Ceritasilat Novel Online

Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 1

Eps 1 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.

(Rajawali sakti dari langit selatan) Lanjutan Sin Tiauw Hiap Lu PENGARANG . CHIN YUNG SCAN & SBOOK . MANISE CONVERT & EDIT . HANSGRANTING, Dewi KZ dan MCH Final editor & Ebook by Dewi KZ

http.//kangzusi.com &

http.//dewikz.com

http.//kang-zusi.com2 Daftar Isi . Daftar Isi .

Jilid 01

Jilid 02

Jilid 03

Jilid 04

Jilid 05

Jilid 06

Jilid 07

Jilid 08

Jilid 09

Jilid 10

Jilid 11

Jilid 12

Jilid 13

Jilid 14

Jilid 15

Jilid 16

Jilid 17

Jilid 18

Jilid 19

Jilid 20

Jilid 21

Jilid 22

Jilid 23

Jilid 243

Jilid 25

Jilid 26

Jilid 27

Jilid 28

Jilid 29

Jilid 30

Jilid 31

Jilid 32 >>o0o^d!w^o0o<<4

Jilid 01 ANGIN Lamciu (Selatan) mendesir lembut, Bunga rontok keindahan bumi, Halimun lembut ringan sejuk, Mega tersenyum memandang gadis cantik, Baju merah, ikat pinggang kuning rambut disanggul, Sepalu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil, Tali khim, (Kecapi) tergetar oleh jari-jari lentik, Suara merdu mengiringi kicau burung, Senyum gadis cantik mekarnya bunga, Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia, Dewa-dewi di-selatan.

Bahagia dan abadi ....

, Syair diatas merupakan hasil sastra tulisan pujangga terkenal diawal pemerintahan dinasti Song, yang namanya dikagumi oleh rakyat Tionggoan karena keakhliannya untuk melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan.

Disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung kegagahan dan keabadian.

Pujangan itu berasal dari keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie meninggal tepat dihari ulang tahunnya yang ketujuh puluh empat.

Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk "Tan Gie Sin Thong"

Menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya5 kenegerinya.

Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu, bebaslah kota Hapciu, Cung king dan Siangyang.

Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong mengepung kota Siangyang selama puluhan tahun tanpa berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi pertempuran yang hebat sekali dimuka kota siangyang yang dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong (Tuli) dibulan dua, tahun ke-9, phiacu.

Penyerangan dilancarkan keberbagai pintu kota mendaki tembok dan membunuh banyak tentara kerajaan Song Walaupun diserang berulang-ulang.

kota tersebut tidak dapat dirampas.

Di tahun kui-hay, disaat itulah Kaisar Mangu (Hian Cong) terbunuh oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa jenasah Mangu pulang keutara, maka kota Siangyang bebas dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia.

Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan tersebut, dengan nama "Yo Ko"

Yang disanjung-sanjung sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti.

Tetapi Yo Ko menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orang-orang gagah akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan, dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka.

Dan dengan bebasnya kota Siangyang, suasana aman dan tenang kembali, rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun banyak puing-puing yang berserakan akibat dari pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.

Disaat rakyat berhasil hidup tenteram maka disaat seperti itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nada-nada kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan.

Dan yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari Hoan Lie Khe, pujangga besar itu.

Dan seperti yang terdapat6 dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu;

"Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di Selatan, bahagia dan abadi maka rakyat Siangyang pun menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara kerajaan Song itu bahagia tenteram dan kekal-abadi... Entah darimana asalnya, diluar kampung Wucuan-cung tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh rindang disebelah kanan dari pintu kampung tersebut. Sebetulnya, tidaklah luar biasa dengan adanya imam itu ditempat tersebut, karena memang biasa jika seorang yang tengah melakukan perjalanan dan beristirahat ditempat-tempat sejuk. Namun yang agak luar biasa adalah keadaan imam itu. Sanggulnya yang digantung merupakan sebuah sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi, rambutnyapun tampak agak kusut tidak karuan. Yang luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia empat puluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir yang lebar. Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan perasaan apapun juga. Matanya itu yang menatap lurus kedepan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati. Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci. Hudtim yang tercekal ditangan kirinya, tampak sudah agak kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok. Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu menggumam perlahan sekali;

"telah sepuluh jiwa...... telah sepuluh jiwa...... dan yang kesebelas akan tiba......" 7 Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya yang tidak bersinar seperti mata ikan itu bergerak-gerak tanpa arah, Dari arah pintu kampung tampak dua orarig anak lelaki kecil yang tengah main kejar-kejaran, suara mereka lantang dan nyaring sekali di selingi oleh suara tawa gelak diantara keduanya. Tetapi imam itu tidak menoleh sedikitpun juga. Dan ketika kedua anak lelaki yang masing masing berusia diantara delapan atau sembilan tahun itu melihat imam tersebut, mereka jadi tertarik, keduanya berhenti berlari dan mengawasi si imam dengan perasaan heran. Semakin lama, selangkah demi selangkah, mereka telah mendekati, dan akhirnya jarak mereka dengan imam itu hanya terpisah kurang lebih satu tombak.

"Totiang......"

Panggil salah seorang anak itu.

"Apakah totiang sudah makan?"

Imam itu melirik sejenak, dia menggeleng.

"Apakah totiang mau memakan kuwe keras ini ?"

Tanya anak itu lagi sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering, yang diangsurkan kepada Imam tersebut.

Imam itu tidak menyahuti, dia menyambut pemberian itu, lalu dimakannya, Dia pun tidak mengucapkan terima kasihnya.

Sekejap mata saja kuwe itu telah dimakannya habis.

Kedua anak lelaki kecil itu saling tatap satu dengan yang lainnya, dan yang tadi memberikan kuwe itu kepada si imam telah, bertanya lagi.

"Kalau totiang masih lapar, kami masih memiliki satu lagi ....."

Kata-kata itu disusul dengan dirogoh saku kawannya, dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering lainnya.

Dan kuwe kering itu telah diberikan kepada imam itu lagi.8 Imam itu telah menyambuti, dan seperti tadi dia telah memakan kuwe kering itu tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Tetapi baru memakan setengah kuwe tiba-tiba mukanya telah berubah pucat, tubuhnya agak menggigil.

Sisa kuwe yang separuh ditangannya itu telah dilemparkannya kesamping.

"Akhh, dia telah datang menyusul...!"

Menggumam imam itu.

Kedua anak lelaki itu tidak mengetahui apa yang dimaksud si imam hanya merasa sayang kuwe yang masih separuh itu telah dibuang begitu saja.

Si imam telah berdiri dengan cepat, tetapi sepasang kakinya agak menggigil gemetar.

"Anak-Anak, engkau baik sekali, kalau memang aku masih ada umur nanti aku akan mencari kalian untuk menyatakan terima kasihku. Dan imam itu telah mengibaskan hudtimnya kejubahnya yang dipenuhi runtuhan kuwe kering, katanya lagi seperti kepada dirinya sendiri;

"Tetapi harapan hidup tipis sekali mungkin akulah yang kesebelas ..."

Dan suaranya itu belum lagi habis diucapkan maka disaat itu dari arah telah terdengar suara siulan yang panjang dan menusuk pendengaran.

Suara siulan yang panjang itu berasal dari luar perkampungan di sebelah barat dari arah tegalan yang luas.

Kedua anak itu jadi heran bukan main mereka telah menoleh kearah datangnya suara siulan itu, tetapi mereka tidak melihat siapapun juga.

Si imam telah berdiri tegak, rupanya dia telah berhasil menguasai goncangan hatinya.

Dengan m-ia yang bersinar mati itu, dia telah memandang jauh ketengah tegalan.9 Suara siulan itu terdengar semakin keras dan dalam sekejap mata, dari arah.

tengah tegalan itu telah berlari-lari seperti bayangan sesosok tubuh, dan hanya beberapa detik saja sudah berada dihadapan si imam.

Gerakan orang yang baru datang itu sangat cepat, karena disaat dia mengeluarkan suara siulan yang panjang tadi.

tubuhnya belum tampak dan hanya diseling oleh sebuah siulan lagi, dia sudah berada dihadapan si imam.

Dengan sendirinya, hal itu membuktikan orang yang baru datang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali.

Kedua anak lelaki kecil penduduk kampung itu melihat, orang yang baru datang itu seorang gadis yang memiliki raut wajah sangat cantik memakai baju warna hijau dengan ikat pinggang merah dan rambut disanggul tinggi.

Ditangan.

gadis itu tercekal sepotong kayu panjang, yang ujungnya telah hitam seperti terbakar.

"Kui Im Cinjin ! Akhirnya engkau berhasil kucari !"

Kata gadis itu dengan suara yang nyaring. Muka imam itu tampak berobah muram, tampaknya disamping ketakutan, juga gusar dan penasaran, tengah mengaduk menjadi satu didalam hatinya.

"San Ciam Liehiap Bong Cun Lie !"

Kata si imam akhirnya dengar suara berputus asa "Aku memang menyadari tidak mungkin lolos dari tanganmu.

Kau terlalu mendesak, pinto memang tolol dan tidak memiliki kepandaian apa-apa, tetapi jika demikian, baiklah, silahkan ..

silahkan maju, mari kita mengadu jiwa !".

Si gadis yang dipanggil dengan sebutan San Ciam Lie Hiap (Pendekar wanita Penyebar Jarum) itu telah tertawa, merdu sekali suara tertawanya itu, enak untuk didengar.10

"Kui Im Cinjin,"

Katanya kemudian sambil memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh.

"Memang selama ini kalian pihak Ngociat-kauw (perkumpulan Lima Penjahat) ingin membela diri dengan segala macam alasan yang engkau miliki namun sekarang, walaupun bagaimana engkau seperti yang lain-lainnya tak mungkin terlolos dari tanganku. Kematian Hoan Lian Taisu harus dipertanggung jawabkan oleh kalian .."

Muka Kui Im Cinjin jadi berobah ketika mendengar perkataan tersebut, dia rupanya sudah tidak dapat menahan kemurkaan yang bergolak dihatinya, mukanya yang memang telah kuning pucat itu jadi semakin pucat dan kehijau-hijauan.

"Baiklah, pinto ingin mengadu jiwa dengan kau, perempuan siluman !"

Bentak imam itu, dan tanpa membuang waktu lagi, hudtim ditangan kirinya telah bergerak menuju kearah pinggang si gadis.

Hudtim merupakan senjata yang dapat dipergunakan oleh jago yang telah memiliki lwekang sempurna, karena bulu-bulu Hudtim itu dapat dibuat keras seperti godam kalau bulu-bulu itu bergabung menjadi satu, dan dapat di pergunakan juga untuk menotok, disamping itu bisa dibuyarkan sehingga bulu-bulu hudtim itu menyambar sekaligus keperbagai jalan darah di-sekujur tubuh lawan yang diserang.

Tetapi gadis itu, Bong Cun Lie, rupanya juga memang hebat, dia melihat datangnya sambaran hudtim si imam kearah pinggangnya, yang akan menotok jalan darah Sun-kie-hiatnya, cepat luar biasa dan mudah sekali, dia mengelakkan dengan menggerakkan pinggulnya sedikit saja, di susul dengan kayu yang ada ditangannya itu terayun akan menggempur batok kepala dari imam tersebut.

Kui Im Cinjin jadi mengeluarkan seruan tertahan, cepat sekali dia membatalkan serangannya dengan menarik pulang hudtimnya dan memiringkan kepalanya berkelit dari samberan kayu si gadis.

Tetapi serangan yang dilancarkan oleh San Ciam Liehiap Bong Cun Lie benar-benar luar biasa, karena disaat si11 imam berkelit dari serangannya jatuh disasaran yang kosong, cepat bukan main dia telah memutar tangannya, sehingga kayu di tangannya ikut berputar, dan berbalik arah menyambar kearah dada imam itu.

Serangan serupa itu memang merupakan serangan yang sangat luar biasa, tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang belum memiliki kepandaian sempurna.

Tetapi si gadis yang rupanya telah memiliki ilmu meringankan tubuh dan lwekang yang sempurna dapat melakukan serangan seperti itu dengan baik sekali.

Tentu saja si imam tidak menduga sama sekali bahwa dirinya akan diserang begitu rupa, maka dia telah merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya.

Mati-Matian imam itu telah berusaha mengelak serangan tersebut, karena imam itu menyadarinya jika sampai dirinya terserang, niscaya iga-iganya akan menjadi patah dan remuk.

Dengan mempergunakan "Tiat Pian Ko" (Jembatan Besi), dia telah merubuhkan dirinya kebelakang, dan kedua kakinya tetap menempel ditanah, tetapi tubuhnya terlentang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah.

Kayu si gadis telah lewat dua dim dari dadanya dan keringat dingin mengucur deras dari si imam dan dia cepat-cepat melompat berdiri begitu dirinya berhasil lolos dari serangan dahsyat tersebut.

Tetapi Bong Cun Lie tidak bekerja hanya sampai disitu saja, ketika melihat lawannya ber hasil mengelakkan serangannya itu dengan caranya yang manis, maka si gadis telah mengeluarkan suara dengusan mengejek, dan dia telah melancarkan kembali dengan mempergunakan kayu ditangan kanannya itu, disusul Oleh seruan.

"Terimalah ini."

Imam itu baru saja berhasil berdiri tetap, atau serangan si gadis she Bong telah tiba lagi, sehingga dia mengeluarkan seruan putus asa.

Tidak ada harapan lagi baginya untuk mengelakkan diri dari segala serangan kayu si gadis yang menyambar kearah dada sebelah kirinya berarti jika dia12 tergempur oleh serangan yang disertai oleh tenaga dalam yang kuat seperti itu jika tidak binasa sedikitnya dia akan bercacad.

Karena terlalu terdesak demikian rupa, akhirnya tojin itu menjadi nekad.

Dia tahu-tahu telah memutar Hudtimnya dengan gerakan yang cepat kearah atas, maksudnya mengibas kearah kayu Bong Cun Lie, menyusul mana tangan kanannya tahu-tahu akan mencengkeram dada sebelah kiri si gadis, yang akan dicengkeram keras dari kuat jalan darah Pai sie-hiatnya.

Kalau memang jalan darah Pai-sie-hiat didada kiri si gadis berhasil dicengkeram, walaupun si gadis memiliki kepandaian sepuluh kali lebih tinggi dari sekarang jelas, gadis itu akan rubuh binasa.

Si gadis telah mendengus ketika melihat cara menyerang imam itu, Dia berkelit kesamping kanan dengan gerakan mundur kebelakang beberapa dim, sehingga berhasil mengelakan serangan si imam.

"Serangan yang kejam!"

Dia berseru dengan suara yang dingin.

"Dan, rasakanlah jarum ku ini"

Si gadis telah membarengi suaranya itu dengan menggerakkan tangan kirinya, maka disaat itulah tampak empat sinar emas, meluncur kearah empat jalan darah terpenting ditubuh Kui Im Cinjin, yaitu Bong-su-hiat, Tiang-he-hiat, Kwan lu-hiat dan Tie-pie-hiat.

Dua jalan darah yang pertama terletak dibagian ketiak kanan, sedangkan kedua jalan darah lainnya terletak masing-masing dipinggang kiri dan kanan; Si gadis juga bukan hanya menyerang dengan jarumnya itu, dia telah membarengi dengan serampangan kayunya kearah batok kepala imam itu.

"Ahh"

Berseru imam itu putus asa.

Umpama kata dia memiliki kepandaian lima kali lebih hebat dari sekarang tentu dia tidak mungkin mengelakkan diri dari serangan Bong Cun13 Lie, karena serangan yang dilancarkan oleh si gadis she Bong itu benar-benar telah menutup jalan mundurnya imam itu.

Untuk menangkis, Kui lm Cinjin juga sudah tidak memiliki kesempatan.

"Yidak kusangka akhirnya aku harus binasa dengan cara demikian penasaran !"

Mengeluh imam itu, dan dengan putus asa dia memejamkan matanya, dia pasrah untuk menerima kematiannya, disaat mana tongkat kayu tengah meluncur, akan menghantam batok kepalanya, sedangkan keempat jarum emas yang dilontarkan San Ciam Liehiap tengah menyambar kearah empat jalan-darah terpenting ditubuhnya.

Kedua anak lelaki kecil itu yang berdiri dipinggiran hanya menyaksikan tanpa mengetahui bahwa si imam telah terancam kematian, keduanya hanya heran, tadi si imam dan si gadis telah bergerak-gerak cepat sekali bagaikan dua sosok bayangan, sehingga mereka jadi bengong menyaksikan dengan mata berkunang-kunang, mau mereka duga bahwa disaat itu mereka tengah menyaksikan tarian seorang dewa dan dewi yang turun dari kahyangan.

San Ciam Liehiap Bong Cun Lie melihat seranganya akan mencapai sasarannya, dia jadi girang bukan main, terlebih lagi dia melihat imam itu telah memejamkan matanya rapat-rapat.

justru dia telah menambahkan tenaga serangannya.

Sehingga jika kayu ditangannya itu berhasil mencapai sasaran, tentu kepala imam itu akan hancur lebur...

"Sungguh serangan yang baik sekali..."

Tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring yang terdengar disaat itu, disusul oleh suara "tring, tring tring", empat kali, lalu disusul terpentalnya sesosok tubuh.

Semua peristiwa itu terjadi hanya sekejap mata, si gadis she Bong itu jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu si imam telah lenyap dari hadapannya sehingga kayunya jatuh14 ditempat kosong.

Dan begitu juga keempat batang jarum emasnya itu telah runtuh diatas tanah.

Dengan gusar sekali, si gadis telah menoleh kesampingnya, dilihatnya Kui Im Cinjin tengah merayap berdiri, karena tadi disaat jiwanya tengah terancam bahaya kematian imam itu merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali sehingga tubuhnya terpental dan terpelanting ditanah, yang membuat dia terhindar dari sambaran kayu si gadis she Bong itu, dan terhindar dari keempat batang jarum maut lawannya.

Apa yang terjadi itu benar-benar diluar dugaan Kui Im Cinjin maupun Beng Cun Lie.

Begitu pula kedua anak lelaki yang sempat menyaksikan pertempuran itu diliputi keheranan yang mencengangkan mereka, sebab mereka melihat tahu-tahu si imam telah terlempar dan jatuh bergulingan ditanah.

Sungguh peristiwa yang membuat anak itu jadi memandang tertegun tanpa mengerti mengapa si imam telah membuang diri seperti itu.

Dengan sorot mata yang tajam, gadis itu telah menoleh ke sampingnya, kini baru dilihatnya seorang pemuda berpakaian sebagai Siucai (pelajar) warna putih, dengan kopiah hitam dan ditangannya tercekal kipas terbuat dari sutera, tengah duduk ditanah dengan sikap yang manis, karena selain wajahnya tampan dan senyumannya manis, matanya bersinar cemerlang.

"Jangan menurunkan kematian......dosa besar apakah yang telah dilakukan totiang itu sehingga nona demikian ganas ingin mengambil jiwanya ?"

Sapa pemuda itu, manis cara menegur gadis itu, Dia bertanya sambil menggerak-gerakkan kipasnya dan kepalanya kekiri dan kekanan.

Muka Bong Cun Lie berobah merah padam dia lalu mendengus dengan gusar.15

"Mengapa kau begitu usil mencampuri urusan kami ?"

Tanyanya dengan suara tak senang.

"urusan ini urusan penasaran, yang tidak ada sangkut paut dan hubungannya dengan kau ... harap engkau tidak mencampurinya..." . Pemuda pelajar itu telah tersenyum sabar, manis sekali sikapnya waktu dia bangkit perlahan-lahan.

"Kamu demikian cantik gagah dan perkasa, tidak kusangka jiwa dan hatimu kejam sekali, dalam urusan itu aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa, kenalpun tidak tetapi masakan aku harus berpeluk tangan mengawasi sepotong jiwa manusia yang ingin dibinasakan ? bukankah jiwa harus dibuat sayang.? "

Baik, baik."

Berseru si gadis dengan murka.

"Jika memang kau merasa sebagai pendekar yang baik hati dan tidak bisa menyaksikan kematian seorang bangsat, biarlah engkaupun bersama-sama dia pergi menghadap Giam-Ong!"

Dan si gadis bukan hanya membentak, karena tahu-tahu kayu yang ditangannya telah melayang, menyambar kearah dada pelajar itu dengan gerakan yang cepat luar biasa, karena si gadis telah menimpuk.

Begitu pula menyusul lima batang jarum emas menyambar lima jalan darah ditubuh pelajar itu.

Serangan yang dilancarkan oleh gadis itu luar biasa, karena, dia mengetahui pelajar itu memiliki kepandaian tinggi, yang telah disaksikannya tadi, dengan sendirinya dia tidak tanggung-tanggung dalam melancarkan serangan.

Tetapi pelajar itu berdiri tenang ditempatnya, dia hanya mengawasi datangnya serangan.

Disaat kayu yang meluncur itu hampir tiba, hanya terpisah beberapa dim lagi dari dadanya, pelajar itu mengibaskan lengan bajunya, maka seperti terdorong sebuah tenaga yang kuat, kayu itu telah terlontar mental kesamping menghantam batang pohon, sedangkan dengan kipasnya dia mengebut kelima jarum emas yang menyambar kearahnya.16 Kui Im Cinjin mengawasi peristiwa itu dengan mulut yang terpentang, karena dia kagum bukan main melihat kepandaian yang diperlihatkan oleh pemuda itu dengan sempurna sekali, walaupun usia pelajar itu mungkin baru dua puluh tahun, namun lwekangnya benar-benar sempurna.

Si gadis tidak kurang kagetnya, untuk sejenak dia jadi memandang tertegun ditempatnya.

Pelajar itu tersenyum, dia menggerak-gerakan kipasnya seperti juga tengah menikmati sejuknya angin dari kipasnya tersebut.

"Tidak mudah untuk membinasakan manusia."

Kata pelajar itu dengan suara yang tetap sabar.

"Sayang sekali, sungguh sayang...."

Si gadis she Bong tersadar dengan murka.

"Apanya yang sayang ?"

Bentaknya dengan, bengis.

"Nona demikian cantik, dan yang jelas tentu banyak pria yang bermimpi untuk mempersunting nona. Tetapi jika adat nona begitu buruk tentu mereka akan mundur sendiri dan tidak berani mendekati nona, Nah, jika terjadi begitu. bukankah harus dibuat sayang?"

Muka Bong Cun Lie jadi merah padam dan tubuhnya gemetar karena murka, yang tidak kepalang, dia menyadari pemuda pelajar itu tengah mengejek dia.

"Cisss !"

Dia telah meludah, dan membarengi dengan itu, tangannya bergerak lagi disusul oleh suara "serrr, serrr"

Berulang kali, kali ini dia melepaskan senjata rahasianya itu dengan mempergunakan kedua tangannya, belasan sinar kuning telah menyambar mengurung pelajar itu.

Tetapi pelajar itu membawa sikap yang tenang sekali, dia menggerak-gerakkan kipasnya berulang kali, maka setiap jarum yang menyambar kearah dirinya semua berhasil dipukul17 runtuh ketanah.

Hebat cara pemuda pelajar itu melayani serangan si gadis, Semakin lama, si gadis menyerang semakin penasaran, dan akhirnya dia berdiri diam tidak melancarkan serangan lagi, mengawasi mendelik lawannya, karena seluruh persediaan jarumnya telah habis, tidak satupun jarum emasnya berhasil mengenai sasaran.

Wajah si gadis jadi agak lucu, dibilang tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga tidak menangis.

Waktu tadi dirinya diserang terus menerus oleh si gadis, pelajar itu sambil berkelit dan mengibas dengan kipasnya tidak hentinya dia telah memuji dengan ejekannya ;

"Serangan yang bagus, sungguh berbahaya ! Bagus sekali ! Oh, benar-benar indah serangan ini !"

Tetapi begitu si gadis berhenti18 menyerangnya, si pemuda telah berhenti dengan guraunya itu, dia telah merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada si gadis.

"Aku yang rendah memang telah lancang mencampuri urusan nona, seharusnya memang itu adalah urusan nona selama tidak menyangkut urusan jiwa. Maafkanlah, Siauwte (adik) tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, telah begitu lancang menyambuti serangan nona"

Yang ternyata hebat luar biasa. Jika nona tidak berlaku murah hati, tentu jiwaku telah melayang...."

Waktu berkata-kata, pelajar itu memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh.

"Bolehkah Siauwte mengetahui she dan nama nona yang harum ?" , Si gadis mendongkol bercampur gusar, tetapi pelajar itu memiliki kepandaian yang hebat sekali, maka walaupun dia ingin berlaku nekad, tetapi tentu tidak ada faedahnya apa-apa. Maka akhirnya dia hanya dapat membanting-banting kakinya.

"Tidak perlu kau mengetahui namaku, tinggalkan namamu, kelak aku akan mencarimu untuk menyelesaikan urusan ini !"

Kata si gadis akhirnya.

"Siauwte she Cu dan bernama Kun Hong,"

Menyahuti pelajar itu.

"Perkataan"

Kelak akan mencari itu terlalu berat, Siauwte tidak berani menerimanya, karena pertama Siauwte dari golongan muda, juga bodoh dan tidak memiliki kepandaian istimewa."

Dada si gadis seperti ingin meledak mendengar jawaban pemuda pelajar itu. Karena jelas pelajar itu ingin mempermainkan dirinya dan mengejeknya, si gadis maksudkan dengar "Kelak akan mencari"

Dia maksudkan untuk mencari pemuda itu guna menuntut balas. Tetapi si pemuda sengaja pura-pura tidak mengerti maksud perkataan si gadis dengan "kelak akan mencari"

Itu seperti juga si gadis dari golongan muda ingin menyampaikan hormatnya kepada19 golongan tua. Tentu saja si gadis jadi murka bukan main. Pemuda pelajar itu Cu Kun Hong telah tertawa lagi.

"Baiklah, jika nona keberatan menyebutkan she dan memperkenalkan nama, Siauwte juga tidak memaksa, tetapi maukah nona memberitahukan murid siapa ?"

Tanyanya lagi.

"Apa perdulimu, tunggu saja dalam satu bulan, aku pasti akan mencarimu ... !"

Dan setelah berkata begitu, si gadis menoleh kepada Kui Im Cinjin yang tengah mengawasi dengan tertegun, mata si gadis mendelik lebar penuh kebencian, lalu dia memutar tubuhnya dengan beberapa kali lompatan dia telah berlalu dan lenyap dari penglihatan Imam itu cepat-cepat menghampiri penolongnya.

"Terima kasih atas pertolongan Siangkong, budi yang besar ini entah bagaimana caranya pinto membalas ..."

Kata Kui Im Cinjin sambil membungkukan tubuhnya dalam menjura memberi hormat kepada pemuda pelajar itu.

"Pinto Kui Im Cinjin tentu tidak akan melupakan budi besar itu...."

Si pelajar tersenyum, dia mengelakkan pemberian hormat dari si imam.

"Jangan berkata seberat itu, Totiang.

"Bukan kah sudah selayaknya jika kita tolong menolong?"

Kata pelajar itu.

"Siauwte tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, hanya mengerti cara mengipas untuk meruntuhkan jarum, itu tidak berarti apa-apa ...."

"Jika tidak ada Siangkong, mungkin pinto sudah tidak jadi manusia ...."

Kata si imam.

"Sungguh memalukan! Kalau diceritakan memang sungguh memalukan ..."

Kata imam itu.

"Mari kita masuk kekampung ini untuk mencari kedai arak, nanti disana pinto akan menjelaskan duduknya persoalan."

Pelajar itu mengangguk menyetujui usul dari si imam, dia telah mengiringi imam itu memasuki perkampungan itu.

Dan20 kedua anak lelaki yang tadi menyaksikan pertandingan yang terjadi diantara jago-jago rimba persilatan itu, telah cepat-cepat memunguti jarum-jarum emas milik Bong Cun Lie yang banyak berserakan ditanah, yang mereka simpan disaku dan kemudian melanjutkan permainan petak mereka saling kejar....

Tojin yang bergelar Kui Im Cinjin telah mengajak pelajar yang mengaku bernama Cu Kun Hong itu kesebuah kedai arak yang berada didekat pintu kampung.

Imam itu memesan dua kati arak untuk Si pelajar sedangkan dia sendiri duduk dengan sikap tenang, sambil sekali-kali melirik ke jendela.

Melihat sikap si imam, Kun Hong jadi memandang heran, dia menduga tentu ada sesuatu yang menggelisahkan imam itu.

"Totiang"

Panggilnya dengan disertai suara tertawanya.

"Sesungguhnya siapakah gadis yang tadi mengejar-ngejar Totiang?"

Si imam telah menghela napas dalam tampaknya dia benar-benar berduka sekali.

"Gadis itu bergelar Sam Ciam Liehiap, namanya Bong Cun Lie."

Si imam mulai dengan ceritanya "Sam Ciam Liehiap Bong Cun Lie?"

Berseru si pelajar dengan terkejut.

"Itulah seorang pendekar yang cukup terkenal dengan sepak terjangnya, terlebih lagi untuk bilangan Kwiecu. Mengapa dia bisa memusuhi totiang ?"

Si imam telah menghela napas panjang lagi, dia mengambil cawannya dan meneguk araknya perlahan-lahan.

"Sebetulnya, memang peristiwa ini diawali oleh sesuatu kesalah pahaman saja, sehingga akhirnya keempat saudara angkatku harus buang jiwa cuma-cuma dan enam sahabat karib harus menemui kematian dengan penasaran sekali......" 21 Datar suara si imam waktu berkata-kata, mungkin dia tengah diliputi oleh kesedihan yang sangat, tetapi cara dia berkata-kata begitu mengesankan, sehingga menimbulkan kesan bahwa urusan yang telah menimpanya merupakan urusan yang agak luar biasa, terlebih lagi dengan disebut-sebut jumlah sepuluh jiwa yang telah meninggal ..! Cu Kun Hong jadi tertarik, dan dia memasang telinganya baik-baik. Rupanya yang akan dikisahkan oleh imam itu merupakan urusan penasaran.

"Seperti diketahui oleh sababat-sababat rimba persilatan, bahwa pinto berasal dari pintu perguruan Ngo-ciat-kauw, yang semuanya berjumlah lima orang. Keempat saudara seperguruan pinto itu, semuanya juga mensucikan diri, masing-masing bergelar Kui San Cinjin, Kui Lie Cinjin, Kui Liong Cinjin. Kui Ban Cinjin dan pinto sendiri bergelar Kui Im Cinjin Kami walaupun menamakan pintu perguruan kami dengan nama yang kurang sedap didengar, yaitu Ngo-Ciat-kauw, tetapi hati kami berlima tidak buruk dan selalu berusaha mendirikan pahala dengan memberantas kejahatan dan membela yang tertindas.

"Tetapi, seperti juga urusan didalam dunia ini, yang selalu ada Im dan ada pula Yang, ada yang mencinta kami, tetapi ada juga yang tidak menyukai kami."

Sesungguhnya jika saja kami tidak terlalu usil, tentu kamipun tidak akan terlibat dalam urusan seperti hari ini.

Disaat mana kebetulan kami tengah berada di Kanglam, maksud kami memang ingin berpelesiran untuk menikmati keindahan daerah Kanglam.

Tetapi ketika tiba di pintu kota Wai-siang-kwan disebelah barat justru kami menyaksikan urusan yang tidak adil, yang mengganggu mata kami.

Disaat itu, kami melihat diluar pintu kota terjadi suatu pertempuran yang janggal bagi pendapat kami, yaitu seorang tosu tua yang telah lanjut usianya tengah dikepung oleh lima-orang hweeshio dan dua orang wanita, wanita yang seorangnya22 telah lanjut usianya, sedangkan wanita yang seorang lagi merupakan gadis cantik jelita.

Kami tidak bisa menyaksikan tosu tua, itu dikeroyok beramai-ramai seperti itu, jika akhirnya kami turun tangan juga, bukan berarti disebabkan si tosu sama-sama menganut agama To.

dengan kami, melainkan karena keadilan belaka.

Salah, seorang diantara kelima orang hwe-shio itu ada yang bergelar Hoan Lian Taisu yang memiliki kepandaian tertinggi diantara kawan-kawannya itu.

Dialah yang tergarang dan sulit diajak bicara.

Walaupun kami berusaha untuk mendamaikan dengan cara baik, namun mereka tidak mau mengerti dan akhirnya melibatkan kami dalam suatu pertempuran.

Begitu hebat pertempuran yang terjadi tidak bisa dicegah lagi, sehingga akhirnya terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan, kami kesalahan tangan sehingga Hoan Lian Taisu terbinasa.

Sejak saat itulah rombongan hweshio itu melakukan pengejaran terhadap kami!

Telah berulang kali kami berusaha untuk memberikan pengertian bahwa kematian Hoan Lian Taisu tidak disengaja, tetapi mereka itu tidak mau mengerti.

Dan setahun yang lalu itulah rombongan hweshio itu memperoleh bantuan seorang gadis yang bergelar Sam Ciam Liehiap, yang ke pandaiannya luar biasa, sehingga sulit untuk kami tempur keempat saudaraku telah dibinasakan dengan mudah dan menyedihkan sekali, dan aku yang berhasil meloloskan diri meminta bantuan Shantung Liokhiap (Enam Pendekar dari Shantung), namun keenam sahabat itupun terbinasa ditangan Sam Ciam Liehiap, dan tadi giliran pinto yang dikejar terus olehnya untung saja ada Siangkong yang telah menolongi ".

Setelah bercerita imam itu menghela napas sambil mengambil cawan, lalu menghirup araknya perlahan-lahan dengan mata yang kosong, karena dia teringat kematian saudara-saudara seperguruannya dan bagaimana menderitanya dia yang dikejar-kejar oleh lawan-lawannya,23 sehingga tidak sempat merawat dirinya yang menjadi mesum dan kumal begitu, karena dia selalu dikejar oleh perasaan ketakutan terus menerus.

"Lalu bagaimana dengan tosu tua yang kalian tolong itu?"

Tanya Kun Hong yang tertarik mendengar kisahnya si imam.

"Entahlah waktu kami menghadapi Hoan Lian Taisu dan kawan-kawannya dia telah mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Justru sampai saat sekarang ini aku masih belum mengetahui sesungguhnya tersangkut urusan apakah antara rombongan Hoan Lian Taisu dengan tosu tua itu, yang menjadi sesalanku adalah Kematian Hoan Lian Taisu yang menyebabkan salah paham ini semakin mendalam" . Baru saja Kun Hong ingin bertanya lagi, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang memasuki ruang kedai. Dia menoleh kearah pintu, dilihatnya seorang wanita setengah baya tengah melangkah masuk kedalam ruangan kedai dengan diikuti oleh seorang lelaki setengah baya juga, yang tubuhnya tegap dan gagah. Wajahnya tampan dan memancarkan sinar yang gagah disamping sepasang matanya yang tajam bersinar, memperlihatkan bahwa lelaki setengah baya itu memiliki lwekang yang sempurna. Disamping itu, si wanita setengah baya yang berjalan didepannya juga memperlihatkan sikap yang gagah, rambutnya di sanggul menjadi satu, walau usianya sudah cukup tinggi, namun wajahnya masih cantik, di samping itu dia memakai pakaian polos warna merah muda, dengan angkin putih. Keduanya mengambil meja disebelah kanan terpisah tiga meja dengan Kun Hong dan Kui Im Cinjin. Tetapi sama-sama Kun Hong masih sempat mendengar wanita itu berkata perlahan waktu ingin duduk dikursinya ;

"Engko Ceng, malam ini biarlah kita beristirahat disini saja dulu, besok baru melakukan pengejaran lagi ........" .24 Lelaki setengan baya yang dipanggil engko itu mengangguk tanpa bilang apa-apa. kepada pelayan dia memesan arak dan makanan. Sejak dua orang memasuki kedai arak ini, hati Kun Hong terkejut bukan main. Begitu juga saat dia mendengar wanita setengah baya itu memanggil si lelaki setengah baya itu dengan sebutan ‘engko Ceng', maka yakinlah Kun Hong kedua orang itu memang merupakan dua orang jago yang diduganya.

"Totiang, engkau akan tertolong dari kesulitanmu, tidak perlu kau bersedih terus"

Kata Kun Hong Kemudian, perlahan suaranya.

"hanya mau atau tidak mereka menolongmu, totiang....".

"Si ... siapa ?"

Tanya si tojin dengan sikap setengah percaya dan setengah tidak.

Dia menyaksikan kepandaian pemuda ini yang hebat sekali, yang berhasil merubuhkan Sam Ciam Liehiap tetapi jika pendekar wanita penyebar jarum itu datang bersama-sama dengan beberapa orang kawannya urusan menjadi lain dan belum tentu Kun Hong sanggup melindunginya.

"Engkau mendengar Kwee Ceng Taihiap?"

Tanya Kun Hong dengan suara yang perlahan juga.

"Ihh, pendekar besar itu?"

Tanya si imam terkejut.

"Ya, rupanya Thian mengetahui kesulitanmu sehingga orang gagah itu berada disini bersama isterinya,"

Menyahuti Kun Hong.

"Kau ... kau maksudkan Oey Yong Liehiap?"

Tanya si imam. Kun Hong mengangguk, dia bangkit berdiri.

"Kau tunggu dulu disini, biar aku menemui mereka,"

Katanya. Si imam jadi mengawasi tertegun, dia melihat si pemuda pelajar menghampiri tamu yang baru datang tadi, seorang pria setengah baya bersama wanita setengah baya.25

"Merekakah Kwee Ceng Taihiap dan isterinya Oey Yong Liehiap ?"

Menduga-duga Kui Im Cinjin dengan hati tergoncang.

Dia memang telah mendengar kebesaran nama Kwee Ceng dan Oey Yong yang seperti menggetarkan jagad yang merupakah jago tiada tandingan dimasa ini.

Tetapi si imam tidak mengenal kedua pendekar besar itu.

Cu Kun Hong telah menghampiri meja pria dan wanita setengah baya itu, dia merangkap kedua tangannya dan menjura memberi hormat.

"Boanpwe (tingkatan yang muda) Cu kun Hong mengunjuk hormat kepada kepada Kwee Taihiap dan Oey Liehiap."

Katanya dengan sikap yang hormat sekali. Lelaki setengah baya itu cepat bangkit mencegah hormat pemuda itu.

"Jangan banyak peradatan, jangan banyak peradatan,"

Katanya cepat.

"Engko Ceng kulihat engko kecil ini walau pun dari kalangan Boanpwe tetapi dia agak luar biasa"

Bilang si wanita setengah baya sambil tersenyum.

Pria setengah baya itu memang tidak lain, adalah Kwee Ceng dan wanita setengah baya yang bersamanya memang isterinya yaitu Oey Yong.

Mereka tengah melakukan pengejaran terhadap seseorang, dan kebetulan lewat dikampung ini, sehingga mereka singgah untuk minum dan mengisi perut.

Waktu itu Kwee Ceng telah mendorong perlahan agar Kun Hong batal memberi hormat kepadanya, tetapi akhirnya Kwee Ceng terkejut sendirinya, sebab tubuh Kun Hong tidak bergeming dan meneruskan gerakannya untuk membungkuk memberi hormat.

"Benar apa yang dibilang Yongjie, pemuda ini memiliki lwekang yang lumayan,"

Dan setelah berpikir begitu Kwe Ceng26 menambahkan sedikit tenaga mendorongnya, tubuh Kun Hong seperti terangkat sedikit, dan hampir terhuyung kebelakang.

Hati Kun Hong tambah kagum kepada pendekar besar tersebut, karena walaupun dia telah mengerahkan lwekangnya, tetap saja dengan mudah Kwe Ceng membatalkan pemberian hormatnya.

"Siapa gurumu tanya Kwee Ceng, dia memang polos dan tidak pandai bicara, maka setelah membatalkan si pemuda dengan hormatnya itu"

Dia langsung menanyakan guru si pemuda.

"Insu Bong Kwei Siansu, dimana dulu Insu sering menceritakan kegagahan Taihiap dan Liehiap. Sungguh beruntung hari ini Boanpwe bisa bertemu dengan jiewie locianpwe."

Menyahuti Kun Hong dengan sikap menghormat.

Kwee Ceng tak kenal guru pemuda itu, yang gelarnya baru didengarnya sekali ini.

Tetapi sebagai basa-basi, dia telah menyatakan bahwa telah lama dia mendengar nama terkenal Bong Kwei Siansu.

Senang hati Kun Hong karenanya.

"Apakah ada sesuatu yang bisa Boanpwe bantu jika Taihiap ada suatu urusan didaerah ini ?"

Tanya Kun Hong pula. Kwee Ceng menggeleng sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi berlainan dengan Oey Yong yang lincah telah menepuk lututnya sambil katanya dengan suara riang;

"Engko Ceng, mengapa kita tidak menanyakan kepada Cu Siangkong mengenai tosu Itu ?" . Kwee Ceng mengangguk, kemudian katanya;

"Cu Siangkong, sesungguhnya kami tengah mengejar seseorang, tetapi kami kehilangan jejak. Kami tengah mengejar seorang tosu yang memiliki urusan penting dengan kami, dan menurut penyelidikan yang kami lakukan, tosu tua, itu mengambil arah keutara, maka pasti diapun lewat dikampung ini. Apakah Siangkong pernah melihat disekitar daerah ini seorang tosu tua dengan cacad bekas bacokan dipipi kanannya, dan tanda-27 tanda lainnya yang menyolok adalah punggungnya yang agak bungkuk ?" . Cu Kun Hong seperti berpikir sejenak, lalu kitanya .

"Sayang sekali boanpwe belum pernah, bertemu dengan tosu yang taihiap maksudkan itu"

Suara si pemuda mengandung penyesalan.

"Biarlah, kami yakin akan berhasil menemui jejaknya."

Kata Kwee Ceng.

Sebetulnya Kun Hong tertarik ingin mengetahui urusan apakah yang tengah dihadapi pendekar besar ini sehingga mengejar-ngejar seorang tosu tua yang bercacad mukanya itu, namun Kun Hong tidak berani terlalu bertanya melit-melit.

"Kwee Taihiap dan Oey Liehiap,"

Kata Kun Hong kemudian.

"Sesungguhnya boanpwe ingin menyampaikan sesuatu yang tidak pantas, entah boanpwee boleh terus mengatakannya atau tidak?"

Kata si pemuda. Kwee Ceng tertawa manis.

"Katakanlah apakah kau tengah menghadapi kesulitan; engko kecil?"

Tanyanya.

"Sebetulnya bukan urusan boanpwe; tetapi totiang itu....."

Kata Kun Hong sambil menunjukkan kearah Kui Im Cinjin, Si imam yang ditunjuk segera menghampiri hormat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong.

Sedangkan Kun Hong telah menceritakan urusan yang telah menimpa diri Kui Im Cinjin, sehingga tosu itu selalu dikejar-kejar oleh lawan-lawannya yang terlalu mendesak, yang menyebabkan dia jadi tidak berdaya dan selalu ketakutan saja.

"Mungkin satu dua hari lagi Sam Ciam Liehiap akan datang mencari Kui Im totiang, maka bisakah Taihiap dan Liehiap mendamaikan urusan mereka ?"

"Sam Ciam Liehiap ? Akh, nama itu baru kudengar,"

Kata Kwee Ceng.28

"Nah engko Ceng, apa kubilang,"

Kata Oey Yong sambil tertawa.

"Bukankah sering sekali kukatakan bahwa angkatan muda yang sekarang telah bermunculan banyak sekali jago-jago muda yang penuh harapan ?"

Kwee Ceng hanya tersenyum, dia tidak tertarik dengan gurau istrinya, dengan bersungguh-sungguh dia telah menoleh kepada Kui Im Cinjin, katanya "Totiang.

sungguh menyesal bahwa justru kami tengah mengejar waktu untuk membekuk seseorang ...

tetapi kami bukan berarti tidak mau menolong kesulitan totiang.

Begini saja kita atur, aku akan menulis sepucuk surat meminta kepada Sam Ciam Liehiap dan kawan-kawannya, meminta agar mereka mau memandang muka kami dan untuk mengambil jalan bijaksana dalam urusan mereka dengan totiang.

Kukira jika mereka ingin memberi muka kepadaku tentu bisa menghabiskan permusuhan dengan totiang sampai disini saja ".

Tentu saja Kui Im Cinjin girang bukan main.

Nama Kwee Ceng telah menggetarkan seluruh rimba persilatan, siapapun tentu mengenal dan mengetahuinya.

Dengan ditulisnya surat pengantar oleh Kwee Ceng, jelas Sam Ciam Liehiap dan kawan-kawannya bersedia menyudahi permusuhannya dengan Kui Im Cinjin.

Itulah suatu pertolongan yang mimpipun sulit diharapkan.

Berulangkali Kui Im Cinjin menyatakan terima kasihnya.

Kwee Ceng meminta pelayan mempersiapkan kertas dan pit, lalu menulis sepucuk surat.

Sedangkan Oey Yong yang sejak mudanya memang terkenal nakal dan periang, telah mengajak Kun Hong bercakap.

Ada saja yang dibicarakannya, masalah-masalah rimba persilatan dikalangan golongan muda, Kun Hong pun senang sekali menjawab setiap pertanyaan nyonya yang hebat sekali kepandaiannya itu.

Selesai menulis suratnya, Kwee Ceng menyerahkannya kepada Kui Im Cinjin, yang menerimanya sambil mengucapkan29 terima kasihnya berulang kali.

Surat itu disimpannya baik-baik disakunya, karena surat itu merupakan surat wasiat yang bisa membeli jiwanya.

Dengan surat inilah Kui Im Cinjin bisa mengharapkan untuk hidup terus.

Kwee Ceng dan Oey Yong bersantap, selesai itu merekapun telah melanjutkan perjalanan mereka Sedangkan Kui Im Cinjin juga telah mengucapkan terima kasihnya kepada Cu Kun Hong pemuda pelajar itu, karena lewat pemuda inilah Kui Im Cinjin berhasil memiliki surat wasiat yang besar faedahnya, kemudian diapun pamitan Kun Hong telah melanjutkan sendiri meneguk araknya, hatinya senang sekali bisa menolong kesulitan yang tengah dihadapi Kui Im Cinjin.

Hari mulai gelap, dan setelah membayar harga makanan dan arak yang diminumnya, Kun Hong pun berlalu dari kedai arak itu.

Sambil bersiul-siul perlahan, dia menyusuri lorong yang akan menuju kerumah penginapannya yang terletak dipintu selatan kampung tersebut.

Wu Cuan Cung merupakan perkampungan yang cukup padat penduduknya, meliputi hampir seribu kepala keluarga, keadaannya yang ramai dan padat seperti itu memang Wu Cuan Cung menyerupai sebuah kota kecil.

Terlebih lagi letak Wu Cuan Cung merupakan lintas hidup untuk orang-orang yang berlalu lintas dari Kang-lam menuju Phangciu maupun Hangciu, tidak mengherankan jika perkampungan tersebut ramai sepanjang hari.

Sedangkan Kun Hong menikmati keramaian jalan yang dilaluinya, tiba-tiba didengar suara "Trak, trukk, trukk,"

Tidak hentinya waktu pemuda she Cu tersebut, mengangkat kepalanya, dia melihat pemandangan yang benar-benar mengherankan hatinya karena dari jurusan depan tampak mendatangi seorang wanita berpakaian compang camping30 tengah jalan dengan kaki diseret, dan sepatu rombengnya yang terseret itu menimbulkan suara "trakk, trukk,"

Tidak hentinya.

Keadaan wanita itu mesum dan kotor sekali, karena takut bertabrakan dengan wanita mesum itu, Kun Hong telah melompat ketepi jalan.

Saat itu jarak antara wanita yang berpakaian seperti pengemis itu, dengan rambut yang diriap turun terurai dibahunya dan sebagian menutupi mukanya, hanya terpisah satu tombak lebih dengan tempat dimana Kun Hong berada tentu saja gerakan pemuda itu dilihatnya dengan jelas.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi, disaat berada dihadapan Kun Hong, wanita berpakaian seperti pengemis itu menghentikan langkah kakinya berdiri tegak dan mengeluarkan suara haha hihi.

"Anak yang cakap, anak yang tampan."

Kata wanita yang jorok itu sambil mengulurkan tangannya yang kotor penuh daki dan debu itu ingin mengusap muka Kun Hong.

Pemuda she Cu itu mendongkol bukan main, mana mau dia membiarkan mukanya diusap oleh tangan yang kotor seperti itu?

Dengan cepat Kun Hong telah memiringkan kepalanya kekiri dengan gerakan yang gesit sekali.

Tetapi diluar dugaan pemuda she Cu itu.

di saat Kun Hong berkelit dengan gesit, tangan wanita itu lebih gesit lagi, tahu-tahu telah berhasil mengusap muka Kun Hong, keruan Kun Hong menggidik karena tangan wanita itu bukan hanya kotor, tetapi dingin lengket seperti tangan mayat.

"Kurang ajar ... !"

Bentak Kun Hong sambil melompat mundur kaget.

"Jangan kurang ajar .."

"Hihihi, anak manis, aku tidak akan galak-galak kepadamu "

Dan wanita itu telah maju lagi dua langkah, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pula.

Kun Hong jadi kelabakan sendiri, dia kewalahan menghadapi wanita yang seperti sinting ini tanpa berpikir lagi31 dia memutar tubuhnya sambil mementang kaki lebar-lebar untuk berlalu dengan cepat meninggalkan wanita sinting itu.

Tetapi Kun Hong jadi tambah terkejut, karena walaupun bergerak cepat, tangan wanita itu bergerak lebih cepat lagi, tahu-tahu ujung bajunya telah berhasil dicekal oleh wanita sinting itu, dan yang mengejutkan Kun Hong bercampur malu justru disaat itu wanita sinting tersebut telah menjerit-jerit sambil menangis.

"Jangan tinggalkan aku .... ooohh, koko. cakap, engko yang manis, jangan kau tinggalkan aku mengapa kau demikian kejam ?"

Muka Kun Hong jadi berobah merah dan panas, darahnya jadi meluap naik karena dia malu sekali ditonton oleh beberapa orang penduduk yang kebetulan berada dijalan tersebut, yang telah berhenti sejenak untuk menyaksikan peristiwa tersebut.

Mereka tertarik karena mendengar tangisan perempuan sinting itu.

Dengan cepat Kun Hong telah menabas dengan tangan terbuka, tabasannya walaupun di sertai hanya tiga bagian tenaga dalamnya, tetapi hebat sekali.

Dia yakin jika tangan wanita itu berhasil ditabas, tentu cekalannya akan dilepaskannya dan dia akan segera meninggalkannya secepat mungkin.

Tetapi Kun Hong kembali kaget bukan main, karena justru disaat tangannya hampir tiba disasaran, tahu-tahu wanita sinting itu telah melepaskan cekalannya dan dia telah menarik tangannya, sehingga tabasan Kun Hong mengenai tempat kosong.

Namun membarengi dengan itu, disaat itulah dia telah mengulurkan tangan pula untuk menjambret dan mencekal ujung baju Kun Hong, yang dicekalnya lagi dengan kuat dan tetap menangis.

Tentu saja Kun Hong jadi penasaran sekali dengan cepat dia menambah tenaganya dan telah menjejakkan kakinya; dia melompat untuk menarik jubahnya yang tercekal wanita32 sinting itu, kemudian jika digentak dengan sentakan.

keras, niscaya cekalan wanita itu akan terlepas.

Tetapi yang membuat Kun Hong jadi lebih kaget lagi, justru disaat dia melompat, tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia hanya melompat tetap ditempatnya, karena cekalan tangan dari wanita sinting itu tidak bergeming sedikit pun juga, sangat kuat sekali.

Kenyataan seperti ini benar-benar telah mengejutkan hati Kun Hong.

Disaat itulah dia yakin bahwa wanita sinting yang tengah dihadapinya ini bukan wanita sinting sembarangan, karena dari cara-cara dia mengelakkan tabasan tangan Kun Hong dan cekalannya yang kuat itu, dia tentu memiliki kepandaian yang luar biasa.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi tertawa.

Jumlah orang yang menonton semakin lama jadi semakin banyak, dan Kun Hong merasakan pipinya seperti terbakar panas sekali.

Tetapi disamping gusar, Kun Hong juga jadi penasaran sekali.

Dia telah mengeluarkan kipasnya, yang tahu-tahu telah menyambar kearah mata wanita sinting itu, Untuk menggertaknya, untuk mengancam biji mata dari perempuan sinting itu, memaksanya agar wanita sinting itu melepaskan cekalannya.

Kipas dalam keadaan tertutup seperti itu, memang ujungnya bisa dipergunakan menohok jalan darah, dan Kun Hong dalam bertindak kali ini tidak tanggung-tanggung, karena dia tengah gusar sekali, disaat ujung kipas itu menyambar mengancam biji mata kanan darir wanita sinting itu maka gagang kipas yang ada didalam cekalannya itu dapat pula menotok jalan darah ditenggorokkan wanita sinting itu jika dia berhasil mengelakkan diri dari totokan ujung kipas tersebut.33 Tetapi wanita sinting itu rupanya tidak memperdulikan serangan pemuda itu, dia masih tetap.

mencekal baju si pemuda she Cu itu dengan, disertai rengekannya "Jangan, tinggalkan aku anak tampan...jangan kejam begitu...!"

Dan disaat ujung kipas hampir sampai disasaran, dengan gerakan yang wajar, bagaikan tidak disengaja wanita sinting itu menengadahkan kepalanya, tahu-tahu dia telah menggigit ujung kipas itu.

Kun Hong jadi terkejut sekali, dia telah mengeluarkan seruan tertahan.

Dan dia berusaha menarik kipasnya itu, namun sudah terlambat, karena kipas itu telah tergigit dan tidak bisa di tarik kembali, karena gigitan dari wanita sinting itu kuat sekali.

Dengan penasaran Kun Hong telah mengerahkan tenaga dalamnya dilengannya.

dia menarik sekali lagi.

Disaat itulah wanita sinting itu melepaskan gigitannya, maka tidak ampun lagi tubuh Kun Hong terhuyung hampir terjengkang kebelakang.

Untung saja dia bergerak gesit, dia berusaha menguasai kuda-kudanya agar tidak tergempur berdiri tidak sampai rubuh ditanah.

Justru dalam keadaan seperti itu, Kun Hong lebih kaget lagi, karena tiba-tiba wanita sinting itu telah menubruk memeluk Kun Hong.

tentu saja, gerakan seperti itu telah membuat Kun Hong jadi menitikkan keringat dingin, kalau sampai dirinya terpeluk oleh wanita sinting yang mesum dan kotor itu, alangkah malunya dia.

Dan disamping itu, bau busuk yang keluar dari tubuh perempuan mesum itu benar-benar membuat dia hampir muntah, karena jarak mereka memang terpisah tidak jauh.

Mati-matian Kun Hong menjatuhkan dirinya ditanah kemudian bergulingan untuk menjauhkan diri dari wanita sinting itu.34 Karena pelukannya gagal, wanita itu tidak mengejarnya hanya menjatuhkan dirinya duduk sambil menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya.

"Kau kejam .. kau kejam .. !"

Samar terdengar suara keluhan wanita sinting itu.

Kun Hong sudah tak memperdulikan sesuatu apapun lagi, dia telah mementang langkah secepat mungkin, dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh; dia telah berlari sekuat tenaganya.

Setelah sampai di tikungan dengan hati yang masih tergoncang dia telah melirik dan melihat wanita sinting itu tidak mengejarnya, hatinya baru lega, dan dia menyusut keringat dinginnya.

Tetapi walaupun wanita sinting itu tidak mengejarnya, Kun Hong tidak berani berhenti dia berlari terus dan akhirnya tiba dirumah penginapannya, langsung masuk kamarnya, dan rebah dipembaringan dengan hati yang masih tergoncang.

Kun Hong juga tidak habis mengerti, sesungguhnya siapakah wanita sinting itu, yang telah mengganggunya tanpa sebab.

Jika melihat cara wanita itu mengelakkan serangannya dan juga telah mencekal bajunya, maka terlihat jelas bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan.

Tetapi jika dia memiliki kepandaian yang lumayan tingginya seperti itu, mungkinkah dia sinting?

Dilihat dari gerakannya mengelakkan totokan ujung kipas Kun Hong dan digigitnya.

Setidak-tidaknya kepandaian wanita sinting itu berimbang dengan kepandaian Kun Hong.

siapa dia ?.

Disaat Kun Hong tengah rebah dengan pikiran yang melayang-layang seperti itu, tiba-tiba dia mendengar;

"Anak yang manis .. anak yang tampan, anak cakap, jangan tinggalkan aku .. jangan kejam begitu, anak ... !"

Darah Kun Hong seperti berhenti, mendesir jantungnya berdegup keras sekali, karena dia segera mengenali bahwa35 suara itu adalah suara wanita sinting yang telah mengganggunya beberapa saat yang lalu.

Tentu saja Kun Hong tidak berani untuk keluar dari kamarnya, setidak-tidaknya bukan disebabkan perasaan takut, tetapi dia tidak ingin berurusan dengan wanita sinting yang mesum seperti itu.

Perlahan-lahan Kun Hong turun dari pembaringannya tetapi baru kakinya menyentuh lantai justru disaat itu dia telah mendengar lagi.

"Anak manis, ahh, anak manis ........." , sehingga Kun Hong telah ragu-ragu untuk menuju kepintu, untuk mengintai. Namun disaat itu Kun Hong mendengar suara tertawa yang riuh dari orang-orang yang mungkin tengah menonton tingkah laku wanita sinting itu Kun Hong perlahan-lahan mendekati pintu kamarnya, dia telah membukanya dan mengintai keluar dengan membuka sedikit daun pintu kamarnya. Dugaan Kun Hong memang tidak meleset, karena dilihatnya wanita sinting itu tengah mengusap-usap muka seorang pelayan yang tertawa lucu mempermainkan wanita sinting itu, diiringi oleh suara ramai dari pelayan-pelayan lainnya maupun pengunjung rumah penginapan tersebut. Disaat itu Kun Hong melihat ada seorang pelayan yang tengah mendatangi kearah kamarnya dengan membawa satu baskom dan handuk. Dan pelayan itu mengetuk kamar Kun Hong. Pemuda itu dengan cepat membuka pintu kamarnya.

"Siapa wanita sinting itu tanya Kun Hong setelah pelayan itu meletakkan tempat air mencuci muka diatas meja.

"Wanita gila anak, Kongcu."

Menyahut pelayan itu.

"Nasibnya memang harus dikasihani, karena semula dia adalah seorang nyonya kaya raya, pandai silat, namun suatu malam rumahnya didatangi perampok yang telah membunuh suaminya dan puteranya, sehingga dia menjadi gila, dan justru selalu gila akan anak yang cakap anak yang manis......" 36 Kun Hong mengangguk tidak tertarik untuk mendengari terus cerita pelayan itu. Setelah pelayan itu keluar dari kamarnya Kun Hong mengunci pintu kamarnya kembali. Untuk segera mencuci muka dia masih malas, maka dia telah rebah dipembaringannya tanpa memperdulikan lagi suara tertawa wanita sinting itu karena wanita itu memang benar-benar seorang wanita gila. Dengan dia berada dikamar dan pintu terkunci, bukankah berarti dia aman dari gangguan wanita sinting dan mesum itu. Tetapi, tiba-tiba mata Kun Hong jadi terpentang lebar-lebar dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada suatu yang luar biasa telah dilihatnya. Seraut wajah yarg menyeringai dengan gigi yang kuning dan muka yang kotor serta rambut yang riap-riapan, tengah memandangi dia lewat jendela kamarnya. Wanita sinting itu! Dengan gusar Kun Hong telah melompat dari pembaringannya, dia telah mundur akan lari lewat pintu kamarnya.

"Anak manis, mengapa kau takut bertemu dengan ibumu?"

Tegur wanita sinting itu yang memang berdiri diluar jendela kamar Kun Hong.

Munculnya wanita sinting itu yang demikian tiba-tiba benar-benar membuat Kun Hong jadi kaget dan ketakutan, takut diusap dan dipeluk lagi.....

Cepat sekali Kun Hong menyambar pintunya tetapi disaat itu dengan gerakan yang ringan sekali, wanita sinting itu telah melompat lewat jendela kamarnya.

Dalam sekejap mata dengan, kegesitan yang luar biasa tahu-tahu dia telah berada didepan Kun Hong.

sehingga pemuda she Cu itu mengeluarkan seruan kaget dan tangan kanannya telah mendorong sekuat-kuatnya dengan mempergunakan tenaga lwekangnya.

Namun wanita sinting, itu tidak mengelak, dan tangan Kun Hong meluncur terus.

Tetapi justru, disaat itulah Kun Hong37 yang jadi kaget sendirinya, karena jika serangannya itu diteruskan dan wanita itu tidak berkelit, berarti dada wanita sinting akan didorong oleh tangannya.

Itulah yang tidak dikehendaki oleh Kun Hong, maka dengan cepat dia telah menarik pulang tenaga dan tangannya.

Wanita sinting itu justru tidak memperdulikan sikap Kun Hong, dia telah mengulurkan tangannya mencekal lengan Kun Hong, katanya "Anak, engkau jangan takut, ibu tidak akan mengganggumu Tubuh Kun Hong menggidik.

Biasanya, walaupun harus menghadapi jago yang bagaimana hebat sekalipun kepandaiannya Kun Hong tidak pernah merasa takut namun justru terhadap wanita sinting ini, mengingat wanita itu memang gila, dia jadi takut, ngeri dan gugup disamping jijik sekali...

"Anak.....tidakkah kau merasakan penderitaan ibu? Mengapa kau begitu kejam ingin meninggalkan ibu?"

Tegur wanita itu lagi, suaranya halus. Hati Kun Hong jadi luluh dia tidak tega untuk meronta, akhirnya dia menyahuti;

"Tetapi aku bukan anakmu...."

"Jangan berkata begitu anakku.... jangan kau lukai pula hati ibu,"

Berkata wanita sinting itu cepat.

Dan setelah itu, wanita sinting tersebut bersenandung dengan suara penuh kasih sayang, seperti juga tengah menina bobokan anaknya, senandungnya itu antara lain .

Kain sutera merah, Pasangan Wanyoh (walet terbang), Langit biru tertawa cerah, Si mungil yang menarik hati,38 Buah hatiku.

Tumpahan kasih, Angin membawa bisikan.

Tidurlah anakku.

Mengapa kau menangis saja ?

Tidurlah anakku ...

==oo0dw0oo==

Jilid 02 LEMBUT sekali nyanyian wanita sinting itu sehingga Kun Hong jadi terharu.

Betapa tidak, wanita ini memang, benar sinting, tetapi sepotong hati didadanya yang masih dimilikinya telah hancur, dan terluka oleh perbuatan.

biadab perampok-perampok yang telah merusak rumah tangganya membinasakan suaminya dan membunuh anaknya.

Betapa tidak pedih hati wanita ini.

Hati Kun Hong jadi lemah akhirnya, dia membiarkan wanita itu.

memegangi tangannya terus.

"Anak"

Tiba-tiba wanita itu telah memecahkan kesunyian yang menghanyutkan.

"Engkau kini sudah besar, cakap, tampan, betapa bahagia hati ibu."

Tetapi setelah berkata begitu, tiba-tiba kumat lagi gilanya, dia tahu-tahu telah tertawa haha hihi dan mengulurkan tangannya mengusap lembut pipi Kun Hong disertai kata-kata gilanya.

"Anak cakap... anak manis, jangan tinggalkan ibu.... hahaha-hihihi....."

Kun Hong menggigil menggidik setidak-tidaknya dia merasa jijik bukan main.

Tetapi mengingat wanita ini gila karena kematian anak dan suaminya, dan gilanya itu karena kehancuran rumah tangganya.

Kun Hong jadi tidak tega untuk39 melukai hatinya, dia membiarkan wanita itu mengusap pipinya!

Tetapi melihat pemuda itu tidak berusaha mengelak dari usapannya, justru wanita sinting itu telah menjatuhkan dirinya duduk numprah dilantai, dan dia menangis keras sekali, terisak-isak tidak hentinya Di muka jendela, tampak telah banyak kepala manusia yang menyaksikan semua peristiwa itu sambil tertawa haha hihihi karena mereka anggap sebagai pertunjukan yang lucu menggelikan hati.

Tentu saja Kun Hong jadi gusar muncul sifat ksatrianya "Kalian manusia-manusia tidak bermartabat dan kejam!.

Lihatlah oleh kalian Wanita ini harus dikasihani dia telah terganggu syarafnya, tetapi bukannya menghibur dan diobati justru kalian mempermainkannya.

Begitu tegakah kalian?"

Mendengar makian Kun Hong, rupanya orang-orang yang berkumpul diluar jendela menjadi malu sendirinya dan telah bubar. Kun Hong berjongkok disamping wanita sinting itu, katanya;

"Peebo (bibi) engkau terlalu letih, pergilah beristirahat. Biarlah aku pergi membelikan pakaian untukmu, nanti kau salin pakaianmu itu!"

Tetapi wanita sinting itu tiba-tiba mendelik ke arahnya dan tertawa menyeringai mengerikan.

"Ohhh. kalian manusia-manusia bangsat kalian, pembunuh, kalian manusia bejat hahhaai hihi" . Dan wanita itu telah menerobos membuka pintu dan berlari-lari keluar. Kun Hong tidak mengejar, dia menghela napas panjang entah mengapa kini dia merasa kasihan terhadap nasib wanita itu. Setelah mencuci muka, Kun Hong sengaja keluar dari kamarnya untuk mencari wanita sinting itu. Tetapi tidak40 melihatnya bayangan wanita sinting itu, begitu pula waktu dia mencari-cari dijalan raya, wanita sinting itu tidak terlihat mata hidungnya. Menjelang tengah malam, Kun Hong baru kembali kerumah penginapannya. >>o0o^d!w^o0o<< KEESOKAN paginya. disaat Kun Hong baru terbangun dari tidurnya, justru disaat itu dia mendengar suara tangisan. Itulah suara tangisan wanita sinting yang kemarin, yang telah kematian suami dan putranya. Suara tangisan itu berasal dari kamarnya, mungkin wanita yang bernasib malang itu tengah dipermainkan oleh para pelayan rumah penginapan itu lagi. Kun Hong melompat turun dari pembaringannya dan cepat-cepat mencuci muka. Dia telah bersalin pakaian, dan keluar dari kamarnya. Benar saja, dugaan Kun Hong tidak meleset dia melihat beberapa orang pelayan tengah mengodai wanita sinting itu yang tengah duduk numprah didekat pintu rumah penginapan tersebut, sambil memperdengarkan suara isak tangisnya yang cukup keras. Kun Hong cepat-cepat menghampiri dan pelayan-pelayan yang tengah menggodai wanita sinting itu waktu melihat Kun Hong cepat-cepat menyingkir. Kun Hong dengan suara yang sabar dan lembut ramah "Apakah kau sudah makan? Jika belum makanlah! Aku yang akan membayar semuanya" . Tetapi wanita sinting itu tidak menyahuti, dia tetap menangis tidak hentinya, hanya kepalanya digeleng-gelengkan kesana sini, dia tengah tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa. Kun Hong berusaha membujuknya beberapa kali, tetapi wanita sinting itu tetap dengan tangisannya. disaat itulah, dari41 arah jalan raya diluar rumah penginapan terdengar suara derap langkah kaki kuda. Dan tiga ekor kuda tunggangan berhenti dimuka rumah penginapan. Tiga orang tua yang bertubuh tinggi tegap itu, memakai baju ringkas dan wajah yang ditumbuhi brewok yang tebal kasar menyeramkan karena garang telah melangkah masuk kedalam ruangan penginapan itu. Waktu ingin melewati pintu, justru wanita sinting itu menghalangi jalan mereka, dengan duduknya dia disitu. Dengan gusar salah seorang diantara ketiga orang itu, yang ditengah telah menggerakan kaki kanannya menendang keras sekali disertai dengan makinya.

"Perempuan sial......? Anjing geladak mana yang mengotori tempat ini?"

Tendangan itu hebat sekali dan tubuh wanita yang bernasib malang tersebut segera saja terpental ambruk dilantai sebelah dalam.

Tangisnya jadi semakin keras juga.

Menyaksikan kekasaran orang yang baru datang itu, tentu saja Kun Hong jadi gusar bukan main, darahnya jadi meluap.

Cepat sekali pemuda itu telah berdiri dengan mata yang terpentang lebar.

Dia juga telah membentak dengan penuh kemarahan.

"Kalian manusia-manusia tidak tahu malu yang telah menghina manusia lemah tidak berdaya......!" . Mendengar makian seperti itu, ketiga lelaki bertubuh tegap berewok itu telah tertegun sejenak, kemudian mereka telah saling pandang satu dengan yang lainnya diantara mereka bertiga diakhiri dengan suara tertawa bergelak dari mereka.

"Ohh, pemuda bau kencur, apakah kau tidak mengenal kami ini bertiga siapa ? Kami adalah Cauwcong (kakek moyang) mu !"

Bentak lelaki berewok yang tadi telah menendang wanita sinting itu.

Kun Hong tertawa dingin dia tidak memandang sebelah mata ketiga orang itu, sedikitpun dia tidak takut, terlebih lagi42 melihat perbuatan ketiga orang itu yang tidak pada tempatnya.

"Aku tidak perlu mengenal manusia-manusia bejat moral seperti kalian... !"

Bentak Kun Hong dengan suara yang dingin.

"Disamping itu, memang kenyataannya kalian hanya pantas menjadi Cauwcong dari kucing atau anjing"

Hebat ejekan yang dilontarkan oleh Kun Hong. membuat muka ketiga orang itu jadi berubah merah padam karena gusar.

"Ohh pemuda tidak tahu diuntung dan tidak mengenal mampus !"

Memaki ketiga orang itu hampir serentak.

"Kami Sam Kiam Hun (Arwah tiga pedang) tidak pernah menerima kata-kata hinaan seperti itu ! Walaupun tubuhmu dirobek-robek, belum dapat membayar lunas hinaanmu itu !" . Dan membarengi dengan perkataannya itu, lelaki berewok yang seorang tersebut telah mementang langkahnya dan dia telah menghampiri Kun Hong, dan kedua tangannya telah dipentang untuk menyambar mencengkeram lengan pemuda she Cu tersebut. Cu Kun Hong yang memang sejak tadi telah bersiap sedia penuh kewaspadaan, telah memperdengarkan suara tertawa dingin kemudian dia telah menggeser kakinya sedikit lalu berkelit ke-samping. loloslah cengkeraman tangan orang berewok itu. Tentu saja orang itu. Sam Kiam jadi mengeluarkan seruan murka disertai juga oleh serangan berikutnya, Tangan kirinya menghantam kuat kedepan, sedangkan tangan kanannya telah mencengkeram. Itulah gerakan "Jie Liong Cut Hay"

Sepasang Naga Keluar dan Lautan, gerakannya gesit dan dia juga memiliki tenaga latihan gwake yang bukan main besarnya.43 Dengan sendirinya, serangan itu jika mengenai sasarannya dengan tepat, niscaya tubuh lawannya akan terpental dan hancur seluruh tulang rusuknya.

Tetapi walaupun demikian, Kun Hong tidak merasa takut sedikitpun juga.

Dengan mendengus dingin, Kun Hong tidak berusaha berkelit dengan mempergunakan tenaga dalam yang telah disalurkan kepada kedua lengannya, dia telah melancarkan serangannya itu dengan kibasan.

"Trakkk!"

Tangan mereka telah saling bentur dengan kuat sekali dan disusul juga oleh suara seruan tertahan dari orang berewok itu, karena dia merasakan betapa tangannya tergetar dan kuda-kudanya tergempur.

Kalau orang berewok itu tidak cepat-cepat mengempos semangatnya, niscaya tubuhnya akan terdorong kebelakang terjengkang kelantai.

Sedangkan Kun Hong juga kaget bukan main karena dia merasakan tenaga serangan yang dilancarkan oleh lelaki berewok itu tidak bisa di remehkan, tenaga itu beratnya hampir tiga ratus kati, dan kalau saja dia tidak menangkisnya dengan baik tentu bisa menyebabkan Kun Hong terluka dalam.

Kenyataan seperti ini, membuat Kun Hong bersikap jauh lebih hati-hati lagi.

Dan disaat melihat si lelaki berewok itu bersiap-siap untuk melancarkan serangan pula, Kun Hong mengawasi dengan penuh waspada Sedangkan kedua lelaki berewok lainnya, telah menerjang maju, mereka melihat Kun Hong memiliki kepandaian yang lumayan dan saudaranya itu tidak bisa merubuhkan dengan mudah dan cepat, maka karena mereka tidak ingin membuang-buang waktu, keduanya telah menerjang maju untuk membantui kawannya itu.

Dengah majunya kedua lelaki berewok itu, memang Kun Hong kini sekaligus menghadapi tiga lawan yang tidak ringan.

Dia telah bersiap-siap untuk menyambut serangan.

Karena dia44 gusar sekali melihat tindakan lelaki berewok itu yang telah main tendang kepada wanita sinting itu.

Tetapi, disamping itu, Kun Hong bukannya tidak menyadari akan bahaya yang tengah mengancam dirinya.

Dan walaupun bagaimana dengan sekaligus menghadapi ketiga orang lawannya itu.

berarti dia harus lebih hati-hati dan mencurahkan seluruh perhatiannya.

Lengah sedikit saja, berarti dia akan berurusan dengan elmaut.

Ketiga orang lelaki berewok itu telah menerjang melancarkan serangan dari tiga jurusan, serangan juga merupakan serangan yang mematikan dan merupakan serangan yang mengincar bagian-bagian yang sekaligus bisa membuat lawan menjadi mati atau bercacad seumur hidup.

Dengan diserang dari tiga bagian, dari depan, pinggir kiri dan kanan, maka Kun Hon harus memecahkan perhatiannya.

Tetapi dia sedikitpun tidak takut.

Dengan mempergunakan gerakan Tui Hong Soat Ie (Mengejar Angin Memakai baju Es), tangannya telah berputar-putar dengan gerakan yang cepat sekali.

Pukulan dan tangkisan-tangkisan yang dilancarkan oleh Kun Hong merupakan gerakan yang tidak ringan dan juga tidak dapat diremehkan, karena, sekali saja mengenai sasaran, berarti bisa mendatangkan maut untuk lawan-lawannya tersebut.

Jurus demi jurus telah berlangsung dengan cepat sekali, sebentar saja telah belasan jurus.

Tetapi walaupun dikeroyok tiga orang seperti itu, kenyataannya Kun Hong sama sekali tidak terdesak, dan dia telah berhasil memberikan perlawanan yang gigih dan tangguh sekali.

Ketiga lelaki berewok itu semakin lama jadi semakin penasaran, mereka telah melancarkan serangan semakin gencar dan hebat sekali disertai oleh maki-makiannya yang kotor.45 Pelayan dan kuasa rumah penginapan itu jadi panik, berulang kali mereka berteriak-teriak memohon kepada orang-orang yang tengah bertempur itu agar bertempur diluar saja, sebab ia mengatakan modalnya kecil, jika terjadi pertempuran seperti ini didalam ruangan, tentu akan mendatangkan kerusakan dan berarti amblasnya usahanya.

Tetapi orang-orang yang tengah bertempur itu mana melayani teriakan kuasa rumah penginapan, mereka telah bertempur dengan hebat sekali dan semakin lama gerakan mereka semakin cepat, sehingga orang yang menyaksikan jalannya pertempuran itu jadi kabur dan berkunang-kunang, karena tubuh mereka itu seperti juga tiga sosok bayangan yang bergerak-gerak mengaburkan pandangan mata.

Saat itu Kun Hong mengeluh juga didalam hatinya karena dia merasakan tekanan dari serangan ketiga lawannya semakin berat dan semakin sulit dapat menangkis serangan lawannya.

Tetapi lawan-lawan Kun Hong juga terkejut karena walaupun mereka telah melancarkan serangan dengan ilmu silat simpanan mereka, kenyataannya Kun Hong berhasil bertahan dengan baik.

Disaat pertempuran itu tengah berlangsung disertai oleh teriakan yang memekakkan anak telinga, tampak sesosok bayangan yang berkelebat kearah keempat orang yang tengah bertempur itu, lalu disusul oleh suara jerit kesakitan dan suara gedebag gedebug tidak hentinya.

Tampaklah suatu peristiwa yang mengejutkan, karena ketiga lawan Kun Hong ternyata telah terlontar keluar dari rumah penginapan itu, jatuh bergelimpangan dijalan raya.

Dengan cepat ketiga orang itu melompat bangun dan mengawasi orang yang telah melemparkan mereka kejalan raya.46 Kun Hong juga menoleh kearah orang yang telah menolongnya, dan hatinya jadi kaget bukan main, karena orang yang telah merubuhkan ketiga lelaki berewok itu dengan hanya sekali menggerakkan tangan tidak lain dari wanita sinting...

saat itu si wanita sinting tersebut telah tertawa haha-hehe, dan telah duduk numprah sambil mempermainkan ujung bajunya yang telah robek-robek.

Itulah ilmu "Kim Na Ciu"

Ilmu menangkap dan melempar, yang luar biasa.

Dengan adanya peristiwa seperti itu, ternyata wanita sinting itu memiliki kepandaian yang tinggi dan lwekang yang sempurna sekali.

Kun Hong saking takjubnya telah memandang tertegun ditempatnya.

Sedangkan ketiga lelaki berewok tersebut, yang telah menerima pengalaman pahit yang tidak menggembirakan seperti itu, telah mengawasi dengan murka, tetapi untuk maju lagi mereka jeri.

"Tunggulah, kami akan segera datang lagi ! Sam Kiam Hun tidak pernah membiarkan begitu saja setiap hinaan !"

Kata salah seorang diantara ketiga lelaki berewok tersebut, lalu mereka telah memutar tubuh dan melompat naik keatas kuda mereka segera dilarikan dengan cepat sekali.

Sedangkan si wanita sinting itu seperti juga tidak memperdulikan kepergian ketiga lelaki berewok itu Kun Hong juga tidak mengejar atau menahannya, dia hanya mengawasi saja kepergian ketiga lelaki berewok itu dengan hati yang diliputi oleh berbagai perasaan.

Dengan lesu Kun Hong telah menghampiri wanita sinting itu dan dia telah menjura.

"Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh peebo!"

Kata Kun Hong sambil membungkukkan tubuhnya. Tetapi47 wanita sinting itu tidak melayani dia, hanya terus juga mempermainkan ujung bajunya, sekali-kali terdengar dia bersenandung perlahan ;.

"Pasangan Wanyoh .... Mega biru..... Laut bergelombang ..... ikan Leehi berpasangan; .... Aduhai anak, aduhai anak ....." . Kun Hong telah memilih kata-kata untuk menarik perhatian Wanita sinting itu, untuk diajak bercakap-cakap, karena Kun Hong menyadari bahwa wanita tersebut tentunya seorang wanita yang luar biasa, setidak-tidaknya kini muncul perasaan kagum dihati Kun Hong, karena dengan hanya sekali menggerakkan tangannya saja, ternyata wanita sinting itu telah dapat melempar serentak ketiga lelaki berewok itu. Namun belum lagi Kun Hong sempat mengucapkan kata-katanya, wanita sinting itu telah mengangkat kepalanya dan memandang keluar pintu, wajahnya luar biasa sepasang alisnya berkerut dan bibirnya bergetar.

"Ya... ya... hanya dia yang dapat menolongku"

Menggumam wanita itu perlahan sekali tetapi suaranya mengesankan sekali.

"Siapa .....?"

Tanya Kun Hong yang jadi tertarik, walaupun dia yakin wanita itu memang sinting dan kata-katanya tentu tidak keruan, namun karena cara bicara dari wanita itu, dia ingin mengetahui siapakah, orang yang dimaksudkan oleh wanita sinting itu, yang katanya hanya orang itu yang dapat menolongnya.

Wanita sinting itu tidak menoleh kearah, Kun Hong hanya mulutnya bergerak-gerak menyebutkan serangkaian kata-kata yang mengejutkan Kun Hong.

"Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ...! Ya, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ...! Hanya dia yang dapat menolongi aku ... hanya dia yang bisa membunuh dan membalas sakit hatiku terhadap manusia-manusia biadab itu. ya hanya Sin Tiauw Taihiap" 48 Kun Hong menghela napas panjang. karena dia mengetahui bahwa wanita sinting ini tentu ingin mengartikan jika ada Sin Tiauw Taihiap Yo Ko yang bersedia membantunya, tentu sakit hatinya terhadap orang-orang yang telah membunuh suami dan anaknya itu dapat dibalas. Tetapi kemana dia harus mencari Sin Tiauw Taihiap, karena seluruh orang-orang gagah rimba persilatan umumnya mengetahui setelah membinasakan Kaisar Mangu di Siangyang, yang akhirnya merupakan kemenangan bagi pihak tentara Song Yo Ko bersama orang-orang gagah lainnya menghilang. Bersama-sama dengan Kwee Ceng, Oey Yong, Oey Yok Su, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong dan jago-jago lainnya Yo Ko memang telah mendatangi gunung Hoa San untuk menyambangi kuburan See Tok Auwyang Hong dan Pak Kay Ang Cit Kong. Dari Hoa San orang-orang gagah itu telah berpisah mengambil jalannya masing-masing, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak terdengar kabarnya lagi, begitu juga Tong Shia Oey Yok Soe maupun Lam Ceng It Teng Taisu, mendadak semuanya seperti lenyap hilang dari dunia persilatan dan tidak pernah terlihat lagi oleh siapapun juga. Peristiwa berkumpulnya orang-orang gagah di Hoa San yang terakhir itu telah terjadi tiga tahun yang lalu, dari sebegitu lama Kun Hong belum pernah bertemu dengan orang-orang gagah itu, dan hanya Kwee Ceng dan Oey Yong yang kemarin telah berhasil dijumpainya secara kebetulan, Kun Hong tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena dilihatnya wanita sinting itu telah lompat berdiri dan berlari keluar rumah penginapan sambil tertawa hahahihi. Pemuda pelajar she Cu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa selain menghela napas panjang. hatinya terharu sekali memikirkan nasib buruk wanita sinting itu. Jika tidak, tentu wanita itu merupakan seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tinggi dan mengagumkan sekali.49 Sambil duduk dikursinya menghadapi araknya Kun Hong jadi berpikir juga, jika memang wanita sinting itu berhasil ditunjuki jalan sehingga berhasil bertemu dengan Sin-Tiauw Taihiap Yo Ko, tentu penyakit sinting wanita itu dapat disembuhkan jago besar dijaman ini dengan mempergunakan ilmu tunggal Tan Cie Sin Thong dan lwekang Yo Ko yang sudah tiada taranya disaat ini, Kun Hong jadi tidak berselera untuk berdiam lebih lama diperkampungan tersebut, setelah menyelesaikan pembayaran sewa kamarnya pemuda itu telah melanjutkan perjalanannya. Dengan menunggang kudanya perlahan-lahan Kun Hong mengambil arah barat. Angin dipagi itu sejuk dan matahari belum naik tinggi, setelah berjalan belasan lie, dia tiba dlmuka sebuah tegalan dan Kun Hong membiarkan kudanya memamah rumput, sedang dia menikmati keindahan disekitar tempat itu. Tetapi dalam kesunyian tempat itu tiba-tiba telinga Kun Hong yang tajam telah mendengar benturan senjata disertai oleh suara bentakan-bentakan. Kun Hong jadi heran entah siapa yang tengah melakukan pertempuran itu, Cepat-Cepat dia melarikan kudanya menuju kearah suara benturan senjata tajam itu dan ketika dia tiba disebuah tikungan dibalik sebungkah batu gunung yang cukup tinggi, disebuah tanah datar tampak beberapa sosok tubuh tengah berkelebat dengan gesit dan suara berkontrangan benda logam yang semakin keras. Kun Hong melompat turun dari kudanya dan memperhatikan dengan heran. Terlebih lagi setelah dia memperoleh kenyataan seorang lelaki tua berjenggot panjang menutupi sampai keperutnya dan telah putih semuanya itu, tengah melompat kesana kemari lincah luar biasa menghadapi serangan belasan orang bertubuh tinggi tegap. Dengan suara jenaka laki-laki tua itu telah berseru nyaring.

"Maju ayoh maju. kalau sekarang kalian bermaksud melarikan diri itupun sudah tidak bisa akan kujamu50 kalian seorangnya dengan secawan air kencing !"

Jenaka sekali cara berkata-kata orang tua berjenggot panjang itu .

Yang luar biasa adalah gerakannya yang selalu dapat mengelakkan dengan mudah serangan dari lawannya.

Tanpa mempergunakan senjatanya orang tua berjenggot itu melompat kesana kemari dengan sekali-kali menyentil senjata lawan lawannya, sehingga senjata itu saling bentur sendirinya diantara lawan-lawannya.

Suara berkontrangan berasal dari saling benturan senjata belasan orang lawan si kakek tua berjenggot panjang itu amat berisik sekali.

Kun Hong mengerutkan alisnya, dia berdiri heran bukan main melihat kepandaian si kakek yang begitu luar biasa.

Walaupun belasan orang lawan si kakek itu seperti dapat dipermainkan oleh kakek itu dengan mudah, kenyataannya kepandaian belasan orang itu bukan kepandaian yang rendah, Kun Hong melihatnya, mungkin jika dirinya menghadapi satu atau dua orang dari lawan kakek itu, dia tidak akan sanggup.

"Dengan kepandaian seperti ini kalian mau mengadu kepandaian dengan merundingkannya di Hoa San benar-benar bukan urusan yang lucu ! Ayo aku Loo Boan Tong akan memperlihatkan kepada kalian apa yang disebut ilmu kucing ! Dan membarengi dengan perkataannya itu, kakek tua itu dengan sikap yang luar biasa dengan sepasang tangan diangkat sebatas bahunya dan mimik muka yang jenaka serta memperdengarkan suara "Meoong" , tahu-tahu kedua tangannya mencakar kesana kemari, dan yang lebih luar biasa beberapa orang lawannya telah terpental dan senjata mereka jatuh ketanah tanpa berdaya untuk bertahan, tubuh keempat orang yang terpental itu bergulingan ditanah dengan mengeluarkan suara jeritan kaget bercampur kesakitan. Kakek tua itu telah tertawa bergelak-gelak, sedangkan sisa lawan-lawannya mengawasinya dengan pancaran mata bengis mengandung kemurkaan bukan main.51

"Loo Boan Tong, tidak perlu kau terlalu sombongkan diri dengan kepandaianmu itu, karena kami belum tentu akan menyerah !"

Bentak salah seorang diantara lawannya yang memakai pakaian sebagai seorang petani, bahkan telah melancarkan serangannya dengan mempergunakan garunya yang akan menggaruk kepala Loo Boan Tong, kakek tua berjenggot yang jenaka itu.

Dengan disertai tertawanya yang jenaka, Loo Boan Tong melejit kesamping, tahu-tahu tangan kanannya mencakar dan mencengkeram garu orang itu.

"Takk !"

Patahlah garu itu menjadi tiga.

Dan disaat orang itu belum lenyap kagetnya, tahu-tahu kakek tua berjenggot itu telah mengibaskan tangannya, maka tanpa ampun lagi orang yang berpakaian seperti petani itu merasakan dadanya seperti, dihantam oleh tenaga yang ratusan kati, tanpa ampun lagi dia rubuh terjengkang kebelakang.

Untung saja orang itu memiliki kepandaian yang tinggi, sebab dia telah berhasil berdiri tetap lagi.

Kun Hong yang menyaksikan semua itu jadi berdiri bengong, hatinya tergoncang.

Dia mendengar disebut-sebutnya "Loo Boan Tong"

Maka dia jadi teringat seseorang.

Bukankah orang tua berjenggot panjang iti Ciu Pek Thong.

Loo Boan Tong si tua jenaka yang kini telah memperoleh kedudukan sebagai salah seorang jago diantara Ngo Ciat (lima jago luar biasa) ?

Bukankah kini disamping Oey Yok Su yang duduk sebagai Tong Shia, It Teng Taisu sebagai Lam Ceng (pendeta Selatan) sebelum pertemuan terakhir It Teng Taisu duduk sebagai Lam Tee (Kaisar dari selatan) Yo Ko duduk sebagai See Kong menggantikan kedudukan See Tok Auwyang Hong, Kwee Ceng sebagai Pak Hiap menggantikan Pak Kay Ang Cit Kong, dan Ciu Pek Thong sebagai Tiong Boan Tong.

Tentu saja, dengan disejajarkan sebagai salah seorang dari kelima jago luar biasa52 dljaman itu, bisa dimengerti kepandaian Loo Boan Tong bukan main hebatnya.!

Disamping itu, karena sikapnya yang usil dan nakal, Ciu Pek Thong seringkali menemui berbagai kesulitan.

Memang pertemuannya dengan Eng Kauw telah membawa perobahan sedikit didiri Ciu Pek Thong, namun jago tua ini tetap saja tidak bisa melenyapkan sifat ke kanak-kanakannya.

Hari itu, Ciu Pek Thong tengah melakukan perjalanan ke Hoa San untuk mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang telah berjanji dengannya untuk bertemu disana guna menyembayangi kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, Tetapi ditengah perjalanan justru dia menemui kejadian yang membuat hatinya jadi mendongkol bukan main, yang telah meng kilik-kilik hatinya, yang nakal.

Disebuah kedai arak dikota Siang bun kwan secara kebetulan Ciu Pek Thong mendengar percakapan belasan orang-orang yang tengah makan minum dengan suara yang berisik sekali.

Semula Ciu Pek Thong tidak mengacuhkan mereka, namun akhirnya disaat diantara belasan orang itu telah menyebut-nyebut nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Kwee Ceng Taihiap dengan suara yang lantang, maka Ciu Pek Thong jadi tertarik.

"Hemmm, dulu memang mereka bisa disebut sebagai jago-jago tiada tara di jagat ini namun sekarang...? Yang sudah pasti gelombang dibelakang mendorong gelombang yang didepan jelas bukan ?. Maka kini dari angkatan muda telah muncul jago-jago yang memiliki kepandaian tidak dibawahnya Yo Ko dan Kwee Ceng. Kita akan merundingkan ilmu silat di Hoa San, dan kelak kita akan perlihatkan hasil perundingan itu, siapa sesungguhnya yang tinggi dan siapa yang rendah"

Kata salah seorang diantara belasan orang itu dengan suara yang nyaring.

Kawan-Kawannya tertawa bahkan salah seorang di antara mereka telah menimpalinya "Benar!

Tepat!

Jika kita telah selesai mengadakan perundingan ilmu di Hoa San kita boleh53 menantang Yo Ko dan Kwee Ceng, atau kalau perlu Oey Yok Su dan It Teng Taisu biarlah mereka melihat siapa sesungguhnya yang memiliki kepandaian tertinggi dijaman ini ".

Kata-Kata itu diakhiri dengan seruan-seruan dan tetaawa gembira diantara belasan orang itu.

Bahkan ada juga yang terkebur merendah-rendahkan Yo Ko dan orang gagah lainnya yang dipandang rendah inilah urusan yang luar biasa bagi Loo Boan Tong karena umumnya orang rimba persilatan telah mengetahui bahwa kepandaian Yo Ko, It Teng, Oey Loshia, Kwee Ceng dan para jago lainnya dalam golongan Ngo Ciat dan semuanya merasa takluk.

Tetapi hari ini juga justru Ciu Pek Thong mendengar belasan orang tersebut seperti tidak memandang sebelah mata dan meremehkan jago-jago dari golongan Ngo Ciat itu; bukankah suatu peristiwa yang luar biasa?

Siapakah belasan orang yang tidak mengetahui tingginya langit dan dalamnya bumi itu?

Dan yang terutama sekali membuat tangan Ciu Pek Thong jadi gatal justru namanya tidak di sebut-sebut Bukankah kini dia merupakan salah satu dari Ngo Ciat ?

Bukankah dia sebagai Tiong Boan Tong?

Disaat itulah Ciu Pek Thong telah mengambil keputusan untuk mempermainkan belasan orang tersebut.

Dengan tenang Ciu Pek Thong telah melanjutkan meneguk araknya perlahan-lahan Dihitung-hitungnya dia menjanjikan Yo Ko dan Siauw Liong Lie untuk bertemu di Hoa San di harian Cit Gwe Ce-Sah (tanggal tiga bulan tujuh) dan hari itu baru Lak-Gwe Cap-Go (Tanggal Lima belas bulan enam) maka dia masih memiliki waktu delapan belas hari.

Sedangkan dari kota Siang-bun kwan untuk mencapai Hoa San hanya memerlukan sebelas atau dua belas hari, maka berarti Ciu Pek Thong masih memiliki waktu luang lima enam hari.

Dia bermaksud untuk main-main dulu, untuk mempermainkan belasan orang yang seperti ingin menaklukan54 langit itu, karena Ciu Pek Thong penasaran sekali mendengar percakapan mereka itu, ingin sekali ia melihatnya sesungguhnya berapa tinggi kepandaian yang dimiliki belasan orang-orang tersebut yang berani menyatakan bahwa Yo Ko dan jago-jago golongan Ngo Ciat berada dibawah mereka ?.

Belasan orang itu masih terus makan dan minum dengan gembira, suara mereka berisik sekali.

Semakin mendengar percakapan mereka hati Ciu Pek Thong semakin di kilik-kilik.

karena selama itu tetap juga dia tidak pernah mendengar namanya disebut walapun hanya satu kali.

Hal itu membuat Ciu Pek Thong Sangat penasaran sekali dan dia menduga mungkin belasan orang itu menganggap Ciu Pek Thong adalah manusia yang tidak layak dibicarakan karena kepandaiannya yang rendah.

Karena penasaran, akhirnya muncul sifat jailnya.

Diambilnya tahang arak, yang sebesar tiga kepalan tangan, lalu dibawa kekolong meja.

Perlahan-lahan dia menuangkan arak kedalam guci itu keatas lantai; sehingga guci arak itu kering.

Dibuka tali celananya dan Ciu Pek Thong kencing kedalam guci itu, setelah guci itu penuh oleh air kencingnya dia mengikat kembali tali celananya, dengan tenang Ciu Pek Thong bangkit dari duduknya menghampiri meja belasan orang itu.

"Sahabat-Sahabat aku, si tua Sejak muda gemar sekali ilmu silat. walaupun tidak pernah mempelajarinya, namun senang untuk mendengarinya. Tadi lohu (aku si tua) mendengar para enghiong dan hohan (orang gagah) membicarakan masalah kalangan Kangouw, betapa kagumnya aku si tua, sebab tentunya Enghiong dan Hohan merupakan jago-jago luar biasa... sebab Yo ko, Kwee Ceng atau yang lainnya tidak ada dimata kalian. Ingin sekali aku memberi hormat dengan masing-masing secawan arak." 55 Tentu saja belasan orang itu girang mendengar pujian Ciu Pek Thong, mereka meng angguk-angguk dengan sombong.

"Siapa namamu, tua bangka ?"

Tegur salah seorang diantara belasan orang itu dengan suara yang sombong sekali, karena dia menduga Ciu Pek Thong sebagai kakek-kakek tua yang gila basa untuk urusan ilmu silat, dan tadi orang tua itu telah memanggil mereka dengan sebutan enghiong dan hohan, orang-orang gagah, tentu saja mereka semakin sombong dan karena kesombongan mereka itu telah melewati takaran, tidak mengherankan jika salah seorang diantaranya mereka sampai ada yang menyebut Ciu Pek Thong dengan sebutan ,tua bangka' Waktu pertama kali mendengar panggilan "tua bangka"

Seperti itu, Ciu Pek Thong tertegun, hatinya mendongkol bukan main tetapi kakek tua ini bukan Loo Boan Tong jika dia tidak jenaka cepat-cepat dia nyengir sambil manggut-manggutkan kepalanya.

"Namaku buruk sekali, seperti yang tadi enghiong sebutkan, yaitu Lauw La (tua bangka) kata Ciu Pek Thong. Keruan saja belasan orang itu jadi tertawa geli. Dengan mendongkol Ciu Pek Thong berpikir.

"Lihat saja nanti setelah kalian minum arak istimewaku !"

Dengan cepat Ciu Pek Thong mempersiapkan cangkir-cangkir itu. Begitu "arak istimewa"

Ciu Pek Thong mengisi penuh cawan-cawan tersebut, seketika itu juga harum semerbak yang "halus"

Menerjang disekitar tempat tersebut. Tetapi karena belasan orang itu, tepatnya keempat belas orang itu, tengah bergirang oleh pujian si tua yang nakal ini, mereka tidak memperlihatkan "harum semerbak"

Dari arak istimewanya Ciu Pek Thong.

"Silahkan, silahkan"

Kata Ciu Pek Thong cepat.

"Untuk kegagahan kalian enghiong dan hohan...!" 56 Dengan serentak keempat belas orang itu telah mengangkat cawan mereka masing-masing, sekaligus meneguk isinya. Tetapi begitu arak istimewa itu berpindah keperut, keempat belas orang "gagah"

Itu jadi berobah, mata mereka mendelik, dan "Uahh !"

Semuanya berusaha memuntahkan kembali apa yang telah mereka minum tadi.

Ciu Pek Thong tidak tanggung-tanggung mempermainkan keempat belas orang tersebut, dia tidak tertawa, bahkan memperlihatkan sikap terkejut.

"Ihh, ada yang tidak beres?"

Tanyanya memperlihatkan sikap terheran-heran.

"Arak......... arak apa yang kau berikan kepada kami ?"

Tegur, dua orang diantara keempat belas orang itu yang telah berhasil memuntahkan sebagian arak istimewa yang telah mereka minum "Arak apa ? Tentu saja arak istimewa, arak nomor satu didunia"

Menyahuti Ciu Pek Thong.

"Tetapi mengapa arak ini berbau demikian macam ?"

Tanya orang itu sambil mengerutkan alisnya dan melirik kearah beberapa orang kawannya yang tengah muntah-muntah.

"Bau apa Taihiap ?"

Tanya Ciu Pek Thong.

"Se........seperti bau ......."

Tetapi orang itu ragu-ragu untuk menyebutkannya. Seorang kawannya yang baru saja muntah telah berteriak gusar ;

"Seperti bau air kencing?"

Seketika itu juga Ciu Pek Thong tidak bisa menahan tertawanya lagi, meledaklah tertawa si tua yang nakal ini.

"Benar ! Benar ! Aku sudah tua dan pikun ! Memang aku salah mengambil guci, ternyata guci ini terisi air kencingku. Maaf, aku tua ternyata telah salah memberikan hormat......"

Keruan saja muka keempat belas orang itu jadi berobah merah padam karena murka.

Dengan bengis dua orang itu57 diantara mereka telah menerjang kedepan Ciu Pek Thong dengan maksud mencengkeram dan menghajar si tua.

Tetapi Ciu Pek Thong tetap tertawa dan berdiri ditempatnya disaat kedua orang itu telah menyambar dekat, dengan gerakan seenaknya tangannya telah digerakkan dan tidak ampun lagi kedua orang itu terpental dan bergulingan ambruk dilantai.

Kedua belas kawan-kawannya jadi terkejut, tetapi kemudian mereka tersadar dengan murka dengan cepat beberapa orang diantara mereka telah mencabut senjata mereka, ada yang mencekal golok dan pedang, dengan bengis menabas dan membacok Ciu Pek Thong.

Tetapi si tua nakal yang memang sengaja hendak mempermainkan keempat belas orang tersebut, tidak ingin menimbulkan kegaduhan didalam rumah makan tersebut, sambil tetap tertawa geli ter pingkal-pingkal, Ciu Pek Thong telah menjejakan kakinya kelantai, tubuhnya bagaikan seekor burung telah melompat keluar.

Hal ini di lakukan oleh Ciu Pek Thong disebabkan dua soal.

Persoalan pertama untuk mencegah kerugian pihak rumah makan jika terjadi kerusakan rumah makan itu oleh pertempuran, kedua memang Ciu Pek Thong ingin memancing belasan orang itu kesuatu tempat yang sepi, untuk menghajar mereka sepuas hati.

"Kejar....jangan biarkan dia lolos!"

Berseru belasan orang itu dengan murka dan mereka telah melompat mengejar secepatnya.

Ciu Pek Thong sengaja tidak berlari cepat dia sengaja agar keempat belas orang itu tetap dapat mengikutinya dan tidak kehilangan jejak.

"Hemmm, dengan memiliki kepandaian cakar kucing seperti itu ingin menjagoi?"

Menggumam si kakek sambil berlari seenaknya.

"Sungguh tidak tahu tingginya langit dan dalamnya bumi..... !" 58 Walaupun Ciu Pek Thong berlari seenaknya tetapi keempat belas orang yang telah dipermainkannya itu tetap saja tidak berhasil mengejar mendekatinya. Tentu saja keempat belas orang itu jadi penasaran bukan main, dengan mengeluarkan seruan-seruan bengis mereka berusaha untuk mengejar! lebih dekat lagi. Dalam sekejap mata saja mereka telah berlari belasan lie, tetapi Ciu Pek Thong tetap tidak menghentikan larinya.

"Tua bangka, jika kau tidak mau berhenti juga, kami jangan dipersalahkan menurunkan tangan terlalu kejam." !"

Teriak beberapa orang di antara pengejarnya itu. Ciu Pek Thong hanya memperdengarkan suara tertawa mengejek sambil berlari terus kemudian disusul oleh kata-katanya.

"aku Lauw Lo memang sudah hampir mampus jika memang kalian ingin membuat Lauw Lo ini pergi ke Giam Lo Ong silahkan, silahkan"

Tentu saja keempat belas orang itu semakin penasaran saja, karena walaupun bagaimana mereka merasakan diri mereka sebagai jago-jago yang memiliki Kepandaian tinggi, dimana mereka merupakan murid-murid pandai dari beberapa pintu perguruan yang memiliki nama terkenal dalam kalangan Kangouw.

Tetapi kini dengan demikian mudah mereka telah dipermainkan oleh seorang tua bangkotan seperti itu, bahkan merekapun telah terlanjur meneguk ‘arak istimewa’ air kencingnya Ciu Pek Thong.

Malu yang diderita oleh mereka tentu saja tidak akan terhapus jika tidak oleh kematian si tua yang nakal itu, Mati-Matian mereka tetap mengejarnya dan berusaha menangkap Ciu Pek Thong.

Disebuah tanah datar itulah Ciu Pek Thong baru menghentikan larinya dan melabrak serta mempermainkan belasan orang tersebut.

Dengan mudah Ciu Pek Thong telah menghajar pulang pergi keempat belas orang itu, yang tidak59 berdaya sesuatu apapun juga untuk melakukan serangan membalas.

Waktu Ciu Pek Thorg menyebut-nyebut Loo Boan Tong.

muka keempat belas orang itu berubah, Kun Hong melihat tampaknya lawan-lawan Ciu Pek Thong terkejut bukan main, bahkan mereka telah melompat mundur dan mengawasi Ciu Pek Thong dengan mata terpentang lebar-lebar.

"Kau...kau Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong"

Tanya beberapa orang diantara mereka dengan suara yang agak gugup. Ciu Pek Thong tertawa nakal.

"Benar, justru akupun si tua bangka memang ingin pergi ke Hoa San untuk menemui sahabatku, Yo Ko dan isterinya, Kami telah berjanji untuk bertemu disana dan kebetulan sekali kalian memang ingin berkumpul di Hoa San untuk merundingkan ilmu silat, mari, mari kita melakukan perjalanan ber sama-sama aku agar tidak akan kesepian lagi" . Muka keempat belas orang itu jadi berubah pucat mereka telah mundur beberapa langkah dan salah seorang diantara mereka yang berpakaian sebagai petani, telah menjura memberi hormat.

"Ciu Locianpwe, kami benar-benar tidak memiliki pengetahuan dan walaupun memiliki mata namun kami buta tidak bisa melihat tingginya gunung Thian San. Biarlah hari ini kami telah menerima petunjuk locianpwe, kelak kami akan meminta lagi petunjuk-petunjuk locianpwe...!"

Dan setelah berkata begitu, dia telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya, tanpa menantikan jawaban Loo Boan Tong mereka telah memutar tubuh dan berlari meninggalkan tempat tersebut.

Loo Boan Tong tertawa bergelak karena puas dan gembira telah mempermainkan keempat belas orang yang besar mulut itu.60 Tetapi disaat Kun Hong bermaksud untuk menghampiri dan belajar kenal dengan jago tua yang luar biasa itu, tiba-tiba ditengah udara terdengar suara berkesiuran yang keras dicampur oleh dengung yang cukup menyakitkan anak telinga, sebatang anak panah tampak melayang ke tengah udara tinggi sekali, lalu disusul dikejauhan tampak seorang penunggang kuda yang tengah melarikan kuda tunggangannya itu dengan cepat.

Ciu Pek Thong yang melihat itu, jadi mengerutkan alisnya, dia menduga-duga entah siapa penunggang kuda yang tengah menghampirinya itu.

Dilihat dan cara orang itu melepaskan anak panahnya ketengah udara dengan kekuatan lempar yang demikian kuat tentunya penunggang kuda itu bukan orang sembarangan.

Dengan cepat penunggang kuda itu telah tiba dihadapan Ciu Pek Thong, kudanya berhenti ketika tali lesnya digentak keras.

Kun Hong terkejut ketika melihat betapa penunggang kuda itu berpakaian agak luar biasa.

Begitu juga halnya dengan Ciu Pek Thong, karena penunggang kuda itu berpakaian sebagai seorang pendeta, dan jubahnya yang lebar itu memperlihatkan dia adalah seorang pendeta Mongolia Inilah yang luar biasa.

Sejak kekalahan pasukan perang tentara Mongolia yang terpukul mundur dari kota Siangyang sudah memaksa Kublai menarik pasukannya mundur pulang kenegerinya, tidak pernah ada orang Mongolia yang berkeliaran diudara Tionggoan.

Mungkin pendeta inilah, yang pertama berani menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.

Pakaiannya sudah luar biasa, muka pendeta Mongolia itu lebih luar biasa lagi.

Sepasang alisnya hitam tebal, raut wajahnya persegi empat, matanya yang besar tampak bersinar tajam dan agak licik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.

Pendeta ini memelihara jenggot tipis didagunya dan lengannya berbulu.

Waktu kudanya itu berdiri dihadapan61 Ciu Pek Thong, justru pendeta Mongolia itu telah melompat turun dengan gerakan yang ringan dan gesit.

Melihat cara pendeta itu melompat turun Ciu Pek Thong jadi terkejut, karena dia melihat waktu sepasang kaki pendeta Mongolia itu menyentuh tanah, sedikitpun tidak menimbulkan suara; Tentu saja hal itu telah membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuh dari pendeta tersebut sempurna sekali.

Dan yang membuat Ciu Pek Thong memandang tertegun justru pendeta asing tersebut mengingatkan Ciu Pek Thong ke pada Kim Lun Hoat-ong, pendeta Mongolia yang telah menemui kematian didasar jurang.

Dengan jubah yang besar longgar dan cupu diatas kepalanya yang gundul, benar-benar merupakan kesan yang kuat untuk mengingat Kim Lun Hoat ong.

"Eh monyet" , bentak pendeta asing itu dengan suara yang garang waktu melihat Ciu Pek Thong hanya tertegun menatapnya.

"Hudya ingin bertanya sesuatu kepadamu" . Ciu Pek Thong seperti baru tersadar dari bengongnya, dia jadi tertawa sendiri mengingat bahwa dia bisa kesima karena teringat kepada Kim Lun Hoat-ong, Tetapi mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan "monyet"

Darahnya jadi meluap.

"Boleh, boleh"

Menyahuti Ciu Pek Thong cepat.

"Urusan apakah yang ingin ditanyakan oleh Hud ong (Budha hidup)?".

"Tiga tahun yang lalu telah terjadi pertempuran antara pasukan Song dengan tentara perang Mongolia yang besar, dalam pertempuran itu ikut serta adik seperguruan Hudya, yang bergelar Kim Lun Hoat-ong, yang sampai kini belum kembali ke utara, Apakah kau pernah dengar mengenai adik seperguruan Hudya itu" . Melihat pendeta itu memiliki kepandaian tinggi dan sempurna, terlebih lagi kini mengetahui bahwa pendeta itu adalah kakak seperguruan Kim lun Hoat-ong. yang pasti kepandaiannya hebat sekali maka Ciu Pek Thong berlaku hati-62 hati. Tetapi memangnya Loo Boan Tong nakal dia tetap saja ingin mempermainkan pendeta itu, sama halnya ketika beberapa tahun yang lalu dia pernah mempermainkan Kim Lun Hoat-ong.

"Pernah, pernah, aku si monyet memang pernah mendengar tentang Kim Lun Hoat-org!"

Kata Ciu Pek Thong kemudian.

Muka pendeta itu tampak berubah terang sambil tersenyum agak menyeramkan, suara yang agak menurun lunak dia telah bertanya lagi "Cepat kau katakan, dimana sekarang ini adik seperguruanku itu berada, Hudya akan memberikan hadiah kepadamu lima tail emas' "

Tetapi Hud ong, aku si monyet benar-benar takut, untuk mengatakannya, nanti Hud ong Kim Lun Hoat-ong murka ", kata Ciu Pek Thong Sambil memperlihatkan sikap seperti ketakutan dan bimbang.

"Katakan aku jamin tidak nantinya adik seperguruanku itu akan bergusar oleh keterangan mu, bahkan mungkin juga dia akan gembira dan senang sekali melihat aku menjemputnya untuk pulang ke-utara dan akan menghadiahkan beberapa tail emas lagi" , kata si pendeta lagi.

"Benar-benarkah Hud-ong sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat ong!"

Tanya Ciu Pek Thong Muka pendeta itu jadi berobah.

"Rewel benar kau?"

Bentaknya.

"Mustahil Hudya ingin mendustai monyet buduk seperti kau ini ? Hudya bergelar Tin To Hoat Ong cepat kau sebutkan dimana beradanya adik seperguruan Hudya, jangan membuat Hudya bergusar" .

"Mana berani, mana berani aku si monyet buduk menggusarkan Hudya ? Sesungguhnya sejak tiga tahun yang lalu Kim Lun Hoat-ong hanya berpelesiran setiap hari didampingi oleh wanita cantik" 63 Mendengar Ciu Pek Thong berkata sampai disitu. si pendeta yang mengaku sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong dan bergelar Tiat To atau Golok Besi Hoat-ong, telah menggelengkan kepalanya dengan sikap jengkel.

"Lwekangnya tentu akan mengalami kemunduran yang hebat jika Kim Lun selalu mendekati wanita .."

Menggumam pendeta itu dengan suara yang perlahan kemudian dia telah menoleh kepada Ciu Pek Thong dan telah berkata lagi dengan suara yang agak keras.

"Cepat katakan bagaimana keadaannya!"

"Tentu saja keadaan Hud-ong Kim Lun Hoat Ong sangat nyaman, dia tidak perlu makan tidak perlu minum, tidak perlu berpakaian, dan tidak perlu memikirkan uang atau segalanya."

"Maksudnya adik seperguruanku ini dilayani sedemikian baiknya oleh wanita-wanita cantik itu?"

Tanya Tiat To Hoat-ong tidak sabar.

"Tepat, Bahkan disamping wanita-wanita cantik yang melayani Kim Lun Hoat-ong terdapat juga manusia-manusia berkepala kerbau dan kuda semuanya patuh sekali melayani" .

"Ihhh . berseru pendeta itu heran bukan main. Dia bicara dengan bahasa Han yang kaku, sekarang dia tengah kaget, tentu saja suaranya jadi lucu terdengar.

"Manusia berkepala kuda dan berkepala kerbau!"

"Benar, itulah keadaan yang menyenangkan sekali."

"Kau tahu tempatnya? Cepat antarkan aku kesana!"

Kata Tiat To Hoat-ong tidak sabar.

"Tunggu dulu, jika Hud-ong yang hendak pergi kesana, aku tentu saja tidak berani melarang, silahkan...tetapi .....tetapi jika aku diajak ke sana, tunggu dulu, tidak nantinya aku mau karena aku si monyet buduk memang masih doyan makan nasi."

"Memangnya tempat itu tempat apa sehingga kau tidak mau kesana?"

Tegur Tiat To Hoat-ong mulai curiga melihat sikap Ciu Pek Thong.

"Orang-Orang biasanya menyebutnya sebagai tempat berpulang manusia-manusia yang sudah "

Bosan makan nasi, tempat duduk, bersemayamnya Giam-loo-ong"

Menyahuti Ciu Pek Thong perlahan, tetapi sikapnya sungguh-sungguh.

"Apa?"

Teriak Tiat To Hoat-ong gusar.

"kau... kau maksudkan neraka?"

"Begitulah kurang lebih artinya..."

Menyahuti Ciu Pek Thong dengan sikap yang tenang sekali.

"Jadi .. adik seperguruanku itu telah dibunuh seseorang ?"

Suara Tiat To Hoat ong jadi meninggi.

"Bisa diartikan begitu juga."

Menyahuti Ciu Pek Thong jenaka.

"Bukankah tadi aku si monyet buduk telah memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat ong kini sudah tidak perlu sibuk-sibuk makan nasi dan tidak perlu sibuk-sibuk berpakaian?"

Muka Tiat To Hoat-ong tampak merah padam, rupanya dia murka bukan main.

Dengan menggeluarkan suara seruan mengguntur yang menyeramkan, dia telah mengangkat tangan kanannya, akan menghamtam kepala Ciu Pek Thong dengan hantaman yang kuat.

Ciu Pek Thong memang telah bersiap sedia dan berwaspada sejak tadi; karena dia menyadari bahwa pendeta tersebut memiliki kepandaian yang luar biasa sekali dan tidak bisa dipermainkan serangannya.

Waktu telapak tangan pendeta dari Mongol itu turun kearah kepalanya, Ciu Pek Thong merasakan tekanan tenaga serangan meliputi ribuan kati.

Itulah kekuatan tenaga dalam yang benar-benar terlalu luar biasa, hati Ciu Pek Thong sendiri tergetar, karena dia65 memperoleh kenyataan bahwa kepandaian dan tenaga dalam Tiat To Hoat Ong jauh lebih sempurna dari adik seperguruannya.

Ciu Pek Thong mengetahui itu, yang karena dia pernah bertempur dengan Kim Lun Hoat ong, yang tenaganya telah dijajakinya; dan kini dia bisa memperbandingkan dengan kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong, yang tentunya jauh lebih hebat, sehingga mengejutkannya.

Tanpa berani berayal Ciu Pek Thong, mengempos tenaga dalamnya kepundaknya, dan dengan tangan kanannya dia menyentil.

Tangan Tiat To Hoat-ong yang berukuran besar dan bertulang kasar, disamping lebat ditumbuhi bulu dan meluncur dengan kekuatanya yang luar biasa, tentu saja bukan merupakan, serangan yang sembarangan.

Kun Hong yang66 menyaksikan peristiwa tersebut dari kejauhan jadi terkejut waktu melihat Ciu Pek Thong hanya menyambuti dengan sentilan jarinya belaka.

Tentu akan celakalah Ciu Pek Thong kalau tidak berhasil mengelakkan serangan dahsyat itu.

Namun Ciu Pek Thong justru tidak takut walaupun dia melihat lawannya memiliki kepandaian yang hebat seperti itu.

Dia sambil menyentil masih sempat untuk berjenaka mengejek pendeta itu.

"Eittt, jangan menyentuh tubuh si monyet budukan, nanti kau ketularan dan menjadi budukan pula."

Tentu saja Tiat To Hoat-ong tambah murka, terlebih lagi telapak tangannya yang terkena sentilan jari telunjuk Loo Boan Thong seperti ditusuk oleh semacam tenaga yang halus, namun menusuk sampai keulu hatinya disamping itu sasaran telapak tangannya jadi miring dan menghantam tempat kosong.

Ciu Pek Thong masih berdiri tegak ditempatnya.

Keruan Tiat To Hoat ong jadi memandang tertegun.

Semula dia menduga Ciu Pek Thong adalah seorang penduduk biasa didaerah tersebut tetapi melihat cara Ciu Pek Thong memusnahkan serangannya itu, dia segera mengetahui bahwa Ciu Pek Thong memiliki kepandaian yaag tidak berada di bawahnya.

Bagi jago-jago kelas satu, dalam segebrakan saja sudah dapat untuk mengukur kekuatan lawan.

Maka begitu juga dengan Tiat To Hoat-ong, yang telah mengeluarkan suara tertawa mengejeknya dan disertai dengan bentakan, tahu-tahu tangan kirinya diulurkan dengan cara mencengkeram yang aneh licin seperti belut, karena, dia mempergunakan jurus Yoga sedangkan tangan kanannya telah meluncur akan menotok jalan darah su-sie-hiat dipinggang Ciu Pek thong.

Ciu Pek Thong tidak takut sedikitpun juga walaupun dia mengetahui bahwa lawannya ini sangat hebat sekali kepandaiannya.

Bahkan Loo-Boan Tong girang sekali bisa menemui lawan berat seperti Tiat To Hoat ong.

Dia memang sudah lama tidak pernah menemui tandingan yang setimpal,67 sehingga tangannya terasa gatal sekali dengan berhadapan lawan seperti Tiat To Hoat ong, terbangkitlah semangatnya.

Melihat Tiat To Hoat Ong melancarkan serangan yang hebat seperti itu, dengan menggerakkan kedua kakinya seperti orang menari, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah berada disisi Tiat to Hoat-ong, dan tangan kanannya disalurkan untuk menjambak jalan darah Tiang-bu-hiat di punggung si pendeta.

Tentu saja pendeta itu jadi mengeluh murka, karena dia merasa dirinya dipermainkan oleh lawannya.

Dinegerinya, dia selain sebagai Guru Negara dan diakui sebagai jago nomor satu, juga sebagai penasehat raja.

Kim Lun Hoat-ong sendiri masih berada dibawahnya beberapa tingkat dan sering meminta petunjuk-petunjuk ilmu Yoga sebelum adik seperguruannya itu ikut rombongan Mangu kedaratan Tionggoan.

Kini seorang kakek tua seperti Ciu Pek Thong ternyata bisa mempermainkan dirinya demikian rupa, dimana setiap serangannya telah gagal, tentu saja.

membuat pendeta Mongolia itu jadi murka sekali"

Selama dua puluh tahun terakhir ini, selama Tiat To Hoat-ong berada dinegerinya, jarang sekali dia turun tangan untuk bertempur dengan jago-jago manapun juga.

Tetapi jika muncul jago yang tidak terkalahkan dan terpaksa dia turun tangan sendiri, tentu tidak lebih dari tiga jurus dia akan berhasil merubuhkan jago itu.

Maka tidak mengherankan jika nama Tiat To Hoat-ong sangat dihormati dan disegani oleh seluruh jago-jago di Mongolia, bahkan Kim Lun Hoat-ong patuh sekali terhadap kakak seperguruannya ini.

Disamping Tiat To Hoat-ong telah menguasai ilmu Yoga dengan sempurna benar, diapun te lah mengubah semacam ilmu golok yang digubahnya dari ilmu golok asal India, tidak.

mengherankan, disamping sombong dan tidak pernah memandang sebelah mata kepada jago manapun juga, Tiat To Hoat ong selalu bertindak, sekehendak hatinya.

Rajanya pun68 tidak berani melarang sesuatu apapun, bahkan untuk mencegah Tiat To Hoat ong menimbulkan kerusuhan, sengaja Tiat To Hoat-ong telah diangkat sebagai Koksu (Guru negara penasehat raja).

Waktu tiga tahun yang lalu Kublai telah mengajak pasukan tentara perangnya pulang kenegerinya diutara, Tiat to Hoat-ong tidak melihat Kim Lun Hoat ong Dia menanyakan ke Kublai dan memperoleh penjelasan bahwa Kim Lun Hoat ong waktu itu tengah mengobrak abrik jago-jago dataran tionggoan.

dan mungkin saja dua tahun lagi Kim Lun Hoat-ong baru kembali kenegerinya tersebut.

Senang hati Tiat To mendengar itu sehingga lenyap kekuatirannya terhadap adik seperguruannya itu.

Tetapi setelah di tunggu-tunggu selama tiga tahun sang adik seperguruan belum juga muncul, maka muncul kembali kecurigaan dan kekuatirannya dia akhirnya menghadap ke Kublai untuk meminta ijin, karena dia bermaksud pergi kedaratan Tionggoan untuk mencari adik seperguruannya itu.

Mempergunakan kesempatan ini, Kublai yang mengetahui akan hebatnya kepandaian Tiat To Huat-ong.

pendeta yang menjadi Koksu negara tersebut, dialah diberikan juga perintah rahasia untuk melakukan sesuatu didataran Tionggoan.

Tetapi disaat Tiat To Hoat ong tiba didaratan Tionggoan, dia tidak berhasil mencari jejak adik seperguruannya itu, sehingga dia semakin berkuatir saja.

Selama dua bulan dia berputar kayuh mengelilingi daerah-daerah selatan untuk mencari Kim Lun Hoat ong, yang ingin diajak pulang keutara namun tetap saja hasilnya nihil.

Dan hari itu, secara kebetulan dia bertemu dengan Loo Boan Tong yang usil yang bersedia melayani ketemberangan dan keangkuhan pendeta Mongolia itu sehingga terjadi pertempuran hebat diantara kedua jago yang luar biasa tersebut.69 Disamping itu, Ciu Pek Thorg juga memiliki maksud tersendiri dengan melayani pendeta dari Mongolia itu.

Waktu mendengar Tiat To Hoat-ong adalah kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong; seketika itu juga dia menduga pasti tiat To Hoat-ong memiliki maksud-maksud tidak baik Terhadap daratan Tionggoan, dan Ciu Pek Thong justru kuatir kalau-kalau kedatangan Tiat To Hoat-ong kedaratan tionggoan ini atas perintah Kublai.

Memang Ciu Pek Thong, walaupun sifatnya angin-anginan dan sering uring-uringan, otaknya cukup encer dan polos jujur maka dia segera berkuatir kalau Kublai telah mempersiapkan tentaranya untuk menerjang masuk kedaratan Tionggoan lagi Saat itu, Tiat To Hoat ong telah melancarkan serangannya yang ketiga.

Disaat dia berhasil mengelakkan diri dari cengkeraman Ciu Pek Thong dipunggungnya, dengan mengerahkan tenaga dalamnya kepundak, sehingga bahunya licin seperti berminyak dan Ciu Pek Thong gagal dengan usahanya, tahu-tahu pendeta Mongolia ini telah memutar kedua tangannya dengan serentak bersamaan dengan tubuhnya yang berputar juga.

Tidak mengherankan, jika serangkum angin serangan yang dahsyat telah menggempur Ciu Pek Thong.

Tetapi Ciu Pek Thong juga tidak tinggal diam, dengan memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, sebagai adik seperguruan Ong Tiong Yang, yang merupakan pewaris ilmu "It Yang Cie"

Tenaga dalam Ciu Pek Thong memang luar biasa sekali, dengan mengeluarkan seruan yang sangat nyaring justru Ciu Pek Thong tidak berkelit atau mengelakkan diri dari serangan itu dia telah menangkisnya dan keras dilawannya dengan keras.

"Bukk!"

Terdengar suara yang keras bukan main, yang dahsyat sekali, bumi seperti bergetar karena kuatnya benturan yang terjadi antar dua kekuatan raksasa tersebut.

Kun Hong yang berdiri terpisah belasan tombak dari gelanggang70 pertempuran, telah terhuyung hampir rubuh terjengkang oleh getaran benturan tenaga itu, untung pemuda ini cepat-cepat memegang dinding batu yang terdapat didekatnya.

Kuda pemuda itu juga meringkik nyaring, rupanya binatang tunggangan itu kaget.

Bukan main kagumnya Kun Hong sehingga dia sekarang menyadari, walaupun dia belajar dua puiuh tahun lagi, belum tentu dia bisa memiliki kekuatan tenaga dalam seperti kedua orang jago itu.

Yang disaksikan Kun Hong kali ini adalah sebuah pertempuran yang benar-benar luar biasa sekali dan lain dari yang lain.

Walaupun kepandaian Kun Hong tidak ada sepersepuluh dari kepandaian kedua orang itu, namun karena pemuda pelajar she Cu tersebut memiliki dan mengerti ilmu silat, dia bisa merasakan dan melihat bahwa pertempuran diantara kedua jago itu merupakan pertempuran antara mati dan hidup.

Ciu Pek Thong sendiri semakin lama jadi semakin kaget melihat kenyataan bahwa lawannya memiliki kepandaian yang lebih liehay dari kepandaian Kim Lun Hoat ong.

setidak-tidaknya memang Tiat To Hoat ong kakak seperguruan dari Kim Lun Hoat-ong namun dengan kepandaian seperti itu jelas dia bisa berbuat sesuka hatinya.

Memang benar Ciu Pek Thong tidak mungkin dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong namun jangan harap pula Ciu Pek Thong dapat merubuhkan lawannya itu.

Jika tadi Ciu Pek Thong masih bisa bergurau dengan melayani serangan lawannya, tetapi kini mau tidak mau memang Ciu Pek Thong harus mencurahkan semangat dan seluruh perhatiannya terhadap lawannya yang liehay.

Mereka bertempur semakin lama jadi semakin berat, gerakan tangan mereka seperti berat dan lambat sekali gerakannya.

Tetapi bagi ahli silat kelas satu, hal itu membuktikan bahwa ke dua orang yang tengah bertempur itu memang sedang mempergunakan tenaga kelas satu.

Sedikit71 saja mereka salah perhitungan, berarti akan terbinasa ditangan lawannya.

Ciu Pek Thong sendiri heran.

karena dia melihat si pendeta asing memiliki ilmu kebal akibat sempurnanya latihan ilmu Yoga juga pendeta itu memiliki tenaga lm dan Yang sangat sempurna sekali, dia dapat mempergunakan tenaga dalamnya itu sekehendak hatinya bisa lunak, dan bisa keras dengan tiba-tiba, sehingga dijurus berikutnya Ciu Pek Thong lebih sering tertipu oleh cara licik lawannya yang main ulur tenaga dalamnya yang di ganti-ganti sifat itu, Sesungguhnya sebagai seorang ahli Yoga yang telah terlatih pada puncak kesempurnaannya, maka pendeta tersebut disamping memiliki ilmu kebal (weduk), juga bisa menguasai dan memberikan perintah sekehendak hatinya terhadap seluruh otot disekujur tubuhnya.

Walaupun bagaimana kenyataan seperti itu, memang telah membuat Tiat To Hoat-ong bisa menjagoi dinegerinya dengan ilmunya tersebut.

Belum lagi ilmu golok yang digubahnya, yang hebat luar biasa.

Ciu Pek Thong melihat kenyataan seperti ini, kalau memang dia bertempur terus menerus dengan keadaan tidak berobah, niscaya akhirnya dia yang akan kalah ulet, berarti dirinya yang bisa celaka.

Itulah sebabnya terpaksa dia harus dapat merubah cara bertempurnya untuk berusaha meuguasai lawannya.

Sulitnya Tiat To Hoat-ong seperti bisa membaca jalan permikiran Ciu Pek Thong sehingga dia selalu melibatkan Ciu Pek Thong dengan serangan-serangan yang hebat sekali, yang tidak memungkinkan Loo Boan Tong memiliki kesempatan merubah cara bertempurnya itu.

Dengan gusar Ciu Pek Thong mengeluarkan seruan dan dia menggerakkan tangannya kebawah dengan gerakan meminta, kemudian dengan cepat sekali tangannya yang kiri menyusul akan menotok mata si pendeta.

Itulah gerakan "Bin Bu Jin Sek72 (Dimuka tidak ada cahaya manusia), yang pernah diperolehnya dari Yo Ko.

Hebat sekali serangan tersebut, Tiat To Hoat ong mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut dan dengan gerakan yang gesit dia mengelakkan diri.

Tetapi Ciu Pek Thong dalam gusarnya telah melancarkan lima serangan lainnya secara beruntun pukulan "Bo Beng Kie Miauw" (Tidak mengetahui apa keindahannya), disusul dengan "Jiak Yu So Sit" (Seperti Kehilangan sesuatu), lalu dengan hebat Ciu Pek Thong membarengi dua serangan susulan dengan "Heng Sie Cauw Jiok" (Mayat Berjalan), dan To Heng Gek Sie" (Jalan Jungkir Balik).

==oo0dw0oo==

Jilid 03 DIJURUS terakhir itu, yaitu "To Heng Cok Sie"

Ciu Pek Thong telah melancarkan serangan dengan hebat sekali, tubuhnya seperti ber gerak-gerak sempoyongan seperti ingin rubuh, lagaknya itu seperti orang pemabokan dan kedua tangannya melancarkan serangan kesebelas jalan darah lawannya.

Keruan saja Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan seruan kaget dan berusaha untuk menangkis dengan tabasan tangannya.

Walaupun dia menabas dengan mempergunakan tangannya tetapi gerakannya itu seperti juga gerakannya menabas dengan gerakan ilmu goloknya yang tangguh dan hebat sekali, angin serangannya berkesiuran lambat, tetapi dahsyat luar biasa.73 Ciu Pek Thong mengeluh sendiri, jika dia meneruskan serangannya, memang.

Loo Boan Tong bisa menghantam telak jalan darah Bian-kie-hiat si pendeta asing itu, tetapi dirinya sendiri tidak akan lolos dari tabasan yang mematikan pendeta tersebut.

Dengan mendongkol Ciu Pek Thong telah menarik pulang serangannya, dia melompat mundur.

Tiat-To Hoat ong yang telah menyaksikan hebatnya si kakek tua yang dipanggilnya sebagai si-"monyet"

Itu tidak mengejarnya, dia berdiri tegak sambil mendelik mengawasi lawannya itu.

"Katakan, siapa kau sesungguhnya ! Apakah adik seperguruanku. dibinasakan oleh kau?. Jika bukan siapa pembunuhnya ?" . tegur pendeta asing itu dengan murka. Ciu Pek Thong memiliki sifat yang kekanakan dan gemar sekali bergurau, walaupun tengah menghadapi lawan berat, seperti Tiat To Hoat-ong. Ciu Pek Thong masih sempat berjenaka.

"Jika aku yang membunuhnya, apa yang kau inginkan ? Kalau bukan, apa yang kau kehendaki ?. tanyanya sambil nyengir mentertawai si pendeta asing, membuat Tiat To Hoat-ong merasakan dadanya seperti mau meledak.

"Baiklah, kalau kau tidak, mau membuka mulut itupun tidak menjadi soal. Biarlah aku kirim kau menemui adik seperguruanku dulu."

"Mungkin juga engkau sendiri yang akan menengokinya ke Imkan (neraka) !"

Mengejek Ciu Pek Tong.

"Bukankah engkau tengah mencarinya"

Tentu saja kemarahan yang bergolak didada pendeta tidak terkiraan.

Dengan murka dia telah melompat dan melancarkan serangan dengan kedua tangan yang diputar kekuatan tenaga serangannya itu sama beratnya seperti runtuhnya gunung.74 Tetapi Ciu Pek Thong tidak takut, diapun tidak mengelakkan diri melihat serangan yang hebat seperti itu, bahkan dia memusatkan tenaganya, untuk mencoba kembali sampai di mana ke kuatan pendeta asing itu.

Tangan mereka saling bentur, tubuh mereka bergoyang-goyang, tenaga mereka yang saling bentur itu merupakan tenaga benturan yang luar biasa sekali, dan keduanya diam bagaikan patung, dengan sepasang matanya terpentang lebar-lebar.

Ciu Pek Tbong memang nakal, jiwanya jenaka, sesungguhnya dia ingin mengeluarkan ejekan pula tetapi disebabkan tenaga menindih dari Tiat To Hoat-ong luar biasa kuatnya, membuat Ciu Pek Thong tidak bisa berkata-kata, sebab jika dia bicara berarti pemusatan tenaganya akan ter pecah dan dirinya bisa tergempur oleh tenaga lawannya.

Karena tidak bisa memaki dan memperolok-olok pendeta asing itu, hati Ciu Pek Thong jadi gatal sendirinya, dan akhirnya dia hanya bisa mengejek, lawannya dengan mendeliki mata menyipitkan, melirik kekiri dan kekanan dengan memperlihatkan mimik muka yang membadut.

Keruan Tiat To Hoat-ong tambah murka, dadanya bergelombang turun naik karena menahan kemurkaan yang seperti ingin meledakkan dadanya itu.

Dengan bergelombang dia telah menambah tenaga menindihnya semakin lama semakin kuat.

Ciu Pek Thong juga telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, dia telah memusatkan lwekangnya dikedua lengannya, dan berusaha untuk menolak tenaga menindih dari si pendeta asing.

Keduanya berdiri berhadapan seperti patung dengan kedua tangan mereka saling menempel satu dengan lainnya.

Dari tubuh dan kepala kedua jago tersebut telah mengepul semacam uap tipis.75 Kun Hong yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut jadi tergoncang batinnya.

Itulah pertempuran yang terdasyat yang baru pernah disaksikan seumur hidupnya.

>>o0o^d!w^o0o<< PUNCAK Siauw-hong yang merupakan rangkaian gunung-gunung disekitar pegunungan Thian-san .

di mana letak puncak Siauw-hong berada disebelah barat daya dari pegunungan Thian san.

Walaupun tidak setinggi puncak-puncak Bie hong dan Sian-hong, tetapi puncak-puncak Bie-hong-pun menembusi mega serta tinggi sekali, tidak mudah didaki oleh manusia.

Disamping itu, udara disekitar puncak Siauw-hong dingin luar biasa dengan salju yang tebal membeku menutupi sebagian puncak itu, yang tidak pernah mencair sepanjang jaman.

Disamping salju yang membeku sepanjang jaman itu, juga Siauw-hong memiliki lembah dan jurang yang banyak jumlahnya, disamping keadaan alamnya yang masih buas dan liar sehingga sangat berbahaya sekali bagi orang-orang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.

Bahkan penduduk, kampung Siauw-wie cung yang terletak dikaki gunung Thian san sebelah utara, yang umumnya memiliki pencaharian sebagai pemburu dan pencari kayu bakar, tidak berani mendatangi Siauw Hong Terlalu dekat, mereka hanya berani mencari kayu bakar dikaki Siauw hong, sedangkan pemburunya hanya berani sampai dilamping gunung itu tidak berani mereka memburu sampai dipuncak Siauw hong.

Mereka menyadari bahaya dan buasnya alam dipuncak Siauw hong akan menulikan pendengarannya, disamping mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan mata.

bahkan jika memaksakan diri bisa membawa kematian.76 Belum juga perjalanan yang sulit, Untuk mendaki puncak Siauw-hong diantara dinding-dinding jurang dan lembah yang curam sekali disamping sangat berbahaya.

ltulah sebabnya boleh dibilang disekitar Siauw hong tidak pernah terlihat seorang manusiapun juga.

Setiap hari disekitar Siauw-hong sepi dan sunyi sekali; suasananya begitu tenang dan liar hanya diselingi, oleh suara binatang-binatang liar yang memang banyak memenuhi ditempat itu.

Pagi itu diantara kelenggangan yang ada, tiba-tiba terdengar suara kepak-kepak sayap burung yang keras sekali disertai oleh pekik yang nyaring, disusul terlihat disebelah selatan puncak Siauw hong me layang-layang seekor burung rajawali, yang berukuran sangat besar sekali.

Burung itulah yang telah mengeluarkan suara, memekik-mekik nyaring dan suara kepak-kepak yang terdengar adalah suara sayapnya yang lebar yang hampir selebar dua meter.

Ukuran burung rajawali itu luar biasa tetapi justru bentuk burung rajawali yang agak luar biasa.

Setiap kali dia terbang, dia menukik, dan kedua sayapnya digerakkan.

justru gerakannya itu dilakukan seperti juga seorang manusia yang tengah bersilat, karena kedua kaki burung rajawali itu telah ber gerak-gerak dengan jurus-jurus ilmu silat.

Setelah berputar-putar sekian lama akhirnya burung rajawali itu menukik dan menyambar cepat sekali kebawah kearah sesuatu yang berwarna putih.

Ternyata yang diincar oleh burung rajawali itu tidak lain dari seekor kelinci putih, yang telah berusaha berlari untuk mencari tempat persembunyian mengelakkan diri dari sambaran burung rajawali.

Namun gerakan yang dilakukan oleh rajawali itu benar-benar luar biasa, dia menukik dengan kecepatan seperti kilat dan berbeda dengan burung rajawali lainnya yang biasanya menyambar mangsanya dengan secara77 menuju kesasarannya, tetapi burung rajawali tersebut tidak segera menerjang mangsanya hanya mengikuti dan melewati diatasnya, dan disaat kelinci itu memutar tubuhnya untuk berlalu, dengan kecepatan yang seperti kilat, tahu-tahu tubuh rajawali tersebut telah menerjang dan mencengkeram mangsanya itu dan kelinci tersebut tak bisa meloloskan diri.

Dengan membawa mangsanya itu burung rajawali tersebut telah terbang menuju keangkasa dan menuju kepuncak Siauw hong yang tertinggi.

Ketika bagian kanan dari barat daya puncak Siauw-hong burung rajawali tersebut telah mengeluarkan suara pekikan yang nyaring dan meluncur turun menuju kesebuah lembah.

Rajawali itu terbang semakin rendah dan akhirnya ber henti dimuka sebuah rumah yang sederhana namun bersih.

"Ahhh, Tiauw-heng (Saudara Rajawali) telah kembali!"

Terdengar suara seorang, wanita yang merdu dan lembut sekali.

Anehnya wanita ia memanggil si rajawali dengan sebutan Tiauw heng yaitu saudara Rajawali, panggilan yang agak luar biasa.

Dari dalam rumah itu, si wanita yang berkata-kata tadi telah melompat keluar dan dia telah menerima kelinci yang menjadi mangsa dari rajawali tersebut, dan si rajawali yang dipanggil dengan sebutan Tiauw-heng itu, telah terbang ringan dan hinggap di sebuah batu gunung yang ter letak disebelah kanan.

Pemandangan yang terdapat dilembah itu memang agak luar biasa.

disamping indah, juga keadaannya tenang sekali.

Pohon-pohon bunga tampak memenuhi sekitar lembah tersebut, disamping itu rumah yang dibangun dengan cara sederhana itu terawat dengan rapi dan bersih sekali.

"Kojie, lihatlah !"

Berseru wanita yang ke luar dari dalam rumah itu dengan suara yang riang, wajahnya cantik luar biasa dengar kulitnya yang halus, sepasang mata yang indah,78 di samping itu senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu demikian menawan.

Dialah Siauw Liong Lie !

"Tiauw-heng memang pandai mencari mangsa, kita setiap hari tentu akan bersantap lezat"

Menyahuti suara lelaki dari dalam rumah.

"Liongjie, engkau harus memasakan Tiauw heng sayur kelinci yang lezat" . Siauw Liong Lie tertawa riang, dia membawa kelinci itu kebelakang. Dengan cepat dia telah melihat suaminya Yo Ko, tengah duduk mengasah pedangnya, sehingga pedang itu berkilauan.

"Lihatlah Kojie"

Kata Siauw Liong Lie sambil mengacungkan kelinci yang diperoleh rajawali itu.

"Betapa besarnya kelinci ini". Yo Ko mengangguk sambil tersenyum.

"Untuk Tiauw-heng kau harus memanggangnya yang wangi"

Katanya kemudian.

Siauw Liong Lie hanya mengangguk dan telah cepat-cepat menuju kebelakang untuk mempersiapkan masakannya.

Sedangkan Yo Ko masih terus juga mengasah pedangnya, hari ini dia mengenakan baju berkembang yang dibuat oleh Siauw Liong Lie, tampaknya dia bahagia sekali hidup berdampingan dengan isterinya yang cantik jelita dan gagah ilmunya.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah menetap dilembah itu.

Semula Yo Ko hendak mengajak Siauw Liong Lie menetap di Giok Lie Hong yang terletak dipuncak Hoasan, dimana dipuncak bidadari itu terdapat sebuah kuil kecil yang kosong, yang ingin dipergunakan oleh Yo Ko sebagai tempat tinggal mereka.

Tetapi Siauw Liong Lie telah berpikir jauh, dia berpandangan luas, maka Siauw Liong Lie yang telah memberikan saran kepada suaminya agar tidak mengambil79 tempat Giok Lie Hong sebagai tempat pengasingan mereka, karena tempat itu sering didatangi oleh orang-orang yang bermaksud untuk sujud bersembahyang di kuil.

Belum lagi banyak orang-orang rimba persilatan yang mengunjungi mereka untuk mengunjuk hormat, yang berarti bagi mereka tidak akan dapat menikmati hidup tenang selamanya.

Akhirnya bersama Yo Ko, Siauw Liong Lie menjelajahi beberapa buah gunung yang terdapat didaratan Tionggoan bahkan tadinya mereka bermaksud untuk melihat-melihat puncak Himalaya, yaitu Longmo Cunglo yang terdapat di Himalaya namun terlalu dingin.

Udara dingin memang tidak menjadi persoalan mereka, tetapi justru yang mereka pikirkan adalah calon anak mereka kelak jika mereka memiliki anak.

Dan setelah menjelajahi berbagai tempat sekian lamanya, akhirnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie merasa cocok untuk menetap dilembah yang terletak dipuncak Siauw-hong dari pegunungan Thiansan.

Dengan tenang mereka hidup bahagia ditempat mereka yang baru itu, ditemani oleh Tiauw-heng itu, yaitu si rajawali sakti, yang biasa disebut oleh orang-orang rimba persilatan dengan nama Sin Tiauw.

Sin Tiauw itulah yang setiap hari mencarikan makanan untuk suami isteri tersebut dan tidak jarang pula Siauw Liong Lie bergurau dengan rajawali tersebut, dengan cara melatih ilmu silat dan Yo Ko hanya menyaksikan sambil tersenyum.

Tetapi dengan menetapnya mereka ditempat yang seperti itu.

Pasangan suami isteri tersebut dibantu oleh Sin Tiauw telah melatih diri terus, sehingga tanpa mereka ketahui kepandaian dan tenaga dalam mereka telah sempurna sekali.

Telah dua tahun lebih Yoko dan Siauw Liong Lie menetap dilembah tersebut.

Dan mereka selalu melewati hari-hari dengan gembira dan bahagia.80 Sejak berpisah dengan sahabat mereka di gunung Hoa-san setelah menjengguk makam Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, serta mengambil selamat berpisah dengan Kwee Siang dimana telah bertemu juga Kak Wan Siansu yang kehilangan kitab mujijad Kui Im Cin Keng serta Kui Yang Cin Keng, yang dicuri oleh In Kek See dan Siauw Siang Cu, Yo Ko telah berhasil mengecap kemesraan berdua dengan isterinya.

Perpisahan selama enam belas tahun yang pernah terjadi beberapa saat yang lalu, justru telah menyebabkan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie menyadari bahwa cinta mereka merupakan cinta yang kekal dan abadi, cinta yang tulus dan sejati.

Usia Yo Ko yang telah duduk sebagai See Kong dalam urutan Ngo Ciat, telah mencapai hampir tiga puluh tiga tahun dan Siauw Liong Lie lebih tua beberapa tahun dari dia.

Tetapi karena sejak kecil Siauw Liong Lie memang telah dididik oleh gurunya didalam kuburan mayat hidup, maka kecantikannya tetap utuh dan awet muda, terlebih lagi sekarang, disaat mana lwekangnya telah sempurna.

Sedangkan Yo Ko selama hidupnya, sejak sampai akhirnya menikah dengan Siauw Liong Lie, selalu menghadapi urusan-urusan yang mendukakan hatinya, walaupun tetap tampan luar biasa tetapi tampaknya telah dewasa sekali.

Jika dilihat selintas mereka tampak berimbang usia maupun ketampanan dan kecantikan mereka.

Mengenai Wajah Yo Ko yang tampan itu tidak perlu dikatakan lagi karena Kwee Siang selalu memimpikan Yo Ko (Telah diceritakan dalam kisah Membunuh Naga,

Jilid 1, 2 dan 3) dan memang Yo Ko memiliki lwekang yang telah mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga disamping awet muda, kulit mukanya itu bersih dan bercahaya gemilang.

Seperti diketahui jika seseorang melatih lwekang (tenaga dalam) yang berpusat dipusar maka jika hawa murni di81 Tantian telah naik sampai keotak, maka baik umur maupun kesehatan bisa ditentukan dan diperintahkan oleh orang yang bersangkutan, (Mirip juga dengan latihan Yoga yang telah sempurna, dapat menentukan usia dan otot-otot diseluruh tubuh dapat diperintahkan) Begitu pula Yo Ko, walaupun usianya telah tiga puluh tahun lebih, tetapi raut wajahnya sepertl seorang pemuda yang berusia dua puluh tahun.

Penghidupan yang tenang, jauh dari keramaian yang memusingkan kepala, dan juga hidup tenteram babagia disamping isterinya yang cantik, namun Yo Ko manusia juga.

Akhirnya timbul rindunya kepada Kwee Ceng, Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, Oey Yong, Kwee Siang dan sahabat-sahabat lainnya.

Walaupun bagaimana memang kenyataan-nya Yo Ko akhirnya tidak bisa menahan keinginannya itu, tidak berhasil melenyapkan rindunya dia semalam telah menyampaikan hasratnya kepada Siauw Liong Lie, untuk turun gunung selama tiga bulan, guna mencari sahabat-sahabatnya itu.

Dan Siauw Liong Lie lebih suka menyendiri, tetapi setelah menikah dengan Yo Ko dengan sendirinya sifat dan wataknya jadi berobah banyak.

Kini selain periang, Siauw Liong Lie pun lincah walaupun belum lenyap sifat-sifatnya yang dingin jika tengah menghadapi urusan yang rumit dan penting.

Mendengar Yo Ko ingin mengunjungi sahabat-sahabatnya itu, Siauw Liong Lie jadi girang sekali.

Dia telah bersyukur bahwa suaminya bermaksud mengajak dia.

"Tentu aku bisa menyaksikan keramaian lagi"

Kata nyonya Yo itu sambil tersenyum,82 Dan itulah sebabnya hari itu Yo Ko, sibuk mengasah pedang, milik Siauw Liong Lie; Sedangkan golok pusakanya telah diasahnya malam tadi.

Mereka telah bersiap-siap untuk berangkati pagi ini, tetapi Siauw Liong Lie tiba-tiba sekali telah sakit.

Sejak fajar dia telah muntah-muntah dan perut maupun pinggangnya sakit Dia memberitahukan Yo Ko, sehingga suaminya itu membatalkan keberangkatan mereka dan menganjurkan isterinya untuk beristirahat.

Disaat Siauw Liong Lie tengah rebah dipembaringan, Sin Tiauw justeru telah pergi memburu mangsa, untuk santapan sahabat-sahabatnya itu, pasangan suami isteri tersebut, yang telah memperlakukan mereka sebagai sahabat.

Disaat Sin Tiauw kembali dengan kelinci buruannya itu, justeru Siauw Liong Lie telah sembuh dari sakitnya, pinggangnya sudah tidak sakit lagi, dan dia bisa mengerjakan masakan untuk suaminya dan Sin Tiauw.

Tetapi, selama didapur, mukanya sebentar-sebentar berobah merah, karena sebagai seorang ahli lwekhe.

segera dia telah mengetahui bahwa penyakit yang tadi menyerangnya bukan penyakit sembarangan, melainkan gejala-gejala bahwa dia telah hamil.

Justeru untuk memberitahukan kepada suaminya dia merasa malu, walaupun ditempat tersebut hanya mereka berdua.

Dan Siauw Liong Lie bermaksud memberitahukan suaminya nanti malam, Tetapi ketika Siauw Liong Lie tengah menyelesaikan masakannya, tiba-tiba dia mendengar samar-samar suara siulan yang cukup panjang.

Muka Siauw Liong Lie berobah, saat itu Yo Ko telah mendatangi dan bertanya kepada isterinya.

"Liongjie, kau dengar siulan itu?"

Isteri tersebut mengangguk.83

"Dua tahun lebih kita menetap ditempat ini. belum pernah didatangi orang, tetapi suara orang bersiul itu ..... jelas yang bersiul merupakan orang yang memiliki lwekang sangat tinggi dan sempurna!"

"Ya..... sapakah dia?"

Mengumam Siauw Liong Lie.

"Hmmmm .....apakah mungkin salah seorang sahabat lama ?"

Menggumam Yo Ko.

"Tetapi suara siulan itu aneh dan belum pernah kita dengar, Kojie kau harus hati-hati nanti tidak mungkin sahabat lama yang datang...!"

Yo Ko tersenyum, dia mendekati isterinya dan mencekal tangan Siauw Liong Lie dengan lembut dan mesra sekali.

Muka Siauw Liong Lie jadi berobah merah, dia telah menunduk dalam-dalam dengan sikap kemalu-maluan, tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya seperti itu, belum pernah Siauw Liong Lie membawakan sikap seperti itu.

"Liongjie, apakah ada sesuatu... ?"

Tanya Yo Ko halus sambil mengusap-usap lembut tangan isterinya. Siauw Liong Lie mengangkat kepalanya menatap suaminya mesra sekali.

"Kojie, kau harus dapat menjaga diri dengan baik, karena karena..."

Suara Siauw Liong Lie semakin lama semakin perlahan, dan akhirnya tidak terdengar, dan juga Siauw Liong Lie telah menunduk lagi.

"Karena...apa Liongjie?"

Tanya Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya tersebut.

"Karena...."

Dan Siauw Liong Lie menubruk memeluk Yo Ko, kemudian sambil tertawa dengan pipi yang merah, dia telah meneruskan perkataannya.

"Mari kubisiki." 84 Yo Ko mendekati telinganya kebibir isterinya dan Siauw Liong Lie telah membisikan beberapa patah kata. Muka Yo Ko berobah menjadi berseri-seri, dia berseru girang dan melompat-lompat dengan riang.

"Hus ! Anak edan !"

Bentak Siauw Liong Lie sambil tersenyum.

"Apakah kau tidak malu jika didengar orang ?"

Yo Ko masih melompat-lompat sesaat lamanya lagi, setelah itu dia lagi menyahuti.

"Malu? Bukankah disini hanya kita berdua? Malu kepada siapa?"

Muka Siauw Liong Lie telak berobah merah lagi, diapun baru teringat bahwa mereka memang hanya berdua. Muka Siauw Liong Lie jadi bertambah merah karena malu waktu Yo Ko mengawasi saja perutnya.

"Sudahlah kau lihat siapa yang datang itu!"

Siauw Liong Lie memperingati suaminya. Tetapi baru berkata sampai disitu Siauw Liong Lie jadi kaget sendirinya, karena tiba-tiba dia menciumkan sesuatu "Akhh!"

Berseru Siauw Liong Lie. Daging panggangku hangus"

Dan ketika dia menoleh, benar saja daging kelinci yang tengah dipanggangnya itu telah hangus separuh.

Disaat itu, waktu Siauw Liong Lie ingin menyesali suaminya, justru telah terdengar lagi suara siulan itu yang panjang dan didengar dari kerasnya suara siulan itu, tentu orang yang bersiul itu telah berada dekat sekali dengan rumah mereka, setidak-tidaknya telah berada disekitar daerah tersebut.

"Liongjie kau baik-baik rawat diri, jangan bekerja terlalu capai, setelah memanggang daging kelinci itu, pergilah kau tidur, biarlah aku yang melihat keluar...!"

Kata Yo Ko dengan perasaan menyayang sekali.85

"Anak sinting mana mungkin siang-siang tidur!"

Mengomel Siauw Liong Lie.

Tetapi hatinya bahagia bukan main, sangat bersyukur, karena memang dia bahagia sekali mempunyai suami seperti Yo Ko.

Justeru Yo Ko sendiri setelah dia mengetahui dia akan segera menjadi calon ayah dia girang luar biasa.

Dengan, gerakan yang lincah dia telah melompat keluar.

Disaat itu Yo Ko melihat Sin Tiauw sudah tidak berada ditempatnya.

Dikejauhan terdengar suara pekikan Sin Tiauw.

Bagaikan terbang Yo Ko telah berlari menghampiri kearah suara pekikan itu lengan baju kanannya yang kosong melampaui lambaian tertiup angin.86 Seperti diketahui lengan kanan Yo Ko telah tertabas buntung akibat tingkah dan ulah Kwee Hu, puteri Kwee Ceng.

Setelah berlari-lari sekian lama, Sin Tiauw Taihiap tiba dibalik mulut lembah, dia melihat diangkasa Sin Tiauw tengah terbang melayang tidak hentinya mengeluarkan suara pekikan.

Rupanya tadi Sin Tiauw juga telah mendengar suara siulan itu, dan segera terbang ketengah udara untuk melihat siapakah yang telah datang itu, si tamu yang tidak diundang.

Yo Ko tiba ditempat itu segera dapat melihat jelas tamunya.

Ternyata orang tersebut hanya seorang diri, memakai pakaian bulu yang tebal untuk mencegah hawa udara yang dingin, memelihara kumis yang panjang dan mukanya berbentuk segi tiga, sinar matanya agak licik.

Melihat Yo Ko, orang itu telah cepat-cepat menghampiri, dia menjatuhkan dirinya ditanah berlutut dihadapan Yo Ko.

"Sin Tiauw Taihiap Locianpwe.. boanpwe menghunjuk hormat ..!"

Kata orang itu, yang membahasakan Yo Ko dengan sebutan Locianwe (yang tingkatan tua) dan membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan Boanpwe, tingkatan muda.

"Boanpwe Liang Ie Tu membawa titipan pesan untuk locianpwe" . Yo Ko mengawasi tamu tidak diundang tersebut dengan sorot mata yang tajam, sepasang alisnya agak mengkerut, karena tidak senang dia melihat bentuk muka orang itu yang amat licik.

"Siapa yang telah menitipkan pesan untukku ? Mengapa kau mengetahui bahwa aku menetap disini ?"

Tegur Yo Ko sambil memandang penuh kecurigaan , Orang itu telah cepat-cepat mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia juga telah berkata setelah memberi hormat begitu.

"Sesungguhnya Boanpwe memang lancang telah datang kemari tanpa meminta ijin dari Sin Tiauw Taihiap Locianpwe, tetapi karena dalam keadaan terdesak, maka87 terpaksa Boan pwe harus melakukan perbuatan lancang seperti ini, yang layak dihukum"

Dan setelah berkata begitu, Liang Ie Tu telah merogoh sakunya mengeluarkan sepucuk surat, yang diberikan kepada Yo Ko dengan sikap yang menghormat sekali, disusuli kata-katanya.

"Lt Teng Taisu Locianpwe telah perintahkan Boanpwe untuk menyampaikan suratnya ini kepada Sin Tiauw Taihiap Locianpwe..

". Yo Ko menyambuti surat itu, hatinya terkejut sekali setelah mengetahui bahwa surat tersebut adalah kiriman It Teng Taisu. Cepat-Cepat dia telah membacanya, bunyi surat itu lebih mengejutkan Yo Ko, antara lain berbunyi . Yo Hiante (adik) Sebetulnya lolap bermaksud datang sendiri untuk menjumpai kalian suami isteri, namun berhubung timbulnya urusan yang demikian tiba-tiba, terpaksa lolap harus memecahkan perhatian dan hanya bisa mengirimkan berita melalui sepucuk surat ini. Bagaimana keadaan kalian ? Tentu baik-baik saja bukan?. Maksud sesungguhnya suatu peristiwa aneh yang akhir-akhir ini telah terjadi didalam rimba persilatan. Selama tiga tahun kita telah berpisah, sesungguhnya bukanlah waktu yang terlalu lama, namun dalam tiga tahun itu justeru didalam rimba persilatan muncul urusan-urusan yang aneh-aneh luar biasa. Sedangkan saudara Kwee Ceng dan Kwee Hu jin (Oey Yong), telah ikut membantu lolap untuk menyingkap tabir rahasia yang tengah terjadi ini. Sesungguhnya Lolap mau menceritakan panjang lebar urusan itu, namun lolap kuatir jika surat ini jatuh ketangan yang tidak berkepentingan, akan menimbulkan urusan yang jauh lebih hebat lagi. Biarlah kelak Lolap akan menceriterakannya langsung kepada Yo Hiante. Maka jika memang Yo Hiante dan Yo Hujin tidak keberatan, Lolap menantikan kedatangan Yo Hiante di Hoasan, dimakam saudara Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, tepat ditanggal Cit Gwee Cesah (bulan tujuh tanggal tiga) dimana sahabat-sahabat lain-lain-nya juga akan88 berkumpul. Kami menantikan kedatangan Yo Hiante, salam kepada Yo-Hujin. Dan surat tersebut telah ditanda tangani oleh It Teng Siansu pendekar Lam Ceng, pendekar dari selatan. Yo Ko memang mengenali tulisan It Teng Taisu, begitu pula tanda tangannya, tidak mungkin surat itu surat palsu Tetapi yang membuat Yo Ko tidak mengerti justeru mengapa It Teng Taisu menitipkan suratnya tersebut kepada seorang manusia bermuka licik seperti itu yang mengaku bernada Liang Ie Tu. Ada hubungan apakah antara Liang Ie Tu dengan It Teng Taisu ?. Sebelumnya Yo Ko belum pernah bertemu dengan orang she Liang tersebut ? "

Masih ada sangkutan apa antara Liang-heng dengan It Teng Taisu ?"

Tanya Yo Ko sambil melipat surat itu dan memasukan kedalam saku Liang It Tu masih berlutut, cepat sekali dia menyahut .

"It Teng Taisu pernah paman dengan Boanpwe. dan menurut pesan yang diberikan oleh It Teng Taisu locianpwe, bahwa urusan yang sekarang muncul ini merupakan urusan yang luar biasa sekali, urusan yang membingungkan..."

"Urusan luar biasa dan membingungkan ? Urusan apakah itu ?"

"It Teng Locianpwee tidak menjelaskan, hanya meminta kepada boanpwe secepatnya menyampaikan surat tersebut kepada Yo Locianpwe tempat berdiamnya Yo Locianpwe juga diberitahukan oleh It Teng Locianpwe."

Yo Ko mengangguk, setidak-tidaknya dia merasa tidak enak hati jika membiarkan orang bermuka licik itu tetap berlutut, maka diperintahkannya Liang Ie Tu berdiri.

"Dari sini Liangheng bermaksud pergi kemana lagi ?"

Tanya Yo Ko kemudian.89

"Boanpwe telah melakukan perjalanan tidak hentinya selama setengah bulan, maka jika Locianpwe tidak berkeberatan, disaat tugas yang diberikan It Teng Locianpwe berhasil boanpwe laksanakan dengan baik, maka boanpwe meminta ijin Locianpwe untuk bermalam disini !"

Yo Ko jadi mengerutkan alisnya, tetapi setelah ragu-ragu sejenak, tidak dapat dia menolak atas keinginannya Liang Ie Tu bukankah orang she Liang itu utusan It Teng Taisu, dan masih pernah keponakan pula dengan Lam Ceng tersebut ?

"Baiklah, tetapi maafkan tempat kami buruk sekali..."

Kata Yo Ko sambil mengangguk.

Liang Ie Tu tampak gembira sekali, dia menyatakan terima kasihnya, berulang kali Yo Ko mengajak Liang Ie Tu kerumahnya, diperkenalkan kepada Siauw Liong Lie.

isterinya.

Sama halnya dengan Yo Ko, malam itu ketika berada dikamar mereka, Siauw Liong Lie menyampaikan perasaan tidak senangnya melihat lelaki bermuka licik itu, walaupun bagaimana wajah Liang Ie Tu memancarkan kelicikan yang tidak menyenangkan sekali.

"Biarlah, hanya malam ini saja, besok kita bisa memintanya untuk meninggalkan tempat ini, dengan alasan kitapun akan segera berangkat untuk memenuhi undangan It Teng Taisu" . Siauw Liong Lie hanya mengangguk saja. Tetapi diluar dugaan mereka tepat menjelang tengah malam, Liang Ie Tu yang diberi kamar dibelakang rumah mereka, telah turun dari pembaringan, dengan hati-hati dia telah berjingkat kepintu dan memasang pendengarannya baik-baik. Sunyi dan sepi sekali . Dengan hati-hati sekali, Liang Ie Tu membuka daun pintu dan melangkah keluar. Dia berada di pekarangan belakang rumah Yo Ko, dengan hati-hati Liang Ie Tu melompat kebalik90 batu gunung-gunungan yang terdapat disitu, dia bersembunyi agak lama ditempat tersebut. sampai akhirnya setelah melihat keadaan aman, orang she Liang tersebut keluar dari tempat persembunyiannya itu. Diawasinya keadaan disekitar tempat itu, dan tampaknya dia tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Maka dia telah melangkah lagi dan terus menghampiri keruang tengah rumah tersebut, keadaan sepi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak dilihatnya. Orang she Liang itu dengan berhati-hati sekali telah menuju kepintu ruang tengah. Dia membuka sedikit dan mengintai. Sunyi dan sepi, tidak ada siapapun diruang dalam. Dia kemudian memasuki ruang dalam. Dilihatnya sebatang pedang dan sebatang golok tergantung didinding matanya bersinar, Namun dia tidak segera mengambil kedua benda itu, melainkan telah mengeluarkan semacam bungkusan kecil dari sakunya, dia mendekati pintu kamar Yo Ko. berjongkok disitu dengan hati-hati sekali dia membakar bungkusan kecil itu asap segera memenuhi ruangan. Itulah dupa tidur yang bisa membuat seseorang yang menyedotnya akan tidur dengan nyenyak. Setelah menanti sekian lama dan yakin bahwa dupa tidur itu telah memasuki kamar Yo Ko maka Liang Ie Tu baru mendekati golok dan pedang yang tergantung didinding. Diulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda itu, dengan wajah yang berseri-seri dan mulut tersungging senyuman licik. Namun belum lagi tangannya semua menyentuh kedua benda itu, justeru tahu-tahu Liang Ie Tu merasakan punggungnya seperti dijambak keras sekali oleh sesuatu. Belum lenyap kagetnya dan belum lagi mengetahui apa yang terjadi, justru disaat itu tubuhnya telah terangkat keatas dan terbanting di-lantai, sehingga Liang Ie Tu menjerit kesakitan punggungnya dirasakan pecah dan matanya berkunang-kunang.91 Dengan memaksakan diri dia merayap untuk bangun, disaat itupun dia melihat seseorang berdiri didekatnya, seorang lelaki bermuka tampan, dengan mata yang bersinar tajam penuh kejengkelan dan dengan lengan baju sebelah kanan berkibar-kibar lemas karena tidak ada lengannya.

"Sin Tiauw Taihiap........"

Mengeluh Liang Ie Tu dengan suara putus asa.

Dan Liang Ie Tu jadi mengeluh lagi waktu melihat dipintu berdiri seorang wanita cantik, yang tengah menatap kearahnya dengan wajah yang dingin sekali.

Wanita itu tidak lain dari Yo Hujin Siauw Liong Lie.

Tanpa berpikir lagi.

Liang Ie Tu telah ber lutut menganggukkan kepalanya sampai keningnya menghantam lantai berulang kali, menimbulkan suara yang beledak-beleduk.

Dan orang she Liang itupun telah menangis sambil sesambatan karena ketakutan sekali .

"Ampun, ampunilah hamba, Sin Tiauw Taihiap dengan memandang It Teng Locianpwe suka mengampuni jiwaku yang tidak berharga ini"

Yo Ko yang sejak tadi hanya mengawasi dengan sorot mata yang dingin telah mendengus.

"Hmmm, memang sejak semula aku telah mencurigai kau bukan sebangsa manusia baik-baik"

Katanya dengan suara yang tawar.

"Ternyata kedatanganmu hanya untuk mencuri senjata kami berdua! Kini bicaralah terus terang, sekali saja kau berdusta, jangan harap bisa lolos dari tangan kami!"

Liang Ie Tu mengiakan berulang kali, diam-diam dia mendongkol juga, karena dia telah memasang dupa tidur di muka pintu kamar tidur Yo Ko dan Siauw Liong Lie tetapi kenyataannya Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah keluar dari jendela dan mengambil jalan memutar tahu-tahu telah berada dibelakang pintu ruang dalam.92

"Siapa yang perintahkan kau datang kemari? Dan mengapa surat It Teng Taisu bisa jatuh ketanganmu?"

Tanya Yo Ko dengan suara yang dingin.

"Boanpwe berani bersumpah surat itu benar surat It Teng Taisu ..."

Kata Liang Ie Tu dengan menganggukkan kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu.

"Hemmm, akupun mengetahui bahwa surat itu memang surat It Teng Taisu. Tetapi mengapa bisa terjatuh ditanganmu ?"

Tanya Yo Ko lagi.

"Bukankah kemarin sore boanpwe telah menceritakan bahwa boanpwe pernah paman dengan It Teng Locianpwe"

Menyahuti orang she Liang itu.

"Jangan kau bicara dusta, belum pernah aku mendengar It Teng Taisu menyebut perihal diri mu" , kata Yo Ko bengis.

"Sungguh, memang boanpwe pernah paman dengan It Teng Taisu dan surat itupun It Teng Locianpwe yang berikan, meminta agar boanpwe menyampaikannya kepada Yo Locianpwe......"

Berkeras Liang Ie Tu dengan suara yang perlahan, tampaknya dia ketakutan sekali.

Yo Ko telah maju akan mengorek terus keterangan dari orang she Liang itu, karena dia penasaran bukan main menghadapi urusan hari ini.

Tetapi disaat itu, Siauw Liong Lie, merasakan pinggangnya sakit kembali, kepalanya pening dan matanya ber kunang-kunang, perutnya mual seperti ingin muntah dan mukanya pucat pias, dia telah menyender ditiang pintu sambil memegangi kepalanya.

"Kojie........usirlah orang itu !"

Katanya dengan suara yang agak tergetar.

Yo Ko terkejut melihat keadaan isterinya, dengan cepat dia telah menjambret dan mencekal punggung Liang Ie Tu, dengan cepat sekali dia mengangkat tubuh orang she Liang93 itu, dan melontarkan kedepan.

Walaupun hanya mempergunakan tangan kirinya, tetapi tenaga melempar Yo Ko hebat luar biasa.

Bukankah Kaisar Mangu terbinasa akibat timpukan batu oleh Yo Ko yang mempergunakan tangan kirinya juga, dengan ilmu "Tan Cie Sin Thong ?"

Maka dari itu bisa dibayangkan.

betapa hebat dan kerasnya lemparan Yo Ko terhadap Liang Ie Tu, lebih-lebih Yo Ko tengah dalam keadaan kuatir dan gusar melihat isterinya yang mendadak pucat pias seperti itu.

Tubuh Liang Ie Tu yang terlempar belasan tombak itu, telah terbanting keras.

Tetapi setelah mengeluarkan suara seruan kesakitan, tanpa berani menoleh, lagi dia telah pentang kaki untuk kabur secepatnya.

Tetapi baru berlari belasan langkah, tahu-tahu dari atas menyambar bayangan hitam yang sangat besar, tahu-tahu tubuh Liang Ie Tu telah melayang dan kemudian meluncur jatuh lagi.

Rupanya Sin Tiauw pun mengetahui bahwa Liang Ie Tu bukan sebangsa rnanusia baik-baik tadi dia yang menyambar dengan, cengkeramannya dan membawa terbang yang cukup tinggi, lalu melepaskannya kembali.

Semangat Liang Ie Tu seperti terbang meninggalkan raganya tanpa berani bersuara dia telah melarikan diri secepat mungkin karena takut tersiksa lagi.

Yo Ko telah cepat-cepat menghampiri Siauw Liong Lie, menanyakan dengan halus apa yang dirasakan oleh isterinya tersebut.

Setelah mendengar bahwa isterinya mabuk, dan pinggangnya yang sakit, Yo Ko cepat-cepat mengangkat, isterinya dan dibawa kekamarnya lalu merebahkan isterinya dipembaringan dengan penuh kasih sayang.94 Dengan kuatir sekali Yo Ko duduk menunggui Siauw Liong Lie.

Dilihatnya berangsur-angsur wajah isterinya memerah kembali dan Siauw Liong Lie pun telah dapat tersenyum lagi.

"Itulah gangguan anak kita yang nakal...."

Kata Siauw Liong Lie dengan manja.

Yo Ko mengusap-usap kening isterinya dengan tangan tunggal kirinya, mereka bahagia sekali.

Tetapi ketika Yo Ko rebah dipembaringan dan Siauw Liong Lie telah tertidur nyenyak, kembali pikiran Yo Ko jadi melayang-melayang diliputi kekuatiran terhadap It Teng Taisu.

Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah terjadi ?

Dan mengapa surat It Teng Taisu bisa terjatuh ketangan orang she Liang ini?

Siapakah orang she Liang itu yang mengakui dirinya pernah paman dengan It Teng Taisu.

Bermacam-macam pertanyaan.

meng aduk-aduk, dalam hati dan otak Yo Ko dan Pendekar berlengan tunggal yang sakti itu telah memutuskan besok untuk berangkat ke Hoa San untuk melihat sesungguhnya urusan apakah yang telah terjadi dan melanda dunia persilatan, Setelah mengambil keputusan seperti itu, barulah Yo Ko dapat memejamkan matanya dan tidur.

Keesokan harinya.

Setelah mempersiapkan keperluan dalam perjalanan, Yo Ko dan Siauw Liong Lie turun gunung, meninggalkan puncak Siauw-hong untuk menuju Hoa aan memenuhi undangan It Teng Taisu.

Sedangkan Sin Tauw ikut bersama mereka, terbang ditengah udara, dengan sekali mengeluarkan suara pekikkan yang nyaring.

Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari lamanya, suatu sore mereka tiba dimuka perkampungan Lu-yang cung.

Waktu itu baru saja Yo Ko ingin memberitahukan Siauw Liong Lie bahwa mereka akan bermalam di-kampung95 tersebut, karena Siauw Liong Lie tengah berisi, jelas tidak boleh terlalu letih dan harus Banyak istirahat, Tetapi belum saja Yo-Ko membuka mulut, justeru Sin Tiauw yang berada diatas mereka telah memekik dan terbang cepat sekali kearah depan.

Yo Ko, Siauw Liong Lie beran sekali melihat sikap Sin Tiauw mereka menduga tentu ada urusan sesuatu yang luar biasa.

Lama juga menanti, akhirnya pasangan suami isteri itu tidak dapat menahan hati lagi dan mengejar kearah mana tadi Sin Tiauw terbang.

Disaat mereka tiba didekat tanah datar yang tidak jauh dari tempat mereka berada tampak dua sosok tubuh yang tengah berdiri kaku berhadapan saling mengadu kekuatan tenaga dalam kelas tinggi.

Dan yang membuat mereka lebih terkejut justru salah seorang diantara kedua orang itu adalah Loo Boan Tong, sedangkan seorang lainnya, seorang berpakaian pendeta Mongolia yang mengingatkan suami isteri itu kepada Kim Lun Hoat Ong.

Disamping gelanggang pertempuran itu tampak seorang pemuda pelajar tengah menyaksikan jalannya pertarungan tenaga dalam kelas satu itu dengan mata terpentang lebar-lebar memancarkan ketakjubannya.

Yoko dan Siauw Liong Lie tidak mengenal pemuda pelajar itu.

Tetapi tampak Ciu Pek Thong telah mulai kewalahan menahan tenaga dalam dari lawannya sepasang kakinya telah melesak kedalam tanah sedalam empat cun karena terlampau kuatnya dia menahan sanggahan dari tindihan tenaga dalam pendeta mongolia itu.

"Liongjie, kau tunggu disini, biar kubereskan dulu urusan Ciu Toako.. !"

Kata Yo Ko. Siauw Liang-Lie mengangguk, dan Yo Ko secepat terbang telah melompat ketengah gelanggang, sedangkan mulutnya96 telah berteriak nyaring .

"Loo Boan Thong, jangan takut, aku akan membereskan imam ini !"

Ciu Pek Thong kaget bercampur girang.

Kaget karena sahabatnya yang sakti itu bisa muncul disitu secara kebetulan, girang karena dengan kedatangan Yo Ko, Tiat To Hoat ong yang menjadi lawannya itu akan dibereskan dengan cepat.

Tetapi Ciu Pek Thong tidak bisa menyahuti karena sekali saja dia membuka suara, berarti pecahlah perjalanan tenaga dalamnya, yang tengah dikerahkan mencapai puncaknya.

Ciu Pek Thong hanya berdiam diri saja.

Saat itu Yo Ko secepat kilat telah menggerakkan lengan kanan jubahnya yang "kosong"

Dan serangkum angin yang luar biasa telah menyambar kearah Loo Boan Tong dan Tiat To Hoat ong, kesudahannya hebat sekali, karena baik Ciu Pek Thong maupun Tiat To Hoat ong keduanya telah terdorong mundur terpisah satu dengan yang lainnya.

Yang paling terkejut adalah Tiat To Hoat-ong.

Dia bisa mengetahui betapa hebat dan luar biasanya tenaga dalam Yo Ko yang sempurna karena tidak mudah memisahkan doa tenaga raksasa yang tengah mengukur kekuatan satu dengan yang lainnya.

Tetapi Yo Ko justru dengan hanya sekali mengibas saja, dia telah berhasil membuat kedua orang itu terpisah.

Yo Ko mengawasi pendeta Mongolia itu.

Kemudian dia membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tanyanya ;

"Jika aku yang bodoh Yo Ko tidak salah mata, Taisu tentu seorang Lhama dari Mongolia .... ? "Tepat!"

Berseru Tiat To Hoat ong dengan bengis.

matanya masih mengawasi lengan baju Yo Ko yang kosong maka dia mengetahui, pemuda dihadapannya yang tampaknya berusia muda sekali dan memiliki kepandaian luar biasa disamping sangat tampan itu, ternyata hanya memiliki tangan tunggal,97 karena tidak memiliki tangan kanan, yang ternyata telah buntung.

Melihat cara pendeta itu menatap tangan kanan yang buntung itu Yo Ko tidak tersinggung hanya dengan tersenyum sabar dia telah menegur;

"Peperangan telah berakhir, pasukan tentara perang negeri Taisu telah ditarik pulang oleh Kublai ke-Utara, mengapa Taisu masih berkeliaran disini? Dilihat dari kepandaian yang Taisu miliki, jelas Taisu bukan orang sembarangan dinegerimu."

Tiat To Hoat-ong yang tengah murka, dan memang tidak mengenal Yo Ko, telah mendengus, dia telah mengawasi mendelik dan menunjuk kearah Loo Boan Thong.

"Dia mencari mampus. Hudya telah bertanya secara baik. apakah dia mengenal atau mengetahui dimana adanya sute (adik seperguruan) Hudya yang bernama Kim Lun Hoat-ong namun sungguh tidak tahu mati, dia telah mempermainkan Hudya dengan olok-olokannya yang tidak lucu" . Mendengar Loo Boan Tong mempermainkan pendeta Mongolia itu, dan melihat pendeta itu murka sekali, Yo Ko tak heran, justeru dia berpikir jika Loo Boan Tong tidak nakal, tentunya dia bukan Loo Boan Tong. Tetapi yang membuat Yo Ko jadi terkejut, justru pendeta Mongolia itu telah menyebut-nyebut Kim Lun Hoat-ong sebagai adik seperguruannya, disamping itu juga Yo Ko melihat kepandaian pendeta ini tidak boleh dibuat main-main. Maka sambil tersenyum Yo Ko telah berkata.

"Taisu, sungguh malang nasib Kim Lun Hoat ong, dia telah binasa karena dosanya yang terlalu melebihi takaran...!"

Muka Tiat To Hoat ong jadi berobah hebat.

"Jadi memang benar Kim Lun Hoat ong telah meninggal?"

Tanyanya serak suaranya. Yo Ko mengangguk.

"Hmm, pendeta tak tahu malu!"

Memaki Loo Boan Tong.

"aku Loo Boan Tong seumurnya belum pernah berdusta....98 bukankah tadi aku telah bicara benar bahwa si bangsat gundul Kim Lun telah mampus? Dan juga, mengapa tak hujan tak angin tahu-tahu engkau memanggil aku si monyet? Siapa yang tidak membalas dengan guyon pula. Jika engkau ingin menyusul Kim Lun si gundul bangsat itu, pergilah ke Im Lau tetapi jangan mengajak aku, aku sudah bilang tadi, aku masih mau makan nasi...."

Mendengar dan melihat lagak Ciu Pek Thong maka Yo Ko mau tidak mau jadi tertawa juga, karena sikap si tua yang kekanak-kanakan memang lucu Tetapi bagi Tiat To Hoat ong, sikap Ciu Pek Thong merupakan hinaan yang sangat hebat sekali, dengan mengeluarkan suara mengerang menyeramkan, dia telah melompat menubruk Ciu Pek Thong sambil melancarkan serangan dan gempuran telapak tangan hebat sekali.

Namun Yo Ko telah bergerak cepat, dengan lengan jubah sebelah kanan yang kosong, Yo Ko mengibas sehingga kembali serangkum angin yang menerjang Tiat To Hoat-ong memaksa pendeta Mongolia itu mau tidak mau harus mundur beberapa langkah.

Tentu saja Tiat To jadi terkejut sekali.

"Bocah busuk, siapa kau sesungguhnya ?' bentak Tiat To Hoat-ong setelah berhasil menguasai tubuhnya.

"Hm, jika memang benar apa yang Taisu katakan tadi bahwa kedatangan Taisu untuk mencari adik seperguruan Taisu, maka setelah Taisu mengetahui dan mendengar keterangan mengenai diri adik seperguruan Taisu itu, mengapa Taisu tidak berlalu ?" . Tajam kata-kata Yo Ko, yang sama juga seperti mengusir pendeta itu. Tubuh Tiat To Hoat-ong gemetar keras, dia murka bukan main, jenggotnya itu sampai bergetar bergerak-gerak.99 Tetapi, disaat itu hatinya ragu-ragu. Dia melihat pemuda ini masih berusia muda sekali, tetapi kepandaiannya luar biasa, lwekangnya pun mungkin berimbang dengannya. Maka mau Tiat To Hoat-ong menduga bahwa tidak jauh dari tempat ini pasti ada guru dari pemuda berkepandaian hebat itu. Maka berpikir begitu, akhirnya Tiat To Hoat-ong mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu. Dia memang bukan hanya memiliki kepandaian yang hebat, memiliki ilmu golok gubahan yang tangguh sekali, yang belum digunakan, tetapi otaknya cerdik sekali. Maka akhirnya dia telah mengangguk ! "Baiklah", katanya.

"Kelak Hudya tentu akan mencarimu untuk melihat berapa tinggikah sesungguhnya kepandaianmu. Sekarang Hudya tengah sibuk karena memiliki urusan penting, maka tidak bisa menemanimu untuk main-main"

Dan setelah berkata begitu, ia lalu menoleh dan mendelik satu kali lagi kepada Ciu Pek Thong, Tiat To Hoat-ong melompat ringan keatas kudanya yang kemudian dilarikan ketengah tegalan dengan cepat sekali, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan mata Yo Ko, Ciu Pek Thong, Siauw Liong Lie maupun Cu Kun Hong.

"Ahaa, untung saja kau datang Yo Hiante!"

Berseru Ciu Pek Thong memecahkan kesunyian tempat itu.

"Kalau tidak, hu, hu, kalah sih belum tentu, tetapi yang jelas harus membuang banyak tenaga sia-sia" . Yo Ko dan Siauw Liong Lie tertawa waktu mendengar perkataan Ciu Pek Thong yang jenaka itu. Cu Kun Hong cepat-cepat menghampiri mereka, dia memberi hormat sambil katanya.

"Boanpwe Cu Kun Hong sangat beruntung hari ini dapat bertemu dengan Samwie Taihiap Locianpwe" . Yo Ko cepat-cepat mencegah pemuda itu lebih hormat kepada mereka. Sebagaimana lazimnya Yo Ko bertiga Ciu Pek100 Thong dan Siauw Liong Lie melayani hasrat Cu Kun Hong untuk berkenalan, dan setelah basa-basi sejenak, akhirnya Yo Ko bertiga Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong berlalu. Cu Kun Hong mengawasi kepergian ketiga pendekar gagah itu dengan sorot mata kosong, hatinya kagum sekali akan kepandaian ketiga orang gagah itu. Gurunya sendiri belum tentu dapat menandingi seperlima dari kepandaian salah seorang ketiga pendekar itu. Maka dari itu, Kun Hong lama berdiri tertegun ditempatnya, walaupun bayangan ketiga pendekar itu sudah tidak terlibat. Dan akhirnya sambil menghela napas, Kun Hong juga telah melanjutkan perjalanannya. Hanya satu yang menghibur hatinya, tidak mudah orang berjumpa dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie, tetapi hari ini dia telah berhasil sekaligus bertemu muka dan menghunjuk hormat kepada Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong. >>o0o^d!w^o0o<< KINI Ciu Pek Thong melakukan perjalanan bersama Yo Ko dan Siauw Liong Lie, Jarak ke Hoa San dari tempat mereka berada sudah tidak terpisah terlalu jauh. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh hari, akhirnya mereka tiba dikaki gunung Hoasan sebelah selatan. Dari jauh, baik Yo Ko maupun Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong telah melihat menjulangnya puncak Giok Lie Hong yang tinggi dan megah. Yo Ko menjelaskan kepada Ciu Pek Thong dan Siauw Liong Lie, dia merasa heran bukan main atas adanya peristiwa seperti ini karena walaupun bagaimana dia merasakan bahwa didalam urusan yang tengah terjadi ini pasti terselip suatu urusan yang mencurigai dan tidak beres.101 It Teng Taisu merupakan salah seorang dari Ngo Ciat, lima jago luar biasa, dan mungkin diantara kelima jago dalam urutan Ngo Ciat tersebut, It Teng Taisu yang memiliki kepandaian yang tertinggi dengan "It Yang Cie"

Nya, Umpama kata memang terjadi suatu urusan yang hebat bagaimanapun, dengan mengandalkan kepandaiannya yang telah mencapai puncak kesempurnaannya, It Teng Taisu tentu akan berhasil menghadapi dan menyelesaikannya sendiri.

Yang mengherankan justru kini It Teng Taisu telah mengundang Yo Ko dan Siauw Liong Lie, mengundang Ciu Pek Thong, ahkan didalam surat It Teng Taisu kepada Yo Ko telah dijelaskan pendeta dari Selatan itupun telah mengundang Kwee Ceng dan Oey Yong yang menurut suratnya telah berangkat dan akan berkumpul di Hoa San, didekat makam Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

Entah urusan besar yang bagaimana sehingga seorang It Teng Taisu perlu mengundang jago-jago Ngo Ciat untuk bantu menyelesaikan urusannya itu.

Tetapi yang lebih mendatangkan kecurigaan dihati Yo Ko bertiga, justru surat yang disampaikan untuk Yo Ko itu diantar oleh seorang yang mencurigakan sekali, yang mengaku bernama Liang Ie Tu itu, yang akhirnya berusaha mencuri pedang dan golok Yo Ko.

Waktu Yo Ko menanyakan kepada Ciu Pek Thong, siapakah orangnya yang telah mengantarkan surat It Teng, yang ditujukan untuk Loo Boan Thong tersebut, Ciu Pek Thong menjelaskan diapun menghadapi teka-teki yang membingungkan, karena pembawa surat It Teng Taisu untuknya itu adalah seorang wanita pengemis yang pakaiannya pecah dan robek-robek mesum sekali, berusia diantara dua puluh tujuh tahun dan nampaknya agak sinting.

Dengan lagaknya yang edan-edanan seperti itu, tentu saja Ciu Pek Thong tidak bisa mengorek keterangan apa-apa dari pembawa surat.102 Namun disebabkan pemikiran Ciu Pek Thong memang sederhana dan polos, setelah membaca isi surat It Teng Taisu, yang sebagian besar, bunyinya itu mirip dengan surat yang diterima Yo Ko, Loo Boan Tong hanya berpikir untuk cepat-cepat melakukan perjalanan ke Hoa san untuk, memenuhi undangan It Teng Taisu disamping itu dia juga memang bermaksut untuk bertemu dengan sabahat-sabahatnya yang telah dirindukannya.

Tetapi dalam perjalanan justru dia telah dapat bertemu dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Pertemuan itu memang menggembirakan.

Tetapi dengan munculnya persoalan Tiat To Hoat-ong.

membuat mereka harus berpikir keras, bahwa urusan yang tengah dihadapi It Teng Taisu justru memiliki hubungan yang erat dengan pihak orang-orang Mongolia.

Walaupun bagaimana, memang kenyataannya mereka belum bisa menjawab sendiri teka-teki yang tengah mereka hadapi, disamping itu urusan belum pula menjadi jelas dengan hanya men duga-duga.

Dan jika kelak telah bertemu dengan pendeta dari selatan itulah baru persoalan menjadi jelas.

Akhirnya Yo ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong memutuskan tidak ingin memusingkan pikiran mereka dengan persoalan tersebut bukankah dalam beberapa hati lagi mereka segera akan bertemu dengan It Teng Taisu.

Maka pada waktu-waktu luang yang mereka miliki telah dipergunakan untuk pesiar menikmati keindahan yang terdapat di Hoasan, bahkan Siauw Liong Lie dan Yo Ko tidak lupa mendatangi kuil kecil yang berada dipuncak Giok Lie Hong, puncak Bidadari itu,dimana terdapat patungnya "bidadari"

Yang pahatannya dan bentuknya mirip dengan Cauwsu (nenek guru) mereka.

Kenyataan seperti itu memang lebih menggembirakan, karena tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang tidak-tidak dan belum pasti mereka dapat menikmati keindahan yang terdapat di Hoa San.

Memang Hoa San terkenal sekali memiliki103 banyak tempat-tempat yang indah.

dan keindahan yang terdapat di Hoa San tidak kalah jika dibandingkan dengan keindahan di Himalaya maupun Thian san.

>>o0o^d!w^o0o<<

Baca Juga: Mustika Gaib Buyung Hok

Baca Juga: Pedang Naga Hitam Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert