Ceritasilat Novel Online

Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 2

Eps 2 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.

Jilid 04 CIU Pek Thong memang memiliki sifat berandalan, dia tidak bisa berdiam lama-lama di-kuil kecil dipuncak Bidadari, dan dia meminta ijin dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie untuk mengelilingi bagian-bagian lainnya di gunung itu.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak mencegahnya, karena memang mengenal sifat Loo Boan Tong.

Sedangkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie menikmati keindahan dipuncak Giok Lie Hong dengan hati yang bahagia, terlebih lagi mereka teringat bahwa tidak lama lagi mereka akan menjadi ayah dan ibu dari seorang bayi yang mungil.

"Jika anak kita telah berusia dua tahun, kita harus mendidiknya baik-baik, disaat itu kita harus mulai menurunkan pelajaran lweekang sehingga disaat dia berusia lima belas tahun lweekangnya telah sempurna seperti kita sekarang ini...!"

Bisik Yo Ko dengan suara yang halus.

Siauw Liong Lie mengangguk manja, dia merebahkan kepalanya dibahu Yo Ko yang kanan, yang tidak terdapat lengannya, dia mempermainkan hidung suaminya dengan usapan yang lembut dan mesra sekali.

"Kojie kau mengharapkan anak lelaki atau anak perempuan ?"

Tanya Siauw Liong Lie.

"Jika Thian memberi anak laki-laki, aku sangat bersyukur tetapi jika Thian menganugerahkan anak perempuan, akupun bahagia sekali..."

Menyahuti Yo Ko.104

"Kalau aku justru mengharapkan kedua-duanya sekaligus, mudah-mudahan kita memperoleh anak kembar" , kata Siauw Liong Lie seperti juga menggumam sendirinya.

"Liongjie, jika memang kita memperoleh anak kembar, kau tentu terlalu letih.. !"

Halus sekali suara Yo Ko.

Disamping itu mereka menikmati keindahan disekitar tempat itu dengan penuh kebahagian, dunia seperti dimiliki mereka berdua.

Ciu Pek Thong yang meninggalkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie dipuncak Giok Lie Hong, telah putar kayuh tidak ada tujuan.

Semua pemandangan disekitarnya, walaupun indah namun dia tidak tertarik.

Tidak ada yang luar biasa yang bisa menyalurkan kenakalannya.

Tanpa disadarinya, akhirnya dia telah tiba disebelah barat gunung Hoa San, ditempat mana kedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang letaknya berdampingan itu berada.

Semula Ciu Pek Thong hanya ingin memaki-maki kuburan Auwyang Hong, untuk melampiaskan kemendongkolannya karena tidak memperoleh permainan yang menarik disekitar Hoa San tidak berhasil menjumpai seseorang yang bisa di permainkan dan digodanya.

Tetapi waktu tiba dihadapan kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong, Ciu Pek Thong di berdiri tertegun bagaikan patung, memandang kearah kedua kuburan itu, yang batu nisannya telah hancur, disamping itu juga gundukan tanah kuburan itu telah tidak karuan, meninggalkan dua buah lobang dan kosong tidak ada isinya.

Setelah tersadar dari kagetnya, Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusarnya, dia telah be teriak-teriak sambil memandang sekelilingnya.105 Disaat itu, disekitar tempat tersebut tidak ada seorang manusiapun.

Dan setelah puas memaki-maki kalang kabutan, Ciu Pek Thong berjongkok dan memeriksa kedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah kosong itu.

Ternyata kedua kuburan dari kedua tokoh rimba persilatan itu telah kosong.

Bekas-bekas tanah yang berserakan itu memperlihatkan bahwa tanah digali bukan dengan mempergunakan pacul melainkan dalam bentuk cakar-cakaran benda tajam.

Melihat itu Ciu Pek Thong ingin menduga tentu ada harimau atau macan kelaparan yang menggali kuburan tersebut.

Tetapi kemudian Ciu Pek Thong telah membantah sendiri pendapatnya itu, karena tidak mungkin harimau membongkar kuburan.

Disamping itu, Ciu Pek Thong juga telah melihatnya bongpay hancur berantakan karena di hantam oleh suatu kekuatan yang pasti disertai oleh lwekang yang sempurna sekali.

Siapakah orangnya yang telah merusak kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong .

sungguh berani selali orang yang melakukan perbuatan itu ?

Apakah surat undangan yang diberikan oleh It Teng Taisu memiliki hubungan dan sangkut paut dengan urusan ini ?, Karena tidak bisa memutuskan sendiri, bagaikan angin Ciu Pek Thong telah ber lari-lari menuju ke Giok Lie Hong.

Hanya menelan waltu yang tidak terlalu lama, karena Ciu Pek Thong mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya sehingga dia bisa berlari secepat angin, Loo Boan Tong telah tiba dipuncak Giok Lie Hong.

Saat itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tengah menikmati keindahan yang terdapat dil muka kuil kecil yang terdapat disitu, mereka jadi heran bukan main melihat Loo Boan Tong106 berlari-lari seperti dikejar setan, muka si tua nakal itu juga pucat disamping napasnya yang memburu keras sekali.

"Yo Hiante....celaka Yo Hiante......!"

Suara Ciu Pek Thong memburu keras sekali.

"Loo Boan Tong, seumur hidup kami baru kali ini kami melihat kau gugup dan ketakutan! seperti dikejar-kejar setan !"

Menggoda Sauw Liong Lie sambil tersenyum.

"Benar ! Benar ! Hari ini aku benar bertemu dengan setan....Justru setan penasaran. Setannya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah bangkit dari liang kuburnya !"

Masih Loo Thong berusaha berjenaka dalam keadaan gugupnya seperti itu. Keruan Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan main.

"Setan penasaran!"

Tanya mereka hampir serentak.

"Ya...mari kalian ikut bersamaku kuburan Pak Kay dan See Tok telah kosong. Mengangguk Ciu Pek Thong, Yang dimaksud dengan Pak Kay adalah Ang Cit Kong sedangkan See Tok adalah julukan Auwyang Hong semasa masih menduduki urutan Ngo Ciat. Keruan saja Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan main, tanpa banyak bertanya lagi mereka segera mengikuti Ciu Boan Thong untuk melihat keadaan kedua kuburan dari kedua tokoh rimba persilatan itu. Waktu mereka tiba dihadapan kedua kuburan yang telah kosong itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi berdiri menjublek Bukan main terkejutnya mereka, disamping juga merekapun murka sekali.

"Siapa manusia kurang ajar yang berani mati melakukan pekerjaan seperti ini ?"

Menggumam Yo Ko dengan gusar.

Tubuhnya, tampak menggigil menahan kemurkaannya yang bukan main.107 Segera juga Yo Ko dan Siauw Liong Lie melakukan pemeriksaan disekitar bekas kedua kuburan itu, yang telah kosong dan menyiarkan bau busuk dari mayat manusia...

Seperti juga halnya Ciu Pek Thong, maka pasangan suami isteri tersebut menemui bekas cakaran-cakaran ditanah yang berserakan itu.

"Aneh ?"

Tiba-Tiba Siauw Liong Lie telah berseru.

"Apanya yang aneh ?"

Tanya Ciu Pek Thong cepat, sambil mengawasi nyonya Yo itu. Sedangkan Yo Ko hanya mengawasi isterinya menantikan keterangan isterinya. Siauw Liong Lie menghela napas dalam-dalam.

"Kedua orang ini telah meninggal dunia dalam waktu yang cukup lama, mengapa baru sekarang kuburan mereka dibongkar orang ? Terlebih lagi, apa gunanya mayat-mayat yang hanya tinggal rangka belaka ? Apakah ada sesuatu yang tengah dicari oleh orang yang membongkar kuburan ini ? Bukankah ini sangat aneh sekali ?" . Yo Ko mengangguk.

"Mungkin juga surat undangan It Teng Taisu kepada kita memiliki hubungannya dengan peristiwa ini......!"

Yo Ko coba mengemukakan pikirannya. Siauw Liong Lie menggeleng.

"Tidak !"

Katanya tegas.

"Mengapa tidak ?".

"Ya, mengapa tidak ?"

Ikut bertanya Ciu Pek Thong, karena si tua jenaka itu memang penasaran sekali. Siauw Liong Lie kembali menghela napas "

Jika memang It Teng Taisu mengundang kita hanya disebabkan kedua kuburan ini dibongkar orang, tentu dia tidak akan mengatakan di dalam suratnya sebagai urusan besar.

Juga untuk urusan108 seperti ini, pasti It Teng Taisu tidak akan ribut-ribut, dia pasti dapat menyelidiki sendiri.

Namun, kukira didalam persoalan ini pasti terselip urusan yang aneh dan seperti yang dibilang oleh It Teng Taisu, yaitu urusan yang besar..." .

Yo Ko mengangguk membenarkan pendapat isterinya, Tetapi Loo Boan Tong telah menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tidak tepat......."

Dia menggumam.

"Bagaimana pendapatmu, Ciu Toako ?"

Tanya Yo Ko.

"Menurut dugaanku, Lam Ceng sudah tua dan pikun, waktu secara kebetulan sekali dia mengetahui kedua kuburan ini dibongkar orang, dia merasakan tenaganya sudah tidak memadai akibat usianya yang telah lanjut Maka dia telah meminta bantuan kepada sahabat-sahabat untuk menyelidikinya Tentu saja didalam persoalan ini, yang disebutnya sebagai urusan besar, tidak lain dari urusan pendeta gundul dari Mongolia Tiat To Hoat-ong itu !" .

"Tepat !"

Berseru Siauw Liong Lie.

"Dibongkarnya kedua kuburan ini oleh seseorang tentu memiliki hubungannya dengan kedatangan pendeta Mongolia itu kedaratan Tionggoan " .

"Jika melihat demikian, tentu akan muncul urusan yang cukup hebat ..."

Menggumam Yo Ko.

"Hebat atau tidak semuanya memang sudah tulisan takdir, dan semua kita harus hadapi,"

Kata Loo Boan Tong.

"Yang terpenting adalah justru mencari dulu kedua mayat See Tok dan Pak Kay, kasihan jika tulang kerangka mereka diberikan untuk disantap anjing-anjing buduk " . Dalam keadaan seperti itu, Loo Boan Tong masih bisa berjenaka dia telah tertawa terkekeh-kekeh. Sedangkan Yo Ko telah mengerutkan sepasang alisnya, kerena dia tengah berpikir keras.109 Secara beruntun telah bermunculan urusan yang membuatnya jadi bertanya-tanya. Seperti munculnya Liang Ie Tu yang mencurigakan, munculnya pengantar surat It Teng Taisu. Lalu Tiat To Hoat ong, yang kepandaiannya luar biasa tingginya. Dan kini kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong telah dibongkar orang sehingga tulang-tulang mereka lenyap tidak karuan parannya...... Dan juga, siapakah wanita yang berpakaian pecah-pecah yang mengantarkan surat It Teng Taisu kepada Ciu Pek Thong ? semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saling rangkai tidak hentinya. Disaat seperti itu, ditengah udara terdengar suara pekik burung rajawali. Waktu Yo Ko bertiga mengangkat kepala memandang keatas, mereka melihat Sin Tiauw tengah terbang melayang-layang akan menerkam mangsanya, yaitu seekor kelinci berbulu putih. Kelinci itu tampak ketakutan, dia telah berlari-lari kesana kemari dengan dikejar olah Sin Tiauw dari tengah udara. Waktu kelinci itu lewat didekat mereka, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie mengetahui walaupun bagaimana kelinci itu pasti akan berhasil ditangkap oleh Sin Tiauw yang sakti itu. Anehnya Sin Tiauw tidak segera meluncur terbang turun menukik untuk mencengkeram mangsanya itu, walaupun kelinci tersebut telah berlari-lari dilapangan terbuka seperti itu. Karena ketakutan sekali dikejar-kejar terus oleh Sin Tiauw yang seperti ingin mempermainkan dirinya, kelinci itu akhirnya berlari kearah lobang bekas kuburan Auwyang Hong. Disaat itulah, Sin Tiauw telah menukik secepat kilat, sayapnya yang lebar terpentang lebar lebar, sehingga bayangan hitam meliputi sekitar kedua kuburan itu, disaat itulah Sin Tiauw telah memekik dan walaupun jarak mereka, yaitu jarak Sin Tiauw dangan kelinci itu masih terpisah empat tombak dan disaat kelinci itu akan menyelusup masuk110 kedalam lobang kuburan itu, sayap kanan dari Sin Tiauw telah mengibas. Luar biasa kibasan sayapnya itu, karena tubuh kelinci tersebut terangkat dari tanah dan terlontarkan ketengah udara. Disaat tubuh kelinci itu terapung ditengah udara, Sin Tiauw telah dengan cepat sekali mencengkeram mangsanya dan membawanya terbang tinggi sekali.

"Bagus ! Bagus "

Berseru-seru Ciu Pek Thong kagum melihat cara menangkap yang dilakukan oleh Sin Tiauw, yang lain dengan cara-cara burung rawajali lainnya jika menangkap mangsanya yang biasa hanya menukik dan mencengkerem.

Tetapi disebabkan Sin Tiauw memang memiliki ilmu silat kelas satu, kibasan sayapnya mengandung kekuatan yang luar biasa sekali ...

!111 Dengan hati berduka dan berat Yo Ko menghela napas dalam-dalam.

Siauw Liong Lie dapat menyelami perasaan hati suaminya tersebut, dan kini kuburannya dibongkar seseorang, tulang belulangnya lenyap, bukankah hal itu menimbulkan kedukaan ?

Baru saja Siauw Liong Lie ingin menghibur suaminya, Yo Ko telah berkata perlahan;

"Ternyata sampai matinya dia tidak bisa beristirahat dengan tenang, tulang-tulangnya masih juga diganggu orang ....

"Inilah takdir, semasa hidupnya See Tok beracun sekali, tidak mengherankan banyak yang membencinya !"

Kata Ciu Pek Thong sambil tertawa.

"Tetapi, apakah Pak Kay Ang Cit Kong juga beracun?"

Tanya Yo Ko. Ciu Pek Thong tertegun, dia memandang diam sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya .

"Sudahlah, aku tidak tahu apa sesungguhnya yang terjadi, tetapi yang jelas kita harus membekuk pembongkar kuburan ini. Yo Ko mengangguk.

"Ya, tetapi kita harus menantikan dulu It Teng Taisu, walaupun bagaimana urusan ini terlampau berbelit dan membingungkan sekali. It Teng Taisu tentu dapat memberikan penjelasan yang membuka tabir rahasia membingungkan ini. Waktu yang dijanjikannya tinggal dua hari lagi"

"Tetapi Kojie, jika dilihat tanah yang berserakan ini, tampaknya kuburan dibongkar belum lama. Jika kita hanya berpeluk tangan menantikan It Teng Taisu selama dua hari lagi bukankah penjahat itu sudah melarikan diri jauh sekali ?"

Tanya Siauw Liong Lie. Yo Ko diam sejenak, seperti juga tengah berpikir keras. Akhirnya dia mengangguk112

"Baiklah, sambil menantikan kedatangan It Teng Taisu dan Kwee Peehu dan Peebo, kita mencari penjahat itu. Tiauw-heng mungkin akan dapat membantu banyak."

Dan setelah berkata begitu, Yo Ko bersiul nyaring sekali, dan tidak lama kemudian Sin Tiauw terbang mendatangi dengan cepat, Kelinci buruannya masih dicengkeramnya dan waktu burung rajawali itu tiba, Siauw Liong Lie telah mengambil kelinci itu.

"Tiauw-rteng"

Kata Yo Ko kemudian bersungguh-sungguh.

"kami membutuhkan sekali bantuanmu, mungkin kau bisa memecahkan teka teki yang tengah kami hadapi ini."

Burung rajawali itu seperti mengerti perkataan Yo Ko karena dia telah mengangguk-angguk perlahan sambil mengeluarkan suara pekikan berulangkali.

"Kini kau coba endus dulu bau dari kedua kuburan itu, lalu Tiauw-heng pergi mencari penjahat yang membongkar kedua kuburan itu disekitar. tempat ini, mungkin mereka belum pergi jauh"

Kata Yo Ko lagi.

Burung rajawali itu telah mengangguk lagi, lalu menghampiri kedua lobang kuburan yang telah kosong itu, dia segera memperhatikan sejenak, lalu dia mengeluarkan suara pekikan, tubuhnya telah melayang ketengah udara, terbang tinggi sekali.

Sayapnya yang lebar dan besar itu terdengar berbunyi berkepak-kepak tidak hentinya, semakin lama semakin menjauh, sehingga akhirnya hanya terlihat titik belaka dan kemudian lenyap dari pandangan Yo Ko bertiga.

Yo Ko menghela napas.

"Jika dilihat perkembangan yang ada seperti sekarang ini, tampaknya sulit bagi kita untuk hidup tenang tenteram, Liongjie"

Kata Yo Ko. Siauw Liong Lie mengangguk.

"Ya, jika dilihat demikian memang sulit kita hidup tenang dan tenteram, karena persoalan yang muncul tentu persoalan yang cukup luar biasa, yang memaksa kita untuk melibatkan diri ... ! Sebagai contoh,113 dapat kita lihat dibongkarnya kuburan See Tok dan Pak Kay ..!"

Yo Ko mengangguk mengiyakan.

"Dan yang terpenting lagi adalah persoalan munculnya Tiat To Hoat-ong, kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, jelas memaksa kita harus ber siap-siap untuk menghadapinya, karena yang pasti Tiat To Hoat ong tidak datang seorang diri, sedangkan kepandaian pendeta itu tampaknya jauh lebih tinggi dari Kim Lun Hoat-ong"

Yo Ko diam tidak menyahuti, karena nyonya Yo tersebut tengah berpikir keras.

Persoalan yang tengah mereka hadapi itu memang tidak bisa diremehkan, karena jika sampai daratan Tionggoan telah diinjak oleh orang-orang atau jago-jago Mongolia, ancaman untuk ketenteraman negara Song tersebut mulai terlihat lagi.

Terlebih pula, dalam tiga tahun terakhir ini, sejak Kublai mengajak pasukan perangnya mundur ke Utara pulang kenegeri mereka, ia telah memperoleh kemajuan yang pesat untuk membentuk pasukan perang yang kuat dan dahsyat, jauh lebih berhasil dari Kaisar Mangu, maka hal itu jelas merupakan ancaman yang tidak kecil dan disadari oleh rakyat tionggoan.

Namun mereka benar-benar tidak berdaya disebabkan raja dan pembesar Song umumnya telah mabok oleh kemenangan yang diperoleh, selalu menenggelamkan diri dengan pesta berfoya-foya lupa daratan, tidak ada perhatian mengurusi negeri.

Lebih lagi memang banyak menteri-menteri bermuka dua, yang secara diam-diam telah dihubungi Kublai dan menyatakan kesediaannya untuk menyambut pasukan perang negeri asing itu dari dalam.

Itulah ancaman yang tidak kecil.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie maupun beberapa orang-orang gagah lainnya memutuskan untuk hidup mengasingkan diri, karena muak melihat ke tidak sanggupan pembesar-pembesar114 Song mengurus negara.

Namun sebagai pecinta tanah air, merekapun tidak bisa berpeluk tangan saja jika melihat negara mereka terancam bahaya yang tidak kecil itu.

Ciu Pek Thong gelisah sendirinya karena Yo Ko maupun Siauw Liong Lie seperti tenggelam dalam ke ragu-raguannya.

sedangkan dia juga tidak memiliki kesempatan mengajak mereka ber cakap-cakap.

si kakek tua jenaka itu jadi gatal kakinya dan berangkat untuk menyusul Sin Tiauw guna ikut mencari penjahat yang telah membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.

Namun, belum lagi dia menyatakan niatnya itu kepada Yo Ko, tiba-tiba terdengar suara pekik Sin Tiauw dikejauhan dan disusul kemudian dengan tampaknya burung rajawali itu terbang mendatangi sambil mengeluarkan suara pekikan tidak hentinya.

Walaupun bagaimana, sikap yang diperlihatkan oleh rajawali merupakan kelakuan yang belum pernah terjadi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi terkejut.

Mereka segera menduga, jelas ada sesuatu yang telah terjadi dan tidak dapat dihadapi oleh burung rajawali tersebut.

Cepat-Cepat Siauw Liong Lie melepaskan kelinci yang sejak tadi dipeganginya, lalu bersama Yo Ko mereka memapak burung rajawali mereka, yang telah hinggap disamping mereka.

Begitu melihat apa yang terjadi didiri Sin Tiauw, Yo Ko dan Siauw Liong Lie mengeluarkan seruan kaget, dan cepat memeriksa sayap burung tersebut, yang tampak mengucurkan darah dan beberapa helai bulunya telah copot.

Ternyata beberapa batang jarum yang halus telah menempel disayap burung tersebut, dan darah yang mengucur keluar berwarna gelap kehitam-hitaman.

"Jarum beracun ?"

Berseru Siauw Liong Lie dengan suara ditenggorokan, tidak lancar.115 Yo Ko mengernyitkan alisnya dia mengambil dua batang ranting untuk mencabut keluar jarum-jarum yang melukai burung rajawali kesayangan mereka tersebut, dilihat dari bentuk jarum yang gagangnya berwarna gelap ke hitam-hitaman.

Yo Ko memang yakin jarum itu merupakan jarum beracun.

Dia bekerja cepat sekali setelah selasai mencabuti jarum-jarum itu Yo Ko menempelkan tangan kanannya di punggung rajawali sakti tersebut, mengempos semangatnya menyalurkan lweekangnya ketubuh burung itu.

Rajawali itu seperti mengerti, dia berdiam diri saja, hanya sekali-kali terdengar suara pekik perlahan bagaikan keluhan.

Tidak berselang lama, tampak dari bekas luka-luka itu mengucur darah yang berwarna hitam, semakin lama semakin merah dan akhirnya merah bersih.

Terbebaslah rajawali sakti itu dari keganasan racun jarum-jarum itu.

"Siapa yang telah melukaimu, Tiauw heng ?"

Tanya Siauw Liong Lie. Rajawali itu memekik sambil menggerakkan sayapnya yang satu menunjuk dari arah mana tadi dia terbang mendatangi.

"Biar aku melihatnya kesana......!"

Kata Ciu Pek Thong sambil menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat pesat sekali tanpa menanti jawaban Yo Ko maupun Siauw Liong Lie. Yo Ko juga telah menoleh kepada Siauw Liong Lie sambil katanya.

"Liong-jie, kau lindungi Tiauw-heng, biar aku melihat siapa yang melukainya ..."

Siauw Liong Lie mengangguk dengan hati gelisah.

Nyonya Yo liehay ilmu silatnya, tetapi melihat cara jarum-jarum yang tadi melukai Sin Tiauw, yang letak kedudukannya mengambil bentuk pat-kwa, maka tahulah dia bahwa orang yang melepaskan jarum-jarum itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.116 Disamping itu, Siauw Liong Lie menguatirkan sekali kapan kalau racunnya masih mengendap ditubuh rajawali tersebut, maka dia telah menempelkan lagi tangan kanannya, dia menyalurkan tenaga lwekangnya berusaha mendorong darah keluar dari luka-luka di-sayap rajawali tersebut.

Tetapi setelah melihat darah yang mengucur keluar memang berwarna merah bersih, hati nyonya Yo baru lega dan agak terhibur.

Dengan penuh kasih sayang, dia meng usap-usap burung ke sayangannya itu.

Sebetulnya, nyonya Yo seringkali duduk di-punggung rajawali tersebut berkeliling-keliling dilembah Siauw-hong, namun kini dia tidak tega untuk meminta Tiauw heng nya itu membawanya terbang untuk menyusul Yo Ko dan Ciu Pek Thong, maka akhirnya Siauw Liong Lie hanya bisa menanti didekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong bersama rajawali sakti tersebut, menantikan kembalinya Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

Ciu Pek Thong telah berlari dengan cepat sekali kearah dari mana Sin Tiauw tadi terbang mendatangi dalam keadaan terluka, dengan gerakan yang gesit sekali dia telah melompati dua buah jurang kecil dan kemudian tiba dipermukaan sebuah rimba.

Ditempat itu tidak terlihat seorang manusiapun juga, sehingga membuat Ciu Pek Thong jadi penasaran.

Kakek tua yang biasanya jenaka ini telah berlari lagi dua lie lebih, tetapi tetap saja dia tidak berhasil menjumpai seorang manusiapun disekitar tempat tersebut.

Akhirnya karena mendongkol bercampur gusar, Ciu Pek Thong jadi memaki-maki kalang kabutan seorang diri.

Yo Ko yang telah datang menyusul tidak lama kemudian, juga tidak berhasil menemui seorang manusiapun juga.

"Orang itu tentu telah melarikan diri !"

Kata Ciu Pek Thong dengan suara mendongkol.

"Sungguh-Sungguh seorang117 bangsat, berani melukai Tiauw heng, tetapi tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatannya ini"

Yo Ko tidak melayani ocehan Ciu Pek Thong, dia memandang sekitar tempat dimana mereka berada.

Dan matanya yang awas telah melihat sesuatu yang mencurigakan dibawah sebatang pohon.

Cepat-Cepat Yo Ko menghampiri pohon itu, dia telah berjongkok dan mengambil sesuatu.

Ciu Pek Thong telah cepat-cepat menghampirinya.

"Apa yang kau ambil. Yo Hiante?"

Tanyanya tertarik. Yo Ko mengangsurkan sebuah jepitan rambut, yang terbuat dari perak.

"Ini tentu milik orang yang telah melukai Tiauw-heng .. mungkin terjatuh tanpa diketahuinya. Dilihat demikian, yang melukai Tiauwheng tentu seorang wanita..."

Ciu Pek Thong memegangi jepitan rambut itu dengan geleng-geleng kepala gusar sekali.

"Jika aku berhasil menangkapnya, tentu rambutnya akan kupotong habis agar kepalanya menjadi gundul!"

Mengomel si kakek jejaka itu.

Yo Ko berusaha mencari-cari jejak orang itu diatas tanah, tetapi dia tidak berhasil hanya sekali-sekali dia melihat beberapa batang rumput yang patah, dan segera juga Yo Ko Mengetahui orang yang tengah mereka cari itu pasti seorang yang memiliki Ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali.

Hal itu dibuktikan karena walaupun berjalan ditanah pegunungan tersebut orang itu tidak meninggalkan jejak, dan rumput-rumput yang terinjak olehnya tidak menjadi patah atau rusak, hanya beberapa batang rumput saja yang rusak.

Tentunya orang itu mempergunakan ilmu berjalan semacam "Tiu Hong Hoat Su" , ilmu mengejar angin, yang telah mencapai puncak kesempurnaannya.118 Yang membuat Yo Ko jadi heran justru akhir-akhir ini dia justru bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepandaian yang sempurna sekali.

Seperti Tiat To Hoat-ong kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong, yang memiliki kepandaian begitu sempurna, tentu sudah merupakan lawan yang tangguh.

Dan sekarang burung rajawali yang sangat disayanginya telah dilukai oleh seseorang, bukan orang itupun tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Apakah orang telah melukai Tiauw hengnya itu memiliki hubungan dengan persoalan pembongkaran kuburan Auwyang Hong maupun Ang Cit Kong?

Yo Hiante, mari kita kejar terus orang itu"

Kata Ciu Pek Thong penasaran.

"Tentu orang itu belum pergi jauh !"

Yo Ko mengangguk.

Dengan mengambil patokan arah dari patahnya beberapa batang rumput itu Yo Ko telah mengambil kearah jurusan barat dari gunung Hoa San, yaitu yang menuju ke Giok Lie Hong.

Yo Ko telah mengempos semangatnya dan telah berlari secepat kilat.

Hanya dalam waktu seminuman teh, dia telah tiba dikuil kecil dipuncak Bidadari itu, meninggalkan Ciu Pek Thong jauh dibelakang.

Seperti diketahui, ilmu lari cepat Yo Ko telah mencapai puncak kesempurnaan, karena beberapa tahun yang telah lalu saja waktu dia mengejar-ngejar Leng-ho milik si nenek Eng Kauw, Yo Ko telah memperlihatkan keterampilannya yang luar biasa, yang dapat berlari dengan kecepatan bagaikan kilat dan tubuhnya seperti bayangan atau gumpalan warna belaka.

Terlebih lagi kini memang dia telah meyakini ilmunya kian sempurna selama tiga tahun terakhir, sehingga boleh dibilang didalam jagat ini sudah tidak ada orang yang bisa menandingi kehebatan ilmu lari cepat Yo Ko.119 Seperti diketahui, untuk kepandaian ilmu silat Ciu Pek Thong memang sempurna dan jarang sekali ada yang bisa menandingi kepandaian si kakek tua jenaka itu.

Yo Ko pun tidak bisa merubuhkannya walaupun Ciu Pek Thongpun tidak bisa berbuat banyak terhadap Yo Ko, Tetapi kenyataan yang ada, Yo Ko hanya memiliki tangan kiri tunggal, dengan tangan kanan yang telah tiada karena lengan kanannya telah buntung ditabas Kwee Hu.

Namun dengan hanya mengandalkan tangan kirinya yang telah terlatih oleh cara-cara latihan yang aneh, yang diperolehnya dari Sin Tiauw, yang membuat dia melatih diri dengan gelombang laut, maka lwekang Yo Ko berada di atas Ciu Pek Thong.

Dan begitu pula ilmu lari cepatnya, telah berada diatas Ciu Pek Thong.

Dalam mengejar lawan, Yo Ko yang tengah dalam gusar dan mendongkol akibat terbongkarnya kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong oleh seseorang yang belum diketahui dan kini Sin Tiauw dilukai orang, maka Sin Tiauw Tai-hiap ini telah mengerahkan seluruh kesanggupannya untuk berlari secepat mungkin dan meninggalkan Loo Boan Thong terpisah puluhan lie.

Namun waktu tiba dimuka pintu kuil kecil diatas puncak Giok Lie Hong, Yo Ko jadi mengeluarkan seruan terkejut dan menatap keundakan tangga pintu kuil dengan muka yang berobah serta mengawasi tertegun .

Ada sesuatu yang dilihatnya agak luar biasa Seorang wanita tua, dengan muka yang keriput, dengan pakaiannya yang berwarna kuning dan rambut yang disanggul tinggipun telah putih keseluruhannya, tengah duduk seenaknya melintangkan kaki.

dan tengah bernyanyi kecil.

"Akhh..."

Tanpa dikehendakinya Yo Ko jadi mengeluarkan keluhan pendek. Nenek tua itu menoleh, mukanya dingin120 namun lebih dingin lagi tatapan matanya yang seperti ingin menembus keulu hati Yo Ko.

"Letih?"

Tanyanya dengan teguran suara yang halus dan perlahan-lahan. Cepat-Cepat Yo Ko mempergunakan tangan kirinya yang didekap kedadanya, dia membungkuk memberi hormat.

"Lotaipo (nenek tua) aku yang rendah Yo Ko menghunjuk hormat,"

Kata Yo Ko. dia mengambil sikap seperti itu karena dia menyadari wanita tua tersebut tentu bukan seorang nenek sembarangan "Lotaipokah yang telah melukai rajawaliku?"

Si nenek tertawa kecil, walaupun telah lanjut usia, namun suara nenek tua itu masih merdu didengar.

"Melukai rajawalimu ? Kalau benar bagaimana ? Kalau tidak benar bagaimana?"

Menyahuti si nenek. Melihat sikap si nenek yang angin-anginan seperti itu, tentu saja membuat Yo Ko jadi mendongkol.

"Kalau memang tidak benar, tentu aku yang rendah ingin menyampaikan maaf, tetapi jika memang benar, yang pasti tentu saja kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu"

Kata Yo Ko mendongkol.

"Begitu ?"

Tanya si nenek sambil, menggeser duduknya dan dia telah duduk tegak menghadapi Yo Ko.

"Engkau si buntung ini tentunya yang biasa disebut sebagai Sin Tiauw Taihiap bukan ?"

Mendengar dirinya disebut sebagai "si buntung", keruan darah Yo Ko jadi meluap. Tetapi mengingat yang dihadapinya adalah seorang nenek, dia menindih kegusaran dihatinya.

"Tidak berani aku menerima gelar yang berat itu, dan itu hanya gurau sahabat-sahabatku saja...!"

Kata Yo Ko merendah.121

"Hmmm......."

Mendengus nenek tua itu dengan suara yang dingin.

"Engkau berani terima atau tidak itu bukan persoalanku. Tetapi yang ingin kutanyakan, apakah engkau merasakan diri mu sebagai pendekar nomor satu dijaman ini ?"

Yo Ko jadi tertegun mendengar pertanyaan si nenek tua yang tidak dikenalnya tersebut.

Cara bertanya si nenek bersungguh-sungguh, wajah dan matanya yang dingin itu memperlihatkan, sesuatu maksud yang terkandung.

Perlahan suaranya, tetapi pengaruhnya hebat, seperti juga dia bicara dengan mempergunakan lwekang yang tinggi.

Tentu saja Yo Ko tambah mendongkol tidak hujan tidak angin nenek tua ini seperti sengaja ingin mencari-cari urusan dengannya.

"Biarlah aku coba-coba main-main beberapa jurus" , pikir Yo Ko. Setelah berpikir begitu, Yo Ko menggeleng.

"Tingginya langit sulit diukur, dalamnya laut sukar diterka, gunung yang tinggi ada yang lebih tinggi, mengapa harus mempergunakan perkataan "

Jago nomor satu dijaman ini "?

diluar gunung terdapat gunung, diluar manusia terdapat manusia lainnya, diluar kepandaian tinggi terdapat yang lebih tinggi, bagaimana seseorang dapat bersikap sombong dan congkak menepuk dada sendiri memuji diri, seperti juga air laut yang mengasinkan airnya sendiri..."

Si nenek mengetahui dirinya disindir tetapi dia tidak memperlihatkan sikap mendongkol atau marah, dia telah tertawa.

"Justeru aku hendak bertanya, apakah kau asin sendiri atau memang diasini sahabat-sahabatmu ?"

Kata si nenek tawar. Yo Ko habis sabar, dia melangkah maju menghampiri.

"Maaf Lotaipo aku ingin lewat...."

Dan waktu berkata begitu, kakinya sudah diangkat untuk lewat disamping si122 nenek, Sambil berbuat begitu, Yo Ko mengerahkan tenaga lwekangnya dikaki kanannya, dan disaat kaki itu diayunkan muncul gelombang tenaga yang dahsyat sekali, karena kaki itu digerakkan untuk melangkah, sama halnya seperti juga menendang, Dan justru disebabkan Yo Ko mengambil arah di sebelah kanan, maka tidak mengherankan angin yang menerjang dari kakinya menyambar kepunggung si nenek.

Yo Ko telah memperhitungkan, jika si nenek ternyata hanya memiliki kepandaian yang rendah.

dia akan segera menarik pulang tenaganya begitu hampir mengenai sasaran dan tetap hanya merupakan langkah biasa.

Tetapi jika memang si nenek tidak menangkis dan memang memiliki kepandaian yang tinggi menerima angin yang muncul dari langkah kaki Yo Ko.

pendekar Rajawali Sakti tersebut akan menggerakkan tenaga dalamnya itu untuk mencoba kekuatan tenaga dalam nenek tua yang aseran tersebut.

Diluar dugaan Yo Ko, nenek tua itu hanya mendengus dingin dan sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya, tetap duduk kaku di tempatnya, bahkan tangan kanannya digerakkan untuk menggaruk kepalanya yang tampaknya gatal.

Dengan gerakannya itu, dengan tangannya yang kiri dibiarkan dipangkuannya dan tangannya diangkat sikut tangannya itu menyambuti kaki Yo Ko.

Benturan yang dilakukan seperti tidak sengaja itu hebat luar biasa.

Tubuh si nenek bergoyang-goyang, sedangkan Yo Ko meresakan kakinya kesemutan.

Tetapi Yo Ko telah melangkah berada didalam.

Si nenek tua itu diam-diam terkejut bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan kecil, tampaknya murka bukan main, sebab mukanya dan matanya makin dingin saja.123 Yo Ko juga terkejut bukan main, karena tadi waktu kakinya dibentur oleh sikut si nenek tua itu, tenaga benturan yang terjadi memang hebat bukan main.

Disamping itu, juga Yo Ko merasakan semacam getaran tajam yang berusaha menerobos masuk kedalam kulit kakinya, tenaga itu benar-benar merupakan ilmu lwekang yang sejati, yang bisa meremukkan tulang dengan hanya benturan seperti itu.

Keruan saja Yo Ko jadi heran juga.

Jika dilihat dari cara si nenek melancarkan lwekang-nya itu, maka tampaknya dia bukan mempergunakan ilmu silat dari daratan Tionggoan.

Se tidak-tidaknya dia memang menyadari, kepandaian si nenek walaupun tidak berada diatasnya, tetapi juga sulit untuk dilayani.

"Bocah, benar-benar memang kau si buntung yang sudah asin !"

Kata si nenek dengan suaranya yang dingin.

"Baik, baik, aku justru ingin melihatnya apakah benar-benar kau asin luar dalam, atau memang hanya asin bagian luarnya, lalu dalamnya tawar" . Setelah berkata begitu, tampak si nenek tua tersebut melompat berdiri, dengan gerakan yang gesit sekali. Gerakannya itu bukan main cepatnya, dia juga telah melepaskan ikatan pinggangnya, dengan ikat pinggang yang berwarna hijau itu, dia mengibas, dan di tengah udara terdengar suara mengaung. Itulah hebat sekali, ikat pinggang terbuat dari secarik kain yang lemas dan tidak memiliki tenaga yang keras, tetapi dengan dikibas begitu, dan dengan cepat mengeluarkan suara yang mengaung keras, keruan saja membuktikan lwekang si nenek luar biasa. Yo Ko yang dalam keadaan mendongkol yang berulang kali mendengar dirinya disebut si buntung, telah berlaku lebih124 waspada, dan dia telah melancarkan serangan yang mengincar bagian berbahaya ditubuh si nenek. Yo Ko melakukan serangan yang cepat seperti itu, karena dia tidak mau mem buang-buang waktu lagi dia telah bermaksud untuk merubuhkan si nenek didalam waktu yang singkat dan mendesaknya agar dia mengaku apakah dia yang melukai rajawalinya atau memang bukan. Jika memang bukan si nenek yang melukai rajawalinya, tentu dia bisa mengejar penjahat yang sesungguhnya. Si nenek juga telah berteriak "Bagus !"

Sambil cepat sekali dia berkelit kesamping, dan membarengi dengan itu dia telah menggerakkan tangannya yang memegang ikat pinggangnya.125 Gerakannya cepat sekali, ujung ikat pinggangnya itu seperti seekor ular naga, telah menyambar kearah mata kanan Yo Ko !

Benar-Benar luar biasa.

Si nenek telah melancarkan serangan dengan serangan yang sekaligus memilih bagian yang terlemah dari lawannya, tentu saja Yo Ko ber tambah yakin bahwa si nenek bukan seorang nenek tua yang bisa dipandang remeh.

Disamping memang dia bersikap lebih waspada, juga Yo Ko jadi bertanya-tanya didalam hatinya, entah siapa adanya nenek tua itu.

Walaupun bagaimana Yo Ko tidak bisa berpikir terlalu lama karena si nenek dengan mengeluarkan seruan "awas !"

Telah menggerakan ikat pinggangnya lagi, kali ini ikat pinggang itu menyambar-nyambar dengan gerakan berliku-liku bagaikan seekor ular yang menuju kearah Yo Ko dan disaat ujungnya hanya terpisah kurang lebih empat dim, tahu-tahu ikat pinggang itu telah menjadi lurus dan ujungnya menyambar tepat keulu hati YoKo.

Keruan Yo Ko terkejut.

Semula dia menduga nenek tua itu ingin mempergunakan tenaga lembek, namun kenyataannya si nenek telah mempergunakan sekaligus tenaga lunak dan keras yang digabung menjadi satu dan digerakkan dengan sekehendak hatinya, karena dia bisa mempergunakan tenaga lunak untuk melibat lawan, kemudian disaat lawan lengah, dia membarengi dengan serangan tenaga keras, dimana ikat pinggangnya berobah sifatnya menjadi keras melebihi lempengan baja.

Tetapi Yo Ko mana memandang sebelah mata serangan seperti itu?

Dia hanya heran mengapa si nenek tua ini baru dijumpainya sekarang?

Mengapa sebelumnya dia belum pernah mendengar atau melihatnya?

Bukankah si nenek tangguh sekali?

dan sesungguhnya ada permusuhan apakah diantara dia dengan si nenek tua itu sehingga memusuhinya demikian rupa ?" 126 Dengan kegesitan yang luar biasa, Yo Ko telah berkelit dari ujung ikat pinggang itu dan begitu pula sampai ber ulang kali.

Yo Ko telah mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh si nenek, karena Yo Ko ingin melihat dulu sampai berapa tinggi sesungguhnya ilmu si nenek dan berasal dari pintu perguruan silat yang mana.

Tetapi, cara menyerang si nenek ngawur sekali.

Walaupun memang hebat.

Sesaat dia mempergunakan ilmu pedang Siauw Lim Sie, walau pun dengan mempergunakan ikat pinggangnya, jurus ilmu pedang Siauw Lim Kiam hoat itu hebat bukan main.

Tetapi baru dua tiga jurus dia telah mempergunakan jurus-jurus dari pintu perguruan Ngo Tek Kiamhoat, ilmu pedang dari Lima Bintang.

Keruan saja Yo Ko jadi tambah heran dan bingung, tidak bisa dia menerka asal usul dari nenek tua itu.

Dengan mengeluarkan suara siulan cukup nyaring, tampak Yo Ko memutar tubuhnya, akhirnya suatu kali ikat pinggang si nenek menyambar datang, Yo Ko tidak berkelit, dia telah mengeluarkan tangannya, dia telah mencekal ujung ikat pinggang itu dengan kuat, sehingga tidak bergeming.

Nenek tua yang luar biasa itu telah berusaha untuk menariknya, tetapi dia tidak berhasil menariknya terlepas dari cekalan tangan Yo Ko.

Disamping itu.

si nenek tua juga telah berusaha mengerahkan tenaga dalamnya membuat ikat pinggang itu menjadi lurus keras kaku, lalu mendorong sekuat tenaganya untuk menusuk Yo Ko, tetapi usahanya itupun gagal.

"Lotaipo, bisakah aku yang rendah mengetahui nama dan she mu yang harum ?"

Tanya Yo Ko kemudian dengan suara yang nyaring sambil memegangi terus ujung ikat pinggang si nenek tua tersebut.

"Dan ada ganjelan apakah diantara kita berdua ?" .127 Si nenek telah berobah mukanya menjadi pucat kehijau-hijauan, dia murka bukan main, karena dia merasakan dirinya dipermainkan oleh Yo Ko.

"Apa perdulimu untuk mengetahui nama dan she ku ? Ciss, manusia seperti engkau tidak berharga mendengarnya."

Dan membarengi bentakannya itu,dengan cepat sekali tampak si nenek telah mengibaskan tangan kirinya, dengan menimbulkan suara srrrr, srrrr tampak tiga jarum kuning telah menyambar pesat sekali ke arah Yo Ko.

Tangan kiri Yo Ko tengah tengah mencekal ikat pinggang si nenek, dan diapun terpisah dalam jarak yang tidak begitu jauh, maka jarum-jarum yang menyambar datang ketiga jalan darahnya itu merupakan serangan jarak dekat yang sulit dielakkan jika memang Yo Ko tidak mau melepaskan cekalannya di ujung ikat pinggang si nenek.

Tetapi Yo Ko memang telah memiliki ilmu yang sempurna sekali dia tidak menjadi gugup atau terkejut melihat datangnya serangan seperti itu, dengan mengeluarkan seruan yang nyaring nampak Yo Ko mengibaskan lengan jubah kanannya yang kosong itu.

Ujung jubah yang kosong itu menyampok ketiga batang jarum si nenek, dan membarengi jarum terpental Yo Ko menghentak keras ujung ikat pinggangnya si nenek sambil mengerahkan tenaga dalamnya, maka tidak ampun lagi tubuh si nenek telah terangkat dan melambung ketengah udara, karena si nenek tidak mau melepaskan ikat pinggangnya.

Sambil menghentak begitu.

Yo Ko tidak mencekali terus ujung ikat pinggang si nenek, melainkan dia melepaskan, maka tubuh si nenek tua yang luar biasa itu seperti dilemparkan saja, melayang ditengah udara, menuju kedinding batu gunung yang akan ditubruknya,128 Sedangkan Yo Ko begitu melepaskan cekalannya segera berjongkok, dia telah mengambil tiga batang jarum si nenek diperhatikannya baik-baik mukanya jadi berobah.

Dikenalnya jarum yang dipergunakan nenek tua itu juga sama bentuk dan rupanya dengan jarum-jarum yang telah melukai Sin Tiauw.

Disaat itulah muncul murkanya.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras Yo Ko menotolkan kakinya ditanah, tubuhnya telah melambung dengan gerakan yang cepat sekali, dia juga telah mengulurkan tangankirinya mencekal punggung si nenek tua itu, yang dicengkeramnya keras sekali.

Tubuh si nenek yang semula melayang menyambar dinding batu itu telah berhasil ditahan oleh YoKo.

Dengan sengit Yo Ko melontarkan tubuh nenek tua itu ketanah.

"Apakah kini kau mau mengakui bahwa rajawaliku telah dilukai oleh kau ?"

Tegur Yo Ko bengis. Si nenek walaupun baru saja menghadapi bahaya maut, tetap memperlihatkan sikap yang aseran dan angin-anginan, dengan tertawa dingin dia telah menyahuti.

"apa pedulimu jika memang benar-benar aku yang melukai rajawali kurang ajar itu ?, hmm, engkau memang benar-benar memiliki kepandaian cukup tinggi, mungkin satu atau dua tingkat lebih tinggi dariku. Tetapi rubuhnya aku ditanganmu, karena akupun baru mempelajari delapan bagian ilmuku yang belum kupelajari rampung. Jika kau benar mengakui dirimu sebagai seorang lelaki gagah lepaskan aku, dua tahun lagi nanti aku akan mencarimu untuk mengadu kepandaian lagi, untuk menentukan siapa yang tinggi dan siapa yang rendah...!"

Yo Ko berdiam diri sejenak, dia mengawasi si nenek.

Sesungguhnya hatinya saat itu tengah digeluti oleh kemarahan yang berkobar-kobar.

Coba, kalau saja yang melukai rajawalinya itu seorang lelaki, tentu dia telah129 mengayunkan tangannya untuk menghajar mati.

Tetapi kini ternyata yang telah melukai burung rajawalinya itu seorang wanita tua yang telah ubanan seperti itu, membuat dia jadi serba salah menentukan langkah.

"Pergilah........!"

Akhirnya Yo Ko mengusir dengan suara yang dingin.

"Pergilah kau menggelinding dari hadapanku, dua tahun atau sepuluh tahunpun akan kutunggu !"

Si nenek telah menatap dingin, kemudian menjerit seperti menangis keras, tubuhnya melompat ketengah udara, lalu kedua kakinya menotok dinding disampingnya, tubuhnya melambung sangat tinggi sekali dan kedua kakinya menotok pula, sehingga berulang kali tubuhnya melambung semakin tinggi, Gerakan yang dilakukan itu sangat cepat sekali dalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah lenyap dari pandangan Yo Ko.

Yo Ko menghela napas, baru saja dia ingin kembali ketempat dimana Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tengah menantinya, dia mendengar suara Ciu Pek Thong yang menegurnya;

"Mengapa dilepaskan ... ?"

"Sudahlah Ciu Toako ."

Kata Yo Ko.

"Nenek tua seperti itu tidak perlu dilayani.

"Tetapi kau belum menanyakan, apakah dia yang telah merusak kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong......"

Kata Ciu Pek Thong, yang baru tiba itu setelah berlari-lari keras cukup lama. Yo Ko menggeleng.

"Kukira bukan dia"

Katanya.

"Ehhh, mengapa kau bisa menduga begitu ?"

Tanya Ciu Pek Thong heran.

"Ada seseorang yang tengah mempermainkan kita..."

Jawab Yo Ko.130 Ciu Pek Thong masih ingin bertanya lagi, tetapi Yo Ko telah mengajaknya untuk kembali ketempat Siauw Liong Lie.

"Mungkin Liongjie dan Tiauw-heng menanti kita terlampau lama...!"

Kata Yo Ko sambil menjejakkan kakinya melompat gesit sekali "Mari kita kembali."

Ciu Pek Thong terpaksa harus mengikutinya menuruni puncak Giok Lie Hong, dan lari berendeng dengan Yo Ko, karena Yo Ko tidak lari sekuat tadi.

Tetapi waktu mereka tiba ditempat kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong yang telah dirusak seseorang itu, Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak melihat Siauw Liong Lie.

Begitu pula Sin Tiauw, tidak terlihat disekitar tempat itu.

"Liongjie !"

Memanggil Yo Ko dengan suara yang keras sekali.

Tetapi tidak ada sahutan.

Yo Ko juga telah bersiul keras dengan hati yang kuatir bukan main.

Suara siulannya itu memanggil Rajawali saktinya.

Namun hanya suara siulan itu saja yang menggema dan burung rajawali itu tidak terlihat, entah burung rajawali dan Siauw Liong Lie pergi kemana.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi panik, mereka tambah berkuatir.

Dengan cepat Yo Ko memusatkan tenaga dalamnya di tantian, lalu dia mengerahkannya sambil berteriak memanggil ;

"Siauw Liong Lie"

Suara Yo Ko menggema keras disekitar gunung tersebut, seperti mengaumnya harimau dan meraungnya naga.

Suaranya itu menggetarkan gunung itu, bagaikan terjadi gempa.

karena tenaga dalam yang dipergunakannya merupakan tenaga dalam yang telah mencapai puncak kemahiran.

Walaupun Siauw Liong Lie berada didalam jarak131 yang terpisah puluhan lie, tentu dia akan mendengarnya suara Yo Ko yang keras luar biasa itu dapat terdengar sampai lima puluh lie lebih.

Ciu Pek Thong sendiri menggidik mendengar suara panggilan Yo Ko itu, bulu tengguknya berdiri, karena telingganya seperti tuli dan jantungnya tergoncang bukan main kagumnya Ciu Pek Thong, karena sebagai salah seorang yang duduk dalam urutan Ngo Ciat dia masih menggidik dan jantungnya tergoncang mendengar suara teriakan Yo K o.

Hal itu telah membuktikan betapa hebat dan sempurnanya lwekang yang dimiliki To Ko.

sedangkan Yo Ko jadi pucat dan gugup sekali karena dia jadi berkuatir bukan main waktu melihat teriakannya yang begitu keras dan dapat terdengar jauh, tidak memperoleh sahutan sama sekali.

Lalu dia berlari-lari kesana kemari dengan panik sambil memanggil-manggil dengan keras, Tetapi tetap saja Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw seperti lenyap kedasar bumi.

Salah satu diantara keduanya, baik Siauw Liong Lie maupun Sin Tiauw tidak terlihat bayangannya.

Ciu Pek Thong yang ikut gugup, tidak jarang ber jingkrak-jingkrak, karena kakek jenaka itu binggung karena mereka telah berlari-lari disekitar tempat itu untuk mencari Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, tetapi usaha mereka tetap tidak memberikan hasil.

Yo Ko sampai ingin menduga apakah Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw telah dilukai seseorang dan ditawan orang ?, tetapi mengingat kepandaian Siauw Liong Lie yang tidak berada dibawahnya, maka Yo Ko tidak yakin ada yang berhasil melukai atau menawan mereka.

Suara Yo Ko bergema keras disekitar Hoa San sambung menyambung, sebentar terdengar diutara kemudian dibarat,132 lalu diselatan ....

karena Yo Ko telah berlari-lari seperti lupa ingatan sambil memanggil-manggil Siauw Liong Lie dengan suara nyaring dan keras luar biasa, disertai oleh menyalurkan tenaga dalam.

Yang membuat Yo Ko berkuatir justru Siauw Liong Lie tengah berisi, dalam keadaan hamil Siauw Liong Lie sering merasakan matanya gelap berkunang-kunang dan kepalanya mabok.

Apakah disaat Yo Ko meninggalkannya bersama Sin Tiauw, Siauw Liong Lie justru dalam keadaan mabok dengan mata yang berkunang-kunang dan pinggang sakit, dan juga disaat itu musuh muncul mempergunakan kesempatan baik itu untuk menawan Siauw Liong Lie ?

Berpikir begitu, Yo Ko jadi semakin panik dalam kekuatiran yang sangat, dia terus juga menggigil.

"Liongjie ! Liongjie ... Liongjieee ...!"

Suaranya itu sambung menyambung.

Pohon-Pohon terhembus angin lembut bergerak perlahan, mega memenuhi langit, suara Yo Ko terdengar terus, tetapi Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tetap lenyap tidak meninggalkan jejak ...

Kemanakah perginya Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw ?

Ternyata ketika Yo Ko dan Ciu Pek Thong berlalu untuk mengejar orang yang telah melukai Sin Tiauw, Siauw Liong Lie menantikan dengan tidak sabar dan berkuatir sekali.

Walaupun Siauw Liong Lie mengetahui bahwa Yo Ko memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tetapi entah mengapa sejak dia mengandung perasaan dan hatinya jadi kecil dan selalu menguatirkan keselamatan suaminya jika tengah menghadapi suatu urusan yang tidak mengembirakan.

Disamping itu Siauw Liong Lie merasakan hatinya sering tergoncang dan lebih lemah dari sebelumnya.

Latihannya selama dikuburan Mayat Hidup, disaat dia berguru dan melatih diri menindih dan membuyarkan perasaan, ternyata membawa manfaat terlalu besar disaat133 telah menjadi nyonya Yo.

Berbagai perasaan, seperti sedih, senang, gembira dan jengkel seringkali menggoda hatinya.

Dan memang Siauw Liong Lie menyadari, bahwa gejala-gejala yang dirasakannya seperti akhir-akhir ini adalah gejala-gejala yang wajar dari seorang wanita yang tengah hamil, sebab Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita yang mungkin nomor satu didalam rimba persilatan dijaman itu, telah mengetahui letak dan perobahan yang terjadi pada otot-otot perutnya maupun munculnya kelenjar-kelenjar baru atas kehadiran si jabang bayi diperutnya.

Tetapi, Siauw Liong Lie juga tidak menghendaki jika dirinya terlalu dikuasai oleh emosi dan perasaannya, maka dia selalu berusaha untuk mengatasi diri.

Setiap Kali selesai melatih lweekang dilembah puncak Siauw Hong, Siauw Liong Lie memecahkan perhatiannya untuk bergurau dan bermain-main dengan Sin Tiauw, dengan disaksikan oleh Yo Ko.

Dan penghidupan dilembah puncak Siauw Hong memang merupakan penghidupan yang bahagia sekali bagi pasangan suami isteri itu.

Tetapi kini karena mereka memenuhi undangan It Teng Taisu mereka mulai berurusan dengan beberapa persoalan yang mungkin akan berakhir dengan peristiwa-peristiwa yang hebat dan mengerikan.

Tetapi sebagai pasangan suami isteri yang memiliki kepandaian telah mencapai puncaknya sama halnya seperti Yo Ko; Siauw Liong Lie pun tidak pernah takut terhadap siapapun juga.

Waktu itu setelah menanti sekian lama Yo Ko dan Ciu Pek Thong belum juga kembali, Siauw Liong Lie mulai gelisah bukan main.

Dia duduk disamping Sin Tiauw, mengusap-usap dan merapikan bulu burung rajawali itu.134 Tetapi sejenak kemudian dia telah berdiri dan memandang jauh, mengharap-harap kalau dia bisa melihat Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang telah kembali.

Tetapi kedua orang itu telah pergi sekian lama tak muncul lagi.

Bahkan dari kejauhan, dari arah puncak Giok Lie Hong didengarnya memantul suara yang cukup aneh, seperti suara tangis, seperti suara tawa.

Diam-iiam Siauw Liong Lie jadi terkejut Sekali dia telah memasang pendengarannya lebih baik dan mengawasi sekitar tempat itu.

Dan telinganya yang tajam itu seperti mendengar napas seorang yang tidak jauh disekitar tempat itu.

Kembali nyonya Yo ini terkejut sekali, dia menyadarinya bahwa ada seseorang yang tengah bersembunyi di dekat tempatnya berada.

Tetapi Siauw Liong Lie membawa sikap yang tenang, dia tidak mau menimbulkan kecurigaan bagi orang yang tengah tersembunyi itu karena Siauw Liong Lie bermaksud membekuknya.

Dia telah membungkuk mengambil dua butir batu kecil, sebesar ukuran kacang tanah.

Kemudian tanpa mengeluarkan suara apa-apa.

Siauw Liong Lie menyentil kedua batu kecil itu kearah suara desah napas itu.

Seketika terdengar suara jerit kesakitan dan kemudian keadaan ditempat itu sunyi kembali.

Siauw Liong Lie menghampiri segerombolan pohon bunga dia melibat dibalik dari pohon bunga yang rimbun itu tampak sesosok tubuh lelaki yang menggeletak tidak bergerak.

Dengan mempergunakan ujung kakinya Siauw Liong Lie menendang keluar sosok tubuh itu yang rebah terlentang ditanah.

Ternyata korban timpukan batu kecil yang dilontarkan Siauw Liong Lie itu seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, wajahnya tidak terlalu cakap, tetapi pakaiannya perlente sekali.

Saat itu, karena jalan darah Tiang-bu-hiat135 didekat bahunya tertotok, sekujur tubuh pemuda itu jadi kaku tidak bisa digerakkan dan hanya bola matanya yang bergerak-gerak memancarkan perasaan takut yang bukan main.

Tadi, waktu dia bersembunyi dibalik pohon bunga yang rimbun itu, dia merasakan bahunya ngilu dengan tiba-tiba dan kemudian dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.

Itulah yang telah membuat dia jadi mengeluarkan suara jeritan.

Semula, dia tidak menyangka Siauw Liong Lie akan mengetahui tempat persembunyiannya.

Karena disamping jaraknya yang terpisah cukup jauh, pohon-pohon bunga itupun lebat sekali.

Tetapi dia tidak menyangka bahwa Siauw Liong Lie memiliki pendengaran yang tajam sekali, walaupun jarak mereka terpisah cukup jauh, kenyataannya nyonya Yo berhasil mendengar desah napas si pemuda yang sangat perlahan itu, yang akhirnya telah membuat nyonya Yo menimpuk dengan batu kecil untuk menotok jalan darahnya.

"Siapa kau ?"

Bentak Siauw Liong Lie sambil mengerutkan alisnya.

"Mengapa kau bersembunyi disitu ?". >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 05 PEMUDA itu tengah ketakutan setengah mati ditanya demikian segera juga dia menangis.

"Ampun...ampunilah aku, Liehiap...aku......aku tidak sengaja bersembunyi disitu. Tadi secara kebetulan aku tiba ditempat ini dan mendengar suara yang ribut-ribut, kukira ada serombongan Ouw pak (perampok), maka cepat-cepat aku bersembunyi" 136 Siauw Liong Lie tersenyum tawar, dia mengetahui pemuda itu bicara justa. Tetapi karena nyonya Yo tengah memikirkan suaminya dan Ciu Pek Thong yang belum juga kembali dan juga melihat orang itu hanya merupakan seorang muda yang tidak memiliki kepandaian apa-apa maka dia telah menendang dengan ujung sepatunya membuka totokan jalan darah pemuda itu.

"Pergilah kau !"

Katanya dengan suara yang dingin.

Pemuda itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih telah cepat-cepat pentang langkah lebar untuk berlalu dari tempat itu.

Siauw Liong Lie menghela napas sambil kembali menghampiri Sin Tiauw, kemudian duduk disamping rajawali itu.

Tetapi disaat itu telah terdengar suara seseorang yang berkata dingin sekali.

"Sungguh perbuatan mulia...buaya darat kejam dilepas begitu saja, sedangkan tikus botak ditangkap !"

Siauw Liong Lie terkejut sekali dia seperti mengenal suara itu. tetapi nyonya Yo sudah tidak mengingatnya lagi entah dimana.

"Siapa yang bicara ? Mengapa tidak memperlihatkan diri ?"

Dari mana datangnya suara itu.

"Ha, ha, kita sahabat-sahabat lama, mustahil nyonya sudah lupa kepadaku "

Terdengar lagi suara itu, dingin dan seperti juga mengejek.

Dan membarengi dengan selesainya suara tersebut, tampak berkelebat keluar sesosok tubuh dari balik sebuah batu gunung yang cukup besar, yang berada disebelah kanan dari kuburan Auwyang Hong.

Gerakan orang itu ringan sekali dan dalam sekejap mata saja dia telah berdiri dihadapan Siauw Liong Lie sambil tertawa tidak sedap didengar.

Waktu kedua kakinya menyentuh tanah, tidak terdengar suara137 sedikitpun juga hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Siauw Liong Lie mengawasi orang yang baru datang, dia jadi terkejut sendirinya, karena segera juga dia mengenali, bahwa orang tersebut tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.

Tubuhnya yang besar, dengan jubah kependetaannya dan kepala yang gundul dengan kuncup emas diatas kepalanya serta jenggot yang tipis panjang tanpa kumis, merupakan raut wajah yang sulit di lupakan walaupun baru bertemu satu kali.

Dengan mengeluarkan seruan tertahan Siauw Liong Lie telah melompat mundur dua langkah.

"Mengapa kaget nyonya ?"

Sapa Tiat To Hoat-ong dengan disertai tertawanya yang mengejek.

"Bukankah kita sahabat-sahabat lama ? walaupun kita baru pertama kali bertemu, tetapi melihat kepandaianmu dan juga kepandaian suamimu si buntung itu, maka dapat kuduga kalian adalah manusia-manusia pandai didaratan Tionggoan ini, maka jelas pula kalianpun mengetahui siapa adik seperguruanku yang bernama Kim Lun Hoat-ong. Bukankah begitu ?"

Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya.

dia telah mengetahui dari Ciu Pek Thong yang menceritakan bahwa Tiat To Hoat-ong tengah mencari-cari Kim Lun Hoat-ong.

Justru Kim Lun Hoat-ong telah terbinasa diatas panggung yang dibangunnya sendiri untuk membakar Kwee Siang guna menekan Kwee Ceng dan Oey Yong agar menyerah.

Tetapi oleh Yo Ko justru Kim Lun Hoat-ong telah tertendang jalan darah Tan Tiong Hiat didadanya sehingga dia memuntahkan darah segar, tubuhnya rubuh kegumpalan api yang membakar panggung itu, kemudian oleh Ciu Pek Thong dipeluk dengan keras, sehingga sia-sia Kim Lun Hoat ong berusaha untuk meronta, dia telah dirubuhkan dan hanya disaat itulah Kim Lun Hoat-ong harus menjerit hebat, sebab tubuhnya telah tertusuk oleh baju lapis duri yang dikenakan138 Ciu Pek Thong disaat itu, sehingga pendeta dari Tibet yang bekerja untuk Kaisar Mangu telah terbinasa disaat itu, habis nyawanya.

Peristiwa mana diketahui oleh Kaisar Mangu dan Kublai, hanya disaat itu Kaisar Mangu terbinasa oleh timpukan batu Yo Ko.

Kublai telah menggunakan kecerdikannya, dan disaat Tiat To Hoat ong menanyakan perihal Kim Lun Hoat-ong, pada saat itu Kublai yang cerdik tidak memberikan keterangan yang sesungguhnya.

Kublai hanya mengatakan Kim Lun Hoat-ong masih berkeliaran didaratan Tionggoan.

Tidak menceritakan perihal kematian Kim Lun Hoat-ong yang mengenaskan itu.

Siauw Liong Lie yang mengetahui bahwa kematian Kim Lun Hoat-ong menjadi kalap dan murka, telah berwaspada, karena dia mengetahui pendeta ini memiliki kepandaian yang luar biasa.

Waktu Yo Ko menyatakan Kim Lun Hoat-ong memang telah mati Tiat To Hoat-ong pernah memperlihatkan sikap yang menakutkan sekali.

Tetapi Siauw Liong Lie tidak takut, bahkan dia telah tertawa dingin.

"Hemmm, rupanya kau masih penasaran"

Kata Siauw Liong Lie.

"Bukankah suamiku telah memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat-ong memang benar-benar telah binasa?"

Muka Tiat To Hoat-ong tidak berobah sedikitpun. dia hanya tertawa mengejek.

"Andaikata memang keterangan suami nyonya itu benar, maka kalian tentu mengetahui di mana terbunuhnya adik seperguruanku itu. Dengan matinya adik seperguruanku yang liehay itu, tentu ada orang yang membunuhnya, maka siapa pembunuhnya itu?"

Siauw Liong Lie merasa sebal melihat tingkah pendeta itu.

Dia mendongkol sekali, maka dia menyahut sekenanya "Aku yang telah membinasakannya..." 139 Mata Tiat To Hoat-ong tampak bersinar sepasang alisnya berkerut dan keningnya yang meng kilap itu ber gerak-gerak.

"Hemm ... rupanya memang nyonya tidak mau menghormati sedikitpun kepada seorang tamu jauh ! Kau telah bicara secara bergurau, maka Hudyamu juga jadi ragu-ragu, apakah benar adik seperguruanku itu telah terbunuh......"

Dalam partai Kouw Bok Pay terdapat aturan yang dipandang dan dianggap sebagai pantangan semuanya ada dua macam dan masing-masing terdiri dari dua belas macam intinya adalah "Kurang"

Dan "Lebih"

Seperti kurangi pikiran, kurangi kemauan kurangi urusan, kurangi bicara, kurangi tertawa, kurangi marah, kurangi kegembiraan, kurangi perbuatan jahat sebaliknya jangan lebih berpikir, jangan lebih keinginan, jangan lebin banyak urusan, jangan lebih bicara, jangan lebih tertawa, jangan lebih berduka, jangan lebih bergirang, jangan lebih jahat.

Semua pantangan itu, kalau tidak dilawan artinya disingkirkan, bisa mencelakai diri Sendiri Siauw Liong Lie dapat mentaati ajaran tersebut, maka dia bebas, tidak bergirang, tidak berpikir, tidak berduka, bahkan kemurnian yang dimiliki Siauw Liong Lie tidak bisa ditandingi oleh kakek gurunya, Lim Tiauw Eng.

Adalah kemudian, kedatangan Yo Ko dikuburan mayat hidup itu, yang telah membuat mereka bergaul erat, mulai lowonglah dan tidak seketat lagi pantangan "Kurang"

Dan "Lebih"

Itu, sedangkan enam belas tahun setelah mereka menikah, pengalaman dan penderitaan Yo Ko jadi bertambah banyak, sebaliknya Siau Liong Lie tetap tinggal menyendiri ditempat sepi, memang dia sering memikirkan Yo Ko tetapi berkat latihan sebelumnya yang selama dua puluh tahun lamanya, hatinya jadi lebih mantep dia terpengaruh pula pantangan itu.140 Begitulah sekarang, setelah lewat beberapa tahun lagi, kenyataannnya Siauw Liong Lie semakin tidak dapat mentaati sepenuhnya peraturan tersebut.

Terlebih sekarang di saat dia tengah isi, sehingga sering diganggu oleh kekuatiran, kebahagiaan yang berkelebihan, kekalutan pikiran yang berkelebihan, kegembiraan yang berkelebihan, membuat Siauw Liong Lie mulai tersisih latihan selama puluhan tahun itu.

Namun menghadapi Tiat-To Hoat-ong yang kurang ajar dan bicara seenaknya, Siauw, Liong Lie bisa mempertahankan hati dan diri, untuk tidak terlalu berkelebihan marah, tidak terlalu berkelebihan kuatir.

Dia memandang pendeta Mongolia.

tersebut dengan sorot mata yang tajam, dingin, wajahnya juga dingin tidak berperasaan sehingga Tiat To Hoat-ong jadi terkejut.

Namun pendeta itu sengaja untuk menutupi keheranannya itu dengan tertawanya yang keras.

"Sebagai seorang pendeta tentunya kau memegang patuh peraturan dan bicaramu, apakah kau anggap aku bicara ngawur dan sembarangan"

Tegur Siauw Liong Lie dengan suara yang dingin.

"Baiklah, jika nyonya mengatakan bahwa adik seperguruanku Kim Lun Hoat-Ong memang telah mati, maka silahkan nyonya mengantarkan aku untuk menjenguk kuburannya !" .

"Kim Lun Hoat-ong tidak memiliki kuburan, dia mati tanpa diterima bumi......!"

Dingin luar biasa suara nyonya Yo, dia jadi muak terhadap sikap Tiat To Hoat-ong.

"Apa...apa kau bilang ?"

Tiat To Hoat-ong tampaknya terkejut bukan main. sehingga dia memandang tertegun kepada Siauw Liong Lie.141

"Dengarlah Kim Lun Hoat-ong mati tanpa diterima oleh bumi."!"

Mengulang Siauw Liong Lie, suaranya tetap dingin tidak mengandung perasaan.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah tidak sedap dipandang, dia telah beringas dan mukanya bengis sekali di samping sepasang matanya memancarkan sinarnya yang tajam luar biasa.

"Memang sesungguhnya engkau pembunuh adik seperguruanku itu...?"

Menegasi si pendeta.

"Tidak salah !"

Mengangguk Siauw Liong Lie tegas.

Dia mengakui begitu, karena suaminya Yo Ko, yang telah membinasakan Kim Lun Hoat ong, yang dibantu oleh Ciu Pek Thong.

Tetapi karena kedua orang itu tengah pergi, Siauw Liong Lie menghadapi sendiri si pendeta.

Dia memang melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong liehay sekali, namun dia tidak takut sedikit pun juga.

"Hemmm, jika memang demikian baiklah!"

Kata Tiat To Hoat-ong kemudian.

"Nah kau harus ikut bersamaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu..""

Dan si pendeta bukan hanya bicara sampai disitu saja, karena dia telah membarengi dengan mengulurkan tangan kanannya, yang maksudnya ingin mencengkeram nadi Wue-lu-hiat dipergelangan tangan Siauw Liong Lie.

Jalan, darah Wue lu-hiat merupakan jalan darah yang cukup penting, merupakan urat utama dipergelangan tangan.

Jika memang jalan darah itu berhasil dicengkeram, atau ditotok niscaya tubuh korban totokan itu akan lemas tidak bertenaga.

Siauw Liong Lie mana mau membiarkan pergelangan tangannya dicengkeram oleh pendeta itu.

Maka dengan miringkan sedikit tubuhnya, pergelangan tangannya telah bebas dari cengkeraman si pendeta.142 Tetapi Tiat-To Hoat-ong yang pernah merasakan hebatnya Yo Ko, dan juga melihat cara berkata dan sikap si nyonya Yo itu, siang-siang dia telah mengetahui Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang tinggi, maka dari itu walaupun serangannya berhasil dielakkan oleh Siauw Liong Lie, tidak menjadi heran karenanya.

Begitu serangannya berhasil dielakkan, begitu dia susuli oleh serangan berikutnya, yaitu tangannya dibalik membarengi mana dia telah mencengkeram kearah bahu Siauw Liong Lie.

Nyonya Yo Ko telah mengeluarkan suara dengusan dingin tubuhnya bagaikan seekor kupu-kupu berkelit indah dan ringan sekali kesamping.

Waktu tubuhnya mengelak kesamping begitu, justru siaat itulah dia melihat punggung Tiat To Hoat ong maju kedepan, maka tanpa membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah mengayunkan tangannya untuk menotok, jalan darah Siang kuhiat yang terletak dipunggung si pendeta, yang berdekatan dengan tulang piepe pendeta tersebut.

Jalan darah Tiat To Hoat-ong berhasil ditotok dengan tepat, namun pundak si pendeta seperti juga berminyak jari tangan Siauw Liong Lie seperti melejit.

Tetapi Siauw Liong Lie penasaran sekali, dengan serentak dia telah menyusuli totokan lainnya, yang menotok telak sekali jalan darah Pie-hong-hiat dipinggang si pendeta.

Totokan itu tepat dan jitu sekali, tetapi di saat itulah si pendeta telah melompat kedepan dua langkah, seperti juga sedikitpun dia tidak merasakan hasil totokan Siauw Liong Lie.

Nyonya Yo Ko juga mengerutkan sepasang alisnya, dia kagum atas keliehayan lawannya ini, yang dilihatnya memang jauh diatas kepandaian Kim Lun Hoat-ong.

Jelas totokannya tadi telah berhasil mengenai sasarannya dengan jitu, tetapi kenyataannya pendeta itu tidak rubuh dan tidak kurang suatu apapun juga.143 Siauw Liong Lie mau menduga, bahwa Tiat To Hoat-ong tentunya mempelajari ilmu Yoga sama halnya seperti Kim Lun Hoat-ong, melatih telah sampai kepuncak kesempurnaan, sehingga pendeta itu berhasil memindahkan otot dan tulang sekehendak hatinya.

Tidak mengherankan, walaupun totokan dari Siauw Liong Lie menghantam dengan jitu sekali, namun tidak ada hasilnya.

Tiat To Hoat-ong tertawa nyaring, sambil memutar tubuhnya.

"Nyonya, lebih bijaksana jika nyonya secara baik-baik ikut bersama Hudya, sehingga nyonya tak menemui kesulitan suatu apapun juga...!"

Kata Tiat To Hoat-ong pula.

Dan dia bukan hanya berkata-kata, karena dengan cepat sekali kedua tangannya telah digunakan untuk menangkap tangan Siauw Liong Lie dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya akan menotok jalan darah Su Sing Hiat dipinggang si nyonya Yo.

Siauw Ling Lie jadi gusar, karena pendeta itu benar-benar terlalu mendesaknya.

"Walaupun bagaimana kepandaian Siauw Liong Lie berimbang dengan Yo Ko, maka bisa di mengerti bahwa nyonya itu memang memiliki ke pandaian yang sangat lihay. Dan mungkin didaratan Tionggoan hanya Kwee Ceng dan Oey Yok Su yang bisa menghadapinya berimbang. Tetapi pendeta ini, yang tangannya lancang dan hatinya bengis kejam, rupanya tidak memandang sebelah mata kepada nyonya tersebut. Dia telah berulang kali melancarkan serangan. Tetapi Siauw Liong Lie juga tidak ingin membuang-buang waktu, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan kecil membarengi tangan kirinya mengibas dengan ujung lengan tangannya menyampok tangan kiri si pendeta,144 sedangkan tangan kanannya tahu-tahu menyambar akan menampar kepala botaknya si pendeta. Tamparan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie bukan merupakan tamparan biasa, karena sambil menampar dengan telapak tangannya itu, si nyonya Yo telah mengarahkan tenaga dalamnya maka bisa dibayangkan hebatnya tamparan itu. Tiat To Hoat-ong juga mengetahui hebatnya tamparan yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie. Lebih-Lebih dia merasakan sampokan ujung lengan baju si nyonya yang menghantam telak sekali tangannya, sehingga merasakan tangannya itu kesemutan, maka tamparan yang dilancarkan oleh, Siauw Liong Lie tidak berani dipandangnya remeh. Dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga gerakan seorang pendeta yang tengah bersemedhi, tahu-tahu tubuhnya jadi pendek kebawah karena sepasang kakinya telah ditekuknya dalam-dalam dan masih tetap dalam keadaan seperti itu, disaat dia seperti tengah berjongkok Tiat To Hoat-ong mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus kedepan, akan memegang dan merangkul pinggang Siauw Liong Lie. Serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong sesungguhnya merupakan serangan yang biasa saja, tetapi bagi Siauw Liong Lie tidak mau tubuhnya disentuh oleh tangan pendeta itu. Dengan cepat Siauw Liong Lie menjejak tanah, tubuhnya melompat kebelakang dengan gesit sekali menjauhkan diri. Dengan sendirinya serangannya terhadap si pendeta jadi batal. Tiat To Hoat-ong berdiri sambil tertawa tergelak-gelak nyaring sekali. Siauw Liong Lie jadi mengerutkan sepasang alisnya. Dia melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong memang luar biasa hebatnya, dan diam-diam Siauw Liong Lie jadi mengharapkan Yo Ko dan Ciu Pek Thong kembali cepat-cepat, karena jika145 bertempur terus menerus dengan cara seperti itu, dan juga memakan waktu yang panjang. pasti lama kelamaan si nyonya akan kehabisan napas dan letih. Walaupun dia liehay, tetapi bukankah Siauw Liong Lie tengah mengandung ? Itulah sebabnya, Siauw Liong Lie pun tidak berani terlalu mengerahkan seluruh tenaganya, dan tidak berani bergerak terlalu gesit, sebab dia kuatir kalau-kalau mengganggu kesehatan bayinya. Maka dari itu, dengan cepat sekali Siauw Liong Lie merobah cara bertempurnya itu, tidak bisa dia selalu mempergunakan kekerasan dan kekuatan tenaganya, walaupun bagaimana dia harus mengandalkan kegesitannya belaka dan memancing agar si pendeta tidak menurunkan tangan keras kepadanya, sampai akhirnya nanti Yo Ko dan Ciu pek Thong kembali. Tetapi Tiat To Hoat-ong juga rupanya mengetahui jalan pemikiran dari Yo Hujin ini. karena dengan cepat sekali, dialah beruntun melancarkan serangan yang kuat sekali. Dengan disertai oleh kekuatan tenaga lweekang yang dahsyat bukan main. Dan didalam waktu yang singkat, Siauw Liong Lie jadi sibuk sekali untuk mengelakkan diri dari serangan-serangan lawannya. Tetapi Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita yang terhebat dijaman itu. mana bisa dirubuhkan dengan mudah oleh Tiat To Hoat-ong ? Disaat itulah, Sin Tiauw yang sejak tadi mengawasi nyonya majikannya yang tengah bertempur begitu hebat, dan juga lama kelamaan terdesak karena lawannya liehay sekali, tidak tinggal diam. Dengan Cepat bukan main, Sin Tiauw telah mementang sayapnya melayang ditengah udara, dan menukik-nukik berusaha untuk mencengkeram dan mematuk kepala Tiat To Hoat-ong.146 Tiat To Hoat-ong gusar sekali, suatu kali dengan sengit dia telah menggerakkan tangan kanannya, dia melancarkan serangan kearah rajawali itu. Dia menduga, dengan sekali pukul, dengan pukulan yang disertai oleh tenaga dalam rajawali itu pasti akan dapat dibinasakannya. Tetapi diluar dugaannya, mimpipun Juga tidak, bahwa pukulannya itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi Sin Tiauw, karena disaat tenaga serangan Tiat to Hoat-ong hampir tiba, disaat itulah Sin Tiauw yang tengah melayang diatas kepala Tiat To Hoat-ong telah mengibas dengan sayapnya yang kanan, yang seketika menyebabkan Tiat To Hoat-ong merasakan tangannya kesemutan dan telah tersampok kesamping! Itulah suatu urusan yang benar-benar tidak pernah dipikirkannya bahwa seekor burung rajawali dapat menangkis serangan hebat dari seorang pendekar tangguh seperti dia yang kekuatan tenaga menyerangnya itu meliputi lima ratus kati lebih. Di Tibet, Tiat To Hoat-ong dihormati dan disegani melebihi raja, dan di mongolia diapun disamping dihormati, juga telah merupakan penasehat raja. Kaisar Mangu sebelum meninggal juga sangat segan dan menghormatinya, disamping Kim Lun Hoat-ong. Begitu pula Kublai yang telah menjadi Khan yang telah dipilih oleh para menteri Mongolia untuk menggantikan kedudukan Khan, raja setelah kakaknya itu terbinasa dalam peperangan, sangat menghargai Tiat To Hoat ong. Dengan sendirinya kini seekor burung rajawali dapat memunahkan pukulannya. Dapat juga melancarkan serangan kepadannya, membuat Tiat To Hoat ong jadi takjub dan kagum disamping murka.147 Tiat To Hoat ong tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Kim Lun Hoat ong pun sangat takut dan jeri berurusan dengan Sin Tiauw ini. Karena Kim Lun Hoat ong pernah merasakan kehebatan sang Rajawali Sakti. Toat To Hoat ong sangat penasaran sekali dia sampai melupakan Siauw Liong Lie untuk sejenak lamanya dia telah melancarkan serangan yang beruntun kearah burung rajawali itu. Luar biasa hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat ong karena dia melancarkan serangannya itu dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya. Bisa dibayangkan hebatnya serangan itu, karena sebagai jago yang nomor satu dinegerinya, dimana kini dia melancarkan serangan-serangan dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya, hanya untuk sekedar melayani seekor burung rajawali. Siauw Liong Lie girang melihat Sin Tiauw telah membantuinya, dia yakin, dengan dibantu oleh Sin Tiauw dia tentu bisa mengusir pendeta asing itu. Bukankah serangan-serangan Sin Tiauw yang dilancarkan oleh rajawali itu dari tengah udara, telah mempersibuk pendeta itu, yang perhatiannya jadi terpecah hebat? Tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang ada, tampak Siauw Liong Lie telah melompat ketengah gelanggang, dan disaat tubuhnya masih melayang di tengah udara, kedua tangannya telah mendorong dengan keras. Dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur serangkum angin serangan yang dahsyat sekali, yang menghantam keras luar biasa ke arah Tiat To Hoat ong.

"Bruaakk"

Tiat To Hoat ong telah sempat menangkisnya sehingga dua kekuatan raksasa dari dua macam tenaga dalam yang terlatih sempurna telah saling bentur ditengah udara.

Yang hebat adalah tekanan dari tenaga serangan Siauw Liong Lie yang sudah menyebabkan tubuh Tiat To Hoat-ong148 jadi terhuyung-huyung mundur beberapa langkah kebelakang dengan muka yang telah berobah pucat sedangkan Siauw Liong Lie juga tergetar tubuhnya.

Waktu itu Siauw Liong Lie telah mengempos semangatnya lagi untuk melancarkan serangannya.

tetapi tiba-tiba pandangan matanya jadi gelap dan berkunang-kunang kepalanya pusing dan pinggangnya sakit seperti ditarik.

Serangan seperti itu datangnya demikian tiba-tiba, sehingga Siauw Liong Lie mengeluh sendirinya dan membatalkan maksudnya untuk melancarkan serangan kepada lawannya dan cepat-cepat menyenderkan tubuhnya disebuah batang pohon karena dia kuatir rubuh pingsan.

Hal itu disebabkan Siauw Liong Lie tadi telah mempergunakan tenaga yang melebihi takaran, dia telah mengempos semangatnya melebihi batas, sehingga mengalami goncangan pada kandungannya.

Sin Tiauw yang melihat keadaan Siauw Liong Lie, jadi terkejut bukan main, dia telah mengeluarkan suara pekikan yang nyaring sekali dan telah mempergencar serangan-serangannya, dengan mempergunakan paruh dan kedua cakarnya.

Tiat To Hoat-ong yang tadi telah terkejut bukan main, dan semula bermaksud untuk, mengundurkan diri meninggalkan tempat itu saja karena merasa tidak ungkulan, ketika melihat keadaan Siauw Liong Lie, dia jadi girang bukan main, dengan mengeluarkan suara seruan; yang mengguntur, dia telah melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dan hebat kepada Sin Tiauw, sehingga memaksa Sin Tiauw terbang lebih tinggi ketengah udara.

Mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik itu.

Tiat To Hoat-ong yang liehay luar biasa, telah melompat menubruk ke arah Siauw Liong Lie.

Tangan kanannya tahu-tahu telah melayang menotok kearah jalan darah Su-suan-hiat149 didekat iga ketujuh dari tubuh nyonya Yo, jari tangannya itu meluncur cepat dan ber tenaga sekali.

Siauw Liong Lie melihat datangnya serangan itu.

namun dia tidak berdaya sama sekali untuk menangkisnya, karena disaat itu tubuhnya tengah bergoyang-goyang seperti akan rubuh pingsan tenaganya seperti lenyap dan juga sekelilingnya seperti lenyap.

Maka tanpa ampun lagi totokan si pendeta Tiat To Hoat-ong tidak berhasil di elakkannya dan tubuh Siauw Liong Lie terjungkel rubuh ditanah.

Sin Tiauw yang menyaksikan itu mengeluarkan pekikan dan cepat-cepat menyambar kearah Tiat To Hoat-ong, melancarkan serangan kepada Tiat To Hoat-ong dengan sayap kanan dan kirinya mengibasnya, maka kekuatan angin serangan ribuan kati menerjang si pendeta.

Tentu saja Tiat To Hoat ong terkejut sekali dia telah menyingkir kesamping.

Itulah yang dikehendaki oleh Sin Tiauw karena dengan menyingkirnya Tiat To Hoat ong, berarti si pendeta tidak bisa mengganggu Siauw Liong Lie lebih jauh.

Burung rajawali itu telah hinggap turun di tanah, disamping Siauw-Liong Lie untuk melindunginya.

Si pendeta mendengus tertawa dingin.

Dia telah berhasil menotok rubuh Siauw Liong Lie tetapi disebabkan rajawali itu maka usahanya terancam gagal, jika sampai Yo Ko dan Ciu Pek Thong sempat datang, niscaya akan menyebabkan gagal rencananya.

Disaat Tiat To Hoat-ong berdiri bimbang seperti itu, tiba-tiba dikejauhan, dari arah puncak Giok Lie Hong terdengar suara pekik seperti menangis yang menyayatkan hati, yang panjang dan terdengar samar sekali ........

itulah suara wanita yang rambutnya telah ubanan, yang telah berhasil di serang sampai dirubuhkan Yo Ko dan disaat akan berlalu nenek ubanan itu telah mengeluarkan suara tangisan yang di dengar oleh Tiat To Hoat ong.150 Dengan sendirinya, ketika mendengar suara tangisan yang panjang seperti itu, Tiat To Hoat ong jadi berkuatir kalau-kalau Yo Ko dan Ciu Pek Thong akan segera kembali.

Dia cepat-cepat merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah tabung kecil, yang ujungnya terdapat tangkai, sehingga tampaknya seperti semprotan.

Dengan cepat tabung itu ditujukan kepada Sin Tiauw.

dengan mendorong tangkainya, dari ujung tabung itu muncrat semacam uap putih yang cukup tebal, menyambar kearah Sin Tiauw.

Burung rajawali itu menjadi terkejut.

karena jika senjata rahasia atau benda yang bersifat keras, tentu dengan mudah dia bisa membebaskan diri atau menangkisnya.

Tetapi sekarang justru yang menyambar kearahnya itu adalah semacam uap yang telah memenuhi sekitar dirinya.

Bahkan Sin Tiauw seketika itu rasakan betapa kepalanya pusing dan matanya gelap.

Seperti akan rubuh.

Dengan cepat burung rajawali itu menggerak-gerakkan kedua sayapnya kemudian dia melompat untuk terbang.

Tetapi baru dua tombak lebih dia terbang ketengah udara, tubuhnya telah rubuh kembali menggeletak ditanah tanpa bergerak lagi.

Ternyata tabung yang dimiliki oleh Tiat To Hoat ong merupakan tabung uap yang bisa dipergunakan untuk merubuhkan lawan, karena gas uap terdapat didalam tabung itu seperti juga gas tidur.

Yang sekarang mungkin dikenal dengan chloroform.

Tentu saja Sin Tiauw tidak sanggup untuk melawannya, matanya yang tiba-tiba menjadi berat dan mengantuk begitu juga tubuhnya lemas tidak bertenaga dan burung itu telah menggeletak tidur nyenyak.

Siauw Long Lie yang dalam keadaan tertotok tidak pingsan, dia bisa menyaksikan semua peristiwa itu.

Semula atas pertolongan Sin Tiauw, dia mengharapkan si pendeta Mongolia itu berhasil diusir, namun151 kenyataannya Sin Tiauw pun akhirnya telah rubuh, disamping dirinya sendiri juga tertotok tanpa bisa bergerak lagi.

Habislah harapan Siauw Liong Lie, lebih-lebih Yo Ko dan Loo Boan Tong belum juga datang.

Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat menghampiri untuk menotok lagi beberapa jalan darah ditubuh Siauw Liong Lie.

Kemudian diapun mengeluarkan seutas tali yang kuat sekali, dia menelingkung kedua sayap Sin Tiauw keatas, lalu mengikatnya kuat-kuat.

Begitu pula kedua kaki burung dan paruh burung itu, yang diikatnya sama kuat.

Umpama kata Sin Tiauw beberapa saat lagi terlepas dari pengaruh obat tidur itu, dia tidak bisa menggerakkan kedua sayapnya untuk terbang, tidak bisa mempergunakan kedua cakarnya dan tidak bisa mempergunakan paruhnya untuk mematuki tali yang mengikat kedua kaki dan sayapnya.....

Tiat To Hoat-ong bekerja cepat sekali, dia telah mengangkat tubuh Siauw Liong Lie dan kemudian memanggul Sin Tiauw, berlalu dari tempat itu, Sebelumnya Tiat To Hoat-ong mempergunakan sepatunya menghapus jejak-jejak yang terdapat ditanah.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Yo Ko dan Loo Boan Thong akhirnya tidak melihat sedikitpun tanda-tanda apapun disekitar tempat itu.

>>o0o^d!w^o0o<< CU KUN HONG menunggangi kudanya yang dilarikan cukup keras dijalur jalan yang terdapat dibawah kaki gunung Hoa-san.

Memang pemuda pelajar she Cu tersebut bermaksud mendatangi Hoa-san untuk menyaksikan keramaian, karena dia mendengar bahwa Cu Pek Thong.

Yo Ko dan Siauw Liong Lie ingin pergi ke Hoa San memenuhi undangan It Teng Taisu yang akan datang kegunung itu juga.

Karena memang tidak memiliki urusan lainnya, maka pemuda she Cu itu telah152 menuju ke Hoa San dengan harapan bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan tokoh-tokoh terkenal rimba persilatan itu.

Jago-Jago silat mana yang tidak akan merasa bangga jika bisa berjumpa dengan Yo Ko atau Siauw Liong Lie, sepasang pendekar besar dijaman itu ?

Dan terlebih lagi jika bisa bertemu dengan It Teng Taisu, Oey Yok Su, Kwee Ceng, Oey Yong dan jago-jago lainnya.

Maka dari itu, dengan tidak memikirkan sulitnya perjalanan, Cu Kun Hong telah melakukan perjalanan ke Hoa San.

Telah belasan hari dia melakukan perjalanannya dengan kudanya itu, dan selama itu dia telah berusaha untuk melakukan perjalanan dengan cepat, karena pemuda pelajar tersebut takut datang terlambat.

Hari masih cukup terang, walaupun senja mulai menyelimuti daerah pegunungan Hoa San.

Sedang Cu Kun Hong melarikan kudanya, tiba-tiba dari arah depannya dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya.

Dia melihat sesosok tubuh yang tinggi dan besar tengah berlari menghampiri kearahnya.

Setelah Cu Kim Hong menghentikan kudanya dan memperhatikan baik-baik, dan sosok tubuh yang baru turun dari atas gunung itu semakin dekat, barulah Kun Hong mengetahuinya itulah seorang yang tengah memanggul seorang manusia lainnya dan memanggul juga seekor rajawali berukuran raksasa, sebesar satu setengah manusia dewasa.

Yang membuat Cu Kun Hong lebih kaget lagi adalah orang yang tengah berlari-lari itu tidak lain dari Tiat To Hoat-ong, Si pendeta Mongolia yang liehay luar biasa kepandaiannya.

Sedangkan orang yang dipanggulnya, tidak lain dari Yo Hujin, yaitu Siauw Liong Lie.

Tentu saja Cu Kun Hong jadi duduk diatas kudanya dengan sikap tertegun.

Dia hanya mengawasi saja.153 Saat itu Tiat To Hoat-ong telah berlari-lari semakin dekat juga, dan gerakannya yang secepat angin itu menyebabkan pandangan mata Kun Hong kabur dan tidak bisa melihat jelas.

Belum lagi dia mengetahui sesuatu apa, tiba-tiba dia melihat pendeta itu menggerakkan tubuhnya dengan sentakan yang kuat, membuat ujung lengan jubahnya itu menghantam muka Kun Hong, disaat si pendeta itu lewat disisinya.

Gerakan si pendeta itu luar biasa sekali, karena ujung jubahnya itu mengandung tenaga lweekang yang dahsyat sekali, sehingga waktu ujung jubah itu menghantam muka Kun Hong, si pemuda seperti dihantam oleh lempengan besi.

Sesungguhnya Kun Hong telah melihat menyambarnya ujung lengan jubah pendeta itu, dan dia juga bermaksud mengelakkan diri.

Namun rupanya gerakan Tiat To Hoat-ong memang cepat luar biasa, sehingga sebelum dia mengetahui sesuatu apapun juga, disaat itulah mukanya telah terhajar jitu sekali oleh ujung lengan jubah si pendeta.

Tanpa ampun lagi seketika itu juga tubuh Cu Kun Hong terpental dari atas kudanya, ambruk diatas tanah, dan rebah pingsan tidak sadarkan diri dengan hidungnya mengucurkan darah.

Sambil mengeluarkan suara tertawa yang bergelak-gelak menyeramkan, Tiat To Hoat-ong telah melanjutkan larinya dengan cepat, sambil tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw Sama sekali pendeta Mongolia itu tidak bermaksud untuk merampas kuda Cu Kun Hong karena dengan menunggang kuda dibandingkan larinya, memang jauh lebih cepat dia mempergunakan kedua kakinya sendiri, yang bisa lari secepat angin.

Lama Kun Hong rebah pingsan tidak sadarkan diri.

sampai akhirnya dia merasakan kepalanya diusap seseorang.154

"Akhhhh, lukanya tidak berat, hanya disebabkan hantaman yang keras, menyebabkan dia pingsan sementara waktu ...!"

Kun Hong mendengar seseorang berkata dengan suara sabar.

Kun Hong membuka matanya, pandangan matanya masih kabur dan dia belum bisa melihat jelas, hanya terasa ada dua bayangan manusia berdiri dihadapannya, segera juga Kun Hong memejamkan matanya kembali.

Disamping itu, Kun Hong merasakan dirinya tengah rebah dipembaringan, dan luka dimuka-nya, akibat kebutan ujung jubah dari Tiat To Hoat-ong, telah menimbulkan perasaan sakit yang luar biasa.

Setelah berdiam diri sejenak lagi, akhirnya Kun Hong membuka matanya pula.

Segera juga dia jadi girang, karena orang yang tengah duduk ditepi pembaringan, yang tadi juga telah mengusap keningnya tidak lain dari Yo Ko, Sin Tiauw Taihiap !

Sedangkan orang yang satunya lagi, yang berdiri dipinggir pembaringan dengan berdiam diri, ternyata Ciu Pek Thong, Loo Boan Tong si tua nakal jenaka.

"Kau telah siuman, engko kecil !"

Kata Loo Boan Tong dengan gembira.

"Ahhh, siapa yang telah melukaimu demikian macam ?"

"Tiat...Tiat. To Hoat-ong.. yang pernah bertempur dengan locianpwe !"

Kata Cu Kun Hong dengan suara yang tak lampias.

"Toat To Hoat-ong, pendeta Mongolia bangsat itu ?"

Tanya Ciu Pek Thong dengan sengit.

"Be.....nar.... !"

Menyahuti Cu Kun Hong "Dan..."

Dia juga membawa seorang wanita, kalau tidak salah Yo.....Ko Hu-jin (nyonya Yo) locianpwe..."

Yo Ko dan Ciu pek Thong telah saling tatap.155 Memang dipuncak Hoa San, Yo Ko dan Ciu Pek Thong telah mengelilingi gunung itu mereka mencari-cari Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tanpa hasil.

Dan akhirnya ketika mereka tengah mencari dikaki gunung Hoa San, disitulah justru mereka menemui Cu Kun Hong yang tengah pingsan.

Dengan sendirinya, hal itu telah membuat mereka terkejut karena keduanya mengenali pemuda tersebutlah yang pernah bertemu dengan mereka.

Segera Yo Ko mengangkat tubuh Cu Kun Hong dan Ciu Pek Thong menuntun kuda pemuda itu.

Mereka membawa Cu Kun Hong kerumah seorang penduduk minta bermalam disitu.

Dengan mempergunakan lweekangnya dan menotok beberapa jalan darah ditubuh Cu Kun Hong, Yo Ko telah menyadarkan Cu Kun Hong dari pingsannya.

Dan Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak menduga bahwa dari mulut pemuda inilah akhirnya dia mengetahui Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw telah ditawan oleh Tiat To Hoat-ong.

Segera juga Yo Ko telah menanyakan persoalannya kepada Cu Kun Hong, sebetulnya menyadari bahwa Cu Kun Hong yang baru tersadar dari pingsannya itu masih lemah, karena darah yang mengucur keluar dari hidungnya sangat banyak sekali.

Tetapi karena urusan itu menyangkut keselamatan isterinya dan Sin Tiauw.

Yo Ko sudah tidak menantikan waktu terlebih lama lagi dan menanyakan disaat itu juga.

Cu Kun Hong telah menceritakan semua yang dialaminya dikaki gunung Hoasan, menceritakan juga apa yang telah dilihatnya.

Yo Ko jadi mengerutkan sepasang alisnya, Dia tidak mengerti mengapa Siauw Liong Lie.

sampai bisa rubuh dan ditawan oleh Tiat To Hoat-ong.

Sedangkan Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang sama tinggi dan tidak lebih rendah darinya, Sedangkan Sin Tiauw pun memiliki kepandaian yang156 sangat hebat mengapa dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong.

Sedangkan menurut cerita Cun Kun Hong, Sin Tiauw telah diikat kedua sayap, kedua kaki dan paruhnya.

Tentu saja keadaan Sin Tiauw seperti itu mengherankan dan membingungkan sekali hati Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

"Apakah Tiat To Hoat-ong memang sedemi kian hebat...?"

Menggumam Ciu Pek Thong setelah tertegun sejenak. Yo Ko tambah berkuatir saja, terlebih lagi dia teringat bahwa isterinya tengah hamil.

"Mari kita susul si kepala gundul itu", ajak Ciu Pek Thong dengan bersemangat. Yo Ko mengangguk.

"Pergilah locianpwe mengejarnya, aku bisa merawat diriku sendiri, lebih lagi akupun tidak terluka berat..... yang terpenting jiwie lociapwe menolongi dulu Yo Hujin dan rajawali sakti itu ..."

Bilang Kun Hong bersungguh-sungguh.

Yo Ko mengangguk dan memandang pemuda itu dengan sorot mata memancarkan perasaan berterima kasih.

Saat itu Ciu Pek Thong sudah tidak sabar, dia menepuk perlahan bahu pemuda she Cu itu.

"Engko kecil terpaksa kami meninggalkanmu, karena kami harus mengejar si gundul itu dulu... !"

Kata si tua jenaka itu.

Kun Hong mengiakan cepat-cepat sambil mengucapkan terima kasihnya.

Disaat itu, tampak Yo Ko masih ragu-ragu, tetapi karena Ciu Pek Thong telah melangkah ke luar Yo Ko pun setelah mengucapkan beberapa kata-kata hiburan kepada Kun Hong, lalu keluar dari kamar itu.

Kepada tuan rumah, Yo Ko memberikan dua tail perak, dan terpesan agar merawat Kun Hong.

Setelah itu, berdua dengan157 Ciu Pek Thong, Yo Ko telah berlari pesat sekali mengambil kejurusan yang diberitahukan oleh Cu Kun Hong...

Tiat To Hoat-ong terus berlari-lari dengan mempergunakan ilmu berlari cepatnya yang Sempurna sekali.

Walaupun dia membawa beban yang cukup berat, yaitu Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, namun kenyataannya sedikitpun tidak mengganggu atau memperlambat larinya.

Kebetulan sekali disaat itu hari mulai malam, sehingga Tiat To Hoat-ong yang memanggul Sin Tiauw dan mengempit Siauw Liong Lie tidak menarik perhatian orang, sebab jalan-jalan telah sepi dan pendeta itu dapat berlari-lari lebih leluasa.

Memang luar biasa pendeta itu, diwaktu menjelang tengah malam, dia telah berhasil berlari-lari sejauh empat ratus lie lebih, dan tiba dikota Lung-siu-kwan, diluar perbatasan Kang-ciu.

Suasana kota saat itu sangat sepi sekali, dan pintu kota juga telah ditutup.

Tetapi Tiat To Hoat ong telah menjejakkan kakinya ditanah; dengan membawa beban yang berat seperti itu, tubuhnya melompat setinggi lima tombak, lalu dengan cepat sekali, disaat tubuhnya tengah terapung di tengah udara, Tiat To Hoat ong menendang dinding tembok pintu kota itu, sehingga tubuhnya terpental lebih tinggi lagi, dan dengan melakukan gerakan seperti itu yang diulanginya, beberapa kali akhirnya Tiat To Hoat-ong berhasil mencapai puncak pintu kota.

Dengan mudah dia telah masuk kedalam kota tanpa seorang penjaga kotapun yang melihat perbuatannya itu.

Dengan mengelilingi kota, akhirnya dia melihat ada sebuah rumah penginapan yang masih buka, cepat-cepat Tiat To Hoat ong memasukinya dan meminta dua kamar kepada pelayan yang menyambutnya.

Semula pelayan itu mengawasi bengong kepada pendeta dihadapannya, ini yang mengepit Seorang wanita cantik dan158 menggotong seekor burung rajawali raksasa, Tetapi pelayan itu segera menduga bahwa pendeta itu seorang manusia luar biasa, setidaknya seorang manusia setengah dewa.

Lebih-lebih setelah Tiat To Hoat-ong memberikan sepotong goanpo kepadanya, maka pelayan itu tidak berani banyak tanya dan cepat-cepat mempersiapkan, dua buah kamar yang berdampingan, waktu Tiat To Hoat-ong memasuki rumah makan itu, ada beberapa orang-orang yang belum tidur, mereka semuanya takjub melihat pendeta itu bersama seorang wanita cantik dan seekor burung rajawali raksasa.

Dengan sendirinya, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang aneh.

Jika memang Hiat To Hoat-ong hanya membawa Siauw Liong Lie, mungkin orang hanya menduga bahwa pendeta itu adalh pendeta cabul.

Tetapi dengan membawa juga seekor burung rajawali raksasa seperti itu, keruan saja telah menyebabkan tamu-tamu yang berada didalam penginapan tersebut ingin menduga si pendeta setidak-tidaknya telah mencapai kesempurnaannya dalam mensucikan dirinya, telah menjadi setengah dewa, karena seekor burung rajawali berukuran begitu besar, dengan mudah digotongnya dan juga tidak berdaya ditangannya.

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak memperdulikan tatapan heran dari orang-orang itu, dengan membawa kedua bebannya itu Tiat To Hoat-ong telah menaiki undakan anak tangga, dia memasukkan Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw itu kesebuah kamar, sedangkan dia sendiri telah tidur dikamar yang satunya lagi.

Sebelum tidur, Tiat-To Hoat ong telah berpesan kepada pelayan, agar mereka jangan mengganggu ketenangannya.

Waktu pendeta itu telah masuk tidur, gemparlah orang-orang yang berada dirumah penginapan tersebut.

Untuk bicara apa saja dengan berterang mereka tidak berani, akhirnya mereka telah bisik-bisik saja, dari mulut yang159 seorang menjalar keseorang lainnya sehingga keesokan harinya berita mengenai pendeta aneh itu telah tersebar diseluruh kota.

Pagi dan siang itu Tiat To Hoat ong tidak keluar dari kamarnya.

Dia hanya meminta pelayan mengantarkan masakan untuknya dikamarnya.

selangkah pun dia tidak keluar dari kamarnya Tiat To Hoat ong memang bermaksud melanjutkan perjalanannya dimalam hari agar tidak menarik perhatian orang banyak dalam perjalanannya.

Sepanjang hari Tiat To Hoat ong mengurung diri dikamar.

Sedang Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tetap dikurung dikamar yang satunya lagi yang dikuncinya dari luar dan melarang siapa saja mengganggunya.

Sepanjang satu hari itu, sejak pagi sampai sore itu penduduk kota selalu memperbincangkan perihal seorang pendeta aneh tersebut dengan rajawalinya yang luar biasa itu dan wanita cantik seperti bidadari.

Banyak penduduk kota yang berdatangan ke rumah penginapan itu ingin melihat si pendeta luar biasa tersebut, tetapi kuasa rumah penginapan tersebut telah melarang mereka menimbulkan suara ribut-ribut.

"Jika Hudya itu marah, hemnm celakalah kita semua. Dia bukan pendeta biasa, setidak-tidaknya telah menjadi setengah dewa. Maka kalian jangan mencari penyakit untuk diri sendiri !,"

Kata kuasa rumah penginapan itu dengan berkuatir, karena penduduk kota yang memenuhi dimuka rumah penginapannya justru menimbulkan suara berisik sekali.

Sedangkan disaat itu tampak seorang pendeta tua yang berpakaian sebagai seorang hwesio telah melangkah memasuki rumah penginapan tersebut, karena rumah penginapan tersebut merangkap sebagai rumah makan.

Pendeta tua itu telah lanjut usianya, memakai jubah khase yang sederhana, dengan kepalanya yang licin dan janggutnya maupun kumis yang tumbuh panjang telah putih.160 Wajahnya memancarkan sifatnya yang welas asih, dan ramah sekali.

Dia memilih sebuah meja didekat jendela dan duduk tenang-tenang disitu.

Dipesannya beberapa macam sayur tanpa daging dan dua kati arak.

Semula pendeta tua itu merasa heran sekali melihat banyak orang yang bisik-bisik, seperti tengah membicarakan sesuatu yang luar biasa.

Tentu saja hal ini menarik perhatiannya, sehingga ketika seorang pelayan mengantarkan pesanannya, dia menarik tangan pelayan itu, memberikan dua tail perak dan menanyakan sesungguhnya apa yang telah terjadi ditempat tersebut.

Pelayan itu segera memperlihatkan wajah yang bersungguh-sungguh.161

"Taisu mungkin baru sampai dikota ini, sehingga belum mengetahui ... !"

Kata pelayan itu.

"Benar-benar aneh! Benar-benar hebat!"

"Apanya yang aneh? Apanya yang hebat?", tanyanya pendeta itu sabar.

"Benar-benar luar biasa, Taisu .... seorang pendeta, yang pakaiannya sangat aneh sekali yang kepalanya memakai kopiah kecil terbuat dari emas, bertubuh gemuk dan besar kepalanya .....kepalanya botak seperti .... seperti Taisu ... dan juga kalau tidak salah dia berasal dari Mongolia !"

Si pendeta tua tersenyum sabar mendengar itu.

"Itu tidak perlu dibuat heran, bukan ?"

Tanyanya "

Walaupun negeri ini telah aman dan tentara Mongolia dipukul mundur pulang ke-negerinya, dan kini ada seorang pendeta dari Mongolia yang berkeliaran didaratan Tionggoan hal itu tidaklah perlu dibuat heran atau aneh.

Bukankah kini bukan jaman perang ?

Mengapa kita harus memberikan kesan yang tidak baik sebagai tamu, pendeta Mongolia itu harus dihormati!"

"Ohhh. Taisu belum tahu !"

Berseru pelayan itu sambil memperlihatkan wajah yang bersungguh-sungguh.

"Jika dia sebagai pendeta Mongolia saja. hal itu memang tidak perlu dibuat heran .. tetapi justru yang luar biasa, pendeta itu membawa seorang Wanita cantik seperti bidadari, yang mukanya merah sehat, rambutnya dikonde ujungnya terurai memakai baju merah dan angkin hijau, cantik luar biasa."

"Apakah kau ingin mengartikan pendeta Mongolia itu adalah pendeta cabul?"

Tanya pendeta tua itu sambil mengerutkan alisnya. >>o0o^d!w^o0o<<162

"BUKAN!"

Menyahut pelayan itu cepat.

"Wanita cantik Ini dikurung disebuah kamar sedangkan pendeta Mongolia itu tidur di kamar lainnya".

"Apa maksud pendeta itu?"

Tanya si hweshio , tambah tidak mengerti "Dan tahukah engkau siapa gelarnya?"

Si pelayan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak tahu". jawabnya.

"Tetapi menurut keterangan tuan kuasa rumah penginapan ini yang memiliki pengetahuan luas ragam pergaulannya dengan orang-orang rimba persilatan, bahwa pendeta Mongolia itu adalah seorang pendeta setengah dewa" . Si Hweshio tersenyum mendengar perkataan si pelayan, yang dianggapnya lucu.

"Lalu, apa yang luar biasa lagi didiri pendeta Mongolia itu ?' tanya si hwesio.

"Diapun membawa seekor rajawali yang besar sekali, yang mulutnya diikat, sepasang kakinya diikat, dan kedua sayapnya juga diikat. Besar sekali ukuran rajawali itu, lebih besar dari manusia dewasa !"

Kali ini muka si Hwesbio jadi berobah mendengar disebutnya soal rajawali itu.

Dia jadi teringat kepada seorang sahabatnya yang juga memiliki seekor rajawali yang besarnya melebihi ukuran manusia dewasa.

"Mengapa rajawali itu diikat ?"

Tanya si-Hweshio akhirnya.

"Entahlah kata orang yang mengerti, tentunya pendeta itu telah menaklukan rajawali itu, sedangkan burung rajawali itu adalah rajawali siluman "

Menyahuti si pelayan.

Mendengar pelayan itu mulai bicara tidak karuan persoalan takhayul, pendeta tersebut sudah tidak berpikir untuk mendengar keterangannya, dia telah perintahkan pelayan Itu agar pergi meninggalkannya, dan si hweshio bersantap menghabiskan makanannya.163 Setelah itu dia meminta kepada kuasa rumah penginapan agar mempersiapkan sebuah kamar, karena diapun akan bermalam dirumah penginapan tersebut.

Dihatinya si hweshio jadi tertarik untuk menyelidiki persoalan tersebut, dia ingin mengetahui siapakah pendeta Mongolia yang disebut sebagai pendeta setengah dewa itu oleh si pelayan rumah penginapan tersebut.

Tetapi ketika si Hweshio hendak menaiki undakan anak tangga.

disaat itulah dari atas loteng tengah menuruni anak tangga tersebut seorang pendeta.

Waktu itu si Hweshio melihat pendeta itu seorang pendeta Mongolia, dia tercekat hatinya, dia sampai memandang tertegun "Kim Lun Hoat-ong"

Pikirnya. Namun akhirnya si Hweshio berhasil menindih goncangan hatinya, dia menundukkan kepalanya agar tidak menimbulkan kecurigaan pendeta Mongolia itu, yang telah turun Lewat disampingnya.

"Kim Lun Hoat-ong telah meninggal...pendeta ini bukan dia, karena wajahnya lain, hanya jubah dan bentuk tubuhnya yang gemuk itulah yang mirip-mirip dengan Kim Lun Hoat-ong"

Berpikir hweshio itu, sambil terus menaiki undakan anak tangga dan memasuki kamarnya. Didalam kamar, si pendeta jadi mengerutkan, alisnya dan tampaknya tengah berpikir keras.

"Apa maksudnya pendeta Mongolia itu berkeliaran didaratan Tionggoan lagi...pasti dibalik semua ini terdapat persoalan yang besar...seperti yang baru beberapa saat yang lalu ketika ada urusan yang tengah kuhadapi...!"

Dan si Hweshio telah menghela napas lagi, wajahnya jadi murung.

"Dilihat demikian, tampaknya kerajaan song sulit untuk dilindungi, para pembesarnya gentong nasi semua, sedangkan pihak Mongolia tetap gigih berusaha mengincar untuk mencaplok daratan Tionggoan. Terlebih lagi Kublai Khan tampaknya lebih cerdik dari Kaisar Mangu. Ai, Ai, memang sudah takdir, sulit mengelak takdir.....!" 164 Berulang kali hweshio itu menghela napas panjang pendek, sampai akhirnya dia duduk diam dikursi dalam kamarnya itu, dia terus memuji sang Budha. Sampai akhirnya si hweshio mendengar suara langkah kaki yang berat di undakan anak tangga, dia menduga bahwa pendeta mongolia itu tentu tengah menaiki pula undakan anak tangga untuk kembali kekamarnya. Memang tadi pendeta Mongolia itu Tiat To Hoat-ong telah turun keruang bawah untuk membereskan sewa kamarnya, karena dia bermaksud begitu hari mulai gelap dia ingin melanjutkan perjalanannya. Si Hweshio cepat-cepat membuka sedikit daun pintunya, yang kebetulan berhadapan dengan tikungan anak tangga diloteng itu. dia mengintai keluar dilihatnya Tiat To Hoat ong melangkah menuju kearah kamarnya langkah-langkah lebar, setelah tiba dimuka kamarnya, pendeta Mongolia itu berhenti sejenak, tampaknya dia ragu-ragu untuk segera memasuki kamarnya dia menoleh memandang kearah kamar disebelahnya yang pintunya tertutup rapat. Setelah tersenyum sejenak, pendeta Mongolia itu membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk, lenyap dibalik pintu kamarnya. Si hweshio yang telah mengintai memperhatikan gerak-gerik pendeta Mongolia itu, jadi mengerutkan sepasang alisnya yang telah putih itu. Perlahan sekali, seperti berbisik dia telah memuji kebesaran sang Budha. Ditutupnya kembali pintu kamarnya dan duduk dikursinya semula.

"Hai, jika dilihat tindakan kakinya, matanya dan keadaannya, pendeta Mongolia itu memiliki kepandaian yang tidak berada dibawahnya Kim Lun Hoat-ong. Siapakah dia? Apa maksudnya datang ke Tionggoan? Tadi pelayan mengatakan bahwa wanita cantik dan burung rajawali yang diikatnya telah dikurung dikamar sebelahnya yang tadi diawasinya. Siapakah wanita cantik itu ? apakah mungkin dia ?165 dan apakah burung rajawali yang dibawanya itu mungkin Sin Tiauw milik dia ?, mengapa aku tidak coba-coba melihatnya ?"

Karena berpikir begitu, dengan cepat si Hweshio membuka pintu kamar disebelah kamar si pendeta Mongolia itu.

Pintu itu ternyata terkunci dari luar, tetapi hweshio itu telah mendengarkan dulu sejenak, lalu mengulurkan tangannya yang ditempelkannya didaun pintu dikerahkan tenaga lwekangnya.

Luar biasa sekali dengan mengeluarkan suara "takkk"

Yang perlahan sekali, besi engsel itu telah berhasil dipatahkannya dengan mudah.

Dengan hati-hati si Hweshio telah mendorong daun pintu itu sehingga terpentang.

Sesosok tubuh wanita tampak menggeletak dilantai.

Sedangkan disampingnya mengeletak seekor burung rajawali berukuran besar, keduanya tampaknya tengah tertidur nyenyak sekali.

Melihat wanita itu, dan melihat rajawali itu, hampir saja si hweshio mengeluarkan seruan tertahan karena sangat terkejut.

Dia kenal dengan baik wanita yang menggeletak dilantai itu, dan mengenali dengan baik pula rajawali disamping wanita cantik tersebut, karena wanita cantik itu tidak lain dari Siauw Liong Lie dan rajawali itu tidak lain dari Sin Tiauw.

Muka si hweshio jadi berobah merah padam, tampaknya dia murka bukan main.

Namun disaat si hweshio mau melangkah menghampiri untuk menolongi Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, justru disaat itulah dia merasakan dari belakangnya meluncur angin serangan yang kuat sekali, yang berat luar biasa, mungkin seribu kati.

Tetapi hweshio itu tidak menjadi gugup, dengan mengucap "Siancai"

Berulang kali, dia telah mengempos semangatnya, mengerahkan tenaga murninya dipunggungnya itu menjadi kebal untuk menerima serangan dahsyat itu.166

"Buuuukkk'"

Terdengar suara benturan yang keras sekali waktu punggung si Hweshio itu terhajar oleh serangan dari belakang.

Tubuh hweshio tersebut bergoyang-goyang tetapi sepasang kakinya seperti terpantek dilantai.

Tidak bergeser sedikitpun.

Sedangkan orang yang melancarkan serangan gelap itu.

Mengeluarkan seruan tertahan.

Jangankan manusia, sedangkan batu saja jika terhajar oleh serangannya dengan kekuatan seperti tadi, niscaya batu itu akan remuk hancur menjadi bubuk.

Tetapi hweshio itu justeru dapat diserangnya dengan jitu, namun tidak mengalami sesuatu kerugian apapun juga.

Saat itu si hweshio dengan tenang dan gesit sekali telah memutar tubuhnya.

Segera dilihatnya, yang melancarkan serangan tadi adalah si imam Mongolia itu.

"Siancai! Siancai"

Si hweeshio menyebut ke besaran sang Buddha.

"Sungguh hebat sekali ke pandaian yang kau miliki, Taisu" . Orang yang melancarkan serangan itu memang Tiat To Hoat ong, dia menduga bahwa dengan sekali serang tentu dia akan dapat merobohkan hweshio itu. Tadi waktu dia memasuki kamarnya dan ingin merebahkan tubuhnya dipembaringan, dia mendengar samar sekali suara langkah kaki yang ringan. Dia jadi bercuriga, terlebih lagi suara langkah kaki itu mendekati kamar disebelah kamarnya. Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat turun dari pembaringannya, dia menghampiri pintu kamarnya, berdiri disitu untuk memasang pendengarannya lebih tajam. Disaat itulah dia mendengar lagi suara "tak"

Yang halus, suara patahnya benda logam, menyebabkan pendeta Mongolia ini tambah gusar, karena dia dapat menduga suara apa itu, yaitu patahnya engsel pintu.167 Dengan hati-hati Tiat To Hoat-ong telah membuka pintu kamarnya dan keluar berindap-indap dengan langkah yang ringan, dan disaat itu kebetulan dia melihat seorang hweshio tengah memandang kedalam dengan tubuh mematung.

Sebetulnya, si hweshio pasti mengetahui kedatangan Tiat To Hoat-ong di belakangnya kalau saja dia tidak tengah diliputi keterkejutan yang hebat melihat Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tertawan begitu rupa.

"Apa maksudmu memasuki kamar ini?"

Bentak Tiat To Hoat-ong dengan aseran dan kasar.

"Siancai, Siancai, semula waktu mendengar cerita pelayan, Siauwceng (aku pendeta kecil) telah menduga bahwa wanita dan rajawali yang berada bersama Taisu adalah sahabat Siauwceng. Setelah Siauwceng melihat sendiri, memang Hujin (nyonya) itu bersama rajawali tersebut ialah sahabat baik Siauwceng. Sesungguhnya ada persengkataan apakah antara Taisu dengan mereka?..."

Saat itu muka Tiat To Hoat ong sudah berobah tidak sedap dipandang, dia mendengar bahwa hweshio dihadapannya ini adatah sahabat Siauw Liong Lie dan rajawali itu.

keruan saja dugaannya bahwa kedatangan hweshio tersebut pasti ingin menolongi kedua tawanannya itu.

Maka tanpa menanti habisnya perkataan si hweshio, dengan cepat sekali tangan kanannya telah diulurkan akan menghajar dada si hweshio, juga tangannya yang kiri teluh mencengkeram jalan darah Pie-tu-hiat dipangkal lengan si hweshio.

Namun hweshio tersebut juga memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya, dengan mengeluarkan suara dengusan perlahan, dan kemudian memuji kebesaran Sang Buddha karena melihat serangan pendeta Mongolia itu terlalu kejam, dia berkelit kesamping, Dengan sendirinya serangan Tiat To Hoat-ong telah jatuh ditempat kosong.

"Akhhh, sayang, sayang .... !"

Berkata si hweshio.168 >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 06 TIAT TO HOAT-ONG penasaran bukan main, disamping itu dia juga kaget melihat Hweshio dihadapannya ini merupakan seorang hweshio yang memiliki kepandaian hebat, maka dia bersikap hati-hati, lebih waspada.

Waktu mendengar si hweshio mengatakan "Akhh, sayang, sayang..." , Tiat To Hoat ong telah menangguhkan serangan susulan yang tadinya akan dilancarkan.

"Sayang apa ?"

Tegurnya bengis.

"Taisu memiliki kepandaian demikian tinggi, tetapi justru Taisu telah mempergunakannya untuk melakukan perbuatan salah ! Bukankah itu harus dibuat sayang?" .

"Mengapa kau bisa menyebut aku ini telah melakukan perbuatan salah?"

Bentak Tiat To-Hoat-ong dengan murka.

"Hudya telah menangkap wanita berdosa itu, dan rajawali pembawa malapetaka itu apakah itu suatu perbuatan yang salah?"

"Wanita berdosa dan rajawali pembawa malapetaka?"

Mengulang hweshio itu sambil mengerutkan sepasang alisnya, wajahnya berobah.

"Akhh, Siancai! Siancai! Setahu Siauwceng nyonya itu seorang yang berbudi, dialah seorang pendekar wanita nomor satu di jaman ini. Bagaimana mungkin Taisu mengatakannya nyonya itu sebagai wanita berdosa? Dan juga mengenai rajawali sakti itu merupakan binatang peliharaan nyonya ini dan suaminya, yang selalu patuh terhadap perintah majikannya...jika tidak diganggu seseorang, tentu rajawali itu tidak akan menimbulkan kerusuhan, Bagaimana Taisu bisa mengatakannya juga bahwa rajawali itu, adalah rajawali pembawa malapetaka? Mungkin Taisu telah salah menilai..." 169 Muka Tiat To Hoat-ong telah berobah merah padam, dia murka bukan main, tetapi pendeta Mongolia ini berusaha menindih kegusarannya itu karena dia melihat hweshio dihadapannya ini bukan hweshio sembarangan.

"Siapa kau sesungguhnya?"

Bentak Tiat To Hoat-ong.

"Sancai! Siancai!"

Memuji hweshio itu.

"Sahabat-sahabat memberikan julukan kepadaku sebagai Lim Ceng, si pendeta dari Selatan. Siauw Ceng she Toan dan bernama Tie Hin, dan memiliki gelaran ringan It Teng Taisu..!"

Jika yang mendengar kata-kata itu Kim Lun Hoat-ong, mungkin tubuh Kim Lun Hoat-ong akan gemetar, karena nama itu bukan sembarangan nama, nama dan gelaran yang telah menggetarkan jagad dan diakui oleh orang-orang rimba persilatan, dalam kalangan Kangouw!

Memang Hweshio itu tidak lain dari Toan Hongya, bekas kaisar Taili, yang telah mensucikan diri dan bergelar It Teng Taisu.

Seperti diketahui, bahwa diantara lima Ngo ciat.

Hanya tinggal dua saja yang masih hidup yaitu Lam Ceng It Teng Taisu dan Lo shia Oey Yok Su, sedangkan Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Tiong Sin Thong telah meninggal dunia.

Maka bisa dimengerti, sesungguhnya dalam urutan angkatan tua, yaitu angkatan cianpwe, It Teng Taisu dan Oey Yok Su merupakan dua jago tanpa tanding lagi yang kepandaiannya sudah sulit diukur.

Namun untuk melengkapi kedudukan Ngo-ciat itu, telah diambil Yoko, yang menggantikan See Tok Auwyang Hong, tetapi huruf "Tok" (racun) telah diganti dengan Kong, sedangkan kedudukan Pak Kay Ang Cit Kong telah diisi oleh Kwee Ceng, dengan huruf "Kay" (pengemis) diganti dengan huruf "Hiap'" (pendekar).

Lalu kedudukan Tiong Sin Thong yang kosong diisi oleh Ciu Pek Thong, dengan mengganti huruf "Sin"

Ditengah dengan huruf "Boan"

Maka lengkap170 kembalilah urutan Ngo-ciat.

Ketika orang jago pengganti Sek Tok, Pak Kay dan Tiong Sin Thong, bukanlah jago-jago lemah, kepandaian merekapun berimbang dengan kepandaian It Teng Taisu maupun Oey Yok Su.

Tiat To Hoat-ong yang memang belum menginjak daratan Tionggoan, belum mengetahui hebatnya It Teng Taisu, Waktu di Tibet, dia telah mendengarnya bahwa didataran Tionggoan terdapat lima jago yang luar biasa, yaitu See-Tok, Lam Tee Kaisar dari Selatan, yang akhirnya diganti menjadi Lam Ceng karena It Teng Taisu tidak menjadi Kaisar lagi, Thong Shia, Pak Kay dan Tiong Sin Thong.

Tetapi Tiat To Hoat-ong mana bermimpi bahwa kepandaian kelima jago yang terkenal itu luar biasa sekali?

Karena dinegerinya dia disanjung dan merupakan jago nomor satu di samping adik seperguruannya, yaitu Kim Lun Hoat-ong, maka sudah menjadi kebiasaan Tiat To Hoat-ong tidak pernah memandang sebelah mata kepada siapapun juga.

Dan juga Tiat To Hoat-ong tidak pernah me rasa takut terhadap siapapun juga, bahkan Kaisarnya yaitu Kaisar Mangu yang telah wafat, maupun Kaisar Mongolia yang sekarang pengganti Kaisar Mangu, Yaitu Kublai, tidak dipandang sebelah mata olehnya.

"Hemm...."

Mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara yang tawar.

"Memang telah cukup lama kudengar bahwa didaratan Tionggoan terdapat lima jago yang memiliki kepandaian lumayan, salah seorang adalah kau ! Tetapi Hudya ingin menasehatimu, mengingat usiamu yang telah lanjut seperti itu, lebih baik kau menggelinding pergi sebelum Hudya marah dan merobah keputusan, dan jangan sekali-kali mencampuri urusan Hudya........" . It Teng Taisu memang sabar luar biasa, dia tidak gusar walaupun Tiat To Hoat-ong mengeluarkan kata-kata yang kasar seperti itu.171

"Siancai...siancai..."

It Teng Taisu telah memuji kebesaran sang Budha sambil merangkapkan sepasang tangannya.

"Rupanya kedatangan Taisu memiliki maksud tertentu. Jika Siauw Ceng boleh mengetahui, sesungguhnya apakah tujuan Taisu yang telah melakukan perjalanan jauh datang ke Tionggoan? Apakah Taisu diperintah oleh Kublai ?" . Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena murka dan mendongkol.

"Kalau benar aku diperintah Kublai kenapa? Dan jika kedatanganku ini bukan diperintah oleh Kublai, juga kenapa? Apakah kau memiliki hak untuk mengurusi diri Hudya?"

Disanggapi seperti itu lt Teng Taisu tersenyum ramah dan sabar, katanya kemudian dengan suara yang sabar serta perlahan, namun tegas "Dengarlah Taisu, jika kedatangan Taisu berkunjung kedaratan Tionggoan hanya sekedar jalan-jalan untuk menikmati keindahan alam yang terdapat disini, tentu saja kami akan menyambutnya dengan senang hati...kami akan menghormati Taisu asal Taisu tidak mengandung maksud-maksud tertentu, maksud yang buruk....!

Tetapi sebaliknya.

jika kedatangan Taisu atas perintah rajamu, hanya sekedar untuk sengaja mengacau disini, tidak dapat hal itu kami biarkan...!"

Waktu berkata-kata seperti itu, wajah It Teng Taisu angker sekali, setidak-tidaknya dia adalah bekas seorang Kaisar, yang pernah memegang tampuk pimpinan sebuah negara, walaupun sebuah negara kecil di Selatan.

Sabar suaranya, lembut tutur katanya, tetapi angker sekali pengaruhnya.

Diantara wajahnya yang welas asih dan sabar itu tampak matanya memancarkan sinar yang ber pengaruh sekali.

Tiat To Hoat-ong yang melihat itu, diam-diam tergetar hatinya, karena dia merasakan hatinya tergoncang.

Tetapi cepat sekali dia dapat menguasai dirinya.

Dan dengan segera juga dia menjadi murka.172

"Pendeta busuk, ternyata engkau terlalu banyak tingkah dan cerewet......!"

Katanya dengan gusar.

dan membarengi perkataamya itu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong telah melancarkan serangannya dengan kepalan tangannya yang besar dan mengandung angin serangan yang kuat sekali, yang dahsyatnya luar biasa.

Tetapi It Teng Taisu membawa sikap yang tenang sekali, sedikitpun dia tidak takut menghadapi pendeta Mongolia itu.

Bahkan It Teng Taisu telah melihatnya bahwa Tiat To Hoat-ong bukanlah sebangsa manusia baik-baik.

Maka dari itu, dengan tenang dia mengawasi datangnva serangan pendeta Mongolia itu.

Dengan berani dia mengulurkan tangan kanannya tahu-tahu dengan telapak tangannya dia telah menahan majunya kepalan tangan Tiat To Hoat-ong.

"Kita bicara dengan mulut, bukan dengan kepalan!"

Kata It Teng Taisu dengan suara yang sabar sekali.

Tiat To Hoat-ong kembali kaget setengah mati, karena dia telah melancarkan serangan dengan mengerahkan enam bagian tenaga dalamnya, kenyataannya ketika membentur telapak tangan si pendeta dari Selatan itu, dia merasakan telapak tangan It Teng Taisu lunak sekali seperti kapas, dan tenaga serangan yang dilancarkan jadi lenyap tidak karuan, Dengan cepat Tiat To Hoat-ong menarik pulang tangannya.

"Taisu, bebaskanlah kedua tawannanmu itu, dan pergilah dari tempat ini ! Karena Taisu ingin pergi, Taisu dapat pergi dengan bebas, dan aku si tua Lam Ceng tidak akan mengganggumu .....!"

Sabar suara It Teng Taisu.

Seumurnya belum pernah It Teng Taisu berlaku demikian tegas, dia selalu bersikap ramah dan sabar luar biasa, tetapi karena mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong berkunjung ke Tionggoan dengan maksud buruk dan juga karena melihat Siauw Liong Lie serta Sin Tiauw diperlakukan begitu rupa oleh si pendeta, maka murkalah bekas Kaisar dari negeri Taili itu.173 Tiat To Hoat-ong jadi penasaran Dia telah mengeluarkan suara tertawa dingin yang menyeramkan, mukanya bengis sekali.

"Hemmm, enak sekali kau bicara "

Bentaknya dengan suara mengandung hawa pembunuhan.

"Sedangkan rajaku sendiri tidak berani mengeluarkan kata-kata kasar dan kurang ajar seperti itu."

"Tepat !"

Mengangguk It Teng Taisu dengan sabar, tetapi mukanya angker sekali.

"Justru Siauwceng bukan rajamu dan Taisu bukan sebawahan Siauwceng, masih mau Siauwceng berlaku murah hati membebaskan Taisu begitu saja asalkan tidak mengganggu kedua sahabat Siauwceng .....!' pedas dan tegas sekali kata-kata It Teng Taisu, karena dia ingin mengartikan, jika saja dia kaisarnya dan Tiat To Hoat-ong bawahannya, mungkin dia telah menghukumnya, dengan hukuman yang berat... Tubuh Tiat To Hoat-ong jadi menggigil karena sangat murka, dia merasakan dadanya seperti ingin meledak oleh kemarahannya itu. Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur dan mengandung kemarahan yang sangat, tampak Tiat To Hoat-ong telah melompati menubruk kearah It Teng Taisu dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya. Dalam kemarahan yang seperti itu, ternyata Tiat To Hoat-ong telah melancarkan serangan dengan ilmu Yoganya ditingkat kesebelas, merupakan jurus yang sangat hebat. Harus diketahui bahwa ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To Hoat-ong berbeda dengan ilmu-ilmu Yoga umumnya, karena latihan Yoga pendeta itu telah digabung dengan ilmu silat "

Liong Cio Poan Kouw-kang"

Yang semula berasal dari India.

Maka bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To Hoat ong.

terlebih lagi disaat itu dia telah mempergunakan sekaligus ditingkat kesebelas.174 Tenaga serangan yang dilancarkan oleh Hiat To Hoat-ong beratnya ribuan kati, memang benar tenaga serangan itu bukannya tenaga naga atau gajah seperti namanya itu Liong Cio Poan Kouw Kang, akan tetapi itulah serangan yang mustahil sekali dilawan oleh tubuh manusia !.

Tetapi menghadapi It Teng Taisu yang memiliki ilmu yang telah mencapai tingkat puncak kesempurnaan dan sulit diukur, terutama dia lah jago tertua diantara Ngo Ciat serangan Tiat To Hiat-ong selalu jatuh di tempat kosong, karena pendeta Mongolia itu seperti juga selalu memukul tempat kosong dan It Teng dapat berkelit atau mengelakkannya dengan langkah-langkah yang ampuh, sehingga kedudukan tubuhnya sulit diterka oleh Tiat To Hoat-ong sendiri.

Sedangkan It Teng Taisu sendiri telah melihatnya dan mengetahui bahwa tenaga yang dimiliki Tiat To Hoat-ong luar biasa besarnya, seumurnya dia belum pernah menghadapi lawan seperti itu.

Akan tetapi walaupun demikian It Teng Taisu tidak gentar menghadapi serangan-serangan seperti itu, karena dia telah memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan juga kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang sulit diukur lagi.

Melihat lawannya melancarkan serangan-serangan yang gencar sekali, juga serangan itu mengincar bagian-bagian yang mematikan ditubuh It Teng Taisu dengan kejamnya, si pendeta dari selatan itu berulang kali menghela napas sambil memuji kebesaran sang Buddha.

Akhirnya disaat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan dengan cara yang serentak mempergunakan kedua tangannya.

yang seperti juga runtuhnya langit atau seperti sebuah gunung, It Teng Taisu telah menggerakkan kaki kanannya setengah lingkaran, lalu dengan membarengi seruan perlahan It Teng Taisu telah memapaki serangan itu dengan jari telunjuknya.175 Luar biasa sekali, tenaga serangan yang hebat dari Tiat To Hoat-ong jadi musnah sama sekali, dan yang lebih celaka lagi justru tubuh Tiat To Hoat-ong telah terhuyung kebelakang dengan muka yang pucat.

Ternyata It Teng Taisu telah mempergunakan It Yang Cienya, ilmu jari tunggal yang sakti itu.

Karena telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa dalam meyakini ilmu jari saktinya itu, It Teng Taisu sesungguhnya telah berjanji kepada dirinya sendiri, jika tidak diperlukan sekali.

dan tidak dalam keadaan terdesak yang sangat, ilmu yang liehay luar biasa itu tidak ingin dikeluarkannya.

Tetapi disebabkan desakan-desakan yang gencar dari Tiat To Hoat-ong, dengan sendirinya hal itu Lam Ceng mengambil keputusan untuk merubuhkan pendeta dari Mongolia itu.

karena dia perlu memberikan pertolongan kepada Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw.

Apa lagi mata It Teng Taisu sangat tajam dan awas sekali, Siauw Liong Lie yang tengah rebah dalam keadaan seperti tidur atau pingsan itu, sesungguhnya tengah hamil, membuat It Teng Taisu tambah berkuatir.

Lam Ceng menduga didalam persoalan ini tentu terselip sesuatu yang agak luar biasa, karena tidak biasanya Siauw Liong Lie rubuh ditangan seseorang, Walaupun orang yang menawannya itu selihay Tiat To Hoat-ong.

Karena Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak berada disebelah bawah dari dia.

Dan juga, kemana perginya Yo Ko.

suami dari nyonya itu ?

Mengapa tidak terlihat mata hidungnya ?

Apakah Yo Ko telah dicelakai seseorang juga ?

Berpikir begitu, tentu saja It Teng Taisu jadi tambah berkuatir, dan akhirnya terpaksa harus mempergunakan ilmu saktinya itu yaitu It Yang Cie, ilmu yang semula diterima dari Tiong Sin Thong Ong Tiong Yang.

terlebih lagi selama puluhan176 tahun It Teng Taisu telah melatih ilmu itu mencapai puncak kesempurnaan.

ditambah dengan lwekangnya yang memperoleh kemajuan pesat sekali.

Tiat To Hoat-ong sendiri tadi menjadi terkejut karena disaat kedua tangannya dihantamkan kearah It Teng Taisu dia yakin akan dapat mendesak pendeta itu.

karena dia telah mengerahkan delapan bagian tenaga dalamnya yang dipusatkan dikedua kepalan tangannya.

Menurut keyakinan Tiat To Hoat-ong, jika saja tidak berhasil memukul rubuh It Teng Taisu se-tidaknya dia bisa mendesak pendeta itu dengan hebat.

Tetapi siapa duga.

hanya mempergunakan jari tangannya saja, It Teng Taisu justru telah berhasil menyambuti serangan dari Tiat To-Hoat ong bahkan juga telah membuat tenaga Tiat To Hoat-ong menjadi lenyap, dan pendeta Mongolia itu merasakan mengalirnya semacam hawa yang halus menyelusup kedalam tubuhnya, sehingga seperti seorang yang kontak oleh aliran listrik, membuat Tiat To Hoat ong jadi mundur dengan terhuyung.

Itupun masih untung Tiat To Hoat-ong hanya mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya, coba kalau dia memusatkan seluruh kekuatannya, niscaya pendeta Mongolia itu akan celaka sendirinya.

Seperti diketahui, It Yang Cie merupakan ilmu jari tunggal yang sakti, yang bisa dipergunakan sebagai ilmu menotok yang tiada taranya didalam dunia ini.

Tetapi disamping itu, karena It Teng Taisu telah melatihnya sedemikian sempurna, membuat ilmu itu benar merupakan ilmu menotok yang tiada lawannya.

Tadi waktu menyambuti serangan dari Tiat To Hoat-ong, disaat dia menyambuti serangan itu justru dia menotok pergelangan tangan pendeta tersebut, sehingga si pendeta selain tertotok tenaga serangannya juga jadi lenyap.

Dan juga177 disamping itu, dia telah terkena oleh dorongan tenaga membalik dari serangannya sendiri.

Semakin kuat seorang menghantam, semakin kuat teraga menolak dari It Yang Cie.

"Kau ... ?"

Tiat To Hoat-ong tak bisa mengucapkan sesuatu apapun juga, karena dia terkejut sekali.

It Teng Taisu telah merangkapkan sepasang tangannya, dia mengucapkan pujian atas kebesaran Sang Buddha dengan wajah yang sabar.

"Siancai, siancai."

Ujarnya.

"Maafkan Siauwceng, terpaksa harus mempergunakan kekerasan menerima serangan Taisu...!"

Mata Tiat To Hoat ong tampak terpentang lebar-lebar, dia mengawasi bengis kepada It Teng Taisu.

Setelah berdiam diri sejenak, dia telah berhasil mengendalikan ancaman dihatinya.

Disaat itulah Tiat To Hoat ong baru menyadarinya bahwa It Teng Taisu ternyata merupakan jago yang hebat sekali, yang tidak mungkin dirubuhkan dengan cepat.

Dalam hatinya, Tiat To Hoat ong jadi tergetar juga, karena dia menyadarinya bahwa di Tionggoan ternyata terdapat banyak sekali orang pandai.

Seperti pertama kali dia tiba didataran Tionggoan, dimana dia telah bertemu dengan Ciu Pek Thong, yang tidak bisa dirubuhkan, kemudian Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang juga memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak mungkin dirubuhkan dengan mempergunakan ilmu silatnya, Hanya Cu Kun Hong yang bisa dipukul rubuh dengan mempergunakan ujung lengan jubahnya.

"Jika dilihat demikan, Tionggoan merupakan gudangnya para jago-jago silat kelas utama..."

Berpikir Tiat To Hoat-ong, dan dia jadi gentar juga.178 Tetapi karena disamping memiliki kepandaian yang telah sempurna, Tiat To Hoat ong juga merupakan seorang jago yang cerdik sekali, tentu saja dia tidak mau menyerah begitu saja.

Dilihatnya, sejak tadi It Teng Taisu memperlihatkan sikap yang sabar dan menurut penglihatannya hweshio itu mudah untuk diajak bicara.

Maka.

sambil merangkapkan tangannya, Tiat To Hoat-ong telah memberi hormat.

"Ternyata Lam Ceng It Teng Taisu bukan nama kosong belaka .....!"

Kata Tiat To Hoat-ong sambil menjura.

"Dan, Hudya cukup kagum melihatnya Tetapi, Hudya harap, Taisu jangan mencampuri urusan Hudya, bukankah lebih baik jika diantara kita berdua diikat tali persahabatan?"

Tendengar itu, It Teng Taisu telah tersenyum sabar.

"Mencari lawan memang mudah, tetapi justru untuk mencari sahabat sejati itulah yang sulit ....!"

Sahut si hwesio. Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena dia merasa seperti juga disindir oleh It Teng Taisu, Saat itu Lain Ceng telah melanjutkan perkataannya lagi.

"Dan jikalau Taisu memiliki pikiran bagus seperti itu, mengapa pula Siauwceng harus menolaknya? Bukankah bersahabat itu merupakan suatu hal yang menggembirakan? Dan tentu saja Siauwceng merasa berterima kasih atas maksud baik Taisu yang sudah bersedia bersahabat dengan Siauwceng yang masih miskin dan melarat, yang tidak memiliki kuil dan nama .....!"

"Itulah kata-kata yang terlampau merendah"

Kata Tiat To Hoat-ong.

"sungguhnya, jika memang Taisu menghendaki, dalam sekejap mata kedudukan dan harta akan datang kepangkuan Taisu ...! Dan jika Taisu kehendaki, dapat juga Taisu ikut Hudya ke Utara, bukankah Taisu pun mengetahui,179 Khan yang besar cerdik dan hebat sekali, tidak seperti pemerintahan negeri Song yang tolol dan bodoh ini?"

Mendengar perkataan Tiat To Hoat-ong yang terakhir, yang terang-terangan begitu muka It Teng Taisu jadi berobah merah karena gusar.

Dia gusar, justru Tiat To Koat-ong telah mengajaknya untuk menjadi pengkhianat, mengkhianati negerinya sendiri dengan tawaran pangkat dan harta...

"Terima kasih atas tawaran Taisu......Siauwceng belum terpikir untuk mencampuri urusan-urusan negara, karena kini, Siauwceng justru hanya, menghendaki kedua sahabat Siauwceng itu !"

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah dan baru saja dia ingin membuka mulut lagi, It Teng Taisu telah berkata lagi .

"Silahkan Taisu meninggalkan kedua sahabat Siauwceng ini, kelak jika ada umur panjang, Siauwceng It Teng Taisu tentu akan datang mencari Taisu untuk menyatakan terima kasih"

Sesungguhnya, didengar dari kata-katanya itu yang diucapkannya dengan sabar It Teng Taisu seperti juga merendah dan menghormati Tiat To Hoat-ong, namun sesungguhnya perkataannya yang terakhir itu merupakan suatu perkataan mengusir untuk Tiat To Hoat-ong.

Melihat demikian, Tiat To Hoat-ong jadi murka bukan main, tetapi dia tidak memperlihatkan dimukanya, bahkan Tiat To Hoat-ong telah tersenyum lebar, sambil katanya.

"Hudya datang dari jauh, dan secara kebetulan hari ini beruntung bertemu dengan salah seorang diantara kelima Ngo Ciat, maka untuk menyatakan rasa kagum dan mengikat tali persahabatan, Hudya ingin menghadiahkan sebuah tanda mata untuk kenang-kenangan... !" 180 Sambil berkata demikian, Tiat To Hoat-ong telah merogoh sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah tabung yang berukuran tidak begitu besar, yang ujungnya terdapat tangkainya. It Teng Taisu jadi mengawasi heran, dia bercuriga atas sikap lawannya. Sedangkan Tiat To Hoat-ong tanpa memperdulikan perasaan heran It Teng Taisu, telah melanjutkan kata-katanya lagi;

"Tabung kecil ini merupakan hadiah dari Khan yang agung, yang telah diberikan untuk dipergunakan sebagai tanda kebesaran. Jika tabung ini diperlihatkan, dimana saja, diberbagai tempat dimana kekuasaan Khan Agung berada, maka orang yang memegang tabung ini akan diperlakukan dengan hormat, sama hormatnya dengan melihat seorang raja muda !"

Sambil berkata-kata Tiat To Hoat-ong telah memegang-megang tangkainya, mempermainkannya yang diputar-putarnya, Sedangkan It Teng Taisu hanya mengawasi sambil tersenyum sabar, bahkan waktu Tiat To Hoat-ong berkata-kata sampai disitu, It Teng telah menjura membungkukkan tubuhnya memberi hormat .

"Sayang Siauwceng tidak pernah berhasrat mencampuri urusan negara dan juga Siauwceng tidak berniat untuk segala penghormatan yang tidak-tidak simpanlah barang itu. Taisu.. maafkan Siauwceng tidak dapat menerima hadiah yang besar itu."

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menyahuti hanya sambil melangkah dua tindak, tahu-tahu "Pssssst !"

Dia telah menyemburkan gas dari tabung ditangannya.181 It Teng Taisu sesungguhnya telah berwaspada sejak tadi.

Semula dia menduga bahwa tabung yang berisi senjata rahasia, yang diperlengkapi dengan alat-alatnya, namun diwaktu Tiat To Hoat ong menyemburkan gas didalam tabung itu, itulah diluar dugaannya, karena bukan senjata rahasia yang menyambar kearahnya, melainkan uap yang harum sekali !

Hati It Teng Taisu terkejut bukan main, dia melompat kebelakang dua tindak sambil mengibaskan lengan jubahnya, dan segera juga menutup jalan pernapasannya, tetapi karena tadi terlambat, dia telah menyedot beberapa kali sedotan gas itu, sehingga seketika itu juga kepalanya menjadi pening dan matanya berkunang-kunang.

Dalam hal ini, It Teng Taisu merupakan seorang jago tua yang jujur dan penyayang terhadap siapa saja, diapun seorang jago tua yang sabar.

Tetapi menghadapi kelicikan Tiat To Hoat ong yang telah menyemburkan gas tidurnya itu yang dianggap oleh It Teng merupakan perbuatan rendah, It Teng sudah tidak bisa menahan diri lagi.

Dengan mengeluarkan seruan yang sangat dahsyat, tampak It Teng Taisu telah melompat menubruk kearah Tiat To Hoat-ong, sambil mengulurkan tangan kanannya, dia telah melancarkan serangan dengan mempergunakan It Yang Cie nya.

Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa sekali, memiliki tenaga menggempur yang dahsyat.

It Yang Cie sudah merupakan ilmu yang tiada taranya dalam dunia ini, terlebih lagi di pergunakannya disaat It Teng Taisu tengah dalam keadaan murka seperti itu, maka bisa dibayangkan bahaya yang mengancam untuk Tiat To Hoat-ong.182 Tetapi pendeta dari Mongolia itu justru liehay sekali, dia tidak takut.

Bahkan kedatangan It Teng Taisu yang tengah menubruk kearahnya telah disambut dengan semprotan gas dalam tabungnya, sebanyak dua kali sehingga uap putih tampak mengurung It Teng.

Sambil menyemprotkan gas dalam tabungnya itu, Tiat To Hoat-ong juga telah melompat dengan gesit kepinggir, dia telah berkelit dari serangan lawannya.

It Teng Taisu mencelos hatinya waktu disemprot dengan gas tidur itu lagi, walaupun dia telah menutup pernapasannya, namun disebabkan tadi dia telah terlanjur menyedot dan kini juga uap dari gas tidur itu sangat ketat mengurungnya, dengan sendirinya kepalanya jadi pening sekali.

Namun serangan yang dilancarkannya dengan tenaga sembilan bagian itu tidak berhasil di tarik pulang, karena waktu yang sangat mendesak itu, tanpa ampun lagi dinding batulah yang menjadi sasarannya menjadi jebol dan runtuh dengan mengeluarkan suara yang berisik sekali.

Tiat To Hoat-ong terkejut bukan main, dia jadi mengucurkan keringat dingin.

Tadi masih untung dia bisa mengelakkan serangan It Teng Taisu, coba kalau tidak, mana mungkin dia sanggup menerima serangan yang begitu hebat?

Karena kuatir It Teng Taisu melancarkan serangan lagi, maka dengan cepat Tiat To Hoat ong menyemprotkan kembali gas dalam tabungnya itu sebanyak tiga kali.

It Teng Taisu tengah berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung, dan kepalanya disamping pening, pandangan matanya juga gelap sekali.

Tanpa ampun lagi, tubuh It Teng Taisu jatuh numprah diatas lantai, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, It Teng Taisu tidak sampai tertidur, dia hanya merasakan betapa183 tubuhnya menjadi lemas tidak bertenaga sama sekali.

Tanpa membuang waktu, It teng Taisu telah mengerahkan lwekangnya dia telah mengerahkan tenaga untuk memulihkan peredaran darahnya dan mengusir uap beracun itu dari dalam tubuhnya.

Tiat To Hoat-ong tidak mau membuang-buang kesempatan yang ada, dia telah melompat menyambar tubuh Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw kemudian dengan menggerakkan ilmu meringankan tubuhnya dia menurunkan undakan tangga dan keluar dari rumah penginapan itu, terus berlari meninggalkan rumah penginapan itu, Karena telah melihat lawannya hebat luar biasa Tiat To Hoat-ong tidak berlari berlaku ayal, dengan cepat sekali dia berlari-lari terus meninggalkan kota itu, hanya didalam waktu yang sangat singkat dia sudah melewati puluhan lie, Tadi waktu dia turun dari undakan tangga diruang bawah, pelayan maupun kuasa rumah penginapan serta beberapa orang tamu yang berada disitu, telah tertidur semuanya.

It Teng Taisu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengatur peredaran darahnya dan berusaha mengusir uap beracun dari dalam tubuhnya itu merasakan kepalanya sangat pening.

Tetapi pendeta sakti dari Selatan itu menyadari, bahwa gas yang terlanjur tersedot oleh pernapasannya, bukanlah semacam racun yang bisa mematikan, hanya lebih mirip sebagai uap tidur, yang akan merubuhkan lawannya, sehingga It Teng Taisu agak tenang.

Setelah mengerahkan dan menyalurkan tenaga saktinya kesekujur tubuhnya selama satu jam, akhirnya It Teng Taisu pulih kembali kesegarannya.

Dia melompat berdiri dan mengibaskan lengan jubahnya berulang kali, karena dia ingin membersihkan udara yang masih diliputi oleh gas tidur itu.184 Dilihatnya diruangan bawah beberapa orang pelayan dan kuasa rumah dengan beberapa orang tamu, telah tertidur nyenyak.

Rupanya mereka telah menyedot uap tidur yang dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong yang berimbas keruang bawah dan lewat melalui pernapasan mereka ....

It Teng Taisu jadi menghela napas jengkel, karena dia melihat Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw sudah tidak berada ditempatnya semula.

Sewaktu ingin bersemedhi untuk memulihkan kesegaran tubuhnya, It Teng Taisu telah berpikir bahwa Tiat To Hoat-ong pasti akan mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, namun It Teng benar-benar tidak berdaya, karena tubuhnya dalam keadaan yang lemah sekali, mengantuk terpergaruh oleh uap racun yang dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong.

Semula It Teng Taisu bermaksud menotok beberapa orang yang tidur terpengaruh uap beracun itu, untuk menyadari mereka.

Tetapi karena mengingat akan keselamatan Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw yang jauh lebih penting, maka It Teng Taisu dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, telah mengejar keluar kota untuk merampas dan menolong Siauw Liong Lie dari tangan Tiat To Hoat-ong, Untung saja kota tersebut hanya memiliki satu pintu, sehingga It Teng Taisu dapat segera mengejar dengan mengambil jurusan yang pasti diambil oleh Tiat To Hoat-ong juga, yaitu kearah barat.

Tetapi waktu berada diluar pintu kota, disaat itulah It Teng tertegun sejenak, karena dia tidak mengetahui lagi harus mengejar kemana.

Jika dia mengambil kearah kiri, berarti dia akan tiba dikota Phiang sie-kwan, tetapi jika dia mengambil arah kanan, tentu akan tiba dikota Tiang-lu-kwan.

Kedua kota itu masing-masing terpisah dari tempat tersebut ribuan lie jauhnya, dan It Teng Taisu tidak mengetahui, entah arah mana yang diambil oleh Tiat To Hoat-185 ong, apakah si pendeta Mongolia itu akan melarikan diri ke Tiang-lu-kwan atau mengambil arah kekota Phiang-sie-kwan.

Dalam keadaan terdesak oleh waktu seperti itu, dan mengingat pula akan keselamatan Siauw Liong Lie, yang dilihatnya tengah berisi.

It-Teng Taisu tidak bisa ragu-ragu, akhirnya untung-untungan dia telah mengambil arah kekota Tiang-lu-kwan.

Dengan mempergunakan ilmu larinya yang telah sempurna sekali, tubuh It Teng Taisu berkelebat-kelebat secepat kilat berusaha mengejar lawannya, tetapi setelah melalui seratus lie lebih dia masih tetap tidak melihat bayangan Tiat To Hoat ong.

"Apakah aku salah mengambil arah mengejarnya?"

Berpikir It Teng Taisu ragu-ragu.186 Tetapi untuk kembali mengambil arah yang satunya, tentu telah membuang waktu terlalu banyak dan belum tentu Tiat To Hoat-ong mengambil arah yang satu itu.

Maka karena merasa terlanjur, It Teng Taisu bermaksud untuk mencapai dulu kota Tiang lu-kwan, untuk melihatnya apakah Tiat To Hoat-ong mengambil arah kota tersebut.

Juga It Teng Taisu menyadari, dengan membawa bebannya seekor barung rajawali dan seorang wanita, jelas keadaan Tiat To Hoat-ong akan menarik perhatian orang banyak, dan dia bisa bertanya-tanya kepada penduduk, apakah mereka melihat pendeta yang membawa rajawali dan seorang wanita.

Dengan mengempos semangatnya, It Teng Taisu telah meneruskan pengejarannya, tubuhnya cepat sekali berlari-lari bagaikan bayangan yang terlihat hanyalah gumpalan putih saja......

000odw^kzo000 Yo Ko dan Ciu Pek Thong penasaran sekali karena walaupun mereka telah melakukan pengejaran dengan cepat sekali, tokh Tiat To Hoat-ong tetap saja belum terlihat bayangannya.

Kekuatiran Yo Ko semakin hebat, dia kuatir kalau-kalau isterinya dicelakai oleh pendeta Mongolia itu.

Sesungguhnya Yo Ko telah menduga bahwa Tiat To Hoat-ong tentu akan berusaha mencari tempat persembunyian yang aman, sehingga kelak dapat mempergunakan Siauw Liong Lie sebagai alat perisainya, untuk keselamatannya.

Hanya saja, yang belum dimengerti oleh Yo Ko sesungguhnya apa maksud dari To Hoat ong ber keliaran didaratan Tionggoan ?

Setelah berlari-lari bersama Ciu Pek Thong kurang lebih sejauh lima ratus lie dan belum melihat si pendeta Mongolia, Yo Ko jadi putus asa.187

"Akhh Liongjie, kita ternyata harus berpisah pula...... dan......dan kau tengah mengandung anak kita...-!' menggumam Yo Ko dengan suara mengandung nada perasaan, marah, kuatir dar kecewa. Ciu Pek Thong yang Jenaka, waktu melihat kesedihan yang hebat dari Yo Ko, cepat-cepat tertawa.

"Yo Hiante, kau tidak perlu terlalu kuatir seperti itu, Yo Hujin memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak berada disebelah bawahmu, tidak mungkin dia dicelakai dengan mudah oleh pendeta itu ... !"

Yo Ko mengangguk, wajahnya tetap muram.

"Tetapi Ciu Toako....... menurut keterangan yang diberikan Cu Kun Hong Siangkong, bahwa pendeta itu telah berhasil menawan Liongjie dan Tiauwheng ....!"

Ciu Pek Thong jadi tertegun, dan dia jadi tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.

Bukankah dengan telah tertawannya Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, berarti keduanya berada dalam ancaman bahaya besar ditangan Tiat To Hoat-ong ?

Waktu itu mereka telah berada diperbatasan kota Suan liang-kwan sebuah kota kecil yang penduduknya hanya lima ratus kepala keluarga, Yo Ko dan Ciu Pek Thong memasuki kota kecil itu.

kemudian memasuki sebuah rumah makan.

Ciu Pek Thong memesan beberapa macam sayur dan lima kati arak.

Tetapi Yo Ko tidak memiliki selera untuk menikmati semua itu, dia hanya duduk termenung menguatirkan keselamatan isterinya dan Sin Tiauw.

Ciu Pek Thong telah dahar dengan lahapnya karena hampir sehari suntuk dia belum makan dan perutnya lapar sekali.188

"Ciu Toako,"

Kata Yo ko waktu melihat Ciu Pek Thong telah selesai dengan santapannya "Kita hanya memiliki satu hari lagi untuk mencari Liong-jie, karena lusa kita sudah harus berada di Hoa-san, sebab It Teng Taisu dan yang lainnya pasti telah berkumpul disana!"

Ciu Pek T hong mengangguk cepat.

"Benar, dan kita bisa meminta bantuan mereka untuk ikut mencari Yo Hujin! katanya. Yo Ko menghela napas. Kini mereka belum berhasil mencari Tiat To Hoat-ong, yang seperti telah menghilang, lenyap seperti tertelan bumi bersama Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw. Jelas jika besok lusa, si pendeta sudah semakin jauh melarikan diri, dengan sendirinya tidak mudah untuk mencarinya lagi. Yo Ko yakin bahwa isterinya memiliki kepandaian yang tinggi. Namun yang mengherankannya, mengapa Siauw Liong Lie bisa tertawan oleh Tiat To Hoat ong? Dan begitu halnya dengan Sin Tiauw, mengapa bisa di tawan oleh pendeta dari Mongolia. Yo Ko mengetahui bahwa kepandaian Siauw Liong Lie tidak berada disebelah bawah dari Tiat To Hoat ong karena Yo Ko telah bergebrak satu dua jurus dengan pendeta itu telah berhasil menjajagi ilmunya pendeta tersebut.

"Jelas si pendeta mempergunakan akal licik"

Berseru Yo Ko tiba-tiba sambil memukul meja, sehingga menimbulkan suara yang keras sekali. Ciu Pek Thong melihat kegusaran dan kedukaan Yo Ko, telah menghela napas.

"Yo Hiante, mari kita lanjutkan pengejaran kita, mungkin si pendeta masih belum begitu jauh dari tempat ini!"

Ajak Ciu Pek Thong.189 Yo Ko menggelengkan kepalanya perlahan, diapun telah menghela napas.

"Walaupun kita mengejar lagi, jelas usaha kita tidak akan berhasil. Kita telah bertanya-tanya kepada penduduk disepanjang jalan yang kita lalui, tetapi tidak seorangpun yang pernah melihat si pendeta Mongolia. Hal itu membuktikan bahwa si pendeta tidak mengambil arah tempat ini, karena dengan membawa Tiauwheng dan Liongjie, setidak-tidaknya si pendeta akan menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. sangat mustahil tidak seorangpun melihatnya jika dia benar-benar telah mengambil jalan ini !"

"Benar !"

Ciu Pek Thong membenarkan pikiran Yo Ko itu.

"Apakah dia harus mengejarnya kearah lain ?"

"Dengan meraba-raba dan menduga-duga saja, jelas kita akan semakin kehilangan jejak......."

Kata Yo Ko.

"Dan satu-satunya yang terbaik, kita kembali ke Hoa San, untuk merundingkannya dengan It Teng Taisu dan yang lain !’’ Ciu Pek Thong menyetujui saran Yo Ko, setelah membayar harga makanan, mereka segera kembali ke Hoa San.... Hoa san tetap tenang dan sunyi. Ditempat itu belum terlihat muncul seorang jagopun juga, waktu Yo Ko dan Ciu Pek Thong tiba dikedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah kosong itu, Kwee Ceng, It Teng Taisu mau pun yang lainnya belum tampak. Dengan kedukaan yang menyesakkan dadanya, Yo Ko telah duduk dibatu yang terdapat disamping kuburan Auwyang Hong. Ciu Pek Thong sibuk mengawasi sekitar tempat itu, kakek jenaka itu, walaupun dalam keadaan seperti itu, ternyata tidak bisa berdiam diri, dia sibuk sekali jalan kesana kemari, tampaknya jika tidak bergerak atau berjalan, kakinya menjadi gatal.190 Ada saja yang diperhatikan oleh Ciu Pek Thong, sampai akhirnya ketika dia tengah memandang kearah selatan dari gunung tersebut, yang menghadap kesebuah lembah, muka Ciu Pek Thong jadi berobah.

"Ada orang datang !"

Katanya dengan wajah girang, karena dia melihat sesosok tubuh bayangan berkelebat-kelebat dari kaki lembah itu menuju keatas, menghampiri kearah tempat di mana mereka berada.

Yo Ko telah melompat cepat sekali dan memperhatikan sosok tubuh itu.

Tetapi waktu mereka telah melihat tegas, mereka jadi kaget dan heran sendirinya.

Orang yang tengah mendatangi itu bukan salah seorang dari sahabat-sahabat mereka.

Orang itu ternyata seorang wanita setengah baya, bermuka cantik dan tubuhnya ramping, mengenakan baju berwarna merah mudi.

angkin kuning dan rambutnya disanggul cucup tinggi.

Ditangan kanannya tampak menggendong seorang anak lelaki berusia empat atau lima tahun, yang duduk tenang-tenang walaupun si wanita berlari cepat dan gesit sekali.

"Siapa dia?"

Tanya Ciu Pek Thong.

"Apa maksudnya datang kemari?"

Yo Ko juga heran, dia tidak bisa menjawab karena Yo Ko pun tidak mengenal orang itu.

Tidak berselang lama, karena wanita itu berlari dengan gesit sekali, telah tiba dihadapan Yo Ko dan Ciu Pek Thong berada.

Namun wanita setengah baya, yang masih terlihat sisa-sisa kecantikan wajahnya itu.

seperti tidak mengacuhkan Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang hanya diliriknya saja.

Wanita itu membawa anak lelaki yang berada dalam rangkulannya itu menghampiri kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong.191 Namun waktu melihat kedua kuburan itu telah kosong dengan tanah yang berserakan, wanita setengah baya tersebut mengeluarkan seruan tertahan, mukanya seketika menjadi pucat dan dia berdiri mematung.

"Ma, apa yang terjadi ?"

Tanya anak lelaki itu dengan suara yang nyaring, rupanya dia heran melihat Wanita itu, yang dipanggilnya Ma (ibu) berdiri mematung begitu.

"Diam Phu-jie ! Ada orang jahat yang mengganggu ayahmu"

Menyahuti wanita setengah baya itu dengan suara yang mengambang.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong hanya mengawasi saja kelakuan Wanita setengah baya itu dengan anak lelaki kecilnya itu.

Yo Ko dan Loo Hoan Tong menjadi heran, karena kini jelas bahwa wanita itu ingin menyambangi kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, Siapakah wanita itu ?

Masih ada hubungan apakah antara wanita itu dengan kedua orang yang telah meninggal itu?

Apakah dia kerabatnya Auwyang Hong ?

Atau memang wanita setengah baya itu sanak familinya Ang Cit Kong ?

Yo Ko sama sekali tidak mengetahuinya.

Lama juga wanita itu mengawasi kedua kuburan yang telah kosong itu, dan si anak lelaki kecil dalam gendongannya, seperti juga mengerti akan perintah ibunya, selanjutnya diapun hanya berdiam saja tidak bersuara, Selang sejenak lagi, wanita itu berjongkok memeriksa kuburan Auwyang Hong yang telah kosong itu tanpa mengacuhkan kuburan Ang Cit Kong.

Melihat ini, menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki hubungan dengan Auwyang Hong, tetapi pernah apakah wanita setengah baya itu dan si anak lelaki kecil itu, dengan Auwyang Hong.

Tadi wanita setengah baya itu menyebut-nyebut ayah, apakah wanita setengah baya itu maksudkan Auwyang Hong ayah si anak lelaki kecil itu ?

Bukankah Auwyang Hong hanya192 memiliki seorang anak, yaitu Auwyang KongCu, yang telah meninggal ?

Dan juga, bukankah Auwyang Hong telah meninggal banyak tahun?

Tidak mungkin anak lelaki kecil yang baru berusia kurang tebih lima tahun itu adalah puteranya Auwyang Hong; Lalu siapa mereka itu ?

Belum lagi Yo Ko dan Ciu Pek Thong bisa memecahkan teka-teki yang membingungkan seperti itu, justru wanita setengah baya itu telah menoleh dan berdiri menghadapi Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

Tangan kanannya masih menggendong si anak lelaki kecil itu, tetapi matanya menatap Yo Ko dan Ciu Pek Thong bergantian dengan memancarkan sinar yang sangat tajam sekali.

"Hanya kalian berdua yang berada ditempat ini"

Kata Wanita setengah baya itu dengan suara yang menyeramkan sekali, bengis dan mengandung hawa pembunuhan.

"Dan aku, Cek Tian berani memastikan bahwa kalianlah yang telah merusak kuburan itu..."

Yo Ko cepat-cepat merangkapkan tangannya menjura.

Namun berbeda dengan Yo Ko justru Ciu Pek Thong jadi gusar bukan main ditatap begitu rupa oleh nyonya setengah baya tersebut dan juga kata-katanya itu telah membuat Ciu Pek Thong mendongkol sekali.

"Ehhh, nyonya!"

Katanya dengan suara nyaring.

"Jangan seenaknya saja engkau menuduh orang! Kamipun bisa saja menuduhmu yang telah merusak dan membongkar kuburan itu! Apakah dengan beradanya kami disini engkau bisa menuduh yang tidak-tidak? Aku Loo Boan Thong juga bisa menuduh engkau yang melakukannya, karena bukankah engkaupun berada disini?"

Muka wanita itu jadi berobah hebat waktu mendengar si kakek tua berjenggot panjang itu menyebut dirinya sebagai Loo Boan Thong, bahkan mungkin karena terkejutnya dia193 telah mundur dua langkah, memperhatikan Ciu Pek Thong dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan juga sering beralih mengawasi Yo Ko, terutama tangan kanan Yo Ko yang telah buntung itu, dimana lengan bajunya terjuntai kosong lemas tidak ada isinya itu ....

"Hemm, engkau Loo Boan Tong Ciu Pek Thong ? Bagus ! Dengan demikian, semakin kuatlah dugaanku bahwa kuburan suamiku itu dirusak oleh kalian ! Dan melihat tangan si buntung itu, mau kuduga bahwa dialah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, yang menurut cerita orang dialah pendekar nomor satu dibawah jagad ini .. ! Benarkah itu ?"

"Hujin (nyonya). aku yang rendah Yo Ko tidak berani menerima pujian seberat itu, sedangkan itu hanya gurauan dari sahabat-sahabatku saja...!"

Kata Yo Ko dengan suara yang sabar, sedangkan dihatinya Yo Ko tengah diliputi tanda tanya besar yang tidak terjawab mengenai diri nyonya Ini.

"Jika memang Hujin tidak keberatan, bolehkah kami mengetahui she dan nama Hujin yang mulia. Dan ... masih pernah apakah antara Hujin dengan Auwyang Yaya ?"

Yo Ko membahasakan Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Yaya (ayah she Auwyang), karena Yo Ko anak angkatnya Auwyang Hong di muka orang-orang gagah Yo Ko menyebut Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Peehu (paman Auwyang), tetapi karena melihat wanita yang setengah baya ini seperti memiliki hubungan sesuatu dengan Auwyang Hong, sengaja Yo Ko menyebutnya dengan Auwyang Yaya.

Muka wanita itu berobah.

"Auwyang Yaya ? Jadi kau ingin maksudkan See Tok adalah kakekmu ?"

Tegurnya dingin dan bengis...

"Bukan kakek, tetapi ayahku ".

"Mengapa kau menyebutnya dengan panggilan Yaya (engkong) ? Engkau ingin mempermainkan aku ?"194

"Mana berani Yo Ko main-main dengan Hujin ? Aku bicara yang sesungguhnya, walaupun Kang-thia (ayah angkat) ku itu senang mengambil aku sebagai anak angkatnya namun peradatannya tidak disenangi, sehingga dia menganjurkan agar aku tidak memanggilrya dengan Kang-thia, melainkan Yaya, Bahkan disaat-saat menjelang tutup usianya, Auwyang Kang-thia telah meminta kepadaku agar memanggilnya atau menyebutnya kelak dengan sebutan Peehu (paman) saja karena menurut Kang-thia, bakti atau tidak sama semua hanya tergantung didalam hati, bukan merupakan bahasa panggilan yang merupakan topeng belaka..."

Telah diceritakan dalam Sin Tiauw Hiap Lu, disaat Auwyang Hong dan Ang Cit Kong ber tempur, yang akhirnya menyebabkan mereka meninggal.

Disaat itu Yo Ko yang mendampingi kedua tokoh persilatan itu.

Muka wanita itu telah berobah hebat.

Dia telah mendengus dingin.

"Lalu siapa yang telah merusak makamnya"

Bentaknya dengan suara yang tetap bengis.

"Justru kamipun belum mengetahuinya..."

Menyahuti Yo Ko.

"Akupun tengah menyelidiki untuk membekuk penjahat yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu."

Cek Thian, nyonya itu, telah menghela napas.

"Engko Hong! engko Hong! ternyata sampai didalam tanahpun engkau tidak bisa beristirahat dengan tenang dan selalu dimusuhi ...... Akhhh, nasibmu benar-benar harus dikasihani!"

Melihat wanita yang mengaku bernama Cek Thian itu berkata-kata dengan suara yang mengandung kedukaan, kekecewaan, perasaan mencinta yang luar biasa dalamnya, Yo195 Ko tadi teringat lagi kepada isterinya yang baru saja lenyap tertawan lawan.

Tanpa merasa menitik butir-butir air mata kedukaan, seperti diketahui Yo Ko memiliki perasaan yang lembut sekali, selembut awan, dan keras sekeras baja.

Tentu saja Ciu Pek Thong pun kelabakan melihat kedua orang yang tengah berduka itu, sehingga Loo Boan Tong telah memandang Yo Ko dan Cek Thian berganti-gantian.

"Hai. hai, mengapa kalian sama-sama menangis" ! tegurnya, karena dia melihat Cek Thian, nyonya itu. menitikkan air mata juga. Disaat itulah. Cek Thian telah menyusut air matanya, kemudian dia telah berkata kepada anak lelaki kecil yang berada digendongannya.

"Phujie (anak Phu), kuburan ayahmu telah dirusak orang, turunlah, ibu ingin menghajar penjahat dulu."

Anak lelaki itu seperti mengerti, dia telah mengiyakan dan melompat turun dari tangan ibunya.

Yang membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi terkejut adalah gerakan anak lelaki itu.

Usia anak itu baru lima tahun, tetapi tubuhnya telah melompat turun dari tangan ibunya bagaikan segumpal kapas yang ringan sekali, ke dua kakinya Waktu menyentuh tanah, tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Hal itu tentu saja membuktikan bahwa anak lelaki itu telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, walaupun tentu saja diimbangi dengan bentuk tubuhnya yang kecil dan berat tubuhnya yang ringan.

Begitu turun, anak lelaki itu telah jongkok dan mencari-cari semut yang ada diatas permukaan tanah, untuk lekas-lekas dipermainkankannya, seperti juga tidak mengacuhkan196 keadaan sekitarnya, tidak mau menperdulikan Yo Ko, Ciu Pek Thong dan Cek Thian, ibunya itu.

Wanita setengah baya itu telah berdiri tegak dengan wajah yang muram memandang kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong.

"Hemmm, engkau mengakui secara sembarangan bahwa Auwyang Hong adalah ayah angkatmu, tetapi aku ingin mengetahui, apakah kau berani mempertanggung jawabkan kelancangan mu itu ? Apakah kau menduga bahwa aku tidak mengetahui semua yang pernah dilakukan Engko Hong semasa hidupnya ?"

Yo Ko berusaha bersikap tenang dan sabar, walaupun nyonya itu tidak hentinya memaki-maki dia seperti itu. Tetapi belum lagi dia menjawab Loo Boan Tong telah melompat kedepannya menghadapi Cek Thian.

"Wanita busuk seperti kau ini apa gunanya diajak bicara, karena engkau selalu bicara tidak keruan"

Bentak Ciu Pek Thong.

"Jika engkau tidak mempercayai perkataan Yo Hiante lalu siapa lagi yang ingin kau percayai ?"

"Aku hanya percaya mata dan diriku sendiri !"

Menyahuti Cek Thian.

"Seperti hari ini, aku melihat sendiri kuburan Engko Hong telah dibongkar seseorang, telah dirusak. Dan membuat arwah Engko Hong tentunya tidak tenang ! Hemmm, Hemmm, tetapi walaupun bagaimana tetap saja aku tidak bisa melepaskan dugaan bahwa kalian yang telah merusak kedua kuburan itu !"

Dan setelah berkata begita, tahu-tahu si nyonya berjongkok dengan gerakan yang sangat gesit sekali, diapun memperdengarkan suara krokkkk, kroookkk !

lalu mendorong kedepan kedua tangannya, kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong !

"Ha-mo-kang"

Teriak Yo Ko dan Ciu Pek Thong terkejut bukan main.197 Yo Ko merasakan samberan angin serangan yang dahsyat luar biasa, walaupun dia terpisah beberapa tombak, tetapi angin serangan dari Ha mo-kang yang dilancarkan oleh nyonya itu menyesakan napasnya.

Dengan cepat dia telah melompat tinggi sekali untuk menghindarkan serangan itu, sedangkan Ciu Pek Thong telah melompat kesamping.

Karena tidak mengenai sasaran, maka angin serangan tersebut menghantam sebungkah batu gunung, dengan mengeluarkan suara benturan keras batu itu hancur remuk menjadi tumpukan abu.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong disamping heran juga jadi menggidik.

Yo Ko menjadi heran melihat wanita setengah baya itu menguasai ilmu tunggal Auwyang Hong demikian hebatnya, mungkin jika ingin di perbandingkan tidak berada disebelah bawahnya Auwyang Hong sendiri.

Siapakah wanita setengah tua itu ?

Tidak mungkin dia isteri Auwyang Hong, karena Auwyang Hong telah meninggal puluhan tahun yang lalu.

Saat itu, Cek Thian ketika melihat serangannya gagal karena berhasil dihindarkan oleh Yo Ko dan Ciu Pek Thong, jadi semakin gusar.

Dengan gerakan yang aneh, dia menggeser sedikit kedudukan kakinya, dimana dia masih dalam posisi berjongkok seperti itu, tahu-tahu kedua tangannya telah didorong pula kearah Yo Ko dan, Ciu Pek Thong bahkan dari mulutnya telah mengeluarkan suara "Krokkk, krokkkk!"

Berulang kali.

Yang mengejutkan lagi, justru kali ini Cek Thian melancarkan serangan dengan Ha-mo kang nya itu bukan dengan kedua tangan sekaligus, melainkan tangan kanannya198 mendorong kearah Yo Ko.

sedangkan tangan kirinya mendorong ke arah Ciu Pek Thong.

Dengan sendirinya, hal ini telah membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thoag kagum bukan main, karena tenaga serangan itu sama kuatnya seperti serangan pertama, walaupun sepasang tangan itu dipisahkan.

Tetapi kali ini, Yo Ko tidak berkelit lagi dia tetap berdiri ditempatnya.

Dengan mempergunakan pukulan Kie An Cie Bie atau Mengangkat Meja sampai di Alis, tepat sekali Yo Ko mengibas dengan lengan tangan kanannya yang kosong itu.

Lengan jubah yang lemas itu menimbulkan tenaga kibasan yang luar biasa kuatnya, karena Yo Ko telah mengerahkan empat bagian tenaga dalamnya.

Dua kekuatan tenaga raksasa saling bentur lalu dengan menerbitkan suara benturan keras keadaan disekitar tempat itu jadi tergetar.

Tetapi Yo Ko kembali terkejut, sebab tubuh Cek Thian sama sekali tidak bergeming.

Dan Yo Ko merasakan tenaga pertahanan dari Ha mo kang yang dimiliki Cek Thian kuat sekali.

Sedangkan serangan tangan kiri Cek Thian kepada Ciu Pek Thong telah dikelit oleh kakek tua jenaka itu.

Namun Ciu Pek Thong pun tidak tinggal diam, dia menganggap nyonya ini keterlaluan sekali.

Dengan cepat Loo Boan Thong melancarkan serangan membalas dengan telapak tangannya kearah pundak Cek Thian.

Tetapi Cek Thian dengan gerakan yang aneh pula, dengan masih berjongkok pula, tahu-tahu melejit kesamping, dia telah berpindah tempat.

Dan tahu-tahu kedua telapak tangannya mendorong kearah Ciu Pek Thong.199 Itulah ilmu Ha-mo-kang tingkat kesembilan serangan yang sangat hebat sekali.

Dan Yo Ko yang pernah memperoleh pelajaran ilmu Ha mo kang dari Auwyang Hong mengetahui hebatnya serangan itu.

Dengan cepat dia telah menjejakan kakinya tangannya mendorong tubuh Ciu Pek Thong sambil meneriakinya.

"Ciu Toako mundur...."

Yo Ko melakukan hal itu karena dia menyadari jika Ciu Pek Thong menyambuti, tentu setidak-tidaknya Loo Boan Tong akan terluka didalam karena tenaga gempuran Ha-mo-kang tingkat ke sembilan tersebut memiliki dua macam kekuatan "keras"

Dan "lunak".

Yang keras untuk menghantam dan menggempur tenaga lawan yang mengunakan tenaga lawan yang keras.

Dan kini yang luar biasa, justeru Cek Thian telah mempergunakan sekali gus kedua macam kekuatan itu.

Yo Ko mengenal sifat Ciu Pek Thong yang selalu tidak pernah mengenal takut penasaran, maka Loo Boan Tong pasti akan melancarkan tangkisannya.

Itulah yang membuat Yo Ko berkuatir, kalau Ciu Pek Thong tidak dapat bertahan dari gelombang hebat yang memiliki dua macam kekuatan.

Ciu Pek Thong melihat Yo Ko mendorongnya dan meminta dia menyingkir, jadi tertegun.

Tetapi dia tidak mau mengalah terhadap Cek Thian, sedangkan serangan wanita itu menyambar datang akan mengenai dirinya, Tetapi Yo Ko yang mendorongnya dengan disertai lwekang yang telah diperhitungkan, membuat tubuh Ciu Pek Thong bergoyang dan terhuyung kesamping, sedangkan lengan kanannya yang kosong itu telah dikibaskan menghantam kearah tenaga serangan Ha-mo-kang Cek Thian.

Benturan yang terjadi diantara kekuatan Cek Thian dengan Yo Ko tidak menimbulkan suara apa-apa.200 Tetapi sesungguhnya benturan kekuatan tenaga itu menghadang seekor gajah, maka gajah itu akan binasa dengan tubuh yang hancur.

Dan jika saat itu benturan tersebut tidak mengeluarkan suara benturan yang keras, hal itu memperlihatkan bahwa disaat itu Yo Ko berhasil menindih kekuatan Ha-mo-kang yang dilancarkan oleh Cek Thian.

Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Cek Thian gusar sekali, dia merasakan tenaga-nya seperti tenggelam kedalam lautan.

Dengan mengeluarkan seruan keras, dia tidak menarik pulang tenaga serangannya, hanya dengan mengibaskan kesamping, lalu mendorong lagi, serangan pertama itu telah dibantu oleh dorongan tenaga kedua.

Maka bisa dibayangkan serangan yang kali ini dilancarkan oleh Cek Thian.

Yo Ko terkejut sekali, dia mengeluarkan seruan tertahan.

Saat itu dia baru saja mendorong Ciu Pek Thong, setidak-tidaknya dia telah memecahkan perhatian dan tenaga dalamnya, membuat dia tidak sepenuhnya dapat menangkis serangan itu.

Dan kini serangan kedua telah tiba, mendorong tenaga serangan pertama yang belum lenyap keseluruhannya, membuat Yo Ko terancam bahaya yang tidak kecil.

Tetapi diwaktu kecil Yo Ko pernah memperoleh didikan Auwyang Hong, bahkan kini yang tengah dihadapinya adalah sesuatu ilmu terhebat dari Auwyang Hong sendiri, yang dilancarkan oleh Cek Thian.

Dalam keadaan yang terdesak begitu maka Yo Ko tidak menjadi gugup.

Dengan cepat sekali dia telah menggerakkan pinggangnya, tahu-tahu sepasang kakinya telah terangkat dan kepalanya langsung menempel ditanah, dia jadi berdiri di atas kepalanya dan kedua kakinya itu tergantung ditengah udara.201 Lalu dengan tubuh yang berputar seperti gasing tahu-tahu tangan Yo Ko meluncur kedepan kearah Cek Thian, menangkis serangan yang di lancarkan oleh wanita setengah baya itu.

Bukan main dahsyatnya tangkisan yang dilakukan oleh Yo Ko, karena disamping Yo Ko juga mempergunakan ilmu Ha-mo-kang, juga dia memiliki lwekang yang sudah mencapai puncak kesempurnaan, yang sulit untuk diukur lagi.

Angin tangkisan yang dilakukannya begitu halus, tetapi memiliki tenaga menolak yang dahsyat sekali.

Dengan mengeluarkan seruan kaget, Cek, Thian tahu-tahu telah terpental, tubuhnya terapung ke tengah udara.

Nyonya setengah baya itu berusaha berjumpalitan ditengah udara, tetapi usahanya itu gagal.

Hal itu disebabkan tenaga menolak yang ke luar dari telapak tangan tunggal yang kiri dari Yo Ko telah menghantamnya kuat sekali, karena disamping tenaga dalam Yo Ko sendiri, juga tenaga serangan Cek Thian telah terbalik meng hantam majikannya.

Tanpa ampun, tubuh Cek Thian rubuh bergulingan diatas tanah.

Yo Ko telah melompat berdiri dengan kedua kakinya pula, dia telah menghampiri Cek Thian yang duduk bersila ditanah, karena wanita setengah baya itu tidak bisa cepat-cepat berdiri, tubuhnya dirasakan kaku sebagian akibat gempuran yang diterimanya dari Yo Ko.

"Hujin, maafkan aku terpaksa menurunkan tangan agak keras. Apakah kau terluka ?"

Tanyanya halus.

Nyonya setengah baya itu mendelik, tetapi kemudian menundukkan kepalanya.

Beberapa butir air mata telah menitik turun ketanah, merembes kedalam tanah, lenyap.

Tetapi tidak terdengar suara tangisan nyonya setengah baya itu, tampaknya dia menitikan air mata dengan kedukaan yang sangat.

Yo Ko melihat nyonya setengah baya menangis,202 jadi ikut berduka.

Dia bisa membayangkan, betapa penasaran nyonya itu, karena justeru disaat dia mempergunakan Ha-mo-kang, ilmu yang sangat sakti ini, malah telah dirubuhkan oleh ilmu serupa itu pula ...

Yo Ko telah mengulurkan tangannya untuk merabah nadi ditangan si nyonya setengah baya, tetapi belum lagi berhasil memegang pergelangan tangan Cek Thian, tangannya telah dikibaskan sehingga Yo Ko mundur.

"Kurang ajar......kau telah merubuhkan aku sekarang kau ingin berbuat kurang ajar menghinaku pula, heh ?"

Bentak nyonya setengah baya itu dengan suara yang bengis. >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 07 Yo Ko jadi terkejut, cepat-cepat dia menjura memberi hormat.

"Mana berani aku melakukan perbuatan kurang ajar kepada hujin"

Katanya cepat.

"Tadi... aku hanya bermaksud untuk memberikan bantuan jikalau hujin terluka didalam" . Nyonya itu telah mendengus dingin, dia kemudian menoleh kepada kuburan Auwyang Hong yang telah dibongkar seseorang dan kosong itu. tatapan matanya mendelong dan nanar seperti tidak mengandung perasaan kasihan kepada nyonya tersebut, baru saja dia ingin mengeluarkan kata-kata hiburan, menyenangkan hati nyonya itu. Cek Thian telah melompat berdiri. Namun, tubuhnya masih bergoyang-goyang seperti akan rubuh dan disaat itu Phujie telah menghampiri ibunya.

"Ma, kenapa kau ?' tanya anak lelaki itu dengan suara kuatir.

"Apakah kau dihina si buntung itu ?"

Kata-kata yang203 terakhir itu ditujukan untuk Yo Ko, diapun telah mengawasi Yo Ko dengan mata mendelik.

Tentu saja Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi mendongkol bukan main, tetapi mereka tidak bisa marah kepada anak kecil itu.

"Mari kita pergi, Phujie, nanti kita cari penjahat yang telah menghina ayahmu......!. Urusan ini harus diselesaikan, penasaran ayahmu harus dibereskan ..!"

Dan nyonya setengah umur itu telah berlalu sambil menuntun tangan anak lelaki itu, memutar tubuhnya dan melangkah dengan tubuh yang bergoyang-goyang seperti akan rubuh.

Yo Ko jadi mengawasi dengan pandangan mata tertegun, dia juga menghela napas berulang kali.

Yo Ko pun mengetahui bahwa nyonya itu tentu telah terluka didalam akibat menerima gempurannya, namun nyatanya nyonya itu keras hati dan angkuh, tidak mau dia menerima budi Yo Ko, sehingga dia menolak maksud baik Yo Ko yang ingin membantunya dengan mempergunakan lwekang untuk memulihkan kesehatannya...

"Dia hebat sekali kepandaiannya, dan juga ilmu yang digunakannya sama dengan yang pernah digunakan Tee Tok semasa hidupnya...! Siapakah dia sebenarnya ? Bukankah Tee Tok telah mampus cukup lama ?"

Berkata Ciu Pek Thong sambil geleng-geleng kepalanya.

"Entah siapa nyonya dan anak itu ! Keadaan mereka luar biasa sekati ! Menilai kepandaian yang dimilikinya, dia pasti bukan orang sembarangan, lebih-lebih dia memiliki kepandaian turunan dari keluarga Auwyang, jelas dia masih memiliki hubungan yang rapat dengan ayah angkat ku. Tetapi siapakah dia ? Mengapa aku belum pernah bertemu ? Dan mengapa disaat dia mengetahui bahwa aku Yo Ko, segera sikapnya begitu garang dan melancarkan serangan-serangannya yang mematikan tanpa mengenal kasihan?" 204 Tetapi semua tanda-tanya itu hanya sempat bersarang dihati Yo Ko dan Ciu Pek Thong, karena mereka berdua tidak berhasil menjawabnya. Sedangkan saat itu, udara mulai panas dan terik, karena cahaya matahari semakin panas dan hari sudah menjelang lohor. Yo Ko dan Ciu Pek Thong menantikan kedatangan It Teng Taisu dan jago-jago lainnya yang menjadi sahabat mereka dikuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, yang telah kosong...! 000odw^kzo000 IT TENG TAISU yang telah berlari-lari sekian lama, akhirnya berhasil mencapai kota Tiang Lu-kwan. Waktu itu hari sudah mendekati fajar dan sudah banyak penduduk kota yang terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat ke tempat pekerjaan mereka. Namun It Teng Taisu tidak berhasil mencari Tiat To Hoat ong, Bahkan ketika It Teng Taisu menanyakannya kepada beberapa orang penduduk, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, Akhirnya, dengan putus asa It Teng Taisu telah memasuki sebuah rumah makan, dia memesan dua kati air teh, dan menangsal perut dengan bakpauw tanpa isi. Disaat It Teng Taisu tengah menghirup air tehnya, disaat itulah dia mendengar suara orang berkata;

"Engko ceng, kita mengasoh disini saja dulu, besok baru kita lanjutkan pula perjalanan kita. Kukira masih belum terlambat untuk mencapai Hoa San tepat pada waktunya.."

Tentu saja It Teng Taisu girang luar biasa karena dia mengenali bahwa suara itu adalah suara si nyonya nakal Oey Yong. Kwee Hujin. Dan dengan sebutan "Engko Ceng"

Itu, jelas Oey Yong tengah bercakap-cakap dengan Kwee Ceng.205 Benar juga dugaan It Teng Taisu, dari luar melangkah masuk Oey Yong dan Kwee Ceng.

Kedua orang tersebut juga kaget bercampur girang waktu melihat It Teng Taisu.

Mereka telah cepat-cepat menghampiri dan memberi hormat, yang cepat-cepat dibalas oleh It Teng Taisu.

"Taisu, apakah keadaanmu selama ini baik-baik saja?"

Tanya Oey Yong sambil tersenyum.

"Tampaknya taisu sekarang agak gemuk sedikit di bandingkan dengan tiga tahun yang lalu....!"

"Siancai ! Itulah berkat berkah Sang Buddha !"

Baca Juga: Tugas Rahasia 5

Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert