Eps 2 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung
Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung
Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.
"Kita harus membereskan dulu urusan yang lebih penting. Sebentar, sesudah selesai urusan kita, baru kita merawat jenazah Loo sio. Kitapun harus nyelidiki siapa adanya musuh itu. Semua kawannya mengiakan dan segera berlalu sambil memikul pikulan mereka. Sesudah mereka pergi jauh barulah Jie Thay Giam keluar dari tempat sembunyi dan mendekati jenazah. Orang itu mati dengan badan meringkuk seperti seekor udang dan dari tanda tandanya kebinasaannya disebabkan racun yang sangat hebat. Sebab takut kena racun, ia tak berani menyentuh mayat itu. Ia jadi sangsi dan sesudah berpikir beberapa saat, ia lalu mengempos semangat dan menyusul kawanan Hay soe pay yang sudah pergi agak jauh. Sesudah melalui beberapa li si pemimpin rombongan tiba-tiba mengeluarkan seruan perlahan dan semua kawannya segera berpencaran dan mendekati sebuah gedung disebelah timur laut dengan tindakan perlahan.
"Apakah golok To liong to berada dalam rumah itu?"
Tanya Jie Thay Giam dalam hati.
Diatas gedung besar itu terdapat sebuah lubang asap, darimana terus mengepul asap hitam yang dalam tempo lama berkumpul ditengah udara, tanpa mau buyar.
Kawanan penjual garam gelap itu segera menaruh pikulan ditanah dan setiap orang lalu mengeluarkan sendok kayu yang digunakan untuk menyendok semacam benda dari dalam keranjang mereka.
Benda itu lalu ditaburkan diseputar gedung.
Melihat warna yang putih bagaikan salju, Jie Thay Giam merasa pasti, bahwa benda tu ialah semacam garam.
"Apa yang disaksikan olehku pada malam ini sungguh luar biasa,"
Pikirnya.
"Jika diceritakan kepada In soe belum tentu ia mau percaya."
Waktu menyebarkan garam itu, orang2 Hay see pay kelihatan sangat ber hati2 seperti juga kuatir benda itu menyentuh badan mereka.
Sebagai seorang yang sudah kawakan dalam dunia Kang ouw, Jie Thay Giam lantas saja mengerti bahwa garam itu mengandung racun hebat untuk mencelakakan penghuni gedung itu.
Jiwa kesatrianya lantas saja terbangun.
"Siapa salah, siapa benar, aku tak tahu."
Pikirnya."Tapi perbuatan orang Hay soe pay terlalu rendah. Biar bagaimanapun juga, aku harus memberitahukan penghuni rumah itu, supaya dia jangan sampai celaka dalam tangan manusia2 rendah."
Melihat orang2 itu belum menyebar kan garam dibagian belakang rumah, buru2 ia mengmbil jalan mutar kebelakang gedung dan lain melompat masuk kedalam tembok pekarangan.
Dalam pekarangan yang sangat luas berdiri lima buah bangunan dengan tigapuluh atau empatpuluh kamar dan apa yang mengheran kan, seluruh gedung itu gelap gulita, tidak terlihat sinar lampu atau lilin.
"Dirumah tengah, dari mana mengepul asap hitam, pasti ada manusianya, pikir-Jie Thay Glam. Karena kuatir penghuni runah menganggapnya sebagai musuh, ia lalu mengambil sebatang cabang kering, menyalakan api dan lalu menyulutnya. Sambil mengangkat obor itu tinggi2 ia berkata."
Murid Boe-tong-pay. Jie Thay Giam, datang berkunjung untuk memberitahukan satu rahasia. Aku tidak mengandung maksud kurang baik, harap kalian jangan curiga."
Walau perlahan suaranya tajam dan jauh, sehingga menurut perhitungan, setiap perkataannya bisa didengar oleh penghuni dalam lima rumah itu.
Tapi sesudah mengulangi perkataannya dua kali, ia masih juga belum mendapat jawaban.
Jie Thay Giam adalah seorang pendekar dari sebuah partai kenamaan dan tentu saja nyalinya labih besar dari manusia biasa.
Biarpun gedung itu menyeramkan, ia sungkan memperlihatkan kelemahan.
Tanpa menghunus golok dan dengan hanya mengempos semangat supaya panca indranya jadi lebih tajam, ia segera bertindak masuk kedalam rumah yang mangeluarkan asap hitam.
Setelah melewati sebuah cim chee, ia tiba diruangan belakang.
Mendadak ia berdiri terpaku, sebab dipinggir ruang itu menggeletak dua mayat, yang satu mengenakan pakaian too jin (imam), sedang yang lain memakai pakaian petani.
Usia kedua orang itu sudah lanjut dan mukanya menyeramkan, seperti juga kesakitan hebat sebelum menghembuskan napas yang penghabisan.
Tapi dibadan mereka sedikitpun tidak terlihat tanda-tanda luka barang tajam.
Jie Thay Giam berjalan terus untuk menyelidiki keadaan rumah itu.
Ia mendapat kenyataan bahwa setiap pintu terbuka lebar tapi semua kamar gelap gulita, sehingga ia tak bisa lihat apa yang terdapat dalam kamar-kamar itu.
Kecuali obor yang dibawanya, tidak terdapat lain penerangan seluruh rumah yang luas itu.
Meskipun bernyali besar, mau tak mau hatinya berdebar juga.
Dari situ, ia terus pergi keruangan samping, dimana ia melihat pemandangan yang lebih hebat lagi.
Dalam ruangan itu, menggeletak mayat dua puluh orang lebih dengan senjata2 mereka.
Dilihat dari muka mayat2 itu, sebagian sudah mati lama juga sebagaian lagi baru saja mati.
"Dari senjatanya, diantara mereka terdapat orang2 pandai."
Katanya didalam hati.
"Senjata untuk menotok jalan darah, roda Ngo-heng-loen, Poan-koan pit dan sebagainya. Jika orang2 itu tidak mahir dalam ilmu menotok jalan darah, mereka tentu tidak menggunakan senjata itu. Mengapa mereka mati disini? Mengapa ?"
Semula ia masuk gedung itu dengan sikap sembarangan. Tapi sekarang sesudah melihat mayatnya begitu banyak jago-jago, ia lantas saja berhati-hati.
"Murid Boe-tong-pay Jie Thay Giam minta bertemu dengan Cianpwee untak melaporkan suatu urusan,"
Teriaknya kembali.
Jawaban tetap tidak ada, tapi diruangan tengah terdengar suara orang meniup api dan suara merontoknya perapian.
Dengan tindakan hati-hati, ia lalu menghampiri suara itu dan sesudah melewati tembok dan sekosol, tibalah ia di ruangan tengah.
Ia terkejut sebab merasakan menyambarnya hawa yang sangat panas.
Ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah dapur besar yang terbuat dari batu dan api di dalam dapur itu menjilat-jilat keatas.
Diseputar dapur berdiri tiga orang yang sedang meniup dengan menggunakan tenaga Lweekang, sedang diatas dapur menggeletak melintang sedatang pedang yang panjangnya kira-kira empat kaki.
Sebab panasnya, dari merah sinar api berubah hijau dan dari hijau berubah merah, tapi sinar golok tersebut masih tetap berkeredepan dan sedikitpun tidak melumer atau rusak karena panas api.
Ketiga orang rata2 berusia kurang lebih enampuluh tahun dan mereka semua mengenakan jubah hijau.
Muka mereka penuh debu dan jubah mereka banyak berlubang akibat peletikan api, diatas kepala mereka mengepul uap putih dan saraya mengempos semangat, perlahan2 mereka meniup api.
Setiap kali ditiup, api itu menjilat keatas kira2 lima kaki tingginya dan menggulung golok yang berkeredepan itu.
Jie Thay Giam mengerti, bahWa ketiga orang tua itu memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi.
Dengan berdiri ditempat yang berapa tombak jauhnya dari perapian itu, ia sudah merasakan hebatnya hawa panas, sehingga dapatlah dibayangkan panasnya hawa yang menyambar ketiga kakek itu, yang berdiri dipinggir dapur.
Tapi aneh sungguh, biarpun digulung api yang bersinar hijau, golok itu masih tetap utuh dan Warna nya tidak berubah sama sekali.
Mendadak diatas genteng terdengar suara menyeramkan "Berhenti!
Marah golok mustika itu adalah kedosaan besar."
Jantung Je Thay Giam memukul keras, karena ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara si jubah sulam.
Tapi ketiga kakek itu tidak menghiraukannya dan malahan meniup semakin hebat.
Mendadak hampir berbareng dengan terdengar nya suara tertawa dingin, satu bayangan yang bersinar emas berkelebatan dan bagaikan jatuhnya selembar daun, sijubah sulam sudah berdiri ditengah-tengah ruangan.
Dengan bantuan sinar api, Jie Thay Giam bisa lihat tegas romannya orang itu, yang ternyata adalah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih duapuluh tahun, dengan muka yang tampan, tapi pucat dan bersorot hijau.
Sulaman benang emas dijubahnya yang sangat indah dan mewah, merupakan gambar-gambar harimau, singa bunga-bunga.
Dengan sikap tenang dan tanpa membawa senjata, ia berkata dengan suara dingin "Tiang pek sam khim, mengapa kau akan merusakkan senjata mustika itu ?
"Seraya berkata, begitu ia maju setindak.
Sikakek yang berdiri disebelah barat mendadak mementang lima jari tangannya yang, terus menyambar kemuka orang.
Sijubah sulam mengempas dan maju lagi setindak.
Kakek yang berdiri disebelah timur dengan cepat meagambil satu martil yang terletak di pinggir dapur dan lalu menghantam kepala orang.
Tapi gerakan pemuda itu gesit luar biasa.
Dengan sekali miringkan badan, ia kermbali bisa meloloskan diri dari serangan kedua Martil itu menghantam tempat kosong dan jatuh dilantai dengan muncratnya lelatu api.
Ternyata batu lantai bukan biasa, tapi batu gunung yang sangat keras.
Sikakek yang disebelah barat lantas saja bantu menyerang dengan kedua tangan yang jari2nya dipentang seperti cakar ayam.
Ia menyerang secara nekat2an dengan pukulan-pukulan yang membinasakan, sehingga Jie Thay Giam jadi merasa sangat heran.
"Sakit hati apa yang didendam orang-orang ini, sehingga mereka berkelahi dengan menggunakan pukulan pukulan yang kejam itu?"
Tanyanya didalam hati.
Tapi kepandaian si jubah sulam benar-benar luar biasa.
Walaupun diserang oleh kedua kakek itu, ia masih bersenyum senyum dan melayani dengan sikap acuh tak acuh.
Sesudah bertempur beberapa jurus, si kakek yang ber senjata martil membentak.
"Siapa tuan ? Biar maui golok mustika, tuan harus lebih dulu memberitahukan she dan namamu,"
Tapi si jubah sulam tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, mendadak ia memutar badan, disusul dengan suara "krak-krek"
Dari sikakek yang disebelah timur, terbang menghantam dan menjebloskan atap rumah, akan kemudian jatuh dipekarangan gedung !
Kakek yang martilnya terbang, dapat berpikir cepat.
Ia tahu, bahwa mereka tengah menghadapi musuh yang satu, pihaknya dan meskipun tiga lawan satu, pihaknya pasti bakal dapat dirobohkan.
Maka itu, buru2 ia mengambil satu jepitan api untuk menjepit golok To Liong to.
Pada waktu itu si kakek yang berdiri disebelah selatan, sudah siap sedia dengan senjata rahasianya dan menunggu kesempatan untuk menimpuk si jubah sulam.
Akan tetapi karena gerakan pemuda itu gesit luar biasa, maka sedari tadi ia belum mendapatkan lowongan untuk menyerang.
Sekarang, begitu lihat sikakek disebelah timur menangkat jepitan untuk menjepit To-Liong to hatinya terkesiap.
Ia yakin, begitu lekas golok mustika itu jatuh kedalam tangan orang lain, ia sukar mendapatkannya kembali.
Sesudah sikakek memiliki To liong to, mana mampu ia melawannya?
Dalam bingungnya, ia jadi nekad dan bagaikan kilat, tangannya menyambar kedapur dan mencekel gagang golok.
Meskipun tidak sampai lumer sebagai,akibat dari pembakaran yang sangat hebat itu, golok itu panas luar biasa.
Begitu tangan sikakek mencekel gagang golok, uap putih mengepul keatas dan semua orang mengendus bau daging dibakar.
Tapi ia seperti juga tidak merasa sakit dan membelatak, ia tetap mencekel gagang golok itu.
Karena kaget, pertempuran terhenti dan semua orang berdiri terpaku.
Dilain saat, kakek itu sudah melompat kebelakang dan kemudian, sambil menenteng To-liong-to, bagaikan seorang edan, ia kabur dari ruangan itu.
Sijubah sulam tertawa dingin "Mana bisa begitu mudah?"
Katanya seraya turut melompat dan menjabret punggung sikakek yang lalu digentak kebelakang.
Orang tua itu membalik tangannya dan To-Liong-to manyambar.
Sebelum mata golok tiba, hawa panas sudah menyambar muka sijubah sulam, sehingga rambut dan alisnya lantas jadi hangus.
Pemuda itu terkejut dan tak berani menyambut dengan tangannya.
Cepat bagaikan kilat, kedua tangannya mendorong kedepan dan tubuh sikakek terbang kearah mulut dapur!
Jie Tay Giam yang sadari tadi menonton pertempuran itu sebenarnya tak ingin mencampuri sebab persoalan golok mustika tidak bersangkut paut dengan dirinya.
Tapi pada detik jiwa sikakek terancam kebinasaan tanpa memikir panjang2 lagi, ia mengempos semangat dan melompat.
Sedang badannya masih berada ditengah udara ia menjambret rambut orang tua itu law mengangkatnya keatas dan kemudian, dengan gerakan yang sangat indah ia hinggap diatas lantai.
Lompatan itu yang merupakan ilmu mengentengkan badan paling tinggi dalam Rimba Persilatan dinamakan Tee in ciong "Lompatan awan tangga".
Si jubah sulat dan Tiang-Pek-Sam-khim yang tadinya tidak memperhatikan padanya jadi kaget bukan main.
"Bukankah lompatan itu Tee in ciong yang kesohor dikolong langit?"
Tanya pemuda itu. Mendengar orang menyebutkan nama ilmunya. Jie Thay Giam bermula merasa kaget, tapi kemudian ia girang karena mendapat pujian.
"ilmu yang cetek itu tiada artinya untuk di-sebut2", jawabnya dengan suara merendah.
"Apakah aku bisa mendapat tahu she dan nama tuan yang mulia?"
"Bagus! Bagus!"
Katanya, tanpa menjawab pertanyaan orang.
"Orang mengatakan, bahwa ilmu mengentengkan badan Boe tong pay tiada keduanya dalam dunia. Perkataan itu ternyata ada benarnya juga" . Walaupun kata2nya memberi pujian, tapi suaranya bernada sombong, se olah2 seorang Cianpwee orang yang tingkatannya lebih tinggi sedang memuji kepandaian seorang Hoanpwee orang yang tingkatannya lebih bawah. Jie Thay Giam mendongkol tapi ia menahan sabar.
"Dengan sekali bergerak tuan sudah membinasakan seorang jago Hay see pay, katanya kepandaian tuan sungguh2 tak bisa diukur bagaimana tingginya."
Si baju sulam kaget.
"Eeh, dia lihat aku, tapi aku sendiri tak lihat dia,"
Katanya didalam hati.
"Dimana bocah itu bersembunyi?"
Ia tersenyum tawar dan berkata dengan suara yang tawar pula.
"Benar ilmu itu sukar dimengerti oleh orang luar. Jangankan tuan, sedangkan Ciang boen jin Boe tong pay sendiripun belum tentu bisa mengerti."
Jie Thay Giam adalah seorang yang sangat sabar tapi mendengar hinaan terhadap gurunya, darahnya naik juga.
Baik juga ia masih bisa menguasai dirinya dan merasa tidak perlu untuk menambah musuh karena beberapa perkataan kurang ajar itu ia bersenyum seraya berkata.
"Dalam dunia persilatan memang terdapat banyak sekali ilmu2 yang murni dan yang sesat Boe tong pay hanya memiliki sekelumit ilmu dari lautan ilmu yang dalam dan luas. Ilmu yang dimiliki tuan memang juga tidak dipunyai oleh guruku."
Jawabnya yang sungkan itu mengandung duri dan ia seperti juga mau mengatakan bahwa Boe tong pay memang tidak mengerti segala ilmu sesat dan menyeleweng.
Sementara itu, sikakek yang mencekal golok mendadak memutar To Liong to dan lari menerjang keluar.
Jie Thay Giam yang berdiri paling dekat, paling dulu menerima serangan.
Tiba2 ia merasakan sambaran angin hebat kearah pinggangnya.
Sesudah menolong jiwa orang tua itu, sedikitpun ia tidak duga, bahwa dirinya bakal diserang cara begitu.
Pada saat yang sangat berbahaya, ia menotol lantai dengan kakinya dan badannya lantas saja melesat keatas.
Kakek itu sendiri terus lari keluar sambil menyabetkan To liong to secara membabi buta.
Si jubah sulam dan dua kakek lainnya tidak berani merintangi dengan kekerasar dan seraya ber-teriak2, mereka lalu mengumbar dari belakang.
Jie Thay Giam pun lantas turut mengudak.
Berkat ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, biarpun mengubar belakangan, ia lebih dulu menyandak kakek itu, yang lari dengan tindakkan limbung dan kedua tangan mencekel To liong to, seperti juga tidak kuat menentengnya dengan satu tangan.
Begitu tahu dicandak orang, sambil mangeluarkan teriakan keras, ia melompat jauh dengan menggunakan seantero tenaga dan badannya lantas saja melesat keluar pintu depan.
Heran sungguh, begitu kedua kakinya hinggap di tanah, ia terguling dan berteriak kesakitan seperti juga terluka berat.
Si jubah sulam dan kedua kakek lainnya menyusul dan coba merebut To liong to.
Tapi dengan serentak merekapun turut2 robah dan mengeluarkan teriakan menyayat hati, seolah2 dipagut ular atau lain binatang berbisa.
Sijubah sulam yang ilmunya paling tinggi dengan cepat melompat bangun dan lantas kabur sekeras2nya.
Tapi ketiga kakek itu terus bergulingan dan tak bisa bangun lagi.
Melihat kejadian luar biasa itu Jie Thay Ciam segera bergerak untuk memberi pertolongan.
Mendadak ia kaget sendiri sebab tiba2 saja ia ingat garam beracun yang disebar oleh orang2 Hay see pay.
Melihat akibatnya terhadap Tiang-pek Sam khim dan sijubah sulam, racun itu mestinya hebat luar biasa ia tahu bahwa seputar gedung itu telah dikurung dengan garam beracun sehingga ia sendiripun tak tahu bagaimana harus meloloskan diri.
Ia berdiri diam dan mengasah otak.
Sekonyong konyong ia lihat dua kursi tinggi dikedua samping pintu dan mendadak ia dapat pikiran baik.
Buru2 ia membalik kedua kursi itu dan sambil menggaetkan kakinya dikursi ia berjalan seperti orang main jangkungan.
Ketiga orang tua masih terus bergulingan diatas tanah sambil mengeluarkan teriakan hebat.
Thay Giam mengerti bahwa ia sedang berada ditempat yang sangat berbahaya cepat cepat ia merobek ujung bajunya dan dengan menggunakannya sebagai alat ia men jambret punggung sikakek yang mencekal To liong to dan sambil menentengnya ia lari kejurusan timur se-cepat2nya.
Inilah kejadian yang tak di duga2 oleh orang Hay see pang dengan serentak mereka melepaskan sejata rahasia.
Tapi Jie Thay Giam yang gerakannya cepat luar biasa dalam sekejap sudah berada diluar jarak senjata rahasia.
orang2 Hay see pang tak mau mengerti dan terus mengejar se-keras2nya.
Se konyong2, Jie Thay Giam melompat tinggi, sedang kedua kakinya menendang kedua kursi itu lantas saja terbang kebelakang dan menghantam beberapa pengejarnya.
Mereka berteriak kesakitan dan semua kawannya terpaksa berhenti sejenak untuk melihat keadaan mereka.
Dengan menggunakan kesempatan itu sambil mengempos semangat, Jie Thay Giam mempercepat tindakannya dan dalam sekejap ia sudah meninggalkan pengejarnya jauh sekali.
Sesudah lari lagi beberrapa jauh, ia hanya mendengar suara ombak laut dan suara kejaran musuh sudah tidak terdengar lagi.
"Bagaimana keadaanmu?"
Tanyanya. Sikakek tidak menjawab. Ia merintih kesakitan "Lebih baik cuci badannya yang penuh garam beracun,"
Pikir Thay Giam.
Ia segera membawa orang tua itu keair yang cetek dan lalu melemparkannya keair itu, dengan menjaga supaya air laut tidak mengenakan badannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, kakek itu kelihatan tersadar, tapi belum bisa bangun.
Selagi Thay Giam mau mengangsurkan tangan untuk menariknya, tiba2 menyambar gelombang besar yang secara kebetulan, sudah melontarkan badan situa keatas pasir.
"Sekarang kau sudah terlolos dari bahaya dan karena mempunyai urusan panting aku tidak bisa menemani terus, maka disini saja kita berpisahan."
Kata Thay Giam. Sambil menekan pasir dengan kedua tangan nya si kakek mengangkat badannya.
"Kau kau...mengapa kau tidak merampas golak mustika ini?"
Tanyanya dengan suara heran. Thay Giam tertawa.
"Biarpun bagus, golok itu bukan milikku,"
Jawabnya.
"Bagaimana aku bisa merampasnya?"
Si kakek jadi semakin heran. Ia tak percaya dalam dunia ada orang begitu mulia.
"Kau..,.kau...tipu busuk apa yang dijalankan olehmu?"
Tanyanya.
"Kau ingin menyiksa aku?"
"Kita sama sekali tidak bermusuhan, bagai mana aku bisa menyiksa kau?"
Thay Giam balas tanya seraya tersenyum.
"Malam ini, secara kebetulan kita bertemu dan karena merasa tak tega melihat kau terluka, aku sudah memberi pertolongan."
Orang tua itu menggeleng2kan kepalanya.
"Jiwaku berada dalam tanganmu, kalaukau mau ,bunuhlah sekarang!"
Katanya dengan suara keras. Tapi jika kau turunkan tangan beracun, sesudah mati aku akan jadi setan penasaran dan akan terus me-ngubar2 kau."
Thay Giam tahu otak si tua masih kalang kabut dan ia hanya bersenyum tanpa meladesi.
Baru saja ia mau berlalu, mendadak menyambar sebuah gelombang besar, sehingga pakaiannya basah kuyup dan kakek sendiri mendekam diatas pasir dengan badan gemetaran.
Dengan adanya kejadian itu, Thay Giam berubah pikiran.
"Jika menolong orang, kita harus menolong sampai diakhirnya,"
Pikirnya "kalau aku berlalu, mungkin sekali dia akan mati didalam laut."
Memikir begitu, ia lantas saja menjambak punggung si kakek itu dan sambil menentengnya, ia berjalan kearah sebuah bukit, ia mengawasi keadaan diseputarnya dan melihat sebuah rumah kecil yang bentuknya menyerupai kelenteng.
Ia lalu pergi kesitu dan benar saja rumah itu rumah berhala yang didepannya terdapat huruf2
"Hay sin bia"
Kelenteng Malaikat Laut.
Ia menolak pintu dan mendapat kenyataan bahwa kelenteng yang sangat kecil itu hanya mempunyai sebuah ruangan.
Sesudah meletakkan si kekak diatas meja sembahyang, ia mengeluar bahan api, tapi tak dapat menggunakan karena basah.
Dalam gelap, ia meraba2 meja sembahyang dan sungguh untung diatas meja terdapat bahan api yang diperlukannya.
Ia lalu menyalakan bahan api itu dan menyulut lilin yang tinggal sepotong.
Dibawah sinar lilin ia lihat muka si kakek yang berwarna hijau ungu sebagai tanda keracunan hebat.
Dengan kaget ia merogo saku dan mengeluarkan sebutir Thian sin Kay tok tan atau pel pemunah racun.
"Telanlah pel ini,"
Katanya. Si kakek membuka mataya.
"Tidak,"
Katanya dengan suara gusar.
"Aku lebih suka mati daripada makan pil racunan."
Biar bagaimana sabarpun, Jie Thay Giam naik juga darahnya. Sambil mengerutkan alis, ia berkata dengan suara keras.
"Kau anggap aku siapa? Walaupun Boe tong Cit hiap bukan orang2 mulia, mereka sedikitnya bukan manusia2 yang gemar mencelakakan sesama manusia. Sebentar pel ini adalah untuk memunahkan racun. Karena kau sudah kena racun hebat, biarpun belum tentu bisa menolong jiwamu, sedikitnya pel ini bisa memperpanjang usiamu selama tiga hari. Paling benar kau menyerahkan To liong to kepada Hay see pay dan menukarkannya dengan obat pemunah."
Mendadak kakek itu melompat bangun dan berteriak .
"Tidak ... .! Tidak bisa !"
"Perlu apa golok mustika itu, kalau jiwamu sendiri sudah melayang?"
Tanya Thay Giam.
"Jiwaku boleh melayang, tapi To liong to mesti tetap jadi milikku"
Jawabnya dengan suara pasti seraya mencekal golok itu erat2 dan menempelkannya dipipinya dengan sikap sangat menyayang. Jie Thay Giam jadi heran bukan main. Ia sebenarnya ingin menanya.
"Apa kefaedahan golok tersebut sehingga dicinta sampai begitu. Tapi melihat sorot mata si kakek yang serakah dan ganas, ia jadi merasa muak dan sesudan memutar badan, ia lantas saja berjalan pergi.
"Tahan! Mau kemana kau?"
Bentak orang tua itu. Thay Giam tertawa.
"Kemudian aku mau pergi, bukan urusanmu,"
Jawabnya sambil berjalan terus.
Tapi baru ia berjalan beberapa tindak, mendadak kakek itu menangis keras seperti jeritan binatang yang terluka hebat yang penuh kesakitan dan putus harapan.
Tangisan itu telah membangkitkan rasa kesatria Jie Thay Giam.
Ia balik kembali menanya.
"Mengapa kau menangis?"
"Sesudah mengalami banyak sekali penderitaan, barulah aku memiliki golok mustika ini."
Jawabnya.
"Tapi sekarang aku tahu, dalam sekejap mata, jiwaku akan terpulang kealam baka. Sesudah aku mati, perlu apa golok mustika ini ?"
"Hm....untuk menyelamatkan jiwamu tak ada jalan lain dari pada menyerahkan golok itu kepada Hay see pay untuk ditukar dengan obat pemunah"
Kata Jie Thay Giam. Sikakek menangis meng gerung2.
"Aku tak tega untuk menyerahkannya! Tak tega untuk menyerahkan!"
Teriaknya dengan nada pe nuh keserakahan.
Thay Giam merasa geli melihat serakahnya orang tua itu tapi dengan menyaksikan penderitaannya yang sangat hebat ia tidak bisa tertawa pula, seorang ahli silat yang sejati hanya mengandalkan kepandaiannya untuk mengalahkan musuh dan dalam sepak terjang ia selalu berjalan lurus dan bersedia untuk menolong sesama manusia supaya namanya tetap harum turun temurun.
"Golok atau pedang mustika adalah benda2 yang berada diluar badan kita. Kalau mendapatkannya kita tak usah bergirang, sedang kalau kehilangan kita juga boleh tak usah merasa sedih. Maka itu, perlu apa Lootiang mesti bersedih sampai begitu rupa?"
"Enak saja kau bicara!"
Bentak sikake! "Apa kau penuh dengan kata2 seperti berikut."
"Boe lim cie coen, po to to liang, hauw leng thian hee boh kam poet cong?" (Yang termulia dalam Rimba Persilatan golok mustika membunuh naga perintahuya dikolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut.) Jie Thay Giam tertawa.
"Tenta saja aku pernah mendengarnya,"
Jawabnya.
"Disebelah bawah parkataan itu masih ada dua baris perkataan lain yang berbunyi."
Ie thian poet coat, swee ie ceng hong?"
Sepanjang tahuku, apa yang dimaksudkan dengan ucapan itu ada lah suatu peristiwa yang menggemparkan Rimba Persilatan pada beberapa puluh tahun berselang dan sama sekali bukan membicarakan golok mustika To Liong Ie thian berarti mengandal kepada Langit atau Tuhan.
Tapi disini Ie thian adalah namanya sebatang pedang mustika.
Maka itu, Ie thian poet coat, swee ie ceng hong!
Berarti.
"Ie thian tidak keluar siapa lagi yang melawan ketajamannya? "Kejadian apa yang menggemparkan?"
Tanya sikakek.
"Coba kau ceritakan."
"Peristiwa itu diketahui oleh hampir setiap orang dalam Rimba Persilatan,"
Menerangkan Thay Giam.
"Yang dimaksudkan ialah peristiwa dibunuhnya kaisar Mongol Hian cong, oleh Sintiauw Tay Hiap Yo Ko. Mulai dari waktu itu setiap perintah yang dikeluarkan oleh Sintiauw Tay hiap tidak pernah tidak diturut oleh segenap orang2 gagah dikolong langit. Dengan Liong, (naga) dimaksudkan kaisar Mongol dan To liong berarti membunuh kaisar Mongol. Apa kau kira dalam dunia ini benar2 ada naga?"
Si kakek tertawa dingin.
"Aku minta tanya. Senjata ada yang biasa digunakan oleh Yo Tay hiap ?"
Tanyanya. Thay Giam agak terkejut.
"Menurut katanya guruku, Yo Tayhiap berlengan satu dan ia biasanya tidak menggunakan senjata apapun juga,"
Jawabnya.
"Tapi pada hari waktu bertempur melawan Kim Loen Hoan ong diluar kota Siang yang, ia menggunakan senjata pedang"
"Senjata apa yang digunakan Yo Tay biap untuk membinasakan kaisar Mongol?"
Tanya pula si kakek.
"Ia menimpuk Hian cong dengan sebutir batu dan kejadian ini dilihat oleh semua orang."
Jawabnya. Orang tua itu kelihatan girang.
"Baiklah"
Katanya.
"Menurut katamu sendiri, Yo Tayhiap biasa menggunakan saja tangannya atau tempo2 menggunakan pedang. Senjata yang digunakanya sebutir batu. Dengan begitu, dari mana datangnya perkataan po to to liong atau golok mustika membunuh naga?"
Jie Thay Giam terperanjat dan untuk beberapa saat ia tak dapat menjawab pertanyaan itu.
"Ah! Kurasa itu hanya kata2 yang ditemu kan se-enak2nya saja oleh orang2 Rimba Persilatan,"
Jawabnya sesudah selang beberapa saat.
"Orang tentu tidak bisa mengatakan 'batu membunuh naga'. Kata2 itu tak enak didengarnya."
Sekali lagi si kakek tertawa dingin.
"Alasanmu adalah alasan dibuat2 yang tak ada dasarnya sama sekali,"
Katanya dengan suara mengejek.
"Aku mau tanya lagi, apa artinya perkataan Ie thian poet-coet, wee ie ceng hong?"
Lagi2 Jie Thay Giam bungkam. Sesudah mengasah otak beberapa lama, baru ia menjawab.
"Mungkin sekali Ie thian namanya orang. Sepanjang cerita, Yo Thayhiap belajar ilmu silat dari istrinya. Bisa jadi Yo Hujin bernama Ie Thian dan mungkin juga perkataan itu dimaksudkan Kwee Tay hiap yang telah membela kota Siang yang mati2an."
"Hm !"
Si orang tua mengeluarkan suara hidung.
"Aku memang sudah duga, kau tak tahu apa artinya perkataan itu. Sekarang kau dengarlah. To liong adalah sebilah golok yaitu golok To Liong to yang sedang dicekal olehku. Ie thian adalah namanya sebatang pedang. Pedang itu dikenal sebagai Ie thian kiam. Makanya perkataan itu berarti begini. Dalam Rimba Parsilatan, benda yang termulia adalah golok To liong to Segala perintah dari orang yang bisa memiliki golok itu, akan diturut oieh segenap orang gagah dikolong langit. Asal saja Ie thian kiam tidak muncul, maka senjata yang terlihay dalam dunia adalah To liong to sendiri."
Thay Giam separoh percaya separoh tidak.
"Boleh aku lihat golok itu ?"
Tanyanya. Sikakek memeluk To liong to erat2.
"Kau kira aku bocah usia 3 tahun?"
Katanya dengan suara gusar.
"Jangan kau harap bisa akali aku" . sesudah kena racun ia sebenarnya tidak bertenaga lagi, tapi setelah menelan pel yang di berikan oleh Jie Thay Giam sebagian tenaga nya pulih kembali dan dapat mengerahkgn Lweekang untuk memeluk golok mustika. Dilain saat sebagai akibat dari pengarahan tenaga dalam itu napasnya ter sengal2.
"Kalau kau tidak mempermisikan, aku pun tidak ingin memaksa,"
Kata Thay Giant seraya tertawa.
"Sekarang sesudah kau memiliki golok mustika To Liong, siapakah yang bersedia untuk menurut perintahmu? Apakah karena melihat kau memeluk golok itu aku segera menurut segala kemauanmu? Benar2 menggelikan menurut pendapatku, kau adalah seorang yang baik tapi sebab percaya segala omongan gila pada akhirnya akan mengorbankan jiwamu sendiri. Hai! Malahan sampai dini detik kau masih belum tersadar juga."
"Bahwa kau tidak bisa memerintah aku adalah suatu bukti bahwa golok itu sebenar nya tidak luar biasa sama sekali."
Sikakek bengong dan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata.
"Lau tee,"
Katanya sesudah berpikir beberapa lama.
"Sekarang kita mengadakan serupa perjanjian. Kau menolong jiwa ku dan aku akan membuka sebagian rahasia dari kebagusannya golok mustika ini. Apa kau mupakat?"
Jie Thay Giam tetawa terbahak2.
"Looliang dengan berkata begitu kau sungguh memandang rendah murid2 Boe tong,"
Katanya.
"Menolong manusia yang harus ditolong adalah tugas dari kami semua. Apakah kau kira dalam menolong orang kami mengharapkan pembalasan budi? Kau kena garam beracun, tapi aku sendiri tidak tahu racun apa adanya itu. Maka itulah sebagaimana kukatakan jalan satu2nya adalah meminta obat pemunah dari Hay see pay sendiri."
"Tak mungkin!"
Kata situa sambil menggelengkan kepala.
"Golok mustika ini telah dicuri dari dalam tangan Hay-see-pay. Mereka sangat membenci aku dan mereka pasti tak akan sudi menolong."
"Dengan menyerahkan golok itu kepada mereka, segala sakit hati akan menjadi hilang."
Kata Thay Giam.
"Perlu apa mereka mengambil jiwamu?"
Tapi sikakek tetap menggeleng2kan kepala.
"Kulihat kau mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan kau pasti bisa mencuri obat pemunah dari Hay-see-pay."
Katanya.
"Pergilah curi obat itu dan tolonglah selembar jiwaku."
"Aku merasa menyesal tak dapat meluluskan permintaanmu itu,"
Kata Thay Giam.
"Pertama, aku sendiri mempunyai urusan penting dan tidak boleh berdiam terlalu lama ditempat ini. Kedua, kau telah mencuri golok orang dan dalam hal ini, kaulah. Mana bisa aku mengambil pihak yang tidak benar? Lootian, lekaslah kau meminta pertolongan pihak Haysee-pay. Jika terlambat aku khawatir tidak keburu lagi."
Melihat Thay Giam memutar badan untuk segera berlalu, si tua buru2 berkata "Sudahlah, tak apa jika kau tak mau menolong.
Tapi aku ingin ajukan sebuah pertanyaan lagi.
Pada waktu kau mengangkat tubuhku, apakah akan ada merasakan apa2 yang luar biasa?"
"Benar, aku sendiri merasa sangat heran,"
Jawabnya.
"Kau bertubuh kurus dan kecil tapi pada waktu aku mengangkat badanmu aku merasa herat sekali, kira2 ada duaratus kati, Kau tidak membawa barang berat, tapi mengapa berat badanmu begitu hebat ?"
Orang tua itu segera menaruh To-liong to di atas tanah dan berkata.
"Nah, coba sekarang kau angkat lagi badanku."
Thay Giam segera mencekal baju si kakek dan mengangkatnya. Benar saja, dengan heran mendapat kenyataan, bahwa berat badan orang tua itu hanya kira2 delapanpuluh kati.
"Betul luar biasa,"
Katanya.
"Aku tak nyata, berat golok itu ada seratus kati lebih."
Sambil berkata begitu, perlahan2 ia melepaskan tubuh si kakek diatas tanah.
"Keanehan golok ini bukan hanya terpihak pada beratnya saja."
Kata pula si kakek.
"Lau-tee, kau she apa, she Jie atau she Thio?"
"Aku she Jie, namaku Thay Giam, Lootiang bagaimana kau bisa menebak begitu?"
Si kakek tertawa seraya berkata.
"Diantara Boe-tong Cit-hiap, Song Tayhiap berusia le bih tua dari padamu. In hiap dan Boh hiap baru berusia kira2 duapuluh tahun. Jie hiap dan Sam hiap kedua2nya she Jie. Sie hiap dan Ngo hiap masing2 she Thio. Dalam Rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu itu? Lautee kalau begitu kau adalah Jie Samhiap. Tak heran jika kau memiliki kepandaian yang begitu lihay. Nama Boetong Cithiap menggemparkan seluruh dunia persilatan dan kini hari, aku mendapat bukti, bahwa nama besar itu benar2 bukan kosong."
Walaupun masih berusia muda, Jie Thay Giam sudah kenyang makan asam garam dunia Kangouw.
Ia mengerti bahwa pujian itu mempunyai maksud untuk dapat pertolongannya, sehingga oleh karenanya ia menjadi kheki terhadap sikakek yang coba mengumpak dirinya.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama Loo tiang yang?"
Tanyanya.
"Aku she Tek, namaku Seng,"
Sahutnya.
"Sahabat2 diwilayah Liao tong memberi gelar Hay tong ceng kepadaku."
Hay tong ceng ada lah semacam burung elang yang terdapat didaerah Liao tong. Burung itu ganas dan buas dan biasa makan binatang2 kecil.
"Thay Giam segera merangkap kedua tangannya seraya berkata.
"Sudah lama sekali aku mendengar nama besar Loo tiang. Aku merasa sangat beruntung bahwa dihari ini bisa berkenalan dengan Loo tiang."
Sehabis berkata begitu ia dongak mengawasi langit.
Tek Sang mengerti bahwa pemuda itu akan segera berangkat pergi.
Ia menganggap bahwa untuk menahannya ia harus memancing Thay Giam dengan keuntungan besar.
Maka itu, ia lantas saja berkata.
"Dalam hal ini ada apa2 yang belum dimengerti olehmu. Kata2 hauw len2 thian hee, boh kam po pang, pada hakekatnya bukan berarti bahwa perintah orang yang memiliki To Liong to, ia akan dituruti dengan begitu saja oleh orang2 gagah dalam Rimba Persilatan. Bukan arti yang sebenarnya bukan begitu."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berbisik.
"Jie Lau tee, didalam golok mustika itu tersimpan kitab rahasia ilmu silat. Ada yang kata Kioe yang Cin keng, ada pula yang kata Kioe im Cin keng. Asal saja orang bisa mengeluarkan kitab tersebut dan beralih menurut petunjuk2nya, maka orang itu akan memiliki kepandaian yang sedemikian tinggi, sehingga semua orang tak akan berani membantah segala perintahnya."
Cerita mengenai kedua kitab itu memang per nah didengar oleh Jie Thay Giam dari gurunya.
Dulu, pada sebelum Kak wan Taysoe meninggal dunia, guru2 dari Siauw-lim, Boe tong dan Gobie telah memetik beberapa bagian dari Kioe yang Cin keng, tapi kitab itu, sendiri tak diketahui lagi dimana adanya.
Mengenai Kioe im Cin keng, sudah beberapa tahun orang tidak pernah me-nyebut2 lagi kitab itu, sehingga dalam Rimba Persilatan, orang sangat menyangsika kebenarannya cerita itu.
Melihat paras Jie'Thay Giam yang penuh rasa tidak percaya Tek Seng lantas saja berkata lagi.
"Sesudah mendapat golok mustika ini, kami bertiga coba mencairkannya dengan menggunakan api guna mengambil kitab yang tersimpan didalamnya. Tapi rahasia itu bocor dan sebelum berhasil, orang sudah datang mengganggu. Jie Lau tee, sekarang aku ingin minta pertolonganmu untuk mencuri pemunah racun. Sesudah aku sembuh, kita bisa pergi ketempat yang sepi dan jauh dari manusia untuk mencairkan To Hong to dan mengambil kitab itu. Dalam beberapa tahun saja, kita berdua sudah bisa menjagoi dikolong langit. Jie Lau tee, bagaimana pendapatmu?"
Thay Giam menggelengkan kepalanya.
"Hal itu tidak boleh terlalu dipercaya,"
Katanya.
"Jangankan dalam golok itu memang tidak tersimpan kitab, sedangkan, sekalipun benar ada kitabnya, pada sebelum golok itu menjadi cair kitab tersebut tentu sudah menjadi abu."
"Golok itu keras luar biasa dan tak dapat dibuka dengan pahat yang bagaimana tajam-Pun,."
Kata Tek Seng.
"Jalan satunya adalah mencairkannya dengan menggunakan api. Bicara sampai disitu paras Jie Thay G iam mendadak berubah dan dengan tangannya ia mengebut lilin2 yang lantas padam.
"Ada orang"
Bisiknya. Tek Sen yang Lweekangnya masih kalah jauh dari pemuda itu, tak dapat dengar apapun juga. Baru saja ia mau menanya, disebelah kejauhan mendadak terdengar suara seruan yang saling sambut.
"Musuh mendatangi!"
Katanya dengan suara kaget.
"Mari kita kabur dari belakang kelenteng."
"Dibelakang kelenteng juga sudah ada musuh,"
Kata Thay Giam.
"Celaka !"
Mengeluh Hay tong ceng.
"Tek Loo tiang,"
Kata Thay Giam.
"Yang datang adalah orang Hay see pay. Dengan menggunakan kesempatan ini, paling baik kau minta obat pemunah. Aku sendiri tak dapat mencampuri urusanmu dan segala apa terserah atas putusan Lootiong sendiri."
Sikakek ketakutan setengah mati dan ia mencekal tangan Jie Sam hiap erat2.
"Tidak, tidak... kau tidak boleh meninggalkan aku....tak boleh meninggalkan aku..."
Katanya dengan suara gemetar dan ter-putus2.
Thay Giam merasa jari tangan sikakek yang mencekal pergelangan tangannya bagaikan jepitan besi, dingin seperti es.
Dengan sekali membalik tangan, ia melepaskan cekalan itu dan berbalik mencengkeram lima jerijinya orang itu.
Tek Seng merasa tulang jerijinya seperti mau patah, tapi pada saat itu ia yakin, bahwa orang satu2nya yang bisa menolong jiwanya adalah pemuda itu.
Untuk menyerahkan To-liong to yang telah direbutnya dengan mempertaruhkan jiwa, ia sungguh tak rela lebih tak rela daripada memotong dan memberikan sepotong dagingnya sendiri.
Maka itu, se-konyong2 ia memeluk Thay Giam dengan tangatnnya, secara nekat2an.
Dengan kaget pemuda itu menggoyang pundak untuk melepaskan pelukan itu.
Tapi mati2an sikakek memeluk terus seperti orang kalelap diair.
"Krek...krek..."
Demikian terdengar suara berkekreknya tulang.
Thay Giam mengerti, bahwa jika ia mengerahkan Lwekang lagi, tulang kedua lengan Tek Seng akan lantas menjadi patah.
Hatinya tak tega dan ia tidak mengeluarkan lagi tenaga dalamnya.
"Lepas!"
Bentaknya. Sesaat itu, suara tindakan kaki sudah tiba di luar kelenteng disusul dengan suara gedebrukan dan pintu terpental karena ditendang orang Thay Giam terkesiap.
"Orang ini bukan lawan enteng."
Pikirnya.
Hampir berbareng ia mengendus bau amis dan didalam kegelapan serupa benda dilontarkan kedalam.
Dengan sekali menggoyang badan, seperti seekor cacing ia meloloskan diri dari pelukan Tek Sang dan dengan kecepatan luar biasa, sebelum benda itu atau senjata rahasia mengbantam, ia sudah melompat kebelakang patung Malaikat laut.
Hampir berbareng.
ia dengar teriakan sikakek yang lantas roboh bergulingan dilantai, sedang senjata rahasia itu masih terus dilepaskan tak henti2nya.
Semakin lama bau amis jadi semakin hebat seolah2 ratusan ikan busuk dilemparkan kedalam kelenteng itu.
Tek Seng yang sudah bisa bangun kembali, melompat kesana sini dengan tindakan limbung seperti orang mabuk tapi karena ruangan itu sangat sempit dan juga sebab keadaannya memang sudah payah, maka beruntun senjata2 rahasia itu mengenakan badannya dengan jitu.
Sesudah mendengar suara menyambarnya, Thay Giam berkata dalam hatinya .
"Senjata apa itu? pasir beracun? Kalau pasir beracun, bagaimana Tek Seng bisa mempertahankan diri begitu lama?"
Dilain saat ia mendusin.
"Ah! Tak salah! Garam beracun dari Hay-see-pay,"
Pikirnya.
Walaupun kepandaian tinggi, tapi karena garam menyambar terus menerus mama mana ia berani menerjang keluar?
Sementara itu diatap kelenteng kembali terdengar suara keras dan atap itu lantas saja berlubang di susul dengan turunnya garam dari lubang tersebut.
Sampai disitu Jie Thay Giam yang bernyali besar keder juga hatinya.
"Celaka! Tak dinyana aku harus membuang jiwa ditempat ini ia mengeluh. Ia ingat kejadian pada waktu si jubah sulam dan Tiang pek Sam khim kena garam beracun. Ketika kakek itu, sudah tak usah dikatakan lagi, tapi malahan si Jubah sulam yang berkepandaian tinggi masih tak tahan menghadapi garam itu. Ia merasa dadanya menyesak dan hampir2 muntah karena bau amis itu dan ia yakin bahwa dalam tempo cepat ia tak akan bisa terlolos lagi dari racun yang menyambar dari depan dan turun dari atas seperti hujan gerimis dalam bingungnya ia menghantam punggung patung yang lantas saja berlubang besar, melihat begitu hatinya girang dan buru2 masuk kedalam perut patung. Dengan adanya aling2 itu garam itu tak bisa mencelakakan dirinya lagi. Karena bekerjanya racun garam agak lambat, maka meskipun Tek Seng berteriak kesakitan ia masih bergulingan.Sementara itu karena merasa jerih akan kepandaian Jie Thay Giam orang2 Hay see pay belum berani menerjang masuk dan masih terus menimpuk dengan senjata rahasia mereka untuk menunggu sampai tak berdayanya kedua musuh itu. Menurut kebiasaan senjata rahasia beracun yang dikenal dalam dunia Kang ouw, seperti jarum emas, pasir besi dan sebagainya, mencelakakan manusia sesudah senjata itu menancap ditubuh dan racunnya masuk kejalanan darah. Tapi bekerjanya racun Hay see pay sedikit berbeda. Sesudah garam itu menempel dikulit, racunnya masuk kedalam badan manusia dengan per-lahan2 sampai sikorban binasa, Jie Thay Giam mengerti bahwa dengan bersembunyi didalam perut patung, ia tak akan bisa menghentikan serangan Hay see pay. Tapi karena tak ada jalan yang lebih baik ia harus menunggu sampai tumpukan garam itu mereda dan barulah coba menerjang keluar dari lubang asap. Ia segera mengeluarkan pel pemunah racun yang lalu ditelannya dan kemudian memusat ken semangat seraya menjalankan pernapasannya. Beberapa saat kemudian dadanya yang menyesak jadi lega kembali. Sementara itu, orang2 Hay see pay yang berada diluar kelenteng berdamai dengan suara perlahan.
"Tak ada suaranya lagi mungkin mereka sudah pingsan"
Kata yang satu.
"Tunggulah sebentar. Pemuda itu lihay sekali kita tidak boleh ter-gesa2"
Kata yang lain.
"Sekali ini kita mendapat hasil besar dan Toako pasti akan memberi hadiah yang besar juga"
Kata orang ketiga. Tiba2 terdengar bentakan keras.
"Hei! Lebih baik kamu menakluk supaya jangan membuang jiwa secara cuma2."
Bentakan itu disusul dengan teriakan komando dan beberapa belas orang lantas saja menerjang masuk. Mereka semua sudah memakai obat pemunah sehingga tak takuti lagi garam beracun.
"Dengan Heng-see-pay aku tidak mempunyai ganjelan apapun juga, sedang kedatanganku di sini juga bukan untuk merebut o-liong-to,"
Sekarang paling benar aku munculkan diri dan coba mendamaikan mereka."
Tapi dilain saat ia mendapat pikiran lain.
"Tidak bisa,tidak bisa aku berbuat begitu."
Pikirnya.
"Boe tong-pay adalah sebuah partai besar yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan. Jika aku ke luar dan coba bicara baik2 dengan mereka, artinya seperti juga aku menekuk lutut dan sikapku ini sangat memalukan guruku.'' Selagi ia bersangsi, ditempat yang jauh memdadak terdengar serupa seruan. Seruan itu halus bagaikan benang sutera. tapi tajam, dan menusuk kuping, sehingga orang yang mendengarnya ber-debar2 hatinya. Dilain saat seruan itu sudah terdengar didepan kelenteng, sehingga bukan main kagetnya Thay Giam karena kecepatan yang sungguh luar biasa. Pertama kali, seruan itu terdengar ditempat yang jaraknya beberapa li dan dilain detik sudah tiba didepan pintu. Dalam dunia ini kecuali beberapa macam burung yang terbangnya luar biasa cepat, baik manusia maupun binatang tak akan mempunyai kecepatan yang begitu hebat. Lebih aneh didengar dari suaranya seruan manusia. Hampir berbareng dengan berhentinya seruan itu, Tek Seng mengeluarkan teriakan ketakutan.
"Kau....kau juga maui To liong...Peh bie"
Peh bie berarti Alis putih.
Mendadak diluar kelenteng terjadi perubahan luar biasa.
Puluhan orang Hay see pay tiba2 bungkam mulutnya.
Keadaan sunyi senyap se-olah2 puluhan manusia itu berubah menjadi batu.
Mereka seperti juga melihat sesuatu yang sangat menakuti sehingga bahwa takutnya, tak dapat mereka mengeluarkan suara lagi.
Beberapa saat kemudian kesunyian itu dipecahkan dengan suara "bruk!"
Dan salah seorang roboh terguling. Robohnya orang itu disusuri dengan teriakan yang gemetar."
Peh bie!.... Lari. ayo lari!...."
Teriakan itu putus ditengah jalan.
Mungkin sekali orang yang berteriak tak bisa meneruskan teriakannya dan kawan2nya tak kuat lari lagi, sebab sesuatu yang ditakuti sudah masuk kedalam klenteng.
Jie Thay Giam heran tak kepalang.
"Apa itu Peh bie?"
Tanyanya didalam hati.
"Apa binatang buas atau manusia yang lihay luar biasa, sehingga semua orang ketakutan begitu rupa?"
Se-konyong2 terdengar suara seorang.
"Kauw coe Pemimpin Agama tanya kamu, dimana adanya To Liong to. Lekas keluarkan. Kauw coe berhasil mulai dan akan mengampuni kamu semua. Suara itu manis dan lemah lembut, tapi mengandung keangkeran.
"Dia...dia yang curi,"
Demikian terdengar jawaban seorang Hay see pay.
"Kami datang kemari justru untuk coba merebut pulang Kauw coe.....Kauw coe.....""
"Eh, mana golok mustika itu?"
Tanya suara yang manis itu. Thay Giam tahu, orang itu menanya Tek Seng, Tapi kakek itu tidak menjawab. Dilain saat terdengar robohnya sesosok tubuh.
"Celaka! Tek Seng dibinasakan,"
Pikir Thay Giam. Ia yakin, bahwa dengan seorang diri, ia bukan tandingan musuh. Tapi sesudah mencampuri urusan ini, ia merasa malu untuk bersembunyi terus.
"Mundur dada waktu berbahaya, bukan perbuatan seorang lelaki,"
Katanya didalam hati. Baru saja ia mau melompat keluar, mendadak terdengar suara yang dingin.
"Dia sudah mati karena ketakutan. Geledah badannya,"
Lain2 Thay Giam terkesiap.
"Mati sebab ketakutan?"
Tanya dalam hati. Sementara itu sudah terdengar suara dirobeknya pakaian dan dibolak baliknya badan manusia.
"Melaporkan kepada Kauw coe, bahwa dibadan orang ini tidak terdapat apapun juga,"
Kata orang yang suaranya lemah lembut. Perkataan orang itu disusul dengan suara pemimpin Hay see pay yang berkata dengan suara gemetar ;
"Kauw coe ... terang dia yang mencuri. Kami tak berani berdusta...."
Ia bicara dengan ketakutan sangat hebat, seperti juga nyalinya hancur, sehingga bulu roma Jie Thay Giam bangun semua.
"Benar2 heran."
Katanya didalam hati.
"Golok mustika itu memang dicekel Tek Seng. Ke mana perginya."
"Kamu mengatakan bahwa golok inustika itu dicuri olehnya, tapi mengapa tak kedapatan?"
Tanya pula orang yang suaranya manis.
"Tak salah lagi kamulah yang menyembunyikannya. Begini saja! Siapa yang bicara terus terang, dialah yang diampuni jiwanya. Diantara kamu hanya seorang yang boleh hidup terus. Siapa yang bicara lebih du1u, dialah yang dapat pengampunan."
Keadaan sunyi senyap dan beberapa saat kemudian, barulah si pemimpin Hay-see-pay berkata .
"Dengan sejujurnya kami melapor kan kepada Kauwcoe, bahwa kami tidak tahu menahu tentang hilangnya golok mustika itu. Tapi kami berjanji akan berusaha untuk menyelidiki sampai se-terang2nya"
Kauwcoe itu tidak menjawab ia hanya mengeluarkan suara dihidung. Orang yang suaranya manja berkata lagi.
"Siapa yang bicara terus terang, dialah yang boleh hidup terus"
Keadaan kembali sunyi senyap.
Tiba2, kesunyian yang menakuti itu dipecahkan oleh teriakan seorang.
Dengan se-betul2nya kami sedang mencari golok mustika itu, yang mendadak menghilang secara luar biasa.
Jika kau tetap tidak percaya, dari pada mati konyol, lebih baik kami melawan mati2 an sampai dimana kepandaian Peh bie Kauw..."
Suara itu berhenti ditengah jalan dan keadaan kembali sunyi senyap. Rupanya dia sudah binasa dengan begitu saja.
"Tadi seorang lelaki yaag berusia kira? 30 tahun telah menolong kakek itu,"
Menerang kan Hay see pay.
"Dia mnemiliki ilmu mengentengkan badan yang sangat tinggi. Entah kemana perginya sekarang. Golok mustika itu pasti dibawa lari olehnya,"
Kauw coe itu kembali mengeluarkan suara dihidung dan kemudian berkata dengan suara dingin;
"Ampuni jiwa orang ini.."
Hampir berbareng terdengar kesiuran angin dan ia sudah keluar dari pintu kelenteng.
Tiba2 terdengar pula suara, nyaring ditempat yang jauhnya belasan tombak.
Jie Thay Giam tak bisa menahan sabar lagi seraya melompat keluar dari perut patung ia berteriak "aku berada disini jangan celakakan orang!"
Tapi keadaan lagi2 sunyi senyap.
Thay Giam mengawasi disekitarnya dan ia lihat semua orang berdiri seperti patung ia heran bukan main dan buru2 menyulut lilin diatas meja sembahyang.
Mendadak ia mengeluarkan seruan tertahan karena dua puluh lebih anggota Hay see pay berdiri tegak tanpa bergerak seperti juga tertotok jalanan darahnya sedang muka mereka mengunjuk rasa takut yang sangat hebar dengan nyalinya yang besar dan pengalamannya yang luas tak urung jantung Thay Giam memukul keras.
"Bagaimanakah lihaynya Kauw-coe Peh bie kauw it"?"
Tanyanya didalam hati.
"Orang2 Hay see pay bukan sembarang orang tapi mengapa bertemu dengan Kauw coe, mereka ketakutan sampai begini rupa ia mengangsurkan tangannya dengan niatan menotok jalanan darah Hoa kay hiat dari salah seorang itu untuk membuka jalanan darahnya yang tertutup. Tapi lagi2 ia kaget jerijinya menotok jalanan darah yang sudah membekuk dan orang itu tetap tidak bergerak setelah memeriksa pernapasannya baru dia tahu dia sudah binasa? Kecuali seorang semua anggota Hay see pay sudah binasa sebab totokan perjalanan darah yang membinasakan orang yang masih hidup itu yaitu orang yang bicara paling belakang sebab dilantas dengan napas ter-sengal2. Rasa heran dan kagetnya Thay Giam sukar dilukiskan benar ia tak mengerti bagaimana dalam sekejap mata, Kauw coe itu bisa membinasakan dua puluh orang lebih yang berkepandaian tinggi sambil mengangkat tubuh orang itu ia bertanya.
"Agama apa Peh bie kauw? Siapa Kauw coe itu?"
Orang itu tidak menjawab pertanyaannya yang diulangi beberapa kali dia hanya mengawasi dengan mata membelalak.
Thay Giam memegang nadinya dan ternyata aliran darah orang itu sudah kalang kabut sebagai tanda bahwa beberapa uratnya telah diputuskan sehingga ia menjadi gagu dan terganggu otaknya.
Darah Jie Thay Giam lantas saja meluap.
"Apa itu Peh-bie kauw? Mengapa dia begitu kejam?"
Tanyanya didalam hati dengan penuh kegusaran.
Tapi ia tabu, bahwa ia bukan tandingan orang itu.
Sesaat itu juga, ia sudah menghitung2 tindakan yang akan diambilnya.
Ia ingin segera berangkat ke Boe tong san untuk melaporkan kejadian itu dan menanyakan asal usul Peh bie kauw kepada gurunya.
Ia berniat mengajak semua saudara seperguruannya untuk menyatroni manusia yang dinamakan Peh bie Kauwcoe.
Ia menganggap, bahwa walaupun Kauwcoe itu lihay luar biasa Boe-tong Cithiap masih dapat menandinginya.
Melihat garam beracun yang tersebar diseputar kelenteng itu, ia menghela napas panjang.
"Orang2 Hay see pay juga bukan manusia baik2, sehingga kebinasaannya yang begitu rupa mungkin ada pantasnya juga,"
Katanya didalam kelenteng sangat tak pantas dan orang bisa celaka, jika kebetulan datang disini."
Memikir begitu ia segera mangambil golok dan menggali satu lubang besar didalam kebun sayur.
Sesudah itu, dengan hati2 ia mengangkat mayat2 itu yang lalu memasukkan kedalam lubang.
Sesudah memindahkan belasan mayat, tiba2 ia terkejut, karena mayat itu berat luar biasa, sedangkan badannya hanya berukuran sedang.
Ia segera memeriksa dan ternyata, dari pundak terus kepunggung mayat itu terdapat luka besar yang sangat panjang.
Begitu ia meraba tangannya menyentuh benda yang keras dingin dan setelah ditarik keluar benda itu bukan lain daripada To liong-to yang diperebuti!
Secara kasar ia segera menebak apa yang sudah terjadi.
Rupanya, begitu melihat Peh-bie Kauwcu, Hay-tong ceng Tek Seng hancur nyalinya dan ia mati ketakutan.
Pada waktu menghembuskan napasnya yang penghabisan golok itu terlepas dari cekalannva dan jatuh dipunggung orang itu.
Karena berat dan tajam To Liong to amblas dibadan orang itu.
Maka itu tidaklah heran jika pada waktu menggeledah semua orang, kaki tangan Kauw coe tidak bisa mendapatkan apapun juga.
Kalau dalam hati Jie Thay Giam tidak muncul rasa kasihan mungkin sekali golok mustika yang menggemparkan itu, akan hilang dari dunia persilatan.
"Golok ini adalah mustika dalam Rimba Persilatan,"
Kata Thay Giam dan dalam hatinya "Akan tetapi, menurut pendapatku, senjata ini bukan senjata yang mujur.
Hay tong ceng Tek Sang dan-puluhan orang Hay see pay binasa karena gara2 To liong to.
Sekarang paling benar aku mempersembahkan senjata ini kepada Soehoe, untuk meminta keputusan."
Sesudah selesai menguburkan semua mayat itu, karena kuatir garam beracun mencelakakan rakyat, ia segera mencari cabang2 kering yang lalu disulut untuk membakar kelenteng tersebut.
Dibawah sinar api itu ia lalu meneliti golok mustika itu yang ternyata berwarna hitam bukan besi dan juga bukan emas, entah dibuat dari logam apa.
Dari gagang sampai badannya samar2 terlihat garisan2 yang berwarna biru.
Dengan mata kepala sendiri, ia telah menyaksikan dibakarnya golok itu, tapi sungguh aneh, golok tersebut tidak rusak sedikitpun.
"Bagaimana orang bisa menggunakan golok yang begini berat?"
Tanyanya didalam hati.
"Dulu, Ceng liong Yan-goat to dari Kwan Ong-ya, yang mempunyai tenaga malaikat, hanya delipan puluh satu kati beratnya,"
Kwan Ong-ya, Kwan Kong dari jaman samkok. Ia segera me masukkan golok itu kedalam buntalannya dan kemudian berkata dengan suara perlahan didepan kuburan Tek Seng.
"..Tek Loo tiang, bukan mau serakahi golok ini. Tapi karena To liong to senjata luar biasa, maka jika jatuh ketangan manusia jahat, bencananya bukan kecil. Aku ingin menyerahkannya kepada Soehoe, seorarg adil yang berhati mulia, yang tentu akan bisa membereskan persoalan golok ini se-baiknya."
Sesudah berkata begitu, ia lalu menggendong buntalannya dan meneruskan perjalanan kejurusan utara.
Sesudah berjalan kurang lebih setengah jam tibalah ia ditepi sungai.
Ketika itu ribuan bintang yang sinarnya sudah suram masih berkelip kelip diatas sungai.
Ia mengawasi keberbagai jurusan tapi tak terlihat sebuah perahu pun.
Ia lalu berjalan disepanjang gili2 dan kira2 semakanan nasi, ia lihat sinar lampu dari sebuan perahu penangkap ikan yang terpisah kira2 belasan tombak dari tepi sungai.
"Toako penangkap ikan!"
Teriaknya.
"Tolong seberangkan aku?"
Karena perahu ikan itu terpisah terlalu jauh sipenangkap ikan rupanya tidak mendengar teriakannya.
Thay Giam segera mengempos semangat dan berteriak lagi.
Terikan itu yang disertai dengan Lweekang yang sudah dilatih kira2 dua puluh tahun nyaring dan sangat tajam.
Beberapa saat kemudian dari aliran sebelah atas muncul sebuah perahu kecil yang menggunakan layar dan yang perlahan2 menempel ditepi sungai.
"Apa tuan mau menyeberang"
Tanya si juru mudi.
"Benar, aku ingin minta pertolongan Toako untuk menyeberangkan aku,"
Jawabnya dengan girang.
"Sekali menyeberang ongkosnya satu tahil perak."
Kata pula juru mudi itu. Permintaan itu sebenarnya terlalu mahal tapi sebab ingin buru2, Thay Giam tak rewel lagi.
"Baiklah,"
Katanya seraya melompat turun kedalam perahu yang melesak kedalam air.
"Tuan, bawa apa kau ? Mengapa begitu berat,"
Tanya juru mudi itu dengan perasaan heran. Jie Thay Giam segara mengangsurkan sepotong perak dan menjawab sambil tertawa .
"Tak apa2. Badanku berat. Ayohlah" ' Si juru mudi kelihatannya bercuriga dan berulang kali melirik buntalan Thay Giam. Sesaat kemudian, dengan menuruti aliran air, perahu itu belayar dengan mengambil arah timur laut. Sesudah melalui satu li lebih tiba2 terdengar suara gemuruh.
"Juru mudi, apa mau turun hujan?"
Tanya Thay Giam.
"Bukan."
Jawabnya seraya tertawa.
"Guru itu suara air pasang sungai Cian tong kang. Dengan mengikuti aliran air pasang. dalam sekejap kita bisa sampai dilain tepi."
Thay Giam mengawasi kearah suara itu. Jauh2 ia lihat sehelai garis putih yang mendatangi dengan ber-gulung2. Suara itu kian lama kian menghebat dan gelombang juga jadi makin besar.
"Baru sekarang kutahu, bahwa diantara langit dan bumi terdapat pemandangan yang seangker ini,"
Katanya didalam itati.
"Tidak cuma2 aku membuat perjalanan ini."
Dilain saat, ombak sungai sudah tiba dan mendorong perahu dengan kekuatan luar biasa.
Selagi memandang dengan penuh perhatian se-konyong Thay Giam mengeluarkan seruan tertahan, karena dipuncak ombak terlihat sebuah perahu yang menerjang kedepan menurut gerakan ombak itu.
Apa yang luar biasa ialah pada layar putih dari perahu itu terdapat lukisan yang merupakan sebuah tangan berwarna merah dengan lima jeriji yang terpentang lebar.
Karena memiliki mata yang sangat tajam, biarpun didalam kegelapan, dalam jarak puluhan tombak ia sudah bisa lihat tangan berdarah itu.
Sijuru mudi sendiri baru bisa melihatnya sesudah perahu itu datang terlebih dekat.
Mendadak ia mengeluarkan teriakkan ketaku tan."
Hiat chioe hoan." (Hiat chioe hoan perahu layar Tangan berdarah).
"Apa itu Hiat chioe hoan?"
Tanya Thay Giam.
Sebaliknya dari menjawab ia menerjun ke dalam air!
Thay Giam terperanjat dengan gelombang yang sebear itu biarpun pandai berenang, orang tak akan bisa bertahan lama didalam air buru2 ia mengambil sebatang gala yang lalu disodor keair tapi juru mudi itu menggoyangkan tangan dengan paras muka ketakutan dan dilain saat ia masuk kedalam gelombang untuk tidak keluar lagi.
Tanpa juru mudi begitu terpukul ombak, perahu itu lantas saja terputar.
Cepat2 Thay Giam pergi kebelakang perahu untuk memegang kemudi pada saat itulah mendadak terdengar suara "dak"
Dan perahu Hiat chioe hoan membentur perahunya Thay Giam Karena kepala Hiat chioe hoan dilapis besi begitu terbentur, perahu Thay Giam lantas saja bocor dan air menerobos masuk.
Bukan main gusarnya Thay Giam.
"Perahu siapa yang begitu kurang ajar?"
Bentaknya dengan suara keras.
Melihat perahunya sudah hampir tenggelam, dengan sekali menotol ujung kaki, ia melompat keatas kepala perahu Hiat chioe hoan.
Pada yang bersamaan satu ombak besar menerjang, sehingga Hiat chioe hoan "terbang"
Keatas, setombak lebih tinggi nya.
Kejadian itu terjadi pada sesaat badan Thay Giam berada ditengah udara sehingga perhitungannya meleset semua dan ia melayang jatuh kedalam air.
Pada detik yang sangat genting sambil mengempos semangatnya ia menggoyang kedua pandaknya dan dengan menggunakan gerakan Tee in ciang, tiba2 tubuhnya meleset keatas lagi setombak lebih dan kedua kakinya hinggap diatas kepala perahu Hiat-chioe-hoan.
"Ada orang tercebur diair! Lekas tolong !"
Teriak Thay Giam.
Ia mengulangi teriakannya beberapa kali.
Tapi tidak mendapat jawaban.
Dengan mendongkol ia menolak pintu gubuk perahu tapi pintu itu yang terbuat dari besi, tidak bergeming.
Seraya menggerakkan Lweekang dikedua lengannya ia mendorong sambil membentak keras.
Pintu belum terbuka tapi sudah berlobang karena menghubungkan gubuk dan pintu telah putus dan jatuh dengan mengeluarkan suara berkerincingan.
Tiba2 didalam gubuk terdengar suara orang "
Tee in ciong dan Tin san ciang (Pukulan menggetarkan gunung) yang tersohor dari Boe tong pay sungguh bukan pujian kosong.
Jie Sam hiap serahkan To liong to yang berada dalam buntalanmu dan kami akan mengantarkan kau menyeberang sungai suara yang le mah lembut itu bukan lain dari pada suara kaki tangan Peh bie Kauw coe yang pernah didengarnya dikelenteng Hay sin bio.
Sekarang baru ia tahu bahwa perahu Hiat cioe hosn adalah milik Peh bie Kauw coe sehingga tidak heran sijuru mudi jadi ketakutan setengah mati.
Tapi ia tak mengerti bagimana orang itu tahu namanya dan beradanya To liong to di dalam tangannya.
Sebelum ia menanya orang itu sudah berkata lagi."
Jie Sam Hiap mungkin kau merasa heran mengapa kami tahu she dan namamu bukankah begitu tapi sebenarnya kau tak usah heran kecuali ahli silat Boe tong pay dalam dunia ini siapa lagi yang memiliki lompatan Tee in ciong dan pululan Tin san ciang?
Tiga hari sebelum Jie Sam hiap menginjak wilayah Ciat kang kami sudah mendapat warta.
Hanya sayang kami tidak keburu menyambut dari tempat jauh.
Thay Giam tak tahu bagaimana harus menjawab perkataan orang itu tapi mengingat sijuru mudi yang tercebur didalam air ia lantas saja berkata.
"Hal lain dapat ditunda paling dulu kita harus menolong jiwanya juri mudi itu."
Orang itu tertawa ter-bahak2.
"Jie Sam hiap hatimu terlalu mulia katanya.
"Juragan perahu itu mempunyai satu gelaran yang sangat bagus yaitu Sauw cay Seei kwie (Setan air yang menagih hutang) Disungai Ciang tong-kang entah berapa banyak jiwa melayang didalam tangannya. Jie Sam hiap adalah seorang yang berhati sangat mulia. Tapi setan air itu sebenarnya sudah mengincar buntalanmu dan ingin menagih hutang dari penitisan yang lain. Haha !"
Thay Giam sendiri sebelumnya sudah menaruh curiga, karena-lihat lahat juru mudi itu yang seperti lagak bangsat. Sekarang ia mendapat kenyataan, bahwa kecurigaannya sangat beralasan.
"Bolehkah aku mendapat tahu she dan nama tuan yang besar dan apa boleh aku bertemu muka denganmu?"
Tanya Thay Giam.
"Antara Peh bie kauw dan partai tuan sama sekali tidak mendapat tali persahahatan atau permusuhan,"
Jawabnya.
"Maka itu menurut pendapatku, lebih baik kita tak usah bertemu muka. Jie Sam hiap taruh saja To liong to dikepala perahu dan kami akan menyeberangkan kau ketepi."
Mendengar perkataan itu, darah Thay Giam lantas saja naik.
"Apakah To liong milik Peh bie kauw?"
Tanyanya dengan suara kaku.
"Bukan,"
Jawabnya.
"Tapi golok itu adalah senjata termulia dalam Rimba Persilatan, maka dapatlah dimengerti, jika setiap ahli silat sangat ingin memilikinya."
"Kalau begitu, dengan sangat menyesal aku tak bisa meluluskan permintaanmu,"
Kata Thay Giam.
"Golok ini sudah jatuh kedalam tangan ku dan aku merasa berkewajiban uniuk menyerahkan kepada guruku, supaya ia bisa memberi keputusan. Aku masih berusia muda dan tak dapat mengambil keputusan apa apa."
Orang itu kembali bicara, tapi suaranya sehalus bunyi nyamuk, sehingga Thay Giam tak dapat menangkapnya.
"Apa kau kata?"
Tanyanya sambil maju beberapa tindak. Sesaat itu, gelombang besar kembali menghantam, sehingga perahu layar itu "terbang"
Keatas dan terombang ambing ditengah2 ombak.
Mendadak Jie Thay Giam merasa sakit gatal didada dan pahanya, seperti digigit nyamuk.
Waktu itu adalah permulaan musim semi dan biasanya tidak ada nyamuk.
Tapi ia tidak menghiraukan dan lalu menepuk beberapa kali ditempat yang gatal.
"Untuk merebut sebilah golok, Peh bie kauw telah membinasakan tidak sedikit manusia,"
Katanya dengan suara nyaring.
"Dikelenteng Hay sin bio saja, beberapa puluh orang telah melayang jiwanya. Menurut pendapatku, tanganmu agak terlalu kejam."
"Kau salah,"
Membunuh orang itu.
"Dalam menurunkan tangan, Peh bie kauw selalu membuat perbedaan. Terhadap orang jahat, kami turunkan tangan yang berat, sedang terhadap orang baik, kami turunkan tangan enteng. Jie Sam hiap, namamu yang mulia telah menggetarkan dunia Kangouw dan kami tentu tidak akan mengambil jiwamu. Jika kau menyerahkan To Liong to, kami akan segera memberikan obat pemunah jarum Boen sie ciam kepadamu,"
Boen sie ciam Jarum kumis nyamuk. Mendengar kata2
"Boen sie ciam,"
Thay Giam terperanjat.
Buru2 ia meraba dada, dibagian yang bekas digigit nyamuk.
Ia merasa gata12, tiada bedanya seperti akibat gigitan nyamuk.
Tapi sesudah memikir sejenak, ia mengerti, bahwa rasa gatal itu tak mungkin akibat gigitan nyamuk, karena pada waktu itu adalah musim semi, apapula jika diingat, bahwa ia sedang berada diatas sungai.
Dari mana datangnya nyamuk?
Mendadak ia mendusin.
"A-ha! Kalau begitu, ia sengaja bicara perlukan untuk memancing supaya aku datang terlebih dekat, agar ia bisa menimpuk dengan senjata rahasianya yang sangat halus,"
Katanya didadalam hati.
Mengingat ketakutannya Tek Seng orang2 Hay-see-pay dan si juragan perahu, maka boleh dipastikan, racun itu hebat luar biasa.
Maka itu, jalan yang terbaik adalah menangkap dan memaksanya untuk mengeluar kan obat pemunah.
Memikir begitu, sambil membentak keras, ia melompat kedalam gubuk perahu itu.
Sebelum kedua kakinya hinggap dipapan perahu, angin yang sangat tajam menyambar mukanya dan dalam gusarnya, iapun segera menghantam dengan sekuat tenaga.
Begitu kedua tangan kebentrok, kedua lawan itu tetpental kebelakang dengan berbareng Jie Thay Giam sendiri terdorong keluar, tapi sukar, ia tak sampai roboh terguling hanya telapak tangannya dirasakan sakit sekali ia mengerti bahwa musuh telah menyembunyikan senjata dalam tangannya sebab pada waktu kedua telapak tangan beradu ia merasa tujuh batang jarum atau paku, menancap ditelapak tangan nya.
Dalam segebrakan itu ia sudah tahu bahwa tenaga lawan kira2 setanding dengan tenaganya sendiri.
"Racun Ciang sim Cit sang tengku hebat luar biasa"
Demikian terdengar suara orang itu "Lweekang Jia Sam hiap sungguh liehay dan aku merasa takluk.
Ciang sim Cit seng teng (Paku tujuh bintang) yang ditaruh ditelapak tangan.
Jie Thay Giam yang sabar sekarang menjadi kalap is meraba buntalannya dan lalu mencabut To liong to.
Sambil mencekal gagang golok dengan kedua lengan ia membacok.
"Trang!"
Pintu besi itu terbelah dua melihat tajamnya golok itu semangatnya terbangun dan ia lalu membacok kalang kabut sehinga gubuk itu yang terbuat dari pada besi lantas menjadi hancur dan lembaran2 besi jatuh ke dalam air.
Orang yang berada didalam gubuk tak dapat menyembunyikan dirinya lagi ia lalu melompat kebelakang perahu seraya menbentak "kau sudah kena dua macam racun, mau apa kau banyak lagak."
Jie Thay Giam yang sudah mata gelap tidak menghiraukannya dan terus menerjang sampai memutar golok. Melihat serangan kalap itu buru2 orang itu menangkis dengan sebuah jangkar.
"Trang"
Jangkar itu juga terbelah dua dengan hati mencelos ia melompat kesamping dan berteriak.
"Hei? Kau lebih sayang jiwa atau lebih sayang golok?"
Thay Giam berhenti menyerang.
"Baiklah"
Katanya.
Serahkan obat pemunah aku akan menyerahkan golok ini kepadamu.
Sesaat itu merasa pahanya semakin gatal dan sakit sebagai tanda bahwa racun sudah mulai bekerja.
Mengingat bahwa To liong to telah didapatinya secara kebetulan dan sebab ia memang tak ingin memiliki harta benda orang lain maka hilang hilangnya golok itu juga tidak dirasakan berat olehnya.
Dilain saat, ia sudah melemparkan To Liong to diatas papan perahu.
Orang itu kegirangan dan buru2 menjemput nya, akan kemudian meng-usap2 badan golok itu dengan sikap yang sangat menyayang.
Ia berdiri dengan membelakangi rembulan, sehingga Thay Giam tak dapat lihat nyata mukanya.
Tapi dalam perhatiannya kepada golok itu, ia rupanya lupa akan janjinya untumemberikan obat pemunah.
Lewat beberapa saat, rasa sakit dan gatal didada dan paha Thay Giam makin menghebat.
"Eh, mana obat?"
Tanyanya. Orang itu tertawa berkakakan seperti juga mendengar cerita lucu. Tentu saja Thay Giam jadi gusar seka]i."
Hei! Aku minta obat yang dijanjikan olehmu,"
Bentaknya.
"Ada apa lucunya ?"
Orang itu menuding muka Thay Giam dan berkata seraya tertawa.
"Hihihi ! Kau sungguh tolol ! Sebelum aku mengeluarkan obat, kau sudah lebih menyerahkan golok ?"
"Perkataan seorang laki2 seperti juga larinya seekor kuda,"
Kata Thay Giam dengan amarah me-luap2.
"Kita sudah berjanji untuk menukar golok dengan obat, apa kau lupa?"
Orang itu tertawa lagi.
"Dengan golok dalam tanganmu, aku masih jerih juga,"
Katanya dengan suara mengejek.
"Adat kata kau tidak bisa menangkan aku, kau masih dapat melemparkan golok itu kedalam sungai dan belum tentu aku bisa mencarinya. Tapi sekarang, sesudah golok ini berada dalam tanganku, apa kau masih mengharapkan obat pemunahan ?"
Perkataan itu se-olah2 air dingin yang mengguyur kepala Thay Giam.
Mimpipun ia tidak pernah mimpi, bahwa orang itu bisa berlaku begitu licik.
Ia ingat, bahwa Boe-tong-pay tak mempunyai permusuhan apapun jugs dengan Peh bie-kauw, sedang orang itupun memiliki kepandaian tinggi, sehingga kedudukannya pasti bukan kedudukan rendah.
Tapi mengapa ia menjilat lagi ludah yang sudah dibuang?
"Jie Sam hiap,"
Orang itu berkata pula.
"Ada satu hal yang harus diterangkan kepadamu. Racun dari Boen sie ciam masih tidak begitu hebat tapi racun Cit-seng benar2 luar biasa. Dalam tempo dalam duapuluh empat jam semua dagingmu akan copot dan jatuh ditanah. Dalam dunia kecuali obat pemunah dari Peh bie kauw, jangankan manusia, sedang dewapun tak akan bisa menolongnya. Disamping itu andaikata sekarang aku memberikan obat pemunah, obat itu hanya bisa menolong selembar jiwamu, tapi ilmu silat Jie Sam-hiap yang tersohor dalam dunia Kangouw tak akan bisa pulih kembali untuk se-lama2nya. Perkataan itu dikeluarkan dengan suara manis dan lemah lembut, se-olah2 manusia itu sedang bicara dengan sahabat karibnya.
"Hidup atau mati adalah takdir,"
Kata Thay Giam sambil menahan amarah.
"Selama hidup Jie Thay Giam belum pernah melakukan apa2 yang tidak baik, sehingga ia boleh tak usah merasa malu terhadap Langit dan bumi. Andaikata sekarang aku binasa dalam tangan seorang rendah, sedikitpun aku tidak merasa jerih."
Orang itu mengacungkan jempolnya.
"Bagus!,"
Ia memuji.
"Nama besarnya Boe tong Cithiap benar2 bukan nama kosong. Orang gagah yang kenal Cit-seng-teng dan Boe sie-ciam tak bisa dihitung berapa banyaknya. Kalau bukan, meminta ampun, mereka yaitu orang2 yang mempunyai tulang punggung tentu mencaci aku. Tapi orang yang seperti Jie Sam-hiap, yang tidak menghiraukan masih akan hidup, aku sungguh jarang menemui."
Thay Giam mengeluarkan suara dihidung "Tapi apakah aku boleh mendapat tahu she dan nama tuan yang besar?"
Tanyanya.
"Aku hanyalah seorang kecil dalam Peh-bie-kauw dan jika Boe-tong-pay ingin membalas sakit hati adalah Kauw coe yang akan melayaninya."
Jawabnya.
"Malam ini, Jie Sam hiap akan mati dengan diam2."
SEMENTARA itu, karena leher dan badannya tak bisa bergerak, JieThay Giam hanya bisa melihat bendera piauw yang tertancap dipot bunga.
Untuk sejenak seluruh ruangan sunyi senyap dan yang terdengar hanyalah bunyi laler yang beterbangan kian kemari.
Lain suara yang didengarnya ialah suara nafas Touw Tay Kim yang ter-sengal2.
Walaupun tak melihat mukanya, ia bisa menebak, bahwa Cong piauw tauw itu tengah mengawasi emas yang berkredepan dengan mata membelalak.
Beberapa saat kemudian, barulah terdengar suara Touw Tay Kim.
"In Toa ya, piauw apa yang mau diantar?"
"Lebih dulu jawablah pertanyaanku,"
Sahutnya.
"Apakah kau bisa memenuhi tiga syarat yang diajukan olehku.."
Touw Tay Kim menepuk lututnya seraya berkata.
"In Toa ya, sesudah kau memberi hadiah yang begitu besar, biarlah aku mempertaruhkan jiwa untuk memenuhi segala permintaanmu, Kapan aku bisa menerima piauw itu?"
"Piauw yang harus dilindungi dan diantar olehmu adalah orang rebah dibalai2 itu,"
Jawabnya dengan suara dingin.
Tanpa merasa, Touw Tay Kim mengeluarkan seruan tertahan, bahkan herannya.
Jie Thay Giam terkesiap.
Ia membuka mulut, tapi suara yang mau dikeluarkan, tak bisa keluar.
Dengan menggunakan seantero tenaganya, is coba melompat turun, tapi tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun.
Sekarang baru ia tahu, racun Cit seng teng benar2 liehay.
"Apa ... apa .... benar tuan ini?"
Menegas Touw Tay Kim dengan suara terputus2.
"Tak salah,"
Jawabnya.
"Kau sendiri yang harus mengantarkannya. Kau bolah menukar orang. Dalam sepuluh hari, kau sudah mesti tiba di Boe tong san, Siang yang hoe, propinsi Ouw pak, dan menyerahkan orang itu kepada Thio Sam Hong, Ciang coen Couw soe boe tong pay."
"Boe tong pay?"
Menegas Touw Tay Kim.
"Biarpun tak mempunyai ganjela apa2 dengan Boe tong pay, tapi kami, murid2 Siauw lim-sie jarang...jarang sekali berhubungan dengan mereka ....Ia...."
"Jika gagal, kau tak akan dapat mengganti kerugian dengan laksaan tail emas,"
Kata si orang she In dengan suara tawar.
"Katakan saja. Terima atau tidak. Mengapa sebagai seo-rang laki2 kau begitu sukar mengambil keputusan?"
"Baiklah, dengan memandang muka In Toanya, Liong-boan Piauw-kiok menerima baik piauw ini,"
Jawabnya. Orang ini tersenyum.
"Hari ini Sha gwe Jie kauw (Bulan tiga tanggal 2?),"
Katanya.
"Kalau pada Sie gwee Cee kauw Ngosie (Bu1an Empat tanggai 9), tengah hari, kau belum menyerahkan tuan ini kepada Ciong boen Couwsoe Boe tong pay, aku akan membasmi besar kecil tujupuluh satu orang di Liong baen Piauw kiok. Malah ayam dan anjingpun tak akan diampuni olehku!"
Ancaman itu disusul dengan suara "trik trik"
Dan belasan jarum perak yang halus menancap dipot bunga itu yang lantas saja hUncur jadi puluhan keping yang jatuh berhamburan dilantai.
Timpukan senjata rahasia itu yang disertai dengan Lwekang dahsyat, benar2 mengejutkan.
Touw Tay Kim mengeluarkan seruan kaget sedang Jie Thay Giam pun terkesiap.
"Ayoh pulang!"
Bentak siorang she In.
Dua tukang gotong lalu saja menaruh balai2 diatas lantai dan segera meninggalkan ruangan itu dengan ter-buru2.
Selang beberapa saat, sesudah dapat menentramkan hati Touw Tay Kim menghampiri Jie Thay Giam seraya menanya.
"Bolehkah kutahu she dan nama tuan yang mulia? Apa benar tuan dari Boe tong pay ?"
Thay Giam tak dapat berbicara, ia hanya mengawasi Cong piauw tauw itu yang berusia kira2 limapuluh tahun, badannya tinggi besar dengan otot2 lengan yang menonjol keluar dan parasnya angker sekali.
Melihat potongan badan dan gera2kan orang itu, Thay Giam tahu bahwa ia adalah seorang ahli ilmu silat Gwa kang(ilmu silat luar).
"In Toaya adalah seorang tampan yang lemah lembut gerakannya,"
Kata Touw Tay Kim.
"Tak dinyana mereka memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Orang dari partai manakah dia?"
Ia mengulangi pertanyaannya beberara kali tapi Thay Giam tetap tidak menjawab dan terus memeramkan kedua matanya.
Hati Cong-piauw tauw itu merasa sangat tidak enak.
Ia sendiri adalah seorang ahli melepaskan senjata rahasia sehingga didalam dunia Kangouw, ia mendapat julukan Ie-pie-him, tapi kepandaian siorang she In betul2 luar biasa.
Dengan sekali mengebas tangan bajunya belasan batang jarum yang halus bagaikan bulu kerbau telah menghancurkan sebuah pot kristal.
Jika tak melihatnya dengan mata kepala sendiri ia tentu tak akan percaya.
Ia membungkuk dan menjemput kepingan kristal yang jatuh dilantai ternyata setiap jarum seperti juga terpantek masuk dengan martil kedalam kristal itu.
Lweekang yang sedemikian hebat, ia sungguh belum pernah mendengarnya.
Sudah dua puluh tahun lebih Touw Tay Kim mengepalai Liong boen Piauw kiok dan selama itu ia telah mengalami tidak sedikit gelombang dari dunia Kang ouw.
Tapi piauw manusia hidup dengan ongkos dua ribu tahil emas bukan saja belum pernah dialami olehnya, tapi juga belum pernah terdengar dalam seluruh sejarah perusahaan piauw.
Sesudah menyimpan emas itu ia segera memerintahkan orang untuk membawa Jie Thay Giam kesebuah kamar yang sepi supaya sisakit bisa mengaso, kemudian dengan cepat ia mengumpulkan para piauw tauw, menyiapkan kuda kereta untuk berangkat pada hari itu juga.
Sebelum berangkat karena merasi tidak enak mendengar ancaman siorang she In, Touw Tay kam lebih dulu berdamai dengan dua orang piaum tauw yang berusia tinggi sesudah menghitung2, mereka mendapat kenyataan bahwa dari ibu Touw Tay Kiam sampai bayi Ciok Piauw tauw yang berusia belum cukup sebulan keluarga Liong boen Piauw kiok tepat berjumlah tujuh puluh satu orang yaitu sesuai dengan jumlah yang disebutkan oleh siorang she In.
Mereka bertiga lantas saja saling mengawasi dengan hati berdebar.
"Cong pauw touw,"
Kata Piauw tauw she Ciok itu.
"Menurut pendapatku meskipun hadiahnya besar tugas ini terlalu berbahaya, sehingga lebih baik kita menolak saja."
Piauw tauw yang satunya lagi seorang she Soe, lantas saja berkata.
"Ciok Sam ko sayang sungguh pendapatmu diutarakan sesudah kasep. Piauw ini sudah diterima dan apakah Liong boen Piauw kiok yang sudah mendapat nama besar selama dua puluh tahun lebih harus mengembalikannya lagi?"
"Soe Ngo tee,"
Kata Ciok Piauw tauw dengan suara mendongkol.
"Kau menyayang nama besar Liong boen Piauw kiok tapi apa kau tidak menyayangi jiwanya begitu banyak orang? Menurut penglihatanku urusan ini sangat mencurigakan dan mungkin sekali orang sedang memasang jebakan untuk menjebak kita."
Soe Pauw tauw tertawa dingin seraya berkata "sesudah makan dari perusahaan piauw, memang siang malam kita hidup diujung senjata.
Kalau Ciok Sam ko mau hidup tenteram, kau harus berdiam saja dirumah sambil mendukung bayimu dan jangan berkelana diluaran."
Kedua Piauw tauw itu lantas saja mulai bertengkar keras, sehingga Touw Tay Kim harus datang disama tengah.
"Jie wie jangan tarik urat,"
Katanya sambil tersenyum.
"Piauw sudah diterima dan kita memang tidak boleh mundur lagi, Orang kata, musuh datang jenderal menyambut, air datang tanah menguruk. Bahwa Ciok Sam ko memikiri So So istri kakek lelaki dan anaknya, adalah kejadian yang sangat bisa dimengerti. Sekarang begini saja, kita mengirim semua orang tua, perempuan dan anak2 dari keluarga piauw hang kesebuah kampung diluar kota Lim an. Tindakan ini bukan sebab kita bernyali kecil, tapi hanya untuk menjaga akan terjadinya segala kemungkinan. Sehabis berkata begitu, ia segera memerintah kan sejumlah pegawai piauw hang untuk segera mengantar keluarga para piauw tauw ke sebuah dusun guna menyingkirkan diri sementara waktu. Semua orang yang bakal mengiring piauw istimewa itu, lantas saja makan kenyang dan mempersiapkan bekalan untuk disepanjang jalan. Sesudah beres, seorang pegawai segera membawa bendera piauw dengan kedua tangannya dan berjalan kepintu tengah dari gedung Liong boen Piauw tok. Sambil membuka bendera itu, ia membentak.
"Liong boen sam yauw lee, Hie jie hoa wia long!" (Tiga ekor gabus yang sedang melompat dari Liong boen, akan berubah menjadi naga). Sementara itu, macam2 pikiran masuk kedalam otak Jie Thay Giam yang rebah dalam sebuah kereta.
"Selama berkelana dalam dunia Kangouw aku selalu memandang rendah orang2 Phiauw hang, katanya didalam hati.
"Tak dinyana, selagi menghadapi bencana besar, aku harus diangkut ke Boe tong san oleh mereka."
Dilain saat, ia bertanya pada dirinya sendiri "Siapakah sahabat she In itu yang sudah menolong jiwaku?
Didengar dari suaranya, ia mestinya seorang perempuan dan menurut katanya Cong piauw tauw, parasnya tampan dan ilmu silatmya tinggi.
Tapi cara2nya sungguh luar biasa.
Hanya sayang, aku tak dapat melihat wajahnya dan, juga tak bisa menghaturkan terima kasih.
Jika bisa terlolos dari kebinasaan.
aku pasti akan membalas budinya yang sangat besar itu."
Kereta berjalan terus dan waktu hampir tiba dipintu kota, se-konyong2 terdengar teriakkan Touw Tay Kim.
"Mengapa kamu kembali? Aku sudah memesan, kamu tak boleh balik ke Lim-an."
"Cong...cong-piauw-tauw,"
Demikian terdengar jawaban ter putus?.
"Kami...kuping kami!"
"Siapa yang potong kupingmu?"
Teriak pula Touw Tay Kim dengan suara gusar tercampur kaget.
"Selagi...mengantar...Loa tay tay (nyonya tua ibu Touw Tay Kim) keluar kota, baru kira2 dua li, kami....dicegat orang,"
Menerangkan orang itu dengan suara gemetar.
"Pencegat2 itu bengis dan ganas sekali. Keluarga Liong boen Piauw kiok tidak boleh meninggalkan kota Lim an, kata satu diantaranya. Aku coba melawan dengan mulut, tapi orang itu lantas saja menghunus golok dan memotong kupingku! Kuping meraka... mereka berduapun telah dipotong olehnya. Orang itu menyuruh aku beritahukan Cong piauw tiauw, bahwa jika piauw yang harus diantar tidak tiba pada temponya yang betul, maka...maka....ayam dan anjing akan di basmi semua. Touw Tay Kim menghela napas. Ia mengerti bahwa setiap gerak gerik Liong boen Piauw kiauw sekarang diawasi orang. Sambil mengebas tangan kanannya ia lantas saja berkata.
"Baiklah kamu pulang saja. Jaga baik2 semua keluarga dan gedung Piauw kiok. Jangan keluar kalau tidak terlalu perlu."
Sehabis berkata begitu ia mencambuk kuda dan rombongan itu lantas berangkat.
Dengan secepat2nya mereka menuju kejurusan barat.
Yang mengantar Jie Thay Giam, selain Touw Couw piauw tauw Ciok dan Soe Piauw tauw, masih ada empat orang piauw soe muda yang bertubuh kuat dan kekar.
Mereka semua menunggang kuda pilihan dan seperti yang dikatakan siorang she In mereka menukar kereta, menukar kuda2, tapi tidak diperbolehkan menukar orang2.
Dengan hati berdebar mereka meneruskan perjalanan siang hari dan malam karena mereka tahu, bahwa jika terlambat bukan saja jiwa mereka sendiri tapi jiwa semua keluarga Liong boen Piauw kiok pun tak akan bisa ditolong lagi.
Waktu baru keluar dari kota Lim an, Touw Tay Kim menduga, bahwa disepanjang jalan, ia akan harus mengadu jiwa.
Ia harus mengadu jiwa dalam pertempuran2 mati2an.
Tapi diluar dugaan, sesudah meniggalkan Ciat kang, melewati An hoei dan kemudian masuk dalam propinsi Ouw pak, dalam beberapa hari, mereka tak pernah menemui rintangan apapun jugaa.
Hari itu, telah mereka lewati kota Hoan shia, Thay pang tiam, Sian jin touw, Kong hwa koan.
Dia kemudian sesudah menyeberang sungai Han soei, tibalah mereka di Laoho kouw dari mana mereka bisa mencapai Boe tong san dalam tempo sehari.
Sebelum Ngo sie, mereka sudah tiba di Song kengcoe dan tak lama lagi akan tiba digunung Boetongsan.
Biarpun disepanjang jalan cepat lelah tapi mereka tiba pada waktu yang tepat sehingga para piauw tauw jadi sangat girang.
Waktu itu adalah buntut musim semi dan permulaan musim panas.
Langit cerah, hawa hangat, pohon2 hijau, dan bunga2 beraneka warna.
Sambil memandang puncak Thian coe hong yang menjulang kelangit dengan cambuknya.
Touw Tay Kim berkata.
"Ciok Sam tee selama beberapa tahun ini nama Boe tong bay jadi semakin tersohor dan meskipun masih belum bisa menandingi Siauw lim pay, sepak terjang Boe tong Cit hiap telah menggetarkan dunia Kang ouw. Dengan melihat Thian coe hong yang begitu angker, aku jadi ingat perkataan orang bahwa jika manusianya jempol tanahnya pun keramat."
"Biarpun Boe tong pay telah mendapat nama besar tapi dasarnya masih sangat cetek dan tak bisa dibandengkan dengan Siauw lim pay yang mempunyai sejarah seribu tahun lebih,"
Kata Ciok Piauw tauw.
"Ambil saja contoh, Cong piauw-tauw sendiri, yang memiliki Jie sie chioe Hang-mo-ciang (Pukulan takluki iblis yang mempunyai duapuluh empat jalan) dan Liam coe Kong-piauw yang bisa dilepaskan beruntun. Siapakah diantara orang2 Boetong yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi itu."
"Benar", seru Soe Piauw tauw.
"Omongan2 dalam kalangan Kangouw kebanyakan tidak boleh dipercaya. Nama Boe tong cit hiap memang cukup tersohor, tapi bagaimana tinggi kepandaian mereka, kami belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mungkin sekali pujian2 itu diberikan oleb orang2 kampung yang belum pernah melihat luasnya dunia."
Touw Tay Kim hanya bersenyum.
Sebagai seorang yang mempunyai pengetahuan banyak lebih tinggi daripada kedua Piauw-tauw itu, ia yakin, bahwa nama besarnya boe tong pay bukan nama kosong dan Boe-tong Cit hiap pasti memiliki kepandaian luar biasa.
Akan tetapi karena selama duapuluh tahun lebih ia memang jarang bertemu dengan tandingan maka ia sangat percaya akan kepandaiannya sendiri.
Sudah ber-ulang2 ia mendengar umpakan kedua piauw tauw itu dan sebagai manusia biasa, ia tetap merasa girang setiap kali, mendengar pujian yang muluk.
Sembari ber-omong2 ketiga piauw tauw itu, berjalan dangan rendengkan kuda mereka semakin lama jalanan gunung semakin sempit, sehingga orang tidak bisa jalan berendeng dan Soe Piauw tauw lalu menahan les kuda untuk berjalan disebelah belakang.
"Cong piauw tauw kalau sebentar kita bertemu dengan Thio Sam Hoag, peradatan apa yang dijalankan kita" , tanya Ciok piauw tauw.
"Kita bukan dari partai dan tak punya ikatan apupun juga"
Jawabnya.
"Akan tetapi Thio Sam Hong sudah beusia sembilan puluh tahun dan dalam Rimba Persilatan dapat dikatakan ialah yang merasa paling tua. Untuk menghormati seorang Ciau pwee dari Rimba Persilatan tidak halangannya jika kira berlutut dihadapannya."
"Menurut pendapatku, begitu bertemu kita berteriak.
"Thio Cinjin, Boanpwee memberi hormat dengan berlutut!"
Ia tentu akan belaku sungkan dan coba mencegah", kata Ciok Piau tauw.
"dengan demikian kita boleh tidak usah menjalankan peradatan yang besar itu.."
Touw Tay Kim tidak memberi jawaban.
Ia hanya bersenyum karena ia sedang coba menebak asal usul Jie Thay Giam.
Selama sepuluh hari Thay Giam tidak pernah bergerak dan juga tidak pernah mengeluar kan sepatah kata.
Makan minumnya dan segalanya harus ditolong oleh pegawai piauw kiok.
Sudah beberapa hari Tauw Tay Kim dan lain piauw tauw coba men duga2 tapi mereka tetap tak bisa menebak siapa adanya pemuda itu.
Apa dia murid Boe tong pay?
Sahabat atau musuh Boe tong?
Semakin mendekat Boe tong san semakin besar rasa heran mereka.
Tapi mereka ingat bahwa begitu lekas bertemu dengan Thio Sam Hong teka teki itu akan terpecah sendirinya.
Hanya mereka tak tahu apa pertemuan itu akan berbuntut dengan kecelakaan atau keberuntungan.
Selagi Touw Tay Kim mengasah otak disebelah barat tiba2 terdengar suara kaki kuda.
Untuk menyelidiki Ciok piauw tauw lantas saja mengebrak tunggangannya yang segera kabur terlebih dulu.
Beberapa saat kemudian ia melihat enam penunggang kuda yang setelah berada dalam jarak belasan tombak dari rombongan piauw mendadak menahan les dan menghadang ditengah jalan.
Tiga orang terbaris didepan dan tiga orang disebelah belakang.
"Apakah bakal muncul rintangan dikaki Boe tong san?"
Touw Tay Kim bertanya didalam hati. Ia mendekati Soe Piauw tauw dan ber bisik.
"Hati2 jaga kereta."
Sementara itu seorang pegawai piauw kiok sudah meng-goyang2 bendera ikan gabus sebagai satu pemberian harmat, sedang Touw Tay Kim sendiri segera majukan kudanya untuk menyambut keenam orang itu.
"Liongboen Piauw kiok numpang lewat ditempat sahabat dan jika kami berlaku kurang hormat mohon sahabat sudi memaafkan"
Katanya seraya membungkuk. Diantara enam pemegat itu terdapa dua orang toosoe "imam"
Yang memakai topi kuning sedang yang lainnya adalah orang2 biasa. Mereka semua menyoren golok atau pedang dan sikapnya angker sekali. Mendadak Touw Tay Kim mendapat satu ingatan.
"Apakah mereka bukan enam pendekar dari Boe tong Cit hiap?"
Tanyanya didalam hati ia segera menggebrak tunggangannya dan berkata sambil merangkap kedua tangannya "aku adalah Touw Tay Kim dari Liong boen Piauw kiok, bolehkah aku mendapat tahu she dan nama saudara yang mulia?"
"Perlu apa Touw heng datang di Boe tong san" , tanya salah seorang yang berdiri disebelah kanan. Orang itu bertubuh jangung sedang pada pipi kirinya terdapat sebuah tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut yang panjang.
"Piauw kiok kami telah diminta membawa seorang yang terluka berat ke Boe tong san untuk diserahkan kepada Ciang boen dari partai saudara2. Thio Cinjin,"
Jawabnya.
"Kami telah diminia oleh seorang she In untuk membawa tuan itu kegunung ini,"
Sahutnya.
"Siapa adanya tuan itu, bagaimana ia mendapat luka dan duduknya persoalan semua tak diketahui oleh kami. Liong Boen Piauw kiok hanya menerima permintaan orang dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Mengenai soal pribadi, kami selamanya belum pernah mencari tuan."
Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun bekerja dalam perusahaan piauw.
Touw Tay Kim punya pengalaman luas.
Dengan berkata begitu, ia mencuci bersih segala kemungkinan yang bisa merembet kepada Liong boen Piauw kiok.
Baik Jie Thay Giam seorang sahabat, maupun musuh Boe tong pay, keenam orang itu tak bisa menjadi gusar terhadapnya.
Orang yang bertahi lalat menengok kepada dua kawannya seraya berkata.
"Orang she In? Siapa orang itu?"
"Ia adalah seorang pemuda yang berparas tampan dan mempunyai kepandaian tinggi dalam ilmu melepaskan senjata rahasia,"
Menerangkan Touw Tay Kim.
"Apa kau pernah bertempur dengannya ?"
Tanya pula si penyegat. Touw Tay Kim jadi bingung dan menjawab dengan gugup.
"Tidak... tidak .. dia yang...."
Belum habis perkataannya salah seorang lain sudah membentak.
"Mana To liong to? Dalam tangan siapa golok itu berada ?"
"Apa itu To liong to?"
Menegas Touw Tay Kim dengan kaget.
"Apakah Boe lim cie coen, Po to to liong ! yang tersohor?"
Orang yang membentak ternyata beradat berangasan.
Tanpa banyak bicara lagi, ia segera melompat turun dari tunggangannya meng hampiri kereta, membuka tirai lain melongok kedalamnya.
Melihat gerakan orang itu yang gesit luar biasa, Tauw Tay Kim jadi semakin bercuriga.
"Apakah kalian bukan Boe tong Cit hiap yang namanya tersohor dalam dunia Kangouw ?' tanyanya.
"Yang mana Song Tay hiap"
Sudah lama kudengar nama besarnya dan aku ingin sekali bertemu muka."
"Nama itu hanya nama kosong belaka dan tidak-cukup berharga untuk di-sebut2,"
Kata orang vang bertahi lalat.
"Touw heng terlalu merendahkan diri."
Sesaat itu, si berangasan sudah melompat pula keatas punggung kudanya.
"Lukanya sangat berat dan harus segera ditolong "
Katanya.
"Biarlah kita saja yang membawanya."
Orang yang bertahi lalat lalu merangkap ke dua tangannya seraya berkata dengan suara manis.
"Untuk capai lelah Touw heng yang dari jauh sudah mengantar sampai disini, Siauwte menghaturkan banyak terima kasih."
Tauw Tay Kim segera membalas hormat dan mengucapkan perkataan merendahkan diri.
"Saudara itu mendapat luka yang sangat berat, maka biarlah kami saja yang membawanya keatas gunung untuk segera ditolong."
Kata pula orang itu. Toaw Tay Kim yang memang ingin melepas kan diri dari tanggung jawab selekas mungkin lantas saja berkata.
"Biarlah. Kalau begitu di sini saja kami menyerahkan tuan itu kepada Butong-pay."
"Touw heng jangan kuatir,"
Kata orang itu.
"Sekarang Siauwte yang bertanggung jawab. Apakah ongkos piauw sudah dibayar?"
"Sudah dibayar cukup,"
Jawabnya. Orang itu lalu mengeluarkan sepotong emas yang beratnya kira seratus tahil dan berkata sambil mengangsurkan kepada Touw tay Kim.
"Ini untuk beli teh, harap Touw heng suka mem-bagi2kan kepada saudara2 yang lain."
Cong piaw tauw itu menolak dengan keras.
"Dua ribu tahil emas sudah lebih daripada cukup."
Katanya.
"Aku bukan seorang temaha."
"Hm Dua tahil emas..."
Kata orang yang bertahi lalat itu.
Dua kawannya lantas saja majukan tunggangan mereka, yang satu melompat keatas kereta, mengambil Ies dari tangan kusir dan lalu menjalankan kereta itu sedang yang satunya lagi mengikuti dari belakang.
Orang yang bertahi lalat mengayun tangan dan melemparkan potongan emas itu kearah Touw Tay Kim.
"Touw heng jangan berlaku sungkan,"
Katanya seraya tertawa.
"Kalian kem ball saja kekota Lim an."
Melihat potongan emas melayang kehadapan nya, Touw Tay Kim terpaksa menyambutnya.
Sebenarnya ia masih ingin memulangkannya tapi orang itu sudah berlaku dengan kaburkan tunggangannya.
Disebelah kejauhan ia lihat lima orang mengiring kereta yang muat Jie Tay Giam dan sesudah membelok disuatu tikungan mereka menghilang dari pemandangan.
Dilain saat melihat potongan emas yang dicekal dalam tangannya, ia terkesiap karena terdapatnya sepuluh tapak jari yang dalamnya kira2 setengah dim.
Apa yang lebih luar biasa, ialah, tapak jari2 itu, sampai urat2nya, terpeta nyata diatas potongan emas itu.
Walaupun emas lebih lembek dari pada besi atau tembaga, tapi tenaga jari tangan itu, yang disertai dengan Lweekang yang sangat dahsyat benar2 mengejutkan.
Sambil mengawasi emas itu dengan mulut ternganga, ia berkata dalam hatinya "Boe tong Cip hiap sungguh2 lihay.
Didalam Siau lim pay mungkin hanya satu dua Soe siok yang mempelajari Kim kong cie, yang mempunyai kepandaian seperti itu."
Melihat pemimpin mengawasi potongan emas itu dengan bengong, Ciok Piauw tauw ber kata.
"Cong piauw-tauw, murid2 Boe tong agak tak tahu adat. Sesudah bertemu muka, mereka sama sekali tidak memperkenalkan diri dan juga tidak menanyakan she dan nama kita. Dari tempat yang jauhnya ribuan kita datang kesini. Tapi mereka merasa tak perlu untuk mengundang kita bersantap atau menginap semalaman datam kuil mereka. Sebagai sesama orang Rimba Persilatan, sikap mereka sangat tidak manis."
Didalam hati, memang Touw Tay Kim me rasa sangat tak puas akan sikap orang2 itu, hanya ia tak mengatakan terang2an. Maka itu mendengar perkataan rekannya, ia seera berkata dengan suara tawar.
"Dengan adanya mereka, kita bisa menghemat tenaga. Baiklah ada baiknya juga?"
"Disamping itu, aku sebenarnya agak tak enak jika orang2 Siauw-lim-pay mesti masuk kedalam kuil Boe tong-pay. Jie-wie Hiantee marilah kita berangkat pulang!"
Dalam perjalanan itu, meskipun tidak menemui, halangan Liong boen Piauw-kiok telah dihina orang.
Bahwa Boe-tong Liok-hiap sudah tidak mamperkenalkan diri, merupakan tanda bahwa mereka tak memandang sebelah mata kepada Piauw kiok itu.
Semakin memikir Touw Tay Kim jadi semakin mendongkol dan diam2 ia menghitung cara bagaimana sakit hati itu bisa dibalasnya.
Dalam perjalanan pulang itu sedang sipemimpin diliputi dengan kemasgulan, para Piauw tiauw dan pegawai bergirang2.
Sesudah capai sepuluh hari dan sepuluh malam, Liong boen Piauw-kiok bisa mengantongi duaribu tail emas dan Cong piauw tiauw mereka yang terbuka tangannya, sudah pasti akan memberi hadiah besar.
Diwaktu magrib, mereka sudah melewati Song kengcoe.
Melihat Touw Tay Kim masih berduka Ciok piauw-touw berkata.
"Cong-piauw, jangan kau terlalu jengkel. Gunung tinggi dan air panjang dilain hari dalam dunia Kangouw, kita pasti akan bisa berpapasan lagi dengan mereka. Hm! Berapa lama Boe—tong Cit-hiap bisa mempertahankannya ?"
Touw Tay kim menghela napas. Ciok Hiante katanya.
"Ada suatu hal yang sangat dibuat menyesal olehku."
"Hal apa ?"
Tanyanya.
Baru saja ia berkata begitu, disebelah belakang tiba2 terdengar suara kaki kuda.
Tindak kuda itu tidak begitu gencar, malah boleh di katakan perlahan, tapi heran sungguh, semakin lama kedengarannya semakin dekat.
Semua orang lantas saja menengok kebelakang.
Ternyata kuda itu mempunyai kaki yang amat panjang sedang bendanyapun kira2 dua kaki lebih tinggi daripada kuda biasa, dengan kaki yang panjang langkahnya sangat lebar, sehingga biarpun larinya tak terlalu cepat, jarak yang dicapai lebih jauh daripada kuda biasa, bukan saja istimewa tubuh dan kakinya, gerakannya angker sekali sedang bulunya mengkilap seperti dipoles minyak.
"Bagus benar kuda itu!"
Memuji Ciok piauw tauw. Ia terdiam sejenak dan kemudian berka ta .
"..Cong pit tauw, apakah kami berbuat sesuatu kesalahan?"
"Bukan, bukan kalian berbuat kesalahan,"
Jawabnya dengan suara duka.
"Apa yang diingatkan adalah kejadian pada duapuluh lima tahun berselang. Waktu itu, sudah dua belas tahun aku belajar dalam Siauw lim sie dan sudah memenuhi syarat2 sebagai murid yang lulus. Guruku Goan-hiap Sian soe coba membujuk supaya aku berdiam lagi lima tahun guna belajar lima Tay kim kong ciang. Tapi sebagai seorang pemuda yang pendek pikiran, aku menganggap, bahwa kepandaian dimilikiku, sudah cukup untuk aku malang melintang dalam dunia Kangouw. Maka itu, ditambah lagi dengan rasa tak tahan untuk hidup menderita terlebih lama didalam kuil, aku sudah menolak bujukan In soe. Hai! Jika pada waktu itu aku belajar lagi lima tahun, hari ini aku tentu tak akan dihina oleh murid2 oe tong..."
Baru berkata sampai disitu, orang yang menunggang kuda jempolan itu, yang bulunya berwarna hijau putih, sudah menyandak dan kemudian melewati rombongan piauw hang.
Selagi lewat, sipenunggang kuda melirik Touw Tay Kim dan Ciok Ptauw tauw dengan paras muka heran.
Touw Tay Kim pun mengawasi orang itu yang ternyata adalah seorang pemuda tampan yang berusia kira2 dua puluh dua tahun dengan paras muka yang angker.
Dilihat sekelebatan ia seorang yang bertubuh kecil lemah tapi sesudah diawasi dalam tubuh yang kecil itu terdapat gerakan2 yang gesit,lincah dan mantep.
Sambil merangkap kedua tangannya, pemuda itu berseru.
"Numpang lewat! Numpang lewat!"
Dalam sekejap, kuda itu sudah kabur didepan rombongan piauw hang. Sembari mengawasi byangan pemuda itu, Touw Tay Kim bertanya.
"Ciok Hian tee, bagaimana pendapatmu mengenai orang muda itu ?"
"Dia turun dari atas gunung mungkin sekali salah seorang murid Boe tong."
Jawabnya. Tapi ia tidak membekal senjata dan badannyapun kelihatan lemah. Bisa jadi juga ia seorang biasa saja dan bukan murid Boe tong."
Mendadak, pemuda itu memutar tunggangan nya dan balik kembali. Jauh2 ia sudah memberi hormat seraya berkata.
"Maaf ! Siauwtee ingin ajukan satu pertanyaan, harap kalian tidak jadi gusar."
Mendengar kata2 yang manis itu, Touw Tay Kim segera menahan les dan balas menanya.
"Pertanyaan apa ?"
Seraya melirik bendera ikan gabus yang dicekal oleh seorang pegawai piauw hang, pemuda itu berkata.
"Apakah kalian dari Liong-boen Piauwkiok dikota Lim-an ?"
"Benar,"
Jawab Ciok Piauw tauw. °Boleh aku mendapat tahu she dan nama Sahabat2 yang mulia?"
Tanya lagi pemuda itu "Apakah Touw Cong-piauw-tauw baik?"
Ciok-piauw-tauw merasa senang sekali melihat cara2 pemuda itu yang ramah tamah, tapi karena orang2 Kang-ouw sangat sukar ditebak isi hatinya, maka ia belum berani bicara terus terang.
"Aku she Cok, siapakah sahabat?"
Katanya.
"Apakah sahabat men genal Cong-piauw tauw dari piauw-kiok kami?"
Pemuda itu lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan maju beberapa tindak dengan satu tangan menuntun kuda.
"Aku she Thio, namaku Coei San,"
Ia memperkenalkan diri.
"Sudah lama kudengar nama besar dari Cong piauw tauw hanya sayang aku belum bisa berkenalan dengannya."
Begitu mendengar nama "Thio Coei San"
Touw Tay Kim dan yang lain2 terkejut bukan main. Nama Thio Coei San "Touw tong Cit hiap"
Dan dalam beberapa tahun yang terakhir namanya sangat terkenal dalam Rimba Persilatan.
Menurut katanya orang ia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan tidak dinyana, ia bukan saja masih berusia begitu muda, tapi gerak geriknya juga menyerupai anak sekolah yang lembut.
Dengan rasa sangsi Touw Tay Kim majukan kudanya seraya berkata.
"Aku yang rendah ialah Touw Tay Kim. Apakah tuan bukan Gin kauw Tiat hoa Thio Ngo hiap?"
Muka pemuda itu lantas saja bersemu dadu "Pendekar apa?"
Tanya dengan suara jengah.
"Pujian Touw Cong piauw-touw terlalu tinggi untuk diterima olehku. Sesudah datang di Boe tong-san, mengapa kalian tidak mampir ditempat kami? Hari ini adalah hari ulang tahun kesembilanpuluh dari guru kami dan jika sekiranya tidak menjadi halangan aku mengundang saudara2 naik kegunung untuk minum arak panjang umur."
Senang sekali hati Touw Tay Kim dan yang lain.
"mengapa diantara Boe tong Cit hiap terdapat perbedaan watak yang begitu besar?"
Kata Ciong piauw tauw itu didalam "Enam orang yang jadi begitu tak mengenal adat tapi Thio Ngo hiap sedemikian tambah ramah. Ia lantas saja melompat turun dari tunggangannya dan herkata.
"Dari Lim-an kami datang di Siangyang dan tujuan kami sebenarnya adalah untuk menemui Thio Cinjin. Hanya...hanya tidak membawa barang antaran, kami merasa malu untuk mendaki gunung."
Thio Coei San tersenyum.
"Kita semua sama dari kalangan Rimba Persilatan,"
Katanya dengan suara halus,"Toaw Cong piauw tauw janganlah menganggap kami sebagai orang luar.
Guruku sering mengatakan bahwa ilmu silat Boe tong pay bersumber dari Siauw lim dan ia memesan bahwa jika bertemu dengan Cian pwee Siauw lim pay kami harus menghormat nya sebagaimana mustinya kalau guruku tahu rombongan Toaw Cong piauw tauw lewat di-kaki gunung siang2 ia tentu sudah memerintahkan kami menyambut dari tempat yang jauh."
Mendengar perkataan itu Touw Tay Kim jadi salah mengerti, ia menduga Thio Coei San hanya ber-pura2 dan dalam perkataan yang tajam. Ia tertawa dan berkat dengan suara tawar.
"Walaupun ilmu silat Boe tong dikatakan ter sumber dari Siau lim sie akan tetapi bagaikan warna2 hijau sebenarnya berasal dari warna biru tapi pada akhirnya hijau mengalahkan biru. Thio Sian hiap yang masih berusia muda memang sangat dikagumi orang. Tapi manusia yang seperti aku dalam usia yang sudah lanjut ini kepalaku seperti juga menempel di badan anjing."
"Ah, mengapa Cong piauw tauw", kata begitu Thio Coei San.
"Dalam kalangan Kang ouw, siapakah yang tidak mengenal nama besar Lioag boen Piauw kiok? Dalam Rimba Persilatan semua orang tabu liehaynya Jie cap sie chioe Hong mo ciang dan Lian coe Kong piauw. Touw Cong piauw tauw apakah kau boleh memperkenalkan beberapa Toako ini ke padaku?"
Mendengar permintaan orang yang diajukan secara pantas, Touw Tay Kim lantas saja memperkenalkan Ciok dan Soe Piauw tauw kepada pemuda itu.
"Aku sungguh merasa beruntung bahwa dini hari bisa berkenalan dengan saudara2 yang mempunyai nama besar dalam Rimba Persilatan"
Kata pula pemuda itu.
"Dulu Kim to golok emas dari Ciok Piauw tauw telah merohohkan Ie yang Ngo hiang (Lima Jago Ie yang) dijalankan Sin an sedang ilmu silat toya Sam gie koen dari Soe Piau tauw juga tidak kurang tersohornya."
Sebagai seorang murid yang sangat disayang oleh Thio Sam Hong pemuda itu mempunyai pengetahuan yang sangat luas mengenai didunia Kang ouw karena dia sering mendengari cerita gurunya.
Dengan otak yang cerdas dan peringatan yang kuat apa yang sudah didengarnya tidak terlupa lagi sebagai Couw soe Boe tong pay yang sudah mencapai usia sembilan puluh tahun dan mempunyai pergaulan luar, Thio Sam Hong dapat dikatakan mengenal semua partai semua cabang persilatan dan semua tokoh dan segala pengalamannya serta pengetahuannya sering diceritahan kepada murid2nya.
Maka itu, begitu mendengar nama Ciok dan Soe Piaaw tauw, Thio Coei San lantas saja bisa menyebutkan kepandaian yang sering diandalkan dari kedua orang.
Bahwa pemuda itu mengenal kepandaian Touw Tay Kim yang namanya sudah terkenal selama puluhan tahun, bukan kejadian yang meng herankan.
Tapi pengetahuannya mengenai Ciok dan Soe Piauw tauw, yaitu ahli2 silat kelas empat atau kelas lima, ada sedikit luar biasa.
Tak usah dikatakan lagi, pujian yang diucapkan dengan nada sungguh2 itu, menggirang kan sangat hatinya ketiga pemimpin piauw hang itu.
"Cong piauw tauw"
Kata Ciok piauw tauw.
"Hari itu secara kebetulan adalah hari ulang tahun orang tua itu. Menurut pendapatku, memang pantas jika kita naik keatas untuk menberi selamat panjang umur."
"Benar,"
Kata Thio Coei San.
"Sesudah kalian datang kesini. kami harus memenuhi tugas sebagai tuan rumah. Beberapa saudara seperuruanku adalah orang2 yang sangat suka bergaul. Marilah, aku mengundang kalian menginap semalam dua malam."
Sesudah mendengar pembicaraan itu, Touw Tay Kim mendapat lain pikiran.
"Bagaimana dia bisa tahu begitu tegas mengenal Ciok dan Soe Piauw tauw?"
Tanya didalam hati.
Dalam hal ini mungkin terdapat lain latar belakang.
Apakah karena perbuatannya yang tak mengenal adat keenam orang yang tadi sudah ditegur oleh gurunya yang memerintahkan pemuda ini menghaturkan maaf dan mengundang kita?"
Memikir begitu, hatinya jadi lebih lega. Ia tertawa seraya berkata.
"Kalau saudara seperguruanmu sama ramah tamahnya seperti Thio Ngo hiap, sedari tadi kami sudah naik keatas gunung."
"Apa?"
Menegasi Coei San dengan suara heran.
"Apakah Cong piauw tauw sudah bertemu dengan saudara seperguruanku? Yang mana?"
Touw Tay Kim kembali menduga pemuda itu ber-pura2.
"Hari ini, rejekimu sangat besar,"
Jawabnya.
"Dalam seharian saja, aku su dah bertemu dengan hampir semua anggauta dari Boe tong Cit hiap."
Pemuda itu jadi semakin heran dan mengawasi pemimpin piauw hang itu dengan mata terbuka lebar.
"Apakah kau juga bertemu dengan Jie Sam ko?"
Tanyanya.
"Apa Jie Thay Giam Jie Sam hiap?"
Menegas Touw Tay Kim.
"Mereka merasa segan untuk memperkenalkan diri, sehingga aku tak tahu, yang mana itu Jie Sam hiap. Aku hanya bertemu dengan enam orang dan mungkin sekali Jie Sam hiap terdapat diantara mereka.,"
"Enam orang?"
Seru pemuda itu dengan suara kaget.
"Sungguh mengherankan ! Siapa mereka ?"
"Mana aku tahu ? Saudara2 seperguruanmu sendiri yang sungkan memperkenalkan diri,"
Jawabnya.
"Karena kau adalah Thio Ngo hiap maka keenam orang iru mestinya Song Tayhiap dan yang lain2" . Waktu berkata begitu, ia menekankan setiap perkataan "Hiap"
Dengan nada mengejek tapi pemuda itu yang sedang ke bingungan tidak, memperhatikan ejekan orang.
"Apa benar2 Cong piauw tauw telah betemu dengan mereka?"
Menegas pula Thio Coei San.
"Bukan saja aku, tapi semua orang yang mengikut dalam rombongan ini, juga telah lihat mereka,"
Jawabnya. Pemuda itu meng geleng2kan kepalanya.
"Tak bisa jadi,"
Katanya dengan suara pasti.
"Hari ini, Song Soeko dan yang lain2 sehari suntuk menemani Soehoe di Giok hie kiong dan setindak pun mereka tak pernah berlalu dari samping Soehoe. Melihat sampai tengah hari Jie Samko belum juga datang, Soehoe telah memerintahkan siauw tee turun gunung untuk menyambutnya. Cara bagaimana Cong piauw tauw bisa bertemu dengan Song Soeko dan yang lain lain ?"
"Apakah orang yang pada pipinya terdapat sebuah tahi lalat dan pada tahi lalat itu tumbuh tiga lembar rambut bukan Song Tay hiap?"
Tanya Touw Tay Kim dengan hati ber debar2. Coei San terkesiap.
"Diantara Soehengteeku tak seorangpun yang bertahi lalat dipipinya,"
Katanya. Perkataan itu seperti air dingin yang menggusur kepala Tauw tay Kim.
"Keenam orang itu mengatakan mereka adalah Boe tong Liokhiap,"
Katanya dengan jantung memukul keras.
"Diantara mereka terdapat dua toojin yang memakai topi kuning. Tentu saja kami...."
"Biarpun guruku seorang toojin, akan tetapi semua muridnya adalah orang2 biasa yang tidak memeluk agama,"
Kata pemuda itu.
"Apa kah mereka benar2 memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap ?"
Touw Tay Kim mengeluarkan keringat dingin.
Memang juga orang2 itu tidak pernah memperkenalkan diri sebagai Boe tong Liok hiap.
Adalah ia sendiri yang menganggap mereka sebagai enam pendekar Boe tong, kenyataan yang sebenarnya ialah mereka tidak membantah pada waktu ia mengutarakan anggapan begitu untuk beberapa saat ia dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya mengawasi kedua kawannya dengan paras muka pucat.
"Kalau begitu keenam orang itu mengandung maksud jahat", katanya dengan mendadak, mari kita ubar!"
Ia melompat keatas punggung kudanya yang lalu dikaburkan keatas gunung. Thio Coen San pun lantas saja menyusul dan kemudian merendengkan kudanya dengan tunggangan Touw Tay Kim.
"Touw heng!"
Serunya "Perlu apa kita menguber mereka? Tak apa2 jika mereka menggunakan nama kami."
"Dalam ini terselip lain hal", kata Touw Tay Kim.
"Bagaimana dengan orang itu? Kami sebetulnya ingin menyerahkan orang ini kepada Thio Cinjin tapi enam orang itu sudah mengabilnya dari tangan kami. Orang itu mendapat luka berat. Celaka sungguh!"
Sambil membedel kudanya dengan suara ter-putus2, ia menceritakan apa yang sudah terjadi.
"Siapa namanya orang itu? Bagaimana macamnya", tanya Coei San dengan heran.
"Entahlah,"
Jawabnya "ia terluka berat, tak bisa bicara dan tak bisa bergerak sedang napasnya tinggal sekali2. Ia berusia kurang lebih tigapuluh tahun."
Sesudah berkata begitu ia segera melukiskan roman dan potongan badan Jie Thay Giam.
"Celaka", teriak Coei San dengan hati mencelus.
"itulah Jie Samko!"
Beberapa saat kemudian sesudah dapat menentramkan hatinya dengan tangan kiri ia manyentak les kuda Touw Tay Kim.
Binatang itu yang sedang lari keras berhenti dengan mendadak sambil berbengar keras dan berjingkrak sedang mulutnya mengeluarkan darah akibat dentakan itu.
Dengan kaget seraya menghunus golok Touw Tay Kim metompat turun dari tungganganaya.
Ia heran, cara bagaimana pemuda yang badannya begitu kurus lemah bisa mempunyai tenaga yang begitu besar.
"Touw Toako jangan salah mengerti"
Kata pe muda itu.
"dari tempat jauhnya ribuan li Toako telah mengantar Jie Sam ko sampai disini dan untuk itu semua siauwtee merasa sangat berterima kasih. Maka itu sedikitpun siauwtee tidak mempunyai maksud yang kurang baik."
Touw Tay Kim segera masukkan goloknya kedalam sarung tapi tangan kanannya mesih tetap mencekal gagang senjata itu.
"Bagaiman Jie Samko mendapat luka? Siapa musuhnya? Siapa yang minta Touw Toako mengantarkannya sampai disini?"
Tanya Coei San. Tapi antara tiga pertanyaan itu, satupun tak dapat dijawab oleh Touw Tay Kim.
"Bagaimana macamnya keenam orang itu yang mengambil Jie Samko?"
Tanya pemuda itu. Sebelum Toauw Tay Kim keburu menjawab, Soe Piauw-tauw sudah mendahului dan lalu melukiskan macamnya orang2 itu.
"Kalau begitu, biarlah Siauwtee coba mengubar mereka" , kata Thio Coei San seraya memberi hormat dan lalu kaburkan tunggangannya sekeras-kerasnya. Sebagai saudara seperguruan dan dengan bersama2 melakukan pekerjaan mulia, Boetong Cit hiap mencintai satu sama lain seperti saudara kandung. Mendengar kakaknya luka berat dan jatuh ketangan orang2 yang belum di ketahui siapa adanya, bukan main bingung Coei San. Ia membedal mencambuk kuda mustika itu, se-olah2 tidak menghiraukan jika tidak tunggangannya yang disayang mesti lantaran kecapaian. Dalam sekejap ia sudah tiba di Co tiam, satu tempat dimana terdapat tiga cagak jalanan. yang satu naik keatas gunung, sedang yang lain membelok kejurusan timur laut sampai di kota In-yang.
"Kalau enam orang itu benar2 mengantar Jie Samko keatas gunung, waktu turun gunung, aku pasti sudah bertemu dengan mereka,"
Katanya didalam hati.
Memikir begitu, ia lantas saja mengambil jalanan yang menjurus ketimur laut.
Sesudah lari kurang lebih satu jam, meskipun bertenaga kuat, per-lahan2 kuda itu menjadi lelah dan semakin lambat.
Siang sudah ter ganti dengan malam dan dijalanan gunung yang memangnya sepi, sudah tidak terdapat lagi manusiapun yang bisa diminta keterangannya.
Sambil mengubar, pemuda itu, mengaju kan macam2 pertanyaan pada dirinya sendiri "Jie Samko memiliki kepandaian yang sangat tinggi."
Pikirnya.
"Bagaimana ia bisa dilukakan orang dengan begitu mudah? Tapi dilihat dari sikap dan perkataan Touw Tay Kim tak bisa jadi ia mendusta."
Selagi mengasah otak, tiba2 kuda itu berbanger dan lari kesebidang tanah lapang dimana terdapat beberapa kuburan.
Thio Coei San mengerti bahwa penyelewengannya binatang itu pasti disebabkan oleh sesuatu yang luar biasa.
Dengan waspada ia mengawasi tanah lapang itu.
Sesaat kemudian ia mendapat kenyataan, bahwa sebuah kereta roboh terguling di antara rumput yang tinggi.
Setelah lihat seekor keledai rebah didepan kereta itu dengan kepala hancur.
Buru2 ia melompat turun dan menyingkap tirai kereta, tapi didalamnya tidak terdapat manusia.
Ia menengok keseputarnya dan mendadak matanya yang sangat jeli melihat seso sok tubuh manusia rebah didalam gompolan rumput.
Dengan jantung memukul keras, ia menubruk dan mengangkat orang itu.
Dengan sekelebatan saja, ia sudah mengenal bahwa orang itu bukan lain dari pada Soekonya yang sedang dicari.
Dalam kegelapan, samar2 ia lihat kedua mata kakak seperguruan itu tertutup rapat, sedang mukanya pucat bagaikan kertas.
Bukan main kaget dan sakit hatinya.
Dengan tangan gemetar, ia mendukung sang Soeko dan menempelkan mukanya sendiri dimuka yang pucar itu.
Tiba2, dalam hatinya yang duka timbul harapan, karena ia merasakan sedikit hawa hangat dipipi Jie Thay Giam.
Buru2 ia meraba dada Soekonya dan ternyata jantung sang kakak masih mengetuk dengan perlahan.
"Samko"
Teriaknya sambil mengucurkan air mata.
"Samko...mengapa kau? Aku Ngotee.. .Ngoteemu...."
Dan perlahan dan hati2 ia bangun berdiri.
Sekali lagi, jantungnya memukul keras, ke dua tangan danw kedua kaki Jie Thay Giam kontal kantul kebawah.
Ternyata tulang2nya telah dipukul patah, sedang darah mengalir dari jeriji pergelangan tangan lengan dan betis nya.
Melihat kekejaman musuh, Thio Coei San marasa dadanya mau meledak, melihat luka itu ia tahu bahwa musuh belum pergi jauh dan jika diubar ia masih bisa menyandaknya.
Dalam kalanya ia lantas saja melompat keatas punggung kuda untuk mengejar, tapi dilain sa at ia mendapat lain pikiran yang lebih jernih.
"Luka Jie Samko berat luar biasa dan perlu segera ditolong,"
Pikirnya.
"Jika seorang koencu mau membalas sakit hati, sepuluh tahun masih belum terlambat,"
Karena kuatir goncangan2 diatas kuda memperhebat luka sang Soeko, maka, sesudah berpikir sejenak, ia segera mendukung tubuh Jie Thay Giam dengan hedua tangannya dan lain berjalan pulang dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Kuda jempolan itu, yang mungkin merasa heran mengapa sang majikan tidak menunggunya, mengikuti dari belakang.
========================== HARI itu adalah hari ulang tahun kesembilan puluh dari Couw-soe Boe-tong-pay Thio Sam Hong.
Sedari pagi sekali, Giak-hie-kiong sudah diliputi dengan suasana bersuka ria.
Dengan bergiliran, ke-6 muridnya memberi selamat panjang umur dan berlutut.
Hanya sayang diantara 7 murid itu masih kurang seorang.
Menurut perhitungan, sesudah menjalankan tugas membunuh seorang penjahat besar di Tiongkok Selatan.
siang2 Jie Thay Giam sudah harus kembali.
Tapi ditunggu sampai tengah hari, ia belum juga kelihatan mata hidungnya.
"Semua orang dibawah_gunung,"
Kata Thio Coei San.
Tapi begitu pergi, Thio Coei San pun tak ada kabar ceritanya.
Dengan menunggang kuda istimewi, andaikata ia pergi sampai di Lao ho kouw, iapun sudah mesti pulang lebih siang, tapi ditunggu hingga Yoe sie dari jam 5 sore sampai tujuh malam, ia belum juga kelihatan bayangan bayangannya.
Di ruang tengah, meja perjamuan sudah di atur rapih, sedang lilin merah sudah habis separuhnya.
Semua orang mulai bingung.
Murid keenam In Lie Heng dan murid ke7 Boh Seng Kok sudah keluar masuk puluhan kali, sedang saudaranya yang lainpun tak kurang bingungnya.
Sebagai seorang yang ilmu kebatinannya sudah sangat tinggi, Thio Sam Hong tetap t nang.
Tapi ia yakin, bahwa belum pulangnya kedua murid itu mesti disebabkan oleh kejadian sangat luar biasa.
Ia kenal baik watak mereka.
Jie Thay Giam sangat ber-hati2 dan boleh diandalkan untuk memegang pekerjaan penting sedang Thio Coei San seorang pemuda yang cerdas dan selalu bisa bertindak dengan mengimbangi jelatatan.
Serasa mengawasi lilin yang semakin pendek Song Wan Kiauw berkata sambil tertawa "Soe hoe, Jie Samtee dan Thio Ngotee tentulah juga bertemu dengan urusan ganjil dan mereka lalu menggulung tangan baju untuk mencampurinya, Soehoe selamanya menganjurkan kami untuk melakukan perbuatan mulia dan hari ini, hari ulang tahun Soehoe, kedua soetee menolong sesama manusia sebagai hadiah ulang tahun."
Thio Sam Hong mengurut jenggotnya.
"Hm pada hari ulang tahunku yang kedelapanpuluh kau telah menolong seorang janda yang mem buang diri kedalam sumur"
Katanya seraya tertawa.
"perbuatanmu itu memang harus dipuji akan tetapi jika dalam sepuluh tahun baru menolong orang satu kali mereka yang perlu di tolong sungguh harus menunggu dengan sangat tidak sabaran" . Mendengar perkataan guru mereka lima murid itu lantas saja tertawa geli, tapi adatnya sangat terbuka dan sering sekali ia berguyon dengan murid2nya "paling sedikit Soehoe akan bisa hidup dua ratus tahun kata" , Thio Siong Kee murid keempat sambil bersenyum "jika setiap sepuluh tahun kami melakukan sesuatu perbuatan baik ditambah jumlah nya tidak sedikit."
Boh Seng Kek murid ketujuh tertawa nyaring "hanya mungkin sekali kita tak bisa makan umur begitu panjang"
Katanya. Baru saja perkataan itu habis diucapkan, Song Wan Kiauw dan Jie Liam Cioe, murid ke dua se konyong2 melompat keluar seraya ber teriak.
"Apa Samtee!"
"Benar"
Jawab Thio Coei San dengan suara parau dilain saat dengan kedua tangan pakaian berlepotan darah dan penuh keringat ia bertindak masuk dengan tindakan limbung dan lalu berlutut dihadapan Thio Sam Hong.
"Soe hoe...."
Katanya "Jie Samko.,..telah dibokong orang!"
Semua orang terkesip.
Sehabis berkata begitu, badan Thio Coei San bergoyang, dan ia roboh terjengkang karena terlalu lelah dan duka.
Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe adalah orang2 yang mempunyai pengalaman luas dan mereka tahu sebab musabab dari pingsannya Thio Coei San.
Mereka mengerti bahwa apa yang penting adalah Jie Tay Giam.
Maka itu dengan berbareng mereka menubruk dan mengangkat tubuh Jie Sam.
Begitu meraba dada si adik, hati mereka mencelos sebab napas Jie Thay Giam tinggal sekali.
Melihat muridnya yang disayang terluka begitu berat tanpa mengeluarkan sepatah kata, Thio Sam Hong buru2 masuk kekamarnya dan keluar lagi dengan membawa pels Pek houw Tok bang tan (pememulihkan jiwa yang mulutnya ditutup dengan lilin putih)Untuk tidak membuang tempo dengan dua jarinya ia mememijit peles itu yang lantas saja menjadi hancur.
Ia mengambil tiga butir pel yang lalu dimasukkan kedalam mulut Jie Thay Giam.
Tapi gigi Jie Sam hia p terkancing dan mulutnyn tertutup rapat.
Thian Sam Hong segera mengangkat kedua tangannya dan dengan menggunakan jempol dan telunjuk, ia menotok Liong yauw kiauw diujung kuping Jie Thay Giam dengan tenaga Ho cweekin.
Pada waktu itu kepandaian Thio Sam Hong sudah sedemikian tinggi sehingga dengan Ho cweekin Tiam Liong yauw kiauw, tenaga Ho cwee kin menotol Liong yauw kiauw ia malahan dapat menyadarkan untuk sementara waktu orang.
Sesudah menotol dua puluh kali, simurid masih juga tidak bergerak.
Sambil menghela napas, ia segera menengkurupkan kedua telapak tangannya dan menotol jalanan darah Kian kie hiat didagu muridnya, dengan menggunakan In cioe atau telaga dingin.
Sesudah itu, ia membalik kedua telapak tangannya dan menotok pula dengan Yang cioe atau tenaga panas, per-lahan2 mulut Jie Thay Giam terbuka dan ia lalu menelan tiga butir pil itu.
Tapi otot2 leher Jie Sam hiap sudah menjadi kaku, sehingga biarpun masuk kedalam tenggorokan pel itu tak bisa turun terus sampai di perut.
Guru besar itu segera memerintahkan Thio Siong Kee mengurut leher Jie Thay Giam sedang ia sendiri lalu menotok jalanan darah Kwat poen dan Jie hoe dibagian pundak serta Yang koan dan Beng Boen diujung tulang punggung, supaya sesudah tersadar si murid jangan merasakan kesakitan yang terlalu hebat.
Semenjak Song Wan Kiauw dan Jie Lian Cioe berguru biarpun menghadapi urusan yang bagai mana besar, sang guru selalu bersikap tenang.
Tapi sekarang tangan guru itu bergemetar sedang paras mukanya mengunjuk rasa bingung sehingga mereka mengerti, bahwa luka adik mereka luar biasa berat.
Selang beberapa saat, Jie Thay Giam mulai tersadar.
"Soehoe,"
Kata Thio Coei San dengan suara pilu.
"Apakah Jie San ko masih bisa ditolong jiwanya ?"
Thio Sam Hong tidak menjawab secara langsung. Ia hanya berkata.
"Dalam dunia ini siapa kah yang bisa hidup untuk se-lama2nya ?"
Tiba2 terdengar suara tindakan orang.
Seorang toojin kecil masuk kedalam ruangan itu dan memberitahu, bahwa Touw Tay Kim dan lain2 piauw tauw Liong boen Piouw kiok datang berkunjung.
Paras muka Thio Coei San lantas saja berubah gusar.
"Ini semua gara2 kawanan manusia itu!"
Teriaknya seraya melompat keluar.
Dilain saat diluar kelenteng terdengar suara jatuhnya senjata2 diatas tanah.
Baru saja In Lie Heng dan Boh Seng Kok ingin melompat keluar untuk membantu Soehengnya, Thio Coei San sudah kelihatan berjalan masuk dengan satu tangan menenteng seorang lelaki yang badannya tinggi besar.
Sambil melontarkannya keras2 di atas lantai ia berseru.
"Manusia inilah yang sudah merusak urusan besar!"
Diantara Boe tong Cit hiap, In Lie Henglah yang beradat paling berangasan.
Mendengar orang itu yang menyebabkan terlukanya sang Soeko, ia segera melompat dan mengangkat kaki untuk menendang Touw Tay Kim.
"Lioktee! Tahan!"
Bentak Song Wan Kiauw.
"Hei! Orang2 Boetong memakai aturan atau tidak?"
Demikian terdengar teriakan diluar kelenteng.
"Kami adalah tamu2 yang datang ber kunjung. Mengapa kau menghina kami?"
Song Wan Kiauw mengerutkan alisnya. Ia menghampiri Touw Tay Kim dan menepuk belakang kepala dan punggung Cong-piauw-tauw itu, untuk membuka jalanan darahnya.
"Yang di luar harap jangan ribut,"
Teriaknya.
"Tunggu sebentar" . Suara itu angker dan nyaring luar biasa dan orang2 Liong-boen Piauw-kiok yang menduga bahwa teriakan itu adalah teriakan Thio Sam Hong, tak berani banyak ribut lagi.
"Ngo-tee,"
Kata Song Wan Kiauw.
"Bagaimana Samtee bisa mendapat luka begitu berat ? Ceritakanlah dengan tenang."
Sesudah mengawasi Tauw Tay Kim dengan sorot mata gusar, barulah Thio Coei San menerangkan, bagaimana Liong boen Piauw-kiok telah diminta oleh seorang untuk mengantarkan Jie Thay Giam ke Boetong-san dan bagai mana saudara itu akhirnya diambil enam penjahat yang menyamar sebagai murid2 Boetong.
Sedari tadi, sesudah lihat kepandaian Tay Kim, Song Wan Kiauw sudah tahu, bahwa Cong piauw tauw itu bukan orang yang bisa mencelakakan Soe-teenya.
Begitu mendengar keterangan Thia Coei San, paras mukanya lantas saja berubah sabar dan dengan kata2 manis, ia segera bertanya kepada Tauw Tay Kim hal ihwal peristiwa itu.
Touw Tay Kim lantas saja menceritakan segala kejadian se-terang2nya.
Pada akhirnya ia berkata dengan suara duka.
"Song Tayhiap, aku benar2 tolol dan karena kebodohanku, Jie Samhiap mesti menderita begitu lebat. Kutahu bahwa aku berdoa besar sekali dan pantas mendapat hukuman mati. Nasib keluarga kami di Lim an juga belum tahu bagaimana jadinya."
Selagi muridnya bicara dengan tamu itu, Thia Sam Hong tidak mencampuri dan sambil mengempos semangat terus menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Sincong dan Lengtay untuk memberi bawa panas kepada Jie Thay Giam, Tapi begitu lekas mendengar perkataan Tauw Tay Kim yang berakhir ia segera berkata.
"Lian Coe, bersama Seng Kok sekarang juga kau harus berangkat ke Lim an untuk melindungi keluaga Long boen Piauw kiok"
"Soehoe."
Kata Thio Coei San dengan suara penasaran.
"Orang she Touw itu terlalu gila dan karena gara2nya, biarpun tidak disengaja Sam soeko mesti menderita begitu hebat. Bahwa kita tidak membuat perhitungan dengannya, dia sudah untung besar. Perlu apa melindungi anak isteri dan keluarganya ?"
Sang guru tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala, sebagai tanda tidak setuju dengan pendapat si murid.
"Ngo tee,"
Kata Song Wan Kiauw.
"Mengapa pemandanganmu begitu sempit? Untuk siapa Tauw Cong piauw tauw datang kemari dengan melalui perjalanan ribuan li ?"
"Untuk mengantongi dua ribu tahil emas,"
Jawabnya sambil tertawa dingin.
Mendengar perkataan itu, muka Touw Tay Kim lantas saja berubah merah.
Dalam hati kecilnya ia juga mengakui, bahwa kesudiannya untuk mengantar Jie Thay Giam memang sebab hadiah yang besar itu.
"Ngo tee!"
Bentak Song Wan Kiauw.
"Jangan kau kurang ajar terhadap tamu kita ! Kau sudah terlalu capai pergilah mengaso."
Dalam kalangan Boe tong pay kedudukan seorang Soeheng sangat diindahkan dan disegani.
Baik dalam ilmu silat dan usia maupun dalam pribadi dan kemuliaan Song Wan Kiauw lebih menang setingkat daripada semua saudara seperguruannya.
Maka itu dari Jie Lian Cioe sampai Boh Seng Kok, tak seorangpun yang tidak menghormatinya.
Begitu dibentak Thio Coei San tidak berani mengeluarkan suara lagi, tapi ia terus berdiri disitu sebab sangat memikiri keadaan Jie Thay Giam.
"Jie tee,"
Kata pula Song Wan Kiauw.
"Menolong jiwa orang seperti menolong bahaya kebakaran. Sesudah Soehoe mengeluarkan perintah, kurasa lebih baik kau berangkat malam ini juga ber-sama2 Cittee,"
Jie Lian Cioe dan Boh Seng Kok lantas saja meninggalkan ruangan itu untuk bebenah.
Melihat kedua pendekar itu ber-siap2 untuk pergi ke Lim-an guna melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok bukan main rasa berterima kasihnya Touw Tay Kim.
Tapi rasa terima kasih itu bercampur dengan rasa malu yang besar.
"Thio Cinjin,"
Katanya sambil memberi hormat kepada Thio Sam Hong dengan merangkapkan kedua tangannya.
"Dalam urusan kami Boanpwee tidak berani merepotkan Jie hiap dan Boan hiap. Sekarang saja kami berpamit."
"Malam ini kalian menginap saja ditempat kami "
Kata Song Wan Kiauw.
"Kami masih ingin menanyakan beberapa hal" . Perkataan itu diucapkan dengan manis budi mengandung pengaruh besar yang sukar ditolak, sehingga tanpa membantah lagi Touw Tay Kim segera duduk dipinggiran. Beberapa saat kemudian Jie Liam Cioe dan Boh Seng Kok mengambil selamat berpisah dari gurunya dan sesudah mengawasi Jie Thay Giam beberapa kali, dengan perasaan tertindih mereka turun gunung untuk menjalankan perintah sang guru. Bahwa mereka merasa berat untuk meninggalkan saudara seperguruannya yang terluka berat, sangat bisa dimengerti, karena masih merupakan pertanyaan, apakah mereka akan bisa bertemu muka lagi. Seluruh ruangan sunyi senyap dan apa yang terdengar, hanyalah suara nafas Thio Sam Hong yang ter-sengal2. Diatas kepala guru besar itu kelihatan keluar semacan uap panas, sebagai tanda bahwa Thio Sam Hong tengah mengerahkan Lweekang yang sangat dahsyat. Berselang kira2 setengah jam, se-konyong2 Jie Thay Giam mengeluarkan teriakan menggeledek, sehingga ruangan itu se-olah2 tergetar. Touw Tay Kim terkesiap dan tanpa merasa, ia melompat bangun dari kursinya. Ia melirik Thio Sam Hong dan dapat kenyataan, paras muka orang itu mengunjuk rasa jengkel atau rasa girang, sehingga sukar sekali ditebak apa artinya teriakan Jie Thay Giam itu.
"Siong Kee, Lie Heng, bawalah Samkomu kedalam kamar supaya ia bisa mengaso."
Sesudah menjalankan titah gurunya, mereka masuk lagi kedalam ruangan itu.
"Soehoe, apa ilmu silat Samko bisa pulih lagi seperti biasa?"
Tanya In Lie Heng. Thio Sam Hong menghela napas panjang. Selang beberapa saat, barulah ia menjawab dengan suara perlahan.
"Apakah jiwanya bisa tertolong, masih harus menunggu tempo sebulan. Urat2nya yang sudah rusak dan tulang2-nya yang patah, tak bisa disambung lagi. Selama hidupnya...."
Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan hanya meng-geleng2kan kepalanya dengan paras berduka.
Mendengar jawaban itu, In Lie Heng tak bisa menahan lagi rasa sedihnya, ia lantas saja menangis tersedu2.
Diantara saudara seperguruannya, biarpun sudah memiliki kepandaian sebagai ahli silat kelas utama, hatinya paling lembek dan mudah sekali menangis.
Melihat saudaranya menangis, Thio Coei San lantas meluap darahnya.
Dengan sekali me lompat, tangannya melayang menggaplok muka Touw Tay Kim.
Congpiauw tauw ini coba menangkis, tapi tangan Thio Coei San menyambar bagaikan kilat cepatnya dan pipinya sudah kena digampar.
Kena belum puas, Coei San lalu mengirim tinju kepinggang Touw Tay Kim tapi untung sebelum mengenakan sasarannya, Thio Siong Kee keburu men dorong pundak saudaranya sehingga tinju itu jatuh ditempat kosong.
Saat itu, Touw Tay Kim pun coba menolong diri dengan melomat kebelakang dan selagi ia melompat tiba2 terdengar suara "trang"
Sepotong emas jatuh dilantai dari sakunya.
Thio Coei San menjemput emas itu dan berkata dengan suara dingin "manusia serakah begitu lihat berkredepnya emas kau segera menyerahkan Jie Samko kepada orang...."
Tiba2 perkataannya putus ditengah jalan disusul dengan seruan "ih".
"Toako"
Katanya sambil mengawasi potongan emas itu.
"lihatlah tapak jari2 ini adalah akibat ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay"
Song Wan Kiauw meneliti potongan emas itu beberapa lama dan kemudian menyerah kan kepada sang guru yang lalu mengawasi dengan penuh perhatian dan membulak balik nya beberapa kali tapi tidak berkata apa2.
"Soehoa"
Teriak Thio Coei San "tak bisa salah lagi itulah ilmu Kim kong cie dari Siauw lim pay. Dalam dunia ini tiada lain partai yang memiliki ilmu begitu, Soeboe bukankah begitu?"
Pada saat itu didepan mata Thio Sam Hong kembali terbayang kejadian dimasa lampau.
Ia ingat bagaimana diwaktu masih kecil ia melayani gurunya.
Kak wan Tay Soe yang bertugas dalam Cong keng kok, bagaimana mereka telah merobohkan Koen loen Sam sang, bagaimana mereka kabur dengan diuber oleh pendeta Siauw Him sie, dan bagaimanaia akhirnya menetap digunung Boe tong san.
Melihat tapak jarak pada potongan emas itu memang tak bisa dipungkir lagi itu semua adalah akibat perbuatan seorang Siauw lim sie.
Ilmu silat Boe tong pay mengutamakan Lweekang dan tidak memperhatikan ilmu keras untuk bisa menghancurkan batu dan sebagainya.
Dalam lain2 partai persilatan mempelajari ilmu Gwa kang (ilmu silat luar) terdapat tenaga telapak tangan, tenaga tinju, tenaga kaki dan sebagai nya yang hebat tapi tak satu partaipun yang memiliki tenaga jari tangan yang begitu dahsyat.
Maka itulah sesudah Thio Coei San menanya dua tiga kali ia masih juga belum memberi jawaban.
Jika ia bicara terus muridnya tentu tak mau mengerti dan sebagai akibatnya dua partai besar dalam Rimba Persilatan akan saling bertempur.
Thio Coei San yang sangat cerdas lantas saja bisa menebak jalan pikiran gurunya.
"See-hoe", katanya pula.
"Apakah dalam Rimba Persilatan bisa muncul seorang luar biasa, yang tanpa didikan guru, dapat memiliki ilmu Kim kong cie?"
Thio Sam Hong menggelengkan kepalanya.
"Tak mungkin", jawabnya.
"Kim-kongcie adalah hasil pengalaman, bukan ilmu yang bisa digubah dalam tempo pendek. Menurut pendapatku, seorang yang paling cerdas otaknya tak akan bisa memiliki Kim kong cie, tanpa pimpinan guru" . Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.
"Dulu, pada waktu berdiam dalam kuil Siauw lim sie, aku pun tak tahu, bagaimana jari tangan manusia bisa mempunyai kekuatan yang begitu luar biasa."
Sesaat itu pada kedua mata Song Wan Kiauw terlihat sorot yang luar biasa "soehoe,"
Katanya.
Dilihat begini, urat dan tulang sam tee juga dihancurkan dengan ilmu Kimkong ci.
Mendengara perkataan sang Toako.
InLie Hang menangis pula.
Dilain pihak, Touw Tay Kim mendengar pembicaraan antara guru dan murid itu dengan hati berdebar2.
Beberapa kali ia sudah membuka mulut, tapi mulutnya tak dapat mengeluarkan suara.
Akhirnya, sesudah menenteramkan hati, ia dapat juga berkata.
"Tidak! Tak mungkin orang Siauw Lim-sie. Belasan tahun aku berdiam dalam kuil Siauw lim sie tapi belum pernah aku bertemu dengan orang itu."
Song Wan Kiauw mengawasi Cong piauwtauw itu dengan sorot mata bersangsi.
"Liok tee, antarlah tamu2 kita keruangan belakang, supaya mereka bisa mengaso,"
Katanya.
"Bari tahukan Loo-ong supaya ia merawat baik2 semua tamu kita."
In Lie Heng mengiakan dan lain mengajak Touw Tay Kim dan yang lain2 pergi kebagian belakang kelenteng itu.
Sesudah mengantarkan Piauw tauw dan pegawai Liong boen Piauw kiak kekamar tamu, In Lie Heng pergi kekamar Jie Thay Giam.
Ia lihat kakak itu rebah dengan paras muka seperti mayat, sedang napasnya pun terdengar lemah sekali.
"Samko!"
Serunya dengan suara menyayat hati dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangan, Song Wan Kiauw dan lain2 saudara seperguruannya sedang duduk diseputar guru mereka, maka iapun segera mengambil tempat duduk disamping Thio Coei San.
Untuk beberapa lama dengan mata mendelong Thio Sam Hong mengawasi pohon kwie yang, tumbuh ditengah cemehe (Red.
what is a cemehe?).
Ia meng gelengkan kepala dan berkata dengan suara duka.
"Urusan ini sulit sekali. Siong Kee, bagaimana pendapatmu?"
Diantara tujuh murid Boe tong.
Thio Siong Keelah yang paling berakal budi.
Jika Boe tong pay menghadapi soal2 sulit, ialah yang jadi juru pemikir dan biasanya ia selalu dapat memecahkan cengkeraman sukar.
Tak usah dikatakan lagi, sedari pulangnya Thio Coei San dengan mendukung Jie Thay Giam yang luka berat, ia sudah mengasah orak untuk menembus kabut yang meliputi peristiwa itu.
Mendengar pertanyaan gurunya, ia lantas saja menjawab.
"Menurut pendapat teecu, bencana ini bukan bersumber pada Siauw lim-pay, tapi pada To liong to."
"Sie tee."
Kata Song Wan Kiauw.
"Coba ceritakan pendapatmu se-terang2nya, supaya bisa dipertimbangkan Soehoe."
"Jie Sam ko adalah seorang yang sangat berhati2 dan juga pandai bergaul, sehingga tak mungkin ia menanam bibit permusuhan secara semberono."
Kata Siong Kee.
"Disamping itu, penjahat besar yang telah dibinasakan Sam ko hanya memiliki ilmu silat kelas tiga dan sangat dibenci oleh orang Rimba Persilatan. Maka itu, tak mungkin orang Siauw lim-pay turunkan tangan jahat untuk membela penjahat itu."
Thio Sam Hong manggut2kan kepalanya.
"Putusnya urat2 dan tulang2 Sam ko sudah terjadi ditengah jalan."
Katanya pula.
"sebelum berangkat dari Lim an, Sam ko memang sudah kena racun yang sangat hebat, sehingga menurut teecoe, jalan satu2nya bagi kita ialah pergi ke Lim an untuk menyelidiki, bagaimana Sam ko kena senjata beracun dan siapa yang melepaskan senjata itu."
"Benar,"
Kata sang guru.
"Racun yang masuk kedalam badan Thay Giam sangat luar biasa. Sampai sakarang, aku belum tahu, racun apa adanya itu. Pada telapak tangannya terdapat tujuh lubang kecil, seperti ditusuk jarum. Dalam dunia Kangouw, belum pernah kudengar senjata rahasia yang begitu aneh."
"Peristiwa ini memang aneh bukan main."
Kata Song Wan Kiauw.
"Menurut pantas, seorang yang bisa melukakan Sam tee dengan senjata rahasia, mestinya seorang ahli silat dari kelas satu. Tapi, seorang ahli silat kelas satu biasanya sungkan menggunakan senjata rahasia keracun."
Semua bungkam.
Seluruh ruangan sunyi senyap, sehingga suara nafas guru dan murid2 itu bisa terdengar nyata.
Selang beberapa saat, kesunyian itu, dipecahkan oleh Thio Siong Kee "mengapa orang yang bertahi lalat itu menghancurkan tulang Sam ko?"
Tanyanya "jika ia sakit hati dengan sekali pukul saja ia bisa mengambil jiwa Sam ko.
Kalau mau menyiksa mengapa ia tidak menghantam tulang punggung.
Kurasa dipersakitinya Samko bertujuan untuk mengorek keterangan dari mulut Samko.
Keterangan apa tentang To liong to?
Bukankah Tauw Tay Kim memberi tahukan bahwa salah seorang diantara mereka telah menyebut To Liong to?"
"Perkataan Boe lim cie coat po to to liong, Ie thian poet coat sweeie ceng hong sudah tersiar beberapa ratus tahun"
Kata Song Wan Kiauw "apakah bisa jadi baru sekarang benar muncul sebilah To liong to?"
"Bukan beberapa ratus tahun", membantah sang guru.
"perkataan itu baru tersiar pada kira2 tujuh puluh tahun berselang.Waktu aku masih muda dalam kalangan Kang ouw tidak pernah terdengar perkataan bagitu."
Sekonyong2 Thio Coei San bangun seraya berkata "apa yang dikatan Sie ko sedikitpun tak salah.
Orang yang mencelakakan Sam ko mestinya berada didaerah Kanglam, marilah kita sama2 cari manusia itu.
Akan tetapi orang Siauw lin pay yang sudah turunkan tangan begitu kejam juga tidak boleh dibiarkan begitu saja."
"Wan Kiauw bagaimana kita harus menghadapi urusan ini?"
Tanya Thio Sam Hong sambil menengok kepada muridnya.
Selama berapa tahun yang paling akhir segala urusan besar dan kecil dalam Boe tong pay memang sudah di serahkan kepada murid itu oleh sang guru.
Sebagai seorang yang pandai bekerja dan selalu bertindak dengan hati2, sebegitu jauh Wan Kiauw belum pernah mengecewakan pengharapan gurunya.
Mendengar pertanyaan itu ia lantas saja bangun berdiri dan segera menjawab dengan sikap hormat.
"Soehoe urusan ini bukan hanya urusan membalas sakit hati Sam tee, tapi juga bersangkut paut dengan keselamatan nama dan Boe tong pay. Kalau kita bertindak salah sedikit saja akibatnya bisa hebat sekali dan mungkin merupakan bencana besar bagi seluruh rimba Persilatan. Maka itu dalam urusan yang sangat besar ini tee coe memohon petunjuk dan keputusan Soehoe sendiri."
"Baiklah" , kata Thio Sam Hong "bersama Siauw Kee dan Lie Heng kau pergi kekuil Siauw lim sie dan menyerahkan suratku kepada Hong thio Hong hoat Sian soe serta ceritakan juga se-terang2nya. Kau boleh tambah dengan permintaan supaya Hong-hoat Siansoe suka memberi petunjuk2. Dalam urusan Siawlim pay menurut hematku, kita boleh tak usah mencampuri. Siauwlim pay adalah sebuah partai persilatan yang memegang keras segala peraturannya, sedang Hong hoat Siansoe pun seorang yang sangat dihormati dalam Rimba per silatan. Maka itu, aku merasa pasti, bahwa soal yang mengenakan Siauw lim pay dapat di bereskan oleh mereka sendiri."
Ketiga murid itu lantas jaja mengiakan de ngan sikap menghormat.
"Kalau hanya untuk mengirim sepacuk surat Liok Sietee sendiri sudah lebih daripada cukup,"
Pikir Thio Siong Kee.
"Mengapa Soehoe memerintahkan juga Toasoeko dan aku sendiri untuk pergi bersama? Perintah ini pasti mempunyai maksud yang lebih dalam. Mungkin sekali Soenoe kuatir Siauw limpay akan rewel dan ingin supaya kita bertiga bisa bertindak dengan mengimbangi selatan,"
Sesaat kemudian benar saja sang guru berkata pula.
"Perhubungan antara partai kita dan Siauw lira pay tidak begitu erat. Aku adalah seorang murid Siauw lim sie yang telah kabur dari tersebut. Mungkin sekali karena memandang usiaku yang sudah lanjut, mereka tidak menyatroni Boetong san dan menyeretku kembali ke Siauw lim-sie. Tapi biar bagaimanapun jua, antara kedua partai masih mempunyai sangkut paut."
Ia tertawa dan kemudian berkata pula.
"Kalau sudah tiba di Siauw lim sie kau bertiga harus bersikap hormat terhadap Hong boat Hong thio. Tapi kamipun tak boleh bikin merosot derajatnya partai kita."
Ketiga murid itu manggut2kan kepala sebagai janji, bahwa mereka akan memperhatikan segala pesanan sang guru. Thio Sam Hong menengok kepada Thio Coei Sam dan berkata pula.
"Coei San, besok kau berangkat ke Kanglam untuk menyelidiki urusan ini dan dalam segala hal kau harus mendengar perkataan Jie soeko."
Murid ia lantas saja membungkuk dan mengiakan "Malam ini perjamuan dibatalkan saja,"
Kata lagi Thio Sam Hoag.
"Satu bulan kemudian kita berkumpul lagi disini. Andaikata Thay Giam tak bisa disembuhkan, kamu masih bisa bertemu lagi dengannya."
Perkataan yang paling akhir diucapkan dengan suara gemetar.
Didalam hati orang itu sangat berduka.
dan ia tak nyana bahwa sesudah mempunyai nama besar selama puluhan tahun, dalam usia sembilan puluh, salah seoreng muridnya yang tercinta mengalami bencana.
In Lie Hong yang cetek air matanya lantas saja menangis dengan perlahan.
"Pergi tidurlah,"
Kata sang guru seraya mengebas tangan jubahnya.
"Soehoe,"
Kata Song Wan Kiauw dengan suara menghibur.
"Samsoetee adalah seorang mulia yang selalu menolong sesama manusia. Orang kata manusia yang baik selalu dipayungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Teecoe percaya, Langit mempunyai Mata dan Samsoetee pasti akan tertolong jiwanya...."
Berkata sampai di situ suaranya parau dan air matanya mengalir turun.
Demikian pendekar2 itu yang biasa menghadapi bahaya tanpa berkedip sekarang menangis ter-sedu2 karena rasa duka dan penasaran yang sangat hebat.
Diantara saudara2 seperguruannya Jie Tay Giam dan In Lie Henglah yang bergaul paling erat dengan Thio Coei San.
Maka itu Thio Coei Sanlah yang paling bergusar dan kegusaran itu menyesak dalam dadanya sebab tak bisa dilampiaskan.
Sesudah kurang lebih satu jam rebah diatas pembaringan dengan gelisah per-lahan2 ia bangun dan berjalan keluar dari kamarnya dengan niatan mencari Touw Tay Kim dan menghajar Cong piauw tauw itu untuk melampiaskan kemendongkolannya.
Karena kuatir ia berlaku dengan hati-hati supaya tindakannya tidak didengar orang.
Waktu tiba di ruangan itu sambil menggendong kedua tangannya, orang yang bertubuh jangkung itu, bukan lain dari pada gurunya sendiri.
Ia berdiri terpaku dibelakang satu tiang tanpa berani ber gerak.
Ia tahu, bahwa jika sekarang ia kembali kekamarnya, gerak geriknya pasti diketahui sang guru.
Kalau ia mengaku sejujurnya yaitu hendak menghajar Tauw Tay Kim, ia pasti bakal dapat teguran keras.
Beberapa saat kemudian, tiba2 Thio Sam Hong mengangkat tangan kanannya dan menulis huruf2 ditengah udara.
Dengan memperhatikan gerak2an tangan itu, Coei San mendapat kenyataan, bahwa yang ditulis gurunya adalah dua huruf "Song loan"
Atau Kesedihan kekalutan. Sesudah mengulangi beberapa kali sang guru menulis dua huruf lain yaitu "To-tok"
Atau Penganiayaan hebat, diubrak abrik. Melihat begitu, Thio Coei San lantas saja tahu, bahwa gurunya sedang menulis "Song loan siap"
Dari Ong Hie Cie.
THIO COEI SAN mendapat gelaran Gin kauw Tiat hoa (Gaetan perak Coretan besi) karena tangan kirinya menggunakan Houw tauw kauw (Gaetan kepala harimau ) yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya bersenjatakan Poan koan pit (senjata yang menyerupai pena Tionghoa) yang terbuat daripada besi.
Sebab kuatir ditertawai oleh kaum sasterawan, maka sesudah mahir dalam ilmu silat, ia lalu mempelajari juga ilmu surat di bawah pimpinan gurunya yang Boen boe coan cay (pandai ilmu surat dan ilmu silat).
Song loan tiap itu pernah dipelajari olehnya pada dua tahun yang lain.
Sambil bersembunyi di belakang tiang, ia memperhatikan gerakan tangan gurunya yang menulis seperti berikut.
"Hie Cie toen sioe, song loan cie kek, sian bok cay lie to tok, toei wie kouw seng. (Hie Cie memberi hormat. Kesedihan dan kekalutan melampaui batas, kuburan-kuburan leluhur diubrak abrik, kalau diingat sungguh hebat perasaan duka). Lewat beberapa saat, Coei San dapat merasakan bahwa setiap coretan yang dibuat oleh gurunya mengandung kedukaan dan secara mendadak, ia berhasil menyelami perasaan Ong Hie Cie sendiri pada waktu ia menulis Song loan tiap itu. Ong Hie Cie adalah seorang sasterawan besar pada jaman kerajaan Cin Timur. Di waktu itu, Tiongkok kacau balau dan bangsa asing menentang kekuasaannya. Dalam kesedihan dan kekalutan hebat (song loan), murid-murid Ong Hie Cie teleh melarikan diri ke Tiongkok Selatan. Bukan saja manusia, tapi kuburan-kuburan pun turut diubrak abrik, sehingga dapatlah dibayangkan, kedukaan dan kegusaran rakyat yang sangat menghormati kuburan leluhur mereka. Penderitaan yang hebat itu semua dilukiskan dalam Song loan tiap. Diwaktu yang lampau, dalam keadaan yang selalu riang dan gembira, Thio Coei San tidak bisa memahami maksud yang sebenarnya arti 'tiap' itu. Tapi sekarang, karena ia sendiri tengah diliputi dengan kedukaan berhubung dengan terlukanya Jie Thay Giam maka secara mendadak ia dapat menyelami arti "
Song loan° dan "To tok" .
Sesudah menulis beberapa kali, Thio Sam Hong menghela napas panjang dan lalu masuk keruangan tengah, dimana ia termenung-menung beberapa lama.
Tiba-tiba ia mengangkat pula tangan kanannya dan menulis huruf-huruf ditengah udara.
Kali ini, huruf-huruf itu berbeda dengan huruf-huruf Song loan tiap.
Huruf-huruf pertama adalah "Boe" (Persilatan), sedang yang kedua "Lim"
Rimba. Ia menulis terus sampai duapuluh empat huruf. Dengan mengawasi gerakan tangan sang guru, Thio Coei San tahu, bahwa yang ditulisnya ialah.
"Boe lim cie coen, po to To liong hauw leng thian hee, boh kam poet ciong, Ie thian poet coet swee ie ceng hong."
"Apakah Soehoe sedang coba memecahkan teka teki dalam kata itu" , tanyanya didalam hati. Thio Sam Hong menulis huruf-huruf itu berulang-ulang, semakin lama gerakan tangannya jadi semakin perlahan, setiap gerakan menyerupai gerakan silat. Mendadak saja, Thio Coei San tersadar. Ia sekarang mengerti, bahwa dengan menulis duapuluh empat huruf itu, sang guru sebenarnya tengah menjalankan serupa ilmu silat yang sangat tinggi, dalam mana setiap huruf berarti setiap pukulan. Dalam duapuluh empat huruf itu, hurup "liong" (naga) dan huruf "hong" (tajam) yang paling banyak coretannya, sedang huruf "to" (golok) dan huruf "hee" (bawah) yang paling sedikit coretannya, Tapi, walaupun coretannya banyak, gerakannya tidak kelihatan berlebihan, sedang biarpun coretannya sedikit, gerakannya tidak kelihatan kekurangan. Setiap gerakan pukulan tepat dan mantep, indah dan lincah, angker bagaikan badai, bertenaga seperti tubrukan harimau, kokoh kuat seakan-akan tindakan gajah, cepat seolah-olah berkredepan kilat diangkasa. Dalam duapuluh empat huruf itu terdapat dua "poet"
Dan dua "thian"
Tapi, sesuai dengan artinya yang berbeda beda, jiwa dari pukulan pukulannya berbeda-beda.
Dalam tahun-tahun yang belakangan ini, jarang sekali Thio Sam Hong berlatih silat.
Ilmu silat In Lie Heng dan Boh Seng Kok didapat dari Song Wan Kiauw dan Jie Lian Coe yang mewakili gurunya.
Maka itu, biarpun Thio Coei San murid kelima, tapi sebenar-benarnya ia, adalah murid penutup, atau murid terakhir yang mendapat pelajaran dari Thio Sam Hong sendiri.
Malam itu guru dan murid mempunyai perasaan yang sama, berhubung dengan terjadinya peristiwa mendukakan itu.
Mereka berduka sebab memikiri keselamatan Jie Thay Giam dan mendongkol karena adanya ancaman dari pihak yang belum di ketahui siapa adanya.
Dalam jengkelnya, Thio Sam Hong sudah menulis huruf-huruf itu dan secara kebetulan, ia telah menciptakan semacam ilmu silat baru.
Secara kebetulan, oleh karena, pada waktu baru menulis huruf-huruf itu, ia sedikit pun tak punya niatan untuk menggubah ilmu pukulan.
Sementara itu, Thio Coei San yang kebetulan bersembunyi dibelakang tiang, telah melihat dipertunjukkannya ilmu silat tersebut, yang lantas saja dapat dipahami olehnya lantaran iapun sedang diliputi dengan perasaan duka.
Demikianlah, secara sangat luar biasa, satu ilmu silat baru yang berdasarkan seni menulis huruf, telah tercipta dalam Rimba Persilatan.
Dua jam lamanya, sehingga rembulan naik tinggi, Thio Sam Hong berlari terus menerus.
Beberapa lama kemudian, sambil bersiul nyaring, telapak tangan kanannya menyabet dari atas kebawah, bagaikan menyambernya sehelai sinar pedang.
Sabetan yang dahsyatitu merupakan coretan terakhir dari huruf "hong".
Sehabis menyabet, ia dongak seraya berkata.
"Coei San, bagaimana pendapatmu dengan Soe hoat (seni menulis huruf indah) ini?"
Thio Coei San terkesiap. Ia tak nyana bahwa bersembunyinya telah diketahui oleh sang guru. Buru-buru ia manghampiri seraya menjawab.
"Hari ini teecoe mujur luar biasa, karena dapat melihat ilmu silat Soehoe yang begitu tinggi. Apa boleh teecoe panggil Toasoeko dan yang lain-lain, supaya mereka pun bisa turut menyaksikan?"
Sang guru meoggelengkan kepalanya.
"Kegembiraanku sudah habis, sehingga mungkin sekali aku tak bisa menulis lagi begitu bagus,"
Katanya "Wan Kiauw, Siong Kee dan yang lain lain tidak mengerti Soehoat, sehingga meskipun melihat, belum tentu mereka bisa menarik banyak kefaedahan."
Sehabis berkata begitu seraya mengebas tangan jubahnya, is berjalan masuk keruangan dalam.
Thio Coei San tidak berani tidur, sebab kuatir sesudah pulas, ia akan lupakan ilmu silat itu.
Dengan lantas ia bersilat dan menjernihkan pikiran, sambil mengingat-ingat setiap coretan yang barusan dilihatnya, dengan tempo-tempo bangun berdiri dan menjalankan beberapa pukulan sulit.
Entah berapa jam ia bersila disitu, tapi pada akhirnya dapatlah ia menghapal seluruh ilmu silat tersebut yang terdiri dari duapuluh empat huruf dengan seluruh lima belas perubahan-perubahannya.
Beberapa saat kemudian, ia melompat bangun dan lalu menjalankan semua pukulan itu.
Sesudah beberapa jurus, pukulan pukulannya keluar dengan deras dan lancar bagaikan air tumpah, sedang tubuhnya enteng melompat kian kemari seperti seekor kera.
Akhirnya, ia membuat coretan paling penghabisan dari huruf 'Hong' (tajam) dengan telapak tangan kanannya yang menyambar dari atas kebawah dan "bret!", ujung bajunya robek karena pukulan itu.
Ia kaget tercampur girang.
Tiba tiba saja, ia mendapat kenyataan, bahwa matahari sudah naik tinggi.
Sesudah menyusut keringat yang membasahi mukanya, ia segera berlari lari kekamar Jie Thay Giam, di mana sang guru sedang menempelkan kedua telapak tangannya pada dada saudara seperguruan itu sambil mengerahkan Lweekang untuk mengobati lukanya.
Perlahan-lahan supaya tidak mengganggu, ia berjalan keluar dari kamar itu.
Ternyata Song Wan Kiauw, Thio Siong Kee dan In Lie Heng sudah berangkat.
Sedang rombongan Liang boen Piauw kiok pun sudan turun gunung.
Karena sungkan mengganggu latihannya, maka ketiga saudara seperguruan itu sudah pergi tanpa pamitan lagi.
Ia pun segera berkemas, membekal senjata dan beberapa puluh tahil perak, akan kemudian, pergi lagi ke kamar Jie Thay Giam.
"Soehoe, teecoe mau berangkat sekarang"
Katanya.
Sambil bersenyum, sang guru manggut manggutkan kepalanya.
Sehabis berkata begitu, Coei San mendekati pembaringan dan lihat muka Thay Giam yang berwarna kehitam hitaman karena pengaruh racun, sedang tanda tandanya bahwa kakak seperguruan itu masih bidup, hanya napasnya yang berjalan perlahan sekali.
Bukan main rasa dukanya.
"Samko,"
Katanya dengan suara serak.
"Biarpun badanku hancur lulur, aku pasti akan, membalas sakit hatimu" . Ia menekuk lutut dihadapan gurunya dan kemudian sambil menekap muka dengan kedua tangannya, ia meninggalkan kamar itu. Dengan menuggang Cengcong ma (kuda bulu hijau putih), ia turun dari Boe tong san. Sesudah melalui lima puluh li lebih, siang terganti dengan malam dan awan mendung meliputi langit. Baru saja ia masuk kedalam sebuah rumah penginapan. Hujan mulai turun. Semakin lama, hujan itu jadi semakin besar dan semalam suntuk turun tak henti hentinya. Pada keesokan paginya, awan gelap belum buyar dan hujan masih terus turun dengan tidak kurang hebatnya. Karena ingin membalas sakit hati Soekonva secepat mungkin, ia tak mau membuang buang tempo. Ia segera membeli baju hujau dan tudung dari pemilik penginapan dan lalu meneruskan perjalanan. Untung juga Cengcong ma bukan sembarang kuda, sehingga dia dapat berlari terus dijalanan berlumpur sangat jelek. Sesudah melewati Lao ho kouw, ia menyebrang sungai Han soei yang airnya banjir dan menerjang kealiran bawah dengan dahsyatnya. Cengcong ma dibedal terus melalui kota Siang yang dan Hoan soie. Ia dengar berita orang bahwa di aliran sebelah bawah Han soei, gili-gili bobol rakyat diserang air bah. Setibanya di Gie shia, ia mulai bertemu dengan rakyat yang melarikan diri dari serangani banjir dengan berbondong-bondong. Hujan masih turun terus dan penderitaan rakyat hebat bukan main. Selagi mengaburkan tunggangannya, disebelah depan terlihat sejumlah penunggang kuda yang mengibarkan bendera piauw hang. Segera juga ia mengenali, bahwa mereka mereka itu adalah orang orang Liong boen piauw kiok. Ia lantas saja mencambuk Cengcong ma yang segera lari bagaikan terbang dan sesudah melewati rombongan itu, ia menahan les, memutar tunggangannva dan menghadang ditengah jalan. Melihat Thio Coei San, Touw Tay Kim menanya dengan suara dingin.
"Thio Ngo hiap, ada urusan apa kau mengubar kami?"
"Apakah Touw Cong piauw tauw lihat penderitaan rakyat yang kelanggar bencana banjir itu ?"
Ia balas menanya. Touw Tay Kim tak duga ia bakal ditanya begitu.
"Apa?"
Menegasnya dengan terkejut. Pemuda itu tertawa-dingin.
"Aku ingin minta para dermawan mengeluarkan emas mereka untuk menolong rakyat yang bersengsara"
Jawabnya. Paras Cong piauw tauw itu lantas saja berubah pucat.
"Kami orang-orang piauw hang setiap hari hidup diujung senjata dan mencari makan dengan mempertaruhkan jiwa,"
Katanya dengan suara gusar.
"Mana kami mempunyai kekuatan untuk menolongg begitu banyak orang ?"
"Serahkan itu duaribu tahil emas yang berada dalam sakumu!"
Bentak Thio Coei San.
"ThioNgo hiap, apa kau mau mencari-cari urusan dengan aku?"
Tanya Touw Tay Kim seraya meraba gagang golok.
Ciok dan Soe Piauw tauw lantas saja menghunus senjata mereka dan berdiri didekat pemimpinnya.
Dengan tetap bertangan kosong, Thio Coei San berkata sambil tertawa dingin.
"Touw Cong piauw tauw, tanyalah dirimu sendiri. Sesudah makan upah, apakah kau sudah menjalankan tugasmu? Hmn! Kau, masih ada muka untuk mengantongi duaribu tahil emas itu ?"
Muka Touw Tay Kim merah padam, karena malu dan gusar.
"Bukankah kami sudah mengantar Jie Sam hiap sampai di Boe tong san ?"
Ia membela diri.
"Sebelum kami menerima tugas itu, ia memang sudah terluka berat. Sekarang pun ia masih belum mati."
"Jangan ngaco!"
Bentak Coei-San "Apa kaki tangan Jie Sam ko sudah patah-waktu ia berangkat dan Lim an?"
Touw Tay Kim tak dapat menjawab.
"Thio Ngo hiap."
Menyelak Soe Piauw Tauw.
"Apakah sebenarnya maksudmu. Katakan saja terang-terangan."
"Aku balas hancurkan tulang tulang tanganmu!"
Bentaknya sambil melompat dan menerjang.
Soe piauw tauw mengangkat toyanya untuk menangkis, tapi ia kalah cepat.
Bagaikan kilat, Thio Coei San mengebas dan membabat dengan tangan kirinya dan toya itu terbang sedang Soe Piauw tauw jatuh terpelanting dari tungganannya.
Dalam serangan itu, Thio Coei San menggunakan huruf "thian" (langit) dari ilmu silat yang baru didapatinya.
Piauw tauw yang bisa lihat selatan, coba menyingkirkan diri, tapi sudah tidak keburu lagi.
Karena tangan Coei San sudah menyapu pinggangnya dalam gerakan garis melintang dari huruf "thian"
Sehingga tanpa ampan lagi, tubuhnya bersama-sama sela kuda terpental setombak lebih dan jatuh terjengkang diatas tanah.
Waktu diserang, kedua kaki piauw tauw, itu menginjak sanggurdi keras-keras, tapi sebab lawannya menghantam dengan Lwekang yang sangat hebat, maka tali ikatan perut kuda menjadi putus dan sela kuda turut terlempar.
melihat hebatnva serangan musuh, Touw Tay Kim mengeprak kudanya dan menerjang.
Dengan sekali memutar badan.
Coei San menghantam dengan pukulan huruf "hee" (bawah).
"Buk!"
Pukulan itu mengenakan tepat dipunggung Touw Tay Kim yang tubuhnya lantas saja ber goyang-goyang.
Karena ilmunya banyak lebih tinggi daripada kawannya, maka ia tidak sampai roboh dari tungganannya.
Baru saja ia melompat turun dari punggung kuda untuk mengadu jiwa, tiba tiba ia merasa tenggorokannya penuh dan "ugh!"
Ia muntahkan datah.
Ia terhuyung beberapa tindak.
Kakinya lemas roboh duduk diatas tanah.
Tiga piauw soe lainnya dan para pegawai piauw hang tentu saja tidak berani bergerak lagi.
Waktu baru bertemu dengan rombongan piauw hang itu, dengan kegusaran yang meluap luap Thio Ngo hiap betekad untuk mematahkan kaki tangan para piauw soe itu.
Tetapi sesudah melukakan tiga orang secara begitu mudah, malah seorang diantaranya mendapat luka berat, ia sedikitpun tidak menduga, bahwa ilmu silat yang baru dipelajarinya itu sedemikian hebat.
Hatinya jadi lemas dan ia tak tega untuk turun tangan lebih jauh.
"Orang she Touw!"
Bentaknya.
"Hari ini aku berlaku murah terhadapmu. Keluarkan dua ribu tahil emas itu untuk menolong rakyat yang kelanggar bencana alam. Aku akan menilik sepak terjangmu dari kejauhan dan jika setahil saja kau sembunyikan dalam kantong mu, aku akan basmi seluruh Liong boen Piauw kiok, aku akan binasakan kecil besar tujuh puluh dua jiwa, malah ayam dan anjing pun tak akan diberi ampun!"
Ia mengancam dengan menggunakan kata-kata dari orang yang memberikan dua ribu tahil emas sebagai upah untuk mengantar Jie Thay Giam ke Boe tong san.
Perlahan-lahan Tauw Tay Kim bangun berdiri, tapi ia merasa punggungnya sakit sangat dan begitu bergerak, ia kembali muntahkan darah.
Soe Piauw tauw yang hanya mendapat luka enteng, segera berkata dengan suara lemas "Thio Ngo hiap, emas itu berada di Lim an, sehingga tak dapat kami menolong orang-orang yang berada di sini"
Thio Coei San tertawa dingin.
"Kau kira aku anak kecil?"
Tanyanya dengan nada mengejek.
"Semua jago Liong boen Piauw kiok keluar dari sarangnya dan Lim an hanya ketinggalan keluarga kamu yang tak bisa melindungi harta itu. Emas itu sudah pasti berada disini!"
Sambil berkata begitu, ia menyapu rombongan piauw hang dengan matanya. Mendadak ia menghampiri sebuah kereta dan menghantam dengan telapak tangannya.
"Brak!"
Kereta hancur dan belasan potongan emas jatuh berhamburan di tanah.
Semua orang pucat mukanya.
Mereka tidak mengerti, bagaimana pemuda itu tahu tempat menyimpan emas.
Ternyata, biarpun masih berusia muda, Thio Ngo hiap berotak cerdas, bermata awas dan berpengalaman luas.
Melihat tanda lumpur diroda kereta yang mengunjuk bahwa roda-roda tersebut amblas lebih dalam dari pada kereta-kereta lainnya dan melihat bagaimana sesudah ia menghajar Touw Tay Kim, sebaliknya dari pada menolong pemimpin itu, tiga piauw soe buru-buru mendekati kereta tersebut, maka ia segera menarik kesimpulan, bahwa kereta itu, yang muatnya diisi dengan muatan sangat berharga.
Ia mengawasi potongan-potongan emas itu sambil tertawa dingin dan kemudian tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi ia melompat kepunggung Kuda yang terus di kaburkan.
Sembari jalan hatinya senang sekali.
Ia menduga pasti, bahwa demi keselamatan keluaga mereka, piauwsoe-piauwsoe itu tak akan berani membantah perintahnya.
Perasaan senang itu sebagian besar disebabkan oleh kenyataan, bahwa ilmu silat yang berdasarkan dua puluh empat huruf yang baru di dapatnya, bukan main lihaynya.
Dengan melawan hujan, beberapa hari ia membedal kudanya terus menerus.
Meskipun binatang itu binatang luar bias, tenaganya ada batasnya.
Demikianlah, waktu tiba didaerah propinsi Kang say, mulut kudanya mengeluarkan busa putih dan badannya panas, Coei San menyesal bukan main, karena ia sangat sayang tunggangannya itu.
Ia segera berhenti disebuah rumah penginapan, memberi obat kepada kudanya dan selang beberapa hari, barulah panasnya turun.
Sesudah binatang itu sembuh, ia meneruskan perjalanan dengan perlahan-lahan dan pada tanggal Sie gwee Sha cap (Bulan Empat tanggal 30) barulah ia masuk kedalam kota Lim an.
Sesudah dapat kamar disebuah hotel, ia segera menimbang-nimbang tindakan apa yang akan diambilnya.
"Karena kudaku sakit, aku sangat terlambat,"
Pikirnya.
"Apa rombongan Liongboen Piauw kiok sudah pulang? Dimana adanya Jieoko dan Citee? Biarlah malam ini aku menyelidiki digedung piauw kiok itu."
Sesudah makan malam, ia segera mencari tahu letaknya gedung Liong boen Piauw kiok dari pelayan-pelayan hotel yang memberitahu bahwa gedung itu berdiri dipinggir telaga See Ouw.
Kemudian ia pergi kepusat toko-toko dan membeli seperangkat pakaian baru dengan kopiah sasterawan serta sebuah kipas Hang cioe yang tersohor.
Ia kembali kehotel, mandi, menyisir rambut dan lalu menukar pakaian.
Waktu berdiri didepan kaca dan memandang bayangannya sendiri, ia tertawa gali.
Bayangan itu adalah bayangan seorang Kongcoe sasterawan dan bukan seorang Hiapsoe (pendekar) yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan.
Dengan bersenyum senyum, ia meminjam alat tulis dari pengurus hotel untuk menulis syair dikipasnya.
Secara wajar, apa yang ditulisnya adalah itu dua puluh empat huruf "Ie thian to liong".
Ia merasa heran sebab setiap coretan yang turun diatas kipas banyak lebih bertenaga dan indah daripada biasanya.
"Sesudah mempelajari silat itu, Soe hoatku juga dapat banyak kemajuan,"
Pikirnya.
Pada waktu itu kerajaan Song sudah roboh dan seluruh Tiongkok berada di bawah kekuasaan dinasti Goan.
Karena Lim an adalah bekas ibukota Lam song (Song Selatan), bangsa Mongol telah membuat penjagaan lebih kuat dikota itu daripada dilain lain kota.
Mereka memerintah dengan tangan besi, sehingga dalam kekuatannya, banyak penduduk bearpindah kelain tempat.
Maka itulah, disepanjang jalan Thio Coei San bertemu dengan banyak rumah yang rusak karena akibat perang dan yang kosong sebab ditinggalkan penghuninya.
Kota yang sepi itu memperlihatkan pemandangan menyedihkan, tidak tertampak pula keramaian serta kemakmuran dari Lim an yang dulu, yang merupakan salah sebuah kota tersohor dari Kanglam yang indah permai.
Cuaca masih belum gelap, tapi banyak rumah sudah pada menutup pintu dan di jalanan jarang sekali terlihat rakyat jelata.
Apa yang ditemukan Coei San hanyalah serdadu-serdadu Mongol yang meronda dengan menunggang kuda.
Sebab tak ingin banyak urusan, sedapat mungkin ia menyingkirkan diri dari peronda-peronda itu.
Dulu, di waktu malam, apapula pada malam malam terang bulan, telaga See ouw bukan main ramainya dan seluruh telaga seolah-olah ditabur dangan lampu-lampu perahu pelesir.
Tapi sekarang, ketika ia tiba di Pak tee dan memandang ketempat jauh, telaga itu diliputi dengan kegelapan yang menyeramkan dan diatas air tak terdapat sebuah perahupun.
Ia menghela napas berulang-ulang dan sesuai dengan petunjuk pelayan hotel, ia lalu berjalan menuju kegedung Liong boen Piauw kiok.
Gedung itu sangat besar dan berhadapan dengan telaga See ouw sedang dua singa-singaan batu di depan pintu sangat menambah keangkerannya.
Perlahan-lahan Thio Coei San mendekati.
Tiba-tiba, ia melihat sebuah perahu pelesir ditepi telaga depan gedung itu.
Dalam perahu dipasang dua tengloleng sutera dan dibawah penerangan itu kelihatan duduk seorang lelaki yang sedang minum arak seorang diri.
"Enak betul minum arak diatas air,"
Katanya dalam hati sambil menghampiri pintu.
Teng (peep.
teng=???) besar yang tergantung didepan gedung tidak dipasangi lilin, sedang pintunya yang dicat merah tua tertutup rapat.
Penghuni gedung itu rupanya sudah pada tidur.
"Sebulan yang lalu Samko masuk ke pintu ini,"
Pikirnya dengan rada duka.
Mendadak ia terkejut, karena di belakang nya terdengar hela napas yang panjang.
Ditengah malam yang sunyi, hela napas itu kedengarannya menyeramkan dan menyayat hati.
Dengan cepat ia memutar badan, tapi ia tidak lihat bayangan satu manusiapun.
Kecuali orang yang sedang minum arak data in perahu, di sekitar itu tidak terdapat lain manusia.
Dengan perasaan heran, ia mengawasi orang itu, yang mengenakan tiungsha (jubah panjang) warna hijau dan memakai topi empat persegi, yaitu dandanan seorang sasterawan seperti ia sendiri.
Ia tak dapat melihat tegas muka orang itu, tapi dipandang dari samping dengan bantuan sinar tengloleng, kelihatannya pucat pasi.
Orang itu duduk termenung-menung dengan tidak bergerak dan gerakan satu-satunya hanyalah berkibatnya tangan jubah karena tiupan angin.
Sesudah mengawasi beberapa lama, ia memutar badan lagi dan mencekal cincin tembaga yang menempel dipintu dan lalu mengetuk-ngetuknya beberapa kali.
Sebenarnya ia ingin masuk dengan melompat tembok, tapi sesudah melihat orang di perahu itu, ia merasa jengah sendiri.
Suara ketukan itu terdengar nyaring sekali dan sehabis mengetuk, ia menempelkan kupingnya didaun pintu, tapi di dalam sunyi-sunyi saja tidak terdengar suara manusia yang menghampiri pintu.
Dengan heran, ia mendorong sedikit dan pintu itu terbuka.
Lantas saja ia bertindak masuk seraya berseru.
"Apa Touw Cong piauw tauw ada dirumah ?"
Ia berjalan terus keruangan tengah yang gelap gelita. Mendadak terdengar suara "truk!"
Pintu tertutup keras seperti di tiup angin.
Ia kaget, lalu melompat keluar dari ruangan itu dan menghampiri pintu.
Ia terperanjat karena pintu itu sudah dikunci orang.
Tapi sebagai seorang yang berkepandaian tinggi, nyalinya sangat besar.
Sambil tertawa dingin, ia masuk pula ke ruangan tengah.
Baru saja masuk beberapa tindak, tiba-tiba ia merasakan sambaran angin tajam dari depan belakang, kiri dan kanan.
Dengan sekali melompat, ia kelit serangan keempat pembokong itu.
Dalam kegelapan ia lihat berkelebatnya sinar-sinar putih, sebagai tanda, bahwa penyerang-penyerang menggunakan senjata golok.
Cepat seperti kilat, ia meloncat kesebelah barat dan telapak tangan kanannya membabat salah seorang dari kanan kiri.
"Ptak!"
Tangannya mengenakan jitu jalanan darah Tay yang hiat orang itu yang lantas saja roboh terguling.
Hampir berbareng, telapak tangan kirinya menyabet dari kanan atas kiri bawah dan mampir tepat dipinggang seorang musuh lainnya yang juga ambruk dilantani.
Dua pukulan itu merupakan satu garis melintang dan satu coretan miring dari huruf "poet" (tidak).
Sesudah berhasil merobohkan dua musuh, ia mengirim pukulan lurus dari atas kebawah dan satu totokan yaitu coretan lurus dan sebuah titik dari hurup "poet"
Dan dua penyerang lainnya terjungkal di lantai.
Demikianlah, dengan empat pukulan yang merupakan tiga coretan dan sebuah titik huruf "poet", ia berhasil menjatuhkan empat pembokong itu.
Karena tak tahu siapa empat penyerang itu, Thio Coei San sunkan berlaku kejam, dan hanya menggunakan tiga bagian tenaganya.
Orang keempat yang "ditotok"
Olehnya, terhuyung beberapa tindak dan badannya menubruk sebuah kursi yang lantas saja menjadi hancur "Binatang! Sungguh kejam kau!"
Cacinya."
Kalau kau benar2 laki-laki, beritahukan namamu,"
"Jika aku berlaku kejam, jiwamu sudah melayang"
Katanya sambil tertawa.
"Aku adalah Thio Coei San dari Boe tong san."
Orang itu mengeluarkan seruan kaget.
"Apa.... benar kau Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San?"
Tanyanya dengan suara tidak percaya.
Sambil bersenyum, Thio Ngo hiap meraba pinggangnya dan di lain saat, tangan kirinya sudah mencekal gaetan Houw tauw kauw yang terbuat dari pada perak, sedang tangan kanannya memegang Poan koan pit besi.
Dengan sekali membenturkan kedua senjata, lelatu api muncrat disertai dengan suara yang sangat nyaring.
Dengan bantuan sinar lelatu api, Thio Coei San mendapat lihat, bahwa keempat penyerang itu mengenakan jubah pertapaan hweshio yang warnanya kuning.
Dua di antaranya, yang mukanya kebetulan berhadapan dengannya, mengawasi dengan sorot mata gusar dan membenci.
Bukan main herannya Ngo hiap.
"Siapa Tay-soe?"
Tanyanya.
"Sakit hati yang dalam seperti lautan, tak bisa dibalas hari ini!"
Teriak satu diantaranya.
"Ayo berangkat!"
Hampir bareng dengan teriakan itu, mereka melompat bangun dan lalu berjalan keluar.
Salah seorang yang rupanya terluka berat, sempoyongan dan roboh dilantai.
Dua kawannya lantas memberi pertolongan dan mereka berlalu tanpa menengok lagi.
"Soe wie tahan dulu!"
Teriak Coei San.
"Sakit hati apa ?"
Tapi keempat pendeta itu tidak meladeni dan jalan terus.
Thio Coei San bingung campur heran.
Untuk beberapa saat ia berdiri bengong sambil mengasah otak, tapi tak berhasil memecahkan teka teki itu.
Mengapa dalam gedung Liong boen Piauw kiok bersembunyi empat orang Hweeshio?
Mengapa mereka lantas menyerang secara membabi buta?
Mengapa mereka mengatakan sakit hati yang dalam seperti lautan?
"Untuk menjawab pertahyaan-pertanyaan itu, jalan satu-satunya adalah menanyakan orang-orang Liong boen Piauw kiok,"
Pikirnya. Memikir begitu, ia lantas saja berteriak.
"Apa Touw Cong piauw tauw berada di rumah? Apa Cong piauw tauw ada?"
Tapi sesudah berteriak berulang-ulang, ia tetap tak dapati jawaban.
"Tak bisa jadi manusia tidur seperti bangkai."
Katanya daiam hati.
"Apa mereka mabur ketakutan?"
Ia terus mengeluarkan bahan api yang lalu dinyala kan, sehingga ruangan yang gelap gelita itu lantas menjadi terang.
Ia menghampiri sebuah ciak tay (tempat menancap lilin) yang berdiri di atas meja teh dan menyulut lilinnya.
Sesudah itu, dengan berwaspada, sambil membawa ciaktay, ia berjalan ke ruangan belakang.
Barusan belasan tindak, tiba tiba ia lihat tubuh seorang wanita yang rebah di lantai seperti sedang tidur.
"Toacie, mengapa kau tidur di situ?"
Tegurnya.
Wanita itu tidak menjawab dan tidak berqerak.
Dengan tangan kiri ia medorong pundak wanita itu, sedang tangan kanannya yang mencekel ciaktay menyuluhi muka orang.
Tiba-tiba saja, ia terkesiap.
Wanita itu sedang tertawa, tapi otot-ototnya kaku!
Dia sudah mati lama juga.
Perlahan-lahan ia melempangkan pinggangnya dan lagi-lagi ia terperanjat, sebab di depan tiang disebelah kiri kelihatan menggeletak sesosok tubuh lain.
Ia menghampiri dan memeriksanya.
Ternyata orang itu seorang kakek yang berdandan sebagai pelayan, juga sudah mati dengan muka tertawa!
Dengan jantung berdebar-debar, Thio Coei San meraba pinggang dan kemudian, dengan tangan kiri mencekel gaetan dan tangan kanan mengangkat ciaktay tinggi-tinggi, ia bertindak maju setindak demi setindak.
Dengan rasa kaget dan heran yang sukar dilukiskan, apa yang ditemukannya adalah puluhan mayat-mayat, yang menggeletak di sana sini!
Di seluruh gedung Liong boen Piauw kiok yang besar dan luas itu, tak terdapat lagi manusia hidup.
Thio Coei San adalah seorang pendekar kenamaan dalam Rimba Persilatan yang sudah kenyang mengalami kejadian-kejadian hebat.
Tapi kali ini, melihat kekejaman manusia yang sudah membasmi sesama manusia, ia menggigil.
Bayangannya ditembok kelihatan bergoyang-goyang, karena tangannya yang mencekel ciaktay bergemetaran.
Mendadak ia ingat ancaman itu orang yang telah memberi upah kepada Liong boen Piauw kiok untuk mengantarkan kakak seperguruannya ke Boe tong san.
Sekarang benar-benar seisi-Piauwkiok telah dibasmi.
Apakah kekejaman itu sudah dilakukan sebab piauwkiok tersebut sudah gagal dalam menunaikan tugasnya?
"Orang itu turunkan tangan kejam karena Jie Samko sehingga menurut pantas dia mestinya sahabat Samko" , katanya di dalam hati.
"Orang itu berkepandaian banyak lebih tinggi daripada Touw Tay Kim. Sesudah mengetahui, mengapa bukan ia sendiri yang mengantar Samko? Kakak adalah seorang pendekar mulia yang membenci setiap kejahatan. Apa mungkin ia bersahabat dengan manusia yang begitu kejam?"
Dangan rasa heran yang semakin lama jadi semakin besar, ia bertindak keluar dari ruangan sebelah barat.
Dengan pertolongan sinar lilin, ia lihat dua orang pendeta yang mengenakan jubah warna kuning sedang bersender ditembok dan mengawasi padanya dengam paras muka tertawa.
Ia mendekati dan membentak.
"Perlu apa Jie wie datang disini?"
Tapi mereka tidak menyahut dan juga tidak bergerak.
Mayat!
Pada tubuh kedua mayat itu tidak terdapat luka apapun juga, hanya dada jalanan darah Siauw yauw hiat (jalan darah yang membangkitkan tertawa) terdapat total merah.
Ia manggut manggutkan kepala dan mengerti, bahwa paras muka tertawa dari mayat-mayat itu adalah akibat totokan pada jalanan darah tersebut.
Mendadak, ia terkesiap karena ingat sesuatu.
"Celaka!"
Ia mengeluh.
"Sakit hati yang dalam seperti lautan ..."
Ia teringat cacian salah seorang dari empat hweeshio yang telah menyerang dirinya.
Ia merasa bahwa semua tuduhan bakal ditumpuk diatas pundaknya.
Siapa keempat pendeta itu?
Dilihat dari pukulan pukulannya, mereka adalah ahli-ahli ilmu silat Siauw limpay.
Touw Tay Kim seorang Siauw lim sehingga mungkin sekali mereka berada disitu atas undangan Cong piauw tauw tersebut.
"Tapi dimana adanya Jie Jieko dan Boh Cit tee?"
Tanyanya didalam hati.
"Mereka diperintah Soehoe untuk melindungi keluarga Liong boen Piauw kiok. Apa bisa jadi, dengan memiliki kepandaian sangat tinggi mereka telah dirobohkan orang?"
Semakin dipikir, teka teki itu jadi semakin sulit.
"Dengan pulangnya keempat hweesio Siauw lim pay pasti akan menaruh kecurigaan atas diriku,"
Katanya didalam hati.
"Tapi, biar bagaimanapun juga urusan ini akan menjadi terang. Satu waktu, kita pasti akan tahu siapa adanya manusia kejam itu. Siauw lim dan Boetong harus bekerja sama untuk mencari manusia itu. Yang paling penting adalah cari Jie-ko dan Cit-tee."
Memikir begitu ia segera meniup lilin dan keluar dari gedung tersebut dengan melompati tembok.
Tapi pada sebelum kedua kakinya hinggap diatas bumi diluar tembok, tiba tiba ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya, disusul dengan bentakan.
"Thio Coei San, Roboh kau!"
Pula saat itu, badannya masih berada ditengah udara, sehingga ia tak dapat berkelit lagi.
Dalam bahaya, Thio Ngo hiap tak jadi bingung, secepat arus kilat, tangan kirinya menekan senjata musuh dan dengan meminjam tenaga, badannya melesat keatas lagi dan kedua kakinya hinggap diatas tembok.
Hampir berbareng dengan hinggapnya diatas tembok, kedua tangannya sudah mencekal kedua senjatanya.
Melihat lihaynya pemuda itu, sipenyerangpun kaget dan kagum, karena ia mengeluarkan seruan tertahan dan berkata.
"Bocah ! Kau sungguh lihay !"
Dengan tangan kiri mencekal gaetan dan tangan kanan memegang Poan koan pit, Coei San melintangkan senjata itu di depan dadanya, kepala gaetan dan ujung pit menunduk kebawah.
Itulah gerakan Kiong leng kauw hoei (Dengan hormat menerima pelajaran) yang digunakan dalam Rimba persilatan.
Jika seorang yang tingkatannya lebih rendah berhadapan dengan orang yang lebih tinggi, sebagai seorang kesatria, walaupun hatinya mendongkol, Coei San tetap sungkan melanggar adat istiadat.
Ia menunduk dan melihat dua pendeta yang mengenakan jubah pertapaan warna merah dengan sulaman benang emas berdiri berendeng dibawah dengan masing-masing mencekal Sian thung (toya yang mengeluarkan sinar emas).
Melihat jubah pertapaan itu, Coei San terkejut.
"Apakah mereka anggauta Siauw Lim Cap peh Lo han yang tersohor?"
Tanyanya di dalam hati.
(Siauw lim Cap peh lohan = Delapan belas Lohan dari Siauwlim sie).
Dengan San thungnya, pendeta yang disebelah kiri menubruk batu hijau, sehingga mengeluarkan suara yang sangat nyaring.
"Thio Coei San!"
Bentaknya "Boe tong Cit hiap mempunyai nama yang cukup baik. Tapi mengapa begitu kejam?"
Mendengar pendeta itu tidak menggunakan panggilan "Thio Ngo hiap atau Thio ngoya, Coei San jadi mendongkol.
Diantara Boetong Cit Hiap, biarpun gerak geriknya sopan dan paras mukanya halus, dialah yang berada paling tinggi.
(peep.
what's that mean?) Dalam kedongkolannya, ia segera menyahut dengan suara dingin.
"Tanpa menanyakan lebih dulu siapa yang salah, siapa yang benar, dengan bersembunyi dikaki tembok, Tay soe sudah membokong aku. Apakah perbuatan itu perbuatan seorang gagah? Kudengar ilmu silat Siauw Lim menggetarkan seluruh dunia, tapi aku tak nyana di antara orang Siauwlim ada juga yang pandai membokong."
Bukan main gusarnya hweeshio itu.
Dengan sekali menggenjot tubuh, ia melesat ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya belum hinggap ditembok, toyanya sudah menyambar.
Dengan cepat Coei San mangangkat Hauw tauw kauw untuk menahan sambaran Sian thung dan dengan berbareng Poan koan pit nya menotok senjata lawan.
"Trang!"
Ujung Poan koan pit membentur Sian thung dengan dahsyatnya.
Kedua tangan pendeta itu tergetar dan tubuhnya melayang kebawah lagi, tapi kedua lengan Coei San juga kesemutan sehingga ia jadi kaget.
Ia mengerti bahwa kini ia berhadapan dengan seorang yang berilmu tinggi dan jika mereka berdua mengrubuti, ia mungkin tak mampu membela diri.
"Siapa Jie wi?"
Bentaknya.
"Pinceng adalah Goan im"
Jawab pendeta yang berdiri disebelah kanan "Yang ini adalah Soeteku Goan giap."
Buru-buru Coei San menundukkan senjatanya dan sambil mengangkat kedua tangan, ia berkata.
"Ah! Kalau begitu, Jie wie Taysoe adalah dari Siauw lim Cap peh Lohan. Sudah lama aku mendengar nama Taysoe yang sangat harum dan aku merasa beruntung, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka. Pelajaran apakah yang mau diberikan oleh Taysoe ?"
"Soal ini bersangkut paut langsung dengann Siauw Lim dan Boe tong pay,"
Jawab Goan Im.
"Kami berdua adalah orang orang yang berkedudukan sangat rendah dalam Siauw lim pay dan sebenarnya kami tak dapat mengurus persoalan ini. Tapi karena sudah terlanjur bertemu, kami tanya mengapa Thio Ngo hiap membinasakan puluhan orang dari Liong boen Piauw kiok dan dua Soetit (keponakan murid) kami? Orang kata, jiwa manusia bersangkut paut dengan Langit. Kami ingin dengar, bagaimana Ngo hiap mau membereskan peristiwa ini."
Kata-kata itu meskipun diucapkan deugan perlahan, kedengarannya sangat menusuk kuping, sehingga dapatlah diketahui, bahwa kepandaian pendeta tersebut banyak lebih tinggi dari pada adik seperguruannya.
Thio Coei San tertawa dingin.
"Mengenai permbunuhan terhadap orang-orang Liong boen Piauw kiok, aku sendiripun merasa sangat heran,"
Jawab nya.
"Disamping itu, aku juga tidak mengerti, mengapa begitu membuka mulut, Taysoe sudah menuduh aku. Apakah kejadian itu disaksikan dengan mata kepala Taysoe sendiri ?"
"Hoei hong!"
Teriak Goan im.
"Coba kau memberi kesaksian di hadapan Thio Ngo hiap."
Dari belakang pohon lantas saja muncul empat orang pendeta yang tadi dirobohkan Coei San dalamm gedung Liong boen Piauw kiok. Pendeta yang bergelar Hoei hong itu lantas saja membungkuk seraya berkata.
"Melaporkan kepada Soepoh, bahwa beberapa puluh orang dari Liong boen Piauw kiok Hoei thong dan Hoei kong kedua Soeheng semuanya.... semuanya dibinasakan oleh bangsat she Thio itu."
"Apa kau lihat dengan mata kepala sendiri ?"
Tanya Goan im.
"Ya,"
Jawabnya.
"..Kalau tak keburu lari, teecoe berempat pun sudah binasa di tangannya."
"Murid Sang Buddha tak boleh berjusta,"
Kata Goan im dengan suara keren.
"Soal ini mengenai Siauw lim dan Boe tong, kedua partai besar dalam Rimba persilatan, dan kau tidak boleh bicara sembarangan"
Hoei bong segera berlutut dan sambil merangkap kedua tangannya, ia berkata.
"Teecoe tak akan berani menjustai Soepeh dan apa yang dikatakan teecoe adalah kejadian yang sebenar-benarnya. Untuk itu, Sang Buddha menjadi saksinya."
"Cobalah kau ceritakan apa yang dilihat dengan matamu sendiri"
Memerintah Goan im.
Mendengar perkataan itu, Thio Coei San lantas saja ia melompat turun.
Goan-giap yang menduga pemuda itu ingin menyerang Hoei hong, lantas saja menyabet dengan Sianthungnya.
Coei San menunduk untuk memunahkan serangan itu dan kemudian, dengan sekali melompat ia sudah berada di belakang Hoei hong.
Menurut ilmu silat toya Hok mo thung (takluki iblis), sesudah sabetannya meleset, Goan giap harus menyerang pula dengan membabat pundak lawan.
Akan tetapi, karena waktu itu Coei San sudah berada di belakang Hong bong, maka jika ia menyerang lagi, toyanya akan lebih dulu mengenakan keponakan muridnya.
Dalam kagetnya, ia terpaksa menarik pulang Sian thungnya.
"Mau apa kau?"
Bentaknya.
"Aku mau mendengarkan ceritanya,"
Menjawab Coei San.
Hoei hong mengerti bahwa kalau mau, Thio Coei San yang berada dalam jarak dua kaki, dengan mudah bisa mengambil jiwanya dan meskipun kedua Soe pehnya berada di situ, mereka tak akan keburu menolong.
Tapi dalam gusarnya, ia tak jadi gentar, dan lantas saja memberi keterangan dengan suara nyaring .
"Waktu berada di Kang pak (sebelah utara Sungai Besar). Goan sim Susiok menerima surat Touw Tay Kim Suheng yang meminta pertolongan. Begitu menerima surat itu buru-buru Soesiok memerintahkan Hoei Thong dan Hoei Kong Soeheng memberi datang kemari untuk memberi bantuan."
"Belakangan Soesiok pun memberi perintah kepada teecoe dan ketiga Soetee untuk menyusul. Begitu tiba, Hoei kong Soeheng mengatakan bahwa malam ini, musuh mungkin datang menyatroni dan ia minta kami berempat sembunyi dikaki tembok sebelah timur. Iapun memesan supaya kami jangan sembarangan meninggalkan tempat jagaan dan jangan sampai diselomoti dengan tipu memancing harimau keluar dari gunung. Baru siang berganti malam, tiba-tiba kami mendengar bentakan dan cacian Hoei thong Soeheng yang sudah mulai bertempur di ruang belakang. Sesaat kemudian ia mengeluarkan teriakan kesakitan, Sebagai tanda terluka berat. Teecoe segera memburu keruangan belakang dan tihat dia ..dia..... bangsat She Thio itu"
Berkata sampai disitu, mendadak ia melompat bangun dan berteriak sambil menuding hidung Thio Coei San.
"Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau pukul Hoei kong Soeheng yang lantas mati dengan membentur tembok. Karena merasa tidak ungkulan, aku lalu bersembunyi dibawah jendela dan menyaksikan cara bagaimana kau menerjang ke pekarangan sambil membunuh orang. Tak lama kemudian, delapan orang Piauw kiok berlarian keluar dari belakang dengan diubar olehmu. Mereka semua kau binasakan dengan totokan dan sesudah membasmi semua orang yang berada dalam gedung, barulah kau mabur dengan melompati tembok."
Thio Coei San berdiri tegak tanpa bergerak.
"Kemudian bagaimana?"
Tanyanya dengan suara dingin.
"Kemudian?"
Bentak Hoei hong dengan kegusaran meluap-luap.
"Kemudian aku balik ketembok timur dan berdamai dengan ketiga Soeteeku. Kami yakin, bahwa kepandalanmu terlalu tinggi untuk dilawan, dan jalan satu-satunya adalah menunggu, datangnya ketiga Soepeh di dalam gedung piauw kiok. Tapi sungguh tak dinyana, kau lagi-lagi menyatroni untuk mencari Touw Cong piauw tauw. Biarpun tahu bahwa kami hanya bakal mengantarkan jiwa, kami bukan bangsa pengecut, maka segara kami menyerang. Waktu ditanya olehkU, bukankah kau telah memperkenalkan diri sebagai Gin kauw Tiat hoa Thio Coei San? Semula aku tak percaya. Aku berpendapat, bahwa sebagai salah seorang dari Boe tong Cit hiap, kau tentu tak akan melakukan perbuatan yang begitu kejam. Tapi kau lantas saja mengeluarkan kedua senjatamu, sehingga tak mungkin kau Thio Coei San palsu."
"Benar, memang benar aku telah memperkenal kan diri dan mengeluarkan senjataku,"
Kata Coei San.
"Memang benar aku yang sudah merobohkan kamu. Tapi coba ceritakan sekali lagi, coba tuturkan lagi, bagaimana dengan mata kepala sendiri, kau melihat aku membunuh puluhan orang itu."
Pada saat itulah, tiba-tiba Goan im mengebas tangan jubahnya dan mendorong tubuh Hoei hong beberapa kaki jauhnya.
"Ya! Cobalah kau cerita kan lagi, supaya Thio Ngo hiap yang namanya menggetarkan Rimba Persilatan, tidak dapat menyangkal pula,"
Katanya dongan suara menyeramkan. Ia mendorong Hoei hong guna berjaga-jaga kalau-kalau dalam gusarnya, pemuda itu turunkan tangan jahat untuk menutup mulut saksi.
"Baiklah"
Kata Hoei hong.
"Aku akan menegaskan satu kali lagi. Dengarlah! Dengan mataku sendiri kulihat. kau membinasakan Hoei hong dan Hoei thong Soeheng. Dengan mataku sendiri, kulihat kau membunuh delapan orang dari Liong boen Piauw kiok dengan totokan."
"Apa kau lihat tegas mukaku?"
Tanya Coei San dengan suara menyeramkan.
"Pakaian apa yang dipakai olehku?"
Sambil berkata begitu ia menyalakan api dan menyuluhi mukanya sendiri. Hoei hong menatapnya dan berkata dengan suara membenci.
"Tak salah ! Kau mengenakan pakaian itu, jubah panjang dan topi empat segi. Waktu itu kau menyelipkan kipasmu di belakang leher baju."
Bukan main gusarnya Thio Ngo hiap. Ia tak mengerti mengapa pendeta itu menuduhnya secara membabi buta. Sambil mengangkat api tinggi-tinggi, ia maju dua tindak dan membentak.
"Kalau kau mempunyai nyali, katakan lagi bahwa yang membunuh orang adalah Thio Coei San!"
Mendadak kedua mata pendeta its mengeluarkan sinar luar biasa. Ia menunding seraya berteriak.
"Kau....!"
Tubuhnya tiba-tiba terjengkang dan robot di tanah.
Dengan serentak sambil mengeluarkan seruan tertahan, Goan giap dan Goan im melompat untuk coba menolong.
Tapi Hoan hong sudah menghembuskan napasnya yang penghabisan dengan paras muka ketakutan.
"Kau! kau membunuh dia!"
Teriak Goan giap dan Goan im, tap i juga mengagetkan sangat Thio Coei San. Ia menengok kebelakang dan matanya yang sangat jeli melihat goyangnya beberapa cabang pohon "Jangan lari!"
Bentaknya sambil melompat.
Ia mengerti, bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya sebab musuh yang bersembunyi dapat membokongnya.
Tapi untuk cuci bersih segala tuduhan, ia mesti bisa menangkap pembunuh itu.
Selagi badannya masih berada di tengah udara itu Goan im dar Goan giap sudah menyabet dengan senjata mereka.
Bagaikan kilat, ia menekan Sian thung Goan giap dengan Houw tauw kauw dan menotok toya Goan im dan Goan giap dengan Poan koan pit dan dengan meminjam tenaga itu, badannya melesat keatas.
Begitu kedua kakinya hinggap di atas tembok, segera matanya menyapu kearah gerobolan pohon.
Benar saja beberapa cabang kecil masih bergoyang goyang, tapi orang yang bersembunyi sudah tak kelihatan bayang-bayangannya lagi.
Sambil menggeram dan mengebas Sian thungnya Goan giap bergerak untuk melompat keatas tembok "Jie wie jangan merintangi aku.
Mari kita ubar pembunuh itu!"
Teriak Coei San.
"Kau ..... dihadapanku kau berani membunuh orang !"
Teriak Goan im dengan napas tersengal-sengal.
"Apa sekarang kau masih mau menyangkal" . Beberapa kali Goan giap coba melompat ke atas, tapi ia selalu kena dipukul mundur.
"Thio Ngo Hiap, kami bukan mau mengambil jiwamu,"
Kata Goan im.
"Kau ikut saja kami ke Siauw lim sie"
"Benar-benar gila!"
Teriak Coei San.
"Karena gara gara kalian berdua yang sudah menghalang halangi aku,pembunuh itu telah berhasil melarikan diri. Sekarang kamu berbalik mau mengajak aku ke Siauw Lim sie. Perlu apa aku pergi ke Siauw Lim sie?"
"Supaya Hong thio kami dapat memberi keputusan,"
Jawabnya.
"Dengan beruntun kau sudah membinasakan tiga orang murid kuil kami, ini adalah terlalu besar untuk dibereskan oleh kami berdua."
Coei San tertawa dingin "Hm!"
Ia mengeluarkan suara di hidung.
"Sungguh percuma kamu berdua menjadi anggauta dari Siauw lim Cap peh Lo han. Penjahat lari di depan hidungmu, kamu masih belum tahu!"
"Sudahlah!"
Kata Goan im dengan suara menyesal dan duka.
"Biar bagaimanapun juga, hari ini kami tak akan dapat melepaskan kau."
Mendengar tuduhan yang sangat hebat itu, semakin lama pemuda itu jadi semakin gusar."Tay Soe"
Katanya sambil tertawa dingin.
"Jika kamu mempunyai kepandaian, cobalah tangkap aku!"
Hampir berbareng dengan tantangannya, Goan giap menumbuk tanah dengan San thungnya dan badannya segera melesat keatas.
Coei San pun melompat tinggi dan selagi tumbuhnya melayang turun, bagaikan angin puyuh ia menyerang.
Goan giap coba menangkis, tapi dengan sekali balik Houw tauw kauw, ia menggeres alis pendeta itu yang lantas saja mengucurkan darah dan tumbuhnya ambruk ke bawah.
Dalam serangan itu, Coei San masih berlaku murah hati.
Jika gaetan tersebut diturunkan sedikit lagi kearah tenggorkan, jiwa Goan giap tentu sudah melayang.
"Giap soeete!"
Teriak Goan im.
"Apa kau terluka berat?"
"Tidak Jangan rewel! Hajarlah !"
Jawabnya dengan kalap.
Mendengar perkataan saudara seperguruannya.
Goan im segera menyerang sambil melompat lompat dan sesaat kemudian, tanpa membalut luka nya, Goan giap pun segera membantu.
Melihat serangan-serangan yang sangat hebat itu, Coei San mengerti, bahwa jika kedua pendeta tersebut dapat , melompat ke atas tembok, ia bakal repot sekali.
pMaka itu, sambil mengempos semangat, ia segera berkelahi dengan hati-hati dan menjaga supaya kedua lawannya jangan sampai berdiri di tembok.
Ketiga pendeta dari tingkatan "Hoei"
Tidak berani maju, biarpun mereka ingin sekali membantu.
Thio Coei San mengerti bahwa untuk membersihkan dirinya dari tuduhan yang sangat hebat itu, ia harus menyelidiki dan membekuk pembunuh yang tulen.
Ia tahu bahwa dilangsungkannya pertempuran hanyalah akan memperdalam sakit hati dan salah mengerti.
Maka itu sambil menggerakkan kedua senjatanya untuk menutup serangan kedua pendeta itu, ia berseru keras dan mengenjot tubuh.
Tapi sebelum ia melompat tiba tiba terdengar bentakan geledek, dan tembok yang sedang diinjaknya roboh didorong orang.
Sebelum kedua kakinya hinggap di bumi seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar menerjang dan coba merampas kedua senjatanya.
Di tempat gelap Coei San tak bisa lihat tegas muka hweeshio itu, tapi melihat sepuluh jarinya yang dipentang seperti gaetan, ia tahu, bahwa pendeta itu menyerang dengan Houw jiauw kang (ilmu pukulan kuku harimau) salah satu pukulan terlihay dari Siauw lim sie.
"Sim Soeheng!"
Teriak Goan giap.
"Jangan kasih bangsat ini lari"
Semenjak turun dari Boe tong san, Thio Coei San jarang bertemu dengan tandingan.
Sesudah memiliki ilmu silat Ie thian To liong, kepandaiannya jadi lebih tinggi lagi dan nyalinya pun jadi lebih besar.
Melihat serangan mati-matian dari tiga pendeta itu ia jadi mendongkol bukan main dan lantas saja timbul niatan untuk memperlihatkan kepandiannya.
Ia segera menyelipkan kauw tauw kauw dan Poan koan pit di pinggang nya dan membentak "Kalau mau bertempur, ayolah!
Biarpun Siauw lim Cap peh Lo han turun semua, Thio Coei San sedikit pun tidak merasa keder"
Sesaat itu, tangan kiri Goan sim menyambar. Sambil berkelit, ia menggerakkan tangannya "Bret!"
Tangan jubah pendeta itu robek.
Dengan gusar Goan sim coba mencengkeram pundaknya, tapi sebelum kelima jarinya menyentuh pundak, lututnya sudah ditendang Coei San.
Tapi diluar dugaan, dua kaki Goan sim luar biasa kuat, sehingga biarpun kena tendangan jitu, badannya hanya bergoyang-goyang dan tidak sampai roboh di tanah.
Sambil menggeram, tangan kanan nya menyambar, dan dengan berbareng, Sian thung Goan im dan Goan giap menyabet pinggang dan kepala.
Coei San tak jadi bingung.
Dengan lompat tinggi ia menyelamatkan dirinya.
Sambil bertempur Coei San berkata dalam hatinya.
"Dalam beberapa tahun yang belakangkangan nama Boe tong dan Siauw lim dikatakan berendeng dalam Rimba Persilatan. Tapi yang mana lebih tinggi, yang mana lebih rendah, sukar sekali dapat diukur. Biarlah hari ini aku menjajal kepandaian pendeta Siauw Lim."
Ia segera mengempos semangat dan melayani ketiga lawan itu dengan hati-hati.
Sesudah lewat sekian jurus, biarpun dikerubuti tiga, perlahan lahan ia berada di atas angin.
Sebenarnya, ilmu silat Siauw lim dan Boe tong mempunyai keunggulan sendiri-sendiri.
Boe tong pay didirikan oleh Thio Sam Hong, seorang luar biasa pada jaman itu.
Tapi ilmu silat Siauw lim sie, dengan sejarah seribu tahun lebih dan diperbaiki terus menerus, bukan main hebatnya.
Dalam pada itu, orang harus ingat, bahwa dalam Boe tong pay, Thio Coei San termasuk sebagai Jago kelas utama, sedang Goan im, Goan sim dan Goan giap biarpun kedudukannya sebagai anggota Cap peh Lo han, dalam kalangan Siauw lim sie ilmu silatnya baru mencapai tingkatan kedua.
Maka itu sesudah bertempur lama, sebaliknya dari keteter, Thio Coei San jadi semakin gagah.
Sesudah lewat sekian jurus tagi, tiba tiba pemuda itu menyerang dengan pukulan huruf "Liong" (naga).
Mendadak satu tangannya menangkap San-thung Goan giap yang dengan menggunakan ilmu meminjam tenaga, memukul tangan lalu disentaknya kearah toya Goan im.
"Trang !"
Hebat sungguh bentrokan kedua toya itu.
Tenaga kedua pendeta itu yang sudah cukup hebat, ditambah lagi dengan tenaga Thio Coei San.
Telapak-tangan Goan im dan Goan giap terbeset dan mengeluarkan darah.
Lengan mereka kesemutan, sedang kedua Sian thung itu melengkung.
Dengan kaget, Goan sim menubruk untuk memberi pertolongan.
Melihat serangan nekat, Coei San mengengos sambil mengggaet dengan kakinya dan menepuk punggung pendeta itu.
Tepukan itupun dikirim dergan ilmu "Meminjam tenaga, memukul tangan"
Yaitu memukul dengan menuruti tenaga Goan sim sendiri. Tanpa ampun, pendeta itu terjungkel. Sambil tertawa dingin, Thio Coei San lantas saja berjalan pergi.
"Jangan lari kau!"
Terial Goan sim seraya melompat bangun dan terus mengudak diikuti oleh kedua saudara seperguruannya.
Melihat pengejaran nekat, Coei San jadi bingung juga.
Tentu saja sama sekali bukan maksudnya untuk mencelakakan mereka.
Maka itu, ia segera mengempos semangat dan lari dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Tapi ketiga pendata itu terus mengubar sambil berteriak-berteriak.
Sembari lari Thio Coei San merasa geli didalam hati, karena bagaimanapun juga, ketiga pangejar itu tak akan bisa menyandak dirinya.
Selagi enak lari, tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan kesakitan dan begitu menengok, ia lihat ketiga pendeta itu menutupi mata kanan mereka dengan kedua tangan, seperti kena senjata rahasia.
"Orang she Thio!"
Hoan giap mencaci.
"Jika kau mempunyai nyali, butakanlah lagi mata kiriku!"
Coei San kaget bukan main.
"Apa mata kanannya dibutakan orang dengan senjata rahasia?"tanyanya didalam hati.
"Siapa yang sudah membantu aku. Mendadak ia ingat sesuatu dan lantas saja berteriak! "
Cit tee !Cit tee! Dimana kau?"
Ia berteriak begitu karena ingat bahwa diantara saudara-saudara seperguruannya Boh Seng Kok lah yang paling pandai dalam ilmu menggunakan senjata rahasia.
Boh Cit hiap mahir menggunakan piauw, panah tangan, paku, jarum, batu, Hoei hong sek dan lain-lain.
Maka itu, ia menduga, bahwa orang yang telah menimpuk mata ketiga pendeta itu adalah adiknya yang paling kecil Tapi sesudah memanggil beberapa kali, ia tak mendapat jawaban, ia melompat masuk kegerombolan pohon-pohon dipinggir telaga, tapi disitu pun ia tak lihat bayangan manusia.
Dilain pihak, sesudah seluruh matanya terluka, Goan giap jadi kalap dan sambil berteriak-teriak ia melompat untuk mengubar lagi.
Tapi Goan im buru-buru menarik tangan Soeteenya.
ia mengerti, bahwa meskipun belum terluka, mereka bertiga belum tentu dapat melawan musuh.
Sekarang, sesudah terluka, apapula luka itu dirasakan gatal seperti kena senjata beracun keadaan mereka jadi lebih jelek lagi dan tak usah harap bisa memperoleh kemenangan.
"Giap Soetee."
Katanya dengan suara menghibur.
"Dalam usaha membalas sakit hati, orang tak perlu terlalu bernapsu. Dalam urusan ini, andai kata kita bertiga mau menyudahi saja, Hong thio dan kedua Soepeh sudah pasti tak akan tinggal diam."
Sementara itu, sesudah ternyata pengubaran atas dirinya dihentikan, Coei San mulai memikiri kejadian barusan dengan rasa heran yang sangat besar.
"Aku suka mengunggulkan ilmu mengentengkan badanku, tapi kepandaian orang itu kelihatannya banyak lebih tinggi dari padaku. Tapi siapa dia!"
Ia tak berani berdiam lama-lama lagi dipinggir telaga dan lantas berjalan pulang kerumah penginapan.
Tapi baru saja berjalan puluhan tombak, sekonyong-konyong ia lihat bergoyang-goyangnya rumput tinggi ditepi telaga.
Ia tahu bahwa disitu bersembunyi orang dan dengan hati-hati ia mendekati.
Baru saja ia ingin menegur, dari antara rumput-rumput melompat keluar seorang yang terus membacok kepalanya dengan golok sambil membentak.
"Kalau bukan aku, kau yang mampus!"
Dengan cepat Coei San mengegos dan mengirim tendangan yang mengenakan jitu pergelangan tangan kanan orang itu sehingga goloknya terbang dan jatuh diatas air.
Orang itu yang gundul kepalanya dan mengenakan jubah pertapaan.
Lagi-lagi seorang pendeta Siauw lim sie "Bikin apa kau di sini?"
Bentak Coei San.
Tiba-tiba ia lihat 3 sosok tubub yang menggeletak tanpa bergerak, entah sesudah mati, entah terluka berat didalam rumput-rumputan tinggi.
Tanpa menghiraukan lawannya ia segera mendekati dan membungkuk.
Begitu lihat, ia terkesiap karena ketiga orang itu bukan lain daripada pemimpin-pemimpin Liong boen Piauw kiok, yaitu Touw Tay Kim, Ciok dan Soe Piauw tauw.
"Touw Cong piauw tauw!"
Serunya.
"Kau !.... kau ....."
Perkataannya diputuskan oleh melompatnya Touw Tay Kim yang seperti orang edan lalu menyengkeram bajunya didada dan mencaci.
"Bangsat ! Aku hanya simpan tiga ratus tahil perak, tapi kau sudah lantas berlaku begitu kejam."
"Ada apa?"
Tanya Coei San. Baru saja ia ingin memberontak, mendadak ia melihat darah di ujung mata dan mulut Cong Piauw tauw itu. Ia kaget bukan main.
"Kau mendapat luka dalam?"
Tanyanya. Touw Tay Kim menengok ke pendeta itu dan berkata dengan suara parau.
"Soetee, kenalilah Orang ini Gin Kauw Tiat hoa Thio Coei San. Dia.... dialah pembunuhnya. Lekas kau pergi ! ..lekas ! jangan kena dicandak olehnya . ." . Mendadak kedua tangannya membetot keras dan kepalanya dibenturkan ke dada Thio Ngo hiap dengan tujuan untuk mati bersama. Coei San mengangkat kedua tangannya dan mendorong.
"Bluk!" , badan Touw Tay Kim terpental dan jatuh terjengkang tapi bajunya sendiripun menjadi robek. Thio Coei San adalah seorang yang tidak mengenal takut. Tapi kejadian-kejadian malam itu dan paras muka Touw Tay Kim adalah sedemikian menyeramkan, sehingga bulu romanya bangun semua. Dengan hati berdebar-debar, ia membungkuk untuk coba menolong, tapi Touw Tay Kim sudah melepaskan napasnya yang penghabisan. Sesudah mendapat luka berat, dorongan Coei San dan jatuhnya ditanah telah menghabiskan jiwanya.
"Bangsat!"
Teriak sipendeta.
"Kau!..... kau binasakan Soe hengku !"
Ia memutar badan dan terus kabur sekeras-kerasnya.
Coei San menghela napas panjang dan menggeleng gelengkan kepalanya.
Ia mendapat kenyataan, bahwa Ciok dan Soe Piauw tauw, yang kakinya masuk kedalam air, sudah mati lebih dulu.
Bukan main rasa dukanya pemuda itu.
Dengan Touw Tay Kim, ia tak mempunyai permusuhan apapun juga.
Ia hanya merasa jengkel karena dalam mengantar Jie Thay Giam, Cong piauw tauw itu sudah diabui orang dan menyerahkan samkonya kepada kawanan orang jahat.
Tapi sekarang melihat kebinasaan yang begitu menyedihkan, ia merasa sangat terharu dan kasihan.
Untuk beberapa saat, ia berdiri bengong.
Tiba-tiba ia ingat perkataan Cong piauw tauw itu yang mengatakan.
"aku hanya menyimpan tigaratus tahal emas, tapi aku sudah lantas berlaku begitu kejam" . Sebenar-benarnya, jangankan ia tak tahu hal itu, sekalipun tahu, ia pasti tak akan sembarangan membunuh orang. Ia segera membungkuk daa membuka buntalan yang diikat dipunggung Cong piauw tauw itu. Benar saja, dalam buntelan itu kedapatan beberapa potongan emas. Coei San jadi bertambah duka. Ia ingat kesukaran dan penderitaan seorang piauw tauw yarg mencari sesuap nasi dengan melakoni perjalanan li (peep. ???) dan setiap hari hidup diujung senjata. Tujuan satu-satunya adalah mengumpul sedikit uang untuk berjaga-jaga keperluan dihari tua. Uang itu sekarang menggeletak disamping Touw Tay Kim, tapi ia sudah tak dapat menggunakannya. Mengingat begitu, ia menghela napas. Ia ingat pula, bahwa ini malam, seorang diri ia telah mengalahkan tiga pendeta Siauw lim sie sehingga namanya naik tinggi dalam Rimba Persilatan. Tapi apa artinya itu semua? Pada akhirnya ia dan Tuow Tay Kim tidak banyak bedanya, yaitu berpulang ketempat baka. Tanpa merasa, sekali lagi ia melamun ditengah telaga. Mendadak terdengar suara khim. Ia mengawas kearah suara itu dan mendapat kenyataan, bahwa sastrawan yang tadi minum arak seorang diri di dalam perahu, yang sekarang yang menetik khim. Sesaat kemudian, dengan menuruti irama tabuh-tabuhan itu, ia menyanyi.
"Mendapat ilham, tenaga pit seolah olah menggetarkan Ngo gak, Syair rampung suara bersyair mencapai Ciang Cioe. Kalau nama dan kemuliaan terus berdiri tegak, Sangai Han soei seharusnya mengalir balik ke barat laut."
Coei San terkejut.
Suara itu yang merdu dan nyaring, seperti juga suara seorang wanita, sedang sajak mengenakan jitu isi hatinya.
Dilain saat, ia segera mengangkat kaki uatuk meninggalkan tempat itu, karena, jika perahu itu mendekati dan si sasterawan melihat ketiga mayat yang menggeletak disitu, dia mungkin berteriak dan mengakibatkan datangnya serdadu peronda.
Tapi baru ia bertindak, sastrerawan itu sekonyong-konyong menepuk khim dan berkata dengan suara nyarirg.
"Jika Heng tay (saudara) merasa senang untuk pelesir diatas telaga, mengapa Heng tay tak mau naik kesini?" . Sambil berkata begitu, ia mengebas tangannya dan tukang perahu yang duduk dikemudi lantas saja menggayu perahu itu ketepi telaga.
"Orang itu sedari tadi sudah belada diatas telaga sehingga mungkin sekali aku akan bisa mendapat keterangan berharga dari mulutnya,"
Pikir Coei San yang lalu turun dipinggir air.
Begitu perahu itu datang dekat, ia segera melompat kekepala perahu.
Dengan ilmu mengentengkan badannya yang sangat tinggi, lompatannya itu sedikitpun tidak menggoncangkan badan perahu.
Sisasterawan bangun berdiri dan sambil tersenyum, ia menyoja, akan kemudian menunjuk kursi supaya tamunya duduk.
Dengan pertolongan sinar tengtoleng Coei San mendapat kenyataan bahwa sastrawan itu kulitnya putih bagaikan susu dan pantasnya cantik ayu, sedang waktu ia bersenyum pada pipi kirinya yang agak kurus tertampak sebuah sujen.
Dipandang dari jauh, ia kelihatannya seperti seorang tongcoe yang tampan, tapi dilihat dari dekat, ia adalah seorang wanita muda belia yang mengenakan pakaian lelaki.
Sebagai murid Thio Sam Hong, Coei San telah diajar untuk mentaati sopan santun dan memegang keras peraturan pada jaman itu, mengenai pergaulan antara pria dan wanita.
Selama malang melintang dalam dunia Kangouw, Butong Cit hiap belum pernah dibikin mabok oleh kecantikan wanita.
Maka itulah, setelah mengetahui, bahwa sasterawan itu adalah seorang wanita, parasnya lantas saja berubah merah dan begitu bangun berdiri, ia segera melompat balik kedaratan.
Sambil menyoja ia berkata dengan sikap menghormat.
"Aku yang rendah tak tahu, bahwa nona adalah seorang wanita yang menyamar sabagai pria. Untuk kelancanganku, harap nona sudi memaafkan."
Tanpa menjawab, nona itu memetik khin seraya bernyanyi "Kejengkelan menghilangkan kegembiraan, kesepian menimbulkan kedukaan.
Terbang berputaran, memandang ketempat jauh.
Mencekal pedang, melompat ke atas perahu."
Mendengar nyanyian itu, yang mengundangnya untuk kembali keperahu, Coei San berkata di dalam hati.
"Malam ini aku telah bertemu dengan banyak soal sulit. Nona itu rupanya dapat membantu aku dalam usaha mencuci bersih segala tuduhan yang tidak-tidak."
Memikir begitu ia lantas saja bergerak untuk melompat kembali ke perahu. Tapi ia lantas mendapat lain ingatan.
"Ah! Aku belum mengenalnya dan ia begitu cantik,"
Pikirnya.
"Jika aku membuat pertemuan di tengah malam buta, namanya yang suci bersih bisa ternoda."
Selagi bersangsi, tiba-tiba ia dengar suara penggayu memukul air, dan perahu itu sudah bergerak ketengah telaga. Dilain saat terdengar bunyi khim yang diiring dengam nyanyian seperti berikut;
"Malam ini kuhilanag kegembiraan, Besok malam, belum ada ketentuan. Dibawah Liok ho tah, Yanglie melambai, perahu menunggu, Pemuda kesatria, Apa sudi datang kesitu ?"
Semakin lama perahu jadi semakin jauh, sedang nyanyian itu pun semakin sayup kedengarannnya, sinar tengloleng kelihatan seperti sebutir kacang dan kemudian menghilang dari pemandangan.
Pengalaman Thio Coei San pada malam itu sungguh-sungguh luar biasa.
Disaat ini, dia menghadapi pembunuhan, mayat dan pertempuran disaat lain, ia bertemu dangan wanita cantik, khim dan nyanyian merdu.
Lama juga ia berdiri ditepi telaga, seperti orang hilang ingatan.
Kemudian sambil menghelan napas, dengan tindakan lesu ia kerumah penginapan.
Pada esok harinya, pembunuhan hebat digedung Liong boen Piauw kiok dan ditepi telaga telah menggemparkan seluruh kota Lim an.
Thio Coei San yang gerak geriknya lemah lembut seperti seorang sasterawan tentu saja tidak dicurigai.
Baca Juga: Golok Sakti Chin Yung
Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta 6