Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 17

Eps 17 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Jenderal Han juga percaya bahwa orang yang bakal menerima warisan itu, jikalau bukannya murid Gak Bu Bok sendiri, tentulah salah seorang sebawahannya.

Kapan Siangkoan Kiam Lam telah pulang ke Tiat Ciang San, ia memanggil kumpul banyak pencinta negara, ia mengajaknya mereka bergerak.

Tapi pemerintah Song jeri kepada negara Kim, bukan saja gerakan mulia itu tidak ditunjang bahkan ditindas, dalam hal mana, bangsa Kim pun membantu.

Maka gagallah usahanya Siangkoan Kiam Lam, ia mati di atas puncak Tiat Ciang Hong karena luka-lukanya.

Bukunya itu bagian belakang, tulisannya tidak karuan, mungkin ditulis sesudah dia terluka.

Yang paling hebat ialah setelah belasan lembarnya dirobek-robek Cin Lam Kim.

"Tidak disangka Siangkoan Pangcu seorang pencinta negara,"

Kata Kwee Ceng masgul, hingga ia menghela napas.

"Sampai pada ajalnya, dia masih memegangi erat-erat bukunya ini. Aku tadinya menduga dia sama dengan Khiu Cian Jin si pengkhianat, mulanya aku memandang rendah kepadanya. Kalau tahu begini, tentulah aku sudah menghunjuk hormatku kepada tulang-belulangnya itu."

Tidak lama dari itu, cuaca mulai gelap, maka tukang perahu meminggirkan perahunya dan menambatnya, hendak ia masak nasi dan menyembelih ayam, untuk mempersiapkan barang makanan.

Oey Yong dan Kwee Ceng khawatir nanti diracuni, dengan alasan si tukang perahu tidak resik, mereka membawa daging ayam dan sayurannya ke darat, ke rumah seorang desa, untuk tolong dimatangi, untuk mereka bersantap di sana.

Tukang perahu itu mendongkol, tetapi karena dia gagu, dia tidak bisa bilang apa-apa kecuali nampak sinar mata dan romannya yang muram.

Habis bersantap, sepasang muda-mudi itu masih berangin di bawah pohon di depan rumah si orang kampung.

"Entah apa yang ditulis dalam beberapa lembar halaman yang dirobek enci Cin itu,"

Berkata si nona.

"Di dalam dunia ini cuma Khiu Cian Lie dan Yo Kang yang pernah membaca itu tetapi mereka dua-duanya telah mati."

"Khiu Cian Lie cuma mengambil buku ini, tidak bukunya Gak Bu Bok, kenapakah?"

Tanya Kwee Ceng "Mungkin itu disebabkan dia mendapat dengar suara kita. Dan baru ambil

Jilid ini, dia tidak berani mengambil

Jilid lainnya. Mungkin beberapa lembar yang tersobek itu penting isinya. Bukankah si tua bangka sangat memperhatikan itu?"

"Hanya heran tentang Siangkoan Pangcu itu. Dia lari ke puncak. Kenapa tentara negeri tidak mengejarnya terus?"

"Ini pun aneh. Rupanya cuma setelah melihat isinya sobekan baru duduknya hal akan dapat dimengerti ……"

Kata si nona, yang mendadak tertawa.

"Kalau enci Cin tidak merobeknya dan kejadian dia pergi kepada Wanyen Lieh, itu waktu pasti bakal ada pertunjukan yang bagus sekali ……"

Ia berhenti pula, atau kembali ia berkata, berseru;

"Bagus!"

"Apakah itu?"

Kwee Ceng menanya.

"Kita menyerahkan buku ini kepada Wanyen Lieh,"

Menerangkan si nona.

"Dengan begitu, dia pasti akan mengirim orang ke Tiat Ciang San untuk mencari buku warisan Gak Bu Bok itu. Bukankah Tiong Cie Hong tempat keramat Tiat Ciang Pang? Mana Khiu Cian Jin suka membiarkan tempat sucinya diganggu? Maka itu pasti sekali mereka bakal saling bunuh di antara kawan sendiri! Tidakkah ini bagus?"

"Ya, itu benar bagus!"

Kwee Ceng kata sambil bertepuk tangan.

"Aku tidak sangka sekali Suko Kiok Leng Hong telah mendirikan jasa besar sekali!"

Kata Oey Yong yang pun girang. Kwee Ceng tidak mengerti.

"Bagaimana?"

Ia tanya.

"Kitab Gak Bu Bok disimpan di dalam gua di tepi Cui Han Tong di dalam istana,"

Berkata si nona.

"Karena Siangkoan Kiam Lam telah mencurinya dari sana, tentulah gambarnya ia telah taruh di tempat buku itu. Benar bukan?"

"Benar."

"Kiok Suko telah diusir dari Tho Hoa To tetapi ia tidak melupakan budi gurunya. Ia tahu ayah gemar akan tulisan, gambar dan barang lainnya asal barang kuno, ia rupanya ketahui semua itu ada terdapat banyak di dalam istana, maka tanpa menghiraukan bahaya, ia nyelundup ke istana dan berhasil mencuri banyak gambar, tulisan dan lainnya ……"

"Benar, benar!"

Kwee Ceng bilang.

"Sukomu itu telah mencuri semua itu berikut gambar peta rahasia itu, lalu semuanya dia simpan di kamar rahasia di Gu-kee-cun, untuk dia nanti menghadiahkan kepada ayahmu, maka apa lacur, dia kena disusul rombongan siewi dan kena dibinasakan. Maka itu ketika Wanyen Lieh pergi ke istana, ia kebogehan, sudah buku Gak Hui tidak ada, petanya juga hilang. Ah, kalau tahu begitu, selama di gua itu tidak usah kita mati-matian merintangi mereka, hingga aku tidak nanti sampai dilukai si bisa bangkotan dan kau tidak usah bersusah hati tujuh hari tujuh malam ……"

"Soalnya tidak dapat dipandang dari sudutmu itu,"

Membantah si nona.

"Jikalau kau tidak beristirahat di kamar rahasia itu, mana kita bisa dapatkan gambar peta itu? Juga mana ……"

Ia berdiam. Ia menjadi ingat pertemuannya sama putri Gochin Baki. Maka ia jadi masgul. Selang sesaat, ia kata pula.

"Entah bagaimana dengan ayahku sekarang ……?"

Ia memandang rembulan sisir.

"Segera bakal tiba Pee-gwee Tiong Ciu,"

Katanya.

"Setelah pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin, apakah kau bakal kembali ke gurun pasir di Mongolia?"

"Tidak. Lebih dulu aku membunuh Wanyen Lieh, guna membalaskan sakit hatinya ayahku dan paman Yo."

"Setelah itu?"

Tanya si nona, matanya tetap mengawasi si Putri Malam.

"Masih banyak urusan lainnya! Suhu mesti diobati dulu hingga sembuh. Pula Ciu Toako mesti dicari, untuk menyuruh dia pergi ke rawa lumpur hitam kepada Eng Kouw ……"

"Setelah semua itu beres, kau toh akhirnya kembali ke Mongolia?"

Kwee Ceng tidak bisa menyahut, tak tahu ia mesti membilang apa.

"Ah, aku tolol!"

Kata si nona tiba-tiba.

"Perlu apa aku memikirkan semua itu? Justru ada ini ketika baik, satu hari lebih lama kita berkumpul, satu hari terlebih baik! Mari kita kembali ke perahu, kita permainkan si gagu palsu itu ……"

Kwee Ceng menurut. Keduanya berjalan pulang. Tiba di perahu, tukang perahu dan dua pembantunya sudah tidur.

"Pergi kau tidur, aku nanti berjaga-jaga,"

Kwee Ceng membisiki si nona.

Oey Yong merasakan kesehatannya belum pulih semua, maka itu ia letaki kepalanya di paha si anak muda.

Dengan perlahan ia pulas.

Kwee Ceng tidak mau membikin tukang perahu nanti curiga, meskipun ia tidak menginginkan, ia terpaksa merebahkan diri, hanya diam-diam ia menghapal ajaran It Teng Taysu bagian dari Kiu Im Cin-keng yang memakai bahasa Sansekerta.

Ia menghapali terus sekitar satu jam, akhirnya ia menjadi gembira.

Tidak saja ia tidak merasa kantuk, ia bahkan menjadi segar.

Hanya tengah ia bergirang itu, ia mendengar Oey Yong mengigau perlahan.

"Engko Ceng, jangan kau menikah sama putri Mongolia itu, aku sendiri yang hendak menikah denganmu."

Ia melengak. Kembali ia mendengar suara si nona.

"Bukan bukan, aku salah omong. Aku tidak meminta apa-apa dari kau, aku tahu kau suka aku, itu saja sudah cukup."

"Yong-jie, Yong-jie,"

Kata si anak muda terdengar.

Oey Yong tidak menyahuti, hanya napasnya perlahan.

Pemuda itu bingung.

Ia mencintai si nona, ia merasa kasihan.

Ia mengawasi wajah orang yang tidur nyenyak di pahanya itu.

Paras si nona itu putih tersinarkan cahaya rembulan, karena kesehatannya belum pulih, kulit mukanya belum kembali bersemu dadu.

Ia mengawasi dengan menjublak.

"Dia tentulah bermimpi dan dalam mimpinya ia mengingat peruntungan kita berdua,"

Pikir anak muda ini.

"Aku tidak boleh melihat dia dari sikapnya sehari-hari saja, yang bergembira, seperti orang tidak pernah berduka, sebenarnya di dalam hatinya, ia masgul. Ah, akulah yang membikin dia mengalami kesulitan ini. Coba itu hari kita tidak bertemu di Thio-kee-kauw, bukankah itu baik untuknya?"

Selagi yang satu bermimpi atau mengigau itu dan yang lain mengawsinya dengan pikiran bimbang, tiba-tiba di permukaan air itu terdengar suara pengayuh bekerja, lalu terlihat sebuah perahu mendatangi dari sebelah hulu.

Kwee Ceng menjadi heran.

"Air sungai ini sangat deras dan berbahaya, siapa begitu bernyali besar berani menjalankan perahu malam-malam?"

Pikirnya.

Karena ini, ingin ia melihat.

Ketika ia hendak mengangkat kepala, mendadak ia mengurungkan itu.

Tiba-tiba ia mendengar tiga kali tepukan tangan perlahan dari perahunya.

Diwaktu sunyi seperti itu, suara tepukan tangan itu nyata terdengarnya.

Setelah itu terdengar suara layar dibenahkan.

Tidak usah lama Kwee Ceng menanti akan mendapatkan perahu itu di pinggirkan dan dikasih nempel sama perahunya, maka dengan perlahan ia menepuk-nepuk tubuhnya Oey Yong untuk mengasih bangun kawannya itu.

Hampir di itu waktu, tubuh perahu bergoyang sedikit.

Pemuda itu segera mengintai.

Ia masih sempat melihat satu orang, dalam rupa bayangan, berlompat ke perahu yang baru sampai itu.

Orang itu ialah si tukang perahu yang berlagak gagu.

"Kau tunggu di sini, aku mau pergi melihat,"

Kwee Ceng berbisik pada kawannya.

Oey Yong yang telah lantas bangun, mengangguk.

Dengan cepat Kwee Ceng pergi ke kepala perahu.

Ia melihat perahu tetangga itu masih bergoyang, ia lantas lompat ke situ.

Dengan membarengi bergoyangnya perahu ia membikin penghuni perahu itu tidak curiga.

Dengan lantas ia mengintai.

Maka terlihat olehnya tiga orang dengan pakaian hitam semua, seragamnya kaum Tiat Ciang Pang.

Pula ia mengenali satu di antaranya, yang tubuhnya tinggi besar, ialah Kiauw Thay yang pernah dipecundangi Oey Yong.

Pemuda ini sangat gesit, maka itu, ia seperti mendahului si tukang perahu.

Sesudah ia mengintai, baru tukang perahu itu tiba di dalam gubuk.

Segera dia ditanya Kiauw Thay.

"Apa kedua binatang cilik itu ada di sini?"

"Ya,"

Menyahut si tukang perahu yang sekarang bisa bicara.

"Apakah mereka bercuriga?"

Kiauw Thay menanya pula.

"Nampaknya tidak. Cuma mereka tidak sudi dahar dari itu aku tidak dapat bekerja."

"Hm! Biarlah mereka mengantari jiwa di Chee-liong-tha! Lusa tengah hari perahu kamu tiba di Chee-liong-tha, terpisah satu lie dari muara itu, ada dusun Chee-liong-cip. Di sana kau singgah kami nanti menantikan kamu untuk membantu."

"Ya,"

Si tukang perahu menyahuti pula.

"Dua binatang cilik itu lihay, kau mesti berhati-bati,"

Kiauw Thay memesan.

"Kalau kau berhasil, pangcu bakal menghadiahkan kepadamu. Sekarang pergi kau balik ke perahumu dengan ambil jalan dari dalam air, supaya perahumu itu tidak bergoyang, agar mereka tidak curiga."

"Apakah Kiauw Cee-cu tidak ada titah lainnya?"

"Tidak!"

Menyahut Kiauw Thay seraya mengibaskan tangannya.

Tukang perahu itu lantas keluar dari gubuk perahu.

Ia pergi ke belakang, di sana ia turun ke dalam air, untuk berenang ke perahunya sendiri.

Kwee Ceng berlaku sebat, ia mendahului kembali ke perahunya.

Ia membikin Oey Yong apa ia lihat dan dengar.

"Hm!"

Kata si nona perlahan.

"Di tempat It Teng Taysu, air jauh terlebih deras, kita tidak takut, apalagi segala Chee-liong-tha? Mari tidur!"

Karena mengetahui rencananya orang jahat, muda-mudi ini jadi lega hatinya. Di hari ketiga pagi, ketika tukang perahu hendak mengangkat jangkar, untuk mulai berangkat pula, Oey Yong kata padanya.

"Tunggu sebentar! Lebih dulu kau mendaratkan kuda kami jangan kalau nanti perahu karam di Chee-liong-tha, dia nanti mengantarkan jiwanya!"

Tukang perahu itu berlagak pilon. Oey Yong tidak memperdulikannya, bersama Kwee Ceng ia menuntun kudanya mendarat.

"Yong-jie, baik kita jangan bergurau sama mereka,"

Kata Kwee Ceng perlahan.

"Baik dari sini kita melanjuti perjalanan kita dengan menunggang kuda."

"Kenapa begitu?"

Menanya si nona.

"Tiat Ciang Pang bangsa manusia rendah, buat apa melayani mereka? Kita diam-diam saja."

"Apa dengan diam-diam saja kita aman?"

Tanya si nona.

Pemuda itu berdiam.

Oey Yong mengendorkan les kuda, tangannya menunjuk ke jalanan di sebelah utara.

Kuda itu mengerti.

Sudah sering dia berpisah dari majikannya, senantiasa mereka dapat bertemu pula.

Maka dia lari ke arah utara itu di mana sebentar kemudian dia lenyap.

"Mari kita kembali ke perahu,"

Kata si nona, menepuk tangan.

"Kesehatanmu belum pulih, perlu apa kau menempuh bahaya?"

Kwee Ceng kata pula.

"Kita terpaksa,"

Sahut nona itu. Ia berjalan balik, ia turun ke perahunya. Kwee Ceng mengiringi kawannya itu. Putrinya Oey Yok Su tertawa, dia kata gembira;

"Engko tolol, kita ada bersama, biar kita mengalami banyak yang aneh-aneh, kalau kemudian kita berpisah, bukankah jadi banyak yang dapat direnungkan? Bukankah itu bagus?"

Perahu berlayar sampai nampak sungai makin berbahaya.

Di kiri dan kanan hamya nampak gunung atau tebing.

Kwee Ceng dan Oey Yong pergi ke kepala perahu, mereka melihat segala apa, maka insyaAah mereka akan bahayanya perjalanan ini.

Untuk dapat maju melawan air, perahu mesti ditarik orang.

Di situ ada beberapa perahu lainnya.

Perahu besar membutuhkan beberapa kuli, sedang perahu kecil, perlu delapan atau sembilan orang.

Kuli-kuli penarik itu telanjang dadanya dan kepalanya dilibat sabuk putih, sambil menarik mereka mengasih dengar suara bareng dan sama.

Perahu yang berlayar milir hanyut pesat sekali.

Sepasang muda-mudi ini menduga mereka bakal segera mendekati Chee-liong-tha.

Hari pun makin lama makin siang.

"Yong-jie,"

Kata Kwee Ceng perlahan.

"Aku tidak menyangka sungai Goan Kang mempunyai bagian yang airnya begini deras dan berbahaya. Mungkin bagian deras ini panjang sekali. Kalau perahu terbalik sedang kau masih belum segar, tidakkah itu berbahaya?"

"Habis bagaimana?"

"Kita bunuh saja tukang perahu itu lantas kita ke pinggir dan mendarat."

Si nona menggeleng kepala.

"Itulah tidak menarik hati!"

Katanya.

"Memangnya sekarang waktunya main-main?"

"Aku justru menggemari itu!"

Si nona tertawa.

Pemuda itu berdiam, ia mengawasi ke depan dan ke kiri dan kanan.

Ia lantas berpikir.

Berjalan lagi sekian lama, waktu sudah mendekati tengah hari.

Setelah melintasi sebuah pengkolan, Kwee Ceng melihat di depan di pinggiran sungai, ada beberapa puluh rumah, yang tinggi dan rendah bergantung sama letaknya tanah pegunungan.

Di situ, air jadi semakin deras.

Ketika sebentar kemudian perahu tiba di dekat kumpulan rumah-rumah itu, di tepi sungai terlihat beberapa puluh orang yang seperti lagi menantikan.

Si tukang perahu lantas melemparkan dua lembar dadung ke darat, dadung mana disambuti beberapa puluh orang itu dan lantas dililit ke sebuah pelatok besar.

Dengan ditarik, perahu itu sampai di tempat yang cetek.

Tidak lama tiba lagi sebuah perahu yang ditarik kira tigapuluh kuli, perahu itu dikasih berlabuh di situ, sedang di sebelah depan telah berlabuh kira-kira duapuluh perahu lainnya.

Lantas ada seorang di daratan yang berkata nyaring.

"Tadi malam keluar ular naga, air di gunung banjir, air sungai ini jadi sangat deras, maka sambil menanti air surut, mari semua beristirahat di sini!"

"Numpang tanya, toako, tempat ini apa namanya?"

Tanya Oey Yong pada seorang di sampingnya.

"Chee-liong-cip,"

Orang yang ditanya menjawab.

Nona itu mengangguk, diam-diam ia memperhatikan tukang perahunya.

Dia itu berbicara dengan gerakan tangan sama seorang di darat, orang mana bertubuh besar dan kekar.

Dia menyerahkan satu bungkusan pada orang itu.

Kemudian, mendadak orang itu mengeluarkan kapak dengan apa dia membabat putus dadung penambat perahu, terus dia mengangkat jangkar, terus dia mendorong perahu itu.

Maka sekejap saja, dengan tubuh miring perahu itu hanyut terbawa air.

Si tukang perahu yang memegang kemudi, mengawasi ke muka air.

Dua pembantunya yang masing-masing memegang galah kejen, romannya bersiap-siap akan melindungi si tukang perahu.

Mungkin mereka khawatir kedua pemumpangnya menyerang tukang kemudi itu.

Kwee Ceng terkejut, ia mengawasi air yang deras.

Setiap waktu perahu itu dapat membentur wadas.

Itu artinya terbalik dan karam.

"Yong-jie, rampas kemudi!"

Ia berteriak.

Ia pun hendak lari ke buntut perahu.

Dua orangyang memegang galah itu mendengar suara si anak muda, mereka bersiap.

Ketika mereka mengangkat galahnya, kejennya bergemerlap di cahaya matahari.

Itulah tandanya kejen itu tajam sekali.

"Perlahan!"

Tiba-tiba Oey Yong berseru.

"Bagaimana?"

Si pemuda tanya.

"Kau melupakan burung kita ……"

Si nona berbisik.

"Kalau sebentar perahu karam, kita naiki mereka untuk terbang pergi. Aku mau lihat apa mereka bisa bikin ……"

Kwee Ceng sadar.

"Pantas Yong-jie tidak takut, kiranya ia telah siap sedia tipu dayanya,"

Pikirnya.

Ia lantas menggapai kepada dua ekor burungnya, untuk disuruh berdiam di samping mereka.

Si tukang perahu tidak tahu kenapa anak muda itu batal bergerak, diam-diam ia bergirang.

Ia mau percaya mereka kena dibikin jeri oleh arus yang sangat deras itu.

Segera juga terdengar suara dari serombongan kuli penarik perahu, lalu terlihat orang-orangnya, yang lagi menarik sebuah perahu dengan gubuk hitam, yang mengibarkan bendera hitam juga.

Ketika si tukang perabu melihat perahu itu, dia lantas mengangkat kapaknya dengan apa dia mengapak putus kemudinya, kemudian dia pergi ke pinggir kiri.

Terang dia bersiap akan lompat ke perahu yang lagi mendatangi itu.

Kwee Ceng melihat aksinya tukang perahu itu.

"Naik!"

Ia kata seraya menekan punggungnya si rajawali betina.

"Jangan kesusu!"

Berkata Oey Yong.

"Engko Ceng, kau hajar perahu itu dengan jangkar!"

Kwee Ceng mengerti maksudnya nona itu, ia bersiap.

Tanpa kemudi, perahu hanyut makin pesat, sebentar saja, kedua perahu datang semakin dekat.

Perahu yang ditarik mudik itu digeser, supaya tidak sampai diterjang perahu yang hanyut.

Tukang-tukang menarik perahu agaknya kaget, mereka pada berteriak.

Kwee Ceng menanti saatnya, segera ia melemparkan jangkarnya keras sekali.

Ia mengarah pelatok yang dipakai mengikat dadung penarik.

Karena perahu pun ditarik keras, maka lemparan jangkar jadi semakin hebat.

Begitu terkena, pelatok itu patah, dadungnya terlepas.

Selagi tukang-tukang menariknya jatuh ngusruk, perahunya sendiri lantas terbawa air, hanyut keras sekali.

Orang banyak pada berteriak kaget.

Si tukang perahu kaget sekali.

"Tolong! Tolong!"

Dia berteriak-teriak saking takut.

"Hai, orang gagu bisa bicara!"

Kata Oey Yong tertawa.

"Inilah keanehan di kolong langit!"

Kwee Ceng sendiri mengawasi ke perahu yang hanyut itu, tangannya masih memegangi jangkar yang satunya.

Tukang kemudi dari perahu itu lihay, di air deras dia masih mencoba memutar kepala perahu, agar jangan buntutnya yang laju di muka seperti semula.

Tepat pada saatnya, si anak muda melemparkan jangkar ke kepala perahu.

Si tukang perahu gagu tetiron kaget bukan main.

Di saat yang sangat berbahaya itu, dari dalam perahu mendadak lompat keluar satu orang, yang bersenjatakan galah kejen dengan apa dia menyambuti, menyontek jangkarnya Kwee Ceng.

Dia bertenaga besar tetapi galahnya ini tidak cukup kuat, galah itu patah, karena itu, tujuan jangkar jadi berkisar.

Begitulah jangkar dan patahan galah jatuh ke air.

Orang kuat itu berdiri tegar di perahunya, dia mengenakan baju pendek warna kuning, dia berambut putih romannya gagah.

Dialah Khiu Cian Jin ketua Tiat Ciang Pang.

Dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi kagum sekali hingga mereka tercengang.

Justru itu, tanpa ketahuan, tubuh perahu telah membentur wadas.

Keras goncangan benturan itu muda-mudi itu kena terdampar ke pintu gubuk.

Mereka kaget, terutama sebab air segera merendam mata kaki mereka.

Tidak ada ketika lagi untuk naik ke punggung burung.

"Mari!"

Kwee Ceng berseru seraya dia berlompat ke arah Khiu Cian Jin.

Dia sengaja hendak menubruk ketua Tiat Ciang Pang itu, sebab kalau dia lompat ke lain bagian dari perahu itu, sebelum tiba, dia bisa dipapaki serangan.

Itulah berbahaya.

Khiu Cian Jin melihat orang berlompat ke arahnya, rupanya dia dapat menerka maksud orang, karena ia tengah memegang galahnya, dengan itu ia lantas memapak.

Kwee Ceng melihat penyambutan itu, dia kaget.

Khiu Cian Jin melontarkan galahnya, yang menjurus ke dada si anak muda.

Ia rupanya menganggap, lebih baik menyerang sambil menimpuk daripada menanti orang tiba di perahunya.

Dalam saat sangat berbahaya untuk si anak muda, tiba-tiba terlihat sinar hijau menyambar galah kejen.

Karena mana, lenyaplah ancaman bahaya itu.

Itulah Oey Yong, yang berlompat menyusul kawannya, yang dengan tongkatnya menangkis galah.

Setelah itu, begitu menginjak perahu, si nona segera menyerang pangcu dari Tiat Ciang San, hingga dia menjadi gelagapan, hampir dia kena ditotok.

Khiu Cian Jin mengenal baik lihaynya tongkat si nona, maka itu, selagi Kwee Ceng baru menaruh kaki, ia mundur kepada anak muda itu, yang ia sapu.

Dengan begitu ia berkelit sambil menyerang.

Selagi Kwee Ceng berkelit, ia menyusuli dengan dua serangan saling susul dengan kedua tangannya.

Lihay serangannya jago dari Tiat Ciang San ini.

Itulah pukulan dari Tiat Ciang Kang-hu, atau ilmu silat Tangan Besi, yang kaum Tiat Ciang Pang andalkan selama mereka menjagoi, bahkan di tangan orang she Khiu ini, jurusnya telah diubah dan ditambah hingga menjadi semakin lihay.

Dibanding sama Hang Liong Sip-pat Ciang, ilmu itu kalah keras tetapi menang halus.

Begitu dua orang itu bergerak di atas perahu.

Perahu sewaannya Kwee Ceng telah patah pinggang dan karam, si gagu dan dua kawannya kecebur ke air dan terbawa arus, sia-sia mereka berenang, mereka terbenam di dalam air menggolak bagaikan pusar air.

Perahunya Khiu Cian Jin sendiri, meskipun hanyut keras, masih dapat dipertahankan, karena ada orang Tiat Ciang Pang yang lantas mengendalikannya.

Di atasan perahu, terbang mengikuti, adalah kedua burung rajawali serta hiat-niauw, ketika burung itu saban-saban mengasih dengar suaranya.

Sampai itu waktu, Oey Yong pun turut berkelahi.

Lebih dulu ia mengundurkan beberapa orang Tiat Ciang Pang, yang merintangi padanya, setelah itu ia dekati Kwee Ceng, guna mengepung Khiu Cian Jin.

Karena sama-sama lihay, kedua pihak berkelahi dengan rasa risih.

Selagi bertempur itu, Oey Yong melihat golok berkelebat di dalam gubuk perahu.

Itulah seorang yang tengah membacok.

Ia tidak tahu apa yang dibacok itu tetapi ia curiga, maka ia lantas menimpuk dengan jarumnya.

Pembacok itu kena lengannya, bacokannya tak dapat diteruskan, goloknya justru mengenai pahanya sendiri sampai dia menjerit.

Si nona menyusul seraya berlompat masuk ke dalam gubuk.

Ia menendang terjungkal orang itu, yang sudah tidak berdaya, lalu dia melihat seorang rebah tidak berkutik di lantai perahu sebab kaki tangannya dibelenggu.

Ia tidak usah mengawasi lama akan mengenali Sin-soan-cu Eng Kouw, hingga ia menjadi heran.

Tidak sekali disangka, di sini mereka dapat menemui nyonya itu, bahkan dalam keadaan tidak berdaya itu.

Tanpa ayal lagi, ia memungut goloknya orang tadi dengan apa ia memutuskan tambang yang mengikat tangan si nyonya.

Begitu lekas tangannya bebas, dengan tangan kirinya Eng Kouw merampas golok di tangannya si nona, selagi Oey Yong heran, dia sudah lantas membacok mampus orang Tiat Ciang Pang itu, yang tadi hendak membinasakan padanya.

Habis itu baru ia memutuskan tali belengguan kakinya, sedang musuhnya roboh celentang, hingga Oey Yong mengenali, dialah Kiauw Thay.

Maka ia kata di dalam hatinya.

"Kau sangat jahat, pantas kau mampus!"

"Meski kau telah menolongi aku, jangan kau harap aku akan membalas budi!"

Kata Eng Kouw pada si nona.

"Siapa mengharap pembalasan budimu?"

Kata si nona tertawa.

"Kau telah menolong aku, maka ini satu kali, aku menolongi kau. Dengan begini, kita menjadi tidak saling berhutang!"

Sembari berkata begitu, Oey Yong pergi pula ke luar, untuk membantu lagi kepada Kwee Ceng.

Khiu Cian Jin benar-benar lihat, dia dapat bertahan, hanya segera ia menjadi kaget ketika kupingnya mendengar beberapa teriakan beruntun serta suara tubuh tercebur ke air.

Sebab Eng Kouw, dalam gusarnya, sudah menghajar semua orang Tiat Ciang Pang yang berada di dalam kendaraan air itu, membikin mereka kecemplung ke air deras.

Hingga tidak perduli yang pandai berenang, orang-orang jahat itu jangan harap nanti lolos dari bahaya mampus kelelap!

Khiu Cian Jin digelarkan "Tiat Ciang Sui-sing-piauw" , atau si Tangan besi yang mengambang di muka air itu bukan berarti dia dapat berjalan di muka air seperti mengambang, itu diartikan lihaynya ilmunya enteng tubuh, jangan kata di air deras demikian, sekalipun di air tenang di telaga, tidak dapat dia jalan ngambang.

Maka itu sekarang, hatinya tidak tenang.

Ia berkelahi sambil mundur.

Kewalahan ia melayani Kwee Ceng yang dibantu Oey Yong.

Untuk mencegah si nona menyerang ia dari belakang, ia berdiri membelakangi air.

Secara begini ia mencoba bertahan.

Oey Yong berkelahi sambil memperhatikan lawannya yang tangguh ini.

Sering ia melihat jago itu melirik ke kiri dan kanan.

Ia menduga tentulah orang mengharap-harap datangnya lain perahu, ialah bantuan untuk pihaknya.

Maka ia juga turut memasang mata.

Ia pikir.

"Biarnya dia jago, dia bakal dikepung bertiga. Kalau kita gagal, sebenarnya kita ialah kantung-kantung nasi ……"

Eng Kouw di lain pihak telah berhasil menyapu semua orang Tiat Ciang Pang.

Ia membiarkan hanya satu orang, ialah si tukang pengemudi.

Ia melihat bagaimana dua muda-mudi itu belum bisa berbuat apa-apa terhadap Khiu Cian Jin, maka akhirnya ia menghampirkan mereka.

"Nona kecil, kau minggirlah!"

Ia kata kepada Oey Yong -ia tertawa dingin.

"Mari, kasihkan aku yang maju!"

Oey Yong tidak puas sekali.

Terang orang memandang enteng padanya.

Tapi ia cerdik, ia lantas berpikir.

Terus ia mendesak ketua Tiat Ciang Pang itu.

Khiu Cian Jin bisa menduga si nona tentulah mau mundur mentaati kata-kata si nyonya, meski ia mengerti, ia toh tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri, karena si nona mendesak, Kwee Ceng tetap menyerang padanya.

Oey Yong bukan mundur sendirinya, ketika ia mundur, ia menarik tangan baju kawannya seraya berkata;

"Biarkan dia maju sendiri!"

Kwee Ceng heran tetapi ia mundur seraya membela diri. Eng Kouw tidak memperdulikan sikap si nona, ia hanya menghadap Khiu Cian Jin, dengan tertawa dingin, dia berkata;

"Khiu Pangcu, di dalam dunia kangouw, namamu terdengar cukup nyaring, maka aku heran untuk perbuatanmu yang hina dina! Selagi aku tidur di rumah penginapan, tengah aku tidak tahu apa-apa, mengapa kau menggunai hio pulas dan dengan caramu itu kau membekuk aku? Bagus perbuatanmu itu ya?"

"Kau telah dibekuk oleh orang sebawahanku, buat apa kau masih banyak bacot?"

Khiu Cian Jin membalasi.

"Jikalau aku yang turun tangan sendiri, hanya dengan sepasang tangan kosongku, sepuluh Sin Soan Cu pun dapat aku membekuknya!"

Eng Kouw tetap bersikap dingin.

"Di dalam hal apa aku bersalah dari kamu kaum Tiat Ciang Pang?"

Ia tanya.

"Dua binatang cilik ini lancang memasuki Tiat Ciang Hong, tempat kami yang suci,"

Kata Khiu Cian Jin.

"Kenapa kau menerimanya mereka di rawa lumpur hitam? Dengan baik-baik aku minta mereka diserahkan padaku, kenapa kau melindungi mereka dengan kau mendustai aku? Apakah kau sangka Khiu Cian Jin boleh dibuat permainan?"

"Oh, kiranya itulah gara-gara dua binatang cilik ini!"

Katanya.

"Kalau kau mempunyai kepandaian, pergi punya banyak tempo akan campur tahu segala urusan tetek bengek begini!"

Lauw Kui-hui lantas mengundurkan diri, ia duduk bersila di lantai perahu, sikapnya sangat tenang.

Ia maju jadi si penonton harimau bertarung, akan menyaksikan orang roboh dua-duanya!

Sikapnya nyonya ini mengherankan dua-dua Kwee Ceng dan Oey Yong dan Khiu Cian Jin.

Itulah mereka tidak sangka.

Eng Kouw turun gunung dengan pikiran kacau.

Ia mendongkol dan berduka, tidak dapat ia gampang-gampang melampiaskan itu.

Ia mendongkol sebab gagal ia membunuh It Teng Taysu.

Tidak tega ia melihat sikap tenang dari pendeta itu.

Ia bersedih kalau ia membayangi kematian anaknya yang malang itu.

Begitu ketika ia mondok di rumah penginapan, ia berlaku alpa, ia kena diasapi orang Tiat Ciang Pang dan kena ditangkap karenanya.

Di dalam keadaan biasa, tidak nanti ia kena dibekuk secara demikian.

Ia juga tidak menyangka, di dalam bahaya, ia ditolongi Oey Yong.

Ia tetap mendongkol, maka itu, ia ingin biarlah muda-mudi itu dan Khiu Cian Jim mampus bersama …… Oey Yong berpikir cepat.

"Baik, kami akan melayani dulu Khiu Cian Jin, habis itu baru kami nanti mengasih lihat sesuatu padamu!"

Ia lantas mengedipi mata kepada Kwee Ceng, terus ia menerjang pula pada Khiu Cian Jin.

Aksinya ini segera ditiru si anak muda.

Begitulah bertiga mereka bergebrak pula.

Eng Kouw menonton, dengan asyik.

Ia melihat, meski ketua Tiat Ciang Pang itu lihay, dia sukar bisa cepat-cepat merebut kemenangan.

Ia bahkan melihat ketua itu mundur.

Ia mau percaya, jago dari Tiat Ciang San ini akhirnya bakal mampus atau terluka …… Kwee Ceng pun melihat sikap lawannya itu, ia menduga orang lagi mencari akal.

Dilain pihak ia berkhawatir untuk Oey Yong, yang baru sembuh dan tidak selayaknya mengeluarkan banyak tenaga.

Maka akhirnya ia kata;

"Yong-jie, baik kau beristirahat, sebentar kau maju pula!"

Nona itu menurut.

"Baik,"

Sahutnya seraya ia mundur. Ia tertawa. Eng Kouw mengiri menyaksikan eratnya perhubungan si pemuda dengan si pemudi, terutama perhatiannya si pemuda itu, hingga ia berpikir.

"Dalam hidupku, kapannya pernah ada orang berbuat begini macam terhadapku?"

Tiba-tiba dari mengiri, ia menjadi cemburu dari cemburu, hatinya menjadi panas. Mendadak ia berlompat bangun dan berkata dengan nyaring.

"Dua lawan satu, apa itu namanya? Mari, mari kita berempat menjadi dua rombongan, satu!"

Ia lantas mengeluarkan dua batang bambu, tanpa menanti jawaban orang, Ia berlompat menyerang nona Oey. Oey Yong menjadi mendongkol sekali.

"Perempuan gila yang lenyap hatinya!"

Ia mendamprat.

"Tidak heran Loo Boan Tong tidak mencintaimu!"

Tapi ini cuma menambah kemurkaannya Eng Kouw, yang menyerang makin hebat.

Oey Yong menjadi repot.

Ia boleh lihay ilmunya Tah Kauw Pang-hoat tetapi ia kalah tenaga dalam, ia juga belum pulih kesehatannya, maka terpaksa ia menutup diri.

Lebih sulit lagi, perahu itu bergerak keras tak hentinya disebabkan derasnya arus.

Kwee Ceng sendiri tetap melayani Khiu Cian Jin, ia tidak bisa merebut kemenangan tetapi ia pun tidak kalah.

Ketua Tiat Ciang Pang menjadi heran tidak karu-karuan Eng Kouw membantu padanya.

Tentu sekali, perubahan sikap si nyonya membuatnya ia girang.

Dengan begitu dia jadi seperti tambah semangat, terus ia menyerang hebat.

Ketika Kwee Ceng menyerang ia dengan jurus "Melihat naga di sawah,"

Ia berkelit, habis berkelit, segera ia membalas menyerang, dengan dua tangannya berbareng.

Tangan kanan dengan kejennya tangan kiri tangan kosong.

Kwee Ceng tidak takut, ia menangkis dengan dua dua tangan juga.

Maka tangan mereka bentrok.

Lantas mereka sama-sama menyerukan.

"Hm!"

Dan tubuh mereka mundur masing-masing tiga tindak.

Khiu Cian Jin menahan diri dengan memegang tiang kemudi, dan kaki kiri Kwee Ceng terserimpat dadung, hampir dia terguling.

Guna menjaga diri agar tidak diserbu, ia meneruskan lompat jumpalitan.

Khiu Cian Jin menganggap inilah ketikanya yang baik, dia tertawa nyaring dan lama, lantas dia maju, guna menyerang.

Eng Kouw tengah mendesak Oey Yong sampai si nona bernapas sengal-sengal dan peluhnya mengucur tatkala dia mendengar tertawanya ketua Tiat Ciang Pang, dia kaget hingga mukanya beruhah, hingga lupa dia menarik pulang senjatanya yang kiri.

Oey Yong melihat lowongan, lantas ia menyerang ke dada, menotok jalan darah sin-kie.

Eng Kouw tidak menghiraukan itu, dengan tubuh terhuyung, dia menubruk ke arah Khiu Cian Jin sambil mulutnya berseru.

"Kiranya kau!"

Ketua Tiat Ciang Pang terkejut, apapula ia melihat muka bengis dari nyonya itu yang mulutnya dipentang, kedua tangannya dibuka. Si nyonya seperti mau menubruk buat menggigit atau menggerogoti orang.

"Kau mau apa?"

Berseru Cian Jin dalam herannya.

Ia juga lompat ke samping.

Eng Kouw gagal sama tubrukannya yang pertama itu, dengan mulut bungkam, ia menubruk pula.

Ia seperti kalap.

Kali ini ia mengajukan kepalanya, untuk menyeruduk.

Cian Jin berkhawatir.

Ia merasa, celaka kalau ia kena dipeluk perempuan yang telah seperti kalap itu.

Ia juga berkhawatir melihat Kwee Ceng merangsak.

Maka untuk menolong diri, kembali ia berlompat minggir.

Oey Yong segera menarik tangannya Kwee Ceng, buat diajak berdiam di satu pinggiran.

Dari situ mereka mengawasi Eng Kouw.

Mereka pun heran dan berkhawatir.

Nyonya itu kalap seperti orang gila.

Terus dia main tubruk, mulutnya senantiasa berseru, giginya dipertontonkan.

Terang dia ingin memeluk Cian Jin untuk digerogoti …… Jago Tiat Ciang Pang itu menjadi kewalahan, ia selalu main berkelit.

Beberapa kali tangannya kena terjambret tercakar, hingga tangannya itu berdarah-darah.

Dalam khawatirnya, beberapa kali ia berseru;

"Pembalasan, pembalasan! Apakah aku mesti terbinasa di tangan perempuan gila ini?!"

Eng Kouw mengulangi tubrukannya, sampai Khiu Cian Jin berada di dekat si tukang kemudi.

Sekarang si nyonya matanya menjadi merah.

Rupanya ia tahu, lawannya sangat lihay, sukar ia berhasil menubruk.

Mendadak ia menyerang si tukang kemudi, hingga orang menjerit dan terjungkal ke air, menyusul mana, ia menendang tiang kemudi sampai tiang itu patah!

Segera karena tak terkendalikan, perahu itu goncang keras, hanyutnya kacau.

Oey Yong kaget hingga ia mengeluh.

Kalapnya Eng Kouw bisa membikin mereka nanti kecebur ke air, mungkin bakal mati …… Ia tidak tahu kenapa nyonya itu menjadi kalap mendadak.

Karena itu ia mainkan mulutnya, guna memanggil burungnya.

Justru itu perahu melintang, segera membentur wadas, nyaring suaranya.

Sebagai akibatnya, kepala peranu bocor.

Khiu Cian Jin kaget, ia menginsyafi bahaya, maka ia pun menjadi nekat, tetapi ia bukan menempur si nyonya kalap, ia hanya mengenjot tubuhnya, untuk berlompat ke darat.

Ia tidak sampai di tepian, ia kecebur, tenggelam ke dalam air.

Tapi ia sadar, ia mencoba memegangi batu wadas, dengan berpegangan terus, ia melapai ke pinggiran.

Ia telah kena menenggak air, toh ia tiba juga di pinggiran di mana ia merayap naik ke darat, lalu dengan pakaian kuyup ia duduk beristirahat, matanya mengawasi ke perahu yang hanyut jauh, hingga nampak seperti satu titik hitam.

Ia bergidik kalau ia ingat kalapnya Eng Kouw.

"Binatang ke mana kau hendak lari?"

Demikian si nyonya mendamprat melihat musuhnya berlompat ke air.

Ia juga ingin berlompat atau sang air lekas sekali membikin perahu lantas terpisah jauh dari ketua Tiat Ciang Pang itu.

Kwee Ceng menaruh belas kasihan, ia menjambak punggung si nyonya, untuk mencegah dia terjun, tetapi nyonya itu menyampok ke belakang.

Maka "Plok!"

Muka si anak muda kena dihajar, sampai ia merasakan pipinya panas dan sakit, hingga ia berdiri menjublak. Oey Yong pun heran, tetapi burungnya sudah datang. maka ia memanggil.

"Engko Ceng, mari! Jangan layani perempuan gila itu! Mari kita pergi!"

Kwee Ceng menoleh kepada si nona, kemudian ia berpaling pula kepada Eng Kouw. Ketika itu air sudah merendam kaki mereka. Mendadak nyonya itu menekap mukanya dan menangis menggerung-gerung.

"Anak. anak!"

Dia sesambatan.

"Lekas, lekas!"

Oey Yong memanggil engko Cengnya. Tapi Kwee Ceng bersangsi. Pemuda ini ingat pesan It Teng Taysu untuk menjaga dan melindungi Eng Kouw. Maka ia teriaki kawannya itu.

"Yong-jie lekas kau naik burung dan mendarat! Sebentar kau suruh dia terbang pula ke mari menyambut aku!"

"Sudah tidak keburu!"

Oey Yong kata, hatinya cemas.

"Lekas kau pergi!"

Kwee Ceng mendesak.

"Kita tidak dapat menyia-nyiakan pesan It Teng Taysu!"

Mendengar penyahutan si anak muda, Oey Yong turut bersangsi.

Ia pun ingat pesan si pendeta dan ingat pertolongan orang kepadanya., Tengah ia berdiam, mendadak tubuhnya bergoyang keras dan kupingnya mendengar suara nyaring.

Nyata perahu mereka telah membentur satu batu besar, hingga air segera menerobos masuk ke dalam perahu itu, badan perahu juga melesak ke dalam air.

"Lekas lompat ke wadas!"

Oey Yong berteriak.

Kwee Ceng pun mengerti bahaya, ia mengangguk.

Ia segera menghampirkan Eng Kouw untuk memegang padanya.

Kali ini si nyonya berdiam bagaikan orang linglung, dipegangi Kwee Ceng, dia tidak meronta, cuma matanya bengong mengawasi permukaan air.

"Mari!"

Berseru Kwee Ceng, yang dengan tangan kanannya mengempit tubuh si nyonya dan berlompat.

Oey Yong turut berlompat.

Mereka berhasil menginjak batu wadas itu, yang besar, hanya pakaian mereka telah basah kecipratan air.

Ketika mereka menoleh, mereka mendapatkan perahu mereka sudah karam di pinggir wadas itu.

Oey Yong berdiri diam, melihat air, ia seperti kabur matanya.

Itulah pengalaman sangat hebat untuknya, meskipun ia sebenarnya pandai berenang.

Burung rajawali terbang berputaran di atasan mereka, burung itu tidak mau turun menghampirkan meski berulang-ulang Kwee Ceng memanggil.

Terang binatang itu takut air.

Kemudian Oey Yong memandang juga kelilingan.

Ia melihat sebuah pohon yangliu di tepian sebelah kiri, terpisahnya dari mereka kira sepuluh tombak.

Ia lantas dapat akal.

"Engko Ceng, kau pegang tanganku,"

Ia kata.

Kwee Ceng tidak tahu orang hendak berbuat apa, ia pegang tangan kiri si nona.

Mendadak Oey Yong terjun ke air, terus dia selulup.

Pemuda itu kaget, ia lekas-lekas membungkuk dengan tangannya diulur panjang-panjang, sedang kedua kakinya dicantel di batu wadas.

Dengan tangan kanan ia terus memegangi tangan si nona.

Oey Yong selulup untuk mengambil dadung layar, yang ia bawa kembali ke wadas.

Ia menarik dadung hingga panjang duapuluh tombak lebih, ia mengutungi itu, kemudian ia memanggil burungnya, disuruh menclok di pundaknya kiri dan kanan.

Kwee Ceng membantui memegangi burung itu, yang sudah besar dan berat tubuhnya, ia khawatir si nona tak kuat memundaki kedua binatang piaraannya itu.

Oey Yong mengikat dadung ke kaki burung yang jantan, ia menunjuk ke pohon yangliu, untuk menitahkan burungnya terbang ke pohon itu.

Burung itu mengerti, dia terbang ke pohon, setelah terbang memutari, ia terbang balik.

"Eh, aku menyuruh kau melibat dadung ini pada pohon!"

Kata Oey Yong. Burung itu tidak dapat dikasih mengerti, maka nona ini masgul.

"Hayo coba!"

Kata Oey Yong kemudian.

Ia memberi contoh.

Burung rajawali itu terbang pula, ia mesti terbang hingga delapan kali, baru dadung dapat dilibat di pohon.

Baru sekarang si nona girang.

Kwee Ceng pun girang, sebab ia mengerti maunya kawannya itu.

Ujung yang lain dari dadung itu lantas diikat di wadas.

"Nah, Yong-jie, kau mendarat lebih dulu!"

Kata si pemuda selesai mengikat.

"Tidak,"

Menyahut nona itu.

"Aku akan menanti kau. Biar dia naik lebih dulu."

Eng Kouw mengawasi muda-mudi itu, ia terus menutup mulutnya.

Tapi sekarang ia sudah tenang, ia mengerti maksud orang, maka tanpa bilang apa, ia berpegangan pada dadung, untuk melapai naik, hingga di lain saat ia telah tiba di darat.

"Di masa aku kecil, inilah permainanku yang menarik hati,"

Kata Oey Yong.

"Kwee Toaya, aku hendak memberikan pertunjukan, harap kau mengasih hadiah biar banyak!"

Setelah berkata begitu, si nona menyambar dadung, untuk berdiri di atas dadung itu, habis mana, dia berlari-lari menyeberang melintasi air deras itu, tiba di pohon, untuk turun ke tanah!

Kwee Ceng belum pernah meyakinkan ilmu jalan di atas tambang, ia tidak berani mencoba-coba, khawatir terpeleset dan jatuh ke air, dari itu ia mencontoh Eng Kouw, ia berpegangan pada dadung itu dan melapai.

Sambil bergelantungan, ia mengawasi ke darat.

Lagi beberapa tombak ia akan tiba di pohon, mendadak ia mendengar seruannya Oey Yong.

"Eh, kau hendak pergi ke mana?"

Ia terkejut.

Itulah seruan kaget.

Seruan itu disebabkan Eng Kouw berjalan seorang diri, untuk meninggalkan mereka berdua.

Kwee Ceng khawatir nyonya itu belum sadar betul, itulah berbahaya.

Maka ia lekas-lekas melapai, belum sampai di cabang pohon, ia sudah lompat turun.

"Lihat, dia pergi seorang diri!"

Kata Oey Yong, tangannya menunjuk.

Kwee Ceng mengawasi, hingga ia menampak Eng Kouw berlari-lari di tanah pegunungan, yang jalanannya banyak batunya dan sukar.

Orang sudah pergi jauh, sulit untuk menyandaknya.

"Dia pergi seorang diri, pikiran dia was-was, inilah berbahaya,"

Kata Kwee Ceng.

"Mari kita susul."

Ia berkhawatir, begitu juga Oey Yong.

"Mari!"

Menyahut si nona setuju.

Hanya ketika ia mengangkat kaki, untuk berlompat, mendadak ia roboh sendirinya, jatuhnya duduk, kepalanya digoyang beberapa kali.

Kwee Ceng mengerti nona itu lemas sebab barusan dia memakai terlalu banyak tenaga.

"Kau duduk di sini,"

Ia kata.

"Nanti aku yang menyusul sendiri. Aku akan segera kembali."

Pemuda itu lari keras, tapi kapan ia tiba di tikungan tiga, ia bingung.

Di situ Eng Kouw tak terlihat, setahu dia mengambil jalanan yang mana.

Tempat itu sunyi, rumputnya tinggi, hari pun sudah mendekati magrib.

Oleh karena mengkhawatirkan Oey Yong terpaksa ia lari balik.

Kesudahannya, satu malam mereka berdiam di tepi kali itu dengan menahan lapar.

Pagi-pagi mereka sudah berjalan mengikuti tepian di mana ada sebuah jalanan kecil.

Mereka mau mencari kuda dan burung api mereka, guna bersama-sama mencari jalan besar.

Sesudah jalan setengah harian, mereka dapat mencari sebuah rumah makan.

Lantas mereka singgah.

Mereka membeli tiga ekor ayam, yang seekor dimatangi, untuk dimakan berdua, yang dua ekor untuk sepasang rajawali.

Dua ekor burung itu makan sambil menclok di atas pohon kayu besar.

Burung yang jantan baru makan separuh ayam itu ketika dia bersuara nyaring dan panjang, lantas makanannya dilemparkan, terus dia terbang ke utara.

Yang betina pun terbang tinggi, setelah dia juga mengasih dengar suaranya, dia menyusul ke utara itu.

"Kelihatannya burung kita bergusar,"

Kata Kwee Ceng.

"Mereka melihat apakah?"

"Marilah kita lihat!"

Kata Oey Yong, yang terus melemparkan sepotong perak.

Dengan lantas, mereka lari ke jalan besar, di sana mereka melihat burung mereka terbang berputaran, lalu menukik ke bawah, lalu naik pula, akan seterusnya terbang berputaran lagi.

"Mereka bertemu musuh!"

Kata Kwee Ceng.

"Mari!"

Pemuda itu lantas lari, si nona mengikuti.

Kira tiga lie, mereka menampak di depan mereka sekumpulan rumah seperti dusun yang ramai, di atas itu kedua burung mereka masih terbang berputaran, agaknya mereka kehilangan sasaran yang mereka cari.

Bab 68.

BERADU DIAM.

Sampai di luar dusun, Oey Yong memanggil turun kedua burungnya, akan tetapi burung itu tetap berputaran, masih saja mereka mencari apa-apa.

"Entah dengan siapa mereka bermusuhan hebat ……"

Kata Kwee Ceng heran.

Lewat lagi sekian lama barulah kedua burung itu turun.

Lantas ternyata kaki kiri yang jantan berdarah, di situ ada bekas bacokan golok, syukur kakinya tidak tertebas kutung.

Pantas dia agaknya mendongkol.

Muda-mudi itu kaget.

Sebelah kaki burung yang jantan mencengkeram suatu barang hitam, setelah diperiksa, itulah kulit kepala orang, yang masih ada rambutnya, yang masih ada darahnya.

Sembari memeriksa kulit kepala orang itu, Kwee Ceng berpikir.

"Burung ini dipelihara semenjak kecil, dia baik sekali,"

Kata ia.

"Aku tahu mereka belum pernah melukai orang tanpa sebab. Kenapa sekarang mereka berkelahi sama orang?"

"Mesti ada yang aneh,"

Kata Oey Yong.

"Mari kita cari orang yang kepalanya kehilangan kulitnya itu ……"

Maka mereka mampir di dusun itu, untuk bermalam.

Tapi dusun besar, banyak rumah dan penduduknya.

Mereka membuat penyelidikan sampai sore tanpa ada hasilnya.

Besoknya pagi, mereka mendapatkan kedua burung mereka membawa pulang kuda mereka.

Hiat-niauw tidak ada beserta.

"Mari kita cari,"

Kata Oey Yong, yang mengajaki kembali.

Ia sangat sayang burungnya itu.

Tapi Kwee Ceng berkhawatir untuk Ang Cit Kong, yang terluka dan entah ada di mana, sedang harian Pee-gwee Tiong Ciu bakal lekas datang, mereka mesti menghadirkan pibu di Yan Ie Lauw di Kee-hin.

Ia kata, perlu mereka lekas pergi ke timur.

Oey Yong dapat dikasih mengerti, ia suka turut.

Demikian dengan naik kuda merah, mereka berangkat.

Mereka melarikan kuda mereka keras dan burung mereka mengiringi dari udara.

Oey Yong senang sekali, di sepanjang jalan ia banyak omong dan tertawa, gemar ia bergurau.

Ia jauh lebih gembira daripada yang sudah-sudah.

Bahkan di waktu singgah, sampai jauh malam, ia masih tidak mau tidur, sedang kawannya, yang khawatir ia terlalu letih, menganjurkan ia beristirahat.

Ada kalanya, sampai jauh malam, sambil bersila di atas pembaringan, ada saja yang ia omongi sama si anak muda.

Pada suatu hari tibalah mereka di tempat perbatasan sebelah selatan antara dua propinsi Ciatkang dan Kang-souw, di sini mereka mengasih kuda mereka lari satu harian hingga singgah di sebuah penginapan.

Oey Yong pinjam sebuah rantang rotan dari pelayan, hendak ia berbelanja di pasar.

"Kau sudah letih, kita dahar sembarangan saja di sini,"

Kwee Ceng mencegah.

"Aku hendak masak untukmu,"

Berkata si nona.

"Apakah kau tidak sudi makan masakanku?"

"Tentu aku suka hanya aku menghendaki kau lebih banyak beristirahat,"

Kata si anak muda.

"Nanti, kalau kau sudah sehat betul, itu waktu masih ada tempo untuk kau masak untukku."

"Sampai aku sudah sehat betul ……"

Mengulangi si nona.

"Itu waktu ……"

Ia telah bertindak di ambang pintu, baru sebelah kakinya, atau ia berhenti. Kwee Ceng tidak tahu apa orang bilang, tetapi ia menurunkan naya dari lengan si nona. Ia kata;

"Ya, sampai kita sudah dapat mencari suhu, baru kau masak, nanti kita dahar bersama-sama ……"

Oey Yong berdiam sekian lama, lalu ia kembali ke dalam, untuk merebahkan diri di atas pembaringan.

Ia terus berdiam, rupanya ia kepulasan …… Kemudian, datang saatnya bersantap.

Pelayan telah menyajikan barang makanan mereka.

Si pemuda membanguni si pemudi, untuk diajak berdahar.

Nona itu bangun seraya berlompat turun.

Ia tertawa.

"Engko Ceng, kita tidak dahar ini,"

Ia kata.

"Mai turut aku!"

Pemuda itu menurut, ia mengikuti.

Mereka pergi ke pasar.

Oey Yong pergi ke sebuah rumah besar yang temboknya putih dan pintunya hitam.

Dia mutar ke belakang.

Di sini dia lompat naik ke tembok, untuk ke pekarangan dalam.

Si pemuda tidak mengerti tetapi ia mengikuti terus.

Oey Yong berjalan hingga ke ruang depan di mana ada api terang-terang, sebab tuan rumah tengah membikin pesta.

"Semua minggir!"

Berkata si nona sembari tertawa.

Ia maju ke depan.

Semua orang di medan pesta itu heran.

Sama sekali ada tigapuluh orang lebih yang terbagi atas tiga meja.

Mereka itu saling mengawasi.

Mereka heran mendapat orang adalah satu nona muda dan cantik.

Oey Yong menghampirkan satu tetamu yang gemuk, ia menjambak dan mengangkat tubuh orang, kakinya menggaet, maka robohlah si terokmok itu.

"Apa kamu masih tidak mau menyingkir?"

Ia tanya, sambil tertawa. Orang menjadi heran berbareng takut, mereka itu lantas jadi kacau.

"Mana orang? Mana orang?"

Tuan rumah berteriak teriak.

Dia heran, kaget dan berkhawatir dan mendongkol juga.

Segera terdengar suara berisik, di situ muncul dua guru silat beserta belasan pengikutnya.

Mereka itu membawa golok dan toya.

Oey Yong tidak takut, bahkan dia tertawa terus.

Ketika ia menyambut kedua guru silat itu, sebentar saja ia dapat merobohkan mereka, terus ia menyerbu, merampas senjatanya belasan pengikut itu, hingga ruang pesta jadi sangat kacau.

Tuan rumah jadi takut, dia hendak lari, tetapi dia dicekuk si nona, jenggotnya ditarik, lehernya diancam dengan golok.

Dalam takutnya dia menekuk lutut, dengan suara gemetaran dan tidak lancar dia kata.

"Lie-tay-ong …… oh, nona …… kau ingin uang, nanti aku sediakan, asal kau ampuni jiwaku ……"

"Siapa menghendaki uangmu?"

Kata Oey Yong tertawa.

"Mari temani aku minum!"

Tuan rumah itu ditarik jenggotnya, ia ketakutan, ia diam saja.

"Mari duduk,"

Kata si nona, yang pun menarik tangan Kwee Ceng. Ia mengajaknya duduk di meja tuan rumah bersama tuan rumah itu.

"Kamu juga duduk!"

Ia kata pada orang banyak, yang berkumpul di pojokan, bingung dan khawatir.

"Eh, kenapa kamu tidak mau duduk?"

Ia lantas menancap golok di meja, golok itu berkilauan. Semua tetamu itu ketakutan, dengan saling desak, mereka berebut maju, hingga kursi pada terlanggar terbalik.

"Kamu toh bukan bocah-bocah umur tiga tahun!"

Si nona menegur.

"Apa kamu tidak dapat duduk dengan rapi?"

Semua tetamu itu takut, mereka lantas berlaku tenang. Oey Yong minum araknya dengan gembira.

"Perlu apa kau membikin pesta?"

Ia tanya tuan rumah.

"Apakah kau kematian anggota keluargamu?"

"Sebenarnya aku tambah anak,"

Kata tuan rumah. Sekarang is tak terlalu takut lagi. Hari ini adalah hari ulang tahun satu bulan anakku itu dan aku mengundang sahabat dan tetangga-tetanggaku ……"

"Bagus!"

Kata si nona tertawa.

"Coba kau bawa keluar anakmu itu!"

Tuan rumah kaget, mukanya pucat.

Ia takut anaknya dibunuh.

Dengan membelalak, ia mengawasi pisau yang masih nancap di meja.

Tapi karena takut, ia terpaksa menyuruh orang membawa keluar anaknya itu.

Oey Yong menggendong itu bayi, ia mengawasi muka orang.

Ia pun memandang muka tuan rumah.

"Tidak mirip-miripnya,"

Katanya.

"Jangan-jangan ini bukan anakmu sendiri."

Tuan rumah itu likat berbareng berkhawatir, kedua tangannya bergemetaran.

Semua tetamu merasa lucu tetapi tidak ada yang berani tertawa.

Oey Yong mengeluarkan sepotong uang emas berat kira lima tail, ia serahkan itu kepada si babu pengasuh berikut bayinya seraya berkata.

"Ini tidak berarti, hitung saja sebagai tanda mata dari nenek luarnya."

Semua orang merasa heran dan lucu. Dia orang luar dan menyebut dirinya nenek luar sedang dialah satu nona remaja. Tuan rumah nampaknya girang.

"Mari! Aku beri kau selamat satu mangkok!"

Kata Oey Yong. Dan ia mengambil satu mangkok besar, ia isikan arak, ia tolak itu ke depan tuan rumahnya.

"Aku tidak kuat minum, maaf,"

Kata tuan rumah itu. Mendadak si nona mengasih lihat roman bengis, tangannya pun menyambar jenggot.

"Kau minum atau tidak?"

Dia tanya keras. Tuan rumah ketakutan, terpaksa ia menenggak arak itu.

"Nah, ini baru bagus!"

Kata si nona.

"Mari, sekarang kita main teka-teki!"

Semua orang takut, maka apa yang si nona inginkan, lantas kejadian. Tapi mereka bangsa saudagar atau hartawan, tidak ada yang pandai main teka-teki, si nona jadi sebal.

"Sudahlah!"

Katanya.

Sementara itu tuan rumah roboh menggabruk.

Dia tidak kuat minum tetapi mesti minum banyak arak …… Si nona tertawa, ia dahar, Kwee Ceng menemani padanya.

Akhirnya terdengar tanda jam satu malam, si nona mengajak kawannya pulang, tuan rumah dan tetamunya dibiarkan dalam bingung …… "Bagus tidak, engko Ceng?"

Oey Yong tanya setibanya di pondokan.

"Ah, tidak karu-karuan kau membikin orang ketakutan,"

Kata si anak muda.

"Sekarang ini aku mencari kesenangan untukku, aku tidak perduli orang lain ketakutan,"

Kata si nona. Pemuda itu heran. Kata-kata itu mesti mengandung arti tetapi ia tidak sanggup menangkapnya.

"Aku hendak pergi jalan-jalan, kau turut tidak?"

Kemudian Oey Yong tanya.

"Di waktu begini mau pergi ke mana lagi?"

Tanya si pemuda heran.

"Aku ketarik sama bayi tadi. Ingin aku memain dengannya, sesudah beberapa hari, baru aku akan membayarnya pulang ……"

"Eh, mana dapat ……"

Kata Kwee Ceng heran. Tapi si nona tertawa, dia pergi keluar, dia melompat tembok pekarangan. Kwee Ceng menyusul, ia menarik tangan orang.

"Yong-jie, kau sudah main-main lama, apakah itu masih belum cukup?"

Tanyanya.

"Belum cukup,"

Si nona menyahuti.

"Mari kau temani aku, kita main-main sampai puas benar. Lewat lagi beberapa hari bukankah kau bakal meninggalkan aku, kau akan pergi mengawini putri Gochin Baki? Tentu dia bakal tidak mengijinkan kau bertemu pula sama aku …… Kau tahu, waktunya aku berada bersama kau, lewat satu hari berarti kurang satu hari, maka itu satu hari tempo itu ingin aku bikin menjadi seperti dua hari, seperti tiga hari, ya seperti empat hari! Engko Ceng, hari kita sudah tidak banyak lagi, maka malam juga aku tidak mau tidur, aku mau terus pasang omong dengan kau! Mengertikah kau sekarang? Bukankah kau tidak bakal mencegah aku pula atau menasihati aku untuk beristirahat?"

Kwee Ceng terbengong.

Baru sekarang ia mengerti perubahan sikap nona ini -sikap yang luar biasa itu.

Si nona jadi tak ingin berpisah darinya.

Tempo yang pendek hendak dibikin panjang dengan pertemuan lama, tak siang tak malam …… Ia memegang erat tangan nona itu, ia merasa kasihan, ia mencinta.

"Yong-jie, otakku memang tumpul,"

Katanya.

"Sebegitu jauh aku tidak mengerti maksudmu. Aku …… aku ……"

Ia berdiam tak dapat ia berkata terus. Ia tidak tahu mesti mengatakan apa. Oey Yong bersenyum.

"Dulu hari ayah mengajarkan aku membaca banyak syair, yang mengenai kedukaan dan penasaran,"

Katanya.

"Aku kira itu disebabkan ayah berduka karena mengingat ibuku yang telah meninggal dunia itu, baru sekarang aku ketahui, hidup di dalam dunia ini, orang benar banyak lelakonnya, sebentar girang, sebentar bersusah hati ……"

Malam itu bulan sisir, udara terang, hawa pun adem.

Angin meniup halus.

Kwee Ceng jadi berpikir.

Ia tidak menyangka si nona mencintai ia demikian rupa.

Sekarang ia mengerti akan kelakuan luar biasa nona itu selama beberapa hari yang paling belakangan ini.

"Bagaimana kalau kita berpisah nanti?"

Pikirnya.

"Yong-jie cuma ditemani ayahnya, apa tidak kesepian ia berdiam seorang diri di Tho Hoa To? Dan bagaimana lagi nantinya, kalau ayahnya telah menutup mata? Tidakkah ia akan ditemani hanya hamba-hamba gagu? Mana dia bisa merasa senang-senang?"

Mengingat begitu, hati pemuda ini menjadi kecil. Ia pegangi keras tangan si nona, ia menatap mukanya.

"Yong-jie,"

Katanya.

"Biar langit ambruk, akan aku menemani kau di Tho Hoa To!"

Tubuh si nona bergemetar, ia mengangkat kepalanya.

"Apa katamu?"

Ia tanya.

"Aku tidak memperdulikan lagi Jenghiz Khan atau Gochin Baki,"

Menyahut si anak muda.

"Seumur hidupku, akan aku menemani kau saja!"

"Ah ……"

Kata si nona dan ia nyelundup ke dadanya si anak muda. Kwee Ceng merangkul. Sekarang ia merasa hatinya lega.

"Bagaimana dengan ibumu?"

Si nona tanya selang sesaat.

"Aku akan pergi menyambutnya untuk diajak ke Tho hoa To,"

Sahut si anak muda.

"Apakah kau tidak takut pada Jebe, gurumu dan Tuli serta sekalian saudaranya, semua pangeran itu?"

"Mereka semua baik terhadapku tetapi aku tidak dapat memecah dua hatiku ……"

"Bagaimana dengan keenam gurumu dari Kanglam serta Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya lagi?"

"Pasti mereka bakal gusar tetapi perlahan-lahan saja aku akan minta maaf mereka. Yong-jie, kau tidak mau berpisah dari aku, aku juga tidak mau berpisah dari kau."

"Aku ada punya akal,"

Berkata si nona tiba-tiba.

"Kita bersembunyi di Tho Hoa To, untuk selamanya kita jangan berlalu dari situ. Ayah pandai mengatur hingga pulau itu tertutup untuk orang lain, taruh kata mereka dapat mendatangi tetapi tidak nanti mereka dapat mencari kau ……"

Kwee Ceng menganggap akal itu tidak sempurna, ia hendak mengutarakan pikirannya itu atau mendadak ia memasang kupingnya.

Ia mendengar tindakan kaki di tempat belasan tombak, tindakan dari dua orang yang biasa berjalan malam, datangnya dari selatan, tujuannya utara.

Ia pun dapat mendengar perkataan satu di antaranya.

"Loo Boan Tong telah kena terjebak Pheng Toako, kita jangan takuti dia lagi! Mari lekas!"

Juga Oey Yong mendengar sama seperti si anak muda.

Kedua mereka tidak berniat memikir apa juga, ingin mereka menyenangi hati, tetapi disebutnya nama Loo Boan Tong membuatnya mereka itu berdua berjingkrak berbareng, dengan serentak mereka lari untuk menyusul dua orang itu.

Orang-orang yang belum dikenal itu berlari-lari tanpa mengetahui yang mereka lagi dikuntit.

Mereka lari terus hingga lima enam lie di belakang dusun itu.

Tempo mereka membelok ke sebuah tikungan, dari sebelah depan lantas terdengar suara yang berisik sekali serta cacian.

Dengan mempercepat larinya, Kwee Ceng dan Oey Yong lantas sampai di tempat tujuan.

Dengan lantas mereka menjadi terkejut dan heran.

Mereka telah melihat Ciu Pek Thong lagi duduk bersila di tanah, tubuhnya tak bergerak, entah dia masih hidup atau sudah mati.

Dan di depannya, duduk bercokol juga, ada seorang pertapaan sebagaimana dia kenali dari jubahnya.

Dialah Leng Tie Siangjin si pendeta bangsa Tibet.

Disamping Ciu Pek Thong ada sebuah gua gunung yang mulutnya kecil, yang tiba muat tubuh satu orang dengan orang itu mesti masuk sambil membungkuk.

Di luar gua ada enam orang, ialah mereka yang suaranya berisik itu, mereka berani membuka mulut tetapi takut masuk ke dalam gua, seperti juga di dalam situ ada suatu makhluk yang dapat mencelakai orang.

Kwee Ceng khawatir Ciu Pek Thong telah menjadi korbannya si Pheng Toako, sebagaimana tadi ia mendengar perkataannya orang, karena itu hendak ia lantas maju mendekati.

Oey Yong melihat sikap kawannya, ia mencegah sambil menarik tubuh orang.

"Sabar,"

Kata si nona.

"Mari kita memeriksa dulu dengan teliti."

Kwee Ceng dapat dicegah maka berdua mereka mengumpatkan diri.

Dengan begitu mereka jadi bisa melihat tegas rombongan orang itu, yang kebanyakan ada kenalan-kenalan lama, ialah Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong, Kwie-bu Liong Ong See Thong Thian, Cian-ciu Jin-touw Pheng Lian Houw dan Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay.

Dua lagi ialah si orang tukang jalan malam yang tadi, mereka ini tidak dikenal.

Oey Yong merasa semua orang itu bukan tandingannya dia serta Kwee Ceng.

Dua orang baru itu juga tidak usah dikhawatirkan.

Tapi ia masih melihat ke sekitarnya.

Di situ tidak ada orang lain.

Maka ia kisiki kawannya;

"Dengan kepandaiannya Loo Boan Tong, beberapa orang ini pastilah tidak bisa berbuat sesuatu atas dirinya, maka itu, menurut sangkaanku, mesti di sini ada See Tok Auwyang Hong. Entah dia bersembunyi di mana ……"

Si nona lantas hendak mencari tahu atau ia mendengar suara tak sedap dari Pheng Lian Houw.

"Binatang, jikalau kau tetap tidak keluar, aku nanti ukup kau dengan asap!"

Dari dalam gua, ke dalam mana ancaman Lian Houw diberikan, terdengar jawaban yang berat dan angker.

"Kau mempunyai kepandaian bau apa, kau keluarkan saja!"

Kwee Ceng terkejut. Ia mengenali suara gurunya yang nomor satu, yaitu Hui Thian Pian-hok Kwa Tin Ok si Kelelawar Terbangkan Langit. Sekarang ia tidak ingat lagi kepada Auwyang Hong, lantas ia berseru.

"Suhu, muridmu datang!"

Suaranya itu disusul sama lompatannya yang pesat, hingga ia muncul sambil berbareng mencekuk punggungnya Hauw Thong Hay, tubuh siapa lantas dilemparkan!

Munculnya si anak muda membuatnya pihak Thong Hay menjadi kaget.

Pheng Lian Houw berdua See Thong Thian lantas maju menerjang, sedang Nio Cu Ong pergi ke belakang orang, untuk membokong.

Kwa Tin Ok di dalam gua pun turut bekerja.

Ia rupanya melihat perbuatan si orang she Nio, ia lantas menyerang dengan sebatang tokleng atau lengkak beracun.

Cu Ong terkejut, dia berkelit sambil tunduk, tidak urung kondenya kena tersambar hingga beberapa juir rambutnya putus.

Ia kaget bukan main.

Ia tahu senjatanya Tin Ok itu beracun, sebagaimana dulu hari hampir saja Pheng Lian Houw terbinasa karenanya.

Maka ia berlompat ke samping seraya meraba kepalanya.

Ia berlega hati ketika ia mendapat kenyataan kulitnya tidak terluka.

Ia lantas mengeluarkan senjata rahasianya, paku Touw-kut-jiam, terus ia jalan mutar ke kiri gua, maksudnya untuk menyerang ke dalam gua secara diam-diam, guna membokong musuh yang ada di dalam itu.

Ia baru menggeraki tangannya atau ia merasakan lengannya kaku, pakunya lantas saja jatuh dengan menerbitkan suara nyaring.

Tengah ia bingung, ia mendengar suara tertawanya seorang nona yang terus berkata.

"Lekas berlutut! Kau akan merasai tongkat lagi!"

Nio Cu Ong berpaling. Ia melihat Oey Yong dengan tongkat di tangan, berdiri sambil tertawa haha-hihi. Ia kaget berbareng girang. Pikirnya.

"Kiranya tongkat Ang Cit Kong jatuh di tangannya dia ini?"

Dengan segera ia mengerjakan dua tangannya berbareng.

Tangan kiri melayang ke pundak si nona, tangan kanan menyambar ke tongkat, yang ia hendak rampas.

Dengan lincah, Oey Yong berkelit dari sambaran tangan kiri itu.

Ia tidak menarik tongkatnya, ia sengaja memberinya ketika hingga ujung tongkat itu kena dipegang perampasnya.

Cu Ong girang bukan main.

Di lantas menarik dengan keras, di dalam hatinya dia kata;

"Jikalau dia tidak melepaskan maka tubuhnya bakal ketarik bersama."

Benar saja tongkat itu kena ketarik, tetapi cuma sedetik, cekalannya lolos sendirinya.

Sebab selagi ia menarik dan si nona mengikuti, mendadak nona itu mendorong dengan kaget, hingga terlepaslah cekalannya.

Tengah ia terkejut, tahu-tahu tongkat itu sudah berbalik, melayang ke kepalanya.

Ia kaget melihat tongkat itu berkelebat.

Dasar ia lihay, ia lantas menjatuhkan diri, berguling jauh satu tombak.

Ketika ia sudah berdiri pula, ia menampak si nona berdiri diam mengawasi ia dengan bersenyum.

"Kau tahu apa namanya jurus ini?"

Si nona tanya, tertawa.

"Kau telah kena aku kemplang satu kali, kau tahu kau telah berubah menjadi apa?"

Dulu hari pernah Nio Cu Ong merasa lihaynya tongkat itu, dia dibuatnya Ang Cit Kong "mati dan hidup pula" , maka juga meski sang tempo telah lama lewat, dia masih ingat itu dan merasa jeri, sekarang dia merasakannya pula, meski tidak hebat, toh hatinya terkesiap, dia menjadi jeri.

Justru itu dia melihat See Thong Thian dan Pheng Lian Houw tengah terdesak hebat, mereka itu cuma dapat membela diri, dia lantas berseru dan memutar tubuh, untuk mengangkat kaki.

See Thong Thian kena disikut Kwee Ceng, dia terhuyung tiga tindak.

Meneruskan serangannya, tangan kiri si anak muda melayang kepada Pheng Lian Houw.

Dia ini tidak berani menangkis, dia berkelit.

Tapi dia kalah gesit, tangan kanan anak muda itu kena menyambar lengannya, yang terus dicekal keras.

Dia bertubuh kate dan kecil, dengan gampang tubuhnya itu kena diangkat, hingga kedua kakinya seperti bergelantungan di udara …… Sambil mengangkat tubuh orang Kwee Ceng mengepal tangan kirinya, siap sedia meninju dada orang tawanannya itu.

Lian Houw melihat itu, dalam takutnya dia berseru menanya.

"Hari ini bulan kedelapan tanggal berapa?"

"Apa kau bilang?"

Tanya si anak muda tercengang.

"Kau memegang kepercayaan atau tidak?"

Lian Houw tanya.

"Apakah kata-katanya satu laki-laki tak masuk hitungan?"

"Apa kau bilang?"

Sambil menegasi, Kwee Ceng masih mengangkat tubuh orang.

"Bukankah janji kami ialah Pee-gwee Cap-gouw,"

Kata Lian Houw.

"Bukankah janji pertandingan kita di Yan Ie Lauw di Kee-hin pada tanggal limabelas bulan delapan itu? Dan tempat ini bukannya kota Kee-hin dan sekarang bukannya harian Tiong Ciu! Bagaimana dapat kau mencelakai aku?"

Kwee Ceng pikir perkataan orang itu benar juga, ia hendak melepaskan atau mendadak ia ingat suatu apa.

"Kamu bikin apa atas dirinya Toako Ciu Pek Thong?"

Ia tanya.

"Dia sekarang lagi bertaruh sama Leng Tie Siangjin,"

Menyahut Lian Houw.

"Mereka bertaruh, siapa bergerak paling dulu, dialah yang kalah! Urusan dia tidak ada hubungannya sama aku!"

Kwee Ceng mengawasi dua orang yang duduk di tanah itu, pikirnya.

"Kiranya begitu?"

Lantas ia menanya keras;

"Toasuhu, adakah kau baik?"

Itulah pertanyaan untuk Kwa Tin Ok, gurunya yang nomor satu.

"Hm!"

Jawab Hui Thian Pian-hok dari dalam gua. Sampai di situ, pemuda ini lantas melepaskan cekalannya sambil ia terus menolak dada orang.

"Pergilah!"

Ia mengusir.

Pheng Lian Houw tidak roboh, karena ia terus berlompat.

Ketika kedua kakinya telah menginjak tanah, ia berpaling ke arah kedua kawannya, See Thong Thian dan Nio Cu Ong, maka ia mendapatkan mereka itu sudah pergi jauh.

"Celaka, manusia tidak ingat persahabatan!"

Ia mencaci di dalam hatinya. Lantas ia memberi hormat kepada Kwee Ceng seraya membilang.

"Nanti tujuh hari kemudian, kita mengadu kepandaian pula di Yan Ie Lauw untuk memastikan kalah menang!"

Setelah beraksi begitu ia memutar tubuhnya, dengan menggunai ilmu enteng tubuhnya.

Ia lantas mengangkat kaki!

Itu waktu Oey Yong telah menghampirkan Ciu Pek Thong dan Leng Tie Siangjin.

Dua orang itu saling mengawasi dengan matanya masing-masing terbuka lebar, tidak ada yang mengedip atau menoleh.

Ia lantas ingat perkataannya dua orang yang berjalan malam itu bahwa Pek Thong telah kena ditipu Lian Houw, sekarang ia membuktikan itu.

Pasti, karena jeri kepada Pek Thong, jago tua itu telah dipancing kemurkaannya dia diadu dengan Leng Tie Siangjin, dengan cara adunya mereka main diam-diam.

Dengan cara begitu juga, Pek Thong jadi dibikin tidak dapat berkutik, hingga mereka itu leluasa mengepung Kwa Tin Ok.

Pek Thong gemar bergurau, ia pun polos, gampang saja dia kena diperdayakan, maka juga meski di sampingnya orang bertempur hebat dan mengacau, dia tidak mengambil mumat, dia terus mengadu diam dengan Leng Tie, si pendeta dari Tibet.

Dia berduduk tegar, maksudnya yang utama ialah mengalahkan Leng Tie.

"Loo Boan Tong, aku datang!"

Kata Oey Yong. Pek Thong mendengar itu, tetapi dia takut kalah, dia berdiam saja.

"Dengan bertaruh begini kamu menyia-nyiakan waktu,"

Kata si nona.

"Lagi satu jam juga, belum tentu kamu ada yang menang atau kalah! Mana itu menarik hati? Begini saja! Aku yang menjadi wasitnya! Aku akan mengitik kamu, mengitiknya sama, lantas aku mau lihat, siapa yang tertawa paling dulu. Siapa yang tertawa, dialah yang kalah!"

Sebenarnya Pek Thong sudah habis sabar, bahwa ia toh tetap berdiam saja, ia penasaran kalau ia sampai kalah, sekarang mendengar usulnya si nona, ia akur.

Tapi ia tidak mau mengasih tanda akan kesetujuannya, sebab kalau ia menepi atau bergerak ia kalah.

Oey Yong tidak menanti jawaban, ia mendekati mereka, ia memernahkan diri dari di antara merek itu, lalu ia mementang kedua tangannya, dengan berbareng ia menotok ke jalan darah siauw-yauw-hiat mereka itu, ialah urat tertawa.

Ia tahu Pek Thong menang unggul dari Leng Tie, ia tidak berlaku curang.

Kesudahannya totokannya itu membuatnya heran.

Pek Thong memang tetap bercokol, tetapi anehnya, Leng Tie pun berdiam saja, pendeta itu seperti tidak merasakan apa-apa dia seperti tidak menggubrisnya godaan itu.

"Heran pendeta ini,"

Pikir si nona.

"Nyata dia lihay ilmunya menutup jalan darahnya. Jikalau aku, tentulah aku sudah tertawa terpingkal-pingkal ……"

Ia penasaran, maka ia menotok pula, kali ini dengan terlebih keras.

Ciu Pek Thong mengumpul tenaga dalamnya, ia menentang totokannya Oey Yong.

Segera ia menjadi heran.

Ia mendapat kenyataan tenaganya si nona menjadi besar sekali.

Ia melawan terus, ia bertahan, tetapi ia kewalahan.

Diakhirnya, ia melepaskan perlawanannya, sambil berlompat bangun, ia tertawa berkakakkan.

Kemudian ia kata;

"Eh, eh pendeta, kau hebat! Baiklah, Loo Boan Tong menyerah kalah!!"

Oey Yong menjadi menyesal. Ia tidak menyangka Pek Thong begitu gampang saja mengaku kalah. Pikirnya.

"Kalau tahu begini, aku tidak mengganggu dia, aku hanya mengeraskan totokanku kepada si pendeta."

Maka ia lantas menghadapi Leng Tie dan berkata;

"Kau sudah menang, nonamu tidak menginginkan jiwamu! Lekas mabur!"

Leng Tie tidak menyahuti, dia duduk tetap.

"He, siapa kesudian menontoni macam tololmu ini?"

Membentak si nona seraya tangannya menolak.

"Kau berpura-pura mampus?"

Oey Yong menolak dengan perlahan, tetapi tubuh si pendeta yang besar dan gemuk itu roboh terguling dengan tiba-tiba, robohnya dengan tangan dan kakinya tidak bergerak, seperti tadi dia bersila.

Si nona terkejut, juga Kwee Ceng dan Pek Thong.

"Apakah ini disebabkan ilmunya menutup jalan darah?"

Tanya Oey Yong.

"Apa ilmunya itu belum sempurna, maka ia gagal bertahan dan menjadi kaku terus-terusan dan mati sendirinya. Ia lantas menaruh tangannya di depan hidung pendeta itu, ia merasakan hawa tarikan napas yang biasa, ia menjadi heran mendongkol dan lucu.

"Loo Boan Tong, kau terpedayakan, kau tidak tahu!"

Ia kata sambil tertawa pada Pek Thong.

"Sungguh manusia tolol!"

"Apa kau bilang?"

Tanya si orang tua, matanya dipentang lebar. Si nona tertawa.

"Kau bebaskan dulu dia dari totokan jalan darah, baru kita bicara pula!"

Sahutnya.

Si tua jenaka itu melengak, tetapi ia membungkuk kepada Leng Tie Siangjin tubuh siapa ia lantas raba-raba, usap sana dan usap sini, ia juga menepuk-nepuk, dengan begitu ia menjadi mendapat kenyataan, si pendeta telah ditotok seluruh jalan darahnya.

Ia lantas berjingkrak dan berseru-seru;

"Tidak, tidak, inilah tidak masuk hitungan!"

"Tidak masuk hitungan apa?"

Oey Yong menegasi.

"Dia ini dipermainkan konconya,"

Kata Loo Boan Tong.

"Sesudah dia duduk tadi, konconya totok dia hingga dia jadi duduk tegak tanpa bisa berkutik. Dengan begitu, meski kita bertaruh sampai lagi tiga hari dan tiga malam, dia pasti tidak bakal kalah!"

Ia berbalik pula pada si pendeta, yang rebah melengkung di tanah, ia kata;

"Mari, mari! Mari kita mulai mengadu pula!"

Sementara itu, hati Kwee Ceng menjadi lega.

Ia melihat orang tidak kurang suatu apa, bahkan sehat sekali.

Maka ia tidak sudi mendengari ocehan orang lebih lama.

Ia ingat kepada gurunya.

Dari itu ia lantas lari ke dalam gua.

Pek Thong sendiri lantas menolongi Leng Tie Siangjin, yang ditotok bebas, sembari menolongi, masih ia mengoceh tak hentinya.

"Mari, mari kita bertaruh pula!"

"Mana guruku?"

Oey Yong tanya dingin kepada orang tua berandalan itu.

"Kau buang ke mana guruku itu?"

Ditanya begitu, Pek Thong terkejut hingga dia berteriak, lantas dia lari ngiprit ke arah gua, hingga hampir saja dia saling tabrak sama Kwee Ceng, yang keluar dari dalam gua itu sambil mempepayang gurunya.

Tiba di luar anak muda ini berdiri menjublak.

Ia melihat Kwa Tin Ok, gurunya yang paling tua itu, melibat kepala dengan sabuk putih, bajunya baju putih juga.

"Suhu, apakah kau sedang berkabung?"

Akhirnya ia menanya heran.

"Jie-suhu dan yang lainnya mana?"

Tin Ok tidak menyahuti, hanya ia mengangkat kepalanya memandang langit.

Dengan lantas ia mengucurkan air mata.

Kwee Ceng heran dan kaget, sampai ia tidak berani lantas mengulangi pertanyaannya.

Ketika itu Pek Thong sudah muncul pula dari dalam gua, ia mempepayang satu orang yang tangannya yang kiri mencekal cupu-cupu arak, tangannya yang kanan memegang daging ayam sebelah potong, sedang mulutnya menggigit satu paha ayam juga.

Dialah Kiu Cie Sin Kay Ang Cit Kong.

Oey Yong dan Kwee Ceng menjadi girang sekali.

"Suhu!"

Mereka memanggil.

Justru itu Kwa Tin Ok, dengan romannya yang bengis, menghajar nona Oey dengan tongkat besinya.

Oey Yong sedang bergirang sekali, ia tidak menyangka yang ia bakal diserang.

Itulah satu jurus dari Hok Mo Thung-hoat yaitu ilmu tongkat Menakluki Iblis, yang Tin Ok sengaja menciptakannya di gurun pasir, untuk melawan Bwee Tiauw Hong.

Sebaliknya Kwee Ceng melihat itu.

Bukan main kagetnya murid ini.

Tidak ada tempo lagi untuk mencegah dengan mulut, terpaksa si anak muda mengulur tangan kirinya, guna menyampok tongkat itu, sedang dengan tangan kanannya, ia menyambar ujungnya, guna membikin tongkat itu tidak jatuh.

Dalam kesusu, ia menggunai tenaga besar.

Inilah hebat untuk Kwa Tin Ok.

Dia tersampok dan tertarik, dia tidak dapat mempertahankan dirinya, tongkatnya terlepas, tubuhnya terpelanting jatuh!

Kembali Kwee Ceng menjadi kaget.

"Suhu!"

Ia berseru seraya menubruk, guna mengasih bangun gurunya itu. Mulutnya Kwa Tin Ok mengeluarkan darah, sebab dua buah giginya copot, sedang mukanya bengkak akibat jatuhnya itu.

"Untuk kau!"

Katanya ketika ia mengambil kedua buah giginya itu dan menyerahkannya kepada muridnya. Tangannya berlepotan darah. Kwee Ceng menjatuhkan diri di depan gurunya itu.

"Teecu salah, suhu,"

Ia kata.

"Silahkan suhu menghukumnya ……"

"Untukmu!"

Kata pula si guru, tangannya tetap dilonjorkan.

"Suhu ……"

Murid itu kata pula sambil menangis. Ciu Pek Thong menyaksikan kejadian itu, yang ia anggap lucu, maka ia tertawa dan kata;

"Semenjak dulu adalah guru yang menghajar murid tetapi hari ini murid menghajar guru! Bagus-bagus!"

Ia tidak memperdulikan lagi bahwa ia justru membikin hati Tin Ok menjadi makin panas. Karena sang murid tidak mau menerima giginya itu, Tin Ok lantas menelan itu! "Bagus, bagus!"

Kembali Pek Thong berseru-seru dan bertepuk tangan. Oey Yong bingung. Ia tidak tahu kenapa Tin Ok hendak membinasakan padanya. Ia mendekati Cit Kong tangan siapa ia cekal.

"Biar bagaimana juga teecu tidak berani melawan suhu,"

Kata Kwee Ceng mengangguk-angguk.

"Barusan teecu kesalahan tangan, maka itu harap suhu menghukum padaku ……"

"Suhu! Suhu!"

Membentak sang guru.

"Siapa gurumu? Kau mempunyai pemilik dari Tho Hoa To sebagai mertuamu, perlu apa lagi kau dengan gurumu? Kanglam Cit Koay cetek kepandaiannya, mana tepat dia menjadi gurunya Kwee Toaya?"

Kwee Ceng semakin menyesal, ia mengangguk-angguk pula. Hebat sekali kemurkaan guru itu hingga Oey Yok Su disebut-sebut sebagai mertuanya dan ia pun disindir "toaya"

Atau "tuan besar". Ang Cit Kong tidak dapat mengawasi saja.

"Kwa Tayhiap,"

Ia berkata.

"Di antara guru dan murid, keterlepasan tangan adalah hal yang umum, oleh karena itu, aku harap kau maafkan muridmu ini. Barusan anak Ceng menggunai jurus dari ilmu silat ajaranku si pengemis tua, akulah yang bersalah, di sini aku hatur maaf kepadamu."

Pengemis itu benar-benar menjura kepada jago Kanglam itu. Mendengar Cit Kong berkata demikian, Pek Thong pikir ia pun baik berbicara. Maka ia kata kepada Hoe Thian Pian-hok.

"Kwa Tayhiap di antara guru dan murid keterlepasan tangan adalah yang umum sekali, karena sambaran saudara Kwee barusan kepada tongkatmu adalah sambaran ajaranku, di sini aku si Loo Boan Tong matur maaf padamu."

Dan ia pun menjura dalam.

Dalam murkanya itu, Tin Ok menganggap orang mengejek ia, ia bukan saja mendongkol pada si tua yang doyan bergurau ini, ia juga menganggapnya Ang Cit Kong mau main gila terhadapnya, maka itu dengan sengit ia kata;

"Kamu Tong Shia dan See Tok, Lam Tee dan Pak Kay, kamu semua sangat mengandalkan kepandaian kamu, kamu menganggap kamu dapat malang melintang di kolong langit ini, akan tetapi di mataku, perbuatan kamu semua banyak yang tak pantas, maka akhirnya nanti mesti buruk adanya!"

Pek Thong heran.

"Eh, apakah salahnya Lam Tee hingga kau membawa-bawa dia?"

Ia tanya.

Oey Yong melihat suasana buruk sekali, kalau ia diam saja, si tua bangka berandalan ini bisa mengacau hebat, karena dalam murkanya itu, Tin Ok mesti dibikin sabar dan bukannya dikocok, maka itu ia lantas menyelak.

Ia kata;

"Loo Boan Tong, burung wanyoh mau terbang berpasangan datang mencari kau, apakah kau tidak mau lekas-lekas pergi melihat dia?"

Pek Thong kaget hingga ia lompat berjingkrak.

"Apa?"

Ia menanya.

"Dia ingin bersama kau di musim dingin di dalam tempat yang tersembunyi mandi baju merah ……"

Kata pula si nona. Pek Thong menjadi terlebih kaget lagi.

"Di mana? Di mana?"

Ia tanya berulang-ulang.

"Di sana!"

Sahut Oey Yong, tangannya menunjuk ke arah selatan.

"Di sana! Lekas kau pergi cari dia!"

"Untuk selama-lamanya aku tidak akan menemui dia pula!"

Berseru Pek Thong.

"Nona yang baik, apa juga kau boleh menitahkannya kepadaku asal kau jangan membilangi dia bahwa aku berada di sini ……!"

Belum berhenti suaranya, dia sudah lari ke utara.

"Kau ingat perkataanmu ini ialah janjimu!"

Kata Oey Yong.

"Kalau Loo Boan Tong sudah mengatakan, dia tidak nanti menyesal!"

Kata Pek Thong dari jauh, lalu dia lenyap dari pandangan matanya si nona.

Maksudnya Oey Yong ialah memperdayakan si tua jenaka itu pergi mencari Eng Kouw, siapa tahu, Pek Thong takut bertemu sama nyonya itu, dia bahkan kabur.

Tapi biar bagaimana, orang toh telah menyingkir, maka lega juga hatinya nona ini.

Kwee Ceng masih berlutut di depan gurunya, ia masih minta diberi hukuman.

Sambil menangis ia berkata pula.

"Buat guna teecu, suhu bertujuh telah pergi jauh ke gurun di utara, tempat yang bersengsara, maka itu biarpun tubuh teecu hancur lebur, sukar untuk teecu membalas budi suhu semua. Tanganku ini bersalah, baiklah teecu tidak menginginkannya pula!"

Dengan tangan kanannya, si anak muda mencabut pedangnya, dengan itu ia menebas tangannya yang kiri, tetapi Kwa Tin Ok menangkis dengan tongkatnya, hingga kedua senjata bentrok keras, lelatu apinya muncrat, tangan si guru dirasakan sakit.

Itulah bukti yang muridnya itu benar-benar mau mengutungi tangannya itu.

Maka lantas ia berkata.

"Baiklah! Sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu!"

"Titahkan saja, suhu, tidak nanti teecu membantah,"

Kwee Ceng bilang.

"Jika kau menampik, lain kali jangan kau bertemu pula padaku!"

Kata si guru.

"Biarlah perhubungan kita putus bagaikan ditebas!"

"Teecu akan melakukan itu dengan sungguh-sungguh,"

Kata Kwee Ceng.

"Kalau tidak sampai mati baru teecu berhenti."

Tin Ok membanting tongkatnya ke tanah.

"Kau kutungi kepalanya Oey Lao Shia serta kepala gadisnya!"

Ia bilang keras. Bukan main kagetnya Kwee Ceng. Itulah titah sangat hebat, yang ia tidak sangka.

"Suhu!"

Serunya.

"Suhu ……!"

"Bagaimana?"

Tanya si suhu bengis.

"Entah kenapa Oey Lao Shia bersalah kepada suhu?"

"Hm! Hm!"

Mengejek si guru.

"Aku mengharap Thian memberikan ketika sejenak saja untuk aku bisa melihat, asal aku bisa melihat mukamu binatang cilik yang bong in pwee gie!"

Dia mengangkat pula tongkatnya, niat menyerang.

Bukan main sedihnya Kwee Ceng, yang dikatakan bong it pwee gie -tidak mengenal budi.

Ia melihat tongkat mengancam.

Ia tidak berkisar, tidak berkelit.

Oey Yong terkejut, apa pula ketika ia mendapatkan si pemuda berdiam saja.

"Menolong dulu, itulah perlu!"

Pikirnya.

Maka ia menggeraki tongkatnya, dengan jurusnya "Anjing jahat menghadang jalanan".

Tongkatnya Tin Ok tidak mengenai sasarannya.

Bukan main mendongkolnya ketua Kanglam Cit Koay ini.

Tangkisan si nona membuatnya terhuyung, meski ia tidak jatuh.

Dua kali is menumbuk dadanya sendiri, lantas dia lari ke arah utara.

"Suhu! Suhu!"

Kwee Ceng berteriak-teriak memanggil.

"Apakah Kwee Toaya menghendaki jiwa tuaku?"

Guru itu tanya.

Kwee Ceng tercengang.

Ia tidak berani mencegah pula.

Ia menunduki kepala.

Maka itu ia cuma bisa mendengar suara tongkat besi mengenai tanah atau batu, makin lama makin jauh, makin jauh, makin samar, lalu lenyap.

Ia ingat budinya guru itu ia menjatuhkan diri di tanah dan menangis menggerung-gerung.

Sambil menuntun tangan Oey Yong, Cit Kong menghampirkan muridnya itu.

"Dua-dua Kwa Tayhiap dan Oey Lao Shia mempunyai tabiatnya sendiri-sendiri yang sangat luar biasa."

Ia berkata.

"Entah ada terjadi perselisihan hebat apa di antara mereka itu. Sekarang kau jangan bersusah hati, kau serahkan urusan padaku, nanti aku si pengemis tua yang membereskan, supaya mereka menjadi akur pula."

Kwee Ceng berhenti menangis, ia bangun.

"Suhu, tahukah suhu apa sebabnya itu?"

Ia tanya. Cit Kong menggeleng kepala, tetapi ia berkata;

"Loo Boan Tong telah kena orang perdayakan. Dia bertaruh mengadu diam maka kejadianlah dia diam tak berkutik. Memangnya kawan manusia jahat itu hendak membikin celaka padaku, kebetulan gurumu itu sampai, dia melindungi aku, dia mengajaknya aku bersembunyi ke dalam gua itu. Dengan mengandal pada lengkak beracun gurumu itu, orang jahat tidak berani memasuki gua. Maka kita dapat bertahan sekian lama. Gurumu itu seorang mulia hati, melindungi aku dengan memberbahayakan dirinya sendiri."

Pengemis itu berhenti bicara, dia mencegluk araknya dua kali, akan menggerogoti paha ayamnya, yang ia terus telan, setelah mana, ia menyeka mulutnya. Habis itu, baru ia berkata pula.

"Pertempuran barusan hebat sekali. Celaka untukku, karena kepandaianku telah ludas, aku tidak dapat turun tangan untuk membantu. Aku bertemu sama gurumu itu tetapi tidak sempat aku bicara dengannya. Aku percaya kegusarannya barusan pasti bukan karena kau keterlepasan tangan. Dia seorang berbudi dan jauh pandangannya, tidak nanti dia berlaku dengan cupat pikiran. Lagi beberapa hari akan tiba waktu perjanjian Pee-gwee Cap-gouw, maka sesudahnya pertandingan di Yan Ie Law nanti aku menjadi orang pertengahan akan mengakuri mereka itu."

Kwee Ceng mengucap terima kasih.

"Kepandaian kamu berdua maju sangat pesat anak-anak,"

Cit Kong berkata pula tertawa.

"Kwa Tayhiap ada seorang Rimba Persilatan yang kenamaan tetapi setelah kamu turun tangan, dia jatuh pamornya. Sebenarnya bagaimanakah halnya dengan kamu?"

Kwee Ceng berduka dan malu, ia tidak dapat bicara, maka Oey Yong yang menutur hal perjalanan mereka berdua semenjak mereka berpisah di istana kaisar.

Cit Kong memuji dengan seruannya mendengar Yo Kang membinasakan Auwyang Kongcu.

Ketika ia mendengan halnya Yo Kang menipu Lou Tiangloo sekalian, ia mencaci anak muda itu sebagai anak jadah.

Kemudian ia melongo mendengar halnya It Teng Taysu menolongi nona Oey sampai pada lelakonya Sin Soan Cu Eng Kouw yang penasaran dan mendendam hebat.

Diakhirnya ia bcrseru kaget mengetahui Eng Kouw muncul di Chee-liong-tha di mana nyonya itu menjadi seperti hilang ingatan.

"Suhu, apakah suhu kenal Eng Kouw?"

Oey Yong tanya.

"Tidak, aku tidak kenal dia,"

Menyahut guru itu.

"Hanya di waktu Toan Hongya masuk menjadi pendeta, aku berada di sisinya. Dia telah mengirim surat padaku di Utara, dia mengundang aku datang ke Selatan. Aku lantas datang karena aku percaya tanpa urusan penting tidak nanti dia mengundang aku. Aku datang karena sekalian aku ingin mencoba pula makanan Inlam yang lezat, bahkan aku berangkat dengan cepat. Tempo aku bertemu sama Toan Hongya, dia lesu sekali, dia sangat beda sama waktunya pertemuan di Hoa San di mana dia gagah bagaikan naga dan harimau. Aku heran sekali. Besoknya dia mengajaki aku berunding tentang ilmu silat maksudnya untuk mewariskan padaku dua macam kepandaiannya. Sian Thian Kan dan It Yang Cie. Kembali aku menjadi heran. Sian Thian Kang dari Toan Hongya bersama Hang liong Sip-pat Ciang dari aku, Kap Moa Kang dari Auwyang Hong dan Pek Khong Ciang dari Oey Lao Shia, sama tersohornya, sama tangguhnya, maka itu setelah dia pun memperoleh It Yang Cie dari Ong Tiong Yang, pasti sudah dia bakal jadi jago nomor satu di kolong langit ini dalam pertempuran yang kedua di Hoa San. Tidak karu-karuan sekarang dia mau mewariskan dua rupa kepandaiannya itu padaku, untuk itu ia memakai alasan merundingkan ilmu silat. Kenapa dia tidak mau mempelajari Hang Liong Sip-pat Ciang dari aku? Mesti ada sebabnya. Hal itu aku telah memikirkannya. Kemudian setelah diam-diam aku berbicara dengan empat muridnya, baru aku ketahui sebab aneh itu. Kiranya, habis mewariskan kepandaiannya padaku, dia hendak membunuh diri ……"

"Suhu,"

Berkata Oey Yong.

"Toan Hongya itu khawatir, setelah dia mati, It Yang Cie tidak ada yang mewariskan dan itu artinya tidak ada orang yang dapat menguasai lagi Auwyang Hong."

"Benar, aku pun telah melihat hal itu. Karena itu juga, aku bilang aku tidak suka mempelajari dua rupa kepandaiannya itu. Setelah aku menampik, dia baru menutur maksud hatinya. Dia kata keempat muridnya, biarnya mereka jujur dan setia, tetapi sebab perhatian mereka itu ditumpleki pada urusan pemerintah, tidak nanti mereka memperoleh kemajuan. Dia kata pula, tidak apa aku tidak menyukai Sian Thian Kang tetapi It Yang Cie sangat perlu. Dia bilang, apabila It Yang Cie terbawa ke kubur olehnya tanpa ada yang mewariskan, dia malu bertemu Ong Tiong Yang Cinjin di dunia baka. Aku masih membandel tidak mau menerima warisannya itu. Aku pikir, dengan membandel artinya jiwanya dapat ditolong."

"Kejadian itu sungguh aneh,"

Kata Oey Yong.

"Semenjak dulu adalah umum, seorang mau belajar dan minta diajari dan orang menolak mengajari, akan tetapi kali ini, orang tidak mau belajar tapi ia justru dibujuki, dipaksa!"

"Oleh karena aku tetap menolak,"

Cit Kong bercerita lebih jauh.

"Toan Hongya habis daya, lantas dia masuk menjadi pendeta, di harian dia dicukuri rambutnya, aku hadir dan mendampingi dia. Itulah kejadian belasan tahun yang lalu. Ah, bagus, bagus sekarang urusan bisa diselesaikan secara begini."

"Suhu,"

Kemudian Oey Yong berkata pula.

"Urusan kami sudah beres, sekarang tetang hal suhu sendiri."

"Urusanku sendiri!"

Kata si orang tua.

"Di istana aku telah makan segala macam masakan lezat ……"

Dan tak hentinya ia menyebut namanya pelbagai sayur sambil dengan lidahnya menjilati bibirnya.

"Kenapa Loo Boan Tong tidak berhasil mencari suhu?"

"Sebabnya ialah karena koki raja sering kehilangan banyak sayurnya, dapur istana jadi kacau! Semua orang bilang di dapur istana itu muncul dewa rase, lantas mereka memasang hio memuja aku. Kemudian urusan terdengar oleh pimpinan siewi, dia mengirim delapan siewi untuk menjagai dapur, untuk menangkap dewa rase itu. Aku jadi sulit, sedang Loo Boan Tong tidak datang-datang. Terpaksa aku pergi bersembunyi di tempat yang sepi. Tempat itu dipanggil ruang Gok Lek Hoa-tong. Di sana ada ditanam banyak pohon bwee. Itulah tempat raja menggadangi bunga bwee di musim dingin, maka itu di musim panas, di situ tidak ada satu setan jua kecuali beberapa orang kebiri tua tukang nyapu. Senang aku tinggal di situ. Di mana saja di dalam istana, orang bisa makan, seratus pengemis tinggal juga mereka tidak bakal kelaparan. Baru belasan hari aku hidup senang lalu datang gegobrak, mulanya Loo Boan Tong yang main menangis seperti setan mengulun atau anjing membaung atau kucing mengeong, hingga istana jadi kacau, lalu beberapa orang berteriak-teriak. 'Ang Cit Kong Looya-cu! Ang Cit Kong Looyacu!' Aku mengingat, aku mengenali mereka ialah rombongannya Pheng Lian Houw, See Thong Thian dan Nio Cu Ong ……"

"Mau apa mereka itu mencari suhu?"

Tanya Oey Yong heran.

"Aku pun heran. Hendak aku menyingkir dari mereka, tetapi Loo Boan Tong berhasil mempergoki aku. Dia sangat girang, dia peluk aku, dia memuji-muji kepada Thian. Kemudian dia menitahkan Nio Cu Ong semua berjalan di belakang ……"

Kembali Oey Yong heran.

"Kenapa Nio Cu Ong semua dapat diperintah Loo Boan Tong?"

"Ketika itu aku pun sangat heran. Aku melihat mereka sangat takut kepada Loo Boan Tong, apa yang diperintahkan, mereka lantas kerjakan, tidak berani mereka membantah. Demikian mereka diberi tugas mengiringi, Loo Boan Tong menggendong aku sampai di Gu-kee-cun, untuk mencari kamu berdua. Di tengah jalan dia menjelaskan padaku bahwa dia bingung tidak dapat mencari aku, sedangnya begitu dia bertemu Nio Cu Ong semua. Dia hajar mereka itu, dia suruh mereka membantui mencari di segala tempat. Mereka mengatakan sia-sia belaka mereka mencari di istana sedang istana sangat luas dan lebar."

Oey Yong tertawa.

"Loo Boan Tong lihay sekali, dia dapat membikin Nio Cu Ong semua tunduk. Kenapa kawanan iblis itu tidak melarikan diri saja?"

Cit Kong pun tertawa.

"Loo Boan Tong ada mempunyai akalnya sendiri. Dia kata dia telah membuat obat pel yang dicampuri kotorannya, dia suruh mereka makan satu orang tiga butir, setelah itu dia membilangi, obatnya itu ada racunnya dan akan bekerja selewatnya empatpuluh sembilan hari, bahwa obat pemunahnya cuma ia sendiri yang dapat membikinnya. Mereka itu jadi ketakutan, mungkin mereka sangsi, tetapi mereka menjadi mendengar kata. Begitu mereka jadi dapat diperintah segala macam. Kwee Ceng lagi berduka tetapi mendengar ceritanya sang guru, ia tertawa juga.

"Sampai di Gu-kee-cun, kamu tidak dapat dicari,"

Ang Cit Kong meneruskan keterangannya.

"Loo Boan Tong memaksa mereka itu mencari pula. Kemarin malam mereka pulang dengan lesu, mereka gagal, dari itu Loo Boan Tong mencaci mereka, yang terus diancam, apabila besok mereka gagal pula, mereka akan dikasih makan lagi obat kotorannya itu. Ia menyebut-nyebut air kencing. Mendengar itu, timbul kecurigaan mereka. Mereka percaya bahwa mereka lagi dipermainkan, bahwa sebenarnya mereka bukan dikasih makan racun. Lantas mereka memancing. Dalam gusarnya, Loo Boan Tong membuka rahasianya sendiri tanpa merasa. Aku menjadi berkhawatir. Mereka itu bangsa licik, aku pikir lebih baik mereka disingkirkan saja, supaya mereka tidak menjadi bahaya di belakang hari. Mereka itu benar lihay mereka merasa bahaya mengancam mereka, mereka mendahului turun tangan. Begitulah Pheng Lian Houw menggunai kecerdikannya, dia mau adu Loo Boan Tong dengan Leng Tie Siangjin. Tidak dapat aku mencegah lagi. Untuk menolong diri, aku pergi menyingkir. Kebetulan sekali di luar dusun aku bertemu Kwa Tayhiap. Dia melindungi aku menyingkir kemari, kemudian dia pergi kepada Loo Boan Tong, maka Loo Boan Tong pun datang ke mari, hanya di sini, setelah dikocok Lian Houw, dia mengadu kepandaian duduk diam sama si pendeta."

Oey Yong mendongkol berbareng merasa lucu.

"Jikalau tidak terjadi perkara kebetulan, suhu, jiwamu bisa hilang di tangan Loo Boan Tong,"

Kata Ia.

"Baiknya kebetulan sekali engko Ceng dan aku mendengar lewatnya dua kawan mereka itu."

"Jiwaku memang sudah tidak berharga, jiwa itu diantarkan di tangan siapa pun sama saja."

Kata sang guru.

"Suhu, ketika itu hari kita pulang dari pulau Beng Hee To ……"

Kata si nona.

"Bukan Beng Hee To hanya pulau menggencet setan!"

Kata sang guru pula.

"Baiklah, pulau menggencet setan,"

Kata sang murid.

"Sekarang ini benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi setan! Ketika itu hari di atas getek kita menolongi Auwyang Hong paman dan keponakan, aku mendengar si bisa bangkotan mengatakan bahwa di kolong langit ini cuma ada satu orang yang dapat menyembuhkan suhu, hanya dia sangat gagah dan lihay, dia tidak bisa dipaksa menolongi sedang suhu tidak sudi menolong diri dengan merugikan lain orang, suhu tidak mau minta pertolongan orang itu. Suhu juga tidak mau membilang nama orang. Sekarang kami tahu siapa orang itu, sebab dialah bukan lain daripada Toan Hongya dulu hari dan It Teng Taysu sekarang ini."

Ang Cit Kong menghela napas.

"Jikalau dia menggunai It Yang Cie menyalurkan jalan darahku, memang dia dapat menyemhuhkan aku,"

Ia berkata.

"Hanya karena dia menolong aku, dia bakal menggunai tenaga dalamnya cara berlebihan, setelah itu banyaknya tujuh tahun atau sedikitnya lima tahun, tidak dapat dia memulihkan tenaga dalamnya itu. Mungkin hatinya tawar dan dia tidak menghiraukan lagi urusan pertemuan yang kedua di gunung Hoa San, tetapi dengan usianya sudah enam atau tujuhpuluh tahun, berapa lama lagi dia bisa hidup? Maka itu, mana aku si pengemis tua dapat membuka mulut untuk mohon pertolongannya itu?"

Mendengar itu, Kwee Ceng berjingkrak.

"Suhu, mari aku yang mengobati kau!"

Ia berkata.

"Aku telah mempelajari It Yang Cie! Apakah tidak baik sekarang juga digua ini aku menyalurkan semua jalan darahmu itu?"

Ang Cit Kong menggeleng kepala.

"Tahukah kau kenapa It Teng Taysu mengajari It Yang Cie padamu?"

Ia tanya. Inilah Kwee Ceng tidak pernah pikir, maka itu mendengar pertanyaan gurunya ini, ia lantas mengerti, tanpa merasa ia mengeluarkan peluh dingin.

"Ah, It Teng Taysu hendak mencari kematiannya!"

Ia berseru.

"Kalau begitu akulah yang membikin ia celaka!"

"Ketika dia mengobati Yong-jie, jikalau dia tidak melihat kau diam-diam mempelajari ilmunya itu, tempo Eng Kouw mencari dia, mustahil dia berani pasang tubuhnya untuk dibunuh nyonya itu?"

Kata pula guru ini.

"Untuk menolongi aku, untuk mengobati aku, tidak menjadi soal, tetapi bagaimana kalau dalam tempo lima atau tujuh tahun si bisa bangkotan datang untuk membikin celaka padamu? Bagaimana kau nanti melayani dia? Bolehkah kau menyia-nyiakan pengorbanan It Teng Taysu?"

"Jikalau suhu sudah sembuh, suhu dapat melayani si bisa bangkotan itu,"

Berkata sang murid. Cit Kong lagi-lagi menggeleng kepala.

"Sukar untuk lukaku ini dapat disembuhkan dalam tempo yang cepat,"

Ia berkata.

"Sebaliknya hari pertandingan di Yan Ie Lauw di Kee-hin sudah sampai bulu alis. Maka itu tentang sakitku ini dan pengobatannya, baik kita bicarakan lain kali saja."

Oey Yong tertawa mendengar orang berebut omong, yang satu memaksa mau mengobati, yang lain menolak. Ia berkata;

"Sudahlah, jangan kamu berebut mulut! Untuk menyalurkan jalan darah dan meluruskan nadi, aku mengerti!"

"Apa katamu!"

Cit Kong menanya heran. Si nona bersenyum, ia menyahuti.

"Bahasa yang aneh yang engko Ceng ingat di dalam hatinya telah disalin jelaskan kepada kami, sekarang aku pikir-pikir, ilmu itu dapat dipakai menolong suhu."

Untuk menguatkan keterangannya, ia menjelaskan penjelasan penjelasan dari It Teng Taysu itu.

"Bagus, bagus!"

Kata Cit Kong girang.

"Aku lihat kau memang dapat menolong, cuma untuk itu dibutuhkan tempo sedikitnya setengah sampai satu tahun."

Bab 69. HEBAT.

"Suhu,"

Kata Oey Yong kemudian.

"Di dalam pertemuan di Yan Ie Lauw itu, pihak sana pasti bakal mengundang Auwyang Hong, benar Loo Boan Tong tidak bakal kalah tetapi dia berandalan, dia suka mengacau, aku khawatir nanti timbul keonaran, maka itu aku pikir perlu kita pergi ke Tho Hoa To untuk mengundang ayahku. Dengan begitu barulah kita akan merasa pasti akan kemenangan kita!"

"Kau benar,"

Berkata Cit Kong.

"Biar aku yang pergi dulu ke Kee-hin dan kamu berdua pergi ke Tho Hoa To."

"Baiklah kita pergi bersama dulu ke Kee-bin,"

Kata Kwee Ceng. Ia berkhawatir untuk gurunya itu.

"Tidak usah, biar aku pergi sendiri,"

Kata guru itu.

"Aku akan menunggang kudamu. Umpama kata ada orang jahat, aku dapat mengaburkannya. Siapa dapat menyusul aku?"

Ia lantas lompat naik ke punggung kuda, di mana ia menenggak araknya.

Ketika ia menjepit kedua kakinya, kuda itu berpekik menghadapi Kwee Ceng, terus dia kabur ke arah utara.

Pemuda itu mengawasi gurunya sampai guru itu lenyap dari pandangan matanya, lantas dia mengingat sikap Kwa Tin Ok, gurunya yang ke satu itu dari pihak Kanglam Cit Koay, ia menjadi sangat berduka.

Oey Yong tahu orang bersusah hati, ia tidak membujuki, hanya ia terus menyewa perahu, untuk mengajak orang menaikinya, guna berangkat ke Tho Hoa To.

Di dalam perjalanan ini, mereka tidak mengalami sesuatu, maka mereka tiba dengan tidak kurang suatu apa di pulau yang dituju.

Setelah mendarat dan membayar sewaan perahu, hingga si tukang perahu lantas pergi, baru ia kata kepada kawannya;

"Engko Ceng aku hendak memohon sesuatu kepadamu, kau suka meluluskan atau tidak?"

"Kau sebutkan dulu, aku mendengarnya,"

Menyahut si anak muda.

"Jangan nanti soal yang aku tidak dapat melakukannya."

Oey Yong tertawa.

"Aku bukannya minta kau memotong kepalanya ke enam gurumu itu!"

Katanya. Pemuda itu tidak puas.

"Perlu apa kau menimbulkan urusan itu, Yong-jie!"

Ia tanya.

"Kenapa aku tidak menimbulkannya?"

Si nona balik menanya.

"Mungkin kau dapat melupakan itu, aku tidak! Biarnya aku baik dengan kau tetapi aku tidak suka kepalaku dipotong olehmu ……"

Anak muda itu menarik napas panjang.

"Sungguh aku tidak mengerti kenapa toasuhu demikian gusar ……"

Katanya.

"Toasuhu ketahui baik sekali kaulah orang yang aku cintai. Biar aku mesti mati seribu atau selaksa kali, tidak nanti aku sudi melukai kau biar bagaimana kecil juga."

Oey Yong bersyukur. Ia menarik tangan si anak muda, ia menyenderkan tubuhnya ke tubuhnya.

"Engko Ceng, apakah kau anggap Tho Hoa To ini bagus?"

Ia tanya. Ia menunjuk ke barisan pohon yangliu di tepi air. Perlahan suaranya.

"Mirip tempat dewa-dewi,"

Kwee Ceng menyabut. Si nona menarik napas.

"Ingin aku tinggal hidup di sini, tidak sudi aku di bunuh kau ……"

Bilangnya. Kwee Ceng mengusap-usap rambut nona itu.

"Anak tolol! Mana dapat aku membunuh kau ……"

"Bagaimana kalau kau didesak enam gurumu, ibumu dan sekalian sahabatmu? Kau turun tangan juga atau tidak?"

"Biar semua orang di seluruh jagat memusuhkan kau, aku tetap akan melindungimu!"

Berkata si anak muda. Oey Yong memegang keras tangan orang.

"Untukku, kau suka mengorbankan segala apa bukan?"

Ia tanya. Kwee Ceng berdiam, agaknya ia bersangsi. Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengawasi mata orang. Sinar mata itu menunjuki roman kedukaan atau ragu.

"Yong-jie,"

Kata si anak muda kemudian.

"Aku telah bilang padamu aku suka berdiam di Tho Hoa To untuk menemani kau seumur hidupku, ketika aku mengatakan itu, aku telah mengambil keputusanku."

"Bagus!"

Si nona berseru.

"Mulai hari ini, kau tidak akan meninggalkan pulau ini!"

Kwee Ceng heran.

"Mulai hari ini?"

Dia tanya.

"Ya, mulai hari ini!"

Berkata si nona.

"Aku akan minta ayah pergi ke Yan Ie Lauw untuk membantu pihakmu, aku bersama ayah nanti pergi membunuh Wanyen Lieh guna membalaskan sakit hatimu, habis itu aku bersama ayahku nanti pergi ke Mongolia menyambut ibumu! Bahkan, akan aku minta ayah menemui keenam gurumu guna memohon maaf untukmu. Aku hendak membikin supaya hatimu lega dan tidak ada apa-apa lagi yang harus dipikirkan!"

Kwee Ceng heran. Aneh sekali sikapnya nona ini.

"Yong-jie, apa yang aku bilang, semua itu kata-kataku,"

Ia bilang.

"Kau baiklah bertetap hati."

Si nona menghela napas.

"Urusan di dalam dunia ini banyak yang sukar dibilang pasti,"

Ia berkata.

"Ketika dulu hari kau menerima baik perjodohan putri Mongolia itu, mana kau pernah ingat bahwa hari ini kau bakal menyangkal dia. Juga aku sendiri, aku pikir aku dapat melakukan segala apa sesukaku. Sekarang baru aku tahu …… Ah, apa yang kita pikir baik, Thian justru pikir sebaliknya."

Kedua matanya si nona menjadi merah, lekas-lekas ia tunduk.

Kwee Ceng pun berdiam, pikirnya bekerja.

Ingin ia menemani Oey Yong seumur hidup di pulau Tho Ho To ini, tetapi berat untuk meninggalkan semua urusan di dalam dunia, itulah tidak sempurna.

Hanya kenapa ia tidak dapat menyebutnya.

"Aku bukannya tidak percaya kau dan hendak memaksa kau berdiam di sini,"

Si nona berkata pula sesaat kemudian, perlahan.

"Hanya …… hanya …… Di dalam hatiku, aku sangat takut ……"

Ia lantas mendekam di pundak anak muda itu, ia menangis. Kwee Ceng bengong. Inilah ia tidak sangka. Ia juga heran.

"Kau takut apa, Yong-jie?"

Ia tanya.

Si nona tidak menjawab, ia hanya menangis terus.

Kwee Ceng menjadi semakin heran.

Semenjak mengenal si nona, biar bagaimana hehat pengalaman mereka, belum pernah nona itu menangis, dia lebih banyak tertawa, tetapi sekarang, sepulangnya ke pulaunya ini?

Inilah kampung halamannya.

Apakah yang dia buat takut?

Bukankah dia justru bakal segera bertemu sama ayahnya?

"Apakah kau mengkhawatirkan keselamatan ayahmu?"

Ia tanya akhirnya. Oey Yong menggoyangi kepala.

"Apakah kau takut, kalau aku meninggalkan Tho Hoa To, lantas aku tidak kembali?"

Oey Yong menggeleng kepala pula. Dan ini dilakukan terus meski si anak muda menanya pula ia hingga empat atau lima kali. Maka berdiamlah mereka sekian lama.

"Engko Ceng,"

Kata si nona kemudian seraya mengangkat kepalanya mengawasi si anak muda.

"Aku takut tetapi tidak dapat aku mengatakan apa sebabnya …… Kalau aku ingat sikap dan romannya gurumu tempo ia hendak membinasakan aku, aku jadi bingung sekali. Aku menjadi khawatir, akan ada satu harinya yang kau nanti mendengar perintah gurumu itu hingga kau membunuh aku …… Maka itu aku minta kau jangan meninggalkan lagi pulau ini. Kau berjanjilah!"

Kwee Ceng tertawa.

"Aku kira urusan besar bagaimana, tak tahunya urusan begini!"

Katanya.

"Ingatkah kau kejadian dulu hari di Pakhia ketika keenam guruku mengatai kau sebagai siluman? Ketika itu aku ikut kau pergi, lalu akhirnya tidak terjadi apa-apa. Memang roman keenam guruku itu bengis tetapi hati mereka baik, maka kalau nanti kau sudah mengenal baik mereka, mereka tentulah akan menyukaimu …… Jiesuhu lihay ilmunya merabai saku orang, nanti kau bola belajar padanya. Tentang Citsuhu, ia sangat halus dan sabar ……"

Tapi si nona memotong.

"Dengan begitu, artinya kau mau meninggalkan pulau ini?"

"Kita meninggalkannya bersama-sama,"

Berkata si anak muda.

"Kita sama-sama pergi ke Mongolia untuk menyambut ibuku. Kita bersama-sama membunuh Wanyen Lieh. Lalu bersama-sama juga kita pulang! Bukankah itu bagus?"

Si nona melongo.

"Kalau begitu, tidak dapat untuk selamanya kita pulang bersama dan tidak dapat juga untuk selamanya berada bersama,"

Katanya selang sesaat. Kwee Ceng menjadi heran.

"Kenapa begitu?"

Ia tanya.

"Aku tidak tahu,"

Si nona menggeleng kepala.

"Jikalau aku melihat romannya toasuhumu, aku dapat menerka sesuatu. Untuk dia, tidak cukup dia mengutungi saja kepalaku! Dia membenci aku sampai di dalam tulang-tulangnya!"

Kwee Ceng melihat orang bicara secara sungguh-sungguh, nona itu jadi sangat berduka. Ia jadi memikir. Tanpa merasa, ia pun berkhawatir. Ia ingat pula sikap gurunya yang kesatu yang sangat bengis itu.

"Dia biasa pandai berpikir,"

Katanya di dalam hati.

"Kalau sekarang aku tidak turuti dia dan kemudian kekhawatirannya berbukti bagaimana nanti jadinya?"

Ia jadi sangat berduka. Tapi ia pun dapat mengambil putusannya. Maka ia kata.

"Baiklah, aku tidak akan berlalu dari sini!"

Mendengar itu, Oey Yong bengong mengawasi pemuda itu, air matanya meleleh dari kedua belah pipinya.

"Yong-jie, kau menghendaki apa lagi?"

Tanya si pemuda perlahan.

"Aku menghendaki apa lagi?"

Menyahut si nona.

"Apa juga aku tidak menghendaki pula."

Lantas sepasang alisnya yang bagus bergerak, lantas dia tertawa. Ia kata pula.

"Kalau aku menghendaki apa-apa lagi, Thian juga tidak bakal meluluskannya!"

Saking gembiranya, lantas di situ dia menari-nari, tangan bajunya yang panjang berseliweran, gelang emasnya berkilauan.

Kadang-kadang ia menyambar-nyambar pohon bunga dengan bunganya berwarna merah, putih kuning dan ungu, hingga dia mirip seekor kupu-kupu Tiba-tiba ia berlompat naik ke atas pohon, ke pohon yang lain, kembali lagi.

Dalam kegembiraannya itu ia bersilat dengan Yan Siang Hui dan Lok Eng Ciang.

Menyaksikan si nona, Kwee Ceng seperti ngelamun.

"Dulu ibu mendongeng kepadaku bahwa di laut Tang Hay ada sebuah gunung dewa, bahwa di atas gunung itu ada sejumlah dewinya. Mustahilkah di dunia ada gunung dewi yang terlebih indah daripada pulau Tho Hoa To ini? Mungkinlah benar ada dewi yang melebihkan cantiknya Yong-jie?"

Ia sadar ketika mendadak Oey Yong berseru seraya terus lompat turun, tangannya menggapai padanya seraya dia terns lari ke depan, nerobos di antara rimba.

Kwee Ceng menyusul.

Ia pun khawatir nanti kesasar.

Oey Yong lari berliku-liku sampai ia berbenti dengan mendadak.

"Apakah itu?"

Tanyanya seraya tangannya menunjuk ke depan di mana ada benda bertumpuk.

Kwee Ceng mendahului maju.

Itulah seekor kuda yang lagi rebah.

Bahkan ia lantas mengenali itulah kudanya Han Po Kie, samsuhu atau gurunya yang nomor tiga.

Ia mengulur tangannya memegang perut kuda itu.

Dingin rasanya.

Terang sudah kuda itu telah mati lama.

Berbareng heran, Kwee Ceng berduka.

Kuda ini pernah turut pergi ke gurun pasir dan dengannya Kwee Ceng kenal sejak ia masih kecil.

"Boleh dibilang inilah kuda luar biasa dan kuat, kenapa dia mati di sini?"

Si anak muda berpikir.

"Tentu sekali samsuhu sangat berduka ……"

Mengawasi lebih jauh, Kwee Ceng dapat memperhatikan, kuda itu bukan mati rebah melonjor hanya keempat kakinya tertekuk meringkuk.

Ia terkejut.

Ia lantas ingat kudanya Gochin Baki, yang terbinasa dihajar Oey Yok Su.

Kuda putri itu mati melingkar, mirip dengan kuda ini.

Maka dengan tangan kirinya ia mengangkat lehernya kuda itu dan dengan tangan kanannya meraba dua kaki depannya.

Untuk kagetnya, ia mendapatkan tulang-tulangnya kuda itu remuk.

Ia lantas meraba punggung kuda itu.

Tulang punggung itu juga patah!

Ketika ia mengangkat tangannya, ia melihat tangannya itu berlepotan darah -darah yang sudah berubah menjadi hitam tetapi bau amisnya masih ada.

Mungkin sudah tiga empat hari matinya kuda itu.

Oleh karena penasaran, Kwee Ceng membalik tubuh binatang itu, untuk memeriksa.

Ia tidak mendapatkan luka di luar.

Saking heran, ia duduk dengan menjatuhkan diri di tanah, hatinya bekerja.

"Mungkinkah ini darahnya samsuhu? Habis dimana adanya guruku itu?"

Sekian lama Oey Yong berdiam di samping menyaksikan kelakuannya Kwee Ceng, ia pun heran, tetapi ia dapat menenangkan diri. Maka kemudian ia kata;

"Kau jangan bergelisah. Mari kita memeriksanya dengan perlahan-lahan ……"

Nona ini maju, ia mementang kedua tangannya membiak pohon-pohon bunga, sembari jalan ia memperhatikan tanah.

Kwee Ceng mengikuti, ia juga mengawasi ke tanah, maka terlihat olehnya titik-titik yang disebabkan berceceran darah.

Saking ketarik dan tegang hatinya, ia sampai melupai jalan yang sesat, ia mendahului si nona, dari jalan perlahan, ia menjadi membuka tindakan lebar.

Tidak heran kalau beberapa kali ia kesasar.

Oey Yong berlaku teliti, ia berjalan hingga di gombolan rumput, di pinggir batu karang.

Di situ tanda darah itu sebentar kedapatan sebentar lenyap.

Ia memeriksa dan melihat tapak serta bulu kuda.

Tanpa mengenal capai, mereka berjalan terus hingga beberapa lie, sampai di depan sekumpulan pohon bunga dan pepohonan lain di mana ada sebuah kuburan.

Melihat itu Oey Yong lari menghampirkan.

Ketika dia pertama kali datang ke Tho Hoa To, Kwee Ceng pernah melihat kuburan itu, yang ia masih mengenalinya.

Itulah kuburan dari ibunya si nona.

Hanya kali ini, kuburan itu tidak utuh seperti dulu hari itu.

Batu nisannya telah roboh.

Ia maju untuk mengangkat itu.

Ia membaca tulisan batu peringatan itu.

Ibunya Oey Yong ada orang she Phang.

Terang tulisan itu ada tulisan Oey Yok Su -tulisannya bagus dan tegak.

Oey Yong melihat pintu pekuburan telah terpentang lebar-lebar.

Ia merasa pasti bahwa di pulaunya ini sudah terjadi sesuatu.

Tadi pun ketika dari atas pohon ia melihat melingkarnya kuda, hatinya sudah bercekat.

Ia tidak lantas bertindak masuk.

Lebih dulu ia memasang mata ke sekitar kuburan.

Di kiri kuburan, rumput hijaunya bekas diinjak-injak.

Di muka pintu terlihat bekas-bekas senjata beradu.

Ia memasang kuping.

Ia tidak mendengar suara apa-apa.

Maka dengan membungkuk, ia masuk di pintu.

Kwee Ceng berkhawatir, ia mengikuti masuk.

Begitu berada di dalam, muda-mudi ini merasakan hati mereka tegang.

Lebih-lebih si pemuda.

Bukankah itu kuburan ibunya?

Tembokan pada gugur atau gugus, bekas terhajar senjata tajam akibat suatu pertempuran dahsyat.

Oey Yong memungut suatu barang ketika ia mulai bertindak masuk.

Kwee Ceng mengenali itulah batang timbangan atau dacin, yang menjadi senjata gurunya keenam, Coan Kim boat.

Timbangan itu terbuat dari besi, ukurannya sebesar lengan, tetapi toh orang dapat mematahkannya menjadi dua.

Maka berdua mereka saling mengawasi, mulut mereka bungkam, mereka seperti tidak berani membuka mulut.

Mereka tahu, cuma ada beberapa gelintir orang yang tenaganya kuat istimewa dan untuk di Tho Hoa To, orang itu melainkan Oey Yok Su …… Kwee Ceng menyambut dari tangan Oey Yong potongan dacin itu, ia lantas mencari potongan yang lainnya, sembari mencari ia merasakan hatinya tertindih berat sckali.

Ia bersangsi, ingin ia mencari dapat, ingin ia tidak dapat mencarinya …… Lebih jauh ke dalam, tempat kuburan itu menjadi terlebih suram.

Kwee Ceng lantas membungkuk, tangannya meraba-raba ke tanah.

Mendadak tangannya itu membentur sesuatu yang keras, yang lantas ternyata adalah batu timbangan, batu mana dapat dipakai Kim Hoat sebagai senjata rahasia untuk menimpuk.

Hatinya berdebaran.

Ia masuki gandulan itu ke sakunya, ia maju lehih jauh.

Untuk terkesiapnya hatinya, Kwee Ceng kena meraba benda yang dingin tetapi lunak.

Ia meraba-raba.

Akhirnya ia kaget hingga ia berlompat bangun, ia kena pegang muka orang.

Justru ia lompat, justru – duk ……!

Kepalanya membentur langit kuburan itu.

Tapi disaat seperti itu, ia melupakan nyeri.

Maka ia lantas mengeluarkan bahan apinya dan menyalakan itu.

Begitu dapat melihat, begitu ia menjerit, begitu ia roboh pingsan!

Api di tangannya pemuda itu tidak padam, dengan cahanya api, Oey Yong bisa melihat tegas.

Coan Kim Hoat rebah terlentang sebagai mayat, kedua matanya terbuka besar.

Di dadanya nancap potongan yang lain dari dacinnya itu.

Maka sekarang duduknya hal telah menjadi terang.

Oey Yong kaget tetapi ia mencoba menentramkan diri.

Dari tangannya Kwee Ceng ia mengambil api, dengan itu ia mengasapi hidungnya si anak muda.

Itulah daya untuk menyadarkan orang pingsan.

Tidak lama, anak muda itu berbangkis dua kali, lantas ia mendusin.

Ia membuka matanya mengawasi si pemudi.

Kemudian ia bangun, untuk berdiri.

Tanpa membilang suatu apa, ia masuk lebih jauh.

Oey Yong mengikuti.

Di ruang dalam, yang merupakan liang kubur asli, segala apa kacau.

Meja sembahyang pecah ujungnya.

Pikulan besi dari Lam Hie Jin nancap di lantai.

Di pinggir kiri kamar itu, rebah melintang tubuh satu orang, ikat kepalanya robek, sepatunya copot.

Dengan melihat dari punggung saja sudah dapat dikenali dialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.

Dengan tindakan perlahan, Kwee Ceng menghampirkan.

Ia membalik tubuhnya jiesuhu itu, gurunya yang nomor dua.

Ia melihat bibir yang bersenyum, tapi yang sudah dingin, seperti dinginnya seluruh tubuhnya.

Maka anehlah senyumannya Kanglam Cit Koay yang kedua ini.

"Jiesuhu, teecu Kwee Ceng datang!"

Kata si anak muda perlahan.

Setelah itu dengan berhati-hati, ia mengangkat tubuhnya guru itu, atau -tingtang!

Ia mendengar suara barang jatuh saling susul.

Itulah jatuhnya dari sakunya banyak barang permata, seperti batu kumala, yang berserakan di lantai.

Oey Yong menjumput beberapa potong barang permata itu, untuk ditelitikan.

Segera ia melemparkannya pula, dengan dingin, ia berkata.

"Ini permata mulia yang dikumpul ayahku yang disengaja dipakai untuk menemani ibuku!"

Kwee Ceng terkejut.

Ia menoleh kepada kekasih itu.

Ia menjadi lebih kaget pula.

Di samping suara dingin dan tak sedap dari nona itu, ia melihat sinar mata yang mencorong tajam dan bengis, dari mata yang merah bagaikan darah.

"Apakah kau maksudkan guruku datang ke mari mencuri permata ini?"

Ia menanya perlahan. Mata si pemudi menatapsi pemuda akan tetapi dia ini tidak dapat mundur, dia bahkan mengawasi, hanya sekarang sinarnya berubah. Itulah sinar mata dari putus asa, dari kedukaan.

"Guruku yang kedua seorang laki-laki sejati,"

Kata Kwee Ceng.

"Mana mungkin dia mencuri harta ayahmu? Lebih-lebih tak mungkin dia mencuri barang permata di dalam kuburan ibumu ini!"

Oey Yong mendengar nada orang, dari gusar menjadi berduka.

Memang juga pikiran Kwee Ceng berubah dengan perlahan-lahan.

Ia menyangka si nona menuduh gurunya itu, seorang ksatria, ia menjadi tidak senang, ia menjadi gusar.

Segera setelah itu, ia memikir kepada kenyataan.

Bukankah gurunya itu terkenal sebagai si tangan lihay, yang sangat pandai mencopet?

Bukankah semua permata itu meluruk dari sakunya guru itu?

Bukankah mereka justru berada di dalam liang kubur di mana harta itu disimpan?

Tapi, benarkah gurunya datang ke situ untuk mencuri?

Bukankah guru itu laki-laki sejati?

Ia menyangsikan gurunya berbuat demikian busuk dan hina.

Maka ia menduga kepada sesuatu yang diluar dugaannya.

Dalam kesangsian itu, antara kegusaran dan kedukaan dan keragu-raguan ia mengepal keras tangannya hingga terdengar suara meretek.

Oey Yong masih mengawasi lalu ia berkata dengan perlahan.

"Ketika itu hari aku melihat air mukanya gurumu yang nomor satu, aku merasa aneh sekali, aku lantas seperti dapat firasat bahwa di antara kita berdua sulit ada akhir yang baik, yang membahagiakan. Jikalau kau hendak membunuh aku, sekarang kau boleh turun tangan. Ibuku ada di sini, maka kau tolong saja mengubur aku di sisinya. Setelah selesai kau mengubur aku, kau mesti lekas mengangkat kaki dari sini, supaya jangan sampai kau bertemu dengan ayahku ……"

Kwee Ceng tidak menyahuti, ia jalan mondar-mandir, tindakannya lebar dan cepat, napasnya pun memburu.

Oey Yong berdiam.

Ia mengawasi ke gambar lukisan dari ibunya.

Ia melihat sesuatu di situ, ia lantas menghampirkan.

Nyata itulah dua senjata rahasia yang nancap.

Ia menurunkan itu.

Kwee Ceng melihat senjata itu, ia mengenali tokleng, atau lengkak rahasia, dari Kwa Tin Ok.

Oey Yong terus berdiam, tangannya menyingkap toh-wie di belakang meja sembahyang.

Di situ ada pernahnya peti mati dari ibunya.

Ketika ia menghampirkan, mendadak ia menghela napas panjang.

Di belakang peti mati ibunya itu rebah dua mayat dari kakak beradik, atau engko dan adik.

Han Po Kie dan Han Siauw Eng.

Siauw Eng itu terang telah membunuh diri, sebab tangannya masih memegang gagang pedang.

Tubuh Po Kie sendiri menindih peti mati.

Hanya yang hebat, batok kepalanya telah meninggalkan liang bekas lima jari.

Kwee Ceng telah melihat kedua mayat itu.

Ia sekarang bisa berlaku tenang.

Ia memondong turun tubuh gurunya yang ketiga itu, seorang diri ia berkata.

"Aku melihat sendiri kematiannya Bwee Tiauw Hong. Di kolong langit ini, orang yang pandai Kiu Im Pek-kut Jiauw, siapa lagi kecuali Oey Yok Su?"

Ia mengambil pedangnya Siauw Eng, terus ia bertindak keluar, ketika ia melewati Oey Yong, ia tidak berpaling lagi pada nona itu.

Nona Oey merasa hatinya dingin secara tiba-tiba.

ia terdiam.

Justru itu, ruang itu menjadi gelap, sebab apinya padam.

Ia kaget, hatinya berdebaran.

Itulah kuburan yang ia kenal baik, tetapi di situ sekarang rebah empat mayat dalam caranya yang berlainan, yang mengerikan, maka ia lantas lari keluar.

Satu kali ia terpeleset, hampir ia roboh.

Setibanya di luar baru ia ingat bahwa ia kesandung tubuhnya Coan Kim Hoat.

Sekarang ia melihat batu nisan yang roboh.

Ia hendak menutup pintu kuburan ketika ia ingat satu hal.

Ia lantas kata pada dirinya sendiri.

"Kalau ayah yang membunuh keempat anggota Kanglam Cit Koay ini, kenapa pintu ini tidak dikunci? Ayah sangat mencintai ibu, biarnya ia sangat kesusu, tidak nanti ia membiarkan pintu tinggal terpentang?"

Maka ia menjadi ragu-ragu. Ia menjadi ingat pula.

"Cara bagaimana ayah dapat membiarkan mayat keempat orang ini menemani ibu? Tidak mungkin! Mungkinkah ayah sendiri yang nampak sesuatu yang tidak dinyana?"

Lantas Oey Yong membetulkan batu nisan itu, ia mengunci pintunya, ialah dengan mendorong batu nisan ke kanan tiga kali dan ke kiri tiga kali juga, habis itu ia lari ke arah rumahnya.

Ia dapat menyusul Kwee Ceng meskipun si anak muda telah keluar lebih dulu beberapa puluh tindak.

Anak muda itu berputaran karena kesasar.

Kapan dia melihat si nona, dia lantas mengikuti.

Mereka berjalan tanpa membuka suara, mereka melintasi pengempang, sampai di rumah peranti bersemedi dari Oey Yok Su.

Hanya sekarang rumah itu roboh tidak karuan, di bagian depan terlihat tiang-tiang dan penglari yang patah.

Oey Yong kaget sampai ia menjerit-jerit.

"Ayah! Ayah!"

Dia lari ke dalam rumahnya.

Di situ kursi meja pada terbalik dan segala perabot tulis, buku semua berserakan di lantai.

Di situ tidak ada sekalipun bayangannya Oey Yok Su.

Nona ini berotak tajam, dia cerdas dan lekas berpikir, tetapi kali ini pikirannya kacau.

Ia memegang meja tulis ayahnya, tubuhnya bergoyang-goyang mau jatuh.

Sampai sekian lama, baru ia bisa menetapkan hati.

Ia lari ke samping, ke kamarnya budak-budaknya yang gagu, sia-sia belaka ia mencari, ia tidak dapat menemukan seorang budak juga.

Di dapur sunyi semua.

Rupanya, meski orang tidak mati, semua telah pergi entah ke mana.

Rupanya di pulau itu, kecuali mereka berdua, tidak ada orang lainnya lagi …… Dengan tindakan perlahan Oey Yong menuju ke kamar tulis, di sana Kwee Ceng berdiri menjublak, matanya mengawasi lempang ke depan.

"Engko Ceng, lekas kau menangis!"

Berkata si nona.

"Kau menangis dulu, baru kita bicara!"

Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya dengan mata mendelik ia mengawasi nona itu.

Ia sangat mencintai keenam gurunya, sekarang ia mendapat pukulan begini hebat, kedukaannya sampai di puncaknya hingga tak dapat ia menangis.

Oey Yong kaget.

"Engko Ceng!"

Katanya.

Cuma sebegitu ia bisa bilang, lantas ia berdiam.

Keduanya berdiri saling mengawasi.

Akhirnya si anak muda ngoceh seorang diri "Tidak dapat aku membunuh Yong-jie, tidak dapat aku membunuh Yong-jie!"

Oey Yong lantas berkata.

"Gurumu telah mati, kau menangislah!"

"Tidak, aku tidak menangis!"

Kata Kwee Ceng seorang diri.

Kembali keduanya berdiam.

Sunyi kamar tulis itu.

Cuma di kejauhan terdengar samar-samar suara berdeburnya gelombang.

Oey Yong berpikir keras, ia mengingat segala apa, tetapi tetap ia berdiam.

"Aku mesti mengubur dulu guru-guruku ……"

Kemudian terdengar Kwee Ceng mengoceh pula.

"Benar, semua guru mesti dikubur lebih dulu!"

Menimpali Oey Yong.

Bahkan ia mendahului berjalan kembali ke kuburan ibunya.

Tanpa bersuara, Kwee Ceng mengikuti, selagi si nona hendak mendorong batu nisan, mendadak ia lompat melewati, terus ia menendang batu nisan itu.

Ia menggunai tenaga besar tetapi batu besar dan berat, ia tidak dapat menggempur roboh, sebaliknya, kakinya yang berdarah, hanya ia tidak merasakan itu.

Bagaikan kalap, ia menyerang kalang kabutan dengan pedangnya.

menikam dan menebas, dan tangan kirinya juga menghajar, hingga batu gugur dan gugusannya terbang berhamburan.

Pedangnya tak tahan, pedang itu patah.

Ia menjadi panas, maka ia terus menyerang dengan tangannya.

Kali ini ia berhasil membikin batu patah, hingga terlihat sebatang besi.

Ia pegang besi itu, ia menggoyang-goyang keras.

Dengan satu suara nyaring, besi itu membuatnya pintu kuburan terbuka sendirinya.

Ia melengak, ia kata seorang diri;

"Kecuali Oey Yok Su, siapa dapat membikin pintu rahasia ini dan siapa dapat memancing semua guruku masuk ke dalam kuburan hantu ini?"

Lalu dia berdongak dan berseru nyaring, terus ia melemparkan pedang buntungnya, untuk lari masuk ke dalam kuburan itu!

Oey Yong mengawasi pedang buntung dan batu nisan yang patah, yang terkena darahnya si anak muda, ia bengong, hatinya bekerja.

Ia melihat kebencian hebat dari Kwee Ceng itu.

Ia pikir;

"Jikalau dia melampiaskan hawa marahnya dengan merusak peti ibuku, lebih dulu aku akan membunuh diri dengan membenturkan kepalaku kepada peti ……"

Lantas ia hendak menyusul pemuda itu atau ia melihat Kwee Ceng berjalan keluar dengan memondong tubuhnya Coan Kim Hoat, setelah meletaki tubuh itu, dia masuk pula, akan mengambil mayat Cu Cong.

Perbuatan itu dilanjutkan kepada mayat Han Po Kie dan Han Siauw Eng.

Dengan mata mendelong, Oey Yong mengawasi si anak muda pada air muka siapa kentara sekali cintanya kepada guru-gurunya itu.

Hatinya menjadi dingin.

Ia kata di dalam hatinya itu.

"Nyatalah dia mencintai gurunya melebihkan cintanya kepadaku. Ah, mesti aku cari ayahku, mesti aku cari ayahku ……"

Kwee Ceng membawa mayat keempat gurunya ke dalam rimba, terpisah dari kuburan ibunya Oey Yong beberapa ratus tindak, di situ barulah ia menggali lobang.

Ia menggali dengan patahan pedang, hebat ia menggunai tenaganya.

Sekian lama ia bekerja, mendadak pedangnya itu bersuara keras -pedang itu patah pula!

Justru itu ia merasakan dadanya sesak, hawa panas naik, ketika ia mementang mulutnya, ia memuntahkan darah hidup hingga dua kali, tetapi ia bekerja terus, dengan kedua tangannya ia membongkar tanah, yang ia saban-saban melemparkannya.

Melihat demikian, Oey Yong lari mengambil dua buah sekop peranti bujang gagunya, yang satu ia kasihkan pada si anak muda, yang lain ia pakai sendiri, untuk membantui menyingkirkan tanah.

Kwee Ceng merampas sekop di tangan si nona, ia patahkan itu kemudian dengan sekop yang satunya bekerja sendiri, ia menggali terus lobangnya.

Oey Yong tahu artinya perbuatan pemuda itu, merasakan hatinya sakit, tetapi ia tidak menangis, ia lantas duduk mengawasi saja.

Kwee Ceng bekerja luar biasa.

Ia berhasil menggali dua buah liang satu besar dan satu kecil.

Ke lubang yang kecil itu ia pondong tubuh Siauw Eng, untuk diletak dengan hati-hati.

Ia lantas berlutut, ia paykui beberapa kali.

Ia mengawasi muka guru wanita itu, guru yang ketujuh, sesudah itu baru ia menguruknya.

Setelah itu ia mengangkat tubuh Cu Cong dimasuki ke dalam liang kubur yang besar.

Mendadak ia berpikir.

"Permata mulia kotor dari Oey Yok Su mendapat menemani jiesuhu?"

Maka itu, ia merogoh saku gurunya, ia mengeluarkan sisa batu permatanya. Paling akhir ia menarik keluar sehelai kertas putih, yang ada suratnya. Ia membeber itu dan membaca.

"Yang rendah dari Kanglam, Kwa Tin Ok, Cu Cong, Han Po Kie, Lam Hie Jin, Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng, dengan ini menghaturkan bertahu kepada cianpwe pemilik Tho Hoa To bahwa mereka telah mendengar kabar bahwa Coan Cin Cit Cu, dengan tidak menaksir tenaganya sendiri, hendak melakukan sesuatu terhadap Tho Hoa To. Mengenai itu, menyesal kami tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengakurkannya, hanya mengingat bahwa cianpwee adalah pantarannya Ong Tiong Yang Cinjin, kami memikir mana dapat cianpwee malayani anak-anak muda. Di jaman dulu Lin Siang Jie telah mengalah terhadap Liam Po, peristiwa itu menjadi buah tutur yang berupa pujian. Karena siapa gagah, dadanya lapang bagaikan lautan, dia tentu tidak menghiraukan segala perbuatan di antara ayam dan kutu. Kalau nanti kejadian Coan Cin Cit Cu datang ke depan Tho Hoa To, untuk nengakui kesalahannya sendiri, pastilah semua orang gagah di kolong langit ini akan mengagumi kepribadian cianpwee. Tidakkah itu bagus?"

Habis membaca itu, Kwee Ceng berpikir;

"Dulu hari Coan Cin Cit Cu bertempur sama OeyYok Su di Gu-kee-cun, lantas Auwyang Hong secara diam-diam menggunai akal jahatnya dan membinasakan Tiang Cun Cu Tam Cie Toan, kesalahan digeser kepada Oey Yok Su. Oey Yok Su berkepala besar, dia tidak menghiraukan urusan itu tidak mau membersihkan diri, maka kejadian Coan Cin Cit Cu jadi sangat membenci padanya. Rupanya sekarang guruku mendapat dengar Coan Cin Cit Cu datang untuk melakukan pembalasan, karena ia khawatir kedua pihak itu rusak bersama, guruku menulis suratnya ini nenganjurkan Oey Yok Su menyingkirkan diri untuk sementara waktu, supaya kemudian di dapat jalan guna membeber duduknya hal. Dengan begitu, guruku ini bermaksud baik, maka Oey Yok Su si tua, kenapa dia telah menurunkan tangan jahatnya kepada guruku semua?"

Baru ia berpikir begitu, atau ia lantas berpikir pula.

"Jiesuhu sudah menulis suratnya ini, kenapa dia tidak menyampaikan kepada alamatnya hanya dibiarkan berada di dalam sakunya? Ah, mungkin waktu terlalu mendesak, Coan Cin Cit Cu telah keburu datang, dia jadi tidak mendapat tempo lagi untuk menyerahkannya, maka mereka lantas datang sendiri, guna maju si sama tengah di antara kedua pihak yang bertempur itu. Oey Lao Shia, Oey Lao Shia, mungkin kau menyangka guruku adalah kawan-kawan undangan dari Coan Cit Cin Cu, yang bakal membantu pihak sana, maka dengan sembrono kau telah menurunkan tangan jahatmu itu ……"

Kembali pemuda ini berdiam.

Surat itu ia lipat, hendak dimasuki ke dalam sakunya.

Selagi ia melipat tiba-tiba di belakang itu ia melihat coretan beberap huruf, yang membikin ia kaget hingga hatinya berdebaran.

Tulisan itu, yang suratnya tidak karuan, berbunyi;

"Segera bakal terjadi hal yang tidak diduga-duga, maka semua bersiaplah berjaga-jaga ……"

Masih ada tulisan lainnya, yang belum tertulis lengkap, mungkin disebabkan bencana sudah lantas tiba.

"Inilah terang huruf 'Tong' yang hendak ditulisnya. Jiesuhu memperingati untuk bersiaga untuk 'Tong Shia' sayang sudah terlambat ……"

Maka ia kepal-kepal surat itu menjadi gulungan kecil dengan mengertak gigi, ia kata dengan sengit;

"Jiesuhu, jiesuhu, maksudmu yang baik telah dipandang sebagai maksud jahat oleh Oey Lao Shia ……"

Setelah itu, surat itu jatuh ke tanah, ia sendiri lantas mengangkat tubuh Cu Cong.

Oey Yong mengawasi terus pemuda itu, ia melihat air muka orang yang seperti berubah-ubah.

Ia menduga surat itu mesti penting sekali, maka perlahan-lahan ia bertindak.

Ia pungut surat itu untuk segera dibaca dua-duanya, yang di depan dan yang di belakang.

Ia pikir "Keenam gurunya datang ke Tho Hoa To dengan maksud baik, maka sayang Biauw Ciu Sie-seng hatinya tidak lurus, sudah biasa dia menjadi pencopet melihat hartanya ibuku hatinya terpincuk, hingga dia melanggar pantangan besar dari ayahku ……"

Ketika itu Kwee Ceng telah meletaki tubuhnya Cu Cong, lalu dia membuka tangan kiri orang yang terkepal, mengambil dari situ serupa barang.

Oey Yong melihat itulah sebuah sepatu wanita, yang panjangnya satu dim lebih.

Terang itu ada sepatu mainan sebab terbuat dari batu hijau tetapi buatannya indah sekali.

Itulah benda yang berharga mahal.

Belum pernar ia ingat ibunya mempunyai barang mainan semacam itu maka entahlah dari mana Cu Cong mendapatkannya.

Kwee Ceng membulak-balik sepatu-sepatuan itu bagian bawahnya ia melihat ukiran huruf "ciauw"

Sedang di dasar sebelah dalam, ada ukiran huruf "pie".

Ia sengit ia banting sepatu batu itu, syukur tidak pecah.

Kemudian ia bergantian mengangkat tubuh Han Po Kie dan Coan Kim Hoat, dikasih masuk ke dalam lubang yang besar itu diletaki dengan rapi.

Ketika ia hendak mulai menguruk ia melihat muka ketiga gurunya hatinya tak tega.

Maka ia mengawasi ke batu permata.

Tiba-tiba timbul pula hawa amarahnya.

Ia pungut semua itu dengan kedua tangannva, ia lari ke kuburan ibunya Oey Yong.

Si nona khawatir orang nanti merusak peti mati ibunya, ia pun lari.

Ia lari, untuk mendahului.

Ia bisa memotong jalan, maka ia tiba lebih dulu.

Lantas ia menghadang di depan pintu kuburan, kedua tangannya dipentang.

"Kau mau apa?"

Ia tanya si pemuda.

Kwee Ceng tidak menjawab, dengan tangan kirinya ia menolak tubuh si nona, lalu kedua tangannya disempar ke depan, maka terdengarlah suara nyaring, dari meluruk jatuhnya barang-barang permata, di antaranya itu sepatu mainan dari batu hijau yang jatuh ke kaki si nona.

Oey Yong membungkuk, ia memungutnya.

"Ini bukannya barang ibuku,"

Ia kata, dan ia membayarnya pulang.

Kwee Ceng menyambut, ia awasi itu, terus ia masuki ke dalam sakunya.

Setelah itu ia memutar tubuhnya.

Kali ini ia mulai menguruk tanah, hingga menutup rapat mayat keempat gurunya.

Lama sang waktu lewat, hari mulai magrib.

Oey Yong menyaksikan, Kwee Ceng terus tidak menangis, ia merasa sangat berduka.

Maka ia pikir, kalau dibiarkan sendiri, mungkin hati pemuda itu lega.

Dari itu ia pergi pulang, untuk memasak nasi serta lauk-pauknya.

Apabila semua itu sudah matang, ia pernahkan di dalam naya, ia membawanya keluar.

Kwee Ceng terlihat berdiri menjublak di depan kuburan gurunya.

Dia berdiri tetap di tempat dia berdiri semula, tubuhnya juga tidak berkisar atau berubah.

Ia berdiam setengah jam lebih selama si nona masak, hinggga dia mirip patung.

Maka si nona kaget sekali.

"Engko Ceng, kau kenapa?"

Ia tanya. Kwee Ceng tidak menyahuti, tubuhnya tetap tidak bergerak.

"Engko Ceng, mari dahar,"

Kata pula si nona.

"Sudah satu harian kau belum dahar ……"

"Mesti aku mati kelaparan tidak nanti aku maka barang dari Tho Hoa To!"

Berkata si anak muda.

Mendengar itu, meskipun tidak sedap, hati Oey Yong lega sedikit.

Ia mengerti adat orang, tentu Kwee Ceng pegang perkataannya itu.

Dari itu ia meletaki naya, duduk di tanah.

Demikian, yang satu berdiri tegak, yang lain berduduk, keduanya berdiam menghabiskan waktu, hingga rembulan mulai muncul di permukaan laut.

Si Putri Malam naik terus, sampai dia berada di atasan kepalanya dua orang itu, sedang sayur di dalam naya telah menjadi dingin sendirinya.

Hati mereka seperti sama dinginnya.

Dengan kesunyian itu, suara gelombang terdengar semakin nyata.

Dari kejauhan pun terdengar beberapa kali suara seperti suara srigala dan harimau, suara minip dengan jeritan.

Sang angin juga yang membikin suara itu lenyap sendirinya.

Oey Yong memasang kupingnya, ia menyangsikan itu suara manusia atau suara binatang yang sedang menderita, karena perhatiannya tertarik, ia berbangkit, untuk lari menuju ke sana.

Sebenarnya ia berniat mengajak si anak muda atau ia membatalkan pikirannya itu setelah ia berpikir pula.

"Kebanyakan inilah urusan tidak bagus, aku akan cuma-cuma menambah keruwetan pikirannya ……"

Ia sebenarnya sedikit jeri untuk suasana seperti itu, tetapi karena ia kenal baik pulaunya itu, ia maju terus.

Selagi si nona berlari-lari, dia merasakan angin menyambar di sampingnya.

Segera ia mendapat kenyataan, Kwee Ceng lagi mencoba mendahului dia.

Pemuda ini tidak kenal jalanan, maka itu ia maju dengan tangan dan kakinya saban-saban menghajar pohon-pohon yang menghadang di hadapannya.

Dilihat dari romannya, pemuda itu seperti telah kehilangan pikirannya yang sehat.

"Kau ikut aku!"

Kata si nona. Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya ia berteriak-teriak.

"Soe-suhu! Soe-suhu!"

Ia telah mengenali suara gurunya yang keempat, Lam Hie Jin.

Hati Oey Yong terkesiap.

Ia tahu, kalau Kwee Ceng bertemu sama gurunya itu, entah bakal terjadi apa pula atas dirinya.

Tapi ia tidak takut, maka ia lari terus, akan menunjuki jalan.

Ia lari ke timur, di mana ada banyak pepohonan.

Tiba di situ, ia melihat seorang berada di bawah sebuah pohon, tubuhnya bergulingan, tubuh itu melingkar.

Itulah Lam Hie Jin.

Kwee Ceng menjerit, ia berlompat menubruk gurunya itu, untuk dipondong.

Ia melihat mulut gurunya terbuka, tertawa, tetapi suaranya bukan tertawa wajar.

Ia kaget dan girang, hingga ia menangis.

"Soe-suhu! Soe-suhu!"

Ia memanggil-manggil.

Lam Hie Jin tidak menyahuti, hanya sebelah tangannya melayang.

Kwee Ceng tidak menyangka tetapi ia sempat berkelit.

Hanya habis menggaplok dan gagal, Hie Jin terus meninju dengan tangan kirinya.

Kali ini si anak muda tidak berkelit, ia tidak menangkis.

Ia menyangka guru itu menyesalkan atau mempersalahkan padanya.

Hebat serangan guru yang nomor empat ini, Kwee Ceng terpental jumpalitan.

Ia tidak menduga gurunya bertenaga demkian besar.

Dulu-dulu, di waktu berlatih dengannya, tenaga guru itu tidak sedemikian besar.

Ia baru bangun atau Hie Jin, yang sudah maju, menyerang pula denga kepalannya.

Masih si murid tidak berkelit, ia mandah.

Hajaran ini terlebih hebat pula, Kwee Ceng merasa matanya berkunang-kunang, hampir ia roboh pingsan.

Setelah itu, Hie Jin memungut batu besar, lagi-lagi dia menyerang.

Kalau Kwee Ceng terhajar batu ini, mesti ia pecah batok kepalanya.

Ia memang masih pusing kepalanya.

Melihat demikian, Oey Yong berlompat maju, dengan tangan kirinya ia menolak lengan Kanglam Cit Koay yang nomor empat itu, atas mana, bersamasama batunya Hie Jin roboh ke tanah, mulutnya mengasih dengar suaranya tertawa seperti tadi, habis itu dia tidak merayap bangun lagi …… Adalah maksudnya si nona untuk menolongi Kwee Ceng, maka diluar sangkaannya, Hie Jin ada demikia tidak bertenaga, dia roboh hanya karena tolakan tanga yang enteng.

Dengan lantas si nona mengulur tangannya untuk mengasih bangun.

Atau ia melihat muka orang yang tertawa, tertawa yang dipaksakan, hingga menjadi menyeringai, nampaknya sangat menakuti.

Ia menjerit, ia menarik pulang tangannya, untuk membikin tangan itu tidak mengenai tubuh orang.

Sebaliknya tangan kiri Hie Jin menyambar pundak si nona.

Atas itu dua-duanya, si nona dan si penyerang, mengasih dengar seruan bahna sakit dan kaget.

Oey Yong mengenakan baju lapisnya, meski begitu ia merasakan sakit sampai ia terhuyung beberapa tindak.

Hie Jin merasa sakit karena ia menghajar baju yang ada durinya, karena mana tangannya lantas mengucurkan darah.

"Soe-suhu!"

Kwee Ceng berteriak saking kagetnya.

Hie Jin menoleh mengawasi si anak muda, suara siapa ia rupanya ia mengenalinya, hanya ketika ia hendak membuka mulutnya cuma bibirnya bergerak sedikit, suaranya tidak terdengar.

Ia masih mengasih lihat senyuman hanya itulah senyum dari putus asa.

Sinar matanya pun guram.

"Soe-suhu, baik kau beristirahat,"

Kata Kwee Ceng.

"Sebentar lagi kita bicara."

Hie Jin mencoba mengangkat kepalanya, ia seperti memaksa mau bicara, lagi ia gagal, mulutnya tidak dapat dibuka.

Ia cuma dapat bertahan sebentar segera kepalanya teklok, terus tubuhnya roboh terjengkang, lalu berbalik.

"Soe-suhu!"

Kwee Ceng berseru, ia berlompat maju, guna mengasih bangun.

"Jangan!"

Berkata si nona.

"Gurumu lagi menulis surat ……"

Tajam matanya si nona. Kwee Ceng mengawasi. Benar, dengan tangan kanannya, 'Hie Jin lagi mencoret ke tanah. Di antara sinar rembulan, segera terlihat ia menulis.

"Yang …… membunuh …… aku …… ialah ……"

Oey Yong mengawasi, ia mendapatkan Hie Jin menulis dengan susah sekali, ia lantas goncang hatinya. Ia lantas ingat;

"Da berada di Tho Hoa To, sekalipun orang yang paling tolol tentulah tahu ayahku yang membunuh dia, maka kenapa dia begini susah menulis nama ayahku itu? Apakah si pembunuh lain orang sebenarnya ……?"

Semakin lama dia menulis, tenaganya Hie Jin makin habis. Hati si nona tegang, hingga ia memuji;

"Kalau kau mau menulis nama lain orang, lekaslah!"

Ketika Hie Jin menulis huruf yang kelima, yang mesti menjadi she atau nama orang yang membunuh dia, baru dia menulis dua coret, yang menjadi huruf "sip" -"sepuluh", mendadak tangannya berhenti bergerak.

Kwee Ceng melihat tubuh orang bergerak, tanda dari pengerahan tenaga yang terakhir, habis itu berhentilah napasnya sang guru.

Ia sendiri menahan napas, ketika ia melihat huruf "sip"

Itu, ia berteriak.

"Soe-suhu, aku tahu kau hendak menulis huruf oey -huruf oey!"

Terus ia menubruk tubuh gurunya, terus ia menangis keras, kedua tangannya menumbuki dadanya.

Dengan demikian meledaklah amarah dan kedukaannya yang sangat, yang sekian lama terbenam di dalam dadanya.

Ia menangis menggerung-gerung tidak lama atau ia pingsan di atas tubuh gurunya itu.

Berapa lama anak muda ini tak sadarkan diri, ia tidak tahu, ketika kemudian ia mendusin, ia melihat sinar matahari, langit telah menjadi terang.

Ia bangun, untuk melihat ke sekitarnya.

Ia tidak melihat Oey Yong, entah ke mana perginya si nona.

Ia mendapatkan tubuh Hie Jin, yang kedua matanya terbuka besar.

Ia lantas ingat pembilangan.

"mati tidak meram" , maka ia lantas menangis pula, air matanya turun deras. Ia mengulurkan kedua tangannya, guna merapatkan mata gurunya itu. Mengingat gurunya begitu sengsara hendak melepaskan napasnya yang terakhir, Kwee Ceng menjadi heran maka ia membukai baju gurunya itu, untuk memeriksa tubuhnya. Aneh, seluruh tubuh itu tidak kurang suatu apa, dari kepala sampai di kaki, tidak ada yang luka, kecuali luka di tangan bekas terkena duri baju lapisnya Oey Yong. Pula tidak ada luka di dalam, kulitnya tidak hitam atau hangus. Sesudah memeriksa dengan sia-sia, Kwee Ceng memondong mayat gurunya, niatnya untuk dikubur bersama dengan ketiga gurunya yang lainnya. Ketika ia sudah jalan beberapa puluh tindak ke tempat darimana tadi dia datang, ia kehilangan jalanannya. Terpaksa ia menggali sebuah lubang lain di bawah pohon, guna mengubur di situ mayat gurunya itu. Habis itu, ia menjadi bingung. Ia pun merasa sangat lapar. Sia-sia ia berjalan, untuk mencari jalanan keluar. Ia duduk di bawah sebuah pohon, guna beristirahat, guna menentramkan pikirannya. Ketika ia berjalan pula, ia mengambil putusan tidak perduli apa juga, ia mengambil satu tujuan, ialah ke arah timur, terus menghadapi matahari. Dengan begini, ia masih mengalami kesukaran, dan pepohonan yang sangat lebat. Sekarang di setiap pohon ia melihat adanya rotan panjang dan duri tajam. Umpama kata ia jalan di atas pohon, di situ tidak ada tempat untuk menaruh kaki …… "Tapi hari ini, cuma ada maju, tidak ada mundur!"

Ia pikir. Ia paksa berlompat naik ke atas pohon. Ia baru menindak atau "Bret!"

Maka celananya robek kesangkut duri, hingga kulitnya lecet dan darahnya mengalir.

Rotan pun ada yang melilit kakinya.

Maka dengan pisau belatinya, ia memotong putus pohon oyot itu.

Memandang jauh ke depan, Kwee Ceng melihat hanya oyot belaka.

"Biar habis daging betisku, aku mesti keluar dari pulau iblis ini!"

Katanya di dalam hati. Degan itu ia mengambil keputusannya. Ia mau bertindak pula, lalu mendadak ia mendengar suaranya OeyYong.

"Kau turun! Nanti aku mengantarkanmu!"

Ia lantas tunduk, maka ia melihat si nona, dengan pakaian putih seluruhnya, lagi berdiri di bawah pohon.

Tanpa membilang apa-apa, ia lompat turun.

Ia melihat muka Oey Yong pucat sekali, seperti tidak ada darahnya.

Ia terkejut.

Hendak ia menanya, tetapi segera ia dapat menguatkan hati.

Oey Yong melihat orang hendak bicara tetapi gagal.

Ia menanti sekian lama, tetap ia tidak mendengar suara orang.

Ia menghela napas.

"Jalanlah!"

Katanya.

Dengan berliku-liku, mereka menuju ke timur.

Oey Yong lesu dan berduka.

Ia baru sembuh, ia perlu beristirahat dan ketenangan hati, siapa tahu ia telah mesti membuat perjalanan jauh dan menghadap peristiwa berat dan gelap ini.

Ia pikir tidak dapat ia menyesalkan Kwee Ceng atau mempersalahkan ayahnya, ia juga tidak bisa menyesalkan Kanglam Liok Koay, Ia hanya menyesalkan diri sendiri.

Kenapa Thian berbuat begini macam terhadapnya?

Apa Thian membenci kepada orang yang hidup terlalu senang?

Tanpa berkata-kata nona ini menunjuk jalan kepada Kwee Ceng menuju ke tepi laut.

Ia mau percaya, dengan kepergiannya ini, anak muda itu bakal tidak kembali.

Maka itu setiap satu tindaknya, ia merasa hatinya pecah satu potong.

Ketika akhirnya mereka keluar dari rimba lebat dengan rotan dan duri itu, pesisir terlihat di depan mata.

Oey Yong merasa dirinya sangat letih, ia mencoba menguati hati tetapi tubuhnya terhuyung juga, lekas-lekas ia menggunai tongkatnya, untuk menekan tanah, guna menunjang, hanya sekarang ia merasakan tangannva juga tidak bertenaga, tongkatnya itu miring, hingga tubuhnya turut terguling.

Kwee Ceng melihat itu, segera ia mengulur tangan kanannya, guna memegangi si nona, atau mendadak ia ingat sakit hati hebat dari guru-gurunya itu, segera dengan tangan kirinya ia menghajar tangan kanannya.

Itulah pukulan ajarannya Ciu Pek Thong, yang dapat memecah pikiran, hingga kedua tangannya dapat bergerak sendiri-sendiri.

Karena dihajar, tangan kanannya itu segera membalas.

Habis itu, ia berlompat mundur.

Dengan begitu, sendirinya robohlah Oey Yong.

Oleh karena jatuhnya ini tanpa pertolongan, hati si nona pepat sekali.

Ia menyesal, ia penasaran, ia berduka.

Juga Kwee Ceng kaget, juga pemuda ini menyesal, penasaran dan berduka.

Ia lompat maju, untuk mengangkat tubuh si nona.

Ia melihat kelilingan, untuk membawa nona itu ke tempat di mana dia bisa beristirahat.

Juga Oey Yong turut melihat ke sekitar mereka.

Di arah timur laut, di mana ada sebuah batu besar, terlihat sepotong kain hijau tertiup angin.

Ketika melihat itu Oey Yong lantas berteriak;

"Ayah!"

Ia lantas saja mendapat tenaga, ia lari.

Kwee Ceng juga lari bersama, maka itu mereka saling berpegang tangan.

Tiba di batu itu, di situ pun kedapatan sepotong kulit muka orang.

Oey Yong kenal baik topeng kulit kepunyaan ayahnya itu, dengan kebingungan ia membungkuk akan memungutnya begitu pun baju hijau itu di mana ada tapak tangan dari darah, tegas nampak bekas telunjuk.

Melihat itu Kwee Ceng berpikir;

"Pasti ini tapak Kiu Im Pek-kut Jiauw dari Oey Yok Su, habis dia mencelakai samsuhu, dia menyusut tangannya di sini ……"

Ia tengah memegang tangan si nona ketika mendadak ia melepaskannya sambil menyempar terus ia merampas baju hijau itu dan merobeknya.

Ketika itu ia melihat ujung baju itu pecah sedikit, maka ia ingat, juiran itu pastilah yang telah dibawa burung rajawali tempo si nona minta ikan emas istimewa.

Kwee Ceng berdiri diam kapan ia telah mengawasi tapak jari tangan itu, kemudian ia lekas menggulung itu dan mengasih masuk ke dalam sakunya, habis itu tanpa membilang apa-apa, ia lari ke pinggir laut sekali di mana ada sebuah perahu layar, yang tidak ada anak buahnya.

Entah ke mana perginya semua budak gagu.

Ia tidak berpaling pula pada Oey Yong ketika ia memotong putus dadungnya perahu itu, ia mengangkat jangkarnya, ia memasang layarnya, terus ia berlayar …… Oey Yong dengan bengong mengawasi perahu menuju ke barat.

Mulanya ia masih mengharap si anak muda berbalik pikir dan akan kembali, untuk mengajak ia pergi, maka ternyata, habislah pengharapannya.

Dengan lekas perahu layar itu seperti terbenam di dalam lautan.

Sekarang merasalah ia yang ia berada sebatang kara di pulaunya itu.

Engko Cengnya pergi, ayahnya entah bagaimana, entah masih hidup atau telah terbinasa ……!

"Yong-jie, Yong-jie!"

Akhirnya ia kata pada dirinya sendiri.

"Siang hari masih panjang! Kau tidak dapat berdiri diam saja di pesisir ini! Ingat Yong-jie, tidak dapat kau memikir pendek!"

Bab 70.

KUMPUL SEMUA.

Kwee Ceng berlayar terus menuju ke barat sesudah melalui beberapa puluh lie, mendadak ia mendengar suara burung terang di atasannya.

Ia mengenali sepasang burungnya, yang terbang menyusul padanya.

Dengan cepat kedua burung menclok di atas layar.

"Burung ini mengikuti aku, Yong-jie berada sendirian di pulau, ia bakal jadi bertambah kesepian,"

Pikirnya.

Maka timbullah rasa kasihannya.

Dihari ketiga, pemuda ini mendarat.

Ia membenci segala benda dari Tho Hoa To, dari itu ia mengangkat jangkar, ia menghajar perahunya, maka tenggelamlah kendaraan air itu.

Ia sendiri berlompat ke darat sebelum air memenuhi perahu itu, maka ia melihat perahu Perlahan-lahan masuk ke dalam air dan lenyap.

Ia berjalan tanpa tujuan.

Ia mampir di rumah seorang tani di mana ia membeli beras untuk masak nasi, guna menangsal perut.

Habis dahar, setelah menanya jalanan untuk Kee-hin, ia berangkat menuju ke kota itu.

Malam itu pemuda ini bermalam di tepi sungai Cian Tong Kang, ketika ia tengah mengawasi permukaan air, tiba-tiba ia melihat bayangan rembulan.

Ia terkejut, la memang telah lupa tanggal.

Tentu sekali ia khawatir nanti melewati janji pertemuan di Yan Ie Lauw.

Lantas ia menanya tuan rumah.

Lega sedikit hatinya ketika ia diberitahukan hari itu tanggal tigabelas.

Karena ini malam ini juga, ia menyeberangi sungai, terus ia menyewa keledai guna melanjuti perjalanannya, untuk lega hatinya, ia tiba di kota Kee-hin selebatnya tengah hari.

Di sini segera ia menanya orang di mana pernahnya Cui Sian Lauw, rumah makan Dewa Mabuk.

Itulah rumah makan yang Paling berkesan untuknya.

Semenjak ia masih kecil, guru-gurunya telah menuturkan kepadanya tentang pertempuran mereka dengan Khu Cie Kie di rumah makan itu.

Ia tidak diberitahukan sebab musababnya tetapi ia ketarik sama caranya Pertempuran, mengadu minum arak memakai jambangan perunggu.

Kemudian lagi ia ketahui tentang asal usul dirinya, maka tahulah ia, rumah makan itu ada hubungannya sama kehidupannya.

Ketika orang menunjuki dia bahwa rumah makan itu berada di tepi telaga Lam Ouw, segera ia pergi ke sana.

Setibanya, ia mengangkat kepala, mengawasi rumah makan itu.

Ia mendapatkan c0cok apa yang dijelaskan Han Siauw Eng.

Setelah sepuluh tahun lebih mengingat-ingat rumah makan itu, baru sekarang ia melihatnya dengan matanya sendiri.

Memang rumah makan itu indah dengan lauwtengnya yang berukiran, sedang di tengah-tengah ada berdiri sepotong bokpay, atau papan, yang bertuliskan empat huruf besar.

"Tay Pek Ie Hong" , artinya, peninggalan kebiasaan dari Lie Thay pek si sastrawan yang dijuluki Dewa Mabuk, sedang nama "Cui Sian Lauw" , yang memakai leter emas, ada tulisannya Souw Tong Po. Bersih dan berkilap tiga huruf emas itu. Dengan hati berdebar, Kwee Ceng naik dengan tindakan cepat ke atas lauwteng. Segera ia dipapaki seorang palayan, yang memberitahukan bahwa hari itu sudah ada yang memborong rumah makannya. Ia heran, hendak ia minta keterangan, atau segera ia mendengar panggilan.

"Anak Cengl Kau sudah datang?"

Ia lantas mengangkat kepalanya.

Ia terkejut akan mengenali orang yang memanggilnya itu, sebab ialah Khu Cie Kie, yang lagi duduk bersila-Ia lari rnenghampirkan, ia lantas berlutut dengan cuma dapat memanggil.

"Khu Totiang a Sa S!"

Khu Cie Kie mengasih orang bangun.

"Apakah keenam gurumu juga sudah sampai?"

Ia tanya.

"Aku telah memesan barang santapan untuk kita a Sa S"

Ia menunjuk ke kanan, di mana Kwee Ceng melihat telah disiapkan sembilan buah meja yang diperlengkapi sama sumpit dan cangkirnya. Ia berkata pula.

"Ketika delapanbelas tahun yang lalu untuk pertama kali aku bertemu di sini dengan ketujuh gurumu, mereka mengatur meja begini rupa. Ini satu meja kepunyaan Ciauw Bok Taysu, maka sayang ia dan gurumu yang nomor lima sudah tidak dapat berkumpul pula di sini a Sa S"

Kelihatannya imam itu sangat berduka. Kwee Ceng berpaling ke lain arah, tidak berani ia mengawasi langsung imam itu. Khu Cie Kie tidak melihat sikap orang, ia berkata lagi.

"Jambangan perunggu yang dulu hari itu kita pakai untuk minum arak, hari ini aku telah mengambilnya dari kuil, maka kalau sebentar semua gurumu datang, kita boleh minum arak pula."

Kwee Ceng melihat jambangan itu di samping sekosol.

Karena usianya sudah tua, warnanya jambangan itu sudah hijau gelap, pula jambangan itu sudah dimuati arak hingga dari sana tersiar baunya minuman itu.

Ia terus mengawasi dengan mata mendelong.

Kemudian ia mengawasi delapan meja yang masih kosong itu.

Ia pikir, kecuali guruuya yang nomor satu, tidak ada orang lainnya yang dapat duduk di situ untuk minum arak.

Ia menjadi ngelamun.

"Asal aku bisa memandang satu kali saja tujuh guruku duduk pula di sini dan minum arak dengan gembira, mati pun aku puas a Sa S"

Kembali terdengar suara Khu Cie Kie;

"Tadinya telah dijanjikan untuk tahun ini bulan tiga tanggai duapuluh empat kau berdua Yo Kang mengadu kepandaian di sini. Aku mengagumi gurumu semua yang hatinya mulia itu, mengharap-harap kaulah yang nanti menang, supaya dengan begitu nama Kanglam Cit Koay menjadi bertambah kesohor. Aku sendiri senantiasa merantau, tidak dapat aku mencurahkan perhatianku sepenuhnya kepada Yo Kang, tidak dapat aku mengajari ia ilmu silat dengan baik. Sudah begitu, aku juga tidak berhasil mendidik sifatnya agar dia menjadi seorang gagah. Berhubung dengan ini aku menyesal terhadap pamanmu, Yo Tiat Sim. Benar Yo Kang membilang dia sudah menyesal akan tetapi untuknya sangat sukar untuk merubah sipatnya itu a Sa S"

Sebenarnya Kwee Ceng hendak memberitahukan halnya Yo Kang telah mati tetapi ia tidak tahu bagaimana harus mulai bicara, dari itu si imam kembali melanjutkan kata-katanya.

"Dalam hidupnya manusia, kepandaian ilmu surat dan ilmu silat untuknya ialah soal terakhir yang paling utama ialah Tiong Gie -kesetiaan dan kejujuran. Boleh dianggap Yo Kang lebih kosen seratus kali daripada kau akan tetapi dalam perilaku, gurumuiah yang menang. Kau tahu aku kalah dengan puas."

Habis berkata, saking puasnya itu, Khu Cie Kie tertawa lebar. Sebaliknya Kwee Ceng, anak muda ini lantas mengucurkan air mata deras.

"Eh, kenapa kau berduka?"

Tanya si imam heran. Anak muda itu maju lebih dekat, lantas ia menjatuhkan dirinya, untuk berlutut. Ia menangis* "Kelima guruku sudah meninggal dunia a Sa S"

Katanya sukar. Khu Cie Kie terkejut-"Apa?"

Dia tanya keras.

"Kecuali guruku yang nomor satu, yang lainnya yang lima lagi, semua sudah meninggal dunia,"

Kata pula Kwee Ceng.

Khu Cie Kie melengak, ia bagaikan disambar guntur, inilah ia tidak sangka, sedang ia mengharap sangat pertemuan ini.

Sebagai seorang jujur; ia sangat menghargai Kangiam Cit Koay, yang ia anggap sebagai sahabat-sahabat sejati, ia telah tak melupai mereka itu selama deiapanbelas tahun, meskipun benar mereka sangat jarang bertemu.

Maka ia pergi ke loneng matanya mengawasi ke telaga, kemudian ia dongak dan mengeluarkan napas panjang.

Segera berbayang romannya Cit Koay.

Kemudian ia menoleh, ia Pergi mengangkat jambangan perunggu untuk berkata;

"Sahabat-sahabatku telah menutup mata, kau ini untuk apa?"

Dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkannya.

Hebat ketika jambangan itu tercebur ke telaga, suaranya nyaring, airnya muncrat tinggi.

Kemudian ia dekati K^ee Ceng, untuk mencekal keras sekali tangan anak muda itu-"Bagaimana meninggalnya mereka itu?"

Ia tanya.

"Lekas tuturkan!"

Kwee Ceng mau memberikan keterangan, hanya belum lagi ia membuka mulutnya, mendadak ia melihat tubuh seorang berkelebat, di antara mereka lantas tertampak seorang lain, yang bajunya hijau, yang sikapnya tenang.

Ia menjadi kaget ketika ia telah mengenalinya, ia mengawasi, ia tidak salah mata.

Orang itu Oey Yok Su, tocu, atau pemilik dari Tho Hoa To.

Juga Oey Yok Su melengak melihat anak muda ini.

Selagi ia berdiam mengawasi, dengan mendadak datang serangan untuknya.

Sebab Kwee Ceng, dengan melompati meja menerjang dengan jurusnya Hang liong yoe hui ", itulah serangan sangat hebat.

Tapi ia tabah dan awas, dengan sebat ia berkelit, tangan kirinya dipakai menolak-Hebat serangannya si anak muda, hebat perlawanan majikan dari Tho Hoa To itu, hebat juga kesudahannya.

Anak muda itu terjerunuk ke depan, dia menerjang papan lauwteng yang menjadi ruang di situ, terus tubuhnya jatuh ke bawah lauwteng, sedang di bawah ia menimpa para_para cangkir, maka dengan suara sangat berisik hancurlah perabotan itu -cangkir, piring, mangkok dan lainnya.

Pemilik rumah makan lantas saja mengeluh.

Ingatlah ia akan kejadian delapanbelas tahun yang lampau.

Tadi juga, melihat Khu Cie Kie mengambil jambangan, hatinya sudah berkhawatir, sekarang kekhawatirannya itu berbukti.

Kwee Ceng takut ia terlukakan pecahan cangkir itu, dengan lantas ia berlompat naik pula ke lauwteng.

Di lain pihak, Oey Yok Su dan Khu Cie Kie telah berbareng berlompat turun, hanya mereka itu mengambil jalan dari jendela-Dengan terpaksa anak muda ini lompat dari jendela, untuk menyusul, hanya kali ini ia menyiapkan senjatanya, karena ia pikir;

"Si tua itu lihay, tidak dapat aku melawan ia dengan tangan kosong."

Maka ia mengeluarkan tiga rupa senjata.

Dengan mulutnya ia menggigit pedang pendek dari Khu Cie Kie, tangan kanannya mencekal kim-too, golok emas, pemberian jenghiz Khan, dan tangan kirinya memegang tombak pendek warisan ayahnya-Ia pikir juga;

"Biar bagaimana, mesti aku dapat menikam dia dua lubang a sa s"

Ketika itu lagi banyak orang, maka kagetlah mereka itu menampak si anak muda lompat turun dari jendela dengan menghunus senjata, sedang tadinya mereka berkumpul untuk menonton karena mendengar suara ribut disusul dengan lompat turunnya dua orang.

Kwee Ceng, setibanya ia di bauiah tidak melihat Oey Yok Su dan Khu Cie Kie.

Ia melepaskan pedang pendek, ia menanya seorang tua di dekatnya ke mana perginya itu dua orang yang barusan turun dari laUuiteng.

Orang tua itu kaget dan ketakutan.

Ia salah menduga.

"Ampun, hoohan,"

Katanya-"Aku tidak tahu urusan mereka itu a Sa S"

"Sebenarnya mereka Pergi ke mana?"

Kwee Ceng tanya pula.

Orang tua itu makin ketakutan, ia minta-minta ampun, sudah lama si anak muda tinggal di gurun pasir, sekarang pun hatinya lagi tegang, maka itu suaranya menjadi keras luar biasa.

Saking sebal, si anak muda menolak si empeh, ia pergi mencari, tapi tanpa hasilnya, maka ia naik pula ke lauwteng rumah makan.

Dari sini ia memandang ke telaga, maka terlihatlah olehnya sebuah perahu kecil, yang memuat Cie Kie dan Yok Su, yang tengah menuju ke Yan Ie Lauw.

Khu Cie Kie duduk di buntut perahu di mana dia mengayuh.

"Tentu mereka berdua pergi ke Yan Ie iauui untuk bertempur mati dan hidup,"

Pikir Kwee Ceng."

Meskipun Khu Totiang lihay, mana dia sanggup melawan itu bangsat tua?"

Maka ia lantas mengambil putusan, ia lari turun dari lauwteng, lari ke tepi telaga, untuk menyambar sebuah perahu kecil, yang ia terus kayuh ke arah Yan Ie Lauw juga, menyusul dua orang itu.

Adalah maksudnya si anak muda untuk dapat menyandak, di luar tahunya lantaran ia menggunakan tenaga terlalu besar, pengayuhnya patah sendirinya.

Terpaksa ia memakai selembar papan sebagai pengganti Pengayuh itu, maka sekarang Perahunya laju ayal sekali.

Dengan lantas ia ketinggalan jauh, lalu ia kehilangan mereka.

Ia mengayuh terus.

Ketika ia akhirnya tiba di darat, ia menyesal.

Di saat seperti itu, ia dapat mengendalikan diri-"Aku mesti sabar,"

Demikian pikirnya-Ia bertindak ke arah iauwteng-Ketika ia sudah datang dekat, ia mendengar di belakang situ suara senjata beradu, suara sambar menyambarnya angin serta bentakan berulang-ulang.

Kalau orang bertempur, itu mestinya bukan cuma Khu Cie Kie dan Oey Yok Su.

Sesudah melihat ke sekitarnya, dengan berindap-indap si anak muda bertindak masuk ke lauwteng.

Di bagian bawah ia tidak melihat seorang juga, maka ia lantas naik di tangga-Segera ia melihat seorang lagi menyender di jendela, mulutnya menggayam hingga terdengar suara menggayamnya itu.

Ia menjadi heran.

"Suhu!"

Ia memanggil seraya menghampirkan.

Orang itu benar Ang Cit Kong.

Dia mengasih lihat roman sungguh-sungguh, tangannya menunjuk ke bawah jendela-Dengan lain tangannya ia mengangkat sepaha kambing untuk digerogoti.

Kwee Ceng lari ke tepi jendela, untuk melongok.

Ia lantas melihat satu permandangan yang mengherankan ia.

Oey Yok Su lagi bertempur, dia dikurung oleh enam anggota dari Coan Gin Pay.

Menyaksikan pemilik Tho Hoa To itu dikepung, pemuda ini merasa lega juga.

Ia hanya kaget ketika ia melihat di situ pun ada gurunya yang nomor satu, guru itu lagi menyerang dengan tongkatnya, di belakangnya ada In Cie Peng.

Dia ini berdiri membelakangi, tangannya memegang pedang, dia tidak turut berkelahi.

"Heran, kenapa toasuhu ada di sini?"

Kwee Ceng tidak usah menanti lama, lantas ia mengetahui Coan Cin Liok Cu lagi berkelahi dengan mengatur barisannya yang istimewa, ialah Thian K0ng Pak Tauw Tin-Hanya karena Tam Cie Toan telah meninggal dunia, dia digantikan Kwa Tin Ok, yang mengambil kedudukan thain-soan-Sebab ketua Kanglam Cit Koay ini cacat matanya, ia ditunjang oleh In Cie Peng supaya ia tidak usah mengkhawatirkan serangan dari belakang.

Demikian Oey Yok Su dikurung.

Ketika pertempuran di Gu-kee-cun, cuma dua orang Goan Gin Pay yang menggunai pedang, yang lainnya bertangan kosong, tetapi sekarang mereka, bertujuh sama Kwa Tin Ok atau berdelapan sama In Cie Peng, semuanya bersenjatakan pedang.

Yok Su tetap bertangan kosong, hebat ia diserang hingga nampaknya ia tidak bisa melakukan penyerangan membalas, bahkan membela diri pun kewalahan-Melihat demikian, Kwee Ceng kata dalam hatinya;

"Biar kau sangat lihay, hari ini kau tidak bakal dapat lolos lagi!"

Disaat ia terdesak itu, mendadak terlihat Oey Yok Su menekuk kaki kiri dan kaki kanan menyambar, menyapu kaki lawannya semua.

Rengkasan itu sangat berbahaya.

Dengan serentak, delapan lawan itu berlompat mundur tiga tindak-"Bagusi"

Kwee Ceng berseru dengan Pujiannya-Rengkasan itu dilakukan sambil berputar, maka itu semua musuh mesti menyingkir dengan hampir berbareng.

Habis menyerang, Oey Yok Su mengangkat kepala sambil mengulapkan tangan ke atas lauwteng kepada Ang Cit Kong berdua Kwee Ceng, tandanya ia senang dengan pujian si anak muda.

Menyaksikan sikap orang itu, Kwee Ceng kagum.

Walaupun terdesak, tocu dari Tho Hoa To itu tetap tenang dan napasnya juga tidak memburu.

Ia pun heran.

Dari heran, ia menjadi bercuriga.

Bukankah Oey Yok Su tengah berakal muslihat?

Selang sekian lama, datanglah ketika yang mendebarkan hati-Mendadak tangannya ketua Tho Hoa To itu menyambar ke embun-embunannya Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian.

Kalau serangan itu mengenai sasarannya, pecahlah batok kepalanya si imam yang nomor tiga itu.

Dengan itu pun teranglah Oey Yok Su sudah memulai dengan serangan membalasnya.

Oey Yok su menyerang dengan dua tangannya berbareng-Seharusnya LaUui Cie Hian tidak boleh menangkis, ia mestinya ditolongi oleh Khu Cie Kie di kedudukan Thian-koan dan Kuia Tin ok di kedudukan thian-soan di pinggir.

Apa mau, Hui Thian Pian-hok tidak dapat melihat, dia cuma mengandali kupingnya, maka ketika ia menyerang dari kiri ia terlambat, ia kena didului Khu Cie Kie.

Dengan begitu, Oey Yok Su jadi tidak terancam bahaya.

Cie Hian melihat ancaman datang, terpaksa ia menjatuhkan diri dengan bergulingan.

Ma Giok dan Ong Cie It melihat saudaranya itu terancam, mereka maju bersama, menyerang lawannya itu.

Semua gerakan berlaku sangat cepat-Lauw Cie Hian lolos dari bahaya, tetapi dengan begitu, Pak Tauw menjadi kacau.

Oey Yok su tertawa terbahak, lantas ia menyerang kepada Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, imam yang termuda, hanya begitu ia maju begitu lekas juga ia berlompat mundur, guna berbalik menyerang Kong Leng Cu Cek Tay Thong.

Serangan itu luar biasa, Sun Put Jie heran, Cek Tay Thong melengak.

Ketika Ceng Ceng Sanjin menangkis, untuk terus menyerang, Oey Yok Su sudah keluar dari kepungan dan berdiri diam di tempat dua tombak jaraknya-"Hebat Oey Yok Su!"

Ang Cit Kong memuji-"Biar aku Pergi!"

Berkata Kwee Ceng, yang terus memutar tubuh, untuk lari turun di tangga.

"Sabar, sabar!"

Mencegah Cit Kong.

"Semenjak tadi mertuamu itu tidak melakukan Perlawanan, aku sebenarnya berkhaWatir untuk gurumu yang nomor satu, tetapi sekarang aku melihat dia tidak ada niatnya mencelakai orang."

Kwee Ceng kembali ke jendela-"Kenapa begitu, suhu?"

Ia tanya.

"Kalau dia hendak mencelakai orang, barusan itu si imam kurus seperti kera tidak bakal ketolongan jiwanya, menyahut sang guru.

"Semua imam itu bukannya tandingan dari Oey Lao Shia, bukan tandingannya!"

Ia menggigit daging kambingnya dan mengganyam, lalu menambahkan.

"Ketika mertuamu dan Kim Coa Long-kun belum datang, aku melihat beberapa imam itu serta gurumu mengatur barisan, agaknya mereka masih menantikan satu orang guna membantui gurumu itu, agar tiga orang bersama menjaga garis thian-soan. Entah kenapa, sampai sekarang orang itu tetap tidak muncul-Sekarang garis tnian-soan dijaga hanya dua orang, tak cukup itu guna bertahan dari mertuamu itu a Sa S"

Dia bukannya mertuaku I"

Kata Kwee Ceng sengit. Eh!"

Cit Kong heran-"Kenapa bukan mertuamu?!"

Dia! Dia! Hm!"

Bagaimana dengan Yong-jie? Apakah kamu berdua bercedera?"

Inilah tidak ada hubungannya dia, dia telah membikin mati kelima guruku! Aku bermusuh dengannya, dalamnya bagaikan lautan!"

Cit Kong heran hingga ia berjingrak.

"Benarkah?"

Dia menegasi.

Kwee Ceng tidak mendengar pertanyaan itu, ia lagi menumpieki perhatiannya kepada pertempuran di bauiah.

Oey Yok Su menggunai Pek Khong Ciang, ilmu silat Menyerang Udara Kosong, anginnya itu seperti menderu-deru, ia membuatnya semua musuhnya tidak bisa dating dekat.

Tapi Pak Tauui Tin telah diatur rapi pula.

ia tidak bisa lantas membebaskan diri seanteronya.

Hanya terpisahnya mereka sedikit jauh.

Dengan begitu, selagi pedang C0an Cin Cit Cu tidak sampai kepada lawan, sebaliknya pihak lawan, kalau dia menghendakinya, dia dapat berlompat mendekati.

"Ah, kiranya begitu?"

Kata Cit Kong tiba-tiba-"Apa suhu?" 'oey Yok Su sengaja memancing Cit Cu menggunai barisannya itu, untuk ia memahami sifatnya,"

Menyahut sang guru.

"Itulah sebabnya kenapa ia berayal menurunkan tangan. Ia hendak memperkecil garis."

Cit Kong telah kehilangan ilmu silatnya tetapi tidak pikiran atau Pandangannya yang tajam.

Benarlah, makin lama kalangannya Coan Cin Cit Cu makin rapat, makin rapat, hingga ada membahayakan mereka sendiri kalau mereka menggeraki pedangnya masing-masing.

Pernah Lauw Cie Hian, Khu Cie Kie, Ong Cie It dan Cek Tay Th0ng menyerang berbareng, tempo Oey Yok Su berkelit, hampir mereka saling menikam sendiri.

Hatinya Kwee Ceng menjadi tegang pula, ia cemas.

Ia mengerti, begitu lekas Oey Yok Su turun tangan, gurunya yang nomor satu itu bisa menjadi korban yang pertama.

Ia berada jauh, mana bisa ia menolong?

"Biarlah teecu turun!"

Katanya seraya terus ia lari turun Pula-Hanya ketika ia mulai mendekati kalangan pertempuran itu, di antara mereka itu terlihat pula perubahan.

Oey Yok Su maju dengan tetap ke arah kiri dari Ma Giok, ia seperti memisahkan diri nampaknya hendak ia mengangkat kaki.

Menampak demikian, Kwee Ceng lantas bersiap sedia, asal tocu dari Tho Hoa To itu berlompat menyingkir, hendak ia menyerang dengan Pedang pendeknya-Tiba-tiba terdengar suitannya Ong Cie It, lalu bersama Cek Tay Thong dan SUn Put Jie, dia bergerak dari kiri dengan begitu, mereka tetap mengurung lawannya yang tangguh dan lihay itu.

Oey Yok Su mencoba hingga tiga kali, tidak bisa dia mendekati Ma Giok-Ada saja, Khu Cie Kie atau Ong Cie It atau Cek Tay Thong berempat, yang mengganggu padanya, yang melindungi Ma Giok» ketua dari Coan Cin Pay itu-Setelah percobaan Oey Yok Su yang keempat kali, Kwee Ceng pun sadar, hingga ia berseru di dalam hatinya.

"Ah, benar! Dia hendak merampas kedudukan bintang utara Pak-kek-chee!"

Bintang Pak-kek-chee berada di utara di tengah sekali, sedang barisan Pak Tauw Tin itu berpokok pada bintang utara itu (Pak Tayui).

Setelah Oey Yok Su menginsyafi sifatnya tin atau barisan lawan itu, ia memusatkan perhatiannya kepada garis tengah itu.

Ia mengerti, asal ia bisa merangsak tengah, tin akan pecah, atau kalau tidak, ia akan bertahan di situ, hingga ia tidak dapat dikalahkan.

Juga Ma Giok semua dapat menerka maksud lawan, mereka menjadi cemas hati.

Coba Tam Cie Toan masih hidup, mereka tidak usah terlalu berkhawatir, mereka tidak nanti membiarkan lawan merangsak ke utara itu, sekarang tidaklah demikian, di sebabkan lemahnya Kwa Tin Ok meskipun Tin Ok dibantu in Cie Peng.

Tin Ok bercacad dan Cie Peng lemah, sudah begitu, keduanya masih asing dengan tin itu.

juga kawanan Coan Cin Pay ini telah melihat Kwee Ceng.

Mereka menduga setiap waktu Kwee Ceng bakal membantui mertuanya itu.

Maka itu, mereka bingung.

Mereka menantikan saat orang, guna mengambil tempatnya Tin Ok di garis thian-soan itu akan tetapi orang yang dinanti-nanti belum juga kunjung tiba.

Mereka percaya, asal orang itu datang, garis thian-soan bakal jadi kuat sekali-Sembari berkelahi oey Yok Su kata sambil tertawa.

"Sungguh aku tidak menyangka, murid-muridnya Ong Tiong Yang ada begini tidak tahu selatan!"

Kata-kata ini dibarengi rangsakan kepada Sun put Jie, yang diserang saling susul hingga tiga kali, hingga imam itu repot.

Ma Giok bersama Cek Tay Thong segera maju membantui, guna menolongi.

Oey Yok Su berkelit, setelah pedang kedua orang itu lolos, ia maju pula.

Lagi tiga kali beruntun ia menyerang Sun put Jie.

Hebat serangannya itu, sekalipun Ong Ti0ng Yang atau Cit Kong sembuh, sulit untuk melayani itu-Karena itu, Sun Put Jie terpaksa hanya membela diri.

Atas itu, Oey Yok Su mengubah siasatnya, ialah lantas ia menyerang di bawah, kedua kakinva bekerja bergantian enam kali menyapu kaki lawannya itu.

Jadi beruntun tocu Tho Hoa To itu sudah menggunai ilmu silatnya tangan kosong "Lok Eng Ciang"

Dan tendangan "Sauw Yap Twie".

Ma Giok beramai menjadi bingung.

Serangan-serangan itu membahayakan Sun Put Jie-Pula, dengan Kwa Tin Ok tidak dapat melihat, mereka jadi bergerak lambat.

Hebat akibatnya kalau Pak Tauw Tin kacau.

Sebaliknya Oey Yok Su ia tidak mengambil mumat apa yang dipikir lawan, ia merangsak www.kangzusi.com terus.

Mendadak ia tertawa panjang dan tubuhnya melesat, terus terdengar jeritan yang keras dari satu orang yang tubuhnya terlempar ke ujung Yan Ie Lauw.

Itulah in Cie Peng, yang punggungnya kena disambar, hingga tanpa berdaya, tubuhnya kena dilemparkan Oey Yok Su.

Setelah itu, tanpa menanti ketika, jago Tho Hoa To ini maju ke arah Ma Giok.

Ia Percaya ia bakal berhasil.

Tidak tahunya, imam itu tidak berkisar dari kedudukannya, malah dengan pedangnya dia membalas menikam ke alis.

"Bagus!"

Berseru Yok Su dengan pujiannya sambil ia berkelit.

"Tidak kecewa kau menjadi murid kepala dari coan Cin Pay!"

Meski juga ia memuji, Oey Yok Su tidak menghentikan gerakannya.

Mendadak ia menendang Cek Tay Thong hingga imam itu terguling, pedangnya terlepas, maka ia menubruk pedang itu, untuk dipakai menikam lawannya yang roboh itu.

Layui Cie Hian kaget, ia lantas menangkis guna menolongi saudaranya itu.

Oey Yok Su melihat datangnya bantuan untuk Tay Thong, ia tertawa, sembari tertawa, pedangnya dipakai menangkis Cie Hian-Dengan begitu bentroklah kedua senjata itu-Yang hebat ialah kedua-duanya pedang patah sambil mengasih dengan suara keras.

Bagaikan bayangan berkelebat gesit sekali tocu dari Tho Hoa To merangsak ke arah Pak-kek-chee.

Sejenak itu, kacaulah pak Tauw Tin.

Coan Cin Cit Cu mengeluh saking berdukanya.

Ma Giok menghela napas panjang, hendak ia melemparkan pedangnya, guna menyerah kalah.

justru itu satu bayangan berkelebat di antara mereka, lantas digaris utara itu tambah satu orang -itulah Kwee Ceng!

Khu Cie Kie menjadi girang sekali.

Ia telah menyaksikannya di Cui Sian Lauw di mana mertua dan menantunya itu bertempur mati-matian.

Ma Giok dan Ong Cie It juga lantas mengenali si anak muda, yang mereka tahu adalah seorang jujur, maka mereka percaya, anak muda itu tentunya bakal membantui mertuanya itu-Habislah Cian Cin Cit Cu -atau Coan Cit Liok Cu -kalau mertua dan mantu bekerja sama.

Tentang Kuia Tin Ok tidak dikhawatirkan, sebab tidak nanti Kwee Ceng mencelakai gurunya itu.

Tapi selagi mereka itu berkhawatir dan berputus asa, lantas mereka menampak kenyataan yang luar biasa.

Kwee Ceng bukannya membantui mertuanya, ia justru menempur mertuanya itu!

Oey Yok Su percaya ia bakal dapat mengacau Pak Tauw Tin dan memecahnya, supaya dengan begitu Coan Cin Pay menyerah dan minta-minta ampun, maka heran ia atas datangnya bala bantuan kepada musuhnya itu, tidak menanti sampai ia memutar tubuh, ia segera menyerang ke belakang, ke arah dada, dengan pukulan Pek Khong Ciang.

Serangan ini dihalau orang tanpa orang itu berkelit, cuma tangan kirinya dipakai menangkis.

Ia terkejut-"Cuma beberapa orang saja yang dapat menangkis seranganku semacam ini,"

Pikirnya.

"Siapakah dia?"

Maka ia segera menoleh, akan mengenali Kwee Ceng, hingga ia menjadi mendongkol berbareng menyesal.

Dengan penasaran, ia menyerang pula, beruntun tiga kali.

Ia tahu tanpa dapat mengundurkan si anak muda, ia terancam bahaya terkepung, ia menyerang dengan tiap pukulannya bertambah hebat, tetapi tiga "tiga kalinya, serangannya itu dapat dihindarkan.

Untuk keempat kalinya, ia menyerang pula, dengan siasat berPura-pura dan benar-benar.

Siasat ini dapat membingungkan lawan.

Kwee Ceng tidak kena diakali, ia menjaga diri, ia tidak menyerang -Pedangnya menjaga dada, tangan kirinya melindungi perut.

Oey Yok Su menjadi heran.

"Terang bocah ini mengenal baik sifat Pak Tamu Tin,"

Pikirnya.

"Dia tahu bagaimana harus membelai atau memukul pecah a Sa S Lihatlah, dan tidak berkisar dari Pak-kek-chee! Rupanya dia telah diminta bantuannya untuk menentang aku a Sa s"

Dugaan pemilik Tho Hoa To ini benar separuh, salah separuh.

Benar ialah karena Kwee Ceng memang mengerti baik barisan pak Tauui Tin itu, hanya itu didapat bukan dari pengajarannya Coan Cin Cit Cu tetapi dari kitab Kiu Im Cin-keng.

Dia salah menduga, sebab Kwee Ceng bukan diminta bantuannya oleh Coan Cin Pay hanya dia bertindak atas kehendak sendiri.

Tidak saja di situ ada Tin Ok, dia pun telah dianggap si anak muda sebagai musunnya, karena dipercaya dialah yang membinasakan Cu Cong berlima.

Hanya karena mengetahui lawannya lihay, Kwee Ceng mengambil sikap membela diri, sama sekali anak muda ini tidak mengambil mumat orang menyerang benar-benar atau menggertak saja.

Akhirnya Oey Yok Su mengeluh sendirinya.

"Anak ini tidak tahu maju atau mundur,"

Pikirnya.

"Hm! Biarlah, biar aku disesalkan Yong-jie, mesti aku hajar dia, sebab kalau tidak, tidak nanti aku daPat lolos dari tin ini!"

Ia pun lantas bergerak, tenaganya dikerahkan di kedua tangannya. Tepat di saat ia hendak menyerang, ia berpikir;

"Kalau dia tetap berdiri diam dan tidak menyingkir, dia bakal terluka parah, kalau dia sampai kenapa~napa, mana Yong-jie mau mengerti?"

Kwee Ceng telah melihat gerakan lawannya yang tangguh itu, akan tetapi ia tidak mau berkisar dari tempat jagaannya itu-Ia menggertak gigi.

ia menangkis dengan jurusan "Kian Liong Cay Thian", atau "Melihat naga di sawah".

Dengan Hang Liong Sip-pat Ciang hendak ia bertahan, agar Pak Tauw Tin dapat dilindungi.

Dengan mendadak, Oey Yok Su menunda serangannya itu.

"Bocah tolol, lekas menyingkir?"

Ia membentak.

"Mengapa kau menentang aku?"

Kwee Ceng bersiap dengan pedangnya, ia mengawasi dengan tajam. Ia takut jago itu menggunai akal. Ia tidak menyahuti. Pihak Khu Cie Kie sudah lantas memperkokoh lagi barisannya.

"Di mana Yong-jie?" 0ey Yok Su tanya. Kwee Ceng berdiam, matanya merah bagaikan api, romannya bengis. Yok Su he^an. Ia lantas mau menduga telah terjadi sesuatu kepada putrinya-"Kau perbuat apa atas Yong-jie?"

Ia membentak, ia mulai berkhawatir.

"Lekas bilang!"

Masih si anak muda berdiam, hanya tangannya yang mencekal pedang bergemetar. Oey Yok Su terus mengawasi dengan tajam, maka heranlah ia. Ia menjadi curiga.

"Kenapa tanganmu bergemetar?"

Ia tanya.

"Kenapa kau tidak mau bicara?"

Kwee Ceng tengah mengingat kebinasaan hebat dari kelima gurunya di pulau Tho Hoa To, ia lagi menahan hawa amarahnya, getaran hatinya, maka ia bergemetar.

Oey Yok Su bercuriga berbareng berkhawatir sekali.

Hanya ia berkhawatir, mungkin sebab perebutan di antara putrinya itu dan putri Mongolia, si anak muda telah membunuh Yong-jie, anaknya.

Dengan menjejak kedua kaki, ia lompat maju.

Khu Cie Kie melihat gerakan pemilik Tho Hoa To itu, ia segera menggeraki barisannya.

Ong Cie It bersama Cek Tay Thong menyerang dari kiri dan kanan.

Kwee Ceng tidak menyingkir, ia cuma berkelit, pedangnya terus ditikamkan.

Oey Yok Su pun tidak menyingkir, bahkan dengan satu tekukan tangan, ia menangkap tangan si anak muda, guna merampas pedangnya.

Tapi ia gagal-Kecuali pedangnya Ong Cie It mengancam punggungnya, pedang Kwee Ceng pun bisa diegos, dipakai menikam pula.

Setelah segebrak itu, pertempuran terulang pula, jauh terlebih hebat daripada yang semula.

Selagi Kwee Ceng panas hatinya, Khu Cie Kie semua tidak kurang gusarnya.

Mereka ini hendak menuntut balas untuk Ciu Pek Thong dan Tam Cie Toan.

Oey Yok Su merasa bahuia di sini telah terbit salah mengerti tetapi ia beradat keras dan jumawa, ia tidak suka mengalah, sedang juga, ia berderajat lebih tua, lebih tinggi.

Ia ingin menghajar mereka itu, supaya mereka menyerah kalah, sampai itu waktu babulah ia mau memberi keterangan, untuk sekalian memberikan tegurannya.

Begitulah, dua-dua pihak sama kerasnya.

Oey Yok Su ingin mendesak Kwee Ceng, yang ia berniat membekuknya, guna didengar keterangannya.

Kalau benar dugaannya, Oey Yong terbinasa di tangan pemuda ini, hendak ia menghukum picis.

Tapi Kwee Ceng berjaga diri di garis utara, teguh kedudukannya.

Ketika itu In Cie Peng, yang dilemparkan ke atas lauwteng Yan Ie Lauw, masih belum dapat merayap bangun, tetapi tanpa dia, Kwee Ceng tidak menjadi lemah.

Oey Yok Su menghadapi kesulitan.

Kalau ia mendesak Kwee Ceng, Khu Cie Kie beramai mendesak padanya-Ingin ia menggempur Khu Cie Kie semua, tetapi malang dengan si anak muda.

Kapan pertempuran telah berlangsung lima puluh jurus, maka terlihatlah Oey Yok su kena terdesak-Kepungan nampak menjadi ciut-"Tahan!"

Berseru Ma Giok disaat sangat tegang itu-Seruan itu ditaati, lima saudaranya lantas berhenti menyerang.

"Oey Tocu!"

Berkata tertua dari Coan Cit Liok Cu.

"Kaulah seorang kenamaan dan juga dari golongan tua, maka itu kami orang-orang dari golongan lebih muda tidak berani berlaku kurang ajar terhadapmu, kalau toh sekarang kami mengurung padamu, itulah saking terpaksa. Sekarang aku hendak menanya kau, apa katamu berhubung dengan hutang darah dari paman kami Ciu Pek Thong dan sutee kami Tam Cie Than?"

Orang yang ditanya tertawa dingin.

"Apa lagi yang hendak diperkatakan?"

Katanya.

"Lekas kau bunuh Oey Yok Su, untuk melindungi namanya Coan Cin Pay! Tidakkah itu bagus? Lihatlah!"

Tahu-tahu tangan kanannya majikan dari Tho Hoa To ini melayang ke muka Ma Giok!

inilah satu jursu dari Lok Eng Ciang, yang Oey Yok Su sudah melatihnya belasan tahun, gerak-geriknya sangat gesit, seperti juga tidak dapat terlihat.

Dalam kagetnya, Ma Giok berkelit ke kanan.

Justru ia berkelit, justru itulah kehendaknya Oey Yok Su, yang serangannya mempunyai dua maksud berbareng benar-benar dan berpura-pura.

Maka itu ia bukannya kena ditinju hanya terjambak dadanya.

Asal Oey Yok Su mengerahkan tenaganya gempurlah dadanya itu.

Semua orang terkejut, semua maju untuk menolongi, tetapi mereka terlambat.

Hanya disaat Ma Giok itu bakal menerima nasibnya, Oey Yok Su tertawa dan jambakannya dilepaskan.

Ia pun berkata.

"Jikalau dengan caraku ini aku memukul pecah barisan kamu, tentulah kamu tidak puas! Oey Lao Shia boleh mati tetapi tidak nanti dia mau menyebabkan tertawanya semua orang gagah di kolong langit ini! Kawanan imam yang baik, kamu majulah semua!"

Lauw Cie Hian mendongkol, tinjunya melayang, disusul sama pedangnya Ong Cie It.

Maka itu, bergerak pula Thian Kong Pak Tauw Tin.

Kali ini yang digeraki ialah rintasan yang ketujuhbelas.

Setelah Ong Cie It, serangan mesti disusul Ma Giok.

Hanya setelah Ong Cie It menikam dia lompat mundur, Ma Giok bukannya menggantikan menyerang, dia malah lompat mundur juga.

"Tahan! ' serunya. Lagi sekali semUa orang berhenti bergerak.

"Oey Tocu, aku menghaturkan terima kasih untuk kebaikanmu,"

Berkata Ma Giok.

"itulah kata-kata bagus dari kau,"

Jawab yok su.

"Sebenarnya disaat ini jiwa aku yang rendah sudah tidak ada,"

Kata Ma Giok.

"Sedang barisan warisan guru kami ini telah terpecahkan olehmu, dengan begitu sudah seharusnya saja kami menyerah kalah, kami mesti menyerah terhadap keputusan tocu. Tapi, sakit hati kami tidak dapat tidak dibalaskan! Oey Tocu, aku yang rendah, aku bersedia akan menggorok leherku sendiri untuk menghaturkan terima kasih padamu a Sa S"

"Sudahlah!"

Berseru Oey Yok Su, wajahnya guram-"Tidak usah kita banyak 0mong lagi! Kamu boleh turun tangan! Memang juga, perkara sakit hati sukar sekali dijelaskannya a Sa S"

Kwee Ceng telah mendengar semua itu, ia menjadi berpikir; Ma Totiang membilang dia bertempur guna membalas sakit hati paman guru dan saudara seperguruannya.

Apakah artinya itu?

Bukankah Toako Ci Pek Thong masih hidup?

Pula kematiannya Tam Cie Toan, bukankah itu tidak ada hubungannya Oey Tocu?

Hanya kalau aku menjelaskan semua ini, apabila Coan Cin Liok Cu mengundurkan diri, hingga tinggal aku berdua guruku, mana sanggup aku melawan dia?

Jangan kata soal sakit hati, buat melindungi jiwa sendiri pun sukar a sa s"

Baru ia berpikir demikian atau segera ia berpikir lain.

"jikalau aku menutup mulut, apakah aku bukannya menjadi si hina dina? Bukankah semua guruku sering mengajari, kepala boleh kutung tetapi kejujuran tidak?"

Karena ini segera ia mengasih dengar suaranya yang nyaring;

"Ma totiang, paman guru kamu tidak mati! Tam Totiang pun dibinasakan oleh AuWyang Hong!"

Belum lagi Oey Yok Su membilang apa-apa, Khu Cie Kee telah mendahuluinya.

"Apakah kau bilang?"

Imam itu tanya.

"Toako Ciu Pek Thong tidak mati dan Tam Totiang dibinasakan Auwyang Hong,"

Kwee Ceng menjawab seraya terus ia menjelaskan apa yang ia dengar selama ia sembunyi sembari merawat diri di kamar rahasia, bagaimana Khiu Cian Jin melepas cerita burung dan fitnahnya Auwyang Hong.

Cerita itu luar biasa.

"Apakah kau omong sebenar-benarnya?"

Khu Cie Kee menegaskan. 'Teecu sangat membenci dia, ingin teecu menelannya, maka itu apa perlunya teecu membantui dia?"

Kata Kwee Ceng dengan sengit sambil ia menuding Oey Yok Su.

"Kenyataan ada demikian rupa maka itu teecu tidak dapat tidak bicara dari hal yang benar."

Oey Yok Su menjadi heran-Sungguh ia tidak menyangka Kwee Ceng mau membelai dia-"Kenapa kau membenci aku sampai begini?"

Ia tanya pemuda itu.

"Mana Yong-jie?"

Tapi Kuia Tin Ok panas hatinya.

"Apakah kau tidak tahu perbuatanmu sendiri?"

Dia membentak.

"Anak Ceng, biarnya kita kalah mari kita mengadu jiwa kita!"

Ia terus menyerang.

Kwee Ceng lantas mengucurkan air mata.

ia mengerti, dengan Perkataannya itu, sikapnya Oey Yok Su sudah berubah sedikit.

Tapi di situ ada gurunya, yang bergusar tak kepalang itu-"Toasuhu, jiesuhu semua mati secara sangat menyedihkan a Sa s"

Katanya-Oey Yok Su menyambar tongkatnya Kwa Tin Ok yang dihajarkan kepadanya.

"Apa kau bilang?"

Ia tanya Kwee Ceng, suaranya keras.

"Cu Cong berlima baik-baik berada di Pulauku menjadi tetamu, kenapa mereka pada mati?"

Kuia Tin Ok tidak menanti jawaban muridnya, ia membetot tongkatnya. Tetapi tongkat itu tidak bergeming.

"Kau kurang ajar sekali, di depanmu seperti tidak ada orang yang terlebih tua, kau juga ngoceh tidak karuan, bahkan kau menggepaki tangan dan kakimu, adakah itu untuk Cu Cong semua?"

Oey Yok Su tanya pula Kwee Ceng. Matanya si anak muda seperti mau mencelos, mata itu merah.

"Dengan tanganmu sendiri kau membinasakan kelima guruku, kau masih hendak berpura-pura tidak tahu?"

Membentak dia. Dia mengangkat pedang pendeknya dan menikam-Oey Yok Su menangkis dengan tongkatnya Kwa Tin Ok, maka Pedang dan tongkat beradu nyaring, ujung tongkat somplak.

"Siapakah yang menyaksikan itu?"

Ia tanya.

"Kelima guruku itu aku yang menguburnya dengan tanganku sendiri, apakah dengan begini aku masih memfitnah padamu?"

Kwee Ceng balik menanya. Yok Su tertawa dingin. Kelakuan anak muda itu membangkitkan hawa amarahnya. Ia memang besar kepala, tidak Pernah ia suka mengalah.

"Fitnah atau bukan, masa bodoh!"

Kata pemilik Tho Hoa To.

"Semur hidup Oey Lao Shia suka orang pandang keliru maka itu dengan hanya membunuh beberapa jiwa, mungkinkah aku menyangkal? Tidak salah, semua gurumu akulah yang membunuhnya!"

Tepat disaat habisnya ucapan Tong Shia, di situ terdengar suaranya seorang perempuan.

"Bukan, ayah, bukannya kau yang membunuh mereka! Jangan kau sembarang bertanggung jawab!"

Semua orang terkejut, semua lantas berpaling.

Di sana muncul Oey Yong, yang orang tak ketahui datangnya sebab mereka terlalu repot bertarung dan mengadu mulut-Kwee Ceng melongo.

Ia tidak tahu mesti bergirang atau berduka-Oey Yok Su kaget sebentaran, lantas dia sadarBukan main girangnya ia menyaksikan putri tunggalnya tidak kurang suatu apa.

Dengan begitu juga lenyap semua kemendongkolannya kepada Kwee Ceng.

Ia tertawa berkakakkan.

"Anak yang baik, ke mari!"

Ia kata.

"Ayah sangat menyayangi kau!"

Sudah banyak hari Oey Yong berduka, sekarang ia mendengar suara demikian manis, lantas ia lari kepada ayahnya itu, untuk menubruk, melepaskan diri dalam rangkulan orang tua itu.

Ia menangis-"Ayah a Sa S"

Katanya.

"Anak tolol itu membikin kau penasaran, dia pun menghina aku a sa S"

Oey Yok Su merangkul putrinya itu, ia tidak gusar, malah ia tertawa-"Oey Lao Shia pergi, dia Pergi ke mana dia suka, dia bikin apa dia mau!"

Katanya.

"Untukku, selama beberapa puluh tahun, pengalamanku luar biasa! Mereka yang tidak ketahui apa-apa, semua menimpahkan kesalahan di atas kepala ayahmu, maka kalau itu ditambah lagi sama beberapa fitnah, apakah artinya itu? Lima anggota dari Kanglam Cit Koay itu musuh besar dari kakakmu seperguruan, memang aku yang telah membinasakan mereka!"

"Bukan, bukan!"

Berteriak Oey Yong cepat.

"Aku tahu betul, bukannya ayah yang membunuh mereka itu!"

Oey Yok Su bersenyum.

"Si tolol itu sangat besar nyalinya, dia berani menghina anakku yang baik!"

Ia berkata.

"Kau lihat ayahmu membereskan dia!"

Benar seperti perkataannya, pemilik jho Hoa jo itu lantas bekerja, sebat seperti tadi ia mencekuk Ma Giok.

Kwee Ceng tengah memikirkan pembicaraannya ayah dan anak itu tahu~tahu pipinya yang kiri kena ditampar, nyaring hingga ia merasakan pipinya itu panas.

Ia mau mengangkat tangannya, guna menangkis, atau orang telah menarik pulang tangannya itu, untuk dipakai mengusap-usap rambut indah dari putrinya.

Ia menjadi bingung, tidak tahu ia mesti menyerang terus atau bagaimana.

Tamparan itu keras suaranya tetapi tidak terlalu sakit.

Kuia Tin Ok kaget-Ia tahu muridnya dihajar tetapi ia tidak melihat itu.

"Anak Ceng bagaimana?"

Ia lantas menanya-"Tidak apa-apa,"

Menyahut sang murid-"Kau jangan dengari ocehannya siluman serta anak silumannya!"

Kata pula Tin Ok.

"Aku telah mendengarnya sendiri keterangan soe-suhu kau bahwa dia melihatnya sendiri bangsat tua itu membunuh jiesuhumu dan memaksakan kematiannya Cit a sa s"

Kwee Ceng tidak menanti habisnya perkataan gurunya itu, ia menerjang kepada Oey Y0k su, sedang Tin Ok turut menyerang dengan tongkatnya.

Oey Yok Su melihat datangnya serangan, ia melepaskan anaknya, sambil berkelit dari sepangan Kwee Ceng, ia maju untuk menanggapi tongkat si jago yang buta.

Kali ini Kuia Tin Ok sudah bersedia, tongkatnya itu tidak kena dirampas, maka itu berdua muridnya itu, ia menyerang terus, hingga mereka jadi berkelahi bertiga.

Kwee Ceng telah menemui banyak orang lihay, yang memberikan ia pelajaran, akan tetapi untuk melayani Oey Yok Su, ia masih kalah jauh, meski ia dibantu Kuia Tin Ok, ia masih tidak bisa berbuat banyak.

Baru tigapuluh jurus ia dan gurunya itu sudah terdesak.

Khu Cie Kie semua berdiam sejak tadi.

Mereka dibikin bingung dengan keterangannya Kwee Ceng itu-Belum mereka bisa berpikir, mereka melihat orang bertempur, maka yang pertama dipikir mereka ialah;

"Tadi Coan Cin pay terancam bahaya, mereka guru dan murid membantui, maka sekarang sekali mereka terdesak apa kami mesti berdiam saja? Biarlah urusan Ciu Susiok, dia benar masih hidup atau sudah mati, baiklah Oey Yok Su ini dibikin tunduk dulu!"

Maka ia mengangkat pedangnya dan berseru.

"Kwa Tayhiap, kembalilah ke kedudukanmu!"

Baru itu waktu, In Cie peng merayap bangun untuk turun dapi lauwteng.

ia kaget dan terbanting keras tetapi tidak teriuka Parah, cuma mukanya bengap dan matang biru-Ia lantas kembali ke belakang Tin Ok dengan pedang terhunus.

Lagi sekali Oey Yok Su terkurung, hingga ia menjadi sangat gusar.

"Tadinya cuma salah mengerti, masih ada alasan kenapa orang menyerang aku,"

Pikirnya.

"Sekarang setelah si bocah bicara, kawanan bulu campur aduk ini masih mengepung aku! Apakah mereka kira Oey Lao Shia takut membunuh orang?"

Maka ia lantas merangsak ke arah Kwa Tin Ok-Oey Yong berkhawatir melihat air muka ayahnya.

Ia tahu kalau ayah itu sudah gusar, dia benar-benar tidak mengenal kasihan-Ong Cie It bersama Ma Giok lantas menghadang di depan tertua Cit Koay itu.

Kwa Tin Ok mendongkol sekali, ia menyerang si nona sambil mendamprat.

"Manusia hina jahat yang tidak berampun, siluman perempuan!"

Oey Yong menjadi sangat gusar-"He, tua bangka, beranikah kau mencaci pula padaku?"

Ia berseru. Untuk Kangiam Cit Koay, memaki bukan pekerjaan sukar, maka itu Tin Ok mengulangi dampratannya-Untuk Oey Yong, itulah hal langka-Ia tidak bisa mencaci orang, maka sambil berludah, ia kata;

"Cis! Tak malukah kau menjadi guru orang sedang mulutmu begini kotor?"

Tapi Kuia Tin Ok kata;

"Aku bicara baik-baik sama orang baik, aku bicara kotor sama manusia hina dinai"

Oey Yong habis sabar, ia segera menyerang.

Tin Ok mengetahui datangnya serangan, ia menangkis, tetapi ia belum kenal l_ek-tiok-thung yang luar biasa itu, begitu kedua tongkat beradu, tongkatnya lantas seperti ditempel, tongkat itu kena diputar sekehendak n0na, ia seperti kehilangan kendali-Ia berdiam di garis thian-soan, dengan ia kena dipengaruhi si nona, Pak Tauui Tin menjadi macet.

Khu Cie Kie lantas menyerang si nona, punggung siapa ia arah, dengan begitu ia hendak membebaskan Tin Ok.

Si nona tidak menghiraukan serangan itu.

Ia mengandal pada baju lapisnya.

Ketika ujung Pedangnya hampir mengenai sasarannya, imam dari Coan Cin Pay itu berpikir.

Ia ingat kepada derajatnya yang tinggi, maka mana dapat ia melayani seorang bocah.

Karena ini, Pedangnya tidak diteruskan menikam.

Justru ketika yang baik itu digunai Oey Yong, maka dengan satu sontekan, ia membuatnya tongkat Tin Ok terlepas dari cekalan, mental tinggi, nyemplung ke Lam Ouui, Telaga Selatan!

Khu Cie Kie khawatir si nona nanti menyerang terus kepada tertua Kanglam cit Koay it, ia lompat untuk menghalang.

Sementara itu ia heran atas lihaynya si nona, ilmu tongkat siapa ia tidak kenal-Kwee Ceng juga melihat gurunya terancam, ia ber seru.

"Suhu, silahkan mengaso, aku nanti menggantikan kaul"

Dan ia lompat ke garis thian-soan itu.

Begitu ia bertindak, begitu tin menjadi hidup pula, bahkan ke dudukan thian-soan ini lantas menggantikan kedudukan thian-kie.

0ey Y0k Su kembali terdesak.

Biar ia dibantu gadisnya, ia tidak bisa berbuat banyak.

Ia belum bisa menyelami arti atau sipatnya Thian Kong Pak Tauw Tin itu.

Syukur untuknya, di antara lawannya itu cuma Kwee Ceng yang paling hebat, hingga ia seperti harus melayani satu orang saja.

Hanya sulitnya untuknya, ia tidak berniat mencelakai anak muda itu.

Oey Yong mendapat lihat Kwee Ceng berkelahi hebat sekali dan air muka orang juga guram, Pemuda itu seperti dikurung sinar pembunuhan, ia terkejut.

Belum pernah ia menyaksikan perubahan air muka semacam itu.

Karena ini, ia maju ke depan ayahnya, ia kata pada itu anak muda;

"Kau bunuhlah aku lebih duluj"

"Minggir!"

Membentak si anak muda, bentakannya keras, romannya bengis. Oey Yong heran hingga ia tercengang. Pikirnya;

"Kenapa kau bicara begini rupa terhadapku?"

Kwee Ceng maju terus, ia menolak tubuh si nona untuk dikepinggirkan, habis mana, ia terus merangsak Oey Yok Su.

Disaat tegang itu, di belakang mereka yang lagi bertarung itu terdengar suara tertawa terbahak disusul kata-kata nyaring;

"Saudara Yok, jangan berduka, mari saudaramu membantu Padamu'"

Suara itu tajam, untuk kuping tak sedap terdengarnya.

Orang semua heran, tetapi mereka tidak lantas menoleh, sesudah Oey Yok su terdorong.

Cie Kie semua baru berpaling.

Maka mereka melihat di tepian telaga ada lima atau enam orang dengan satu diantaranya Panjang kaki dan tangannya, sebab dialah See Tok Auwyang Hong, si Bisa dari Barat.

Coan cin Cit Cu lantas bertindak, sedang Khu Cie Kie kata kepada Kwee Ceng;

"Anak Ceng, mari kita membikin perhitungan pada See Tok dulu! 1 Ia mengulapkan pedangnya, terus ia lompat, guna mencoba mengurung Auwyang Hong. Ketika itu Kwee Ceng tengah memperhatikan Oey Yok su, ia sampai mendengar suaranya Khu Cie Kie, ia terus menerjang ayahnya Oey yong itu, bahkan sebentar saja, mereka sudah bertempur lima enam jurus, hebat pertempuran mereka. Beberapa kali mereka sama-sama maju pula, kembali mereka mundur lagi. Khu Cie Kie berenam sudah mengatur barisannya, ketika ia melihat ke arah Kuia Tin Ok, orang buta itu lagi memasang kuping, guna mendengar suara pertempurannya Kwee Ceng. Tin Ok bersedia akan berlompat menubruk Oey Y0k Su, guna memeluk keras-keras, agar muridnya bisa membinasakan musuh ini, untuk itu ia bersedia mengorbankan dirinya. Menampak demikian, Khu Cie Kie memerintahkan In Cie Peng menggantikan Tin ok mengambil kedudukan thian-soan. Ruuiyang Hong juga telah bersiap-Ia berjongkok dengan sikap ilmu kodoknya, tangan kanannya memegang tongkatnya. Sebagaimana biasanya, ia berlaku tenang, tidak mau ia lancang bergerak. Ia pula memangnya rada jeri untuk barisan Pak Tauw Tin dari Coan Cin Pay itu. Adalah setelah Khu Cie Kie bergerak, terpaksa ia melayani. Ia bermata jeli, segera ia merasa kelemahan tin itu ada di pihak In Cie Peng, maka ia memasang mata ke garis thian-soan itu. Oey Yong menaruh diri di antara Kuia Tin ok dan ayahnya serta Kwee Ceng yang lagi bertempur itu, ia masgul-"

Tahan dulu!"

Ia berseru.

"Dengar perkataanku!"

Kwee Ceng tidak memperdulikan itu, ia menyerang terus, tetap hebat.

Sikapnya ini membikin hilang sabarnya Oey Yok Su, dari bergerak dengan setengah hati, ia mulai menggunai tenaganya.

Di pihak Auwyang Hong, si Bisa dari Barat itu lagi mencoba mendesak Coan Cin Cit Cu, saban-saban ia mengasih dengar suaranya berkerak kerok mirip kodok-Itu artinya, bahaya tengah mengancam.

Si nona menjadi bingung-Kalau dua-dua ayahnya dan Auwyang Hong sudah turun tangan benar-benar, itulah akan hebat akibatnya.

Ketika ia berpaling ke Van Ie Lauw, di sana Ang Cit Kong masih duduk meioneng, menonton pertempuran itu.

"Suhu, suhu!"

Ia lantas memanggil-"Suhu, tolong kau bicara!"

Sebenarnya, Cit Kong pun berkhawatir. Kalau ia masih gagah, ia tentu sudah maju sama tengah. Maka ia menonton saja, sampai ia mendengar suara si nona. Ia lantas berpikir;

"Asal 0ey |_ao Shia masih suka memandang aku, inilah gampang."

Dengan menekan loneng, Pak Kay lantas menurunkan diri. ia terus berseru;

"Tuan-tuan, tahan! Aku si pengemis tua hendak bicara!"

Kiu Cie Sin Kay kesohor sekali, melihat datangnya orang lantas berhenti berkelahi. Tapi yang berkhawatir sekali ialah Auwyang Hong, hingga dia berkata di dalam hatinya.

"Kenapa kepandaiannya si pengemis tua dapat pulih kembali?"

See Tok tidak ketahui, dengan dapat bantuan Kiu Im Cin-keng menurut keterangannya Kwee Ceng, Ang Cit Kong memperoleh sedikit kefaedahannya, jalan darahnya mulai lurus sendirinya, di dalam ilmu ringan tubuh, kepandaiannya itu sudah pulih lima atau enam bagian.

Cuma dalam ilmu silat, semua kepandaiannya itu masih terhilang, ia mirip orang yang tidak mengerti silat sama sekali.

Bab 71.

Si buta membuka jalan Melihat orang bersikap memandang mata kepadanya, cit Kong pikir bahwa ia harus sedikit beraksi, hanya ia belum dapat pikir, apa yang ia mesti katakan agar Auwyang Hong suka mengundurkan diri.

Karena lagi memikir, ia dongak, terus ia tertawa terbahak.

Ia melihat rembulan mulai muncul, lantas ia mendapat pikiran, maka ia kata dengan nyaring.

"Yang ada di depan mata ini, semuanya orang-orang pandai dari Rimba Persilatan, tidak disangka lagaknya mirip lagak buaya darat, kata-katanya seperti angin busuk"

Mendengar itu semua orang melengak. Memang orang tahu, cit Kong suka bilang apa yang ia pikir. Ma Giok lantas memberi hormat.

"Tolong Cianpwee memberikan pengajaran,"

Katanya. Ang cit Kong berpura gusar, ia kata dengan nyaring.

"Aku si pengemis tua telah mendengar dari siang-siang bahwa pada Pee-gwee Tiong ciu bakal ada orang bertarung di pinggir lauteng Yan Ie Lauw ini, maka itu hendak aku menyaksikannya. Tapi aku adalah seorang yang kupingnya paling tidak suka mendengar suara berisik, maka itu justru waktunya masih siang, hendak aku tidur pulas dan nyenyak di sini, siapa tahu pagi ini lantas saja aku mendengar suara berisik dari anjing mau mampus, orang rebut mengatur barisan rombongan kuda atau tahang air kencing, juga ada suami memukul istri, ada menantu menyerang mertuanya, ada yang memotong ayam dan menyembelih anjing, ributnya bukan buatan, sampai aku si pengemis tua tidak dapat tidur tenang Coba kamu angkat kepala kamu dan lihat, hari ini tanggal berapa?"

Mendengar itu, orang lantas ingat bahwa hari itu ada Pee-gwee Capsie, ialah bulan delapan tanggal empat belas,jadi hari pibu, harian mengadu kepandaian, adalah besok.

Jadi tidaklah tepat akan bertempur mendahului hari yang dijanjikan.

"Locianpwee benar,"

Kata Khu Cie Kie kemudian.

"Memang tidak selayaknya hari ini kami membuat berisik di sini."

Ia menoleh pada Auwyang Hong, untuk berkata "

Orang she Auwyang, mari kita mencari tempat lain di mana kita bisa bertempur terus mati-matian"

"Bagus, bagus"

Auwyang Hong tertawa.

"Memang harus aku menemani kamu"

Mendengar itu Ang Cit Kong mengasih lihat roman bengis, ia kata keras-"

Satu kali ong Tiong Yang menutup mata, kawanan bulu campur aduk dari Coan Cin Kauw lantas main gila tidak karuan Aku bilang terus-terang kepada kamu, enam imam pria ditambah sama satu imam wanita, kamu semua masih bukan tandingannya si bisa bangkotan ong Tiong Yang tidak mewariskan apa-apa kepadaku, aku pun perlu memikirkan kamu, hanya sekarang aku hendak tanya kamu, Kamu telah membuat janji, habis bagaimana kamu akan memenuhkan janji kamu itu?

Apakah yang bakal memenuhkan janji ada imam-imam yang mati?"

Kata-kata itu berupa teguran atau dampratan tetapi di balik itu adalah pemberian ingat untuk menyadarkan kawanan imam itu bahwa dengan melawan Auwyang Hong, mereka adalah bagian mati, bukannya bagian hidup, Liok Cu menginsyafi itu tetapi mereka lagi menghadapi musuh besar, tidak dapat mereka memikir jauh Selagi orang berdiam, cit Kong melirik kepada Kwee Ceng dan oey Yok Su.

Si anak muda tetap mengawasi dengan kemurkaannya yang hebat.

oey Yong mau menangis, air matanya mengembang, tandanya dia sangat berduka.

Ia lantas berpikir, setelah itu ia berkata pula dengan keras-"

Sekarang aku si pengemis tua hendak pergi tidur siapa yang bertempur pula, itu artinya dia tidak memandang lagi padaku, maka kalau besok malam kamu mengamuk hingga langit ambruk dan bumi gempa, aku tidak akan membantu siapa juga Ma Giok.

hayo kau ajak kawanan bulu campur aduk dari kamu naik ke lauwteng, di sana tinggallah kamu dengan tenang Anak Ceng, anak Yong, mari turut aku, kau tumbuki pahaku"

Auwyang Hong jeri.

Ia tahu kalau Cit Kong membantu Coan Cin Pay, sulit ia melawannya, maka ia pun berkata "Eh, pengemis tua, saudara Yok bersama aku bentrok sama Coan cin Kauw, kalau kata-katamu bukan angin busuk belaka, baiklah hari ini aku memberi muka padamu, tetapi ingat, besok tidak dapat kau membantu siapa juga"

Di dalam hatinya, Ang Cit Kong tertawa. Ternyata orang telah kena digertak. Pikirnya.

"Kalau sekarang kau menolak aku dengan jari kelingkingmu, tentu aku roboh, siapa nyana kau takut"

Maka ia kata pula dengan nyaringo "Kalau aku sipengemis tua melepaskan angin busuk, bila itu dibandingkan sama kata-katamu, masih terlebih harum Aku telah bilang, aku tidak akan membantu, pasti aku tidak akan membantu Apakah kau merasa pasti bahwa kau bakal menang"

Ia tertawa dan melengak, kepalanya sampai mengenai tanah, tempat araknya dijadikan bantal. Ia berkata pula.

"Anak-anak, mari kau memukuli pahaku"

Paha kambing Cit Kong tinggal tulangnya saja tetapi ia sayang untuk membuang itu, ia masih menggerogotinya, baru kemudian, ia masuki tulang itu ke dalam sakunya.

Ia mengawasi langit di mana awan putih melayang-layang.

Katanya perlahan.

"Jangan-jangan bakal terjadi perubahan udara "

Ia terus menoleh pada oey Yoksu, untuk berkata "saudara Yok, dapatkah kau meminjamkan putrimu supaya dia menumbuki pahaku?"

Ditanya begitu, Tong shia bersenyum. oey Yong lantas menghampirkan, ia duduk di sisi orang, terus ia menggebuki perlahan paha pengemis tua itu.

"Ah,"

Kata Cit Kong sambil menghela napas.

"Beberapa tulang tuaku ini belum pernah mendapat rejeki seperti kali ini "

Ia terus memandang Kwee Ceng, untuk mengatakan.

"Eh, anak tolol, apakah tanganmu tidak kena dibikin patah oleh oey Loshia?"

"Ya,"

Menyahut si anak muda itu.

Ia juga duduk di sisi si pengemis, untuk menumbuki pahanya.

Kwa Tin ok pergi menyenderkan tubuhnya di sebuah pohon yang liu di tepi telaga, sepasang matanya yang tidak ada bijinya diarahkan kepada oey Yok su.

Ia menggunai kupingnya sebagai matanya.

oey Yok su berjalan mondar-mandir di tepi telaga itu, ia pergi ke timur atau ke barat, matanya Tin ok terus mengikuti padanya.

Ia ketahui itu, ia tidak mengambil mumat, ia cuma bersenyum mewah.

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 4

Baca Juga: Bajak Laut Kertapati Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert