Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 12

Eps 12 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Bukit ini bernama Le-kui-hong (bukit hantu) konon dipuncak bukit ini sering ada hantu yang mengganggu orang, maka biasanya tiada orang berani naik ke sini.

Tak tersangka bahwa kelahiranku kembali didunia ini justeru berada di bukit-ini."

Segera Nyo Ko membentak Hoan It-ong untuk mengorek keterangannya.

"Lekas katakan, untuk apa kau datang ke sini?"

Meski berada dalam cengkeraman musuh, sedikitpun Hoan It -ong tidak gentar, ia balas membentak. Tidak perlu banyak omong, lekas kau bunuh saja diriku!"

"Kongsun Kokcu yang mengirim kau kesini, bukan?"

Desak pula Nyo Ko.

"Benar."

Jawab Hoan It-ong dengan gusar.

"Suhu memerintahkan aku memeriksa sekitar bukit ini untuk menjaga penyusupan musuh ke sini, Ternyata dugaan beliau tidak meleset, memang betul ada orang sedang main gila disini,"

Sembari bicara ia terus mengawasi Kiu Jian-jio, ia heran siapakah nenek botak ini, mengapa nona Kongsun memanggil ibu padanya?

Maklumlah usia Hoan It-ong memang jauh lebih tua dari pada Kiu Jiang-jio dan Kongsun Ci, dia sudah mahir ilmu silat sebelum berguru pada Kongsun Ci, waktu masuk perguruan ia tidak pernah bertemu dengan Kiu Jian-jio karena sudah dijebloskan ke dalam gua bawah tanah oleh Kongsun Ci.

Tapi dari percakapan Nyo Ko bertiga Hoan It-ong yakin mereka pasti akan memusuhi sang guru.

Kiu Jian-jio menjadi gusar, dari nada ucapan Hoan It-ong dapat diketahuinya kakek cebol itu jelas sangat setia kepada Kongsun Ci, segera ia berseru kepada Nyo Ko.

"Lekas binasakan dia daripada menanggung risiko dikemudian hari."

Nyo Ko menoleh, dilihatnya Hoan It-ong tidak gentar menghadapi kemungkinan dibunuhnya, diam2 ia kagum akan sikapnya yang jantan itu, iapun tidak ingin membantah keinginan Kiu Jian-jio, maka katanya kepada Lik-oh.

"Nona Kongsun, boleh kau gendong ibumu turun dulu ke sana, segera aku menyusul setelah kubereskan si cebol ini."

Kongsun Lik-oh kenal pribadinya Toa-suheng-nya yang baik itu, ia tidak tega melihat Hoan It-ong mati konyol, maka ia mohon ampun.

"Nyo-toako..."

"Lekas berangkat... lekas!"

Mendadak Kiu Jian-jio menyentaknya dengan gusar.

"Apa yang kukatakan selalu kau bantah, percuma punya anak perempuan seperti kau."

Lik-oh tak berani bicara Iagi, cepat ia menggendong sang ibu dan turun dari bukit itu.

Nyo Ko mendekati Hoan It-ong dan membuka Hiat-to bagian lengan yang ditutuknya tadi, lalu berkata dengan suara tertahan.

"Hoan-heng, Hiat-to pada kakimu yang kututuk tadi akan buyar dengan sendirinya setelah lewat 6 jam, selamanya kita tidak ada permusuhan apapun, aku tidak ingin mencelakai kau,"

Habis berkata ia terus menyusul Lik-oh dengan Ginkangnya yang tinggi.

Sebenarnya Hoan It-ong sudah pejamkan mata dan menunggu ajal, sama sekali ia tidak menduga Nyo Ko akan berlaku begitu baik padanya, seketika ia melenggong kesima dan memandangi bayangan ketiga orang menghilang dibalik pepohonan yang kelam sana.

Setelah menyusuInya, Nyo Ko merasa langkah Lik-oh terlalu lambat, segera ia berkata.

"Kiu-locianpwe, biar aku saja yang menggendong engkau."

Tadinya Lik-oh merasa kuatir antara Nyo Ko dan ibunya sering tidak cocok dalam pembicaraan kini pemuda itu menyatakan mau menggendong sang ibu, tentu saja Lik-oh sangat girang, katanya.

"Wah, bikin susah kau saja."

"Dengan susah payah aku mengandung sepuluh bulan barulah melahirkan anak perempuan secantik ini, sekarang tanpa kau minta sudah kuberikan padamu, masakah menggendong sebentar bakal mertua juga enggan?"

Demikian omel Kiu Jian-jio.

Nyo Ko melengak dengan perasaan kikuk, ia merasa tidak enak untuk menanggapi ucapan orang tua itu, Segera ia mengangkat tubuh Kiu Jian-jio ke punggung sendiri, lalu dibawanya berlari secepat terbang ke bawah bukit.

Kiu Jian-yim, yaitu kakak kedua Kiu Jian-Jio yang menjabat ketua Thi-cio-pang dahulu terkenal dengan julukan Thi-cio-cui-siang-biau, sitelapak tangan besi melayang di permukaan air, julukan yang menggambarkan kelihayan Ginkangnya.

DahuIu dia pernah berkelahi dengan Ciu Pek-thong secara maraton dimulai dari daerah Tionggoan sampai ke wilayah barat dekat Tibet, Tokoh yang berkepandaian tinggi seperti Lo-wan-tong saja sukar menyusulnya.

Sedangkan Kanghu (kepandaian silat-Kungfu) Kiu Jian-jio adalah ajaran sang kakak, Ginkangnya juga kelas satu, tapi sekarang berada di punggung Kyo Ko, rasanya pemuda itu berlari sedemikian cepat dan mantap langkahnya se-olah2 kaki tidak menempel tanah, mau-tak-mau Kiu Jian-jio sangat kagum dan heran puIa, ia pikir Ginkang anak muda ini jelas tidak sama dengan Ginkang perguruanku sebagaimana ilmu pukulan yang pernah ia mainkan kemarin, namun jelas kepandaiannya tidak dibawah kanghu Thi-cio-pang dan sama sekali tidak boleh diremehkan.

Tadinya Kiu Jian jio merasa rugi kalau anak perempuannya mendapatkan suami seperti Nyo Ko, soalnya puterinya sudah suka, ia merasa apa boleh buat.

Tapi sekarang ia mulai merasakan bakal menantu ini sedikitpun tidak merendahkan harga diri anak perempuannya.

BegituIah hanya sebentar saja Nyo Ko sudah membawa Kiu Jian-jio sampai dibawah bukit, waktu ia menoleh, tertampak Lik-oh masih tertinggal di pinggang bukit, sejenak kemudian barulah nona itu dapat menyusulnya dan kelihatan napas memburu dan dahi berkeringat.

Dengan hati2 mereka bertiga memutar ke belakang perkampungan Cui-sian-kok, Lik-oh tidak berani masuk ke sana melainkan pergi kepada seorang tetangga untuk meminjam baju buat dipakai sendiri, selain itu iapun meminjam baju dan kipas yang diperlukan sang ibu.

Kiu Jian-jio mengembalikan bajunya kepada Nyo Ko, lalu memakai kedok kulit serta memakai baju coklat, dengan tangan memegang kipas serta dipayang Nyo Ko dan Lik-oh di kanan-kiri, menujulah mereka ke pintu gerbang perkampungan.

Waktu memasuki pintu itu, pikiran ketiga orang sama2 bergolak hebat, sudah belasan tahun Kiu Jian-jio meninggalkan perkampungan ini dan sekarang berkunjung lagi ke sini, sungguh sukar dilukiskan perasaannya pada waktu itu.

Terlihat pintu gerbang perkampungan itu ada beberapa pasang lampu kerudung warna merah yang sangat besar, jelas itulah pajangan pada rumah yang sedang berpesta perkawinan, suara tetabuhan juga terdengar berkumandang dari ruangan pendopo sana.

Ketika para centeng melihat Kiu Jian-jio dan Nyo Ko, mereka sama melengak bingung, Tapi lantaran mereka didampingi Kongsun Lik-oh, dengan sendirinya para centeng itu tak berani merintanginya.

Langsung mereka masuk ke ruangan pendopo yang penuh dengan tetamu dan dalam suasana riang gembira itu.

Kelihatan Kongsun Ci memakai baju merah dan berdandan sebagai pengantin laki2 berdiri di sebelah kiri Di sebelah kanan pengantin perempuan bertopi bertabur mutiara dan kembang goyang, meski wajahnya tidak kelihatan karena memakai kerudung, tapi dilihat dari perawakannya yang ramping, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li?

Se-konyong2 sinar api berkelebat menyusul terdengar suara letusan beberapa kali, suara mercon.

"Tiba saat bahagia, pengantin baru disilakan bersembahyang!"

Demikian pembawa upacara berseru.

Pada waktu itulah mendadak Kiu Jian-jio bergelak tertawa, suaranya menggetar hingga genting rumah sama berkelotek, cahaya lilin juga berguncang, Menyusul ia berseru lantang.

"pengantin baru bersembahyang, pengantin lama lantas bagaimana?"

Meski urat kaki tangannya sudah putus, namun Lwekangnya sama sekali belum punah, apalagi selama belasan tahun ia tekun berlatih dalam gua bawah tanah tanpa terganggu, maka hasil latihan belasan tahun itu boleh dikatakan satu kali lipat lebih kuat daripada latihan orang biasa.

Maka suara seruannya itu sungguh keras luar biasa sehingga anak telinga semua orang serasa mendenging, suasana menjadi suram, sebagian besar lilin yang memenuhi sudut2 ruangan itu sama padam.

Semua orang terkejut dan berpaling ke sana, Kongsun Ci juga kaget mendengar suara bentakan hebat itu, ia menjadi bingung dan waswas.

Ketika nampak Nyo Ko dan anak perempuannya muncul di situ tanpa kekurangan sesuatu mendampingi orang berkedok yang aneh itu.

"Siapakah saudara?"

Segera Kongsun Ci membentak. Kiu Jian-jio sengaja membikin serak suaranya dan menjengek.

"Hm, aku adalah sanak pamilimu yang terdekat, masakah kau pura2 tidak kenal padaku?"

Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si, Siau-siang-cu dan lain2 juga sama tertarik oleh suara Kiu Jian-jio yang hebat itu, mereka tahu orang aneh ini pasti bukan sembarang orang, serentak mereka memusatkan perhatian.

Melihat Kiu Jian-jio memakai baju coklat dan membawa kipas, dandanannya persis seperti Kiu-Jian-yim yang pernah diceritakan oleh isterinya dahulu, Namun ia merasa janggal bahwa Kiu Jian-yim bisa mendadak datang ke sini.

Tampaknya kedatangan orang tidak bermaksud baik, diam2 ia siap siaga, Dengan dingin iapun berkata pula.

"Selamanya kita tidak kenal, mengapa kau mengaku sanak pamiliku segala? Sungguh menggelikan!"

Di antara hadirin itu In Kik-si paling paham kisah dunia persilatan di masa lampau, melihat dandanan Kiu Jian-jio itu, seketika pikirannya tergerak, legera iabertanya.

"Apakah tuan ini Thi-cio-cui-siang-biau Kiu Jian-yim, Kiu-locianpwe?"

Kiu Jian-jio sengaja ter-bahak2 dan menggoyang-goyang kipasnya, lalu menjawab.

"Hahahaha! Kukira orang yang kenal diriku sudah mati semua, kiranya masih sisa seorang kau ini!"

Kongsun Ci tenang saja, katanya kemudian.

"Apakah betul saudara ini Kiu Jian-yim? Hah, kukira tiruan belaka!"

Kiu Jian-jio terkejut akan kecerdikan orang, ia menjadi ragu pula jangan2 penyamarannya itu telah diketahui Maka ia cuma mendengus saja tanpa menjawab.

Sementara itu Nyo Ko tidak pedulikan permainan apa yang sedang terjadi pada bekas suami isteri itu, ia menyerobot ke samping Siao-liong-li, dengan tangan kanan membawa Coat-ceng-tan, tangan kiri-terus menyingkap kerudung muka si nona sambil berseru .

"Kokoh, lekas buka mulut -mu!"

Jantung Siao-liong-li berdebar juga ketika mendadak nampak Nyo Ko berada di depannya, WHe, engkau betul sudah sembuh!

Serunya girang bercampur kejut.

Kini Siao-liong-Ii sudah tahu betapa keji hati Kongsun Ci serta tindak tanduknya yang tidak baik, sebabnya dia menyanggupi akan menjadi istrinya hanya demi menyelamatkan jiwa Nyo Ko saja, kini nampak anak muda itu muncul mendadak, disangkanya Kongsun Ci benar pegang janji telah menyembuhkan racun dalam tubuh Nyo Ko.

Dalam pada itu Nyo Ko terus menyodorkan Coat-ceng-tan kemulut Siao-ttoog-li sambil berseru.

"Lekas telan !"

Siao-liong-li tidak tahu barang apa yang di -suruh makan itu, namun dia menurut dan menelannya ke dalam perut, Segera terasa suatu arus hawa segar langsung menyusup kedalam perut.

"He kau berikan dia, kau sendiri lantas bagaimana ?"

Seru Lik-oh kuatir. Seketika Siao-liong-li paham duduknya, perkara, tanyanya dengan kaget.

"Jadi kau sendiri belum pernah minum obat penawarnya?"

Nyo Ko tersenyum saja tanpa menjawabnya, sementara itu ruangan pendopo sedang kacau baIau.

Mestinya Kongsun Ci hendak mencegah pendekatan Nyo Ko dengan Siaoliong-li, tapi iapun jeri pada tokoh berkedok yang aneh itu, sebelum tahu siapakah lawannya ia tak berani sembarangan bertindak.

Dalam pada itu Nyo Ko lantas menanggalkan topi pengantin Siaoliongli dan di-robek2, lalu nona itu digandeng ke samping ruangan, katanya.

Kokoh, Kokcu bangsat itu bakal ketemu batunya, marilah kita menonton permainan yang menarik saja.

Hati Siao-liong li sendiri merasa kacau, ia menggelendot di tubuh Nyo Ko dan tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Yang paling senang melihat kedatangan Nyo Ko adalah si dogol Be Kong-co, ia tidak ambil pusing anak muda itu sedang asyik masyuk dengan Siao-liong-li dan sepantasnya jangan diganggu, ia justeru mendekati mereka serta bertanya ini dan itu tanpa habis2 Pada 20-an tahun yang lalu In Kik-si sudah dengar nama Kiu Jian-yim yang termashur dan disegani setiap orang Bu-lim, kini melihat Lwe-kangnya memang sangat tinggi, diam2 ia ingin berkenalan dengan dia, segera ia melangkah maju dan memberi hormat, sapanya.

"Hari ini adalah hari bahagia Kongsun Kokcu, apakah Kiu-locianpwe hadir untuk minum arak bahagia pernikahannya ini?"

"Apakah kau tahu dia pernah apa dengan aku?"

Jawab Kiu Jian-jio sambil menuding Kongsun Ci. In Kik-si menggeIeng.

"Tidak tahu, justeru Cayhe ingin minta penjelasan,"

Katanya.

"Coba kau suruh dia katakan sendiri,"

Ujar Kiu Jianjio.

"Apakah kau betul2 Thi-cio-ciu-siang-biau?"

Terdengar Kongsun Ci menegas pula, Mendadak ia bertepuk tangan dan berkata kepada seorang muridnya "Ambilkan kotak surat yang tertaruh di rak sebelah timur dikamar tulisku!"

Dalam keadaan bingung Likoh menarik sebuah kursi untuk berduduk ibunya.

Kongsun Ci sangat heran anak perempuannya dan Nyo Ko yang di jerumuskannya ke dalam kolam buaya itu ternyata tidak mati, malahan sekarang muncul lagi dengan seorang yang mengaku sebagai Kiu Jian-yim.

Tidak lama muridnya telah membawakan kotak surat yang diminta, Kongsun Ci membuka kotak itu dan mengeluarkan sepucuk surat, katanya dengan dingin.

"Beberapa tahun yang lalu pernah kuterima surat dari Kiu Jian-yim, kalau benar engkau Kiu Jian-yim, maka surat inilah yang palsu."

Kiu Jian-jio terkejut, pikirnya.

"Sejak Jiko bertengkar dengan aku, selama itu tak pernah memberi kabar, mengapa dia bilang menerima surat dari Jiko? Dan entah apa yang dikatakan didalam suratnya itu."

Karena itu segera ia berseru.

"Huh, bila kupernah menulis surat padamu? Benar2 omong kosong belaka!"

Dari logat bicaranya, tiba2 Kongsun Ci teringat kepada seorang, ia terkejut, seketika keringat dingin membasahi punggungnya. Tapi segera ia berpikir pula.

"Ah, tidak mungkin. Dia sudah mati di gua bawah tanah itu, tulang belulangnya sekalipun sudah lapuk, manabisa hidup lagi? Tapi orang ini sebenarnya siapa?"

Segera iapun membentang surat tadi dan di bacanya dengan suara lantang.

"Kepada adik Ci dan adik Jio, sejak Toako tewas di tangan Kwe Cing dan Ui yong di Thi-cio-hong...."

Mendengar kalimat pertama isi surat itu, seketika hati Kiu Jian-jio menjadi pedih dan berduka, bentaknya cepat.

"Apa katamu? Siapa bilang Toakoku sudah mati?"

Selamanya dia berhubungan paling akrab dengan Kiu Jian-li, kini mendadak mendengar berita kematiannya, dengan sendirinya ia sangat sedih, tubuhnya gemetar dan suarapun berubah, mau-tak-mau keluar juga suara kewanitaannya.

Kongsun Ci sangat cerdik, begitu yakin orang yang dihadapinya ini adalah perempuan meski dalam hatinya bertambah kejut dan waswas, namun iapun tambah yakin orang pasti bukan Kiu Jian-yim, Maka iapun meneruskan membaca isi surat tadi.

"kakakmu ini merasa menyesal telah berselisih paham dengan kau sehingga selama ini kita tak pernah berkumpul. Kini kakak sudah disadarkan oleh It-teng Taysu, golok jagal sudah kubuang, kakak telah tunduk pada ajaran Budha. Pada hari tua sekarang sering terkenang olehku betapa senangnya ketika kita berkumpul dahulu, Mudah2-an saja kalian hidup bahagia dan banyak rejeki...."

Sembari mengikuti bunyi isi surat itu, diam2 Kiu Jian-jio meneteskan air mata, setelah surat itu habis di baca Kongsun Ci, ia tidak dapat menahan tangisnya lagi, segera ia berteriak .

"O, Toako dan Jiko, tahukah kalian betapa penderitaanku ini! "

Mendadak iapun menanggalkan kedoknya dan membentak ."Kongsun Ci, masih kenal tidak padaku ?"

Suara bentakan yang menggelegar ini seketika membikin sebagian api lilin padam lagi, sisa api lilin yang lain juga terguncang goyang dan suram, pada saat itulah mendadak wajah seorang nenek2 yang bengis muncul di hadapan semua orang.

Seketika mereka terkejut, siapapun tidak berani bersuara, suasana menjadi sunyi senyap, hati setiap orang ikut berdebar-debar Sekonyong2 seorang budak tua yang berdiri di pojok sana ber-lari2 maju sambil berseru.

"Cubo,"

Cubo (majikan perempuan, Cukong -majikan Iaki-Iaki), kiranya engkau masih segar bugar!"

"Ya, Thio-jiok, syukur kau masih ingat padaku,"

Sahut Kiu Jian-jio sambil mengangguk.

Rupanya budak itu sangat setia, ia kegirangan melihat majikan perempuannya belum mati, berulang2 ia menyembah dan menyatakan syukur, Di antara tetamu yang hadir itu kecuali rombongan Kim-lun Hoat-ong, selebihnya kebanyakan adalah para tetangga perkampungan Cui-sian-kok, orang yang berusia setengah tua kebanyakan masih kenal Kiu Jian-jio, maka serentak mereka merubung maju untuk bertanya ini dan itu.

"Minggir semua!"

Bentak Kongsun Ci mendadak. Semua orang kaget dan terpaksa menyingkir Kongsun Ci menuding Kiu Jian-jio dan membentak pula.

"perempuan hina, mengapa kau kembali lagi ke sini? Kau masih punya muka bertemu dengan aku?"

Sejak mula Lik-oh berharap ayahnya mau mengaku salah dan rujuk kembali dengan sang ibu, siapa duga ayahnya telah mengucapkan kata2 yang begitu kasar dan ketus, saking sedihnya ia berlari ke depan sang ayah, ia berlutut dan berseru.

"O, ayah, ibu tak meninggal beliau tak meninggal. Lekas ayah minta maaf dan mohon beliau mengampuni!"

"Mohon dia mengampuni?"

Jengek Kongsun Ci.

"Hm, mengampuni siapa? Memangnya apa salahku?"

"Ayah telah memutuskan urat kaki tangan ibu dan mengeramnya di gua bawah tanah selama belasan tahun sehingga beliau tersiksa dalam keadaan mati tidak hidup tidak, betapapun ayah telah membikin susah ibu,"

Kata Lik-oh dengan terguguk.

"Hm, dia sendiri yang mencelakai aku lebih dulu, kau tahu tidak?"

Jengek Kongsun Ci.

"Dia melemparkan aku ke semak2 bunga cinta sehingga aku tersiksa oleh duri bunga itu. Dia merendam obat penawar di dalam air warangan, aku menjadi serba salah, minum obat penawar itu akan mati, tok minum juga mati, Apakah kau tahu semua kejadian ini? Dia malah memaksa aku membunuh... membunuh orang yang kucintai, tahu tidak kau?"

"Tahu, anak sudah tahu semua,"

Sahut Lik-oh sambil menangisi "Dia bernama Yu-ji."

Sudah belasan tahun Kongsun Ci tidak pernah dengar orang menyebut nama itu, air mukanya menjadi berubah hebat, ia menengadah dan menggumam.

"Yu-ji ya benar, Yu-Ji kekasihku, perempuan hina yang keji inilah yang memaksa aku membunuh dia."

Kelihatan air muka Kongsun Ci semakin beringas dan penuh rasa duka pula ber-ulang2 ia menggumam pelahan.

"Yu-ji... Yu-ji..."

Nyo Ko pikir suami-isteri konyol itu jelas bukan manusia baik2.

sedangkan dirinya sendiri mengidap racun dan takkan hidup terlalu lama lagi di dunia ini, pada kesempatan terakhir ini hanya diharap akan berkumpul dengan Siao-Iiong-li di suatu tempat yang sunyi dan melewatkan tempo yang tak lama lagi itu dengan tenteram, maka sama sekali tiada minatnya buat ikut campur persoalan Kongsun Ci dan isterinya, segera ia menarik Siao-liong-li dan mengajaknya pergi saja.

"Apakah betul wanita ini adalah isterinya dan benar2 telah dikurung olehnya selama belasan tahun?"

Tanya Siao-liong-li tiba2 dengan hati yang tulus, sungguh ia tidak percaya bahwa di dunia ini ada orang sejahat itu.

"Ya, mereka suami-isteri cuma saling balas dendam belaka,"

Kata Nyo Ko. Siao-liong-li termenung sejenak, lalu berkata dengan suara tertahan.

"Sungguh aku tidak paham. Masakah wanita ini serupa aku dan juga dipaksa menikah dengan dia?"

Menurut jalan pikirannya, kalau dua orang tidak dipaksa untuk menikah, seharusnya pasangan itu akan berkasih sayang, mana mungkin saling menyiksa secara begitu kejam.

"Di dunia ini sedikit sekali orang baik dan lebih banyak orang jahat,"

Ujar Nyo Ko sambil menggeleng.

"Hati orang2 begini memang sukar juga dijajaki orang lain."

Baru saja berkata sampai di sini, mendadak terdengar Kongsun Ci membentak.

"Minggir!" -Berbareng sebelah kakinya mendepak, kontan tubuh Lik-oh mencelat. Arah mencelatnya tubuh Kongsun Lik-oh tepat menuju ke dada Kiu Jian-jio. padahal Kiu Jian-jio dalam keadaan lumpuh, kaki tangannya lemas tak bertenaga, terpaksa ia menunduk dan ingin mengelak namun tubrukan Lik-oh itu datangnya teramat cepat.

"bIang"

Dengan tepat tubuh si nona menumbuk badan ibunya, kontan Kiu Jian-jio jatuh terjengkang bersama kursinya kepalanya yang botak itu tepat membentur tiang batu dan seketika darah muncrat serta tak dapat bangun.

Lik-oh sendiri juga jatuh tersungkur dan pingsan karena depakan sang ayah.

Dalam keadaan begitu mau-tak-mau Nyo Ko menjadi gusar menyaksikan keganasan Kongsun Ci itu, Baru saja ia hendak memburu maju, tiba2 Siao-liong-li melompat maju lebih dulu untuk membangunkan Kiu Jian-jio serta mengurut beberapa kali di belakang kepala nenek itu untuk membikin mampet darahnya yang mengucur itu, habis itu ia merobek ujung baju untuk membalut lukanya dan kemudian ia membentak Kongsun Ci.

"Kongsun-siansing, dia adalah isterimu yang sah, mengapa kau perlakukan dia begini? jika kau sudah beristeri, kenapa ingin menikahi aku pula? seumpama aku jadi nikah dengan kau, bukankah kelak kaupun akan perlakukan diriku seperti dia ini?"

Beberapa pertanyaan yang tepat ini membikin Kongsun Ci melongo dan tak dapat -menjawab, serentak Be Kong-co bersorak memuji, sedangkan Siau-siaug-cu hanya menanggapi dengan ucapan.

"Hm, jitu benar kata2 nona ini."

Dasar Kongsun Ci sudah ter-gila2 kepada Siao-liong-li maka iapun tidak menjadi gusar oleh pertanyaan itu, dengan suara halus ia menjawab.

"Liu-ji, mana kau dapat dibandingkan dengan perempuan busuk ini? cintaku padamu tanpa batas, jika aku mempunyai pikiran buruk padamu, biarlah aku mati tak terkubur."

"Di dunia ini bagiku cukup hanya dia seorang saja yang mencintai aku, sekalipun kau suka padaku seratus kali lipat juga aku tidak kepingin,"

Jawab Siao-liong-li hambar sembari mendekati Nyo Ko dan menggenggam tangannya.

Tidak kepalang rasa gembira hati Nyo Ko melihat betapa cinta Siao-liong-li kepadanya, tapi rasa gemasnya kepada Kongsun Ci juga memuncak bila ingat umurnya tinggal berapa hari saja dan semua itu gara2 perbuatan Kongsun Ci, maka dengan gusar ia menuding dan memaki.

"Hm, kau berani bilang tiada pikiran buruk kepada Kokoh ? Hm, kau menjebloskan aku ke kolam buaya itu, lalu menipu Kokoh agar mau menikah dengan kau, apakah perbuatanmu ini baik? Kokoh terkena racun bunga cinta, padahal kau tahu tiada obat lagi untuk menyelamatkan dia, namun hal ini tidak kau katakan padanya, apakah ini maksud baikmu?"

Siao-liong-li terkejut mendengar ucapan Nyo -Ko itu dengan suara gemetar ia menegas.

"Apakah betul begitu ?"

"Tapi tidak soal lagi, kau sudah minum obat penawarnya tadi,"

Ujar Nyo Ko sambil tersenyum.

Senyuman yang pedih dan girang pula mengingat obat Coat-ceng-tan akhirnya dapat disampaikan dan diminum oleh Siao-Iiongli, maka matipun dia rela sekarang?

Kongsun Ci memandang ke sana dan ke sini, sorot matanya mengusap wajah Kiu Jian-jio, Siao--liong-li dan Nyo Ko bertiga, hatinya penuh rasa cemburu dan benci serta napsu berahi, ya kecewa, ya malu, macam2 perasaan berkecamuk menjadi satu.

Meski biasanya dia sangat sabar, namun kini dia sudah berpikiran gelap dan setengah gila, Se-konyong2 ia berjongkok dan melolos keluar sepasang senjatanya dari bawah selimut merah yang digunakan alas kaki waktu upacara tadi.

"trang."

Ia bentrok kedua senjata dan membentak.

"Baik, baik sekali! Biarlah hari ini kita gugur bersama saja."

Karena sama sekali tidak menyangka Kongsun Ci akan menyembunyikan senjata dibawuh perabot sembahyang pernikahannya itu, maka semua orang sama berseru kaget Segera Siao-Iiong-Ii menjengek.

"Ko-ji, orang jahat begini buat apa sungkan2 lagi padanya ?"

"Creng" , dari dalam baju pengantinnya iapun mengeluarkan sepasang pedang hitam lemas itu. Kun-cukiam dan Siok-likiam.

"Aha, bagus! jadi demi menolong diriku, maka Kokoh pura2 mau menikah dengan dia?"

Seru Nyo Ko girang.

Perlu dimaklumi bahwa meski Siao-liong-li tidak paham seluk beluk kehidupan manusia umumnya, namun terhadap orang yang dibencinya, cara turun tangannya sedikitpun tidak kenal ampun, seperti dahulu waktu dia menuntut balas bagi kematian Sun-popoh, pernah dia mengobrak-abrik Tiong-yang-kiong dan membikin kalang-kabut para imam Coan-cin-kau, malahan jiwa Kong-leng-cu Hek Tay-thong hampir melayang ditangannya, sekarang Kongsun Ci telah membikin dia merana dan tak dapat berkumpul dengan Nyo Ko, diam2 ia sudah bertekad akan melabrak orang meski harus korbankan jiwa sendiri.

Sebab itulah di dalam baju pengantinnya itu diam2 ia sembunyikan sepasang pedang, asalkan Nyo Ko telah diobati, segera ia mencari kesempatan untuk membunuh Kong-sun Ci, kalau gagal, maka iapun akan membunuh diri dan takkan mengorbankan kesuciannya di Cui-siang-kok ini.

Para hadirin juga heran dan kaget melihat kedua calon pengantin itu sama menyembunyikan senjata, hanya beberapa tokoh lihay seperti Kim-lun Hoat-ong saja sudah menduga pesta nikah ini pasti akan berakhir dengan keonaran.

Tapi melihat Kiu Jian-jio hanya tertumbuk oleh tubuh Kongsun Lik-oh saja lantas roboh, jauh tidak seimbang dengan Lwekang yang maha-tinggi yang diperlihatkannya tadi, mau-tak-mau semua orang mendjadi heran.

Nyo Ko lantas menerima Kun-cu-kiam dari tangan Siao-liong-li, katanya.

"Kokoh, marilah kita bunuh bangsat ini untuk membalas sakit hatiku."

"Membalas sakit hatimu?"

Siaoliong-li menegas sambil menggetar pedang Siok-li-kiam. Diam2 hati Nyo Ko berduka, tapi mengingat hal itu tak dapat dijelaskan kepada Siao-liong-li, terpaksa ia hanya menjawab.

"Ya, sudah tidak sedikit bangsat ini mencelakai orang baik2"

Habis berkata, Kun-cu-kiam bergerak, langsung ia menusuk iga kiri Kongsun Ci, ia tahu pertarungan sekarang pasti akan berlangsung sangat dahsyat dan berbahaya pula, ia sendiri mengidap racun, bila kedua orang memainkan "Giok-li-kiam-hoat"

Dan merangsang perasaan cinta, maka mereka akan kesakitan seketika.

Karena itu pandangannya lurus menatap musuh, yang dimainkan adalah "Coan-cin-kiam-hoat".

Kongsun Ci juga tahu betapa lihaynya ilmu pedang gabungan kedua muda-mudi itu, maka begitu gebrak segera ia lancarkan serangan Im-yang-to-hoat yang terbalik itu, pedang hitam bermain dengan gaya golok, sedangkan golok bergigi bermain dengan gaya pedang, setiap jurus serangannya lihay luar biasa, Namun ilmu pedang Coan-cin-pay yang dimainkan Nyo Ko itu adalah ciptaan Ong Tiong-yang, itu cakal bakal Coan-cin-pay, walaupun tidak seganas serangan musuh, namun gayanya indah dan perubahannya rumit, dia berjaga saja dengan rapat dan menyambut setiap serangan musuh dengan baik.

Sudah tentu Siao-liong-li juga tidak kurang lihaynya, ia membentak nyaring, Siok-Ii-kiam segera menusuk punggung Kongsun Ci.

Dongkol dan menyesal Kongsun Ci tak terperikan, nona secantik bidadari ini mestinya sudah menjadi isterinya kalau Nyo Ko tidak muncul, tapi sekarang justeru bergabung dengan anak muda ini untuk mengerubutnya.

BegituIah makin dipikir makin murka Kongsun Ci, namun serangannya tetap berjalan dengan ganas.

Di pihak lain SiaoIiong-li memainkan Giok li-kiam-hoat, maksudnya ingin mengadakan kontak batin dengan Nyo Ko agar daya ilmu pedang bisa dikeluarkan seluruhnya, siapa tahu anak muda itu selain menghindarkan adu pandang dengan dia juga cuma bertempur dengan caranya sendiri.

Siao-liong-li menjadi heran danbersero.

"Ko ji, mengapa kau tidak memandang padaku? Karena rangsangan perasaannya yang penuh kasih mesra itu, sinar pedangnya memanjang seketika dan serangannya tambah kuat. Sebaliknya demi mendengar nada si nona yang menggiurkan itu, hati Nyo Ko terguncang, dada kesakitan seketika, gerak pedangnya juga berubah lambat "

Bret " , tahu2 lengan bajunya tertabas robek oleh pedang hitam Kongsun Ci. Siao-Iiong-li terkejut, cepat ia melancarkan tiga kali serangan untuk mengalangi gempuran Kongsun Ci.

"Aku tak dapat memandang kau dan juga tak dapat mendengarkan perkataanmu "

Kata Nyo-Ko.

"Sebab apa?"

Tanya Siaoliong-li dengan lemah lembut. Kuatir terancam bahaya lagi, Nyo Ko sengaja menjawab dengan suara kasar.

"Jika kau ingin aku mati, maka bolehlah kau bicara dengan aku."

Karena timbul amarahnya, rasa sakitnya lantas berhenti seketika, semua serangan Kongsun Ci dapat ditangkisnya.

"Baiklah, aku tidak bicara lagi,"

Ujar Siao-liong-li dengan rasa menyesal Tapi mendadak pikirannya tergerak.

"Ah, aku sendiri sudah sembuh dari racun bunga cinta itu, apakah dia belum meminum obat penawarnya?"

Berpikir begitu, sungguh rasa terima kasih dan kasih sayangnya tak terbatas mendalamnya, perasaan mesra ini mendorong tenaga, seketika daya tempur Giok-li-kiam-boatnya bertambah hebat, setiap jurus serangannya segera melindungi seluruh tubuh Nyo Ko.

Dalam keadaan begitu, seharusnya Nyo Ko harus bergilir untuk menahan serangan musuh bagi Siao-liong-li, tapi lantaran dia tak berani melirik, jadinya Siao-liong-li tak terjaga sama sekali dan selalu menjadi ancaman musuh.

Betapa tajam pandangan Kongsun Ci, hanya beberapa gebrak sadja ia sudah dapat melihat peluang itu, namun dia tidak ingin mencelakai Siao liong-li sedikitpun, setiap serangannya selalu dilontarkan kepada Nyo Ko.

Walaupun begitu serangan yang dahsyat itu dapat juga dihadapi oleh pedang nan lawan yang kuat, dalam beberapa puluh jurus ternyata sedikitpun Kongsun Ci takdapat berbuat apa2.

Sementara itu Kongsun Lik-oh sudah siuman dan ikut menonton di sebelah ibunya, dilihatnya Siao-liong-li terus melindungi Nyo Ko melulu tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, diam2 ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Jika aku yang menjadi dia, dalam keadaan gawat antara hidup dan mati, apakah akupun sanggup mengorbankan diriku untuk membela dia?"

Ia menghela napas pelahan dan menjawab sendiri pula.

"Aku pasti akan berbuat sama seperti nona liong ini kepadanya, tapi dia yang tidak mungkin berbuat begitupula terhadap diriku."

Tengah mengelamun, tiba2 terdengar Kiu Jian-jiu berseru.

"Golok bukan golok, pedang bukan pedang!"

Sudah tentu Nyo Ko dan Siao-liong-li merasa bingung oleh seruan itu, mereka tidak paham apa maksudnya. Terdengar Kiu Jian jio berteriak pula.

"Golok adalah golok, pedang adalah pedang!"

Setelah bertempur dua kali melawan Kongsun Ci, memang sejak tadi Nyo Ko sudah memikirkan di mana letak keajaiban permainan golok Kongsun Ci itu, ia merasa anehnya serangan musuh, pedang hitam yang enteng digunakan membacok dan menabas dengan keras seperti golok, sebaliknya golok yang berat itu digunakan menusuk dan menyabet secara gesit Kalau saja golok dimainkan sebagai pedang dan pedang digunakan sebagai golok masih dapat dimengerti anehnya dalam sekejap permainannya bisa berubah lagi, dalam serangan pedang nya tampak gaya ilmu pedang dan serangan golok tetap bergaya ilmu golok, sungguh berubah tak menentu dan sukar diraba.

Kini mendadak mendengar seruan Kiu Jian--jio itu, cepat juga timbul ilham dalam benak Nyo Ko, diam2 ia membatin apakah maksud Kia Jian-jio itu hendak mengatakan bahwa gaya pedang dalam permainan golok dan gaya golok dalam permainan pedang Kongsun Ci itu cuma gaya kembangan belaka ?

jika begitu halnya, biarlah aku mencobanya ?

Begitulah ketika dilihatnya pedang hitam lawan membacok tiba pula seperti golok, maka Nyo Ko menganggapnya tetap sebagai pedang, segera ia menangkisnya dengan Kun-cu-kiam.

"trang" , kedua pedang beradu dan kedua orang sama tergetar mundur setindak. Nyata dugaan Nyo Ko tidak keliru, gaya serangan golok dari pedang hitam itu pada dasarnya tetap pedang, gerakan sebagai bacokan golok itu cuma gerakan kembangan belaka untuk membikin kabur pandangan lawan, kalau saja kepandaian pihak lawan kurang, tinggi dan tak dapat melayani dengan tepat, maka gerakan kembangan seperti golok itupun dapat mencelakai kakinya. Sekali coba lantas berhasil menjajaki ilmu silat lawan, Nyo Ko menjadi girang, segera ia perhatikan kelemahan musuh, ia pikir betapa anehnya serangan musuh, tapi lantaran gerakan kembangannya terlalu banyak, akhirnya pasti kacau dan kelihatan titik kelemahannya. Setelah bergebrak beberapa kali lagi.

"tiba2 terdengar Kiu Jian-jio berseru pula .

"Serang kaki kanannya, kaki kanannya"

Akan tetapi Nyo Ko merasa bagian kaki lawan sedikitpun tiada peluang untuk dapat diserang, apalagi golok musuh diputar sedemikian kencang, hakekatnya sukar ditembus.

Tapi lantas teringat olehnya bahwa ilmu silat Kongsun Ci itu adalah ajaran Kiu Jian-jio, meski kaki tangan nenek botak itu sudah cacat, namun ilmu silat yang dipahaminya sedikitpun tidak pernah terlupa, tentu nenek itu dapat melihat titik kelemahan Kongsun Ci.

Karena pikiran itu segera ia menurut dan menyerang kaki kanan musuh.

Cepat Kongsun Ci menangkis dengan goloknya kaki kanannya ternyata berjaga rapat Tapi lantaran harus menangkis, bahu kiri dan iga kiri lantas tak terjaga, peluang itu tidak di-sia2kan oleh Nyo Ko, tanpa menunggu petunjuk Kiu Jian-jio segera ia menyerang dan berhasil merobek baju bawah ketiak musuh.

Kongsun Ci mengomel gusar sambil melompat mundur, dengan mendelik ia membentak Kiu Jian-jio.

"perempuan hina, lihat nanti kalau aku tidak membinasakan kau!"

Habis itu segera ia menerjang Nyo Ko Iagi. Selagi Nyo Ko menangkis, terdengar Kiu Jian-jio berseru pula. Tendang punggungnya!"

Padahal waktu itu kedua orang sedang berhadapan muka, untuk menendang bagian punggung jelas tidak mungkin, namun sekarang Nyo Ko sudah rada menaruh kepercayaan kepada petunjuk Kiu Jian-jio, ia pikir ucapan nenek itu tentu mempunyai arti tertentu, maka tanpa banyak ulah segera ia menyusup ke belakang musuh.

Cepat Kongsun Ci memutar balik goloknya din menabas ke belakang.

Tapi Kiu Jian-jio sudah lantas berteriak lagi.

"Tusuk dahinya.!"

Nyo Ko menjadi heran, baru saja memutar ke belakang orang, masakah sekarang diharuskan menusuk dahi lawan di bagian muka, Namun keadaan sudah mendesak, tanpa pikir segera ia menyerobot ke depan musuh dan baru saja hendak menusuk tempat yang dianjurkan, se-konyong2 Kiu Jian-jio berseru pula.

"Tabas pantatnya!"

Lik-oh ikut berdebar menyaksikan pertarungan itu, diam2 iapun heran mengapa ibunya bergembar-gembor begitu, bukankah caranya itu berbalik hendak membantu ayahnya malah?

Dalam pada itu Be Kong co lantas berteriak "He, jangan kau tertipu nenek itu, adik Nyo, dia sengaja membikin lelah kau."

Namun Nyo Ko justeru percaya kepada seruan Kiu Jian-jio yang mempunyai tujuan jitu itu, begitu si nenek berseru suruh dia ke depan, segera ia menyerobot ke depan, bila disuruh memutar ke belakang cepat ia menyelinap ke belakang.

Benar saja, sesudah berputar beberapa kali cara begitu, akhirnya iga kanan Kongsun Ci tertampak kelemahan tanpa ayal pedang Nyo Ko terus menusuk "cret" , baju tertembus dan ujung pedang masuk kulit daging musuh beberapa senti dalamnya, seketika darah segar mengucur dari iga Kongsun Ci.

Semua orang sama berteriak heran dan berbangkit Kim-lun Hoat-ong dan Iain2 tahu persoalannya bahwa Kiu lian-jio sebenarnya bukan memberi petunjuk kepada Nyo Ko caranya memperoleh kemenangan, tapi mengajarkan dia mencari kesempatan menang dari keadaan yang tidak mungkin menang itu, bukan ditujukan titik kelemahan Kongsun Ci, tapi suruh Nyo Ko mendesak musuh yang sama sekali tiada kelemahan itu agar terpaksa memberi titik kelemahan, Hanya beberapa kali saja Kiu Jian-jio memberi petunjuk, karena Nyo Ko memang anak yang cerdik dan pintar, segera ia dapat menangkap di mana letak intisari ilmu silat yang bagus itu, dalam hati ia sangat kagum dan bersyukur akan petunjuk Kiu Jian-jio yang besar manfaatnya itu.

Cuma untuk bisa memaksa Kongsun Ci memperlihatkan titik kelemahannya selain lawannya harus lebih unggul ilmu silatnya dan harus pula paham akan setiap gerak serangan Kongsun Ci, dengan begini barulah dapat menapsirkan jurus serangan mana yang bakal dilontarkan musuh itu dan memancingnya menuju kearah yang keliru.

Untuk ini memang cuma Kiu Jian-jio saja yang sanggup, Nyo Ko sendiri hanya paham maksudnya tapi tidak mampu melakukannya sendiri tanpa petunjuk nenek itu.

Karena itulah dia turut setiap petunjuk Kiu Jian-jio dan melancarkan serangan berantai mengitari Kongsun Ci, setelah belasan jurus lagi, kembali kaki Kongsun Ci tertusuk oleh pedangnya.

Meski tidak parah, namun lukanya cukup panjang, diam2 Kongsun Ci sangat mendongkol ia pikir dalam waktu singkat jelas dirinya sukar mendapat kemenangan malahan kalau bertempur lebih lama bukan mustahil jiwanya sendiri yang akan melayang dibawah pedang bocah ini.

Dahulu, demi untuk menyelamatkan jiwa sendiri pernah juga dia membunuh Yu-ji yang dicintainya itu, sekarang keadaan sudah kepepet, maka iapun tidak memikirkan Siao-liong-li lagi, segera pedang hitam bergerak ke depan, tapi mendadak goloknya yang membacok ke bahu Siao-Iiong li.

Nyo Ko terkejut, cepat ia menangisnya.

"Tusuk pinggangnya."

Mendadak Kiu Jian-jio berseru pula.

Nyo Ko melengak, ia pikir Kokoh sedang terancam, mana boleh kudiamkan saja?

Tapi setiap petunjuk Kiu-locianpwo selalu mengandung arti yang dalam, bisa jadi cara ini adalah jurus penolong yang bagus, Karena itu pedangnya terus berputar ke bawah untuk menusuk pinggang musuh.

Pada saat itulah terdengar Siao-Iiong-ii menjerit kesakitan, lengannya telah terluka.

"trang" , Siok-li-kiam terjatuh pula. Menyusul itu Kongsun Ci sempat menangkis serangan Nyo Ko dengan pedangnya. Nyo Ko sangat kuatir akan luka Siao-Iiong-li itu, serunya.

"Kokoh, kau mundur saja, biar aku sediri melayani dia!" -Karena rangsangan perasaannya terhadap Siao-liong-Ii, tiba2 dadanya terasa sakit. Dalam keadaan tcrluka, terpaksa Siao-liong-li mundur kesamping untuk membalut lukanya dengan robekan baju. Nyo Ko terus bertempur dengan gagah berani, ia sangat mendongkol terhadap petunjuk Kiu Jian-jio yang keliru itu, pada suatu kesempatan ia melotot gusar terhadap nenek itu. Sudah tentu Kiu Jiau-jio paham maksud anak muda itu, ia menjengek.

"Hm, kenapa kau menyalahkan aku? Aku cuma membantu kau menggem-pur musuh, peduli apa dengan dia? Hmm, biarpun mampus juga aku tidak peduli nona itu!"

"Kalian suami-isteri benar2 suatu pasangan manusia yang keji dan kejam!"

Damperat Nyo Ko dengan gusar.

Makian Nyo Ko kini sungguh sangat tepat dan tajam, namun Kiu Jian-jio hanya mendengus saja dan tidak marah, ia tetap tenang2 saja mengikuti pertarungan kedua orang.

Sekilas Nyo Ko melihat Siao-liong-li sedang membalut lukanya, tampaknya tidak begitu parah, seketika serangannya berubah dengan bersemangat.

Dari Coan-cin-kiam-hoat ia ganti menyerang dengan Giok-li-kiam-hoat.

Kongsun Ci rada heran melihat serangan Nyo Ko sekarang hampir seluruhnya berbeda daripada tadi, kini tampak lebih gesit dan lincah dan lebih bergaya dibanding tadi yang kereng dan tenang.

ia menjadi curiga jangan2 Nyo Ko sengaja main gila untuk memancingnya Tapi setelah bergebrak lagi beberapa jurus, ternyata gaya tempur Nyo Ko sekarang serupa dengan Siao-liong-li tadi, segera rasa curiga Kongsun Ci lenyap, golok dan pedangnya lantas menyerang pula sekaligus.

Maka setelah belasan jurus, lambat laun Nyo Ko terdesak lagi di bawah angin dan berulang terdesak mundur.

Beberapa kali Kiu Jian-jio berseru memberi petunjuk lagi, namun Nyo Ko sudah telanjur khe-ki karena nenek itu sengaja membikin susah Siao-liong-li, maka petunjuknya itu tak digubrisnya lagi.

"Sret-sret" , mendadak ia melancarkan serangan empat kali ber-turut2, ketika Kongsun Ci menangkis secepatnya Nyo Ko menubruk maju.

"trang" , ia selentik golok lawan, seketika Kongsun Ci merasa lengannya kesemutan dan golok hampir terlepas dari pegangan, Pada saat itu juga mendadak Nyo Ko menubruk maju, jari kirinya menutuk bagian pusarnya. Nyo Ko kegirangan dan yakin musuh pasti akan roboh dan terluka parah, Tak terduga, sambil mendoyongkan tubuhnya, mendadak sebelah kaki Kongsun Ci menendang ke dagu Nyo Ko. Keruan kejut Nyo Ko tak terkatakan cepat ia melompat ke samping. Segera teringat olehnya bahwa Hiat-to di tubuh musuh memang sangat aneh, tadi Sia liong li juga pernah menghantam Hiat-ta orang dengan genta kecil yang terikat pada ujung selendangnya, jelas Hiat-to yang di arah itu kena dengan tepat, tapi Kongsun Ci tetap tidak roboh. Selagi Nyo Ko merasa bingung cara bagaimana untuk bisa mengalahkan musuh, sementara itu golok dan pedang Kongsun Ci sudah membura tiba pula, sedangkan Kiu Jian-jio lagi2 berseru.

"Golok dan pedangnya menyilang, pedangnya akan menyerang ke kiri dan goloknya menyerang kanan!"

Tanpa pikir Nyo Ko mengadakan penjagaan rapat seperti peringatan Kiu Jian-jio itu sehingga buyarlah setiap serangan Kongsun Ci..Bicara tentang Kanghu sejati sebenarnya Nyo Ko tak dapat melawan keuletan Kongsun Ci, hanya berkat petunjuk Kiu Jian-jio saja dapatlah Nyo Ko mematahkan setiap serangan Kongsun Ci yang lihay itu.

Sementara itu kedua orang sudah bertempur sampai beberapa ratus jurus, para penonton sama berdebar dan sukar menduga siapa di antaranya yang bakal menang dan kalah, Kongsun Ci dan Nyo Ko tampaknya sama payahnya, napas Kongsun Ci kelihatan mulai terengah, sedangkan Nyo Ko juga sudah mandi keringat, gerak-gerik mereka tidak segesit dan secepat tadi.

Lik-oh pikir kalau pertempuran itu berlangsung lagi, akhirnya satu diantara dua pasti celaka.

Dia tidak mengharapkan Nyo Ko kalah, tapi iapun tidak tega menyaksikan ayah sendiri celaka, Maka dengan suara pelahan ia memohon kepada Kiu Jian-jio.

"lbu, sebaiknya engkau suruh mereka berhenti saja, biarlah kita bicara baik2 saja untuk menentukan yang salah dan benar."

Kiu Jian-jio hanya mendengus saja tanpa menjawab. Sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Coba ambilkan dua mangkok teh,"

Dengan pikiran kacau Lik-oh pergi menuangkan dua mangkok teh dan dibawa ke depan sang ibu, Segera Kiu Jian-jio menanggalkan kain pembalut lukanya yang berlepotan darah itu.

seperti diketahui Siao liong-li yang merobek baju sendiri untuk membalutkan lukanya itu, sekarang kain pembalut dilepaskan, darah lantas merembes keluar lagi dari kepalanya.

"Bu!"

Lik-oh berseru kuatir.

"Jangan bersuara,"

Kata Kiu Jian-jio, lalu ia memeras beberapa tetes darah dari kain pembalut itu ke dalam mangkuk Waktu melihat Lik-oh merasa heran dan curiga, segera ia memeras sedikit darah lagi ke mangkuk yang lain.

ia guncang sedikit mangkuk itu sehingga tetesan darah itu lantas terbaur dalam air teh, dalam sekejap saja tiada kelihatan apa-apa lagi.

Habis itu Kiu Jian-jio menempelkan lagi kain pembalut pada lukanya, segera ia berseru.

"Tentu mereka sudah lelah bertempur biarkan masing2 minum semangkuk teh dulu."

Lalu ia berkata kepada Lik-oh.

"Antarkan teh ini kepada mereka, seorang semangkuk!"

Lik-oh tahu betapa benci dan dendam sang ibu terhadap ayah, kalau bisa sang-ayah hendak membinasakan seketika, maka ketika melihat ibunya meneteskan darah ke dalam mangkuk meski tidak paham apa maksudnya, tapi ia pikir perbuatan ini tentu tidak menguntungkan ayahnya, tapi kemudian dilihatnya kedua mangkuk teh itu sama2 diberi tetesan darah, maka rasa curiganya menjadi lenyap, segera ia membawa kedua mangkuk teh itu ke tengah ruangan dan berseru.

"Ayah, Nyo-toako, sjlakan kalian minum teh dahulu!"

Memangnya Kongsun Ci dan Nyo Ko lagi kehausan, mendengar seruan itu, serentak mereka berhenti bertempur dan melompat mundur, lebih dulu Lik-oh menyodorkan semangkuk teh kepada ayahnya.

Kongsun Ci merasa sangsi, ia pikir teh ini diantarkan kepadanya atas suruhan Kiu Jian -jio di dalam hal ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, bukan mustahil diberi racun, karena itu ia tidak mau menerima teh itu, tapi katanya kepada Nyo Ko.

"Kau minum dulu."

Sedikitpun Nyo Ko tidak gentar dan sangsi,ia terima mangkuk itu terus hendak diminumnya, mendadak Kongsun Ci berkata pula "Baiklah, biar kuminum semangkuk itu!" -Segera pula ia ambil mangkuk yang dipegang Nyo Ko itu.

Nyo Ko tahu apa artinya itu, dengan tertawa ia berkata.

"Anak perempuanmu sendiri yang menuangkan teh ini, masakah dia menaruh racun?"

Habis berkata ia terus terima mangkuk teh yang lain dan ditenggak hingga habis.

Kongsun Ci melihat air muka Lik-oh tenang2 saja tanpa mengunjuk sesuatu perasaan kuatir Nyo Ko akan keracunan, maka percayalah dia bahwa teh itu tidak berbahaya.

Segera iapun minum habis isi mangkuk itu.

"Creng", ia membentrok kedua senjatanya dan berkata.

"Nah, tak perlu mengaso lagi, marilah kita mulai bertempur pula, Hm, kalau saja perempuan hina itu tidak memberi petunjuk pada-mu, biarpun kau mempunyai jiwa serep juga sudah melayang sejak tadi."

Pada saat itulah mendadak Kiu Jian-jio menanggapi deagan suara dingin.

"Sekarang ilmu kebalnya sudah pecah, boleh kau incar saja Hiat-tonya."

Kongsun Ci melengak, segera ia merasakan ujung lidahnya ada rasa amisnya darah, sungguh kejutnya tak terkatakan.

Kiranya ilmu kebal tutukan Hiat-to yang dilatihnya itu pantang makan minum barang berjiwa, untuk menjaga segala kemungkinan, maka ia melarang setiap anak buahnya di Cui-sian-kok untuk makan daging dan barang apa saja yang berbau darah.

Meski orang lain tidak melatih ilmu kebal itu, tapi terpaksa mesti ikut tersiksa.

Walaupun Kongsun Ci sudah berjaga dan hati2 sama sekali tak terduga olehnya bahwa Kiu Jianjio akan menaruh darah dalam teh yang diminumnya itu.

Bagi Nyo Ko tentu tidak menjadi soal tapi bagi Kongsun Ci, teh campur tetesan darah itu seketika membuat ilmu kebalnya itu hancur...

Saking murkanya ia berpaling dan melihat Kiu Jian-jio sedang komat kamit asyik makan kurma, tangan yang satu menggengam kurma, tangan yang lain melangsir buah kurma itu ke mulut dan dimakan dengan nikmatnya.

"Ilmu itu adalah pemberianku dan sekarang aku yang memusnahkannya, kan tidak perlu heran dan kaget toh?"

Kata Kiu Jian-jiu dengan tersenyum.

Kedua mata Kongsun Ci merah berapi, ia angkat kedua senjatanya terus menerjang ke arak Kiu Jian-jio.

Lik-oh terkejut, cepat ia memburu maju hendak melindungi sang ibu.

Tapi mendadak terdengar angin keras menyamber di sebelah telinga, menyusul terdengar Kongsun Ci menjerit keras2, senjatanya terlepas dari tangan, sambil menutupi mata kanannya terus berlari keluar, terdengar suara jerit tangisnya yang mengaung ngeri dan makin menjauh, akhirnya lenyap di tengah pegunungan.

Para hadirin saling pandang dengan bingung karena tidak tahu dengan cara bagaimana Kiu Jian-Jiu melukai Kongsun Ci, Hanya Nyo Ko dan Lik-oh saja yang tahu duduknya perkara, jelas Kiu Jian-Jio menggunakan biji kurma yang disemprotkan dari mulutnya itu, untuk membutakan mata bekas suaminya itu, Waktu Nyo Ko bertempur dengan Kongsun Ci, diam2 Kiu Jian-jio sudah mengumpulkan beberapa biji kurma di dalam mulutnya, cuma waktu itu dia tidak berani sembarangan bertindak, ia lihat ilmu silat Kongsun Ci sudah jauh lebih maju, ia kuatir kalau sekali serang tidak kena maka akan membikin runyamnya urusan dan selanjutnya pasti sukar lagi hendak melukai Kongsun Ci.

Sebab itulah lebih dulu Kiu Jian-jio memunahkan ilmu kebal Tiam-hiat yang dilatih Kongsun Ci itu dengan teh berdarah, lalu pada saat Kongsud Ci menjadi murka, mendadak iapun menyerangnya dengan semburan biji kurma yang merupakan satunya senjata yang dilatihnya selama belasan tahun ini, baik kekuatannya maupun kejituannya tidak kalah daripada senjata rahasia manapun juga.

Kalau saja tadi Lik-oh tidak memburu maju mendadak dan mengalang di depan, bukan mustahil kedua mata Kongsun Ci sudah buta semua, bahkan kalau dahinya yang kena biji kurma, tentu jiwanya juga melayang seketika.

Melihat ayahnya mendadak lari pergi, Lik-oh merasa tidak tega, ia terkesima dan berseru.

"Ayah, ayah!"

Segera ia bermaksud berlari keluar untuk melihat kepergian sang ayah, tapi Kiu Jian-jio lantas menghardiknya dengan suara bengis.

"Jika kau ingin ayah, bolehlah kau pergi bersama dia dan jangan menemui aku lagi selamanya."

Lik-oh menjadi serba salah, tapi mengingat persoalan ini memang terpangkal pada kesalahan sang ayah, sedangkan siksa derita sang ibu jauh melebihi ayah, pula ayahnya sudah pergi jauh, untuk menyusulnya juga tidak dapat Iagi.

terpaksa ia melangkah kembali dan menuuduk dengan diam.

Dengan angkuhnya Kiu Jian-jio duduk di kursinya, dipandangnya sini dan diliriknya sana, lalu mengejeknya.

"Hm, bagus! Kalian datang untuk pesta pora bukan? Tapi pestanya buyar tanpa jamuan, kalian tentu kecewa, bukan?"

Semua orang sama ngeri tersapu oleh sorot matanya yang tajam itu, semuanya kuatir kalau mendadak nenek itu menyemburkan senjata rahasianya yang aneh dan jiwa bisa melayang seketika.

Hanya Kim-lun Hoat-ong, In Kik-si dan Siau-siang-cu saja yang sama siap siaga.

Bahwa akhirnya Kongsun Ci mengalami nasib begitu, hal inipun tak terduga oleh Siao-liong-li dan Nyo Ko, mereka sama menghela napas panjang, lalu saling genggam tangan dengan kencang.

walaupun begitu Siao-liong-Ii tidak lupa kepada budi pertolongan jiwa Kongsun Ci, kini penolong itu terluka parah dan telah kabur, mau-tak-mau iapun rada menyesal, segera ia mengedipi Nyo Ko, kedua orang lantas melangkah pergi.

Tapi baru sampai di ambang pintu, mendadak Kiu Jian-jio membentaknya "Nyo Ko hendak ke mana?"

Nyo Ko memutar balik dan memberi hormat, katanya.

"Kiu-locianpwe, nona Lik-oh, sekarang juga kami mohon diri." -ia tahu umur sendiri takkan lama lagi, maka iapun tidak mengucapkan "sampai berjumpa"

Segala.

Likoh membalas hormat anak muda itu tanpa berkata.

sedangkan Kiu Jian-jio lantas menghardik pula dengan gusar "Sudah kujodohkan puteriku satunya ini padamu, mengapa kau tidak sebut aku sebagai ibu mertua, bahkan sekarang mau pergi begitu saja?"

Nyo Ko melengak bingung, ia merasa tidak pernah menyatakan mau terima si nona meski nenek itu memaksa untuk menjodohkan Lik-oh padanya. Segera Kiu Jian-jio berkata pula.

"Ruangan upacara di sini sudah tersedia, segala sesuatu juga sudah disiapkan, tamu undanganpun sudah hadir sekian banyak, kaum persilatan kita juga tidak perlu banyak adat, sekarang juga kalian berdua boleh menikah saja."

Padahal demi Siao-liong-li, Nyo Ko telah menempur mati2an dengan Kongsun Ci, ini telah disaksikan sendiri oleh Kim-Iun Hoat-ong dan lain2.

Kini Kiu Jian-jio memaksa Nyo Ko menjadi mantunya, mereka tahu sebentar pasti akan terjadi keonaran lagi.

Mereka saling pandang dengan tersenyum dan ada pula yang geleng2 kepala.

Dengan sebuah tangan merangkul bahu Siao-liong-li dan tangan lain memegangi tangkai Kun-cu-kiam, berkatalah Nyo Ko.

"Maksud baik Kiu-locianpwe kuterima dengan terima kasih, namun hati wanpwe sudah terisi, sesungguhnya aku tidak jodoh dengan puterimu."

Sembari bicara iapun melangkah mundur pelahan, ia tahu watak Kiu Jian-jio sangat aneh, bukan mustahil nenek itu mendadak menyemprotkan biji kurma, maka ia sudah siapkan pedangnya untuk menangkis.

Kiu Jian-jio melotot gusar sekejap ke arah Siao-liong-Ii, lalu berkata pula.

"Hm, rase cilik ini memang amat cantik, pantas yang tua bangka ter-gila2, yang muda juga kesemsem padanya."

Cepat Lik-oh menyela.

"Bu, sudah lama Nyo-toako dan nona Liong ini terikat oleh janji pernikahan, persoalan mereka biarlah nanti kuceritakan padamu."

Tapi Kiu Jian-jio lantas mendamperatnya.

"Cis, memangnya kau anggap ibumu ini siapa? Apa yang sudah kukatakan masakah boleh diubah? Nah, orang she Nyo, mau-tak-mau kau harus tinggal di sini, jangankan anak perempuanku cukup cantik dan cocok bagimu, sekalipun dia bermuka jelek juga hari ini kau mesti memper isteri kan dia."

Mendengar ucapan si nenek botak yang tidak se-mena2 itu, Be Kong-co ter-bahak2 dan berseru.

"Haha, suami-isteri yang tinggal di sini ini benar2 suatu pasangan manusia ajaib, yang laki memaksa perawan orang untuk menjadi isterinya, yang perempuan juga memaksa pemuda untuk mengawini puteri-nya. Hahaha, sungguh lucu! Eh, kalau orang menolak boleh tidak?"

"Tidak boleh!"

Jengek Kiu Jian-jio mendadak.

Dan selagi Be Kong-co bergelak tertawa pula dengan mulut terbuka, se-konyong2 terdengar suara mendesisnya suatu benda kecil, satu biji kurma telah menyamber ke dahinya secepat kilat dan tampaknya sukar dihindarkan.

Saking kagetnya cepat Be Kong-co menjongkok.

"plok" , dua buah gigi depannya rompal seketika terkena biji kurma itu, Keruan Be Kong-co menjadi murka, ia mengerang dan menubruk maju.

"Awas, Be-heng!"

Cepat In Kik-si memperingat kan. Namun sudah terlambat.

"plak -plok" , tahu2 dua tempat Hiat-to pada kedua kaki Be Kong-co tepat terbidik oleh biji kurma yang disemprotkan Kiu Jian-jio, kontan kakinya lemas dan jatuh ter-sungkur tak dapat bangun. Menyambernya biji2 kurma itu sungguh cepat luar biasa, Waktu Be Kong-co bergelak tertawa tadi Nyo Ko sudah memperkirakan Kiu Jian-jio pasti akan menghajar si dogol, segera ia melolos pedang hendak menolongnya, tapi tetap terlambat sedikit cepat ia membuka Hiat-to kaki Be Kong-co yang terbidik biji kurma itu dan membangunkannya. Orang dogol biasanya berhati jujur, begitu pula Be Kong-co, dia berani mengaku kalah, apalagi melihat Kiu Jian-jio tanpa bergerak, hanya pentang mulut saja lantas dapat merobobkaanya, hatinya menjadi sangat kagum, sambil mengacungkan ibu jari ia memuji.

"Kau sungguh hebat, nenek botak, kepandaianmu jauh lebih tinggi daripadaku aku mengaku kalah dan tak berani lagi padamu,"

Kiu Jian-jio tidak menggubrisnya, ia mendelik pada Nyo Ko dan bertanya.

"Jadi kau tetap tidak mau menikahi puteriku?"

Merasa dibikin malu di depan orang banyak, Kongsun Lik-oh tidak tahan lagi, ia melolos belati dan mengancam dada sendiri sambil berteriak.

"Ibu, jika engkau tanya dia lagi, segera anak membunuh diri di depanmu!"

Mendadak Kiu Jiati-jio pentang mulutnya "berrr" , satu biji kurma terus menyamber ke sana dan tepat menghantam belati yang di pegang Lik-oh itu, begitu hebat tenaganya sehingga belati itu mencelat dan menancap pada tiang batu.

Semua orang sama berseru kaget dan kagum betapa lihaynya senjata rahasia si nenek.

Nyo Ko pikir tiada gunanya tinggal lebih lama di situ, segera ia gandeng Siao-liong-li dan diajaknya berangkat Dengan perasaan pedih cepat Lik-oh mendekati Nyo Ko dan menyodorkan baju robek yang dipinjamnya dari Nyo Ko tempo tari, katanya dengan sedih "Nyo toako inilah bajumu!"

"Oh, terima kasih,"

Jawab Nyo Ko dan menerima kembali baju itu, ia dan Siau-liong-li cukup memahami maksud Lik-oh, yaitu sengaja mengaling di depan Nyo Ko agar Kiu Jian-jio tidak dapat menyerangnya dengan biji kurma.

Dengan tersenyum simpul Siao-liong-li juga menyatakan terima kasihnya dengan mengangguk pelahan.

Lik-oh memberi isyarat pula dengan mulutnya agar kedua orang itu lekas pergi saja.

Akan tetapi mendadak Kiu Jian-jio berteriak pula.

"Nyo Ko, kau tidak mau menikati puteriku, apakah jiwamu juga kau tidak mau lagi?"

Nyo Ko tersenyum pedih dan melangkah mundur keluar pintu, Tiba2 Siao-liong-li merandek, hatinya terkesiap, katanya.

"Nanti dulu!"

Lalu ia bertanya dengan suara lantang.

"Kiu-iocianpwe, apakah engkau mempunyai obat penawar racun bunga cinta?"

Sebenarnya hal ini sudah terpikir oleh Lik-oh, ia menduga sang ibu pasti akan menggunakan obat penawar sebagai alat pemeras kepada Nyo Ko agar anak muda itu mau menikahinya, sebab itulah sejak tadi ia tak berani memohonkan obat itu bagi Nyo Ko, betapapun ia adalah gadis suci bersih, dengan sendirinya tidak pantas membela Nyo Ko di depan umum tapi sekarang urusan sudah gawat, ia tidak dapat memikirkan hal2 itu lagi, segera ia berkata kepada sang ibu.

"Kalau saja Nyo-toako tidak memberi bantuan, tentu saat ini ibu masih terkurung di gua bawah tanah itu, utang budi harus membalasnya dengan budi, haraplah ibu suka berusaha menyembuhkan racun yang diidap oleh Nyo-toako itu,"

"Hm, utang budi balas budi, utang jiwa balas jiwa? Masakah di dunia ini dapat membedakan budi dan dendam sejelas itu?"

Jengek Kiu Jian-jio.

"Coba katakan, apakah Kongsun Ci memperlakukan diriku secara begitu keji juga termasuk balas budinya padaku?"

Mendadak Likoh berteriak.

"Anak paling benci terhadap lelaki yang tidak beriman. Kalau orang she Nyo ini juga sengaja meninggalkan kekasih lama dan ingin menikahi anak, biarpun mati juga anak tidak sudi menjadi isterinya."

Sebenarnya ucapan Lik-oh ini sangat cocok dengan jalan pikiran Kiu Jian-jio, tapi segera iapun tahu maksud tujuan Lik-oh, nona itu teramat cinta kepada Nyo Ko, kalau anak muda itu mau menikahinya tentu saja ia bersedia pula, cuma terpaksa oleh keadaan sekarang, yang diharapkan adalah menolong dulu jiwa Nyo Ko.

Kim-Iun Hoat-ong, In Kik-si dan lain-Iain saling pandang dengan tersenyum menyaksikan adegan "kawin paksa"

Yang menarik ini.

Sampai sekarang baru Kim1um Hoat-ong mengetahui Nyo Ko mengidap racun, diam2 ia bergirang dan berharap anak muda itu tetap kepala batu, dengan begitu orang yang berwatak seperti Kiu Jian-jio itu juga pasti takkan memberi obat penawarnya apabila tiada mendapatkan imbalan yang sesuai dengan kehendaknya.

Begitulah sorot mata Kiu Jian-jio mengusap pelahan muka seriap orang secara bergilir, kemudian ia berkata Nyo Ko, kulihat orang yang hadir ini ada yang menginginkan kematianmu, ada juga yang berharap kau akan hidup terus, Nah.

kau sendiri ingin mati atau ingin hidup, hendaklah kau memikirkan dengan baik!"

Sambil merangkul pinggang Siao-Iiong-li, dengan lantang Nyo Ko menjawab.

"Kalau dia tidak menjadi milikku dan aku tidak dapat memiliki dia, kami berdua lebih suka mati bersama saja."

"Benar!"

Tukas Siao-liong-li, dengan tertawa manis, Keduanya sudah ada perpaduan batin, cinta mereka sudah sedemikian mendalam, mati-hidup bagi mereka sudah bukan soal lagi.

Tapi Kiu Jian-jio tetap sukar memahami isi hati Siao-liong li, ia membentak.

"Jika bocah itu tidak kutoIong, maka jiwanya pasti akan melayang, kau tahu tidak hal ini? Dia cuma dapat hidup 36 hari lagi, kau mengerti tidak?"

"Kalau kau sudi menolongnya dan kami dapat berkumpul lebih lama beberapa tahun lagi untuk itu sudah tentu kami sangat berterima kasih,"

Kata Siao-1iong-1i.

"Jika kau tidak mau menolongnya maka biarlah kami berkumpul lagi selama 36 hari juga boleh. Toh kalau dia mati aku sendiripun tidak bakal hidup terus,"

Waktu bicara, wajahnya yang cantik molek itu sama sekali tidak memberi sesuatu perasaan kuatir dan sedih, soal mati dan hidup itu dianggapnya seperti sepele saja.

Tentu Kiu Jian-jio merasa bingung, sebentar ia pandang Nyo Ko, lain saat ia pandang Siao liong-li pula, dilihatnya kedua muda-mudi itu saling menatap dengan penuh kasih sayang, rasa cinta murni begini selamanya belum pernah terasakan oleh Kiu Jian-jio sendiri, bahkan juga tidak pernah terpikir olehnya ternyata di dunia ini toh ada lelaki dan perempuan yang begitu mendalam cintanya.

Tanpa terasa ia teringat nasibnya sendiri yang bersuamikan Kongsun Ci, akhirnya ternyata begini jadinya.

Mendadak ia menghela napas panjang dan air matanya bercucuran.

Segera Lik-oh menubruk maju dan merangkul sang ibu, katanya dengan menangis.

"O, ibu, obatilah dia. Nanti kita pergi mencari Jiku saja, beliau sangat rindu padamu bukan?"

Karena air matanya itu terangsang pula perasaan halusnya sebagai wanita segera Kiu Jian-Jio ingat kepada kedua kakaknya, kakak pertama menurut surat kakak kedua yang di bacakan Kongsun Ci itu katanya sudah tewas di tangan Kwe Cing dan Ui Yong, sedangkan dirinya sendiri lumpuh dan kakak kedua sekarang sudah menjadi Hwesio, itu berarti sakit hati kematian kakak pertama itu sukar dibalas lagi.

Tiba2 teringat oleh Kiu Jian-jio bahwa ilmu silat bocah she Nyo ini tidak lemah, kalau dia berkeras tidak mau menikahi Lik-oh, boleh juga kusuruh dia membalaskan sakit hatiku kepada Kwe Cing dan Ui Yong sebagai imbalannya?

Setelah ambil keputusan demikian, pelahan ia lantas mengeluarkan sisa satunya Coat-ceng-tan yang masih ada itu, ia potong pil persegi sebesar gundu itu menjadi dua dengan kukunya ia ambil setengah potong obat itu dan ditaruh pada telapak tangannya tahi berkata.

"Nah, Nyo Ko, obat akan kuberikan padamu, kau tidak sudi menjadi menantuku juga tak apalah, tapi kau harus berjanji untuk melakukan sesuatu urusan bagiku."

Nyo Ko saling pandang sekejap dengan Siao-Iiong-li, sama sekali tak terduga bahwa nenek botak itu mendadak bisa berhati baik kepada mereka, walaupun kedua orang tidak memikirkan soal mati dan hidup lagi, tapi kalau ada jalan untuk tetap hidup, sudah tentu hal ini sangat menggembirakan.

Segera ia bertanya.

"Urusan apa yang perlu kulakukan bagi Kiu locianpwe, kalau mampu tentu akan kami kerjakan sepenuh tenaga"

"Aku ingin kau menanggalkan kepala dua orang dan diserahkan padaku di sini,"

Jawab Kiu Jian-jio.

Mendengar itu, seketika Nyo Ko dan Siao-jiong-li sama berpikir bahwa satu di antara kedua orang yang ingin dibunuhnya itu pasti Kongsun Ci adanya.

Sudah tentu Nyo Ko tidak mempunyai kesan baik terhadap Kongsun Ci, setelah buta sebelah mata dan punah pula ilmu kebal Tiam-hiatnya, dalam waktu singkat keadaan Kongsun Ci tentu sangat payah, untuk mencari dan membunuhnya rasanya tidak sukar.

Tapi mengingat dia ayah Lik-oh sedangkan nona itu sangat kesemsem pada dirinya, rasanya menjadi tidak enak kalau ayahnya harus dibunuh.

Dalam hati Siao-liong-li juga merasa utang budi kepada Kongsun Ci meski orang itu memang jahat dan pantas dibinasakan Tapi melihat sikap Kiu Jian-jio yang ketus itu, kalau permintaannya tidak dilaksanakan betapapun obat yang dimilikinya itu pasti takkan diberikan kepada Nyo Ko, tampaknya urusan ini harus di sanggupi lebih dulu.

Melihat kedua orang itu mengunjuk rasa ragu, Kiu Jian-jio lantas menjengek.

"Akupun tidak tahu antara kalian dengan kedua orang itu apakah ada hubungan baik atau tidak, yang pasti aku harus membunuh kedua orang itu."

Sembari bicara, tangannya memainkan setengah potong pil Coat-ceng-tan itu dengan -di-lempar2kan ke atas secara padahal Nyo Ko merasa nada ucapan Kiu Jian-Jio itu seperti bakau Kongsua Ci yang dimaksud segera iapun bertanya.

"Siapakah musuh2 Kiu-locianpwe itu?"

"Masakah kau tidak mendengar isi surat yang dibaca tadi?"

Jawab Kiu Jian-jiu.

"Yang membunuh Toakoku kan bernama Kwe Cing dan Ui Yong"

"Aha, bagus sekali, sangat kebetulan!"

Seru Nyo Ko kegirangan "Kedua orang itu adalah pembunuh ayahku, seumpama tiada permintaanmu juga Wanpwe akan menuntut balas kepada kedua orang itu."

Hati Kiu Jian-jio terkesiap.

"Apa betul katamu?"

Ia menegas.

"Taysu ini juga pernah bersengketa dengan kedua orang itu, urusanku juga pernah kuceritakan padanya,"

Kata Nyo Ko sambil menuding Kim-lun Hoat-ong. Kiu Jian-jio memandang kearah Hoat-ong sebagai tanda tanya.

"Ya, memang betul. Jawab Hoat-ong sambil mengangguk.

"Tapi saudara Nyo ini waktu itu jelas membantu Kwe Cing dan Ui Yong serta memusuhiku."

Siao-liong-li dan Kongsun Lik-oh menjadi gemas karena Hwesio ini senantiasa berusaha mengadu domba, berbareng mereka melototinya.

Namun Kim-lun Hoat-ong anggap tidak tahu saja, dengan tersenyum ia tanya Nyo Ko.

"Saudara Nyo, coba katakan, betul tidak ucapanku tadi?"

"Benar,"

Jawab Nyo Ko dengan tertawa.

"Sesudah kubalas sakit hati ayah-bundaku, kelak aku masih harus minta petunjuk beberapa jurus lagi kepada Taysu."

"Baik, baik!"

Ujat Hoat-ong sambil merangkap kedua tangannya didepan dada.

Kalau kedua orang itu sedang adu mulut, Kiu Jian-jio sendiri sedang merenungkan persoalannya sendiri, tiba2 ia menyodorkan obat yang di pegangnya dan berkata kepada Nyo Ko.

"Aku tidak urus apakah ucapanmu benar atau tidak, bolehlah kau makan obat ini."

Nyo Ko mendekatinya dan menerima obat itu, ia menerima obat itu cuma setengah potong saja, diam2 iapun paham maksud si nenek, katanya dengan tertawa.

"Jadi setengah potong obat lagi harus kutukar dengan kepala kedua orang itu."

"Benar, kau memang pintar,"

Jawab Kiu Jian-jio mengangguk. Nyo Ko pikir minum saja setengah potong obat ini dari pada sama sekali tidak ada, Maka ia terus memasukkan obat itu ke mulut dan di telannya kedalam perut.

"Di dunia ini Coat-ceng-tan ini cuma sisa satu biji saja, sekarang setengahnya sudah kau minum, masih ada separoh akan kusimpan pada suatu tempat, 18 hari lagi akan kuberikan obat itu jika kau membawa kepala kedua orang yang kuminta itu,"

Kata Kiu Jian-jio kemudian "

Jika kau tidak melaksanakan perintahku itu, biarpun nanti kau dapat menawan aku serta menyiksa ku dengan cara apapun juga, maka jangan kau harap akan mendapatkan separoh pil itu.

Nah, cukup sampai di sini saja, selamanya aku bicara dengan tegas, para tamu silahkan pulang, Nyo-toaya dan nona Liong, kita berjumpa 18 hari lagi.

Habis bicara fa terus memejamkan mata tanpa menggubris orang lain jelas sikapnya itu adalah mengusir tetamu.

"Mengapa memberi batas waktu 18 hari" ? tanya Siao-Iiong-Ii. Sambil memejamkan mata Kiu Jian-jio menjawab.

"Racun bunga cinta yang mengeram dalam tubuhnya itu mestinya baru akan bekerja 36 hari lagi. Tapi sekarang dia telah makan separoh pil Coat-ceng-tan sehingga kadar racun dalam tubuhnya mengumpul menjadi satu, masa kerjanya menjadi tambah cepat sekali lipat. Maka 18 hari lagi kalau dia makan sisa obat ini seketika racun dalam tubuh nya akan punah, kalau tidak..."

Sampai di sini ia tidak meneruskan lagi melainkan memberi tanda agar semua orang lekas pergi.

Nyo Ko dan SiaoIiong-li tahu orang ini sukar diajak bicara dengan baik2, segera mereka melangkah pergi, setiba di mulut lembah dan menemukan kudanya yang di tinggalkan oleh Nyo Ko ketika datang itu, sekali Nyo Ko bersuit, segera kuda itu berlari keluar dari hutan sana..

Meski Nyo Ko hanya tiga hari saja berada di Cui-sian-kok itu, namun selama tiga hari itu telah banyak mengalami bahaya dan beberapa kali hampir melayang jiwanya, kini dapat meninggalkan tempat berbahaya ini dengan buah hatinya, sungguh ia merasa seperti hidup di dunia lain.

Sementara itu fajar sudah menyingsing, berdiri di tempat tinggi memandangi perkampungan yang penuh dikeliligi pepohonan yang rindang itu di bawah sinar sang surya pagi, pemandangan yang menghijau permai itu sungguh sangat menarik.

Nyo Ko menggandeng Siao-liong-li ke bawah pohon yang rindang, katanya-"Kokoh "

"Kukira kau jangan memanggil Kokoh lagi padaku,"

Ujar Siao-liong-li sambil menggelendot di tubuh anak muda itu.

Dalam hati Nyo Ko memang sudah lama tidak menganggap Siao-liong-li sebagai guru lagi, dia masih memanggil "Kokoh" (bibi) padanya adalah karena kebiasaan.

Maka senang sekali dia mendengar ucapan si nona tadi, ia berpaling dan menatap bola mata Siao-liong-li yang hitam itu, lalu bertanya.

"Habis aku mesti panggil apa padamu?"

"Kau suka memanggii apa boleh terserah padamu?"

Kata Siao-Iiong-Ii. Nyo Ko termenung sejenak. lalu berkata pula.

"Saat2 yang paling menyenangkan selama hidupku adalah pada waktu kita tinggal bersama di kuburan kuno itu. Tatkala itu kupanggil engkau Kokoh, sampai matipun biarlah tetap ku panggil kau Kokoh,"

"Eh, kau masih ingat tidak ketika kupukul pantatmu, apakah waktu itu kaupun sangat senang?"

Ujar Siao-liong-li dengan tertawa.

Mendadak Nyo Ko merangkul Siao-liong-li ke dalam pelukannya terasa bau harum lembut dari tubuh si nona berbaur dengan hawa segar tetumbuhan pegunungan sungguh membikin orang mabuk dan syur serta sukar mengendalikan diri.

Dengan pelahan Nyo Ko berkata "Kalau kita berada bersama seperti ini selama 18 hari, kukira kita akan mati bahagia dan tidak perlu membunuh Kwe Cing dan Ui Yong segala, daripada susah2 pergi ke sana dan bertempur mati?an, lebih baik kita hidup aman tenteram untuk menikmati kebahagiaan selama 18 hari ini."

"Terserah bagaimana kehendakmu!"

Ujar Siao liong-li.

"Dahulu aku selalu menyuruh kau tunduk pada perintahku, sejak kini aku cuma menuruti perkataanmu."

Biasanya Siao-liong-li sangat dingin, sekarang perasaannya penuh kasih mesra, mata alisnya hingga badannya serta tangan dan kaki pun terasa hangatnya cinta kasih, ia merasa bahagia apabila menuruti perkataan Nyo Ko dengan segenap jiwa raganya.

Nyo Ko termangu memandangi Siao liong-li agak lama barulah ia berkata dengan pelahan.

"Mengapa matamu menggenang air?"

Siao-liong-Ii pegang sebelah tangan anak muda itu dan ditempelkan pelahan pada pipi sendiri, jawabnya kemudian dengan suara lambat.

"Aku.... aku sendiri tidak tahu"

Selang sejenak ia menyambung pula.

"Tentunya disebabkan aku teramat suka padamu."

"Kutahu kau sedang berduka bagi sesuatu persoalan,"

Ujar Nyo Ko. Mendadak Siao-liongIi mengangkat kepalanya dan air matapun bercucuran ia mendekap dalam pelukan Nyo Ko, katanya dengan tersedu-sedan.

"Ko-ji. Ko-ji, kau... kita hanya ada waktu 18 hari, mana bisa cukup."

Nyo Ko mengusap bahu si nona dan berkata.

"Ya, akupun bilang tidak cukup."

"Kuingin kau senantiasa perlakukan aku begini, selamanya, seratus tahun, seribu tahun,"

Kata Siao-liong-li dengan ter-sedat2. Nyo Ko pegang muka Siao-liong-li dan dike-cupnya pelahan bibirnya yang merah delima itu, lalu berkata dengan tegas.

"Baik, betapapun harus kubunuh Kwe Cing dan Ui Yong."

Ketika ujung lidahnya merasakan asinnya air mata si nona, seketika cinta berahinya bergejolak, serentak dadanya kesakitan, seluruh tubuhnya se-akan2 meledak.

Pada saat itulah tiba2 di dengar suara seorang berkata di tempat ketinggian sebelah sana.

"Huh, seumpama ingin ber-kasih2an, kan harus mencari tempat yang baik dan tidak perlu di tempat terbuka seperti ini."

Cepat Nyo Ko menoleh, dilihatnya di atas tanjakan bukit sana berdiri Kim-lun Hoat-ong, ln Kik-si, Siau-siang-cu, Nimo Singh dan Be Kong co.

Yang membuka suara tadi jelas adalah Kim-lun Hoat-ong.

Kiranya waktu Nyo Ko dan Siao-liong li meninggalkan Cui-sian-kok secara ter-buru2 tanpa menghiraukan orang lain, maka Kim lun Hoat-ong dan rombongannya diam2 mengikuti di belakang mereka, Saking asyiknya Nyo Ko dan Siao-liong li-menumpahkan rasa cinta masing2 sehingga mereka tidak tahu kalau perbuatan mereka itu telah dilihat seluruhnya oleh Hoat-ong dan rombongannya.

Teringat kepada sikap Kim lun Hoat-ong yang kurang simpatik, beberapa kali sengaja mengadu domba Nyo Ko dengan Kongsun Ci dan hampir saja Nyo Ko dicelakai, diam2 Nyo Ko merasa menyesal telah bantu menyembuhkan luka Hoat-ong ketika dia bersemadi di pegunungan sunyi tempo hari, tahu begitu tentu Hwesio gede itu sudah dibinasakannya waktu itu.

Melihat sorot mata Nyo Ko yang gusar itu, cepat Siao-liong-li menghiburnya.

"jangan urus orang macam begitu, orang begitu biarpun hidup selamanya juga tidak lebih bahagia daripada kita hidup selama 18 hari."

Dalam pada itu terdengar Be Kong-co berseru.

"Adik Nyo dan nona Liong, marilah kita pergi ber-sama. pegunungan sunyi begini masakah ada yang menarik?"

Tapi yang diharapkan Nyo Ko sekarang hanya dapat berkumpul bersama Siao-liong-li selama masih ada kesempatan, namun orang2 itu justeru datang mengganggunya, ia tahu Be Kong-co bermaksud baik, maka lantas ia menjawab.

"Silakan Be-toako berangkat dahulu, sebentar Siaute lantas menyusul."

"Baiklah, lekas ya!"

Kata Be Kong-co.

"Hahaha, kenapa kau ikut ribut?"

Ujar Kim lun Hoat-ong sambil bergelak ketawa.

"Mereka lebih suka bergadang selama 18 hari di pegunungan sunyi ini, tapi kau justeru merecoki mereka."

Tentang batas waktu 18 hari seperti apa yang dikatakan Kiu Jian-jio itu dapat didengar setiap orang, maka Be Kong-co menjadi gusar mendengar ucapan Kira-lun Hoat-ong itu, mendadak ia menubruk maju dan menjamberet baju di dada Hoat-eng dan mendamperat.

"Bangsat gundul, hatimu sungguh keji! Kita datang ke sini suatu rombongan dengan adik Nyo, kau tidak membantu dia saja kudu dimaki, sekarang kau malah mengejek dan meng-olok2 dia lagi, sebenarnya apa kehendakmu?"

"Hm, kau lepaskan tidak?"

Jengek Hoat-ong. Tidak, kau mau apa?"

Jawab Be Kong-co dengan gusar bahkan ia tarik baju orang dengan lebih kencang, Mendadak kepalan kanan Hoat-ong menjotos ke muka lawan.

"Bagus! Kau ingin berkelahi ya?"

Seru Be Kong-co sambil angkat telapak tangannya yang besar itu untuk menangkap kepalan Hoat-ong.

Tak terduga jotosan Hoat-ong itu ternyata pancingan belaka, tiba2 tangan kirinya menolak sekuatnya di punggung Be Kong-co, kontan tubuh Be Kong-co yang besar itu terus mencelat ke sana dan terguling ke bawah tanjakan bukit itu.

Untunglah lereng bukit itu penuh rumput tebal dan panjang, pula kulit daging Be Kong-co kasar lagi tebal sehingga tidak mengalami luka parah, walaupun begitu tidak urung kepalanya juga benjot dan muka matang biru sampai lama ia tidak sanggup bangun.

Ketika melihat kedua orang mulai bergebrak Nyo Ko tahu Be Kong-co pasti akan kecundang, saat ia memburu ke sana, namun sudah terlambat, Be Kong-co sudah telanjur terguling ke bawah, Segera Nyo Ko memayangnya bangun, ke dua orang lantas naik lagi ke atas bukit.

Meski dongkol, tapi orang dogol juga punya akal dogoI, ia tahu berkelahi secara berhadapan pasti bukan tandingan Hwesio besar itu, maka sambil berjalan iapun pura2 merintih kesakitan "Aduh tanganku patah dipukul bangsat gundul!"

Bahwa Kim-Iun Hoat-ong diundang oleh pangeran MongoI, yaitu Kubilai, serta diangkat menjadi Koksu kerajaan MongoI, hal ini memangnya sudah menimbulkan rasa dongkol tokoh2 lain seperti Siau siang-cu, Nimo Singh dan lain2, sekarang mereka melihat pula Hoat-ong bertindak secara tidak se-mena2 terhadap kawan sendiri, keruan Siau-siang-cu dan Nimo Singh bertambah gusar, segera keduanya saling memberi isyarat.

"Hm, kepandaian Taysu memang hebat, pantas mendapatkan gelar Koksu nomor satu kerajaan MongoI,"

Demikian Sian-siang-cu lantas mengejek.

"Ah, mana aku..."

Hoat-ong berendah hati ia dapat melihat gelagat bahwa kedua orang ini ada maksud menyerangnya sedangkan Nyo Ko dan Siao liong-Ii di sebelah lain juga siap2 akan me-labrak, bagaimana dengan In Kik-si belum lagi diketahui.

Kalau saja dirinya dikerubut, walaupun belum tentu kalah, namun untuk menang jelas juga sukar, Maka sambil berjalan diam2 iapun mencari akal untuk meloloskan diri.

Diluar dugaan, sambil berlagak merintih ke-sakitan, diam2 Be Kong-co mendekati belakang Hoat -ong dan mendadak menghantam tepat mengenai kepalanya.

Dengan kepandaian Kim-Iun Hoat-ong yang maha tinggi itu, sebenarnya sukar bagi Be Kong-co untuk menyergapnya, tapi sekarang perhatian Hoat-cng lagi dicurahkan untuk menghadapi kemungkinan kerubutan Nyo Ko, Siau-siang-cu dan lain2, ia tidak memperhatikan kelakuan si dogol dan akibatnya kena dihantam keras dari belakang.

Hantaman keras itu membuat kepala Hiat-ong kesakitan dan mata ber-kunang2, dengan murka tanpa pikir Hoat-ong menyikut ke belakang dan tepat dada Be Kong-co tersodok, tanpa ampun si dogol menjerit dan rebah ke bagian depan.

Perawakan Hoat-ong lebih pendek, tubuh Be Kong-co yang tinggi besar itu tepat rebah dan bersandarkan pada pundaknya Tanpa pikir lagi Hoat -ong terus panggul tubuh yang gede itu dan di bawa lari ke bawah bukit.

Tindakan Hoat-ong ini benar2 diluar dugaan siapapun juga, dengan pedang terhunus Nyo Ko yang per-tama2 mengudak ke sana, Kepandaian Kim-Iun Hoat-ong benar2 luar biasa, meski memanggul seorang raksasa yang beratnya hampir 300 kati, namun larinya secepat terbang, Nyo Ko, Siau-liong-li, Nimo Singh dan lain2 juga memiliki Ginkang yang tinggi, tapi dalam jarak berpuluh meter itu sukar bagi mereka untuk menyusulnya.

Nyo Ko mempercepat Iangkahnya, lambat laun dapat ia memperpendek jaraknya dengan Hoat-ong.

Ketika sudah dekat, se-konyong2 Hoat-ong berhenti dan berpaling, katanya dengan menyeringai .

"Baik, kalian ingin maju sekaligus atau suka satu lawan satu?" -Habis berkata ia terus angkat tubuh Be Kong-co dan mengarahkan kepalanya pada sepotong batu padas yang besar dengan gerakan akan membenturkan kepala Be Kong-co itu. Lebih dulu Nyo Ko mengitar ke belakang Hoat-ong untuk merintangi jalan kaburnya, lalu menjawab.

"Jika kau membunuhnya, dengan sendirinya kami akan mengerubuti kau."

Hoat-ong ter-bahak2 dan melemparkan tubuh Be Kong co ke tanah, katanya.

"Orang dogol begini buat apa kumusuhinya?" -Segera ia mengeluarkan senjatanya yang khas, yaitu sebuah roda perak dan sebuah lagi roda tembaga, ia benturkan kedua roda sehingga menerbitkan suara nyaring, lalu berkata pula dengan angkuh.

"Nah, siapa diantara kalian yang ingin maju lebih dulu?"

"Hihihi, kalau kalian hendak berlatih, orang dagang seperti diriku lebih suka menjadi peninjau dan menonton saja,"

Kata In Kik-si dengan tertawa.

Diam2 Hoat-ong merasa lega, ia pikir kalau orang Persia ini tidak membantu sana sini, maka berkuranglah seorang lawan berat baginya.

Siau-siang-cu paling licin, ia sendiri merasa tidak yakin dapat menandingi Kim-lun H-oat-ong dan sengaja membiarkan orang lain maju lebih dulu untuk menghabiskan tenaga musuh, kemudian barulah ia maju lagi untuk menarik keuntungannya.

Maka ia lantas berkata.

"Saudara Singh, kepandaianmu jauh lebih tinggi, silakan maju lebih dulu!"

Meski watak Nimo Singh sangat berangasan tapi dia bukan orang bodoh, segera ia tahu maksud Sing siang-cu.

Tapi iapun merasa ilmu silat sendiri cukup tinggi, andaikan tidak dapat menang, rasanya juga takkan kalah, segera ia pegang sebuah batu padas yang besar, lalu berteriak.

"Baik, biar kucoba kelihayan kedua rodamu itu!"

Berbareng batu padas yang diangkatnya itu terus dikeprukkan ke dada Kim-lun Hoat-ong.

Memangnya perawakan Nimo Singh pendek, sedangkan batu padas yang dipegangnya itu sangat besar dan tingginya melebihi dia malah, bobotnya sedikitnya ada tiga-empat ratus kati.

Semua orang terkejut melihat dia menggunakan batu begitu sebagai senjata.

Kemarin waktu menahan panas di rumah batu itu Nimo Singh pernah pingsang tergarang, Kim-lun Hoat-ong pikir Lwekang orang cebol ini tidak seberapa kuat, tak terduga tenaganya ternyata sangat besar dan sanggup mengangkat batu raksasa itu untuk menghantamnya, ia merasa tidak menguntungkan keras lawan keras, cepat ia memutar ke samping, sedangkan roda tembaga di tangan kanan terus memukul ke punggung lawan.

Batu sebesar itu ternyata dapat diputar oleh Nimo Singh dengan enteng saja, segera ia menangkis dengan batu padas itu, Roda tembaga dan batu kebentur dan menerbitkan lelatu api disertai suara nyaring memekak telinga.

Lengan rada kesemutan diam2 ia membatin.

"llmu silat setan hitam ini rada aneh, harus kuhadapi dengan hati2. Tapi dia mengangkat batu sebesar itu, masakah dia dapat bertahan lama?"

Karena pikiran itu, segera ia putar kedua roda-nya dengan cepat sambil mengitari Nimo Singh dengan Ginkangnya..Setelah menolong bangun Be Kong co, Nyo-Ko berdiri berjajar Siao-liong-li mengikuti pertaruhan seru itu, dilihatnya tenaga sakti "Nimo Singh beruang luar biasa, ilmu silatnya juga aneh, diam2 mereka rada heran.

Setelah berlangsung lagi sekian Iama, tenaga Nimo Singh sedikipun tidak berkurang, bahkan mendadak ia menggertak satu kali, batu padas raksasa itu terus dikeprakkanya ke dada Hoat-ong.

Betapapun lihaynya Kim-lun Hoat-ong juga tidak berani menahan samberan batu sebesar itu, cepat ia melompat ke samping.

Tak terduga, tiba2 Nimo Singh juga ikut melayang maju, batu itu dapat disusulnya, kedua tangannya mendadak menghantam batu sehingga batu itu menggeser arah dan memburu ke jurusan Hoat-ong.

Daya samberan batu itu adalah sisa lemparan pertama ditambah lagi tenaga dorongan kedua kalinya sebab itu lebih hebat daripada samberan pertama kali tadi.

Bicara tentang ilmu silat sejati sebenarnya Kim-lun Hoat-ong memang di atas Nimo Singh, cuma tenaga raksasa melempar batu yang disebut "Sikya-hiat-siang-kang" (llmu Budha melempar gajah) ini memang luar biasa dan belum pernah dilihatnya seketika ia menjadi kelabakan, terpaksa ia melompat berkelit pula ketika batu itu menyambar tiba.

Selagi menang segera Nimo Singh mendesak lagi lebih lanjut, ber-kali2 ia hantam batu itu sehingga daya sambernya bertambah hebat.

Hoat-ong pikir kalau pertarungan begitu terus, akhirnya dia pasti akan dikalahkan orang keling cebol itu kalau tidak lekas berdaya lain.

Begitulah sambil bertempur iapun memikirkan upaya cara berganti serangan untuk memperoleh kemenangan.

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara derapan kuda yang riuh disusul dengan panji2 yang berkibar, serombongan orang berkuda tampak muncul di tempat ketinggian sana.

Nimo Singh dan Kim-lun Hoat-ong sedang bertarung dengan sengit dan tidak sempat memandang ke sana, tapi Nyo Ko dan lain2 sudah dapat melihat jelas rombongan itu adalah sepasukan tentera MongoI yang tangkas, di bawah panji besar yang berkibar itu berdiri seorang perwira muda berjubah kuning dan membawa busur.

"Hei, berhenti, berhenti!"

Mendadak perwira itu berseru sambil melarikan kudanya ke kalangan pertempuran Hoat-ong berdua.

Siapa lagi dia kalau bukan pangeran Mongol, Kubilai.

Mendengar suara itu, Nimo Singh melompat maju lagi dan menghantam batu padas dengan kedua tangannya batu itu terus melayang ke sana dan jatuh ke bawah bukit dengan menerbitkan suara gemuruh.

Kubilai melompat turun dari kudanya, sebelah tangannya menarik Hoat-ong dan tangan lain menggandeng Nimo Singh, katanya dengan tertawa.

"Kiranya kalian sedang berlatih di sini, sungguh banyak menambah pengalamanku akan kelihaian kalian."

Sudah tentu ia tahu kedua orang itu sedang bertempur mati2an, tapi demi kehormatan kedua pihak, ia sengaja melerai.

"llmu silat saudara Singh sungguh hebat, bagus, bagus!"

Ujar Hoat-ong dengan tersenyum. Dengan mendelik Nimo Singh menjawab.

"Memangnya kukira Koksu nomer satu pasti luar biasa, kiranya cuma begini saja,Hm!"

Hoat-ong menjadi gusar dan segera akan menanggapi pula, tapi Kubilai telah menyela.

Wah, pemandangan di sini sungguh indah, harus di ramaikan dengan minum arak, Hayo, bawakan arak nya, biar kita minum tiga cawan bersama!

Bangsa MongoI sudah biasa berkenalan di padang Iuas, makan minum di manapun tidak menjadi soal, Segera ada pengawal menghaturkan arak dan dendeng.

Kubilai memandang sekejap ke arah Siao-liong li, diam2 ia terkesiap akan kecantikannya, Melihat Nyo Ko berdiri sejajar dengan si nona dengan bergandengan tangan, tampaknya sangat mesra, segera ia tanya Nyo Ko.

"Siapakah nona ini?"

"lnilah nona Liong, guruku dan bakal isteriku,"

Jawab Nyo Ko.

Sejak pergulatan dengan maut di gua bawah tanah dan akhirnya selamat, maka watak Nyo Ko menjadi semakin nyentrik, segala tata adat tidak terpikir olehnya, ia justeru ingin mengumumkan kepada dunia bahwa.

inilah Nyo Ko yang memperistrikan bekas gurunya.

Kalau bangsa Han memang sangat kolot dalam adat kekeluargaan, maka bangsa Mongol tidak begitu mementingkan tata adat begitu, sebab itulah Kubilai tidak merasa heran pada ucapan Nyo Ko, malahan bertambah rasa hormat dalam hatinya demi mendengar nona cantik itu pernah mengajarkan ilmu silat kepada Nyo Ko.

Dengan tertawa ia ber-kata.

"Yang laki gagah dan yang perempuan caritik, sungguh pasangan yang setimpal Bagus, bagus! Marilah kita habiskan semangkuk arak ini sebagai ucapan selamatku!" -Habis berkata, ia angkat mangkuk arak sendiri dan ditenggak hingga habis. Kim-Iun Hoat-ong tersenyum, iapun habiskan mangkuknya. Dengan sendirinya yang lain2 juga ikut minum, malahan sekaligus Be Kong-co menghabiskan tiga mangkuk. Sebenarnya Siao-liong-li tidak suka kepada orang Mongol, sekarang didengarnya pujian Kubilai bahwa perjodohannya dengan Nyo Ko setimpal, betapapun ia menjadi kegirangan dan ikut minum semangkuk arak sehingga semakin menambah moleknya. Pikirnya.

"Orang Han semuanya menganggap aku tidak boleh menikah dengan Koji, tapi pangeran Mongol ini justeru menyatakan bagus, tampaknya pandanan orang Mongol jauh lebih luas daripada orang Han."

Karena itu diam2 timbul hasratnya untuk membantu orang Mongol. Dengan tertawa kemudian Kubilai berkata pula.

"Kalian tidak pulang selama tiga hari, aku kuatir terjadi sesuatu. soalnya situasi di Siangyang cukup genting sehingga aku tidak dapat selalu mendampingi kalian, tapi sudah kutinggalkan pesan di markas agar kalian diharap segera menuju garis depan di Siangyang apabila kalian sudah pulang. Kebetulan sekarang kita bertemu di sini, sungguh hatiku sangat lega,"

"Apakah gempuran pasukan kita atas Siangyang cukup Iancar?"

Tanya Hoat-ong.

"Sebenarnya panglima yang menjaga Siangyang, yaitu Lu Bun-hoan adalah seorang bodoh, yang kukuatiri hanyalah Kwe Cing seorang saja,"

Tutur Kubilai. Hati Nyo Ko tcrkesiap, cepat ia bertanya.

"jadi Kwe Cing memang berada di Siangyang? Kwe Cing ini adalah pembunuh ayahku, jika boleh, maka kumohon diberi tugas untuk membunuhnya,"

"Memangnya begitulah maksud tujuan undanganku kepada para ksatria."

Kata Kubilai dengan girang.

"Cuma kabarnya ilmu silat Kwe Cing itu tergolong nomor satu di seluruh Tinggoan, banyak pula orang kosen yang membantunya, beberapa kali pahlawan yang kusuruh membunuhnya mengalami kegagalan, ada yang tertangkap dan ada yang terbunuh. Sudah tentu kupercaya pada ketangkasan saudara Nyo, tapi seorang diri terasa kurang kuat, maka maksudku kalau bisa para ksatria di sini sekaligus menyusup di Siangyang, dengan begitu kalian dapat turun tangan bersama. Asalkan orang she Kwe itu terbunuh, dengan mudah pula Siangyang akan dapat kita duduki."

Serentak Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain2 berdiri, kata mereka sambil menyilang tangan di depan dada.

"Kami siap mengikuti semua perintah Ongya dan bertempur sekuat tenaga."

"Bagus, bagus!"

Seru Kubilai dengan girang.

"Tak peduli siapa yang akan membunuh Kwe Cing nanti, yang pasti setiap orang yang ikut pergi juga berjasa, Hanya orang yang membunuhnya itulah akan kuusulkan kepada Sri Baginda agar diberi gelar dan diangkat menjadi jago nomor satu dari kerajaan Mongol Raya kita."

Gelar bangsawan sih tidak begitu menarik bagi Siao-siang-cu, Nimo Singh dan lain2, tapi sebutan "jago nomor satu kerajaan Monggol"

Adalah cita2 yang mereka harapkan, sebab dengan begitu namanya akan tersohor ke seluruh jagat Maklumlah waktu itu kerajaan Mongol lagi jaya2nya, wilayah kekuasaannya sangat luas dan belum ada bandingannya dalam sejarah, kecuali benua barat, waktu itu dua pertiga wilayah Tiongkok juga telah didudukinya, sebagai ukuran luasnya wilayah pendudukan kerajaan Mongol waktu itu dapat dilukiskan.

perjalanan dari pusat pemerintah kerajaan ke empat penjuru wilayah pendudukannya diperlukan tempo satu tahun sekalipun dengas kuda yang paling cepat.

Karena itulah dapat dibayangkan betapa membamggakan gelar "jago nomor satu"

Itu bagi setiap manusia.

Semua orang menjadi tertarik dan bersemangat setelah mendengar janji Kubilai itu.

Hanya Siao-liong li saja yang memandangi Nyo Ko dengan rasa cinta yang tak terhingga, ia pikir sebutan dengan gelar bangsawan dan jago nomor satu segala, yang kuharapkan hanya semoga engkau dapat hidup terus.

BegituIah semua orang terus menenggak arak lagi beberapa mangkuk, lalu berangkat, Para Busu Mongol membawakan kuda dan Nyo Ko, Siao-Iiong li serta Kim-lun Hoat-ong dan lain2 sama naik ke atas kuda, mereka ikut di belakang Kubilai dan dilarikan cepat ke arah Siangyang.

Sepanjang jalan rumah penduduk hampir seluruhnya kosong melompong dan hangus terbakar, mayat bergelimpangan memenuhi jalan, Setiap berjumpa orang Han, tanpa kenal ampun prajurit Mongol melakukan pembunuhan.

Tidak kepalang gusar Nyo Ko menyaksikan idaman itu, ia ingin mencegah perbuatan kejam itu, tapi segan terhadap Kubilai.

Diam2 ia hanya membatin.

"Kawanan perajurit Mongol ini sungguh kejam dan menganggap bangsa Han kami lebih rendah daripada binatang. Nanti setelah kubunuh Kwe Cing dan Ui Yong, akupun akan membunuh beberapa perwira Mongol yang paling kejam untuk melampiaskan rasa dendamku."

Kuda tunggangan mereka adalah kuda peran Mongol pilihan, maka beberapa hari kemudian merekapun sampailah di luar kota Siangyang, Sementara itu pertempuran pasukan kedua pihak sudah berlangsung sebulan lebih, di medan peran penuh senjata rusak dan darah berceceran sudah membeku, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya pertempuran.

Ketika pasukan Mongol diberitahu oleh kurir bahwa pangeran Kubilai datang sendiri di garis depan, para panglima perang segera menyambutnya.

Kubilai menyatakan rasa penyesalannya karena kota Siang yang sudah sekian lama belum dapat diduduki, para panglima itu sama berlutut dan minta ampun, Kubilai terus keprak kudanya dan dilarikan ke depan dengan cepat.

Para panglima itu tetap berlutut dan tidak berani bangun, semuanya merasa kebat-kebit.

Diam2 Nyo Ko sangat mengagumi wibawa Kubilai yang luar biasa itu, biasanya Kubilai sangat ramah tamah terhadap dirinya serta Kim-Iun Hoat-ong dan lain2, tapi menghadapi para panglimanya ternyata berubah menjadi sangat kereng dan disegani.

Sementara itu hari sudah terang, pasukan mendapatkan aba2 menyerang, seketika terjadilah hujan panah dan batu yang berhamburan ke benteng kota, menyusul tembok2 benteng banyak ditempeli tangga panjang, be-ramai2 perajurit Mongol berusaha manjat ke-atas benteng.

Akan tetapi penjagaan benteng juga kuat, beberapa perajurit Han memegangi kayu besar dan banyak tangga melangit itu didorong terpental dari tembok benteng.

Akhirnya ada beberapa ratus perajurit berhasil menyerbu ke atas benteng, sorak-sorai pasukan Mongol menggelegar setiap Pek-hu-tiang (komandan seratus orang, setingkat kapten) Mongol memimpin pasukannya merayap ke atas sebagai bala bantuan.

Mendadak terdengar suara genderang dipukul keras, sepasukan pemanah kerajaan Song muncul di balik tembok sana dapat menahan majunya pasukan Mongol, menyusul sepasukan lain dengan obor be-ramai2 membakar tangga panjang sehingga perajurit Mongol yang sedang merayap ke atas benteng sama jatuh terjungkal ke bawah.

Suasana menjadi gaduh, di tengah pertempuran dahsyat itu, tiba2 di atas benteng muncul sepasukan Iaki2 gagah perkasa bersenjata golok, tombak dan pedang, serentak pasukan Mongol yang berhasil menyerbu ke aras benteng itu disergapnya.

Pasukan laki2 itu tidak memakai seragam pasukan Song ada yang berbaju hitam ringkas, ada yang berjubah panjang dengan warna yang berbeda, waktu bertempur juga tidak menuruti peraturan pasukan, namun semuanya sangat tangkas, jelas tiap2 orang itu memiliki ilmu silat yang terlatih.

Perajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng itu adalah perajurit pilihan yang sudah berpengalaman dan gagah berani, namun sama sekali bukan tandingan pasukan laki2 itu, hanya beberapa gebrakan saja satu persatu mereka dapat dikalahkan dan terbunuh, ada yang menggeletak di atas benteng, ada yang terlempar ke bawah benteng.

Di antara pasukan laki2 itu ada seorang setengah umur berjubah abu2 kelihatan paling tangkas, tanpa bersenjata, tapi berlari kian kemari tanpa.tandingan, di situ pula musuh tercerai berani laksana harimau menyerbu ke tengah kawanan domba.

Kubilai mengawasi sendiri pertempuran itu, melihat betapa gagahnya lelaki setengah tua itu, ia menjadi kesima, katanya dengan gegetun.

"Siapa di antara jago2 di dunia ini ada yang lebih hebat daripada orang ini?"

Nyo Ko berdiri di samping Kubilai, ia lantas berkata.

"Apakah Ongya tahu siapakah dia?"

"Apa mungkin dia ini Kwe Cing?"

Jawab Kubilai terkejut.

"Betul, memang dia,"

Kata Nyo Ko.

Sementara itu beberapa ratus perajurit Mongol yang menyerbu ke atas benteng itu sudah terbunuh dan bersisa beberapa orang saja, hanya tiga orang Pik-hu-tiang dengan bertumbak dan membawa perisai masih terus bertempur dengan mati2an.

Ban-hu-tiang (komandan selaksa orang, setingkat kolonel) yang memimpin pertempuran di bawah benteng kuatir didamperat Kubilai, cepat ia memerintah agar meniupkan tanduk dan memberi aba2 penyerbuan lagi, serentak pasukan Mongol menyerang dengan gagah berani untuk menyelamatkan ketiga Pek-hu-tiang.

Mendadak Kwe Cing bersiul nyaring dan melangkah maju, ketika salah seorang Pek-hu-tiang menusuknya dengan tumbak, dengan tepat gagang tumbak kena dipegang Kwe Cing terus didorong ke depan, menyusul sebelah kakinya melayang dan tepat menendang pada perisai Pek-hu-tiang kedua, meski kedua Pek-hu-tiang itu sangat gagah, tapi sukar menahan tenaga sakti Kwe Cing, seketika keduanya mencelat terjungkal ke bawah benteng dan binasa dengan kepala pecah dan tubuh remuk.

Pek-hu-tiang ketiga berusia lebih tua, rambutnya sudah ubanan, iapun insaf dirinya tak terluput dari kematian, tapi sekuatnya ia putar goloknya dan menyerang dengan kalap, Se-konyong2 Kwe Cing menubruk maju, dengan tepat tangan lawan yang memegang golok itu kena dicengkeramnya, selagi ia hendak menyusuli dengan sekali hantaman untuk membinasakan Pek-hu-tiang itu, tiba2 ia melengak Pek-hu-tiang itupun dapat mengenali Kwi Cing cepat ia berseru.

"He, engkau, Kim-to Hunji (menantu raja bergolok emas)!"

Kiranya Pek-hu-tiang ini adalah bekas anak buah Kwe Cing ketika dahulu Kwe Cing ikut Jengis Khan menyerbu ke wilayah barat Segera Kwe Cing turun dari kuda dan berlari mendekati benteng, mereka menarik busur dan membidikan dua panah ke arah Kwe Cing.

Kepandaian memanah kedua orang itu memang lihay, baru saja terdengar suara teriakan perajurit di atas benteng, tahu2 kedua panah itu sudah menyamber sampai di depan dada Kwe Cing, tampaknya sukar lagi bagi Kwe Cing untuk mengelak, tak terduga mendadak kedua tangan Kwe Cing meraih, satu tangan satu panah telah kena dipegangnya menyusul kedua panah itu berbaIik-disambit ke musuh..

Belum lagi kedua jago pengawal Mongol tadi melihat jelas apakah Kwe Cing jadi mati kena panah mereka atau tidak, mendadak kedua panah sudah menyamber tiba dan menembus dada mereka, kontan mereka binasa.

serentak terdengarlah, suara sorak gemuruh pasukan Song di atas benteng disertai bunyi genderang yang ber-talu2 sebagai tanda kemenangan.

Kubilai menjadi kesal dan memimpin pasukannya mundur ke tempat yang diperintahkan tadi, ditengah jalan tiba2 Nyo Ko berkata.

"Ongya tidak perlu masgul, biarlah sebentar Cayhe masuk ke kota sana untuk membunuh Kwe Cing."

"Tapi Kwe Cing itu serba lihay, namanya memang bukan omong kosong belaka, kurasa rencanamu hendak membunuhnya rada sukar,"

Ujar Kubilai sambil menggeleng.

"Beberapa tahun pernah kutinggal di rumahnya, pula pernah menolong anggota keluarganya, dia pasti tidak curiga apapun padaku,"

Kata Nyo Ko.

"Tadi kau berdiri di sampingku, mungkin sudah dilihat olehnya,"

Kata Kubilai pula.

"Sebelumnya sudah kupikirkan hal ini, maka tadi aku dan nona Liong memakai topi lebar untuk menutupi muka dan pakai mantei bulu puIa, dia pasti pangling padaku,"

Ujar Nyo Ko.

"Baiklah, jika begitu kuharap kau akan berhasil, tentang janji anugrah pasti kupenuhi"

Kata Kubilai.

Nyo Ko mengucapkan terima kasih, Baru saja ia hendak berangkat bersama Siao-b'ong-li, sekilas dilihatnya Kim-lun Hoat-ong, Siausiang-cu dan lain2 menghunjuk rasa kurang senang, segera terpikir oleh Nyo Ko bahwa orang2 itu tentu kuatir kalau gelar "jago nomor satu"

Itu akan direbutnya karena berhasil membunuh Kwe Cing, untuk itu orang2 itu pasti akan menjegalnya supaya usahanya gagal. Maka Nyo Ko lantas berkata pula kepada Kubilai.

"Ada sesuatu pula ingin kutegaskan kepada Yang Mulia."

"Urusan apa, katakan saja,"

Jawab Kubilai.

"Maksudku membunuh Kwe Cing hanya demi membalas sakit hati pribadiku,"

Tutur Nyo Ko.

"selain itu juga kepalanya kuperlukan untuk menukar obat penolong jiwa Kokohku, Maka kalau usahaku berhasil berkat doa restu Ongya, namun gelar jago nomor satu itu sama sekali tak berani kuterima."

"Apa sebabnya? "tanya Kubilai heran.

"Betapapun kepandaianku belum dapat dibandingkan dengan tokoh2 yang hadir di sini ini, mana kuberani mengaku sebagai jago nomor satu?"

Kata Nyo Ko.

"Sebab itulah Ongya harus terima dulu permohonanku ini barulah kuberani melaksanakan tugas"

Karena Nyo Ko bicara dengan sungguh2 dan tegas, pula melihat sikap Siau-siang-cu dan yang lain itu, diam2 Kubilai juga dapat menerka apa yang menjadi pertimbangan anak muda itu, maka berkatalah dia.

"Baiklah, setiap orang memang mempunyai cita2 sendiri, jika begitu kehendakmu akupun tidak ingin memaksakan."

Segera Nyo Ko memohon diri dan berangkat bersama Siao-liong-li.

Ditengah jalan mereka membuang topi dan mantel bulu yang mereka pakai sehingga dandanan sekarang adalah bangsa.

Sampai dibawah benteng kota hari sudah menjelang magrib, terlihat pintu gerbang benteng tertutup rapat, di atas benteng satu regu prajurit sedang ronda kian kemari.

"Hei, aku bernama Nyo Ko dan ingin bertemu dengan Kwetoaya, Kwe Cing,"

Teriak Nyo Ko.

Ketika mendengar suaranya, perwira yang dinas jaga coba melongok ke bawah dan melihat Nyo Ko cuma bersama dengan seorang perempuan, ia percaya pasti bukan musuh yang sengaja hendak menyusup ke kota, segera ia melaporkan hal itu kepada Kwe Cing.

Tidak lama kemudian dua pemuda muncul diatas benteng dan melongok keluar, seorang lantas bersuara.

"Oh, kiranya Nyo-toako, apakah cuma kalian berdua?"

Kiranya kedua pemuda itu adalah Bu Tun-it-dan Bu Siu-bun. Dengan tertawa Nyo Ko lantas meryawabr "Eh, kiranya Bu jiko, Apakah Kwe-pepek ada di situ?"

"Ada, silahkan masuk saja"

Jawab Siu Bun.

Segera ia memberi perintah agar membukakan pintu benteng dan menurunkan jembatan untuk menyambut datangnya Nyo Ko dan Siao-liong li Kedua saudara Bu membawa Nyo Ko ke sebuah rumah besar, dengan wajah berseri Kwe Cing menerima kedatangan mereka, lebih dulu Kwe Cing memberi hormat kepada Siao-liong-li lalu menarik tangan Nyo Ko, katanya dengan tertawa girang.

"Ko-ji, kedatangan kalian sangat kebetuIan, Musuh sedang menyerang kota, kedatangan kalian berarti bantuan yang dapat diandalkan bagiku, sungguh bahagia sekali segenap penduduk kota ini."

Siao-liong-li adalah guru Nyo Ko, maka Kwe Cing menghormatinya sebagai angkatan yang sama dengan ramah ia menyilakan dia masuk kedalam rumah, terhadap Nyo Ko iapun sangat sayang dan menggandeng tangannya.

Ketika teringat bahwa orang yang menggandeng tangannya ini adalah pembunuh ayahnya, sungguh tidak kepalang gemas hati Nyo Ko, kalau bisa sekali tusuk akan dibinasakannya.

Cuma jeri kepada kelihaian Kwe Cing, maka tidak berani sembarangan bergerak, dengan air mukanya yang gembira, iapun menanyakan kesehatan sang paman dan tidak lupa pula menanyakan Ui Yong.

Lantaran rasa dendamnya sebegitu jauh ia tidak memberi sembah hormat kepada Kwe Cing.

Namun Kwe Cing memang orang baik, sedikitpun ia tidak memperhatikan tata adat begitu.

Sampai di ruangan besar, Nyo Ko hendak menemui Ui Yong ke dalam, namun Kwe Cing telah mencegahnya, katanya.

"Bibimu sudah hampir melahirkan, beberapa hari akhir2 ini kesehatannya ada terganggu, boleh kau menemuinya lain hari saja."

Diam2 Nyo Ko bergirang, ia justeru kuatir akan kecerdikan Ui Yong, bukan mustahil maksud kedatangannya ini akan diketahuinya, kalau bibi itu sedang sakit, maka kebetulan baginya.

Tengah bicara, datanglah utusan panglima kota yaitu Lu Bun-hoan, yang mengundang Kwe Cing untuk menghadiri perjamuan merayakan kemenangan yang tadi.

Namun Kwe Cing telah menolak undangan itu dengan alasan dia sendiri lagi menerima tamu, sudah tentu utusan panglima itu sangat heran, dilihatnya usia Nyo Ko masih muda dan tiada sesuatu yang luar biasa, entah mengapa justru anak ini mendapat perhatian Kwe Cing sebesar itu sehingga menolak undangan sang panglima hanya untuk melayani anak muda itu, Terpaksa utusan itu pulang melaporkan hal itu kepada Lu Bun-hoan.

Kwe Cing lantas mengadakan perjamuan sederhana di rumah sendiri untuk merayakan kedatangan Nyo Ko dan Siao-liong-li, ikut hadir di meja perjamuan adalah Cu Cu-liu, Loh Yu-kah, kedua saudara Bu, Kwe Hu dan lainnya.

Ber-ulang2 Cu Cu-liu mengucapkan terima kasih pada Nyo Ko yang pernah menolongnya dgn memaki pangeran Hotu dari Mongol itu menyerahkan obar penawar sehingga Cu Cu-liu terbebas dari renggutan maut.

Sikap Kwe Hu ternyata tawar saja terhadap Nyo Ko, ia cuma memanggil sekali, lalu tidak bicara pula.

Dalam perjamuan itu alis si nona kelihatan terkerot seperti dirundung suatu persoaIan.

Kedua saudara Bu juga, selalu menghindari adu pandang dengan Nyo Ko, ketiga orang juga tidak berbicara sejak awal hingga berakhirnya perjamuan.

Sebaliknya Loh Yu-kah dan Cu Cu-liu sangat gembira ria dan.

asyik ngobrol tentang kemenangan gemilang atas pasukan Mongol siangnya.

Waktu perjamuan selesai, sementara itu sudah lewat tengah malam.

Kwe Cing menyuruh Kwe Hu mengawani Siao liong-li tidur sekamar, ia sendiri menarik Nyo Ko untuk tidur bersama satu ranjang.

Ketika akan pergi Siao-liong-li sempat melirik sekejap pada Nyo Ko dan agar anak muda itu ber-hati2.

Nyo Ko kuatir rahasianya diketahui orang, cepat ia berpaling dan tidak berani menatap Siaoliong-li Kwe Cing menggandeng Nyo Ko ke kamar tidurnya, ber-ulang2 ia memuji anak muda itu melawan Kim-lun Hoat-ong di barisan batu2 itu dan berhasil menyelamatkan Ui Yong, Kwe Hu serta kedua saudara Bu.

Habis itu ia lantas tanya pengalaman Nyo Ko setelah berpisah.

Teringat kejadian tempo hari, diam2 Nyo Ko menyesal telah menolong Ui Yong dengan matian apabila sudah mengetahui Ui Yong adalah musuhnya ia kuatir kalau banyak bicara mungkin rahasia tujuannya akan diketahui Kwe Cing, maka tentang pertemuannya dengan Thia Eng, Liok Bo-siang, Sah Kho dan Ui Yok-su tak diceritakannya, ia hanya mengaku merawat lukanya di pegunungan sunyi, kemudian bertemu dengan Kokoh, lalu bersama ke sini untuk mencari paman.

Sembari membuka baju dan mapan tidur, Kwe Cing berkata.

"Ko-ji, saat ini musuh sudah berada di depan mata, keadaan Song Raya kita benar2 berbahaya, seperti telur di ujung tanduk. Siangyang adalah perisai bagi tanah air kita, kalau kota ini jatuh, mungkin ber-juta2 rakyat kita akan menjadi budak orang Mongol. Dengan mataku sendiri kulihat keganasan orang MongoI, sungguh darahku menjadi mendidih menyaksikan kekejaman musuh itu...."

Segera Nyo Ko teringat juga keganasan perajurit Mongol yang dilihatnya sepanjang perjalanan, saking gusarnya iapun mengertak gigi.

"Kaum kita belajar silat dengan sepenuh tenaga, walaupun tujuannya ingin berbuat kebajikan dan membela kaum kecil, namun ini hanya sebagian kecil saja daripada tugas kita yang sebenarnya,"

Kata Kwe Cing pula.

"Sebabnya orang Kangouw menyebut aku "

Kwe-tayhiap , kukira bukan disebabkan kepandaianku yang tinggi melainkan menghormati diriku yang berjuang mati2an demi negara dan rakyat.

Namun aku sendiri merasa tenagaku seorang teramat kecil dan belum dapat membebaskan rakyat dari kesengsaraan sesungguhnya aku malu untuk disebut Tayhiap , Kau masih muda, kepintaranmu dan kecerdasanmu berlipat ganda daripadaku, hari depanmu pasti cemerlang dan tentu jauh melebihi diriku.

Hanya kuharap kau selalu ingat kepada pesanku ini.

"Demi negara dan rakyat, itulah tugas utama kita" , Semoga kelak namamu termashur dan menjadi seorang Tayhiap (pendekar besar) sejati yang dihormati segenap rakyat jelata. Uraian Kwe Cing itu sangat mengena di lubuk hati Nyo Ko, dilihatnya Kwe Cing bicara dengan sungguh2, simpatik, tapi juga kereng, meski jelas dia adalah musuh yang membunuh ayahnya, tapi tanpa terasa timbul juga rasa hormat dan segannya. Segera ia menjawab.

"Kwe-pepek, jika engkau sudah meninggal aku pasti akan ingat selalu perkataanmu ini."

Sudah tentu Kwe Cing tak mengira bahwa malam ini juga si Nyo Ko akan membunuhnya, dengan rasa sayang ia membelai kepala anak muda itu dan berkata pula Ya, memang, berjuang sampai titik darah penghabisan kalau negara kita runtuh, jiwa pamanmu ini jelas juga takkan tertinggal lagi.

Baiklah, sudah jauh malam, marilah tidur.

Kabarnya Kubilai sangat pandai mengatur pasukan, kemunduran pasukannya tadi mungkin cuma siasat belaka, dalam beberapa hari ini pasti akan ada pertempuran dahsyat, kau perlu kumpulkan dan memupuk semangat untuk memperlihatkan segenap kepandaianmu di medan perang.

Nyo Ko mengiakan saja, lalu membuka baju dan mapan tidur.

Belati yang dibawanya dari Coat-ceng-kok itu diam2 diselipkan nya di pinggang, ia pikir biar ilmu silatmu beratus kali lebih tinggi, kalau sudah tertidur, sekali tikam dengan belati ini, masakah kau mampu mengelak?

Karena siangnya bertempur sengit, maka Kwe Ceng rada lelah, begitu menempel bantal dia terus terpulas.

Sebaliknya Nyo Ko bergolak-golik tak dapat tidur.

Dia tidur di bagian dalam, didengarnya pernapasan Kwe Cing sangat teratur, tarikan dan hembusan napasnya terselang agak lama, diam2 ia kagum terhadap Lwekang sang paman yang hebat itu.

Agak lama kemudian, suasana terasa hening, hanya dari jauh terdengar suara peronda sedang melakukan tugasnya pelahan Nyo Ko berduduk dan meraba belatinya, ia pikir kalau dia sudah kutikam mati, segera kupergi membunuh Ui Yong pula, rasanya membereskan seorang wanita hamil tak terlalu sulit, selesai semuanya segera bersama Kokoh kembali ke Coat-ceng-kok untuk mengambil setengah biji obat itu.

Kemudian kami akan mengasingkan diri di kuburan kuno itu untuk menikmati kebahagiaan hidup dan takkan peduli apakah dunia ini akan menjadi milik Song atau direbut Mongol.

Begitulah hatinya sangat senang berpikir sampai di sini, Tiba2 terdengar suara tangisan seorang anak kecil di rumah tetangga sana,menyusul suata sang ibu sedang meminang anaknya, suara tangis anak itupun mulai mereda dan kemudian sunyi senyap pula.

Seketika hati Nyo Ko tergetar, mendadak teringat olehnya apa yang dilihatnya di perjalanan tempo hari, di mana seorang Busu Mongol telah menyudet perut seorang bayi dan diangkat ke udara seperti sundukan satai, bayi itu tidak lantas mati, tapi masih dapat menjerit ngeri.

Segera terpikir olehnya.

"Untuk membunuh Kwe Cing sekarang bagiku sangat mudah. Tapi kalau dia mati, kota ini takkan dapat dipertahankan lagi dan be-ribu2 anak kecil dalam kota ini tentu akan menjadi mangsa keganasan perajurit Mongol. Aku sendiri berhasil membalas dendam, tapi akibatnya jiwa rakyat jelata yang tak terhitung banyaknya akan menjadi korban, apakah perbuatanku ini dapat dipuji?"

Tapi lantas terpikir pula.

"Kalau tidak kubunuh dia, tentu pula Kiu Jian-jio tak mau memberikan obatnya padaku dan kalau aku mati pasti juga Kokoh tak dapat hidup lagi,"

Betapa mendalam cintanya kepada Siao-liong-li boleh dikatakan tiada taranya, karena itulah menjadi nekat.

"Sudahlah, biar peduli amat dengan jiwa rakyat Siangyang dan negara segala, ketika aku menderita sengsara, selain Kokoh seorang siapa lagi yang pernah menaruh belas kasihan padaku? Orang lain tidak pernah sayang padaku, buat apa aku mesti sayang pada orang lain?"

Begitulah ia lantas angkat belati nya.

tenaga dikumpulkan pada tangan itu, ujung belati mengincar tepat pada dada Kwe Cing.

Lilin di dalam kamar itu sudah dipadamkan tapi Nyo Ko sudah biasa melihat dalam kegelapan, waktu belatinya akan ditusukan, sekilas ia memandang wajah Kwe Cing, dilihatnya air muka paman sangat tenang, wajah seorang welas asih dan berbudi.

Belati sudah tergenggam di tangan Nyo Ko, tapi ia ragu2 untuk turun tangan mengingat keselamatan laksaan jiwa bangsa Han yang akan menjadi korban keganasan serdadu Mongol yang kejam itu.

-----------nggak nyambung tidurnya sangat nyenyak.

Tiba2 terbayang pula dalam benak Nyo Ko semua kejadian di masa lampau, betapa kasih sayang paman padanya waktu tinggal di Tho-hoa-to dan tanpa mengenal lelah sang paman mengantarnya ke Cong-lam-san untuk belajar siIat, malahan berniat menjodohkan puteri tunggalnya kepadanya.

Tanpa terasa timbul pikirannya.

Selamanya Kwe pepek bertindak jujur dan terus terang, beliau adalah seorang tua yang baik budi, Pribadi seperti dia ini seharusnya tidak mungkin mencelakai ayahku, Apakah mungkin Sah Koh yang tidak waras itu sembarangan omong?

Kalau saja tikaman ini jadi kulaksanakan dan mungkin ternyata salah membunuh orang baik, bnkankah dosaku sukar lagi diampuni?

Wah, nanti dulu kukira urutan ini harus kuselidiki dulu.

Pelahan2 ia lantas menyimpan kembali belatinya, ia coba merenungkan pula satu demi satu kejadian di masa lalu sejak dia bertemu dengan Kwe Cing dan Ui Yong.

Teringat olehnya sikap Ui Yong yang kurang simpatik padanya, beberapa kali dipergoki suami isteri ku sedang membicarakan sesuatu soal apa2, tapi pokok pembicaraan lantas dihentikan begitu dia muncul.

Kalau dipikir, tentu ada sesuatu diantara suami isteri itu sengaja dirahasiakannya.

lngat pula sang bibi resminya menerimanya sebagai murid, tapi yang diajarkan hanya membaca dan menulis, sedikitpun tidak diajarkan silat.

Apakah keramahan paman Kwe kepadaku itu bukan lantaran dia telah mencelakai ayahku dan hatinya merasa tidak tenteram, maka sengaja membaiki aku sekedar menenangkan hatinya yang merasa berdosa itu?

Begitulah Nyo Ko terus bergulang-guling tak dapat pulas.

Dalam pada itu Kwe Cing masih tidur dengan nyenyaknya, namun pada suatu ketika itu, dapat mengetahui pernapasan Nyo Ko yang rada memburu itu mendadak ia membuka mata dan bertanya.

"Ada apa, Ko-ji? kau tak dapat tidur?"

Badan Nyo Ko rada bergetar, jawabnya.

"Oh tidak apa2"

"Kalau kau tidak biasa tidur bersama orang lain, bolehlah kutidur di meja saja,"

Kata Kwe Cing dengan tertawa.

"Wah, tidak, tidak apa2"

Sahut Nyo Ko cepat "Baiklah, jika begitu lekas tidur."

Ujar Kwe Cing.

"Orang belajar silat harus mengutamakan menenangkan batin dan memusatkan pikiran."

Nyo Ka mengiakan. Akan tetapi pikirannya tetap bergoIak akhirnya ia tidak tahan dan bertanya.

"Kwe-pepek, dahulu waktu kau mengantar diriku ke Cong lam-san,-sampai kuil di kaki gunung itu pernah kutanyakan sesuatu padamu, apakah paman masih ingat?"

Hati Kwe Cing terkesiap, jawabnya.

"Ya, ada apa?"

"Tatkala mana Kwe-pepek marah2 dan menghantam sebuah pilar batu sehingga menimbulkan salah paham para Tosu hari Coan-cin-kau, apakah paman masih ingat persoalanku yang kutanyakan itu?"

"Ya, kalau tidak salah kau tanyai cara bagaimana meninggalnya ayahmu,"

Dengan tatapan tajam Nyo Ko berkata pula.

"Waktu yang kutanyakan padamu adalah siapa kah yang membunuh ayahku."

"Darimana kau mengetahui bahwa ayahmu di bunuh orang?"

Kata Kwe Cing.

"Memangnya ayahku meninggal secara baik2?"

Tanya Nyo Ko dengan suara agak serak. Kwe Cing terdiam sejenak, ia menghela napas panjang, lalu berkata pula.

"Ayahmu meninggal secara menyedihkan, akan tetapi tiada siapapun yang membunuhnya, dia sendirilah yang membunuh dirinya sendiri"

Mendadak Nyo Ko bangun berduduk, dengan perasaan yang sangat terangsang ia berkata.

"Tidak Kwe-pepek dusta padaku, mana mungkin di dunia ini ada orang membunuh dirinya sendiri? seumpama ayahku membunuh diri, tentu juga ada orang-lain yang menyebabkan kematiannya."

Kwe Cing menjadi berduka dan meneteskan air mata, katanya pelahan.

"Anak Ko, kakekmu dan ayahku adalah saudara angkat, ayahmu dan diriku juga mengikat persaudaraan. Kalau ayahmu mati secara penasaran masakah aku tidak berusaha membalas dendam baginya?"

Tubuh Nyo Ko rada gemetar, saking menahan perasaannya hampir saja ia berucap.

"Kau sendiri yang membunuh ayahku dengan sendirinya kau tidak mungkin membalaskan dendamnya."

Tapi ia tahu sekali ucapannya itu dikeluarkan tentu Kwe Cing akan waspada dan selanjutnya pasti sukar hendak membunuhnya. Maka Nyo Ko hanya diam saja, lalu tidak bicara lagi.

"Persoalan ayahmu sebenarnya sangat banyak lika-likunya dan sukar diceritakan dalam waktu singkat."

Kata Kwe Cing pula.

"Dahulu waktu kau bertanya, karena kupikir usiamu masih terlalu muda dan belum dapat memahami sebab musababnya dengan jelas, lantaran itulah aku tidak mau menjelaskan padamu, sekarang kau sudah dewasa, sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang Jahat, maka setelah orang MongoI dipukul mundur, biarlah nanti kuceritakan dari awal hingga akhir."

JeIasnya.

Habis berkata ia terus membalik dan tidur lagi.

Nyo Ko cukup kenal perangai sang paman yang tegas itu, sekali dia bilang satu, tidak mungkin berubah menjadi dua, Tapi ia menjadi ragu2 lagi dan memaki dirinya sendiri.

Wahai, Nyo Ko, biasanya kau bertindak sesuatu selalu tegas dan berani, mengapa sekarang kau bimbang dan takut2 ?

Apakah kau jeri terhadap ilmu silatnya yang lihay?

Bukan saja kesempatan bagus malam ini kau sia2 kan, besok bila Ui Yong mengetahui maksud tujuanmu mungkin Kokohmu akan ikut menjadi korban.

Teringat kepada Siao liong li, seketika ia bersemangat lagi, ia meraba pula belatinya, belati yang menempel kulit perutnya itu serasa panas oleh suhu badannya.

Baru saja ia hendak mencabut belatinya, tiba2 terdengar daun jendela diketok orang tiga tali dengan sangat pelahan.

"Cepat Nyo Ko pura2 tidur, sedangkan Kwe Ceng, lantas terjaga bangun berduduk serta bertanya "

Apakah Yong-ji di situ? Ada urusan apa?"

Namun suara di luar jendela lantas berhenti, Kwe Ceng terus berbangkit, dilihatnya Nyo Ko tertidur nyvnyak, ia pikir anak muda itu baru saja pulas, sebaiknya jangan diganggu lagi.

pelahan2 ia lantas membuka pintu kamar dan keluar, diiihatnya Ui Yong sedang menunggunya di serambi sana, Kwe Cing mendekati sang isteri dan bertanya dengan suara tertahan "Ada urusan apa?"

Ui Yong tidak menjawabnya, ia menarik tangan suaminya ke halaman belakang, setelah memandang sekelilingnya, habis itu baru berkata.

"Percakapanmu dengan Ko-ji sudah kudengar semua. Dia mengandung maksud buruk, apakah kau tidak tahu?"

Kwe Cing terkejut "Apa? Dia bermaksud buruk bagaimana? "

Ia menegas.

"Dari ucapannya itu, tampaknya dia mencurigai kita berdua yang membunuh ayahnya,"

Tutur Ui Yong.

"Ya bisa jadi dia curiga,"

Ujar Kwe Cing sambil menggeleng.

"tapi aku sudah berjanji akan menceritakan sebab musabab kematian ayahnya."

"Memangnya kau benar2 akan menceritakan padanya tanpa menutupi sesuatu apapun ?"

Tanyanya.

"Begitu mengenaskan kematian ayahnya, selama ini akupun selalu merasa bersalah,"

Kata Kwe Cing.

"Meski adik Nyo Khong tersesat ke jalan yang salah, tapi kita juga tidak berusaha menyadarkan dia dan tidak berdaya menyelamatkan dia."

"Hmm orang macam begitu masakah ada harganya dibantu?"

Jengek Ui Yong.

"Malahan aku justeru menyesal tidak membunuhnya sedini mungkin, kalau tidak masakah beberapa gurumu itu sampai tewas di Thoa hoa-to gara2 perbuatannya?"

Teringat kepada peristiwa yang mengenaskan itu, tanpa terasa Kwe Cing menghela napas panjang "

Dari anak Hu kudengar kedatangan Ko-ji ini kelihatan agak aneh, katanya pula kau tidur sekamar dengan dia, Aku menjadi kuatir terjadi sesuatu, maka sejak tadi aku sudah mengawasi di luar jendela.

Kukira sebaiknya jangan tidur bersamanya, harus diketahui bahwa hati manusia sukar dijajaki, pula ayahnya...

meninggal akibat keracunan karena memukul bahuku.

"Yong-ji, itupun tidak dapat dikatakan kau yang mencelakai dia."

Ujar Kwe Cing.

"Walau kita memang ada maksud membunuhnya, akhirnya dia juga mati akibat diriku, maka soal kita sendiri yang turun tangan membunuhnya atau bukan menjadi tidak penting lagi."

Kata Ui Yong.

Kwe Cing berpikir sejenak, katanya kemudian "Betul juga ucapanmu.

Kalau begitu sementara ini takkan kuceritakan terus terang padanya, Yong ji, sudah jauh malam, lekas kembali ke kamarmu dan mengaso, besok malam biar kupindah tidur ke-markas saja.

Biasanya Kwe Ging memang menuruti segala nasehat Ui Yong, soalnya ia tahu kecerdasan dan pengetahuan sang isteri memang berkali lipat lebih pintar daripada dirinya, dugaannya selalu tepat, perhitungannya tak pernah meleset, meski ia tidak percaya bahwa Nyo Ko bermaksud jahat kepada-nya, tapi sang isteri sudah bilang begitu, maka ia lantas menurut saja.

Segera Kwe Cing memayang sang isteri kembali ke kamarnya, katanya.

"Kukira selekasnya Hu-ji dinikahkan saja dengan Ko-ji agar selesailah persoalan kita ini."

"Aku sendiripun bingung menghadapi urusan ini!"

Ujar Ui Yong sambil menghela napas.

"Kakak Cing, dalam hatiku hanya ada engkau seorang begitu pula dalam hatimu sama ada aku, akan tetapi puteri kita itu ternyata tidak seperti kau, juga tak seperti aku, dalam hatinya justeru sekaligus terisi dua kekasih yang sukar dibedakan mana yang harus dipilih, inilah yang membuat kita sebagai ayah-bundanya serba susah."

"Dua kekasih"

Yang dimaksud Ui Yong bukan lain daripada Bu Tun-si dan Bu Siu-bun.

Kedua anak muda ini sama jatuh cinta kepada Kwe Hu.

sebaliknya Kwe hu juga tidak pilih kasih terhadap kedua saudara Bu-itu.

Waktu masih kecil memang tidak menjadi soal, tetapi ketiganya kini sudah dewasa, persoalan cinta segi tiga inipun menjadi semakin rumit dan serba sulit.

Menurut pikiran Kwe Cing, dia ingin menjodohkan, puterinya kepada Nyo Ko dan, untuk kedua saudara Bu akan dicarikan gadis lain yang setimpal.

Namun pikiran Ui Yong terlebih cermat, ia tahu banyak kesulitan dalam persoalan jodoh ini.

Kendatipun dia sangat pintar, menghadapi soal rumit inipun dia merasa bingung dan tak berdaya.

Begitulah Kwe Cing mengantar isterinya ke dalam kamar, setelah berbaring dan menyelimutinya, ia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan sang isteri dengan tersenyum bahagia.

Selama sebulan ini keduanya sama sibuk urusan tugas, suami-isteri jarang berkumpul dengan tenang, sekarang keduanya berhadapan tanpa bicara, namun terasa sangat tenang.

Ui Yong memegangi tangan Kwe Cing dan di-gosok2kannya pada pipi sendiri, lalu berkata dengan suara lirih.

"Engkoh Cing, anak kita yang kedua ini bolehlah kau berikan suatu nama yang baik."

"Kau tahu aku tidak sanggup, mengapa kau menggoda aku,"

Jawab Kwe Cing dengan tertawa.

"Kau selalu mengatakan dirimu tidak sanggup apa2, padahal, engkoh Cing, lelaki diseluruh jagat ini tiada keduanya yang mampu melebihi kau,"

Kata Ui Yong dengan mesra dan sungguh2 Kwe Cing menunduk dan mencium pelahan muka sang isteri katanya.

"Kalau anak laki2 kita beri sama Boh-to saja, tapi bila perempuan...."

Dia berpikir sejenak, lalu menyambung "Kau saja yang memberikan namanya."

"Saat ini kita sedang mempertahankan kota Siang yang ini menghadapi serbuan orang MongoI, karena anak dilahirkan di sini, maka kita beri nama Yang saja, agar kelak kalau sudah besar anak ini akan selalu ingat bahwa dia dilahirkan di kota yang sedang berkecamuk peperangan."

"Bagus, diharap saja anak perempuan ini tidak senakal Tacinya, sudah begitu besar masih membikin repot orang tua saja,"

Ujar Kwe Cing.

"Kafau cuma repot sih tidak jadi soal."

Ujar Ui Yong dengan tersenyum.

"justeru dia.... .ahhh aku malah berharap anak ini adalah laki2 saja"

Kwe Cing me-raba2 tangan sang isteri dan ber-kata.

"Anak laki2 atau anak perempuan kan sama saja? Sudahlah, lekas tidur, jangan berpikir macam2"

Setelah menyelimuti sang isteri dan memadamkan lilin, lalu Kwe Cing kembali ke kamarnya, dilihatnya Nyo Ko masih tidur dengan lelapnya, di-dengarnya bunyi kentongan tiga kali, segera ia naik tempat tidur lagi.

Tak diketahuinya bahwa percakapan mereka suami-isteri dihalaman tadi telah dapat didengar semua oleh Nyo Ko yang sembunyi di balik pintu.

Waktu Kwe Cing dan Vi Yong menuju ke ruangan dalam Nyo Ko masih berdiri kesima di balik pintu sambil merenungkan ucapan Ui Yong.

"Aku justeru menyesal tidak membunuhnya lebih dini, ayahnya mati keracunan akibat memukul bahuku, kita sama ada maksud membunuhnya, tapi akhirnya dia juga mati akibat diriku."

Dari kata2 itu jadi sudah jelas bahwa ayahku memang tewas di tangan mereka berdua, hal ini tidak perlu diragukan lagi, demikian pikir Nyo Ko, Diam2 iapun merasa Ui Yong benar2 maha lihay karena mencurigai dirinya, kalau malam ini tidak turun tangan, mungkin kelak tiada kesempatan baik lagi.

Begitulah ia lantas berbaring lagi di tempat tidurnya dan menunggu sampai kembalinya Kwe Cing.

Setelah Kwe Cing merebahkan diri dan memakai selimut, didengarnya Nyo Ko mengeluarkan suara mengorok pelahan.

Diam2 ia pikir anak muda ini nyenyak benar tidurnya.

Karena itu ia mapan tidur dengan pelahan, kuatir kalau mengganggu Nyo Ko.

Selang tak lama, selagi layap2 akan terpulas, tiba2 terasa Nyo Ko membalik tubuh dengan pelahan, tapi waktu membalik tubuh tetap mengeluarkan suara mendengkur Kwe Cing melengak heran, umumnya orang tidur kalau membalik tubuh tentu suara mendengkurnya akan berhenti mengapa pernapasan bocah ini lain daripada yang lain, apakah mungkin latihan Lwekangnya mengalami kesalahan?

jika betul demikian bisa celaka.

Hati Kwe Cing memang polos, sama sekali ia tidak pernah menyangka Nyo Ko sengaja pura2 mendengkur Begitulah ketika Nyo Ko membalik tubuh pula pelahan dan melihat Kwe Cing tetap diam saja, segera ia mengeluarkan suara dengkuran lagi sambil turun dari tempat tidur.

Semula ia berniat menikam Kwe Cing dalam selimut, tapi diurungkan karena merasa berbahaya menyerangnya dari jarak dekat, kalau saja sebelum ajalnya Kwe Cing membalas sekali hantam, tentu jiwa sendiri juga akan melayang.

Karena itu ia mengambil keputusan turun tempat tidur dulu, begitu tikamannya mengenai tempat yang mematikan segera ia akan melompat keluar jendela dan melarikan diri, Tapi iapun kuatir kalau suara mendengkurnya berhenti mungkin akan menimbulkan curiga Kwe Cing jika dalam tidurnya itu merasakan sesuatu yang tidak beres maka sambil turun dari tempat tidur ia tetap pura2 ngorok.

Karena kelakuannya inilah membikin Kwe Cing semakin bingung, ia pikir jangan2 bocah ini mengidap penyakit "mimpi berjalan"

Kalau sekarang kubiarkan dia.

karena kagetnya bukan mustahil tenaga dalamnya akan bergolak dan tersesat ke jalan yang keliru, itu berarti maut bagi anak muda itu.

Karena itulah ia tidak berani bergerak dan tetap pasang kuping untuk mengikuti gerak gerik Nyo Ko.

Pelahan Nyo Ko mengeluarkan belatinya danbdigenggamnya kencang di depan dada, dengan hati2 ia mendekati tempat tidur, mendadak ia angkat belatinya terus hendak ditikamkan ke ulu hati Kwe Cing.

"Ko ji, kau mimpi buruk apa?"

Pada saat itu juga mendadak Kwe Cing berseru padanya dengan suara halus.

Sungguh kaget Nyo Kotak terkatakan, begitu ke dua kakinya menutul, secara membalik tubuhnya terus menerobos keluar jendela.

Akan tetapi kecepatannya tetap kalah cepat daripada Kwe Cing sebelum dia tancapkan kakinya di luar, tahu2 kedua bahunya sudah dipegang oleh kedua tangan Kwe Cing.

Seketika Nyo Ko putus asa, ia tahu ilmu silat sendiri se-kali2 bukan tandingan sang paman, melawan juga tiada gunanya, maka ia cuma pejam mata dan menunggu ajal saja.

Tak terduga Kwe Cine terus mengangkat tubuhnya dan melompat masuk pula ke dalam kamar, didudukkannya Nyo Ko di tempat tidur dalam posisi seperti orang lagi semadi.

Diam2 Nyo Ko heran, ia tidak tahu dengan cara bagaimana dirinya akan disiksa oleh Kwe Cing, Tiba2 teringat pada Siao-liong-li, ia menarik napas panjang dan segera bermaksud berteriak memperingatkan nona itu agar lekas melarikan diri.

Melihat si Nyo Ko menghimpun tenaga, Kwe Cing semakin salah paham bahwa anak muda itu sedang menahan sakit.

Cepat ia gunakan tangannya untuk menahan perut Nyo Ko.

Mestinya Nyo Ko hendak berteriak.

tapi perutnya ditekan sehingga sukar bersuara, sedangkan dalam hati menguatirkan keadaan Siao-liong-li, ia menjadi kelabakan tapi perutnya ditahan oleh kwe Cing, ingin merontapun tidak dapat.

Dengan pelahan kemudian Kwe Cing berkata.

"Ko-ji, kau ter-buru2 berlatih, akibatnya malah macet sebaiknya jangan banyak bergerak, tenangkan pikiranmu, akan kubantu kau meredakan pergolakan tenaga dalammu."

Nyo Ko tercengang heran karena tidak tahu apa maksud ucapannya, ia hanya merasakan hawa hangat tersalur dari tangan sang paman ke dalam perutnya dan terasa sangat menyegarkan.

Segera tahulah Nyo Ko bahwa Kwe Cing sedang membantunya dengan Lwekang yang tinggi untuk melancarkan tenaga dalamnya.

Diam2 ia merasa geli dan malu diri pula, Nyata sang paman salah sangka latihan Lwekangnya tersesat sehingga kelakuannya seperti orang sinting.

Agar tidak menimbulkan curiga orang segera ia mengerahkan tenaga dalam sendiri dan sengaja disalurkan ke sana ke sini tanpa teratur dan seperti sukar diatasi.

Tehtu saja Kwe Cmg bertambah kuatir, ia kerahkan tenaganya lebih kuat untuk menghimpun tenaga dalam Nyo Ko yang terpencar itu.

Karena Nyo Ko sudah telanjur berlagak begitu mau-tak mau ia harus berbuat supaya lebih sungguh2 tampaknya.

Dasar Lwekang si Nyo Ko sekarang sudah sangat tinggi, seketika Kwe Cing kena dikelabui sampai agak lama barulah ia berhasil melancarkan tenaga dalam si Nyo Ko yang disangkanya nyasar itu.

Setelah kerja keras begitu, akhirnya Nyo Ko merasa kehabisan tenaga, Kwe Cing juga merasa letih, kedua orang sama2, bersemadi sehingga fajar barulah segar kembali.

"Sudah baik belum, Ko-ji?"

Tanya Kwe Cing dengan tersenyum.

"Sungguh tak terduga bahwa tenaga dalammu sudah begini hebat, hampir saja aku tidak sanggup menolong kau."

Tahu bahwa sang paman tidak sayang mengorbankan tenaga murninya demi untuk menolongnya mau -tak -mau hati Nyo Ko sangat terharu, katanya.

"Terima kasih atas pertolongan Kwe-pepek, semalam aku hampir saja celaka."

Diam2 Kwe Cing bersyukur bahwa anak muda ini tidak menyadari bahwa semalam dia telah angkat belati hendak menikamnya, kalau tahu, tentu anak muda itu akan menyesal tak terhingga.

Nyata Kwe Cing yang berhati jujur dan baik budi itu tetap tidak mencurigai perbuatan Nyo Ko itu, ia malahan kuatir kalau Nyo Ko mengetahui kejadian itu, maka sengaja membelokkan pembicaraan, katanya segera.

"Marilah kau ikut padaku keluar untuk mengontrol pertahanan pasukan kita."

Nyo Ko mengiakan dan ikut keluar. Kedua orang masing2 menunggang kuda perang dan dilarikan keluar benteng kota.

"Ko-ji,"

Kata Kwe Cing ditengah jalan.

"Lwe-kang kaum Coan-cin-pay adalah ilmu yang baik, meski kemajuannya lambat, tapi jarang terjadi kemacetan. Kukira kuncinya sudah cukup kau pahami, nanti kalau musuh sudah mundur akan kujelaskan lebih lanjut."

"Baiklah, kumohon Kwe-pepek jangan menceritakan kejadian semalam kepada bibi, kalau beliau tahu tentu akan mentertawakan diriku yang mempelajari ilmu sesat dari Kokoh segala,"

Kata Nyo Ko.

"Teatu takkan kuceritakan,"

Kata Kwe Cing.

"Padahal Kanghu nona Liong itupun bukan kepandaian jelek, soalnya kau sendiri yang banyak memikirkan hal2 lain dan tidak dapat memusatkan pelajaranmu pada itu saja."

Nyata ocehan Nyo Ko telah berhasil membohongi Kwe Cing sehingga tidak bercuriga sedikitpun, ia tahu bila urusan ini diketahui Ui Yong, maka sukar akan mengelabuhi nyonya maha cerdik itu, ia merasa lega setelah Kwe Cing berjanji takkan memberitahukan kejadian semalam kepada Ui Yong.

Begitulah kedua orang terus melarikan kuda mereka ke barat kota, terlihat sebuah sungai kecil terbentang di kaki bukit sana.

"Sungai ini bernama Tan-keh,"

Tutur Kwe Cing.

"Konon dahulu Lau Pi pada jaman Sam-kok itu dikejar pasukan musuh sampai di tepi sungai ini, Kuda yang ditunggangi Lau Pi bernama Tek-loh, menurut peramal kuda, katanya kuda itu kurang baik bagi sang majikan. Tak terduga pada saat gawat itulah sang kuda mampu melompat melintasi sungai kecil itu sehingga Lau Pi lolos dari kejaran musuh dan selamatlah jiwanya." -Bicara sampai disini, tiba2 ia turingat kepadar ayah Nyo Ko, katanya pula dengan gegetun.

"Sebenarnya manusia juga sama dengan kuda yang bernama Tek-loh itu, baik atau buruk sukar diramal, segala sepatu hanya bergatung pada ketentuan pikiran sekejap saja."

Hati Nyo Ko terkesiap, ia melirik Kwe Cing sekejap, tampaknya wajah sang paman mengunjuk rasa duka dan menyesal, agaknya ucapan itu tidak sengaja ditujukan kepadanya, Diam2 ia membatin.

"Meski tidak salah ucapannya, tapi baik itu apakah, buruk itu apa pula? Kalian suami isteri telah mencelakai ayahku apakah juga perbuatan baik?" -sesungguhnya ia sangat kagum terhadap tindak tanduk Kwe Cing, tapi bila ingat sang ayah yang mati di tangan suami isteri itu, mau-tak-mau timbul rasa dendamnya. Begitulah mereka terus melarikan kuda ke atas sebuah bukit dan memandang jauh ke sana kelihatan air sungai Hansui mengalir memanjang ke selatan, tertampak pula rakyat ber-kelompok2 mengungsi membanjiri Siangyang. Sambil menuding kaum pengungsi itu, Kwe Cing berkata.

"Pasukan Mongol pasti mengganas di perkampungan sana sehingga rakyat jelata kita terpaksa mengungsi menyelamatkan diri, betapa kejamnya orang Mongol sungguh menggemaskan."

Pada saat itulah, tiba2 dilihatnya rombongan pengungsi yang menuju pintu benteng itu ber-lari balik, tapi arus pengungsi dari belakang masih terus membanjir tiba sehingga di luar kota Siangyan seketika kacau balau dan hiruk pikuk.

Kwe Cing terkejut, ia heran mengapa penjaga pintu gerbang kota itu tidak membukakan pintu dan membiarkan kaum pengungsi itu masuk.

Cepat ia melarikan kudanya ke sana, terlihat lah satu regu pemanah berdiri di atas benteng dengan mementang busur menghadap kaum pengungsi itu.

"Hai, ada apa kalian? Lekas membuka pintu!"

Teriak Kwe Cing. Melihat Kwe Cing, perwira penjaga cepat memerintahkan membuka pintu gerbang, dan membiarkan Kwe Cing dan Nyo Ko masuk.

"Rakyat dijagal secara kejam oleh musuh, mengapa tidak membiarkan mereka masuk?"

Tegur Kwe Cing. Perwira piket itu menjawab.

"Lu-tayswe menguatirkan diantara kawanan ptngungsi ada mata2 musuh, maka betapapun mereka dilarang masuk kota agar tidak menimbulkan bencana."

"Andaikata betul ada satu-dua mata2 musuh. yang terselundup masuk juga tidak boleh mengakibatkan jiwa be-ribu2 rakyat jelata menjadi korban?"

Ujar Kwe Cing.

"Hayo lekas membuka pintu."

Sudah lama Kwe Cing ikut berjasa mempertahankan kota Siangyang, namanya sangat tersohor dan disegani kawan maupun lawan, perwira itu tidak berani membantah perintahnya, terpaksa ia membukakan pintu benteng disamping mengirim berita kepada Lu Bun-hoan.

Seketika terjadilah lautan manusia membanjir ke dalam kota, ketika kawanan pengungsi itu hampir masuk kota semua, mendadak dari jauh debu mengepul tinggi, pasukan Mongol menyerbu tiba dari arah utara, Perajurit Song segera siap siaga di belakang tembok benteng, terlihat di depan pasukan Mongol itu didahului oleh suatu rombongan orang yang berpakaian compang camping dan tangan membawa pentung dan sebagainya, tapi tiada sesuatu senjata tajam betul2, cara berjalannya juga tidak teratur, rombongan kaum jembel itu ber-teriak2.

"Jangan memanah, kami adalah rakyat Song!" -Dan pasukan Mongol yang tangkas itu ternyata berlindung di belakang barisan rakyat itu. Sejak Jengis Khan memang pasukan Mongol selalu menggunakan siasat begitu, yakni memakai rakyat negara musuh sebagai perisai untuk menyerbu kedudukan musuh, asalkan penjaga tidak tega hati dan berhenti memanah, maka pasukan Mongol lantas menyerbu maju, Cara itu sangat keji dan ganas, tapi lebih sering berhasil dengan baik, Begitulah maka kelihatan barisan rakyat itu telah digiring pasukan Mongol dan dipaksa mendekati benteng, makin lama makin dekat malahan sebagian sudah mulai memanjat tangga. Saat itu Lu Bun-hoan, panglima pertahanan kota Siangyang, sedang berkeliling mengawasi penjagaan pasukannya, melihat keadaan berbahaya, segera ia memberi perintah agar melepaskan panah, seketika terjadilah hujan panah di tengah jerit tangis rakyat jelata yang jatuh bergelimpangan, rakyat lainnya lantas membalik dan lari serawutan. Namun merekapun menjadi mangsa perajurit Mongol yang menabasnya dgn golok atau menusuknya dgn tumbak, barisan rakyat itu tetap didesak agar menyerbu ke atas benteng. Nyo Ko berdiri di samping Kwe Cing. gusar sekali ia menyaksikan adegan menyedihkan itu.

"Panah! Pahahl"

Terdengar Lu Bun-hoan berteriak2 pula memberi perintah. Segera suatu baris anak panah menyamber lagi ke bawah.

"Hai berhenti! jangan salah membunuh orang baik,"

Seru Kwe Cing.

"Keadaan segawat ini, andaikan orang baik juga terpaksa salah membunuhnya,"

Ujar Lu Bun-Hoan.

"Jangan, orang baik mana boleh salah membunuhnya."

Kata Kwe Cing pula. Tergetar hati Nyo Ko, diam2 ia menggumam.

"jangan salah membunuh orang baik, jangan salah membunuh orang baik."

Mendadak Kwe Cing berseru.

"Hayo saudara2 anggota Kay-pang, ikut padaku!"

Segera ia berlari turun dari atas benteng, Nyo Ko juga akan ikut, tapi Kwe King berkata padanya.

"Semalam kau kelihatan kurang sehat, sebaiknya kau berjaga di sini saja untuk mengawasi keadaanku."

Sebenarnya Nyo Ko ingin ikut Kwe Cing menghajar p rajurit Mongol yang kejam itu, ia tercengang mendengar ucapan Kwe Cing itu, tapi iapun tidak dapat berterus terang kejadian semalam, terpaksa ia tetap tinggal di tempatnya dan menyaksikan Kwe Cing memimpin suatu pasukan tanpa seragam menerjang keluar benteng terus menyergap sayap kanan pasukan Mongol.

Siasat pasukan Mongol yang "meminjam golok untuk membunuh orang"

Adalah cara sekali bertindak mendapat dua hasil, disamping menjagal bangsa Han juga dapat menggoyahkan hati pasukan Song, Tapi mendadak terlihat Kwe Cing memimpin pasukan menyerbu tiba, setiap orang berkepandaian tinggi dan gagah berani.

Pasukan Mongol yang digiring barisan di belakang itu lantas membagi pasukannya untuk menahan serbuan Kwe Cing itu.

Namun pasukan Kwe Cing itu sebagian besar adalah jago2 pilihan dari Kay-pang, sebagian kecil lainnya adalah para ksatria yang sengaja datang ke Siangyang untuk ikut berjuang, serentak mereka menyerbu maju sambil ber-teriak2, semangat tempur mereka yang menyala-nyala itu sudah membikin pasukan Mongol merasa keder.

Maka begitu kedua pihak bergebrak segera ratusan perajurit Mongol dibinasakan.

Tampaknya pasukan Mongol itu sukar menahan pasukan Kwe Cing, tiba2 dari samping sana menerjang tiba pula pasukan Mongol lain, Pasukan Mongol itu memang tangkas dan sudah terlatih, meski barisan pejuang yang dipimpin Kwe Cing itu berilmu silat tinggi, seketika merekapun sukar mengalahkan musuh, sementara itu barisan rakyat yang dipaksa menyerbu ke benteng kota itu lantas berlari serabutan karena pasukan Mongol yang menggiring mereka itu sebagian terpencar untuk menempur pasukan Kwe Cing.

Pada saat itulah terdengar suara tiupan tanduk disebelah timur sana, suara derapan kuda pasukan bergemuruh, dan pasukan Jian-jin-tui (barisan ribuan orang, batalion) Mongol menerjang tiba, menyusul dari sebelah barat kembali dua pasukan Jian-jin-tui menyerbu datang sehingga rombongan Kwe Cing itu terkurung di tengah.

Melihat betapa hebatnya pasukan Mongol itu, saking jerinya Lu Bun-hoan menjadi bingung dan tidak berani mengirim pasukan penolong.

Sambil berdiri di atas benteng, Nyo Ko terus merenungkan ucapan Kwe Cing tadi.

"jangan salah membunuh orang baik! jangan salah membunuh orang baik?"

Sementara itu ia melihat sang paman terkepung rapat oleh pasukan Mongol ia pikir.

"Sebabnya Kwe-pepek terkepung musuh sekarang adalah karena dia tidak mau salah membunuh orang baik2. Padahal rakyat ini bukan sanak kadangnya, tapi dia toh menyelamatkan mereka tanpa menghiraukan jiwa sendiri, Lantas apa sebabnya dia mencelakai ayahku?"

Ia memandangi pertempuran sengit di luar benteng itu, tapi dalam hati terus memikirkan teka-teki yang sukar dipecahkan ini .

"Dia dan ayah adalah saudara angkat, dengan sendirinya hubungan mereka lain daripada yang lain, tapi akhirnya toh Kwe-pepek mencelakai jiwa ayah, apakah ayahku memang orang busuk yang sama sekali tak dapat diampuni?"

Selama hidup Nyo Ko tidak pernah melihat ayah-bundanya sendiri, sejak kecil ia membayangkan sang ayah adalah seorang pendekar budiman, gagah berani, seorang lelaki sejati di dunia ini, kalau mendadak dia disuruh mengakui ayahnya adalah orang busuk, betapapun dia tak dapat terima.

Padahal samar2 dalam lubuk hatinya sudah lama terasa bahwa ayahnya jauh untuk dibandingkan Kwe-pepek, cuma setiap kali kalau timbul pikiran demikian selalu ia menekannya sekuatnya dan sekarang perasaan ini mau tak-mau timbul pula dalam benaknya.

Dalam pada itu medan perang di bawah sana masih berlangsung dengan sengit, suara hiruk pikuk menggelegar menggetar bumi, rombongan Kwe Cing tampak menerjang kian kemari, tapi tetap sukar menembus kepungan musuh.

Cu Cu-liu dan kedua saudara Bu masing2 siap memimpin suatu pasukan hendak keluar benteng untuk membantu, tiba2 terdengar suara tiupan tanduk yang keras dan sahut menyahut, kembali empat pasukan Jian jin-tui Mongol menerjang tiba pula.

Cara Kubilai mengatur pasukannya memang lain daripada yang lain, asalkan pintu gerbang benteng dibuka untuk mengeluarkan bala bantuan, maka pasukan Mongol yang sudah siap itu segera akan menyerbu masuk kota.

Keruan Lu Bun-hoan kebat-kebit ketakutan, cepat ia memberi perintah agar pintu gerbang jangan dibuka.

Diperintahkan pula dua regu perajurit khusus berjaga di pintu gerbang, siapa yang berani membuka pintu segera akan dibinasakannya.

Suasana diluar dan didalam benteng menjadi kacau balau, macam2 pikiran juga bertarung seru dalam benak Nyo Ko, sebentar ia berharap Kwe Cing dilalap saja oleh pertempuran gaduh itu, lain saat ia berharap pula agar sang paman berhasil mendobrak kepungan musuh.

Tiba2 kelihatan pasukan Mongol rada kacau, be-ribu2 perajurit berkudanya tersiak mundur laksana gelombang surut, dengan sebatang tumbak panjang Kwe Cing memacu kudanya keluar dari kepungan disertai barisan orang2 gagah yang dipimpinnya itu, mereka terus menerjang sampai di bawah tembok benteng, Ketika dekat pintu benteng, Kwe Cing terus memutar balik berjaga di belakang pasukan, di mana tumbaknya menyamber, beberapa perajurit dan perwira Mongol lantas terjungkal dari kudanya.

Melihat betapa lihaynya Kwe Cing, seketika pasukan Mongol itu menahan kuda mereka dan tak berani terlalu mendekat.

Pertahanan kota Siangyang boleh dikatakan tiada artinya tanpa Kwe Cing, maka Lu Bun-hoan menganggap Kwe Cing sebagai tulang punggungnya, ia sangat girang melihat Kwe Cing lolos dari kepungan musuh, cepat ia berseru membuka pintu gerbang.

Tapi pintu gerbang itu hanya dibuka selebar Satu-dua meter saja dan cuma cukup dimasuki suatu penunggang kuda saja, para ksatria itu ber turut2 lari ke arah pintu dan menyelinap masuk satu persatu.

Melihat siasat mereka gagal total, pasukan MongcI tidak tinggal diam, panji komando Kubilai tampak bergerak, dua pasukannya lantas menyerbu tiba dari kanan-kiri pintu gerbang.

"Lekas masuk, Kwe-tayhiap, kita tidak menunggu orang lain lagi!"

Seru Lu Bun-hoan kuatir.

Tapi sebelum seluruh anak buahnya selamat, mana Kwe Cing mau masuk benteng lebih dulu, ia berbalik menerjang kembali ke sana dan membinasakan dua jago Mongol yang mengudak paling dekat.

Namun pasukan besar sungguh seperti gelombang samudera saja di medan perang itu, betapapun tinggi ilmu silat Kwe Cing juga sukar menahan terjangan pasukan besar itu.

Melihat keadaan sangat berbahaya, Cu Cu-liu yang berdiri diatas benteng cepat menurunkan seutas tali panjang dan berseru.

"Naik ke sini, adik Kwe!"

Waktu menoleh, Kwe Cing melihat anggota Kay-pang yang terakhir sudah berhasil menyelinap masuk pintu gerbang, tapi ada balasan perajurit Mongol sempat ikut menerjang ke dalam, Segera regu penjaga pintu sibuk menghalau musuh disamping berusaha menutup pintu gerbang sekuatnya!

pelahan2 daun pintu benteng yang tebalnya lebih, setengah meter itu dapatlah dirapatkan.

Mendadak Kwe Cing membentak keras2, tumbaknya membinasakan seorang musuh, berbareng itu ia terus meloncat ke atas dan berhasil berpegang pada tali yang dijulurkan Cu Cu-liu tadi Dengan cepat Cu Cu-liu menarik talinya ke atas, seketika tubuh Kwc Cing terapung beberapa meter tingginya ke atas.

"Gunakan panah!"

Segera Ban-hu tiang pasukan Mongol yang memimpin pertempuran itu memberi komando, dalam sekejap saja be-n "bu2 anak panah terus menyamber ke arah Kwe Cing.

Namun sebelumnya Kwe Cing juga sudah memperhitungkan kemungkinan ini,-ia sudah menanggalkan jubahnya, dengan tangan kanan berpegangngan tali, tangan kiri memegang jubahnya terus diputar dan dikebutkan sekuatnya laksana sebuah perisai raksasa.

Hanya kuda tunggangannya tadi yang menjadi korban, berpuluh anak panah bersarang di badan binatang itu hingga mirip landak.

Cu Cu-liu terus menarik talinya dengan cepat dari semakin tingginya Kwe Cing terkerek ke atas, tampaknya tinggal beberapa meter lagi dia akaa mencapai benteng, pada saat itulah tiba2 di tengah pasukan MongoI itu muncul seorang Hwesio besar dengan berjubah kuning emas, siapa lagi dia kalau bukan Kim-lum Hoat-ong.

Dari seorang perwira Mongol di sebelahnya Hoat Ong mengambil busur dan panahnya, ia tahu kepandaian Cu Cu-liu dan Kwe Cing sangat tinggi kalau memanah mereka tentu tidak berhasil maka anak panah yang dibidikkan itu justeru mengincar tali yang mengerek Kwe Cing ke atas itu.

Tindakan Kim-lun Hoat-ong ini sungguh keji, anak panah itu menyambar bagian tali yang sukar dicapai oleh Cu Cu-liu dan Kwe Cing sehingga kedua orang sukar menangkisnya.

Malahan Kim-lun Hoat-ong kuatir kalau kedua orang itu mendadak menggunakan cara aneh untuk mematahkan serangannya, maka cepat ia susulkan pula panah kedua dan ketiga, panah kedua mengincar Cu Cu-liu dan panah ketiga mengarah Kwe Cing.

"Plok" , dengan tepat panah pertama telah mengenai tali sehingga putus, sedangkan panah kedua dan ketiga juga menyambar secepat kilat ke arah sasarannya. Dan karena talinya putus, dengan sendirinya tubuh Kwe Cing anjlok ke bawah sehingga dia terluput dari panah ketiga, sedangkan Cu Cu-liu merasa tangannya yang memegang tali itu mendadak menjadi ringan, ia berseru kaget dan tahu2 panah kedua juga sudah menyambar tiba. Panah ini kuat luar biasa, jelas pemanahnya memiliki tenaga dalam yang lihay, Cu Cu-liu tahu di atas benteng penuh berjubel orang, baginya tidak sulit untuk menghindar tapi akibatnya panah itu pasti akan mengenai orang di belakangnya, Cepat ia gunakan dua jarinya untuk menyampuk pelahan pada batang panah itu sehingga anak panah itu terjatuh ke bawah. Sementara itu Kwe Cing terkejut ketika merasa tali yang mengereknya ke atas itu putus, ia tidak cidera sekalipun terjatuh ke bawah benteng tapi terjeblos di tengah kepungan musuh sebesar itu, betapapun sukar baginya untuk menerjang keluar. Sementara itu pasukan musuh sudah berada di depan pintu gerbang kota, kalau dari dalam benteng dikirim keluar bala bantuan, kesempatan itu pasti akan digunakan pasukan Mongol untuk menyerbu ke dalam kota. Dalam keadaan demikian Kwe Cing tidak dapat berpikir banyak lagi, mendadak sebelah kakinya menutul dinding benteng sehingga tubuhnya terapung ke atas, menyusul kaki yang lain memancal pula dan begitu sejenisnya kedua kaki bergantian memanjat. Ilmu "naik tangga langit"

Yang hebat ini jarang yang bisa, andaikan bisa juga setiap panjatan itu hanya sanggup naik satu-dua meter saja ke atas, tapi Kwe Cing memanjat dinding benteng yang halus licin itu, bahkan sekali naik dapat tiga-meter tingginya, sungguh kepandaian yang luar biasa dan mengejutkan seketika suasana di atas dan di bawah benteng menjadi sunyi senyap ber-ribu2 pasang mata sama memandang Kwe Cing seorang..

Kim-lun Hoat-ong terperanjat akan kelihayan Kwe Cing itu, ia tahu ilmu naik tangga langit kekuatannya terletak pada loncatan ke atas secara sekaligus, asal sedikit merandek dan kendur, langkah selanjutnya menjadi sulit dan gagal.

Maka cepat ia membidikkan panah pula ke punggung Kwe Cing, secepat kilat anak panah itu terus menyambar ke sasarannya.

"Jangan memanah!"

Serentak pasukan kedua pihak sama berteriak.

Rupanya mereka menjadi sangat kagum menyaksikan kehebatan Kwe Cing itu dan semua berharap dia akan dapat mencapai benteng dengan selamat Meski pasukan Mongol itu adalah musuh, tapi merekapun menghormati ksatria dan pahlawan gagah, serangan secara tidak jujur itu menimbulkan rasa ketidak adilan mereka.

Ketika merasakan panah menyamber dari belakang dengan kuat, diam2 Kwe Cing mengeluh, terpaksa ia membaliki tangan untuk menyampuk panah.

Sampukan ke belakang dengan tepat membuat panah itu mencelat pergi, serentak bergemuruhlah sorak sorai pujian atas ketangkasan Kwe Cing itu.

Akan tetapi di tengah suara riuh ramai itu pula tubuh Kwe Cing telah rada merandek, puncak benteng yang tertinggal beberapa meter lagi ternyata tak dapat dicapainya lagi.

Ketika pasukan kedua pihak bertempur dengan sengit, hati Nyo Ko juga bertentangan seperti pertempuran di medan perang, dilihatnya Kwe Cing terancam bahaya, sekilas timbul beberapa kali pikiran Nyo Ko.

"Dia adalah musuhku, harus kubunuh dia atau tidak?"

Waktu Kwe Cing sudah hampir mencapai benteng, asalkan Nyo Ko menghantamnya sekali dari atas, dalam keadaan terapung di udara Kwe Cing pasti akan terluka dan jatuh binasa, Tapi sedikit ragu saja, Kwe Cing sudah terperosot lagi ke bawah oleh panah Kim-lun Hoat-ong, dalam keadaan pikiran kacau, Nyo Ko mendadak memegang kutungan tali di tangan Cu Cu-liu itu terus menubruk ke bawah benteng dan syukur sebelah tangannya masih keburu mencengkeram tangan Kwe Ceng.

Perubahan kejadian ini cepat luar biasa, tapi Cu Cu-liu adalah murid It-teng Taysu, betapa cepat dan tangkas tindakannya, tanpa ayal ia terus menarik sekuatnya kutungan tali yang masih ditangannya itu.

sekali sendal, segera Nyo Ko dan Kwe Cing terangkat ke atas, laksana dua ekor burung raksasa kedua orang lantas melayang di udara?

Menyaksikan kejadian luar biasa itu, pasukan kedua pihak seketika melongo kesima.

Dalam keadaan "terbang"

Di udara, Kwe Cing merasa penasaran kalau tidak dapat membalas kelicikan Hoat-ong tadi. Dilihatnya"

Hoat-ong sudah penteng busur dan hendak memanah lagi, maka begitu dia tancapkan kaki di atas benteng, segera ia rebut busur dan panah dari seorang perajurit, secepat kilat iapun lepaskan panah ke arah panah yang sudah di bidikkan Hoat-ong itu.

"Prak" , panah Kim-lun Hoat-ong tertembak patah menjadi dua. Ketika Hoat-ong melengak kaget "creng" , tahu2 busur yang dipegangnya juga patah, oleh panah berikutnya yang dilepaskan Kwe Cing. Sebenarnya kepandaian Kwe Cing dan Kim-lun Hoat-ong boleh dikatakan seimbang, tapi waktu kecilnya Kwe Cing pernah mendapat pelajaran memanah dari Cepe, si pemanah sakti kesayangan Jengis Khan, ditambah tenaga dalam Kwe Cing sendiri maha kuat, maka kepandaiannya memanah sungguh sukar dicari bandingannya di dunia ini, dengan sendirinya pula Kim-lun Hoat-ong bukan tandingannya. Ber-turut2 tiga kali, panah pertama mematahkan panah lawan, panah kedua mematahkan busur dan panah ketiga segera dilepaskan pula dengan mengincar panji kebesaran Kubilai. Panji itu sedang ber-kibar2 tertiup angin dan tampaknya sangat angker di tengah ber-ratus2 ribu perajurit itu, mendadak anak panah menyambar tiba dan tepat memutuskan tali panji itu, seketika panji kebesaran Kubilai itu melorot ke bawah dari tiangnya, serentak pula pasukan kedua pihak berteriak2 gemuruh. Menyaksikan kelihayan Kwe Cing itu, pula semangat tempur pasukan sendiri sudah runtuh, cepat Kubilai memberi perintah pasukan mundur. Kwe Cing berdiri di atas benteng dan menyaksikan pasukan Mongol mundur dengan teratur, dengan disiplin yang sangat kuat, sedikitpun tidak kacau, tanpa terasa ia menghela napas dan mengakui kehebatan pasukan Mongol yang sukar di tandingkan pasukan Song itu. Teringat kepada situasi negara, ia menjadi sedih dan mengkerut kening. Setelah mengundurkan pasukannya hingga ber-puluh li jauhnya, diam2 Kubilai merenungkan pula akal menggempur Siangyang, ia pikir dengan adanya Kwe Cing jelas kota itu sukar dibobolkan. Melihat Kubilai termenung, Kim-lun Hoatong lantas berkata. Yang Mulia menyaksikan sendiri kalau bocah she Nyo itu tidak menolongnya, jelas jiwa Kwe Cing sudah melayang di bawah panahku. Memang sudah kuduga bahwa bocah she Nyo itu adalah manusia yang tak dapat dipercaya.

"Belum tentu begitu halnya,"

Ujar Kubilai.

"Bisa jadi Nyo Ko ingin membunuh sendiri orang she Kwe itu untuk membalas sakit hati ayahnya, maka ia tidak ingin musuhnya mati ditangan orang lain,"

Meski Kim-lun Hoat-ong tidak sependapat tapi iapun tidak berani membantah, terpaksa iapun menyatakan semoga begitulah hendaknya.

Mundurnya pasukan Mongol sudah tentu membuat girang Lu Bu-hoan, ia mengadakan perjamuan besar pula untuk merayakan kemenangan itu.

Sekali ini Nyo Ko juga diundang sebagai tamu terhormat, semua orang sama memuji betapa gagah beraninya menolong Kwe Cing itu..Kedua saudara Bu juga ikut hadir dalam pesta itu, melihat Nyo Ko baru datang sudah lantas berjasa, mereka merasa iri.

Mereka menjadi kuatir pula setelah peristiwa ini Kwe Cing akan semakin berniat menjodohkan anak perempuannya kepada Nyo Ko, hati mereka menjadi kesal.

Selesai pesta itu, Ui Yong mengundang Nyo Ko keruangan dalam untuk menemuinya, iapun memberi pujian dengan kata2 halus.

"Ko-ji,"

Kata Kwe Cing.

"Tadi kau terlalu keras menggunakan tenaga, apakah dadamu sekarang terasa sakit?" -Rupanya dia kuatir kalau Nyo Ko akan tambah parah penyakitnya setelah semalam mengalami gangguan latihan Lwekang. Kuatir Ui Yong akan mengusut lebih lanjut apa yang terjadi semalam, cepat Nyo Ko menyatakan tidak apa2 dan segera pula membelokkan pembicaraan, katanya.

"Kwe-pepek, kepandaianmu memanjat dinding benteng itu sungguh luar biasa dan tiada bandingannya."

"Sudah beberapa tahun aku tidak berlatih kepandaian itu sehingga gerak gerikku rada kaku, maka hampir terjadi malapetaka tadi,"

Ujar Kwe Cing tersenyum.

"Sungguh tidak nyana ilmu yang kupelajari dari Ma-toliang di Mongol dahulu dapat dimanfaatkan sekarang. Kalau kau suka, Hehehe kuajarkan ilmu itu padamu nanti."

Ui Yong dapat melihat sikap Nyo Ko yang kikuk, waktu bicara juga seperti sedang memikirkan sesuatu, meski semua orang menyaksikan anak muda itu menyelamatkan sang suami dengan sepenuh tenaga, tapi ia tetap waswas, katanya kemudian "Engkoh Cing, malam ini kurasa kurang enak badan, hendaklah kau suka menjaga di sini."

Kwe Cing lantas ingat pesan sang isteri, segera ia mengangguk setuju lalu katanya kepada Nyo Ko.

"Ko-ji, tentu kau sudan lelah, bolehlah kau kembali ke kamar untuk mengaso."

Setelah kembali ke kamamya, Nyo Ko duduk termenung menghadapi meja, sementara itu sudah dekat tengah malam, memandangi api lilin yang sebentar terang sebentar gelap itu, macam pikiran berkecamuk dalam benaknya.

Tiba2 terdengar suara ketokan pintu yang pelahan, suara Siao-liong-li mendesir di luar.

"Belum tidur kau?"

Dengan girang Nyo Ko lantas membuka pintu. dilihatnya Siao-liong-li sudah berdiri di depan pintu dengan baju hijau pupus dan wajah berseri "Ada urusan apa, Kokoh?"

Tanya Nyo Ko.

"Aku ingin menjenguk kau,"

Jawab Siao-liong-li dengan tertawa.

"Akupun merindukan kau,"

Ujar Nyo Ko dengan suara lembut dan menggenggam tangan si nonar pelahan keduanya lantas ke taman bunga.

Tetumbuhan di taman bunga itu jarang2 saja, namun bunga sedap malam mekar semerbak me-ngasyikkan, Siao-liong-li memandang rembulan yang menghiasi cakrawala, katanya kemudian dengan suara lirih.

"Apakah kau harus membunuhnya dengan tanganmu sendiri? Rasanya waktu sudah sangat mendesak."

Cepat Nyo Ko mendesis.

"Ssst, jangan mempersoalkan ini, hati2 dengan mata telinga yang tak kelihatan di sini."

Siao-liong-li menatap anak muda itu dengan kesima, katanya kemudian.

"Jika bulan sudah bulat nanti, maka tibalah batas waktu 18 hari."

Sembilan hari sejak ia berpisah dengan Kiu-Jian-jio, kalau dalam satu-dua hari ini tak dapat membunuh Kwe Cing dan Ui Yong, maka sukar kembali lagi ke Coa-cengkok sebelum racun dalam tubuhnya bekerja, ia menghela napas dan bersama Siao-Iiong-li mengambil tempat duduk pada sepotong batu besar.

Keduanya berhadapan dengan bungkam, namun kasih mesra yang timbul dalam hati sukar dibendung, seketika keduanya melupakan urusan permusuhan dan pertempuran segala.

Lewat lama dan lama sekali, tampaknya sang dewi malam sudah mulai mendoyong ke barat, malam sunyi dengan hawa yang dingin, tiba2 di balik gunung2an sana ada suara kaki orang, dua orang mendatangi cuma tidak kelihatan karena teraling oleh semak bunga, Terdengar suara seorang gadis berkata.

"Jika kau mendesak aku lagi, lebih baik kau gorok leherku saja dengan pedangmu agar aku terhindar dari penderitaan."

"Hm, hatimu bercabang, memangnya kau sangka aku tidak tahu?"

Terdengar seorang lelaki menjawab "Begitu bocah she Nyo itu datang ke sini, segera ia pamer kepandaian didepan orang banyak, tentu saja segala sumpah setia dimasa lalu telah kau lupakan semua,"

Dari suara mereka itu jelas ialah Kwe Hu dan Bu Siau-huan berdua.

Siao-liong-Ii mencebir kepada Nyo Ko, maksudnya mencemoohkan anak muda itu yang digilai oleh gadis di mana saja dia berada.

Nyo Ko tersenyum, ia tarik Siao-liong-li lebih rapat dengan dirinya dan memberi tanda agar jangan sampai bersuara, maksudnya akan mendengarkan lebih lanjut percakapan Kwe Hu berdua.

Tampaknya Kwe Hu menjadi marah setelah mendengar ucapan Bu Siu-bun tadi, dengan suara keras ia menjawab.

"Jika begitu, anggaplah apa yang kita bicarakan dahulu cuma omong kosong saja, Biarlah nanti kupergi sejauhnya, selamanya takkan bertemu dengan Nyo Ko, kitapun takkan bertemu selamanya."

Lalu terdengar suara kebasan baju, mungkin Bu Siu-bun ingin menarik lengan baju Kwe Hu, tapi nona itu telah mengebutkannya dengan keras. Dengan suara marah Kwe Hu berkata pula.

"Kenapa kau pegang2 segala? Orang datang atau tidak peduli apa dengan aku?"

Andaikan ayah ibu menjodohkan aku kepadanya, biar matipun aku tidak mau menurut.

Kalau ayah memaksa aku, segera aku minggat saja.

Hm, sejak kecil si Nyo Ko sombong meremehkan diriku hm, aku justeru tidak memandang sebelah mata padanya, Ayah selalu menganggap dia anak baik, hm, aku justeru anggap dia bukan manusia baik2.

Dengan girang Bu Siu-bun lantas membumbui.

"Benar, benar, bocah itu memang congkak dan mengira dunia ini dia punya, Adik Hu, anggaplah aku yang salah omong, harap engkau jangan marah. selanjutnya aku takkan sembarangan omong lagi, kalau berbuat begini lagi, biarlah aku menjelma menjadi.... menjadi kura2." -Lalu ia bergaya seperti kura merangkak. Dari nada ucapan Kwe Hu itu, meski omelannya pada Bu Siu-bun itu membuat anak muda itu bertambah menyembah di telapak kakinya, tapi hati nona itu tampaknya juga sayang padanya. Terdengar Bu Siu-bun berkata pula.

"Subo (ibu guru) paling sayang padamu, asalkan kau memohon bantuannya dan beliau berjanji takkan menjodohkan kau pada bocah she Nyo itu, maka Suhu pasti tak dapat berbuat apa2"

"Hm, kau tahu apa"

Jengek Kwe Hu.

"Meski ayah suka menuruti kehendak ibu, tapi kalau meng-hadapi urusan penting, biasanya ibu selalu mengikuti kemauan ayah."

"Oh, langkah bahagiaku jika kaupun begitu"

Terdengar ucapan Bu Siu-bun dengan menghela napas. Mendadak terdengar suara "plok"

Disertai jerit kesakitan Bu Siu-bun, serunya.

"He, kenapa kau memukul aku?"

"Habis, mengapa kau bicara seenakmu?"

Omel Kwe Hu.

"Aku tidak sudi pada si Nyo Ko, akupun takkan menjadi isteri monyong macammu ini."

"Bagus, baru sekarang kau bicara blak2an kau tidak sudi menjadi isteriku, tapi lebih suka menjadi isteriku kakakku, ingin kukatakan... ingin kukatakan..."

Tapi saking gugupnya Bu Siu-bun tidak sanggup melanjutkan. Tiba2 nada ucapan Kwe Hu berubah halus, katanya.

"Bu-jiko, kau baik padaku, ini sudah kau katakan beratus dan beribu kali dengan sendirinya kutahu perasaanmu yang sungguh2 itu, Meski kakakmu tidak pernah menyatakan isi hatinya padaku, tapi akupun tahu dia jatuh hati padaku, Nah, jadi betapa sulitku menghadapi kalian ini, siapapun antara kalian kupilih, satu di antara kalian tentu akan kecewa dan berduka. Kau sayang padaku dan memanjakan diriku, tapi kau tidak pernah tahu betapa serba salahku menghadapi hal ini."

Sejak kecil Bu Tun-si dan Bu Siu bun ditinggalkan ayah-bundanya, hubungan kakak beradik itu selamanya sangat baik, tapi akhir2 ini keduanya sama2 jatuh cinta pada Kwe Hu sehingga-timbul perang dingin antara mereka..

Maka Bu Siu bun tidak enak bicara lagi demi Kwe Hu menyinggung tentang kakaknya itu.

Karena gugup dan cemas air matapun berlinang2.

Kwe Hu ambil saputangan dan dilemparkan kepada anak muda itu, katanya pula dengan gegetun.

"Bu-jiko, kita dibesarkan bersama, aku hargai kakakmu, tapi aku lebih cocok dengan tutur katamu, Terhadap kalian berdua sama sekali aku tidak mem-beda2kan, jika sekarang kau memaksa aku bicara terus terang, coba kalau kau yang menjadi aku, lalu cara bagaimana kau akan bicara?"

"Aku tidak tahu,"

Ujar Siu-bun.

"Aku cuma ingin katakan padamu, kalau kau dipersunting orang lain, maka aku takkan hidup lagi."

"Baiklah, malam ini sudah cukup. Siang tadi ayah bertempur mati2an, tapi kita malah bicara hal yang tidak penting di sini, kalau diketahui ayah tentu kita akan diomeli. Bu-jiko, ingin kukatakan bagimu, jikalau kau ingin memperoleh pujian dari-ibuku, mengapa kau tidak berjuang dan berjasa, sebaliknya setiap hari hanya merecoki diriku saja, bukankah kau akan dipandang enteng oleh ayah."

"Benar!"

Seru Bu Siu-bun sambil melonjak.

"Akan kubunuh Kubilai untuk membebaskan Siang-yang dari kepungan musuh, setelah berhasil masakah kau takkan terima lamaranku?"

"Jika begitu kau berjasa sebesar itu, andaikan aku tidak mau juga tidak bisa,"

Ujar Kwe Hu dengan tertawa.

"Namun di sekeliling Kubilai tidak sedikit pengawal2 lihay, melulu seorang Kim-lun Hoat-ong saja sukar dilawan, sebaiknya kau jangan berkhayal dan pergilah tidur saja."

Akan tetapi Bu Siu-bun sudah mempunyai perhitungan sendiri, ia pandang pula wajah Kwe Hu yang molek itu, lalu berkata.

"Baiklah. kaupun lekas tidur saja." -ia melangkah pergi beberapa tindak tiba2 menoleh dan berkata pula.

"Adik Hu malam ini kau mimpi atau tidak?"

"Mana aku tahu?"

Jawab Kwe Hu tertawa.

"Jika bermimpi, coba kau terka apa yang kau impikan?"

Tanya Siu bun.."Besar kemungkinan aku akan mimpi melihat seekor monyet kecil"

Ujar Kwe Ku dengan tersenyum. Girang sekali Bu Siu-bun, ia tahu kata2

"monyet"

Itu adalah kata olok2 si nona padanya, Maka melangkah pergilah dia dengan setengah berjingkrak.

Siao-liong-Ii dan Nyo Ko saling pandang dengan tersenyum mengikuti roman kedua muda-mudi itu.

Betapapun mereka merasa bangga pada cinta sendiri yang sukar dibandingi oleh cinta kasih antara Bu Siu-bun dan Kwe Hu yang tidak menentu itu.

Setelah Siu-bun pergi, Kwe Hu berduduk sendirian sambil termenung memandangi rembulan.

Selang agak lama, ia menghela napas panjang.

Pada saat itulah tiba2 dari balik gunungku muncul seorang dan menegurnya.

"Apa yang sedang kaupikirkan, adik Hu?"

Kiranya ialah Bu Tun-si.

Nyo Ko dan Siacliong-li terkesiap, kiranya dibalik gunung2an sana masih ada lagi seorang, dapat diperkirakan sudah sejak tadi Bu Tun si berada di situ lebih dulu daripada Nyo Ko berdua, kalau tidak, mustahil Nyo Ko berdua tidak mengetahui kedatangannya..

Dengan mengomel Kwe Hu menjawab.

"Kau selalu main sembunyi. Tentunya sudah kau dengar semua percakapanku dengan Bu-jiko bukan?"

Bu Tun-si mengangguk ia berdiri agak jauh di depan Kwe Hu, tapi sorot matanya penuh rasa cinta yang tak terhingga. Kedua orang terdiam sampai sekian lama, kemudian Kwe Hu bertanya.

"Apa yang hendak kau katakan padaku?"

"O, tidak apa2. tanpa kukatakan juga kau sudah tahu,"

Ujar Bu Tun-si sambil melangkah pergi.

Nyata watak kedua saudara Bu itu sama sekali berbeda, yang satu pendiam dan yang lain banyak omong, Kwe Hu ter-mangu2 mengikuti kepergian Bu Tun-si itu hingga lenyap di balik gunung2 an sana, ia pikir alangkah baiknya jika di dunia ini tidak ada Bu tua dan Bu muda itu melainkan cuma ada seorang saja, ia menghela napas gegutun.

Dilihatnya rembulan sudah semakin men-doyong ke barat, ia lantas kembali kekamarnya.

Sesudah Kwe Hu pergi Nyo Ko tanya Siao-liong-li dengan tertawa.

"Jika kau menjadi dia, kau pilih yang mana?"

Siao-Iiong-li berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Pilih kau."

"Aku di luar hitungan,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa "Nona Kwe sedikitpun tidak suka pada-ku, tidak mungkin aku terpilih Yang ku maksud-kan jika kau menjadi nona Kwe lalu kau pilih mana antara kedua saudara Bu itu?"

Siao-liong-li terdiam dan membandingkan kedua saudara Bu itu, tapi akhirnya ia menjawab.

"Aku tetap memilih kau."

Nyo Ko menjadi geli dan terharu pula, Di-rangkulnya Siao-liong-li dan berkata dengan suara lembut.

"Ya, orang lain selalu berbimbang hati, namun Kokohku hanya menyukai diriku saja."

Begitulah kedua orang itu terus terduduk mengobrol di situ dengan perasaan bahagia, sementara itu fajar sudah menyingsing tetap merasa berat untuk berpisah.

Tiba2 datang seorang centing memberitahu bahwa Kwe Cing mengundang Nyo Ko untuk merundingkan sesuatu urusan.

Melihat centing itu rada gugup dan ter-gesa2, Nyo Ko pikir pasti ada urusan penting, ia coba tanya.

"Apakah paman Kwe sudah lama mencari aku?"

"Ya, kedua Bu-siauya mendadak menghilang,"

Tutur centing itu.

"Tentu saja Kwe-toaya dan Kwe-hujin sangat kuatir, nona Kwe juga menangis saja tadi."

Nyo Ko terkejut, segera iapun paham duduknya perkara, tentu kedua saudara Bu itu bersaing merebut hati Kwe Hu dan sama2 ingin berjasa besar, maka mereka telah menuju ke kemah pasukan musuh dengan tujuan membunuh Kubilai..

Cepat Nyo Ko menuju ke ruangan dalam dan melihat Ui Yong duduk di sebelah sana dengan cemas, Kwe Cing tampak berjalan mondar mandir, sedangkan Kwe Hu tampak mengucek matanya yang merah bendol, Diatas meja tertaruh dua batang pedang.

Melihat kedatangan Nyo Ko, segera Kwe Cing berkata.

"Ko-ji, apakah kau tahu untuk apa kedua saudara Bu itu pergi ke kemah pasukan musuh? Antara kalian mungkin ada pembicaraan apa2, bisa jadi sebelumnya kau telah mengetahui sesuatu kehendak mereka?"

"Tapi siautit tidak melihat sesuatu tanda mencurigakan atas diri kedua adik Bu itu,"

Tutur NyoKo.

"Mungkin mereka ikut sedih-karena kepungan musuh yang sudah sekian lamanya, maka mereka sengaja menyusup ke markas pasukan musuh, jika mereka berhasil membunuh seseorang panglima musuh, kan suatu jasa juga."

Kwe Cing menghela napas, katanya sambil menuding kedua pedang di atas meja.

"seumpama maksud tujuan mereka memang baik, tapi sesungguhnya mereka terlalu tidak tahu diri, senjata mereka saja dirampas orang dan sengaja dikirim ke sini"

Hal ini rada di luar dugaan Nyo Ko, dia memang sudah menduga maksud tujuan kedua saudara Bu itu pasti gagal, sebab kepandaian mereka jelas bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain2.

Tapi tidak menyangka dalam waktu sesingkat itu senjata mereka sudah dikirim pulang oleh musuh.

Kwe Cing mengambil sepucuk surat yang tertindih dibawah pedang itu dan disodorkaa kepada Nyo Ko agar membacanya, Kiranya surat itu dari Kim-lum Hoat ong yang ditujukan kepada Kwe Cing, isinya menyatakan bahwa kedua saudara Bu kepergok olehnya dan sementara menjadi tamu kehormatan pihak Mongol, untuk itu Kwe Cing diundang agar suka berkunjung ke sana sekedar omong2, habis itu dapatlah kedua muridnya itu dibebaskan.

Walaupun nada surat itu sangat ramah, namun jelas maksudnya kedua saudara Bu itu dijadikan sebagai sandera, hanya kalau Kwe Cing datang sendiri barulah kedua anak muda itu dapat dilepaskan.

"Bagai mana pendapatmu?"

Tanya Kwe Cing setelah Nyo Ko membaca surat itu.

Nyo Ko cukup cerdik, ia tahu Ui Yong jauh lebih pintar daripada dia, tindakan apa yang harus dilakukan masakah nyonya itu tidak tahu?

Bahwa sekarang dirinya diundang ke sini, maksudnya pasti tidak lain agar dia mau mengiringi Kwe Cing ke markas musuh, Setiba di sana, sekalipun Kim-lun Hoat-ong dan kawannya dapat mengalahkan Kwe-Cing, tapi untuk membunuh atau menangkapnya rasanya sulit.

Dah jika dirinya dan Kokoh ikut pergi membantu, pasti sang paman akan dapat meloloskan diri.

Akan tetapi segera berpikir pula olehnya?

tapi kalau aku dan Kokoh mendadak berbalik memiha sana, maka untuk membunuhnya boleh dikatakan teramat mudah, seumpama aku tidak tega membinasakan dia dengan tanganku sendiri, kan tidak jelek jika kupinjam tangan Hoat-ong dan lain2 untuk mencelakai dia?

Berpikir deraikian, ia tersenyum dan berkata.

"Kwe-pepek, baiklah aku dan Suhu mengiringi engkau ke sana, Kwe-pekbo sudah pernah menyaksikan paduan pedang kami dapat mengalahkan Kim-lun Hoat-ong, kalau kita bertiga pergi bersama, rasanya musuh tidak mampu menahan kita."

Dengan girang Kwe Cing berkata.

"Sungguh kecerdikanmu sukar dibandingi kecuali bibimu, Memang begitulah maksud bibimu mengundang kau ke sini."

Diam2 Nyo Ko menjengek biarpun bibimu secerdik setan juga sekali tempo akan terjungkal di tanganku, Namun dia tenang2 saja dan menjawab.

"Urusan tidak boleh terlambat, marilah kita berangkat saja sekarang, Aku dan Suhu menyamar sebagai kacungmu agar musuh tidak menaruh curiga apa2."

Kwe Cing menyatakan setuju, ia berpaling dan berkata kepada sang isteri.

"Yong-ji, kau jangan kuatir, ada Ko-ji dan nona Liong mendampingiku ke sana, apapun yang terjadi kami akan pulang aku ke sini dengan selamat," -Habis ini segera ia suruh mengundang Siau-Iiong-li. Tiba2 Ui Yong berkata.

"Tidak, maksudku cuma Ko-ji saja yang mengiringi kau ke sana. Nona cantik molek seperti nona Liong jangan kita membiarkan dia ikut menyerempet bahaya, Aku ingin dia tinggal disini bersamaku."

Nyo Ko melengak, akan tetapi ia lantas paham maksudnya, nyata sang bibi juga waswas padanya, maka Siao-liong-li sengaja ditahan sebagai sandera agar dia tidak berani berbuat sembarangan.

Agar tidak menimbulkan curiga, Nyo Ko juga tak mendesak agar Siao-liong-lj harus ikut, ia hanya diam saja.

Tapi Kwe Cing lantas berkata.

"Ilmu pedang nona Liong hebat luar biasa kalau dia ikut pergi tentu akan banyak menambah kekuatan kita,"

"Badanku terasa kurang enak, mungkin akan melahirkan dalam sehari dua ini, kalau nona Liong tinggal disini, tentu aku takkan kuatir apa2" . ujar Ui Yong.

"Benar, benar,"

Ujar Kwe Cing.

"Ko-ji, marilah kita berangkat."

Nyo Ko merasa kewalahan mengadu kepintaran dengan Ui Yong, tapi Kwe Cing yang jujur dan polos itu pasti bukan tandingan dirinya, setelah dibereskan di tempat musuh sana, nanti kembali lagi ke sini untuk menolong Siao-Iiong-Ii kiranya tidak sukar.

Maka ia lantas meringkasi pakaiannya dan ikut berangkat bersama Kwe Cing.

Nyo Ko menunggang kudanya yang kurus itu, sedangkan Kwe Cing menunggang kuda merah kesayangannya, Kedua ekor kuda itu dapat berlari cepar, tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di markas besar pasukan Mongol.

Mendengar kedatangan Kwe Cing, Kubilai terkejut dan bergirang, cepat ia mengundangnya masuk ke dalam kemah.

Kwe Cing tercengang ketika melihat seorang pangeran muda berduduk di tengah kemah, mukanya lebar dan daun kupingnya besar, kedua matanya cekung, ternyata mirip sekali wajah ayahnya,yaitu Tulai.

Kwe Cing jadi teringat pada persaudaraannya dengan Tulai di masa muda dahulu.

Tanpa terasa matanya menjadi merah dan hampir meneteskan air mata.

Cepat Kubilai meninggalkan tempat duduknya dan memberi hormat kepada Kwe Cing, katanya.

"Mendiang ayahku sering berceritera tentang keperkasaan paman Kwe dan sangat kagum luar biasa, kini dapat berjumpa dengan paman, sungguh bahagia bagiku."

Kwe Cing membalas hormat dan berkata "

Hubunganku dengan Tulai Anda (anda -saudara angkat dalam bahasa MongoI), laksana saudara sekandung, waktu kecil kami ibu dan anak-bernaung dibawah lindungan haycou (Jengis Khan) dan telah banyak menerima bantuan beliau.

Siapa duga ayahmu yang gagah perwira itu mendadak wafat dalam usia muda, sungguh aku sangat menyesal dan ikut berduka cita.

Ucapan Kwe Cing yang sunguh2 dan tulus itu membikin hati Kubilai terharu juga, segera ia-pun memperkenalkan Siau-siang-cu, In Kik-si dan lain2, Kwe Cing disilakan duduk pada tempat yang paling terhormat, sedangkan Nyo Ko berdiri di belakang Kwe Cing dan pura2 tidak kenal dengan semua orang.

Kim-lun Hoat-ong dan lain2 tidak tahu maksud tujuan ikut sertanya Nyo Ko ini, tapi merekapun tidak menegurnya ketika melihat anak muda itu tidak menggubris mereka, hanya Be Kong-co saja, dasarnya memang orang dogol, segera ia berseru.

"Eh, Nyo-heng..."

Belurn lanjut ucapannya, mendadak In Kik-si mencubit sekerasnya pada pantat Be Kong-co, saking kesakitan Be Kong-co menjerit, akan tetapi In Kik-si lantas berpaling ke sana dan tidak menggubrisnya, karena tidak tahu siapa yang menyakitinya, Be Kong-co, ngomel dan marah2 sehingga lupa menyapa Nyo Ko.

Setelah minum secawan arak susu kuda khas Mongok segera Kwe Cing bermaksud tanya tentang kedua saudara Bu, namun Kubilai sudah lantas berseru kepada anak buahnya.

"Lekas mengundang kedua tuan Bu ke sini."

Para pengawal mengiakan, tidak lama Bu-Tun-Si dan Bu-Siu-bun tampak digusur masuk, Kaki dan tangan diikat dengan tali kulit, tali kulit yang bagian kaki panjangnya tidak lebih dari setengah meter sehingga terpaksa kedua anak muda itu harus melangkah dengan pelahan.

Melihat sang guru berada disitu, kedua saudara Bu itu terkejut dan malu, mereka memanggil "Suhu", lalu menunduk dan tidak berani membuka suara.

Sebenarnya Kwe Cing sangat marah pada kecerobohan tindakan kedua anak muda itu, tapi demi melihat pakaian mereka lusuh, badan berlepotan darah, suatu tanda mereka mengalami pertarungan sengit dan akhirnya baru tertawan, pula melihat kedua orang itu diringkus secara mengenaskan, dari rasa gusar Kwe Cing menjadi merasa kasihan kepada mereka, ia pikir meski tindakan mereka terlalu sembrono, tapi tujuannya luhur demi bangsa dan negara, betapapun jiwa patriotik mereka harus dipuji.

Maka dengan suara halus ia lantas berkatai "Orang persilatan adalah jamak mengalami berbagai gemblengan jiwa dan raga serta mengalami berbagai kegagalan, semua ini bukan soal apa2"

Kubilai pura2 mengomeli anak buahnya.

"Sudah kuperintahkan melayani kedua tuan Bu ini dengan baik, mengapa kalian berlaku sekasar ini, lekas membuka ikatan mereka."

Anak buahnya mengiakan dan segera hendak membuka tali kulit yang meringkus kedua saudara Bu itu.

Namun tali kulit itu sangat kencang, apalagi sebelumnya telah dibasahi dengan air sehingga sukar dibuka begitu saja.

Segera Kwe Cing mendekatinya, ia pegang tali kulit yang mengisi di dada Bu Tun-si dan dibetotnya ke kanan-kiri.

"plok" , seketika tali kulit itu putus, menyusul ia-pun putuskan tali ikatan di tubuh Bu Tun-si dengan cara yang sama. Cara Kwe Cing memutuskan tali kulit itu tampaknya sangat mudah, tapi sebenarnya sukar dilaksanakan jika tak memiliki tenaga dalam yang kuat. Siau-siang-cu, Nimo Singh dan lain2 saling pandang sekejap, dalam hati masing2 sama bertambah waswas.

"Lekas bawakan arak dan meminta maaf kedua tuan Bu,"

Seru Kubilat kepada anak buahnya.

Dalam hati Kwe Cing mulai menimang bahwa pertempuran ini pasti takkan berakhir dengan damai, sebentar pasti terjadi pertempuran sengit, kalau kedua saubara Bu itu tidak lekas pergi tentu akan menjadi beban malah baginya.

Segera Kwe Cing berbangkit dan memberi hormat kepada Kubilai dan para hadirin katanya "Terima kasihku kepada Ongya dan saudara2 sekalian yang telah memberi pengajaran atas kelancangan murid2ku ini."

Lalu ia berpaling kepada kedua saudara Bu.

"Nah, lekas kalian pulang dan lekas beritahukan kepada Subo bahwa di sini aku berjumpa dengan putera saudara angkatku, sebentar lagi aku pulang setelah berbincang dengan sahabat lama ini."

"Tapi Suhu..."

Karena sudah kapok menghadapi musuh2 tangguh, Bu Siu-bun menjadi kuatir juga atas keselamatan Kwe Cing. Tapi Kwe Cing lantas melambaikan tangannya dan membentak .

"Lekas pergi kalian! Lapor kepada Lu-ciang-kun bahwa pertahanan perlu diperkuat apapun yang bakal terjadi jangan se-kali2 pintu gerbang dibuka untuk menjaga sergapan musuh secara mendadak."

Ucapan Kwe Cing itu lantang lagi berwibawa dan sengaja diperdengarkan kepada Kubilai dan anak buahnya, artinya kalau sampai terjadi apa2 atas diri Kwe Cing, betapapun kota Siangyang tetap harus dipertahankan.

Kedua saudara Bu tahu arti pesan sang guru, mereka tak berani bicara lagi dan segera memohon diri untuk pulang ke Siangyang.

Dengan tertawa kemudian Kubilai berkata.

"Mungkin paman Kwe belum tahu bahwa kedua saudara itu datang ke sini hendak membunuh diriku?"

Kwe Cing mengangguk, jawabnya.

"Ya, sebelumnya aku memang tidak tahu, dasar anak kecil, terlalu sembrono."

"Memangnya sudah kuduga pasti paman Kwe tidak mengetahui perbuatan mereka, kuyakin paman Kwe pasti takkan menyuruh mereka berbuat demikian mengingat hubungan baik paman dengan mendiang ayahku,"

Kata Kubilai.

"Belum tentu begitu,"

Ujar Kwe Cing tegas.

"Urusan dinas harus diutamakan daripada urusan pribadi. Dahulu Tulai Anda juga pernah memimpin pasukannya menyerbu Siangyang, waktu itu akupun punya pikiran hendak melakukan pembunuhan gelap terhadap kakak angkat sendiri agar pasukan musuh dapat digempur mundur. Tapi kebetulan Thaycou jatuh sakit, terpaksa pasukan Mongol mundur kembali ke wilayah sendiri, karena itu persaudaraanku dengan Tulai Anda tetap terpelihara dengan baik. Di jaman dahulu, seorang pahlawan tega membunuh anggota keluarga sendiri demi kesetiaannya kepada negara, kalau anggota keluarga saja boleh dibunuh, apalagi cuma sahabat atau saudara angkat"

Hati Nyo Ko tergetar mendengar ucapan tegas dan sungguh2 itu, pikirnya.

"Pantas saja, memangnya membunuh saudara angkat adalah kebiasaannya, Entah mendiang ayahku itu berbuat kekalahan apa sehingga tewas di tangannya, Wahai Kwe Cing, apakah dalam hidupmu sendiri selamanya tak pernah berbuat sesuatu kesalahan?"

BegituIah rasa dendam dan bencinya seketika timbul lagi dalam benaknya. Ternyata Kubilai sama sekali tidak marah atas ucapan Kwe Cing tadi, ia menanggapi dengan tersenyum.

"Jika begitu, mengapa paman Kwe bilang kedua muridmu tadi terlalu sembrono?"

"Mengapa tidak,"

Jawab Kwe Cing.

"Kepandaian mereka masih cetek, mereka tidak tahu diri dan melakukan pembunuhan gelap, tentu saja gagal, Bahwa mereka pasti akan gagal bukan soal, yang pasti kau menjadi tambah waspada dan untuk selanjutnya tentu sukar jika hendak membunuh kau."

Kubilai bergelak tertawa, ia pikir Kwe Cing ini terkenal polos dan kurang mahir bercakap, tapi nyatanya kata2nya ini teramat tajam.

Padahal Kwe Cing hanya bicara sesuai dengan kenyataannya, apa yang dia pikirkan saat itu segera dikatakannya.

Kim-lun Hoat-ong merasa kagum juga melihat sikap Kwe Cing yang tanpa gentar itu meski berada di tengah pasukan musuh.

Begitu juga Kubilai sangat senang dan menyukai tokoh macam Kwe Cing ini, ia pikir kalau orang ini dapat dirangkul menjadi pembantuku, maka nilainya jauh melebihi sepuluh buah kota Siangyang.

Segera ia berkata pula.

"Paman Kwe, saat ini kerajaan Song sedang kemelut, rajanya dan rakyatnya sengsara, banyak pembesar dorna berkuasa secara se-wenang2. Paman Kwe sendiri adalah ksatria yang gagah perkasa, mengapa engkau sudi diperbudak oleh raja lalim dan pembesar dorna itu?"

Mendadak Kwe Cing berdiri dan berseru.

"Se-jeIek2nya orang she Kwe mana kusudi diperalat oleh kaum dorna dan raja lalim. Soalnya aku benci kepada orang Mongol yang menjajah wilayah negeri kami dan melakakan keganasan tanpa batas. Darah mendidih dalam rongga dadaku ini bergolak siap berkorban bagi bangsa dan negaraku."

"Bagus?"

Seru Kubilai sembil menggebrak meja.

"Marilah kita minum satu cawan bagi keperwiraan paman Kwe." -Habis ini lantas mendahului menenggak habis semangkuk arak susu kuda. Walaupun tidak semuanya setuju atas sikap Kubilai itu, tapi terpaksa semua orang mengiringi minum satu mangkuk. Segera para pengawal menuangkan lagi mangkuk yang sudah kosong itu. Segera Kwe Cing berkata pula.

"Negara kami luas dan rakyat banyak dengan peradaban yang tinggi, sejak jaman baheula hingga sekarang belum pernah bertekuk lutut kepada bangsa lain, Meski orang Mongol mendapatkan kemenangan untuk sementara, kelak pasti juga akan dienyahkan dari sini dengan kehancuran yang sukar dibayangkan. Untuk itulah hendaklah Ongya suka merenungkannya lebih masak agar tidak menyesal di kemudian hari."

"Terima kasih atas petua paman,"

Jawab Kubilai dengan tertawa. Melihat sikap orang yang meremehkan ucapannya jtu, segera Kwe Cing berkata pula.

"Baiklah-kumobon diri sekarang juga, sampai bertemu pula."

"Antar tamu!"

Seru Kubilai kepada anak buahnya.

Hoat ong dan lain2 saling pandang dengan bingung dan semuanya menatap ke arah Kubilai, mereka pikir dengan susah payah Kwe Cing sudah dipancing masuk perangkap, masakah sekarang akan dilepaskan begitu saja?

Tapi jelas kelihatan Kubilai telah mengantar Kwe Cing keluar kemah dengan penuh hormat, betapapun mereka juga tak berani sembarangan bertindak.

Sambil melangkah keluar kemah, diam2 Kwe Cing mengakui kehebatan Kubilai yang tidak boleh diremehkan itu, ia mcngedipi Nyo Ko sambil mempercepat langkahnya ke tempat kuda.

Mendadak dari samping muncul delapan orang Mongol yang kekar, seorang diantaranya menegur "He, kau ini Kwe Cing bukan?

Kau telah banyak menewaskan saudara2 kami di Siangyang, sekarang kau berani berlagak ke sini Ongya membiarkan kau pergi, tapi kami tidak dapat tinggal diam.

Sekali menggertak, serentak kedelapan orang terus menubruk maju, dengan Judo gaya Mongol mereka terus hendak menjambret baju Kwe Cing.

Berkelahi secara Mongol ini adalah kebanggaan orang MongoI, kedelapan orang ini bahkan adalah jago Judo Mongol yang paling lihay dan sengaja disiapkan oleh Kubilai di situ untuk menangkap Kwe Cing.

Namun Kwe Cing yang sejak kecil tinggal di Mongol juga mahir kepandaian orang Mongol seperti menunggang kuda, memanah dan bantingan.

(Judo) ala Mongol.

Begitu melihat orang2 itu hendak memegangnya, cepat kedua tangannya meraih ke kanan dan kiri, kaki kanan berbareng menyapu, hanya sekejap saja empat orang telah dipegangnya terus dibanting, empat orang lagi kena diserampang oleh kakinya hingga terjungkal.

Yang digunakan Kwe Cing adalah kepandaian bantingan gaya Mongol asli, cuma dia mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi, tenaganya kuat luar biasa, tentu saja kedelapan orang itu bukan tandingannya.

Di luar kemah berjaga seribu perajurit pribadi Kubilai, seribu orang ini semuanya mahir bantingan, maka bersorak sorailah mereka demi menyaksikan sekaligus Kwe Cing dapat merobohkan delapan jagoan mereka itu.

Kwe Cing mengepalkan kedua tangannya dan menanggalkan kopiahnya sambil berputar satu keliling, ini adalah adat orang MongoI sebagai balas menghormat kepada sorak pujian para penonton setelah berhasil membanting jatuh lawannya.

Karena sikap Kwe Cing itu, sorak sorai pasukan Mongol itu bertambah gemuruh.

Setelah merangkak bangun, kedelapan orang Mongol itu memandangi Kwe Cing dengan terkesima bingung, entah mesti menubruk maju lagi atau disudahi sampai di sini saja?

Segera Kwe Cing memberi tanda kepada Nyo Ko agar berangkat Tapi pada saat itu juga terdengarlah suara tiupan tanduk sahut menyahut di sana sini, beberapa pasukan Mongol tampak berseliweran di kejauhan sana, rupanya Kubilai telah mengerahkan pasukannya, Kwe Cing dan Nyo Ko sudah terkepung rapat di tengah.

Melihat kekuatan musuh yang hebat itu, diam2 Kwe Cing terkejut ia pikir biarpun berkepandaian setinggi langit juga sukar menembus kepungan musuh seketat itu, Sungguh tak tersangka bahwa Kubilai akan mengerahkan pasukannya sebanyak itu hanya untuk melayani Kwe Cing seorang saja, ia kuatir Nyo Ko merasa gentar maka ia sendiri sedapatnya bersikap tenang, katanya kepada anak muda itu.

"Kuda kita cukup cepat, marilah kita terjang saja dan rampas dua buah perisai musuh untuk menjaga kalau musuh memanah kuda kita," -Lalu ia membisiki pula "Lekas menerjang dulu ke selatan, habis itu kita putar balik ke utara,"

Semula Nyo Ko melengak heran, Siangyang terletak di selatan, mengapa sang paman mengajaknya menerjang ke utara malah?

Tapi ia lantas paham maksud Kwe Cing itu, tentu sebelumnya Kubilai telah pusatkan pasukannya di sebelah selatan untuk mengadang dia yang jelas akan kabur pulang ke Siangyang, sebab itulah penjagaan di sebelah utara tentu kosong.

Terjang dulu ke selatan, lalu membalik terjang ke utara secara tak terduga ", dengan demikian kepungan musuh pasti akan dapat dibobolkan.

"Wah, cara bagaimana harus kugagalkan rencananya ini?"

Demikian pikir Nyo Ko Baru saja timbul pikiran Nyo Ko ini, tiba2 dari kemah Kubilai sudah melayang keluar beberapa orang dalam sekejap saja orang2 itu sudah mengadang di depan Kwe Cing, menyusul terdengar suara meraung di udara, sebuah roda tembaga dan sebuah roda besi menyamber berbareng ke arah kuda Kwe Cing dan Nyo Ko.

Nyata Kim-lun Hoat-ong sudah ikut turun tangan untuk merintangi lolosnya mereka.

Melihat samberan kedua roda itu sangat keras, Kwe Cing tak berani menangkapnya dengan tangan, ia menunduk ke bawah, kedua tangannya menekan sekuatnya pada leher kedua kuda mereka.

seketika kaki depan kuda2 itu bertekuk lutut dan sepasang roda musuh pun menyamber lewat di atas kepala kuda.

Roda2 itu berputar satu kail di udara, lalu terbang kembali ke tangan Hoat-ong, Karena rintangan itu pula, tahu2 Nimo Singh dan In Kik-si sudah menyusul tiba, habis itu Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu juga memburu datang.

Mereka berempat terus mengelilingi Kwe Cing dan Nyo Ko.

Sebagai tokoh kelas satu di dunia Kangow, Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan lain2 sama sekali tidak sudi merosotkan derajat mereka dengan cara main kerubut.

Akan tetapi lantaran Kanghu Kwe Cing terlalu lihay, pula setiap orang mereka ingin sekali mendapatkan gelar "jago nomor satu Mongol", dengan sendirinya mereka saling berlomba mendahului.

Segera kelihatan sinar senjata gemerlapan menyilaukan mata, kecmpat orang sudah menyiapkan senjata masing2.

Kini yang dipegang Kim-lun Hoat-ong adalah senjata roda emas, In Kik-si bersenjata Kim-pian (ruyung emas) bertaburkan mutiara dan batu permata.

Siau-siang-cu memegang sebatang pentung, pendekar pentung yang biasa dibawa anggota keluarga yang kematian orang tua.

Adapun senjata Nimo Singh paling aneh, senjatanya melilit pada lengannya dan dapat mulur mengkeret, tampaknya seperti ular hidup, Kwe Cing menyadari kalau keempat lawan ini tidak dibereskan tentu sukar dirinya untuk lolos.

Kedudukan kedua pihak adalah 2 lawan 4, untuk menang jelas sulit, tapi asalkan dapat merobohkan salah seorang musuh, untuk lolos rasanya tidak susah, ia coba mengamat-amati gerakan keempat lawan dan cara memegang senjata, tampaknya diantara empat lawan itu In Kik-si adalah paling lemah.

Secara mendadak Kwe Cing terus menghantam sekaligus dengan kedua tangan menuju muka Siausiang-cu..

Tanpa mengelak Siau-siang-cu malah menegakkan pentungnya dan menutuk telapak tangan Kwe Cing, Sudah tentu Kwe Cing tak berani meremehkan musuh ini, ia tahu semakin sepele senjata yang digunakan, semakin tinggi pula ilmu silat orang itu.

Maka ia tidak berani menyambut pentung orang, cepat ia membaitki tangannya ke sana, dengan gerakan "Sinliong-pah-bwe" ,(naga sakti menggoyang ekor), dengan tepat senjata ruyung In Kik-si kena dicengkeramnya.

caranya membaliki tangan untuk rebut senjata musuh sungguh cepat dan gesit luar biasa.

Segera ln Kik-si bermaksud menyendal ruyungnya untuk menggempur musuh, namun sudah terlambat, ujung ruyung sudah terpegang Kwe Cing.

Tapi pengalaman In Kik-si sangat luar, hampir ilmu silat dari aliran manapun diketahuinya, meski tidak semuanya dilatihnya dengan baik, namun kepandaiannya memang banyak ragamnya, begitu terasa senjatanya terpegang musuh, segera ia ikuti gaya tarikan Kwe Cing terus menubruk maju malah, berbareng itu tangan lain telah bertambah dengan sebatang belati.

"Bagus!"

Seru Kwe Cing, kedua tangannya digunakan sekaligus, tangan kanan tetap memegangi ujung ruyung lawan, tangan kiri berusaha merebut belati.

Dalam keadaan tangan kanan merebut senjata kanan dan tangan kiri merebut senjata kiri lawan jadi kedua tangan Kwe Cing telah berada dalam keadaan bersilang.

Tadinya In Kik-si mengira dengan tikaman belatinya pasti dapat memaksa musuh melepaskan ruyungnya, siapa tahu bukannya Kwe Cing menghindar, sebaliknya belati itupun hendak dirampasnya, jadi bukan saja ruyung takdapat dipertahankan bahkan belati juga akan terlepas.

Pada saat bahaya itulah tiba2 roda emas Hoatong dan pentung Siau-siang-cu juga menyerang tiba berbareng.

Diam2 Kwe Cing kagum terhadap kelihayan lawan karena tak berhasil membetot lepas ruyung musuh.

Mendadak ia menggertak dan mengerahkan tenaga dalam sekuatnya melalui ruyung itu, seketika In Kik-si merasa dadanya seperti dipalu, mata berkunang2 dan darah segar lantas tersembur dari mulutnya.

Pada saat itu pula Kwe Cing lantas melepaskan pegangannya pada ruyung dan membaliki tangannya untuk melayani serangan roda emas serta pentung.

In Kik-si tahu lukanya tidak ringan, pelahan ia meninggalkan kalangan pertempuran dan duduk bersila ditepi sana untuk menahan muntah lebih lanjut.

Melihat In Kik-si dilukai oleh Kwe Cing, Hoat-ong dan Siau-siang-cu disamping senang ju-Ift merasa keder.

Mereka senang karena berkurang dengan seorang saingan yang ikut berebut "jago nomor satu Mongol" , tapi melihat betapa lihaynya Kwe Cing, mereka juga keder dan kuatir kalau merekapun terjungkal di tangan lawan itu.

Begitulah ketiga orang sama2 tidak berani sembarangan bertindak, mereka sama berjaga dengan rapat.

Disamping melayani kedua lawan, diam2 Kwe Cirig menyelami kedua macam senjata aneh yang dipegang Siau-siang-cu dan Nimo Singh itu, pantang pendek yang dibawa Siau-siang-cu itu terbuat dari baja, kecuali keras dan berat seketika sukar diketahui keanehan yang Iain, sedangkan senjata bentuk ular milik Nimo Singh itu menyerang dengan jurus yang aneh sekali.

Senjata itu berbentuk ular berbisa yang berkepala segitiga, badan ular dapat melingkar dengan lemas, kepala dan ekor ular tampak runcing dan sangat tajam, yang lihay adalah sukar diduga bilamana badan ular itu akan melingkar dan ke arah mana kepala atau ekor ular itu akan menyerang.

Tapi di tangan Nimo Singn senjata ular itu berterbangan naik turun dan berputar2 dengan aneka macam perubahan yang hebat Dahulu Kwe Cing pernah bertempur melawan tongkat ular milik Auyang Hong ular aneh yang melilit pada tongkatnya itu adalah ular tulen dan berbisa luar biasa.

Tapi senjata ular2an Nimo Singh sekarang meski juga aneh, namun cuma bentuknya saja seperti ular, tapi sebenarnya benda mati, betapapun pasti ada titik kelemahannya.

Sebab itulah Kwe Cing lebih jeri terhadap serangan roda Kim-lun Hoatong daripada Nimo Singh.

Setelah berlangsung belasan gebrakan, sekonyong2 terdengar suara raungan seorang, kelihatan seorang tinggi besar menerjang tiba, siapa lagi dia kalau bukan Be Kong-co.

senjata Be Kong-co adalah sebatang toya yang panjang lagi besar, tanpa bicara ia terus mengemplang kepala Kwe Cing dari belakang Nimo Singh.

Padahal waktu itu empat tokoh itu sedang bertempur dengan sengitnya dan sama2 berjaga dengan sangat rapat, hakikatnya tiada peluang sedikitpun bagi orang lain.

Tenaga pukulan dan samberan senjata mereka sudah berbentuk menjadi satu jaringan kekuatan yang maha dahsyat.

Maka kemplangan toya Be Kong-co itu kontan terbentur oleh jaringan tenaga yang dibentuk empat orang yang sedang saling gempur lagi.

meski tanpa mengeluarkan suara, namun toya itu mendadak terpental balik, kalau saja Be Kong-6a tidak memiliki tenaga sakti, tentu toya itu sudah mencelat terlepas dari tangannya atau bisa jadi toya itu akan mengemplang kepalanya sendiri hingga pecah berantakan.

Tapi begitu merasa gelagat jelek.

Be Kong-co terus berteriak keras dan mengerahkan kekuatannya untuk menahan toyanya sehingga tidak sampai merugikan diri sendiri, walaupun begitu juga tangannya terasa kesemutan dan lecet berdarah.

"Aneh, aneh.!"

Ia berseru, dan mengerahkan tenaga pula, sekuatnya ia mengemplang lagi.

Ia, mengemplang Kwe Cing dengan berdiri di belakang Nimo Singh, yang berdiri di depannya sana adalah Kim-lun Hoat-ong, diduganya kemplangan Be Kong-co ini pasti akan menimbulkan kekuatan lebih besar, tapi ia cuma menyeringai saja dan tidak mencegahnya.

Nyo Ko juga menyaksikan keadaan itu, ia tahu kepandaian Be Kong-co terlalu jauh dibandingkan keempat tokoh itu, kalau ikut bertempur akan bikin susah dirinya sendiri ia suka kepada orang dogol yang barhati polos itu, pula beberapa kali Be Kong-co membelanya, maka ia tidak tega menyaksikan si dogoI dicelakai Segera ia membentak.

"Be Kong-co awas seranganku!"

Berbareng pedangnya terus menusuk ke punggung orang dogol itu. Be Kong-co melengak bingung, katanya.

"Adik Nyo, mengapa kau menyerang padaku?" 04

"Orang goblok, lekas kau enyah dari sini!"

Damperat Nyo Ko sambil melancarkan pula beberapa kali tusukan sehingga Be Kong-co kelabakan berusaha mengelak dan terpaksa melompat mundur sehingga cukup jauh dari kalangan pertempuran Kwe Cing berempat.

Setelah mendesak lagi beberapa langkah, kemudian Nyo Ko membisiki Be Kong-co dengan suara tertahan.

"Be-toako, jiwamu sudah kuselamatkan, kau tahu tidak?"

"Apa katamu?"

Tanya Be Kong-co dengan bingung.

"Ssst, jangan keras2, nanti didengar mereka,"

Desis Nyo Ko.

"Ada apa?"

Kembali Be Kong-co menegas dengan mata terbelaIak.

"Apa yang mesti kutakuti terhadap Hwesio gede piaraan biang anjing itu?" -suaranyatetap keras, bahaya adalah bicara biasa,namun bagi orang lain sudah serupa orang berteriak.

"Baiklah, kalau begitu kau jangan bicara lagi, turut saja perkataanku,"

Kata Nyo Ko.

Penurut juga Be Kong-co, ia mengangguk dan tidak bersuara pula.

Nyo Ko lantas berkata padanya.

Kwe Cing bisa ilmu sihir, begitu dia membaca mantera segera kepala lawan dapat dipenggalnya.

Maka lebih baik kau berdiri sejauhnya dari dia.

Mata Be Kong-co terbelalak lebar, setengah percaya dan setengah tidak.

Karena ingin menolong jiwa si dogol, Nyo-Ko tahu jalan paling baik adalah mengibulinya, kalau dikatakan ilmu silat Kwe Cing sangat hebat tentu dia tidak mau menyerah kalah, tapi kalau bilang Kwe Cing mahir ilmu sihir, besar kemungkinan si dogol mau percaya.

Karena itu, untuk lebih meyakinkan kepercayaan Be Kong-co, Nyo-Ko berkata pula.

"Tadi kau mengemplangnya dengan toyamu, toyamu tidak membentur apa2 terus terpental balik malah, kan aneh bukan? saudagar Persi itu sangat tinggi ilmu silatnya, mengapa sekali gebrak juga dilukainya?"

Be Kong-co mau percaya ucapan Nyo Ko ini, ia manggut2, lalu memandang Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan Iain2 deogan agak ragu.

Nyo Ko tahu apa yang sedang dipikirkan Be-Kong-co, segera ia menambahi pula.

"Hwesio gede itu punya jimat dan telah diberikan kepada mayat hidup serta setan cebol itu, mereka membawa jimat, dengan sendirinya tidak gentar terhadap ilmu sihir lawannya. Apa Hwesio gede itu tidak memberi jimatnya padamu?"

Dengan gemas Be Kong-co menjawab "Tidak!"

"Ya, bangsat gundul itu memang tidak dapat diajak bersahabat, ia juga tidak memberi jimatnya padaku, biarlah nanti kita bikin perhitungan dengan dia,"

Kata Nyo Ko.

"Benar!"

Seru Be Kong-co.

"Lantas bagaimana sekarang?"

"Kita menonton saja, makin jauh makin baik,"

Ujar Nyo Ko.

"Kau memang orang baik, adik Nyo,"

Kata Be Kong-co.

"Syukur kau mau memberitahukan padaku."

Segera ia seret toyanya dan mundur lebih jauh untuk mengikuti pertarungan Kwe Cing berempat itu. Sementara itu Kwe Cing sedang mengeluarkan ilmu silat yang terkenal.

"Hang-liong-cap-pek-ciang" (delapan belas jurus penakluk naga), meski tinggi juga ilmu silat Hoat-ong bertiga, tapi biasanya mereka tinggal terpencil di daerah yang jarang bergaul dengan orang luar, pengalaman dan pengetahuan mereka terbatas, dibandingkan In Kik-si jelas pengetahuan mereka boleh dikatakan teramat dangkal. Melihat ilmu pukulan yang dahsyat itu, mereka bertiga sama sekali tidak kenal asal-usulnya, mereka hanya mengepung Kwe Cing di tengah, mereka pikir asalkan mereka mengepung sekuatnya, tentu lawan takkan tahan lama mengerahkan tenaga pukulan sehebat itu. Pendapat mereka memang masuk diakal, umumnya angin badai tak pernah berlangsung sepanjang hari, hujan keras juga jarang semalam suntuk, semakin keras tenaga yang dikeluarkan semakin sukar pula berlangsung lama. Tak tahunya selama 20-an tahun Kwe Ong giat berlatih "Kiu-im-cin-keng?"

Itu kitab pusaka kunci saripati ilmu silat yang tak terkatakan hebatnya, semula tenaga yang dikeluarkannya tidak begitu menonjol, tapi setelah belasan jurus, tahu-tenaga pukulan Hang-liong-cap-pek-ciang bisa ber-ubah kadang2 kuat, tiba2 menjadi enteng lagi, mendadak membadai, tahu2 mereda lagi, dari maha kuat bisa berubah menjadi maha lunak, inilah ilmu sakti yang belum sempat dipahami oleh mendiang Ang Chit-kong dahulu.

Nyata sedikitpun dia tidak terdesak oleh ketiga lawannya yang amat tangguh itu, sebaliknya Kwe Cing malah terus menyerang, makin bertempur makin leluasa.

Sungguh kejut dan kagum Nyo Ko tak terhingga, Ketika di kuburan kuno dahulu pernah juga dia mempelajari "Kiu-im-cin-keng" , cuma tiada petunjuk dari orang lain sehingga tidak diketahui kehebatan kitab pusaka yang begini luar biasa, ia coba mengikuti ilmu pukulan Kwe Cing itu dan dicocokkan dengan kunci ilmu yang dipelajarinya dari Kiu-im-cin-keng itu, seketika ia banyak mendapatkan teori baru yang sangat bermanfaat dan diingatnya dengan baik2, seketika iapun lupa akan membunuh Kwe Cing untuk menuntut balas sakit hatinya.

Ilmu silat antara Kim -lun Hoat-ong dan Kwe Cing sebenarnya setingkat, meski Kwe Cing lebih banyak mendapatkan penemuan aneh, tapi usia Hoat-ong lebih tua 20-an tahun, itu berarti keuletannya lebih tua 20 tahun pula, kalau satu lawan satu sedikitnya ribuan jurus baru dapat menentukan menang kalah.

Hoat-ong dibantu Siau-siang-cu dan Nimo Singh, sebenarnya tidak ada baginya mengalahkan lawannya, cuma Hang liong-cap-pek-ciang yang dimainkan Kwe Cing itu teramat lihay, ditambah lagi langkah Paktau-tin ajaran Coan-cin-kau yang digunakan Kwe Cing itu sukar diraba arahnya, seorang se-akan2 berubah menjadi tujuh orang, selain itu pertama kali In Kik-si sudah dilukainya lebih dulu, hal ini telah membikin jeri lawan pula, maka Hoat-ong bertiga menjadi tidak berani sembarangan menyerang, dengan begitu Kwe Cing dapat bertahan dengan satu lawan ketiga orang itu.

Setelah beberapa puluh jurus lagi, lambat-laun roda emas Kim-lun Hoat-ong mulai memperlihatkan daya tekanannya, ular besi Nimo Singh juga makin kencang menyerang, diam2 Kwe Cing mengeluh kalau pertarungan berlangsung lebih lama dan tiba2 pihak lawan datang lagi seorang pembantu, maka pasti dirinya tak sanggup bertahan lagi, sedangkan Nyo Ko yang menempur si gede itu entah bagaimana keadaannya.

Maklumlah, terpaksa ia harus memusatkan perhatian untuk melayani lawannya sehingga tidak sempat mengikuti pertarungan Nyo, Ko melawan Be Kong co di sebelah sana itu.

Tiba2 terdengar suara suitan aneh, kedua kaki Siau-siang-cu kaku menegak dan meloncat ke atas, dari udara pentungnya terus menutuk.

Cepat Kwe Cing mengegos ke samping, mendadak pandangannya terasa gelap, dari ujung pentung orang tersembur keluar asap hidup, seketika hidungnya mencium bau busuk amis, kepala menjadi rada pening Kwe Cing mengeluh, ia tahu pentung lawan itu tersimpan barang racun, cepat ia melangkah mundur.

Siau-siang-cu menjadi heran sekali, sudah jelas Kwe Cing telah mengendus racun yang disemburkan dari pentungnya, tapi tidak jatuh kelengar dan bahkan seperti tidak berhalangan apa2, padahal biarpun singa harimau atau binatang buas apapun juga akan jatuh pingsan jika tersembur oleh racun yang disemburkannya itu.

Segera ia meloncat lagi ke atas, untuk kedua kalinya ia menutuknya pula dengan pentungnya yang berbisa itu.

Dahulu waktu dia berlatih ilmu "mayat hidup"

Di daerah pegunungan yang sunyi, kebetulan dilihatnya seekor katak kecil sedang bertempur melawan seekor ular besar, katak pura itu menyemburkan hawa berbisa dan merobohkan lawannya yang jauh lebih besar itu.

Dari situlah Siau-siang-cu mendapatkan ilham, ia menangkap katak puru dan diambil lendir berbisanya untuk disembunyikan di dalam pentungnya.

Pangkal pentung ini ada pesawat rahasianya, sekali ditekan dengan jari akan segera menyemburkan asap berbisa, waktu menyemburkan asap berbisa itu Siau-siang-cu sengaja meloncat ke atas supaya daya guna racun itu tambah keras.

Biasanya asap berbisa itu tidak pernah meleset merobohkan musuh, siapa tahu tenaga dalam Kwe Cing sedemikian kuatnya dan sanggup bertahan.

Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh meski bukan sasaran racun Siau-siang-cu itu, tapi merekapun ikut mengendus racun dan terasa muak, cepat mereka melompat mundur, Siau-siang-cu sendiri sudah memakai obat penawar sehingga tidak kuatir keracunan, ia angkat pentungnya dan menubruk maju lagi.

Sebelum lawan menggunakan racun pula, mendadak Kwe Cing menyambutnya dengan pukulan dahsyat ke dengkul musuh.

Terpaksa Siau-siang-cu tarik kembali pentungnya untuk menangkis, walaupun begitu tidak urung tubuhnya tergentak mundur beberapa langkah oleh tenaga pukulan Kwe Cing yang lihay itu.

Waktu Kwe Cing berpaling ke sana, dilihatnya senjata ular Nimo Singh sedang menyambar tiba.

di siang hati bolong jelas kelihatan ular besi lawan itu dapat mulur mengkeret, tampaknya juga ada sesuatu yang aneh, jika mendadak membidikkan senjata rahasia, seketika sukar ditahan.

Cepat Kwe Cing mendahului menghantam ke dada musuh sebelum senjata ular lawan itu mendekat.

Nimo Sing menyadari betapa hebat tenaga pukulan Kwe Cing, lekas2 ia tarik kembali senjata ularnya, kedua tangan memegangi kedua ujung senjata dan berusaha menangkis pukulan lawan.

Akan tetapi cara Kwe Cing menggunakan tenaga pukulannya ternyata lain daripada yang lain, bagian tengah tidak membawa tenaga, sebaliknya tenaga pakaiannya memencar ke sekeliling titik sasaran jadi tangkisan Nimo Singh lantas terasa hampa, sebaliknya perut dan muka segera merasakan samberan tenaga pukulan yang dahsyat.

Untung gerak-gerik Nimo Singh juga cepat dan gesit, pula tubuhnya pendek kecil, lekas ia menjatuhkan diri, disertai dengan beberapa kali jumpalitan laksana boIa saja ia menggelinding ke sana sehingga luput dari hantaman Kwe Cing itu.

Melihat ada kesempatan baik, cepat Kwe Cing melompat pergi saja -Tanpa ayal ia melangkah ketempat peluang yang di tinggalkan Nimo Sing tadi.

Kim-lun Hoat-ong terkejut melihat musuhnya loIos dari kepungan, cepat ia menubruk maju.

Sementara itu Kwe Cing telah dicegat oleh barisan pasukan Mongol, belasan tumbak telah di tusukkan kearahnya, Mendadak Kwe Cing angkat kedua tangannya, beberapa tombak disampuk pergi, sekali tangannya membalik, dua prajurit kena dicengkeramnya terus dilemparkan ke arah Hoat ong sambil berseru.

"Awas, tangkap ini."

Kalau Kim-lun Hoat-ong tidak pegang kedua perajurit Mongol itu, tentu keduanya akan terbanting mampus, sebaliknya kalau kedua orang itu di tangkapnya, itu berarti dia teralang dan kesempatan itu akan digunakan Kwe Cing untuk kabur lebih jauh.

Dasarnya memang keji, tanpa pikir Hoat-ong terus memiringkan tubuh ke samping dan ditunjuknya kedua perajurit itu dengan bahunya, kontan kedua orang itu terpental beberapa meter jauhnya dan terguling binasa.

Segera pula roda emas mengepruk ke punggung Kwe Cing.

Asalkan Kwe Cing menangkis atau balas menyerang maka sukar lagi untuk kabur.

Cepat Kwe Cing merampas dua tumbak dan menusuk ke belakang, Caranya merampas dan menyerang dilakukannya dalam sekejap saja, sedang kakinya tidak pernah berhenti, tusukannya ke belakang seperti punggungnya bermata saja, tumbak yang satu menusuk bahu kanan Hoat-ong sedang tombak lain menusuk kaki kirinya, jitu lagi keras.

Diam2 Hoat-ong memuji ketangkasan lawan, segera menggunakan roda emas untuk menghantam.

"krak-krak" , kedua tumbak itu patah semua, karena sedikit merandek itulah Kwe Cing sempat menyusup ke tengah pasukan MongoI. Pasukan Mongol itu mendapat perintah Kubilai agar menawan hidup2 Kwe Cing, sekarang sasarannya itu malah menerobos ke tengah barisan, dengan sendirinya mereka menjadi serba salah, menawannya sukar, melukainya tidak boleh. Yang terdengar hanya suara benturan senjata dan bentakan di sana-sini yang riuh, keadaan menjadi kacau dan Hoat-ong bertiga malah teralang. Dengan sembunyi di tengah pasukan musuh. Kwe Cing malah dapat lolos dengan leluasa seperti menyusup ke tengah rimba lebat saja. Beberapa kali lompat dapatlah dia mendekati seorang Pek-hu-tiang, sekali betot ia seret orang itu dari kudanya segera ia cemplak ke atas kuda rampasan itu terus menerjang ke sana-sini, sebentar saja ia sudah menerobos keluar barisan musuh dan membedakan kudanya secepat terbang. Waktu ia bersuit, kuda merah kesayangan yang menunggu jauh disana itu lalu berlari mendatangi. Asalkan Kwe Cing sudah berada di atas kuda mestikanya, biarpun Kubilai mengerahkan segenap pasukannya yang paling tangkas juga sukar menyusulnya lagi Dari jauh Nyo Ko dapat melihat kuda merah itu sedang menghampiri Kwe Cing, diam2 ia me-ngeluh, tiba2 ia mendapat akal, oepat ia berteriak.

"Aduh, mati aku!" -Habis ini ia sengaja sempoyongan seperti akan roboh, berbareng ia membisiki Be Kong-oo.

"Lekas menyingkir, jangan bicara padaku, lekas pergi sejauhnya!"

Jeritannya mengaduh itu dilakukan dengan tenaga dalam yang kuat, meski di medan perang yang gaduh itu juga pasti didengar oleh Kwe Cing, ia yakin sang paman pasti akan putar balik untuk menolongnya, tapi kalau Be Kong-co masih berada jadi sekali dipukul oleh Kwe Cing jiwanya dogol itu akan melayang, sebab itulah dia suruh Be Kong-co lekas pergi.

SemuIa Be Kong-co melengak heran, tapi segera ia pikir Nyo Ko pasti mempunyai maksud tertentu, tanpa membantah lagi terus angkat langkah seribu dan berlari ke kemah Kubilai.

Benar juga setelah mendengar jeritan Nyo Ko tadi Kwe Cing menjadi kuatir, tanpa menunggu mendekatnya kuda merah segera ia putar kuda rampasannya tadi dan menerjang lagi ke tengah pasukan, ke arah beradanya Nyo Ko.

Sedikit pikir saja Kim-lun Hoat-ong lantas paham maksud tujuan Nyo Ko itu, maka ia tidak merintanginya melainkan membiarkan Kwe Cing menerjang lewat di sampingnya, tapi kemudian baru ia mencegat jalan mundur lawan itu.

Setiba di dekat Nyo Ko, dengan kuatir Kwe Cing lantas berseru.

"Ko-ji, bagaimana kau?"

Nyo Ko pura2 sempoyongan dan menjawab.

"sebenarnya orang gede itu bukan tandinganku tapi entah mengapa, mendadak dadaku sesak dan perutku sakit"

Alasannya ini cukup masuk diakal, sebab ilmu silat Be Kong-co tidak tinggi, kalau dia bilang dikalahkan orang dogol itu tentu Kwe Cing takkan percaya, tapi kalau menyatakan tenaganya mau-tak-mau Kwe Cing akan percaya terutama dihubungkan dengan kejadian semalam, di mana Kwe Cing menyangka lwekang anak muda jta mengalami kemacetan, kalau sekarang penyakitnya komat lagi adalah lazim.

Segera Kwe Cing melompat turun dari kudanya dan berseru.

"lekas naik di punggungku, biar kugendong kau!"

"Tidak, Kwe-pepek,"

Jawab Nyo Ko pucat "jiwaku tidak soal, tapi engkau adalah tulang punggung pertahanan kota Siangyang, segenap perajurjt dan rakyat jelata di sana sedang menantikan kepulanganmu, engkaulah tumpuan harapan mereka."

"Kau datang bersamaku, mana boleh kutinggalkan kau di sini?"

Ujar Kwe Cing,"

Hayo lekas menggemblok di punggungku."

Ketika nampak Nyo Ko masih ragu2, segera Kwe Cing berjongkok dan menarik anak muda-itu ke atas punggungnya.

Pada saat itu juga kuda rampasannya tadi telah roboh binasa oleh beberapa panah musuh.

Sudah biasa Kwe Cing menyerempet bahaya, semakin gawat keadaannya semakin gagah berani pula dia dan menghadapinya dengan tenang.

"Jangan takut, Ko ji, kita pasti dapat menerjang keluar."

Demikian katanya kepada Nyo Ko, segera ia berdiri dan menerjang ke sebelah utara.

Sementara itu Hoat-ong, Nimo Singh dan Siau siangcu juga sudah menyusul tiba, Kwe Cing melihat kepungan musuh di sekelilingnya terlebih rapat daripada tadi.

Di bawah panji kebesaran di depan kemah sana tampak Kubilai sedang menyaksikan pertarungan sengit itu sambil bicara dengan seorang Hwesio, melihat sikapnya yang "adem ayem"

Itu jelas Kubilai yakin kemenangan sudah pasti berada ditangannya.

Kwe Cing menjadi gusar, ia menggertak keras dan mendadak menerjang ke arah Kubilai dengan menggendong Nyo Ko, hanya beberapa kali lompatan saja ia sudah sampai di depan Kubilai.

Keruan para pengawal Kubilai terkejut, be-ramai2 mereka mengacungkan tumbak untuk menerjang Kwe Cing Akan tetapi pukulan Kwe Cing luar biasa dahsyatnya, siapa yang berani merintanginya pasti celaka, Ketika seorang pengawal pribadi Kubilai kena dihatiam terpental asal dia menyerobot maju lagi beberapa langkah, tentu pukulannya dapat mengena.

Beberapa pengawal itu berusaha mengadang dengan mati-matian, namun sukar juga menandingi Kwe Cing yang perkasa itu.

Melihat keadaan berbahaya, cepat Kim-lun Hoat-ong menyambitkan toda emasnya dari kejauhan.

Namun sedikit menunduk kepala dapatlah roda itu dihindari oleh Kwe Cing sambil masih terus menerjang maju.

Nyo Ko pikir sampai Kubilai kena ditawan Kwe Cing sebagai sandera, dalam keadaan terpaksa tentu pihak Mongol akan melepaskannya.

Kalau sekarang aku tidak turun tangan, mau tunggu kapan lagi?

Dalam keadaan agak ragu2 ia toh bertanya lagi.

"Paman Kwe, apakah ayahku berniat amat jahat dan berdosa sehingga engkau harus membinasakan dia?"

Melengak juga Kwe Cing atas pertanyaan itu, tapi keadaan tidak mengidzinkannya untuk berpikir ia menjawab.

"Dia mengaku musuh sebagai ayah, berkhianat dan melakukan kejahatan setiap orang dapat membunuhnya,"

"O, begituI"

Kata Nyo Ko, tanpa ragu ia terus angkat pedangnya dan hendak menikam ke kuduk sang paman.

Pada saat itulah mendadak bayangan berkelebat, sebuah pentung menghantam pedangnya sehingga pedangnya tertangkis ke samping.

Waktu Nyo Ko melirik, kiranya yang bertindak itu adalah Siausiang-cu.

ia menjadi heran mengapa oranj| berbuat begitu, tapi segera iapun sadar.

"Ya, kail sengaja menggagalkan usahaku membunuh Kwe Cing agar gelar jago nomor satu itu tidak jatuh kepadaku, Huh, kau mayat hidup ini mana tahu tujuanku hanya ingin menuntut balas saja, tentang nama kosong itu masakah pernah kupikirkan?" . Segera ia putar pedangnya, beberapa kali gebrakan ia desak pentung Siau-siang-cu ke samping menyusul ia hendak menikam lagi ke punggung Kwe Cing. Waktu itu Kwe Cing lagi melayani gempuran kim-Iun Hoat-ong dan Nimo Singh, ia tidak maut tahu Nyo Ko sedang main gila di atas punggungnya disangkanya anak muda itu lagi menempur Siau siang cu dengan mati2an, malahan ia lantas memperingatkan Nyo Ko.

"Awas, Ko-ji, pentungnya itu dapat menyemburkan asap berbisa!"

Nyo Ko mengiakan, sementara itu pentung Siau-siang-cu menyambar tiba pula.

Keadaan itu dapat dilihat dengan jelas oleh Kim-lun Hoat-ong.

Nimo Singh yang berdiri di depan sana, jelas Nyo Ko akan berhasil, tapi selalu digagalkan.oleh Siau-siang cu, dengan gusar mereka lantas membentak.

"Hai, Siau-siang cu, kau main gila apa?"

Siau-siang-cu menyeringai seram, mendadak pentungnya menghantam Kwe Cing, ketika untuk ketiga kalinya Nyo Ko hendak menikam punggung Kwe Cing, mendadak Siau-siangcu menangkis lagi pedangnya.

Mengingat Nyo Ko lagi kurang sehat, Kwe Cing menguatirkan anak muda itu tidak sanggup melayani serangan Siau-siang-cu, segera ia membaiki tangan kiri dan menghantam ke dada musuh itu, seketika tubuh Siau-siang-cu tergetar dan terpaksa mundur dua-tiga tindak.

Dalam keadaan bebas tanpa rintangan, asal ditikam lagi tujuan Nyo Ko pasti akan tercapai tapi dilihatnya iga kiri Kwe Cing menjadi tidak terjaga karena serangannya kepada Siau-siang-cu, kesempatan itu telah digunakan Nimo Simgh untuk menerobos maju, senjata ularnya terus me-nusuk.

Karena kuatir tikaman akan berhasil setelah mundur segera Siau-siang-cu menubruk lagi dengan cepat, pentungnya terus menutuk hiatto maut di punggung Nyo Ko untuk membuat anak muda itu mau-tak-mau harus menjaga lebih dulu.

Sementara itu tangan kanan Kwe Cing sedang melayani Hoat-ong, kedua orang sedang mengadu tenaga dalam, tapi dia dan Nyo Ko justeru terancam bahaya sekaligus, dasar watak Kwe Cing memang berbudi luhur, dia tidak menyelamatkan diri sendiri, tapi menolong Nyo Ko lebih dulu, tangan kirinya terus menyampuk dengan jurus Sin-Iiong-pah-bwe (naga sakti goyang ekor), dengan tepat pentung Siau-siang-cu terhantam, sekujur badan Siau-siangcu terasa panas, mukanya yang pucat seketika berubah merah.

Tapi pada saat yang sama, senjata ular Nimo Singh juga sudah menyamber tiba, Kwe Cing sedang mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk melayani Kim-lun Hoat-ong serta menghantam Siau-siang-cu sehingga tiada sisa tenaga untuk menahan serangan Nimo Singh itu, dalam keadaan kepepet sedapatnya menarik tubuhnya sedikit ke belakang.

Serangan Nimo Singh itu dapat dielakkan, walaupun begitu kepala ular besi itu toh masuk juga pada iganya sedalam dua tiga senti-seketika Kwe Cing mengerahkan tenaga dan otot tangannya mengencang, daya tusuknya senjata ular tertahan dan sukar menancap lebih dalam dan sebelah kaki Kwe Cing lantas menendang hingga Nimo Singh terjungkal.

Tadinya Nimo Sing sudah bergirang melihat serangannya berhasil mengenai sasarannya dan yakin Kwe Cing pasti akan binasa dan gelar jago nomor satu akan jatuh padanya, sungguh tak terduga.

bahwa dalam keadaan kepepet Kwe Cing sanggup mengeluarkan kepandaian lihay dan ia sendiri malah kena di tendang tepat pada dadanya kontan tiga tulang rusuknya patah.

Baca Juga: Dewi Ular Kho Ping Hoo

Baca Juga: Badik Buntung 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert