Ceritasilat Novel Online

Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 4

Eps 4 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.

"Ayo, aku yakin tidak akan diketahui! Kita bukan hendak mencuri, kita hanya ingin menyaksikan keramaian belaka."

"Tidak ... aku tidak mau, pergilah kau saja aku tidak mau ikut!"

Kata Yo Him sambil menggeleng.

"Aku cukup menyaksikan dari sini saja"

Muka Tiang Hu berobah dia membentak ;

"Mengapa kau pengecut demikian? Ayo cepat, kau ikut tidak?"

Yo Him diam saja.

"Kalau kau tidak mau menyaksikan keramaian, mengapa tadi engkau bersedia ikut? Kalau memang tidak berani katakan saja sejak tadi agar aku bisa mengajak yang lainnya!"

Yo Him jadi ragu-ragu, tetapi akhirnya karena dia melihat Tiang Hu seperti marah, dia takut kalau-kalau nanti Tiang Hu memukulnya, akhirnya Yo Him mengangguk juga.310

"Baiklah, tetapi jangan lama-lama...!"

Katanya dan dia telah mengikuti Tiang Hu memutari kuil itu.

untuk mengambil jalan dipintu belakang kuil.

Memang seperti yang diduga oleh Tiang Hu imam-imam kuil itu tengah sibuk melayani tamu sehingga mereka tidak memperhatikan kedua anak itu.

Saat itu Tiang Hu telah menarik tangan Yo Him, menyelinap kedalam kuil melewati dapur dan terus menuju keruang Thia, ruangan depan kuil itu Dipendopo tampak telah berkumpul banyak sekali orang-orang dari berbagai golongan, yang pakaiannya juga bermacam-macam.

Tiang Hu mengajak Yo Him mengambil tempat sudut ruangan, dekat tirai, sehingga kehadiran mereka berdua tidak diperhatikan orang-orang yang tengah berkumpul disana.

"Kita jangan terlalu lama disini", kata Yo Him dengan suara yang berbisik.

"Nanti kalau diketahui totiang penjaga kuil, kita bisa celaka ... !"

Tiang Hu hanya mendengus saja, dia telah berdiam diri tidak melayani bisikan Yo Him.

"Pergilah kau pulang jika kau takut" , akhirnya Tiang Hu telah berkata jengkel waktu Yo Him masih juga sering menarik ujung bajunya mengajak keluar. Yo Him jadi ragu-ragu. Dia menyadari jika dia meninggalkan Tiang Hu seorang diri didalam kuil ini, kalau terjadi suatu kecelakaan apa-apa tentu dia yang akan disesali. Maka akhirnya Yo Him hanya berdiam diri dengan hati yang tidak tenang. Saat itu tampaklah para imam-imam kuil tersebut mulai sibuk menyediakan minuman untuk para tamunya, suara tamu yang kian memenuhi ruangan tersebut semakin ramai saja.311 Diantara suara orang bercakap-cakap, suara tertawa, suara ber seru-seru karena tengah bercerita dengan asyik sekali, maka keadaan benar-benar sangat ramai sekali. Ketika itu diantara sibuknya para imam yang melayani, tiba-tiba terdengar suara tambur di pukul ter talu-talu. Dan keadaan disaat itu telah berobah menjadi sepi dan hening sekali, karena memang di saat itu sudah tidak terdengar lagi orang bercakap-cakap dan tidak ada pula orang yang berseru atau tertawa. Semua mata telah ditujukan kearah pintu itu yang bisa menembus keruang dalam. Semuanya duduk diam dikursinya masing-masing yang berjajar didalam ruangan itu. dan saat itu, dari balik pintu ruangan dalam tampak telah melangkah keluar tiga orang imam yang berusia lanjut, yang telah berusia diantara enam atau tujuh puluh tahun. Imam yang berjalan didepan yang memelihara jenggot panjang dan telah memutih itu, tidak lain dari Ciangbunjin Kun Lun Pai yang bergelar Ma Liang Cinjin. Sedangkan kedua tojin, dikiri kanannya yang mengiringi Ma Liang Cinjin itu adalah kedua adik seperguruannya, yang masing-masing bergelar Uh Pie Cinjin dan Tui Ho Cinjin. >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 10 Mereka bertiga merupakan tiga tokoh dari Kun Lun Pai dan nama mereka menggetarkan rimba persilatan dengan ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat yang telah sempurna.

Munculnya ketiga tokoh Kun Lun Pai tersebut disambut oleh semua tamu dengan sorakan memuji akan kebesaran pemimpin Kun Lun Pai tersebut.312 Sedangkan Ma Liang Cinjin telah membungkukkan tubuhnya membalas hormat semua orang itu.

Dengan perlahan-lahan dan sikap yang angker dan agung, tampak Ma Liang Cinjin bertiga telah menuju ketempat yang disediakan untuk mereka, seperti sebuah mimbar berukuran tidak begitu besar.

Semua tamu kemudian berdiam diri untuk memberikan kesempatan kepada Ma Liang Cinjin memberikan kata-kata sambutannya.

"Sahabat-Sahabat dari rimba persilatan !"

Berseru Ma Liang Cinjin dengan suaranya yang halus dan sabar, dia berkata sambil menyapu semua tamunya lalu dengan sorot mata yang lembut, namun memancarkan sinarnya yang tajam sekali, memperlihatkan bahwa lwekangnya telah sempurna.

"Kami dari pihak Kun Lun Pai menyatakan terima kasih sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat yang telah mencapai lelah bersedia memenuhi undangan untuk ikut merayakan ulang tahun berdirinya Kun Lun Pai ditahun yang keempat ratus ini...! Sebagai pintu perguruan silat yang berusia tua, dan kebetulan disaat jatuhnya hari ulang tahun yang keempat ratus ini, justru tengah dipimpin oleh Pinto, maka alangkah baiknya jika kita bertukar pikiran mengenai ilmu silat !"

Dan setelah berkata begitu tampak Ma Liang Cinjin telah memberi hormat lagi.

"Dengan memberaniku diri kami bermaksud memperlihatkan kebodohan didepan sahabat-sahabat semoga tidak ditertawakan !"

Dan setelah berkata begitu, tampak Ma Liang Cinjin mengibaskan tangannya, maka dua murid Kun lun Pai telah melompat kedepan mimbar membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Ciangbunjin mereka.

"Kami Thio In dan Thio Bun ingin meminta petunjuk Couwsu"

Kata mereka serentak.313 Kedua imam murid Kun Lun Pai Ini adalah keturunan tingkat kelima, dan itulah sebabnya dia memanggil Ma Liang Cinjin dengan sebutan Couwsu (kakek guru), karena guru mereka itu adalah Bung Hong Cinjin dari tingkat ketiga.

Ma Liang Cinjin telah tertawa kecil, ramah sekali sikapnya, diapun telah berkata sabar "Nah, kini kalian perlihatkan kebodohan diantara sahabat-sahabat......

Dan sambil berkata begitu dia telah mengibaskan tangannya, memberikan isyarat agar kedua murid Kun Lun Pai itu mulai memperlihatkan kepandaian ilmu pedang masing-masing.

Kedua murid Kun Lun Pay itu, Thio In dan Thio Bun, telah merangkapkan tangannya untuk sekali lagi memberi hormat, kemudian dengan saling berhadapan mereka telah berdiri untuk memberi hormat kepada para tamu disusul dengan kata-kata mereka;

"Kami yang bodoh ingin memperlihatkan keburukan kami, harap tidak ditertawakan oleh sahabat dan cianpwe...!"

Dan setelah berkata begitu.

Thio In dan Thio Bun saling serang memperlihatkan ilmu pedang mereka.

Luar biasa ilmu pedang yang mereka perlihatkan, karena ilmu pedang itu berkelebat-kelebat dengan cepat sekali, dengan gerakan yang ringan dan juga gesit mengancam tempat-tempat berbahaya.

Itulah suatu pertunjukan permainan ilmu pedang yang luar biasa indahnya, dan setiap serangan yang mereka lancarkan itu menimbulkan angin yang dahsyat sekali.

Tetapi ilmu silat yang diperlihatkan olen kedua murid Kun Lun Pay itu hanya indah dibagian luarnya saja karena mereka bersilat dengan cepat dan gesit, tetapi isinya masih kurang sempurna.314 Bagi jago-jago yang berkepandaian sedang-sedang saja memang ilmu pedang itu menimbulkan perasaan kagum, tetapi bagi jago-jago yang memiliki kepandaian sempurna, kepandaian kedua murid Kun Lun Pai tersebut masih jauh dari sempurna karena banyak bagian-bagiannya yang lemah.

Sehingga telah membuat beberapa orang jago yang ikut menyaksikan ilmu pedang itu telah saling berbisik "Hanya sebegini saja ilmu pedang Kun Lun Pai".

Tetapi bagi Tiang Hu dan Yo Him yang menyaksikan ilmu pedang itu, merupakan suatu kejadian yang luar biasa.

Mereka melihat pedang berkelebat-kelebat dengan cepat dan tampaklah suatu pemandangan yang mendebarkan hati, karena gerakan pedang itu yang cepat sekali telah berkelebat-kelebat membuat pandangan mata mereka jadi kabur berkunang-kunang.

"Akhhh... !"

Berseru Ciangbunjin Kun Lun Pai akhirnya, suaranya nyaring.

"Ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat kurang diyakini dengan baik oleh kalian, banyak kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh kalian..." . Kedua murid Kun Lun itu, Thio In dan Thio Bun, jadi menghentikan gerakan pedang mereka. Keduanya membungkuk memberi hormat kepada Couwsu mereka.

"Kami minta petunjuk ...!"

Kata mereka dengan suara yang perlahan.

"Banyak kesalahan yang kalian lakukan !"

Kata Couwsu itu dengan sabar.

"Kalian harus banyak melatih diri dan meminta petunjuk kepada guru kalian !"

"Kami akan memperhatikan baik-baik petunjuk Couwsu" , kata kedua murid Kun Lun Pai tersebut. Dan mereka sudah bersiap-siap hendak mengundurkan diri.315 Tetapi belum lagi mereka meninggalkan gelanggang pertandingan itu, justru dari arah rombongan tamu undangan dibarisan belakang, telah terdengar suara seorang berkata dengan suara yang dingin.

"ilmu butut, murid butut !"

Kata suara itu dengan nada yang mengejek.

"Bukan main ! Bukan main ! Ilmu pedang rombengan seperti itu dipertunjukkan, sehingga membuat mata jadi sakit melihatnya" . Tentu saja kata-kata seperti itu kurang ajar sekali, membuat semua orang telah terkejut dan menoleh kearah datangnya suara itu. Ma Liang Cinjin dan yang lainnya juga telah mengawasi kearah suara itu. Dari arah belakang tampak telah melompat gesit sekali sesosok tubuh ketengah gelanggang. Gerakannya itu luar biasa cepatnya dan juga ringan sekali tubuhnya, waktu kedua kakinya menyentuh lantai tidak menimbulkan suara. Semua orang mengawasi, dan mereka segera dapat melihat jelas. Orang itu bertubuh tinggi besar dan tegap sekali, dialah seorang pendeta Mongolia yang wajahnya bengis dan juga matanya bersinar tajam. Wajahnya itu memperlihatkan keangkuhan yang sangat.

"Hudya Tiat To Hoat ong hendak melihat berapa tinggi kepandaian ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat! Bisakah Ciangbunjin memperlihatkan sendiri ilmu pedang itu dan memberi petunjuk kepada Hudya ?"

Kata-Kata itu memang seperti merendah tetapi didalam kata-kata itu mengandung tantangan untuk Ma Liang Cinjin.316 Tetapi Ma Liang Cinjin sabar sekali, dia mengawasi sejenak kepada pendeta Mongol itu.

"Siapakah Taisu itu ?"

Akhirnya dia telah bertanya.

"Pendapat Pinto, Taisu tentunya datang tanpa membawa kartu undangan ... !"

Pendeta Mongoi itu yang memang tidak lain dari Tiat To Hoat ong telah tertawa mengejek.

"Memang. Memang. Justru nama Kun Lun Kiam Hoat yang menarik Hudya kemari ... ! Apakah itu suatu kelancangan ?"

Balik tanya Tiat To Hoat-ong. Ma Liang Cinjin telah tersenyum sabar. Segera dia mengetahui bahwa si pendeta Mongoi ini jelas datang dengan maksud untuk menimbulkan kerusuhan belaka.

"Baiklah! Taisu dari pintu perguruan mana?"

Tanya Ma Liang Cinjin.

"Tidak perlu kau ketahui."

"Mengapa begitu?"

"Yang terpenting Hudya hanya datang untuk melihat sampai berapa tinggi ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat."

"Hemmm... baiklah!"

Kata Ma Liang Cinjin sambil menggerakkan tangannya, dia ingin memberikan isyarat kepada sutenya agar si adik seperguruannya itu melayani Tiat To Hoat-ong.

Namun kenyataannya Tiat To Hoat-ong yang melihat itu segera juga telah berkata ;

"Dan kedatangan Hudya bukan untuk melayani yang lain... maka dari itu Hudya minta agar Totiang sendiri yang melayani kami!!"

Dan setelah begitu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong telah mulai menggerakkan tangannya dan kedua kakinya, dia mulai berdiri dengan kuda-kudanya yang kuat, mulai bersiap untuk menerima serangan.317 Dengan sikapnya itu berarti gerakannya tersebut merupakan tantangan untuk Ma Liang Cinjin.

Sebagai Ciangbunjin dari Kun Lun Pai yang memiliki nama sangat terkenal, sesungguhnya Ma Liang Cinjin tidak bisa sembarangan menerima tantangan orang, karena derajatnya yang tinggi.

Tetapi karena Tiat To Hoat-ong telah menantangnya demikian rupa sehingga jika dia tidak melayaninya niscaya akan menjatuhkan nama Kun Lun Pai.

Maka dari itu cepat sekali Ma Liang Cinjin berdiri dari kursi didepan mimbarnya, lalu katanya dengan suara yang sabar .

"Sungguh terpaksa sekali Pinto harus memperlihatkan kebodohan Pinto !"

Katanya kemudian.

Dan setelah berkata begitu Ma Liang Cinjin melonpat ketengah gelanggang.

Sesungguhnya kedua sute dari Ma Liang Cinjin hendak mencegah Ciangbunjin mereka turun tangan sendiri, tetapi sudah terlambat, Ma Liang Cinjin telah berhadapan dengan Tiat To Hoat-ong.

"Hahaha !"

Tertawa Tiat To Hoat-ong dengan suara yang nyaring sekali.

"Bukankah Totiang mengadakan pertemuan ini justru ingin memperkenalkan kepada orang-orang rimba persilatan, bahwa ilmu pedang Kun Lun Pai memiliki kepandaian yang hebat sekali"

Disaat itu tampak Ma Liang Cinjin juga sudah tidak mengambil sikap yang segan-segan lagi, karena dia menyadari bahwa tamu tidak diundang ini memang sengaja datang untuk menimbulkan kerusuhan belaka.

Cepat sekali diapun telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah melancarkan serangan pembukaan sebagai tanda hormat.318 Tetapi Tiat To Hoat ong berdiam diri saja dia tidak berkelit atau menangkis.

Karena serangan yang dilancarkan oleh Ma Liang Cinjin memang merupakan jurus pembukaan, dengan sendirinya hal itu merupakan serangan yang tidak sungguh-sungguh dan juga telah menyebabkan serangan tersebut jatuh ditempat kosong.

Namun dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong tidak ingin membuang waktu, dia juga telah mengibaskan lengan jubahnya sebagai serangan pembukaan.

Keduanya melompat mundur dan mulailah piebu, adu kepandaian itu dibuka.

Tangan kanan Ma Liang Cinjin meraba kepunggungnya, mencekal gagang pedang.

Gerakannya itu sabar dan tenang sekali, dan ketika pedangnya dicabut maka sinar yang berkilauan terlihat menerangi sekitar tempat itu.

Itulah pedang mustika.

Sedangkan Tiat To Hoat-ong tertawa dengan suaranya yang tidak sedap didengar.

"Cabutlah senjata Taisu !"

Kata Ma Liang Cinjin yang sudah tidak ingin banyak bicara. Tiat To Hoat-ong menggelengkan kepalanya.

"Sesungguhnya Hudya biasa mempergunakan golok, tetapi biarlah untuk menghadapi Kun Lun Kiamhoat yang hebat, Hudya akan mempergunakan kedua tangan ini saja untuk menyambutinya!"

Bukan main mendongkol dan murkanya murid-murid dari Kun Lun Pai, karena mereka merasa Ciangbunjin mereka diremehkan dan dihina.

Tetapi justru Ma Liang Cinjin membawa sikap yang tenang sekali, dia telah tersenyum.319

"Memang terkadang senjata tajam kalah hebat dengan kedua telapak tangan manusia !"

Katanya sabar.

"Nah, ,Taisu, terimalah serangan Pinto ...... inilah kebodohan yang selayaknya ditertawakan."

Dan membarengi dengan perkataannya itu tampak Ma Liang Cinjin menggerakkan pedangnya, dia telah menikam lurus-lurus kearah dada Tiat To Hoat-ong yang saat itu berdiri dengan sepasang kaki agak tertekuk, Tentu saja hal itu telah membuat semua orang jadi terkejut karena cara menyerang Ma Liang Cinjin akan membahayakan diri Ma Liang Cinjm sendiri, sebab dengan cara menyerang seperti itu, berarti Ma Liang Cinjin membuka bagian lowong didirinya.

Sedangkan Tiat To Hoat Ong yang melihat serangan tiba, dia mandekkan tubuhnya dengan kaki tetap tertekuk dia telah melancarkan serangan membalas dengan telapak tangannya yang menyampok dari samping.

Angin sampokan tangan Tiat To Hoat-ong ternyata bukan main kuatnya.

Angin serangan itu justru telah menyampok miring pedang Ma Liang Cinjin.

Keruan saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut sekali.

dia Sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Hebat luar biasa tampak Tiat To Hoat ong bukan hanya melancarkan serangan dengan sampokan saja, dia juga telah meluncurkan tangan kirinya mengancam kearah kepala Ma Liang Cinjin.

Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak bisa tinggal diam.

cepat sekali dia telah menarik pulang pedangnya.

Dia juga menarik pulang pedangnya bukan untuk mengelakan serangan Tiat To Hoat-ong, melainkan telah membarengi untuk melancarkan serangan lagi.320 Gerakan itu luar biasa hebatnya, karena ujung pedang itu digetarkan sehingga mata pedang seperti juga telah menyambar kebeberapa bagian ditubuh Tiat To Hoat ong bagian yang semuanya berbahaya dan bisa mematikan.

Tetapi pendeta Mongol Tiat To Hoat-ong seperti tidak memandang sebelah mata ilmu pedang Kun Lun, dia telah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring, mengempos semangatnya di dadanya, dan dia telah berdiri tegak menantikan serangan tiba, kemudian disambutnya ujung pedang itu dengan dadanya.

Semua orang terkejut, bahkan ada yang telah mengeluarkan seruan karena kaget.

Dan disaat itulah dalam keadaan yang cukup menegangkan ketika mata pedang menyentuh kulit dada dari Tiat To Hoat-ong, namun anehnya mata pedang tidak bisa menikam masuk kulit tubuh itu melainkan telah melejit.

Membarengi disaat Ma Liang Cinjin tengah kaget, maka Tiat To Hoat-ong telah melancarkan pukulan lurus dengan telapak tangannya.

"Bukkk!"

Ma Liang Cinjin tidak sempat mengelakkan diri dan tubuhnya jadi terhuyung dengan pucat.

Sebagai seorang Ciangbunjin dari sebuah partai persilatan ternama seperti Kun Lun Pai sampai terserang seperti itu, sesungguhnya benar-benar merupakan urusan yang luar biasa dan mengherankan juga.

Tiat To Hoat ong telah tertawa bergelak-gelak keras sekali, dia telah melancarkan beruntun tiga kali serangan lagi, pukulan telapak tangannya menimbulkan angin serangan sekuat runtuhnya gunung.

Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak berani berlaku lambat, dengan tidak berayal lagi dia telah memutar pedangnya itu dengan cepat seperti juga titiran.321 Diantara suara deru angin itu, tampak Ma Liang Cinjin juga mengempos semangat dan tenaga dalamnya, sehingga angin serangan pedangnya selain mengincar bagian-bagian yang mematikan dari jalan darah ditubuh Tiat To Hoat ong.

juga mengandung kekuatan tenaga yang dahsyat, yang dapat menindih serangan tenaga dari Tiat To Hoat-ong.

Kenyataan seperti ini telah mengejutkan Tiat To Hoat ong juga, dia sampai mundur dua langkah dan berobah cara bertempurnya.

Dengan gerakan yang cepat sekali, silih berganti kedua tangannya itu telah melancarkan pukulan yang dahsyat dan mematikan, semakin lama semakin kuat dan mengurung tenaga serta pedang Ma Liang Cinjin.

Tentu saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut dan mengucurkan keringat dingin.

Dia merasakan tenaga Tiat To Hoat ong seperti juga menghisap tenaganya, semakin lama tenaga Ma Liang Cinjin semakin tersedot.

Ma Liang Cinjin mati-matian telah berusaha untuk meloloskan pedangnya itu dari libatan tenaga dalam si pendeta Mongol.

Berulang kali Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara tertawa bergelak, dan berulang kali pula dia melancarkan serangan yang semakin lama semakin hebat, yang memaksa Ma Liang Cinjin akhirnya hanya dapat bertempur dengan main kelit dan main mundur.

Murid-Murid Kun Lun Pai yang melihat keadaan Ciangbunjin mereka, semuanya jadi berkuatir sekali.

Disaat itulah dengan cepat sekali Ma Liang Cinjin memutar dan menghentak pedangnya dengan mempergunakan jurus kesembilan belas dari Kun Lun Kiam Hoat, dengan menggetarkan pedangnya tampak Ma Liang Cinjin telah322 menjejakkan kakinya, untuk melompat kebelakang menjauhi diri dari lawannya.

Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak ingin memberikan kesempatan kepadanya Dia telah melancarkan serangan dalam bentuk pukulan yang kuat sekali.

Dan serangannya itu telah menghantam pinggul Ma Liang Cinjin, sehingga tulang pinggul dari Ciangbunjin Kun Lun Pai itu menjadi remuk dan tubuhnya terhuyung tidak bisa berdiri tetap.

Uh Pie Cinjin dan Tui Ho Cinjin, kedua sute dari Ma Liang Cinjin jadi terkejut sekali, muka mereka jadi berobah pucat seketika.

Dan mereka telah melompat untuk melindungi kakak seperguruan mereka.

Gerakan mereka itu sangat cepatnya, dan bertepatan disaat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan berikutnya kepada Ciangbunjin Kun Lun Pai tersebut.

Gerakan mereka itu telah menolong Ma Liang Cinjin dari kematian, karena serangan Tiat To Hoat-ong telah berhasil ditangkisnya.

"Bukk!"

Tubuh Uh Pie dan Tui Ho Cinjin berhasil digempur Tiat To Hoat ong sampai terpental.

Tetapi kedua sute Ma Liang Cinjin dengan cepat telah melompat dan melancarkan serangan lagi kepada Tiat To Hoat ong.

guna melindungi Ciangbunjin mereka.

Saat itu beberapa orang murid kepala Kun Lun Pai lainnya telah menyerbu untuk mengepung Tiat To Hoat-ong, sambil beberapa orang melindungi Ma Liang Cinjin, yang akan dibawanya kedalam.

Namun Tiat To Hoat-ong rupanya bertindak tidak tanggung-tanggung.323 Dengan cepat sekali tangannya telah menjambret baju dari kedua murid kepala Kun Lun yang berada terdekat dengannya dan melemparkannya.

Setelah itu dengan ujung jubahnya yang panjang, tampak Tiat To Hoat ong telah mengibas, sehingga dua orang murid Kun Lun lainnya telah terlempar dan terbanting.

Dengan Caranya itu Tiat To Hoat Ong seperti mengamuk ingin membuka kepungan lawannya Dan memang dia telah menimbulkan perasaan jeri dihati murid-murid Kun Lun tersebut.

Gerakan yang mereka lakukan itu memang merupakan gerakan yang dahsyat, tetapi menghadapi Tiat To Hoat ong yang memiliki kepandaian yang telah sempurna dan juga tenaga yang kuat, mau tidak mau murid-murid Kun Lun Pai yang berjumlah banyak itu tidak berdaya.

Begitu juga Tui Ho Cinjin maupun Uh Pie Cinjin, kedua tojin yang liehay itu tampaknya jadi tidak berdaya menghadapi pendeta Mongol yang luar biasa ini.

Dalam sekejap mata saja pertempuran hebat telah terjadi ditempat itu.

Sedangkan Tui Ho Cinjin telah berhasil di hajar dadanya, sampai imam itu meringkuk dilantai dengan memuntahkan darah segar.

Dalam melancarkan serangannya Tiat To Hoat-ong sama sekali tidak mau berlaku lunak !.

Setiap pukulannya tentu mengandung tenaga menggempur yang bisa mematikan.

Maka tidak mengherankan ketika dia telah melancarkan serangan yang bertubi-tubi dan juga serangan itu datangnya bagaikan angin badai, telah membuat murid-murid Kun Lun Pai tidak berani mendekatinya.

Saat itu dengan nekad Uh Pie324 Cinjin telah mengeluarkan teriakan yang nyaring, dia telah memutar pedangnya menyerbu kearah Tiat To Hoat-ong.

Maksud imam ini adalah untuk mengadu jiwa dengan Tiat To Hoat ong agar binasa bersama.

Tetapi hasrat hatinya itu tidak kesampaian.

Hal itu disebabkan Tiat To Hoat ong liehay sekali, dia sama sekali tidak bermaksud untuk mengelakkan serangan lawannya, dia menerima tikaman dari si imam tetapi ujung pedang itu telah melejit tidak berhasil menembus kulitnya yang licin dan kebal itu.

Mempergunakan kesempatan disaat Uh Pie Cinjin tengah terkejut begitu, disaat itulah Tiat To Hoat ong telah melancarkan pukulan dahsyat dengan telapak tangannya.

"Bukkkl"

Batok kepala iman itu telah berhasil dipukulnya dengan jitu sekali.

Tanpa sempat menjerit lagi tubuh Uh Pie Cinjin menggeletak dilantai.

Napasnya juga telah putus...!

Semua murid Kun Lun lainnya jadi panik, mereka telah menyerbu dengan nekad dan gusar mengepung Tiat To Hoat-ong.

Saat itu Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara siulan yang nyaring, maka dari arah belakang barisan tamu, melompat beberapa sosok tubuh.

Ternyata yang melompat muncul tidak lain dari Chiluon, Talengkie dan Turkichi.

Mereka telah ikut mengamuk.

Kepandaian ketiga orang Mongoi inipun hanya berada satu tingkat, dibawah Tiat To Hoat-ong.

maka tidaklah mengherankan jika mereka dengan cepat telah berhasil325 merubuhkan murid Kun Lun Pai, Gerakan yang mereka lakukan juga selalu mendatangkan korban.

Murid-Murid Kun Lun Pai yang melihat kehebatan ketiga orang itu jadi menggidik.

Walaupun bagaimana mereka memang merasa sangat jeri dan takut berurusan dengan ke empat orang yang berkepandaian sempurna itu.

Mereka telah melihatnya bahwa kepandaian yang mereka miliki tidak mungkin dapat menandingi kepandaian empat orang Mongol itu.

Tetapi Tiat To Hoat-ong berempat terus juga mengamuk menghantam kesana kemari.

Tampaknya keempat orang Mongol itu memang sengaja tidak ingin melepaskan seorangpun murid Kun Lun terlolos dari kematian.

Disaat itu dengan kecepatan bagaikan kilat, Talengkie berulang kali menggerakkan tangannya.

Paku-Paku beracunnya telah berhamburan membinasakan belasan orang tamu.

Keruan saja tamu-tamu yang merupakan jago-jago dari berbagai pintu perguruan silat itu jadi panik dan kalut.

Dengan cepat beberapa orang diantara mereka telah menerjang maju untuk membantu pihak tuan rumah.

Tetapi bantuan mereka itu rupanya sama sekali tidak memberikan hasil.

Dengan mudah sekali Tiat To Hoat-ong telah melakukan serangan yang selalu membinasakan lawannya.

Jago-Jago yang lainnya disamping jeri juga sangat gusar sekali melihat sepak terjang Tiat To Hoat-ong berempat dengan kawannya.326 Ramai-Ramai mereka telah melompat kegelanggang pertempuran, mereka telah melancarkan serangan dengan serentak untuk mengeroyok pendeta Mongol ini.

Tetapi Tiat To Hoat ong dan keempat kawannya itu tangguh sekali, mereka telah membinasakan satu persatu lawannya, sehingga didalam waktu yang sangat singkat sekali puluhan jiwa telab melayang.

Dan sisanya telah cepat-cepat memutar tubuh melarikan diri untuk meloloskan diri dari kematian.

Tiat To Hoat-ong telah tertawa bergelak-gelak puas.

Saat itu mayat-mayat melintang tidak keruan di lantai, keadaan sangat mengerikan sekali.

Di-ruangan tersebut yang masih segar dan hidup hanyalah Tiat To Hoat-ong berempat, tidak terlihat orang lainnya.

Tiang Hu dan Yo Him yang bersembunyi dibalik tirai, lagi menggigil keras ketakutan.

"Tadi... tadi telah kukatakan, agar kita jangan kemari !"

Bisik Yo Him ketakutan.

"Kau lihat, iblis-iblis itu menakutkan sekati !"

Tiang Hu tidak bisa menyahuti, dia hanya berdiam diri belaka.

Ketakutan yang meliputi hati Tiang Hu bukan main hebatnya, sampai anak ini tidak bisa mengeluarkan perkataan.

Dilihatnya betapa mayat-mayat itu melintang tidak keruan dan mengerikan sekali.

Saat itu keadaan sepi sekali.

Tetapi mata Tiat To Hoat-ong yang tajam telah melihat tirai yang ber-goyang itu.

Cepat-cepat dia telah menghampirinya, sekali hantam tirai itu tersingkap dan dua sosok tubuh kecil menggelinding keluar.327 Tentu Saja saking ketakutan Tiang Hu telah menangis dan berlutut meminta ampun.

Sedangkan Yo Him hanya diam memandang dengan sinar mata ketakutan, tetapi dia tidak berlutut seperti yang dilakukan oleh Tiang Hu.

"Ihh !"

Berseru pendeta Mongol itu karena terkejut dan heran melihat kedua anak itu, Talengkie telah melompat maju, dia mencengkeram baju Yo Him dan Tiang Hu.

Diangkatnya tubuh kedua anak itu, lalu dibantingnya dengan keras keatas lantai sehingga menimbulkan suara gedebukan yang keras.

Mata Yo Him dan Tiang Hu jadi berkunang-kunang dan kepala mereka pusing, disamping itu mereka juga menderita kesakitan yang sangat hebat.

Tiang Hu yang sangat ketakutan, telah menangis sambil sesambatan meminta ampun.

Sedangkan Yo Him hanya merintih perlahan karena dia menderita kesakitan yang sangat.

"Siapa kau ?"

Bentak Talengkie dengan suara yang bengis.

"Mengapa kalian berada disini?"

"Kami ... kami ingin menyaksikan keramaian"

Kata Tiang Hu dengan suara yang parau antara isak tangisnya.

Tetapi berbeda dengan Tiang Hu, Yo Him telah memutar otak sejak tadi dan kini dia telah memperoleh pikiran yang dianggapnya baik.

Maka dari itu.

dia telah berkata lantang "Kami datang untuk mengambil sisa makanan karena ditempat ini tengah diadakan keramaian, tidak kami sangka ...tidak kami sangka justru adanya peristiwa seperti ini ..."

"Hmm .....kalian dua pengemis cilik rupanya?"

Bentak Talengkie.

"Benar."

"Cepat menggelinding pergi?"

Bentak Talengkie dengan suara yang bengis. Tentu saja hal itu menggirangkan hati Yo Him dan Tiang Hu mereka cepat-cepat melangkah untuk pergi meninggalkan tempat yang menyeramkan itu.

"Tahan !" , bentak Tiat To Hoat-ong, Tentu saja kedua anak itu jadi ketakutan mereka menahan langkah kaki mereka tidak berani bertindak terus. Yo Him telah menoleh, tanyanya dengan ragu-ragu.

"Ada.. ada apa lagi, Taisu?"

Suaranya dibuat setenang mungkin.

Mata Tiat To Hoat ong bersinar tajam.

Berbeda dengan Talengkie, yang berhasil ditipu oleh Yo Him, tetapi Tiat To Hoat-ong yang cerdik itu telah memperhatikan kedua anak itu dalam-dalam.

Dia telah melihatnya bahwa kedua anak ini tidak mungkin dua orang pengemis kecil.

Maka timbullah kecurigaannya.

Dia telah melihat pakaian Yo Him dan Tiang Hu bersih dan juga tidak ada tambalannya, maka tidak mungkin Yo Him dan Tiang Bu ini dua anak pengemis.

Tetapi, jika bukan pengemis, lalu mengapa kedua anak tersebut bisa berada di tempat ini?

Itulah sebabnya Tiat To Hoat-ong bermaksud ingin menyelidikinya.

"Kalian bicara terus terang, sesungguhnya siapa kalian berdua?"

Bentak Tiat To Hoat-ong dengan suara yang bengis sekali.

"Kami..kami memang pengemis kecil di kampung ini!"

Menyahuti Yo Him dengan suara agak tergetar, karena dia329 ketakutan melihat sinar mata Tiat To Hoat-ong yang tajam dan menyeramkan itu.

"Hemm, jika engkau masih tidak ingin bicara terus terang, biarlah kami akan membunuh kalian juga?"

Mengancam Tiat To Hoat-ong sambil melangkah maju.

Semula Yo Him ingin berkeras dengan dustanya itu, bahwa mereka adalah dua orang pengemis kecil, dia yakin jika mereka tetap mengakui diri mereka sebagai pengemis kecil tentu mereka akan dibebaskan.

Tetapi siapa sangka karena ketakutan bukan main melihat ancaman Tiat To Hoat-ong, dengan tubuh yang menggigil keras Tiang Hu telah berlutut sambil meng angguk-anggukkan kepalanya sampai keningnya itu telah menghantam lantai berulang kali.

"Ampun Taisu..kawanku tadi memang telah berbohong. kami memang bukan pengemis kami hanya dua orang anak penduduk kampung dibawah kaki gunung ini...kami ....kami...kami,"

Tiat To Hoat-ong telah tertawa dingin.

"Kami, kami, kenapa ?"

Bentaknya dengan suara yang semakin bengis saja.

"Kami hanya ingin menyaksikan keramaian ...!"

Kata Tiang Hu sambil menangis. Tiat To Hoat ong telah mendelik kepada Yo Him.

"Hemm, engkau kecil-kecil sudah pandai berbohong !"

Bentaknya.

"Baiklah, kami akan memberikan sedikit pelajaran kepada kalian !" . Tentu saja Yo Him dan Tiang Hu jadi ketakutan sekali. Tubuh mereka menggigil keras, namun belum lagi mereka mengetahui apa-apa telah berkelebat bayangan hitam, tahu-tahu punggung mereka sakit dan tubuh mereka menjadi ringan seperti melayang.330 Ternyata Tiat To Hoat ong telah mencengkeram punggung kedua anak itu. Kemudian dengan keras dia telah melemparnya keluar kuil. Tidak mengherankan jika Yo Him dan Tiang Hu terbanting keras diatas tanah, bahkan Tiang Hu telah menghantam batu kerikil dengan kuningnya, membuat kening anak itu jadi berlumuran darah... Dengan merangkak, tanpa berani menoleh lagi Yo Him dan Tiang Hu segera berlari menuruni gunung itu, mereka berlari untuk pulang. Tiat To Hoat ong tertawa gelak-gelak dengan suara yang keras sekali. Dan disaat itu Chiluon, Talengkie dan Turkichi telah mengajak Tiat To Hoat ong untuk berlalu.

"Kita telah melaksanakan tugas kita dengan baik ! Hari ini kita telah membinasakan lebih seratus jago-jago silat Tionggoan ! Untuk selanjutnya pihak Kun Lun Pai tidak bisa mengangkat nama mereka"

Berkata Tiat To Hoat ong dengan suara yang angkuh.

"Benar"

Menyahuti Chiluon.

"Dan berarti berkurangnya tenaga jago didaratan Tionggoan ! Seperti perintah Khan yang agung, kita harus berusaha sebanyak mungkin membinasakan jago-jago daratan Tionggoan, disamping untuk membuktikan bahwa jago-jago Mongolia tidak ada tandingannya, juga untuk mempersedikit jago-jago yang membantu pemerintahan Song, sehingga jika kelak Khan yang agung itu menerjang kedaratan Tiong goan, tentu tidak akan menemui rintangan lagi !"

Dan keempat orang jago Mongol itu telah tertawa keras sekali, tampaknya mereka puas bukan main.

Suara tertawa mereka keras sekali menggetarkan tempat itu, lalu dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh mereka, jago-jago Mongol itu telah meninggalkan tempat tersebut.331 000odw^kzo000 YO HIM dan Tiang Hu yang berlari-lari ketakutan, akhirnya telah tiba dirumah masing-masing, Ciang Pehunya yang mengambil Yo Him sebagai anak angkatnya, jadi kaget sekali melihat Yo Him ketakutan seperti itu.

"Ada apa?"

Tanya Ciang Pehu tersebut.

Dengan hati masih tergoncang hebat dan menahan perasaan sakit, Yo Him telah menceritakan pengalamannya.

Sedangkan Tiang Hu juga telah mengejutkan ibu dan ayahnya dengan keadaan seperti itu.

Sambil membersihkan darah yang mengucur deras dari keningnya, kedua orang tua Tiang Hu menanyakan sebab-sebabnya putera mereka bisa babak belur begitu.

Sambil terus menangis, Tiang Hu telah menceritakan pengalamannya.

Tentu saja kedua orang tuanya jadi terkejut bukan main.

Mereka memang merupakan penduduk lama dikampung ini, maka dari itu mereka pun mengetahui jelas bahwa Kun Lun Pai merupakan sebuah pintu perguruan silat yang luar biasa hebatnya, dengan sendirinya pintu perguruan silat itupun merupakan tempat pemujaan yang disegani oleh penduduk kampung di sekitar gunung Kun Lun San tersebut.

Kini mereka mendengar pendeta-pendeta dari kuil itu telah dibinasakan orang asing, bahkan jumlah korban meliputi ratusan jiwa, keruan saja telah membuat merekapun jadi ketakutan dan berulang kali memuji akan kebesaran Thian untuk meminta berkah dan perlindungan terhadap keselamatan keluarga mereka.332 Dan setelah dua hari, barulah orang-orang kampung yang telah digemparkan oleh peristiwa itu berani naik keatas gunung, untuk mendatangi kuil Kun Lun Sie.

Dan mereka jadi berdiri dengan hati tergoncang keras diliputi ketakutan, karena dari jauh mereka telah mencium bau busuk dari mayat dan amisnya darah tersiar dari kuil itu.

Beberapa orang penduduk kampung yang memiliki nyali agak besar telah memberanikan diri untuk melihat kedalam kuil itu, mereka melihat mayat-mayat yang malang melintang.

Maka dari itu mereka jadi menghela napas, karena didalam kuil tidak terlihat seorang imam pun juga.

Semuanya hanya mayat-mayat yang mengerikan sekali, dengan tubuh yang rusak dan darah yang menggenang serta telah membeku menyiarkan bau busuk dan amis.

Setelah melihat disekitar tempat itu tidak ada orang Mongol yang disebut-sebut oleh Yo Him dan Tiang Hu, merekapun mengumpulkan mayat sambil menggali tanah untuk mengubur korban-korban itu.

Peristiwa itu tentu saja merupakan peristiwa yang pertama kali terjadi menimpa perguruan silat Kun Lun Pai.

Dan penduduk kampung itu, untuk satu tahun lebih tidak berani naik keatas gunung, mereka takut diganggu oleh setan-setan penasaran.

Yo Him setelah mengalami peristiwa seperti itu, kini jadi sering melamun karena walaupun bagaimana dia telah terpengaruh oleh peristiwa tersebut, yang tentunya memberikan bayang-bayang yang tidak menggembirakan hatinya.

Dia telah melihat betapa jiwa manusia di bunuh seperti juga tidak ada harganya, bagaikan jiwa kecoa, dan juga disamping itu walaupun dia masih berusia kecil dia cerdik333 sekali, maka Yo Him berpikir jauh sekali yaitu dia perbandingkan peristiwa tersebut dengan Ilmu silat.

Tentunya korban-korban itu.

yaitu peristiwa dari terjadinya pertempuran tersebut, berawal pangkal dari ilmu silat.

Kalau mereka tidak mengerti ilmu silat jelas mereka tidak akan memperoleh bencana seperti itu .

Dan Yo Him jadi tidak menyukai ilmu silat ...

dia berpikir didalam hatinya yang masih polos dan suci itu bahwa dia untuk selama-selamanya tidak ingin mempelajari ilmu silat.

Tetapi walaupun bagaimana kepandaian seperti ini telah membuat Yo Him tergempur jiwanya, suatu gempuran yang tidak kecil.

Dia telah menyaksikan betapa manusia yang dibunuh-bunuhi seperti juga menjagal hewan dan darah telah berhamburan.

Pembunuhan itu bukan terjadi didiri seorang atau dua orang manusia, melainkan ratusan jiwa ...

maka se tidak-nya telab merusak jiwa anak ini.

Ciang Pehunya yang melihat Yo Him akhir-akhir ini sering melamun begitu, jadi menguatirkan sekali kesehatannya, dia sering memberikan nasehat-nasehatnya.

Yo Him sering menyatakan kepada Ciang Pehunya, bahwa dia ingin pergi kesebuah tempat yang jauh ...

jauh sekali ..

Betapa sedihnya Ciang Pehunya itu karena dia sangat menyayangi Yo Him sama seperti putera kandung mereka sendiri.

Lebih-Lebih Ciang Pebo, isteri Ciang Pehunya Yo Him, telah menangis selama dua hari dua malam mereka kuatir kalau-kalau anak angkat mereka itu akan benar-benar membuktikan perkataannya, yaitu pergi jauh meninggalkan mereka...

>>o0o^d!w^o0o<<334 MALAM itu sepi dan sunyi sekali, dan hanya terdengar suara binatang malam yang berdendang, sedangkan Yo Him terlentang di pembaringannya tanpa bisa memejamkan matanya.

Dia telah melihatnya, betapa manusia hidup didalam dunia seperti juga tengah membawakan peranan diatas panggung sandiwara, bisa hidup gembira, bisa menderita, dan bisa mati disetiap saat.

Maka didalam usia yang sedemikian kecil, ternyata Yo Him telah dirasuki oleh berbagai pikiran yang tidak-tidak, yang telah merusak jiwanya sendiri.

Entah mengapa Yo Him juga jadi membenci sekelilingnya, membenci dirinya membenci juga ketidak mampuannya.

Waktu dia melihat imam-imam dari Kun Lun Pai itu dibinasakan oleh Tiat To Hoat-ong dan kawan-kawannya, sesungguhnya hatinya penasaran dan marah sekali, dia ingin sekali untuk membantui.

Namun justru dia tidak memiliki kepandaian apa-apa, diapun masih kecil dan tidak memiliki tenaga, dan disamping itu diapun dalam ketakutan yang sangat hebat, maka apa yang bisa dilakukannya?

Diam-diam Yo Him jadi mengutuki dirinya sendiri yang tidak punya guna, yang hanya bisa menyaksikan betapa manusia telah dijagal begitu rupa oleh jago-jago Mongol.

Didalam jiwanya yang masih belum bisa menentukan sesuatu apapun itu, dia telah merasakan bahwa dirinya harus pergi merantau, dia tidak dapat hidup terus menerus disebuah perkampungan kecil itu.

Berbagai ingatan segera muncul mengganggu hatinya, dia teringat kepada Sintiauw, burung rajawali yang sangat sayang kepadanya, yang telah merawatnya sejak bayi.

sampai dia berusia tujuh tahun, dan dia teringat juga kepada Ciang Pehu dan Ciang Pebonya yang telah melimpahkan kasih sayangnya335 untuk dia.

maka dari itu kini jika dia pergi meninggalkan Ciang Pehu dan Pebonya itu, dia pun tidak tega.

Tetapi Yo Him sudah tidak bisa menahan keinginan hatinya untuk pergi merantau.

Dia telah membuka pintu kamarnya, dilihatnya pintu kamar Pehu dan Pebonya tertutup rapat.

Cepat-cepat dan hati-hati Yo Him membereskan beberapa potong bajunya, lalu dibuntalnya menjadi satu.

Berindap-indap dia telah keluar dari kamarnya, membuka pintu luar, dia telah melangkah ketaman dari rumah tersebut.

Tetapi waktu Yo Him ingin membuka pintu taman itu, tahu-tahu dibelakangnya ada orang yang menegur halus.

"Him jie (anak Him) malam-malam seperti ini kau hendak pergi kemana?" 336 Yo Him terkejut, dia menoleh pada Ciang Pehunya berdiri dihadapannya dengan muka yang muram. Cepat-cepat Yo Him menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Ciang Pehunya itu dengan hati yang sedih. Dia menceritakan keinginannya untuk pergi merantau, karena dia ingin mencari pengalaman. Ciang Pehunya jadi berduka sekali, mukanya jadi tambah muram. Dengan sabar dia telah membangunkan Yo Him dari berlututnya, diusap-usap rambut anak itu.

"Dengarlah Himjie, kami sangat sayang kepadamu,"

Kata Ciang Pehunya itu.

"Kau masih terlalu kecil, belum ada yang bisa kau lakukan... ! Jika memang kau ingin merantau guna mencari pengalaman, kami tentu akan melepaskan dan mengizinkannya asalkan kau telah dewasa, tetapi sekarang? Usiamu masih terlampau kecil dan kami kuatirkan kau akan mengalami bencana !."

Yo Him menggeleng lemah.

"Memang Himjie anak yang Put-hauw Put gie (tidak berbakti dan tidak berbudi), sehingga melupakan kebaikan Pehu dan Pebo.... tetapi Him jie tentu akan menengoki Pehu dan Pebo."

"Apakah perlakuan kami kurang baik?"

Tanya Pehu itu dengan suara yang sabar.

"Apakah ada perlakuan kami yang melukai perasaanmu sehingga kau ingin pergi meninggalkan kami?"

Ditanya begitu, Yo Him cepat-cepat menggeleng sambil mengucurkan air mata, dia telah memeluk Pehunya itu.

"Bukan ! Bukan Pehu, kalian baik sekali terlalu baik,"

Kata Yo Him kemudian.

"Justru disebabkan sikap kalian yang terlampau baik. membuat Himjie tidak dapat menerimanya, Him jie malu menerima budi Pehu dan Pebo terus menerus .... biarlah Himjie pergi merantau, jika kelak Himjie telah berhasil menjadi manusia maka Himjie akan datang kemari untuk337 mencari Pehu dan Pebo gura membalas budi kalian yang besar....!"

Ciang Pehu itu menghela napas dalam-dalam, kemudian berkata.

"Baiklah! rupanya ada sesuatu persoalan yang tidak ingin kau katakan dan tetap kau sembunyikan !"

Ciang Pehu itu berkata demikian, karena dia melihat Yo Him seperti menyembunyikan suatu rahasia.

Sedangkan dugaan Ciang Pehu itu memang tepat, karena Yo Him tengah digeluti oleh semacam perasaan, dimana dia sering diganggu oleh pertanyaan .

"Siapa ayah ? Siapa ibu ?"

Dan pertanyaan seperti itu mengganggu sekali hatinya. Dia sering berpikir .

"Ayahku atau ibuku tidak pernah ku lihat....apapun tidak kuketahui tentang mereka, Siapa ayahku ? Siapa ibuku ? Akhhh.. akulah si anak yatim piatu yang tidak mengerti apa-apa !"

Dan maksud Yo Him ingin merantau adalah untuk mencari ayah dan ibunya !

Setelah barlutut lagi dihadapan Ciang Pehu nya itu, akhirnya Yo Him telah membalikkan tubuhnya, dia berlari dengan cepat untuk menyembunyikan air matanya yang telah menitik turun.

Sedangkan Ciang Pehunya juga telah mengawasi kepergian Yo Him dengan air mata berlinang-linang.

Sengaja Ciang Pehu tidak membangunkan isterinya, dia takut kalau-kalau isterinya itu bertambah sedih menyaksikan keberangkatan Yo Him..

>>o0o^d!w^o0o<< SETELAH melakukan perjalanan sampai menjelang fajar, Yo Him sampai dikampung Pu-cung cung, sebuah kampung yang masih berada didaerah kaki Gunung Kun Lun, terpisah kurang338 lebih dua ratus lie dari perkampungannya Ciang Pehunya itu.

Tetapi Yo Him tidak bermaksud Untuk singgah dikampung itu, dia telah meneruskan perjalanannya.

Dia bermaksud merantau kemana kedua kakinya membawanya, karena dia memang tidak memiliki tujuan dan tempat yang akan dituju.

Hanya yang menjadi pemikiran Yo Him, dia akan berusaha untuk menyelidiki siapakah sebenarnya ayahnya, siapakah sesungguhnya ibunya.

Pernah Yo Him menanyakannya kepada Ciang Pehunya atau Ciang Pebonya, tetapi kedua orang itupun tidak mengetahui apa-apa mengenai asal usul Yo Him.

Mereka, kedua pasangan suami isteri she Ciang yang baik hati itu hanya mengatakan bahwa Yo Him seringkali dibawa terbang oleh Rajawali sakti, yang diturunkan dipintu kampung sehingga Yo Him bisa bermain dengan anak-anak kampung lainnya, kemudian disore hari Sintiauw telah menjemputnya lagi membawa Yo Him terbang masuk kedalam jurang yang dalam sekali.

Kini Sintiauw sudah tidak pernah dilihatnya setelah yang terakhir kali rajawali itu terjun ke dalam jurang dan tidak pernah muncul lagi.

Sehingga Yo Him sudah tidak bisa bertanya kepada siapapun juga mengenai asal usulnya.

Siang itu Yo Him telah tiba dipintu sebuah kota yang tidak diketahui namanya, Yo Him hanya melihat kota itu merupakan sebuah kota kecil yang sedikit sekali penduduknya.

Disaat itu perut Yo Him telah berkeruyukan karena lapar, dia memasuki kedai arak dan memesan nasi dengan dua macam lauknya yang sederhana.

Anak ini telah memakannya dengan lahap, sampai dua mangkok nasi dihabiskan.

Setelah membayar harga barang makanan itu, Yo Him melanjutkan perjalanannya lagi.339 Tetapi sebagai seorang anak yang baru berusia tujuh tahun, mana bisa dia merantau seorang diri ?

Segala apapun dia tidak tahu, bahkan ketika dia melihat keramaian dikota tersebut, Yo Him sering berhenti untuk menyaksikannya.

Seperti penjual silat, pedagang barang-barang mainan, dan macam-macam lagi.

Dan disaat dia telah melangkah pula untuk melanjutkan perjalanannya, tidak hentinya Yo Him menghela napas.

Dia merasakan dirinya hidup tidak wajar, sebagai seorang anak yang berusia demikian kecil dia sudah tidak memiliki ayah ibu, sudah tidak mengenal siapa ayahnya dan siapa ibunya, maka diapun merasakan bahwa dirinya merupakan seorang anak yatim piatu yang hidup dalam penderitaan.

Sedang pikiran Yo Him menerawang dibawa oleh lamunannya, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan-teriakan nyaring, disertai oleh suara tertawa yang nyaring.

Yo Him mengangkat kepalanya, dia melihat dari arah depannya tampak seorang pengemis berusia belasan tahun tengah berlari sambil tertawa-tawa, dikejar oleh tiga orang pengemis lainnya lagi.

Mereka rupanya tengah main kejar-kejaran sebab merekapun tertawa-tawa dengan riang.

Disaat pengemis yang dikejar oleh ketiga kawannya telah berada dekat dengan Yo Him, dia berlari terus seperti ingin menubruk Yo Him, cepat-cepat Yo Him menyingkir kesamping.

Tetapi gerakan Yo Him kurang cepat, sehingga bahunya terbentur oleh tubrukan tubuh pengemis itu, sehingga tubuh Yo Him maupun pengemis yang seorang itu bergulingan diatas tanah.

Dengan menahan sakit Yo Him bangun berdiri untuk menegur dan memarahi pengemis yang ceroboh itu,340 Tetapi alangkah kagetnya Yo Him karena disaat dia belum membuka mulut, justru pengemis yang seorang itu telah berdiri tolak pinggang mengawasi Yo Him dengan mata mendelik lebar-lebar, mukanya galak sekali.

"Setan kecil, mengapa kau sengaja menghadang jalannya tuan besarmu hah?"

Bentak pengemis itu dengan suara yang nyaring.

Saat itu ketiga pengemis yang tadi mengejarnya telah tiba ditempat itu, merekapun tertawa-tawa sambil mengurung Yo Him.

Tentu saja Yo Him jadi tertegun, lalu tanyanya tergagap .

"Menghadangmu? justru aku tengah berjalan baik-baik telah dilanggar olehmu sehingga aku terjatuh, bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku yang telah menghadang jalanmu? Lihatlah tanganku telah terluka!"

Sambil berkata begitu Yo Him telah mengulurkan tangannya untuk memperlihatkan luka di tangannya, luka terbeset. Pengemis itu mendengus galak.

"Hemmm engkau rupanya orang asing di-tempat ini dan datang dikota ini ingin main jago-jagoan?"

Bentaknya. Muka Yo Him jadi berobah, dia jadi gugup melihat sikap pengemis yang tidak keruan itu.

"Aku sama sekali tidak usil kepada kalian ....... minggirlah, aku mau melanjutkan perjalanan ku !"

Kata Yo Him.

"Hemm, apakah begitu enak saja ingin pergi ?"

Bentak pengemis itu dengan galak. Yo Him mengerutkan sepasang alisnya.

"lalu apa yang diinginkan kalian ?"

Tanyanya.

"Kalau memang kalian menganggap aku bersalah, maafkanlah !"

"Hemm, begitu mudah untuk meminta maaf ? Kau harus memberikan uang sepuluh tail kepada kami, sebagai ganti rugi!"

"Benar !"

Teriak ketiga pengemis kecil lainnya dengan suara yang nyaring, dengan muka sengaja dibuat agar terlihat galak "Jika dia tidak mau ganti rugi , kita hajar saja biar babak belur!"

Hati Yo Him jadi mendongkol, namun nyalinya ciut. Mana bisa dia melawan pengemis yang lebih besar usianya dari dia ? Terlebih lagi pengemis-pengemis kecil itu berjumlah empat orang.

"Aku tidak memiliki uang sebanyak itu jika kalian mau, aku bersedia membagi kalian satu tail...!"

Kata Yo Him kemudian. Tetapi pengemis itu telah tertawa mengejek tahu-tahu tangannya telah menyambar buntalan pakaian Yo Him yang kemudian dibawa lari dengan cepat sekali.

"Hei, hei, jangan mengambil barangku?"

Teriak Yo Him gugup sekali, sambil berusaha mengejar.

Tetapi ketiga pengemis kecil lainnya telah meng halang-halangi Yo Him, disaat Yo Him memaksa untuk menerobos lewat, ketiga pengemis itu tahu-tahu telah mengayunkan tangan-tangan mereka memukuli Yo Him.

Bahkan salah seorang diantara ketiga pengemis itu telah mendorong Yo Him, sampai anak she Yo ini telah rubuh diatas tanah dan tubuhnya diduduki oleh dua orang pengemis yang menghajarinya pulang pergi, sehingga muka Yo Him matang biru dan babak belur.

Pengemis yang seorang lagi mempergunakan kakinya menendangi muka Yo Him.

Setelah puas menyiksa Yo Him yang menjerit kesakitan, ketiga pengemis kecil itu pun segera angkat kaki karena mereka takut kalau suara jeritan Yo Him nanti mengundang datangnya orang banyak.342 Dengan merangkak Yo Him telah berdiri, Dia melihat pengemis-pengemis kecil itu sudah lenyap tidak terlihat bayangannya lagi.

Keadaan dijalan yang seperti lorong itu sepi sekali.

Yohim merasakan seluruh tubuhnya pada sakit akibat pukulan dan tendangan ketiga pengemis kecil itu.

Disusutnya darah yang mengucur dari mulut dan hidungnya dia berjalan dengan tubuh yang lesu, dengan pakaian yang kotor dan pecah sebagian, tindakan kakinya lemah dan lesu, sambil menahan sakit yang diderita disekujur tubuhnya.

Ketika orang-orang melihat keadaan Yo Him mereka hanya menduga bahwa Yo Him adalah seorang anak nakal yang baru berkelahi dengan anak-anak sebayanya, sehingga mukanya jadi babak belur begitu.

Sedikitpun keadaan Yo Him tidak menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

Tentu saja Yo Him jadi bingung kini bajunya telah robek dan kotor, sedangkan buntalan pakaian dan uangnya telah dibawa lari oleh Pengemis-Pengemis kecil itu.

Maka seperti seorang pengemis kecil Yo Him telah mengelilingi kota itu untuk mencari pengemis kecil yang telah merampas buntalannya itu.

Tetapi sampai sore, disaat hari mulai gelap tetap saja Yo Him tidak berhasil mencari pengemis-pengemis itu.

Bahkan celakanya, perut Yo Him juga telah berkeruyukan lapar.

"Akhhh, inilah disebabkan kecerobohanku yang tidak berhati-hati, sehingga uang dan bajuku telah dirampas oleh pengemis-pengemis kurang ajar itu"

Berpikir Yo Him didalam hatinya.

Dengan tubuh yang lesu, dan menahan lapar Yo Him telah berjalan tanpa arah dan tujuan.343 Akhirnya ketika dia tiba didekat pintu sebelah utara dari kota tersebut, bahunya ditepuk seseorang.

Tentu saja Yo Him jadi terkejut.

Ketika dia menoleh, ternyata orang yang menepuknya itu tidak lain dari seorang pengemis juga, usianya telah empat puluh tahun, pakaiannya compang-camping dan kumis maupun jenggotnya yang kasar itu tumbuh tidak teratur.

Melihat orang yang menepuknya seorang pengemis, hati Yo Him sudah tidak senang, karena dia telah mengalami betapa pergemis-pergemis kecil yang tadi telah mengganggunya dan merampas barang-barangnya.

Maka dari itu Yo Him telah menduga mungkin pengemis inipun ingin mengganggunya juga.

"Anak, mengapa keadaanmu seperti ini ?"

Sapa pengemis itu dengan itu dengan suara ramah. Sebetulnya Yo Him sudah tidak ingin melayani pengemis itu, namun mendengar suara si pengemis yang ramah den sabar, maka dia telah menyahuti juga.

"Aku telah dihina oleh pengemis-pengemis sebangsamu !"

"Ihh ?!"

Pengemis itu mengeluarkan seruan karena terkejut, rupanya jawaban yang diberikan Yo Him tidak pernah diduga sebelumnya "Aku dipukuli dan juga barang-barangku telah di rampas mereka .... !"

Kata Yo Him lagi. Dengan muka yang muram dan sepasang alis yang dikerutkan, pengemis itu telah bertanya sabar ;

"Apakah kau mengetahui nama mereka ??"

"Mana tahu ? Sedang lihat saja baru tadi!"

Kata Yo Him mendongkol "Hemm, apakah ada peristiwa seperti ini?"

Menggumam pengemis itu.

"Apakah kau tidak berdusta?"344

"Untuk apa aku membohongimu ? Apakah dengan menceritakan pengalamanku itu kau bisa mengembalikan barangku ? Hemm, itulah memang sudah nasibku yang buruk !"

Mengeluh Yo Him sambil memutar tubuhnya, maksudnya ingin berlalu.

"Tunggu dulu adik kecil .......!"

Kata pengemis itu mencegah kepergian Yo Him.

"Ada apa lagi yang ingin kau ketahui ?"

Tanya Yo Him tidak sabar.

"Aku masih ingin menanyakan kau perihal uang dan pakaianmu yang telah dirampas itu ......."

"Percuma ..."

"Mengapa percuma! Katakanlah, bagaimana wajah pengemis yang telah mengganggumu ?"

"Semuanya ada tiga orang !"

"Ihh !"

Kembali pengemis itu mengeluarkan suara seruan heran.

"Tiga orang ?"

"Ya,"

Mengangguk Yo Him "

Mereka baru pertama kali kulihat dan dengan sengaja telah menubrukku, disaat itu mereka menaduh aku justru yang telah menghadang jalan mereka, sehingga salah seorang diantara mereka terjungkel ditanah !

Tetapi sebenarnya bukan salahku, justru memang mereka sengaja menubrukku...!"

Pengemis itu tertawa.

"Baiklah, kini kau jelaskan wajah mereka mungkin aku bisa bantu carikan barangmu yang telah lenyap itu."

"Ohhh, benarkah ?"

Tanya Yo Him girang.

"Maka dari itu. cepat kau ceritakan."

Kata pengemis itu lagi.

"Mudahkan saja barang itu belum dipergunakan mereka." 345 Mendengar itu, tentu saja Yo Him jadi girang dia menceritakan peristiwa yang telah dialaminya dan juga menceritakan wajah ketiga pengemis kecil itu. Mendengar cerita Yo Him pengemis itu telah menghela napas dalam-dalam. semula dia menduga bahwa yang menggangu Yo Him adalah pengemis dewasa, dan kini dia baru mengetahui yang mengganggu Yo Him adalah pengemis-pengemis kecil.

"Hemmm, aku tidak menyangka ada juga anak-anak kami yang nakal..."

Kata pengemis itu sambil menghela napas.

"Mari ikut aku, kita cari mereka!"

Yo Him ragu-ragu, tetapi tangannya telah dicekal oleh pengemis itu.

"Keadaanmu seperti ini, padahal kau bukan pengemis, Jika baju dan uangmu itu tidak dicari sampai pulang kembali, bagaimana engkau bisa bersalin pakaian dan membeli makanan mengisi perut yang lapar?"

Kata pengemis itu, Yo Him berpikir memang apa yang dikatakan pengemis itu ada benarnya juga. Maka dia mengangguk.

"Baiklah...jika memang benar-benar Lojinkee (kau si orang tua) bisa mencarikan uang dan bajuku, tentu aku sangat berterima kasih sekali."

Kata Yo Him.

"Itu urusan nanti yang terpenting kini kau harus mencari baju dan uangmu ! Mari kita cari ketiga arak-arak itu !"

Dan setelah itu si pengemis.

mengajak Yo Him memasuki lorong yang kotor dan sepi sekali.

Lorong-Lorong itu jarang sekali dilalui orang dan dikedua pinggir lorong itu tertutup juga oleh dinding-dinding tinggi dari tembok-tembok bangunan rumah.

Disitupun tidak jarang terlihat menggeletak pengemis-pengemis yang tengah tertidur nyenyak.346 Disaat memasuki lorong yang satu-satunya tampak banyak pengemis yang tengah duduk berkerumun.

"Akhh, Wie Tocu (pemimpin Wie) datang !"

Berseru beberapa orang pengemis itu sambil berdiri dan merangkapkan tangannya memberi hormat.

Melihat sikap mereka, pengemis-pengemis itu tampaknya menghormati sekali pengemis yang mengajak Yo Him, yang disebutnya sebagai Wie Tocu.

Dengan muka yang muram, Wie Tocu telah berkata dengan suara yang tawar .

"Sesungguhnya memang memalukan diantara kita terdapat anak-anak nakal yang main rampas dan main pukul! Mereka tiga orang pengemis berusia belasan tabun telah mengganggu adik kecil ini! Apakah diantara kalian ada yang mendengar siapa yang telah melakukannya?!"

Pengemis-Pengemis itu menggelengkan kepalanya, semuanya mengatakan tidak tahu.

Dengan kesal Wie Tocu telah menuntun tangan Yo Him memasuki lorong itu.

Kepada beberapa orang pengemis lainnya.

Wie Tocu menanyakan lagi perihal ketiga anak itu tetap saja tidak ada yang mengetahui.

Dengan sendirinya Yo Him jadi putus asa dan dia berpikir mungkin si pengemis yang dipanggil Wie Tocu ini sengaja ingin mempermainkan dirinya atau memperdayakan dirinya agar menjadi pengikutnya, yaitu jadi pengemis.

Setelah melalui beberapa lorong dan bertanya-tanya kepada beberapa orang kelompok pengemis lainnya serta tetap tak berhasil memperoleh petunjuk kepada ketiga anak pengemis yang mengganggu Yo Him.

Wie Tocu itu telah menawarkan Yo Him kuwe kering.

"Untuk mencegah lapar...."

Katanya ramah.

"Kau jangan kuatir, walaupun bagaimana barangmu pasti kembali ..."347

"Tetapi sebegitu jauh kau bertanya-tanya kepada kawan-kawanmu, tidak seorangpun yang mengetahui ..."

Kata Yo Him bimbang. Si pengemis tersenyum.

"Tetapi akhirnya akan diketahui juga....!"

Yakin sekali suara pengemis itu.

"kami memang tersebar diseluruh kota, maka dari itu mau atau tidak kita harus mencarinya dengan berkeliling! Percayalah nanti kita akan berhasil mencari mereka! sekarang kau tenangkan hatimu, makanlah kue kering itu ....!"

Yo Him memakan kue kering yang diberikan si pengemis, tetapi dia kurang berselera, dia hanya memakan satu potong.

"Makan lebihan, nanti kau masuk angin!"

Membujuk pengemis itu.

"Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya?"

Tanya Yo Him akhirnya.

"Tadi aku melihat semua pengemis menghormati Lojinke...?!"

Si pengemis tersenyum.

"Akupun pengemis biasa seperti mereka"

Sahutnya seperti ingin menyembunyikan sesuatu, Yo Him juga tidak mendesak lebih jauh, dan mereka telah berkeliling lagi, dari lorong yang satu kelorong yang lain, Disaat mereka tengah berjalan menanyai pengemis-pengemis yang mereka jumpai, justru di saat itu mereka melihat dari arah belakang mereka berlari-lari tiga sosok tubuh.

Ketika telah dekat, tampak tiga orang pengemis kecil yang ber lari-lari kearah mereka.

"Itu mereka .... mereka yang telah mengambil barangku !"

Kata Yo Him sambil menunjuk kearah ketiga pengemis kecil itu.348 Sedangkan ketiga orang pengemis kecil itu telah tiba dihadapan Yo Him dan Wie Tocu.

Mereka tiba-tiba sekali menjatuhkan diri berlutut dihadapan Wie Tocu dan Yo Him.

"Kami memohon ampun, kami telah melakukan dosa ...... !"

Berkata ketiga pengemis kecil itu.

Tentu saja perbuatan ketiga pengemis itu telah membuat Yo Him jadi heran sekali, dia sampai mengawasi tertegun saja.

Wie Tocu tampak memandang ketiga pengemis kecil itu dengan muka yang merah padam karena gusar.

"Kalian telah melanggar larangan, telah berani merampas milik orang lain, lalu mengapa kalian melakukan dosa lainnya dengan mengeroyok, dan memukuli engko kecil ini ?"

Bentak Wie Tocu dengan suara yang bengis.

Ketiga pengemis kecil itu berlutut sambil memanggut-manggutkan kepalanya tidak hentinya, sampai kening mereka menghajar tanah dan kening itu terluka serta mengeluarkan darah.

Merekapun menangis sedih sekali.

"Kami memang pantas menerima hukuman yang berat, tetapi kami mohon kemurahan hati Wie Tocu untuk mengampuni kami, mengampuni jiwa kami .."

Dan setelah berkata begitu, ketiga pengemis kecil itu tetap dalam keadaan berlutut, telah menggerakkan kedua tangan mereka menghajari muka mereka dengan keras, menghantam muka sendiri dangan tempilingan yang gencar sehingga terdengar suara ketepak-ketepok tidak hentinya.

Keruan saja Yo Him tambah heran.

Sedangkan Wie Tocu hanya menyaksikan dengan berulang kali tertawa dingin.

Dan kemudian setelah dia melihat muka ke tiga pengemis kecil itu babak belur, barulah Wie Tocu puas, dia mengibaskan lengan bajunya.349

"Pergilah kalian...!"

Katanya dengan suara yang dingin. >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 11 Ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan main, mereka telah berlutut sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Terima kasih atas kemurahan hati Wie Tocu ... !"

Kata mereka dan segera ketiganya telah pergi meninggalkan tempat itu.

Sedangkan buntalan Yo Him tampak menggeletak tanpa ada perobahan apa-apa.

Tentu saja Yo Him gembira sekali waktu melihat barang-barangnya utuh, dan Wie Tocu telah mengambil buntalan itu serta menyodorkan kepada Yo Him.

"Periksalah olehmu, apakah ada barang dan uangmu yang hilang?"

Katanya. Yo Him memeriksanya, ternyata tidak satu chi pun uangnya terganggu.

"Tidak ada Lojinke.... dan Lojinke jangan marah, ini untuk terima kasihku atas bantuan lojinke....."

Sambil berkata begitu, Yo Him telah mengangsurkan dua tail perak kepada penolongnya. Muka We Tocu jadi berubah, tampaknya dia jadi tidak senang.

"Aku mencari-mencari ketiga anak itu bukan hanya sekedar menolongi dirimu, tetapi juga menolongi nama baik Kaypang, perkumpulan kami !"

Kata Wie Tocu dengan suara yang keras.

"Walaupun kami kaum pengemis, tetapi kami tidak kemaruk uang !" .350 Yo Him saat itu jadi kaget melihat si pengemis mendongkol begitu cepat-cepat dia meminta maaf dan menyimpan uangnya kembali. Wie Tocu telah menghela napas.

"Aku tahu kau memberikan uangmu itu bukan sekali-sekali dengan maksud menghina"

Katanya.

"Kau memang memberikan setulusnya karena tidak mengetahui peraturan Kaypang"

Yo Him heran sekali.

"Kaypang itu sesungguhnya perkumpulan apa, Lojinke"

Tanya Yo Him.

"Itulah sebuah perkumpulan pengemis,yang sudah berusia berabad abad. Kami memiliki, peraturan yang keras sekali, yaitu tidak boleh mencuri, tidak boleh memaksa, tidak boleh melakukan kejahatan, tidak boleh menipu, tidak boleh bersikap rendah.."

Mendengar perkataan si pengemis yang biasa dipanggil kawan-kawannya itu dengan sebutan Wie Tocu ini, hati Yo Him jadi kagum.

Se tidak-tidaknya Wie Tocu telah memperlihatkan bahwa pengemis itu belum tentu rendah atau hina, karena merekapun memiliki hati yang agung.

"Tetapi mengapa ketiga anak ini bisa datang mengembalikan barang-barangku?"

Tanya Yo Him dengan perasaan heran.

"Seperti telah kukatakan, di dalam Kaypang kami terdapat pantangan mencuri, merampas atau juga. menghina orang yang lemah ...maka di saat mereka mendengar dari pengemis-pengemis yang lainnya bahwa aku tengah mencarinya, mereka jadi ketakutan dan mereka datang menemuiku untuk mengembalikan barang-barangmu." 351 Yo Him jadi kagum sekali.

"Mereka mendengar bahwa Lojinke ..tengah mencari mereka justru mereka ketakutan. Tetapi mereka tidak menyembunyikan diri bahkan mereka telah mencari Wie Tocu untuk mengakui kesalahan mereka. Bukan main! Itulah lambang jiwa kesatria!"

Wie Tocu tersenyum mendengar perkataan Yo Him.

"Kau terlalu memuji !"

Katanya kemudian.

"Memang sudah menjadi peraturan rumah tangga kami karena itu semua yang terjadi bukan suatu persoalan yang luar biasa.. !"

Setelah Yo Him mengetahui, Wie Tocu memiliki kekuasaan dan kedudukan yang tinggi sekali dalam Kaypang, maka dari itu tidak mengherankan, waktu ketiga pengemis kecil itu mendengar bahwa Wie Tocu tengah mencari mereka, mereka telah menggigil ketakutan setengah mati, karena mereka telah melakukan perbuatan berdosa yang menjadi pantangan dari perkumpulan mereka ....

"Nah anak manis, kini pergilah kau melanjutkan perjalananmu! Aku wakili ketiga anak nakal itu menyatakan maaf !"

Kata Wie Tocu sambil menjura. Tentu saja Yo Him jadi terkejut cepat-cepat dia menyingkir.

"Tidak berani aku menerima penghormatan begitu berat dari Lojinke."

Katanya.

Dan Yo Him juga telah mengatakan terima kasih kepada Wie Tocu, Sedangkan Wie Tocu setelah tersenyum lagi dia memutar tubuhnya meninggalkan Yo Him.

Yo Him mengawasi kepergian Wie Tocu, sampai bayangan sipengemls lenyap, Disaat itu.

dari sudut sudut jalan yang gelap tahu-tahu telah melompat tiga sosok tubuh kecil.

Tentu saja Yo Him jadi terkejut sekali.

Terlebih lagi dia mengenali bahwa ketiga sosok bayangan itu tidak lain dari ketiga pengemis itu.352

"Apakah mereka ingin membalas sakit hati karena aku telah membongkar rahasia mereka kepada Wie Tocu mereka itu?."

Berpikir Yo Him ngeri, karena dia takut justeru dirinya akan dipukuli terus menerus lagi oleh ketiga pengemis itu yang usianya memang jauh lebih besar dari dia.

Tetapi siapa sangka ketiga pengemis itu tahu-tahu telah berlutut dihadapannya.

"Kongcu (tuan muda) harap mau memaafkan dosa kami, harap kau mau mengampuni kami ..."

Sesambatan ketiga pengemis kecil itu sambil menangis.

Tentu saja Yo Him jadi tertegun, dia memandang melengak kepada ketiga pengemis kecil itu.

Tidak sepatah perkataanpun juga yang keluar dari mulutnya.

Ketiga pengemis kecil itu waktu melihat Yo Him berdiam diri saja, jadi menangis lebih keras.

"Harap Kongcu mau mengampuni dan menolong kami l"

Kata mereka dengan menangis lebin keras. Tentu saja kelakuan ketiga pengemis kecil itu membuat Yo Him tambah bingung.

"Menolong kalian ? Apakah kalian menghendaki aku menderma satu dua tail perak kepada kalian?"

Tanya Yo Him yang menduga bahwa pengemis-pengemis kecil itu meminta derma padanya.

"Ohhh, kami mana berani menerimanya ?"

Cepat sekali ketiga, pengemis kecil itu telah berkata sambii menghapus air mata, juga mereka masih dalam keadaan berlutut.

"kami hanya memohon agar kongcu memintakan pengampunan untuk kami bertiga kepada Wie Tocu !".

"ahh !", Yo Him jadi mengeluarkah suara seruan tertahan.

"Bukankah Wie Tocu kalian itu sudah mengampuni, bukankah tadi Wie Tocu ketika itu telah perintahkan kalian pergi ?"

"Benar tetapi menurut peraturan partai, besok kami akan disidang dan dijatuhi hukuman !"

Menyahut ketiga pengemis itu terisak. Tentu saja Yo Him jadi heran.

"Tadi kelian telah menyiksa diri sendiri sampai muka kalian babak belur dipukul oleh kalian sendiri, mana mungkin kalian akan dijatuhi hukuman lagi ?"

Tanya Yo Him tidak mengerti.

Ketiga pengemis itu tetap berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tangisan ketiga pengemis itu juga bertambah keras dan menyayatkan hati.

Tentu saja Yo Him tambah bingung dan gugup, tidak tahu dia apa yang harus dilakukannya.

"Sesungguhnya...apa yang kalian kehendaki? Apa yang kalian inginkan, dan apa yang harus kulakukan untuk kalian bertiga ?"

Tanya Yo Him akhirnya.

"Kami hanya memohon kerelaan Kongcu untuk mengampuni kami dan memohonkan pengampunan kami kepada Wie Tocu..."

Kata ketiga pengemis itu.

"Apakah didalam perkumpulan Kaypang kalian memang terdapat peraturan begitu ?".

"Kalau tidak, besok begitu kami disidang dan dijatuhi hukuman, sedikitnya kami akan menerima hukuman yang membuat kami bercacad seumur hidup !" .

"Akhh ?"

Yo Him berseru kaget.

"Apakah ada peraturan yang begitu kejam ?"

"Itu merupakan hukuman yang sangat ringan, dan kalau kami terbukti berdosa besar, berarti kami akan menerima hukuman mati !" .354 Mendengar perkataan ketiga pengemis kecil itu, Yo Him jadi berdiri tertegun. Dia telah memandangi sejenak kepada ketiga pengemis itu dengan wajah yang pucat, karena dia jadi ngeri mendengar bahwa di Kaypang terdapat hikuman yang begitu berat.

"Tolonglah kami, kongcu. tolonglah kami !" , sesambatan ketiga pengemis kecil itu. Yo him jadi tambah binggung saja.

"Aku mana bisa menolongi kau? Wie Tocu tentu tidak akan mengindahkan kata-kataku...".

"Tetapi justru yang menjadi korban kami adalah Kongcu, maka asal kongcu, mau membuka satu dua patah kata memohonkan pengampunan untuk kami, Wie Tocu tentu akan meluluskan..."

"Dimana aku harus menemui Wie Tocu ?"

Tanya Yo Him ragu-ragu.

"Mari ikut kami, kami yang akan menunjukan tempat dimana Wie Tocu biasa berdiam,"

Kata ketiga pengemis itu serentak.

Dihati Yo Him tiba-tiba sekail muncul kecurigaan lagi terhadap ketiga pengemis kecil ini.

Tadi ketiga pengemis ini yang telah mencelakai dan merampas buntalannya.

Bukan sekarang mereka tengah mengatur rencana untuk mencelakai dirinya lagi?

Bukankah ketiga pengemis ini tengah berusaha mengajak Yo Him ketempat yang sepi dan nanti membunuhnya sambil merampas buntalannya?

Dengan demikian bukankah mereka tidak meninggalkan jejak.

Yo Him jadi ketakutan ketika berpikir begitu.Dia telah menggeleng keras-keras.355

"Tidak! Aku tidak mau ikut kalian"

Katanya kemudian dengan suara nyaring.

"Aku ada urusan penting, aku harus pergi cepat" . Ketiga pengemis kecil itu semula girang mendengar Yo Him bersedia menolongi mereka. tetapi waktu mendengar Yo Him merubah pikirannya, wajah ketiga pengemis itu jadi pucat. Serentak mereka telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan Yo Him.

"Kongcu, tolonglah jiwa kami sekali ini ...!"

Sesambatan mereka sambil menangis keras.

Yo Him jadi ragu-ragu lagi.

Dilihat dari sikap mereka bertiga, ketiga pengemis kecil itu bukan sedang bersandiwara, karena tampaknya ketiga pengemis kecil itu memang tengah ketakutan.

Akhirnya setelah bimbang sejenak, Yo Him mengangguk.

"Baiklah ! Kalian tunjukan dimana aku bisa menemui Wie Tocul"

Katanya.

Keruan Saja ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan main.

Mereka berulang kali telah menyatakan terima kasih yang tak terhingga.

Dengan hati yang diliputi oleh tanda tanya dan ke ragu-raguan, Yo Him mengikuti ketiga pengemis kecil itu.

Ketiga pengemis kecil itu mengajak Yo Him melalui beberapa lorong yang penuh oleh pengemis-pengemis dari berbagai usia dan tingkat umur.

Semua pengemis-pengemis yang berpapasan hanya menghela napas, bahkan ada yang menggumam.

"Salah mereka bertiga juga, yang telah berani melakukan perbuatan hina seperti itu...!" 356 Tentu saja Yo Him mengetahui bahwa yang dimaksudkan oleh orang itu adalah ketiga pengemis kecil tersebut. Disaat itulah Yo Him baru menyadari bahwa ketiga pengemis kecil itu memang benar-benar tengah ketakutan oleh ancaman hukuman berat dan benar-benar membutuhkan pertolongannya. Maka Yo Him mempercepat langkahnya, agar lebih cepat dapat menjumpai Wie Tocu. Disaat itu ketiga pengemis kecil tersebut telah mengajak Yo Him kesebuah tikungan jalan yang gelap. Yo Him melihat dikejauhan tampak duduk Wie Tocu disebuah undakan anak tangga dimuka bangunan rumah yang sudah tua. Cepat-cepat ketiga pengemis kecil itu telah menunjuk kearah Wie Tocu sambil katanya perlahan;

"Wie Tocu berada disana kami menanti di sini" . Yo Him mengerti. Dengan langkah lebar, Yo Him telah menghampiri Wie Tocu, yang ternyata tengah duduk sambil setengah rebah, memejamkan matanya rapat-rapat.

"Wie Tocu"

Panggil Yo Him. Wie Tocu seperti tidak mendengarnya.

"Wie Tocu ... aku datang ingin mengganggu mu sebentar" . Tetapi Wie Tocu seperti tidak mendengar perkataan Yo Him, karena pengemis dengan kumis dan jenggot yang kaku tidak beraturan itu, tetap memejamkan matanya.

"Wie Tocu..."

Panggil !

Yo Him dengan suara sengaja diperkeras.

Perlahan-lahan Wie Tocu membuka sepasang matanya, dan ketika melihat yang memanggilnya bukan seorang pengemis,357 melainkan Yo Him, dia jadi terkejut, karena itu dia telah duduk tegak dengan cepat dan wajahnya yang tadi angker telah dihiasi senyuman.

"Akhh, kau belum pergi ?, kukira siapa, tidak tahunya kau !"

Kata Wie Tocu "Ada urusan apa lagi". Yo Him ragu-ragu sejenak tetapi akhirnya dia telah berkatga juga.

"Aku ingin meminta pertolongan sedikit dari Wie Tocu, bolehkah aku bicara terus ?"

Tanya Yo Him.

"Katakanlah,"

Kata Wie Tocu "Sesungguhnya, kedatanganku ini untuk memintakan pengampunan..."

Kata Yo Him.

"Meminta pengampunan?"

"Ya,"

Mengangguk Yo Him "Pengampunan apa"

"Pengampunan dari hukuman"

"Kau bersalah apa ?"

"Bukan, untukku, tetapi untuk orang lain "

"Untuk orang lain?"

"Ya, untuk orang lain "

Sepasang alis Wie Tocu jadi mengkerut "

Adik kecil, aku merasa tertarik ketika pertama kali aku melihatmu aku juga merasa kasihan ketika melihat kau mengalami nasib buruk karena barangmu telah dirampas oleh anak-anak Kaypang.

Tetapi jangaa kau berpikir yang tidak-tidak untuk meminta segala macam persoalan yang bukan menjadi urusanmu!

Yang terpenting sekali kau tidak boleh usil mencampuri urusan orang lain..."

Yo Him jadi berobah merah mukanya.358

"Tetapi Wie Tocu aku benar-benar membutuhkan sekali pertolonganmu!"

Kata Yo Him kemudian "Mengapa begitu?"

"Aku bermaksud menyelamatkan tiga orang anak buahmu dari hukuman."

Mendengar perkataan Yo Him sampai disitu, muka Wie Tocu telah berobah menjadi merah padam.

"Kau maksudkan ketiga pengemis kecil?"

Tanyanya dengan suara dingin Yo Him ragu-ragu sejenak melihat wajah Wie Tocu begitu rupa, tetapi akhirnya dia jadi nekad dan telah menganggukkan kepalanya.

"Benar!"

Menyahuti Yo Him.

"Plakk !"

Tahu-tahu Wie Tocu telah mengayunkan tangannya, dia telah menghantam pilar batu, sehingga pilar itu sempal dan sebagian menjadi bubuk.

Tentu saja hal itu telah membuat Yo Him jadi tertegun kaget, hatinya jadi ngiris sekali.

"Kau keterlaluan sekali !"

Berkata Wie Tocu dengan suara yang dingin.

"Kau baru saja kutolong untuk mencari pulang barang-barangmu. Kini barang-barang dan uangmu telah kembali ketanganmu, bukannya pergi membawa dirimu, engkau malah mau usil mencampuri urusan rumah tangga dari perkumpulan kami !" . Waktu berkata begitu, wajah Wie Tocu tampak dingin dan juga suaranya tidak mengandung perasaan, ditekan dalam sekali. Yo Him jadi takut, tetapi teringat betapa ketiga pengemis kecil itu mengalami ancaman hukuman yang katanya bisa membuat mereka bercacad. dengan sendirinya mau tidak mau membuat Yo Him bertekad harus menolonginya.359 Setelah berpikir sejenak, tahu-tahu Yo Him menekuk kedua kakinya. Yo Him telah berlutut dihadapan Wie Tocu sambil katanya .

"Lojinke...jika memang kau mau mengampuni ketiga orang anak buahmu itu aku bersedia untuk bekerja kepadamu satu bulan lamanya ! Atau sebagai imbalannya kau sebutkan saja, asal aku dapat melakukannya, pasti aku akan melakukannya menuruti permintaanmu!"

Wie Tocu sama sekali tidak menduga bahwa Yo Him bisa berlutut dihadapannya hanya sekedar ingin menolongi ketiga orang pengemis kecil itu, Justeru yang ingin ditolong Yo Him adalah pengemis-pengemis kecil yang telah mengganggu-nya.

Untuk sejenak Wie Tocu jadi tertegun, saat itu sebetulnya dia tengah mendongkol dan gusar tetapi dengan adanya peristiwa yang tidak diduganya ini, dimana Yo Him berlutut dihadapannya dengan hati tulus itu untuk menolong ketiga orang pengemis kecil yang menjadi anak buahnya, kemarahan dan kemendongkolan Wie Tocu seketika meiosot delapan bagian...

Dengan mengibaskan lengan bajunya.

Wie Tocu telah membentak .

"Berdirilah kau !" . Aneh sekali. Yo Him yang tengah berlutut merasakan betapa ada serangkum kekuatan tenaga yang hebat sekali mendorong bahunya, dan tanpa bisa ditahannya lagi tubuhnya jadi berdiri, menuruti perintah dari Wie Tocu. Wie Tocu mengawasi Yo Him sejenak, sampai akhirnya dia berpikir .

"Biarlah aku menguji sampai berapa besar jiwa kesatria yang dimilikinya..."

Dan setelah berpikir begitu, tampak Wie Tocu memperlihatkan muka yang bengis dan telah berkata ;

"Apakah engkau benar-benar memang ingin menolong ketiga pengemis kecil yang pernah mengganggumu itu" 360 Yo Him mengangguk dengan pasti, tanpa ragu-ragu sedikitpun juga.

"Benar!"

Sahutnya.

"Hemm, tahukah engkau bahwa didalam perkumpulan kami terdapat peraturan yang keras, yang akan menghukum anak buahnya yang melakukan pelanggaran. Maka dari itu hukuman akan dijatuhkan oleh sidang yang akan kami adakan besok, tidak bisa dibantah oleh siapapun juga! Jika memang si terhukum meminta keringanan, maka dia harus mencarikan wakilnya, yaitu orang lain yang bersedia berkorban untuk mereka!"

Dan setelah berkata begitu, tampak Wie Tocu telah menggerakan tangannya, dia telah mengibas lagi.

"Pergilah kau!"

Katanya.

"Aku sudah mengatakan bahwa kau tidak mungkin bisa mewakili mereka."

Yo Him jadi berdiri ragu-ragu "Sesungguhnya hukuman apakah yang akan diterima mereka bertiga?"

Tanya Yo Him kemudian.

"Mereka akan dipatahkan kedua kaki dan ke dua tangannya!"

Kata Wie Tocu "Akkhhh!"

Memang hukuman yang disebut oleh Wie-Tocu telah mengejutkan sekali Yo Him, Tubuh anak itu juga telah tergetar menggigil menahan perasaan terkejutnya, Tetapi Wie Tocu telah tertawa dingin.

"Jika memang engkau ingin mewakili ketiga pengemis kecil itu, berarti kau harus mewakili mereka, dipatahkan kaki dan tanganmu .. bahkan disebabkan mereka tiga orang, maka kau harus menjalankan hukuman itu sebanyak tiga kali!"

"Sebuah cara menghukum yang kejam sekali !"

Menggumam Yo Him dengan suara yang serak.

"Hemmm... bukan kejam, tetapi peraturan kami dijalankan dengan keras. Kalau kami sendiri tidak menjunjung tinggi peraturan kami, lalu siapa yang akan mentaatinya?"

Mendengar begitu, tentu saja Yo Him jadi berdiri mematung sesaat lamanya.

Mana mungkin dia mewakili ketiga pengemis kecil itu, untuk dipatahkan kedua kaki dan kedua tangannya?

Bahkan Untuk mewakili ketiga pengemis kecil itu, berarti dia harus menjalani hukuman seperti itu sebanyak tiga kali !

Bukanlah itu merupakan Urusan yahg terlampau gila???

Melihat muka Yo Him telah berobah pucat dan berdiri dengan tubuh yang kaku,seperti itu Wie Tocu mengeluarkan suara tertawa dingin, kemudian Wie Tocu merebahkan tubuhnya lagi dia telah memejamkan matanya seperti tidak mengacuhkan lagi kepada Yo Him.

Yo Him berdiri diam ditempatnya agak lama, sampai akhirnya dia memanggil "Wie Tocu..."

Tetapi Wie Tocu tidak menyahut, dia tetap memejamkan matanya "Wie Tocu... !"

Yo Him telah memanggil lagi. Wie Tocu membuka matanya tanyanya dengan suara yang dingin.

"Apa lagi?"

"Aku ingin bertanya kepada lojinke, seumpama kata aku mewakili mereka menjalankan hukuman, apakah ketiga pengemis kecil itu akan bebas dari hukuman yang harus mereka terima?"

"Oh jelas....!"362 Yo Him menggigit bibirnya keras-keras, kemudian dengan nekad dia berkata.

"Baiklah! Baiklah..Biarlah aku yang mewakili mereka menerima hukuman itu!"

Muka Wie Tocu jadi berobah, sepasang alisnya bergerak-gerak.

"Kau bersungguh-sungguh?"

Tanyanya dengan suara tidak lancar.

"Mengapa aku harus berdusta?"

Tanya Yo Him lagi.

"Seorang lelaki tentu tidak akan bohong".

"Bagusi Apakah kau tidak takut kalau harus menjalankan tiga kali hukuman seperti itu'"

Tanya Wie Tocu lagi.

"Mengapa harus takut! Hukuman berat dan kejam itu diciptakan oleh manusia, untuk menghukum manusia juga, maka walaupun manusia bersalah itu telah bertobat dan memohon pengampunan, hukuman itu harus tetap mereka jalankan. Dan ketiga pengemis kecil itu berjumlah tiga orang, sedangkan aku hanya satu orang. Biarlah, dari pada mereka bertiga harus celaka semuanya, bukankah lebih baik aku seorang saja yang berkorban?"

"Tetapi walaupun engkau mewakili mereka engkau tetap harus menerima tiga kali hukuman itul"

Kata Wie Tocu menegasi.

"Bukankah engkau mewakili tiga pengemis kecil itu?"

"Ohh. memang begitu !"

Menyahut Yo Him cepat "Memang aku telah bersiap sedia untuk menerima tiga kali hukuman kejam itu.

Bukankah menerima satu kali atau sepuluh kali akan sama saja ?

maka daripada ketiga pengemis kecil itu mesti bercacad bertiga lebih baik hanya aku saja yang bercacad, sama bukan ?"

Bukan main kagumnya hati Wie Tocu, dia sampai mengawasi Yo Him dengan mata yang terpentang lebar-lebar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.363

"Bukan main"

Katanya beberapa kali dengan suara yang perlahan "Engkau hebat sekali adik kecil, hebat sekali !"

Yo Him mengawasi Wie Tocu, dia heran melihat sikap Wie Tocu seperti itu.

"Kau jangan memandang sinis kepadaku seperti itu !"

Kata Yo Him mendongkol.

"Walau pun hukuman itu bukan hukuman yang ringan, tetapi kukira masih dapat kutahan !"

Wie Tocu telah memperlihatkan ibu jarinya "Hebat !"

Serunya nyaring.

"Engkau hebat adik kecil !" . Dan Wie Tocu telah tertawa gelak-gelak dengan suara tertawanya yang keras sekali. Yo Him tidak mengerti sikap Tocu itu, dia telah mengawasi saja.

"Untuk menolongi ketiga anak kecil yang telah merampas barang-barangmu, bahkan yang telah memukulimu juga, kini engkau membelai mereka, bersedia untuk berkorban sedemikian rupa mewakili hukuman untuk mereka, benar-benar merupakan urusan yang jarang sekali kusaksikan dalam usia sudah setua ini ...."

Dan Wie Tocu telah tertawa lagi bergelak-gelak dengan keras.

Tentu Saja Yo Him belum mengerti maksud perkataan dari Wie Tocu, tetapi dia telah melihat bahwa muka Wie Tocu sudah tidak sedingin tadi, bahkan telah tertawa keras dan begitu lapang.

"Baiklah !"

Kata Wie Tocu kemudian.

"Aku membebaskan ketiga pengemis kecil itu ....Mereka kubebaskan dari hukuman yang seharusnya mereka terima...... dan begitu pula kau kubebaskan juga dari hukuman itu" 364 Setelah berkata begitu, dengan cepat Wie Tocu menghampiri Yo Him, sambil katanya "Mari kita mengikat tali persahabatan... !"

Inilah suatu peristiwa yang benar-benar luar biasa dan jarang terjadi, karena sebagai orang penting di Kaypang.

luar biasa sekali dia mengajak seorang anak kecil Yo Him untuk mengikat tali persahabatan.

Yo Him jadi memandang tertegun sejenak, tetapi kemudian ikut tertawa.

"Lojinke engkau luar biasa juga!"

Katanya "

Engkau telah mau memenuhi permintaanku untuk membebaskan ketiga orang pengemis kecil itu dari hukuman yang seharusnya mereka terima, sudah merupakan urusan yang menggembirakan sekali.

Bagaimana aku berani begitu kurang ajar untuk menjadi sahabat Lojinke?"

Mendengar perkataan Yo Him, kembali Wie Tocu telah tertawa ber-gelak.

"Hahaha. dalam mengikat tali persahabatan, tidak tergantung dari usia, tidak melihat dari tingkat dan kedudukan ! dalam mengikat tali persahabatan sejati adalah dua potong hati yang cocok dan merasa saling menghormati! Bukankah sebagai sahabat, kita harus tolong menolong dan menaruh hormat dan segan ? Aku telah melihatnya, walaupun usiamu masih demikian muda, namun engkau memiliki hati yang benar-benar gagah dan kesatria."

Cepat-cepat Yo Him menjura.

"Lojinke terlalu memuji berat sekali"

Katanya"

Tetapi Wie Tocu telah tertawa lagi. dia menarik tangan Yo Him.

"Mari, mari! Aku akan mentraktir kau makan dan minum!"

Katanya.

Yo Him ingin menolak, tetapi cekalan tangan Wie Tocu sangat kuat, tubuhnya juga telah ditarik.

Maka dari itu Yo Him365 akhirnya terpaksa hanya ikut saja, kalena jika dia bertahan tentu dirinya akan terseret dan jatuh.

Saat itu Wie Tocu telah mengajak Yo Him kesebuah rumah arak, dia telah memilih sebuah meja dan duduk disitu sambil memukul meja.

"Mana pelayan?"

Teriaknya. Dua orang pelayan segera, mendatangi dengan sikap yang menghormat sekali.

"Wie Tocu ingin dahar dan minum apa?"

Pelayan itu dengan sikap yang sangat hormat sekali, sehingga membuat Yo Him kembali merasa kagum kepada Wie Tocu.

Karena Walaupun dia seorang pengemis, namun kenyataannya dia sangat dihormati sekali oleh pelayan rumah arak itu.

"Lima kati arak dan empal kati daging bakar!"

Kata Wie Tocu nyaring. Setelah pelayan pergi, Wie Tocu menunjuk kursi dihadapannya.

"Kau duduk disitu, adik kecil."

Katanya, kemudian, karena dia melihat Yo Him masih saja berdiri ditempatnya tidak bergerak.

Yo Him ragu-ragu sejenak tetapi karena dia takut Wie Tocu tersinggung dan marah, akhirnya dia telah duduk juga.

"Akhhhh..."

Berkata Wie Tocu itu lagi "Dan kau selanjutnya tidak perlu merasa segan kepada sahabatmu!

Karena usiaku lebih tua banyak dari kau untuk selanjutnya akulah si kakak, maka kau panggil aku dengan sebutan Toako, sedangkan kau si adik, yaitu si Hiante !"

Yo Him yang tengah tertegun mendengar dan melihat sikap Wie Tocu hanya diam mematung saja.

"Nah, Yo Hiante, kau dengar bukan perkataanku?"

Tanya Wie Tocu itu sambil mengawasi Yo Him dengan disertai tertawanya yang lebar,366 Yo Him mengangguk.

"Terima kasih Lojinte ..."

Kata Yo Him dengan gugup.

"Mengapa masih memanggil dengan sebutan Lojinke? Aku begini-begini juga belum terlalu tua sekali untuk menjadi kakakmu!"

Berkata Wie Tocu sambil tertawa.

"Sebagai orang berjiwa ke satria, apa susahnya sih mengucapkan Kata -Kata Toako?"

"Baiklah Wie Toako !"

Mengangguk Yo Him akhirnya. Mendengar dia dipanggil Toako, Wie Tocu telah tertawa bergelak-gelak keras sekali, tampaknya dia girang bukan main.

"Terima kasih Hiante ! Terima kasih Yo Hiante! Ternyata kau tidak memandang rendah aku si pengemis butut ini" .

"Mana berani adikmu memandang rendah Toako?"

Cepat-cepat Yo Him telah mengimbangi.

Segera juga keduanya jadi asyik ber cakap-cakap.

Waktu pelayan mengantarkan arak dan daging bakar.

Wie Tocu telah memaksakan Yo Him meneguk satu cawan arak.

Semula Yo Him menolak, tetapi akhirnya karena didesak terus, terpaksa dia menuruti juga perintah kakaknya itu.

Begitulah mereka telah bercakap-cakap banyak sekali.

Tetapi yang pasti adalah si kakak angkat itu yang telah banyak berbicara Dengan mendengarkan ceritanya Wie Tocu, maka Yo Him jadi mengetahui sedikit gambaran mengenai penghidupan jago-jago didalam rimba persilatan.

Dan disaat itu Yo Him teringat peristiwa yang telah terjadi di kuil Kun Lun San.

Segera juga Yo Him menceritakan pengalamarnya itu kepada Wie Toakonya itu.367

"Akkhhh "

Berseru Wi Tocu.

"Apakah ada peristiwa hebat seperti itu? Sebelumnya tidak pernah aku mendengarnya !"

Tampaknya Wie Tocu benar-benar kaget, mukanya juga telah berobah pucat.

"Dan Yo Hiante tahukah kau nama keempat orang Mongol yang telah mencelakai imam-imam dari Kun Lun Pay itu."

Yo Him menggelengkan kepalanya.

"Sayang adikmu tidak mengetahui apa-apa katanya kemudian.

"Aneh sekali, Siapakah pendeta itu?"

Menggumam Wie Tocu. Tetapi akhirnya Wie Tocu menghela napas panjang.

"Sudahlah, urusan imam-imam Kun Lun Pai itu nanti akan kuselidiki. Nanti akan kuperintahkan beberapa orang Kaypang untuk pergi kekuil Kun Lun Sie untuk menyelidiki urusan itu. Dan setelah berkata begitu Wie Tocu telah merogoh sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah Kimpay yaitu sebuah lencana emas. Sambil memperlihatkan Kimpay itu, Wie-Tocu telah berkata;

"Yo Hiante, kau lihatlah..."

Katanya "Walaupun aku dari perkumpulan pengemis tetapi pay kami terbuat dari emas.

Nah.

Kau peganglah Kimpay ini, kelak tentu banyak kegunaannya untukmu.

Aku menghadiahkan kenang-kenangan untukmu karena Toako mu di-saat sekarang ini tidak memiliki barang lainnya Untuk dihadiahkan kepadamu !

"Toako ?"

Yo Him ragu-ragu, karena dia melihat Kimpay itu terbuat dari emas dan ukurannya juga agak besar.

"Terimalah, jangan kau menolak, karena jika kau menolak, berarti menghina Toakomu !"

Kata si pengemis.368 Dengan sikap masih ragu-ragu Yo Him telah menyambuti Kim Pay itu. Dia memasukkan kedalam sakunya.

"Yo hiante kau dengarlah. Diseluruh daratan Tionggoan tersebar anggota Kaypang"

Kata Wie Tocu.

"Setiap propinsi, setiap kecamatan setiap kampung dan setiap kota, pasti terdapat anggota Kaypang. Kakakmu bukan bicara besar, tetapi memang sesungguhnya Kaypang memiliki anggota yang sangat banyak jumlahnya. Walaupun belum bisa disebut sebagai perkumpulan nomor satu, tetapi tidak mudah orang menghina Kaypang. Jika kelak suatu saat kau menemui kesulitan, kesulitan apa saja, kau temuilah seorang anggota Kaypang setempat dan perlihatkan Kimpay itu sambil menyebutkan dan menceritakan kesulitanmu. maka dengan segera kesulitanmu itu akan teratasi, walaupun dalam bentuk apa saja kesulitan itu...!"

"Begitu hebatkah pengaruh Kimpay yang Toako hadiahkan kepadaku?"

Tanya Yo Him. Wie Tocu telah mengangguk meyakinkan, sambil katanya.

"Sekarang begini saja kau mungkin belum percaya perkataan Toakomu, kau perlu bukti. Sekarang pergilah kau keluar, kau pilih pengemis mana saja yang kau kira belum pernah bertemu dengan kau, setelah kau panggil segera kau perlihatkan Kimpay ini apa yang akan segera dilakukan oleh pengemis itu pasti akan membuktikan perkataan Toakomu yang terkebur ini..." . Yo Him jadi ragu-ragu, tetapi karena diapun ingin mengetahui kasiat dari Kimpay itu, akhirnya mau juga dia menuruti perkataan kakak angkatnya itu. Namun baru saja dia berdiri, Yo Him telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah memberi hormat kepada Wie tocu.

"Jika adikmu menuruti perkataanmu, Toako, berarti adikmu ini tidak tahu diri, tidak mempercayai perkataanmu"

Kata Yo Him kemudian.

"Bukankah sebagai seorang kakak, engkau369 tidak akan mendustai adikmu ?"

Dan setelah berkata begitu Yo Him duduk kembali di kursinya.

Wie Tocu berterima kasih atas sikap Yo Him.

Mereka telah bercakap-cakap banyak sekali, akhirnya mereka berpisahan, karena Yo Him bermaksud melanjutkan perjalanannya.

Semula Wie Tocu menahan Yo Him, agar bermalam dikota tersebut, tetapi Yo Him telah menolaknya sambil menyatakan terima kasihnya.

Menurut Yo Him, dia telah terlalu banyak merepotkan sang kakak.

"Mungkin kau takut diminta tidur diemperan toko dan ditepi jalan, bukan?"

Tanya Wie Tocu sambil tertawa.

"Jangan takut aku pasti akan memintakan kamar kelas satu dirumah penginapan kelas satu !"

"Aku percaya Toako, tetapi tidak mau merepotkan Toako lebih jauh.!"

Menyahuti Yo Him sambil tertawa.

Dan berpisahlah mereka, Saat itu mendekati fajar, dimana matahari hampir muncul memperlihatkan dirinya.

Yo Him telah melanjutkan perjalanannya meninggalkan kota itu.

Ketika berjalan belasan lie, Yo Him telah tiba disebuah kampung yang tidak begitu besar, dia telah menginap dirumah seorang penduduk, Setelah puas tidur, akhirnya Yo Him melanjutkan perjalanan lagi.

Waktu itu sudah mendekati awal musim dingin, disaat mana semua pohon telah gundul karena pohon itu telah melepaskan bunga dan daunnya gugur semua...

salju juga mulai turun tipis-tipis.

Walaupun udara belum terlalu dingin, namun nyatanya orang jarang melakukan perjalanan dalam udara seburuk itu.370 Yo Him telah membeli sebuah jubah tebal, dengan itu dia melindungi tubuhnya dari serangan hawa dingin.

Dan Yo Him terus juga melanjutkan perjalanan.

Anak ini sama sekali tidak memiliki tujuan, dia hanya berjalan kemana kakinya membawanya...

Waktu Yo Him tiba di kota Phui-sie-kwaan anak ini tertarik melihat kota yang padat penduduknya dan ramai sekali, walaupun musim dingin mulai tiba.

Waktu Yo Him memasuki pintu kota, tiba tiba dia mendengar suara ramai.

Dilihatnya banyak orang berdiri berkerumun seperti juga tengah menyaksikan sesuatu.

Yo Him jadi tertarik, dia segera mendekati dan menyelinap diantara orang ramai itu.

Segera juga dia mengetahui bahwa yang dikerumuni orang itu tidak lain dari dua orang yang tengah bertempur hebat.

Kedua orang itu masing-masing berusia empat puluh tahun lebih, mereka berkelahi seru sekali dengan mempergunakan kedua tangan mereka.

Muka mereka telah babak belur, karena keduanya telah saling terpukul.

Yang hebat justeru adalah mereka tidak mau berhenti dari pertempuran itu, walaupun hidung dan mulut mereka telah mengucurkan darah, Sedangkan belasan orang yang berkerumun itu telah mengeluarkan suara sorakan yang ramai sekali, mereka seperti menyaksikan dua ayam jago yang tengah diadu.

Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya, dia melihat kedua orang itu seperti manusia-manusia tolol yang mau diadu begitu saja.371 Saat itu salah seorang diantara keduanya telah mengulurkan tangannya, lalu mencekik leher lawannya dengan keras.

Tetapi lawannya itu tidak mau mengalah, dia telah mempergunakan sikut tangan kanannya menyodok perut lawannya.

Hebat sekali sikutannya itu.

sehingga menimbulkan suara yang nyaring.

Tubuh lawan yang disikut juga terdorong kebelakang, jatuh terjengkang hingga cekikannya tidak bisa dipertahankan.

Sedangkan orang yang telah berhasil dengan sikutannya itu, telah memutar tubuhnya sambil menubruk dan menghantami muka lawannya.

Hebat sekali pukulannya itu, sehingga darah mengucur deras dari hidung dan mulut lawannya.

Tetapi orang itu juga meronta-meronta dengan kedua kaki dan tangannya, sampai akhirnya dia berhasil meloloskan diri dan terbalik menghantam kelawannya.

Begitulah keduanya telah berkelahi terus tanpa memperdulikan darah yang telah mengucur deras.

Orang-orang yang berkerumun menyaksikan perkelahian itu, telah bersorak-sorak riuh sekali, mereka justru menganjurkan agar kedua orang itu terbangkit semangatnya untuk bertempur terus.

Salju dikaki kedua orang yang tengah berkelahi itu telah banyak yang merah oleh siraman darah, tetapi kedua orang itu seperti tidak memperdulikannya, mereka terus juga saling baku hantam tidak hentinya.

Tetapi, disaat orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu tengah bersorak-sorak bergemuruh berisik sekali, tahu-tahu telah melompat seorang hweshio, yang tubuhnya kurus372 tinggi dengan kepala yang gundul dan jubah pendeta yang berwarna kuning.

Gerakannya begitu cepat dan gesit sekali, karena begitu kedua kakinya hinggap, begitu kedua tangannya bekerja.

Tahu-tahu pendeta itu telah mencengkeram punggung kedua orang itu.

"Pergilah !"

Bentak hweshio itu.

Seketika itu juga tubuh kedua orang yang tengah bertempur itu terpelanting bergulingan.

Mereka berdua juga mengeluarkan suara jeritan kaget.

Sedangkan orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu telah berhenti bersorak, keadaan jadi sepi sekali.

Yo Him juga heran melihat kedatangan hweshio itu, yang tanpa bicara dan tanpa mengucapkan sepatah kata, telah melontarkan kedua orang yang tengah berkelahi itu.

Sedangkan kedua lelaki yang tadi bertempur telah bangun berdiri.

Muka mereka merah padam diliputi kegusaran yang bukan main.

Dengan darah berlepotan dimuka, mereka telah memandang bengis kepada si hweshio.

"Siapa kau kerbau gundul ?"

Bentak salah seorang diantara mereka.

"Apa maksudmu begitu usil mencampuri urusan kami ?" . Hweshio kurus itu tersenyum sabar, dia telah merangkapkan sepasang tangannya "Siancai ! Siancai ! Justru Lolap heran melihat kalian berkelahi begitu rupa. Apakah yang kalian perebutkan ?"

Tanya si hweshio "Buka urusanmu ! Tetapi kau telah melemparkan aku, engkau harus mempertanggung jawabkannya!"

Teriak yang373 seorang, yang memakai baju bulu warna abu-abu dengan suara yang bengis.

"benar ! engkau juga telah melontarkan aku maka engkaupun harus kuhajar !"

Teriak yang memakai baju biru.

Lalu seperti telah berjanji, kedua orang itu serentak melompat menerjang kearah si hweshio dia telah melancarkan serangan pukulan yang kuat sekali.

Tetapi hweshio Itu sama sekali tidak takut sikapnya juga tenang sekali.

Hweshio itu hanya mengawasi saja, serangan tangan kedua orang itu yang tengah meluncur kearah muka dadanya, ketika serangan hampir tiba, si hweshio tahu-tahu menggeser kakinya, dan luar biasa sekali, tahu-tahu dia telah lenyap dari hadapan kedua orang yang menyerangnya.

Tahu-tahu tangan si hweshio telah menepuk punggung kedua orang itu cukup keras tepukannya, karena menimbulkan suara "Buuukkkkk!

Buukkkkk!"

Yang nyaring walaupun si hweshio menepuknya perlahan sekali.

Disaat itu kedua orang tersebut tengah kehilangan keseimbangan tubuhnya, karena sasaran mereka lenyap tiba-tiba dan tubuh mereka tengah menyelonong kedepan.

Maka ketika punggung mereka kena ditepuk begitu rupa, dengan sendirinya tidak ampun lagi mereka terjerembab dan mencium tanah bersalju.

Merekapun telah mengeluarkan suara jeritan, karena dari hidung mereka telah mengucur darah yang cukup banyak.

Dengan gusar kedua orang itu telah melompat berdiri lagi.

Bagaikan harimau yang terluka, keduanya telah melompat menerjang kearah si hweshio.

Berulang kali mereka menyerang, berulang juga mereka terjungkal rubuh kembali, seperti dipermainkan oleh si hweshio dengan mudah.374 Setelah beberapa kali mengalami kejadian .seperti itu.

akhirnya kedua orang tersebut tidak meneruskan serangan mereka lagi, keduanya hanya berdiri mengawasi si hweshio dengan tatapan mata takjub.

"Sudah cukup ?"

Mengejek si hweshio sambil tersenyum sabar.

"Siapa kau sesungguhnya ?"

Bentak kedua lelaki itu hampir berbareng.

"Lolap bergelar In Lap Siansu ...."

Menjelaskan hweshio itu.

"Kebetulan sekali disaat Lolap lewat ditempai ini, Lolap menyaksikan jie wie sicu tengah saling baku hantam seperti tidak memikirkan keselamatan diri lagi. Sesungguhnya urusan apakah yang telah menyebabkan jie wie sicu (tuan-tuan berdua) saling serang seperti itu ?" . Muka kedua laki-laki itu tiba-tiba berobah merah. Ternyata kedua lelaki itu adalah dua orang penduduk kota Phui-sie-kwan. Mereka berdua sebetulnya merupakan sahabat yang cukup akrab. Tetapi tadi malam mereka telah mengunjungi rumah bunga hidup, yaitu tempat pelacuran, secara kebetulan mereka jatuh hati terhadap pelacur yang sama, maka setelah terjadi keributan, mereka akhirnya berkelahi. Akhirnya oleh pihak keamanan tempat pelacuran itu mereka dipisahkan. Namun hari ini, disaat bertemu dipintu kota, mereka telah saling sindir dan akhirnya berkelahi lagi ... Mendengar pengakuan seperti itu, si hweshio telah meng geleng-gelengkan kepalanya.

"Apakah bisa dipersamakan nilai persahabatan dengan nilai seorang pelacur?. Mengapa hanya disebabkan seorang wanita pelacur, kalian rela untuk merusak persahabatan ?"

Tegur si hweshio kemudian.375 Muka kedua lelaki itu jadi berobah semakin merah.

Karena mereka mengetahui bahwa hweshio ini bukanlah hweshio sembarangan dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali, maka mereka jadi menghormati.

Keduanya telah merangkapkan tangan dan memberi hormat.

"Kami memang berpikiran cupat, Taisu...kami mengaku bersalah !"

Kata mereka serentak, Kemudian keduanya saling memberi hormat, saling meminta maaf.

Si Hweshio tampak senang melihat kedua orang itu berhasil didamaikan.

Setelah mengucapkan kebesaran sang Budha beberapa kali, si hweshio yang mengaku bergelar In Lap Siansu itu telah memutar tubuhnya dan berlalu.

Yo Him tadi telah menyaksikan, betapa hweshio itu hebat sekali kepandaiannya, juga hweshio itu sangat sabar dan manis budi.

Karena memang tidak mempunyai tujuan yang tetap, akhirnya Yo Him telah mengikuti hwesio itu secara diam-diam.

Dilihatnya In Lap Siansu memasuki sebuah rumah makan, maka Yo Him pun memasuki rumah makan itu.

Didalam hati Yo Him merasa kagum atas kehebatan ilmu silat hweshio dan kebijaksanaannya dalam menyelesaikan urusannya dua lelaki itu.

Dilihatnya in Lap Siansu telah duduk di sebuah meja, tengah menikmati tehnya.

Dia duduk membelekangi pintu, sehingga kedatangan Yo Him tidak dilihatnya.

Cepat-cepat Yo Him telah memilih meja yang berjauhan dengan si hweshio itu.

sehirgga dia bisa mengawasi gerak gerik hweshio yarg luar biasa itu.376 Semula In Lap Siansu meneguk tehnya dengan berdiam diri saja, tetapi akhirnya dia menggumam perlahan ;

"Akhh, akhh, persahabatan!"

Perlahan sekali suaranya, dia juga telah meneguk tehnya lagi.

Tentu saja Yo Him jadi heran sekali melihat perlakuan hweshio itu, yang membuat Yo Him semakin memperhatikan In Lap Siansu, Saat itu sihweshio telah menggumam "Persahabatan memang sangat berharga jika memang ingin bersahabat, mengapa harus sembunyi-sembunyi seperti seekor tikus?.

Bukankah mengikat tali persahabatan sangat berharga sekali!"

Yo Him mendengar jelas sekali perkataan si hweshio, tetapi dia tidak mengetahui entah perkataan In Lap Siansu itu ditujukan untuk siapa.

Tetapi sebagai seorang anak yang sangat cerdik sekali, Yo Him dapat meraba sedikit banyak kata-kata itu merupakan sindiran untuk dirinya, Rupanya In Lap Siansu telah mengetahui bahwa dirinya diikuti olehnya!

Teringat akan itu muka Yo Him jadi berobah merah sendirinya dan diapun jadi merasa malu!

Tetapi sebagai seorang anak yang berjiwa besar.

walaupun usianya masih kecil sekali, Yo Him telah bangkit dari duduknya dia telah menghampiri meja In Lap Siansu.

Setelah berada dihadapan, Yo Him telah merangkapkan tangannya, dia telah memberi hormat sambil katanya.

"Taisu, kepandaianmu sangat hebat sekali, benar-benar aku kagum melihatnya!"

In Lap Siansu mengawasi Yo Him yang berdiri dihadapannya,377

"Duduklah!"

Katanya kemudian ramah sambil menunjuk kursi kosong dihadapannya, Yo Him segera duduk tanpa merasa segan lagi, karena dia melihatnya bahwa si hweshio memiliki jiwa yang sangat bebas.

"Siapa namamu nak ?"

Tanya hweshio itu.

"Dan kulihat kau tadi merasa tidak senang menyaksikan perkelahian diantara kedua lelaki itu dipintu kota, bukan ?"

"Aku she Yo dan bernama Him"

Menjelaskan Yo Him.

"Dan apa yang dikatakan oleh Taisu memang benar, alangkah memuakkan kedua orang itu berkelahi tanpa mengenal malu saling baku hantam ditontoni oleh orang banyak Terlebih memalukan sekali adalah urusan yang menyebabkan mereka berkelahi ..." . Mendengar perkataan Yo Him, In Lap Siansu tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dan berulang kali memuji akan kebesaran sang Buddha.

"Benar !"

Kata In Lap Siansu akhirnya.

"justru Lolap turun tangan memisahkan mereka adalah disebabkan memandang mukamu, anak ..".

"Ihh !"

Yo Him berseru kaget.

"Mengapa begitu ?"

Tanyanya tidak mengerti.

"Justru Lolap memisahkan mereka disebabkan melihat kau sebagai seorang anak dibawah umur saja telah merasa muak melihat kelakuan kedua lelaki itu! Hanya anehnya justru Lolap melihat orang-orang lain yang menyebut dirinya telah dewasa itu justru sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti kau, mereka bahkan girang sekali, mereka telah bersorak-sorak dan menganjurkan kedua lelaki itu terus berkelahi, seperti juga dua ekor ayam yang tengah diadu ...!"

Yo Him mengangguk.378

"Itulah yang telah membuat aku jadi heran mengapa kedua orang itu mau diadu dan dipertandingkan hanya dengan suara sorak sorai belaka?"

Kata Yo Him. Si hweshio telah tersenyum sabar lagi.

"Ya, begitulah sifat manusia?. yang selalu ingin dibangkitkan emosinya"

Katanya. Dan setelah berkata begitu, In Lap Siansu mengawasi Yo Him sejenak lamanya, tatapan matanya memancarkan sinar yang sangat tajam.

"Sifatmu sangat hebat sekali nak"

Kata In Lap Siansu akhirnya.

"Umurmu tidak lebih dari delapan tahun, tetapi dari sinar matamu, kau memiliki sifat-sifat yang jauh lebih luas dari manusia-manusia yang menamakan dirinya telah dewasa"

"Taisu terlalu memuji"

Kata Yo Him sambil menggeleng.

"Mana bisa aku memiliki peruntungan yang begitu baik ?" . Sambil berkata begitu, Yo Him juga telah mengambil cawan tehnya dan meneguknya beberapa kali. In Lap Siansu telah tertawa dengan sikapnya yang sabar.

"Lolap tidak pernah mencela dan tidak pernah memuji, apa adanya yang akan Lolap katakan dengan sesungguhnya. Mengapa harus mencela ? Mengapa harus memuji ? Akhh, memang kenyataan yang ada engkau merupakan seorang anak yarg agak luar biasa. Tentu saja, sebagai seorang manusia, Lolap bisa saja salah mata, tapi kenyataan yang ada membuat Lolap kagum atas Kecerdasan dan juga pandangan luas darimu"

"Dari mana Taisu bisa mengetahui bahwa aku memiliki kecerdasan dan pandangan luas?"

Tanya Yo Him sambil tersenyum, karena dia menganggap bahwa hweshio itu memang hendak memujinya belaka.

"Hemmmm, dari sinar matamu telah memperlihatkan bahwa engkau seorang anak agak luar biasa! Seperti tadi waktu kau menyaksikan kedua lelaki itu saling kerkelahi satu379 dengan yang lainnya, ternyata engkau telah mengawasinya dengan sikap tidak senang. Lolap melihat sepasang alismu mengkerut dalam, disamping itu juga kau tidak terpengaruh seperti anak anak umumnya yang senang menyaksikan keramaian dan juga senang sekali menyaksikan orang berkelahi. Maka dari itu dengan adanya peristiwa seperti itulah Lolap telah turun tangan untuk memisahkan kedua orang lelaki yang tengah ber kelahi itu."

Yo Him menunduk, dia jadi malu sendiri karena hweshio itu terlalu memuji dirinya.

"Sesungguhnya ingin pergi kemanakah Taisu?"

Tanya Yo Him kemudian.

"Langit merupakan genting rumah Lolap, bumi merupakan rumah Lolap, maka dimana Lolap berada, disitulah Lolap akan menetap. Lolap hanyalah seorang pendeta pengembara yang tidak tentu tempat tinggalnya."

Menyahuti pendeta itu.

"Ohhh ....!"

Dan Yo Him mengangguk-angguk sedangkan didalam hatinya dia telah berkata.

"Sesungguhnya nasib kita hampir serupa."

Disaat itu diantara beberapa orang tamu yang memasuki ruang rumah makan tersebut, tampak seorang pengemis tua berusia diantara tujuh puluh tahun, tengah memandang kesekeliling ruangan dengan sinar matanya yang sangat tajam.

Pakaiannya compang-camping dan dipunggungnya menggemblok lima helai karung.

Ketika melihat si hweshio, mukanya telah berobah jadi bengis.

Wajahnya yang semula memang sudah tidak enak dilihat itu jadi semakin tidak sedap dipandang.

Maka dari itu, dengan cepat Yo Him menundukkan kepalanya, dia takut.

kalau-kalau si pengemis tersinggung jika dipandangi terus olehnya.380 Tetapi siapa sangka, justru pengemis itu telah menghampiri mejanya, malah ketika telah berada dekat dengan meja Yo Him dan In Lap Siansu, pengemis itu telah mengeluarkan suara tertawa dingin yang menyeramkan.

"Keledai gundul! Rupanya kau bersembunyi disini !"

Katanya dengan suara yang menyeramkan sekali. In Lap Siansu memperlihatkan sikap yang tenang sekali, sama sekali dia tidak gugup atau takut melihat wajah si pengemis yang menyeramkan itu.

"Siapakah sicu atau saudara?"

Tanyanya kemudian dengan suara yang sabar.

"Menurut Lolap, belum pernah kita berkenalan?"

"Hemm, kau telah menghajar babak belur dua orang murid Kaypang, apakah kau bermimpi akan dapat meninggalkan kota ini dengan mudah begitu saja ?"

Mengejek pengemis itu.

"Benar, Lolap memang tadi pagi telah mengajar adat kepada kedua Siauwkay (pengemis kecil) yang ingin coba-coba mencuri uang dari seorang nyonya ! Maka jika memang Sicu tidak senang, katakanlah dengan cara bagaimana Lolap harus menyatakan maaf. Sabar sekali pendeta itu, walaupun dia di bentak-bentak begitu oleh si pengemis tetapi dia masih bisa bersenyum dan ber kata-kata dengan suara yang sabar sekali, dengan menanyakan juga dengan cara apa dia bisa mengajukan permintaan maafnya kepada pengemis itu. Tetapi si pengemis tua itu telah mendengus dengan mata tetap terpancar bengis.

"Hemm ....tidak akan semudah itu meminta maaf atas dosamu,"

Kacanya dengan dingin "Engkau seenaknya menghajar dua murid Kaypang setelah mereka babak belur kau tinggalkan begitu saja!

Kini disaat tempat persembunyianmu diketahui olehku, justeru kau pura-pura381 alim dengan menanyakan cara bagaimana untuk meminta maaf.

Sungguh kau keledai gundul yang tidak tahu malu !" ' dan setelah berkata begitu dengan cepat sekali dengan gerakan yang sukar diikuti pandangan mata dia telah mengulurkan tangannya mencekal batang leher si pendeta.

Sambil mengulurkan tanggannya, dia juga berkata lantang "mari kita keluar !".

Dengan maksud mencengkeram baju si Pendeta tentu saja si pengemis bermaksud untuk menarik dan menyeret si hweshio keluar dari ruangan rumah makan itu.

Dia merupakan salah seorang anggota Kaypang yang membawa karung lima lembar, berarti dia menduduki tingkat kelima, dan tingkat kelima dalam urutan kaypang sudah merupakan tokoh diperkumpulan tersebut.

Hanya lima tingkat dibawah Pangcu atau Ketua Kaypang itu.

Tidak mengherankan jika pengemis ini juga memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Tetapi si hweshio juga tak mau berdiam diri saja untuk dibuat malu oleh pengemis itu.

Maka dia telah mengelakkan dengan memiringkan sedikit kepalanya, dia sama sekali tidak bangun dari duduknya.

Tentu saja hal itu membuat Yo Him terikejut sekali, karena tidak keruan juntrungannya si pengemis main serang begitu macam.

Melihat cengkeramannya gagal, dengan penasaran sekali si pengemis telah mergibaskan tangannya, maksudnya akan menghantam muka si hweshio.

tetapi dengan tenang sekali si hweshio telah mendorong dengan tangan kanannya, sambil katanya .

"Mari kita bicara diluar saja"

Dan setelah berkata begitu, disaat tubuh si pengemis terhuyung oleh dorongan tangannya, maka In Lap Siansu telah bangkit dari duduknya, dia melangkah keluar dari ruangan rumah makan itu.382 Yo Him mengetahui maksud dari si hweshio yaitu si pendeta ingin bertanding diluar saja, mengelakkan kerusakan dirumah makan itu.

Tentu saja Yo Him jadi kagum sekali atas sikap hweshio itu, dia telah berdiam diri dan telah bersikap sabar hanyalah untuk menghindarkan pertandingan yang tidak karuan, yang bisa merusak ruangan rumah makan tersebut.

Sedangkan si pengemis tua telah mengikuti melangkah keluar dengan langkah lebar dan muka yang menyeramkan sekali.

Yo Him juga telah cepat bangun berdiri dia ingin melihat apa sesungguhnya yang ingin dilakukan oieh si pengemis.

Ketika si hweshio telah melangkah keluar, disaat, itu rupanya si pengemis sudah tidak dapat menahan sabar lagi, dengan cepat dia telah menggerakkan tangan kanannya, dia ingin mencengkeram bahu si hweshio.

Tetapi In Lap Siansu memang memiliki Kepandaian yang cukup tinggi, merasakan sambaran angin serangan dari arah belakangnya, dia telah melangkah maju sambil membungkukkan tubuhnya maka serangan itu telah mengenai tempat kosong.

Disaat pengemis tua itu lewat menyambar tempat kosong kesempatan itu telah dibarengi oleh si hweshio dengan mengibaskan lengan jubahnya kebelakang, sehingga serangan itu yang mengandung tenaga dalam sangat kuat telah mendorong tubuh si pengemis dengan kuat sekali, sehingga tubuh pengemis itu terhuyung karena dia sama sekali tidak menduga bahwa dirinya akan diserang begitu rupa.

Tetapi pengemis tua tersebut juga memiliki kepandaian cukup tinggi, tadi dia sampai terserang terhuyung begitu karena dia tidak menyangka si hweshio akan mengambil sikap seperti itu dan juga memang dia tidak ber waspada, sehingga dia telah terdorong.383 Tetapi sekarang ketika si hweshio telah melancarkan serangan berikutnya lagi yang mengandung tenaga serangan yang kuat sekali, maka si pengemis berhasil menangkis atau mengelakkannya dengan gerakan yang cepat sekali.

Begitulah dalam waktu yang sangat singkat sekali, kedua orang ini telah saling serang menyerang dan telah melewati belasan jurus.

Ternyata kepandaian si hweshio ataupun kepandaian si pengemis memang berimbang.

Bahkan si pengemis yang tengah gusar itu, telah melancarkan serangan lebih sering dan lebih gencar dibandingkan dengan si hweshio yang lebih banyak mengelak dan melompat mundur menjauhkan diri.

Tentu saja sikap si hwesio membuat si pengemis tambah penasaran sekali.

Dia telah berusaha memperhebat serangan-serangannya, setiap serangannya tentu mengandung kekuatan tenaga yang bisa mematikan.

Si hweshio semakin lama jadi semakin kewalahan melihat bahwa lawannya menyerang dia dengan nekad seperti itu, Maka dari itu cepat-cepat si hweshio telah memutar kedua tangannya dengan cepat sekali, dia telah melindungi dirinya dengan kedua tangannya itu dengan rapat sekali.

Sehingga si pengemis tambah mendongkol saja.

"Sreeet!"

Tahu-tahu ditangannya telah tercekal sebatang pedang pendek yang menyerupai badik.

Dengan mempergunakan senjatanya si pengemis melancarkan serangan dengan gencar.

Dengan adanya serangan senjata tajam seperti itu, maka si hweshio juga tidak bisa main tangkis saja dengan tangan384 kosong, bisa-bisa tangannya kelak terluka oleh serangan senjata lawan.

Segera diapun telah merobah cara bersilatnya, dia main pukul dengan mempergunakan kedua telapak tangannya, gerakannya itu bukan main cepat dan dahsyatnya, tenaga pukulannya juga gencar, sehingga membendung si pengemis untuk melancarkan serangan lebih jauh.

000odw^kzo000 Dari itu si pengemis juga menjadi kalap lagi, karena dia tidak bisa memperoleh hasil apa-apa walaupun dia sudah mempergunakan senjata tajamnya.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat keras sekali, tahu-tahu kedua tangan si pengemis telah bergerak, tangan kanannya yang mencekal pisau pendeknya itu menyambar dengan cara menyimpang dari samping, sedangkan tangan kirinya telah menghantam dengan telapak tangannya seperti juga dia ingin menghantam batok kepala si hweshio, yang ingin dipukulnya hancur.

Serangan itu telah memaksa si hweshio melompat mundur untuk mengelakkan diri.

Tetapi si pengemis tampaknya memang sengaja melancarkan serangan tersebut untuk memancing.

karena itu tidak mengherankan jika serangan yang dilancarkannya itu mengincar bagian yang berbahaya, tetapi cepat ditarik pulang dan kemudian dia melancarkan serangan yang sesungguhnya mengincar bagian yang mematikan, yaitu tepat dijurusan ulu hati, dimana mata pedang pendeknya itu telah menyambar secepat kilat.

Tetapi In Lap Siansu juga memiliki kegesitan.

Dia memang terkejut waktu melihat mata pedang pendek itu telah mengincar ulu hatinya, tetapi dia tidak menjadi gugup, de ngan cepat sekali dia menggeser tubuhrya dan menghantamkan telapak kanannya.385 Namun serangan telapak tangan kanan si hweshio telah disambut dengan tangkisan telapak tangan kiri si pengemis, sedangkan, pedang pendek itu telah meluncur terus dengan cepat, sehingga kulit dada si hweshio berhasil dilukai darahnya mengucur, sehingga tubuh In Lap Siansu terhuyung dan akan rubuh.

Pengemis itu juga tidak lolos dari akibat serangan telapak tangan si hweshio, karena dengan cepat sekali tenaga dalam yang kuat dari pendeta itu menggempur bagian dalam tubuhnya, membuat pengemis itu telah terhuyung mundur.

>>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 12 Cepat luar biasa pengemis yang nekad itu telah melompat, dia mempergunakan kesempatan disaat si pendeta tengah terhuyung itu untuk menghajar kepalanya.

Tentu saja Yo Him jadi kaget sekali, dia melihat In Lap Siansu seperti sudah tidak bisa berdiri tetap dan dengan sendirinya sulit bagi dia untuk dapat menangkis serangan si pengemis.

Si pengemis girang melihat serangan yang dilancarkannya kali ini akan berhasil mengenai sasarannya, dan dia telah berseru keras sekali sambil mengempos semangatnya menambah tenaga serangan.

Mati-matian In Lap Siansu mengangkat tangannya menangkis.

Suara benturan keras terdengar, tetapi tubuh In Lap Siansu terhuyung kemudian terguling diatas tanah.

Sedangkan si pengemis hanya terhuyung sedikit, dia sudah bersiap untuk melancarkan serangan lagi.386

"Tahan !"

Tiba-tiba Yo Him yang melihat keadaan si hweshio sudah tidak bisa menahan diri.

Si pengemis jadi merandek, dia menoleh dengan penasaran.

Waktu melihat yang menahannya adalah seorang anak kecil yang tadi bersama si hweshio, dia jadi tambah gusar.

"Setan cilik"

Bentaknya.

"Engkau juga ingin turut campur ?"

Sambil membentak begitu dia telah melangkah menghampiri Yo Him.

"Apakah kau tidak malu menganiaya orang yang sudah tidak berdaya seperti Taisu itu ?"

Bentak Yo Him mendongkol sekali. Pengemis tua itu tertawa dingin. Tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, dia telah melangkah mendekati Yo Him, diayunkan tangannya, dan "plaakk !"

Muka Yo Him telah.

ditempilingnya dengan keras, sehingga anak itu berputar seperti gangsing, pipinya bengkak dan dia rubuh bergulingan ditanah.

Bukan main gusarnya Yo Him, tetapi diapun jadi takut melihat pengemis tua itu demikian ganas.

Namun memikirkan keselamatan In Lap Siansu yang baik hati itu, Yo Him jadi melupakan sakitnya dan telah cepat-cepat merangkak berdiri.

"Walaupun kau membunuh mati diriku, tetap aku tidak ijinkan kau membunuh Taisu itu!"

Teriak Yo Him. Si pengemis tertegun, tetapi kemudian dia tertawa.

"Hebat ! Hebat !"

Katanya.

"Jadi kau ingin mati juga membela pendeta busuk itu ? Hemm, bagus ! Aku akan menuruti keinginanmu, sebelum menghajar mampus pendeta itu, lebih dulu aku akan mengirimkan kau ke Giam-lo-ong !" .387 Dan setelah berkata begitu kembali tangan dan kakinya bergerak, maka terdengar suara gedebak-gedebuk dimana tubuh Yo Him dihajar pulang pergi sehingga tubuh si anak she Yo ini seperti sebuah bola yang menggelinding-gelinding diatas tanah. Semula Yo Him tidak mengeluarkan jeritan, dia berusaha menahan perasaan sakit itu. Tetapi waktu melihat darah yang mulai mengucur dan membasahi salju, tentu saja si anak she Yo ini mulai ketakutan. Namun Yo Him menggeretekkan giginya, dia telah berusaha menahan serangan si pengemis tua itu. Waktu kepalan tangan si pengemis menghantam lagi, maka disaat itulah Yo Him tidak bisa menahan perasaan sakitnya, dia merasakan matanya jadi brrkunang-kunang gelap dan matanya juga gelap disamping itupun kepalanya pusing, tanpa ampun lagi tubuhnya bergulingan ditanah dengan disertai jeritannya yang menyayatkan hati. Tubuh In Lap Siansu jadi gemetaran keras menahan kemarahan yang sangat. Dia telah melompat berdiri sambil berseru;

"Binatang, mengapa kau menyiksa anak kecil ? Sungguh tidak tahu malu!" . Si pengemis tua itu telah tertawa bergelak-gelak dengan suara yang keras sekali, dia telah berkata kemudian;

"Hem...engkaupun telah menghina murid Kaypang yang masih kecil-kecil....bukankah sama saja ?" . Muka In Lap Siansu jadi berobah merah padam.

"Baik, mari kita adu jiwa ! Anak itu tidak salah apa-apa, urusan ini tidak ada sangkut paut dengannya, kau tidak bisa mengganggunya, karena semua perbuatanku adalah tanggung jawabku !" .' "Kaypang bukan perkumpulan yang mudah diperhina ! Kami tidak pernah menghina orang lain, tetapi kamipun tidak mau dihina...!" .388 Dan setelah berkata begitu dengan cepat dan angkuh sekali dia menghampiri si hweshio, dengan diiringi oleh suara bentakannya yang sangat keras, dia telah melancarkan serangan dengan ganasnya. Tenaga serangan yang dilancarkannya hebat sekali, sehingga angin serangan itu menderu-deru. Sesungguhnya In Lap Siansu merasakan tubuhnya semakin lemah saja, disamping itu juga dia merasakan luka didalam tubuhnya cukup parah. Maka dari itu dengan cepat sekali dia telah mengempos semangatnya, mati-matian dia menyambuti serangan si pengemis tua itu. Tetapi dia tidak sanggup membendung kekuatan tenaga menyerang dari pengemis tua itu. Tubuh si pendeta telah terpental keras sekali, dan ambruk diatas tanah. Hebat kesudahan dari pukulan si pengemis karena si hweshio hanya merintih ditanah tidak bisa segera bangkit kembali seperti semula. Walaupun In Lap Siansu beberapa kali telah berusaha untuk bangkit namun dia gagal, karena matanya gelap dan berkunang-kunang, tenaganya seperti telah lenyap... Dalam keadaan seperti inilah dengan cepat sekali si pengemis tua telah melompat maju, untuk melancarkan serangan terakhir kepada si hweshio. Yo Him yang baru saja merangkak bangun dengan kepala yang masih pusing, jadi kaget melihat serangan si pengemis terhadap In Lap Siansu. Dia berseru kaget sambil memutar otak untuk menolongi jiwa pendeta itu.389

"Jangan mencelakai Taisu itu !"

Membentak Yo Him dengan suara yang keras sekali. Tetapi si pengemis tidak mengacuhkan.

"Jika kau bisa menolongi pendeta ini, tolongilah !"

Mengejek si pengemis sambil tangannya tetap meluncur turun akan menghantam dada si pendeta itu yang tengah dalam keadaan rebah.

Tentu saja Yo Him jadi putus asa, karena walaupun hatinya ingin sekali menolongi pendeta itu, tetapi apa daya dia memang tidak memiliki kesanggupan apa apa.

Maka akhirnya dalam putus asanya itu, dia telah berseru sekenanya ;

"Jika kau membinasakan Taisu itu, jiwamu tidak akan kuampuni !"

Dan seruannya itu keras sekali mengandung kemarahan dan penasaran yang bukan main.

Si pengemis itu menjadi kaget sendirinya, dia merandek dan menahan tangannya yang tengah meluncur itu.

Setelah merandek sejenak dan tertegun segera dia tersadar dari herannya dan menjadi gusar sekali.

"Ha ha ha"

Dia tertawa tergelak dengan suara menyeramkan sekali.

"Setan kecil seperti dirimu berani menggertak Souw Cie Kay seperti diriku begitu rupa".

"Hmm, aku tidak mau tahu siapa engkau, tetapi jika kau mencelakai Taisu itu, jiwamu tidak akan lolos dari kematian !"

Kata Yo Him yang jadi nekad.

Karena sudah tidak ada jalan lain, dia sengaja bicara besar seperti itu untuk memancing kemarahan si pengemis untuk mengulur waktu saja, dengan harapan In Lap Siansu dapat berdiri dan tenaganya pulih kembali.

Tetapi si pengemis yang tengah marah itu rupanya sudah tidak bisa menahan diri, dia telah mengeluarkan suara390 bentakan bengis, tubuhnya telah melompat dan dengan cepat sekali dia mengulurkan tangannya mencengkeram bahu Yo Him mengangkat tubuh anak itu ketengah udara.

Yo Him meringis kesakitan, dia merasakan tulang bahunya seperti juga akan copot dan terlepas, menimbulkan perasaan sakit yang luar biasa.

Dengan keras pengemis tua Souw Cie Kay menggoncang-goncangkan tubuh Yo Him dengan penasaran sekali.

"Manusia kerdil seperti engkau ini ingin membinasakan diriku, heh ? Ingin membunuh aku ?"

Bentaknya dengan bengis dan penasaran sekali.

Yo Him tidak bisa menyahuti, karena dia merasakan tulang bahunya sakit luar biasa.

Dengan penuh kemarahan Souw Cie Kay telah mengangkat Yo Him keatas, maksudnya ingin membantingnya, sekali banting tentu binasalah anak kecil itu.

"Habislah jiwaku !"

Mengeluh Yo Him di dalam hatinya dengan penasaran.

Si pendeta In Lap Siansu juga telah melihat peristiwa tersebut, tetapi dia tengah terluka berat maka tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolongi Yo Him.

Si hweshio hanya mengeluh saja.

Saat itu tangan pengemis tua Souw Cie Kay telah mengangkat Yo Him tinggi sekali dan baru saja dia ingin membantingnya, tiba-tiba dari saku Yo Him jatuh semacam benda.

Benda itu menimbulkan suara nyaring dan berkilauan kuning.

Waktu melihat benda itu mata Souw Cie Kay jadi terpentang lebar lebar dia telah mengawasi tertegun kearah391 benda itu dengan sepasang tangannya yang mengangkat tubuh Yo Him itu tetap ditengah udara.

Setelah berselang sejenak, dia menurunkan tubuh Yo Him sambil disertai bentakannya.

"Setan kecil, dimana kau mencuri Kimpay itu ?"

Suara bentakan itu mengguntur dan bengis sekali, sedangkan tangan yang satunya itu telah diulurkan untuk mengambil Kimpay yang terjatuh ditanah.

"Jika kau menyentuh Kimpay itu, jiwamu sulit untuk dilindungi lagi !"

Bentak Yo Him dengan suara yang nyaring. Souw Cie Kay kaget, dia menarik pulang tangannya yang tadi diulurkannya itu. Untuk sejenak dia telah berdiri ragu-ragu. Namun akhirnya dia telah bertanya.

"Kau telah mencuri Kimpay itu, bukan ?".

"Hemmm, apakah aku memiliki potongan sebagai pencuri ?"

Bentak Yo Him berani sekali, dan melihat Kimpay itu hatinya jadi girang bukan main. Tadi dia lupa kepada Kimpay tersebut, coba kalau tidak, siang-siang urusan In Lap Siansu sudah dapat diselesaikan.

"Jadi....jadi kau ingin maksudkan bahwa Kim pay itu milikmu ?"

Tanya si pengemis dengan suara yang tergagap dan tidak lancar, tetapi sinar matanya itu yang masih tetap bengis memperlihatkan bahwa dia tidak mempercayai perkataan Yo Him.

Namun untuk menuduh bahwa Yo Him yang mencuri Kimpay itu juga merupakan urusan yang tidak mungkin, karena pemilik Kim pay tersebut seorang tokoh hebat didalam Kay pang, tidak mungkin Kimpaynya itu dapat dicuri seorang anak sebesar Yo Him.

"Kimpay itu milik kakak angkatku...aku telah dihadiahkannya....!"

Kata Yo Him dengan suara yang lantang sekali.392

"Hemm..."

Souw Cie Kay telah mendengus dengan suara yang dingin. Dia tidak percaya pemilik Kimpay yang sangat terkenal sebagai tokoh didalam Kaypang mau mengangkat adik kepada anak sebesar Yo Him.

"Siapa nama kakak angkatmu itu ?" . Sebetulnya Souw Cie Kay telah mengetahui nama orang yang menjadi pemilik.Kimpay itu, namun sengaja dia memancing begitu karena jika memang Yo Him dapat menyebutkannya, berarti memang benar si anak ini tidak berdusta, tetapi kalau Yo Him tidak bisa menyebutkan nama tokoh Kaypang itu, tentu Yo Him telah berbohong. Yo Him telah tertawa dingin, dia membungkukkan tubuhnya mengambil Kimpay itu. Diangkatnya Kimpay itu tinggi-tinggi, kemudian bentaknya dengan suara yang lantang.

"Apakah engkau masih tidak mau berlutut melihat Kim pay ini ?"

Muka pengemis itu jadi pucat, tetapi dia masih ragu-ragu karena tidak mengetahui siapa anak kecil ini.

Sedangkan orang-orang yang menyaksikan di tepi jalan akan peristiwa tersebut juga jadi heran.

Mereka umumnya mengetahui siapa Souw Cie Kay, yaitu raja pengemis dikota ini.

Tetapi kali ini berhadapan dengan seorang anak kecil sebesar Yo Him, tampaknya raja pengemis yang terkenal bertangan besi dan juga gagah itu jadi begitu ragu-ragu.

Sedangkan In Lap Siansu juga jadi heran sekali melihat pengemis itu dan sikap Yo Him, sehingga dia hanya mengawasi saja.

"Sebutkan dulu siapa nama kakak angkatmu itu"

Kata Souw Cie Kay dengan suara ragu-ragu.

"Hemm, tidak kusangka bahwa perkataan Wie Tocu tidak tepat ! Wie Tocu mengatakan, siapa saja anggota Kaypang393 jika melihat Kimpay ini tentu akan menghormatinya ! Hemm, sungguh benda tidak punya guna !"

Menggerutu Yo Him dan dia telah mengangkat Kimpay itu untuk di bantingnya.

Mendengar disebutnya nama "Wie Tocu" , lemaslah kedua lutut Souw Cie Kay, pucat pula mukanya dan menggigili tubuhnya, gemetaran keras.

Dia telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan Yo Him sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan keras, sehingga keningnya itu telah menghantam tanah dengan keras.

"Tecu (murid) memang sungguh kurang ajar tidak cepat-cepat menyambut kedatangan Kim pay !"

Berseru Souw Cie Kay bsrulang kali, dia juga membahasakan dirinya dengan sebutan murid.

"Sungguh dosa yang sangat besar ! Sungguh dosa yang tidak terampuni lagi....!" . Dia mengatakan dosa yang sangat besar dan dosa tidak terampuni lagi, dimaksudkan olehnya ialah dirinya tidak bisa memperoleh pengampunan lagi. Bahkan tadi dia tidak mau cepat-cepat menyambut Kimpay, sehingga Kimpay itu hampir saja dibanting Yo Him. Jika memang tadi Kimpay itu sampai dibanting Yo Him, walaupun dia memiliki sepuluh jiwa, tentu dia harus mati sepuluh kali ! Maka kini bukan main ketakutannya, karena jika sampai perbuatannya itu diceritakan Yo Him kepada Wie Tocu, bukan saja kedudukannya sebagai ketua cabang dari perkumpulan Kaypang akan terlepas dari tangannya, dimana dia akan dipecat, juga dirinya akan disidang dan menerima hukuman yang berat, jika tidak kematian tentu sedikitnya hukuman yang bisa membuat dia bercacad. Dan sambil berlutut begitu, Souw Cie Kay juga telah menangis ketakutan sekali. Tentu saja semua orang yang menyaksikan jadi heran bukan main.394 Lebih-lebih In Lap Siansu. Semuanya jadi memandang bengong saja.

"Hemm, tadi kulihat engkau bersikap begitu garang, dan menyamakan jiwa manusia seperti jiwa kacoa !"

Kata Yo Him kemudian.

"Apakah kau anggap bahwa dirimu sudah berkuasa penuh didalam dunia ini ?".

"Murid memang sungguh picik dan tidak memiliki pendidikan, mohon kongcu mengampuni !. memang murid sangat berdosa, dosa yang tidak terampun lagi !"

Dan sambil berkata begitu.

Tahu-tahu dia telah mengayunkan tangannya menempilingi mukanya sendiri, sehingga terdengar suara ketepak ketepok berulang kali.

Song Cie Kay menghantam mukanya sendiri bukan sekedar memukul tetapi dia menempiling dengan mengerahkan seluruh tenaganya, maka dari itu tidak mengherankan setiap kali telapak tangannya itu hinggap dimukanya, maka seketika itu juga giginya copot, sepuluh kali dia memukul, maka sepuluh gigi yang telah copot dan jatuh diatas salju.

Dengan mengambil gigi-giginya yang telah copot itu dia mengacungkan dengan mempergunakan kedua tangannya kepada Yo Him, sikapnya ketakutan dan menghormat sekali.

000odw^kzo000

"Murid menerima salah dan sangat berdosa, dengan menghadiahkan gigi ini mungkin Kongcu bersedia mengampuni jiwaku !"

Kata si pengemis.

Dengan perkataannya itu dia sesungguhnya ingin meminta Yo Him agar tidak menceritakan urusan itu kepada Wie Tocu.

Sedangkan Yo Him telah memasukkan Kimpay kedalam sakunya, dia telah mengibaskan tangannya, katanya juga;

"Kini jika kau bisa memberikan obat yang mujarab dan menyembuhkan luka In Lap Siansu, maka jiwamu kuampuni...!" .

"Terima kasih kongcu ! Terima kasih kongcu !"

Kata pengemis itu sambil memanggut-manggutkan kepalanya berulang kali tidak hentinya.

Kemudian dia menepuk tangannya, dari sudut-sudut jalan tampak muncul beberapa orang pengemis.

Mereka segera dibisiki oleh Souw Cie Kay, maka seketika itu juga pengemis-pengemis itu berlarian.

Didalam waktu yang sangat singkat, mereka telah membawa bungkusan obat dan peralatan untuk menggodok obat itu.

Souw Cie Kay yang telah memasak sendiri obat itu, kemudian dia telah memberikan kepada In Lap Siansu dengan sikap menghormat sekali.

In Lap Siansu yang sejak tadi diliputi perasaan heran dan bingung telah berdiam diri saja.

Dia menerima obat itu dan meminumnya.

Memang pendeta itu meresakan napasnya agak lapang dan sesak didadanya mulai lega.

Dia menghela napas.

"Terima kasih...!"

Katanya kepada Souw Cie Kay. dengan sikap yang canggung.

"Tidak berani aku yang rendah menerima ucapan terima kasih dari Taisu, sungguh, aku si rendah ini harus menerima hukuman dari Taisu ! Dalam dua hari Taisu akan sembuh, maka disaat itu aku si rendah melaksanakan hukuman potong tangan atau potong kaki"

Mendengar perkataan Souw Cie Kay, muka in Lap Siansu jadi berubah.

"Mengapa harus begitu ?"

Tanyanya heran.396

"Aku si rendah tidak memiliki mata melanggar Taisu, telah melakukan Kesalahan besar, maka dari itu aku hanya menantikan hukuman Taisu!"

"Jika memang engkau telah menyadari bahwa apa yang telah kau lakukan itu salah dan bertobat untuk apa engkau menjalani hukuman pula ?"

Tanya si pendeta.

"Oh terima kasih Taisu !"

Kata si pengemis tua Souw Cie Kay dengan girang.

"Taisu telah memberikan kelonggaran kepadaku si rendah" . Kemudian dia melambaikan tangannya memanggil seorang pengemis kecil, dia mengambil golok yang diacungkan kepadanya. In Lap Siansu hanya mengawasi, karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh pengemis itu. Tetapi, dengan tidak terduga, si pengemis telah mengacungkan goloknya, menggerakkan membacok lututnya sendiri. Tentu saja In Lap Siansu jadi kaget setengah mati, dia ingin mengulurkan tangannya untuk menolongi lutut si pengemis tua itu.. Tetapi karena dia memang dalam keadaan terluka dan. belum sembuh, gerakannya jadi lambat dan apa yang ingin dilakukannya itu tidak kesampaian. Tanpa mengeluarkan jeritan bahkan dengan mulut masih tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih, lutut kiri dari si pengemis tua itu telah tertabas putus oleh goloknya sendiri, darah juga segera mengucur. Tanpa memperlihatkan perasaan sakit, si pengemis telah melambaikan tangannya, seorang pengemis kecil telah membawakan kain pembalut. Luka dilututnya itu telah dibalutnya.397 Kemudian dengan cepat dia telah berlutut lagi, menyatakan terima kasih kepada In Lap Taisu. Lalu dengan dipayang oleh beberapa orang pengemis, dia menghadapi Yo Him, katanya.

"Kongcu, aku telah berterima kasih kongcu mau mengampuni jiwaku si Souw rendah ini, tetapi untuk ini, walaupun kongcu memerintahkan aku harus terjun dilautan api, tidak nantinya aku menolak, karena budi kongcu tidak mungkin terbalas dengan jiwaku saja...!" . Melihat demikian patuhnya orang-orang Kay pang, yang demikian ketakutan jika melakukan suatu kesalahan, bukan main perasaan kagum di hati Yo Him. Dia hanya merasa menyesal mengapa Souw Cie Kay harus membuntungi kakinya sendiri. Yo Him sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa sesungguhnya memang sudah menjadi peraturan didalam Kaypang, setiap anggota yang melakukan suatu perbuatan salah, tentu harus menerima hukuman yang berat. Dan jika memang orang itu diampuni, tentu orang tersebut tidak akan tenang, maka dengan melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Souw Cie Kay, barulah hatinya menjadi tenang. Itupun dia masih berterima kasih bahwa jiwanya telah diampuni oleh Yo Him...! Setelah itu dengan dipayang oleh pengemis-pengemis lainnya, Souw Cie Kay berlalu meninggalkan tempat itu. In Lap Siansu menghela napas berulang kali, dia jadi menyesal bukan main atas terjadinya urusan seperti ini. Berulang kali dia telah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengucapkan kebesaran sang Buddha. Saat itu Yo Him telah menghampiri In Lap Siansu.

"Bagaimana Taisu, apakah lukamu tidak membahayakan ?"

Tanya Yo Him dengan suara yang ramah,398 Si hweshio berusaha tersenyum.

"Untung saja ada kau, adik kecil !"

Katanya dengan suara yang bersyukur.

"kalau tidak tentu aku telah binasa !".

"Tetapi semua itu terjadi hanya disebabkan oleh suatu kesalahan pengertian belaka !"

Kata Yo Him.

"Dan celakanya justru aku tidak ingat sejak siang-siang bahwa aku memiliki hadiah kimpay dari Wie Tocu.coba kalau memang semula aku mengeluarkannya, tidak sampai Taisu harus menderita luka seperti ini....!" . 000odw^kzo000

"Sudahlah !"

Kata In Lap Siansu.

"Tetapi siapakah Wie Tocu yang kau katakan itu ?". Yo Him menggeleng.

"Akupun tidak tahu !"

Katanya.

"Kami hanya bertemu secara kebetulan dan Wie Tocu mengajak aku untuk angkat saudara, sehingga untuk selanjutnya aku memanggil Wie Tocu dengan sebutan Wie Toako, sedangkan dia memanggil aku Yo Hiante ! Hemm, sebagai kenang-kenangan, di hadiahkannya kepadaku sebuah kimpay ini...!" . Kemudian Yo Him menceritakan pengalamannya itu, dimana dia telah bertemu dengan Wie Tocu. Bukan main kagumnya In Lap Siansu.

"Siancai ! Siancai ! Rupanya bukan hanya Lolap yang melihat bahwa kau adik kecil adalah seorang yang luar biasa !"

Kata si pendeta. Lihatlah, sampai Wie Tocu bersedia mengangkat kau sebagai adiknya dan menghadiahkan lencana kebesarannya itu, yang menunjukkan kekuasaan yang sangat besar di kalangan pengemis !"

Yo Him cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.399 Sedangkan In Lap Siansu telah berdiam diri termenung seperti ada yang dipikirkan.

Sedangkan orang-orang yang tadi ramai menyaksikan perkelahian telah bubar.

"Apa yang tengah Taisu pikirkan"

Tanya Yo Him kemudian waktu melihat sikap pendeta itu.

"Tidak ada apa-apa yang kupikirkan... hanya saja, sangatlah memalukan jika aku menyampaikan isi hatiku !"

Kata si hweshio.

"Mengapa begitu ?"

Tanya Yo Him jadi heran sekali.

"Karena justru disaat ini aku tengah memikirkan untuk, mengajakmu mengangkat saudara..."

Kata si hweshio kemudian.

"Hah ?"

Tanya si anak she Yo terkejut.

"Nah, tadi Lolap telah mengatakan, betapa memalukan sekali urusan tersebut, jika sampai adik kecil menolaknya.!"

Kata In Lap Siansu. Yo Him kemudian tertawa.

"Justru aku yang Kaget mendengar orang sehebat Taisu bersedia angkat saudara denganku !"

Kata Yo Him.

"Apa kebisaanku ?".

"Wie Tocu merasa bersyukur memiliki adik seperti kau, maka terlebih aku !"

Kata In Lap siansu. Sedangkan saat itu Yo Him telah mengangguk.

"Baiklah Taisu, mari kita angkat saudara kepada langit dan bumi "

Kata Yo Him.

Dan setelah berkata begitu Yo Him telah berlutut sambil menyoja, dan begitu pula In Lap Siansu telah berlutut juga.

Dengan disaksikan oleh langit dan bumi mereka telah angkat saudara.

Masing-masing mengeluarkan sumpahnya.400

"Karena usiaku lebih muda dari Wie Tocu maka kau bisa memanggil aku sebagai Jieko (kakak kedua) saja !"

Kata si pendeta dengan sabar.

"Dan kau Hiante. engkau menjadi Samte adik ketiga.. !"

Yo Him girang sekali, dan dia juga telah berkata.

"urusan yang menggembirakan ini harus cepat-cepat diberitahukan kepada Toako !"

"Benar !".

"Hanya saja, belum tentu kita bisa bertemu pula !".

"Mengapa begitu ?".

"Karena justru aku ingin berkelana dulu, merantau seorang diri".

"Ahhhh, Samte, kita berkelana berdua saja!"

Saran si pendeta.401

"Jika memang Jiko tidak memiliki urusan apa-apa, apa salahnya ? Bukankah lebih menggembirakan ?"

Menyahuti Yo Him.

Maka dengan gembira mereka telah memasuki rumah makan itu lagi.

Mereka makan dan minum sepuasnya, seperti juga tengah merayakan hari pengangkatan saudara itu.

Rupanya, yang satu kecil dan yang seorangnya tua bangka, namun diantara mereka terdapat kecocokan yang serasi sekali.

Mereka berdua telah bercakap-cakap dengan asyik sekali sampai lupa waktu.

Disaat hari telah larut malam, barulah mereka memesan sebuah kamar dan tidur sepembaringan !

Keesokan paginya barulah mereka melanjutkan perjalanan lagi.

000odw^kzo000 DENGAN adanya In Lap Siansu sebagai kawan seperjalanannya, maka Yo Him dapat melakukan perjalanan dengan gembira, karena ada kawan yang bisa diajak bercakap-cakap.

Selama dua bulan mereka telah menjelajahi puluhan kampung dan belasan kota.

Selama itu pula In Lap Siansu telah melihatnya bahwa Yo Him sama sekali tidak mengerti ilmu silat.

Tentu saja pendeta ini jadi heran.

Begitulah pada suatu hari, disaat mereka berada dikamar penginapan yang terletak dikota kecil Fang-cia-kwan, disaat mana In Lap Siansu akan mulai menceritakan keadaan402 didalam rimba persilatan seperti hari-hari yang lalu, pendeta itu sengaja telah bertanya kepada Yo Him ;

"Samte, menurut penglihatan Jiekomu, tampaknya kau sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat...Benarkah itu ?" . Yo Him mengangguk.

"Untuk mendengar pengalaman-pengalaman Jieko mengenai rimba persilatan, aku tertarik sekalitetapi untuk mempelajari ilmu silat, itulah urusan lainaku sama sekali tidak tertarik" .

"Kenapa ?"

Tanya In Lap.

Siansu tertarik.

Yo Him menceritakan pengalamannya yang pernah menyaksikan tanpa sengaja, dimana pendeta-pendeta dari Kun Lun Pai yang telah dibinasakan oleh empat orang Mongolia.

Ratusan orang gagah dan imam-imam dari Kun Lun Sie itu semuanya mengerti ilmu silat, tetapi mereka telah terbunuh dengan cara yang begitu mengenaskan sekali.

In Lap Siansu juga terkejut mendengar peristiwa hebat yang telah menimpa imam-imam Kun Lun Pai.

Setidak-tidaknya urusan itu baru didengarnya, dan dia heran sekali pendeta-pendeta Kun Lun Pay yang lihay-lihay itu, bahkan.

Ma Liang Cinjin.

yang berada diatas kepandaiannya, bisa dibinasakan oleh pendeta, Mongolia bersama ketiga kawannya itu.

"Siapakah orang-orang Mongolia yang hebat-hebat itu ?"

Tanya In Lap Siansu dengan heran sekali.

"Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya ! Hanya sejak saat itulah aku jadi berpikir bahwa seseorang yang mempelajari ilmu silat, tentu akan menghadapi bahaya yang tidak kecil disetiap saat"

"Tetapi salah, Samte pandanganmu itu i Justru disebabkan ilmu silat mereka kurang sempurna, maka imam-imam Kun403 Lun Pai dan orang-orang gagah itu telah dibinasakan olen orang-orang Mongol itu ! Coba mereka memiliki kepandaian yang sempurna, bukankah mereka akan berhasil membinasakan keempat orang Mongol jahanam itu...!"

Yo Him menggeleng perlahan.

"Tetapi aku sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat..."

Katanya.

"Jika memang demikian, akupun tidak ingin memaksanya"

Kata si pendeta.

Dan mulailah In Lap Siansu menceritakan perihal keadaan Kangouw.

Bermacam-macam cerita yang dikisahkannya, dan memang Yo Him juga tertarik benar akan cerita ceritanya itu.

Terlebih lagi jika In Lap Siansu tengah menceritakan sepak terjang orang-orang gagah didalam rimba persilatan, yang umumnya membela pihak yang lemah dan memberantas sikuat jahat.

"Memang jika didalam kalangan Kang-ouw terdapat banyak orang-orang gagah, tentu kejahatan semakin sedikit !"

Kata Yo Him setelah mendengar cerita si pendeta. In Lap Siansu tertawa.

"Samte, itulah sebabnya Jiekomu ini memaksa engkau untuk mempelajari ilmu silat ! Sekali lagi Jiekomu rewel menganjurkan kau mempelajari ilmu silat, agar kelak kau bisa menjadi salah seorang hohan dan enghiong untuk memberantas si jahat ! Dengan demikian, bukankah engkau akan membantu berlaksa manusia yang ber sengsara ?" . Yo Him tersenyum sambil menggeleng.

"Sudah kukatakan Jieko, bahwa aku tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat Tetapi aku pernah mempelajari ilmu olah raga untuk menyehatkan tubuh.....!" .

"Ilmu menyehatkan tubuh ? Apakah itu ?"

Tanya In Lap Siansu tertarik.

Dan Yo Him telah turun dari pembaringan, dia meng gerak-gerakkan tangan dan kakinya.

Gerakannya perlahan, dan lembut sekali, tetapi gerakan-gerakan tangan dan kaki Yo Him yang seperti anak-anak yang tengah main petak itu justru telah membuat mata In Lap Siansu jadi terpentang lebar-lebar.

Dia memandangi Yo Him dengan mulut yang terpentang lebar dan muka pucat disamping juga matanya tetap ter buka besar-besar.

Yo Him telah menyelesaikan latihannya, dan ketika melihat keadaan kakak angkatnya yang kedua itu dia jadi kaget bukan main.

"Jieko, kenapa kau ?"

Tanya Yo Him kemudian sambil menepuk bahu kakak angkatnya itu.

"Kau . kau...?"

Suara In Lap Siansu tidak lancar. Tentu saja Yo Him tambah heran.

"Jieko !"

Panggilnya lebih keras. In Lap Siansu menghela napas, dia menyebut kebesaran sang Buddha berulang kali. Kemudian dengan sikap yang luar biasa, In Lap Siansu telah berkata.

"Samte, bicaralah terus terang, siapakah engkau sesungguhnya ?"

Tanya In Lap Siansu. Yo Him jadi tertegun, tapi kemudian tertawa.

"Akhh, Jieko kau ini benar-benar aneh !"

Kata Yo Him kemudian.405

"Bukan aneh, bukan aneh"

Kata In Lap siansu dengan suara bersungguh-sungguh "telah berbulan bulan engkau berhasil menyembunyikan kepandaian kelas satu dari mataku !"

"Kepandaian Kelas satu ?"

Tanya Yo Him dengan nada kaget dan heran.

"Apa maksudmu Jieko?"

Si pendeta menghela napas.

"Pantas saja kau tidak mau mempelajari ilmu silat lain yang tidak ada artinya, ternyata engkau telah memiliki ilmu mujijat yang luar biasa sekali ! sungguh hebat !, sungguh hebat !, kepandaian yang kumiliki tidak ada seperseratusnya! Dengan hanya memutar jari telunjukmu saja, engkau bisa membinasakan aku !. Pantas saja Wie Tocu begitu bersyukur memiliki adik angkat seperti kau ! Tetapi aku aku mana pantas menjadi kakak angkatmu !" . Dan kembali hweshio itu telah berulang kali menyebut-nyebut kebesaran sang Budha. Yo Him jadi bingung sekali melihat sikap si hweshio, akhirnya dia telah bertanya dengan memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh.

"Jieko, mari kita bicara yang sesungguhnya, jangan kau membuat adikmu menjadi bingung tidak keruan !"

Kata Yo Him.

"Sesungguhnya apa maksudmu itu ?".

"Kau ternyata memiliki kepandaian yang hebat sekali, Yo Samte ! Kau telah menipu kakakmu ini, kau tidak mau memberitahukan kepadaku bahwa kau memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga aku selamanya menganggap kau tidak memiliki kepandaian apa-apa" .

"Aku memang sesungguhnya tidak memiliki kepandaian apa-apa...dan juga belum pernah mempelajari ilmu silat !"

Kata Yo Him ber-sungguh.-. ."Akhh, engkau masih berkata begitu, adikku ?"

Tanya In Lap Siansu dengan suara agak keras.

"Tadi jurus-jurus dari406 ilmu pedang nomor satu tiada taranya dijagad ini, yaitu Giok Lie Kiamhoat dan ilmu pukulan dari Kiu Im Cin Keng telah kau mainkan dengan baik ? Bukankah ilmu itu merupakan ilmu-ilmu silat nomor satu yang tiada taranya dikolong langit ini ?"

Yo Him jadi tertegun.

"Apa maksudmu Jieko ?"

Tanyanya.

"Kau masih pura-pura tidak mengerti atau engkau menganggap Jiekomu terlalu tolol sehingga kau bisa perbodohi terus menerus ?"

"Tetapi aku sungguh-sungguh tidak mengerti ilmu silat apa-apa !" . In Lap Siansu tersenyum, katanya sabar "Kau memang luar biasa Samte ! Baiklah ! Kalau memang kau keberatan untuk menceritakan asal usul dirimu, mungkin ada sesuatu yang sulit kau jelaskan, Jiekomu juga tidak akan mendesak terus. Tetapi yang terpenting, kau mengakui bukan bahwa kau memiliki ilmu tanpa tandingan dibawah langit ini ?"

"Ilmu apa ?"

"Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat !"

"Akh ? "

Benar-benar Yo Him binggung sekali Akhirnya setelah berpikir sejenak, karena diapun cerdas maka dia bisa menduga-duga mengapa kakak angkatnya itu bersikap demikian.

"Apakah ilmu yang tadi kuperlihatkan ? Ya itu ilmu olah raga untuk menyehatkan tubuh !"

Tanya Yo Him akhirnya.

"Sungguh luar biasa ! Ilmu sehebat itu yang tiada duanya dikolong langit ini kau sebut sebagai ilmu menyehatkan tubuh!" .

"Sungguh Jieko, aku mempelajari ilmu itu justru dari seekor rajawali !".

"Hah ?"

Muka In Lap Siansu jadi berobah pucat, kemudian dengan suara perlahan dia telah menggumam.

"Benar, Benar, dugaanku!..benar dia....!". Yo Him jadi heran dan penasaran.

"Jieko kau jangan bersikap begitu, karena selain membingungkan juga diliputi teka-teki ! Tidak bisakah kau bicara terus terang ?" . Si pendeta telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata dalam-dalam, kemudian dengan tiba-tiba sekali dia menepuk lututnya keras-keras.

"Engkau she Yo, bukan ?"

Tanyanya cepat.

"Benar, kau sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan"

Yang lalu, Jieko !"

Menyahuti Yo Him. Dan dengan tidak terduga In Lap Siansu telah bangkit berdiri, dia telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"Samte, terimalah hormat dari Jiekomu, dan apakah Sin Tiauw Taihiap baik-baik saja ?"

Tanya In Lap Siansu dengan suara menghormat sekali.

"Sin Tiauw Taihiap ? Siapa dia ?"

Tanya Yo Him akhirnya bertambah bingung, dia juga jadi sibuk untuk menghindar dari penghormatan pendeta itu.

"Yo Samte, kau jangan begitu !"

Kata In Lap Siansu.

"Jangan kau memungkiri terus bahwa kau adalah puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie !" .

"Akhh !"

Mata Yo Him terpentang lebar-lebar.408 Si hweshio melihat Yo Him dalam keadaan tertegun dan heran seperti itu, dan kembali In Lap Siansu tambah heran juga.

"Apakah benar-benar engkau tidak mengenal siapa Sin Tiauw Taihiap dan Siauw Liong Lie Liehiap, sepasang pendekar besar di jaman ini ?"

Tanyanya bersungguh-sungguh. Yo Him menggeleng.

"Mendengarnya saja baru kali ini...!"

Menyahuti Yo Him.

"Engkau she Yo, juga memiliki kepandaian. Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat, ilmu-ilmu yang dimiliki Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie....maka heranlah jika engkau mengatakan antara dirimu tidak ada hubungannya dengan mereka...?" ' Penasaran sekali suara si hweshio, dia berkatapun sambil mengawasi tajam sekali kepada Yo Him. Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya dalam-dalam, dia heran bukan main mendengar In Lap Siansu, si Jieko itu, berkeras bahwa dia ada hubungan dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Sedangkan kedua orang itu memang tidak dikenalnya, mendengar namanya saja baru kali ini. Tetapi sebagai seorang anak yang cerdas, mengingat bahwa dia sejak bayi dirawat oleh seekor burung rajawali, yang juga tampaknya cerdik serta sakti sekali, maka mungkin juga antara Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dengan rajawali sakti (Sin Tiauw) yang merawatnya itu ada hubungannya. Atau boleh jadi juga dirinya memiliki hubungan yang erat dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie. bukankah diapun she Yo ? Karena berpikir begitu, maka Yo Him jadi tertarik sekali menghadapi persoalan seperti ini.409 Segera juga dia menanyakan kepada In Lap Siansu, siapakah sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu ? Dan siapa pula Siauw Liong lie. In Lap Siansu setelah berdiam sejenak, segera menceritakan sepak terjang Yo Ko, pendekar nomor satu dijaman ini. Bagaimana Yo Ko telah membela yang lemah dari tindasan sikuat jahat, bagaimana Yo Ko juga telah membantu pemerintahan Song untuk mengusir pasukan perang tentara Mongolia dengan membinasakan Kaisar Mangu. Mendengar semua itu, Yo Him. jadi merasa kagum kepada pendekar besar itu. Walaupun dia belum pernah melihat bagaimana rupa dari pendekar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu, namun dia membayangkannya dari bayang-bayang yang digambarkan oleh In Lap Siansu, seorang pendekar gagah yang bermuka tampan memiliki tangan tunggal, yaitu tangan kirinya, dengan seekor burung rajawali saktinya....Dan juga mengenai kegagahan Siauw Liong Lie dengan Giok Lie Kiam Hoatnya membuat Yo Him benar-benar menaruh hormat akan sifat kesatrianya pendekar wanita itu.

"Seperti kau lihat, mereka itu memiliki kepandaian yang sempurna sekali, maka mereka dapat melakukan pekerjaan besar. Tetapi jika mereka memiliki pendirian seperti kau yang tidak ingin mempelajari ilmu silat, bagaimana mereka bisa melakukan pekerjaan besar seperti itu ?"

Kata In Lap Siansu mengakhiri ceritanya.

Yo Him jadi duduk terpekur ditempatnya, dia tengah membayangkan kegagahan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Betapa kagumnya dia mendengar juga perihal kegagahan Oey Yok Su, Kwee Ceng dan Oey Yong.

Begitu pula dia kagum mendengar kehebatan kepandaian Loo Boan Tong.410 Banyak orang-orang gagah dimasa itu yang diceritakan oleh In Lap Siansu, termasuk juga See Tok, Pak Kay, yaitu Ang Cit Kong, dan yang lainnya lagi.

"dan jika melihat she yang kau pergunakan, yaitu she Yo juga, dan ilmu yang kau perlihatkan tadi adalah ilmu simpanan dari kedua pendekar besar itu, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie, maka aku yakin kau memiliki hubungan yang erat dengan mereka... !"

Yo Him hanya berdiam diri saja, sedangkan pikirannya tengah bekerja dengan keras.

Akhirnya Yo Him menceritakan kepada In Lap Siansu, justru dia berkelana seperti sekarang ini adalah untuk menyelidiki asal usulnya.

Karena itu dia tidak mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya.

Siapa ayahnya dan siapa ibunya !

sejak kecil dia hanya dirawat oleh Sin Tiauw itu yang akhirnya telah lenyap didekat jurang tidak pernah muncul kembali.

Mendengar cerita Yo Him, sepasang alis In Lap siansu mengerut.

Setelah mengucapkan beberapa kali kebesaran sang Budha, akhirnya In Lap Siansu berkata.

"Akhir-Akhir ini memang Jiekomu sering mendengar bahwa diselatan telah muncul beberapa orang jago yang hebat-hebat, menurut keterangan sementara orang yang telah kembali dari sana, menyatakan orang-orang yang memiliki jiwa kesatria itu tidak lain dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, Oey Yong, Kwee Ceng, It Teng Taisu Hanya saja yang membuat Lolap kurang mempercayai keterangan itu, justru tidak disebut-sebutnya Siauw Liong Lie" .

"Dimana ada Yo Ko, tentu ada isterinya, yaitu Siauw Liong Lie. Maka dari itu, aneh sekali jika hanya ada Yo Ko. Sampai Lolap juga ingin menduga apakah orang itu ingin menjual nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, untuk malang melintang didunia persilatan ?" .

"Apakah Jieko telah pergi keselatan untuk menyelidikinya ?"

Tanya Yo Him tertarik.

"Semula memang Lolap bermaksud pergi ke sana, tetapi setelah Lolap berpikir-pikir secara masak-masak, percuma saja. Karena kepandaian yang dimiliki Lolap sangat rendah sekali. Jika memang benar orang-orang gagah itu Yo Ko adanya bersama Kwee Ceng, Oey Yong dan It Teng Taisu ataupun Ciu Pek Thong, tentu Jiekomu tidak akan mengalami suatu ancaman bahaya apa-apa, tetapi jika mereka hanya menjual nama Sin Tiauw Taihiap untuk kepentingan diri pribadi mereka sendiri, dan mereka merupakan penjahat-penjahat murahan, bukankah lolap akan menghadapi bahaya yang tidak kecil ?, jelas lolap tidak akan dapat mempertahankan diri membiarkan orang merusak nama baik Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan lainnya, tetapi untuk melawan mereka juga tidak akan sanggup, sebab menurut cerita orang-orang yang pernah melihat mereka bertempur, kepandaian orang itu luar biasa sekali, dan sulit untuk diukur.... !"

Yo Him menghela napas panjang.

"bagaimana kalau kita pergi keselatan untuk melihat benar atau tidaknya berita itu ?"

Tanya Yo Him kemudian mamajukan sarannya. Si hweshio bimbang sejenak, tetapi kemudian dia telah mengangguk.

"Jika memang Samte bermaksud begitu maka Jiekomu hanya menurut saja"

Kata si hweshio.

"Hanya, Samte belum menjelaskan, sesungguhnya ada hubungan apakah antara Samte dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie?" .

"Apa yang telah adikmu jelaskan, semuanya itu tidak dusta...!"

Kata Yo Him "

Nanti jika memang orang-orang gagah yang berada di selatan itu benar-benar terdapat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, kita boleh menanyakannya, mungkin pendekar besar itu jauh lebih tahu mengenai keadaan diriku, yang412 kebetulan she Yo juga dan dirawat oleh seekor burung rajawali !

Hanya yang hampir tidak masuk dalam pikiran, justru aku dibesarkan di Utara, sedangkan saat sekarang mereka berkumpul diselatan, itulah tempat yang sangat berlainan satu dengan yang lainnya !

In Lap Siansu juga telah menghela napas.

"Didalam dunia memang sering terjadi urusan yang aneh dan hampir tidak bisa dibayangkan atau tidak bisa masuk dalam akal sehat ! Kita lihat saja nanti, mudah-mudahan asal usul dirimu, Samte, akan dapat diketahui dengan jelas !" . Yo Him akhirnya teringat kepada beberapa macam barang yang disimpannya, dimana barang-barang itu adalah pemberian rajawali sebelum hari terakhir kematiannya itu. Semula Yo Him bermaksud untuk memperlihatkan benda-benda itu, namun akhirnya dia membatalkan. Walaupun In Lap Siansu telah mengangkat saudara dengannya, tetapi jika urusan keturunannya belum jelas, mengapa dia harus memperlihatkan barang-barang itu ? Dia bermaksud baru memperlihatkannya nanti kepada Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, yang kebetulan sekali juga she Yo pula. Begitulah, mereka telah memutuskan untuk berangkat menuju kearah selatan... 000odw^kzo000 KALANGAN jago-jago rimba persilatan. umumnya memang sering merantau untuk mencari pengalaman dan juga pesiar ditempat-tempat yang indah. Begitu juga dengan In Lap Siansu. Pendeta ini adalah seorang pendeta perantauan yang gemar sekali berkelana dari kota yang satu kekota yang lainnya.413 Kini dia melakukan perjalanan bersama Yo Him, maka itu hatinya jadi gembira sekali disaat mereka telah tiba didaerah selatan tersebut. Tujuan mereka adalah Kanglam, dimana tempat tersebut terkenal akan keindahannya, terkenal akan kecantikan gadis-gadisnya, terkenal juga sebagai tempat yang seringkali dikunjungi pujangga dan penyair. Bahkan Kanglam pernah menjadi tempat dan daerah kekuasaan Kanglam Citkoay, guru-gurunya Kwee Ceng, dimana ketujuh Manusia Aneh itu adalah keturunan dari daerah tersebut, Disamping Kanglam Cit-koay! Kanglam memang merupakan tempat yang banyak sekali di datangi pendekar-pendekar silat kelas utama, yang akhirnya memilih tempat tersebut sebagai kampung halaman mereka. Pemandangan yang ada disekitar daerah Kang lam indah sekali, walaupun musim dingin mulai tiba. Salju yang turun ringan dan tipis-tipis itu ternyata menimbulkan pemandangan yang sejuk dengan warnanya yang putih cemerlang. Betapa sucinya salju-salju itu, yang putih bagaikan putihnya kapas dan lembut selembut sutera... Yo Him tidak hentinya memuji akan keindahan daerah selatan tersebut, terlebih lagi ketika mereka tiba dimuka kampung Liang-kuang cung, sebuah daerah pinggiran dikota Kanglam tersebut. Pohon-Pohon yang mulai gundul itu tidak menyebabkan rusaknya keindahan didaerah Kanglam. Gadis-gadisnya yang terkenal dengan kulitnya yang halus lembut dengan sikap dan gerak gerik mereka yang menawan, telah terkenal sekali. In Lap Siansu telah mengatakan kepada Yo Him "Jika saja kita berhasil menemui jago jago itu, dan mereka memang Sin414 Tiauw Taihiap Yo Ko dan pendekar-pendekar lainnya, maka Lolap telah puas, ,mati dapat dengan mata yang meram. Sulit sekali untuk menjumpai mereka...bertemu saja sulit sekali" . Yo Him girang bukan main, sebagai seorang anak berusia delapan tahun, tetap saja Yo Him masih sering memiliki sifat kekanak-kanakan, karena walaupun bagaimana dia masih gemar bermain dan bersenang-senang. Maka disaat In Lap Siansu mengajaknya untuk bermain-main perahu, Yo Him segera menyetujuinya. Dengan menyewa sebuah perahu, mereka telah berlayar perlahan-lahan di sungai-sungai yang banyak terdapat di sekitar daerah Kanglam Harus diketahui, jika didarat orang mempergunakan kuda sebagai binatang pengangkut maka justru perahu merupakan alat pengangkutan penting sebagai kendaraan air...maka dari itu, tidak mengherankan setiap sungai selalu penuh oleh perahu yang hilir mudik. Sambil meneguk teh mereka yang hangat, In Lap Siansu dan Yo Him menikmati keindahan disekitar sungai dimana perahu mereka berlayar. Sedangkan dipinggir tepi sungai itu, tampak pohon-pohon Yangliu yang mulai gundul dan sebagian tertutup oleh lapisan salju. Saat itu Yo Him tiba-tiba menunjuk kearah depannya.

"Jieko...kau lihat !" . In Lap Siansu telah menoleh dan dia melihat dua buah perahu tengah saling kejar. Mereka masih terpisah dalam jarak yang cukup jauh, tetapi In Lap Siansu telah cepat-cepat mengayuh perahunya ketepi, karena dia kuatir kalau-kalau nanti perahunya ditabrak oleh kedua perahu yang tengah saling kejar itu. Kedua perahu itu memang tengah saling kejar dengan cepat, dan ketika kedua perahu itu meluncur semakin dekat,415 In Lap Siansu dan Yo Him mulai mendengar suara bentakan-bentakan yang keras dan bengis sekali.

"Siangkoan Linlie !, Hentikan perahumu ! Jika tidak kalian jangan menganggap aku keterlaluan !"

Teriak seorang lelaki bercambang berewok kasar diperahu yang lainnya yang mengejar.

Tetapi perahui yang didepan tetap saja meluncur dengan cepat sekali tanpa memperdulikan ancaman dan teriakan orang bermuka kasar itu.

Rupanya orang yang berewok kasar itu sudah habis sabar, dari dalam perahunya dia telah mengeluarkan sebuah jangkar besi yang tampaknya beratnya seribu kati lebih.

Tetapi jangkar besi itu telah diangkatnya dengan mudah dan ringan sekali, tampaknya lelaki berewok itu sama sekali tidak mengeluarkan tenaga untuk mengangkat jangkar besi tersebut.

Hal itu telah membuktikan bahwa tenaga yang dimiliki orang berewok itu sangat besar dan luar biasa sekali, menyebabkan In Lap Siansu jadi kagurn bukan main.

"Hebat orang itu, jangkar besi seribu kati lebih dapat diangkatnya dengan begitu mudah dan ringan !"

Bisik ln Lap Siansu kepada Yo Him. Yo Him hanya mengangguk sambil mengawasi terus.

"Tampaknya akan terjadi perkelahian ! Rupanya mereka saling kejar mengejar bukan tengah bermain perahu, tetapi untuk saling bertempur!"

Kata Yo Him kemudian.

"Benar !"

Mengangguk In Lap;

"Tampaknya orang yang berada diperahu didepan itu tidak mau melayaninya, atau memang kepandaiannya masih berada dibawah kepandaian orang berewok itu. Maka dia bermaksud melarikan diri, menjauhkan perahunya dari perahu si berewok itu" . Yo Him mengangguk.416

"Tetapi tidak lama lagi tentu akan dapat dikejar !"

Bisik In Lap lagi.

Yo Him melihat perahu yang kedua itu telah meluncur semakin mendekati perahu yang pertama itu.

Rupanya orang yang menggerakkan penggayuh perahu kedua itu sangat kuat sekali, setiap kayu penggayuh itu digerakkan, perahu seperti terbang meluncur dipermukaan air.

Sedangkan orang yang berada diperahu pertama itu, yang tengah dikejar, tampaknya telah menjadi gugup sekali, dia sampai memperdengarkan seruan tertahan.

Saat itu jarak perahu Yo Him dengan perahu yang tengah dikejar oleh lelaki berewok itu sudah makin dekat jaraknya, dan Yo Him mau pun In Lap Siansu sudah dapat melihat jelas wajah orang yang mendiami perahu pertama itu.

Ternyata didalam perahu itu terdapat tiga orang.

Seorang lelaki berusia setengah baya, kurang lebih berusia lima puluh tahun, tengah menggerakkan penggayuh perahunya dengan tergesa dan cepat-cepat sekali, mukanya pucat, jenggotnya yang pendek sebagian telah putih.

Dua orang lainnya yang berada diperahu itu dua orang wanita.

Seorang wanita yang berusia empat puluh tahun lebih dan gadis kecil berusia sebelas dua belas tahun, Si gadis kecil itulah yang berdiri di buritan perahu sambil sebentar-sebentar menoleh kebelakang sambil berseru "Musuh telah datang dekat...musuh telah dekat...!"

Tentu saja teriakan si gadis cilik itu telah membuat si lelaki setengah baya itu jadi semakin gugup.

"Walaupun bagaimana kita harus dapat meloloskan diri dari kejaran mereka!"

Kata wanita berusia empat puluhan itu, yang rupanya menjadi ibu si gadis kecil itu, mukanya juga pucat, tubuhnya tampak sering menggigil, matanya liar ketakutan bukan main.417 Si gadis kecil itu telah berteriak lagi.

"Mereka telah mempergunakan jangkar besi, yang siap untuk ditimpukkan kearah perahu kita...cepat ayah cepat ayah, kita harus berusaha menjauhi, kalau jangkar besi itu menimpah perahu kita, celakalah kita...!" . Sambil berteriak-teriak begitu, si gadis cilik itu tampaknya gugup sekali. Sedangkan lelaki berusia lima puluhan, yang memelihara jenggot pendek yang sebagian telah putih itu, semakin cepat dan kuat menggayuh perahunya. Dan ibu si gadis cilik itu juga telah membantui menggayuh. Tampaknya mereka bertiga memang tengah ketakutan sekali, keringat tampak menitik dari kening si lelaki dan wanita tua itu, sedangkan si gadis cilik masih terus berteriak-teriak memberitahukan keadaan dan perkembangan musuh..! Yo Him yang melihat ketiga orang itu dalam ketakutan, dan juga melihat si lelaki berewok yang mengejar dibelakang itu memegang jangkar besi, mengancam akan menimpuk, dia jadi merasa kasihan dan iba kepada ketiga buronan itu. In Lap juga telah mengerutkan sepasang alisnya.

"lni urusan dunia Kang-ouw, kita tidak boleh mencampuri...!"

Bisik In Lap Siansu kepada Yo Him. disaat dia melihat Yo Him menoleh kepadanya, seperti ingin membuka mulut menganjurkan agar In Lap Siansu menolongi ketiga orang itu.

"Tetapi mereka terancam, Jieko, jika saja jangkar besi itu menimpah perahu mereka, niscaya mereka akan terbalik dan terluka!" .

"Akhh, kau belum mengerti peraturan dunia Kang-ouw, Samte, didalam rimba persilatan selalu terdapat urusan yang berbelit. Semula, pihak yang kita duga jahat, bisa menjadi418 pihak yang benar dan baik, sedangkan pihak yang semula kita duga baik, malah kenyataannya lain seperti ular beracun!"

Baca Juga: Si Rajawali Sakti 7

Baca Juga: Manusia Aneh Dialas Pegunungan Gan Kl

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert