Ceritasilat Novel Online

Ilmu Ulat Sutera 12

Eps 12 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

"Terhadap manusia sesat dan keji seperti engkau, tidak perlu mengemukakan alasan kalau hanya untuk membunuhmu!"

"Kata katamu ini kedengarannya sangat berjiwa pendekar. Sayangnya pribadi seseorang tidak dapat ditentukan dari pembicaraan saja. Apalagi murid Bu-tong,"

Sindir Tok-ku Bu-ti tajam. Wan Fei-yang marah sekali.

"Tidak usah banyak bicara!"

Tok-ku Bu-ti tidak memperdulikannya. 1272

"Umpamanya Ci Siong tojin, dia menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai, tetapi tindak-tanduknya sungguh memalukan. Berani merayu istri orang!"

Sindirnya kembali.

"Aku suruh kau keluar!"

Suara Wan Fei-yang semakin menggelegar.

"Kok cuma kau sendiri? Mana pengantin perempuannya?"

Tanya Tok-ku Bu-ti mengalihkan pokok pembicaraan.

Wan Fei-yang tidak dapat menahan dirinya lagi.

Seraya meraung murka, dia menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Telapak tangannya sudah bersiap-siap untuk dihantamkan ke depan.

Angin yang terpancar dari sepasang telapak tangannya seperti badai yang siap mengamuk.

Tok-ku Bu-ti mengungkit kakinya.

Tongkat kepala naganya melayang ke udara.

Sepasang tangannya mendorong, tongkat kepala naga itu meluncur ke depan.

Wan Fei-yang merangkapkan kedua telapak tangannya.

Tenaga dalam dikerahkan.

Tongkat kepala naga itu pun terpental kembali.

Setengah tubuh Tok-ku Bu-ti bagian atas melenggok sambil memutar tongkat kepala naganya seperti gasing.

Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti memang berbentuk panjang.

Ujungnya yang berputaran menyerang Wan Fei-yang secara gencar.

Wan Fei-yang menghimpun hawa murninya.

Dia mengkombinasikannya dengan jurus Pik lek ciang.

Sepasang telapak tangannya tiba-tiba berubah kaku laksana lempengan baja.

Hantaman telapak tangannya terus menyambut sapuan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti.

Dua puluh sembilan kali berturut-turut tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti menyerang Wan Fei-yang dan semuanya berhasil disambut dengan baik.

Namun seluruh perabotan dalam kamar seperti meja, kursi, jambangan bunga, kendir arak serta beberapa cawan pecah berkeping-keping akibat pertarungan mereka.

1273 Meskipun demikian, sepasang telapak tangan Wan Fei-yang sama sekali tidak tergores ataupun terluka akibat hancuran perabot-perabot tersebut.

Melihat keadaan itu, Tok-ku Bu-ti terkejut sekali.

Tongkat kepala naganya masih berputaran.

Angin yang ditimbulkannya menerpa di sekitar.

Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti merubah gerakannya.

Dia melancarkan sebuah jurus yang bernama 'Ular berbisa keluar dari goa'.

Serangannya kali ini tertuju ke arah ulu hati Wan Fei-yang.

Tubuh Wan Fei-yang menggeser ke samping menghindari serangannya.

Tongkat kepala naga meluncur lewat di bahunya.

Sepasang tangannya terulur secepat kilat.

Dia mencengkeram tongkat kepala naga tersebut.

Padahal Tok-ku Bu-ti telah mengukur dengan seksama.

Namun ternyata perkiraannya meleset juga.

Bukan saja dia tidak berhasil melukai Wan Fei-yang, malah tongkat kepala naganya kena dicengkeram.

Dengan demikian, terjadilah adu tenaga dalam tarik menarik.

Bagaimana pun Tok-ku Bu-ti berusaha, dia tetap tidak berhasil menarik kembali tongkat kepala naganya dari cengkeraman Wan Fei-yang.

Lengan baju keduanya menimbulkan bunyi keresekan dan sepasang kaki masing-masing amblas ke dalam tanah.

Tok-ku Bu-ti sudah mengerahkan Mit-kip sinkangnya.

Wan Fei-yang juga sudah menghimpun tenaga Tian-can sinkang.

Dua pasang mata saling tatap dengan tajam seperti bilah pisau yang saling beradu.

Suara keresekan lengan baju tidak terdengar lagi.

Lengan baju Tok-ku Bu-ti bagai balon yang ditiup sampai mengembang.

Sedangkan lengan baju Wan Fei-yang perlahan-lahan lurus dan semakin lama semakin kaku.

Mereka tidak bergeming sama sekali.

Sen Man-cing yang berdiri di sudut tanpa sadar telah mundur satu langkah.

Sekarang dia mundur lagi satu langkah.

Hal ini bukan atas kehendaknya sendiri.

Tapi karena segulung demi segulung kekuatan yang tidak berbentuk maupun 1274 bersuara mendesaknya, sehingga mau tidak mau dia terpaksa mundur terus.

Nafasnya semakin lama semakin sesak.

Seluruh udara dalam ruangan itu seakan tersedot oleh tenaga kedua orang itu.

Kekuatan yang menyelimuti keadaan sekitar juga semakin lama semakin dahsyat.

Sen Man-cing sampai terdesak mundur tujuh langkah berturut-turut.

Setelah itu barulah perasaannya lebih lega.

Sementara itu, rambut Tok-ku Bu-ti dan jenggotnya tiba-tiba mengembang kaku.

Demikian juga kuncir rambut Wan Fei-yang.

Bedanya kalau rambut serta jenggot Tok-ku Bu-ti berdiri kaku, sedangkan rambut Wan Fei-yang berdiri namun lembut melambai-lambai bagaikan terapung di permukaan air.

Di tengah-tengah kedua orang itu, tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti mulai memperlihatkan perubahaan.

Kadang-kadang menyapu ke atas, kadang-kadang menyapu ke bawah.

Kadang-kadang meluncur ke depan kemudian ditarik kembali.

Akhirnya yang terlihat hanya bayangan putih yang berkelebat.

Terdengar suara "Brak!"

Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti terputus menjadi dua bagian.

Tubuh kedua orang itu terpental ke belakang dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian terjatuh di atas tanah.

Begitu kerasnya tenaga kedua orang itu sehingga melayang keluar dari kamar.

Wan Fei-yang bangkit dan mulai mengerahkan ilmu di koridor panjang tersebut.

Tok-ku Bu-ti menerobos lewat sebuah jendela sehingga pecah berantukan.

Dia juga terpental di tempa!

yang sama.

Tepai pada saat itu.

di benaknya terlintas pikiran untuk melarikan diri.

Pikiran ini datangnya begitu cepat dan sensitif.

Tempo hari di Kuan-jit-hong, Tok-ku Bu-ti pernah dikurung oleh Thian-ti dan Fu Giok-su dan kawan-kawan dalam barisan Hujan.

Angin, Kilat serta 1275 Geledek.

Keadaannya waktu itu sangat berbahaya, namun dia tetap melangsungkan pertarungan.

Dia menyadari bahwa keenam orang itu, seandainya berduel satu lawan satu sama sekali bukan tandingannya.

Sekarang dia juga sudah menyadari bahwa kekuatan Wan Fei-yang seorang diri saja sudah jauh di atasnya.

Boleh dikatakan bahwa sejak menjabat jadi ketua Bu-ti-bun atau seumur hidupnya baru kali ini dia menemui lawan setangguh Wan Fei-yang.

Seorang lawan yang dihadapinya berdasarkan dendam pribadi dan benar-benar mempunyai ilmu lebih tinggi daripadanya.

Sampai di mana kehebatan Tian-can sinkang dia sama sekali tidak tahu.

Dia hanya tahu ketua generasi pendahulu dari Bu-ti-bun yaitu Sia ho Tian cong pernah mengalami kekalahan.

Justru kekalahannya terjadi karena lawannya menggunakan Tian-can sinkang.

Sedangkan dia berhasil mengalahkan Ci Siong tojin sebanyak tiga kali adalah karena Ci Siong tojin sama sekali tidak menguasai Tian-can singkang.

Dalam soal adu tenaga dalam antara dia dan Wan Fei-yang tadi, paling tidak dia sudah dapat memastikan satu hal.

yakni tenaga yang terpancar dari Tian-can singkang, sama sekali bukan kekuatan yang dapat ditandingi oleh Mit-kip sinkang.

Meskipun tidak terluka, tapi kalau diteruskan, dia juga tidak mempunyai kemungkinan untuk memenangkan pertarungan tersebut.

Dia seorang yang penuh perhitungan.

Dari caranya menggempur Go-bi-pai, sudah terlihat jelas bahwa dia adalah jenis manusia yang tidak akan melakukan suatu hal yang tidak dapat dipastikannya.

Seandainya dia sudah sadar bahwa pertarungan ini tidak mungkin dimenangkannya, mana mungkin dia masih mempunyai gairah untuk melanjutkan pertarungan itu?

Toh tidak ada orang yang akan memperdulikan menang atau kalahnya lagi, lalu mengapa 1276 tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri...?

Begitu pikirannya tergerak, tubuhnya langsung melesat ke atas.

Pada saat itu juga Wan Fei-yang sudah menerjang tiba.

Dia sama sekali tidak perduli apa yang dilakukan oleh Tok-ku Bu-ti.

Orangnya sampai telapak tangannya langsung meluncurkan dua kali hantaman, Wan Fei-yang juga tidak bimbang sewaktu menghantamkan telapak tangannya.

Tok-ku Bu-ti tidak bisa tidak menghalangi datangnya serangan itu.

Telapak tangannya terulur dan menyambut dua kali serangan tersebut.

Tubuhnya yang sedang melesat di udara terdesak melayang turun kembali.

Wan Fei-yang memutar tubuhnya.

Dua hantaman diluncurkan kembali, namun begitu ia sampai di hadapan Tok-ku Bu-ti, serangan itu menjadi delapan belas kali hantaman.

Setiap hantaman, telapak tangan Wan Fei Kang tampaknya demikian ringan.

Kening Tok-ku Bu-ti berkerut.

Sepasang telapak tangannya maju menyambut serangan delapan belas kali hantaman itu.

Kakinya terdesak mundur dua langkah.

Serangan Wan Fei-yang tidak berhenti di situ.

Sambil meraung keras, dia terus meluncurkan serangan ke arah Tok-ku Bu-ti.

Sepasang telapak tangannya kadang-kadang terkepal menjadi tinju dan terkadang membuka lagi serta menghantam.

Sepasang kakinya juga menyepak serentak.

Tubuhnya bergerak kian ke mari.

Serangannya menimbulkan angin keras bagai badai yang melanda.

Nafsu bertarung Tok-ku Bu-ti juga sudah terbangkit.

Sepasang tinjunya dikerahkan.

Terjadilah pertarungan sengit dengan Wan Fei-yang.

Kecepatannya dalam menyerang ataupun bergerak tidak di bawah anak muda itu.

Hanya dalam hal tenaga dia terpaksa harus mengakui bahwa dia masih kalah satu tingkat.

1277 Semakin bertarung gerakan keduanya semakin cepat.

Suara teriakan terdengar terus dari mulut Wan Fei-yang.

Gerakannya sudah hampir mirip orang kalap.

Mungkin karena kebencian yang memenuhi hatinya, maka dia tidak berpikir hal lainnya lagi kecuali membunuh Tok-ku Bu-ti.

Hujan masih turun dengan lebat.

Kilat terus menyambar.

Suara benturan telapak tangan serta tinju berkecamuk dengan piara teriakan Wan Fei-yang dan suara siulan panjang yang keluar dari mulut Tok-ku Bu-ti.

Dua pasang telapak tangan berkali-kali beradu.

Keduanya bagai dua ekor ulat perak yang pedang bergelut.

Sama sekali tidak perduli hutan badai yang masih terus berlangsung.

Kecuali yang mabuk, para tamu lainnya yang mendengar suara pertarungan itu menjadi terkejut.

Berbondong-bondong mereka keluar untuk melihat apa yang telah terjadi.

Setelah berhasil melihat dengan jelas, mereka semua terbelalak dan melongo.

Bagaimana mereka tidak terperanjat apabila melihat kedua orang Sang sedang bertarung mati-matian itu adalah mantu dan mertua yang masih terlihat baik-baik ketika pesta pernikahan berlangsung.

Kongsun Hong dan Fu Hiong-kun juga sudah menyusul tiba.

Mereka melihat pertarungan antara Wan Fei-yang dan Tok-ku Bu-ti bukan hanya tidak main-main malah sudah menjurus ke arah menyabung nyawa masing-masing.

Tentu saja Fu Hiong-kun dan Kongsun Hong menjadi tertegun seketika.

Yan Cong-tian yang baru sampai di tempat kejadian lebih bingung lagi.

Dia segera menerjang ke hadapan kedua orang itu.

"Berhenti!"

Teriaknya sambil menghantam ke depan.

Dalam waktu yang bersamaan, air hujan yang sedang mencurah tampak terkuak oleh tenaga hantaman telapak 1278 tangan Yan Cong-tian.

Kurang lebih tiga depa di sekitar kedua orang itu langsung melompong.

Pada saat itu juga.

Wan Fei-yang dan Tok-ku Bu-ti terpental mundur.

Begitu mundur, sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti terentang kembali.

Dia mendengus dingin dua kali.

Wan Fei-yang marah sekali.

Kakinya segera memasang kuda-kuda siap menerjang lagi ke depan.

Yan Cong-tian menghantam lagi tiga kali berturut-turut.

Kemudian dia menghadang di depan Wan Fei-yang.

"Siau-fei, apakah kau jadah gila?"

Bentaknya lantang.

"Aku ingin membunuhnya!"

Teriak Wan Fei-yang sambil bersiap menerjang lagi. Namun lagi-lagi dia dihadang oleh Yan Cong-tian.

"Siau-fei, tenangkan dirimu. Katakan dulu yang jelas, nanti turun tangan juga belum terlambat!"

Serunya.

Dihadang untuk kedua kalinya oleh Yan Cong-tian, perasaan Wan Fei-yang baru rada tenang.

Dia berusaha keras menahan emosinya.

Tapi matanya masih mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti dengan sinar kemarahan yang berkobar-kobar.

Sinar mata Yan Cong-tian menatap wajah Wan Fei-yang lalu beralih kepada Tok-ku Bu-ti.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Tanyanya dengan tampang angker. Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Seharusnya kau tanya saja pada Wan Fei-yang. Dia yang datang mencari aku dan mengajakku berkelahi."

Sinar mata Yan Cong-tian beralih kepada Wan Fei-yang. 1279

"Kalau memang ingin berkelahi, mengapa harus menunggu sampai sekarang? Kalian toh bukan orang luar lagi. Apakah tidak takut ditertawakan teman-teman yang hadir?"

Wajah Wan Fei-yang berkerut-kerut.

Dia bermaksud membuka mulut mengatakan sesuatu, tapi dibatalkannya kembali.

Tok-ku Bu-ti memandangnya dengan sinis.

Dia juga yakin Wan Fei-yang tidak akan berani mengatakan apa-apa di hadapan para tamu yang hadir.

"Sejak semula aku sudah meminta agar kau mempertimbangkan segalanya dengan matang-matang. Sebelumnya tidak berkelahi, sekarang lebih lebih tidak boleh lagi,"

Kata Yan Cong-tian selanjutnya. Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

"Supek, ada masalah yang belum kau ketahui."

"Apa yang tidak aku ketahui?"

Tanya Yan Cong-tian semakin tidak mengerti. Wan Fei-yang tidak dapat mengatakannya. Yan Cong-tian menyapu pandangannya ke sekitar tempat itu.

"Di mana Hong ji?"

Tanya kembali. Hati Wan Fei-yang pedih sekali.

"Dia sudah pergi,"

Sahutnya kelepasan. Yan Cong-tian tertegun.

"Mana boleh begitu? Hari ini kan malam bahagia kalian!" 1280 Wan Fei-yang merasa sulit menjelaskannya. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Yan Cong-tian memandangnya dengan lembut.

"Apakah Tok-ku Bu-ti memecah belah kalian agar kalian suami istri menjadi tidak akur?"

Tanyanya penuh perhatian. Wan Fei-yang tidak menyahut. Mata Yan Cong-tian beralih lagi kepada Tok-ku Bu-ti.

"Bu-ti, kalau memang demikian, berarti kau yang bersalah!"

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Siapa yang salah atau benar, sebelum Yan heng tahu jelas masalahnya, lebih baik jangan sembarangan menduga!"

Sinar mata Yan Cong-tian berubah menjadi ingin seketika.

"Kalau begitu maksudmu...."

Wan Fei Yang mengangkat tangannya.

"Supek...."

Yan Cong-tian menghentak tangan Wan Fei-yang.

"Benar atau salah, Supek mempunyai pertimbangan sendiri."

Mimik wajah Wan Fei-yang tambah sedih. Supek, kau masih belum mengerti masalahnya,"

Kata anak muda itu dengan suara parau.

"Oleh karena itu, aku ingin menanyakan ampai jelas!"

Kata Yan Cong-tian sambil mengelus jenggotnya. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Kalau begitu ku terpaksa mengatakan semuanya." 1281 Baru saja Wan Fei-yang bermaksud menegah, Yan Cong-tian sudah menukasnya.

"Biar dia mengatakan. Bu-ti-bun memang aliran sesal. Masa apa yang dikatakannya bisa suatu hal yang masuk akal dan adil?"

Wan Fei-yang tertawa sumbang. Tok-ku Bu-ti maju selangkah ke depan.

"Peristiwa ini harus diceritakan mulai dari dua puluh tahun yang lalu."

Tok-ku Bu-ti berhenti sejenak. Kemudian dia menarik natas panjang dan melanjutkan kembali.

"Pada waktu itu aku mengadakan pertarungan dengan Ci Siong tojin dari Bu-tong-pai di Kuan-jit-hong. Dengan Mil kip sinkang aku berhasil menghancurkan Bu-tong-liok-kiat yang dikerahkan oleh Ci Siong tojin. Akibatnya tosu tua itu terluka parah di bawah seranganku."

Berbicara sampai di situ, mata Tok-ku Bu-ti tanpa sadar menerawang. Dadanya dibusungkan tinggi-tinggi. Seakan kemenangan itu masih terbayang jelas, di pelupuk matanya. Yan Cong-tian tertawa dingin.

"Urusan sudah lama berlalu, sampai sekarang masih juga dibanggakan. Apakah kau tidak takut ditertawakan para tamu yang hadir malam ini?"

Tok-ku Bu-ti tidak memperdulikannya.

"Dengan luka parah, Ci Siong berusaha melarikan diri. Tanpa mengenal arah, ternyata dia lari ke tempat yang bernama Liong-hong-kek di Bu-ti-bun. Keberuntungan dan kemalangan pun terjadi!"

Suaranya semakin lama semakin jelas. Kata-kata ini memang sengaja diucapkannya agar dapat terdengar oleh seluruh tamu yang hadir memenuhi undangan.

"Ci Siong ditolong oleh seorang wanita, tapi kemudian dia 1282 merayu wanita itu sehingga jatuh cinta padanya. Wanita itu bernama Sen Man-cing. Itulah orangnya!"

Kata Tok-ku Bu-ti sambil menunjuk ke arah Sen Man-cing yang berdiri di depan pintu kamar.

Kilat menyambar.

Wajah Sen Wan Cing pucat pasi.

Bibirnya bergetar.

Matanya menyorotkan sinar permohonan.

Dia memandang ke arah Tok-ku Bu-ti dengan wajah sendu.

Namun dia tidak sanggup membuka mulut melalap kepada laki-laki yang dibencinya itu.

Sepasang tinju Wan Fei-yang terkepal erat.

Tubuhnya tidak henti bergetar.

Tapi bahunya dirangkul oleh Yan Cong-tian.

Melihat keadaan mereka, hati Tok-ku Bu-ti semakin kenang.

"Menolong nyawa orang melebihi tujuh amal lainnya. Sebetulnya perbuatan ini tidak salah. Tapi selagi aku sedang tidak ada, sengaja melakukan hal yang busuk dan mengkhianatiku, bagaimana aku tidak menjadi marah?"

Yan Cong-tian marah sekali.

"Mulutmu memang harus dicuci bersih! Ci Siong...."

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Seandainya Ci Siong orang yang jujur dan mematuhi peraturan keagamaan, dari mana datangnya seorang anak bernama Wan Fei-yang?"

Kata-kata ini menyusup di telinga, kecuali Wan Fei-yang sendiri, Yan Cong-tian, Fu Hiong-kun dan Sen Man-cing, orang-orang yang hadir tidak ada satu pun yang tidak terkejut.

Wajah Yan Cong-tian merah padam.

Berkali-kali dia mendengus dingin.

"Karena anak ini anak haram, karena Ci Siong tojin adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai, maka tidak dapat diakui secara 1283 terang-terangan. Dia terpaksa mengikuti marga ibunya, yakni marga Wan!"

Sekali lagi Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Hal ini sebetulnya tidak perlu lagi disesali karena terjadi sebelum Ci Siong tojin menyucikan diri menjadi pendeta, tapi merayu istri orang, jangan kata seorang Ciangbunjin yang sudah memilih pintu Budha, sedangkan orang biasa pun merupakan hal yang paling hina."

Mata Yan Cong-tian mendelik lebar-lebar. Kejadian sudah begini kau masih berani mengatakannya."

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.

"Meskipun hari ini Bu-ti-bun sudah hancur akibat perbuatan Siau-yau-kok, aku Tok-ku Bu-ti juga bukan orang yang tidak mempunyai nama di dunia persilatan. Seandainya peristiwa ini bukan benar-benar demikian jalan ceritanya, kau kira aku bersedia merusakkan namaku sen-diri?"

Hawa amarah Yan Cong-tian semakin meluap. Mata Tok-ku Bu-ti beredar.

"Bu-ti-bun memang sebuah partai beraliran sesat. Bu-tong-pai merupakan partai lurus yang menjunjung tinggi kebenaran. Tapi seumur hidup ini, aku Tok-ku Bu-ti tidak pernah melakukan hal yang demikian rendah. Malah Ciangbunjin Bu-tong-pai mengaku sebagai aliran lurus, seorang pendeta agama To, sang-gup melakukan perbuatan yang bahkan dipandang hina oleh aliran sesat!"

Tanpa terasa tangan Yan Cong-tian yang sedang menekan bahu Wan Fei-yang terlepas seketika.

Tangan Wan Fei-yang sendiri terkulai ke bawah.

Matanya pun tidak berani diangkat ke atas.

Hampir seluruh mata dari orang-orang yang hadir terpusat pada dirinya.

Tok-ku Bu-ti merasa bangga berhasil menarik perhatian mereka.

Suaranya semakin lantang.

"Pasangan laki-laki dan perempuan yang tidak tahu malu ini akhirnya melahirkan seorang putri. Mereka menganggap aku sebagai si tolol yang mudah dikelabui. Putri itu dikatakan sebagai anakku!"

"Apakah putri yang diceritakan itu Tok-ku Hong adanya?"

Tiba-tiba salah seorang tamu tidak dapat menahan diri dan mengajukan pertanyaan itu.

"Tidak salah!"

Sahut Tok-ku Bu-ti dengan suara yakin dan tegas. Terdengar suara bising berupa kejutan dari para hadirin. Seluruh wajah Yan Cong-tian merah padam seketika.

"Maksudmu Wan Fei-yang dan Tok-ku Hong adalah saudara seayah lain ibu?"

Jawaban Tok-ku Bu-ti masih dua patah kata yang serupa. Dada Yan Cong-tian hampir meledak mendengar keterangan itu.

"Lalu, mengapa kau masih merestui mereka menikah menjadi suami istri?"

Bentaknya garang.

"Bukan aku yang sengaja melakukan hal itu. Mereka yang memohon do'a restu dariku,"

Sahut Tok-ku Bu-ti dengan nada yang demikian tenang.

"Sebelumnya, kau sudah tahu tentang hal ini bukan?"

Tanya Yan Cong-tian dengan nada tajam.

"Sebetulnya, aku paling tidak suka menyulitkan cinta kasih orang lain. Lagipula seandainya aku tidak mengabulkan, mereka pasti marah sekali. Mereka tentu akan mengatakan kalau aku orang tua yang tidak berpengertian. Bukankah lebih baik merestui saja?" 1285 Begitu marahnya Yan Cong-tian sehingga urat-urat hijau di keningnya bertonjolan keluar.

"Apakah kau masih mempunyai sedikit saja silat kemanusiaan?"

"Ini yang dinamakan hukum karma!"

Yan Cong-tian marah juga sedih. Dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa.

"Tapi kalian jangan khawatir. Perempuan busuk itu sampai di sini tepat pada waktunya. Sepasang pengantin baru itu belum sempat melakukan apa-apa."

Suara lega terdengar di sana sini.

Yan Cong-tian seperti baru saja terlepas dari beban yang berat.

Fu Hiong-kun yang sejak tadi berdiri di sudut baru berani melirik ke arah Wan Fei-yang.

Sejak tadi dia diam saja.

Mendengar ucapan Tok-ku Bu-ti yang terakhir, dia baru berani memandang ke arah Wan Fei-yang.

Sinar matanya menyorotkan perasaan iba yang dalam.

Terhadap nasib Wan Fei-yang yang demikian malang, dia hanya bisa merasa kasihan.

Bagaimana keadaan Hong cici sekarang?

Teringat akan Tok-ku Hong, Fu Hiong-kun tambah khawatir lagi.

Meskipun sifat Tok-ku Hong sangat keras, namun apakah dia dapat menahan pukulan batin yang demikian hebat, Fu Hiong-kun benar-benar tidak berani memastikan.

"Begini juga ada bagusnya...!"

Sinar mata Tok-ku Bu-ti beralih ke arah Sen Man-cing.

"Kalau tidak, para sahabat di dunia kangouw pasti mengira aku sengaja menutupi kebusukan ini, aku benar-benar tidak dapat menerimanya!"

Yan Cong-tian memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Aku yakin kata-kata itu bukan keluar dari hati kecilmu!" 1286 Sikap Tok-ku Bu-ti masih tenang-tenang saja.

"Iya juga boleh, bukan juga tidak apa-apa. Semuanya sudah terlanjur terjadi, setidaknya harus ada yang berani mengemukakannya agar menjadi jelas."

Yan Cong-tian memperhatikan Tok-ku Bu-ti dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Dia seperti baru melihat jelas Tok-ku Bu-ti hari ini.

"Meskipun Bu-ti-bun adalah sebuah aliran sesat dalam dunia persilatan, tapi selama ini aku selalu mengagumi kau, Buncu yang satu ini. Aku selalu menganggap bahwa kau masih tidak terlalu licik kalau dibandingkan dengan orang-orang Siau-yau-kok. Sekarang aku baru menyadari, meskipun manusia-manusia dari Siau-yau-kok adalah golongan manusia rendah, tapi masih belum ada setengahnya kalau dibandingkan denganmu!"

"Yan heng terlalu memandang tinggi diriku,"

Sahut Tok-ku Bu-ti benar-benar tidak tahu malu.

"Dengan melakukan semua ini, sebetulnya apa faedahnya bagi dirimu sendiri?"

Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya. Tidak ada,"

Sahutnya mengakui. Yan Cong-tian mendengus dingin.

"Tapi kau tetap melakukannya!"

Tok-ku Bu-ti tersenyum simpul.

"Seandainya kau mencintai seorang wanita dengan sepenuh hati. Dan setelah berhasil menikahinya, sebagai istrimu dia menyeleweng dengan orang lain, apa yang akan kau lakukan?"

Tanyanya tenang. 1287 Yan Cong-tian tertegun. Seumur hidup dia tidak pernah mengenal apa arti kata asmara, tentu saja dia tidak tahu bagaimana perasaan hati orang yang cemburu.

"Aku tidak tahu!"

Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang.

"Aku lupa bahwa kau adalah seorang tosu. Seumur hidup kau hanya tahu berlatih ilmu silat untuk mencapai tingkat tertinggi agar dapat mengharumkan nama Bu-tong-pai."

Dia berhenti sejenak.

"Kau sama sekali tidak mengerti apa yang dinamakan cinta kasih antara dua orang lawan jenis. Kau benar-benar seorang tosu sejati!"

Sekali lagi Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang.

"Biar aku katakan kepadamu. Per buatanku ini masih belum dapat dikatakan keterlaluan."

Yan Cong-tian terpaku di tempatnya.

"Dari awal sampai akhir, aku telah mengampuni jiwa Ci Siong sebanyak tiga kali. Aku juga tidak mencelakakan istriku yang jalang. Terhadap putri mereka aku juga selalu menyayangi seperti anak kandungku sendiri. Tahukah kau apa sebabnya?"

Tanya Tok-ku Bu-ti selanjutnya. Yan Cong-tian memandangnya dengan aneh.

"Apakah demi pembalasan seperti hari ini?"

Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya. Kalau bukan manusia she Fu yang mengatakannya, aku sendiri tidak tahu Wan Fei-yang adalah anak kandung Ci Siong."

Yan Cong-tian merenung sejenak.

"Lalu apa sebabnya?"

"Karena aku tidak memasukkan semua ini dalam hati,"

Kata Tok-ku Bu-ti dengan tegas.

"Sebelum ini, aku hanya 1288 memikirkan satu hal, yaitu bagaimana caranya agar aku dapat menguasai dunia persilatan!"

Yan Cong-tian manggut-manggut.

"Selama ni kau memang mengerahkan segala jerih payah untuk mencapai maksud yang satu ini."

"Sekarang Bu-ti-bun sudah tidak ada lagi,"

Kata Tok-ku Bu-ti sambil mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Munculnya Tian-can sinkang yang sudah sekian lama menghilang, benar-benar merupakan suatu pukulan yang hebat bagiku. Tadi aku mengira tidak ada ilmu lain lagi yang dapat menandingi Mit-kip sinkang milikku."

"Dalam keadaan putus asa dan tiada harapan lagi kau merencanakan pembalasan seperti ini,"

Akhirnya Yan Cong-tian mengerti perasaan hati Tok-ku Bu-ti.

"Semua ini bukan salahku sendiri,"

Kata Tok-ku Bu-ti dengan suara tajam.

"Juga kebetulan aku dapat menggunakan kesempatan ini untuk memberitahukan kepada para sahabat di dunia kangouw bahwa orang yang berasal dari sebuah partai lurus juga belum tentu seorang laki-laki sejati yang tidak pernah melakukan kesalahan!"

"Bocah tua Ci Siong ini..."

Gerutu Yan Cong-tian tanpa sadar.

"Sampai-sampai seorang Ciangbunjin juga dapat berbuat demikian, para murid yang diajarkannya juga belum tentu lebih baik dari para murid partai sesat seperti kami ini,"

Kata Tok-ku Bu-ti melanjutkan kembali.

Para hadirin yang mendengarkan kata-kata ini, semuanya memperlihatkan wajah sendu.

Tapi tidak ada seorang pun yang membuka suara.

Selama ini mereka selalu mengagumi Ci Siong tojin sebagai seorang Cianpwe dari dunia persilatan.

1289 Sekarang kenyataannya orang yang mereka kagumi itu dapat melakukan hal seperti ini.

Apa lagi yang dapat mereka katakan.

Melihat tampang mereka, hati Yan Cong-tian semakin tertekan, tapi di hatinya juga masih terselip sedikit harapan.

"Kau yakin Tok-ku Hong bukan putrimu?"

"Tentu saja aku yakin,"

Sahut Tok-ku Bu-ti. kemudian dia malah balik bertanya.

"Tahukah kau lwekang apa yang aku pelajari?"

"Mit-kip sinkang,"

Kata Yan Cong-tian tidak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Apa hubungannya? Apakah dengan berlatih ilmu itu kau tidak dapat mempunyai keturunan lagi barang seorangpun?"

"Memang demikian kenyataannya!"

Sahut Tok-ku Bu-ti mengaku terus terang. Yan Cong-tian tertegun. Sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

"Tidak heran namanya Mit-kip (putus turunan) sinkang!"

Tok-ku Bu-ti tidak marah. Malah penampilan wajahnya semakin tenang.

"Seseorang yang mabuk ilmu silat, meskipun pengorbanan yang dituntut tetap dapat dimaafkan."

Sekali lagi Yan Cong-tian tertegun.

"Tidak, salah!" 1290 Dia sendiri terpaksa mengakui. Karena seperti dirinya sendiri yang begitu gila mempelajari ilmu silat sampai-sampai rela untuk tidak menikah seumur hidup.

"Terhadap perbuatan busuk yang dilakukan Ci Siong tojin, entah bagaimana pendapat para murid Bu-tong-pai?"

Tanya Tok-ku Bu-ti. Wajah Yan Cong-tian juga tidak berubah. Hanya matanya saja yang menyorot lebih tajam.

"Apa pun yang dilakukannya, kita tidak dapat menyelidiki lebih jauh lagi. Sekarang toh dia sudah menjadi sesosok mayat yang telah dikuburkan!"

Yan Cong-tian berhenti sejenak.

"Lagipula masalah ini, aku rasa bukan keseluruhannya salah Ci Siong juga."

Tok-ku Bu-ti tertawa terkekeh-kekeh.

"Maksudmu?"

Mata Yan Cong-tian beralih ke wajah Sen Man-cing, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi dibatalkannya.

Tiba-tiba dia menyadari, pada saat seperti ini, apabila dia masih menyalahkan Sen Man-cing, tindakannya malah akan membuat nasib wanita itu menjadi semakin tragis.

Sinar mata Tok-ku Bu-ti mengikuti pandangan Yan Cong-tian.

Belum lagi dia mengatakan apa-apa, tubuh Sen Man-cing sudah terkulai di atas tanah.

Sepasang tangannya mendekap di dada.

Darah segar mengalir membasahi pakaiannya.

Dengan seruan terkejut, Fu Hiong-kun penghambur menghampiri.

Cepat-cepat dia memapah tubuh wanita itu.

"Hujin, kau...!" 1291 Mata Sen Man-cing masih membuka, dia tersenyum pilu.

"Sejak dulu aku sudah ingin mati. Aku masih bertahan hidup sampai hari ini adalah karena masih banyaknya persoalan yang membuat hatiku tidak tenang. Sekarang biarpun masih ada yang aku khawatirkan, lapi terpaksa aku harus membiarkannya."

Tangannya mengendur.

Sebuah tusuk konde yang hanya terlihat ujungnya saja menancap di dada wanita itu.

Fu Hiong-kun terkejut sekali.

Dengan panik Wan Fei-yang menerjang maju mendekati.

Dia juga ikut memperhatikan posisi tikaman tusuk konde itu, tanpa sadar keningnya berkerut.

"Fei Yang...."

Air mata Sen Man-cing mengalir dengan deras.

"Jaga baik-baik adikmu. Katakan kepadanya agar kelak jangan terlalu keras kepala lagi."

Ucapannya selesai, nyawanya pun melayang.

Perlahan-lahan Wan Fei-yang menjatuhkan dirinya berlutut di depan mayat wanita itu.

Tok-ku Bu-ti yang memperhatikan semua itu dari tempatnya, tidak dapat tersenyum lagi.

Bagaimana pun dia sebetulnya masih mencintai Sen Man-cing.

Kalau tidak, dia tentu tidak akan membiarkan istrinya hidup sampai saat ini.

Sinar mata Yan Cong-tian berpendar ke sekeliling kemudian beralih kembali ke arah wajah Tok-ku Bu-ti.

Dia tertawa dingin.

"Tentunya kau senang sekali sekarang,"

Sindirnya tajam. Tok-ku Bu-ti memaksakan dirinya terbahak-bahak.

"Senang bukan kepalang!"

Tiga kali berturut Yan Cong-tian memperhatikan Tok-ku Bu-ti dari atas kepala sampai ke bawah kaki, kemudian 1292 perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekati Wan Fei-yang.

Tok-ku Bu-ti mengusap air hujan yang membasahi wajahnya.

Dia memandang Yan Cong-tian dengan tatapan penasaran.

Yan Cong-tian berjalan ke depan beberapa langkah, tiba-tiba dia berhenti.

Kepalanya menoleh ke arah Tok-ku Bu-ti.

"Tadinya aku ingin menghajarmu sampai puas, sekarang malah keinginan itu sirna seketika!"

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Yan Cong Tian, apabila ada kata-kata yang ingin kau ucapkan, katakan saja terus terang, tidak usah pemutar balik seperti kaum perempuan!"

Yan Cong-tian memandangnya dengan tatapan dingin.

"Kau sendiri seharusnya mengerti!"

"Katakan!"

Teriak Tok-ku Bu-ti. Yan Cong-tian mencibirkan mulutnya sekilas. Kemudian dia mendengus satu kali.

"Membunuh manusia rendah seperti dirimu, hanya mengotor-kotorkan tanganku saja. Enyah kau dari sini!"

Bentaknya dengan mata mendelik. Wajah Tok-ku Bu-ti berubah hebat.

"Makian yang bagus. Sayangnya meskipun aku kepingin enyah dari sini, belum tentu Wan Fei-yang mengijinkannya!"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.

"Urusan ini biar dia tangani sendiri!"

Di pihak sana.

Wan Fei-yang sudah bangkit berdiri.

Kematian Sen Man-cing bukannya pembuat dia semakin 1293 kalap, malah penampilannya jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Yan Cong-tian menoleh kepadanya.

"Siau-fei, apakah kau ingin menyelesaikan semua masalah yang ada malam ini juga?"

Tanyanya lembut. Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.

"Bagus juga kalau demikian,"

Kata Yan Cong-tian selanjutnya. Dia membalikkan tubuhnya dan berseru lantang.

"Nyalakan lentera!"

Terdengar sahutan serentak.

Para murid Bu-tong-pai segera pergi menyiapkan lentera yang diperlukan.

Bibir Tok ku Bu t'i bergerak-gerak, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Sementara itu Wan Fei-yang sudah duduk di atas undakan batu di ujung koridor panjang.

Dia setiang menghimpun hawa murninya.

Mata para hadirin bertumpu pada diri Tok-ku Bu-ti.

Entah apa yang terkandung dalam hati mereka.

Tok-ku Bu-ti sendiri tetap tenang-tenang saja.

Dia membalikkan tubuhnya dan duduk bersila di hadapan gunung-gunungan yang terdapat di sudut halaman.

Dia juga menghimpun hawa murni serta mengatur tenaga dalamnya.

Kongsun Hong yang sejak tadi diam saja maju beberapa langkah.

Sampai di samping Tok-ku Bu-ti, dia menghentikan gerakan kakinya.

Dia berdiri tegak melindungi Suhunya itu.

Tok-ku Bu-ti memperhatikan sewaktu dia mendatangi.

"Kepulanganmu memang tepat waktunya,"

Sindirnya tajam Kongsun Hong tertawa getir.

"Sebetulnya Tecu bertemu dengan Subo di tengah perjalanan."

Tok-ku Bu-ti mendengus dingin.

"Mungkin semua ini memang sudah takdir yang kuasa. Bagus juga...." 1294 Wajah Kongsun Hong jadi serba salah.

"Suhu, masalah ini...."

"Semuanya memang telah kurencanakan,"

Sahut Tok-ku Bu-ti tenang. Kemudian dia balik bertanya.

"Apakah kau merasa tidak puas melihat keadaan ini dan menganggap Suhumu memang manusia rendah?"

Kongsun Hong menundukkan kepalanya.

"Tecu tidak berani!"

Tok-ku Bu-ti mendelikkan matanya lebar-lebar ke arah Kongsun Hong.

"Kalau kau ingin pergi, pergi saja. Bu-ti-bun sudah tidak ada lagi. Kau juga tidak perlu mengikuti aku selamanya!"

"Sehari mengangkat guru, seumur hidup tetap menjadi guru. Tecu bersumpah mengikuti dan mendampingi samping Suhu sampai kematian menjelang!"

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Walau kebusukan apa pun yang telah dilakukan gurumu ini?"

Kongsun Hong menggertakkan giginya sambil menganggukkan kepala.

"Walaupun kau memang seorang murid yang baik, tapi kau juga orang paling tolol yang pernah aku temui!"

Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak. Kepala Kongsun Hong tertunduk semakin rendah.

"Murid yang baik. Sekarang kau lindungi gurumu ini. Sebentar lagi kau lihat bagaimana aku akan membunuh bocah itu!"

Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar penuh keyakinan. 1295 Kongsun Hong hanya menganggukkan kepalanya.

"Kau tidak usah khawatir, dia pasti tidak sanggup membunuh gurumu ini,"

Kata Tok-ku Bu-ti selanjutnya.

Mendengar ucapan itu, tanpa terasa Kong sun Hong mendongakkan kepalanya.

Pada saat itu dia baru melihat jelas.

Meskipun Tok-ku Bu-ti berkata demikian, namun matanya menyorotkan sinar ketakutan.

*** Sinar matanya itu mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Tapi Kongsun Hong sudah terlalu mengenal diri Tok-ku Bu-ti.

Sekali lirik saja, dia sudah dapat membaca isi hati gurunya itu.

Apakah dia sedang marah, sedih, kecewa, senang atau ketakutan seperti sekarang.

Pengalaman menakutkan seperti sekarang hampir tidak pernah dirasakannya, tapi sekali ini saja sudah cukup bagi Tok-ku Bu-ti.

Kongsun Hong hanya pernah melihat sinar itu sebanyak tiga kali dengan yang sekarang ini.

pertama ketika Tok-ku Bu-ti sendiri melawan Thian-ti, Fu Giok-su, Hujan, Angin, Kilat dan Geledek.

Kedua kali ketika Yan Cong-tian bersama Wan Fei-yang mengerahkan tenaga Tian-can sinkang untuk membunuh Thian-ti.

Dan sekarang adalah ketiga kalinya dia melihat sinar ketakutan yang serupa tersorot dari mata Tok-ku Bu-ti.

Tempo hari ketika di Kuan-jit-hong, meskipun Kongsun Hong tidak melihat langsung sinar mata Tok-ku Bu-ti, tapi sebagai murid yang sangat paham akan diri gurunya, Kongsun Hong dapat merasakan ketakutan yang melanda gurunya itu.

Bagi Tok-ku Bu-ti sendiri, penampilannya sekarang ini sudah menyiratkan perasaan hatinya yang sesungguhnya.

1296 Kongsun Hong menoleh ke arah Wan Fei-yang.

Anak muda itu masih bersila di atas batu.

Matanya terpejam.

Tampangnya demikian tenang sehingga di luar dugaan Kongsun Hong.

Dia tidak tahu apakah dia masih membenci anak muda itu atau malah merasa iba kepadanya.

Kongsun Hong menatapnya lekat lekat.

Tanpa sadar dia menarik nafas panjang Sesungguhnya nasib Wan Fei-yang malah lebih malang daripadanya.

Namun kalau ditilik dan keadaannya sekarang, tampaknya Tok-ku Bu-ti sudah mengalami kekalahan sebanyak tiga bagian.

*** Satu demi satu lentera mulai dinyalakan.

Seluruh gedung itu menjadi terang benderang"

Seketika.

Hujan sudah mulai reda.

Hanya tinggal rintik-rintik kecil yang masih tersisa.

Kadang-kadang masih terdengar geledek bergemuruh.

Kilat pun masih menyambar, tapi tidak begitu mengejutkan seperti sebelumnya.

Akhirnya Wan Fei-yang membuka mata.

Penampilannya terlihat tenang sekali, namun matanya tetap memperhatikan sorot yang sedih.

Perlahan-lahan dia berdiri dan berjalan selangkah demi selangkah.

Sementara itu, Tok-ku Bu-ti juga sudah membuka matanya.

Dengan kesigapan yang dibuat-buat dia langsung berdiri.

Sambil berteriak lantang, tubuh Wan Fei-yang berkelebat cepat.

Dia yang pertama-tama menerjang ke depan.

Tok-ku Bu-ti tidak bersuara sama sekali.

Dengan sendirinya dia juga maju menyambut.

Empat pasang telapak tangan saling beradu.

Suara benturannya memekakkan telinga.

Kaki Tok-ku Bu-ti berubah-ubah gerakannya, kadang-kadang melangkah ke kanan, kadang-kadang ke kiri.

Sepasang telapak tangannya membentuk bayangan cepat.

Dalam sekejap mala, dia sudah menghantamkan telapak tangannya sebanyak dua 1297 puluh tujuh kali.

Setiap serangannya selalu ditujukan ke bagian tubuh Wan Fei-yang yang paling mematikan.

Namun perubahan gerakan yang dilakukan oleh Wan Fei-yang lebih cepat lagi.

Sepasang telapak tangannya bagai roda yang berputar cepat.

Mata pun sulit menangkap dengan jelas.

Hantaman demi hantaman saling susul menyusul membalas serangan Tok-ku Bu-ti.

Pik lek cang dari Bu-tong-liok-kiat tidak usah diragukan lagi kehebatannya.

Apa lagi dipadu dengan tenaga Tian-can sinkang yang dahsyat.

Sekali dilancarkan, tidak ada satu pun hadirin yang tidak tercengang.

Serangan telapak tangan Wan Fei-yang semakin gencar.

Seratus tujuh puluh kali hantaman telah dilancarkan.

Tok-ku Bu-ti terdesak sampai bawah tembok pekarangan Tiba-tiba kakinya melangkah mundur, sepasang telapak ditarik kembali.

Hawa murni dihimpun.

Dengan kekuatan yang mengerikan dia menerjang lagi ke depan.

Tubuh Tok-ku Bu-ti melesat ke atas.

Ilmu Mit-kip sinkang dikerahkan sepenuh tenaga.

Dia menyambut datangnya hantaman telapak tangan Wan Fei-yang dengan nekat.

"Blamm!"

Terdengar suara benturan yang bergemuruh.

Tubuh Wan Fei-yang terpental mundur tiga langkah.

Sedangkan tubuh Tok-ku Bu-ti amblas ke dalam tembok yang hancur seketika.

Debu-debu putih berhamburan ke mana-mana.

Tembok pekarangan itu bagai terbelah-belah.

Wajah Tok-ku Bu-ti pucat pasi.

Segumpal darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

Sepasang tangannya tetap mendekap di depan dada.

1298 Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang memutar kembali.

Belum sempat dia melancarkan serangan.

Di belakang tubuhnya terdengar desiran angin.

Segulung tenaga yang cukup kuat menekan dari atas.

"Beraninya hanya membokong!"

Dia mendengar suara bentakan Yan Cong-tian. Tanpa berpikir panjang lagi Wan Fei-yang menghantam telapak tangannya setelah membalikkan tubuh. Terdengar suara menggelegar terbit dari serangannya.

"Plak!"

Tubuh Wan Fei-yang tidak bergerak.

Malah orang yang diam-diam membokongnya terpental sampai jauh.

Orang itu tidak asing lagi.

Dia adalah Kongsun Hong.

Sepasang telapak tangannya beradu dengan hantaman telapak tangan Wan Fei-yang.

Isi perutnya tergetar hebat.

Darah segar muncrat dari mulutnya.

Dia menggelinding di atas tanah.

Dengan menahan sakit dia merangkak bangun dan menerjang lagi ke depan.

"Suhu, cepat lari!"

Teriaknya kalap.

*** Semua perbuatannya tidak luput dari perhatian Tok-ku Bu-ti.

Hatinya tergetar.

Sejenak dia merasa ragu.

Kemudian dia menggertakkan giginya serta bangkit berdiri.

Tanpa menunda waktu lagi dia langsung menerjang keluar.

Seumur hidupnya dia tidak pernah melakukan hal seperti ini.

Ujung matanya berkerut menandakan kepedihan hatinya.

Tapi Tok ku Bu fi sekarang sudah jauh berbeda dengan Tok-ku Bu-ti yang dulu.

Kewibawaannya sebagai seorang ketua sebuah perguruan sudah tidak ada lagi.

1299 Bu-ti-bun sudah hancur.

Buncu dari Bu-ti-bun ini juga hanya tinggal kenangan.

Dia tidak mempunyai keangkeran seperti sebelumnya.

Tingkah lakunya juga tidak segagah dulu lagi.

Namun dia tetap tidak menyadari bahwa semua ini adalah hasil perbuatannya sendiri.

Wan Fei-yang bermaksud mengejar.

Tapi serangan telapak tangan Kongsun Hong sudah tidak di depan mata.

Tentu saja dia tidak khawatir.

Dengan mudah dia menyambut serangan tersebut.

Keadaan Kongsun Hong sudah terluka.

Apabila dia menyambut lagi serangan balasan Wan Fei-yang, akibatnya tentu akan merugikan.

Sedangkan Wan Fei-yang tidak sempat lagi menghindarkan diri.

Mau tidak mau dia harus menyambut serangan ini.

Tubuh Kongsun Hong sekali lagi terpental ke belakang.

Dadanya basah kuyup oleh darah yang kembali muncrat dari mulutnya.

Tetapi murid Tok-ku Bu-ti itu memang keras kepala.

Hampir tidak berbeda dengan Tok-ku Hong.

Dengan mati-matian dia terus menyerang Wan Fei-yang.

Dia tidak mau memberi kesempatan bagi anak muda itu untuk mengejar Tok-ku Bu-ti.

Tentang Yan Cong-tian, dia sama sekali tidak khawatir.

Sebagai seorang Cianpwe, Yan Cong-tian pasti memegang perkataannya.

Tadi dia sudah mengatakan bahwa dia tidak sudi membunuh Tok-ku Bu-ti.

Kata-kata yang sudah dikeluarkannya pasti tidak akan ditariknya kembali.

Meskipun ilmu silatnya jauh lebih rendah dari Wan Fei-yang, tapi apabila Wan Fei-yang hendak melepaskan diri darinya, juga bukan hal yang mudah.

Apalagi keadaan Kongsun Hong yang sudah kalap begitu.

Dia menerjang Wan Fei-yang tanpa memperdulikan mati hidupnya sendiri.

Kecepatan serangan Wan Fei-yang sulit diuraikan dengan kata-kata.

Perubahan gerakannya juga hebat sekali.

Setelah berputaran beberapa kali.

kembali telapak tangan nya menghantam tubuh Kongsun Hong 1300 Darah sudah membasahi seluruh pakaian Kongsun Hong.

Isi perutnya sudah tergelar sehingga hancur berantakan.

Seandainya tabib sakti Hua To hidup kembali pun.

kemungkinan baginya untuk hidup sudah tipis sekali.

Dia sebenarnya sudah tidak kuat bertahan.

Tubuhnya menggelinding di atas tanah.

Darah dan debu membaur menjadi satu di seluruh tubuhnya.

Namun sepasang tangannya tetap merangkul kaki Wan Fei-yang erat-erat.

Sepasang telapak tangan Wan Fei-yang terangkat ke atas.

Dia sudah siap menghantamkan batok kepala Kongsun Hong, namun hatinya tidak tega melakukan perbuatan yang begitu keji.

"Kau... apa sebetulnya yang kau lakukan? Dia meninggalkan engkau tanpa memperdulikan nasibmu, tapi kau malah membelanya mati-matian!"

Kata Wan Fei-yang dengan suara parau.

"Biar... bagaimana dia... adalah guru... ku!"

Dengan susah payah Kongsun Hong mengucapkan kata-kata itu.

Air menetes membasahi seluruh wajahnya.

Entah air matanya yang berderai atau air hujan yang menetes dari atas.

Wan Fei-yang tertegun mendengar ucapannya.

"Jaga.... Su... moayku... baik-baik!"

Selesai berkata, cengkeraman tangan Kongsun Hong pada kaki Wan Fei-yang pun mengendur.

Nafasnya pun putus seketika.

Tanpa sadar Wan Fei-yang membungkukkan tubuhnya dan meraih Kongsun Hong yang hampir terkulai.

Mulutnya bergerak-gerak, tetapi tenggorokannya seperti tersendat.

Dia tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

1301 Air hujan masih terus turun membasahi tubuh Wan Fei-yang.

Perasaannya saat itu seakan sudah hambar.

Dia tetap termangu-mangu di tempat itu.

Bergeming sedikit pun tidak.

Yan Cong-tian berjalan menghampiri.

Sinar matanya terpusat pada diri Kongsun Hong.

Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.

"Tidak disangka seorang manusia rendah seperti Tok-ku Bu-ti bisa mempunyai seorang murid yang demikian berbakti."

Seluruh tamu yang hadir tidak mengucapkan sepatah katapun. Namun dalam hati mereka semua mengakui apa yang dikatakan Yan Cong Tian memang benar. Wan Fei-yang akhirnya membuka suara juga.

"Dia adalah seorang laki-laki sejati!"

Kata-kata itu merupakan pujian pada Kongsun Hong. Sinar mata Yan Cong-tian mengedar. Tembok di pekarangan telah hancur tidak karuan. Namun bayangan Tok-ku Bu-ti sudah tidak terlihat lagi.

"Sayangnya dia salah memilih Tok-ku Bu-ti sebagai guru."

Sinar mata Yan Cong-tian kembali terpusat pada mayat Kongsun Hong.

Sekali lagi dia menarik nafas panjang.

Sinar mata Wan Fei-yang juga tidak beralih dari tubuh Kongsun Hong.

Dia menggelengkan kepalanya dengan arti menyayangkan kematian laki-laki itu.

"Yan Supek tidak usah khawatir. Meskipun hari ini dia bisa melarikan diri, tapi kelak dia juga tidak mempunyai tempat lagi di dunia kangouw!"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya membenarkan pendapat Wan Fei-yang.

Anak muda itu masih memegang 1302 mayat Kongsun Hong.

Dia membopong tubuh itu dan berjalan ke ruangan ulama.

Tok-ku Bu-ti pasti tidak mempunyai muka lagi untuk berkecimpung di dunia kangouw.

Bagaimana dengan Wan Fei-yang sendiri?

** * Yan Cong-tian tidak mencegah Wan Fei-yang.

Dia hanya melangkah perlahan mengikuti Wan Fei-yang dari belakang.

Dia mengerti, perasaan Wan Fei-yang sekarang ini pasti sangat tertekan.

Dia juga sadar, betapa hebat pukulan yang diterima Wan Fei-yang akibat kejadian hari ini.

Tapi apa yang dapat dilakukannya?

Sementara itu, Fu Hiong-kun juga menghampiri mayat Sen Man-cing dan membopongnya.

Dia berdiri termangu-mangu.

Melihat Wan Fei-yang lewat di hadapannya, dia juga tidak memanggil.

Sinar matanya mengikuti punggung Wan Fei-yang yang memasuki ruangan utama.

Sepatah kata pun tidak terucap dari bibirnya.

Wan Fei-yang meletakkan mayat Kongsun Hong di tengah-tengah ruangan utama itu.

Kemudian dia balik kembali dan mengambil mayat Sen Man-cing dari bopongan Fu Hiong-kun.

Wajahnya datar sekali.

Dia seperti tidak melihat kehadiran Fu Hiong-kun.

"Wan Toako...!"

Panggil Fu Hiong-kun tanpa dapat menahan perasaan hatinya lagi.

Wan Fei-yang menoleh kepada Fu Hiong-kun.

Bibirnya tersenyum.

Tapi melihat senyuman itu, tanpa terasa tubuh Fu 1303 Hiong-kun menggidik.

Senyumnya lebih mirip seringai orang yang pikirannya sudah tidak waras.

Setelah tersenyum, Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya sambil membopong mayat Sen Man-cing menuju ruangan utama.

Fu Hiong-kun memandangi bayangan punggung Wan Fei-yang dengan termangu-mangu.

Sampai Yan Cong-tian berjalan menghampiri dan menepuk bahunya dengan lembut, dia baru tersentak sadar.

"Hiong-kun...."

Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Pergilah kau nasihati Siau-fei...."

"Aku?"

Fu Hiong-kun tertawa getir.

"Saat ini hanya engkau seorang yang masih mempunyai kemungkinan untuk menyadarkan dia."

Yan Cong-tian juga tersenyum pahit.

"Orang yang kaku dan tidak banyak bergaul seperti aku ini, benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk membujuk dirinya agar tabah menghadapi semua ini."

"Baiklah... aku akan mencoba."

Fu Hiong-kun sama sekali tidak mempunyai keyakinan.

Meskipun sudah berkali-kali dia menghadapi marabahaya bersama Wan Fei-yang, dan hubungan mereka cukup akrab, namun pukulan batin yang diterima Wan Fei-yang kali ini Sesungguhnya terlalu berat.

Juga terlalu hebat.

Fu Hiong-kun memandang Yan Cong-tian sekali lagi.

Akhirnya dengan susah payah dia menggerakkan kakinya.

Yan Cong-tian juga mengikuti langkah kaki Fu Hiong-kun.

Dia sendiri tidak dapat tenang, juga tidak yakin bahwa Fu Hiong-kun akan berhasil.

Setidaknya bujukan dua orang mungkin lebih baik dari pada satu orang saja.

1304 Di dalam ruangan utama hanya terlihat mayat Kongsun Hong dan Sen Man-cing yang tergeletak di atas tanah.

Sedangkan bayangan Wan Fei-yang pun tidak terlihat lagi.

Fu Hiong-kun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

"Wan Toako...!"

Tanpa sadar dia berteriak.

Pada saat itu Yan Cong-tian masih melangkah dengan lambat.

Mendengar teriakan Fu Hiong-kun, dia menghambur ke dalam ruangan.

Dia juga memandang ke sekeliling ruangan tersebut.

"Di mana Siau-fei?"

Tanyanya panik. Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya.

"Entah ke mana perginya Wan Toako."

"Dalam keadaan seperti sekarang ini, apabila dia berlari tanpa tujuan, tentu mudah terperangkap bahaya. Kita harus menemukannya...!"

Kata Yan Cong-tian gugup.

Dia langsung menghambur keluar dari ruangan itu.

Fu Hiong-kun segera menyusul dari belakang.

Baru saja mereka menghambur keluar dari ruangan utama itu, terlihat seseorang menyongsong dari depan.

Dia adalah murid Bu-tong-pai, Yo Hong.

Melihat Yan Cong-tian, dia mempercepat langkah kakinya.

"Supek, Wan Fei-yang berlari ke arah sana. Aku sudah berteriak-teriak memanggilnya, namun dia tidak menggubris. Kau orang tua...."

"Arah mana yang diambilnya?"

Tukas Yan Cong-tian membentak.

Yo Hong mengangkat tangannya menunjuk.

Tanpa menunggu dia berbicara, Yan Cong-tian sudah menghambur 1305 bagai seekor kuda yang terkena pecutan.

Dengan panik Fu Hiong-kun mengejar.

Tapi ilmu ginkangnya memang terpaut jauh dengan Yan Cong-tian.

Dalam sekejap mata dia sudah tertinggal jauh di belakang.

** * Di daerah pegunungan angin malah lebih kencang.

Hujan juga rasanya lebih deras.

Kilat masih menyambar memperlihatkan keperkasaannya.

Alam tiba-tiba bercahaya tersorot sinarnya.

Pemandangan di sekeliling dalam sekilas seperti dunia lain.

Seperti planet-planet lain di angkasa luar yang asing sama sekali.

Tetes hujan sebesar kacang kedelai jatuh membasahi pepohonan.

Tetesan air itu menimbulkan suara seperti musik yang indah, orang yang mendengarkannya tentu akan terlena.

Tapi tidak demikian halnya dengan Wan Fei-yang.

Perasaannya sudah hambar sama sekali.

Dengan terpaku dia berdiri di hadapan sebatang pohon yang besar.

Dia biarkan angin menghembusi dirinya sehingga pakaiannya melambai-lambai.

Dibiarkannya hujan membasahi tubuhnya sehingga basah kuyup.

Mungkin dia sendiri tidak tahu di mana dia sekarang berada.

Matanya menerawang ke kejauhan.

Tapi tak ada pemandangan apa pun yang dilihatnya, hanya bayangan seorang gadis yang masih tetap terpantek dalam benaknya.

"Ternyata Tok-ku Hong adalah adikku sendiri..."

Gumamnya seorang diri.

Sejak tadi, entah sudah berapa puluh kali dia menggumamkan kata-kata yang sama.

Sampai-sampai Yan Cong-tian yang sudah menemukan dirinya berdiri di sampingnya, Wan Fei-yang masih belum sadar.

Dalam otaknya hanya terlintas bayangan Tok-ku Hong.

Bagaimana pertama-tama ia mengenalnya, bagaimana mereka saling bermusuhan kemudian berbaikan kembali.

Bagaimana mereka saling memperhatikan dan merindukan 1306 satu dengan lainnya secara diam-diam.

Bagaimana mereka melewati segala macam rintangan sehingga akhirnya dapat terikat menjadi suami istri.

Suami istri?

Apakah mereka sekarang masih dapat dikatakan sebagai suami istri?

Wan Fei Kang tidak berani membayangkan seandainya semuanya sudah terlanjur terjadi.

Haruskah dia membenci Sen Man-cing yang menggagalkan malam pengantin mereka.

Atau dia harus berterima kasih kepadanya?

Tiba-tiba dia teringat bahwa Sen Man-cing sudah menjadi sesosok mayat di dalam ruangan besar.

Mayat?

Siapa yang membunuhnya?

Tok-ku Hong?

Tidak!

Tidak mungkin...

gadis itu begitu manis, begitu lembut....

Tanpa sadar pikirannya kembali lagi pada diri Tok-ku Hong yang ceria, nakal, keras kepala.

Seharusnya semua itu merupakan kenangan yang manis.

Sekarang malah berubah menjadi arak beracun yang menghancurkan hatinya.

Rasa perih yang ditimbulkan tidak terkirakan.

Mulutnya yang masih menggumam akhirnya tidak dapat bertahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya.

Tinjunya terkepal erat-erat.

Tiba-tiba dia membalikkan tubuh dan meninju batang pohon yang besar itu.

Kiri sekali, kanan sekali, terus menerus dia meninju dengan kalap.

Yan Cong-tian tidak mencegah.

Melihat keadaan Wan Fei-yang yang mengenaskan itu, tanpa sadar air mata mengalir deras dari matanya yang tua.

Peristiwa yang dialami Wan Fei-yang seumur hidupnya selalu menyedihkan, namun yang kali ini justru yang paling parah.

Meskipun orang yang lebih keras lagi perangainya, tetap saja sulit menerima penderitaan ini.

Yan Cong-tian merasa nasib seakan terus menerus mempermainkan Wan Fei-yang.

Tidakkah Thian bersedia 1307 memberikan sedikit saja kebahagiaan untuk anak muda yang malang ini?

"Brak!"

Akhirnya pohon itu tumbang karena tidak kuat menerima pukulan Wan Fei-yang yang terus menerus.

Kepalan tangan anak muda itu masih terus meninju ke depan, hampir saja dia ngusruk karena pohon itu sudah roboh di atas tanah.

Saat itulah, dia baru menghentikan gerakannya dan berdiri dengan termangu mangu.

Yan Cong-tian mengulurkan tangannya menekan pundak Wan Fei-yang.

"Siau-fei, sudahlah...."

Perlahan-lahan Wan Fei-yang membalikkan tubuhnya. Lama sekali dia menatap Yan Cong-tian.

"Supek...."

Akhirnya dia menyapa dengan suara parau.

"Pluk!"

Dia menjatuhkan dirinya berlutut di atas tanah.

Dipeluknya sepasang kaki Yan Cong-tian dan menangis tersedu-sedu.

Angin masih bertiup, hujan juga masih turun.

Sampai kapan semuanya baru berhenti?

*** Kesedihan Tok-ku Hong sudah dapat dibayangkan pasti tidak di bawah penderitaan Wan Fei-yang.

Seluruh tubuhnya basah kuyup.

Dengan susah payah dan tanpa tujuan dia terus menyeret langkah kakinya menerjang ke depan.

Di bawah hujan badai dan kegelapan malam yang pekat, memang tidak mudah membedakan jalan yang ada di hadapannya.

Dengan pikiran kacau seperti saat itu, Tok-ku Hong semakin tidak memperdulikannya.

Dunia begini luas, dari mana dia datang dan kemana tujuannya.

Tok-ku Hong bahkan hampir tidak mengingat siapa 1308 dirinya.

Saat itu dia seperti seorang anak bayi yang baru dilahirkan.

Dia seakan tidak tahu apa-apa.

Juga tidak sadar bahwa dengan terus berjalan tanpa tujuan seperti saat itu, akhirnya dia kembali lagi ke tempat semula.

Bukan tempat di mana Sen Man-cing bunuh diri tapi di daerah yang tidak jauh dari tempat itu.

Kilat terus menyambar.

Tiba-tiba di hadapannya muncul seseorang.

Air mata Tok-ku Hong masih menggenang di pelupuk mata, namun kesadarannya belum hilang sama sekali.

Dia masih mengenali orang yang muncul di hadapannya ialah Fu Hiong-kun.

Tanpa sadar, langkah kakinya berhenti.

Malah Fu Hiong-kun yang mempercepat langkahnya.

Dengan panik dia menghambur kc depan Tok-ku Hong.

"Hong cici...!"

Serunya dengan bibir bergetar.

"Hiong-kun!"

Sahut Tok-ku Hong dengan tertegun. Sahutan itu seperti tercetus begitu saja dari mulutnya. Fu Hiong-kun mengulurkan tangannya memapah Tok-ku Hong.

"Hong cici.... Urusan ini aku sudah tahu semuanya. Aku mengerti bagaimana perasaanmu saat ini."

Rasa pedih menyelimuti hati Tok-ku Hong.

Dia terkulai lemas di pelukan Fu Hiong-kun.

Air matanya mengalir dengan deras.

Dia tidak merasa cemburu kepada Hiong-kun lagi.

Dia juga masih sadar bahwa hati gadis yang satu ini tulus sekali.

Fu Hiong-kun menarik nafas dengan pilu.

"Padahal sepanjang perjalanan aku terus berdoa demi kebahagiaan kalian berdua. Siapa sangka...." 1309 Belum lagi ucapannya selesai, Tok-ku Hong sudah menangis dengan suara meratap. Fu Hiong-kun tidak jadi meneruskan kata-katanya. Dia memeluk Tok-ku Hong erat-erat. Dia sama sekali tidak mencegah atau membujuk gadis itu agar diam. Dapat menangis dengan sepuas-puasnya, bagi Tok-ku Hong malah merupakan suatu hal yang dapat meringankan penderitaan hatinya. Dia hanya merangkul Tok-ku Hong erat-erat. Akhirnya dia sendiri tidak dapat menahan kesedihan hatinya. Dia juga ikut menangis dengan terisak-isak. Kedua gadis itu saling berpelukan. Di bawah hembusan angin kencang dan curahan hujan lebat, mereka saling mengeluarkan kesedihan hatinya dengan tangisan pilu. Entah berapa lama sudah berlalu. Tangisan Tok-ku Hong mulai reda. Dia menarik dirinya dari pelukan Fu Hiong-kun dan memegang pundak itu erat-erat.

"Hiong-kun, kabulkanlah permintaanku..."

Katanya dengan suara parau.

"Hong cici, jangan ragu-ragu. Katakan saja...."

"Harap kau bersedia menjaga Siau.... Toako ku baik-baik...."

Tanpa menunggu jawaban dari Fu Hiong-kun, Tok-ku Hong langsung membalikkan tubuhnya dan terus lari dengan kecepatan tinggi.

Jilid 29 Fu Hiong-kun tertegun sejenak. Kemudian dia tersentak sadar....

"Hong cici!"

Teriaknya panik.

1310 Tok-ku Hong dapat mendengar suara panggilan Fu Hiong-kun, namun dia tidak memperdulikannya.

Dalam sekejap mata, dia sudah menghilang dalam kegelapan malam.

Fu Hiong-kun mengejar beberapa tindak, kemudian dia menghentikan langkah kakinya.

Dia memandang arah yang ditempuh oleh Tok-ku Hong, air matanya mengalir semakin deras.

Mengapa nasib mempermainkan mereka semua?

Tadinya dia sudah rela Wan Fei-yang menikah dengan Tok-ku Hong.

Setelah apa yang diperbuat Fu Giok-su dan Thian-ti terhadap Wan Fei-yang, dia sudah merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan anak muda itu.

Namun mengapa takdir malah menentukan hal yang membuatnya lebih sakit lagi.

Dia lebih rela melihat Wan Fei-yang menikahi Tok-ku Hong dari pada kenyataan yang demikian menyakitkan.

Baik Wan Fei-yang ataupun Tok-ku Hong merupakan sahabat baiknya.

Hatinya tidak dapat menahan kepedihan melihat penderitaan yang terpaksa mereka hadapi.

Mengapa mereka harus terlahir sebagai kakak beradik?

Mengapa nasib bisa mempertemukan mereka sehingga terlibat dalam cinta kasih yang kacau ini...?

Untung Wan Fei-yang dan Tok-ku Hong belum sempat melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan aib seumur hidup itu.

Untung?

Apakah dalam masalah ini masih pantas diselipkan kata-kata 'untung'?

Dia teringat kata-kata yang diucapkan oleh Sen Man-cing ketika dia mengatakan bahwa Wan Toako adalah putra Ci Siong tojin.

Itulah sebabnya maka wanita itu mengatakan bahwa Tok-ku Hong tidak bisa menikah dengan Wan Fei-yang.

Kelak Wan Fei-yang hanya boleh menjadi miliknya.

Waktu itu dia sama sekali tidak mengerti.

Dia mengira Sen Man-cing merasa kasihan terhadapnya karena memendam perasaan cinta secara diam-diam.

1311 Kalau saja dia tidak menceritakan kepada nyonya itu apa yang didengarnya di kota tempo hari, tentu Sen Man-cing tidak keburu datang mencegah pernikahan Wan Fei-yang dan Tok-ku Hong.

Rupanya semua ini memang sudah ditentukan oleh takdir.

Fu Hiong-kun adalah seorang gadis yang baik.

Dalam keadaan seperti ini, dia tidak memikirkan bahwa kemungkinan ialah kelak yang akan menjadi istri Wan Fei-yang.

Satu-satunya hal yang terlintas dalam benaknya saat itu adalah menemukan Wan Fei-yang dan membujuknya agar jangan sampai melakukan perbuatan yang bodoh.

*** Lilin merah masih menyala.

Air mata kepedihan sudah kering.

Air mata Wan Fei-yang memang sudah terkuras habis.

Dia duduk termangu-mangu di depan meja dan memandangi sepasang lilin merah bergambar liong hong yang menjadi lambang pernikahan dengan Tok-ku Hong.

Malam panjang sudah berlalu.

Hujan angin sudah reda.

Cahaya matahari sedikit demi sedikit menyembul di ufuk timur dan menerobos lewat jendela kamarnya.

Cahaya matahari juga menyoroti wajah Wan Fei-yang.

Tidak ada sedikit reaksi pun pada diri anak muda itu.

Dari atas genting masih menetes titik-titik sisa air hujan yang menggenang.

Cahayanya berkilauan disorot sinar mentari pagi.

Seperti butiran mutiara yang indah, juga laksana air mata yang pedih.

Pintu kamar terdorong dari luar.

Fu Hiong-kun melangkah masuk dengan semangkok bubur di tangan.

"Wan toako sudah bangun?"

Mulutnya bertanya demikian, tapi diam-diam dalam hati dia menarik nafas panjang.

1312 Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalau Wan Fei-yang tidak tidur sepanjang malam.

Wan Fei-yang tidak menyahut.

Dia bahkan seperti tidak menyadari kehadiran Fu Hiong-kun.

Juga tidak mendengar sapaan gadis itu.

Fu Hiong-kun meletakkan mangkok berisi bubur di atas meja.

Sekali lagi dia menarik nafas dalam-dalam.

"Wan Toako..."

Wan Fei-yang bagai tersentak dari lamunan. Dia memandang Fu Hiong-kun dengan wajah keheranan.

"Kapan kau masuk ke mari?"

Pertanyaannya juga aneh. Fu Hiong-kun tertawa getir.

"Barusan,"

Sahutnya singkat. Wan Fei-yang termenung kembali. Wajahnya semakin kelam.

"Hong.... Di mana adikku sekarang?"

Tanyanya lirih. Fu Hiong-kun tidak langsung menjawab. Dia seperti sedang mempertimbangkan apakah dia harus mengatakan dengan terus terang. Akhirnya dia merasa harus mengatakan hal yang sebenarnya.

"Dia sudah pergi."

"Pergi?"

Wan Fei-yang tampaknya masih ingin mengatakan sesuatu, namun dia membatalkan nya. 1313

"Dia baik-baik Saja. Kau tidak usah khawatir."

Fu Hiong-kun memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

"Lebih baik kau makan dulu bubur ini. Mumpung masih hangat."

Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu... aku taruh di atas meja. Terserah kau kapan baru mau makan, tapi kau harus makan ya?"

Tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, dia langsung membalikkan tubuhnya serta berkata.

"Aku keluar dulu."

Baru saja Wan Fei-yang bermaksud memanggil Fu Hiong-kun agar membawa mangkok berisi bubur itu karena dia tidak berselera untuk makan, tapi gadis itu sudah melangkah keluar dengan tergesa-gesa.

Sesampainya di koridor panjang, air mata Fu Hiong-kun tidak dapat tertahan lagi.

Dia menangis tersedu-sedu.

Sesungguhnya dia tidak sanggup melihat keadaan Wan Fei-yang yang seperti orang kehilangan gairah hidup itu.

Tepat pada saat itu Yan Cong-tian muncul dari tikungan yang satunya.

Dia menatap Fu Hiong-kun sekilas.

"Bagaimana keadaannya?"

Tanyanya penuh pengertian.

"Masih duduk termangu-mangu di samping meja. Dia tidak tidur sepanjang malam,"

Sahut Fu Hiong-kun dengan suara tersendat-sendat. Yan Cong-tian menatap Fu Hiong-kun sambil menarik nafas panjang.

"Hiong-kun, kami telah membuatmu menderita...."

Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Tidak... aku tidak menderita...!" 1314 Air matanya mengalir semakin deras. *** Tiga hari berlalu. Mayat Sen Man-cing dan Kongsun Hong telah dikuburkan secara layak. Yan Cong-tian memberi perintah kepada Yo Hong untuk mengatur segalanya. Upacara sembahyang berlangsung dengan sederhana. Sebagian tamu yang masih belum pulang mengikuti upacara sembahyang dengan khidmat. Dalam hati mereka tidak ada perasaan menghina Sen Man-cing, mereka malah merasa iba terhadap nasib wanita ini. Demikian pula kesan mereka terhadap Kongsun Hong. Laki-laki yang satu ini lebih patut dihargai daripada gurunya sendiri. Dengan perasaan tulus, Fu Hiong-kun berlutut di depan peti mati Sen Man-cing bertindak sebagai wakilnya. Sedangkan Yo Hong dan Yan Cong-tian berlaku sebagai pihak keluarga Tok-ku Hong dalam menyambut tamu yang memberikan penghormatan terakhir. Sen Man-cing dan Tok-ku Hong sama-sama bernasib malang. Mereka adalah dua insan yang seumur hidupnya menderita karena cinta. Kematian Sen Man-cing mungkin masih dapat dimengerti oleh orang-orang yang hadir. Sedangkan kematian Kongsun Hong memang patut disayangkan. Tok-ku Bu-ti tidak berhak mendapat pembelaan demikian tinggi dari muridnya. Namun apa yang harus dikatakan lagi. Nasi toh sudah menjadi bubur. Yang mati tidak mungkin dapat hidup kembali bukan? *** Selama liga hari itu juga, keadaan Wan Fei-yang masih belum berubah. Jangan kata makan, setetes air pun tidak pernah membasahi bibirnya. Fu Hiong-kun tidak berputus asa. 1315 Tanpa mengenal kata lelah, dia terus membujuk Wan Fei-yang dan menasehatinya. Meskipun dia mengerti perasaan Wan Fei-yang, lapi dia juga khawatir kalau keadaan demikian berlangsung terus, kesehatan Wan Fei-yang pasti akan terpengaruh. Yan Cong-tian juga sama cemasnya. Sampai hari keempat dia masih juga melihat Fu Hiong-kun keluar dari kamar Wan Fei-yang dengan mangkok berisi bubur yang masih utuh. Sepasang alisnya yang sudah berubah warna langsung terangkat ke atas. Yan Cong-tian tidak mengajukan pertanyaan. Fu Hiong-kun juga tidak berkata apa-apa. Dia hanya lewat di samping Yan Cong-tian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Bibirnya mengembangkan senyuman pahit. Tanpa sadar Yan Cong-tian mengikuti dari belakang. Sesampainya di ruangan dalam, dia melihat Fu Hiong-kun menuangkan kembali bubur yang dibawanya ke dalam panci. Sekali lagi Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Apa sebetulnya yang memenuhi benak anak itu?"

Gerutu Yan Cong-tian kesal. Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya.

"Dia hanya terlalu sedih. Sekarang apa yang harus kita perbuat adalah membantunya melupakan peristiwa yang terjadi malam itu. Kalau bisa biar dia tinggalkan tempat ini untuk sementara."

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku rasa tidak mudah baginya untuk melupakan peristiwa malam itu."

"Nasib Wan Toako memang patut dikasihani!" 1316

"Hiong-kun, hatimu begitu baik, wajahmu juga cantik jelita. Aku tidak mengerti mengapa Siau-fei...."

Baru berkata setengahnya saja, Yan Cong-tian tersadar bahwa dalam situasi seperti ini sebetulnya dia tidak boleh mengucapkan perkataan demikian. Cepat-cepat dia mengalihkan pokok pembicaraan.

"Tidak boleh.... Kalau begini terus, bukan saja dia mencelakakan dirinya sendiri, orang lain juga ikut repot. Aku harus bersikap tegas kepadanya dan memarahinya habis-habisan biar pikirannya tersadar. Dia harus ingat perjalanannya masih panjang dan sama sekali tidak boleh kehilangan gairah hidup karena persoalan ini. Tentu Tok-ku Bu-ti semakin senang apabila dia mengetahuinya!"

Selesai berkata dia langsung membalikkan tubuhnya menghambur keluar.

Fu Hiong-kun bermaksud mencegahnya, namun sudah terlambat.

Dia terpaksa menyusul di belakang Yan Cong-tian.

*** Pintu kamar tertutup rapat.

Yan Cong-tian mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Tidak terlihat bayangan Wan Fei-yang.

Hanya ada sepucuk surat yang tergeletak di atas meja di samping lilin merah yang telah padam.

Yan Cong-tian mengedarkan pandangannya.

Cepat dia menghambur ke depan meja.

Diambilnya surat yang tergeletak itu dan dibacanya sampai selesai.

Matanya membelalak sebesar telur burung puyuh.

Fu Hiong-kun juga sudah menyusul tiba.

Melihat Yan Cong-tian yang termangu-mangu dia segera menghampiri.

"Ada apa dengan Wan Toako?"

Tanyanya panik. 1317 Yan Cong-tian menarik nafas dalam-dalam. Dia menyodorkan surat yang ditinggalkan Wan Fei-yang kepada Fu Hiong-kun.

"Dia pergi ke luar perbatasan!"

Fu Hiong-kun tertegun.

Dia menerima surat itu dengan membacanya berulang kali.

Akhirnya dia jatuh terduduk di atas bangku dengan lemas.

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya dan menarik nafas sekali lagi.

"Kepergiannya mungkin ada baiknya. Jauh lebih baik daripada menyiksa diri sampai mati di tempat ini."

Fu Hiong-kun hanya mengangguk seperti orang linglung. Yan Cong-tian menolehkan kepalanya memandang Fu Hiong-kun. Dia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.

"Usia Siau-fei sudah tidak kecil lagi. Ilmu silatnya tinggi sekali. Kau tidak usah khawatir akan terjadi apa-apa pada dirinya."

Fu Hiong-kun tetap mengangguk tanpa berkata apa-apa.

"Kalau Siau-fei sudah pergi ke luar perbatasan, kita juga tidak perlu berdiam di sini lagi,"

Kata Yan Cong-tian selanjutnya. Bibir Fu Hiong-kun bergerak, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, lapi Yan Cong-tian sudah menukasnya kembali.

"Kau toh tidak punya tujuan yang pasti. Lebih baik kau ikut aku saja kembali ke Bu-tongsan."

Fu Hiong-kun mempertimbangkan sekilas kemudian dia menganggukkan kepalanya menyetujui usul Yan Cong-tian. Dengan langkah perlahan Yan Cong-tian keluar dari kamar itu. Matanya mengedar.

"Nama Bu-ti-bun tinggal kenangan. Tempat ini merupakan markas di mana setiap rencana kejahatan Bu-ti-bun dipersiapkan. Dibiarkan tentu tidak ada 1318 gunanya. Malah ada kemungkinan digunakan oleh golongan sesat yang lain. Lebih baik kita bakar saja sampai habis!"

Katanya tegas.

Sisa kehancuran Bu-ti-bun juga ditentukan oleh kata-kata Yan Cong-tian ini ** * Kepergian Yan Cong-tian meninggalkan Bu-ti-bun juga dikarenakan peristiwa mengenaskan yang dialami oleh Wan Fei-yang.

Seandainya semua berjalan dengan lancar tanpa adanya berbagai kejadian, mungkin Yan Cong-tian juga tidak tergesa-gesa kembali ke Bu-tong-san dan mengambil keputusan yang terakhir itu.

Angin yang kencang membantu berkobarnya api.

Yan CongTian sudah memberi perintah agar tidak ada sedikit barang pun yang boleh tertinggal.

Markas besar Bu-ti-bun itupun langsung menjadi lautan api dengan seluruh isinya.

Api menyala selama dua hari satu malam.

Setelah turun hujan deras sepanjang malam, keesokan harinya api mulai padam dan berhenti perlahan-lahan.

Tidak ada satu bagian pun dari markas pusat Bu-ti-bun yang masih utuh.

Sejauh mata memandang, di mana pun hanya tinggal puing-puing yang berserakan.

Reruntuhan tembok berwarna hitam pekat.

Tampaknya menyayatkan hati apabila orang tidak tahu apa tempat itu sebelumnya dan mengapa Yan Cong-tian memberi perintah membumihanguskan semuanya sampai rata.

Sampai menjelang senja hari hujan masih turun terus.

Bahkan lebih deras dari sebelumnya.

Sesosok bayangan bagai roh yang gentayangan muncul di depan bekas pintu gerbang Bu-ti-bun.

Tembok batu yang tadinya merupakan batas pekarangan sudah retak dan hitam hangus.

Sama sekali tak terlihat sepercik pun api, yang tinggal hanya sisanya saja.

1319 Namun di mata orang itu terlihat api yang berkobar-kobar.

Api kemarahan!

Sepasang tinjunya terkepal erat.

Rambut kepala, pakaiannya, dari atas ke bawah sudah basah kuyup di basahi air hujan.

Punggungnya saja seperti tidak dapat ditegakkan lagi karena diterpa hujan yang turun terus menerus.

Dia seakan tidak dapat melupakan keperkasaan tempo dulu, di mana setiap orang merasa gentar hanya karena mendengar namanya saja.

Tok-ku Bu-ti!

Sejak pagi dia sudah datang.

Matanya memandang kobaran api yang melalap habis bekas markas Tok-ku Bu-ti itu.

Dia tidak menemukan akal untuk menghentikannya.

Hatinya ikut tersayat melihat markas Bu-ti-bun itu hangus oleh kobaran api sedikit demi sedikit.

*** Pikirannya menerawang.

Dendam membara dalam hatinya.

Ketika Bu-ti-bun dihancurkan oleh Siau-yau-kok, setidaknya dia masih mempunyai Tok-ku Hong dan putrinya, Tok-ku Hong.

Putrinya?

"Huh!"

Dia tidak mempunyai putri. Bahkan dia tidak mempunyai siapa-siapa sekarang.

"Bu-ti-bun.... Bu-ti-bun...."

Gumamnya berulang kali.

Dadanya bergemuruh.

Nafasnya tersengal-sengal.

Matanya menyorotkan cahaya yang mengerikan.

Kemudian dia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa itu lebih mirip pekikan histeris manusia yang otaknya sudah tidak waras.

Suara tawa itu terpancar dari hatinya yang terlalu sakit.

Begitu kerasnya sehingga berkumandang sampai di kejauhan.

1320 Keadaan Tok-ku Bu-ti saat ini memang sudah hampir memasuki taraf abnormal *** Tengah hari.

Hari ini keadaan Pek ka cik tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Di jalan raya yang terdapat di tengah-tengah dusun tersebut, terlihat orang berlalu lalang tiada hentinya.

Masih juga meriah seperti biasanya.

Pek ka cik adalah nama lama.

Nama itu diambil karena penduduk yang tinggal di daerah itu tadinya memang terdiri dari seratus keluarga.

Sekarang sudah mencapai ribuan.

Namun nama yang diberikan tetap dipakai sampai saat ini.

Letak tempat itu sangat strategis.

Para pedagang yang mondar-mandir di tempat ini juga banyak sekali.

Hal tersebut juga merupakan salah satu sebab mengapa semakin hari tempat itu semakin banyak penduduknya.

Orang-orang yang hendak menuju ke utara ataupun ke selatan, memang harus melalui Pek ka cik.

Dengan demikian mereka tidak perlu melintasi hutan yang lebat atau gunung yang masih banyak binatang buasnya.

Sekalian merupakan tempat yang sesuai untuk menginap barang satu dua malam sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Di wilayah seperti ini, manusia model apa atau berprofesi apa pun yang datang, tentu tidak terlalu menarik perhatian.

Sebagai daerah perlintasan, memang banyak orang yang singgah di dusun itu.

Dengan hanya mengenakan topi pandan yang lebih rendah dari orang-orang umumnya, kecuali orang lain sengaja membungkukkan tubuh untuk melirik, wajah yang tertutup sebagian oleh topi pandan tersebut jadi lak mudah terlihat.

Selain itu dia masih mengenakan sehelai kain hitam 1321 untuk menutupi bagian kiri kanan wajah dan mengikatnya di bawah dagu.

Orang ini berjalan merapat di tembok-tembok rumah orang.

Tampaknya dia berusaha menghindar dari pandangan penduduk yang lalu lalang.

Setiap langkah kakinya tidak berubah.

Seperti sudah diukur dengan seksama.

*** Di dekat tikungan ujung jalan, ada seorang laki-laki peramal nasib.

Di alas meja kecil di hadapannya terpapar berbagai macam benda yang diperlukan untuk meramal.

Semuanya tersusun di atas sehelai kain putih yang sudah lusuh.

Rona wajahnya seperti orang yang kurang sehat.

Pucatnya hampir menyerupai kain di atas mejanya yang kumal.

Sepasang biji matanya juga hampir putih semuanya.

Sepertinya peramal itu juga buta matanya.

Orang yang mengenakan topi pandan serta wajahnya hampir tidak erlihat itu pun berhenti di depan meja peramal nasib tersebut.

Tukang ramal itu tidak memperdulikan kehadirannya.

Dia terus mengocok tabung bambu berisi kayu-kayu panjang.

Cukup lama juga sampai tiba-tiba dia menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya.

Tangannya berhenti bergerak.

Kepalanya dimiringkan sedikit.

"Saudara datang untuk meramal nasib?"

Tanyanya kemudian.

"Betul."

Sahut orang bertopi pandan itu dengan suara berat.

"Meramal nasib sendiri atau orang lain?"

"Seorang sahabat baik." 1322

"Tahu tanggal lahirnya?"

"Cia gwe ce-sa (Bulan satu tanggal tiga)."

"Berapa usianya sekarang?"

"Di atas enam puluh tahun."

"Apa yang ingin saudara lihat?"

"Masih berapa lama dia dapat hidup di dunia ini?"

"Oh?"

Tukang ramal itu tertegun sejenak.

Kemudian dia menggerakkan lagi tabung di tangannya lalu mengambilnya sebatang.

Di atas permukaan kayu itu tertulis huruf 'Ketiga puluh delapan'.

Mata tukang ramal itu melihat ke atas.

Sepasang jari tangannya meraba permukaan kayu itu lalu dia termenung sejenak.

Setelah itu dia memasukkan kembali kayu panjang tadi ke dalam tabung.

Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dia sudah mati, apa lagi yang perlu diramal?"

"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang "

Lebih baik kau pergi ke toko alat-alat sembahyang di ujung jalan sana. Beli tujuh batang lilin dan sembahyangi sahabat baikmu itu."

Kata si tukang ramal menyarankan.

Orang yang mengenakan topi pandan itu tidak mengatakan apa-apa lagi.

Dia membalikkan tubuhnya dan langsung meninggalkan tempat itu.

Si tukang ramal juga tidak meminta uang pembayaran darinya.

Dia meneruskan apa yang dilakukannya tadi, yakni menggerakkan tabung berisi kayu-kayu panjang.

Sepasang matanya yang hampir memutir memancarkan cahaya yang berkilauan tersorot sinar matahari.

Tiba-tiba terlihat sinar kekejian yang melintas di sepasang 1323 matanya itu.

Tapi siapa yang sempat memperhatikan keadaannya?

*** Toko yang menjual alat-alat sembahyang itu tidak terlalu besar.

Ketika orang yang mengenakan topi pandan itu melangkah ke dalam, di sana tidak ada seorang tamu pun yang berbelanja.

Seorang pelayan maju menghampirinya.

"Apa yang ingin tuan beli?"

"Lilin...."

"Berapa batang?"

"Tujuh...."

"Biasanya orang membeli lilin selalu berjumlah genap agar dapat menjadi sepasang. Tapi Tuan..."

"Aku hanya ingin membeli tujuh batang."

"Baik. Satu batang dua tail. Seluruhnya berjumlah empat belas tail."

Dengan uang sejumlah empat belas tail untuk membeli tujuh batang lilin, apabila terdengar oleh orang lain, tentu dia akan menganggap pendengarannya kurang beres.

Tapi orang yang mengenakan topi pandan itu sama sekali tidak menganggap kemahalan.

Dia mengeluarkan uang sejumlah empat belas tail dan meletakkannya di atas meja kasir.

Pelayan itu benar-benar menyodorkan tujuh batang lilin untuknya.

1324 Orang bertopi pandan itu menerimanya tanpa menghitung kembali.

"Aku ingin menyembahyangi seorang sahabat baik. Bagaimana caranya menggunakan lilin-lilin ini?"

"Orang yang mati kembali ke tanah. Dengan demikian rohnya baru bisa tenang. Tuan sebaiknya pergi ke toko keluarga Tio untuk membeli sebuah peti mati yang mutunya baik. Di sana terdapat banyak pilihan."

"Toko keluarga Tio? Di mana itu?"

"Tuan tinggal menyusuri jalan ini. Di tengah-tengah nanti ada sebuah toko peti mati yang besar dan di atasnya ada papan merek yang bertuliskan "

Keluarga Tio " *** Toko keluarga Tio yang dikatakan itu ternyata tertutup rapat.

Namun sekali dorong saja pintunya sudah terbuka.

Biarpun saat itu masih siang, namun keadaan di dalam ruangan tersebut remang-remang.

Seluruh jendela yang ada ditutup oleh sehelai tirai berwarna hitam.

Suasananya begitu mencekam dan mengerikan.

Orang yang mengenakan topi pandan itu melangkah masuk ke dalam.

Dia menutup kembali pintu toko itu.

"Apakah ada orang di dalam?"

Tanyanya dengan suara lantang.

Tidak terdengar sahutan.

Orang bertopi pandan itu menyapa sekali lagi.

Kali ini terdengar suara orang terbatuk-batuk.

Anehnya, suara itu keluar dari salah satu peti mati yang berjajar di dalam ruangan itu.

Orang bertopi pandan itu sama sekali tidak terkejut.

Dia masih berdiri menunggu di tempatnya semula.

1325 Tiba-tiba terlihat cahaya memijar.

Sebatang lilin telah dinyalakan dan dipegang oleh seseorang yang muncul dari samping peti mati di ujung ruangan.

Dia berjalan menghampiri orang bertopi pandan dengan langkah perlahan-lahan.

"Siapa yang kau cari?"

"Aku ingin membeli peti mati!"

"Yang berapa harganya?"

"Berapa harganya aku tidak perduli, yang penting mutunya bagus!"

Orang bertopi pandan maju ke depan dan menyalakan tujuh batang lilin yang dibawanya.

Orang yang muncul dari samping peti mati itu sekarang baru terlihat jelas rupanya.

Ternyata dia seorang yang punggungnya bungkuk karena cacat.

Dia menatap si orang bertopi pandan dengan pandangan menyelidik.

"Siapa yang hendak kau bunuh?"

Tanyanya langsung.

"Yan Cong-tian..."

Sahut orang bertopi pandan itu sepatah demi sepatah. Si bungkuk tertegun.

"Yan Cong-tian dari Bu-tong-pai?"

"Aku belum tahu ada Yan Cong-tian kedua yang patut dibunuh."

Sekali lagi si bungkuk terdiam.

"Berapa harganya?"

"Berapa harga yang sanggup kau keluarkan?"

Si bungkuk balik bertanya. 1326

"Sepuluh laksa tail!"

Tampaknya orang bertopi pandan itu cukup royal menghamburkan uangnya. Kembali si bungkuk tertegun.

"Kami setuju dengan harga yang kau berikan. Sekarang kau sudah boleh meninggalkan tempat ini,"

Sahutnya kemudian. Orang yang mengenakan topi pandan tetap tidak bergerak. Si bungkuk tertawa terkekeh-kekeh.

"Kalau kau bisa menemukan tempat ini, tentunya kau juga sudah tahu peraturan yang berlaku di sini. Sebulan setelah kematian Yan Cong-tian, kau harus dalang lagi mengantarkan uang yang dijanjikan, setail pun tidak boleh berkurang.? Orang yang mengenakan topi pandan itu menganggukkan kepalanya.

"Tentu,"

Katanya tenang.

"Lilin sudah kau nyalakan di tempat ini. Berarti transaksi di antara kami sudah berlangsung. Seandainya pada dirimu tidak ada uang sebanyak sepuluh laksa tail, lebih baik kau minta sedekah mulai sekarang. Jangan sampai menyesal nantinya!"

"Kalian tidak perlu khawatir...!"

Si bungkuk tertawa kering.

"Selamanya kami tidak mengkhawatirkan masalah pembayaran. Tentunya Tuan jauh lebih mengerti dari kami sendiri."

Orang yang mengenakan topi pandan itu memperdengarkan suara tertawa dingin.

"Harap kalian juga tidak akan membual aku kecewa."

"Bisnis seharga sepuluh laksa tail rasanya juga bukan usaha yang tidak menguntungkan. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin. Pokoknya selama ini kami belum pernah mengecewakan harapan para langganan kami!"

Sahut si bungkuk. 1327 Orang yang mengenakan topi pandan itu tertawa dingin sekali lagi. Si bungkuk maju satu langkah. Dia menudingkan jari telunjuknya.

"Ingat! Satu bulan hanya ada tiga puluh hari! Waktu berlalu dengan cepat!"

Orang bertopi pandan mendengus satu kali.

"Kalau ini bukan yang dikatakan khawatir, lalu apa namanya?"

Dengan tenang si bungkuk mengambil kembali lilin yang dinyalakan tadi.

"Seandainya membunuh seorang Yan Cong-tian yang merupakan tokoh berilmu demikian tinggi masih tidak dapat menghasilkan uang, rasanya kami tidak segan-segan menambah wawasan dengan membunuh lagi seorang Tok-ku Bu-ti!"

Orang yang mengenakan topi pandan itu tetap tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.

"Sayangnya Tuan bukan Tok-ku Bu-ti. Kalau tidak, kami tentu tidak perlu khawatir sama sekali,"

Kata si bungkuk selanjutnya.

"Oh?"

Orang bertopi pandan itu tampak agak penasaran. Si bungkuk hanya tertawa terkekeh-kekeh.

"Meskipun Bu-ti-bun sudah hancur, tapi seandainya Tok-ku Bu-ti mendengarkan ucapanmu ini, dia pasti akan menghormatimu dengan tiga cawan arak!"

Selesai berkata, orang bertopi pandan itu langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.

Si bungkuk memandangi orang bertopi pandan itu meninggalkan ruangan tokonya.

Diam-diam dia tersenyum licik.

Dia meniup lilin di tangannya sampai padam.

Keadaan di dalam toko keluarga Tio tidak gelap gulita.

Tujuh batang lilin yang dinyalakan oleh orang bertopi pandan tadi masih menyala terang benderang.

1328 *** Kurang lebih tiga li dibagian Utara Pek ka cik ada sebuah tempat peristirahatan berbentuk seperti pagoda.

Setelah meninggalkan Pek ka cik, orang bertopi pandan itu terus melangkah.

Sesampainya di tempat peristirahatan itu dia baru menghentikan langkah kakinya.

Tangannya membawa sekendi arak dan tiga buah cawan.

Dia duduk di atas meja batu yang terdapat di tengah-tengah tempat peristirahatan tersebut.

Dengan tenang dia meneguk tiga cawan arak berturut-turut.

Setelah itu dia melepaskan topi pandannya dan menanggalkan kain hitam yang menutupi bagian bawah dagunya.

Tok-ku Bu-ti!

Setelah menghabiskan tiga cawan berturut-turut, dia melemparkan tiga buah cawan itu ke bawah bukit.

Mengapa dia meneguk tiga cawan itu sampai kering, hanya dia sendiri yang tahu.

Meskipun sudut bibirnya memperlihatkan tawa dingin, namun kelopak matanya tidak memperlihatkan sedikit pun senyuman.

"Tian Sat"

Adalah sebuah organisasi yang menyediakan pembunuh-pembunuh bayaran.

Organisasi ini sudah terbentuk cukup lama.

Organisasi ini besar sekali dan juga sangat misterius.

Motto mereka tidak ada dendam pribadi.

Yang mereka pandang hanya uang.

Mereka juga tidak perduli siapa yang hendak dibunuh, asal harganya sesuai dengan keinginan mereka.

Sudah sejak lama Tok-ku Bu-ti berusaha mencaplok organisasi yang satu ini.

Tadinya Bu-ti-bun juga menyediakan pembunuh bayaran.

Namun sayap mereka kurang lebar kalau dibandingkan dengan Tian Sat.

Meskipun sampai saat ini dia tidak berhasil mengetahui siapa kepala pemimpin organisasi 1329 ini, namun terhadap cara kerjanya yang misterius dan tidak pernah gagal itu, Tok-ku Bu-ti merasa tertarik sekali.

Demikian rahasianya organisasi yang satu ini sehingga siapa saja anggota yang mendukung di dalamnya tidak pernah terbocorkan.

Kalau dilihat dari tokoh-tokoh yang berhasil mereka bunuh, tentunya anggota organisasi ini terdiri dari orang-orang yang berilmu sangat tinggi.

Tapi siapa tokoh kelas tinggi di dunia ini yang tidak dikenal oleh Tok-ku Bu-ti?

Satu per satu pernah ia pikirkan, namun dari seluruh orang-orang yang diketahuinya, rasanya tidak mungkin ada yang sudi menjadi anggota sebuah perkumpulan pembunuh bayaran seperti Tian Sat ini.

Setelah menghabiskan tiga cawan arak, tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyelinap di dalam hati Tok-ku Bu-ti.

Bu-ti-bun benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali!

Angin di atas bukit itu bertiup dengan kencang.

Pohon-pohon tetap berdiri tegak, namun dedaunan melambai-lambai terhembus tiupan angin.

Rambut Tok-ku Bu-ti mulai acak-acakan.

Pikirannya bertambah kacau.

Sebagai seorang Buncu yang selama ini disegani dan ditakuti orang-orang dunia kangouw, pantaskah dia mengambil tindakan seperti ini sebagai pelampiasan dendamnya?

Dia mulai mempertimbangkan persoalan ini.

Namun dia yakin pada saat ini ketujuh batang lilin tadi pasti sudah padam semuanya.

Menyesal pun sudah terlambat.

Mengapa dia tidak memikirkannya sejak awal?

*** 1330 Tentu saja Yan Cong-tian juga tidak dapat melupakan adanya manusia bernama Tok-ku Bu-ti di dunia ini.

Namun dia justru tidak pernah menyuruh orang untuk menyelidiki di mana jejaknya sekarang.

Di dalam hati kecilnya, saat ini Tok-ku Bu-ti hanya seorang manusia rendah yang tidak berarti banyak.

Dia benar-benar tidak sudi menghabiskan waktunya memikirkan orang yang satu ini.

Apalagi urusan di Bu-tong-san masih banyak yang harus diselesaikan.

Apabila ada waktu senggang, Yan Cong-tian sering mencari Fu Hiong-kun dan diajaknya berbincang-bincang.

Sebagian besar waktunya kebanyakan dihabiskan dengan melatih Yo Hong serta murid Bu-tong lainnya dalam pelajaran ilmu silat.

Dia juga membentuk lagi barisan Jit sing kiam ceng yang anggotanya sudah mati semua.

Fu Hiong-kun sekarang yang bertugas di dapur menyediakan makanan bagi para murid Bu-tong.

Diam-diam dia masih suka duduk termenung di taman belakang.

Siapa lagi yang dipikirkannya kalau bukan Wan Fei-yang.

Ketika Yan Cong-tian sudah sampai di sampingnya dia masih belum sadar juga.

"Hiong-kun...."

Gadis itu tersentak. Dia menoleh ke arah Yan Cong-tian dengan wajah tersipu-sipu.

"Locianpwe...."

Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Hiong-kun, ada sesuatu yang ingin kurundingkan denganmu...."

Fu Hiong-kun menatapnya dengan heran.

"Tentang apa?" 1331 Yan Cong-tian tidak langsung menjawab. Tampaknya dia mempertimbangkan sesuatu. Setelah agak lama, baru dia mengatakan maksud hatinya.

"Hiong-kun, kau sudah sebatang kara. Meskipun abangmu Giok-su masih hidup. Tapi kita tidak tahu di mana dia berada. Lagipula dia bukan manusia baik yang bisa kau ikuti. Dendam antara dia dengan pihak kami sangat dalam. Kita tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi kelak. Kalau kau bersedia, aku ingin mengangkatmu sebagai anakku. Tentu saja aku tidak memaksa, terserah bagaimana anggapanmu sendiri bersedia atau tidaknya."

Hiong-kun terpana mendengar ucapan Yan Cong-tian. Dia menatapnya dengan pandangan terharu.

"Terima kasih, Lociapnwe.... Aku senang sekali mendapat penghormatan yang demikian tinggi!"

Wajah Yan Cong-tian langsung berseri-seri.

Dia menerima Fu Hiong-kun setelah mempertimbangkannya baik-baik.

Gadis itu baik sekali hatinya.

Tanpa membedakan dendam di antara mereka, dia menjaga dan merawat Yan Cong-tian sepenuh hati.

Dia pula yang mendapat Suat tian untuk Wan Fei-yang.

Lagipula dia memang sudah terlanjur menyayangi gadis itu dan selama ini pun dia sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Memang tidak lazim seorang tosu mempunyai anak angkat, apalagi dia seorang perempuan, tapi Yan Cong-tian yang adatnya memang keras tidak memperdulikan semua itu.

Dia mengulurkan tangannya membelai kepala Fu Hiong-kun.

"Terima kasih, Hiong-kun. Aku senang sekali. Kau membuat aku teringat akan Lun Wan-ji muridku..."

Yan Cong-tian menarik nafas panjang. Wajahnya menjadi kelam.

"Entah bagaimana nasibnya? Aku bahkan tidak tahu di mana dia berada dan apakah dia masih hidup atau tidak?"

"Harap Locianpwe jangan terlalu memikirkan keadaan Wan-ji cici. Setahuku, Giok-su koko benar-benar mencintainya, pasti dia tidak sampai hati membunuh gadis itu. Bagaimana kalau kita menyuruh orang menyelidiki keadaannya?"

Mata Yan Cong-tian langsung bersinar terang. Dia menganggukkan kepalanya.

"Benar, Hiong-kun. Selama ini kita selalu disibukkan berbagai masalah. Sampai-sampai melupakan Wan-ji. Besok aku akan menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki di mana gadis itu sekarang. Tapi yang penting, besok aku akan mengumumkan pengangkatanmu sebagai anakku."

Fu Hiong-kun agak gembira mendengar nada suara Yan Cong-tian yang mulai bergairah.

*** Pagi-pagi sekali Yo Hong sudah dipanggil oleh Yan Cong-tian.

Melihat wajah Supeknya yang bersemangat, dia menjadi heran.

"Supek, Tecu Yo Hong menghadap."

Yan Cong-tian segera menghampiri dan menarik tangan Yo Hong.

"Yo Hong, sebentar lagi kau kumpulkan para murid Bu-tong yang lainnya, di ruangan pendopo. Aku ingin mengumumkan suatu hal,"

Katanya antusias.

"Urusan apa yang membuat Supek demikian bergairah?"

Tanya Yo Hong penasaran.

"Aku telah memutuskan untuk mengangkat Hiong-kun sebagai anak. Sayang sekali dia tidak begitu berminat dalam ilmu silat. Sedangkan Supek buta sama sekali masalah pengobatan. Kalau tidak, tentu Supek akan menerimanya sebagai murid." 1333 Yo Hong baru tersenyum mendengar ucapan Supeknya itu.

"Selamat, Supek. Fu kouwnio memang seorang gadis yang baik. Supek tentu akan bahagia didampingi seorang putri seperti Fu kouwnio."

"Hm.... Sekarang kau keluarlah dan persiapkan segalanya. Setelah itu ada satu urusan lagi yang harus kau selesaikan,"

Kata Yan Cong-tian sambil mengibaskan tangannya.

Yo Hong mengangguk dan memohon diri.

*** Upacara pengangkatan Fu Hiong-kun sebagai anak oleh Yan Cong-tian berlangsung sederhana, namun seluruh murid Bu-tong menyambut gembira berita itu.

Mereka semua suka sekali terhadap Fu Hiong-kun yang lemah lembut dan baik budi.

Gadis itu tidak segan-segan mengulurkan tangannya mengobati siapa saja apabila ada yang terkilir atau terluka ketika berlatih ilmu.

Yan Cong-tian memanggil Fu Hiong-kun agar duduk di sampingnya.

"Yang lainnya boleh keluar sekarang. Yo Hong tetap di sini. Ada sesuatu yang ingin aku katakan!"

"Locianpwe..."

Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu tapi ditukas oleh Yan Cong-tian.

"Hiong-kun, masa sampai sekarang kau memanggil aku dengan sebulan itu?"

Wajah Fu Hiong-kun tersipu-sipu ditegur demikian.

"Gihu...."

Yan Cong-tian tertawa terbahak-bahak.

"Begitu baru betul.... Nah, apa yang ingin kau katakan tadi?" 1334

"Tentunya Gihu memanggil Yo Toako untuk masalah Wan-ji bukan?"

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.

"Kalau boleh, aku ingin memberikan sedikit saran."

"Jangan ragu-ragu Hiong-kun, kita bukan orang lain lagi, katakan saja."

Fu Hiong-kun mengangguk kecil.

"Sebelumnya aku ingin menanyakan dulu kepada Yo Toako, apakah Yo Toako sudah tahu tugas apa yang diberikan Gihu?"

Yo Hong menggelengkan kepalanya.

"Aku belum tahu, tapi mendengar pembicaraan Fu kouwnio dengan Supek barusan, rasanya urusan ini menyangkut masalah Lun Wan-ji Sumoay."

"Benar..."

Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

"Sampai sekarang kita masih belum mendapat berita tentang Wan-ji. aku sungguh khawatir. Kau tentu tahu bahwa Wan-ji besar di tanganku. Bagiku, dia bukan saja seorang murid, tapi tidak beda dengan anakku sendiri. Bagaimana hatiku dapat tenang kalau belum tahu apa yang telah terjadi padanya."

"Maksud Gihu, agar kau membawa beberapa saudara seperguruan untuk menyelidiki di mana Wan-ji cici berada,"

Tukas Fu Hiong-kun.

"Tapi... di mana kami harus mencarinya? Sedangkan dunia begini luas!"

Sahut Yo Hong sambil menggaruk-garuk kepalanya.

1335 Yan Cong Tian terpana.

Benar juga!

Memang tidak mungkin asal seruduk saja untuk mencari kabar gadis itu.

Setidaknya mereka harus mempunyai setitik petunjuk sebagai awal penyelidikan.

Fu Hiong-kun memandangi kedua orang itu bergantian.

"Gihu, justru mengenal masalah inilah, tadi aku ingin memberi saran."

"Oh?"

Yan Cong-tian tersentak dari lamunannya.

"Teruskan...."

"Ketika Gihu dipancing oleh Giok-su koko ke Siau-yau-kok, karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Wan-ji cici, maka dia ditinggalkan di Kian Wi piau kiok. Aku pernah mendengar ucapan antara Yaya dengan Giok-su koko yang mana Yaya memintanya untuk membunuh Wan-ji cici. Saat itu Giok-su koko menolaknya, namun Yaya mengancam akan membunuh diri apabila Giok-su koko tidak mengikuti kemauannya. Dengan demikian Giok-su koko terpaksa pura-pura mengiakan. Aku yang belum tahu masalah yang sebenarnya marah sekali. Tapi Giok-su koko menyatakan bahwa dia tidak benar-benar ingin membunuh Wan-ji cici, hanya mengiakan di depan Yaya. Setelah itu Giok-su koko pergi ke Kian Wi piau kiok, sekembalinya dari sana wajahnya muram sekali. Dia tidak bersedia mengatakan apa-apa ketika aku tanyakan. Namun dari tampangnya aku dapat menduga bahwa dia tidak berhasil menemukan Wan-ji cici. Tentunya Wan-ji cici itu sudah menemukan suatu hal yang sangat mengecewakan hatinya tentang Giok-su koko, sehingga ia pergi meninggalkan tempat itu. Kalau menurut pendapatku, Yo Hong toako sebaiknya memulai penyelidikan dari Kian Wi piau kiok."

Yan Cong-tian dan Yo Hong menganggukkan kepalanya. 1336

"Tapi Kian Wi piau kiok sudah tidak ada lagi. Ternyata Suma Tian yang menemuiku tempo hari palsu adanya. Jangan-jangan setelah aku pergi Wan-ji menemukan rahasia mereka kemudian dibunuh oleh Suma Tian."

Fu Hiong-kun menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin. Aku tahu Suma Tian yang itu memang palsu. Dia memang anggota Siau-yau-kok. Tapi sebelum mendapat perintah dari Giok-su koko, bagaimana pun dia tidak akan berani membunuh Wan-ji cici. Jadi sebaiknya coba-coba saja selidiki daerah sekitar Kian Wi piau kiok. Kalau benar Wan-ji cici menemukan rahasia Giok-su koko, dalam keadaan sedih pasti dia bisa berjalan jauh."

"Benar, Supek. Biar Tocu bawa beberapa saudara kita untuk menyelidiki hal ini. Siapa tahu ada orang yang pernah melihat Wan-ji Sumoay dan dapat memberikan keterangan yang berharga."

Yan Cong-tian kembali menganggukkan kepalanya.

"Baiklah... tidak ada salahnya mencoba.... Lagipula..."

Yan Cong-tian seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi setelah melirik kc arah Fu Hiong-kun, dia membatalkannya.

Fu Hiong-kun tahu apa yang ingin dikatakannya mungkin ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri.

Yan Cong-tian pasti takut dia akan tersinggung atau menjadi sedih.

"Gihu, ada apa? Katakan saja... aku tidak apa-apa."

Yan Cong-tian menarik nafas panjang.

"Setahuku, dulu Wan Fei-yang sangat menyukai Lun Wan-ji. Tapi gadis itu lebih memilih Giok-su. Seandainya kita dapat menemukan Wan-ji, siapa tahu mendengar kabar ini, Siau-fei akan tergugah dan kembali lagi ke Bu-tong-san. Maaf Hiong-kun, bukan maksudku menyakiti hatimu, tapi kita tidak dapat 1337 membiarkan Siau-fei terlunta-lunta di luar perbatasan tanpa kita ketahui nasibnya."

Fu Hiong-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Aku mengerti. Maksud Gihu memang baik sekali. Semoga saja Wan-ji cici bisa menasehatinya agar melupakan kejadian yang lalu. Yang penting bagiku adalah kepulihan Wan Toako, Gihu jangan khawatir aku tidak akan sakit hati mengenai persoalan ini."

Yan Cong-tian memandangnya dengan perasaan berterima kasih.

"Kau memang baik sekali. Hiong-kun."

Yo Hong segera maju menghampiri Yan Cong-tian serta menjura dalam-dalam.

"Supek, Tecu akan berangkai sekarang juga." *** Setelah diobrak-abrik oleh Thian-ti tempo hari. Bu-tong-san banyak mengalami kerusakan di sana sini. Yan Cong-tian memeriksa semuanya dengan teliti dan memerinci apa saja yang harus diperbaiki. Akhirnya ia menyuruh beberapa murid Bu-tong mencari tukang yang berasal dari daerah sekitar. Sebenarnya para murid Bu-tong sendiri menganjurkan untuk tidak usah mencari tukang bangunan dari luar. Mereka bisa bekerja bergotong-royong memperbaiki semua kerusakan itu, tetapi Yan Cong-tian malah marah mendengar kata-kata mereka.

"Lebih baik keluar sedikit biaya untuk mengerjakan perbaikan itu. Kalian tidak usah ikut campur. Lebih penting bagi kalian untuk berlatih ilmu silat demi memajukan kembali nama baik Bu-tong-pai dari pada menghabis habiskan waktu mengerjakan hal yang bisa dilakukan oleh orang lain." 1338 Para murid Bu-tong terdiam semuanya. Sejak itu mereka tidak berani lagi mengemukakan pendapat apa-apa di hadapan Yan Cong-tian. Setelah mengalami berbagai musibah yang mengenaskan, banyak murid Bu-tong yang berbakat ikut berkorban. Sebagian besar yang dapat diandalkan sudah tewas terbunuh. Dari hari ke hari kemegahan Bu-tong-pai semakin merosot. Seandainya Wan Fei-yang yang pergi ke luar perbatasan tidak kembali lagi, Yan Cong-tian benar-benar sakit kepala memikirkan siapa yang dapat meneruskan kejayaan Bu-tong-pai. Usianya sudah tinggi. Sedangkan di depan mata, hanya Wan Fei-yang yang ilmunya paling tinggi. Meskipun seandainya dia tidak mau menjabat sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai, namun dengan adanya anak muda itu yang membantu segala urusan di dalam, tentu Bu-tong-pai masih bisa bangkit kembali. Tetapi sekarang Wan Fei-yang sudah pergi. Akan kembali lagi atau tidak, Yan Cong-tian sendiri belum berani memastikan. Namun siapa yang mengerti keresahan hatinya kecuali Fu Hiong-kun. ** Tengah hari kembali menjelang. Yan Cong-tian mengajarkan beberapa jurus ilmu tinju kepada para murid Bu-tong-pai. Dia memberi pesan agar mereka berlatih dengan giat. Setelah itu dia berjalan ke arah ruangan utama yang sedang diperbaiki. Hal ini sudah merupakan kebiasaannya akhir-akhir ini. Beberapa tukang sedang sibuk bekerja. Dua orang yang usianya lebih lanjut berhenti dan menyapa Yan Cong-tian.

"Bagaimana pekerjaannya?"

Tanya Yan Cong-tian dengan wajah tersenyum.

Hubungannya dengan para tukang memang cukup baik.

Meskipun dia tidak pernah mengenal mereka sebelumnya, namun sifat Yan Cong-tian pada dasarnya 1339 memang tidak angkuh.

Dia mudah bergaul dengan siapa saja.

Oleh karena itu, terkadang dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengan mereka.

Dua orang tukang yang usianya agak lanjut itu menganggukkan kepalanya.

"Kurang lebih sepuluh hari akan selesai secara keseluruhan,"

Sahut salah satu dari kedua orang itu.

Karena perhatiannya terpencar sewaktu menjawab pertanyaan Yan Cong-tian, tukang itu jadi kurang berhati-hati, kakinya terpeleset dan dia tersuruk ke dalam papan kayu yang baru dipasang sebagai landasan lantai.

"Hati-hati!"

Seru Yan Cong-tian sambil melesat menghampiri dan mengulurkan tangannya mencengkeram pakaian tukang itu.

Begitu tangannya berhasil mencengkeram pakaian tukang itu, dia langsung merasakan ada yang tidak benar.

Tubuh tukang itu jauh lebih ringan daripada orang biasa.

Dia pasti mengerti ilmu silat bahkan ilmu ginkangnya cukup tinggi.

Setidaknya bagi seorang tukang!

Sambil mengelitkan tubuhnya, tangan tukang itu mengibas.

Dua batang anak panah kecil meluncur ke tubuh Yan Cong-tian.

Panah itu bentuknya kecil sekali, tapi kecepatan dan ketajamannya sukar diuraikan dengan kata-kata.

Tanpa sadar pegangan Yan Cong-tian pada tukang itu terlepas.

Dia berusaha menggeser tubuhnya menghindari serangan anak panah tersebut.

Meskipun dia sempat menghimpun hawa murninya, namun dua batang anak panah itu sudah menancap di dadanya.

Yan Cong-tian tidak merasakan sakit di dadanya, 1340 hanya bagian yang tertancap anak panah itu rada kebal rasanya.

"Panah beracun!"

Seru Yan Cong-tian dalam hati.

Dia tergetar.

Diam-diam dia merasa khawatir.

Di tangan tukang yang dicengkeramnya tadi sudah bertambah sebatang pensil baja.

Dia menyerang bagian kanan ketiak Yan Cong-tian.

Dia cepat, Yan Cong-tian lebih cepat lagi.

Baru saja tangannya terangkat, kepalanya sudah kena dicengkeram oleh tangan Yan Cong-tian yang dengan kecepatan kilat langsung dibenturkan di atas lantai.

Kepala tukang itu pecah berhamburan.

Dan tanpa usah diperiksa lagi nyawanya pasti sudah melayang.

Tanah di sekitar Yan Cong-tian tiba-tiba menguak lima buah lubang.

Tanah dan pasir berhamburan.

Lima orang manusia berpakaian hitam mencelat keluar dari lubang-lubang tersebut.

Lima batang pedang tipis panjang dan yang pasti tajam sekali langsung menyerang bagian tubuh Yan Cong-tian yang paling membahayakan.

Sambil membentak keras, Yan Cong-tian mengembangkan telapak tangannya.

Dia menghantam dengan tenaga sepenuhnya.

Dua batang pedang patah seketika.

Sedangkan dua batang lainnya terpental jauh.

Tangannya memutar dan tiga kali hantaman dikerahkannya berturut-turut.

Tiga orang berpakaian hitam dibuatnya terpelanting kira-kira dua depa.

Tubuhnya kembali melesat.

Tangannya terulur.

Kaki salah seorang manusia berpakaian hitam berhasil diraihnya.

Ditariknya kaki orang itu dan diputarnya seperti sebuah gasing.

Tubuh orang itu pun seperti komedi putar dijadikan senjata oleh Yan Cong-tian.

Bagian kepala orang yang diputar membentur kepala manusia berpakaian hitam lainnya.

"Brak!"

Batok kepala keduanya hancur seketika dan nyawa mereka pun melayang.

Begitu kuatnya tenaga yang 1341 dikerahkan oleh Yan Cong-tian sehingga kakinya amblas satu setengah cun ke dalam tanah.

Sebuah jala besar dengan tali berwarna kuning keemasan tiba-tiba membentang dari atas.

Yan Cong-tian terkejut sekali.

Dengan panik dia menghantamkan telapak tangannya dan jala tersebut pun terdorong kembali ke atas.

Tubuhnya segera menggunakan kesempatan itu untuk melesat melalui celah yang terbuka.

Tiba-tiba puluhan titik sinar meluncur dari jala tersebut ke arah seluruh tubuh Yan Cong-tian.

Ternyata para tukang bangunan yang bekerja di Bu-tong-san adalah anggota Tian Sat yang dibayar untuk membunuh Yan Cong-tian.

Terhindar dari serangan senjata rahasia yang menyebar, orang-orangnya langsung menerjang.

Sebelas orang dengan sebelas macam senjata yang berbeda-beda.

Setiap senjata itu khusus untuk membuyarkan hawa murni dan semuanya mengandung racun yang keji.

Sepasang lengan baju Yan Cong-tian disapu dengan panik.

Senjata rahasia yang masih meluncur seperti hujan berhasil dikibaskan oleh lengan bajunya.

Sementara itu, jala yang terbentang dari atas melayang turun lagi.

Tubuh Yan Cong-tian sudah bergeser menghindar, namun empat orang tukang yang ada di bawah langsung tertutup oleh jala itu.

Beribu jarum kecil yang terselip di seluruh jala itu langsung menancap di tubuh mereka.

Ini yang dinamakan senjata makan tuan.

Mereka langsung menjerit kesakitan.

Tubuh mereka kejang-kejang dan menggelepar-gelepar sebelum jantung mereka benar-benar berhenti berdetak.

Yan Cong-tian menghantam telapak tangannya dua kali lagi.

Namun rasa kebal di dadanya makin terasa.

Tenaganya sudah jauh melemah.

Dirinya terkepung di antara tukang-tukang yang merupakan samaran anggota Tian Sat itu.

Sebuah jala yang lain mulai melayang turun dari atas.

Dengan 1342 nekat Yan Cong-tian menghantam sekerasnya.

Kali ini jala yang sedang melayang turun itu bukan hanya terdorong, tapi langsung pecah menjadi pecahan-pecahan kecil.

Sementara itu para tukang sudah menerjang ke arahnya kembali.

Bahkan beberapa di antaranya menggerayangi tubuh Yan Cong-tian dengan nekat seperti monyet-monyet yang bergelayutan.

Tentu saja Yan Cong-tian jadi kerepotan dibuatnya.

Sepasang tangannya pun sulit direntangkan, sama sekali lak bisa menyerang dengan leluasa.

Akhirnya Yan Cong-tian mengambil keputusan untuk membuka jalan dengan pembunuhan besar-besaran.

Lengannya yang kekar menjepit dan memuntir leher orang-orang yang menggelayutinya.

"Krek! Krek!"

Terdengar beberapa kali suara tulang belulang mereka yang patah, beberapa orang dari mereka mati dengan tulang leher patah berantakan.

Keadaan Yan Cong-tian sendiri semakin payah.

Dia mulai kewalahan.

Seandainya dadanya tidak terkena panah beracun, tentu orang-orang itu bukan tandingannya sama sekali.

Tapi hal ini memang sudah diperhitungkan secara matang-matang oleh pihak Tian Sal.

Mereka tahu siapa adanya Yan Cong-tian.

Di dunia ini sekarang mungkin sudah tidak ada lagi orang yang dapat menandinginya apabila berduel secara satu lawan satu.

Hanya satu-satunya cara melumpuhkan orang tersebut yakni dengan cara membokongnya.

Dalam sekejap mata, lima macam senjata yang aneh telah berhasil melukai tubuhnya.

Walaupun dari pihak lawan kembali dua orang harus mengorbankan nyawa di tangan Yan Cong-tian.

Suara jeritan ngeri berkumandang di mana-mana.

Yan Cong-tian tidak sempat memikirkan luka yang dideritanya.

Berturut-turut dia menghantamkan telapak tangannya dengan kalang kabut.

Setiap kali tubuhnya bergerak dan tangannya 1343 menghantam, pasti ada seorang pihak lawan yang jatuh bermandikan darah.

Tapi jumlah mereka semakin banyak, seperti gerombolan semut yang menemukan tempat penyimpanan gula.

Entah dari mana saja mereka berdatangan.

Beberapa di antaranya langsung mencengkeram kaki dan tangan Yan Cong-tian.

Tiba-tiba setitik sinar pedang berkelebat dari atas dan menghunjam ke arahnya.

Mata Yan Cong-tian yang awas tentu saja dapat melihat datangnya luncuran pedang tersebut.

Ia berusaha memberontak sekuat tenaga, namun orang-orang yang memeganginya semakin banyak.

Yan Cong-tian tidak dapat berbuat apa-apa.

Segera dihimpunnya hawa murni dan dikerahkannya tenaga dalam pada pangkal lengan.

Dua orang terpental mundur oleh kerahan tenaga dalamnya, namun pedang yang sedang meluncur itu tidak dapat dihindari lagi serta dengan telak menikam dada kirinya.

Tikaman yang satu inilah yang benar-benar membahayakan nyawanya!

*** Orang yang menggunakan pedang itu adalah seorang laki-laki setengah baya bertubuh kurus seperti monyet dan berwajah tiris seperti tikus.

Dia juga mengenakan pakaian yang sama dengan para tukang bangunan lainnya.

Dari alas ke bawah hampir tidak banyak daging yang menempel di tubuhnya, lebih mirip kulit yang membungkus tulang belulang saja.

Mungkin juga karena kurusnya orang ini, maka badannya menjadi ringan dan gerakannya sangat cepat.

Tadinya dia bersembunyi di atas genting.

Tepat pada saat yang sudah diperhitungkan, tubuhnya melesat secepat angin dengan tangan memegang pedang, dia meluncur ke arah Yan Cong-tian.

Gerakannya ini bukan saja cepat tapi juga tepat.

Yan Cong-tian dapat melihat wajahnya dengan jelas.

Dia belum 1344 pernah melihat orang ini dan dia yakin tidak mengenalnya.

Lalu ada dendam apa antara orang ini dengannya sehingga menggunakan cara yang demikian rendah untuk membunuhnya.

Yan Cong-tian tidak sempat memeras otaknya untuk memikirkan persoalan itu.

Reaksinya juga tidak lambat.

Begitu merasakan dadanya tertusuk oleh pedang itu, kakinya langsung menendang sekuat tenaga.

Tubuh yang tertusuk pedang itu ikut meluncur ke depan, sedangkan tukang berwajah tikus itu tidak dapat menahan dirinya lagi.

Tubuhnya terpental ke belakang.

Rupanya tubuhnya tidak melayang melewati tembok, melainkan tepat membentur di tembok ruangan.

"Prak!"

Tulang-tulang tubuhnya terbentur patah.

Setelah menempel di tembok beberapa detik, tubuhnya melorot turun.

Darah segar muncrat terus dari mulut orang itu.

Pada waktu yang bersamaan, darah mengucur deras dari dada Yan Cong-tian.

Ia berusaha mendekap dadanya namun darah yang muncrat tidak terbendung.

Wajahnya pucat pasi seperti kulit ikan mati, tubuhnya terhuyung-huyung.

Para tukang yang masih hidup hanya tersisa empat orang.

Meskipun mereka memang telah mendapat pengarahan untuk tidak takut menghadapi kematian dalam tugas, dan selama ini mereka pun sudah banyak membunuh orang secara keji, namun mana pernah mereka melihat kewibawaan seorang pendekar yang begitu mengagumkan.

Mereka belum pernah mendapat tugas untuk membunuh seseorang seperti Yan Cong-tian.

Melihat keperkasaannya, tanpa sadar mereka tertegun di tempat.

Sementara itu, para murid Bu-tong yang mendapat suara keributan sudah menghambur keluar.

Orang yang pertama sampai di tempat kejadian adalah Fu Hiong-kun.

Keempat tukang yang tersisa saling lirik sekilas.

Mereka tampaknya 1345 sepakat untuk mengundurkan diri.

Mereka sudah melihat bahwa kemungkinan Yan Cong-tian untuk hidup terus tipis sekali.

Berarti tugas mereka sudah selesai.

Apa lagi yang harus dilakukan kecuali mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Mereka mengundurkan diri dengan cara berpencaran.

Namun keempat orang itu berhasil dihadang oleh para murid Bu-tong-pai yang berhamburan dari delapan penjuru angin.

Sekali pandang saja, para murid Bu-tong-pai yang berlarian keluar itu sudah dapat menduga apa yang lelah terjadi.

Mereka terkejut juga marah sekali.

Senjata-senjata langsung dicabut.

Mereka meraung keras dan menerjang ke arah empat orang tukang yang masih tersisa.

Meskipun keempat orang yang menyamar sebagai tukang itu adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang sudah berpengalaman, namun menghadapi para murid Bu-tong yang sedang kalap itu bukan hal yang mudah.

Apalagi mereka hanya empat orang.

Sedangkan murid Bu-tong yang berhamburan jumlahnya mencapai hampir seratus orang.

Dalam waktu sekejap mata mereka sudah berlumuran darah terkena senjata para murid Bu-tong tersebut.

Walaupun Bu-tong-pai mengalami berbagai musibah dan banyak muridnya yang terbunuh di tangan Fu Giok-su dan Thian-ti cs.

Namun yang tersisa adalah murid-murid yang berbakti penuh dan sadar akan kesetiaan mereka untuk memajukan kembali partai yang mulai merosot itu.

Sebelumnya mereka menghadapi tantangan untuk menggempur Bu-ti-bun.

Sekarang tugas mereka adalah untuk membangkitkan kembali kejayaan Bu-tong-pai.

Selama ini mereka berlatih dengan giat.

Ilmu silat mereka telah mengalami kemajuan yang pesat.

Masing-masing dari mereka sudah cukup untuk menghadapi keempat tukang yang merupakan samaran dari para pembunuh bayaran tersebut.

1346 Apalagi mereka sekarang dalam keadaan kalap.

Cara turun tangan mereka juga menjadi keji.

Untuk sesaat itu mereka tidak lagi mengingat peraturan dunia kangouw.

Secara beramai-ramai mereka mengeroyok empat orang tukang yang masih tersisa.

Mata keempat tukang itu melihat wajah-wajah yang menampilkan kemarahan.

Telinga mereka terasa pekak mendengar teriakan mereka yang mulai histeris.

Kepala pun menjadi semakin pusing.

Biasanya keadaan mereka dalam menghadapi setiap musuh selalu tenang.

Sekarang mereka menjadi kalang kabut karena ketakutan.

Tapi sebelum mereka rubuh dengan tubuh tercincang-cincang, mereka tetap berhasil membunuh tiga orang murid Bu-tong-pai.

Sedangkan para murid Bu-tong lainnya yang sudah berhasil membunuh keempat tukang itu langsung menghambur menghampiri Yan Cong-tian.

Yan Cong-tian masih berdiri tegak di tempat semula.

Darah segar mengucur dengan deras.

Matanya membelalak, tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Sepasang tangan Fu Hiong-kun memapah lengan Yan Cong-tian.

Dia juga tidak bergerak.

Gadis itu khusus memperdalam ilmu pengobatan.

Mana mungkin dia tidak melihat bahwa Yan Cong-tian tidak ada harapan lagi.

Dengan bantuan beberapa murid Bu-tong, mereka memapah Yan Cong-tian kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba seseorang menyerbu ke dalam kamar.

Dia adalah Yo Hong yang baru kembali dari mengemban lugas menyelidiki Lun Wan-ji.

Dia berlutut di samping Yan Cong-tian.

Melihat tampang Fu Hiong-kun, dia tidak berani sembarangan bergerak.

"Siapa yang melakukan semua ini?"

Tanyanya dengan bibir bergetar. 1347 Fu Hiong-kun segera menenangkannya.

"Jangan urus dulu hal itu. Kita lihat perkembangan Gihu. Dia tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi."

Tentu saja Yo Hong percaya penuh ilmu pengobatan yang dikuasai Fu Hiong-kun.

Apalagi setelah melihat rona wajah Yan Cong-tian yang sudah pucat pasi itu, tanpa sadar hatinya bergetar.

Yan Cong-tian masih diam saja.

Sejenak kemudian mulutnya bergerak-gerak.

Dia seperti ingin mengatakan sesuatu.

Tapi tidak ada sedikit pun suara yang keluar.

Melihat keadaan itu, Yo Hong segera mendekatinya.

"Supek, tentu kau ingin mengetahui nasib Wan-ji Sumoay bukan?"

Dengan susah payah Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.

Yo Hong sudah dapat menduga bahwa melihat kepulangannya Yan Cong-tian pasti ingin menanyakan keadaan Wan-ji meski dirinya sendiri sedang di ambang maut.

Yo Hong menjadi bimbang sejenak.

Dia melirik ke arah Fu Hiong-kun.

Gadis itu menganggukkan kepalanya.

"Tecu sudah berhasil menemukan jejak Wan-ji Sumoay. Dia... sudah meninggal...."

Tubuh Yan Cong-tian bergetar mendengar ucapan Yo Hong. Fu Hiong-kun tidak menyangka kabar buruklah yang dibawa oleh Yo Hong. Dia mengedipkan matanya kepada laki-laki itu.

"Gihu, biar aku periksa dulu keadaanmu...."

Yan Cong-tian menggelengkan kepalanya. Matanya tetap menatap kc arah Yo Hong seakan memintanya meneruskan hasil penyelidikannya atas diri Lun Wan-ji.

"Wan-ji... Sumoay bukan mati terbunuh... tapi dia... mati setelah tidak lama... melahirkan anaknya..."

Kata Yo Hong tersendat-sendat.

1348 Air mata Yan Cong-tian menetes dari sudut matanya.

Entah sedih atau kecewa.

Tidak usah diceritakan lagi oleh Yo Hong, dia sudah dapat menduga anak siapa yang dilahirkan oleh Wan-ji.

Bibirnya kembali bergerak-gerak.

"Gihu, pesan apa yang hendak kau tinggalkan?"

Tanya Fu Hiong-kun segera.

"Ca... ri... Wan... Fei Yang... suruh... dia bantu... Bu-tongpai.... Bawa... kembali... anak Wan-ji...."

"Tapi..."

Tukas Yo Hong.

Fu Hiong-kun langsung mencegahnya mengatakan apa-apa.

Dia sudah melihat keadaan Yan Cong-tian yang sudah sekarat.

Ada hal penting yang harus ditanyakan sebelum nafas orang tua itu berhenti.

"Gihu, tahukah kau siapa yang menurunkan tangan keji ini?"

Tanyanya segera. Para murid Bu-tong-pai yang berkerumun di dalam kamar dan di luar segera memusatkan perhatian mereka. Memang sejak tadi mereka sudah penasaran sekali ingin menanyakan hal ini.

"Tian Sat..."

Dua kata itu selesai diucapkan, Yan Cong-tian kembali memuntahkan segumpal darah segar. Nyawanya melayang ketika kepalanya terkulai.

"Supek...!"

Teriak Yo Hong sedih.

Para murid Bu-tong yang lainnya mengerti orang tua itu sudah berpulang.

Mereka segera menjatuhkan diri berlutut di alas tanah.

Ratap tangis berkumandang memecahkan kesunyian.

Fu Hiong-kun juga menjatuhkan diri berlutut di samping Yo Hong.

Air matanya mengalir dengan deras.

Tubuhnya berguncang-guncang.

Beberapa hari belakangan ini hubungan mereka sudah melebihi ayah dan anak.

Meskipun dia tahu Thian-ti mati di bawah gabungan ilmu Tian-can sinkang Yan Cong-tian dan 1349 Wan Fei-yang, tapi dia juga tahu mereka tidak sengaja melakukannya.

Karena keadaan waktu itu memaksa mereka melakukan hal itu.

Terhadap Yan Cong-tian maupun Wan Fei-yang, Fu Hiong-kun tidak menaruh dendam sama sekali.

Walaupun dia dilahirkan di Siau-yau-kok, namun hatinya baik sekali.

Justru karena dia tidak puas terhadap tingkah laku ayah dan abangnya maka sepanjang tahun dia lebih banyak berkelana di dalam dunia kangouw daripada berdiam di dalam Siau-yau-kok.

Selama beberapa tahun ini, dia sudah bosan melihat kelicikan yang terjadi di dunia kangouw.

Apalagi setelah peristiwa yang terjadi alas diri Wan Fei-yang.

Dia semakin jenuh.

Itulah sebabnya dia mengikuti Yan Cong-tian dan tinggal di Bu-tong-san untuk sementara.

Fu Hiong-kun benar-benar mengharapkan suatu kehidupan yang tenang.

Dia juga berharap dapat memberikan bantuan yang berarti bagi Bu-tong-pai.

Dalam hatinya dia menganggap Fu Giok-su dan kakeknya sudah terlalu banyak merugikan Bu-tong-pai.

Juga keluarga Fu sudah terlalu banyak berhutang kepada Bu-tong-pai.

Tentu saja dia lebih mengharapkan lagi kalau dendam antara keluarga Fu dengan Bu-tong dapat berakhir selamanya.

Siapa nyana, satu gelombang belum juga reda datang lagi gelombang lain yang lebih besar.

Justru di saat genting ini Yan Cong-tian malah terbunuh.

Apa arti Tian Sat yang dikatakan oleh Yan Cong-tian di saat akhir hidupnya, tentu dimengerti oleh Fu Hiong-kun.

Siau-yau-kok juga merupakan sebuah aliran yang sesat.

Terhadap organisasi gelap lainnya, meskipun tidak pernah mengadakan hubungan namun mereka menaruh perhatian khusus.

Apalagi sebelum Thian-ti berhasil diselamatkan dari telaga dingin di Bu-tong-san.

Hujan, Angin, dan Geledek pernah memikirkan kemungkinan untuk membayar anggota Tian Sat untuk menghadapi Bu-tong-pai.

1350 Akhirnya mereka memang tidak jadi mengambil tindakan demikian.

Hal ini bukan karena biaya yang dikeluarkan akan besar nilainya, namun karena Siau-yau-kok setidaknya pernah merupakan organisasi yang gemilang dan mempunyai nama besar di dunia kangouw.

Sebelum Bu-ti-bun didirikan, dari golongan hitam, nama Siau-yau-kok yang paling disegani.

Tentu saja pada waktu itu mereka belum mengungsi ke Siau-yau-kok dan masih menggunakan nama Pit-lok-cik.

Seandainya mereka jadi menggunakan jasa Tian Sat dan diketahui oleh para sahabat dari dunia kangouw, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk membangkitkan kembali kejayaan mereka tempo dulu.

Setidaknya mereka akan ditertawakan karena untuk menghadapi sebuah Bu-tong-pai saja, mereka terpaksa mengandalkan tenaga dari 'Tian Sat'.

Lagipula, mereka sepertinya yakin sekali bahwa pada suatu hari kelak mereka akan dapat memulihkan nama besar Siau-yau-kok dan dapat menghancurkan Bu-tong-pai dengan tenaga mereka sendiri.

Apa yang mereka perkirakan itu benar-benar menjadi kenyataan.

Satu hal yang tidak terpikirkan oleh mereka adalah kejayaan tidak dapat berlahan lama.

Dan juga tidak terpikirkan akan munculnya seorang Wan Fei-yang yang akan bakal mengacaukan semua rencana mereka.

Siau-yau-kok sendiri pernah mempunyai rencana menggunakan tenaga Tian Sat, tentunya mereka juga pernah mengadakan penyelidikan yang mendalam tentang organisasi ini.

Mereka bahkan sudah mempertimbangkannya matang-matang sebelum membatalkannya.

Meskipun Fu Hiong-kun tidak tertarik dengan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Siau-yau-kok, tapi sedikit banyaknya dia pernah juga mendengar cerita dari mulut Fu Giok-su tentang organisasi bernama Tian Sat tersebut.

Pengetahuannya tentang organisasi ini memang tidak banyak.

Dia juga tidak pernah memikirkannya selama ini.

Sekarang dia baru menyadari betapa mengerikannya organisasi bernama Tian Sat ini.

Jilid 30 Yo Hong berlutut di hadapan mayat Yan Cong Tian sekian lama. Kemudian dia berdiri perlahan-lahan. Matanya berputar ke seluruh ruangan tersebut. Tiba-tiba dia bertanya.

"Apa artinya Tian Sat?"

Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada seseorang secara khusus. Dengan kata lain, dia bertanya kepada siapa saja yang dapat menjawab pertanyaannya itu.

"Sebuah organisasi yang menyediakan pembunuh bayaran."

Tentu saja hanya Fu Hiong Kun yang dapat menjawab pertanyaannya. Yo Hong tertegun.

"Maksudmu, ada seseorang yang mengeluarkan uang menyewa organisasi ini untuk membunuh Yan Supek?"

Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatan kata pun.

"Siapa orang itu?"

Tanya Yo Hong sambil mendelikkan matanya kepada Fu Hiong Kun, seakan gadis itu pasti sudah tahu siapa orangnya.

"Mungkinkah Giok Su koko?"

Kata-kata ini sudah sampai di ujung lidah Fu Hiong Kun namun dia tidak sanggup mengeluarkannya.

"Mungkinkah Tok-ku Bu-ti?"

Tanya Yo Hong tiba-tiba. Dia hanya sembarangan menduga. Siapa nyana terkaannya langsung tepat. Fu Hiong Kun mengangkat bahunya sambil menarik nafas panjang.

"Di mana letak markas Tian Sat?"

Tanya Yo Hong kembali. Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya tahu 1352 bahwa di dunia ini ada organisasi bernama demikian."

Sepasang tinju Yo Hong mengepal erat-erat.

"Biar bagaimana pun, kita harus menyelidiki markas mereka dan berusaha menemukan pemimpin mereka. Tanyakan kepadanya siapa yang mengeluarkan uang meminta mereka membunuh Yan Supek. Dengan demikian kita baru bisa membalaskan dendam ini."

Katanya dengan wajah merah padam. Para murid Bu tong yang lain langsung menyetujui usulnya. Fu Hiong Kun menarik nafas panjang.

"Kalau menurutku, lebih baik kita penuhi dulu permintaan Gihu yaitu mencari Wan Toako agar kembali ke sini dan mengambil anak Wan Ji cici. Meskipun Wan Toako sedang sedih dan berduka, namun biar bagaimana pun dia adalah orang Bu-tong-pai. Tentu Wan Toako tidak akan mendiamkan masalah ini begitu saja."

Yo Hong tertawa getir.

"Justru malah Wan Ji tadi belum sempat aku selesaikan, kau sudah mencegah aku agar jangan berbicara lagi."

Fu Hiong Kun menjadi terpana mendengar kata-katanya.

"Ada apa lagi? Bukankah kau sudah menceritakan semuanya tadi?"

"Belum semuanya. Memang aku sudah menemukan jejak Wan Ji dan anaknya. Wan Ji meninggal tidak lama setelah melahirkan bayi itu. Sepasang suami istri tua di mana Wan Ji menumpang mengasuh bayi itu dengan sepenuh kasih sayang. Tetapi pada suatu hari datang seorang anak muda yang rupanya sedang dikejar-kejar oleh seorang tosu. Dia mengancam kedua suami istri agar tidak mengatakan bahwa dia bersembunyi di dalam rumah tersebut, apabila tidak, bayi yang digendongnya itu akan dibunuh. Ternyata benar-benar ada seorang tosu yang mengetuk pintu dan menanyakan tentang anak muda tadi. Pasangan suami istri itu pun terpaksa berbohong, namun rupanya bayi yang ada dalam gendongan si anak muda terkejut melihat orang asing yang menggendongnya. Supaya bayi itu jangan sampai 1353 mengeluarkan tangisan, anak muda itu mendekap mulutnya. Siapa tahu hidung bayi itu ikut tertekan sehingga tidak dapat bernafas dan langsung mati."

Wajah Fu Hiong Kun berubah hebat.

"Jadi ... anak itu juga mati?"

Yo Hong menganggukkan kepalanya dengan wajah sendu.

"Satu hal lagi yang mengherankan. Ketika anak muda itu mendengar bahwa ibu sang bayi bernama Wan Ji, dia langsung seperti terpukul. Kemudian dia membawa mayat bayi itu dan menghambur keluar dari rumah pasangan istri tersebut."

Tanpa terasa air mata Fu Hiong Kun langsung mengalir dengan deras.

"Giok Su koko ... Betapa banyak dosa yang telah kau perbuat. Akhirnya kau menerima hukuman yang lebih menyakitkan."

"Ternyata Fu kouwnio juga mempunyai dugaan yang sama bahwa anak muda itu adalah Fu Giok Su."

Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya dengan lemas.

"Tosu yang diceritakan oleh pasangan suami istri itu pasti Gihu adanya."

Yo Hong tidak sampai hati melihat kesedihan gadis itu yang melandanya bertubi-tubi.

"Fu kouwnio, ke mana kita harus mencari Wan Fei Yang sekarang?"

Tanyanya mengalihkan pikiran gadis itu.

"Wan Toako adalah seorang manusia yang mujur. Dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke luar perbatasan, tentu dia benar-benar menuju ke sana. Kerahkan murid Bu-tong-pai sebanyak-banyaknya untuk mencari. Sepanjang perjalanan jangan lupa siarkan berita tentang kematian Gihu. Seandainya kita tidak berhasil menemukan dia, apabila dia mendengar 1354 kabar berita ini, tentu dia akan segera kembali untuk melihat benar tidaknya,"

Sahut Fu Hiong Kun. Yo Hong menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Asal Wan Toako sudah kembali, segala persoalan pasti akan mudah diatasi,"

Kata Fu Hiong Kun selanjutnya.

"Ilmu silatnya memang jauh di atas kami semua,"

Sahut Yo Hong. Sekali lagi Fu Hiong Kun menarik nafas panjang. Yo Hong menatapnya dengan pandangan iba.

"Tampaknya Fu kouwnio mempunyai banyak masalah yang terpendam dalam hati."

Fu Hiong Kun tidak menyahut.

"Apakah Fu kouwnio sudah menemukan sesuatu?"

Tanya Yo Hong kembali. Fu Hiong Kun merasa bimbang sejenak. Namun akhirnya dia mengeluarkan juga apa yang tersimpan dalam hatinya.

"Aku sedang berpikir, mungkinkah peristiwa ini didalangi oleh abangku."

"Fu Giok Su?"

Wajah Yo Hong agak berubah mendengar kata-katanya.

"Mengapa Fu kouwnio! tiba-tiba mempunyai pikiran demikian?"

Fu Hiong Kun tertawa sumbang.

"Giok Su koko dan Tok-ku Bu-ti pada dasarnya memang merupakan orang satu golongan. Apa yang dapat dilakukan oleh Tok-ku Bu-ti, pasti sanggup juga dilakukan olehnya. Kemungkinan dia menganggap Yan Cong Tian Gihu yang menyebabkan kematian anaknya sehingga dia merasa benci serta ingin membunuhnya. Lagipula dia memang tahu bahwa juga adanya organisasi seperti Tian Sat ini."

Yo Hong tidak berkata apa-apa.

Angin berhembus kencang.

Tiba-tiba terdengar suara tik ...

tik ...

tik ...

Hujan mulai turun kembali.

Hujan dan angin saling menyapa.

Membasahi bumi 1355 dan mencekam perasaan.

Mereka semua merasakan serangkum kesepian yang sulit diuraikan dengan kata-kata.

Apakah, kejayaan Bu-tong-pai benar-benar harus berakhir pada generasi ini?

*** Senja hari ...

Hujan belum juga berhenti.

Di sepanjang jalan menggenang air dan tanah kotor.

Hujan kali ini sudah turun selama tiga kentungan.

Pek-ka-cik yang biasanya ramai oleh lalu lalang para penduduk ataupun tamu-tamu yang singgah menjadi hening.

Di jalanan masih ada dua tiga orang yang sedang berjalan.

Namun langkah kaki mereka tampaknya tergesa-gesa.

Siapa pun tidak ingin berlambat-lambat berjalan di bawah hujan yang lebat seperti itu.

Mereka pun segan menoleh ke arah orang lainnya.

Oleh karena itu, kehadiran Tok-ku Bu-ti tetap tidak menarik perhatian siapa-siapa.

Pakaian yang dikenakan Tok-ku Bu-ti masih sama dengan sebelumnya.

Hanya topi pandannya yang tidak dikenakan lagi.

Di tangannya tergenggam sebatang payung yang terbuat dari kertas minyak.

Langkah kakinya tidak terlalu cepat.

Dengan santai dia menuju toko keluarga Tio yang menjual peti mati.

Hari ini merupakan hari ketiga puluh setelah kematian Yan Cong Tian.

*** Di depan toko keluarga Tio tergantung sebuah lentera.

Lentera tersebut berwarna putih.

Di bawah cahayanya yang remang-remang, toko itu tampaknya lebih menyeramkan dari sebelumnya.

Pintunya masih juga tertutup rapat.

Tok-ku Bu-ti mengulurkan tangannya mendorong pintu tersebut.

Dia melangkah masuk dengan tenang.

Tidak terlihat bayangan seorang pun di sana.

Dia merapatkan kembali pintu toko itu.

Setelah itu dia duduk di atas sebuah bangku panjang yang 1356 terbuat dari papan.

"Aku sudah datang!"

Katanya seperti kepada dirinya sendiri.

"Selamat datang ..."

Terdengar sahutan dari balik sebuah peti mati.

Kemudian muncul ah si bungkuk yang menyambutnya tempo hari.

Tangannya membawa sebuah lentera.

Penampilannya tidak berbeda ketika pertama kali Tok-ku Bu-ti melihatnya.

Mata Tok-ku Bu-ti memandang ke sekeliling kemudian berhenti pada wajah si bungkuk.

"Ternyata kalian memang tidak membuat aku kecewa."

Si bungkuk tertawa datar.

"Di sini kami sebetulnya telah menyediakan sebuah peti mati bagi Yan Cong Tian. Sayangnya meskipun anggota kami itu berhasil membunuh Yan Cong Tian, tapi tidak ada satu pun yang berhasil membawa pulang mayatnya. Bahkan mereka pun semua sudah menjadi mayat."

"Tidak ada satu pun dari mereka yang hidup?"

Tanya Tok-ku Bu-ti entah benar-benar keluar dari hati yang tulus atau sekedar menyindir.

"Tidak ada ..."

Si bungkuk mengaku terus terang.

"Tapi bagaimana pun mereka berhasil menyelesaikan tugas dengan baik."

Wajah Tok-ku Bu-ti berubah serius.

"Ternyata Tian Sat bukan sekedar nama kosong. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan, bagaimana kalian bisa menggebah para tukang yang asli dan menyusup ke sana sebagai tukang-tukang palsu. Namun pekerjaan mereka memperbaiki bangunan rupanya boleh juga sehingga selama itu tidak pernah menimbulkan kecurigaan anak murid Bu-tong-pai."

Si bungkuk tertawa dingin.

"Kau tahu semuanya?" 1357

"Aku juga tahu mereka menyembunyikan senjata-senjata mereka dalam kotak di mana tersimpan peralatan pertukangan. Ada juga yang menyelipkannya di celah-celah tiang bangunan. Aku juga tahu jala-jala yang disediakan untuk memerangkap Yan Cong Tian adalah jenis jala yang istimewa. Dapat dikembangkan dan dapat ditariki kembali sesuka hati kalian."

"Tidak mudah menemukan rahasia mereka. Lebih sulit lagi dapat menemukan rahasia mereka tanpa diketahui oleh mereka sendiri."

Suara si bungkuk semakin dingin.

"Aku tidak bermaksud buruk. Tadinya aku mengira kalau-kalau mereka akan gagal dan aku bisa mengulurkan sedikit bantuan,"

Sahut Tok-ku Bu-ti dengan nada ikhlas. Si bungkuk tersenyum mengejek.

"Oh ya? Tampaknya kau masih meragukan cara bekerja pihak kami. Kau tidak percaya kami sanggup membunuh Yan Cong Tian!"

Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Sekarang aku sudah percaya sepenuhnya!"

Si bungkuk menggelengkan kepalanya.

"Untung saja pada dasarnya kau memang orang yang kaya. Kalau tidak, aku sungguh menyayangkan caramu membuang-buang waktu seperti sekarang dan bukannya pergi mencari sumbangan demi melunasi apa yang kaujanjikan."

Tok-ku Bu-ti hanya tersenyum mendengar pernyataan itu.

"Letakkan uang yang kaujanjikan di atas meja pembayaran. Setelah itu kau sudah boleh meninggalkan tempat ini,"

Pesan si bungkuk selanjutnya.

"Uang sejumlah sepuluh laksa tail bukan nilai yang sedikit. Meskipun setiap barang ada harganya, namun cara kalian mencari uang juga suatu hal yang mudah,"

Kata Tok-ku Bu-ti 1358 santai. Si bungkuk mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti dengan pandangan dingin.

"Jumlah sepuluh laksa tail aku sendiri yang menawarkan. Seandainya ada, dengan senang hati aku akan menyerahkannya kepada kalian,"

Kata Tok-ku Bu-ti selanjutnya. Wajah si bungkuk langsung berubah.

"Kau tidak punya?"

Tanyanya kurang percaya ...

"Oleh karena itulah aku ingin mengatakan? maaf yang sebesar-besarnya!"

Si bungkuk menggelengkan kepalanya.

"Langganan seperti dirimu ini, sudah terlalu lama kami tidak menjumpai."

"Berapa lama?"

Si bungkuk menghitung-hitung dengan jari tangannya.

"Tujuh tahun delapan bulan!"

"Kau masih mengingatnya dengan jelas."

"Karena aku sendiri yang turun tangan menghabisinya. Sampai-sampai aku memerlukan waktu selama tiga kentungan baru berhasil memasukkannya ke dalam peti mati. Pekerjaan yang melelahkan seperti itu sebetulnya tidak ingin kami ulangi lagi."

"Oh?"

Tok-ku Bu-ti agak tertegun mendengarnya.

"Ketika dibawa pulang kemari, tubuhnya terbagi dalam tujuh puluh dua potong. Kalau tidak sampai tiga kentungan, mana mungkin bisa menyusun kembali tubuhnya secara utuh di dalam peti?"

Si bungkuk menjelaskan dengan bibir tersenyum 1359 pahit.

"Tampaknya isi hatimu tidak terlalu busuk."

"Bagaimana pun membunuh orang dengan cara demikian bisa mengakibatkan hukum karma. Aku hanya meringankan dosaku sendiri dengan membiarkan mayatnya utuh kembali."

Tok-ku Bu-ti tertawa sumbang.

"Entah dengan cara apa kalian akan membereskan diriku?"

Tok-ku Bu-ti balik bertanya dengan wajah tenang.

"Kau tidak dapat disamakan dengan orang yang tidak bayar hutang tempo dulu itu!"

"Apanya yang tidak sama?"

"Orang-orang itu memang benar-benar tidak sanggup bayar. Mereka terpaksa menyembunyikan diri, sedangkan kau tidak."

Si bungkuk menarik nafas panjang.

"Orang berusaha apa pun tujuannya untuk mencari rejeki, bukan mencari permusuhan atau kemarahan. Seandainya tiga puluh hari masih tidak cukup bagimu untuk melunasi hutang tersebut. Kami dapat memberimu waktu tambahan sebanyak lima belas hari lagi!"

Tok-ku Bu-ti menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa!" ...

"Setiap masalah harus dilihat dari riwayat orangnya sendiri. Sedangkan kami tahu jelas bahwa Bu-ti-bun bukan sebuah partai yang tidak mempunyai uang."

"Sejak pertama kali aku masuk ke Pek-ka-cik, kalian sudah tahu siapa aku adanya!"

"Meskipun dandanan Tok-ku Buncu lain dengan biasanya. Bentuk tubuh dan penampilan tetap tidak berubah. Walaupun 1360 Bu-ti-bun sudah tinggal namanya saja, namun meskipun Tok-ku Buncu berdiri di sudut mana pun, tetap seperti seekor ayam jago yang perkasa, sekali lihat saja sudah dapat dikenali. Apalagi kami yang menjalankan usaha seperti ini, tentu kami harus lebih tajam dari orang lain!"

"Oh ya?"

"Kalau kau bukan Tok-ku Bu-ti, masa demikian mudah kami menerima transaksi ini!"

Si bungkuk tertawa terkekeh-kekeh.

"Selama ini kepercayaan yang diberikan oleh Tok-ku Buncu kepada setiap orang masih dapat dipegang teguh."

"Sayang Tok-ku Bu-ti sekarang bukan Buncu sebuah partai besar lagi."

Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang.

"Lagipula Tok-ku Buncu yang sebelumnya, selalu ada orang yang mengurus bagian keuangannya. Dia hanya menerima bersih tanpa repot-repot turun tangan. Sayangnya sejak digempur oleh pihak Siau Yau kok, Tok-ku Buncu yang satu ini sudah jatuh miskin sehingga benar-benar melarat."

Si bungkuk hanya mendengarkan. Dia tidak menukas ucapan Tok-ku Bu-ti.

"Tapi Tok-ku Buncu yang satu ini teringat bahwa di berbagai cabangnya yang tersebar di mana-mana masih terdapat banyak uang simpanan, oleh karena itu Tok-ku Buncu ini tidak memandang sebelah mata terhadap uang senilai sepuluh laksa tail. Dia mengira, asal dia mendatangi cabangnya yang tersebar di mana saja, uang itu akan mudah didapatkan olehnya."

Si bungkuk mulai tertarik akan ceritanya.

"Lalu, bagaimana hasilnya?"

"Ternyata para anggota yang dianggap setia oleh Tok-ku Buncu ini sudah menggunakan kesempatan untuk memencarkan diri ke seluruh penjuru dunia. Semua cabang 1361 yang didatanginya selalu hanya tinggal sebuah gedung yang kosong."

Sekali lagi Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang. Si bungkuk ikut-ikutan menarik nafas dalam-dalam.

"Aku ikut merasa iba terhadap nasib ilmu yang dimilki Tok-ku Buncu itu.

"Dengan mengandalkan ilmu yang di miliki Tok-ku Buncu ini ingin merampok uang senilai sepuluh laksa tail sebetulnya bukan hal yang sulit. Namun setidaknya dia pernah mempunyai kedudukan tinggi dan nama yang menggetarkan dunia kangouw. Kalau meminta dia melakukan perbuatan rendah seperti mencuri atau merampok rumah orang, rasanya Tok-ku Buncu ini masih belum sanggup melakukannya."

"Benar-benar harus disayangkan!"

Perlahan-lahan Tok-ku Bu-ti melipat payungnya kemudian meletakkannya di samping kursinya. Matanya beralih lagi kepada si bungkuk.

"Oleh sebab itu, dia terpaksa datang ke mari dan berharap Tian Sat dapat memberikan jalan keluar baginya."

"Saudara dapat mengeluarkan semua kata-kata ini, tentunya sudah mempunyai jalan keluar yang baik."

Tok-ku Bu-ti melepaskan kain hitam yang mengikat di dagunya.

"Jalan keluar memang sudah terpikirkan. Entah Tian Sat dapat menerimanya atau tidak?"

"Mengapa tidak diuraikan agar kita dapat membahasnya bersama-sama?"

"Mungkin aku bisa membantu Tian Sat membereskan beberapa orang yang diminta oleh para pelanggannya,"

Sahut Tok-ku Bu-ti sepatah demi sepatah. Si bungkuk tertawa lebar.

"Orang yang tidak dapat kau bereskan saja, harus meminta bantuan Tian Sat untuk 1362 membereskannya. Lalu masih ada siapa lagi yang dapat kau bereskan untuk Tian Sat? Bukankah usulmu ini aneh kedengarannya?"

Tok-ku Bu-ti langsung tertegun mendengar pernyataan itu.

"Orang yang berilmu tinggi, bukan berarti hanya mengerti bagaimana caranya membunuh orang. Pekerjaan seperti kami ini harus mempunyai keahlian tersendiri, tidak hanya memerlukan ketinggian ilmu silat atau kecerdasan otak saja. Kau bisa menemukan markas organisasi ini, tentunya kau juga harus mengerti peraturan yang telah kami tentukan."

"Mengerti sih mengerti, tapi aku merasa kalian tetap memerlukan tenaga tambahan."

"Dugaanmu belum tentu benar bukan?"

"Apakah ilmu silat yang aku miliki ini tidak bernilai sepuluh laksa tail?"

Tanya Tok-ku Bu-ti penasaran.

"Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan senilai atau tidaknya ilmu silat yang kau kuasai. Tapi motto yang sudah terpatri dalam organisasi Tian Sat. Seandainya setiap langganan yang kami temui mempunyai niat sepertimu, maka sudah sejak lama Tian Sat tidak berdiri di dunia ini. Apa pula yang harus kami makan untuk melewati hari? Ilmu silat saja?"

Tok-ku Bu-ti terdiam mendengar kata-kata itu.

"Tok-ku Buncu adalah seorang yang pernah menggetarkan dunia persilatan dengan partai Bu-ti-bun, tentu kau mengerti apa yang aku maksudkan. Seandainya sejak dulu Bu-ti-bun mempunyai pendirian seperti Tok-ku Buncu sekarang, aku tidak heran mengapa Bu-ti-bun bisa hancur hari ini,"

Kata si bungkuk selanjutnya. Tok-ku Bu-ti hanya mendengus dingin. 1363

"Lagipula dengan kedudukan seperti yang pernah Tok-ku Buncu jabat, mungkinkah menerima perintah orang lain dalam jangka waktu yang panjang? Tentunya Tok-ku Buncu sendiri mengerti sekali bisa atau tidaknya."

Tok-ku Bu-ti menarik nafas dalam-dalam.

"Kalau begitu, maksud Saudara ..."

"Seandainya kau tidak dapat membayar hutangmu dengan uang, maka kami meminta kau membayarnya dengan nyawamu."

Tok-ku Bu-ti tertawa datar.

"Bukankah dengan demikian kalian malah rugi sebanyak dua kali?"

"Demi nama baik organisasi yang telah kami pupuk selama ini, kami tidak dapat mempertimbangkan lebih jauh lagi!"

Kata si bungkuk dengan nada serius.

"Kau bisa mengambil keputusan?"

Tanya Tok-ku Bu-ti tiba-tiba.

"Hal ini tidak lebih penting daripada membunuh Yan Cong Tian!"

Sahut si bungkuk.

Kemudian dia meniup lentera di tangannya hingga padam.

Seluruh ruangan itu menjadi gelap gulita seketika.

Tepat pada saat itu juga, sebilah pedang yang panjang tiba-tiba terhunus keluar dan meluncur ke arah Tok-ku Bu-ti.

Tubuh Tok-ku Bu-ti berkelebat.

Sepasang tinjunya dikerahkan.

Tiba-tiba meja kasir yang ada di hadapannya terjungkir balik.

Pembunuh yang bersembunyi di balik meja kasir langsung melesat keluar.

Tubuhnya menggelinding di atara meja kasir yang pecah berantakan.

Tangannya bergerak.

Pecahan meja bagai bilahan pisau kecil meluncur ke arah Tok-ku Bu-ti.

Namun hantaman Tok-ku Bu-ti lebih cepat lagi.

Pecahan kayu dari meja terpental kembali dan menusuk beberapa bagian 1364 tubuh pembunuh tersebut.

Orang itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan.

Nyawanya melayang seketika.

Tok-ku Bu-ti menarik tangannya kembali.

Dengan tenang dia duduk kembali di kursinya semula.

Seakan tidak pernah terjadi apa pun.

Dalam sekejap mata saja, si bungkuk sudah menghilang di balik peti mati yang terdapat di ujung ruangan.

Meskipun ruangan di dalam itu sangat gelap, tapi tidak berarti orang tidak dapat melihat apa-apa.

Cahaya lentera dari luar menyorot remang-remang ke dalam ruangan.

Walaupun cahayanya redup sekali, namun sudah lebih dari cukup bagi penglihatan Tok-ku Bu-ti yang tajam.

Sinar mata Tok-ku Bu-ti terpusat pada arah di mana si bungkuk menyelinap tadi.

Bibirnya tersenyum mengejek.

"Apakah gebrakan tadi dapat membuat kalian berubah pikiran?"

"Tidak bisa!"

Suara si bungkuk terpancar dari balik peti mati di ujung ruangan.

Tampaknya pendirian orang yang satu ini kukuh sekali.

Tubuh Tok-ku Bu-ti kembali berkelebat.

Dia menerjang ke sumber suara si bungkuk.

Tiba-tiba tutup peti mati yang berjajar di dalam ruangan terbuka serentak, satu per satu melayang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Dari dalam peti juga melesat keluar beberapa orang manusia berpakaian hitam.

Dandanan mereka persis seperti para pembunuh yang menyergap Yan Cong Tian tempo hari.

Tampaknya Tian Sat benar-benar sudah memperhitungkan segalanya dengan matang.

Para manusia berpakaian hitam itu menerjang dengan tangan masing-masing menggenggam sebatang pedang.

Mereka segera mengambil posisi mengurung Tok-ku Bu-ti.

Tiba-tiba sepasang lengannya berputar, di belakang punggung seakan tumbuh sepasang sayap.

Tubuhnya yang sedang menerjang ke depan tiba-tiba berjungkir balik ke belakang.

Tutup peti mati 1365 meluncur di bawah kakinya dan saling bertabrakan satu sama lain.

"Brak! Brak!"

Suaranya benar-benar memekakkan telinga.

Dapat dibayangkan tutup peti mati berjumlah puluhan berbenturan seperti saling menyapa.

Manusia-manusia berpakaian hitam yang tadi melesat keluar dari dalam peti mati juga sangat lincah gerakannya.

Reaksi mereka pun tidak lambat.

Tubuh mereka yang tengah melayang di udara langsung terjungkir balik dengan kaki menutuldi atas tutup peti mat.

Dengan demikian, tubuh mereka mendapat kekuatan kembali untuk meluncur kembali menerjang ke arat Tok-ku Bu-ti.

Sementara tiga orang manusia berpakaian hitam menerjang ke arahnya.

Tubuh mereka belum lagi sampai, tangan mereka telah mengibaskan serangkum senjata rahasia.

Dalam kegelapan terlihat senjata rahasia yang bentuknya kecil-kecil itu memancarkan cahaya berwarna kebiruan.

Hal ini menandakan bahwa senjata rahasia tersebut telah ditaburi racun-racun yang keji.

Tangan Tok-ku Bu-ti bergerak.

Topi pandan yang terletak di atas kursi di mana dia duduk tadi langsung disambarnya dan digunakan sebagai perisai.

Senjata-senjata rahasia yang sedang meluncur ke arahnya terkibas rontok.

Setelah itu dia melemparkan topi pandannya dengan kekuatan penuh.

"Sing!"

Terdengarlah suara desingan topi pandannya yang meluncur dengan cepat.

Salah seorang manusia berpakaian hitam langsung menjadi korban.

Topi pandan yang disambitkan oleh Tok-ku Bu-ti tepat menancap di tenggorokannya.

Darah muncrat bagai air pancuran.

Setelah terhuyung-huyung dua kali, orang tersebut rubuh dengan leher menganga lebar.

Dapat dibayangkan kehebatan tenaga dalam Tok-ku Bu-ti.

Hanya dengan sebuah topi pandan saja dia sanggup melukai leher lawannya sampai putus nyawanya.

1366 Tangan Tok-ku Bu-ti tidak berhenti.

Sebatang pedang yang sedang meluncur ke arahnya langsung dijepit di antara kedua telapak tangan.

Orang yang memegang pedang tersebut tidak dapat melawan kekuatan tenaga Tok-ku Bu-ti, tubuhnya berputaran kemudian terlempar keluar.

Sialnya tubuh itu tepat melayang ke arah sebatang pedang lain yangsedang meluncur tiba.

Tidak ayal lagi tubuh itu tertembus dari depan sampai belakang.

Rekan manusia berpakaian hitam itu yang sedang menerjang ke raha Tok-ku Bu-ti melihat tubuh kawannya sendiri meluncur ke arahnya.

Mati-matian dia berusaha menarik kembali pedangnya, namun tetap kalah cepat.

Tubuh rekannya itu tetap saja menembus pedangnya dan mati tanpa sempat menjerit lagi.

Bahkan dirinya sendiri ikut terpental karena dorongan tenaga Tok-ku Bu-ti yang kuat.

Tangan Tok-ku Bu-ti bergerak kembali.

Pergelangannya memutar dan mencengkeram sebatang pedang yang sedang meluncur datang.

Dia melemparkannya ke atas dan menyambut kembali di bagian gagangnya.

Tangannya tidak berhenti bergerak, dia langsung menusukkan pedang tersebut dua kali berturut-turut.

Sinar pedang memijar.

Dua orang manusia berpakaian hitam yang sedang menerjang ke arahnya berusaha menghindar.

Namun salah seorang tertebas di bagian pinggangnya, tubuhnya terbelah menjadi dua bagian.

Darah muncrat seperti air mancur.

Pemandangan yang sungguh mengerikan.

Orang satunya lagi begitu terkejut sehingga hampir terperosok ke depan.

Pedang yang berhasil direbutnya adalah pedang biasa.

Tapi karena tenaga Tok-ku Bu-ti kuat sekali, dia bisa menebas salah satu manusia berpakaian hitam itu sehingga terputus menjadi dua bagian.

Apalagi kalau yang yang digunakannya adalah sebatang pedang pusaka, kehebatannya sungguh 1367 tidak terbayangkan.

Dengan mengandalkan tenaga dalam yang dimiliki Tok-ku Bu-ti sekarang, sebatang kayu pun bisa berubah menjadi setajam pedang.

Sekali bergerak Tok-ku Bu-ti sudah membunuh dua orang manusia perpakaian hitam.

Tiba-tiba pedang di tangannya disambitkan ke depan dengan kekuatan penuh.

Dua orang manusia berpakaian hitam yang sedang menerjang ke arahnya memandang dengan mata terbelalak.

Yang bagian depan tertembus dadanya dan yang di belakang tidak keburu menghindar.

Ujung pedang yang menembus lewat dada temannya langsung menancap di tenggorokannya.

Sambilannya penuh dengan perhitungan yang tepat.

Sekali gerak dua korban jatuh.

Wajah para manusia berpakaian hitam iti berubah seketika.

Gerakan mereka pun menjadi terhenti.

Tok-ku Bu-ti tidak menyerang mereka.

Dia berlaku seperti tidak terjadi apa-apa.

Dengan perlahan dia melangkahkan kakinya menuju pintu toko tersebut dan keluar dengan tenang, dan merapatkan pintunya kembali.

Pada dasarnya dia memang tidak ingin membunuh orang-orang itu apabila mereka tidak menyerangnya terlebih dahulu.

Dia juga hanya ingin menunjukkan sedikit kekuatannya kepada Tian Sat yang telah menolak uluran tangannya.

Sesaat kemudian keadaan di dalam ruangan baru menjadi gempar.

Mereka seperti baru tersadar bahwa Tok-ku Bu-ti telah meninggalkan tempat itu.

Dengan panik mereka menimpukkan berbagai senjata rahasia.

Namun pintu sudah keburu dirapatkan kembali, akibatnya senjata-senjata yang berjumlah ratusan itu hanya menancap di pintu besar tersebut.

Dua orang manusia berpakaian hitam langsung menerjang keluar.

Mereka menyambitkan pedangnya ke punggung Tok-ku Bu-ti.

Tetapi punggung orang itu seperti tumbuh mata saja.

Dengan menggeser sedikit tubuhnya, kedua batang pedang yang 1368 tajam tadi meluncur lewat di samping pinggangnya.

Kemudian dengan gerakan cepat dia membalikkan tubuh dan menghantam.

Kedua orang manusia berpakaian hitam itu langsung terpental kembali ke dalam ruangan serta jatuh gedebrukan menghantam peti mati yang berjejer.

Pintu toko itu telah terbuka lebar.

Ratusan anak panah dibidikkan oleh manusia-manusia berpakaian hitam ke arah Tok-ku Bu-ti yang masih melangkah dengan tenang.

Sementara itu suara jeritan kedua orang yang tadi terpental kembali ke dalam ruangan baru berkumandang.

Tok-ku Bu-ti menghentakkan kakinya melesat secepat angin yang menghembus ke depan.

Tiga puluhan manusia berpakaian hitam yang berjaga di seberang jalan sudah bersiap siaga sejak tadi.

Namun gerakan mereka kalah cepat.

Tidak ada satu pun yang berhasil menghadang kepergian Tok-ku Bu-ti.

Sambil melesat ke depan, sepasang telapak tangan Tok-ku Bu-ti menghantam ke kanan dan kiri.

Sebagian besar dari manusia berpakaian hitam yang sedang bersiap siaga itu langsung terdorong oleh tenaganya yang kuat sehingga melayang jauh, bahkan ada yang melayang ke atas genting.

Suara jeritan ngeri berkumandang di mana-mana.

Tok-ku Bu-ti menepuk-nepuk pakaiannya.

Matanya berpaling ke arah toko keluarga Tio yang berada di seberang.

Kebetulan tatapan matanya bertemu pandang dengan sinar mata si bungkuk yang baru berjalan keluar dari dalam toko itu.

Wajah si bungkuk hijau membesi.

Matanya mendelik ke arah Tok-ku Bu-ti.

Bibirnya mencibir.

"Tok-ku Buncu memang tidak malu disebut pendekar kelas satu zaman ini!"

Sindirnya tajam. Tok-ku Bu-ti melambaikan tangannya dengan gontai.

"Meskipun ilmu Yan Cong Tian jauh lebih tinggi di atasku, tapi dia merupakan murid yang ditetaskan oleh sebuah partai 1369 beraliran lurus, apalagi dia jarang berkelana di dunia kangouw. Untuk membunuhnya, hal yang paling penting adalah menangkap titik kelemahannya. Sama sekali bukan hal yang sulit. Terutama bagi orang yang tidak pernah dijumpainya!"

"Tok-ku Buncu memang orang yang berpengalaman di dunia kangouw. Cara apa yang belum pernah dilihat oleh Tok-ku Buncu. Untuk membunuh seorang manusia licik seperti Tok-ku Buncu memang bukan hal yang mudah,"

Sabut si bungkuk sambil tertawa dingin. Dia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kembali sepatah demi sepatah.

"Namun, biar bagaimana sulitnya, Tok-ku Buncu yang satu ini tetap harus dibunuh!"

Hati Tok-ku Bu-ti agak tergetar. Namun dia tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya.

"Mungkin kita harus duduk kembali berhadapan dan merundingkan sekali lagi masalah ini."

Katanya dengan hati berharap. Si bungkuk ternyata tetap menggelengkan kepalanya.

"Sekarang, seandainya kau sanggup mengeluarkan uang sebanyak sepuluh laksa tail, tetap tidak berarti lagi bagi kami!"

Tok-ku Bu-ti terdiam mendengar ucapannya.

"Mungkin kau bisa meloloskan diri untuk hari ini, tapi belum tentu kau dapat menyelamatkan dirimu besok atau hari-hari selanjutnya. Orang yang mengenal organisasi kami pasti tahu bahwa selama ini kesabaran kami sangat besar sekali. Kami tidak mengenal kata putus asa dalam mencari orang yang berhutang kepada kami. Sekarang hutangmu sudah semakin bertumpuk. Bukan hanya jumlah uang sebesar sepuluh laksa tail, tapi puluhan jiwa anggota kami yang terbuang sia-sia di tanganmu!"

Kata si Bungkuk sambil membalikkan tubuhnya.

Tanpa menoleh lagi dia langsung masuk ke dalam toko tersebut.

Perlahan-lahan pintu dirapatkan kembali olehnya.

Orang-orang yang terlempar ke atas genting semuanya sudah 1370 bubar.

Tidak ada lagi satu pun manusia berpakaian hitam yang masih berkeliaran di sekitar tempat itu.

Tok-ku Bu-ti tidak memperdulikan mereka.

Dia mendongakkan kepalanya menatap ke atas langit.

Malam sudah mulai merayap.

Entah kapan hujan akan berhenti.

Angin masih juga bertiup kencang.

Tok-ku Bu-ti termenung sejenak.

Diedarkannya pandangannya.

Di sepanjang jalan tidak terlihat bayangan seorang pun.

Semua pintu rumah penduduk tertutup rapat.

Mungkin mereka enggan keluar rumah atau tidak ingin mendapatkan kesulitan setelah terjadinya keramaian tadi.

*** Kesunyian mencekam.

Berapa banyak bahaya yang tersembunyi dalam kesunyian yang mencekam ini?

Tok-ku Bu-ti tidak tahu.

Namun dia sekarang sudah menyadari bahwa seluruh Pek-ka-cik ini merupakan desa yang terorganisir oleh Tian Sat.

Setelah merenung sejenak lagi, Tok-ku Bu-ti baru meneruskan langkah kakinya.

Dia mengambil arah menuju luar desa tersebut.

Angin yang menghembus melambai-lambaikan pakaiannya.

Dedaunan yang tumbuh menjalar di sepanjang tembok di kedua sisi jalan juga menimbulkan suara berdesir-desir karena tiupan angin tersebut.

Baru berjalan sejauh tiga depa, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya, kemudian tubuhnya mendadak melesat ke depan seperti sebatang anak panah yang meluncur.

Dalam waktu yang bersamaan, sebuah jala yang besar melayang turun dari udara.

Tapi sebelum jala itu mendarat di atas tanah, tubuh Tok-ku Bu-ti sudah melesat keluar dari jaringan jala tersebut.

Gerakan tubuhnya tidak berhenti.

Dia melesat lagi sejauh tiga depa.

Setelah itu baru dia berhenti.

Tok-ku Bu-ti melihat sekelilingnya.

Dia berhenti di depan 1371 rumah seorang penduduk.

Dengan mengehntakkan kakinya ia melayang ke atas genting rumah itu.

Ratusan anak panah meluncur ke arahnya.

Tok-ku Bu-ti tahu panah-panah itu dibidikkan dari tembok tinggi di seberang rumah di mana dia bersembunyi.

Dengan cepat dia menggelinding.

Tubuhnya merapat di atas ge ting rumah tersebut.

Ratusan anak panah tadi lewat di atas kepalanya dengan suara mendesing-desing.

Menunggu sampai panah-panah itu habis dibidikkan, barulah tubuh Tok0ku Bu-ti mencelat lagi.

Dia langsung melesat di atas tembok rumah yang berjajar itu.

Ketika melewati sebatang pohon yang rimbun, matanya menangkap sebatang bambu kecil yang runcing meluncur pesat mengancam dadanya.

Tubuh Tok-ku Bu-ti memutar setengah membungkuk, jari tangannya terangkat.

"Crep!"

Bambu runcing tadi terselip di antara dua jari telunjuk dan tengahnya kemudian terputus menjadi dua bagian.

Tubuh orang yang menyambitkan bambu runcing tadi terpental seketika oleh hantaman Tok-ku Bu-ti yang menyerang secara tiba-tiba.

Ternyata dia adalah peramal buta yang pernah disinggahi oleh Tok-ku Bu-ti ketika meminta petunjuk untuk menemukan markas Tian Sat.

pakaiannya masih yang tempo hari juga.

Tangan kanannya masih memegang tabung bambu.

Rupanya benda yang disambitkan tadi adalah kayu panjang yang biasa dikocokkannya di dalam tabung sebagai alat untuk meramal.

Sinar mata Tok-ku Bu-ti memandanginya denagn tajam.

"Apakah kau datang untuk meramal nasibku?"

Si buta menggelengkan kepalanya.

"Nasibmu tidak perlu diramal lagi!"

Sahutnya tenang.

"Mengapa?" 1372

"Umurmu tidak akan panjang!"

Tok-ku Bu-ti tertawa dingin.

"Aku juga sudah belajar ilmu meramal."

"Oh ya?"

Wajah si Buta tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Baca Juga: Perintah Maut 11

Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert