Eps 16 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.
Ia memanggil Kwee ceng, yang berdiri diam.
Pemuda itu bertindak masuk.
Setelah itu, It Teng menarik turun sero bambu, terus ia menyulut sebatang hio, untuk ditancap di tempat abu di atas meja.
Kamar itu berperabot kecuali sebuah meja bambu itu cuma dengan tiga buah tempat duduk dari tikar.
Oey Yong diperintah duduk di tikar yang tengah.
Kepada Kwee Ceng ia memesan.
"Kau jagai hio itu, kalau sudah terbakar habis, kau beritahu aku."
Pemuda itu menyahuti.
"Ya!"
Lantas It Teng duduk di tikar di samping si nona, matanya memandang ke sero, segera ia memesan pula kepada si anak muda;
"Kau jagai pintu juga, jangan ijinkan orang lain masuk ke mari -tidak peduli adik seperguruanku atau murid-muridku, kau jangan kasih masuk!"
Kwee ceng heran tetapi ia berikan janjinya. Habis itu It Teng merapatkan kedua matanya. Tapi tak lama, ia melek pula, ia berkata kepada si pemuda.
"Jikalau mereka itu sampai menggunai kekerasan, kau lawan! Ingat, di sini ada bergantung jiwanya sumoymu!"
Kwee Ceng mengangguk, ia jadi semakin heran, hatinya pun tegang. It Teng lalu berkata kepada Oey Yong.
"Kau kedorkan seluruh tubuhmu, tidak peduli ada rasa nyeri atau gatal bagaimana hebat juga, jangan kau membuat perlawanan atasnya!"
Si nona tertawa ketika ia menyahuti.
"Aku menganggap diriku sudah mati…!"
Mau tidak mau, It Teng pun tertawa.
"Anak yang baik, kau benar-benar pintar!"
Ia memuji.
Ia lantas menutup pula matanya untuk memusatkan pikirannya.
Ketika hio sudah terbakar kira satu dim, mendadak ia berlompat bangun, tangan kirinya diangkat, diletaki di dadanya, tangan kanannya, dengan jari telunjuknya, diarahkan, ditotokan ke jalan darah pek-hwee-hiat di embun-embunan Oey Yong.
Ketika ditotok itu, tanpa merasa, Oey Yong berjingkrak sendirinya, terus ia merasa dari embun-embunnya itu keluar hawa panas.
Habis menotok, It Teng menarik pulang tangannya itu, hanya belum lewat sejenak, kembali ia sudah menotok, sekarang di jalan darah houw-teng-hiat di belakang jalan darah pek-hwee-hiat itu, terpisahnya cuma satu dim.
Setelah itu, dengan saling susul ia menotok terus pelbagai jalan darah lainnya, seperti kiang-kian-hiat, laohu-hiat, honghu-hiat, ah-bun-hiat, taytwie-hiat, totoo-hiat dan lainnya, maka ketika hio terbakar baru setengah batang, dia sudah menotok semua tigapuluh jalan darah.
Kwee Ceng telah maju jauh, maka itu ia bisa menyaksikan cara menotok dari It Teng itu, hingga ia melihat tegas kelihayan si pendeta.
Sesuatu gerakan beda satu dari lain.
Ilmu totok semacam itu, ia belum dapat dari Kanglam Liok Koay, bahkan di dalam kitab bagian ilmu totok dari Kiu Im Cin-keng, tidak ada dicatat juga.
Menyaksikan itu, ia kagum hingga mulutnya terbentang dan matanya hampir kabur.
Selama itu ia tidak ingat yang It Teng lagi menggunai seluruh tenaga dalamnya guna menyalurkan semua jalan darah dan nadi Oey Yong.
Habis menotok itu, It Teng duduk untuk beristirahat.
Sesudah itu, sesudah Kwee Ceng menyulut sebatang hio yang lain, ia mulai bekerja pula.
Kali ini dia menotok duapuluh lima jalan darah yang disebut bagian nadi dim-meh.
Pula kali ini, totokan dilakukan dengan kesebatan, gerakannya bagaikan sesapung menyambar-nyambar air, ia seperti menahan napas.
Yang hebat, semua totokan itu tidak pernah gagal.
"Sungguh hebat, di kolong langit ini ada kepandaian seperti ini,"
Kata Kwee Ceng di dalam hatinya saking kagum.
Kemudian It Teng Taysu menotok pula empatbelas jalan darah yang disebut im-wie-meh.
Juga totokan itu dilakukan dengan lain cara, dengan gerak-gerik kaki "jalan naga"
Dan "tindakannya harimau" , hingga sikapnya nampak sangat angker, hingga dimatanya Kwee Ceng, dia bukan lagi seorang pendeta suci dan alim, hanya seorang raja dari berlaksa rakyat negeri.
Sekali ini It Teng tidak beristirahat lagi, ia meneruskan menotok tigapuluh dua jalan darah dari yang-wie-meh.
Totokan ini dari jarak sedikit jauh.
Umpama ketika ia menotok jalan darah hongtie-hiat di leher si nona, ia berlompatan dari jarak setombak, habis itu terus ia lompat mundur pula, demikian seterusnya.
Menampak cara menotok itu, Kwee Ceng kata di dalam hatinya.
"Kalau kita lagi bertempur sama musuh yang tangguh, apabila bertempur dengan rapat berbahaya, bolehlah kita pakai cara jauh ini. Dengan begitu, sambil menyerang untuk merebut kemenangan, kita juga dapat membela diri dengan sempurna."
Demikian, sembari menonton, anak muda ini mengingati baik-baik setiap totokan itu, bagaimana sikapnya, dari bersiap sampai menotok dan sampai sesudahnya itu, untuk mulai dengan lain-lain totokan lagi.
Diam-diam ia juga mengutuk dirinya, yang dikatakan bebal sekali, yang gampang lupa, hingga ada yang baru dilihat lalu tak teringat lagi.
Setelah menukar lagi dua batang hio, It Teng sudah selesai menotok dua bagian jalan darah im-kiauw dan yang-kiauw.
Ketika Kwee Ceng melihat totokan pada jalan darah kie-kut-hiat, mendadak ia ingat.
"Ah, totokan ini ada termuat di dalam Kiu Im Cin-keng! Dasar aku yang tolol, aku tidak dapat menangkap maksudnya!"
Sekarang ia melihat gerak-gerak It Teng sama dengan petunjuk-petunjuk dalam kitab Kiu Im Cin-keng itu.
Hal ini menggampangi ia mengingat-ingat, hingga ia mengingat baik tempo It Teng menotok jalan darah ciong-meh.
Paling belakang It Teng Taysu hendak menotok jalan darah tay-meh.
Untuk itu, ia mesti jalan ke belakang Oey Yong.
Pertama kali ia menotok ciangbun-hiat, sedang semuanya ada delapan jalan darah.
Sekarang nampak gerakannya si pendeta sangat lambat, agaknya ia bergerak sukar sekali, sedang napasnya sudah memburu dan tubuhnya terhuyung, bagaikan ia tak kuat berdiri lebih lama pula.
Kwee Ceng melihat semua itu, ia terkejut apapula kapan ia menampak peluh membasahi jidatnya pendeta itu, mengucur di alisnya yang putih dan panjang itu.
Ia ingin maju menolongi tetapi ia khawatir mengganggu.
Tempo ia mengawasi Oey Yong, si nona telah bermandikan keringat, pakaiannya basah.
Dia pun mengerutkan alis dan menutup mulut rapat-rapat, rupanya ia melawan rasa nyeri yang hebat.
Selagi anak muda ini terbengong, mendadak ia mendengar satu suara di sebelah belakang, ialah dari tersingkapnya sero bambu, suara mana disusul sama panggilan nyaring.
"Suhu!"
Disusul lagi sama masuknya orang yang berseru itu.
Belum ia ingat itu, ia segera menyerang ke belakang, dengan salah satu totokannya It Teng barusan.
Ia menyerang saling susul dengan cepat sekali hingga empat kali.
Sebagai kesudahan dari itu, ia mendengar suara robohnya beberapa orang.
Sekarang barulah ia menoleh ke belakang, tepat di saat satu orang, ialah si pelajar, berlomnpat ke belakang, hingga ia bebas dari totokan.
Yang roboh ialah si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani bertiga, mereka terus rebah di lantai.
Ia bengong mengawasi mereka, sebab tak dipikirnya untuk menyerang mereka itu.
Ketika ia memandang si pelajar itu, dia itu lagi mengawasi ia dengan bengis, satu tanda orang ada sangat gusar.
"Habis sudah!"
Berseru si pelajar dalam murkanya.
"Apalagi yang hendak dicegah?"
Kwee Ceng menoleh, maka ia melihat It Teng Taysu lagi duduk bersila di atas tempat duduknya, mukanya pucat sekali, bajunya basah dengan peluhnya, sedang Oey Yong telah roboh dengan tubuh tak bergerak, entah dia sudah meninggal atau masih hidup.
Maka dalam kagetnya, ia lompat menubruk, guna mengasih bangun.
Paling dulu hidungnya mendapat cium bau amis.
Muka nona itu pucat bercampur sinar biru, tak ada cahaya dari darahnya, hanyalah sinar hitamnya yang samar-samar sudah lenyap semua.
Kwee Ceng mendengari napas orang di hidung, jalan napas itu berat sekali.
Tapi dengan mendapat dengar suara napas itu, ia merasa lega sedikit.
Ketika itu si pelajar sudah menolongi menotok bebas si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani, bersama-sama mereka merubungi guru mereka, semua membungkam, roman mereka diliputi kedukaan dan kegelisahan.
Kwee Ceng tidak memperhatikan mereka itu, ia terus menungggui si nona, muka siapa ia awasi.
Maka hatinya menjadi bertambah lega kapan dengan perlahan-lahan ia mendapatkan paras nona itu berubah pula sedikit dadu.
Hanya paras dadu itu, lama-lama berubah terus, lalu merah, habis mana kedua pipi nona itu terasa panas begitu pun dahinya, panasnya seperti api ketika dahi itu diraba.
Lagi beberapa saat, butir-butir peluh yang besar turun dari jidatnya di nona lalu kembali parasnya berubah, dari merah menjadi putih pula.
Kejadian ini terulang sampai tiga kali, tiga kali juga peluh keluar banyak sekali.
Diakhirnya, Oey Yong mengeluarkan suara kaget dan kedua matanya dibuka, terus ia menanya.
"Engko Ceng, mana dapur? Mana es?"
Bukan kepalang girangnya Kwee Ceng mendengar orang dapat berbicara.
"Apa dapur? ia bertanya.
"Apa es?"
Si nona melihat ke seputarnya, ia menggeleng kepala. Akhirnya ia tertawa.
"Ah, aku bermimpi hebat sekali!"
Katanya.
"Aku bermimpikan Auwyang Hong, Auwyang Kongcu dan Khiu Cian Jin. Mereka itu menjebloskan aku ke dalam dapur, untuk dipanggang, lalu mereka mengambil es, dengan apa aku dibikin dingin, setelah tubuhku dingin, dia membakar pula…Ah, sungguh menakutkan! Eh, bagaimana dengan It Teng Taysu?"
It Teng membuka matanya, ia tertawa.
"Lukamu sudah sembuh,"
Katanya.
"Sekarang kau perlu beristirahat satu atau dua hari. Jangan sembarang bergerak, supaya kau nanti sembuh seluruhnya."
"Seluruh tubuhku rasanya tidak bertenaga sama sekali,"
Berkata si nona.
"Sampai pun jari tangan malas digeraki…"
Ketika itu si petani mendelik pada si nona, dia agaknya sangat gusar. Oey Yong melihat itu, ia tidak mengambil mumat. Ia hanya kata kepada paman gurunya itu.
"Supee tentulah sangat lelah sebab untuk mengobati aku, supee telah mengeluarkan banyak tenaga. Aku mempunyai obat Kiu-hoa Giok-louw-wan buatan ayahku, apa supee mau memakannya beberapa biji?"
"Bagus!"
Kata It Teng gembira.
"Aku tidak menyangka kau membawa obat mujarab buatan ayahmu itu. Itulah obat untuk menambah tenaga. Ketika kita merundingkan ilmu pedang di Hoa San, tempo semuanya sudah sangat letih, ayahmu membaginya kepada kami beramai, habis makan itu, kita semua menjadi segar sekali."
Oey Yong lantas mengeluarkan kantong obatnya, untuk diserahkan pada si paman guru.
Si petani lari ke dapur, untuk mengambil semangkok air, sedang si pelajar mengeluarkan obat itu, semuanya dikeluarkannya obat itu, lalu semuanya dikasihkan pada gurunya.
"Tidak begini banyak!"
Berkata It Teng tertawa.
"Obat ini sangat sukar dibuatnya. Cukup kita minta separuhnya saja."
"Tetapi suhu!"
Berkata si pelajar, yang romannya cemas.
"Meski obat di dalam dunia digotong semua ke mari, itu masih belum cukup!"
Pendeta itu tidak tega menampik, maka ia lantas menelan beberapa puluh butir, yang ia bantu dengan air beberapa ceglukan. Kemudian ia kata kepada Kwee Ceng.
"Kau pergi pimpin sumoymu ini untuk beristirahat dua hari, setelah itu kamu pergi turun gunung, tak usah kamu menemui aku lagi. Eh, ada satu urusan yang aku hendak minta dari kamu….."
Kwee Ceng sudah lantas menjatuhkan dirinya berlutut seraya mengangguk empat kali hingga kepalanya membentur lantai. Oey Yong pun turut menjura, sambil berkata perlahan.
"Supee telah menolongi jiwaku, budimu ini tidak nanti keponakanmu berani melupakannya."
It Teng tertawa.
"Lebih baik dilupakan, supaya tak usah diingat-ingat lagi,"
Katanya, seraya ia terus menoleh kepada Kwee Ceng, untuk memberi pesannya.
"Kamu telah naik ke gunung ini, hal itu segala kejadian di sini, jangan kamu omongkan kepada orang lain, juga tak usah kau menyebutkannya kepada gurmu."
Kwee Ceng tercengang. Ia justru lagi memikirkan bagaimana harus membawa gurunya datang ke mari guna minta pertolongan paman guru ini. It Teng tertawa. Ia berkata pula.
"Kamu juga lain kali tak usah datang pula ke mari, kami sekaligus hendka pindah."
"Pindah?"
Tanya si anak muda heran.
"Pindah ke mana, supee?"
It Teng tersenyum, ia tidak menjawab.
"Ah, engko tolol,"
Kata Oey Yong tertawa.
"Karena tempat supee ini telah ketahuan oleh kita maka supee mau pindah. Mana supee dapat memberi keterangan padamu?"
Meski ia berkata begitu, nona ini sebenarnya berduka sekali.
Itulah gara-garanya dia maka si supee mau pindah meninggalkan tempat kediamannya yang bagus ini.
Mana bisa ia melupakan budi yang sangat besar itu?
Mengingat begini, ia mengawasi empat murid orang, yang telah berkumpul semua.
Ia ingin berkata-kata kepada mereka itu.
Hanya belum lagi ia membuka mulutnya, mendadak paras It Teng menjadi pucat, tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dari tempat duduknya!
Bab 63 SAPU TANGAN BERSULAM Keempat murid itu tersentak kaget begitu juga Kwee Ceng.
Bersama-sama mereka berlompat menubruk.
Mereka melihat daging di mukanya pendeta itu bergerak-gerak, tandanya dia lagi melawan rasa nyeri yang hebat.
Mereka menjadi bingung sekali, tak tahu mereka bagaimana harus menolongnya.
Semua lantas berdiri diam di pinggiran.
Tidak lama, It Teng bersenyum.
"Anak, adakah obatmu ini buatan ayahmu sendiri?"
Ia tanya Oey Yong.
"Bukan, supee. Inilah buatannya suko Liok Seng Hong, tetapi ia membuatnya menurut surat obat ayah."
"Pernahkah kau mendengar dari ayahmu, kalau obat ini dimakan terlalu banyak dapat berbalik menjadi bahaya?"
Si pendeta menanya pula, suaranya sabar. Oey Yong terkejut.
"Mungkinkah ada yang tidak benar pada obatku ini?"
Pikirnya. Ia lekas menyahuti.
"Ayah pernah membilang, semakin banyak dimakan semakin baik, hanya sebab pembuatannya sukar, ayah sendiri tidak berani memakan banyak-banyak."
It Teng berdiam, agaknya ia berpikir. Kemudian ia menggeleng kepala.
"Ayahmu itu sangat cerdik dan pandangannya sangat jauh,"
Katanya.
"Ia sangat sukar diterka hatinya hingga aku pun tidak dapat membilang apa-apa tentangnya. Mungkinkah ia hendak menghukum Liok Suhengmu maka dia diberikan surat obat yang dipalsukan? Atau mungkinkah Liok Suhengmu itu bermusuh dengan kau maka di dalam obatnya itu dicampuri beberapa biji yang ada racunnya?"
Mendengar disebutnya racun, semua orang terkejut.
"Suhu, apakah suhu telah keracunan?"
Si pelajar tanya.
"Syukur di sini ada paman gurumu, maka biarnya racun yang lebih dahsyat lagi tidak akan membikin orang mati,"
Sahut sang guru. Mukanya keempat murid itu lantas berubah, segera mereka menoleh kepada Oey Yomg dan berkata dengan bengis.
"Guru kami bermaksud baik menolongi kau, cara bagaimana kau begini besar hati berani meracuninya?"
Segera mereka itu mengurung, agaknya mereka mau lamtas menerjang.
Kwee Ceng menjadi bingung sekali.
Ia tidak nyana akan perkembangan semacam ini.
Oey Yong pun bingung tetapi segera ia berpikir segala sesuatu memgenai obat itu, hingga ia menduga, pada ini tentu ada hubungannya dengan perbuatannya Eng Kouw di rumahnya di rawa lumpur hitam itu.
Bukan obat itu telah dibawa si nyonya ke lain kamar, untuk diperiksa, dan sampai sekian lama baru nyonya itu membawanya pula ke luar untuk diserahkan kembali kepadanya?
"Supee, aku mengerti sekarang!"
Katanya. Sebab segera ia dapat menerka.
"Inilah perbuatannya Eng Kouw!"
"Benarkah Eng Kouw?"
It Teng bertanya.
"Ya,"
Sahut si nona, dan ia tuturkan apa yang terjadi di rumah Eng Kouw, hingga sekarang ia menjadi bercuriga.
"Dia pun telah memesan wanti-wanti supaya aku sendiri jangan makan obat ini. Tentu teranglah sudah sebab ia mencampuri racun di dalamnya."
"Hm!"
Mengejek si petani.
"Dia perlakukan kau baik sekali dan maka itu ia khawatir membuatnya kau mampus!"
Nona ini sangat berduka yang paman gurunya terkena racun, maka itu ia tidak memikir untuk mengadu lidah dengan murid orang, bahkan dengan perlahan ia kata.
"Sebenarnya dia bukannya berkhawatir untuk membikin aku mati, hanya dia khawatir, kalau aku memakannya, supee nanti tidak kena dia racuni……"
"Dosa, dosa,"
Berkata It Teng, yang menghela napas. Lantas sikapnya menjadi sangat tenang. Ia kata perlahan kepada muda mudi itu.
"Inilah nasib dan dengan kamu berdua tidak ada hubungannya. Juga Eng Kouw sendiri, inilah telah terjadi karena karma. Sekarang pergi kamu beristirahat beberapa hari, habis itu baik-baik saja kamu turun gunung. Benar aku telah terluka tetapi adik seperguruanku pandai sekali mengobati racun, maka kamu tidak usah berkhawatir."
Pendeta ini lantas menutup rapat matanya, ia tidak berkata-kata lagi.
Berdua muda mudi itu membungkuk, untuk pamitan.
Mereka melihat It Teng bersenyum, tangannya dikibaskan, maka itu mereka tidak berani berdiam lebih lama lagi di situ, dengan perlahan mereka memutar tubuh dan mengundurkan diri.
Si kacung menantikan mereka di luar kamar, mereka lantas diajak ke sebuah kamar di ruang belakang, kamar mana tidak ada perabotannya kecuali dua pembaringan bambu.
Tidak lama, di situ muncul dua orang pendeta tua dengan barang makanan sayur.
"Silahkan dahar,"
Mereka mengundang.
"Apakah taysu baik?"
Tanya Oey Yong. Ia senantiasa memikirkan paman guru itu.
"Siauwceng tidak tahu,"
Sahut satu pendeta, suaranya tajam. Ia lantas memberi hormat, untuk segera mengundurkan diri.
"Mendengar suara mereka, aku mengira wanita,"
Kata Kwee Ceng.
"Mereka thaykam,"
Berkata Oey Yong.
"Tentu mereka itu telah merawati taysu semenjak taysu masih menjadi raja."
Kwee Ceng heran.
Karena masing-masing berpikir, tidak ada nafsu dahar mereka.
Terus mereka berdiam di dalam kamar yang sunyi itu, cuma kadang-kadang saja berkesiur suara angin lewat, membuatnya daun-daun bambu bersuara perlahan.
"Yong-jie, kepandaian taysu hebat sekali,"
Kemudian si pemuda berkata.
"Begitu?"
Kata si pemudi perlahan dan singkat.
"Guru kita,"
Kata pula Kwee Ceng.
"Dan ayahmu juga Ciu Toako, Auwyang Hong dan Khiu Cian Jin, walaupun mereka semua lihay tidak nanti mereka dapat melawan It Teng Supee……"
"Coba bilang, di antara mereka berenam, siapa yang pantas mendapat sebutan jago nomor satu di kolong langit ini?"
Kwee Ceng berpikir.
"Sebenarnya sesuatunya dari mereka mempunyai keistimewaannya sendiri-sendiri,"
Sahutnya sesaat kemudian.
"Dari itu tidak dapat dibilang siapa di antaranya yang paling lihay……"
"Di dalam halnya bun bu coan cay?"
Si nona menanya pula, tentang kepandaian orang dua-dua di dalam ilmu surat dan ilmu silat.
"Di dalam hal itu, tentulah ayahmu,"
Menyahut si anak muda. Oey Yong girang, inilah kentara dari romannya. Hanya sebentar, ia lalu menghela napas.
"Maka itu inilah anehnya!"
Katanya.
"Apakah yang aneh?"
Tanya Kwee Ceng cepat. Ia heran.
"Taysu begini lihay, keempat muridnya lihay juga,"
Kata Oey Yong.
"Tetapi kenapa mereka hidup bersembunyi di tempat sunyi begini? Kenapa asal mendengar ada orang datang, mereka nampak takut seperti juga bencana besar bakal mengancam mereka? Di antara keenam jago, cuma See Tok dan Khiu Cian Jin yang mungkin menjadi musuhnya, tetapi mereka itu berdua berkenamaan, apa mungkin mereka akan datang berdua untuk mengepung taysu?"
"Tetapi, Yong-jie,"
Kata Kwee Ceng.
"Biarnya See Tok dan Khiu Cian Jin datang bersama, sekarang kita tidak usah takuti mereka."
"Bagaimana itu?"
Kwee Ceng nampaknya likat, agaknya ia tak enak hati untuk menjawab.
"Eh, kenapakah kau nampaknya sulit bicara?"
Si nona menegur.
"Kepandaiannya It Teng Taysu pasti tidak ada di bawahan See Tok,"
Kata si anak muda kemudian.
"Atau sedikitnya, mereka berimbang. Menurut penglihatanku, ilmu menotok jalan darah dari taysu mungkin ada cara untuk meruntuhkan Kap Moa Kang dari See Tok itu……"
"Bagaimana dengan Khiu Cian Jin?"
Oey Yong tanya pula.
"Apakah si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar, bukannya tandingan dia seorang?"
"Benar. Selama di puncak Tiat Ciang Hong, di gunung Kun San, di telaga Tong Teng, pernah aku melayani Khiu Cian Jin. Kalau kita bertempur seratus jurus, mungkin aku dapat melawan seri padanya, tetapi lebih daripada seratus jurus, belum tentu aku dapat bertahan lebih lama pula. Ketika tadi aku menyaksikan Taysu menotok kau……"
Mendadak Oey Yong menjadi girang, ia memotong.
"Kalau begitu kau telah dapat mempelajari kepandaiannya Taysu! Dengan begitu bukankah kau bakal dapat mengalahkan Khiu Tiat Ciang?"
"Kau tahu sendiri otakku puntul,"
Berkata si anak muda.
"Dan ilmu totok ini sangat dalam, mana bisa aku lantas berhasil memahamkannya? Hanya benar aku telah mendapatkan beberapa jurus. Aku pikir, untuk segera mengalahkan Khiu Cian Jin, itulah sukar, tetapi buat bertahan sampai satu jam atau tiga perempat, mungkin aku sanggup……"
Oey Yong lantas menghela napas.
"Dan kau pun melupakan satu hal,"
Katanya masgul.
"Apakah itu?"
"Sekarang ini Taysu terkena racun dan entah sampai kapan ia bakal sembuh……"
Kwee Ceng berdiam, lantas ia menjadi sengit.
"Kenapa si nenek, Eng Kouw demikian kejam?"
Katanya mengeluh. Ia baru berkata begitu, atau ia ingat suatu apa, hingga ia berseru.
"Ah, celaka!"
Oey Yong kaget.
"Apa?"
Dia menanya.
"Kau telah berjanji dengan Eng Kouw!"
Si pemuda memberi ingat.
"Setelah kau sembuh, kau mesti menemani dia satu tahun, bukan? Nah, habis bagaimana? Apakah janji itu mesti ditepati atau tidak?"
"Kau sendiri?"
"Jikalau kita tidak dapat petunjuknya, tidak dapat kita mencari It Teng Taysu. Itu waktu pastilah lukamu…… Ah, tak dapatlah dikatakan……"
"Kenapa tak dapat dikatakan? Bilang saja terus-terang. jiwaku tidak dapat ditotong lagi! Kaulah satu laki-laki maka kau tentunya ingin menepati janji itu, bukankah?"
Si nona lantas menjadi berduka.
Ia ingat Kwee Ceng pun tidak suka melanggar janji perjodohannya dengan putri Gochin Baki dari Mongolia.
Air mukanya menjadi guram.
Mengenai sifat wanita ini, Kwee Ceng asing, maka itu selagi Oey Yong berduka dan hendak menangis, ia tetapi tidak sadar.
Maka ia kata;
"Dia membilang ayahmu lihay, memang seratus kali daripadanya, umpama kata kau suka mengajari dia, dia bilang dia tak bakal dapat menyamai kulit atau bulu ayahmu. Dia telah mengetahui itu, habis apa perlunya dia masih menghendaki kau menemani dia?"
Oey Yong menutup mukanya, ia tidak menyahuti. Pemuda itu masih tidak sadar, ia mengulangi pertanyaannya.
"Eh, tolol, benarkah kau tidak mengerti?"
Akhirnya tanya si nona gusar. Kwee Ceng heran orang gusar tidak karu-karuan.
"Ya, Yong-jie, aku memang dasarnya tolol,"
Ia mengaku.
"Maka itu juga aku minta kau suka memberikan keteranganmu."
Oey Yong menyesal yang ia telah mengeluarkan perkataan keras itu, sekarang ia mendengar suara orang yang lemah lembut, orang yang telah mengaku ketololannya, ia menjadi sangat berduka, tak dapat tertahan lagi, ia menangis di dalam rangkulan pemuda itu.
Masih Kwee Ceng tidak mengerti, ia mengusut-ngusut punggung orang seraya menghibur.
Oey Yong menarik ujung baju orang, untuk menyusut air matanya.
"Engko Ceng, aku yang salah,"
Katanya. Mendadak ia tertawa.
"Lain kali aku tidak bakal memaki pula kepadamu……"
"Memang aku tolol, apakah halangannya untuk kau mengatakannya?"
Kata si tolol, tetap polos. Nona itu menghela napas.
"Ya, kau memang baik, akulah yang buruk,"
Katanya kemudian.
"Mari aku menjelaskan padamu. Eng Kouw itu bermusuh sama ayahku, dia mencari ilmu kepandaian untuk dia pakai menyatroni Tho Hoa To, guna menuntut balas
http.//kangzusi.com / , tetapi dia telah mendapat kenyataan, dalam ilmu silat dia kalah dari kau, maka karena putus asa, dia mengubah siasatnya.
Dia sekarang hendak menjadikan aku sebagai manusia tanggungan, supaya ayahku datang menolongi aku.
Dengan akal ini, dia jadi menang di atas angin, dia menjadi dapat jalan untuk mencelakai ayahku itu."
Baru sekarang si tolol mengerti, maka ia menepuk pahanya.
"Oh, benar begitu! Kalau demikian adanya, janji itu tidak dapat ditepati!"
Ia berkata.
"Kenapa tidak?"
Tanya Oey Yong.
"Pasti mesti ditepati."
"Eh?"
Si anak muda heran.
"Eng Kouw itu sangat lihay,"
Berkata si nona, menerangkan.
"Lihat saja bagaimana ia telah mencampuri racun di dalam obat Kiu-hoa Giok Louw Wan dengan apa dia mencelakai It Teng Taysu. Maka jikalau dia tidak disingkirkan, dia akhirnya bakal jadi ancaman bencana untuk ayahku. Dia ingin aku menemani dia, aku nanti menemaninya. Sekarang aku telah bersiap sedia, tidak nanti aku kena diakali dia. Aku percaya, tidak perduli dia bakal menggunai tipu apa, aku merasa pasti bakal dapat memecahkannya!"
"Tetapi, itulah sama artinya kau menemani seekor harimau betina……"
Kata si anak muda masgul.
Oey Yong hendak berkata pula ketika kupingnya mendengar suara berisik dari sebelah depan, dari kamar sucinya It Teng Taysu.
Itulah beberapa kali suara kaget atau seruan.
Kwee Ceng pun mendengar itu, maka keduanya saling mengawasi.
Selagi mereka memasang kuping, suara berisik itu lantas lenyap.
"Entah bagaimana dengan taysu?"
Kata si pemuda. Si pemudi menggeleng kepala.
"Nah, kau daharlah lantas tidur,"
Kata Kwee Ceng kemudian. Oey Yong masih menggeleng kepala. Atau mendadak.
"Ada orang datang!"
Katanya. Benar juga lantas terdengar tindakan kaki beberapa orang, di antaranya ada yang berkata dengan suara sengit.
"Budak itu banyak akalnya, baik mampusi dulu padanya!"
Itulah suara si petani. Maka Kwee Ceng berdua terkejut.
"Jangan sembarang,"
Terdengar suara si tukang kayu.
"Kita menanya jelas dulu."
"Apa yang mau ditanyakan lagi?"
Kata si petani.
"Sudah terang dua bangsat cilik itu disuruh musuh suhu datang kemari! Kita bunuh yang satu, biarkan yang satu lagi, untuk menanyakan keterangannya. Cukup kita memeriksa si tolol!"
Selagi mereka bicara, mereka sudah sampai di depan pintu kamar
http.//kangzusi.com / di mana Kwee Ceng dan Oey Yong berada.
Nyata mereka tidak takut yang suara mereka dapat didengar orang di dalam kamar itu.
Kwee Ceng mengerti ancaman bahaya, tanpa bersangsi pula dengan pukulan "Hang liong yu hui" , ia menghajar tembok di belakangnya, hingga dengan suara sangat berisik tembok itu gempur, membuat sebuah liang.
Setelah itu, dengan membungkuk, ia menggendong si nona, terus ia lompat melewati liang itu.
Di sana terlihat si petani, yang sangat gesit, sebelah tangannya diulur, guna menyambar kaki kiri si anak muda.
Oey Yong tidak berdiam saja, ia melihat sambaran itu, maka dengan tangan kirinya ia mengibas ke belakang, mengebut jalan darah yang tie-hiat dari si petani.
Itulah ilmu kebutan, atau totokan, warisan ayahnya.
Itulah yang disebut "Lan-hoa Hut-hiat Ciu", atau Bunga Anggrek Mengebut Jalan Darah.
Ilmu ini tidak selihay ilmu totoknya It Teng tetapi toh berbahaya untuk lawan.
Si petani kaget, lekas-lekas ia menarik pulang sambaranmya, ia membaliki itu, untuk menangkis, tetapi gerakan ini memperlambat gerakannya, maka Kwee Ceng telah berhasil berlompat lewat, akan berlari terus dengan melompati tembok belakang.
Di sini ia baru lari beberapa tindak, atau ia menjerit sendirinya, berkeluh kesah.
Di depannya itu ada tumbuh pohon duri setinggi sependirian orang, lebat dan banyak durinya, hingga tak dapat dilewati orang.
Ketika ia menoleh, ia menampak mendatanginya empat orang ialah si tukang pancing, si tukang kayu, si petani dan si pelajar.
Mereka itu lantas berdiri menghadang.
"Taysu menitahkan kami turun gunung, tuan-tuan telah mendengarnya sendiri,"
Berkata Kwee Ceng.
"Kenapa sekarang kamu menghalangi kami?"
Si pengail mendelik matanya.
"Guru kami sangat baik hatinya, dia pemurah, dengan mengorbankan diri dia menolongi kamu, kenapa sekarang kamu……"
Kata dia, suaranya mengguntur. Dua-dua muda mudi itu terkejut.
"Dia mengorbankan diri?"
Tanya mereka berbareng.
"Bagaimana itu…..?"
"Fui……!"
Berseru si pengail dan petani. Si pelajar tertawa dingin, dia berkata.
"Lukamu, nona telah ditolong diobati oleh guruku dengan guruku itu mengorbankan dirinya! Mustahil kau benar-benar tidak ketahui itu?"
"Dengan sebenarnya, aku tidak tahu,"
Menyahut Oey Yong.
"Tolong kau menjelaskannya."
Pelajar itu mengawasi. Ia melihat roman orang benar seperti tidak lagi mendusta, maka ia berpaling kepada si tukang kayu. Dia ini mengangguk. Lantas ia berkata.
"Nona, kau telah mendapat luka yang sangat berbahaya, untuk menyembuhkannya kau mesti dapat penyaluran pada pelbagai jalan darah dan nadimu. Untuk itu dibutuhkan ilmu It Yang Cie Siang-thian Kanghu. Ilmu itu, semenjak meninggalnya Ong Tiong Yang Cinjin, kauwcu dari Coan Cin Pay, cuma guru kami satu orang yang mengerti itu. Meski begitu, kalau ilmu itu dipakai mengobati orang, dia sendiri mesti turut mendapat penyakit sebagai akibatnya, sebab dia mesti menggunai terlalu banyak tenaga terutama tenaga dalamnya. Untuk lima tahun, habislah semua kepandaian silatnya……"
Oey Yong kaget hingga ia mengeluarkan seruan tertahan. Ia menyesal dan malu sekali.
"Selama itu tempo lima tahun, untuk memulihkan diri, orang mesti berlatih dan bersemedhi setiap hari, siang dan malam, kalau dia salah berlatih, maka dia bakal nampak kegagalan dan kepandaiamnya itu tidak akan pulih kembali. Orang yang menjadi korbam begitu, entengnya dia bercacad seumur hidup, hebatnya dia lantas mati. Guruku begitu murah hati menolongi kau, kenapa kau begini jahat, kebaikan dibalas dengan kejahatan?"
Mendadak Oey Yong melepaskan diri dari Kwee Ceng, lantas ia berlutut ke arah kamarnya It Teng Taysu, empat kali ia mengangguk, sembari menangis ia berkata.
"Supee, sungguh keponakanmu tidak menyangka begini besar kau telah melepas budi menolongi jiwaku……"
Menyaksikan kelakuan si nona, roman si pengail berempat nampak sedikit sabar.
"Ayahmu menitahkan kau menjalankan akalnya ini mencelakai guru kami, benar-benar kau sendiri tidak tahu?"
Tanya si tukang pancing. Ditanya begitu, Oey Yong menjadi gusar.
"Mana dapat ayahku mencelakai supee?"
Katanya keras.
"Ayahku itu orang macam apa? Mana dapat ayahku berlaku demikian hina dina?"
Si tukang pancing menjura.
"Jikalau ini bukan titah ayahmu, nona, harap kau memberi maaf atas kelancanganku ini,"
Ia berkata.
"Hm!"
Berkata si nona.
"Jikalau perkataanmu barusan dapat didengar ayahku, tidak perduli kau muridnya supee, kau pasti bakal diberi rasa sedikit!"
"Hm,"
Berkata si pengail.
"Ayahmu digelarkan Tong Shia, si Sesat dari Timur, maka itu kami pikir, apa yang dapat diperbuat See Tok, si Bisa dari Barat, tentulah dapat dilakukan juga ayahmu. Sekarang ini rupanya soal adalah lain."
"Mana dapat ayahku dibanding dengan See Tok?"
Berkata si nona.
"Auwyang Hong si bangsat tua itu, apa juga dapat dia lakukan! Apakah yang dia telah perbuat?"
"Baik,"
Si pelajar datang sama tengah.
"Sekarang segala apa sudah jelas, mari kita kembali ke dalam untuk bicara lebih jauh."
Maka berenam mereka masuk ke kamar, untuk terus berduduk, akan tetapi empat orang itu duduk demikian rupa, hingga sendirinya mereka seperti memegat jalan keluar kedua muda-mudi itu.
Oey Yong mengetahui itu, ia bersenyum, ia tidak mau membuka rahasia orang.
"Apakah kamu ketahui tentang urusan Kiu Im Cin-keng?"
Si pelajar mulai bicara.
"Aku ketahui itu. Apakah ada sangkutannya supee dengan kitab itu?"
"Ketika diadakan pertemuan pertama di Hoa San itu, soalnya ialah perebutan kitab Kiu Im Cin-keng itu,"
Berkata si pelajar.
"Ketika itu Coan Cin Kauwcu adalah yang terlihay, kitab itu telah jatuh di tangannya. Bahwa semua orang takluk kepada kauwcu itu, itulah bukan soal lagi. Tiong Yang Cinjin sangat mengagumi ilmu Sian Thian Kang dari guru kami, maka juga di tahun kedua bersama-sama adik seperguruannya dia datang mengunjungi guru kami di Tali, ketika itu mereka berbicara banyak tentang ilmu silat itu."
"Adik seperguruannya Tiong Yang Cinjin?"
Tanya Oey Yong.
"Itulah Loo Boan Tong Ciu Pek Thong!"
"Benar,"
Sahut si pelajar.
"Nona masih begini muda tetapi banyak sekali orang yang nona kenal……"
"Ah, jangan kau memuji aku,"
Berkata si nona.
"Paman Ciu itu seorang sangat jenaka, tetapi kami tidak tahu bahwa dia dipanggil Loo Boan Tong si bocah tua bangkotan yang nakal. Ketika itu guru kami masih belum mensucikan diri."
"Oh, kalau begitu ketika supee masih menjadi kaisar!"
Kata Oey Yong.
"Benar. Coan Cin Kauwcu (Dewi-KZ) itu bersama adik seperguruannya tinggal di istana belasan hari, selama itu kami berempat senantiasa mendampinginya. Guru kami telah menjelaskan segala apa mengenai Sian Thian Kang itu, hingga Tiong Yang Cinjin menjadi sangat girang, maka ia pun lantas mengajari ilmu silat It Yang Cie yang menjadi ilmu silatnya yang paling istimewa. Kami mendengari semua pembicaraan akan tetapi pelajaran kami masih sangat rendah dan kami pun tumpul sekali, tak dapat kami mengajari itu."
"Habis bagaimana dengan Loo Boan Tong?"
Oey Yong tanya.
"Kepandaiannya Loo Boan Tong tidak cetek."
"Paman Ciu itu seorang gemar bergerak, tak suka dia berdiam, setiap hari dia berputaran saja di seluruh istana. Dia pergi ke timur dan ke barat, ke segala tempat sampai pun dia tidak pandang-pandang lagi keraton di mana permaisuri dan selir-selir bertinggal. Semua orang kebiri dan dayang mendapat tahu dialah tetamu agung kami, tidak ada di antaranya yang berani melarang."
Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang dan bersenyum. Mereka tahu baik sifatnya itu engko atau kakak angkat. Cuma di dalam hatinya, mereka kata.
"Itu dia sifatnya Loo Boan Tong!"
"Ketika Tiong Yang meminta diri,"
Si pelajar melanjuti.
"Dia berkata kepada guru kami. 'Selama yang belakangan ini penyakitku yang lama kembali kumat, maka mungkin aku tidak bakal berdiam lama lagi di dalam dunia ini, karena sekarang sudah ada ahli waris dari It Yang Cie, jadi di dalam dunia ada orang yang dapat menindih padanya, bolehlah tak usah dikhawatir yang dia nanti berani malang melintang bermain gila.' Baru setelah itu guru kami mengetahui maksud utama kenapa Tiong Yang Cinjin melakoni perjalanan demikian jauh datang ke Tali mengunjungi guru kami, maksudnya ialah untuk mewariskan kepandaiannya itu, agar setelah ia menutup mata nanti, ada orang yang dapat mengekang Auwyang Hong. Lima-limanya Tong Shia, See Tok, Lam Tee, Pak Kay dan Tiong Sin Thong adalah orang-orang yang namanya sama termashurnya, kalau Tiong Yang Cinjin membilang terus terang dia datang
http.//kangzusi.com / untuk memberi pelajaran, dia khawatir guru kami merasa dirinya dipandang enteng, dari itu lebih dulu dia minta pelajaran Sian Thian Kang, kemudian baru dia membalas mengajari It Yang Cie.
Itulah artinya pertukaran.
Guru kami mengetahui maksud baik dari Tiong Yang Cinjin, ia menjadi bersyukur, ia mengagumi kauwcu itu.
Ia lantas memahamkan itu dengan sungguh-sungguh.
Kemudian di negara Tali itu telah terjadi suatu hal yang malang, hati guru kami menjadi tawar, maka itu ia pergi mencukuri rambutnya dan masuk menjadi hweeshio."
Mendengar itu, Oey Yong berpikir;
"Toan Hongya tidak mau menjadi kaisar, dia lebih suka menjadi pendeta, mestinya kejadian malang itu sangat melukai hatinya. Karena muridnya ini tidak mau menjelaskan, tidak dapat aku minta keterangan atas kejadian itu……"
Ia memandang kepada kawannya.
Ia melihat Kwee Ceng seperti hendak membuka mulut, untuk menanya, ia lekas mencegah dengan kedipan matanya.
Kwee Ceng mengerti kedipan itu, ia menunda membuka mulutnya.
Air muka si pelajar nampak guram.
Rupanya ia teringat akan peristiwa dulu itu.
Ia berdiam beberapa saat baru ia berbicara pula.
"Setahu bagaimana, kemudian hal guru kami mempelajari It Yang Cie itu telah bocor,"
Katanya.
"Pada suatu bari, ini suhengku……"
Ia menunjuk pada si petani "…… telah menerima titah suhu, ialah guru kami itu, untuk pergi mencari daun obat-obatan.
Suhengku telah pergi ke gunung Tay Soat San di barat Inlam, di sana orang telah melukai ia dengan ilmu silat Kap Moa Kang."
"Pastilah penyerang itu si Bisa bangkotan!"
Berkata Oey Yong.
"Siapa lagi kalau bukannya dia?"
Berkata si petani gusar.
"Mulanya seorang muda yang tidak karu-karuan yang telah mencari stori denganku, dia membilangnya Tay Soat San itu miliknya dan dia melarang siapa juga mencari daun obat di situ. Aku telah menerima pengajaran suhu, aku berlaku sabar, tapi justru aku mengalah, si anak muda semakin mendesak, dia menyuruh aku mengangguk tigaratus kali kepadanya, baru dia mau mengijinkan aku turun gunung. Karena habis sabarku, aku menempur dia. Pemuda itu benar lihay, sekian lama kita bertempur, kita tetap seri. Itu waktu mendadak muncullah si tua berbisa itu, tanpa banyak omong, dia menghajar aku hingga aku terluka parah, setelah mana si anak muda menggendong aku, mengantari aku pulang sampai di luar kuil Liong Coan Sie di mana suhu berdiam."
"Kalau begitu sudah ada orang yang mewakilkan kau membalas sakit hatimu,"
Berkata si nona.
"Pemuda itu ialah Auwyang Kongcu sudah ada yang membunuhnya."
"Ah, dia telah mati?"
Kata si petani gusar.
"Siapakah yang membunuh dia?"
"Eh, heran!"
Kata Oey Yong.
"Ada orang lain membunuh musuhmu, kau masih gusar?"
"Musuhku mesti aku yang membalas sendiri!"
Sahut si petani.
"Sayang kau tidak dapat membalasnya……"
Kata si nona menghela napas.
"Sebenarnya siapakah yang membunuhnya?"
"Dia juga seorang busuk. Kepandaian dia itu kalah dari Auwyang Kongcu tetapi dia menggunai akal."
"Bagus!"
Berkata si pelajar.
"Nona, tahukah kau maksudnya Auwyang Hong melukai suhengku ini?"
"Tidak sukar untuk menerka itu,"
Menyahut Oey Yong.
"Dengan kepandaiannya See Tok, dengan dua kali turun tangan, dapat dia membinasakan suhengmu, tetapi dia cuma melukai parah, lalu dia mengantarnya pulang ke depan pintu rumah gurumu. Maksudnya itu ialah agar gurumu menghabiskan tenaga dalamnya untuk mengobati suhengmu itu. Barusan kau membilangnya, supee mesti membuang tempo lima tahun untuk memulihkan kepandaiannya, maka itu berarti, kalau nanti diadakan rapat yang kedua di gunung Hoa San, pasti gurumu tak keburu turut mengambil bagian."
Pelajar itu menghela napas.
"Nona sungguh cerdik, tetapi kali nona cuma dapat menerka separuhnya,"
Ia berkata.
"Kejahatan Auwyang Hong itu sukar diterka dari bermula. Justru di saat suhu mengobati suhengku ini, justru kesegaran suhu belum kembali, dia datang melakukan penyerangan, maksudnya untuk membikin mati pada suhu……"
"It Teng Supee demikian murah hati, apakah benar dia menyebabkan permusuhan dengan Auwyang Hong?"
Kwee Ceng menanya. Anak muda ini heran.
"Engko kecil, pertanyaanmu ini tidak tepat,"
Menyahut si pelajar.
"Pertama-tama, si orang murah hati itu justrulah musuh daripada si orang jahat. Si orang jahat tak suka hidup bersama di dalam dunia dengan orang baik hati. Kedua, kalau Auwyang Hong hendak mencelakai orang, dia tentu tidak sudi memperhatikan orang itu bermusuhan dengannya. Karena dia ketahui ilmu silat It Yang Cie dari suhu adalah penumpas dari ilmu silatnya, maka itu dia dapat menggunai seratus atau seribu akal keji untuk membinasakan guru kami."
Kwee Ceng mengerti, ia mengangguk beberapa kali.
"Habis, apakah supee telah kena dia bikin celaka?"
Ia menanya pula.
"Setelah suhu melihat lukanya suheng, lantas suhu dapat menerka maksudnya Auwyang Hong,"
Si pelajar menerangkan pula.
"Malam itu juga suhu pindah tempat, dan Auwyang Hong tidak berdaya mencari. Karena tahu Auwyang Hong tidak bakal berhenti sampai di situ, kami mencari tempat-tempat sampai kami mendapatkan ini tempat suci. Setelah suhu pulih kesehatannya, kami berempat mengusulkan suhu pergi mencari See Tok di Pek To San, guna membuat perhitungan dengannya, akan tetapi suhu berpendirian, kalau dapat mengalah baiklah dia mengalah terus dan kami dilarang pergi menerbitkan gara-gara. Demikianlah untuk belasan tahun kami tinggal dengan aman di tempat ini. Siapa tahu sekarang kamu berdua datang kemari! Kami cuma tahu kamu murid-muridnya Kiu Cie Sin Kay, kami menduga kamu tidak bermaksud jahat, maka itu kami merintanginya setengah hati, coba kami berbuat nekat, tidak nanti kami membiarkan kamu masuk ke kuil kami. Sungguh di luar dugaan, toh akhir-akhirnya guru kami telah terkena juga tangan jahat kamu……"
Setelah berkata begitu, mendadak muka si pelajar menjadi bengis pula, bahkan sambil berbangkit bangun, ia menghunus pedangnya, yang berkilau berkeredepan.
Melihat demikian, si pengail, si tukang kayu dan si petani, turut berbangkit juga sambil menghunus senjata mereka, lantas mereka mengambil sikap mengurung.
"Ketika aku datang mencari supee untuk minta diobati, aku tidak tahu bahwa pengobatannya itu bakal menghabiskan kepandaiannya selama lima tahun,"
Berkata Oey Yong.
"Bahwa obatku ada racunnya, itu juga aku tidak tahu, sebab itu ada perbuatannya lain orang. Supee telah melepas budi padaku, meskipun kami tidak punya hati, tidak nanti kami membalas kebaikannya dengan kejahatan."
"Kalau begitu,"
Menegur si tukang pancing.
"Kenapa selagi kesehatan guru kami belum pulih dan dia pun terkena racun, kamu mengajak musuh mendaki gunung ini?"
Ditanya begitu, Oey Yong dan Kwee Ceng kaget bukan alang kepalang.
"Tidak sama sekali!"
Mereka menyangkal.
"Masih menyangkal!"
Membentak si tukang pancing.
"Begitu suhu terkena racun, kita lantas menerima gelang kumala dari pihak musuh. Kalau memangnya kamu tidak bersekongkol mana bisa terjadi peristiwa begini kebetulan?"
"Gelang kumala apa itu?"
Oey Yong tanya. Ia benar tidak mengerti.
"Hm, masih berlagak piton!"
Si tukang pancing mengejek.
Mendadak ia menggeraki dua tangannya, maka kedua pengayuhnya lantas menghajar muda mudi di depannya itu.
Kwee Ceng duduk berendeng sama Oey Yong, begitu ia melihat datangnya pengayuh, ia berlompat bangun, kedua tangannya bergerak, tangan kanan menyambar satu pengayuh, untuk segera dirampas, tangan yang lain menangkap pengayuh yang kedua, yang terus ia gentak.
Si tukang pancing kaget dan tangannya kesakitan, pengayuhnya itu terpaksa dilepaskan.
Selagi begitu, Kwee Ceng meneruskan menangkis garunya si petani, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat berhamburan.
Setelah itu, lekas-lekas ia mengangsurkan, menyerahkan pulang pengayuhnya si tukang pancing, hingga dia ini heran dan tercengang, tetapi cuma sebentar, setelah menyambuti itu, berbareng bersama kampaknya si tukang kayu, dia menyerang pula.
Kwee Ceng sementara itu berlaku sangat sebat, begitu ia mundur, begitu ia menolak, menampak mana si pelajar yang mengenali ilmu silat Hang Liong Sip-pat Ciang, segera meneriaki kedua saudara seperguruannya.
"Lekas mundur!"
Si tukang pancing dan si tukang kayu adalah murid-muridnya seorang guru yang lihay, mereka menginsyafi bahaya dengan cepat mereka menarik pulang senjata mereka sambil mengundurkan diri juga.
Tapi biar bagaimana mereka sebat, mereka masih kalah gesit, mereka tidak dihajar hanya senjata mereka disambar, untuk dirampas pula!
"Sambut ini!"
Berkata Kwee Ceng, yang kembali mengembalikan senjata orang, sekarang pengayuh dan garu! "Bagus!"
Si pelajar memuji sambil ia menikam dengan pedangnya ke iga kanan.
Melihat datangnya tikaman, Kwee Ceng terperanjat.
Sekarang terbukti, dari keempat murid orang itu, adalah si pelajar ini, yang gerak-geriknya halus, justru yang ilmu silatnya paling lihay.
Maka ia tidak mau berlaku alpa.
Untuk dapat melindungi Oey Yong, yang tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, ia membela diri dengan gerakannya menuruti barisan Thian Kong Pak-tauw-tin dari Coan Cin Cit Cu.
Mula-mula ia hanya mengurung diri, kemudian perlahan-lahan ia memperlebar kurungannya, maka keempat lawan itu terpaksa mundur sendirinya, sampai mereka terdesak ke tembok.
Disaat ini, asal ia mau turun tangan, dapat si anak muda melukai mereka itu, atau salah satu di antaranya.
Selama itu, Kwee Ceng mempertahankan diri, antaranya ia tidak menambah tenaganya.
Dengan begini ia membuatnya mereka dua pihak tidak kalah dan tidak menang.
Si pelajar agaknya penasaran, mendadak ia mengubah ilmu pedangnya.
Kali ini pedangnya itu mengasih dengar sambaran angin mengaung.
Ia menyerang ke empat penjuru, setiap kalinya dengan enam tusukan atau sabetan beruntun.
Itulah ilmu pedang Ay Lao Kiam Hoat dari Ay Lao San di Inlam, yang semuanya terdiri dari tigapuluh enam jurus.
Tapi terhadap si anak muda, ilmu pedang itu tidak mempan.
Tenang-tenang seperti biasa, dengan tangan kanan pemuda ini melayani pedang, dengan tangan kirinya ia menghalau setiap senjatanya si tukang pancing, si tukang kayu dan si petani.
Disaat datangnya tusukan pedang yang ketigapuluh enam, Kwee Ceng menyambut itu dengan sentilannya jari tengah.
Itulah dia ilmu silat Tan Cie Sin Thong dari Oey Yok Su, ilmu silat yang tak ada keduanya, sebagaimana terbukti ketika dengan Ciu Pek Thong ia main-main menyentil batu, sedang selama di Kwie-in-chung, dia telah memberi petunjuknya kepada Bwee Tiauw Hong, sementara Kwee Ceng telah melihatnya di Gu-kee-cun, Lim-an, selama Tong Shia melayani Coan Cin Cit Cu.
Memang ia belum mencapai kemahiran seperti Oey Yok Su tetapi ketika pedang si pelajar kena tersentil, pedang itu berbunyi nyaring dan mental.
Si pelajar merasai tangannya sakit sampai hampir terlepas cekalannya.
"Tahan!"
Pelajar itu berseru sambil ia lompat mundur.
Si tukang pancing sudah lantas menurut, semuanya mengundurkan diri, tetapi mereka sudah terdesak ke tembok, tidak ada ruang lagi untuk mundur, maka itu, si tukang pancing mundur ke pintu, si petani lompat di liang tembok yang gempur, sedang si tukang kayu, yang terus menyelipkan kapaknya di pinggangnya, bukan menyingkir hanya sambil tertawa dia kata.
"Aku telah membilangnya kedua tetamu kita ini tidak mengandung maksud jahat tetapi kamu tidak percaya!"
Ia berbicara itu sama ketiga saudara seperguruannya. Si pelajar menyimpan pedangnya, ia menjura kepada Kwee Ceng.
"Kau baik hati, kau suka mengalah, engko kecil,"
Katanya.
"Terima kasih!"
Kwee Ceng lekas-lekas berbangkit untuk membalas hormat. Hanya karena kata-kata si tukang kayu, ia heran, ia kata di dalam hatinya.
"Kami memang tidak mengandung maksud buruk, mengapa mereka berempat mulanya tidak mempercayainya? Kenapa baru sekarang mereka percaya?"
Oey Yong melihat paras kawannya, ia tahu apa yang orang pikir, maka ia membisik.
"Jikalau kau memikir buruk, kau tentunya telah melukai mereka. Sekarang ini, sekalipun It Teng Supee bukanlah tandinganmu."
Kwee Ceng pikir itu benar ia mengangguk. Si pelajar berempat telah berkumpul pula di dalam kamar.
"Sebenarnya siapa itu musuh dari It Teng Supee?"
Oey Yong tanya.
"Apa itu yang disebut gelang kumala?"
"Menyesal,"
Menyahut si pelajar.
"Bukannya kami tidak suka menjelaskan hanya sebenarnya kami sendiri tidak tahu duduknya hal. Apa yang kami tahu ialah suhu dan orang itu ada mempunyai kepentingan."
Oey Yong masih mau menanya ketika si petani berlompat bangun seraya berkata keras.
"Ah, inilah berbahaya!"
"Bahaya apa?"
Tanya si tukang pancing. Si petani menunjuk si pelajar, ia menyahuti.
"Suhu sedang kehabisan tenaga, sekarang dia menutur segala apa, kalau kedua tetamu kita ini bermaksud tidak baik, kita sendiri tidak sanggup mencegahnya, apakah kau kira suhu masih dapat ditolongi?"
Mendengar kekhawatiran itu, si tukang kayu berkata.
"Paduka conggoan pandai berpikir, mustahil hal ini dia tidak dapat memikirkannya? Kalau begitu, mana bisa dia menjadi perdana menteri dari negara Tali? Sebenarnya dia ketahui dari siang-siang bahwa kita bukan tandingannya tetapi dia toh bertindak juga, itulah ke satu untuk mencoba kepandaiannya kedua tetamu kita ini dan kedua untuk membikinnya kau percaya habis!"
Si pelajar bersenyum.
Si petani dan si tukang pancing mendelik kepada saudaranya, mereka kagum, separuhnya lagi menyesali.
Ketika itu terdengar tindakan kaki orang, lalu muncul seorang kacung pendeta, yang lantas memberi hormat seraya berkata.
"Suhu menitahkan suheng berempat mengantarkan tetamu pulang."
Atas itu semua orang berbangkit. Tapi Kwee Ceng segera berkata.
"Supee lagi menghadapi musuh, mana dapat kita lantas berlalu dari sini? Bukankah siauwtee tidak tahu diri tetapi ingin aku bekerja sama suheng berempat untuk mengusir dulu musuh itu."
Si tukang pancing berempat saling melirik, mereka memperlihatkan roman girang.
"Nanti aku pergi dulu menanyakan suhu,"
Kata si pelajar, yang lantas berlalu, diikuti ketiga saudaranya. Tidak lama mereka kembali, kali ini lenyap roman mereka yang gembira. Si pelajar lantas berkata.
"Suhu mengucap terima kasih atas kebaikan jiewi, tetapi suhu membilang juga, segala apa biar terserah kepada karma, biar orang berbuatnya sendiri-sendiri, dari itu orang luar tidak dapat campur tangan."
Tapi Oey Yong memikir lain.
"Engko Ceng, mari kita bicara sendiri sama supee!"
Katanya.
Kwee Ceng menurut.
Ketika mereka sampai di kamar It Teng Taysu, pintu kamar dikunci, percuma mereka mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil, tidak ada suara jawaban.
Sebenarnya pintu itu bisa digempur tetapi mereka tidak berani berbuat demikian.
"Suhu tidak dapat menemui kamu pula, jiewi,"
Berkata si tukang kayu, yang air mukanya guram.
"Karena gunung itu tinggi dan air panjang, baiklah lain kali kita bertemu pula."
Oey Yong belum bilang apa-apa, atau Kwee Ceng mendapat satu pikiran, maka ia lantas berkata dengan nyaring.
"Yongjie, mari kita pergi! Bukankah supee tidak sudi menemui kita? Sebentar di bawah gunung, supee mengasih ijin atau tidak, kalau kita ketemu orang dan orang itu banyak rewel, kita hajar padanya!"
Si nona yang cerdik lantas dapat menerka maksud engko Cengnya itu, ia pun menyahuti dengan nyaring.
"Kau benar, engko Ceng! Umpama kata musuhnya supee sangat lihay dan kita mati di tangannya, kita puas, hitung-hitung kita sudah membalas budi supee!"
Dua-dua suara itu keras, pasti suara itu terdengar sampai di dalam, maka juga, ketika si muda mudi baru jalan beberapa tindak, mendadak daun pintu dipentang, lalu terdengar suara tajam dari seorang pendeta tua.
"Taysu mengundang jiewi!"
Kwee Ceng girang sekali, bersama Oey Yong, ia jalan berendeng masuk ke dalam kamarnya It Teng Taysu.
Di sana si pendeta, bersama si pendeta dari India, masih duduk bersila.
Mereka lantas menghampirkan, untuk memberi hormat sambil berlutut.
Ketika kemudian mereka mengangkat kepala, mereka mendapatkan It Teng Taysu bermuka pucat kuning, beda daripada waktu semula mereka melihatnya.
Mereka jadi bersyukur berbareng berduka, hingga mereka tidak tahu mesti membilang apa.
It Teng Taysu bersenyum.
"Semua masuk!"
Ia kata kepada empat muridnya, yang menanti di depan pintu.
"Aku hendak bicara."
Si pelajar berempat menghampirkan, lebih dulu mereka memberi hormat kepada guru mereka itu, juga kepada si pendeta India.
Dia ini cuma mengangguk, lantas dia tunduk dan berdiam, kembali tidak memperdulikan semua orang.
It Teng Taysu mengawasi asap yang bergulung naik, tangannya membuat main sebuah gelang kumala.
Oey Yong melihat itu, katanya dalam hatinya;
"Terang itu ada gelang orang perempuan, entah apa maksudnya musuh supee bolehnya mengirimkan ini?"
Untuk beberapa detik, semua orang berdiam, kemudian baru terdengar It Teng Taysu menghela napas dan mengatakan.
"Setiap hari dahar nasi, tetapi pernahkan memakannya sebutir beras?"
Ia lantas menoleh kepada si muda-mudi, untuk melanjuti.
"Kamu berdua mulia hati, aku si pendeta tua menerima itu dengan baik, Mengenai urusan ini, jikalau aku tidak menjelaskan, aku khawatir murid-murid atau sahabat-sahabat dari kedua pihak nanti menerbitkan gelombang yang tak diingini. Itulah bukannya kehendakku. Tahukah kamu siapa sebenarnya aku ini?"
"Supee adalah kaisar dari Tali di Inlam,"
Menyahut Oey Yong.
"Supee ada satu-satunya kaisar di Selatan yang kesohor sekali, siapakah yang tidak tahu?"
It Teng bersenyum.
"Kaisar palsu, pendeta juga palsu,"
Ia berkata.
"Kau, nona kecil, kau pun palsu……"
Oey Yong tidak menginsyafi filsafat si pendeta, ia mengawasi saja. It Teng berkata pula, dengan perlahan.
"Negara Tali kami, semenjak Sri Baginda Sin Seng Bun Bu Tee Thaycouw membangun pemerintahan, ialah di tahun Teng-yoe, itulah lebih dulu duapuluh tiga tahun dari berdirinya kerajaan Song oleh Song Thay-couw Tio Kong In. Setelah tujuh turunan, kerajaan diturunkan kepada Baginda Peng Gie. Setelah empat tahun memerintah, Baginda Peng Gie mengundurkan diri dari kerajaan dan masuk menjadi pendeta. Tahta diserahkan pada keponakannya ialah Baginda Seng Tek. Kemudian tahta diturunkan terus kepada Baginda-bagina Hin Cong Hauw Tek, Poo Teng, Hian Cong Soan Jin serta ayahku, Keng Cong Ceng Kong. Semua Baginda itu telah menjadi pendeta juga. Dari Thay-couw sampai pada aku, delapanbelas turunan, ada tujuh raja yang mensucikan diri."
Si tukang pancing berempat adalah orang Tali, mereka semua tahu hal ikhwalnya raja-raja mereka itu, cuma Kwee Ceng berdua Oey Yong yang heran, hingga mereka mau memikir, apa mungkin menjadi pendeta lebih senang daripada menjadi raja…… It Teng Taysu melanjuti keterangannya.
"Kamu keluarga Toan kami, dengan berkah kebijaksanaan leluhur kami, telah berhasil menjadi sebuah keluarga kaisar di sebuah negara kecil di Selatan. Semua mereka merasa tanggung jawab itu besar, maka juga hati mereka tidak tenang, tidak berani mereka melakukan apa-apa yang melewati batas. Biarnya begitu, siapa menjadi raja, bukankah dia dapat dahar tanpa meluku, dapat berpakai tanpa menenun? Bukankah kalau keluar dia naik kereta, dan kalau pulang memasuki istana? Bukankah semua itu asalnya dari keringatnya rakyat? Oleh karena itu semua, disaat usianya langsung, mereka menginsyafi capai lelah rakyatnya itu, mereka merasa menyesal, maka diakhirnya mereka telah menjadi pendeta……"
Selagi mengucap begitu, pendeta ini memandang ke luar, mulutnya memperlihatkan senyuman, tetapi pada alisnya, nampak roman kedukaannya.
Maka itu, entahlah dia bergirang atau berduka.
Enam orang itu mendengar dengan terus berdiam.
It Teng Taysu mengangkat gelang kumalanya, ia masuki itu ke dalam jari telunjuk dari tangannya, ia putar itu beberapa kali.
Kemudian ia meneruskan.
"Aku sendiri, aku bukannya mengikuti kebiasaan leluhurku itu. Tentang aku, sebab-sebabnya ada sangkut pautnya dengan urusan rapat ilmu pedang di gunung Hoa San, ketika lima jago saling berebutan kitab. Ketika tahun itu Tiong Yang Ong Cinjin dari Coan Cin Kauw memperoleh kitab, di lain tahunnya dia datang sendiri ke Tali, dia mewariskan ilmu silat It Yang Cie padaku. Setengah tahun dia berdiam di dalam istanaku, merundingkan tentang ilmu silat. Kita cocok sekali satu dengan lain, adik seperguruannya, Ciu Pek Thong. Dia ini ternyata tidak betah duduk diam saja, dia lantas pergi putar kayun di seluruh istana. Diluar dugaan, dia telah menerbitkan peristiwa."
Mendengar itu, Oey Yong kata di dalam hatinya.
"Kalau Loo Boan Tong tidak menerbitkan gara-gara itu barunya namanya heran!"
It Teng Taysu menghela napas.
"Sebenarnya biang peristiwa adalah pada diriku sendiri,"
Ia berkata pula.
"Aku adalah satu raja kecil, kerajaanku tidak dapat disamakan dengan kerajaan Song, meski begitu, aku mempunyai sedikit permaisuri dan selir. Ya, inilah dosa. Aku gemar ilmu silat, jarang aku mendekati orang perempuan, bahkan permaisuri, aku menemuinya beberapa hari sekali, maka itu bisa dimengerti, mana ada tempo akan menemui segala selir?"
Berkata sampai di situ, It Teng memandang keempat muridnya.
"Kamu tidak mengetahui tentang ini, sekarang biarlah kamu mendapat tahu juga,"
Ia menambahkan. Mendengar ini, Oey Yong kata di dalam hatinya.
"Benar-benar mereka tidak tahu, mereka jadinya tidak mendustakan aku."
"Sekalian selirku melihat aku setiap hari berlatih silat, di antaranya ada yang ketarik hati dan minta diajarkan."
It Teng mulai pula.
"Aku suka mengajari mereka. Aku pikir, pelajaran itu ada baiknya, untuk mereka menjadi bertambah sehat dan panjang umur. Di antaranya adalah Lauw Kui-hui, yang bakatnya paling baik. Selir ini, begitu diajari, begitu dia bisa. Dia masih muda, dia rajin belajar, dia memperoleh kemajuan pesat. Dasar mau terjadi urusan. Pada suatu hari dia tengah berlatih di taman dia terlihat Ciu Suheng. Ciu Suheng gemar silat, dia polos, dia tidak menghiraukan perbedaan di antara pria dan wanita, begitu melihat Lauw Kui-hui, dia mengajaknya main-main. Tentu sekali Lauw Kui-hui bukanlah tandingannya……"
Oey Yong terkejut.
"Tentulah Loo Boan Tong tidak mengenal kira dan dia melukai kui-hui……"
Katanya perlahan.
"Melukai, itulah tidak,"
It Teng memberitahu.
"Baru dua tiga jurus, dia telah menotok hingga kui-hui roboh, lantas dia menanya, kui-hui takluk atau tidak. Pasti sekali Lauw Kui-hui menyerah kalah. Ciu Suheng puas sekali, setelah menotok bebas kepada kui-hui, ia lantas bicara banyak tentang ilmu totok. Memangnya kui-hui sangat ketarik sama kepandaian itu, padaku ia telah minta diajari berulang-ulang. Coba kamu pikir, ilmu kepandaian semacam itu mana dapat diturunkan kepada kui-hui? Sekarang ada ketikanya, ia lantas minta Ciu Suheng mengajarinya."
"Kalau begitu, niscaya Loo Boan Tong puas sekali,"
Kata si nona.
"Apakah kau kenal Ciu Suheng?"
It Teng tanya.
"Kamilah sahabat-sahabat erat!"
Si nona menyahuti tertawa.
"Dia pernah tinggal sepuluh tahun di Tho Hoa To, belum pernah dia pergi satu tindak juga!"
"Dia dapat berdiam begitu lama sedang sifat dia tak suka diam?"
"Sebab dia dipenjarakan ayah!"
Sahut si nona tertawa.
"Baru yang belakangan ini dia dimerdekakan!"
It Teng mengangguk.
"Begitu?"
Katanya.
"Apa sekarang dia baik?"
"Dia baik hanya tabiatnya makin tua makin jadi!"
It Teng bersenyum. Kembali ia meneruskan.
"Sebenarnya ilmu totok itu tidak dapat diajari kecuali ayah dengan gadisnya, ibu dengan putranya dan suami istri. Biasanya guru lelaki tidak menurunkan kepada murid perempuannya dan guru perempuan tidak kepada murid laki-lakinya……"
"Kenapa begitu supee?"
"Itulah sebab lam lie siu siu put cin,"
Menjawab It Teng.
"Pria dan wanita, tidak dapat bersentuh tangan. Coba pikir tanpa meraba jalan darah di seluruh tubuh, mana bisa ilmu itu diajari sempurna?"
"Bukankah supee telah menotok sekujur tubuhku?"
Si nona tanya. Si pengail dan petani sebal nona ini main potong cerita, mereka mengawasi nona itu dengan mata mendelik. Oey Yong melihat itu, ia balik mendeliki mereka, bahkan dia menegur.
"Kenapa? Tak dapatkah aku bertanya?"
It Teng bersenyum.
"Dapat, dapat!"
Katanya lekas.
"Kaulah satu bocah, jiwamu pun sangat perlu ditolong, kau mesti dipandang dari jurusan lain."
"Baiklah. Bagaimana selanjutnya?"
"Selanjutnya yang satu mengajari, yang lain mempelajari,"
It Teng melanjuti ceritanya itu.
"Ciu Suheng sedang gagahnya, Lauw Kui-hui sedang mudanya, tubuh mereka beradu tak hentinya, hari ketemu hari, tanpa merasa, hati mereka berubah, hingga akhirnya mereka mengacau sampai tidak dapat diurus lagi……"
Oey Yong mau menanya atau mendadak ia mendapat menahan hatinya. Ia pun segera mendengar kelanjutannya cerita.
"Lantas ada orang yang memberi laporan padaku. Sebenarnya aku mendongkol, tetapi aku masih memandang Ong Cinjin, aku berpura-pura pilon. Adalah belakangan, hal itu dapat diketahui juga oleh Ong Cinjin."
"Urusan apakah sampai tak dapat diurus lagi?"
Tanya Oey Yong akhirnya. Ia polos, ia tidak menyangka jelek. It Teng beragu-ragu sedikit. Rupanya sulit ia mencari kata-kata.
"Mereka itu bukan suami istri tetapi kenyataannya mereka mirip suami istri,"
Sahutnya kemudian.
"Ah, aku tahu sekarang!"
Berkata si nona.
"Loo Boan Tong dan Lauw Kui-hui itu kemudian melahirkan anak?"
"Itulah bukannya,"
Berkata It Teng.
"Mereka baru berkenalan kira sepuluh hari lebih kurang, mana bias mereka mendapat anak? Ketika Ong Cinjin mendapat tahu itu, dia ringkus Ciu Suheng dan dihadapkan kepadaku, dia menyerahkannya untuk aku memberi hukuman. Kami kaum persilatan, kami menghargai kehormatan dan persahabatan lebih tinggi daripada urusan orang perempuan, maka aku lantas membebaskan Ciu Suheng, lantas aku memanggil Lauw Kui-hui, di situ aku menitahkan mereka menjadi suami istri. Ciu Suheng menampik, dia mengatakan dia tidak tahu bahwa itulah perbuatan salah, bahwa kalau ia tahu itu perbuatan tidak bagus, meski dibunuh juga tidak nanti dia melakukannya. Dia keras menolak menikah dengan Lauw Kui-bui. Ong Cinjin menjadi masgul sekali. Dia kata kalau dia memang tidak tahu Ciu Suheng itu manusia tolol dan tak tahu selatan, tentulah dia sudah membunuhnya."
Oey Yong mengulur lidahnya keluar.
"Sungguh hebat Loo Boan Tong, dia menghadapi bahaya!"
Katanya.
"Penampikannya itu membuat aku mendongkol,"
Berkata It Teng, yang meneruskan ceritanya.
"Dengan tandas aku kata padanya. 'Ciu suheng, dengan ikhlas aku menyerahkan kui-hui padamu! Apakah kau menyangka aku mengandung maksud lain? Bukankah semenjak dulu ada dibilang, saudara ialah tangan dan kaki dan istri itu pakaian? Apakah artinya seorang perempuan?"
"Eh, eh, supee, kau memandang enteng wanita!"
Oey Yong memotong.
"Kata-kata supee mirip sama ngaco belo!"
Si petani menjadi gusar.
"Tak dapatkah kau tidak memotong?"
Dia tanya bengis.
"Supee omong tidak tepat, itulah mesti dibantah!"
Berkata si nona membelar. Keempat murid itu melongo. Bagaimana mereka menghormati guru mereka, maka bagaimana "kurang ajarnya"
Bocah wanita ini. It Teng sabar luar biasa, dia tidak menggusari si nona. Dia meneruskan perkataannya.
"Mendengar perkataanku itu, Ciu Suheng menggeleng kepala. Maka aku menjadi bertambah gusar. Aku kata padanya. 'Jikalau kau mencintai dia, kenapa sekarang kau menampik? Jikalau kau memang tidak mencintai, kenapa kau lakukan perbuatanmu itu? Negeriku memang negeri kecil, tetapi tidak nanti aku mengijinkan kau menghina kami!' Mendengar itu, Ciu Suheng menjublak sekian lama, akhirnya dia menjatuhkan diri berlutut di depanku, mengangguk beberapa kali lalu berkata; 'Toan Hongya, aku salah! Aku pergi sekarang!' Aku tidak menyangka akan putusannya ini, aku tercengang karenanya. Dia lantas mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra dari sakunya, dia berikan itu kepada Lauw Kui-hui seraya berkata. 'Ini aku pulangi padamu!' Kui-hui tahu orang bersusah hati, ia tertawa sedih. Ia tidak menyambuti sapu tangan itu, maka sapu tangan itu jatuh di dekat kakiku. Ciu Suheng tidak membilang apa-apa lagi, dia terus berlalu. Sejak itu sudah berselang sepuluh tahun lebih, tentang dia aku tidak mendengar apa-apa lagi. Ong Cinjin menghaturkan maaf berulang-ulang kepadaku, habis itu ia pun berlalu, sampai kemudian aku mendengarnya ia telah meninggal dunia. Ia berhati mulia tidak ada tandingannya, saying……"
"Di dalam ilmu silat, mungkin Ong Cinjin lebih lihay daripada kau, supee,"
Berkata si nona.
"Tetapi bicara tentang hati mulia, dia tidak bisa melawan supee sendiri. Habis bagaimana dengan sapu tangan sulam itu?"
Si pelajar berempat tidak puas si nona mengingat selalu sapu tangan itu. Tapi guru mereka berbicara terus.
"Aku melihat Lauw Kui-hui menjublak saja, seperti yang ditinggalkan arwahnya, aku jadi mendongkol. Aku menjumput sapu tangan itu. Di situ aku menampak sulaman sepasang burung wanyoh memain di air. Hm, tidak salah lagi, itulah barang Lauw Kui-hui untuk kekasihnya. Aku tertawa dingin. Lantas aku membalik sapu tangan itu. Kiranya di situ ada sebaris syairnya……"
Oey Yong sangat tertarik hingga ia lantas menanya.
"Apakah itu berbunyi…… 'Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang berpasangan……"
Si petani habis sabar, dia membentak.
"Kami sendiri tidak tahu, bagaimana kau ketahui itu? Ha, kau ngaco saja, kau main potong tak hentinya!"
Tetapi It Teng sendiri tidak gusar, ia menghela napas.
"Benar begitu,"
Sahutnya.
"Kau juga ketahui itu?"
Bab 64 ASMARA DI DALAM KERATON Mendengar suara guru mereka, keempat murid itu tercengang. Kwee Ceng berlompat seraya berseru.
"Aku ingat sekarang! Ketika malam itu Oey Tocu meniup seruling, Ciu Toako tak kuat menahan hatinya, kemudian aku mendengar dia membacakan syairnya itu. Ialah. 'Empat buah perkakas tenun…… maka tenunan burung wanyoh bakal terbang perpasangan…… sayang, belum lagi tua, tetapi kepala sudah putih…… Gelombang musim semi, rumput hijau, dimusim dingin, di dalam tempat tersembunyi, saling berhadapan baju merah……"
Ia menepuk paha kanannya, ia kata pula.
"Tidak salah! Ketika itu aku heran sekali. Di dalam segala-gala, Ciu Toako lebih menang daripada aku tetapi selagi aku tidak terganggu serulingnya Oey Tocu, ia sendiri kelabakan, tak kuat ia mempertahankan diri, tidak tahunya dia dapat mengingat peristiwa lama itu hingga pemusatan pikirannya menjadi kacau. Pantaslah dia mencaci orang perempuan! Kau tahu, Yong-jie, dia sampai menasihati aku untuk aku jangan baik dengan kau……"
"Hm, Loo Boan Tong!"
Kata si nona mendongkol.
"Lihat kalau nanti aku bertemu padanya, akan aku jewer kupingnya!"
Mendadak ia tertawa dan menambahkan.
"Ketika di Lim-an aku telah menggodai dia, aku telah mengatakan tidak ada wanita yang akan sudi menikah padanya, agaknya dia mendongkol, rupanya itu pun disebabkan peristiwa itu."
"Maka ketika aku mendengar Eng Kouw membacakan itu, aku seperti telah pernah mendengarnya,"
Kata pula Kwee Ceng.
"Hanya itu waktu, biar bagaimana aku memikirkannya, tidak juga aku ingat. Eh, Yong-jie, mengapa Eng Kouw pun mengetahui syair itu?"
Ditanya begitu, si nona menghela napas.
"Karena Eng Kouw ialah Kui-hui,"
Sahutnya. Di antara si tukang pancing berempat, adalah si pelajar yang sudah menduga lima atau enam bagian, maka juga tiga yang lainnya menjadi heran, semua mengawasi guru mereka.
"Kau sangat pintar, Nona,"
Kata It Teng Taysu dengan perlahan.
"Tidak kecewa kau menjadi putrinya saudara Yok. Lauw Kui-hui itu mempunyai nama kecil, ialah Eng. Aku pun mulanya tidak mengetahui itu. Itu waktu aku telah melemparkan sapu tangan kepadanya, lantas aku tidak melihat pula padanya. Karena aku berduka sekali, aku tidak memperdulikan lagi urusan negara, aku menungkuli diri dengan setiap hari melatih ilmu silat."
"Supee, itu waktu di dalam hatimu kau sangat mencinta dia,"
Kata Oey Yong.
"Kau tapinya tidak mengetahui. Kalau tidak, tidak nanti kau menjadi tidak gembira……"
"Nona!"
Berkata si pelajar berempat. Mereka ini tidak senang nona ini berani bicara demikian macam terhadap guru mereka.
"Apa? Apakah aku salah omong?"
Oey Yong balik menanya.
"Supee, salahkah aku?"
Air mukanya It Teng Taysu suram. Ia berkata.
"Selama itu lebih dari setengah tahun tidak pernah aku panggil Lauw Kui-hui datang menghadap, akan tetapi di dalam impian, sering aku bertemu dengannya. Demikian pada suatu malam, habis memimpikan dia, tidak dapat aku melawan niat hatiku, aku mengambil putusan untuk melihat padanya. Aku tidak memberitahukan niatku kepada thaykam atau dayang, aku pergi sendirian dengan diam-diam. Aku ingin menyaksikan apa yang dia kerjakan. Ketika aku tiba di wuwungan kamarnya, aku mendengar suara anak kecil menangis keluar dari kamarnya itu. Ah……! Malam itu salju turun banyak dan angin pun dingin sekali, tetapi di atas genting itu aku berdiri lama sekali, sampai fajar, barulah aku turun dan kembali ke kamarku. Habis itu aku mendapat sakit berat."
Oey Yong heran.
Seorang raja, dan di tengah malam buta rata, untuk selirnya, telah mesti menyiksa diri secara begitu.
Sekarang barulah keempat murid itu ketahui kenapa guru mereka -ketika itu ialah junjungan mereka -yang tubuhnya demikian tangguh, telah mendapat sakit yang berat itu.
"Lauw Kui-hui telah mendapat anak, tidakkah itu bagus?"
Oey Yong tanya pula.
"Supee, kenapa kau tidak menjadi gembira?"
"Anak tolol, anak itu ialah anaknya Ciu Suheng."
"Ciu Suheng pun telah pergi sedari siang-siang, apakah dia telah datang pula secara diam-diam menemui kui-hui?"
"Tidak. Apakah kau belum pernah dengar orang menyebutnya kandungan sepuluh bulan?"
Si nona itu agaknya sadar.
"Ah, aku mengerti sekarang!"
Katanya.
"Pasti anak itu terlahir mirip Loo Boan Tong, kupingnya lebar dan hidungnya mancung, kalau tidak, mana kau ketahui dialah anaknya Loo Boan Tong!"
"Itulah bukannya. Sudah satu tahun lebih aku tidak mendekati kui-hui, maka itu anak itu pasti bukan anakku."
Oey Yong berdiam, urusan itu gelap untuknya.
"Aku jatuh sakit hingga setengah tahun lebih,"
Kata It Teng kemudian.
"Setelah sembuh, aku tidak suka memikirkan pula urusan itu. Kemudian lewat dua tahun lebih, pada suatu malam, selagi aku bersemedhi di dalam kamarku, mendadak Lauw Kui-hui datang, dia menyingkap gorden dan nerobos masuk, Thaykam dan dua siewi yang menjaga di luar pintu mencegah, tetapi mereka kena dihajar. Ketika aku menoleh, aku melihat kui-hui menggendong anaknya itu. Aku mendapatkan dia bermuka pucat, dengan lantas dia bertekuk lutut di depanku dan menangis menggerung-gerung, sambil mengangguk-angguk, dia kata. 'Aku mohon belas kasihan hongya, supaya anak ini dikasih ampun. '"
"Aku berbangkit, akan melihat anak itu. Dia bermuka merah, napasnya memburu. Ketika aku menggendong dan memeriksa, aku mendapatkan tulang iganya patah lima biji. Kui-hui masih menangis, ia kata. 'Hongya aku bersalah, aku harus mati, tetapi aku mohon anak ini diberi ampun.' Aku tanya, anak itu kenapa. Dia mengangguk-angguk terus, dia tidak menjawab aku hanya tetap mohon aku mengampuni anaknya itu. 'Mohon hongya mengampuni dia,' katanya ketika aku menanya pula, hingga aku menjadi heran sekali. 'Kalau hongya menghendaki kematianku, aku tidak penasaran hanya ini anak, ini anak……'"
"'Siapa yang menghadiahkan kematian padamu?!' Aku tanya pula. Sebenarnya kenapa anak ini terluka?"
"Kui-hui mengangkat kepalanya, ia mengawasi aku. 'Apakah bukan hongya yang menitahkan siewi untuk menghajar mati anak ini?' Dia tanya. Aku menjadi heran. Mesti ada apa-apa pada kejadian itu. 'Jadi dia dilukai oleh siewi?' Aku tanya. 'Budak yang mana yang begitu bernyali besar?' Dia terkejut. 'Oh, jadi bukannya hongya yang menitahkan? Kalau begitu, anak ini bakal ketolongan……!' Habis berkata begitu dia pingsan."
"Aku heran sekali, aku pun merasa kasihan melihat keadaannya kui-hui itu. Aku mengangkat dia bangun, direbahkan di pembaringan. Selang sekian lama, baru dia sadar. Dia lantas menangis, sembari dia menuturkan duduknya kejadian. Katanya, dia lagi menepuk-nepuk anaknya untuk ditiduri, mendadak dari luar jendela berlompat masuk satu orang, ialah satu siewi yang mukanya bertopeng, anaknya lantas dirampas dan diangkat, dihajar punggungnya. Kui-hui kaget, dia mencegah. Siewi itu menolak kui-hui, lagi sekali dia menghajar anak itu, kemudian dia tertawa dan berlompat pergi. Kui-hui tidak mengejar, ke satu siewi itu kosen sekali, kedua dia menyangka siewi itu diperintah olehku. Itulah sebabnya kui-hui lantas membawa anaknya itu datang padaku, untuk minta ampun. Aku menjadi semakin heran. Aku memeriksa teliti anak itu, aku tidak mendapat tahu dia terlukakan pukulan ilmu silat apa. Aku mendapatkan ada otot anak itu yang putus. Aku lantas pergi ke kamar kui-hui, untuk melakukan pemeriksaan, sebab aku percaya si penjahat bukan sembarang orang. Kemudian di atas genteng aku melihat tapak kaki. Aku lantas kata pada kui-hui. 'Penjahat itu lihay sekali, terutama ilmunya enteng tubuh. Di dalam negeri Tali ini, kecuali aku, tidak ada orang yang kedua yang lihay sebagai dia.' Kui-hui menjadi kaget, ia berkata; 'Mustahilkah dia? Perlu apa dia membinasakan anaknya sendiri?' Berkata begitu, mukanya menjadi pucat seperti muka mayat."
Oey Yong terkejut.
"Tidak nanti Loo Boan Tong berbuat demikian……"
Katanya perlahan.
"Ketika itu aku justru menduga pada Ciu Suheng,"
Berkata It Teng Taysu.
"Kecuali dia, tidak ada orang yang segagah dia. Aku pun menduga, mungkin dia berbuat begitu sebab dia tidak sudi mempunyai anak itu, yang bakal membikin dia malu. Ketika kui-hui mendengar dugaanku itu, ia malu dan cemas, ia kaget. Mendadak ia kata. 'Tidak, pasti bukan dianya! Suara tertawanya orang itu bukan suara tertawanya.' Aku berkata. 'Kau sedang kaget dan ketakutan, mungkin kau kurang jelas?' Tapi ia berkeras, ia kata. 'Suara tertawanya orang itu aku akan ingat buat selama-lamanya, meski aku menjadi setan, tidak nanti aku lupa! Bukan, bukannya dia!'"
Mendengar itu, semua orang menggigil sendirinya tanpa merasa. Kwee Ceng dan Oey Yong lantas membayangi roman Eng Kouw ketika si nyonya mengertak gigi.
"Mendengar perkataannya kui-hui, aku jadi percaya,"
It Teng bercerita pula.
"Hanya aku tidak bisa menerka si penjahat. Dia begitu kosen, kenapa dia hendak membinasakan seorang anak kecil? Aku sampai menduga-duga kepada murid-muridnya Cinjin umpama Ma Giok, Khu Cie Kee dan lainnya. Mungkin mereka hendak melindungi nama baik partai mereka maka mereka melakukan perjalanan jauh guna melakukan pembunuhan itu……"
Kwee Ceng hendak membuka mulutnya atau ia mengurungkan itu. Ia tidak seberani Oey Yong, yang tak takut memotong pembicaraan orang suci itu.
"Kau hendak membilang apa?"
It Teng Taysu menanya kapan ia melihat orang batal bicara.
"Ma Totiang, Khu Totiang dan lainnya itu adalah orang-orang suci dan gagah, tidak nanti mereka melakukan perbuatan serendah itu,"
Kwee Ceng bilang.
"Ong Cie It itu pernah aku menemuinya di Hoa San, dia memang seorang laki-laki,"
Kata It Teng.
"Tentang yang lainnya, aku tidak tahu. Memang, kalau benar mereka, dengan satu hajaran saja mereka dapat membinasakan anak itu, maka kenapa mereka menghajar hanya setengah mati?"
Sembari bicara, pendeta ini sembari berpikir. Sudah belasan tahun, ia masih belum dapat memecahkan keragu-raguannya itu. Ruang itu menjadi sunyi sekali.
"Baiklah, nanti aku menuturkan terus,"
Katanya kemudian. Tiba-tiba Oey Yong berlompat.
"Tidak salah lagi, dia pastilah Auwyang Hong!"
Katanya.
"Belakangan aku juga pernah menduga dia,"
Kata It Teng.
"Hanya kemudian aku berpikir juga, mustahil dia yang berada jauh di wilayah Barat, sedang dia juga bertubuh tinggi dan besar. Menurut kui-hui, si orang jahat ada terlebih kate dan kecil dari kebanyakan orang."
"Benar-benar heran,"
Kata si nona.
"Ketika itu aku sangsi memikirkan anak itu,"
It Teng berkata pula.
"Dia terlukakan tak lebih hebat daripada lukamu, nona, hanya dia masih kecil sekali, tubuhnya sangat lemah, maka untuk mengobati dia, aku mesti mengorbankan tenaga dalamku. Aku jadi bersangsi sebab aku tahu, di dalam rapat yang kedua di gunung Hoa San nanti, pasti aku tidak dapat turut mengambil bagian. Beberapa kali aku hendak menampik, aku gagal. Aku gagal. Aku kasihan melihat Kui-hui, yang menangis saja. Ah, benarlah kata Ong Cinjin bahwa kitab itu bisa mendatangkan kegaduhan dan mencelakai banyak orang. Buktinya aku sendiri, karena memikirkan kitab itu, aku menjadi lain dari biasanya. Lama aku berpikir, baru aku mengambil keputusan untuk mengobati anak itu. Selama aku berpikir itu, aku merasa akulah seorang hina dina mirip dengan binatang. Aku pun masih tidak dapat mengubah kelakuanku meskipun aku sudah mengambil keputusan itu, aku menganggapnya aku menolong lantaran tidak bisa menolak permohonan sangat dari Lauw Kui-hui."
"Supee, aku membilang kau sangat mencinta dia, sedikit pun kau tidak salah,"
Berkata Oey Yong. It Teng seperti tidak mendengar perkataan si nona, dia berkata terus.
"Ketika Kui-hui mendengar jawabanku, dia girang sampai dia pingsan. Lehih dulu aku uruti dia, untuk menyadarkannya, baru aku menolongi anaknya itu. Aku menguruti bocah itu dengan Sian Thian Kang. Ketika aku membuka otonya, aku terkejut. Oto itu memakai sulaman sepasang burung wanyoh serta syairnya itu. Oto itu terbuat dari sapu tangan yang Ciu Suheng dulu hari melemparkannya kepadanya. Selagi aku terbengong, kui-hui rupanya melihat sikapku itu. Maka ia mengertak gigi, ia mengeluarkan pisau belati, yang ia tujukan ke dadanya. Ia kata, 'Hongya, aku tidak ingin hidup pula di dunia, maka itu aku memohon belas kasihanmu, kau tolongilah anak ini. Aku menukar dia dengan jiwaku, nanti di lain dunia, aku akan menjadi anjing dan kuda guna membalas budimu ini.' Lantas ia menikam dadanya."
Semua orang terkejut, meski mereka tahu Lauw Kui-hui toh masih hidup.
Itulah sebab hebatnya suasana yang diciptakan penuturannya It Teng Taysu.
Pendeta ini bercerita terus, tapi sekarang ia seperti berbicara seorang diri.
Ia kata.
"Segera aku mencegah perbuatan Kui-hui dengan merampas pisau belatinya itu. Aku berlaku cepat tetapi toh dadanya tergores juga sedikit hingga dia mengucurkan darah. Karena aku khawatir dia nanti mencoba membunuh diri lagi, aku totok jalan darah di tangan dan kakinya hingga dia tidak dapat bergerak. Habis membalut lukanya, aku kasih di duduk di kursi, untuk beristirahat. Dia tidak membilang apa-apa, dia cuma mengawasi aku, matanya menunjuki kedukaannya yang sangat. Aku pun berdiam saja. Maka di situ Cuma terdengar suara napasnya si anak kecil, napas yang mendesak. Mendengar napas bocah itu, aku jadi ingat segala kejadian yang telah berlalu. Aku ingat bagaimana mulanya dia masuk ke istana, bagaimana aku mengajari dia silat. Aku menyayangi padanya dan dia selalu menghormati aku, dia agak jeri, dengan teliti dia merawat aku, belum pernah dia membantah, hanya bahwa dia tidak pernah mencintai aku, inilah aku tidak tahu, baru aku menginsyafinya setelah datang itu hari yang dia jatuh hati kepada CiuSuheng. Demikian sifatnya kalau seorang wanita mencintai seorang pria. Dia bengong mengawasi sapu tangannya itu, dia bengong mengawasi Ciu Suheng berlalu untuk selamanya. Sinar matanya itu membuat aku tidak tentram tidur dan tidak bernapsu dahar. Sekarang aku melihat pula sinar matanya itu, sekarang disaat dari hancurnya hatinya pula. Cuma sekarang bukan untuk kekasihnya, hanya untuk anaknya."
It Teng berdiam sejenak.
"Seorang laki-laki diperhina demikian, tidak dapat apapula aku seorang raja! Maka itu, mengingat demikian, hatiku menjadi panas. Dengan tiba-tiba aku menendang bangku gadis di depanku hingga bangku itu rusak. Ketika kemudian aku menoleh pada kui-hui, aku terkejut, aku melengak. 'Eh, rambut…… rambutmu itu kenapa?' Aku tanya dia. Dia seperti tidak mendengar perkataanku, dia terus mengawasi anaknya. Dulu-dulu aku tidak mengerti orang mempunyai sinar mata demikian itu, sekarang baru aku menginsyafinya. Berapa besar dia harus dikasihani. Dia rupanya telah mengerti yang aku tidak sudi menolongi anaknya itu, maka selama dia masih hidup, ingin dia memandang anaknya itu, makin lama makin baik. Aku mengambil kaca, aku bawa itu kepadanya. 'Lihat rambutmu,' aku kata padanya. Dalam tempo yang sangat pendek itu, dia seperti menjadi lebih tua beberapa puluh tahun, sedang dia sebenarnya baru berumur sembilan belas tahun. Disebabkan kaget, takut, berduka, menyesal, penasaran, putus harapan, mendadak ramhutnya itu berubah menjadi uban!"
"Dia tidak memperhatikan sedikit juga roman atau rambutnya itu. Dia menyangka aku pakai kaca untuk menghalangi dia mengawasi anaknya itu. Dia kata padaku, 'Angkat kaca itu.' Dia bicara tegas sekali, dia seperti lupa akulah raja ialah junjungannya. Aku menjadi heran. Aku tahu dia biasanya sangat menyayangi paras mukanya. Aku menyingkirkan kaca, maka terus dia mengawasi anaknya itu. Ah, kalau dia ada seribu arwahnya, tentulah dia serahkan semua itu kepada anaknya, asal anaknya itu hidup. Aku mengerti bagaimana perasaannya itu. Dia ingin mati untuk anaknya itu."
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi. Di dalam hatinya, mereka saling mengatakan.
"Kalau aku pun menampak kesukaran seperti itu, apakah kau juga dapat mengawasi aku demikian rupa?"
Tanpa merasa mereka saling menyodorkan tangan, untuk saling memegang erat-erat, hati mereka berdenyutan, tubuh mereka dirasai hangat.
"Sebenarnya aku merasa tidak tega,"
It Teng kemudian melanjuti ceritanya.
"Aku berniat menolongi anak itu, apa mau, sapu tangan itu tetap berada di dadanya. Itulah sulaman sepasang burung wanyoh, yang saling menyenderkan leher mereka. Kepalanya burung itu putih. Itulah lambang untuk hidup bersama hingga di hari tua. Maka kenapakah, sebelum tua tetapi rambut sudah putih terlebih dulu? Maka melihat rambut putihnya itu, dengan sendirinya aku mengeluarkan keringat dingin. Mendadak hatiku menjadi keras hati. Aku kata padanya. 'Baiklah, kamu boleh menjadi tua bersama, biarlah aku bersia-sia sendiri di istana sunyi ini tetap sebagai kaisar! Dialah anak kamu berdua, kenapa aku mesti mengorbankan diri untuk menolong menghidupi dia?' Dia memandang aku. Itulah pandangannya yang terakhir. Pada mata itu tertampak sinar kedukaan, penasaran, permusuhan. Semenjak itu, dia tidak pernah melihat aku lagi. Sebaliknya aku, tidak dapat melupakan sinar mata itu. Dia kata dengan dingin. 'Kau lepaskan aku, aku hendak menggendong anakku!' Perkataannya itu mirip firman, membuatnya orang susah membantahnya. Maka aku membebaskan dia dari totokan. Dia menggendong anaknya itu. Anak itu pasti terluka parah hingga tidak dapat ia menangis, mukanya bersinar gelap, matanya mengawasi ibunya, mungkin ia minta ditolongi. Aku sendiri sejenak itu, aku tidak mempunyai rasa kasihan sedikit juga. Aku hanya melihat, rambut hitamnya berubah menjadi putih. Mungkin itulah perasaan belaka. Lalu aku mendengar dia berkata halus pada anaknya. 'Anak, ibumu tidak mempunyai kepandaian untuk menolongi kau, ibumu tidak dapat membiarkan kau tersiksa lebih lama, maka, anak kau tidurlah biar nyenyak…… Tidur, anak tidur, untuk selama-lamanya jangan kau mendusin pula!' Aku mendengar dia bernyanyi perlahan, menyanyikan lagu mengeloni anak tidur. Sedap nyanyiannya itu…… Ya, begini, nah kau dengarlah!"
Orang heran. Si pendeta mengatakan demikian tetapi di situ tidak ada terdengar suara nyanyian. Mereka saling mengawasi, mereka terkejut.
"Suhu!"
Kata si pelajar.
"Kau telah bicara terlalu banyak, kau lelah, baiklah kau beristirahat."
It Teng seperti tidak mendengar. Dia berkata pula.
"Anak itu bersenyum. Hanya sejenak, saking sakitnya, dia bergelisah. Lantas ibunya berkata pula padanya halus sekali. 'Jantung hatiku, kau tidurlah, nanti lenyap semua rasa sakitmu, sedikit juga tidak sakit lagi……' Sekonyong-konyong terdengar suara menumblas dan pisau belati telah nancap di dadanya!"
Oey Yong kaget hingga ia menjerit, kedua tangannya memeluk lengannya Kwee Ceng.
Si pelajar berempat pun kaget tidak terhingga, muka mereka menjadi pucat.
Hebat penuturannya It Teng itu, yang sebaliknya berbicara terus.
"Aku kaget, aku terhuyung, terus aku jatuh ke lantai. Dalam keadaan lapat-lapat aku tidak tahu memikir apa. Aku banya ingat dia berbangkit dengan perlahan-lahan, dengan perlahan dia kata. 'Akhirnya akan ada satu hari yang aku, dengan pisau belatiku ini, nanti menumblas ulu hatimu.' Dia menunjuk pada gelang kumala di tangannya, dia kata pula. 'Inilah gelang yang di hari aku masuk ke istana kau memberikan kepadaku. Kau tunggu saja, di itu hari yang gelang kumala ini aku kembalikan padamu, maka itu hari juga pisau belati ini akan turut datang.'"
Sambil berkata begitu, It Teng putar gelang itu di jari tangannya. Ia bersenyum.
"Inilah gelang kumala itu,"
Katanya.
"Aku telah menantikan belasan tahun ini hari tibalah harinya itu!"
"Supee, dia membunuh sendiri anaknya, ada apa sangkutannya itu dengan kau?"
Oey Yong tanya.
"Pula dia telah mencelakai kau dengan racun, maka meskipun ada permusuhan dulu hari itu, bukankah itu sudah impas? Biarlah, sebentar di kaki gunung, akan kami menyuruh dia pergi, supaya dia jangan datang mengganggu pula……"
Tepat selagi si nona berkata itu, satu kacung hweeshio datang masuk.
"Suhu,"
Katanya.
"Dari kaki gunung ada lagi yang mengantarkan ini……"
Dengan kedua tangannya, kacung itu menyerahkan sebuah bungkusan kecil.
It Teng menyambuti, untuk terus dibuka.
Untuk kagetnya semua orang, hingga mereka berseru, itulah sehelai oto bersulamkan burung wanyoh, sulaman burungnya hidup sekali, cuma suteranya sudah berubah kuning.
Di antara kedua ekor burung itu ada satu liang bekas tusukan pisau, di samping liang ada bagian yang hitam, sisa darah.
It Teng meletaki oto itu di lantai, ia bengong mengawasi.
Sekian lama ia berdiam, romannya berduka, lalu dia berkata.
"Inilah sulaman burung wanyoh yang mau terbang berpasangan. Hm, mau terbang berpasangan, tetapi akhirnya menjadi impian belaka. Dia menggendong anaknya, dia berlompat keluar jendela, sembari berlalu dia tertawa keras dan lama. Setibanya di luar, dia lompat naik ke atas genting, sekejap saja dia lenyap. Aku menjadi tidak dahar dan tidak minum, tiga hari tiga malam aku memikirkannya. Diakhirnya aku sadar, maka itu, aku mewariskan mahkota kepada anakku yang sulung, aku sendiri lantas masuk menjadi pendeta."
Dia menunjuk empat muridnya, akan menambahkan.
"Mereka ini lama telah mengikuti aku, mereka tidak suka berpisahan, maka mereka turut aku pergi ke Inlam Barat, ke kuil Liong Coan Sie. Mulanya selama tiga tahun pertama, mereka membantu putraku memerintah. Mereka membantu dengan bergiliran. Kemudian, setelah putraku sudah mengerti tugasnya, dan justru telah terjadi itu peristiwa di Tay Soat San di mana Auwyang Hong melukai muridku ini, kita lantas pindah ke mari. Sejak itu kita tidak kembali ke Tali. Hatiku keras, aku tidak suka menolong anak itu, maka itu selanjutnya, sampai belasan tahun hingga sekarang ini, siang dan malam, aku merasa hatiku tidak tenang. Aku memikir untuk lebih banyak menolongi orang, guna menebus dosaku yang besar itu. Mereka ini tidak mengetahui kesengsaraan hatiku, mereka selalu mencegah. Ah, taruh kata aku dapat menolong selaksa jiwa, anak itu toh tetap mati. Kalau bukan aku membayarnya dengan jiwaku sendiri, mana dosa itu dapat ditebus? Maka setiap hari aku menanti-nanti kabar dari Eng Kouw, menanti dia membawa pisau belatinya untuk menumblas dadaku. Aku tadinya berkhawatir dia tak keburu datang, nanti aku mati terlebih dulu, kalau begitu, hebat untukku. Tapi bagus, sekarang temponya telah tiba, harapanku bakal terkabul. Ah, sebenarnya, buat apa dia menaruh racun di dalam obat Kiu Hoa Giok Louw Wan? Kalau aku tahu, dia bakal segera datang, tak usah suteeku menolongi aku menyingkirkan racun itu."
Oey Yong tapinya tidak senang.
"Perempuan itu jahat!"
Ia kata sengit.
"Rupanya dia telah ketahui tempat kediaman supee ini, karena khawatir tidak bisa melawan, dia menantikan ketikanya yang baik, maka kebetulan sekali aku terlukakan Khiu Cian Jin, dia sambar ketika ini dia pakai aku sebagai perkakas. Pantas dia menunjuki aku tempat supee. Dia rupanya memikir untuk lebih dulu membikin habis tenaga supee, baru dia mau turun tangan sendiri. Aku menyesal yang diriku kena dipermainkan dia! Supee, kenapa gambarnya Auwyang Hong itu bisa berada di tangannya? Ada apa hubungannya dia dengan gambar itu?"
It Teng mengambil sebuah kitab dari atas mejanya dan membalik lembarannya. Ia berkata.
"Gambar ini mempunyai lelakon seperti ini. Di sebuah kota di India ada seorang raja yang sujud. Pada suatu hari seekor burung dara terbang kepadanya meminta perlindungan. Burung dara itu dikejar seekor elang. Burung ini meminta burung dara itu, katanya, kalau tidak, dia bakal mati kelaparan. Sulit untuk raja itu, sebab menolong yang satu berarti mencelakai yang lain. Maka akhirnya ia mengambil pisau dan memotong dagingnya sendiri. Si burung elang meminta daging raja yang sama beratnya seperti burung dara itu, maka daging itu ditimbang. Kenyataannya burung dara itu berat luar biasa, daging raja tidak cukup kendati ia sudah memotong seluruh anggota tubuhnya. Ketika raja menimbangkan tubuhnya juga, maka bergoyanglah bumi, langit bergembira, bidadari-bidadari menyebar bunga, harumlah semua jalan, maka juga naga langit dan setan-setan yang berada di udara pada menghela napas dan berkata. 'Siancay, siancay. Kegagahan sebagai ini, sungguh belum pernah ada!'"
Itulah dongeng tetapi demikian rupa It Teng menuturnya, semua orang jadi tergerak hatinya.
"Sekarang aku mengerti, supee,"
Berkata Oey Yong.
"Dia khawatir supee tidak suka menolong mengobati aku, dia sengaja menunjuki gambar itu untuk membikin hati supee tertarik."
"Benar begitu,"
Kata It Teng bersenyum.
"Ketika dulu hari itu dia meninggalkan Tali, tentu hatinya gusar dan penasaran, tentu dia mencari orang gagah, entah bagaimana, dia bertemu sama Auwyang Hong. Pasti Auwyang Hong mengetahui maksud orang maka ia menolong melukis gambar itu. Kitab ini tersiar luas di Wilayah Barat dan Auwyang Hong adalah orang sana, tentu dia mengetahuinya dengan baik."
"Sungguh jahat!"
Kata Oey Yong sengit.
"Si bisa bangkotan menggunai Eng Kouw dan Eng Kouw menggunai aku, ini dia akal jahat meminjam golok membunuh lain orang!"
"Jangan kau gusar,"
Berkata It Teng menghela napas.
"Umpama kata dia tidak bertemu sama kau, mesti dia akan melukakan orang, yang dia menyuruhnya datang ke mari meminta aku menolonginya. Cumalah, siapa tidak mempunyai kepandaian, tidak dapat dia datang ke mari. Sudah lama Auwyang Hong melukis gambar ini, maka itu rencananya pasti telah diatur semenjak sepuluh tahun yang lampau. Bukankah ini pun semacam jodoh?"
"Benar, supee. Tapi ia masih mempunyai satu maksud lain, yang lebih penting daripada urusannya dengan supee ini."
It Teng heran.
"Apakah itu?"
Ia tanya.
"Loo Boan Tong kena dikurung ayahku di Tho Hoa To, dia hendak pergi menolongi,"
Si nona menerangkan. Ia menerangkan bagaimana Eng Kouw mencoba mempelajari Kie-bun-sut, supaya bisa memasuki Tho Hoa To. Kemudian ia menambahkan;
"Kemudian Eng Kouw ketahui, ia belajar lagi seratus tahun juga tidak nanti ia dapat melawan ayahku, maka justru ia melihat aku terluka, lantas ia……"
Mendengar itu It Teng tertawa panjang, lalu ia berbangkit.
"Sudah, sudah!"
Katanya.
"Segala apa terjadi secara kebetulan, maka sekarang tentulah dia puas!"
Ia berpaling kepada empat muridnya, untuk memerintah.
"Pergi kamu menyambut dengan baik pada Lauw Kui-hui! Eh, bukan! Kamu menyambut Eng Kouw, kau ajak dia datang kemari. Sedikit juga kamu tidak boleh berlaku tidak hormat kepadanya."
Tanpa berjanji, keempat murid itu menekuk lutut mendekam akan menangis menggerung-gerung.
"Suhu!"
Kata mereka. It Teng Taysu menghela napas. Ia kata.
"Kamu telah mengikuti aku untuk banyak tahun, mungkinkah kamu masih belum tahu hati gurumu?"
Ia menoleh kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, untuk mengatakan;
"Aku hendak meminta sesuatu kepada kamu."
"Titahkan saja, supee,"
Menyahut si anak muda.
"Bagus!"
Kata pendeta itu.
"Sekarang pergilah kamu turun gunung. Seumurku, aku banyak berhutang kepada Eng Kouw, maka itu kalau di belakang hari dia menemui sesuatu bahaya, aku minta dengan memandang aku si pendeta tua, haraplah kamu membantui dia secara sungguh-sungguh. Umpama kata kamu dapat merangkap jodoh dia dengan jodoh Ciu Suheng, aku akan lebih-lebih lagi bersyukur."
Dua muda-mudi itu tercengang, mereka saling mengawasi.
Bukankah Eng Kouw datang untuk menuntut balas?
Dengan perbuatannya ini, bukan saja It Teng menutup pintu bagi siapa yang hendak menuntut balas untuknya, dia pula mau membalas kejahatan dengan kebaikan.
Menampak dua orang itu berdiam, It Teng bertanya;
"Apakah permintaanku si pendeta tua ini sulit untuk kamu menjawabnya?"
Oey Yong masih bersangsi tetapi ia menjawab.
"Kalau supee minta begitu, baiklah, kami menerima baik."
Ia lantas menarik ujung baju Kwee Ceng, untuk diajak sama-sama memberi hormat, guna meminta diri.
"Kamu tak usah bertemu muka sama Eng Kouw,"
It Teng kata pula.
"Maka pergilah kamu turun dari gunung belakang."
Oey Yong menyahuti, ia tarik Kwee Ceng untuk diajak pergi.
Keempat murid itu melihat wajah si nona tenang saja, diam-diam mereka mencaci nona itu tidak berbudi, sebab mereka anggap nona itu tidak memikirkan keselamatannya orang yang telah menolongi dia.
Kwee Ceng mengikuti tanpa bicara.
Ia tidak percaya Oey Yong demikian tidak berbudi.
Ia percaya si nona ada punya maksud lain.
Ketika mereka sampai di mulut pintu, si nona lantas berbisik padanya, atas mana ia mengangguk-angguk, terus ia bertindak kembali, tindakannya perlahan.
It Teng berkata pada pemuda itu;
"Kau jujur dan setia, di belakang hari kau pasti akan berhasil melakukan sesuatu yang besar. Maka itu, urusan Eng Kouw pun aku perserahkan padamu."
Kwee Ceng menyahuti baik, akan tetapi berbareng dengan itu, dengan mendadak sekali, dengan kesebatannya yang luar biasa, ia menyambar lengannya si pendeta bangsa India di sisi It Teng Taysu, menyusul mana tangan kiri menotok dua jalan darah hoa-kay dan thian-cu dari pendeta itu, hingga si pendeta tak dapat berkutik dalam detik itu juga.
Kejadian ini membikin si pelajar berempat menjadi sangat kaget dan heran.
"He, kau bikin apa?"
Mereka menegur.
Tindakannya Kwee Ceng belum selesai.
Ia tidak memberikan penyahutan kepada empat orang itu, sebaliknya tangan kirinya lantas menyambar ke pundaknya It Teng Taysu.
Menampak sambaran itu, It Teng menggeraki tangan kanannya, gesit luar biasa, ia menyambut tangan kiri si anak muda, untuk ditangkap.
Kwee Ceng menjadi kaget dan heran.
Ia tidak menyangka pendeta itu masih bisa menghindarkan diri dari sambarannya.
Itulah kepandaian dahsyat, yang ia baru pernah menyaksikannya.
Hanya ia mendapat kenyataan, ketika kedua tangan saling membentur, tenaganya si pendeta lemah sekali, maka ia lantas memutar tangannya untuk membalas menangkap.
Berbareng dengan itu, dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menggunai jurus "Naga sakti menggoyang ekor" , guna memukul mundur si pengail dan si tukang kayu, yang menyerang ia dari samping.
Sebab kedua murid pendeta itu, dalam kagetnya, sudah lantas menerjang, untuk menolongi guru mereka.
Mereka ini cuma bisa maju satu kali saja, lantas mereka dibikin tidak berdaya.
Si anak muda meneruskan menotok dua jalan darah mereka, hong-bwee dan ceng-ciok.
Ketika itu Oey Yong juga sudah turun tangan.
Dengan tongkatnya ia mendesak mundur si petani sampai di muka pintu.
Si pelajar menjadi kelabakan.
"Berhenti, berhenti!"
Ia berseru berulang-ulang.
"Mari kita bicara dulu!"
Si petani menjadi seperti kalap, dia berkelahi nekat sekali, hendak dia merangsak, akan tetapi dia dirintangi tongkat kaum Pengemis, saban-saban kena dipaksa mundur pula.
Kwee Ceng sekarang menerjang keluar dari kamar suci, dia paksa memukul mundur kepada si pengail, si tukang kayu dan si pelajar juga, hingga mereka ini terpaksa mundur setindak demi setindak.
Oey Yong dalam melayani si petani telah menotok ke arah alis lawannya itu.
Petani itu terkejut, dia berteriak, dengan terpaksa dia berkelit sambil berlenggak sambil berlompat juga.
"Bagus!"
Berseru si nona selagi orang mundur, lalu dengan sebat ia menutup pintu. Sekarang ia tertawa haha-hihi dan mengatakan.
"Tuan-tuan, tahan, hendak aku bicara!"
Si tukang kayu dan si tukang pancing telah menangkis serangannya Kwee Ceng, mereka merasakan tangan mereka sakit, mereka terhuyung mundur beberapa tindak, meski begitu, ketika si anak muda maju, mereka pun maju pula dengan berbareng, guna melawan terus.
Di dalam keadaan seperti itu, mereka tidak kenal takut.
Kwee Ceng telah mendengar suara kawannya, ia berhenti untuk melayani terlebih jauh, cepat-cepat ia menarik pulang tangannya, sembari memberi hormat, ia kata;
"Maaf! Maaf!"
Keempat murid It Teng menjadi heran dan melengak karenanya. Oey Yong segera berkata;
"Kami telah menerima budi guru kamu, budi yang besar sekali, sekarang guru kamu berada dalam bahaya cara bagaimana kami bisa berpeluk tangan menonton saja? Maafkan perbuatan kami ini ada berhubung sama maksud kami untuk memberi pertolongan."
Si pelajar menjura.
"Musuh majikan kami itu ialah majikan kami juga,"
Ia berkata.
"Di antara kita orang ada tingkat tinggi dan rendah, karena itu, kalau majikan kami yang wanita itu datang ke mari, kami tidak berani turun tangan terhadapnya. Juga guru kami, karena kematiannya sang putra selama belasan tahun, tidak tentram hatinya, maka itu kalau sebentar Lauw Kui-hui datang, jangan kata memangnya telah lenyap kepandaiannya, walaupun ia masih gagah, ia tentu bakal mandah dibunuh Lauw Kui-hui. Maka hal itu sangat menyulitkan kami, kami tidak berdaya. Dari itu nona, jikalau kamu bisa menunjuki jalan keluar kepada kami, meski tubuh kami hancur lebur, tidak nanti kami melupakan budimu yang besar itu."
Melihat orang bicara demikian sungguh-sungguh, Oey Yong tidak mau bergurau pula.
"Kami mulanya mengharap bantuannya si orang India yang menjadi paman guru kamu,"
Ia berkata.
"Kami tidak menyangka, dia sebenarnya tidak mengerti ilmu silat, karena itu sekarang aku mesti menukar siasat. Tindakan ini luar biasa, besar bahayanya. Umpama kata kita berhasil, di belakang hari tidak bakal ada ancaman bahaya lagi, Eng Kouw sangat licin, kepandaiannya juga tinggi, dari itu aku masih berkhawatir. Aku bodoh, aku tidak dapat memikir lain jalan lagi……"
Si pelajar berempat mengawasi.
"Ingin kami mendengar keterangan nona,"
Kata si pelajar.
Oey Yong menggeraki alisnya yang bagus, terus ia memberikan keterangannya, mendengar mana, keempat muridnya It Teng saling mengawasi, hingga sekian lama mereka tidak dapat membuka suara.
* * * Ketika sang lohor tiba, dengan perlahan-lahan, sang Batara Surya turun ke belakang gunung.
Tinggal angin gunung, yang masih meniup-niup, membuatnya bergoyang-goyang pepohonan di depan kuil.
Juga daun-daun kering di pengempang mengasih dengar suaranya yang halus.
Tinggallah sinar layung, yang membuatnya puncak gunung berbayang, rebah bagaikan satu raksasa…… Si tukang pancing berempat duduk bersila di ujungnya jembatan batu, mata mereka diarahkan ke ujung lain dari jembatan itu.
Hati mereka masing-masing tidak tentram.
Lama mereka menanti, sampai sang magrib tiba.
Beberapa ekor gagak terbang dengan suaranya yang berisik, terbang pergi ke selat gunung.
Masih di ujung jembatan sana tak nampak siapa juga.
"Mudah-mudahan Lauw Kui-hui mengubah pikirannya,"
Berkata si tukang pancing di dalam hatinya.
"Di dalam hal ini, suhu tidak dapat dipersalahkan. Biarlah dia tak datang untuk selama-lamanya……"
"Lauw Kui-hui sangat cerdik, tentulah ia sekarang lagi memikirkan akal muslihatnya,"
Si tukang kayu berpikir lain. Si petani adalah yang paling tak sabaran.
"Biarlah dia datang lebih siang, supaya urusan pun beres lebih siang!"
Pikirnya.
"Biar bahaya biar rejeki, biar baik biar jahat, biarlah lekas ada keputusannya! Dikatakan datang, dia tidak datang, apa itu tidak membikin orang bergelisah?"
Si pelajar sebaliknya pikir;
"Makin lambat dia datang, makin berbahaya ancaman bencananya. Sebenarnya soal sulit sekali……"
Sebetulnya pelajar ini pintar dan pandai berpikir, belasan tahun dia menjadi perdana menteri negara Tali, pernah dia menghadapi banyak perkara besar dan peperangan juga, tetapi belum pernah dia menghadapi saat tegang sebagai ini.
Maka dia jadi berpikir keras, apapula ketika itu, cuaca jadi semakin gelap, di tempat jauh di sana, tak nampak suatu apa, kecuali suara yang menyeramkan dari si burung malam, si kokok beluk atau burung hantu.
Tidak heran kalau kemudian dia ingat kepada dongeng semasa ia kecil.
"Si kucing malam bersembunyi di tempat gelap, dia mencuri alisnya beberapa orang, alis yang dapat dia menghitungnya dengan tepat, maka umur dia itu tak menanti sampai fajar……"
Dengan si kucing malam dimaksudkan si burung hantu.
Dan cerita itu dongeng belaka, akan tetapi karena teringatnya di waktu sore, dalam suasana seperti itu, mau atau tidak, bulu roma menjadi terbangun sendirinya.
Hebat pengaruhnya suara si burung hantu itu…… "Mungkinkah suhu tidak bakal lobos dari takdirnya ini, dan ia mesti mati di tangannya seorang wanita?"
Si pelajar berpikir.
"Nah, dia datang 'tu!"
Mendadak terdengar suara si tukang kayu, suaranya perlahan dan bergemetar.
Benar saja, di atas jembatan, terlihat berkelebatnya satu tubuh manusia.
Tiba di bagian liang atau ceglokan, dengan pesat bayangan itu berlompat.
Dia begitu gesit hingga si pelajar berempat menjadi heran, hingga mereka berpikir.
"Ketika dia belajar silat pada suhu, kita sudah mewariskan kepandaian suhu, kenapa sekarang dia menjadi terlebih lihay daripadaku? Selama belasan tahun ini, di mana ia meyakinkan ilmu silatnya itu?"
Selagi orang itu mendatangi bagaikan bayangan, si pelajar berempat lantas bangun untuk berdiri, segera mereka memecah diri ke kedua sisi.
Cepat sekali orang itu telah tiba.
Dia mengenakan pakaian hitam, cuaca pun gelap, tetapi dia dapat lantas dikenal.
Memang dialah Lauw Kui-hui, selir yang dicintai Toan Hongya.
Maka lantas mereka itu memberi hormat sambil mengucapkan.
"Siauwjin menghadap Nio-nio!"
Mereka menyebut diri.
"siauwjin" , hamba yang rendah dan memanggil nyonya itu dengan Nio-nio, sebutan mulia untuk seorang permaisuri.
"Hm!"
Eng Kouw mengasih dengar suaranya, sedang matanya menyapu empat orang itu.
"Apakah Nio-nio itu?"
Katanya bengis.
"Lauw kui-hui sudah lama mati! Aku ialah Eng Kouw. Hai, yang mulia Perdana Menteri, yang mulia Jenderal Besar, yang mula Laksamana dan Pemimpin dari Pasukan Gielimkun, kiranya kamu semua ada di sini! Aku menyangka Sri Baginda benar-benar sudah melupai dunia, dia menjadi pendeta, siapa tahu dia justru bersembunyi di sini, dia tetap masih menjadi kaisar yang berbahagia!"
Hati empat orang itu berdenyutan. Suara kui-hui sangat tak enak terdengarnya.
"Sekarang ini Sri baginda bukan lagi seperti Sri Baginda dulu hari,"
Berkata si pelajar, si bekas perdana menteri yang mulia itu.
"Kalau Nio-nio melihat padanya, pasti Nio-nio tidak bakal mengenalinya."
"Hai, masih kamu menyebut Nio-nio!"
Membentak Eng Kouw.
"Apakah kamu hendak mengejek aku? Apa perlunya kamu hendak memberi hormat padaku sampai aku mati?"
Keempat orang itu saling melirik, lantas mereka bangun berdiri.
"Hambamu yang rendah mengharap kesehatan Nio-nio,"
Kata mereka. Eng Kouw mengangkat tangannya.
"Hongya menitahkan kamu memegat aku, perlu apa ini segala macam adat istiadat?"
Katanya.
"Jikalau kamu hendak turun tangan, lekas kamu menggeraki tangan kamu! Kamu raja dan menteri setahulah kamu telah mencelakai berapa banyak rakyat negeri, maka terhadap aku, seorang wanita, perlu apa kamu masih berpura-pura?"
"Raja kami mencintai rakyatnya seperti dia mencintai anaknya sendiri,"
Berkata si pelajar.
"Dia sangat bijaksana dan mulia hatinya, jangan kata mencelakai orang yang tidak bersalah dosa, sekalipun seorang penjahat besar, dia masih menyayanginya! Mustahilkab Nio-nio tidak ketahui itu?"
Muka Eng Kouw menjadi merah.
"Beranikah kamu main gila terhadap aku?"
Dia menanya bengis.
"Hambamu tidak berani……"
"Kamu menyebut hambamu, sebenarnya di antara kita mana ada lagi raja dan menterinya?"
Kata Eng Kouw.
"Sekarang aku hendak menemui Toan Tie Hin, kamu hendak memberi jalan atau tidak?"
Toan Tie Hin itu ialah namanya Toan Hongya alias It Teng Taysu.
Si pelajar berempat mengetahui itu tetapi mereka tidak pernah berani menyebut itu, maka itu terkesiap hati mereka akan mendengar Eng Kouw menyebutnya seenaknya saja.
Si petani yang asalnya adalah komandan Gielimkun, pasukan raja, menjadi habis sabar.
Dia kata dengan keras;
"Siapa satu hari pernah menjadi raja, dia agung seumur hidupnya, maka mengapa kau mengucap kata-kata tidak karuan?"
Eng Kouw tertawa panjang, tanpa membilang suatu apa, ia berlompat maju. Keempat orang itu mengulur tangan mereka, untuk memegat. Mereka pikir.
"Meskipun dia libay, mustahil kita tidak dapat merintangi dia? Biarnya kita melanggar titah Sri Baginda, karena terpaksa, kita tidak bisa berbuat lain……"
Eng Kouw tidak menggunai kedua tangannya, baik untuk mendorong mereka dapat atau untuk meninju, dia maju terus, bersedia akan membenturkan tubuhnya kepada mereka itu!
Si tukang kayu terkejut.
Tentu sekali ia tidak berani membiarkan tubuhnya ditubruk, itu artinya mereka saling membentur tubuh.
Maka ia berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, guna menyambar ke pundak si nyonya, bekas junjungannya itu.
Ia menyambar dengan cepat, ia juga menggunai tenaga, akan tetapi ketika tangannya mengenai sasarannya, ia heran.
Ia menjambak sesuatu yang lunak dan licin, ia gagal mencekuk si nyonya.
Justru itu si petani dan tukang pancing, sambil berseru, menyerang dari kiri dan kanan!
Eng Kouw tidak menangkis, ia hanya berkelit.
Ia mendak, lalu ia molos bagaikan ular licin di bawahan tangan kedua penyerangnya itu.
Berbareng dengan itu, si tukang pancing mendapat cium bau yang harum sekali, hingga ia terkejut, hingga lekas-lekas ia menggeser incarannya, khawatir nanti mengenai tubuh nyonya itu.
"Bagaimana he?"
Membentak si petani, gusar. Dengan sepuluh jarinya yang kuat, ia menyambar ke pinggang selir raja itu.
"Jangan kurang ajar!"
Membentak si tukang kayu.
Si petani tidak menghiraukan bentakan itu, ia meluncurkan terus tangannya, hingga ia mengenakan sasarannya, hanya untuk herannya, ia membentur sesuatu yang licin, hingga ia tidak dapat mencengkeram!
Demikian dengan ilmu lindungnya, Eng Kouw meloloskan diri dari rintangannya tiga bekas menterinya itu, maka sekarang tahulah ia mereka tidak dapat mencegah padanya.
Karena ini, ia lantas membalas, sebelah tangannya melayang kepada si petani.
Melihat demikian, si pelajar menyerang dengan totokannya, ke lengan bekas selir itu, tetapi ini junjungan wanita tidak memperdulikannya, bahkan dia juga mengeluarkan jari tangannya, memapaki totokan itu, hingga tangan mereka bentrok seketika.
Bukan main kagetnya si pelajar, hingga dia berseru.
Bentrokan itu membikin dia merasa sangat sakit, tubuhnya pun lantas roboh terbanting.
Si tukang kayu dan si tukang pancing berlompat, guna menolongi kawannya itu.
Si petani dengan kepalannya, menyerang Lauw Kui-hui, untuk merintangi nyonya itu nanti menyusuli serangannya kepada kawannya yang roboh itu.
Tangannya ini keras bagaikan besi.
Eng Kouw hendak menguji kepandaiannya yang ia ciptakan sendiri selama hidup menyendiri di rawa lumpur hitam, ia tidak menyingkir dari serangan itu.
Sikapnya ini membikin kaget penyerangnya.
Karena si petani pikir, kalau ia mengenakan sasarannya, tentulah hancur lebur batok kepalanya kui-hui itu.
Ia lantas menarik pulang, tetapi dengan begitu kepalannya itu mengarah juga hidung Eng Kouw!
Nyonya itu berkelit dengan cepat, kepalan lewat di depan hidungnya, mengenakan pipi si nyonya.
Justru ia terkejut, justru tangannya dapat kena ditangkap.
Ia kaget dan berontak, atau lantas ia merasakan tangannya sakit, sebab tangan itu kena dibikin patah!
Ia mengertak gigi, tanpa menghiraukan tangan patah itu, dengan tangan kanannya, ia segera menotok ke ceglokan sikut.
Si pelajar berempat telah mendapat pelajaran baik dari guru mereka, meski belum mereka mewariskan ilmu silat It Yang Cie, buat di dunia kangouw, sudah jarang tandingan mereka, maka mereka tidak menyangka pada diri Eng Kouw mereka seperti membentur batu.
Tentu sekali, saking kerasnya niatnya menuntut balas, si nyonya pun mempelajari senjata rahasia yang berupa jarum emas.
Ia mengambil dasar dari gerakan menyulam.
Telunjuk kanannya dipakaikan gelang seperti cincin emas, pada cincin itu ada tiga batang jarumnya yang dipakaikan racun.
Demikian sambil tertawa dingin, ia menyambut si petani.
Bagaikan orang yang menusuki diri pada jarum, demikian si petani.
Begitu tangannya ketusuk, begitu ia menjerit, begitu juga tubuhnya roboh seperti si pelajar tadi!
"Hm, paduka congkoan!"
Eng Kouw tertawa dingin. Ia lantas nerobos maju.
"Nio-nio, tahan!"
Berseru si tukang pancing. Eng Kouw memutar tubuhnya.
"Kau mau apa?"
Ia menanya dingin.
Sekarang si nyonya sudah tiba di depan pengempang.
Pengempang itu dipisahkan dengan rumah suci dengan sebuah jembatan batu yang kecil dan ia sudah berada di kepala jembatan.
Ia mengawasi dengan roman dan sinar mata bengis, di dalam gelap, sinar matanya itu nampak nyata.
Maka terkejutlah si tukang pancing melihat sinar mata itu, hingga ia tidak berani menerjang.
"Yang mulia perdana menteri dan yang mulia congkoan berdua telah terkena jarumku. Cit Ciat Ciam, maka di kolong langit ini sudah tidak ada orang yang dapat menolong mereka!"
Kata Eng Kouw dingin.
Habis berkata begitu, ia memutar pula tubuhnya, tanpa menanti jawaban, ia berjalan maju, perlahan tindakannya, tidak ia berpaling pula.
Nyata ia tidak khawatir yang orang nanti menyerang dengan membokong kepadanya.
Jembatan batu yang kecil itu cuma seperjalanan kira duapuluh tindak, ketika si nyonya hampir sampai di ujung penghabisan, di sana dari tempat yang gelap muncul satu orang, muncul secara tiba-tiba, hanya dia segera memberi hormat seraya berkata.
"Adakah cianpwee baik-baik saja?"
Eng Kouw terkejut. Ia berkata di dalam hatinya.
"Ini orang muncul secara tiba-tiba begini! Kenapa aku tidak mengetahui dari siang-siang? Jikalau dia menurunkan tangan jahat, pastilah aku telah terbinasa atau sedikitnya terluka……"
Maka ia lantas mengawasi.
Ia melihat seorang dengan tubuh tinggi dan dada lebar, alisnya gompiok, matanya besar.
Ia pun lantas mengenali Kwee Ceng, si anak muda yang ia berikan petunjuk untuk datang ke gunung ini.
"Apakah lukanya si nona kecil sudah sembuh?"
Ia menanya.
"Terima kasih untuk petunjuk cianpwee,"
Menyahut si anak muda sambil menjura.
"Lukanya sumoayku syukur telah diobati sembuh oleh It Teng Taysu."
"Hm! Kenapa dia tidak datang sendiri menghaturkan terima kasih padaku?"
Eng Kouw tanya, sembari berkata, ia bertindak maju. Kwee Ceng berdiri di ujung jembatan, ia tahu orang hendak menerobos tak perduli ia bakal terbentur.
"Cianpwee, silahkan kembali!"
Ia berkata cepat.
Eng Kouw tidak menghiraukannya, ia maju terus.
Bahkan dengan menggunai Nie-ciu-kang, ilmu silat "Lindung", ia nerobos ke samping kiri si anak muda.
Kwee Ceng pernah menempur nyonya ini di rawa lumpur hitam, di rumah si nyonya, ia tidak menyangka orang ada selicin demikian, dalam heran dan kagetnya itu, ia berlompat, lantas ia menyerang dengan tangan kirinya, yang dilancarkan ke belakang.
Ia telah menggunai ilmu silat Kong Beng Kun ajarannya Ciu Pek Thong.
Eng Kouw sudah melewati si anak muda ketika ia terkejut atas berkesiurnya angin kepalan, halus tetapi keras.
Untuk menolong diri seharusnya ia mundur pula, akan tetapi ia telah berkeputusan pasti, untuknya ada maju tidak ada mundur, maka juga, ia tahu apa yang ia mesti lakukan.
"Hati-hati!"
Kwee Ceng berteriak.
Atau mendadak ia merasakan ada tubuh wanita yang halus yang menubruk lengannya, selagi ia kaget, kakinya telah kena digaet si nyonya, hingga tidak ampun lagi, keduanya jatuh ke arah pengempang.
Selagi tubuhnya belum jatuh ke air, tangan kiri Eng Kouw dilewatkan di bawahan ketiak kanan Kwee Ceng, diangkat ke atas, ke belakang leher, terus ke pundak kiri si anak muda, untuk dipakai mencekek tenggorokan anak muda itu, untuk itu ia menggunakan dua jerijinya jempol dan tengah.
Inilah ilmu silat "Siauw-kim-na"
Atau "Tangkapan kecil"
Jurus "Memencet tenggorokan menutup napas".
Kalau orang kena terpencet, ia bisa lantas putus napasnya.
Kwee Ceng merasakan gerakan tangan orang itu, ia terperanjat.
Ia tahu yang ia terancam bahaya.
Dengan lantas ia membela diri.
Ia juga menggeraki tangan kanannya ke arah lehernya si nyonya, hanya ia bukan mengarah tenggorokan hanya belakang leher, sebab ia menggunai tipu serupa untuk bagian belakang, sedang Eng Kouw untuk bagian depan.
Eng Kouw lantas merasa akan gerakannya pihak lawan.
Ia pun tahu lihaynya pencetan itu, maka ia berdaya untuk menghindarkannya.
Jembatan itu tidak tinggi, jaraknya ke muka air dekat sekali, meski begitu, sebelum tubuh dua orang itu tercebur, mereka sudah saling menyerang atau membela diri.
Diakhirnya.
"Byur!"
Maka keduanya jatuh ke air!
Empang itu dalam kira dua kaki, di situ ada lumpurnya, maka setelah berada di dalam pengempang, keduanya kerendam air sebatas dada.
Eng Kouw licik sekali.
Dengan tangan kiri ia merogoh ke dalam air, ia mengambil lumpur, dengan itu ia lantas menghajar mukanya si anak muda.
Kwee Ceng terkejut, ia berkelit.
Di dalam bergerak di lumpur, itulah keistimewaannya si nyonya.
Sudah belasan tahun ia berlatih di rawa lumpur, maka juga tubuhnya dapat bergerak dengan lincah sekali, mirip dengan lindung.
Kalau di darat dia licin, di air terlebih lagi.
Ini juga sebabnya ia berhasil menubruk si anak muda, untuk mereka kecebur bersama.
Ia percaya, dengan bertempur di air, dapat ia melewati anak muda ini.
Di dalam air, Kwee Ceng kalah gesit.
Rugi untuknya, ia juga tidak berani menyerang melukai nyonya itu.
Karena ia cuma bertujuan merintangi si nyonya.
Maka lekas juga ia terdesak.
Berulang-ulang ia diserang dengan lumpur, hingga ia selalu mesti main berkelit.
Akhirnya ia gelagapan, ketika ada juga lumpur yang menimpa mukanya sebelum ia sempat berkelit, ia cuma bisa menutup matanya.
Sambil membela diri dengan sebelah tangan, dengan tangan yang lain ia singkirkan tanah basah itu.
Ia telah diajari Kanglam Liok Koay, kalau terkena senjata rahasia, jangan sekali kehilangan ketabahan, kalau kita gugup atau bingung, leluasa musuh mengulangi serangannya.
Maka itu, ia membela diri sambil menyerang beruntun tiga kali.
Eng Kouw yang pintar menyingkir dari setiap serangan itu, ia berlompat naik ke darat, dari itu ketika kemudian Kwee Ceng sudah bisa membuka matanya, ia tengah lari menuju ke dalam kuil.
Di dalam hatinya ia kata.
"Sungguh hebat! Kalau tidak ada pengempang, tidak nanti aku dapat mengundurkan bocah tolol itu. Rupanya Thian ada besertaku, supaya aku berhasil menuntut balas……"
Segera juga ia sampai di depan pintu. Ia mengajukan sebelah tangannya, akan menolak daun pintu.
"Blak!"
Demikian satu suara nyaring dan pintu terbuka dengan gampang.
Ia menjadi terkejut bahna herannya.
Tentu sekali ia berkhawatir nanti ada musuh bersembunyi, maka ia tidak lantas maju terus untuk masuk, ia hanya berdiri diam sambil memasang mata.
Kuil itu sunyi senyap.
Karena itu baru ia bertindak masuk.
Di pendopo ada api pelita, menyorotkan roman agung dari patung sang Buddha yang dipuja di situ.
Ia lantas berlutut memberi hormatnya, ia memuji agar ia dibantu melaksanakan pembalasannya.
Tengah ia memuji, tiba-tiba ia mendengar suara tertawa perlahan dan geli di sebelah belakangnya.
Ia terkejut.
Segera ia bersiap membela diri, ialah dengan tangan kiri ia menyampok ke belakang, dengan tangan kanan ia menekan tikar untuk berlompat bangun sambil memutar tubuhnya.
"Bagus!"
Ia mendengar pula satu suara, kali ini pujian untuk lompatannya yang lincah itu.
Ia mengenali suaranya seorang nona.
Ketika ia sudah mengawasi -karena ia pun tidak diserang -segera ia melihat tegas siapa nona itu, ialah Oey Yong!
Nona Oey mengenakan baju hijau dengan ikat pinggang merah, gelang rambutnya yang terbuat dari emas berkeredep berkilauan.
Pada wajahnya yang cantik terlihat senyuman manis.
Sedang tangannya mencekal Lek-tiok-thung, tongkat keramat dari Kay Pang, Partai Pengemis.
Bab 65.
SELAMAT "Eng Kouw, lebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih untuk pertolonganmu!"
Si nona lantas berkata. Tapi si nyonya terus terang.
"Aku memberi petunjuk kepadamu untuk kau datang berobat kemari, maksudku yang utama bukan untuk menolongi kau, hanya untuk mencelakai orang. Buat apa kau mengucap terima kasih padaku?"
Nona Oey menghela napas.
"Di dalam dunia ini, budi dan permusuhan sangat sukar dijelaskannya,"
Katanya.
"Ayahku di Tho Hoa To telah memenjarakan Loo Boan Tong Ciu Pek Thong limabelas tahun lamanya sampai diakhirnya, dia tetap tidak sanggup menolongi jiwanya ibuku……"
Mendengar disebutnya nama Pek Thong, tubuh Eng Kouw bergidik.
"Ada apakah hubungannya di antara ibumu dan Ciu Peng Thong?"
Ia menanya bengis.
Oey Yong cerdik sekali.
Segera ia menduga, Eng Kouw tentu mencurigai ada hubungan asmara di antara ibunya dan Loo Boan Tong.
Nada suara nyonya ini tegas menyatakan itu.
Tapi ini pun bukti bahwa setelah berselang belasan tahun, kui-hui ini masih tidak melupakan Pek Thong, bahkan dia menjadi jelus terhadap orang lain.
Tapi orang menanyakan tentang ibunya.
Ia lantas tunduk dan air matanya mengucur turun.
"Ibuku telah dibikin letih Ciu Pek Thong hingga ia meninggal dunia,"
Sahutnya.
Eng Kouw menjadi bertambah curiga.
Ia mengawasi tajam nona di depannya, hingga ia melihat kulit muka orang yang putih dan halus, matanya yang indah dan alis bagus bagaikan dilukis.
Ia merasa, meskipun dulu, semasa ia muda dan sedang cantiknya, tidak dapat ia melawan nona ini.
Maka kalau dia ini sama dengan ibunya, sama cantiknya, siapa berani tanggung Ciu Pek Thong tidak jatuh hati terhadap ibu si nona ini?
Maka ia mengerutkan alis.
Oey Yong berkata pula.
"Jangan kau memikir yang tidak-tidak! Ibuku ada seorang bagaikan bidadari, sedang Ciu Pek Thong itu buruk bagaikan kerbau nakal! Kecuali orang yang ada matanya tanpa bijinya, tidak nanti ada yang menaruh hati pada si nakal itu!"
Eng Kouw tahu ia dimaki berdepan, tetapi toh kata-kata si nona melenyapkan kecurigaannya, maka berbareng dengan itu, lenyap juga kejelusannya.
Tapi ia mempunyai tabiatnya sendiri, ia tetap berlaku dingin.
Ia kata.
"Karena ada orang yang mencintai Kwee Ceng yang tolol seperti babi, mesti ada orang yang mencintai juga orang yang buruk dan nakal seperti kerbau! Kenapa ibumu itu dibikin mati letih oleh Loo Boan Tong?"
"Kau mencaci sukoku, aku tidak suka bicara denganmu!"
Sahut Oey Yong, yang menunjuki tak senang hatinya. Ia lantas memutar tubuh, dengan lagaknya orang bergusar.
"Baiklah,"
Kata Eng Kouw cepat.
"Lain kali aku tidak mengatakan dia lagi."
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia memutar tubuh.
"Loo Boan Tong juga bukannya sengaja membikin mati ibuku,"
Ia berkata.
"Adalah ibuku yang tidak beruntung, yang telah meninggal dunia disebabkan gara-gara dia. Karena murkanya di satu saat, ayahku telah mengurung dia di Tho Hoa To. Diakhirnya, sia-sia saja tidak ada hasilnya dan ayah menjadi menyesal karenanya. Ada dibilang, penasaran ada sebabnya, utang ada piutangnya. Ada sebabnya utang piutangnya. Siapa membinasakan orang yang kau cintai, kau harus cari di ujung langit atau di pangkal laut, untuk membalaskan sakit hati, tetapi memindahkan hawa amarah kepada lain orang, apa perlunya itu?"
Mendengar itu Eng Kouw berdiri menjublak. Ia seperti merasa kepalanya dikemplang dengan tongkat.
"Maka itu ayahku telah memerdekakan Loo Boan Tong……"
Oey Yong berkata pula. Eng Kouw terkejut.
"Jadi aku tidak perlu menolongi lagi padanya?"
Tanyanya.
Agaknya dia lantas lega hatinya.
Semenjak meninggalkan Tali, Eng Kouw sudah lantas pergi mencari Ciu Pek Thong.
Untuk beberapa tahun, sia-sia belaka usahanya itu.
Kemudian dari mulutnya Hek Hong Siang Sat, dengan tidak disengaja, ia mendengar halnya Pek Thong dikurung Oey Yok Su di Tho Hoa To, tentang sebabnya, ia tidak berhasil memperoleh keterangan.
Ia girang berbareng berduka mendapat kabar halnya Pek Thong itu.
Ia girang sebab ia sekarang ketahui di mana adanya si kekasih, hanya ia berduka sebab sulit untuk pergi menemui dan menolongi dia itu.
Ia pernah mencoba memasuki Tho Hoa To.
Di situ, jangan kata menolongi orang, ia sendiri bersengsara tiga hari tiga malam, hampir ia mati kelaparan.
Setelah lolos dari Tho Hoa To, barulah ia berdiam di rawa lumpur hitamnya itu, untuk meyakinkan ilmu gaib, maksudnya supaya dapat memasuki Tho Hoa To itu.
Sekarang, mendapat tahu Pek Thong sudah bebas, rupa-rupa perasaan memenuhkan otaknya.
"Loo Boan Tong paling mendengar kata terhadapku,"
Kata pula Oey Yong, sekarang sambil tertawa manis.
"Apa juga yang aku bilang, belum pernah dia berani bantah. Jikalau kau ingin menemui dia, mari ikut aku turun gunung, aku nanti menolongi kamu merangkap jodoh. Dengan begitu juga aku jadi bisa membalas budimu sudah menolongi aku."
Perkataan itu membikin muka Eng Kouw menjadi merah dan hatinya berdebaran.
Oey Yong mengawasi nyonya itu, hatinya lega.
Ia percaya yang ia bakal berhasil membujuki si nyonya, hingga bahaya menjadi lenyap untuk It Teng Taysu.
Tengah ia mengharapi jawaban orang, tiba-tiba ia melihat nyonya itu menepuk tangan keras, lantas romannya berubah menjadi bengis dan dia berkata dengan bengis.
"Eh, budak masih berambut kuning, dapatkah kau membikin dia mendengar kata terhadapmu? Apakah yang kau andalkan? Apakah kecantikanmu! Hm! Aku tidak melepas budi padamu, aku tidak mengharapi pembalasan budimu itu! Sekarang lekas kau membuka jalan, jangan kau ayal-ayalan! Jangan kau nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan!"
Oey Yong tidak takut, dia bahkan tertawa.
"Ah, ah! Kau hendak membunuh aku?"
Tanyanya.
"Kalau membunuh kau, boleh jadi apa?"
Kata Eng Kouw dingin.
"Lain orang jeri terhadap Oey Lao Shia, aku tidak! Aku tidak takut bumi atau langit!"
Oey Yong terus tertawa.
"Tidak apa kau membunuh aku!"
Katanya.
"Habis siapa nanti menolongi kau memecahkan teka-tekiku baru-baru ini?"
Eng Kouw lantas diingati teka-teki si nona.
Memang semenjak kepergiannya Oey Yong, tidak berhasil ia memecahkan teka-teki itu, sia-sia belaka ia menghitungnya.
Untuk dapat menolongi Ciu Pek Thong, ia mengasah otak, ia bekerja keras memikirkan, sampai ada kalanya ia lupa dahar dan lupa tidur.
Sekarang, mendengar suara si nona, timbullah kesangsiannya.
"Kau jangan bunuh aku, nanti aku mengajari kau,"
Kata Oey Yong.
Ia lantas mengambil pelita di depan patung, ia pindahkan itu ke lantai.
Ia juga mengambil sebatang jarum emas, dengan itu ia mencoret-coret di atas batu.
Eng Kouw menjadi ketarik, tanpa merasa ia mengawasi.
Ia menjadi kagum sekali untuk kepintaran si nona.
"Tapi, apa perlunya, dia melayani aku bicara secara begini?"
Kemudian ia pikir.
"Apakah dia bukannya hendak mengulur tempo?"
Diam-diam ia memandang ke pedalaman.
Ia menduga mestinya It Teng Taysu berdiam di ruang belakang.
Tentu sekali ia tidak sudi diakali satu bocah.
Maka itu tanpa berkata apa-apa, ia bertindak ke dalam.
Ketika ia sudah melewati hud-tian, ia melihat sinar api yang guram.
Ia menjadi jeri.
Tidakkah ia bersendirian saja?
"Toan Tie Hin!"
Ia lantas memanggil, suaranya keras.
"Sebenarnya kau mau menemui aku atau tidak? Kenapa kau menyembunyikan diri di tempat yang gelap? Adakah perbuatanmu perbuatan satu laki-laki?"
Oey Yong mengikuti itu nyonya. Mendengar suara orang, ia tertawa dan berkata.
"Eng Kouw, apakah kau mencela tempat ini kurang penerangannya? It Teng Supee justru takut lampu terlalu banyak hingga kalau dipasang semuanya kau nanti menjadi kaget. Ia justru menitahkan api dipadamkan……"
"Hm!"
Si nyonya menyahuti.
"Akulah manusia yang ditakdirkan mesti mampus masuk ke neraka, mustahil aku takut segala gunung golok dan kuali minyak?"
Si nona bertepuk tangan.
"Bagus sekali!"
Ia berseru.
"Aku justru hendak main-main di gunung golok denganmu!"
Ia lantas menyalakan api dan menyulut ke lantai.
Eng Kouw terkejut.
Di sisi kaki si nona ada minyaknya.
Ia mengawasi tajam.
Ia bukan melihat pelita hanya satu cangkir teh yang isi minyaknya setengah, yang direndamkan sumbu.
Di samping itu ada nancap sebatang bambu kecil yang diraut tajam, panjangnya kira satu kaki.
Tanpa henti-henti, si nona bertindak, saban bertindak, ia menyulut, dan di samping setiap cangkir, ada bambu lancip yang serupa.
Ketika telah selesai si nona menyulut, Eng Kouw menghitung, jumlahnya seratus tigabelas batang juga.
Ia heran.
"Kalau dibilang inilah panggung Bwee-hoa-chung,"
Ia pikir.
"Pelatuknya mesti tujuhpuluh dua atau seratus delapan. Tapi ini seratus tigabelas. Apakah artinya ini? Ini juga bukannya keletakan penjuru pat-kwa! Dengan ujung pelatuk begini tajam, di mana orang dapat menaruh kaki? Ah, dia tentulah memakai sepatu dasar besi……"
Maka ia lantas memikir.
"Dia sudah bersiap sedia, aku tentu kalah, maka baik aku berlagak pilon, aku terus melewati ini!"
Ia lantas bertindak. Tapi cangkir dan pelatuk dipasang rapat, sukar untuk berjalan, maka ia menendang roboh lima enam batang. Sembari berbuat begini, ia kata.
"Permainan setan apa ini? Nyonya besarmu tidak mempunyai kesempatan akan menemani kau main-main!"
"Eh, eh, jangan!"
Berteriak Oey Yong.
"Jangan! Jangan!"
Eng Kouw tidak memperdulikan, ia menendang terus. Si nona agaknya menjadi habis sabar.
"Baiklah!"
Dia mengancam.
"Kau tidak mau pakai aturan, maka hendak aku memadamkan api! Hati-hatilah kau melihatnya, kau perhatikanlah kedudukannya setiap pelatuk bambu tajam itu!"
Eng Kouw kaget.
"Mereka di sini tentulah telah mengingat baik keletakan semua pelatuk bambu ini,"
Ia pikir.
"Kalau mereka mengepung aku, bisa aku terbinasa di sini. Baiklah aku lekas mengangkat kaki!"
Karena memikir demikian, si nyonya mengempos semangatnya, untuk menendang dengan terlebih gencar lagi.
"Kau main gila! Kau tidak tahu malu!"
Berseru Oey Yong, yang terus berlompat maju, untuk menghalangi dengan tongkatnya, hingga diantara sinar api, cahaya hijau tongkat itu berkelebatan.
Eng Kouw tidak memandang mata kepada seorang bocah, segera ia menghajar dengan tangan kirinya, berniat membikin patah tongkat keramat itu, akan tetapi segera ia kecewa.
Si nona mengasih lihat ilmu silat tongkat Tah Kauw Pang-hoat bagian "hong"
Atau "menutup".
Dengan ini ia tidak menyerang, hanya ia memutar tongkatnya bagaikan tembok penghadang.
Kalau lawan tidak maju, tongkat itu tidak berbahaya, tetapi asal lawan maju satu tingkat saja, ia bisa merasakan bagiannya.
Begitulah ketika satu kali Eng Kouw menyerang pula, mendadak ia merasakan tangannya sakit dan kaku.
Ia berlaku sebat untuk menarik pulang tangannya itu tetapi tongkat mendahulukan menghajar belakang telapakan tangannya.
Baru sekarang ia kaget berbareng gusar sekali, tetapi sebagai seorang yang dapat berpikir ia tidak menjadi kalap.
Sebaliknya, ia menguasai diri ia menurut menutup diri, guna melihat dahulu ilmu silat nona itu.
"Dulu hari itu aku menyaksikan Hek Hong Siang Sat mereka memang lihay,"
Pikir bekas kui-hui ini.
"Tetapi mereka itu tidak heran karena mereka berumur kira-kira empatpuluh tahun. Kenapa sekarang ini bocah lihay sekali? Rupanya Oey Yok Su telah mewariskan ke pandaiannya kepada ini anak tunggalnya yang ia sangat saying……"
Tentu sekali bekas nyonya agung ini tidak tahu halnya ilmu silat kaum Kay Pang serta tongkat keramatnya itu.
Kalau Oey Yong bersilat dengan Tah Kauw Pang-hoat meskipun Oey Yok Su sendiri, tidak nanti gampang-gampang ayah itu dapat merobohkannya.
Selagi orang menutup diri, Oey Yong juga tetap menutup dirinya, tetap ia menghadang, guna mencegah nyonya itu dapat nerobos ke perdalaman kuil.
Di lain pihak setiap kali ia bertindak, berbareng ia menendang, ia membuatnya padam setiap pelita cangkir itu, untuk membikin mati semuanya seratus tigabelas buah.
Ia menggunai ujung sepatunya, ia membikin tidak ada cangkir yang pecah ketendang, sedang muncratnya minyak pun sedikit.
Dalam hal menendang ini, ia menggunai ilmu silat Tho Hoa To yang dinamakan "Tendangan Menyapu Daun".
Eng Kouw berkelahi sambil memasang mata.
Ia percaya si nona belum pulih kesehatannya, maka ia pikir, baiklah ia menyerang di bawah, supaya nona itu lekas letih, agar dalam tempo beberapa puluh jurus saja, ia akan sudah memperoleh kemenangan.
Akan tetapi perkembangan terlebih jauh membuatnya ia berkhawatir.
Itulah sebab si nona terus main menendang api hingga padam.
Dengan cepat di tiga penjuru ruang sudah gelap, tinggal di ujung timur laut, hingga sinar api menjadi seperti berkelak-kelik.
Ke arah ini si nona mendesak guna melangsungkan usahanya memadamkan semua itu.
"Inilah berbahaya,"
Eng Kouw mengeluh.
"Celaka kalau api padam semua. Mana bisa aku bertindak dengan leluasa? Di sembarang waktu aku bisa kena injak pelatuk bambu yang tajam ini……"
"Kau ingat baik-baik keletakkannya pelatuk bambu! Oey Yong mengasih dengar suaranya dalam kegelapan setelah api padam semua.
"Mari kita bertarung selama tigapuluh jurus! Asal kau dapat tidak melukakan aku, aku akan memberi ijin kau masuk menemui It Teng Taysu!"
"Tetapi kau curang,"
Kata Eng Kouw.
"Pelatuk ini dipasang olehmu sendiri, entah untuk beberapa hari dan beberapa malam kau telah melatih dirimu. Aku sendiri baru melihatnya sekejapan, mana bisa aku mengingat semua?"
Oey Yong biasa menang sendiri, ia percaya kepada kekuatan memikirkannya.
"Itulah tidak susah!"
Katanya tertawa.
"Kau nyalakan pelita, kau boleh tancap pelatuk itu sesukamu, setelah rapi, api baru dipadamkan pula, habis itu baru kita bertempur lagi."
Eng Kouw tahu, inilah bukan lagi mengadu ilmu ringan tubuh hanya mengadu otak, mengadu berpikir.
Ia kata di dalam hatinya, si nona demikian licin, apa boleh dia melayaninya?
Bukankah sakit hatinya belum terbalas?
Tapi ia pun cerdik, ia lantas mendapat pikiran.
"Baiklah, aku si nyonya tua nanti menemani kau main-main!"
Katanya. Ia lantas mengeluarkan apinya ia menyulut semua pelita itu.
"Kenapa kau menyebutnya dirimu si nyonya tua?"
Berkata Oey Yong tertawa.
"Melihat romanmu yang cantik bagaikan kumala, kau lebih menang daripada nona-nona lainnya yang berumur enambelas tahun! Pantaslah dulu hari itu Toan Hongya menjadi tergila-gila kepadamu!"
Eng Kouw tengah menancapi pelatuk ketika ia mendengar perkataan si nona, ia menjadi melengak. Ia lantas tertawa dingin dan menyahuti.
"Dia tergila-gila padaku? Hm! Selama tiga tahun aku masuk ke dalam istananya berapa kalikah dia pernah memperhatikan aku?"
"Eh, heran!"
Berkata si nona.
"Bukankah dia telah mengajari silat padamu?"
"Apakah mengajari silat berarti diperhatikan?"
"Aku mengerti sekarang! Toan Hongya hendak memahamkan ilmu Sian Thian Kang, It Yang Cie, dia jadi tidak terlalu rapat denganmu……"
"Hm! Kau tahu apa?"
Kata bekas kui-hui itu.
"Kalau begitu, kenapa dia dapat juga putra mahkota?"
Oey Yong memiringkan kepalanya, nampaknya ia berpikir.
"Putra mahkota dilahirkan lebih dulu, ketika itu Toan Hongya belum mempelajari Sian Thian Kang,"
Katanya sesaat kemudian. Eng Kouw mengasih dengar suara.
"Hm!"
Lalu membungkam, terus ia mengatur pelatuk baru. Oey Yong sendiri diam-diam memperhatikan pengaturan itu, karena ia tahu, pertarungan yang bakal datang berarti bahaya untuk jiwanya.
"Toan Hongya tidak mau menolongi anakmu, itulah karena dia mencintai kau,"
Kata ia pula kemudian.
"Karena dia mencintai aku?"
Eng Kouw tanya. Lagu suaranya menandakan ia mendongkol sekali, ia sangat membenci.
"Dia jelus terhadap Loo Boan Tong! Kalau dia tidak mencintai kau, kenapa dia jelus?"
Kembali Eng Kouw berdiam. Dulu-dulu ia tidak pernah ingat hal ini. Memang beralasan, karena cintanya, raja Tali itu menjadi jelus.
"Maka itu, turut penglihatanku, baiklah kau pulang saja,"
Kata lagi si nona.
"Kecuali kau mampu menghalangi aku!"
Bilang si nyonya dingin. Kembali hatinya panas.
"Baiklah!"
Berkata si nona.
"Kalau kau tetap hendak mengadu kepandaian, suka aku menemani kau! Jikalau kau mampu nerobos, aku tidak akan menghalang-halangi lagi! Bagaimana kalau kau tidak sanggup?"
"Selanjutnya aku tidak akan mendaki pula gunung ini!"
Menyahut si nyonya.
"Aku menghendaki kau menemani aku satu tahun, janji itu pun suka aku menghapuskannya!"
Oey Yong menepuk tangan.
"Bagus!"
Ia berseru.
"Memang hebat untuk aku berdiam di rawa lumpur hitam selama satu tahun! Siapa sanggup?"
Selama itu, Eng Kouw telah menancap kira enampuluh batang. Mendadak ia memadamkan pelitanya.
"Yang lain-lainnya biarlah tetap sebagaimana adanya!"
Katanya.
Mendadak saja ia menerjang si nona dengan lima jari tangannya terbuka.
Oey Yong melihat ia diserang secara demikian, ia berkelit.
Ia lantas membalas menyerang, menekan ke pundak nyonya itu.
Eng Kouw tidak menangkis, ia bertindak maju terus, tindakannya lebar, saban-saban terdengar kakinya menginjak pelatuk, yang memperdengarkan suara, sebab semua pelatuk itu telah terpatahkan.
Maka leluasa sekali dia bertindak terus.
Sekejab saja si nona sadar.
"Ha, aku terpedayakan!"
Katanya.
"Teranglah tadi, selagi menukar pelatuk, dia mematahkan setiap pelatu itu……"
Tentu saja, ia menjadi menyesal sekali.
Eng Kouw segera sampai di belakang, terus ia menolak pintu, maka di dalam kamar ia melihat seorang pendeta lagi duduk bersila di tengah-tengah.
Pendeta itu sudah tua, kumisnya yang ubanan dan panjang turun ke dadanya, sedang leher jubahnya sampai ke pipinya.
Ia sedang bersemedhi.
Di sampingnya, dia ditemani oleh keempat muridnya, beberapa pendeta tua lainnya serta beberapa kacung.
Kapan si pelajar melihat si nyonya datang, ia bertindak ke depan si pendeta tua sambil merangkap kedua tangannya.
"Suhu, Lauw Nio-nio datang berkunjung!"
Memberi tahu.
Si pendeta tua mengangguk perlahan, ia tidak menyahuti.
Di dalam ruang itu cuma ada sebuah pelita, maka bisa dimengerti, di situ setiap muka orang tak nampak tegas.
Eng Kouw memang tahu Toan Hongya sudah mensucikan diri, hanya ia tidak menyangka, baru sepuhuh tahun tidak bertemu, kaisar yang begitu gagah dan pintar itu, sekarang telah menjadi pendeta begini tua dan lemah, ia pun lantas mengingat perkataannya Oey Yong tadi perihal pendeta tua ini.
Tanpa merasa, hatinya menjadi lemah, hingga gagang goloknya tidak lagi dipegang erat-erat.
Ketika ia mehihat ke bawah, ia mendapatkan oto sulamnya dilekati di depan pendeta itu, di atas oto itu ada gelang kumaha -itu gelang yang dulu hari Toan Hongya menghadiahkan dia.
Sekejap itu seperti terkilas segala apa, di depan matanya bagaikan berbayang saat ia baru masuk ke istana, belajar silat, bertemu sama Ciu Pek Thong hingga mereka memain api asmara, lalu ia melahirkan anak dan anaknya terbinasa.
Yang hebat ketika ia ingat wajah anaknya yang menderita sakit karena lukanya yang hebat, bagaimana anak itu beroman minta ditolongi tetapi pertolongan gagal dan anak itu seperti menyesali ibunya…… Mendadak saja Eng Kouw menyerang kepada Toan Hongya, goloknya nancap di dada, melesak sampai sebatas gagangnya.
Ia tahu kaisar itu lihay, ia mau percaya tikamannya tidak bakal lantas merampas jiwa, maka justru ia merasakan sesuatu yang aneh waktu goloknya menebas, ia lekas menarik pulang, guna mengulangi dengan tikaman yang kedua kali.
Hanya di luar sangkaannya, goloknya itu seperti nancap keras.
Ketika itu si pelajar berempat menjerit, semua berlompat maju.
Sepuluh tahun lebih Eng Kouw telah mehatih diri, dan tikamannya ini ia mengulanginya entah berapa ribu, atau berapa puhuh ribu kali.
Ia tahu, Toan Hongya mesti telah menjaga diri baik-baik, maka ia juga bersiap sempurna.
Maka ketika ia akhirnya dapat mencabut goloknya dengan tangan kanan, tangan kirinya dipakai melindungi dirinya.
Dengan sebat ia berlompat mundur ke pintu.
Di sini ia masih sempat menoheh ke belakang, dengan begitu ia bisa melihat Toan Hongya memegangi dadanya, rupanya dia merasakan kesakitan yang sangat.
Karena ia telah membalas sakit hati, ia lantas ingat kebaikannya raja itu, ia lantas menghela napas, terus ia memutar tubuhnya, untuk ngeloyor pergi.
Tapi ketika ia baru memutar tubuh, mendadak ia menjadi kaget sekali, sampai ia menjerit keras dan bulu romanya bangun berdiri.
Di ambang pintu itu, ia melihat seorang pendeta lagi berdiri dengan kedua tangan dirangkap di depan dadanya.
Kebetulan sekali, sinar api menuju ke mukanya pendeta itu, suatu muka yang penuh dengan sorot cinta kasih.
Yang mengagetkan ialah si pendeta Toan Hongya adanya!
"Mungkinkah aku salah membunuh orang?"
Begitu berkelebat pikiran di otaknya.
Maka ia lantas menoleh pula ke belakang, kepada orang yang baru ia tikam.
Ketika itu terlihat si pendeta berbangkit berdiri perlahan-lahan, terus dia membuka jubah sucinya, sedang tangan kirinya meraba ke mukanya, untuk menarik terlepas kumis jenggotnya.
Maka kagetlah ia.
Si pendeta palsu itu ialah Kwee Ceng!
Kembali ia mengeluarkan jeritan.
Pasti sekali Eng Kouw tidak tahu bahwa ia telah dipermainkan Oey Yong, yang telah mengatur tipu dayanya itu dengan bekerja sama si anak muda.
Kwee Ceng menotok It Teng Taysu untuk dapat menggantikan dia.
Kalau It Teng Taysu diajak berdamai dulu, mungkin dia menolak.
Si pendeta India ditotok karena disangkanya lihay, tidak tahunya ia tidak punya guna.
Selanjutnya nona Oey bersiap terlebih jauh.
Selagi ia menungkuli Eng Kouw main pelita, Kwee Ceng dibantu si pelajar berempat pergi menyamarkan diri.
Sebab habis kecemplung di pengempang, anak muda ini tidak mengejar nyonya itu hanya pergi ke dalam untuk siap sedia.
Untuk ini Kwee Ceng berkorban rambutnya, yang dicukur habis, sedang untuk kumis jenggotnya, dipakai kumisnya It Teng Taysu, kumis siapa pun dicukur.
Sebenarnya keempat murid itu merasa tidak enak mempermainkan guru mereka, tetapi mengingat pengorbanan Kwee Ceng itu serta usahanya Oey Yong guna menolong guru mereka, terpaksa mereka menurut.
Kalau lain orang yang menyamar jadi It Teng, ada kemungkinan dia tertikam mati oleh Eng Kouw yang lihay itu.
Sekalipun Kwee Ceng yang dapat menjepit goloknya si nyonya, saking hebatnya tikaman, ujung golok toh melukai juga kulit dan sedikit dagingnya, syukur tidak berbahaya.
Kalau Kwee Ceng memakai baju lapisnya Oey Yong, ia bisa lobos dari ancaman bencana, tetapi baju itu tidak dipakai sebab dikhawatir si nyonya jadi curiga.
Selagi akal itu berjalan demikian baik, sekonyong-konyong It Teng Taysu muncul.
Inilah tidak cuma membikin kaget kepada Eng Kouw tetapi juga Oey Yong semua.
It Teng itu, meskipun ia terluka tenaga dalamnya, ilmu silatnya sendiri tidak lenyap semua, sedang Kwee Ceng, diwaktu menotok dia, sudah menotok di jalan darah yang tidak akan mengakibatkan kecelakaan.
Ia telah dipernahkan di kamar sebelah.
Di sini ia dengan perlahan-lahan menyalurkan tenaganya, ia berhasil membebaskan diri dari totokan, maka itu ia lantas keluar.
Kebetulan sekali, ia berpapasan dengan Eng Kouw.
Mukanya nyonya itu menjadi sangat pucat saking kaget dan berkhawatir.
Ia lantas merasa bahwa ia tidak bakal lolos lagi dari kepungan.
"Kembalikan goloknya kepadanya!"
Berkata It Teng pada Kwee Ceng.
Pemuda itu mendengar suara yang berpengaruh, tanpa bersangsi pula, ia melemparkan golok di tangannya kepada Eng Kouw.
Si nyonya menyambuti senjatanya itu, lalu ia mengawasi orang banyak terutama It Teng, untuk melihat apa akan orang perbuat atas dirinya.
Ia menduga mungkin ia bakal disiksa…… It Teng membuka jubahnya dengan perlahan, terus ia membuka baju dalamnya.
"Jangan ganggu dia,"
Berkata ia.
"Biarkan dia turun gunung dengan baik. Nah sekarang, kau tikamlah aku!"
Ia meneruskan kepada si selir.
"Memang sudah lama aku menantikanmu!"
Suara itu perlahan dan sabar, tetapi mendengar itu, Eng Kouw merasa ia seperti mendengar guntur, hingga ia berdiri tercengang, golok terlepas jatuh sendirinya dari tangannya.
Begitu ia sadar, ia menutupi mukanya, ia lari ke luar dari kuil.
Mulanya masih terdengar tindakan kakinya, lalu itu lenyap.
Semua orang saling mengawasi, mereka pun tercengang semua berdiam.
Hanya selang sesaat, di situ terdengar dua kali suara menggabruk, lalu terlihat si tukang pancing dan si petani roboh terguling.
Karena mereka telah menjadi korban jarum beracun dari Eng Kouw.
Tadinya mereka masih dapat bertahan, sekarang setelah mendapatkan guru mereka selamat, saking girang, habis tenaga perlawanannya, mereka roboh sendirinya.
Si pelajar kaget.
"Lekas undang paman guru!"
Katanya.
Belum berhenti suara si pelajar ini, atau Oey Yong telah muncul bersama si pendeta India, maka pendeta itu lantas dapat bekerja menolongi dua keponakan murid itu, selain dikasih obat makan, jeriji tangan mereka pun dibelek, untuk mengeluarkan darahnya yang sudah kecampuran racun.
Habis bekerja, ia berkata-kata seorang bagaikan memuji.
Itulah kata-kata dalam bahasa Sansekerta.
It Teng ketahui bahasa itu, ia lega hatinya.
Sebab si sutee, adik seperguruan mengatakan lukanya dua orang itu tidak berbahaya untuk jiwanya, bahwa mereka harus beristirahat dua bulan nanti mereka sembuh betul.
Ketika itu Kwee Ceng sudah menukar pakaiannya dan lukanya pun telah dibalut, ia berlutut di depan It Teng untuk minta maaf.
It Teng mengangkat bangun tubuh pemuda itu.
"Kau berkorban untuk menolongi aku, akulah yang berhutang budi,"
Katanya.
"Semua ini karena salahku."
Ia menoleh kepada si pendeta India, untuk menjelaskan pertolongan anak muda itu. Pendeta itu kembali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sansekerta. Mendengar itu, Kwee Ceng heran.
"Aku kenal ini,"
Katanya, dan ia terus menghapal lanjutannya kata-kata itu, menurut ajarannya Ciu Pek Thong. It Teng dan si pendeta India menjadi heran pemuda ini mengerti bahasa asing itu.
"Bagaimana ini?"
Menanya Toan Hongya pada anak muda itu. Kwee Ceng jujur, ia lantas menutur kepada ia mengerti bahasa itu. Mendengar keterangan itu, It Teng menghela napas.
"Tatmo Couwsu memang orang India, tetapi di waktu menulis Kiu Im Cin-Keng, ia memakai bahasa Tionghoa,"
Katanya.
"Cuma di bagian-bagian pokok, ia tetap menggunai bahasa Sansekerta. Kitab itu memang sangat sukar dimengerti, sukar juga dihapalnya."
Kemudian pendeta itu menitahkan keempat muridnya dan yang lain-lain keluar dari kamar, habis itu ia menjalin, ia memberi penjelasan pada Kwee Ceng dan Oey Yong tentang bunyi Kiu Im Cin-keng seperti dihapalkan Kwee Ceng barusan.
It Teng dapat memberi penjelasan sempurna, Oey Yong lantas mengerti, sedang Kwee Ceng si bebal, mengerti enam sampai tujuh bagian.
Kemudian berkatalah It Teng Taysu.
"Aku telah terluka hebat, turut biasa, aku mesti beristirahat lima tahun, baru kesehatanku akan pulih, tetapi dengan memperoleh warisan Tatmo Couwsu ini, aku rasa tak usah sampai tiga bulan, aku akan sudah sembuh seanteronya."
Kwee Ceng dan Oey Yong menjadi girang sekali.
Sejak ttu, muda mudi ini lantas berdiam di atas gunung, menemani It Teng Taysu.
Si pendeta telah mewariskan kepandaiannya It Yang Cie, Sian Thian Kang dan penjelasan lebih jauh dari Kiu Im Cin-keng, sedang mereka berbareng menjagai pendeta ini lantaran dikhawatir Eng Kouw nanti berbalik pikiran dan datang pula untuk menuntut balas, selagi masih sakit, tentu It Teng tidak dapat membela dirinya.
Dihari kedelapan, selagi Oey Yong dan Kwee Ceng berlatih di luar kuil, mereka mendengar suara burung berbunyi di udara, suaranya nyaring tapi nadanya sedih, lalu segera terlihat burungnya mendatangi dari arah timur.
"Bagus, Kim-wawa sampai!"
Berseru si pemudi seraya bertepuk tangan.
Segera juga kedua burung rajawali sampai dan turun.
romannya lesu.
Muda mudi ini heran, mereka lantas memeriksa.
Di dada kiri rajawali betina ada nancap sebatang panah pendek, dan di kaki rajawali jantan ada sepotong juiran cita hijau.
Kim-wawa sebaliknya tidak ada.
Oey Yong mengenali, juiran itu ialah juiran baju ayahnya.
Ia menjadi kaget.
Pasti kedua burung itu telah sampai di Tho Hoa To.
Mungkin Tho Hoa To kedatangan musuh tangguh maka ayahnya tidak sempat melayani ia dalam urusan ikan emas itu.
Heran adalah terpanahnya burung itu.
Musuh mestinya lihay.
Celakanya, kedua burung tidak dapat berbicara.
Oleh karena berkhawatir Oey Yong lantas mengajak Kwee Ceng menemui Thian Tek, untuk berpamitan.
Kepada pendeta itu dituturkan sebabnya niat kepergian mereka.
It Teng tidak dapat menahan kedua tetamunya ini.
Si pengail dan petani lagi sakit, mereka rebah di pembaringan, maka itu si pelajar dan si tukang kayu yang mengantarkan turun gunung.
Di kaki gunung si nona mendapatkan kuda dan burungnya.
Di situ, kedua pihak berpamitan.
Perjalanan ini dilakukan Oey Yong dengan gembira.
Ia tidak terlalu mengkhawatirkan ayahnya, yang ia tahu lihay dan pintar, umpama musuh tangguh sekali, pasti ayahnya itu dapat mempertahankan diri.
"Semenjak kita berkenalan, entah berapa banyak kali kita menghadapi ancaman bahaya,"
Katanya.
"Dan selamanya, di dalam bahaya, kita memperoleh kebaikan. Lihatlah kali ini. Aku terhajar Khiu Cian Jin, akhirnya aku memperoleh It Yang Cie dan Kiu Im Sin Kang."
"Aku rela tidak mengerti ilmu silat asal kau selamat tidak kurang suatu apa,"
Kata Kwee Ceng. Senang hatinya si nona, ia girang bukan main. Tapi ia tertawa dan kata.
"Ah, ah, untuk mengambil-ambil hati, jangan kau omong enak saja! Tanpa mengerti ilmu silat, tentulah kau telah orang hajar mati! Jangan kata Auwyang Hong dan See Thong Thian semua, walaupun satu anggota saja dari Tiat Ciang Pang, dia bisa membacok kutung lehermu!"
"Biar bagaimana, aku tidak akan mengijinkan kau terluka lagi!"
Kata si anak muda.
"Kali ini lukamu hebat sekali, melihatnya saja hatiku tidak kuat…… Di Lim-an aku terluka, aku merasa tidak apa-apa."
"Kalau begitu, kau tidak punya hati!"
Kata si nona tertawa. Kwee Ceng heran.
"Kenapa begitu?"
Ia tanya.
"Kau terluka, kau tidak merasa, tetapi bagaiman dengan aku?"
Kata si nona.
Si anak muda diam, lalu dia tertawa lama.
Ia menjepi perut kuda, maka kudanya itu lantas kabur.
Tengah hari itu mereka tiba di kecamatan Tho-goan Oey Yong belum pulih kesehatannya, disebabkan menunggang kuda terlalu lama, ia merasa letih, kedua pipinya menjadi merah, napasnya pun kurang lurus jalannya, maka Kwee Ceng ajak ia mampir di rumah makan Pie Cin Lauw.
Sembari dahar Kwee Ceng minta pelayan tolong memanggili tukang perahu, yang perahunya hendak di sewa untuk menyeberang ke Hankauw.
"Kalau tuan menumpang, tuan bisa menghemat sewaan perahu,"
Kata pelayan itu.
"Kalau tuan memborong sendiri, sewanya mahal……"
Oey Yong tidak senang si pelayan banyak bicara. Ia mengasih lihat roman gusar, ia melemparkan uang perak lima tail.
"Cukup tidak?"
Ia tanya.
"Cukup, cukup!"
Kata si pelayan, yang lantas ngeloyor pergi.
Kwee Ceng tidak mau si nona minum arak ini, khawatir arak mengganggu kesehatannya, dari itu ia pun tidak minum.
Tengah mereka bersantap, pelayan kembali bersama seorang tukang perahu, katanya dia minta uang sewa empat tail enam chie, dapat nasi tanpa lauk pauk.
Oey Yong akur, tanpa banyak bicara, ia menyerahkan uang lima tail itu.
Tukang perahu itu menerima uang, ia memberi hormat sambil menunjuk mulutnya, suaranya tidak karuan.
Ternyata dia gagu.
Kedua tangannya lantas digunai sebagai gantinya.
Oey Yong mengerti pembicaraan dengan tangan itu, ia melayani, atas mana tukang perahu itu berlalu dengan kegirangan.
"Apa yang kamu bicarakan?"
Tanya Kwee Ceng.
"Kata dia, habis bersantap kita berangkat. Aku menyuruh dia membeli beberapa ekor ayam beberapa kati daging, uangnya sebentar kita ganti."
Pemuda itu menghela napas.
"Kalau dia bertemu aku, tak tahu aku mesti bikin apa……"
Katanya. Kemudian ia ingat Ang Cit Kong. Inilah disebabkan hidangan lezat yang dimakannya itu. Ia kata.
"Entah suhu ada di mana dan bagaimana dengan lukanya……"
Selagi Oey Yong mau menyahuti, ia mendengar tindakan kaki di tangga lauwteng, lantas ia melihat naiknya dua too-kauw, ialah imam wanita.
Mereka menutupi muka hingga tinggal matanya yang terlihat.
Mereka mengambil meja di pojok, kepada pelayan, yang satunya bicara perlahan.
Oey Yong merasa ia seperti kenal dua imam itu tetapi ia tidak ingat betul.
Kwee Ceng melihat kawannya memperhatikan orang, ia menoleh, justru imam yang satu lagi mengawasi ia.
Dia itu lantas melengos.
"Engko Ceng, imam itu tergerak hatinya!"
Kata Oey Yong perlahan sambil tertawa.
"Dia tentu mengatakan kau tampan sekali……"
"Hus, jangan ngaco!"
Kata si anak muda.
"Mereka orang suci……"
Masih si nona tertawa.
"Kalau kau tidak percaya, lihat saja nanti!"
Katanya.
Habis bersantap, mereka turun dari lauwteng.
Si nona bercuriga, ia menoleh ke arah kedua too-kouw itu, kebetulan yang satu lagi menyingkap tutup mukanya, maka melihat muka orang, hampir ia berseru heran.
Si too-kouw menggoyangi tangan, lekas-lekas dia menutup mukanya, untuk terus tunduk dan dahar.
Kejadian itu cepat sekali, Kwee Ceng tidak melihatnya.
Di pintu rumah makan, tukang perahu sudah menantikan.
Oey Yong memberi tanda bahwa ia hendak belanja sebentaran.
Tukang perahu itu mengangguk, ia menunjuk ke pinggir kali dimana ada perahunya.
Si nona mengangguk, lantas ia berjalan terus bersama Kwee Ceng.
Mereka melihat tukang perahu itu berdiri menantikan.
Di sebuah jalan di sebelah timur, dari mana rumah makan tak nampak lagi, Oey Yong berhenti, matanya mengawasi ke rumah makan itu.
Tidak lama kedua too-kouw tadi nampak keluar.
Mereka mengawasi kuda merah dan burung rajawali.
Terang mereka lagi mencari orang.
Setelah itu mereka bertindak ke barat.
"Mari,"
Berkata si nona, yang terus menarik ujung baju si pemuda.
Kwee Ceng heran tetapi ia ikut tanpa bicara.
Kota Tho-goan tidak besar, tak lama mereka sudah keluar dari pintu timur.
Dari situ si nona menuju ke selatan, melewati pintu, lalu mengambil jurusan barat.
"Kita menguntit kedua too-kouw itu?"
Kwee Ceng tanya akhirnya.
"Ah, jangan kau main-main denganku!"
"Main-main apa?"
Berkata si nona tertawa.
"Tookouw demikian cantik, seperti bidadari! Menyesal kalau kau tidak mengikuti dia!"
Si anak muda menghentikan tindakannya.
"Yong-jie, kalau kau menyebut lagi, aku akan marah!"
Katanya.
"Ah, ah, aku tidak takut!"
Kata si nona.
"Coba kau marah, aku lihat!"
Si pemuda kalah desak, ia lantas mengikuti pula.
Kira lima enam lie, di sana terlihat kedua imam wanita duduk di bawah pohon kayu di tepi jalan.
Ketika mereka menampak si muda-mudi, mereka berbangkit dan berjalan pergi ke jalan kecil yang menuju ke lembah.
Oey Yong menarik tangan pemudanya, untuk diajak pergi ke jalan kecil itu.
"Yong-jie!"
Kata si anak muda.
"Kalau kau tetap bergurau, nanti aku pondong kau untuk dibawa balik!"
Si nona tidak memperdulikan.
"Aku letih, pergilah kau mengikuti sendiri!"
Katanya. Pemuda itu lantas berjongkok.
"Mari aku gendong kau!"
Katanya. Ia kata tidak ingin ia nanti terbit onar pula. Agaknya ia sangat memperhatikan si nona. Oey Yong tertawa.
"Nanti aku singkap sapu tangan penutup mukanya untuk kau lihat!"
Katanya.
Dan ia mempercepat tindakannya, menyusul ke dua too-kouw itu.
Ia lari.
Kedua imam wanita itu berhenti jalan, bahkan mereka menantikan.
Begitu sampai, Oey Yong menubruk too-kouw yang lebih jangkung, tangannya membuka tutup muka orang.
"Yong-jie, jangan!"
Kwee Ceng berseru selagi ia menyusul.
Tapi sudah kasep.
Ketika ia melihat muka si too-kouw, ia berdiri menjublak.
Too-kouw itu bermuka sedih, air matanya mengembang.
Dialah Bok Liam Cu, si nona yang baru-baru ini mengikuti Yo Kang pergi ke barat.
"Enci Bok, kau kenapa?"
Tanya Oey Yong sambil merangkul.
"Apakah Yo Kang kembali menghinamu?"
Liam Cu tunduk, ia tidak menyahuti. Kwee Ceng menghampirkan.
"Sie-moay,"
Ia memanggil. Nona itu yang dipanggil adik -sie-moay -menyahuti dengan perlahan. Oey Yong menarik tangan nona itu, untuk diajak duduk di bawah pohon di tepi kali kecil di dekat mereka.
"Enci, bagaimana caranya dia menghina kau?"
Ia menanya pula.
"Mari kita cari dia untuk membuat perhitungan! Juga aku dan engko Ceng telah dipermainkan dia, hampir jiwa kita melayang di tangannya!"
Liam Cu tidak lantas menyahuti, hanya ia menggapai kepada kawannya.
"Adik, mari!"
Ia memanggil.
Karena memperhatikan Liam Cu, Oey Yong dan Kwee Ceng melupai too-kouw yang satunya itu.
Baru sekarang mereka menoleh dan memandang dia.
Kebetulan too-kouw itu lagi mengawasi si anak muda, hingga sinar mata mereka bentrok.
Too-kouw itu menghampirkan, ia pun menyingkirkan tutup mukanya, terus ia menjura kepada si anak muda seraya berkata.
"Inkong, baik?"
Kwee Ceng heran sekali.
Nona itu ialah Cin Lam Kim.
Pantas dia memanggil ingkong, tuan penolong.
Ia lekas membalas hormat.
Ia sekarang melihat tegas, di rambut dan di kuping si nona ada bunga kecil warna putih dan pakaian dalamnya dari kain kasar, tanda dari berkabung.
"Mana kakekmu?"
Ia tanya.
"Apa ia baik. Nona itu tidak lantas menjawab, ia hanya menangis. Itulah tanda yang kakeknya telah menutup mata. Liam Cu berbangkit, ia menarik tangannya Nona Cin, untuk diajak duduk bertiga, hingga tubuh mereka berbayang di permukaan air. Kwee Ceng duduk terpisah dari mereka itu, ia duduk di atas sebuah batu, pikirannya bekerja. Ia heran dengan pertemuan sama kedua nona ini. Kenapa mereka dandan sebagai imam dan di rumah makan tidak mau lantas menegur? Kenapa si empeh Cin meninggal dunia? Oey Yong melihat kedua nona itu tengah berduka, ia tidak menanyakan mereka, hanya ia memegangi tangan mereka masing-masing dengan erat-erat.
"Adik, Kwee Sieko,"
Kata Liam Cu kemudian.
"Perahu yang kamu sewa ada perahunya orang Tiat Ciang Pang dan mereka itu sudah mengatur daya untuk mencelakai kamu."
Oey Yong dan Kwee Ceng kaget. Inilah mereka tidak sangka.
"Kau maksudkan perahunya si gagu itu?"
Akhirnya mereka tanya.
"Benar. Tapi dia bukannya gagu, dia berpura-pura. Bahkan dia orang lihay dari Tiat Ciang Pang. Karena suaranya keras, rupanya dia khawatir kamu bercuriga mendengar suara itu, ia pakai akal."
"Kalau kau tidak omong, enci, benar-benar aku tidak tahu,"
Kata Oey Yong. Ia benar kaget sekali. Kwee Ceng lantas naik ke atas pohon, akan memandang kelilingan. Di situ cuma ada dua tiga orang tani. Maka ia kata di dalam hatinya.
"Kalau Oey Yong tidak mengambil jalan mutar, pasti ada orang Tiat Ciang Pang yang menguntit kita."
Liam Cu menghela napas. Ia berkata pula, perlahan.
"Urusanku dengan Yo Kang, kamu telah mendapat tahu, hanya kemudian diwaktu membawa jenazah ayah dan ibu angkatku ke Selatan, aku bertemu pula dengannya di Gu-kee-cun di Lim-an……"
"Hal itu kami sudah ketahui, enci,"
Kata Oey Yong.
"Kami pun melihat dia membinasakan Auwyang Kongcu……"
Liam Cu heran, matanya dibuka lebar.
Ia tak dapat mempercayai.
Oey Yong tahu orang sangsi, maka ia memberikan keterangan bahwa itu waktu ia berdua Kwee Ceng ada di kamar rahasia lagi beristirahat.
Ia pun menceritakan halnya Yo Kang mengaku jadi pangcu dari Kay Pang, cuma ia menuturkan itu secara singkat, sebab ia lebih ingin mengetahui hal ikhwal nona ini.
"Dia jahat, pasti dia tidak bakal dapat pembalasan baik!"
Kata Liam Cu sengit.
"Maka aku cuma bisa menyesalkan diri yang mataku tidak ada bijinya. Rupanya sudah takdir, sudah nasib aku bertemu dengannya."
Oey Yong mengeluarkan sapu tangannya, menyusuti air mata nona itu.
Liam Cu sangat berduka, sampai sekian lama, baru dapat ia berkata pula.
Bab 66.
NASIB Dengan tangan kanannya, nona Bok menggenggam erat tangannya Oey Yong, dengan tangan kirinya ia mengusap-usap belakang tangan nona itu.
Dengan matanya, ia mengawasi rontoknya bunga ke permukaan air.
"Melihat dia membunuh Auwyang Kongcu, aku menduga dia telah merubah perbuatannya yang sudah-sudah,"
Demikian ia melanjuti.
"Aku lebih girang lagi melihat dia disambut kedua orang lihay dari Kay Pang, yang memperlakukan dia hormat sekali. Begitulah aku turut dia sampai di Gakciu di mana pihak Kay Pang mengadakan rapat besarnya di gunung Kun San. Lebih dulu daripada itu, diam-diam dia memberitahukan aku bahwa Ang Pangcu telah meninggalkan pesan agar ia menjadi pengganti pangcu. Aku heran dan girang, tetapi aku sangsi, hanya melihat semua orang Kay Pang begitu menghormati dia, kesangsianku lenyap. Aku bukan orang Kay Pang, tidak dapat aku menghadiri rapat, maka itu aku menanti di dalam kota. Aku pikir, dengan menjadi pangcu dari Kay Pang, pasti dia bakal bekerja untuk negera dan rakyat, pasti besar usahanya. Aku percaya juga, dia bakal menumpas musuhku, guna membalaskan sakit hati ayah dan ibu angkatku. Malam itu aku berpikir keras hingga aku tidak dapat tidur pulas. Di waktu fajar selagi aku mulai lelah dan tidur layap-layap, mendadak dia pulang dengan jalan lompat masuk dari jendela. Aku kaget, aku kira dia mau main gila pula. Ketika aku hendak menegur, dia mendahului berbisik. 'Adik, urusan gagal, mari kita lekas menyingkir!' Aku lantas tanya dia apa sudah terjadi, dia menjawab; 'Di dalam Kay Pang ada pemberontak. Golongan Baju Kotor dan Baju Bersih bentrok karena urusan mengangkat pangcu, mereka bertempur, sudah ada banyak orang yang binasa.' Aku kaget dan heran, aku menanya bagaimana duduknya. Ia menjawab. 'Karena yang terbinasa begitu banyak, aku mengundurkan diriku sendiri, aku tidak mau jadi pangcu lagi.' Aku pikir, tindakan itu benar. Ia menerangkan pula, 'Tapi pihak Pakaian Bersih tidak mau melepaskan aku syukur aku dibantu Khiu Pangcu dari Tiat Ciang Pang, dengan begitu bisa juga aku meloloskan diri dan berlalu dari Kun San. Sekarang ini mari kita pergi ke Tiat Ciang San untuk menyingkir buat sementara waktu.' Aku tidak tahu Tiat Ciang Pay itu rombongan baik atau jahat, aku turut padanya. Setibanya di Tiat Ciang San, baru aku melihat gerak-geriknya Khiu Pangcu aneh, rupanya mereka ada dari kaum sesat. Karena itu aku usulkan dia mencari Tiang Cun Cu Khu Cie Kie, supaya imam itu mengundang orang-orang gagah, untuk membantu pihak Kay Pang mengadakan tata tertib partainya, supaya bisa dipilih satu pangcu yang tepat. Aku kata, dia tidak dapat pergi dengan begitu saja, dia mesti ingat budinya Ang Pangcu serta menjalani baik-baik pesannya. Tapi dia aneh, dia bukan. bicara dari hal Kay Pang, dia justru menimbulkan urusan pernikahan. Kita jadi bentrok. Aku telah memberi teguran padanya."
"Bagaimana kemudian?"
Oey Yong tanya selagi si nona berhenti sebentar.
"Besoknya aku menyesal atas percederaan kemarin itu,"
Kata Lim Cu melanjuti.
"Dia benar tidak memperhatikan lagi urusan Kay Pang, tetapi dengan menimbulkan soal pernikahan, itu tandanya dia mencintai aku. Aku merasa aku menegur keras padanya, pantas dia menjadi tidak senang. Hanya malam itu, hatiku jadi bertambah tidak tenang. Aku menyalakan api, aku menulis surat padanya untuk meminta maaf. Aku bawa surat itu ke kamarnya, untuk meletakinya di bawah jendelanya. Selagi aku mau mengasih masuk surat itu di sela-sela jendelanya mendadak aku mendengar dia lagi bicara, entah sama siapa. Mulanya aku tidak berniat mendengari pembicaraan mereka itu, hendak aku menaruh surat itu dan lantas pergi. Tapi aku jadi ketarik sebab aku mengenali suara orang itu. Dia mencoba bicara perlahan, toh aku dapat mendengarnya dengan nyata."
"'Siauw-ongya', demikian aku dengar 'Pikiran wanita memang tak ketentuannya. Kalau nona Bok itu tidak mau menurut, kau jangan terlalu buat pikiran. Pikirannya itu mungkin buat sewaktu-waktu saja. Khiu Pangcu khawatir kau berduka, ia mengirimkan barang ini untuk kau melegakan hatimu.' Aku heran. Entah barang apa itu yang Khiu Pangcu hendak memberikannya. Maka ingin aku melihatnya."
Mendengar itu, Oey Yong pun heran dan turut ingin mengetahui. Bahkan la sayangi selagi di Tiat Ciang San ia tidak dapat melihatnya, kalau tidak, tentulah ia sudah merampas itu?!"
Liam Cu meneruskan pula ceritanya.
"Dia membilang terima kasih. Dia kata dia tidak berduka dan tak usah pangcu mengirimkan sesuatu kepadanya. Tapi orang itu tertawa dan kata; 'Ongya lihat dulu, aku tanggung ongya girang!' Dia menepuk tangannya perlahan, dua kali. Tanda itu disusul sama datangnya dua orang yang menggotong sebuah keranjang besar. Aku lantas mengintai. Orang tadi menghampirkan keranjang itu dan membuka tutupnya. Oey Yong memotong;
"Aku tahu isinya keranjang itu, kalau bukan ular berbisa tentulah kodok. Pernah aku melihat itu!"
Cin Lam Kim sebegitu jauh berdiam saja, dia tidak campur bicara, air mukanya juga tidak berubah, tapi kali ini dia mengawasi nona Oey.
"Adik, kau salah menerka!"
Kata Liam Cu.
"Di dalam keranjang besar itu ada satu orang, ialah ini adik Cin!"
Oey Yong dan Kwee Ceng mengasih dengar suara kaget perlahan. Baru sekarang nona Cin itu berbicara, matanya memandang ke kali, sikapnya tenang sekali. Ia kata;
"Semenjak inkong dan nona Oey pergi, bersama kakek aku tetap menuntut penghidupan sebagai penangkap ular. Kami selalu ingat kepada inkong, tak habisnya kami membicarakannya meskipun inkong tinggal di rumah kami cuma satu hari dua malam. Dengan begitu, hidup kami tidak kesepian. Sampai pada suatu hari, selagi aku menangkap ular, aku kedatangan tiga orang yang berpakaian hitam semua. Tidak karuan rupa, mereka tertawa terhadapku. Aku curiga, lantas aku lari pulang. Mereka mengikuti. Belum aku tiba di rumah, mereka telah berhasil menyusul aku dan aku lantas dipegang. Aku ketakutan dan menjerit minta tolong. Kakek keluar, dia mau menolongi aku. Dengan lantas kakek dibunuh mereka itu."
Kwee Ceng gusar sekali hingga ia menumbuk pahanya.
"Dulu ada inkong yang menolong, kali ini ada siapa?"
Si nona melanjuti.
"Begitu aku dibawa ke gunung Tiat Ciang San. Setibanya di puncak, baru aku mendapat tahu mereka juga telah menawan beberapa puluh orang lain yang hidupnya sebagai tukang menangkap ular. Khiu Pangcu mau menangkap banyak ular, untuk dipakai melatih semacam ilmu."
Oey Yong mengangguk.
"Aku tahu itu,"
Katanya. Lam Kim seperti tidak mendegar perkataan si nona, ia bicara terus.
"Tiat Ciang Pang menitahkan aku menangkap ular. Sampai sebegitu jauh, aku tidak diganggu, bahkan dia menitahkan aku mengusir kodok hijau untuk berkelahi dengan kodok besar dan juga mengusir ular untuk memakani kodok besar itu. Hanya di dalam beberapa hari, tahulah aku apa sebabnya aksi mereka itu. Ialah mereka itu memperhatikan caranya semua binatang itu berkelahi, lalu mereka melatih diri dengan mencontoh perkelahiannya kodok hijau dan ular itu."
Mendengar sampai di situ, Oey Yong berlompat bangun.
"Engko Ceng!"
Katanya.
"Juga Khiu Cian Jin lagi mengharap-harap Kiu Im Cin-keng!"
Kwee Ceng tidak mengerti.
"Bagaimana?"
Dia tanya.
"Dia lagi memahamkan ilmu silat Kap Moa Kang dari See Tok. Kalau nanti datang waktu pertemuan yang kedua kali di gunung Hoa San, dia mau menjadi jago nomor satu di kolong langit ini."
Baru sekarang Kwee Ceng mengerti.
"Biar mereka berdua bertempur mati hidup, itu baru bagus,"
Kata Oey Yong.
"Engko Ceng, coba bilang, di antara mereka berdua, siapa yang terlebih lihay?"
Kwee Ceng berpikir. Lantas ia menggoyang kepala.
"Aku tidak tahu, mereka sama lihaynya."
"Ya, biarlah,"
Kata pula si nona. Ia berpaling kepada Lam Kim, untuk menanya.
"Enci, bagaimana kejadiannya maka kau dimasuki ke dalam keranjang?"
"Aku telah menjadi budaknya, jangan kata baru dimasuki ke dalam keranjang, disuruh mendaki gunung golok atau masuk ke dalam kuali panas, semua terserah kepadanya ……"
Sahut nona Cin masgul. Oey Yong tidak puas dengan jawaban itu, tetapi mengingat orang lagi bersusah hati, ia tidak bilang suatu apa.
"Aku hampir menjerit melihat adik Cin muncul dari dalam keranjang,"
Kata Liam Cu, yang melanjuti penuturannya.
"Dia pun kaget. Bandit Tiat Ciang Pang itu berkata sambil tertawa kepada Yo Kang. 'Siauw-ongya, permainan ini tak ada kecelaannya, bukan?' Yo Kang menggoyang-goyang tangannya. 'Jangan-jangan!' katanya, 'Lekas bawa dia pergi! Kalau nona Bok ketahui ini, bisa onar ……' Mendengar suaranya itu, aku menyangka dia benar berlaku baik padaku. Tapi si bandit membujuk. 'Nona Bok mana tahu? Kalau ongya suka, lagi beberapa hari, apabila ongya turun gunung, dengan cara diam-diam kami nanti mengantarkan dia ke istana, tapi jika ongya sudah bosan, biarkan saja dia di www.kangzusi.com sini. Semua akan dilakukan hingga iblis pun tidak tahu.' Lantas dia pegang adik Cin, untuk ditarik keluar dari keranjang, dia kata. 'Baik-baik kau melayani siauw-ongya. Inilah tugas bagus untukmu!' Setelah itu dia suruh dua orangnya berlalu dengan membawa keranjang itu, dia sendiri turut berlalu sesudah memberi hormat pada Yo Kang. Ketika dia pergi, dia sekalian menutup pintu. Setelah berada sendirian, Yo Kang mengambil gunting, buat menggunting sumbu lilin, hingga apinya jadi lebih terang, hingga dia bisa memandang kecantikannya adik Cin. Sembari tertawa dia menghampirkan, untuk menarik tangan orang. Dia menanya nama dan umur adik Cin. Adik Cin tidak menyahuti. Lantas ia dipeluk dan mukanya dicium, sembari tertawa dia kata; 'Harum sungguh harum!' Menyaksikan itu, bukan main panas hatiku, mataku seperti kabur, hingga aku tidak melihat apa yang dia lakukan terlebih jauh, sampai aku mendapatkan adik Cin memegang sebatang cagak kecil, dua cagaknya diarahkan ke dadanya sendiri. Ia mengancam. 'Memang aku sudah tidak mengharap lagi jiwaku, asal kau langgar pula tubuhku, akan kubunuh diri di depanmu!' Aku puji adik Cin. Aku juga harap Yo Kang nanti mundur. Dugaanku itu meleset. Acuh tak acuh, Yo Kang memutuskan dua buah kancing bajunya, dengan itu dia menyentil dua kali. Dengan satu kancing dia membikin jatuh cagak di tangan adik Cin dengan yang lain dia menotok urat gagu orang. Sampai di situ, habis sabarku, maka aku mendobrak jendela dan berlompat masuk ke dalam kamar. Dia tercengang tapi lantas dia tertawa.
"Adikku, kebetulan kau datang!"
Kata dia padaku.
Entah kenapa melihat dia tertawa, hawa marahku lenyap separuhnya.
Ketika kemudian dia membujuki aku, aku jadi bimbang, tidak tahu aku mesti berbuat apa.
Adalah ketika itu, adik Oey, kau memanggil aku."
"Ketika itu aku juga tidak menyangka kau berada di atas gunung Tiat Ciang San,"
Kata Oey Yong.
"Ketika enci bertempur sama Khiu Pangcu,"
Kata Liam Cu.
"Aku pergi ke luar, niatku untuk membantui, tetapi entah ke mana perginya enci semua. Kembali hatiku menjadi jeri. Diam-diam aku kembali ke kamar, aku mengintai di jendela. Samar-samar aku melihat dia memeluk pula adik Cin. Tiba-tiba saja aku muntah darah, lantas aku berseru. 'Baiklah, putus kita sampai di sini! Untuk selama-lamanya aku tidak akan melihat pula padamu!' Tanpa menanti jawaban, aku lari turun gunung. Keadaan ada sangat kacau itu waktu. Aku melihat dengan membawa obor orang-orang Tiat Ciang Pang meluruk ke puncak Tiong Cie Hong. Dengan begitu, aku turun gunung tanpa rintangan. Hatiku menjadi tawar, niatku ialah untuk mati saja. Aku bertemu sebuah bangunan, yang gelap, aku langsung masuk ke dalamnya. Itulah sebuah kelenteng. Di tembok kiri aku melihat gambar lukisan seorang imam yang bersenjatakan sebatang pedang panjang, sikapnya gagah, di samping itu ada tulisan tiga huruf, bunyinya Wa Sie Jin, artinya orang mati yang hidup. Aku tidak tahu artinya kata-kata itu, hanya aku berpikir, kalau aku mati, siapa akan membalas sakit hati ayah dan ibu angkatku? Maka itu, aku lantas berdiam di situ, aku di terima menjadi murid oleh tookouw tua dari kelenteng tersebut. Besoknya aku merasakan tubuhku panas, lalu aku lupa akan diriku. Lewat beberapa hari, aku tersadar, aku mendapatkan adik Cin ini ada di depan pembaringanku, lagi merawati aku. Ia pun telah berdandan sebagai tookouw."
Oey Yong hendak menanya Lam Kim, bagaimana caranya dia lobos dari Tiat Ciang San, akan tetapi karena khawatir nanti dapat jawaban kurang tepat seperti tadi, ia membatalkan niatnya itu.
Sebaliknya nona itu mengawasi Kwee Ceng, sikap siapa seperti juga nona Oey, agaknya ingin ia memperoleh keterangan.
Ia lantas berkata.
"Orang she Yo itu telah digaplok beberapa kali oleh enci Bok, dia menjublak saja. Ketika dia mendengar suara berisik dari sakunya dia mengeluarkan pedang pendek, yang ia selipkan di pinggangnya, terus dia memadamkan api. Dia mendekati aku, dia mengusap-usap mukaku, setelah itu dia tertawa dan lompat keluar jendela. Kira satu jam, suara berisik menjadi kurangan, rupanya orang telah pada memburu turun gunung. Sebenarnya itulah saatnya untuk aku melarikan diri, apa celaka si orang she Yo telah mengikat aku, hingga aku mesti rebah di samping pembaringan tanpa berdaya. Masih aku mendengar suara berisik, yang makin lama makin jauh dan akhirnya sirap. Selagi keadaan sunyi itu, si orang she Yo kembali dengan jalan melompati jendela seperti tadi. Lantas dia duduk di kursinya, dari bayangannya aku melihat dia menunjang janggut, dia duduk terpekur. Kemudian aku mendengar dia mengoceh sendirian, katanya. 'Bocah she Kwee itu berani mendaki gunung, mestinya di belakang dia ada orang yang pandai yang menyusul. Maka inilah bukan tempat yang bagus! Buat apa aku berdiam lama-lama di sini?'"
"Manusia hina!"
Kata Oey Yong sengit. Lam Kim menyambungi.
"Kemudian dia menepuk meja, dia kata. 'Hm! Kau tidak sudi bertemu pula denganku selamanya …… Perduli apa? Asal usahaku berhasil, kekayaan dan kemuliaanku bakal tidak ada batasnya, itu waktu di dalam keratonku tentu telah berkumpul tiga ribu selir dan dayang! Mana aku kekurangan si cantik manis?"
"Dasar bangsat!"
Mendamprat Kwee Ceng yang mendongkol sekali.
Lam Kim terkejut mendapatkan tuan penolongnya begitu gusar.
Ia tidak tahu, dari kata-katanya Yo Kang itu, terang sudah orang she Yo itu hendak menjual negara, untuk keuntungan dirinya sendiri.
"Coba kau cerita terus,"
Kata Kwee Ceng kemudian, sabar.
"Kau menghendaki aku bicara terus?"
Si nona menegasi.
"Kalau kau letih, kau beristirahatlah dulu,"
Sahut si pemuda. Nona Cin mengawasi pula, air mukanya berubah, toh ia bersikap tenang.
"Letih, itulah tidak,"
Katanya.
"Hanya aku mengalami kemalangan dan malu, susah aku mengatakannya ……"
"Kalau begitu, tidak usah kau bercerita. Mari kita omong dari lainnya hal."
"Tidak. Sebenarnya aku mesti menuturkan semua supaya kau tahu."
"Nah, nanti aku pergi ke sana, kau boleh bicara sama ini dua enci Bok dan Oey,"
Berkata si pemuda yang lantas berbangkit, untuk bertindak pergi.
Ia menduga tentulah Yo Kang sudah main gila terhadap nona ini, sehingga dia likat untuk menuturkan pengalamannya itu.
Tetapi Lam Kim berkata.
"Jikalau kau pergi, sampai mati juga aku tidak akan menuturkan. Selama dua hari ini, enci Bok berlaku baik sekali padaku, meski begitu, aku tidak mau bercerita kepadanya ……"
Kwee Ceng memandang Oey Yong, nona itu mengedipi mata, menganjurkan ia berduduk, maka urung ia mengangkat kaki, bahkan ia duduk pula di tempatnya.
Lam Kim menghela napas.
Ia nampak lega hatinya.
Lantas ia mulai bercerita pula.
"Telah tetap keputusannya orang she Yo itu. Dia lantas berbenah. Untuk itu dia menyalakan api. Ketika dia melihat aku di tepi pembaringan, dia terperanjat. Dia menyangka bahwa aku sudah kabur. Dia membawa ciaktay, untuk menyuluhi mukaku. Lantas dia tertawa dan berkata 'Hm! Karena kau, aku kehilangan dia! Sekarang kau pikirlah. Jikalau kau suka menurut aku, akan aku ajak kau turun gunung. Kalau tidak, boleh tetap rebah di sini, supaya orang-orang Tiat Ciang Pang perlakukan apa mereka suka. Aku menjadi bingung, aku bersangsi. Berdiam di gunung, akibatnya tentu berbahaya, tetapi dengan turut dia, juga entah bagaimana akhirnya. Melihat aku berdiam saja, dia tertawa nyaring. Mendadak timbul nafsu binatangnya, dia lantas merusak diriku ……"
Tiga orang itu berdiam, cuma Bok Liam Cu berdiam sambil mengucurkan air mata.
Itulah bukti Yo Kang main gila terhadapnya.
Ia tahu Yo Kang busuk tetapi tidaklah disangka dia hina begitu rupa.
Ia pernah mengasih ampun, tetapi sekarang?
Lam Kim tenang luar biasa.
Dia bercerita seperti juga dirinya tidak ada sangkutnya dengan ceritanya itu.
Dia kata;
"Karena aku telah ternodakan, aku lantas mengambil putusan. Aku ikut dia turun gunung. Aku telah pikir, aku mesti menuntut balas, habis mana, hendak aku menghabiskan jiwaku. Gunung Tiat Ciang San itu sangat berhahaya, dengan susah payah dia membantu aku turun. Sampai fajar muncul, kita masih ada di tengah gunung. Dia malu bertemu sama orang Tiat Ciang Pang, dia mengambil jalan dari belakang gunung. Dia sengaja memilih tempat yang tidak ada jalannya. Dengan begitu, sering dia merayap pada pohon rotan. Maka perjalanan jadi semakin lama. Lereng gunung pun makin berbahaya. Di sana ada jurang yang dalam sekali, aku melihatnya hingga kakiku lemas. Tiba di tempat tinggi, kaki tanganku bergemetaran. Dia tertawa. 'Aku nanti gendong kau, asal kau jangan bergerak! Nanti kita berdua habis ……' Lantas dia jongkok di depanku. Aku pikir inilah ketika yang paling baik untukku, untuk mati bersama. Aku lantas mendekam di punggungnya kedua tanganku memeluk erat lebernya. Selagi dia hendak berbangkit, dengan kakiku, aku menjejak keras batu besar di sisiku. Dia kaget. dia menjerit keras. Kita berdua jatuh."
Bok Liam Cu kaget hingga ia berkaok. Tapi segera ia ingat kejahatannya Yo Kang, lantas ia mengertak gigi. ia menguati hati.
"Aku merasakan tubuhku melayang,"
Lam Kim meneruskan.
"Aku girang. Kalau tubuhku hancur lebur, dia tentu bakal hancur lebur juga. Mendadak aku merasakan gentakan hebat, mataku kabur, hatiku memukul. Aku menduga habislah aku. Tapi segera aku mendengar Yo Kang tertawa terbahak. Ketika aku membuka mataku, aku melihat tangan kanannya merangkul cabang pohon cemara, yang tumbuh di lereng itu. Tubuh kita berdua bergelantungan di cabang itu, yang telah menolong jiwanya. Tapi dia tidak sadar bahwa aku hendak membikin celaka padanya. Dia menyangka aku ketakutan dan tak dapat berdiri betul. Dia puas sekali yang kami ketolongan. Sembari tertawa dia kata. 'Jikalau bukan siauw-ongya lihay ilmu silatnya, apa kira jiwa kecilmu masih ada?' Pohon itu terpisah dari tanah cuma tujuh atau delapan tombak. Dia lantas merayap ke pohon. Dia kata pula.
"Sekarang kita turun dulu ke lembah, di sana baru kita mencari jalan keluar.' Di dalam lembah itu ada hanya rumput-rumput yang sudah busuk dan tulang-tulang binatang. Dengan satu tulang paha, dia membuka jalan, sembari jalan dia bicara sambil tertawa-tawa padaku. Aku takut dia curiga, nanti sukar aku turun tangan, terpaksa aku melayani dia bicara. Tidak lama, dia berteriak sambil lompat mundur. Dia menggunai tulangnya membiak rumput tebal di mana tadi dia menaruh kaki. Di situ dia mendapatkan satu mayat, yang mengenakan baju kuning. Muka mayat rusak hingga tak dapat dilihat lagi, cuma kumis dan jenggotnya yang putih bertitikan darah segar. Rupanya belum lama dia jatuh mati di situ."
"Si tua bangka Khiu Cian Lie telah mampus, toh masih ada orang yang melihat cecongornya!"
Kata Oey Yong.
"Yo Kang memeriksa tubuhnya mayat itu,"
Berkata pula Lam Kim.
"Banyak barang yang didapatkan, seperti cincin, pedang pendek dan batu bata. 'Kiranya tua bangka ini mati di sini,' dia kata. Sembari berkata begitu, dia menarik keluar se
Jilid buku ……"
"Mungkin itu buku sulapnya,"
Kata Oey Yong. Seperti yang tidak mendengar perkataan si nona, Lam Kim bercerita terus.
"Si orang she Yo itu membuka dan memeriksa buku itu, kelihatannya dia ketarik hatinya, dia membalik-balik terus lembaran dengan romannya girang. Kemudian dia simpan buku itu di dalam sakunya. Habis itu kami berjalan terus. Satu hari kami berada di dalam selat, sampai magrib baru kami tiba di mulut selat itu. Kami mencari rumah seorang tani untuk menumpang bermalam. Dia suruh aku mengaku sebagai istrinya, katanya agar orang jangan curiga. Habis bersantap malam, dia menyalakan api, dia membuka buku yang tadi, untuk diperiksa pula. Aku melihat dia menggeraki tangan dan kakinya, seperti lagi bersilat. Rupanya buku itu ada buku pelajaran silat. Aku menyender di pembaringan letih dan berduka, rasanya malas aku bergerak. Mendadak aku mendengar dua kali suara kodok di luar jendela. Aku tahu betul, itulah suara kodok hijau dicekuk ular berbisa. Dengan tiba-tiba aku mendapat pikiran. Aku ingat kakekku yang telah mati itu, ia tentu telah berkumpul bersama ayah ibuku, sekalian pamanku dan yang lainnya di dunia baka. Aku sebaliknya, di dalam dunia ini aku hidup sebatang kara, hidup menderita, sengsara dan ternoda, bahkan mau mati juga sukar. Karena mendapat ingat itu, aku kata pada orang she Yo itu. 'Siauw-ongya, aku hendak keluar sebentar.' Dia tertawa. 'Baik,' katanya. 'Asal jangan kau memikir untuk kabur, sebab dalam sekejap, pasti aku dapat menyusul kau!' Aku menjawab; 'Aku lari? Lari ke mana?' Ia tertawa pula dan kata. 'Itu betul. Dengan tidak memikir lari, kaulah anak yang manis!' Sekeluarnya dari kamar, aku pergi ke belakang. Aku berdiri sebentar. Aku mendengar suara si ular lagi menelan mangsanya. Diam-diam aku menghampirkan ular itu, aku tangkap ekornya, terus aku menekuk dia, lalu aku membungkusnya dengan sapu tangan. Lantas aku kembali ke dalam. Senang dia melihat aku kembali begitu cepat. Dia tertawa dan mengangguk-angguk. Kembali dia membaca bukunya itu. Kemudian dia kata; 'Pergi kau tidur lebih dulu, sebentar aku temani kau.' Di dalam hatiku, aku damprat dia. 'Orang jahat, hari ini Thian menyuruhnya aku membalas sakit hatiku!" ' Mendengar sampai di situ, Oey Yong lantas ketahui apa cara membalas sakit hati nona Cin ini. Liam Cu juga mendapat menduga samar-samar, maka teganglah hatinya. Cuma Kwee Ceng yang masih belum mengerti.
"Aku mengebut pembaringan mengusir nyamuk, terus aku menurunkan kelambu,"
Lam Kim menyambungi pula.
"Sembari merebahkan diri, aku membuka sapu tanganku, akan mengeluarkan ular itu. Aku menekannya, supaya dia tidak berkutik-kutik. Dengan tangan kiriku, dengan kipas, aku menutup tubuh ular. Kemudian aku menantikan. Aku mesti menahan napas. Sampai lama dia belum naik ke pembaringan, dia seperti melupakan aku. Hatiku berdenyutan. Aku khawatir aku gagal. Minyak pelita menjadi semakin kurang, cahayanya pun menjadi guram, akhirnya api padam. Barulah itu waktu aku mendengar dia tertawa dan berkata. 'Haha, aku harus mati! Lantaran membaca buku saja, aku sampai melupakan si manis! Mustikaku, jangan kau sesalkan aku ……' Aku tidak menyahuti, malah aku berlagak pulas dengan mengasih dengar suara menggeros perlahan. Tetapi kupingku kupasang. Aku mendengar dia menutup bukunya, yang di kasih masuk ke dalam sakunya. Aku mendengar dia membuka baju luarnya. Aku mendengar juga dia naik di pembaringan dan membuka sepatunya. Ketika itu hawa sangat panas, dia meloloskan semua pakaiannya. Ketika dia memeluk aku, aku masih terus berpura-pura pulas, adalah tangan kiriku dengan perlahan-lahan menyingkirkan kipas, lalu tangan kananku membawa kepala ular ke dadanya. Dengan kukuku, aku mencubit ular itu, membikinnya kesakitan dan kaget, karena mana dia lantas menggigit dada si jahat. Dia kaget, dia berteriak. 'Apa?' Terus dia berlompat turun dari pembaringan. Sekarang dia merasakan ular masih menggigit dadanya, dia menariknya hingga terlepas, tetapi gigi ular itu copot dan nancap di dadanya."
Liam Cu kaget hingga ia berjingkrak bangun, matanya mengawasi nona Cin.
Ia ini bercerita sampai di bagian sangat tegang itu tetapi romannya, suaranya juga, tenang-tenang saja.
Menampak demikian, nona Bok ini kagumsekali.
"Dia lantas berteriak-teriak. 'Ular! Ular!"' Lam Kim masih meneruskan dengan sabar sekali.
"Ketika itu aku masih belum memikir lantas mati, aku hendak menyaksikan dia tersiksa, habis itu baru aku mau pergi ke dunia baka menjenguk kakek dan ayah bundaku, maka aku pun berpura-pura kaget dan berteriak-teriak. 'Apa? Ular? Mana? Mana?' Dia menyahuti. 'Aku digigit ular!' Aku menanya pula. 'Mana ularnya? Lekas pasang api! Lekas!' Benar-benar dia menyalakan api. Aku melihat empat liang kecil dan hitam-hitam di dadanya, diam-diam aku bergirang. Lantas aku kata padanya. 'Kau rebah saja, jangan bergerak, nanti aku pergi mencari daun obat-obatan.' Tuan rumah pun bangun dengan kaget. Dia kata. 'Memang di sini ada ular berbisa, hanya heran dia bolehnya naik ke pembaringan ……' Aku lantas bawa pelita dan pergi ke luar, untuk mencari daun obat-obatan. Yang aku cari bukan daun obat untuk memunahkan bisa ular, sebaliknya obat yang bisa membikin racun ular itu bekerja semakin berbahaya ……"
Ketika si. nona bercerita sampai di situ, sebelah tangannya Liam Cu melayang ke mukanya, hingga sebelah pipinya menjadi merah dan bengkak. Oey Yong lantas menyambar tangannya nona Bok.
"Enci, bukankah binatang itu harus mendapatkan bagiannya?"
Ia menegur. Liam Cu berdiam, kepalanya pusing. Ia berdiam dengan mata mendelong. Lam Kim telah di tempiling ia tidak menggubrisnya, ia masih melanjuti ceritanya.
"Daun obat itu tidak dapat dicari dalam tempo sebentaran itu, aku pun tidak terus mencarinya. Dia telah digigit ular beracun, dia tidak dapat bertahan enam jam, maka aku mencabut rumput sembarangan, aku mamah itu, dengan itu aku beborehkan dia. Dadanya itu telah bengkak dan bergaris hitam. Beberapa kali sudah dia pingsan. Aku berduduk di sisinya berpura-pura menangis. Mulanya aku berpura-pura, di akhirnya aku menangis benar-benar. Aku ingat akan nasibku, aku jadi sangat bersedih. Satu kali dia sadar dia mengawasi aku dengan tajam. Rupanya dia menyangka akulah yang sengaja menggigitkan ular itu kepadanya. Setelah melihat aku menangis, kecurigaannya itu lenyap. ia menghela napas dan kata; Akhirnya toh ada juga seorang yang mengucurkan air mata untukku ……' Dari tengah malam sampai fajar, lagi tiga kali dia pingsan lantas dia kedinginan, tubuhnya menggigil. Dia rupanya menduga jiwanya tidak bakal ketolongan lagi, dia kata padaku. 'Aku mau minta tolong padamu, kalau beres dan berhasil, kau akan mendapat pembalasan baik sekali.' Aku menjawab, 'Aku tidak mengharapi hadiah. Kau sebutkan saja. Dia menyuruh aku mengambil bukunya dari sakunya, dia kata. 'Kalau aku sudah mati, kau ambil pedang pendekku ini, bersama ini buku, kau mengantarkannya ke istana Pangeran Chao Wang dari negara Kim, kau mesti menyerahkannya sendiri di tangan pangeran itu. Bilang bahwa halnya surat wasiat Gak Bu Bok berada di dalam buku ini."
Mendengar itu Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi hati mereka sama bertanya.
"Kenapa bukunya Khiu Cian Lie itu ada hubungannya sama bukunya Gak Hui?"
"Dengan tenaganya yang hampir habis, dia melanjuti pesannya padaku,"
Lam Kim melanjuti tanpa memperhatikan sikap orang-orang di dekatnya itu.
"Dia kata. 'Kau beritahu kepada Chao Wang bahwa dengan mulutku sendiri aku menjanjikan kau supaya kau diangkat menjadi permaisuri. Dengan begitu, maka kau bakal hidup senang dan mulia tak ada taranya.' Aku mengangguk tanpa membilang suatu apa. Dia tertawa sedih dan menanya. 'Kenapa kau tidak menghaturkan terima kasih padaku?' Aku tetap tidak menyahuti. Aku telah memikir, sesudah dia tidak dapat menggeraki tangan dan kakinya, hendak aku membikin hancur kitab itu di depan matanya, supaya di saat kematiannya itu tidak saja dia tersiksa lahir tetapi juga bathinnya ……"
"Kau! Kau!"
Membentak Liam Cu bengis.
"Kenapa kau begitu kejam? Benar dia berbuat tak pantas kepadamu tetapi itu disebabkan dia menyukai kecantikanmu?!"
Oey Yong berduka.
"Sayang, saying ……"
Katanya perlahan.
"Sayang?"
Kata Lam Kim. Baru sekarang ia memperhatikan suara orang.
"Manusia begitu jahat tetapi kematiannya masih di sayangi?"
Nona ini keliru mengerti. Oey Yong menjawab dia.
"Aku bukan menyayangi dia, aku menyayangi bukunya itu ……"
Nona Cin tidak meladeni pula, ia hanya melanjutkan.
"Di waktu fajar, manusia jahat itu berteriak-teriak meminta air. Aku menuangi air ke dalam sebuah mangkok dan meletaki mangkok itu di tepi pembaringan. 'Ini air', kataku. Dia mengulur tangannya, untuk mengambil mangkok itu. Aku menggesernya sedikit jauh. Dia tidak dapat mengambil, maka dia memaksakan diri untuk bangun, untuk berduduk. Nyata tenaganya tidak mengijinkannya. 'Tolong, tolong kau kasihkan aku ……"
Dia minta.
'Kau ambil sendiri,' kataku.
Dia mengeluarkan seluruh tenaganya, tangannya dilonjorkan.
Dia berhasil mengambil mangkok air itu.
Nampaknya dia girang sekali.
Akan tetapi tangannya kaku, tangannya itu tidak dapat ditekuk, ketika dia memaksa menekuknya, prang!
Maka mangkok itu terlepas dan jatuh pecah di tanah.
Aku tahu bahwa dia telah habis tenaganya, maka aku ambil bukunya, aku bawa ke depannya seraya berkata.
'Bukankah kau menghendaki buku ini aku membawanya ke istana Chao Wang?
Baiklah, kau lihat!' Aku merobeknya selembar, lembaran itu aku merobek-robeknya pula.
Dia nampak kaget.
'Kau …… kau ……"
Katanya.
Terang dia kaget dan gusar.
Aku hendak menyiksa dia.
Habis merobek selembar, aku merobek selembar lainnya.
Dia gusar hingga dia pingsan.
Aku menanti, aku menanti sampai dia sadar, lalu aku merobek pula.
Demikian sampai aku merobek beberapa lembar, dia lantas merapatkan matanya, tidak suka dia melihatnya lebih jauh.
Meski dia tidak melihat, kupingnya dapat mendengar, kupingnya itu masih mendengar terus.
Demikian dia mendengari suara robekan kertas ……"
Seorang diri Lam Kim berbicara, tiga orang mendengari dia.
Tiga orang ini masing-masing kesannya.
Mereka seperti dapat membayangkan romannya Yo Kang di atas pembaringannya, selagi nona Cin merobeki kertasnya.
"Tiba-tiba aku melihat perubahan pada air mukanya,"
Nona Cin melanjuti.
"Dia seperti lagi memasang kuping, memperhatikan sesuatu. Aku berhenti merobek kertas. Aku juga memasang kupingku. Segera aku mendengar suara bicaranya beberapa orang serta tindakan kaki mereka itu, mulanya jauh. Di saat kematiannya, binatang itu masih licik sekali. Dia berpura-pura tidak mendengar suara itu. 'Air, air, kasih aku air ……' katanya. Aku mendengar suara orang datang semakin dekat, datang sampai di luar rumah. Lantas aku mendengar cacian. 'Binatang perempuan! Pastilah dua binatang cilik itu diambil. Sin Soan Cu!' Lantas terdengar suara seorang lain.
"Menurut aku, baiklah perempuan hina itu dibakar mampus berikut binatang cilik itu!' Lagi seorang berkata. 'Tidak dapat kita berbuat demikian. Kalau dia tidak terbakar mati? Binatang itu lihay, dia bisa menjadi biang penyakit untuk kaum kita Tiat Ciang Pang.' Mendengar mereka ada orang-orang Tiat Ciang Pang, aku kaget. Aku takut mereka nanti masuk dan menolongi orang she Yo itu. Tiat Ciang Pang memelihara banyak ular berbisa, mereka pasti bisa mengobati siapa keracunan bisa ular. Lantas aku menjumput pecahan mangkok. Aku sudah memikir, kalau mereka itu masuk ke dalam, hendak aku membinasakan dulu si orang she Yo, setelah itu baru aku membunuh diri. Aku takut dia membuka mulut, maka dengan bajunya aku membungkus kepalanya dan mulutnya aku sumbat dengan hancuran kertas. Entah bagaimana, orang-orang Tiat Ciang Pang itu lewat terus, tidak ada seorang juga yang mampir dan masuk ke dalam rumah. Setelah merasa orang sudah pergi jauh, aku membukai bungkusan kepalanya. Aku berniat mengulangi menyobek lembaran buku itu. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu pekarangan ditolak. Aku heran. Aku tahu di situ sudah tidak ada orang lain. Suami istri petani pemilik rumah itu, sudah pergi ke sawahnya. Aku pergi ke pintu dan mengintai. Aku melihat delapan orang datang sambil berpegangan tangan, perlahan jalannya, tangan mereka mencekal masing-masing sebatang galah, yang mereka ketruk-ketruki ke tanah. Nyatalah mereka semua orang-orang buta dan pakaian mereka dekil, tetapi masih terlihat tegas, asalnya pakaian itu ialah putih."
"Itulah budak-budaknya si bisa bangkotan,"
Kata Oey Yong perlahan. Lam Kim menoleh kepada Kwee Ceng dan berkata.
"Baru-baru ini ketika inkong dan aku berada di dalam rimba, selagi inkong hendak menangkap hiat-niauw, aku melihat sendiri budak-budak jahat itu dipatuki burung api itu, maka itu aku lantas mengenali mereka. Dengan lantas aku pakai baju panjang itu menutup pula muka si bangsat. Lalu aku mendengar seorang budak jahat itu berkata.
"Ngamal, ngamal …… bagilah sayur dan nasi dingin pada orang-orang buta ……' Aku tidak berani bersuara, aku diam saja. Si buta itu berkata pula, dia mengemis nasi. Aku tetap tidak menjawab. Beberapa kali permintaannya itu diulangi. Akhirnya aku dengar, 'Di sini tidak ada lain orang, mari kita mencari ke lain tempat. Tadinya mereka itu pada berduduk, lantas mereka pada bangun berdiri. Aku khawatir mereka nanti masuk ke dalam, maka aku lantas batuk-batuk, terus aku membuka pintu. Aku tanya mereka itu siapa. Nampaknya mereka itu kaget. Yang satu lantas berkata, 'Nona, sukalah berlaku baik, tolong kau membagi makanan untuk kami.' Yang lainnya mengeluarkan sepotong perak dari sakunya seraya berkata; 'Kita membeli dengan uang ……' Aku lantas mempersilahkan mereka duduk, kataku, nanti aku masak nasi untuk mereka. Aku ingin mereka lekas-lekas pergi. Aku lantas pergi ke dapur, aku masak nasi, aku menggorengi sayur. Demikian mereka duduk berdahar. Habis mereka bersantap, disaat mereka mau pergi, mendadak si orang she Yo berteriak. Aku lari ke dalam. Aku melihat dia mencoba berduduk, tangannya menuding aku, dengan roman ketakutan, dia berteriak pula; 'Auwyang Kongcu! Auwyang Kongcu!' Aku kaget hingga aku mencelat. Aku tidak tahu siapa itu Auwyang Kongcu. Aku berkhawatir sekali, aku takut orang-orang buta itu mendengar suaranya. Maka aku pungut bajunya, untuk membungkus pula kepalanya. Di luar dugaanku, dia menjadi kuat sekali, dia berontak hingga aku terjatuh. Lagi sekali dia mengasih dengar suaranya; 'Auwyang Kongcu, kau, kau ampuni aku …… kau ampuni aku ……'"
Oey Yong, Kwee Ceng dan Bok Liam Cu meliha tegas Yo Kang membunuh Auwyang Kongcu, mereka mengerti ketakutannya Yo Kang dalam keadaan was-wasnya itu, meski begitu, mereka merasakan punggung mereka dingin.
Mereka merasa ngeri.
Bahkan nona Oey, meskipun dia gagah, dia berlompat kepada Kwee Ceng, untuk duduk menyenderkan tubuhnya.
Lam Kim melihat eratnya perhubungan muda-mud itu, sakit ia merasakan hatinya.
Tapi ia meneruskan.
'Begitu orang she Yo itu menyebut-nyebut Auwyang Kongcu, budak-budak buta itu pada nerobos ke dalam, mulut mereka bertanya berulang-ulang.
'Kongcu!
Kongcu'!
Kau di mana?' Aku menjadi kaget.
Tahulah aku, mereka itu bujang dan majikan.
Aku merasa aku bakal gagal.
Dalam takutku, aku lantas lari.
Entah kenapa, waktu itu aku tak lagi ingin mati.
Aku takut nanti ditangkap mereka, aku bisa disiksa, maka aku kabur terus.
Bagaikan ada malaikat yang menunjuki aku lari sampai di kuilnya enci Bok, justru enci Bok lagi sakit berat, tubuhnya sangat panas.
Aku lantas merawati sebisanya.
Malam itu aku berpikir keras, akhirnya, aku minta too-kouw tua itu menerima aku sebagai muridnya.
Dua hari kemudian baru panas tubuhnya enci Bok kurangan dan ia sadar ……"
"Kemudian bagaimana?"
Liam Cu memotong cerita nona itu.
"Bagimana? Tentu saja dia mati!"
Menyahut Lam Kim.
"Nanti, nanti aku lihat ……!"
Sambil berkata begitu, Liam Cu berlompat bangun, terus dia lari.
"Enci! Enci!"
Oey Yong memanggil.
Liam Cu tidak mendengar, dia lari terus, hingga sebentar saja dia lenyap di sebuah pengkolan.
Oey Yong bertiga tahu Liam Cu tidak dapat melupakan Yo Kang, tidak perduli orang she Yo itu terbukti kejahatannya.
Mereka menghela napas.
Setelah berdiam sekian lama, Lam Kim berbangkit.
"Inkong,"
Katanya perlahan pada Kwee Ceng.
"Aku telah menutur segala apa, maka bersyukurlah kepada Thian, aku dapat dipertemukan pula kepada inkong."
Ia merogoh ke sakunya, ia mengeluarkan se
Jilid buku yang sudah rusak, ia menyerahkan itu pada si anak muda seraya menambahkan.
"Buku ini telah aku robek belasan lembarannya, aku tidak tahu ini sebenarnya buku apa, tetapi orang she Yo itu menganggapnya sebagai mustika, maka mungkin ada faedahnya. Coba inkong periksa."
Kwee Ceng menyambuti buku itu, tanpa memeriksa lagi, ia masuki ke dalam sakunya.
"Sekarang kau berniat pergi ke mana?"
Ia menanya. Ia lebih memerlukan nasibnya nona yang berperuntungan sangat malang ini.
"Aku telah bertemu pula sama inkong, untukku, ke mana aku pergi, sama saja,"
Menyahut nona Cin.
"Kelihatannya Tiat Ciang Pang bermaksud tidak baik kepada inkong maka itu aku harap inkong berdua suka berhati-hati."
"Kenapa kau ketahui tukang perahu itu orang Tiat Ciang Pang?"
Oey Yong tanya.
"Sebab dialah orang yang memasuki aku ke dalam keranjang dan menyerahkan aku pada si orang she Yo itu."
"Oh ……"
Kata nona Oey yang lantas telah mengetahuinya bagaimana ia harus mengambil sikap kepada si tukang perahu.
"Setelah enci Bok sembuh, kita berdamai untuk melakukan perjalanan bersama,"
Lam Kim masih berkata lebih jauh.
"Demikian tadi di rumah makan, kami melihat inkong berdua serta itu tukang perahu. Dasar Thian tidak mengijinkan orang jahat dapat berbuat sesukanya, kami telah dibuatnya memergoki dia."
Habis mengucap, si nona memberi hormat kepada Oey Yong, terus ia berlutut pada Kwee Ceng seraya berkata;
"Sekarang perkenankan aku meminta diri. Semoga inkong panjang umur dan beruntung!"
Kwee Ceng mengasih bangun nona itu, hatinya pepat, Tidak tahu ia mesti membilang apa.
"Enci Cin,"
Berkata Oey Yong.
"Kau sudah tidak punya rumah, maka baiklah kau turut kami pergi ke Kanglam."
Lam Kim menggeleng kepala.
"Aku berniat balik ke hutannya kakekku,"
Katanya.
"Kau tinggal sebatang kara, mana dapat?"
Oey Yong kata.
"Seumurku, aku memang bersendirian saja ……"
Oey Yong berpaling kepada Kwee Ceng, ia membungkam. Lam Kim menoleh kepada si anak muda, habis mana ia memutar tubuhnya, untuk bertindak pergi. Pemuda itu masih menjublak sampai ia ingat suatu apa.
"Nona, tunggu dulu!"
Ia memanggil. Nona itu menghentikan tindakannya, ia tidak memutar tubuhnya.
"Nona, kalau kau ketemu lagi orang jahat, bagaimana?"
Kwee Ceng tanya, nona itu tunduk, ia menyahuti dengan perlahan.
"Aku sebatang kara dan lemah, aku cuma akan menerima nasib saja ……"
"Mari aku ajarkan kau serupa ilmu,"
Berkata Kwee Ceng.
"Jikalau kau rajin mempelajarinya, aku percaya lain kali kau bisa melawan sedikitnya lima orang."
Nona itu berpikir sebentar, lalu ia memberikan penyahutannya.
"Baiklah kalau inkong menitahkannya, nanti aku mempelajarinya."
Kwee Ceng heran melihat orang tidak bergembira karenanya.
Ia lantas mengajari nona itu ilmu yang ia dapatkan dari Tan Yang Cu Ma Giok selama di gurun pasir.
Itulah ilmu tenaga dalam, Lwee Kang Sim-hoat yang terdiri dari sepuluh jurus.' Lam Kim berotak cerdas, ia memperhatikan pengajaran itu.
Tidak lama, ia telah dapat mengingat baik-baik.
"Setelah dipelajari sungguh-sungguh nanti baru nampak kefaedahannya pelajaran ini,"
Kwee Ceng memberi keterangan.
"Kau tidak mengerti ilmu silat, tetapi dengan meninju dan menendang kalang kabutan, kau dapat juga melukai orang."
Nona itu berdiam, lalu ia meminta diri pula dan pergi dalam kesunyian. Setelah orang pergi jauh, Oey Yong kata kepada kawannya.
"Aku memberi selamat padamu telah mendapat seorang murid!"
"Mana dapat dibilang dialah muridku,"
Kata si anak muda.
"Aku cuma mengharap dia tidak nanti diperhina lagi segala orang jahat."
"Itulah sukar dibilang,"
Kata Oey Yong.
"Sekalipun orang sepandai kau, kau masih dipermainkan orang jahat ……."
Kwee Ceng menghela napas.
"Di jaman kacau seperti ini, manusia kalah dengan anjing,"
Ia bilang.
"Apa mau di kata ……?"
"Sekarang, mari kita mampusi anjing gagu itu!"
Berkata si anak muda tanya.
"Anjing gagu yang tadi,"
Sahut si nona, yang lantas menggerak-geraki tangannya seraya mengasih dengar suara ah-aha-uh-uh. Melihat itu Kwee Ceng tertawa.
"Jadi kita tetap menaiki perahunya si gagu palsu itu?"
Ia menegaskan. Bab 67. PERGULATAN DI ATAS PERAHU "Pasti kita akan memakai perahunya itu,"
Menyahut si nona.
"Bangsat tua Khiu Cian Jin telah melukai hebat kepadaku, hendak aku membalas terhadapnya, umpama kata aku tidak sanggup melayani dia, puas juga sedikit hatiku apabila aku bisa menyingkirkan beberapa pengikutnya."
Keduanya lantas kembali ke rumah makan.
Di sana si tukang perahu yang gagu itu lagi tangal-tongol, mengharapi kedatangan orang.
Ia menjadi girang sekali apabila ia menampak kembalinya si muda-mudi.
Dengan berlagak pilon, Kwee Ceng berdua pergi ke perahu orang Tiat Ciang Pang itu.
Mereka melihat sebuah perahu sedang, tidak besar dan tidak kecil, dan gubuknya hitam.
Itulah perahu pengangkutan yang paling banyak digunai di sungai Goan Kang.
Di atas perahu ada dua orang, yang masih muda, yang lagi mencuci lantai.
Begitu keduanya turun ke perahu, tukang perahu itu melepaskan tambatannya dan menolak perahu ke tengah sungai di mana layar lantas dipasang.
Kebetulan sekali angin Selatan meniup keras, perahu laju cepat mengikuti aliran sungai.
Kapan Kwee Ceng memikirkan kebinasaannya Yo Kang serta nasibnya Liam Cu dan Lam Kim, ia sangat berduka.
Sambil menyenderkan tubuhnya, ia tunduk diam, matanya memandang jauh ke depan.
"Engko Ceng,"
Berkata Oey Yong tiba-tiba.
"Coba kau kasih lihat bukunya nona Cin itu? Entah ada hubungan apa di antara itu buku dan buku wasiatnya Gak Bu Bok ……"
Anak muda itu seperti sadar.
"Hampir aku lupa!"
Katanya. Ia terus mengeluarkan bukunya, diserahkan pada si nona. Oey Yong menyambuti, lantas ia membalik beberapa lembaran.
"Oh, kiranya begini!"
Katanya agak terperanjat.
"Engko Ceng, mari lihat!"
Kwee Ceng berbangkit dan menghampirkan, ia duduk di samping si nona di tangan siapa ia melihat buku itu.
Ketika itu sudah magrib, sinar layung memain di permukaan air.
Sinar itu, yang menyorot berbalik dari air, mengenakan juga mukanya si nona, baju dan buku di tangannya itu.
Sepasang muda-mudi itu besar hatinya, walaupun mereka berada di dalam kendaraan air musuh, mereka tidak takut.
Dengan asyik mereka memperhatikan buku pemberian nona Cin itu.
Buku itu ada buku buah tangannya Siangkoan Kiam Lam, pangcu yang ke-23 dari Tiat Ciang Pang.
Di situ Kiam Lam mencatat segala apa mengenai sepak terjang partainya.
Dialah salah seorang punggawanya jenderal Han See Tiong.
Ketika Gak Hui terbinasakan dorna Cin Kwee dan Jenderal Han dipecat, dia pun berhenti.
Banyak orang sebawahan dan serdadunya, yang turut mengundurkan diri dan hidup bertani.
Tapi dia benci kawanan dorna, yang menguasai pemerintahan, maka dia mengajak serombongan sebawahannya, yang menyetujui cita-citanya untuk menaruh kaki di wilayah Kheng-siang, bekerja sebagai berandal.
Hanya kemudian, mereka masuk dalam kalangan Tiat Ciang Pang, malah ketika pangcu yang tua menutup mata, dia menyambut sebagai gantinya.
Mulanya Tiat Ciang Pang ada perkumpulan biasa saja akan tetapi setelah dipimpin dia, sifatnya berubah dan menjadi kuat.
Dia berhasil mengumpul kawan orang-orang gagah di Ouwlam dan Ouwpak, hingga kedudukannya tangguh seimbang dengan kedudukan Kay Pang di Utara.
Tidak pernah Kiam Lam melupakan negara dan musuh negaranya, untuk membangunnya pula, sering dia mengirim mata-mata ke Lim-an.
Ia mengharap ketika baik guna bergerak.
Kemudian Kaisar Kho Cong mengundurkan diri dari takhta kerajaan, yang ia serahkan kepada Kaisar Hauw cong, ia sendiri merasa senang menjadi Thay sianghong.
Kaisar Hauw Gong ingat kesetiaannya Gak Hui, ia menitahkan memindahkan kuburannya dari tepi jembatan Cong An Kio ke tepian See Ouw, Telaga Barat, di mana pun dibangun rumah abunya, sedang pakaian dan semua barang lainnya dari Gak Bu Bok disimpan di istana.
Malamnya dari siangnya jenazah dipindahkan, bekas orang-orangnya Gak Hui datang dengan diam-diam untuk bersembahyang.
Mata-mata Tiat Ciang Pang di Lim-an mengetahui hal itu dan mendengarnya juga bahwa di antara warisan Gak Bu Bok ada se
Jilid kitab tentang ilmu perang, maka hal itu diwartakan ke Tiat Ciang San.
Kiam Lam lantas bekerja.
Ia mengajak sejumlah orangnya yang pandai, mereka berangkat ke kota raja.
Pada suatu malam mereka memasuki istana dan berhasil mencuri kitabnya Gak Hui itu, yang mana malam itu juga dibawa dan diserahkan kepada Han See Tiong.
Ketika itu Jenderal Han sudah berusia lanjut dan bersama istrinya, Nio Hong Giok, ia tinggal menyendiri di tepi See Ouw.
Dia telah terbangun semangatnya menyaksikan kitabnya Gak Hui itu, hingga ia menghunus pedang dan membacok meja.
Ia menghela napas.
Untuk memperingati sahabat kekalnya itu, Gak Hui, ia lantas mengumpulkan pelbagai karyanya Gak Bu Bok, dijadikan sebuah buku, buku mana dia kasihkan pada Siangkoan Kiam Lam, yang dinasehati untuk mencoba mewujudkan cita-cita Gak Hui untuk mengusir bangsa asing, guna membangun pula negara sendiri.
Kiam Lam menerima itu semua.
Ia juga bisa berpikir, maka ia ingat, tidak mungkin Gak Hui menulis kitab perangnya itu untuk dibawa ke kubur, tentulah itu untuk diwariskan kepada suatu orang, hanya saking kerasnya penjagaan Cin Kwee, kitab tersebut tak sempat disampaikan.
Pula mungkin, karena sesuatu sebab, orang yang harus menerima kitab tidak keburu sampai di kota raja.
Kalau ini benar, ada kemungkinan orang itu datang ke istana dan menubruk tempat kosong disebabkan kitab itu sudah tercuri.
Karena ini, ia lantas membikin petanya gunung Tiat Ciang San diberikuti keterangan singkat bunyinya;
"Kitab warisan Gak Bu Bok adanya di Tiat Ciang San, di puncak Tiong Cie Hong, di lereng yang kedua."
Jenderal Han khawatir orang tidak mengerti petunjuk singkat itu, ia menambahkan dengan cabutan sayirnya Gak Bu Bok sendiri.
Baca Juga: Bara Naga 4
Baca Juga: Kisah Si Pedang Terbang Kho Ping Hoo