar itu sudah kosong.

Tidak ada bayangan Tok-ku Hong.

Tetapi Wan Fei-yang menemukan sebuah tusuk konde emas di atas bantal.

Melihat tusuk konde itu, hati Wan Fei-yang tergetar.

Dia keluar dari kamar sambil berteriak-teriak memanggil nama Tok-ku Hong.

Pada saat itu juga, Fu Hiong-kun baru tahu bahwa gadis yang ditolongnya ialah putri Tok-ku Bu-ti, Tok-ku Hong adanya.

Baru saja dia berniat mengejar keluar, mendadak terdengar suara ribut seperti ada benda berat yang terjatuh di kamar Yan Cong-tian.

Dia terkejut sekali.

Maksudnya mengejar Tok-ku Hong dibatalkan, dia menghambur ke kamar Yan Cong-tian.

Dia melihat tubuh orang tua itu kaku sekali.

Dan suara tadi rupanya suara jatuhnya tubuh Yan Cong-tian ke atas tanah.

Posisinya masih dalam keadaan duduk tegak.

Dia sama sekali tidak bergerak.

Meja yang ada di samping tempat tidur telah terbalik.

Di atas kepala Yan Cong-tian mengepul asap putih berupa uap.

Fu Hiong-kun mengerti bahwa reaksi obat telah mulai bekerja.

Yan Cong-tian sedang mengumpulkan hawa 1112 murninya menyembuhkan luka.

Dia tidak berani mengganggu juga tidak berani meninggalkan tempat itu.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk duduk di samping menjaga Yan Cong-tian.

***** Setelah mengeluarkan surat tantangan, para murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay menyamar sebagai orang biasa dan menyelundup ke dalam Bu-ti-bun.

Tentu saja hanya sebagian besar.

Gerak-gerik mereka memang dirahasiakan serapat mungkin.

Namun tetap saja berhasil diketahui oleh para penyelidik Bu-ti-bun.

Ketika mendengar laporan dari anggotanya tentang masalah ini, Tok-ku Bu-ti hanya tertawa dingin.

Pada saat dia mendengarkan berita dari para bawahannya dari berbagai cabang itulah, Tok-ku Hong kembali ke rumah.

Begitu memasuki ruangan pendopo, Tok-ku Hong langsung menjatuhkan diri berlutut.

Para hadirin terkesima melihat kelakuannya.

Apalagi Kongsun Hong, hatinya tegang sekali.

Tok-ku Bu-ti seperti tidak melihat kehadirannya.

"Teruskan!"

Katanya dengan suara berat.

Para penyelidik itu tidak berani membantah.

Mereka meneruskan laporannya.

Melihat keadaan itu, tanpa sadar air mata mengalir di pipi Tok-ku Hong.

Akhirnya para penyelidik itu selesai juga memberikan laporannya.

Tanpa dapat menahan perasaannya lagi, Tok-ku Hong memanggil.

"Tia ...."

Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak menoleh ke arah Tok-ku Hong. 1113

"Panggil kepala penjaga pintu!"

Teriaknya dengan suara lantang. Kim-liong Tongcu Cukek Ming cepat-cepat menurunkan perintah tersebut kepada bawahannya. Dua orang penjaga cepat-cepat masuk ke dalam.

"Kami sedang mengadakan rapat penting di dalam ruangan ini, mengapa kau membiarkan orang luar masuk ke sini?"

Bentaknya keras. Kedua penjaga itu terkejut sekali. Hati Tok-ku Hong perih tidak terkirakan.

"Pek-houw Tongcu, menjaga keamanan dengan teledor. Hukuman apa yang harus dijatuhkan?"

Tanya Tok-ku Bu-ti kepada Kongsun Hong. Kongsun Hong tertegun seketika. Tapi akhirnya dia menjawab juga.

"Hukuman ringan tebas kedua kaki, hukuman yang berat, mati!"

"Bawa kedua orang itu keluar! Tebas kedua kakinya!"

Bentak Tok-ku Bu-ti sekali lagi.

Tidak ada seorang pun yang berani menghalangi.

Tidak lama kemudian, dari luar pendopo jeritan ngeri berkumandang.

Wajah para hadirin berubah hebat.

Pada saat itu, sinar mata Tok-ku Bu-ti baru beralih ke arah Tok-ku Hong.

Kongsun Hong cepat-cepat maju ke depan dan berlutut di samping gadis itu.

"Tecu bersedia menggantikan Gin-hong Tongcu menerima hukuman mati!"

Katanya tanpa berpikir panjang. 1114 Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Bu-ti-bun tidak memiliki peraturan seperti itu."

Dia berhenti sejenak.

"Bawa keluar Gin-hong Tongcu, ikat keempat anggota tubuhnya pada masing-masing leher kuda. Tarik sampai putus!"

Para hadirin terkejut setengah mati.

Tok-ku Hong hanya mengalirkan air mata dengar wajah sendu.

Dia tidak memohon pengampunan.

Hu-hoat kiri dan kanan segera mengiakan.

Mereka maju ke depan.

Kongsun Hong berdiri dengan panik.

Kedua belah lengannya terbentang mengadang di depan mereka.

"Tunggu dulu ...!"

Tok-ku Bu-ti meluap marahnya.

"Kongsun Hong, apakah kau juga ingin ikut ikutan membangkang terhadapku?"

Bentaknya garang.

"Tecu tidak berani ...."

Kongsun Hong menjatuhkan diri berlutut lagi.

"Sejak zaman dahulu Bu-ti-bun ada sebuah peraturan. Tongcu baru pertama kali berbuat kesalahan, boleh digantikan oleh tongcu kedua dalam menerima hukuman berupa tujuh kali tebasan golok. Dengan demikian hukuman mati pun terhindarkan!"

Sahutnya lantang. Wajah Tok-ku Bu-ti berubah kelam.

"Kau bersedia menggantikan dia menerima tujuh kali tebasan golok?"

"Betul!"

Sahut Kongsun Hong tanpa berpikir dua kali. 1115 Pada saat itu, hati Tok-ku Hong merasa terharu sekali. Dia memalingkan kepalanya.

"Suheng?"

Panggilnya. Kongsun Hong menggelengkan kepalanya.

"Mengapa kau harus kembali ke sini?"

Kepala Tok-ku Hong tertunduk rendah-rendah. Dia juga tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu. Kongsun Hong tetap berlutut.

"Silakan Buncu menurunkan perintah hukuman!"

Tok-ku Bu-ti memandang Kongsun Hong lekat-lekat. Dia menarik napas panjang.

"Baik .... Tapi aku ingin Hong-ji berjanji bahwa dia bersedia menikah denganmu!"

"Tecu merasa tidak pantas ...!"

Kongsun Hong membenturkan kepalanya di atas lantai.

"Aku bukan berbicara denganmu!"

Mata Tok-ku Bu-ti beralih kepada Tok-ku Hong.

"Jawab! Apakah kau bersedia menikah dengan Kongsun Hong?"

Tok-ku Hong menoleh kepada Kongsun Hong.

Dia ingat selama beberapa tahun ini entah telah berapa kali Kongsun Hong menempuh bahaya untuk membela dan menyelamatkannya.

Budi laki-laki itu sudah tidak terkira banyaknya.

Hatinya setia dan tulus.

Meskipun Kongsun Hong sadar bahwa dia sendiri sama sekali tidak mencintainya.

Kemudian dia teringat Wan Fei-yang yang sudah memiliki Fu Hiong-kun.

Gadis itu pernah menyelamatkannya pula.

Sampai hatikah dia menghancurkan hati seorang gadis setelah dia sendiri tahu bagaimana rasanya patah hati?

Wan Fei-yang sudah tidak mempunyai orang tua.

Walinya sekarang adalah 1116 Yan Cong-tian.

Padahal sementara itu secara terang-terangan orang tua itu sudah mengemukakan maksud hatinya untuk menjodohkan Fu Hiong-kun dengan Wan Fei-yang.

Andai kata tidak pun, belum tentu Yan Cong-tian setuju Wan Fei-yang menikahi putri Tok-ku Bu-ti yang terkenal jahat dan keji.

Dia mempertimbangkan semuanya berkali-kali.

Tok-ku Bu-ti tidak memaksa Tok-ku Hong segera menjawab.

Baginya, apa pun jawaban Tok-ku Hong tidak menjadi persoalan.

Bila gadis itu mengatakan tidak, Kongsun Hong tidak perlu menggantikan Tok-ku Hong menerima hukuman.

Berarti nasib gadis itu memang harus mati hari ini.

Apabila Tok-ku Hong mengiakan, lebih banyak lagi keuntungan yang dapat diraihnya.

Niatnya mengangkat Kongsun Hong sebagai mantu terkabulkan.

Selain itu dia bisa membuat Sen Man-cing semakin sedih dan kesal.

Senyumnya mengembang ketika Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya.

***** Tujuh bacokan golok memenuhi seluruh tubuh Kongsun Hong.

Dada, puncak, pinggang, punggung, semua mendapat bagian.

Kongsun Hong mengertakkan giginya erat-erat menahan rasa sakit, akhirnya dia jatuh tidak sadarkan diri juga.

Tok-ku Hong tidak sampai hati melihatnya.

Sejak tadi dia sudah memalingkan wajahnya.

Tabib Cai Hua-to sudah menunggu di sudut.

Setelah hukuman berakhir, cepat-cepat dia menghampiri laki-laki itu dan memborehkan obat kim-cang-yok (obat penyembuh luka) yang paling 1117 mujarab.

"Bagaimana keadaannya?"

Tanya Tok-ku Bu-ti. Sebetulnya dia sangat menyayangi Kongsun Hong. Wajahnya menyiratkan perasaan khawatir.

"Mudah-mudahan pada hari pernikahan, luka-lukanya sudah sembuh semua,"

Sahut Cai Hua-to sembari tertawa getir. Tok-ku Bu-ti menoleh ke arah Tok-ku Hong.

"Kau lihat sendiri, Kongsun Hong demikian tulus mencintaimu. Dapat menikah dengan seorang laki-laki seperti dia, merupakan keberuntunganmu!"

Tok-ku Hong menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Keadaan sudah sampai taraf seperti ini, apalagi yang dapat dikatakan.

***** Sen Man-cing juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Dugaan Tok-ku Bu-ti bahwa pernikahan antara Tok-ku Hong dengan Kongsun Hong akan membuatnya kesal dan sedih tidak sepenuhnya benar.

Ketulusan cinta Kongsun Hong sama sekali di luar dugaan nyonya itu.

Dapat menikah dengan seorang laki-laki seperti itu, bukan suatu hal yang buruk.

Tentu saja Tok-ku Bu-ti tidak menyangka Sen Man-cing dapat mempunyai pikiran demikian.

Tok-ku Bu-ti lupa.

Sebagai seorang ibu, kebahagiaan Tok-ku Hong adalah segalanya bagi Sen Man-cing.

Lebih baik dicintai daripada mencintai, pikir nyonya itu dalam hatinya.

Lagi pula keputusan Tok-ku Bu-ti tidak dapat diganggu-gugat 1118 oleh siapa pun.

Tidak ada orang yang bisa menghalangi apa saja yang ingin dilakukannya.

Sedangkan kesan Sen Man-cing terhadap Kongsun Hong mulai bagus.

Hanya satu hal yang selalu membuat nyonya itu sedih.

Tok-ku Bu-ti tetap tidak memperbolehkan dia meninggalkan Liong-hong-kek.

***** Rembulan bersinar terang.

Angin bertiup sejuk.

Hari itu memang hari baik.

Lentera berjumlah ratusan dipasang di mana-mana.

Seluruh Bu-ti-bun bagai sehelai lukisan putih.

Suara gendang bertalu-talu.

Kegembiraan terlihat di seluruh pelosok gedung tersebut.

Sepasang pengantin, Tok-ku Hong dan Kongsun Hong diantar ke hadapan Tok-ku Bu-ti.

Melihat keadaan itu, senyum Tok-ku Bu-ti semakin lebar.

Kepala Tok-ku Hong terpasang sebuah hong-koan, penutup kepala seperti mahkota yang dipakai pengantin zaman dahulu.

Sehelai kain merah menutup wajahnya.

Tidak terlihat bagaimana mimik wajahnya.

Kalau Kongsun Hong sendiri tidak usah dikatakan lagi.

Selain gembira, dia juga tegang sekali.

Mata Tok-ku Bu-ti beralih kepada wajah Kongsun Hong.

"Kongsun-ji, bagaimana keadaan lukamu?"

Tanyanya dengan penuh perhatian.

"Terima kasih atas perhatian Buncu. Semua sudah sembuh."

Mendengar ucapannya, para hadirin tertawa geli. Tok-ku Bu-ti juga tertawa lebar.

"Bagaimana kau memanggilku tadi?"

Kongsun Hong tertegun. Dia mengganti panggilannya.

"Suhu 1119 ...."

Sekali lagi para hadirin tertawa terbahak-bahak. Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya.

"Sampai saat ini kau masih belum tahu bagaimana harus memanggil aku?"

Cian-bin-hud yang berdiri di sampingnya segera menjelaskan.

"Kongsun Tongcu benar-benar lucu. Sekarang seharusnya kau memanggil Buncu dengan sebutan Yok-hu-tayjin (ayah mertua yang mulia)."

Wajah Kongsun Hong merah padam.

"Yok-hu-tayjin ...."

Panggilnya gugup.

"Nah, ini baru betul!"

Kata Tok-ku Bu-ti sambil mengelus jenggotnya.

"Tujuh kali tebasan golok sebagai pengganti seorang istri. Kalau dipikirkan tidak terlalu merugikan juga."

"Betul sekali ...! Betul sekali!"

Sahut Kongsun Hong sambil melirik ke arah Tok-ku Hong. Bibirnya tersenyum terus. Tok-ku Bu-ti mengalihkan pandangannya ke arah Tok-ku Hong.

"Hong-ji, kau sudah menjadi istri orang. Lain kali adatmu jangan terlalu keras lagi,"

Katanya menasihati. Mak comblang yang menjadi perantara segera maju ke depan.

"Waktunya sudah sampai,"

Katanya melaporkan. ***** Seorang laki-laki yang memimpin upacara segera maju menggantikannya. 1120

"Harap sepasang pengantin berlu ...."

Kata-katanya belum selesai diucapkan, suara bentakan keras berkumandang dari luar.

"Tunggu dulu!"

Suara itu demikian lantang, para hadirin memalingkan kepalanya ke arah sumber suara.

Para tamu yang tadinya berkerumun di pintu segera memencarkan diri.

Wan Fei-yang melangkah masuk dengan sempoyongan.

Tangannya menggenggam sebuah kendi arak.

Tubuh Tok-ku Hong tergetar.

Dia maju selangkah kemudian berhenti.

"Wan Fei-yang, untuk apa kau datang kemari?"

Teriak Kongsun Hong marah.

Tok-ku Bu-ti tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sinar matanya malah bertambah dingin menyeramkan.

Tampaknya Wan Fei-yang benar-benar sudah mabuk.

Dengan tubuh limbung dia menghampiri Tok-ku Hong.

"Aku ... aku datang untuk mengucapkan selamat kepada Toasiocia dan Kongsun Tongcu. Selamat menempuh hidup baru ...."

Dia menyodorkan kendi araknya ke hadapan Kongsun Hong.

"Kongsun Tongcu, Siaute memberi selamat kepadamu dengan secawan arak ini. Mudah-mudahan kau akan hidup bahagia dan saling mengasihi sampai ratusan tahun ...!"

Wajah Kongsun Hong berubah hebat. Dia mengibaskan kendi 1121 arak yang disodorkan oleh Wan Fei-yang.

"Oh, kau tidak sudi memberi muka kepadaku? Tidak apa-apa. Kau tidak sudi, pasti ada yang sudi ...."

Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya ke arah Tok-ku Hong.

"Toasiocia ...."

Tok-ku Hong tidak dapat menahan perasaannya lagi. Dia melepaskan mahkota di kepalanya.

"Siau Yang ...."

Dalam waktu yang bersamaan, Cian-bin-hud maju ke depan.

"Sejak tadi sudah terlihat jelas bahwa kedatanganmu ini hanya untuk mengacau!"

Bentaknya dengan suara keras. Dia langsung mencengkeram Wan Fei-yang. Telapak tangan Wan Fei-yang juga tidak kalah cepat menghantam ke depan sehingga Cian-bin-hud terdesak mundur tiga langkah.

"Kalian jangan coba-coba menghalangi pembicaraanku dengan Toasiocia!"

Dia menoleh kembali kepada Tok-ku Hong.

"Kau adalah putri Tok-ku Bu-ti. Sedangkan aku adalah murid murtad Bu-tong-pay. Tentu saja aku tidak pantas untukmu. Tapi aku benar-benar menyukaimu!"

Para hadirin yang mendengar kata-katanya menjadi kebingungan. Air mata Tok-ku Hong sudah mengembang.

"Kau memang keras kepala dan tidak pernah mau mengalah, aku tidak peduli. Salah siapa kau terlahir di tempat seperti ini. Aku mengalami luka parah karena hantaman ilmu Mit-kip-sin-kang ayahmu. Kalau bukan Fu-kouwnio yang menolong, mungkin aku hari ini sudah tidak ada di dunia ini. Tanpa bantuannya, Yan-supek juga tidak tertolong. Beberapa waktu 1122 yang lalu, aku pergi ke tempat yang jauh untuk mencari obat untuk luka Yan-supek. Dia juga yang merawat Yan-supek yang sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri. Coba kau bilang, apakah aku tidak sepantasnya berterima kasih atas jerih payah ini? Terhadap dirinya aku hanya terharu dan berterima kasih sekali. Dia telah kupandang sebagai adik kandungku sendiri. Tidak tersangka, kau malah salah paham atas kejadian kecil ini. Kau bahkan kembali ke Bu-ti-bun serta menuruti apa yang diperintahkan ayahmu yang kejahatan apa pun bisa dilakukan olehnya, dan menikah dengan Kongsun Hong!"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Tok-ku Bu-ti akhirnya. Wan Fei-yang tertawa sumbang.

"Baik. Memang tidak ada kata-kata lagi yang harus kuucapkan!"

Dia mendongakkan kepalanya dan meneguk habis arak dalam kendi yang dibawanya.

"Sayangnya aku masih belum cukup puas meminum arak. Mana arak? Cepat bawakan arak untukku!"

Wan Fei-yang berteriak-teriak seperti orang yang kurang waras. Air mata Tok-ku Hong mengalir semakin deras.

"Siau Yang ...!"

Panggilnya dengan suara meratap. Tok-ku Hong bermaksud menghampiri Wan Fei-yang, tapi Cian-bin-hud, Teng Cu, Hek-pai-siang-mo sudah menerjang maju mengurung Wan Fei-yang.

"Minggir! Aku tidak berminat bertarung dengan kalian!"

Teriak Wan Fei-yang sambil membanting kendi araknya ke atas lantai.

1123 Hek-pai-siang-mo meraung murka.

Keduanya menerjang ke depan.

Dua pasang telapak tangan menghantam ke arah Wan Fei-yang.

Tinju Cian-bin-hud juga sudah diluncurkan.

Tubuh Wan Fei-yang berkelebat.

Gerakannya berubah-ubah.

Dalam keadaan mabuk, sepasang telapak tangannya menghantam ke depan dengan tenaga penuh.

Dia mengerahkan Pik-lek-ciang.

Hantamannya membuat orang-orang yang menyerbu terpental mundur.

Tangannya menuding Tok-ku Bu-ti.

"Kau saja yang turun tangan!"

Tantangnya dengan suara lantang. Tok-ku Bu-ti berdiri dari tempat duduknya.

"Malam ini aku akan memperhitungkan utang-piutang antara Bu-tong-pay dengan Bu-ti-bun!"

Teriak Wan Fei-yang kembali.

"Tampaknya kau sudah lupa bahwa kau adalah murid murtad bagi Bu-tong-pay!"

Sindir Tok-ku Bu-ti.

"Fu Giok-su barulah murid murtad Bu-tong-pay!"

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Bagaimanapun, pokoknya malam ini kau jangan harap dapat keluar dari Bu-ti-bun dalam keadaan hidup!"

Mata Tok-ku Bu-ti menyorotkan kobaran api "Aku memang tidak berharap dapat keluar dalam keadaan hidup!"

Sahut Wan Fei-yang sambil membusungkan dadanya.

"Pesta masih harus dilangsungkan. Kita bertarung di luar saja!" 1124 Wan Fei-yang tertawa terbahak-bahak. Kakinya dientakkan. Tubuhnya mencelat berjungkir balik dua kali kemudian menginjak di atas kepala seorang tamu lalu melesat keluar. Tok-ku Hong memandang dengan mulut terbuka. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Perasaannya pada saat itu kacau sekali. ***** Di luar ruangan juga terpasang banyak lentera. Keadaan terang benderang. Tok-ku Bu-ti menghentikan langkah kakinya. Dia mengibaskan lengan bajunya satu kali.

"Sebelumnya aku pernah mengampunimu satu kali. Malam ini, jangan salahkan kalau aku turun tangan kejam!"

Perasaan mabuk Wan Fei-yang telah hilang beberapa bagian karena tertiup angin yang sejuk. Wajahnya berubah serius.

"Silakan!"

Teriaknya.

Tubuhnya mencelat ke udara.

Secara berturut-turut dia melancarkan empat belas kali serangan.

Tok-ku Bu-ti berdiri kukuh bagai gunung Thay-san.

Penampilannya juga tenang sekali.

Empat belas kali serangan Wan Fei-yang disambutnya dengan baik, tapi wajahnya mulai berubah.

Kekuatan tenaga dalam Wan Fei-yang bukan saja sudah jauh melebihi sebelumnya, tapi benar-benar jauh di luar dugaannya.

"Soat-lian dari Ping-san benar-benar obat yang tidak ada duanya. Orang ini tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama!"

Pikirnya dalam hati.

1125 Setelah mendapat pikiran itu, dengan diam-diam Tok-ku Bu-ti mengerahkan Mit-kip-sin-kangnya.

Tiba-tiba tubuhnya bergerak.

Telapak tangannya menghantam ke depan dengan cara keji.

Ternyata Wan Fei-yang tidak terdesak mundur oleh angin hantaman telapak tangan Tok-ku Bu-ti.

Tubuhnya melayang dan tangan kiri diputar.

Tahu-tahu tangan Tok-ku Bu-ti telah memegang tongkat kepala naganya.

Dia menerjang kembali ke arah Wan Fei-yang.

Pada saat itu pedang Wan Fei-yang juga sudah dihunus.

Tubuhnya meluncur menerobos ke dalam cahaya tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti.

Pertarungan berlangsung dengan seru.

Tok-ku Bu-ti menyerang seratus kali berturut-turut.

Tapi tidak sekali pun dia berhasil menahan Wan Fei-yang.

Malahan anak muda itu mendesak terus ke arahnya.

Wan Fei-yang mencelat ke tengah udara.

Dia berjungkir balik.

Pedangnya menukik tajam mengancam kepala Tok-ku Bu-ti.

Tok-ku Hong serbasalah.

Dia juga mengkhawatirkan keselamatan ayahnya.

"Hati-hati!"

Serunya tanpa sadar.

Tok-ku Bu-ti cepat-cepat menggeser langkah kakinya dan memiringkan kepalanya.

Gelang emas pengikat rambutnya terpapas putus.

Tapi mendengar teriakan Tok-ku Hong tadi, Wan Fei-yang malah berdiri terpana.

Mata Tok-ku Bu-ti mengerling sekilas.

Tongkat kepala naganya dikibaskan.

Pedang Wan Fei-yang langsung tertangkis.

Telapak tangan kirinya dengan gerakan kilat menghantam ke depan.

Wan Fei-yang terkejut sekali.

Dengan panik dia mengulurkan tangannya menyambut hantaman itu.

"Blammm!"

Tubuh terpental sejauh dua depa.

Dia langsung 1126 memuntahkan segumpal arah segar.

Serangan Tok-ku Bu-ti tadi tidak terduga sama sekali.

Dengan Mit-kip-sin-kang sekali lagi dia berhasil melukai Wan Fei-yang.

Anak muda itu berusaha bangkit.

Tok-ku Bu-ti sudah menerjang lagi ke depan untuk menghantam Wan Fei-yang kedua kalinya.

Tapi Tok-ku Hong sudah menghambur dan mengadang di depan Wan Fei-yang.

"Mundur!"

Bentak Tok-ku Bu-ti. Belum sempat Tok-ku Hong berkata apa-apa, sebelah tangan Wan Fei-yang sudah menyentuh pundaknya.

"Akhir ... nya aku ... dapat juga mati di sampingmu!"

Katanya dengan nada parau dan bibir menyunggingkan senyuman.

"Siau Yang, kau jangan berbuat bodoh!"

Sahut Tok-ku Hong dengan gugup.

"Pokoknya aku tidak akan menikah dengan Kongsun Hong!"

Mata Wan Fei-yang bersinar terang. Air mata Tok-ku Hong semakin deras.

"Kalau kau mati, kau kira aku juga sanggup hidup lebih lama lagi?"

"Rupanya kau juga menyukai aku!"

Teriak Wan Fei-yang gembira. Dia bahkan mirip orang yang kalap. Tidak peduli darah segar terus mengalir dari ujung bibirnya. Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya.

"Cepat kau pergi!"

Katanya mengingatkan.

Wan Fei-yang juga ikut-ikutan menganggukkan kepalanya.

Tok-ku Hong yang melihat dari ujung sana tidak tahu bagaimana perasaannya saat itu.

Wajah Tok-ku Bu-ti hijau 1127 membesi.

Dia mengibaskan lengan bajunya.

Tok-ku Hong yang membungkuk di samping Wan Fei-yang terpelanting di atas tanah.

Tok-ku Bu-ti mengulurkan telapak tangannya dan menghantam ke arah Wan Fei-yang.

Belum lagi hantaman itu mengenai sasarannya, tubuh Wan Fei-yang sudah melesat ke udara dan berjungkir ke atas tembok pekarangan.

"Kejar!"

Tok-ku Bu-ti memberikan perintah dengan kalap.

Tubuh Wan Fei-yang berkelebat.

Dia menyelinap ke balik gerombolan bunga.

Bayangannya sudah menghilang dari pandangan.

Meskipun luka dalamnya cukup parah, tapi ia pernah menelan soat-lian dari Ping-san, gerakan tubuhnya masih lincah.

Apalagi Hui-hun-cong merupakan ilmu pusaka dari Bu-tong-liok-kiat.

Kehebatannya dapat dibayangkan.

Gerombolan bunga tersebut hancur oleh hantaman tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti.

Namun Wan Fei-yang sudah tidak terlihat.

"Bocah itu sudah terluka cukup parah. Dia tidak mungkin pergi jauh. Geledah!"

Tok-ku Bu-ti menurunkan perintah kepada para anggotanya.

Beratus-ratus lentera dan obor segera menerangi sekitar tempat itu.

***** Bicara memang mudah, tapi lain dengan kenyataannya.

Sampai hari menjelang pagi, tetap saja mereka tidak dapat 1128 menemukan Wan Fei-yang.

Yang membuat kemarahan Tok-ku Bu-ti hampir tidak terbendung adalah menghilangnya Tok-ku Hong yang menggunakan kesempatan ketika mereka semua sibuk mencari Wan Fei-yang.

Pasti budak perempuan itu yang secara diam-diam menunjukkan jalan dan menolong Wan Fei-yang melarikan diri dari tempat tersebut!

Semakin dipikir, Tok-ku Bu-ti semakin marah.

Tapi dia tidak tahu harus bagaimana lagi.

***** Tok-ku Hong memang mempunyai niat mengajak Wan Fei-yang melarikan diri dari Bu-ti-bun.

Oleh karena itu, dia menunggu di ujung lorong rahasia.

Tetapi sampai matahari sudah tinggi, Wan Fei-yang tetap tidak muncul.

Para anggota Bu-ti-bun juga belum kembali.

Tidak disangka ginkangnya demikian tinggi.

Tok-ku Hong terkejut membayangkannya.

Tapi hatinya juga gembira.

Yang mengkhawatirkan justru luka Wan Fei-yang yang cukup parah.

Apakah dia dapat bertahan sepanjang perjalanan?

Tanpa pikir panjang lagi Tok-ku Hong segera menghambur ke depan.

Tujuannya ialah tempat di mana Fu Hiong-kun dan Yan Cong-tian berada.

Dia berharap dapat bertemu dengan Wan Fei-yang dalam perjalanan.

Hanya di sanalah tempat tinggal Wan Fei-yang satu-satunya untuk sementara.

Apalagi di sana ada Fu Hiong-kun yang ilmu pengobatannya sudah cukup tinggi.

Anak muda itu pasti kembali ke sana.

Karena alasan ini juga, Tok-ku Hong berlari siang malam tanpa mengenal lelah.

1129 ***** Wan Fei-yang sendiri juga bermaksud cepat-cepat kembali ke sana.

Tapi dalam seketika, dia merasa bahwa luka yang dideritanya terlalu parah.

Pasti dia tidak akan berhasil menerjang kepungan para anggota Bu-ti-bun.

Ketika masuk ke gedung Bu-ti-bun dalam keadaan mabuk.

Dia sama sekali tidak berpikir untuk keluar dengan selamat.

Hatinya sudah terlalu kecewa membayangkan pernikahan Tok-ku Hong.

Sekarang dia sudah mengerti isi hati gadis itu.

Malah dia tidak berminat lagi untuk mati dengan cara konyol seperti apa yang akan dilakukannya tadi.

Dulu dia sudah pernah menyelundup dalam Bu-ti-bun dan menjadi anggotanya untuk jangka waktu yang cukup panjang.

Terhadap keadaan sekitarnya dia juga pernah memerhatikan dengan saksama.

Oleh karena itu, dia juga berhasil menyembunyikan diri tanpa diketahui oleh anggota Bu-ti-bun.

Sepanjang perjalanan, dia berkali-kali bersembunyi lalu mengendap-endap.

Tanpa sadar dia sudah sampai di bawah tembok Liong-hong-kek.

Saat itu juga dia sudah mengambil keputusan.

Liong-hong-kek adalah daerah terlarang bagi seluruh anggota Bu-ti-bun.

Pasti tempat itu juga merupakan sarang persembunyian yang aman.

Tinggi tembok itu sekitar empat depa.

Tidak mudah baginya untuk meloncat naik dengan luka separah itu.

Wan Fei-yang tetap nekat dia mengambil napas dalam-dalam lalu mengentakkan kakinya.

Di tengah udara dia berjungkir balik dan mencelat lagi ke atas.

Tubuhnya masih belum bisa mencapai atas tapi tangannya masih sempat berpegangan erat pada atas dinding.

Dengan susah payah dia memanjat.

Setelah itu tubuhnya meluncur ke 1130 bawah seperti selembar kertas yang tertiup angin.

Kepalanya pusing tujuh keliling.

Dia terjatuh di atas hamparan rumput.

Dengan nekat dia naik ke atas loteng.

Setahap demi setahap dia merangkak.

Setelah terkena hantaman Mit-kip-sin-kang, dia tidak sempat beristirahat sama sekali.

Semestinya dia duduk bersila dan menghimpun hawa murninya.

Tapi mana ada kesempatan baginya untuk melakukan semua itu.

Sedangkan untuk menyelamatkan diri saja masih menjadi persoalan.

Tentu saja lukanya semakin parah.

Penerangan di atas loteng masih menyala.

Wan Fei-yang masih terus berusaha merangkak.

***** Sen Man-cing belum tidur.

Dia masih duduk di depan penerangan dengan termangu-mangu.

Hari ini adalah hari baik bagi Tok-ku Hong.

Dia sebagai seorang ibu hanya dapat duduk tertegun sambil mendoakan kebahagiaan putrinya dalam hati.

Dalam keadaan seperti ini, bagaimana mungkin dia dapat tertidur pulas.

Sejak matahari tenggelam dia sudah duduk di sana.

Sampai sekarang dia masih belum bangun juga.

Dia merasa kesunyian menyelimuti hatinya.

Namun perasaannya sudah kebal.

Tepat pada saat itu, dia mendengar suara tarikan napas.

Tidak tepat kalau dikatakan tarikan napas.

Bernapas dengan tersengal-sengal lebih tepat.

Tapi siapa?

1131 Akhirnya wajah Sen Man-cing baru menunjukkan adanya perubahan.

Tubuhnya berkelebat tanpa suara ke samping pintu.

Kemudian dia mengulurkan tangannya menarik daun pintu tersebut.

Wan Fei-yang dengan tubuhnya berlumuran darah langsung terkulai.

Dia terjatuh di depan kaki Sen Man-cing.

Wanita setengah baya itu terkejut sekali.

Dengan kecepatan gerakannya, dia masih tidak sempat memapah tubuh Wan Fei-yang.

Namun akhirnya dia membungkukkan tubuhnya memapah anak muda itu.

Pada saat itu juga, dia melihat belahan giok yang tergantung di leher Wan Fei-yang.

"Belahan giok ini merupakan hadiah kenang-kenangan atas cinta kasihku terhadap Ci-siong Tojin. Mengapa bisa berada pada anak muda ini? Apakah di antara mereka ada hubungan yang istimewa?"

Kata Sen Man-cing dalam hatinya.

***** Setelah kentungan telah berlalu.

Wan Fei-yang baru tersadar kembali.

Guat Ngo juga baru datang.

Dia melaporkan apa yang terjadi di ruangan pendopo.

Tentu saja dia mengenali Wan Fei-yang.

Menurut kabar yang didapatnya, inilah anak muda yang dicintai oleh Tok-ku Hong.

Hal ini benar-benar di luar dugaan Sen Man-cing.

Namun nyonya itu belum lupa bahwa dialah murid murtad Bu-tong-pay yang dituduh membunuh Ci-siong Tojin.

¬¬Kalau diperhatikan, anak muda ini tidak mirip orang jahat.

Apakah kabar yang didengarnya hanya fitnahan belaka?

Atau ada kesalahpahaman di dalamnya?

1132 Oleh karena itu, begitu Wan Fei-yang sadarkan diri, dia langsung mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Mengapa harus membunuh Ci-siong? Mengapa kau bisa melakukan hal sekeji itu?"

Wan Fei-yang sampai terbelalak diberondong seperti itu. Tapi sejenak kemudian dia memakluminya.

"Orang yang membunuh sebetulnya ciangbunjin yang sekarang, Fu Giok-su. Setelah mengetahui bahwa aku juga bisa ilmu silat bahkan Ci-siong Tojin sendiri yang mengajarkan, maka dia memfitnah aku. Masalah ini, Yan-supek sendiri sudah mengerti semuanya. Tidak lama lagi kami akan berangkat ke Bu-tong-san membereskan masalah ini,"

Sahutnya tenang. Sen Man-cing memerhatikan Wan Fei-yang lekat-lekat.

"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak berbohong?"

Desaknya kembali. Meskipun kecurigaannya masih ada, tapi nada suaranya sudah jauh lebih lunak. Wan Fei-yang merenung sejenak.

"Maafkan kelancangan Boanpwe. Apakah Hujin bernama Sen Man-cing?"

Sen Man-cing menganggukkan kepalanya. Wan Fei-yang memperlihatkan belahan giok yang tergantung di lehernya.

"Sebelum menutup mata, Suhu memberikan belahan giok ini kepada Boanpwe. Suhu juga berpesan agar aku mencari Hujin di Bu-ti-bun."

"Apa lagi yang dikatakannya?"

Tanya Man-cing dengan hati terharu.

"Tidak ada lagi,"

Wan Fei-yang menundukkan kepalanya. Wajahnya berubah pucat. Dia membuka mulut dan memuntahkan segumpal darah segar. Tapi dia masih berusaha melanjutkan kata-katanya.

"Ketika itu luka Suhu sudah parah sekali. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, napasnya pun berhenti."

Ucapannya selesai, kembali dia memuntahkan darah segar.

Sen Man-cing mempertimbangkan sejenak.

Akhirnya dia mengulurkan sepasang telapak tangannya di punggung Wan Fei-yang dan menyalurkan tenaga dalamnya.

Wan Fei-yang tertegun.

"Hujin, kau ...."

"Jangan banyak bicara! Kumpulkan hawa murni untuk menyembuhkan luka!"

Sen Man-cing menyalurkan hawa murninya sendiri ke dalam tubuh Wan Fei-yang.

Anak muda itu menghela napas.

Akhirnya dia mengalirkan hawa murni yang diterimanya ke seluruh peredaran darah dalam tubuhnya.

Tepat pada saat itu, Sen Man-cing baru merasakan bahwa hawa murninya tidak dapat terkendalikan lagi.

Seperti aliran sungai yang deras mengalir terus.

"Aneh,"

Gumamnya seorang diri.

Pikirannya tergerak.

Baru saja dia berniat menarik kembali telapak tangannya, namun sepasang telapak itu seperti diolesi lem dan tidak dapat tarik.

Semakin dia memberontak, hawa murninya mengalir semakin cepat.

Juga semakin deras.

1134 Sedangkan hawa murni tersebut di dalam tubuh Wan Fei-yang seakan-akan sedang berlomba saling mendahului.

Segulung demi segulung saling susul-menyusul, bahkan menembus dua urat nadi terpenting dalam tubuhnya.

Sedangkan wajah Sen Man-cing dari merah berubah menjadi putih.

Begitu pucat menakutkan, seakan tidak ada setitik darah pun yang mengalir.

Sebaliknya wajah Wan Fei-yang merah padam seperti kepiting rebus.

Sampai-sampai dia sendiri merasa heran.

Ternyata hawa murninya sendiri pada saat itu berubah menjadi sedemikian kuat dan deras.

Mungkinkah Sen-hujin ...?

Pikirannya baru tergerak, ketika mendadak dia merasakan urat nadi yang menentukan hidup matinya juga telah tertembus.

Wan Fei-yang hanya merasakan kepalanya seperti hampir meledak, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.

Sen Man-cing menggigil hebat.

Dia terpental ke belakang dan terkulai di atas tanah.

Guat Ngo yang menyaksikan keadaan tersebut terkejut setengah mati.

Dengan panik dia maju ke depan memapah Sen Man-cing.

"Hujin, apa yang terjadi?"

Tanyanya cemas.

"Ti ... tidak apa-apa ...."

Suara Sen Man-cing sedemikian lemah.

Wajahnya pucat pasi.

Saat itu juga dia merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga.

Dia menoleh kepada Wan Fei-yang.

Anak muda itu persis seperti sebuah patung yang terbuat dari tanah liat.

Bergerak pun tidak.

Segumpal uap tipis mengepul dari tubuhnya.

Dia seperti dikukus di atas dandang nasi dengan tungku api yang membara di bawahnya.

Guat Ngo juga melihat apa yang terjadi pada anak muda tersebut.

1135 Dia merasa heran sekali.

"Hujin, kenapa dia?"

Sen Man-cing seperti tidak menyadari.

Matanya malah memerhatikan wajah Wan Fei-yang lekat-lekat.

Tiba-tiba dia menyadari sesuatu, dengan nada sumbang dia tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa itu tampak begitu gembira tetapi juga mengenaskan.

"Dua puluh tahun sudah, ternyata begini kejadian yang sebenarnya,"

Gumamnya sambil terus tertawa.

Guat Ngo sama sekali tidak mengerti.

***** Sehari demi sehari terus berlalu.

Wan Fei-yang masih belum sadar juga.

Di permukaan kulitnya mengumpul lapisan seperti sarang laba-laba.

Makin hari makin menebal.

Sampai pada hari ketujuh, wajah Wan Fei-yang sudah berubah putih seperti kapas.

Lapisan yang mirip sarang laba-laba itu juga sudah memenuhi wajahnya.

"Hujin, mengapa dia masih belum sadar juga?"

Guat Ngo tidak pernah lupa mengajukan pertanyaan ini setiap hari.

"Pada saatnya dia akan tersadar sendiri,"

Jawaban Sen Man-cing pun selalu sama.

"Apa lagi yang ditunggunya?"

"Bangkit dari kematian." 1136 ***** Pagi hari yang sama, di bawah tatapan para anggota Bu-ti-bun, Tok-ku Bu-ti keluar dari kantor pusat. Kongsun Hong mengikutinya dari belakang. Kali ini, Tok-ku Bu-ti hanya meminta dia melayaninya saja. Surat tantangan dari Fu Giok-su sudah sampai. Tok-ku Bu-ti meninggalkan Bu-ti-bun, justru untuk memenuhi tantangan itu. Sambil berjalan, tidak lupa dia mengingatkan orang-orang kepercayaannya.

"Kepergianku ini adalah untuk memenuhi tantangan. Aku yakin baru aku sampai di sana, Kuan Tiong-liu pasti akan mengumpulkan murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay menyerbu ke tempat ini. Kalian harus lebih waspada dan berhati-hati!"

Setiap kali ada yang menyebut nama Kuan Tiong-liu, Hek-pai-siang-mo rasanya seperti hampir meledak.

"Pangcu berangkat saja dengan hati tenang. Mengenai Kuan Tiong-liu, kami pasti membuat dia bisa datang dengan hidup, keluar jadi mayat!"

Sahut Hek-mo-cian.

"Lagi pula murid-murid Go-bi-pay sudah hampir habis dibunuh oleh pihak kita. Sisanya paling-paling tidak seberapa. Tidak mungkin berpengaruh banyak. Sedangkan para jago Bu-tong rata-rata juga sudah dibunuh oleh Fu Giok-su. Sisanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan,"

Tukas Pek-mo-cian.

"Bicara memang mudah. Tapi toh tak ada salahnya kalau berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan!"

"Kami pasti akan mengingat baik-baik. Mengenai pertarungan di atas Kuan-jit-hong, harap Pangcu juga menaruh perhatian!"

Kata Hek-pai-siang-mo serentak. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Kalau dilihat dari ilmu silat Fu Giok-su yang tidak seberapa itu tetapi berani menantang aku, seandainya bukan gila, pasti ada suatu rencana yang terselubung di dalamnya."

"Itulah sebabnya Pangcu sudah memerintahkan Cian-bin-hud, Teng-cu, Cukek Ming jauh sebelumnya berkumpul di sana untuk mengawasi segala kemungkinan,"

Sahut Hek-mo-cian.

"Mereka sudah mengikuti aku sekian tahun. Meskipun ilmu silat mereka tidak tinggi namun pengalaman mereka sudah cukup untuk menghadapi musuh tangguh. Apalagi mereka juga membawa para penyelidik yang sudah ahli,"

Kata Tok-ku Bu-ti tersenyum lebar.

"Pangcu sendiri tidak mengharapkan apa-apa, kecuali kabar berita yang pasti."

"Biasanya kalau kita mengetahui kedudukan lawan dan tipu muslihatnya, kita sudah pasti akan meraih kemenangan."

Saat berbicara, mereka sudah melewati dua baris anggota Bu-ti-bun yang berjejer mengantarkan kepergian Tok-ku Bu-ti.

Kemudian dua orang anggota membawakan kuda tunggangan yang akan mereka tunggangi.

Di bawah tatapan para murid Bu-ti-bun, Kongsun Hong dan Tok-ku Bu-ti melarikan kudanya meninggalkan tempat itu.

Debu segera beterbangan memenuhi sekitar daerah tersebut.

1138 Sepanjang perjalanan selalu ada penyelidik Bu-ti-bun yang memberi laporan.

Tapi apa yang mereka katakan semuanya sama.

Mereka hanya melihat Fu Giok-su mengendarai kuda melintas dengan cepat.

Dan dia hanya seorang diri.

Sesampainya mereka di kaki gunung, mereka memerhatikan kode-kode rahasia yang ditinggalkan oleh para penyelidik.

Semua menunjukkan keadaan aman.

Tok-ku Bu-ti dan Kongsun Hong mengikat kuda mereka pada batang pohon yang besar, kemudian meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.

Sesampainya di Kuan-jit-hong, mereka tetap tidak menemukan apa pun yang mencurigakan.

Hati Kongsun Hong menjadi tenang.

Tetapi justru wajah Tok-ku Bu-ti yang berubah semakin kelam.

Apa yang selalu dikatakan orang memang benar.

Jahe yang tua lebih pedas rasanya.

Tok-ku Bu-ti sudah malang melintang dunia Kangouw selama berpuluh tahun.

Semakin tenang suasana yang dihadapinya, hatinya semakin curiga.

Ketenangan seperti yang dilihatnya sekarang malah membuat hatinya makin tidak tenteram.

***** Di atas bukit angin bertiup kencang.

Fu Giok-su berdiri tegak berlawanan dengan tiupan angin.

Pakaian dan rambutnya melambai-lambai.

Sebatang toya yang terletak di sampingnya seakan sedang menyambut embusan angin.

Yang terlihat hanya sebatang toya dan orangnya.

Tok-ku Bu-ti melangkah perlahan.

Ketika jaraknya kurang dari tiga depa, Fu Giok-su baru membalikkan tubuhnya.

Dia menjura dalam-dalam dengan wajah penuh senyuman.

"Tok-ku Pangcu, sudah lama Siaute mengagumi nama besarmu!" 1139 Tok-ku Bu-ti tertawa datar.

"Fu-ciangbunjin benar-benar seorang laki-laki yang sempurna!"

"Terima kasih,"

Mata Fu Giok-su beralih ke arah wajah Kongsun Hong.

"Buncu terkenal sebagai manusia yang cerdik. Ternyata hari ini berani menempuh bahaya dengan tidak berpikir panjang."

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Apa maksud ucapan Fu-ciangbunjin. ini?"

Tanyanya tenang.

"Dengan mengandalkan ilmu silat Siaute, tidak mungkin dapat menandingi Tok-ku Pangcu. Tapi aku berkeras menantangmu, bukankah kau segera dapat menduga bahwa ada hal yang tidak semestinya?"

"Memang sudah dalam dugaanku,"

Kata Tok-ku Bu-ti dengan wajah tidak menampilkan perasaan apa-apa.

"Itulah sebabnya, Tok-ku Pangcu memerintahkan Cian-bin-hud, Teng-cu, dan Cukek Ming untuk mempersiapkan diri jauh sebelumnya."

Mendengar kata-kata itu, wajah Tok-ku Bu-ti mulai berubah.

"Di mana mereka sekarang?"

Tanya Kongsun Hong.

"Di sini ...."

Fu Giok-su menepuk tangannya dua kali. 1140

Jilid 25 Dalam waktu yang bersamaan, tiga sosok tubuh manusia melayang jatuh dari atas.

Tiga sosok mayat.

Kepala Cian-bin-hud yang gundul hampir terbelah menjadi dua bagian.

Pakaian Cukek Ming penuh dengan bercak darah.

Entah berapa banyak jarum beracun yang menusuk tubuhnya.

Sedangkan dada Teng-cu retak parah bahkan lubang di tengahnya menganga mengerikan.

Kongsun Hong marah sekali.

Baru saja dia hendak menerjang ke arah Fu Giok-su, Tok-ku Bu-ti sudah melarangnya.

"Pertarungan hari ini merupakan penyelesaian utang piutang antara Bu-ti-bun dan Bu-tong-pay yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Mengapa ada orang luar yang ikut campur dalam urusan ini?"

Tanya Tok-ku Bu-ti setenang mungkin.

"Apakah Buncu tidak melihat bahwa mereka bukan mati hari ini?"

Fu Giok-su malah berbalik mengajukan pertanyaan.

"Ditilik dari ucapanmu, orang-orang yang kau undang itu, hari ini tidak akan turun tangan mencampuri urusan kita?"

"Itu sih harus ditanyakan sendiri pada orangnya!"

Tampang Fu Giok-su sengaja dibuat seperti merasa serbasalah.

"Mereka adalah angkatan cianpwe bagiku. Ada pepatah yang mengatakan, yang muda harus menurut apa yang dikatakan oleh yang tua!"

"Bagus! Pepatah yang bagus sekali!"

Mata Tok-ku Bu-ti beralih 1141 kepada Kongsun Hong. Seakan ada sesuatu yang disembunyikan dalam sinar matanya. Fu Giok-su rupanya dapat sorot matanya tadi.

"Pangcu juga tidak perlu memberi isyarat kepada Kongsun Hong untuk mencari bantuan. Dua ratus tujuh orang anggota Bu-ti-bun yang melakukan perjalanan secara diam-diam mengiringi Tok-ku Pangcu, tidak ada satu pun yang masih hidup!"

Katanya tiba-tiba. Kongsun Hong terkejut. Wajah Tok-ku Bu-ti berubah hebat.

"Sungguh telengas caramu turun tangan!"

Fu Giok-su meremas tangannya sambil tersenyum lebar.

"Nyali kecil bukan laki-laki sejati, tidak keji tidak bisa menonjolkan diri!"

"Bagus!"

Seru Tok-ku Bu-ti sekali lagi.

"Hidup-matinya para murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay, pasti kau juga tidak peduli sama sekali!"

Senyum Fu Giok-su semakin lebar.

"Hari ini tidak mati, kelak toh harus mati juga. Dengan demikian, mati sekarang saja juga tidak menjadi persoalan bukan?"

Tok-ku Bu-ti tertawa sumbang.

"Tampaknya, hari ini aku juga jangan mengharapkan sebuah pertarungan yang adil!"

"Pada permulaannya, rasanya masih adil."

Mata Tok-ku Bu-ti menyapu ke sekeliling.

"Para sahabat yang menyembunyikan diri .... Kalian sudah boleh keluar sekarang!" 1142 Baru saja ucapannya selesai, dari balik sebuah batu karang yang besar terlihat Thian-ti berjalan keluar dengan tersenyum-senyum.

"Tok-ku Bu-ti, dua puluh tahun saja tidak bertemu, tidak tersangka kau sudah berubah tua begitu banyak!"

Sindirnya ketus. Sinar mata Tok-ku Bu-ti tajam sekali.

"Mungkin karena kau setiap hari menyumpahi aku di dalam telaga dingin belakang Bu-tong-san selama hampir dua puluh tahun,"

Sindiran Tok-ku Bu-ti tidak kalah sinis.

Wajah Thian-ti langsung berubah kelam.

Pada saat itu, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek juga muncul serentak.

Mereka mengambil posisi masing-masing dan mengurung Tok-ku Bu-ti serta Kongsun Hong.

Penampilan Tok-ku Bu-ti masih adem ayem.

"Tokoh Siau-yau-kok muncul sekaligus. Seandainya aku Tok-ku Bu-ti sampai kalah, rasanya bangga juga."

"Sebetulnya sejak semula kau sudah tahu asal usul Giok-su. Pada saat itu juga kau sudah harus berpikir bahwa kami pasti akan muncul juga."

"Sayangnya aku tidak berpikir akan hal itu,"

Sahut Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Aku selamanya ini tidak pernah memerhatikan manusia-manusia yang selama puluhan tahun hanya bisa bersembunyi di lubang tikus!" 1143 Thian-ti mendengus marah.

"Sungguh mulut yang tajam. Mengagumkan! Mengagumkan!"

Tok-ku Bu-ti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Kalau hendak maju, sekarang juga kalian boleh maju semuanya!"

"Untuk sementara Giok-su sendiri saja sudah cukup."

"Berapa cucu yang kau miliki?"

Tanya Tok-ku Bu-ti tiba-tiba.

"Cuma satu ini!"

"Kau tidak takut keturunanmu putus sampai di sini?"

Thian-ti tertawa lebar.

"Giok-su toh tidak melatih ilmu Mit-kip-sin-kang. Tubuhnya juga sehat sekali. Mengapa takut putus turunan?"

Pada saat itu juga, Tok-ku Bu-ti seakan merasa ada sebatang jarum besar yang menusuk ulu hatinya.

Wajahnya menjadi kelam seketika.

Melihat keadaan itu, Thian-ti bangga sekali.

Dia tertawa terbahak-bahak.

"Menurut pendapat Sun-ji, kita sudahi saja pembicaraan ini sampai di sini. Kalau diteruskan, tentu kita dianggap tak adil,"

Tukas Fu Giok-su. Tok-ku Bu-ti tertawa dingin beberapa kali. Fu Giok-su maju dua tindak. Toya di tangannya digetarkan. Terlihat kilauan berbunga-bunga. Bayangannya bagai beratus-ratus.

"Silakan Tok-ku Buncu memberi pelajaran!"

Kata Fu Giok-su 1144 sambil menjura sekali lagi.

"Bagus sekali!"

Kata Tok-ku Bu-ti.

Tongkat kepala naganya dientakkan, kemudian dikibaskan ke depan.

Jurus yang satu ini tampaknya tidak mengandung perubahan, tetapi kekuatannya seperti geledek yang bergemuruh memecahkan keheningan bumi.

Fu Giok-su tidak menangkis serangan itu.

Dia menggeser tubuhnya.

Toya di tangannya ditarik.

Terlihatlah toya tersebut terbelah menjadi dua bagian dengan seutas rantai di tengahnya sebagai penyambung.

Fu Giok-su menyabetkan ujung toya ke arah tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Dengan susah payah laki-laki itu berhasil menghindarinya.

Tongkat kepala naganya berputar ke sekeliling.

Fu Giok-su mencelat mundur.

Begitu ada kesempatan, dia mendesak maju lagi.

Dia melakukan penyerangan dengan gencar.

Tempat yang di ncar selalu tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Bayangan tubuh Tok-ku Bu-ti berkelebat seperti anak panah yang dibidik dari kiri dan kanan.

Kadang-kadang sebelah telapak tangannya menghantam.

"Bu-tong-liok-kiat sudah pernah aku lihat bahkan rasakan beberapa kali. Tapi tidak ada satu pun yang memainkannya dengan cara sekeji dirimu,"

Kata Tok-ku Bu-ti dingin.

"Sayangnya masih tidak sanggup melukai Tok-ku Pangcu!"

Sahut Fu Giok-su sambil mengubah gerakannya.

Coa-tiau-cap-sa-sut segera dikerahkan.

Coa-tiau-cap-sa-sut ini tidak pernah diwariskan kepada siapa pun.

Tok-ku Bu-ti juga belum pernah melihatnya.

Untuk sesaat dia tidak bisa menentukan gerakan Fu Giok-su, dia malah terdesak sejauh tiga depa.

"Apakah yang kau mainkan ini juga ilmu Bu-tong-pay?"

Tanya Tok-ku Bu-ti penasaran.

"Terus terang saja, yang satu ini memang ilmu pusaka Bu-tong-pay yang tidak pernah diwariskan kepada siapa pun. Namanya Coa-tiau-cap-sa-sut!"

Sambil menjawab, Fu Giok-su tidak berhenti bergerak.

Sekarang dia menggunakan jurus Coa-hua-liong-hui (Ular Berubah Menjadi Naga Terbang).

Tubuhnya mencelat ke udara dan berputaran beberapa kali.

Benar-benar seperti seekor naga sakti yang sedang terbang di langit.

Sepasang telapak tangannya tiba-tiba dikatupkan.

Sambil melayang dia mencengkeram tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti.

Begitu kuatnya tarikan itu sehingga tubuh Tok-ku Bu-ti ikut tergetar.

Thian-ti mengambil kesempatan itu baik-baik.

Sepasang telapak tangannya meluncur mengancam kedua pundak Tok-ku Bu-ti.

Laki-laki itu terpaksa melepas tongkat kepala naganya.

Sementara itu Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek menerjang dari empat arah yang berlawanan.

"Manusia rendah!"

Bentak Kongsun Hong murka.

Tubuhnya meluncur.

Sepasang jit-guat-lun di tangannya melayang maju.

Siapa tahu baru saja dia menemukan titik lowong untuk menerjang masuk, sebelah kaki Tok-ku Bu-ti sudah tiba di hadapannya dan menendang Kongsun Hong sampai terpental jauh.

Kongsun Hong tentu saja tidak menyangka sama sekali.

"Cepat pergi!"

Bentak Tok-ku Bu-ti dengan suara lantang. 1146

"Suhu ...."

Panggil Kongsun Hong sambil maju lagi dua langkah.

"Kalau kau tidak pergi, aku yang pertama-tama akan membunuhmu!"

Teriak Tok-ku Bu-ti marah.

Suaranya tajam sekali.

Kata-katanya baru selesai, Fu Giok-su sudah menerjang ke arah Kongsun Hong.

Tok-ku Bu-ti segera menghantam telapak tangannya ke depan untuk mengadang Fu Giok-su.

Tapi begitu dia bergerak, Hujan, Angin, dan Geledek segera bergerak juga.

Posisi mereka tetap dalam keadaan mengepung Tok-ku Bu-ti.

Setelah terkena tendangan tadi, Kongsun Hong sudah mengerti maksud Tok-ku Bu-ti.

Dia tahu kalau dia masih berada di sana, bukan saja tidak dapat memberi bantuan apa-apa malah membuat perhatian Tok-ku Bu-ti terpencar.

Dia juga tahu bahwa kali ini Tok-ku Bu-ti akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertarung.

Dia tidak berani berdiam lama-lama di tempat itu.

Dengan panik dia menghambur ke bawah gunung.

Tok-ku Bu-ti menyambut serangan Hujan, Kilat, Angin, dan Geledek dengan gencar.

Diam-diam dia memerhatikan bahwa Kongsun Hong sudah agak jauh.

Dia sendiri berusaha melepaskan diri dari kepungan keempat orang itu.

Tetapi pada saat itu juga, Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek sudah memencarkan diri.

Posisi mereka berubah.

Barisan Hujan, Angin, Kilat, Geledek segera dikerahkan.

Keempat orang itu berlatih keras selama bertahun-tahun.

Tujuannya memang untuk menghadapi Tok-ku Bu-ti.

Begitu barisan itu mulai bergerak, bayangan mereka bagaikan 1147 pelangi yang tidak henti bergerak.

Tok-ku Bu-ti terkejut sekali.

Cepat dia menoleh ke arah kanan di mana terletak bagian im-yang.

Hanya di situ ada kekosongan yang dapat dijadikan jalan keluar baginya.

Namun dua bagian itu langsung di si oleh Fu Giok-su dan Thian-ti.

Hilangnya kesempatan Tok-ku Bu-ti untuk menerobos barisan tersebut.

Tetapi Tok-ku Bu-ti memang tidak berlebihan apabila disebut manusia yang cerdas.

Setelah menerjang beberapa kali tanpa hasil, dia mulai melihat titik kelemahan barisan tersebut.

Dia segera menerobos bagian itu, tapi terpaksa terdesak kembali karena serangan Fu Giok-su dan Thian-ti.

Tiba-tiba terlihat segumpal asap merah meluncur dari kaki bukit ke atas langit.

Tok-ku Bu-ti mendengus dingin.

"Siapa lagi yang kalian undang untuk membantu mengalahkan aku? Suruh naik saja sekalian!"

Katanya kesal. Thian-ti tertawa cengar-cengir.

"Dugaanmu kali ini salah. Asap tadi merupakan isyarat bahwa murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay sudah menyerbu ke Bu-ti-bun,"

Sahutnya menjelaskan.

Wajah Tok-ku Bu-ti semakin berubah.

Dia menghimpun hawa murninya dan mengerahkan Mit-kip-sin-kang.

Berturut-turut dia melancarkan empat belas kali serangan.

Pada saat itu juga Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek memutar tubuhnya secepat kilat.

Gerakan mereka seperti gasing mainan anak-anak.

Namun deru angin yang ditimbulkan oleh tubuh mereka ibarat badai yang menggulung.

Seluruh serangan Tok-ku Bu-ti berhasil ditolak.

Melihat serangannya yang gencar masih juga tidak membawa hasil, hati Tok-ku Bu-ti mulai tergetar.

Seakan ada batu berat 1148 menekan di atas kepalanya.

Untuk sesaat dia hanya menggeser kakinya ke kiri dan kanan.

Otaknya masih bekerja keras mencari akal menerobos barisan tersebut.

Mengetahui keadaannya yang mulai kewalahan Thian-ti tertawa terbahak-bahak.

"Tok-ku Bu-ti, hari ini Kuan-jit-hong akan menjadi tanah pemakamanmu."

"Belum tentu!"

Sahut Tok-ku Bu-ti sambil bergerak mundur satu langkah kemudian menghimpun hawa murninya kembali.

Tubuh Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek bergerak serentak.

Kembali mereka berputaran seperti sebelumnya kemudian mendadak berhenti.

Keempatnya langsung menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Kibasan lengan baju Angin, jarum beracun Hujan, golok Geledek, serta pedang Kilat, semuanya dikerahkan dalam waktu bersamaan.

Tok-ku Bu-ti meraung keras.

Kibasan lengan baju Angin terhajar robek oleh hantaman telapak tangannya.

Jarum beracun Hujan terkena angin tepukannya dan melenceng melewati samping pundaknya.

Telapaknya menghantam terus dengan gencar.

Kembali pedang Kilat terhajar olehnya sehingga terpental keluar dari barisan.

Keadaan Geledek yang lebih mengenaskan.

Golok dan orangnya melayang sejauh dua depa.

Fu Giok-su sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal demikian.

Namun dia bergerak cepat.

Selagi tenaga hantaman pertama tadi sudah hampir habis dan Tok-ku Bu-ti belum sempat mengerahkan tenaga baru, dia langsung menyerangnya dengan salah satu jurus Coa-tiau-cap-sa-sut.

1149 Anak muda itu mengerahkan segenap tenaganya menahan hantaman telapak tangan Tok-ku Bu-ti.

Sedangkan Thian-ti juga langsung menggunakan kesempatan itu menghajar belakang punggung Tok-ku Bu-ti dengan sepasang telapak tangannya.

Terdengar suara "Hoakkk!

Hoakkk!"

Dua kali.

Tok-ku Bu-ti memuntahkan darah segar dua kali berturut-turut.

Tubuhnya terpental dengan gerakan melayang langsung meluncur ke dalam jurang.

Para lawannya segera menghambur ke tepi jurang.

Terlihat tubuh Tok-ku Bu-ti semakin mengecil kemudian menghilang dalam kabut yang berselimut.

Tanpa dapat menahan diri lagi, Thian-ti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Hujan, Angin, Kilat, Geledek, dan Fu Giok-su saling pandang sekilas.

Mereka juga ikut tertawa keras-keras.

Tok-ku Bu-ti sudah berhasil dilenyapkan.

Orang lainnya tidak dipandang sebelah mata lagi oleh mereka.

Tampaknya kerja keras mereka selama puluhan tahun untuk menguasai dunia persilatan tidak lama lagi akan menjadi kenyataan ***** Kantor pusat Bu-ti-bun pada saat ini sudah tenang kembali.

Yang mati atau yang terluka tidak terhitung.

Mayat bergelimpangan di mana-mana.

Para murid Go-bi dan Bu-tong sedang berbenah diri.

Mereka juga menghitung jumlah-jumlah yang terluka atau terbunuh.

Sebetulnya yang terluka juga sudah boleh dihitung sebagai orang mati.

Luka yang mereka alami demikian parah sehingga kesempatan hidup mungkin satu persen pun tidak ada.

1150 Meskipun Bu-ti-bun sudah menduga para murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay akan datang menyerbu dan mereka sudah mengadakan persiapan sebelumnya, namun mereka sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan benar-benar licik.

Pertempuran mereka lebih-lebih dari pecah perang.

Pertama-tama Hek-pai-siang-mo dikalahkan oleh Kuan Tiong-liu dengan tiga jurus terakhir Lok-jit-kiam-hoat.

Walaupun Yi Pei-sa memohon pengampunan bagi kedua bekas suhunya itu, Kuan Tiong-liu tetap turun tangan keji terhadap mereka.

Dengan kematian Hek-pai-siang-mo, para anggota Bu-ti-bun seperti ular tanpa kepala.

Mereka menjadi kalang kabut dan kocar-kacir.

Sampai senja menjelang pada hari yang sama, semua sudah tersapu bersih.

Pada saat itu, Fu Giok-su baru kembali.

Dia hanya seorang diri.

Tangannya mendekap di depan dada.

Seakan terhuyung-huyung.

Langkah kakinya juga tampak berat, seolah-olah telah terluka parah.

Melihat keadaannya, Kuan Tiong-liu sudah mempunyai perhitungan tersendiri.

Sambil maju menyambut, tenaganya disalurkan ke telapak tangan.

"Kali ini benar-benar menyusahkan Fu-heng ...."

Katanya sambil mengulurkan tangan dengan gerakan cepat.

Dia bermaksud mencengkeram urat nadi di pundak Fu Giok-su.

Tetapi cengkeramannya gagal mengenai sasaran.

Kuan Tiong-liu langsung terpana.

Fu Giok-su malah tertawa lebar.

"Kuan-heng begitu bertemu langsung turun tangan keji, apakah tidak terlalu cepat mengambil tindakan?"

Tanyanya tenang. 1151 Pada saat itu Kuan Tiong-liu baru merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Dia mundur satu langkah.

"Ternyata Fu-heng sama sekali tidak terluka!"

Katanya gugup.

"Aku hanya ingin menguji ketulusan hati Kuan-heng, bagus sekali ...!"

"Apanya yang bagus?"

Tanya Kuan Tiong-liu penasaran.

"Kuan-heng tidak tulus, aku terlebih-lebih harus berbuat kejam. Apakah tidak bagus jadinya?"

Fu Giok-su menyeringai menyeramkan. Tanpa sadar tubuh Kuan Tiong-liu bergetar.

"Ilmu Mit-kip-sin-kang milik Tok-ku Bu-ti hebat sekali. Sungguh tidak ternyana Fu-heng bisa mengalahkannya,"

Katanya tidak habis pikir.

"Hanya mengandalkan beberapa jurus cakar monyet Siaute, mana mungkin bisa mengalahkannya?"

"Kalau begitu ...."

Tanpa terasa alis Kuan Tiong-liu berkerut seketika.

"Kuan-heng juga termasuk manusia yang cerdas. Tentu dapat menduga apa yang telah terjadi."

"Apakah Fu-heng telah mengundang beberapa tokoh terkemuka untuk memberi bantuan? Mengapa aku tidak mendengar Fu-heng mengungkit masalah ini?"

"Orang pintar hanya berbicara tiga patah kata. Sama sekali tidak boleh membuka rahasia hati. Pepatah ini, Siaute yakin Kuan-heng sudah pernah mendengar bukan?"

Kuan Tiong-liu mendengus dingin.

"Mengapa tidak mengundang orang itu keluar agar Siaute dapat berkenalan?"

"Orangnya sudah keluar ...."

Yang menjawab tentu saja Thian-ti.

Di belakangnya menyusul Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.

Mereka mengambil posisi di seluruh ruangan.

Para murid Bu-tong berseru kaget mendengar kemunculan si makhluk tua.

Wajah Gi-song dan Cang-song langsung berubah hebat.

"Giok-su, mengapa kau mengundang makhluk tua itu ke sini?"

Bentak Gi-song marah. Fu Giok-su mendelikkan matanya lebar-lebar. Cang-song langsung menyurut dua langkah. Gi-song tetap membusungkan dadanya. Kuan Tiong-liu tertawa lebar.

"Tentu saja untuk membalas dendam,"

Katanya.

"Terkurung dalam telaga dingin selama dua puluh tahun bukan hal yang menyenangkan!"

Sahut Thian-ti sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Tentu saja dendam ini harus diperhitungkan baik-baik!"

Wajah para murid Bu-tong-pay tidak ada satu pun yang tidak berubah. 1153

"Sekarang, satu-satunya jalan adalah menggabungkan diri membina kekuatan. Dengan demikian setidaknya masih ada kemungkinan hidup,"

Kata Kuan Tiong-liu cepat. Suara bising segera terdengar. Para murid Bu-tong maupun Go-bi-pay menghunus senjata masing-masing. Mata Fu Giok-su menyapu ke sekeliling.

"Kalian salah lagi. Sekarang merupakan waktunya kita saling membutuhkan. Bagaimana mungkin aku akan membunuh kalian. Pokoknya yang menurut yang hidup, yang membangkang ...."

"Selama ini ternyata kau berkomplot dengan para penjahat itu. Sungguh memalukan nama Bu-tong-pay!"

Teriak Gi-song marah. Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.

"Selama ini Susiok selalu menganggap diri sendiri paling pintar. Ternyata sampai sekarang masih belum mengerti juga ...."

"Mengerti apa?"

Gi-song tertegun. Kemudian mendadak dia berteriak.

"Apakah kau memang segolongan dengan mereka dan sejak semula sudah mengincar Bu-tong-pay?"

Fu Giok-su menganggukkan kepalanya dengan tenang.

"Akhirnya pikiran Susiok terbuka juga."

"Kalau begitu, tentunya Wan Fei-yang hanya terkena fitnahan dan menjadi kambing hitam bagimu. Sebetulnya kaulah yang membunuh Ciangbun-suheng!"

"Tidak salah ...."

Fu Giok-su dengan berani mengaku terus 1154 terang.

"Kematian Yan-suheng dan Wan-ji ...!"

Suara Gi-song langsung bergetar.

"Tentu saja aku juga yang merencanakan semua siasat keji itu ...."

Mata Fu Giok-su setengah menerawang. Gi-song marah sekali. Tangannya mengepal erat-erat.

"Mengapa kau harus berbuat demikian?"

Tanyanya dengan mata hampir melotot keluar. Thian-ti maju ke depan dan menjawab pertanyaan itu.

"Karena dia adalah cucuku!"

Mendengar ucapannya, sampai-sampai Kuan Tiong-liu ikut terperanjat.

Wajah para murid Bu-tong-pay berubah hebat.

Mereka menatap Fu Giok-su dengan penuh kebencian dan kemarahan.

Kuan Tiong-liu segera menggunakan kesempatan itu baik-baik.

"Baik dan jahat tidak mungkin berdiri bersama. Mari kita serang orang-orang ini dan balas dendam untuk Ci-siong Tojin!"

Teriaknya lantang.

Dua orang murid Bu-tong-pay yang adatnya berangasan langsung menerjang ke depan.

Keduanya langsung disambut oleh hantaman telapak tangan Thian-ti dan Fu Giok-su.

Sekejap mata mereka terpental kembali, mulut mereka memuntahkan darah segar, nyawa mereka pun melayang seketika.

"Para murid yang masih setia padaku menepi ke bawah 1155 tembok sebelah kiri. Yang membangkang tetap di tempat!"

Teriak Fu Giok-su dengan wajah angker.

Para hadirin langsung gempar.

Sebagian besar yang takut mati langsung berjalan berdesak-desakan ke arah bawah tembok sebelah kiri.

Mereka tidak berani mendongakkan wajahnya memandang rekan yang lain.

Cang-song juga ikut-ikutan menuju ke sebelah kiri.

Tangannya menarik ujung baju Gi-song.

Tapi pegangannya disentak oleh saudara seperguruannya itu.

Dia menuding Fu Giok-su dengan mata mengandung kebencian yang dalam.

"Murid murtad!"

Fu Giok-su tertawa dingin.

"Kau habisi nyawamu sendiri atau aku yang harus turun tangan?"

Tanyanya sinis. Gi-song seperti tidak mendengar kata-katanya. Dia membalikkan tubuhnya ke arah gunung Bu-tong-san dan menjatuhkan diri berlutut.

"Para leluhur Bu-tong-pay, sejak masuk ke dalam perguruan ini, Gi-song selalu membanggakan diri sendiri dan tinggi hati. Tidak pernah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan Gi-song pernah menyumpahi Wan Fei-yang, yang sebetulnya tidak berdosa. Selama dia berada di Bu-tong-san, Gi-song juga tidak jarang mencari masalah dengannya dan menghukumnya dengan cara yang semena-mena. Sekarang Gi-song menyesal namun sudah terlambat. Satu-satunya jalan menebus kesalahan ini hanya mati. Harap para leluhur memberkati Bu-tong-pay. Jangan sampai hancur begini saja. Juga memberkati Wan Fei-yang agar panjang umur dan dapat kembali ke Bu-tong dengan selamat!"

Selesai berkata, dia langsung mencabut pedangnya dan menggorok leher sendiri.

1156 Para murid Bu-tong yang mengambil keputusan mengikuti Fu Giok-su merasa malu sekali.

Kepala mereka tertunduk dalam-dalam.

Air mata mengalir dengan deras.

Sayangnya mereka tidak mempunyai keberanian seperti Gi-song.

Sedangkan sisa dua puluh orang yang masih berdiri di tempat sangat terpukul hati mereka.

Setelah meraung keras mereka menerjang keluar.

Kuan Tiong-liu dan Yi Pei-sa juga langsung menerjang.

Tangan kedua orang ini saling bergenggaman.

Kibasan lengan baju Angin, jarum beracun Hujan, golok Geledek, pedang Kilat bergerak serentak.

Sepasang tinju Thian-ti bergerak serentak.

Sepasang tinju Thian-ti bergerak tanpa mengenal kata kasihan.

Sedangkan toya Fu Giok-su berkelebat cepat bagai ular berbisa yang siap mematuk mangsanya!

Keenam orang ini adalah tokoh nomor satu di dunia persilatan pada zaman ini.

Tentu saja kedudukan mereka sudah di atas angin.

Melihat gerakan keenam orang ini, Kuan Tiong-liu sadar sulit menerjang keluar.

Dia saling lirik sekilas dengan Yi Pei-sa.

Akhirnya kedua orang itu menganggukkan kepala dan menyerang Fu Giok-su serentak.

Darah segar bercipratan ke mana-mana.

Kelebatan tubuh manusia bagai bayangan-bayangan setan yang menari-nari.

Suara jeritan histeris berkumandang menyayat hati.

Satu demi satu mayat roboh dan jatuh menghadap Kuan Tiong-liu.

Dia dan Yi Pei-sa menggerakkan pedangnya dengan gencar.

Namun tetap tidak berhasil melukai Fu Giok-su.

Ketika mereka merasa suasana di sekitar telah berubah menjadi hening, mereka baru sadar bahwa di dalam ruangan itu hanya tersisa mereka berdua yang masih hidup.

Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, 1157 dan Geledek sudah mengepung mereka berdua dari segala penjuru.

Fu Giok-su mundur dua langkah.

Dia tertawa lebar.

"Aku rasa kita tidak perlu melanjutkan pertarungan lagi!"

Katanya sinis. Kuan Tiong-liu menyarungkan pedangnya kembali. Dia menoleh kepada Yi Pei-sa. Gadis itu menyusupkan kepalanya ke dalam pelukan Kuan Tiong-liu.

"Ke mana pun kau pergi, aku akan ikut. Jangan tinggalkan aku seorang diri!"

Kata gadis itu tenang. Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya.

"Jangan khawatir .... Aku akan membawamu serta."

Dia mengerling kepada Fu Giok-su.

"Seandainya kami di bawah serangan toyamu, bagi kami hal itu malah merupakan suatu penghinaan!"

"Apa pun yang kau katakan aku tidak peduli!"

Sahut Fu Giok-su datar.

"Karena kau sama sekali bukan manusia lagi, tapi binatang!"

Baru saja ucapannya selesai, pedang di tangannya langsung menikam belakang punggung Yi Pei-sa dan dia sendiri segera mengentakkan tubuhnya ke belakang dan pedang itu pun menembus jantungnya.

Satu pedang dua nyawa.

Dengan bibir tersenyum Yi Pei-sa mengembuskan napas terakhir dalam pelukan Kuan Tiong-liu.

Pada saat itu juga nyawa Kuan Tiong-liu juga melayang.

Mereka mati berpelukan.

Ujung mata Fu Giok-su bergetar sekejap.

Perlahan-lahan dia 1158 membalikkan tubuhnya.

Tidak ada orang yang tahu bagaimana perasaan hatinya.

Tidak seorang pun.

Tepat pada saat itu, para murid Siau-yau-kok sudah berhamburan keluar dari tempat persembunyian mereka.

Rupanya mereka telah mempersiapkan diri sejak tadi dan menjaga-jaga seandainya terjadi sesuatu yang tidak di nginkan.

Obor-obor menyala dengan terang.

Suara sorakan memekakkan telinga.

Mereka menari-nari di atas mayat-mayat yang bergelimpangan.

***** Di sebuah jalan daerah yang terpencil, sebuah kereta kuda yang sudah tua melaju perlahan.

Orang yang menjalankan kereta dan kuda yang menarik di depannya sama-sama tua.

Sampai gigi pun sudah hampir ompong semuanya.

Di dalam kabin kereta Sen Man-cing dan Guat Ngo duduk berdampingan.

Di belakang mereka tergeletak Wan Fei-yang yang sudah hampir mirip mayat hidup.

Seluruh tubuhnya dilapisi sarang laba-laba yang mengepulkan uap dingin.

Tentu saja bukan sarang laba-laba betulan.

Hanya tampaknya seperti seekor serangga yang terperangkap dalam sarang laba-laba.

Selama ini Sen Man-cing terus memerhatikan perubahan yang terjadi pada diri Wan Fei-yang.

Dia sudah mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Dia juga sadar bahwa pada saat ini Wan Fei-yang tidak boleh menerima sedikit pun getaran atau guncangan batin.

Oleh karena itu, ketika dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, dia langsung mengajak Guat Ngo 1159 memapah Wan Fei-yang keluar dari jalan rahasia.

Kepergian mereka untung saja tepat pada waktunya.

Baru mereka meninggalkan tempat itu tidak beberapa lama, Liong-hong-kek juga sudah diserbu oleh orang-orang Go-bi-pay dan Bu-tong-pay.

Jalan rahasia itu bukan terletak di dalam Liong-hong-kek.

Kalau para anggota Bu-ti-bun tidak sedang pontang-panting menghadapi musuh, tentu mereka juga tidak demikian mudah melarikan diri dari tempat tersebut.

Selama beberapa puluh tahun ini, baru kali pertama Sen Man-cing meninggalkan Bu-ti-bun.

Dapat dibayangkan perasaan asingnya terhadap dunia luar.

***** Sementara itu, di pondok peninggalan Hay-liong Lojin, Fu Hiong-kun, dan Tok-ku Hong duduk berhadapan dengan saling membisu.

Di belakang mereka ada sebuah makam baru.

Di sanalah Yan Cong-tian dikuburkan.

Kejadian itu berlangsung tujuh hari yang lalu.

Tiba-tiba Fu Hiong-kun melihat keadaan Yan Cong-tian yang mencurigakan.

Dia segera memeriksa.

Ternyata napas orang tua itu sudah berhenti.

Biar dilihat dari sudut mana pun, Yan Cong-tian sudah tidak menampakkan gejala orang hidup.

Akhirnya dengan perasaan sedih, Fu Hiong-kun terpaksa mengubur Yan Cong-tian.

Dia sendiri tetap menetap di tempat itu, dengan harapan bahwa pada suatu hari Wan Fei-yang akan pulang ke sana.

Lagi pula dia memang tidak mempunyai tempat tinggal lagi.

Dia sadar bagaimana kakeknya membencinya sekarang.

Sedangkan melihat perubahan Fu 1160 Giok-su, abangnya itu juga tidak mungkin memaafkannya.

Pokok persoalannya adalah dia sendiri yang sudah tidak sanggup hidup bersama-sama orang-orang jahat itu.

Wan Fei-yang tidak kembali, malah Tok-ku Hong yang datang ke sana.

Fu Hiong-kun merasa di luar dugaan.

Apalagi setelah mendengar cerita Tok-ku Hong tentang kehadiran Wan Fei-yang yang mengacau di hari pernikahan gadis itu, Fu Hiong-kun semakin tertekan.

Tapi dia adalah seorang gadis berjiwa besar.

Dia tidak membenci Wan Fei-yang.

Dia hanya menarik napas panjang.

Dia juga tidak cemburu ataupun marah terhadap Tok-ku Hong.

Menghadapi seorang gadis yang baik hati dan lembut seperti Fu Hiong-kun, bagaimana mungkin Tok-ku Hong tidak dapat melenyapkan rasa salah pahamnya dulu?

Meskipun mulutnya tidak berkata apa-apa, tapi hatinya sudah mengambil keputusan untuk membagi cinta kasih Wan Fei-yang separuhnya untuk Fu Hiong-kun.

Setiap kali mengungkit nama Wan Fei-yang, hati kedua gadis itu menjadi khawatir kembali.

Sampai saat ini Wan Fei-yang masih belum pulang ke tempat ini, ke mana perginya pemuda itu?

Apakah lukanya terlalu parah sehingga tidak dapat mempertahankan lagi dalam perjalanan?

Teringat akan hal-hal yang buruk, hati keduanya menjadi semakin cemas dan takut.

Akhirnya Fu Hiong-kun membimbing gadis itu ke depan makam Yan Cong-tian.

Dia bermaksud melupakan sejenak urusan Wan Fei-yang.

Baru saja Tok-ku Hong bermaksud menjatuhkan diri berlutut, tiba-tiba dia merasa tanah yang dipijaknya bergetar.

Fu Hiong-1161 kun juga merasakannya.

Matanya terbelalak.

Tanpa sadar dia menjerit ngeri.

Apalagi ketika kuburan itu retak dan terpecah belah lalu tanah berhamburan ke mana-mana disusul dengan suara pecahnya peti mati.

Fu Hiong-kun sampai menggigil ketakutan.

"Hong-cici, apa sebenarnya yang terjadi?"

Tanyanya gugup.

"Mayat hidup ...!"

Dia sendiri yang mengucapkan kata-kata itu, tapi wajahnya sendiri pula yang berubah menghijau.

Sekali lagi terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga, bagai terjadi gempa bumi yang dahsyat.

Kuburan itu merekah lebar dan sesosok tubuh menerjang keluar dari dalamnya!

Wajahnya merah padam, di antara siulan panjang, tubuhnya berjungkir balik dua kali kemudian melayang turun di hadapan Fu Hiong-kun dan Tok-ku Hong.

Wajah kedua gadis itu berubah beberapa kali.

Mereka mundur beberapa langkah.

Tanpa sadar tangan keduanya bergenggam erat.

Mata mereka terbelalak.

Mulut terbuka lebar.

Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak.

"Anak bodoh! Apa yang kalian takutkan?"

Tanyanya tenang. Fu Hiong-kun tersadar. Sukmanya yang tadi baru melayang sekarang kembali lagi. Dengan heran dia memandang Yan Cong-tian lekat-lekat.

"Locianpwe ... kau ...?"

Wajah Yan Cong-tian berseri-seri. Dia tertawa terbahak-bahak sekali lagi. 1162

"Tiga puluh tahun berlatih dengan susah payah tanpa hasil. Siapa sangka setelah mengalami berbagai penderitaan, ternyata hari ini aku berhasil menguasai Tian-can-kiat!"

"Tian-can-sinkang?"

Tok-ku Hong dan Fu Hiong-kun tertegun serentak.

"Ilmu ini merupakan pusaka Bu-tong-pay selain Bu-tong-liok-kiat. Karena Suhu dibokong musuh dan mati pada saat itu juga, beliau belum sempat mengatakan kunci ilmu Tian-can-sinkang ini. Itulah sebabnya aku tidak pernah berhasil melatih ilmu ini. Sampai sekarang aku baru tahu kunci rahasia tersebut,"

Sahut Yan Cong-tian serius. Tok-ku Hong dan Fu Hiong-kun mendengarkan dengan termangu-mangu.

"Tian-can-sinkang adalah sebuah ilmu yang luar biasa. Memang harus mengalami luka parah dulu, di ambang kematian lalu hidup lagi, baru memahami sim-hoat yang luar biasa ini. Dengan kata lain, harus orang yang paham sekali sim-hoat ini dan bahkan seorang yang ilmu silatnya hampir musnah baru bisa mendapatkan tenaga Tian-can-sinkang. Kalian tahu bagaimana seekor ulat sutra menjadi dewasa. Bukankah berasal dari kepompong yang beralih perlahan-lahan dari tidak berdaya menjadi ulat sutra yang berguna? Kurang lebih seperti itulah prosesnya. Sedangkan aku mempelajari dengan membabi buta. Selalu menganggap ada sesuatu yang kurang dalam latihanku sendiri. Tidak tahunya makin dilatih makin runyam. Hampir saja jiwa melayang di tangan Fu Giok-su!"

"Maksud Locianpwe, harus memusnahkan ilmu sendiri dan 1163 berlatih kembali dari awal baru bisa berhasil?"

Tanya Fu Hiong-kun.

"Tidak salah! Persis seperti seekor ulat sutra bukan? Di mana kepompongnya harus terkelupas dulu baru bisa jadi ulat. Pemecahan sederhana ini ternyata sempat membuat aku pusing selama dua puluh tahunan,"

Yan Cong-tian menarik napas dalam-dalam.

"Meskipun tempo hari aku meminum obat yang dibawakan oleh Fei-yang, tapi hatiku sendiri sudah putus asa. Mengingat usiaku yang sudah tua, seandainya urat nadi ini bisa tersambung lagi, aku juga tidak banyak kegunaannya lagi. Aku ingin bunuh diri dengan cara menutup jalan pernapasanku. Tidak tahunya, tiba-tiba pikiran ini menjadi kosong melompong. Napas pun benar-benar terhenti. Namun sebetulnya otak ini masih bekerja. Aku dapat mendengar suara apa pun di sekitar, hanya saja tidak dapat memberikan reaksi. Aku bahkan tahu ketika Fu-kouwnio mengubur diriku."

Fu Hiong-kun tertawa getir.

"Aku masih mengira Locianpwe benar-benar telah berpulang."

"Memang reaksi yang diperlihatkan persis dengan orang yang sudah mati. Dan tenaga dalam yang kulatih selama ini pun musnah seketika, tetapi tenaga Tian-can-sinkang justru mulai terbangkit. Semakin lama bertambah kuat."

"Kami memberi selamat kepada Locianpwe!"

Kata Tok-ku Hong dan Fu Hiong-kun serentak sambil menjura. Yan Cong-tian tersenyum. Tiba-tiba dia berdiri. Seakan ada sesuatu yang teringat dalam ingatannya.

"Di mana Wan Fei-yang? Panggil dia kemari! Aku ingin mewariskan rahasia Tian-can-sinkang. Dengan gabungan tenaga kami berdua, selain 1164 membasmi murid murtad, nama besar Bu-tong-pay juga dapat dibangkitkan kembali!"

Mendengar ucapan Yan Cong-tian, kedua gadis itu langsung menundukkan kepalanya sambil menarik napas panjang.

Mereka terpaksa menceritakan segalanya.

Untung saja sifat Yan Cong-tian sudah jauh berubah.

Kalau sifatnya masih seperti dulu, pasti Tok-ku Hong menjadi sasaran marahnya.

Tapi sekarang dia hanya menatap langit sembari menggumam seorang diri.

Entah apa yang digumamkannya, wajahnya saja yang berubah kelam seketika.

***** Pada waktu yang hampir bersamaan, benda-benda berwarna putih yang melapisi kulit tubuh Wan Fei-yang tiba-tiba terkelupas.

Melihat keadaan itu, Guat Ngo menjerit terkejut.

Sen Man-cing buru-buru mendekati, setelah tahu apa yang terjadi, dia malah tertawa lebar.

Akhirnya Wan Fei-yang membuka mata.

Sinarnya begitu tajam menusuk.

"Selamat! Kau telah berhasil menguasai Tian-can-sinkang!"

Kata Sen Man-cing segera.

"Apa?"

Wan Fei-yang langsung terpaku mendengar ucapannya.

"Beberapa tahun yang silam, suhumu terluka parah. Dia kutolong seperti kau sekarang ini. Setelah tahu bahwa aku berasal dari keluarga Sen yang terkenal dalam latihan lwekangnya, juga karena selama itu dia tidak pernah dapat mengungkapkan rahasia Tian-can-sinkang, maka dia menyebutkan teori ilmu itu kepadaku dengan harapan suatu 1165 hari nanti aku akan berhasil memecahkan rahasia yang terkandung di dalamnya. Selama belasan tahun ini aku tetap tidak menghasilkan apa-apa. Demi menolong dirimu, aku terpaksa menyalurkan tenaga dalam ke seluruh tubuhmu. Ternyata sekali disalurkan, tenaga dalam itu seperti tersedot. Mengalir dengan deras dan kuat tak terkendalikan. Bahkan aku tidak dapat menarik tanganku kembali. Pada saat itulah aku sadar apa yang telah terjadi."

"Hujin, aku masih belum mengerti!"

Sen Man-cing menghela napas perlahan.

"Mahkota kebesaran disimpan selama bertahun-tahun, pakaian kerajaan dikenakan orang lain ...."

Pikiran Wan Fei-yang langsung tergerak mendengar syair itu.

"Maksud Hujin, meskipun Hujin sendiri yang melatih ilmu Tian-can-sinkang, namun hasilnya tak pernah ada. Malah setelah tenaga dalam Hujin disalurkan ke tubuh Cayhe, barulah ilmu itu berkembang?"

Sen Man-cing menganggukkan kepalanya sambil menarik napas panjang.

"Pada dasarnya, ulat sutra memang harus melalui proses yang lain baru dapat menjadi bahan pakaian. Kalau didiamkan saja, tentu tidak ada manfaatnya. Orang yang memproses ulat itu hanya disebut pemberi jasa."

"Kongcu, setelah Hujin menyalurkan tenaga Tian-can-sinkang kepadamu, tenaga dalamnya sendiri malah menjadi musnah,"

Tukas Guat Ngo. Mendengar keterangan itu, dengan panik Wan Fei-yang menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

"Budi Hujin yang 1166 sedalam lautan tidak akan pernah Wan Fei-yang lupakan seumur hidup!"

Katanya dengan nada terharu. Sen Man-cing segera memapah Wan Fei-yang bangkit.

"Kongcu tidak perlu berterima kasih kepadaku. Semua ini merupakan takdir. Lagi pula tenaga dalamku tidak sampai musnah, masih tersisa sedikit untuk sekadar berjaga diri."

Wan Fei-yang terdiam mendengar ucapannya. Tiba-tiba dia mengedarkan pandangannya. Dia baru sadar bahwa saat itu dia bukan di kamar Sen Man-cing lagi.

"Tempat apa ini?"

Tanyanya bingung.

"Rumah seorang petani. Kita sudah jauh dari Bu-ti-bun. Seharusnya keadaan kita sudah aman sekarang,"

Sahut Guat Ngo.

"Apakah telah terjadi sesuatu di markas Bu-ti-bun?"

Sen Man-cing menggelengkan kepalanya seraya menghela napas.

"Bu-ti-bun sudah diserbu oleh gabungan murid Go-bi-pay dan Bu-tong-pay. Kita justru menggunakan kesempatan ketika terjadi keributan itu untuk membawa engkau meninggalkan tempat tersebut,"

Kembali Guat Ngo yang menjawab pertanyaan Wan Fei-yang.

"Oh?"

Hal ini benar-benar di luar dugaan Wan Fei-yang.

"Mengapa Go-bi-pay bisa bergabung dengan Bu-tong-pay? Bukankah partai itu sudah dibasmi habis-habisan oleh Tok-ku Bu-ti?" 1167 Guat Ngo mengangkat bahunya.

"Entah bagaimana persoalannya. Setelah Go-bi-pay dan Bu-tong-pay menyerang Bu-ti-bun sampai hancur lebur, mereka juga diserang lagi oleh pihak yang menamakan diri mereka orang-orang Siau-yau-kok,"

Sahut gadis itu menjelaskan. Mendengar keterangan tersebut, wajah Wan Fei-yang berubah hebat. Pada saat itu juga dia teringat akan Fu Giok-su. Tinjunya mengepal erat-erat.

"Pasti dia! Tidak salah lagi, pasti dia yang mengatur segalanya!"

Teriaknya marah.

"Siapa?"

Tanya Sen Man-cing penasaran.

"Fu Giok-su!"

Sahut Wan Fei-yang dengan hati bagai ditikam pisau tajam.

"Ciangbunjin Bu-tong-pay generasi sekarang. Dia juga cucu dari ketua Siau-yau-kok, Thian-ti."

Sen Man-cing menarik napas panjang.

"Ambisi orang ini terlalu besar sehingga sampai hati melakukan apa saja."

"Oh ya, Hujin .... Apa rencanamu sekarang?"

Tanya Wan Fei-yang.

"Aku berharap dapat menemukan Hong-ji secepatnya!"

"Dia ... apa yang terjadi dengannya?"

"Pada saat kau melarikan diri ke Liong-hong-kek, dia juga menggunakan kesempatan itu lari dari Bu-ti-bun. Tampaknya dia sedang mencari engkau ...."

"Kalau begitu, rasanya dia pasti ke tempat Yan-supek." 1168

"Di mana? Bisakah kau menunjukkan tempatnya kepadaku?"

Tanya Sen Man-cing penuh semangat.

"Sekarang juga Cayhe akan mengantar Hujin ke sana."

"Terima kasih atas kesudian Kongcu,"

Sahut Sen Man-cing sambil membungkukkan tubuhnya.

"Hujin jangan begitu .... Cayhe tidak berani menerima penghormatan seperti ini!"

Kata Wan Fei-yang sambil cepat-cepat menggeser tubuhnya.

Ketika Sen Man-cing diajak oleh Wan Fei-yang ke tempat tinggal almarhum Hay-liong Lojin, Yan Cong-tian sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke Bu-tong-san dan membereskan masalah di sana.

Pertemuan antara Wan Fei-yang dan Yan Cong-tian sangat mengharukan.

Apalagi setelah mengetahui bahwa mereka sama-sama telah berhasil menguasai Tian-can-sinkang.

Pertemuan antara Sen Man-cing dan putrinya Tok-ku Hong juga menyentuh hati mereka.

Yan Cong-tian diberi tahu bahwa Wan Fei-yang berhasil menguasai Tian-can-sinkang atas bantuan Sen Man-cing.

Selain gembira, dia juga curiga.

Mengapa Ci-siong bisa mengajarkan teori Tian-can-sinkang kepada orang luar?

Semakin dipikirkan, dia semakin tidak mengerti.

Tapi dia tidak menanyakannya.

Hanya dalam hatinya dia terus bertanya-tanya, apa sebetulnya hubungan Ci-siong dengan Sen-hujin ini?

Setelah mengalami berbagai kejadian yang menggetarkan hati, sifatnya memang sudah jauh berubah.

Yang lalu biarlah berlalu.

Masalah pertama yang harus diselesaikan tentu saja urusan 1169 Siau-yau-kok.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk mendatangi markas Bu-ti-bun yang sudah diduduki orang Siau-yau-kok sekarang.

Sudah pasti Wan Fei-yang langsung menyetujui.

Tok-ku Hong mengkhawatirkan keadaan Tok-ku Bu-ti.

Dia ingin ikut serta.

Hanya Fu Hiong-kun yang serbasalah.

Akhirnya mengambil keputusan untuk tetap tinggal dan menjaga Sen Man-cing.

Yan Cong-tian dan Wan Fei-yang tentu saja memaklumi perasaan hati Fu Hiong-kun.

Yang dihadapi sebagai lawan adalah abang dan kakeknya sendiri.

Dia memang tidak menyetujui tindak-tanduk mereka, namun dia juga tidak sampai hati melihat mereka dibasmi di depan matanya.

Tok-ku Hong juga mengerti.

Dia merasa gadis itu jauh lebih baik daripada dirinya, tetapi nasibnya juga jauh lebih patut dikasihani.

Dia segera menarik Wan Fei-yang ke samping, dan menasihati Wan Fei-yang agar menghibur Fu Hiong-kun.

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis Gkh

Baca Juga: Sepasang Garuda Putih 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert