Ceritasilat Novel Online

Hina Kelana Balada Kaum Kelana 19

Eps 19 Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Baca online Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong

Cersil Hina Kelana Balada Kaum Kelana - Jin Yong.

Biar ucapannya sangat rendah hati, tapi setiap katanya ternyata tidak mau kalah, tetap anggap dirinya sendiri lebih tinggi setingkat daripada Co Leng-tan.

Keruan gusar Leng-tan tak terperikan, jawabnya dengan dingin.

"Gak-heng punya gelar ‘Kun-cu-kiam’ (Pedang Kesatria) sudah termasyhur di seluruh jagat. Sampai di mana ‘kesatria’ Gak-heng kukira tidak perlu dijelaskan, tapi betapa pun pula nilai ‘pedang’ gelaranmu itu kukira tiada jeleknya diuji sekarang juga agar para hadirin dapat ikut menyaksikan."

"Benar, benar! Tarung saja ke atas panggung!"

"Hayolah berhantam saja, buat apa melulu omong doang!"

"Bergebrak dulu dan urusan belakang!"

Demikian seru orang banyak.

Tapi Gak Put-kun tenang-tenang saja tanpa menjawab.

Di waktu merencanakan penggabungan Ngo-gak-kiam-pay sudah dalam perhitungan Co Leng-tan sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh lawannya, ia yakin kepandaian dirinya cukup kuat untuk mengatasi ketua keempat aliran yang lain.

Sebab itulah dengan giat dia mengusahakan terlaksananya penggabungan itu.

Tentang ilmu Gak Put-kun yang diandalkan, yaitu "Ci-he-sin-kang"

Memang juga diketahui oleh Co Leng-tan ketika terjadi pertarungan di Siau-lim-si dahulu, maka ia pun dapat mengukurnya bahwa dirinya masih sanggup mengatasi Gak Put-kun.

Apalagi waktu di Siau-lim-si dahulu, ketika Gak Put-kun menendang Lenghou Tiong, tapi kaki sendiri berbalik tergetar patah, dari sini pun dapat diketahui lwekang ketua Hoa-san-pay itu pun cuma sekian saja.

Sebab kalau orang yang memiliki lwekang dengan sempurna, sekalipun tidak dapat mencelakai lawan, tentu tidak pula mencelakai dirinya sendiri.

Karena perasaan yang mantap itu, pula melihat gelagatnya Gak Put-kun seperti tidak bermaksud naik panggung untuk bertanding dengan dia, keruan Co Leng-tan menjadi lebih takabur, pikirnya.

"Gak Put-kun sangat licik, kalau sekarang aku tidak menaklukkan dia, kelak orang seperti dia tentu akan membahayakan Ngo-gak-pay yang kupimpin."

Maka dengan nada menghina Co Leng-tan lantas berkata pula.

"Gak-heng, para hadirin sama ingin melihat kepandaianmu, mengapa kau tidak memberi muka kepada orang banyak?"

"Jika demikian kata Co-heng, ya, apa boleh buat, terpaksa Cayhe menurut saja,"

Jawab Gak Put-kun.

Maka selangkah demi selangkah ia naik ke atas Hong-sian-tay melalui undak-undakan batu.

Padahal kalau mau sekali lompat saja dengan gampang ia dapat naik ke sana seperti apa yang dilakukan Co Leng-tan tadi.

Melihat bakal ada pertunjukan ramai, para hadirin sama bersorak gembira.

Setiba di atas panggung batu itu, Gak Put-kun memberi hormat, katanya.

"Co-heng, kita sekarang sudah terhitung sesama perguruan, cuma para hadirin minta Siaute lemaskan otot, terpaksa kulakukan sebisanya. Kita hanya saling belajar, tidak perlu saling melukai, cukup asal sudah kena, lalu berhenti. Bagaimana pendapatmu?"

"Sudah tentu aku akan hati-hati dan berusaha sebisanya agar tidak melukai Gak-heng,"

Kata Co Leng-tan. Serentak orang-orang Ko-san-pay sama berteriak mengejek.

"Huh, belum dihajar sudah minta ampun, ada lebih baik mengaku kalah saja dan tak perlu bertanding."

"Ya, kalau takut mampus, silakan lekas turun kembali saja."

"Memangnya senjata tak bermata, begitu mulai bergebrak siapa berani tanggung takkan terluka atau binasa?"

Namun Gak Put-kun tersenyum-senyum saja, katanya lantang.

"Senjata memang tidak bermata, memang sukar terjamin takkan terluka atau mati."

Sampai di sini ia lantas berpaling kepada orang-orang Hoa-san-pay dan berseru.

"Dengarkan para murid Hoa-san, aku hanya saling belajar saja dengan Co-suheng dan sekali-kali tiada punya permusuhan apa-apa, bila nanti secara kebetulan aku terbunuh oleh Co-suheng atau terluka parah, hal ini adalah salahku sendiri dan kalian tidak boleh dendam dan menuntut balas kepada Co-supek. Yang penting rasa persatuan Ngo-gak-pay kita harus tetap dipegang teguh."

Gak Leng-sian dan lain-lain serentak mengiakan. Hal ini rada di luar dugaan Co Leng-tan malah, katanya kemudian.

"Gak-heng ternyata sangat bijaksana dan mengutamakan kepentingan Ngo-gak-pay kita, sungguh sangat baik."

"Peleburan kelima aliran kita adalah urusan penting yang mahasulit,"

Kata Put-kun dengan tersenyum.

"Kalau sekarang disebabkan persoalan kita berdua sehingga terjadi pertengkaran sendiri di antara sesama anggota Ngo-gak-pay, maka jelas telah mengingkari asas tujuan penggabungan kelima aliran kita."

"Ya, memang tidak salah,"

Kata Co Leng-tan.

Di dalam hati ia terpikir bahwa Gak Put-kun sudah jeri padanya, maka sebentar harus ditaklukkannya untuk menegakkan wibawa.

Dengan penuh keyakinan, segera Co Leng-tan melolos pedangnya.

"creeng" , suaranya nyaring melengking panjang. Kiranya dia sengaja menggunakan tenaga dalam untuk mencabut keluar pedangnya, batang pedang bergesek dengan sarungnya dan mengeluarkan suara nyaring. Penonton yang tidak tahu sebab musababnya sama melongo kaget. Sebaliknya orang-orang Ko-san-pay kembali bersorak memberi pujian. Dalam pada itu Gak Put-kun juga lantas mengeluarkan pedangnya, namun caranya berbeda. Dengan perlahan-lahan ia menanggalkan pedang dan sarungnya yang menggantung di pinggangnya, lalu ditaruh pada pojok panggung, dari situ baru perlahan-lahan ia lolos keluar pedangnya. Melulu dari cara mencabut pedang masing-masing sudah kentara pihak mana lebih kuat dan pertandingan ini sebenarnya sudah jelas pihak mana yang lebih unggul. Sementara itu Lenghou Tiong yang terluka parah karena bahu kanan tertembus oleh pedang Gak Leng-sian tadi sedang dirubung-rubung anak murid Hing-san-pay untuk diberi pertolongan. Ing-ing tidak menghiraukan kedudukan sendiri lagi tadi, yang maju mencabut pedang Lenghou Tiong itu adalah dia serta memondongnya ke pinggir. Bersama-sama Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain mereka sibuk memberi obat luka yang paling mujarab dari Hing-san-pay. Walaupun terluka parah, tapi pikiran Lenghou Tiong tetap jernih, ketika melihat kesibukan Ing-ing dan murid Hing-san-pay yang prihatin menghadapi keadaannya yang parah itu, diam-diam ia merasa menyesal, hanya karena ingin menyenangkan hati siausumoay, sebaliknya Ing-ing dan para murid Hing-san-pay harus dibikin cemas sedemikian. Sekuatnya ia coba tersenyum dan berkata.

"Ah, sedikit kurang hati-hati, entah bagaimana telah di... dilukai oleh pedang ini. Kukira tidak... tidak apa-apa, tidak apa-apa, tak perlu...."

"Sssst, jangan bersuara,"

Kata Ing-ing.

Meski dia sengaja membuat suaranya sekasar-kasarnya supaya cocok dengan penyamarannya sebagai seorang laki-laki berewok, tapi sukar duga menutupi suara perempuan yang lembut.

Keruan para murid Hing-san-pay sama terheran-heran mendengar suara seorang laki-laki berewok itu sedemikian aneh.

"Coba kulihat... kulihat...."

Kata Lenghou Tiong sambil memandang ke arah panggung.

Gi-jing mengiakan dan segera menarik minggir dua orang sumoaynya yang menghalangi penglihatan Lenghou Tiong.

Saat itu Gak Leng-sian lagi bertanding melawan Co Leng-tan, apa yang terjadi kemudian dapat diikutinya dengan samar-samar karena keadaannya yang payah.

Ketika Gak Put-kun melolos pedang menghadapi Co Leng-tan, saat itu para penonton sama menahan napas menantikan terjadinya pertarungan dahsyat.

Maka suasana di puncak Ko-san seketika menjadi sunyi senyap.

Sayup-sayup Lenghou Tiong mendengar suara orang membaca kitab Buddha dengan suara yang sangat lirih.

Dari suaranya yang lembut dan doa yang penuh kesungguhan dan kekhidmatan Lenghou Tiong yakin yang sedang berdoa baginya itu pastilah Gi-lim.

Dahulu Gi-lim juga pernah membaca kitab dan berdoa baginya ketika di luar Kota Heng-san, waktu itu ia tidak berpaling untuk memandangnya, namun sorot mata Gi-lim yang mesra serta wajahnya yang cantik itu dengan jelas terbayang di depan matanya.

Kini Lenghou Tiong duduk bersandar di atas badan Ing-ing yang lunak, telinganya mendengar suara berdoa Gi-lim, seketika timbul perasaan cintanya yang sukar dilukiskan.

Pikirnya.

"Tidak hanya Ing-ing, bahkan Gi-lim Sumoay juga sangat memerhatikan diriku. Bahkan mereka lebih mementingkan keselamatanku daripada jiwa mereka sendiri. Sekalipun badanku hancur lebur sukar juga rasanya untuk membalas budi kebaikan mereka."

Dalam pada itu pertandingan di atas panggung sudah mulai bersiap-siap.

Gak Put-kun melintangkan pedang di depan dada, tangan kirinya bergaya seperti pegang pensil hendak menulis.

Co Leng-tan tahu ini adalah jurus Hoa-san-kiam-hoat yang disebut "Si-kiam-hwe-yu" (Menemui Sahabat dengan Syair dan Pedang), jurus ini adalah jurus pembukaan bilamana pihak Hoa-san-pay bertarung dengan teman sesama persilatan, jurus ini mengandung arti pertandingan ini hanya dilakukan secara persahabatan saja dan tidak perlu mengadu jiwa.

Co Leng-tan menampilkan senyuman puas, katanya.

"Ah, tidak perlu sungkan-sungkan."

Tapi dalam hati ia pun waswas, biarpun Gak Put-kun bergelar "Pedang Kesatria" , namun lebih banyak munafik daripada kesatria tulen, belum tentu dia benar-benar hendak bertanding secara bersahabat dengan aku, bisa jadi dia sudah jeri, tapi dia sengaja bersikap demikian agar aku tidak menaruh curiga apa-apa, kemudian dia lantas menggunakan serangan maut untuk merobohkan diriku.

Demikian pikir Co Leng-tan.

Segera tangan kirinya terpentang ke samping, pedang di tangan kanan lantas menjurus ke depan, yang dia gunakan adalah jurus "Khay-bun-kian-san" (Buka Pintu Tampak Gunung) dari Ko-san-kiam-hoat.

Jurus ini mengandung arti, kalau mau berkelahi silakan mulai saja dan tidak perlu pura-pura segala.

Dengan jurus ini pun dia hendak menyindir secara halus kemunafikan pihak lawan.

Sudah tentu Gak Put-kun paham arti yang terkandung dalam jurus pembukaan Co Leng-tan itu.

Segera pedangnya menjulur ke tengah, ujung pedang bergetar, tapi sampai di tengah jalan mendadak ujung pedang menyungkit ke atas, inilah jurus "Jing-san-in-in" (Gunung Menghijau Samar-samar), suatu jurus yang penuh perubahan-perubahan lihai.

Segera pedang Co Leng-tan membacok dari atas ke bawah dengan tenaga yang dahsyat.

Banyak di antara para penonton sama bersuara kaget.

Kiranya gerakan Co Leng-tan ini tidak terdapat dalam Ko-san-kiam-hoat, yang dia gunakan sesungguhnya adalah gaya ilmu pukulan yang digunakan atas pedang.

Jurus ini disebut "Tok-pik-hoa-san" (Satu Kali Membelah Hoa-san), jurus pukulan ini sangat umum bagi setiap orang yang belajar ilmu silat pukulan.

Selama ini pun semua orang tahu tiada terdapat jurus demikian dalam Ko-san-kiam-hoat, seumpama ada, mengingat nama Hoa-san-pay selayaknya mesti dihindarkan pemakaiannya.

Tapi sekarang Co Leng-tan sengaja menggunakan pedang dan memainkan jurus serangan itu, terang dia bermaksud memancing kemarahan Gak Put-kun.

Kalau marah tentu pula akan kurang cermat dalam pertarungan nanti.

Di luar dugaan Gak Put-kun tetap tenang-tenang saja, ia mengegos ke samping atas bacokan Co Leng-tan tadi, menyusul dari samping ia lantas batas menusuk dengan jurus "Ko-pek-sim-sim" (Cemara Tua Rindang Rimbun).

Melihat sikap Gak Put-kun yang tenang dan teratur itu, jelas orang telah merancangkan pertarungan jangka lama dengan dia, maka Co Leng-tan tidak berani gegabah lagi.

Segera ia melancarkan serangan pula dengan lebih hati-hati.

Begitulah kedua tokoh itu telah bertarung dengan segenap kemahiran masing-masing dengan ilmu pedang dari aliran sendiri-sendiri.

Begitu seru sehingga dalam sekejap saja kedua orang seakan-akan terbungkus rapat oleh sinar pedang.

Meski Gak Put-kun belum ada tanda-tanda akan kalah, tapi di bawah serangan Co Leng-tan yang gencar, tampaknya Ko-san-kiam-hoat lebih banyak digunakan menyerang daripada untuk bertahan.

Sejak timbul cita-cita Co Leng-tan hendak melebur Ngo-gak-kiam-pay, lebih dulu ia telah merangkul tenaga-tenaga Hoa-san-pay dari sekte pedang seperti Seng Put-yu dan kawan-kawannya, mereka dihasut untuk memusuhi Gak Put-kun untuk mengurangi kekuatan Hoa-san-pay, di samping itu diam-diam ia menugaskan murid kepercayaannya untuk meneliti dengan cermat setiap jurus ilmu pedang Hoa-san-pay yang dimainkan Gak Put-kun dan kemudian dilaporkan kepadanya.

Hasilnya Co Leng-tan memang banyak mengetahui titik kekuatan dan titik kelemahan Hoa-san-kiam-hoat.

Maka pertandingan sekarang cukup membuatnya mantap, yakin pasti akan menang.

Kira-kira sudah dekat ratusan jurus kedua pihak masih sama kuatnya.

Suatu ketika Co Leng-tan mendadak angkat pedangnya ke atas, menyusul tangan kiri terus menghantam ke depan, pukulan telapak tangan ini mengancam 36 tempat hiat-to di tubuh musuh bagian atas, kalau Gak Put-kun menghindar tentu juga akan terluka oleh pedang Co Leng-tan.

Di sini mulailah Gak Put-kun memperlihatkan kemampuannya.

Air mukanya mendadak berubah gelap, merah keungu-unguan, ia pun menggunakan telapak tangan kiri untuk menyambut hantaman lawan.

"Blang" , kedua tangan beradu. Gak Put-kun melompat pergi, sebaliknya Co Leng-tan berdiri tegak. Melihat adu pukulan itu, Lenghou Tiong menjadi khawatir dan prihatin atas keselamatan Gak Put-kun. Ia tahu betapa lihai ilmu pukulan Co Leng-tan yang mahadingin itu, tempo hari Yim Ngo-heng saja termakan dan pernah membikin empat orang berubah menjadi manusia salju ketika penyakit dinginnya kumat akibat pukulan Co Leng-tan itu. Namun Gak Put-kun ternyata sanggup bertahan, dengan tenang ia berseru.

"Apakah ilmu pukulanmu ini ilmu silat murni dari Ko-san-pay?"

"Ini adalah ilmu pukulan ciptaanku sendiri, kelak akan kuajarkan kepada murid pilihan dalam Ngo-gak-pay kita,"

Jawab Co Leng-tan.

"Kiranya demikian, biarlah kuminta petunjuk beberapa jurus lebih banyak,"

Kata Gak Put-kun.

"Bagus,"

Sahut Co Leng-tan. Diam-diam ia mengakui juga kelihaian "Ci-he-sin-kang"

Yang dikuasai Gak Put-kun, buktinya sedikitnya ketua Hoa-san-pay itu tidak menggigil dingin, bahkan sanggup buka suara.

Tapi ia yakin kalau Gak Put-kun berani menyambut beberapa jurus ilmu pukulannya yang mahadingin "Han-peng-sin-ciang" (Pukulan Sakti Sedingin Es) akhirnya pasti tak tahan dan akan menggigil.

Segera Co Leng-tan putar pedangnya terus menusuk, cepat Gak Put-kun menangkisnya.

Beberapa jurus lagi.

"blang" , kembali pukulan kedua orang beradu. Sekali ini Gak Put-kun tidak menghindar pergi, sebaliknya pedang terus menebas ke pinggang lawan malah. Giliran Co Leng-tan yang menangkis dengan pedangnya, berbareng telapak tangan kiri terus menggaplok sekeras-kerasnya ke batok kepala lawan. Gaplokan dari atas ke bawah ini sungguh luar biasa dahsyatnya. Tapi Gak Put-kun kembali angkat tangan kiri untuk memapaknya.

"Plok" , untuk ketiga kalinya mereka beradu tangan. Sambil mendakkan tubuh Gak Put-kun terus melompat ke samping. Sedangkan Co Leng-tan lantas mencaci maki.

"Bangsat! Tidak tahu malu!"

Nadanya sangat gusar dan penuh penasaran.

Sudah jelas para penonton menyaksikan Gak Put-kun kecundang, waktu melompat pergi tampaknya juga sempoyongan.

Tapi mengapa Co Leng-tan mencaci makinya dengan gemas, hal ini sungguh membuat mereka bingung.

Kiranya pada adu tangan yang ketiga, mendadak tengah telapak tangan Co Leng-tan terasa sakit, sesudah Gak Put-kun melompat pergi, sekilas Co Leng-tan melihat telapak tangannya ada suatu lubang kecil dan mengeluarkan darah kehitam-hitaman.

Keruan Co Leng-tan terkejut dan murka, ia pikir tentu Gak Put-kun memasang jarum berbisa di tengah tangannya sehingga secara licik melukainya.

Dari darah kehitam-hitaman yang keluar itu terang jarumnya berbisa.

Sungguh tidak nyana tokoh yang bergelar "Pedang Kesatria"

Ternyata begitu rendah perbuatannya.

Cepat ia menghirup hawa segar panjang-panjang, lalu menutuk tiga kali pada bahu kiri sendiri untuk menahan menjalarnya racun.

Sekarang ia tidak mau memberi angin lagi kepada Gak Put-kun, ia putar pedangnya yang melancarkan gerangan dengan lebih gencar.

Bab 117.

Gak Put-kun Keluar Sebagai Pemenang Gak Put-kun juga tidak ayal, ia pun menangkis dan balas menyerang dengan sama ganasnya.

Cuaca sekarang sudah remang-remang mendekati magrib, pertandingan kedua tokoh di atas Hong-sian-tay itu kini bukan pertandingan persahabatan lagi, tapi pertarungan mati-matian, hal ini dapat dilihat dengan jelas oleh para penonton.

Setelah beberapa jurus lagi, melihat lawannya bertahan dengan sangat rapat, Co Leng-tan mulai tidak sabar, makin kuat tenaga yang dikerahkan untuk memainkan pedangnya.

Tampaknya Gak Put-kun mulai kewalahan, tapi mendadak ilmu pedangnya berubah, pedangnya sebentar menjulur sebentar mengerut, gerak serangannya sangat aneh.

Keruan para penonton terheran-heran.

"Ilmu pedang apakah ini?"

Demikian ada orang bertanya dengan suara perlahan. Tapi yang tanya boleh tanya, yang jawab ternyata tidak ada, paling-paling hanya menggeleng kepala saja. Co Leng-tan mendengus, katanya di dalam hati.

"Memangnya aku sudah menduga pada saat terakhir kau tentu akan keluarkan simpananmu ini, kau tidak tahu bahwa sebelumnya aku sudah bersiap. Kau punya ‘Pi-sia-kiam-hoat’ mungkin lihai kalau digunakan terhadap orang lain, tapi bisa berbuat apa terhadapku?"

Lenghou Tiong mengikuti pertarungan Gak Put-kun melawan Co Leng-tan sambil bersandar pada badan Ing-ing.

Ketika mendadak melihat ilmu pedang sang guru berubah aneh dan cepat luar biasa, sama sekali berbeda daripada Hoa-san-kiam-hoat, ia menjadi terheran-heran.

Dalam sekejap saja dilihatnya ilmu pedang yang dimainkan Co Leng-tan juga sudah berubah, gerak pedangnya yang dimainkan sekarang ternyata hampir mirip dengan Gak Put-kun.

Beberapa jurus lagi Lenghou Tiong lantas ingat ketika di Siau-lim-si dahulu, waktu Co Leng-tan bertanding dengan Yim Ngo-heng dengan jurus-jurus serangannya yang aneh, tatkala mana Hiang Bun-thian pernah berseru.

"Pi-sia-kiam-hoat!"

Kini yang digunakan sang suhu dan Co Leng-tan adalah ilmu silat yang pernah dimainkan Co Leng-tan dahulu, apakah yang mereka gunakan sekarang ini memang betul Pi-sia-kiam-hoat adanya?

Seketika pikiran Lenghou Tiong menjadi bergolak, terpikir olehnya, sebab dirinya diusir dari Hoa-san-pay kecuali alasan pergaulannya dengan Ing-ing dan orang-orang Mo-kau, tapi ada pula alasan lain, yaitu karena sang suhu mencurigai dirinya menggelapkan Pi-sia-kiam-boh milik Lim Peng-ci itu.

Bahwasanya sang guru juga mahir Pi-sia-kiam-hoat dapatlah dimengerti, sebab bukan mustahil Gak Put-kun telah mempelajarinya bersama Lim-sute.

Tapi mengapa Co Leng-tan juga mahir memainkan ilmu pedang keluarga Lim ini.

Apa barangkali Pi-sia-kiam-boh dahulu pernah direbut Co Leng-tan dan kemudian direbut kembali oleh Suhu?

Jika demikian halnya rasanya takkan menguntungkan Suhu, sebab Co Leng-tan lebih lama berlatih, tentu hasil yang dicapainya lebih hebat daripada Suhu.

Demikian Lenghou Tiong membatin.

Benar juga, keadaan pertarungan di atas Hong-sian-tay ternyata mendekati dugaannya, tertampak Co Leng-tan terus melancarkan serangan dan Gak Put-kun terdesak mundur.

Melihat banyak kelemahan-kelemahan ilmu pedang yang dimainkan sang guru yang semakin banyak, keadaannya tambah berbahaya, Lenghou Tiong merasa gelisah juga.

Di lain pihak demi melihat Co Leng-tan sudah di pihak menang, serentak anak murid Ko-san-pay sama memberi sorak pujian.

Co Leng-tan semakin bersemangat menyerang dengan gencar, ia merasa girang karena melihat pihak lawan sudah mulai kacau, segera ia menyerang terlebih kuat.

Tidak lama kemudian, ketika kedua pedang beradu, sekali puntir dan menyungkit, Co Leng-tan berhasil membikin pedang Gak Put-kun mencelat ke udara.

Serentak anak murid Ko-san-pay bersorak-sorai gembira.

Tak terduga Gak Put-kun lantas menubruk maju pula dengan bertangan kosong, dengan cara menutuk, mencengkeram, dan gaya-gaya lain, ternyata serangannya tidak kalah lihainya daripada Co Leng-tan.

Terutama gerak tubuhnya yang lincah dan enteng, sebentar di sini, tahu-tahu sudah berada di sana, betapa cepat dan aneh gerakannya sungguh sukar dibayangkan.

Keruan Co Leng-tan terperanjat, teriaknya takut.

"Kau... kau ini...."

Namun untuk bicara saja tidak sempat, terpaksa ia harus bertahan sebisanya.

Begitu tegang perubahan pertarungan di atas panggung itu sehingga pedang Gak Put-kun yang mencelat ke udara dan jatuh kembali menancap di atas panggung tak diperhatikan orang lagi.

"Tonghong Put-pay! Tonghong Put-pay!"

Seru Ing-ing tertahan.

Kini Lenghou Tiong juga sudah dapat melihat jelas bahwa ilmu silat yang digunakan suhunya sekarang tiada ubahnya seperti ilmu silat Tonghong Put-pay ketika gembong Mo-kau itu menempur mereka berempat di Hek-bok-keh dahulu.

Saking kejut dan heran, Lenghou Tiong sampai lupa sakit dan berdiri.

Syukur dari samping sebuah tangan yang mungil lantas menjulur tiba dan memapahnya, namun dia masih tidak merasakannya.

Malahan sepasang mata jelita yang sedang memandangnya dengan kesima juga tidak dirasakannya.

Pada saat itu, beribu-ribu pasang mata di puncak Ko-san itu hanya ada sepasang mata yang sejak mula tidak pernah memerhatikan apa yang terjadi di situ, sedetik pun sorot mata Gi-lim belum pernah meninggalkan diri Lenghou Tiong, sekalipun dunia akan kiamat saat itu mungkin juga tak dihiraukan olehnya.

Sekonyong-konyong terdengar Co Leng-tan menjerit, sedangkan Gak Put-kun terus melompat mundur dan berdiri di ujung panggung sana, tepat di pinggir panggung, badannya rada tergeliat-geliat seperti mau tergelincir ke bawah.

Di sebelah lain Co Leng-tan masih terus putar pedangnya dengan kencang, yang dimainkan adalah Ko-san-kiam-hoat yang hebat, begitu rapat pedangnya berputar sehingga seluruh badannya seakan terbungkus oleh sinar pedangnya.

Anehnya ilmu pedangnya yang hebat itu seakan-akan cuma dimainkan sebagai demonstrasi saja tanpa menyerang kepada Gak Put-kun, keadaannya tampak rada-rada tidak beres.

Sejenak kemudian, mendadak pedang Co Leng-tan menusuk ke depan, lalu berhenti di tengah jalan, kepalanya rada miring seperti sedang mendengarkan apa-apa.

Pada saat itulah orang-orang yang bermata tajam dapat melihat dengan jelas ada dua tetes darah mengucur keluar dari kedua mata Co Leng-tan.

Serentak di antara para penonton ada yang berkata.

"He, matanya buta!"

Ucapan orang itu tidak terlalu keras, namun cukup jelas didengar Co Leng-tan. Ia menjadi gusar dan berteriak.

"Aku tidak buta! Aku tidak buta! Bangsat mana yang bilang aku buta? Hayo Gak Put-kun, pengecut kau, bangsat! Kalau berani majulah dan bergebrak 300 jurus lagi dengan tuanmu!"

Makin berteriak makin keras dengan nada penuh kemurkaan, kesakitan, dan putus asa laksana seekor binatang liar yang terluka parah dan sedang meronta sebelum ajal.

Sebaliknya Gak Put-kun tetap berdiri di ujung panggung dengan tersenyum-senyum.

Kini semua orang dapat melihat dengan jelas, kedua mata Co Leng-tan memang benar telah tertusuk buta oleh Gak Put-kun.

Semuanya melongo heran, hanya Lenghou Tiong dan Ing-ing saja tidak merasa aneh atas kejadian ini.

Sebab ilmu silat yang dimainkan Gak Put-kun itu sudah mereka kenal waktu mereka berempat mengerubut Tonghong Put-pay di Hek-bok-keh tempo hari, untung perhatian Tonghong Put-pay dipencarkan oleh akal Ing-ing yang pura-pura menyerang Nyo Lian-ting sehingga akhirnya Tonghong Put-pay dapat mereka bunuh, walaupun begitu sebelah mata Yim Ngo-heng toh tertusuk buta oleh jarum Tonghong Put-pay.

Gerak tubuh Gak Put-kun memang tidak segesit Tonghong Put-pay, tapi satu lawan satu tentu saja Co Leng-tan bukan tandingan Gak Put-kun, dan memang benar, dalam sekejap saja kedua matanya sudah tertusuk buta.

Melihat sang suhu menang, hati Lenghou Tiong ternyata tidak merasa senang, sebaliknya mendadak timbul semacam perasaan takut yang sukar dikatakan, bahkan juga perasaan muak.

Ia tertegun sejenak, tiba-tiba lukanya terasa sakit, segera ia duduk kembali dengan lesu.

"Kenapa?"

Cepat Ing-ing dan Gi-lim memegangi bahunya dan bertanya dengan khawatir.

"Tidak... tidak apa-apa,"

Jawab Lenghou Tiong dengan senyuman yang dipaksakan. Dalam pada itu terdengar Co Leng-tan lagi berteriak-teriak.

"Gak Put-kun, bangsat kau! Kalau berani hayolah maju lagi, kenapa main sembunyi-sembunyi, pengecut kau... hayo maju!"

Melihat jago pihaknya sudah tak berdaya, si kakek she Han dari Ko-san-pay tadi berkata kepada anak-anak buahnya.

"Kalian pergi memapah turun Suhu!"

Dua murid Co Leng-tan mengiakan terus meloncat ke atas panggung dan berseru.

"Suhu, marilah kita turun saja!"

Namun Co Leng-tan masih terus menantang.

"Hayolah maju Gak Put-kun!"

Ketika seorang muridnya menjulurkan tangan buat memapahnya, sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tahu-tahu tubuhnya telah tertebas menjadi dua mulai dari bahu kanan ke pinggang sebelah kiri.

Menyusul sinar pedang berkelebat pula, muridnya yang lain juga mengalami nasib yang sama, tubuhnya tertebas menjadi dua sebatas dada.

Keruan semua orang menjerit kaget.

Betapa lihai ilmu pedang Co Leng-tan jelas tertampak dari tebasannya barusan ini.

Namun Gak Put-kun toh mampu menandinginya tadi, hal ini pun luar biasa.

Perlahan-lahan Gak Put-kun melangkah ke tengah panggung dan mengambil kembali pedangnya, lalu berkata.

"Co-heng, karena kau sudah cacat, maka aku takkan mengusik kau lagi. Dalam keadaan demikian apakah kau masih ingin berebut menjadi ketua Ngo-gak-pay dengan aku?"

Co Leng-tan angkat pedangnya perlahan-lahan, ujung pedang terarah tepat ke dada lawan.

Darah bertetes-tetes menitik jatuh dari batang pedangnya, semua orang sampai menahan napas karena ingin tahu apakah Co Leng-tan akan menusukkan pedangnya itu dan dapatkah Gak Put-kun menangkisnya?

Tampaknya Co Leng-tan telah mengerahkan segenap tenaganya pada pedangnya itu, sebaliknya Gak Put-kun juga menghimpun kekuatan Ci-he-sin-kang dan siap untuk menghadapi serangan menentukan dari Co Leng-tan itu.

Namun pada detik berbuat dan tidak itu, dalam benak Co Leng-tan tiba-tiba timbul macam-macam pikiran, ia pikir kalau serangan terakhir ini tidak mampu membinasakan Gak Put-kun atau kena ditangkis, maka diri sendiri yang sudah buta tentu tiada pilihan lain kecuali mati konyol di tangan Gak Put-kun, dan itu berarti pula buyarlah semua jerih payah sendiri dalam usaha menjagoi Ngo-gak-pay yang telah berjalan sekian lamanya.

Karena pikiran yang bergolak ini, mendadak dada terasa panas, darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Gak Put-kun yang berdiri berhadapan itu tidak berani bergerak sedikit pun karena khawatir tidak sanggup menahan serangan lawan yang tiba-tiba datangnya, maka mukanya dan sekujur badan menjadi basah kuyup tersembur oleh darah yang ditumpahkan Co Leng-tan itu.

Mendadak Co Leng-tan menyendal pedangnya sehingga patah menjadi beberapa potong, lalu ia menengadah dan bergelak tertawa, begitu keras suara tertawanya hingga berkumandang jauh dan menggema angkasa pegunungan.

Habis tertawa ia terus melangkah ke bawah punggung.

Ketika sampai di tepi dan sebelah kakinya menginjak tempat kosong, namun dia sudah siap sebelumnya, sebelah kakinya lantas melayang ke depan sehingga tubuhnya menurun ke bawah dengan tegak.

Setiba di bawah panggung, anak murid Ko-san-pay lantas merubunginya dan berseru.

"Suhu, marilah kita terjang mereka dan cincang segenap orang Hoa-san-pay itu."

Namun Co Leng-tan lantas berseru lantang.

"Tidak! Seorang laki-laki harus pegang janji. Sebelumnya sudah ditentukan bertanding untuk berebut juara, kalau Gak-siansing jelas lebih unggul daripadaku, kita semua harus mengangkatnya menjadi ketua, mana boleh ingkar janji?"

Ketika kedua matanya mendadak dibutakan tadi, saking kaget dan murkanya ia telah mencaci maki lawannya, tapi sesudah tenang kembali segera pulih pula sikap dan gayanya sebagai seorang pemimpin persilatan yang besar.

Para penonton sama kagum juga melihat Co Leng-tan yang berani menghadapi kenyataan itu, coba kalau sampai terjadi pertarungan besar, tentu pihak Hoa-san-pay akan sukar menghadapi pihak Ko-san-pay yang berjumlah lebih banyak dan keuntungan tempat pula.

Di antara hadirin sudah tentu banyak di antaranya terdiri dari manusia-manusia "plinplan"

Yang cuma mengikuti arah angin, demi mendengar ucapan Co Leng-tan itu, serentak mereka bersorak-sorai.

"Hidup Gak-siansing! Silakan Gak-siansing menjadi ketua Ngo-gak-pay!"

Tentu saja anak murid Hoa-san-pay lebih-lebih gembira dan teriakan mereka paling lantang.

Kemenangan Gak Put-kun yang luar biasa itu sesungguhnya terjadi terlalu cepat dan sama sekali di luar dugaan mereka sendiri.

Setelah mengusap darah yang mengotori mukanya, Gak Put-kun lantas maju ke tepi panggung, serunya sambil memberi hormat kepada para hadirin.

"Pertandingan Cayhe dengan Co-suheng sebenarnya diharapkan berakhir dalam batas-batas tertentu. Namun kepandaian Co-suheng ternyata terlalu hebat sehingga pedangku tergetar lepas, pada saat berbahaya itu Cayhe terpaksa harus menyelamatkan diri sehingga tidak dapat menguasai diri dan akhirnya kedua mata Co-suheng menjadi korban, sungguh Cayhe merasa tidak enak hati."

"Senjata tidak bermata, siapa bisa menjamin takkan cedera dalam pertarungan sengit itu,"

Seru seorang penonton. Tiba-tiba seorang lagi berseru.

"Sekarang kalau ada lagi yang ingin menjadi ketua Ngo-gak-pay, hayolah silakan naik ke atas untuk bertanding pula dengan Gak-siansing!"

Suasana ternyata sepi-sepi saja. Maka beratus-ratus orang lantas berteriak pula.

"Gak-siansing yang pantas menjadi ketua Ngo-gak-pay!"

Menunggu setelah suara ramai itu rada tenang barulah Gak Put-kun berkata dengan suara lantang.

"Atas dukungan Saudara-saudara, terpaksa Cayhe tak bisa menolak. Ngo-gak-pay mulai hari ini didirikan, segala apa masih harus diatur, Cayhe hanya dapat memimpin secara garis besar saja. Maka urusan-urusan di Heng-san diharap Bok-taysiansing tetap memegangnya, urusan di Hing-san hendaklah Lenghou Tiong, Lenghou-hiante, yang melanjutkan. Sedangkan urusan di Thay-san harap Giok-seng dan Giok-im berdua Totiang yang memimpin bersama. Adapun urusan Ko-san-pay, karena pandangan Co-suheng kurang leluasa, kukira harus diperbantukan... baiklah, silakan Han Thian-peng, Han-suheng sudi bantu Co-suheng mengurus pekerjaan sehari-hari."

Usul Gak Put-kun ini sama sekali di luar dugaan tokoh tua she Han dari Ko-san-pay tadi, ia sampai tergagap-gagap tak bisa bicara.

Orang-orang Ko-san-pay dan lain-lain sama heran juga.

Padahal Han Thian-peng itu tadi paling tegas memusuhi Gak Put-kun dengan olok-oloknya secara kasar, siapa duga Gak Put-kun malah menunjuknya sebagai pembantu Co Leng-tan untuk memimpin pekerjaan di Ko-san.

Karena itu rasa gusar orang-orang Ko-san-pay karena kedua mata pemimpin mereka dibutakan Gak Put-kun segera rada berkurang demi melihat tokoh Ko-san-pay mereka masih cukup dihargai oleh Gak Put-kun.

Kemudian Gak Put-kun membuka suara pula.

"Untuk selanjutnya segenap anggota Ngo-gak-kiam-pay kita harus bersatu padu, kalau tidak, maka tiada artinya lagi peleburan ini. Cayhe sendiri sebenarnya tidak punya kepandaian apa-apa, untuk sementara dipilih memegang pimpinan, maka banyak pekerjaan-pekerjaan yang masih harus dirundingkan dengan Saudara-saudara sekalian. Sekarang hari sudah mulai gelap, silakan Saudara-saudara mengaso saja dan dahar dulu!"

Maka bersoraklah semua orang dan beramai-ramai turun menuju ke halaman markas Ko-san-pay.

Ketika Gak Put-kun turun dari panggung, beramai-ramai Hong-ting Taysu, Tiong-hi, dan lain-lain lantas maju memberi selamat padanya.

Tokoh-tokoh itu sama merasa lega setelah Ngo-gak-pay dapat diduduki oleh Gak Put-kun yang dipandang sebagai kesatria yang baik daripada Co Leng-tan yang kejam dan culas itu.

"Gak-siansing,"

Dengan suara perlahan Hong-ting berkata kepada Gak Put-kun.

"menurut pendapatku bukan mustahil pihak Ko-san masih akan mencari perkara padamu. Sebaiknya Gak-siansing berjaga-jaga dan berhati-hati."

"Terima kasih atas petunjuk Taysu,"

Kata Put-kun.

"Siau-sit-san tidak terlalu jauh dari sini, bila perlu apa-apa silakan memberi kabar,"

Kata Hong-ting pula.

"Maksud baik Taysu sungguh kuterima dengan terima kasih tak terhingga,"

Kata Put-kun sambil memberi hormat. Dan setelah beramah tamah sejenak dengan Tiong-hi, Pangcu dari Kay-pang, dan lain-lain, lalu ia mendekati Lenghou Tiong dan menyapa.

"Tiong-ji, apakah lukamu tidak menjadi halangan?"

Sejak Lenghou Tiong dipecat dari Hoa-san-pay baru pertama kali ini Gak Put-kun memanggil "Tiong-ji"

Sedemikian ramahnya kepada Lenghou Tiong. Tapi Lenghou Tiong kini sudah bukan Lenghou Tiong dulu lagi, ia tidak menjadi senang, sebaliknya merasa seram malah, jawabnya dengan suara tak lancar.

"O, ti... dak apa-apa."

"Maukah kau ikut aku pulang ke Hoa-san untuk merawat lukamu sekalian berkumpul beberapa hari dengan ibu-gurumu?"

Kata Put-kun pula.

Kalau beberapa jam sebelumnya Gak Put-kun mengajak demikian tentu Lenghou Tiong akan kegirangan serta menerimanya tanpa pikir.

Tapi sekarang ia menjadi ragu-ragu dan takut-takut untuk ikut ke Hoa-san.

"Bagaimana, mau?"

Tanya pula Put-kun.

"Obat luka Hing-san-pay cukup baik, biarlah sesudah luka Tecu sem... sembuh baru mengunjungi Suhu dan Sunio,"

Jawab Lenghou Tiong. Untuk sejenak Gak Put-kun memandang tajam wajah Lenghou Tiong seakan-akan ingin mengetahui apa sesungguhnya yang dipikir oleh pemuda itu. Selang sejenak barulah ia berkata pula.

"Begitu pun boleh. Hendaklah kau merawat dirimu dengan baik dan selekasnya berkunjung ke Hoa-san."

Lenghou Tiong mengiakan dan meronta bangun dengan maksud hendak memberi hormat.

"Sudahlah, tak perlu,"

Kata Put-kun ramah sambil mengulur tangan untuk memegang lengan kanan orang.

Tapi Lenghou Tiong lantas mengelakkan tubuhnya, air mukanya tanpa terasa memperlihatkan rasa takut.

Gak Put-kun mendengus perlahan, sekilas mukanya bersungut, tapi segera pula ia tersenyum, katanya dengan gegetun.

"Siausumoaymu sungguh keterlaluan, untung tidak mengenai tempat yang berbahaya."

Habis itu perlahan-lahan ia memutar tubuh dan melangkah ke sana dengan diiringi beberapa ratus pendukungnya.

Pandangan Lenghou Tiong mengikuti bayangan sang guru perlahan-lahan menghilang di balik lereng gunung sana, begitu pula para hadirin berturut-turut juga sudah pergi.

Tiba-tiba didengarnya suara seorang perempuan mendengus.

"Hm, munafik!"

Kata-kata itu entah diucapkan oleh murid perempuan Hing-san-pay yang mana, yang pasti kata "munafik"

Benar-benar menyentuh lubuk hati Lenghou Tiong.

Dalam saat demikian tiada istilah lain yang lebih cocok untuk mencerminkan apa yang dirasakannya sekarang ini.

Seorang guru berbudi yang paling dihormati dan dikasihinya sekonyong-konyong telah terbuka kedoknya sehingga tertampak mukanya yang bengis menyeramkan, muka yang culas dan keji.

Sementara itu hari sudah gelap, di samping Hong-sian-tay itu tinggal orang-orang Hing-san-pay saja, yang lain-lain sudah pergi semua.

"Lenghou-toako, apakah kita juga akan turun ke bawah?"

Tanya Gi-ho.

"Bagaimana kalau kita bermalam saja di sini?"

Ujar Lenghou Tiong.

Ia merasa akan lebih baik juga bisa menjauhi Gak Put-kun, maka tidak ingin bertemu muka dengan gurunya di markas Ko-san-pay.

Ternyata ucapan Lenghou Tiong sangat cocok dengan pikiran para murid Hing-san-pay, mereka sama bersorak menyatakan persetujuan.

Soalnya mereka pun muak terhadap Gak Put-kun.

Seperti diketahui, ketika di Kota Hokciu dahulu mereka pernah minta bantuan kepada Gak Put-kun ketika menerima berita Ting-sian Suthay sedang dikerubut musuh, namun Gak Put-kun telah menolak permintaan mereka tanpa mengingat hubungan baik sesama Ngo-gak-kiam-pay.

Sekarang Lenghou Tiong dilukai pula oleh Gak Leng-sian, malah kedudukan ketua Ngo-gak-pay kena direbut oleh Gak Put-kun, sudah tentu mereka sangat mendongkol dan lebih suka bermalam di tempat terbuka, seperti di samping Hong-sian-tay itu, daripada mesti berkumpul dengan Gak Put-kun dan begundalnya.

Maka Gi-jing lantas berkata juga.

"Lenghou-suheng terluka, memang paling baik kalau tinggal di sini saja daripada banyak bergerak. Hanya saja Toako ini...."

Sampai di sini matanya melirik ke arah Ing-ing.

"Dia bukan toako, tapi Yim-toasiocia,"

Kata Lenghou Tiong dengan tertawa.

Sedari tadi Ing-ing masih terus memapah Lenghou Tiong.

Ia menjadi malu karena mendadak Lenghou Tiong membongkar rahasia penyamarannya itu, cepat ia lepaskan tangan dan berbangkit.

Lantaran tidak berjaga-jaga, keruan tubuh Lenghou Tiong menjadi terhuyung ke belakang.

Untung Gi-lim yang berdiri di sebelahnya lantas memegangi bahu kirinya sambil berseru.

"Eh, hati-hati!"

Gi-ho, Gi-jing, dan lain-lain memang sudah mengetahui kisah cinta antara Ing-ing dan Lenghou Tiong yang mendalam dan lain daripada yang lain, yang satu pernah mendatangi Siau-lim-si, rela mengorbankan jiwa sendiri demi menyelamatkan jiwa kekasih, yang lain kemudian memimpin beribu-ribu orang Kang-ouw menyerbu Siau-lim-si untuk menolongnya, peristiwa itu pernah mengguncangkan seluruh dunia Kang-ouw dan diketahui oleh setiap orang bu-lim.

Kini demi diketahui bahwa lelaki berewok di depan mereka ini ternyata Yim-toasiocia dari Tiau-yang-sin-kau yang termasyhur itu, banyak di antara mereka sampai berseru kaget tercampur girang.

Pada umumnya anak murid Hing-san-pay jarang berkelana di dunia Kang-ouw, maka mereka pun tidak banyak bermusuhan dengan Tiau-yang-sin-kau atau yang biasa disebut Mo-kau, apalagi dalam pandangan mereka Yim-toasiocia ini sudah mereka anggap sebagai calon istri sang ketua, tentu saja pertemuan mereka sekarang menjadi sangat menyenangkan.

Segera Gi-ho dan lain-lain mengeluarkan perbekalan sebangsa ransum kering dan air untuk dibagi-bagikan, habis makan mereka lantas merebahkan diri di samping Hong-sian-tay itu.

Lenghou Tiong sendiri terluka, dengan sendirinya sangat lelah dan lemah badannya, maka tidak lama ia lantas terpulas.

Sampai tengah malam, tiba-tiba di kejauhan ada suara bentakan kaum wanita.

"Siapa itu?"

Meski terluka parah, namun dengan lwekang yang tinggi segera Lenghou Tiong terjaga bangun.

Dari suara tadi ia tahu anak murid Hing-san-pay yang dinas jaga sedang menegur kaum pendatang.

Maka terdengar seorang menjawab.

"Sesama kawan Ngo-gak-pay, murid Gak-siansing dari Hoa-san."

Ternyata suara Lim Peng-ci adanya.

"Ada urusan apa malam-malam datang ke sini?"

Tanya pula murid Hing-san-pay tadi "Cayhe ada janji dengan orang untuk bertemu di bawah Hong-sian-tay, sebelumnya tidak tahu kalau para Suci beristirahat di sini, harap maaf kalau mengganggu,"

Jawab Peng-ci dengan sopan. Pada saat itulah dari arah barat sana berkumandang suara seorang tua.

"Bocah she Lim, kau telah menyiapkan teman Ngo-gak-pay kalian di sini, apakah kau ingin main kerubut dan mencari perkara padaku?"

Dengan jelas Lenghou Tiong dapat mengenali pembicara itu adalah Ih Jong-hay, itu ketua Jing-sia-pay yang berbadan pendek kecil itu. Ia rada terkejut dan membatin.

"Lim-sute dan Ih Jong-hay telah mengikat permusuhan berhubung terbunuhnya kedua orang tuanya, sekarang mereka berjanji bertemu di sini tentu untuk membereskan persoalan utang darah ini."

Maka terdengar Lim Peng-ci sedang menjawab teguran Ih Jong-hay tadi.

"Sebelumnya aku tidak tahu kalau para Suci dari Hing-san-pay bermalam di sini. Biarlah kita mencari tempat lain saja agar tidak mengganggu ketenangan orang lain."

"Hahahaha! Ketenangan orang lain sudah kau ganggu, tapi kau masih bicara muluk-muluk dan pura-pura baik hati. Dasar, ada bapak mertua begitu tentu juga ada menantu begini. Nah, apa yang akan kau katakan lekas dikeluarkan agar sama-sama bisa tidur nyenyak."

"Hm, ingin tidur nyenyak? Jangan kau harapkan lagi selama hidupmu ini,"

Jengek Lim Peng-ci.

"Orang-orang Jing-sia-pay kalian yang datang seluruhnya ada 24 orang termasuk kau, aku mengundang kalian datang semua ke sini, mengapa yang datang sekarang cuma tiga orang?"

"Hm, kau ini barang macam apa? Masakah kau berani suruh aku begini dan begitu?"

Jawab Ih Jong-hay dengan tertawa.

"Aku cuma mengindahkan bapak mertuamu karena dia baru saja menjabat ketua Ngo-gak-pay, makanya aku mau penuhi undanganmu. Nah, kalau mau kentut lekas keluarkan, kalau mau berkelahi lekas lolos senjata, biar kulihat apakah Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kalian sudah lebih maju atau tidak."

Perlahan-lahan Lenghou Tiong bangkit berduduk, di bawah sinar bulan yang remang-remang dilihatnya Peng-ci berdiri berhadapan dengan Ih Jong-hay dalam jarak beberapa meter jauhnya.

Ia masih ingat Lim Peng-ci pernah menolongnya ketika ketua Jing-sia-pay itu hendak menghantamnya di Kota Heng-san selagi dia terluka parah, kalau pukulan Ih Jong-hay dahulu itu kena, tidak mungkin dirinya sanggup hidup sampai sekarang.

Sekarang Lim-sute itu menantang Ih Jong-hay ke sini, mungkin sekali Suhu dan Sunio akan segera datang untuk membantunya.

Kalau Suhu dan Sunio tidak datang dengan sendirinya aku tak bisa tinggal diam.

Demikian pikir Lenghou Tiong.

Dalam pada itu terdengar Ih Jong-hay sedang mengolok-olok.

"Hm, kalau kau berani seharusnya kau datang seorang diri untuk menuntut balas padaku di Jing-sia-san, cara beginilah baru terhitung perbuatan seorang laki-laki sejati, tapi sekarang kau menantang aku ke sini, sebaliknya secara licik menyiapkan serombongan kaum nikoh di sini untuk mengeroyok aku. Huh, sungguh tidak tahu malu. Benar-benar menggelikan."

Gi-ho tidak tahan karena pihaknya disinggung-singgung, segera ia berseru.

"Persetan dengan urusan kalian, kalau kalian mau berkelahi hingga mampus semua juga Hing-san-pay kami takkan ambil pusing. Hm, kau tojin pendek ini sebaiknya jangan ngaco-belo, kalau memang takut boleh lekas lari saja, tapi Hing-san-pay kami jangan diikutcampurkan."

Ia tidak tahu dahulu Lim Peng-ci pernah menyelamatkan nyawa Lenghou Tiong, soalnya ia tidak suka kepada Gak Leng-sian dan dengan sendirinya juga jemu terhadap suami Leng-sian.

Ih Jong-hay sendiri mempunyai hubungan yang cukup rapat dengan Co Leng-tan, kehadirannya ke Ko-san sekarang juga atas undangan Co Leng-tan untuk memperkuat barisannya.

Ketika sampai di Ko-san dalam dugaan Ih Jong-hay tentulah Co Leng-tan yang akan menduduki jabatan ketua Ngo-gak-pay, sebab itulah ia tidak menaruh perhatian terhadap orang Hoa-san-pay yang memusuhinya.

Siapa duga akhirnya jabatan ketua Ngo-gak-pay kena direbut Gak Put-kun, ia menjadi kecewa dan malam-malam bermaksud meninggalkan Ko-san.

Tapi waktu turun dari puncak Ko-san itu, tiba-tiba Lim Peng-ci menghampirinya, dengan suara perlahan pemuda itu mengajaknya mengadakan pertemuan di pelataran Hong-sian-tay.

Meski Peng-ci bicara dengan suara perlahan, namun sikapnya angkuh dan kasar sehingga Ih Jong-hay sangat mendongkol dan terima baik tantangannya.

Bab 118.

Cara Balas Dendam yang Luar Biasa Yang dikhawatirkan Ih Jong-hay hanya kalau pihak lawan main kerubut.

Maka kedatangan ke Hong-sian-tay sengaja diperlambat sedikit sehingga berada di ke belakang Lim Peng-ci, tujuannya ingin tahu apakah pemuda itu membawa bala bantuan.

Tak terduga Peng-ci ternyata datang sendirian ke tempat yang dijanjikan ini.

Diam-diam Ih Jong-hay bergirang, anak murid Jing-sia-pay yang dibawanya lantas ditinggalkan, hanya dua orang muridnya saja yang diajak naik ke Hong-sian-tay agar tidak dipandang hina oleh pihak lawan.

Anak muridnya yang lain tersebar di sekeliling puncak gunung itu untuk memberi bantuan bila perlu.

Ketika sampai di puncak atas, dilihatnya di samping Hong-sian-tay banyak orang berbaring di situ, tidak Lim Peng-ci saja yang kaget, bahkan Ih Jong-hay juga terkejut dan mengira dirinya tertipu.

Tapi kemudian demi mendengar ucapan Gi-ho, walaupun secara kasar Gi-ho menyebutnya sebagai "tojin pendek", namun nadanya menyatakan takkan bantu pihak mana pun, maka legalah hati Ih Jong-hay.

"Baik sekali jika kalian takkan membantu pihak mana pun,"

Kata Jong-hay kemudian.

"Silakan kalian menyaksikan saja, bagaimana hasilnya nanti pertandingan antara ilmu pedang Jing-sia-pay melawan ilmu pedang Hoa-san-pay."

Setelah merandek sejenak, kemudian ia menyambung pula.

"Jangan kalian mengira Gak Put-kun dapat mengalahkan Co-suheng secara kebetulan lantas ilmu pedangnya sudah jempolan. Seumpama ilmu pedangnya memang nomor satu di antara Ngo-gak-pay, namun tiap-tiap golongan dan aliran persilatan di bu-lim masing-masing mempunyai ilmu silat tunggal sendiri-sendiri, betapa pun Hoa-san-kiam-hoat juga belum pasti terhitung nomor satu di dunia ini. Menurut pandanganku, melulu ilmu pedang Hing-san-pay saja sudah jelas lebih bagus daripada Hoa-san-kiam-hoat."

Dengan ucapannya itu, pertama ia bermaksud mengadu domba, kedua bertujuan membikin senang hati anak murid Hing-san-pay agar mereka benar-benar tidak ikut campur dan tidak membantu Lim Peng-ci.

Dan asalkan pertarungan satu lawan satu, maka hampir dapat dipastikan dirinya akan mengalahkan bocah she Lim itu dengan mudah.

Sudah tentu nada ucapan Ih Jong-hay yang punya arti tertentu itu pun dapat ditangkap oleh orang-orang Hing-san-pay.

Segera Gi-ho berkata pula.

"Jika kalian mau berkelahi boleh silakan sesukamu, kenapa mesti mengganggu ketenteraman orang yang hendak tidur? Hm, kau tahu aturan tidak?"

Diam-diam Ih Jong-hay sangat gusar, pikirnya.

"Kurang ajar kaum nikoh busuk ini, saat ini aku tidak sempat membikin perhitungan dengan kalian, kelak kalau orang Hing-san-pay kalian kepergok aku di kalangan Kang-ouw barulah kalian tahu rasa."

Dasar Ih Jong-hay memang berjiwa sempit, sudah biasa anggap dirinya paling hebat, paling jempol, angkatan muda persilatan kalau tidak menghormatinya tentu akan mendapat kesukaran.

Seperti kata-kata kasar Gi-ho tadi, di waktu biasa tentu Ih Jong-hay sudah marah-marah dan mendampratnya.

Dalam pada itu Peng-ci telah melangkah maju dua-tiga tindak, lalu berkata.

"Ih Jong-hay, kau pernah mengincar kiam-boh pusaka keluarga kami, kau membunuh pula ayah-bundaku, belasan anggota Hok-wi-piaukiok kami juga tewas di tangan Jing-sia-pay kalian, utang darah itu sekarang harus kau bayar dengan darahmu pula."

Ih Jong-hay menjadi gusar, teriaknya.

"Putraku sendiri mati di tangan kau binatang cilik ini, andaikan kau tidak mencari aku juga aku yang akan cari kau dan mencincang anjing kecil kau ini sampai hancur luluh. Apa kau kira berlindung di bawah Hoa-san-pay lantas bisa menyelamatkan jiwamu?"

"Sret" , segera ia melolos pedangnya. Di bawah sinar bulan pedangnya tampak gemerdep. Namun Peng-ci masih tidak mengeluarkan senjatanya, ia maju dua langkah pula sehingga jaraknya dengan Ih Jong-hay sekarang tinggal dua-tiga meter jauhnya, dengan kepala rada miring ia melototi Ih Jong-hay. Mendongkol juga Ih Jong-hay melihat lawannya belum mau melolos senjata, pikirnya.

"Berani kau pandang enteng padaku? Hm, sebentar asal pedangku bergerak sedikitnya akan kurobek perutmu hingga ke tenggorokan. Soalnya kau terhitung angkatan muda, tidak enak bagiku untuk menyerang lebih dulu."

Maka segera ia membentak.

"Hayo lolos pedangmu!"

Dia sudah bersiap-siap, begitu Peng-ci memegang gagang pedangnya dan menariknya, sebelum pedang lawan terlolos keluar dari sarungnya segera akan mendahului membedah perut lawan.

Melihat gaya pedang Ih Jong-hay itu, cepat Lenghou Tiong memperingatkan Peng-ci.

"Awas, Lim-sute, dia akan menusuk perutmu!"

Tapi Peng-ci hanya mendengus, sekonyong-konyong ia menerjang ke depan, hanya dalam sekejap saja jaraknya dengan Ih Jong-hay tinggal satu kaki jauhnya, begitu dekat sehingga hidung kedua orang hampir-hampir saling cium.

Gerak terjangan Lim Peng-ci ini sungguh sukar dibayangkan orang, betapa cepat gerak tubuhnya juga sukar dilukiskan.

Karena terjangan Peng-ci yang merapat itu kedua tangan dan pedang yang dipegang Ih Jong-hay sekarang menjadi berada di belakang lawan malah kalau dijulurkan.

Tentu saja Ih Jong-hay tidak dapat menekuk pedangnya membalik untuk menusuk punggung Peng-ci, pada saat itu juga tahu-tahu tangan kiri Peng-ci sudah mencengkeram pundak kanannya dan tangan kanan menahan di ulu hatinya.

Seketika Ih Jong-hay merasa koh-cing-hiat di pundak lemas linu, lengan kanan menjadi lumpuh tak bertenaga, pedang hampir terlepas dari cekalan.

Hanya sekali gebrak saja Lim Peng-ci sudah menguasai lawannya, geraknya yang aneh tampaknya malah lebih hebat daripada cara Gak Put-kun mengalahkan Co Leng-tan, namun gaya permainan Peng-ci ternyata serupa dengan Gak Put-kun.

"Tonghong Put-pay!"

Tanpa terasa Lenghou Tiong dan Ing-ing menyebut bersama dan saling pandang.

Keduanya sama-sama melihat sorot mata masing-masing mengandung rasa kaget dan bingung.

Nyata jurus yang dipakai Lim Peng-ci tadi persis adalah ilmu silat yang digunakan Tonghong Put-pay di Hek-bok-keh tempo hari.

Agaknya Peng-ci tidak mengerahkan tenaga pada telapak tangan yang menahan di depan dada lawan tadi.

Di bawah sinar bulan dilihatnya sorot mata Ih Jong-hay memperlihatkan rasa kaget dan takut yang luar biasa, alangkah senang rasa hati Peng-ci, ia merasa kalau musuh dibunuh secara begitu saja akan terlalu murah baginya.

Pada saat itulah dari jauh bergema suara Gak Leng-sian yang sedang memanggil-manggil.

"Adik Peng, Adik Peng! Ayah suruh kau mengampuni dia sekali ini!"

Sambil berseru ia pun berlari-lari ke atas puncak.

Ketika tiba-tiba melihat Peng-ci berdiri berhadapan dengan Ih Jong-hay dalam jarak begitu dekat, Leng-sian menjadi tertegun.

Dengan khawatir ia memburu maju pula, tapi ia menjadi lega ketika melihat sebelah tangan Peng-ci memegangi hiat-to penting di tubuh Ih Jong-hay dan tangan lain menahan di depan dada musuh itu.

"Ayah bilang, betapa pun hari ini Ih-koancu adalah tamu kita, maka janganlah kita membikin susah padanya,"

Kata Leng-sian pula.

Peng-ci hanya mendengus saja, tangan kiri yang memegang koh-cing-hiat di pundak Ih Jong-hay itu mencengkeram terlebih kuat dengan segenap tenaga dalamnya.

Ih Jong-hay tambah kesakitan dan linu hiat-to bagian pundak itu, tapi lantas dirasakan tenaga dalam lawan sebenarnya cuma sebegitu saja, celakanya hiat-to sendiri terpegang sehingga tak bisa berkutik, kalau tidak, melulu lwekang masing-masing saja dirinya jelas jauh lebih kuat.

Seketika ia menjadi gemas dan sedih pula.

Sudah terang ilmu silat lawan sangat rendah, meski berlatih sepuluh tahun lagi juga bukan tandingan dirinya, tapi sedikit lengah tadi dirinya juga kena dibekuk lebih dulu, maka hancurlah nama baiknya selama ini, bahkan besar kemungkinan lawan takkan tunduk kepada perintah Gak Put-kun lantaran ingin menuntut balas kematian ayah-ibunya, jiwa sendiri bisa jadi akan melayang segera.

Syukur didengarnya Gak Leng-sian berkata pula.

"Ayah suruh kau mengampuni jiwanya hari ini. Untuk menuntut balas masakah khawatir dia bisa terbang ke langit?"

Mendadak Peng-ci angkat tangan kiri.

"plak-plak" , Ih Jong-hay ditempelengnya dua kali. Gusar Ih Jong-hay tidak kepalang, tapi apa daya, sebelah tangan Peng-ci masih menempel di ulu hatinya, biarpun lwekang pemuda itu tidak seberapa, tapi sedikit mengerahkan tenaga sudah cukup membuat ulu hatinya tergetar pecah, bila sekaligus terbinasa masih mendingan, yang dikhawatirkan adalah tenaga Peng-ci yang kepalang tanggung itu hanya membuatnya setengah mati setengah hidup, itulah yang celaka. Lantaran begitu, maka sedikit pun Ih Jong-hay tidak berani meronta. Setelah menempeleng dua kali, sambil tertawa panjang Peng-ci lantas melompat mundur beberapa meter jauhnya, matanya tetap melototi Ih Jong-hay, cuma tidak bicara lagi. Mestinya Ih Jong-hay bermaksud melabrak pemuda itu, tapi mengingat sekali gebrak saja dirinya sudah keok, hal ini disaksikan orang banyak dengan jelas. Kalau sekarang dirinya melabrak lagi, ini berarti tidak mengakui kekalahannya tadi, cara memalukan ini betapa pun tak bisa dilakukannya, maka urunglah dia melangkah maju. Di lain pihak tertampak Peng-ci hanya mendengus saja, lalu putar tubuh dan tinggal pergi tanpa pedulikan sang istri. Leng-sian membanting kaki tanda mendongkol, sekilas dilihatnya Lenghou Tiong duduk di pinggir Hong-sian-tay, segera didekatinya dan menyapa.

"Toasuko, apakah lukamu tidak... tidak berhalangan?"

"Aku... aku...."

Begitu melihat siausumoay ini, seketika jantung Lenghou Tiong berdebar-debar sehingga bicara pun sukar.

"Jangan khawatir kau, dia takkan mati!"

Gi-ho menimbrung. Dengan menunduk kepala perlahan-lahan Leng-sian melangkah pergi, ketika akan turun ke bawah puncak, tiba-tiba ia menoleh dan berkata.

"Toasuko, kedua Suci utusan Hing-san-pay yang tertahan di Hoa-san kami itu segera akan kami antar pulang. Ayah mengatakan perbuatan kami itu memang kurang sopan, harap dimaafkan."

"Ya, baik, baik!"

Sahut Lenghou Tiong dengan tergagap, rasanya seperti kehilangan sesuatu menyaksikan kepergian Gak Leng-sian itu. Tiba-tiba terdengar Gi-ho menjengek, katanya.

"Hm, di mana kebaikan perempuan seperti ini? Dibandingkan Yim-toasiocia kita, biarpun dijadikan tukang gosok sepatu juga belum memenuhi syarat."

Lenghou Tiong terkejut, baru sekarang ia ingat bahwa Ing-ing saat itu pun berada di sebelahnya, tentu saja si nona dapat menyaksikan betapa dirinya menjadi linglung menghadapi siausumoaynya itu, seketika wajah Lenghou Tiong menjadi merah.

Dilihatnya Ing-ing bersandar pada dinding Hong-sian-tay seperti lagi mengantuk, diam-diam ia berharap semoga Ing-ing benar-benar tertidur sehingga tidak menyaksikan kejadian-kejadian tadi.

Namun Ing-ing adalah nona yang cerdik dan cermat, dalam saat demikian mana bisa dia tertidur?

Dengan pikirannya itu Lenghou Tiong juga tahu dirinya sedang menipu dirinya sendiri.

Ia bermaksud mengada-ada untuk mengajak omong Ing-ing, tapi bingung juga sebab tidak tahu apa yang harus dibicarakan.

Kalau menghadapi siausumoaynya ia menjadi gugup, tapi menghadapi Ing-ing segera Lenghou Tiong menjadi pintar.

Jika tiada sesuatu yang dapat dibicarakan, cara yang paling baik adalah tidak bicara apa-apa, bahkan cara yang lebih baik adalah membelokkan perhatian Ing-ing ke urusan lain.

Maka perlahan-lahan Lenghou Tiong lantas merebahkan dirinya, sesudah berbaring mendadak ia merintih perlahan seakan-akan lukanya menimbulkan rasa sakit.

Benar juga Ing-ing menjadi khawatir, ia menggeserkan tubuhnya mendekat dan bertanya dengan perlahan.

"Apakah lukamu tersentuh sakit?"

"O, tidak apa-apa,"

Sahut Lenghou Tiong sambil memegangi tangan si nona.

Ing-ing bermaksud melepaskan tangannya, tapi terasa genggaman Lenghou Tiong sangat kencang, khawatir kalau gerak tangannya membikin sakit luka Lenghou Tiong, terpaksa Ing-ing membiarkan tangannya digenggam.

Rupanya Lenghou Tiong menjadi sangat lelah karena terlalu banyak keluar darah, tidak lama kemudian ia pun terpulas.

Esok paginya ketika terjaga bangun, ternyata sinar sang surya sudah memenuhi puncak pegunungan itu.

Lenghou Tiong bangkit berduduk, ternyata tangan Ing-ing masih tergenggam olehnya, ia tersenyum kepada si nona.

Dengan wajah merah cepat Ing-ing menarik tangannya.

"Marilah kita pulang ke Hing-san saja!"

Seru Lenghou Tiong.

Sementara itu Dian Pek-kong sudah menyiapkan sebuah usungan kayu, bersama Put-kay Hwesio segera mereka berdua menggotong Lenghou Tiong turun dari puncak Ko-san.

Ketika lewat di kuil induk kediaman orang Ko-san-pay, tertampak Gak Put-kun dan anak muridnya berdiri di depan pintu, dengan muka berseri-seri ia mengantarkan keberangkatan Lenghou Tiong dan pengiringnya.

Hanya Gak-hujin dan Gak Leng-sian tidak tampak berada di antara orang-orang Hoa-san-pay itu.

"Maaf Suhu, Tecu tidak dapat memberi hormat padamu untuk mohon diri,"

Kata Lenghou Tiong.

"Ah, tidak usah,"

Jawab Gak Put-kun.

"Nanti kalau lukamu sudah sembuh barulah kita berunding lebih jauh. Dengan menjabat ketua Ngo-gak-pay ini aku masih perlu pembantu-pembantu yang dapat dipercaya, kelak masih banyak diharapkan bantuanmu."

Lenghou Tiong hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Langkah Dian Pek-kong dan Put-kay Hwesio ternyata sangat cepat, dalam sekejap saja mereka sudah jauh meninggalkan puncak Ko-san itu.

Setiba di bawah gunung barulah mereka menyewa beberapa kereta keledai untuk menampung Lenghou Tiong yang terluka dan Ing-ing.

Menjelang magrib sampailah mereka di suatu kota kecil.

Terlihat di depan sebuah warung makan yang beratap bambu penuh berduduk tamu yang sedang minum, ternyata orang-orang Jing-sia-pay semua, Ih Jong-hay juga berada di antaranya.

Melihat kedatangan rombongan Hing-san-pay, air muka Ih Jong-hay berubah seketika, ia sengaja berpaling ke arah lain dan pura-pura tidak tahu.

Karena kota kecil itu tiada warung makan lain, terpaksa orang-orang Hing-san-pay mencari tempat duduk di emper rumah seberang.

The Oh dan Cin Koan lantas mendatangi warung itu untuk pesan wedang panas bagi Lenghou Tiong.

Selagi tukang warung memasak air untuk menyiapkan pesanan tamunya, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai, debu mengepul tinggi dari arah sana, dua penunggang kuda sedang mendatangi dengan cepat.

Setiba di depan warung itu, sekonyong-konyong kedua penunggang kuda itu menarik tali kendali.

Ternyata kedua penunggang kuda itu adalah Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian.

"Ih Jong-hay, jelas kau mengetahui aku pasti mencari kau lagi, kenapa kau tidak lekas-lekas melarikan diri?"

Teriak Peng-ci. Lenghou Tiong yang berada di dalam kereta itu dapat mengenali suara pembicara itu, ia berkata.

"Apakah Lim-sute yang menyusul tiba?"

Ing-ing mengiakan, segera ia menggulung tirai kereta agar Lenghou Tiong dapat melihat keadaan di luar.

Ih Jong-hay duduk di atas bangku dan sedang menghirup secangkir teh panas, mula-mula ia tidak gubris, setelah habis minum barulah menjawab.

"Hm, memangnya aku sedang menunggu kau mengantarkan jiwamu!"

"Baik!"

Kata Peng-ci.

Begitu tercetus ucapannya itu, tahu-tahu pedang sudah terlolos dan melompat turun dari kudanya, sekali pedang menusuk ke samping, menyusul ia mencemplak kembali ke atas kudanya, sekali membentak, bersama Gak Leng-sian mereka melarikan kudanya dengan cepat.

Ternyata seorang murid Jing-sia-pay yang berdiri di tepi jalan perlahan-lahan roboh terkulai, darah segar mengucur keluar dari dadanya.

Sungguh sukar diperkirakan orang cara Peng-ci menyerang tadi.

Dia melolos pedang dan melompat turun dari kuda, tujuannya jelas hendak melabrak Ih Jong-hay.

Hal ini sebenarnya sangat kebetulan bagi ketua Jing-sia-pay itu, sebab ia tahu baik ilmu pedang maupun lwekang pemuda lawan itu sangat cetek, diam-diam Ih Jong-hay bergirang, ia yakin sekali bergebrak dengan mudah jiwa Lim Peng-ci pasti akan dibikin melayang, maka akan terbalaslah rasa malunya di Hong-sian-tay semalam.

Bahwasanya kelak Gak Put-kun mungkin akan menuntut balas padanya adalah urusan belakang, demikian pikirnya.

Tapi siapa dapat menduga bahwa serangan Lim Peng-ci itu ternyata tidak ditujukan padanya, tapi di tengah jalan mendadak ganti sasaran, seorang muridnya ditusuk mati, lalu mencemplak kembali ke atas kuda dan tinggal pergi begitu saja.

Kaget dan gusar pula Ih Jong-hay, dengan cepat ia melompat bangun terus mengudak, namun lari kuda Peng-ci dan Leng-sian terlalu cepat baginya, betapa pun sukar untuk menyusulnya.

Cara Peng-ci menyerang yang luar biasa tadi membikin Lenghou Tiong melongo juga, ia pikir kalau serangan demikian itu ditujukan padanya mungkin sukar juga menangkisnya jika kebetulan tidak bersenjata, maka tiada pilihan lain kecuali tertusuk mati.

Sebenarnya kalau bicara tentang ilmu pedang, Lenghou Tiong yakin masih jauh di atas Lim Peng-ci, cuma terhadap tipu serangan Peng-ci tadi Lenghou Tiong benar-benar bingung dan tiada cara baik untuk mematahkannya.

Saat itu Ih Jong-hay sedang mencaci maki sambil tuding Lim Peng-ci yang sudah kabur jauh, sudah tentu caci makinya itu tak terdengar.

Dengan penuh rasa murka yang tak terlampiaskan, tiba-tiba Ih Jong-hay memutar balik terus memaki orang-orang Hing-san-pay.

"Hm, kawanan nikoh busuk, kalian sudah tahu anak jadah she Lim itu mau datang ke sini, maka kalian datang lebih dulu menunggu di sini. Baik, binatang kecil itu sudah lari, kalau berani marilah kita saja yang bertempur."

Di antara anak murid Hing-san-pay, watak Gi-ho paling berangasan, segera ia lolos pedang dan menjawab.

"Hm, mau berkelahi hayolah maju, siapa yang takut padamu?"

Padahal orang Hing-san-pay jauh lebih banyak daripada pihak Jing-sia-pay, ditambah lagi Put-kay Hwesio, Dian Pek-kong, Ing-ing, dan Tho-kok-lak-sian, kalau benar-benar bertempur terang pihak Jing-sia-pay tak bisa melawannya.

Sudah tentu kekuatan yang tak seimbang ini cukup diketahui Ih Jong-hay, soalnya dia sedang murka sehingga hatinya tak tahan meski biasanya dia dapat berpikir panjang dan banyak tipu akalnya.

Syukur Lenghou Tiong lantas mencegah, serunya.

"Gi-ho Suci, jangan gubris padanya!"

Ing-ing lantas membisiki Tho-kok-lak-sian.

Sekonyong-konyong Tho-kin-sian, Tho-yap-sian, Tho-kan-sian, dan Tho-hoa-sian berempat terus melompat ke sana menubruk kepada seekor kuda yang tertambat di tepi warung sana.

Kuda itu adalah kuda tunggangan Ih Jong-hay.

Hanya terdengar suara meringkik ngeri, tahu-tahu kuda itu telah dibetot dan robek menjadi empat bagian sehingga isi perut berceceran dan darah berhamburan.

Badan kuda itu tinggi besar, tapi dengan bertangan kosong Tho-kok-si-sian telah merobeknya menjadi empat dengan membetot keempat kakinya, betapa hebat tenaga mereka sungguh luar biasa.

Keruan anak murid Jing-sia-pay sama ketakutan, anak murid Hing-san-pay juga berdebar hatinya menyaksikan adegan ngeri itu.

"Ih-loto, orang she Lim bermusuhan dengan kau, tapi kami tidak memihak siapa-siapa dan hanya menonton saja di pinggir, janganlah kau menyangkutpautkan kami. Kalau benar-benar mau berkelahi jelas kalian tak bisa menang, sebaiknya kau tahu diri sedikit,"

Kata Ing-ing. Setelah menyaksikan kelihaian Tho-kok-si-sian tadi, seketika lagak garang Ih Jong-hay tadi lenyap, ia simpan kembali pedangnya dan berkata.

"Jika kita tidak saling mengganggu, maka bolehlah kita ambil jalan sendiri-sendiri, silakan kalian jalan dahulu!"

"Itu tidak bisa, kami harus mengikuti kalian,"

Kata Ing-ing.

"Apa sebab?"

Tanya Ih Jong-hay dengan mengerut kening.

"Terus terang, karena ilmu pedang orang she Lim itu teramat aneh, kami ingin melihat secara jelas,"

Kata Ing-ing.

Terkesiap hati Lenghou Tiong, apa yang dikatakan Ing-ing ternyata sama dengan isi hatinya.

Begitu aneh ilmu pedang Lim Peng-ci sampai Tokko-kiu-kiam juga sukar mematahkannya, maka ia memang ingin mengetahui gerak ilmu pedang Peng-ci itu secara jelas.

Terdengar Ih Jong-hay menjawab.

"Kau ingin tahu ilmu pedang bocah she Lim itu, tapi apa sangkut pautnya dengan aku?"

Namun segera ia merasa ucapannya itu keliru.

Ia sendiri cukup sadar bahwa permusuhan dirinya dengan keluarga Lim terlalu mendalam, tidak mungkin Lim Peng-ci akan puas hanya membunuh seorang dua muridnya saja, tentu pemuda itu masih akan mencari perkara padanya.

Dan maksud orang-orang Hing-san-pay justru ingin tahu cara bagaimana Peng-ci memainkan ilmu pedangnya dan cara bagaimana orang Jing-sia-pay dibunuh.

Bahwasanya setiap jago silat tentu tahu ilmu silat orang lain yang lihai memang bukan sesuatu yang aneh.

Cuma cara orang Hing-san-pay mengikuti rombongan Jing-sia-pay, seakan-akan orang-orang Jing-sia-pay itu sudah menjadi hewan yang sedang digiring ke pejagalan untuk disembelih, dan cara penjagal menyembelih itulah yang akan dilihat, sungguh suatu perbuatan yang terlalu menghina.

Saking gusarnya segera Ih Jong-hay bermaksud memaki Ing-ing, tapi syukur ia masih sanggup menguasai perasaannya, ia hanya mendengus saja sekali, pikirnya.

"Bocah she Lim itu menyerang aku secara licik, memangnya dia punya kepandaian yang luar biasa? Baik, boleh kalian mengikuti aku agar kalian bisa melihat jelas cara bagaimana aku mencincang anjing kecil itu hingga luluh."

Dia kembali ke warung itu untuk minum lagi.

Tapi mendadak poci teh yang dipegangnya berbunyi gemertak, kiranya tutup poci tergetar oleh tangannya yang gemetar.

Anak muridnya menyangka tangan sang guru itu gemetar karena terlalu gusar, padahal dalam hati Ih Jong-hay sebenarnya ketakutan luar biasa.

Ia sadar bahwa serangan Lim Peng-ci yang aneh itu kalau ditujukan padanya hakikatnya dia tidak mampu menangkisnya.

Sementara itu Ing-ing sudah kembali pada dandanan aslinya sebagai wanita, berada di tengah-tengah anak murid perempuan Hing-san-pay itu tiada seorang pun yang merasakan Ing-ing mempunyai sesuatu yang istimewa.

Dia sendiri tinggal di suatu kereta keledai, ia selalu memisahkan keretanya agak jauh dari kereta Lenghou Tiong.

Biarpun jalinan cintanya dengan Lenghou Tiong sekarang telah diketahui hampir setiap orang Kang-ouw, namun rasa kikuknya toh masih belum lenyap.

Bila anak murid Hing-san-pay mengobati luka Lenghou Tiong, maka ia sengaja tidak mau melihatnya.

The Oh, Cin Koan, dan lain-lain kenal watak putri gembong Mo-kau itu, senantiasa mereka memberitahukan keadaan luka Lenghou Tiong padanya, Ing-ing hanya mengangguk saja tanpa memberi komentar.

Kini melihat Ih Jong-hay sudah kembali ke tempatnya sendiri, maka Ing-ing juga lantas kembali ke dalam keretanya.

Sehabis minum, perasaan Ih Jong-hay ternyata masih belum tenang, ia perintahkan anak muridnya menggotong mayat murid yang mati itu untuk dikubur di luar kota, rombongan mereka lantas bermalam di depan warung makan itu.

Penduduk setempat sementara itu menjadi ketakutan melihat pertarungan dan pembunuhan yang terjadi itu, sejak tadi penduduk sudah sama tutup pintu tak berani keluar lagi.

Duduk di dalam keretanya Lenghou Tiong coba merenungkan jurus ilmu pedang Lim Peng-ci tadi, ia merasa jurus serangan itu sendiri tiada sesuatu yang luar biasa, hanya datangnya teramat cepat, sebelumnya juga tiada tanda-tanda ke mana serangannya akan dituju.

Kalau serangan demikian itu dilontarkan, sekalipun tokoh paling lihai juga sukar menahannya.

Waktu Tonghong Put-pay menempur mereka berempat tempo hari, senjata yang dipakai hanya sebuah jarum sulam saja, tapi mereka berempat toh tak bisa melawan.

Kalau dipikirkan secara cermat sekarang hal itu bukan lantaran lwekang atau jurus serangan Tonghong Put-pay sangat hebat, soalnya gerak-geriknya secepat kilat, serangannya dilakukan tanpa ada tanda-tanda sebelumnya sehingga setiap serangannya selalu di luar perhitungan lawan.

Cara Lim Peng-ci membekuk Ih Jong-hay dengan mudah dan caranya membunuh anak murid Jing-sia-pay tadi, gaya ilmu silatnya serupa benar dengan Tonghong Put-pay.

Sedangkan cara Gak Put-kun membutakan kedua mata Co Leng-tan jelas juga menggunakan ilmu silat yang sama gayanya, apakah barangkali ilmu silat mereka ini pun "Pi-sia-kiam-hoat"

Adanya? Terpikir olehnya.

"Orang yang mampu melayani ilmu pedang aneh ini pada zaman sekarang mungkin hanya Hong-thaysuco saja. Nanti kalau lukaku sudah sembuh rasanya aku perlu berkunjung pula ke Hoa-san untuk minta pengajaran kepada Hong-thaysuco cara-cara mematahkan ilmu pedang aneh ini."

Tapi lantas terpikir lagi.

"Tonghong Put-pay sudah mati, Gak Put-kun adalah guruku, Lim Peng-ci adalah suteku, mereka berdua tentu takkan menggunakan ilmu pedang hebat itu terhadap diriku, lalu buat apa aku mempelajari cara mematahkan ilmu pedang mereka itu dengan susah payah?"

Tiba-tiba teringat olehnya bahwa ilmu silat Tonghong Put-pay itu bersumber pada "Kui-hoa-po-tian" , sedangkan ilmu silat Suhu dan Sute berasal dari Pi-sia-kiam-hoat, kalau menurut cerita Hong-ting Taysu tempo hari memang asal-usul ilmu silat mereka itu semuanya memang berasal dari sumber yang sama, hanya saja...

sekonyong-konyong teringat pula sesuatu olehnya, cepat ia bangkit berduduk, karena gerakan mendadak, lukanya lantas terasa sakit lagi, tanpa terasa ia merintih perlahan.

"Apakah kau haus?"

Cepat Gi-lim yang berdiri di samping keretanya bertanya.

"Tidak,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Siausumoay, harap undang Nona Yim ke sini."

Gi-lim mengiakan. Tidak lama Ing-ing lantas muncul bersama Gi-lim.

"Ada urusan apakah?"

Tanya Ing-ing.

"Tiba-tiba aku ingat sesuatu,"

Tutur Lenghou Tiong.

"Tempo hari ayahmu pernah mengatakan bahwa kitab Kui-hoa-po-tian agama kalian itu telah beliau berikan kepada Tonghong Put-pay. Waktu itu aku mengira ilmu silat yang terdapat di dalam Kui-hoa-po-tian itu tidak lebih bagus daripada ilmu sakti yang diyakinkan oleh ayahmu sendiri, makanya ayahmu mau menurunkan kitab pusaka itu kepada Tonghong Put-pay, akan tetapi...."

"Kemudian ternyata ilmu silat ayahku tidak lebih tinggi daripada Tonghong Put-pay, begitu kau ingin katakan, bukan?"

Sela Ing-ing.

"Benar,"

Jawab Lenghou Tiong.

"Sebab musabab urusan ini benar-benar membikin bingung diriku."

Rasa bingung Lenghou Tiong ini memang bukan tidak beralasan.

Maklumlah, pada umumnya setiap jago silat bila melihat sesuatu kitab ilmu silat yang hebat mustahil tak ingin dimilikinya sendiri, bahwa Yim Ngo-heng justru sengaja memberikan kitab pusaka kepada Tonghong Put-pay, hal ini benar-benar luar biasa.

"Aku pun pernah tanya Ayah tentang ini,"

Kata Ing-ing.

"Ayah bilang, pertama, ilmu silat yang tertera di dalam kitab itu tak boleh dipelajari, kalau paksakan diri belajar tentu akan mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. Kedua, beliau pun tidak tahu bahwa setelah berhasil meyakinkan ilmu silat dalam kitab itu ternyata bisa sedemikian lihai."

"Jadi menurut beliau ilmu silat itu tidak boleh dipelajari? Tidak boleh? Apa sebabnya?"

Lenghou Tiong menegas. Tiba-tiba air muka Ing-ing berubah merah, jawabnya kemudian.

"Apa sebabnya tidak boleh dipelajari, aku sendiri pun tidak tahu."

Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula.

"Seperti nasib yang dialami Tonghong Put-pay itu, apakah baik kalau begitu?"

"O,"

Lenghou Tiong sadar akan persoalannya, dalam hati kecilnya lapat-lapat merasa bahwa jalan yang ditempuh oleh suhunya seperti sedang menuju ke arah yang dialami Tonghong Put-pay itu.

"Kau harus merawat lukamu dengan tenang, jangan banyak berpikir,"

Kata Ing-ing.

"Aku akan pergi tidur saja."

Lenghou Tiong mengiakan.

Ia menyingkap tirai kereta, sinar bulan yang lembut menyoroti wajah Ing-ing yang cantik itu, mendadak Lenghou Tiong merasa sangat menyesal karena apa yang dilakukannya tidak memadai cinta si nona kepadanya.

"Baju yang dipakai Lim-sute-mu itu kain kembang belaka,"

Tiba-tiba Ing-ing menambahkan lagi, habis itu barulah ia melangkah kembali ke keretanya. Keruan Lenghou Tiong merasa heran, pikirnya.

"Apakah maksudnya dia mengatakan baju Lim-sute terdiri dari kain kembang belaka? Lim-sute baru menjadi pengantin, tidak heran kalau dia memakai baju-baju baru yang mewah. Dasar anak perempuan, tidak perhatikan ilmu pedang orang, tapi yang diperhatikan adalah baju yang dipakai orang lain, sungguh lucu."

Sambil pejamkan mata ia coba membayangkan keadaan Lim Peng-ci waktu melabrak Ih Jong-hay, tapi baju kembang apa yang dipakai Peng-ci waktu itu sudah lupa olehnya.

Tidur sampai tengah malam, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara derapan kaki kuda, dua penunggang kuda sedang mendatangi.

Lenghou Tiong lantas bangkit berduduk dan menyingkap tirai kereta, dilihatnya anak murid Hing-san dan Jing-sia-pay juga sudah bangun semua.

Anak murid Hing-san-pay segera mengambil tempat masing-masing dalam bentuk barisan pedang untuk menjaga segala kemungkinan.

Sedangkan anak murid Jing-sia-pay sudah mengeluarkan senjata masing-masing, ada yang menjaga di tepi jalan, ada yang siap siaga di sekeliling sang ketua.

Semuanya tegang dan gelisah.

Tidak lama tertampaklah dua penunggang kuda sedang mendatang dengan cepat, di bawah sinar bulan dapat terlihat dengan jelas, siapa lagi mereka kalau bukan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian.

Begitu mendekat segera Lim Peng-ci berteriak.

"Ih Jong-hay, karena kau ingin mencuri Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami, maka ayah ibuku telah kau bunuh. Sekarang biarlah aku memperlihatkan ilmu pedang yang kau cari itu sejurus demi sejurus, hendaklah kau mengikuti dengan jelas."

Ia menahan kudanya, lalu melompat turun, pedang tersandang di belakang punggungnya, dengan langkah cepat ia lantas mendekati orang-orang Jing-sia-pay.

Ketika Lenghou Tiong memerhatikan, dilihatnya Peng-ci memakai baju warna kuning muda, ujung baju dan lengan baju bersulam bunga-bunga kuning tua, pinggir baju dilapis dengan renda kuning pula, pinggang juga memakai ikat pinggang kuning emas sehingga memantulkan gemerdep kuning bila berjalan, tampaknya memang sangat perlente.

Pikirnya.

"Biasanya Lim-sute sangat sederhana, sesudah menjadi pengantin sifatnya lantas berbeda seketika. Tapi juga tak bisa menyalahkan dia, pemuda mendapatkan jodoh yang setimpal sudah tentu sangat girang, pantas kalau dia berdandan secakap mungkin."

Semalam ketika Lim Peng-ci membekuk Ih Jong-hay dengan bertangan kosong di samping Hong-sian-tay, lagaknya sama seperti sekarang ini.

Sudah tentu pihak Jing-sia-pay tak memberi kesempatan lagi padanya untuk mengulangi serangannya yang licik itu.

Sekali Ih Jong-hay menggertak, serentak empat muridnya menerjang maju dengan pedang terhunus, dua pedang menusuk dadanya dari kanan dan kiri, dua pedang lain menebas pula kedua kakinya.

"Awas, Cah!"

Seru Tho-hoa-sian dan Tho-sit-sian berbareng, betapa pun mereka ikut khawatir juga bagi Lim Peng-ci.

Tak terduga Peng-ci tetap tenang-tenang saja, dengan cepat luar biasa mendadak kedua tangannya menjulur ke depan, menyusul tangannya lantas menyampuk ke samping sehingga tangan kedua orang yang menusuk dadanya itu terdorong, maka terdengarlah jeritan ngeri empat orang, dua orang kontan roboh terkulai.

Dua orang yang mestinya menusuk dadanya itu karena tersampuk tangan masing-masing sehingga pedang memutar balik dan menusuk ke dalam perut kedua teman sendiri.

"Inilah jurus kedua dan ketiga Pi-sia-kiam-hoat, sudah lihat jelas tidak?"

Seru Peng-ci.

Lalu ia putar tubuh dan mencemplak ke atas kudanya, terus dilarikan pergi.

Bab 119.

Suami Istri yang Tidak Bahagia Orang-orang Jing-sia-pay sampai terkesima sehingga tiada seorang pun yang mengejar musuh, ketika mereka mengawasi kedua kawannya yang lain, kiranya kedua orang itu pun terkena oleh senjata kawan sendiri yang menebas dari kanan kiri tadi, cuma mereka masih berdiri tegak, tapi sebenarnya sudah mati.

Cara Peng-ci menjulur tangan dan menyampuk sambil mendorong tadi telah dilihat dengan jelas oleh Lenghou Tiong, ia terkejut dan kagum pula, diam-diam ia mengakui kehebatan ilmu silat Lim Peng-ci, jelas itu adalah ilmu pedang dan bukan ilmu silat biasa.

Di bawah sinar bulan tertampak bayangan Ih Jong-hay yang pendek itu berdiri kesima di samping keempat mayat muridnya.

Anak murid Jing-sia-pay mengelilingi sekitar sang guru, tapi dari jarak rada jauh, tiada seorang pun yang berani buka suara.

Selang agak lama, Lenghou Tiong coba memandang keluar kereta, dilihatnya Ih Jong-hay masih tetap berdiri tegak tak bergerak, sedangkan bayangannya sudah tambah panjang, suatu tanda sudah sekian lamanya dia termangu aneh tak terkatakan.

Sebagian anak murid Jing-sia-pay juga terpaku di tempatnya, sebagian sudah menyingkir pergi, sebagian pula sudah berduduk, tapi Ih Jong-hay tetap berdiri kaku di situ.

Dalam hati Lenghou Tiong sekonyong-konyong timbul rasa kasihan kepada Ih Jong-hay, ketua Jing-sia-pay yang terkenal itu ternyata sama sekali tak berdaya menghadapi seorang lawan muda.

Karena sudah mengantuk, Lenghou Tiong lantas pejamkan mata untuk tidur.

Dalam mimpinya tiba-tiba terasa keretanya berguncang, menyusul terdengar suara bentakan kusir kereta.

Kiranya hari sudah terang, rombongan sudah berangkat.

Ia coba melongok keluar, dilihatnya jalan besar yang lurus itu banyak orang berlalu lalang, rombongan Jing-sia-pay berjalan di depan, ada yang menunggang kuda, ada yang berjalan kaki, memandangi bayangan belakang mereka terasa semacam keharuan yang sukar dikatakan, sama halnya serombongan hewan yang sedang digiring ke tempat pejagalan saja.

Pikir Lenghou Tiong.

"Mereka cukup menyadari bahwa Peng-ci pasti akan datang lagi, mereka pun tahu semua bahwa sekali-kali tidak sanggup melawannya, kalau melarikan diri secara terpencar, maka itu berarti tamatlah riwayat Jing-sia-pay. Tapi kalau Lim Peng-ci sampai meluruk ke Jing-sia-san, apakah di Siong-hong-koan (kuil ketua Jing-sia-pay) tiada bala bantuan lagi yang sanggup melawan musuh?"

Menjelang tengah hari sampailah di suatu kota rada besar, rombongan Jing-sia-pay lantas memasuki sebuah restoran besar dan makan minum sepuasnya.

Sedangkan orang-orang Hing-san-pay hanya beristirahat di warung makan di depan restoran besar itu.

Menyaksikan orang-orang Jing-sia-pay sama makan minum besar di restoran depan itu, para nikoh Hing-san-pay sama terdiam.

Mereka tahu orang-orang Jing-sia-pay sedang menghadapi maut, mumpung masih hidup, maka sedapat mungkin mereka ingin menikmati segala kesenangan di dunia ini.

Sorenya sampailah di tepi sebuah sungai.

Tiba-tiba terdengar derapan kuda, kembali Lim Peng-ci suami-istri memburu tiba.

Gi-ho bersuit menghentikan rombongannya.

Saat itu sinar matahari masih mencorong terang, tertampak dua penunggang kuda mendatangi menyusur tepi sungai.

Sesudah dekat, Leng-sian menahan kudanya, sedangkan Peng-ci masih terus maju ke depan.

Mendadak Ih Jong-hay memberi tanda, bersama anak muridnya mereka terus putar tubuh dan lari ke arah sana menyusur tepi sungai.

"Hai, Ih Pendek, hendak lari ke mana kau?"

Seru Peng-ci sambil bergelak tertawa, segera, ia pun membedal kudanya mengejar.

Sekonyong-konyong Ih Jong-hay membalik, secepat kilat pedangnya lantas menusuk muka Lim Peng-ci.

Sama sekali Peng-ci tidak menduga akan serangan lawan yang lihai itu, cepat ia lolos pedang dan menangkis.

Susul-menyusul Ih Jong-hay melancarkan serangan kilat, mendadak melompat ke atas, lain saat mendak ke bawah.

Tidak nyana orang tua seperti dia masih lincah seperti anak muda, gerak pedangnya selalu mengambil jalan menyerang secara cepat.

Bahkan tujuh-delapan orang murid Jing-sia-pay segera mengelilingi kuda Lim Peng-ci dan mengerubutnya pula, tapi yang diserang bukan orangnya melainkan kudanya.

Hanya mengikuti beberapa saat saja Lenghou Tiong lantas tahu maksud tujuan Ih Jong-hay.

Bahwasanya kelihaian Peng-ci terletak pada ilmu pedangnya yang bergerak dan berubah dengan cepat dan sukar diduga.

Sekarang pemuda itu berada di atas kuda, dengan sendirinya keunggulannya itu menjadi berkurang, sebab kalau mau menyerang terpaksa ia harus mendoyongkan tubuhnya, kuda tunggangnya tentu tidak selincah kalau dia menggunakan kaki sendiri.

Sekarang anak murid Jing-sia-pay itu sengaja mengepungnya di tengah agar dia tidak sempat turun dari kudanya, asalkan Peng-ci tetap berada di atas kuda belum tentu dia mampu melawan Ih Jong-hay.

Diam-diam Lenghou Tiong mengakui kecerdikan ketua Jing-sia-pay itu, caranya benar-benar lihai.

Ia coba memerhatikan pula ilmu pedang yang dimainkan Peng-ci, gerak perubahannya memang aneh dan bagus, namun Ih Jong-hay masih dapat menandinginya.

Setelah mengikuti beberapa jurus lagi, tanpa terasa pandangannya beralih ke arah Gak Leng-sian yang berada di tempat rada jauh sana.

Seketika tubuh Lenghou Tiong tergetar kaget sebab dilihatnya ada beberapa anak murid Jing-sia-pay yang lain telah mengepung Leng-sian dan sedang mendesaknya ke tepi sungai.

Pada saat itu pula mendadak terdengar kuda tunggangan Leng-sian meringkik dan berjingkrak sehingga Leng-sian terbanting ke bawah.

Rupanya kuda itu telah terkena tusukan pedang.

Cepat Leng-sian melompat bangun sambil mengegos untuk menghindari serangan seorang lawan.

Namun anak murid Jing-sia-pay itu segera menyerang pula dengan mati-matian.

Enam murid Jing-sia-pay itu terhitung jago-jago pilihan, biarpun Leng-sian berhasil mempelajari ilmu pedang yang terukir di gua Hoa-san itu dan telah mengalahkan jago-jago dari Thay-san-pay, Hing-san-pay, dan lain-lain, namun ilmu pedang lihai itu ternyata tidak mempan digunakan terhadap jago Jing-sia-pay.

Lenghou Tiong dapat melihat sang sumoay tidak mampu melawan serangan murid-murid Jing-sia-pay yang nekat itu.

Sedang khawatir dan cemas, tiba-tiba terdengar jeritan seorang Jing-sia-pay, rupanya sebelah lengannya telah kena ditebas kutung oleh Gak Leng-sian.

Giranglah hati Lenghou Tiong, ia berharap orang Jing-sia-pay yang lain tentu akan jeri dan mundur teratur.

Tak terduga kelima orang lain tidak mundur setapak pun, bahkan menyerang lebih kalap termasuk orang yang sudah buntung sebelah lengannya itu.

Melihat lawan yang mandi darah dengan serangan kalap laksana kerbau gila itu, Leng-sian menjadi jeri sendiri malah, ia terdesak mundur, mendadak sebelah kakinya terpeleset menginjak batu karang yang berlumut licin, kontan ia jatuh ke dalam air.

"Celaka!"

Seru Lenghou Tiong khawatir.

"Beginilah cara kita melayani Tonghong Put-pay tempo hari,"

Tiba-tiba terdengar Ing-ing berkata.

Betul juga pikir Lenghou Tiong.

Pertempuran di Hek-bok-keh tempo hari sudah jelas mereka berempat tidak sanggup melawan Tonghong Put-pay, untung Ing-ing ganti haluan dan menyerang Nyo Lian-ting sehingga perhatian Tonghong Put-pay terpencar dan akhirnya dapatlah membinasakan gembong Mo-kau itu.

Sekarang cara yang dipakai Ih Jong-hay juga sama dengan tipu Ing-ing dahulu itu.

Cara bagaimana Yim Ngo-heng dan Lenghou Tiong berempat membinasakan Tonghong Put-pay sudah tentu tidak diketahui Ih Jong-hay, tapi akal yang terpikir ternyata sama tanpa berembuk.

Lenghou Tiong menduga Lim Peng-ci tentu akan meninggalkan lawan-lawannya untuk menolong sang istri.

Tak terduga pemuda itu masih terus menempur Ih Jong-hay dengan sengit, sama sekali tidak ambil pusing terhadap keadaan istrinya yang terancam bahaya itu.

Rupanya anak murid Jing-sia-pay sama menyadari mati-hidup Jing-sia-pay dan keselamatan sendiri hanya tergantung pada pertempuran yang menentukan sekarang ini, oleh karena itu mereka bertempur dengan nekat.

Mendadak orang yang buntung tangannya itu membuang pedangnya terus menjatuhkan diri dan menggelundung ke arah Leng-sian, segera ia rangkul kaki Leng-sian dengan kencang.

"Adik Peng, lekas bantu aku, lekas!"

Seru Leng-sian khawatir.

"Ih Pendek ingin tahu Pi-sia-kiam-hoat, maka biar dia lihat secara jelas agar mati pun dia tidak menyesal,"

Kata Peng-ci sambil menyerang lebih cepat sehingga Ih Jong-hay hampir-hampir tidak sempat bernapas.

Sungguh hebat Pi-sia-kiam-hoat yang dimainkan Peng-ci, meski di atas kuda, namun ilmu pedangnya yang lihai itu pun mendesak Ih Jong-hay sehingga kelabakan dan mati kutu.

"He, kau... kau...."

Bentak Lenghou Tiong dengan gusar.

Tadinya ia mengira Peng-ci tidak mampu melepaskan diri dari kerubutan Ih Jong-hay dan murid-muridnya, tapi dari ucapannya tadi jelas Peng-ci sama sekali tidak menghiraukan keadaan bahaya Leng-sian, yang diutamakan hanya cara bagaimana meledek dan mempermainkan Ih Jong-hay yang sudah tak berdaya itu.

Dari jauh dapat terlihat dengan jelas air muka Lim Peng-ci yang memperlihatkan rasa gemas, dendam, dan bersemangat pula.

Mungkin saat itu hati pemuda itu sedang diliputi rasa tekad yang ingin membalas sakit hati.

"Adik Peng, lekas tolong, lekas!"

Terdengar Leng-sian berseru pula dengan suara serak, keadaannya sudah sangat gawat.

"Segera aku datang, kau bertahan sebentar lagi, aku harus menyelesaikan Pi-sia-kiam-hoat agar dia dapat melihat dengan jelas,"

Sahut Peng-ci.

"Ih Pendek ini sebenarnya tiada permusuhan apa-apa dengan kita, dia sengaja mengirim begundalnya ke Hokkian hanya bertujuan mencari Pi-sia-kiam-boh, maka pantaslah kalau dia melihat sejelasnya ilmu pedangku ini dari awal sampai akhir. Betul tidak?"

Dia bicara dengan teratur, terang bukan diperdengarkan kepada sang istri, tapi lebih tepat kalau dikatakan sedang bicara pada Ih Jong-hay, bahkan dia khawatir pihak lawan kurang jelas, akhirnya ditambahkannya lagi pertanyaan.

"Ih Pendek, betul tidak?"

Habis itu serangannya tambah gencar, gayanya indah sehingga lebih mirip dengan Giok-li-kiam yang dipelajari murid perempuan Hoa-san-pay.

Memangnya Lenghou Tiong bermaksud melihat bagaimana gerak serangan Pi-sia-kiam-hoat Peng-ci untuk kemudian dipikirkan cara mematahkannya.

Kini melihat Peng-ci memperlihatkan segenap jurus ilmu pedangnya kepada Ih Jong-hay, keruan hal ini kebetulan bagi Lenghou Tiong.

Namun saat itu perhatian Lenghou Tiong sedang terganggu oleh keadaan Gak Leng-sian yang berbahaya itu, dengan sendirinya dia tidak punya peluang untuk memerhatikan jurus pedang Lim Peng-ci.

Ia mendengar Gak Leng-sian lagi berteriak-teriak minta tolong, sungguh ia tidak tahan lagi, segera berkata.

"Gi-ho Suci dan Gi-jing Suci, harap kalian menolongi Nona Gak. Dia... dia dalam bahaya!"

"Kita sudah menyatakan tidak membantu pihak mana pun juga, rasanya tidak enak ikut turun tangan,"

Jawab Gi-jing. Hendaklah maklum bahwa orang bu-lim paling mengutamakan "setia kawan"

Dan "pegang janji".

Kalau dibandingkan memang kesetiaan lebih penting sedikit daripada janji, tapi sebagai kesatria dari golongan beng-bun-cing-pay (murid perguruan ternama dari golongan baik) betapa pun harus memegang teguh kepada apa yang telah diucapkan.

Mendengar jawaban Gi-jing itu, Lenghou Tiong merasa apa yang dikatakan itu memang benar, semalam mereka sudah menyatakan dengan tegas kepada Ih Jong-hay bahwa sekali-kali Hing-san-pay takkan membantu pihak mana pun juga.

Kalau sekarang mereka membantu Gak Leng-sian, itu berarti merusak nama baik Hing-san-pay.

Keruan Lenghou Tiong menjadi gelisah dan tak berdaya.

Syukur pada saat itu juga mendadak Ing-ing melompat ke sana, ketika tangannya menggagap pinggang, segera tangannya sudah memegang sebilah golok melengkung.

Teriaknya.

"Hai, hendaklah kalian melihat jelas. Aku adalah Ing-ing, putri kesayangan Yim-kaucu dari Tiau-yang-sin-kau. Kalian berenam lelaki mengeroyok seorang perempuan, betapa pun membikin penonton merasa muak. Karena melihat ketidakadilan, terpaksa Nona Yim harus ikut campur."

Girang sekali Lenghou Tiong melihat Ing-ing maju ke sana, ia menghela napas lega, tiba-tiba lukanya terasa sakit, ia jatuh terduduk lagi di dalam kereta.

Ternyata anak murid Jing-sia-pay sama sekali tidak menghiraukan campur tangan Ing-ing, mereka masih terus menyerang Gak Leng-sian secara kalap.

Saat itu Leng-sian terdesak mundur-mundur lagi beberapa tindak.

"plung" , tiba-tiba kakinya menginjak air sungai sebatas paha dalamnya. Karena tidak bisa berenang, Leng-sian menjadi gugup, permainan pedangnya menjadi kacau. Pada saat itulah pundak kiri terasa sakit, rupanya kena ditusuk oleh pedang musuh. Kesempatan itu segera digunakan oleh si tangan buntung untuk menubruk maju untuk merangkul kaki Leng-sian seperti diceritakan tadi. Segera Leng-sian ayun pedangnya untuk membacok dan tepat mengenai punggung si buntung, tapi orang itu masih terus merangkul dengan kencang, sedikit pun tidak mau lepas tangan. Saking cemasnya pandangan Leng-sian menjadi gelap, ia mengeluh bisa celaka. Dari jauh dilihatnya Lim Peng-ci sedang memperlihatkan ilmu pedangnya yang hebat secara teratur dan perlahan-lahan sejurus demi sejurus seakan-akan sengaja memamerkan ilmu pedang belaka. Terangsang oleh rasa mendongkol, hampir-hampir Leng-sian jatuh kelengar. Syukur mendadak serangan musuh menjadi kendur, dua pedang mencelat ke atas, menyusul terdengar mendeburnya air, dua murid Jing-sia-pay telah terjungkal ke dalam sungai. Karena pikiran sudah kacau, Leng-sian juga terbanting jatuh. Untung Ing-ing telah putar goloknya, dalam beberapa jurus saja sisa tiga murid Jing-sia-pay juga telah dilukai, senjata pun terlepas dari cekalan, terpaksa mereka mengacir mundur. Sekali tendang Ing-ing membikin murid Jing-sia-pay yang buntung itu terpental sehingga rangkulannya pada kaki Leng-sian terlepas. Segera ia menyeret bangun Gak Leng-sian yang sudah basah kuyup itu, pakaiannya juga berlepotan darah, perlahan-lahan dipapahnya ke tepi sungai. Dalam pada itu terdengar Peng-ci sedang berseru.

"Nah, Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami sudah kau lihat dengan jelas, bukan?"

Menyusul di mana sinar pedangnya berkelebat, kontan dua murid Jing-sia-pay yang ikut mengerubutnya lantas terguling.

Sekali Peng-ci menarik tali kendali kudanya, dengan cekatan kudanya lantas melompat melintasi kedua tubuh yang barusan roboh itu.

Keadaan Ih Jong-hay sudah payah, tentu saja ia tidak berani mengejar.

Peng-ci melarikan kudanya ke arah Leng-sian dan Ing-ing.

"Naik kemari!"

Serunya kepada sang istri.

Sekonyong-konyong Leng-sian merasa benci dan muak terhadap sang suami, ia merasa lebih baik mati seketika daripada ikut bersama Peng-ci.

Dengan mata melotot ia memandangi Peng-ci sejenak, kemudian berkata dengan mengertak gigi.

"Kau pergi sendiri saja."

"Dan kau?"

Tanya Peng-ci.

"Buat apa kau mengurusi diriku,"

Jawab Leng-sian.

Peng-ci memandang sekejap kepada anak murid Hing-san-pay, lalu mendengus sekali, kuda dikempitnya kencang terus dilarikan pergi dengan cepat.

Sama sekali Ing-ing tidak menduga bahwa Peng-ci akan memperlakukan sedemikian dingin terhadap istrinya yang baru dinikahnya ini.

Katanya kemudian.

"Nyonya Lim, silakan kau mengaso ke dalam keretaku saja."

Kelopak mata Leng-sian sudah penuh digenangi air mata, sedapat mungkin ia menahan agar air matanya tidak sampai menetes, katanya dengan terguguk-guguk.

"Aku... aku tidak mau, ken... kenapa kau menolong diriku?"

"Bukan aku yang menolong kau, toasukomu Lenghou Tiong yang ingin menolong kau,"

Kata Ing-ing sejujurnya. Hati Leng-sian menjadi pilu, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran. Katanya kemudian.

"Dapatkah kau... me... meminjamkan seekor kuda padaku?"

Ing-ing mengiakan, lalu pergi membawakan seekor kuda.

"Banyak terima kasih, kau sungguh be... beruntung!"

Kata Leng-sian, cepat ia mencemplak ke atas kuda dan melarikan kudanya ke jurusan sana.

Arah yang ditempuh ternyata berlawanan dengan Peng-ci, agaknya kembali ke jurusan Ko-san.

Ih Jong-hay juga heran melihat Leng-sian lewat di sebelahnya, tapi ia pun tidak merintangi, pikirnya.

"Malam nanti atau besok tentu bocah she Lim itu akan datang membunuhi beberapa orangku lagi, dia hendak membunuh habis muridku satu per satu agar tertinggal aku sebatang kara, habis itu barulah giliranku dikerjai olehnya."

Lenghou Tiong tidak tega menyaksikan keadaan Ih Jong-hay yang mengenaskan itu, katanya kepada Gi-ho dan lain-lain.

"Marilah kita berangkat!"

Ketika kusir-kusir kereta membentak dan membunyikan cambuknya, segera keledai menarik keretanya ke depan.

Lenghou Tiong bersuara heran ketika melihat arah yang ditempuh Gak Leng-sian ternyata berlainan, mestinya ia ingin mengikuti jurusan sang sumoay itu, tak terduga keretanya ternyata dijalankan ke jurusan lain.

Mendelong perasaannya, ia tidak enak untuk memerintahkan keretanya memutar haluan, hanya tirai kereta bagian belakang disingkapnya untuk memandang ke belakang, namun bayangan Leng-sian sudah tidak tampak lagi.

Seketika perasaannya tertekan, pikirnya.

"Sumoay terluka, dia menuju ke sana sendirian, apa takkan terjadi sesuatu atas dirinya?"

Tiba-tiba terdengar Gi-lim berkata di sampingnya.

"Dia tentu pulang ke Ko-san, dia tentu akan aman berada di samping ayah-ibunya, kau tidak perlu khawatir."

Rada lega hati Lenghou Tiong, ia mengiakan. Dalam hati ia membatin.

"Sumoay cilik ini benar-benar sangat cermat, dia selalu dapat menerka apa yang menjadi pikiranku."

Esok paginya waktu tengah hari mereka berhenti di suatu rumah makan kecil.

Sesungguhnya tak bisa dikatakan rumah makan, sebab hanya terdiri dari beberapa gubuk yang dibangun di tepi jalan, gubuk tanpa dinding, terdiri dari beberapa buah meja kasar dan bangku-bangku panjang sekadar tempat makan-minum orang yang berlalu-lalang.

Dibanjiri oleh rombongan Hing-san-pay, seketika warung makan itu kewalahan, kurang beras dan kurang lauk.

Syukur rombongan Gi-ho sendiri membawa perbekalan yang cukup, sampai alat-alat masak juga terbawa.

Segera mereka membuat api dan menanak nasi di samping gubuk-gubuk itu.

Terlalu lama duduk di dalam kereta, Lenghou Tiong merasa sebal juga, syukur lukanya sudah rada baikan sesudah dibubuhi obat luka Hing-san-pay yang mustajab.

Gi-lim dan Gi-ho lantas memayangnya turun dan duduk mengaso di bawah gubuk.

Ia memandang ke timur, hatinya berpikir.

"Entah Siausumoay akan datang kemari tidak?"

Dilihatnya debu mengepul tinggi dari sana, serombongan orang sedang mendatangi, kiranya rombongan Jing-sia-pay.

Setiba di warung gubuk itu, orang-orang Jing-sia-pay juga lantas berhenti untuk menanak nasi.

Ih Jong-hay tampak duduk sendirian menyanding meja, termangu-mangu tanpa bersuara.

Agaknya Ih Jong-hay menyadari ajalnya sudah dekat, maka ia tidak perlu sirik dan menghindari rombongan Hing-san-pay lagi, ia pikir paling-paling hanya mati saja, apa halangannya kalau orang-orang Hing-san-pay menyaksikan cara bagaimana dia akan mati nanti?

Tidak lama kemudian, benar juga dari jurusan barat terdengar derapan kaki kuda, seorang penunggang kuda makin mendekat dengan perlahan, penunggang kuda itu memakai baju sulam, siapa lagi kalau bukan Lim Peng-ci.

Setiba di depan gubuk, Peng-ci menghentikan kudanya.

Orang-orang Jing-sia-pay ternyata tidak ambil pusing padanya, melirik saja tidak, semuanya sibuk dengan tugas masing-masing, yang menanak nasi tetap menanak nasi, yang minum tetap enak-enak minum.

Hal ini benar-benar di luar dugaan Peng-ci malah.

Segera ia bergelak tertawa, katanya.

"Kalian tidak mau menyerang lebih dulu, aku pun tetap mau bunuh orang."

Ia melompat turun dari kudanya, sekali pantat kuda itu ditepuk, menyingkirlah binatang itu pergi makan rumput.

Dilihatnya di samping meja sana masih ada bangku yang kosong, segera ia mendekati dan duduk di situ.

Begitu Peng-ci memasuki gubuk itu segera Lenghou Tiong mencium bau wangi semerbak.

Kiranya pakaian Peng-ci sangat rajin, sekujur badannya menguarkan bau harum.

Tertampak kopiah Peng-ci tersemat sebuah batu zamrud, jarinya memakai cincin bermata mirah delima, sepatunya juga berhiaskan mutiara, dandanan demikian bukan lagi dandanan jago silat, tapi lebih mirip tuan muda dari keluarga hartawan yang kaya raya.

Setelah ambil tempat duduk, dengan acuh tak acuh Peng-ci menyapa.

"Lenghou-heng, baik-baik kau!"

"Baik,"

Sahut Lenghou Tiong sambil mengangguk.

Peng-ci berpaling ke sana, dilihatnya seorang murid Jing-sia-pay sedang menuangkan minuman panas kepada Ih Jong-hay.

Mendadak Peng-ci naik darah dengan suara keras ia menegur.

"Hai, kau bernama Ih Jin-ho bukan? Dahulu waktu membunuh orang di rumahku di antaranya juga termasuk kau. Biar kau menjadi abu juga aku kenal kau."

Mendadak Ih Jin-ho gabrukkan pocinya di atas meja, dengan cepat ia membalik sambil pegang gagang pedang dan berkata.

"Memang betul aku Ih Jin-ho adanya, kau mau apa?"

Walaupun nada jawaban kasar, namun suaranya rada gemetar dan mukanya pucat. Peng-ci tersenyum, katanya kemudian.

"Eng Hiong Ho Kiat, empat kesatria muda Jing-sia-pay. Menurut urut-urutan kau terhitung nomor tiga, tapi sedikit pun tidak bersemangat kesatria. Sungguh menggelikan."

Eng, Hiong, Ho, Kiat, empat kesatria muda Jing-sia-pay, yang dimaksudkan adalah Kau Jin-eng, Ang Jin-hiong, Ih Jin-ho, dan Lo Jin-kiat.

Di antaranya Lo Jin-kiat sudah tewas dibunuh Lenghou Tiong di Kota Heng-san dahulu.

Kau Jin-eng dan Ang Jin-hiong sekarang juga berada bersama di samping Ih Jong-hay.

Maka Peng-ci menjengek lagi.

"Hah, kalau menurut penilaian Lenghou-heng itu, kalian lebih tepat disebut empat binatang dari Jing-sia. Padahal kalau menurut penilaianku, haha, kalian bahkan lebih rendah daripada binatang."

Tidak kepalang gusar Ih Jin-ho, tangannya sudah memegang gagang pedang, tapi pedang tetap tak dilolosnya keluar.

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah timur sana ada suara berdetaknya kaki kuda, dua penunggang kuda tampak mendatang dengan cepat.

Setiba di depan gubuk, seorang yang berada di bagian depan lantas menghentikan kudanya.

Waktu semua orang berpaling, segera ada orang bersuara kaget.

Kiranya penunggang kuda itu adalah seorang bungkuk yang bertubuh gemuk pendek, yaitu Bok Ko-hong yang terkenal dengan julukan "Say-pak-beng-tho" (Si Bungkuk dari Utara).

Yang aneh adalah penunggang kuda di belakangnya itu ternyata Gak Leng-sian adanya.

Melihat Leng-sian, hati Lenghou Tiong menjadi senang.

Tapi dilihatnya kedua tangan Leng-sian terikat menelikung di belakang, tali kendali kudanya juga dipegang oleh Bok Ko-hong.

Jelas dia tertawan oleh musuh dan dipaksa ikut datang.

Segera Lenghou Tiong bermaksud bertindak, tapi lantas terpikir.

"Suaminya kan berada di sini, buat apa orang luar seperti aku mesti bertindak baginya? Jika suaminya tidak ambil pusing barulah nanti aku mencari akal untuk menolongnya."

Dalam pada itu Lim Peng-ci juga girang tidak kepalang melihat datangnya Bok Ko-hong. Ia membatin.

"Orang yang mencelakai ayah-ibuku juga termasuk si bungkuk ini, sungguh tidak nyana hari ini dia mengantar kematian sendiri ke sini, Thian memang mahaadil."

Sebaliknya Bok Ko-hong tidak kenal Lim Peng-ci.

Dahulu mereka memang pernah bertemu di Heng-san, tapi waktu itu Peng-ci menyamar sebagai bungkuk, mukanya benjal-benjol, sama sekali berbeda daripada pemuda cakap seperti sekarang ini.

Bok Ko-hong menoleh kepada Gak Leng-sian dan berkata.

"Mengingat sekian banyak teman berkumpul di sini, seharusnya kita berhenti mengaso juga buat minum teh. Tapi kakekmu ini ada urusan penting, marilah kita berangkat saja."

Rupanya dia rada gentar melihat orang-orang Hing-san-pay dan Jing-sia-pay, daripada nanti kebentrok ada lebih baik menyingkir saja lebih dulu.

Sekali membentak segera ia hendak melarikan kudanya.

Di luar dugaan, mendadak Leng-sian menjerit terus terperosot jatuh dari atas kuda.

Kiranya kemarin waktu Leng-sian terluka dan ingin kembali ke Ko-san untuk bergabung dengan ayah-bundanya, tapi di tengah jalan ia lantas kepergok Bok Ko-hong.

Rupanya si bungkuk ini menaruh dendam kepada Gak Put-kun lantaran perebutan Pi-sia-kiam-boh dahulu, kemudian didengarnya putra keluarga Lim diambilnya sebagai murid, bahkan dijadikan menantu malah, maka ia menduga kitab pusaka keluarga Lim tentu juga sudah ikut dikangkangi oleh Gak Put-kun.

Tentang upacara penggabungan Ngo-gak-kiam-pay ia pun mendapat kabar, cuma orang-orang Ngo-gak-kiam-pay biasanya memandang hina padanya, Co Leng-tan juga tidak mengirim kartu undangan padanya.

Dasar jiwanya memang sempit, diam-diam Bok Ko-hong sembunyi di sekitar Ko-san, kalau ada orang Ngo-gak-pay yang kebetulan jalan sendirian segera akan disergapnya untuk melampiaskan rasa dendamnya.

Dan kebetulan dilihatnya Gak Leng-sian jalan sendirian, segera ia mencegatnya.

Dengan kepandaian Leng-sian sekarang mestinya tidaklah gampang bagi Bok Ko-hong untuk mengalahkannya.

Soalnya Leng-sian baru terluka, Bok Ko-hong merunduk pula secara mendadak sehingga akhirnya Leng-sian tertawan olehnya.

Ketika Leng-sian menggertaknya dengan mengatakan siapa dia, Bok Ko-hong tambah senang malah.

Ia telah ambil keputusan akan menyembunyikan Gak Leng-sian dan suruh Gak Put-kun menebus diri anak perempuannya itu dengan Pi-sia-kiam-boh.

Tak terduga di tengah jalan ia kepergok oleh orang-orang Hing-san dan Jing-sia-pay.

Leng-sian sendiri berpikir kalau sampai dirinya dibawa lari pula, maka tipislah harapan akan tertolong.

Maka tanpa hiraukan lukanya, ia sengaja menjatuhkan diri ke bawah kuda.

Bok Ko-hong memaki sambil melompat turun dari kudanya untuk mencengkeram kembali Gak Leng-sian.

Menurut perkiraan Lenghou Tiong, tentu Peng-ci takkan tinggal diam menyaksikan istrinya diganggu orang.

Siapa tahu Peng-ci tenang-tenang saja, bahkan ia mengeluarkan kipas lempit terus mengipas perlahan-lahan.

Padahal saat itu adalah musim semi, salju di daerah utara saja masih membeku, buat apa menggunakan kipas segala?

Jelas lagak Peng-ci itu hanya sengaja memperlihatkan keisengan dan ketidakacuhan terhadap segala apa yang terjadi di sekitarnya.

Sementara itu Leng-sian sudah dicengkeram bangun oleh Bok Ko-hong dan dinaikkan lagi ke atas kuda.

Ia sendiri pun lantas mencemplak ke atas kuda dan segera hendak dilarikan.

"Orang she Bok,"

Tiba-tiba Peng-ci berkata.

"di sini ada orang mengatakan ilmu silatmu sangat rendah tak bernilai, apakah memang begitu halnya?"

Bok Ko-hong tercengang, ia melihat Peng-ci duduk sendirian, tampaknya bukan orang Jing-sia-pay dan juga bukan Hing-san-pay, seketika ia menjadi ragu-ragu, tanyanya kemudian.

"Siapa kau?"

Peng-ci tersenyum, jawabnya.

"Buat apa kau tanya diriku? Yang bilang ilmu silatmu rendah toh bukan aku."

"Siapa yang bilang?"

Tanya Bok Ko-hong.

"Cret", Peng-ci lipat kembali kipasnya terus menuding ke arah Ih Jong-hay, katanya.

"Yakni Ih-koancu dari Jing-sia-pay ini. Baru-baru ini dia telah menyaksikan sejurus ilmu pedang yang mahahebat di dunia ini, kalau tidak salah seperti Pi-sia-kiam-hoat namanya."

Mendengar nama "Pi-sia-kiam-hoat", seketika semangat Bok Ko-hong terbangkit.

Ia coba melirik Ih Jong-hay, terlihat ketua Jing-sia-pay itu memegangi sebuah cangkir teh dan sedang termenung-menung, terhadap apa yang diucapkan Peng-ci seperti tidak mendengar.

Seketika Bok Ko-hong menjadi ragu-ragu apakah ucapan Peng-ci tadi sungguh-sungguh atau kelakar belaka.

Akhirnya ia tanya Ih Jong-hay.

"Hai, Ih Pendek, selamat padamu yang beruntung dapat menyaksikan permainan Pi-sia-kiam-hoat, hal ini tentu betul toh?"

"Memang betul,"

Jawab Ih Jong-hay.

"Cayhe memang telah menyaksikannya sejurus demi sejurus dari awal sampai akhir."

Kejut dan girang pula Bok Ko-hong, cepat ia melompat turun dari kudanya dan duduk di samping meja Ih Jong-hay, lalu bertanya.

"Kabarnya kiam-boh itu telah jatuh di tangan Gak Put-kun dari Hoa-san-pay, cara bagaimana kau bisa melihat ilmu pedang itu?"

"Aku tidak melihat kiam-boh segala, yang kulihat adalah orang yang mahir memainkan ilmu pedang itu,"

Sahut Ih Jong-hay.

"O, kiranya demikian. Tapi Pi-sia-kiam-hoat ada yang tulen dan ada yang palsu. Seperti keturunan Hok-wi-piaukiok di Hokciu juga pernah mempelajari apa yang disebut Pi-sia-kiam-hoat segala, tapi ilmu pedang yang diperlihatkan ternyata sangat menggelikan. Sekarang ilmu pedang yang kau lihat tentulah yang tulen."

"Aku tidak tahu apakah tulen atau palsu, yang jelas orang yang mahir ilmu pedang itu adalah keturunan Hok-wi-piaukiok dari Hokciu,"

Jawab Jong-hay.

"Hahahaha!"

Bok Ko-hong bergelak tertawa.

"Percuma kau menjadi guru besar suatu aliran persilatan, sampai-sampai tulen atau palsu sesuatu ilmu pedang juga tidak bisa membedakan. Bukankah Lim Cin-lam dari Hok-wi-piaukiok itu tewas di tanganmu?"

"Tulen atau palsunya Pi-sia-kiam-hoat memang aku tak bisa membedakan,"

Jawab Ih Jong-hay.

"Bok-tayhiap lebih berpengalaman, tentu dapat membedakannya."

Padahal Bok Ko-hong tahu tojin pendek di depannya ini terhitung tokoh kelas satu, baik ilmu silatnya maupun pengetahuannya yang luas, tapi mengapa sekarang bicara demikian, tentu mengandung arti yang dalam.

Maka Bok Ko-hong hanya menyengir saja sambil memandang sekelilingnya, dilihatnya semua orang sedang memandang padanya dengan sikap yang aneh seakan-akan dirinya telah salah omong sesuatu.

Maka dengan ragu-ragu terpaksa ia berkata.

"Kalau aku dapat melihatnya sendiri, betapa pun akan kubedakan yang tulen dan yang palsu."

"Kalau Bok-tayhiap ingin lihat, kukira tidaklah susah. Sekarang juga seorang yang berada di sini justru mahir main Pi-sia-kiam-hoat,"

Kata Ih Jong-hay. Keruan Bok Ko-hong terkesiap, sorot matanya kembali menatap orang-orang sekelilingnya. Dilihatnya Lim Peng-ci paling tak acuh, segera ia tanya.

"Apakah pemuda ini yang kau maksudkan?"

"Hebat, sungguh aku sangat kagum terhadap pandangan Bok-tayhiap yang tajam, sekali pandang saja lantas tahu,"

Kata Jong-hay.

Baru sekarang Bok Ko-hong mengamat-amati Lim Peng-ci mulai dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepala.

Dilihatnya dandanan Peng-ci sangat perlente, jelas seorang putra keluarga hartawan.

Pikirnya.

"Ucapan Ih Pendek itu tentu mengandung sesuatu tipu muslihat bagiku. Buat apa aku terlibat dalam sengketa mereka, paling selamat lekas berangkat saja. Asalkan Nona Gak ini tetap berada di bawah cengkeramanku, mustahil Gak Put-kun takkan menebusnya dengan kiam-boh yang kuinginkan itu."

Maka dia sengaja tertawa, katanya.

"Haha, Ih Pendek, rupanya kau memang suka berkelakar padaku. Hari ini Si Bungkuk ada urusan lain, terpaksa aku mohon diri dahulu. Tentang Pi-sia-kiam-hoat itu apakah benar tulen atau palsu tidak penting bagi Si Bungkuk. Nah, sampai berjumpa pula."

Habis berkata, sekali loncat, tahu-tahu ia sudah berada kembali di atas kudanya.

Meski bungkuk dan gemuk pula, tapi loncatan ke atas kuda itu ternyata sangat gesit dan cepat.

Bab 120.

Matinya Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong Pada saat itulah tiba-tiba pandangan semua orang serasa kabur, tampaknya seperti Lim Peng-ci melompat ke sana dan mengadang di depan kuda Bok Ko-hong, tapi segera pemuda itu kelihatan sedang kebas-kebas kipasnya dan duduk tenang di tempatnya seperti tidak pernah meninggalkan bangkunya.

Selagi semua orang merasa bingung, mendadak terdengar Bok Ko-hong menggertak agar kudanya cepat lari.

Namun bagi tokoh-tokoh kelas wahid seperti Lenghou Tiong, Ing-ing dan Ih Jong-hay, dengan jelas mereka dapat melihat Lim Peng-ci telah menjulur tangannya mencolok dua kali kepada kuda Bok Ko-hong, tentu ada apa-apa yang telah dikerjainya.

Benar juga, baru saja Bok Ko-hong melarikan kudanya beberapa langkah, sekonyong-konyong kuda itu menubruk cagak gubuk.

Karena tumbukan yang keras itu, setengah gubuk itu menjadi ambruk.

Cepat Ih Jong-hay melompat keluar gubuk, sedangkan kepala Lenghou Tiong dan Lim Peng-ci penuh teruruk oleh alang-alang kering yang digunakan sebagai atap gubuk itu.

Lekas-lekas Gi-lim membersihkan rumput-rumput yang menutup kepala Lenghou Tiong itu.

Dengan mata melotot Lim Peng-ci menatap Bok Ko-hong, tertampak orang bungkuk itu ragu-ragu sejenak, lalu melompat turun dari kudanya sambil melepaskan tali kendali.

Segera kudanya berlari lagi ke depan, tapi segera kepala menumbuk batang pohon, terdengar kuda itu meringkik panjang dan roboh terkapar dengan kepala penuh darah.

Begitu aneh kelakuan kuda itu, terang disebabkan kedua matanya sudah buta dan dengan sendirinya karena dikerjai Peng-ci dengan kecepatan luar biasa tadi.

Perlahan-lahan Peng-ci melempit kipasnya dan membersihkan rumput kering yang berserakan di atas pundaknya, lalu berkata.

"Orang buta menunggang kuda pecak, sungguh berbahaya kalau menghadapi jurang di tengah malam."

Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya.

"Sombong benar kau bocah ini, ternyata kau memang boleh juga. Ih-pendek bilang kau mahir Pi-sia-kiam-hoat, boleh coba kau pertunjukkan kepadaku."

Kudanya dibutakan, dia tidak gusar, sebaliknya malah tertawa, sungguh harus diakui kesabarannya yang luar biasa.

"Ya, memangnya akan kuperlihatkan padamu,"

Sahut Peng-ci.

"Dahulu demi untuk mendapatkan ilmu pedang keluarga kami, ayah-ibuku telah menjadi korban keganasanmu. Dosa kejahatanmu rasanya tidak lebih kecil daripada Ih Jong-hay itu."

Baru sekarang Bok Ko-hong terkejut, sungguh tidak nyana bahwa pemuda perlente di depannya sekarang ini adalah putranya Lim Cin-lam. Diam-diam Bok Ko-hong menimbang.

"Dia berani menantang diriku, dengan sendirinya ada sesuatu yang dia andaikan. Ngo-gak-kiam-pay mereka sekarang sudah bergabung, kawanan nikoh dari Hing-san-pay ini dengan sendirinya adalah bala bantuannya."

Mendadak tangannya membalik terus mencengkeram ke arah Gak Leng-sian, ia pikir jumlah musuh terlalu banyak, sedangkan anak perempuan ini memangnya adalah istri bocah she Lim ini, kalau dia berada di dalam cengkeramanku masakah bocah she Lim ini berani berkutik?

Tak tersangka cengkeramannya tidak kena sasaran, sebaliknya angin tajam menyambar dari belakang, pedang seorang telah menebasnya.

Cepat Bok Ko-hong mengegos ke samping, dilihatnya penyerang itu ternyata Gak Leng-sian adanya.

Rupanya Ing-ing telah memotong tali peringkus Leng-sian tadi dan telah membukakan hiat-to yang tertutuk.

Karena masih terasa kesemutan berhubung sekian lamanya hiat-to tertutuk, pula lukanya terasa sakit, maka setelah tebasannya memaksa Bok Ko-hong melompat mundur, lalu Leng-sian tidak melancarkan serangan susulan meski dalam hati sangat gemas.

Dengan mengejek Peng-ci lantas berkata.

"Hm, sebagai tokoh persilatan yang ternama, sungguh tidak tahu malu perbuatanmu. Sekarang kalau kau ingin hidup lebih lama, kau harus merangkak dan menjura tiga kali padaku sambil memanggil ‘kakek’ tiga kali, dengan demikian akan kuberi hidup padamu untuk setahun lagi. Setahun kemudian aku akan mencari kau lagi untuk menagih utang nyawamu. Nah, mau?"

Dahulu di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, demi menyelamatkan jiwa, Peng-ci yang waktu itu menyamar sebagai orang bungkuk juga pernah merangkak dan menjura tiga kali sambil memanggil "kakek"

Tiga kali kepada Bok Ko-hong.

Perbuatan itu sudah tentu suatu hinaan besar baginya, cuma waktu itu dia dalam keadaan menyamar sehingga orang lain tidak mengenalnya.

Namun begitu dia tidak pernah melupakan hinaan mahabesar itu.

Sekarang ilmunya sudah jadi, sudah tentu segala macam dendam besar kecil di masa dahulu harus dituntutnya satu per satu dengan jelas.

Kembali Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya.

"Hahaha, sudah begini tua hidup Bok-yaya, tapi belum pernah kulihat seorang sombong semacam kau. Biarpun sekarang kau yang menjura padaku dan memanggil tiga kali kakek padaku juga jiwamu takkan kuampuni."

Sudah tentu Bok Ko-hong tidak tahu bahwa anak muda di hadapannya ini justru sudah pernah menjura dan memanggil "kakek"

Padanya di waktu dahulu. Maka perlahan-lahan ia melolos pedangnya, katanya.

"Ih-pendek, kalau mau berkelahi boleh kalian tosu melawan nikoh, bocah kurang ajar ini boleh serahkan padaku saja."

Ia khawatir kalau kawanan nikoh Hing-san-pay ikut turun tangan, sedangkan Ih Jong-hay diketahui juga termasuk musuh Lim Peng-ci, kalau orang Jing-sia-pay dapat menghadapi Hing-san-pay, mustahil dirinya tidak mampu melawan seorang anak muda sebagai Lim Peng-ci.

Maka terdengar Ih Jong-hay menjawab.

"Pihak Hing-san-pay sejak tadi sudah menyatakan takkan memihak mana-mana. Nona yang menolong Gak-siocia tadi juga bukan orang Hing-san-pay."

Padahal pernyataan Hing-san-pay takkan memihak siapa-siapa hanya ditujukan kepada Jing-sia-pay saja, sudah tentu tidak termasuk Bok Ko-hong.

Tapi Ih Jong-hay sengaja mencampuradukkannya agar Bok Ko-hong dapat melayani musuh besarnya tanpa khawatir.

Bok Ko-hong menjadi girang, katanya.

"Baik sekali kalau begitu. Urusan hari ini adalah bocah ini yang mencari perkara padaku dan bukan aku yang mencari dia. Para kawan Hing-san-pay hendak menjadi saksi agar kelak di dunia Kangouw takkan timbul cerita bahwa si bungkuk menganiaya anak muda."

Sambil berkata perlahan-lahan pedang pun sudah terlolos.

Bentuk pedangnya ternyata sangat aneh, yaitu melengkung.

Orangnya bungkuk, pedangnya juga bungkuk.

Dengan memegang kipas, tangan lain mengangkat sedikit ujung bajunya yang panjang, dengan gaya berlenggang Lim Peng-ci lantas mendekati Bok Ko-hong.

Orang yang dilalui oleh Peng-ci segera mengendus bau harum yang sedap.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar dua kali jeritan, Ih Jin-ho dan Pui Jin-ti dari Jing-sia-pay mendadak roboh terkulai dengan dada mengucurkan darah.

Tanpa terasa orang banyak sama mengeluarkan suara kaget.

Sudah jelas Peng-ci terlihat menuju ke arah Bok Ko-hong, entah cara bagaimana mendadak kedua murid Jing-sia-pay yang dilaluinya itu telah dibinasakan.

Selesai membunuh orang, perlahan-lahan Peng-ci simpan kembali pedangnya.

Hanya tokoh-tokoh besar seperti Lenghou Tiong dan sebagainya yang masih melihat berkelebatnya pedang, orang lain boleh dikata tidak tahu cara bagaimana Peng-ci melolos pedangnya jangankan melihat caranya menyerang.

Keruan semua orang tak terkatakan kagumnya di samping waswas pula.

Menghadapi Peng-ci yang semakin mendekat itu, badan Bok Ko-hong semakin menunduk, memangnya dia bungkuk, kini mukanya menjadi hampir mendekat tanah.

Sekonyong-konyong Bok Ko-hong meraung seperti serigala menyalak, ia terus menyeruduk ke depan, pedangnya yang bengkok itu lantas menyambar ke pinggang Peng-ci.

Cepat sekali Peng-ci pindahkan kipasnya ke tangan kiri, tangan lain segera melolos pedang terus menusuk ke dada musuh.

Serangannya bergerak lebih lambat, tapi tiba lebih dulu kepada sasarannya, cepat lagi jitu.

Kembali Bok Ko-hong mengerang, tubuhnya terus melompat ke sana.

Ternyata baju kapas di bagian dadanya sudah berlubang sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat.

Serangan Peng-ci itu kalau maju dua-tiga senti lagi, seketika dada Bok Ko-hong pasti berlubang.

Semua orang sampai berseru kaget dan sama melongo.

Sekali gebrak saja Bok Ko-hong sudah hampir direnggut maut, namun dasarnya dia memang ganas, sedikit pun ia tidak gentar, berulang-ulang ia mengerang pula dan kembali menubruk maju.

Rada di luar dugaan Peng-ci bahwa serangannya tadi tidak kena sasarannya, diam-diam ia mengakui kehebatan si bungkuk yang terkenal itu.

"Sret-sret-sret", kembali ia melancarkan serangan kilat, terdengar suara "trang-trang"

Yang nyaring, serangan-serangan kena ditangkis semua oleh si bungkuk.

Peng-ci mendengus, makin cepat pedangnya bergerak.

Berkali-kali Bok Ko-hong terpaksa melompat ke atas dan mendekam ke bawah, pedangnya yang bengkok itu pun diputar sedemikian cepatnya sehingga berwujud sebuah jaringan sinar perak.

Setiap kali pedang Peng-ci menusuk masuk jaringan sinar pedang lawan dan terkadang membentur pedang lawan yang bengkok itu, maka tangan Peng-ci sendiri lantas terasa kesemutan, nyata sekali tenaga dalam lawan jauh lebih kuat daripadanya.

Kalau kurang hati-hati bisa jadi pedang sendiri akan tergetar lepas.

Karena itu Peng-ci tidak berani gegabah lagi, ia berusaha mengincar lubang kelemahan musuh untuk memberi serangan maut.

Namun Bok Ko-hong hanya memutar pedang sendiri sedemikian kencangnya, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang kelemahan.

Betapa pun tinggi ilmu pedang Peng-ci juga tak bisa berbuat apa-apa.

Pertarungan demikian sebenarnya mendudukkan Peng-ci pada tempat yang tak terkalahkan, sekalipun belum dapat menjatuhkan lawan, namun Bok Ko-hong sudah jelas tidak mampu balas menyerang.

Semua orang dapat menilai, asal Bok Ko-hong bermaksud balas menyerang, itu berarti jaringan sinar pedangnya akan memberi peluang bagi serangan kilat Lim Peng-ci, jika terjadi demikian, maka sukar bagi Bok Ko-hong untuk menangkis.

Cara Bok Ko-hong memutar pedangnya sedemikian kencang sebenarnya paling membuang tenaga dalam, namun di tengah sinar pedangnya yang rapat itu Bok Ko-hong menggerung-gerung pula tanpa berhenti mengikuti gerak pedangnya, hal ini menambahkan ketangkasannya yang mengagumkan.

Beberapa kali Peng-ci bermaksud membobol jaringan sinar pedang musuh, tapi selalu didesak kembali oleh pedang rawan yang bengkok itu.

Sekian lamanya Ih Jong-hay mengikuti pertarungan hebat itu, dilihatnya jaringan sinar pedang si bungkuk mulai mengkeret, makin ciut, ini menandakan tenaga dalam Bok Ko-hong sudah mulai payah.

Tanpa ayal lagi, ia bersuit nyaring terus menerjang maju.

"sret-sret-sret"

Tiga kali, cepat ia menyerang tempat mematikan di punggung Lim Peng-ci.

Ketika Peng-ci terpaksa memutar pedangnya untuk menangkis ke belakang, segera Bok Ko-hong ayun pedangnya yang bengkok itu untuk menebas kaki lawan.

Kalau menurut etiket dunia persilatan, dua tokoh ternama seperti Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong mengeroyok seorang pemuda yang masih hijau, sungguh suatu perbuatan yang memalukan.

Hanya saja sepanjang jalan orang-orang Hing-san-pay telah menyaksikan cara Peng-ci membunuh anak murid Jing-sia-pay secara tidak kenal ampun, jelas Ih Jong-hay akhirnya juga akan menjadi korbannya, maka kini mereka pun tidak heran melihat dua tokoh ternama itu mengeroyok Peng-ci, mereka malah anggap kejadian itu adalah lumrah.

Sebab kalau kedua tokoh itu tidak bergabung, cara bagaimana mereka masing-masing mampu melawan ilmu pedang Peng-ci yang sukar diukur itu?

Gerak pedang Bok Ko-hong segera berubah, selain bertahan sekarang ia pun menyerang, Peng-ci menjadi girang malah, kira-kira belasan jurus kemudian, mendadak kipas di tangan kiri ikut bergerak, gagang kipas membalik terus menusuk ke depan dengan cepat luar biasa.

Tiba-tiba dari ujung gagang kipas menonjol keluar sebatang jarum tajam, tepat Tiau-goan-hiat di paha kanan Bok Ko-hong tertusuk.

Bok Ko-hong terkejut, cepat pedangnya menyampuk, namun tetap kalah cepat daripada gerak serangan Peng-ci itu, hiat-to bagian kaki itu terasa kesemutan.

Ia tidak berani sembarangan bergerak, sedangkan pedang diputar kencang untuk melindungi tubuh.

Tapi lambat laun kedua kaki terasa lemas, tanpa kuasa ia bertekuk lutut.

"Hahaha! Baru sekarang kau menjura padaku ...."

Peng-ci bergelak tertawa sambil menangkis serangan Ih Jong-hay, lalu menyambung.

"namun sudah terlambat!"

"Trang,"

Kembali ia menangkis serangan musuh dan kontan balas menyerang satu kali.

Meski kedua kaki Bok Ko-hong berlutut ke bawah, namun pedangnya yang bengkok itu tetap digunakan menyerang tanpa berhenti.

Rupanya ia menginsafi bahwa kekalahan pihaknya sudahlah pasti, maka setiap jurus serangannya selalu menggunakan cara nekat, bila perlu siap gugur bersama musuh.

Keadaan menjadi berbeda sama sekali, kalau mula-mula Bok Ko-hong hanya bertahan tanpa menyerang, sekarang dia berbalik hanya menyerang tanpa menjaga diri lagi.

Ia sudah tidak pikirkan jiwanya lagi, dengan demikian untuk sementara Peng-ci menjadi tak bisa mengapa-apakan dia.

Ih Jong-hay juga menyadari keadaan yang gawat antara hidup dan mati, jika dalam belasan jurus tak bisa mengalahkan lawan, sekali Bok Ko-hong terjungkal, maka dirinya yang tertinggal lebih-lebih tidak mampu berkutik lagi.

Karena, itu ia percepat serangannya secara membadai.

Sekonyong-konyong Peng-ci tertawa panjang, tiba-tiba pandangan Ih Jong-hay menjadi gelap, matanya tak bisa melihat apa-apa lagi, menyusul kedua bahunya juga terasa dingin, kedua lengannya telah mencelat berpisah dengan tubuhnya.

Terdengar Peng-ci tertawa histeris, katanya.

"Aku takkan membunuh kau, biar kau buntung dan buta pula, biar kau mengembara di Kangouw sebatang kara, anak muridmu, anggota keluargamu, satu per satu akan kubunuh seluruhnya agar di dunia ini hanya tertinggal musuhmu saja dan tiada seorang pun sanak kadangmu."

Ih Jong-hay merasakan lengannya yang buntung itu sakit tidak kepalang, ia tahu perlakuan Peng-ci terhadap dirinya itu jauh lebih kejam daripada sekali tusuk membinasakan dia.

Dalam keadaan cacat begitu apa artinya hidup di dunia ini?

Paling-paling malah akan menerima hinaan dan siksaan habis-habisan dari pihak musuh.

Karena pikiran demikian, ia menjadi kalap, ia perhatikan arah suara Peng-ci, lalu menyeruduk ke sana.

Peng-ci terbahak-bahak sambil berkelit ke samping.

Tak terduga, saking senangnya karena sakit hatinya sudah terbalas, ia menjadi lengah, tanpa sadar cara menghindarnya itu berbalik mendekati Bok Ko-hong malah.

Tentu saja Bok Ko-hong tidak sia-siakan kesempatan baik itu, ia ayun pedangnya menebas sekuatnya, ketika Peng-ci menangkis dengan pedangnya, tahu-tahu kedua kakinya telah dirangkul sekencangnya oleh Bok Ko-hong.

Keruan Peng-ci terkejut, dilihatnya berpuluh murid Jing-sia-pay serentak memburu maju, cepat kedua kakinya meronta sekuatnya, namun rangkulan Bok Ko-hong sedemikian kencangnya laksana tanggam, tanpa pikir Peng-ci lantas menusuk ke punggung Bok Ko-hong yang bungkuk itu.

"Blus" , mendadak air hitam muncrat keluar dari punggung yang bengkok itu, baunya bacin memuakkan. Karena kejadian yang sama sekali tak terduga ini, dengan sendirinya Peng-ci pancal kedua kakinya dengan maksud hendak melompat pergi buat menghindari semprotan air bacin itu, tapi ia lupa bahwa kedua kakinya masih dipeluk sekuatnya oleh Bok Ko-hong, seketika mukanya tersemprot oleh air hitam yang bau itu, bahkan sakitnya tidak kepalang sehingga dia menjerit. Kiranya air bau itu adalah air beracun yang luar biasa, sungguh tidak nyana bahwa di punggung yang bengkok itu tersembunyi kantong air berbisa. Dengan tangan kiri menutupi muka yang kesakitan, kedua matanya sukar dipentang lagi, hanya pedangnya berulang-ulang digunakan membacok menikam tubuh Bok Ko-hong. Bacokan dan tikaman Peng-ci itu cepat luar biasa, sama sekali Bok Ko-hong tidak sempat berkelit. Hakikatnya ia pun tidak ingin menghindar, sebaliknya semakin kencang dia merangkul kedua kaki Peng-ci. Pada saat itulah, berdasarkan suara kedua orang itu, Ih Jong-hay mengincar tepat arahnya, dia terus menubruk maju, karena kedua tangannya sudah buntung, dia gunakan mulut untuk menggigit. Secara kebetulan pipi kanan Peng-ci dengan tepat kena digigit dan tak dilepaskan lagi. Ketiga orang menjadi saling bergumul dalam keadaan kalap, lambat laun ketiganya menjadi sadar tak-sadar. Serentak anak murid Jing-sia-pay memburu maju untuk menyerang Lim Peng-ci. Pertarungan sengit itu dapat diikuti Lenghou Tiong dengan jelas dari dalam kereta. Semula ia pun terkejut menyaksikan pertempuran mati-matian itu, kemudian ketika melihat Peng-ci bergumul dengan kedua musuhnya dan tak bisa berkutik, sedangkan anak murid Jing-sia-pay telah memburu maju, tanpa pikirkan keadaan sendiri yang terluka, segera ia melompat keluar dari keretanya, ia jemput sebatang pedang di atas tanah yang berlumuran darah, menyusul "sret-sret-sret"

Beberapa kali, semuanya mengenai pergelangan tangan anak murid Jing-sia-pay, maka terdengarlah suara gemerencing nyaring jatuhnya senjata orang-orang Jing-sia-pay itu.

Melihat Lenghou Tiong sudah turun tangan, segera Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, The Oh dan lain-lain juga ikut menerjang maju dan mengelilingi Lenghou Tiong.

Terdengar suara mengerang Bok Ko-hong yang kalap tadi mulai mereda, sebaliknya pedang Lim Peng-ci masih terus menikam ke punggung musuh itu.

Sekujur badan Ih Jong-hay penuh darah dengan tetap menggigit pipi Peng-ci.

Sehabis menyelamatkan Peng-ci, Lenghou Tiong merasa badannya lemas dan terhuyung-huyung, cepat Gi-ho dan lain-lain memayangnya.

Melihat pergumulan mati-matian antara Peng-ci bertiga itu, anak murid Hing-san-pay sama merasa ngeri, tiada seorang pun yang berani memisahkan mereka.

Selang tidak lama, mendadak Peng-ci mendorong sekuatnya dengan tangan kiri, tubuh Ih Jong-hay tertolak mencelat, tapi berbareng Peng-ci juga menjerit kesakitan, pipi kanan sudah berlubang dengan darah yang bercucuran, nyata sepotong daging pipinya telah digigit mentah-mentah oleh Ih Jong-hay.

Bok Ko-hong sudah mati sejak tadi, tapi dia masih tetap merangkul kencang kedua kaki Peng-ci.

Terpaksa Peng-ci menggagap tepat lengan Bok Ko-hong, maklum kedua matanya sukar dipentang karena sakit perih berhubung semprotan air berbisa dari punggung musuh tadi, lalu pedangnya memotong kedua lengan si bungkuk, dengan demikian barulah dia terlepas.

Melihat keadaan Peng-ci yang seram itu, tanpa terasa anak murid Hing-san-pay sama melangkah mundur.

Beramai-ramai anak murid Jing-sia-pay lantas mendekati Ih Jong-hay untuk memberi pertolongan sehingga tiada satu pun yang mengurusi musuh lagi.

Tiba-tiba anak murid Jing-sia-pay itu menangis dan berteriak-teriak.

"Suhu, Suhu! Engkau jangan meninggalkan kami!"

"O, Suhu meninggal! Suhu sudah meninggal!"

Peng-ci tertawa terbahak-bahak, teriaknya histeris.

"Sakit hatiku sudah terbalas!"

Anak murid Hing-san-pay kembali mundur beberapa langkah karena merasakan suasana yang seram itu.

Gi-ho lantas memapak Lenghou Tiong kembali ke keretanya, Gi-jing dan The Oh membuka pembalut lukanya untuk membubuhi obat lagi.

Perlahan-lahan Leng-sian mendekati Peng-ci, katanya.

"Adik Peng, aku mengucapkan selamat atas terbalasnya sakit hatimu."

Tapi Peng-ci masih bergelak tertawa seperti orang gila dan berteriak-teriak.

"Sakit hatiku sudah terbalas, sudah terbalas!"

Melihat kedua mata Peng-ci terpejam, dengan suara lembut Leng-sian bertanya.

"Bagaimana dengan kedua matamu? Air berbisa itu harus dicuci."

Peng-ci melenggong sejenak, tubuhnya terhuyung dan hampir-hampir jatuh.

Cepat Leng-sian memayangnya dan membawanya ke warung gubuk tadi, ia mencari satu panci air jernih terus diguyurkan ke muka Peng-ci.

Mendadak Peng-ci menjerit, agaknya merasa sakit dan perih luar biasa, sampai-sampai anak murid Jing-sia-pay terkejut mendengar jeritan seram itu.

"Siausumoay,"

Kata Lenghou Tiong.

"Ambil obat ini untuk Lim-sute, bawa dia ke dalam kereta kami untuk mengaso."

"Ba ... banyak terima kasih,"

Sahut Leng-sian. Mendadak Peng-ci berteriak.

"Tidak, tidak perlu! Orang she Lim akan mati atau hidup apa sangkut pautnya dengan dia?"

Lenghou Tiong tercengang, pikirnya.

"Bilakah aku bersalah padamu? Mengapa kau begini benci padaku?"

Dengan suara halus Leng-sian coba membujuk sang suami.

"Obat luka Hing-san-pay terkenal sangat mujarab, kalau orang sudi mem ...."

"Orang sudi apa?"

Bentak Peng-ci dengan gusar.

Leng-sian menghela napas, kembali ia mengguyur perlahan muka Peng-ci.

Sekali ini Peng-ci hanya menjengek tertahan dengan menahan sakit, ia tidak menjerit lagi, tapi segera ia berkata.

"Hm, kau selalu mengatakan kebaikannya, dia memang sangat memerhatikan dirimu, kenapa kau tidak ikut pergi dengan dia saja? Buat apa kau mengurus diriku?"

Kata-kata Peng-ci ini benar-benar mengejutkan anak murid Hing-san-pay sehingga mereka saling pandang dengan melongo.

Mereka tahu Lenghou Tiong selalu ingat akan hubungan baik sebagai sesama saudara seperguruan, maka tanpa menghiraukan keadaan sendiri yang payah dia berusaha menolong ketika melihat mereka terancam bahaya.

Dengan jelas semua orang menyaksikan jiwa Peng-ci diselamatkan oleh Lenghou Tiong, mengapa Peng-ci bicara sekasar itu?

Gi-ho yang pertama-tama tidak tahan, dengan suara keras ia mendamprat.

"Orang telah menyelamatkan jiwamu bukannya terima kasih sebaliknya tanpa kenal malu kau bicara tidak keruan?"

Lekas Gi-jing menarik Gi-ho agar tidak mengomel lebih lanjut.

Namun Gi-ho masih muring-muring.

Dalam pada itu Leng-sian sedang mengusap luka di pipi Peng-ci dengan saputangannya.

Di luar dugaan, mendadak tangan kanan Peng-ci terus mendorong dengan kuat sehingga Leng-sian yang tidak berjaga-jaga itu jatuh terbanting.

Lenghou Tiong menjadi gusar, bentaknya.

"Kenapa kau ...."

Tapi segera teringat olehnya bahwa Peng-ci dan Leng-sian sudah menjadi suami istri, kalau suami istri bertengkar adalah tidak pantas orang luar ikut campur, apalagi kata-kata Peng-ci tadi jelas rada sirik padanya.

Bahwasanya dirinya menaruh cinta pada siausumoaynya ini tentu juga diketahui Peng-ci, maka tidaklah enak jika dirinya sekarang terlibat dalam pertengkaran mereka.

Meski kedua mata Peng-ci tidak dapat melihat sesuatu lagi, namun suara pembicaraan orang dapat didengarnya dengan jelas, dengan menjengek ia lantas menanggapi dampratan Gi-ho tadi.

"Hm, kau bilang aku tidak tahu malu? Sesungguhnya siapakah yang tidak tahu malu."

Mendadak ia tuding ke sana dan melanjutkan.

"Si pendek she Ih ini dan si bungkuk she Bok itu, lantaran ingin mendapatkan Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami, dengan segala jalan mereka berusaha merebut dan mencelakai ayah-bundaku, meski cara mereka cukup keji masih dapat dikatakan perbuatan orang Kangouw yang jahat, tapi, hm, mana ada yang berbuat seperti ayahmu ...."

Ia tuding Leng-sian, lalu menyambung.

"ayahmu yang menamakan dirinya Kun-cu-kiam Gak Put-kun, dia telah menggunakan caranya yang rendah dan licik untuk merebut kiam-boh keluarga Lim kami."

Saat itu Leng-sian lagi merangkak bangun, mendengar ucapan Peng-ci itu, badannya gemetar dan kembali jatuh terduduk, jawabnya dengan terputus-putus.

"Mana ... mana bisa jadi hal begitu?"

"Hm, perempuan hina dina,"

Jengek Peng-ci.

"Kalian ayah dan anak sengaja berkomplot untuk memancing diriku, Gak-toasiocia dari ketua Hoa-san-pay sudi kawin dengan anak sebatang kara yang tak punya tempat tinggal lagi, coba katakan apa tujuannya? Bukankah demi untuk mendapatkan Pi-sia-kiam-boh keluarga kami? Dan sekarang kiam-boh itu sudah didapatkan, lalu untuk apalagi orang she Lim macamku ini?"

Saking tak tahan Leng-sian menangis keras, ratapnya.

"Kau ... kau jangan memfitnah orang tak berdosa, jika begitu tujuanku sebagaimana kau tuduhkan, biarlah aku di ... dikutuk dan mati tak terkubur."

"Dengan licik kalian memasang perangkap, semula aku masih terselubung dan tidak tahu,"

Kata Peng-ci pula.

"Tapi sekarang sesudah kedua mataku buta mendadak aku dapat melihat dengan jelas malah. Coba, kalau kalian ayah dan anak tidak punya maksud tujuan tertentu, kenapa ... kenapa, hm, sesudah kita menikah, mengapa begitu caranya kau meladeni aku? Memangnya aku ... hm, tak perlu kukatakan lagi, kau sendiri tentu paham."

Wajah Leng-sian tampak merah, jawabnya.

"Hal ini kan tidak ... tidak dapat menyalahkan aku. Kau ... kau sendiri ...."

Perlahan ia mendekati Peng-ci, lalu menyambung.

"Sudahlah, jangan kau pikir hal-hal yang tidak keruan, pendek kata sedikit pun tidak berubah perasaanku terhadapmu dari dulu sampai sekarang."

Peng-ci hanya mendengus saja tanpa berkata. Leng-sian berkata pula.

"Marilah kita pulang ke Hoa-san untuk merawat lukamu. Apakah matamu akan sembuh atau tidak, bila aku Gak Leng-sian mempunyai pikiran yang menyeleweng, biarlah aku akan mati terlebih ngeri daripada seperti Ih Jong-hay ini."

"Hm, siapa tahu apa yang sedang kau rancangkan atas diriku, tidak perlu kau omong manis padaku,"

Jengek pula Peng-ci. Leng-sian tidak menjawabnya lagi, ia berkata kepada Ing-ing.

"Cici, bolehkah aku meminjam sebuah kereta kalian?"

"Boleh saja,"

Sahut Ing-ing.

"Apakah perlu satu-dua Suci dari Hing-san-pay mengawal perjalanan kalian?"

"Ti ... tidak usah,"

Jawab Leng-sian dengan terguguk-guguk.

"Banyak terima kasih."

Ing-ing lantas menyeretkan sebuah kereta keledai dan menyerahkan tali kendali kepada Leng-sian.

"Marilah naik ke atas kereta!"

Kata Leng-sian sambil perlahan-lahan memapah bahu Peng-ci.

Tertampak Peng-ci ogah-ogahan, namun kedua matanya tak bisa melihat apa-apa, setiap langkah pun susah.

Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia naik juga ke atas kereta.

Segera Leng-sian melompat ke tempat kusir di atas kereta, ia manggut-manggut kepada Ing-ing, lalu cambuknya gemeletar dan melarikan keretanya ke jurusan barat.

Sekejap pun dia tidak memandang ke arah Lenghou Tiong.

Pandangan Lenghou Tiong terus mengikuti kepergian kereta itu yang semakin menjauh, ia termangu-mangu dengan perasaan pilu, air mata berlinang-linang di kelopak matanya.

Pikirnya.

"Kedua mata Lim-sute sudah buta, Siausumoay terluka pula. Dalam keadaan begitu apakah mereka takkan mengalami halangan di tengah perjalanan yang jauh itu? Jika di tengah jalan kepergok lagi anak murid Jing-sia-pay, apakah mereka mampu melawan?"

Dilihatnya anak murid Jing-sia-pay telah membenahi jenazah Ih Jong-hay, lalu berangkat menuju ke selatan.

Walaupun arahnya berlainan dengan Peng-ci dan Leng-sian, tapi siapa berani menjamin rombongan Jing-sia-pay itu takkan memutar haluan di tengah jalan terus mengejar ke jurusan Peng-ci berdua?

Lenghou Tiong coba menyelami apa yang dipercakapkan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian tadi, ia merasa di dalam hubungan suami-istri itu tentu mengandung berbagai rahasia yang sukar diketahui oleh orang luar.

Yang jelas, bahwasanya hubungan kedua suami-istri itu kurang harmonis adalah dapat dipastikan.

Teringat sang siausumoay yang masih muda belia dan disayang oleh ayah-bundanya laksana mutiara, para saudara seperguruan juga sangat hormat dan menghargainya, tetapi ia harus mendapat siksaan lahir batin dari sang suami sendiri, tanpa terasa Lenghou Tiong menjadi sedih dan mencucurkan air mata Perjalanan mereka hanya mencapai belasan li saja lantas bermalam di suatu kuil bobrok.

Tertidur sampai tengah malam, beberapa kali Lenghou Tiong terjaga oleh impian buruk.

Dalam keadaan setengah sadar telinganya mendengar suara bisikan yang halus.

"Engkoh Tiong! Engkoh Tiong!"

Lenghou Tiong terjaga bangun, didengarnya suara Ing-ing sedang berkata pula.

"Marilah keluar, ada yang hendak kubicarakan."

Yang digunakan Ing-ing adalah ilmu mengumandangkan gelombang suara sehingga suaranya terdengar dari dekat, tapi orangnya sejak tadi sudah di luar rumah.

Segera Lenghou Tiong berbangkit dan keluar kuil itu, dilihatnya Ing-ing duduk di undak-undakan batu sambil bertopang dagu sedang termenung-menung.

Lenghou Tiong mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

Suasana malam sunyi senyap, sekitar mereka tiada suara sedikit pun.

Selang agak lama baru Ing-ing membuka suara.

"Engkau mengkhawatirkan Siausumoaymu bukan?"

"Ya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Banyak persoalan yang membikin orang sukar mengerti."

"Kau mengkhawatirkan dia diperlakukan kurang baik oleh suaminya?"

Kata Ing-ing pula Lenghou Tiong menghela napas, jawabnya kemudian.

"Urusan suami-istri mereka, orang lain mana bisa ikut campur?"

"Bukankah kau khawatir kalau anak murid Jing-sia-pay menyusul dan mencari perkara kepada mereka?"

Tanya Ing-ing.

"Orang Jing-sia-pay tentu sakit hati atas kematian guru mereka, pula melihat musuhnya suami-istri dalam keadaan terluka, kalau mereka menyusul buat menuntut balas, rasanya bukanlah sesuatu yang aneh."

"Mengapa kau tidak mencari akal untuk menolong mereka?"

Kembali Lenghou Tiong menghela napas, katanya.

"Dari nada Lim-sute tadi, agaknya dia rada sirik kepadaku. Meski aku hendak menolong mereka dengan maksud baik, jangan-jangan malah membikin retak hubungan baik suami-istri mereka."

"Ini cuma salah satu di antaranya. Tapi kau masih mempunyai rasa khawatir lain, khawatir akan membikin aku kurang senang, betul tidak?"

Lenghou Tiong angguk-angguk, ia pegang tangan kiri Ing-ing dengan erat, telapak tangan nona itu terasa sangat dingin. Dengan suara halus ia pun berkata.

"Ing-ing, di dunia ini aku hanya mempunyai dikau seorang, jika di antara kita juga timbul sesuatu rasa curiga, lalu apa artinya lagi menjadi manusia?"

Perlahan-lahan Ing-ing menggelendot di bahu Lenghou Tiong, katanya kemudian.

"Jika demikian pikiranmu, lalu di antara kita masakah bisa timbul rasa curiga segala? Urusan jangan terlambat, kita harus menyusul ke sana secepatnya, jangan sampai menimbulkan rasa penyesalan bagi hidupmu ini hanya karena ingin menghindarkan rasa curiga."

Mendengar kata-kata "meninggalkan penyesalan selama hidup" , seketika Lenghou Tiong terkesiap dan seakan-akan terbayang kereta Peng-ci sedang dikepung oleh belasan orang Jing-sia-pay dengan senjata terhunus, tanpa terasa badannya rada gemetar.

Pada saat itulah tiba-tiba pandangan semua orang serasa kabur, tampaknya seperti Lim Peng-ci melompat ke sana dan mengadang di depan kuda Bok Ko-hong, tapi segera pemuda itu kelihatan sedang kebas-kebas kipasnya dan duduk tenang di tempatnya seperti tidak pernah meninggalkan bangkunya.

Selagi semua orang merasa bingung, mendadak terdengar Bok Ko-hong menggertak agar kudanya cepat lari.

Namun bagi tokoh-tokoh kelas wahid seperti Lenghou Tiong, Ing-ing dan Ih Jong-hay, dengan jelas mereka dapat melihat Lim Peng-ci telah menjulur tangannya mencolok dua kali kepada kuda Bok Ko-hong, tentu ada apa-apa yang telah dikerjainya.

Benar juga, baru saja Bok Ko-hong melarikan kudanya beberapa langkah, sekonyong-konyong kuda itu menubruk cagak gubuk.

Karena tumbukan yang keras itu, setengah gubuk itu menjadi ambruk.

Cepat Ih Jong-hay melompat keluar gubuk, sedangkan kepala Lenghou Tiong dan Lim Peng-ci penuh teruruk oleh alang-alang kering yang digunakan sebagai atap gubuk itu.

Lekas-lekas Gi-lim membersihkan rumput-rumput yang menutup kepala Lenghou Tiong itu.

Dengan mata melotot Lim Peng-ci menatap Bok Ko-hong, tertampak orang bungkuk itu ragu-ragu sejenak, lalu melompat turun dari kudanya sambil melepaskan tali kendali.

Segera kudanya berlari lagi ke depan, tapi segera kepala menumbuk batang pohon, terdengar kuda itu meringkik panjang dan roboh terkapar dengan kepala penuh darah.

Begitu aneh kelakuan kuda itu, terang disebabkan kedua matanya sudah buta dan dengan sendirinya karena dikerjai Peng-ci dengan kecepatan luar biasa tadi.

Perlahan-lahan Peng-ci melempit kipasnya dan membersihkan rumput kering yang berserakan di atas pundaknya, lalu berkata.

"Orang buta menunggang kuda pecak, sungguh berbahaya kalau menghadapi jurang di tengah malam."

Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya.

"Sombong benar kau bocah ini, ternyata kau memang boleh juga. Ih-pendek bilang kau mahir Pi-sia-kiam-hoat, boleh coba kau pertunjukkan kepadaku."

Kudanya dibutakan, dia tidak gusar, sebaliknya malah tertawa, sungguh harus diakui kesabarannya yang luar biasa.

"Ya, memangnya akan kuperlihatkan padamu,"

Sahut Peng-ci.

"Dahulu demi untuk mendapatkan ilmu pedang keluarga kami, ayah-ibuku telah menjadi korban keganasanmu. Dosa kejahatanmu rasanya tidak lebih kecil daripada Ih Jong-hay itu."

Baru sekarang Bok Ko-hong terkejut, sungguh tidak nyana bahwa pemuda perlente di depannya sekarang ini adalah putranya Lim Cin-lam. Diam-diam Bok Ko-hong menimbang.

"Dia berani menantang diriku, dengan sendirinya ada sesuatu yang dia andaikan. Ngo-gak-kiam-pay mereka sekarang sudah bergabung, kawanan nikoh dari Hing-san-pay ini dengan sendirinya adalah bala bantuannya."

Mendadak tangannya membalik terus mencengkeram ke arah Gak Leng-sian, ia pikir jumlah musuh terlalu banyak, sedangkan anak perempuan ini memangnya adalah istri bocah she Lim ini, kalau dia berada di dalam cengkeramanku masakah bocah she Lim ini berani berkutik?

Tak tersangka cengkeramannya tidak kena sasaran, sebaliknya angin tajam menyambar dari belakang, pedang seorang telah menebasnya.

Cepat Bok Ko-hong mengegos ke samping, dilihatnya penyerang itu ternyata Gak Leng-sian adanya.

Rupanya Ing-ing telah memotong tali peringkus Leng-sian tadi dan telah membukakan hiat-to yang tertutuk.

Karena masih terasa kesemutan berhubung sekian lamanya hiat-to tertutuk, pula lukanya terasa sakit, maka setelah tebasannya memaksa Bok Ko-hong melompat mundur, lalu Leng-sian tidak melancarkan serangan susulan meski dalam hati sangat gemas.

Dengan mengejek Peng-ci lantas berkata.

"Hm, sebagai tokoh persilatan yang ternama, sungguh tidak tahu malu perbuatanmu. Sekarang kalau kau ingin hidup lebih lama, kau harus merangkak dan menjura tiga kali padaku sambil memanggil ‘kakek’ tiga kali, dengan demikian akan kuberi hidup padamu untuk setahun lagi. Setahun kemudian aku akan mencari kau lagi untuk menagih utang nyawamu. Nah, mau?"

Dahulu di rumah Lau Cing-hong di kota Heng-san, demi menyelamatkan jiwa, Peng-ci yang waktu itu menyamar sebagai orang bungkuk juga pernah merangkak dan menjura tiga kali sambil memanggil "kakek"

Tiga kali kepada Bok Ko-hong.

Perbuatan itu sudah tentu suatu hinaan besar baginya, cuma waktu itu dia dalam keadaan menyamar sehingga orang lain tidak mengenalnya.

Namun begitu dia tidak pernah melupakan hinaan mahabesar itu.

Sekarang ilmunya sudah jadi, sudah tentu segala macam dendam besar kecil di masa dahulu harus dituntutnya satu per satu dengan jelas.

Kembali Bok Ko-hong bergelak tertawa, katanya.

"Hahaha, sudah begini tua hidup Bok-yaya, tapi belum pernah kulihat seorang sombong semacam kau. Biarpun sekarang kau yang menjura padaku dan memanggil tiga kali kakek padaku juga jiwamu takkan kuampuni."

Sudah tentu Bok Ko-hong tidak tahu bahwa anak muda di hadapannya ini justru sudah pernah menjura dan memanggil "kakek"

Padanya di waktu dahulu. Maka perlahan-lahan ia melolos pedangnya, katanya.

"Ih-pendek, kalau mau berkelahi boleh kalian tosu melawan nikoh, bocah kurang ajar ini boleh serahkan padaku saja."

Ia khawatir kalau kawanan nikoh Hing-san-pay ikut turun tangan, sedangkan Ih Jong-hay diketahui juga termasuk musuh Lim Peng-ci, kalau orang Jing-sia-pay dapat menghadapi Hing-san-pay, mustahil dirinya tidak mampu melawan seorang anak muda sebagai Lim Peng-ci.

Maka terdengar Ih Jong-hay menjawab.

"Pihak Hing-san-pay sejak tadi sudah menyatakan takkan memihak mana-mana. Nona yang menolong Gak-siocia tadi juga bukan orang Hing-san-pay."

Padahal pernyataan Hing-san-pay takkan memihak siapa-siapa hanya ditujukan kepada Jing-sia-pay saja, sudah tentu tidak termasuk Bok Ko-hong.

Tapi Ih Jong-hay sengaja mencampuradukkannya agar Bok Ko-hong dapat melayani musuh besarnya tanpa khawatir.

Bok Ko-hong menjadi girang, katanya.

"Baik sekali kalau begitu. Urusan hari ini adalah bocah ini yang mencari perkara padaku dan bukan aku yang mencari dia. Para kawan Hing-san-pay hendak menjadi saksi agar kelak di dunia Kangouw takkan timbul cerita bahwa si bungkuk menganiaya anak muda."

Sambil berkata perlahan-lahan pedang pun sudah terlolos.

Bentuk pedangnya ternyata sangat aneh, yaitu melengkung.

Orangnya bungkuk, pedangnya juga bungkuk.

Dengan memegang kipas, tangan lain mengangkat sedikit ujung bajunya yang panjang, dengan gaya berlenggang Lim Peng-ci lantas mendekati Bok Ko-hong.

Orang yang dilalui oleh Peng-ci segera mengendus bau harum yang sedap.

Pada saat lain tiba-tiba terdengar dua kali jeritan, Ih Jin-ho dan Pui Jin-ti dari Jing-sia-pay mendadak roboh terkulai dengan dada mengucurkan darah.

Tanpa terasa orang banyak sama mengeluarkan suara kaget.

Sudah jelas Peng-ci terlihat menuju ke arah Bok Ko-hong, entah cara bagaimana mendadak kedua murid Jing-sia-pay yang dilaluinya itu telah dibinasakan.

Selesai membunuh orang, perlahan-lahan Peng-ci simpan kembali pedangnya.

Hanya tokoh-tokoh besar seperti Lenghou Tiong dan sebagainya yang masih melihat berkelebatnya pedang, orang lain boleh dikata tidak tahu cara bagaimana Peng-ci melolos pedangnya jangankan melihat caranya menyerang.

Keruan semua orang tak terkatakan kagumnya di samping waswas pula.

Menghadapi Peng-ci yang semakin mendekat itu, badan Bok Ko-hong semakin menunduk, memangnya dia bungkuk, kini mukanya menjadi hampir mendekat tanah.

Sekonyong-konyong Bok Ko-hong meraung seperti serigala menyalak, ia terus menyeruduk ke depan, pedangnya yang bengkok itu lantas menyambar ke pinggang Peng-ci.

Cepat sekali Peng-ci pindahkan kipasnya ke tangan kiri, tangan lain segera melolos pedang terus menusuk ke dada musuh.

Serangannya bergerak lebih lambat, tapi tiba lebih dulu kepada sasarannya, cepat lagi jitu.

Kembali Bok Ko-hong mengerang, tubuhnya terus melompat ke sana.

Ternyata baju kapas di bagian dadanya sudah berlubang sehingga kelihatan bulu dadanya yang lebat.

Serangan Peng-ci itu kalau maju dua-tiga senti lagi, seketika dada Bok Ko-hong pasti berlubang.

Semua orang sampai berseru kaget dan sama melongo.

Sekali gebrak saja Bok Ko-hong sudah hampir direnggut maut, namun dasarnya dia memang ganas, sedikit pun ia tidak gentar, berulang-ulang ia mengerang pula dan kembali menubruk maju.

Rada di luar dugaan Peng-ci bahwa serangannya tadi tidak kena sasarannya, diam-diam ia mengakui kehebatan si bungkuk yang terkenal itu.

"Sret-sret-sret", kembali ia melancarkan serangan kilat, terdengar suara "trang-trang"

Yang nyaring, serangan-serangan kena ditangkis semua oleh si bungkuk.

Peng-ci mendengus, makin cepat pedangnya bergerak.

Berkali-kali Bok Ko-hong terpaksa melompat ke atas dan mendekam ke bawah, pedangnya yang bengkok itu pun diputar sedemikian cepatnya sehingga berwujud sebuah jaringan sinar perak.

Setiap kali pedang Peng-ci menusuk masuk jaringan sinar pedang lawan dan terkadang membentur pedang lawan yang bengkok itu, maka tangan Peng-ci sendiri lantas terasa kesemutan, nyata sekali tenaga dalam lawan jauh lebih kuat daripadanya.

Kalau kurang hati-hati bisa jadi pedang sendiri akan tergetar lepas.

Karena itu Peng-ci tidak berani gegabah lagi, ia berusaha mengincar lubang kelemahan musuh untuk memberi serangan maut.

Namun Bok Ko-hong hanya memutar pedang sendiri sedemikian kencangnya, sedikit pun tidak memperlihatkan lubang kelemahan.

Betapa pun tinggi ilmu pedang Peng-ci juga tak bisa berbuat apa-apa.

Pertarungan demikian sebenarnya mendudukkan Peng-ci pada tempat yang tak terkalahkan, sekalipun belum dapat menjatuhkan lawan, namun Bok Ko-hong sudah jelas tidak mampu balas menyerang.

Semua orang dapat menilai, asal Bok Ko-hong bermaksud balas menyerang, itu berarti jaringan sinar pedangnya akan memberi peluang bagi serangan kilat Lim Peng-ci, jika terjadi demikian, maka sukar bagi Bok Ko-hong untuk menangkis.

Cara Bok Ko-hong memutar pedangnya sedemikian kencang sebenarnya paling membuang tenaga dalam, namun di tengah sinar pedangnya yang rapat itu Bok Ko-hong menggerung-gerung pula tanpa berhenti mengikuti gerak pedangnya, hal ini menambahkan ketangkasannya yang mengagumkan.

Beberapa kali Peng-ci bermaksud membobol jaringan sinar pedang musuh, tapi selalu didesak kembali oleh pedang rawan yang bengkok itu.

Sekian lamanya Ih Jong-hay mengikuti pertarungan hebat itu, dilihatnya jaringan sinar pedang si bungkuk mulai mengkeret, makin ciut, ini menandakan tenaga dalam Bok Ko-hong sudah mulai payah.

Tanpa ayal lagi, ia bersuit nyaring terus menerjang maju.

"sret-sret-sret"

Tiga kali, cepat ia menyerang tempat mematikan di punggung Lim Peng-ci.

Ketika Peng-ci terpaksa memutar pedangnya untuk menangkis ke belakang, segera Bok Ko-hong ayun pedangnya yang bengkok itu untuk menebas kaki lawan.

Kalau menurut etiket dunia persilatan, dua tokoh ternama seperti Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong mengeroyok seorang pemuda yang masih hijau, sungguh suatu perbuatan yang memalukan.

Hanya saja sepanjang jalan orang-orang Hing-san-pay telah menyaksikan cara Peng-ci membunuh anak murid Jing-sia-pay secara tidak kenal ampun, jelas Ih Jong-hay akhirnya juga akan menjadi korbannya, maka kini mereka pun tidak heran melihat dua tokoh ternama itu mengeroyok Peng-ci, mereka malah anggap kejadian itu adalah lumrah.

Sebab kalau kedua tokoh itu tidak bergabung, cara bagaimana mereka masing-masing mampu melawan ilmu pedang Peng-ci yang sukar diukur itu?

Gerak pedang Bok Ko-hong segera berubah, selain bertahan sekarang ia pun menyerang, Peng-ci menjadi girang malah, kira-kira belasan jurus kemudian, mendadak kipas di tangan kiri ikut bergerak, gagang kipas membalik terus menusuk ke depan dengan cepat luar biasa.

Tiba-tiba dari ujung gagang kipas menonjol keluar sebatang jarum tajam, tepat Tiau-goan-hiat di paha kanan Bok Ko-hong tertusuk.

Bok Ko-hong terkejut, cepat pedangnya menyampuk, namun tetap kalah cepat daripada gerak serangan Peng-ci itu, hiat-to bagian kaki itu terasa kesemutan.

Ia tidak berani sembarangan bergerak, sedangkan pedang diputar kencang untuk melindungi tubuh.

Tapi lambat laun kedua kaki terasa lemas, tanpa kuasa ia bertekuk lutut.

"Hahaha! Baru sekarang kau menjura padaku ...."

Peng-ci bergelak tertawa sambil menangkis serangan Ih Jong-hay, lalu menyambung.

"namun sudah terlambat!"

"Trang,"

Kembali ia menangkis serangan musuh dan kontan balas menyerang satu kali.

Meski kedua kaki Bok Ko-hong berlutut ke bawah, namun pedangnya yang bengkok itu tetap digunakan menyerang tanpa berhenti.

Rupanya ia menginsafi bahwa kekalahan pihaknya sudahlah pasti, maka setiap jurus serangannya selalu menggunakan cara nekat, bila perlu siap gugur bersama musuh.

Keadaan menjadi berbeda sama sekali, kalau mula-mula Bok Ko-hong hanya bertahan tanpa menyerang, sekarang dia berbalik hanya menyerang tanpa menjaga diri lagi.

Ia sudah tidak pikirkan jiwanya lagi, dengan demikian untuk sementara Peng-ci menjadi tak bisa mengapa-apakan dia.

Ih Jong-hay juga menyadari keadaan yang gawat antara hidup dan mati, jika dalam belasan jurus tak bisa mengalahkan lawan, sekali Bok Ko-hong terjungkal, maka dirinya yang tertinggal lebih-lebih tidak mampu berkutik lagi.

Karena, itu ia percepat serangannya secara membadai.

Sekonyong-konyong Peng-ci tertawa panjang, tiba-tiba pandangan Ih Jong-hay menjadi gelap, matanya tak bisa melihat apa-apa lagi, menyusul kedua bahunya juga terasa dingin, kedua lengannya telah mencelat berpisah dengan tubuhnya.

Terdengar Peng-ci tertawa histeris, katanya.

"Aku takkan membunuh kau, biar kau buntung dan buta pula, biar kau mengembara di Kangouw sebatang kara, anak muridmu, anggota keluargamu, satu per satu akan kubunuh seluruhnya agar di dunia ini hanya tertinggal musuhmu saja dan tiada seorang pun sanak kadangmu."

Ih Jong-hay merasakan lengannya yang buntung itu sakit tidak kepalang, ia tahu perlakuan Peng-ci terhadap dirinya itu jauh lebih kejam daripada sekali tusuk membinasakan dia.

Dalam keadaan cacat begitu apa artinya hidup di dunia ini?

Paling-paling malah akan menerima hinaan dan siksaan habis-habisan dari pihak musuh.

Karena pikiran demikian, ia menjadi kalap, ia perhatikan arah suara Peng-ci, lalu menyeruduk ke sana.

Peng-ci terbahak-bahak sambil berkelit ke samping.

Tak terduga, saking senangnya karena sakit hatinya sudah terbalas, ia menjadi lengah, tanpa sadar cara menghindarnya itu berbalik mendekati Bok Ko-hong malah.

Tentu saja Bok Ko-hong tidak sia-siakan kesempatan baik itu, ia ayun pedangnya menebas sekuatnya, ketika Peng-ci menangkis dengan pedangnya, tahu-tahu kedua kakinya telah dirangkul sekencangnya oleh Bok Ko-hong.

Keruan Peng-ci terkejut, dilihatnya berpuluh murid Jing-sia-pay serentak memburu maju, cepat kedua kakinya meronta sekuatnya, namun rangkulan Bok Ko-hong sedemikian kencangnya laksana tanggam, tanpa pikir Peng-ci lantas menusuk ke punggung Bok Ko-hong yang bungkuk itu.

"Blus" , mendadak air hitam muncrat keluar dari punggung yang bengkok itu, baunya bacin memuakkan. Karena kejadian yang sama sekali tak terduga ini, dengan sendirinya Peng-ci pancal kedua kakinya dengan maksud hendak melompat pergi buat menghindari semprotan air bacin itu, tapi ia lupa bahwa kedua kakinya masih dipeluk sekuatnya oleh Bok Ko-hong, seketika mukanya tersemprot oleh air hitam yang bau itu, bahkan sakitnya tidak kepalang sehingga dia menjerit. Kiranya air bau itu adalah air beracun yang luar biasa, sungguh tidak nyana bahwa di punggung yang bengkok itu tersembunyi kantong air berbisa. Dengan tangan kiri menutupi muka yang kesakitan, kedua matanya sukar dipentang lagi, hanya pedangnya berulang-ulang digunakan membacok menikam tubuh Bok Ko-hong. Bacokan dan tikaman Peng-ci itu cepat luar biasa, sama sekali Bok Ko-hong tidak sempat berkelit. Hakikatnya ia pun tidak ingin menghindar, sebaliknya semakin kencang dia merangkul kedua kaki Peng-ci. Pada saat itulah, berdasarkan suara kedua orang itu, Ih Jong-hay mengincar tepat arahnya, dia terus menubruk maju, karena kedua tangannya sudah buntung, dia gunakan mulut untuk menggigit. Secara kebetulan pipi kanan Peng-ci dengan tepat kena digigit dan tak dilepaskan lagi. Ketiga orang menjadi saling bergumul dalam keadaan kalap, lambat laun ketiganya menjadi sadar tak-sadar. Serentak anak murid Jing-sia-pay memburu maju untuk menyerang Lim Peng-ci. Pertarungan sengit itu dapat diikuti Lenghou Tiong dengan jelas dari dalam kereta. Semula ia pun terkejut menyaksikan pertempuran mati-matian itu, kemudian ketika melihat Peng-ci bergumul dengan kedua musuhnya dan tak bisa berkutik, sedangkan anak murid Jing-sia-pay telah memburu maju, tanpa pikirkan keadaan sendiri yang terluka, segera ia melompat keluar dari keretanya, ia jemput sebatang pedang di atas tanah yang berlumuran darah, menyusul "sret-sret-sret"

Beberapa kali, semuanya mengenai pergelangan tangan anak murid Jing-sia-pay, maka terdengarlah suara gemerencing nyaring jatuhnya senjata orang-orang Jing-sia-pay itu.

Melihat Lenghou Tiong sudah turun tangan, segera Gi-ho, Gi-jing, Gi-lim, The Oh dan lain-lain juga ikut menerjang maju dan mengelilingi Lenghou Tiong.

Terdengar suara mengerang Bok Ko-hong yang kalap tadi mulai mereda, sebaliknya pedang Lim Peng-ci masih terus menikam ke punggung musuh itu.

Sekujur badan Ih Jong-hay penuh darah dengan tetap menggigit pipi Peng-ci.

Sehabis menyelamatkan Peng-ci, Lenghou Tiong merasa badannya lemas dan terhuyung-huyung, cepat Gi-ho dan lain-lain memayangnya.

Melihat pergumulan mati-matian antara Peng-ci bertiga itu, anak murid Hing-san-pay sama merasa ngeri, tiada seorang pun yang berani memisahkan mereka.

Selang tidak lama, mendadak Peng-ci mendorong sekuatnya dengan tangan kiri, tubuh Ih Jong-hay tertolak mencelat, tapi berbareng Peng-ci juga menjerit kesakitan, pipi kanan sudah berlubang dengan darah yang bercucuran, nyata sepotong daging pipinya telah digigit mentah-mentah oleh Ih Jong-hay.

Bok Ko-hong sudah mati sejak tadi, tapi dia masih tetap merangkul kencang kedua kaki Peng-ci.

Terpaksa Peng-ci menggagap tepat lengan Bok Ko-hong, maklum kedua matanya sukar dipentang karena sakit perih berhubung semprotan air berbisa dari punggung musuh tadi, lalu pedangnya memotong kedua lengan si bungkuk, dengan demikian barulah dia terlepas.

Melihat keadaan Peng-ci yang seram itu, tanpa terasa anak murid Hing-san-pay sama melangkah mundur.

Beramai-ramai anak murid Jing-sia-pay lantas mendekati Ih Jong-hay untuk memberi pertolongan sehingga tiada satu pun yang mengurusi musuh lagi.

Tiba-tiba anak murid Jing-sia-pay itu menangis dan berteriak-teriak.

"Suhu, Suhu! Engkau jangan meninggalkan kami!"

"O, Suhu meninggal! Suhu sudah meninggal!"

Peng-ci tertawa terbahak-bahak, teriaknya histeris.

"Sakit hatiku sudah terbalas!"

Anak murid Hing-san-pay kembali mundur beberapa langkah karena merasakan suasana yang seram itu.

Gi-ho lantas memapak Lenghou Tiong kembali ke keretanya, Gi-jing dan The Oh membuka pembalut lukanya untuk membubuhi obat lagi.

Perlahan-lahan Leng-sian mendekati Peng-ci, katanya.

"Adik Peng, aku mengucapkan selamat atas terbalasnya sakit hatimu."

Tapi Peng-ci masih bergelak tertawa seperti orang gila dan berteriak-teriak.

"Sakit hatiku sudah terbalas, sudah terbalas!"

Melihat kedua mata Peng-ci terpejam, dengan suara lembut Leng-sian bertanya.

"Bagaimana dengan kedua matamu? Air berbisa itu harus dicuci."

Peng-ci melenggong sejenak, tubuhnya terhuyung dan hampir-hampir jatuh.

Cepat Leng-sian memayangnya dan membawanya ke warung gubuk tadi, ia mencari satu panci air jernih terus diguyurkan ke muka Peng-ci.

Mendadak Peng-ci menjerit, agaknya merasa sakit dan perih luar biasa, sampai-sampai anak murid Jing-sia-pay terkejut mendengar jeritan seram itu.

"Siausumoay,"

Kata Lenghou Tiong.

"Ambil obat ini untuk Lim-sute, bawa dia ke dalam kereta kami untuk mengaso."

"Ba ... banyak terima kasih,"

Sahut Leng-sian. Mendadak Peng-ci berteriak.

"Tidak, tidak perlu! Orang she Lim akan mati atau hidup apa sangkut pautnya dengan dia?"

Lenghou Tiong tercengang, pikirnya.

"Bilakah aku bersalah padamu? Mengapa kau begini benci padaku?"

Dengan suara halus Leng-sian coba membujuk sang suami.

"Obat luka Hing-san-pay terkenal sangat mujarab, kalau orang sudi mem ...."

"Orang sudi apa?"

Bentak Peng-ci dengan gusar.

Leng-sian menghela napas, kembali ia mengguyur perlahan muka Peng-ci.

Sekali ini Peng-ci hanya menjengek tertahan dengan menahan sakit, ia tidak menjerit lagi, tapi segera ia berkata.

"Hm, kau selalu mengatakan kebaikannya, dia memang sangat memerhatikan dirimu, kenapa kau tidak ikut pergi dengan dia saja? Buat apa kau mengurus diriku?"

Kata-kata Peng-ci ini benar-benar mengejutkan anak murid Hing-san-pay sehingga mereka saling pandang dengan melongo.

Mereka tahu Lenghou Tiong selalu ingat akan hubungan baik sebagai sesama saudara seperguruan, maka tanpa menghiraukan keadaan sendiri yang payah dia berusaha menolong ketika melihat mereka terancam bahaya.

Dengan jelas semua orang menyaksikan jiwa Peng-ci diselamatkan oleh Lenghou Tiong, mengapa Peng-ci bicara sekasar itu?

Gi-ho yang pertama-tama tidak tahan, dengan suara keras ia mendamprat.

"Orang telah menyelamatkan jiwamu bukannya terima kasih sebaliknya tanpa kenal malu kau bicara tidak keruan?"

Lekas Gi-jing menarik Gi-ho agar tidak mengomel lebih lanjut.

Namun Gi-ho masih muring-muring.

Dalam pada itu Leng-sian sedang mengusap luka di pipi Peng-ci dengan saputangannya.

Di luar dugaan, mendadak tangan kanan Peng-ci terus mendorong dengan kuat sehingga Leng-sian yang tidak berjaga-jaga itu jatuh terbanting.

Lenghou Tiong menjadi gusar, bentaknya.

"Kenapa kau ...."

Tapi segera teringat olehnya bahwa Peng-ci dan Leng-sian sudah menjadi suami istri, kalau suami istri bertengkar adalah tidak pantas orang luar ikut campur, apalagi kata-kata Peng-ci tadi jelas rada sirik padanya.

Bahwasanya dirinya menaruh cinta pada siausumoaynya ini tentu juga diketahui Peng-ci, maka tidaklah enak jika dirinya sekarang terlibat dalam pertengkaran mereka.

Meski kedua mata Peng-ci tidak dapat melihat sesuatu lagi, namun suara pembicaraan orang dapat didengarnya dengan jelas, dengan menjengek ia lantas menanggapi dampratan Gi-ho tadi.

"Hm, kau bilang aku tidak tahu malu? Sesungguhnya siapakah yang tidak tahu malu."

Mendadak ia tuding ke sana dan melanjutkan.

"Si pendek she Ih ini dan si bungkuk she Bok itu, lantaran ingin mendapatkan Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami, dengan segala jalan mereka berusaha merebut dan mencelakai ayah-bundaku, meski cara mereka cukup keji masih dapat dikatakan perbuatan orang Kangouw yang jahat, tapi, hm, mana ada yang berbuat seperti ayahmu ...."

Ia tuding Leng-sian, lalu menyambung.

"ayahmu yang menamakan dirinya Kun-cu-kiam Gak Put-kun, dia telah menggunakan caranya yang rendah dan licik untuk merebut kiam-boh keluarga Lim kami."

Saat itu Leng-sian lagi merangkak bangun, mendengar ucapan Peng-ci itu, badannya gemetar dan kembali jatuh terduduk, jawabnya dengan terputus-putus.

"Mana ... mana bisa jadi hal begitu?"

"Hm, perempuan hina dina,"

Jengek Peng-ci.

"Kalian ayah dan anak sengaja berkomplot untuk memancing diriku, Gak-toasiocia dari ketua Hoa-san-pay sudi kawin dengan anak sebatang kara yang tak punya tempat tinggal lagi, coba katakan apa tujuannya? Bukankah demi untuk mendapatkan Pi-sia-kiam-boh keluarga kami? Dan sekarang kiam-boh itu sudah didapatkan, lalu untuk apalagi orang she Lim macamku ini?"

Saking tak tahan Leng-sian menangis keras, ratapnya.

"Kau ... kau jangan memfitnah orang tak berdosa, jika begitu tujuanku sebagaimana kau tuduhkan, biarlah aku di ... dikutuk dan mati tak terkubur."

"Dengan licik kalian memasang perangkap, semula aku masih terselubung dan tidak tahu,"

Kata Peng-ci pula.

"Tapi sekarang sesudah kedua mataku buta mendadak aku dapat melihat dengan jelas malah. Coba, kalau kalian ayah dan anak tidak punya maksud tujuan tertentu, kenapa ... kenapa, hm, sesudah kita menikah, mengapa begitu caranya kau meladeni aku? Memangnya aku ... hm, tak perlu kukatakan lagi, kau sendiri tentu paham."

Wajah Leng-sian tampak merah, jawabnya.

"Hal ini kan tidak ... tidak dapat menyalahkan aku. Kau ... kau sendiri ...."

Perlahan ia mendekati Peng-ci, lalu menyambung.

"Sudahlah, jangan kau pikir hal-hal yang tidak keruan, pendek kata sedikit pun tidak berubah perasaanku terhadapmu dari dulu sampai sekarang."

Peng-ci hanya mendengus saja tanpa berkata. Leng-sian berkata pula.

"Marilah kita pulang ke Hoa-san untuk merawat lukamu. Apakah matamu akan sembuh atau tidak, bila aku Gak Leng-sian mempunyai pikiran yang menyeleweng, biarlah aku akan mati terlebih ngeri daripada seperti Ih Jong-hay ini."

"Hm, siapa tahu apa yang sedang kau rancangkan atas diriku, tidak perlu kau omong manis padaku,"

Jengek pula Peng-ci. Leng-sian tidak menjawabnya lagi, ia berkata kepada Ing-ing.

"Cici, bolehkah aku meminjam sebuah kereta kalian?"

"Boleh saja,"

Sahut Ing-ing.

"Apakah perlu satu-dua Suci dari Hing-san-pay mengawal perjalanan kalian?"

"Ti ... tidak usah,"

Jawab Leng-sian dengan terguguk-guguk.

"Banyak terima kasih."

Ing-ing lantas menyeretkan sebuah kereta keledai dan menyerahkan tali kendali kepada Leng-sian.

"Marilah naik ke atas kereta!"

Kata Leng-sian sambil perlahan-lahan memapah bahu Peng-ci.

Tertampak Peng-ci ogah-ogahan, namun kedua matanya tak bisa melihat apa-apa, setiap langkah pun susah.

Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya ia naik juga ke atas kereta.

Segera Leng-sian melompat ke tempat kusir di atas kereta, ia manggut-manggut kepada Ing-ing, lalu cambuknya gemeletar dan melarikan keretanya ke jurusan barat.

Sekejap pun dia tidak memandang ke arah Lenghou Tiong.

Pandangan Lenghou Tiong terus mengikuti kepergian kereta itu yang semakin menjauh, ia termangu-mangu dengan perasaan pilu, air mata berlinang-linang di kelopak matanya.

Pikirnya.

"Kedua mata Lim-sute sudah buta, Siausumoay terluka pula. Dalam keadaan begitu apakah mereka takkan mengalami halangan di tengah perjalanan yang jauh itu? Jika di tengah jalan kepergok lagi anak murid Jing-sia-pay, apakah mereka mampu melawan?"

Dilihatnya anak murid Jing-sia-pay telah membenahi jenazah Ih Jong-hay, lalu berangkat menuju ke selatan.

Walaupun arahnya berlainan dengan Peng-ci dan Leng-sian, tapi siapa berani menjamin rombongan Jing-sia-pay itu takkan memutar haluan di tengah jalan terus mengejar ke jurusan Peng-ci berdua?

Lenghou Tiong coba menyelami apa yang dipercakapkan Lim Peng-ci dan Gak Leng-sian tadi, ia merasa di dalam hubungan suami-istri itu tentu mengandung berbagai rahasia yang sukar diketahui oleh orang luar.

Yang jelas, bahwasanya hubungan kedua suami-istri itu kurang harmonis adalah dapat dipastikan.

Teringat sang siausumoay yang masih muda belia dan disayang oleh ayah-bundanya laksana mutiara, para saudara seperguruan juga sangat hormat dan menghargainya, tetapi ia harus mendapat siksaan lahir batin dari sang suami sendiri, tanpa terasa Lenghou Tiong menjadi sedih dan mencucurkan air mata Perjalanan mereka hanya mencapai belasan li saja lantas bermalam di suatu kuil bobrok.

Tertidur sampai tengah malam, beberapa kali Lenghou Tiong terjaga oleh impian buruk.

Dalam keadaan setengah sadar telinganya mendengar suara bisikan yang halus.

"Engkoh Tiong! Engkoh Tiong!"

Lenghou Tiong terjaga bangun, didengarnya suara Ing-ing sedang berkata pula.

"Marilah keluar, ada yang hendak kubicarakan."

Yang digunakan Ing-ing adalah ilmu mengumandangkan gelombang suara sehingga suaranya terdengar dari dekat, tapi orangnya sejak tadi sudah di luar rumah.

Segera Lenghou Tiong berbangkit dan keluar kuil itu, dilihatnya Ing-ing duduk di undak-undakan batu sambil bertopang dagu sedang termenung-menung.

Lenghou Tiong mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

Suasana malam sunyi senyap, sekitar mereka tiada suara sedikit pun.

Selang agak lama baru Ing-ing membuka suara.

"Engkau mengkhawatirkan Siausumoaymu bukan?"

"Ya,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Banyak persoalan yang membikin orang sukar mengerti."

"Kau mengkhawatirkan dia diperlakukan kurang baik oleh suaminya?"

Kata Ing-ing pula Lenghou Tiong menghela napas, jawabnya kemudian.

"Urusan suami-istri mereka, orang lain mana bisa ikut campur?"

"Bukankah kau khawatir kalau anak murid Jing-sia-pay menyusul dan mencari perkara kepada mereka?"

Tanya Ing-ing.

"Orang Jing-sia-pay tentu sakit hati atas kematian guru mereka, pula melihat musuhnya suami-istri dalam keadaan terluka, kalau mereka menyusul buat menuntut balas, rasanya bukanlah sesuatu yang aneh."

"Mengapa kau tidak mencari akal untuk menolong mereka?"

Kembali Lenghou Tiong menghela napas, katanya.

"Dari nada Lim-sute tadi, agaknya dia rada sirik kepadaku. Meski aku hendak menolong mereka dengan maksud baik, jangan-jangan malah membikin retak hubungan baik suami-istri mereka."

"Ini cuma salah satu di antaranya. Tapi kau masih mempunyai rasa khawatir lain, khawatir akan membikin aku kurang senang, betul tidak?"

Lenghou Tiong angguk-angguk, ia pegang tangan kiri Ing-ing dengan erat, telapak tangan nona itu terasa sangat dingin. Dengan suara halus ia pun berkata.

"Ing-ing, di dunia ini aku hanya mempunyai dikau seorang, jika di antara kita juga timbul sesuatu rasa curiga, lalu apa artinya lagi menjadi manusia?"

Perlahan-lahan Ing-ing menggelendot di bahu Lenghou Tiong, katanya kemudian.

"Jika demikian pikiranmu, lalu di antara kita masakah bisa timbul rasa curiga segala? Urusan jangan terlambat, kita harus menyusul ke sana secepatnya, jangan sampai menimbulkan rasa penyesalan bagi hidupmu ini hanya karena ingin menghindarkan rasa curiga."

Mendengar kata-kata "meninggalkan penyesalan selama hidup" , seketika Lenghou Tiong terkesiap dan seakan-akan terbayang kereta Peng-ci sedang dikepung oleh belasan orang Jing-sia-pay dengan senjata terhunus, tanpa terasa badannya rada gemetar.

Bab 121.

Rahasia Leluhur Lim Peng-ci yang Aneh Segera Ing-ing berkata pula.

"Akan kubangunkan Gi-ho dan Gi-jing berdua Suci, hendaknya kau suruh mereka pulang dulu ke Hing-san, kita diam-diam mengawal perjalanan siausumoaymu habis itu baru pulang ke Hing-san."

Sesudah bangun, semula Gi-ho dan Gi-jing rada khawatir melihat keadaan Lenghou Tiong masih belum sehat, namun melihat tekadnya sudah bulat buat menolong orang terpaksa mereka tidak berani banyak omong lagi, mereka menyediakan sebungkus obat luka, lalu mengantar keberangkatan mereka berdua.

Ing-ing membedakan arah dengan baik, lalu melarikan keretanya ke jurusan barat laut, ia tahu jalan ke Hoa-san itu hanya sebuah jalan besar, rasanya takkan kesasar.

Kereta itu ditarik empat ekor keledai yang kuat, perjalanan cukup cepat di tengah malam sunyi hanya terdengar suara berdetaknya kaki keledai dan berkeriang-keriutnya roda kereta.

Alangkah rasa terima kasih hati Lenghou Tiong, demi diriku, segala apa pun dia mau melakukannya.

Sudah jelas dia mengetahui aku mengkhawatirkan Siausumoay, segera dia mengajak aku berangkat mengawalnya.

Wahai Lenghou Tiong betapa beruntung dan bahagianya kau mendapatkan istri cantik dan berbudi seperti ini.

Demikian pikirnya.

Ing-ing melarikan kereta keledai itu dengan cepat.

Berapa li kemudian laju kereta itu menjadi lambat lagi.

"Kukira cara yang paling baik untuk melindungi sumoaymu bila terancam bahaya supaya tidak diketahui olehnya biarlah kita menyamar saja,"

Kata Ing-ing.

"Benar, boleh engkau menyaru sebagai si berewok lagi, Ing-ing."

"Tidak, penyamaranku itu tentu sudah diketahui sumoaymu ketika di Hong-sian-tay tempo hari,"

Sahut Ing-ing.

"Habis cara bagaimana kita harus menyamar?"

Tanya Lenghou Tiong.

"Kau tunggu sebentar,"

Kata Ing-ing.

Habis itu ia terus melompat turun dari kereta dan berlari menuju sebuah rumah petani di depan sana.

Dengan enteng ia melintasi pagar rumah itu, menyusul terdengar suara anjing menggonggong, tapi hanya sekali saja lantas bungkam.

Agaknya binatang itu telah kena dilumpuhkan oleh Ing-ing.

Tidak lama kemudian Ing-ing telah lari kembali dengan membawa satu bungkus pakaian.

Ia lompat ke atas kereta dan tertawa terbahak-bahak setelah menaruh bungkusan itu di sisinya.

Lenghou Tiong coba memeriksa pakaian itu, benarlah memang pakaian petani tua, lebih-lebih pakaian mak tani yang sangat longgar itu tampaknya sudah jauh ketinggalan zaman, selain pakaian Ing-ing mencolong pula topi buat kaum laki-laki serta ikat kepala buat kaum wanita, ada pula sebuah honcoe (cangklong dengan gagang panjang).

Segera Ing-ing mengambil pakaian mak tani itu dan dipakai sendiri di atas pakaian semula, ikat kepala dipasang pula di atas kepala, lalu kedua tangannya menggosok-gosok sedikit tanah dan kemudian diusapkan di muka sendiri, habis itu barulah ia bantu Lenghou Tiong menyamar.

Berdiri berhadapan, jarak mereka berdua hanya belasan senti saja, napas Ing-ing terasa mengembus perlahan, hati Lenghou Tiong menjadi syur dan setengah mabuk, sungguh ia ingin peluk si nona dan menciumnya.

Tapi segera teringat olehnya akan pribadi Ing-ing yang sangat prihatin itu, sedikit pun tidak pernah bertingkah atau bicara hal-hal yang tidak pantas, kalau sampai membuatnya marah, sungguh akibatnya sukar dibayangkan.

Karena itu ia berusaha mengekang perasaan sebisanya.

Kilasan sinar mata Lenghou Tiong yang aneh itu ternyata diketahui juga oleh Ing-ing, dengan tersenyum ia mengusap muka pemuda itu dengan kotoran tanah sambil berkata.

"Cucu yang baik, beginilah baru Nenek mau sayang padamu!"

Lenghou Tiong pejamkan mata sekalian dan merasa tangan si nona yang halus itu mengusap kian-kemari di mukanya, alangkah syur rasanya nikmat sekali, sungguh ia berharap si nona akan terus mengusap-usap tanpa berhenti.

Selang sejenak, berkatalah Ing-ing.

"Sudahlah, pada malam gelap begini tentu sumoaymu takkan mengenalimu asalkan kau tidak buka suara."

Habis itu mendadak ia tertawa pula terpingkal-pingkal. Semula Lenghou Tiong bingung tapi kemudian ia pun bertanya.

"Adakah kau lihat sesuatu yang lucu di rumah petani itu?"

"Bukan melihat sesuatu yang lucu,"

Jawab Ing-ing.

"Kedua petani yang tinggal di sana adalah suami istri yang sudah tua. Ketika aku melompat ke dalam rumahnya segera aku diterjang seekor anjing, syukur aku sempat menggaploknya sekali hingga binatang itu roboh kelengar, tapi suara gonggong anjing itu telah membikin kakek dan nenek petani itu terjaga bangun. Terdengar si nenek berkata, ‘He, bapaknya A Yu, jangan-jangan ada pencuri.’ Lalu terdengar si kakek menjawab, ‘Ah, Si Hitam sudah diam, mana bisa ada pencuri!’ Tiba-tiba si nenek tertawa dan berkata, ‘Mungkin pencuri itu meniru caramu dahulu, bila tengah malam menggeremet ke rumahku, selalu kau membawa sepotong daging untuk umpan anjingku.’."

"Ah, si nenek itu rada-rada berengsek, masakah dia memakimu sebagai pencuri secara tidak langsung,"

Ujar Lenghou Tiong dengan tertawa.

Ia tahu Ing-ing rada pemalu, maka ia sengaja pura-pura tidak tahu bahwa kedua suami istri petani itu sedang mengisahkan urusan asmara mereka masa dahulu, dengan demikian Ing-ing akan terus bercerita, kalau tidak, bisa jadi si nona takkan menuturkan lagi apa yang didengarnya di rumah petani itu.

Dengan tertawa Ing-ing lantas menjelaskan.

"Yang dimaksudkan si nenek petani itu adalah kejadian sebelum mereka kawin...."

Sampai di sini tiba-tiba ia cambuk keledai dan melarikan keretanya lagi.

"Kejadian sebelum mereka kawin?"

Lenghou Tiong menegas.

"Tentunya kelakuan mereka sangat baik, biarpun berada bersama dalam kereta di tengah malam buta tentu juga mereka tidak berani saling peluk dan berciuman."

"Cis!"

Ing-ing mencemoohkan, lalu tidak bicara lagi.

"O, adik yang baik, adik sayang, apa lagi yang mereka katakan, ceritakanlah terus!"

Pinta Lenghou Tiong.

Namun Ing-ing diam saja.

Di tengah malam gelap hanya terdengar suara berdetaknya kaki keledai yang nyaring.

Lenghou Tiong coba memandang ke depan, cahaya bulan menyinari jalan raya yang lurus dan lebar diselimuti kabut tipis remang-remang, perlahan kereta keledai itu menyusup ke tengah kabut lalu pemandangan di kejauhan tak tertampak lagi, bahkan Ing-ing yang duduk di sisinya seakan-akan juga terbungkus oleh kabut yang tipis itu.

Saat itu baru permulaan musim semi, bau harum bunga hutan sayup-sayup mewangi menyegarkan semangat.

Sudah lama Lenghou Tiong tidak minum arak, tapi keadaannya sekarang tiada ubahnya dalam keadaan rada-rada mabuk.

Ing-ing diam saja, tapi selalu mengulum senyum, rupanya ia sedang mengenangkan apa yang didengarnya dari percakapan suami istri petani tua itu.

Kata si kakek.

"Malam itu aku tidak dapatkan daging terpaksa main curi seekor ayam tetangga dan kubawa sebagai umpan anjingmu. O ya, apa namanya anjing itu?"

Si nenek menjawab.

"Namanya Si Belang!"

"Benar, Si Belang,"

Kata si kakek.

"Setelah diberi ayam, dia menjadi jinak dan diam saja, dengan sendirinya ayah-ibumu juga tidak tahu. Dan pada malam itu juga jadilah si A Yu kita."

"Hm, kau hanya tahu senang sendiri tanpa ambil pusing pada susah payah orang lain,"

Si nenek mengomel.

"Kemudian setelah perutku menjadi besar, tahukah kau bahwa aku digebuki Ayah hingga hampir-hampir mampus."

"Untung juga perutmu lantas tumbuh besar, rupanya perutmu berdiri di pihakku, kalau tidak masakah bapakmu sudi membiarkan dirimu diperistri seorang miskin seperti diriku? Waktu itu aku justru mengharapkan perutmu lekas besar!"

Mendadak si nenek marah, dampratnya.

"Setan alas! Kiranya waktu itu kau memang sengaja membikin perutku menjadi besar, mengapa kau tidak bicara terus terang waktu itu dan baru mengaku sekarang? Aku tidak... tidak dapat mengampunimu."

"Ah jangan ribut lagi! A Yu sekarang pun sudah dewasa, buat apa kau ribut-ribut lagi?"

Habis itu karena khawatir Lenghou Tiong menunggunya terlalu lama, Ing-ing tidak berani mendengarkan terus, lekas ia menyambar beberapa potong pakaian dan barang lain, lalu kabur setelah menaruh sepotong perak di atas meja.

Agaknya suami istri petani itu sudah tua, pula sedang asyik membicarakan masa muda mereka yang mesra sehingga tidak tahu sama sekali bahwa rumahnya telah kebobolan.

Teringat kepada percakapan suami-istri petani itu wajah Ing-ing jadi merah, untung di tengah malam gelap, kalau tidak, tentu malu bila dilihat oleh Lenghou Tiong.

Ia tidak mempercepat lagi keledainya, perlahan keledai itu memperlambat langkahnya.

Tidak lama kemudian sampailah di tepi sebuah danau, rindang oleh pepohonan, air danau kemilauan tertimpa oleh cahaya bulan.

"Engkoh Tiong, apakah engkau tertidur?"

Tanya Ing-ing perlahan.

"Ya, aku sudah tidur, aku sedang mimpi,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Mimpi apa?"

Tanya Ing-ing.

"Mimpi aku membawa sepotong daging dan menggeremet ke tempat tinggalmu di Hek-bok-keh untuk memberi makan pada anjingmu,"

Kata Lenghou Tiong.

"Buset! Dasar orang tidak beres, maka impianmu juga tidak beres,"

Omel Ing-ing dengan tertawa.

Kedua muda-mudi itu duduk berendeng di atas kereta sambil memandangi air danau, tanpa terasa Lenghou Tiong menjulurkan sebelah tangannya untuk memegang tangan Ing-ing.

Rada gemetar tangan si nona tapi tidak mengelak.

"Bila dapat begini selamanya dan tidak berkecimpung lagi di dunia persilatan yang berbau darah, biarpun menjadi dewa rasanya juga tidak sebahagia demikian ini,"

Pikir Lenghou Tiong.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Tiba-tiba Ing-ing bertanya. Dengan terus terang Lenghou Tiong mengatakan apa yang terpikir olehnya itu. Ing-ing balas menggenggam erat-erat tangan Lenghou Tiong dan berkata.

"Engkoh Tiong, sungguh aku merasa sangat bahagia."

"Demikian pula aku,"

Sahut Lenghou Tiong.

"Meski engkau memimpin para kesatria menyerbu ke Siau-lim-si, walaupun aku sangat berterima kasih, tetapi rasanya tidak segembira sekarang,"

Kata Ing-ing.

"Engkau menyerbu Siau-lim-si untuk menolong diriku lebih banyak terdorong oleh rasa setia kawan sesama orang Kang-ouw. Tapi sekarang yang kau pikir hanyalah diriku seorang tanpa terkenang kepada siausumoaymu...."

Mendengar disebutnya "siausumoaymu" , seketika hati Lenghou Tiong tergetar dan merasa harus lekas menyusul sang siausumoay yang mungkin sedang terancam bahaya itu.

Tapi Ing-ing berkata pula dengan perlahan.

"Sampai saat ini barulah aku percaya bahwa dalam pandanganmu, dalam hatimu ternyata lebih memberatkan diriku daripada siausumoaymu."

Habis itu, ia menarik tali kendali sehingga keledai itu melangkah kembali ke tengah jalan raya, ketika cambuk berbunyi, segera binatang itu berlari pula dengan cepat ke depan.

Sekaligus lebih 20 li telah lalu, keledai itu sudah mulai lelah lagi dan memperlambat larinya.

Setelah membelok dua tikungan, tertampaklah di depan ladang jagung yang luas di tepi jalan, di bawah cahaya rembulan ladang luas itu laksana sutra hijau terbentang di bumi raya ini.

Ketika diperhatikan ke depan sana, dari jauh tampak sebuah kereta berhenti di tepi jalan sana.

"Agaknya itulah kereta yang ditumpangi Lim-sute,"

Kata Lenghou Tiong.

"Coba kita mendekatinya dengan perlahan,"

Ing-ing sambil membiarkan keretanya maju dengan lambat sehingga jaraknya makin mendekat dengan kereta di depan itu.

Tidak lama, tertampaklah dengan jelas di samping kereta itu ada seorang berjalan kaki sendirian, ternyata Lim Peng-ci adanya.

Terlihat pula kereta itu menggeser beberapa gelinding ke depan, orang yang menjadi kusir tentulah Gak Leng-sian kalau dilihat dari belakang.

Lenghou Tiong terheran-heran, segera ia menarik tali kendali untuk menghentikan keretanya, dengan suara tertahan ia bertanya.

"Mengapa bisa begitu?"

"Kau tunggu di sini, biar aku menyusul ke sana untuk melihatnya,"

Kata Ing-ing.

Segera ia menyusup ke tengah ladang jagung lebat itu terus menyusur ke depan untuk kemudian memutar ke arah kereta Lim Peng-ci.

Sesudah dekat, ia coba mengikuti jalan kereta dengan menerobos tanaman jagung itu.

Terdengar Lim Peng-ci sedang berkata.

"Kiam-boh sudah kuserahkan seluruhnya kepada ayahmu, kenapa kau masih mengikuti aku saja?"

"Kau selalu curiga pada ayahku yang mengincar kiam-bohmu segala, sungguh tidak beralasan,"

Demikian Gak Leng-sian menjawab.

"Coba pikirkan, waktu mula-mula kau masuk Hoa-san-pay kami, tatkala itu apakah kau membawa kiam-boh segala? Tapi sejak itu, aku sudah... sudah baik denganmu, masakah karena itu kau tuduh aku bermaksud tertentu terhadap dirimu."

"Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami terkenal di seluruh jagat, banyak orang tidak menemukannya pada ayahku, dengan sendirinya sasaran berikutnya adalah diriku. Dari mana aku bisa yakin bahwa kau tidak disuruh ayah-ibunya agar membaiki diriku?"

"Jika kau pikir begitu, apa mau dikata lagi. Terserah!"

Sahut Leng-sian dengan tersenggak-sengguk.

"Memangnya aku salah menuduhmu?"

Peng-ci menjadi marah.

"Bukankah Pi-sia-kiam-boh akhirnya dari tanganku jatuh pada ayahmu? Pendek kata, betapa pun juga untuk memperoleh Pi-sia-kiam-boh setiap orang harus mengerahkan sasarannya kepada diriku. Hm, apakah dia Ih Jong-hay, Bok Ko-hong, atau Gak Put-kun, hm, apa bedanya? Hanya saja Gak Put-kun yang berhasil dan dia yang menjadi raja, Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong gagal, maka mereka menjadi pecundang."

"Kata-katamu yang menghina ayahku itu, lalu kau anggap aku ini orang macam apa?"

Kata Leng-sian dengan gusar.

"Coba kalau bukan... kalau bukan... hm...."

Mendadak Peng-ci berdiri tegak dan berseru.

"Kau mau apa? Kalau bukan mataku buta dan terluka tentu akan kau binasakan aku, begitu bukan maksudmu? Mataku ini kan tidak buta pada hari ini saja!"

"Jadi kau maksudkan perkenalanmu padaku dan hubungan baik kita dari dahulu itu disebabkan kau buta?"

"Benar,"

Jawab Peng-ci.

"Dari mana kau tahu bahwa kedatanganmu ke Hokciu dengan pura-pura membuka kedai arak ternyata mempunyai rencana jangka panjang, tujuanmu yang utama sesungguhnya hanya Pi-sia-kiam-boh belaka. Kau telah digoda oleh bocah she Ih dari Jing-sia-pay padahal ilmu silatmu jauh lebih tinggi daripada dia, namun kau pura-pura lemah dan memancing aku ikut turun tangan membelamu. Wahai Lim Peng-ci, dasar matamu memang buta, hanya sedikit kepandaianmu yang menyerupai cakar ayam saja berani menonjolkan diri menjadi pahlawan pelindung si cantik segala. Apalagi kau adalah anak gadis kesayangan ayah-bundamu, kalau bukan karena sesuatu tujuan yang penting masakah mereka mau membiarkanmu keluyuran di luar dan menjadi penjual arak yang rendah segala."

"Yang disuruh ke Hokciu oleh Ayah sebenarnya adalah Jisuko. Aku cuma terdorong oleh keinginan pesiar saja, maka berkeras minta ikut berangkat bersama Jisuko."

"Hm, ayahmu sangat keras mengawasi anak muridnya, bila dia anggap tidak pantas, biarpun kau berlutut dan menangis tiga hari tiga malam juga takkan dia luluskan. Sudah tentu lantaran dia juga tidak percaya penuh kepada Jisuko, makanya kau dikirim sekalian untuk mengawasinya."

Leng-sian terdiam, ia pikir apa yang diterka Peng-ci bukan tiada beralasan nama sekali. Selang sejenak barulah ia buka suara pula.

"Baiklah, percaya atau tidak terserahlah padamu. Yang pasti ketika aku datang ke Hokciu belum pernah kudengar nama Pi-sia-kiam-boh segala. Aku cuma dengar Ayah mengatakan bahwa orang-orang Jing-sia-pay telah dikerahkan ke timur dan mungkin merugikan Hoa-san-pay kita, maka aku dan Jisuko ditugaskan menyelidiki gerak-gerik mereka."

Peng-ci menghela napas, agaknya perasaannya rada lunak kembali, katanya.

"Baiklah, biar aku percaya lagi satu kali padamu. Akan tetapi keadaannya sudah menjadi begini, buat apa kau ikut pada diriku? Hanya resminya saja kita ini suami-istri, tapi praktiknya toh tidak. Kau masih tetap berbadan perawan, sebaiknya kau... kembali kepada Lenghou Tiong saja."

Mendengar kata-kata "Resminya kita adalah suami-istri, tapi praktiknya tidak. Kau masih tetap berbadan perawan", keruan Ing-ing terkejut, katanya dalam hati.

"Mengapa bisa begitu?"

Tapi segera mukanya menjadi merah dan menganggap seorang agak perempuan tidaklah pantas mencuri dengar percakapan pribadi suami-istri orang, apalagi ingin mencari tahu "mengapa bisa begitu"

Segala, benar-benar tidak pantas.

Karena itu segera ia bermaksud tinggal pergi, tapi baru putar tubuh, rasa ingin tahunya mendorongnya mendengarkan lebih lanjut percakapan Leng-sian dan Peng-ci itu.

Terdengar Leng-sian sedang berkata dengan perasaan hampa.

"Baru tiga hari kita menikah segera kutahu engkau sangat benci padaku, biarpun satu kamar dengan aku, namun engkau tidak sudi satu tempat tidur dengan aku. Jika engkau tidak sudi satu tempat tidur dengan aku kenapa... kenapa pula engkau menikahi diriku?"

"Aku... aku tidak benci padamu,"

Sahut Peng-ci sambil menghela napas.

"Kau tidak benci padaku? Tapi mengapa siang hari engkau pura-pura baik sekali padaku, bila malam hari berada di kamar engkau lantas bersikap dingin, satu patah kata pun tidak mau bicara denganku. Berulang kali ayah-ibu tanya padaku bagaimana engkau memperlakukan diriku dan selalu kujawab sangat baik...."

Sampai di sini mendadak ia menangis keras-keras. Peng-ci lantas melompat ke atas kereta dan memegangi bahu Leng-sian, katanya dengan suara bengis.

"Kau bilang ayah-ibumu berulang kali menanyakan bagaimana aku memperlakukan dirimu, apakah benar hal ini?"

"Sudah tentu benar, buat apa aku bohong?"

Sahut Leng-sian.

"Sudah jelas aku memperlakukan dirimu tidak baik, selamanya belum pernah tidur seranjang denganmu. Kenapa kau katakan aku sangat baik padamu?"

"Sekali aku sudah menikah denganmu, dengan sendirinya aku adalah orang keluarga Lim,"

Jawab Leng-sian dengan mencucurkan air mata.

"Yang kuharapkan semoga tidak lama lagi engkau akan berubah pikiran. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, mana boleh aku mencerca suami sendiri, betul tidak?"

Untuk sejenak Peng-ci tidak bersuara, hanya mengertak gigi dengan rasa gemas, kemudian ia berkata pula dengan perlahan.

"Hm, tadinya kusangka ayahmu sayang padamu sehingga berlaku murah hati pula padaku, tak tahunya yang menutupi kejelekanku. Jika kau tidak berkata demikian tentang diriku, mungkin sejak dulu-dulu jiwaku sudah melayang di puncak Hoa-san."

"Mana bisa jadi begitu?"

Ujar Leng-sian.

"Pengantin baru, biarpun terjadi sedikit selisih paham juga tidak mungkin sang mertua lantas membunuh menantunya."

"Dia ingin membunuh aku bukan karena aku tidak baik padamu, tapi lantaran aku telah belajar Pi-sia-kiam-hoat,"

Kata Peng-ci dengan gemas.

"Hal ini sungguh membuat aku tidak paham,"

Kata Leng-sian.

"Selama beberapa hari ini kiam-hoat yang dimainkanmu dan Ayah benar-benar sangat aneh dan luar biasa lihainya. Ayah berhasil merebut kedudukan ketua Ngo-gak-pay, kau berhasil pula membunuh Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong, apakah... apakah ilmu pedang yang kalian mainkan adalah Pi-sia-kiam-hoat?"

"Benar, itulah Pi-sia-kiam-hoat keluarga Lim kami,"

Jawab Peng-ci.

"Dengan ilmu pedang mahalihai itulah leluhurku Lim Wan-tho mendirikan Hok-wi-piaukiok dan disegani oleh kesatria dunia persilatan pada zamannya."

"Akan tetapi engkau selalu... selalu mengaku tidak pernah belajar ilmu pedang itu!"

"Mana aku berani mengaku terus terang,"

Jawab Peng-ci.

"Lenghou Tiong yang berhasil merebut kasa (jubah hwesio) itu di Hokciu, tapi rupanya sudah takdir, dia gagal memperolehnya, kasa yang tertuliskan Pi-sia-kiam-boh itu malah jatuh di tangan ayahmu...."

"Tidak, tidak mungkin,"

Seru Leng-sian.

"Ayah bilang kiam-boh itu telah dikangkangi Toasuko, Ayah memaksa dia mengembalikannya padamu, tapi Toasuko membangkang."

"Hm,"

Peng-ci menjengek. Maka Leng-sian berkata pula.

"Ilmu pedang Toasuko mahasakti, bahkan Ayah pun bukan tandingannya. Apakah mungkin yang dia mainkan itu bukan Pi-sia-kiam-hoat? Bukan hasil pelajaran dari Pi-sia-kiam-boh keluarga Lim kalian?"

Kembali Peng-ci mendengus, lalu berkata.

"Biarpun Lenghou Tiong itu licin tapi kalau dibandingkan ayahmu boleh dikata masih ketinggalan jauh. Pula ilmu pedangnya kacau-balau, mana bisa dibandingkan dengan Pi-sia-kiam-hoat kami? Bukankah dalam pertandingan di depan Hong-sian-tay di Ko-san dia terluka oleh pedangmu?"

"Dia... dia sengaja mengalah padaku,"

Kata Leng-sian dengan suara rendah.

"Hm, alangkah dalam cintanya padamu,"

Jengek Peng-ci.

Kata-kata ini kalau didengar Ing-ing sehari sebelumnya mungkin si nona jatuh kelengar saking gusarnya.

Akan tetapi semalam kedua orang telah bicara dengan mesra di tepi danau, kedua orang telah saling mengutarakan isi hati masing-masing, maka sekarang Ing-ing malah merasa bahagia.

Pikirnya.

"Dahulu dia memang sangat baik padamu, tetapi sekarang dia jauh lebih baik padaku."

Terdengar Leng-sian berkata pula.

"Kiranya yang dimainkan Toasuko itu bukan Pi-sia-kiam-hoat tapi mengapa Ayah selalu menyalahkan dia mencuri Pi-sia-kiam-boh sehingga menjadikan salah satu tuduhan untuk memecatnya dari Hoa-san-pay. Jika demikian jadi aku... aku salah sangka padanya."

"Hm, salah sangka apa segala,"

Jengek Peng-ci.

"Lenghou Tiong memangnya tidak bermaksud merebut kiam-boh keluarga kami, tapi praktiknya dia sudah merebutnya. Hanya saja ibarat maling ketemu begal, dalam keadaan terluka dan jatuh pingsan, ayahmu menggerayangi kiam-boh itu dari tubuhnya, kemudian menuduh dia sengaja menggelapkan kiam-boh. Ini namanya maling berteriak maling...."

"Maling apa segala? Kenapa pakai kata-kata tak enak didengar begitu?"

Ujar Leng-sian dengan gusar.

"Hm, apa perbuatan ayahmu itu enak didengar? Mengapa aku tidak boleh omong?"

Dengus Peng-ci. Leng-sian menghela napas, katanya kemudian.

"Ketika di Gang Matahari tempo hari memang kasa itu direbut oleh komplotan penjahat Ko-san-pay, syukur Toasuko membinasakan kedua orang jahat itu dan merampas kembali kasa itu, tapi tak bisa menuduh dia ingin mengangkangi kasa itu. Toasuko memiliki jiwa besar dan hati jujur, sejak kecil ia tidak pernah serakahi milik orang lain. Maka aku menjadi sangsi ketika Ayah menuduhnya mengangkangi kiam-bohmu, hanya saja kiam-hoatnya mendadak maju dengan pesat hal ini pun membikin aku sehingga ikut-ikutan percaya."

"Dia begitu baik, kenapa kau tidak ikut padanya saja?"

Kata Peng-ci pula.

"Adik Peng-ci, sampai saat ini ternyata engkau masih belum bisa menyelami perasaanku,"

Jawab Leng-sian.

"Sejak kecil Toasuko dibesarkan bersamaku, dalam pandanganku dia tidak lebih adalah kakakku belaka. Aku menghormat dan mengasihi dia sebagai kakak, selamanya tidak pernah menganggapnya sebagai kekasih. Sebaliknya sejak kau datang ke Hoa-san, dalam waktu singkat saja kita lantas begitu cocok satu sama lain, satu detik tidak bertemu saja rasanya tidak betah. Cintaku padamu selamanya takkan berubah."

"Kau memang rada berbeda daripada ayahmu, kau... kau lebih mirip ibumu,"

Kata Peng-ci dengan nada halus, nyata hatinya rada terharu oleh cinta murni Leng-sian itu. Kedua orang terdiam sejenak, kemudian Leng-sian berkata pula.

"Adik Peng, cukup mendalam ciri ayahku dalam pandanganmu, selanjutnya kalian berdua tentu sukar hidup damai bersama. Pendek kata aku sudah menjadi orang keluarga Lim, ke mana pun kau pergi aku pasti ikut. Lebih baik kita mencari suatu tempat damai yang jauh dan hidup bahagia untuk selamanya di sana."

"Hm, muluk-muluk saja pikiranmu,"

Jengek Peng-ci.

"Sekali aku sudah membunuh Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong, maka berita ini tentu sudah tersebar ke mana-mana, dengan sendirinya pula ayahmu akan mengetahui aku telah berhasil meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat dan tidak nanti dia mau membiarkan aku hidup di dunia ini."

Bab 122. Lim Peng-ci Kebiri Diri Sendiri untuk Meyakinkan Ilmu Leng-sian menghela napas, katanya.

"Adik Peng, engkau mengatakan Ayah mengincar kiam-bohmu, kenyataan memang demikian, aku pun takkan membela Ayah, tapi engkau menuduh dia hendak membunuhmu lantaran engkau mahir Pi-sia-kiam-hoat, kurasa hal ini tidak masuk di akal. Pi-sia-kiam-boh memangnya adalah milik keluarga Lim kalian, jika engkau mempelajari ilmu pedangmu adalah layak sekali, betapa pun Ayah tidak dapat membunuhmu hanya karena alasan itu."

"Kau bicara demikian lantaran belum kenal pribadi ayahmu dan juga tidak tahu macam apakah Pi-sia-kiam-boh itu,"

Kata Peng-ci.

"Bahkan terhadap hatimu aku pun sungguh tidak paham,"

Kata Leng-sian.

"Ya, tidak paham, kau memang tidak paham! Buat apa mesti paham?"

Kata Peng-ci mulai aseran pula. Leng-sian tidak berani banyak omong lagi, katanya kemudian.

"Marilah kita berangkat saja."

"Ke mana?"

Tanya Peng-ci.

"Kau suka ke mana, ke situlah aku akan ikut, biarpun ke ujung langit sekalipun aku tetap bersamamu,"

Jawab Leng-sian tegas.

"Apa betul ucapanmu ini? Apa pun yang terjadi kelak kau jangan menyesal."

"Aku sudah bertekad menjadi istrimu, sebelumnya aku sudah ambil keputusan bagi kehidupanku seterusnya, mana bisa merasa menyesal? Matamu terluka, rasanya masih dapat disembuhkan, umpama tak bisa pulih kembali juga aku akan selalu mendampingimu, melayanimu, sampai saat terakhir hidup kita berdua."

Ucapan Leng-sian yang penuh perasaan ini sangat mengharukan Ing-ing, ia merasa Gak Leng-sian sebenarnya adalah nona yang sangat baik, hanya saja bernasib malang sehingga tingkah lakunya terkadang rada-rada aneh.

Terdengar Peng-ci mendengus, agaknya masih kurang percaya akan tekad Gak Leng-sian itu.

Dengan suara halus Leng-sian berkata pula.

"Adik Peng, agaknya engkau masih sangsi pada diriku. Biarlah malam ini juga aku me... menyerahkan diriku padamu, dengan begitu dapatlah kiranya kau percayai diriku. Biarlah malam ini juga kita bermalam pengantin di sini, marilah kita menjadi suami istri yang sesungguhnya dan selanjutnya... selanjutnya kita pun menjadi suami istri yang sebenarnya...."

Makin lama makin lirih suaranya sehingga akhirnya tak terdengar. Kembali Ing-ing merasa heran dan kikuk oleh ucapan Leng-sian itu. Segera ia bermaksud tinggal pergi agar tidak menyaksikan "praktik"

Menjadi suami istri sebagaimana dikatakan Gak Leng-sian itu, dalam hati ia pikir Nona Gak ini benar-benar tidak tahu malu, masakah di tengah jalan raya sampai hati melakukan hal begituan.

Sekonyong-konyong terdengar Lim Peng-ci berteriak, suaranya seram bengis, menyusul lantas membentak.

"Enyah sana! Jangan dekat-dekat ke sini."

Keruan Ing-ing terkejut dan tidak tahu apa yang terjadi, hal apa yang membuat Lim Peng-ci menjadi beringas? Menyusul terdengar pula suara tangisan Leng-sian, lalu Peng-ci membentaknya lagi.

"Enyah sana, enyah yang jauh! Aku lebih suka dibunuh ayahmu daripada kau ikut diriku."

"Mengapa engkau menghina diriku sedemikian rupa, sesungguhnya apa... apa kesalahanku?"

Tanya Leng-sian sambil menangis.

"Aku... aku..."

Peng-ci tertegun, lalu melanjutkan.

"Kau... kau...."

Tapi lantas bungkam pula.

"Apa yang hendak kau katakan, bicaralah terus terang,"

Pinta Leng-sian.

"Jika memang aku bersalah atau engkau tak dapat memaafkan kesalahan ayahku, asal kau bicara terus terang, tanpa engkau bertindak apa-apa segera aku akan bunuh diri di hadapanmu."

"Sret", segera ia melolos pedangnya.

"Aku... aku..."

Kembali Peng-ci berkata dengan tergegap. Selang sejenak, lalu ia menghela napas panjang dan menyambung.

"Ya, memang bukan salahmu, sesungguhnya aku sendiri yang tidak baik."

Kembali Leng-sian menangis sedih, ya malu, ya gemas, ya cemas. Akhirnya Peng-ci berkata.

"Baiklah, akan kukatakan terus terang padamu."

"Memangnya, biar kau pukul diriku atau bunuh sekalipun aku rela, asalkan jangan kau bikin orang merasa bingung,"

Kata Leng-sian.

"Karena kau tidak berhati palsu terhadap diriku, maka akan kukatakan terus terang padamu agar selanjutnya kau tak mengharap-harapkan lagi atas diriku,"

Kata Peng-ci.

"Sebab apa?"

Tanya Leng-sian bingung.

"Sebab apa? Tentunya kau tahu Pi-sia-kiam-hoat sangat terkenal di dunia persilatan sehingga tokoh-tokoh ilmu pedang seperti ayahmu dan Ih Jong-hay juga mengincarnya dengan segala daya upaya, akan tetapi mengapa ilmu pedang ayahku sebaliknya begitu rendah? Dianiaya orang juga tidak mampu melawan? Kenapa bisa begitu, apa sebabnya."

"Mungkin bakat Kongkong kurang atau sejak kecil mungkin badannya lemah. Anak murid keturunan jago silat tidak selamanya berilmu silat tinggi pula."

"Bukan begitu. Biarpun ilmu pedang ayahku sangat rendah, paling-paling disebabkan latihannya kurang, tenaga dalamnya lemah. Akan tetapi Pi-sia-kiam-hoat yang dia ajarkan padaku pada hakikatnya salah semua."

"Ini benar-benar aneh,"

Ujar Leng-sian.

"Kalau kuceritakan tentu tak aneh lagi. Apakah kau tahu orang macam apakah sebenarnya moyangku yang bernama Lim Wan-tho itu?"

"Tidak tahu,"

Sahut Leng-sian.

"Asalnya dia adalah seorang hwesio."

"O, kiranya seorang cut-keh-jin (orang yang meninggalkan rumah). Banyak juga tokoh-tokoh persilatan ternama yang pada hari tua sering kali meninggalkan masyarakat ramai dan menjadi hwesio."

"Tapi moyangku tidak meninggalkan rumah pada hari tua, dia justru menjadi hwesio lebih dulu baru kemudian kembali ke masyarakat ramai."

"Tentang masa muda moyang kita itu apakah kau dengar dari cerita Kongkong?"

Tanya Leng-sian.

"Tidak, selamanya Ayah tak pernah bercerita, bahkan beliau sendiri mungkin juga tidak tahu. Ruangan sembahyang kediaman kami yang dulu di Gang Matahari di Kota Hokciu itu pernah kita datangi pada malam itu, kau masih ingat bukan?"

"Ya,"

Sahut Leng-sian.

"Sebab apa Pi-sia-kiam-boh itu tertulis di atas kasa? Soalnya beliau tadinya adalah seorang hwesio sebuah biara, di sana beliau dapat mencuri baca kiam-boh itu, lalu diturun dengan ditulis pada kasa yang dipakainya itu. Setelah beliau kembali menjadi preman, di rumah kediamannya diadakan pula sebuah ruangan Buddha dan tetap melakukan ibadatnya dengan taat."

"Gagasanmu cukup masuk di akal. Namun bukan mustahil kiam-boh itu diperoleh moyang kita dari seorang padri sakti dan kiam-boh itu memang tertulis di atas kasa. Jadi moyang kita memperoleh kiam-boh itu dengan cara yang jujur dan terang."

"Bukan begitu,"

Ujar Peng-ci.

"Bila engkau mempunyai dugaan lain, tentu engkau ada alasannya,"

"Aku tidak menduga secara ngawur, tapi moyang Lim Wan-tho sendiri yang mencatat kisahnya di atas kasa."

"O, kiranya demikian,"

Kata Leng-sian.

"Pada akhir kiam-boh yang dia turun dari hasil curi lihat itu dengan jelas ditulis oleh beliau, bahwa tatkala itu beliau masih menjadi hwesio di kuil itu dan tanpa sengaja melihat kiam-boh tersebut, lalu diturunnya di atas kasa serta dibawa pulang. Beliau memperingatkan dengan sangat bahwa ilmu pedang itu terlalu keji dan merugikan orang yang melatihnya, yang melatihnya pasti akan putus keturunan, oleh karena itu beliau menganjurkan jangan sembarangan meyakinkan ilmu pedang tersebut."

"Akan tetapi beliau sendiri toh melatihnya juga."

"Tadinya aku pun berpikir begitu,"

Kata Peng-ci.

"Seumpama ilmu pedang itu terlalu keji dan sulit, namun setelah moyang sendiri meyakinkannya toh masih kawin dan beranak, tetap punya keturunan."

"Benar. Cuma besar kemungkinan beliau kawin dan punya anak lebih dulu, kemudian baru meyakinkan ilmu pedang."

"Pasti tidak begitu. Setiap orang persilatan di dunia ini betapa pun lihainya, bila sekali sudah tahu jurus pertama Pi-sia-kiam-hoat, maka pasti ingin tahu pula jurus kedua, lalu ingin tahu pula jurus ketiga dan seterusnya. Sekalipun tahu akibatnya akan sangat merugikan dirinya pasti takkan digubrisnya."

Mendengar sampai di sini, Ing-ing menjadi teringat kepada ucapan ayahnya bahwa Pi-sia-kiam-boh itu sebenarnya berasal dari suatu sumber yang sama dengan Kui-hoa-po-tian yang menjadi pusaka agamanya.

Pantas ilmu pedang Gak Put-kun dan Lim Peng-ci sedemikian mirip dengan kepandaian Tonghong Put-pay.

Ayahnya juga pernah mengatakan bahwa ilmu silat dalam kitab Kui-hoa-po-tian itu lebih banyak merusak daripada mendatangkan manfaat bila meyakinkannya.

Sekali membaca ilmu pedang atau ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu, biarpun tahu akibatnya bisa celaka toh sukar untuk menahan rasa ingin mempelajarinya.

Rupanya Ayah sejak mula sama sekali tidak membuka kitab itu, dengan demikian beliau menjadi tidak terjerumus, sungguh suatu tindakan yang tepat dan bijaksana.

Tetapi segera terpikir pula olehnya.

"Lalu mengapa Ayah menurunkan kitab pusaka itu kepada Tonghong Put-pay?"

Pertanyaan itu segera terjawab.

"Tentu pada waktu itu Ayah telah mengetahui maksud buruk Tonghong Put-pay, maka sengaja menyerahkan kitab pusaka itu padanya untuk menjerumuskan dia. Hiang-sioksiok mengira Ayah kena dipikat oleh Tonghong Put-pay sehingga merasa khawatir. Padahal orang cerdik dan lihai seperti Ayah mana bisa dikelabui orang dengan begitu saja? Hanya saja segala sesuatu juga bergantung pada takdir, Tonghong Put-pay ternyata turun tangan lebih dulu, Ayah ditawan dan dikurung di gua di dasar danau. Syukur Tonghong Put-pay tidak teramat kejam, bila waktu itu Ayah terus dibunuhnya, tentu Ayah tiada kesempatan buat menuntut balas. Padahal terbunuhnya Tonghong Put-pay juga terjadi secara untung-untungan saja, tentu Ayah, Hiang-sioksiok, dan diriku sudah terbunuh oleh Tonghong Put-pay. Dan kalau waktu itu tiada Nyo Lian-ting yang sengaja kusiksa untuk memencarkan perhatian Tonghong Put-pay (tak terkalahkan) tentu pula akan tetap put-pay dia."

Berpikir sampai di sini ia menjadi rada kasihan terhadap nasib Tonghong Put-pay.

"Meski Ayah dikurung olehnya namun aku diperlakukan tidak jelek dan cukup terhormat di Tiau-yang-sin-kau, malahan sekarang ayahku sendiri yang menjadi kaucu aku tidak punya kekuasaan seperti tempo hari. Tapi, ai, aku sudah memiliki Engkoh Tiong, buat apa menginginkan kekuasaan apa segala seperti dahulu,"

Demikian terpikir pula olehnya.

Teringat kepada kejadian-kejadian yang telah lalu, ia sendiri menjadi terkesiap pula pada jalan pikiran sang ayah, bahkan sampai sekarang ayahnya masih tidak mau mengajarkan kepada Engkoh Tiong cara memunahkan tenaga liar yang bergolak di dalam tubuh, yaitu tenaga yang disedotnya dari orang lain dengan Gip-sing-tay-hoat.

Menurut kata ayahnya, bila Lenghou Tiong mau masuk agamanya baru akan mengajarkan ilmu memunahkan hawa murni liar itu kepadanya, bahkan akan diumumkan kepada segenap anggota bahwa Lenghou Tiong adalah calon penggantinya, namun Lenghou Tiong ternyata tidak mau tunduk, hal ini membuatnya ikut serbasusah.

Begitulah, di tempat sembunyinya ternyata yang terpikir oleh Ing-ing hanya diri Lenghou Tiong belaka.

Saat itu Gak Leng-sian dan Lim Peng-ci juga terdiam semua.

Selang tak lama barulah Peng-ci membuka suara.

"Begitulah moyang Wan-tho menemukan ilmu pedangnya."

"Sekalipun ilmu pedang yang dilatihnya akan menimbulkan malapetaka tentu pula akan waktu cukup lama. Maka moyang Wan-tho sempat kawin dan punya anak, hal ini tentu terjadi sebelumnya timbul bencana baginya."

"Bukan. Semula aku juga berpikir begitu, tapi kemudian aku lantas tahu bukan begitu halnya. Moyang Wan-tho menikah dan punya anak justru terjadi sebelum beliau memperoleh kiam-boh."

"Ah, mana bisa begitu?"

Ujar Leng-sian.

"Sudah tentu jadi, waktu itu beliau masih menjadi hwesio. Bahwasanya hwesio tidak boleh beristri adalah jelas, tapi punya anak kan boleh. Kalau kakek adalah putra kandung moyang Wan-tho, maka tentu kakek adalah putranya yang tidak sah, tegasnya anak haram dari hubungan gelap. Kukira sebabnya moyang Wan-tho terpaksa kembali ke masyarakat ramai tentu disebabkan persoalan pribadinya itu. Mungkin rahasianya terbongkar dan terpaksa beliau harus angkat kaki."

"Tapi moyang Wan-tho adalah seorang kesatria, seorang tokoh termasyhur, mungkin... mungkin takkan berbuat demikian."

"Sebab apa?"

Tanya Peng-ci dengan tak acuh.

"Kaum kesatria tulen harus dapat berbuat apa yang tak bisa diperbuat oleh orang biasa. Sesudah melihat kiam-boh pusaka itu, mungkin moyang Wan-tho sanggup menahan diri dan tidak lantas melatihnya. Sesudah kawin dan punya anak barulah beliau mulai berlatih."

"Dan bagaimana dengan kesanggupanku menahan diri?"

Tanya Peng-ci tiba-tiba.

"Kau... sudah tentu sangat hebat,"

Sahut Leng-sian.

"Ketika di Kota Heng-san, di rumah Lau Cing-hong, aku menyaru sebagai orang bungkuk, aku terpaksa menjura kepada Bok Ko-hong dan memanggil kakek padanya, soalnya karena aku menanggung sakit hati yang belum terbalas sehingga aku terima dihina untuk menunggu kesempatan yang baik bagiku."

"Seorang laki-laki sejati harus bisa menahan perasaan, betapa pun hebatnya moyang Wan-tho mungkin juga tidak sesabar dirimu,"

Ujar Leng-sian.

"Waktu aku melihat Pi-sia-kiam-boh, tatkala itu sudah dekat hari pernikahan kita, beberapa kali aku berpikir akan kawin lebih dulu denganmu, habis itu baru mulai berlatih ilmu pedang itu. Akan tetapi ilmu pedang yang tertera dalam kiam-boh itu ternyata mempunyai daya tarik yang luar biasa sehingga setiap jago silat tak mampu menguasai nafsu ingin belajar bila melihatnya. Karena itu, akhirnya aku mengebiri diri sendiri demi untuk meyakinkan ilmu pedang...."

"Hah! Engkau... mengebiri diri sendiri untuk meyakinkan ilmu pedang jahanam itu?"

Leng-sian menegas sambil melonjak.

"Benar,"

Jawab Peng-ci dengan dingin.

"Kunci pertama pada pembukaan Pi-sia-kiam-boh itu menyebutkan bahwa jika ingin menjagoi dunia persilatan, pertama harus kebiri diri sendiri lebih dulu."

"Mengapa harus beg... begitu?"

Tanya Leng-sian dengan suara lemah.

"Pi-sia-kiam-boh itu harus dimulai dengan berlatih lwekang, kalau tidak kebiri dahulu, sekali mulai berlatih serentak hawa nafsu akan berkobar-kobar, akibatnya menjadi cau-hwe-jip-mo, (kelumpuhan), lalu mati kaku."

"O, kiranya demikian,"

Kata Leng-sian dengan lirih, hampir-hampir tak terdengar. Dalam hati Ing-ing juga berucap.

"O, kiranya demikian!"

Baru sekarang ia paham mengapa seorang tokoh mahabesar seperti Tonghong Put-pay akhirnya terima memakai baju perempuan, menyulam dan melayani orang macam Nyo Lian-ting dengan mesra, kiranya semua itu adalah gara-gara meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat, akibatnya berubah menjadi banci.

Terdengar Gak Leng-sian menangis tersedu-sedan, katanya dengan suara tak lancar.

"Jadi ayahku juga... juga telah berubah seperti... seperti engkau...."

"Jika sudah meyakinkan Pi-sia-kiam-hoat mana bisa terkecuali?"

Jawab Peng-ci.

"Sebagai seorang ketua suatu aliran persilatan ternama, bila perbuatan ayahmu yang kebiri sendiri itu tersiar, bukankah akan ditertawai setiap orang Kang-ouw? Sebab itulah, bila dia mengetahui aku juga meyakinkan ilmu pedang ini, pasti aku akan dibunuhnya. Berulang kali dia tanya tentang perlakuanku terhadap dirimu, justru dia ingin tahu apakah aku masih mampu berbuat begituan atau sudah kebiri juga. Coba kalau waktu itu kau kelihatan menyesali diriku, sudah lama nyawaku melayang."

"Dan sekarang dia tentu sudah tahu,"

Kata Leng-sian.

"Tentu saja. Setelah aku membunuh Ih Jong-hay dan Bok Ko-hong, dalam waktu beberapa hari saja tentu akan tersiar luas di dunia Kang-ouw,"

Kata Peng-ci dengan bangga.

"Jika betul seperti katamu, bisa jadi Ayah benar-benar takkan mengampuni dirimu. Lalu sebaiknya ke mana kita harus sembunyi?"

Ujar Leng-sian.

"Kita?"

Peng-ci menegas.

"Kau sudah tahu keadaanku sekarang dan masih mau mengikut aku?"

"Sudah tentu. Karena terpaksa, kau pun tak dapat disalahkan. Adik Peng, cintaku padamu dari awal sampai akhir tetap sama. Nasibmu sungguh harus dikasihani...."

Belum habis ucapannya, mendadak ia menjerit dan melompat ke bawah kereta, agaknya didorong oleh Lim Peng-ci. Lalu terdengar Peng-ci berkata dengan gusar.

"Aku tidak tahu dikasihani, siapa yang minta kasihan padamu? Ilmu pedang sudah berhasil kuyakinkan, apa lagi yang kutakuti sekarang? Jika Gak Put-kun mengejar kemari untuk membunuh diriku, lebih dulu dia harus mampu mengalahkan pedangku."

Leng-sian diam saja. Maka terdengar Peng-ci menyambung pula.

"Nanti kalau luka mataku sudah sembuh, aku Lim Peng-ci akan menjagoi dunia persilatan, apakah dia Gak Put-kun, Lenghou Tiong, dan ketua-ketua dari apa yang disebut Siau-lim-pay atau Bu-tong-pay segala semuanya bukan tandinganku lagi."

Diam-diam Ing-ing membatin dengan gusar.

"Kalau matamu sudah sembuh? Huh, matamu yang sudah buta itu bisa sembuh?"

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 3

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 02103717874

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert