Eps 11 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
Gadis itu melihat semuanya dengan jelas.
Dia mengerti apa yang mereka maksudkan.
Dia hanya berpesan kepada Wan Fei-yang.
"Laki-laki sejati mempunyai pilihan sendiri. Ada yang tidak boleh dilakukan, tapi ada juga beberapa hal yang memang harus dilaksanakan. Tenangkanlah hatimu. Lakukanlah apa yang kau anggap semestinya. Aku hanya memohon agar kau mengampuni jiwa Yaya dan Giok-su Koko. Selebihnya, hukuman apa pun yang akan kau jatuhkan kepada mereka, aku tidak akan menghalangi."
Dengan sorot mata penuh pengertian, Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.
***** 1170 Cahaya api tidak terlalu terang.
Keheningan mencekam dalam ruangan batu.
Wajah Tok-ku Bu-ti lebih kelam lagi.
Ruangan batu itu terpencil dalam sebuah sumur tua.
Lumut dan rerumputan liar memenuhi tempat tersebut.
Kalau dibilang tempat itu tempat yang misterius, memang benar.
Oleh karena itu, meskipun jaraknya tidak jauh dari markas Bu-ti-bun, tetapi para anggota Siau-yau-kok yang setiap hari meronda dan menggeledah sekitar tempat itu, tetap tidak pernah menemukannya.
Ruangan batu ini dibangun oleh Pangcu Bu-ti-bun generasi sebelumnya, Sia-hou Tian-cong.
Maksudnya adalah untuk tempat menyembunyikan diri bila terjadi sesuatu yang tidak di nginkan.
Ternyata Sia-hou Tian-cong tidak pernah menggunakannya, malah muridnya Tok-ku Bu-ti yang memakainya sebagai tempat menyembunyikan diri.
Tentu saja Tok-ku Bu-ti merasa tertekan dan kesepian.
Sebelum terjun ke dalam jurang ketika dikeroyok oleh Thian-ti, Hujan, Angin, Kilat, Geledek, dan Fu Giok-su, dia sudah memperhitungkan semuanya dengan matang.
Tok-ku Bu-ti bukan baru kali pertama ini bertarung di atas Giok-hong-teng.
Selama tiga puluhan tahun dia selalu mengadu kekuatan dengan Ci-siong Tojin di tempat yang sama.
Dilihat dari kelicikan manusia itu, tidak mungkin dia tidak memerhatikan daerah sekitarnya dengan saksama.
Dia sudah mengenal situasi tempat itu bagai mengenali telapak tangannya sendiri.
Oleh karena itu, sepintar-pintarnya Thian-ti dan kawan-kawan, mereka tidak menduga kalau Tok-ku Bu-ti sengaja menjatuhkan diri ke dalam jurang.
Oleh karena itu, bukan saja dia tidak mati di dalam jurang 1171 yang dasarnya penuh batu-batu karang, malah dalam saat yang genting dia langsung menangkap sebatang akar liar yang kuat dan sudah tua sekali.
Dengan akar itulah dia merayap turun perlahan-lahan.
Dengan mengandalkan ilmu silatnya yang tinggi, melakukan semua hal itu tentu bukan hal yang sulit.
Meskipun lukanya cukup parah, tapi dia telah berlatih lwekang selama puluhan tahun.
Dengan lwekangnya itu pula, dia dapat menahan lukanya untuk sementara.
Setelah mempertimbangkan sejenak, dia mengambil keputusan untuk mengendap-endap kembali ke atas Giok-hong-teng.
Dia tidak berani turun gunung melalui tempat yang didatanginya.
Pasti masih banyak anggota Siau-yau-kok yang masih berkeliaran di tempat itu.
Fu Giok-su adalah manusia yang cerdas.
Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri mayat Tok-ku Bu-ti, dia tentu belum yakin kalau orang itu benar-benar sudah mati.
Tok-ku Bu-ti, dia tentu belum yakin kedua orang itu benar-benar mati.
Tok-ku Bu-ti mencari tempat persembunyian yang strategis dan di sana dia menghimpun hawa murninya untuk menyembuhkan luka yang dideritanya.
Di tempat itu dia menginap satu malam, keesokan paginya, Kongsun Hong sudah datang kembali.
Dia mencari Tok-ku Bu-ti di seluruh tempat itu.
Setelah yakin keadaan sudah aman, barulah Tok-ku Bu-ti muncul dari tempat persembunyiannya dan bertemu dengan Kongsun Hong.
Dalam seumur hidupnya, baru kali pertama ini Tok-ku Bu-ti terpaksa bersembunyi dari musuhnya, bahkan menggunakan akal licik untuk menghindarkan diri dari pertarungan.
Dia memang belum pernah mengalami kekalahan sejak ditantang oleh siapa pun.
Kongsun Hong yang melihat keadaannya ikut 1172 merasa sedih dan tertekan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan perjalanan pada malam hari dan kembali ke daerah sekitar Bu-ti-bun.
Meskipun apa yang telah terjadi pada markas mereka sudah dapat diduganya, namun melihat kenyataan bahwa Bu-ti-bun telah beralih tangan dan para anggota Siau-yau-kok keluar masuk dengan seenaknya, Tok-ku Bu-ti tetap hampir muntah darah karena kesalnya.
Tetapi dia tetap mempertahankan kesabarannya.
Hari-hari selanjutnya terpaksa dilewati dalam ruangan batu tersebut.
Luka yang diderita Tok-ku Bu-ti hampir sembuh secara keseluruhan.
Kongsun Hong selalu melayaninya.
Kadang-kadang dia keluar dari tempat persembunyian itu lalu menyamar dan menuju kota untuk mencari berita.
Apa yang didengarnya semua merupakan kabar buruk, tapi dia menyimpannya dalam hati.
Sampai hari ini baru dia mengatakannya kepada Tok-ku Bu-ti.
"Bu-ti-bun benar-benar sudah hancur lebur. Anggota para cabang-cabang sebagian besar sudah melarikan diri, ada juga yang bertekuk lutut di bawah panji Siau-yau-kok."
Mendengar kabar tersebut, Tok-ku Bu-ti malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang pernah dikatakan Ci-siong di atas Giok-hong-teng memang tidak salah. Bu-ti-bun merupakan sarang burung-burung liar. Kalau pohonnya tumbang, burungnya pun pasti beterbangan ke mana-mana!"
Dia merandek sejenak, tiba-tiba dikibaskannya tangannya.
"Kau kunci aku dari luar!"
"Suhu ...."
Kongsun merasa bimbang. 1173
"Kenapa? Kau takut aku akan bunuh diri? Anak bodoh! Mati pun aku tidak akan merem kalau sakit hati ini belum terbalas. Kali ini kau harus melatih ilmu Mit-kip-sin-kang sampai berhasil!"
Sahut Tok-ku Bu-ti yang mengerti keraguan hati muridnya.
−Ci-siong Tojin sudah mati.
Bu-ti-bun telah diambil alih oleh Siau-yau-kok.
Sen Man-cing pasti tidak peduli akan keadaannya− Apa lagi yang dapat membuat Tok-ku Bu-ti memencarkan perhatiannya?
***** Setengah bulan telah berlalu.
Hampir tengah malam, Kongsun Hong baru bersiap-siap menggetar sehelai tikar di depan pintu.
Biasanya dia memang tidur di sana seraya menjaga.
Tiba-tiba didengarnya suara yang aneh.
Dengan terkejut dia menolehkan kepalanya.
Sekali lagi terdengar suara.
Kali ini seperti gemuruh gempa bumi, kemudian terlihat pintu batu di mana Tok-ku Bu-ti berada mulai retak.
Kongsun Hong meloncat sejauh-jauhnya.
Pintu batu tersebut pun hancur seperti terkena ledakan dahsyat, pecahannya berhamburan ke mana-mana.
Untung saja Kongsun Hong sudah sempat menghindar.
Batu-batu kecil masih berjatuhan, tubuh Tok-ku Bu-ti melayang pada waktu yang bersamaan dalam jarak tiga cun dari atas tanah.
Kedua kakinya tegak lurus.
Dari keluar dari ruangan tadi sampai berdiri di atas tanah, posisinya masih 1174 sama.
Tubuhnya tegak kukuh laksana Gunung Thay-san.
Bajunya malah melambai-lambai tertiup angin.
Setelah beberapa saat baru normal kembali.
Sekali lihat saja Kongsun Hong sudah tahu apa yang telah terjadi.
Cepat-cepat dia maju ke depan dan menjatuhkan diri bertekuk lutut di hadapan Tok-ku Bu-ti.
"Tecu memberi selamat kepada Suhu atas keberhasilannya!"
"Akhirnya dapat juga aku mencapai tingkat kesembilan. Mengenai tingkat kesepuluh, rasanya tidak usah diharapkan lagi. Usiaku sudah lanjut, tiada waktu untuk melatih lebih lanjut."
Meskipun mulut Tok-ku Bu-ti berkata demikian, namun dia tetap tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang masih tetap berharap.
"Suhu, setelah berhasil melatih Mit-kip-sin-kang tingkat kesembilan, apakah kau sudah dapat mengalahkan semua musuhmu seperti sebelumnya?"
Tanya Kongsun Hong penasaran. Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya.
"Seandainya bertarung dengan cara duel satu lawan satu, tidak ada satu pun dari orang Siau-yau-kok dapat mengalahkan aku. Tapi seandainya mereka menggunakan cara gabungan seperti tempo hari, mungkin aku dapat mengalahkan mereka perlahan-lahan dan satu demi satu, tetapi aku sendiri mungkin akan mengalami luka yang cukup parah,"
Tok-ku Bu-ti berhenti sejenak.
"Kalau memang ingin mengalahkan mereka seperti sebelumnya, rasanya kita harus menggunakan sedikit muslihat."
"Tampaknya Suhu sudah mempunyai perhitungan yang 1175 matang dalam hati,"
Kata Kongsun Hong.
Tok-ku Bu-ti hanya tertawa.
Sebetulnya sebelum menutup diri melatih ilmu, dia memang sudah memperhitungkan segalanya dengan matang.
***** Tiga hari berlalu lagi.
Tok-ku Bu-ti dan Kongsun Hong di depan pintu gerbang markas Bu-ti-bun yang sekarang sudah menjadi kantor cabang Siau-yau-kok.
Hari masih pagi sekali.
Matahari baru saja terbit.
Semua anggota Siau-yau-kok yang menjaga di depan pintu gerbang sangat terkejut.
Sejak hari belum terang sudah ada yang datang melaporkan kabar ini.
Namun melihat sendiri kenyataan itu, mau tidak mau mereka panik juga.
Pintu gerbang segera ditutup rapat-rapat.
Namun sekali hantam saja Tok-ku Bu-ti sudah berhasil membukanya kembali.
Beberapa anggota yang menjaga tepat di depan pintu sampai terpental ke belakang dan jatuh pingsan seketika.
Ada lagi tiga orang yang langsung memuntahkan darah segar serta jatuh dengan nyawa melayang.
Tok-ku Bu-ti melangkah masuk ke dalam dengan tenang.
Para anggota Siau-yau-kok menjadi kalang kabut.
Tepat pada saat itu juga, Fu Giok-su berjalan keluar.
Di kiri-kanannya mengawal Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.
Mereka mengambil posisi berdampingan.
Fu Giok-su segera membungkukkan tubuhnya.
1176 Wajahnya tidak menampilkan perasaan apa pun.
"Rupanya Tok-ku Buncu yang bertandang. Tok-ku Buncu benar-benar berusia panjang. Mengapa tidak menyuruh orang memberitahukan terlebih dahulu, agar kami dapat menyambut dengan baik?"
Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.
"Masa pulang ke kandang sendiri juga harus memberi laporan? Bukankah lucu kedengarannya?"
"Pada dasarnya tempat ini memang milik Tok-ku Buncu. Tapi, seandainya sekarang kita mengembalikan lagi kepada Buncu, sedangkan Buncu hanya berdua dengan muridnya, apakah tidak merasa tempat ini terlalu besar? Kami rasa sebaiknya tetap biarkan kami saja yang menggunakannya,"
Sahut Fu Giok-su tenang.
"Tidak perlu banyak bicara! Panggil kakekmu keluar menemuiku!"
Bentak Tok-ku Bu-ti garang.
"Cepat!"
"Aku sudah datang!"
Sahut Thian-ti yang sedang berjalan keluar dari ruangan dalam.
"Tok-ku Bu-ti, kali ini kau dapat terlepas dari kematian. Seharusnya kau melarikan diri ke ujung dunia agar tidak kepergok lagi oleh kami. Kalau bisa cari tempat yang terpencil untuk melewati hari tua dengan tenang. Mengapa masih datang mencari kesulitan untuk diri sendiri?"
"Mengapa aku harus datang kemari, kalian tentunya lebih paham!"
"Paham sih paham, tapi sebagai orang tua yang sudah banyak pengalaman seperti engkau, semestinya menyadari bahwa dengan mengandalkan kekuatan Tok-ku Buncu dan muridmu 1177 itu, berani datang kemari benar-benar di luar dugaan siapa pun!"
"Omong kosong!"
Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.
"Tentunya kau sudah memperhitungkan segalanya dengan matang baru berani datang kemari. Aku rasa ilmu Mit-kip-sin-kang-mu pasti sudah naik satu tingkat lagi."
Tampaknya Tok-ku Bu-ti penasaran melihat ketajaman pandangan Thian-ti.
"Siapa yang ingin maju duluan?"
Thian-ti memangku kedua tangannya sambil menatap langit.
"Meskipun ilmu Mit-kip-sin-kang adalah ilmu yang sulit dipelajari dan hebat sekali, sayangnya tangan saudara hanya ada dua."
"Empat!"
Teriak Kongsun Hong yang sejak tadi diam saja. Thian-ti tertawa terbahak-bahak. Hujan yang berdiri di sampingnya juga ikut-ikutan tertawa terkekeh.
"Apakah Kongsun-tongcu demikian jengkelnya akibat ulah Wan Fei-yang sehingga sekarang juga mulai berlatih Mit-kip-sin-kang?"
Sindir wanita itu. Saking marahnya, Kongsun Hong sampai tidak dapat berkata apa-apa. Dia berusaha menenangkan hatinya.
"Apa yang kau bicarakan?"
Bentaknya kesal. Hujan tetap tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau tidak, mengapa cara bicaramu demikian sombong?"
Kongsun Hong merasa dadanya hampir meledak. 1178
"Meskipun ada empat tangan, rasanya masih juga kekurangan,"
Tukas Thian-ti.
"Kalau begitu, kalian masih juga ingin bergabung mengeroyok kami?"
Tanya Tok-ku Bu-ti.
"Ilmu silat Buncu terlalu tinggi. Kami terpaksa berbuat demikian!"
Thian-ti mengibaskan tangannya. Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek segera memencarkan diri. Mata Tok-ku Bu-ti menyapu kepada orang itu satu per satu.
"Barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek, Siaute sudah pernah mengenalnya!"
Baru saja ucapannya selesai, jarum beracun Hujan sudah berhamburan ke arahnya.
Sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti satu tertutup dan satunya lagi terbentang.
Segulungan angin kencang menderu-deru.
Hantaman sebelah telapak tangannya menolak kembali jarum beracun yang disambitkan oleh Hujan.
Golok Geledek menyusul tiba.
Tok-ku Bu-ti memutar badannya sambil menghantam ke depan.
Tubuh Geledek serta goloknya terpental ke tempat semula.
Angin mengibaskan lengan bajunya ke arah Kongsun Hong, tapi dengan mudah dapat dihindarkan oleh Kongsun Hong.
Sementara itu pedang kilat merangsek Tok-ku Bu-ti, dari udara pedangnya menukik turun.
Tapi masih ada jarak kurang lebih satu cun baru dapat mengenai orang tua itu.
Tok-ku Bu-ti menggeser tubuhnya, jari tangannya langsung terulur dan terdengarlah suara.
"ting!"
Pedang Kilat pun tertutuk oleh jari tangannya sehingga serangannya menyamping. 1179
"Berubah!"
Teriak Thian-ti dalam waktu yang bersamaan.
Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek mengiakan serentak.
Posisi mereka berubah.
Tubuh mereka saling bergerak.
Tubuh Tok-ku Bu-ti sendiri langsung berkelebat seperti bayangan.
Sepasang telapak tangannya membentang ke depan.
Begitu terulur, terasa adanya angin kencang yang menderu-deru.
Dengan mengandalkan barisan Hujan, Angin, Geledek, dan Kilat yang perubahannya begitu cepat, sebetulnya dengan mudah mereka dapat menolak tenaga hantaman Tok-ku Bu-ti yang mengandung tenaga dalam kuat sehingga tidak berpengaruh.
Tapi hantaman telapak tangan Tok-ku Bu-ti kali ini tidak sama lagi dengan sebelumnya.
Kekuatannya sungguh mengejutkan.
Tampaknya kekuatan orang tua itu sudah berubah dua kali lipat dari pertarungan di atas Kuan-jit-hong tempo hari.
Sebelumnya tenaga Tok-ku Bu-ti tidak jauh berbeda dengan tokoh nomor satu umumnya.
Hanya lebih kuat sedikit saja.
Begitu telapak tangannya menghantam, seperti ombak besar yang menggulung di tengah lautan.
Dengan gabungan tenaga Angin, Hujan, Kilat, dan Geledek yang telah membentuk barisan dan dengan senjata masing-masing yang khas, tidak sulit bagi mereka untuk mendesak Tok-ku Bu-ti sehingga kewalahan.
Sekarang tenaga hantaman telapak tangan Tok-ku Bu-ti bukan main dahsyatnya.
Tanah di mana mereka berpijak seakan bergetar.
Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek terus bergerak menyerang, namun bukan saja berhasil mendesak Tok-ku Bu-ti, malah mereka sendiri yang sampai kewalahan dan mulai terdesak.
1180 Dalam waktu yang bersamaan tubuh Tok-ku Bu-ti berputar.
Semakin lama semakin cepat.
Sekaligus dia menghantam sebanyak empat puluh sembilan kali berturut-turut.
Dengan mengadu kekerasan dia membuat barisan itu terpecah belah dan akhirnya keempat orang itu terpaksa merapat menjadi satu.
Thian-ti yang dari tadi menyaksikan jalannya pertarungan mulai melihat keadaan mereka yang kurang menguntungkan.
Dia melirik Fu Giok-su sekilas.
Tubuh keduanya langsung melesat secepat kilat menerjang ke depan.
Dua pasang telapak tangan segera menghantam serta menyambut datangnya telapak tangan Tok-ku Bu-ti.
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.
Dia langsung mencelat mundur ke samping Kongsun Hong.
Thian-ti dan Fu Giok-su segera mengambil posisi di kiri dan kanan keempat anak buah mereka.
Wajah mereka tampak kelam.
Bagi orang yang sudah ahli, sekali benturan tenaga saja sudah dapat diperkirakan tinggi-rendahnya kekuatan lawan.
Mereka sudah dapat melihat dengan jelas, bahwa ilmu Tok-ku Bu-ti memang sudah maju satu tingkat lagi.
Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek lebih mengerti lagi.
Itulah sebabnya wajah keempat orang itu juga jauh lebih tidak sedap dipandang.
Thian-ti memandang Tok-ku Bu-ti dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Tampaknya kekalahan juga bukan sesuatu yang tidak menguntungkan!"
Sindirnya tajam.
Tok-ku Bu-ti hanya mendehem satu kali.
Sepasang telapak 1181 tangannya dirangkapkan.
Dia menepuk satu kali.
Telapaknya berpisah kembali.
Tampaknya seakan hendak menerjang tapi tubuhnya masih bergerak mundur.
Tiba-tiba tangan Kongsun Hong sudah menggenggam dua buah tabung.
Dalam waktu yang bersamaan, Tok-ku Bu-ti juga sudah mengibaskan sebuah tabung yang isinya penuh dengan jarum beracun!
Jarum Beracun Tujuh Bocah Ajaib!
Tempo hari di lembah sempit, Tok-ku Bu-ti juga menggunakan senjata rahasia yang serupa untuk menghadapi Ci-hu-kim-hoan Lu Ci.
Meskipun salah sasaran, namun kehebatannya sudah terbukti.
Sekarang dengan seorang diri Tok-ku Bu-ti menghadapi empat lawan.
Dia sudah berhasil menghancurkan barisan Hujan, Angin, Kilat, dan Geledek.
Dari awal dia tidak pernah terdesak oleh lawan-lawannya.
Justru dalam keadaan di atas angin, tiba-tiba dia menggunakan jarum beracun, tentu saja hal ini sama sekali di luar dugaan Thian-ti dan kawan-kawannya.
Tentu saja semua ini juga sudah direncanakannya matang-matang.
Mata Thian-ti sangat awas.
Lagi pula dia sudah berpengalaman dalam menghadapi kelicikan dunia Kangouw.
Begitu Tok-ku Bu-ti bergerak mundur tadi, dia sudah dapat merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung melesat mundur.
"Mundur!"
Teriaknya kepada rekan yang lain.
Gerakan Fu Giok-su juga tidak lambat.
Tubuhnya langsung mencelat ke udara.
Dikerahkannya Hui-hun-cong dari Bu-tong-liok-kiat yang sudah terkenal kehebatannya.
Tubuhnya masih melayang di udara ketika jarum beracun yang disebarkan oleh Tok-ku Bu-ti meluncur lewat di bawah kakinya dan tidak 1182 mengenai sasaran.
Angin memang mengandalkan ketinggian ginkangnya sehingga namanya terkenal.
Setelah mendengar teriakan Thian-ti, baru dia mencelat mundur, namun dia berhasil juga menghindari serangan jarum beracun Tok-ku Bu-ti.
Di lain pihak Hujan memang memperdalam ilmu senjata rahasia.
Pengetahuannya tentang senjata rahasia sudah pasti di atas orang lainnya.
Ketika melihat tabung yang tergenggam di tangan Kongsun Hong, dia langsung dapat menerka senjata rahasia jenis apa yang ada di dalam tabung tersebut.
Berbarengan dengan teriakan mundur Thian-ti tadi, dia langsung menggelindingkan tubuhnya di atas tanah.
Beberapa batang jarum beracun mengenai lengan bajunya yang longgar.
Tanpa terasa keringat dingin menetes di keningnya.
Kilat melesat mundur.
Dalam waktu bersamaan, pedangnya sudah direntangkan.
Reaksinya sudah cukup cepat namun masih kalah sedikit dengan kecepatan jarum beracun yang disambitkan Tok-ku Bu-ti.
Dalam seketika, entah berapa banyak jarum beracun yang sudah mengenai beberapa bagian tubuhnya.
Dia meraung murka.
Tubuhnya mencelat ke udara, pedangnya menusuk dengan kecepatan tinggi mengancam Tok-ku Bu-ti.
Meskipun serangan itu sangat cepat, namun Tok-ku Bu-ti memandang sebelah mata.
Tubuhnya bergerak menyambut ke depan.
Dengan mudah dia berhasil menghindari serangan itu.
Sepasang telapak tangannya berbareng menghantam gagang pedang di tangan Kilat.
Karena getarannya yang kuat, pedang itu sampai terputus menjadi beberapa bagian dan jatuh berserakan di atas tanah.
Ternyata dia tidak menyerang manusianya.
Tubuh Kilat yang sedang melayang di udara tiba-1183 tiba menukik turun dan terjatuh di atas tanah dengan suara keras.
Dari ketujuh lubang pancaindranya mengalir darah.
Wajah orang itu sendiri sudah berubah menjadi keungu-unguan.
Geledek juga roboh pada saat yang bersamaan.
Dia terkulai di depan kaki Tok-ku Bu-ti dengan sebilah pisau kecil menancap di tenggorokan.
Setelah diperhatikan dengan saksama, ternyata yang tertancap di tenggorokan Geledek bukan pisau kecil melainkan putusan ujung pedang Kilat.
Tentu saja Tok-ku Bu-ti yang melemparkan kutungan ujung pisau tersebut.
Seandainya Tok-ku Bu-ti tidak melemparkan kutungan pisau itu, Geledek juga tidak akan luput dari kematian.
Tapi takdir memang sudah menentukan demikian.
Tepat pada saat tubuh Kilat terkulai di atas tanah, dia langsung menerjang Tok-ku Bu-ti.
Secara refleks orang tua itu menyambut kutungan pedang yang terhantam oleh telapak tangannya tadi lalu menyambitkannya ke tenggorokan Geledek, sementara itu tangan kirinya menyebarkan jarum beracun.
Tampang Geledek sungguh menyeramkan.
Seluruh wajahnya penuh oleh titik jarum beracun dan langsung berubah warna persis seperti Kilat.
Darah yang mengalir kehitam-hitaman, kulit wajahnya juga langsung mengeriput.
Tubuh Tok-ku Bu-ti tidak henti bergerak.
Dia berkelebat dengan tabung berisi jarum beracun serta mengejar Hujan dan Thian-ti.
Pada saat itu, Fu Giok-su sedang melayang turun, melihat keadaan yang tidak menguntungkan, dia segera menggelindingkan badannya di atas tanah dan dengan panik lari ke dalam.
Keempat orang itu bagai binatang yang sebentar lagi akan dijagal.
Tidak ada satu pun yang berminat tetap di tempat.
Untung saja terjangan Geledek serta Kilat tadi 1184 sempat mengadang Tok-ku Bu-ti beberapa detik, dengan demikian mereka mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.
Tok-ku Bu-ti masih terus mengejar.
Mereka sudah memasuki ruangan Tiong-gi-tong, Fu Giok-su menyelinap ke balik sebuah pembatas ruangan yang terbuat dari kain berbingkai dan di atasnya terdapat lukisan yang indah.
Thian-ti kelimpungan sejenak, kemudian dia menyusup ke balik bangku panjang yang bagian tempat duduknya ditutupi kulit harimau yang tebal.
Hujan menimpukkan sejumlah jarum beracun lalu menyelinap ke balik tiang penyangga ruangan.
Angin berkelebat melesat ke balik ruangan dan menembus koridor panjang.
Jilid 26 Tok ku Bu ti mengibaskan lengan bajunya menyampok jarum beracun yang disebarkan oleh Hujan tadi.
Dia tertawa dingin.
Matanya menyapu ke seluruh ruangan.
Tubuhnya melesat kembali dan melayang turun tepat di tengah-tengah ruangan tersebut.
Dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Manusia she Fu! Lari kocar-kacir seperti ini mana pantas disebut sebagai seorang kokcu dari Siau Yau kok yang terkenal?"
Thian ti menongolkan dirinya dari balik bangku panjang. Dia tertawa dingin.
"Buncu menggunakan senjata rahasia beracun dahsyat peninggalan tujuh bocah ajaib, bagaimana kami tidak cepat-cepat kabur?"
Tok ku Bu ti masih tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kabur bukan jalan keluar yang baik!"
Katanya. 1185
"Memang bukan!"
Sahut Thian ti dengan suara lantang.
Gerakan tubuhnya seperti ingin menerjang ke depan.
Tok ku Bu ti tidak bergerak.
Thian ti juga tidak benar-benar ingin menerjang.
Tepat pada saat itu, Tok ku Bu ti mendadak merasakan tempat di mana kakinya berpijak seperti bergoyang.
Dia terkejut sekali.
Belum lagi dia sempat menghentakkan kakinya untuk mencelat ke atas.
Hujan sudah menghamburkan jarum beracun ke arahnya.
Dalam waktu yang bersamaan, Fu Giok Su memunculkan diri dan menimpukkan tujuh macam senjata rahasia di bagian atas tubuh Tok ku Bu ti.
Dengan panik Tok ku Bu ti menggeser tubuhnya menghindari serangan yang bertubi-tubi itu.
Tidak tahunya bagian tanah di bawah kakinya langsung anjlok ke dalam.
Rupanya lantai di sekelilingnya tiba-tiba membuka bagai sebuah lubang yang besar.
Tentu saja tubuh Tok ku Bu ti terjatuh ke dalamnya.
Hal ini benar-benar membuat Tok ku Bu ti terperanjat.
Sejak Tok ku Bu ti memakai gedung itu sebagai markas pusat, Tiong gi tong memang sudah ada.
Sebagian besar waktu Tok ku Bu ti juga dihabiskan dalam ruangan ini.
Selama puluhan tahun tidak jarang dia tertidur dalam ruangan ini juga.
Boleh dibilang tidak ada seorang pun yang lebih jelas mengenal keadaan Tiong gi tong ini selain dirinya.
Setiap sepuluh tahun sekali, dia selalu mengundang seorang ahli bangunan untuk memperbaiki dan memperbagus ruangan Tiong gi tong ini.
Namun dia tidak pernah tahu di tengah ruangan tersebut ada sebuah jebakan.
Sekarang dirinya sendiri yang terperangkap dalam jebakan tersebut.
Bagaimana perasaannya tidak meluap seketika saking marahnya?
Lubang jebakan ini juga dalam sekali.
Di dasarnya terpasang puluhan golok tajam.
Demikian juga tembok-tembok sekitarnya.
Walaupun Tok ku Bu ti cepat tanggap akan situasi sekitarnya dan sempat berjungkir balik beberapa kali sebelum 1186 mendarat di atas sebatang golok, namun sekujur tubuhnya juga tidak terlepas dari sayatan golok sehingga kulitnya terkelupas dan darah mengalir dengan deras.
Pikirannya dengan cepat berputar.
Tok ku Bu ti berjungkir balik lagi beberapa kali kemudian dengan bantuan sebilah golok di mana kakinya menutul dia cepat-cepat mencelat kembali ke atas.
Namun dalam waktu yang bersamaan, lubang di atasnya yang merupakan satu-satunya jalan keluar mulai menutup.
Di sekeliling lubang itu meluncur keluar puluhan batangan pipa besi yang saling menancap dan menjadi penutup lubang tersebut.
Sekarang jalan keluar bagi Tok ku Bu ti sudah tertutup oleh jeruji besi itu.
Kepalanya hampir saja membentur batangan pipa besi itu kalau saja dia tidak cepat-cepat memberatkan bobot kakinya sehingga meluncur turun kembali.
Tepai pada saat itu, Fu Giok Su meluncurkan ujung toyanya mengancam tenggorokan Tok ku Bu ti.
Dengan panik dia menggeser tubuhnya, namun tubuhnya masih selengah melayang di udara, meskipun tenggorokannya terlepas dari serangan toya Fu Giok Su, tapi sempat juga menyerempet ujung bahunya.
Kulit dan daging di pundaknya itu langsung terkoyak.
Darah mengucur bagai air ledeng.
Tubuh Tok ku Bu ti masih meluncur turun.
Sebelum mendarat di dasar, kakinya lagi-lagi terserempet tiga batang golok.
Keadaannya mulai payah.
Sekujur tubuhnya tidak ada yang luput dari luka.
Meskipun tidak terlalu parah namun darah yang mengalir cukup banyak.
Hal ini membuat kepala Tok ku Bu ti pusing tujuh keliling.
Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak.
"Bu ti, kali ini aku ingin lihat kemana lagi kau dapat melarikan diri?"
Tok ku Bu ti mendengus dingin.
"Menggunakan cara licik seperti ini tidak termasuk kepandaian yang mengagumkan!"
Dia menotok beberapa jalan darah di sekitar bahunya agar darah berhenti mengalir.
1187 Hujan dan Angin juga sudah keluar dari tempat persembunyiannya.
Thian ti memunculkan kepalanya di atas lubang berjeruji dan tertawa lebar.
"Apakah sahabat lama sudah melupakan caramu sendiri yang menggunakan jarum beracun tadi?"
Sindirnya tajam.
Wajah Tok ku Bu ti kaku seketika.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Tadi dia sendiri juga menggunakan cara yang licik sehingga Kilat dan Geledek dapat terbunuh oleh sambitan jarum beracunnya.
"Mungkin kau sendiri tidak habis pikir bagaimana aku bisa membangun sebuah perangkap di tengah ruangan ini?"
Tok ku Bu ti memang tidak habis pikir.
"Sebetulnya kami membual perangkap ini bukan untuk menghadapimu, lapi bukannya tidak boleh kalau digunakan untuk menghadapimu!"
Kata Thian ti selanjutnya. Hujan juga memunculkan kepalanya.
"Mengapa Buncu masih juga tidak mau membuang tabung berisi jarum beracun itu?"
Tanyanya dengan gaya kenes. Tok ku Bu ti tertawa dingin.
"Hampir saja aku lupa salah satu dari empat orang kepercayaan Thian ti yang bernama Hujan memang mengkhususkan diri dalam ilmu senjata rahasia. Barang mainan seperti ini sudah pasti, dianggap kecil oleh Hujan,"
Sindirnya kembali.
"Aku juga baru melihatnya ketika terdesak ke dalam ruangan ini,"
Sahut Hujan tenang.
Gayanya semakin dibuat-buat.
Pada saat itu, Kongsun Hong baru menyusul tiba.
Melihat lubang perangkap itu, dia langsung termangu-mangu.
Sesaat kemudian dia baru berteriak memanggil.
"Suhu" 1188 Mendengar panggilan itu Hujan segera menolehkan kepalanya.
"Suhumu hari ini pasti akan tamat riwayatnya!"
Kongsun Hong meraung murka. Sepasang tangannya berputar. Sepasang jit goat lun sudah tergenggam di tangan. Dia menerjang dengan kalap.
"Benar-benar sudah bosan hidup!"
Hujan tertawa dingin.
"Geledek dan Kilat dua lembar nyawa. Di sini juga dua lembar nyawa!"
Tukas Angin, tubuhnya berkelebat. Dalam sekejap mala dia sudah mencapai di depan Kongsun Hong. Sepasang lengan bajunya dikibaskan. Menyapu ke arah wajah Kongsun Hong.
"Plak! Plak! Plak!"
Hujan tersenyum simpul.
"Perlukah aku mengeluarkan sedikit tenaga untuk membantumu?"
Tanyanya genit.
"Tidak perlu!"
Teriak Angin sambil mengibaskan lengan bajunya beberapa kali berturut-turut.
Kongsun Hong sampai terdesak mundur beberapa langkah.
Meskipun serangan sepasang jit goat lun dari tangan Kongsun Hong cukup gencar, namun tetap tidak berhasil menyentuh sepasang lengan baju Angin.
Gerakan tubuhnya yang lamban dan kelincahan Angin memang merupakan perbandingan yang besar.
Angin terus mengikuti gerakan Kongsun Hong.
Sepasang lengan bajunya menyapu terus menerus.
Sasarannya tetap wajah Kongsun Hong.
Lengan baju itu belum sampai, anginnya sudah terasa menyambar.
Sepasang jit goat lun milik Kongsun Hong cepat-cepat dibentang di depan wajah untuk berjaga-jaga.
Tidak tersangka-sangka, tiba-tiba Angin mengibaskan lengan bajunya ke pinggang Kongsun Hong.
"Plak!"
Sasarannya kali ini tidak dapat dihindarkan lagi oleh murid Tok ku Bu ti itu.
1189 Sejak kecil Kongsun Hong sudah menjaga kesehatan tubuhnya dengan melatih ilmu silat, namun kibasan lengan baju Angin ini lelap saja membuat aliran darahnya bagai tersumbat.
Bagian bawah tubuhnya terasa kebal seketika.
Belum lagi dia sempat menenangkan hatinya, kebasan lengan baju Angin kembali menyerang ke arah matanya.
Dia cepat-cepat menggeser kepalanya ke samping.
Pinggangnya terkibas sekali lagi, tubuhnya sampai terpelintir dan memutar bagai gasing.
Angin masih tidak berhenti menyerangnya.
Malah semakin lama semakin gencar.
Kepala Kongsun Hong sudah terasa pusing tujuh keliling.
Dalam jangka beberapa menit, entah sudah berapa kali dia terhajar bolak-balik oleh kibasan lengan baju Angin tersebut.
Tubuhnya sampai bergelindingan di atas tanah.
Angin tertawa terbahak-bahak.
Rasa amarahnya hampir terlampiaskan.
Sekali lagi dia mengibas dengan keras sehingga tubuh Kongsun Hong terpental membentur dinding sebelah timur.
Dalam waktu yang bersamaan.
Hujan menyebarkan jarum beracunnya.
Kongsun Hong yang melihat tubuhnya hampir membentur dinding pekarangan itu, cepat-cepat menghentakkan kakinya dan berjungkir balik di udara.
Akhirnya dia berhasil juga melayang turun dengan mantap tepai di depan dinding tersebut.
Namun pada saat itu juga jarum beracun Hujan sudah meluncur tiga..
Datangnya jarum beracun itu tanpa suara sama sekali.
Lagipula sebelumnya Angin sudah menegaskan bahwa dia tidak ingin Hujan ikut campur dalam pertarungan ini.
Begitu lugunya Kongsun Hong sehingga percaya penuh dan tidak berjaga-jaga terhadap serangan yang lainnya.
Ketika melihat jarum beracun Hujan meluncur tepat di hadapannya, dia tidak keburu menghindar lagi.
Pada saat yang genting itu, Kongsun Hong hanya dapat memejamkan matanya menanti ajal.
Tapi jarum-jarum itu tidak 1190 mengenai tubuhnya, malah meluncur lewat di samping tubuhnya.
Kongsun Hong hanya merasakan ada serangkum angin kencang yang menghembus melewatinya.
Dalam waktu yang bersamaan.
seseorang melayang turun di sisi Kongsun Hong.
Orang ini juga yang menghantamkan telapak tangannya menghempas jarum-jarum beracun tersebut.
Bagi semua yang ada di tempat itu, orang ini tidak asing lagi.
"Wan Fei Yang!"
Seru mereka serentak. Mata Wan Fei Yang menyapu ke arah wajah Thian ti kemudian Fu Giok Su.
"Sudah lama tidak bertemu dengan saudara-saudara sekalian,"
Katanya tenang. Thian ti marah sekali.
"Wan Fei Yang, apa maksudmu datang ke tempat ini?"
Bentaknya lantang. Wan Fei Yang tidak menyahut. Matanya masih menatap Fu Giok Su lekat-lekat.
"Harap Fu Toako dalam keadaan sehat-sehat saja!"
Wajah Fu Giok Su menampilkan kesan ingin tersenyum tapi tidak bisa. Mimiknya jadi aneh sekali.
"Berkat doa Wan sute, keadaan Toako mu masih lumayan,"
Sahutnya gugup. Wan Fei Yang merasa hatinya sakit sekali.
"Kali ini tentu Fu Toako tidak bisa mengelabui Siaute lagi."
Fu Giok Su menganggukkan kepalanya.
"Urusan sudah terlanjur sedemikian rupa. Rasanya juga. tidak perlu mengelabui engkau lagi"
"Sebetulnya siapa yang turun tangan keji terhadap Ciang bun jin?"
Tanya Wan Fei Yang selanjutnya. 1191 Fu Giok Su tertawa lebar.
"Tentu saja Toakomu ini yang melakukannya!"
Mata Wan Fei Yang menyorot semakin tajam.
"Tolong Toako katakan sekalian bagaimana Pek Giok suheng dan Cia Peng suheng menemui ajalnya?"
"Masa sute belum bisa membayangkannya?"
Fu Giok Su malah berbalik bertanya. Wan Fei Yang menarik nafas panjang.
"Bagaimana nasib Wan Ji sumoay?"
Tanyanya kembali. Fu Giok Su merenung sejenak.
"Aku tidak tahu,"
Sahutnya kemudian. Wan Fei Yang memandang Fu Giok Su dengan terpana.
"Aku rasa kau juga tidak sampai hati mencelakakannya."
Fu Giok Su hanya tertawa datar.
"Biar bagaimana pun aku harus mengucapkan terima kasih atas perlakuanmu terhadapku selama ini,"
Kata Wan Fei Yang kembali.
"Setelah berterima kasih, kau harus membalaskan dendam bagi kematian ayahmu bukan?"
Tanya Fu Giok Su.
"Dendam kematian ayah tidak boleh tidak dibalas!"
Sahut Wan Fei Yang. Fu Giok Su menganggukkan kepalanya "Alasan ini saja sudah lebih dari cukup."
"Hutang darah para murid Bu Tong juga harus diperhitungkan sampai tuntas!"
Kati Wan Fei Yang. 1192 Fu Giok Su tertawa lebar.
"Meskipun kau anak kandung Ci Siong to jin, tapi kau bukan murid resmi Bu tong pai. Untuk apa harus mengatakan soal balas dendam bagi murid Bt tong pai. Lebih baik tidak usah mengatakan apa-apa,"
Sindirnya sinis. Wan Fei Yang hanya mendengus dingin.
"Ketika baru naik ke Bu Tong, aku sama sekali tidak mengerti. Kalau dilihat dari bakatmu, mengapa Ci Siong si tua bangka itu tidak bersedia menerimamu sebagai murid. Rupanya bukan karena asal-usulmu yang tidak jelas. Ci Siong terpaksa memendam semuanya dalam hati.. Dia tidak berani secara terang-terangan mengaku engkau sebagai anaknya!"
Kata Fu Giok Su selanjutnya. Tubuh Wan Fei Yang bergetar mendengar ucapannya.
"Tidak disangka, Ci Siong si hidung kerbau itu ternyata diam-diam seorang mata bong-sang. Pantasnya dibilang Hidung belang!"
Kata Thian ti sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kemerosotan Bu tong pai sebagian besar juga karena ulahnya."
Semua kata-kata itu terdengar jelas oleh Tok ku Bu ti.
Hatinya yang terpukul dan tertekan tidak kalah oleh perasaan Wan Fei Yang.
Wan Fei Yang adalah anak kandung Ci Siong to jin!
Kalau demikian, bukankah dia merupakan saudara seayah lain ibu dengan Tok ku Hong?
* ** Tok ku Bu ti langsung termenung dalam lubang di mana dia terperangkap.
Tiba-tiba sebuah suara yang berat terdengar menyahut.
"Bagaimana pun dan siapa pun Ci Siong, tetap bukan urusan orang lain, tetapi urusan Bu tong pai!"
Bagi Tok ku Bu ti suara ini asing sekali.
1193 Namun bagi orang orang Siau Yau kok, mereka bagai mendengar suara geledek bergemuruh di siang hari!
Yan Cong Tian berkata sambil melangkah dari luar.
Suaranya penuh wibawa dan angker juga mengandung kekuatan penuh.
Thian ti langsung mengerutkan keningnya.
Tanpa sadar dia mundur beberapa langkah.
Sedangkan sinar mata Fu Giok Su mengandung rasa penasaran yang dalam.
Tok ku Hong mengiringi di belakang Ya Cong Tian.
Melihat Kongsun Hong dia langsung menghambur menghampiri.
"Suheng, di mana Tia?"
Tanyanya cemas. Kongsun Hong tertegun sejenak.
"Suhu terjebak oleh manusia-manusia licik itu sehingga terjatuh ke dalam lubang perangkap yang telah mereka sediakan."
Wajah Tok ku Hong berubah hebat. Dia menghentakkan kakinya keras-keras.
"Mengapa kau masih termangu-mangu di situ?"
Teriaknya kesal. Sekali lagi Kongsun Hong tertegun. Belum lagi dia memberi jawaban, Tok ku Hong sudah mencabut sepasang goloknya dan menerjang ke arah lubang perangkap.
"Hati-hati!"
Teriak Yan Cong Tian sambil menghambur mendahului.
Dalam waktu yang bersamaan.
Wan Fei Yang juga menerjang ke depan.
Tanpa bersepakat lagi, Thian ti, Fu Giok Su, Angin, Hujan langsung mengundurkan diri ke sudut ruangan.
Tok ku Hong melongok ke bawah.
Ternyata Tok ku Bu ti memang ada di sana.
Dengan kesal Tok ku Hong membacokkan sepasang goloknya ke arah teruji besi dengan sekuat tenaga.
Terlihat percikan api seperti bunga-bunga timbul dari hasil benturan golok dan jeruji tersebut.
Ternyata hasil tebasan golok Tok ku 1194 Hong tidak dapat memutuskan jeruji besi tersebut, yang tampak hanya dua baris guratan putih.
Baru saja dia berminat menerjang ke arah Thian ti dan Fu Giok Su untuk menyuruh mereka membuka jeruji besi itu.
Wan Fei Yang sudah menghalanginya.
"Biar aku saja!"
Anak muda itu langsung mencengkeram jeruji besi dengan sepasang jari tangannya.
Dia berteriak lantang, tenaga sepenuhnya dikerahkan pada sepasang tangan dan menarik sekuat-kuatnya.
Dua batang jeruji besi itu perlahan lahan bergerak dan kemudian.
"Brak!"
Jeruji besi terangkai itu ke atas.
Melihat keadaan itu, Hujan, Angin, Thian ti dan Fu Giok Su segera mengucurkan keringat dingin.
Hati mereka tergetar menyadari kekuatan tenaga Wan Fei Yang sekarang.
Dalam waktu yang bersamaan, Tok ku Bu ti menghentakkan sepasang kakinya dan melesai ke atas.
Tubuhnya melayang naik lalu mendarat di samping Tok ku Hong.
Seluruh tubuhnya di penuhi bercak darah.
Darah segar juga masih mengalir dari luka-lukanya.
Matanya menatap ke arah Wan Fei Yang lekat-lekat.
Sepatah kata pun tidak diucapkannya.
Yan Cong Tian mengibaskan lengan bajunya.
Tampaknya seakan acuh tak acuh terhadap apa yang Wan Fei Yang lakukan "Minggir!"
Bentaknya lantang.
"Kita selesaikan dulu urusan kita dengan Siau Yau kok. Nanti baru tiba bagianmu!"
Tok ku Bu ti hanya merasakan serangkum angin kencang menghempas di depannya.
Segulung kekuatan yang sulit diuraikan terasa olehnya.
Tanpa sadar, kakinya terhempas mundur tiga langkah.
Tok ku Hong sangat mencemaskan ayahnya..
Dia segera maju menghampiri.
"Tia, bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya khawatir. 1195 Tok ku Bu ti tertawa datar.
"Masih jauh dari kematian!"
Sahutnya ketus. Kongsun Hong yang sejak tadi menyaksikan apa yang terjadi cepat-cepat maju ke depan.
"Suhu, Tecu...."
Tok ku Bu ti tertawa lebar.
"Ilmu kita sih cukup tinggi. Sayangnya kemampuan kita kalah dengan orang. Buat apa kau bersedih?"
"Tapi..."
Kata-kata Kongsun Hong belum lagi diteruskan, Tok ku Bu ti sudah menukasnya kembali.
"Apa lagi yang kau bicarakan?"
Kongsun Hong merobek ujung lengan bajunya dengan maksud ingin membalut luka yang diderita Tok ku Bu ti, tapi orang tua itu langsung bergeser ke samping.
"Jangan membuat aku tambah marah!"
Bentaknya.
Kongsun Hong jadi tertegun.
Akhirnya dia mengundurkan diri ke samping.
Tok ku Hong tentu lebih paham lagi adat ayahnya.
Dia tidak berani mengucapkan sepatah kala pun.
Sementara itu, mata Yan Cong Tian sedang menatap Thian ti dengan tajam.
Setelah sekian lama, dia baru berkala.
"Hutang piutang kita yang sudah begitu lama, bagaimana pun harus diperhitungkan sampai jelas hari ini!"
Katanya. Thian ti tertawa terkekeh-kekeh.
"Rupanya manusia she Yan selalu mempunyai umur yang panjang dan rejeki yang besar. Seharusnya dulu aku mematahkan sepasang kaki dan tanganmu. Yan Cong Tian ikut tertawa lebar.
"Oleh karena itu, aku seharusnya berterima kasih kepadamu. Kalau bukan karena penderitaan yang kau berikan selama 1196 terkurung dalam telaga buatan di Siau Yau kok, sampai hari ini aku pasti belum berhasil melatih Tian can sinkang,"
Sahut Yan Cong Tian sambil menjura dalam-dalam.
"Thian can sinkang?"
Seru Tok ku Bu ti tanpa sadar.
Hatinya tergetar hebat mendengar keterangan Yan Cong Tian.
Thian ti dan Fu Giok Su saling lirik sekilas Meskipun tidak mengatakan apa-apa.
tapi mimik wajah mereka sudah menunjukkan rasa khawatir yang dalam.
Justru Hujan dan Angin yang tidak memperlihatkan reaksi apa-apa Pengetahuan mereka tentang Tian can sinkang memang tidak terlalu banyak.
Tiba-tiba Thian ti mendengus dingin.
"Meskipun kau, Yan Cong Tian sudah berhasil melatih Tian can sinkang, rasanya juga tidak perlu unjuk gigi serta sesumbar dihadapan kami!"
"Terserah apa yang akan kau katakan. Pokoknya, manusia she Fu hari ini harus mati semuanya!"
Yan Cong Thian menarik nafas dalam-dalam.
Dia maju dua langkah ke depan.
Thian ti juga maju satu langkah.
Tangannya direntangkan.
Hujan dan Angin segera berdiri di kedua sisinya.
Wan Fei Yang juga langsung tampil di depan Yan Cong Thian.
"Apakah orang-orang Siau Yau kok hanya tahu bagaimana cara mengeroyok lawannya?"
Sindirnya tajam.
"Fei Yang, biarkan saja. Dengan demikian, waktu kita juga tidak terbuang dengan percuma,"
Tukas Yang Cong Tian.
"Kalau begitu, biar Supek hadapi saja makhluk tua itu. Yang lainnya...." 1197
"Serahkan kepadamu!"
Yan Cong Tian tersenyum simpul. Dia menoleh kepada Thian ti.
"Manusia she Fu, kalau masih ada pesan yang ingin kau sampaikan, sekaranglah saatnya!"
"Omong kosong!"
Bentak Thian ti sambil mencelat ke udara lalu menukik turun dengan sepasang telapak tangan menghantam ke arah Yan Cong Tian.
Dia menyerang tiga kali berturut-turut.
Sepasang telapak tangan Yan Cong Tian langsung bergerak memutar.
Tiga serangan Thian ti disambutnya dengan mudah, setelah itu ia balik menghantam sekali.
Hantamannya ini diterima dengan baik oleh Thian ti.
Sebagai permulaan, mereka tidak mengerahkan tenaga dalam, hanya menjajaki perubahan jurus masing-masing.
Dalam hal kedudukan, mereka berdua merupakan tokoh tinggi masing-masing partai.
Pengetahuan tentang ilmu masing-masing partai juga sudah pasti lebih tinggi dari yang lainnya.
Tidak diragukan lagi ilmu kedua partai ini mempunyai banyak persamaan.
Gerakan Angin dan Te Hun cong, jarum Hujan dengari Jit am-gi, golok Geledek dengan Pik lek cang, pedang Kilat dengan Liong gi kiam hoat, baik gerakan maupun perubahannya memiliki banyak persamaan.
Selama terkurung dalam telaga dingin, Thian ti pasti mengkombinasikan keistimewaan Bu Tong liok kiat dengan ilmu Siau Yau kok sendiri.
Sayangnya Bu Tong liok kiat yang dicurinya bukan kitab yang lengkap Meskipun dia mempelajari mati-matian, dibandingkan dengan murid Bu Tong sendiri tetap saja kalah satu tingkat.
Tapi bukan berarti dalam waktu yang singkat dapat terlihat siapa yang akan menang dan siapa yang kalah.
Turun tangan kedua orang itu semakin lama semakin gencar.
Meskipun mereka bertangan kosong, tapi jurus-jurus golok maupun pedang tetap dapat dikembangkan melalui gerakan 1198 mereka.
Tok ku Bu ti menyaksikan pertarungan itu dengan terkesima.
Wan Fei Yang juga sudah mulai bergebrak dengan Fu Giok Su.
Walaupun pada mulanya Fu Giok Su menantang Wan Fei Yang dengan cara yang sopan, tapi begitu dia turun tangan.
Hujan dan Angin pun segera mengambil bagian mengeroyok Wan Fei Yang.
Kibasan lengan baju Angin selalu menutup jalan Wan Fei Yang, hamburan jarum berbisa dari Hujan mengacaukan pandangan mata anak muda itu.
Sedangkan toya di tangan Fu Giok Su menyerang dengan gencar.
Semua ini tentu sudah dipersiapkan dengan matang.
Serangan yang paling mematikan justru berasal dari toya Fu Giok Su.
Dia selalu mengancam daerah berbahaya di tubuh Wan Fei Yang.
Sejak semula Wan Fei Yang juga sudah berjaga-jaga terhadap bokongan Hujan dan Angin.
Kibasan lengan baju Angin belum sampai, tubuhnya sudah bergerak mundur.
Dengan kekuatan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkat demikian tinggi, ditambah lagi gerakannya yang lincah, tentu saja Angin tidak dapat berbuat banyak terhadap anak muda itu.
Dalam waktu bersamaan, serangan Hujan dan Fu Giok Su juga tidak mengenai sasaran.
Tubuh Wan Fei Yang segera memutar dan sepasang telapak tangannya langsung menghantam ketiga orang itu secara bergantian.
Ketiga orang itu cepat-cepat mencelat mundur, tapi mereka bagaikan terkurung dalam suatu kekuatan yang tidak terlihat.
Mereka terpaksa menyambut hantaman telapak tangan Wan Fei Yang dengan kekerasan.
Jarak mereka terlalu dekat.
Hujan khawatir dirinya akan terluka.
Tangannya telah menggenggam serangkum jarum, namun tidak dapat disambitkan dengan leluasa.
Terpaksa dia menyambut hantaman telapak tangan Wan Fei Yang dengan kekerasan.
Hujan memang ahli dalam ilmu senjata rahasia, tetapi tenaga 1199 dalamnya sendiri tidak begitu kuat.
Tubuhnya terhuyung-huyung dan terdesak mundur sejauh tiga langkah.
Angin juga tidak berbeda.
Dia terpaksa mundur tiga langkah.
Hanya Fu Giok Su yang masih tetap berdiri di tempatnya.
Tapi rasa terkejut dalam hatinya tentu saja tidak dapat dibayangkan oleh orang lain.
Sampai di mana kekuatan Tian can sinkang, sebetulnya dia sendiri juga kurang paham.
Kunci terakhir Tian can sinkang hanya diketahui oleh Ciang bun jin pendahulu.
Hanya dengan kunci itulah Tian can sinkang baru dapat dipelajari dengan sempurna.
Meskipun Fu Giok Su masih tetap berharap, namun melihat akibat yang diderita oleh Yan Cang Tian selama puluhan tahun dalam berlatih Tian can sinkang tanpa hasil, mana berani dia mempelajarinya tanpa kunci tersebut.
Sampai-sampai jurus-jurus permulaan yang sederhana pun, dilatihnya dengan hati kebat-kebit..
Akhirnya dia malah menghentikannya, takut terjadi sesuatu yang tidak di nginkan dan akibatnya seperti keadaan Yan Cong Tian yang tenaga dalamnya kadang-kadang tidak ada.
Apakah Wan Fei Yang juga mempelajari Tian can sinkang, dia tidak dapat memastikan.
Namun sekarang hatinya menjadi bimbang.
Perbedaan tenaga antara sekarang dengan ketika anak muda itu menerobos ke Bu tong san sudah terpaut jauh.
Diapun menyadari bahwa Wan Fei Yang belum mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Namun kekuatannya sudah demikian dahsyat.
Kecuali Wan Fei Yang sudah berhasil melatih Tian can sinkang, dia tidak dapat memikirkan kemungkinan yang lain.
Kenyataannya, Yan Cong Tian diselamatkan oleh Wan Fei Yang dari lembah Siau Yau kok.
Walaupun adat orang ini agak keras, namun melihat keruntuhan Bu tong pai di depan mata dan apalagi melihat Wan Fei Yang berbakat tinggi dalam mempelajari ilmu silat tidak ada alasan bagi Yan Cong Tian 1200 untuk tidak mewariskan Tian can sinkang kepada anak muda tersebut.
Tentu saja Fu Giok Su tidak tahu bahwa berhasilnya Wan Fei Yang berlatih Tian can sinkang malah mengandung kisah yang panjang serta berbelit-belit, sama sekali tidak mengandalkan ajaran Yan Cong Tian.
Meskipun hatinya terkejut, namun wajah Fu Giok Su sendiri tidak menampilkan perasaan apa-apa.
Balikah dia tersenyum lebar.
"Selamat kepada Wan heng yang ternyata juga sudah berhasil melatih Tian can sinkang yang istimewa itu,"
Katanya pura-pura tenang. Wan Fei Yang justru tertegun mendengar ucapannya.
"Bagi Fu Toako, hal ini tentu bukan kabar yang menyenangkan,"
Sahutnya setelah terdiam sesaat.
"Meskipun bukan hal yang menyenangkan, tapi melihat keberhasilan seorang sahabat lama, paling tidak hati ini agak terhibur juga,"
Sahut Fu Giok Su dengan wajah serius.
"Rasanya Siaute hampir tidak percaya kata-kata ini terlontar dari mulut Fu Toako,"
Kata Wan Fei Yang tiba-tiba. Fu Giok Su tersenyum tipis. Dia mengalihkan bahan pembicaraan.
"Walaupun Siaute sendiri tidak mewarisi ilmu Tian can sinkang, tapi justru dari kitab itu Siaute berhasil mempelajari Coa tiau cap sa-sut yang merupakan warisan dari Cou su Tio Sam Hong. Di dalam kitab juga dijelaskan bahwa ilmu Coa tiau cap sa-sut ini tidak kalah hebatnya dengan Tian can sinkang!"
"Oh ya?"
Sahut Wan Fei Yang datar.
"Tentang benar atau tidaknya keterangan itu, 1201 Siaute terpaksa membuktikannya dengan meminta pelajaran dari Wan heng!"
"Bagaimana caranya, satu lawan satu atau main keroyokan?"
Sindir Wan Fei Yang dengan tertawa dingin. Sinar mata Fu Giok Su menyapu ke sekeliling.
"Hujan dan Angin merupakan angkatan tua dalam Siau Yau kok. Apa yang ingin mereka lakukan tentu Siaute tidak dapat menghalangi."
Kembali Wan Fei Yang tertawa dingin beberapa kali.
"Bagaimana pribadi Fu Toako sebenarnya sampai saat ini Siaute masih belum paham."
Hati Fu Giok Su diam-diam tergetar.
Namun wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa Sepasang tangannya memegang toya erat-erat Tiba-tiba dia berteriak lantang dan toyanya pun menerjang ke depan.
Wan Fei Yang melangkah mundur dengan gerakan bersilang.
Sepasang telapak tangannya meluncur dengan cepat lalu menjepit toya Fu Giok Su di antara jantung telapak tangannya.
"Plok!"
Toya tersebut terjepit ketat, kemudian terdengar suara.
"Krekkk!"
Toya itu terputus menjadi dua bagian akibat jepitan telapak tangan Wan Fei Yang..
Namun Wan Fei Yang terkejut sekali.
Dia lupa bahwa senjata Fu Giok Su yang satu ini memang sangat unik.
Putus bukan lantas tak berguna lagi, malah dari bagian tengah toya itu terulur seutas rantai panjang yang menyambung di kedua sisinya.
Dengan gerakan kilat Fu Giok Su menarik Toya itu dan langsung menyabet pinggang Wan Fei Yang.
Dengan lincah Wan Fei Yang menggeser tubuhnya.
Telapak tangannya menghantam ke arah ujung toya.
Fu Giok Su tidak 1202 menunggu sampai serangan telapak itu tiba.
Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebilah pisau kecil dan menusukkannya ke dada Wan Fei Yang.
Anak muda itu menggelinding tubuhnya di atas tanah untuk menghindari serangan tersebut.
Tiba-tiba Fu Giok Su melepaskan pisau di tangannya.
Dari ujung toya yang satunya lagi dia menarik keluar sebilah golok yang tipis.
Ditebasnya golok tersebut dari arah atas ke bawah.
Sementara itu dari selipan rantai itu di bagian tengah toya meluncur beberapa batang senjata rahasia dalam waktu yang bersamaan.
Sepasang telapak tangan Wan Fei Yang langsung menghantam.
Dia berhasil mendorong serangan pisau kecil tadi, kemudian digerakkannya gagang pedangnya untuk menangkis serangan golok yang datang dari belakang.
Sekali lagi tubuhnya berkelebat dengan kecepatan yang sulit ditangkap pandangan mata, kembali dia berhasil menghindari senjata rahasia yang sedang meluncur tiba.
Cara bergeraknya yang lincah, bahkan kegesitannya dalam menyambut setiap serangan, mungkin apabila masih hidup Ci Siong to jin sendiri akan terpana.
Kibasan lengan baju Angin semakin gencar menyerang.
Wan Fei Yang membentak sekali kemudian pedangnya berputaran.
Kibasan lengan baju Angin laksana seekor kupu-kupu yang sedang menari-nari di taman bunga Tentu saja mala Wan Fei Yang sejak tadi sudah memperhatikan baik-baik perubahan gerakan lengan baju Angin.
Ditunggunya waktu yang tepat, lalu menyerang langsung.
Pedangnya menerobos lewat kibasan lengan baju Angin Tubuh mereka saling berkelebat.
Akhirnya tampak lengan baju Angin terkoyak-koyak menjadi perca-perca kecil tertebas beberapa puluh kali oleh pedang di tangan Wan Fe Yang.
Tiba-tiba Angin merasakan ada rasa dingin menyusup di sepasang lengannya.
Cepat-cepat dia memperhatikan 1203 tangannya.
Ternyata sepasang lengan bajunya yang longgar telah terputus sampai ujungnya.
Dia terkejut sekali.
Kakinya mencelat mundur beberapa langkah.
Tepat pada saat itu juga, pedang di tangan Wan Fei Yang sudah disambit ke arah angin.
*** Semua itu diperhatikan Tok ku Bu ti dengan seksama.
Semakin dilihat, hatinya semakin tidak enak.
Tingginya ilmu silat Wan Fei Yang dan Yan Cong Tian benar-benar di luar dugaannya.
Kongsun Hong juga dapat merasakan keadaan yang semakin tidak menguntungkan.
Dia menoleh kepada Tok ku Bu ti.
"Suhu, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk pergi dari sini,"
Katanya menganjurkan. Tok ku Bu ti mengerutkan keningnya. Dia tidak menjawab sepatah kata pun.. Pada saat itu Yan Cong Tian memalingkan wajahnya ke arah mereka.
"Siapa pun jangan harap meninggalkan tempat ini!"
Bentaknya penuh wibawa. Ternyata suara Kongsun Hong yang sudah menyerupai bisikan masih juga tertangkap oleh telinganya.
"Ayahku toh sedang terluka!"
Kata Tok ku Hong tanpa sadar. Yan Cong Tian mendengus dingin.
"Hanya luka ringan saja. Aku akan memberi waktu selama dua kentungan baginya untuk mengatur nafas dan menghimpun hawa murninya kembali!" 1204 Belum lagi Tok ku Hong menyahut. Tok ku Bu ti sudah menjatuhkan dirinya duduk bersila di atas tanah. Thian ti tertawa terbahak-bahak.
"Tok ku Bu ti, bagaimana kalau kita bergabung?"
Tanyanya dengan maksud licik.
"Oh?"
Sinar mala Tok ku Bu ti berpendar mendengar kata-kata itu.
"Kalau berduel satu lawan satu, siapa pun dari kita pasti bukan tandingan manusia she Yan ini. Hanya dengan bergabung kita masih ada harapan untuk menang!"
Kata Thian ti selanjutnya.
Sambil bertarung Yan Cong Tian terus ber bicara sebelumnya.
Tampaknya hal itu tak berpengaruh apa-apa bagi dirinya.
Namun begitu Thian ti membuka suara sambil melancarkan serangan, berkali-kali dia terdesak mundur diserang oleh Yan Cong Tian.
Hal ini saja sudah dapat membuktikan ilmu siapa yang lebih tinggi di antara keduanya.
Melihat keadaan itu, Tok ku Bu ti tersenyum simpul.
"Seandainya kita bergabung dan dapat mengalahkan Yan Cong Tian. Bagaimana kelanjutannya?"
"Sejak saat ini, dunia Bulim terbagi menjadi dua bagian antara engkau dan aku!"
Sahut Thian ti.
"Kau dan aku sama-sama mengerti. Kita bukan jenis manusia yang dapat menerima adanya Bengcu lain kecuali diri kita sendiri,"
Kata Tok ku Bu ti. Thian ti tertawa dingin.
"Masalahnya sekarang kita tidak punya pilihan. Lebih-lebih engkau! Kalau kau tidak bersedia bergabung, maka satu-satunya jalan yang dapat kau tempuh hanya kematian!"
Tok ku Bu ti masih tenang-tenang saja.
"Laki-laki sejati mana takut menghadapi kematian!" 1205
"Bagus! Tok ku Bu ti, anggaplah nyalimu cukup besar!"
Berturut-turut dia hantamkan telapak tangannya agar Yan Cong Tian tidak dapat maju mendekatinya. Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Coba kau katakan, bagaimana caranya kita memperhitungkan hutang darah ketika orang Siau Yau kok menyerbu dan menghancurkan Bu ti bun?"
"Hutang piutang dapat diperhitungkan kapan saja. Tidak diharuskan hari ini bukan? sambil menyahut Thian ti terdesak mundur lagi beberapa langkah. Sekali lagi Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya.
"Manusia she Fu, tahukah kau mengapa sampai generasimu ini, Siau Yau kok semakin lama semakin payah?"
"Kenapa?"
Tanya Thian ti tanpa sadar. Tok ku Bu ti tertawa terbahak-bahak.
"Karena tingkah lakumu selama ini sama sekali tidak menunjukkan kewibawaan seorang pemimpin!"
Thian ti mendengus dingin.
Tepat pada saat itu juga dia mendengar pekikan kesakitan Suara itu dikenalnya dengan baik.
Suara Angin!
Thian ti melirik ke arah sana.
Dia melihat Angin persis seperti seekor laba-laba yang tertancap sebatang pedang dan menembus sampai terpantek di tembok.
Ginkang Angin tidak diragukan lagi lebih tinggi dari orang lainnya, namun bila dibandingkan dengan Hui hun cong dari Bu tong pai masih terpaut satu tingkat.
Wan Fei Yang meragukan jurus Hui hun cong yang dipadu dengan ilmu pedangnya menikam Angin.
Tentu saja orang itu tidak mungkin sanggup menghindarinya.
1206 Wan Fei Yang menarik pedangnya kembali.
Kakinya menutul di atas tanah dan tubuhnya melesat ke udara.
Pada saat itu juga jarum beracun Hujan meluncur lewat di bawah kakinya.
Tubuhnya berjungkir balik dua kali.
Telapak tangannya langsung menghantam sekumpulan jarum beracun yang disambitkan oleh Hujan kembali.
Jarum-jarum itu terhempas berhamburan oleh segulung kekuatan yang tidak berujud.
Kemudian Wan Fei Yang menerobos masuk lewat celah yang dibuatnya lalu menerjang ke arah Hujan dengan gerakan secepat anak panah.
Hujan terkejut sekali.
Tidak ada waktu lagi untuk menghindar.
Terpaksa dia mengulurkan sepasang telapak tangannya untuk menyambut hantaman Wan Fei Yang dengan kekerasan.
Tiga kali berturut-turut mereka mengadu telapak tangan.
Tubuh Hujan sudah pendek sekali kelihatannya, kakinya melesak ke dalam tanah.
Sekali lagi tubuh Wan Fei Yang berjungkir balik.
Tenaganya disalurkan ke telapak tangan dan menghantam batok kepala Hujan dari atas.
Dari ketujuh lubang panca indera Hujan seketika mengalir darah..
"Plak!"
Dua kali berturut-turut.
Ternyata hantaman itu demikian kerasnya sehingga urat syaraf Hujan tergetar putus.
Tubuhnya terkulai di atas tanah dan nyawanya pun melayang pada saat itu juga.
Wan Fei Yang langsung melesat ke samping dengan demikian sekaligus dia berhasil menghindari serangan Coa tiau cap sa-sut yang, dikerahkan Fu Giok Su tubuh Fu Giok Su bergerak dengan gesit.
Sepasang jari tangannya membentuk paruh bangau dan menyerang Wa Fei Yang dengan gencar.
Sasarannya selalu tenggorokan anak muda tersebut.
Perubahan gerakannya demikian cepat.
Kadang seperti seekor bangau, kadangkala seper ti seekor ular.
Baik kaki maupun tangan selalu menyerang bagian mematikan dari tubuh lawan.
Wan Fei Yang sendiri bertarung dengan tenang.
Setelah menyambut serangan Fu Giok Su, dia pun membalas 1207 menyerang.
Kemudian secepat kilat dia menghindarkan diri kembali, sama sekali tidak berniat menyambut serangan Fu Giok Su dengan kekerasan.
Fu Giok Su mengira Wan Fei Yang tidak berani menghadapi Coa tiau cap sa-sut secara langsung.
Dia semakin mendesak maju dan menyerang dengan gencar.
Hampir seluruh jurus Coa tiau cap sa-sul telah dikerahkan.
Mata Wan Fei Yang terbuka lebar-lebar.
Dia memperhatikan setiap perubahan yang dilakukan oleh Fu Giok Su.
Dia memang sengaja tidak ingin mengadu kekerasan dengan Fu Giok Su, karena dia ingin anak muda itu mengerahkan seluruh jurus Coa tiau cap sa-sut.
Fu Giok Su sendiri tidak sadar dirinya telah terpancing.
Cara Wan Fei Yang menghindarkan diri dari serangan selalu menempuh bahaya.
Setiap kali serangan Fu Giok Su sudah hampir mengenainya, baru dia menghindarkan diri.
Fu Giok Su semakin yakin dengan dugaannya sendiri bahwa Wan Fei Yang mulai gentar menghadapinya.
Dia semakin gencar melakukan serangan.
Semua perubahan dari jurus Coa tiau cap sa-sut dikerahkannya dengan hebat.
Akhirnya ketiga belas jurus itu selesai di kerahkan.
Tubuh Fu Giok Su berkelebat.
Dia mulai bergerak dari awal lagi.
Kali ini Wan Fei Yang menghindari serangannya dengan tenang.
Tanpa sengaja Thian ti melirik ke arah mereka.
Hatinya tergetar.
Belum sempat dia meminta Fu Giok Su agar berhati-hati, Wan Fei Yang sudah mengerahkan Coa tiau cap sa-sut dengan serampangan.
Meskipun gerakannya tidak tepat dan lancar seperti Fu Giok Su, tetapi dalam hal tenaga dalam sudah pasti kekuatannya jauh di atas pemuda tersebut.
Akhirnya Fu Giok Su sadar bahwa dirinya telah terpancing oleh pihak lawan.
Dia mendengus dingin berulang kali.
"Tidak disangka Wan heng berubah secerdas ini!" 1208
"Hal ini pasti berkat bimbingan Fu Toako selama ini!"
Sambil menyahut Wan Fei Yang terus menyerang Fu Giok Su.
Dengan Coa tiau cap sa-sut yang baru dipelajarinya tadi.
Jurus pertama yang digerakkannya lucu sekali.
Tapi setiap gerakannya memperlihatkan manfaat yang besar.
Pada jurus kedua, dia sudah mulai menguasainya lebih baik dari semula.
Ketika dia mengulanginya lagi, dia mulai dapat mengerahkan tenaga dalam ketika memainkan jurus Coa tiau cap sa-sut tersebut..
Semakin lama bertarung, hati Fu Giok Su semakin kebat-kebit.
Setiap gerakannya selalu berhasil ditutup oleh Wan Fei Yang.
Coa tiau cap sa-sut miliknya semakin lama semakin tidak dapat dikerahkan.
Setelah selesai mengulangi untuk kedua kalinya, tiba-tiba Wan Fei Yang merubah gerakan tangannya.
Fu Giok Su tahu anak muda itu sekarang sudah bisa mengkombinasikan antara tenaga dalam Tian can sin-kang dengan Coa tiau cap sa-sut.
Tubuhnya mencelat ke atas dengan maksud menghalangi gerakan Wan Fei Yang.
Tapi begitu bergerak, dia langsung merasakan seakan ada sehamparan jala yang menyelimuti tubuh anak muda itu.
Dia sama sekali tidak sanggup menerobos masuk ke dalamnya.
Sebaliknya justru jala itu yang mengurung dirinya sendiri, semakin lama semakin ketat.
Fu Giok Su cepat-cepat menyurutkan tubuhnya.
Tapi ke mana pun dia bergerak, Wan Fei Yang selalu mengintilnya dengan ketat.
Tubuh Fu Giok Su berkelebat beberapa kali, namun tetap saja dia tidak dapat melepaskan diri dari Wan Fei Yang.
Jerat yang mengurungnya terasa semakin menyempit.
Tiba-tiba Yang Cong Tian juga mengerahkan gerakan yang serupa dengan Wan Fei Yang Perasaan aneh dan bingung Fu Giok Su juga sudah dirasakan oleh Thian ti sekarang.
Matanya bersinar dan mengerling keadaan sekitarnya.
Akhirnya dia mengambil keputusan.
Dia meraung keras.
Dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya dia menerjang ke arah Fu Giok Su.
1209 Yan Cong Tian tertawa dingin.
Dengan ketat dia mengintil di belakang Thian ti.
Sekali lagi Thian ti meraung murka.
Kelima jari tangannya bagai golok yang tajam menebas lurus di antara Fu Giok Su dan Wan Fei Yang yang tengah bertarung dengan sengit.
Terdengarlah suara gemuruh yang timbul di antara kedua orang yang sedang bertarung itu.
Ternyata lengan baju keduanya telah tertebas koyak oleh jari tangan Thian ti.
Fu Giok Su merasa jerat yang menyelimutinya mulai melonggar.
Dia baru saja menghela nafas lega.
Mulutnya terbuka seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun Thian ti sudah membentaknya dengan suara keras.
"Cepat pergi!"
Fu Giok Su sampai tertegun mendengar kata-katanya.
Belum lagi sempat dia menyahut, Thian ti mengangkat sebelah kakinya dan mendepak Fu Giok Su.
Tepat pada saat itu dia sudah mengerti maksud hati Thian ti.
"Yaya...!"
Teriaknya tanpa sadar.
"Pergi!"
Bentak Thian ti sekali lagi.
Tangan kanannya menyambut serangan telapak tangan Wan Fei Yang yang meluncur tiba.
Sedangkan telapak tangan kirinya menyambut serangan Yan Cong Tian yang juga sudah menyusul belakangan.
"Blammm!"
Terdengar suara benturan telapak tangan mereka yang memekakkan telinga.
Seluruh Tiong gi tong seakan tergetar hebat.
Seperti baru saja terjadi gempa bumi di sekitar sana.
Tepat pada saat itu Fu Giok Su sudah menerobos lewat salah satu jendela dalam ruangan.
Wajahnya merah padam, tapi dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk meninggalkan tempat itu meskipun hatinya berat.
Baru saja dia melesat beberapa depa, telingannya mendengar raungan murka Thian 1210 ti yang keras menggelegar.
Hatinya bagai remuk redam dalam waktu sekejap mata.
Giginya mengatup erat-erat.
Begitu kencangnya dia menggigit bibir sendiri sehingga terlihat darah mengalir dari ujungnya Tapi walau bagaimana meluapnya kemarahan yang ada dalam hatinya, dia tetap tidak berani kembali untuk melihat apa yang telah terjadi pada kakeknya.
Dia terus menerjang ke depan.
Kakinya berlari sekencang-kencangnya sehingga debu-debu berhamburan.
Gerakannya dibarengi rasa benci yang dalam.
Tubuhnya seakan menjadi berat oleh rasa benci yang membara.
Dia tidak sanggup mengerahkan tenaganya untuk berdiri lebih cepat lagi.
*** Dalam pertarungan satu lawan satu, Thian ti sudah pasti bukan tandingan Yan Cong Tian maupun Wan Fei Yang, apalagi sekarang dia sekaligus menyambut serangan kedua orang itu.
Tetapi dia terpaksa menyambut serangan kedua orang itu dengan kekerasan, karena hanya dengan cara demikian, salah satu di antara cucu dan kakek itu baru mempunyai kesempatan hidup lebih lama.
Usianya sudah demikian tua.
Apalagi ia telah menderita selama terkurung dalam telaga dingin.
Meskipun sepasang kakinya dapat pulih kembali, namun bagaimana pun sesuatu yang sudah pernah rusak tentu berbeda dengan yang utuh.
Dia yakin ia tidak akan seberuntung Yan Cong Tiau maupun Wan Fei Yang yang dapat meraih keuntungan dari musibah yang mereka alami.
Dia tidak mungkin mencapai tahap yang lebih tinggi lagi dalam mempelajari ilmu silat.
Hanya Fu Giok Su yang masih mudalah yang masih mempunyai kesempatan tersebut.
Oleh ka-rena itu, dia terpaksa mengorbankan diri.
Dengan cara demikian baru Fu Giok Su dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat.
1211 Begitu menerima kedua hantaman telapak tangan dari Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang, dia merasa isi perutnya tergetar demikian hebat sehingga seperti pecah menjadi kepingan-kepingan kecil.
Penderitaan sehebat itu belum tentu dapat diterima setiap orang.
Oleh karena itu pula, dia meraung murka.
Suara raungan itu juga yang terdengar oleh Fu Giok Su seketika melarikan diri.
Setelah itu, tubuhnya gemetar seakan seorang yang terserang penyakit demam.
Wajahnya berkerut.
Terdengar suara "Krek!
Krek!"
Dari tulang belulang yang patah.
Tubuh Thian ti semakin melemah dan perlahan-lahan terkulai.
Wan Fei Yang terkejut sekali melihat keadaan itu.
Cepat-cepat dia menarik kembali tenaga serangan di telapak tangannya.
Dia tidak lupa bahwa dia sudah berjanji kepada Fu Hiong Kun untuk mengampuni jiwa Thian ti, namun tetap dia terlambat satu langkah.
Darah segar mengalir dari seluruh lubang panca indera orang tua itu.
Tubuhnya masih menggelepar-gelepar bagai ayam disembelih.
Pakaiannya ikut berkeresek-keresek seperti selembar daun yang diremas-remas.
Perlahan-lahan gerakannya terhenti.
Orang tua itu terkulai di tanah seperti sebuah patung dari tanah liat yang belum kering terjemur.
Tiba-tiba angin bertiup.
Pakaian orang-orang yang ada di sana melambai-lambai seakan mengucapkan selamat jalan kepada Thian ti Mereka merasakan ada segulung rasa iba menyelimuti hati mereka.
Semuanya memandang dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang sama-sama terpaku di tempat.
.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa gabungan tenaga mereka dapat menimbulkan kekuatan yang demikian dahsyat.
Salah seorang dari mereka saja sebetulnya sudah cukup untuk menghancur leburkan tubuh Thian ti yang sudah uzur itu, apalagi gabungan tenaga mereka berdua.
Yan Cong Tian yang pertama-tama tersadar Jari keterkejutannya.
"Fei Yang.... Kau diam di sini! Aku akan 1212 mengejar murid murtad itu dan meringkusnya kembali ke sini!"
Katanya.
Tanpa menunggu jawaban Wan Fei Yang, tubuhnya bergerak dan melesat ke arah Fu Giok Su pergi tadi.
Sinar mata Wan Fei Yang mengedar lalu berhenti pada wajah Tok ku Hong.
Gadis itu menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Mata Tok ku Bu ti yang tadi terbuka lebar ikut-ikutan terpejam.
Dia juga tidak memperlihatkan perasaan apa-apa.
Kongsun Hong menatap Wan Fei Yang lekat-lekat.
Matanya menyorotkan rasa panik yang tidak terkatakan.
Dia juga merupakan satu-satunya orang yang paling tegang di tempat itu.
Wan Fei Yang tidak memperdulikan mereka.
Dia menghampiri Tok ku Hong.
"Hong moay, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Tanyanya lembut.
Tok ku Hong menggelengkan kepala dalam keadaan tertunduk.
Tanpa sengaja dia melirik ke arah Tok ku Bu ti.
Tidak seorang pun yang mengucapkan sepatah kata.
** * Meskipun ilmu ginkang Fu Giok Su masih terpaut satu tingkat dengan Angin, namun kemampuannya sudah tergolong kelas satu.
Dia mengerahkan segenap tenaganya.
Tubuhnya meluncur bagai sebatang anak panah.
Setelah melintasi tembok pekarangan bekas markas Bu ti bun itu, dia memilih jalan kecil yang menuju daerah perbukitan.
Berapa lama Thian ti dapat menghadang Yan cong Tian dan Wan Fei Yang, dia sama sekali tidak dapat memastikan.
Namun dia yakin jangka waktu yang ada pasti terbatas sekali.
Benar saja, belum seberapa jauh dia meninggalkan bekas markas Bu ti bu n itu.
telinganya menangkap siulan panjang dari arah belakang..
1213 Suara itu tidak syak lagi pasti keluar dari mulut Yan Cong Tian.
Hati Fu Giok Su tergetar.
Jantungnya berdegup degup.
Tubuhnya berputar dan dia membelok ke dalam sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon rindang.
Meskipun pepohonan yang ada di dalam hutan itu cukup rimbun, namun luasnya hanya beberapa depa.
Tampaknya tidak mudah mencari tempat untuk menyembunyikan diri.
Hati Fu Giok Su semakin tegang.
Dia tidak tahu jalan mana yang harus dipilihnya.
Pikirannya juga semakin kacau.
Dia mengikuti langkah kakinya terus menerjang ke depan.
Setelah menerobos keluar dari hutan, terlihatlah beberapa rumah penduduk yang kecil-kecil.
Fu Giok Su segera menyelinap ke bagian yang agak terlindung dari sebuah rumah, Yan Cong Tian juga sudah melesat keluar dari hutan.
Dedaunan yang disibaknya menimbulkan suara gemirisik.
Belum lagi kelebatan tubuh Yan Cong Tian yang bergerak secepat angin.
Fu Giok Su tidak sempat berpikir panjang lagi.
Dia langsung menyelinap ke dalam rumah yang kebetulannya pintunya hanya dirapatkan Di dalam rumah terdapat sepasang suami istri yang sedang duduk dengan santai.
Tiba-tiba mereka melihat seseorang menerobos masuk ke dalam rumah, keduanya terperanjat sekali.
Perempuan tua itu segera menghambur dan melindungi sebuah keranjang ayunan.
Di dalamnya ada seorang bayi laki-laki.
Wajahnya gemuk dan montok.
Bibirnya tersenyum-senyum meskipun matanya terpejam.
Mata Fu Giok Su mengedar ke sekeliling.
Kemudian dia menghambur ke arah perempuan tua itu.
"Apa... apa yang...?"
Perempuan itu gugup sekali. Belum lagi ucapannya selesai, Fu Giok Su mendorongnya ke samping dan langsung mengangkat bayi yang sedang tertidur itu.
"Kalau nanti ada seorang tosu tua yang mengetuk pintu dan menanyakan apakah kalian melihat seseorang melewati tempat ini kalian harus pura-pura tidak tahu. Kalau kalian berani mengatakan sedikit saja keterangan mengenai diriku atau memberi isyarat kepadanya, maka aku langsung akan membunuh anak ini!"
Ancamnya kepada kedua orang tua itu. Perempuan tua tadi panik sekali.
"Bayi itu masih kecil sekali. Harap jangan berbuat demikian,"
Ratapnya sedih.
"Betul, Kongcu. Apa pun yang kau perintahkan akan kami laksanakan dengan sebaik-baiknya. Jangan mempersulit anak yang masih tidak berdosa itu,"
Tukas suaminya. Fu Giok Su tertawa dingin.
"Semuanya tergantung dari kalian sendiri,"
Kalanya tenang.
"Kami pasti akan menuruti permintaanmu,"
Sahut perempuan itu dengan wajah melas.
Fu Giok Su tidak berkata apa-apa lagi.
Dia langsung menyelinap ke dalam sebuah kamar yang terletak di bagian kanan ruangan.
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Sepasang suami istri tua itu saling lirik sekilas.
Laki-laki tua itu mengulurkan tangannya dan menepuk bahu istrinya dengan lembut.
Dia menenangkan perasaannya sendiri dan berjalan ke arah pintu.
Pintu kamar tersebut ditariknya sedikit.
Orang yang menongolkan diri di depan pintu sudah pasti Yan Cong Tian adanya.
Laki-laki tua itu pura-pura terkejut melihatnya.
"Totiang ini...!"
Yan Cong Tian melongokkan kepalanya dan memandang ke dalam ruangan sekilas.
"Maaf mengganggu kalian dua orang tua. Numpang tanya, apakah kalian melihat seorang anak muda melewati tempat ini?" 1215 Tepat pada saat itu, bayi dalam gendongan Fu Giok Su terjaga. Melihat yang menggendongnya adalah orang asing yang belum pernah dilihatnya, bibirnya langsung tertarik ingin menangis. Melihat keadaan itu, Fu Giok Su panik sekali. Cepat-cepat dia mengulurkan tangan nya untuk mendekap mulut bayi tersebut. Telapak tangannya begitu besar. Sekali menekan, hidung bayi itu pun terdekap olehnya. Tapi dalam keadaan tegang, Fu Giok Su sama sekali tidak merasakan perbuatannya yang akan berakibat fatal bagi sang bayi. Tentu saja bayi sekecil itu tidak sanggup memberontak. Rona wajahnya perlahan-lahan berubah. Dari biasa menjadi merah padam, dan merah menjadi pucat. Fu Giok Su masih belum memperhatikan. Orang tua itu memandang Yan Cong Tian dengan termangu-mangu. Dia seperti tidak mengerti apa yang ditanyakan totiang dihadapannya.
"Aku tidak melihat apa-apa."
Tidak salah kalau dikatakan ilmu silat Yan Cong Tian sudah mencapai taraf tertinggi, tapi pengalamannya dalam dunia kangouw justru dangkal sekali.
Seumur hidupnya dia lebih banyak berkurung di alas Bu tong san mempelajari Tian can sinkang daripada berkelana di dunia kangouw.
Dia sama sekali tidak merasa curiga terhadap sepasang suami istri.
Malah dia mengira kedatangannya itulah yang membual orang tua itu terkejut.
Dia merasa tidak enak hati.
"Maaf kalau kalian terkejut!"
Selesai berkata, dia langsung menyurutkan kepalanya dan berbalik meninggalkan tempat tersebut.
Laki-laki tua itu masih berdiri termangu-mangu.
Pintu pun belum dirapatkan.
Yan Cong Tian berjalan mengitari sekitar 1216 tempat tersebut, tiba-tiba kakinya menghentak dan tubuhnya melesat ke atap rumah yang lain.
Melihat kehebatan Yan Cong Tian, orang tua itu terkejut.
Cepat-cepat dia merapatkan kembali pintu rumahnya.
Yan Cong Tian menyapu pandangannya ke sekeliling tempat itu.
Untuk sesaat dia juga tidak tahu arah mana yang harus diambilnya untuk mengejar Fu Giok Su.
Dia berdiri termangu-mangu di atas genting itu.
Kemudian dia berteriak memaki.
"Fu Giok Su, kau bisa lari hari ini, tapi kau tidak mungkin bersembunyi seumur hidup!"
Kemudian dia membalikkan tubuhnya dan melesat dari arah mana dia datang tadi.
Suara teriakan Yan Cong Tian tidak terlalu keras, namun setiap patah katanya terdengar jelas oleh Fu Giok Su.
Tanpa sadar keringat dingin menetes dari keningnya.
Fu Giok Su tetap tidak bergerak.
Telinganya dipertajam.
Setelah mendengar kibasan lengan baju, barulah hatinya menjadi tenang dan dia dapat menghela nafas lega.
"Yan Cong Tian, hutang piutang ini akan kuperhitungkan sampai jelas pada suatu hari nanti,"
Gumamnya sendiri.
Dia masih berdiri terpaku sesaat.
Kemudian dia merasakan bahwa bayi dalam gendongannya tidak bergerak lagi sejak tadi.
Dia menundukkan kepalanya memperhatikan bayi tersebut.
Wajahnya sudah pucat pasi dan tidak sedikit pun kesan bahwa bayi itu masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.
"Mati?"
Diam-diam hatinya terkejut sekali.
Tangannya cepat-cepat dilepaskan dari mulut bayi itu.
Tanpa sadar kakinya melangkah ke depan.
Tepat pada saat itu, sepasang suami istri tadi juga maju menghampiri.
Melihat tampang Fu Giok Su, mereka segera 1217 sadar telah terjadi sesuatu.
Perempuan tua itu menghambur kehadapan Giok Su.
"Bagaimana keadaan anak itu?"
Tanyanya panik.
Terpaksa Fu Giok Su menyodorkan bayi itu ke tangan perempuan tua tadi.
Serangkum perasaan tidak enak memenuhi hatinya.
Selama bertahun-tahun belakangan, entah sudah berapa banyak orang yang dibunuhnya, tapi seumur hidupnya dia belum pernah membunuh seorang anak kecil apalagi bayi seperti yang digendongnya barusan.
Perempuan tua itu menyambut bayi dari tangan Fu Giok Su.
Dia mendekatkan wajahnya ke hidung bayi, wajahnya langsung berubah hebat.
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya membelakangi Fu Giok Su.
Dia menangis tersedu-sedu.
"Mengapa kau bunuh bayi ini?"
Ratapnya sedih. Wajah Fu Giok Su semakin kelam.
"Jangan bersuara. Kalau tidak, aku akan membunuhmu sekalian!"
Ancamnya.
Perempuan tua itu tertegun.
Belum lagi dia sempat menyahut sepatah kata pun, suaminya sudah menghampiri dan memeluk bahunya serta meminta agar dia jangan menyahut lagi Fu Giok Su menghampiri jendela dan melongok keluar.
Bayangan Yan Cong Tian tidak terlihat lagi.
Dia baru menghela nafas lega.
Tiba-tiba perempuan tua itu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah dan meratap sekeras-kerasnya.
"Lun kouwnio, kau yang sudah berada di alam baka. Apalagi melihat kejadian ini jangan sekali-kali menyalahi kami. Bayi ini sudah kami anggap sebagai keturunan kami sendiri.. Tentu kau juga tahu bagaimana kami menyayanginya. Sekarang dia sudah kembali ke sisimu, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi! 1218 Mendengar teriakan perempuan itu, Fu Giok Su sudah hampir mengamuk. Namun ketika telinganya menangkap kata-kata 'Lun kouwnio,' segulung firasat tidak enak kembali menyelimuti hatinya.
"Apakah bayi ini bukan anak kalian?"
Tanyanya tanpa sadar. Perempuan tua itu menggelengkan kepalanya dengan air mala berurai.
"Nasib anak ini sungguh malang. Setelah melahirkan dia tidak berapa lama, ibunya sudah meninggal dunia, sebelumnya dia menitip anak ini kepada kami agar merawatnya dengan baik. Siapa sangka.... Ai kh.... Siapa sangka akan begini jadinya...!"
Kata-kata perempuan tua itu semakin lama semakin tersendat-sendat.
Dia tidak dapat meneruskan kata-katanya lagi.
Laki-laki tua di sampingnya cepat-cepat membimbing istrinya duduk di atas kursi.
Wajah Fu Giok Su semakin tegang.
"Lun kouwnio yang kau katakan itu, apa nama lengkapnya?"
Desaknya gugup.
"Lun Wan Ji!"
Sahut laki-laki tua itu sepatah demi sepatah. Tubuh Fu Giok Su tergetar hebat.
"Apa? Ibu anak ini bernama Lun Wan Ji?"
Dia sangat berharap bahwa pendengarannya tiba-tiba saja menjadi kurang beres. Orang tua itu menganggukkan kepalanya.
"Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu. Lun kouwnio jatuh tidak sadarkan diri di depan pintu rumah kami. Untung saja kami cepat menolongnya. Keadaannya sudah lemah sekali. Rupanya dia sudah cukup lama berjalan tanpa tujuan. Tidak lama kemudian dia melahirkan anak ini. Karena tubuhnya memang sudah lemah, apalagi setiap hari selalu bersedih, maka setelah melahirkan anak ini tidak berapa lama Lun kouwnio pun berpulang...."
"Benarkah dia bernama Lun Wan Ji?"
Fu Giok Su masih berharap terjadinya sebuah keajaiban. Perempuan itu meratap semakin sedih.
"Kami memang sudah tua, tapi belum 1inglung. Mana mungkin orang setua kami masih bisa mempunyai anak. Lun kouwnio masih sempat menceritakan bahwa ayah bayi ini she Fu. Dia meminta kepada kami agar kelak bila ada kesempatan antarkan anak ini ke Bu tong san dan berikan kepada ayahnya yang bernama Fu Giok Su."
Fu Giok Su terhuyung-huyung. Wajahnya berubah semakin hebat.
"Lun kouwnio juga mengatakan bahwa keturunan keluarga Fu banyak yang pendek umur. Tidak disangka kata-katanya memang benar, ternyata anak ini juga sudah...."
Air mata Fu Giok Su mengalir dengan deras.
Darah dalam tubuhnya seakan menggelegak.
Hampir saja dia muntah darah karena pukulan batin yang demikian hebat.
Tiba-tiba dia menghambur ke depan perempuan tua itu dan merebut bayi dalam gendongannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia menerjang keluar dari rumah dan melesat secepat anak panah.
Sepasang suami istri tua tersebut berdiri dengan termangu-mangu memandangi keper-gian Fu Giok Su.
Bagaimana pun mereka tidak menyangka bahwa anak muda di hadapannya dan yang telah membunuh bayi itu adalah ayah kandung bayi itu sendiri.
* ** Angin bertiup sepoi-sepoi.
Dedaunan melambai-lambai.
Fu Giok Su berlari seperti orang kesurupan setan.
Mayat anaknya ia peluk erat-erat.
Beberapa kali dia tersandung dan terjatuh di 1220 atas tanah.
Dengan tidak memperdulikan keadaan dirinya, Fu Giok Su merangkak bangun dan berlari lagi.
Kemudian dia terjatuh kembali.
Begitulah berturut-turut apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah beberapa kentungan, akhirnya dia tidak sanggup bertahan lagi.
Dia jatuh terkulai di atas tanah.
Air mata dan tanah memenuhi wajahnya.
Kemudian dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam tanah.
*** Darah yang membasahi ruangan besar itu masih belum kering.
Tok ku Bu ti masih tetap duduk bersila menyembuhkan luka-lukanya.
Perasaan Kongsun Hong semakin lama semakin tegang.
Dia memandang Wan Fei Yang dengan mata mendelik.
Sinar mata Wan Fei Yang malah tidak lepas-lepas dari wajah Tok ku Hong.
Sedangkan Tok ku Hong tidak berani beradu pandang dengan anak muda itu.
Hanya sekali-kali dia melirik ke arahnya.
Angin bertiup semakin kencang.
Tiba-tiba Yan Cong Tian menerobos lewat jendela.
Melihat keadaan Wan Fei Yang, dia sampai menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Akhirnya Wan Fei Yang menoleh kepadanya.
Pemuda itu menarik nafas panjang.
"Meskipun makhluk tua itu bukan orang baik-baik, tapi sampai akhir hidupnya dia rela berkorban demi menyelamatkan cucunya sendiri. Malah Fu Giok Su yang tidak memperdulikan mati hidupnya orang tua tersebut."
Yan Cong Tian tertawa dingin.
"Apabila suatu hari nanti, bocah itu terjatuh ke dalam tanganku, aku akan membuatnya minta hidup tidak bisa, minta mati pun sulit!"
Katanya jengkel. 1221 Wan Fei Yang menarik nafas sekali lagi.
"Mati dan hidup merupakan takdir."
Yan Cong Tian mendekati Wan Fei Yang dan berbisik di telinganya.
"Manusia yang satu ini sanggup melakukan kejahatan apa pun. Membiarkan dia hidup, sama saja mendatangkan malapetaka bagi orang-orang sedunia!"
Wan Fei Yang tidak bisa tidak menganggukkan kepalanya membenarkan.
Sinar mata Yang Cong Tian beralih kepada wajah Tok ku Bu ti.
Pada saat itu juga Tok ku Bu ti membuka matanya dan menghembuskan nafas panjang.
"Kau tidak perlu panik,"
Kata Yan Cong Tian dengan nada dingin.
"Aku sudah mengatakan akan memberimu waktu untuk memulihkan kesehatan selama dua kentungan. Apabila waktu lunya belum sampai, aku tentu tidak akan turun tangan."
Tok ku Bu ti tertawa sumbang.
"Kau tentu mengerti bahwa luka yang kuderita, apabila dikatakan parah memang tidak seberapa parah tapi apabila dikatakan ringan juga tidak. Dalam waktu dua kentungan toh tidak mungkin pula seperti biasa. Lebih baik tidak usah menunggu sampai waktunya, bunuh saja aku sekarang!"
Yan Cong Tian mendengus marah.
"Baik, apabila itu maumu!"
Kakinya maju satu langkah. Telapak tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Dengan panik Tok ku Hong menghadang di depan Tok ku Bu ti.
"Locianpwe, waktunya belum sampai. Lagipula luka yang ayahku derita cukup parah...."
"Hongji, biar mereka lakukan apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, seluruh Bulim juga akan tahu bahwa sebuah partai lurus seperti Bu tong pai juga bisa 1222 menggunakan kesempatan ketika lawannya sedang terluka!"
Tukas Tok ku Bu ti. Yan Cong Tian tambah marah.
"Menghadapi manusia sesat seperti engkau ini, sama sekali tidak perlu mematuhi peraturan dunia Bulim!"
Tangannya sudah bergerak dengan maksud menghantam ke depan, Tok ku Hong menghampiri Yan Cong Tian.
"Locianpwe, aku mohon kau lepaskan ayahku!"
Yan Cong Tian memandang Tok ku Hong lekat-lekat. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tok ku Bu ti, seumur hidupmu kejahatan apa pun pernah kau lakukan!. Tidak disangka Thian masih memberi anak sebaik ini untukmu!"
Tok ku Bu ti merasa hatinya terpukul. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Dengan segala macam kejahatan yang pernah kau lakukan, sepuluh kali kematianpun masih belum cukup untuk menebusnya. Sekarang putrimu ini memohonkan pengampunan untukmu. Bagaimana kau harus menghargai apa yang dilakukannya untukmu?"
Tok ku Bu ti tidak menyahut sepatah kata pun. Air mata Tok ku Hong berderai semakin deras.
"Locianpwe...!"
Yang Cong Tian sampai serba salah dibuatnya. Dia mengeraskan hati dan mengibaskan tangannya.
"Kau minggirlah ke sudut sana. Biar aku membasmi manusia jahat ini demi kesejahteraan kaum Bulim!"
Katanya kemudian. Tok ku hong tidak menepi. Dia tetap menghadang di depan Tok ku Bu ti.
"Kalau locianpwe tetap ingin membunuh ayahku, bunuhlah aku terlebih dahulu!"
Sahutnya dengan pendirian kukuh. 1223 Yan Cong Tian menggelengkan kepalanya "Aku tidak ingin membunuhmu. Minggirlah!"
"Kecuali kalau kau berjanji melepaskan ayahku!"
Tok ku Hong menoleh kepada Wan Fei Yang.
"Siau Yang, hari itu ketika kau sudah terluka, ayahku juga tidak meneruskan niatnya membunuhmu. Aku harap kau mengingat hal itu dan memohon kepada Supekmu agar mengampuni jiwa ayahku!"
Dengan pikiran kacau Wan Fei Yang menatap Yan Cong Tian, kemudian sinar matanya beralih kembali kepada Tok ku Hong.
"Aku mohon padamu!"
Seru Tok ku Hong dengan nada meratap. Wan Fei Yang membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun dia membatalkannya. Sinar mata Yang Cong Tian menyapu ke arahnya.
"Siau Fei, bagaimana pendapatmu? Wan Fei Yang menarik nafas panjang.
"Demi Bu tong pai dan seluruh umat Bulim, kita memang harus membunuhnya. Tetapi demi Hong kouwnio, aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan."
Kongsun Hong yang sejak tadi berdiam diri langsung menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah. Dia berteriak dengan suara yang keras kepada Yan Cong Tian.
"Harap Locianpwe membuka hati melepaskan Suhu, Kongsun Hong bersedia menggantikan Suhu menerima kematian!"
"Benar-benar laki-laki sejati!"
Puji Yan Cong Tian tanpa sadar. Dia menoleh ke arah Tok ku Bu ti.
"Tok ku Bu ti. aku sungguh-sungguh merasa kasihan sekali padamu!"
"Kongsun Ji, Hong Ji!"
Bentak Tok ku Bu ti lantang. 1224
Jilid 27 Kongsun Hong dan Tok ku Hong memalingkan kepalanya serentak. Tok ku Bu ti berdiri tegak.
"Yang ingin mereka bunuh adalah aku, bukan kalian!"
Tok ku Bu ti menoleh kembali kepada Yan Cong Tian..
"Silahkan saudara turun tangan sekarang!"
Sekali lagi Yan Cong Tian mengangkat tangannya ke atas.
"Lohu akan menyempurnakan keinginanmu!"
Tok ku Bu ti membusungkan dadanya. Hong ji, minggir!"
Bentaknya lantang.. Tok ku Hong tidak mendengarkan kata-katanya. Dia malah maju ke depan dan berteriak.
"Tia pernah mengatakan, selama Bu ti bun masih berdiri, dia tidak akan mengundurkan diri dari dunia kangouw. Sekarang Bu ti bun sudah tidak ada lagi, tentu saja ayahku sudah mempersiapkan diri untuk mengasingkan diri ke tempat yang tenang. Locianpwe adalah seorang manusia yang berbudi luhur, apakah niat ayahku yang ingin mengundurkan diri dari dunia persilatan pun tidak dapat dikabulkan?"
Yan Cong Tian tertegun. Dia menoleh ke arah Tok ku Bu ti.
"Apakah Buncu memang berniat mengundurkan diri dari dunia kangouw?"
Tok ku Bu ti tidak menyahut.
"Tia, katakanlah!"
Seru Tok ku Hong panik. Tok ku Bu ti tetap berdiam diri. Yan Cong Tian tertawa dingin.
"Dia pasti tidak akan mengatakannya, karena dia memang tidak berniat sama sekali."
Tok ku Hong mengalirkan air mala sambil memohon.
"Tia, cepat katakan!"
Ratapnya semakin sedih. 1225 Tok ku Bu ti menarik nafas panjang. Setelah merenung sekian lama, akhirnya dia berkata.
"Setelah mengalami kehancuran kali ini, Bu ti bun sulit dibangun kembali. Hal ini lelah membuktikan Bu ti bun bukannya tidak terkalahkan. Apalagi setelah kejadian hari ini, bila aku masih ingin mengangkat nama dalam dunia persilatan juga tidak mudah lagi. Lagipula tidak ada lagi yang dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan tenagaku seorang diri. Rasanya memang lebih baik aku mengundurkan diri dan hidup dengan tenang di tempat yang terpencil."
Yan Cong Tian mendengarkan sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Baik! Bila kau memang ingin memulai kehidupan baru, maka mengingat kebesaran Thian, aku akan mengampunimu untuk kali ini!"
Katanya. Tok ku Hong segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Yan Cong Tian.
"Terima kasih atas kebesaran budi Locianpwe."
Yan Cong Tian mendongakkan kepalanya menatap langit sembari menarik nafas panjang.
"Kali ini aku melepaskan ayahmu, kemungkinan besar aku seperti melepaskan harimau kembali ke gunung. Mudah-mudahan apa yang aku lakukan tidak keliru."
"Harap Locianpwe jangan khawatir."
Tok ku Hong segera memapah ayahnya.
"Tia pasti akan mengundurkan diri dari dunia kangouw.."
Dengan perasaan terpaksa Yan Cong Tian mengibaskan tangannya.
"Baik, kalian pergilah."
Kongsun Hong juga cepat-cepat menghampiri Tok ku Bu ti dan membimbingnya. Baru saja mereka membalikkan tubuh, Wan Fei Yang sudah maju menghampiri.
"Harap Hong kouwnio tunggu sebentar, ada yang ingin aku katakan!" 1226 Tok ku Hong memandang Tok ku Bu ti.
"Kami menunggumu di luar halaman,"
Kata Tok ku Bu ti. Wan Fei Yang memandang Tok ku Bu ti dan Kongsun Hong keluar dari ruangan tersebut.
"Hong kouwnio, kemana tujuanmu?"
Tanyanya penuh perhatian.
"Kemana Tia pergi, di sanalah aku akan mengiringinya,"
Sahut Tok ku Hong.
"Lalu kita...."
"Aku mengerti maksud hatimu."
Tok ku Hong memandang Wan Fei Yang sambil menggelengkan kepalanya.
"Tetapi seumur hidup Bu ti bun dan Bu tong pai merupakan musuh bebuyutan, bagaimana mungkin kita dapat bersatu?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Bu ti bun sudah tidak ada lagi?"
"Pokoknya kita tidak mungkin bersatu Kepala Tok ku Hong menunduk semakin rendah.
"Jaga dirimu baik-baik!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu, Tok ku Hong membalikkan tubuhnya meninggalkan mereka. Wan Fei Yang bermaksud mengejar, namun dicegah oleh Yan Cong Tian.
"Siau-fei...!"
"Supek...."
Wan Fei Yang seperti ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkannya. 1227 Yan Cong Tian menatap kepergian Tok ku Hong sampai menghilang di luar halaman.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Meskipun Hong kouwnio memang lumayan orangnya, tapi tetap tidak sesuai untukmu, lain halnya dengan Fu Hiong Kun...."
Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.
Melihat tampang anak muda itu, kata-kata yang tadinya masih akan berlanjut terpaksa ditahan oleh Yan Cong Tian.
Bayangan Tok ku Hong sudah tidak terlihat lagi.
Wan Fei Yang masih berdiri termangu-mangu di tempatnya.
Wajahnya menampilkan kesan seperti orang yang kehilangan sukmanya.
Matanya menatap kosong ke depan.
*** Malam sudah larut.
Rembulan masih bersinar dengan terang.
Tok ku Hong berjalan mondar-mandir di depan halaman sebuah kelenteng tua.
Berulangkah dia menarik nafas panjang.
Tidak usah diragukan lagi, pasti Wan Fei Yang yang menggelayuti pikirannya.
Selama beberapa tahun ini memang hanya bayangan Wan Fei Yang yang selalu memenuhi benaknya.
Mengapa dia bisa mencintai anak muda itu?
Dia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan yang satu ini.
Padahal sudah acap kali dia menanyakan apa keistimewaan Wan Fei Yang sehingga dia tidak bisa melupakan sehari pun?
Mengapa mereka harus terlahir dalam dua partai yang bertentangan dan menjadi musuh bebuyutan?
Kadang-kadang Tok ku Hong merasa seakan Thian mempermainkannya.
Meskipun sekarang Bu ti bun sudah hancur, namun apakah dengan demikian dendam ratusan tahun antara Bu Ti bun dan Bu tong pai dapat dihabiskan begitu saja?
Tok ku Hong sama sekali tidak berani memastikan.
Dia juga tidak dapat membayangkannya.
1228 Sejak meninggalkan bekas markas Bu ti bun Tok ku Bu ti tidak mengucapkan sepatah katapun.
Dia juga tidak menjawab pertanyaan apapun yang diajukan oleh Tok ku Hong.
Justru karena dia diam saja, Tok ku Hong dapat merasakan kepedihan hatinya yang tidak terkatakan.
*** Cahaya rembulan tidak sampai menyoroti tubuh Tok ku Bu ti.
Orang tua itu duduk bersila di sudut ruangan yang gelap.
Tampaknya dia sedang termenung, mungkin ada sesuatu yang menggelayuti pikirannya.
Mimik wajahnya terus berubah-ubah.
Kadang-kadang tampak sedih, kadang tampak pilu, tetapi tiba-tiba dia bisa mengembangkan senyuman.
Seulas senyum yang menggidikkan hati.
Dengan bibir tersenyum dia berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Sesampainya di halaman, senyumnya mendadak sirna.
Dia berjalan keluar dari ruangan dan menghampiri Tok ku Hong.
Gadis itu masih ada di depan halaman, tapi Tok ku Bu ti tidak melihatnya.
Orang tua itu mencarinya sekali lagi dan menemukan gadis itu sedang melamun di bawah sebatang pohon yang rimbun.
Tok ku Hong tidak menyadari kedatangan Tok ku Bu ti, sampai ayahnya itu memanggil namanya.
"Hongji...!"
"Tia...!"
Tok ku Hong cepat-cepat mengusap air matanya. Setelah itu dia menoleh ke arah ayahnya dan memaksakan diri mengembangkan senyuman seakan tidak ada apa-apa yang terjadi dengannya.
"Kau sedang menangis?"
"Tidak. Hanya kelilipan debu. Anginnya kencang sekali malam ini." 1229 Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya.
"Mengapa harus berbohong? Kau kira kata katamu itu dapat mengelabui Tia?"
Kepala Tok ku Hong langsung tertunduk.
"Apakah Wan Fei Yang tidak menyukaimu lagi?"
Tanya Tok ku Bu ti tidak tersangka-sangka. Tok ku Hong menggelengkan kepalanya sambil menguraikan air mata.
"Dia tidak ada keberanian untuk mempersunting dirimu?"
Tanya Tok ku Bu ti kembali. Sekali lagi Tok ku Hong menggelengkan kepalanya.
"Kalau ini bukan, itu bukan. Apalagi yang kau tangisi?"
"Bu tong pai dan Bu ti bun selamanya adalah musuh bebuyutan...."
"Bu ti bun sudah tiada lagi. Dari mana datangnya segala macam dendam lagi?"
Tok ku Bu ti tersenyum lebar. Tok ku Hong tertegun. Dia mendongakkan kepalanya dan memandang Tok ku Bu ti dengan pandangan kurang percaya. Tok ku Bu t i masih tersenyum simpul.
"Tia sudah pikirkan baik-baik. Kau adalah putriku satu-satunya. Sebagai orang tua bagaimana bisa tidak menyayangi putra-putrinya sendiri dan memikirkan kebahagiaanmu yang menyangkut seumur hidup ini. Seandainya kalian memang benar-benar saling mencintai, aku akan merestui hubungan kalian." 1230 Tentu saja Tok ku Hong gembira sekali mendengar kata-kata itu. Namun dia masih juga menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu-sipu.
"Tia...."
"Urusan ini serahkan saja kepada Tia,"
Kata Tok ku Bu ti dengan bibir tersenyum.
Dia mengelus-elus jenggotnya sembari menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Kelihatannya dia benar-benar berpikir demi kepentingan Tok ku Hong.
Siapa yang dapat menduga bahwa sebuah balas dendam yang mengerikan justru mulai timbul dari senyumannya yang lebar?
*** Angin gunung menghembuskan harus bunga-bungaan dari jauh.
Wan Fei Yang lalu mengikuti arah angin tersebut.
Rambutnya acak-acakkan tertiup angin.
Malah matanya mulai perih terkena hembusan angin yang kencang itu.
Namun dia tidak perduli.
Seperti orang kesurupan, dia terus menerjang ke depan.
Perasaan hatinya sedang bergejolak.
Dia sudah bertemu dengan Tok ku Bu ti dan mendengar keterangan orang tua itu seperti apa yang diucapkannya kepada Tok ku Hong.
Wan Fei Yang juga sudah kembali menemui Yan Cong Tian.
Meskipun agak sulit melunakkan hati Supeknya yang satu ini, namun akhirnya Yang Cong Tian mengalah dan mengabulkan permintaan Wan Fei Yang.
Sejak itulah dia merasakan bahwa dirinya orang yang paling bahagia di dunia ini.
Dalam seumur hidupnya belum pernah dia demikian bersemangat.
Dan demikian gembira.
Setelah mengantar Tok ku Bu Ti, dia langsung berlari kesana kemari.
Akhirnya dia berlari di atas padang rumput di hadapan bekas markas Bu ti bun.
Tingkahnya seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
Berulang kali dia berjungkir balik di udara.
1231 Dipetiknya segerombolan bunga putih yang terdapat di padang rumput itu.
Dia sendiri tidak pernah tahu nama-nama bunga.
Dia hanya berpikir bagaimana caranya memberikan bunga itu kepada Tok ku Hong.
Tiba-tiba dia melihat seseorang menyelinap keluar dari gerombolan bunga-bunga itu.
Orang itu ialah Kongsun Hong.
Rona wajahnya tidak sedap dipandang.
Mungkin begitu pula perasaan hatinya.
Dia menatap Wan Fei Yang lekat-lekat.
"Bunga-bunga itu indah sekali!"
Katanya dengan nada dingin.
"Engkau rupanya!"
Wan Fei Yang merasa di luar dugaan.
"Mengapa kau bersembunyi dalam gerombolan bunga-bunga itu?"
Kongsun Hong tertawa dingin.
"Aku memang di sini sejak tadi!"
"Oh?"
Wan Fei Yang menggaruk-garukkan kepalanya. Untuk sesaat dia sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Selamat!"
Tiba-tiba Kongsun Hong mengucapkan sepatah kata ini. Wan Fei Yang tertegun sejenak. Kemudian dia tertawa lebar.
"Apakah kau sudah mempertimbangkannya dengan baik?"
Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.
"Kau tidak akan menyesal?"
"Mengapa harus menyesal?"
Wan Fei Yang malah balik bertanya.
"Sifat Sumoayku itu bukannya kau tidak tahu." 1232
"Tidak seberapa buruk. Apalagi akhir-akhir ini, dia sudah berubah banyak,"
Sahut Wan Fei Yang.
"Kau juga tidak khawatir kalau orang-orang dunia kangouw akan mengejek dirimu yang telah mempersunting putri seorang iblis?"
"Selamanya aku paling tidak perduli apa yang dikatakan orang lain di belakang punggungku."
Kongsun Hong mendelikkan matanya lebar-lebar.
"Baik, Wan Fei Yang. Aku kagum kepadamu!"
Suaranya semakin lama semakin sendu..
"Aku juga sadar tidak dapat menandingimu dalam segala hal. Tapi, aku harap kau akan memperlakukan Sumoayku baik-baik!"
Sekali lagi Wan Fei Yang tertawa lebar. Kongsun Hong tidak usah khawatir."
"Seandainya suatu hari kudapati engkau memperlakukan Sumoayku dengan semena-mena, biarpun harus kehilangan selembar nyawa ini, aku tetap akan meminta keadilan darimu!"
Kata Kongsun Hong tajam.
Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pergi dengan cepat.
Wan Fei Yang memandangi bayangan punggung Kongsun Hong sampai menghilang.
Dia masih berdiri termangu-mangu di tempat semula.
Setelah beberapa saat baru dia berjalan kembali ke bekas markas Bu ti bun.
*** Sekembalinya ke bekas markas Bu ti bun, Wan Fei Yang langsung menghambur ke kamar Yan Cong Tian.
Supeknya itu sedang duduk bersila di atas tempat tidur.
Melihat Wan Fei Yang yang masuk ke dalam, wajahnya murung kembali.
"Supek!"
Gairah Wan Fei Yang telah pula kembali.
"Ada urusan apa lagi?"
Tanya Yan Cong Tian dengan nada enggan. Wan Fei Yang tidak ambil hati terhadap sikap supeknya itu.
"Supek, kecuali dirimu, aku tidak punya sanak famili lagi."
"Kau ingin aku menjadi walimu bukan?"
Yan Cong Tian mendengus dingin.
"Seandainya Fu Hiong Kun yang kau pilih, tanpa kau katakan apa-apa, aku juga akan mengatur segalanya, tapi putri Tok ku Bu ti itu...."
Wan Fei Yang memandangnya dengan heran.
"Bukankah Supek juga sangat menyukai Hong kouwnio?"
"Sekarang masalahnya bukan aku suka atau tidak!"
Yan Cong Tian lagi-lagi mendengus dingin.
"Aku benar-benar tidak mengerti hatimu. Meskipun Hong kouwnio orangnya boleh juga, tapi bagaimana pun tidak dapat menandingi Hiong Kun. Mengapa kau tidak bisa menyukai Hiong Kun saja?"
"Fu kouwnio memang seorang gadis yang baik."
"Baik sudah lebih dari cukup...!"
"Urusan cinta kasih, orang lain memang sulit mengerti. Kami juga sukar menjelaskannya. Supek, pernahkah kau menyukai seseorang dalam hidupmu?"
"Sejak usia sepuluh tahun aku sudah mulai giat berlatih ilmu silat. Seluruh perhatianku hanya dipusatkan pada ilmu silat. Aku tidak pernah mengenal cinta kasih antara pria dan wanita!"
Sahut Yan Cong Tian dengan nada dingin. 1234
"Itulah sebabnya, tidak aneh mengapa Supek tidak mengerti perasaanku. Selama ini aku selalu menganggap Fu kouwnio sebagai adikku sendiri. Sedangkan perasaanku terhadap Hong kouwnio...."
"Kau anggap dialah jodohmu yang sebenarnya?"
Tanya Yan Cong Tian sambil tertawa dingin. Wan Fei Yang merenung sejenak.
"Bu ti bun dan Bu tong pai memang merupakan musuh bebuyutan selama ini. Meskipun sekarang Bu ti bun sudah hancur, kita belum dapat memastikan kalau anggota mereka tidak berusaha untuk membangkitkan kembali perguruan tersebut. Dengan menikahnya aku dengan Tok ku Hong, dendam antara kedua partai tentu dapat diselesaikan sampai generasi ini saja. Lagipula hati Hong kouwnio sebetulnya sangat baik. Dia pasti akan menghalangi ayahnya berbuat yang tidak menguntungkan pihak kita."
Mendengar ucapan Wan Fei Yang itu, wajah Yan Cong Tian berubah lebih lembut. Dia mempertimbangkan sejenak.
"Apakah kau yakin pasti demikian halnya?"
Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya dengan yakin. Yan Cong Tian mempertimbangkan kembali.
"Seandainya di dunia ini tidak ada lagi Bu ti bun, pasti kita akan merasa jauh lebih tenang daripada sekarang."
"Bagus sekali kalau Supek mulai mengerti apa yang Tecu maksudkan."
"Kau mempersunting Tok ku Hong, sebetulnya untuk dirimu sendiri atau kau memikirkan kepentingan dunia Bulim?"
Tarnya Yan Cong Tian tiba-tiba. Wan Fei Yang tertegun sejenak.
"Sebetulnya memang untuk diriku sendiri. Aku benar-benar menyukai Hong kouwnio." 1235 Jawabannya keluar dari hati yang tulus. Wan Fei Yang merasa tidak perlu berpura-pura di depan Yan Cong Tian. Mata Yan Cong Tian mendelik lebar-lebar, kemudian dia menarik nafas panjang.
"Aku sungguh tidak mengerti mengapa hatimu sedemikian setia kepada gadis itu?"
"Supek "
Yan Cong Tian tertawa sumbang.
"Tampaknya mau tidak mau aku harus meneguk arak kebahagiaan ini juga."
Wan Fei Yang menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Yan Cong Tian.
"Terima kasih atas restu Supek!"
"Aku hanya berharap setelah menikah degan Tok ku Hong, kalian berdua bisa menasehati Tok ku Bu ti baik-baik. Jangan sampai dia melakukan lagi hal yang mencelakakan orang-orang dunia kangouw."
Wan Fei Yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Murid-murid Bu tong pai yang dipaksa mengikuti Siau Yau kok semuanya masih ada di sini? Kau suruhlah mereka mengurus segalanya."
Bagaimana pun Yan Cong Tian orang yang periang.
Dia tidak pernah memendam kekesalan hatinya lama-lama.
*** Untuk kedua kalinya markas Bu ti bun mengadakan pesta besar-besaran.
Tentu saja para murid Bu tong pai gembira sekali Sekarang mereka sudah tahu siapa benar dan siapa yang bersalah.
Sikap mereka terhadap Wan Fei Yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Demikian juga Yo Hong cs.
Mereka membantu persiapan pernikahan Wan Fei Yang 1236 dengan senang hati.
Dengan sikap enggan Yan Cong Tian juga ikut turun tangan mengurus segala keperluan.
Yang paling kacau pikirannya tentu saja Kongsun Hong.
Untung saja para anggota Bu ti bun sudah tersebar kocar-kacir.
Sisanya hanya kaum keroco yang pasti tidak berani mengatakan apa pun di hadapannya.
Hanya Tok ku Bu ti yang masih sering mengucapkan kata-kata yang membuat hati Kongsun Hong tersayat-sayat.
Tapi anak muda itu tidak memandangnya sebagai kesengajaan.
Mereka sudah kembali ke bekas markas Bu ti bun.
Keduanya tinggal di sebuah ruangan yang terpisah.
Melihat seluruh persiapan sudah hampir selesai, Tok ku Bu ti memanggil Kongsun Hong datang menghadap.
"Sampai di mana persiapannya sekarang?"
"Urusan kartu undangan merupakan tanggung jawab Tecu dengan murid Bu Tong yang bernama Yo hong. Semuanya sudah disebarkan kepada teman-teman Bulim. Urusan tetek bengek lainnya juga sudah hampir selesai. Paling butuh waktu beberapa hari lagi,"
Sahut Kongsun Hong tetap dengan sikapnya yang begitu hormat kepada Tok ku Bu ti.
Tok ku Bu ti menarik, nafas panjang.
Entah sengaja atau tidak.
' Dibandingkan dengan pesta pernikahan yang aku persiapkan untukmu tempo hari, sekarang ini jauh lebih semarak tampaknya...."
Wajah Kongsun Hong berubah hebat. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tok ku Bu ti baru sadar bahwa dia sudah kelepasan bicara. Cepat-cepat dia mengalihkan bahan pembicaraan.
"Pasti masih banyak anggota Bu ti bun yang masih berkeliaran di mana-mana!"
"Semuanya sudah memencarkan diri..."
Sahut Kongsun Hong tetap dengan kepala tertunduk.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Ci Siong tempo hari."
Tok ku Bu ti menarik nafas panjang.
"Pohon tumbang buahnya pun berserakan!"
Kongsun Hong seperti ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkannya. Tok ku Bu ti mengibaskan tangannya.
"Uruslah pekerjaanmu!"
Katanya kemudian.
"Baik...."
Dengan kepala tetap tertunduk Kongsun Hong mengundurkan diri.
Sesampainya di pintu luar, kebetulan dia bertemu dengan Tok ku Hong merasa serba salah bertemu dengan Kongsun Hong, tapi dia tetap menyapanya.
Kepala Kongsun Hong tertunduk semakin dalam.
"Sumoay..."
Balasnya menyapa lalu cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Tok ku Hong merasa kasihan terhadapnya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Diteruskannya langkah kakinya ke dalam ruangan dan berhenti di hadapan Tok ku Bu ti.
"Hong ji, apakah ada urusan maka kau datang mencari Tia?"
Tanya Tok ku Bu ti. Tok ku Hong menganggukkan kepalanya.
"Anak mempunyai satu permintaan yang harap Tia dapat kabulkan.." 1238
"Katakan saja,"
Kata Tok ku Bu ti sambil tertawa lebar.
"Asal urusan yang dapat Tia lakukan, pasti Tia akan mengabulkannya."
Tok ku Hong gembira sekali mendengar ucapan ayahnya.
"Anak ingin mencari ibu dan memintanya kembali ke sini."
Tok ku Bu (i tertegun. Wajahnya mulai berubah. Tetapi sesaat kemudian dia sudah pulih kembali seperti sedia kala.
"Memang seharusnya demikian, tapi ibumu...."
"Anak tahu di mana ibu sekarang!"
Tukas Tok ku Hong cepat.
"Oh?"
Sinar mata Tok ku Bu ti bercahaya.
"Kalau Tia sudah setuju, anak akan segera berangkat mencari ibu...."
"Tidak bisa,"
Sahut Tok ku Bu ti menolak.
"Bukankah Tia...."
Tok ku Hong menjadi panik.
"Kau salah paham. Maksud Tia, sebagai seorang pengantin mana boleh kau pergi kemana-mana sembarangan. Apalagi perjalanan jauh."
Tok ku Bu ti tertawa lebar.
"Begini saja, kau katakan kepada Tia di mana ibumu berada, sekarang juga aku akan menyuruh Kongsun Hong memanggil ibumu pulang."
Barulah wajah Tok ku Hong kembali berseri-seri.
Dia tersenyum manis.
Sama sekali tidak curiga akan niat yang terkandung dalam hati ayahnya.
Tok ku Bu ti lalu memanggil Kongsun Hong.
Di depan Tok ku Hong, dia menyuruh laki-laki itu mengikuti petunjuk yang diberikan putrinya dan memanggil Sen Man Cing kembali.
1239 Hati Kongsun Hong merasa segan, namun mana berani dia membantah perintah yang diberikan oleh Tok ku Bu ti.
*** Setelah meninggalkan Tok ku Bu ti, Kongsun Hong keluar dari ruangan besar.
Dia melihat kertas warna-warni telah dipajang di sekeliling halaman.
Para murid Bu Tong masih sibuk mengerjakan ini itu.
Hatinya semakin tidak enak.
Cepat-cepat dia meneruskan langkah kakinya.
Kebetulan Yo Hong sedang menoleh ke arahnya.
Melihat Kongsun Hong, dia segera menghadang di depannya.
"Kami sedang membutuhkan bantuan tenaga. Hendak ke mana kau?"
"Aku menjalankan perintah Suhu untuk menjemput Suho kembali,"
Sahut Kongsun Hong dengan nada kemalas-malasan.
"Mana boleh begitu?"
Yo Hong menggelengkan kepalanya.
"Di sini masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Kalau kau pergi, aku tentu kelabakan...."
"Itu urusanmu."
"Urusanku?"
Teriak Yo Hong.
"Kau lupa Toa siocia Bu ti bun kalian yang melangsungkan pernikahan!"
"Tidak perlu kau ingatkan."
"Kalau kau tetap mau pergi, tidak apa-apa. Tapi kau harus suruh orang lain menggantikanmu!"
Kata Yo Hong. Sinar mata Kongsun Hong mengedar ke sekeliling. Dia tidak menyahut. Mata Kongsun Hong mengikuti pandangan Yo Hong. Yang terlihat di sekitar tempat itu cuma murid Bu tong pai.
"Apakah murid Bu ti bun sudah mati semua sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal?"
Katanya tanpa sadar. Kongsun Hong mendengus dingin.
"Kalau kau tidak mau diam di sini, aku tidak akan perduli segala macam lagi,"
Kata Yo Hong selanjutnya. Kongsun Hong menatap Yo Hong dengan mata menyiratkan kemarahan.
"Kalau kau tidak mau mengurusnya, panggil saja Wan Fei Yang agar mengurusnya sendiri!' Dia langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu. *** Setelah keluar dari pintu gerbang Bu ti bun, Kongsun Hong langsung naik ke atas punggung seekor kuda dan memacu kudanya melesat pergi. Hatinya kesal sekali. Dia menghentakkan pecutnya dengan keras. Karena kesakitan kuda itu lari semakin kencang. Dalam sekejap mata, pintu gerbang Bu ti bun sudah tidak terlihat lagi. Kurang lebih setengah li, Kongsun Hong melarikan kudanya. Dia memasuki sebuah hutan yang lebat. Kecepatannya tidak dikurangi. Kongsun Hong menolehkan kepalanya. Jarak dengan Bu ti bun sudah cukup jauh. Dia baru melambatkan kudanya dan mengendarai dengan perlahan. Pecut di tangannya dilipat dan diselipkan pada ikat pinggang. Tepat pada saat itu, sesosok bayangan berkelebat di hadapannya. Seseorang muncul dari balik pepohonan dan menghadang di depannya.
"Kurang ajar!"
Bentak Kongsun Hong marah.
Pecutnya dikeluarkan kembali.
Baru saja dia berniat menyabetkan pecut 1241 itu ke depan, tiba-tiba dia menariknya kembali.
Tepat pada saat itu juga, dia sudah melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Suhu..."
Panggilnya tanpa sadar. Hampir saja dia melorot turun dari kudanya. Ternyata orang yang menghadangnya adalah Tok ku Bu ti.
"Kongsun ji, mengapa kau melarikan kuda dengan tergesa-gesa?"
Ucapan Tok ku Bu ti lebih mengherankan lagi.
"Bukankah Suhu memerintahkan agar Tecu bergegas menghadap Subo kembali ke sini?"
Tanya Kongsun Hong bingung. Tok ku Bu ti menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya memerintahmu untuk menjemputnya, tapi tidak menyuruhmu tergesa-gesa menjemputnya."
"Suhu...?"
Kongsun Hong semakin tidak mengerti.
"Waktunya sudah tinggal sedikit hari lagi."
"Lebih baik kau kembali pada hari kedua setelah pernikahan Sumoaymu."
"Bukankah Subo tidak sempat ikut merayakan hari pernikahan Sumoay?"
"Memang aku berharap demikian."
"Mengapa?"
Tanya Kongsun Hong penasaran.
"Tidak usah banyak tanya!" 1242 Wajah Tok ku Bu ti berubah kelam.
"Tapi...."
"Orang lain bergembira merayakan hari pernikahannya, apakah kau juga senang menyaksikan dari samping?"
Tanya Tok ku Bu ti sambil tertawa dingin. Kongsun Hong tertegun mendengar ucapan itu.
"Lakukanlah apa yang aku perintahkan. Ingat baik-baik!"
Tanpa menunggu jawaban dari Kongsun Hong, tubuh Tok ku Bu ti langsung berkelebat menerobos ke dalam hutan.
Mengapa?
Kongsun Hong menatapi kepergian Tok ku Bu ti yang sulit ditebak.
Cara bicaranya juga demikian misterius.
Kata-katanya sangat terbalas.
Biasanya dia selalu menjelaskan rencananya panjang lebar.
Mau tidak mau perasaan Kongsun Hong jadi tidak dapat melepaskan diri dari pikiran yang bukan-bukan.
*** Malam semakin larut, kesunyian mencekam.
Kongsun Hong mondar-mandir di dalam kamarnya.
Dia menyewa sebuah kamar di penginapan yang cukup mewah.
Kenangan masa lalu berputaran di benaknya.
Dia teringat ketika dirinya rela menerima tujuh kati tebasan golok demi membebaskan Tok ku Hong dari hukuman kematian.
Dia juga teringat sikap Tok ku Hong yang dingin terhadapnya selama ini.
Hatinya semakin galau dan gelisah.
Salahkah bila dia mencintai gadis itu?
Patutkah gadis itu mendapat cinta kasih yang sedemikian dalam darinya?
Akhirnya ternyata yang mendapatkan Tok ku Hong adalah Wan Fei Yang yang tidak pernah mengorbankan apa-apa untuk gadis tersebut.
Kongsun Hong membuka jendela kamarnya dan menatap langit.
Rembulan berbentuk sabit.
Laksana senjata yang siap 1243 menyayat hati Kongsun Hong.
Hati laki-laki itu memang sudah hancur berkeping-keping.
*** Rembulan yang sama, perasaan hati yang berbeda.
Di dalam taman Bu ti bun, Tok ku Hong sedang menikmati indahnya rembulan Dia merasakan keberuntungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sejak berkenalan sampai sekarang.
Wan Fei Yang memang pernah beberapa kali membuat hatinya sedih.
Namun anak muda itu juga tidak pernah membuatnya kecewa.
Teringat akan wajah Wan Fei Yang yang ketolol-tololan dan tidak hentinya mencari akal untuk menggembirakan hati Tok ku Hong, diam-diam gadis itu tersenyum seorang diri.
Perasaannya semakin gembira, hatinya berbunga-bunga.
Senyuman yang dikembangkan merupakan lambang kebahagiaan dirinya.
Dia yakin Wan Fei Yang pun mempunyai perasaan yang sama.
Tiba-tiba sebuah wajah yang lembut terlintas di benaknya.
Wajah seorang gadis bernama Fu Hiong Kun!
*** Pada saat yang sama.
Wan Fei Yang sedang berada dalam kamar.
Dia sedang mencoret-coret huruf di atas sehelai kertas.
Kertas itu besar sekali, namun huruf yang dicoretnya sejak tadi hanya satu kata 'Hong' saja.
Sebetulnya dia sudah naik ke pembaringan sejak tadi, dia tetap tidak dapat pulas juga.
Hatinya terlalu bahagia.
Semangatnya berkobar-kobar.
Segala penderitaan dan kesedihan yang pernah dialaminya ia anggap sebagai ujian Thian untuk menuju kebahagiaan abadi.
1244 Sementara itu, Tok ku Bu ti juga sedang berdiri di bawah cahaya rembulan.
Wajahnya lebih dingin dari sinar rembulan itu sendiri.
Senyum di ujung bibirnya menyiratkan kelicikan dan kekejian yang berbisa.
Apalagi hatinya yang memang jahat dan berlumuran kedengkian yang beracun.
Sen Man Cing, Ci Siong, putri kalian sebentar lagi akan menikah.
Hal ini terjadi karena karma yang kalian lakukan.
Kalian memang patut menerimanya!
Tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi terjadinya peristiwa ini.
Sen Man Cing, aku ingin kau menderita seumur hidup karena kejadian ini.
Ci Siong, biar di alam baka pun, kau tidak akan dapat mencapai ketenangan.
Tidak ada seorang pun yang mendengar apa kata-kata yang tersirat dalam hatinya, lalu siapa yang bisa menghalangi agar peristiwa itu jangan sampai terjadi?
Dapat dibayangkan betapa kejinya hati orang yang satu ini.
*** Senja hari..
Sen Man Cing berjalan mondar-mandir di depan pondok penyimpanan alat-alat penangkap ikan.
Di bawah sinar mentari yang hampir tenggelam, keadaan di sekitar tampak demikian tenang.
Mestinya hati Sen Man Cing juga sudah mencapai ketenangan, tapi entah mengapa tiba-tiba dia mendapat firasat yang tidak enak.
Ada apa sebetulnya?
Pada saat itu juga, dia membayangkan Tok ku Hong.
Bagi seorang ibu, keselamatan anaklah yang paling diutamakan.
Apabila perasaannya tidak enak, dia segera resah.
Pikirannya mulai membayangkan yang tidak-tidak.
Jangan-jangan telah terjadi sesuatu hal yang tidak di nginkan pada diri putrinya?
1245 Tapi dengan didampingi oleh Wan Fei Yang dan Yan Cong Tian, rasanya tidak mungkin terjadi sesuatu pada Hong ji.
Keselamatannya pasti dijaga oleh kedua orang itu.
Sen Man Cing menarik nafas panjang.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki.
Dia menolehkan kepalanya.
Terlihat Fu Hiong Kun menghampiri dengan sebuah kail dari batang bambu dan sebuah keranjang tempat menaruh ikan.
"Hujin, di luar angin begini kencang. Mengapa kau tidak berdiam di dalam rumah saja?"
Sebagaimana biasanya sikap Fu Hiong Kun tetap lembut dan penuh perhatian. Sen Man Cing menggelengkan kepalanya..
"Tidak apa-apa."
Matanya menatap ke arah keranjang yang dibawa Fu Hiong Kun.
"Berapa ekor ikan yang kau dapat hari ini?"
Fu Hiong Kun mengangkat keranjangnya dan memperlihatkan isinya kepada Sen Man Cing.
"Yang kecil-kecil sudah aku lemparkan kembali ke dalam laut. Hanya tersisa dua ekor yang paling besar saja."
Sen Man Cing tersenyum lebar.
"Hal apa pun kau mengerti. Seandainya Hong ji ada setengah hari dari bakatmu saja sudah terhitung lumayan.
"Aikh,"
Anak itu memang sejak kecil terlalu dimanjakan."
Sen Man Cing menarik nafas kembali.
"Tapi ilmu silat Hong cici tinggi sekali."
"Apa gunanya ilmu silat yang tinggi bagi seorang gadis? Setiap hari berkelahi dan membunuh. Adat pun menjadi 1246 semakin keras. Tidak ada seorang pun yang bisa menasihatinya kalau dia sudah bertekad ingin melakukan sesuatu. Tempo hari beberapa kali, untung saja ada Wan Fei Yang yang turun tangan memberikan pertolongan, kalau tidak sejak dini sudah mati atau paling tidak terluka parah di tangan bocah Kuan Tiong Liu itu."
Sen Man Cing menarik nafas dalam-dalam. Mendengar ucapan Sen Man Cing dan sikapnya, Fu Hiong sudah dapat menerka sebagian isi hati wanita itu. Dia cepat-cepat menghiburnya.
"Ada Wan Toako yang menjaga Hong cici, pasti tidak akan terjadi apa-apa."
Sen Man Cing mengangguk kecil.
"Mudah-mudahan,"
Kalanya lirih.
"Wan Toako pasti tidak akan membiarkan Hong cici dihina orang."
Kata-katanya ini diucapkan dengan hati terharu.
"Hiong Kun, bagaimana menurut pendapatmu pemuda bernama Wan Fei Yang itu?"
Sen Man Cing mengalihkan pertanyaannya.
"Meskipun sikapnya kadang-kadang sedikit ketolol-tololan, tapi hatinya mulia sekali. Dia lebih suka dirinya sendiri yang terhina daripada temannya yang dihina."
"Tidak salah. Maka aku tidak sayang mewariskan sebagian tenaga dalamku untuk menyempurnakannya agar berhasil melatih Tian can sinkang."
"Kelak dia pasti akan membalas budi Hujin,"
Sahut Fu Hiong kun. 1247
"Semuanya merupakan takdir Thian. Aku hanya berharap kelak dia dan Hong ji akan berbahagia untuk selamanya...."
Kata Sen Man Cing dengan mata menerawang di kejauhan.
Hati Fu Hiong Kun pedih mendengar kata-kata itu.
Namun dia tidak memperlihatkan perasaanya.
Dia memang seorang gadis yang bijaksana serta tidak pernah dengki terhadap siapa pun.
"Wan Toako sudah menguasai semua ilmu pusaka Bu tong pai. Kelak namanya pasti akan menonjol di dunia kangouw."
Sen Man Cing merasa terharu.
"Selama hidupnya Ci Siong melatih ilmu dengan giat, toh dia hanya sanggup menguasai Bu Tong liok kiat. Untung saja ada Wan Fei Yang. Kalau tidak, mati pun dia tidak dapat memejamkan mata dengan tenang."
Dia berhenti sejenak.
"Ini yang dinamakan orang baik jangan takut kehilangan generasi penerus."
"Tentu saja. Wan Toako sebenarnya memang putra Ci Siong to jin.
"Apa?"
Sen Man Cing terkejut sekali. Matanya membelalak dengan lebar.
"Apa yang kau katakan? Wan Fei Yang adalah putra Ci Siong tojin?"
Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Menurut cerita yang aku dengar, kejadiannya sebelum Ci Siong to jin menyucikan diri menjadi pendeta. Dia berhubungan dengan sepupunya sehingga gadis itu hamil, namun Ci Siong to jin tidak tahu. Ketika dia datang berkunjung lagi beberapa tahun kemudian, ternyata anak itu sudah mulai besar. Ibunya sendiri meninggal sehabis melahirkan Wan Toako. Ci Siong lalu membawa anaknya ke Bu tong san. Namun karena saat itu dia sudah menjadi Ciang bun ji Bu tong 1248 pai, dia tidak dapat mengakui Wan Fei Yang sebagai anaknya. Secara diam-diam dia mengajarkan Wan Toako ilmu silat. Hal ini pulalah yang akhirnya ketahuan sehingga Wan Toako dikira sebagai pembunuh Ci Siong to jin. Salah paham pun semakin besar karena Wan Toako sendiri tidak berani mengakui di depan umum bahwa Ci Siong tojin adalah ayahnya."
Sementara mendengarkan, wajah Sen Man Cing semakin berubah. Hal ini bagaikan kilat yang menyambar di tengah hari bolong.
"Putra Ci Siong..."
Gumamnya seorang diri Tubuhnya terhuyung-huyung.
Kepalanya pusing tujuh keliling.
Dia mengulurkan tangannya bertumpu pada tembok rumah.
Melihat keadaannya, Fu Hiong Kun terkejut sekali.
Keranjang dan kail di tangannya cepat-cepat diletakkan di alas tanah, dia segera membimbing Sen Man Cing.
"Hujin, bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya cemas. Keringat dingin mengucur deras dari kening Sen Man Cing.
"Tidak apa-apa.... Rasanya tubuhku kurang sehat,"
Sahutnya lirih.
"Mari aku papah Hujin masuk ke dalam rumah."
"Tidak usah...."
Tiba-tiba Sen Man Cing mengajukan pertanyaan yang mengejutkan Fu Hiong Kun.
"Fu kouwnio, bukankah kau juga sangat menyukai Wan Fei Yang?"
Wajah Fu Hiong Kun merah padam karena jengah.. Dia tidak menyahut pertanyaan itu. Sen Man Cing menarik nafas panjang.
"Kau tidak usah khawatir. Kalau Fei Yang tahu kau begitu memperhatikannya dan secara diam-diam menyukainya, dia pasti tidak akan menyia-nyiakan engkau begitu saja."
"Hong cici dengannya barulah pasangan yang serasi,"
Sahut Fu Hiong Kun dengan hati tersayat pilu.
"Dia...."
Sen Man Cing seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dibatalkannya, akhirnya dia hanya berkata.
"Kelak dia hanya bisa bersanding denganmu."
Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik aku masuk ke dalam dan membersihkan kedua ekor ikan tadi agar dapat dimasak secepatnya."
Sen Man Cing memandangi punggung gadis itu sampai masuk ke dalam rumah.
Dia masih berdiri termangu-mangu di sana.
Wan Fei Yang adalah putra kandung Ci Siong.
Untung saja belum terjadi apa-apa antara diri anak muda itu dengan Hong-ji.
Sen Man Cing mengangkat tangannya dan mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya.
Hatinya baru lega sedikit, namun kekhawatiran itu datang lagi.
Entah bagaimana keadaan kedua orang itu sekarang?
Semacam kengerian yang sukar dilukiskan menyelimuti hati Sen Man Cing.
Sepanjang malam itu dia tidak dapat memejamkan matanya.
Bayangan Wan Fei Yang dan Tok ku Hong terus berkecamuk di hatinya.
Bagaimana kalau seandainya sekarang sudah terjadi sesuatu di antara mereka?
Tapi Wan Fei Yang bukanlah pemuda sembarangan Sen Man Cing yakin dia pasti akan berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu.
1250 Tapi bagaimana kalau iblis merasuki hati mereka?
Seperti apa yang terjadi antara dirinya dengan Ci Siong.
Sen Man Cing tidak berani membayangkan hal yang bukan-bukan.
*** Senja hari menjelang lagi.
Fu Hiong Kun baru kembali dari dusun terdekat, tangannya memeluk sekarung terigu.
Karung terigu itu ternyata berlubang.
Isinya berceceran.
Tapi Fu Hiong Kun rupanya masih tidak menyadari.
Tampaknya pikiran gadis itu sedang kacau, langkah kakinya seperti berat sekali.
Cara jalannya juga seperti orang yang hilang ingatan.
Setelah masuk ke dalam rumah, dia meletakkan karung berisi terigu di atas meja.
Dia duduk di atas bangku panjang yang terdapat di samping meja tersebut.
Sekian lama dia duduk termenung, Sen Man Cing sudah berada di sampingnya pun dia masih belum sadar.
Melihat keadaannya yang aneh, Sen Man Cing merasa heran.
"Hiong Kun. Apa yang telah terjadi?"
Tanyanya penuh perhatian. Fu Hiong Kun tersentak dari lamunannya. Dia menggelengkan kepalanya dua kali.
"Ti... tidak ada... apa-apa."
"Apakah tubuhmu kurang sehat?"
Sen Man Cing mengulurkan tangannya meraba kening gadis itu.
Tapi tampaknya keadaan Fu Hiong Kun baik-baik saja.
Fu Hiong Kun tidak dapat menahan kepiluan hatinya lagi.
Sejak kecil dia memang tidak merasakan perhatian seorang ibu.
Kasih sayang Sen Man Cing membuat hatinya semakin tersayat.
Dia menangis tersedu-sedu.
Sen Man Cing semakin 1251 bingung melihatnya.
"Hiong Kun, ada apa sebetulnya? Katakanlah padaku. Siapa tahu aku dapat membantumu menyelesaikan masalah yang menggelayut hatimu?"
Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya dengan air mata mengalir dengan deras. Sen Man Cing membelai-belai rambut gadis itu. Akhirnya Fu Hiong Kun mengatakan juga apa yang menyusahkan hatinya.
"Wan Toako dan Hong cici akan menikah."
Rasa terkejut Sen Man Cing bukan alang kepalang. Tubuhnya terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Tiba-tiba dia menjerit dengan keras.
"Tidak mungkin!"
Suara jeritannya demikian keras sehingga Fu Hiong Kun terperanjat.
"Hujin, hal ini memang kenyataan! Tokoh-tokoh Bulim di sekitar sini sudah menerima surat undangan. Mereka beramai-ramai sudah bergegas berangkat ke markas Bu ti bun."
Sen Man Cing tampaknya kalang kabut mendengar berita itu.
"Kapan waktu pernikahan akan berlangsung?"
Desaknya. Fu Hiong Kun malah memandang Sen Man Cing dengan terpana.
"Cepat katakan kepadaku! Kapan?"
Suara Sen Man Cing lebih mirip ratapan.
"Lusa...."
Sen Man Cing langsung menghambur ke depan. Fu Hiong Kun mengejarnya.
"Hujin, kemana kau akan pergi?"
"Bu ti bun!"
Sahut Sen Man Cing sambil menerjang ke depan dengan kalap. 1252 Fu Hiong Kun merasa heran juga khawatir, cepat-cepat dia menyusul. Tiba-tiba Sen Man Cing menolehkan kepalanya.
"Di mana aku dapat mendapatkan kuda di sekitar sini?"
"Di dusun tempat kita biasa membeli segala keperluan." *** Kuda berlari di tanah pegunungan. Tubuh Sen Man Cing menempel erat-erat di pelana kudanya. Fu Hiong Kun yang mengendarai kuda lainnya berusaha mengikuti di belakang Sen Man Cing. Dari mula sampai berangkat, Sen Man Cing tidak mengatakan apa-apa. Fu Hiong Kun tidak jelas memahami apa yang telah terjadi. Tapi melihat kepanikan Sen Man Cing, dia dapat membayangkan bahwa urusan yang dihadapi nyonya itu pasti genting sekali. Dia juga tidak berani banyak bertanya. Dia hanya mengintil terus di belakang Sen Man Cing. Sepanjang perjalanan, kuda tidak pernah berhenti untuk beristirahat. *** Pagi-pagi buta, dua ekor kuda melintasi sebuah sungai kecil. Kebetulan Kongsun Hong sedang berhenti di tepi sungai, kudanya sedang beristirahat meminum air. Melihat Sen Man Cing lewat di depannya, dia segera berteriak memanggil.
"Subo...!"
Kuda Sen Man Cing melesat sejauh sepuluh depa baru dapat dihentikan. Dia menolehkan kepalanya ke arah Kongsun Hong.
"Kongsun ji, apa yang kau lakukan di sini?"
Tanyanya dengan nada tajam. 1253
"Suhu menyuruh aku menjemput Subo kembali ke Bu ti bun."
"Pada saat ini kau baru sampai?"
"Aku... Tecu...."
Untuk sesaat Kongsun Hong juga tidak tahu bagaimana harus memberi jawaban kepada Sen Man Cing.
"Apakah Tok ku Bu ti yang memintamu agar tidak usah tergesa-gesa?"
Tanya Sen Man Cing dengan nada sinis.
"Tecu... Suhu...."
"Apa sebetulnya yang ia katakan?"
Bentak Sen Man Cing dengan suara keras.
"Suhu mengatakan bahwa biar Subo sampai pada hari kedua setelah pernikahan juga tidak jadi masalah."
Kongsun Hong memberanikan dirinya. Karena bentakan Sen Man Cing tadi, dia tidak dapat berterus terang. Sen Man Cing tertawa sumbang.
"Bagus! Tok ku Bu ti. hatimu benar-benar berbisa!"
Tentu saja Fu Hiong Kun tidak mengerti apa maksud kata-katanya.
Kongsun Hong juga tidak mengerti.
Sen Man Cing juga tidak menjelaskan panjang lebar.
Dia langsung menarik kudanya agar berlari dengan cepat.
Fu Hiong Kun segera mengikuti dari belakang.
Kongsun Hong tertegun sejenak..
Akhirnya dia naik ke atas kudanya dan berlari menyusul.
Memang sifatnya kadang-kadang berangasan, tapi dia bukan orang bodoh.
Melihat tampang Subonya yang begitu marah, lagipula melarikan kuda sedemikian cepat dan panik.
Dia ingat lagi mimik wajah Tok ku Bu ti dan cara bicaranya yang aneh.
Kongsun Hong segera 1254 dapat merasakan bahwa sesuatu yang mengerikan pasti akan terjadi.
Tapi biar bagaimana pun memeras otaknya dia tetap tidak dapat berpikir mengenai yang akan terjadi.
Kenyataannya, hal mengerikan yang akan terjadi benar-benar di luar dugaannya.
Kalau saja dia tahu sejak semula, bagaimana pun dia akan membangkang perintah suhunya yang akan menghancurkan hidup Tok ku Hong.
*** Senja hampir berakhir.
Malam sebentar lagi menjelang.
Tiba-tiba awan menjadi gelap.
Langit mendung.
Lalu disusul dengan kilat menyambar serta geledek bergemuruh.
Namun pesta pernikahan tidak berhenti walaupun hujan turun dengan lebat.
Para tamu sudah hampir memenuhi tempat itu.
Cahaya lentera terang benderang.
Suara tambur bertalu-talu.
Belum lagi pekik sorak dan tawa para hadirin.
Begitu keras dan riuhnya sampai-sampai sambaran petir pun hampir tidak terdengar jelas.
Peristiwa ini memang menggembirakan semua orang.
Termasuk to-koh-tokoh Bulim.
Dengan bergabungnya Bu tong pai dan Tok ku Bu ti, tentu orang itu akan kembali memulai hidup baru dan tidak akan menimbulkan bencana lagi bagi dunia persilatan.
Oleh karena itu, pesta pernikahan berlangsung dengan lancar.
Wan Fei Yang juga gembira sekali, tapi kadang-kadang ada terselip juga kepedihan di dalam hatinya.
Alangkah bahagianya seandainya ayah dan ibunya masih hidup dan dapat menyaksikan dirinya menikah.
Sedangkan Tok ku Bu ti juga sedang melamun.
Mengapa ibu belum sampai juga?
1255 Hatinya sudah rindu sekali.
Berulang kali ia melirik ke halaman depan.
*** Pada saat itu, Sen Man Cing masih melarikan kudanya di luar kota.
Kuda yang ditungganginya saat ini adalah kuda yang kelima.
Dia tidak pernah berhenti untuk mengisi perutnya selama dua hari ini.
Tentu saja kudanya tidak kuat bertahan.
Oleh karena itu, setiap setengah hari dia mengganti kuda yang baru.
Dia sendiri bahkan tidak meminum air setitik pun.
Sen Man Cing hanya berharap tidak terlambat mencegah pernikahan antara Wan Fei Yang dengan Tok ku Hong.
Angin bertiup dengan kencang.
Hujan semakin deras.
Petir terus menyambar.
Geledek memekakkan telinga.
Sen Man Cing tidak memperdulikan semuanya.
Dia terus memacu kudanya menerjang ke depan.
Dipeluknya kudanya erat-erat.
Wajahnya basah kuyup, demikian pula sekujur tubuhnya.
Entah air hujan atau air mata yang membasahi pipinya.
Fu Hiong Kun dan Kongsun Hong mengejar dari belakang.
Mereka sendiri sudah seperti orang kalap.
Jalanan di hadapan mereka hanya remang-remang.
Entah masih berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk mencapai Bu ti bun?
Diam-diam Fu Hiong Kun mengkhawatirkan keadaan Sen Man Cing.
*** Upacara pernikahan berakhir dengan sempurna.
Tok ku Bu ti sendiri yang mengantar sepasang pengantin itu masuk ke dalam kamar untuk melewati malam pertama.
Dia tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum simpul atas keberhasilan rencananya yang jahat.
Yan Cong Tian duduk di ruangan besar.
Hatinya galau sekali.
Bagaimana pun dia tidak menyangka bahwa antara Bu ti bun 1256 dan Bu tong pai bisa menjadi besan.
Apakah ini suatu keberuntungan ataukah suatu kemalangan?
Dia benar-benar tidak tahu.
Tok ku Bu ti masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dia melirik sekilas kepada Yan Cong Tian lalu mengangkat cawannya dari atas meja.
"Yan heng, Siaute menghormatimu dengan secawan arak. Secawan arak ini sebagai tanda musnahnya permusuhan antara Bu ti bun dan Bu tong pai, juga demi ketenteraman dunia Bulim sejak sekarang,"
Katanya.
Mulutnya memang mengucapkan kata-kata itu, tetapi sudah pasti hatinya tidak.
Tentunya Yan Cong Tian tidak dapat menerka pikiran Tok ku Bu ti, dia hanya mendengar apa yang keluar dari bibirnya yang manis.
Dia merasa arak yang ditawarkan oleh Tok ku Bu ti memang harus diterima.
Perasaan gagahnya terbangkit seketika.
Dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi.
"Bagus sekali! Apa yang kau katakan memang benar. Mari kita minum!"
Secawan demi secawan mereka keringkan Kadang-kadang keduanya saling pandang lalu tertawa terbahak-bahak.
Para tamu yang masih ada juga ikut meneguk arak sebanyak-banyaknya.
Hari yang berbahagia ini harus diakhiri dengan meriah.
Tidak ada orang yang memperhatikan senyum licik yang tersungging di bibir Tok ku Bu ti.
Tidak seorang pun.
Di luar ruangan hujan dan kilat saling menyapa.
Geledek seakan tidak mau kalah menunjukkan kewibawaannya.
Setelah suara tambur berhenti, suara geledek seperti lebih berkuasa lagi memperlihatkan keangkerannya.
*** 1257 Di dalam kamar pengantin menyala sepasang lilin merah.
Kerumunan orang-orang yang mengganggu sudah keluar semua.
Hanya tertinggal sepasang pengantin baru yang saling berhadapan.
Tok ku Hong berjalan menuju tempat tidur dan duduk di bagian ujungnya.
Kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Tadinya dia tidak merasakan apa-apa.
Sekarang kerumunan orang sudah bubar, tinggal mereka berdua.
Perasaannya jengah sekali.
Dia tidak berani menatap Wan Fei Yang.
Hati anak muda itu sendiri sangat tegang.
Maklumlah pengantin baru.
Apalagi seumur hidupnya, dia belum pernah bermesraan dengan seorang gadis.
Hatinya gelisah.
Jantungnya berdebar-debar.
Dengan tangan gemetar, dia membuka kerudung yang menutupi wajah Tok ku Hong.
Gadis itu melirik Wan Fei Yang sekilas.
Pipinya merah karena malu.
Dia baru bermaksud menundukkan kepalanya kembali, tetapi Wan Fei Yang sudah memegang dagunya dan mengangkatnya ke atas sedikit.
Dua pasang mata saling pandang.
Seribu kata-kata telah terucap dalam sinar mata keduanya.
Selelah sekian lama, akhirnya Tok ku Hong juga yang mulai membuka suara.
"Tolol, mengapa kau memandang aku seperti itu?"
Sahutan Wan Fei Yang lebih tolol lagi..
"Aku baru menyadari kalau kau demikian cantik."
Tok ku Hong mencibirkan bibirnya.
"Tadi kau hanya perduli meminum arak bersama para tamu. Kau bahkan tidak melirik aku sekalipun,"
Sindirnya pura-pura marah.
".Maka dari itu sekarang aku jadi terpesona memandangmu.." 1258 Tok ku Hong mengerutkan pucuk hidungnya. Wan Fei Yang juga melepaskan pegangannya. Dia berjalan ke arah meja dan mengambil dua cawan arak.
"Jangan marah. Sekarang aku minum secawan denganmu."
"Aku tidak ingin minum,"
Sahut Tok ku Hong sambi! memalingkan wajahnya.
"Orang mengatakan bahwa pengantin baru malah harus minum arak dari cawan yang sama. Mana boleh tidak mau minum?"
Tok ku Hong terpaksa menerima cawan arak itu dan mengeringkan isinya sekaligus.
Sekejap kemudian wajahnya sudah berona merah, tetapi hal itu malah membuat kecantikannya semakin kentara.
Wan Fei Yang kemudian mengeluarkan sepotong belahan giok dari saku pakaiannya.
"Siau fei adalah orang yang melarat. Hanya ada sepotong giok ini yang dapat dihadiahkan kepadamu."
Tok ku Hong mengulurkan tangannya menerima potongan giok tersebut.
Wan Fei Yang mengambil kesempatan itu untuk meraih tangan Tok ku Hong.
Dalam waktu yang bersamaan, keduanya saling berpelukan dengan erat..
Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba pintu didobrak dari luar.
Sen Man Cing menerjang masuk dengan seluruh tubuh basah kuyup.
Wajahnya pucat pasi....
"Kalian tidak boleh...!" 1259 suaranya terdengar parau. Baru mengucapkan beberapa patah kata itu, dilihatnya keadaan kedua orang itu masih berpakaian rapi. Dia menghela nafas lega, seakan baru saja terlepas dari beban yang berat. Wan Fei Yang dan Tok ku Hong terkejut sekali. Melihat keadaan Sen Man Cing, hati mereka semakin tergetar. Sen Man Cing bertumpu pada pintu kamar. Nafasnya tersengal-sengal. Hampir saja dia jatuh terkulai.
"Ibu...!"
Tok ku Hong menyapa satu kali kemudian termangu-mangu. Akhirnya dia membuka suara juga.
"Apakah ibu marah karena anak tidak memberitahu dahulu tentang pernikahan ini?"
"Hujin...!"
Wan Fei Yang masih menyapa dengan panggilan yang biasa digunakan.
Tok ku Hong mengerling ke arah Wan Fei Yang sekilas.
Baru saja dia hendak menegur Wan Fei Yang, Sen Man Cing sudah mencegahnya.
Wanita itu menggoyangkan tangan berulang kali.
"Kalian tidak boleh menikah,"
Katanya lirih. Tok ku Hong hampir tidak mempercayai pendengarannya. Namun dia masih belum mengerti. Dikiranya Sen Man Cing benar-benar marah karena tidak menghadiri pesta pernikahannya.
"Ibu, Tia sudah menyuruh Suheng memanggilmu pulang. Tetapi rupanya terlambat. Kalau Ibu masih marah, biar anak menyembah dengan membenturkan kepala tiga kali untuk memohon pengampunan darimu."
"Aku juga..."
Tukas Wan Fei Yang gugup. Melihat keadaan kedua orang itu. Sen Man Cing tertawa getir.
"Ibu, berjanjilah bahwa kau tidak akan marah lagi,"
Kata Tok ku Hong selanjutnya. Wan Fei Yang baru saja bermaksud mengucapkan beberapa patah kata, tapi Sen Man Cing kembali menggelengkan kepalanya. Dia tertawa sumbang.
"Nasib kalian sungguh buruk,"
Sahutnya sambil menarik nafas panjang.
Tok ku Hong dan Wan Fei Yang semakin terpana.
Air mata Sen Man Cing sudah mengalir dengan deras.
Dia mendongakkan kepalanya ke langit-langit dan berkata dengan suara mantap.
"Thian. Seandainya kesalahan Sen Man Cing demikian besar, juga tidak seharusnya kau menghukum kedua anak yang tidak berdosa ini. Hukumlah aku seorang!"
Tok ku Hong memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Ibu, apa yang kau katakan?"
Tanyanya kebingungan.
Wan Fei Yang menatap ke arah Tok ku Hong kemudian beralih kepada Sen Man Cing.
Meskipun dia tidak mengerti apa yang diucapkan wanita itu, namun hati kecilnya membisikkan tentang sesuatu yang tak beres.
Sen Man Cing menolehkan kepalanya ke arah kedua orang itu.
Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Bagaimana pun kalian tidak boleh menjadi suami istri...!"
"Kenapa?"
Teriak Tok ku Hong. Dia menghambur ke depan dan mencengkeram sepasang tangan Sen Man Cing. Wan Fei Yang juga cepat-cepat menghampiri.
"Betul, Hujin. Apa sebabnya kami tidak boleh menikah?"
Tanyanya penasaran. 1261
"Karena kalian adalah abang adik seayah lain ibu,"
Sahut Sen Man Cing sepatah demi sepatah.
Tiba-tiba kilat menyambar menerangi wajah ketiga orang itu.
Tidak ada satu pun yang tidak berubah wajahnya pada saat itu.
Demikian juga Sen Man Cing.
Terbukti betapa besar keberanian yang harus dikumpulkan untuk mengutarakan kenyataan ini.
Wan Fei Yang tertegun.
To ku Hong malah seperti orang kalap.
"Mana mungkin? Siau Fei she Wan, anak she Tok ku...?"
Sen Man Cing menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya kalian berdua sama-sama she Gi. Kalian adalah putri Gi Ban li!"
Hati Wan Fei Yang tergetar. Tubuhnya sampai terhuyung-huyung. Tok ku Hong masih belum mengerti. Dia menatap Sen Man Cing keheranan....
"Bukankah Gi Ban li adalah nama asli Ci Siong tojin sebelum menjadi pendeta. Antara Tia dengan dia...."
"Tok ku Bu ti bukan ayahmu!"
Tukas Sen Man Cing. Dia berhenti sejenak. Kemudian duduk di samping meja dengan wajah sendu. Sekarang kejadian sudah terlanjur sedemikian rupa. Aku juga tidak perlu mengelabui kalian lagi."
Matanya menerawang di kejauhan. Peristiwa itu terjadi ketika Ci Siong pertama kali bertarung dengan Tok ku Bu ti...."
Akhirnya Sen Man Cing menceritakan rahasia hatinya yang telah terpendam selama puluhan tahun.
"Dua puluh tahun lebih yang lalu, aku menikah dengan Tok ku Bu ti. Usianya masih cukup muda. Namun karena cita-citanya untuk menguasai dunia persilatan, dia rela mempelajari ilmu Mil kip sinkang. Sedangkan dia sendiri tahu dengan jelas, bahwa Mit kip sinkang adalah ilmu silat yang dapat 1262 merusakkan bagian kelamin kaum pria sehingga tidak dapat membuahkan anak. Tetapi Tok ku Bu ti tetap nekat. Akhirnya kami menjadi suami istri dalam pandangan orang luar saja. Padahal kami tidak bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami istri yang sebenarnya."
Tok ku Hong dan Wan Fei Yang mendengarkan sampai termangu-mangu.
Pada saat itu, hal yang paling diutamakan oleh Bu ti bun adalah pertarungan yang telah ditentukan selama sepuluh tahun sekali dengan Bu tong pai.
Ketika saat pertandingan tiba akhirnya Tok ku Bu ti dapat mengalahkan Ci Siong tojin dengan ilmu Mit kip sinkangnya.
Sen Man Cing menarik nafas panjang.
Matanya masih menerawang seakan sedang mengingat kembali peristiwa yang terjadi saat itu.
Tok ku Hong dan Wan Fei Yang menunggu dengan hati berdebar-debar.
"Sebetulnya dia bermaksud membunuh Ci Siong tojin saat itu juga. Untung saja Ci Siong tojin masih mempunyai sisa tenaga untuk melarikan diri. Tidak disangka-sangka dia justru lari ke arah Liong hong kek. Pada saat itu, Tok ku Bu ti sudah bertekad untuk menguasai dunia persilatan. Dia menutup diri dan berlatih dengan giat agar dapat mencapai taraf tertinggi Mit kip sinkang. Hatiku juga sempit saat itu. Aku seperti sengaja ingin menantangnya sampai di mana pun. Orang yang ingin dibunuhnya jatuh tidak sadarkan diri di daerah Liong hong kek. Aku justru sengaja menolong orang itu. Aku bahkan membawa Ci Siong tojin tinggal di dalam Liong hong kek. Dengan penuh perhatian aku merawatnya. Sampai lama waktu berlalu, tetap tidak terlihat bayangan Tok ku Bu ti datang berkunjung. Selama dalam perawatanku, Ci Siong to jin sering mengajarkan berbagai hal kepadaku. Seperti melukis, membaca syair, memetik harpa bahkan bermain catur. Selama itu hubungan kami masih terbatas dalam kesopanan yang sudah semestinya.." 1263 Mendengar sampai di situ, tanpa sadar Wan Fei Yang memperdengarkan suara tertawa getir. Tok ku Hong justru semakin tertegun.
"Tiga bulan berlalu kembali. Akhirnya Tok ku Bu ti keluar dari ruangan di mana dia menutup diri. Namun dia tidak mengunjungi aku, hanya menyuruh salah seorang anak buah-nya membawakan secarik kertas yang isinya menyatakan bahwa dia sudah berangkat ke Thai san untuk memenuhi undangan Eng-hiong tai-hwe (pertemuan para pendekar). Dia juga menyatakan keinginannya untuk menggemparkan dunia persilatan. Kurang lebih setahun setengah baru bisa kembali lagi. Meskipun aku tahu, sebetulnya dia ingin melatih Mit kip sinkang sampai taraf yang lebih tinggi, maka dari itu dia sengaja menghindari aku agar terlepas dari ikatan cinta kasih. Aku merasa sedih dan kecewa. Malam itu aku meminum arak sebanyak-banyaknya agar melupakan kepahitan yang kuterima itu. Siapa sangka setelah benar-benar mabuk, aku melakukan kesalahan besar."
Wajah Wan Fei Yang dan Tok ku Hong semakin tidak enak dipandang. Sen Man Cing masih menangis terisak-isak.
"Setelah tersadar dari mabuk, Ci Siong dan aku merasa sedikit menyesal. Saat itu luka Ci Siong sudah hampir sembuh. Ketika dia mengetahui aku juga mempelajari lwekang, maka dia mewariskan ilmu Tian can sinkang kepadaku. Dia berharap aku dapat menemukan kuncinya agar dapat mencapai taraf akhir ilmu tersebut. Di kemudian hari bila kami sampai mempunyai anak, dia meminta aku mewariskan ilmu itu kepada anak kami...."
Semakin lama berbicara, perasaannya semakin bergejolak.
Suaranya juga semakin parau.
Dengan termangu-mangu Wan Fei Yang serta Tok ku Hong menatapnya lekat-lekat.
Mereka tidak mengatakan apa-apa.
Air mata Tok ku Hong sudah mulai membasahi pipinya.
Tanpa menunggu sampai Sen Man Cing 1264 menyelesaikan kata-katanya, air mata sudah mengalir semakin deras.
Tiba-tiba dia bangkit berdiri dan ber-teriak sekeras-kerasnya.
"Jangan katakan lagi!"
Sen Man Cing memang tidak sanggup meneruskan kata-katanya lagi.
Dengan berurai air mata dia memeluk Tok ku Hong erat-erat.
Tanpa dapat menahan diri lagi, Tok ku Hong menangis tersedu-sedu.
Adatnya sangat keras.
Biasanya jangan kata menangis tersedu-sedu, mengalirkan setetes air matapun tidak mudah baginya.
Tapi kesedihannya sekarang sudah tidak terkatakan.
Wan Fei Yang juga merasa hatinya tertekan.
Dia menatap Tok ku Hong yang saling merangkul dengan Sen Man Cing dengan pandangan terpana.
Air mata juga sudah membasahi pipinya.
Tepat pada saat itu juga, tiba-tiba Tok ku Hong menarik dirinya dari pelukan Sen Man Cing.
Dia menghambur dari kamarnya.
Di luar angin masih bertiup dengan kencang.
Hujan juga masih turun dengan lebat.
Tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya, Tok ku Hong berlari seperti orang kalap.
Sekejap saja wajah dan tubuhnya sudah basah kuyup.
Tok ku Hong seperti tidak merasakannya.
Dia terus menerjang ke depan.
"Hong ji...!"
Teriak Sen Man Cing pilu.
Dia terus mengejar di belakang gadis itu.
Sesampainya di koridor panjang, terdengar kilat menyambar.
Geledek bergemuruh seakan ingin memecahkan angkasa.
Hati Sen Man Cing semakin tergetar.
"Blukk!"
Dia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah..
"Thian, kalau kau memang ingin menjatuhkan hukuman, biarlah aku yang menerima hukuman ini...!"
Ratapnya pilu.
1265 Mendengar teriakannya hati Wan Fei Yang semakin tertekan.
Dengan air mata berderai, dia juga menerjang keluar dari kamar.
Saat itu dia merasakan benaknya berubah menjadi kosong melompong.
Kilat masih menyambar.
Geledek masih menggelegar.
Sekali disusul dua kali, membuat hati orang yang mendengarnya semakin tercekam.
Di bawah cahaya kilat yang menyambar, perlahan-lahan Sen Man Cing bangkit berdiri.
Dengan susah payah dia menyeret langkah kakinya.
Meskipun hatinya sedih, tapi dia masih bersyukur kepada Thian.
Setidaknya Thian telah menunjukkan kebesarannya dengan memberi kesempatan padanya untuk tiba pada saat yang tepat.
Hanya satu orang yang dibencinya saat ini.
Kebencian yang menyusup sampai ke tulang sumsum.
Tok ku Bu ti!
* ** Angin bertiup dengan kencang.
Hujan tetap mencurahkan air dengan deras.
Tok ku Bu ti justru membuka jendela di ruang perpustakaannya lebar-lebar.
Sambil menikmati cahaya kilat dan suara guntur, dia meneguk arak seorang diri.
Jilid 28 Malam sudah demikian larut.
Tapi dengan pikiran yang bergejolak, mana mungkin dia dapat tidur dengan pulas.
Sambil meminum araknya dia membayangkan apa yang telah terjadi.
Tanpa dapat menahan diri dia tertawa terbahak-bahak.
"Ci Siong, Sen Man-cing, hari ini dua puluh tahun telah berlalu. Namun kalian tidak menyangka kalau aku masih sempat membalas dendam yang terpendam selama dua puluh tahun ini bukan?"
Tentu saja semua ucapannya itu hanya untuk didengar oleh dirinya sendiri.
"Wan Fei-yang! Tahu rasa kau!"
Dengan mata berkobar-kobar dia mengeringkan isi cawannya.
"Meskipun kau telah berhasil melatih Tian-can sinkang, dan tidak ada tandingannya lagi di dunia ini, namun mulai besok, jangan harap kau masih punya muka berhadapan dengan orang-orang dunia kangouw."
Tok-ku Bu-ti mulai mabuk. Dia berkata seorang diri sambil menganggukkan kepalanya.
"Malam ini kau boleh merasakan kepuasan dan kegembiraan sepenuhnya. Besok aku akan membeberkan kebejatan kalian yang menikah antara saudara kandung sendiri. Pada saat itu aku ingin lihat bagaimana kalian harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh teman-teman dari dunia kangouw!"
Dia mengisi cawannya lagi sampai penuh.
Lagi diteguknya sekaligus.
Belum lagi dia sempat meletakkan cawannya di alas meja.
Pintu ruang perpustakaan itu sudah didobrak oleh seseorang.
Tok-ku Bu-ti langsung menoleh ke arah pintu tersebut.
"Siapa?"
Bentaknya dengan suara keras.
Kilat yang menyambar menyorotkan cahaya ke atas wajah orang itu.
Sen Man-cing.
Rambutnya acak-acakan.
Matanya menyorotkan sinar kepedihan juga kemarahan.
Tampangnya lebih mirip mayat yang baru bangkit kembali.
"Ternyata kau sudah datang,"
Sapa Tok-ku Bu-ti sambil mengerutkan alisnya. Kemudian dia mengangkat cawannya 1267 tinggi-tinggi.
"Hari ini adalah hari baik. Kita berdua suami istri harus minum satu dua cawan untuk merayakannya!"
Bibir Sen Man-cing bergetar.
"Apakah perbuatanmu ini masih dapat disebut kelakuan seorang manusia?"
Akhirnya Sen Man-cing tidak dapat menahan diri lagi. Dia berteriak sekeras-kerasnya. Ternyata Tok-ku Bu-ti masih bisa tertawa lebar.
"Apa sebetulnya maksud perkataanmu itu?"
Sen Man-cing menatap Tok-ku Bu-ti lekat-lekat. Dia seakan malam ini baru melihat jelas siapa adanya manusia yang satu ini.
"Apa yang kau katakan tadi?"
Tok-ku Bu-ti pura-pura terkejut.
"Oh? Rupanya kau sudah mendengar semuanya?"
"Aku sudah mendengar semuanya dengan jelas. Semuanya.... Tidak ada satu kata pun yang ketinggalan!"
Sahut Sen Man-cing sepatah demi sepatah.
"Kalau begitu, aku malah harus mengundang kau masuk ke dalam,"
Kata Tok-ku Bu-ti sambil bangkit dari duduknya. Sen Man-cing justru sengaja masuk ke dalam.
"Kalau kau memang membenci aku, kau boleh bunuh saja diriku. Mengapa harus melakukan semua ini?"
Tok-ku Bu-ti hanya tersenyum simpul. 1268
"Betul, aku memang bersalah terhadapmu. Aku mengkhianatimu. Tapi kau tidak perlu membalaskan sakit hati ini kepada putriku!"
Senyum Tok-ku Bu-ti semakin lebar.
"Masa ini yang kau namakan balas dendam? Putri kita mencintai Wan Fei-yang, aku justru merestui mereka. Apa salahnya?"
"Kau masih berani membantah?"
Sen Man-cing maju selangkah demi selangkah ke hadapan Tok-ku Bu-ti.
"Kau tahu putri siapa Tok-ku Hong sebenarnya. Kau juga tahu Wan Fei-yang adalah anak kandung Ci Siong. Mengapa kau membiarkan mereka menikah?"
"Dapatkah kau membiarkan aku mengatakan sesuatu yang bijaksana?"
Sikap Tok-ku Bu-ti tetap demikian tenang.
"Kau juga punya kata-kata yang bijaksana?"
"Dengar baik-baik. Semua ini adalah hasil perbuatanmu sendiri!"
Tok-ku Bu-ti menuding Sen Man-cing.
"Thianlah yang lelah mengatur segalanya sebagai hukum karma kepada kalian pasangan anjing ini!"
Sen Man-cing terhuyung-huyung mundur dua langkah.
Tok-ku Bu-ti mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Dia mengulurkan tangannya menarik Sen Man-cing ke dekatnya.
Dia mendelik ke arah Sen Man-cing dengan tertawa lebar.
"Tidak seharusnya kau datang ke mari. Tetapi karena kau sudah datang, aku tidak akan membiarkan engkau meninggalkan kamar ini dan menghancurkan apa yang telah kurencanakan!"
Tangannya mencengkeram lengan Sen Man-cing semakin erat. Sen Man-cing tertawa sumbang.
"Dengan kecerdasan otakmu, seharusnya kau dapat berpikir bahwa sebelum menginjak tempat ini, aku pasti sudah singgah di tempat yang lain."
"Kau sudah ke kamar pengantin Hong ji?"
Tanya Tok-ku Bu-ti yang wajahnya langsung berubah kelam.
"Untung saja belum terlambat."
Sen Man-cing menggelengkan kepalanya.
"Meskipun hati mereka sangat sedih, tapi mereka toh belum melakukan hal yang akan menghancurkan kehidupan mereka sendiri."
Wajah Tok-ku Bu-ti berubah hebat.
"Brak!"
Cawan di tangannya diremasnya sampai hancur.
Dia melepaskan cengkeramannya pada Sen Man-cing.
Tangan kanannya terkepal erat.
Dadanya naik turun.
Wajahnya dari putih menjadi merah padam.
Tampaknya dia akan menghantamkan tinjunya kepada Sen Man-cing.
Wanita itu memandangnya dengan tatapan dingin.
Tidak ada sorot takut sedikit pun di matanya.
Tinju Tok-ku Bu-ti tidak dihantamkan ke depan.
Malah tangannya yang tadi terkepal kiri mengendur kembali.
Meskipun kau telah menggagalkan rencana yang aku jalankan, namun aku tetap tidak akan membunuhmu,"
Katanya dengan suara berai. 1270
"Apa lagi yang kau tunggu?"
Nada Sen Man-cing dingin dan datar.
"Kalau aku berniat membunuhmu, tentu sudah aku lakukan dua puluh tahun yang lalu. Tidak perlu menunggu sampai sekarang."
Sen Man-cing tidak berkata apa-apa.
"Aku rasa, terlalu enak kalau membunuhmu begitu saja,"
Kata Tok-ku Bu-ti selanjutnya. Tanpa terasa air mata Sen Man-cing mengalir dengan deras. Tok-ku Bu-ti yang melihat keadaannya malah tertawa terbahak-bahak.
"Tapi aku juga merasa heran, kau toh masih ada muka untuk hidup sampai hari ini."
Sen Man-cing tetap menangis tanpa menyahut. Tok-ku Bu-ti menepuk tangannya keras-keras.
"Ternyata Wan Fei-yang sudah mengetahui urusan ini. Mengapa dia masih belum mencari aku untuk membuat perhitungan?"
Baru saja ucapannya selesai, Wan Fei-yang sudah muncul di depan pintu. Tubuhnya basah kuyup. Dia mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti dengan pandangan sedih.
"Menantu yang baik...."
Tok-ku Bu-ti juga sudah melihat Wan Fei-yang. Dia malah terbawa terbahak-bahak.
"Ini kan malam pengantinmu, mengapa kau tidak berdiam di kamar saja bermesraan dengan istrimu yang cantik jelita?"
"Tutup mulut!"
Bentak Wan Fei-yang dengan tubuh gemetar.
Sepasang tangannya terkepal erat-erat sehingga berubah warna menjadi putih pucat.
1271 Tok-ku Bu-ti semakin senang melihat keadaannya.
Seraya tertawa lebar dia menoleh kepada Sen Man-cing.
"Hujin, menantu kita ini lumayan juga...."
"Tok-ku Bu-ti, orang-orang boleh menganggap dirimu seekor burung rajawali, tapi aku memandangmu seperti seekor gagak!"
Tukas Sen Man-cing ketus. Wan Fei-yang langsung mengulurkan jari tangannya menuding Tok-ku Bu-ti.
"Tok-ku Bu-ti, keluar kau!"
Bentaknya. Tok-ku Bu-ti menepuk-nepuk bajunya sen diri agar terlihat rapi.
"Menantu yang baik, luka dalam mertuamu ini masih belum pulih betul."
"Tidak perduli. Pokoknya malam ini aku harus membunuhmu!"
Tukas Wan Fei-yang. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.
"Membunuhku? Demi Bu-tong-pai atau demi Ci Siong?"
Baca Juga: Kemelut Di Majapahit 13
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 4