Ceritasilat Novel Online

Ilmu Ulat Sutera 13

Eps 13 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying

Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.

"Maukah kau apabila aku meramalkan nasibmu?"

Tanya Tok-ku Bu-ti.

"Bagaimana menurut penglihatanmu?"

"Umurmu bahkan lebih pendek daripada umurku!"

Bentak Tokku Bu-ti sambil menghentakkan kakinya mencelat ke atas.

Dalam waktu yang bersamaan, tangan kiri si buta mengibas.

Puluhan batang kayu panjang langsung disambitkan keluar.

Semuanya mengarah ke sepasang mata Tok-ku Bu-ti.

Namun dengan gerakan santai Tok-ku Bu-ti menggeser kepalanya.

Puluhan batang kayu tersebut melintas di samping pipinya.

Sekali tangan si buta digerakkan dengan cepat, serangkum hawa dingin langsung menerpa.

Ternyata yang disambitkan kali ini merupakan tiga puluh enam batang jarum beracun.

Sementara itu, tangan kirinya sekali lagi mengibaskan batangan kayu panjang ke arah tenggorokan Tok-ku Bu-ti.

Tidak usah diragukan lagi, si buta ini pasti seorang ahli senjata rahasia.

Sayang sekali lawan yang dihadapinya adalah Tok-ku Bu-ti.

Manusia yang licik ini seakan sudah dapat menduga apa yang akan dilakukannya.

Tiba-tiba tubuhnya berjungkir balik, kepala di bawah dan kaki di atas.

Dengan demikian ketiga puluh enam batang jarum beracun itu pun melesat dari sasarannya.

Kakinya langsung dihentakkan dan menutul kembali di atas tembok.

Tepat pada saat itu si Buta melesat ke arahnya dari tembok ujung.

Dengan kecepatan kilat Tok-ku Bu-ti menendangkan kakinya ke arah kepala si Buta yang sedang 1373 meluncur tiba.

Terdengar suara.

"Prak!"

Yang menggiriskan hati. Kepala si Buta hancur seketika oleh tendangan kakinya itu, otaknya berceceran di mana-mana. Tubuh Tok-ku Bu-ti melayang turun dengan tenang. Dia tertawa lebar.

"Ternyata ilmu ra-malanku lebih hebat durimu."

Tanpa menunda waktu lagi, dia langsung menghentakkan kakinya sekali lagi dan melesat ke depan.

Untuk meninggalkan Pek-ka-cik masih harus menempuh perjalanan kurang lebih setengah kentungan.

Tok-ku Bu-ti sadar bahaya sekarang mengancamnya di mana-mana.

Mau tidak mau dia harus meningkatkan kewaspadaannya.

Tampaknya mulai saat itu, hari-hari tenang tidak akan pernah dirasakannya lagi.

Kakinya meloncat dari satu tembok rumah ke tembok rumah lainnya.

Sekejap saja dia sudah mencapai setengah perjalanan.

Dua kali lagi kakinya meloncat, mendadak tembok yang di njaknya pecah berhamburan.

Tubuhnya melorot turun.

Namun Tok-ku Bu-ti tidak panik, dia berjungkir balik dengan cepat dan mencelat lagi di udara.

Pada saat itulah dia melihat tanah di bawahnya penuh dengan pisau-pisau tajam, se¬dangkan tembok yang digunakannya sebagai landasan sudah hancur semua.

Tubuhnya tidak mungkin mencelat terus di udara.

Sekarang di atas kepalanya sudah melayang turun sehelai jala besar.

Otaknya tidak sempat berpikir lama-lama, dia lantas mengambil keputusan untuk menem¬puh bahaya.

Kakinya dibiarkan memberat dan melayang turun.

Sesampainya di bawah, dia langsung menutul di atas sebatang pedang dan mencelat lagi ke atas dengan kedua telapak ta¬ngan menghantam ke arah jala.

Dalam sekejap mata terlihat jala itu terkoyak dan memperlihat¬kan sebuah lubang yang besar.

Tubuh Tok-ku Bu-ti langsung menerobos melalui celah tersebut dan melayang keluar.

Tepat pada saat itu, di tangan kirinya telah bertambah sebilah pedang pendek yang ca¬hayanya berkilauan pertanda tajam 1374 sekali.

Ru¬panya sambil menghantam, tangan yang satunya juga membantu mengoyak jala tersebut sehingga terkoyak.

Namun semua itu tidak ada gunanya apabila reaksi Tok-ku Bu-ti kurang sigap dalam menanggapi bahaya yang dihadapinya.

Baru saja dia melesat pergi, di tempat yang sama kembali melayang dua lembar jala besar persis seperti yang pertama.

Seandainya dia masih ada di bawah jala tadi, dia tidak berani membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.

Kakinya tidak berhenti berlari.

Dia terus menerjang ke arah depan.

Sekali-kali dia menolehkan kepalanya.

Tidak terlihat adanya orang yang mengejar.

Juga tidak ada suara teriakan dari belakang.

Tok-ku Bu-ti tetap berlari sejauh beberapa depa baru menghentikan kakinya.

Sekali lagi dia menolehkan kepalanya ke belakang.

Pek-ka-cik seperti sebuah kota mati.

Di jalan raya tidak terlihat seorang pun.

Juga tidak ada penerangan sama sekali.

Keadaan gelap gulita dan menyeramkan!

Wajah Tok-ku Bu-ti pucat pasi.

Sekarang dia baru benar-benar mengerti kata takut!

Meskipun ilmu orang-orang yang menghadangnya tidak terlalu tinggi, namun mereka terdiri dari anggota yang dinamakan pasukan berani mati.

Kesetiaan seperti itu benar-benar mengerikan.

Belum lagi kekompakan mereka dalam menghadapi lawan.

Tok-ku Bu-ti yakin di dunia kangouw ini tidak ada satu partai pun yang dapat menyamai organisasi ini.

Hal inilah yang benar-benar menggetarkan nyali Tok-ku Bu-ti.

Apalagi ketekatan mereka apabila sudah memutuskan suatu hal juga di luar dugaan Tok-ku Bu-ti.

Sebagai seorang tokoh yang berilmu demikian tinggi seperti dirinya, dalam organisasi Tian Sat ia seakan tidak ada harganya.

Tok-ku Bu-ti sungguh tidak mengerti.

Padahal sejak semula dia memang sudah merencanakan semuanya dengan baik.

Tanpa adanya uang 1375 sebagaimana perjanjian yang mana harus dibayarkan, tadinya Tok-ku Bu-ti menganggap dapat membayarnya dengan tenaga yang dia tawarkan.

Tidak disangka kalau Tian Sat akan menolaknya.

Apa sebabnya?

Apakah karena Tian Sat tidak berani menggunakan tenaganya atau Tian Sat sama sekali tidak membutuhkan tenaga orang sepertinya?

Tok-ku Bu-ti benar-benar lidak tahu.

Hanya satu hal yang disadarinya sekarang.

Saat ini dia menjadi sasaran yang harus dibunuh oleh Tian Sat!

Namun dia juga tidak perduli.

Semuanya sudah terlanjur seperti ini, tidak ada lagi hal yang patut dikenangkan baginya.

Tok-ku Bu-ti tidak takut lagi menghadapi kematian.

Dia hanya tidak ingin mati konyol.

Kehidupan manusia memang selalu ada pasang surutnya.

Hanya saja sebelum semua ini terjadi, keadaan Tok-ku Bu-ti melambung terlalu tinggi.

Apabila seseorang sudah mencapai kehidupan yang demikian tinggi lalu tiba-tiba terjatuh ke bawah, pasti ia akan mendapatkan pukulan yang hebat sekali.

Pukulan semacam ini belum tentu dapat diterima oleh setiap orang.

Bahkan manusia hebat seperti Tok-ku Bu-ti pun tidak sanggup menerimanya.

Dari apa yang diperbuatnya sekarang, caranya membalas dendam, tampaknya kepercayaan Tok-ku Bu-ti terhadap dirinya sendiri sudah surut sebagian.

Namun apakah orang-orang akan mengerti mengapa dia sampai mengambil tindakan demikian.

Pukulan batin yang berat membuat pikirannya menjadi kacau.

Dia tidak bisa mempertimbangkan lagi akibat apa yang akan diterimanya apabila dia menggunakan jasa Tian Sat.

Tok-ku Bu-ti memang telah kehilangan segalanya.

Murid yang paling disayanginya, anak dan istrinya, keperkasaannya sebagai seorang Buncu, bahkan kehilangan harga dirinya sendiri.

Dia tidak menyadari bahwa dirinyalah yang mengakibatkan semua ini.

Bukan Sen Man Cing, bukan Wan Fei Yang, bukan pula Yan Cong Tian.

Bahkan bukan pula Ci 1376 Siong to jin yang sudah mendahuluinya.

Pada dasarnya, sejak Bu-ti-bun dikuasai oleh pihak Thian-ti, dia sudah kehilangan tempat tinggalnya.

Sekarang bertambah satu lagi persoalan yang membuat semuanya semakin kacau.

Dia tidak tahu harus kemana.

Perjalanan di hadapannya seperti hamparan kabut.

*** Tengah hari ...

Tok-ku Bu-ti berjalan di sebuah jalan raya pada sebuah kota yang lainnya.

Dia sudah jauh meninggalkan Pek-ka-cik.

Dia yakin kota yang satu ini bukan terdiri dari anggota Tian Sat sebagaimana desa Pek-ka-cik.

Setiap orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan tampaknya biasa-biasa saja.

Sikap mereka terlihat wajar.

Seorang laki-laki berusia setengah baya berjalan dari arah depan.

Punggungnya membawa sebatang pedang panjang.

Tanpa sadar Tok-ku Bu-ti mengawasinya.

Dia mengingatkan dirinya untuk berhati-hati terhadap segala kemungkinan, tapi laki-laki setengah baya itu bahkan tidak melirik sekilas pun ke arah Tok-ku Bu-ti.

Dengan langkah lebar dia melewati Tok-ku Bu-ti.

Dia melangkah dengan tenang.

Penampilan wajahnya juga tidak mencurigakan.

Sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang mengincar Tok-ku Bu-ti.

Namun baru saja dia lewat di samping Tok-ku Bu-ti beberapa tindak, orang yang sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan tersebut tiba-tiba menghunus pedangnya dan menusuk ke arah Tok-ku Bu-ti.

Pedang yang digunakannya berbentuk pipih.

Panjangnya hanya satu setengah cun.

Sama sekali bukan pedang yang disandangnya di punggung.

Dia menyembunyikannya di 1377 dalam lengan bajunya yang longgar.

Oleh karena itulah Tok-ku Bu-ti cukup terkejut melihat serangannya yang mendadak itu.

Sejak tadi dia memperhatikan pedang di punggung orang itu, dia tidak mengira masih ada senjata yang lain disembunyikan.

Ketika tangan orang itu bergerak, tubuhnya langsung membalik dan menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Untung saja Tok-ku Bu-ti sudah meningkatkan kewaspadaannya.

Reaksinya menghadapi serangan itu cukup cepat.

Tubuhnya langsung berkelebat.

Pedang itu meluncur datang serta sempat mengoyak lengan bajunya.

Tok-ku Bu-ti tidak berhenti.

Tubuhnya membalik dan telapak tangannya menghantam pada waktu yang bersamaan.

Tubuh orang itu terhuyung-huyung beberapa detik kemudian terpental ke belakang oleh hantaman telapak tangan Tok-ku Bu-ti.

Dalam waktu yang bersamaan, dua belas batang panah kecil-kecil meluncur ke arah Tok-ku Bu-ti.

Ternyata panah-panah itu meluncur dari sebuah kurungan ayam yang ada di sudut jalan.

Si pedagang ayam itu langsung muncul dari balik kurungan tersebut.

Tangannya menggenggam sebatang pedang panjang.

Tanpa menunda waktu lagi dia langsung menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Sekali lagi Tok-ku Bu-ti bergeser ke samping.

Delapan batang anak panah yang meluncur ke arahnya mencapai sasaran yang kosong.

Tangan Tok-ku Bu-ti mengibas secepat kilat.

Sisa empat batang lagi anak panah yang juga sedang meluncur ke arahnya langsung terdorong oleh kibasan lengan baju Tok-ku Bu-ti sehingga berbalik ke arah tuannya sendiri.

Kecepatannya ternyata tidak di bawah sambitan si pedagang tadi.

Pada saat itu, si pedagang dengan tangan menggenggam pedang sedang menerjang ke arah Tok-ku Bu-ti.

Melihat anak panah yang dilemparkannya tiba-tiba berbalik arah menyerangnya, dia terkejut sekali.

Bagaimana pun dia 1378 berusaha menghentikan gerakannya, namun tetap saja terlambat satu tindak.

Keempat batang anak panah tadi langsung menancap di dadanya.

Tubuhnya yang sedang menerjang ke depan langsung jatuh terkulai di atas tanah.

Orang itu mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan.

Tubuhnya menggelepar-gelepar seperti seekor ayam yang disembelih.

Hal ini pasti disebabkan oleh anak panah yang rupanya telah dilumuri racun keji.

Sejenak kemudian nyawanya pun melayang.

Pada saat itu, orang-orang di sekitar tempat itu baru menyadari apa yang telah terjadi.

Keadaan langsung menjadi gempar.

Mereka berlarian secara serabutan.

Bahkan ada yang saling menabrak.

Tok-ku Bu-ti memperhatikan sejenak.

Dia masih berdiri di tempatnya semula.

Beberapa saat kemudian, dia.

baru meneruskan kembali langkah kakinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal dalam hatinya ia sudah mulai tidak tenang.

Angin menghembus melalui celah lengan bajunya yang terkoyak.

Serangkum hawa dingin menyusup di dadanya.

Meskipun dia tidak terluka sama sekali, namun dia seperti masih merasakan ketajaman pedang yang digunakan untuk menyerangnya itu.

*** Senja hari ...

Tok-ku Bu-ti sampai di depan sebuah kuil tempat sembahyang penduduk sekitar.

Sepanjang perjalanannya sampai ke tempat ini, dia sudah diserang lagi sebanyak tiga kali.

Pertama kalinya dalam perjalanan.

Tiba-tiba sebatang, pohon yang besar tumbang dan seorang manusia berpakaian hitam meluncur ke arahnya dengan kecepatan seperti angin.

Tangannya yang menggenggam sebatang batang pedang langsung ditusukkan ke arah Tok-ku Bu-ti.

Untung saja dia cukup gesit 1379 menghindarkan diri.

Kalau tidak, saat ini dadanya pasti sudah berlubang karena tikaman orang itu.

Setelah itu, di sebuah rumah makan.

Belum lagi dia mengangkat cawannya untuk meminum arak yang dipesannya.

Berpuluh-puluh jarum berbisa telah disambitkan kepadanya.

Untung saja dia sempat memperhatikan sinar mata pelayan rumah makan itu yang mencurigakan.

Kalau tidak, sekarang dia sudah terkapar dengan tubuh membiru.

Setengah kentungan sebelumnya, ketika dia berjalan melewati sebuah jembatan, tiba-tiba jembatan kayu itu ambruk.

Di bawahnya telah menanti sebuah jala besar yang penuh dengan pisau-pisau kecil.

Sekali lagi dia berhasil menyelamatkan dirinya.

Meskipun tidak cedera sedikit pun, namun hatinya telah tergetar.

Semangat hidupnya bagai diacak-acak.

Pikirannya tidak sempat beristirahat sekejap pun.

Tidak usah diragukan lagi, semua kejadian yang ditemuinya atau yang masih menantinya merupakan cara pembalasan dendam organasasi Tian Sat.

*** Suara pembacaan doa masih berkumandang Tok-ku Bu-ti melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pendopo.

Mendengar suara suara para hwesio yang sedang bersembahyang hatinya baru bisa tenang sedikit.

Kuil yang satu ini tidak terlalu besar.

Ruan gan pendoponya juga hanya berukuran sedang tampaknya belum berapa lama didirikan.

Keadaan tembok dan lantainya masih bagus.

Usia para hwesio yang sedang membaca ayat suci juga masih relatif muda.

Mereka mengikuti pembacaan doa yang dilakukan oleh tiga orang hwesio berusia lanjut yang bersimpuh di bagian depan.

Tok-ku Bu-ti melangkah dengan perlahan.

Dia tidak ingin 1380 mengejutkan mereka dengan kedatangannya.

Dia duduk di atas sehelai tikar di ujung ruangan.

Tiga orang hwesio tua yang ada didepan tidak menunjukkan reaksi apa apa.

Para hwesio yang muda hanya melihatnya sejenak dengan pandangan heran.

Setelah itu mereka melanjutkan kembali pembacaan doanya.

Asap dupa mengepul-kepul.

Suara pembacaan ayat suci semakin nyaring.

Semakin lama didengarkan, semangat Tok-ku Bu-ti seperti semakin terbangkit.

Sedangkan ketukan pada bokhi setiap kali menggedor sanubari Tok-ku Bu-ti.

Mata Tok-ku Bu-ti terpejam.

Dia duduk tidak bergerak.

Pikirannya mulai melayang.

Hampir sama keadaannya seperti apa yang terjadi di Go-bi-san ketika It-im taisu berusaha menyadarkannya dan mengajaknya memasuki pintu Buddha.

Sayangnya tidak lama kemudian pembacaan ayat suci itu pun berhenti.

Tok-ku Bu-ti masih duduk dengan mata terpejam.

Dalam waktu tidak berapa lama saja, wajahnya sudah tampak jauh lebih tua dari sebelumnya.

Keadaannya saat itu lebih mirip seorang pendeta tua yang sedang merenungi kesalahannya.

Tiga orang hwesio tua yang tadi bersila di depan sekarang bangkit berdiri dan melangkah perlahan mendekatinya.

Mereka mengucapkan nama Buddha.

Salah seorang di antaranya segera menghampiri Tok-ku Bu-ti menyapanya.

"Sicu ini...."

Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti membuka matany lebar-lebar.

"Taisu bertiga, mengapa masih belum turun tangan?"

Tiba-tiba dia bertanya. Tiga orang hwesio itu tertegun.

"Mohon tanya apa arti ucapan Sicu ini?"

Tanya hwesio yang di tengah. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar.

"Kalian bertiga mungkin berniat 1381 menjadi murid Buddha, maka dari itu dandanan kalian persis sekali. Sayangnya kalian melakukan suatu kesalahan. Tiga orang hwesio itu hanya memandang Tok-ku Bu-ti dengan tatapan heran. Mereka tidak berkata apa-apa. Tok-ku Bu-ti segera menjelaskan apa maksudnya.

"Seharusny kalian tidak boleh mengetuk bokhi tersebut dengan demikian rahasia kalian belum tentu bocor. Sebuah bokhi yang berisi senjata rahasia apabila diketuk, tentu suaranya akan memendam. Tidak bersih dan nyaring sebagaimana biasanya. Tiga orang hwesio itu tampaknya tida mengerti apa yang dikatakan Tok-ku Bu-ti. Salah seorang yang berdiri di bagian kiri menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Tampaknya Sicu sudah salah paham terhadap kami."

Sepasang tangannya dirangkapkan. Tubuhnya membungkuk. Tiba-tiba terlihat beberapa carik sinar berkelebatan dari jubah pendetanya yang longgar.

"Sing! Sing!"

Terdengar dua kali desingan.

Tubuh Tok-ku Bu-ti mencelat ke udara.

Dua batang pisau terbang meluncur lewat di bawah kakinya dan jatuh berdenting di atas lantai.

Dua orang hwesio lainnya langsung mencelat mundur.

Masing-masing tangan mereka bergerak.

Bokhi yang diketuk-ketukkan tadi sudah berada dalam genggaman tangan mereka.

Tubuh Tok-ku Bu-ti melesat bagai roh gentayangan yang penasaran.

Sepasang jari tangannya langsung mengulur ke depan dan mencengkeram bahu kedua orang hwesio tadi.

Dia meraung keras, tenaganya langsung dikerahkan.

Terdengarlah suara tulang yang remuk di ringi jeritan ngeri.

Tangannya mengundur langsung merebut bokhi di tangan keduanya.

Serangkum senjata rahasia segera meluncur menancap di tubuh kedua hwesio tersebut.

Dapat dibayangkan bagaimana penderitaan yang mereka alami.

Sudah bahu dicengkeram sampai hancur, selurul tubuh 1382 tertancap puluhan senjata rahasia beracun pula.

Sebagian dari senjata rahasia itu meluncur lagi dan menancap di bagian tubuh tujuh hwesio lainnya.

Tubuh mereka terkulai ke atas lantai seketika.

Wajah mereka semuanya membiru.

Kulit mereka pun berkeriput tanda betapa kejinya racun yang dilumurkan di atas senjata-senjata rahasia tersebut.

Tok-ku Bu-ti cepat-cepat mengangkat tubuh hwesio tua tadi.

Dia menggunakan tubuhnya sebagai senjata untuk menghadapi dua hwesio lainnya.

Sinar pedang memijar.

Setiap serangan kedua hwesio itu pasti luput dari sasaran.

Malah rekan mereka yang sudah menjadi mayat semakin terkoyak-koyak tubuhnya tergores pedang mereka.

Tangan Tok-ku Bu-ti tinggal sebelah yang masih kosong.

Dengan tangan itu pula dia menggunakannya sebagai senjata.

Dengan kecepatan seperti kilat, jari tangannya menotok ke arah tenggorokan salah seorang hwesio.

"Crep!"

Darah mengucur dengan deras.

Dalam waktu yang bersamaan tubuh hwesio itu pun terjatuh di atas lantai dengan nyawa melayang.

Suara jeritan ngeri berkumandang di mana-mana.

Kuil yang merupakan tempat suci itu sekarang menjadi ajang pembunuhan.

Tangan Tok-ku Bu-ti ditarik kembali.

Tubuhnya berbalik dan menerjang ke arah hwesio yang satunya.

Mata hwesio tua itu menyorotkan mata mengerikan.

Pada saat itu, rasa takut sudah memenuhi hatinya.

Serangannya sudah berhenti.

Dia malah berdiri termangu-mangu menatap Tok-ku Bu-ti.

Dengan gerakan secepat angin, Tok-ku Bu-ti merebut pedang di tangannya serta langsung menebas batang leher hwesio tersebut.

Batok kepalanya menggelinding di atas lantai seperti sebutir bola.

Sungguh pemandangan yang menggidikkan hati.

Para hwesio muda lainnya yang melihat situasi di dalam ruangan itu tidak ada satu pun yang tidak berubah wajahnya.

Untuk sesaat mereka juga tertegun.

Kemudian menjerit 1383 histeris dan lari kocar-kacir.

Tok-ku Bu-ti justru yang termangu-mangu sekarang.

Tadinya dia mengira semua hwesio muda itu adalah anggota Tian Sat.

Kalau ditilik dari ketakutan mereka sekarang, rasanya bukan.

Tapi dia tetap menerjang ke arah mereka.

Tok-ku Bu-ti merasa semuanya sudah terlanjur.

Para hwesio muda itu tidak menunggu sampai Tok-ku Bu-ti mendekati mereka.

Tangan mereka mengibas.

Serangkum demi serangkum senjata rahasia meluncur dari lengan baju mereka.

Terdengar suara desingan yang gemuruh.

Tok-ku Bu-ti terkesiap.

Untung saja dia sudah mempunyai pikiran untuk tidak melepaskan para hwesio tersebut.

Sepasang telapak tangannya segera dihantamkan ke depan.

Senjata rahasia yang meluncur ke arahnya semua terpental balik.

Beberapa di antaranya malah menancap di tubuh para hwesio muda itu.

Sekali lagi jeritan ngeri memecahkan kesunyian.

Tok-ku Bu-ti tidak berhenti bergerak.

Tubuhnya melesat ke udara dan sepasang telapak tangannya kembali dihantamkan.

Tiga orang lagi hwesio muda yang rubuh bermandikan darah.

Dada mereka tergetar sehingga darah segar muncrat dari mulut mereka.

Nyawa mereka pun melayang seketika.

Hati Tok-ku Bu-ti sudah dipenuhi hawa pembunuhan.

Dia terus mengejar sisa hwesio muda yang masih hidup.

Satu per satu diburunya kemudian telapak tangannya menghantam ke sana sini.

Dalam sekejap mata tidak ada satu pun dari para hwesio itu yang masih bernafas.

Akhirnya gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti terhenti.

Dia memandang ke sekitarnya dengan seksama.

Setelah yakin tidak ada lagi manusia yang hidup di dalam ruangan itu kecuali sendirinya, dia mendongakkan kepala dan tertawa terbahakbahak.

Suara tawanya sama sekali tidak mengandung sedikit pun 1384 kegembiraan, malah terselip nada hatinya yang sunyi dan tidak berteman.

Baru kali ini Tok-ku Bu-ti merasakan betapa sendirinya ia di dunia ini.

Tidak ada lagi orang yang menantikan kepulangannya, tidak ada lagi orang yang mengkhawatirkan nasibnya.

Wajah Tok-ku Hong pun terlintas di benaknya.

Segurat rasa sakit seakan mengiris-iris hatinya yang memang sudah terluka.

Kemudian dia menarik nafas panjang.

Selama ini dia tidak berani memandang remeh, organisasi yang menamakan dirinya Tian Sat ini, tapi kehebatan dan kekuatan organisasi ini benar-benar di luar dugaannya.

Masih banyakkah bahaya yang akan ditemuinya sepanjang perjalanan hidupnya?

Tok-ku Bu-ti tidak berani memastikan.

Hanya satu hal yang disadarinya.

Bagaimana pun dia tidak bisa terus-terusan seperti ini.

Sudah berapa hari dia tidak dapat tidur nyenyak.

Bahaya mengintilnya di mana-mana.

Bahkan untuk makan saja pun dia tidak tenang.

Di manapun dia makan, pasti akan ada kemungkinan bahwa rumah makan yang disinggahinya telah disuap oleh organisasi Tian Sat.

Suatu hari pasti akan tiba saat apesnya.

Pada waktu itu dia sendiri tidak yakin dapat melolos kan diri dari maut.

Tok-ku Bu-ti sadar begini terus bukan jalan yang baik.

Kalau dia ingin hidup tenang maka di harus mencabut rumput sampai ke akar-akarnya.

Dia harus berhasil menemukan kepala organisas ini dan membasmi seluruh anggota mereka sampai tuntas.

Kalau tidak, tentunya hanya dengan kematiannya saja, kejaran Tian Sat terhadap dirinya baru dapat dihentikan.

Tetapi, dengan mengandalkan kekuatanny seorang, apabila ingin menghancurkan organisai Tian Sat ini, benar-benar bagai bermimpi di siang hari.

Boleh dikatakan, saat ini baginya hanya ada satu jalan, yaitu kematian.

*** 1385 Meskipun Bu-ti-bun sudah tinggal namanya saja, tapi setidaknya Tok-ku Bu-ti pernah berdiri sebagai seorang Buncu yang disegani orang banyak.

Partai Bu-ti-bun pernah menggetarkan dunia kangouw sebagai perguruan terbesar di jaman keemasannya.

Seandainya dia memang harus mati, dia tetap ingin mati sebagai seorang pendekar besar.

Kalau dia sampai mati terbunuh oleh anggota organisasi seperti Tian Sat, bukan saja kematiannya tidak gemilang, malah dia akan menjadi bahan tertawaan meskipun tubuhnya telah terkubur di dalam tanah.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan.

"Harimau mati meninggalkan kulitnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, maka manusia mati meninggalkan namanya."

Setidaknya dia harus mati dengan nama yang dikenang dalam sejarah.

Ketika gelak tawanya terhenti, dalam benak Tok-ku Bu-ti sudah terlintas sebuah rencana.

*** Senja jari ...

Angin bertiup semilir.

Daun-daun beterbangan di atas tanah.

Orang yang lalu-lalang di jalan raya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.

Angin bertiup semakin kencang.

Tamu-tamu yang singgah di rumah makan sudah mulai penuh.

Mereka pasti enggan berjalan di bawah tiupan angin yang kencang itu.

Rumah makan di sudut jalan itu tidak terlalu besar.

Arak yang disajikan juga lumayan mutunya.

Bakpao dan sajian kecil lainnya yang dihidangkan di atas meja juga cukup membangkitkan selera.

Hal ini membuktikan bahwa tukang masak yang memegang peranan di rumah makan itu mempunyai ilmu masak yang lumayan.

Rupanya pemilik rumah makan itulah yang merangkap sebagai tukang masak.

Bukan hanya makanan kecilnya saja, hidangan utama yang 1386 lainnya juga lezat sekali.

Tidak heran usahanya selalu laris sepanjang tahun.

Para tamu yang datang ke rumah makan itu selalu membawa teman-temannya.

Hanya satu orang yang merupakan kekecualian.

Dia duduk di sudut ruangan dengan punggung membelakangi pintu masuk.

Pakaiannya terbuat dari kain kasar berwarna biru langit.

Kepalanya menunduk rendah-rendah dan menikmati hidangan yang disajikan di hadapannya.

Dia hanya memesan beberapa butir bakpao, sekendi arak lama.

Dengan tenang dia menikmati makanannya tanpa memperdulikan orang-orang yang memenuhi sekitarnya.

Kalau dilihat dari punggungnya, sama sekali tidak ada yang menarik dari orang ini.

Tapi tetap saja ada dua orang tamu yang memperhatikannya sejak dia masuk ke dalam rumah makan tersebut.

Dua orang itu merupakan laki-laki setengah baya.

Mereka mengenakan pakaian piauwsu.

Mereka masuk ke dalam rumah makan itu setelah orang yang mengenakan pakaian biru melangkah masuk.

Hal ini membuktikan bahwa mereka sudah mengikutinya dari kejauhan.

Tentu saja tujuan mereka bukan sekedar makan dan minum.

Meskipun mereka memesan beberapa macam hidangan, tapi yang masuk ke dalam perut mereka justru terlalu sedikit.

Tiba-tiba orang yang duduk di bagian kiri tertawa terbahak-bahak.

"Sun heng, tidak dinyana kita akan bertemu di tempat ini. Kali ini boleh atau tidak akulah yang mentraktir!"

"Siapa yang traktir kan sama saja!"

Rekannya ikut tertawa. Setelah berdiam sejenak, tiba-tiba dia bertanya.

"Oh ya, Li heng, apakah sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini kau ada mendengar berita-berita yang hangat?"

"Tentu saja ada. Malah orang-orang sedang ramai 1387 membicarakannya. Siau Yau kok telah berhasil membasmi Bu-ti-bun ..."

"Itu sih aku juga sudah mendengarnya. Malahan menurut kabar yang tersiar, Fu Giok Su yang menjabat sebagai Ciang bun jin Bu-tong-pai, ternyata adalah cucu ketua Siau Yau kok yang merupakan aliran sesat itu."

"Tidak salah ..."

"Aih ... nasib Bu-tong-pai memang mengenaskan. Bermacam-macam musibah melanda partai itu. Belum lama Ci Siong tojin meninggal, tahu-tahu murid yang diterimanya adalah cucu musuhnya sendiri."

"Apa tidak? Malah seseorang yang bernama Wan Fei Yang yang menjadi kambing hitam sehingga dikejar-kejar oleh semua pihak. Oh ya ... apakah Li heng sudah mendengar bahwa Wan Fei Yang itu ternyata anak hasil hubungan gelap antara Ci Siong tojin dengan piau moaynya?"

Tubuh orang yang mengenakan pakaian berwarna biru itu agak bergetar mendengar pembicaraan mereka.

"Tentu saja sudah ... Hm, tidak disangka seorang Ciang bun jin sebuah partai besar dapat melakukan perbuatan seperti itu,"

Sahut orang yang dipanggil Li heng.

"Hal ini juga tidak dapat kita menyalahkan diri Ci Siong tojin. Peristiwa itu terjadi ketika dia belum menyucikan diri menjadi Tosu. Manusia kau tidak dapat terlepas dari jerat asmara. Dia sendiri juga tidak menyangka akhirnya akan terlahir seorang anak bernama Wan Fei Yang."

"Aikh ... semua ini memang sudah takdir Thian yang kuasa. Yang harus disalahkan malah sebetulnya nasib Bu-tong-pai yang memang mengenaskan ...

" 1388

"Untung saja ada seorang Wan Fei Yang. Apalagi Yan Cong Tian juga kabarnya berhasil melatih ilmu Tian can sinkang, dengan demikian kemungkinan besar nama Bu-tong-pai dapat bangkit kembali."

"Namun Wan Fei Yang dalam keadaan tragis. Dia mencintai seorang gadis yang ternyata adik kandungnya sendiri ... Untung saja isteri Tok-ku Bu-ti sempat datang mencegah terjadinya bencana yang lebih hebat."

"Betul ... Dengan kabar mereka kakak beradik memang hampir melakukan perbuatan terkutuk itu, untung saja wanita itu keburu datang. Benar-benar sesuatu yang dikatakan keberuntungan di dalan kemalangan,"

Kata si laki-laki she Sun. Dia menarik nafas panjang.

"Dalam keadaan murka, katanya Wan Fei Yang menyerang Tok-ku Bu-ti habis habisan. Kemudian dia berhasil dihalangi oleh muridnya yang bernama Kongsun Hong. Kasihan orang itu mengorbankan dirinya demi seorang guru yang tidak patut dibela. Setelah itu menurut kabar Wan Fei Yang pergi entah kemana."

Orang she Li ikut-ikutan menarik nafas panjang.

"Lebih baik kalau dia tidak pergi."

"Kenapa?"

"Peristiwa ini terjadi baru-baru ini saja, tidak heran kalau Li heng belum mendengar beritanya."

"Apa sebetulnya yang telah terjadi?"

"Setelah Wan Fei Yang pergi, Yan Cong Tian membakar musnah bekas markas Bu-ti-bun. Setelah itu mereka kembali ke Bu-tong-san. Di sana dia mencari tukang untuk memperbaiki beberapa ruangan yang rusak akibat bentrokan dengan Thian-ti dan kawan-kawan tempo hari. Siapa sangka dia malah ..."

Orang she Sun itu entah sengaja atau tidak menghentikan perkataannya sehingga membuat orang yang 1389 mendengarkan jadi penasaran.

Beberapa tamu yang sejak tadi sudah ikut mendengarkan semakin mempertajam telinga mereka.

Sedangkan kawannya yang she Li segera mendesaknya.

"Bagaimana?"

"Tidak tahunya ketika Yan Cong Tian memeriksa cara kerja tukang-tukang itu, dia kena dibokong. Ternyata tukang-tukang itu semuanya palsu. Entah siapa mereka, tapi yang pasti Yan Cong Tian mati secara mengenaskan di tangan mereka ..."

Tepat pada saat itu orang yang mengenaskan pakaian biru bergetar hebat.

"Tidak mungkin!"

Teriaknya tanpa sadar.

Jilid 31 Manusia she Li dan she Sun itu tertegun mendengar ada orang yang menukas kata-katanya.

Pandangan mereka segera beralih kepada orang yang mengenakan pakaian biru itu.

Dalam waktu yang bersamaan, orang yang mengenakan pakaian biru itu juga membalikkan tubuhnya.

Wan Fei Yang!

Orang she Sun tampaknya tidak mengenal Wan Fei Yang.

Dia menatap anak muda itu dengan pandangan curiga.

Orang she Li juga memperhatikan Wan Fei Yang dari atas kepala sampai ke bawah kaki, kemudian perlahan-lahan dia berdiri.

Matanya masih menatap Wan Fei Yang lekat-lekat.

Rambut Wan Fei Yang acak-acakan.

Jenggotnya tumbuh dengan semrawutan di sekitar dagunya.

Entah sudah berapa lama dia tidak berbenah diri.

Matanya mendelik ke arah dua orang she Li dan she Sun itu.

Mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun akhirnya dibatalkan kembali.

Orang she Sun melirik ke arah rekannya yang she Li sekilas.

"Li heng, orang ini ...

" 1390 Mata orang she Li itu tiba-tiba membelalak.

"Bukan ... kah ... Wan tai ... hiap adanya ..."

Suaranya tersendat-sendat.

"Wan Fei Yang?"

Orang she Sun langsung berdiri. Dia menatap Wan Fei Yang dengan pandangan kurang yakin.

"Wan taihiap ... kami berdua tidak tahu anda ..."

Kata orang she Li dengan nada agak gugup.

"Liongwi ..."

Wan Fei Yang menjura dalam-dalam.

"Apa yang kalian katakan tadi aku sudah mendengarnya dengan jelas. Aku sama sekali tidak menyalahkan kalian. Hanya Yan supekku itu ..."

"Wan taihiap sama sekali tidak tahu?"

Tanya orang she Li masih dengan suara gugup. Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Siaute justru ingin memohon petunjuk dari liongwi ..."

"Apa yang Wan taihiap dengar tadi merupakan kenyataan."

Orang she Li menari nafas panjang.

"Bukannya Siaute tidak percaya, tapi ... Yan Supek sudah berhasil melatih ilmu Tian can sinkang, sedangkan Tok-ku Bu-ti saja bukan tandingannya sekarang."

"Kekuatan Tian can sing kang ... cayhe sudah pernah membuktikannya."

Wan Fei Yang memandang orang she Li dengan tatapan tajam.

"Siaute tidak ada maksud menyombongkan ilmu silat golongan kami ..."

Katanya dengan nada rendah hati. Orang she Li itu tertawa getir.

"Cayhe adalah piausu dari Tian sai piaukiok. Ketika Wan taihiap melangsungkan pesta pernikahan, cayhe juga hadir bersama Cong piautau." 1391 Wan Fei Yang mana mungkin mengingat satu per satu tamu yang demikian banyak. Terpaksa dia tertawa getir.

"Silahkan diteruskan ..."

"Pada saat itu tamu yang hadir begitu banyak. Tentu Wan taihiap tidak mengingatnya satu per satu. Apalagi cayhe hanya seorang piauwsu yang tidak ternama."

"Li heng jangan berkata begitu!"

Sekali lagi Wan Fei Yang menjura.

"Harap Li heng jangan memanggil siaute dengan sebutan Taihiap. Siaute benar-benar tidak sanggup menerimanya. Oh ya ... kita kembali lagi pada pokok persoalan tadi. Kalau Li heng memang sudah pernah melihat kekuatan tenaga Tian can sin kang Yan Supek, tentunya Li heng tidak percaya begitu saja kalau Yan Supek-ku dapai dibunuh orang dengan mudah."

"Seandainya mereka adalah tukang-tukang biasa, jangan kata baru dua puluh atau tiga puluh orang, seandainya jumlah mereka tiga ratusan orang pun, belum tentu mereka sanggup mendekati diri Yan lo cianpwe, tapi mereka ..."

"Samaran siapa orang-orang itu sebenarnya?"

Desak Wan Fei Yang yang hatinya semakin tegang.

"Tian Sat,"

Kata orang she Li dengan suara rendah. Wan Fei yang tertegun.

"Apa artinya Tian Sat?"

"Tian Sat adalah sebuah organisasi yang menyediakan pembunuh bayaran. Tidak ada orang yang tahu di mana markas mereka. Orang yang pernah menggunakan jasa mereka tentu sudah mengerti bahwa mereka mempunyai sebuah peraturan, yaitu tidak boleh membocorkan rahasia mereka kecuali kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan mereka. Juga tidak ada orang yang tahu seberapa besarnya kekuatan organisasi tersebut 1392 sebenarnya. Orang hanya tahu bahwa di dunia ini ada organisasi yang bernama Tian Sat, dan mereka tidak pernah gagal dalam tugas yang dijalankan."

Wajah Wan Fei Yang berubah menjadi kelam.

"Kalau begitu, maksud Li heng tentunya ada orang yang membayar uang menggunakan jasa Tian Sat untuk membunuh Supekku?"

Orang she Li menganggukkan kepalanya.

"Menurut selentingan yang tersebar di dunia kangouw, Tian Sat tidak pefnah memandang hal lain kecuali uang. Tanpa uang, Tian Sat tidak akan turun tangan membunuh siapa pun. Motto mereka tidak ada dendam pribadi."

"Jadi Yan Supek benar-benar sudah mati?"

Kembali Wan Fei Yang mengajukan pertanyaan itu.

Dia benar-benar tidak dapat mempercayai keterangan semacam itu.

Hanya dia yang paling jelas tentang siapa adanya Yan Cong Tian, dan sampai seberapa tinggi ilmu yang dimilikinya.

Rasanya tidak mungkin Yan Cong Tian bisa dibunuh orang begitu saja, meskipun seandainya di dunia ini benar ada organisasi bernama Tian Sat seperti yang dikatakan oleh orang she Li di hadapannya ini.

Orang she Li menarik nafas panjang mendengar pertanyaan itu.

"Rasanya aku tidak mempunyai alasan untuk membohongi Kongcu."

"Dari mana kau mendapatkan berita ini?"

Tanya Wan Fei Yang yang masih merasa penasaran.

"Dari mulut seorang murid Bu Tong."

Orang she Li itu malah menatap Wan Fei Yang dengan heran. Kemudian dia balik bertanya.

"Apakah Wan Kongcu sampai saat ini masih belum menerima berita dari mereka?" 1393 Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Dengar kabar mereka sudah berpencaran keluar. Mereka mencarimu dan ingin mengajak kau kembali ke Bu-tong-san, sebab di sana tidak ada orang yang berani mengambil keputusan setelah Yan locianpwc meninggal."

"Herannya mengapa sampai sekarang mereka masih belum menemukan Wan kongcu?"

Tukas orang she Sun.

"Mungkin karena tempat ini agak terpencil,"

Sahut orang she Li. Wan Fei Yang mengelus jenggotnya yang tumbuh liar di dagunya.

"Rasanya aku masih belum bisa menerima kenyataan ini,"

Katanya dengan nada sendu.

"Kabar ini sudah tersebar di mana-mana. Coba Wan Kongcu menuju selatan dan menyelinap benar atau tidaknya keterangan kami ini."

Orang she Sun tertawa getir.

"Kalau Wan Kongcu tidak segera kembali, kami takut Bu-tong-san akan mengalami keruntuhan yang mengenaskan."

Wajah Wan Fei Yang agak berubah mendengar kata-katanya.

"Apakah Li heng dan Sun heng berdua pernah mendengar siapa orangnya yang mau mengeluarkan uang untuk membunuh Yan Supek?"

Tanyanya kembali.

"Sebetulnya ini sebuah rahasia. Wan kongcu jangan sekali-kali mengatakan kepada orang lain bahwa kami yang memberitahu. Menurut selentingan yang tersebar, orang yang mengeluarkan uang kemungkinan besar bekas Buncu Bu-ti-bun, Tok-ku Bu-ti!"

Kata orang she Li dengan nada berbisik. Wajah Wan Fei Yang berubah hebat mendengar kata-katanya.

"Tok-ku Bu-ti?"

Orang she Li menganggukkan kepalanya. 1394

"Ada juga orang yang menduga bisa jadi Fu Giok Su,"

Tukas orang she Sun.

"Kemungkinannya sama besar!"

Wan Fei Yang mengepalkan tinjunya erat-erat.

"Apa tindakan yang akan Wan kongcu ambil sekarang?"

Tanya orang she Li.

"Siaute ingin memohon diri sekarang. Terima kasih atas keterangan yang liongwi berikan."

Belum lagi orang she Li itu mengatakan sesuatu.

Wan Fei Yang sudah meletakkan beberapa uang perak di atas meja dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa.

Mata orang she Li dan she Sun itu mengantarkan kepergian Wan Fei Yang.

Di bibir mereka terlihat seulas senyuman licik.

Orang she Sun malah menganggukkan kepalanya sambil menepuk bahu rekannya.

"Penampilan Li heng benar-benar meyakinkan,"

Katanya.

"Tentu saja. Karena apa yang aku katakan memang merupakan kenyataan. Coba kalau disuruh berdusta, pasti wajahku akan berubah sedikit banyaknya."

"Betul juga. Kita kan sudah membunuh Yan Cong Tian, setidaknya kita harus mengerahkan sedikit tenaga membantu murid Bu-tong-pai."

"Manusia she Wan itu menyembunyikan diri di tempat yang demikian terpencil. Kalau kita tidak mengerahkan sedikit tenaga membantunya, entah sampai kapan murid-murid Bu Tong baru bisa berhasil menemukannya?"

"Seharusnya kila juga beritahukan sekalian jejak Tok-ku Bu-ti sekarang." 1395

"Tidak perlu ..."

Orang she Li tertawa dingin.

"Tok-ku Bu-ti sudah mulai kewalahan menghadapi anggota-anggota kita yang ingin membunuhnya. Sekarang dia sudah mengirimkan surat tantangan ke Bu-tong-san dan mengajak Wan Fei Yang bertanding dengannya di Giok-hong-teng."

"Mengapa dia harus melakukan semua itu? Buat apa dia meminta kita membunuh Yan Cong Tian seandainya sekarang dia tetap ingin bertarung dengan Wan Fei Yang?"

"Dia membenci Yan Cong Tian karena orang tua itulah yang membakar markas Bu-ti-bun sehingga dia tidak mempunyai tempat untuk bernaung diri. Sedangkan apa yang dilakukannya belakangan disebabkan oleh pihak kita."

"Disebabkan oleh pihak kita?"

"Betul. Kita mendesaknya sampai dia tidak tenang sekejap pun. Di mana-mana dia menjumpai bahaya yang mungkin bisa merenggut nyawanya."

Orang she Li itu kembali tertawa dingin.

"Manusia seperti dia tentu tidak rela mati di tangan kita. Sengaja dia menantang Wan Fei Yang. Pertama untuk menghindarkan diri dari kejaran kita. Kedua, seandainya dia mati di tangan Wan Fei Yang, tentu kematiannya jauh lebih berharga daripada mati di tangan anggota kita."

"Dalam pertarungan di Giok-hong-teng nanti, bagaimana kalau yang mati bukan Tok-ku Bu-ti, tetapi Wan Fei Yang?"

"Hal itu kecil sekali kemungkinannya. Tapi seandainya dia bisa menang pun, kau kira dia tidak akan terluka parah? Setahuku, ilmu Wan Fei Yang sudah jauh lebih tinggi daripadanya."

Senyuman di wajah orang she Li semakin dingin dan kaku.

"Aku juga tidak menganggap Tok-ku Bu-ti dapat meraih kemenangan. Apalagi kebencian Wan Fei Yang terhadapnya sudah terlanjur mendalam!"

Orang she Sun menggelengkan 1396 kepalanya.

"Sudah tentu paling bagus kalau dia benar-benar mati di tangan Wan Fei Yang. Dengan demikian, pihak kita bisa menghemat tenaga karena ada orang yang melakukan pekerjaan yang seharusnya kita lakukan."

"Setidaknya tidak ada korban lagi yang jatuh di pihak kita. Untuk mengincarnya dalam beberapa hari belakangan ini, sudah lebih dari seratus anggota kita yang mati di bawah tangannya. Benar-benar sial ketua kita mendapatkan langganan seperti Tok-ku Bu-ti."

"Siapa yang menyangka kalau dia bisa jatuh miskin seperti itu?"

"Tok-ku Bu-ti dapat memimpin Bu-ti-bun sehingga berkembang pesat seperti tempo hari, sebetulnya bukan hal yang mudah. Orang ini memang mempunyai otak yang cerdas dan hati yang licik. Dia tidak segan menggunakan cara apa saja untuk mencapai keinginannya."

"Tapi dia melakukan kesalahan besar. Seharusnya dia mengusahakan uang sejumlah sepuluh laksa lail itu untuk membayar hutang yang dijanjikannya kepada ketua kita."

Orang she Li tidak berkata apa-apa lagi.

Dia mengangkat cawannya yang berisi arak dan meneguknya dengan perlahan.

Demikian lambatnya dia meneguk arak itu sehingga orang yang melihatnya tentu mengira bahwa dia benar-benar menikmati arak tersebut.

Ketika dia meletakkan cawannya kembali, seorang pemuda penjaja obat-obatan masuk ke dalam rumah makan dengan langkah tergesa-gesa mendekati kearahnya.

"Burung merpati sudah dilepaskan,"

Bisiknya disamping telinga orang she Li.

"Dia sudah mendapatkan seekor kuda dan melarikannya dengan kecepatan tinggi."

"Apakah dia tidak curiga mengapa di tempat terpencil ini dia 1397 bisa mendapatkan seekor kuda yang demikian baik dan dengan harga murah pula?"

"Tampaknya pikrinnya terus dipenuhi bayangan Yan Cong Tian yang sudah mati. Ia tidak curiga sama sekali."

"Ternyata kematian Yang Cong Tian merubah haluan kesedihannya yang semula. Tampaknya meskipun dia sengaja berkelana di dunia kangouw, tapi hatinya masih memikirkan kepentingan Bu-ting-pai. Terhadap surat tantangan yang dikirimkan oleh Tok-ku Bu-ti, dia pasti akan menerimanya dengan sepenuh hati."

Orang she Li itu mengalihkan pokok pembicaraannya.

"Apakah kalian sudah mendapatkan berita tentang Tok-ku Bu-ti?"

"Dia masih berdiam di rumah tukang pukul besi itu."

Orang she Li tertawa lebar.

"Kita juga sudah harus berangkat sekarang."

Dia menolehkan kepalanya dan berseru.

"Laopan, hitung semuanya!"

Pemilik rumah makan itu sedang membersihkan meja yang ditempati Wan Fei Yang tadi.

Mendengar panggilan orang she Li, dia mendatangi dengan tergopoh-gopoh.

Mengenai tingkah laku kedua tamunya ini yang rada aneh.

Dia memang merasa curiga.

Tapi dia tidak ingin ambil perduli hal yang bukan merupakan urusannya.

Demikian juga para tamu yang lain.

Desa ini memang agak terpencil dan jauh dari keramaian.

Hanya ada ratusan penduduk yang tinggal di desa tersebut.

Itulah sebabnya Wan Fei Yang memilih desa ini untuk tempat tinggal sementara.

Namun tetap saja jejaknya dapat diketemukan oleh anggota Tian Sat.

Hal ini membuktikan kebesaran organisasi yang satu ini.

Dapat dibayangkan berapa banyaknya anggota yang tergabung di dalamnya.

Dan entah siapa orang yang sanggup mengepalai sebuah organisasi seperti ini.

Namun ketuanya belum pernah tersebar di dunia kangouw.

1398 *** Malam sudah larut.

Hujan mulai turun rintik-rintik.

Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini juga tidak berbintang.

Langit gelap berawan.

Angin bertiup dengan kencang.

Rasanya tidak ada seorang pun yang berminat keluar rumah pada saat seperti itu.

Apalagi didalam hujan yang lebat.

Tapi dari kejauhan justru terlihat seekor kuda berpacu dengan kencang menembus kegelapan malam.

Dia adalah Wan Fei Yang.

Sudah sehari semalam dia melarikan kudanya seperti orang kesetanan.

Kadang-kadang dia berhenti sejenak agar kudanya dapat makan dan minum atau beristirahat sekedarnya.

Dia sendiri hampir lupa akan keperluan tubuhnya terhadap makanan dan minuman.

Hanya satu hal yang memenuhi benaknya saat itu.

Benarkah cerita yang disebarkan oleh orang she Li di rumah makan itu?

Satu hal lagi yang menjadi masalahnya sekarang.

Ketika melarikan diri dari Bu-tong-san tempo hari, dia sama sekali tidak melihat arah yang diambilnya.

Sekarang dia jadi agak bingung menentukan arah untuk kembali ke Bu-tong-san.

Dia hanya mengambil jurusan selatan.

Kudanya dilarikan tanpa membelok ke arah yang lain.

Sekarang dia berada di tengah hutan.

Dia tidak tahu apakah arah yang diambilnya benar atau tidak.

Kudanya mulai melemah.

Dia tidak ingin sampai kudanya itu jatuh sakit.

Bagaimana dia bisa mendapatkan kuda yang lain di tengah hutan seperti ini?

Setelah memacu kudanya kurang lebih dua li.

Wan Fei Yang menarik tali kendali kuda tersebut agar jalannya tidak begitu kencang.

Matanya menerawang ke sekitar tempat itu.

Hanya kegelapan yang ditemuinya.

Dikeluarkannya sebuah tabung kecil dari dalam sakunya.

Setelah digesekkan beberapa kali, tabung itu menyalakan api yang remang-remang, setidaknya ada sedikit penerangan yang membantu penglihatan matanya.

1399 Dengan cara itu dia menjalankan kudanya perlahan-lahan.

Kurang lebih dua puluh depa kudanya berjalan, dia melihat sederetan lentera yang redup.

Hal ini menandakan bahwa di depan sana ada sebuah desa kecil.

Wan Fei Yang berjalan terus.

Akhirnya dia melihat bahwa apa yang diduganya tidak salah memang ada beberapa rumah penduduk yang berjejer di sana.

Rumah penduduk itu kecil-kecil sekali.

Kemungkinan kehidupan di desa ini sangat me larat sehingga penghuni yang lainnya sudal mengungsikan diri ke tempat lain.

Mungkin tanah di sekitar daerah ini tidak sesuai untuk bercocok tanam.

Sambil menduga-duga Wan Fei Yang terus menjalankan kudanya.

Sekarang dia sudah berada di depan deretan rumah penduduk itu.

Untuk sesaat dia ragu menentukan rumah mana yang harus di ketuknya.

Bagaimanapun juga dia tidak dapat melanjutkan perjalanan malam ini.

Hujan turun semakin deras, kudanya sudah lemas sekali dia harus menemukan rumah yang memungkinkan baginya untuk bermalam.

Tiba-tiba pintu sebuah rumah yang letaknya di tengah-tengah terbuka.

Seorang kakek tua menyembulkan kepalanya dan mengangkat lentera di tangannya untuk melihat ke arah Wan Fei Yang.

Unluk sejenak, Wan Fei Yang masih bimbang, kemudian dia menjalankan kudanya mendekati rumah kakek itu.

Setelah itu dia turun dan kudanya.

"Lopek, maaf mengganggu, Cayhe ingin menumpang barang semalam. Apakah Lopek keberatan kalau cayhe menumpang di rumah Lopek?"

Kakek tua itu memperhatikannya dengan seksama. Mulutnya yang sudah tidak bergigi lagi tersenyum ramah.

"Mari masuk anak muda … Tambatkan saja kudamu di pinggir sumur itu,"

Katanya sambil menunjuk ke dalam.

Wan Fei Yan menganggukkan kepalanya.

1400 Cepat dia menarik tali kudanya masuk kedalam halaman rumah tersebut dan menambatkan kudanya ke sebuah tiang di samping sumur.

Kakek tua itu menyodorkan lenteranya ke hadapan anak muda itu agar dia dapat melihat agak jelas.

"Cepat masuk ke dalam rumah. Bajumu basah kuyup semua. Kau bisa sakit nanti,"

Kata orang tua itu selanjutnya. Hati Wan Fei Yang merasakan kehangatan yang sudah lama tidak dirasakannya.

"Terimakasih, lopek. Kau sendiri juga jangan berlama-lama diluar. Hujan semakin deras,"

Katanya dengan nada terharu.

Mereka pun segera melangkah ke dalam rumah.

Ruangan depannya sederhana sekali.

Ditengah-tengah hanya terdapat sebuah meja persegi dengan tiga buah bangku kayu yang mengelilinginya.

Di sebelah kiri ada sebuah kamar yang hanya dibatasi dengan sehelai kain yang sudah penuh dengan tambalan.

Wan Fei Yang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.

"Lopek tinggal seorang diri di tempat ini?"

"Tadinya dengan seorang istri, tapi nenek nenek itu sudah meninggalkan Lohu setahun yang lalu. Sekarang aku hanya sendirian."

"Cayhc she Wan, entah apa she Lopek yang mulia?"

"Lohu she Cia... panggil saja Cia lopek. Sekarang lebih baik Kongcu membasuh diri dan beristirahat di dalam kamar. Setelah mengurus kuda Kongcu nanti, Lohu akan sediakan sedikit bubur untuk pengisi perut,"

Kata kakek|tua itu Wan Fei Yang terharu sekali.

Itulah sebabnya dia menyukai kehidupan di desa kecil.

Orang-orangnya masih polos dan lugu.

Mereka tidak segan mengulurkan tangan memberi perolongan meskipun keadaan sendiri belum tentu mencukupi.

Berbeda dengan kehidupan dunia kangouw yang selalu penuh 1401 dengan kekerasan.

Malam itu Wan Fei Yang menginap di rumah si kakek tua.

Meskipun dia tidak dapat idur dengan pulas, tapi setidaknya dia bisa duduk bersila dan menghimpun hawa murninya agar kelelahannya pulih kembali.

Keesokan harinya pagi-pagi dia sudah keluar dari kamar.

Kakek tua itu sudah menjerang air untuknya.

Dia membasuh mukanya dan nenengok sebentar keadaan kudanya.

Tamlaknya kuda itu sudah kuat kembali karena dapat beristirahat sepanjang malam.

Wan Fei Yang mengucapkan terima kasih yang sebesar-esarnya dan memberikan sedikit uang kepada si kakek.

Tadinya si kakek itu tidak mau menerimanya.

Namun Wan Fei Yang tetap memaksa.

Akhirnya dengan pandangan terharu kakek itu nenerimanya.

"Lopek, aku ingin menanyakan arah mana yang harus cayhe tempuh untuk menuju Bu-tong-san?"

Kakek itu tertegun mendengar pertanyaannya.

"Ada keperluan apa Kongcu pergi ke Bu-tong-san?"

"Cayhe memang murid Bu Tong. Sudah beberapa bulan cayhe berkelana di dunia kangouw. Tiba-tiba cayhe mendapat berita bahwa Supek cayhe mati karena dibokong oleh sejumlah penjahat, oleh karena itu cayhe ingin cepat-cepat pulang untuk mengetahui benar atau tidaknya berita tersebut,"

Kata Wan Fei Yang terus terang. Wajah kakek itu agak berubah mendengar keterangan tersebut.

"Apakah Supekmu bernama Gi ban li?"

Sekarang Wan Fei Yang yang terpana mendengar pertanyaannya.

"Bagaimana Lopek bisa mengetahui bahwa di Bu-tong-san ada yang bernama Gi Ban Li?"

Tanyanya penasaran. 1402 Kakek tua itu menarik nafas panjang.

"Lohu pernah bekerja menjadi pelayan di rumah keluarga Gi Ban Li. Dengan kata lain, Gi Ban li adalah Kongcu Lohu. Ketika kedua orang tuanya meninggal, Kongsu lohu memilih berkelana di dunia persilatan untuk mencari ilmu. Belakangan lohu dengar dia masuk menjadi murid Bu-tong-pai. Mungkin Gi Kongcu juga pernah mencari berita Lohu, tapi Lohu sudah lama hidup di desa yang terpencil ini sehingga putuslah hubungan kami."

Wan Fei Yang terharu sekali. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan orang tua itu.

"Cia kong kong, cayhe adalah putra Gi Ban Li. Sedangkan ayah, dia orang tua sudah berpulang beberapa bulan yang lalu."

Bibir kakek tua itu bergetar mendengar ucapan Wan Fei Yang. Dia cepat-cepat memapahnya berdiri.

"Thian maha kuasa! Ternyata di usia tua ini, lohu masih sempat bertemu dengan putra Kongcu. Tapi ... tadi Kongcu mengatakan bahwa Gi Kongcu Lohu itu sudah meninggal dunia? Benarkah?"

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

"Tidak heran kalau Cia kong kong tidak tahu. Desa ini memang terpencil dan jauh dari Bu-tong-san. Tampaknya tidak banyak berita yang tersebar di daerah ini. Ayah sudah menjadi Ciang bun jin Bu-tong-san sejak dua puluh tahun yang lalu. Namun dia orang tua terbunuh oleh orang jahat."

Air mata mengalir di pipi Cia kong kong. Dia sedih sekali mendengar berita itu. Namun sekaligus hatinya juga senang dapat bertemu dengan Wan Fei Yang.

"Terima kasih kepada Thian, Kongcu mendapatkan putra yang demikian gagah,"

Kata-katanya terhenti. Suatu ingatan seperti melintas di benaknya.

"Tapi ... ada yang tidak benar Kongcu mengatakan bahwa Kongcu she Wan ..." 1403 Terpaksa Wan Fei Yang menceritakan garis besar riwayat hidupnya. Orang tua itu mendengarkan dengan mata terbelalak. Dia tidak menyangka Wan Fei Yang mempunyai riwayat hidup yang demikian malang. Dia memandang anak muda itu dengan sorot iba.

"Kongcu, hari sudah mulai siang. Berangkatlah ke Bu tong san dan selesaikan semua urusan di sana. Apabila suatu hari Kongcu merasa jenuh hidup di dunia kangouw, pintu rumah Kong Kong yang reot ini siap menerimamu kapan saja,"

Katanya setelah Wan Fei Yang mengakhiri ceritanya. Wan Fei Yang menjura sekali lagi kepadi orang tua itu. Dia keluar dari halaman rumah tersebut sambil memegang tali kendali kuda nya.

"Kongcu tinggal mendaki bukit yang ada di ujung desa ini kemudian ambil arah barat. Setelah menyeberangi sungai, beloklah ke ara timur. Kongcu tentu akan sampai di Bu-tong-san dalam jangka waktu kurang lebih tiga hari."

Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

Dia menjeblak ke atas kudanya sambil melambaikan tangan.

Kemudian dia melarikan kudanya dengan kencang.

Orang tua itu memandangi punggung Wan Fei Yang sampai menghilang di kejauhan.

Dia menarik nafas sekali lagi sebelum masuk ke dalam rumah.

Banyak sekali kejadian di dunia ini yang tidak terduga.

Bahkan semuanya begitu kebetulan karena telah diatur oleh Thian yang kuasa!

*** Api di tungku berkobar-kobar.

Meskipun sebentar lagi akan masuk musim salju dan hawa di malam hari dingin menggigit, namun kedua orang tukang besi itu tetap mengucurkan keringat dengan deras.

1404 Mereka adalah tukang pukul besi yang paling terkenal dalam jarak seratus li.

Keduanya tidak saling mengenal satu dengan lainnya sebelum ini.

Tok-ku Bu-ti yang mengumpulkan keduanya di tempat itu.

Tadinya mereka tidak bersedia menerima tawaran tersebut.

Tapi mereka melihat dengan mata kepala sendiri sepasang kepalan tangan Tok-ku Bu-ti yang sekeras besi.

Sekali hantam saja batu yang besar langsung hancur berantakan.

Dengar sinar mata ketakutan mereka terpaksa menganggukkan kepalanya.

Di bawah pengalaman yang luas dan ilmu yang profesional dari kedua tukang itu, kurang lebih dalam jangka waktu tujuh hari, sebuah tongkat besi berkepala naga sudah hampir rampung dikerjakan.

Panjang maupun beratnya hampir seimbang dengan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti yang sebelumnya.

Tok-ku Bu-ti justru tinggal di belakang rumah ini.

Kecuali waktu makan, selebihnya dia lebih banyak berdiam di dalam kamar.

Dia juga jarang berbicara.

Sebetulnya kedua tukang itu dapat meninggalkan tempat itu setiap waktu.

Tok-ku Bu-ti tidak pernah menjaga mereka.

Tapi mereka sendiri yang tidak berani.

Semacam ketakutan yang sulit diuraikan dengan kata-kata telah merasuki jiwa mereka.

Mereka hanya mengharapkan satu hal.

Seandainya tongkat kepala naga itu telah selesai dibuat, mereka akan dibiarkan pergi oleh Tok-ku Bu-ti atau tamu yang aneh itulah yang akan meninggalkan mereka tanpa mendatangkan kesulitan apa-apa lagi.

Tentu saja Tok-ku Bu-ti dapat memahami isi hati mereka.

Dia tidak memperdulikannya.

Dia memang telah merencanakan bahwa dia akan segera meninggalkan tempat itu setelah tongkat kepala naganya selesai dirampungkan.

Sejak dia mengirim surat tantangan ke Bu-tong-san, orang-orang Tian Sat tidak pernah lagi mengganggunya.

Apa 1405 sebabnya mereka menghentikan niat membunuhnya, Tok-ku Bu-ti paham sekali.

Dia yakin orang-orang Tian Sat pasti mempunyai akal untuk mengetahui apa isi surat yang dikirimkannya ke Bu-tong-san.

Dia juga yakin surat itu pasti akan sampai di Bu-tong-san tanpa mengalami kesulitan.

Orang yang membawa surat itu memang murid Bu-tong-pai.

Sebetulnya dia mendapat tugas untuk mencari Wan Fei Yang.

Tapi di perjalanan dia dihadang oleh Tok-ku Bu-ti.

Tentu saja dia terkejut sekali.

Dikiranya bahwa Tok-ku Bu-ti pasti akan membunuhnya.

Walau pun akhirnya dia sadar Tok-ku Bu-tidak akan melakukan hal itu, namun rasa terkejutnya tidak hilang sama sekali.

Tok-ku Bu-ti menyatakan isi hatinya bahwa dia ingin murid Bu tong tersebut mengantarkan surat ke Bu tong san.

Surat itu berisi tantangan kepada Wan Fei Yang untuk bertarung di atas Giok Hong teng.

Bagaimana murid Bu tong itu tidak menjadi panik.

Wan Fei Yang saja belum ditemukan, sedangkan waktu perjanjian yang ditentukan oleh Tok-ku Bu-ti tidak berapa lama lagi.

Murid Bu tong pai itu tidak berani menunda waktu lagi.

Dia terpaksa membatalkan niatnya mencari Wan Fei Yang.

Karena dia berpikir bahwa bukan hanya dia seorang yang menjalankan lugas tersebut.

Lebih baik dia segera membawa surat tersebut ke Bu tong san agar mereka bisa mempersiapkan diri seandainya waktunya tiba dan Wan Fei Yang belum berhasil ditemukan juga.

Setelah berhasil menitipkan surat itu kepada murid Bu tong pai tersebut, perasaan Tok-ku Bu-ti menjadi jauh lebih tenang.

Semacam ketenangan yang sudah lama tidak dirasakannya.

Dia menentukan waktu pertarungan jatuh pada tanggal satu bulan dua belas.

Meskipun waktunya tidak seberapa lama lagi, namun Tok-ku Bu-ti yakin, sampai saatnya tentu apa yang direnvanakannya sudah dapat selesai.

1406 Apa yang hendak dilakukan tidak banyak.

Tapi entah mengapa, tiba-tiba dia mempunyai perasaan bahwa dia ingin bertemu dengan Tok-ku Hong sekali lagi.

Biar bagaimana, dia pernah membesarkan Tok-ku Hong seperti anaknya sendiri.

Di antara mereka ada sejenis perasaan yang sulit diuraikan.

Mereka juga sudah menggunakan sebutan ayah dan anak selama belasan tahun.

Begitu teringat Tok-ku Hong, dia merasa dirinya agak menyesal atas apa yang telah dilakukannya kepada gadis itu.

Dia sendiri merasa heran mengapa tiba-tiba hatinya bisa berubah menjadi lemah dan sentimentil.

Kemana perginya Tok-ku Hong?

Apakah dia masih hidup di dunia ini?

Tok-ku Bu-ti tidak tahu.

Seandainya Bu-ti-bun masih berdiri, asal dia menurunkan perintah saja, dalam waktu beberapa hari para anggotanya pasti sudah kembali memberi laporan yang memuaskan.

Sekarang dia sudah sebatang kara.

Dia tidak mempunyai siapa-siapa lagi.

Tanpa terasa, kesepian menyelinap di hatinya.

Dia bagaikin seekor burung yang tersesat; Sebetulnya diri Tok-ku bu-ti juga patut dikasihani.

Sayangnya rasa gengsi orang ini terlalu tinggi.

Dia angkuh sekali.

Seandainya!

sejak dulu dia mau memaafkan Sen Man Cing, tentu dia tidak mengalami kesengsaraan seperti hari ini.

Selama ini dia tidak pernah bercermin diri.

Dia tidak mau mengakui bahwa kesalahannya tidak sepenuhnya ada pada diri Sen Man Cing.

Dia yang mulai lebih dahulu.

Keranjingannya akan ilmu silat membuat rumah tangganya yang harmonis hancur.

Bukan Sen Man Cing tidak mencintainya.

Wanita itu pernah mencintainya sepenuh hati, namun kekecewaan yang melanda seorang wanita memang kadang kadang berakibat mengerikan.

Dia tidak mendapatkan kasih sayang yang selayaknya.

Oleh karena itulah dia mencuri kasih sayang yang terlihat di hadapannya.

Dia sengaja 1407 menolong Ci Siong tojin sebetulnya dengan niat menarik perhatian Tok-ku Bu-ti.

Memancing kecemburuan hati laki-laki itu.

Siapa sangka dari awal sampai akhir Tok-ku Bu-ti malah lidak pernah menjenguknya, bahkan tidak tahu kalau dia telah menolong musuhnya.

Sampai Sen Man Cing hamil akibat hubungan gelapnya dengan Ci Siong tojin dan wanita itu sendiri yang mengaku semuanya, dia baru tahu.

Tapi kembali dia membuat suatu kesalahan besar.

Dia tidak mengoreksi siapa yang bersalah dalam hal ini.

Bahkan dia sengaja membiarkan semuanya berlangsung dan mengaku Tok-ku Hong sebagai anak kandungnya.

Sementara itu dendam dalam hatinya tetap berkobar.

Sehari berlalu menjadi sebulan.

Sebulan berlalu menjadi setahun.

Dendam itu bagai lapisan es yang makin lama makin menumpuk.

Sampai akhirnya ketika ia mengalami berbagai kejadian hebat seperti Bu-ti-bun digempur oleh Thian-ti dan Fu Giok Su, dendamnya langsung meledak.

Dia menyalahkan Sen Man Cing sebagai pembawa sial dalam hidupnya.

Dan dia membalaskan dendamnya kepada Tok-ku Hong.

Maksudnya tentu saja agar Ci Siong tojin tidak dapat tenang di alam baka Sen Man Cing dibiarkan hidup semakin menderita.

Apa hasilnya?

Hal inilah yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

Dia hanya tahu membalaskan dendamnya tanpa memikirkan apa akibatnya apabila maksudnya gagal.

Bukankah dia menghancurkan dirinya sendiri!

Ternyata sekarang dia baru dapat merasakan bahwa luka yang memang sudah ada dalam hatinya malah semakin menganga.

Tok-ku Bu-ti membayangkan apa yang di lakukan Tok-ku Hong apabila bertemu dengannya.

Dia tahu gadis itu pasti membencinya sekarang.

Dia juga tahu tidak ada harapan lagi baginya untuk mengembalikan Tok-ku Hong yang dulu.

*** 1408 Pada hari keenam.

Wan Fei Yang berhasil mencapai Bu-tong-san.

Para murid Bu-tong-pai menyambutnya dengan gembira.

Fu Hiong Kun berdiri di depan halaman melihat Wan Fei Yang turun dari kudanya.

Yo Hong segera menghampiri.

"Wan sute, syukurlah akhirnya kau kembali juga!"

Wan Fei Yang tersenyum pahit.

"Di perjalanan aku mendengar kabar kematian Yan Supek. Aku masih berharap kabar itu bohong adanya."

Yo Hong menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sedangkan air mata mengembang lagi di sudut bola mata Fu Hiong Kun. Wajah Wan Fei Yang berubah pucat seketika.

"Jadi benar berita itu?"

Tanyanya dengan bibir bergetar. Yo Hong dan Fu Hiong Kun menganggukkan kepalanya serentak.

"Mari Wan Sute, aku antarkan kau melihat peti jenasahnya. Kami meletakkannya di ruang perabuan para Ciang bunjin. Kami pikir sebaiknya menunggu kau kembali baru diperabukan."

Tubuh Wan Fei Yang terhuyung-huyung.

Dan di ringi oleh Yo Hong dan Fu Hiong Kun, mereka berjalan ke belakang gedung di mana terdapat sebuah tempat yang khusus menyimpan abu jenasah para tokoh tingkat atas Bu-tong-pai.

Wan Fei Yang tidak dapat menahan dirinya lagi ketika melihat peti jenasah itu.

Dia menangis tersedu-sedu.

Setelah Ci Siong tojin meninggal, orang yang paling dekat dengannya memang tinggal Yan Cong Tian.

Sekarang orang tua itu juga tiada lagi.

Bagaimana hatinya tidak sedih memikirkan nasib Bu-tong-pai yang demikian tragis?

"Aku akan membalas dendam ini, Yan Supek.

Tenanglah di alam baka!"

Katanya dengan sepasang tinju dikepalkan erat-1409 erat.

"Wan sute, kami menerima surat tantangan dari Tok-ku Bu-ti yang ditujukan kepadamu."

Yo Hong segera mengambil surat tersebut dan memperlihatkannya kepada Wan Fei Yang.

"Hm ... Tok-ku Bu-ti ... Hari kematianmu sudah tiba!"

Teriaknya marah.

*** Menjelang senja ...

Langit berawan, matahari masih memancarkan sinarnya dengan gagah.

Namun karena terselimuti sebagian oleh awan tebal, maka sinarnya tidak begitu terik, malah membawa kehangatan di penghujung tahun.

Angin juga bertiup semilir.

Membawa kesejukan yang menyamankan perasaan.

Pakaian yang dikenakan Tok-ku Hong sangat tipis.

Tapi berjalan di atas pegunungan yang menjulang tinggi, dia tidak merasakan hawa dingin sama sekali.

Mungkin karena perasaannya sudah kebal terhadap alam sekitar.

Sudah sekian lama dia berjalan tanpa tujuan.

Pikirannya selalu melayang-layang.

Hatinya tidak dapat tenang.

Dia sendiri tidak mengerti apalagi yang dipikirkannya.

Namun perubahan pernikahannya kali ini memang memberikan pukulan yang berat baginya.

Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan bahwa orang yang dicintainya dan akhirnya berhasil menikah dengannya serta menjadi suaminya adalah abangnya sendiri.

Mengapa hidup mempermainkannya?

Bahkan dia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya adalah putri Ci Siong to jin, bukan Tok-ku Bu-ti.

Seumur hidup, apabila Tok-ku Bu-ti mengadakan pertarungan dengan Ci Siong to jin, dia selalu mendoakan agar Tok-ku Bu-ti yang akan meraih kemenangan.

1410 Malah setiap kali Tok-ku Bu-ti menang, dia selalu menanyakan mengapa Ci Siong tojin tidak dibunuh saja.

Tok-ku Hong tidak tahu apakah dia harus membenci ibunya yang telah menutupi hal ini sekian lama.

Dia juga tidak dapat memastikan apakah ibunya yang bersalah dalam hal ini.

Tapi ada satu hal yang benar-benar mengejutkan hatinya juga teramat menyakitkan hatinya.

Meskipun Tok-ku Bu-ti bukan ayah kandungnya, tapi hubungan mereka selama ini sangat dekat.

Mengapa dia tega melakukan semua ini terhadap dirinya?

Apakah hanya untuk mencapai kepuasan dirinya dalam menyakiti ibunya?

Apa yang akan ia lakukan apabila bertemu lagi dengan Tok-ku Bu-ti?

Baik Tok-ku Bu-ti maupun Tok-ku Hong tidak tahu bahwa mereka sama-sama mempunyai pikiran yang serupa.

Hal ini membuktikan bahwa sebetulnya kedua orang itu sudah terikat hubungan batin yang kuat.

Namun keduanya sama-sama tidak menyadari.

Sebenarnya hubungan Tok-ku Hong memang lebih dekat dengan Tok-ku Bu-ti ketimbang Sen man Cing.

Sejak kecil Tok-ku Bu-ti sudah melarang Tok-ku Hong menjumpai Sen Man Cing.

Pertemuan antara ibu dan anak itu dapat terhitung dengan jari tangan sepanjang tahun.

Bukannya Sen Man Cing tidak pernah mencoba menemui Tok-ku Hong, tapi Tok-ku Bu-ti mengancamnya dengan mengatakan bahwa dia akan memberitahukan kepada Tok-ku Hong siapa dirinya apabila Sen Man Cing berani menemui gadis itu tanpa sepengetahuannya.

Namun biar bagaimana pun, hubungan antara mereka adalah hubungan ibu dan anak.

Setelah menginjak dewasa, malah Tok-ku Hong yang sering menemui Sen Man Cing secara sembunyi-sembunyi.

Setelah meninggalkan Bu-ti-bun, Tok-ku long selalu berjalan tanpa tujuan.

Tanpa disadari dan tanpa disengaja, ternyata dia berjalan ke arah Bu-tong-san lagi.

Nalurinya seakan tidak berfungsi lagi.

Dia juga tidak pernah berhenti dan menanyakan kepada siapa pun di daerah apa dia berada.

Kemudian di 1411 perjalanan ia mendengar selentingan kabar tentang kematian Yan Cong Tian.

Saat itu dia baru sadar bahwa tempat di mana dia berada hanya berjarak satu hari perjalanan lagi ke Bu-tong-san.

Siapa yang membunuh orang tua yang dikenalannya galak tapi sebetulnya berhati penuh kasih itu?

Siapakah yang tega melakukannya?

Apakah Tok-ku Bu-ti?

Memang di sepanjang perjalanan dia mendengar ucapan orang-orang yang menggosipkan kejadian tersebut.

Kebanyakan dari mereka mencurigai Fu Giok Su yang melakukannya.

Namun dia justru terpikir akan Tok-ku Bu-ti.

Mengapa?

Apakah dia lebih mengenal Tok-ku Bu-ti dari orang yang lainnya?

Sebenarnya bukan demikian.

Sedikitnya pikiran Tok-ku Hong masih dapat bekerja.

Berdasarkan kelicikan Tok-ku Bu-ti, hal apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang itu?

Sekarang Tok-ku Hong sadar bahwa Tok-ku Bu-ti sanggup melakukan perbuatan yang paling rendah sekalipun.

Begitu teringat kembali kepada Tok-ku Bu-ti, serangkum perasaan sakit sekali lagi menyelinap di dalam hatinya.

Dia sedih sekali.

Hatinya bimbang.

Sebetulnya dia ingin sekali naik ke atas Bu-tong-san dan menyembah di depan peli jenasah Yan Cong Tian.

Namun dia tidak dapat mengambil keputusan yang baik.

Bukan karena dia takut bertemu dengan Wan Fei Yang.

Mereka toh belum melakukan apa-apa.

Setelah terjadi gelombang yang besar hatinya memang pernah kalut, namun sekarang semuanya telah berlalu.

Perasaannya meskiput kebal tapi sudah jauh lebih tenang dari sebelum.

Setelan mengetahui bahwa dia masih mempunyai seorang saudara di dunia ini, bagi Tok-ku Hong malah harus disebut sebagai keberuntungan.

Dia merasa bangga mempunyai abang seperti Wan Fei Yang.

Tapi begitu mengingat mata-mata penuh ejekan yang akan memandanginya, hatinya 1412 kembali tertekan.

Dapatkah mereka mengerti bahwa semua ini bukan kesalahannya atau pun kesalahan Wan Fei Yang?

Mereka justru dijebak oleh Tok-ku Bu-ti yang berhati binatang.

Dia tidak dapat memastikan apakah murid Bu tong akan menatapnya dengan pandangan seperti yang dikhawatirkannya, namun mau tidak mau dia harus memikirkannya baik-baik.

Sebetulnya dia merupakan seorang gadis yang berhati hangat.

Ibarat tungku api yang berkobar-kobar.

Tapi setelah mengalami berbagai pukulan batin, dia sudah berubah jauh.

Tok-ku Hong berjalan mondar-mandir sekian lama di sekitar kaki gunung tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk naik ke atas untuk melihat kejadian sebenarnya.

Meskipun berita itu sudah ramai dibicarakan orang.

Tapi sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, hatinya masih kurang percaya.

Walaupun dalam sanubarinya pernah terselip perasaan bahwa apa yang dikatakan orang itu adalah kenyataan, namun dia masih berusaha menghibur hatinya sendiri dengan mengatakan bahwa bisa saja orang-orang itu salah dengar.

Jalanan menuju ke puncak gunung berliku-liku.

Cara jalan Tok-ku Hong juga lambat sekali.

Tidak ada hal yang membuatnya harus tergesa-gesa.

Seandainya Yan locianpwe itu memang sudah mati, bagaimana cepatnya pula dia sampai ke Bu-tong-san, tetap tidak dapat menghidupkan orang tua itu kembali.

Dia malah berjalan dengan kepala ditundukkan.

Pikirannya melayang-layang.

Sama sekali tidak mempertimbangkan apakah arah yang diambilnya ini betul akan mencapai Bu tong san.

Asal di depan matanya masih ada jalai yang dapat ditempuh, dia tidak menghentikan langkah kakinya.

Ketika sedang berjalan itulah, tiba-tiba dia mempunyai firasat bahwa ada sepasang mata sedang menatapnya lekat-lekat.

Tanpa sadar dia mendongakkan kepalanya.

Pada saat itulah 1413 dia melihat seseorang.

Orang itu duduk di atas sebuah batu besar tempat ketinggian.

Rambutnya acak-acakan jenggotnya begitu panjang sehingga sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa dia sudah lama sekali tidak pernah membenahi dirinya.

Pakaiannya pun compang camping seperti pengemis di jalanan.

Wajahnya kusut, bagaikan orang yang otaknya dibebani berbagai pikiran.

Namun sinar matanya tajam sekali laksana sebilah pedang yang baru diasah.

Dia sedang menatap ke arah Tok-ku Hong dengan tidak berkedip sekejap pun.

Tok-ku Hong memperhatikannya sejenak.

Kemudian dia segera dapat mengenali orang tersebut.

"Fu Giok Su ... !"

Serunya tanpa sadar.

"Tidak salah, aku memang Fu Giok Su!"

Tok-ku Hong merasa bahwa orang itu berubah begitu banyak. Bahkan nada suaranya pun berubah menjadi parau seperti orang yang sudah lanjut usianya. Fu Giok Su mencibirkan bibirnya.

"Bagaimana aku harus menyapamu sekarang, Tok-ku kouwnio atau Gi Kouwnio atau mungkin Wan hujin?"

Wajah Tok-ku Hong berubah hebat mendengar sindirannya. Namun dia berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan perasaannya.

"Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"

Tanyanya ketus. Fu Giok Su tertawa lebar.

"Aku toh Ciang bunjin Bu-tong-pai. Kalau aku muncul di daerah sekitar Bu tong, apanya yang aneh?"

Tok-ku Hong menatapnya dengan pandangan mengejek. 1414

"Kulit wajahmu masih cukup tebal untuk menyebut diri sendiri sebagai Ciang bunjin Bu-tong pai!"

"Kedudukanku sebagai Ciang bunjin bukan aku sendiri yang mengangkatnya. Bahkan ayahmu ... Ci Siong to jin maupun ayahmu yang satu lagi, Tok-ku Bu-ti, juga mengakui aku sebagai Ciang bunjin Bu-tong-pai." ... | Tubuh Tok-ku Hong tergetar saking marah nya. Sesaat kemudian suatu ingatan terlintas di benaknya. Dia tertawa dingin.

"Kau yang menggunakan jasa Tian Sat untuk membunuh Yan Pep pek."

Tuduhnya langsung. Fu Giok Su malah tertegun.

"Yan Pek pek? Yan Cong Tian maksudmu?' "Masih pura-pura bodoh ... !"

"Kematian Yan Cong Tian tidak ada hubungannya denganku."

"Kalau berani melakukan, jangan takut mengakuinya,"

Sindir Tok-ku Hong.

"Untuk apa aku harus mendustaimu?"

Fu Giok Su malah balik bertanya kepadanya. Tok-ku Hong terpana. Dia merasa apa yang i katakan oleh Fu Giok Su ada benarnya juga.

"Orang-orang Siau Yau kok mempunyai keistimewaan dari Siau Yau kok sendiri. Meskipun kami tahu bagaimana cara menghubungi organisasi Tian Sat, tetapi kami belum pernah mempunyai pikiran sejauh itu. Meskipun ingin, aku sekarang tidak sanggup mengeluarkan uang untuk membayar mereka lagi. Sedangkan kau tentunya mengerti bahwa untuk menggunakan jasa mereka demi membunuh sorang Yan Cong Tian, bukan uang sedikit yang harus disediakan." 1415 Fu Giok Su mengangkat kedua bahunya.

"Paling tidak kau harus mempunyai uang sebanyak delapan atau sepuluh laksa tail. Sedangkan di mana kira-kira aku harus mencari uang sebanyak itu. Meskipun terus terang aku katakan kepadamu, sebenarnya aku ingin sekali dapat membunuh Yan Cong Tian. Tapi kalau aku yang melakukannya, aku akan menggunakan sepasang tanganku sendiri. Menyewa organisasi Tian Sat untuk membunuh orang yang kau benci, bagiku, Fu Giok Su, tetap tidak ikan mencapai kepuasan."

Tok-ku Hong menatap Fu Giok Su lekat-lekat.

"Tapi menurut selentingan yang tersebar di dunia kangouw, justru engkaulah orangnya yang menggunakan jasa organisasi tersebut."

"Hal itu disebabkan dendam permusuhan antara Siau Yau kok dan Bu-tong-pai sudah demikian dalam. Dan aku tidak malu mengakui bahwa cara turun kami selama ini memang menggunakan cara apa saja, termasuk cara yang dianggap rendah oleh orang-orang kangouw yang menganggap diri mereka lurus."

Tok-ku Hong tertawa dingin.

"Bagus sekali kalau kau mengakuinya!"

"Tapi ..."

Fu Giok Su menghentikan kata katanya. Dia mengembangkan seulas senyum yang mengerikan.

"Seandainya orang lain tidak tahu, namun seharusnya engkau yang paling memahami, bahwa selain diriku, di dunia ini masih ada satu orang lagi yang silatnya lebih rendah."

Sekali lagi Tok-ku Hong terpana.

"Tok-ku Bu-ti ..."

Sepatah demi sepatah Giok Su mengucapkan keempat suku kata tersebut. 1416 Wajah Tok-ku Hong berubah semakin kelam. Dia tidak dapat melukiskan bagaimana perasaannya saat itu.

"Dia dihajar oleh Wan Fei Yang sampai kalang kabut. Seumur hidup Tok-ku Bu-ti belum pernah dikalahkan dengan cara demikian tragis. Seandainya timbul pikirannya untuk menggunakan jasa Tian Sat rasanya juga bukan hal yang tidak mungkin bukan?"

Tok-ku Hong tetap tidak menyahut.

"Apalagi markas Bu-ti-bun yang semestinya bisa kembali ke tangannya dibakar sampai musnah oleh Yan Cong Tian. Kebencian terhadap kedua orang itu, rasanya kau sendiri juga mengerti."

Tanpa sadar Tok-ku Hong menganggukkan kepalanya.

"Aku juga tidak takut berterus terang kepadamu. Sebenarnya aku sendiri pernah mempunyai pikiran untuk menggunakan tenaga organisasi Tian Sat. Sayangnya orang yang ingin aku bunuh terlalu banyak. Dan sudah pasti aku tidak sanggup mengeluarkan sebanyak itu. Lain halnya dengan Tok-ku Bu-ti yang kaya-raya. Lagipula aku selalu merasa bahwa ide yang terpikirkan olehku itu, bukan suatu ide yang baik."

"Sekarang Tok-ku Bu-ti juga tidak kalah miskin denganmu!"

Sahut Tok-ku Hong datar.

"Bisa jadi ... tapi siapa tahu apa yang menyelinap di otaknya yang sudah karatan itu?"

Tok-ku Hong tertawa dingin.

"Bu tong pai hanya mengurung kakekmu di dalam telaga dingin selama dua puluh tahun. Sedangkan dia sendiri yang melakukan kesalahan melanggar peraturan partai tersebut. Lagipula kalian sudah membunuh begitu banyak murid Bu tong pai. Seharusnya dendam itu tidak perlu diperpanjang lagi." 1417 Fu Giok Su menganggukkan kepalanya.

"Tadinya aku juga mempunyai pikiran bahwa apa yang kulakukan memang rada keterlaluan tapi sekarang, sebelum melihat kemalian Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang, rasanya aku masih belum puas."

"Yan Pek pek toh sudah mati ..."

"Aku tetap ingin menggali kuburnya pada suatu hari nanti. Aku akan menghancurkan mayatnya menjadi potongan-potongan kecil."

Teriak Fu Giok Su sambil menggertakkan giginya. Sepasang tinjunya juga terkepal erat-erat. Melihat tampang orang itu, tanpa sadar Tok-ku Hong menggidik.

"Mengapa kebencianmu semakin dalam kepadanya?"

Tubuh Fu Giok Su bergetar saking marahnya.

"Kalau dia tidak mengejarku mati-matian, anakku hari ini pasti masih hidup segar bugar!"

Teriaknya dengan mata mendelik. Tok-ku Hong memandang Fu Giok Su dengan pandangan aneh.

"Anakmu? Apakah kau tidak salah?"

"Tidak salah ... !"

Suara Fu Giok Su menjadi parau.

"Yan Cong Tian yang mencelakakan anakku sampai mati!"

Tok-ku Hong semakin penasaran."Apa sebetulnya yang telah terjadi?"

Desaknya.

"Kau tidak perlu tahu ..."

"Kau tidak berani mengatakannya, karena perbuatanmu sendiri yang busuk bukan?"

Sindir Tok-ku Hong dengan tatapan tajam. 1418

"Setidaknya aku tidak berbuat hal yang maksiat dengan adik kandungku sendiri!"

"Fu Giok Su! Aku merasa iba melihat nasibmu. Aku hanya ingin meringankan beban hatimu. Tapi jangan kau kira ilmu silatmu sudah sedemikian tinggi sehingga semua orang takut menghadapimu!"

Fu Giok Su tertegun mendengar makiannya.

"Aku ... aku tidak bermaksud demikian. Hal ini aku sendiri ingin bisa melupakannya. Dengan menceritakan sekali lagi, berarti aku menggali kenanganku sendiri. Kau pasti sudah merasakan bagaimana sakitnya rasa di hati apabila cinta kasih kita gagal, padahal kami saling mencintai ..."

"Rasanya aku mulai mengerti siapa ibu dari anakmu itu,"

Tukas Tok-ku Hong.

"Tidak perlu kau katakan. Dugaanmu sudah pasti benar ... tapi semuanya telah berlalu. Tidak ada yang perlu di ngat lagi."

Tok-ku Hong menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan dia meneruskan langkah kakinya.

"Berhenti!"

Bentak Fu Giok Su.

"Apa lagi yang ingin kau katakan?"

Tanya Tok-ku Hong.

"Kau ingin pergi? Tidak semudah itu!"

"Tentunya kau bukan ingin membunuh aku sekalian sebagai pelampias amarahmu?"

Fu Giok Su menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak akan membunuhmu. Kau adalah adik dari Wan Fei 1419 Yang. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh untuk membunuhmu?"

Alis Tok-ku Hong langsung mengerut mendengar perkataannya.

"Apa maksud ucapanmu itu?"

Fu Giok Su tersenyum licik.

"Kau tentu sudah merencanakan sesuatu,"

Kata Tok-ku Hong kembali. Sekali lagi Fu Giok Su tersenyum. Dia maju satu langkah.

"Bukan saja aku tidak akan membunuhmu, aku malah akan menjagamu dengan baik sekali. Kau tidak usah khawatir."

Tok-ku Hong tidak dapat menerka.

Dia hanya menatap Fu Giok Su dengan tajam.

Fu Giok Su juga lidak merasa perlu menyembunyikan maksud hatinya kepada Tok-ku Hong.

Dia bahkan sengaja mengatakannya dengan terus terang.

"Kalau kau sudah terjatuh ke tanganku, masa Wan Fei Yang berani macam-macam. Permintaanku tidak banyak. Aku hanya ingin dia menyerahkan teori ilmu Tian can sinkangny yang menggemparkan dunia persilatan itu."

"Tian can sinkang?"

Tok-ku Hong terkejut sekali.

Tentu saja Tian can sinkang.

Di antara Bu tong jit kiat, aku sudah menguasai enam macam ilmunya.

Namun ilmu itu ternyata tidak begitu hebat.

Seandainya dulu aku tahu, aku juga enggan mempelajarinya.

Bahkan pengorbanan yaya-ku tidak ada artinya kalau dia hanya berhasil mencuri ilmu Bu tong liok kiat.

Seorang Tok-ku Bu-ti saja tidak sanggup dikalahkan.

Tapi apabila aku sudah berhasil melatih Tian can sinkang yang lalu dipadu lagi dengan Coa liau cap sa sut yang aku miliki, ditambah dengan ilmu Siau Yau kok yang beraneka ragam, saat itu aku tidak khawatir tidak dapat menguasai dunia persilatan ini.

Pada saat itu pula, tidak ada seorang pun 1420 yang sanggup menandingiku lagi!"

Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak.

Semakin dibayangkan hatinya semakin bangga.

Belum apa-apa dia sudah memikirkan bagaimana jati dirinya apabila sudah berhasil menyatu padukan semua ilmu itu.

Tok-ku Hong begitu terkejut melihat penampilan Fu Giok Su yang mirip orang yang sudah tidak waras.

Tanpa sadar kakinya mudur dua langkah.

"Kau bermimpi!"

Teriaknyi marah.

"Mimpi? Pada saat itu, hal yang pertama-tama akan kulakukan adalah memusnahkan Bu tong pai sampai rata menjadi tanah. Setelah itu aku akan membangkitkan Siau Yau kok kembali. Jadilah aku Bulim bengcu yang paling disegani di seluruh dunia kangouw!"

Sekali lagi dia tertawa terbahak-bahak. Tok-ku Hong dapat mendengar ucapannya yang serius. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku benar-benar tidak mengerti mengapa kalian semua begitu berambisi untuk menguasai dunia persilatan!"

"Kalian anak-anak perempuan mana mengerti hal semacam itu!"

Tok-ku Hong menarik nafas panjang.

"Aku hanya tahu perbuatan semacam itu bisa mengorbankan jiwa orang banyak. Tidakkah kalian sadar bahwa perbuatan seperti itu adalah semacam dosa yang tidak terampunkan?"

"Dosa? Apa sih dosa itu? Bahkan aku tidak percaya adanya Thian yang disembah oleh orang-orang bodoh itu. Seandainya Thian benar ada, nasibku ataupun nasibmu tidak akan mengenaskan seperti sekarang!"

Teriak Fu Giok Su.

"Aku percaya semua yang kita terima merupakan akibat dari ulah kita sendiri. Pada dasarnya Thian mencintai semua umat 1421 di dunia ini. Aku akan mengatakan terus terang bahwa sebelumnya aku juga tidak pernah memasang hio atau bersembahyang di kuil mana pun. Namun setelah berbagai kejadian yang ku alami, aku sudah dapat mengambil hikmahnya Coba kau bayangkan, seandainya Thian-tidak adil, tentu aku dan ... Wan Toako telah melakukan perbuatan yang akan kami sesali seumur hidup. Hal ini membuktikan bahwa Buddha telah membuka hatinya bagi kami sebelum kami terlanjur melangkah. Sadarlah ... apa yang kau terima sudah cukup. Kau dapat memulai hidup baru dengan hati yang lebih bersih dan terbuka. Aku yakin Wan Toako juga tidak akan memperpanjang urusan ini. Apalagi dengan adanya Fu Kouwnio yang mendampinginya!"

Tok-ku Hong sendiri merasa heran.

Seumur hidupnya dia tidak pernah menasehati orang lain.

Bahkan dia sendiri yang biasanya di nasehati oleh orang lain.

Wajah Fu Giok Su berubah hebat mendengar perkataannya.

"Kau ingin mengikuti aku secara suka rela atau kau ingin aku turun tangan meringkusmu?"

Tanyanya dengan nada berat. Tok-ku Hong memberikan jawaban dengan gerakan. Tangannya mencekal sepasang goloknya erat-erat. Fu Giok Su menatapnya lekat-lekat. Dia tertawa terbahak-bahak.

"Dengan mengandalkan ilmu silatmu, aku yakin kau masih bukan tandinganku!"

"Kau boleh membunuh aku. tapi jangan harap dapat menggunakan diriku untuk memaksa Wan … toakoku menyerahkan Tian can sinkang kepadamu!"

Sepasang tangan Tok-ku Hong langsung mencabut keluar goloknya. Fu Giok Su kembali tertawa terbahak-bahak.

"Sampai saat ini aku belum pernah bertemu orang yang benar-benar tidak takut menghadapi kematian!"

"Setidaknya sekarang kau sudah bertemu dengan satu di 1422 antaranya!"

Sepasang golok Tok-ku Hong direntangkan di depan dadanya.

"Oh?"

Fu Giok Su agak tertegun.

Tubuhnya mencelat ke atas laksana seekor burung rajawali sakti yang mengembangkan sayapnya.

Dia melesat dari atas batu dimana dia duduk sebelumnya.

Tubuhnya melayang turun dihadapan Tok-ku Hong.

Gadis itu berteriak lantang kemudian menghentakkan kakinya.

Sepasang goloknya menerjang ke depan.

Sinar golok memijar-pijar.

Fu Giok Su berkelebat lagi.

Sepasang telapak tangannya dikatupkan seperti paruh bangau.

Dengan kecepatan kilat dia menyerang Tok-ku Hong.

Keduanya saling bergebrak.

Meskipun gerakan Fu Giok Su sangat cepat, tapi serangannya tidak ditujukan ke bagian tubuh Tok-ku Hong yang berbahaya.

Tampaknya dia memang ingin meringkus gadis itu hidup-hidup agar dapat ditukar dengan Tian can sinkang milik Wan Fei Yang.

Walaupun demikian, Tok-ku Hong tetap kewalahan.

Hatinya panik sekali.

Dia benar-benar tidak takut lagi menghadapi kematian.

Yang ditakutinya justru apabila Fu Giok Su berhasil meringkusnya dan menggunakan dirinya sebagai sandera untuk memaksa Wan Fei Yang.

Fu Giok Su pernah bergebrak dengan Tok-ku Hong secara langsung.

Sekarang dia baru menyadari bahwa ilmu silat gadis ini juga tidak boleh dianggap remeh.

Setidaknya dia mendapat didikan langsung dari Tok-ku Bu-ti.

Untuk membunuhnya memang mudah, tapi untuk meringkusnya tanpa melukai dirinya sedikit pun, juga bukan pekerjaan yang gampang.

Sedangkan dia mengerti, sedikit saja Tok Hong terluka, Wan Fei Yang pasti tidak mengampuninya.

Tok-ku Hong tampaknya mulai mengerti isi hati Fu Giok Su.

Serangannya semakin gencar.

Dia tidak takut dirinya akan dilukai oleh Fu Giok Su.

Sebab dia sudah dapat meraba, 1423 meskipun serangan Fu Giok Su dikerahkan dengan gencar namun kekuatan tenaganya tidak dikerahkan sepenuhnya.

Tubuh Fu Giok Su berkelebat ke sana kemari.

Laksana seekor burung rajawali, dia terus mengintil ketat di belakang Tok-ku Hong.

Sepasang tangannya terulur ke depan untuk mencengkeram gadis tersebut.

Gerakan Tok-ku Hong cukup gesit.

Sepasang goloknya disapukan bagai angin topan.

Tapi dia tetap harus mundur dua langkah ke samping baru bisa menghindarkan diri dari cengkeraman Fu Giok Su.

Gerakan yang dilakukan Fu Giok Su semakin lama semakin aneh bagi penglihatan Tok-ku Hong.

Kadang-kadang dia bergulingan di atas tanah bagai cacing yang kepanasan, kadang-kadang dia melayang di udara bagai seekor burung rajawali sakti.

Tentu saja Tok-ku Hong tidak tahu bahwa Fu Giok Su sudah mengerahkan ilmu Coa tiau cap sa-sut miliknya yang hebat.

Kecepatannya hampir tidak bisa ditangkap oleh Tok-ku Hong.

Tapi dasar gadis itu memang sudah nekat, tanpa memperdulikan bahaya yang ada di depan dia menerobos ke dalam gerakan tangan Fu Giok Su.

Anak muda itu terkejut sekali.

Pada dasarnya dia hanya ingin menciutkan nyali gadis itu dengan mengerahkan Coa tiau cap sa-sut yang memang dahsyat.

Sekarang dia menyadari bahwa gadis itu benar-benar nekat.

Tindakannya lebih mirip bunuh diri daripada bertarung secara adil.

Cepat-cepat Fu Giok Su menarik kembali tangannya.

Golok Tok-ku Hong sudah di depan mata dan mengancam tenggorokannya.

Fu Giok Su terpaksa membungkukkan tubuhnya untuk menghindari serangan sepasang golok tersebut.

Meskipun serangannya gagal, Tok-ku Hong tetap tidak putus asa.

Keringat mulai membasahi keningnya.

Sebetulnya memang kekuatan gadis itu sudah melemah.

Sudah berbulan-bulan dia berjalan tanpa arah tujuan.

Makan, minum maupun tidur tidak teratur.

Keadaan staminanya sedang menurun.

Ditambah lagi sekarang dia dipermainkan oleh Fu Giok Su.

Sayangnya anak muda itu tidak menyadari keadaan dirinya.

Pikirannya dipenuhi oleh bayangan Wan Fei 1424 Yang yang terkejut apabila dia membawa Tok-ku Hong ke depannya.

Dia terus mendesak gadis itu sampai melihat bahwa Tok-ku Hong sudah hampir tidak sanggup menghadapi serangannya.

Padahal saat itu dia baru melancarkan jurus ketujuh dari Coa tiau cap sa-sut.

Fu Giok Su segera menghentikan gerakannya.

Tok-ku Hong terpana.

Sepasang goloknya masih dilinlangkan di depan dada untuk berjaga-jaga.

Fu Giok Su tertawa dingin menatapnya.

"Apakah kita perlu meneruskan pertarungan ini?"

"Mengapa kau menanyakan hal itu?"

"Coa tiau cap sa-sut belum kukerahkan semuanya, tapi tampaknya kau tidak sanggup lagi menahan diri dari seranganku!"

"Mengapa kita tidak meneruskannya supaya tahu benar tidaknya apa yang kau katakan itu?"

Tok-ku Hong memang keras kepala. Biar dia tahu dirinya bukan tandingan Fu Giok Su namun dia tetap ingin meneruskan pertarungan tersebut.

"Apakah kau masih tetap mempunyai tempat untuk mundur lagi?"

Fu Giok Su malah bertanya kembali.

Tok-ku Hong tertegun sejenak.

Sebuah ingatan melintas dibenaknya.

Tanpa sadar dia menoleh ke belakang.

Saat itu dia baru menyadari bahwa dirinya sudah berada di tepi jurang yang dalam.

Jurang itu bukan saja dalam, di bawahnya malah membentang laut yang luas dengan gelombang ombak yang besar-besar.

Apabila mundur lagi satu langkah, Tok-ku Hong pasti akan terjatuh ke dalam jurang tersebut.

Sedangkan dalam keadaan seperti ini dia tidak mempunyai pilihan yang lain lagi.

"Bagaimana? Kalau kau terjatuh di tempat yang demikian 1425 dalam, aku yakin tulang di seluruh tubuhmu akan hancur tidak berbentuk!"

Tok-ku Hong menoleh sekali lagi ke belakang. Tanpa sadar bulu kuduk di seluruh tubuhnya bangun semua. Fu Giok Su tertawa terbahak-bahak.

"Lepaskan golokmu, ikutlah aku ke Bu-tong-san!"

Tok-ku Hong malah mencekal goloknya erat-erat.

Sepasang bibirnya terkatup.

Angin yang kencang membuat rambutnya menjadi berantakan.

Tapi tetap saja tidak sanggup menghembuskan adatnya yang memang keras kepala sejak dulu.

"Kau masih demikian muda. bukan sayang kalau kau sampai mati dengan cara seperti ini?"

Kata Fu Giok Su selanjutnya.

"Seandainya kau sudah berhasil melatih ilmu Tian can sinkang. Orang yang pertama-tama akan kau bunuh pasti Wan Toako. Kalau aku menuruti keinginanmu demi mempertahankan selembar nyawaku sendiri, siapa yang dapat memaafkan apa yang telah aku lakukan?"

Tanya Tok-ku Hong sinis.

Wajah Fu Giok Su agak berubah mendengar perkataannya.

Dia tidak begitu mendalami sifat gadis yang satu ini.

Entah dia sanggup berbuat nekat atau tidak.

Tapi dia tidak berani mencoba-coba.

"Mungkin aku bisa mempertimbangkan lagi untuk tidak membunuh Wan Fei Yang."

Tok-ku Hong tertawa dingin.

"Kau kira aku akan mempercayai kata-katamu?"

Fu Giok Su juga tertawa lebar.

"Sayangnya kau sekarang tidak mempunyai pilihan yang lain!" 1426

"Kalau mengandalkan ilmu silat yang aku miliki, aku memang bukan tandinganmu. Sebetulnya tidak perlu diragukan lagi, kau memang orang yang cerdas, tapi kali ini kau melakukan kesalahan besar!"

Alis Fu Giok Su berkerut mendengar kata-katanya.

"Kau mendesak aku sampai ke tempat ini. Tahukah kau bahwa sama artinya kau telah memberi aku sebuah pilihan yang lain?"

Fu Giok Su tertegun.

"Pilihan yang lain?"

Sebuah ingatan terlintas. Dia cepat menerjang ke depan.

"Jalan kematian!"

Teriak Tok-ku Hong sambil melempar sepasang goloknya ke arah Fu Giok Su.

Kakinya mundur dua langkah.

Tubuh nya langsung terjatuh ke dalam jurang yang dalam.

Tangan Fu Giok Su mengibas.

Sepasana golok yang meluncur ke arahnya tersampok jatuh.

Tubuhnya langsung melesat secepat kilat ke arah Tok-ku Hong.

Gerakannya tidak dapat disebut lambat lagi, namun tetap saja tidak sempat meraih tubuh Tok-ku Hong yang sudah meluncur jatuh ke dalam jurang.

Dia melongokkan kepalanya ke bawah.

Tubuh Tok Hong dalam sekejap mata hanya tinggal titik dalam.

Sesaat kemudian, dia tidak terlihat lagi.

Fu Giok Su masih menatap ke dalam juran itu dengan pandangan termangu-mangu.

Tanpa sadar hatinya menggidik.

Jurang itu terlalu dalam dan laut di bawahnya demikian bergelora.

Dia tidak percaya Tok-ku Hong tidak takut mati, tapi gadis itu malah membuktikan padanya.

Tanpa adanya Tok-ku Hong, bagaimana dia bisa memaksa Wan Fei Yang menyerahkan ilmu Tian Can sinkang yang sangat di nginkannya.

Dada Fu Giok Su bergemuruh.

Rasa amarah seakan meluap sampai ke atas kepalanya.

Dilemparkannya sepasang golok milik Tok-ku Hong ke dalam jurang sekalian.

1427 Selelah dia membuang sepasang golok tersebut, dia menyesal kembali.

Mengapa sekarang otaknya seperti tidak bekerja.

Dia telah membuang sebuah peluang yang bagus sekali.

Apabila dia menunjukkan sepasang golok milik Tok-ku Hong kepada Wan Fei Yang dan mengatakan bahwa gadis itu berada dalam cengkeramannya, tentu Wan Fei Yang akan percaya serta dia dapat memaksa anak muda itu menyerahkan ilmu Tian can sinkang kepadanya.

Namun nasi sudah menjadi bubur.

Benarkah bahwa Thian itu memang ada dan sekarang sedang menunjukkan kekuasaannya agar dia percaya?

Rasanya dia ingin menampar wajahnya sendiri berkali-kali.

Tentu Wan Fei Yang dapat mengenali golok itu sebagai senjata yang digunakan oleh Tok-ku Hong sehari-harinya.

Bukankah di dunia kang ouw terkenal pepatah yang mengatakan bahwa senjata yang digunakan adalah pengganti orang itu sendiri?

Biasanya dia sangat tenang dalam menghadapi segala persoalan.

Kali ini dia bisa begitu emosi dan tidak berpikir panjang dalam menyelesaikan urusan.

Dia sendiri menjadi terpaku di tempat itu.

Tepat pada saat itulah, dia mendengar desiran lengan baju yang berkibar.

Cepat-cepat dia menolehkan kepalanya.

Dia melihat seseorang melesat datang dengan langkah tergesa-gesa.

Bayangan orang itu tidak asing baginya.

Pikirannya tergerak.

Bayangan orang itu sudah melintas di depan hadapannya.

Alisnya semakin mengerut.

Dia membalikkan tubuhnya dan memperhatikan dengan seksama.

Bayangan itu berhenti di jalan setapak di atas pegunungan tersebut.

Ternyata Fu Hiong Kun adanya.

Dia baru saja turun dari Bu tong san.

Dari kejauhan dia melihat dua orang sedang bertarung.

Oleh karena itu dia cepat-cepat menghambur ke tempat itu untuk 1428 melihat siapa adanya kedua orang itu dan apa yang telah terjadi.

Bayangan Fu Giok Su juga seakan tidak asing baginya.

Siapa?

Tiba-tiba dia teringat akan Wan Fei Yang.

"Wan toako? Kaukah yang ada di sana?"

Teriaknya tanpa sadar.

"Toako sih sudah benar, tapi sayangnya bukan she Wan!"

Sahut Fu Giok Su sambil membalikkan tubuhnya. Mendengar suara yang satu ini, wajah Fu Hiong Kun berubah hebat. Ketika dia melihat Fu Giok Su menghampiri, tanpa sadar kakinya mundur tiga langkah.

"Benar-benar di luar dugaanmu bukan?"

Fu Hiong Kun terkejut sekali.

"Mengapa kau bisa berada di tempat ini?"

"Aku heran, mengapa kalian semua suka menanyakan pertanyaan yang serupa. Aku kan Ciang bunjin Bu-tong-pai. Masa aku tidak boleh kembali ke tempatku sendiri?"

"Fu Toako, mengapa pikiranmu tidak pernah terbuka?"

Tanya Fu Hiong Kun dengan hati pilu.

"Apakah yang toako katakan tadi salah? Ci Siong to jin sendiri yang memilih aku sebagai Ciang bunjin. Jangan katakan bahwa aku Ciang bunjin yang satu ini palsu adanya."

Fu Hiong Kun menjadi tertegun mendengar ucapannya itu.

"Mengapa kau sendiri bisa ada di tempat ini?"

Tanya Fu Giok Su. 1429

"Tadinya aku mengikuti Yan gihu ke sini. Aku toh tidak mempunyai tempat tinggal lagi."

"Yan gihu? Kau mengangkat musuh itu sebagai ayahmu?"

Bentak Fu Giok Su.

"Giok Su koko. janganlah memperpanjang urusan ini."

Jilid 32

"Kau memanggilnya dengan begitu mesra, apakah kau lupa bahwa Yaya kita mati di tangannya?"

Tanya Fu Giok Su masih dengan nada membentak.

"Hal ini Yan gihu tidak dapat disalahkan sepenuhnya ..."

"Tutup mulutmu!"

Bentak Fu Giok Su kemudian menudingkan jari telunjuknya ke arah Fu Hiong Kun.

"Kau adalah orang dari Siau Yau kok. Kau berasal dari keluarga Fu. mengapa ucapanmu selalu membela orang lain?"

Fu Hiong Kun menarik nafas panjang.

"Toako ..."

"Cukup! Aku tidak pantas menerima sebutan yang mesra itu!"

Fu Giok Su berusaha menenangkan hatinya.

"Kalau kau masih menganggap aku seorang abang, seharusnya kau mendengar kata-kataku."

Fu Hiong Kun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sesaat kemudian baru dia mengangkat kepalanya kembali.

"Toako, apakah kau yang membayar Tian Sat untuk membunuh Yan?"

"Yan lo kui (Setan tua)!"

Tukas Fu Giok Su sambil tertawa terbahak-bahak. Wajah Fu Hiong Kun berubah hebat. 1430

"Jadi benar kau yang meminta mereka membunuh Gihu?"

Desaknya penasaran.

"Tampaknya bergaul dengan murid Bu-tong-san membuat otakmu semakin tumpul. Mana mungkin orang Siau Yau kok mau meminta bantuan dari Tian Sat. Aneh sekali ..."

Wajah Fu Giok Su hijau membesi.

"Kalau orang-orang Bu-tong-pai yang menuduhku seperti itu, aku masih tidak heran. Tapi kau adalah adikku. Kau terlahir di Siau Yau kok. Apakah kau sudah berubah begitu jauh sehingga lupa bagaimana sikap orang-orang Siau Yau kok?"

"Kalau bukan Toako, siapa kira-kira orang nya?"

"Aku yakin Tok-ku Bu-ti. Dia adalah manusia yang tidak segan menggunakan cara apa saja untuk mencapai keinginan hatinya!"

Fu Hiong Kun menghela nafas lega.

"Aku tidak perduli siapa, asal bukan engkau toakoku!"

"Apa maksud ucapanmu itu?"

Sekali lagi Fu Hiong Kun menarik nafas panjang.

"Aku tidak ingin Toako melakukan lagi perbuatan yang dapat mencelakakan orang banyak. Aku tidak ingin Toako menambah dosa. Persoalan Lun Wan Ji kami sudah tahu. Aku menganggap nasib Toako cukup malang. Tapi seandainya kau bisa melupakan semua kejadian yang lalu dan memulai suatu kehidupan yang baru, aku yakin Wan Toako akan melepaskanmu. Kalau pun tidak, aku akan memohon kepadanya. Dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar. Aku yakin dia akan melepaskanmu."

Fu Giok Su tertawa dingin berulang kali. 1431

"Oh ya, kalau tidak salah aku melihat Toako sedang bergebrak dengan seseorang di tempat ini?"

Tanya Fu Hiong Kun yang teringat kembali akan tujuannya semula. Fu Giok Su menganggukkan kepalanya dengan enggan.

"Siapa orang yang bergebrak melawan Toako tadi?"

Tanya Fu Hiong Kun dengan pandangan menyelidik.

"Tok-ku Hong!"

Kata Fu Giok Su berterus terang. Wajah Fu HiongKun berubah hebat.

"Hong cici? Mengapa dia bisa berjalan ke arah sini lagi?"

Fu Hiong Kun mengedarkan pandangan matanya.

"Di mana orangnya sekarang?"

"Tampaknya tidak ada orang yang tidak kau anggap sahabat, kecuali keluargamu sendiri,"

Sindir Fu Giok Su.

"Toako, jangan main-main. Di mana Hong cici sekarang?"

Tanya Fu Hiong Kun dengan wajah panik.

"Dia sudah terhajar olehku sehingga terjatuh ke dalam jurang di belakangmu."

Sahut Fu Giok Su dengan mata setengah terpejam.

Tampangnya begitu tenang seakan terjatuhnya Tok-ku Hong ke dalam jurang bukan hal yang perlu dipersoalkan.

Fu Hiong Kun terkejut sekali.

Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya dan menghambur ke tepi jurang.

Dia melongokkan kepalanya ke bawah.

Wajahnya langsung menjadi pucat.

Sejenak kemudian dia menoleh lagi ke arah Fu Giok Su.

Matanya menatap dengan pandangan menyelidik.

"Toako, benarkah apa yang kau katakan?"

"Tentu saja benar. Buat apa aku harus mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan? Itu bukan kebiasaanku,"

Sahut Fu Giok Su tenang. 1432 Air mata mulai mengembang di pelupuk Fu Hiong Kun.

"Toako ... !"

Dia menggelengkan kepalanya keras-keras. Mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dibatalkannya.

"Tok-ku Hong adalah adik Wan Fei Yang. Lagipula dia juga putri Ci Siong to jin. Mereka semua merupakan musuh besar kita. Apa salahnya kalau mereka semua bisa kubunuh?"

Fu Hiong Kun terus-terusan menggelengkan kepalanya. Dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

"Bagus sekali kita dapat berjumpa di tempat ini. Ayo, kau ikut denganku. Kita pikirkan cara yang baik untuk membunuh Wan Fei Yang!"

Kata Fu Giok Su selanjutnya. Dia maju satu langkah. Fu Hiong Kun malah mundur lagi. Dia terkejut sekali mendengar ajakan Fu Giok Su. Ditatapnya abangnya itu dengan pandangan pilu.

"Toako, aku mohon jangan lagi kau lakukan perbuatan yang mencelakakan orang lain. Pikirkanlah akibat yang akan kau terima."

"Apakah membalas dendam juga merupakan perbuatan yang jahat? Kami hanya mengembalikan apa yang pernah diberikannya kepada kami!"

"Kau sudah membunuh ayahnya. Sekarang malah adiknya juga mati akibat ulahmu. Toako, apakah kau tidak menganggap perbuatanmu ini sudah melewati batas?"

"Bagus!"

Fu Giok Su mendelik ke arah Fu Hiong Kun. Dia tertawa dingin berulang kali.

"Kalau kau memang begitu menyukai tempat ini, tinggal ah di sini. Ikuti saja manusia she Wan itu. Aku ingin tahu apakah dia akan memperlakukan kau dengan baik?"

Fu Giok Su tidak memperdulikan Fu Hiong Kun lagi. Dia melangkahkan kakinya dengan perlahan. Tanpa sadar Fu 1433 Hiong Kun mengejarnya.

"Toako ... !"

Mendengar suara panggilan itu, Fu Giok Su membalikkan tubuhnya.

Tiba-tiba dia melesat ke depan dan mencengkeram tangan Fu Hiong Kun.

Gadis itu terkejut sekali.

Dia berusaha memberontak, tapi mana mungkin kekuatan nya dapat menandingi tenaga Fu Giok Su.

Apalagi kejadiannya begitu cepat.

Dia sama sekali tidak menyangka Fu Giok Su akan berbuat demikian.

"Toako ..."

Panggilnya sekali lagi.

"Kau harus ikut denganku!"

Bentak Fu Giok Su sambil menarik pergelangan tangan Fu Hiong Kun dan menghambur dari tempat itu.

"Toako, lepaskan tanganku ... !"

Teriak Fu Hiong Kun dengan suara memohon.

Tapi mana mungkin Fu Giok Su menghiraukannya.

Dia terus menyeretnya sambil berlari sekencang-kencangnya.

Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras.

Dia tahu bagaimana kerasnya hati Fu Giok Su.

Biarpun dia adalah adiknya sendiri, Fu Giok Su tidak segan menggunakannya untuk menekan Wan Fei Yang.

Tadinya dia sengaja turun dari Bu-tong-san untuk mencari Fu Giok Su.

Dia ingin menanyakan apakah Fu Giok Su yang meminta Tian Sat membunuh Yan Cong Tian.

Tanpa disengaja dia dapat bertemu dengan abangnya itu di kaki gunung.

Dan sekarang dia sudah yakin bahwa bukan Fu Giok Su yang minta tolong Tian Sat untuk membunuh Yan Cong Tian.

Tapi dengan terjatuhnya dia dalam cengkeraman abangnya itu, apa yang akan dilakukannya mungkin tidak kalah mengerikan dengan pembunuhan terhadap ayah angkatnya itu.

Bagaimana hatinya tidak menjadi sedih memikirkan semua itu?

Apalagi Fu Giok Su telah mengakui bahwa dialah yang membunuh Tok-ku Hong.

Apabila Wan Fei Yang sampai mengetahui kejadian tersebut, dia tidak berani berharap lagi kalau anak muda itu akan melepaskan abangnya begitu saja.

1434 Hal ini tidak berbeda dengan kematian Yan Cong Tian.

Bagaimana dia harus menjelaskannya kepada Wan Fei Yang?

Mengingat masalah yang akan dihadapinya ini, hatinya semakin tertekan.

Akhirnya dia tidak memberontak lagi.

Sia-sia saja dia mengerahkan tenaganya.

Tidak mungkin dia dapat melepaskan diri dari Fu Giok Su.

Dia juga tidak berkata apa-apa lagi.

Dibiarkannya dirinya diseret pergi oleh abangnya itu.

Air matanya terus mengalir seperti pancuran air yang deras.

*** Akhirnya Yan Cong Tian diperabukan.

Ai mata Wan Fei Yang masih mengalir terus.

Saat ini dia masih menyalahkan dirinya sendiri.

Seandainya dia tidak pergi, tentu Yan Supeknya tidak akan sampai terbunuh orang.

Meskipun Yo Hong dan saudara seperguruannya yang lain terus menghiburnya dengan mengatakan, bahwa seandainya dia ada di Bu-tong-san, Tian Sat juga mempunyai cara yang lain untuk membunuh Supeknya itu.

Pada saat itu para murid Bu-tong-pai berlutut di belakangnya.

Wajah mereka tidak satu pun yang tidak menunjukkan perasaan mereka yang sedih.

Kesan mereka terhadap Wan Fei Yang sudah jauh berubah.

Sekarang mereka baru sadar betapa mulianya hati anak muda ini.

Wan Fei Yang tidak pernah mempersoalkan siapa pun yang pernah menghinanya dulu.

Bahkan dia tidak pernah mengungkitnya kembali.

Pada dasarnya bagi Wan Fei Yang, semua hinaan yang pernah dialaminya di Bu-tong-san merupakan sebuah kenangan yang manis.

Setelah berlutut sekian lama, tiba-tiba Wan Fei Yang berdiri dan membalikkan tubuhnya.

"Kapan Tok-ku Bu-ti menentukan waktu pertarungan?"

Tanyanya dengan dada bergemuruh.

"Bulan dua belas tanggal satu."

Yo Hong menyerahkan kembali surat tantangan yang pernah diberikannya kepada 1435 Wan Fei Yang.

Dia merasa agak aneh mengapa Wan Fei Yang bisa melupakan tanggal yang tertera dalam surat tersebut.

Namun sekejap kemudian dia mulai mengerti.

Pasti pada waktu itu hati Wan Fei Yang sedang panik mendengar berita kematian Yan Supek mereka.

Wan Fei Yang menerima surat tantangan itu dan membacanya sekali lagi dengan seksama.

"Kematian Yan Supek kemungkinan merupakan ulah Fu Giok Su, tapi Tok-ku Bu-ti juga mempunyai kemungkinan yang sama besarnya."

"Siau Fei, bagaimana pendapatmu?"

"Kita selesaikan masalah tantangan ini. Jika waktunya telah tiba, aku akan menanyakan sampai jelas. Seandainya bukan perbuatan Tok-ku Bu-ti, pasti Fu Giok Su-lah yang melakukannya. Kalau benar, aku tidak akan melepaskan orang itu begitu saja!"

Kata Wan Fei Yang sambil mengepalkan sepasang tinjunya.

"Apakah kau akan menerima tantangan Tok-ku Bu-ti?"

Tanya Yo Hong kembali. Sekarang hubungannya dengan Wan Fei Yang akrab sekali. Bahkan dia memanggilnya dengan sebutan yang biasa digunakan oleh Yan Cong Tian.

"Tidak boleh tidak! Aku harus menerima tantangannya!"

Wan Fei Yang meremas surat tantangan itu sampai hancur berantakan.

"Pokoknya pada tanggal satu bulan dua belas, urusan hutang-piutang antara pihak kita dengan Tok-ku Bu-ti harus diselesaikan!"

Selesai berkata.

Wan Fei Yang membalikkan tubuhnya kembali.

Dia menyembah sebanyak tiga kali di depan perabuan Yan Cong Tian.

Sinar mata para murid Bu-tong-pai terpusat pada Wan Fei Yang.

Harapan mereka juga hanya terletak di tangan anak muda itu.

Biar bagaimana pun, pada tanggal satu bulan dua belas yang akan datang, hutang-piutang antara Bu-ti-bun dengan Bu-tong-pai memang harus diselesaikan secara 1436 tuntas.

*** Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah selesai pembuatannya.

Kedua tukang yang membantu mengerjakannya memandang Tok-ku Bu-ti dengan pandangan berharap.

Orang tua itu tidak memperdulikan mereka.

Dia membawa tongkat kepala naga itu ke bagian belakang rumah di mana terdapat sebuah taman yang tidak terlalu luas.

Di sana dia menggerakkan tongkat kepala naga itu dengan kekuatan sepenuhnya.

Tampak cahaya memijar dari sapuan tongkat tersebut.

Suara angin yang ditimbulkannya menderu-deru.

Kedua tukang yang mengintip di balik pintu memandang dengan tercengang.

Mereka saling lirik sekilas.

Tanpa bersepakat terlebih dahulu, mereka segera mengambil langkah seribu meninggalkan rumah tersebut.

Sampai-sampai alat-alat yang biasa mereka gunakan untuk mencari nafkah pun ditinggalkan begitu saja.

Mereka tidak dapat disalahkan.

Alat-alat itu masih dapal dibuat ataupun dibeli kapan saja, tapi nyawa mereka masing-masing hanya selembar.

Selama ini Tok-ku Bu-ti tidak pernah mengajak mereka bercakap-cakap, kecuali menanyakan hasil pekerjaan mereka.

Keangkeran wajah orang tua itu membuat hati mereka bergidik apalagi tatapan matanya yang begitu dingin.

Mereka bukan terdiri dari orang-orang dunia kangouw, mereka tidak mengenal siapa adanya Tok-ku Bu-ti.

Kalau saja mereka tahu, tentu hati mereka lebih takut lagi.

Tok-ku Bu-ti sudah menghentikan gerakannya.

Dia memandang tongkat kepala naganya dengan sinar mata yang mengandung kepuasan.

Dia tahu kedua tukang itu sudah pergi.

Tapi dia memang tidak berniat membunuh mereka.

Dia kembali ke dalam kamar dan duduk bersila untuk menghimpun hawa murninya.

Beberapa hari lagi dia harus mendaki Bu-tong-san guna memenuhi perjanjian pertarungan dengan Wan Fei Yang.

Semangatnya harus dijaga agar staminanya berada 1437 dalam kondisi puncak dalam menghadapi pertarungan yang akan datang.

*** Pagi-pagi sekali.

Bulan dua belas tanggal satu.

Salju menghampiri seluruh permukaan tanah bagai selembar permadani putih.

Salju ini sudah melapisi seluruh Giok hong teng selama sehari semalam.

Semakin lama lapisannya semakin tebal.

Apabila mata memandang, di seluruh daerah itu hanya warna putih yang terlihat.

Angin bertiup dengan kencang.

Salju turun dengan deras.

Tapi tampaknya baik Tok-ku Bu-ti maupun Wan Fei Yang sama sekali tidak memperdulikan cuaca yang dingin itu.

Mereka berdiri berhadapan dalam jarak tiga depa.

Mereka bagaikan dua buah patung batu yang berdiri kokoh dan tidak tergoyahkan oleh badai salju.

Ketika Wan Fei Yang sampai di tempat itu, Tok-ku Bu-ti sudah cukup lama menunggu di sana.

Dia mengenakan satul stel pakaian mantel berbulu.

Sekali lihat saja sudah ketahuan bahwa pakaiannya masih baru.

Warnanya merah menyala, rambutnya di kat dengan gelang emas, tangannya menggenggam tongkat kepala naga.

Dandanannya tidak berbeda sama sekali dengan dua tahun yang lalu ketika dia bertarung melawan Ci Siong to jin.

Hanya kewibawaan yang ditampilkan pada jati dirinya sudah jauh berbeda.

Wan Fei Yang mengenakan pakaian berwarna hitam.

Dia juga memakai sehelai mantel bagian luarnya yang warnanya hitam pula.

Tidak terlihat adanya keistimewaan pada diri anak muda itu.

Pada dasarnya Wan Fei Yang memang orang yang sederhana.

Dia tidak pernah berpenampilan mewah meskipun 1438 dia sudah cukup mampu untuk membeli pakaian berharga mahal.

Biarpun demikian, kewibawaan yang terpancar pada dirinya tidak kalah dengan Tok-ku Bu-ti.

Malah sinar matanya jauh lebih tajam dari sinar mata Tok-ku Bu-ti sendiri.

Hanya ada kesedihan dan kemarahan yang terkandung di dalamnya.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dengan membisu.

Seakan sedang menguji kekuatan mental masing-masing.

Kira-kira setengah kentungan kemudian.

Akhirnya Tok-ku Bu-ti juga yang lebih dahulu membuka suara.

"Ci Siong dapat mempunyai putra sepertimu, di alam baka pasti kehidupannya tenang sekali!"

Reaksi Wan Fei Yang sangat datar.

"Waktunya sudah tiba."

"Kau tidak ingin menanyakan apa-apa?"

"Apakah kau ada hubungannya dengan kematian Yan Supek?"

"Aku yang meminta Tian Sat membunuhnya!"

Tok-ku Bu-ti mengakui dengan terus terang. Alis Wan Fei Yang berkerut.

"Sebetulnya kau juga seorang laki-laki yang gagah."

"Seseorang yang sedang dalam puncak kemarahannya dapat melakukan apa saja. Hal ini patut dimaafkan."

Wan Fei Yang tertawa dingin.

"Apabila aku tidak mengatakan dengan terus terang, tidak lama kemudian kau pasti akan mengetahuinya juga."

Ketenangan Tok-ku Bu-ti benar-benar mengagumkan.

"Karena, walaupun aku yang meminta Tian Sat membunuh 1439 Yan Cong Tian, tapi aku tidak mempunyai uang untuk membayar tenaga yang telah mereka keluarkan. Terhadap orang-orang yang berhutang kepada mereka, Tian Sat mempunyai cara tersendiri untuk menghadapinya."

"Bagaimana?"

"Mereka akan meminta bayaran dengan nyawa orang itu sendiri!"

Tidak disangka Tok-ku Bu-ti berani mengatakan semuanya dengan terang-terangan.

"Mereka sanggup membunuh Yan Supek tentunya mereka juga sanggup membunuhmu. Itulah sebabnya kau menantang aku bertarung di tempat ini,"

Kata Wan Fei Yang.

"Tidak salah!"

Tok-ku Bu-ti mengelus-elus jenggotnya.

"Tiga kali berturut-turut aku bertarung dengan ayahmu, Ci Siong tojin di atas Giok-hong-teng ini. Semua pertarungan itu dilakukan dengan jujur. Kau tidak perlu khawatir aku akan menggunakan cara licik untuk menghadapimu."

Wan Fei Yang hanya tertawa dingin.

"Tapi kali ini jalan hidupku benar-benar sudah buntu. Aku pasti akan mengerahkan segenap tenaga untuk melawanmu. Meskipun kau sudah berhasil melatih ilmu Tian can sin-kang, tapi sebaiknya kau berhati-hati sedikit."

"Aku tidak menyangka hatimu tiba-tiba bisa menjadi mulia."

"Sekali-kali berbuat kebaikan toh tidak ada salahnya!"

"Terima kasih atas peringatanmu!"

Sahut Wan Fei Yang dengan nada yang luar biasa tenangnya. Tok-ku Bu-ti menganggukkan kepalanya.

"Bersediakah kau memberi jawaban apabila aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu?"

Tanyanya serius. 1440 Wan Fei Yang menganggukkan kepalanya.

"Silahkan bertanya."

"Bagaimana keadaan Hong ji sekarang?"

Ujung mata Wan Fei Yang berkerut-kerut mendengar pertanyaan itu.

"Aku tidak tahu. Sejak malam itu aku tidak pernah berjumpa dengannya."

Tok-ku Bu-ti menarik nafas panjang. Dia mengangkat tongkat kepala naganya.

"Silahkan!"

Wan Fei Yang segera menghunus pedangnya.

Digetarkannya sarung pedang yang ditangan kirinya.

Sarung pedang itu langsung berubah menjadi sebatang toya.

Tok-ku Bu-ti mengeluarkan siulan panjang.

Seperti kobaran api dia menyambar ke arah Wan Fei Yang.

Salju yang menutupi permukaan tanah berhamburan oleh terjangannya yang dahsyat.

Kekuatannya benar-benar mengejutkan.

Dalam waktu yang bersamaan, Wan Fei Yang juga bersiul nyaring.

Dia menerjangan Tok-ku Bu-ti.

Tongkat kepala naga dan pedang saling berbenturan.

Sekilas cahaya memercik suara.

"Trang! Trang! Trang!"

Benturan kedua senjata terdengar tidak putus-putusnya.

Tongkat kepala naga di tangan Tok-ku Bu-ti menyapu gencar.

Suara angin yang ditimbul kannya berdesir-desir.

Pedang di tangan Wan Fei Yang juga tidak kalah dahsyatnya.

Sekali gerakan pedangnya menyambut serangan Tok-ku Bu-ti sebanyak sembilan kali.

Kekuatannya tidak kalah hebat dengan Tok-ku Bu-ti.

Pada dasarnya ilmu silat Wan Fei Yang sudah lebih tinggi dari Tok-ku Bu-ti.

Dia hanya kalah pengalaman.

Hal ini dapat dimaklumi, di dunia kangouw Wan Fei Yang masih merupakan bocah ingusan sedangkan Tok-ku Bu-ti merupakan 1441 dedengkotnya.

Entah sudah berapa banyak pertarungan antara hidup dan mati yang sudah pernah dilaluinya.

Dia sudah dapat menguasai ajang pertarungan dengan baik.

Salju yang bertaburan di sekitar tempat itu memercik membasahi tubuh keduanya.

Dari kejauhan tampak seperti binatang-binatang kecil yang sedang menari-nari.

Tubuh kedua orang itu saling berkelebat.

Semakin lama semakin cepat.

Tampaknya seperti roh-roh yang bergentayangan mencari mangsa.

Tubuh mereka berubah menjadi bayangan.

Orang biasa yang menyaksikan pertarungan itu pasti mengira bahwa tubuh keduanya tidak lama kemudian juga akan mencair menjadi salju.

"Trang!"

Terdengar suara benturan yang menggelegar memekakkan telinga.

Tubuh keduanya langsung terpisah.

Wajah Tok-ku Bu-ti pucat pasi bagai selembar kertas.

Ternyata tongkat kepala naganya sudah terputus menjadi dua bagian.

Di pihak sana, Wan Fei Yang juga berdiri tegak dengan wajah memucat.

Pedangnya juga terkutung menjadi tiga bagian.

Tanpa bersepakat terlebih dahulu, keduanyanya melemparkan senjata masing-masing yang telah terkutung ke atas salju.

Tubuh Tok-ku Bu-ti bergerak lagi.

Sepasang telapak tangannya dirangkapkan di depan dada.

Hawa murninya telah dihimpun.

Pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku.

Perlahan-lahan sepasang telapak tangannya berubah warna menjadi merah membara.

Tidak diragukan lagi bahwa dia telah mengerahkan Mit kip sinkangnya yang hebat.

Sebetulnya ilmu yang dipelajari oleh Tok-ku Bu-ti bernama Mit kip mokang (Ilmu iblis putus turunan) tapi karena nama itu berbau sesat, Tok-ku Bu-ti Mit kip sinkang (Tenaga sakti putus turunan).

Sepasang tangan Wan Fei Yang juga dirangkapkan.

Wajahnya yang tadi pucat perlahan-lahan berona dadu.

Dia juga sudah mengerahkan ilmu Tian can sinkangnya yang 1442 dahsyat.

Terdengar teriakan lantang dari mulut keduanya.

Tubuh mereka bergerak dalam waktu yang bersamaan.

Keduanya melesat di udara dan dua pasang telapak tangan pun saling berbenturan.

"Blammmm!!"

Tepat pada saat itu juga terdengar suara benturan yang menggelegar.

Bumi seakan terguncang.

Salju berhamburan ke mana-mana.

Cuaca pun berubah seketika.

Begitu hebatnya benturan antara kedua orang itu sampai-sampai suaranya yang menggelegar dapat terdengar oleh para murid Bu tong yang sedang menunggu di bawah dengan hati tegang.

Mereka tahu keduanya sudah berada dalam puncak pertarungan.

Menang atau kalah, saat inilah untuk menentukannya.

Baik Tok-ku Bu-ti maupun Wan Fei Yang terpental sejauh tiga depa.

Tubuh mereka menggelinding di atas salju yang putih.

Wajah Tok-ku Bu-ti sebentar putih sebentar lagi lagi berubah menjadi merah.

Tampaknya darah segar akan muncrat dari seluruh panca inderanya.

Mulutnya sudah memuntahkan segumpal darah yang kental.

Wajah Wan Fei Yang hijau membesi.

Dadanya bergemuruh, nafasnya tersengal-sengal.

Beberapa saat kemudian keadaannya baru normal kembali.

Tok-ku Bu-ti kembali memuntahkan darah untuk kedua kalinya.

Tubuhnya langsung berkelebat.

Telapak tangannya menghantam ke depan.

Wan Fei Yang tidak menyangka dengan datangnya serangan itu.

Dia melihat keadaan Tok-ku Bu-ti sudah payah.

Dengan gugup dia mengulurkan telapak tangannya untuk menyambut serangan Tok-ku Bu-ti.

Hidungnya mencium bau amis darah.

Serangan Tok-ku Bu-ti lebih hebat dari sebelumnya.

Tubuh Wan Fei Yang tergetar mundur satu langkah.

Mulut Tok-ku Bu-ti memuntahkan darah terus menerus.

Tapi tampaknya orang itu benar-benar sudah nekat.

Sepasang telapak tangannya secepat memutar menghantam ke depan.

"Ilmu iblis menghancurkan tubuh!"

Seru Wan Fei Yang dalam hatinya.

Dia terkejut sekali.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menyambut serangan Tok-ku Bu-ti yang mengerikan itu.

Tok-ku Bu-ti melancarkan serangan sebanyak tiga belas kali berturut-turut.

Sepasang telapak tangannya menghantam secara bergantian.

Sekali mereka saling mengadu kekuatan.

Dua pasang telapak tangan saling menekan.

Darah terus mengalir dari mulut, hidung, mata dan telinga Tok-ku Bu-ti.

Keadaannya sungguh menyeramkan.

Sama sekali tidak berbentuk manusia lagi.

Tulang belulang di seluruh tubuhnya memperdengarkan suara derakan yang menggidikkan hati.

Dugaan Wan Fei Yang tepat sekali.

Tok-ku Bu-ti memang telah mengerahkan ilmu iblis menghancurkan tubuh yang merupakan jurus terakhir dari Mit kip sinkang.

Ilmu itu sebetulnya merupakan ilmu yang hanya digunakan apabila orang yang mengerahkannya sudah nekat untuk mengajak lawannya mati bersama.

Sebab begitu ilmu tersebut dikerahkan, orang itu pasti lambat laun akan mati dengan darah yang mengalir habis dari seluruh panca inderanya dan tulang belulang dalam tubuhnya akan berpatahan.

Mana mungkin ada orang yang dapat hidup dalam keadaan seperti itu.

Tapi dengan mengerahkan ilmu yang satu ini, orang tersebut juga dapat melipatgandakan tenaga dalamnya menjadi dua kali dari biasanya.

Hal ini membuktikan bahwa Tok-ku Bu-ti sudah bertekad untuk mengajak Wan Fei Yang mati bersama.

Wan Fei Yang tidak berani bergerak.

Juga tidak dapat bergerak.

Dia terus mengerahkan Tian can sinkang untuk menahan serangan Tok-ku Bu-ti yang nekat.

Dia merasakan tenaga dalam yang dipancarkan oleh Tok-ku Bu-ti semakin lama semakin kuat.

1444 Tepat pada saat itu pula, salju yang menutupi sebuah batu besar berhamburan.

Ternyata tanah di depan batu tersebut sudah terkuak lebar dan menimbulkan sebuah lubang yang besar.

Tubuh Fu Giok Su melesat keluar dari lubang tersebut.

Dia bagaikan seekor ular berbisa meluncur ke arah Wan Fei Yang.

Sepasang telapak tangannya menghantam dengan kekuatan penuh.

Pada saat itu keadaan Wan Fei Yang sedang genting sekali.

Dia tidak dapat mengulurkan tangannya menangkis serangan itu.

Dia harus menghadapi serangan Tok-ku Bu-ti yang dahsyat.

Tubuhnya juga tidak dapat digerakkan.

Seandainya dia bergeser sedikit saja.

Kerahan ilmu Tian can sinkangnya pasti akan terpencah dan pada waktu itu Tok-ku Bu-ti pasti akan menggunakan kesempatan yang baik untuk menghantamnya.

Seandainya Wan Fei Yang terhantam oleh serangan telapak tangan Fu Giok Su, akibatnya pasti sama mengerikannya.

Rupanya Fu Giok Su sejak dini sudah menanti di dalam lubang yang dibuatnya itu.

Sudah kurang lebih tiga kentungan dia bersembunyi di sana.

Justru kesempatan seperti inilah yang ditunggu-tunggunya.

Dia juga memperhitungkan kalau dalam keadaan seperti ini Wan Fei Yang pasti tidak akan mempunyai kesempatan untuk menghindari serangan.

Oleh karena itulah, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk membokong Wan Fei Yang.

Tanpa sadar bibir Fu Giok Su mengembangkan seulas senyuman yang licik.

Hatinya sudah berbunga-bunga membayangkan bahwa kali ini riwayat Wan Fei Yang pasti akan tamat.

Namun tepat pada saat itu juga, mulutnya mengeluarkan suara jeritan ngeri.

Sebatang pedang bagai kilat meluncur dan langsung menikam bagian belakang punggungnya.

1445 Dia sudah bertekad untuk membunuh Wan Fei Yang.

Sejak semula dia tidak memperhiungkan akan adanya orang lain yang akan menghalangi perbuatannya.

Pada dasarnya di atas Giok ho teng itu juga tidak ada orang keempat.

Tapi ternyata orang keempat itu muncul juga ...

Ketika telinganya menangkap suara teriakan lantang, pedang itu sudah menembus dari belakang punggung sampai ulu hatinya.

Serangkum rasa sakit segera menyerangnya.

Pada saat itulah dia menjerit ngeri.

Tubuhnya terdorong ke depan.

Sepasang telapak tangannya menghantam di atas salju yang tebal.

Salju berhamburan kemana-mana.

Sepasang telapak tangan Fu Giok Su terbenam ke dalam salju.

Jaraknya dengan Wan Fei Yang hanya tinggal dua cun.

Dengan susah payah dia menggelindingkan tubuhnya.

Dalam waktu yang bersamaan, matanya menangkap bayangan Fu Hiong Kun yang menerjang ke arahnya.

Dari tempat yang digalinya tadi ternyata sudah bertambah satu lubang lagi di samping kanan.

Tidak usah diragukan lagi bahwa Fu Hiong Kun keluar dari lubang tersebut.

Fu Giok Su sama sekali tidak menyangka bahwa Fu Hiong Kun malah sudah datang lebih awal daripadanya.

Dia juga menggali sebuah lubang dan bersembunyi di dalamnya.

Sedangkan Fu Giok Su yang datang belakangan rupanya juga mempunyai ide yang sama.

"Hiong Kun?"

Mata Fu Giok Su menatapnya dengan pandangan kurang percaya.

Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras.

Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat.

Entah akibat hawa yang dingin atau kesedihan hatinya yang tidak teruraikan dengan kata-kata.

Tubuhnya bergerak dengan hebat.

"Meskipun kau sudah menotok jalan darahku, tapi kau lupa bahwa aku khusus mempelajari ilmu pengobatan. Pengetahuanku tentang jalan darah manusia sudah cukup tinggi sehingga aku bisa melepaskan totokanmu itu."

Bahkan suaranya pun bergetar dengan hebat. Fu Giok Su rasanya ingin tertawa terbahak-lahak. Namun dia benar-benar tidak sanggup tertawa lagi.

"Aku tahu kau pasti akan berjalan ke tempat ini dan membokong Wan Toako."

"Bagus sekali. Kau memang adikku yang baik ..."

Kepala Fu Giok Su terkulai. Nafasnya pun berhenti pada waktu yang bersamaan.

"Toako ... !"

Air mata Fu Hiong Kun mengalir dengan deras.

Dia tidak sanggup menahan dirinya lagi.

Dipeluknya mayat Fu Giok Su dan menangis tersedu-sedu.

Sementara itu, pertarungan antara Tok-ku Bu-ti dengan Wan Fei Yang semakin menegangkan.

Meskipun saat itu sedang musim salju, tapi keringat keduanya membasahi sekujur tubuh mereka.

Keadaan Tok-ku Bu-ti jangan dikatakan lagi.

Darah dan keringat seakan menyatu.

Tiba-tiba tubuh Tok-ku Bu-ti terhuyung huyung lalu terkulai jatuh.

Mantel bulunya sudah penuh dengan bercak-bercak darah.

Tenaga dalamnya sudah terkuras habis.

Namun suara detakan tulang masih belum berhenti.

Angin bertiup dengan kencang laksana mendendangkan lagu kematian.

Sedangkan mata Tok-ku Bu-ti masih membelalak.

Dia menggelepar-gelepar bagai ayam yang baru saja di potong lehernya.

Sesaat kemudian Wan Fei Yang juga terkulai jatuh.

Dua kali berturut-turut dia memuntahkan darah segar.

Seandainya Tok-ku Bi ti masih mempunyai sisa sedikit tenaga, tentu tidak sulit 1447 untuk membunuhnya.

Sayangnya keadaan Tok-ku Bu-ti demikian parahnya sehingga tidak mempunyai kemungkinan melakukan hal itu.

Rona wajah Wan Fei Yang sungguh tidak sedap dipandang.

Tapi dia berusaha mempertahankan diri untuk merangkak ke samping Fu Hiong Kun.

Dia tidak berkata apa-apa.

Juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hujan salju semakin deras.

Dalam sekejap mata pakaian mereka sudah dilapisi salju yang tebal.

Suara tangisan Fu Hiong Kun masih terdengar.

Tok-ku Bu-ti di sebelah sana juga belum mati.

Bibirnya bergerak-gerak.

Jelas dia sedang menggumamkan sesuatu, namun suaranya demikian lirih sehingga tidak terdengar sama sekali.

Tampaknya meskipun keadaan orang tua itu sudah sekarat, langit pun masih tidak menaruh sedikitpun belas kasihan kepadanya.

Sampai nyawanya meninggalkan raganya, tetap saja tidak ada seorang pun yang mendengarkan kata-katanya yang terakhir.

*** Darah sudah berhenti mengalir.

Namun air mata masih belum kering juga.

Dengan bantuan bimbingan Fu Hiong Kun, akhirnya Wan Fei Yang dapat berdiri tegak.

Air mata masih juga membasahi pipi gadis itu.

Wan Fei Yang dapat merasakan bagaimana perasaan Fu Hiong Kun kehilangan satu-satunya keluarga yang masih dimilikinya.

Perasaan semakin iba melihat keadaan gadis itu.

Tanpa memperdulikan bahaya yang mungkin akan ditemuinya Fu Hiong Kun telah membela dirinya mati matian.

Wan Fei Yang tahu, pukulan batin yang diterima Fu Hiong Kun hari ini tidak kalah dengan penderitaan yang dialaminya tempo hari.

Mungkin hatinya lebih sakit lagi.

Fu Giok Su mati di tangan adiknya sendiri.

Hal ini tidak terduga oleh siapa pun.

Bahkan oleh Tok-ku Bu-ti menjelang akhir hidupnya.

1448 Keduanya berdiri berdampingan dengan pakaian dipenuhi oleh butiran salju.

Tidak ada seorang pun yang berkata apa-apa dalam keadaan seperti itu, rasanya memang tidak ada yang perlu dikatakan lagi.

Wan Fei Yang berusaha mempertahankan dirinya agar tidak terjatuh kembali.

Matanya melirik ke arah mayat Tok-ku Bu-ti yang sudah dilapisi salju.

Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa suatu kelelahan yang tidak pernah dirasakannya seumur hidup.

Apakah lelah menghadapi hidup yang berliku-liku?

Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya, bahkan Wan Fei Yang sendiri.

Dendam antara Bu tong pai dengan Bu ti bun dan Siau Yau Yok sudah berakhir.

Lalu bagaimana kelanjutannya bagi mereka yang masih hidup?

Kelelahan yang dirasakan oleh Wan Fei Yang juga hanya suatu kehampaan.

Seseorang apabila hidup di dunia ini hanya untuk dendam yang tidak ada habis-habisnya, bukanlah terlalu menggelikan bahkan terlalu menyedihkan?

Kecuali dendam kesumat, apalagi yang mereka miliki?

Wan Fei Yang tidak tahu.

Bahkan Fu Hiong Kun yang ada di sampingnya juga terlihat semakin menjauh.

Langit dan bumi menjadi saksi berakhirnya semua pertikaian itu, namun mengapa manusianya sendiri dapat benar-benar mengakhirinya dengan tuntas?

Rasa pening tiba-tiba menyerang kepala Wan Fei Yang, dia terhuyung-huyung.

Fu Hiong Kun mengusap air mata yang mengalir di pipinya.

Melihat keadaan anak muda itu, cepat-cepat dia memapahnya.

Sejenak kemudian tubuh Wan Fei Yang pun terkulai dalam pelukan Fu Hiong Kun.

*** Salju masih turun.

Namun tidak sederas pagi tadi.

Matahari 1449 baru muncul meskipun tengah hari baru saja berlalu.

Awan yang gelap perlahan-lahan mulai terang.

Kadang-kadang cuaca memang sulit ditafsirkan, apalagi hati manusia.

Wan Fei Yang baru tersadar dari pingsan nya.

Bau obat-obatan memenuhi kamar di mana dia berbaring.

Kepalanya tidak dapat diangkat.

Karena begitu dia menggerakkannya sedikit saja.

rasa pusing masih menyerangnya.

Hanya matanya yang dapat mengedar dengan leluasa.

Sejenak kemudian dia tahu bahwa dia bukan berada di dalam kamarnya sendiri, tetapi di kamar Yan Cong Tian.

Sebetulnya kamar di dalam gedung Bu tong pai itu banyak sekali.

Tapi sejak kepulangannya ke Bu tong san.

Wan Fei Yang menolak ditawarkan kamar yang lain.

Dia memilih tidur di kamarnya yang dulu.

Meskipun kamar itu kecil sekali, tapi dia mempunyai kenangan yang manis di sana.

Setiap kali dia membaringkan tubuhnya di atas balai-balai tersebut.

Bayangan Ci Siong tojin dalam pakaian hitam dan kepala berkerudung melintas di depan pelupuk matanya.

Sekarang dia berbaring di kamar Yan Cong Tian, tentu saja Wan Fei Yang segera mengerti apa sebabnya.

Pertama pasti karena jarak kamarnya terlalu jauh sehingga repot mengangkat tubuhnya ke tempat itu.

Kedua, Fu Hiong Kun yang merawatnya pasti kurang leluasa mondar-mandir mengantarkan obat untuknya.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Yo Hong masuk dengan bibir tersenyum.

"Siau Fei, bagaimana keadaanmu?"

Tanyanya ramah.

Wan Fei Yang berusaha bangun dari tempat tidur tersebut.

Tapi dia terkulai kembali.

Yo Hong panik melihatnya.

Dengan cepat dia menghampiri tempat tidur itu dan memegang bahu Wan Fei Yang.

Wajahnya tampak cemas sekali.

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa Yo 1450 Suheng. keadaanku sudah jauh lebih baik. Hanya agak pening sedikit,"

Katanya.

"Perlukah aku panggilkan Fu Kouwnio untuk melihat keadaanmu?"

Sekali lagi Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak usah ... Jangan menyusahkan Hiong Kun. Di mana dia sekarang?"

"Masih di ruangan utama. Fu kouwnio turun dari Giok-hong-teng dan meminta kami membawamu pulang. Melihat mayat Fu Giok Su dan Tok-ku Bu-ti tergeletak begitu saja, aku menyuruh saudara yang lain membawanya sekalian. Aku tidak tahu apakah tindakan itu benar atau tidak. Sekarang Fu kouwnio masih menangis terus di ruang utama. Mayat Fu Giok Su juga ada di dalam ruangan itu,"

Sahut Yo Hong sambil menarik nafas panjang.

"Apa yang kau lakukan benar sekali, Yo Suheng. Baik Tok-ku Bu-ti maupun Fu Giok Su memang merupakan musuh besar kita. Tapi itu ketika mereka masih hidup. Sekarang mereka sudah mati, kita tidak boleh memandang mayat mereka sebagai musuh. Uruslah baik-baik. Adakan upacara sembahyang yang sederhana saja. Setelah itu kuburkan mereka di bagian belakang gunung."

Yo Hong menganggukkan kepalanya.

"Baiklah ... kau istirahat saja dulu, biar aku yang membereskan segalanya."

Entah mengapa perasaannya semakin kagum saja terhadap Wan Fei Yang.

Dia merasa anak muda itu bukan saja baik hati malah berjiwa besar.

Wan Fei Yang memandangi bayangan punggung Yo Hong sampai keluar dari kamar itu.

Ia menarik nafas panjang.

Kehidupan manusia benar-benar bagai sebuah panggung sandiwara.

Dia hanya berharap Fu Hiong Kun dapat menerima pukulan batin yang hebat ini.

Dia tahu gadis itu tabah sekali.

1451 Sekaligus kehilangan semua keluarga dalam jangka waktu beberapa bulan memang merupakan penderitaan batin yang berat sekali.

Wan Fei Yang memejamkan matanya.

Dia tidak ingin berpikir banyak saat ini.

Dia ingin Membiarkan otaknya beristirahat setelah berbagai kejadian yang dialaminya.

Hatinya sendiri sudah tawar menghadapi hidup seperti ini.

Namun tugas masih ada, dia tidak dapat meninggalkan semuanya begitu saja.

Pernah terlintas di pikirannya untuk menyucikan diri menjadi pendeta seperti almarhum ayahnya.

Tetapi dia tahu sekarang bukan saatnya yang tepat.

Dia sudah mengambil keputusan secara diam-diam.

Kelak apabila urusannya sudah selesai, dia akan mengasingkan diri di tempat yang terpencil dan meninggalkan dunia kang-ouw untuk selama-lamanya.

*** Memandangi mayat Fu Giok Su yang tergeletak di hadapannya, hati Fu Hiong Kun bagai disayat-sayat oleh sembilu.

Bagaimana hatinya tidak menjadi pedih memikirkan bahwa tangannya sendiri yang terpaksa menghabiskan nyawa abangnya itu.

Isak tangisnya masih terdengar.

Terkadang tangannya terulur dan meraba wajah Fu Giok Su yang sudah dingin itu.

Dia ingm menjerit sekeras-kerasnya untuk memohon pengampunan dari abangnya.

Dia tahu sampai mati pun Fu Giok Su belum dapat menerima apa yang diperbuatnya.

Dan sekarang dia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk menyadarkan abangnya dan menjelaskan mengapa dia berbuat demikian.

Dia terpaksa melakukannya.

Dia tidak ingin dosa Fu Giok Su bertambah banyak dan menambah lagi dendam yang sudah 1452 ada antara Siau Yau kok dan Bu-tong-pai.

"Tidakkah Toako menyadari apabila dia dapat membunuh Wan Fei Yang sekalipun, dia tetap tidak dapat menguasai murid Bu tong lagi. Mereka akan nekad melihat kematian Wan Fei Yang dan akan memberontak sekuat tenaga, meski berapa banyak pun orang yang harus berkorban. Air mata mengalir dengan deras. Mungkin bagi keluarganya Fu Hiong Kun merupakan anak yang tidak berbakti. Tapi semua orang tahu perbuatannya itu memerlukan pengorbanan perasaan yang sangat besar. Dia melakukannya justru karena dia mencintai keluarganya. Seandainya Thian ti mau menyudahi urusan tempo dulu, pasti Yan Cong Tian dan Wan Fei Yang juga tidak akan memperpanjangnya lagi. Tapi rupanya takdir telah menentukan garis hidup mereka harus berakhir dengan cara demikian. Pernahkah Fu Hiong Kun membayangkan bahwa di akhir hidupnya, bahkan murid Bu tong pai juga yang mengurusi jenasahnya serta layonnya ... ? Pasti tidak. Dan sudah pasti Tok-ku Bu-ti juga tidak akan menduga begitu akhirnya. Mungkin dia sudah dapat memastikan bahwa dia tidak akan meninggalkan Giok hong-teng dalam keadaan hidup. Tapi dia pasti mengira bahwa setelah dia mau murid Bu tong akan melemparkannya ke dalam jurang dan membiarkan mayatnya membusuk disanan. Fu Hiong Kun menarik nafas panjang. Pikirannya melayang-layang. Ketika Yo Hong berjalan mendekatinya, dia masih belum sadar juga.

"FU kouwnio ..."

Sapa Yo Hong dengan suara lirih. Dia tidak berani mengejutkan gadis yang sedang bersedih hati itu. Fu Hiong Kun menolehkan kepalanya dengan perlahan.

"Yo Toako ..."

Yo Hong menggelengkan kepalanya melihat keadaan gadis 1453 itu.

Dia sendiri sudah jauh berubah, adatnya tidak begitu berangasan lagi.

Setelah mengalami berbagai kejadian yang mengejutkan, dia memang baru menyadari bahwa tingkah lakunya tempo dulu sangat tidak terpuji.

Dia menjadi malu hati sendiri.

Sikapnya sekarang agak merendah.

Adatnya juga tidak keras lagi seperti sebelumnya, namun pendiriannya masih kukuh.

Memang dia seorang manusia yang tegas.

Bahkan terlalu tegas, sehingga kadang-kadang tidak dapat membedakan mana yang benar atau mana yang salah.

Kalau menurut adat Yo Hong sebelumnya, dia tidak pernah meminta pendapat orang lain apabila melakukan sesuatu.

Tetapi sekarang dia selalu menanyakan dahulu kepada Fu Hiong Kun ataupun Wan Fei Yang.

Sebetulnya ini merupakan perubahan yang menggembirakan.

Hanya saja dalam keadaan seperti saat itu.

hati siapa yang dapat merasakan kegembiraan.

"Siau Fei sudah sadar. Dia meminta aku mengurusi janasah Toakomu dan jenasah Tok-ku Bu-ti. Fu kouwnio, istirahatlah dulu. Sudah sepanjang hari kau berada di dalam ruangan ini. Kau bahkan tidak menelan sebutir nasi pun. Bagaimana kalau kau jatuh sakit? Jagalah kesehatanmu,"

Kata Yo Hong dengan maksud menasehati. Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana keadaan Wan Toako?"

"Sudah jauh lebih baik. Hanya kepalanya saja yang masih pusing. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Fu kouwnio, Bu tong pai sudah terlalu banyak berhutang kepadamu Jangan membuat perasaan kami semakin tertekan seandainya terjadi apa-apa pada dirimu. Fu Hiong Kun menarik nafas panjang.

"Jangan berkata begitu, Yo Toako. Kami dari keluarga Fu-lah yang banyak berdosa terhada Bu-tong-pai. Meskipun Toako-ku ini merupakan musuh besar kalian, tapi setelah mati kalian masih sudi mengurusi jenasahnya, kami dari keluarga Fu entah harus berbuat apa sebagai tanda terima kasih kami." 1454 Yo Hong tidak tahu harus mengatakan apa.

"Yo Toako, tolong gantikan aku sebentar. Aku ingin melihat keadaan Wan Toako. Lagi Pula sudah saatnya meminum obat. Lukanya cukup parah, tapi untung saja Wan Toako sudah berhasil menguasai Tian Can sinkang, sehingga daya tahan tubuhnya lebih tinggi dari pada orang lain. Namun dia harus beristirahat untuk jangka waktu yang cukup panjang."

Yo Hong menganggukkan kepalanya tanpa berkata apa-apa lagi.

*** Ketika Fu Hiong Kun masuk ke dalam kamarnya, Wan Fei Yang sedang tertidur dengan pulas.

Fu Hiong Kun tidak mau mengganggunya.

Dia meletakkan mangkok berisi obat di atas meja kemudian bersiap-siap untuk keluar kembali.

"Hiong kun...."

Tiba-tiba terdengar suara lirih Wan Fei Yang yang menyapanya. Fu Hiong Kun menolehkan kepalanya.

"Wan Toako, kau sudah bangun?"

Wan Fei Yang melihat mata gadis itu yang bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia merasa iba sekali.

"Hiong Kun, maafkan kalau semua terpaksa harus berakhir seperti ini. Sebetulnya aku … "

"Jangan berkata apa-apa, Wan Toako. Aku mengerti. Kau tidak bersalah. Semuanya sudah merupakan takdir. Hanya saja … "

"Hanya saja apa? Katakan Hiong Kun, seandainya aku dapat membantu … " 1455 Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

"Aku sedang berpikir, seandainya saja anak toako masih hidup … "

Wan Fei Yang menarik nafas panjang.

Wajahnya berubah kelam.

Hatinya masih tertekan setiap kali mengingat nasib Lun Wan Ji.

Dia pernah mencintai gadis itu.

Walaupun mungkin cintanya pada saat itu merupakan cinta monyet yang terjadi pada dunia remaja yang belum tahu apa-apa.

Tapi pada dasarnya dia memang menyayangi gadis itu.

Lun Wan Ji adalah gadis pertama yang mengisi lubuk hatinya.

Lun Wan Ji pula yang memperkenalkan kata cinta kepadanya.

"Apa yang kau katakan memang benar. Seandainya anak itu masih hidup, tentu aku akan merawatnya seperti anak kandungku sendiri."

Fu Hiong Kun memandangnya dengan tertegun.

Meskipun apa yang mereka bicarakan hanya merupakan perumpamaan yang tidak mungkin lagi menjadi kenyataan, tapi dia tetap tergugah oleh perasaan Wan Fei Yang yang tulus.

"Kau?"

"Kenapa? Anak itu adalah anak Sumoayku. Meskipun ayahnya adalah musuh kami, tapi anak itu tidak berdosa. Sayang sekali usianya begitu pendek. Bahkan dia tidak pernah tahu siapa dirinya dan siapa orang tuanya."

"Lupakanlah semua yang telah berlalu. Wan Toako, kau harus merawat luka dalammu baik baik. Sebelum menutup mata, Gihu sangat mengharapkan kau yang akan meneruskan partai Bu-tong-pai. Kaulah yang akan membangkitkan kembali kejayaan partai ini. Jangan kecewakan Gihu yang sudah berada di alam baka." 1456 Serangkum perasaan sakit kembali menyusup dalam hati Wan Fei Yang. Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa dia tidak berminat lagi mencampuri urusan dunia kang-ouw ... ? Dia hanya ingin melakukan satu tugas lagi, tapi dia tidak menceritakannya kepada siapa pun. Dia tidak ingin mereka khawatir kalau tahu apa yang ia rencanakan dalam hatinya.

"Biarkanlah aku pikirkan hal ini baik-baik. Nanti apabila sudah sembuh akan kuberi jawaban kepada kalian."

Fu Hiong Kun tidak memaksanya. Dia mengangguk kecil.

"Baiklah ... Wan Toako minum dulu obat yang ada di atas meja itu. Obat itu harus diminum sebelum makan. Nanti aku akan membawakan bubur untukmu."

"Terima kasih, Hiong Kun. Kami merasa tidak enak menyusahkan dirimu terus menerus."

Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dia keluar dari kamar itu dengan lergesa-gesa.

Sampai di depan koridor panjang, air matanya tidak terbendung lagi.

Dia menangis tersedu-sedu.

Hatinya pedih sekali.

Sebetulnya dia ingin menceritakan tentang Tok-ku Hong yang terjatuh ke dalam jurang akibat bergebrak dengan Fu Giok Su, abangnya.

Namun dia tidak sanggup menyakiti hati Wan Fei Yang dalam keadaan seperti ini.

Lebih baik dia mengatakan terlebih dahulu kepada Yo Hong.

Nanti apabila luka Wan Fei Yang sudah sembuh, dia akan mencari kesempatan yang baik untuk mengatakannya.

*** Salju masih bertebaran menyelimuti jalan raya.

Dalam cuaca seperti ini tidak banyak orang yang berlalu lalang.

Padahal kota ini biasanya ramai dengan pengunjung baik pedagang maupun pelancong.

1457 Hang ciu memang merupakan pusat perdagangan yang selalu ramai.

Namun pada musim dingin seperti ini, orang lebih memilih tinggal di rumah daripada bepergian.

Tapi herannya kedai-kedai kopi maupun arak malah semakin laris di musim ini.

Mungkin mereka menikmati kenikmatan tersendiri minum arak sambil berbincang-bincang dengan rekan kenalan ataupun sahabat yang hanya kebetulan bertemu di tempat tersebut.

Kain panjang yang berluliskan 'Kedai arak Yung Sing' melambai-lambai tertiup angin.

Kedai arak yang tidak terlalu besar itu sudah penuh oleh pengunjung.

Suara percakapan terdengar riuh rendah.

Bahkan ada yang tertawa terbahak-bahak ketika seseorang menceritakan kejadian yang lucu.

Di sudut sebelah kanan duduk dua orang laki-laki berusia selengah baya.

Di hadapan mereka terhidang satu kendi arak dan dua buah cawan.

Juga ada sepiring kacang rebus yang masih mengepulkan asap.

Mereka menikmati arak dan kacang di atas meja sambil berbincang-bincang dengan suara lirih.

"Bagaimana pendapat Li heng tentang kabar yang kita dengar tadi?"

"Kabar itu pasti benar adanya. Bu-tong-pai adalah sebuah partai besar. Mereka tidak mungkin menyiarkan kabar yang tidak nyata. Tok-ku Bu-ti pasti benar sudah mati. Hal ini tidak perlu diragukan lagi."

"Tapi mengapa mayatnya tidak dibawa turun gunung? Padahal orang-orang kita sudah tersebar di sekitar daerah itu dan menunggunya hampir satu minggu?"

"Kalau begitu Sun heng belum mendengar kabar yang kuterima tadi pagi. Mayat Tok-ku Bu-ti memang tidak dibawa turun. Mereka mengebumikan jenasahnya di atas Bu-tong-san." 1458 Rekannya itu tampak tertegun.

"Mengapa mereka mau melakukan hal itu, padahal Tok-ku Bu-ti adalah musuh besar partai tersebut?"

"Justru ini membuktikan kebesaran jiwa murid Bu-tong-pai. Menurut selentingan yang tersebar di luaran, memang banyak murid Bu-tong-pai yang tidak puas dengan keputusan itu, tapi mereka tidak berani membantah perintah Wan Fei Yang dan Yo Hong."

"Lalu bagaimana kita harus membuktikan kepada ketua kita bahwa Tok-ku Bu-ti memang benar-benar sudah mati?"

Orang she Li yang ternyata bernama Li Seng itu menarik nafas panjang.

"Hal ini jugalah yang memusingkan kepalaku. Mana adat ketua kita sangat keras. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri mayat Tok-ku Bu-ti, dia pasti tidak akan percaya begitu saja."

Orang she Sun yang bernama Sun Po itu langsung ikut-ikutan menarik nafas panjang.

"Entah bagaimana dengan keadaan Wan Fei Yang sendiri?"

"Menurut kabar sih dia tidak terluka sama sekali. Tapi aku tidak percaya. Murid Bu-tong-pai pasti menutupi hal ini. Mereka takut kalau seandainya ada orang jahat yang mengincar Bu-tong-pai, dan mereka mengetahui Wan Fei Yang sedang terluka parah pasti akibatnya, tidak dapat dibayangkan."

"Jadi menurut pendapat Li heng, sekarang Wan Fei Yang juga sedang sekarat?"

"Sekarat tidaknya aku tidak berani memastikan, tapi yang pasti Wan Fei Yang juga terluka cukup parah. Kalau tidak mengapa tidak ada orang kita yang berhasil melihatnya dalam beberapa hari terakhir ini."

"Mungkin dia baik-baik saja tapi untuk sementara masih enggan turun dari Bu-tong-san,"

Kata Sun Po mengemukakan pendapatnya.

"Tidak mungkin. Kita sudah telusuri riwayat Wan Fei Yang. Dan kita tahu apa yang telah dialaminya selama ini. Kalau dia sudah sehat atau tidak terluka sama sekali, dia pasti sudah turun gunung untuk berkelana kembali. Dia bukan jenis manusia yang dapat terkungkung dalam lingkungan seperti Bu tongsan. Apalagi di sana terlalu banyak kenangan pahit yang dialaminya,"

Tukas Li Seng.

"Kata-kata Li heng ada benarnya juga. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Sementara ini, lebih baik kita kembali dulu ke markas dan melaporkan kejadian ini kepada Pangcu kita. Lihat bagaimana reaksinya nanti?"

"Memang saat ini hanya itu yang dapat kita perbuat. Sebaiknya Li heng jangan mengambil tindakan apa-apa sebelum mendapat perintah dari Pangcu, jangan-jangan kita yang akan kena hukuman apabila hati Pangcu sedang tidak senang."

"Sun heng jangan khawatir. Siaute dapat mempertimbangkan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh."

Keduanya berhenti berbicara.

Arak yang masih tersisa di teguknya sampai kering.

Setelah meletakkan uang perak di atas meja, mereka langsung meninggalkan kedai arak tersebut dengan tergesa-gesa.

*** Luka Wan Fei Yang berangsur-angsur sembuh.

Dia sudah mulai keluar dari kamarnya.

Jenasah Tok-ku Bu-ti dan Fu Giok Su sudah dikebumikan.

Keadaan sudah pulih kembali seperti 1460 biasa.

Fu Hiong Kun masih menetap di Bu-tong-san.

Pada dasarnya dia memang tidak mempunyai tujuan yang lain.

Dia sudah sebatang kara sekarang.

Satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya hanya Wan Fei Yang.

Dengan hati-hati Fu Hiong Kun telah menceritakan kejadian yang dialami oleh Tok-ku Hong.

Wan Fei Yang memang terkejut sekali, namun ketabahannya sangat mengagumkan.

Mungkin karena perasaannya sudah mulai kebal terhadap apa yang dinamakan musibah.

Tetapi dia tetap memerintahkan kepada murid Bu-tong-pai untuk mengikutinya ke tempat kejadian.

Dia ingin berusaha menemukan mayat Tok-ku Hong walaupun dia kemungkinan itu kecil sekali.

Dari pagi sampai malam, mereka bergiliran turun ke dalam jurang dan mencari-cari.

Tapi setiap batu karang sudah diperiksa, mayat Tok-ku Hong tetap tidak dapat ditemukan.

Akhirnya Wan Fei Yang mengambil keputusan untuk menghentikan pencarian terhadap mayal adiknya itu.

Fu Hiong Kun berusaha menghiburnya.

Tapi Wan Fei Yang hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas panjang.

"Aku tidak apa-apa, Hiong Kun. Jangan khawatir. Kalau Hong moay masih hidup, suatu hari nanti dia pasti akan kembali ke Bu tong san. Tapi kalau dia memang sudah mati, berarti takdirnya memang hanya sampai saat itu saja."

"Wan Toako, apakah kau masih membenci Giok Su koko meskipun dia sudah mati?"

Tiba-tiba Fu Hiong Kun mengajukan pertanyaan seperti itu. Wan Fei Yang menatap gadis itu dengan sinar mata tajam.

"Tidak, Hiong Kun. Kau tahu apa yang terlintas dalam pikiranku?"

Wan Fei Yang balik bertanya kepada gadis itu.

1461 Fu Hiong Kun menggelengkan kepalanya.

AKU tidak yakin Fu Giok Su membunuh Hong moay.

Maksudku membunuh dengan tangannya sendiri.

Bisa jadi memang penyebab kematian Hong moay, tapi itu berbeda bukan?"

Fu Hiong Kun tertegun mendengar perkataan Wan Fei Yang.

"Wan Toako, apa maksud ucapanmu itu?"

Wan Fei Yang menarik nafas panjang.

"Terus terang saja sejak kau menceritakan peristiwa itu tadi malam, aku tidak dapat tidur, sepanjang malam aku terus memikirkannya. Aku tidak ragu akan ucapan Toakomu yang mengatakan Hong moay terjatuh ke dalam jurang. Masih hidupkah dia? Masih hidupkah dia? Siapa pun tidak berani memastikan. Aku tahu kemungkinannya hampir tidak ada kalau melihat jurang yang demikian dalam dan ombak laut yang begitu bergelora. Tapi yang kita bicarakan sekarang adalah masalahmu, bukan masalahku."

Fu Hiong Kun semakin tidak mengerti.

"Wan Toako, jangan berbelit-belit. Katakanlah terus terang. Kau membuat hatiku semakin penasaran."

"Hiong Kun, aku tahu hatimu diselimuti perasaan bersalah atas apa yang telah dilakukan oleh Yaya dan toakomu. Apalagi setelah mendengar ucapan Fu Giok Su yang mengatakan bahwa dia telah menghantam Hon moay ke dalam jurang. Tapi coba kau pikirkan baik-baik. Untuk apa Fu Giok Su melakukan hal itu. Dia tidak mempunyai dendam pribadi dengan Hong moay. Malah sebenarnya Hon moaylah yang harus membencinya karena dialah yang telah menggempur Bu ti bun sehingga hancur berantakan. Dia pula yang membunuh para murid Bu ti bun sehingga sebagian besar melarikan diri dengan kocar kacir. Nah, apakah ada hal yang membuat Fu Giok Su begitu membenci Hong moay sehingga harus membunuhnya?" 1462 Fu Hiong Kun termenung mendengar keterangan Wan Fei Yang.

"Lalu penjelasa apa yang terpikir oleh Wan Toako sekaran ini?"

"Hiong Kun, aku sangat memahami adat Hong moay. Adatnya sangat keras. Itu merupakan pembawaan yang sulit diubah oleh siapa pun. Fu Giok Su juga sama. Aku mungkin tidak kalah denganmu dalam memahami sifat Fu Giok Su. Dia seorang manusia yang selalu memikirkan keuntungan. Jadi, aku yakin tadinya dia pasti bermaksud menyandera Hong moay untuk menekan diriku. Tapi seperti aku katakan tadi, adat Hong moay sangat keras. Apalagi kalau orang hendak menggunakan dirinya untuk memaksa diriku. Mungkin Fu Giok Su ingin membunuh aku atau mungkin...."

"Memaksamu menyerahkan rumus ilmu Tian can sinkang,"

Tukas Fu Hiong Kun. Wan Fei Yang tertawa getir.

"Akhirnya pikiranmu tergugah juga. Dan apa yang akan dilakukan Hong moay apabila orang mendesaknya dalam keadaan seperti itu sedangkan ilmu silat yang dimilikinya bukan tandingan Fu Giok Su. Apa yang akan kau lakukan seandainya kau adalah Hong moay?" ' "Melihat cintanya yang besar terhadapmu, dia pasti tidak sudi membiarkan dirinya menjadi alat yang dapat digunakan untuk menekan dirimu. Kalau aku jadi Hong cici, lebih baik aku memilih jalan kematian,"

Sahut Fu Hiong Kun dengan mata menerawang membayangkan seandainya dia yang menjadi Tok-ku Hong pada saat itu.

"Tepat! Begitulah adat Hong moay. Aku yakin ketika itu dia memang sudah bergebrak beberapa jurus dengan Fu Giok Su. Akibatnya dia terdesak mundur. Fu Giok Su tidak menduga dia akan berbuat nekat. Sedangkan Hong moay yang mendapatkan dirinya berada di tepi jurang, langsung memilih jalan terjun kedalamnya dari pada dijadikan sandera oleh Fu 1463 Gio Su."

Air mata Fu Hiong Kun mulai mengembang.

"Tapi, hal ini sama saja dengan Giok Su koko yang lelah membunuhnya...."

Wan Fei Yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak... tidak sama, Hiong Kun. Hal ini menandakan bahwa Hong moay yang memilih jalannya sendiri. Aku mengatakan hal ini agar kau jangan merasa tertekan terus menerus. Kau tidak boleh selalu dibayangi oleh kesalahan yang telah dilakukan oleh keluargamu. Kau adalah kau. Mereka adalah mereka. Jangan samakan dirimu dengan mereka. Apalagi baik Yayamu ataupun Toakomu telah menebus dosanya dengan kematian. Biarkanlah mereka tenang. Jangan lagi kau menyia-nyiakan hidupmu dengan cara menyalahkan diri seperti ini."

Fu Hiong Kun terharu sekali.

Air matanya mengalir dengan deras.

Tapi perasaannya mendengar keterangan Wan Fei Yang.

Meskipun anak muda tu juga hanya mengambil kesimpulan atas pemikirannya sendiri, tapi dia percaya memang begitulah kejadiannya.

Apalagi kalau membayangkan kembali kekerasan hati Tok-ku Hong memang tidak mungkin dia bersedia dirinya dijadikan senjata untuk menekan Wan Fei Yang.

Akhirnya dia menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih. Wan Toako. Kau baik sekali. Meskipun yang mendapat musibah itu adikmu sendiri. tapi kau tetap berpikir panjang demi diriku, Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu yang sudah begitu banyak kami terima."

"Hiong Kun, apabila kita membicarakan soal budi semua urusan pasti tidak bisa diselesaikan. Hutangku kepadamu lebih banyak lagi. Kalau bukan kau yang berusaha mendapatkan Soat lian dari Ping san, pasti hari ini aku masih 1464 merupakan seorang manusia cacat yang tidak dapat melakukan apa-apa. Kadang-kadang aku malah berpikir keadaan seperti itu mungkin lebih baik. Kalau ilmu silatku belum pulih kembali, pasti Yaya-mu tidak akan mati di tanganku dan Yan Supek?"

"Tidak, Wan Toako,"

Fu Hiong Ku n menggelengkan kepalanya.

"Semua ini sudah takdir. Kakekku itu memang sudah tersesat sekali. Kalau dia tidak mati di tanganmu, dia juga pasti akan mati di tangan orang lain akibat perbuatannya sendiri. Kita tidak usah memperpanjang masalah ini lagi. Yang penting adalah jawabanmu mengenai permintaan Gihu yang terakhir."

Wan Fei Yang menarik nafas panjang.

"Sekarang aku belum sanggup memenuhi permintaannya. Biarlah untuk sementara Yo Hong Suheng yang menggantikan Yan Supek mengurus Bu-tong-pai. Aku ingin turun gunung beberapa bulan. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku harap kau bersedia membantu Yo Suheng di sini, Hiong Kun. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali lagi dan menentukan siapa yang berhak dan pantas menjadi Ciang bun jin generasi seterusnya."

Hiong Kun terkejut mendengar ucapan Wan Fei Yang.

"Wan Toako, urusan apa lagi yang harus kau selesaikan?"

Wan Fei Yang tidak ingin mengatakannya terus terang.

"Bukan apa-apa. Hanya urusan kecil. Kau tidak usah khawatir. Tolong sampaikan kepada Yo Suheng bahwa aku akan berangkat sekarang juga. Aku rasa sekarang tidak ada hal lagi yang akan membahayakan Bu-tong-pai. Setidaknya untuk sementara ini."

Wan Fei Yang menarik nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya beberapa tindak. Tiba-tiba dia menoleh sekali lagi.

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 10

Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert