Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 18

Eps 18 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

Beberapa hari kemudian sampailah mereka di kaki gunung Ko-san, waktu rapat yang ditentukan masih ada dua hari pula.

Ketika tiba tanggal 15 tepat, Lenghou Tiong bersama rombongannya pagi-pagi sudah berangkat ke atas gunung.

Sampai di tengah gunung, di suatu gardu istirahat telah disambut oleh empat murid Ko-san-pay yang berseragam baju kuning.

Dengan sangat hormat mereka berkata.

"Atas kunjungan Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay, atas nama Ko-san-pay lebih dulu kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih. Para supek dan susiok dari Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hoa-san-pay sudah sejak kemarin tiba lebih dulu. Maka sekarang pun lengkaplah dengan datangnya Lenghou-ciangbun bersama para suci dan sumoay dari Hing-san-pay."

Lenghou Tiong terus mendaki ke atas gunung.

Dilihatnya sepanjang jalan pegunungan itu disapu bersih, setiap beberapa li lantas memapak beberapa anak murid Ko-san-pay yang menyuguhkan minuman dan nyamikan, cara menyambut tamu sangat teratur, hal ini menandakan persiapan Co Leng-tan yang sangat rapi dan agaknya kedudukan ketua Ngo-gak-kiam-pay harus diperolehnya dengan segala jalan.

Kira-kira dua-tiga li lagi ke atas, tiba-tiba dari belakang ada orang berseru.

"A Lim! A Lim!"

"He, itulah ayah!"

Seru Gi-lim girang. Cepat ia membalik dan berteriak.

"Ayah!"

Tertampak dari sana mendatangi seorang hwesio yang tinggi besar, memang benar dia adalah ayah Gi-lim, Put-kay Hwesio.

Di belakangnya masih ada lagi seorang hwesio.

Mereka berjalan dengan sangat cepat, hanya sebentar saja mereka sudah mendekat.

"Lenghou-kongcu,"

Seru Put-kay.

"engkau terluka parah dan ternyata tidak mati, bahkan telah menjadi ketua anak perempuanku, sungguh hebat sekali kau."

"Ah, semuanya itu berkat doa restu Taysu..."

Mendadak Lenghou Tiong melihat hwesio di belakang Put-kay itu seperti sudah dikenalnya, hanya tidak ingat seketika siapa gerangannya.

Setelah melenggong sejenak barulah ia mengenali hwesio itu kiranya ialah Dian Pek-kong.

Keruan itu melongo heran dan tercetus dari mulutnya.

"He, engkau...."

Hwesio itu memang betul Dian Pek-kong adanya, dia menyengir dan memberi hormat kepada Gi-lim sambil berkata.

"Hormatku, Suhu!"

Gi-lim juga terheran-heran, tanyanya.

"Kenapa... kenapa kau menjadi hwesio? Apa kau dalam penyamaran saja?"

"Tidak, tidak menyamar. Barang tulen harga pas, dia benar-benar seorang hwesio tulen!"

Kata Put-kay dengan berseri-seri.

"He, Put-ko-put-kay, siapa nama agamamu, lekas beri tahukan kepada gurumu."

Dengan menyengir Dian Pek-kong berkata pula.

"Suhu, Thaysuhu telah memberikan suatu nama agama padaku, yakni ‘Put-ko-put-kay’."

"Put-ko-put-kay? Mengapa begitu panjang?"

Ujar Gi-lim.

"Kau tahu apa?"

Kata Put-kay.

"Nama dalam agama Buddha biasanya memang panjang-panjang, kenapa kau mesti heran?"

Ketika Lenghou Tiong tanya sebab musababnya Dian Pek-kong sampai menjadi hwesio dan ikut Put-kay Taysu, dengan menyengir malu Dian Pek-kong bercerita.

Kiranya pada suatu hari Dian Pek-kong yang terkenal sebagai "pencuri perempuan"

Itu telah mengincar anak perawan seorang hartawan.

Malamnya, dengan ginkangnya yang tinggi ia telah menggeremeti anak perawan orang.

Tapi sial baginya, perbuatannya itu telah dipergoki Put-kay.

Ilmu silat Dian Pek-kong memang jauh di bawah Put-kay, maka hanya beberapa kali gebrak saja Dian Pek-kong sudah terbekuk.

"Sungguh runyam, memang kepandaianku jauh di bawah Thaysuhu sehingga aku tertutuk tak berkutik,"

Demikian Pek-kong meneruskan ceritanya.

"Namun waktu itu aku merasa penasaran. Ketika Thaysuhu bertanya padaku, ‘Nah, apa katamu sekarang? Kau tertawan olehku, kau minta hidup atau ingin mampus?’ "

Dengan penasaran aku menjawab, ‘Aku tertawan karena aku kurang hati-hati, kalau mau bunuh lekas bunuh saja, buat apa banyak bicara?’"

Dengan tertawa Thaysuhu berkata, ‘O, kau bilang kurang hati-hati sehingga tertawan, kalau hati-hati apa kau takkan tertawan olehku? Nah, boleh coba!’ "

Habis berkata Thaysuhu lantas membuka hiat-to tubuhku yang tertutuk.

Dengan ragu-ragu aku bertanya, ‘Apa maksudmu?’ "Thaysuhu menjawab, ‘Kau membawa senjata, kau juga punya dua kaki, sekarang boleh kau menyerang atau mau melarikan diri, boleh kau pilih sesukamu!’ "

Dengan mendongkol aku menjawab, ‘Orang she Dian adalah laki-laki sejati, kenapa mesti main lari segala, aku bukan pengecut yang tidak tahu malu.’ "Thaysuhu mengakak tawa, katanya, ‘Jika kau bukan pengecut, mengapa sudah berjanji akan mengangkat guru pada anak perempuanku, tapi sekarang kau ingkar janji?’ "

Aku menjadi heran dan bertanya, ‘Anak perempuanmu yang mana?’ "Thaysuhu menjawab, ‘Ketika kau bertaruh dengan anak muda dari Hoa-san-pay di atas loteng restoran di Kota Heng-san, kau berjanji kalau kalah bertaruh akan mengangkat anak perempuanku sebagai guru, memangnya janjimu itu seperti kentut saja?

Waktu itu aku pun berada di sana dan sedang minum arak, apa yang kalian katakan telah kudengar seluruhnya.’ "‘O, kiranya demikian.

Jadi nikoh cilik itu adalah anak perempuan hwesio seperti kau?

Wah, sungguh aneh.’ "Thaysuhu berkata, ‘Apanya yang aneh?’"

"Ya, hal ini memang rada aneh,"

Sela Lenghou Tiong dengan tertawa.

"Umumnya yang pernah terjadi adalah sesudah berumah tangga dan punya istri dan anak baru kemudian meninggalkan rumah dan menjadi hwesio. Tapi Put-kay Taysu adalah terbalik, lebih dulu dia menjadi hwesio baru kemudian beristri dan punya anak perempuan. Nama agamanya Put-kay (tidak pantang) juga punya arti tidak tunduk kepada segala peraturan dan pantangan agama."

Lalu Dian Pek-kong menyambung ceritanya.

"Maka aku telah menjawab, ‘Hal bertaruh waktu itu hanya berkelakar saja, mana boleh dianggap sungguh-sungguh. Kalau aku dianggap kalah pada pertaruhan itu, ya, memang betul. Biarlah seterusnya aku takkan mengganggu lagi nikoh cilik itu.’ "

Tapi Thaysuhu tidak terima, katanya, ‘Tidak boleh.

Kau sudah menyatakan akan mengangkat guru padanya, maka janjimu harus dilaksanakan.

Kau harus menyembah kepada anak perempuanku dan memanggil suhu padanya.’"

Melihat dia mengoceh tak keruan, kupikir mau tunggu kapan lagi kalau tidak lekas melarikan diri saja.

Maka pada saat yang tak terduga mendadak aku melompat keluar rumah.

Dengan ginkangku yang tinggi kuyakin Thaysuhu pasti tidak sanggup menyusul aku.

Tak terduga di belakangku lantas terdengar suara langkah orang yang cepat, ternyata Thaysuhu sudah memburu tiba.

Cepat aku berteriak, ‘Hwesio gede, tadi kau tidak membunuh aku, maka sekarang aku pun takkan membunuh kau.

Tapi kalau kau mengejar lagi, terpaksa aku tidak sungkan lagi padamu.’ "

Tapi Thaysuhu terbahak-bahak malah, katanya, ‘Cara bagaimana kau akan tidak sungkan-sungkan lagi padaku?’ "Aku menjawab, ‘Akan kuserang kau dengan senjata rahasia,’ berbareng aku lantas menyambitkan sebuah panah kecil ke belakang.

Meski di tengah malam gelap ternyata Thaysuhu cukup tangkas untuk menangkap senjata rahasiaku itu.

Sekali sambar panahku itu sudah terpegang olehnya.

Lalu aku masih terus dikejar.

Aku menjadi kelabakan karena dibayangi terus, mendadak aku membacok ke belakang dengan golokku.

Namun kepandaian Thaysuhu benar-benar tinggi, walaupun aku bersenjata tetap tidak mampu melawan kedua tangannya.

Hanya balasan jurus saja, tahu-tahu kudukku sudah dibekuk pula olehnya, menyusul golokku lantas dirampas.

"Dengan tertawa Thaysuhu lalu tanya padaku, ‘Sekarang kau takluk tidak?’ "

Aku menjawab, ‘Ya, takluk sudah.

Bunuhlah aku!’ "Tapi dia berkata, ‘Tidak, kau takkan kubunuh.

Akan kutusuk buta kedua matamu agar selanjutnya kau tak bisa mengincar perempuan cantik lagi.

Tapi, ah, kurang tepat.

Dasar kau ini memang bajul buntung, biarpun mata buta juga tetap bisa main perempuan, umpama perempuan cantik tak bisa kau jamah, tentu nenek-nenek yang akan menjadi korban.

Wah, paling betul kalau kupotong kedua kakimu agar kau benar-benar buntung dan kapok.’ "

Aku menjawab, ‘Sebaiknya kau bunuh aku saja, buat apa banyak omong tak keruan.’ "Dia memuji aku malah, ‘Kau ini ternyata suka blakblakan.

Kau adalah murid anak perempuanku, bila aku memotong kakimu, itu berarti murid anak perempuanku akan lumpuh dan tidak sanggup bertempur, hal ini akan membikin malu padanya.

Rasanya aku harus mencari jalan yang baik agar kau tidak bisa menjadi maling cabul lagi...

Aha, aku mendapat akal yang baik!’ mendadak ia menutuk roboh diriku, tahu-tahu dengan anak panahku yang kecil itu ditusukkan kepada...

kepada anuku itu, bahkan anak panah itu terus diikat dengan talipati.

Lalu dia terbahak-bahak, katanya, ‘Nah, sekarang maling cabul seperti kau ini tentu akan mati kutu dan tidak mampu main gila lagi.

======== Upload dilanjutkan oleh Tungning Bab 110.

Di Tengah Perebutan Bengcu yang Kacau Mendengar cerita yang tidak masuk di akal itu, Lenghou Tiong menjadi geli dan terheran-heran, katanya.

"Masakah bisa terjadi begitu? Wah, Thayhwesio ini benar-benar lucu dan aneh."

"Tapi lelucon yang tidak lucu bagiku,"

Ujar Dian Pek-kong dengan menyengir.

"Keruan waktu itu aku kesakitan setengah mati, hampir-hampir aku jatuh kelengar. Aku mencaci maki dia, ‘Keledai gundul bangsat, kalau mau bunuh lekas bunuh saja diriku, kenapa kau menyiksa aku secara begini keji?’ "

Dengan tertawa dia menjawab, ‘Keji apa?

Perempuan tak berdosa yang menjadi korbanmu entah betapa banyak, kenapa selama itu kau tidak kenal keji atau tidak?

Hendak kukatakan padamu, selanjutnya bila aku ketemu kau, setiap kali pasti akan kuperiksa anumu itu, kalau ketahuan panahnya kau cabut, segera kutancapi lagi dua batang, lain kali kalau kulihat panah-panah itu kau tanggalkan lagi, lantas kutancapkan pula tiga batang.

Pendek kata, setiap kali kau berani mencabut anak panah itu, setiap kali kutambahi satu batang lebih banyak.’"

Saking gelinya sampai Lenghou Tiong terpingkal-pingkal oleh cerita Dian Pek-kong itu. Keruan Dian Pek-kong tersipu-sipu malu.

"Maaf, Dian-heng,"

Kata Lenghou Tiong kemudian.

"Bukan maksudku hendak menertawai kau, soalnya peristiwa ini sungguh sukar untuk dibayangkan."

"Memangnya, siapa bilang tidak,"

Kata Dian Pek-kong.

"Dia kemudian memberi obat luka padaku dan suruh aku tetirah di hotel. Kemudian beliau mendapat tahu guruku lagi rindu padamu, lalu aku disuruh pergi ke Hoa-san untuk mengundang engkau menemui guruku."

Baru sekarang Lenghou Tiong tahu kedatangan Dian Pek-kong di Hoa-san tempo dulu untuk mengundang dirinya itu adalah karena perintah Put-kay Taysu, pantas Dian Pek-kong tidak berani bercerita apa-apa, kiranya di balik itu banyak terjadi hal-hal yang lucu dan luar biasa itu.

Lalu terpikir pula olehnya.

"Untuk apakah Gi-lim Sumoay ingin bertemu dengan aku? Dahulu ketika bersama di Heng-san memang dia dan aku pernah senasib setanggungan, kemudian dia jarang bertemu dengan aku, kalau bertemu tentu terdapat juga orang lain."

Lenghou Tiong bukan orang dungu.

Bahwasanya Gi-lim juga cinta padanya mustahil dia tidak tahu.

Soalnya, Gi-lim adalah nikoh, kedua, umur Gi-lim masih muda belia, setelah lewat sekian lamanya tentu pikirannya sudah berubah.

Sebab itu pertemuan-pertemuan selanjutnya Lenghou Tiong tidak pernah ajak bicara sendirian pada Gi-lim.

Sesudah menjadi ketua Hing-san-pay lebih-lebih tidak leluasa lagi.

Lenghou Tiong menyadari namanya sendiri tidak terlalu harum di luaran, baginya soal nama adalah tidak soal, tapi dirinya telah diberi tugas suci oleh Ting-sian Suthay untuk mengetuai Hing-san-pay, mana boleh nama baik Hing-san-pay ternoda di bawah pimpinannya.

Sebab itulah dia jarang berkumpul dengan anak murid Hing-san-pay kecuali di waktu memberi ajaran ilmu pedang.

Sekarang Dian Pek-kong bercerita tentang kejadian dahulu, mau tak mau kasih mesra Gi-lim padanya kembali terbayang dalam benaknya.

Didengarnya Dian Pek-kong bercerita pula.

"Entah mengapa, Thaysuhu agaknya sangat cocok dengan aku. Meski dia menyiksa aku secara kejam, tapi sehari-hari aku diperlakukan cukup baik. Dia mengatakan biarpun aku sudah mengangkat guru, tapi sang guru tidak pernah mengajarkan ilmu silat padaku, maka ia ingin mewakilkan anak perempuannya dan banyak mengajarkan kepandaiannya padaku."

"Syukurlah kalau begitu,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Kemudian kami dengar kau diangkat menjadi ketua Hing-san-pay, Thaysuhu suruh aku datang ke Hing-san untuk membantu kau. Tapi beberapa hari yang lalu di tengah jalan aku dipergoki beberapa orang yang mengenali diriku, aku telah diteriaki sebagai ‘maling cabul’ dan dikerubut. Untung Thaysuhu keburu menghalau orang-orang itu, habis itu aku lantas disuruh cukur rambut dan menjadi hwesio serta diberi nama ‘Put-ko-put-kay’. Beliau suruh aku menjelaskan persoalan ini padamu agar engkau tidak marah pada suhuku."

"Kenapa aku mesti marah para suhumu? Tidak pernah terjadi,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Menurut kata Thaysuhu, setiap kali ketemu suhu tentu melihat suhu tambah kurus, air mukanya juga semakin pucat. Bila ditanya suhu selalu tidak menjawab dan hanya mencucurkan air mata. Menurut pikiran Thaysuhu tentulah engkau memarahi dia."

"He, mana bisa,"

Kata Lenghou Tiong.

"Selamanya aku sangat baik pada gurumu, belum pernah aku mengomeli dia satu patah kata pun. Pula dia selalu berbuat baik, kenapa aku mesti marah padanya?"

"Justru engkau tidak pernah marah dan mengomeli dia, makanya guruku menangis,"

Kata Dian Pek-kong.

"Sungguh aneh, aku menjadi bingung,"

Ujar Lenghou Tiong.

"Malahan aku pernah dihajar habis-habisan oleh Thaysuhu lantaran urusan ini,"

Kata Dian Pek-kong pula.

Lenghou Tiong garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia pikir kelakuan Put-kay Taysu yang dogol tak keruan itu boleh dikata setali tiga uang dengan Tho-kok-lak-sian.

Maka Dian Pek-kong berkata pula.

"Thaysuhu mengatakan bahwa dahulu sesudah beliau menjadi suami istri dengan Thaysubo, mereka sering kali bertengkar mulut, semakin banyak bertengkar semakin cinta pula. Karena itu, dia berpendapat kalau engkau tidak marah pada guruku berarti engkau tidak ingin memperistrikan dia."

"Soal ini... gurumu adalah cut-keh-lang (orang yang telah meninggalkan keluarga) dan menjadi nikoh, maka sama sekali aku tak pernah memikirkan soal demikian,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Aku pun pernah berkata demikian pada Thaysuhu, tapi Thaysuhu menjadi marah malah dan aku dihajar lagi hingga babak belur,"

Kata Dian Pek-kong.

"Beliau mengatakan dahulu Thaysubo juga seorang nikoh, demi untuk memperistrikan Thaysubo, maka Thaysuhu lantas menjadi hwesio. Kalau cut-keh-lang tak boleh menjadi suami istri, lalu di dunia ini masakah terdapat orang seperti Thaysuhu? Kalau di dunia ini tiada Thaysuhu, dari mana ada aku?"

Lenghou Tiong menjadi geli karena Dian Pek-kong sendiri dicampuradukkan dalam urusan Gi-lim yang jauh lebih muda itu. Lalu Dian Pek-kong melanjutkan.

"Thaysuhu mengatakan pula, jika engkau tidak ingin menjadi suami istri dengan suhuku, lalu buat apa engkau menjadi ketua Hing-san-pay? Katanya, ‘Di antara nikoh-nikoh Hing-san-pay sebanyak itu toh tiada satu pun yang lebih cantik daripada guruku. Dan kalau bukan demi guruku, lalu apa tujuanmu menjadi ketua Hing-san-pay?’"

Diam-diam Lenghou Tiong merasa khawatir dan mengeluh. Pikirnya.

"Demi untuk memperistrikan seorang nikoh, dahulu Put-kay Taysu sengaja menjadi hwesio. Menurut jalan pikirannya setiap orang di dunia ini tentu sama dengan dia. Kalau hal ini sampai tersiar, bukanlah aku akan menjadi buah tertawaan orang?"

Dengan menyengir Dian Pek-kong menyambung lagi.

"Thaysuhu tanya pula padaku, ‘Bukankah anak perempuanku yang menjadi gurumu itu adalah wanita tercantik di dunia?’ "

Aku menjawab, ‘Seumpama bukan yang paling cantik, paling sedikit tergolong sangat cantik.’ "Sekali tonjok, kontan Thaysuhu membikin rontok dua biji gigiku yang depan.

Dia marah-marah, katanya, ‘Mengapa bukan yang paling cantik?

Kalau anak perempuanku tidak cantik, mengapa dahulu kau bermaksud berbuat tidak senonoh padanya?

Dan mengapa si bocah Lenghou Tiong itu mati-matian menyelamatkan jiwanya?’ "

Dengan menahan sakit cepat aku menjawab, ‘Ya, paling cantik, paling cantik.

Nona keturunan Thaysuhu mana bisa bukan wanita paling cantik di dunia ini.’ "Jawabanku ini rupanya cocok dengan selera Thaysuhu, beliau sangat gembira dan memuji penilaianku yang tepat."

"Gi-lim Sumoay memang dasarnya sangat cantik, pantas kalau Put-kay Taysu suka pamer kecantikan anak perempuannya,"

Kata Lenghou Tiong dengan tersenyum.

"Sungguh bagus sekali, ternyata Lenghou-kongcu juga menyatakan guruku sangat cantik,"

Seru Dian Pek-kong dengan girang.

"Mengapa kau kegirangan?"

Tanya Lenghou Tiong heran.

"Sebab, Thaysuhu memberi suatu tugas padaku, aku diharuskan berusaha agar engkau... agar engkau...."

"Agar aku apa?"

Lenghou Tiong menegas.

"Agar engkau menjadi sukongku (suami guruku),"

Jawab Dian Pek-kong dengan tertawa. Lenghou Tiong melenggong sejenak. Ia menghela napas, lalu berkata.

"Dian-heng, Put-kay Taysu benar-benar teramat sayang kepada anak perempuannya. Tapi urusan ini kau sendiri pun tahu sukar terlaksana."

"Memangnya, aku pun bilang sangat sukar terlaksana. Kukatakan bahwa engkau pernah memimpin para kawan Kangouw menyerbu Siau-lim-si untuk menolong Yim-siocia dari Sin-kau. Aku berkata bahwa kecantikan Yim-siocia meski tiada setengahnya suhuku, namun rupanya Lenghou-kongcu ada jodoh dengan dia sehingga terpelet olehnya, orang lain benar-benar sukar menghalang-halanginya. Maklumlah Lenghou-kongcu, terpaksa aku harus bilang begitu untuk menyelamatkan beberapa gigiku yang lain agar dapat menikmati daharan, hendaklah engkau jangan marah."

"Ya, aku paham,"

Ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

"Thaysuhu mengatakan bahwa beliau juga paham, dia bilang gampang saja menyelesaikan persoalan ini, cari suatu akal dan bunuh saja Yim-siocia di luar tahumu, maka urusan akan menjadi beres dengan sendirinya. Cepat aku menyatakan jangan, kubilang kalau sampai Yim-siocia dibinasakan, Lenghou-kongcu pasti juga akan membunuh diri. Lalu Thaysuhu berkata, ‘Betul juga. Kalau bocah Lenghou Tiong itu mati, itu berarti anak perempuanku akan menjadi janda, kan konyol malah? Begini saja, boleh kau katakan pada Lenghou Tiong bahwa kalau perlu biarlah anak perempuanku dijadikan saja gundiknya.’ "

Aku menjawab, ‘Thaysuhu, masakah anak perempuanmu yang terhormat demikian perlu direndahkan derajatnya sampai begitu rupa?’ "Thaysuhu menghela napas, katanya, ‘Kau tidak tahu, kalau nonaku ini gagal menjadi istri Lenghou Tiong, maka siang dan malam dia pasti akan merana dan takkan hidup lama lagi.’ "

Habis itu mendadak Thaysuhu mencucurkan air mata. Air mata betul-betul Lenghou-kongcu, air mata kasih sayang seorang ayah kepada anak perempuannya, sungguh, aku tidak omong kosong."

Lenghou Tiong jadi teringat kepada Gi-lim yang kian hari memang kian kurus, disangkanya mungkin perjalanan jauh telah melelahkan nikoh cilik itu, tak tahunya lantaran merana karena rindu dendam, urusan ini benar-benar sukar diselesaikan.

Dian Pek-kong menutur pula.

"Setelah menangis, mendadak Thaysuhu mencengkeram kudukku dan memaki diriku, ‘Keparat, semuanya gara-gara perbuatanmu. Kalau tempo hari kau tidak bermaksud busuk terhadap anak perempuanku, tentu pula Lenghou Tiong takkan turun tangan menolong dan dengan sendirinya anak perempuanku sekarang takkan kurus dan merana seperti sekarang ini.’ "

Aku menjawab, ‘Tidak tentu.

suhuku secantik bidadari, seumpama tempo hari aku tidak berbuat jelek padanya, tentu Lenghou Tiong akan memancing dan menggodanya, mustahil bocah Lenghou Tiong itu tidak kesengsem kepada perempuan molek.’"

"Dian-heng, kata-katamu ini rasanya keterlaluan sedikit,"

Ujar Lenghou Tiong dengan mengerut kening.

"Maaf, Lenghou-kongcu. Soalnya aku kenal tabiat Thaysuhu, kalau aku tidak berkata demikian tentu aku takkan dilepaskannya. Benar juga, sesudah aku berkata begitu, dari marah beliau menjadi senang, aku lantas dilepaskan, katanya, ‘Anak keparat, hari itu kusaksikan kau berkelahi dengan Lenghou Tiong di atas loteng restoran itu, dia tidak mampu melawan kau sehingga badannya penuh luka terbacok oleh golokmu. Coba kalau bukan lantaran kau bermaksud memerkosa anak perempuanku, hm, waktu itu juga tentu kepalamu sudah aku gecek hingga gepeng.’"

"Aneh, kau bermaksud perkosa anak perempuannya, dia malah merasa syukur?"

Tanya Lenghou Tiong heran.

"Bukan merasa syukur, tapi beliau anggap aku pandai memilih perempuan yang cantik,"

Kata Dian Pek-kong. Kembali Lenghou Tiong melongo oleh logika yang gila itu.

"Lenghou-kongcu,"

Kata Dian Pek-kong pula.

"pesan Thaysuhu sudah kukatakan seluruhnya padamu. Kutahu urusan ini rada sulit, lebih-lebih menjadi pantangan bagimu selaku ketua Hing-san-pay. Cuma kunasihatkan agar engkau sudi lebih sering bicara yang baik-baik dengan suhuku agar beliau merasa gembira. Urusan selanjutnya boleh terserah kepada keadaan."

Lenghou Tiong mengangguk dan mengiakan. Tengah bicara dari depan sana datang pula menyambut beberapa anak murid Ko-san-pay, mereka memberi hormat dan berkata.

"Para tokoh dan ketua semua golongan dan aliran akan berkumpul di Ko-san sini untuk ikut menyaksikan upacara pemilihan ketua Ngo-gak-pay, para kawan dari Kun-lun-pay dan Jing-sia-pay sudah sejak kemarin tiba. Kedatangan Lenghou-ciangbun sekarang sangat kebetulan, semua hadirin sudah menunggu di atas sana. Silakan!"

Sikap anak murid Ko-san-pay itu sangat angkuh, kata-kata mereka pun sombong seakan-akan jabatan ketua Ngo-gak-pay pasti akan dipegang oleh Ko-san-pay mereka.

Setelah naik lagi sekian lama ke atas gunung, terdengar suara gemercak air yang gemuruh, sebuah air terjun tampak menuangkan airnya yang deras ke bawah jurang.

Beramai-ramai mereka mendaki ke atas menyusur tepi air terjun itu.

Sepanjang jalan anak murid Ko-san-pay yang menjadi petunjuk jalan suka pamer keindahan panorama pegunungan Ko-san sambil menunjukkan nama-nama tempat ini dan itu.

"Ko-san terletak tepat di tengah dunia ini dan selalu merupakan kepala dari semua gunung di dunia,"

Demikian kata murid Ko-san-pay itu.

"Coba lihat, Lenghou-ciangbun, suasana sehebat ini, pantas kalau raja-raja dari berbagai dinasti selalu mendirikan kota raja di kaki Ko-san kita ini."

Di balik maksud ucapan murid Ko-san-pay itu hendak dikatakan bahwa Ko-san adalah kepala dari semua gunung, maka Ko-san-pay juga selalu menjadi pimpinan berbagai golongan persilatan.

Dengan tersenyum Lenghou Tiong menjawab.

"Orang Kangouw macam kita ini entah ada sangkut paut apa dengan raja-raja dan kaum pembesar negeri? Apakah Co-ciangbun kalian sering berhubungan dengan pembesar-pembesar pemerintahan?"

Seketika muka murid Ko-san-pay itu menjadi merah dan tidak bicara lagi.

Jalanan ke atas seterusnya menjadi makin curam, murid Ko-san sebagai penunjuk jalan itu masih memperkenalkan pula nama-nama tempat yang mereka lalui.

Tidak lama kemudian, setelah melewati suatu pengkolan, mendadak kabut bertaburan, di tengah jalan pegunungan itu sedang mengadang belasan laki-laki dengan pedang terhunus.

Terdengar seorang di antaranya berseru dengan suara seram.

"Bilakah Lenghou Tiong akan sampai di sini? Kalau melihatnya, harap para sobat sudi memberitahukan pada aku si buta."

Lenghou Tiong melihat orang yang bicara itu bercambang pendek dan kaku lebat, rupanya sangat seram, tapi kedua matanya ternyata buta.

Ketika melihat orang-orang yang lain, semuanya juga orang buta.

Terkesiap hati Lenghou Tiong, segera ia berseru.

"Lenghou Tiong sudah berada di sini, Saudara ada urusan apa?"

Begitu mendengar "Lenghou Tiong sudah berada di sini" , serentak belasan orang buta itu lantas berteriak-teriak dan mencaci maki, dengan pedang terhunus mereka terus menerjang maju sambil memaki.

"Bangsat keparat Lenghou Tiong, betapa kau telah membikin susah kami, hari ini biarlah kami mengadu jiwa padamu."

Setelah berpikir sejenak, pahamlah Lenghou Tiong.

"Dahulu malam-malam Hoa-san-pay kami diserang musuh secara mendadak di kelenteng bobrok, dengan Tokko-kiu-kiam yang baru saja kupelajari itu aku telah membutakan mata musuh yang tidak sedikit. Jika begitu penyerang-penyerang itu adalah suruhan Ko-san-pay, sungguh tidak nyana hari ini akan bertemu lagi di sini."

Dilihatnya keadaan tempat cukup berbahaya, bila belasan orang itu benar-benar mengadu jiwa padanya, asalkan salah seorang berhasil merangkulnya, maka bukan mustahil akan tergelincir ke dalam jurang dan gugur bersama.

Sekilas dilihatnya pula anak murid Ko-san-pay petunjuk jalan tadi bersikap acuh tak acuh seakan-akan mensyukurkan apa yang bakal terjadi.

"Apakah kawan-kawan buta ini anak murid Ko-san-pay?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Bukan, mereka bukan orang kami,"

Jawab murid Ko-san-pay itu.

"Entah mereka ada permusuhan apa dengan Lenghou-ciangbun? Hari ini adalah hari penting pemilihan ketua Ngo-gak-pay, bila Lenghou-ciangbun sampai terjerumus ke dalam jurang karena dikerubut sobat-sobat buta ini, biarpun kedua pihak gugur bersama, tapi sungguh harus disesalkan."

"Benar juga,"

Ujar Lenghou Tiong dengan tersenyum.

"Maka dari itu sukalah Saudara memberi perintah agar mereka suka memberi jalan."

"Silakan Lenghou-ciangbun sendiri membereskan saja,"

Jawab orang Ko-san-pay itu. Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang membentak dengan suara menggelegar.

"Biar kubereskan kau dulu dan urusan belakang!"

Siapa lagi dia kalau bukan Put-kay Taysu.

Dengan langkah lebar ia menerjang maju, sekali cengkeram, dua murid Ko-san-pay telah kena dipegang olehnya terus dilemparkan ke arah kawanan orang buta tadi sambil berseru.

"Ini dia Lenghou Tiong telah tiba!"

Serentak kawanan orang buta itu ayun senjata, mereka membacok dan menebas serabutan, untung kedua murid Ko-san-pay itu cukup tangkas, selagi tubuh mereka terapung di udara, mereka mampu mencabut pedang sendiri buat menangkis seraya berteriak.

"Kami orang Ko-san-pay, kita kawan sendiri, lekas menyingkir!"

Mendengar itu kawanan orang buta menjadi kelabakan dan kacau-balau, mereka berusaha menghindar sedapat mungkin.

Namun Put-kay sudah lantas menyusul ke depan, kembali kedua murid Ko-san-pay itu kena dicengkeram olehnya, bentaknya pula.

"Jika kalian tidak suruh kawanan buta itu enyah dari sini, biar kulemparkan kalian ke jurang!"

Berbareng ia kerahkan tenaga sekuatnya, kedua orang itu dilemparkan ke atas.

Bobot kedua murid Ko-san-pay itu masing-masing ada lebih seratus kati, tapi tenaga pembawaan Put-kay memang sangat kuat, sekali lempar, kedua orang itu lantas melayang ke atas beberapa meter tingginya.

Keruan kedua murid Ko-san-pay itu ketakutan setengah mati, hampir-hampir sukma mereka terbang meninggalkan raganya.

Berbareng mereka menjerit ngeri, mereka percaya sekali ini pasti akan terjatuh ke dalam jurang yang tak terhingga dalamnya dan hancur lebur menjadi bakso.

Namun sebelum kedua orang itu jatuh ke bawah, dengan cepat sekali Put-kay sudah kena cengkeram pula kuduk mereka lalu mengancam.

"Bagaimana? Apakah mau sekali coba lagi?"

"Ti... tidak! Jang... jangan!"

Cepat seorang di antaranya berseru. Seorang lagi agaknya lebih licin, tiba-tiba ia berseru.

"Hei, Lenghou Tiong, hendak lari ke mana kau? Hayo para sobat buta, lekas kejar ke sana, lekas!"

Mendengar itu kawanan orang buta itu percaya sungguh-sungguh, serentak mereka mengejar. Dengan marah Dian Pek-kong lantas mendamprat murid Ko-san-pay tadi.

"Nama Lenghou Tiong masakah boleh sembarangan kau sebut? Ini hadiahmu!"

"Plak", kontan memberi persen tempelengan kepada orang Ko-san-pay itu. Lalu ia berteriak.

"Lenghou-tayhiap berada di sini, Lenghou-ciangbun berada di sini! Orang buta mana yang berani, hayolah coba kemari kalau minta diberi hajaran!"

Sebenarnya kawanan orang buta itu kena dihasut oleh orang Ko-san-pay agar menuntut balas kepada Lenghou Tiong.

Maka dengan penuh dendam mereka menanti di jalan pegunungan itu.

Tapi ketika mendengar jeritan ngeri kedua murid Ko-san-pay tadi, mau tak mau mereka menjadi jeri, apalagi mereka telah lari kian-kemari di jalan pegunungan itu dengan mata buta sehingga tidak tahu mana sasarannya.

Keruan mereka menjadi bingung sendiri dan akhirnya berdiri termenung di tempat masing-masing.

Lenghou Tiong tidak ambil pusing lagi pada mereka, bersama Put-kay, Dian Pek-kong, dan murid-murid Hing-san-pay, mereka meneruskan perjalanan ke atas gunung.

Tidak lama di depan kelihatan dua puncak gunung mengapit sebuah selat alam sehingga berwujud sebuah pintu gerbang, angin kencang meniup keluar dari selat sana disertai kabut awan.

Kalau tadi anak murid Ko-san-pay suka pamer dan mengoceh tentang tempat-tempat strategis di pegunungan Ko-san, tapi sekarang mereka hanya bungkam saja.

Maka Dian Pek-kong sengaja mengolok-olok, bentaknya mendadak.

"Apa nama tempat ini? Kenapa kalian berubah menjadi bisu?"

Dengan menyengir murid Ko-san-pay tadi terpaksa menjawab.

"Ini namanya Tiau-thian-mui (Pintu Gerbang Langit)."

Setelah memutar lagi ke sebelah kiri dan menanjak lagi tidak jauh, tiba-tiba terdengar suara alat tetabuhan dibunyikan.

Pada tanah lapang di atas puncak gunung situ sudah berjubel beribu-ribu orang.

Beberapa murid Ko-san-pay tadi lantas mendahului naik ke atas puncak situ untuk melapor, Lenghou Tiong dan rombongannya menyusul kemudian.

Maka terlihatlah Co Leng-tan memakai jubah kuning datang menyambut bersama belasan orang muridnya.

Kini kedudukan Lenghou Tiong adalah ketua Hing-san-pay, tapi dia sudah biasa memanggil "Co-supek"

Pada Co Leng-tan, sebagai angkatan muda, maka tetap ia memberi hormat dan menyapa.

"Terimalah hormat Lenghou Tiong, Ko-san-ciangbun."

"Meski berpisah sekian lamanya, namun Lenghou-siheng tampaknya tambah segar,"

Ujar Co Leng-tan.

"Kesatria ganteng muda sebagai Lenghou-siheng mengetuai Hing-san-pay, sungguh suatu peristiwa yang memecahkan sejarah dunia persilatan, terimalah ucapan selamat dariku."

Lenghou Tiong tahu ucapan Co Leng-tan itu sebenarnya cuma olok-olok belaka, kata-kata "peristiwa yang memecahkan sejarah dunia persilatan"

Sebenarnya untuk menyindir Lenghou Tiong seorang laki-laki telah mengetuai kawanan nikoh. Maka Lenghou Tiong menjawab sewajarnya saja.

"Wanpwe menerima tugas terakhir dari Ting-sian Suthay, tujuannya adalah untuk menuntut balas bagi kedua suthay. Bila tugas membalas dendam sudah tercapai, dengan sendirinya Cayhe akan mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan ketua kepada yang lebih bijaksana."

Waktu berkata pandangan Lenghou Tiong selalu menatap tajam ke arah Co Leng-tan dengan maksud menyelami perasaan orang apakah memperlihatkan air muka malu atau marah atau benci.

Tapi air muka Co Leng-tan ternyata tidak berubah sedikit pun.

Malahan Co Leng-tan berkata.

"Ngo-gak-kiam-pay selamanya senasib setanggungan, selanjutnya kelima golongan bahkan akan dilebur menjadi satu, maka soal sakit hati Ting-sian dan Ting-yat Suthay tidak cuma urusan Hing-san-pay sendiri, bahkan juga urusan Ngo-gak-pay kita. Syukur Lenghou-hengte sudah menetapkan tekad, sungguh harus dipuji."

Ia merandek sejenak lalu menyambung lagi.

"Sementara itu Thian-bun Toheng dari Thay-san, Bok-taysiansing dari Heng-san, Gak-siansing dari Hoa-san, serta para undangan peninjau sudah datang semua, silakan Lenghou-hengte bertemu dengan mereka."

"Baik,"

Kata Lenghou Tiong.

"Entah Hong-ting Taysu dari Siau-lim dan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong sudah datang atau belum?"

Dengan acuh tak acuh Co Leng-tan menjawab.

"Tempat tinggal mereka berdua meski dekat, tapi mengingat kedudukan mereka, tentunya mereka akan menjaga gengsi, rasanya mereka takkan hadir."

Lenghou Tiong mengangguk.

Tapi pada saat itulah tertampak dua murid Ko-san-pay berlari tiba dari bawah gunung, melihat cara lari mereka yang terburu-buru, jelas ada sesuatu urusan penting yang perlu dilaporkan.

Karena itu para hadirin menjadi tertarik.

Dalam sekejap saja kedua orang itu sudah berada di depan Co Leng-tan, mereka memberi hormat dan berkata.

"Suhu, ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay bersama anak muridnya sedang menuju kemari untuk menyampaikan selamat kepada Ngo-gak-pay kita."

"O, mereka juga hadir? Wah, sungguh suatu kehormatan besar. Harus kita sambut selayaknya,"

Kata Co Leng-tan.

Para kesatria yang sudah hadir juga gempar ketika mendengar bahwa ketua-ketua Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay juga hadir.

Serentak mereka ikut di belakang Co Leng-tan ke bawah gunung untuk menyambut.

Lenghou Tiong bersama anak murid Hing-san-pay menyingkir di tepi jalan untuk memberi jalan kepada orang banyak.

Tertampak Thian-bun Tojin dari Thay-san-pay, Bok-taysiansing dari Heng-san-pay, Pangcu dari Kay-pang, Ih Jong-hay ketua Jing-sia-pay, dan gembong-gembong persilatan lain memang benar sudah hadir semua.

Kepada tiap-tiap kenalan itu Lenghou Tiong mengangkat tangan memberi hormat.

Tiba-tiba dari belakang sana muncul satu rombongan, kiranya adalah orang-orang Hoa-san-pay, Gak Put-kun dan istrinya tampak berada paling depan.

Dengan perasaan pilu Lenghou Tiong memburu maju, ia berlutut dan menjura, katanya.

"Harap kedua Lojinkeh (orang tua) terima hormatnya Lenghou Tiong."

Ia tidak berani memanggil "suhu"

Dan "sunio" , juga tidak berani menyebut dirinya sebagai "murid" , tapi cara menjura tiada ubahnya seperti dahulu kalau dia memberi hormat kepada Gak Put-kun dan istrinya.

Gak Put-kun mengegoskan tubuhnya ke samping, jawabnya dengan nada dingin.

"Buat apa Lenghou-ciangbun menjalankan penghormatan sebesar ini? Bukankah aneh dan menertawakan?"

Selesai memberi hormat, Lenghou Tiong lantas berbangkit dan mundur ke tepi jalan. Mata Gak-hujin tampak merah basah, katanya.

"Kabarnya kau telah menjabat ketua Hing-san-pay. Selanjutnya asalkan kau tidak sembrono dan tidak bikin gara-gara, kukira masih banyak kesempatan bagimu untuk membersihkan diri."

"Hm, tidak bikin gara-gara? Nanti kalau matahari terbit dari barat,"

Jengek Gak Put-kun.

"Kalau dia bisa menjabat ketua Hing-san-pay sampai hari ini tentu dia sudah boleh merasa puas."

Lenghou Tiong lantas berkata.

"Pertemuan di Ko-san ini tampaknya Co-supek ada maksud melebur Ngo-gak-kiam-pay. Entah bagaimana pendapat kedua Lojinkeh terhadap urusan ini?"

"Pendapatmu sendiri bagaimana?"

Gak Put-kun balas bertanya.

"Tecu kira...."

"Istilah ‘tecu’ tak perlu kau pakai lagi,"

Sela Gak Put-kun dengan tersenyum.

"Jika kau masih mengingat hubungan baik di Hoa-san dahulu, maka hendaklah kau...."

Sejak diusir dari Hoa-san-pay, belum pernah Lenghou Tiong menghadapi sikap ramah Gak Put-kun seperti saat ini, keruan ia menjadi senang dan cepat menjawab.

"Ada pesan apa dari Lojinkeh, Tecu... O, Wanpwe pasti akan menurut saja."

"Aku pun tiada pesan apa-apa,"

Gak Put-kun manggut-manggut.

"Hanya saja kaum persilatan kita paling mengutamakan budi dan kewajiban. Bahwa kau dikeluarkan dari Hoa-san-pay sesungguhnya bukan kami yang berhati kejam dan tidak dapat memaafkan kesalahanmu. Soalnya karena kau yang melanggar pantangan besar dunia persilatan kita. Meski sejak kecil kubesarkan kau sehingga hubungan kita seperti ayah dan anak, namun aku harus bertindak secara adil tanpa pilih kasih."

Mendengar sampai di sini, air mata Lenghou Tiong bercucuran, katanya dengan terguguk-guguk.

"Budi kebaikan Suhu, biarpun badan Tecu hancur lebur juga sukar membalas."

Gak Put-kun tepuk-tepuk bahu Lenghou Tiong dengan perlahan sebagai tanda menghiburnya, katanya pula.

"Kejadian di Siau-lim-si tempo hari, kita guru dan murid sampai main senjata, tapi sebenarnya beberapa jurus yang kugunakan itu mengandung arti yang dalam dengan harapan agar kau bisa mengubah pikiranmu dan kembali ke dalam Hoa-san-pay, namun kau tidak sadar, sungguh membikin aku sangat kecewa."

"Ya, Tecu pantas mampus,"

Jawab Lenghou Tiong dengan tunduk kepala.

"Perbuatan Tecu di Siau-lim-si tempo hari sesungguhnya sukar dijelaskan. Bila Tecu dapat kembali mengabdi di bawah pimpinan Suhu, sungguh inilah cita-cita Tecu selama hidup ini."

"Kukhawatir kata-katamu ini hanya manis di mulut tetapi lain di hati,"

Kata Gak Put-kun dengan tersenyum.

"Sekarang kau kan sudah menjadi ketua Hing-san-pay, mana kau sudi kembali menjadi muridku."

Dari nada Gak Put-kun itu agaknya dia tidak keberatan untuk menerimanya kembali menjadi murid Hoa-san-pay, kesempatan baik ini mana boleh disia-siakan, segera Lenghou Tiong berlutut dan berkata.

"Suhu, Sunio, Tecu telah banyak berbuat dosa, untuk selanjutnya Tecu berjanji akan memperbaiki kesalahan-kesalahan dahulu dan taat kepada ajaran Suhu dan Sunio. Harapan Tecu hanya sudilah Suhu dan Sunio menaruh belas kasihan dan terima Tecu kembali."

Pada saat itu terdengar suara orang banyak sedang mendatangi, para kesatria tampak mengiringi Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin sedang naik ke atas. Cepat Gak Put-kun berkata dengan suara tertahan.

"Lekas kau bangun saja, urusan ini dapat kita rundingkan nanti."

Lenghou Tiong sangat girang, ia menjura beberapa kali pula dan mengucapkan terima kasih, habis itu barulah berdiri. Dengan perasaan pilu dan girang pula Gak-hujin berkata.

"Siausumoaymu dan Lim-sute pada bulan yang lalu sudah... sudah menikah,"

Nadanya rada khawatir kalau-kalau apa yang dikatakannya itu akan mengecewakan Lenghou Tiong, sebab ia menduga maksud Lenghou Tiong ingin kembali ke Hoa-san-pay adalah demi Gak Leng-sian.

Pedih juga perasaan Lenghou Tiong, ia coba melirik ke arah Gak Leng-sian, tertampak sang sumoay telah ganti dandanan sebagai seorang nyonya muda, pakaiannya rada mewah, namun wajahnya masih sama seperti dahulu, tiada tanda-tanda riang gembira sebagaimana layaknya seorang pengantin baru.

Ketika beradu pandang dengan Lenghou Tiong, mendadak air mukanya berubah merah dan lantas menunduk.

Seketika dada Lenghou Tiong seperti kena digodam dengan keras, mata terasa berkunang-kunang, berdiri pun hampir tidak sanggup.

Sayup-sayup telinga mendengar seorang menyapa padanya.

"Lenghou-ciangbun, engkau adalah tamu jauh, tapi malah sudah datang lebih dulu. Siau-lim-si adalah tetangga dekat, tapi Lolap malah datang terlambat."

Lalu Lenghou Tiong merasa bahunya dipayang seorang, cepat ia tenangkan diri dan memerhatikan, kiranya dengan tersenyum simpul Hong-ting Taysu sudah berdiri di depannya. Cepat ia menjawab.

"O, kiranya Hong-ting Taysu. Terimalah hormat Wanpwe!"

"Sudahlah, kita tidak perlu banyak adat lagi, kalau setiap orang saling memberi hormat, sampai kapan beribu-ribu orang yang hadir ini bisa rampung saling memberi hormat? Silakan para hadirin masuk sian-ih (pendopo) dan duduk di dalam."

Para kesatria sama mengiakan, beramai-ramai mereka lantas masuk ke kuil Cun-kek-sian-ih.

Puncak tertinggi dari Ko-san bernama "Cun-kek" , di puncak tertinggi itu dibangun sebuah kuil dan disebut Cun-kek-sian-ih, selama beratus tahun kuil itu menjadi tempat kediaman ketua Ko-san-pay.

Pekarangan kuil itu penuh dengan pepohonan, pendoponya juga sangat luas, cuma kalau dibanding Tay-hiong-po-tian dari Siau-lim-si memang lebih kecil.

Baru ribuan orang masuk ke kuil itu sudah memenuhi pendopo dan halaman luar, selebihnya hampir-hampir tiada tempat berpijak lagi di dalam kuil.

Bab 111.

Pertumpahan Darah di Puncak Ko-san Dengan suara lantang Co Leng-tan lantas membuka suara.

"Hari ini adalah pertemuan Ngo-gak-kiam-pay kami, atas kunjungan para kawan bu-lim yang meluap ini, sungguh di luar dugaan dan terimalah rasa terima kasih kami. Hanya saja kalau ada kekurangan penyambutan dan pelayanan, harap para hadirin sudi memberi maaf."

"Sudahlah, tak perlu pakai sungkan-sungkan segala, soalnya sekarang orang terlalu banyak, tapi tempatnya sempit,"

Seru orang banyak.

"Tidak jauh di atas sini adalah Hong-sian-tay yang dahulu sering digunakan maharaja dari berbagai dinasti bila mengadakan tirakatan ke Ko-san sini, tempatnya sangat luas dan lapang, hanya saja kaum persilatan kita sebenarnya tidak layak menggunakan tempat suci yang diagungkan itu,"

Demikian seru Co Leng-tan.

"Kita toh tidak di bawah perintah raja mana pun juga, peduli apakah agung atau tidak, tempat sebaik itu tidak digunakan sekarang mau tunggu kapan lagi?"

Teriak pula orang banyak. Berbareng sebagian di antaranya sudah lantas mendahului berlari ke arah yang ditunjuk.

"Jika demikian, marilah kita menuju ke sana,"

Kata Co Leng-tan. Dalam hati Lenghou Tiong membatin.

"Entah tempat macam apakah Hong-sian-tay itu? Dia menyatakan tempat itu biasanya digunakan oleh kaum maharaja, sekarang dia mengundang para hadirin pergi ke sana, jangan-jangan Co Leng-tan sudah anggap dirinya sebagai maharaja? Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang mengatakan dia punya ambisi sangat besar, setelah melebur Ngo-gak-kiam-pay, langkah selanjutnya adalah berusaha mencaplok Tiau-yang-sin-kau, kemudian akan menghabiskan pula Siau-lim dan Bu-tong-pay. Hah, dia dan Tonghong Put-pay agaknya mempunyai cita-cita yang sama."

Tanpa banyak omong ia pun ikut orang banyak menuju ke Hong-sian-tay.

Yang disebut Hong-sian-tay itu adalah sebuah panggung batu yang dipahat secara rata.

Di sekitar panggung batu itu adalah lapangan yang luas.

Sampai di puncak tertinggi Ko-san itu, semua orang merasa nyaman segar melihat puncak-puncak gunungan tak terhitung banyaknya menegak di bawah puncak Ko-san itu.

Tatkala mana udara terang benderang, pemandangan jelas.

Lenghou Tiong mendengar tiga orang tua di depannya sedang tunjuk sana dan tuding sini ke berbagai puncak sambil manggut-manggut.

Kata seorang di antaranya.

"Yang itu adalah Tay-him-hong (Puncak Beruang Besar) dan yang sana adalah Siau-him-hong (Puncak Beruang Kecil). Dan gunung di seberang sana itu adalah Siau-sit-san, di mana terletak Siau-lim-si yang termasyhur. Tempo hari aku pernah mengunjungi Siau-lim-si dan merasakan Siau-sit-san yang luar biasa tingginya, tapi dipandang dari sini, nyata Siau-lim-si masih jauh di bawah Ko-san."

Lalu tertawalah ketiga orang tua.

Dari dandanan ketiga orang tua itu Lenghou Tiong tahu mereka bukan orang Ko-san-pay, tapi dari ucapan mereka itu jelas mengolok-olok Siau-lim-pay dan meninggikan derajat Ko-san-pay itu, tentulah mereka adalah undangan Co Leng-tan yang sengaja didatangkan untuk membantu bila terjadi apa-apa.

Dalam pada itu terlihat Co Leng-tan sedang meminta Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang ke atas panggung.

Tapi dengan tertawa Hong-ting berkata.

"Kami berdua orang tua yang sudah lapuk ini hanya datang sebagai peninjau saja, buat apa kami naik panggung dan membikin malu didengar orang banyak?"

"Kenapa Taysu bicara demikian, seperti baru kenal saja,"

Ujar Co Leng-tan dengan tertawa.

"Para tamu sudah hadir semua, silakan Co-ciangbun mengurusi acara pokok dan tidak perlu selalu melayani kami berdua tua bangka,"

Kata Tiong-hi.

"Baiklah jika demikian,"

Jawab Co Leng-tan.

Lalu ia menaiki panggung batu itu.

Setelah menaiki berpuluh undak-undakan batu itu, kira-kira masih dua-tiga meter di bawah panggung, ia berdiri di atas undak-undakan itu, lalu berseru dengan lantang.

"Para hadirin yang terhormat!"

Meski lapangan di puncak gunung itu cukup luas, para tamu juga tersebar di sana-sini, namun ucapan Co Leng-tan itu dapat didengar dengan jelas oleh setiap orang.

Maka Co Leng-tan lantas melanjutkan sambil memberi salam.

"Atas kunjungan para kawan, sungguh aku sangat berterima kasih. Sebelum tiba di sini tentunya para kawan sudah mendengar bahwa hari ini adalah hari bahagia, hari persatuan bagi Ngo-gak-kiam-pay kami yang akan berlebur menjadi satu."

"Benar, benar! Selamat! Selamat!"

Demikian serentak beratus-ratus orang telah bersorak.

"Terima kasih!"

Kata Co Leng-tan.

"Bahwasanya Ngo-gak-kiam-pay kami sudah ratusan tahun lamanya berserikat, selamanya satu napas dan satu haluan laksana satu keluarga, sudah sekian tahun pula Cayhe sebagai bengcu dari Ngo-gak-kiam-pay. Cuma akhir-akhir ini di tengah bu-lim telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting, Cayhe dan para suheng tertua Ngo-gak-kiam-pay telah berunding, kami sama-sama merasa Ngo-gak-kiam-pay kalau tidak dilebur menjadi satu, maka kelak tentu sukar menghadapi kesulitan-kesulitan yang bakal menimpa."

Tiba-tiba terdengar seorang menimbrung dengan nada dingin.

"Entah Co-bengcu pernah berunding dengan suheng tertua dari aliran mana? Mengapa aku orang she Bok tidak pernah mengetahui persoalan ini."

"Baru saja aku mengatakan di dunia persilatan (bu-lim) telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting sehingga terpaksa Ngo-gak-kiam-pay harus dilebur, salah satu peristiwa penting di antaranya yang kumaksudkan adalah terjadinya saling bunuh dan saling mencelakai di antara saudara-saudara sesama Ngo-gak-kiam-pay kita, rupanya banyak di antara kita sudah lupa pada setia kawan antara sesama anggota kelima aliran kita. Bok-taysiansing, murid Ko-san-pay kami, yaitu Ko-yang-jiu Hui-sute telah tewas di luar Kota Heng-san, ada orang menyaksikan sendiri, katanya engkau Bok-taysiansing yang melakukan pembunuhan itu, entah betul tidak?"

Terkesiap hati Bok-taysiansing. Pikirnya.

"Waktu aku membunuh orang she Hui, saat itu yang ada cuma Lenghou Tiong serta seorang nikoh cilik dari Hing-san-pay, selain itu ialah Kik Yang beserta cucu perempuannya yang masih kecil. Apakah mungkin mereka telah membocorkan rahasia kejadian itu?"

Sementara itu beribu-ribu pasang mata sama memerhatikan air muka Bok-taysiansing.

Namun ketua Heng-san-pay itu ternyata tenang-tenang saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ia menggeleng dan menjawab.

"Tiada pernah terjadi hal demikian. Rasanya cuma sedikit kepandaian orang she Bok saja masakah mampu membunuh tokoh macam Ko-yang-jiu?"

"Hm, kalau pertarungan satu-lawan-satu secara terang-terangan, memangnya Bok-taysiansing masakah mampu membunuh Hui-sute-ku?"

Jengek Co Leng-tan.

"Namun tatkala itu yang mengerubut Hui-sute selain Bok-taysiansing dan sutemu Lau Cing-hong, ada pula murid Hing-san-pay dan murid Hoa-san-pay, bahkan ada gembong Mo-kau Kik Yang dan cucu perempuannya."

Kata-kata Co Leng-tan ini benar-benar membikin Bok-taysiansing mengirik.

Ia tidak habis paham siapakah yang membocorkan kejadian dahulu itu.

Padahal waktu itu yang hadir selain sutenya, Kik Yang, dan cucu perempuannya, selebihnya adalah Lenghou Tiong dan Gi-lim.

Apakah mungkin kedua anak muda ini yang membocorkan rahasianya?

Setelah Co Leng-tan membongkar rahasia perbuatannya, jelas permusuhan Heng-san-pay dan Ko-san-pay sudah terikat, untuk lolos dari Ko-san dengan selamat rasanya sukar diramalkan.

Lenghou Tiong juga merasa terperanjat demi mendengar Co Leng-tan mengorek apa yang terjadi di masa dahulu itu.

Terdengar Co Leng-tan melanjutkan pula.

"Peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita hari ini adalah peristiwa mahapenting dalam sejarah selama beratus-ratus tahun ini. Bok-taysiansing, kau adalah ketua dari salah satu aliran, tentunya engkau harus mengutamakan urusan mahapenting ini dan kesampingkan persengketaan pribadi. Asalkan persoalannya menguntungkan kelima aliran kita, sepantasnya percekcokan perseorangan harus dijauhkan. Maka dari itu Bok-heng, urusan yang sudah-sudah itu pun tak perlu kau pikirkan, Hui-sute adalah suteku, nanti kalau Ngo-gak-pay sudah terlebur menjadi satu, dengan sendirinya Bok-heng adalah saudara seperguruan pula dengan aku. Yang sudah meninggal biarlah, yang masih hidup buat apa mesti saling bunuh pula?"

Kata-kata Co Leng-tan ini kedengaran sangat enak didengar, tapi sebenarnya bernada mengancam, maksudnya kalau Bok-taysiansing bisa menyetujui soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay, maka soal terbunuhnya Hui Pin takkan diusut dan akan diadakan perhitungan.

Begitulah, dengan mata melotot Co Leng-tan menatap Bok-taysiansing dan menegas pula.

"Bagaimana Bok-heng? Betul tidak?"

Tapi Bok-taysiansing hanya mendengus saja tanpa menjawab. Dengan tersenyum-senyum yang dibuat-buat Co Leng-tan berkata pula.

"Soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita agaknya Heng-san-pay sudah tiada berbeda pendirian. Lalu bagaimana dengan Thay-san-pay? Thian-bun Toheng, bagaimana pendirianmu?"

Thian-bun Tojin lantas berdiri, dengan suara keras ia berkata.

"Thay-san-pay didirikan oleh cikal bakal Tong-leng Totiang sudah hampir dua ratus tahun lamanya. Sungguh menyesal, aku terlalu bodoh dan kurang bijaksana sehingga tidak mampu mengembangkan Thay-san-pay lebih gemilang. Namun begitu, Thay-san-pay yang sudah bersejarah dua ratus tahunan ini betapa pun tidak boleh putus di tanganku. Soal melebur Thay-san-pay dengan golongan-golongan lain ini sekali-kali kami tidak dapat terima."

Mendadak di tengah orang-orang Thay-san-pay berdiri seorang tojin berjenggot putih dan berjubah hijau, serunya.

"Ucapan Thian-bun Sutit ini kurang tepat. Thay-san-pay kita meliputi lebih 400 anggota, janganlah karena kepentingan dirimu seorang mesti mengorbankan kepentingan orang banyak."

Air muka tojin berjenggot itu tampak kurus kering, tapi suaranya ternyata keras dan kuat. Ada di antara hadirin yang mengenalnya lantas berbisik-bisik pada teman di sekitarnya.

"Dia bernama Giok-ki-cu, terhitung paman gurunya Thian-bun Tojin."

Memangnya Thian-bun Tojin berwajah merah bercahaya, mendengar kata-kata Giok-ki-cu itu, mukanya menjadi tambah merah. Serunya segera.

"Susiok, apa artinya ucapanmu ini? Sejak Sutit menjabat ketua Thay-san-pay kita, dalam hal apa pernah kuabaikan kepentingan golongan kita? Sebabnya aku menolak peleburan ngo-pay justru demi mempertahankan Thay-san-pay kita, di mana ada menyangkut kepentingan pribadiku?"

Giok-ki-cu tertawa mengejek, katanya.

"Kelima golongan dilebur menjadi satu, seketika Ngo-gak-pay akan sangat besar pengaruhnya, itu berarti setiap anak murid Ngo-gak-pay akan ikut merasakan manfaatnya. Namun sebaliknya, Sutit, jabatanmu sebagai ciangbunjin lantas hanyut, bukan?"

Thian-bun Tojin menjadi gusar, teriaknya murka.

"Jadi kau menuduh aku hanya memikirkan kepentingan pribadi?"

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pedang pendek kehitam-hitaman dari bajunya lalu berteriak pula.

"Ini, mulai saat ini aku tidak sudi menjadi ciangbunjin lagi. Kalau kau kepingin, boleh kau yang menjabatnya."

Pedang pendek itu tiada menarik sedikit pun, tapi adalah benda yang diwariskan oleh Tong-leng Tojin, itu cikal bakal Thay-san-pay, selama dua ratusan tahun benda itu selalu menjadi tanda pengenal pejabat ketuanya.

Melihat kedua tokoh Thay-san-pay itu bertengkar sendiri dan saling ngotot membela pendirian masing-masing, para hadirin menjadi sunyi, semuanya mengikuti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tertampak Giok-ki-cu maju selangkah, jengeknya.

"Hm, kau benar-benar rela meninggalkan kedudukanmu?"

"Kenapa tidak?"

Jawab Thian-bun dengan gusar.

"Baik, boleh serahkan padaku!"

Kata Giok-ki-cu.

Mendadak sebelah tangannya menjulur ke depan, tahu-tahu pedang pendek di tangan Thian-bun Tojin itu telah dirampas olehnya.

Sama sekali Thian-bun tidak mengira Giok-ki-cu benar-benar akan merampas pedangnya, ia menjadi tertegun oleh perbuatan Giok-ki-cu dan tahu-tahu pedangnya sudah berpindah ke tangan lawan.

Tanpa berpikir lagi ia terus lolos pedang panjang di pinggangnya.

Namun dengan cepat Giok-ki-cu sudah lantas melompat mundur.

Pada saat itu dua sosok bayangan lantas berkelebat, dua tosu tua lain telah mengadang di depan Thian-bun dengan pedang terhunus, bentak mereka berbareng.

"Thian-bun, sebagai angkatan muda kau berani melawan angkatan tua, apakah kau sudah lupa pada undang-undang perguruan kita?"

Kedua tosu tua itu dikenal oleh Thian-bun sebagai paman-paman guru yang seangkatan dengan Giok-ki-cu, namanya Giok-seng-cu dan Giok-im-cu.

Tidak kepalang gusar Thian-bun Tojin sehingga badan bergemetar, teriaknya.

"Kedua Susiok menyaksikan sendiri, apa... apakah yang diperbuat oleh Giok-ki... Giok-ki Susiok barusan ini?"

"Kami memang menyaksikan kau menyerahkan jabatan ciangbunjin kepada Giok-ki Suheng, kau sendiri rela mengundurkan diri dan memberikan tempatmu kepada orang yang lebih bijaksana, sungguh tindakanmu ini patut dipuji,"

Kata Giok-im-cu. Giok-seng-cu ikut bicara juga.

"Giok-ki Suheng adalah susiokmu, sekarang dia adalah pejabat ciangbunjin pula, tapi kau berani gunakan senjata dan bersikap keras padanya, ini namanya perbuatan durhaka terhadap orang tua."

"Aku bicara di waktu marah, padahal kedudukan ketua Thay-san-pay kita masakah boleh diserahkan begini saja kepada setiap orang? Seumpama akan kuberikan pada orang lain juga sekali-kali tidak... tidak kepada Giok-ki,"

Seru Thian-bun dengan penasaran.

"Sebagai seorang kesatria, mengapa kau menjilat kembali ludahmu sendiri?"

Kata Giok-im-cu. Tiba-tiba seorang tojin setengah umur di tengah rombongan orang Thay-san-pay berteriak.

"Ketua golongan kita selama ini adalah suhuku, kalian beberapa susiokco ini sebenarnya hendak main gila apa?"

Tojin setengah umur ini bernama Kian-tu, dia adalah murid Thian-bun yang kedua. Menyusul seorang tojin lain juga berdiri dan berseru.

"Thian-bun Suheng telah menyerahkan jabatannya kepada guruku, peristiwa ini telah disaksikan beribu pasang mata dan telinga yang hadir di Ko-san sekarang ini, masakah persoalan ini bisa dipalsukan? Dengan jelas Thian-bun Suheng tadi menyatakan, ‘Sejak kini aku tidak menjabat ciangbunjin lagi, kalau kau kepingin boleh kau ambil saja!’. Coba katakan, betul tidak?"

Yang bicara ini adalah murid Giok-ki-cu, terhitung satu angkatan dengan Thian-bun Tojin.

Dalam Thay-san-pay, Thian-bun Tojin adalah murid dari kelompok tertua, pengaruh kelompoknya adalah paling kuat, namun beberapa susioknya serentak bergabung untuk memencilkan dia, dengan demikian di antara dua ratusan anggota Thay-san-pay yang hadir di Ko-san ini adalah tiga per empat yang berdiri di pihak lawan.

Seketika itu orang-orang Thay-san-pay menjadi ribut, berpuluh orang sama berteriak-teriak.

"Ketua lama undurkan diri, ketua baru pegang pimpinan! Ketua lama lekas mundur, biar ketua baru menggantikannya!"

Giok-ki-cu lantas mengangkat tinggi-tinggi pedang pandak yang dirampasnya dari Thian-bun tadi dan berteriak.

"Ini adalah tanda kebesaran Tong-leng Cosuya kita, ‘melihat pedang ini sama dengan melihat Tong-leng’, pantas tidak kalau kita taat kepada perintah tinggalan cikal bakal kita?"

"Benar, tepat sekali ucapan Ciangbunjin!"

Serentak ratusan anak buahnya berteriak.

"Murid murtad Thian-bun berani melawan atasan dan tidak tunduk kepada peraturan, dia harus dibekuk dan dihukum,"

Demikian ada yang berseru.

Melihat suasana begitu, Lenghou Tiong menduga tentu Co Leng-tan yang telah mengatur semuanya itu.

Watak Thian-bun Tojin sangat berangasan, karena tidak sabar, hanya beberapa kata-kata saja telah membuatnya masuk perangkap lawan.

Kini pihak lawan lagi mendapat angin, Thian-bun bukanlah seorang yang pintar menghadapi kejadian-kejadian luar biasa, maka ia hanya bisa berjingkrak murka, tapi mati kutu, tak bisa berbuat apa-apa.

Ketika Lenghou Tiong memandang ke tengah orang-orang Hoa-san-pay, dilihatnya sang suhu berdiri di sana dengan berpangku tangan, air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu pendapat.

Pikirnya.

"Tentu beliau tidak dapat menyetujui tindakan Giok-ki-cu dan kawan-kawannya itu. Namun suhu tampaknya tidak ingin ikut campur persoalan orang, agaknya beliau hendak melihat gelagat selanjutnya. Biarlah aku pun tunggu saja mengikuti haluan suhu."

Dalam pada itu tampak Giok-ki-cu telah memberi isyarat, serentak 150-an orang Thay-san-pay yang termasuk begundalnya lantas memencarkan diri dengan pedang terhunus, seketika sisa orang Thay-san-pay yang lain–kurang-lebih 50 orang–lantas terkepung di tengah-tengah.

Yang terkepung itu dengan sendirinya adalah anak murid Thian-bun Tojin.

Dengan murka Thian-bun lantas membentak.

"Apakah kalian benar-benar ingin berkelahi? Baiklah, coba maju!"

Dengan suara lantang Giok-ki-cu berteriak.

"Dengarkan, Thian-bun! Selaku ketua Thay-san-pay, kuperintahkan agar kau membuang senjata dan menyerahkan diri, apakah kau berani membangkang terhadap pedang pusaka tinggalan Cosuya ini?"

"Huh, siapa yang mengakui kau sebagai ketua Thay-san-pay kita?"

Jawab Thian-bun dengan gusar. Tapi Giok-ki-cu lantas berseru pula.

"Dengarkan anak murid Thian-bun, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kalian, asalkan kalian meletakkan senjata dan menggabungkan diri, maka kesalahan kalian takkan diusut, kalau tidak, tentu kalian akan terima ganjaran setimpal."

Dengan suara, keras Kian-tu Tojin berkata.

"Asalkan kau mau bersumpah di bawah pedang pusaka Cosuya bahwa kau takkan menghancurkan Thay-san-pay yang dibangun Cosuya secara susah payah, maka tidaklah menjadi soal bila kau yang menjabat ketua kita. Namun baru sekejap saja kau mengaku menjabat ketua, serentak kau menjual Thay-san-pay kita kepada Ko-san-pay. Kau benar-benar orang berdosa terhadap Cosuya di alam baka, kau pasti akan dikutuk oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai anggota Thay-san-pay."

"Kurang ajar!"

Damprat Giok-im-cu.

"Kau cuma anak murid tingkat tiga, dengan hak apa kau berani mengoceh terhadap orang tua angkatan ‘Giok’. Apa jeleknya Ngo-gak-kiam-pay dilebur menjadi satu? Bukankah Ko-san-pay sendiri nanti juga terlebur di dalamnya?"

"Hm, secara diam-diam kalian telah main gila dan menjual diri kepada Co Leng-tan dalam usahanya mencaplok anggota-anggota Ngo-gak-kiam-pay yang lain,"

Teriak Thian-bun dengan gusar.

"Hm, pendek kata, bila perlu kalian boleh bunuh aku, tapi suruh aku takluk kepada Ko-san-pay, hm, jangan harap."

"Kalian tidak mau tunduk kepada perintah pedang pusaka Cosuya, janganlah menyesal bila sebentar nanti kalian semua akan mampus tak terkubur,"

Teriak Giok-ki. Thian-bun ternyata pantang menyerah, serunya.

"Setiap anak murid Thay-san-pay yang setia, hari ini biarlah kita bertempur mati-matian sampai titik darah penghabisan di puncak Ko-san ini."

"Benar, bertempur sampai titik darah penghabisan!"

Teriak anak murid Thian-bun yang berdiri di sekitarnya.

Meski jumlah mereka cuma sedikit, tapi tekad mereka bulat, sedikit pun tidak gentar.

Kalau Giok-ki-cu memberi komando agar anak buahnya menyerang, seketika rasanya sukar juga membunuh habis anak buah Thian-bun Tojin, sebaliknya beribu-ribu kesatria yang hadir di situ, terutama tokoh-tokoh seperti Hong-ting Taysu, Tiong-hi Tojin, dan lain-lain tentu juga tak bisa tinggal diam menyaksikan pembunuhan besar-besaran di antara sesama golongan itu.

Maka Giok-ki-cu, Giok-im-cu, dan Giok-seng-cu serta kawan-kawannya hanya saling pandang saja dengan ragu-ragu, seketika mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak.

Tiba-tiba jauh di sebelah kiri sana seorang berseru dengan kemalas-malasan.

"Selama hidup Locu sudah menjelajahi dunia ini, kesatria dan pahlawan yang kukenal juga tak terhitung banyaknya, tapi babi yang suka menjilat kembali ludah sendiri artinya menyangkal apa yang diucapkan sendiri hanya dalam waktu singkat saja sungguh jarang kulihat."

Pandangan semua orang beralih ke arah datangnya suara, terlihat seorang laki-laki berbaju dari kain kasar berdiri bersandar pada sepotong batu cadas, tangan kiri memegang sebuah caping, caping itu dikebas-kebaskan sebagai kipas, sepasang matanya kecil, tubuhnya jangkung, sikapnya acuh tak acuh.

Semua orang tidak kenal asal usulnya, juga tidak tahu ucapannya itu ditujukan kepada siapa.

Terdengar si jangkung berkata pula.

"Huh, sudah jelas kau telah menyerahkan jabatan ciangbunjin kepada orang lain, memangnya apa yang sudah kau katakan itu hanya kentut belaka? Kalau begini, sebaiknya salah satu namamu ‘Thian’ itu diganti menjadi ‘kentut’ saja."

Mendengar ini, Giok-ki-cu dan lain-lain baru tahu si jangkung berdiri di pihaknya, maka tertawalah mereka. Dengan gusar Thian-bun menjawab.

"Urusan Thay-san-pay kami, tidak perlu orang lain ikut campur."

Tapi si jangkung masih bicara dengan kemalas-malasan.

"Setiap urusan yang kulihat tidak adil pasti akan aku urus. Hari ini adalah hari bahagia penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, tapi kau sengaja bikin ribut di sini dan mengacaukan suasana baik ini, sungguh keterlaluan kau."

Sekonyong-konyong pandangan semua orang serasa kabur, si jangkung mendadak melompat maju, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dia terus menerjang ke tengah orang Thay-san-pay, capingnya terangkat ke atas, serentak ia menghantam ke atas kepala Thian-bun.

Thian-bun Tojin tidak menangkis serangan orang, tapi pedangnya membarengi menusuk ke dada musuh.

Di luar dugaan orang itu terus menjatuhkan diri ke bawah, menyusul dengan cepat sekali ia terus menerobos lewat melalui selangkangan Thian-bun.

Ketika ia membalik tubuh, sebelah kakinya lantas mendepak.

"plak" , dengan tepat hiat-to di punggung Thian-bun Tojin kena ditendang olehnya. Beberapa gerakan itu sungguh teramat cepat dan caranya juga lain daripada yang lain. Keruan semua orang melongo, dalam keadaan tak terduga-duga Thian-bun Tojin menjadi kecundang. Melihat sang guru mengalami kekalahan, serentak beberapa murid Thian-bun mengangkat pedang dan menusuk si jangkung. Tapi orang itu bergelak tertawa malah, punggung Thian-bun dipegangnya terus disodorkan ke depan. Keruan anak murid Thian-bun kelabakan dan lekas-lekas tarik kembali pedang masing-masing.

"Lekas buang senjata kalian, kalau tidak, segera kupuntir putus kepala gurumu ini!"

Bentak si jangkung sambil menjambak rambut Thian-bun dan bergerak akan memuntir kepalanya.

Dalam keadaan begitu, percuma saja Thian-bun memiliki kepandaian tinggi, sama sekali ia tak bisa berkutik.

Saking gusarnya sampai wajahnya merah padam.

"Caramu menyerang secara menggelap itu bukanlah perbuatan seorang kesatria sejati, siapakah namamu yang terhormat?"

Kata Kian-tu Tojin.

"Plak", mendadak si jangkung menempeleng muka Thian-bun satu kali, katanya dengan kemalas-malasan.

"Siapa berani bersikap kurang ajar padaku, segera kuhajar gurunya!"

Melihat sang guru dianiaya orang, anak murid Thian-bun sama khawatir dan murka, kalau serentak mereka menusuk dengan pedang masing-masing, bukan mustahil si jangkung seketika akan penuh tertancap pedang hingga mirip binatang landak.

Namun terpaksa mereka tak berani sembarangan bertindak mengingat sang guru berada dalam genggaman musuh.

Seorang anak muda berteriak.

"Kau binatang...."

"Plok", kembali Thian-bun ditempeleng oleh si jangkung. Katanya.

"Itulah dia muridmu yang pintar mengucapkan kata-kata kotor!"

Pada saat itulah mendadak Thian-bun berteriak satu kali, darah segar terus menyembur keluar dari mulutnya.

Si jangkung terkejut dan bermaksud melepaskan pegangannya, tapi sudah terlambat.

Thian-bun sempat putar kepalanya sehingga keduanya sekarang muka berhadapan muka, sedangkan darah masih menyembur keluar dari mulut Thian-bun, keruan muka si jangkung tersembur sehingga basah kuyup.

Pada saat yang sama Thian-bun terus mencekik leher lawan dengan kedua tangan, terdengar suara "krak"

Satu kali, tulang leher si jangkung telah dipatahkan mentah-mentah oleh Thian-bun.

Ketika Thian-bun ayun tangannya, orang itu terlempar dan jatuh menggelepar, tampak berkelojotan beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi.

Dasar tubuh Thian-bun memang tinggi besar, kini tambah gagah tampaknya, hanya mukanya penuh darah dan menyeramkan.

Selang sejenak, mendadak Thian-bun membentak keras, badan sempoyongan terus roboh, ternyata ia pun mengembuskan napas penghabisan.

Rupanya tadi ia kena dibekuk oleh si jangkung, ditambah lagi dianiaya dan dihina di depan orang banyak, saking gemasnya dia rela mengorbankan jiwa sendiri, sekuatnya ia mengerahkan tenaga dalam untuk membobolkan hiat-to sendiri yang tertutuk musuh sehingga dapat bergerak bebas, lalu sekuat sisa tenaga ia membinasakan musuh, sedangkan ia sendiri pun gugur bersama musuh karena urat nadi terputus lantaran getaran tenaga yang dipaksakan itu.

Serentak anak murid Thian-bun berteriak memanggil sang guru dan memburu maju, namun Thian-bun sudah tidak bernapas lagi, maka menangislah mereka dengan sedih.

Di tengah ribut-ribut itu, tiba-tiba ada orang berseru.

"Co-ciangbun, kau sengaja menampilkan orang macam ‘Tong-hay-siang-ok’ untuk melayani Thian-bun Totiang, caramu ini tidakkah rada keterlaluan?"

Semua orang melihat yang bicara itu adalah seorang kakek berwajah buruk yang dikenal bernama sebagai Ho Sam-jit, sering kali kakek itu kelihatan menjual bakmi pangsit di berbagai kota besar, terutama di Kota Heng-san.

Tentang asal usul si jangkung yang dibinasakan Thian-bun Tojin itu tiada seorang pun yang tahu, tapi Ho Sam-jit mengatakan si jangkung adalah satu di antara "Tong-hay-siang-ok", dua durjana dari lautan timur.

Padahal macam apa tokoh-tokoh Tong-hay-siang-ok yang dimaksudkan juga tidak banyak yang tahu.

Maka Co Leng-tan telah menjawab.

"Kata-katamu sungguh aneh dan menertawakan. Sedangkan Ki-heng yang gugur itu juga baru pertama kukenal hari ini, mengapa kau mengatakan aku sengaja menampilkan dia?"

Ho Sam-jit berkata pula.

"Co-ciangbun mungkin belum lama kenal Tong-hay-siang-ok, tapi hubunganmu dengan guru Siang-ok, yaitu ‘Pek-pan-sat-sing’ tentunya lain daripada yang lain bukan?"

"Pek-pan-sat-sing"

Atau Bintang Maut Halus Polos yang disebut itu benar-benar menggemparkan para hadirin yang tahu apa artinya nama itu.

Dalam permainan maciok atau mahyong ada kartu yang disebut pek-pan, yaitu yang mukanya putih halus tanpa sesuatu tanda.

Menurut cerita orang tua, Pek-pan-sat-sing adalah seorang iblis mahajahat, suka makan anak kecil yang suka menangis, konon Pek-pan-sat-sing itu tidak punya hidung, hanya kelihatan lubang hidung saja, mukanya jadi rata polos sebagai kartu pek-pan dalam permainan maciok.

Lenghou Tiong masih ingat di waktu Gak Leng-sian masih kecil, di kala anak dara itu suka menangis, maka ibu gurunya sering menakut-nakutinya dengan menggunakan nama Pek-pan-sat-sing.

Terkenang kepada kejadian di masa lampau itu, tanpa terasa Lenghou Tiong memandang ke arah Gak Leng-sian, dilihatnya sumoaynya itu sedang memandang jauh ke sana seperti lagi melamun, air mukanya tampak murung, agaknya ucapan Ho Sam-jit tentang Pek-pan-sat-sing tadi tidak diperhatikan olehnya, bisa jadi apa yang terjadi di masa lampau itu pun sudah terlupa semua.

Melihat sikap Leng-sian itu, Lenghou Tiong menjadi heran, pikirnya.

"Siausumoay baru saja menikah dengan Lim-sute yang dicintainya itu, seharusnya dia merasa gembira dan bahagia, ada urusan apakah yang membikin hatinya murung? Jangan-jangan kedua suami istri baru itu telah bertengkar sendiri?"

Ia coba memandang Lim Peng-ci, pemuda itu tampak berdiri di sisi Leng-sian, air mukanya sangat aneh, seperti tertawa, tapi toh bukan tertawa, seperti lagi marah, tapi juga bukan marah.

Kembali Lenghou Tiong terkejut.

"Aneh, sikap macam apakah ini? Aku seperti sudah pernah melihat air muka seorang yang demikian ini?"

Tapi di mana pernah dilihatnya tak teringat olehnya. Dalam pada itu terdengar Co Leng-tan lagi berkata.

"Giok-ki Toheng, lebih dulu aku mengucapkan selamat kepadamu sebagai ketua Thay-san-pay baru. Lalu mengenai penggabungan Ngo-gak-kiam-pay seperti kuuraikan tadi, bagaimana dengan pendapat Toheng?"

Melihat Co Leng-tan menyimpangkan persoalan dan tidak menjawab pertanyaan Ho Sam-jit tadi, maka soal dia berhubungan baik dengan Pek-pan-sat-sing berarti telah diakuinya secara diam-diam.

Dengan mengacungkan pedang pandak, dengan berseri-seri Giok-ki-cu menjawab.

"Soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, kuanggap cara ini hanya ada baiknya bagi kelima golongan kita dan tiada jeleknya sama sekali. Hanya manusia tamak yang mementingkan diri sendiri seperti Thian-bun saja yang tidak setuju, tapi setiap orang yang berpandangan jauh pasti akur. Co-bengcu, sebagai pejabat ketua Thay-san-pay, aku menyatakan bahwa Thay-san-pay kami dengan suara bulat menyetujui soal peleburan Ngo-gak-kiam-pay kita. Segenap anggota Thay-san-pay kami menyatakan taat di bawah pimpinanmu demi untuk perkembangan dan kejayaan Ngo-gak-pay, bila ada orang hendak merintangi peleburan ini dengan maksud jahat, maka Thay-san-pay kami yang pertama-tama akan menghadapinya."

Menyusul beratus orang Thay-san-pay lantas bersorak menyatakan setuju, karena mereka berteriak serentak, suara mereka menjadi menggelegar berkumandang jauh.

Anehnya teriakan mereka satu sama lain serupa dan berbarengan, tampaknya sebelumnya mereka sudah dilatih.

Apalagi kalau melihat cara bicara Giok-ki-cu yang begitu hormat kepada Co Leng-tan, jelas sebelumnya mereka sudah bersekongkol dan pasti Giok-ki-cu telah banyak mendapat kebaikan dari Co Leng-tan.

Melihat gurunya mati secara mengenaskan, tapi keadaan gelagat tidak menguntungkan, anak murid Thian-bun Tojin terpaksa bungkam saja, hanya dalam hati mereka mencaci maki dan mengutuk, ada yang mengepal dengan geram dan bersumpah di dalam batin kelak pasti akan menuntut balas kepada Giok-ki-cu beserta begundal-begundalnya.

Maka terdengar Co Leng-tan berseru lagi.

"Di antara Ngo-gak-kiam-pay kita kini sudah jelas Heng-san-pay dan Thay-san-pay telah menyatakan setuju penggabungan, tampaknya soal ini memang menjadi cita-cita orang banyak demi kebahagiaan bersama, maka Ko-san-pay kami dengan sendirinya juga mengikuti suara orang banyak dan siap meleburkan diri."

Dalam hati Lenghou Tiong menjengek.

"Hm, urusan ini hakikatnya adalah kau yang merencanakan sebagai biang keladi, tapi kau malah pura-pura mengikuti suara orang banyak dan berlagak tidak tahu."

Terdengar Co Leng-tan berkata pula.

"Di antara ngo-pay (kelima aliran) kini sudah ada tiga yang setuju bergabung, sekarang tinggal Hoa-san-pay dan Hing-san-pay saja, entah bagaimana pendapat kalian? Ketua Hing-san-pay yang dahulu, mendiang Ting-sian Suthay pernah beberapa kali berunding dengan Cayhe tentang penggabungan ini, beliau waktu itu juga sangat setuju, begitu pula Ting-cing dan Ting-yat Suthay juga akur."

Sekonyong-konyong di tengah orang banyak suara seorang wanita yang nyaring berseru.

"Co-ciangbun, ucapanmu ini tidak betul. Sebelum ciangbunjin dan kedua susiok kami wafat, beliau-beliau justru menentang keras soal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini. Sebabnya beliau-beliau bertiga wafat berturut-turut justru karena mereka antipeleburan ini. Mengapa kau malah sengaja memaksakan pendirianmu atas beliau bertiga?"

Semua orang sama memandang ke arah orang yang bicara itu, ternyata adalah seorang anak dara cantik, yaitu murid Hing-san-pay yang bernama The Oh.

Bab 112.

Siapa yang Berdiri di Belakang Tho-kok-lak-sian Dengan lantang Co Leng-tan menjawab.

"Guru kalian mempunyai pandangan jauh dan perhitungan mendalam, beliau adalah tokoh paling hebat dari Ngo-gak-kiam-pay kita, selamanya aku pun sangat kagum padanya. Cuma sayang beliau telah meninggal di Siau-lim-si tempo hari, kalau beliau masih hidup, maka ketua Ngo-gak-pay hari ini rasanya takkan diperebutkan lagi, cukup serahkan saja kepada Ting-sian Suthay."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Dahulu di waktu Cayhe berunding tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay dengan Ting-sian Suthay bertiga, secara tegas Cayhe juga pernah menyatakan bilamana peleburan Ngo-gak-kiam-pay jadi dilaksanakan, maka jabatan ketua Ngo-gak-pay sudah pasti akan kuminta Ting-sian Suthay yang menjabatnya. Tatkala mana Ting-sian Suthay secara rendah hati telah menolak usulku, tapi setelah Cayhe menyarankan dengan sungguh-sungguh, akhirnya Ting-sian Suthay tidak menolak lagi. Tapi, ai, sungguh harus disesalkan, seorang kesatria wanita yang belum merampungkan darmabakti itu sudah mendahului meninggal di Siau-lim-si, sungguh membikin hati sedih dan gegetun."

Berturut-turut ia dua kali menyebut Siau-lim-si, secara samar-samar ucapannya itu hendak mengingatkan orang bahwa kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay itu adalah perbuatan pihak Siau-lim-si, seumpama pembunuhnya bukan orang Siau-lim-pay, tapi tempat kejadian itu adalah tempat suci yang diagungkan dunia persilatan, namun pembunuh itu tetap berani melakukan kejahatannya, maka betapa pun pihak Siau-lim-pay harus ikut bertanggung jawab.

Tiba-tiba suara seorang serak kasar berteriak.

"Ucapan Co-ciangbun kurang tepat. Dahulu Ting-sian Suthay pernah berkata padaku, katanya beliau justru mendukung engkau menjadi ketua Ngo-gak-pay."

Co Leng-tan menjadi senang, ia coba memandang ke arah pembicara, dilihatnya orang itu berwajah buruk dan aneh, kepala kecil lancip, mata kecil seperti tikus, ternyata tidak dikenalnya.

Tapi dari bajunya yang berwarna hitam dapat diketahui adalah orang Hing-san-pay.

Di sebelahnya berdiri pula lima orang yang berwajah serupa, dandanan juga sama.

Ia tidak tahu bahwa keenam orang itu adalah Tho-kok-lak-sian.

Meski senang dalam hati, tapi lahirnya Co Leng-tan pura-pura dingin saja, katanya.

"Siapakah nama Saudara yang mulia ini? Meski dahulu Ting-sian Suthay memang pernah menyarankan demikian, tapi kalau Cayhe dibandingkan beliau boleh dikata jauh untuk bisa memadai."

Yang baru bicara itu adalah Tho-kin-sian, dia berdehem satu kali, lalu menjawab.

"Aku bernama Tho-kin-sian, kelima orang ini adalah saudara-saudaraku."

"O, sudah lama kagum, sudah lama kagum!"

Ujar Co Leng-tan.

"Apa yang menjadikan kau kagum kepada kami?"

Tanya Tho-ki-sian.

"Kagum terhadap ilmu silat kami atau kagum terhadap kecerdikan kami?"

"Buset, kiranya orang dogol,"

Demikian Co Leng-tan membatin dalam hati. Tapi mengingat kata-kata Tho-kin-sian yang memujinya tadi, ia lantas menjawab.

"Baik ilmu silat maupun kecerdikan kalian sudah lama kukagumi."

"Ilmu silat kami sih tidak seberapa,"

Sela Tho-kan-sian.

"Bila kami berenam maju sekaligus memang lebih tinggi sedikit daripada kau Co-bengcu, tapi kalau satu lawan satu harus diakui selisih rada jauh."

"Namun kalau bicara tentang kecerdikan memang kami jauh lebih tinggi daripadamu,"

Sambung Tho-hoa-sian.

"Betulkah begitu?"

Jengek Co Leng-tan sambil mengerut kening.

"Sedikit pun tidak salah,"

Sahut Tho-hoa-sian.

"Begitulah dikatakan oleh Ting-sian Suthay dahulu."

"Ya, dahulu di waktu Ting-sian Suthay mengobrol dengan Ting-cing dan Ting-yat Suthay bila bicara tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, sering kali Ting-sian Suthay mengatakan bahwa orang yang paling tepat menjabat ketua Ngo-gak-pay adalah Co-bengcu dari Ko-san. Kau percaya tidak apa yang dikatakan Ting-sian Suthay?"

"Itu karena Ting-sian Suthay menghargai diriku, tapi aku sendiri tidak berani menerimanya,"

Ujar Co Leng-tan.

"Kau jangan senang dahulu,"

Kata Tho-kin-sian.

"Sebab Ting-cing Suthay berpendapat lain, beliau mengatakan engkau Co-bengcu memang seorang kesatria, kalau dibandingkan para tokoh persilatan umumnya, memang termasuk pilihan yang baik bila engkau diangkat menjadi ketua Ngo-gak-pay, namun beliau anggap kau terlalu nafsu, terlalu mementingkan diri pribadi, berpikiran sempit, dada kurang lapang, bila kau jadi diangkat menjadi ketua, maka yang paling celaka tentulah anak murid Hing-san-pay yang terdiri dari kaum wanita semua ini."

"Ya, maka Ting-sian Suthay lantas berkata bahwa untuk calon ketua yang bijaksana sudah tersedia enam kesatria sejati di sini,"

Sambung Tho-kan-sian.

"Keenam kesatria ini tidak cuma tinggi dalam ilmu silat, bahkan pengetahuannya luas dan cerdik, mereka sangat cocok untuk diangkat menjadi ketua Ngo-gak-pay."

"Enam kesatria?"

Jengek Co Leng-tan.

"Hm, mana keenam orang itu?"

"Aha, tak-lain tak-bukan ialah kami berenam saudara ini,"

Jawab Tho-hoa-sian.

Maka bergemuruhlah suara tertawa orang banyak oleh kata-kata Tho-hoa-sian itu.

Sebagian besar para hadirin itu tidak kenal Tho-kok-lak-sian, tapi melihat wajah mereka yang aneh dan tingkah laku yang lucu, kata-katanya jenaka, malah sekarang mengaku punya kepandaian tinggi dan pengetahuan yang luas, tentu saja mereka merasa geli.

Begitulah Tho-ki-sian lantas ikut menyambung.

"Dahulu ketika Ting-sian Suthay menyebut ‘keenam kesatria’, seketika Ting-cing dan Ting-yat Suthay teringat kepada kami berenam saudara, maka serentak mereka bersorak setuju. Eh, apa yang dikatakan Ting-yat Suthay ketika itu, apakah kau masih ingat, Saudaraku?"

"Sudah tentu aku masih ingat,"

Sahut Tho-sit-sian.

"Di tengah sorak gembira ketiga tokoh itu, Ting-yat Suthay lantas berkata, ‘Tho-kok-lak-sian memang selisih sedikit kalau dibandingkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-si, masih lebih rendah juga kalau dibandingkan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay. Tapi dibandingkan tokoh-tokoh Ngo-gak-kiam-pay pada umumnya boleh dikata tiada seorang pun yang mampu menandingi mereka. Betul tidak, kedua Suci?’ "

Maka Ting-cing Suthay telah menjawab, ‘Sebenarnya bicara tentang ilmu silat dan pengetahuan sesungguhnya Ting-sian Suci masih di atas Tho-kok-lak-sian, cuma sayang kita adalah kaum wanita, untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay dan memimpin beribu-ribu pahlawan dan kesatria rasanya rada-rada repot.

Maka dari itu, memang paling baik kita menyarankan Tho-kok-lak-sian saja yang menjadi ketua Ngo-gak-pay.’"

Semakin mendengar semakin geli Lenghou Tiong, ia tahu Tho-kok-lak-sian sengaja meledek Co Leng-tan dan mengacaukan pertemuan ini.

Kalau Co Leng-tan berani mengarang ucapan orang-orang yang sudah mati, apa salahnya kalau Tho-kok-lak-sian juga membual sehingga Co Leng-tan mati kutu.

Soal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, di antara para hadirin itu kecuali anak buah Ko-san-pay beserta sebagian kecil orang-orang yang sudah berkomplot dengan Co Leng-tan, selebihnya boleh dikata tidak setuju.

Ada tokoh-tokoh yang berpandangan jauh seperti Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, mereka khawatir kalau kekuatan Co Leng-tan bertambah besar dan kelak tentu akan menimbulkan bencana bagi dunia Kangouw.

Ada yang menyaksikan kematian Thian-bun Tojin tadi secara mengenaskan serta sikap Co Leng-tan yang garang, hal ini telah menimbulkan rasa benci dan memuakkan mereka.

Sedangkan orang-orang seperti Lenghou Tiong dan anak murid Hing-san-pay, mereka menduga pasti Co Leng-tan yang membunuh Ting-sian Suthay bertiga, maka yang mereka cita-citakan adalah menuntut balas, dan dengan sendirinya mereka paling tegas memusuhi pihak Ko-san-pay.

Maka dari itu mereka menjadi senang, bahkan banyak yang tertawa riuh melihat Co Leng-tan mati kutu menghadapi Tho-kok-lak-sian yang bicara secara lucu itu.

Maka terdengarlah suara seorang berseru.

"Tho-kok-lak-sian, apa yang diucapkan Ting-sian Suthay bertiga itu, siapa lagi yang mendengarkan?"

Agaknya pembicara ini adalah begundalnya Co Leng-tan. Dengan tertawa Tho-kin-sian menjawab.

"Berpuluh anak murid Hing-san-pay juga ikut mendengarkan. Betul tidak, Nona The?"

The Oh menahan rasa gelinya dan menjawab.

"Betul! Co-ciangbun, kau sendiri bilang guruku menyetujui penggabungan Ngo-gak-kiam-pay, siapa lagi yang mendengar ucapan beliau ini? Wahai para suci dan sumoay dari Hing-san-pay, adakah di antara kalian pernah mendengar ucapan demikian dari suhuku?"

"Tidak, tidak pernah dengar,"

Jawab berpuluh murid Hing-san-pay secara serentak. Bahkan ada yang berteriak.

"Tentu Co-ciangbun sendiri yang mengarang cerita demikian."

Seorang lagi menyambung.

"Dibandingkan Co-ciangbun, suhu kami jelas lebih mendukung Tho-kok-lak-sian. Sebagai murid beliau masakah kami tidak tahu pikiran guru sendiri?"

Di tengah suara tertawa orang banyak, dengan suara keras Tho-ki-sian lantas berseru.

"Nah, betul tidak kata-kata kami? Kami tidak berdusta bukan? Malahan kemudian Ting-sian Suthay berkata pula, ‘Setelah bergabung, yang menjabat ketua Ngo-gak-pay hanya satu orang saja, padahal Tho-kok-lak-sian terdiri dari enam orang, lalu siapa di antaranya yang harus diangkat?’ "

Eh, Saudaraku, apa yang dijawab oleh Ting-cing Suthay waktu itu?"

"Beliau mengatakan... mengatakan, o ya, katanya, ‘Biar ngo-pay dilebur menjadi satu, tapi kelima gunung yang menjadi empat kedudukan kelima aliran itu toh tak bisa dikumpulkan menjadi satu, sedangkan Co Leng-tan juga bukan malaikat dewata, apa dia mampu memindahkan kelima gunung itu untuk dipersatukan? Maka dari itu Tho-kok-lak-sian diminta membagi lima orang untuk menduduki kelima pegunungan itu, sisanya seorang lagi adalah pemimpin pusat.’ "

Lalu Ting-yat Suthay menanggapi, ‘Pendapat Suci memang benar.

Rupanya ayah-bunda Tho-kok-lak-sian sudah tahu sebelumnya bahwa kelak Co Leng-tan akan melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, maka sengaja melahirkan mereka enam bersaudara.

Kenapa tidak melahirkan lima orang atau tujuh orang, tapi bikin pas enam orang.

Sungguh harus dikagumi kepandaian ayah-bunda Tho-kok-lak-sian itu.’ "

Mendengar kata-kata jenaka ini, seketika bergemuruhlah suara tawa orang banyak.

Sebenarnya rencana Co Leng-tan dalam pertemuan ini akan dilaksanakan secara khidmat dan tertib agar disegani oleh para kesatria yang hadir, siapa duga mendadak muncul enam manusia dogol dan mengacaukan upacara yang diagungkan ini.

Keruan gusar Co Leng-tan tak terlukiskan.

Cuma sayang dia sendiri adalah tuan rumah sehingga terpaksa harus bersabar sedapat mungkin.

Tapi di dalam batin ia mengutuk Tho-kok-lak-sian dan mengambil keputusan bila urusan penting sudah selesai, maka keenam keparat ini pasti akan dibinasakan olehnya.

Dalam pada itu Tho-sit-sian mendadak menangis keras-keras, teriaknya.

"Wah, tidak bisa, tidak bisa jadi. Kami berenam saudara sejak keluar dari perut ibu selamanya tak pernah berpisah satu sama lain, bilamana sekarang kami masing-masing harus menjabat ketua dari kelima aliran sehingga terpaksa terpencar di lima tempat, ini takkan kulakukan, takkan kulakoni."

Cara menangisnya begitu sungguh-sungguh, seakan-akan kedudukan mereka di lima gunung untuk menjabat ketua kelima aliran itu sudah ditetapkan dengan pasti, maka merasa tidak tega untuk berpisah dengan saudaranya.

Terdengar Tho-kan-sian lantas menanggapi.

"Tak perlu Adik bersedih, kita berenam pasti takkan berpisah, kau tidak tega berpisah dengan para kakak-kakak, maka kakakmu ini pun tidak tega berpisah dengan adikku. Maka jalan paling baik supaya kita tidak diangkat menjadi pemimpin kelima gunung yang terpisah jauh satu sama lain itu, terpaksa kita harus menyatakan antipenggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini."

"Ya, seumpama benar harus dilebur juga perlu tunggu sampai nanti di tengah Ngo-gak-kiam-pay sudah muncul seorang pahlawan sejati, seorang kesatria tulen yang lebih berwibawa daripada kita berenam, yang cocok untuk memimpin Ngo-gak-pay, dengan begitulah baru kita dapat menyetujui penggabungan ini."

Melihat keenam orang itu masih terus mengoceh tak keruan, Co Leng-tan pikir harus ambil tindakan tegas dan tepat untuk mengatasi keadaan, maka segera ia berteriak.

"Sesungguhnya ketua Hing-san-pay dijabat kalian berenam kesatria ini ataukah masih ada orang lain lagi? Apakah urusan Hing-san-pay telah dikuasakan kepada kalian?"

"Kalau kami berenam kesatria besar ini mau menjabat ketua Hing-san-pay sebenarnya bukan soal,"

Jawab Tho-ki-sian.

"Tapi mengingat ketua Ko-san-pay adalah engkau ini, bila kami menjadi ketua Hing-san-pay, itu akan berarti kami harus berdiri sama tinggi dan berduduk sama rendah dengan orang she Co seperti kau, untuk ini, hehe, hehe...."

"Berdiri sama tinggi dengan dia sudah tentu akan sangat merosotkan derajat kami berenam, sebab itulah ketua Hing-san-pay terpaksa kami serahkan kepada Lenghou-kongcu untuk menjabatnya,"

Sambung Tho-hoa-sian. Sungguh tidak kepalang rasa murka Co Leng-tan, dengan dingin ia berkata kepada Lenghou Tiong.

"Lenghou-kongcu, engkau adalah ketua Hing-san-pay, kenapa kau tidak dapat mengajar mereka dan membiarkan dia mengoceh tak keruan di depan para kesatria, kan membikin malu saja?"

"Keenam saudara ini bicara secara kekanak-kanakan tanpa tedeng aling-aling, tapi sesungguhnya mereka bukan manusia yang suka mengarang kata-kata ngawur dan omongan dusta,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Mereka hanya menguraikan kembali apa yang pernah diucapkan mendiang ketua kami Ting-sian Suthay, sudah tentu jauh lebih dapat dipercaya daripada orang luar yang suka ngaco-belo tanpa dasar."

"Hm, jadi penggabungan Ngo-gak-kiam-pay sekarang hanya Hing-san-pay kalian yang mempunyai pendirian berbeda?"

Jengek Co Leng-tan.

"Hing-san-pay sih tiada pendirian yang tersendiri. Gak-siansing, ketua Hoa-san-pay adalah guruku yang berbudi yang pertama mengajarkan kepandaian padaku, meski Cayhe sekarang telah masuk di aliran lain, tapi tak berani melupakan ajaran-ajaran guruku di masa lampau."

"Jika demikian, jadi kau masih tetap tunduk kepada apa yang dikatakan Gak-siansing dari Hoa-san?"

Co Leng-tan menegas.

"Benar,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Hing-san-pay kami dan Hoa-san-pay tetap bahu-membahu dan gotong royong satu hati."

Co Leng-tan lantas berpaling ke arah Hoa-san-pay dan berseru.

"Gak-siansing, Lenghou-ciangbun ternyata tidak melupakan budi kebaikanmu terhadapnya di masa lampau, sungguh aku ikut gembira dan bahagia bagimu. Dalam hal penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ini apakah engkau pro atau anti, yang jelas Lenghou-ciangbun telah menyatakan akan mengikuti haluanmu. Lantas bagaimana dengan pendirianmu?"

"Terima kasih atas pertanyaan Co-bengcu ini,"

Jawab Gak Put-kun dengan tenang-tenang.

"Mengenai urusan penggabungan ini Cayhe memang pernah mempertimbangkannya secara masak-masak, tapi untuk mengambil suatu keputusan yang sempurna, sungguh tidaklah gampang."

Seketika perhatian semua orang beralih atas diri Gak Put-kun. Sebagian besar di antara hadirin itu berpikir.

"Heng-san-pay sudah lemah kekuatannya, Thay-san-pay terpecah belah sehingga tidak mampu menandingi Ko-san-pay, kalau sekarang Hoa-san-pay berdiri satu pihak dengan Hing-san-pay tentu akan sanggup menandingi Ko-san-pay."

Terdengar Gak Put-kun berkata pula.

"Selama sejarah Hoa-san-pay kami pernah terjadi pertentangan antara Kiam-cong dan Khi-cong. Banyak di antara locianpwe yang hadir tentu masih ingat. Maka kalau teringat kepada pertentangan di antara orang sendiri secara kejam di masa lalu itu, sungguh sampai sekarang Cayhe masih merasa ngeri...."

Lenghou Tiong menjadi heran mengapa Gak Put-kun hari ini mencerocos tentang urusan dalam Hoa-san-pay yang biasanya tidak suka diceritakannya kepada orang luar, sebab pertentangan Khi-cong dan Kiam-cong sesama Hoa-san-pay itu betapa pun memalukan bila diketahui orang.

Dalam pada itu terdengar Gak Put-kun melanjutkan kata-katanya dengan suara yang melengking nyaring berkumandang jauh, diam-diam Lenghou Tiong pikir sang guru ternyata sudah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari ilmu "Ci-he-sin-kang"

Yang dilatihnya itu. Terdengar Gak Put-kun lagi berkata.

"Sebab itulah Cayhe merasa di antara berbagai golongan dan aliran persilatan kita ini daripada terpecah belah adalah lebih baik tergabung menjadi satu. Selama beratus-ratus, bahkan beribu-ribu tahun entah sudah betapa banyak para kawan bu-lim yang telah menjadi korban bunuh-membunuh, semuanya itu adalah karena gara-gara perbedaan paham, perselisihan golongan. Cayhe sering kali berpikir, bilamana dunia persilatan kita tiada perbedaan golongan dan perguruan, semua orang adalah anggota satu keluarga besar saja, satu sama lain laksana saudara sekandung, maka dapat dipastikan setiap percekcokan dan pertumpahan darah tentu akan dapat dikurangi."

Pada umumnya orang persilatan memang sering mengalami nasib mati pada usia muda dan meninggalkan anak istri yang merana.

Maka kata-kata Gak Put-kun sebenarnya tepat mengenai lubuk hati sebagian besar di antara hadirin.

Tidak heran kalau banyak di antaranya sama manggut-manggut dan ada yang memuji keluhuran budi Gak Put-kun sesuai dengan julukannya, yaitu "Kun-cu-kiam", Si Pedang Kesatria Sejati.

Begitulah Gak Put-kun melanjutkan pula.

"Namun karena perbedaan di antara sumber ilmu silat yang diyakinkan masing-masing aliran, cara berlatihnya juga berlainan, maka untuk mempersatukan orang-orang persilatan sehingga tanpa membedakan golongan dan aliran, sungguh bukan persoalan yang mudah."

"Siancay! Siancay!"

Hong-ting Taysu bersabda.

"Kata-kata Gak-siansing ini benar-benar mahabijaksana. Bilamana setiap orang persilatan mempunyai jalan pikiran seperti Gak-siansing, maka kekacauan dunia ini tentu akan hilang sirna tanpa bekas."

"Ah, Taysu terlalu memuji,"

Kata Gak Put-kun.

"Sedikit pendapat Cayhe yang dangkal ini tentunya sebelumnya sudah menjadi buah pikiran para padri sakti turun-temurun dari Siau-lim-pay. Sebenarnya dengan nama dan pengaruh Siau-lim-si, asalkan mau tampil ke muka dan menyerukan persatuan, maka setiap orang yang berpandangan jauh tentu akan setuju dan pasti akan banyak manfaatnya selama ratusan tahun terakhir ini. Namun sampai sekarang di antara berbagai golongan dan aliran masih terus bertentangan satu sama lain baik secara terang-terangan maupun secara gelap-gelapan sehingga banyak mengorbankan jiwa dan harta. Bahwasanya selama ini banyak di antara tokoh bijaksana telah menyelami betapa besar bencana yang ditimbulkan karena perbedaan golongan dan aliran, lalu mengapa kita tidak bertekad untuk melenyapkannya? Cayhe benar-benar bingung, sudah sekian lamanya Cayhe merenungkan persoalan ini, baru beberapa hari yang lalu Cayhe sadar dan memahami di mana letaknya kunci untuk memecahkan persoalan ini. Karena urusan ini menyangkut nasib setiap kawan persilatan, Cayhe tidak berani merahasiakan hasil pemikiranku ini, maka ingin kukemukakan di sini dan minta pertimbangan para hadirin."

"Silakan bicara, silakan bicara,"

Seru orang banyak.

"Pendapat Gak-siansing pasti sangat bagus!"

Setelah suasana rada tenang kembali barulah Gak Put-kun bicara pula.

"Setelah Cayhe merenungkan secara mendalam, akhirnya kuketemukan titik persoalannya. Rupanya penyakit kegagalan daripada usaha penghapusan perbedaan golongan dan aliran ini sering kali disebabkan usaha yang terburu nafsu. Maklumlah, golongan dan aliran persilatan kita berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus banyaknya, setiap golongan juga sudah bersejarah sekian lamanya, kalau sekaligus hendak melenyapkan sejarah golongan masing-masing boleh dikatakan mahasulit."

"Jika demikian, jadi menurut pendapat Gak-siansing adalah tidak mungkin untuk menghapuskan perbedaan golongan dan aliran? Jika betul demikian bukankah pendapat Gak-siansing ini sangat mengecewakan harapan orang?"

Ujar Co Leng-tan.

"Walaupun mahasukar, tapi bukannya sama sekali tidak dapat,"

Jawab Gak Put-kun.

"Barusan Cayhe menyatakan bahwa titik penyakitnya terletak pada usaha yang terburu nafsu ingin cepat, malah macet. Jadi caranya yang harus diubah, asalkan haluannya berubah, lalu dihadapi bersama dengan segenap tenaga oleh para kawan, apakah usaha ini akan berjalan sampai 50 tahun ataupun 100 tahun, tapi akhirnya pasti jadi."

"Wah, perlu 50 tahun atau 100 tahun, kan para pahlawan dan kesatria yang hadir sekarang ini hampir semuanya sudah masuk kubur?"

Ujar Co Leng-tan.

"Kaum kita hanya perlu berusaha sepenuh tenaga, soal akan berhasil atau tidak dari usaha kita bukan soal,"

Kata Gak Put-kun.

"Ini namanya leluhur tanam pohonnya dan keturunan memetik buahnya. Kita hanya tanam pohon saja, biarlah anak cucu kita yang menerima buahnya, hal demikian kan perbuatan luhur? Pula, usaha jangka panjang 50 atau 100 tahun adalah secara keseluruhannya, kalau cuma sedikit hasil saja mungkin dalam waktu delapan atau 10 tahun juga sudah tampak nyata."

"Dalam sepuluh atau delapan tahun sudah akan tampak hasil nyata walaupun hanya bagian kecil, ini sungguh sangat bagus. Tapi entah cara bagaimana kita harus berusaha bersama?"

Tanya Co Leng-tan. Gak Put-kun tersenyum, jawabnya.

"Seperti apa yang dilakukan Co-bengcu sekarang adalah perbuatan baik yang bermanfaat bagi kaum persilatan umumnya. Bahwasanya sekaligus kita hendak menghapus perbedaan pandangan di antara berbagai golongan dan aliran boleh dikata sukar terlaksana, tapi kalau diusahakan agar golongan-golongan yang tempatnya berdekatan, yang ilmu silatnya mendekati sejenis atau yang mempunyai hubungan lebih rapat, lalu di antara mereka diadakan peleburan sebisanya, maka dalam waktu tidak terlalu lama perbedaan golongan dan aliran di dunia persilatan kita, tentu akan berkurang sebagian besar. Seperti halnya peleburan di antara Ngo-gak-kiam-pay kita adalah suatu bukti nyata bagi golongan-golongan lain."

Ucapan terakhir Gak Put-kun ini seketika membikin para hadirin menjadi gempar, banyak yang berteriak.

"O, kiranya Hoa-san-pay juga setuju penggabungan Ngo-gak-kiam-pay."

Lenghou Tiong juga sangat terkejut, pikirnya.

"Tak terduga suhu duga menyetujui penggabungan, padahal aku sudah menyatakan akan ikut haluan suhu, apakah aku mesti menarik kembali ucapanku?"

Dengan cemas ia coba memandang ke arah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, dilihatnya kedua tokoh itu sama menggeleng padanya dengan wajah yang rada lesu. Maka terdengar Co Leng-tan berkata.

"Sebenarnya maksud Ko-san-pay menghendaki penggabungan hanya demi kepentingan kita bersama, sebab kalau bergabung jelas kekuatan menjadi besar, sebaliknya kalau bercerai tenaga menjadi lemah. Tapi dari uraian Gak-siansing tadi ternyata penggabungan Ngo-gak-kiam-pay kita masih dapat mendatangkan manfaat-manfaat begitu besar, sungguh aku menjadi seperti pintar mendadak."

Lalu Gak Put-kun berkata pula.

"Sesudah kita bergabung, bila kita ingin memperbesar pengaruh, lalu mengadu kekuatan dengan golongan lain, maka akibatnya hanya menimbulkan bencana di dunia persilatan. Sebab itu asas tujuan peleburan kita ini harus mengutamakan ‘hindarkan pertentangan dan akhiri permusuhan’. Menurut dugaanku banyak di antara kawan persilatan tentu khawatir penggabungan kita ini pasti akan merugikan pihak lain, dalam hal ini aku dapat menyatakan supaya kawan-kawan ini janganlah khawatir."

Banyak di antara hadirin menjadi lega mendengar jaminan Gak Put-kun itu, tapi ada juga yang masih ragu-ragu dan kurang percaya.

"Jika demikian, jadi Hoa-san-pay jelas juga setuju penggabungan?"

Tanya Co Leng-tan.

"Benar,"

Jawab Gak Put-kun. Ia merandek sejenak, lalu katanya sambil memandang ke arah Lenghou Tiong.

"Lenghou-ciangbun dari Hing-san-pay dahulu pernah berada di Hoa-san, Cayhe pernah mempunyai hubungan guru murid selama 20-an tahun dengan dia. Sejak dia meninggalkan Hoa-san-pay, syukur selama ini dia masih ingat akan hubungan baik di masa silam dan tetap mengharapkan agar Cayhe dapat kumpul bersama lagi dengan dia dalam suatu aliran yang sama. Dalam hal ini tadi Cayhe sudah menyanggupi dia bahwa untuk kumpul kembali di dalam suatu aliran bukanlah soal sulit."

Bicara sampai di sini, wajahnya menampilkan senyuman manis.

Lenghou Tiong tergetar dan sadar seketika, kiranya kesanggupan sang guru akan menerimanya kembali sebagai murid bukanlah kembali ke dalam Hoa-san-pay, tapi masuk ke dalam Ngo-gak-pay sesudah kelima golongan dilebur menjadi satu, rasanya hal ini toh tidak jelek.

Apalagi tadi suhu telah menyatakan sesudah dilebur menjadi satu, maka asas tujuannya adalah menghindari pertentangan dan mengakhiri permusuhan.

Kalau nanti Hoa-san-pay, Hing-san-pay ditambah dengan Heng-san-pay berdiri di satu pihak, ini berarti akan lebih besar pengaruhnya daripada Ko-san-pay dan Thay-san-pay sehingga asas yang dikemukakan suhu ini dapatlah dijalankan.

Selagi Lenghou Tiong dibuai oleh pikirannya sendiri, terdengar Co Leng-tan lagi berkata.

"Syukurlah bahwa Gak-siansing dan Lenghou-ciangbun sejak kini telah dapat berkumpul kembali dalam suatu keluarga besar. Terimalah ucapan selamat dariku!"

Menyusul banyak di antara hadirin juga bersorak menyatakan syukur. Tapi mendadak Tho-ki-sian berteriak.

"Tidak, urusan ini tidak baik, sangat tidak baik."

"Kenapa tidak baik?"

Tanya Tho-kan-sian.

"Jabatan ketua Hing-san-pay bukankah tadinya adalah hak kita berenam saudara?"

Tanya Tho-ki-sian.

"Betul!"

Serentak Tho-kan-sian berlima menjawab.

"Tapi lantaran kita sungkan menjadi ketua segala, makanya kita serahkan jabatan itu kepada Lenghou Tiong dengan suatu syarat bahwa dia harus membalaskan sakit hati kematian Ting-sian Suthay bertiga, betul tidak? Dan kalau tidak melaksanakan tugasnya itu berarti jabatannya sebagai ketua menjadi batal, betul tidak?"

Begitulah setiap kali Tho-ki-sian bertanya, serentak Tho-kan-sian berlima mengiakan pula setiap kali.

"Namun pembunuh Ting-sian Suthay bertiga jelas berada di tengah Ngo-gak-pay juga,"

Kata Tho-ki-sian pula.

"Maka menurut pendapatku, besar kemungkinan pembunuh itu she Co kalau tidak she Ci, atau bisa jadi she Cuci. Bilamana Lenghou Tiong jadi masuk Ngo-gak-pay, itu berarti dia akan menjadi saudara seperguruan dengan manusia jahanam she Co atau she Ci atau Cuci dan itu berarti pula dia tak mampu membalaskan sakit hati Ting-sian Suthay bertiga."

"Benar, sedikit pun tidak salah,"

Seru Tho-kok-ngo-sian. Alangkah gusarnya Co Leng-tan, pikirnya.

"Keparat, kalian berenam berani menghina aku di depan umum, bila kalian dibiarkan hidup lebih lama tentu banyak ocehan-ocehan tidak senonoh yang akan kalian lontarkan terhadapku."

Dalam pada itu Tho-kin-sian sedang berkata.

"Kalau Lenghou Tiong tidak membalaskan sakit hati Ting-sian Suthay berarti dia batal menjadi ketua Hing-san-pay, bukan? Dan kalau dia batal menjadi ketua Hing-san-pay berarti dia tidak kuasa lagi mengurusi kepentingan Hing-san-pay, bukan? Dan kalau dia tidak kuasa lagi berarti tidak boleh bicara atas nama Hing-san-pay dalam soal penggabungan ini, bukan?"

Setiap kali ia tanya, setiap kali pula Tho-kok-ngo-sian yang lain mengiakan. Kini Tho-sit-sian yang bicara.

"Tapi lowongan ketua tidak boleh selalu kosong, bila Lenghou Tiong tidak menjadi ketua Hing-san-pay, sepantasnya diangkat orang lain yang lebih sesuai, bukan? Adapun calon ketua yang punya ilmu silat tinggi dan pengetahuan luas sudah sejak dulu dinilai oleh Ting-sian Suthay, bukan?"

"Benar!"

Jawab Tho-kok-ngo-sian.

Semakin keras yang bertanya, semakin nyaring pula suara kelima orang yang menjawab.

Lantaran merasa lucu, pula maksud Tho-kok-lak-sian itu jelas sengaja main gila terhadap Ko-san-pay, maka sebagian di antara hadirin itu ikut senang, malahan ada di antaranya lantas ikut-ikutan bersuara, setiap kali Tho-kok-lak-sian bertanya jawab, berpuluh orang hadirin juga ikut-ikut mengiakan.

Ketika Gak Put-kun setuju penggabungan Ngo-gak-kiam-pay tadi, diam-diam Lenghou Tiong merasa cemas dan bingung, sekarang demi mendengar ocehan Tho-kok-lak-sian yang tak keruan itu, dalam hati kecilnya timbul rasa senang seakan-akan keenam orang dogol itu telah menyelesaikan soal sulit baginya.

Tapi setelah mengikuti terus ocehan Tho-kok-lak-sian itu, kemudian ia menjadi terheran-heran, sebab sekarang apa yang diucapkan seakan-akan sangat teratur, satu sama lain seperti telah disiapkan, sama sekali berbeda daripada kebiasaan mereka, sungguh perubahan yang aneh.

Apa barangkali di belakang mereka ada orang pandai yang memberi petunjuk?

Demikian pikir Lenghou Tiong.

Sementara itu Tho-hoa-sian lagi berkata.

"Bahwasanya di dalam Hing-san-pay ada enam kesatria yang berilmu silat tinggi dan berpengetahuan luas, siapakah mereka berenam, kalian kan bukan orang bodoh, tentu sudah tahu, bukan?"

Beratus hadirin serentak mengiakan dengan tertawa.

"Siapa keenam kesatria besar itu? Coba katakan!"

Seru Tho-hoa-sian.

"Siapa lagi kalau bukan kalian Tho-kok-lak-sian!"

Teriak beratus orang dengan suara riuh.

"Itu dia! Dengan demikian, jadi jabatan ketua Hing-san-pay terpaksa kami berenam menerimanya untuk melaksanakan tugas yang suci sesuai dengan harapan orang banyak, cocok dengan pilihan umum, sesuai dengan kehendak bapak mertua, dan... dan...."

Karena kata-katanya yang melantur, para hadirin sampai terpingkal-pingkal saking geli. Sebaliknya orang-orang Ko-san-pay sangat mendongkol, banyak di antaranya lantas membentak.

"Persetan! Kalian berenam keparat ini sengaja mengacau apa di sini? Lekas enyah semua dari sini!"

"Aneh bin heran!"

Jawab Tho-ki-sian.

"Kalian Ko-san-pay dengan segala daya upaya berusaha hendak melebur Ngo-gak-kiam-pay menjadi satu, sekarang kami para kesatria Hing-san-pay telah sudi berkunjung ke Ko-san sini, tapi kalian malah mengusir kami pergi dari sini. Bila kami berenam kesatria besar ini angkat kaki dari sini, segera para kesatria kecil, para pahlawan betina Hing-san-pay yang lain juga akan ikut pergi dari sini, lalu soal penggabungan Ngo-gak-pay kalian itu akan macet setengah jalan, akan mati dalam kandungan dan... dan... gugur. Nah, baiklah, para kawan Hing-san-pay, karena kita sudah tidak diperlukan lagi, marilah kita pergi dari sini, biarkan mereka mengadakan peleburan si-pay (empat aliran) saja. Kalau Co Leng-tan kepingin menjadi ketua Si-gak-pay biarkan saja, kita Hing-san-pay tidak sudi ikut campur."

Dasar Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, dan lain-lain sudah teramat benci kepada Co Leng-tan, demi mendengar ajakan Tho-ki-sian itu, serentak mereka mengiakan, seru mereka.

"Benar, hayolah kita pergi dari sini!"

Keruan Co Leng-tan berbalik kelabakan, ia pikir kalau Hing-san-pay pergi, itu berarti Ngo-gak-pay akan tinggal Si-gak-pay.

Padahal sejak dahulu kala di dunia ini telah kenal ngo-gak, tidak pernah kenal si-gak segala.

Jika si-gak bergabung dan aku menjadi ketua Si-gak-pay, rasanya juga tidak gemilang, sebaliknya malah akan ditertawai oleh orang-orang persilatan.

Bab 113.

Perdebatan yang Bertele-tele Lantaran berpikir demikian, cepat Co Leng-tan berseru.

"Nanti dulu, para kawan Hing-san-pay, ada persoalan apa biarlah kita berunding secara baik-baik, kenapa mesti terburu nafsu?"

"Adalah begundalmu yang mengusir kami dan bukan kami sendiri yang mau pergi dari sini,"

Jawab Tho-kin-sian dengan mencibir. Co Leng-tan mendengus satu kali tanpa menanggapi, sebaliknya ia berkata terhadap Lenghou Tiong.

"Lenghou-ciangbun, orang persilatan kita paling mengutamakan pegang janji. Tadi kau sudah menyatakan akan mengikuti haluan Gak-siansing, tentunya kau akan pegang teguh ucapanmu ini."

Lenghou Tiong coba memandang Gak Put-kun, dilihatnya sang guru sedang manggut-manggut padanya dengan sikap simpatik dan sangat mengharapkan.

Sebaliknya ketika ia memandang ke arah Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Tojin, kedua tokoh itu tampak menggeleng-geleng kepala.

Di tengah kebimbangan itu, terdengar Gak Put-kun berkata.

"Anak Tiong, hubungan kita seperti ayah dan anak, ibu-gurumu juga cukup baik padamu, apakah kau tidak ingin berhubungan baik lagi dengan kami seperti dahulu?"

Seketika Lenghou Tiong mencucurkan air mata terharu, tanpa pikir lagi ia lantas berseru.

"Suhu dan Sunio, memang itulah yang kuharap-harapkan. Bila kalian setuju penggabungan, maka Anak hanya menurut saja, lain tidak."

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula.

"Namun, bagaimana pula dengan sakit hati ketiga Suthay...."

"Kau jangan khawatir,"

Kata Gak Put-kun dengan lantang.

"Hal tewasnya Ting-sian Suthay bertiga memang harus disesalkan oleh setiap kawan persilatan kita. Selanjutnya sesudah kelima golongan kita tergabung, maka urusan Hing-san-pay tentu termasuk juga urusanku. Tugas utama kita sekarang tiada lain mencari tahu siapakah pembunuhnya, lalu dengan tenaga gabungan ngo-pay kita serta minta bantuan para kawan bu-lim yang hadir sekarang, biarpun si pembunuh punya kepandaian setinggi langit juga akan kita cincang sampai hancur lebur. Anak Tiong, maka kukatakan lagi janganlah kau khawatir, sekalipun pembunuhnya adalah tokoh tertinggi dari Ngo-gak-pay kita juga takkan kita ampuni."

Kata-kata Gak Put-kun itu diucapkan dengan gagah dan tegas, serentak anak murid Hing-san-pay sama bersorak memuji. Gi-ho lantas berseru.

"Ucapan Gak-siansing memang betul. Bila engkau dapat tampil ke muka untuk membalaskan sakit hati ketiga Suthay kami, maka segenap keluarga Hing-san-pay sungguh merasa sangat berterima kasih."

"Soal ini kujamin, dalam tiga tahun bilamana tidak mampu membalaskan sakit hati ketiga Suthay, biarlah nanti kawan bu-lim boleh anggap aku sebagai manusia rendah, orang yang tidak tahu malu,"

Seru Gak Put-kun.

Ucapan ini semakin menimbulkan rasa senang anak murid Hing-san-pay, mereka bersorak gembira, banyak dari kawan-kawan golongan lain juga ikut bertepuk tangan dan memuji.

Menyaksikan itu, Lenghou Tiong berpikir.

"Meski aku bertekad menuntut balas bagi ketiga Suthay, tapi susah rasanya memakai batas waktu. Biarpun orang banyak mencurigai Co Leng-tan sebagai pembunuhnya, tapi cara bagaimana membuktikannya? Seumpama dia dapat dibekuk dan ditanyai, apakah dia mau mengaku terus terang? Tapi mengapa Suhu berbicara secara begitu tegas dan pasti? Ya, tentu beliau sudah tahu pasti siapa pembunuhnya dengan bukti-bukti nyata, makanya di dalam tiga tahun Suhu yakin akan dapat membereskannya."

Kalau semula dia mengkhawatirkan anak murid Hing-san-pay menentang pendiriannya yang mengikuti haluan Gak Put-kun, sekarang demi melihat mereka bersorak gembira, maka legalah hatinya, segera ia berseru.

"Baik sekali jika demikian. Guruku Gak-siansing sudah menyatakan, asal sudah diselidiki dan jelas siapa pembunuh ketiga Suthay, sekalipun pembunuh itu adalah tokoh tertinggi Ngo-gak-pay juga takkan diampuni. Nah, Co-ciangbun, engkau setujui atas ucapan ini tidak?"

Dengan nada dingin Co Leng-tan menjawab.

"Ucapan ini kan sangat tepat, mengapa aku tidak setuju?"

"Bagus,"

Seru Lenghou Tiong.

"Nah, para kesatria yang hadir di sini telah mendengar semua, bilamana biang keladi pembunuh ketiga Suthay nanti telah diketahui, tak peduli siapakah dia dan apa kedudukannya, maka setiap orang berhak untuk membinasakan dia."

Serentak sebagian besar di antara hadirin bersorak menyatakan akur. Setelah suara ramai itu rada mereda, lalu Co Leng-tan berseru.

"Nah, jadi sudah jelas Ngo-gak-kiam-pay kita seluruhnya sudah setuju bergabung menjadi satu, maka sejak kini di dunia persilatan takkan muncul pula nama Ngo-gak-kiam-pay, yang ada ialah Ngo-gak-pay. Dengan demikian segenap anggota kelima golongan kita dengan sendirinya juga menjadi anak murid atau anggota Ngo-gak-pay." (Ngo-gak = lima gunung. Yakni gunung sebelah timur Thay-san, sebelah barat Hoa-san, sebelah utara Hing-san, sebelah selatan Heng-san dan gunung bagian tengah Ko-san.) Habis berkata, ketika ia angkat sebelah tangannya, serentak terdengarlah suara riuh gemuruh petasan bergema di angkasa pegunungan Ko-san sebagai tanda merayakan berdirinya "Ngo-gak-pay"

Secara resmi.

Menghadapi suasana ramai itu, para kesatria saling pandang dengan tersenyum, mereka sama bersyukur bahwa penggabungan Ngo-gak-kiam-pay dapat berjalan dengan lancar, kalau tidak tentu akan terjadi banjir darah di puncak Ko-san ini.

Begitulah di puncak gunung sunyi itu seketika bertebaran dengan remukan kertas, asap mengepul memenuhi udara, suara petasan makin lama makin riuh sehingga bicara berhadapan tak terdengar.

Selang agak lama barulah suara petasan mulai mereda.

Lalu di antara hadirin ada yang menghampiri Co Leng-tan untuk mengucapkan selamat, tampaknya orang-orang ini adalah undangan Ko-san-pay sendiri, karena melihat penggabungan Ngo-gak-kiam-pay terang akan jadi, pengaruh Co Leng-tan juga tambah besar, maka mereka mendahului memberi puji sanjung kepada tuan rumah.

Tiada henti-hentinya Co Leng-tan mengucapkan kata-kata rendah hati, namun tidak urung air mukanya yang biasanya dingin kaku itu menampilkan senyuman kepuasan.

Tiba-tiba terdengar Tho-kin-sian berseru.

"Karena penggabungan Ngo-gak-kiam-pay menjadi Ngo-gak-pay sudah jadi, maka kami Tho-kok-lak-sian terpaksa ikut mendukungnya, ini namanya menurut arah angin."

Co Leng-tan membatin.

"Sejak keenam keparat ini datang ke sini, hanya kata-kata inilah pantas didengar."

Dalam pada itu Tho-kan-sian juga berseru.

"Pada umumnya setiap aliran tentu ada seorang ketua. Lalu ketua Ngo-gak-pay ini harus dipegang siapa? Bila para hadirin mengangkat kami Tho-kok-lak-sian, mau tak mau kami pun akan menerimanya."

"Menurut kata-kata Gak-siansing tadi bahwa penggabungan ini adalah demi kepentingan dunia persilatan umumnya dan tidak untuk keuntungan pribadi,"

Seru Tho-ki-sian pula.

"Jika demikian halnya, maka tugas seorang ketua sungguh sangat berat, namun apa mau dikata, terpaksa kami berenam saudara akan bekerja sekuat tenaga."

"Memang, kalau para hadirin begini simpatik kepada kami, mana boleh kami tidak bekerja mati-matian demi kawan-kawan Kangouw umumnya?"

Sambung Tho-yap-sian.

Begitulah mereka bertanya-jawab seperti dagelan, seakan-akan mereka benar-benar telah diangkat menjadi ketua oleh pilihan orang banyak.

Dengan gemas seorang tua berbaju kuning dari Ko-san-pay berteriak.

"Hei, siapakah yang mengangkat kalian menjadi ketua Ngo-gak-pay? Huh, seperti orang gila, tidak tahu malu?"

Serentak orang-orang Ko-san-pay yang lain juga sama mencemoohkan.

"Persetan! Omong kosong melulu!"

"Huh, kalau bukan hari gembira, jangan harap kalian dapat turun dari sini dengan selamat!"

Lalu seorang lain berseru kepada Lenghou Tiong.

"Lenghou-ciangbun, keenam orang gila itu mengacau terus dari tadi, kenapa kau diam saja?"

"Hah, kau panggil Lenghou Tiong sebagai ‘Lenghou-ciangbun’, jadi kau mengakui dia sebagai Ciangbunjin (ketua) Ngo-gak-pay?"

Teriak Tho-hoa-sian.

"Tadi Co Leng-tan sendiri sudah menyatakan bahwa Thay-san-pay, Ko-san-pay, dan lain-lain sudah dihapus dari dunia persilatan, dengan sendirinya ‘ciangbun’ yang kau sebut tentunya dimaksudkan sebagai ciangbun dari Ngo-gak-pay."

"Meski Lenghou Tiong masih selisih setingkat daripada kami jika dia yang menjabat ketua Ngo-gak-pay, tapi kalau yang lebih baik seperti kami tidak mau, ya, terpaksa boleh juga terima saja tokoh yang lebih rendah sedikit,"

Ujar Tho-sit-sian. Lalu Tho-kin-sian berteriak keras-keras.

"Nah, Ko-san-pay mengusulkan Lenghou Tiong sebagai ketua Ngo-gak-pay, bagaimana pendapat para hadirin?"

"Setuju!"

Terdengar beratus-ratus orang berteriak, suaranya nyaring merdu, terang mereka adalah anak murid Hing-san-pay. Hanya karena salah omong, salah seorang tua Ko-san-pay salah ucap "Lenghou-ciangbun"

Dan kelemahan ini lantas dipegang oleh Tho-kok-lak-sian, keruan orang Ko-san-pay itu menjadi serbasusah dan bingung, serunya dengan gelagapan.

"Tidak, ti... tidak! Bu... bukan... bukan begitu maksudku."

"Bukan begitu maksudmu? Jika demikian tentu kau anggap kami Tho-kok-lak-sian lebih cocok menjadi ketua Ngo-gak-pay,"

Seru Tho-kan-sian.

"Wah, atas dukungan Saudara dan rasa cintamu kepada kami, terpaksa kami tak bisa menolak dan mau tak mau harus menerimanya."

"Begini saja,"

Sambung Tho-ki-sian.

"Kami akan pegang pimpinan setahun atau enam bulan, kalau segala urusan sudah berjalan lancar barulah kami serahkan kedudukan penting ini kepada tokoh lain."

"Betul, betul! Ini namanya tahu kewajiban dan pemimpin bijaksana!"

Teriak Tho-kok-ngo-sian yang lain. Sungguh tidak kepalang mendongkolnya Co Leng-tan, dengan nada dingin ia berseru.

"Kalian berenam sudah terlalu banyak mengoceh, seakan-akan para kesatria yang hadir di Ko-san ini tak berharga sama sekali, boleh tidak kalau orang lain juga diberi kesempatan bicara sedikit?"

"Boleh, sudah tentu boleh, kenapa tidak boleh?"

Jawab Tho-hoa-sian.

"Ada kata-kata lekas diucapkan, ada kentut lekas dilepaskan!"

Seketika suasana menjadi sunyi malah demi mendengar kata-kata Tho-hoa-sian itu. Maklum, siapa pun tidak mau membuka suara supaya tidak dianggap kentut. Selang agak lama barulah Co Leng-tan berbicara.

"Para hadirin silakan kemukakan pandangan masing-masing, tentang ocehan keenam orang gila ini tak perlu digubris lagi!"

Berbareng Tho-kok-lak-sian menghirup napas panjang-panjang, lalu hidung mereka sama-sama mendengus-dengus dan berkata.

"Nyaring benar kentutnya, tapi untung, tidak terlalu bau!"

Seorang tua Ko-san-pay tampil ke muka pula dan berseru.

"Ngo-gak-kiam-pay berserikat secara senasib setanggungan, paling akhir ini pimpinan selalu dijabat oleh Co-ciangbun, nama beliau cukup terkenal, wibawanya cukup disegani. Kalau sekarang ngo-pay kita dilebur, dengan sendirinya Co-bengcu pula yang pantas menjadi ciangbunjin kita. Kalau dijabat orang lain, kukira sukar diterima oleh orang banyak."

"Tidak betul, kurang tepat!"

Seru Tho-hoa-sian.

"Penggabungan kelima aliran adalah peristiwa hebat dan merupakan sejarah baru, oleh karena itu ciangbunjin juga harus diganti yang baru, harus diangkat orang baru."

"Benar,"

Sambung Tho-sit-sian.

"Jika Co Leng-tan tetap menjadi ketua, itu berarti ganti botol tanpa ganti isi, lalu apa gunanya Ngo-gak-kiam-pay dilebur menjadi satu?"

"Kukira ketua Ngo-gak-pay dapat dijabat oleh siapa pun juga,"

Kata Tho-ki-sian.

"Hanya Co Leng-tan saja yang tidak boleh menjabatnya."

"Menurut pendapatku, paling baik kalau jabatan ketua ini kita jabat secara bergiliran, seorang menjadi ketua satu hari, hari ini kau yang menjadi ketua, besok ganti aku, lusa dia, semuanya mendapat bagian, tiada satu pun yang dirugikan. Ini namanya adil, tidak pilih kasih, tanpa pandang bulu, barang baik, harga pas!"

Seru Tho-yap-sian.

"Usulmu ini sungguh teramat bagus!"

Sambut Tho-kin-sian.

"Dan yang pantas menjabat ketua yang pertama adalah nona cilik yang berusia paling muda. Maka aku mengusulkan adik cilik Cin Koan dari Hing-san-pay menjadi ketua Ngo-gak-pay pertama pada hari ini!"

Para anak murid Hing-san-pay serentak bersorak setuju sebab mereka tahu apa yang diucapkan Tho-kok-lak-sian memang sengaja untuk menentang rencana busuk Co Leng-tan.

Selain itu ribuan hadirin yang juga senang pada kekacauan juga ikut-ikutan berteriak setuju, sehingga di puncak Ko-san itu seketika menjadi riuh ramai lagi.

Seorang tosu tua dari Ko-san-pay tampil pula dan berseru.

"Ketua Ngo-gak-pay harus dijabat oleh seorang yang pandai dan bijaksana, seorang tokoh terkemuka yang punya nama dan berpengaruh, mana bisa jabatan sepenting itu diduduki secara bergiliran, sungguh pikiran anak kecil kalian ini!"

Begitu keras dan lantang suara tosu tua ini sehingga di tengah ribut-ribut itu toh didengar dengan jelas oleh setiap hadirin. Tho-ki-sian lantas menanggapi.

"Orang pandai dan bijaksana dengan nama baik dan berpengaruh? Kukira tokoh dunia persilatan yang memenuhi syarat ini kecuali Tho-kok-lak-sian hanya ketua Siau-lim-si saja yang dapat diterima, yaitu Hong-ting Taysu."

Setiap kali Tho-kok-lak-sian bicara tadi selalu menimbulkan gelak tertawa orang banyak, semuanya anggap mereka seperti badut saja.

Tapi sekarang demi Tho-ki-sian menyebut nama Hong-ting Taysu, seketika suasana menjadi sunyi, semua orang menjadi bungkam.

Maklumlah Hong-ting Taysu adalah tokoh yang dihormati dan disegani oleh setiap orang bu-lim, nama Siau-lim-si juga sangat berpengaruh di dunia persilatan.

Maka Hong-ting Taysu memang tak bisa dibantah sebagai seorang yang pandai dan bijaksana, punya nama baik dan berpengaruh.

Begitulah Tho-kin-sian lantas berteriak.

"Ketua Siau-lim-si Hong-ting Taysu terhitung tokoh yang pandai dan bijaksana, orang yang punya nama baik dan berpengaruh tidak?"

"Ya, betul, beliau terhitung tokoh nomor satu untuk memenuhi syarat itu!"

Teriak beribu-ribu hadirin berbareng.

"Bagus!"

Sambut Tho-kin-sian.

"Itu tandanya Hong-ting Taysu telah disetujui dengan suara bulat oleh para hadirin, jika demikian maka ketua Ngo-gak-pay ini kita serahkan untuk dijabat oleh Hong-ting Taysu."

"Ngaco-belo!"

Teriak sebagian orang-orang Thay-san-pay dan Ko-san-pay.

"Hong-ting Taysu sendiri adalah ketua Siau-lim-pay, apa sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay kita?"

"Tadi tosu tua itu mengatakan jabatan ketua ini harus dipegang oleh seorang tokoh pandai dan bijaksana yang punya nama baik dan berpengaruh. Sekarang kita telah mendapatkan pilihan yang tepat dan sesuai dengan syarat tersebut, yaitu Hong-ting Taysu, memangnya kau berani menyangkal beliau tidak memenuhi syarat-syarat itu? Huh, coba katakan kalau kau minta kami ganyang lebih dulu."

"Hong-ting Taysu memang seorang tokoh yang harus dihormati oleh siapa pun juga,"

Kata Giok-ki-cu dari Thay-san-pay.

"Tetapi yang kita pilih sekarang adalah ketua Ngo-gak-pay, sedangkan Hong-ting Taysu adalah tamu, mana boleh beliau diikutsertakan dalam urusan ini."

"O, jadi maksudmu Hong-ting Taysu tak dapat dipilih menjadi ketua Ngo-gak-pay lantaran Siau-lim-si kau anggap tiada sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay?"

Tanya Tho-kan-sian.

"Benar,"

Jawab Giok-ki-cu.

"Mengapa Siau-lim-pay tiada sangkut pautnya dengan Ngo-gak-pay? Aku justru mengatakan sangat besar sangkut pautnya! Coba katakan, Ngo-gak-pay terdiri dari kelima pay apa?"

Tanya Tho-kan-sian.

"Ah, Saudara ini sudah tahu sengaja tanya,"

Ujar Giok-ki-cu.

"Ngo-gak-pay jelas terdiri dari Ko-san, Heng-san, Thay-san, Hing-san, dan Hoa-san-pay."

"Salah, salah besar!"

Seri Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian berbareng.

"Tadi Co Leng-tan menyatakan bahwa setelah Ngo-gak-kiam-pay bergabung, maka nama Thay-san-pay, Ko-san-pay segala takkan dipertahankan lagi, mengapa sekarang kau menyebut lagi kelima pay itu?"

"Ini tandanya dia tidak pernah melupakan golongannya sendiri, begitu ada kesempatan tentu dia akan menegakkan kembali kebesaran Thay-san-pay,"

Sambung Tho-yap-sian.

Banyak hadirin yang tertawa geli, mereka pikir Tho-kok-lak-sian tampaknya suka gila-gilaan, tapi asal lawan sedikit salah bicara segera didebat oleh mereka sehingga mati kutu.

Maklumlah, sejak mulai dapat bicara Tho-kok-lak-sian lantas suka bantah-membantah dan debat-mendebat di antara saudara-saudaranya sendiri, selama berpuluh tahun pekerjaan mereka hanya berdebat melulu, ditambah lagi enam kepala digunakan sekaligus, enam mulut mengap berbareng, tentu saja orang lain kewalahan menghadapi mereka berenam.

Begitulah Giok-ki-cu menjadi tersipu-sipu oleh debatan Tho-kok-lak-sian tadi, terpaksa ia berkata.

"Huh, Ngo-gak-pay punya keenam anggota istimewa macam kalian, sungguh sial."

"Kau bilang Ngo-gak-pay sial? Itu berarti kau menghina Ngo-gak-pay dan tidak sudi masuk Ngo-gak-pay,"

Kata Tho-hoa-sian.

"Ngo-gak-pay kita didirikan pada hari pertama ini sudah kau sumpahi dengan ucapan sial, padahal kita semua mengharapkan Ngo-gak-pay akan berkembang dan berjaya di dunia persilatan, Giok-ki Totiang, mengapa hatimu begitu jahat dan sengaja mengutuki?"

Sambung Tho-sit-sian.

"Ya, itu menandakan Giok-ki Tojin menghendaki kegagalan pendirian Ngo-gak-pay kita, maksud jahat seperti ini mana boleh kita mengampuni dia?"

Kata Tho-yap-sian.

Pada umumnya orang Kangouw paling sirik pada kata-kata yang bersifat menyumpahi, karena itu banyak di antara hadirin sepaham dengan Tho-kok-lak-sian dan anggap Giok-ki-cu memang tidak pantas mengatakan Ngo-gak-pay sial pada hari pertama ini.

Rupanya Giok-ki-cu merasa telah telanjur salah omong, ia menjadi bungkam dengan penuh mendongkol.

Segera Tho-kan-sian berseru.

"Kami mengatakan Siau-lim-pay besar sangkut pautnya dengan Ko-san, tapi Giok-ki Tojin justru bilang tiada sangkut pautnya. Sebenarnya bagaimana? Kau yang salah atau kami yang betul?"

Dengan gemas Giok-ki-cu menjawab.

"Kau suka mengatakan ada sangkut pautnya, maka anggap saja kau yang benar."

"Haha, segala urusan di dunia ini memangnya tak bisa mengingkari suatu hal, yakni kebenaran,"

Kata Tho-kan-sian.

"Coba katakan, Siau-lim-si terletak di gunung mana? Dan Ko-san-pay terletak di gunung mana pula?"

"Siau-lim-si terletak di Siau-sit-san dan Ko-san-pay di Thay-sit-san, baik Siau-sit-san maupun Thay-sit-san termasuk pegunungan di lingkungan Ko-san, betul tidak? Nah, kenapa Giok-ki Tojin mengatakan Siau-lim-pay tiada sangkut pautnya dengan Ko-san-pay?"

Kata-kata ini nyatanya betul dan bukan pokrol-pokrolan, mau tak mau para hadirin manggut-manggut setuju. Lalu Tho-ki-sian menyambung lagi.

"Tadi Gak-siansing mengatakan bahwa setelah penggabungan nanti akan banyak mengurangi pertentangan di antara sesama orang Kangouw, makanya beliau menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay. Beliau mengatakan pula yang ilmu silatnya mendekati satu sama lain atau yang tempatnya berdekatan sebaiknya saling gabung. Bicara tentang tempat yang berdekatan kukira hanya Siau-lim-pay dan Ko-san-pay yang sama-sama terletak di suatu pegunungan yang sama. Kalau Siau-lim-pay dan Ko-san-pay tidak bergabung, maka apa yang dikatakan Gak-siansing bukankah seperti ken... kentut belaka."

Semua orang tertawa mendengar Tho-ki-sian hendak menahan "kentut", namun mereka pun merasa apa yang dikatakan Tho-ki-sian memang bukannya tidak beralasan. Tho-kin-sian lantas berkata.

"Hong-ting Taysu adalah tokoh pilihan umum, maka kalau terjadi penggabungan Siau-lim-pay dan Ko-san-pay, lalu dilebur pula ke dalam Ngo-gak-pay, maka kami Tho-kok-lak-sian yang pertama-tama tunduk kepada beliau dan taat kepada beliau sebagai ciangbunjin. Memangnya ada di antara hadirin yang tidak tunduk?"

"Jika ada yang tidak tunduk, hayolah silakan tampil ke muka dan coba-coba ukur tenaga lebih dulu dengan kami Tho-kok-lak-sian,"

Sambung Tho-hoa-sian.

"Bila dapat mengalahkan Tho-kok-lak-sian kami, nanti baru coba-coba dengan Hong-ting Taysu. Kalau Hong-ting Taysu juga dikalahkan, masih ada lagi jago-jago Siau-lim-si yang lain seperti padri-padri sakti dari Tat-mo-ih, Lo-han-tong, dan lain-lain. Bila tokoh-tokoh simpanan Siau-lim-si itu juga kalah, kemudian silakan bertanding pula dengan Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay...."

"Lho, kenapa Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay kau bawa-bawa, Saudaraku?"

Tanya Tho-sit-sian.

"Habis, Bu-tong-pay dan Siau-lim-pay kan dua aliran yang mempunyai hubungan paling erat,"

Jawab Tho-hoa-sian.

"Kalau Siau-lim-pay dikalahkan orang, mustahil Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay tinggal diam saja?"

"Ya, benar juga,"

Kata Tho-sit-sian.

"Dan kalau Tiong-hi Totiang juga kalah, akhirnya silakan bertanding pula dengan Tho-kok-lak-sian."

"He, pertandingan dengan kita Tho-kok-lak-sian kan sudah dilakukan tadi, kenapa diulangi?"

Ujar Tho-kin-sian.

"Tadi memang sudah, tapi kita hanya kalah satu kali saja masakah lantas rela menyerah?"

Jawab Tho-sit-sian.

"Tentu saja kita masih harus labrak si keparat itu secara mati-matian sampai akhir zaman."

Riuh rendah seketika suara tertawa orang banyak, bahkan ada yang bersuit. Keruan tidak kepalang gusar Giok-ki-cu, ia tidak sabar lagi dan lantas melompat maju, teriaknya.

"Tho-kok-lak-koay, aku Giok-ki-cu yang pertama-tama tidak tunduk dan hendak mencoba-coba kemampuan kalian!"

"Ah, kita kan sama-sama orang Ngo-gak-pay, bila bergebrak bukankah berarti saling bunuh-membunuh?"

Ujar Tho-kin-sian.

"Kalian terlalu cerewet dan membikin muak,"

Kata Giok-ki-cu.

"Jika kalian dilenyapkan dari Ngo-gak-pay tentu suasana akan menjadi tenang dan aman."

"E-eh, jadi timbul nafsu membunuh pada dirimu, kau ingin membinasakan kami berenam?"

Kata Tho-kan-sian. Giok-ki-cu mendengus saja tanpa menjawab, diam-diam berarti membenarkan pertanyaan orang. Tho-ki-sian berkata.

"Hari ini ngo-pay kita baru bergabung dan kau sudah berniat membunuh kami berenam dari Hing-san-pay, lalu cara bagaimana kita bisa bekerja sama pada waktu-waktu yang akan datang?"

"Jika kalian sudah tahu perlu adanya kerja sama yang baik, maka ocehan-ocehan kalian yang mengganggu urusan penting hendaknya jangan diucapkan lagi,"

Jawab Giok-ki-cu dengan menahan gusar.

"Tapi kalau ucapan-ucapan yang bermanfaat bagi Ngo-gak-pay dan kata-kata baik demi kepentingan kawan dunia persilatan, apakah juga tidak boleh diucapkan?"

Tanya Tho-yap-sian.

"Hm, rasanya kalian takkan mengemukakan ucapan-ucapan baik sebagaimana kalian maksudkan!"

Jengek Giok-ki-cu.

"Soal siapa yang pantas menjadi ketua Ngo-gak-pay bukankah soal yang penting bagi Ngo-gak-pay kita sendiri dan juga bersangkut paut dengan kepentingan dunia persilatan umumnya?"

Ujar Tho-hoa-sian.

"Sedari tadi kami telah menyarankan seorang tokoh terkemuka dan disegani dunia persilatan umumnya untuk menjadi ketua kita tapi kau tidak setuju, rupanya kau mempunyai kepentingan pribadi dan ingin mendukung calonmu sendiri yang telah memberi sogok tiga ribu tahil emas dan empat perempuan cantik padamu itu."

Giok-ki-cu menjadi gusar karena dituduh terima sogokan, teriaknya.

"Kau mengaco-belo belaka! Siapakah yang pernah memberi tiga ribu tahil emas dan empat perempuan cantik padaku?"

"Ah, jangan kau mungkir?"

Jawab Tho-hoa-sian.

"Bisa jadi aku salah sebut angkanya, kalau bukan tiga ribu tahil tentulah empat ribu tahil. Kalau tidak empat perempuan cantik tentulah tiga atau lima. Siapa yang memberikannya padamu masakah kau sendiri tidak tahu dan pura-pura tanya? Siapa calon ketuamu, dia itulah yang menyogok kau."

"Sret", segera Giok-ki-cu melolos pedang, bentaknya.

"Jika kau mengoceh tak keruan lagi, segera kubikin kau mandi darah di sini!"

Tapi Tho-hoa-sian terbahak-bahak malah sambil melangkah maju dengan membusungkan dada. Katanya.

"Dengan keji dan licik kau telah membunuh ketua Thay-san-pay kalian sendiri, sekarang kau hendak mencelakai orang lain lagi? Hayolah maju, jika berani cobalah bikin aku mandi darah di sini. Thian-bun Tojin sudah kau sembelih, membunuh anggota perguruan sendiri memang adalah kemahiranmu yang khas, sekarang boleh kau coba-coba cara yang sama atas diriku."

Sembari bicara ia terus mendekati Giok-ki-cu.

"Berhenti!"

Bentak Giok-ki-cu sambil mengacungkan pedangnya ke depan.

"Satu langkah lagi kau maju segera kuserang kau!"

"Haha, untuk menyerang saja memangnya kau perlu permisi dulu?"

Ejek Tho-hoa-sian.

"Puncak Ko-san ini bukan hak milikmu, ke mana aku suka, ke sana pula aku bebas melangkah pergi, memangnya kau ada hak buat merintangi aku?"

Habis berkata kembali ia melangkah maju sehingga jaraknya dengan Giok-ki-cu tinggal beberapa kaki jauhnya.

Melihat wajah Tho-hoa-sian yang buruk dengan gigi-gigi yang kuning menyeringai, rasa muak Giok-ki-cu bertambah hebat, tanpa pikir pedangnya terus menusuk ke dada Tho-hoa-sian.

Cepat Tho-hoa-sian mengegos sambil memaki.

"Bangsat busuk, kau ben... benar-benar ingin berkelahi?"

Ternyata Giok-ki-cu telah menguasai ilmu pedang Thay-san-pay dengan sempurna, serangan pertama segera disusul serangan kedua yang lebih lihai dan cepat.

Dalam sekejap saja Tho-hoa-sian terpaksa harus menghindari empat kali serangan.

Makin menyerang makin cepat gerak pedang Giok-ki-cu, Tho-hoa-sian sampai tidak sempat melolos pedang sendiri untuk menangkis.

Di tengah berkelebatnya sinar pedang.

"cret" , bahu kiri Tho-hoa-sian tertusuk. Tapi pada saat yang hampir sama segera pedang Giok-ki-cu lantas terpental ke udara, menyusul tubuhnya terangkat ke atas, kedua tangan dan kedua kakinya masing-masing telah dipegang oleh Tho-kin-sian, Tho-kan-sian, Tho-ki-sian, dan Tho-yap-sian berempat. Apa yang terjadi itu sungguh teramat cepat, bahkan suatu bayangan kuning lantas berkelebat datang pula disertai mengilatnya sinar pedang, seorang telah membacok kepala Tho-ki-sian dengan pedangnya. Namun Tho-sit-sian sudah berjaga di samping, segera ia menangkis dengan pedangnya. Menyusul orang itu lantas mengalihkan serangannya ke dada Tho-kin-sian. Tapi Tho-hoa-sian juga sudah siap dan menangkisnya dengan pedangnya. Ketika diperhatikan, kiranya penyerang itu adalah ketua Ko-san-pay, Co Leng-tan adanya. Sejak tadi Co Leng-tan sudah tahu Tho-kok-lak-sian memiliki kepandaian yang hebat meski ucapan mereka angin-anginan dan ugal-ugalan. Sekarang dilihatnya Giok-ki-cu kena ditangkap pula oleh keenam orang aneh itu, bila terlambat menolongnya tentu Giok-ki-cu akan mengalami nasib tubuh terkoyak-koyak. Sebagai tuan rumah mestinya Co Leng-tan tidak pantas turun tangan, tapi menghadapi detik bahaya itu terpaksa ia menyelamatkan dulu jiwa Giok-ki-cu. Dua kali ia menyerang Tho-ki-sian dan Tho-kin-sian dengan tujuan memaksa kedua orang itu lepaskan Giok-ki-cu. Tak terduga Tho-kok-lak-sian dapat bekerja sama dengan sangat rapat, empat saudaranya memegangi sasaran, dua orang lagi lantas siap menjaga di samping sehingga dua kali serangan Co Leng-tan dapat ditangkis oleh Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian. Bab 114. Pertandingan yang Luar Biasa Sementara itu keselamatan Giok-ki-cu laksana terletak di ujung tanduk, kalau Co Leng-tan harus mendesak mundur Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian, untuk itu sedikitnya harus lebih dari lima-enam jurus dan selama itu tentu tubuh Giok-ki-cu sudah dirobek-robek keempat orang. Karena itu Co Leng-tan tidak panjang pikir lagi, pedangnya berputar secepat kilat. Terdengar Giok-ki-cu menjerit keras-keras dan terbanting ke tanah dengan kepala di bawah. Tho-kin-sian dan Tho-ki-sian masing-masing memegangi sebuah tangan kutung, sedangkan Tho-kan-sian memegangi sebuah kaki putus, hanya Tho-yap-sian saja yang memegangi sebelah kaki yang masih bergandengan dengan tubuh Giok-ki-cu. Rupanya Co Leng-tan merasa tidak mampu memaksa Tho-kok-lak-sian melepas tangan dalam waktu sesingkat itu, terpaksa ia harus ambil tindakan tegas dengan mengutungi kedua tangan dan sebelah kaki Giok-ki-cu sehingga Tho-kok-lak-sian tak dapat merobeknya menjadi empat potong. Meski terpaksa harus korbankan anggota badan, namun sedikitnya jiwa Giok-ki-cu bisa diselamatkan, sebab Tho-kok-lak-sian pasti takkan mengganggu seorang yang sudah cacat. Selesai melaksanakan tindakan kilat itu, sambil mendengus lalu Co Leng-tan undurkan diri ke pinggir.

"He, Co Leng-tan,"

Seru Tho-ki-sian.

"kau telah memberi sogok emas dan perempuan kepada Giok-ki-cu dan mengharuskan dia menyokong kau menjadi ketua Ngo-gak-pay, kenapa sekarang kau berbalik mengutungi kaki dan tangannya, apakah kau bermaksud memusnahkan saksi hidup ya?"

"Haha, ia khawatir kita merobek Giok-ki-cu menjadi empat potong, makanya dia hendak menolongnya, nyata dia telah salah duga,"

Ujar Tho-yap-sian.

"Berlagak pintar sendiri, haha, sungguh lucu dan menggelikan,"

Kata Tho-sit-sian.

"Kami pegang Giok-ki-cu dengan maksud berkelakar dengan dia, padahal hari bahagia berdirinya Ngo-gak-pay seperti sekarang ini masakah ada yang berani main membunuh orang segala?"

"Walaupun Giok-ki-cu berniat membunuh aku, tapi mengingat sesama anggota Ngo-gak-pay masakah kami tega membunuh ia?"

Sambung Tho-hoa-sian.

"Kami hanya menakut-nakuti dia saja dengan melemparkan dia ke udara, lalu kami tangkap dia kembali. Sebaliknya Co Leng-tan ternyata bertindak secara begitu kejam dan sembrono, sungguh terlalu bebal."

Dengan menyeret Giok-ki-cu yang sudah buntung itu Tho-yap-sian mendekati Co Leng-tan, Giok-ki-cu dilemparkannya ke depan Co Leng-tan, lalu Tho-yap-sian geleng-geleng kepala dan berkata.

"Co Leng-tan, kau benar-benar terlalu kejam, orang baik-baik seperti Giok-ki-cu ini mengapa kau tega membuntungi kaki dan tangannya? Sekarang dia hanya punya satu kaki saja, lalu cara bagaimana dia akan hidup?"

Tentu saja Co Leng-tan sangat gemas, padahal kalau dia tadi tidak ambil tindakan tegas, tentu tubuh Giok-ki-cu sudah tersobek menjadi empat potong dan jiwanya sudah melayang, sekarang malahan dirinya yang dianggap kejam.

Tapi untuk membela diri juga tiada dasarnya, terpaksa Co Leng-tan hanya mendengus dan tidak menjawab.

Melihat Co Leng-tan diam saja, segera Tho-kin-sian menyambung.

"Kalau Co Leng-tan mau bunuh Giok-ki-cu mestinya sekali tebas kutungi saja kepalanya, tapi dia justru ingin menyiksanya dengan membuntungi tangan dan kakinya sehingga Giok-ki-cu tidak mati dan setengah hidup, caranya sungguh keji dan tak berbudi."

"Memang, kita sama-sama anggota Ngo-gak-pay, ada persoalan apa pun dapat dirunding secara baik-baik, mengapa mesti pakai cara sekejam ini? Sedikit pun tidak punya rasa setia kawan,"

Ujar Tho-kan-sian.

"Kalian berenam terkenal suka menyobek badan orang, tindakan Co-ciangbun tadi justru bermaksud menyelamatkan jiwa Giok-ki Totiang, mengapa kalian memutarbalikkan persoalan?"

Seru seorang tua Ko-san-pay.

"Jelas sekali kami cuma berkelakar saja dengan Giok-ki-cu, kenapa Co Leng-tan salah sangka? Kenapa dia tidak dapat membedakan orang sedang berkelakar atau sungguh-sungguh hendak merobeknya? Sungguh bodoh Co Leng-tan!"

Seru Tho-ki-sian.

"Ya, seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab,"

Sambung Tho-yap-sian.

"Co Leng-tan sudah membuntungi Giok-ki-cu harus berani mengakui perbuatannya, tapi dia sengaja pakai macam-macam alasan untuk menutupi maksud kejinya, sedikit pun tidak punya keberanian untuk bertanggung jawab, sungguh pengecut. Padahal setiap orang yang hadir di sini telah menyaksikan apa yang kau lakukan, masakah kau dapat menyangkal?"

"Manusia yang tak berbudi, tidak setia kawan, goblok lagi pengecut, apakah mungkin jabatan ketua Ngo-gak-pay kita boleh diduduki orang macam begini? Huh, Co Leng-tan, kau jangan mimpi muluk-muluk,"

Seru Tho-hoa-sian.

Padahal banyak di antara kesatria yang hadir cukup maklum akan maksud baik Co Leng-tan, kalau tadi dia tidak bertindak tentu jiwa Giok-ki-cu sudah melayang.

Tapi karena apa yang dikatakan Tho-kok-lak-sian cukup berdasar, sukar juga bagi orang lain untuk mendebatnya.

Yang paling kenal watak Tho-kok-lak-sian adalah Lenghou Tiong, ia menjadi heran dari mana mendadak Tho-kok-lak-sian bisa bertambah pintar sehingga setiap katanya selalu tepat mengenai titik kelemahan Co Leng-tan?

Padahal biasanya mereka berenam suka edan-edanan dan dungu, besar kemungkinan di belakang mereka berenam itu ada orang pintar yang memberi petunjuk-petunjuk.

Perlahan-lahan Lenghou Tiong lantas mendekati Tho-kok-lak-sian untuk memeriksa apakah di sekitar mereka ada orang pintar tersembunyi itu.

Tapi dilihatnya Tho-kok-lak-sian berkumpul menjadi satu dan di sekeliling mereka tiada orang lain, malahan orang-orang dungu itu sedang sibuk membalut luka Tho-hoa-sian tadi.

Ketika berpaling lagi, tiba-tiba Lenghou Tiong mendengar bisikan suara yang sangat lirih.

"Engkoh Tiong, apakah kau sedang mencari diriku?"

Mendengar suara itu, sungguh kejut dan girang Lenghou Tiong tak terperikan.

Meski suara itu sangat lirih, tapi cukup jelas, siapa lagi kalau bukan suaranya Ing-ing.

Ia coba memandang ke arah datangnya suara, tertampak seorang laki-laki berewok dengan badan rada gemuk berdiri bersandar pada sepotong batu besar sambil garuk-garuk kepala secara kemalas-malasan.

Laki-laki berewok semacam itu sedikitnya ada beratus-ratus di antara hadirin yang ribuan banyaknya itu sehingga tidaklah menarik perhatian.

Tapi mendadak dari sorot mata laki-laki ini Lenghou Tiong melihat kilasan senyuman yang licin dan juga menggiurkan.

Saking girangnya ia lantas mendekati orang itu.

Terdengar suara Ing-ing berkumandang lagi.

"Jangan kemari, nanti rahasia tersingkap!"

Begitu lembut suara itu, tapi cukup jelas terdengar oleh telinganya. Maka tahulah Lenghou Tiong.

"Kiranya kata-kata Tho-kok-lak-sian tadi adalah ajaranmu, pantas keenam orang dungu itu mampu bicara tentang budi dan setia segala."

Diam-diam ia pun bersyukur atas kedatangan Ing-ing secara menyamar itu, jelas si nona sengaja datang buat bantu usahanya berebut menjadi ketua Ngo-gak-pay.

Dalam pada itu terdengar Tho-kin-sian berkata pula.

"Tokoh besar seperti Hong-ting Taysu tak bisa kalian terima sebagai ketua, Giok-ki-cu sekarang sudah buntung kaki dan kutung tangan, sedangkan Co Leng-tan jelas tidak berbudi dan pengecut, dengan sendirinya juga tak bisa menduduki tempat terhormat itu. Maka biarlah kita memilih seorang kesatria muda yang hebat untuk menjadi ketua kita. Kalau ada yang tidak setuju boleh silakan maju untuk belajar kenal dengan ilmu pedangnya."

Bicara sampai di sini setelah tangannya terus menunjuk ke arah Lenghou Tiong.

"Inilah Lenghou-siauhiap,"

Sambung Tho-hoa-sian.

"beliau mengetuai Hing-san-pay dan ada hubungan yang rapat dengan Gak-siansing dari Hoa-san-pay, dengan Bok-taysiansing dari Heng-san-pay juga bersahabat kental. Di antara Ngo-gak-kiam-pay jelas ada tiga aliran yang pasti akan mendukung beliau."

"Para Tosu dari Thay-san-pay juga tidak bodoh semua, dengan sendirinya sebagian besar di antara mereka juga akan mendukung Lenghou-siauhiap,"

Ujar Tho-ki-sian.

"Nah, Co Leng-tan, jika kau tidak terima, silakan maju untuk coba-coba mengukur ilmu pedang Lenghou-siauhiap, yang menang, dialah yang menjadi ketua Ngo-gak-pay. Ini namanya bertanding untuk rebut juara!"

Seru Tho-yap-sian.

Di antara para pengunjung sebenarnya lebih banyak orang-orang yang ingin menonton keributan, untuk itu mereka tentunya tidak suka pada perdebatan yang bertele-tele seperti Tho-kok-lak-sian tadi, soalnya ucapan-ucapan Tho-kok-lak-sian tadi memang jenaka dan menggelikan, makanya mereka masih dapat mengikutinya dengan tertawa.

Tapi sekarang demi mendengar Tho-yap-sian mengemukakan "bertanding untuk kedudukan ketua"

Serentak bergemuruhlah suara sorak-sorai setuju, karena mereka tahu akan sampailah saatnya pertandingan sengit di antara tokoh-tokoh tertinggi yang dijagoi oleh masing-masing pihak.

Namun Lenghou Tiong berpikir.

"Aku telah berjanji kepada Hong-ting Taysu dan Tiong-hi Totiang untuk merintangi keinginan Co Leng-tan menjadi ketua Ngo-gak-pay. Maka bila Suhu saja yang menjadi ketua, beliau yang terkenal baik budi dan bijaksana tentu akan dapat disetujui oleh semua pihak. Padahal selain beliau rasanya juga tiada tokoh lain di antara Ngo-gak-kiam-pay yang sesuai untuk menjabat kedudukan penting ini."

Karena pikiran demikian, segera Lenghou Tiong berseru.

"Di hadapan kita sudah tersedia seorang tokoh yang paling cocok untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay, mengapa kalian lupa semua? Siapa lagi calon di antara kita yang bisa menandingi Kun-cu-kiam Gak-siansing dari Hoa-san-pay? Ilmu silat Gak-siansing tinggi, pengetahuannya luas, orangnya berbudi dan bijaksana, kesemuanya ini telah cukup kita ketahui. Maka segenap anggota Hing-san-pay kami dengan tulus ikhlas menyarankan pengangkatan Gak-siansing sebagai ketua Ngo-gak-pay."

Serentak anak murid Hoa-san-pay bersorak gembira dan menyatakan akur. Seorang tokoh Ko-san-pay lantas bicara.

"Ilmu silat Gak-siansing memang tinggi, tapi kalau dibandingkan Co-ciangbun masih selisih setingkat. Maka menurut pendapatku adalah Co-ciangbun yang lebih tepat untuk menjadi ketua, di samping itu boleh diadakan empat kursi wakil ketua dan masing-masing dijabat oleh Gak-siansing, Bok-taysiansing, Lenghou-siauhiap dan ... dan Giok-seng-cu atau Giok-im-cu Totiang, terserah kepada pilihan orang Thay-san-pay sendiri."

"Giok-ki-cu kan belum lagi mampus dia baru buntung tangannya dan kutung sebelah kakinya, mengapa kalian lantas menyingkirkan dia?"

Seru Tho-ki-sian.

"Ya, bertanding saja untuk berebut menjadi juara, siapa yang menang, dia yang menjadi ketua!"

Teriak Tho-yap-sian. Maka beribu-ribu orang Kangouw lantas ikut-ikut berteriak.

"Benar, benar! Bertanding saja untuk menentukan juara!"

Lenghou Tiong pikir kalau Co Leng-tan tidak dijatuhkan lebih dulu sehingga pihak Ko-san-pay putus harapan sukarlah bagi orang lain untuk mencalonkan diri sebagai ketua Ngo-gak-pay.

Maka dengan pedang terhunus ia lantas maju ke tengah, serunya.

"Co-siansing, sesuai kehendak orang banyak, marilah kita berdua mulai coba-coba dahulu."

Menurut perhitungan Lenghou Tiong, ilmu pedang sendirinya masih sanggup mengatasi lawan, tapi kalau bertanding pukulan, maka dirinya sukar melawan Im-han-ciang-lik (pukulan dengan hawa dingin) Co Leng-tan yang lihai, hal ini terbukti Yim Ngo-heng saja kecundang di Siau-lim-si tempo hari.

Seumpama ilmu pedang sendiri juga tak bisa mengalahkan lawan, paling sedikit tenaga lawan akan banyak diperas, habis itu Gak Put-kun baru turun kalangan dan tentu besar harapan untuk merobohkan Co Leng-tan.

Begitulah segera Lenghou Tiong ayun pedangnya dan berseru pula.

"Co-siansing, setiap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita mahir memainkan pedang, biarlah kita menentukan kalah menang pada senjata ini!"

Dengan ucapan ini ia sudah mendahului menutup jalan mundur Co Leng-tan agar ketua Ko-san-pay itu tidak mengajaknya bertanding ilmu pukulan dan lain-lain.

Maka ramailah orang bersorak menyatakan setuju dan berteriak-teriak minta pertandingan lekas dimulai.

Karena suara sendiri disokong orang banyak, dengan senang Lenghou Tiong berseru pula.

"Co-siansing, hayolah maju! Jika kau enggan bertanding pedang dengan Cayhe, ya boleh juga, silakan mengumumkan di depan umum bahwa kau mengundurkan diri dari pencalonan ketua Ngo-gak-pay ini!"

"Hayo maju! Hayo bertanding!!"

Demikian orang banyak berteriak-teriak pula.

"Yang tidak berani bertanding bukanlah kesatria! Tapi, babi! Anjing!"

Demikian sambung yang lain. Di tengah suara ribut-ribut itu tiba-tiba suara seorang yang nyaring lantang berkumandang.

"Jika para hadirin sudah menghendaki pemilihan ketua Ngo-gak-pay ditentukan secara bertanding, maka kita pun tidak dapat mengabaikan harapan orang banyak."

Pembicara ini kiranya Gak Put-kun adanya.

"Ucapan Gak-siansing, memang tidak salah!"

Sambut orang banyak.

"Hayo bertanding! Lekas dimulai!"

"Bertanding untuk berebut juara memang juga suatu cara yang lazim,"

Kata Gak Put-kun.

"cuma asas penggabungan Ngo-gak-kiam-pay kita sebenarnya untuk mengurangi pertengkaran serta mencari kedamaian di antara sesama kawan Bu-lim. Sebab itu kalau pertandingan dilangsungkan, sebaiknya dibatasi hanya pada persentuhan saja sudah cukup, begitu sudah terang antara yang menang dan kalah harus segera berhenti, sekali-kali tidak boleh melukai apalagi mencelakai jiwa lawan. Seperti meninggalnya Thian-bun Totiang dan terlukanya Giok-ki Totiang tadi sungguh sangat kusesalkan."

Karena apa yang dikatakan Gak Put-kun cukup beralasan, seketika suasana menjadi sunyi. Sejenak kemudian seorang hadirin barulah berteriak.

"Pertandingan dibatasi memang baik, namun senjata tidak bermata, bila terjadi melukai atau membinasakan, ya anggap saja dirinya sendiri yang sial dan jangan salahkan pihak lain!"

"Benar!"

Sambung seorang lagi.

"Kalau takut mati dan khawatir luka, lebih baik tinggal di rumah dan mengeloni bininya saja, buat apa susah-susah ikut hadir ke sini?"

Maka bergemuruhlah suara tertawa orang banyak.

"Namun demikian, kukira pertandingan tetap berlangsung secara persahabatan saja,"

Kata Gak Put-kun.

"Cayhe mempunyai beberapa pendapat dan akan kuminta pertimbangan para hadirin."

"Ah, lekas mulai berhantam saja, omong apa lagi?"

Teriak seorang.

"Jangan ngaco! Dengarkan dulu apa yang hendak diuraikan Gak-siansing!"

Seru seorang lain.

"Siapa yang ngaco? Pulang saja tanya pada emakmu!"

Jawab orang pertama tadi. Kontan pihak lain balas memaki, maka terjadilah perang mulut dengan kata-kata dan istilah-istilah yang kotor.

"Bahwasanya siapa-siapa yang memenuhi syarat untuk ikut bertanding perlu diadakan suatu ketentuan ...."

Demikian Gak Put-kun membuka suara pula sehingga perang mulut di sebelah sana terhenti seketika. Lalu Gak Put-kun melanjutnya.

"Bertanding untuk menentukan juara, jelas juara ini bukanlah gelar ‘jago nomor satu’ di dunia ini, tapi juara untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay nanti. Oleh sebab itu yang ada hak ikut bertanding hanya terbatas anggota-anggota Ngo-gak-kiam-pay saja, orang luar biarpun punya kepandaian setinggi langit juga dilarang ikut."

"Betul, betul! Kalau bukan anggota Ngo-gak-pay dilarang ikut bertanding!"

Seru orang banyak.

"Adapun mengenai cara bagaimana pertandingan harus dilakukan dalam suasana persahabatan, untuk ini silakan Co-siansing memberi komentar,"

Kata Gak Put-kun pula.

"Kukira Gak-siansing tentu sudah punya cara-cara yang baik, silakan bicara saja,"

Sahut Co Leng-tan dengan nada kaku.

"Cayhe berpendapat ada lebih baik kita minta tokoh-tokoh terhormat seperti Hong-ting Taysu, Tiong-hi Totiang, Pangcu dari Kay-pang, Ih-koancu dari Jing-sia-pay dan lain-lain agar sudi menjadi wasit. Siapa yang menang dan siapa yang kalah kita percayakan kepada para juri. Kita hanya menentukan kalah menang saja dan tidak menentukan hidup dan mati."

"Siancay! Siancay!"

Hong-ting Taysu bersabda.

"Hanya menentukan kalah menang dan tidak menentukan mati dan hidup. Kalimat ini saja sudah menghapuskan banyak kemungkinan-kemungkinan banjir darah yang akan menimpa. Entah bagaimana dengan pendapat Co-siansing?"

"Kukira dari setiap aliran Ngo-gak-kiam-pay masing-masing hanya boleh menampilkan seorang jago saja,"

Kata Co Leng-tan.

"Kalau tidak, nanti beratus-ratus orang ingin bertanding semua, lalu akan bertanding sampai kapan baru dapat selesai?"

Di antara hadirin-hadirin itu tentu saja banyak yang ingin melihat keributan, kalau pertandingan hanya dilakukan di antara lima jago saja dari kelima aliran itu tentu kurang seru.

Tapi anak murid Ko-san-pay sudah lantas bersorak menyokong pendirian ketuanya, terpaksa para hadirin juga berteriak akur.

Tapi tiba-tiba Tho-ki-sian berseru.

"Nanti dulu! Ketua Thay-san-pay adalah Giok-ki-cu, apakah kita membiarkan seorang yang sudah buntung demikian ikut dalam pertandingan?"

"Biarpun buntung dan tinggal satu kaki, dia kan masih bisa meloncat untuk menyepak dengan kaki tunggalnya?"

Kata Tho-yap-sian. Maka kembali bergemuruhlah suara tertawa orang banyak. Giok-im-cu dari Thay-san-pay menjadi gusar, teriaknya.

"Kalian berenam setan alas inilah yang membikin cacat Suhengku, sekarang kalian mengolok-olok beliau pula. Kukira kalian sepantasnya juga dibikin buntung semua. Hayolah, kalau berani coba maju untuk bertanding dengan tuanmu!"

Habis berkata ia terus tampil ke muka dengan pedang terhunus.

"Apakah kau mewakili Thay-san-pay dalam perebutan juara ini?"

Tanya Tho-ki-sian.

"Kau dipilih oleh kawan-kawanmu atau kau sendiri yang tampil ke muka?"

Tho-yap-sian menambahkan.

"Peduli apa dengan kau?"

Sahut Giok-im-cu dengan gusar.

"Tentu saja peduli,"

Jawab Tho-yap-sian.

"Tidak saja peduli, bahkan sangat peduli. Sebab kalau kau yang mewakilkan Thay-san-pay dalam pertandingan ini, bila nanti kau kalah, maka Thay-san-pay tidak boleh mengajukan jago lain?"

Tanya Giok-im-cu. Tiba-tiba seorang tokoh Thay-san-pay yang lain berseru.

"Kami belum lagi menerima syarat bertanding dengan jago tunggal. Kalau Giok-im Sute kalah, dengan sendirinya Thay-san-pay masih boleh mengajukan jago pilihan lain."

Pembicara ini ialah Giok-seng-cu, suheng Giok-im-cu.

"Haha, jago Thay-san-pay yang lain mungkin adalah saudara sendiri?"

Kata Tho-hoa-sian setengah mengejek.

"Benar, memangnya adalah kakekmu ini,"

Jawab Giok-seng-cu ketus.

"Nah-nah, coba lihatlah, para hadirin! Kembali orang-orang Thay-san-pay ribut urusan dalam lagi!"

Seru Tho-sit-sian.

"Baru saja Thian-bun Tojin tewas, kemudian Giok-ki-cu terluka parah, sekarang Giok-seng-cu dan Giok-im-cu ini sudah saling bertengkar dan berebut menjadi pemimpin Thay-san-pay."

Ucapan Tho-sit-sian sebenarnya tepat mengenai isi hati Giok-seng-cu dan Giok-im-cu. Tapi Giok-im-cu pura-pura mengomel.

"Hm, ngaco-belo!"

Sebaliknya Giok-seng-cu hanya tertawa dingin saja tanpa bicara.

"Sebenarnya pihak Thay-san-pay akan diwakili oleh siapa dalam pertandingan ini?"

Tanya Tho-hoa-sian pula.

"Aku!"

Seru Giok-im-cu dan Giok-seng-cu berbareng.

"Aneh, kenapa kalian tidak mau saling mengalah?"

Ujar Tho-kin-sian.

"Baiklah, boleh kalian saling gebrak lebih dulu, coba siapa yang lebih tangguh. Percuma bertengkar dengan mulut, tentukan saja dengan berkelahi!"

Dengan aseran Giok-seng-cu melangkah maju dan berseru kepada Giok-im-cu.

"Sute, kau mundur saja, jangan menimbulkan tertawaan orang lain!"

"Kenapa akan ditertawakan orang?"

Jawab Giok-im-cu.

"Giok-ki Suheng terluka parah, adalah pantas jikalau aku ingin menuntut balas baginya."

"Tujuanmu hendak menuntut balas atau ingin berebut menjadi juara?"

Giok-seng-cu menegas.

"Hah, hanya dengan sedikit kepandaian kita saja masakah sesuai untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay?"

Jengek Giok-im-cu.

"Kukira kau jangan mimpi di siang bolong. Segenap anggota Thay-san-pay kita sudah jelas mendukung Co-ciangbun dari Ko-san-pay sebagai calon ketua, buat apa kita berdua ikut-ikut membikin malu di depan umum?"

"Jika demikian silakan kau mundur saja. Sebagai tertua, pimpinan Thay-san-pay sekarang kupegang,"

Kata Giok-seng-cu.

"Meski kau terhitung tertua di antara orang Thay-san-pay sekarang, tapi segala perbuatanmu dan tingkah lakumu selama ini sukarlah diterima orang. Apakah kau kira anggota-anggota Thay-san-pay kita mau tunduk kepada pimpinanmu?"

Tanya Giok-im-cu.

"Apa artinya dengan ucapanmu ini?"

Bentak Giok-seng-cu dengan bengis.

"Kau berani kepada orang yang lebih tua, apakah kau lupa pada pasal pertama dari undang-undang perguruan kita?"

"Haha, janganlah kau lupa bahwa saat ini kita adalah sama-sama anggota Ngo-gak-pay,"

Jawab Giok-im-cu.

"Kita masuk Ngo-gak-pay pada hari, bulan, tahun dan saat yang sama, berdasar apa kau anggap kau lebih tua dariku? Undang-undang perguruan Ngo-gak-pay belum lagi disusun, berdasar apa kau tunjuk pasal satu dan pasal berapa segala? Sedikit-sedikit kau suka tonjolkan undang-undang perguruan Thay-san-pay untuk menindas kawan sendiri, cuma sayang sekarang Thay-san-pay sudah hapus, yang ada hanya Ngo-gak-pay."

Giok-seng-cu tak bisa mendebat lagi, saking gusarnya dia hanya berjingkrak sambil tuding Giok-im-cu dan berkata.

"Kau ... kau ... kau ...."

"Hayolah maju, labrak saja! Kenapa omong doang? Habis berhantam baru jelas siapa yang tertua!"

Teriak para penonton yang ingin lihat perkelahian.

"Hayo, bae Giok-im, seratus perak!"

Seru seorang penonton.

"Apit, pegang bawah!"

Seorang lagi menanggapi dengan lagak seorang botoh jago.

"Lima belasan, pegang atas!"

Yang duluan menanggapi lagi.

Menurut istilah adu jago (ayam jantan), bae artinya memihak, memegang pihak yang dipilih.

Apit artinya jumlah taruhan dua lawan satu, seratus perak lawan dua ratus perak.

Lima belasan artinya 15 lawan 10.

Begitulah jiwa manusia pada umumnya kalau melihat ada pertengkaran bukannya memisah, melerai, tapi malah menyirami minyak dan membakar.

Tapi meski badan sampai gemetar saling gusar Giok-seng-cu tetap tidak berani maju.

Kiranya Giok-seng-cu ini biarpun terhitung sang suheng, tapi biasanya dia suka tenggelam di tengah minuman keras dan main perempuan, sebab itulah ilmu pedangnya banyak mundur dan kalah kuat daripada Giok-im-cu.

Dengan dileburnya Ngo-gak-kiam-pay menjadi Ngo-gak-pay memangnya Giok-seng-cu dan Giok-im-cu juga tidak berani mengimpikan buat ikut berebut menjadi ketua, sebab mereka sadar kepandaian mereka masih jauh dibandingkan Co Leng-tan.

Mereka sudah puas bila sekembalinya ke Thay-san nanti dapat diangkat menjadi pemimpin Thay-san-pay untuk menggantikan Thian-bun dan Giok-ki yang sudah tewas dan cacat itu Tapi sekarang di bawah hasutan orang banyak mereka berdua sampai-sampai bertengkar sendiri, Giok-seng-cu tidak berani sembarangan bergebrak, cuma ia pun tidak rela menyerah kepada sang sute di depan umum.

Karena itu seketika keadaan menjadi lucu tampaknya.

Sekonyong-konyong suara seorang melengking tajam berkata.

"Huh, kulihat inti ilmu silat Thay-san-pay sedikit pun belum kalian kuasai, tapi kulit muka kalian toh begitu tebal buat bertengkar di sini sehingga waktu penting terbuang percuma."

Waktu semua orang berpaling ke arah pembicara, kiranya seorang pemuda yang jangkung dan tampan, hanya saja air mukanya rada pucat, ialah Lim Peng-ci dari Hoa-san-pay.

Segera orang yang kenal dia lantas berseru.

"Itulah menantu baru Gak-siansing dari Hoa-san-pay!"

Lenghou Tiong juga terkesiap, ia tahu sifat Lim Peng-ci biasanya sangat pendiam, tidak suka banyak bicara, tak terduga sifatnya itu sekarang sudah berubah sehingga berani mengolok-olok orang di depan umum.

Namun Lenghou Tiong juga tidak suka kepada Giok-im-cu dan Giok-seng-cu yang bersama Giok-ki-cu tadi telah mengakibatkan kematian Thian-bun Tojin, maka ia pun merasa senang atas sindiran Lim Peng-ci terhadap kedua jago Thay-san-pay itu.

Terdengar Giok-im-cu menjawab.

"Aku belum menguasai sama sekali inti ilmu silat Thay-san-pay kami, memangnya saudara sendiri yang menguasai? Kalau begitu silakan saudara coba-coba mainkan beberapa jurus ilmu silat Thay-san-pay agar dimaklumi oleh para kesatria yang hadir di sini."

Berulang-ulang ia sengaja mengucapkan kata-kata "Thay-san-pay"

Dengan suara keras, maksudnya hendak mengolok-olok Lim Peng-ci yang dikenal sebagai murid Hoa-san-pay masakah berani ikut bicara tentang ilmu silat dari perguruan lain.

Tak terduga Peng-ci lantas menjengek, jawabnya.

"Ilmu silat Thay-san-pay sangat luas dan dalam, mana bisa dipahami oleh murid murtad macam kau yang mencelakai saudara seperguruan sendiri dengan bersekongkol dengan orang luar ...."

"Peng-ci!"

Bentak Gak Put-kun tiba-tiba.

"Giok-im Totiang adalah kaum cianpwe, jangan kau kurang ajar!"

Terpaksa Peng-ci mengiakan dan berhenti bicara. Dengan gusar Giok-im-cu lantas berkata terhadap Gak Put-kun.

"Gak-siansing, bagus sekali murid didikanmu dan mantu kesayanganmu ini! Sampai-sampai ilmu silat Thay-san-pay berani dia sembarangan mengoceh dan menilainya."

"Dari mana kau tahu dia sembarangan mengoceh?"

Tiba suara seorang perempuan menyela.

Maka muncul ke depan seorang nyonya muda dengan gaun yang panjang, pada sanggulnya tersunting setangkai bunga merah dan kecil.

Siapa lagi dia kalau bukan Gak Leng-sian.

"Ini, dengan ilmu pedang Thay-san-pay juga akan kucoba bagaimana kepandaianmu,"

Kata Leng-sian pula sambil memegang gagang pedangnya yang melintang ke belakang punggungnya.

Giok-im-cu mengenalnya sebagai anak perempuan Gak Put-kun, diketahui pula bahwa Gak Put-kun telah menyetujui peleburan Ngo-gak-kiam-pay dan cukup dihargai oleh Co Leng-tan, maka terhadap Leng-sian ia tidak berani sembarangan bertindak kasar.

Dengan tersenyum ia menjawab.

"Ah, pada hari bahagia nona Gak, sungguh menyesal aku tidak sempat hadir untuk menyampaikan selamat, apakah karena itu nona telah marah padaku? Tentang ilmu pedang Hoa-san-pay kalian memang sangat kukagumi. Tapi bahwasanya murid Hoa-san-pay juga mahir ilmu pedang Thay-san-pay, wah, sungguh baru kudengar sekarang ini."

Dengan menarik alisnya yang lentik, dengan air muka menghina Leng-sian berkata.

"Ayahku ingin menjadi ketua Ngo-gak-pay, dengan sendirinya setiap ilmu pedang dari kelima aliran harus dipelajarinya, kalau tidak cara bagaimana beliau sanggup memimpin Ngo-gak-pay nanti?"

Ucapan Leng-sian ini seketika membikin para kesatria menjadi gempar. Segera ada yang berteriak.

"Apakah mungkin Gak-siansing juga mahir ilmu pedang dari keempat aliran lain?"

Gak Put-kun lantas berseru.

"Ah, anak perempuanku suka membual saja, omongan anak kecil janganlah kalian anggap sungguh-sungguh."

Tapi Leng-sian segera berkata pula.

"Co-supek, jika kau mampu mengalahkan kami dengan ilmu pedang keempat aliran kami, dengan sendirinya kami akan tunduk dan angkat kau sebagai ketua Ngo-gak-pay. Sebaliknya kalau kau hanya mengandalkan ilmu pedang Ko-san-pay melulu, sekalipun kau dapat mengalahkan seluruh seterumu, paling-paling hanya ilmu pedang Ko-san-pay saja yang terkenal."

Para hadirin pikir apa yang dikatakan Leng-sian memang tidak salah.

Kalau orang mahir ilmu pedang dari kelima aliran, sudah tentu orang ini pula paling cocok untuk menjadi ketua Ngo-gak-pay.

Akan tetapi ilmu pedang setiap aliran itu adalah hasil ciptaan tokoh-tokoh aliran masing-masing dari angkatan tua turun-temurun selama beratus-ratus tahun, jangankan mahir kesemua ilmu pedang aliran-aliran itu, melulu ilmu pedang suatu aliran saja sukar dipelajari hingga masak dan mendalam betul.

Namun Co Leng-tan mempunyai cara berpikir sendiri.

Ia curiga mengapa anak perempuan Gak Put-kun berani omong besar demikian?

Di balik ini tentu ada tujuan tertentu.

Ia pun sangsi jangan-jangan Gak Put-kun yang juga kemaruk kedudukan itu berniat berebut jabatan ketua Ngo-gak-pay dengan dia.

Didengarnya Giok-im-cu sedang berkata.

"Wah, kiranya Gak-siansing telah mahir menyelami inti ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay, ini benar-benar suatu peristiwa besar yang belum pernah terjadi dalam sejarah dunia. Maka biarlah aku saja yang mulai minta nona Gak memberi petunjuk-petunjuk tentang ilmu pedang Thay-san-pay."

"Baik sekali!"

Jawab Leng-sian.

"Sret", segera ia lolos pedangnya. Keruan Giok-im-cu sangat mendongkol. Pikirnya.

"Dengan ayahmu saja aku lebih tua satu angkatan, masakah anak perempuan macam kau juga berani lolos senjata terhadapku?"

Semula ia menyangka Gak Put-kun tentu akan mencegah perbuatan anak perempuannya, sebab di antara tokoh-tokoh Hoa-san-pay hanya Gak Put-kun dan istrinya saja yang pantas menjadi lawannya.

Tak terduga Gak Put-kun hanya geleng-geleng kepala saja, katanya dengan menyesal.

"Sungguh anak perempuan yang tidak tahu tebalnya bumi dan tingginya langit, Giok-im dan Giok-seng berdua Locianpwe adalah tokoh-tokoh kelas utama Thay-san-pay, kau sendiri yang mencari penyakit jika bermaksud melawannya dengan ilmu pedang Thay-san-pay mereka."

Ketika Giok-im-cu melirik, dilihatnya pedang di tangan kanan Gak Leng-sian menuding miring ke bawah, jari-jari tangan kiri sedang bertekuk-tekuk seperti orang lagi menghitung-hitung.

Giok-im-cu terkejut dan heran dari mana anak perempuan ini paham jurus "Thay-cong-ji-ho", suatu jurus ilmu pedang Thay-san-pay yang paling tinggi.

Intisari jurus ini tidak terletak kepada serangan pedang, tapi dalam hal perhitungan letak tempat musuh, perawakan musuh dan panjang atau pendek senjata yang digunakan musuh dan macam-macam faktor lain.

Perhitungannya sangat ruwet, tapi bila perhitungan sudah tepat, sekali serang tentu kena.

Pernah Giok-im-cu mendapat ajaran jurus ini dari gurunya, tapi ia sadar bahwa dirinya tidak sanggup menyelami jurus yang pakai perhitungan tinggi itu, maka waktu itu ia tidak pernah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, sebaliknya sang guru juga tidak paksa dia berlatih lebih lanjut, rupanya gurunya sendiri juga tidak mahir terhadap jurus itu.

Karena dirinya tidak diharuskan berlatih jurus yang sukar itu, tentu saja Giok-im-cu merasa kebetulan.

Sejak itu ia pun tidak pernah melihat orang Thay-san-pay sendiri memainkan jurus itu.

Tak terduga peristiwa yang sudah berselang puluhan tahun itu, kini mendadak jurus itu dilihatnya dimainkan oleh seorang nyonya muda sebagai Gak Leng-sian, bahkan orang yang bukan anggota Thay-san-pay.

Keruan ia menjadi gelisah dan keluar keringat.

Biasanya orang yang kepepet tentu akan timbul akal, ia membatin.

"Bila aku cepat berganti tempat, lalu lompat ke sini dan loncat ke sana, dengan sendirinya perhitungannya akan selalu meleset."

Begitulah segera ia menggeser ke sana, lalu putar balik dan menyerang dengan jurus "Long-gwat-bu-in" (terang bulan tanpa mega), tapi tusukannya belum mencapai sasaran segera ia menggeser dan menyerang pula dengan cepat.

Sambil bergerak, yang diperhatikan Giok-im-cu hanya jari-jari Leng-sian yang bergerak-gerak menghitung itu.

Ia masih ingat ucapan gurunya dahulu bahwa jurus "

Thay-cong-ji-ho (cara menghitung dengan pasti) merupakan inti ilmu pedang Thay-san-pay, sekali serang pasti kena, membunuh orang tanpa terasa.

Kalau sudah mencapai taraf demikian, maka boleh dikata sudah mencapai tingkat yang sempurna.

Bab 115.

Gak Leng-sian Menjagoi Gelanggang Pertandingan Karena itu Giok-im-cu tidak berani sembarangan melakukan serangan maut, sebab takut kalau pihak lawan juga melakukan serangan mematikan.

Lama-lama ia tambah khawatir dan berkeringat dingin.

Sementara itu ia sudah hampir selesai memainkan ilmu pedangnya, mendadak Leng-sian putar pedangnya dengan cepat, beruntun-runtun ia melancarkan lima kali serangan.

"Ngo-tay-hu-kiam!"

Seru Giok-seng-cu yang masih berdiri di samping.

Mendengar orang dapat menyebut nama jurus serangannya, sekonyong-konyong Leng-sian miringkan tubuhnya ke samping, pedang terus menusuk Giok-seng-cu sambil berseru.

"Apakah ini pun ilmu pedang Thay-san-pay kalian?"

Cepat Giok-seng-cu menangkis dengan pedangnya sambil menjawab.

"Mengapa bukan? Ini adalah jurus Lay-hong-jing-coan!"

"Bagus jika kau pun mengetahuinya!"

Seru Leng-sian.

"Sret", pedangnya membalik dan menebas Giok-im-cu.

"Ini Sik-koan-hwe-ma!!"

Giok-seng-cu menyebut pula nama jurus serangan Leng-sian.

"Hafal juga kau akan nama-nama ilmu pedang ini,"

Ujar Leng-sian. Berbareng pedangnya berkelebat.

"sret-sret-sret" , tiga kali, kontan terdengar Giok-im-cu menjerit, dadanya telah tertusuk. Giok-seng-cu juga tampak sempoyongan, akhirnya sebelah kaki tertekuk dan berlutut ke bawah, lekas-lekas ia menahan tubuhnya dengan batang pedang. Tapi terlalu keras ia menggunakan tenaga, ujung pedang menahan di atas sepotong batu pula, maka terdengar suara "pletak", pedang patah menjadi dua. Terdengar mulut Giok-seng-cu sempat menggumam.

"Gway-hoat-sam!"

Leng-sian tertawa dingin dan tidak menyerang lebih lanjut, ia simpan kembali pedangnya.

Sementara itu para penonton sudah bersorak gemuruh.

Sungguh luar biasa, seorang nyonya muda mengalahkan dua tokoh Thay-san-pay hanya dalam beberapa jurus, bahkan menggunakan ilmu pedang Thay-san-pay sendiri.

Co Leng-tan saling pandang dengan beberapa kawannya, mereka pun sama bersangsi dan heran.

Yang dimainkan anak perempuan ini memang benar ilmu pedang Thay-san-pay yang hebat dan jarang terlihat.

Walaupun permainannya tampak kurang murni, namun jurus-jurus serangan yang ganas dan terlatih itu pasti bukan hasil pemikiran anak perempuan ini, besar kemungkinan adalah hasil peyakinan Gak Put-kun.

Padahal untuk meyakinkan ilmu pedang setinggi ini entah memerlukan waktu berapa lama.

Dari sini dapat dibayangkan betapa jauh rencana dan maksud tujuan Gak Put-kun menghadapi persoalan ini.

Lenghou Tiong juga terkesiap dan bingung melihat cara Gak Leng-sian merobohkan lawan-lawannya itu.

Tiba-tiba ada orang membisikinya dari belakang.

"Lenghou-kongcu, apakah kau yang mengajarkan jurus-jurus itu kepada Nona Gak?"

Ketika berpaling, Lenghou Tiong melihat yang bicara itu adalah Dian Pek-kong. Maka ia menjawabnya dengan menggeleng.

"Dahulu ketika kau bergebrak dengan aku di puncak Hoa-san, aku masih ingat kau pun pernah menggunakan jurus Lay-ho... apa tadi, cuma waktu itu kau belum menguasai dengan baik,"

Kata Dian Pek-kong dengan tersenyum.

Lenghou Tiong tidak menjawabnya, ia sedang termenung-menung bingung.

Begitu Gak Leng-sian mulai menyerang tadi segera ia dapat melihatnya bahwa apa yang dimainkan Leng-sian itu adalah ilmu pedang Thay-san-pay yang pernah dilihatnya di dalam gua di puncak Hoa-san dahulu.

Padahal apa yang pernah dilihatnya itu tidak pernah diberitahukannya kepada orang lain, ketika meninggalkan gua itu ia pun ingat betul-betul telah menutup lubang gua dengan batu, lalu cara bagaimana Gak Leng-sian dapat menemukannya?

Tapi lantas terpikir pula olehnya, kalau dirinya dapat menemukan gua itu, mengapa Leng-sian tidak dapat?

Apalagi lubang gua itu tentu akan lebih memudahkan diketemukan oleh siausumoaynya.

Dalam pada itu tertampak seorang tua kurus maju ke tengah dan berkata.

"Kiranya Gak-siansing telah mahir setiap ilmu pedang Ngo-gak-kiam-pay, sungguh suatu peristiwa besar yang belum pernah terjadi di dunia persilatan. Selama aku meyakinkan ilmu pedang aliran sendiri, ada beberapa tempat sulit yang belum kupecahkan, maka kebetulan hari ini dapat kuminta petunjuk-petunjuk kepada Gak-siansing."

Habis berkata, dari rebab yang dipegang di tangan kiri itu diloloskan sebatang pedang pandak yang mengilap.

Orang tua ini adalah Bok-taysiansing dari Heng-san-pay.

Dengan memberi hormat Gak Leng-sian lantas menanggapi.

"Harap Bok-supek maklum, Titli (anak keponakan) hanya belajar beberapa jurus ilmu pedang Heng-san-pay yang tak berarti, mohon Bok-supek sudi memberi petunjuk-petunjuk seperlunya."

Padahal Bok-taysiansing tadi mengatakan "hari ini kebetulan dapat minta petunjuk-petunjuk kepada Gak-siansing" , jadi yang ditantang adalah Gak Put-kun, siapa duga Gak Leng-sian yang lantas terima tantangannya itu, bahkan menyatakan akan menggunakan ilmu pedang Heng-san-pay malah.

Bok-taysiansing melengak, tapi lantas menjawab dengan tersenyum.

"Wah, bagus, bagus! Hebat, hebat!"

Habis itu pedangnya yang pendek itu perlahan-lahan menjulur ke depan, sekonyong-konyong ia menyendal sedikit pedangnya dan seketika menerbitkan suara mendengung.

Menyusul mana pedangnya lantas bergerak dan berbunyi "ngung-ngung"

Dua kali.

Cepat Leng-sian menangkis.

Namun pedang Bok-taysiansing itu berkelebat secepat kilat, tahu-tahu ia pun sudah mengitar ke belakang Leng-sian.

Lekas-lekas Leng-sian memutar tubuh, terdengar suara mendengung lagi dua kali, maka tertampaklah secomot rambut melayang jatuh ke tanah.

Ternyata rambut sendiri telah kena dikupas sepotong oleh Bok-taysiansing.

Keruan Leng-sian terkejut.

Tapi cepat ia dapat berpikir bahwa Bok-taysiansing tidak bermaksud mencelakainya, kalau mau tentu serangan tadi sudah membinasakannya.

Kalau lawan tak mau mencelakainya, tentu saja kebetulan baginya.

Segera Leng-sian melancarkan serangan dua kali ke atas dan ke bawah tanpa menghiraukan lagi serangan lawan.

Bok-taysiansing terkesiap juga oleh serangan Leng-sian itu.

Dua jurus serangan itu memang betul gaya ilmu pedang Heng-san-pay yang lihai.

Ia heran dari mana anak perempuan ini dapat mempelajarinya?

Namun sedikit pun ia tidak ayal, pedangnya bergerak dengan cepat untuk bertahan, tapi lama-lama ia pun kewalahan.

Maklum, Leng-sian sudah ambil keputusan hanya menyerang tanpa menghiraukan diserang.

Ia mengetahui Bok-taysiansing takkan mencelakainya, maka yang diutamakan hanya melancarkan serangan dengan jurus-jurus yang lihai.

Sebaliknya Bok-taysiansing mau tak mau harus meladeni serangan Leng-sian, dan karena harus meladeni, sukarlah baginya untuk melepaskan diri.

Pedang kedua orang berkelebat sama cepatnya, terdengar suara "crang-creng"

Berulang-ulang, para penonton sampai tidak tahu siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan, tak tahu pula berapa jurus pertarungan kedua orang itu sudah berlangsung.

Sampai pada puncaknya, dengan susah payah Bok-taysiansing dapat menangkis suatu jurus serangan Leng-sian, tapi terpaksa harus melompat mundur oleh serangan lain yang disebut "Thian-cu-in-gi" (Awan Mengelilingi Pilar), Bok-taysiansing menyadari tidak mampu menangkis serangan lihai ini, terpaksa ia melompat ke samping sambil putar pedangnya secepat kilat, padahal pedangnya sama sekali tidak sanggup buat balas menyerang, tujuannya hanya untuk mengaburkan pandangan penonton dan untuk menutupi keadaan sendiri yang konyol itu.

Dalam keadaan demikian terdengar Leng-sian tertawa dan berkata.

"Ah, terima kasih atas kesudian Bok-supek mengalah kepada Titli!"

Maka jelaslah hasil pertarungan yang telah berlangsung itu, betapa pun Bok-taysiansing harus mengakui keunggulan lawan.

Tapi dasarnya Leng-sian memang kurang pengalaman, ia menjadi ragu-ragu dan merandek, tidak bicara juga tidak melancarkan serangan susulan.

Sebagai seorang yang kenyang asam garam dunia Kang-ouw, tentu saja Bok-taysiansing tidak sia-siakan kesempatan baik itu, segera pedangnya bergerak pula dan menerbitkan suara mendengung, kembali menubruk maju.

Beberapa serangan kilat ini menggunakan segenap kekuatan Bok-taysiansing yang diyakinkan selama ini, dalam sekejap saja Leng-sian sudah terbungkus di dalam sinar pedangnya.

Leng-sian berseru khawatir sambil mundur beberapa langkah.

Tapi Bok-taysiansing tidak mau mengulangi kesalahannya tadi, ia tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk balas menyerang.

Makin lama makin cepat pedangnya menyambar, sekalipun jago kelas wahid juga sukar melihat jelas arah serangannya.

Karena itu para penonton menjadi berkhawatir bagi Leng-sian, ada pula yang gegetun akan kehebatan ilmu pedang Bok-taysiansing.

Dalam pada itu Lenghou Tiong masih termenung-menung terhadap jurus-jurus serangan Leng-sian tadi.

Ia tidak habis paham, mengapa siausumoaynya itu mahir menggunakan ilmu silat yang terukir di dinding gua itu, apakah memang benar gua itu telah ditemukan olehnya?

Sedang melamun, seorang laki-laki berewok mendekatinya serta menegurnya perlahan.

"Apa yang lagi kau pikirkan?"

"O, aku... aku...."

Lenghou Tiong tersentak kaget dari lamunannya.

Pada saat itulah terdengar jeritan Leng-sian, pedangnya mencelat ke udara, sebelah kakinya terpeleset dan jatuh terduduk.

Ujung pedang Bok-taysiansing tampak mengarah ke bahu kanan Leng-sian sambil berkata.

"Jangan khawatir Titli yang baik, silakan bangun!"

Tapi mendadak terdengar suara "pletak"

Satu kali, pedang Bok-taysiansing itu patah bagian tengah.

Kiranya Leng-sian telah jemput dua potong batu, pedang Bok-taysiansing ditimpuk dengan batu yang satu sehingga patah, menyusul batu yang lain terus disambitkan ke samping.

Dalam keadaan senjata patah, Bok-taysiansing melengak kaget dan bingung pula melihat Leng-sian menyambitkan batunya ke arah lain.

Tak terduga mendadak iganya lantas kesakitan, rupanya batu yang disambitkan ke samping itu mendadak memutar balik dan tepat mengenai tulang iga sehingga patah tulang.

Kontan darah tersembur dari mulutnya.

Beberapa kali serang-menyerang ini sungguh berubah dengan sangat cepat, Leng-sian terjatuh, batu melayang, pedang patah, menyusul Bok-taysiansing muntah darah, para penonton sampai melongo karena kejadian-kejadian itu teramat cepat untuk diikuti.

Menyusul tertampak sinar pedang berkelebat, pedang Leng-sian yang mencelat ke atas tadi telah jatuh dan menancap di samping Bok-taysiansing dan hampir-hampir menancap tubuhnya Para penonton telah menyaksikan dengan jelas bahwa setelah Bok-taysiansing menjatuhkan Leng-sian, ia tidak melancarkan serangan habis-habisan melainkan menyuruh Leng-sian jangan takut dan disilakan bangun.

Hal ini menang lazim sebagai orang tua yang telah mengalahkan lawan yang lebih muda.

Akan tetapi serangan Leng-sian dengan dua potong batu dan kontan membuat lawan tak berkutik dan terluka parah itulah yang benar-benar sukar diduga dan susah dielak.

Hanya Lenghou Tiong saja yang tahu bahwa kedua jurus serangan Leng-sian yang terakhir itu pun diperoleh dari ilmu silat yang terukir di dinding gua Hoa-san itu.

Menurut ukiran itu, ketika tokoh Mo-kau mematahkan ilmu pedang Heng-san-pay dahulu, yang digunakan adalah sepasang bandul tembaga dan bukan batu.

Cuma sekarang Leng-sian telah menggunakan batu sebagai pengganti bandul.

Tiba-tiba Gak Put-kun mendekati Leng-sian dan menampar mukanya sekali sambil membentak.

"Kurang ajar! Jelas Bok-supek sengaja mengalah padamu, mengapa kau berani berbuat kasar kepada beliau?"

Lalu ia memapah Bok-taysiansing ke pinggir dan berkata.

"Bok-heng, harap maafkan anak perempuan yang tidak kenal adat itu, sungguh aku sangat menyesal."

"Benar-benar harimau tidak melahirkan anak anjing, sungguh luar biasa,"

Ujar Bok-taysiansing dengan meringis.

Habis berkata kembali darah tersembur dari mulutnya.

Cepat dua anak murid Heng-san-pay berlari mendekatinya dan memayangnya ke tengah rombongannya.

Dengan mata melotot Gak Put-kun mendelik anak perempuannya, lalu mengundurkan diri.

Melihat pipi Leng-sian yang merah terkena tamparan sang ayah, air mata pun meleleh, tapi sikapnya rada bandel, Lenghou Tiong menjadi teringat kepada masa dahulu, bila terkadang Leng-sian nakal dan diomeli ayah-ibunya, sering kali Leng-sian memperlihatkan sikap yang sama seperti sekarang ini.

Lalu untuk menyenangkan hati sang sumoay, sering kali Lenghou Tiong ajak bertanding pedang sang sumoay.

Hal yang paling menyenangkan hati siausumoaynya itu tak lebih daripada menang bertanding.

Maka Lenghou Tiong sengaja pura-pura kalah.

Berpikir sampai di sini, kembali teringat olehnya cara bagaimana Leng-sian bisa mendatangi gua rahasia itu?

Besar kemungkinan sesudah menikah, karena kangen kepada hubungan baiknya dengan aku di waktu yang lampau, lalu dia sengaja naik ke puncak itu untuk mengenangkan pengalaman-pengalaman di waktu lalu, dan karena itu dia dapat menemukan gua itu.

Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah Lim Peng-ci, lalu pikirnya pula.

"Lim-sute baru menikah dengan Siausumoay, sepantasnya dia gembira ria. Tapi mengapa tampaknya dia muram durja? Sebagai suami ia pun tidak menunjukkan perhatiannya terhadap sang istri ketika Leng-sian dihajar oleh ayahnya tadi. Sungguh keterlaluan sikap dinginnya itu."

Berpikir bahwa mungkin terkenang padanya sehingga Leng-sian naik ke puncak Su-ko-keh untuk mengenangkan masa lampau, walaupun hal ini hanya dugaan sendiri, tapi dalam benak Lenghou Tiong sudah timbul bayangan Leng-sian yang sedang menangis sedih dengan penuh penyesalan telah salah menikahi Lim Peng-ci.

Ketika berpaling lagi, dilihatnya Leng-sian sedang menjemput kembali pedangnya dengan air mata bercucuran.

Mendadak darah bergolak di rongga dada Lenghou Tiong, pikirnya.

"Aku akan meledek dia sehingga dari menangis menjadi tertawa."

Dalam pandangan Lenghou Tiong sekarang panggung Hong-sian-tay di puncak Ko-san ini telah berubah menjadi Giok-li-hong di Hoa-san, beribu-ribu hadirin itu dianggapnya seperti pepohonan belaka, yang dia pikirkan melulu sang jantung hati yang sedang menangis sedih lantaran dihajar ayahnya.

Selama hidupnya entah sudah berapa kali ia membujuk dan melucu sehingga sang jantung hati terhibur, lalu tertawa.

Mana boleh sekarang dia tinggal diam?

Karena itu tanpa pikir ia terus melangkah maju dan berseru.

"Siau... Siau...."

Tiba-tiba teringat olehnya bahwa agar bisa menyenangkan hati sang jantung hati harus bertanding sungguh-sungguh untuk kemudian barulah mengalah, maka dengan nada menantang ia berganti suara.

"Kau telah mengalahkan ketua-ketua dari Thay-san-pay dan Heng-san-pay, sudah tentu ilmu pedangmu tidaklah sembarangan. Tapi Hing-san-pay kami tidak dapat terima, apakah kau pun sanggup menandingi aku dengan ilmu pedang Hing-san-pay?"

Perlahan-lahan Leng-sian angkat kepalanya dengan pedang terhunus, sahutnya.

"Kau sendiri pun bukan asli Hing-san-pay, sekarang kau telah menjadi ketua Hing-san-pay, apakah kau pun sudah mahir ilmu pedang aliranmu?"

Sejak Lenghou Tiong diusir dari Hoa-san, sudah beberapa kali ia bertemu dengan Gak Leng-sian, tapi hanya sekali ini saja Leng-sian tidak menggunakan kata-kata pedas dan galak.

Sekonyong-konyong timbul rasa gembira Lenghou Tiong, katanya dalam hati.

"Aku harus berkelahi dengan teliti, supaya dia tidak tahu bahwa aku sengaja mengalah padanya."

Maka jawabnya kemudian.

"Bilang mahir, betapa pun aku tidak berani. Tapi sudah sekian lamanya aku berada di Hing-san, dengan sendirinya aku pun sudah cukup masak meyakinkan pedang Hing-san-pay. Sekarang kita harus sama-sama menggunakan ilmu pedang Hing-san-pay, kalau bukan ilmu pedang Hing-san-pay dianggap kalah. Bagaimana? Jadi?"

Bahwasanya ilmu pedang yang dikuasai Lenghou Tiong jauh lebih tinggi daripada Leng-sian cukup diketahui orang lain.

Namun di dalam hati ia sudah ambil keputusan, bilamana nanti pertandingan sudah berjalan, pada akhirnya dia akan menggunakan Tokko-kiu-kiam untuk mengalahkan Leng-sian, dengan demikian kemenangannya akan dianggap batal dan berbalik dianggap kalah malah.

Cara demikian tentu takkan menimbulkan sangsi orang lain bahwa cara kalahnya itu sengaja dibuat.

Ternyata Leng-sian lantas menjawab.

"Baik, boleh kita mulai!"

Pedangnya berputar setengah lingkaran dan segera menusuk miring ke arah Lenghou Tiong.

Serentak terdengarlah jerit heran anak murid Hing-san-pay.

Nyata mereka sangat kagum terhadap serangan Leng-sian itu.

Ini pun membuktikan bahwa apa yang digunakan Leng-sian memang betul adalah ilmu pedang Hing-san-pay.

Kiranya memang tidak salah bahwa jurus serangan Leng-sian itu adalah jurus ilmu pedang yang pernah dipelajari Lenghou Tiong dari dinding gua Hoa-san itu, jurus serangan ini pun sudah diajarkan Lenghou Tiong kepada anak murid Hing-san-pay.

Dari itu mereka lantas mengenali jurus serangan Gak Leng-sian itu.

Lantaran sudah cukup lama tinggal bersama anak murid Hing-san-pay, ilmu pedang yang pernah dimainkan tokoh-tokoh tertinggi Hing-san-pay seperti Ting-sian, Ting-cing, dan Ting-yat Suthay juga sudah sering dilihatnya dahulu, maka sekarang permainan ilmu pedang Lenghou Tiong dapat berjalan dengan lancar dan tidak malu sebagai ketua Hing-san-pay.

Padahal Lenghou Tiong telah mempelajari Tokko-kiu-kiam yang meliputi inti ilmu silat dari berbagai aliran.

Ilmu pedang yang dia mainkan hanya gayanya saja memperlihatkan kemiripan dengan Hing-san-kiam-hoat, tapi sebenarnya setiap jurusnya rada berbeda daripada apa yang dimiliki Ting-sian Suthay dan lain-lain.

Hal ini sukar diketahui orang luar, hanya Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain dapat melihat perbedaan itu.

Jadi ilmu pedang Hing-san-pay yang dimainkan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian sekarang sama-sama diperoleh dari ukiran di dalam gua rahasia di puncak Hoa-san itu.

Cuma dasar ilmu pedang Lenghou Tiong jauh lebih kuat daripada Leng-sian, pula dia sudah sekian lamanya berdiam di Hing-san sehingga pengetahuannya tentang ilmu silat Hing-san-pay menjadi lebih luas pula.

Maka begitu kedua orang mulai bergebrak, jika Lenghou Tiong tidak sengaja mengalah tentu dalam beberapa jurus saja Leng-sian sudah dikalahkan.

Begitulah kedua orang bergebrak dengan sangat cepat dan kencang, setelah lebih 30 jurus, Leng-sian harus mengulangi kembali jurus serangan yang dipelajarinya dari ukiran di dinding gua itu.

Lenghou Tiong juga melayani dengan sama cepatnya, karena ilmu pedang kedua orang serupa, maka pertandingan berlangsung dengan sangat menarik.

Seorang penonton berkata dengan kagum.

"Bahwasanya Lenghou Tiong dapat memainkan ilmu pedangnya sedemikian bagus adalah jamak karena dia memang ketua Hing-san-pay, tapi Nona Gak adalah orang Hoa-san-pay, mengapa ia pun mahir Hing-san-kiam-hoat?"

"Kau jangan lupa bahwa tadinya Lenghou Tiong adalah murid tertua Gak-siansing, maka jelas Gak-siansing sendiri yang telah mengajarkan ilmu pedang ini, kalau tidak masakan kedua muda-mudi ini dapat bertanding sedemikian seru?"

"Ya, kalau Gak-siansing sudah mahir ilmu pedang Hoa-san-pay, Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay, maka ilmu pedang Ko-san-pay tentu juga mahir. Kuyakin jabatan ketua Ngo-gak-pay tak ada pilihan lain kecuali beliau yang menjabatnya,"

Kata seorang penonton lain pula.

"Ah, juga belum pasti,"

Sahut lagi seorang.

"Ilmu pedang Co-ciangbun dari Ko-san pasti jauh lebih tinggi daripada Gak-siansing. Ilmu silat mengutamakan kualitas dan tidak mementingkan kuantitas. Sekalipun kau mampu memainkan segala macam ilmu silat di dunia ini, tapi kalau pengetahuanmu hanya beberapa jurus cakar kucing saja apa gunanya? Maka aku yakin Co-ciangbun melulu menggunakan Ko-san-kiam-hoat saja pasti sanggup mengalahkan ilmu pedang empat aliran yang dikuasai Gak-siansing."

"Huh, dari mana kau mendapat tahu begitu jelas sehingga kau berani omong besar tanpa malu?"

Omel orang tadi dengan mendongkol.

"Omong besar tanpa malu apa? Jika kau berani, hayolah kita bertaruh 100 perak, aku bae Co-ciangbun dan kau pegang Gak-siansing,"

Jawab yang lain dengan aseran.

"Kenapa tidak berani?"

Teriak orang pertama.

"Ini, seratus perak, kontan!"

"Jadi!"

Yang lain tak mau kalah.

"Tidak perlu kontan, bayar belakang juga boleh."

"Huh, nanti buka cek kosong!"

Ejek yang pertama.

"Cuh!"

Kawannya meludah sambil mencibir.

Dalam pada itu pertarungan kedua orang masih berlangsung dengan cepat.

Melihat gerak tubuh Leng-sian yang indah, Lenghou Tiong menjadi teringat kepada keadaan masa dahulu di waktu mereka berdua latihan bersama.

Tanpa terasa pikirannya melayang-layang, ketika Leng-sian menusuknya, segera ia balas menyerang.

Tak tahunya jurus ini ternyata bukan Hing-san-kiam-hoat.

Leng-sian melengak, katanya dengan suara perlahan.

"Jing-bwe-ji-tau!"

Menyusul ia pun balas suatu jurus, menebas ke dahi Lenghou Tiong. Lenghou Tiong juga melengak dan menggumam.

"Liu-yap-su-bi!"

Jing-bwe-ji-tau (Mundu Hijau Laksana Kacang) dan Liu-yap-su-bi (Daun Liu Lentik Seperti Alis) adalah jurus-jurus dalam Tiong-leng-kiam-hoat, yakni ilmu pedang ciptaan Lenghou Tiong dan Gak Leng-sian.

Nama ilmu pedang itu diambil dari singkatan nama masing-masing, yaitu tiong dan leng.

Ilmu pedang ini sebenarnya tiada sesuatu yang istimewa, cuma dahulu telah mereka latih dengan sangat masak.

Maka sekarang tanpa terasa telah dikeluarkannya bersama di hadapan orang banyak.

Hanya sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung, bukan saja Lenghou Tiong merasa berada kembali di waktu latihan bersama di masa dahulu, bahkan Leng-sian juga melayang pikirannya dan lupa daratan bahwa dirinya sekarang sudah menjadi istri orang, yang terbayang olehnya hanya sang suheng yang cakap itu sedang berlatih bersama dengan dia.

Tiong-leng-kiam-hoat itu diciptakan mereka ketika kedua muda-mudi itu sedang tenggelam di tengah lautan asmara dahulu.

Maka serang-menyerang dilakukan dengan asyik, satu dan lain sama isi-mengisi.

Tujuan Lenghou Tiong bertanding dengan Leng-sian adalah sengaja hendak mengalah untuk menghibur hati duka Leng-sian karena dihajar oleh ayahnya tadi.

Sekarang melihat air muka Leng-sian semakin cerah, sorot matanya memperlihatkan perasaan gembira melayani serangan-serangannya, sungguh tidak terkatakan rasa senang Lenghou Tiong bahwa maksudnya telah tercapai.

Dalam keadaan demikian sungguh ia berharap Tiong-leng-kiam-hoat mereka itu mencakup beribu-ribu jurus serangan yang tak habis-habis dimainkan sehingga dia akan dapat menghadapi sang sumoay yang sebenarnya sangat dicintainya itu untuk selama-lamanya.

Kembali dua-tiga puluh jurus telah lalu.

Suatu ketika pedang Leng-sian menebas ke kaki kiri Lenghou Tiong.

Cepat Lenghou Tiong angkat kakinya terus mendepak batang pedang lawan.

Tapi Leng-sian segera tekan pedangnya ke bawah berbareng menebas telapak kaki.

Namun pedang Lenghou Tiong telah menusuk juga ke pinggang Leng-sian sehingga terpaksa ia putar pedangnya ke atas untuk menangkis.

"Trang" , kedua pedang beradu sehingga sama-sama tergetar ke atas, berbareng kedua orang sama-sama menyorong pedang masing-masing ke depan untuk menusuk tenggorokan lawan dengan cepat luar biasa. Menurut arah pedang masing-masing itu, jelas siapa pun sukar menghindarkan diri dan pasti akan gugur bersama. Tanpa terasa para penonton ikut menjerit khawatir. Tapi mendadak terdengar suara "cring"

Yang perlahan, ujung pedang masing-masing ternyata saling ketemu dan terbentur sehingga lelatu api meletik, batang pedang masing-masing sampai melengkung, menyusul kedua orang sama-sama tergetar dan melompat mundur dengan mengulum senyum mesra.

Sungguh di luar dugaan siapa pun juga bahwa akhirnya serangan maut masing-masing itu bisa saling bentur di tengah jalan.

Hal ini biarpun beribu-ribu kali juga jarang terjadi satu kali.

Tapi di saat menentukan antara hidup dan mati mereka berdua itu ternyata ujung pedang mereka bisa kebentur secara sedemikian tepat.

Orang lain tidak tahu bahwa benturan ujung pedang di tengah jalan itu mungkin teramat sulit terjadi, namun bagi mereka justru telah sengaja berlatih benturan demikian itu secara tak kenal capek dan entah sudah berlangsung berapa ribu kali latihan mereka dan akhirnya telah berhasil.

Tadinya Lenghou Tiong mengusulkan jurus itu, diberi nama "Ni-su-ngo-hoat" (Kau Mati Aku Hidup), tapi Leng-sian keberatan, mengapa kau mati dan aku hidup, katanya.

Kan lebih baik "Tong-seng-kiong-si" (Sehidup dan Semati).

Begitulah selagi Leng-sian terbayang kepada peristiwa-peristiwa di masa dahulu, tiba-tiba di tengah penonton ada suara orang menjengek.

Keruan ia terkejut sebab dapat dikenalnya suara jengekan itu dikeluarkan oleh Lim Peng-ci, suaminya.

Seketika ia merasa cara bertempurnya dengan Lenghou Tiong itu memang tidak wajar.

Segera ia angkat pedangnya dan menyerang pula dengan gaya yang indah.

Ternyata yang digunakan sekarang adalah salah satu jurus "Giok-li-kiam"

Dari Hoa-san-pay.

Suara jengekan Peng-ci itu didengar juga oleh Lenghou Tiong.

Akibat dari suara jengekan itu segera Leng-sian melancarkan jurus serangan tanpa kenal ampun, tidak lagi memperlihatkan sikap mesra sebagaimana menggunakan Tiong-leng-kiam-hoat tadi.

Seketika hati Lenghou Tiong menjadi pilu, segala macam kejadian masa lampau terbayang semua di dalam benaknya.

Dalam keadaan pikiran kusut itu, tiba-tiba Leng-sian menyerang pula, tanpa pikir Lenghou Tiong cepat menyelentik.

"creng" , dengan tepat batang pedang Leng-sian terjentik dan terlepas dari cekalan. Setelah menyelentik barulah Lenghou Tiong sadar apa yang terjadi, diam-diam ia mengeluh atas tindakannya yang telanjur itu. Dilihatnya sikap Leng-sian yang cemas-cemas murung. Ia menjadi teringat pada waktu dirinya dihukum menyepi di puncak Su-ko-keh dahulu, ketika Leng-sian mengantar daharan padanya, si nona telah mengajak latihan ilmu pedang Giok-li-kiam-hoat yang baru saja dipelajarinya, ketika itu pun dia telah menyelentik pedang Leng-sian sehingga terpental dan jatuh ke jurang, lantaran kejadian itu Leng-sian menjadi marah dan tinggal pergi. Sejak itu timbullah ketegangan di antara mereka berdua. Tak terduga kejadian yang sama itu kini terulang kembali. Kalau dahulu saja dia sudah dapat menyelentik sehingga pedang Leng-sian terpental, apalagi sekarang lwekangnya sudah jauh lebih tinggi, maka pedang Leng-sian yang mencelat ke udara tadi sampai sekian lamanya baru jatuh ke bawah. Padahal tujuan Lenghou Tiong hanya ingin membikin senang hati siausumoaynya, sebaliknya sekarang dia malah menyelentik pedangnya hingga mencelat dan membuatnya malu di depan umum, sungguh perbuatan tidak patut. Sekilas tertampak pedang Leng-sian itu sedang melayang ke bawah, tanpa pikir Lenghou Tiong terus mendoyongkan tubuhnya sambil berseru.

"Hing-san-kiam-hoat yang bagus!"

Dengan gaya seperti berusaha mengelak, tapi sebenarnya tubuhnya sengaja disodorkan ke ujung pedang yang menyambar turun itu. Maka terdengarlah suara "cret"

Satu kali, pedang itu langsung menancap di belakang bahu kanannya.

Kontan tubuh Lenghou Tiong tersungkur ke depan sehingga badannya seakan-akan terpaku di tanah oleh pedang Leng-sian.

Kejadian ini benar-benar terlalu mendadak sehingga para penonton menjerit kaget dan melongo.

Leng-sian juga terkejut dan berseru.

"Toa... Toasuko, ken...."

Segera dilihatnya seorang laki-laki berewok berlari mendekati dan membangunkan Lenghou Tiong, pedang yang menancap di tubuhnya itu dicabut, lalu Lenghou Tiong dipondong ke sana.

Darah segar tampak mengucur deras dari luka di bahu Lenghou Tiong, belasan anak murid Hing-san-pay lantas memapak maju pula untuk memberi pertolongan dengan obat luka.

Karena tidak tahu bagaimana luka Lenghou Tiong itu, Leng-sian bermaksud mendekatinya untuk melihat.

Tapi mendadak sinar pedang berkelebat, dua orang nikoh telah merintanginya sambil membentak.

"Perempuan yang berhati keji!"

Leng-sian melengak dan mundur beberapa langkah, seketika ia pun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Terdengarlah Gak Put-kun tertawa nyaring dan berseru.

"Anak Sian, sungguh tidak sia-sia kau telah mengalahkan ketua dari tiga aliran dengan menggunakan ilmu pedang dari aliran masing-masing."

Bahwasanya jurus terakhir yang digunakan Leng-sian itu apakah benar jurus ilmu pedang Hing-san-pay atau bukan, sebenarnya para penonton juga tidak tahu jelas.

Yang pasti dan terbukti adalah Lenghou Tiong terluka oleh Leng-sian, hal ini tak bisa disangkal oleh siapa pun juga.

Sebab itulah tiada seorang pun yang berani menanggapi ucapan Gak Put-kun itu.

Dengan perasaan bingung Leng-sian menjemput kembali pedangnya yang terbuang di tanah itu, melihat batang pedang penuh berlepotan darah, ia menjadi khawatirkan keselamatan jiwa Lenghou Tiong.

Dalam pada itu terdengar suara seorang yang keras lantang berseru.

"Gak-siansing tidak cuma menguasai ilmu pedang Hoa-san-pay sendiri, bahkan ilmu pedang Thay-san-pay, Heng-san-pay, dan Hing-san-pay juga dikuasainya dengan sempurna, sungguh sangat mengagumkan dan harus dipuji. Maka jabatan ketua Ngo-gak-pay rasanya tiada pilihan lain daripada Gak-siansing sendiri yang harus mendudukinya."

Pembicara ini adalah seorang tua berjenggot, ialah pangcu dari Kay-pang.

Sebagai suatu organisasi terbesar di dunia Kang-ouw, apa yang diucapkan Pangcu Kay-pang sudah tentu mempunyai nilai tertentu, maka tidak sembarangan orang berani menanggapinya.

Tiba-tiba seorang menjawab dengan suara dingin.

"Nona Gak ternyata mahir ilmu pedang dari berbagai aliran, sungguh pantas dipuji. Kalau dapat mengalahkan pula diriku dengan Ko-san-kiam-hoat, maka tanpa syarat aku pun akan mendukung Gak-siansing sebagai ketua Ngo-gak-pay."

Pembicara ini adalah Co Leng-tan.

Sambil bicara ia terus maju ke tengah kalangan.

Sekali tangan kiri menepuk sarung pedang, kontan pedangnya meloncat keluar dari sarungnya.

Tertampak sinar pedang berkelebat, dengan tangan kanan Co Leng-tan telah pegang gagang pedangnya.

Sekali tepuk sarung pedang saja dapat membuat pedang meloncat keluar sendiri dari sarungnya, sungguh suatu gaya yang indah dan luar biasa pula tenaga dalamnya.

Seketika anak murid Ko-san-pay sama bersorak, tidak kecuali pula sebagian hadirin juga berteriak memuji.

Maka terdengarlah Gak Leng-sian menjawab tantangan Co Leng-tan tadi.

"Aku hanya main tiga belas jurus saja, dalam 13 jurus kalau tak bisa mengalahkan Co-supek...."

"Bagus, kalau dalam 13 jurus tak bisa memenggal kepalaku, lalu bagaimana?"

Co Leng-tan menegas dengan gusar karena merasa terhina.

"Mana bisa aku menandingi Co-supek,"

Ujar Leng-sian.

"Hanya 13 jurus ilmu pedang Ko-san-pay yang kupelajari dari ayah, maka aku ingin mencoba-cobanya dengan Co-supek."

Co Leng-tan mendengus tanpa menjawab. Lalu Leng-sian berkata pula.

"Kata Ayah, meski ke-13 jurus Ko-san-kiam-hoat ini adalah jurus-jurus serangan paling hebat dari Ko-san-pay, tapi dalam permainanku mungkin cuma satu jurus saja pedangku sudah tergetar mencelat dari cekalan, apalagi mau mainkan pula jurus kedua."

Kembali Co Leng-tan mendengus tanpa menanggapi.

"Sudah tentu aku tidak percaya,"

Demikian Leng-sian melanjutkan.

"Kukatakan kepada Ayah, sekalipun Co-supek terhitung jago nomor satu Ko-san-pay, tapi dia belum terhitung jago nomor satu dari Ngo-gak-kiam-pay kita, betapa pun dia tidak mahir ilmu pedang dari kelima aliran kita seperti Ayah. Namun Ayah dengan rendah hati menyatakan kepandaian beliau juga belum dapat dikatakan mahir, kalau tidak percaya boleh coba kau menandingi ilmu pedang Co-supek-mu yang lihai itu, bila kau sanggup bergebrak tiga jurus saja dengan dia, maka kau terhitung anak perempuanku yang tersayang."

Bab 116. Co Leng-tan Melawan Gak Put-kun "Hm, jika dalam tiga jurus bahkan kau dapat mengalahkan orang she Co, tentu kau lebih-lebih disayang ayahmu bukan?"

Jengek pula Co Leng-tan.

"Ilmu pedang Co-supek mahasakti, masakah aku berani mimpi mengalahkan Co-supek apa segala,"

Kata Leng-sian.

"Hanya saja aku ingin coba-coba bertahan sampai 13 jurus, entah bisa terkabul tidak harapanku ini."

Mendongkol sekali hati Co Leng-tan, pikirnya.

"Jangankan 13 jurus, asal kau mampu menahan tiga jurus saja sudah terhitung hebat."

Tanpa berkata lagi segera ia gunakan tiga jari tangan kiri untuk memegang ujung pedangnya, tangan kanan lantas lepas sehingga pedang menegak, gagang pedang di depan, lalu katanya.

"Mulailah! Cara Co Leng-tan memegang senjatanya ini benar-benar menggemparkan para penonton, Bahwa menggunakan pedang dengan tangan kiri saja luar biasa, apalagi dia hanya memegangi ujung pedang dengan tiga jari, gagang pedang yang digunakan menghadapi musuh. Leng-sian juga terkesiap, ia tidak tahu kepandaian apa yang akan dikeluarkan Co Leng-tan, betapa pun wibawa Co Leng-tan memang angker, mau tak mau timbul juga rasa jeri pada hati Leng-sian, tapi urusan sudah sejauh ini, buat apa takut lagi? Sekilas Leng-sian melirik ke arah murid-murid Hing-san-pay, kelihatan mereka masih sibuk dan merubung di sana, namun tiada suara tangisan, dapat diduga luka Lenghou Tiong meski parah agaknya tidak membahayakan jiwanya. Maka rada legalah hatinya. Segera ia angkat pedang dan membungkuk tubuh dengan gaya "

Ban-gak-tiau-cong " (Berlaksa Gunung Menghadap Pusat), yakni suatu jurus Ko-san-kiam-hoat yang murni.

Jurus pembukaan ini mengandung arti menghormat, maka gemparlah anak murid Ko-san-pay, tapi merasa puas juga atas sikap Leng-sian itu.

Co Leng-tan manggut perlahan, katanya di dalam hati.

"Ternyata kau pun bisa memainkan jurus ini, mengingat sikap hormatmu ini biarlah aku takkan membikin malu kau di depan orang banyak."

Setelah jurus pembukaan tadi, segera Leng-sian melancarkan serangan, pedangnya berkelebat terus menusuk.

Co Leng-tan terkejut oleh kecepatan dan cara menyerang Leng-sian itu.

Ia heran dari mana putri Gak Put-kun ini mempelajari ilmu pedang Ko-san-pay yang indah ini.

Sebagai seorang guru besar Ko-san-pay, dengan sendirinya ingin tahu lebih mendalam setiap jurus ilmu silat aliran sendiri yang hebat.

Ia lihat tusukan Leng-sian itu tidak membawa tenaga dalam yang terlalu kuat, asal sudah dekat dan menyelentiknya dengan jari tentu pedang lawan itu akan terpental.

Maka ia sengaja membiarkan tusukan Leng-sian itu lebih mendekat untuk melihat bagaimana perubahan berikutnya.

Ternyata sebelum mencapai sasarannya, mendadak Leng-sian menarik kembali pedangnya, orangnya menggeser ke samping, pedangnya membalik terus menebas ke bahu kiri Co Leng-tan.

Kembali suatu gerak serangan yang indah yang membuat Co Leng-tan terkejut heran dan kegirangan pula karena dapat menyaksikan ilmu pedang aliran sendiri yang belum pernah dilihatnya.

Sejak umur belasan Co Leng-tan sudah mempelajari ilmu pedang Ko-san-pay dengan tekun sekali, setelah mewarisi jabatan ketua Ko-san, banyak pula dia mengembangkan ilmu pedang Ko-san-pay yang belum pernah dikerjakan oleh leluhur Ko-san-pay, maka dia boleh dikatakan tokoh Ko-san-pay yang paling berjasa dalam mengembangkan ilmu silat golongannya.

Akan tetapi kini ilmu pedang Ko-san-pay yang dimainkan Leng-sian itu adalah hasil tiruannya dari ukiran di dinding gua Hoa-san, betapa pun tinggi ilmu pedang yang diyakinkan Co Leng-tan toh masih kalah hebat daripada apa yang dimainkan Leng-sian sekarang.

Karena itu Co Leng-tan menjadi kegirangan dan sangat tertarik untuk mengikutinya lebih lanjut.

Bila lawan Co Leng-tan adalah Hong-ting Taysu atau Tiong-hi Tojin yang lihai, tentu dia tidak punya kesempatan untuk menilai dan mengikuti gerak serangan lawan.

Tapi sekarang tenaga dalam Leng-sian masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan Co Leng-tan, pada detik berbahaya bila perlu dia masih sanggup menggetar jatuh pedang lawan itu, maka ia tidak mengkhawatirkan akibatnya dan dapat memusatkan perhatian untuk mengikuti setiap gerak serangan pedang Gak Leng-sian.

Para penonton menjadi heran juga menyaksikan cara bertanding mereka itu.

Setiap kali Leng-sian selalu menarik kembali serangannya sebelum mencapai sasarannya, seperti sengaja mengalah dan seperti juga merasa jeri.

Sebaliknya Co Leng-tan tidak ambil pusing terhadap serangan yang tiba, air mukanya sebentar heran sebentar girang seperti orang linglung.

Pertandingan demikian benar-benar jarang terjadi.

Tapi lantaran ilmu pedang Gak Leng-sian ini hanya tiruan dari gambar yang dilihatnya di dinding gua itu, biarpun mengandung intisari yang mendalam, namun Leng-sian tidak mampu mengembangkannya dengan baik sehingga gayanya tetap begitu-begitu saja.

Ko-san-kiam-hoat yang terukir di dinding gua itu hanya meliputi tiga belas jurus, setelah 13 jurus selesai dimainkan, bila perlu terpaksa ia harus mengulangi dari semula.

Sampai di sini pikiran Co Leng-tan tergerak, apakah mesti melihat lebih jauh ilmu pedang lawannya atau bikin pedang lawan tergetar lepas dari cekalan?

Kedua hal ini terlalu gampang baginya.

Kalau mau melihat lebih lanjut, betapa pun tinggi kepandaian Gak Leng-sian toh tidak mampu mencelakainya.

Sebaliknya kalau mau menggetar lepas pedang lawan juga tidak sukar baginya.

Namun untuk memilih satu di antara dua inilah yang sulit.

Dalam sekejap macam-macam pikiran sudah terlintas dalam benaknya.

"Ko-san-kiam-hoat yang dia mainkan ini sangat aneh dan bagus, sesudah ini mungkin tiada kesempatan buat melihatnya lagi. Untuk membunuh anak perempuan ini adalah terlalu gampang, tapi mencari ilmu pedangnya inilah yang sukar. Rasanya juga tidak mungkin aku minta-minta kepada Gak Put-kun untuk memperlihatkan Ko-san-kiam-hoat ini padaku. Sebaliknya kalau kubiarkan dia ulangi kembali permainannya akan menunjukkan pula ketidakmampuanku melawan seorang anak perempuan, lalu ke mana mukaku ini harus kutaruh? Ah, mungkin sudah lebih 13 jurus yang dijanjikan."

Teringat pada 13 jurus, seketika hasratnya menjadi pemimpin Ngo-gak-pay mengalahkan pikiran-pikiran lain, segera ia putar pedangnya ke atas, terdengarlah benturan nyaring, pedang Leng-sian tergetar patah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke tanah.

Leng-sian cepat melompat mundur, serunya nyaring.

"Co-supek, sudah berapa jurus Ko-san-kiam-hoat yang kumainkan tadi?"

Co Leng-tan coba mengingat-ingat kembali jurus-jurus serangan Leng-sian tadi, lalu menjawab.

"Ya, sudah kau mainkan 13 jurus. Sungguh hebat."

Leng-sian memberi hormat, lalu berkata pula.

"Terima kasih atas kemurahan Co-supek sehingga Titli mampu memainkan 13 jurus Ko-san-kiam-hoat dengan lancar."

Bahwa Co Leng-tan dapat membikin pedang lawannya tergetar patah menjadi beberapa bagian memang luar biasa.

Namun Leng-sian sudah bicara di muka bahwa dia akan memainkan 13 jurus Ko-san-kiam-hoat, bagi pandangan kebanyakan orang kalau dia sanggup bergebrak tiga jurus saja dengan Co Leng-tan, sudah terhitung hebat, jangankan 13 jurus.

Tak terduga Co Leng-tan menjadi linglung sehingga tanpa terasa Leng-sian benar-benar dapat menyelesaikan 13 jurus serangannya.

Segera seorang tua dari Ko-san-pay tampil ke muka dan berseru.

"Ilmu sakti Co-ciangbun telah kita saksikan bersama, bahkan beliau cukup bijaksana dan murah hati. Sebaliknya putri keluarga Gak ini baru memahami sedikit Ko-san-kiam-hoat kami lantas berani omong besar dan pamer di hadapan Co-ciangbun, namun apa jadinya? Akhirnya dia keok juga. Ini pun membuktikan bahwa ilmu silat mengutamakan kemahiran khusus, asalkan terlatih sempurna, ilmu silat dari aliran mana pun dapat menjagoi dunia persilatan...."

Sudah tentu para penonton sama cocok dengan ucapan orang tua ini, soalnya memang jarang yang mahir macam-macam ilmu silat kecuali ilmu silat dari perguruannya sendiri.

Maka terdengar orang tua tadi melanjutkan.

"Rupanya Gak-toasiocia ini entah berhasil mengintip di mana dan memperoleh sedikit ilmu pedang dari golongan lain, lalu dia berani sesumbar di sini, katanya telah menguasai ilmu pedang dari Ngo-gak-kiam-pay. Padahal ilmu pedang dari aliran masing-masing mempunyai intisarinya sendiri-sendiri, kalau cuma paham sedikit kulitnya atau bulunya saja mana dapat dikatakan sudah mahir?"

Kembali para penonton mengangguk setuju dan sama berpikir Gak Put-kun harus bertanggung jawab karena telah melanggar pantangan besar orang persilatan, yaitu mengintip dan mencuri belajar ilmu silat golongan lain.

Melihat sebagian besar hadirin mendukung ucapannya, segera orang tua itu bicara lagi.

"Maka dari itu, tentang jabatan ketua Ngo-gak-pay ini kukira tiada pilihan lain kecuali Co-ciangbun yang pantas mendudukinya. Dari sini juga terbukti bahwa meyakinkan ilmu silat dari suatu aliran yang khusus dengan sempurna jelas lebih baik dan lebih tinggi juga daripada manusia yang suka menganglap dan menyerobot macam-macam ilmu silat orang lain secara tidak sah."

Kata-kata terakhir itu jelas ditujukan kepada Gak Put-kun, maka serentak beratus murid Ko-san-pay sama bersorak membenarkan.

"Nah, coba siapa lagi di antara anggota-anggota Ngo-gak-pay yang merasa kepandaiannya dapat melebihi Co-ciangbun boleh silakan maju untuk mengukur kekuatan masing-masing,"

Kata si orang tua pula.

Tapi meski dia ulangi lagi tantangannya, tetap tiada jawaban.

Mestinya Tho-kok-lak-sian dapat mengoceh lagi, tapi saat itu Ing-ing lagi sibuk menolong Lenghou Tiong yang terluka parah, dia tidak sempat lagi memberi petunjuk-petunjuk kepada Tho-kok-lak-sian untuk mengadu mulut dengan pihak Ko-san-pay.

Lantaran tidak tahu apa yang harus dikatakan, Tho-kok-lak-sian juga saling pandang dengan bingung.

Maka orang tua itu lantas buka suara pula.

"Kalau tiada seorang pun yang berani menantang Co-ciangbun, maka dengan sendirinya Co-ciangbun disilakan menjabat ketua Ngo-gak-pay kita sesuai dengan keinginan kita."

Tapi Co Leng-tan pura-pura menolak, katanya.

"Ah, masih banyak tokoh-tokoh Ngo-gak-pay yang lebih baik, Cayhe sendiri tidak sanggup menerima jabatan seberat ini."

"Tugas sebagai ketua Ngo-gak-pay memang berat,"

Kata orang tua tadi.

"tapi apa pun juga Co-ciangbun adalah pantas memimpin kita menuju hari depan yang bahagia. Maka sekarang juga silakan Co-ciangbun naik ke atas panggung untuk peresmian upacara."

Maka bergemuruhlah suara genderang dan tambur disertai petasan yang riuh, rupanya semua ini telah disiapkan sebelumnya oleh anak murid Ko-san-pay.

Menyusul orang-orang Ko-san-pay lantas bersorak-sorai.

"Silakan Co-ciangbun naik panggung."

Tanpa bicara lagi Co Leng-tan lantas melompat ke atas, dengan enteng ia tancapkan kakinya di atas Hong-sian-tay. Lalu ia memberi hormat kepada para hadirin di bawah panggung, katanya.

"Atas penghargaan para kawan, akan kelihatan terlalu mementingkan diri sendiri jika Cayhe menolak lagi untuk memikul tanggung jawab yang berat ini."

Beratus-ratus orang Ko-san-pay serentak bertepuk tangan pula memberi pujian. Tapi mendadak suara seorang wanita berseru.

"Co-supek, kau menggetar patah pedangku, apakah dengan demikian kau sudah terhitung ketua Ngo-gak-pay?"

Yang bicara ini bukan lain adalah Gak Leng-sian. Co Leng-tan menjawab.

"Bukankah semua orang tadi mendengar juga bahwa kita bertanding untuk berebut juara. Bila Gak-siocia yang menggetar patah pedangku, dengan sendirinya kita pun akan mengangkat Gak-siocia sebagai ketua Ngo-gak-pay."

"Untuk mengalahkan Co-supek sudah tentu aku tidak mampu,"

Ujar Leng-sian.

"Tapi di antara jago-jago Ngo-gak-pay kukira tidak mustahil masih cukup banyak orang yang dapat mengalahkan Co-supek."

Padahal di antara tokoh-tokoh Ngo-gak-pay, yang paling ditakuti Co Leng-tan hanya Lenghou Tiong saja, sekarang Lenghou Tiong sudah terluka parah, hati Co Leng-tan sudah merasa lega.

Maka segera ia menjawab.

"Kalau menurut penilaian Gak-siocia, jago-jago yang mampu mengalahkan aku barangkali adalah suamimu, ibumu, atau ayahmu?"

Seketika orang-orang Ko-san-pay tertawa gemuruh pula, tertawa yang mengejek. Gak Leng-sian menjawab dengan tenang.

"Suamiku adalah angkatan muda, kepandaiannya mungkin masih selisih setingkat dengan Co-supek. Tapi ilmu pedang ibuku tentu dapat menandingi Co-supek dengan sama kuat. Mengenai ayahku, dengan sendirinya beliau lebih tinggi daripada Co-supek."

Kembali suara riuh ramai timbul dari rombongan orang-orang Ko-san-pay, ada yang bersuit mengejek, ada yang berteriak marah. Co Leng-tan lantas berpaling kepada Gak Put-kun dan berkata.

"Gak-siansing, terhadap ilmu silatmu, agaknya putrimu sendiri amat sangat menghargaimu."

"Ah, anak perempuan memang banyak omong,"

Sahut Gak Put-kun.

"Harap Co-heng jangan anggap sungguh-sungguh. Tentang ilmu silat Cayhe memang ketinggalan jauh kalau dibandingkan Hong-ting Taysu dari Siau-lim-pay, Tiong-hi Totiang dari Bu-tong-pay, serta tokoh-tokoh terkemuka yang lain."

Air muka Co Leng-tan berubah seketika.

Gak Put-kun hanya menyebut Hong-ting Taysu, Tiong-hi Totiang, dan lain-lain, tapi sama sekali tidak menyebut namanya Co Leng-tan, hal ini berarti ia menganggap kepandaian sendiri memang lebih tinggi daripada orang she Co.

Tapi orang tua Ko-san-pay tadi toh masih menegas.

"Dan kalau dibandingkan Co-ciangbun kami kira-kira bagaimana?"

"Cayhe sudah cukup lama bersahabat dengan Co-heng dan saling menghargai,"

Jawab Gak Put-kun.

"Selama ratusan tahun ilmu pedang Ko-san-pay dan Hoa-san-pay juga mempunyai ciri khas masing-masing dan belum pernah menentukan pihak mana yang lebih unggul. Maka pertanyaan Han-heng ini sungguh membikin Cayhe sukar menjawabnya."

Kiranya orang tua itu she Han, dari nada bicaranya rupanya kedudukannya tidaklah rendah di dalam Ko-san-pay, hanya saja orang Kang-ouw tidak banyak yang mengenalnya.

Segera orang she Han itu berkata pula.

"Dari nada ucapan Gak-siansing agaknya kau merasa kepandaianmu memang lebih kuat daripada Co-ciangbun kami?"

"Sebenarnya soal bertanding untuk menentukan siapa lebih unggul sejak dahulu kala sukar dihindarkan,"

Kata Gak Put-kun.

"Sudah lama Cayhe memang punya maksud minta petunjuk kepada Co-heng. Cuma sekarang kita baru saja membangun Ngo-gak-pay, siapa ketuanya juga belum ditentukan, kalau Cayhe lantas bertanding dengan Co-heng tampaknya menjadi rada-rada tidak enak, sebab orang tentu akan mengatakan Cayhe sengaja hendak berebut menjadi ketua dengan Co-heng."

"Tapi kalau Gak-heng memang benar dapat mengalahkan pedang di tanganku ini, maka jabatan ketua Ngo-gak-pay dengan sendirinya akan kuserahkan kepada Gak-heng,"

Kata Co Leng-tan.

"Ah, jangan bicara demikian, sebab orang yang berilmu silat tinggi belum tentu martabatnya juga tinggi,"

Ujar Gak Put-kun.

"Biarpun Cayhe dapat mengalahkan Co-heng juga belum tentu sanggup mengalahkan tokoh-tokoh Ngo-gak-pay yang lain."

Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 8

Baca Juga: Tamu Aneh Bingkisan Unik 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert