Eps 6 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong
Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.
Sing-thay, tahun ini puterimu itu berusia berapa?
Siauli (puteriku) tahun ini berumur delapanbelas, sahut Sing-thay.
Bagus!
udjar Po-ting-te.
Lalu ia berkata lagi kepada Tjing-sun.
Sun-te, kita tetapkan untuk melamar puteri Sian-tan-hou sebagai menantu.
Pah-sukong, harap kau lantas pergi kebagian protokol untuk mengatur peresmian lamaran ini serta menjediakan emas kawin jang diperlukan.
Persitiwa ini harus dirajakan semeriah-meriahnja hingga setiap pelosok negeri Tayli ini mengetahui semua.
Suami-isteri Toan Tjing-sun, Ko Sing-thay dan Pah Thian-sik merasa keputusan itu terlalu mendadak datangnja.
Namun segera merekapun paham bahwa tindakan Po-ting-te itu adalah demi nama baik keluarga serta kehormatan Toan Ki jang masih sutji bersih itu.
Asal setiap orang diseluruh negeri sudah tahu bahwa isterinja Toan Ki adalah puteri Sian-tan-hou Ko Sing-thay, sekali pun kemudian Yan-king Thaytju menjebarkan desas-desus bahwa Toan Ki mengadakan hubungan tak susila dengan adik perempuannja sendiri, tentu orang luar akan menganggapnja sebagai dusta dan pitenahan belaka, paling-paling djuga tjuma setengah pertjaja setengah tidak.
Maka Toan Tjing-sun lantas mendjawab.
Siasat Hong-heng ini memang sangat bagus.
Sudah lama menengar djuga bahwa puteri Sian-tan-hou tjantik aju, pintar lagi berbakti, sungguh seorang isteri jang susah ditjari.
Tetapi tabiat Ki-dji agak aneh djuga, maka lebih baik kita tunggu kalau dia sudah lolos dari bahaja, kemudian beritahukan padanja, lalu mengatur emas kawin untuk memastikan perdjodohan ini.
Sudah tentu akupun tahu watak Ki-dji memang terlalu bandel, udjar Poting-te.
Misalnja waktu kita hendak adjarkan It-yang-tji padanja, tapi betapapun djuga ia tidak mau beladjar, benar-benar seorang jang tidak tahu adat.
Tapi mengenai perdjodohan, selamanja harus tunduk pada pilihan orang tua, masakah dalam hal ini ia berani membangkang perintah kalian suami-isteri?
Apalagi hal ini demi menjelamatkan nama baik keluarga Toan, demi kehoramatan selama hidupnja, biar bagaimanapun ia tidak boleh membangkang.
Kabarnja puteri Ko-hiante itu badannja rada lemah, maka urusan ini paling baik dirundingkan lebih masak dulu, udjar Tjing-sun.
Po-ting-te merasa alasan adik pangeran itu terlalu ditjari-tjari, maka katanja pula.
Soal badan lemah bukanlah soal penting.
Ilmu silat Ko-hiante begitu tinggi, asal dia adjarkan sedikit kepandaian Lwekang, dalam waktu singkat tentu badannja akan mendjadi kuat.
Namun ....
namun .....
Sun-te, demikian Po-ting-te memotong sebelum adik pangeran itu bitjara lebih landjut.
Sedjak tadi kau selalu menolak sadja, sebenarnja apa maksudmu?
Apakah dalam hatimu ada sesuatu jang kau kurang senang terhadap Ko-hiante?
Tidak, tidak!
tjepat Tjing-sun mendjawab.
Hubungan Ko-hiante dengan aku laksana saudara sekandung.
Kalau kami berdua dapat mendjadi besanan lagi, tentulah djauh lebih bagus.
Ehm, ka .....
kabarnja Pah-sukong djuga mempunjai seorang puteri dan Hoan-suma djuga ada dua anak perempuan.
Marilah kitapun adjukan mereka itu sebagai tjalon untuk dirundingkan.
Thian-sik tertawa, katanja.
Tapi anak Thian-sik itu baru lahir tahun jang lalu, sampai sekarangpun usianja belum genap setahun.
Sedang kedua puterinja Hoan-suma, jang satu adalah menantuku jang tertua, sedang jang lain konon sudah bertunangan, jaitu mendapat putera sulung Hoa-suto.
Po-ting-te mendjadi kurang senang djuga oleh sikap adindanja itu, segera katanja pula.
Sun-te, pertjumalah engkau sama2 bertugas dengan Thian-sik bertiga, masakah urusan2 mereka itu sedikitpun tak diketahui olehmu?
Melihat kaka bagindanja rada gusar, Tjing-sun tidak berani buka mulut lagi.
Tin-lam-ongya, tiba2 Sing-thay berkata, sedjak ketjil Sing-thay sudah bergaul dengan engkau, hubungan kita boleh dikata melebihi saudara sekandung, diantara kita biasanja tidak pernah kenal istilah rahasia.
Maka sudilah kau mengatakan terus terang, apakah barangkali kau ada dengar sesuatu jang mendjelekkan nama baik puteriku hingga merasa tidak sesuai untuk mendjadi menantumu?
Djika benar begitu, hendaklah kau berkata terus terang, Sing-thay tak nanti merasa tersinggung.
Tjing-sun agak ragu2, tapi kemudian lantas berkata.
Djika demikian, biarlah Tjing-sun mengatakan terus terang, tapi harap Ko-hiante djangan marah.
Silahkan Ongya bitjara terus terang sadja, sahut Sing-thay.
Begini, kata Tjing-sun merandek sedjenak.
Sedjak ketjil puterimu sudah kehilangan ibu, betapapun Hiante tentu rada mandjakan dia.
Konon watak puterimu sangat keras, suka turuti kemauan sendiri.
Kabarnja dia djuga sudah mendapat seluruh ilmu silat Hiante, bahkan katanja lebih hebat dari jang tua.
Djika begitu, kelak bila sudah mendjadi menantuku, mungkin.....
mungkin, hehe, aku mendjadi kuatir kalau Ki-dji akan menderita selama hidupnja.
Ki-dji sedikitpun tidak bisa ilmu silat, melulu mahir beberapa langkah Leng-po-wi-poh jang tak berarti itu, kalau setiap hari selalu gunakan Leng-po-wi-poh itu untuk berlari kian-kemari didalam kamar guna menghindarkan hadjaran2 puterimu, hidup demikian bukankah tiada artinja lagi.
Po-ting-te ter-bahak2 oleh keterangan itu, katanja.
Sun-te, sebabnja kau ragu2 tadi kiranja melulu soal demikian sadja.
Tjing-sun melirik sekedjap kearah Si Pek-hong, lalu menjahut dengan tertawa.
Toako, adik iparmu itu selalu selisih paham dengan Siaute, dikala tjektjok, untung kepandaian kami berdua sama kuatnja hingga Siaute tidak sampai dihadjar olehnja, kalau sebaliknja, wah, bisa runjam.
Mendengar itu, mau-tak-mau semua orang tersenjum geli djuga.
Dengan dingin Si Pek-hong lantas berkata.
Asal Ki-dji dapat mempeladjari It-yang-tji keluarga Toan, tentu tiada tandingannja didunia ini, biarpun dia menikah dengan lima atau sepuluh perempuan bawel djuga tidak perlu takut.
~ Dibalik kata2nja itu terang sengadja ia meng-olok2 It-yang-tji.
Namun Tjing-sun hanja tersenjum sadja tak mendjawabnja.
Segera Ko Sing-thay bitjara pula.
Siauli meski benar kurang mendapat didikan, tapi rasanja djuga takkan berbuat sembarangan.
Namun Sing-thay sudah banjak menerima budi, tidak berani menerima budi lebih besar lagi dari Hongsiang dan Tin-lam-ong.
Po-ting-te tertawa, katanja.
Djika puterimu bisa bantu menghadjar sedikit anak kami jang suka bikin gara2 itu, kami bersaudara djusteru merasa sangat berterima kasih, itu berarti puterimu telah berdjasa mendidik anak kami itu.
Sing-thay, siapakah nama anak perawanmu itu?
Apakah benar rada .....
rada keras wataknja?
Puteri hamba bernama Bi, hanja satu huruf sadja, sahut Sing-thay.
Sedjak ketjil ia tidak pernah keluar rumah, tabiatnja sangat ramah.
Mungkin ada orang jang dendam pada Sing-thay, maka sengadja menjebarkan kabar tidak benar itu sehingga dapat didengar Ongya.
~ Njata dia mendjadi kurang senang ketika mendengar Tin-lam-ong menjatakan watak puterinja kurang baik.
Maka tjepat Tjing-sun mendekati Ko Sing-thay, ia gandeng tangan kawan karib itu dan berkata dengan tertawa.
Ko-hiante, aku tadi telah salah omong, hendaklah engkau djangan pikirkan lebih djauh.
Nah, urusan lantas diputuskan demikian, kata Po-ting-te kemudian dengan tersenjum.
Thian-sik, aku menugaskan kau sebagai Lap-djay-su, supaja kau bisa menarik rekening sebagai tjomblang se-besar2nja dari kedua belah pihak.
Lap-djay-su atau duta penghantar emas kawin dikalangan keradjaan adalah sama dengan tjomblang dikalangan rakjat djelata.
Kalau urusan selesai, umumnja dari pihak penganten laki2 dan perempuan akan memberi hadiah tjukup besar.
Maka dengan tertawa Pah Thian-sik menerima tugas itu sambil mengutjapkan terima kasih.
Segera kau teruskan perintahku pula agar Han-lim-ih (bagian perpustakaan) mentjatat dalam buku silsilah, aku mengangkat adikku Tjing-sun sebagai Hong-thay-te (adik pangeran mahkota), demikian perintah Poting-te lebih landjut.
Tjing-sun terperandjat, tjepat ia berlutut menjembah.
Usia Toako masih muda, kesehatan kuat, luhur budi dan bidjaksana, tentu akan diberkahi Thian jang maha kuasa dengan keturunan banjak, maka keputusan tentang Hong-thay-te ini hendaklah ditunda dahulu.
Po-ting-te bangunkan adik pangerannja itu, katanja.
Kita bersaudara adalah dwi-tunggal, dua badan satu djiwa.
Nasib negeri Tayli ini memangnja terletak ditangan kita berdua, djangankan aku memang tidak punja anak, sekalipun punja keturunan djuga tachtaku kelak akan kuturunkan padamu.
Sun-te, keputusanku memgangkat kau sebagai penggantiku sudah lama tersirat dalam hatiku, pula rakjat diseluruh negeripun telah lama tahu, hari ini hanja menetapkannja setjara resmi sadja, biar Yan-king Thaytju jang bertudjuan djahat itu putus harapannja!
Karena ber-ulang2 menolak tetap tak diidjinkan, achirnja terpaksa Tjing-sun menerima dengan baik serta menghaturkan terima kasih pada Hongsiang.
Segera Ko Sing-thay dan lain2pun lantas saling memberi selamat kepada Toan Tjing-sun.
Perlu diketahui bahwa Po-ting-te sendiri memang tidak punja keturunan, maka sudah bukan rahasia lagi bahwa kelak jang akan menggantikannja pasti Tin-lam-ong, hal ini sama sekali tidak mengherankan mereka.
Dengan tertawa Pah Thian-sik memberi tangan djuga kepada Ko Sing-thay, maksudnja memberi selamat bahwa bila kelak Toan Ki menggantikan tachta ajahnja, dengan sendirinja puterimu adalah permaisuri, maka uang djasaku sebagai tjomblang ini harus sepesial.
Achirnja Po-ting-te berkata.
Sekarang silahkan semua pergi mengaso.
Tentang Yan-king Thaytju itu, harap djangan sampai botjor.
Semua orang mengia serta memberi hormat dan mengundurkan diri.
Setelah dahar, Po-ting-te tidur siang sebentar.
Ketika bangun, ia dengar diluar ramai dengan suara musik jang meriah, suara letusan mertjon bergemuruh di-mana2.
Dajang jang melajaninja itu memberi laporan.
Oleh karena putera Tin-lam-ong mengirim Lap-djay kepada puteri Sian-tan-hou, maka diluar keraton rakjat bersuka ria sedang merajakannja dengan sangat meriah.
Perlu diketahui bahwa tatkala itu seluruh negeri Tayli dalam keadaan aman tenteram dengan pemerintahnja jang bidjaksana, rakjat hidup sedjahtera, maka dukungan rakjat kepada radja, Tin-lam-ong, Sian-tan-hou dan para pembesar lain, luar biasa besarnja.
Ketika mendengar keluarga Toan dan Ko berbesanan, segenap penduduk kota Tayli ikut riang gembira.
Segera Po-ting-te memberi perintah.
Sampaikan titahku agar besok dimeriahkan dengan membakar kembang api, segala larangan dikota Tayli ditjabut untuk sementara, semua angkatan bersendjata diberi tjuti agar bisa ikut merajakan, orang tua dan anak piatu diberi hadiah tersendiri.
Ketika titah radja itu disampaikan kepada umum, segenap rakjat Tayli seketika makin bersorak-sorai gembira.
Mendjelang petang, Po-ting-te menjamar dengan pakaian orang biasa dan keluar keraton sendirian.
Ia tarik topinja jang lebar itu kebawah hingga hampir2 menutupi matanja, dengan demikian supaja orang lain susah mengenalinja.
Sepandjang djalan ia lihat rakjat menjanji dan menari dengan riangnja, laki-perempuan, tua-muda hilir-mudik dengan ramai.
Betapa bersjukurnja Po-ting-te menjaksikan negerinja jang sentosa itu.
Diam2 ia berdoa.
Semoga rakjat negeri Tayli kami turun-temurun senantiasa diberkahi kegembiraan seperti ini, maka aku Toan Tjing-beng sekalipun tidak punja keturunan djuga takkan menjesal.
Sesudah keluar kota, langkah Po-ting-te lantas dipertjepat, makin lama makin sunji tempat jang ditudju itu, kira2 belasan li djauhnja, setelah melintasi beberapa lereng bukit, sampailah disuatu kelenteng kuno dan ketjil, diatas papan kelenteng itu tertulis tiga huruf Liam-hoa-si atau kelenteng petik bunga.
Po-ting-te berhenti didepan kelenteng itu sambil berdoa sedjenak, lalu mengetok pintu dengan pelahan2.
Tidak lama, pintu tampak dibuka dan muntjul seorang Hwesio ketjil, tanjanja sambil memberi hormat.
Ada keperluan apakah kundjungan tuan tamu ini?
Harap suka sampaikan pada Ui-bi Taysu, katakan bahwa sobat lama Toan Tjing-beng mohon bertemu, sahut Po-ting-te.
Silahkan masuk, kata paderi tjilik itu.
Po-ting-te dibawa keruangan tengah sesudah melalui suatu pekarangan jang sunji, kata paderi ketjil itu.
Harap tuan tamu suka menunggu sebentar, biar kusampaikan kepada Suhu.
Po-ting-te mengia, ia mondar-mandir diruangan itu sambil menggendong tangan.
Selama hidup Po-ting-te tidak pernah berdiri diluar rumah untuk menunggu orang, jang selalu terdjadi adalah orang lain menanti diluar keraton hendak menghadap padanja.
Namun begitu, ternjata sedikitpun ia tidak mengundjuk gopoh, ia tetap menanti dengan sabar didalam kelenteng jang se-akan2 memberi rahmat padanja itu, sama sekali ia sudah lupa bahwa dirinja adalah seorang radja.
Agak lama kemudian, tiba2 terdengarlah suara seorang tua berkata dengan tertawa.
Toan-hiante, rupanja kau sedang dirundung sesuatu kesulitan?
Waktu Po-ting-te menoleh, terlihatlah seorang paderi tua jang mukanja sudah penuh berkeriput, berperawakan tinggi besar, sedang melangkah masuk dari pintu serambi samping.
Kedua alis paderi tua ini sangat pandjang hingga melambai kebawah, bulu alisnja bersemu kuning hangus.
Ia bukan lain adalah Ui-bi Hwesio jang hendak ditemuinja itu.
Po-ting-te memberi kiongtjhiu, lalu katanja.
Maafkan kalau aku mengganggu ketentraman Taysu.
Ui-bi Hwesio hanja tersenjum, sahutnja.
Marilah masuk.
Segera Po-ting-te ikut masuk kesuatu pondok ketjil, disitu tampak enam Hwesio setengah umur berdjubah abu2 serentak membungkuk memberi hormat pada mereka.
Po-ting-te tahu keenam Hwesio itu adalah anak murid Ui-bi Taysu, segera ia membalas hormat mereka, lalu duduk bersila diatas tikar disisi kiri sana.
Setelah Ui-bi Hwesio djuga sudah berduduk ditikar sebelah kanan, Po-ting-te lantas berkata.
Aku mempunjai seorang keponakan bernama Toan Ki, waktu ia berusia tudjuh tahun, aku pernah membawanja kesini untuk mendengarkan chotbah Suheng.
Ja, anak itu rada pintar, sungguh anak bagus, anak bagus!
udjar Ui-bi.
Setelah mendapat rahmat Budha, wataknja djuga welas-asih, ia tidak mau beladjar silat, katanja agar tidak membunuh sesamanja, tutur Po-ting-te.
Tidak bisa ilmu silat djuga bisa membunuh orang.
Sebaliknja mahir ilmu silat, belum tentu kalau mesti membunuh orang, udjar Ui-bi.
Po-ting-te mengia membenarkan.
Lalu iapun mentjeritakan tentang Toan Ki jang bandel tidak mau beladjar silat, minggat dari rumah, lalu berkenalan dengan Bok Wan-djing dan kemudian tertawan oleh Yan-king Thaytju jang bergelar orang djahat nomor satu didjagat itu.
Dengan tersenjum Ui-bi mendengarkan tjerita itu tanpa menjela seketjappun.
Enam muridnja jang berdiri dibelakangnja dengan tangan lurus kebawah pun diam sadja, bahkan bergerak sedikitpun tidak.
Habis Po-ting-te bitjara, kemudian Ui-bi berkata dengan pelahan2.
Djikalau Yan-king Thaytju itu adalah saudara sepupumu, kau sendiri memang tidak enak untuk bergebrak dengan dia, seumpama mengirim bawahanmu untuk menghadapi dia dengan kekerasan, rasanja djuga tidak pantas, maksudmu demikian bukan?
Po-ting-te menggangguk, sahutnja.
Suheng memang bidjaksana!
Ui-bi tersenjum, ia tidak berkata pula, tapi mendadak mengulur djari tengah terus ditutukkan pelahan kedepan mengarah dada Po-ting-te.
Po-ting-te tersenjum djuga, iapun ulur djari telundjuknja tepat menutuk udjung djari orang.
Seketika tubuh kedua orang sama2 tergeliat sedikit, lalu menarik kembali tangan masing2.
Dengan mengkerut kening berkatalah Ui-bi.
Toan-hiante, aku punja Kim-kong-tji-lik toh tak bisa menangkan It-yang-tjimu jang hebat itu?
Tapi dengan kebidjaksanaan dan ketjerdikan Suheng, tidak perlu menang menggunakan Tji-lik (tenaga djari), udjar Po-ting-te.
Ui-bi tidak berkata pula, ia menunduk memikir.
Tiba2 Po-ting-te berbangkit dan berkata.
Sepuluh tahun jang lalu Suheng pernah minta aku membebaskan tjukai garam bagi segenap rakjat negeri Tayli.
Tapi tatkala itu, pertama, karena perbendaharaan negara belum mengidjinkan; kedua, Siaute bermaksud menunggu bila adikku Tjing-sun menggantikan tachtaku, barulah aku melaksanakan politik dalam negeri itu agar setiap rakjat djelata berterima kasih pada adikku.
Tetapi kini aku berpikir lain, besok djuga Siaute akan memberi perintah pembebasan tjukai garam demi kebahagiaan rakjat.
Ui-bi berbangkit djuga dan memberi hormat, katanja.
Hiante sudi beramal bagi rakjat seluruh negeri, Lotjeng merasa terima kasih tak terhingga.
Lekas2 Po-ting-te membalas hormat orang, lalu tanpa bitjara lagi ia tinggal keluar dari kelenteng itu.
Pulang sampai dikeraton, segera Po-ting-te memerintahkan dajang mengundang Pah thian-sik dan Hoa-suto serta memberitahukan pada mereka tentang keputusan menghapuskan tjukai garam itu.
Mengetahui itu, kedua Sukong dan Suto ikut berterima kasih dan memberi pudjian atas kebidjaksanaan sang radja.
Dan untuk selandjutnja, segala pembiajaan didalam keraton harus diperketjil dan dihemat mungkin, demikian pesan Po-ting-te lebih landjut.
Sekarang pergilah kalian, tjoba rundingkan dan periksa setjara teliti, apakah ada pengeluaran2 lain jang perlu dihemat pula.
Segera kedua pedjabat tinggi itu mengia dan mengundurkan diri.
Meski urusan ditjuliknja Toan Ki diperintahkan oleh Po-ting-te agar dirahasiakan, namun Hoa-suto dan Hoan-suma adalah orang2 kepertjajaan Poting-te semua, dengan sendirinja tidak perlu dirahasiakan, maka sedjak tadi2 Pah Thian-sik sudah beritahukan kepada kedua rekan itu.
Waktu itu Hoan-suma sedang menantikan kabar apa jang bakal dibawa kembali oleh kedua kawannja jang dipanggil menghadap kekeraton itu.
Maka setelah Pah Thian-sik dan Hoa-suto memberitahukan tentang keputusan radja akan membebaskan tjukai garam serta menghemat anggaran belandja negara, Hoan-suma mendjadi ikut bergirang.
Katanja.
Hoa-toako dan Pah-hiante, sebabnja Hongsiang memutuskan untuk menghapuskan padjak garam, tentunja disebabkan putera Tin-lam-ong masih berada ditjengkeraman musuh, maka ingin mohon belas kasihan Tuhan agar tjalon mahkota itu diberi berkah untuk pulang dengan selamat.
Kita bertiga sama sekali tak bisa ikut menanggung beban kesukaran djundjungan kita, masakah kita masih ada muka mendjabat kedudukan setinggi ini di pemerintahan keradjaan?
Utjapan Hoan-djiko memang tidak salah, apa barangkali engkau mempunjai tipu daja jang bisa menolong Toan-kongtju?
tanja Thian-sik.
Hoan-suma ini melulu bernama satu huruf Hua sadja, tabiatnja djenaka, tapi banjak tipu akalnja, maka djawabnja kemudian.
Djikalau musuh benar2 adalah Yan-king Thaytju, terang Hongsiang tak ingin bermusuhan dengan dia setjara terang2an.
Siaute sih mempunjai suatu akal, tjuma diperlukan pengorbanan tenaga Hoa-toako.
Kalau tenagaku bisa dipakai, masakah aku berani menolak?
Lekaslah Djite terangkan tipu akalmu?
sahut Hoa-suto tjepat.
Menurut keterangan Hongsiang, demikian Hoan Hua, katanja ilmu silat Yan-king Thaytju itu masih lebih tinggi dari Hongsiang sendiri.
Maka bila kita memakai kekerasan, terang takkan dapat menolong Toan-kongtju.
Tapi kalau Hoa-toako sudi, dapat djuga pekerdjaan Hoa-toako jang dulu tjoba2 dilakukan lagi sekarang.
Wadjah Hoa-suto jang lebar dan rada ke-kuning2an itu mendjadi merah, sahutnja dengan tertawa.
Ah, kembali Djite hendak menggoda aku sadja.
Kiranja Hoa-suto ini asalnja bernama A Kin, meski sekarang mempunjai kedudukan tinggi dinegeri Tayli, tapi dahulunja berasal dari kaum miskin, sebelum dia mendapat pangkat, kerdjanja jalah membongkar kuburan.
Kepandaiannja jang paling mahir jalah mentjuri isi kuburan dari keluarga bangsawan dan hartawan.
Sebab dalam kuburan2 orang2 demikian tentu banjak disertai pendaman harta2 pusaka.
Dan Hoa A Kin lantas menggangsir dari tempat djauh, ia menggali suatu djalanan dibawah tanah sampai menembus kedalam kuburan jang mendjadi sasarannja, disitulah dia mentjuri isi kuburan jang berharga itu.
Tjaranja membongkar kuburan itu dengan sendirinja sangat memakan tenaga dan waktu, untuk menggangsir satu kuburan terkadang diperlukan sampai sebulan dua bulan lamanja, tetapi dengan tjaranja menggangsir itu djusteru sangat ketjil sekali risikonja akan diketahui orang.
Suatu kali, ia berhasil menggangsir kedalam suatu kuburan kuno, disitu ia mendapatkan sed
Jilid kitab pusaka melatih silat.
Ia lantas melatihnja menurut petundjuk kitab itu hingga memperoleh ilmu Gwakang jang sangat tinggi, achirnja iapun lepaskan pekerdjaannja jang tak bermoral itu serta mengabdikan diri kepada keradjaan, karena djasa2nja selama bertugas, achirnja pangkatnja mentjapai Suto seperti sekarang ini, jaitu setingkat dengan pembantu menteri.
Setelah mendjadi pembesar, ia anggap namanja jang dulu terlalu ke-kampung2an, maka namanja lantas diganti mendjadi Hek-kin.
Diantara kawan2 karibnja, ketjuali Hoan Hua dan Pah Thian-sik berdua, orang lain djarang jang tahu asal-usulnja.
Maka dengan tertawa Hoan Hua mendjawab.
Mana Siaute berani menggoda Toako?
Tapi maksudku jalah, bila kita dapat menjelundup kedalam Ban-djiat-kok, disitu kita menggangsir satu djalan dibawah tanah jang menembus ketempat kurungan Toan-kongtju, maka dengan bebas tanpa diketahui oleh musuh, kita tentu dapat menolongnja keluar.
Bagus, bagus!
teriak Hek-kin sambil tepuk paha sendiri.
Menggangsir kuburan sebenarnja adalah hal jang paling digemari Hoa Hek-kin.
Meski sudah belasan tahun lamanja pekerdjaan itu tak pernah lagi dilakukan, namun terkadang bila teringat kembali, tangannja mendjadi gatal lagi.
Soalnja tjuma pangkatnja sekarang sudah tinggi, hidupnja tidak kekurangan, kalau mesti mendjalankan pekerdjaan menggangsir, bagaimana djadinja kalau diketahui orang?
Maka kini demi ada jang mengusulkan agar dirinja melakukan pekerdjaan lama lagi, ia mendjadi girang sekali.
Nanti dulu, Hoa-toako djangan buru2 senang dulu, demikian kata Hoan Hua pula.
Dalam urusan kita ini masih banjak kesulitan2nja.
Terutama hendaklah diketahui bahwa Su-tay-ok-djin (empat maha durdjana) telah berada di Ban-djiat-kok semua.
Suami-isteri Tjiong Ban-siu dan Siu-lo-to Tjin Ang-bian tergolong tokoh2 lihay pula, kalau kita hendak menjelundup kesana, sesungguhnja tidaklah gampang.
Lagipula, Yan-king Thaytju itu senantiasa berduduk djaga didepan rumah batu tempat Toan-kongtju dikeram, kalau kita harus menggali melalui bawahnja, apakah tidak mungkin akan diketahui olehnja?
Hoa Hek-kin memikir sedjenak, sahutnja kemudian.
Djalan jang akan kita gangsir itu harus menembus kedalam rumah itu melalui belakang untuk menghindari tempat jang didjaga Yan-king Thaytju itu.
Tapi Toan-kongtju setiap saat terantjam bahaja, kalau kita menggangsir pelahan2, apakah masih keburu?
udjar Hoan Hua, Hoan-suma.
Kalau perlu, marilah kita bertiga kerdja keras serentak, usul Hoa-suto.
Tjuma untuk mana kalian harus mendjadi muridku sebagai tukang gangsir kuburan.
Kita adalah Sam-kong (tiga menteri) dari Tayli, biarpun mesti bekerdja menggangsir, tugas ini betapapun tak bisa ditolak, sahut Pah Thian-sik dengan tertawa.
Maka tertawalah ketiga orang itu.
Kalau sudah mau bekerdja, marilah sekarang djuga kita memulai, adjak Hoa-suto.
Segera Pah Thian-sik melukiskan situasi lembah Ban-djiat-kok itu, dengan riang gembira Hoa Hek-kin lantas merentjanakan dimana akan dimulai dan dimana akan berachir dari lorong jang akan digangsirnja nanti.
Sedang mengenai tjara bagaimana harus menghindari pengintaian musuh dan tjara bagaimana mengitari rintangan batu padas dibawah tanah, hal ini memang merupakan kepandaian tunggal Hoa-suto jang tiada bandingannja, maka tidak perlu dipersoalkan.
* * * Kembali lagi mengenai Toan Ki.
Sesudah dia memakan sepasang Bong-koh-tju-hap itu, hawa Yang dalam tubuhnja semakin bergolak dan ber-kobar2, saking luar biasa panasnja, achirnja ia djatuh pingsan.
Dan karena pingsannja itu malah telah menolongnja terhindar dari penderitaan selama semalam.
Sudah tentu ia tidak sadar bahwa selama sehari semalam itu diluar sudah terdjadi banjak perubahan2.
Ajahnja telah diangkat mendjadi tjalon pengganti paman dan dia sendiri sudah dilamarkan puterinja Ko Sing-thay ~ Ko Bi ~ sebagai isteri.
Diseluruh kota Tayli saat itu sedang diadakan perajaan besar2an untuk meriahkan kedua peristiwa menggembirakan itu, sekaligus untuk merajakan dihapusnja padjak garam rakjat oleh pemerintah.
Sedangkan dia sendiri masih bersandar didinding batu itu dalam keadaan tidak sadar.
Sampai besok lohor, barulah Toan Ki agak sadar ketika bekerdjanja ratjun Im-yang-ho-hap-san dan Bong-koh-tju-hap jang sangat hebat itu kebetulan berhenti bersama untuk sementara.
Tapi setelah lewat waktu berhenti ini dan bila kumat lagi, maka serangan2 hawa ratjun itu akan bertambah hebat.
Toan Ki tidak insaf bahaja apa jang masih mengeram didalam tubuhnja, dengan sadarnja pikiran, walaupun badan masih sangat lemas, ia menjangka kalau ratjunnja sudah mulai hilang.
Dan selagi dia hendak bitjara dengan Bok Wan-djing, tiba2 terdengar diluar rumah batu itu ada suara seorang tua lagi berkata.
Sembilan garis malang-melintang, entah betapa banjak digemari orang.
Apakah Kisu djuga ada minat untuk tjoba2 satu babak dengan Lotjeng?
Toan Ki mendjadi heran, ia tjoba mengintip keluar melalui tjelah2 batu.
Maka tertampaklah seorang Hwesio tua jang bermuka keriput dan beralis kuning pandjang, sedang berdjongkok sambil menggunakan djari tangannja lagi meng-gores2 garis lurus diatas sebuah batu besar jang rata.
Begitu hebat tenaga djarinja itu hingga terdengar suara srak-srek disertai menghamburnja bubuk2 batu, lalu djadilah satu garis lurus jang pandjang diatas batu itu.
Toan Ki terkedjut.
Meski dia tak bisa ilmu silat, tapi sebagai keturunan tokoh silat terkemuka, sering djuga ia menjaksikan sang paman dan ajahnja diwaktu melatih It-yang-tji.
Ia pikir wadjah paderi tua ini lapat2 seperti sudah pernah kenal, tenaga djarinja ternjata demikian lihaynja, mampu menggores batu mendjadi satu garis jang dalam.
Tji-lik atau tenaga djari demikian adalah sematjam ilmu Gwakang jang mengutamakan kekerasan tenaga melulu, agaknja berbeda dengan It-yang-tji jang dilatih paman dan ajahnja itu.
Maka terdengar pula suara seorang jang tak lampias berkata.
Bagus, sungguh Kim-kong-tji-lik jang hebat!
~ Terang itu adalah suaranja sibadju hidjau alias Ok-koan-boan-eng.
Segera tampak sebatang tongkat bambunja mendjulur keatas batu, dengan radjin iapun menggores satu garisan diatas batu itu, tjuma kalau Ui-bi-tjeng atau paderi alis kuning itu menggores garisan lurus, adalah garisannja sekarang malang, hingga berwudjud satu garis palang dengan goresan paderi tadi.
Dari dalam rumah batu itu Toan Ki tidak bisa melihat bagaimana tjara bergeraknja Djing-bau-khek itu, ia pikir tongkat itu dengan sendirinja lebih keras daripada djari manusia, sudah tentu lebih menguntungkan bagi jang memakainja.
Namun djari lebih pendek dan tongkat lebih pandjang, untuk menggores garisan diatas batu dengan memakai tongkat sepandjang itu, terang tenaga jang dikeluarkan akan djauh lebih besar daripada memakai djari.
Lalu terdengar Ui-bi-tjeng berkata pula dengan tertawa.
Djika Toan-sitju sudi memberi petundjuk, itulah sangat baik.
~ Habis itu, kembali ia menggaris lagi diatas batu dengan djarinja.
Hlm..Gambar Jang satu menggores dengan djari dan jang lain menggaris dengan tongkat, maka hanja sekedjap sadja sebuah peta tjatur bergaris malang-melintang telah djadi digambar diatas batu.
Segera Djing-bau-khek menambahi garisan malang lagi seperti tadi.
Dengan demikian, jang satu menggaris lurus dan jang lain menggaris malang, makin lama makin lambat goresan masing2, kedua orang sama2 memusatkan tenaga masing2 untuk menggores garisan sendiri2 agar setiap garisan bisa dilakukan dengan tjukup dalam dan sama radjinnja seperti semula.
Harus diketahui bahwa pertandingan diantara tokoh2 terkemuka, soal menang atau kalah melulu tergantung sedikit selisih sadja, asal satu garisan diantaranja menundjukan kurang dalam atau mentjeng, maka itu berarti sudah kalah.
Maka kira2 setanakan nasi lamanja, sebuah peta tjatur jang berdjumlah 19 garis malang melintang itu sudah selesai digaris dengan radjin.
Diam2 Ui-bi-tjeng membatin.
Apa jang dikatakan Po-ting-te memang tidak salah.
Tenaga dalam Yan-king Thaytju ini benar2 luar biasa dan sedikitpun tidak dibawahnja Po-ting-te sendiri.
Sebaliknja Yan-king Thaytju alias Djing-bau-khek itu terlebih kedjut lagi, kalau datangnja Ui-bi-tjeng memang sudah disengadja dan bersiap-sedia sebelumnja, adalah Yan-king Thaytju sendiri sama sekali tidak menjangka apa2, maka pikirnja.
Aneh, darimanakah mendadak bisa muntjul seorang Hwesio tua selihay ini?
Terang datangnja ini adalah atas undangan Toan Tjing-beng, dalam saat demikian, kalau Toan Tjing-beng lantas ikut menjerbu kedalam untuk menolong Toan Ki, terang aku tak berdaja untuk merintanginja.
Dalam pada itu Ui-bi-tjeng sedang berkata.
Betapa tinggi kepandaian Toan-sitju, sungguh aku sangat kagum, maka dalam hal kekuatan tjatur rasanja djuga akan berpuluh kali lebih pandai dari Lotjeng, terpaksa Lotjeng minta Toan-sitju suka mengalah empat bidji dahulu.
Djing-bau-khek tertjengang, pikirnja.
Meski aku tak kenal asal-usulmu, tapi tenaga djarimu begini lihay, dengan sendirinja adalah orang kosen jang tidak sembarangan.
Baru mulai menantang pertempuran padaku, kenapa begitu buka mulut lantas minta aku mengalah?
Segera katanja.
Kenapa Taysu mesti merendah diri, djika toh harus menentukan kalah menang, dengan sendirinja kita harus madju sama tingkat dan sama deradjat.
Tidak, tetap Toan-sitju harus mengalah empat bidji, sahut Ui-bi-tjeng.
Aneh djuga usul Taysu ini, udjar Djing-bau-khek dengan tawar.
Djikalau Taysu toh mengaku kepandaian tjaturmu tidak lebih tinggi dari Tjayhe, maka boleh tak usah kita bertanding sadja.
Djika begitu, sudilah mengalah tiga bidji sadja, bagaimana?
kata Ui-bi-tjeng pula.
Biarpun mengalah satu bidji, namanja djuga mengalah, sahut Djing-bau-khek alias Yan-king Thaytju.
Hahaha!
tiba2 Ui-bi-tjeng tertawa.
Kiranja dalam ilmu main tjatur, kepandaianmu sangat terbatas, djika demikian biarlah aku jang mengalah padamu tiga bidji.
Itupun tidak perlu, sahut Djing-bau-khek.
Mari kita mulai dengan kedudukan sama.
Diam2 Ui-bi-tjeng bertambah waspada dan prihatin, pikirnja.
Orang ini tidak sombong djuga tidak gopoh, sebaliknja tenang dan susah diduga, sungguh merupakan satu lawan jang tangguh.
Meski aku sudah memantjingnja dengan berbagai djalan, toh ia tetap tidak berubah sikapnja.
Kiranja Ui-bi-tjeng insaf dirinja tiada harapan buat menangkan It-yang-tji dari Djing-bau-khek itu.
Ia tahu orang jang gemar tjatur, umumnja suka menang sendiri, bila diminta agar mengalah dua, tiga bidji tjatur, biasanja tentu diluluskan.
Sebagai seorang pertapaan, Ui-bi-tjeng memandang soal nama sebagai sesuatu jang tak berarti.
Asal Yan-king Thaytju bersedia mengalah sedikit dalam permainan tjatur itu, maka dalam pertarungan sengit itupun dia akan ada harapan buat menang.
Siapa duga sifat Yan-king Thaytju itu ternjata lain dari jang lain, ia tidak mau ambil keuntungan atas orang lain, tapi djuga tidak mau dirugikan orang, setiap tindak-tanduknja sangat prihatin dan tegas.
Karena tiada djalan lain lagi, terpaksa Ui-bi-tjeng berkata.
Baiklah, engkau adalah tuan rumah, aku adalah tamu, aku jang main dulu.
Tidak, sahut Djing-bau-khek.
Tamu mana boleh merebut hak tuan rumah?
Aku jang main dulu!
Wah, djika demikian, rupanja kita harus sut dulu, kata Ui-bi-tjeng.
Baik begini sadja, tjoba kau terka umurku tahun ini gandjil atau genap ?
Djika betul engkau terka, kau main dulu, kalau salah terka, aku main dulu.
Umpama tepat aku menerkanja, tentu engkau djuga akan menjangkal , udjar Djing-bau-khek.
Baiklah, boleh engkau menerka sesuatu jang tidak mungkin aku bisa menjangkal, kata Ui-bi-tjeng pula.
Tjoba kau terka, bila Lotjeng sudah berumur 70 tahun, djari kedua kakiku akan gandjil atau genap ?
Teka-teki ini benar2 sangat aneh.
Mau-tak-mau Djing-bau-khek harus memikir.
Umumnja djari kaki orang berdjumlah sepuluh, djadi genap.
Tapi dia menegaskan bila sudah berumur 70, terang maksudnja agar aku menjangka kelak djari kakinja akan berkurang satu, djika demikian halnja, tentu aku akan menerka djarinja berdjumlah gandjil.
Namun seperti dikatakan ilmu siasat bahwa kalau berisi, katakanlah kosong; kalau kosong katakanlah berisi.
Djangan2 djari kakinja tetap sepuluh, tapi sengadja main gertak.
Mana bisa aku ditipu olehnja?
Karena itu, segera ia mendjawab.
Berdjumlah genap!
Salah, tapi berdjumlah gandjil, kata Ui-bi-tjeng.
Tjoba buka sepatu, periksa buktinja, sahut Djing-bau-khek.
Terus sadja Ui-bi-tjeng membuka sepatu dan kaos kaki kiri, ternjata djari kakinja masih tetap utuh berdjumlah lima.
Ketika Djing-bau-khek memperhatikan wadjah paderi itu, ia lihat orang mengundjuk senjum, sikapnja tenang2 sadja, mau-tak-mau ia membatin.
Wah, kiranja djari kaki kanannja memang tjuma tinggal empat.
Dalam pada itu Ui-bi-tjeng sedang membuka sepatu lagi dengan pelahan2, ketika mulai menanggalkan kaos kakinja, hampir2 Djing-bau-khek berseru suruh djangan membuka lagi dan menjerahkan orang main dulu.
Namun sekilas timbul pula pikirannja.
Ah, tidak bisa, djangan aku tertipu olehnja.
Dan benar djuga, ia lihat kaos kaki kanan paderi itu sudah dilepas dan djari kaki kanan itupun tampak masih utuh berdjumlah lima tanpa tjatjat apa2.
Meski badan Djing-bau-khek itu sudah tjatjat dan mukanja kaku tanpa emosi hingga tidak kentara apa jang dirasakannja waktu itu, sebenarnja dalam sekedjapan itu hatinja sudah ber-ganti2 berbagai perasaan untuk men-duga2 sebenarnja apakah maksud tudjuan perbuatan Ui-bi-tjeng itu.
Dan ia mendjadi bersjukur ketika achirnja melihat tebakannja djitu, jaitu djari kedua kaki paderi itu toh tetap berdjumlah genap sepuluh.
Diluar dugaan, se-konjong2 Ui-bi-tjeng terus angkat telapak tangan kanan dan memotong kebawah sebagai pisau, krek, tahu2 djari ketjil kaki kanan itu telah dipotongnja putus.
Sekalipun keenam anak muridnja jang berdiri dibelakang sang guru itu sudah dalam djuga beladjar ilmu Budha, setiap orangnja bisa berlaku tenang meski menghadapi keadaan bagaimanapun djuga.
Tapi mendadak nampak sang guru membikin tjatjat anggota badan sendiri, darah lantas mengutjur djuga, karuan sadja mereka terperandjat, bahkan murid jang termuda jang bernama Boh-ban Hwesio, sampai berseru kaget pelahan.
Tjepat murid keempat, Boh-gi Hwesio, mengeluarkan obat luka untuk dibubuhkan diatas kaki Suhunja itu.
Menjusul berkatalah Ui-bi-tjeng dengan tertawa.
Tahun ini Lotjeng berumur 69, bila berumur 70 tahun nanti, persis djariku adalah berdjumlah gandjil.
Tanpa pikir lagi Djing-bau-khek mendjawab.
Benar.
Silahkan Taysu main dulu.
Njata sebagai tokoh dari Su-ok jang berdjuluk orang djahat nomor satu didunia, perbuatan kedjam dan ganas apa didunia ini jang tidak pernah dilakukannja atau dilihatnja, maka terhadap kedjadian memotong satu djari kaki jang sepele itu, tentu sadja tidak terpikir olehnja.
Tjuma bila mengingat bahwa melulu untuk merebut hak main dulu dalam tjatur, Hwesio tua ini rela memotong djari kakinja sendiri, maka dapat dipastikan bahwa tudjuan paderi itu harus menangkan pertjaturan itu, dan bila dirinja kalah, bukan mustahil sjarat2 jang akan dikemukakan paderi itu tentu pelit luar biasa.
Maka berkatalah Ui-bi-tjeng.
Terima kasih atas kesudianmu mengalah.
~ Segera ia ulur djarinja terus menekan kedua udjung peta tjatur dengan masing2 satu kali.
Karena tekanan djari itu, diatas batu lantas mendekuk dua lubang hingga mirip dua bidji tjatur hitam.
Segera Djing-bau-khek angkat tongkatnja djuga dan menggores dua lingkaran ketjil dikedua udjung lain dari peta tjatur itu.
Lingkaran ketjil jang mendekuk itupun mirip dua bidji tjatur putih.
Tjara pembukaan main tjatur dengan menaruh dua bidji tjatur dikedua udjung itu adalah lazim dilakukan dalam permainan tjatur kuno jang mirip permainan dam-daman djaman sekarang.
Begitulah, maka setjara bergiliran kedua orang itu saling menaruhkan bidji tjaturnja masing2 dengan tekanan tenaga djari dan goresan tongkat.
Mula2 tjara menaruh mereka sangat tjepat, tapi lambat-laun mendjadi pelahan.
Sedikitpun Ui-bi-tjeng tidak berani ajal, ia tetap menguasai permainan berkat hak bermain dahulu tadi jang ditukarnja dengan memotong djari kaki itu.
Sampai belasan bidji tjatur sudah didjalankan, pertarungan ternjata bertambah sengit dan pertahanan masing2pun semakin kuat, tapi tenaga jang dikeluarkan kedua orangpun semakin besar.
Disamping memusatkan pikiran untuk menangkan permainan tjatur itu, dilain pihak harus kerahkan tenaga untuk menekan atau menggores batu sekuatnja.
Maka makin lama makin lambatlah permainan mereka itu.
Diantara keenam murid jang ikut datang bersama Ui-bi-tjeng itu, murid ketiga, Boh-tin Hwesio djuga seorang penggemar tjatur.
Ia mendjadi sangat kagum dan gegetun demi nampak ilmu permainan tjatur gurunja dengan Djing-bau-khek jang hebat itu.
Ketika tiba langkah ke-24, mendadak Djing-bau-khek melakukan serangan aneh hingga kedudukan masing2 segera berubah banjak, kalau Ui-bi-tjeng tidak segera balas dengan langkah jang tepat, pasti pertahanannja akan bobol.
Tampak Ui-bi-tjeng memikir agak lama, agaknja seketika masih belum mendapat tjara jang baik untuk balas serangan lawan itu.
Tiba2 terdengar dari dalam rumah batu itu ada orang berkata.
Balas gempur sajap kanan, tetap menguasai permainan!
Kiranja sedjak ketjil Toan Ki djuga sudah mahir main tjatur.
Kini melihat permainan kedua orang itu, ia mendjadi getol dan ikut2 bitjara.
Penonton memang lebih djelas dari jang main.
Demikian orang mengatakan.
Apalagi kepandaian tjatur Toan Ki memang lebih tinggi daripada Ui-bi-tjeng, ditambah sudah mengikuti dari samping sedjak tadi, ia mendjadi lebih terang dimana letak kuntji permainannja.
Maka terdengar Ui-bi-tjeng telah berkata dengan tertawa.
Memangnja Lotjeng sudah pikir begitu, tjuma masih ragu2, tapi dengan utjapan Sitju, Lotjeng mendjadi mantap sekarang.
~ Terus sadja ia taruh bidjinja disajap kanan jang dimaksud itu.
Penonton jang tidak bitjara adalah Tjin-kun-tju (djantan tulen), orang jang ambil keputusan sendiri adalah Tay-tiang-hu (laki2 sedjati), demikian Djing-bau-khek menjindir.
Kau telah kurung aku disini, sedjak kapan engkau adalah Tjin-kun-tju?, segera Toan Ki berteriak.
Dan aku adalah Tay-hwesio dan bukan Tay-tiang-hu, sahut Ui-bi-tjeng tertawa.
Huh, tidak malu!
djengek Djing-bau-khek.
Segera iapun taruh bidjinja dengan menggores satu lingkaran ketjil lagi.
Tapi lewat beberapa langkah lagi, kembali Ui-bi-tjeng menghadapi serangan bahaja.
Boh-tin Hwesio mendjadi kuatir karena melihat gurunja tak berdaja memetjahkannja, sedangkan Toan Ki djuga diam sadja.
Segera ia mendekati pintu batu itu dan menanja dengan pelahan.
Toan-kongtju, langkah ini bagaimana harus mendjalankannja?
Djalan jang baik sih sudah kupikirkan, demikian sahut Toan Ki.
Tjuma djalan ini seluruhnja meliputi tudjuh langkah, kalau kukatakan begini hingga didengar musuh, tentu akan gagal djuga rentjanaku, makanja aku diam sadja tidak buka suara.
Terus sadja Boh-tin ulur telapak tangan kanan kedalam rumah itu melalui tjelah2 batu, bisiknja.
Silahkan tulis disini.
Toan Ki pikir bagus djuga akal ini, segera ia gunakan djarinja menuliskan ketudjuh langkah tjatur jang ditjiptakan itu ditelapak tangan Boh-tin.
Boh-tin memikir sedjenak, ia pikir langkah2 tjatur jang ditulis pemuda itu memang sangat tinggi, tjepat ia kembali kebelakang sang guru dan menulis djuga dipunggung Suhu dengan djari.
Karena djubahnja sangat longgar hingga tangannja tertutup semua, maka Djing-bau khek tidak tahu apa jang sedang dilakukan orang.
Setelah mendapat petundjuk itu, Ui-bi-tjeng memikir sekedjap, lalu menurutkan petundjuk itu dan mendjalankannja satu langkah.
Hm, langkah ini adalah adjaran orang lain, agaknja kepandaian tjatur Taysu masih belum mentjapai setingkatan ini, djengek Djing-bau-khek.
Tapi dengan tertawa Ui-bi-tjeng mendjawab lagi.
Permainan tjatur memangnja harus mengadu ketjerdasan.
Jang pintar pura2 bodoh, mahir djuga berlagak tak bisa.
Kalau tingkatan permainan tjatur Lotjeng diketahui Sitju, lalu buat apa pertandingan ini diadakan?
Huh, main litjik, main sulap dibawah lengan badju, sindir Djing-bau-khek pula.
Rupanja iapun menduga Boh-tin jang mondar mandir dan me-megang2 punggung gurunja itu pasti sedang main gila.
Tjuma dia sedang mentjurahkan perhatiannja diatas papan tjatur, terpaksa ia tak bisa mengurus apa jang terdjadi disamping situ.
Untuk selandjutnja Ui-bi-tjeng lantas mendjalankan enam langkah menurut saran Toan Ki itu tanpa banjak pikir, ia hanja kerahkan sepenuh tenaga djarinja untuk menekan enam bidji tjatur itu diatas batu hingga dekuknja lebih dalam serta lebih bulat.
Melihat enam langkah itu makin lama makin kuat, Djing-bau-khek rada terdesak, terpaksa ia harus peras otak memikirkan langkah2 perlawanan, kini ia terpaksa mesti bertahan sadja sekuatnja, lingkaran jang digores diatas batu dengan tongkat bambu itu tidak sedalam seperti tadi lagi.
Diluar dugaan, ketika mesti mendjalankan langkah keenam sesudah gilirannja Ui-bi-tjeng, mendadak ia memikir lebih lama, habis itu, tiba2 ia djalankan bidjinja pada suatu tempat jang tak ter-sangka2 dan sama sekali diluar taksiran Toan Ki.
Karuan Ui-bi-tjeng melongo, pikirnja.
Pemikiran ketudjuh langkah Toan-kongtju ini sangat teliti dan bagus, tampaknja setiap langkah aku sudah mulai mendesaknja, tapi dengan perubahannja jang mendadak dan hebat ini, rasanja langkahku jang ketudjuh ini tak bisa didjalankan lagi dan bukankah akan sia2 sadja serangan2 tadi?
Harus diketahui bahwa dalam hal kepandaian main tjatur memang Djing-bau-khek lebih mahir daripada Ui-bi-tjeng atau sipaderi beralis kuning, maka begitu ia melihat gelagat djelek, segera ia mengadakan perubahan2 siasat, ternjata tidak mau dia masuk perangkap jang diatur Toan Ki itu.
Karuan jang kelabakan adalah Ui-bi-tjeng.
Melihat perubahan diluar dugaan itu, pula nampak gurunja memikir sampai lama masih belum mendapatkan akal jang sempurna, segera Boh-tin mendekati rumah batu pula, dengan pelahan ia uraikan keadaan pertjaturan itu kepada Toan Ki serta meminta petundjuknja.
Toan Ki memikir sedjenak, segera iapun mendapat akal lain, ia minta Boh-tin ulur tangannja agar bisa ditulis lagi petundjuknja diatas telapak tangan.
Boh-tin menurut dan ulurkan tangannja kedalam rumah batu itu.
Tapi baru sadja Toan Ki mentjorat-tjoret beberapa kali ditelapak tangan orang, sekonjong2 antero badannja terasa berguntjang, dari perutnja mendadak terasa ada hawa panas menerdjang keatas hingga seketika mulutnja serasa kering, matanja ber-kunang2.
Tanpa pikir lagi tangannja mentjengkeram sekenanja hingga tangan Boh-tin tadi dipegangnja erat2.
Tentu sadja Boh-tin kaget ketika mendadak tangannja digenggam Toan Ki dengan kentjang, ia mendjadi lebih kaget lagi ketika merasa hawa murni dalam badan sendiri terus-menerus mengalir keluar karena disedot melalui telapak tangan jang digenggam orang itu.
Saking kedjutnja terus sadja ia berteriak.
Hei, Toan-kongtju, apa jang kau lakukan ini?
Perlu diketahui bahwa hawa murni setiap orang jang melatih ilmu silat jang mengutamakan Lwekang, maka hawa murni dalam tubuh adalah besar sangkut-pautnja dengan djiwanja, semakin kuat hawa murninja, semakin tinggi pula ilmu Lwekangnja.
Dan bila hawa murni itu hilang, sekalipun orangnja tidak mati, tentu djuga seluruh ilmu silatnja akan kandas dan mirip orang tjatjat selama hidup.
Boh-tin Hwesio sendiri sudah berumur lebih 40 tahun, tapi ia tidak pernah kawin, dus berbadan djaka ting-ting, selama berpuluh tahun giat melatih Lwekang, maka hawa murni dalam tubuhnja boleh dikata kuat luar biasa.
Akan tetapi begitu telapak tangannja menempel tangan Toan Ki, seketika hawa murni dalam tubuhnja se-akan2 air bah jang bobol tanggulnja terus mengalir keluar tanpa bisa ditjegah sama sekali.
Ia membentak ber-ulang2 untuk menanja, namun saat itu keadaan Toan Ki sudah tak sadarkan diri.
Maksud Boh-tin hendak melepaskan tangannja, tapi aneh bin adjaib, kedua tangan itu seperti sudah lengket mendjadi satu, betapapun susah dipisahkan lagi, dan hawa murni dalam tubuh Boh-tin tetap mengalir keluar tak pernah berhenti.
Kiranja Bong-koh-tju-hap atau katak merah bersuara kerbau jang dimakan oleh Toan Ki itu mempunjai sematjam kasiat aneh pembawaan jang bisa mengisap ular beratjun dan serangga berbisa lain.
Binatang aneh itu berasal dari perkawinan tjampuran dari ber-matjam2 ular berbisa hingga beberapa keturunan.
Tjiong Ban-siu suami-isteri dan Tjiong Ling tjuma tahu bahwa sepasang katak itu bisa memanggil ular, tapi tidak tahu bila orang memakannja, maka akan timbul reaksi aneh pada orang jang memakannja itu.
Namun hendaklah maklum djuga bahwa setjara kebetulan Toan Ki bermaksud membunuh diri hingga setjara ngawur telah makan katak2 aneh itu.
Kalau tidak, tjoba siapakah orangnja jang berani makan binatang jang dapat mengalahkan ular2 berbisa itu?
Sesudah Toan Ki makan sepasang katak merah itu, segera timbul pertentangan dengan ratjun Im-yang-ho-hap-san jang bekerdja didalam perut itu.
Hawa positip atau kelakiannja mendjadi luar biasa kerasnja hingga susah ditahan, bahkan timbul pula sematjam sifat istimewa jang bisa menjedot hawa murni orang lain.
Waktu itu hawa murni Boh-tin masih terus-menerus mengalir ketubuh Toan Ki, seumpamakan Toan Ki dalam keadaan sadar, pemuda itupun tidak bisa menggunakan tenaga dalam untuk melepaskan tangan Boh-tin, apalagi ia dalam keadaan tak sadar, hakikatnja ia tidak tahu apa jang sedang terdjadi.
Boh-tin mendjadi kelabakan ketika merasa hawa murninja terus mengalir keluar, terpaksa ia ber-teriak2.
Tolong, Suhu, tolong!
Mendengar itu, kelima murid Ui-bi-tjeng jang lain tjepat berlari mendekati Boh-tin, tapi karena tidak kelihatan apa jang terdjadi didalam rumah batu itu, mereka hanja ribut menanja.
Ada apa, Sute?
~ Dan ada pula jang memanggil.
Suheng!
Ada apakah?
Tang .....
tanganku!
seru Boh-tin sambil berusaha hendak menarik kembali tangannja sekuat mungkin.
Namun waktu itu hawa murninja sudah hilang 8-9 bagian, untuk bersuara sadja sudah hampir tak kuat, apalagi hendak menarik tangan?
Boh-ban Hwesio, itu murid keenam, tanpa pikir terus ikut pegang tangan sang Suheng dengan maksud membantu menarik.
Tak tersangka, begitu tangan menempel, kontan seluruh badannja ikut tergetar seperti kena aliran listrik, hawa murni dalam tubuhnja djuga ber-golak2 mengalir keluar, karuan ia kaget dan ber-teriak2.
Aduh, tjelaka!
Kiranja setjara tidak sengadja Toan Ki telah makan sepasang katak adjaib itu hingga timbul sematjam Tju-hap-sin-kang atau tenaga sakti katak merah dalam badannja jang mempunjai daja sedot jang tak terbatas kuatnja.
Siapa jang ketemu padanja, siapa lantas diisapnja, ketemu A, lantas A diisap, ketemu B, segera B disedot.
Bahkan orang ketiga kalau menempel badan orang jang tersedot itu, setjara kontan hawa murninja djuga akan ikut disedot seperti kena arus listrik.........
* * * Kembali bertjerita tentang tiga tokoh dari Tayli, jaitu Suto Hoa Hek-kin, Suma Hoan Hua dan Sukong Pah Thian-sik.
Sesudah mereka menjelundup kedalam Ban-djiat-kok, mereka lantas pilih tempat jang telah direntjanakan dan terus menggangsir liang dibawah tanah.
Sebenarnja Ban-djiat-kok itu ada jang djaga, tapi sedjak kuburan jang merupakan pintu masuk itu dibabat rata oleh orang2 jang dibawa Po-ting-te, tempat itu mendjadi bebas untuk keluar-masuk tanpa rintangan.
Setelah ketiga orang itu menggali semalaman, sudah berpuluh meter djauhnja lorong jang mereka gali.
Hoa Hek-kin adalah ahli menggangsir, dibantu lagi djago2 seperti Pah Thian-sik dan Hoan Hua, tentu sadja kemadjuan2 mereka sangat pesat, mereka bertiga mengaso bergiliran, apalagi rangsum dan air minum sudah tersedia hingga mereka tidak kekurangan perbekalan.
Hari kedua mereka menggali pula sepandjang hari, sampai petangnja, mereka taksir sudah tidak djauh lagi djaraknja dengan rumah batu jang mereka tudju.
Mereka tahu ilmu silat Yan-king Thaytju sangat tinggi, alat2 gali mereka harus pelahan2 supaja tidak mengeluarkan suara.
Sebab bagi orang jang Lwekangnja sudah tinggi, biarpun dalam keadaan tidur pulas djuga akan terdjaga bangun bila mendengar sedikit suara berisik.
Karena kekuatiran itu, kemadjuan mereka lantas banjak dilambatkan.
Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa saat itu Yan-king Thaytju djusteru lagi pusatkan perhatiannja sedang mengukur kepandaian tjatur dengan Ui-bi-tjeng disertai adu tenaga dalam, maka takkan dapat merasakan suara jang timbul dari bawah tanah itu.
Kiranja waktu Ui-bi-tjeng melihat keenam muridnja berkerumun diluar rumah batu dengan ribut2, tampaknja terdjadi sesuatu jang aneh, ia menjangka Yan-king Thaytju telah pasang perangkap apa2 didepan rumah batu itu hingga murid2nja itu telah terdjebak.
Maka katanja segera.
Sitju terlalu banjak bertingkah jang aneh2, Lotjeng harus pergi kesana melihatnja dulu.
~ Sembari berkata, ia terus berbangkit.
Tak terduga Djing-bau-khek djusteru tidak mau melepaskannja, tiba2 tongkat kiri diangkat terus menutuk keiga kiri Ui-bi-tjeng sambil berkata.
Babak tjatur ini belum selesai, djikalau Taysu mau mengaku kalah, boleh silahkan pergi.
Tjepat Ui-bi-tjeng angkat tangan kiri terus hendak pegang udjung tongkat orang.
Namun tongkat Djing-bau-khek lantas ditarik kembali, menjusul udjung tongkat itu berkeder sambil menutuk pula kebawah dada sipaderi.
Mendadak Ui-bi-tjeng memotong kebawah dengan telapak tangan, tapi tongkat itu sudah ditarik kembali lagi serta berobah pula dengan gerak serangan lain.
Hanja sekedjap sadja kedua orang itu sudah saling gebrak beberapa djurus.
Hlm..Gambar Sungguh tjelaka bagi keenam murid Ui-bi-tjeng itu, seperti terkena aliran listrik sadja, satu-sama-lain telah melengket tersedot oleh Tju-hap-sin-kang jang tiba2 timbul dalam tubuh Toan Ki.
Sebaliknja Ui-bi-tjeng jang sedang mentjapai titik menentukan mati-hidup dalam pertandingannja melawan tjatur dan Lwekang tokoh utama dari Su-ok itu terbaksa takbisa djuga menolong murid2nja itu.
Ui-bi-tjeng pikir tongkat orang menang pandjang, terang lebih leluasa dibuat menjerang.
Sementara itu tongkat itu tampak sedang menutuk lagi kearahnja, tanpa pikir lagi iapun ulur djari tengah, ia intjar udjung tongkat orang dan menutuk djuga.
Djing-bau-khek tidak menghindar, ia benturkan udjung tongkatnja pada udjung djari lawan.
Keduanja saling mengadu tenaga dalam masing2.
Dan baru sekarang Ui-bi-tjeng mengerti bahwasanja ditengah tongkat orang itu dipasang pula dengan londjoran besi, pantas sadja begitu keras.
Dan meski tongkat itu digentjet oleh dua tenaga raksasa dari dua ahli Lwekang jang tinggi toh tidak nampak bengkok sedikitpun.
Wah, rupanja ini adalah langkah simpanan Taysu jang tidak sembarangan dikeluarkan, lalu, apakah pertjaturan kita ini Taysu akan mengaku kalah sekarang?
kata Djing-bau-khek.
Haha, belum tentu aku akan kalah, sahut ui-bi-tjeng ter-bahak2, berbareng djari kanan lantas menutul lagi sekali diatas batu hingga menambah lagi satu dekukan.
Tapi Djing-bau-khek tanpa pikir djuga balas menggores lagi satu kali.
Dengan demikian, disamping mengadu Lwekang, kedua orang sambil bertanding tjatur pula.
Ui-bi-tjeng insaf dalam keadaaan demikian bila mesti memikirkan pula keselamatan murid2nja, mungkin djiwa sendiri akan melajang lebih dulu.
Padahal muntjulnja sekali ini adalah untuk memenuhi undangan Po-ting-te.
Sepuluh tahun jang lalu Ui-bi-tjeng pernah memohon kemurahan hati Poting-te agar suka menghapuskan pungutan padjak garam rakjat, dan harapan itu baru sekarang diluluskan, meski kedua orang tidak bitjara setjara terang2an, namun sebagai timbal-baliknja sudah pasti Ui-bi-tjeng harus dapat menolong Toan Ki.
Sebab itulah Ui-bi-tjeng tidak berani pentjarkan perhatiannja untuk mengurus keadaan murid2nja itu.
Ia sudah bertekad, sekalipun djiwa sendiri harus melajang, Toan Ki harus diselamatkan demi memenuhi djandji kepada Toan Tjing-beng.
Maka ia tjuma kerahkan tenaga dalamnja untuk menandingi musuh disamping asjik memikirkan pertjaturan jang sangat tegang itu, sekuat tenaga ia bertahan mati2an.
Dalam pada itu Tju-hap-sin-kang dari Toan Ki jang mempunjai daja sedot luar biasa itu, setelah hampir kering mengisap hawa murni Boh-tin Hweshio, kemudian ditambah lagi menempelnja Boh-ban Hweshio, sekaligus korban kedua lantas disedot pula hawa murninja.
Karuan terdjadilah sesuatu jang hebat, sebagai seorang jang sama sekali tidak pernah beladjar silat, seketika Toan Ki telah berubah mendjadi seorang jang memiliki keuletan tenaga berpuluh tahun lamanja.
Murid Ui-bi Hwesio jang pertama bernama Boh-tam dan kedua Boh-ay, kedua orang itu mendjadi sibuk demi melihat gelagat kedua Sutenja tidak benar, tjepat merekapun mendekati, jang satu hendak menarik Boh-tin dan jang lain menarik Boh-ban.
Akan tetapi, dengan sendirinja merekapun ikut tersedot pula oleh Tju-hap-sin-kang jang lihay.
Boh-tam dan Boh-ay terhitung paling tinggi Lwekangnja diantara murid2 Ui-bi-tjeng itu.
Ketika merasa hawa murni dalam tubuh bergolak mengalir keluar, tjepat mereka pusatkan tenaga untuk menahan, meski sesaat itu mereka masih bisa bertahan hingga hawa murni tidak membandjir keluar disedot Toan Ki, namun djangan sekali2 mereka lengah, asal sedikit ajal, segera hawa murni merembes keluar lagi.
Tatkala itu Toan Ki masih tetap tak sadar, badannja panas bagai dibakar penuh hawa murni jang bergolak.
Semakin banjak hawa murni dari keempat Hwesio itu mengalir masuk ketubuhnja, semakin kuat pula daja isap Tju-hap-sin-kang jang hebat itu.
Sjukurlah dasarnja dia tiada punja maksud menjedot hawa murni korban2nja itu, maka Boh-tam dan Boh-ay masih dapat bertahan, tapi karena sedikit2 toh terus merembes, sedikit2 achirnja mendjadi banjak djuga, itu berarti daja tahan sendiri semakin berkurang, sebaliknja daja sedot lawan bertambah kuat, maka sampai achirnja perembesan hawa murni merekapun semakin santer keluarnja.
Murid keempat dan murid kelima masing2 bernama Boh-ti dan Boh-ek mendjadi tertegun menjaksikan Suheng2 dan Sute2 mereka jang tjelaka itu.
Maksudnja ingin minta pertolongan sang guru, tapi tampak gurunja djuga sedang bertanding tenaga dalam dengan musuh, saat itupun sudah mentjapai titik2 menentukan hidup atau mati.
Karuan mereka kelabakan berlari kesana kesini tanpa berdaja.
Sampai achirnja, karena dorongan sesama saudara seperguruan, merekapun tidak pikir pandjang lagi dan segera ikut2 menarik Boh-tam dan Boh-ay sekuatnja.
Waktu itu Tju-hap-sin-kang sudah bertambah dengan hawa murni dari Boh-tam, Boh-ay, Boh-tin dan Boh-ban berempat, betapa hebat daja sedotnja, sudah tentu tak mungkin dapat mereka tarik begitu sadja.
Bahkan kontan mereka berduapun ikut disedot dan melengket.
Sungguh sial bagi keenam paderi itu, tanpa sengadja mereka ketemukan Tju-hap-sin-kang, tenaga latihan selama berpuluh tahun mereka akan hilang dalam sekedjap sadja.
Sambil masih melengket satu-sama-lain, mereka hanja bisa saling pandang sadja dengan tjemas.
Bahkan saking pedihnja, Boh-ti dan Boh-ek sampai mengutjurkan air mata...........
Kembali bertjerita tentang ketiga tokoh Suma, Suto dan Sukong.
Mendjelang magrib, menurut perhitungan Hoa Hek-kin galian mereka tentu sudah sampai dibawah kamar batu dimana Toan Ki dikeram.
Tempat itu sangat dekat dengan tempat duduk Djing-bau-khek, maka kerdja mereka harus lebih hati2 lagi, sedikitpun tidak boleh menerbitkan suara.
Karena itu Hoa Hek-kin lantas taruh sekopnja, ia gunakan djari2 tangan untuk mentjakar tanah.
Hou-djiau-kang atau ilmu tjakar harimau jang dilatih Hoa Hek-kin sangat lihay, kini dipakai mentjakar tanah, mirip benar dengan patjul garuk besi, sekali tjakar lantas segumpal tanah kena dikeduknja.
Hoan Hua dan Pah Thian-sik mengikuti dibelakangnja untuk mengusung keluar galian tanah itu.
Kini arah jang digali Hoa Hek-kin tidak lagi mendjurus madju, tapi dari bawah keatas.
Maka tahulah Thian-sik dan Hoan Hua bahwa pekerdjaan mereka sudah dekat rampung.
Dapat tidak menjelamatkan Toan Ki, tidak lama lagi akan ketahuan dengan pasti.
Karena itu, hati mereka mendjadi ber-debar2.
Menggali tanah dari bawah keatas dengan sendirinja djauh lebih mudah.
Sedikit tanahnja longgar, segera longsor sendiri.
Ketika Hoa Hek-kin sudah dapat berdiri tegak, tjara galinja mendjadi lebih tjepat lagi.
Tapi setiap kali mengeruk sepotong tanah, ia lantas berhenti untuk mendengarkan apakah ada sesuatu suara diatas sana.
Tidak lama pula, Hek-kin menaksir tinggal belasan senti sadja dengan permukaan tanah, kerdjanja lantas dilambatkan lagi dengan hati2, pelahan2 ia korek lapisan tanah dan achirnja dapat menjentuh sepotong papan kaju jang rata.
Ia mendjadi heran bahwa lantai rumah bukan dari papan batu, tapi adalah papan kaju.
Namun dengan begitu mendjadi lebih leluasa lagi bagi kerdjanja.
Segera Hek-kin kerahkan tenaga pada udjung djarinja, pelahan2 ia mengiris satu lubang persegi pada papan kaju itu hingga tjukup untuk dibuat masuk keluar tubuh orang.
Ia memberi tanda siap kepada kedua kawannja, lalu mengendorkan tangannja jang menjanggah papan lubang jang sudah dipotong itu, dengan sendirinja potongan papan itu lantas djatuh sendiri kebawah, segera Hek-kin ulurkan sekopnja keatas melalui lubang itu sambil diabat-abitkan untuk mendjaga kalau diserang musuh dari atas.
Diluar dugaan, bukannja diserang dari atas, tapi lantas terdengar djeritan kaget seorang wanita diatas situ.
Djangan bersuara, Boh-kohnio, kawan sendiri jang datang untuk menolong engkau!
demikian bisik Hek-kin pelahan terus melompat keatas melalui lubang papan itu.
Tapi kedjutnja sungguh tak terkira ketika mengetahui bahwa kamar itu ternjata bukan rumah batu jang ditudju itu.
Kamar itu tampak banjak almari dan medja jang penuh botol2 obat.
Dipodjok sana tampak seorang gadis tjilik meringkuk dengan ketakutan.
Maka tahulah Hoa Hek-kin bahwa telah salah gali.
Rumah batu jang dikatakan Pah Thian-sik itu hanja didengarnja dari tjerita Po-ting-te, maka rentjana mereka itu hanja didasarkan pada taksiran belaka, dan kini ternjata sudah kesasar.
Kiranja kamar jang mereka masuki itu adalah kamar kerdjanja Tjiong Ban-siu dan gadis tjilik itu bukan lain adalah Tjiong Ling.
Gadis itu senantiasa hendak mentjari obat penawar dikamar kerdja ajahnja guna menolong Toan Ki.
Tak tersangka bahwa Im-yang-ho-hap-san itu tidak bisa sembarangan disembuhkan dengan obat penawar, tapi ada tjara penjembuhan jang istimewa.
Dengan sendirinja biarpun Tjiong Ling sudah mengobrak-abrik kamar obat ajahnja toh tetap tak bisa mendapatkan sesuatu obat penawar jang diharapkan.
Waktu itu ajah-bundanja sedang mendjamu tamu diruangan depan, maka diam2 Tjiong Ling masuk kekamar ajahnja untuk mentjari lagi.
Siapa duga mendadak lantai kamar itu berlubang, menjusul sebatang sekop menjelonong keluar, bahkan terus melompat keluar pula seorang laki2 tak dikenal, karuan kaget Tjiong Ling setengah mati.
Hoa Hek-kin bisa berpikir tjepat, sekali sudah salah gali, terpaksa harus gali pula kedjurusan lain.
Djedjaknja sudah diketahui, kalau nona tjilik ini dibunuh, tentu majatnja akan diketemukan orang disini dan segera pasti akan diadakan penggeledahan setjara besar2an, djika hal itu terdjadi, mungkin dirinja sudah akan diketemukan sebelum berhasil menggali sampai dirumah batu itu.
Rasanja djalan paling baik harus gondol gadis tjilik ini kedalam lorong dibawah tanah, dan orang lain kalau mentjari sigadis ini, tentu malah akan mentjarinja diluar sana.
Dan pada saat itulah, tiba2 diluar kamar ada suara tindakan orang mendatangi.
Tjepat Hek-kin gojang2 tangannja kepada Tjiong Ling dengan maksud agar gadis itu djangan bersuara, lalu ia putar tubuh dengan lagak seperti hendak menerobos kedalam lubang.
Tapi mendadak ia terus melompat kebelakang, segera mulut Tjiong Ling ditekap dengan tangannja, menjusul badan gadis itu lantas diangkat ketepi lubang itu terus dimasukkan kebawah.
Disitu Hoan Hua sudah lantas menjambutnja.
Setelah ikut melompat kebawah lubang lagi, tjepat Hek-kin djedjalkan mulut Tjiong Ling dengan setjomot tanah, karuan gadis itu kerupukan.
Namun Hek-kin tak urus lagi, ia tutup kembali lubang papan tadi, lalu mendengarkan apa jang terdjadi diatas.
Kedjadian2 itu berlangsung dengan tjepat luar biasa, dalam keadaan kaget dan takut, Tjiong Ling mendjadi bingung hingga tidak tahu apa maksud tudjuan orang mentjulik dirinja.
Apalagi mulutnja telah didjedjal dengan tanah, ia mendjadi gelagapan tak bisa bersuara lagi.
Sementara itu terdengar ada dua orang telah masuk kedalam kamar, jang seorang tindakannja berat, jang lain sangat enteng.
Lalu suara seorang laki2 lagi berkata.
Terang tjintamu padanja masih belum lenjap seluruhnja, kalau tidak, aku hendak merusak nama baik keluarga Toan, mengapa kau selalu merintangi?
Belum lenjap apa segala, hakikatnja aku tidak pernah tjinta padanja, sahut seorang wanita.
Djika demikian, itulah jang kuharapkan, kata laki2 tadi dengan nada penuh rasa sjukur dan girang.
Maka terdengar wanita itu berkata pula.
Tapi nona Bok itu adalah puteri kandung Sutjiku, meski tabiatnja agak kasar dan bertindak kurang sopan pada kita, namun betapapun djuga adalah orang sendiri.
Kau hendak bikin susah Toan-kongtju aku masa bodoh, tapi nona Bok djuga ikut kau korbankan nama baiknja hingga selama hidupnja bakal merana, itulah aku tak bisa tinggal diam.
Mendengar sampai disini, tahulah Hek-kin bahwa kedua orang jang bitjara itu terang adalah suami-isteri Tjiong Ban-siu.
Mendengar pembitjaraan mereka menjangkut dirinja Toan Ki, segera ia pasang kuping lebih tadjam.
Maka terdengar Tjiong Ban-siu lagi berkata.
Sutjimu telah berusaha hendak melepaskan pemuda itu, beruntung dipergoki Yap Dji-nio dan sekarang dia sudah bermusuhan dengan kita, mengapa kau malah ingin mengurus puterinja itu?
A Po, para tamu didepan itu adalah tokoh2 Bu-lim kenamaan semua, tanpa pamit apa2 kau tinggal masuk kemari, bukankah kelakuanmu ini agak kurang sopan?
Hm, untuk apa kau mengundang orang2 matjam begitu?
dengan kurang senang Tjiong-hudjin menanja.
Huh, Lo-kang-ong Tjin Goan-tjun, It-hui-tjiong-thian Kim Tay-pang, murid utama dari Tiam-djong-pay Liu Tji-hi, Tjo Tju-bok dan Siang-djing tokoh dari Bu-liang-kiam dan ada lagi djago silat Be Ngo-tek apa segala, emangnja apa kau sangka orang2 matjam demikian berani main gila pada Paduka Jang Mulia radja Tayli sekarang?
Aku toh tidak bermaksud mengundang mereka untuk ikut memberontak pada Toan Tjing-beng, demikian Tjiong Ban-siu mendjawab.
Hanja setjara kebetulan aku melihat mereka berada disekitar sini, lantas aku mengundang mereka kemari untuk meramaikan suasana sadja gar bisa ikut mendjadi saksi bahwa putera puteri Toan Tjing-sun telah tidur dalam sekamar.
Malahan diantara hadirin itu terdapat pula Hui-sian dari Siau-lim-si, Kah-yap Siansu dari Tay-kak-si, Oh-pek-kiam Su An.
Orang2 ini adalah djagoan2 didaerah Tionggoan.
Besok pagi be-ramai2 kita lantas pergi membuka rumah batu itu, biar semua orang menjaksikan betapa bagus perbuatan keturunan keluarga Toan jang terpudji itu, bukankah hal ini sangat menarik dan segera akan tersiar luas diseluruh Kangouw dengan tjepat?
Hahahaha!
Huh, rendah memalukan!
djengek Tjiong-hudjin.
Kau maki siapa jang rendah memalukan?
tanja Ban-siu.
Siapa jang berbuat rendah dan tidak kenal malu, dia adalah manusia jang rendah memalukan, sahut Tjiong-hudjin mendongkol.
Benar, keparat Toan Tjing-sun itu selama hidupnja sok romantis dan banjak berbuat dosa, tapi achirnja puter-puteri sendiri berbuat hal2 jang tidak senonoh, haha, benar2 rendah memalukan!
Kau sendiri tidak mampu menangkan orang she Toan, selama hidup mengumpet didalam lembah ini pura2 sudah mati, namun hal inipun maklum, karena kau masih tahu diri dan terhitung seorang laki2 jang kenal malu.
Tapi sekarang kau sengadja mempermainkan putera-puteri orang jang bukan tandinganmu, kalau diketahui kesatria2 seluruh djagat, mungkin orang jang akan ditertawai bukan dia, sebaliknja adalah engkau sendiri!
Karuan Tjiong Ban-siu berdjingkrak, teriaknja gusar.
Djadi .....
djadi engkau maksudkan aku jang rendah dan memalukan?
Tiba2 Tjiong-hudjin mengutjurkan air mata, sahutnja ter-guguk2.
Sungguh tidak njana bahwa suamiku adalah seorang demikian gagah perwiranja!
Sebenarnja Tjiong Ban-siu memang sangat tjinta pada isterinja ini, sebabnja dia bentji dan dendam pada Toan Tjing-sun adalah disebabkan rasa tjemburunja, kini melihat sang isteri menangis, karuan ia mendjadi sibuk, tjepat sahutnja.
Baiklah, baiklah!
Kau suka maki aku, makilah sepuasmu.
Habis berkata, ia berdjalan mondar-mandir didalam kamar itu, pikirnja hendak mengutjapkan sesuatu untuk minta maaf pada sang isteri, tapi seketika tidak tahu apa jang harus dikatakan.
Tiba2 ia melihat botol obat dialmarinja disudut kamar sana berserakan tak teratur, segera ia mengomel.
Hm, Ling-dji ini benar2 kurang adjar, masih ketjil sudah tanja tentang Im-yang-ho-hap-san apa segala, sekarang datang mengobrak-abrik lagi kekamarku sini.
Sembari berkata, ia terus mendekati almari obat itu untuk membetulkan botol2 obat jang tak keruan itu dan tanpa sengadja sebelah kakinja mendadak mengindjak diatas papan jang sudah dilubangi Hoa Hek-kin itu.
Karuan Hek-kin kaget, tjepat ia menjanggah dari bawah sekuatnja agar tidak diketahui orang.
Dimanakah Ling-dji?
tiba2 Tjiong-hudjin menanja.
Selama beberapa hari ini didalam lembah banjak orang djahat, Ling-dji harus diperingatkan djangan sembarangan keluar.
Aku lihat sepasang mata maling In Tiong-ho itu selalu mengintjar Ling-dji sadja, kukira kau harus hati2 djuga.
Aku hanja hati2 mendjaga engkau seorang, wanita tjantik molek seperti engkau, siapa orangnja jang tidak sir padamu?
demikian sahut Ban-siu dengan tertawa.
Tjis!
semprot njonja Tjiong.
Lalu ia berseru memanggil.
Ling-dji!
Segera seorang pelajan mendekati dan memberitahu bahwa barusan sadja sang Siotjia berada disitu.
Tjoba tjari dan undang kemari, perintah Tjiong-hudjin.
Sudah tentu Tjiong Ling mendengar semua pertjakapan ajah-bundanja itu.
Tapi apa daja, mulut tersumbat tanah, sama sekali tak bisa bersuara, hanja dalam hati kelabakan setengah mati.
Dalam pada itu terdengar Tjiong Ban-siu lagi berkata pada sang isteri.
Engkau mengaso sadja disini, aku akan keluar mengawani tamu.
Hm, kau berdjuluk Kian-djin-tjiu-sat (melihat orang lantas membunuh), kenapa sesudah tua lantas Kian-djin-tjiu-bah (melihat orang lantas takut)?
sindir Tjiong-hudjin.
Ban-siu tidak berani marah, sambil menjengir kuda, ia tinggal keluar keruangan depan.
Dalam pada itu, dikota Tayli dengan gembira rakjat sedang merajakan dihapuskannja tjukai garam.
Hendaklah maklum bahwa produksi garam diwilajah Hunlam sangat terbatas, seluruh negeri hanja ada sembilan sumur garam, jaitu sumber penghasil garam jang terdapat didaratan Tiongkok bagian barat-daja.
Maka setiap tahunnja Tayli mesti mengimpor sebagian besar garam dari daerah Sutjwan dengan tjukai garam jang berat, bahkan sebagian besar dari penduduk dipinggiran negeri itu dalam setahun hampir setengah tahun mesti makan setjara tawar tanpa garam.
Po-ting-te tahu bila tjukai garam sudah dihapuskan, tentu Ui-bi-tjeng akan berusaha menjelamatkan Toan Ki untuk membalas kebidjaksanaannja itu.
Biasanja Po-ting-te sangat kagum terhadap ilmu silat serta ketjerdikan Ui-bi-tjeng itu, apalagi keenam anak muridnja itupun memiliki ilmu silat jang tinggi, djika guru dan murid itu bertudjuh orang keluar sekaligus, pasti akan gol usaha mereka.
Tak terduga, sudah ditunggu sehari-semalam, ternjata tiada sedikitpun kabar jang diperoleh, hendak memerintahkan Pah Thian-sik pergi mentjari tahu, siapa sangka Pah-sukong itu beserta Hoa-suto dan Hoan-suma djuga ikut menghilang tanpa pamit.
Karuan Po-ting-te mendjadi kuatir, pikirnja.
Djangan2 Yan-king Thaytju memang terlalu lihay hingga Ui-bi Suheng bersama murid2nja itu dan ketiga pembantuku jang lihay itu telah terdjungkal semua didalam Ban-djiat-kok?
Karena itu, segera ia undang berkumpul adik pangeran Toan Tjing-sun dan permaisuri, Sian-tan-hou Ko Sing-thay serta tokoh2 Hi-djiau-keng-dok, lalu diadjak berangkat ke Ban-djiat-kok pula.
Karena kuatirkan keselamatan sang putera, Si Pek-hong minta Po-ting-te suka kerahkan pasukan untuk menjapu bersih Ban-djiat-kok, namun sang radja jang bidjaksana itu tidak setudju, ia ingin pertahankan kehormatan dan nama baik keluarga Toan sebagai tokoh utama didunia persilatan, kalau tidak terpaksa, ia tetap bertindak menurut peraturan Kangouw.
Dan baru sadja rombongan mereka sampai dimulut lembah jang ditudju, tertampaklah In Tiong-ho sudah memapak mereka dengan ketawa2, ia memberi hormat lebih dulu, lalu berkata.
Selamat datang!
Tjiong-koktju menduga Paduka Jang Mulia hari ini pasti akan berkundjung kemari lagi, maka Tjayhe disuruh menantikan disini.
Pabila kalian datang bersama pasukan setjara besar2an, kami lantas angkat kaki melangkah seribu.
Tapi bila datang menurut peraturan Kangouw, maka disilahkan masuklah untuk minum2 dulu!
Melihat pihak lawan demikian tenang, terang sudah siap sedia sebelumnja, tidak seperti tempo hari, begitu datang lantas saling labrak, maka diam2 Po-ting-te lebih kuatir djuga dan lebih prihatin.
Segera ia membalas hormat dan berkata.
Terima kasih atas penjambutanmu!
Segera In Tiong-ho mendahului dan membawa rombongan Po-ting-te keruangan tamu.
Begitu melangkah masuk ruangan pendopo itu, Po-ting-te lantas melihat ruangan itu sudah banjak berkumpul tokoh2 Kangouw, kembali ia bertambah was2.
Terus sadja In Tiong-ho berteriak.
Thian-lam Toan-keh Tjiangbundjin Toan-losu tiba!
~ Ia tidak bilang P.J.M.
radja Tayli, tapi menjebutkan gelaran keluarga Toan dalam kalangan Bu-lim, suatu tanda ia sengadja menjatakan segala tindak-tanduk selandjutnja harus dilakukan menurut peraturan Bu-lim.
Nama Toan Tjing-beng sendiri didalam Bu-lim memangnja terhitung djuga seorang tokoh terkemuka jang disegani.
Maka begitu mendengar namanja, seketika para hadirin berbangkit sebagai tanda menjambut.
Hanja Lam-hay-gok-sin jang masih tetap duduk seenaknja ditempatnja sambil berseru.
Kukira siapa, tak tahunja adalah Hongte-lodji jang datang!
Baik2kah kau?
Sebaliknja Tjiong Ban-siu lantas melangkah madju dan menjapa.
Tjiong Ban-siu tidak keluar menjambut, harap Toan-losu suka memaafkan!
Ah, djangan sungkan2!
sahut Po-ting-te.
Oleh karena pertemuan ini dilakukan setjara orang Bu-lim, maka ketika disilahkan duduk, Toan tjing-sun dan Ko Sing-thay lantas berduduk disisi Po-ting-te, sedang Leng Djian-li berempat berdiri dibelakang Po-ting-te, segera pula pelajan menjuguhkan minuman seperlunja.
Melihat Ui-bi-tjeng dan murid2nja serta Pah Thian-sik bertiga tidak nampak disitu, diam2 Po-ting-te memikirkan tjara bagaimana harus buka mulut untuk menanjakannja.
Sementara itu Tjiong Ban-siu lantas buka suara.
Atas kundjungan kedua kalinja dari Toan-tjiangbun ini, sungguh Tjayhe merasa mendapat kehormatan besar.
Mumpung ada sekian banjak kawan2 Bu-lim berkumpul disini, biarlah Tjayhe memperkenalkannja satu per satu kepada Toan-tjiangbun.
Habis berkata, segera Ban-siu memperkenalkan Tjo Tju-bok, Be Ngo-tek, Hui-sian Hwesio dan lain2 kepada radja Tayli itu.
Sebagian besar Po-ting-te tidak kenal, tapi ada djuga jang pernah mendengar namanja.
Setiap orang jang diperkenalkan itu lantas saling memberi hormat pula dengan Po-ting-te.
Be Ngo-tek, Tjo Tju-bok dan kawan2nja sangat menghormat dan merendah diri terhadap Po-ting-te, sebaliknja Liu Tju-hi, Tjin Goan-tjun dan begundalnja bersikap sangat angkuh.
Sedangkan Kah-yap Siansu, Kim Tay-peng, Su An dan lain2 memandang Po-ting-te sebagai kaum Tjianpwe, mereka tidak terlalu merendahkan deradjat sendiri djuga tidak mendjilat orang.
Lalu Tjiong Ban-siu berkata lagi.
Mumpung Toan-tjiangbun sempat berkundjung kemari, sudilah kiranja tinggal lebih lama barang beberapa hari disini, agar para saudara bisa banjak meminta petundjuk.
Keponakanku Toan Ki telah berbuat salah pada Tjiong-koktju dan ditahan disini, kedatanganku hari ini pertama jalah ingin mintakan ampun bagi botjah itu, keduanja ingin minta maaf djuga.
Harap Tjiong-koktju suka memandang diriku, sukalah mengampuni anak jang masih hidjau itu, untuk mana Tjayhe merasa terima kasih sekali, demikian djawaban Po-ting-te.
Mendengar itu, diam2 para kesatria sangat kagum, pikir mereka.
Sudah lama kabarnja Toan-hongya dari Tayli suka menghadapi kaum sesama Bu-lim dengan peraturan Bu-lim pula, dan njatanja memang tidak omong kosong.
Padahal wilajah ini masih dibawah kekuasaan Tayli, asal dia mengirim beberapa ratus peradjuritnja sudah tjukup untuk membebaskan keponakannja itu, tapi dia djustru datang sendiri untuk memohon setjara baik2.
Hlm.
51 Gambar Toan-kongtju adalah gurumu, engkau sudah menjembah dan mengangkat guru padanja, apakah kau berani menjangkal?
kata Ko Sing-thay.
Keparat, lotju tidak menjangkal, maki Lam-hay-gok-sin dengan gusar.
Harini djuga biar Lotju bunuh guru jang tjuma namanja sadja tanpa ada kenjataannja itu.
Gak-lodji punja guru sematjam itu, huh, hanja bikin malu sadja!
Plak, dengan gusar Tjiong Ban-siu tempiling puterinja sendiri, Tjiong Ling, jang disangkanja telah berbuat tidak senonoh dengan Toan Ki didalam rumah batu itu.
Tjiong-koktju, urusan sudah ketelandjur, kini puterimu sudah mendjadi anggota keluarga Toan kami, terpaksa aku harus ikut tjampur djika kau menghadjar puterimu ini, tiba2 Toan Tjing-sun menjela dengan ter-senjum2.
Hlm 52 Dalam pada itu Tjiong Ban-siu sedang ter-bahak2, belum lagi mendjawab, tiba2 Su An telah menjela.
He, kiranja Toan-kongtju berbuat salah sesuatu kepada Tjiong-koktju, djika demikian, untuk mana Tjayhe djuga ikut memohon ampun baginja, sebab Tjayhe pernah mendapat pertolongan dari Toan-kongtju.
Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar mendadak, bentaknja.
Urusan muridku, baut apa kau ikut tjerewet?
Toan-kongtju adalah gurumu dan bukan muridmu, tjepat Ko Sing-thay mendjawabnja dengan mengedjek.
Kau sendiri sudah menjembah dan mengangkat guru padanja, apa sekarang kau hendak menjangkal?
Muka Lam-hay-gok-sin mendjadi merah, ia memaki.
Keparat, Lotju takkan menjangkal.
Harini biar Lotju membunuh djuga Suhu jang tjuma namanja sadja, tapi kenjataannja tidak.
Hm, masakan Lotju mempunjai seorang guru matjam begitu, bisa mati kaku aku!
Karena tidak tahu seluk-beluknja, keruan semua orang merasa bingung oleh tanja djawab itu.
Kemudian Si Pek-hong ikut bitjara.
Tjiong-koktju, lepaskan puteraku atau tidak, hanja tergantung satu ketjap utjapanmu sadja.
O, ja, tentu sadja kulepaskan dia, tentu kulepaskan!
sahut Tjiong Ban-siu dengan tertawa.
Emangnja, buat apa aku menahan puteramu itu?
Benar, tiba2 In Tiong-ho menimbrung.
Dasar Toan-kongtju tampan dan ganteng, sedangkan njonja Tiong-koktju sangat tjantik aju, kalau Toan-kongtju tinggal terus dilembah ini, apakah itu bukannja memiara srigala dikandang kambing, tjari penjakit sendiri?
Maka sudah tentu Tjiong-koktju akan melepaskan botjah itu!
Semua orang mendjadi tertjengang oleh kata2 In Tiong-ho jang tidak kenal aturan dan tanpa tedeng aling2 itu, njata suami-isteri Tjiong Ban-siu sama sekali tak terpandang sebelah mata olehnja, sungguh djulukan Kiong-hiong-kek-ok atau djahat dan buas luar biasa, memang tidak bernama kosong.
Tentu sadja Tjiong Ban-siu mendjadi murka, sjukur ia masih bisa menahan diri, katanja sambil berpaling.
In-heng, kalau urusan disini sudah selesai, pasti Tjayhe akan beladjar kenal dengan kepandaianmu.
Bagus, bagus!
sahut In Tiong-ho tertawa.Akan djusteru sudah lama ingin membunuh suaminja untuk mendapatkan isterinja, ingin merebut hartanja serta mendiami lembahnja ini!
Keruan para kesatria bertamah terkesiap.
Segera It-hui-tjiong-thian Kim Tay-peng berkata.
Para kesatria kangouw toh belum mati seluruhnja, sekalipun kepandaian Thian-he-su-ok kalian sangat tinggi, betapapun tak bisa menghindarkan diri dari keadilan umum.
Tiba2 Yap Dji-nio ter-bahak2 dengan suaranja jang merdu, katanja.
Kim-siangkong, aku Yap Dji-nio toh tiada permusuhan apa2 dengan engkau, kenapa aku ikut2 disinggung, ha?
Hati Kim Tay-peng tergetar oleh suara ketawa orang jang mengguntjang sukma itu.
Begitu pula Tjo Tju-bok djuga ikut ber-debar2, terutama bila teringat puteranja sendiri hampir2 mendjadi korban wanita iblis itu, tanpa merasa ia melirik sekedjap pada tokoh kedua dari Su-ok itu.
Yap Dji-nio sedang ter-kikih2 tawa, katanja pula.
He, Tjo-tjiangbun, baik2kah puteramu itu, tentu mendjadi lebih gemuk dan putih mulus bukan?
Tjo Tju-bok tidak berani membantah, sahutnja tak lampias.
Ah, tempo hari ia telah masuk angin, sampai sekarang masih belum sehat.
O, kasihan!
udjar Dji-nio.
Biarlah nanti aku mendjenguk puteramu jang baik itu.
Karuan Tjo Tju-bok terkedjut, tjepatan sadja ia gojang2 tangannja dan berkata.
Djang ....
djangan, ti...
tidak usah!
~ Sudah tentu ia kuatir, kalau orang benar2 bermaksud baik mendjenguk anaknja sih tak mengapa, tapi kalau digondol lari lagi untuk diisap darahnja, kan tjelaka!
Melihat suasana begitu, diam2 Po-ting-te membatin.
Rupanja kedjahatan Su-ok memang sudah keterlaluan dan banjak mengikat permusuhan, nanti kalau Ki-dji sudah diselamatkan, boleh djuga sekalian tjari kesempatan untuk membasminja.
Yan-king Thaytju dari Su-ok ini meski terhitung orang keluarga Toan, tapi achirnja toh akan tiba djuga hari tamatnja sesuai dengan djulukannja Kedjahatan sudah melebihi takarannja.
Dan karena melihat pembitjaraan orang2 itu telah menjimpangkan persoalan pokok, segera Si Pek-hong berbangkit dan bitjara lagi.
Tjiong-koktju, djika engkau sudah menjanggupi akan mengembalikan anakku, baiklah sekarang engkau suruh dia keluar, biar kami ibu dan anak bisa saling bertemu kembali.
Tjepat Tjiong Ban-siu djuga berbangkit dan menjahut.
Baik!
~ mendadak ia menoleh dan mendelik pada Toan Tjing-sun dengan penuh rasa dendam, katanja pula sambil menghela napas.
Toan Tjing-sun, engkau mempunjai isteri tjantik dan putera tampan, mengapa engkau masih belum puas dan masih sok bangor?
Djikalau hari ini kau harus menanggung malu didepan umum, itu adalah akibat perbuatanmu sendiri dan djangan menjalahkan aku orang she Tjiong.
Memangnja waktu mendengar Tjiong Ban-siu bersedia membebaskan Toan Ki begitu sadja, Toan Tjing-sun sudah bersangsi urusan pasti takkan terdjadi demikian sederhana, tentu musuh sudah mengatur sesuatu muslihat kedji.
Maka demi mendengar utjapan Ban-siu itu, segera ia mendekati Tjiong-koktju itu dan mendjawab tegas.
Tjiong Ban-siu, kau sendiripun punja anak-isteri, pabila kau bermaksud membikin tjelaka orang, aku Toan Tjing-sun pasti djuga bisa membikin kau merasa menjesal selama hidup.
Melihat sikap pangeran Tayli jang gagah perkasa dan agung itu, Tjiong Ban-siu merasa dirinja semakin djelek, rasa siriknja bertambah me-njala2, segera teriaknja.
Urusan sudah begini, biarpun achirnja Tjiong Ban-siu harus gugur dan rumah tangga hantjur, betapapun aku akan lawan kau sampai titik darah penghabisan.
Hajolah, kau inginkan puteramu, mari ikut padaku!
~ Habis berkata, terus sadja ia mendahului bertindak keluar.
Setelah be-ramai2 semua orang ikut Tjiong Ban-siu sampai didepan pagar pohon jang lebat itu, In Tiong-ho sengadja pamer Ginkang, sekali lompat, segera ia melintasi pagar pohon jang tinggi itu.
Toan Tjing-sun pikir urusan hari ini terang tak bisa diselesaikan setjara damai, ada lebih baik sekarang djuga memberi sedikit demonstrasi, agar pihak lawan tahu gelagat dan mundur teratur.
Maka katanja segera.
Tiok-sing, penggal beberapa pohon itu, agar mudah dilalui semua orang!
Djay-sin-khek Siau Tiok-sing, sipentjari kaju, mengia sekali, lalu mengajun kapaknja, sekali batjok, bagai pisau tipis mengiris tahu sadja, seketika sebatang pohon ditebang putus didekat pangkalnja.
Menjusul Tiam-djong-san-long hantamkan sebelah tangannja kedepan hingga pohon patah itu mentjelat tersangkut diantara pohon2 jang lain.
Be-runtun2 tampak kapak bekerdja tjepat pula hingga dalam sekedjap sadja sudah ada lima batang pohon jang tumbang, maka berwudjutlah sekarang suatu pintu masuk.
Sebenarnja Tjiong Ban-siu menanam dan merawat pagar pohon itu selama ber-tahun2 dengan susah-pajah, tentu sadja ia mendjadi gusar pohon2 itu ditebang dan dirusak oleh Siau Tiok-sing.
Tapi segera terpikir olehnja.
Orang2 she Toan dari Tayli hari ini bakal dibikin malu besar, buat apa aku mesti sibukkan urusan tetek-bengek ini.
~ Karena itu, tanpa bitjara lagi ia lantas mendahului masuk melalui pintu pagar pohon jang bobol itu.
Maka tertampaklah segera dibalik pohon2 sana Ui-bi-tjeng dan Djing-bau-khek masing2 menggunakan tangan kiri sedang menahan udjung tongkat bambu, ubun2 kedua orang kelihatan mengepulkan kabut putih, terang kedua orang itu sedang mengadu Lwekang.
Mendadak Ui-bi-tjeng mengulur tangan kanan dan menekan sekali diatas papan batu didepan situ hingga berwudjut suatu dekukan.
Menjusul, hanja memikir sedjenak, Djing-bau-khek djuga ikut menggores satu lingkaran ketjil dengan tongkat bambu ditangan kanannja itu.
Melihat itu segera Po-ting-te mengartilah duduknja perkara.
Kiranja Ui-bi Suheng itu disamping tanding tjatur dengan Yan-king Thaytju, berbareng mengadu Lwekang pula dengan tokoh utama dari Su-ok itu.
Djadi mengadu otak serta tenaga setjara berbareng, tjara bertanding jang lain dari jang lain ini sesungguhnja sangat berbahaja.
Pantas makanja sudah ditunggu sehari-semalam sang Suheng masih tiada kabar beritanja, rupanja pertandingan demikian itu sudah berlangsung selama sehari-semalam dan masih belum ketahuan siapa jang kalah atau menang.
Sepintas lalu Po-ting-te melihat kedudukan diatas papan tjatur itu, kedua pihak sama2 sedang menghadapi satu langkah sulit jang menentukan, rupanja Ui-bi-tjeng berada dipihak terdesak, maka mati2an paderi itu sedang mentjari djalan hidup bagi bidji tjaturnja itu.
Waktu Po-ting-te menengok pula kearah rumah batu, ia lihat keenam murid Ui-bi-tjeng itu sedang duduk bersila didepan rumah dengan wadjah putjat dan mata meram, mirip orang jang sudah hampir putus napasnja jang penghabisan.
Karuan ia terkedjut, pikirnja.
Apa barangkali keenam murid Suheng ini telah bergebrak dulu dengan Yan-king Thaytju dan telah terluka parah semua?
Segera ia mendekati mereka, ia tjoba periksa denjut nadi Boh-tam Hwesio, ia merasa denjut nadinja sangat lemah, seperti bergerak seperti tidak, se-akan2 setiap waktu bisa berhenti berdenjut.
Tjepat Po-ting-te mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang keluar enam butir pil merah serta didjedjalkan kemulut enam paderi itu masing2 sebutir.
Pil itu bernama Hou-pek-wan, sangat mandjur untuk menjembuhkan luka dalam.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa Boh-tam berenam bukanlah terluka dalam, tapi disebabkan antero hawa murni dalam tubuh mereka telah kering benar2 disedot oleh Tju-hap-sin-kangnja Toan Ki jang maha lihay itu.
Pil itu digunakan tidak tepat penjakitnja, dengan sendirinja tak berguna.
Dalam pada itu Tjing-sun sedang berseru.
Djian-li, kalian berempat tjoba dorong kepinggir batu besar itu, lepaskan Ki-dji dari dalam situ!
Leng Djian-li berempat mengia, berbareng mereka lantas madju.
Nanti dulu!
tiba2 Tjiong Ban-siu mentjegah.
Apakah kalian mengetahui siapa2 sadja jang terkurung didalam rumah itu?
Toan Tjing-sun dan djago2nja itu masih belum tahu bahwa Bok Wan-djing djuga sudah ditawan Yan-king Thaytju serta dikurung bersama Toan Ki didalam satu kamar, bahkan kedua muda-mudi itu telah ditjekoki pula dengan Im-yang-ho-hap-san, maka sama sekali mereka tidak tjuriga dan serentak hendak membebaskan Toan Ki dari pendjara itu tanpa pikirkan apa jang bakal disaksikan hadirin2 jang lain.
Kini demi mendengar utjapan Tjiong Ban-siu itu, Tjing-sun mendjadi tjuriga, segera damperatnja.
Tjiong-koktju, pabila kau berani bikin tjatjat sedikitpun atas diri puteraku, hendaklah kau ingat bahwa engkau sendiripun punja anak-isteri.
~ Njata jang dia kuatirkan jalah djangan2 Toan Ki telah disiksa atau ditjatjatkan sesuatu anggota badannja.
Maka dengan tertawa mengedjek Tjiong Ban-siu mendjawab.
Hehe, memang benar, aku orang she Tjiong djuga punja anak-isteri, tjuma anakku adalah perempuan, untung aku tidak punja anak laki2, andaikan punja djuga anakku laki2 takkan mungkin melakukan perbuatan kebinatangan dengan anak perempuanku sendiri.
Kau sembarangan mengotjeh apa?
bentak Tjing-sun dengan gusar.
Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing adalah puterimu dari hubungan gelap dengan wanita lain, bukan?
dengan senjum edjek Ban-siu menanja.
Asal-usul nona Bok pribadi, peduli apa engkau mesti iseng dan ikut tjampur?
sahut Tjing-sun dengan gusar.
Hahaha, belum tentu bahwa aku jang iseng suka ikut tjampur urusan, sahut Ban-siu ter-bahak2.
Keluarga Toan kalian meradjai suatu negeri Tayli, dikalangan Kangouw terlebih gilang-gemilang pula namanja.
Tapi kini biarlah para kesatria diseluruh djagat supaja membuka mata lebar2 untuk menjaksikan bahwa putera dan puteri Toan Tjing-sun sendiri telah berbuat maksiat diantara sesama saudara sendiri, sungguh dunia sudah terbalik!
Mendengar itu, rasa tjuriga Toan Tjing-sun semakin mendjadi, pikirnja.
Apa benar Djing-dji djuga berada didalam rumah ini dan dia bersama Ki-dji sudah ....
sudah ............
~ Ia tidak berani membajangkan lebih landjut lagi, ia tjotjokkan utjapan2 Tjiong Ban-siu dari semula hingga sekarang, agaknja berada bersamanja kedua putera-puterinja didalam satu kamar itu tak usah disangsikan lagi.
Karuan seketika badannja serasa dingin bagai ketjemplung disungai es, diam2 ia mengeluh.
Betapa kedji muslihat musuh ini!
Dalam pada itu Tjiong Ban-siu lantas memberi tanda kepada Lam-hay-gok-sin, segera mereka berdua mulai hendak mendorong batu besar jang menutupi pintu rumah itu.
Nanti dulu!
tjegah Tjing-sun sambil ulur tangan hendak merintangi.
Diluar dugaan, se-konjong2 Yap Dji-nio dan In Tiong-ho berbareng menjerangnja pula dari samping kanan dan kiri.
Terpaksa Tjing-sun angkat tangan menangkis, sedang Ko Sing-thay serentak pun menjusup madju untuk menangkis serangan In Tiong-ho.
Tak tersangka serangan2 kedua tokoh Su-ok itu hanja pantjingan belaka, tangan jang satu pura2 mereka serang Toan Tjing-sun, tapi tangan jang lain dipakai membantu mendorong batu besar penutup pintu itu.
Meski batu itu beratnja beribu kati, tapi dibawah dorongan tenaga bersama dari Tjiong Ban-siu, Yap Dji-nio, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho berempat, seketika batu itu menggelinding kesamping.
Tindakan mereka itu memangnja sudah direntjanakan, maka sama sekali Toan Tjing-sun tak mampu merintanginja.
Disamping itu Tjing-sun sendiri sebenarnja djuga ingin lekas2 bisa mengetahui keadaan puteranja, maka tidak mentjegah sekuat tenaga.
Dan begitu batu penutup pintu itu didorong minggir, segera tertampaklah didalam rumah batu itu gelap gulita belaka, sedikitpun tidak kelihatan pemandangan didalam rumah.
Huh, dua pemuda-pemudi berada sendirian didalam kamar segelap itu, dapat dibajangkan perbuatan apa jang akan dilakukan mereka!
demikian Tjiong Ban-siu mendjengek.
Dan baru lenjap utjapannja itu, tiba2 terlihat dari dalam rumah itu bertindak keluar seorang pemuda dengan rambut terurai masai, badan bagian atas telandjang, siapa lagi dia kalau bukan Toan Ki adanja?
Bahkan ditangan pemuda itu membawa pula seorang wanita tak berkutik seperti orang jang tak sadarkan diri.
Melihat itu, alangkah malunja rasa Po-ting-te, Toan Tjing-sun pun menundukkan kepala, sedangkan Si Pek-hong mengembeng air mata sambil berkemak-kemik.
Hukum karma!
Hukum karma!
Lekas2 Ko Sing-thay menanggalkan badjunja dengan maksud untuk dipakai Toan Ki, sedang Oh-pek-kiam Su An mengingat pemuda itu pernah menolong djiwanja, ia merasa tidak tega kalau Toan Ki dibikin malu didepan orang banjak, maka tjepat ia melompat madju untuk meng-aling2 didepan pemuda itu.
Keparat!
Apa kau sudah bosan hidup, lekas enjah!
bentak Lam-hay-gok-sin dengan gusar.
Sebaliknja Tjiong Ban-siu ter-bahak2 sangat senang.
Tapi mendadak suara ketawanja itu berubah mendjadi djeritan kaget jang sangat menjeramkan.
He, mengapa engkau, Ling-dji?
Mendengar suara teriakan seram itu, hati semua orang ikut terkesiap.
Ketika semua orang memperhatikan apa jang terdjadi, tertampak Tjiong Ban-siu sedang menubruk kehadapan Toan Ki terus hendak merampas wanita jang berada dipondongan pemuda itu.
Maka sekarang dapatlah semua orang melihat djelas wadjah wanita jang dipondong Toan Ki itu, tampaknja umurnja masih lebih muda daripada Bok Wan-djing, tubuhnja djuga lebih ketjil mungil, mukanja masih ke-kanak2an, terang bukan Hiang-yok-djeh jang tersohor itu, tapi adalah Tjiong Ling, itu puteri kesajangannja Tjiong Ban-siu sendiri.
Dalam kaget dan gusarnja, Tjiong Ban-siu tidak mengarti sebab apa mendadak puteri kesajangannja itu bisa berada didalam rumah itu, dengan tjepat ia terus sambut puterinja itu dari pondongan Toan Ki.
Tak terduga, begitu kedua tangannja menjentuh badannja Tjiong Ling, se-konjong2 tubuhnja tergetar hebat, hawa murni dalam tubuh se-akan2 hendak terbang meninggalkan raganja.
Waktu itu Toan Ki sendiri belum lagi sadarkan diri, dalam keadaan buram ia melihat dirinja dirubung orang banjak, lapat2 diantaranja terdapat pula paman dan kedua orang tua, segera ia lepaskan Tjiong Ling serta berseru memanggil.
Mak, Pekhu, ajah!
Dan karena dilepaskannja Tjiong Ling oleh Toan Ki, maka Tju-hap-sin-kang jang hebat itu tidak djadi menjedot hawa murninja Tjiong Ban-siu.
Oleh karena sudah lama berdiam ditempat gelap, kini Toan Ki mendjadi silau oleh sinar matahari jang terang benderang itu hingga seketika matanja susah dipentang.
Sebaliknja antero badannja terasa sangat kuat, semangat ber-kobar2, tulang2 anggota badan terasa enteng se-akan2 bisa terbang sadja.
Dalam pada itu Si Pek-hong sudah lantas mendekati serta merangkul sang putera dan menanja.
Ki-dji, ken kenapa kau?
En ......
entahlah, aku sendiri tidak tahu.
Di .....
dimanakah aku berada?
demikian sahut Toan Ki.
Sungguh sama sekali tak terpikir oleh Tjiong Ban-siu bahwa muslihatnja jang hendak bikin malu orang, kini berbalik sendjata makan tuan, puterinja sendiri jang mendjadi korban malah.
Sedikitpun tak terpikir olehnja bahwa wanita jang dipondong keluar oleh Toan Ki bukanlah Bok Wan-djing, sebaliknja adalah puteri kesajangannja itu.
Setelah tertegun sedjenak, kemudian iapun lepaskan Tjiong Ling ketanah.
Ketika sadar dirinja tjuma memakai pakaian dalam melulu, karuan Tjiong Ling malu tak terkatakan.
Tjepat Ban-siu menanggalkan badju sendiri untuk ditutupkan diatas badan sang puteri.
Menjusul ia lantas persen sekali tamparan dipipi Tjiong Ling hingga muka gadis itu merah bengap.
Tidak malu!
Siapa jang suruh kau berada bersama binatang tjilik itu?
demikian Ban-siu memaki.
Tentu sadja Tjiong Ling penuh merasa penasaran, katanja dengan menangis.
Aku...
aku....
~ tapi terang susah untuk mendjelaskan duduknja perkara jang sebenarnja.
Tiba2 terpikir oleh Tjiong Ban-siu.
Bukankah Bok Wan-djing terkurung didalam rumah batu ini, betapapun rasanja dia takkan mampu membuka batu penutup pintu ini, agaknja dia masih berada didalam situ, biar aku memanggilnja keluar, paling tidak dia akan menanggung sebagian dari rasa malu puteriku ini.
Karena itu, segera ia ber-teriak2.
Bok-kohnio, silahkan lekas keluar!
Namun sampai ber-ulang2 ia berteriak hingga bedjat kerongkongannja sekalipun tetap tiada sesuatu suara djawaban didalam rumah batu itu.
Dengan tak sabar segera Tjiong Ban-siu mendekati pintu dan tjoba melongok kedalam, rumah itu tidak luas, maka sekedjap sadja sudah kentara bahwa didalamnja toh kosong melompong, tiada bajangan seorangpun.
Karuan dada Tjiong Ban-siu hampir2 meledak saking gusarnja, ia putar balik dan segera akan hadjar lagi puterinja itu sambil membentak.
Biar kumampuskan kau budak jang memalukan ini!
Se-konjong2 dari samping ada orang menangkis tamparannja itu, nadi tangannja terasa kesemutan tersentuh oleh djari orang.
Lekas2 Ban-siu tarik kembali tangannja dan baru dapat diketahuinja bahwa jang menjerangnja dari samping itu adalah Toan Tjing-sun.
Karuan ia tambah gusar, bentaknja.
Aku menghadjar anakku sendiri, peduli apa dengan kau?
Tjing-sun mendjawab dengan ter-senjum2.
Tjiong-koktju, rupanja engkau telah memberi service istimewa kepada puteraku itu, kuatir dia kesepian didalam rumah itu, sampai2 puteri kesajanganmu engkau suruh mengawaninja, sungguh Tjayhe merasa sangat berterima kasih.
Dan karena urusan sudah ketelandjur, nasi sudah mendjadi bubur, puterimu sudah terhitung anggota keluarga Toan kami, dengan sendirinja Tjayhe tak bisa tinggal diam lagi.
Apa?
Terhitung anggota keluarga Toan kalian?
sahut Ban-siu dengan gusar.
Habis, selama beberapa hari puterimu telah melajani anakku si Toan Ki didalam rumah batu ini, tjoba bajangkan, sepasang muda-mudi berada sendirian ditempat segelap ini, kelihatan pula badju2 mereka terbuka, lalu perbuatan apa jang telah mereka lakukan?
demikian kata Tjing-sun dengan tertawa.
Puteraku adalah ahliwaris Tin-lam-ong, meski sudah melamar puterinja Sian-tan-hou sebagai isteri, tapi sebagai seorang tjalon pangeran, apa salahnja kalau punja beberapa isteri dan selir?
Dan dengan demikian, bukankah engkau sudah mendjadi Djinkeh (besan) dengan aku?
Hahaha, hahaaaaah!
Sungguh gusar Tjiong Ban-siu tak tertahan lagi, terus sadja ia merangsang madju dan beruntun menghantam tiga kali.
Namun dengan terbahak2 Tjing-sun dapat mematahkan setiap serangan orang kalap itu.
Diam2 para kesatria sangat kagum pada pengaruh keluarga Toan jang ternjata tidak boleh sembarangan dihina itu, Tjiong-koktju hendak menghantjurkan nama baik mereka, tapi entah dengan tjara bagaimana tahu2 malah puterinja Tjiong-koktju sendiri jang telah ditukar dan dikeram didalam rumah batu itu.
Kiranja kedjadian itu tak-lain-tak-bukan adalah hasil karjanja Hoa Hek-kin bertiga.
Waktu mereka menawan Tjiong Ling kedalam lorong, maksudnja mereka tjuma untuk menghindarkan rahasianja dibongkar oleh gadis itu.
Tapi kemudian sesudah mendengar pertjakapan suami-isteri Tjiong Ban-siu, mereka tahu nama baik keluarga Toan sedang diudji oleh tipu muslihat jang telah diatur bersama antara Tjiong Ban-siu dan Yan-king Thaytju.
Segera mereka bertiga berunding dibawah tanah situ dan merasa urusan itu besar sekali sangkut-pautnja dengan djundjungan mereka, pula waktunja sudah sangat mendesak.
Maka menunggu sesudah Tjiong-hudjin keluar dari kamar itu, segera Pah Thian-sik menerobos keluar, dengan Ginkangnja jang tinggi ia menjelidiki lebih pasti dimana letak rumah batu jang ditudju itu.
Dan sesudah ditentukan pula arah galian baru, segera mereka bertiga mempertjepat galian lorong dibawah tanah itu hingga semalam suntuk, baru pagi hari itu mereka menggali sampai dibawah rumah batu jang tepat.
Ketika Hoa Hek-kin menggangsir keatas lagi dan menerobos kedalam rumah, ia lihat Toan Ki sedang memegang tangan orang diluar rumah dengan kentjang, wadjahnja tampak sangat aneh.
Sudah tentu tak terpikir oleh Hek-kin bahwa tangan jang mendjulur dari luar rumah itu adalah tangannja Boh-tin Hwesio, sebaliknja ia menjangka sebagai tangannja Yan-king Thaytju, maka ia tidak berani mengadjak bitjara pada Toan Ki, hanja pelahan2 ia tepuk bahu pemuda itu.
Tak terduga olehnja, begitu tangannja menjentuh badannja Toan Ki, seketika tubuh sendiri tergetar seperti menjenggol besi bakaran panasnja.
Ia mendjadi kuatir pula ketika melihat kedua mata pemuda itu merah membara, maka sekuatnja ia bermaksud membantu menarik Toan Ki terlepas dari genggaman tangan orang diluar itu, untuk kemudian melarikan diri melalui lorong dibawah tanah jang digalinja itu.
Siapa sangka, begitu tangannja memegang tangan Toan Ki, seketika hawa murni dalam tubuh Hoa Hek-kin se-akan2 kabur keluar, saking kagetnja sampai ia mendjerit.
Pah Thian-sik dan Hoan Hua adalah orang2 sangat tjerdik, begitu melihat gelagat sang kawan kurang beres, tjepat merekapun melompat keatas untuk menarik Hoa Hek-kin dan dibetot sekuatnja.
Dan berkat tenaga gabungan ketiga orang itulah dapat Hoa Hek-kin terlepas dari sedotan Tju-hap-sin-kang jang lihay itu.
Untunglah tenaga dalam ketiga tokoh pilihan dari Tayli itu djauh lebih tinggi daripada Boh-tin berenam, pula dapat bertindak tjepat sebelum kasip.
Namun demikian, toh mereka sudah kaget luar biasa hingga mandi keringat dingin.
Pikir mereka.
Ilmu sihir Yan-king Thaytju ini sungguh sangat lihay.
~ Dan karena itu mereka tidak berani menjentuh badannja Toan Ki lagi.
Dan pada saat itu djuga diluar terdengar suara ramai2 datangnja rombongan Po-ting-te, lalu Tjiong Ban-siu sedang me-njindir2 dengan terbahak2.
Tabiat Hoan Hua sangat djenaka dan banjak akal, tiba2 pikirannja tergerak.
Tjiong Ban-siu ini benar2 djahat, biar kita bergurau padanja agar dia malu sendiri.
Terus sadja mereka mentjopot badju luarnja Tjiong Ling untuk dipakai Bok Wan-djing, lalu mereka seret Bok Wan-djing kedalam lorong serta menutup kembali lantai batu jang mereka gali itu hingga tidak kentara sesuatu jang mentjurigakan.
Begitulah setelah Toan Ki telah keluar dari rumah batu itu, oleh karena hawa murni dari Boh-tin berenam tak dapat dihimpunnja kedalam perut untuk didjalankan menurut keinginannja, maka enam arus hawa murni jang sangat kuat itu masih terus bergolak dalam tubuh hingga isi perutnja se-akan2 diterdjang djungkir balik, ia mendjadi sempojongan tak bisa berdiri tegak.
Melihat itu, Po-ting-te menjangka sang keponakan sedang dirangsang ratjun djahat, tjepat ia tutuk ketiga Hiat-to penting Djin-tiong, Thay-yang dan Leng-tay-hiat dibadan pemuda itu, walaupun hawa murni itu masih belum bisa disalurkan ketempat jang semestinja, namun pikiran Toan Ki mendjadi rada djernih, ia sudah bisa bitjara dengan terang.
Pekhu, aku telah kena ratjun Im-yang-ho-hap-san.
Po-ting-te merasa lega keselamatan Toan Ki tidak berbahaja, tapi segera teringat olehnja pertandingan diantara Ui-bi-tjeng dan Yan-king Thaytju sedang mentjapai klimaksnja, maka ia tak bisa mengurus Toan Ki lebih djauh, tapi terus mendekati Ui-bi-tjeng untuk mengikuti pertandingan otak dan Lwekang dari kedua orang itu.
Ia lihat djidat Ui-bi-tjeng penuh keringat berbutir sebesar kedelai, sebaliknja Yan-king Thaytju tampak tenang2 sadja seperti tidak merasakan apa2.
Terang kekuatan kedua pihak itu sudah kentara njata, mati-hidupnja Ui-bi-tjeng tergantung dalam sekedjapan itu sadja.
Dalam pada itu karena pikiran Toan Ki sudah djernih kembali, iapun memperhatikan lagi situasi pertjaturan kedua orang itu.
Ia lihat djalan mundur Ui-bi-tjeng itu sudah buntu, pabila Yan-king Thaytju mendesak madju lagi satu bidji, maka Ui-bi-tjeng pasti akan menjerah kalah.
Benar djuga, ia lihat tongkat bambu Yan-king Thaytju itu sedang diangkat dan akan menggores diatas batu pula, tempat jang ditudju itu tepat adalah langkah jang mematikan lawannja, karuan Toan Ki berkuatir, pikirnja.
Biar aku mengatjaunja sekali ini!
~ Dan segera ia ulur tangannja untuk menahan udjung tongkat orang jang akan digoreskan itu.
Sungguh kedjut Yan-king Thaytju tak terkatakan ketika mendadak merasa tongkatnja tertahan sesuatu, berbareng lengannja tergetar dan tenaga murninja se-akan2 membandjir keluar tak tertahankan.
Waktu ia lirik, ia lihat Toan Ki sedang menahan tongkatnja itu dengan dua djarinja.
Karuan ia tambah kaget dan heran.
Tempo hari waktu menangkap botjah ini, terang sedikitpun dia tak bisa ilmu silat, paling2 tjuma pandai berkelit dengan gerak langkahnja jang aneh, mengapa dalam waktu tjuma beberapa hari mendadak ia bisa menggunakan ilmu sihir untuk menjedot tenaga murni orang seperti ini?
Apa barangkali tempo hari ia sengadja pura2 bodoh dan baru sekarang turun tangan?
Sedangkan Toan Ki sendiri tidak tahu bahwa sesudah makan dua ekor katak merah itu, dalam tubuhnja telah timbul sematjam Tju-hap-sin-kang jang mempunjai daja isap luar biasa lihaynja, tentu sadja Yan-king Thaytju lebih2 tidak mengerti mengapa botjah masih hidjau itu se-konjong2 mendjadi sedemikian saktinja.
Segera ia tarik napas dalam2, ia kerahkan tenaga dalam sekuatnja dan disalurkan ketongkatnja, sekali puntir dan betot, seketika terlepaslah tongkat itu dari djari tangannja Toan Ki.
Hendaklah diketahui bahwa Lwekang tokoh utama Su-ok itu tinggi sekali, djarang ada bandingannja didjaman ini.
Toan Ki sendiri meski badannja terhimpun tenaga murni dari Boh-tam berenam jang disedotnja itu, namun dia tak bisa menggunakannja, sedikitpun ia tak bisa mengerahkan tenaga itu, dengan sendirinja ia tergetar lepas dari puntiran tongkat lawan, segera ia merasa separoh badannja itu mendjadi kaku dan hampir djatuh pingsan, untung ia keburu memegang tepi papan batu besar itu hingga tidak sampai roboh.
Sebaliknja tenaga dalam jang dikerahkan Yan-king Thaytju itu saking besarnja hingga ada djuga sebagian jang tak keburu ditarik kembali lagi, dalam terkedjutnja, tanpa sengadja tongkatnja lantas mendelong kebawah dan mentjoret diatas batu.
Tjepat Yan-king Thaytju sadar djuga dan mengeluh, namun sudah ketelandjur, tongkatnja telah mentjoret setengah lingkaran diatas peta tjatur, tjuma bukan tempat jang ditudjunja semula, tapi djatuh disisinja.
Mestinja akan bikin buntu djalan lawan, sekarang berbalik djalan sendiri jang tertutup buntu.
Seketika wadjah Yan-king Thaytju berubah.
Sebagai seorang tokoh jang mendjaga gengsi, meski tahu sekali salah langkah, itu berarti kekalahan total baginja, namun Yan-king Thaytju tidak mau ribut dengan Ui-bi-tjeng, segera ia berbangkit sebagai tanda menjerah kalah.
Tapi kedua tangannja masih menahan diatas papan batu itu sambil memperhatikan papan tjatur itu hingga lama sekali.
Sebagian besar diantara hadirin itu belum pernah kenal siapa tokoh Djing-bau-khek ini, melihat sikapnja jang aneh itu, semua orang ikut memperhatikan djuga apa jang sedang dilakukannja.
Ternjata lama Yan-king Thaytju memandangi papan tjatur, mendadak ia angkat tongkatnja, tanpa berkata lagi ia putar tubuh dan melangkah pergi dengan tongkatnja jang pandjang dan tindakan jang lebar pula mirip orang main djangkungan sadja.
Pada saat lain, tiba2 ada angin meniup, papan batu tadi tampak bergojang sedikit, se-konjong2 batu besar itu petjah berantakan mendjadi belasan potong.
Karuan semua orang ternganga dan saling pandang dengan kesima, sungguh tak terpikir oleh mereka bahwa Djing-bau-khek jang tidak mirip manusia dan tidak memper setan itu, ilmu silatnja ternjata sudah mentjapai tarap jang susah diukur itu.
Ui-bi-tjeng sendiri meskipun sudah menangkan babak pertjaturan itu, namun dia masih duduk tepekur ditempatnja dengan rasa sjukur dan bingung pula.
Sjukur karena pertandingan jang berbahaja itu achirnja telah dimenangkan olehnja, tapi bingung pula mengapa Yan-king Thaytju jang sudah terang memegang kuntji kemenangan itu mendadak bisa menjumbat djalan hidup sendiri, bukankah itu sengadja mengalah?
Tapi dalam keadaan demikian, toh tidak masuk akal bahwa orang sudi mengalah padanja?
Po-ting-te dan Toan Tjing-sun djuga merasa tidak mengerti oleh kedjadian itu.
Akan tetapi mereka tidak ambil pusing lebih djauh, jang terang sekarang Toan Ki sudah diselamatkan dan Yan-king Thaytju sudah dikalahkan dan sudah pergi, nama baik keluarga Toan telah dipertahankan, pertarungan ini boleh dikata telah menang total.
Maka segera Toan Tjing-sun meng-olok2 lagi dengan tertawa.
Tjiong-koktju, puteraku pasti bukan manusia jang tipis budi, sekali puterimu sudah mendjadi selir puteraku, dalam waktu singkat tentu akan kami kirim orang untuk memapahnja dan kami sekeluarga pasti akan menjambut baik2 dan sajang padanja seperti anak sendiri, harap engkau djangan kuatirkan urusan ini.
Tjiong Ban-siu adalah seorang kasar, djiwanja sempit dan berangasan, karena tak tahan di-olok2 dan disindir Toan Tjing-sun, ia mendjadi naik darah lagi, tanpa tanja apakah Tjiong Ling benar2 telah dinodai Toan Ki atau tidak, terus sadja ia tjabut golok dari pinggangnja dan membatjok keatas kepala Tjiong Ling sambil membentak.
Kau bikin aku mati gusar sadja, biarlah kumampuskan kau budak hina-dina ini lebih dulu!
Se-konjong2 sesosok bajangan orang melajang tiba dan dengan tjepat luar biasa Tjiong Ling telah dirangkul terus dibawa kabur beberapa tombak djauhnja.
Tjrat, golok Ban-siu membatjok diatas tanah dan ketika menegasi orang jang menjamber Tjiong Ling itu, kiranja adalah Kiong-hiong-kek-ok In Tiong-ho.
Kau...
kau mau apa?
bentak Ban-siu dengan gusar.
Kau sudah tak mau pada puterimu ini, maka hadiahkan sadja padaku dan anggaplah dia sudah mati kau batjok barusan, sahut In Tiong-ho dengan tjengar-tjengir, berbareng itu orangnja lantas melesat pergi lagi beberapa tombak djauhnja.
Ia tahu bitjara tentang ilmu silat, djangankan dirinja tak mampu menandingi Po-ting-te dan Ui-bi-tjeng, sekalipun Toan Tjing-sun atau Ko Sing-thay djuga sudah lebih unggul daripadanja.
Karena itu in Tiong-ho telah ambil keputusan, bila gelagat djelek, segera Tjiong Ling akan digondolnja lari.
Pah Thian-sin jang diseganinja itu tidak nampak hadir disitu, maka dalam hal Ginkang, terang tiada seorangpun diantara hadirin itu jang mampu mengedjarnja.
Tjiong Ban-siu djuga tahu Ginkang tokoh keempat dari Su-ok itu sangat lihay, untuk mengedjar terang tak mampu, saking gemasnja ia tjuma bisa berdjingkrak sambil memaki kalang-kabut.
Po-ting-te tempo hari sidah menjaksikan In Tiong-ho itu main udak2an dengan Pah Thian-sik, kini melihat orang menggondol Tjiong Ling dan larinja masih begitu tjepat dan enteng, terpaksa iapun takbisa berbuat apa2.
Tiba2 timbul suatu akal dalam benak Toan Ki, segera ia berseru.
?Gak-losam, sebagai gurumu, aku memerintahkan kau lekas merebut kembali nona tjilik itu??
Lam-hay-gok-sin tertjengang sekedjap, tapi segera mendjadi gusar dan membentak.
?Keparat, apa katamu??
?Kau telah menjembah aku sebagai guru, apakah kau berani menjangkal??
sahut Toan Ki.
?Emangnja apa jang sudah kau katakan sendiri kau anggap seperti orang kentut sadja??
Seperti diketahui, biarpun Lam-hay-gok-sin itu sangat djatah dan buas, tapi ada suatu sifatnja jang terpudji, jaitu apa jang pernah dia djandji atau katakan, tidak pernah ia mungkir dan pasti ditepati.
Ia mengangkat guru pada Toan Ki, meski hal ini seribu kali hatinja tidak rela, tapi ia djuga tidak menjangkal, maka dengan mendelik gusar ia membentak pula.
?Apa jang telah kukatakan sudah tentu tetap berlaku.
Kau adalah guruku, lantas mau apa?
Hm, djika Lotju sudah geregetan, guru matjammu sekalian kubunuh sadja.?
?baiklah djika kau sudah mengaku,?
udjar Toan Ki.
?Sekarang nona Tjiong itu digondol sidjahat keempat itu, nona itu adalah isteriku, djadi ibu gurumu pula, maka lekas kau merebutnja kembali.
Kalau In Tiong-ho menghina nona itu, sama artinja menghina ibu gurumu, djika katu tak mampu membelanja, bukankah kau terlalu memalukan, terlalu pengetjut??
Lam-hay-gok-sin tertjengang sedjenak, ia pikir benar djuga teguran sang ?guru?
itu.
Tapi lantas teringat olehnja bahwa Bok Wan-djing djuga mengaku sebagai isterinja, kenapa nona tjilik she Tjiong ini diaku isterinja pula?
Segera ia tanja.
?Kenapa begitu banjak ibu-guruku?
Sebenarnja kau mempunjai berapa orang isteri??
?Tak perlu kau tanja,?
sahut Toan Ki.
?Jang penting, lekaslah kau melaksanakan perintahku, bila tidak dapat merebut kembali ibu-gurumu itu, berarti kau tiada muka buat bertemu lagi dengan kesatria2 didjagat ini, sekian orang gagah disini telah menjaksikan semua, kalau kau tak mampu menangkan In Tiong-ho, jang terhitung nomor empat dari Su-ok itu, wah, biarlah pangkatmu diturunkan mendjadi orang djahat nomor lima.
Ja, boleh djadi nomor enam malah!?
Mana Lam-hay-gok-sin sudi terima mentah2 olok2 demikian itu?
Suruh dia dibawah namanja In Tiong-ho, hal ini baginja lebih tjelaka daripada mati.
Karena itu, terus sadja ia menggerung keras2 sambil berlari mengudak kearah In Tiong-ho dan membentak.
?Lepaskan ibu-guruku itu!?
Tjepat In Tiong-ho melajang beberapa tombak pula kedepan sambil berseru.
?Gak-losam, benar2 tolol kau, ditipu orang masakah tidak tahu!?
Keruan amarah Lam-hay-gok-sin semakin berkobar, biasanja ia paling suka mengaku dirinja paling pintar, masakan dihadapan orang sekian banjak ditjemooh sebagai orang tolol?
Segera ia tantjap gas lebih kentjang untuk mengedjar.
Maka dengan tjepat kedua orang jang saling uber itu sudah melintasi beberapa lereng bukit.
Tjiong Ban-siu jang kehilangan anak perempuan itu, meski dalam kalapnja tadi puterinja itu hendak dibatjok mati, tapi kini demi digondol lari orang djahat, betapapun soal hubungan darah-daging, apalagi nanti kalau ditanja sang isteri, bagaimana dia harus memberi tanggung-djawab?
Maka tanpa pikir lagi iapun ikut mengedjar dengan golok terhunus.
Melihat pelaku utamanja sudah pergi, segera Po-ting-te memberi hormat kepada para kesatria jang hadir itu, katanja.
?Mumpung para hadirin kebetulan berkundjung ke Tayli sini, marilah silahkan mampir ketempat kami agar Tjayhe dapat sekedar memenuhi kewadjiban sebagai tuan rumah.?
Hui-sian dan lain2 memang berminat untuk berkenalan dengan Toan Tjing-beng, radja Tayli jang terkenal sebagai ?orang utama didunia selatan,?
maka demi diundang setjara ramah, mereka lantas menerima baik undangan itu dengan tertawa.
Hanja Yap Dji-nio jang berkata dengan tersenjum.
?Njonjamu ini kuatir kalau disembelih kalian untuk dimakan, maka lebih baik aku angkat langkah seribu sadja lebih selamat!?
~ Habis berkata, tanpa pamit lagi ia lantas menggelojor pergi dengan ter-senjum2.
Po-ting-te pun tidak merintangi kepergian tokoh kedua dari Su-ok itu, ia adjak para tamu meninggalkan Ban-djiat-kok dan pulang ke Tayli.
Boh-tam beranam sudah terlalu pajah dan lemas, untuk berdiri sadja tak sanggup, maka Leng Djian-li dan kawan2nja lantas menaikan mereka keatas kuda dan be-ramai2 kembali ke Tin-lam-ong-hu.
Sementara itu Pah Thian-sik bertiga sudah menunggu disitu, mereka lantas menjambut keluar bersama seorang gadis djelita jang berdandan mewah, siapa lagi dia kalau bukan Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing!
Dalam pada itu Toan Ki jang sedjak minum ?Im-yang-ho-hap-san,?
ratjun jang masih mengeram dalam tubuh itu belum lagi dilenjapkan.
Kini mendadak melihat Bok Wan-djing, tanpa kuasa lagi ia pentang kedua tangan terus berlari madju hendak peluk gadis itu.
Sjukurlah, betapapun chilapnja, dalam benaknja masih tetap timbul setitik pikiran djernihnja, ketika mendadak sadar perbuatannja jang tidak pantas itu, seketika ia dapat menahan diri dan berdiri terpaku ditempatnja.
Ternjata Im-yang-ho-hap-san itu bukan sadja sangat lihay karena bekerdjanja ratjun itu sangat awet, tahan lama, bahkan kedua pihak ~ laki2 dan perempuan ~ jang minum ratjun itu saling menimbulkan daja tarik jang sangat kuat.
Mendingan kalau kedua pihak dipisahkan, tapi bila ketemu kembali, seketika pikiran kedua orang akan kabur lagi tenggelam dalam perasaan2 jang tidak senonoh hingga susah mengekang diri.
Melihat sikap kedua muda-mudi itu agak kurang beres, pipi mereka merah membara, begitu pula mata mereka se-akan2 berapi, terang keratjunan sangat hebat.
Tjepat Po-ting-te bertindak, ?tjus-tjus?
dua kali, ia menutuk dari djauh dan seketika Toan Ki dan Wan-djing ditutuk roboh pingsan.
Segera Tju Tan-sin mengangkat Toan Ki dan Si Pek-hong memondong Wan-djing kedalam kamar.
Kemudian para tamu lantas disilahkan masuk kedalam istana itu dan diadakan perdjamuan setjara meriah.
Karena Siau-lim-si dipandang sebagai bintang tjemerlang dalam dunia persilatan, maka Hui-sian Hwesio disilahkan menduduki tempat tamu pertama oleh para kesatria itu.
Dalam perdjamuan itu Hoan Hua lalu mentjeritakan hasil karja mereka jang telah menggali lorong dibawah tanah hingga menembus kedalam rumah batu tempat Toan Ki dikurung serta menaruh Tjiong Ling jang mereka tawan didalam rumah itu.
Sudah tentu ia tidak mentjeritakan tentang Bok Wan-djing jang ditolong keluar sebagai gantinja Tjiong Ling.
Mendengar itu, para kesatria baru tahu duduknja perkara serta mentertawakan Tjiong Ban-siu jang sial itu, ingin bikin malu orang, siapa duga sendjata telah makan tuan malah.
Dan oleh karena putera kesajangannja masih keratjunan, Tjing-sun mendjadi murung dan tjoba tanja apakah sekiranja diantara hadirin itu ada jang bisa menolong.
Namun para kesatria itu hanja saling pandang dengan bingung takbisa berbuat apa2.
Pada saat itulah, dari luar masuk seorang pengawal dan menjerahkan seputjuk surat kepada Toan Tjing-sun, katanja jang membawakan surat itu adalah seorang dajang perempuan, didalam sampul itu katanja ada pula resep obat untuk menjembuhkan putera pangeran jang keratjunan itu.
Sungguh kedjut dan girang Tjing-sun tak terkatakan, tjepat ia membuka sampul surat itu dan melihat diatas setjarik kertas surat ketjil jang putih bersih itu tertulis enam huruf ketjil jang indah.
?Banjak minum susu manusia segera sembuh.?
Tjing-sun mengenali tulisan itu adalah buah tangan Tjiong-hudjin, saking guntjang perasaannja, tanpa merasa setjawan arak diatas medja telah tersampar tumplek oleh lengan badjunja.
?Sun-te, resep apakah itu??tanja Po-ting-te.
Tjing-sun tertegun, djawabnja dengan tergagap2.
?Apa?
O, kata resep ini, banjak minum susu manusia, Ki-dji bisa segera sembuh.?
Po-ting-te mengangguk, katanja.
?Tiada halangannja untuk segera ditjoba.
Banjak minum susu manusia, sekalipun tidak mandjur, tentu djuga tidak berbahaja.?
Segera Si Pek-hong berbangkit dan masuk kedalam istana untuk memberi peritnah pada para abdi-dalam agar lekas2 pergi meminta susu manusia pada para ibu jang meneteki.
Para pesuruh itu memang sangat tjekatan, pula susu manusia djuga bukan barang jang susah ditjari, maka belum lagi perdjamuan bubar, Toan ki dan Bok Wan-djing sudah sadar kembali dari keratjunan mereka serta keluar keruangan depan untuk menemui para tamu.
Toan Ki menghaturkan terima kasihnja kepada Ui-bi-tjeng dan Hoa Hek-kin jang telah menjelamatkan djiwanja itu.
Ia menjatakan penjesalannja pula akan terlukanja Boh-tam berenam.
Tatkala itu keenam murid Ui-bi-tjeng itu masih sangat pajah dan belum dapat bitjara, maka tjara bagaimana mereka mendjadi begitu, bukan sadja Ui-bi-tjeng tidak tahu duduknja perkara, bahkan Toan Ki djuga tidak mengarti kalau dirinja jang mendjadi gara2 atas malapetaka jang menimpa murid2 paderi beralis kuning itu.
Kemudian Toan Tjing-sun mengumumkan djuga bahwa Bok Wan-djing adalah puteri angkatnja.
Dalam keadaan begitu, meski Tjin Goan-tjun, Hui-sian dan lain2 saling bermusuhan dengan gadis wangi itu, namun kini mereka mendjadi tidak enak untuk bikin onar disitu.
Apalagi dihadapan empat tokoh maha sakti seperti Po-ting-te, ui-bi-tjeng, Toan Tjing-sun dan Ko Sing-thay, betapapun besar njali mereka djuga tiada seorangpun jang berani berkutik.
Ditengah perdjamuan itu, para hadirin ramai mengobrol ketimur dan kebarat, kemudian sama menghaturkan selamat pula kepada Toan Tjing-sun suami-isteri dan Ko Sing-thay karena kedua keluarga itu telah berbesanan.
Seketika suasana tambah semarak dan ramai2 sama mengadjak angkat tjawan.
Bok Wan-djing tjoba melirik Toan ki, ia lihat pemuda itu menunduk dengan lesu, tanpa terasa teringat olehnja waktu berduaan tinggal bersama didalam rumah batu itu, maka iapun ikut muram durdja.
Ia insaf selama hidupnja ini terang tiada harapan untuk mendjadi isterinja Toan Ki, tapi demi mendengar pemuda itu sudah melamar puterinja Ko Sing-thay sebagai isteri, tentu sadja ia pun berduka dan hantjur perasaannja.
Semakin memandang Ko Sing-thay, semakin gemas hatinja, sungguh ia ingin sekali panah binasakan orang itu sebagai hukumannja mengapa melahirkan seorang anak perempuan untuk diperisteri oleh kekasihnja itu?
Tjuma ia tahu kepandaian Ko Sing-thay terlalu lihay, untuk memanahnja tidaklah mudah, maka panah jang sudah disiapkan dalam lengan badju itu tidak lantas dibidikan.
Ia lihat suasana perdjamuan itu semakin memuntjak riang gembiranja, ia kuatir saking tak tahan dirinja bisa menangis seketika, hal mana tentu akan ditertawai orang, maka segera ia berbangkit dan menjatakan kepalanja pusing, ingin kembali kamar sadja.
Habis itu, tanpa permisi lagi pada Toan Tjing-sun dan Po-ting-te, ia terus tinggal masuk kedalam dengan tjepat.
Dengan tersenjum Tjing-sun meminta maaf kepada para hadirin atas kelakuan puterinja jang kurang adat itu.
Tiba2 datang ber-gegas2 seorang pendjaga dan menjampaikan setjarik kartu nama kepada Tjing-sun serta melapor.
?Ko Gan-tji, Ko-siauya dari Hou-tjut-koan mohon bertemu dengan Ongya.?
Sungguh diluar dugaan Toan Tjing-sun atas kundjungan tamu jang tak diundang itu.
Ia tahu ko Gan-tji itu adalah murid pertama dari Kwa Pek-hwe dari Ko-san-pay, dikalangan kangouw tjukup harum namanja sebagai pendekar jang budiman, djulukannja adalah ?Tui-hun-djiu?
atau sitangan penguber njawa.
Konon ilmu silatnja sangat hebat, tapi selamanja tiada hubungan apa2 dengan keluarga Toan, lantas untuk keperluan apa djauh2 dia datang kemari mentjari padaku?
Walaupun agak sangsi, namun Tjing-sun berbangkit djuga dan berkata.
?Kiranja Tui-hun-djiu Ko-tayhiap jang datang, aku harus menjambutnja sendiri.?
Para kesatria jang hadir disitu djuga pernah mendengar namanja Ko Gan-tji, diantaranja Hui-sian dan Kim Tay-peng malah sudah kenal, maka beramai2 mereka lantas ikut menjambut keluar.
Hanja Po-ting-te, Ui-bi-tjeng, Tjo Tju-bok dan Tjin Goan-tjun jang tetap duduk ditempat masing2.
Kalau Po-ting-te dan ui-bi-tjeng tidak keluar menjambut adalah karena mengingat kedudukan mereka dikalangan Bu-lim memang lebih tinggi dari orang lain, sebaliknja Tjo Tju-bok dan Tjin Goan-tjun berdua sengadja berlaku angkuh, anggap diri sendiri adalah tokoh utama dari sesuatu aliran tersendiri.
Ko Gan-tji dipandang mereka masih lebih rendah setingkat, betapapun tenar namanja Ko Gan-tji djuga masih mempunjai seorang guru, jaitu Kwa Pek-whe.
Ketika Toan Tjing-sun sampai diluar, ia lihat seorang laki2 setengah umur jang berperawakan tinggi besar sambil menuntun seekor kuda putih jang gagah sedang menunggu didepan pintu.
Laki2 itu memakai badju berkabung, wadjahnja muram, kedua matanja merah bendul, terang sedang ditimpa kemalangan kematian sanak-keluarganja.
Melihat orang itu, segera Kim Tay-peng melangkah madju dan menjapa.
?Ko-toako, baik2kah engkau!?
Kiranja laki2 memakai badju berkabung inilah Ko gan-tji.
Maka djawabnja.
?Kiranja Kim-hiante djuga berada disini.?
?Atas kundjungan Ko-tayhiap, maafkan kalau Siaute tidak menjambut lebih dulu,?
demikian Tjing-sun lantas memberi hormat.
Tjepat Ko Gan-tji membalas hormat sambil merendahkan diri, diam2 ia harus mengagumi keluarga Toan di Tayli jang tersohor bidjaksana itu, njatanja memang bukan omong kosong.
Dan sesudah saling mengutjapkan kata2 saling kagum pula, lalu Tjing-sun membawa tamunja kedalam serta diperkenalkan kepada Po-ting-te dan lain2.
Segera Tjing-sun memerintahkan pelajan menjediakan pula satu medja untuk mendjamu Ko Gan-tji.
Namun Gan-tji menolak, katanja.
?Tjayhe masih berkabung, pula ada urusan penting lain, tjukup menerima suguhan setjangkir teh sadja!?
~ Habis itu, ia terus meneguk habis setjangkir teh jg telah disediakan, lalu katanja pula.
?Ongya, sudah lama Susiokku mondok didalam istana sini, untuk mana Tjayhe merasa sangat terima kasih.
Kini Tjayhe ada sesuatu urusan hendak bitjara dengan beliau, sudilah Ongya mengundangnja keluar.?
?Susiok dari ko-heng??
Tjing-sun menegas dengan heran.
Dalam hati ia merasa tidak habis mengerti masakan didalam istananja ada seorang tokoh Ko-san-pay segala?
Namun Ko Gan-tji berkata pula.
?Susiokku itu suka ganti nama dan mondok disini sekedar menghindari bahaja, hal mana mungkin tak berani dikatakan terus terang pada Ongya, sungguh suatu perbuatan jang tidak pantas, maka harap Ongya jang bidjaksana sukalah memberi maaf.?
~ Berbareng ia terus memberi hormat lagi.
Sambil membalas hormat orang, diam2 Tjing-sun sedang memikir dan sesungguhnja ia tidak ingat siapakah gerangan Susiok orang jang dimaksudkan itu?
Tiba2 Ko Sing-thay berkata kepada seorang pesuruh disampingnja.
?Tjoba pergilah kau kekamar tulis, undanglah Ho-siansing kemari, katakan bahwa Tui-hun-djiu Ko-tayhiap sedang menunggu, ada urusan penting jang perlu dibitjarakan kepada ?Kim-sui-poa?
Tjui-lotjianpwe!?
Pesuruh itu mengia dan selagi hendak bertindak masuk, tiba2 sudah terdengar dari ruangan belakang ada suara tindakan orang jang berkelotakan, dengan langkah jang setengah diseret, orang itu lagi berkata.
?Sekali ini kau benar2 telah hantjurkan periuk nasiku ini.?
Tengah mereka heran, tertampaklah seorang kakek jang berwadjah djelek dan berkumis tikus sedang keluar dari belakang dengan ketawa2.
Setiap orang dalam istana kenal H0-siansing adalah djurutulis rendahan merangkap pekerdjaan2 serabutan, jaitu djurutulis jang tempo hari diseret keluar oleh Toan Ki dan diaku sebagai gurunja untuk menggoda Lam-hay-gok-sin itu.
Keruan Toan Tjing-sun terkedjut, pikirnja.
?Apakah benar2 Ho-siansing inilah Tjui Pek-khe jang dimaksudkan?
Kemanakah mukaku ini harus ditaruh bahwa seorang tokoh terkenal setiap hari berada dihadapanku, tapi aku tak mengetahuinja sama sekali.?
~ Sjukurlah dengan segera Ko Sing-thay telah dapat membuka rahasia itu hingga para hadirin mengira Tin-lam-ong-hu sudah lama mengetahui beradanja tokoh Ko-san-pay itu, maka Toan Tjing-sun tidak sampai kehilangan muka.
Ho-siansing itu masih tetap lutju tampaknja, setengah mabuk setengah sadar dengan matanja jang kerijep2.
Tapi demi nampak pakaian berkabung Ko Gan-tji, ia mendjadi kaget dan menanja.
?Ken???????
kenapakah kau??
Terus sadja Ko Gan-tji melangkah madju dan mendjura kehadapan sang Susiok sambil menangis, katanja.
?Tjiu-susiok, Su???
Suhuku telah dibin??..
dibinasakan orang.?
Seketika wadjah Ho-siansing itu berubah hebat, muka jang ketawa2 tadi kontan berubah muram dan waswas.
Tanjanja kemudian dengan pelahan.
?Siapakah pembunuhnja??
?Titdji tidak betjus, sampai sekarang belum mengetahui dengan pasti siapa musuh pembunuh Suhu itu,?
demikian tutur Gan-tji dengan menangis.
?Tapi menurut taksiran, besar kemungkinan adalah orang dari keluarga Bujung.?
Sekilas wadjah H0-siansing itu mengundjuk rasa djeri demi mendengar nama itu, namun ia tjepat bisa tenangkan diri dan berkata pula dengan suara berat.
?Urusan ini harus kita bitjarakan setjara mendalam.?
Semua orang merasa heran melihat sikap Tjui Pek-khe itu.
Mereka tjukup kenal nama2 Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji, namun paling achir ini Gan-tji djauh lebih tenar daripada nama sang Susiok.
Dan tentang kelihayan keluarga Bujung jang di-sebut2 itu, mereka sama sekali tidak tahu.
Hanja Po-ting-te dan Ui-bi-tjeng telah saling pandang sekedjap, bahkan pelahan2 Ui-bi-tjeng menghela napas sekali.
Betapa telitinja Tjui Pek-khe itu, ternjata sedikit menghela napas dari Ui-bi-tjeng itu lantas diketahui olehnja.
Dengan sangat hormat tiba2 ia memberi hormat kepada paderi itu dan berkata.
?Dunia Kangouw bakal terantjam mkalapetaka, Taysu maha welas-asih, sudilah memberi petundjuk djalan jang sempurna.?
Tjepat Ui-bi-tjeng membalas hormat orang, sahutnja.
?Siantjay, Lolap sudah lama mengasingkan diri dan tidak pernah ikut tjampur urusan2 Bu-lim di Tionggoan.
Padahal tokoh sakti seperti Tjui-sitju ternjata sudah sekian tahun tinggal didalam Tin-lam-ong-hu, sedangkan Lolap sama sekali tidak mengetahuinja, darimana aku berani bitjara tentang urusan Kangouw lagi??
Tjui pek-khe nampak lemas dan sedih oleh djawaban itu, katanja kepada Gan-tji.
?Ko-hiantit, tjara bagaimana tewasnja Suhengku, tjobalah kau uraikan dengan djelas dari awal sampai achir.?
?Sakit hati terbunuhnja guru senantiasa mengganggu pikiran Siautit, satu hari sakit hati itu tak terbalas, satu hari pula Siautit akan merasa tidak enak makan dan tidur.
Maka mohon Susiok sekarang djuga sukalah berangkat, biarlah ditengah djalan nanti Siautit akan menuturkan setjara djelas demi untuk menghemat waktu,?
demikian sahut Ko Gan-tji.
Melihat sikap sang Sutit jang ragu2 itu, Tjui Pek-khe tahu pasti Gan-tji merasa tidak leluasa untuk bitjara terus terang karena terlalu banjak hadirin disitu.
Namun dalam hati ia sudah ambil keputusan.
?Telah sekian lamanja aku mondok didalam istana pengeran ini tanpa ketahuan djedjakku, siapa duga Ko-houya ini sebenarnja sudah lama mengetahui samaranku.
Djikalau aku tidak meminta maaf pada Toan-ongya, itu berarti aku telah berbuat kurang adjar pada keluarga Toan.
Apalagi aku masih perlu membalas sakit hati Suheng terhadap keluarga Bujung, untuk mana melulu tenagaku seorang terang takkan berhasil, tapi kalau bisa mendapat bantuan dari keluarga Toan ini, pasti kekuatan pihakku akan berbeda, untuk ini aku tidak boleh berlaku semberono.?
Karena pikiran itu, mendadak ia mendjura kehadapan Toan Tjing-sun sambil menggerung2 menangis.
Hal mana tentu sadja diluar dugaan semoa orang.
Tjepat Tjing-sun hendak membangunkan orang.
Tak terduga tubuh Tjui Pek-khe ternjata takbisa ditarik naik, sebaliknja seperti terpaku dilantai, sedikitpun tidak bergeming.
Diam2 Tjing-sun membatin.
?Bagus kau setan arak ini, begitu lihay kepandaianmu, tapi selama ini aku telah kau tipu.?
~ Segera ia kerahkan tenaga pada kedua tangannja dan diangkat keatas.
Pek-khe tidak bertahan lagi dengan Lwekangnja, tapi lantas berdiri mengikuti daja tarikan orang.
Namun baru sadja berdiri tegak, terasalah tulang seluruh tubuhnja se-akan2 retak, sakitnja tak terkatakan.
Ia tahu Toan Tjing-sun sengadja hendak menghadjarnja sebagai timpahan perbuatannja itu.
Dasarnja namanja adalah ?Pek-khe?
atau beratus akal, dan memang otaknja benar2 tjerdas.
Ia pikir bila mengerahkan tenaga untuk melawan, tentu rasa dongkol Tin-lam-ong itu akan selalu dipendam, boleh djadi malah akan mentjurigai dirinja sengadja menjelundup kedalam istana pengeran dengan muslihat tertentu.
Sebab itulah, ia antapi dirinja digentjet oleh tenaga dalam orang terus mendjatuhkan diri duduk kelantai sambil berseru.
?Aduh!?
Tjing-sun tersenjum puas dan menarik bangun orang, ketika tangan menempel tubuh Tjui Pek-khe, sekalian ia hapuskan rasa sesak dalam badan orang dengan Lweekangnja.
?Tin-lam-ongya,?
kata Pek-khe kemudian, ?karena didesak musuh, terpaksa pek-khe dengan tidak malu2 berlindung dibawah pengaruh Ongya dan beruntung dapat hidup sampai harini.
Untuk mana Pek-khe tidak pernah mengaku terus-terang pada Ongya, maka sangat mengharapkan kemurahan hati Ongya untuk memaafkan perbuatanku jang lantjang ini.?
?Ah, Tjui-heng suka merendah diri sadja,?
tiba2 Ko Sing-thay menjela sebelum Toan Tjing-sun mendjawab.
?Sudah lama Ongya mengetahui asal-usulmu, tjuma Ongya sengadja tidak mau bikin malu Tjui-heng.
Djangankan Ongya sudah tahu, orang2 lain djuga banjak jang tahu.
Misalnja tempo hari waktu Toan-kongtju menerima tantangan Lam-hay-gok-sin itu, bukankah Tjui-heng jang telah diseretnja keluar untuk diaku sebagai gurunja?
Sebab Toan-kongtju memang tahu, hanja Tjui-heng sadja jang mampu menandingi iblis itu.?
Padahal tempo hari hanja setjara kebetulan sadja Toan Ki telah menjeret keluar Tjui Pek-khe untuk diaku sebagai gurunja, sebab diantara penghuni istana itu, hanja wadjah Tjui Pek-khe jang paling djelek dan lutju, makanja diseret keluar untuk emnggoda Lam-hay-gok-sin.
Namun kini bagi pendengaran Tjui Pek-khe, kedjadian mana dapat dipertjajainja penuh seperti apa jang dikatakan Ko Sing-thay itu.
Lalu Sing-thay melandjutkan lagi.
?Dasarnja Ongya memang suka bergaul, djangankan Tjui-heng memang tiada maksud djahat terhadap negeri Tayli kami, sekalipun ada, tentu djuga Ongya jang bidjaksana ini akan melajani engkau dengan segala kebesaran djiwanja.
Maka tidak perlu Tjui-heng banjak adat lagi.?
~ Dibalik kata2nja ini se-akan2 hendak menjatakan bahwa sjukurlah selama ini kelakuanmu tidak mengundjukan sesuatu tanda mentjurigakan, kalau ada, tentu sudah lama kau dibereskan.
?Namun demikian, apa maksud Pek-khe berlindung didalam Onghu, pada sebelum aku mohon diri, sudah sepantasnja kudjelaskan dulu, kalau tidak, rasanja terlalu tidak djudjur,?
demikian kata Tjui Pek-khe.
?Tjuma urusan ini banjak pula menjangkut nama orang lain, maka Tjayhe terpaksa mesti bitjara setjara terus terang.?
?Ah, rasanja Tjui-heng tidak ter-gesa2, soal sakit hati adalah sangat penting, maka biarlah dirundingkan pelahan2 nanti setelah kita selesaikan perdjamuan ini,?
udjar Tjing-sun.
Mendengar pertjakapan itu, para hadirin adalah kesatria2 Kangouw jang kenal adat semua.
Maka tjepat2 mereka selesaikan makan-minum itu, lalu sama mohon diri.
Terhadap kawan2 sesama Kangouw, biasanja tangan Tjing-sun sangat terbuka, maka begitu para tamu hendak mohon diri, segera ada pelajan menjediakan hadiah2 dan Tjing-sun sendiri jang menjampaikan kepada masing2 tetamu itu.
Terhadap tamu2 dari djauh seperti Kim Tay-peng, Su An dan lain2 malah diberi bekal sangu pula.
Dengan tanpa rikuh2 para ksatria itu terus menerima djuga semua pemberian itu serta menghaturkan terima kasih pada tuan rumah.
Tengah bitjara, tiba2 diluar pintu terdengar suara sabda Budha jang njaring.
?O-mi-to-hud!?
Suara itu tidak keras, tapi terdengar sangat djelas seperti diutjapkan berhadapan sadja.
Karuan semua orang terkedjut.
Harus diketahui bahwa istana pengeran itu sangat luas, dari pintu gerbang sampai diruangan pendopo itu djaraknja ada berpuluh tombak djauhnja, ditengahnja banjak teraling pula oleh dinding dan pintu lain.
Maka dapat diduga bahwa ilmu ?Djian-li-thoan-im?
atau mengirim suara dari djarak ribuan li, jang dimiliki orang diluar itu sesungguhnja sudah mentjapai tingkatan sangat tinggi.
Tjing-sun dapat mendengar bahwa ilmu mengirim suara dari djauh itu adalah dari aliran Siau-lim-pay, maka ia lantas menegur.
?Paderi sakti Siau-lim jang manakah telah sudi berkundjung kemari, maafkan kalau Toan Tjing-sun tidak menjambut sebelumnja!?
~ Sembari berkata, segera ia bertindak keluar untuk menjambut.
Sampai diluar, tertampaklah seorang Hwesio kurus kering, berusia antara 50-an, sedang berdiri disitu.
Melihat Tjing-sun, paderi itu lantas merangkap tangan memberi salam dan berkata.
?Phintjeng Hui-tjin dari Siau-lim-si memberi hormat pada Toan-ongya.?
Tengah Tjing-sun membalas hormat orang, dari belakang Hui-sian sudah menjusul tiba dan segera menegur dengan heran.
?He, Suheng, engkau djuga datang ke Tayli sini??
Melihat sang Sute, tiba2 mata Hui-tjin lantas merah memberambang, sahutnja dengan pedih.
?Sute, Suhu sudah wafat!?
Meski sudah mendjadi murid Budha, namun sifat Hui-sian masih mudah terguntjang, demi mendengar berita buruk itu, terus sadja ia berlari madju memegang tangan sang Suheng sambil menegas dengan suara gemetar.
?Bet??
betulkah katamu??
~ Dan belum lagi Hui-tjin mendjawab, air matanja sudah lantas ber-linang2.
?Tidak beruntung kami sedang dirundung malang,maka kami telah berlaku kurang adat dihadapan Ongya, hendaklah Ongya djangan mentertawai,?
demikian pinta Hui-tjin.
?Ah, kenapa Taysu berlaku sungkan2,?
tjepat Tjing-sun mendjawab.
Diam2 iapun membatin.
?Guru dari Hui-sian dan Hui-tjin ini adalah Hian-pi Taysu jang kabarnja sangat hebat ilmu silatnja, djika demikian, djago Siau-lim-pay jang terkemuka kini telah hilang satu lagi.?
Lalu terdengar Hui-sian menanja pula dengan suara parau.
?Sakit apakah Suhu hingga menewaskan beliau?
Bukankah selamanja kesehatan beliau sangat baik??
Melihat didepan istana itu ramai orang berlalu-lalang, banjak kesatria2 Bu-lim jang pergi-datang, maka Hui-tjin berkata pula.
?Ongya, Phintjeng diperintahkan Tjiangbun Supeh untuk menjampaikan surat kepada Ongya sendir serta Hongya (baginda radja).?
Habis berkata, ia lantas mengeluarkan satu buntalan kertas minjak, ia buka ber-lapis2 kertas itu dan akhirnja tampaklah seputjuk surat dengan sampul warna kuning dan segera diserahkan kepada Toan Tjing-sun.
?Kebetulan Hong-heng berada didalam sini, marikah Tjayhe memperkenalkan Taysu kepadanja,?
kata Tjing-sun.
Segera ia membawa Hui-tjin dan Hui-sian kedalam.
Tatkala itu Po-ting-te sudah undurkan diri dan sedang istirahat diruangan dalam sambil minum dan mengobrol dengan Ui-bi-tjeng.
Melihat datangnja Hui-tjin, segera mereka berbangkit untuk menjambut.
Setelah Tjing-sun menjerahkan sampul surat jang diterimanja tadi, Poting-te lantas membuka dan membatjanja.
Ia lihat awal surat ini penuh tertulis kalimat2 jang menjatakan kekaguman serta pudjian2 atas nama keluarga Toan mereka, kemudian ketika sampai pada soal pokok, surat itu menjatakan bahwa Bu-lim bakal tertimpa malapetaka, maka diharapkan tjampur tangan kedua saudara Toan itu demi menjelamatkan dunia persilatan umumnja, tentang hal2 jang lebih djelas supaja tanja kepada Hui-tjin jang membawa surat itu.
Penanda tangan surat itu adalah Tjiangbun Hong Tiang dari Siau-lim-si, Hian-tju.
Po-ting-te membatja habis surat itu sambil berdiri sebagai tanda hormat kepada Siau-lim-si.
Sedang Hui-tjin dan Hui-sian djuga ikut berdiri dengan laku sangat hormat disamping.
Kemudian Po-ting-te mulai berkata.
"Silahkan kedua Taysu duduk. Djika Siau-lim Hongtiang ada panggilan, sebagai sesama orang Bu-lim, asal dapat, tentu aku akan menurut dan berusaha sekuat tenaga."
Tiba2 Hui-tjin berlutut kehadapan Po-ting-te dan mendjura pula sambil menangis sedih sekali.
Melihat kelakuan sang Suheng itu, meski bingung, mau-tak-mau Hui-sian ikut berlutut djuga, tjuma tidak mendjura.
Melihat paderi Siau-lim-si itu mendjalankan penghormatan sebesar itu padanja, diam Po-ting-te merasa urusan agak gandjil, pikirnja.
"Djago Siau-lim-si banjaknja susah dihitung, urusan besar apakah jang takbisa diselesaikan mereka sendiri hingga perlu meminta bantuanku setjara sungguh2 begini?"
Segera iapun membangunkan Hui-tjin berdua dan berkata pula.
"Sesama kaum Bu-lim, aku tidak berani menerima penghormatan setinggi ini."
"Suhuku tewas sitangan orang she Bujung dari Kohsoh, melulu tenaga Siau-lim-pay kami rasanja susah membalas sakit hati itu, maka Hongya dimohon sudi tampil kemuka untuk memimpin situasi jang gawat dalam Bu-lim itu,"
Demikian pinta Hui-tjin dengan menangis. Kembali mendengar nama "Bujung"
Disebut, wadjah Po-ting-te rada berubah. Sebaliknja Hui-sian lantas berteriak sambil menangis.
"Djadi Suhu telah dibinasakan musuh itu, Suheng, marilah kita adu djiwa dengan mereka!"
"Sute", sahut Hui-tjin dengan menarik muka.
"dihadapan Hongya, hendaklah kau bisa berlaku tenang" . Perawakan Hui-tjin kurus ketjil, sebaliknja Hui-sian tinggi kekar, namun takut djuga dia terhadap sang Suheng, karena tjomelan itu, ia tidak berani buka suara lagi, tapi masih tetap ter-guguk2 menangis pelahan.
"Silahkan kalian duduk dulu untuk bitjara lebih landjut,"
Kata Po-ting-te kemudian.
"Lebih 20 tahun jang lalu, aku djuga pernah mendengar bahwa di Koh-soh ada seorang tokoh she Bujung, lengkapnja bernama Bujung Bok. Dia pernah mengatjau ke Siau-lim-si, apakah sekarang djuga orang itu jang berbuat?"
Dengan mengertak gigi saking gemasnja, Hui-tjin mendjawab.
"Siautjeng tjuma tahu musuh memang she Bujung, namanja apa, itulah kurang djelas."
"Siau-lim-pay adalah suatu aliran tertinggi dikalangan Bu-lim, didjagat ini siapa jang tidak tunduk pada nama kebesarannja, gurumu Hian-pi Taysu djuga sudah mentjapai puntjaknja melatih Lwekang dan Gwakang, sebagai seorang Tjut-kehlang (penganut agama), biasanja ia tidak pernah bermusuhan dengan orang, mengapa kini bisa dibunuh orang lain?"
Maka menuturlah Hui-tjin dengan air mata ber-linang2.
"Suatu hari, selagi Siautjeng duduk semadhi dikamar sendiri, tiba2 Siautjeng dipanggil Hongtiang Supeh, sampai disana, djenazah Suhu sudah tampak tertaruh disitu. Kata Supek djenazah Suhu itu diketemukan orang kampung dikaki gunung, karena dikenal sebagai paderi Siau-lim-si, segera ada jang mengirim kabar kegeredja, sebab itulah, tjara bagaimana Suhu ditewaskan musuh dan siapa nama dan tjorak pembunuhnja, sampai sekarang belum djelas diselidiki."
Ui-bi-tjeng jang sedjak tadi hanja mendengarkan sadja, kini tiba2 menjela.
"Bukankah tewasnja Hian-pi Taysu disebabkan dadanja terkena serangan 'Kim-kong-tjo'?"
Hui-tjin terkedjut, tjepat tanjanja.
"Dugaan Taysu memang tepat, entah dari......... dari mana Taysu mengetahuinja?"
"Sudah lama kudengar ilmu 'Kim-kong-tjo' dari Hian-pi Taysu adalah terhitung salah satu ilmu tunggal jang tiada tandingnja diBu-lim, siapa jang terkena serangan itu, semua tulang iganja akan patah remuk. Ilmu silat demikian memang lihay sekali, namun sesungguhnja agak terlalu ganas, tidaklah sesuai untuk dipeladjari oleh kaum Budha kita.'' "
Ja, benar, kepandaian begitu sesungguhnja terlalu ganas,"
Tiba2 Toan Ki ikut menimbrung.
Mendengar guru mereka dikritik Ui-bi-tjeng, memangnja Hui-tjin dan Hui-sian sudah kurang senang, tapi betapapun djuga orang terhitung paderi saleh angkatan tua, mereka tjuma mendongkol dalam batin sadja.
Kini mendengar pemuda hidjau seperti Toan Ki djuga ikut2 mengotjeh, tanpa merasa mereka sama melototi pemuda itu.
Namun Toan Ki anggap tidak lihat sadja dan tak gubris.
"Darimana Suheng bisa mengetahui Hian-pi Taysu ditewaskan oleh ilmu 'Kim-kong-tjo'?"
Tiba2 Tjing-sun ikut bertanja. Ui-bi-tjeng menghela napas, sahutnja.
"Ketua Siau-lim-si, Hian-tju Taysu, begitu melihat djenazah Sutenja, beliau lantas menduga pasti pembunuhnja adalah keluarga Bujung dari Koh-soh. Toan-djite, orang2 she Bujung itu terkenal menggunakan utjapan. 'dengan kepandaiannja, gunakan diatas dirinja'. Pernah kau dengar tidak ungkapan itu."
Tjing-sun menggeleng kepala tanda tidak tahu.
Kemudian Ui-bi-tjeng mengulangi ungkapan kata2 tersohor dari keluarga Bujung itu, mendadak terkilas rasa djeri pada wadjahnja.
Po-ting-te dan Toan Tjing-sun sudah kenal dengan paderi itu selama berpuluh tahun lamanja, tapi selama itu tidak pernah melihat dia mengundjuk rasa djeri seperti sekarang.
Seperti waktu paderi itu melawan Yan-king Thaytju setjara mati2-an, meski sudah terang hampir keok, namun dalam keadaan terdesak itu, sedikitpun ia tidak nampak kuatir, bahkan tetap bersikap tenang sewadjarnja.
Tapi kini belum lihat musuhnja sudah mengundjuk rasa djeri, maka dapat dibajangkan pihak lawan sesungguhnja bukan orang sembarangan.
Untuk sedjenak keadaan ruangan itu mendjadi hening lelap, selang sebentar, pelahan2 Ui-bi-tjeng mulai berkata lagi.
"Lotjeng mendengar bahwa didunia ini memang ada seorang tokoh kelas satu bernama Bujung Bok. Ia sengadja memakai nama 'Bok' (luas), dengan sendirinja ilmu silatnja pasti sangat luas pejakinannja. Agaknja tidak peduli sesuatu ilmu tunggal jang lihay dari setiap aliran dan golongan Bu-lim jang manapun pasti dipeladjarinja dengan masak, bahkan djauh lebih mahir daripada pemiliknja sendiri. Dan jang paling aneh, setiap kali ia hendak membinasakan lawannja, tentu dia gunakan ilmu silat andalan dari sang korban itu untuk membunuhnja."
"Ini sungguh susah dimengerti,"
Toan Ki ikut berkata.
"Padahal didunia ini ada sekian banjak ilmu silat jang ber-beda2, masakah dia dapat mempeladjarinja dengan lengkap?"
"Apa jang dikatakan Toan-kongtju ada benarnja djuga,"
Sahut Ui-bi-tjeng, ilmu adalah sesuatu jang tiada batasnja, tjara bagaimana orang bisa lengkap mempeladjarinja semua?
Akan tetapi musuh Bujung Bok itu memangnja sangat banjak dan untuk membalas dendam, sebelum dia mahir mempeladjari ilmu andalan musuh jang diintjar untuk membinasakannja, dia tidak sembarangan mau turun tangan ".
"Ja, akupun pernah mendengar ada seorang tokoh aneh seperti itu di Tionggoan,"
Kata Po-ting-te.
"Lok-si-samhiong (tiga djago she Lok) dari Hopak mahir menggunakan Hui-tjui (gurdi terbang), tapi achirnja mereka bertiga tewas semua terkena Hui-tjui jang mereka andalkan itu. Tjiang-hi Todjin dari Soatang bila membunuh orang suka memotong dulu anggota badan musuh biar merintih2 setengah harian, baru dibinasakan olehnja. Tapi Tjiang-hi Todjin sendiri achirnja djuga mengalami nasib seperti kesukaannja itu, sebabnja Bujung Bok menggunakan. Ungkapan 'memakai kepandaiannja, digunakan atas dirinja'. itu djusteru tersohor dari mulutnja Tjiang-hi Todjin itu." ~ Ia merandek sedjenak, lalu menjambung pula.
"Waktu itu, ditengah pasar Tjelam, entah betapa banjak orang merubungi Tjiang-hi Todjin jang menggeletak ditanah sambil berteriak merintih kesakitan itu." ~ Bitjara sampai disini, lapat2 terbajang pula olehnja keadaan diwaktu adjalnja Tjiang-hi Todjin jang mengerikan itu, maka wadjahnja menampilkan rasa kurang senang pada orang jang membunuh orang setjara kedjam itu. Tiba2 Tjing-sun djuga ingat sesuatu, katanja.
"Djika begitu, gurunja Ko-tayhiap, Kwa Peh-hwe, kabarnja mahir menggunakan tjambuk, diwaktu membunuh musuh sering menggunakan tjambuknja untuk melilit leher lawan hingga sesak napasnja dan achirnja mati. Djangan2 dia............ dia............" ~ tiba2 ia berhenti, ia memanggil seorang pelajan dan memberi perintah.
"Pergilah kebelakang mengundang Tjui-siansing dan Ko-tayhiap kesini, katakan aku ingin berunding dengan mereka" . Pelajan itu mengia, tapi tampak ragu2 dan tidak lantas bertindak pergi. Maka dengan tertawa Toan Ki berkata.
"Tjui-sian Sing itu sama dengan Ho-siansing sidjurutulis kantor itu."
Mendengar pendjelasan itu, pelajan itu mengia dan segera bertindak kebelakang. Maka tidak lama, Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji sudah diundang keluar.
"Ko-tayhiap,"
Segera Tjing-sun bitjara.
"...ada sesuatu pertanjaan Tjayhe, lebih dulu harap dimaafkan."
"Ongya tidak usah sungkan2, katakanlah,"
Sahut Gan-tji.
"Tolong tanja, gurumu Kwa-lotjianpwe itu sebab apa ditewaskan orang? Apakah karena terluka oleh sendjata atau terkena pukulan dan tendangan?"
Tanja Tjing-sun. Mendadak wadjah Ko Gan-tji berubah merah djengah, setelah ragu2 sedjenak, achirnja ia mendjawab.
"Guruku djusteru tewas........... tewas dibawah serangan tjambuk dengan tipu 'Leng-tjoa-sian-keng' (ular gesit melilit leher)" . Mendengar keterangan itu, tanpa merasa Po-ting-te, Toan Tjing-sun, Ko Sing-thay dan lain2 saling pandang sekedjap dengan terkesiap. Tiba2 Hui-tjin melangkah madju kehadapan Tjui Pek-khe dan Ko Gan-tji, ia memberi hormat dengan merangkap tangan, lalu berkata.
"Ternjata Siautjeng berdua saudara mempunjai musuh jang sama dengan kalian berdua, pabila manusia she Bujung dari Koh-soh itu tak dihantjurkan............"
Berkata sampai disini ia mendjadi ragu2 apakah sudah jakin pasti dapat membasmi musuh jang lihay itu, namun achirnja ia kertak gigi dengan penuh dendam, lalu melandjutkan.
"Ja, pendek kata Siautjeng sudah bertekad mengadu djiwa dengan dia!"
"Djadi............ djadi Siau-lim-pay djuga sudah mengikat permusuhan dengan orang Bujung dari Koh-soh itu?"
Tanja Ko Gan-tji dengan mengembeng air mata.
Hui-tjin mengangguk, lalu iapun mentjeritakan dengan ringkas tjara bagaimana gurunja telah binasa dibawah tangan orang Bujung itu.
Melihat Ko Gan-tji penuh rasa dendam dan berduka, sebaliknja sikap.
Tjui Pek-khe tampak lesu, kepala menunduk dan bungkam sadja, se-akan2 sakit hati sang Suheng jang terbunuh itu sama sekali tak terpikir olehnja, diam2 Po-ting-te merasa heran perbedaan sikap kedua tokoh Kosan-pay itu.
Watak Hui-sian paling tegas dan djudjur, melihat sikap Tjui Pek-khe jang atjuh-tak-atjuh itu, tak tahan lagi, ia lantas menegur.
"Tjui-siansing, kenapa engkau diam sadja? Apakah engkau takut pada manusia she Bujung itu?"
"Sute, djangan kurang sopan!"
Tjepat Hui-tjin membentak.
Harus diketahui bahwa sesudah Kwa Pek-hwe meninggal dengan sendirinja Tjui Pek-khe sudah mendjadi ketua Ko-san-pay jang sekarang.
Sedangkan Kosan-pay adalah tetangga daripada Siau-lim-si.
Sebabnja dahulu tjakal-bakal Ko-san-pay dapat tantjap kaki dan mendirikan partainja itu disamping Siau-lim-pay sudah tentu orangnja mempunjai sesuatu ilmu kepandaian tersendiri jang lain dari jang lain.
Apalagi nama Kwa Pek-hwe dan Ko Gan-tji paling achir ini sangat tersohor dikalangan Bu-lim, dengan sendirinja deradjat Tjui Pek-khe dalam dunia persilatan djuga tidak boleh dipandang rendah.
Tak tersangka, meski ditegur dengan utjapan jang agak menghina, namun Tjui Pek-khe malah tjelingukan kesana dan kesini seperti maling kesiangan se-akan2 ada jang sedang mengubernja, sikapnja itu penuh mengundjuk rasa sangat ketakutan.
Tiba2 Ui-bi-tjeng berdehem pelahan sekali, lalu berkata.
"Apakah orang itu............"
Baru tertjetus kata2 ...orang itu"
Dari mulut paderi itu, se-konjong2 Tjui Pek-khe bergemetar dan melompat kelabakan hingga sebuah medja teh disampingnja tersampar dan terdjungkir balik dengan mangkok dan tjangkir petjah berantakan.
Setelah tenangkan diri dan melihat sorot mata semua orang ditjurahkan kearahnja, wadjah Tjui Pek-khe mendjadi merah djengah, tjepat katanja dengan gugup.
"Ma........maaf, ma ......... maafkan!"
Mau-tidak-mau Ko Gan-tji mengkerut kening djuga melihat kelakuan sang Susiok jang takbisa dipudji itu, segera ia membantu membersihkan petjahan mangkok dan tjangkir itu.
Diam2 Toan Tjing-sun bersungut djuga sungguh tak tersangka olehnja bahwa Tjui Pek-khe itu ternjata adalah seorang jang demikian penakutnja.
Segera ia berkata pada Ui-bi-tjeng.
"Suheng, apa jang hendak engkau katakan?"
"Orang itu .............."
Ui-bi-tjeng menghirup setjengguk teh dulu, lalu menjambung dengan kalem.
"aku maksudkan Bujung Bok itu, apakah i rang itu pernah dilihat oleh Tjui-sitju?"
Mendengar nama "Bujung Bok" , mendadak Tjui Pek-khe mendjerit kaget sambil memegangi medja, sahutnja dengan suara gemetar.
"O, ti ............ tidak............ tidak pernah melihatnja."
Melihat sikap orang jang pengetjut itu, segera Hui-sian ikut berteriak.
"Sebenarnja Tjui-siansing pernah melihat Bujung Bok atau tidak?"
Tjui Pek-khe ter-mangu2 memandang djauh kedepan seperti orang kehilangan sukma. Sampai agak lama baru dia mendjawab dengan suara gelagapan.
"Ti.........tidak........ eh........... eh.......... seperti ti......... tidak pernah melihatnja. Tjing-sun dan lain2 meng-geleng2 kepala melihat kelakuan tokoh Ko-san-pay itu, Diam2 Ko Gan-tji djuga merasa malu, sungguh tak tersangka olehnja bahwa sang Susiok jang biasanja sangat dihormatinja itu ternjata membikin malu sadja didepan orang banjak.
"Lotjeng sendiri pernah djuga mengalami suatu kedjadian, biarlah kutjeritakan agar bisa dibuat bahan pertimbangan para hadirin,"
Demikian kata Ui-bi-tjeng.
"Peristiwa itu terdjadi pada 43 tahun jang lalu. Tatkala itu usiaku masih muda, tenaga kuat, belum lama berkelana dikangouw, namun sedikit2 djuga sudah terkenal. Sungguh waktu itu aku seperti anak banteng jang tidak kenal harimau, belum kenal apa artinja takut, aku merasa didunia ini ketjuali guruku tiada orang lain lagi jang kepandaiannja bisa lebih tinggi dariku."
Tahun itu aku mengawal seorang pembesar negara jang dipensiun kembali kekampung halamannja bersama keluarganja.
Ditengah djalan aku telah ditjegat oleh empat begal besar.
Tudjuan begal2 itu ternjata bukan harta, tapi begitu madju lantas hendak menggondol puteri kesajangan pembesar itu.
Sebagai pemuda jang berdarah muda, sudah tentu aku tidak bisa mengampuni perbuatan mereka, sekali menjerang aku lantas gunakan tipu ganas, dengan Kim-kong-tji aku telah membinasakan keempat begal itu, setiap orang kututuk diulu hatinja, tanpa mendjengek sedikitpun mereka lantas menggeletak mampus."
Dan pada saat itulah, kudengar suara derapan kuda jang berdctak2, ada dua penunggang keledai tampak lewat disampingku.
Dasar watak muda, waktu itu aku sedang mengobral makian pada begal2 jang tidak kenal selatan itu dan sedang membual dihadapan pembesar jang kukawal itu tentang betapa lihaynja Kim-kong-tji jang mendjadi andalanku itu, kataku, biar musuh datang lagi sepuluh atau duapuluh djuga akan kubinasakan satu-persatu dengan Kim-kong-tji."
Tiba2 kudengar salah seorang penunggang keledai itu mendengus sekali, suaranja seperti kaum wanita, tapi nada dengusan itu penuh mengundjuk rasa hina dan memandang rendah.
Waktu aku menoleh, kiranja penunggang2 keledai itu masing2 adalah seorang wanita muda jang tjantik, usianja sekitar 32 atau 33 tahun, dan seorang lagi adalah satu anak ketjil berumur 12-13 tahun jang bermuka putih bersih menjenangkan.
Kedua orang itu sama2 memakai pakaian berkabung warna putih.
Kudengar sianak sedang berkata pada wanita muda itu.
"Mak, apanja jang hebat Kim-kong-tji itu, huh, dasar tukang membual!"
Adapun asal-usul Ui-bi-tjeng sendiri, ketjuali Po-ting-te berdua saudara, orang lain tiada jang tahu.
Tapi ketika dia menggunakan tenaga djari Kim-kong-tji untuk menggores batu melawan Yan-king Thaytju di Ban-djiat-kok tempo hari, kedjadian itu telah disaksikan orang banjak serta sudah menggemparkan kalangan Bu-lim, terutama mengenai Kim-kong-tji-lik jang lihay luar biasa itu.
Maka kini demi mendengar tjeritanja tentang utjapan botjah itu, mereka sama menganggap anak ketjil itu suka mengotjeh tak karuan sadja.
Tak tersangka Ui-bi-tjeng lantas menghela napas, lalu menjambung tjeritanja.
"Tatkala itu meski aku merasa mendongkol sesudah mendengar utjapan itu, tapi aku lantas pikir otjehan seorang botjah ingusan buat apa mesti ditjetjokan. Maka aku hanja mendelik sekali sadja pada anak itu dan tidak menggubris padanja. Siapa duga wanita muda berbadju putih itu lantas mcngomeli anak itu. Kim-kong-tji' orang ini adalah adjaran asli dari Tat-mo-ih di Hokkian Siau-lim-si, sedikitnja sudah ada tiga bagian tjukup masak. Anak ketjil tahu apa? Umpama kau djuga tidak sedjitu djarinja itu.' ~ Sudah tentu aku tambah kaget dan gusar pula. Padanal asal-usul perguruanku djarang diketahui orang Kangouw, tapi njonja muda ini dengan djitu sudah dapat membuka rahasia diriku. Sedang aku punja Kim-kong-tji dikatakan tjuma mentjapai tiga bagian masak, sudah tentu aku tidak terima. Ai, sesungguhnja waktu itu aku sendirilah jang masih hidjau, tiga bagian masak bagiku sebenarnja masih berlebihan, tapi dalam gusarku segera aku membentak. 'Siapakah she njonja jang terhormat ini? Djika merasa Kim-kong-tji-lik Tjayhe masih tjetek, marilah tjoba2 memberi petundjuk barang sedjurus-dua?' "
Njonja itu tidak menjahut, sebaliknja anak ketjil itu segera tahan keledainja terus hendak mendjawab.
Namun mata njonja itu tiba2 memberambang dan mengembeng air mata, katanja.
'Pesan apa jang ditinggalkan ajahmu sebelum wafat?
Masakan segera sudah kau lupakan?' — Anak ketjil itu mendjawab.
'Ja, anak tidak berani melupakannja.' — Habis itu, keledai mereka lantas dikeprak kedepan dengan tjepat.
"Tapi semakin dipikir, aku semakin penasaran karena sudah di-olok2. Segera aku melarikan kuda menjusul mereka sambil berseru 'Hail Kau berani sembarangan mengotjeh untuk mengritik ilmu silat orang, tanpa tjoba2 dulu barang beberapa djurus, lantas hendak menggelojor pergi begini sadja?' ~ Kuda tungganganku adalah kuda pilihan, maka dalam sekedjap aku sudah melampaui dan mengadang dihadapan mereka. 'Lihatlah, karena otjehanmu, orang telah marah,' demikian njonja itu mengomeli anaknja. Rupanja botjah itu sangat penurut dan berbakti pada orang tua, ia tidak berani memandang padaku lagi. Dan karena melihat mereka djeri padaku, kupikir tidaklah pantas kalau aku mesti berkelahi dengan anak ketjil dan wanita, kenapa aku tjetjok urusan sepele dengan mereka? Tapi kalau mendengar nada utjapan njonja itu tadi, agaknja anak itupun mahir Kim-kong-tji-lik. Padahal ilmu ini sudah 20 tahun kulatih dengan djerih-pajah, masakah anak seketjil itu djuga bisa? Ah, tentu bualan belaka! Karena pikiran itu, aku membentak pula. 'Baiklah, harini biar kulepaskan kalian, tapi selandjutnja kalau bitjara hendaklah hati2.' "
Njonja muda itu masih tetap tidak memandang sekedjappun padaku, katanja pada anaknja.
'Nah, apa jang dikatakan paman ini memang benar, selandjutnja kalau kau bitjara harus hati2!' — Dan djika urusan diachiri sampai disitu sadja, bukankah kedua pihak sama2 tidak kehilangan muka?
Tapi waktu itu aku masih berdarah muda, ketika aku menarik kuda minggir kesamping djalan, segera njonja itu keprak keledainja djalan lebih dulu.
Waktu anak itupun keprak keledainja lewat didepanku, dengan tertawa aku ajun tjambuk menjabet kebokong keledainja sambil berkata.
"Tjepat sedikit!"
"Sungguh tak terduga, ketika tjambukku masih djauh dari bebekong keledai orang, tiba2 terdengar suara 'tjus' sekali, tahu2 anak itu menoleh dan tenaga djarinja lantas menjamber dari djauh, kontan tjambukku patah mendjadi dua."
Sungguh kagetku bukan buatan.
Aku menaksir kalau bitjara tentang tenaga djari, sekali2 aku tidak mampu menandingi anak itu.
Tiba2 terdengar njonja muda tadi berkata djuga.
'Sekali sudah turun tangan, djangan kepalang tanggung lagi!' — Anak itu mengiakan terus melompat turun dari keledainja, tanpa bitjara lagi ia atjungkan djarinja terus menutuk kebetis kakiku."
Perlu diketahui bahwa tubuh anak itu ketjil pendek, pula aku menunggang kuda, maka djarinja tjuma bisa mentjapai betis kaki sadja.
Tapi gerak serangannja ternjata sangat bagus dan memang benar2 adalah Kim-kong-tji tulen.
Tjepat akupun melompat turun, sedikitpun aku tidak berani ajal dan menempurnja dengan Kim-kong-tji.
"Dan sesudah bergebrak, semakin lama semakin djeri hatiku. Ilmu djari anak itu belum dapat dikatakan mahir betul, bahkan terkadang tampak salah menggunakannja, namun dimana tenaga djarinja sampai, suaranja sungguh mengedjutkan, maka aku tidak berani menangkisnja berhadapan. Kira2 sampai djurus kesembilan, 'tjus', terasalah dada-kiriku sakit, tenagakupun hilang semua seketika."
Bitjara sampai disini, pelahan2 Ui-bi-tjeng membuka djubahnja hingga tertampak tulang iganja jang ber-derek2 kurus itu.
Semua orang mendjadi kaget demi melihat keadaan dada paderi itu.
Ternjata tepat diatas djantung didada kiri terdapat sebuah lubang sedalam dua-tiga senti.
Meski lubang bekas luka itu sudah sembuh, tapi dapat dibajangkan betapa parahnja luka itu dahulu.
Anehnja, meski luka itu terang begitu dalam dan tepat ditempat djantung, toh paderi itu tidak tewas dan masih hidup sampai sekarang.
Tapi Ui-bi-tjeng lantas tundjukan dada sebelah kanan dan berkata.
"Tjoba silahkan lihat!"
Ternjata dada kanan paderi itu tampak ber-gerak2 terus.
Baru sekarang semua orang tahu bahwa pembawaan tubuh paderi itu ternjata berbeda daripada manusia umumnja Djantungnja djusteru terletak didada kanan dan tidak disebelah kirinja.
Makanja kena serangan separah itu toh orangnja tidak mati.
Setelah Ui-bi-tjeng mengenakan kembali djubahkan, kemudian katanja pula.
"Orang jang djantungnja tumbuh didada sebelah kanan, umumnja djarang terdapat. Ketika anak itu melihat aku tidak terbinasa oleh tutukannja itu, segera ia melompat mundur dengan ter-heran2. Sebaliknja melihat darah mengutjur dari dadaku, kusangka djiwaku takbisa diselamatkan, aku mendjadi nekad dan memaki."
Bangsat tjilik, katanja kau mahir Kim-kong-tji, tapi, hm, adakah Kim-kong-tji dari Tat-mo-ih sudah melukai lawannja, namun orangnja tidak lantas binasa?' — Segera anak itu melompat madju hendak menjerang aku pula.
Tatkala itu aku sudah lemas dan takbisa melawannja lagi, terpaksa tinggal menunggu adjal sadja.
Tak tersangka tjambuk sinjonja muda itu lantas bekerdja dan dengan pelahan pinggang anaknja telah dililit terus ditarik kembali dan didudukan diatas keledainja lagi.
Dalam keadaan kesima lapnt2 aku hanja mendengar njonja itu sedang mengomeli anaknja.
'Keluarga Bujung dari Koh-soh masakah mempunjai keturunan tak betjus seperti kau ini?
Djika Kim-kong-tjimu belum terlatih sempurna, tidak boleh kau membunuhnja lagi.
Biar aku menghukum kau dalam tudjuh hari............
— Dan hukuman apa sebenarnja dalam tudjuh hari itu, karena aku lantas djatuh pingsan, maka tidak dapat mendengar lagi.'' "Taysu,"
Tiba2 Kim-suipoa Tjui Pek-khe bertanja.
"kemudian... kemudian engkau pernah berdjumpa lagi tidak dengan mereka'"
"Sungguh memalukan, sedjak itu, Lolap lantas putus asa. aku merasa hanja seorang anak ketjil sadja sudah melebihi aku, maka sekalipun aku melatih diri selama hidup djuga takkan mampu melebihinja,"
Demikian sahut Ui-bi-tjeng.
"Maka setelah luka didadaku sembuh, aku lantas meninggalkan Tionggoan dan datang ke Tayli sini untuk bernaung dibawah lindungan Toan-hongya, beberapa tahun kemudian, aku lantas tjukur rambut mendjadi Hwesio. Selama ini Lotjeng tenggelam dalam adjaran Budha, tidak pernah memikirkan lagi hinaan dimasa dulu itu. Tjuma kalau terkadang ingat, sungguh hatiku masih kebat-kebit, benar2 njaliku sudah petjah oleh kedjadian dahulu."
Mendengar tjerita itu, semua orang terdiam hingga lama.
Rasa memandang hina mereka kepada Tjui Pek-khe seketika lenjap, Sebab seorang Ui-bi-tjeng jang begitu sakti djuga takut pada keluarga Bujung di Koh-soh, maka dapatlah dimengarti bila Tjui Pek-khe djuga demikian djerinja.
Tjui Pek-khe djuga dapat merasakan pikiran orang banjak itu, maka katanja.
"Dengan kedudukan setinggi Ui-bi Taysu toh bersedia mentjeritakan apa jang dialaminja dahulu, sebaliknja aku Tjui Pek-khe orang matjam apa hingga mesti takut malu? Biarlah Tjayhe mentjeritakan djuga sebab-musababnja bernaung didalam istana Tin-lam-ong ini. para hadirin disini toh bukan orang luar kalau Tjayhe tjeritakan, harap pula para hadirin sebentar suka memberi pendapat masing2" . Habis utjapkan kata2 itu, karena guntjangan perasaan, tenggorokannja mendjadi terasa kering, terus sadja ia teguk habis semangkok teh jang tersedia untuknja, habis itu, ia samber pula mangkok teh jang disediakan untuk Ko Gan-tji dan dituang lagi kedalam kerongkongannja kemudian barulah ia mulai berkata dengan terputus2.
"Kedjadian............ kedjadianku ini sudah............ sudah 18 tahun jang lalu............"
Bitjara sampai disini, tanpa merasa ia memandang keluar djendela dengan rasa djeri.
Setelah tenangkan diri, kemudian ia menjambung.
'Dikota Bu-oh terdapat seorang buaja darat she Djoa jang djahat dan suka menindas rakjat.
Ada seorang sobat Suhengku, antero keluarganja telah dibunuh oleh buaja darat itu."
"Susiok, apakah engkau maksud sidjahanam Djoa Ging-toh itu?"
Sela Ko Gan-tji.
"Benar,"
Sahut Pek-khe.
Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 14
Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan