Eps 3 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long
Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long
Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.
Kata It Teng Taisu sambil tersenyum lebar.
"Tetapi, ai, ai, sungguh memang aku si tua It Teng tidak diijinkan untuk hidup tenteram menganut penghidupan yang tenang damai. Akhir-akhir ini telah muncul urusan besar yang memaksa aku harus mencampurinya pula....!"
Dan setelah berkata begitu, It Teng Taisu menghela napas sambil mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. Lalu katanya .
"Dan kalian berdua, sesungguhnya ingin pergi ke mana,?"
Kwee Ceng dan Oey Yong memperlihatkan sikap seperti keheranan, mereka saling pandang, dan Kwee Ceng yang tidak pandai berkata-kata, hanya berdiam diri dengan memandangi It Teng Taisu saja, tetapi Oey Yong telah menyahuti ;
"Bukankah Taisu yang telah mengundang kami agar segera datang ke Hoa San ?"
It Teng Taisu menatap tertegun mendengar pertanyaan Oey Yong, kemudian menepuk lututnya perlahan.
"Akhhh, inilah aneh ! Aneh sekali !"
Kata It Teng Taisu. Oey Yong cerdik luar biasa segera menyadari bahwa didalam persoalan ini pasti terdapat sesuatu yaag agak luar biasa.206
"Apakah Taisu tidak merasa pernah mengirim surat kepada kami ?"
Tanya Oey Yong tidak bisa menahan sabar. Hweshio tua dari selatan itu telah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Inilah urusan yang aneh sekali !"
Kata It Teng Taisu.
"Siauwceng belum pernah mengirim surat kepada siapapun selama tiga tahun terakhir ini, bahkan sebulan yang lalu Lolap menerima sepucuk surat dari Oey Loshia yang meminta agar Lolap mau datang ke Hoa San untuk menyelesaikan suatu urusan yang cukup penting."
"Akhh ?"
Oey Yong mengeluarkan seruan kaget mendengar nama ayahnya, Oey Yok Su disebut-sebut.
"Jadi ... surat yang kami terima itu ditulis oleh siapa ... ?"
"Maksudmu surat yang diterima oleh kalian itu ditanda tangani oleh Lolap ?"
Tanya It Teng Taisu. Oey Yong mengangguk Kwee Ceng mengiyakan.
"Aneh sekali ! Lolap tidak merasa pernah mengirim surat kepada kalian ! Jika kalian menerima sepucuk surat Lolap tentunya kalian bisa mengenali huruf-huruf itu ditulis oleh lolap atau bukan?"
"Justru kami telah memperhatikan dengan Cermat huruf-huruf itu, satu hurufpun surat itu tidak mendatangkan kecurigaan, bahkan kami mengenali tulisan Taisu...-!"
It Teng Taisu menyebut kebesaran Sang Buddha beberapa kali, sedangkan Kwee Ceng telah mengeluarkan sepucuk surat lalu diberikan kepada It Teng Taisu.
Si pendeta tua dari Selatan itu telah menyambuti dan membaca surat itu, lalu memperhatikan huruf-huruf yang terdapat dikertas itu.207 It Teng Taisu jadi memandang bengong surat tersebut, karena justru dia mengenali huruf-huruf diatas kertas itu adalah hasil tulisannya, tidak ada perbedaannya.
Tetapi yang lebih aneh lagi justru dia tidak pernah menulis surat seperti itu.
Tanda tangannya pun sama serta tidak ada bedanya baik garisnya, maupun tekukan-tekukan huruf itu.
"Luar biasa! Siapa yang telah sedemikian liehay memalsukan surat dengan memakai nama lolap ?"
Menggerutu si pendeta dari Selatan.
"Jadi surat itu memang bukan ditulis Oleh Taisu?"
Tanya Oey Yong menegasi. It Teng Taisu menggeleng perlahan, dan dia memandang keluar jendela "
Inilah aneh surat ini bukan ditulis Olehku tetapi ada seseorang yang telah menjual namaku dan memalsukan huruf-huruf yang begitu sama dengan tulisanku.. ! Luar biasa sekali, siapakah orangnya itu?"
Oey Yong dan Kwee Ceng jadi tertegun dan mengawasi si pendeta dengan tatapan mata mengandung tanda tanya.
"Lolap pun menerima sepucuk surat yang. bunyinya hampir serupa dengan ini. tetapi ditulis oleh ayahmu, Kwee hujin..."
Kata It Teng Taisu.
Dan Lam Ceng telah merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat, yang diangsurkan kepada Kwee Ceng, dan Oey Yong ikut membacanya.
Bunyi surat itu hampir mirip dengan surat yang diterima oleh Kwee Ceng dan Oey Yong, hanya saja huruf-huruf surat itu ditulis oleh Oey Yok Su.
Oey Yong dan Kwee Ceng kenal dengan baik tulisan Oey Loshia, maka dari itu tidak mengherankan jika mereka menjadi208 kaget dan heran.
"Apakah mungkin ayah yang sengaja telah bergurau ?"
Berpikir Kwee Hujin.
Tetapi Oey Yong mengetahui benar tabiat ayahnya, Oey loshia.
si sesat tua, tidak mungkin Oey Yok Su bergurai dengan cara demikian.
Huruf-huruf surat itu ditulis oleh Oey Loshia bukan ?"
Tanya It Teng Tai-su setelah melihat Oey Yong dan Kwee Ceng selesai membaca surat itu.
"Benar ........tetapi"
Suara Oey Yong jadi tidak lancar.
Dia sesungguhnya sangat cerdik, (seperti didalam Sia Tiauw Enghiong, Sin Tiauw Hiap Lu, telah diceritakan kecerdikan Oey Yong yang selalu berhasil memecahkan berbagai persoalan yang berat bagaimanapun), tetapi menghadapi persoalan tersebut, tidak dapat Oey Yong segera memutuskan karena menyangkut urusan ayahnya.
"Tetapi kenapa?"
Tanya Kwee Ceng yang melihat isterinya seperti ragu-ragu.
"Aku yakin surat ini bukan ditulis oleh ayah!"
Kata Oey Yong kemudian.
"Coba kau lihat Engko Ceng , apakah surat ini sesungguhnya ditulis oleh ayah?"
Kwee Ceng yang polos telah mengangguk.
"Jika dilihat dari huruf-hurufnya memang tulisan ayah..!"
Katanya.
"Akhh....."
Oey Yong mengeluh jengkel.
"Justru huruf-huruf menyerupai tulisan ayah. tetapi aku yakin bahwa surat ini bukan ditulis oleh ayah! Hanya saja orang yang membuat surat ini hebat sekali, dia bisa memalsukan huruf-huruf ayah dengan baik sekali, tanpa ada sedikitpun yang salah...!"
"Aneh sekali ... apakah kau mau mengartikan bahwa surat itu surat palsu?" ' tanya Kwee Ceng. Oey Yong menganguk.209
"Ya, menurut Lolap juga demikian. Setelah melihat surat kalian, yang merupakan surat palsu, yang menjual nama Lolap, berarti ada sekelompok orang yang bermaksud untuk mempermainkan kita !"
"Benar !' mengangguk Oey Yong cepat.
"Jika kita memperbandingkan dengan peristiwa yang kita alami ini, Taisu, tentunya kedua surat ini ditulis oleh tangan yang sama, hanya yang satu menjual nama Taisu, sedangkan yang lainnya menjual nama ayah !"
"Tetapi, apa maksud orang itu dengan perbuatannya ini ?"
Tanya It Teng Taisu sambil mengerutkan alisnya.
"Dan apa maksudnya dengan perkataannya bahwa di Hoa-san baru akan di jelaskan duduk persoalan dari peristiwa yang besar dan penting itu ?"
Oey Yong tidak bisa menjawab dia tampak seperti berpikir keras. Sampai akhirnya dia menepuk meja.
"Aku tahu !"
Kata Oey Yong kemudian. Tetapi nyonya Kwee itu tidak meneruskan pertanyaannya, sehingga Kwe Ceng jadi tidak sabar dan bertanya .
"Tahu apa ?"
"Tentu ada seseorang yang tengah mempersiapkan suatu perangkap untuk menjerat golongan kita, yang khususnya ditujukan kepada Ngo Ciat .. !"
"Hemm", Kwee Ceng telah mendengus.
"Tetapi dengan diundangnya kita ke Hoa-san, walaupun disana telah dipasang jebakan yang hebat sekali, dengan jala langit dan jala bumi, apakah Ngo Ciat akan jeri ?"
Benar Ngo Ciat tidak jeri, tetapi orang yang sengaja memalsukan nama ayah dan It Teng Taisu, jelas telah memperhitungkan segalanya.
Orang itu tentu telah mengetahui siapa Ngo Ciat dan betapa sempurna kepandaiannya yang jelas akan diperhitungkannya dengan210 masak Tetapi disamping itu, tentunya orang tersebut telah memiliki kepandaian yang hebat, telah memasang perangkap dan telah diperhitungkannya dengan masak, sehingga dia tidak jeri untuk memancing Ngo Ciat.
Jika dugaanku ini benar, tertunya Kojie dan Siauw Liong Lie akan diundang pula.
Entah undangan itu dengan menjual nama siapa ...
It Teng Taisu mengerutkan sepasang alisnya dan dia merasakan bahwa urusan yang tengah mereka hadapi itu bukanlah urusan yang bisa diremehkan.
Untuk sementara, ketiga orang tersebut berdiam diri, karena masing-masing tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Sedangkan It Teng Taisu sekali-kali meneguk tehnya perlahan-lahan.
Tiba-tiba Oey Yong telah berkata lagi;
"Engko Ceng, apakah kau sudah bisa menduga siapa yang melakukan ?"
Kwee Ceng menggeleng.
"Dan kau sudah mengetahuinya ?"
Tanya si suami sambil mengawasi Oey Yong dengan penuh tanda tanya. Oey Yong mengangguk.
"Tetapi aku belum berani memastikan secara keseluruhannya ...!"
Menyahuti Oey Yong "Siapa?"
Tanya It Teng Taisu dan Kwe Ceng hampir Serentak.
"Nanti akan kujelaskan sekarang lebih baik kita memperhatikan dulu kedua surat ini, mencari persamaan diantara huruf-huruf itu ........!"
Dan tanpa menantikan persetujuan kedua orang itu.
Oey Yong telah membeber kedua surat tersebut dipermukaan meja.211 Dengan tekun, Oey Yong telah meneliti kedua pucuk surat itu.
It Teng Taisu hanya mengawasi saja, sedangkan Kwee Ceng ikut memandangi surat itu, tetapi pikirannya yang polos serta sederhana tidak bekerja seperti yang dikehendakinya; dia tidak menemui sesuatu persamaan dari kedua surat itu, yang bisa membuktikan bahwa penulis kedua sarat itu hanya satu orang; Tetapi berbeda dengan Oey Yong, sejak kecil nyonya ini Cerdik luar biasa disamping sangat nakal.
Diapun telah memperhatikan dengan penuh ketekunan sekali, dan akhirnya setelah memperhatikan selama seperminum teh, tiba-tiba Oey Yong menepuk pinggir meja.
"Aku telah menemuinya!"
Serunya girang.
Kwee Ceng dan It Teng Taisu mengawasinya menunggu keterangan dari Oey Yong.
Tetapi Oey Yong telah menundukkan kepalanya pula, dia masih terus meneliti kedua surat tersebut.
Tentu saja Kwee Ceng dan It Teng Taisu jadi tidak sabar, mereka jadi tegang sendirinya.
Bahkan Kwee Ceng yang sudah tidak berhasil menahan hati maupun perasasaan ingin tahunya, telah bertanya;
"Yong-jie kau telah menemui apa?"
"Tunggu dulu..."
Menyahuti Oey Yong tanpa menoleh dan terus juga mengawasi kedua surat itu. Sampai akhirnya dia menghela napas dengan lega dan duduk lurus.
"Nah kini coba kalian lihat, setiap huruf "
She" (persoalan) terdapat persamaan yang tidak bisa dilenyapkan, walaupun huruf "She"
Yang satu memakai garis coretan huruf It Teng Taisu, sedangkan "She"
Lainnya memakai coretan gaya tulisan ayah.212 Kwee Ceng dan It Teng Taisu segera mengawasi.
Tetapi setelah mengawasi sekian lama.
mereka tidak bisa melihat adanya persamaan di antara kedua huruf itu.
It Teng Taisu hanya mengerutkan alisnya sambil berdiam diri saja.
Tetapi tidak demikian dengan Kwee Ceng.
"Dibagian mananya yang bersamaan?"
Tanyanya kemudian. Oey Yong tertawa, sambil mengulurkan tangannya untuk menunjuk. Ternyata yang ditunjuk oleh Oey Yong adalah garis lekukkan kedua dari huruf "She"
Tersebut.
Kwee Ceng memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya dapat juga dilihatnya persamaan yang dimaksud oleh Oey Yong, yaitu setiap sudutnya membulat dengan ditengahnya terdapat sebuah titik kecil.
"Akhhh!"
Kwee Ceng mengeluarkan seruan perlahan.
"Ternyata kedua surat itu memang di tulis oleh tangan yang sama."
It Terg Taisu menghela napas. Persoalan ini yang kita hadapi bukan persoalan yang mudah, pasti didalam persoalan ini terselip urusan yang luar biasa."
Katanya.
"Untuk memperoleh kepastian. kita harus cepat-cepat pergi ke Hoa San untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi! Dan baru-baru ini Lolap baru saja mengalami suatu peristiwa yang cukup meng herankan ....!"
Dan It Teng Taisu lalu menceritakan pengalamannya yang telah bertemu dengan Tiat To Hoat ong, telah bertempur dengannya, dan telah mengetahui pula bahwa tawanan Tiat To Hoat ong tidak lain dari Siauw Liong Lie, isteri Yo Ko.
dan juga Sin Tiauw.
Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar, kumis Kwee Ceng seperti berdiri.
"Akhhh. mereka ternyata telah mengirm orangnya untuk membuat huru hara dan onar lagi di Tionggoan!"
Menggumam213 Kwee Ceng perlahan; yang dimaksudkannya dengan "mereka,"
Adalah bangsa Mongolia. Oey Yong seperti berpikir keras, akhirnya dia telah memukul perlahan ujung meja. Pasti peristiwa penculikan Siauw Liong Lie dengan surat ini ada hubungannya.
"Mari kita cepat cepat berangkat, mungkin kita bisa memperoleh jawabannya di Hoa San!"
Kwee Ceng dan It Teng Taisu menyetujui usul Oey Yong, mereka segera berangkat meninggalkan Tiang-lu-kwan melakukan perjalanan cepat menuju Hoa San.
Hoa San tidak jauh lagi dari Tiang-lu-kwan, setelah melakukan perjalanan satu hari satu malam tibalah It Teng Taisu bertiga dikaki gunung itu.
Waktu itu langit mulai gelap karena malam akan segera menjelang datang.
Tetapi ketiga orang gagah tersebut melakukan perjalanan mereka dengan cepat mendaki gunung itu.
Ketika mereka tiba didekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, disaat itu It Teng Taisu telah mendengar suara berkeresek yang perlahan, waktu pendeta tua tersebut menoleh, tampak dua sosok tubuh berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
Oey Yong dan Kwee Ceng juga telah melihat kedua sosok tubuh itu, dan mereka bertiga jadi girang sekali.
"Yo Ko !"
Berseru Oey Yong girang.
"Dan kau Loo Boan Tong ?"
Memang kedua orang itu tidak lain dari Yo Ko dan Ciu Pek Thong. Keduanya juga girang bertemu dengan ketiga orang gagah ini, mereka telah maju memberi salam kepada It Teng Taisu bertiga.
"Kami memang tengah menantikan Taisu,"
Kata Yo Ko kemudian.
"Hanya sayang, telah terjadi peristiwa yang kurang214 menggembirakan didiri kami .... Liongjie telah dicelakai oleh seseorang !"
Yo Ko segera menceritakan pengalamannya, sehingga menambah perasaan heran ketiga orang itu.
Begitu pula Yo Ko dan Ciu Pek Thong yang tambah heran waktu It Teng Taisu menjelaskan bahwa surat undangan yang diterima Yo Ko bikan ditulis olehnya.
Dan Oey Yong juga membantu membenarkan keterangan It Teng Taisu.
"Lalu siapa yang menulis surat itu"
Tanya Yo Ko seperti kepada dirinya sendiri "Apakah dalam persoalan ini terselip urusan yang luar biasa ?"
"Siancai"
It Teng Taisu telah memuji kebesaran Buddha.
"Jika kita menduga-duga, urusan itu memang masih gelap, tetapi kita tunggu saja peristiwa apa yang akan muncul, bukankah besok adalah hari yang dijanjikan. Yang lainnya setuju. Dan It Teng Taisu, Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar sekali waktu melihat betapa kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong telah dibongkar orang. Kumis It Teng Taisu yang telah memutih itu jadi bergerak-gerak, pendeta tua ini menjadi murka, berulang kali dia menyebut "
Omitohud"
Perlahan sekali.
Malam itu dilewati orang-orang gagah ini dengan hati jengkel diliputi kegelisahan juga, dan mereka tidak banyak bercakap-cakap.
Hanya mereka bertekad, jika saja mereka berhasil mengetahui orang yang membongkar kuburan itu, tentu mereka akan memberikan hajaran keras kepadanya.
Semuanya memiliki dugaan yang hampir sama, yaitu dugaan bahwa didalam persoalan ini pasti ada sangkut pautnya dengan Tiat To Hoat ong.
It Teng Taisu juga telah menceritakan pengalamannya bertemu dengan Tiat To Hoat ong sehingga Yo Ko gusar bercampur kuatir.
Gusar kepada pendeta yang liehay itu, berkuatir terhadap keselamatan isteri dan Sin Tiauwnya.215 Malam itu lewat dengan cepat, dan keesokan harinya, mereka diliputi ketegangan, karena hari inilah dimana persoalan tersebut akan terjawab Yo Ko dan Ciu Pek Thong sering memandang kebawah gunung, tetapi semuanya sepi dan tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Suasana begitu lenggang.
Dan Yo Ko jadi bertambah ber kuatir, kalau hari ini urusan tidak terjawab, dan orang yang sengaja mengundang mereka, atau tepatnya memancing mereka, untuk datang ke-Hoa San itu tidak memperlihatkan diri, berarti kian terlambat saja dia ditinggal Tiat To Hoat-ong.
, Yang dikuatirkan Yo Ko justru kalau Tiat To Hoat-ong membawa Siauw Liong Lie ke Mongolia !
sin Tiauw Tai Hiap ini telah bertekad bulat, walaupun keujung langit sekalipun, dia akan mengejar pendeta Mongolia itu....
Mendekati lohor masih tidak terjadi sesuatu, dan orang-orang gagah tersebut mulai tidak sabar.
Terlebih Ciu Pek Thong yang sudah tidak bisa duduk diam.
Sebentar-sebentar dia telah mengawasi kearah lobang kuburan kosongnya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Semua pengalaman yang telah dialami oleh orang-orang gagah itu diliputi tanda tanya dan belum bisa terjawab, keanehan dari peristiwa yang mereka alami itu benar-benar membuat mereka tidak mengetahui sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi.
Sedangkan Kwee Ceng dan Oey Yong memiliki urusan tersendiri pula, pengalaman yang cukup mengherankan.
Waktu mereka berada di Kamsiok dalam perjalanan menuju ke Hoa San untuk memenuhi undangan "surat"
Yang dikirim It Teng Taisu itu, justru mereka telah bertemu seorang lelaki tua kurus seperti galah yang tubuhnya selalu bergoyang-goyang jika tengah berjalan216 Orang itu mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi matanya yang seperti mata tikus itu menmancarkan sinar yang tajam, sehingga menimbulkan kecurigaan Oey Yong.
Dan justeru disaat Oey Yong dan Kwee-Ceng berada dikamar penginapannya, mereka baru mengetahui bahwa barang mereka didalam kamar telah lenyap!
Keruan saja Oey Yong dan Kwee Ceng gusar.
Mereka segera keluar dari kamar mereka, dan melihat lelaki kurus jangkung itu, yang mereka curigai sebagai pencurinya, tengah melangkah akan pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong meneriakinya agar dia menghentikan langkahnya, tetapi malah orang itu mempercepat larinya, sehingga pasangan suami isteri itu cepat-cepat mengejarnya.
Yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh orang itu sempurna sekali, walaupun Kwee Ceng dan Oey Yong telah mengejarnya terus, namun mereka tidak berhasil menyandaknya, bahkan akhirnya mereka telah kehilangan jejak.
Yo Ko dan yang lainnya waktu mendengar cerita pengalaman Kwee Ceng dan Oey Yong jadi tambah heran, mereka tidak bisa menduga-duga siapa orang yang kurus jangkung itu, karena waktu Oey Yong menggambarkan bentuk muka orang itu, dan potongan tubuhnya, mereka merasakan bahwa orang tersebut bukan orang daratan Tionggoan !.
Disaat mereka tengah bercakap-cakap seperti itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara siulan yang nyaring, melengking tinggi sekali, kemudian disusul dengan Suara Seruling yang terdengar dibawa oleh desiran angin.
Muka Yo Ko dan yang lainnya jadi berobah, mereka cepat-cepat bersiap, bahkan Ciu Pek Thong telah memandang kebawah gunung.
Suara seruling dan siulan itu hebat sekali!
karena mengandung tenaga dalam yang telah sempurna,217 Dan hebat pula ilmu meringankan tubuh dari orang yang mengeluarkan suara siulan dan suara seruling itu, karena tidak lama kemudian begitu suara siulan dan seruling itu berhenti, sudah terlihat orangnya, dan dengan beberapa kali lompatan, tahu-tahu telah berdiri diatas reruntuhan bongpai Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, dua orang yang berpakaian yang aneh sekali!
Yang satu memiliki Wajah yang hitam seperti pantat kuali, tubuhnya gemuk pendek, dengan matanya yang mencilak memandang sekelilingnya sambil tidak hentinya memperdengarkan suara tertawa yang tidak sedap didengar.
Dia berpakaian aneh sekali hanya memakai baju bulu Tiauw yang pendek, sebatas lututnya rambutnya juga digelung tinggi.
Keadaan orang itu memang sudah agak luar biasa, tetapi yang lebih luar biasa lagi adalah yang seorangnya lagi, yang ditangan kanannya menggerak-gerakkan seruling pendek bercagak dua Orang ini bertubuh tinggi, kulitnya putih, matanya sipit seperti mata elang giginya tonggos dan telinganya lebar.
Pakaiannya sama dengan kawannya terbuat dari bulu Tiauw yang berwarna putih, diapun tengah mengeluarkan tertawa sambil menyapu orang gagah dihadapannya dengan tatapan mata yang tajam sekali.
It Teng Taisu telah maju dua langlah, dan merangkapkan kedua tangannya, Ujarnya.
"Siancai, Siancai, Siancai, siapakah jiewie berdua?"
Kedua orang itu tidak segera menyahuti, hanya si hitam pendek itu telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah menghentakkan kesisi batu bongpai yang diinjaknya, tanpa mengeluarkan suara, sisa batu bongpai itu tahu-tahu meluruk menjadi abu.
Sedangkan si hitam pendek telah melompat berdiri diatas tanah datar.218 Yo Ko dan yang lainnya terkejut, dengan perbuatannya itu sipendek hitam telah memperlihatkan bahwa tenaga dalamnya sempurna sekali.
Sedangkan si jangkung putih telah tertawa terkekeh, kemudian dengan suara yang sumbang seperti suara menyalaknya serigala dia telah berkata dengan nada Tionggoan yang kaku sekali.
"Kami biasa disebut Hek Pek Siangsat (Sepasang Penjahat Hitam dan Putih)"
"Kami datang dari Persia, telah lama kami mendengar dan tertarik atas nama besar jago-jago daratan Tionggoan......!"
Setelah berkata begitu, sambil menatap tajam kearah lengan Yo Ko yang kanan, yang buntung dan hanya lengan jubahnya yang bergoyang-goyang terhembus angin.
Pek Siangsat (Iblis Putih) itu telah melanjutkan perkataannya yang semakin tidak enak didengar.
"Dan, engkau tentunya Sin Tiauw Taihiap, bukan ?" . Yo Ko tertawa dingin, tidak senang dia melihat sikap orang itu. Terlebih lagi dia tengah marah melihat Hek Pek ini tadi berdiri dikedua sisa bongpay dari Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
"Tepat"
Menyahuti Yo Ko.
"ada keperluan apakah jiewie datang kemari ?".
"Untuk mengambil kepalanya Ngo Ciat (lima jago) !"
Menyahuti sipendek hitam mewakili si Putih.
"Benar, untuk membawa pulang lima batok kepala Ngo Ciat !"
Menambahkan si Putih, menimpali perkataan si Hitam. Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusar sekali.
"Baik ! Baik ! Akulah salah seorang diantara Ngo Ciat itu ! Mari, mari kita coba-coba siapa yang tinggi dan siapa yang rendah !" .219 Dan sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong bersiap-siap untuk bertempur. Tetapi si Putih dan si Hitam itu membawa sikap acuh tak acuh sedikitpun dia tidak memandang sebelah mata ke pada Ciu Pek Thong.
"Hemmm, sabar, tidak akan terlambat jika kini kepalamu itu kami titipkan dulu dilehermu !"
Kata si Putih dengan suara dingin. Kemudian dia juga telah menoleh kepada It Teng Taisu sambil katanya lagi .
"Dan kau pendeta, tentunya kau yang disebut Lam Ceng (pendeta dari Selatan) si It Teng kepala gundul, bukan ?"
"Benar,"
Menyahuti It Teng Taisu dengan sabar, walaupun hatinya mendongkol sekali melihat sikap kurang ajar dari kedua orang aneh itu.
"Dan kalian tentunya Kwee Ceng dan Oey Yong, bukan ?"
Tanya si Putih sambil memandang tajam kepada Kwee Ceng dan isterinya. Kwee Ceng hanya mendengus "Hemmm !"
Saja, tetapi Oey Yong yang tengah gusar telah menyahuti .
"Benar, memang kami Kwee Ceng dan Oey Yong Hanya sayangnya, kami tidak memiliki rejeki yang sebaik kalian untuk menjadi kodok hitam dan bangau putih !"
Si Putih tertawa mengejek, sedikitpun dia tidak melayani ejekan Oey Yong, hanya dengan matanya yang memancarkan sinar yang tajam dia telah berkata lagi.
"Kami telah banyak mendengar, bahwa Kaisar Mangu dibinasakan oleh Sin Tiauw Taihiap, maka kami tertarik sekali untuk melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian pendekar besar itu !"
Yo Ko tidak dapat menahan sabar lagi.
tahu-tahu dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dan tangan kiri tunggalnya tahu-tahu mengibas dengan cepat sekali.
Gerakannya itu luar biasa cepatnya, dia bermaksud akan menotok jalan darah Pek-kut-hiat dibahu si Putih.
Tetapi aneh sekali, si Putih sama sekali tidak mengelakkan serangan itu, dia hanya menanti disaat tangan Yo Ko hampir220 tiba disasaran, dia mengulurkan tangan kanannya, tahu-tahu dia telah menangkis serangan itu, dan yang luar biasa justru tubuh Yo Ko terhuyung mundur dua langkah!
Kuat sekali tenaga menangkis dari si Putih.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, jago-jago yang lainnya juga mengeluarkan seruan kaget ketika memperoleh kenyataan bahwa lwekang si Putih itu telah demikian sempurna.
Serangan yang dilancarkan oleh Yo Ko tadi bukanlah serangan yang ringan, sebagai pendekar besar, walaupun Yo Ko tampaknya menggerakkan tangan kirinya dengan ringan, namun tenaga serangannya itu meliputi ribuan kati.
Maka luar biasa sekali si Putih menangkisnya begitu mudah, bahkan berhasil mendorong tubuh Yo Ko terhuyung dua langkah.
"Sabar, untuk mengadu kepandaian tidak perlu sekarang, nanti juga belum terlambat" , berkata si Putih, sedangkan si Hitam pendek itu tertawa terkekeh, menertawai Yo Ko yang terhuyung mundur dua langkah itu.
"Kami berdua telah menerima perintah untuk mengukur kepandaian dari pendekar daratan Tionggoan, maka siapa yang akan maju lebih dulu untuk menghadapi kami ?"
Mata Ciu Pek Thong jadi bersinar tajam, dia murka sekali, kumis dan jenggotnya Sampai bergerak-gerak menahan kemarahan yang bergolak di hatinya.
Dengan mengeluarkan teriakan nyaring, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah menerjang maju, dia memendekkan tubuhnya, kedua tangannya diulurkan, yang satu akan mencengkeram pergelangan si Putih, sedangkan tangan kirinya akan menghantam dada si jangkung itu.
Tetapi memang luar biasa, dengan menggerakkan perlahan tubuhnya yang dimiringkan kekanan, maka serangan Ciu Pek Thong telah berhasil dikelit oleh si Putih.221
"Engkau tidak sabar, jenggot !"
Kata si Putih sambil mengejek.
Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataannya, karena Ciu Pek Thong yang telah gusar itu dengan cepat telah menggerakkan kepalanya, jenggotnya yang panjang itu telah menyambar kearah dada lawannya.
Ciu Pek Thong tadi waktu melihat serangannya dapat dielakkan lawan-nya, telah penasaran sekali, dia telah mengerahkan lwekang ke jenggotnya, dan dengan disertai lwekang yang sempurna, serangan jenggotnya itu bukanlah serangan yang sembarangan.
Si Putih juga kaget melihat cara menyerang Ciu Pek Thong, tidak bisa dia main main lagi, dengan merangkapkan kedua tangannya, tahu-tahu dia telah mengayunkan kedua tangannya yang dirangkapkan itu menjepit jenggot Ciu Pek Thong.
Memang luar biasa, lwekang yang dimiliki si Putih hebat sekali, jenggot Ciu Pek Thong tidak berdaya sama sekali.
Bahkan si tua nakal itu jadi sibuk sekali jenggotnya dijepit seperti itu, berarti dia tidak bisa menariknya pula.
Dengan murka dia telah membarengi dengan tangan kanannya menghajar keleher lawannya sehingga si Putih terpaksa memiringkan kepalanya, tetapi jepitan kedua tangannya itu tidak di lepaskan.
Yo Ko melompat untuk menghantam punggung si Putih, tetapi dia dipapak oleh si Hitam yang melompat sambil mengibaskan tangan kirinya.
"Ternyata jago-jago Tionggoan hanya pandai mengeroyok saja !"
Berseru si Hitam.
Atas kibasan tangan si Hitam, serangan Yo Ko jadi terhalang dan tidak dapat dia melanjutkan serangannya kepada si Putih, terlebih lagi si Hitam juga telah melancarkan serangan dengan gencar.222 Saat itu, si Hitam sambil melancarkan serangan yang bertubi-tubi kepada Yo Ko.
telah mengeluarkan suara siulan yang panjang dan tinggi nadanya, dari arah bawah gunung itu telah terlihat belasan bayangan yang tengah berlari-lari mendaki keatas.
Dilihat dari gerakan belasan orang itu jelas mereka terdiri dari orang-orang pandai.
karena mereka dapat berlari dengan gesit sekali, didalam waktu yang singkat sekali mereka telah berada dekat dengan tempat tersebut.
It Teng Taisu dan yang lainnya jadi terkejut, begitu juga Oey Yong yang jadi mengerutkan alisnya.
Mereka melihat, bahwa orang-orang yang tengah mendatangi itu bukanlah lawan yang ringan.
Sambil tetap melancarkan serangan-serangan yang hebat kepada Yo Ko, si Hitam telah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring.
"Nanti kita dapat menentukan apakah jago jago dari Persia yang lebih tinggi atau memang orang-orang Tionggoan yang lebih rendah,"
Katanya kemudian.
Hek Pek Siangsat itu merupakan sepasang pendekar dari Persia.
Dinegerinya mereka merupakan jago nomor satu dan selalu membawa sikap yang ugal-ugalan.
Mereka memiliki latihan tenaga Yoga yang dicampur dengan ilmu Barat, yang telah dilatihnya dengan sempurna sekali.
Keduanya memang memiliki adat yang aneh disamping sikap mereka yang angin-anginan itu, keduanya tidak boleh mendengar ada seseorang yang memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, sebab mereka pasti akan datang untuk menguji kepandaiannya.
Dinegerinya mereka sudah tidak ada tandingannya dan disegani oleh ahli-ahli silat disana !
Dan disaat seperti itulah, mereka ternyata telah dimanfaatkan oleh pihak Mongolia, dimana keduanya telah ditarik berdiri dipihak Mongol, Kublai223 Khan memang terkenal sebagai pemimpin Mongolia yang cerdik sekali.
Kecerdikan Kublai memang melebihi Mangu maupun Jenghis Khan, kakeknya.
Itulah sebabnya, pemimpin besar Mongol tersebut berhasil menguasai jago-jago dari Arab, Persia, Nepal, India dan beberapa negara lainnya, yang semua bekerja untuk kepentingannya.
Yo Ko yang penasaran dan dalam keadaan gusar, tahu-tahu telah menggerakkan tangan kirinya itu dengan gerakan secepat kilat, dia telah menyentil dengan kuat mempergunakan Tan Cie Sin Tong, dia menyerang jalan darah Wie kian hiat nya si Hitam.
Tetapi si Hitam sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan serangan Yo Ko, hanya tangannya yang pendek itu telah mengincer mata Yo Ko.224 Keruan saja Yo Ko jadi kaget, dia kaget karena justru lawannya tidak berusaha berkelit dari totokannya yang begitu hebat.
"Tukkkk"
Terdengar suara yang nyaring, disusul oleh suara "Bukkkkl"
Lalu tampak tumbuh Yo Ko terhuyung diiringi suara tertawa si Hitam.
Ternyata waktu jari tangan kiri Yo Ku menyentuh tepat jalan darah lawannya, serangan itu tidak memberikan hasil sedikitpun juga, karena si Hitam pendek itu ternyata memiliki ilmu kebal, yang tubuhnya tidak bisa dilukai sekalipun oleh senjata tajam.
Sedangkan Yo Ko yang terkejut menyaksikan serangannya yang gagal, jadi lebih kaget lagi melihat datangnya serangan si Hitam yang mengincar matanya.
Tentu saja dia jadi mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat menggerakkan lengan baju kanannya yang kosong itu, yang dikibaskannya menyampok tangan si Hitam.
Namun tak urung panggungnya telah kena dihantam telak oleh si Hitam sehingga tubuh Yo Ko jadi terhuyung.
Saat itu belasan sosok tubuh itu telah tiba ditempat tersebut.
It Teng Taisu dan yang lainnya segera dapat melihat jelas, mereka tidak lain dari belasan orang pendeta Lhama yang semuanya memiliki tubuh tegap dan tinggi besar dengan muka yang garang.
Lhama itu yang memakai jubah merah merupakan pendeta-pendeta Budha yang berpusat di Lhasa, dan mereka merupakan penghuni dari Istana Potala yang dipimpin oleh seorang Budha Hidup.
Umumnya pendeta-pendeta Lhama dari Lhasa itu terkenal karena memiliki ilmu yang tinggi dan sempurna serta aneh-aneh Seperti diketahui, bahwa Tat Mo Couwsu pendiri Siauw Lim Sie dan pencipta dari Kiu lm Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng225 berasal dari India, dan juga Ilmu itu telah diolah dari ilmu yang berasal dari India, namun setelah tiba didaratan Tionggoan, lewat ribuan tahun ilmu itu telah diolah dan menjadi ilmu tenaga dalam yang tersendiri.
Tetapi di Lhasa, di mana pendeta Buddha dari istana Potala itu, umumnya mempelajari ilmu silat yang sejati dari ilmu silat India dan mereka umumnya mengkhususkan diri mempelajari ilmu silat tanpa ingin mencampuri urusan duniawi, tidak mengherankan jika pendeta-pendeta Buddha di Lhasa itu memiliki kepandaian yang sempurna sekali.
Namun di sebabkan mereka membatasi diri tidak ingin mencampuri urusan duniawi, dengan sendirinya mereka menempuh kehidupan dan penghidupan dengan cara-cara seperti setengah dewa.
Inilah yang telah mengherankan It Teng Taisu dan yang lainnya, karena melihat Lhama itu bisa muncul ditempat ini, bahkan dalam jumlah yang demikian banyak.
Entah urusan hebat yang bagaimana akan terjadi nanti sedangkan Oey Yong juga jadi mengerutkan alisnya dengan berkuatir.
Jika dilihat yang muncul kini merupakan jago-jago luar yang memiliki kepandaian yang tinggi, tentu saja nanti masih ada jago-jago lainnya yang akan menyusul datang.
Dan Oey Yong juga menyadarinya ancaman yang ada itu tidaklah kecil.
Nyonya Kwee jadi berwaspada.
Jumlah Lhama yang datang itu lima belas orang, mereka tiba untuk kemudian berdiri di dekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong dengan berbaris rapi, mereka tidak mengeluarkan sepatah perkataanpun juga.
"Bagus!"
Berseru si putih sambil melompat mundur melepaskan jepitan tangannya di jenggot Ciu Pek Thong Sedangkan si Hitam juga telah malah melompat berdiri disamping si Putih, si Hitam tidak melayani Yo Ko lagi.226 Berkobar-kobar amarahnya Ciu Pek Thong dan Yo Ko tetapi merekapun telah melihat hadirnya kelima belas pendeta Lhama tersebut yang mereka lihat tidak berkepandaian rendah.
It Teng Taisu telah merangkapkan tangannya tanyanya dengan sabar .
"Apa maksud kalian datang dinegerinya ini?"
"Apakah kalian diutus oleh Buddha Hidup?"
Kelima belas Lhama itu tetap berdiam diri tidak memberikan jawaban atas pertanyaan It Teng Taisu. Hanya si Putih yang telah menyahuti dengan suara yang nyaring;
"Apakah jika Buddha Hidup yang perintah mereka datang itu, kalian akan menjamu?"
Tegurnya. Muka It Teng Taisu jadi muram, dia melihat kekurang ajaran si Putih semakin menjadi-jadi.
"Baiklah, kini jelaskan yang terang, apa sesungguhnya yang kalian kehendaki?"
Katanya lagi sabar.
"Kami menghendaki batok kepala Ngo Ciat!"
Menyahuti si Putih.
"Tadi kami sudah menjelaskan, dan kami kira urusan telah terang".
"Siancai. siancai, sayangnya yang hadir hanya Sie Ciat (empat jago), sayang seorang diantara Ngo Ciat belum hadir..."
Kata It Teng Taisu sambil tetap memperlihatkan sikap yang sabar. Si Putih telah tertawa seperti suara menyalaknya serigala, dia bilang;
"Kini yang hadir disini Lam Ceng, Pak Hiap. See Kong dan Tiong pin Tong Ciu Pek Thong! Dari Ngo Ciat yang kurangnya itu pasti Tong Shia Oey Yok Su, bukan?"
"Benar!"
Mengangguk It Teng Taisu.
"Tidak lama lagi, pasti Tong Shia tiba disini."
Kata si Putih sambil tetap tertawa.
tidak sedap didengar.227 Oey Yong dan lainnya setengah percaya setengah tidak.
Tong Shia telah hidup mengasingkan diri dipulau Tho Hoa To, dan tidak ber maksud untuk meninggalkan pulau itu pula.
Tetapi merekapun berpikir, suatu kemungkinan juga bahwa Oey Yok Su akan datang, karena seperti juga halnya mereka, yang telah dipancing dengan sepucuk surat palsu ...!
Sebetulnya, dengan beradanya Ngo Ciat di Hoa San, mereka tidak perlu takut terhadap siapapun juga.
Namun kenyataan yang ada, Siauw Liong Lie yang kepandaiannya tidak berada disebelah bawah Yo Ko ternyata telah tertawan oleh Tiat To Hoat ong itulah kenyataan yang terlampau pahit sekali.
"Apakah Tiat To Hoat-ong termasuk dalam rombongan kalian?"
Tanya Yo Ko yang teringgat kepada pendeta Mongolia yang telah menawan isteri dan Sin tiauwnya.
"Tidak salah! Hanya Hoat ong tengah memiliki urusannya sendiri, maka untuk mengambil lima batok kepala Ngo Ciat diserahkan kepada kami!"
Menyahuti si Putih dengan sikap yang kurang ajar.
Habislah kesabaran Yo Ko, dengan mengeluarkan seruan mengguntur, dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dengan ringan, dan tangan kirinya melancarkan serangan dengan mempergunakan jurus-jurus yang luar biasa dahsyatnya.
Salah satu jurus yang dipergunakannya adalah Giok Lie Kun-hoat (pukulan Bidadari).
Seperti diketahui Giok Lie Kiam Hoat merupakan ilmu pedang yang luar biasa, dan selama mengasingkan diri dilembah Siauw Hong, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie telah menciptakan ilmu pukulan yang diberi nama Giok Lie Kun Hoat, yang hebat luar biasa, Setiap kali melatih ilmu tersebut, Yo Ko ditemani oleh Sin tiauw, burung rajawali yang memiliki kekuatan luar biasa itu.
Serangan yang dilancarkan Yo Ko dahsyat sekali, hal ini dapat dirasakan oleh si Putih.228 Tetapi Pek-sat tersebut tidak takut, begitu juga sikapnya tetap tenang, dia telah menyambuti serangan Yo Ko.
Sin Tiauw Taihiap telah mengerahkan enam bagian dari tenaga dalamnya dan setiap seranngannya selain mengincar bagian-bagian yang mematikan ditubuh lawan, juga angin serangannya menderu keras.
Tetapi setiap Serangan itu berhasil dielakkan oleh si Putih, bahkan berulang kali seruling pendek bercagak dua yang tercekal ditangannya si Putih itu bergerak-gerak hebat sekali, beberapa kali hampir menotok jalan darah penting di tubuh Yo Ko.
Hek-sat, si iblis Hitam itu, telah mengeluarkan suara siulan nyaring, kemudian dia berkata mengejek.
"Hari ini kita akan jadi jagal yang menerima upah mahal Hahahaha Ngo Ciat yang dibangga-banggakan itu ternyata hanya memiliki nama kosong."
Kwee Ceng yang memiliki sifat pendiam dan polos, sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dengan mengatakan.
"Jaga serangan, Kwee Ceng telah melompat melancarkan serangan ke arah si hitam."
Bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan yang dilancarkan Kwee Ceng, karena sebagai pendekar yang memiliki nama menggetarkan rimba persilatan dan juga dia dalam keadaan gusar sekali, maka tenaga serangan yang dipergunakannya sangat hebat.
Tenaga hantamannya itu terlalu hebat, sehingga si hitam yang merasakan tenaga serang itu mendatangkan kesiuran angin yang dahsyat sekali, dia tidak berani menyambuti, dengan cepat dia berkelit kesamping.
Tetapi Kwee Ceng tidak mau melepaskan musuhnya itu, dengan lincah sekali dia menyusuli serangan lainnya.229 Beberapa kali si hitam mengelakkan serangan tersebut, dan beruntun Kwee Ceng menyusuli dengan serangan-serangan berikutnya.
Dalam saat seperti itu, si Putih mengeluarkan teriakan dengan perkataan yang asing sekali untuk Kwee Ceng, Yo Ko dan yang lainnya.
Atas teriakannya itu, maka kelima belas Lhama yang sejak tadi berdiam diri dengan berbaris itu, telah bergerak, mengambil posisi dengan bentuk lingkaran mengurung Yo Ko, Kwe Ceng, It Teng Taisu, Oey Yong dan Ciu Pek Thong.
Kelima jago luar biasa dari Tionggoan tersebut telah dikepung rapat, dan Lhama itu telah maju perlahan-lahan dengan sikap mengancam.
Yo Ko dan yang lainnya berbareng telah mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur dan dengan cepat sekali mereka juga bergerak untuk menghadapi kepungan itu.
Si Hitam dan si Putih juga telah ikut mengepung jago-jago itu.
Mereka rupanya ingin mempergunakan jumlah banyak untuk memperoleh kemenangan.
Yo Ko mempergunakan waktu disaat mereka belum dikepung rapat, telah menggerakkan tangan kirinya dibantu oleh kibasan lengan bajunya yang kosong itu.
Berulang kali dia telah menyerang kearah lawan-lawannya yang mendekat.
Tetapi kelima belas Lhama itu mengambil cara bertempur yang aneh sekali, mereka hanya mengepung belaka dengan rapat, tetapi mereka tidak membalas setiap serangan, yang selalu hanya dikelit atau dielakkan.
Beberapa kali hantaman tangan kiri Yo Ko mengenai tubuh beberapa orang Lhama itu, tetapi serangannya itu seperti mengenai tubuh berminyak, sehingga pukulan Yo Ko melejit dan tidak memberikan hasil apa-apa.230 Tentu saja Yo Ko jadi semakin penasaran dan dengan mengeluarkan seruan yang nyaring, suatu kali Yo Ko telah melompat ketengah udara, sambil melompat begitu, tangannya diulurkan untuk menangkap lengan salah seorang Lhama yang terdekat dengannya.
Namun Lhama itu berhasil berkelit dari cengkeramannya, dan dia telah melompat mundur, sedang Lhama yang lainnya tahu-tahu telah melancarkan serangan kearah punggung Yo Ko, sehingga memaksa Yo Ko menarik pulang serangannya yang sedang mendesak Lhama yang satu itu.
Keadaan seperti itu terjadi berulang kali.
It Teng Taisu yang diserang oleh beberapa orang lhama juga telah mempergunakan It Yang Cie untuk menghadapinya, dan walaupun ilmu itu hebat luar biasa tetap saja seperti tidak memberikan hasil apa-apa, sehingga membuat It Teng Taisu jadi kaget sekali, sebab Lhama-Lhama itu seperti dapat bergerak secepat angin dan tubuh mereka seperti kebal atas serangan apapun juga.
Si Hitam dan si Putih telah berulang kali mengeluarkan suara ejekannya.
dan disaat itu beberapa kali mereka mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti Oleh jago-jago daratan Tionggoan itu, Kelima belas Lhama itu setiap kali menyahuti dengan perkataan yang sama seperti yan diucapkan oleh Hek Pek Siangsat dan yang sangat mengherankan sekali justeru kelima belas Lhama itu semakin lama melancarkan kepungan mereka semakin hebat, dan merekapun mulai membalas menyerang.
Yo Ko dan yang lainnya jadi terkejut sekali, karena mereka merasakan kelima belas Lhama itupun telah memiliki kepandaian yang tidak rendah, di samping lwekang mereka yang menakjubkan.
Suatu kali, disaat Yo Ko tengah mendesak seorang Lhama yang berada terdekat dengannya, dengan mempergunakan231 jurus "Mencengkeram Hati"
Tangan kirinya diulurkan akan mencengkeram dada Lhama itu, disaat itulah dengan cepat sekali dua orang Lhama telah menghantamkan telapak tangannya tanpa menimbulkan suara kearah punggung Yo Ko.
Karena serangan itu datangnya dengan sangat tiba-tiba sekali, juga serangan itu tidak menimbulkan suara angin serangan, tahu-tahu bahu Yo Ko telah berhasil digempur hebat oleh tangan kedua Lhama itu.
Yo Ko mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya terhuyung-huyung seperti akan rubuh.
Dan disaat tubuhnya terhuyung seperti itu si Putih tampak melompat menubruknya melancarkan serangan yang hebat sekali kearah jalan darah dipinggang Yo Ko.
Kuda-kuda kedua kaki Yo Ko saat itu tengah tergempur.
dia belum berhasil untuk berdiri tetap, dan membarengi dengan keadaannya yang berbahaya, serangan si Putih telah menyambar datang.
Yang diserang si Putih justru jalan dari Tiong-tie-hiat dipinggang jalan yang merupaki jalan darah yang mematikan.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, dia mengibas dengan lengan baju kanannya itu.
Namun tenaga serangan dari si Putih hebat luar biasa walaupun lengan baju kanan Yo Ko berhasil melibatnya, tangan si Putih terus juga meluncur, walaupun tenaga serangannya jadi agak berkurang.
Tepat sekali jalan darah Tiong-tie-hiat di pinggang Yo Ko kena dihantam, sehingga tubuh pendekar Rajawali Sakti itu terhuyung dan kemudian rubuh ditanah.
Namun Yo Ko cepat sekali melompat berdiri.
Namun, It Teng Taisu dan yang lainnya jadi kaget sekali.232 Belum pernah terjadi Yo Ko mengalami peristiwa seperti itu, karena jago-jago itu telah mengetahui betapa sempurnanya kepandaian Yo ko.
Dengan berhasilnya si Putih menghantam tubuh Yo Ko, walaupun Yo Ko akhirnya dengan cepat dapat berdiri pula tentu saja hal itu telah memperlihatkan bahwa si Putih telah memiliki, kepandaian yang sukar diukur tingginya.
Yo Ko berdiri dengan muka yang pucat kehijau-hijauan, dia murka sekali.
Dengan tidak memperdulikan lagi suatu apa, dia telah bergerak cepat sekali, Gerakannya seperti kilat, tahu-tahu tubuhnya telah menubruk si Putin, dan telapak tangan kiri Yo Ko telah menghantam dengan tepat sekali dada si Putih.
Tadi waktu si Putih melihat Yo Ko berhasil dirubuhkan, dia girang sekali, tetapi perasaan girangnya itu hanya sebentar, karena tahu-tahu dia telah diserang dengan hebat oleh Yo Ko.
Mati-matian dia berusaha mengelak, namun gagal.
Akhirnya dia terpaksa menangkis.
Belum lagi tangkisannya itu dilancarkan, tahu-tahu tubuhnya telah dipukul terpental oleh Yo Ko, dada si Putih berhasil digempur oleh telapak tangan kiri Yo Ko.
Dengan mengeluarkan suara jeritan menyayatkan, tubuh si Putih melayang ditengah udara ambruk ditanah dengan keras.
Beberapa orang Lhama berbareng telah melancarkan serangan kepada Yo Ko, untuk mencegah Yo Ko melancarkan serangan lebih jauh kepada si Putih.
Dengan adanya serangan-serangan dari beberapa orang Lhama itu, telah membuat Yo Ko batal mendesak si Putih lebih jauh.
Sedangkan si Putih telah bangun berdiri dengan muka yang pucat, tubuhnya masih bergoyang-goyang seperti akan rubuh kembali.233
"Uaahh !"
Tahu-tahu si Putih telah memuntahkan darah segar, mukanya semakin pucat. Si Hitam yang melihat keadaan si Putih jadi kaget sekali. Dia telah melompat kesamping si Putih.
"Toako, kenapa kau ?"
Tanyanya dengan mengandung kekuatiran yang sangat.
"Tidak apa apa......Cepat kau bantui mereka......"
Kata si Putih.
Yang dimaksudnya dengan perkataan 'mereka' oleh si Putih, adalah ke lima belas Lhama itu.
Si Hitam bimbang sejenak, tetapi kemudian dia mengangguk.
Tangannya tahu-tahu telah merabah pinggangnya, dan dia telah mengeluarkan sebatang pisau kecil, seperti badik, kemudian dengan gerakan tubuh yang cepat sekali, dia melompat masuk kedalam gelanggang lagi.
Sambil memutar badiknya itu, dia juga mengeluarkan bentakan-bentakan gusar dan nekad.
Serangan badiknya itu dahsyat luar biasa, dan juga serangan yang dilancarkannya itu mengandung tenaga serangan yang mematikan.
Yang lebih luar biasa lagi justru badik itu merupakan barang mustika yang tajam sekali.
Yo Ko melihat lawannya ini berlaku nekad seperti itu, dia melayaninya dengan cepat"
Dua orang Lhama yang berada didekatnya tahu-tahu telah ditendangnya, sehingga mereka ter guling ditanah, kemudian dengan cepat sekali tangan kirinya diulurkan mencengkeram jubah salah seorang Lhama yang berada dikirinya, dan melemparkannya, sehingga Lhama itu terbanting ditanah dengan keras.
Tanpa membuang waktu lagi, Yo Ko telah melompat kearah si Hitam yang tengah melancarkan serangan badiknya kearah It Teng Taisu.
Lam Ceng sesungguhnya tidak jeri menghadapi serangan-serangan seperti itu, tetapi dia selalu gagal menyerang Lhama lhama yang memiliki ilmu yang aneh-aneh dan luar biasa,234 yang selalu membuat serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya dengan tepat, karena selalu melejit.
Dan kini dia pun diserang hebat bertubi-tubi oleh si hitam, yang mempergunakan badik mustika itu, yang dapat memotong emas dan baja.
Maka walaupun lwekang It Teng Taisu telah sempurna dan dia tidak takuti lagi senjata tajam, namun terhadap badik mustika yang tajam luar biasa itu tidak bisa dipermainkannya.
Dengan sendirinya, It Teng Taisu saat itu agak terdesak oleh serangan badik tersebut.
Namun, untung saja saat itu Yo Ko telah menghantam telak sekali punggung si Hitam, sehingga si Hitam yang tubuhnya pendek itu bergulingan ditanah bagaikan sebuah bola dengan mengeluarkan suara jeritan keras.
Yo Ko terus mengamuk dengan cepat.
Serangan-serangan yang dilancarkannya juga luar biasa.
Sedangkan Oey Yong telah turun tangan juga dia telah memotes sebatang cabang pohon yang dipergunakan sebagai pengganti tongkat Tauw-kauw-pang.
Dia mempergunakan ilmu tongkatnya Ang Cit Kong untuk melabrak Lhama tersebut.
Kwee Ceng juga tengah melancarkan serangan bertubi-tubi kepada lawannya.
Namun seperti halnya It Teng Taisu setiap serangannya selalu jatuh ditempat kosong jika kepalan tangannya atau totokannya yang mengandung tenaga serangan yang hebat itu berhasil mengenai sasarannya, tetapi itupun telah gagal kembali, disebabkan melejitnya kepalan tangan atau jari tangannya ter sebut, karena tubuh lhama-lhama itu seperti mengandung minyak dan licin sekali bagaikan tubuh belut.
Sebagai seorang yang pendiam, dan juga selalu rajin melatih ilmu silatnya sehingga mencapai puncak kesempurnaannya, seharusnya Kwee Ceng dapat menghadapi lhama-lhama itu.
Hanya saja, disebabkan dia telah menduga235 bahwa lhama-lhama itu memiliki kepandaian yang luar biasa, sehingga dia melancarkan serangan-serangannya dengan keras.
Sesungguhnya kepandaian kelima belas orang lhama itu tidak berada di sebelah atas dari kelima jago Tionggoan itu, merekapun belum memiliki lwekang yang sempurna, hanya saja mereka memang meyakinkan semacam ilmu kebal, yang berasal dari India, yaitu semacam ilmu yang mirip ilmu Yoga.
Maka dari itu, mereka selalu berhasil menghindar dari serangan dahsyat lawannya.
Si Putih yang berdiri diam saja, merasakan dadanya sakit dan napasnya sesak.
Waktu dia menarik napas dalam, dia merasakan diulu hatinya seperti tertusuk jarum.
Seketika itu juga dia menyadari bahwa dirinya telah terluka.
Maka si Putih telah berpikir untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Menyingkir"
Tiba-tiba dia berteriak nyaring, disusul dengan beberapa patah perkataan asing yang tidak dimengerti oleh jago-jago Tionggoan tersebut.
Dengan serentak kelima belas Lhama Itu telah melompat mundur dalam bentuk barisan pula, begitu pula halnya dengan si Hitam yang telah menggelinding meninggalkan gelanggang pertempuran.
Ciu Pek Thong mana mau membiarkan lawan-lawannya itu angkat kaki begitu saja.
Sejak tadi Ciu Pek Thong telah bertempur dengan hati yang panas sekali.
Terlebih lagi setiap serangannya selalu melejit tidak mengenai sasarannya, membuat dia jadi tambah penasaran.236 Melihat lawannya itu melompat mundur, dengan cepat sekali Ciu Pek Thong telah menghajarnya, sambil mengejar diapun telah menggerak gerakkan kedua tangannya.
Luar biasa caranya itu, dari kedua telapak tangannya meluncur ke luar angin serangan yang dahsyat sekali, dan dengan disusul oleh dua kali suara "buk !"
Tampak dua sosok tubuh dari dua orang Lhama itu telah bergulingan ditanah.
Tetapi kedua Lhama itu dengan cepat dapat bangkit berdiri kembali.
Disaat itu kelima belas orang Lhama itu telah melompat lebih jauh pula dengan diikuti oleh si Hitam dan si Putih.
Gerakan mereka cepat sekali, dalam waktu yang singkat mereka telah melompat puluhan tombak.
Yo Ko den Ciu pek Thong bermaksud mengejar tetapi It Teng Taisu telah meneriakinya "Biarkan mereka pergi !"
Saat itu, Ciu Pek Thong rupanya masih penasaran, dia berjongkok mengambil sebutir batu, kemudian dia telah menimpuk kuat sekali kearah salah seorang Lhama yang lari paling belakang.
Batu itu menyambar dan menghantam jitu punggung Lhama itu, membuatnya terguling.
Tetapi Lhama itu bangkit dengan cepat sambil melarikan diri menyusul kawan-kawannya.
Dalam waktu yang singkat, mereka telah turun gunung dan tidak terlihat bayangannya lagi.
It Teng Taisu telah menghela napas dengan wajah yang muram.
Diapun telah berkata;
"Lo lap tidak menyangka bahwa telah berdatangan banyak sekali jago dari luar. jika dilihat demikian badai dan topan akan melanda Tionggoan kembali... !"
"Tampaknya Kublai Khan memang bermaksud untuk menerobos masuk kedaratan Tionggoan pula, kini dia telah mengumpulkan demikian banyak jago-jago dari berbagai237 bangsa, tampaknya tidak mudah bagi kita untuk mengatasinya terlebih lagi pembesar Song umumnya gentong nasi semuanya!"
Berkata Oey Yong. It Teng Taisu mengangguk, kemudian katanya dengan sabar.
"Persoalan itu bisa kita bicarakan nanti, dan sekarang yang terpenting kita harus mencari Yo Hujin! Pendeta Mongolia itu harus kita tangkap dan membebaskan Yo Hujin dari tangannya!"
Yo Ko juga teringat akan isteri dan Sin-tiauwnya, mendengar perkataan It Teng Taisu, dia sangat berterima kasih dan bersyukur. Sedangkan jago-jago yang lainnya telah menyetujuinya.
"Tunggu dulu.....!"
Kata Ciu Pek Thong tiba-tiba, waktu It Teng Taisu mengajak mereka berlalu. ' "Ada apa lagi, Loo Boan Tong?"
Tanya Oey Yong sambil tertawa; karena nyonya Kwee tersebut teringat beberapa pengalaman lucunya dengan kakek jenaka ini.
"Bukankah tadi Si kapur Putih itu mengatakan bahwa Oey Loshia akan datang kemari juga?"
Tanyanya. >>o0o^d!w^o0o<<
Jilid 08 SEMUANYA jadi tersadar dan menoleh kepada It Teng untuk meminta pertimbangan pendeta yang bijaksana ini.
"Kita tinggalkan tanda saja"
Kata It Teng Taisu kemudian.
Begitulah, Oey Yong segera meninggalkan tanda serta beberapa huruf dibatang pohon sehingga kelak jika Oey Yok Su benar datang di-tempat tersebut, dia akan mengetahui dimana mereka ini berada.238 Kelima orang gagah tersebut telah turun dari Hoa-san, mereka selain bermaksud mencari Tiat To Hoat-ong untuk membebaskan Siauw Liong Lie dan Sintiauw, juga mereka ingin menyelidiki siapa yang telah membongkar kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Dugaan mereka jatuh kepada Hek Pek Siangsat, karena kedua iblis dari Persia itu tampaknya tidak berkepandaian lemah.
Tetapi nyatanya kedua iblis dari Persia itu tidak menyinggung-nyinggung persoalan kuburan itu......!
Yo Ko berlima dengan It Teng Taisu, Ciu Pek Thong, Oey Yong dan Kwee Ceng telah mengelilingi sekitar daerah Hoasan, kemudian mengambil jalan kearah Utara, tetapi jejak Tiat To Hoat ong tetap saja tidak berhasil dijumpai mereka......
Kerena dugaan mereka, bahwa Tiat To Hoat-ong pasti bersembunyi disuatu tempat karena pendeta Mongolia itu tidak mungkin pulang ke Mongolia.
Kedatangan Tiat To Hoat-ong ke Tiong-goan jelas untuk menyelesaikan suatu urusan, menjalankan perintah Kublai Khan.
Itulah sebabnya Yo Ko dan kawan-kawannya tidak berpikir untuk menyusul si pendeta ke Mongolia, hanya berusaha untuk menyelidiki jejak si pendeta didaratan Tionggoan...........
Tetapi diluar tahu dari Yo Ko dan kawan-kawannya itu, justeru Tiat To Hoat-ong telah mengambil jalan kejurusan Gan bun kwan tembok besar didaerah perbatasan, pendeta itu sengaja menyingkir ketapal batas untuk menghindarkan diri dari kejaran It Teng Taisu dan Yo Ko, Tiat To Hoat-ong telah merasakan betapa tangguhnya Yo Ko dan It Teng Taisu.
Maka dari itu, walaupun bagaimana tidak mau dia berkeliaran disekitar Hoa San.
juga dia tidak mau sementara waktu itu memperlihatkan diri, karena dari Kublai Khan justeru si pendeta telah menerima perintah rahasia yang sangat penting sekali.239 Ketika tiba dikakl gunung Kun Lun, Tiat To Hoat-ong beristirahat sejenak, Walaupun dia tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sintiauw sebagai tawanannya, tetapi dia dapat bergerak leluasa.
Disekitar tempat dimana dia berada sepi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Disaat itupun Tiat To Hoat ong memang sengaja memilih jalan yang sepi dan mengambil jalan dihutan, sehingga kecil kemungkinan dia akan bertemu dengan manusia lainnya.
Untuk mencegah Siauw Liong Lie memperoleh kesadarannya kembali, yang nanti bisa merepotkan dia karena wanita ini hebat sekali kepandaiannya, maka telah beberapa kali Tiat To Hoat-ong menyemprotkan tabung gasnya, sehingga si nyonya Yo ini tetap berada dalam keadaan tidur.
Dan begitu pula terhadap Sintiauw yang selalu disemprot dengan tabung gasnya itu.
Gas dalam tabung itu adalah semacam gas yang bisa menyebabkan orang tertidur nyenyak.
Dan Tiat To Hoat ong memperolehnya dari Kublai-Khan, yang memang sengaja menghadiahkan kepada si pendeta karena Kublai Khan yang cerdik itu mengetahui besarnya faedah tabung gas tersebut untuk Tiat To Hoat-ong dalam menghadapi jago-jago daratan Tionggoan yang umumnya memiliki kepandaian yang sempurna.
Kublai Khan memperoleh tabung gas itu dari seorang jago Eropa, seperti diketahui kakek Kublai Khan, yaitu Temuchin (Jenghis Khan) telah menyebarkan kekuasaannya jauh sampai kedaratan Eropa, dan telah memiliki beberapa orang pengawal orang Eropa, yang menjadi jago-jago andalannya.
Maka tidak mengherankan jika Kublai Khan memiliki tabung yang hebat seperti itu.
Karena telah mengetahui dan menyaksikan kematian Kim Lun Hoat Ong yang akhirnya tertambus dalam kobaran api,240 maka Kublai Khan yakin, jika Tiat To Hoat-ong hanya mengandalkan kepandaian silatnya saja untuk menghadapi jago-jago daratan Tionggoan, niscaya Tiat To Hoat ong akan menghadapi bahaya yang tidak kecil.
Dengan memiliki tabung gas hebat itu, tentu saja Tiat To Hoat-Ong telah berhasil mengecap hasilnya, seperti halnya Siauw Liong Lie dan Sintiauw yang telah berhasil ditangkapnya itu...
Setelah melakukan perjalanan selama beberapa hari.
dan juga selalu melakukan perjalanan dimalam hari, Tiat To Hoat-ong menjadi letih sekali.
Tetapi kini dengan beradanya dia dikaki gunung Kun Lun itu, berarti dia bisa mengasoh dengan tenang.
Tidak mungkin It Teng Taisu dan yang lainnya akan menyusul ketempat tersebut.
Kun Lun merupakan gunung yang cukup tinggi, yang terletak diperbatasan.
Dan juga Kun Lun merupakan gunung yang memiliki banyak sekali lembah dan jurang yang dalam, tempat-tempatnya yang masih liar belum pernah dikunjungi orang.
Walaupun digunung Kun Lun tersebut terdapat sebuah perguruan yang bernama Kun Lun San dan juga memiliki murid yang cukup banyak, namun kenyataannya ilmu pedang Kun Lun Pai tersebut masih kalah terkenal dengan Ngo Cin Kauw.
Setelah meletakkan Siauw Liong Lie dan Sintiauw, dibawah sebatang pohon, Tiat To Hoat ong kembali menyemprotkan gas dari tabungnya kepada Siauw Liong Lie dan Sintiauw, kemudian dengan hati lapang dia telah merebahkan tubuhnya ditumpukan rumput, untuk beristirahat.
Siuran angin yang sejuk, akhirnya telah membuat Tiat To Hoat-ong, tertidur nyenyak.241 Siauw Liong Lie yang menggeletak dibawah batang pohon itu sesungguhnya sudah tidak dalam keadaan tertidur.
Karena diluar tahunya Tiat To Hoat-ong, sejak kemarin siang dia telah tersadar dari pengaruh gas tersebut, namun Siauw Liong Lie pura-pura tetap tertidur.
Waktu si pendeta Mongolia ingin menyemprotkan gas tabungnya sebelum dia tertidur nyenyak, Siauw Liong Lie menahan napasnya, mengerahkan lwekangnya, Sehingga gas tidurnya itu sama sekali sudah tidak mempengaruhinya lagi.
Kini dia tertawan oleh Tiat To Hoat-ong hal itu bukan disebabkan karena dia kalah ilmu dengan si pendeta, tetapi hanya disebabkan si pendeta telah melakukan perbuatan rendah dengan mengandalkan pengaruh gas tabungnya itu.
Maka kini, setelah dia tersadar dan terlepas dari pengaruh gas tersebut, Siauw Liong Lie tetap rebah tanpa bergeming, matanya tetap dipicingkan.
Dan diam-diam diapun telah mengintai, melihat Tiat To Hoat-ong telah tertidur nyenyak.
Walaupun mengetahui si pendeta telah tertidur, Siauw Liong Lie tidak berani melakukan gerakan yang ceroboh.
Sedikit saja ada suara berkeresek, tentu bisa membangunkan si pendeta dari tidurnya.
Diam-diam Siauw Liong Lie mengempos semangatnya, dia mengerahkan tenaga dalamnya dikedua tangannya, kemudian dengan memusatkan seluruh tenaga dalamnya, dia menghentak perlahan, maka putuslah tali yang mengikat tangannya.
Tetapi Siauw Liong Lie belum berani bergerak dari tempatnya, dia diam sejenak memperhatikan si pendeta.
Tiat To Hoat-ong tetap tertidur nyenyak maka legalah hati Siauw Liong Lie.
Perlahan-lahan Siauw Liong Lie membuka ikatan tali dikakinya.
Setelah itu nyonya Yo menotok beberapa jalan darahnya, untuk melancarkan peredaran darahnya.242 Dengan hati-hati sekali Siauw Liong Lie telah berdiri, lalu menghampiri Sin Tiauw.
Dibukanya ikatan burung itu rajawali sakti tersebut.
Tetapi celakanya, karena walaupun bagaimana cerdiknya, Sintiauw tetap saja seekor burung, dia tetap saja berada dalam pengaruh obat tidur dari gas tabung Tiat To Hoat-ong.
Tadi sebelum tidur si pendeta telah menyemprotkan lagi gas tabungnya itu sehingga Sin Tiauw masih akan tidur nyenyak selama satu hari satu malam.
Setelah membuka ikatan tali dikedua kaki Sin Tiauw, ikatan dikedua sayap burung itu dan membuka juga ikatan diparuh burung tersebut, maka Siauw Liong Lie menghampiri Tiat To Hoat ong, karena dia bermaksud untuk menotok si pendeta Mongolia tersebut.
Pengalaman dia sebagai tawanan sipenrteia telah membuat nyonya Yo jadi gusar sekali bercampur malu, maka kini dia ingin menghajar pendeta itu.
Dengan hati-hati dan perlahan-lahan Siauw Liong Lie melangkah mendekati Tiat To Hoat ong.
Tetapi disaaat jarak mereka terpisah tiga tombak lebih, si pendeta telah menggeliat.
Siauw Liong Lie menghentikan langkah kakinya, dia telah memperhatikannya.
Tetapi si pendeta tidak bangun dari tidurnya.
Dengan lebih hati-hati lagi, Siauw Liong Lie menghampiri lebih dekat.
Tetapi, disaat nyonya Yo sudah mendekati kurang lebih satu tombak dan kemudian menggerakan tangan kanannya siap.
untuk menotok jalan darah Tai-hiat-hiat si pendeta itu dari ke jauhan terdengar suara lengkingan nyaring sekali, suara itu yang seperti suara erangan binatang buas.243 Karena suara lengkingan nyaring itu.
yang seperti suara erangan binatang buas bercampur dengan suara pekik dari seseorang yang suaranya parau.
Tiat To Hoat-ong terbangun dari tidurnya dengan terkejut.
Dia cepat-cepat melompat berdiri sambil menggosok matanya.
Yang lebih mengejutkan lagi, dia merasakan sambaran angin serangan yang dingin sekali kearah ulu hatinya.
Si pendeta telah mengempos semangatnya ke dadanya itu, yaitu kebagian yang akan terserang.
Totokan yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie jadi melejit.
Dan si pendeta telah membuka matanya, dia jadi tambah kaget dan heran, karena dihadapannya berdiri Siauw Liong Lie.
"Kau...?"
Si pendeta seperti tidak percaya akan pandangan matanya, Siauw Liong Lie tertawa dingin.
"Manusia rendah !"
Katanya dengan tawar.
"Dengan mempergunakan akal busuk kau bisa memperoleh kemenangan ! Tetapi hari ini nyonya besarmu tidak akan melepaskan kau begitu saja!" . Tiat To Hoat-ong telah mengawasi sekelilingnya, dia tidak melihat siapapun juga selain si nyonya Yo. Hanya samar-samar dia masih mendengar suara lengkingan itu, suara lengkingan yang aneh.
"Aha"
Tertawa si pendeta.
"Ternyata kau telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh gas tabungku! Baik, baik ! Mari kita bertempur lagi !" . Sambil berkata begitu, si pendeta telah membarengi dengan mengibaskan lengan jubahnya yang besar itu. Serangkum angin serangan yang keras luar biasa menerjang kearah Siauw Liong Lie, Siauw Liong Lie tidak takut, dia telah244 menyambuti serangan itu dengan tangkisan tangannya, diapun telah mengerahkan lwekangnya, maka tenaga serangan si Pendeta seperti menghantam tumpukan kapas. Tenaga menyerangnya itu telah lenyap. Siauw Liong Lie bukan hanya menangkis, karena dengan cepat sekali dia mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan kemudian melancarkan pukulan pula dengan tangan kirinya, dengan mempergunakan jurus serangan "Seribu Bunga" , hebat bukan main cara menyerangnya. Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya. Pendeta ini menyadari bahwa nyonya Yo memiliki kepandaian yang hebat, dan tidak berada disebelah bawah kepandaiannya sendiri. Karena itu Tiat To Hoat-ong tidak ingin bertempur lama-lama, karena diapun teringat akan suara lengkingan aneh yang telah didengarnya tadi, Si pendeta curiga kalau-kalau suara lengkingan aneh itu adalah suara dari orang-orang yang menjadi sahabatnya si nyonya liehay ini, jelas kalau memang dugaannya itu benar, si pendeta akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil. Dengan cepat dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan tabung gasnya. Namun kali ini Siauw Liong Lie yang telah mengetahui bahayanya tabung gas si pendeta, dengan cepat sekali mendesak si pendeta dengan keras dan gencar sekali, membuat pendeta itu tidak berhasil untuk merogoh sakunya, karena dia sibuk sekali harus menangkis dan juga mengelakkan serangan Yo Hujin. Sedangkan Siauw Liong Lie sambil melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tipu-tipunya yang liehay sekali, diapun telah memutar otak untuk mencari jalan guna merubuhkan pendeta tersebut.245 Disaat itulah, dia telah teringat sesuatu maka sengaja Siauw Liong Lie berteriak .
"Kojie, Ciu Toako, lekas kalian datang kemari !" . Suara Siauw Liong Lie terdengar nyaring dan menggema, karena dia berkata-kata dengan suara yang disertai tenaga lweekangnya. Semangat Tiat To Hoat-ong terasa terbang meninggalkan raganya. Dia mengetahui bahwa yang disebut Kojie itu pasti Yo Ko. suaminya si nyonya. Dan juga yang dipanggil Ciu Toako, tentunya Ciu Pek Thong. Kedua orang itu hebat dan liehay sekali, jika mereka datang dan bertiga dengan si nyonya! melancarkan serangan kepadanya, bukankah si-pendeta akan menghadapi bahaya besar ? Yang membuat si pendeta jadi kaget dan mempercayai teriakan Yo Hujin ini karena di saat itu dari tempat yang jauh kembali terdengar suara lengkingan yang aneh itu lagi. Maka tanpa berpikir dua kali lagi, Tiat To Hoat ong telah merangsek melancarkan serangan yang hebat luar biasa kepada Siauw Liong-Lie, dia sekaligus telah melancarkan tiga serangan yang saling rangkai merangkai. Siauw Liong Lie merasakan menyambar-angin yang luar biasa kuatnya, sehingga nyonya Yo ini jadi kaget sekali, dia melompat mundur dengan sikap agak tergesa. Karena gerakannya itu, kedudukan perutnya jadi berobah, membuat kandungannya tergoncang. Seketika Siauw Liong Lie merasakan perutnya menjadi sakit karena bayi didalam perutnya bergerak, dan juga disaat itu pinggangnya dirasakan sakit sekali, menyebabkan Siauw Liong Lie jadi mengeluh sendirinya dan tubuhnya terhuyung-huyung seperti mau jatuh.246 Tiat To Hoat-ong melihat keadaan si nyonya dia menjadi kesenangan. Cepat-cepat dia melompat untuk menangkapnya. Tetapi disaat tubuhnya baru bergerak, disaat itulah dia telah mendengar suara lengkingan yang aneh, yang terdengarnya nyaring sekali, menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan suara lengkingan aneh itu telah berada ditempat tersebut. Karena sejak semula Tiat To Hoat-ong menduga bahwa orang yang mengeluarkan suara lengkingan itu adalah Yo Ko dan Ciu Pek Thong, hal ini telah membuat si pendeta telah merasa ngeri sendirinya. Tidak sempat dia berpikir untuk mempergunakan tabung gasnya, dia telah melompat dan menggerakan tangan kanannya menghantam Siauw Liong Lie dengan pukulan yang kuat sekali. Tanpa ampun lagi tubuh Siauw Liong Lie telah terpental tiga tombak lebih ambruk diatas tanah dengan mengeluarkan suara rintihan dan dia telah tidak sadarkan diri. Sedangkan Tiat To Hoat-ong setelah berhasil dengan pukulannya tersebut, telah cepat-cepat menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dan telah meninggalkan tempat tersebut. Gerakan yang dilakukannya itu sangat gesit sekali, dalam sekejap mata saja dia telah lenyap dari pandangan mata. Suara lengkingan aneh itu terdengar semakin dekat, kemudian dari balik gerombolan pohon muncul yang melompat keluar, ternyata sosok tubuh itu adalah seekor macan tutul. Menyusul dengan melompatnya macan tutul itu, tampak sesosok tubuh lainnya, yang tinggi besar itu, adalah tubuh seorang manusia, yang berpakaian compang camping. Mukanya dipenuhi oleh jenggot dan kumis yang panjang, serta247 rambutnya juga terurai dibahunya. Matanya bersinar tajam mengawasi kearah Siauw Liong Lie yang rebah diam tidak bergerak. Sedangkan macan tutul itu telah melangkah mendekati Siauw Liong Lie, mencium dan menjilati dengan mempergunakan lidahnya yang panjang. Dia mengeluarkan suara erangan perlahan, sedangkan manusia bertubuh tinggi besar, yang tampaknya berpotongan seperti manusia hutan itu, telah mengeluarkan suara lengkingan yang nyaring. Suara lengkingan yang nyaring dan parau itulah yang tadi telah didengar Siauw Liong Lie maupun si pendeta Tiat To Hoat ong..... Dengan langkah satu-satu manusia bertubuh tinggi besar yang keadaannya luar biasa itu telah mendekati Siauw Liong Lie dia memeriksa ke adaan si nyonya. Tiba-tiba wajahnya jadi berobah waktu dia memperoleh kenyataan si nyonya terluka hebat akibat pukulan dahsyat Tiat To Hoat-ong, dan juga yang lebih mengejutkan justru Siauw Liong Lie dilihatnya tengah dalam keadaan mengandung. Dengan tangan kanan digerak-gerakkan, manusia bertubuh tinggi besar itu telah memberi isyarat kepada macan tutulnya. Sedangkan manusia bertubuh tinggi besar yang aneh itu telah mendekati burung Sintiauw, dia mengangkatnya. Dengan beberapa kali lompatan, orang itu telah membawa pergi Sintiauw. Sedangkan simacan tutul seperti juga mengerti maksud isyarat dari manusia bertubuh tinggi besar itu, dia telah menggigit baju Siauw Liong Lie, lalu dengan lompatan yang lincah macan tutul itu telah berlari-lari mengambil arah dimana tadi manusia aneh itu menghilang. Keadaan ditempat tersebut telah sunyi kembali ! -o0o>>dw< "Tidak mungkin suaminya berhasil mengikuti jejakku sampai ditempat ini !" Berpikir si pendeta yang cerdik itu. "Dan juga......suara lengkingan aneh yang parau itu, yang seperti suara erangan binatang buas, juga jelas bukan suara suaminya ... ! Akhh, mengapa aku jadi demikian pengecut sehingga bisa diperdayakan-nya ? Jika suaminya itu datang, belum tentu aku bisa dirubuhkan oleh mereka .... i" Karena berpikir begitu, kembalilah keangkuhannya, dan dia telah berhenti berlari. "Dia juga telah berhasil kuhantam dengan pukulan Tok-kun (pukulan beracun), jelas dia sudah tidak akan berdaya, apa lagi dia tengah dalam keadaan hamil ? Mengapa aku harus jeri?" Maka Tiat To Hoat ong telah memutar tubuhnya lagi. Dia telah berlari-lari ketempat dimana tadi dia telah meninggalkan Siauw Liong Lie dan Sintiauw. Tetapi ketika si pendeta tiba ditempat itu, dia jadi berdiri tertegun. Karena ditempat itu dia sudah tidak melihat Siauw Liong Lie maupun Sintiauw lagi. Hanya samar-samar dia masih mendengar suara pekik dan lengking yang nyaring dikejauhan... Dengan penasaran Tiat To Hoat ong telah mencari-carinya disekitar tempat itu, dia berusaha untuk mencari Siauw Liong Lie dan Sintiauw.249 Tetapi tetap saja Tiat To Hoat-ong tidak berhasil menemui nyonya Yo itu maupun Sin tiauwnya yang sakti, yang tengah dipengaruhi obat tidurnya itu. Karena Tiat To Hoat-ong mengetahui Siauw Liong Lie telah berhasil dilukainya dengan serangannya yang hebat, jelas nyonya itu tidak bisa melarikan diri dari tempat tersebut. Biar bagaimana sempurna dan tingginya tenaga dalam si nyonya Yo, dengan keadaannya yang tengah hamil dan terluka seperti itu, tentu saja dia tidak bisa melarikan diri jauh-jauh. Dan dia telah melihat, betapa disekitar tempat itu tidak ada tanda-tanda jejak lainnya dia telah berusaha memutari sekitar tempat tersebut. Tetapi usaha Tiat To Hoat ong gagal dan nihil, setelah lewat sesaat lagi, dia jadi mendongkol sekali. Dengan sangat penasaran, dia masih berusaha untuk mencarinya. Dan tetap saja usahanya itu tidak berhasil. Lama si pendeta Mongolia itu mencari-cari kesana kemari, akhirnya dengan jengkel dia meninggalkan, kaki gunung Kun Lun San dengan hati kecewa. Semula dengan tertawannya Siauw Liong lie, tentu saja dia telah memiliki jaminan yang kuat untuk menundukkan jago-jago daratan Tionggoan. Yang sudah pasti, dia jelas akan dapat menekan Yo Ko dan mencelakai pendekar sakti berlengan tunggal itu. Seperti perintah yang diterimanya dari Kublai Khan yaitu menghendaki agar Tiat To Hoat-ong membasmi habis semua jago-jago Tionggoan seperti Kwee Ceng, Oey Yong, Oey Yok Su, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong dan yang lain-lainnya. Yang dipentingkan oleh Kublai Khan adalah Ngo Ciat, kelima jago luar biasa yang diketahui oleh Kaisar Mongol pengganti Kaisar Mangu itu, bahwa Ngo Ciat membantu pihak pemerintah Song memukul mundur pasukan perang Mongolia.250 Dengan rencananya itu. Kublai Khan ber maksud untuk membasmi habis dulu jago-jago Tionggoan yang memiliki kepandaian tinggi, agar kelak jika dia menerobos kedalam daratan Tionggoan pula dengan mudah ia akan dapat menghancurkan pertahanan pemerintah Song, karena Kaisar Mongol ini menyadarinya, jika saja pemerintah Song tidak dibantu dengan orang gagah rimba persilatan, jelas kerajaan Song itu tidak ada artinya lagi. Kublai Khan juga menyadari bahwa pembesar kerajaan Song itu sangat lemah dan tidak memiliki kesanggupan mengurus negara. Jika orang-orang gagah didaratan Tionggoan itu berhasil dibereskan jelas urusan menundukan kerajaan Song dan merampas daratan Tionggoan dapat dilakukannya dengan mudah. Kepada Tiat To Hoat-ong. Kublai-Khan telah memberikan perintah agar pendeta tersebut berusaha dengan berbagai jalan dan tipu apa saja, asalkan dapat membinasakan jago-jago daratan Tionggoan. Jika perlu, Tiat To Hoat-ong harus menghimpun jago-jago daratan Tionggoan itu, memecah belahkannya, dan juga jika perlu menawarkan harta dan pangkat, agar mereka tunduk dan menghamba kepada kerajaan Mongolia, Dengan perintah rahasianya itu, maka Tiat To Hoat-ong sesungguhnya telah menerima ke kuasaan yang tidak kecil. Disamping dirinya, Khan yang agung itu telah menyertakan beberapa orang jago luar biasa dari negaranya, agar membantu Tiat To Hoat-ong. Sejak kekalahan yang dialami oleh pasukan perang Mongolia dikota Siangyang, yang memaksa pasukan itu mundur ke Utara atas kematian Kaisar mereka, yaitu Mangu, maka Kublai Khan yang menggantikan kakaknya duduk sebagai Khan yang agung, telah berusaha untuk mencari jalan, agar kelak dapat merampas daratan Tionggoan.251 Namun disebabkan Kublai Khan memang jauh lebih cerdas dari kakaknya. disamping itu juga Kublai Khan memiliki perhitungan yang tajam, sengaja dia telah mengirimkan utusan-utusan keberbagai negara, antara lain Nepal, India. Persia, Turkhestan dan beberapa negara lainnya untuk mengundang jago-jagonya yang memiliki kepandaian tinggi, dengan pembayaran yang tinggi, disamping pemberian pangkat dan harta yang luar biasa banyaknya. Tidaklah mengherankan jika banyak jago-jago dari negara asing yang berduyun-duyun datang ingin menghamba kepada Kublai Khan. Umumnya mereka merupakan jago-jago yang luar biasa dinegernya, dan mereka merupakan manusia-manusia yang tamak dan kemaruk akan harta dan kedudukan yang tinggi. Sehingga Kublai Khan bisa memanfaatkan sifat-sifat mereka itu, telah berhasil mengendalikan dan menguasai mereka dengan baik. Dengan bekerja secara cerdik, Kublai Khan dengan bertahap telah mengirim jago-jago sewaan tersebut ke daratan Tionggoan, karena dia bermaksud untuk menghancurkan jago-jago Tionggoan agar kelak jika dia menerobos kedaratan Tionggoan, dia bisa merampas dan merubuhkan kerajaan Song tanpa rintangan pula. maka secara bergilir jago-jago itu telah diutus kedaratan Tionggoan, termasuk Tiat To Hoat-Ong... Maka ketika Tiat To Hoat-ong berhasil menawan Siauw Liong Lie, tentu saja dia girang sekali karena dia mengetahui bahwa Siauw Liong Lie merupakan salah seorang pendekar wanita yang diincar Kublai Khan. Maka dari itu dia mati-matian bertahan agar dapat menguasai Siauw Liong Lie.252 Dan sekarang tawanannya itu telah lenyap, telah terlepas dari tangannya, bisalah dibayangkan kekecewaan dihati Tiat To Hoat-ong. Dengan penasaran dia telah mencari Siauw Liong Lie dan Sintiauw disekitar tempat itu, tetapi usahanya itu tetap sia-sia saja. Bahkan, suara lengkingan yang tadi masih sering didengarnya, kini sudah tidak terdengar lagi, keadaan disekitarnya telah sunyi sekali. Dengan murka Tiat To Hoat-ong akhirnya menghantam sebuah batu gunung sebesar pelukan tangan, sampai batu itu gompal dan sebagian menjadi hancur merupakan bubuk-bubuk halus karena dia kecewa dan marah sekali, maka pukulan itu disertai oleh tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya......! >>o0o^d!w^o0o<< KETIKA Siauw Liong Lie tersadar dari pingsannya, pertama-tama yang dirasakannya adalah perutnya yang sakit luar biasa. Walaupun kesadaran dirinya belum pulih keseluruhannya dan matanya masih terpejam, namun Siauw Siong Lie telah mengeluarkan rintihan. Perasaan sakitnya itu dirasakan bukannya semakin berkurang, bahkan telah semakin menjadi hebat sekali, sehingga Siauw Liong Lie tidak hentinya telah mengeluarkan suara rintihan karena perasaan sakitnya itu tidak dapat ditahannya lagi. Anak didalam kandungannya itu seperti meronta-ronta dan menendang-nendang ingin keluar, Sesungguhnya Siauw Liong Lie telah pingsan selama empat hari lima malam, tetapi disaat dia tersadar dan merasakan253 perutnya sakit sekali, dia telah pingsan tidak sadarkan diri lagi dengan keringat yang mengucur deras dikeningnya. Sebelum lenyap kesadarannya, Siauw Liong Lie masih merasakan seperti ada jari-jari tangan yang mengusap keningnya, mengusap keringatnya. Tetapi selanjutnya Siauw Liong Lie sudah tidak mengetahui apa-apa, kesadarannya telah lenyap, pandangan matanya gelap dan pikirannya seperti menerawang ... dia telah pingsan lagi.... Entah sudah berapa lama dia dalam keadaan pingsan seperti itu, akhirnya Siauw Liong Lie telah tersadar kembali.. Perasaan sakit diperutnya tidak sehebat seperti tadi walaupun perasaan sakit itu belum juga lenyap. Perlahan-lahan Siauw Liong Lie membuka matanya, dan dia hanya bisa melihat bayangan yang samar-samar, sebab seluruh pandangan matanya kabur dan seperti terhalang oleh kabut. "Akhh, dia telah sadar .. !" Terdengar suara seorang yang mengeluh. Dari nada suaranya, tampaknya orang itu bersyukur sekali bercampur girang, Tetapi Siauw Liong Lie sama sekali tidak berhasil melihat keadaan disekelilingnya. Nyonya Yo telah memejamkan matanya lagi rapat-rapat, berselang sesaat lamanya, dia baru membuka matanya itu dan dia telah dapat melihat lebih jelas. Dirinya ternyata berada disebuah pembaringan, yang terbuat dari kayu kasar dan ditumpuki rumput-rumput kering. Dia berada disebuah ruangan rumah yang sederhana sekali, yang terbuat dari kayu-kayu kasar dimuka sebuah goa batu yang banyak dikelilingi, oleh batu-batu gunung yang tinggi. Disamping dirinya berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi254 besar yang bermuka kasar dengan jenggot, kumis dan rambut yang terurai panjang. Siauw Liong Lie tidak mengenal orang itu, yang tengah mengawasi kearahnya dengan muka yang kaku. Suara yarg didengarnya tadi diucapkan oleh orang tersebut, sebagai orang yang berperasaan halus, Siauw Liong Lie segera mengetahui bahwa orang tersebut walaupun wajahnya kasar menyeramkan, namun hatinya tentu baik dan welas asih, karena dari nada suaranya, yang tadi didengarnya, mengandung perasaan syukur dan girang atas kesadaran diri nyonya Yo tersebut. Sepasang alis Siauw Liong Lie tampak mengerut saling menyentuh ujungnya. Dia merasakan perutnya kembali sakit luar biasa. "Kau jangan banyak bergerak dulu ... harus diam ... lukamu parah ... harus sayang diri ..." Kata orang berjenggot dan berkumis panjang itu dengan suara yang tergagap, kasar sekali suaranya, namun halus nadanya, hal itu memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud buruk kepada Siauw Liong Lie. "Si.... siapa kau ? Engkaukah yang telah menolong aku ?" Tanya Siauw Liong Lie sambil menahan perasaan sakit diperutnya. "Benar .." Jawab orang itu "Kau panggil saja aku Lo Him !" Siauw Liong Lie jadi heran. "Lo Him ?" Tanyanya. "Ya, apakah aneh ?" Lo Him berarti si Biruang Tua. Aneh sekali namanya orang tersebut. Tetapi karena orang itu telah menyelamatkan diri dan jiwanya, maka Siauw Liong Lie juga tidak mau terlalu banyak bertanya, takut menyinggung perasaan orang yang tampaknya255 tidak pandai bicara itu. Terlebih lagi disaat itu perutnya tengah sakit sekali, janin bayi didalam kandungannya seperti menendang-nendang perutnya keras-keras.... Tiba-tiba Siauw Liong Lie teringat Sintiauwnya. "Mana mana dia ?" Tanyanya dengan menahan perasaan sakit diperutnya itu, pinggangnya juga rasanya seperti ditarik dan kaku. "Dia ? Siapa dia ?" Tanya lelaki bertubuh tinggi besar itu. "Tiauw-heng" Menyahuti Siauw Liong Lie dengan suara yang bersusah payah. "Maksudmu rajawali yang pemalas dan hanya kerjanya tidur itu ?" Tanya orang bertubuh tinggi besar tersebut. "Benar Selamatkah dia ?’. "Aku telah membawanya kemari juga kini dia tengah mencari makan.....dia malas sekali.....dia selalu kerjanya tidur!" Siauw Liong Lie walaupun tengah menahan perasaan sakit diperutnya, tidak urung jadi tersenyum juga. Karena Siauw Liong Lie dapat menduga bahwa Tiauw-heng itu lemas tidak bertenaga akibat pengaruh obat tidur yang dipergunakan oleh Tiat To Hoat-ong. Dan memang sesungguhnya, ketika Sin Tiauw dibawa oleh lelaki bertubuh tinggi besar itu, dia masih dalam keadaan tertidur sampai dua hari dua malam. Ketika burung itu tersadar dari tidurnya, mulai terbebas dari pengaruh obat tidur itu, tubuhnya masih lemas seperti tidak memiliki tenaga. Selama dua hari lagi, Sintiauw hanya berdiam saja dengan tubuh yang lemas. Orang yang tadi tuan penolongnya menduga Sintiauw adalah rajawali pemalas, dia setiap hari memberikan daging kelinci hasil buruannya.256 Dihari kelimalah Sin Tiauw baru bisa terbang berkeliling,dia mulai mencari mangsa untuk makanannya, mencari kelinci barunya. Siauw Liong Lie mengeluh perlahan, dia merasakan perutnya semakin lama semakin sakit. "Aku telah berikan obat. kau telah makan obat...jiwamu tertolong tetapi kau harus istirahat satu tahun terlebih lagi bayimu akan lahir ...kau perlu diobati dengan ilmu sejati..." Siauw Liong Lie hanya mendengar samar-samar suara orang tersebut, karena tidak lama kemudian dia telah jatuh pingsan lagi. Siauw Liong Lie tidak mengetahui berapa lama lagi dia pingsan, sampai akhirnya dia tersadar lagi. Tetapi kali ini perutnya sudah tidak sakit lagi. Apa yang dialami oleh Siauw Liong Lie sebetulnya cukup bahaya dan parah, karena serangan Tiat To Hoat-ong justeru telah menghantam kandungannya. Untung saja pukulan itu tidak menyebabkan gugurnya kandungan isteri Yo Ko tersebut. Tetapi walaupun demikian, tetap saja pukulan itu telah menyebabkan kandungan Siauw Liong Lie mengalami goncangan yang merubah kedudukan janin bayi tersebut, disamping itu Siauw Liong Lie pun telah terluka didalam. Sejak beberapa hari yang lalu orang bertubuh tinggi besar dan kasar itu telah berusaha untuk mengobati Siauw Liong Lie. Dengan mempergunakan beberapa ramuan obat, dia telah mencekoki nyonya yang dalam keadaan pingsan tersebut, dan menyalurkan tenaga murni yang sejati melalui telapak tangannya. Setelah lewat lima hari itulah, disaat si nyonya telah tersadar, barulah jiwa Siauw Liong Lie terlolos dari257 bahaya kematian, dan kesehatannya akan pulih perlahan-lahan. Tetapi walaupun Siauw Liong Lie berhasil diselamatkan jiwanya, dan kandungannya itu pun berhasil di lindunginya, tetapi tetap saja ancaman bahaya yang tidak kecil mengancamnya, yaitu jika dia tidak berobat secara sungguh-sungguh dan memperoleh pengobatan yang baik, niscaya dia akan menjadi cacad, yaitu akan lumpuh sepasang kakinya, karena sebagian isi perutnya, telah ada yang rusak akibat dahsyatnya serangan yang dilancarkan Tiat To Hoat-ong. Yang lebih celaka lagi justru serangan itu! diterima Siauw Liong Lie dalam keadaan mengandung, maka keadaan tubuhnya menjadi semakin lemah. Namun orang bertubuh kasar itu ahli meramu obat-obatan. Setelah lewat setengah bulan, akhirnya kesehatan Siauw Liong Lie mulai pulih kembali. Tetapi atas anjuran dari penolongnya itu, Siauw Liong Lie belum boleh turun dari pembaringan. Setiap hari, orang bertubuh tinggi kasar itu telah menyalurkan tenaga dalam sejatinya lewati telapak tangannya, dimana telapak tangannya di tempelkan dengan telapak tangan Siauw Liong Lie. Dan tenaga dalam itu menyelusup masuk ke dalam, menembus beberapa jalan darah terpenting ditubuh nyonya Yo Itu, antara lain jalan darah Su-kiang hiat dipinggul, Bian-bo-hiat dipinggang, Liang hie-hiat diatas lutut, Pian cie-hiat dipaha kiri dan kanan nyonya itu, dan Lung cie-hiat dileher Siauw Lioig Lie. Seharusnya seluruh jalan darah itu mesti di urut dan ditotok. Namun karena teringat akan ikatan peraturan adat istiadat, antara pantangan pria dan wanita yang tidak dapat258 bersentuhan, maka penolong Siauw Liong Lie itu tidak berani menyentuh jalan darah itu. Dan berhubung tenaga dalam orang bertubuh tinggi besar itu telah sempurna sekali, dia bisa menyalurkan tenaga murninya melalui telapak tangan Siauw Liong Lie, sehingga jiwa nyonya itu masih bisa tertolong. Lewat lagi setengah bulan, keadaan Siauw Liong Lie telah pulih sebagian besar. Nyonya Yo tersebut telah bisa turun dari pembaringannya, telah bisa berjalan perlahan-lahan, dan sering memandangi keindahan disekitar tempat dimana dia berada. Siauw Liong Lie juga telah melihat bahwa dirinya berada disebuah lembah gunung yang indah sekali. Disekeliling lembah itu terhalang oleh tebing yang tinggi sekali, sehingga lembah itu seperti merupakan sebuah lembah yang letaknya tersembunyi dari dunia luar. Keindahan yang terdapat dilembah itu memang menarik sekali, ditambah juga oleh pohon-pohon bunga yang bermacam ragam bertumbuhan disitu. Rumah sederhana yang ditempatinya itu ternyata baru saja dibangun oleh tuan penolong Siauw Liong Lie, karena disaat lelaki bertubuh kasar itu menolongi Siauw Liong Lie, dia telah cepat-cepat membangun rumah tersebut dengan cabang dan dahan kayu, dengan mempergunakan rumput kering sebagai atapnya. Sebetulnya Lo Him menetap disebuah goa yang cukup luas, dan goa seperti itu memang banyak terdapat ditebing-tebing didalam lembah. Siauw Liong Lie jadi merasa berterima kasih sekali atas perawatan Lo Him.259 Dia melihat, usia Lo Him mungkin baru empat puluh tahun, namun karena lelaki tersebut tidak merawat diri dan tubuhnya, yang membiarkan rambut dan kumis jenggotnya tumbuh panjang, dengan sendirinya telah menyebabkan dia menjadi lebih tua dari usianya yang sesungguhnya. Disamping itu, Lo Him seorang lelaki yan tidak pandai bicara, dia kasar, namun hatinya sangat baik. Disamping pendiam, Lo Him juga seperti tengah menderita tekanan bathin, karena wajahnya selalu murung, memancarkan kedukaan hatinya. Pernah Siauw Liong Lie menanyakan mengapa Lo Him bisa menetap dilembah ini hanya seorang diri, tetapi lelaki aneh itu tidak mau memberikan keterangannya. Bahkan dari sinar matanya, tampaknya dia gusar sekali. Sehingga dihari-hari berikutnya Siauw Liong Lie tidak berani mengemukakan pertanyaan serupa itu. Lo Him setiap hari pergi mencari binatang buruan, yang selalu dimasak dan disajikan kepada Siauw Liong Lie dengan sikap yang ramah sekali, dia merawat Siauw Liong Lie dengan sikap yang baik dan sopan, walaupun dia sering memperlihatkan sikap yang kasar. Semula Siauw Liong Lie berkuatir juga, Benar dia berkepandaian tinggi sekali, tetapi kini dia tengah terluka hebat dan perlu beristirahat dalam waktu yang panjang sekali, disamping itu kanudungannya telah semakin besar pula. Maka Lo Him menolongi dirinya karena mengandung maksud yang sangat kurang baik, maka dia mana bisa melakukan perlawanan, apa lagi Siauw Liong Lie telah mengetahui walaupun Lo Him mirip-mirip manusia hutan, tetapi dia memiliki kepandaian yang luar biasa, disamping lwekangnya yang sempurna sekali.260 Tetapi setelah sebulan lebih Siauw Liong Lie berdiam dilembah itu, maka perlahan-lahan dia bisa melihat bahwa lelaki itu adalah seorang laki-laki yang baik. Lo Him sama sekali belum pernah memperlihatkan sikap-sikap yang kurang ajar. Bahkan, sama sekali tidak tertarik kepada Siauw Liong Lie, hanya dia lebih tertarik kepada kandungan Siauw Liong Lie. Suatu hari, Siauw Liong Lie tengah duduk dibawah sebatang pohon siong yang berada dimulut lembah, dia mengawasi kelangit, dimana awan-awan tampak tengah bergeser perlahan-lahan dengan bentuknya yang indah-indah, Disaat seperti itu, Siauw Liong Lie teringat kepada suaminya, dia rindu sekali kepada Yo Ko. Tetapi kemana dia harus mencari Yo Ko, Sedangkan dia tengah terluka ? Untuk keluar dari lembah itu, tentu saja dia tidak berani, karena disamping dia tengah terluka dan kandungannya lemah, juga dia takut kalau-kalau nanti bertemu dengan Tiat To Hoat-ong lagi. Jika bertemu dengan pendeta busuk itu, maka berarti akan celakalah dia bersama kandungannya. Walaupun Siauw Liong Lie berkepandaian tinggi, namun selama dia tengah mengandung kekuatan tenaga dalamnya berkurang banyak dan diapun tidak bisa mengempos dan mempergunakan secara menyeluruh kekuatan lwekangnya, karena bisa mengganggu kandungannya. Maka jalan satu-satunya yang paling selamat ialah berdiam dulu dilembah ini, menanti sampai bayinya terlahirkan. Dan kelak tanpa kandungannya. dia pasti akan dapat memberikan perlawanan yang keras kepada Tiat To Hoat-ong, sambil mencari juga suaminya... disaat itu pun lukanya pasti telah sembuh kembali.261 Siauw Liong Lie juga teringat, betapa ketika Yo Ko mengetahui dia sedang mengandung bayinya itu sangat girang sekali, hampir setiap malam Yo Ko mengusap-usap perutnya dengan penuh kasih sayang. Tetapi kini mereka terpisah satu dengan yang lainnya, dan Siauw Liong Lie hanya bisa menghela napas berulang kali. Sejak dia melihat Yo Ko dikuburan Mayat Hidup, sampai akhirnya bergaul dan telah terikat sebagai pasangan suami isteri, beberapa kali mereka selalu berpisahan, terpisah bercerai berai, bahkan yang terakhir mereka pernah berpisah untuk jangka waktu selama enam belas tahun ! Dan kini disaat dia tengah mengandung bayi mereka, justru mereka telah berpisah pula. "Inilah nasib !" Mengeluh Siauw Liong Lie dan tanpa disadarinya dia telah menitikkan butir butir air mata. Disaat dia tengah melamun seperti itu, Siauw Liong Lie mendengar suara langkah kaki mendekati kearahnya. Cepat-cepat nyonya Yo ini telah menghapus air matanya, dilihatnya Lo Him tengah menghampiri dirinya. Muka Lo Him sore ini agak luar biasa dia menghampiri kearah Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang tajam sekali, mukanya juga tidak terlihat perasaan apapun juga, disebut tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga bukannya menangis ... sehingga hati Siauw Liong Lie jadi tergoncang. Ketika Lo Him sampai didekat Siauw Liong Lie, matanya yang bersinar itu telah memandang kearah perut Siauw Liong Lie. "Tidak lama lagi dia akan lahir..." Katanya dengan suara yang nadanya aneh dan membuat jantung Siauw Liong Lie tambah tergoncang. Yang dimaksudkan dengan perkataan "dia" , oleh Lo Him adalah janin bayi didalam perut Siauw Lioug Lie.262 Melihat Siauw Liong Lie berdiam diri saja Lo Him telah berkata lagi ; "Akhhh, tentunya dia seorang bayi yang manis sekali ! Diwaktu itu kau akan menjadi seorang ibu yang bahagia dan terbebas dari kandungan ........!" Mendengar perkataan Lo Him yang terakhir itu, hati Siauw Lie Lie jadi tambah tergoncang, Walaupun bagaimana, dia tetap saja seorang wanita, yang memiliki perasaan halus. Lo Him memang telah menolongi jiwanya dan kandungannya maupun Sin Tiauw. Namun disamping itu, diapun selalu berwaspada, berjaga kalau-kalau Lo Him menolonginya itu mengandung maksud tertentu. Terlebih lagi kini dia mendengar perkataan Lo Him yang nadanya seperti juga mengharapkan Siauw Liong Lie melahirkan anaknya cepat-cepat, agar Siauw Liong Lie cepat-cepat bebas dari kandungannya, kecurigaan Siauw Liong Lie semakin keras bahwa Lo Him ada mengandung maksud tertentu. Dengan sendirinya, dihati Siauw Liong Lie muncul perasaan muak dan tidak senang terhadap tuan penolongnya itu. Sepasang alisnya mengkerut dalam-dalam dan dia berdiam diri saja. Lo Him melihat Siauw Liong Lie berdiam diri saja, dengan suara tergagap dia telah bertanya lagi ; "Engkau.....mengharapkan lelaki atau perempuan ?" Tanyanya. Siauw Liong Lie mengerti. Lo Him tentu maksudkan anaknya itu.263 "Yang mana saja, asal Thian melindungi, aku telah bersyukur !" Menyahuti Siauw Liong Lie dengan suara yang dingin. "Tetapi aku mengharapkan seorang anak lelaki......!" Kata Lo Him. "Mengapa begitu ?" Tanya Siauw Liong Lie sebal sekali, tetapi karena ingin mengetahui, dia telah bertanya juga. "Karena aku ingin mengambilnya menjadi anakku l" Kata Lo Him. "Ha ?" Berseru Siauw Liong Lie terkejut, wajahnya jadi pucat pias. "Aku akan mendidik dia dengan ilmu silat yang tinggi dan sempurna, agar kelak dia akan muncul sebagai seorang pendekar yang gagah, sebagai puteranya Lo Him !" . Tubuh Siauw Liong Lie jadi menggigil. Tiba-tiba perasaan takut telah menyelusup ke dalam dasar hatinya. Dengan menginginkan bayinya menjadi anaknya. bukankah berarti Lo Him ingin mengartikan perkataannya itu bahwa dia bermaksud mengambil Siauw Liong Lie sebagai isterinya ? "Hemm, biarlah !" Berpikir Siauw Liong Lie "Sekarang aku mengalah saja dan bersabar. Yang terpenting, jika aku. telah melahirkan, jelas aku akan melawan maksud jahatnya itu. Aku yakin, dengan lukaku telah sembuh dan telah melahirkan, walaupun belum tentu bisa membinasakannya, tetapi diapun tidak mungkin bisa mengalahkan aku . !". Saat itu, Lo Him telah mengangkat kepalanya, dia menghela napas berulang kali, Mukanya muram sekali, memancarkan kedukaan yang bergolak didalam hatinya. Lama Lo Him memandang gumpalan awan itu. Akhirnya dia menoleh kepada Siauw Liong Lie.264 "Kau kini tengah mengandung, sebetulnya! engkau seorang wanita yang bahagia, karena tidak lama lagi kau akan menjadi seorang ibu tetapi aku, keluargaku telah hancur, isteriku telah meninggal dalam keadaan hami" L dan beberapa butir air mata segera mengucur dari pelupuk matanya. Siauw Liong Lie diam saja, karena dia menduga orang tersebut bercerita akan kesedihan dan kemalangan dirinya, hanya ingin menarik simpatinya belaka. Dan Siauw Liong Lie telah semakin sebal saja, dia hanya mendengarkan dengan acuh tak acuh. "Dan, memang sampai detik ini, seharusnya aku membenci semua wanita ... tetapi melihat kau, aku jadi merasa kasihan terhadap nasib bayi dalam kandunganmu. sehingga aku menolonginya !" Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya. "Kenapa begitu ?" "Aku benci ! Bukan hanya wanita, tetap semua manusia !" Kata Lo Him. "Seperti kau lihat, aku bergaul dengan macan tutul, ular dan binatang buas lainnya, karena tidak ingin bergaul dengan manusia......!" "Tetapi, mengapa kau menolongi aku ?" Tanya Siauw Liong Lie ragu-ragu. "Menolong kau ? Ohhh bukan ! Jangan kau mimpi ! Semua yang telah kulakukan itu bukan menolongi dirimu ! Mungkin jika kau bukan tengah mengandung, aku justru akan menghajar hancur batok kepalamu !" "Ihhh !" Siauw Liong Lie sampai mengeluarkan suara seruan tertahan mendengar perkataan Lo Him yang tidak diduganya. Karena semula dia menyangka bahwa Lo Him menolongnya karena melihat parasnya yang cantik dan juga Lo Him mengandung maksud yang buruk kepadanya.265 Tetapi mendengar pernyataan Lo Him yang terakhir ini, tentu saja membuat Siauw Liong Lie jadi tertegun dan memandangi lelaki ini diam-diam. Lo Him telah memandangi gumpalan awan dilangit, untuk sejenak lamanya dia berdiam diri saja. Sampai akhirnya seperti orang menggumam dia telah berkata perlahan-lahan. "Ya, ya memang di dunia ini selalu terjadi urusan yang tidak diduga-duga! Aku pernah bersumpah, bahwa aku tidak akan meninggalkan lembah ini seumur hidupku, dan juga aku tidak akan mengijinkan manusia menginjakkan kakinya dilembah ini. Namun sekarang? Telah ada seorang manusia dan calon manusia lainnya yang telah menginjakkan kakinya dilembah ini Hai! Hai! Aku telah melanggar sumpahku sendiri." "Mengapa begitu?" Tanya Siauw Liong Lie. Muka Lo Him tampak berobah merah padam, matanya bengis sekali memandang Siauw Liong Lie, setelah menatap begitu, yang membuat Siauw Liong Lie bergidik dan jantungnya tergoncang, maka dia telah berkata lagi. "Hemm, justru anak dikandunganmu itu yang telah menyelamatkan jiwamu !" . Dan sehabis berkata begitu, Lo Him tampaknya menyesal telah membawakan sikap yang kasar dihadapan Siauw Liong Lie. dia telah menundukkan kepalanya dan menangis terisak-isak. "Maafkan ...aku tidak sengaja berlaku kasar !" Katanya diantara isak tangisnya. Siauw Liong Lie yang telah merasakan hebatnya gelombang kehidupan selama berpacaran dan hidup berumah tangga dengan Yo Ko, telah bisa menyelami hati seorang manusia, yang selalu diserang dan digeluti oleh berbagai peristiwa aneh dan tidak terduga.266 Walaupun bagaimana pahitnya, jika peristiwa itu selalu diakhiri oleh hal-hal yang manis, tentu manusia itu akan hidup bahagia. Seperti dia pernah berpisah dengan Yo Ko selama enam belas tahun namun akhirnya, mereka berjumpa lagi. Dan cinta merekapun telah berpadu, walaupun akhirnya mereka terpisah pula, tetapi Siauw Liong Lie dan Yo Ko dapat mengecap kebahagiaan yang sangat. Dan Yo Ko pun tidak jarang menitikkan air mata didalam saat-saat tertentu, karena kedukaan yang dalam, diantara haru dan kegembiraan. Maka melihat seorang lelaki yang memiliki kepandaian sehebat Lo Him bisa mengucurkan air mata, Siauw Liong Lie sudah tidak merasa heran lagi. "Sesungguhnya apa yang telah terjadi ?" Tanyanya kemudian dengan suara yang sabar dan halus. Ditegur begitu, Lo Him jadi tambah keras tangisnya. Akhirnya Siauw Liong Lie telah membiarkan Lo Him menangis sepuas hatinya, karena jika dalam keadaan seperti itu, dia membujuki juga percuma saja. Dan setelah Lo Him puas menangis dan menepas air matanya, barulah lelaki itu berkata perlahan dan lemah . "Semua memang dosaku, bukan salahnya takdir !" Berkata Lo Him. "Namun yang kusesalkan, mengapa Thian justru menurunkan nasib buruk kepadaku tanpa kepalang tanggung...........! ibuku, isteriku, adik perempuanku, semuanya menganggap aku manusia binatang yang berbisa... semuanya tidak mengetahui bahwa sesungguhnya bukan aku yang bersalah! Haaaaaaa, sudahlah! Memang aku yang salah dan terkutuk sekali. Mengapa aku tidak bisa bertindak tegas, hingga perbuatanku yang malah dituduh busuk?" Setelah berkata begitu, Lo Him berdiam sejenak, dia memandang bengong keatas lagi, mengawasi gumpalan awan,267 dan bibirnya bergerak-gerak seperti tengah mengucapkan sesuatu. Namun akhirnya dia telah berdiam mematung saja. Siauw Liong Lie yang tadi mengawasi, jadi bertambah heran. Dia tidak mengerti jiwa orang ini. Namanya saja. yaitu Lo Him, si Biruang Tua, sudah aneh. Kini adatnya pun aneh. Dan kalau ingin diperhatikan, tentu, penghidupan orang ini diliputi oleh keanehan juga. Maka dari itu, Siauw Liong Lie jadi tertarik sekali untuk mengetahuinya. Didalam hatinya, Siauw Liong Lie telah memaki dirinya sendiri, yang mana bahwa dia telah menuduh Lo Him sebagai lelaki yang jahat. Padahal Lo Him sama sekali tidak mengandung maksud jahat kepadanya. Tetapi walaupun bagaimana Siauw Liong Lie akan tetap berlaku waspada. Dia tetap tidak mau berlaku lengah, karena justru yang di kuatirkannya adalah Lo Him sengaja "menjual" Cerita dusta kepadanya agar menarik simpatinya belaka. Siauw Liong Lie melihat Lo Him telah menghela napas berulang kali. Apakah kau tidak akan muak mendengar ceritaku?" Tanya Lo Him kemudian sambil menoleh kepada Siauw Liong Lie yang ditatapnya dengan sinar mata yang tajam. Siauw Liong Lie menggelengkan kepala Dia tidak menyahuti. "Hemmmmm. sinar matanya yang terpancar itu. telah memperlihatkan bahwa engkau juga tidak mempercayai diriku! Sinar matamu itu sama dengan sinar mata isteriku! Ya, memang aku manusia terkutuk, yang tidak akan dipercaya oleh siapapun juga. maka dari itu percumalah jikalau aku mau menceritakan segalanya kepadamu, karena engkaupun tidak akan mempercayai ceritaku ini !" ,268 Mendengar perkataan Lo Him, Siauw Liong Lie berusaha untuk tersenyum. "Him-heng (saudara Him) .....!" Kata Siauw Liong Lie kemudian dengan suara yang halus. "Kau jangan bercuriga begitu ! Bukankah kau telah menolongi jiwaku, menolongi anak dalam kandunganku dan juga jiwa Tiauw-heng ? Mengapa aku harus mencurigaimu ? Jika sampai nanti kau tetap memperlakukan kami dengan baik, tanpa maksud-maksud buruk, tentu budimu yang sedalam lautan itu tidak dapat kubalas dengan apa pun juga...!" . Mendengar perkataan Siauw Liong Lie, Lo Him telah tersenyum tawar. "Akhh, baru kali ini aku mendengar ada orang manusia berkata begitu !" Katanya dengan suara yang tawar. "Tetapi, jika engkau selalu melakukan perbuatan baik, tentu akan banyak sekali orang yang berterima kasih kepadamu, dan juga akan banyak sekali orang yang menyatakan perasaan syukurnya atas pertolonganmu itu ......!" .Lo Him berdiam diri sejenak, lalu dia menggumam lagi. "Ya. ya, walaupun orang menuduhku buruk, berhati binatang beracun, tetapi aku tidak usah memperdulikannya. Yang terpenting didalam dunia ini, bukankah kita harus menolong seseorang yang tengah dalam kesulitan?" Karena berkata begitu, dia telah menoleh kepada Siauw Liong Lie tanyanya ; "Dan kau, apakah kau bersedia membiarkan anakmu nanti aku angkat sebagai anakku?" Sambil bertanya begitu, dia, mengawasi Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang tajam sekali. Siauw Liong Lie tersenyum "Mengapa tidak? Bukankah anakku itu bernasib baik sekali, sehingga ada seorang yang sebaik engkau bersedia menjadi269 ayah angkatnya. Yang jelas, ayah dari anak ini juga akan bersyukur tidak habisnya, bahwa, tuan penolongnya itu telah begitu iklas mengambil anak kami sebagai anaknya!" Semula mendengar perkataan Siauw Ljong lie yakni meluluskan keinginannya, mata Lo Him telah bersinar tajam cemerlang, bagaikan dia tengah diliputi kegembiraan yang sangat. Namun setelah dia mendengar perkataan Siauw Liong Lie yang terakhir, dia jadi menunduk dengan wajah yang muram, dan tidak lama kemudian dia telah mengangkat kepalanya, menatap Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang bengis sekali. "Kau wanita jahat !" Tiba-tiba dia telah membentak begitu dengan suara yang bengis juga. "Kau... kau wanita berhati busuk. Mengapa kau menduga buruk kepadaku, sehingga kau merasa perlu untuk mengeluarkan kata-kata sekejam itu ? Apakah kau menduga bahwa aku akan melakukan perbuatan sehingga engkau perlu merintangi diriku dengan perkataan yang menyindir seperti itu... ?" Ternyata Lo Him sangat perasa dan mudah tersinggung. Perkataan Siauw Liong Lie yang terakhir memang merupakan kata-kata sindiran. Dan LoHim merasa tersinggung. Siauw Liong Lie tertawa. "Him-heng .. kau terlalu perasa ... sesungguhnya Siauwmoay tidak berani memandang rendah kepadamu, bukankah engkau adalah tuan penolongku ?" Tetapi Lo Him telah mengawasi Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang tajam sekali. "Hemm . , . memang aku manusia celaka !" Berseru Lo Him akhirnya . Dan tiba-tiba sekali dia menangis, meraung-raung dengan suara pekikan yang melengking nyaring dan tinggi, diapun telah menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya, dengan gerakan-gerakan seperti orang tengah bersilat.270 Siauw Liong Lie hanya mengawasi tertegun dengan perasaan tidak mengerti. Walaupun bagaimana, orang itu sangat baik dan telah menolong jiwanya, menolong anak dan juga rajawalinya. Tetapi dia tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari kewaspadaan, karena dia belum dapat menyelami hati penolongnya tersebut. Dan sedikitpun juga Siauw Liong Lie tidak menyangkanya bahwa perkataan dan perbuatan itu, justru telah menyinggung perasaan Lo Him. Setidak-tidaknya Siauw Liong Lie sebagai seorang wanita berperasaan halus, jadi merasa kasihan dan iba......dia bermaksud untuk menghibur Lo Him, agar menghentikan perbuatan kelakuan yang gila-gilaan itu. 000odw^kzo000 SAAT itu Siauw Liong Lie telah berdiri dari duduknya, dia berhenti sejenak sambil mengerutkan sepasang alisnya, karena mendadak sekali dia merasakan pinggangnya sakit seperti ditarik-tarik. Tanpa dikehendakinya. Siauw Liong Lie telah mengeluarkan suara keluhan perlahan, pandagan matanya jadi gelap berkunang-kunang, wajah pucat dan keringat dingin mengucur deras dari kening dan tubuhnya. "Akhh .. , !" Akhirnya Siauw Liong Lie batal berdiri, dia telah terduduk pula sambil memegangi perutnya. Perasaan sakit dipinggangnya semakin hebat. Saat itu, kebetulan sekali Lo Him telah melihat keadaan Siauw Liong Lie. Tiba-tiba Lo Him menghentikan gerakan dan kelakuannya yang tengah bergerak-gerak seperti bersilat itu, dengan muka271 yang memancarkan kekuatiran yang sangat, dia telah melompat kesamping Siauw Liong Lie. "Kau ... kau kenapa, nyonya ?" Tanyanya dergan suara yang tergetar dan kasar. Siauw Liong Lie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa bisa menjawab, karena perutnya itu sakit luar biasa, sepasang alisnya tetap mengkerut dengan wajah yang pucat dan keringat dingin yang mengucur deras sekali sebesar-besar kacang kedele membasahi mukanya yang pucat itu. Kedua tangannya juga telah mengusap-ngusap pinggangnya, yang diurutnya perlahan-lahan untuk mengurangi perasaan sakitnya. Disaat itu. Lo Kim tampak gugup dan bingung sekali, dia juga memperlihatkan sikap yang menyesal. "Akhhh, mungkin aku telah menyebabkan penyakitmu ini kumat.....aku memang manusia terkutuk, manusia binatang berhati beracun....." Berulang kali Lo Him telah menyesali dirnya. Tetapi Siauw Liong Lie tetap berdiam diri saja, hanya suara rintihannya yang terdengar perlahan sekali. Lo Him telah berlari-lari kegoanya, tidak lama kemudian dia telah kembali. Ditangannya tercekal sebuah mangkok dari tanah liat, yang didalamnya terdapat ramuan obat. Dia telah mengangsurkannya kepada Siauw Liong Lie dengan sikap yang gugup, disertai oleh perkataannya. "Minumlah obat ini..." Siauw Liong Lie menyambuti mangkok obat itu, dia telah meneguknya. Dan berselang tidak lama, berangsur-angsur rasa sakit dipinggangnya itu telah lenyap.272 Dengan wajah yang memperlihatkan perasaan bingung Lo Him telah mengawasi Siauw Lioag Lie, katanya dengan suara yang tergagap "Maafkan.......tadi aku telah membuat kau jadi kesal ....tentu saja sakitmu itu akibat perkataanku yang kasar .... dan kau....... kau maafkanlah aku....!". Siauw Liong Lie tidak sampai hati melihat Lo Him terus menerus menyebut-nyebut perkataan maaf, maka dia telah mengangguk, katanya dengan suara yang halus "Kau tidak bersalah apa-apa Him-heng ... justru memang demikianlah jika seorang wanita tengah hamil, maka dia akan selalu diganggu oleh calon bayinya ...... ini memang sudah resikonya ......!". Lo Him telah mengangguk. "Benar, akupun tahu ...tetapi yang pasti, seorang wanita yang tengah hamil tidak boleh terganggu oleh ketegangan-ketegangan syarafnya, tidak boleh marah, tidak boleh kesal dan tidak boleh bingung ...." Siauw Liong Lie tersenyum mendengar perkataan Lo Him. "Akhh, kiranya Him-heng memang telah berpengalaman" Katanya. "Bukankah tadi aku telah mengatakan bahwa aku pernah beristeri...dan isteriku itu telah meninggal waktu hamil ?" . Siauw Liong Lie mengangguk. "Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah dialami oleh keluarga Him-heng ?" Tanyanya kemudian. "Sudahlah, lebih baik kita tidak perlu membicarakannya, nanti aku salah bicara lagi !" Kata Lo Him kemudian dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat itu Siauw Liong Lie merasakan sakit dipinggangnya telah lenyap, dia sudah bisa duduk dengan leluasa.273 Disaat itu Lo Him telah berkata lagi ; "Aku menolongimu karena kandunganmu kau jangan kuatir, aku tidak akan bermaksud jahat kepadamu...aku hanya ingin anakmu itu nanti dibiarkan mengangkat aku sebagai ayah angkatnya....asal kau menyetujui dan mengijinkannya, aku telah puas ! Kau jangan kuatir, aku tidak pernah bermaksud mengganggu dirimu, jika kau telah sembuh, kau telah melahirkan, kau telah sehat kembali, pergilah kau mencari suamimu, aku tidak akan menghalanginya..............aku puas asal anak Itu mau mengangkat aku sebagai ayahnya !" Mendengar keinginan Lo Him yang begitu sederhana, diam-diam Siauw Liong Lie telah memaki dirinya sendiri. "Akhh, rupanya aku yang terlalu bercuriga" Dia berpikir dihatinya. "Orang sebaik Lo Him, tuan, penolongku yang telah menyelamatkan jiwa kami ibu dan anak, dan juga menolongi Sin Tiauw, telah kuduga buruk! Sungguh aku manusia yang tidak berbudi...!" Karena telah mengetahui Lo Him tidak bermaksud buruk kepadanya, dan juga karena tadi dia merasa bersalah telah menduga buruk kepada tuan penolongnya yang telah menyelamatkan jiwanya, maka Siauw Liong Lie jadi bersikap manis dan halus. "Him-heng, bolehkah aku mengetahui sesungguhnya apa sebabnya isterimu yang tengah mengandung itu meninggal dunia?. "Ya mengapa? sampai detik ini, justru aku sendiri belum mengetahui! Waktu peristiwa itu terjadi, sebetulnya aku bermaksud mencari pembunuhnya, namun akhirnya aku memutuskan dan bertekad untuk berdiam disini sampai ajal tiba!" . "Mengapa begitu ?" Tanya Siauw Liong Lie tertarik. Muka Lo Him kembali jadi muram, dia menunduk sejenak. Tetapi karena dia berkuatir kalau-kalau nanti Siauw Liong Lie274 diliputi ketegangan yang bisa menyebabkan sakit pinggangnya kumat kembali, Lo Him telah cepat-cepat berkata . "Orang itu terlalu liehay, kepandaiannya sulit diukur dan tidak bisa untuk ditandingi" .benar-benar aku suami yang laknat, aku tidak bisa melindungi isteri dan calon anakku itu, yang telah dicelakai orang tanpa aku bisa menuntut balas ! Begitu pula ibuku telah dibinasakan orang itu...! Tetapi, baik ibuku, maupun isteriku, disaat mereka belum menghembuskan napas yang terakhir, dan disaat mereka dalam keadaan terluka parah, keduanya telah menuduh bahwa akulah yang mencelakai mereka...! Akhh, itulah nasibku yang buruk!" Berulang kali Lo Him menyesali dirinya dengan suara yang tidak jelas. Siauw Liong Lie melihat Lo Him kembali tenggelam dalam kedukaannya, dia jadi merasa kasihan. "Siapa nama orang yang mencelakai keluargamu!" Tanya Siauw Liong Lie kemudian. "Dia orang yang hebat, diapun menjadi pendekar yeng memiliki nama harum didalam rimba persilatan ......tetapi dia telah tega menurunkan tangan begitu kejam! Namun disebabkan kepandaiannya yang tidak bisa dijajaki itu, maka aku menyadarinya dendam itu tidak mungkin terbalas seumur hidupku." ' "Siapa dia?" Desak Siauw Liong Lie dia percaya jika Lo Him menyebutkan nama orang yang disebutnya liehay sekali dan memiliki nama yang terkenal didalam rimba persilatan itu tentunya setidak-tidaknya Siauw Liong Lie pernah mendengar namanya atau mengenalnya. >>o0o^d!w^o0o<< Jilid 09275 LO HIM menghela napas. "Dialah ayahku ...!!" Menyahuti Lo Him akhirnya dengan wajah yang pucat, tubuhnya menggigil. "A....ayahmu?" Tanya Siauw Liong Lie tertegun Karena kaget dan heran. "Yal" Mengangguk Lo Him. "Jika dia ayahmu, mengapa dia membinasakan ibu dan isterimu" Tanya Siauw Liong Lie lagi. Untuk sejenak Lo Him tidak menjawab, dia seperti tengah mengingat-ingat pengalamannya yang telah lalu itu. Akhirnya setelah menghela napas, dia telah menyahuti; "Ya, inilah kejadian yang benar-benar menyayatkan hati dan mengesankan sekali........! justru yang menjadi musuh besarku adalah, ayahku sendiri.. ! Hanya disebabkan dia takut malu, maka dia telah membinasakan isteri dan ibuku ...dan jika disaat itu aku tidak keburu lari, jiwaku juga tidak akan lolos dari kematian!" "Mengapa begitu ?" Tanya Siauw Liong Lie semakin tertarik. "Karena dia gagal memperkosa isteriku !" Menyahuti Lo Him sambil menunduk. "Ha ?" Teriak Siauw Liong Lie kaget, mukanya sampai berobah pucat. Lo Him menunduk dalam-dalam. dia tidak berani menatap mata Siauw Liong Lie yang saat itu tengah terpentang lebar-lebar, menatap kearahnya dengan sikap tidak mengerti diliputi perasaan kaget. "Dia ingin memperkosa isteriku, tetapi usahanya itu gagal, karena ibuku kebetulan memergokinya...sehingga ayahku jadi nekad, dia takut menderita malu, dia merencanakan pembunuhan yang kejam seperti itu." . "Akhh, mungkinkah ada manusia sebejat itu !" Menggumam Siauw Liong Lie. "Tetapi justeru aku telah mengalami sendiri, yang telah membuat aku jadi putus asa dan tidak memiliki gairah untuk menempuh hidup pula .... justru aku yang telah melihat dan menyaksikan kebiadaban seperti itu......! Tetapi aku memang manusia terkutuk, hanya disebabkan aku tidak bertindak tegas, dan memang aku seorang pengecut akhirnya urusan yang menyedihkan dan mendukakan hati harus terjadi" ! Siauw Liong Lie hanya diam mengawasi saja. dia melihat butir-butir air mata menitik turun dipipi Lo Him. Hati nyonya Yo jadi ikut terharu, dia bisa merasakan kedukaan hati Lo Him. "Dan disaat itu, ayahku juga telah berusaha membinasakan diriku, dia telah mencariku kesegala penjuru, namun usahanya itu tidak berhasil ! Aku telah menyembunyikan diri dengan ketakutan yang hebat, karena aku mengetahui walaupun bagaimana aku tidak bisa melawan ilmu silatnya yang telah sempurna itu ! Itulah kepengecutanku .. yang harus kukutuk !" Berkata Lo Him. Siauw Liong Lie bertambah bingung, karena Lo Him telah menceritakan bencana yang menimpa keluarganya itu justru sepotong-sepotong dan tidaK berujung pangkal. Tetapi dilihat demikian dan perkataan-perkataannya, mungkin juga Lo Him memang mengalami peristiwa yang hebat dan mengenaskan sekali......... Siauw Liong Lie jadi mengawasi Lo Him dengan tatapan mata merasa kasihan. Tetapi kebetulan sekali disaat itu Lo Him juga memanjang kearahnya sehingga dia melihat sinar mata Siauw Liong Lie yang demikian, dia tiba-tiba telah mendengus dingin, katanya dengan suara mengandung kegusaran . "Aku tidak perlu dikasihani, memang nasibku yang terkutuk !" 277 Dan setelah berkata begitu Lo Him berdiri serta memandang kearah yang jauh. Wajahnya tidak memantulkan perasaan apapun juga. Siauw Liong Lie yang penasaran sekali karena Lo Him tidak mau menyebut nama ayahnya itu, telah bertanya lagi . "Siapakah nama ayahmu itu ?" Tanya Siauw Liong Lie kemudian. Lo Him diam saja, sampai akhirnya dia menghela napas dan katanya; "Sudahlah itu urusan yang telah lewat tidak perlu kita membicarakannya lagi. Dan setelah berkata begitu dia telah melangkah pergi meninggalkan Siauw Liong Lie yang mengawasi kepergiannya dengan tatapan mata mengandung tanda tanya dan keheranan yang sangat. Sejak hari itu Lo Him tak mau disinggung-singgung lagi urusannya, dia hanya lebih mengutamakan memasakan Siauw Liong Lie obat-obatan dan juga memanggangkan daging kelinci atau daging burung untuk nyonya Yo itu makan. Siauw Liong Lie juga menyadari bahwa Lo Him tidak gembira jika membicarakan urusannya itu maka Nyonya Yo tidak pernah menanyakan lagi walaupun sesungguhnya siauw Liong Lie masih ingin mengetahui siapakah sesungguhnya nama ayah dari Lo Him, tetapi nyonya Yo fikir masih ada waktu dihari mendatang, dia nanti menanyakannya perlahan-lahan. Tanpa terasa dua bulan lagi telah lewat, selama itu Siauw Liong Lie berangsur-angsur mulai sembuh, dan tenaga dalamnya mulai pulih. Luka didalam tubuhnya mulai tidak memperlihatkan gejala apa-apa lagi. Hanya yang sering mengganggu adalah sakit dipinggangnya dengan perut yang semakin membesar itu. Juga Siauw Liong Lie seringkali merasakan urat-urat278 dipinggangnya seperti ditarik, jika bayi didalam kandungannya bergerak mengganti kedudukan..... Selama berada didalam lembah itu, Siauw Liong Lie merasa kesepian sekali Jika dulu, dimana dia berdiam didalam kuburan Mayat Hidup, dia bisa hidup didalam ketenangan karena memang merupakan intisari dari pelajaran yang diterima dari gurunya. Dan juga waktu berpisahan dengan Yo Ko selama enam belas tahun dia masih bisa hidup dengan tenang ditempat sunyi dibawah jurang, walaupun disaat itu seringkali dia diliputi kedukaan. Tetapi sekarang ini disaat dia tengah mengandung, justru dia membutuhkan sekali Yo Ko berada disampingnya, dengan sendirinya pula diapun sangat merindukan Yo Ko. Tetapi untuk menghibur hatinya, Siauw Liong Lie sering bermain-main dengan macan tutul peliharaan Lo Him. Siauw Liong Lie memberikan nama Sin Kim (Emas Sakti) kepada macan tutul itu yang seringkah mengajaknya berputar-putar dilembah itu. dengan Siauw Liong Lie duduk di punggungnya. Begitu pula Sintauw, sering mengajak Siauw Liong Lie dengan kelakarnya, yaitu dia sering kali terbang menyambar-nyambar dengan gerakan seperti menari-nari bagaikan rajawali tersebut mengetahui bahwa nyonya majikannya ini tengah dalam kesepian yang sangat. Memang Sintiauw sengaja tidak terbang meninggalkan lembah itu, sebab dia kuatirkan Siauw Liong Lie akan mengalami ancaman bahaya yang tidak diduga, maka dia terus menemaninya jika memang Siauw Liong Lie terancam sesuatu tentu dia bisa segera memberikan pertolongan segera.279 Hari demi hari telah lewat dengan cepat, dan akhirnya tanpa terasa kandungan Siauw Liong Lie telah memasuki bulan yang kesembilan. Dan nyonya Yo ini hanya tinggal menunggu hari dari kehadiran anaknya tersebut. Tetapi akhir-akhir ini Siauw Liong Lie merasakan napasnya lebih pendek dari sebelumnya, dia pun lebih cepat lelah. Sedangkan Lo Him sendiri kini lebih memperhatikan keperluannya, bahkan memberikan daging kelinci bakar dalam jumlah yang lebih banyak untuk memupuk tenaga. Juga Lo Him sering menanyakan kepada Siauw Liong Lie, apakah dia membutuhkan sesuatu, yang pasti akan dituruti oleh Lo Him. Namun Siauw Liong Lie selalu mengatakan dengan menerima perlayanan yang demikian baik dari Lo Him, dia sudah berterima kasih sekali dan juga berjanji tidak akan melupakan budi dan kebaikan penolongnya. "Jangan kau berpikir yang tidak-tidak, yang terpenting kini kau harus bersikap tenang dan tabah menghadapi kelahiran anakmu, agar kalian ibu dan anak selamat ...-!" Kata Lo Him sambil tersenyum. Hari yang dinanti-nantikan itupun tibalah... Sejak pagi hari, disaat fajar mulai menyingsing Siauw Liong Lie merasakan perutnya sakit bukan main, dia merintih tidak hentinya. Sedangkan Lo Him jadi kebingungan tidak keruan, dia jalan mundar-mandir diluar rumah kayu yang sederhana itu. Sedangkan Sin Kim dan Sintiauw masing-masing berdiam dimuka rumah itu, yang satu dipinggir kanan, sedangkan Sintiauw dipinggir kiri.280 Siauw Liong Lie merasakan perutnya bagaikan diaduk-aduk, sakitnya luar biasa. Keringat juga membanjir keluar. Bagaimana hebatnya lwekangnya, tenaga dalamnya, didetik-detik seperti itu percuma saja tidak bisa dipergunakannya. Dan akhirnya Siauw Liong Lie merasakan perutnya seperti ringan dan mendadak lapang, dia juga merasakan napasnya agak lapang, disusul dengan suara tangis bayi yang keras dan lantang. Sambil bangun duduk perlahan-lahan Siauw Liong Lie telah melihat, betapa didekat kakinya menggeletak seorang bayi yang putih dan manis yang tengah menangis mengeyak-mengeyak nyaring sekali. sekaliTidak hentinya Siauw Liong Lie mengucap syukur dan segera dia mengangkat bayi itu, dia menggigit tali pusarnya dan kemudian merangkul si bayi dengan perasaan bahagia sekali. Dua butir air mata tanpa dirasakannya telah menitik turun. Kebahagiaan itu meluap-luap ketika dia mengetahui bahwa bayi itu seorang bayi lelaki ...... seorang putera... Lo Him yang menunggu gelisah diluar rumah ketika mendengar tangis bayi itu, jadi melompat berjingkrakan tidak hentinya. Tetapi tiba-tiba Lo Him teringat sesuatu, dia jadi tertegun. "akhh. lelaki atau perempuan ?" Gumamnya dengan suara perlahan. Dan dia jadi tegang sendirinya, sedangkan suara tangis bayi itu masih terdengar nyaring dan lantang. Sintiauw juga tampaknya girang sekali waktu mendengar suara tangis bayi itu, dia telah terbang keudara dan berulang kali mendengarkan suara pekikannya, tampaknya diapun ikut girang bahwa sang bayi telah lahir. Sedangkan Sin Kim berulang kali mengeluarkan suara mengerang perlahan. menunjukkan kegembiraannya juga.281 Lo Him berjingkat mendekati pintu rumah, dia kemudian bertanya dengan suara serak ; "Perempuan .... atau lelaki ?" Dan waktu bertanya begitu, Lo Him merasakan ketegangan yang sangat, jantungnya juga berdebar keras. "Lelaki....!" Menyahuti Siauw Liong Lie disertai suara tertawa bahagianya. "Ha !" Untuk sejenak sepasang mata Lo Him terpentang lebar-lebar, dan ketika dia telah kembali kesadarannya, tahu-tahu dia mengeluarkan suara teriakan yang nyaring melompat berguling-guling di tanah sambil mengeluarkan teriakan-teriakan gembira. Tetapi tidak lama kemudian dia telah menangis sambil duduk dan tubuhnya gemetar. "Ohhhh Thian rupanya telah memenuhi permitaanku ! Syukur ! Syukur !" Teriaknya keras. Begitulah, kehadiran bayi tersebut dengan kegembiraan yang sangat oleh semua penghuni lembah tersebut. Tiba-tiba Lo Him mendengar Siauw Long Lie memanggilnya, lelaki kasar ini ragu-ragu sejenak, dia menghampiri pintu dan kemudian berdiri tertegun disitu sesaat lamanya. "Him-heng ?" Terdengar Siauw Liong Lie memanggil lagi. "Aku ada disini !" Menyahuti Lo Him. "Masuklah !" Kata Siauw Liong Lie. "Sudah beres ?" Tanya Lo Him canggung. "Semuanya sudah dibereskan !" Menyahuti Siauw Liong Lie disertai oleh suara tertawanya. Lo Him mendorong pintu dan melangkah masuk. Dia melihat Siauw Liong Lie tengah duduk setengah rebah disudut pembaringan rumputnya dan tengah menggendong bayinya.282 "akhh !" Berseru Lo Him waktu melihat, raut wajah bayi itu yang tampan putih. "Anak yang manis ! Anak yang manis !". "Him-heng, karena kau telah meminta untuk mengangkat anak ini sebagai putera angkatmu, maka silahkan kau memilihkan nama yang baik untuknya !" . Lo Him jadi kelabakan, dia berpikir keras. Tetapi akhirnya d.a bertanya. "Ayahnya she apa?" "she Yo!" "Bagaimana kalau aku memberi nama Him ?" Tanyanya. "Ihhh, itu tokh namamu sendiri?" Tanya Siauw Liong Lie tertawa. "Apakah kau ingin mempersamakan namanya dengan namamu?" "Bukan begitu! Bukan begitu!" Kata Lo Him cepat. "Walaupun dia telah menjadi anak angkatku, tetapi ......tetapi..." Dan Lo Him tidak meneruskan perkataannya lagi. "Kenapa?" Tanya Siauw Liong Lie yang heran melihat sikap Lo Him. "Bukankah setelah lewat empat puluh hari kau akan meninggalkan lembah ini, dan berarti anak itu ... anak itu akan ikut bersama kau ? Nah, nama Him itu kelak akan mengingatkan-nya kepadaku. Mudah-mudahan saja kelak jika dia telah dewasa, dia bisa teringat kepada ayah angkatnya dan datang menjenguk kemari" "Oohh, itu sudah jelas", kata Siauw Liong Lie tertawa. "Walaupun tanpa menanti dewasa kami, ayah ibunya, tentu akan sering-sering menjenguk kau, Him Toako !" Dan Siauw Liong Lie telah berobah sebutan "heng" (saudara) dengan perkataan "Toako" (kakak). Bukan main girangnya Lo Him, dia sampai berjingkrak.283 "Huss ! Jangan ribut Him Toako, nanti si Him kecil ini kaget oleh tingkahmu itu!" Siauw Liong Lie memperingati sikap dari si Biruang Tua yang tengah kegirangan itu. Lo Him tertegun, namun cepat sekali dia menepuk-nepuk kepalanya "Memang aku tidak tahu diri, nanti si Him kecil kaget disebabkan aku ... Dan Lo Him telah pergi keluar, cepat-cepat dia pergi mencari buah-buahan dan kelinci, untuk dibakar dagingnya. 000odw^kzo000 HARI-hari lewat dengan cepat sekali, tanpa terasa telah empat puluh hari. Siauw Liong Lie menyampaikan kepada Lo Him bahwa besok dia bersama anaknya akan meninggalkan lembah itu, untuk mencari Yo Ko, ayah dari anaknya itu. Lo Him jadi duduk termenung, sampai akhirnya setelah Siauw Liong Lie menghiburnya bahwa dia bersama suaminya akan sering-sering mengajak si Him kecil itu menjenguki Lo Him, barulah Lo Him mengangguk sambil katanya dengan sikap yang tetap lesu. "Biarlah hari ini aku akan menangkap dua ekor kelinci, aku akan menjamu kau, anggap saja sebagai pesta perpisahan ..." . Siauw Liong Lie terharu melihat Lo Him, hampir saja Siauw Liong Lie menitikkan air mata. Namun karena dia menyadari kalau menangis akan menambah kesedihan Lo Him, sehingga Siauw Liong Lie tertawa. Memang Lo Him pergi tidak lama, dia telah berhasil membawa dua ekor kelinci buruannya yang tadi dijanjikan. Dibakarnya kedua ekor kelinci itu untuk menjamu Siauw Liong Lie.284 Bukan main perasaan terima kasih dihati Siauw Liong Lie atas kebaikan tuan penolongnya ini. Malam itu Siauw Liong Lie tidur dengan nyenyak sekali disamping bayinya. Tetapi berbeda dengan Siauw Liong Lie justru Lo Him yang akan mengalami perpisahan dengan anak angkatnya, dan nanti juga akan hidup sendiri pula dilembah itu menderita kesepian, dengan sendirinya dia jadi gelisah dan tidak bisa tidur, Akhirnya menjelang tengah malam Lo Him telah keluar dari goanya. Dengan hati yang berduka, dia telah berjalan perlahan-lahan mendatangi rembulan yang memancarkan cahayanya yarg terang tergantung dilangit. Akhirnya, dia duduk bengong disebuah batu gunung yang agak menonjol letaknya. Disaat Lo Him sedang duduk terpekur begitu, tiba-tiba dia mendengar suara berkeresek. Menyusul mana Sin Kim. macan tutul yang menjadi sahabatnya, yang saat itu tengah rebah tidur digoanya melompat bangun. Lo Him dan macan tutul itu telah saling pandang sejenak, kemudian Lo Him mengangguk, membenarkan bahwa ada orang yang berkeliaran didalam lembah itu. Dengan gesit Lo Him melompat Kebalik batu gunung itu untuk menyembunyikan diri. sedangkan Sin Kim, simacan tutul itu telah masuk kedalam goa. Keadaan sunyi sekali, tidak terdengar sesuatu apapun juga selain angin yang tengah mempermainkan daun-daun pohon dengan hembusannya yang lembut. Lo Him telah memasang mata dengan sinarnya yang bengis, karena dia menduga bahwa orang yang tengah285 berkeliaran dilembahnya ini adalah orang-orang yang tidak bermaksud baik. Didengar dari suara langkah kakinya, Lo Him meng hitungnya orang yang tengah mendatangi kemulut lembah berjumlah empat orang. "Siapa mereka ?" Berpikir Lo Him dengan gelisah, karena itu dia segera menguatirkan ke selamatan Yo Him, si Him kecil yang menjadi anak angkatnya. Dia mendengar suara langkah kaki keempat orang yang tengah mendatangi itu ringan sekali, hampir tidak terdengar, suara berkeresek itupun sama halusnya seperti suara angin yang menghembus daun-daun pohon. Tetapi telinga Lo Him yang terlatih dan tajam bukan main telah mendengarnya dengan jelas, terlebih lagi Sin Kim yang memiliki penciuman sangat tajam. Keduanya seorang manusia dan seekor macan tutul, bersiap-siap untuk menyambut kedatangan "tamu" Tidak diundang tersebut. Menanti tidak lama. dari arah mulut lembah tampak melangkah mendatangi empat sosok tubuh dengan gerakan yang ringan sekali. Keempat tubuh itu, yang semuanya lelaki telah berhenti dan berbisik-bisik. Malah Lo Him mendengar antara lain perkataan . "Dia menghilang disekitar tempat ini... dan kita harus mencarinya terus! Sejak tadi ku lihat bahwa disekitar tempat ini ada kehidupan pasti lembah ini memiliki penghuninya..." Hati Lo Him tergoncang, entah siapa orang yang dicari oleh keempat "tamu" Tidak diundang tersebut? Tetapi Lo Him tidak mau terlalu lama berpikir, dia telah mengawasi dengan bersiap-siap kalau saja keempat orang itu menghampiri lebih jauh dan melihat rumah kayu yang dibangunnya, yang didiami oleh Siauw Liong Lie dan Yo Him,286 maka disaat itulah Lo Him akan segera keluar untuk melancarkan serangan. "Apakah kau yakin dia belum meninggalkan tempat ini ?" Tanya salah seorang lainnya. "Hemm ... dia tengah hamil, dan mungkin bulan ini perutnya tengah besar-besarnya. Kita tawan dan usahakan jangan sampai dia bisa meloloskan diri pula..." . Dan baru saja orang itu berkata demikian tiba-tiba kawannya yang lain telah menunjuk. "Lihat ! Ada rumah !" Berseru orang itu dengan suara gembira. Hati Lo Him jadi tambah tegang sendirinya. Dia mengawasi lebih tajam. Dilihatnya keempat oraug itu telah melangkah menghampiri rumah kayu dimana didalamnya berada Siauw Liong Lie dan Yo Him. Ketika keempat orang itu baru melangkah lima tindak, Lo Him sudah tidak bisa menahan hatinya lagi, dengan cepat dia telah mengeluarkan suara seruan keras, tubuhnya tahu-tahu melompat keluar, menghadang dihadapan keempat orang itu. "Berhenti!" Bentaknya bengis. "Apa yang ingin kalian lakukan ditempatku ini?" Keempat orang itu jadi terkejut, tetapi setelah melihat orang yang menegur mereka seperti "orang hutan", mereka jadi tertawa. Karena jarak mereka sudah dekat, dibawahi sinarnya rembulan Lo Him bisa melihat diantara keempat orang itu terdapat seorang Lhama merah dua orang berpakaian sebagai guru silat, dan seorang pendeta Mongolia yang bertubuh tinggi besar bermuka kejam.287 Mereka telah membalas memandang Lo Him, dengan suara mengejek Lhama itu telah menegur "Engkaukah yang menjadi penghuni lembah ini?" "Tepat !" Menyahuti Lo Him dengan ketus "Hmmmmm, apakah engkau pernah melihat seorang wanita cantik yang tengah hamil dan seekor burung rajawali berukuran besar enam atau tujuh bulan yang lalu?" Tanya Lhama itu lagi. "Kalau melihat bagaimana dan kali tidak bagaimana ?" Tanya Lo Him dengan mendongkol karena dia melihat keempat tamu tidak diundang ini angkuh sekali. "Ihh ?" Berseru Lhama itu kaget. Tetapi kemudian dia jadi marah. "Engkau kurang ajar sekali. Tahukah engkau siapa kami ?". "Aku tidak perlu tahu !" Berseru Lo Him. Mendengar jawaban Lo Him, rupanya Lhama itu jadi meluap darahnya. "Aku Chiluon selamanya belum pernah bertemu dengan manusia kurang ajar seperti kau rupanya engkau perlu dihajar agar dilain waktu tahu menghormati orang !" Dan setelah berkata begitu, Lhama tersebut maju selanjutnya dia mengulurkan tangannya dengan maksud akan mencengkeram bahu Lo Him, yang niatnya untuk dibanting. Tetapi Lo Him dengan mudah menggerakkan bahunya, sehingga cengkeraman Lhama itu lolos. "Ihh !" Lhama itu, Chiuluon jadi mengeluarkan seruan kaget. Tetapi tidak lama, sebab dengan mengeluarkan seruan mengguntur, dia mengulangi mengulur tangannya. Kali ini berbeda dengan tadi. Jika tadi Chiuluon melancarkan serangan dengan seenaknya saja, karena dia menduga lawannya tidak memiliki kepandaian apa-apa.288 Namun sekarang setelah dia mencela begitu, dia melancarkan cengkeraman selain cepat juga disertai oleh kekuatan tenaga lwekang yang hebat sekali. Angin cengkeraman itupun telah menyambar datang sebelum jari-jari tangan Chiuluon tiba, sehingga Lo Him juga terkejut dan tidak berani memandang enteng terhadap serangan tersebut, maka dari itu dengan cepat dia telah melompat untuk mengelakkan diri. Namun Chiuluon yang telah mengetahui bahwa Lo Him memiliki kepandaian yang tinggi, telah melancarkan serangan yang tidak main-main lagi setiap serangannya selain cepat juga mengandung tenaga serangan yang bisa mematikan. Maka dari itu tidak mengherankan jika serangan itupun telah mengejutkan Lo Him, yang cepat-cepat telah bersilat dengan gerakan-gerakan yang gesit sekali, diapun telah memusatkan tenaga sakti dikedua telapak tangannya. Latihan lwekang yang dimiliki Lo Him ini bukan sembarangan tenaga dalam, angin serangannya menderu-deru dengan hebat sekali, sehingga membuat Chiluon terkejut bukan main dan telah menambah tenaga serangannya. Begitu pula dengan ketiga orang kawannya, yang memandang dengan tatapan mata heran, karena mereka tidak menyangka ditempat seperti ini mereka bisa bertemu dengan orang yang berkepandaian tinggi seperti Lo Him. Dalam sekejap mata saja telah dua puluh jurus mereka bertanding. Pendeta Mongolia itu tidak lain Tiat To Hoat-ong. Dia yang mengajak ketiga kawannya itu, karena Chiluon memiliki kepandaian yang tinggi sekali, hanya berada setingkat dibawah-nya, dan juga kedua orang sahabatnya yang berpakaian sebagai busu, guru silat itu, merupakan pengawal-pengawal pribadi Kaisar Kublai Khan, adalah pengawal kelas satu dalam istana. Keduanya masing-masing bernama Turkichi dan Talengkie.289 Jika Turkichi memiliki kepandaian mencengkeram yang dahsyat sekali, yang sekali mencengKeram dapat menghancurkan batu dan baja, karena kesepuluh jari tangannya itu telah dilatih dengan sempurna sekali. Ilmu cengkeram yang dimiliki Turkichi mirip-mirip dengan ilmu mencengkeram "Kiu Im Pek Kut Jiauw (Cengkeraman Tulang Putih) yang pernah dilatih Bwee Tiauw Hong. Maka dari itu bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu cengkeram yang dimiliki Turkichi. Sedangkan Talengkie juga memiliki ilmu Siang to (sepasang golok) yang luar biasa, sekali tabas dapat merubuhkan belasan lawan. Di negerinya, Mongol, dia merupakan pahlawan istana raja kelas satu yang disegani. Dengan mengajak ketiga orang kawannya itu, sesungguhnya Tiat To Hoat-ong bermaksud mencari Siauw Liong Lie, Dia yakin Siauw Liong Lie masih berada disekitar tempat tersebut, dan terlebih pula memang Siauw Liong Lie tengah hamil, dengan mudah pasti akan dapat dicarinya. Umpama kata Siauw Liong Lie telah pergi meninggalkan tempat tersebut, tentu mereka bisa mengikuti jejaknya. Tiat To Hoat-ong juga merasa yakin bahwa dia telah berhasil melukai Siauw Liong Lie dengan pukulannya yang dahsyat, setidak-tidaknya Siauw Liong Lie tentunya telah terluka berat. Tetapi begitu jauh, dia masih belum berhasil menemuinya, bahkan mereka telah memasuki lembah dan bertemu dengan Lo Him. Disaat itu, dikala Lo Him tengah didesak hebat sekali oleh si Lhama Chiuluon, tiba-tiba dari dalam sebuah goa terdengar suara mengereng yang menggetarkan lembah itu. Dengan cepat Tiat To Hoat ong menoleh, dan mereka, si pendeta dengan kedua kawannya melihat sesosok bayangan panjang yang menerjang kearah mereka.290 Tiat To Hoat ong mengerutkan alisnya, dia mengibaskan lengan bajunya. Serangkum angin serangan yang kuat sekali menghantam keras kearah sosok bayangan tajam yang panjang itu. Seketika itu juga sosok bayangan tersebut telah terpental dan bergulingan ditanah sambil mengeluarkan suara meraung yang keras sekali. Ternyata sosok bayangan itu tidak lain dari si macan tutul Sin Kim. Akibat kibasan lengan baju Tiat To Hoat-ong dia telah terlempar dan terguling hebat, namun cepat sekali dia telah melompat bangun dan menerkam lagi kearah si pendeta. Turkichi melihat itu segera mewakili Tiat To Hoat ong menyambuti serangan yang dilancarkan oleh macan tutul291 tersebut, dia mengulurkan kedua tangannya dan "ceppp" Kesepuluh jari tangannya telah menancap diperut macan itu dalam-dalam, sehingga Sin Kim meraung dan telah mencakar dan menggigit kearah depan sekenanya. Tetapi Turkichi menggeser kedua kakinya, tubuhnya dimiringkan sehingga dia berhasil mengelakkannya dan tidak kena dicakar dan digigit oleh macan tutul itu. Setelah mengeluarkan suara raungan yang keras, akhirnya tubuh Sin Kim rubuh tidak bergerak lagi. Putus napasnya Sin Kim telah mati dan mitra kematiannya itu menggema dilembah tersebut sedangkan Turkichi telah menyusut darah dikesepuluh jari tangannya sambil memperlihatkan sikap yang sangat angkuh. Suara raungan Sin Kim. yang merupakan raung kematian. telah mengejutkan Lo Him. Dia menoleh dengan muka pucat dan tubuhnya menggigil melihat nasib macan tutulnya itu, Disaat itulah walaupun hanya beberapa detik saja, telah dipergunakan oleh Chiluon dengan sebaik mungkin, dia telah menghantam kearah dada Lo Him sehingga tubuh Lo Him terpental akibat serangan yang tepat itu. Disaat tubuh Lo Him terpental begitu, Sauw Liong Lie baru keluar dari rumah kayu itu, karena dia mendengar suara meraung dari Sin Kim yang keras sekali. Betapa terkejutnya Siauw Liong Lie, dia keluar sambil menggendong anaknya, Yo Him, dan tangannya gemetar waktu melihat keadaan Lo Him yang menggeletak ditanah sambil memuntahkan darah segar dan juga Sin Kim yang telah binasa dengan keadaan yang mengenaskan, dengan perutnya yang berlobang berlumuran darah. Disaat itu juga Siauw Liong Lie telah melihat diantara empat orang yang tengah berdiri dengan sikap yang angkuh itu, terdapat Tiat To Hoat-ong292 Dengan gusar Siauw Liong Lie membuka ikat pinggangnya, tubuhnya dengan ringan telah melompat menerjang sambil memutar ikat pinggangnya. "Dia orangnya!" Berseru Tiat To Hoat ong dengan girang. "Tangkap, jangan biarkan dia lolos." Dan Tiat To Hoat ong bukan hanya berteriak belaka, karena dia telah melompat dan mendahului untuk menyerang. Hebat sekali terjangannya karena dia telah melancarkan serangan yang dahsyat. Siauw Liong Lie tidak jeri terhadap siapa pun juga, dia hanya merasa kuatir kalau-kalau si pendeta nanti mempergunakan tabung gasnya. Turkichi dan Talengkie juga telah melompat sambil melancarkan serangan, Talengkie telah mencabut sepasang senjata goloknya yang bentuknya aneh panjang bergigi, dia melancarkan serangan dengan hebat sekali. Chiluon juga telah mengeluarkan suara bentakan, ikut melancarkan serangan Kepada Siauw Liong Lie. Nyonya Yo Ko merasakan serangan datang bertubi-tubi dan hebat sekali. Dia memutar ikat pinggangnya, tetapi tenaganya belum pulih keseluruhannya, dia baru saja melahirkan dan dengan sendirinya menghadapi serangan keempat lawannya yang masing-masing memiliki kepandaian yang demikian tinggi Siauw Liong Lie jadi terdesak juga. Diam-diam Siauw Liong Lie mengeluh dia melihat Lo Him terluka parah dan tidak bisa berdiri, hanya mengerang-erang kesakitan karena luka yang dideritanya bukan main hebat. Tiat-To-Hoat-Ong girang sekali sebab dia yakin Siauw Liong Lie akan dapat ditawannya kembali. Sekali-kali si pendeta Mongol itu telah memandang sekelilingnya, dia melihat kalau Sin-tiauw pun berada disekitar tempat itu, tetapi nyatanya293 bayangan burung rajawali itu tidak berada ditempat keadaan tersebut sehingga si pendeta bertanya-tanya, entah kemana perginya burung rajawali yang sakti itu. Keringat dingin mulai menitik deras ditubuh Siauw Liong Lie. Dia hanya bisa bertempur dengan mempergunakan tangan kanan belaka, karena tangan kirinya tengah menggendong anaknya. Sehingga kegesitan Siauw Liong Lie juga berkurang akibat perhatiannya yang terpecah, sebab walaupun bagaimana dia kuatir kalau-kalau anaknya nanti terluka. Tiat To Hoat ong yang licik telah dapat melihat kekuatiran nyonya Yo itu. Dengan cepat dia telah merobah cara ber tempurnya. Hoat-ong ini telah membiarkan kawan-kawannya mendesak si nyonya, sedangkan dia sendiri berulang kali telah melancarkan serangan yang dahsyat, ditujukan kepada anaknya si nyonya yang berada dalam gendongan. Tentu saja hal itu membuat Siauw Liong Lie jadi panik, dia memang tengah mempergunakan ilmu silat Giok Lie Kiam-hoat. Ilmu silat bidadari, dan dia mempergunakan ikat pinggangnya sebagai pengganti pedang, dengan sendirinya gerak-geriknya tidak leluasa. Dan kini disaat Tiat To Hoat ong melancarkan serangan yang bertubi-tubi kearah anaknya keruan saja membuat dia jadi tambah sibuk. Berulang kali Siauw Liong Lie telah berusaha bersiul nyaring, memanggil Sin Tiauw tetapi burung itu tidak juga terlihat. Saat itu desakan keempat lawannya semakin lama jadi semakin hebat, dan yang menguatirkan Siauw Liong Lie justeru disaat itu Tiat To Hoat-ong telah beberapa kali berusaha merogoh sakunya.294 Siauw Liong Lie bisa menduga bahwa pendeta Mongol ini tentu ingin mengambil tabung gasnya. Mati-matian Siauw Liong Lie menghantamkan ikat pinggangnya, yang sebentar lunak dan sebentar keras dia melancarkan serangan yang dahsyat sekali. Hal itu agar mencegah si pendeta mengambil tabung gasnya itu. Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Tiat To Hoat ong jadi mendongkol. Dia telah memperhebat serangannya. Suatu kali, terdengar jeritan Siauw Liong Lie, karena bahu kanannya telah kena dicengkeram oleh Turkichi, sehingga mengucurkan darah. Dan golok Talengkie juga telah berhasil melukai lengan nyonya itu. Setelah lewat empat jurus lagi, lengan kirinya juga telah dilukai. Melihat keadaan demikian, seketika itu juga Siauw Liong Lie menyadari bahwa dia tidak mungkin dapat menghadapi lawan-lawannya itu dengan keadaan demikian, karena walaupun terlambat, tetapi dirinya akan dirubuhkan. Terlebih lagi jika si pendeta telah mempergunakan tabung gasnya. Maka dengan cepat dia telah memutar ikat pinggangnya dengan mengerahkan tenaganya, sehingga memaksa keempat lawannya melompat mundur. Disaat itulah Siauw Liong Lie menjejakkan kakinya tubuhnya telah melambung keudara, dan dengan mengerahkan seluruh kekuatannya dia lari dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk meninggalkan tempat itu. "Kejar?" Teriaknya Tiat To Hoat-ong dengan gusar. Keempat orang itu segera juga melakukan pengejaran. Bahkan Talangkie telah menggerakan tangan kanannya.295 "Serrr. serrr," Dua sinar hijau telah menyambar kearah Siauw Liong Lie. Tetapi nyonya itu telah berhasil mengelakan dua serangan paku beracun yang dilontarkan lawannya. Karena berkelit begitu, maka Siauw Lion Lie jadi terlambat dalam gerakannya. Sehingga keempat lawannya telah menyusul kian dekat saja. Tetapi dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada padanya Siauw Liong Lie telah berlari pula, dia telah berusaha untuk meninggalkan keempat lawannya itu. sebab walaupun bagaimana Siauw Liong Lie berusaha untuk menyelamatkan bayinya, Karena tergoncang-goncang, bayi yang semulanya tengah tertidur nyenyak itu jadi tersentak bangun dan menangis. Suara tangisannya itu telah mengema disekitar lembah tersebut. Dikejauhan segera terdengar suara pekik yang nyaring, dan sebuah titik hitam tampak mendekati kearahnya. Siauw Liong Lie jadi girang, semangatnya jadi terbangun, dia telah mengempos kekuatannya dan berusaha berlari lebih cepat lagi. Suara pekikan itu adalah suara pekikan Sin Tiauw. Jika memang rajawali sakti itu berada di tempat tersebut, tentu si bayi dapat diselamatkan Sintiauw rupanya tadi tengah berkeliling-keliling disekitar Kun Lun. Burung ini mengetahui bahwa besok dia bersama Siauw Liong Lie akan meninggalkan tempat tersebut, dia bermaksud megelilingnya untuk melihat terakhir kalinya. Dan suara tangisan si bayi itulah yang telah didengarnya, maka cepat-cepat Sintiauw telah terbang menghampiri dengan296 tergesa. Waktu tiba didekat tempat Siauw Liong Lie berada, Tiat To Hoat-ong yang melihat burung rajawali itu, telah mempercepat dia mengeluarkan tabung gasnya. Gerakan si pendeta telah dilihat oleh Siauw Liong Lie. dia tiba-tiba berseru . "Terimalah Tiauwheng !" Sambil berseru dia melontarkan bayinya. Rajawali sakti itu seperti mengerti, dia mencengkeram hati-hati pembalut tubuh si bayi, dan kemudian dibawanya terbang tinggi sekali. Dengan berhasilnya diselamatkan bayinya Siauw Liong Lie jadi tenang, disamping itu dia pun bisa bergerak lebih leluasa dan dapat mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi lawan-lawan itu. Waktu tiba dihadapan Siauw Liong Lie, Tiat To Hoat ong tengah gusar dan mendongkol karena dia melihat bayi Siauw Liong Lie telah dapat diselamatkan oleh rajawali itu. Karena mendongkolnya dia telah menyemprotkan gas dalam tabungnya kearah Siauw Liong Lie. Mengetahui hebatnya gas tabung itu, Siauw Liong Lie cepat-cepat menahan pernapasannya, dia mengibas dengan lengan bajunya lalu memutar tubuhnya dan berlari secepat mungkin. Tiat To Hoat-ong tambah gusar, dengan segera dia mengejar pula disertai oleh teriak-teriakannya. Ketiga kawan si pendeta juga telah ikut mengejar terus. Tidak hentinya Talengkie menghujani Siauw Liong Lie dengan paku-paku beracunnya, dan dua diantara sekian banyak paku beracun itu telah menancap dipunggung si nyonya, Semula Siauw Liong Lie memang tidak merasakan apa-apa selain perasaan sakit, tetapi racun dari paku itu bekerja cepat sekali, sehingga dalam sekejap mata seluruh punggungnya telah kesemutan dan kaku. Siauw Liong Lie jadi terkejut, tubuhnya terhuyung.297 Disaat itu mereka telah kejar mengejar di tepi jurang, dan keadaan disitu sangat berbahaya sekali. Dengan mengeraskan hati Siauw Liong Lie mengempos semangatnya, dia berlari terus. Sedangkan Sin Tiauw telah terbang tinggi sekali dengan membawa si bayi. Tiat To Hoat-ong dan kawan-kawannya semakin penasaran saja, mereka mengejar terus. Semakin lama jarak mereka semakin pendek saja. hanya terpisah tiga tombak lebih. Akhirnya Siauw Liong Lie putus asa. "Daripada aku mati ditangan mereka lebih baik aku mati didasar jurang!" Dan setelah berpikir begitu, Siauw Liong Lie melirik kearah jurang yang dalam itu. yang tidak terlihat dasarnya. Hatinya jadi menggidik, dia juga jadi teringat kepada Yo Him, anaknya. Dengan sendirinya Siauw Liong Lie jadi ragu-ragu. Namun akhirnya, karena dia telah melihat lawannya semakin dekat dan tidak akan melepaskan dirinya, dia jadi nekad, dengan tidak berpikir apapun juga, dia melompat kedalam jurang itu. Tiat To Hoat ong terkejut, pendeta itu yang telah datang menyusul dekat sekali, telah mengulurkan tangannya untuk menjambret, namun gagal. Tubuh Siauw Liong Lie meluncur terus dengan cepat kebawah dan lenyap dalam kegelapan. Ditengah udara, terdengar suara pekik Sintiauw. Tiat To Hoat ong dan ketiga lawannya jadi menghela napas penasaran. Mereka memandang kearah Sintiauw. "Kita harus menangkap anaknya itu.....!" Menggumam Chiluon dengan suara perlahan. Tiat To Hoat-ong dan kedua kawan lainnya telah mengangguk mengiyakan.298 Tetapi Sintiauw yang cerdik itu terbang tinggi ditengah udara, sama sekali tidak mau terbang merendah. Bagaimana menangkapnya? Disamping mendongkol, Tiat To Hoat ong juga jadi berputus asa. Disaat itu Sintiauw telah melayang turun di seberang jurang dan berdiri sejenak disana seperti tengah ragu-ragu, Apakah ikut turun kedasar jurang atau membawa pergi anaknya Siauw Liong Lie yang berada dalam cengekeramannya. Tetapi Sintiauw yang cerdik itu menyadarinya, jika dia terbang turun kebawah jurang itu, sedangkan keempat orang musuh Siauw Liong Lie masih berada di tepi jurang itu, maka dengan mudah dia akan diserang dengan senjata rahasia, Itulah berbahaya, karena jika dia kebetulan terserang dan menderita kesakitan, sehingga cekatannya terhadap bayi didalam cengkeramannya itu terlepas bukankah membahayakan jiwa si bayi yang akan terbanting didasar jurang? Hal itulah yang telah membuat Sin Tiauw ragu-ragu sehingga akhirnya dia telah terbang lagi, tinggi sekali ditengah angkasa dengan sekali-sekali memperdengarkan suara pekikannya. Tiat To Hoat ong dan ketiga kawannya yang masih penasaran tetap menanti ditepi jurang Tetapi Sintiauw telah terbang jauh dan tidak terlihat bayangannya lagi sambil membawa bayinya Siauw Liong Lie. Si pendeta Mongolia itu bersama kawannya jadi berputus asa dan akhirnya telah meninggalkan tempat tersebut dengan tangan kosong. Keadaan disekitar tepi jurang didekat lereng gunung Kun Lun San tersebut jadi sepi sekali, hanya sekali-sekali dikejauhan terdengar suara raungan binatang buas.299 LO HIM yang terluka parah akibat serangan yang meremukkan beberapa tulang iga di dadanya telah berusaha menyalurkan tenaga murninya. Namun usahanya itu gagal dan perasaan sakit luar biasa menyerangnya, sehingga Lo Him merintih beberapa kali. Perlahan-lahan dia telah merangkak karena dia sangat menguatirkan sekali keselamatan Siauw Liong Lie. Tetapi dalam keadaannya yang tengah terluka parah, mana dapat dia menyusul Siauw Liong Lie dan keempat orang lawannya ? Dalam keadaan segerti itulah, dia melihat Tiat To Hoat-Ong dan ketiga kawannya telah berjalan mendatangi. Tentu saja Lo Him jadi terkejut, karena dia tidak melihat Siauw Liong Lie diantara mereka. Dalam keadaan seperti itu, diapun girang, karena dia bisa menduga Siauw Liong Lie tentu berhasil meloloskan diri dari keempat lawannya tersebut, dia jadi lapang hatinya, tetapi Tiat To Hoat-ong dan ketiga kawannya yang tengah dalam keadaan murka dan mendongkol telah melihat Lo Him, maka kemarahan mereka telah ditumpahkan kepada Lo Him. dihampirinya Lo Him, lalu tanpa mengenal kasihan sedikitpun juga dia telah mengayunkan tangan kanannya "plaak" Kepala Lo Him telah dihantamnya hancur. Sedangkan Talengkie, Turkichi dan Chiluon telah ikut menghajar orang yang malang itu, sehingga tubuh Lo Him hancur remuk dan napasnya sudah siang-siang putus... Setelah puas menumpahkan kemarahan didiri Lo Him, keempat orang Mongolia itu telah meninggalkan tempat tersebut. Mayat Lo Him dan Sin Kim, si macan tutul menggeletak tanpa napas keadaan mereka mengenaskan sekali.300 Udara dingin sekali dan keadaan sunyi sepi, hanya rumah kayu yang kosong tidak ber-penghuni yang tetap utuh ditempat tersebut..... 0000odw^kzo0000 SETELAH TERBANG berputaran sekian lama Sintiauw kembali ketepi jurang itu. Dia melibat keempat orang musuh Siauw Liong Lie telah pergi tidak terlihat bayangannya lagi, maka burung rajawali tersebut telah meluncur terbang kedalam jurang itu. Tetapi ketika Sintiauw tiba didasar jurang binatang sakti ini tidak melihat tubuh Siauw Liong Lie, hanya tumpukan pakaian dari Siauw Liong Lie yang dilihatnya. Tentu saja Sin Tianw jadi bingung, dia telah terbang berputaran didasar jurang itu, mengeluarkan suara pekikan yang keras bagaikan tengah memanggil-manggil Siauw Liong Lie. Namun Siauw Liong Lie tetap tidak terlihat mata hidungnya, telah lenyap bagaikan di telan bumi. Tentu saja Sin Tiauw jadi bingung bukan main, pakaian Siauw Liong Lie dilihatnya ada didekat tempat itu, tetapi kemana perginya Siauw Liong Lie ? Sin Tiauw meletakan bayi didalam cengkeramannya dengan hati-hati, dia telah mencakari tanah, menggali sebuah liang, untuk mengubur barang-barang Siauw Liong Lie. Kemudian Sin Tiauw terbang berputaran lagi sambil memekik-mekik, memanggil-manggil Siauw Liong Lie Tetapi nyonya Yo Ko itu tetap telah lenyap tidak terlihat mata hidungnya lagi. Inilah yarg sangat mengherankan sekali kemana perginya Siauw Liong Lie? Jika dia mati terbanting didasar jurang tentunya terlihat tubuh atau mayatnya dan jika dia berhasil menyelamatkan dirinya dari kematian terbanting didasar jurang ini, tentu dia akan mendengar suara pekikan Sin Tiauw301 dan keluar untuk menemuinya, Namun kini Siauw Liong Lie tetap lenyap tidak terlihat mata hidungnya? Kemana nyonya Yo itu? Selesai mengubur seluruh barang-barang Siauw-Liong Lie yang beihasil ditemuinya ditempat itu, Sin Tiauw telah terbang mencari seekor kambing hutan, yang dibawanya hidup-hidup untuk di pergunakan oleh si bayi menyusui. Begitulah untuk selanjutnya Sin Tiauw telah merawat si bayi Yo Him. Didasar jurang itu. Selama itu pula Siauw Liong Lie tidak pernah terlihat bayangannya, entah kemana lenyapnya, nyonya Yo Ko itu... Memang cukup berat rajawali itu merawat Yo Him, namun dia telah berusaha untuk merawatnya sebaik mungkin. Untuk membawa Yo Him, membawa terbang meninggalkan Kun Lun San mencari Yo Ko, juga bukan suatu pekerjaan yang mudah, karena tidak mungkin rajawali ini membawa si bayi terbang, berkeliling mencari ayahnya, sedangkan Yo Ko tidak diketahui berada dimana. Semula Sin Tiauw ingin mengajak Yo Him terbang ke Siauw hong, tempat dimana Yo Ko dan Siauw Liong Lie semula menetap, tetapi akhirnya Sin Tiauw memutuskan untuk merawat dulu si bayi selama beberapa tahun dilembah ini. Waktu dengan cepat beredar, dari bulan ke bulan dan akhirnya Yo Him telah berusia dua tahun lebih. Sintiauw sering mengajak anak itu terbang keatas jurang, dengan Yo Him duduk dipunggung rajawali tersebut. Dan diatas jurang itu, Sintiauw mengajak Yo Him bermain-main dengan gembira. Tidak jarang pula, Sintiauw sengaja meninggalkan Yo Him didekat permukaan sebuah perkampungan dikaki gunung, sehingga Yo Him bisa bermain-main dengan beberapa orang anak kampung lainnya, tidak mengherankan jika Yo Him pun bisa bercakap-cakap seperti anak-anak yang lainnya. Jika sore hari, barulah Sintiauw menjemput Yo Him kembali.302 Akhirnya, karena terlampau seringnya Sin Tiauw mengantarkan Yo Him kemulut perkampungan tersebut, banyak anak-anak kampung itupun yang telah menyenangi si rajawali dan sering mengajaknya bermain bersama. Betapa gembiranya anak-anak kampung itu jika diajak terbang oleh rajawali tersebut, dengan mereka duduk dipunggung burung tersebut. Semula orang tua anak-anak kampung itu merasa kuatir kalau-kalau rajawali itu masih ganas dan liar, atau setidaknya anak-anak mereka jatuh dari punggung Sintiauw, namun setelah hampir satu tahun lebih tanpa terjadi urusan apa-apa, orang-orang kampung itupun jadi biasa dengan sendirinya. Sedangkan Sintiauw memang sengaja mengajak Yo Him Kepermukaan kampung itu, untuk bermain dengan anak-anak diperkampungan tersebut, agar Yo Him belajar bicara dan senang-senang ikut bermain-bermain dengan anak-anak dikampung itu. Walau pun Sintiauw seekor binatang belaka, namun dia memiliki pikiran yang bijaksana. Setelah Yo Him berusia dua tahun lebih, dia mulai dididik oleh Sintiauw melatih tenaga dalam dan ilmu pukulan. Seperti diketahui, disaat Yo Ko dibuntungi tangannya oleh Kwee Hu (Sia Tiauw Hiap Lu menceritakan perihal itu) maka Sintiauw ini yang telah mendidik Yo Ko untuk mempergunakan goloknya yang berat itu. Dan kini dibawah bimbingan Sintiauw, Yo Him memang bisa memperoleh didikan yang kuat, namun karena usianya yang masih terlampau kecil itu, ilmu silat dan tenaga dalam itu tidak berarti apa-apa, hanya bisa menyebabkan tubuh anak tersebut sehat dan kuat saja. Menjelang usia tiga tahun lebih, Yo Him bisa bermain dengan lincah, dan dia mulai dapat mendaki tempat-tempat yang agak tinggi.303 Terlebih lagi Sintiauw dalam menurunkan ilmunya selalu teratur, yaitu setiap tengah malam tentu dia akan membangunkan Yo Him dari tidurnya dan memaksa anak itu melatih diri. Tetapi yang membuat Yo Him tidak mengerti, anak-anak kampung lainnya memiliki ibu dan ayah, sedangkan dia tidak. Begitu juga Sintiauw tidak menjelaskan siapa ayah dan ibunya, karena memang rajawali itu walaupun sangat cerdik dan pandai tetapi tidak bisa bicara. Hanya rajawali itu seringkali menunjuk kearah gundukan tanah dimana pakaian Siauw Liong Lie dikuburkan. Anak kecil Yo Him belum mengerti urusan apa-apa, dia selalu hanya mengangguk-menganggukkan kepala belaka jika memang Sintiauw tengah menunjuk gundukan tanah pakaian Siauw Liong Lie. Waktu beredar cepat sekali, dan pagi itu, sejak matahari belum memperlihatkan diri, Sin Tiauw tampak berdiri diam saja, tidak seperti biasanya dia terbang berputaran mencari mangsanya. Sikap burung itu lesu sekali, seperti ada yang menyusahkan hatinya. Sedangkan Yo Him telah menghampiri dan merangkul leher burung itu. "Tiauwya (ayah rajawali) apakah yang tengah kau risaukan?" Tanyanya. Rajawali itu hanya menggeleng perlahan, dia menggesekkan kepalanya perlahan-lahan dilengan Yo Him dengan penuh kasih sayang. Lalu dengan ujung sayapnya dia telah menunjuk ke-punggungnya. Yo Him mengerti, dia melompat naik ke punggung rajawali itu. Usianya yang empat tahun lebih itu telah menyebabkan anak ini bisa melompat dengan gesit sekali. Sintiauw telah304 berjalan kesudut dasar jurang, dengan cakarnya dia mengorek tanah, dan dari dalam tanah itu dia mengeluarkan beberapa barang, yang ternyata milik Siauw Liong Lie, yang telah dikeluarkan oleh rajawali itu. Tentu saja sibocah tidak mengerti, Yo Him hanya mengawasi saja. Disaat itu Sintiauw telah memberi isyarat dengan sayapnya, agar barang-barang itu dimasukkan Yo Him kedalam sakunya. Yo Him mengerti dan menuruti keinginan Sintiauw. Dan setelah Yo Him memasukkan beberapa macam barang bekas milik Siauw Liong Lie, sibocah diperintahkan Sintiauw naik ke-punggungnya. Dia mengajak Yo Him terbang ke atas jurang, menurunkan Yo Him dipintu kampung yang biasa dimana Yo Him bermain-main dengan beberapa orang anak kampung lainnya, Setelah menggesek-gesekkan kepalanya beberapa kali dilengan Yo Him, burung rajawali itu terbang tinggi sekali berputaran tidak hentinya. Yo Him yang berdiri dimuka kampung itu jadi heran. Belum pernah dia melihat sikap Sintiauw seperti itu. Maka dari itu dengan sendirinya dia tidak mengerti mengapa hari ini Sintiauw membawakan sikap seperti itu. Lama juga Sintiauw berkeliling berputaran ditengah udara, lalu dengan mengeluarkan suara pekik yang nyaring sekali, rajawali itu telah menukik masuk kedalam jurang dan lenyap tidak muncul kembali. Yo Him jadi bingung ketika sore harinya rajawali itu tidak menjemputnya. Dan beberapa orang kawannya telah mengajak Yo Him untuk menginap saja. Begitu pula dihari-hari berikutnya Sintiauw tidak datang menjemput, sehingga akhirnya Yo Him telah diambil sebagai anak angkat oleh keluarga Ciang, dikampung tersebut.305 Ternyata Sintiauw sesungguhnya ingin merawat Yo Him sampai dewasa. Namun disebabkan usianya yang telah lanjut, dia tidak bisa melaksanakan tugasnya. Karena Sintiauw memiliki kepandaian yang luar biasa, lain dari rajawali lainnya, terlebih lagi memang diapun merupakan rajawali sakti, maka dia mengetahui bahwa putus napas dan kematiannya sudah tiba. karena usianya telah lanjut. Dengan demikian tidak mengherankan jika seharian itu dia memperlihatkan sikap yang lesu. Setelah membawa Yo Him keatas jurang dan meninggalkan di mulut perkampungan itu, Sintiauw menukik kembali kedasar jurang dan menemui kematian disitu, melepaskan napasnya yang terakhir. Setidak-tidaknya Sintiauw telah melakukan tugasnya yang terakhir, sehingga dia telah bisa mengantarkan Yo Him keperkampungan dikaki gunung Kun Lun itu agar sibocah tidak terkurung didalam jurang itu. Sedangkan Yo Him yang belum mengerti urusan apa-apa hanya menganggap bahwa Sintiauw telah mengalami kecelakaan sesuatu atau memang telah pergi meninggalkannya. Hari demi hari lewat cepat sekali, bulan demi bulan juga telah lewat pesat Yo Him akhirnya telah berusia tujuh tahun kini dia merupakan seorang anak yang tampan sekali mukanya yang kecil itu cakap dan halus. Tidak mengherankan karena Yo Him memiliki kakek yaitu Yo Kong seorang pria yang tampan, kemudian ayahnya Yo Ko, juga berparas tampan, ibunya Siauw Liong Lie juga cantik, maka tidak mengherankan jiwa Yo Him memiliki paras yang amat tampan sekali. Namun dalam usia tujuh tahun seperti itu Yo Him perlahan-lahan mulai mengerti urusan. Dia mulai dapat berpikir dan306 sering datang ketepi jurang, berdiam disana sampai menjelang sore. Dia jadi sering memikirkan rajawali sakti, yang tidak pernah muncul itu, dan diapun sering menangis sedih disana. Yo Him telah melihatnya semua anak-anak kampung itu memiliki ayah dan ibu, tetapi dia? Mana ayahnya? Mana ibunya! Dan perasaan sedih itu telah melanda hatnya. Keluarga Ciang memang memanjakannya, menganggap Yo Him sebagai anak kandungnya sendiri, karena keluarga Ciang tidak memiliki anak, mereka hanya merupakan pasangan suami-isteri yang telah lanjut usianya itu namun Yo Him tetap merasakan adanya sesuatu kekurangan didirinya... Beberapa orang anak kampung telah datang ketepi jurang itu, mengajak Yo Him untuk bermain-main. Tetapi Yo Him selalu dilanda oleh kemuraman belaka. Sampai akhirnya, suatu sore disaat Yo Him tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh dimulut kampung itu dan menyaksikan anak-anak kampung yang bermain petak, tiba-tiba dari jurusan utara lampaulah dua orang penunggang kuda yang melarikan kuda tunggakannya dengan cepat sekali. Anak kampung yang melihat datangnya dua orang asing, telah berhenti bermain dan memandang heran kepada kedua orang penunggang kuda itu yang telah melompat turun. Kedua orang itu berpakaian sebagai tosu, imam, usia mereka diantara tiga puluhan, wajah mereka ramah, salah seorang imam itu telah mendekati Yo Him, mereka bertanya ramah; "Adik, bisakah kau memberitahukan pinto jalan yang menuju ke Kun Lun Pai ?" "Ohhh, Kun Lun Sie (kuil Kun Lun) ?" Tanya Yo Him. "Benar, tahukah engkau kearah mana jalan yang harus kami ambil ?"307 "Terus saja menuju keselatan, dan dipuncak yang ketiga itu terletak kuil keramat itu !" Menjelaskan Yo Him. Tosu itu tampak girang, bersama dengan tosu lainnya telah melompat kekuda mereka dan membalapnya kejurusan yang diberitahukan oleh Yo Him. Tidak lama kemudian tampak beberapa orang penunggang kuda lagi yang menanyakan jalan yang menuju ke Kun Lun Sie, maka hal itu telah menarik perhatian anak-anak kampung tersebut, termasuk Yo Him. Bahkan Tiang Hu, seorang anak kampung berusia sembilan tahun yang terkenal sangat nakal telah menarik ujung tangan Yo Him. "Ada apa ramai-ramai ? Tentunya dikuil Kun Lun Sie tengah diselenggarakan pesta !" Katanya. "Mungkin !" Sahut Yo Him tidak tertarik. Tetapi tidak lama kemudian telah datang beruntun puluhan penunggang kuda lainnya yang juga menanyakan jalan ke Kun Lun Sie yaitu kuil dimana pusatnya partai persilatan Kun Lun Pai. Tiang Hu jadi tambah tertarik dia telah mengajak Yo Him untuk pergi kekuil itu. "Kita melihat keramaian ....!" Ajaknya. Tetapi Yo Him menggeleng. "Kita tidak boleh pergi jauh-jauh Ciang Pehu (paman Ciang) melarang aku pergi jauh-jauh, karena kuatir kena dicelakai orang jahat !" . "Hu, hu, mengapa harus takut ? Bukankah kuil Kun Lun Sie tidak jauh ? Kita bisa melihat keramaian, nanti kita segera pulang, tentu Ciang Pehumu itu tidak mengetahui.....ayo !" . Dan sambil berkata begitu Tiang Hu menarik lengan baju Yo Him.308 Sebetulnya Yo Him tidak tertarik dengan ajakan kawannya ini, namun karena sejak tadi dia melihat puluhan orang yang semuanya menuju kearah Kun Lun Sie, juga dari pakaian mereka yang ketat dan memperlihatkan mereka dari rimba persilatan Yo Him jadi diliputi perasaan heran dan ingin mengetahui juga sesungguhnya apa yang hendak mereka lakukan. Terlebih lagi dia melihat, diantara rombongan itu terdapat macam-macam orang dari berbagai golongan, ada imamnya, ada hweshionya, ada gadis, ada lelaki kasar dan ada juga wanita tua... semuanya memperlihatkan sikap mereka yang berlainan dan aneh-aneh. Akhirnya Yo Him tertarik juga untuk melihatnya ketika Tiang Hu mengajaknya berulang kali. Dengan cepat kedua anak itu berlari-lari menaiki Kun Lun San. Beberapa orang anak kampung lainnya telah mencegah Yo Him, tetapi Tiang Hu telah mengawasi mendelik kearah mereka, sehingga anak kampung itu tidak berani melarang Yo Him lagi Dengan berlari-berlari Yo Him dan Tiang Hu telah tiba dimuka kuil Kun Lun Sie. Diluar kuil itu tampak banyak sekali kuda-kuda yang tertambat dan imam-imam dari kuil itu berdiri dipintu gerbang kuil tersebut, yang rupanya menjadi barisan penyambut tamu. Disaat itu Yo Him dan Tiang Hu mendekati pintu kuil untuk melihat keadaan didalam kuil yang tampaknya telah ramai oleh tamu-tamu. Suara dari tamu-tamu dikuil itu terdengar ramai sekali, disamping itu imam-imam kecil juga sibuk sekali menyediakan makanan tidak berjiwa untuk para tamu tersebut Melihat suasana seperti itu, Yo Him dengan Tiang Hu menduga pasti akan ada keramaian dikuil tersebut.309 Kedua anak itu hanya berdiri dimuka kuil tersebut, karena mereka sama sekali tidak diijinkan untuk ikut masuk. "Kita masuk dari belakang—!" Bisik Tiang Hu. Tetapi lengan baju Tiang Hu telah dicekal Yo Him. "Jangan...!" Katanya dengan cepat mencegah. "Nanti kalau diketahui totiang penjaga kuil, kita bisa dimarahi !" "Mereka sedang sibuk, tentu tidak mengetahui perbuatan kita" , kata Tiang Hu. Tetapi Yo Him telah menggeleng. "Jangan......aku takut". "Pengecut." "Kalau diketahui oleh totiang penjaga kuil kita bisa dihukum." Baca Juga: Tiga Naga Dari Angkasa 3 Baca Juga: Pedang Asmara Kho Ping Hoo