Eps 12 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.
Ternyata bukan saja Swi Tay Lim dan Seng Hong tak ketahuan rimbanya, pun keluarga Pui juga sudah pindah dari kota tersebut.
Untuk melampiaskan kemendongkolannya, Sim Hi akan lepas api membakar gedung keluarga Pui, tapi diCegah oleh Hi Tong, karena hal itu membahayakan Thian Hong cs.
yang tinggal tak jauh dari situ.
Begitulah rombongan meneruskan perjalanannya keutara.
Tiba diwilayah Shoatang, musim semi tengah menabur alam dengan warna warni bunga 2an.
Begitulah hari itu mereka sampai dikota Thay An.
Thauw-bak HONG HWA HWE daerah situ, memberi keterangan bahwa, pemimpin HONG HWA HWE bagian Hukuman, Ciok Siang Ing, telah datang dari Pakkhia.
Semua orang buru-buru menyambutnya dengan girang.
"Capji-ya, penghianat busuk itu sudah mampus?"
Seru Sim Hi berlarian menyambut. Ciok Siang Ing terkesiap.
"Thio Ciauw Conglah!"
Sim Hi menjelaskan.
"Oh, dia?"
".Ia, digerag'oti habis oleh kawanan serigala,"
Kata Sim Hi.
Ciok Siang Ing tak keburu menanya lebih jauh, karena dia harus memberi hormat pada CongthoCu dan saudara-saudaranya serta terus diajak masuk.
Setelah saling menanyakan keadaan masing-masing, Keh Lok bertanya tentang keadaan dikota raja.
"Dikota raja tak terjadi apa-apa. Kedatanganku kemari hanya perlu memberitahukan bahwa pasukan Bok To Lun lo-enghiong telah musna seluruhnya,"
Sahut Siang Ing. Dengan wajah puCat, berbangkitlah Tan Keh Lok seketika.
"Apa?!"
Tanyanya dengan agak gemetar. Semua orang pun terkejut sekali oleh kabar itu.
"Ketika kita tinggalkan daerah Hwe, sisa pasukan Tiau Hwi hanya tinggal tunggu kemusnaannya saja. Mereka tak berdaya, dalam kepungan di Sungai-Hitam. Mengapa kini mereka berbalik menang?"
Tanya Lou Ping. Ciok Siang Ing menelan ludah, jawabnya.
"Tak disangka mereka mendapat bala bantuan dari induk pasukan didaerah Lam Kiang. Tiau Hwi yang mengetahui hal itu dari seorang mata 2 Hwe yang tertawan, segera membarengi meneryang keluar. Nona Hwe Ceng Tong sedang dalam sakit, tak dapat memberi pimpinan. Bok-loenghiong dan puteranya telah gugur. Nona Hwe Ceng Tong tak karuan rimbanya."
Keh Lok jatuhkan diri disebuah kursi. Wajahnya yang putih seperti kertas itu, membuat semua orang Cemas.
"Nona Ceng Tong mempunyai ilmu silat yang tinggi, serdadu 2 Ceng pasti tak mampu menCelakakannya,"
Menghibur Hwi Ching.
Tahu Keh Lok dan sekalian orang, bahwa LoCianpwe itu tengah menghibur saja.
Karena dalam keadaan pasukan yang sudah kaCau, sukarlah orang menjaga diri, terlebih 2 seorang gadis yang sedang menderita sakit.
"Nona itu punya seorang adik perempuan, yang orang-orang Hwe menyebutnya Hiang Hiang KiongCu, apakah Capji-ko mendengar beritanya?"
Tanya Lou Ping sembari memberi isyarat mata pada Siong Ing, siapa pun mengerti makstidnya. Namun susah rasanya akan berbohong.
"Entah, tak kudengar apa-apa. Tapi orang terkenal semacam nona itu, kalau sampai terjadi apa-apa pasti penduduk kota raja sama mendengarnya. Tak ada berita mengenai itu, jadi tentunya ia tak apa-apa."
Tan Keh Lok bukan tiada tahu bahwa saudara-saudaranya tengah berusaha meredakan keCemasannya.
Namun dia bersikap tenang saja, lalu mengajak beristirahat.
Sekalian orang mempersilakan dia beristirahat dulu, karena mereka masih mau berCakap 2.
Sim Hi disuruh mengawani Siaoya-nya.
Semuanya sama berduka disamping menaruh hormat atas keperwiraan Bok To Lun yang gugur mempertahankan haknya itu.
Keadaan menjadi hening sejenak.
Tak beberapa lama, tiba-tiba Keh Lok keluar lagi.
"Saudara-saudara, mari kita dahar supaya bisa Cepat-cepat berangkat ke Pakkhia!"
Serunya. Orang-orang sama heran melihat perubahan sikap Keh Lok yang kini sudah seperti biasa lagi.
"Pertama bertemu dengan CongthoCumu, bermula kuanggap dia bersifat seperti orang perempuan, kurang gagah. Tapi ternyata kebesaran jiwanya menghadapi kejadian yang seberat itu, sungguh lajak menjadi pemimpin. Kini aku menaruh perindahan padanya,"
Bisik Lou Ping kedekat suaminya.
Bun Thay Lay hanya aCungkan ibu jarinya, sembari terus makan hidangannya.
Demikian akhirnya rombongan HONG HWA HWE itu sudah tiba di Pakkhia, Ciok Siang Ing telah membeli sebuah gedung.
Disitu telah menunggu ke 2 saudara Siang, Tio Pan San dan Nyo Seng Hiap.
Pertemuan kali ini, sungguh menggembirakan sekali.
"Tio-samko, nanti tolong kau bawa Sim Hi menemui Kim-ko-thiat-jiao Pek Cin,"
Kata Keh Lok pada Tio Pan San.
"Baik. Dan apa yang harus kukatakan padanya,"
Tanya Pan San.
"Tolong kau berikan padanya khim yang bertatahkan huruf 'Lay Hong' ini padanya. Baginda tentu mengetahuinya."
Tio Pan San dan Sim Hi segera berlalu. Lewat setengah harian, ke 2nya sudah datang kembali.
"Aku bersama Tio-samya .................."
"Hai, apa-apaan masih menyebut 'ya' saja?"
Menyela Pan San sambil ketawa.
"Ya, aku bersama Tio-samko mendapatkan Pek Cin dirumahnya. Kebetulan dia dirumah"
Demikian tutur Sim Hi.
"Begitu melihat karCis nama Samko, dia Cepat keluar dan mengundang kami duduk minum arak. Setelah itu, baru melepas kami pulang". Tan Keh Lok tahu kalau Pek Cin merasa berterima kasih padanya maka sikapnya begitu manis. Keesokan harinya, Pek Cin datang berkunjung.
"Baginda undang Tan-kongCu keistana", katanya dengan hormat.
"Baiklah, harap LoCianpwe duduk sebentar", kata Keh Lok terus masuk kedalam untuk berunding dengan Liok Hwi Ching dan lain-lain. Semua orang akan berlaku hati-hati. Justeru pada saat itu, Ciok Siang Ing masuk sambil menggandeng Bu Tim, hal mana tambah membuat mereka girang.
"Silakan Totiang mengaso dulu, nanti akan kuajak masuk ke istana,"
Kata Keh Lok. Bu Tim girang mendapat tugas penting itu. Malah Wan Ci terus serahkan lengbik-kiam, pedang kepunyaan Ciauw Cong, supaya dipakai Totiang itu. Menyambuti pedang itu, Bu Tim mengelah napas.
"Sayang, dia tidak mati ditanganku,"
Katanya gegetun.
Begitulah diputuskan, Liok Hwi Ching, Bu Tim, Tio Pan San, ke 2 saudara Siang dan Jun Hwa akan mengantar Tan Keh Lok keistana.
Sedang Bun Thay Lay memimpin saudara-saudaranya untuk melakukan penjagaan diluar istana.
Suasana dalam istana Boan itu, megah dan agung.
Temboknya kokoh sekali.
Penjagaan yang rapat, dilakukan oleh para si-wi.
Dua orang thaikam (orang kebiri) datang menyambut Pek Cin.
"Pek tayjin, baginda berada dipagoda Pao Gwat Lauw, harap kau antar Tan-kongCu kesana."
Pek Cin mengiakan dan katanya kepada Tan Keh Lok.
"Kita sudah memasuki batas istana dalam, harap KongCu titahkan sekalian taruhkan senjatanya disini."
Sekalipun kelima pengikut itu merasa betapa berbahaya urusan itu, namun dalam keadaan begitu, terpaksa mereka mengindahkan perintah.
Pagoda Pao Gwat Lauw terdiri dari 5 tingkat.
Ukiran 2 dan Cat yang menghiasnya gilang gemilang berwarna keemasan.
Indahnya bukan kepalang.
Tapi satu hal yang mengherankan ialah, dimuka pagoda itu terdapat banyak sekali tenda orang Hwe.
Hal itu mengejutkan Tan Keh Lok yang segera teringat akan nasib dari Hwe Ceng Tong kakak beradik.
Tengah Keh Lok dilamun keheranan itu, tiba-tiba munCul ah 2 orang thaikam seraya berseru.
"Tan Keh Lok dipersilakan menghadap baginda."
Keh Lok memperbaiki pakaiannya, lalu mengikut masuk.
Tapi Bu Tim cs diperintahkan tinggal diluar.
Naik loteng kei ma, tiba-tiba hidung Keh Lok terCium bebauan yang semerbak sekali wanginya.
Melangkah masuk, didapatinya baginda Kian Liong tengah duduk disebuah kursi.
Mukanya mengunjuk senyuman.
Buru-buru Keh Lok berlutut menjalankan peradatan dengan hidmatnya.
"Ai, kau sudah datang, bagus, bagus. Duduklah disini,"
Seru Kian Liong sambil tertawa, seraya memberi isyarat supaya thaikam 2 yang berada disitu sama keluar. Keh Lok melangkah maju, tapi tak berani duduk.
"Duduklah, supaya enak biCara,"
Kata Kian Liong. Keh Lok haturkan terima kasih dan duduk.
"Bagaimana pandanganmu, pagoda ini indah apa tidak?"
Tanya Kian Liong.
"Kalau bukan pagoda dalam istana, masa lain tempat terdapat pagoda yang seindah begini,"
Sahut Keh Lok.
"Ini saja kusuruh mereka lekas-lekas menyelesaikan, andaikata tak buru-buru, tentu akan lebih bagus lagi. Tapi inipun Cukuplah."
Timbul dalam pikiran Keh Lok, untuk mendirikan pagoda yang semewah itu, berapakah sudah darah dan keringat rakyat yang diperas.
Dan untuk menyelesaikan dalam waktu yang se-singkat 2nya, entah sudah mengorbankan berapa jiwa pekerjanya.
Tiba-tiba Kian Liong berbangkit, katanya.
"Kau baru kembali dari daerah Hwe, Coba kau lihat 2, apakah keadaan itu tidak mirip dengan pemandangan dipadang sahara!"
Tan Keh Lok mengiringkan baginda kejendela.
Ketika memandang keluar, dia tersentak kaget.
Itulah benar-benar suatu pemandangan yang mentakjubkan.
Sebuah taman yang ditumbuhi dengan warna warni bunga dan jalanan 2 yang ber-liku 2.
Tadi ketika dia masuk dari sebelah timur, yang dilihatnya hanya suatu pemandangan yang indah dan permai.
Tapi kini setelah berada di loteng yang teratas dan memandang kesebelah barat, pemandangannya berbeda sama sekali.
Kira-kira disekitar daerah satu li, tampak bumi yang ditutupi pasir.
Disana sini tampak pagoda kecil, empang 2 dan pohon-pohon bunga.
Kesemuanya itu mengunjukkan baru saja selesai dikerjakan.
Memang hal itu tak sesuai dengan keadaan padang pasir yang luas bebas, namun pada keseluruhannya, dapatlah dikatakan sudah mendekati.
"Baginda senang akan pemandangan padang pasir?"
Tanya Keh Lok. Kian Liong ganda tertawa tak menyahut, tanyanya.
"Bagaimana!"
"Banyak sekali sekali menggunakan pekerja,"
Sahut Keh Lok. Memandang lagi kemuka, dilihatnya beberapa ratus pekerja tengah membongkar rumah 2. Rupanya baginda masih merasa taman itu kurang luas dan minta dilebarkan lagi.
"Apa perlunya taman pasir yang menjemukan mata itu? Sungguh pikirannya itu, sukar diduga,"
Pikir Keh Lok. Kembali kedalam ruangan, Kian Liong menunjuk pada khim.
"Ambil ah lagi khim ini, tapi sebelumnya kau mainkanlah sebuah lagu untukku."
Karena baginda tak menyinggung urusan yang dikehendaki, Keh Lokpun tak enak menanyakan, ia mulai menyentil snar khim. Kemudian mengalunlah sebuah lagu berjudul "Menghadap baginda."
Senang rupanya Kian Liong mendengar itu, lalu pelan-pelan menghampiri kedekatnya.
Selesai dengan lagunya, buru-buru Keh Lok berdiri.
Dilihatnya tangan kiri kaisar itu dibalut dengan kain putih, agaknya terluka.
Melihat orang mengawasi tangannya, muka Kian Liong merah, lalu buru-buru menarik tangannya.
Katanya.
"Apakah sudah kau bawakan barang yang kukehendaki itu?"
"Sudah, sahabatku yang membawanya. Dia berada dibawah,"
Jawab Keh Lok. Kian Liong memungut sebuah martil kecil dipukulkan pelan-pelan kepapan. Seorang thaikam kecil segera datang.
"Suruh pengikut Tan-kongCu kemari,"
Kata Kian Liong.
Sudah lama Liok Hwi Ching menantikan dibawah dengan gelisah.
Ketika diatas loteng terdengar tetabuhan khim, legalah mereka.
Begitulah mereka segera mengikut thaikam kecil tadi naik keatas.
Masuk keloteng tingkat 2, sekonyong-konyong didengarnya tindakan kaki orang yang bergegas-gegas dari belakang.
Rupanya mereka Cepat-cepat akan naik lebih dulu.
Bu Tim dan Jun Hwa yang berada paling belakang, segera menyingkir kesamping.
Ke 2 orang tadi terus berjalan melalui tengah 2, karena ke 2 saudara Siang tak keburu menyingkir, ke 2 orang tadi terus mengulurkan tangannya masing-masing untuk memegang pinggang ke 2 saudara Siang.
"Minggirlah!"
Bentak mereka.
Berbareng itu, ke 2 saudara Siang didorong kepinggir.
Ke 2 saudara Siang itu masing-masing membawa sebuah 'giok-bin' (vaas giok).
Lorong ruangan itu sempit sekali, tak Cukup untuk 4 orang berjalan berendeng.
Karena kuatir vaas tersebut akan kebentur rusak, buru-buru ke 2 saudara itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan jorokan orang.
Karena seperti mendorong batu yang tak bergerak, malah mempunyai tenaga membal, ke 2 orang tadi terkejut sekali.
Sesaat itu ke 2 saudara Siang lalu menyingkir kesamping untuk memberi jalan.
Ketika hendak melewati, ke 2 orang tadi mengawasi persaudaran Siang dengan seksama.
Wajah ke 2 saudara itu seperti kertas putih, alisnya menjulur ke bawah, tubuh-nya kurus tinggi, sikapnya menakutkan telah membuat ke 2 orang tadi terkesiap kaget.
Juga ke 2 saudara Siang itupun memandang kepada orang-orang yang mendorongnya tadi.
Ternyata mereka dandanannya seperti thaikam.
Yang satu bertangan kosong, sedang satunya lagi membawa sebuah kotak.
Perbuatannya tadi, mengunjukkan mereka mempunyai ilmu silat yang tinggi.
Bahwa dalam istana ternyata ada orang-orang yang sedemikian lihai, sungguh diluar dugaan.
Saat itu, ke 2 thaikam tersebut.
sudah tiba dibelakang Liok Hwi Ching dan Tio Pan San, Setelah saling memberi isyarat, ke 2 thaikam itu mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk pundak ke 2 jago tua itu.
"Minggirlah!"
Liok Hwi Ching adalah jago kenamaan dari Cabang Bu Tong Pai, sedang Tio Pan San adalah Ciang-bun-jin (ahliwaris) dari Thay Kek Lam Pai (Thay Kek Pai sekte selatan).
Ke 2nya adalah jago-jago yang sukar ada tandingannya didunia persilatan.
Serasa ada orang menyerang, Hwi Ching gunakan gerak "Cian-ih-sip-pat-tiat", sedang Tio Pan San gunakan bagian jurus "tam-Ciang".
Terkaman ke 2 thaikam itu menemui tempat kosong, malah thaikam yang menerkam Hwi Ching itu, terbentur dengan tenaga balasan dari Hwi Ching hingga hampir terhuyung-huyung.
Ketika akan melanjutkan naik, ke 2 thaikam itu memandang pada Liok dan Tio ber 2 dengan sorot mata gusar.
Salah seorang telah bertanya kepada Pek Cin.
"Pek-loji, apakah baginda memakai siwi baru?"
"Beberapa kawan ini, adalah jagoan dari kalangan bulim. Masakah mereka mau bekerja seperti kita orang", sahut Pek Cin. Ke 2 thaikam itu mengeluarkan suara hidung, terus melangkah naik. Liok Hwi Ching cs tak mengetahui, orang macam apakah ke 2 .thaikam itu. Ke 2nya berkepandaian tinggi, tapi kelakuannya terhadap Pek Cin tak sungkan 2. Begitulah rombongan orang gagah itu kini sudah sampai ditingkat kelima.
"Keenam pengiring Tan-kong-Cu sudah menunggu disini", lebih dahulu Pek Cin berseru ketika masih diluar ruangan. Thaikam kecil tadi menyingkap kerai, lalu mempersilakan mereka tunggu dahulu. Tak berapa lama, ke 2 thaikam tadi munCul. Mereka memandang dengan tajam kepada keenam orang itu, terus turun kebawah.
"Silakan masuk", kata sithaikam kecil. Pek Cin memimpin masuk. Tampak Kian Liong sedang duduk dan Tan Keh Lok berada disebelahnya. Atas isyarat Tan Keh Lok, terpaksa Hwi Ching dkk.nya berlutut memberi hormat pada kaisar. Diam-diam Bu Tim memaki-maki. Keh Lok menyambuti sebuah peti kecil yang dibawah Pan San dan diletakkan diatas meja, katanya.
"Inilah barang itu".
"Kau, kau tinggalkan ruangan ini dulu! Sehabis kuperiksa, nanti akan kupanggil kau lagi", perintah Kian Liong. Keh Lok memberi hormat akan berlalu. Tapi Kian Liong kembali suruh dia membawa kembali khim tadi. Keh Lok memanggut, dan Jun Hwa yang disuruh membawakan khim itu. Tiba-tiba Keh Lok menyambuti kotak berisi vaas giok dari ke 2 saudara Siang, juga ditaruhkan dimeja dan katanya.
"Inilah sepasang vas1 giok itu, kini kami kembalikan". Kian Liong membukanya. Giok yang gilang gemilang itu, membuatnya gembira dan berulang-ulang memuji kebagusannya.
"Baginda telah dapat menundukkan daerah Hwe, hamba mohon sudi berlaku murah, mengeluarkan firman melarang membunuh rakyat yang tak berdosa", kata Keh Lok. Kian Liong tetap mengawasi vaas itu, tangannya memberi isyarat supaya semua orang berlalu. Apa boleh buat, terpaksa Keh Lok ajak rombongannya mengikut Pek Cin keluar. Sampai diloteng bawah, ke 2 thaikam yang pandai silat tadi memapaki, serunya.
"Pek-laoji, sahabat dari manakah, harap kau perkenalkan pada kami ber 2."
Pek Cin agaknya jeri terhadap ke 2 thaikam itu, katanya kepada Tan Keh Lok.
"Marilah, kuperkenalkan pada ke 2 jagoan dari istana ini. Ini, adalah Ti Hian, Ti kong kong, dan ini, Bu Bing Hu, Bu kongkong." (Kongkong adalah panggilan menghormat pada kaum thaikam). Karena sedang melaksanakan usaha besar, Keh Lok tak mau bentrok dengan setiap penghuni istana. Sekalipun hatinya memandang rendah manusia-siamacam itu, namun diluar, terpaksa dia berlaku hormat.
"Sudah lama kami mendengar nama yang kesohor dari ke 2 kongkong,"
Katanya. Lalu Pek Cin pun perkenalkan Tan Keh Lok pada ke 2 thaikam itu.
"Inilah Tan-kongCu, yang baginda jumpai ketika beliau meninjau daerah selatan. Rupanya baginda sangat sayang, dan mengundangnya kemari. Tak lama mungkin akan diberi jabatan."
Tertawalah Ti Hian thaikam, katanya.
"Engkoh yang begitu Cakap, mungkin masih terlalu muda untuk dnyadikan Tayhaksu."
Mendengar thaikam itu agak tidak memandang mata padanya, Keh Lok tetap bersikap sabar.
Tidak demikian halnya dengan ke 2 saudara Siang, yang dengan mata melotot terus akan bertindak.
Cepat Pek Cin menyelak dan perkenalkan juga Liok Hwi Ching, Bu Tim dan lain-lainnya.
Ti dan Bu ke 2 thaikam itu, adalah anak 2nya hiat-thi-Cu yang dipelihara Yong Ceng almarhum.
Kiranya Yong Ceng adalah seorang kaisar yang penuh dengan siasat jahat.
Setelah ke 2 hiat-thi-Cu (pembunuh gelap) disuruhnya membunuh keluarga menteri besar Ong Kong, karena kuatir rahasianya bocor, ke 2 hiat-ti-Cu itupun diraCunnya.
Lalu putera 2 mereka dipelihara dan dnyadikan thaikam.
Sejak kecil Ti Hian dan Bu Bing Hu, mendapat latihan silat dari beberapa sahabat mendiang ayahnya.
Ke 2nya menjadi lihai, hanya sayang, mereka sama sekali tak kenal akan jago-jago kenamaan dikalangan kangouw.
Maka sekalipun nama Liok Hwi Ching dan Bu Tim yang begitu kesohor, dianggapnya sepi saja.
"Mari berjabatan tangan,"
Seru ke 2 thaikam itu seraya mengulurkan tangan.
Tadi sewaktu naik loteng, karena luput menerkam pundak Liok dan Tio ber 2, rupanya ke 2 thaikam itu penasaran sekali.
Sekarang benar-benar akan menjajalnya.
Ti Hian meyakinkan ilmu silat "pat-kwa-Ciang,"
SeCabang dengan Wi-tin-ho-siok Ong Hwi Yang, itu pemimpin Tin Wan piauwkiok. Bu Bing Hu sebaliknya mempelajari ilmu silat "thong-pi-kun."
Begitu berjabatan, ke 2 thaikam itu terus akan memnyatnya keras-keras.
Maksudnya supaya Liok dan Tio ber 2 berteriak kesakitan.
Tapi tak disangkanya, kalau tangan Tio Pan San luar biasa liCinnya, bagaikan diminyak.
Begitu Ti Hian memnyat, tangan Pan San seolah-olah seperti ikan yang melejit keluar.
Nama julukan Hwi Ching adalah "bian-li-Ciam", jarum yang berada didalam kapas.
Diluar, gerakannya tampak lemah, tapi didalamnya mengandung tenaga yang maha dahsyat.
Ketika Ti Hian memnyat, segera ia rasakan seperti memnyat segumpal kapas.
Dia kaget bukan kepalang, dan buru-buru menarik tangannya.
Terlambat sedikit saja pasti tangannya akan terkena tenaga membalik dari Hwi Ching.
"Liok-loji sungguh hebat lwekangnya,"
Kata Ti Hian dengan meringis. Lalu berpaling kepada ke 2 saudara Siang, dia berkata.
"Jiwi ini luar biasa sikapnya, tentu ilmu silatnya pun luar biasa. Mari kita berjabatan."
Ke 2 saudara Siang saling kedipi mata, kemudian menjabat tangan ke 2 thaikam itu. Ke 2 saudara Siang itu ternyata sepikiran.
"Kura-kura yang tak berbenih ini, sombong amat, biar dikasih sedikit rasa."
Keistimewaan dari ke 2 saudara Siang itu ialah ilmu "hek-soa-Ciang,"
Tangan pasir hitam.
Mungkin dalam dunia kangouw, hanya ada ke 2 saudara itu yang mahir dalam ilmu tersebut.
Begitu berjabat, wajah ke 2 thaikam itu segera berobah.
Butir-butir keringat sebesar kedele, ber-ketes 2 turun dari dahinya.
Tahu Pek Cin bahwa ke 2 thaikam itu sedang menderita, tapi dia pura-pura tak tahu.
Kiranya ke 2 thaikam itu adalah pengawal peribadi dari Hongthayhouw (ibusuri, janda kaisar Yong Ceng).
Dengan andalkan pengaruh Thayhouw, ke 2nya tak menggubris pada baginda Kian Liong.
Yangan dikata lagi terhadap kawanan siwi raja itu.
Maka kawanan siwi sama benci ke 2 thaikam itu, hanya diluarnya, mereka tak berani dan terpaksa berlaku hormat.
Kini mengetahui ke 2nya mengalami kesakitan, diam-diam Pek Cin malah bergirang.
Tahulah ke 2 saudara Siang itu, bahwa kalau terus dilanjutkan, ke 2 thaikam itu tentu tak kuat menahan.
Maka dengan tersenyum, tangannya segera dibuka.
Rasa sakit yang diderita ke 2 thaikam itu sampai menembus keulu hati.
Ketika diperiksanya, ternyata telapak tangan mereka seperti diCap dengan jari tangan, bekasnya sangat dalam dan kehitam-hitaman.
Dengan menggigit bibir, mereka memandang ke 2 saudara Siang itu dengan penuh kebencian, kemudian berlalu.
Almarhum Thio Ciauw Cong yang begitu hebat kepandai-annya, ketika kesamplokan dengan ke 2 saudara Siang di bukit Oh-siauw-nia tempo hari juga kena diterkam oleh Siang Pek Ci.
Betul Ciauw Cong dapat meronta 2 lepas, tapi tak urung dia terluka.
Ini Ciauw Cong, yangan kata ke 2 thaikam tersebut.
"Hek-soa-Ciang dari Siang-hiap, sungguh hebat. Ke 2 thaikam itu sangat jumawa, biar mereka tahu rasa", kata Pek Cin dengan girang. Sampai diluar istana, Bun Thay Lay cs menyambutnya. Pek Cin minta diperkenalkan pada Bun Tay Lay. Lihat Thay Lay yang bertubuh tinggi besar sikapnya gagah, diam-diam Pek Cin mengaguminya. Kini diCeritakan sewaktu Tan Keh Lok cs sudah berlalu. Kian Liong lalu membuka peti kecil itu. Nampak surat 2 yang ditulis oleh kaisar Yong Ceng dan ibu kandungnya (Tan hoejin), kaisar itu terkenang akan budi keCintaan ayah bundanya. Tanpa terasa, dia menguCurkan air mata. Setelah termenung beberapa saat, Kian Liong suruh thaikam kecil ambilkan api, surat 2 dalam peti kecil itu lalu dibakarnya. Serasa hati kaisar itu lega dan gembira. Peti kecilpun turut dibakarnya. Kemudian ia memandang pada vaas giok dan segera memerintah pada thaikam kecil.
"Suruh dia naik". Setelah berselang lama, thaikam kecil itu datang kembali, lalu berlutut dan lapor.
"Hamba mohon ampun, Nio-nio (Nyonya) tak mau datang". Kian Liong tertawa, kemudian mengelah napas. Dia berbangkit, memberi isyarat kepada ke 2 thaikam kecil supaya membawa ke 2 vaas giok itu, dan mengiringkannya turun. Sampai diloteng sebelah bawah, para kiongli (dayang) yang menjaga segera menyingkap kere dan masuklah Kian Liong kedalam. Ruangan itu penuh ditaburi bunga 2an, baunya menusuk hidung. Dua orang kiongli segera menyambuti sepasang vaas giok tadi, lalu diletakkan hati-hati diatas meja. Didalam ruangan itu terdapat seorang gadis berpakaian putih, yang tengah memandang kesebelah sini. Demi didengar derap kaki orang, dia lalu berbalik menghadap ketembok. Atas isyarat Kian Liong, para kiongli itu berlalu. Tapi ketika Kian Liong hendak membuka mulut, tiba-tiba pintu kerai tersingkap dan masuklah Ti Hian dan Bu Bing Hu thaikam, lalu tegak berdiri disamping dengan tangan di rangkapkan kebawah.
"Mengapa kalian kemari, Ayo, enyahlah!"
Hardik Kian Liong dengan murkanya.
"Hamba dititahkan Thayhouw untuk menjaga paduka,"
Sahut Ti Hian.
"Mengapa aku harus dnyaga?"
"Hong-thayhouw tahu bahwa ia............ Nio-nio berwatak keras, dikuatirkan akan melukai tubuh emas paduka,"
Kembali Ti Hian menjawab.
"Siapa yang mengadu pada Hongthayhouw?"
Ti dan Bu ke 2 thaikam serentak berlutut dan menyahut.
"Hamba sungguh tak berani."
Kian Liong perdengarkan suara hidung yang menjemukan.
"Kalau bukan kalian ber 2, siapa lagi? Ayo, lekas enyahlah!"
Ke 2 thaikam itu kembali memanggutkan kepala, tapi tak mau pergi dari situ.
Tahu Kian Liong bahwa dengan titah Thayhouw itu, biar bagaimana ke 2 thaikam itu pasti tak mau enyah.
Apalagi mengingat hal itu untuk kebaikannya.
Kian Liong tak mempedulikan ke 2 orang kebiri itu lagi.
Kemudian ia berpaling kearah sigadis berpakaian putih, berkatalah kaisar itu.
"Coba kau berpaling, aku hendak berkata padamu."
Anehnya, kaisar itu menggunakan bahasa daerah Hwe, Namun gadis itu tetap tak bergerak, tangannya kanan memegang keras-keraspada sebuah pedang pendek.
"Lihatlah sejenak benda apa yang diatas meja itu,"
Kembali Kian Liong membujuknya.
Bermula gadis itu tak menghiraukan.
Tapi karena sudah watak seorang dara, rasa kepingin tahu tetap menyelubungi pikirannya.
Lewat beberapa jurus, ia miringkan kepalanya untuk melirik kearah meja.
Demi tampak diatas situ terdapat sepasang vaas giok putih yang kemilau, mendadak gadis itu berbalik badan untuk memandang lebih seksama.
Berbareng dengan g'erakan tubuhnya itu, bau harum menyampok hidung Kian Liong dan ke 2 thaikam tadi.
Parasnya yang gilang gemilang dan matanya yang bersorot bening, sangat mempesonakan.
Kiranya gadis ini bukan lain adalah Hiang Hiang KiongCu atau Asri alias Puteri Harum.
Sejak Bok To Lun gugur, Hiang Hiang menjadi tawanan panglima Tiau Hwi, siapa karena ingat akan kata-kata Ciauw Cong bahwa.
baginda menghendaki nona Ui tersebut, maka diangkutnya kekotaraja memakai kereta yang mewah dan penuh kebesaran.
Tatkala dahulu melihat lukisan nona Cantik pada vaas giok, Kian Liong sudah jatuh rindu.
Maka ketika vaas giok diCuri Lou Ping, saking gusarnya Kian Liong titahkan bunuh ke 2 si-wi penjaga vaas tersebut.
Karena dorongan dendam asmara yang tak tertahan, raja Boan itu terus mengutus Ciauw Cong kedaerah Hwe.
Biar bagaimana, gadis jelita itu harus dapat dibawa kehadapannya.
Baginda ternyata sudah begitu ter-gila 2.
Siang malam beliau selalu terkenang.
Agar bisa sambung biCara, beliau sengaja panggil seorang guru bahasa Uigor untuk mengajarnya.
Dan karena beliau memang berotak terang, tak berapa lama bahasa suku tersebut pun dapat dikuasainya.
Tapi sedikitpun beliau tak menyangkanya, bahwa hati Hiang Hiang sudah terCuri oleh Tan Keh Lok.
Tambahan pula nona Ui itu sudah punya rasa benci pada raja Boan itu, sebagai pembunuh ayahnya.
Beberapa kali karena akan dipaksa, Hiang Hiang sudah akan, membunuh diri.
Tapi setiap kali tak jadi karena terkenang akan Tan Keh Lok yang pernah menjanjikan hendak membawanya pesiar melihat 2 Tiang Shia (Tembok Panyang).
Sudah menjadi keyakinan"
Yang terpanCang dalam hati Hiang Hiang, anak muda itu pasti akan datang menolong.
Dengan keyakinan itulah Hiang Hiang kuatkan hatinya untuk menolak segala bujuk paksaan baginda.
Sebaliknya dari gusar, Kian Liong' malah merasa Cemas balau 2 nona Ui itu akan mereras.
Dipanggilnya seluruh tukang 2 pandai dikota raja, ditugaskan membuat sebuah pagoda Po Gwat Lauw untuk tempat tinggal Hiang Hiang.
Demikian Kian Liong menyanjung Hiang Hiang, sehingga diumpamakan puteri Ui itu laksana dewi yang bersemajam dirembulan, atau sama dengan bidadari.
Namun Hiang Hiang tak menghiraukan.
Semua perabot dan perhiasan mewah 2 dalam pagoda itu, yangan kata disentuh akan dipakainya, sedang dilihatnya saja pun enggan.
Hari 2 ia selalu termenung memandang kelangit.
Pikirannya me-layang 2 akan penghidupannya yang tenang gembira di padang pasir.
Beberapa kali baginda diam-diam mengawasinya.
Sewaktu nampak bagaimana Hiang Hiang memandang kelangit, mul utnya menyungging senyuman, baginda tak dapat menahan rindu asmaranya.
SeCepat kilat beliau maju memeluk.
Tapi berbareng itu, sebuah benda berkilau menyambar mengarah dadanya.
Itulah badi-badi yang dipakai Hiang Hiang untuk menikam.
Beruntung raja itu gerakannya linCah, sedang Hiang Hiang tak mengerti ilmu silat, sehingga beliau dapat menghindari sebat sekali.
Namun tak urung, tangan kirinya kena tertusuk, hingga darah menguCur deras.
Saking kagetnya, baginda mengeluarkan keringat dingin.
Dan sejak itu, tak berani beliau berlaku gagah 2an mendekat lagi.
Peristiwa itu didengar oleh Thayhouw, siapa segera titahkan dayang dan thaikam untuk merampas senjata nona Ui tersebut.
Tapi Hiang Hiang menganCam, barang siapa berani mendekatinya, ia akan bunuh diri.
Kian Liong terpaksa mengalah dan suruh thaikam berlalu serta selanjutnya tak berani melakukan paksaan lagi.
Sekalipun begitu, Hiang Hiang masih selalu berkuatir, yangan-yangan hidangan dan minuman untuknya diCampuri obat bius, maka selain buah semangka, ia tak mau memakan semua hidangan itu.
Baginda sengaja titahkan membuat sebuah kolam mandi Puteri Ui itu mempunyai suatu Ciri yang istimewa. makin lama ia tak mandi, keringat tubuhnya makin berbau harum. Ketika ia berpaling untuk mengawasi ke 2 buah vaas giok itu, tangannya tak lupa untuk memegang ujung badi-badi-nya. Karena dikuatirkan Kian Liong akan menjalankan tipu muslihat padanya. "Dulu sewaktu kulihat gambarmu divaas itu, aku tak perCaja kalau didunia ini terdapat seorang mahluk yang seCantik itu. Tapi ternyata setelah kini aku berhadapan dengan orangnya sendiri, malahan kuanggap gambar itu masih jauh lebih kalah dengan orangnya," Kian Liong mengelah napas. Hiang Hiang membisu. "Se-hari 2an kau berduka saja, apakah kau terkenang akan rumahmu? Coba kau lihat kejendela sini!" Kian Liong berkata lagi. Hiang Hiang dapatkan Kian Liong bersama dengan 2 erang thaikam berada dipinggir jendela. Ia segera keluarkan suara jengekan dan jebikan bibir. Melihat itu Kian Liong tersedar dan lalu menyingkir keujung sana sembari memerintahkan ke 2 thaikam berlalu. Setelah mereka menyingkir, baru Hiang Hiang pelan-pelan mendekati jendela dan meninjau keluar. Ia lihat sebuah padang pasir, disana sini tampak beberapa perkemahan orang Ui dan pada tempat yang jauh terdapat sebuah mesjid. Hati Hiang Hiang seperti dibetot, 2 butir air mata menetes turun. Teringat ia akan ayah dan orang-orang tua bangsanya yang telah menjadi korban pasukan Ceng. Seketika timbul ah kemarahannya. SeCepat kilat ia berpaling, tangannya menyambar sebuah vaas giok terus ditimpukkan kearah kepala baginda. Bu Bing Hu thaikam Cepat melesat kemuka baginda untuk menyanggapi. Tapi vaas itu sangatlah liCinnya, sehingga melejit lepas dari tangannya, jatuh hanCur ketanah. Menyusul dengan itu, Hiang Hiang timpukkan lagi vaas yang ke 2. Ti Hian thaikam kini yang menyambutinya dengan sepasang tangan. Tapi tetap vaas itu merosot dari tangannya dan jatuh berantakan. Demikianlah, sepasang benda yang jarang terdapat didunia, musna ber-keping-keping. Takut kalau sinona akan menyusuli dengan lain-lain benda yang membahayakan baginda, Bu-thaikam lonCat menangkap tangan Hiang Hiang. Tapi nona itu kelihatan gerakkan pedangnya kearah lehernya sendiri. "Tahan!" Seru baginda dengan gugup. Bu-thaikam tarik tangannya, sedang Hiang Hiang pun Cepat mundur. Tiba-tiba "brakk," Sebuah benda lolos jatuh dari tubuh sinona. Takut kalau itu adalah senjata rahasia, Bu-thaikam Cepat-cepat memungut. Tetapi itu hanya sebuah mainan giok permata. Benda itu diserahkan kepada baginda. Nampak benda itu, wajah baginda berobah puCat. Itulah batu mustika yang dahulu di Hayleng, diberikannya kepada Tan Keh Lok dengan pesanan supaya diberikan pada orang yang dipenujuinya. Apakah ke 2 orang itu sudah berkenalan? Demikian pikirnya. "Kau kenal padanya?" Buru-buru Kian Liong bertanya. "Dari mana kau peroleh batu mustika ini '?" "Mana, kasih kembali padaku," Sahut Hiang Hiang sambil ulurkan tangannya. Makin bertambahlah Cemburuan baginda. "Jawablah, siapa yang memberikannya padamu, nanti kukembalikan!" "Suamiku!" Sahut Hiang Hiang Cepat. Bukan kepalang kaget baginda, diulanginya bertanya. "Jadi kau sudah kawin?" "Sekalipun tubuhku belum menjadi miliknya, tapi hatiku sudah kuserahkan padanya. Dia adalah seorang yang paling gagah berani didunia. Lihat saja, dia pasti akan dapat membebaskan diriku dari sini. Biar kau seorang raja, dia tak nanti jeri padamu, begitu pula aku." Hati Kian Liong makin mendidih, katanya. "Kutahu siapa yang kau maksudkan itu. Dia adalah ketua dari HONG HWA HWE, Tan Keh Lok namanya. Dia hanya seorang kepala gerombolan dikangouw, apanya yang mesti dikagumi?" Mendengar jawaban baginda itu, diluar dugaan, Hiang Hiang malah kelihatan girang. Katanya. "Apa? Kaupun kenal padanya. Nah, sebaiknya kau lekas bebaskan diriku," Katanya. Kian Liong mendongak kemuka. Tiba-tiba tertumbuklah pandangannya pada sebuah kaCa. Disitu tampak duplikat dirinya dengan jelas. Dia insyap, bahwa dirinya kalah tampan dan kalah muda dengan Tan Keh Lok. Seketika rasa Cemburu dan dengki menCengkeram batinnya. Mainan giok itu segera ditimpukkan kepada kaCa hingga kaCa itu hanCur berantakan. Hiang Hiang Cepat memungut mainan itu, dan diulapnya dengan penuh rasa sayang. Nampak itu makin men-jadi 2-nya kemarahan baginda. Dengan membanting kaki, beliau berlalu dari situ. Hampir setengah harian baginda duduk termenung menyekap diri dalam kamar tulisnya. "Aku seorang yang dipertuan diseluruh negeri. Tapi ternyata seorang gadis dari lain suku telah berani menolak getas kehendakku, disebabkan Tan Keh Lok menyelak ditengah 2. Dia menganjurkan aku mengusir orang Boan dan membangunkan pula kerajaan Han. Memangnya suatu Cita 2 yang indah. Tapi apakah hal itu tidak akan 'gagal menggambar harimau, berbalik menjadi gambar anjing'. Usaha besar gagal, berbalik mengantar jiwa dengan sia-sia. Ber-bulan 2 sudah kupertimbangkan soal itu, namun belum dapat kuambil putusan. Ah, bagaimana baiknya?" Demikian Kian Liong me-nimbang 2 dalam pikirannya. Tapi pada lain saat dia berpikir lagi. "Ah, kesemuanya itu tergantung padaku sendiri, tak perlu kubimbang. Andaikata kusetuju melaksanakan usaha itu, dan berhasil, tidakkah berarti aku akan selalu dibawah tekanan Tan Keh Lok? Jadi aku tak lebih hanya merupakan raja boneka saja! Dan mengapa kuharus membuang kemegahan didepan mata untuk mengejar kemuliaan yang belum tentu dapat kunikmati? Hati gadis Ui itu sudah terpikat olehnya, baik, sekali tepuk akan kutangkap 2 ekor lalat." Setelah mengambil ketetapan, dipanggilnya Pek Cin. "Pada setiap ruangan tingkat Po Gwat Dauw, taruhlah 4 orang si-wi (jago pengawal) kelas satu. Diluar pagoda, siapkan lagi 20 orang Si-wi. Yangan sekali-kali hal ini sampai bocor," Perintah sang junjungan. Pek Cin menjura selaku tanda menerima titah. "Panggil Keh Lok ke Po Gwat Lauw. Katakan aku hendak membiCarakan urusan penting, yangan dia membawa pengikut!" Lebih dahulu Pek Cin mengatur penjagaan, baru mengundang Tan Keh Lok. Diam-diam dia kuatir akan keselamatan ketua HONG HWA HWE Itu, pikirnya. "Kalau dia datang seorang diri, biar kepandaiannya menyundul langitpun, tak nanti dia sanggup melawan 40 orang si-wi. Dia telah melepas budi padaku, mengapa aku takkan membalasnya? Tapi titah baginda itu tak boleh dibocorkan padanya. Biar kulihat perkembangannya nanti." Mendengar perintah kaisar, Tan Keh Lok segera berganti pakaian. Liok Hwi Ching dkk. sama mengutarakan kekuatirannya. Tapi ketua HONG HWA HWE telah mengambil putusan, apapun yang akan terjadi, dia tetap akan menghadap kaisar. "Totiang, kalau aku sampai tak kembali, pimpinan HONG HWA HWE harap Totiang pegang untuk menCari balas," Kata Keh Lok pada Bu Tim. "Harap CongthoCu tak usah kuatir," Sahut Bu Tim. "Saudara-saudara, tak perlu menyambut diluar istana. Kalau dia hendak menCelakakan diriku, saudarapun pasti terlambat akan menolongku. Bahkan nanti saudara-saudara akan terlibat bahaya sendiri," Kata Keh Lok pula. Semua orang HONG HWA HWE dapat dibikin mengerti. Sampai Keh Lok kedalam Kota Terlarang (komplek istana) haripun sudah gelap. Dua orang thaikam dengan membawa teng, menjadi penunjuk jalan. Naik sampai ketingkat 4 dari Po Gwat Lauw, thaikam melaporkan kedatangannya. Keh Lok dititah masuk kesebuah ruang kecil disamping loteng, disitu tampak baginda Kian Liong tengah duduk termenung. Keh Lok buru-buru berlutut memberi hormat. Kian Liong mengisyaratkannya duduk. Tampak pada dinding dimuka Keh Lok, sebuah lukisan koleksi istana Han yang sangat "hidup" Sekali. Disebelahnya, terdapat sepasang lian buah tulisan baginda Kian Liong sendiri, berbunyi sbb.. Meskipun ambekan baginda Seng Siao Ong besar" Tapi akhirnya hanya kemasgulan yang diperolehnya. Nyata tulisan Kian Liong itu ditujukan untuk dirinya sendiri, di baratkan seperti raja Han tersebut. "Bagaimana?" Tanya baginda melihat Keh Lok membaca lian itu. "Baginda berambekan tinggi, serupa dengan baginda Sin Bu, kalau dapat menyelesaikan usaha besar itu nama baginda turun temurun akan dimuliakan, jauh lebih berjasa dari sejarah Han mengusir Cin, kerajaan Beng meruntuhkan Gwan Tiauw." Mendengar pujian itu, hati Kian Liong membubung tinggi. Sambil mengurut jenggot, beliau terhening sejenak, kemudian ketawa. Katanya. "Kita ber 2 meskipun kedudukannya antara raja dengan menteri, tapi hubungan kita adalah hubungan saudara. Kelak kau harus sungguh-sungguh membantu aku." Hati Keh Lok tergetar. Di kiranya setelah melihat bukti 2 dan surat 2 itu, kini Kian Liong mau mengakui saudara padanya. Dan uCapan tadi, mengunjuk kalau beliau setuju untuk melaksanakan gerakan besar itu. Saking girangnya, Keh Lok berlutut dan menjura. "Baginda seorang junjungan yang agung perwira, itu merupakan berkah besar pada seluruh rakyat." Tapi sebaliknya girang, baginda mengelah napas. "Sekalipun aku seorang kaisar, namun kalah berbahagia dengan kau," Katanya. Keh Lok melengak. "Pada bulan delapan di Hayleng kuhadiahkan padamu sebuah batu ikat pinggang giok. Apa barang itu kini kau bawa?" "Baginda titahkan hamba kasihkan pada orang pilihanku, kini telah hamba berikan." "Kau berpemandangan luas, yang kau penujui, tentu seorang wanita yang terCantik didunia." "Sayang ia tak ketahuan rimbanya, entah hidup atau mati," Mata Tan Keh Lok mulai merambang merah. "Kalau gerakan baginda itu sudah selesai, hamba akan menCarinya sampai ketemu." "Tentunya kau sangat mencintainya bukan?" "Ya," Sahut Keh Lok tak lampias. "Honghouw (permaisuri) seorang Boan, kau sudah mengetahui bukan?" "Ya." "Honghouw sayang sekali padaku. Beliau sangat pandai dan berpengaruh. Kalau aku bersekongkel denganmu, beliau pasti akan merintangi mati-matian. Coba, kau pikir bagaimana baiknya?" Pertanyaan itu sukar untuk Keh Lok menjawabnya. "Baginda lebih tahu, hamba tak dapat memberi pertimbangan." "Antara rumah tangga dan negara, harus dipisahkan. Pada akhir 2 ini, aku tenggelam dalam kebingungan. Dan lagi aku masih mempunyai satu soal besar, sayang tiada orang yang dapat kubagikan derita bathinku itu," Kata baginda. "Apa yang baginda titahkan, hamba tentu tak akan menolak." "Ah, sebenarnya seorang laki 2 sejati tidak nanti merampas kesayangan orang lain," Kian Liong mengelah napas. "Tapi bagaimana akan menghindarinya, ah, Cinta punya bisa. Bagaimana kuharus berbuat? Coba tengoklah kesana!" Kian Liong menunjuk kesebuah ruangan disebelah barat, kemudian beliau berbangkit terus naik keloteng atas, meninggalkan Keh Lok seorang diri tanpa mengerti apa yang dimaksud dengan uCapan baginda itu. Setelah menenangkan diri, anak muda itu lalu menyingkap sekosel pintu untuk masuk kedalam. Sebuah kamar tidur yang luar biasa mewahnya dengan diterangi oleh lilin. Seorang gadis duduk termenung disitu. Tan Keh Lok seperti terpaku. Mulutnya bungkam dalam seribu bahasa. Hiang Hiang bermula enggan menengok kebelakang. Tangannya erat 2 memegang batang pedang, siap menghadapi. Tapi ketika dilihatnya orang yang siang malam dirindui berdiri dibelakangnya, ia menjerit kegirangan terus lari menubruk kedalam rangkulan sianak muda. "Kutahu kau pasti akan datang menolongku, karenanya kutetap bersabar menunggumu". "Asri, apakah kita ini sedang bermimpi?" Tanya Keh Lok sambil memeluknya. Hiang Hiang menggelengkan kepala, air matanya berketes turun. Bukan main rasa Syukur Tan Keh Lok atas budi kebaikan baginda, yang telah begitu baik untuk mengambil nona yang dikasihinya itu dari tempat yang begitu jauh. Luapan hati yang mencinta, telah mendorong Keh Lok untuk memberi Ciuman pada nona itu. Begitulah ke 2 orang muda itu, seketika tenggelam dalam alam ke bahagiaan. Lewat beberapa saat kemudian, Hiang Hiang menunjuk pada kaCa Cermin yang pecah seraya mengeluarkan batu mustikanya. "Dia rampas mainanku ini untuk menghantam kaCa itu hingga pecah." "Siapa?" Tanya Keh Lok terkejut. "Raja busuk itu". Keheranan Keh Lok makin menjadi, tanyanya. "Mengapa?" "Kukatakan padanya, kutetap tak jeri menghadapi paksaannya, karena kau pasti datang menolong. Dia marah-marah dan Coba menarikku, tapi kumembawa pedang ini". Kepala Keh Lok seakan-akan pecah seperti disambar petir, katanya tanpa sadar. "Pedang?" "Hm, ketika ayah menutup mata, akulah yang mendampingi. Ayah memberiku pedang ini dengan memesan lebih baik kubunuh diri daripada diCemarkan musuh. Bunuh diri karena membela kesuCian wanita Islam, Al ah takkan mengutuknya." Tampak pula oleh Keh Lok bagaimana pakaian Hiang Hiang itu dnyahit rapat-rapat. Diam-diam dia memuji akan kekerasan hati dara yang bertubuh lemah itu. Teringat juga dia entah beberapa kali sudah dia bersama nona itu menghadapi bahaya. Seketika hatinya penuh dengan bermacam perasaan. Tanpa merasa dipeluknya gadis itu kembali. "Kiranya baginda mengambil Asri kemari itu, untuk kepentingannya sendiri. Beliau membangun taman bergurun, mendirikan kemah 2 dan mesjid itu, untuk mengambil hatinya. Tapi Asri tak mau. Mungkiri sudah beberapa kali baginda hendak melakukan paksaan, tapi senantiasa gagal. Ah, mengapa tadi baginda mengatakan kalau ia kalah beruntung dengan aku itu, kiranya soal inilah yang dimaksudkan", pikir Keh Lok. Didalam pelukan sianak muda, Hiang Hiang merasa aman sekali. Dan karena sudah ber-hari 2 ia tak dapat tidur pulas, tanpa merasa kini ia tertidur. "Beliau mengidinkan kubertemu dengan Asri, apakah maksudnya? Beliau mengemukakan hubungannya dengan Honghouw. Untuk melaksanakan gerakan besar itu, hubungan tersebut. harus dikesampingkan. Antara rumah tangga dan negara, salah satu harus dikorbankan. Ja, apakah maksudnya........." Berpikir sampai disini, Keh Lok menguCurkan keringat dingin, tubuhnya gemetar. Tapi Hiang Hiang tetap pulas dengan bibir menyungging senyuman. "Berdampingan dengan Asri dan bentrok dengan baginda, atau, menasehati Asri supaya menurut pada baginda demi untuk kepentingan gerakan mulia itu?" Demikian akhirnya Keh Lok mendapat kesimpulan. Berat nian rasanya untuk menjatuhkan pilihan diantara ke 2 soal itu, Pikirnya pula. "Begitu besar Cinta Asri padaku. Ia mati-matian mempertahankan kesuCiannya, karena ia menaruh keyakinan penuh bahwa aku pasti dapat menolongnya. Apakah aku tak punya perasaan, tega untuk membelakanginya? Namun kalau kupilih Asri, tentu akan bentrok dengan baginda. Dan kesempatan untuk membebaskan penderitaan rakyat pasti hilang. Bukankah berarti kami ber 2 menghianati saudara-saudara diseluruh tanah air?" Selagi Keh Lok tak berdaya mengambil putusan. Tiba-tiba Hiang Hiang membuka mata, katanya. "Mari kita tinggalkan tempat ini. Kusebal menemui raja busuk itu." "Baik, kita pergi," Kata Keh Lok. Disambutinya pedang Asri, lalu mengretek gigi, pikirnya. "Persetan, menjadi penghianat bangsa, biarlah. Kalau kami gagal menobros keluar, kami akan mati bersama ditempat ini. Kalau berhasil, akan kuajak ia, hidup mengasingkan diri digunung. Ini jauh lebih baik dari pada membiarkan dirinya diCemarkan orang." Dia menghampiri jendela dan melongok keluar. Tak seorang Si-wipun kelihatan. Suasana didekat situ sunyi 2 saja. Sedang dikejauhan hanya kelihatan sinar lampu. Ketika diawasi, ternyata lampu-' itu, memang dipasang oleh tukang 2 yang tengah menyelesaikan taman bergurun itu. Mungkin karena takut mendapat hukuman, maka ratusan tukang 2 itu harus bekerja siang dan malam untuk mengejar waktu. Seketika panaslah hati Tan Keh Lok. "Hm, kalau begitu, entah sudah berapa banyak sekali rahajat yang kehilangan rumahnya! Baginda itu seorang raja yang mengutamakan kesenangannya sendiri, tak menghiraukan penderitaan rahajat. Dibawah pemerintahannya, Kawan-kawan kita seluruh tanah air mengalami penderitaan. Kalau mungkin, biarlah kesengsaraan bangsa kita ditimpahkan padaku dan Asri saja." SeCepat kilat, terjadilah perubahan besar dalam bathin Tan Keh Lok. "Kau tunggu disini, biar kupergi sebentar", katanya. Hiang Hiang memanggut dan menerima pula pedangnya tadi. Keh Lok menuju ketingkat 5, dimana baginda sedang duduk bermuram durja. "Kepentingan negara diatas kepentingan peribadi. Biar kunasehatinya supaya menurut kehendakmu", kata Keh Lok segera. Kian Liong ionCat kegirangan, serunya. "Benar?" "Hm, tapi kuminta janjimu" Kata Keh Lok seraya menatap wajah baginda dengan tajam. "Janji bagaimana?" "Kalau tidak bersungguh hati untuk mengusir bangsa Boan apa katamu?" Kian Liong merenung sejenak. "Kalau sampai aku ingkar, walaupun semasa hidup kumenikmati kesenangan yang tiada Laranya, nanti kalau sudah meninggal, biar kuburanku dibongkar orang, agar matipun aku tak dapat tenang, turun temurun diperhina orang", ia bersumpah. Makam raja 2 itu dipandang keramat dan suCi. Kalau sampai dibongkar, terang suatu uCapan sumpah yang berat. "Baik, segera kunasehatinya. Tapi kuminta agar diperkenankan untuk keluar bersamanya dari istana ini". "Keluar dari sini?" Menegas Kian Liong dengan kaget. "Ya, kini ia masih sangat membenci kau. Disini ia tak nanti mau dengar nasehatku. Akan kubawanya pesiar melihat Tembok Panyang untuk menCari kesempatan memberi nasehat". "Mengapa harus pergi ketempat yang begitu jauh?" "Aku pernah menjanjikan untuk mengajaknya kesana. Setelah itu, aku berjanji takkan menemuinya lagi untuk se-lama-lamanya". "Kau pasti membawanya kembali?" Tanya Kian Liong sangsi. "Kita orang kangouw, lebih menghargai janji daripada d jiwa sendiri." "Dia menaruh kepentingan usahanya itu diatas segala, tak nanti karena seorang wanita, dia akan menipu aku," Pikir Kian Liong. "Baik, kamu boleh pergi!" Serunya sebaja menepuk meja. Setelah Keh Lok berlalu, Kian Liong segera titahkan 40 orang Si-wi untuk mengikuti ke 2 orang itu dengan diam-diam. Demikianlah setelah kembali, Keh Lok segera ajak Hiang Hiang berlalu. Karena sudah menerima firman, tak ada seorang si-wi dalam istana itu yang menghalangi perjalanan ke 2 orang tersebut. Selama itu tak sedikitpun Hiang Hiang menaruh keCurigaan apa-apa. Apa yang terjadi itu, ia perCaja, berkat kelihaiaan kekasihnya. Setibanya diluar istana, hari sudah terang tanah. Menampak sang KongCu keluar, Sim Hi yang sudah sedari tadi menunggu dengan kuda putihnya, segera menghampiri. Demi nampak Hiang Hiang ikut serta, dia menjadi heran. "Aku akan keluar kota, mungkin malam nanti baru balik. Sampaikan pada sekalian saudara-saudara, tak usah kuatir," Kata Keh Lok sambil menyambuti kuda putih. Sim Hi melihat sang KongCu (lengan puteri Ui itu naik kuda menuju keutara. Ketika dia hendak pulang, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kuda mematangi. Berpuluh Si-wi dengan berpakaian warna kuning sama naik kuda memburu kearah KongCunya. Yang dimuka sendiri, bertubuh kurus kering, dikenalnya sebagai Kim-kao-thiat-jiao Pek Cin yang pernah dijumpainya di HangCiu tempo hari. Sim Hi kuatir bukan kepalang, Cepat ia pulang melapor. Dengan sandarkan kepalanya didada orang yang dikasihi, serasa hilanglah segala kesedihan Hiang Hiang selama itu. Dalam beberapa waktu saja, kuda putih itu sudah melintasi sungai Ching-ho Sat-ho, kota Ching Ping dan Lam Go. Begitulah akhirnya mereka sampai dikota Ki Yong Kwan. Disitulah Tembok Besar tampak me-lingkar 2 dengan megahnya, bagaikan seekor ular raksasa. "Untuk apa mendirikan bang'unan raksasa ini?" Tanya Hiang Hiang. "Itu waktu untuk menjaga serbuan musuh dari daerah utara. Untuk membangun tembok ini, entah sudah berapa banyak sekali jiwa dan darah rakyat yang berkorban." "Huh, kaum lelaki itu memang aneh. Mengapa mereka tak suka hidup rukun dengan menari dan menyanyi? Mereka senantiasa berperang, sehingga ribuan jiwa melayang." "Benar, maka andaikata baginda nanti mendengar perintahmu, Cegahlah dia supaya yangan memerangi rahajat diperbatasan yang kasihan nasibnya itu." "Huh, siapa sudi bertemu muka dengan raja busuk itu lagi," Hiang Hiang tertawa. "Kalau kau dapat mempengaruhinya, tentu kau dapat menCegah perbuatannya yang buruk itu, agar dapat meringankan penderitaan rakyat. Sudikah kau meluluskan permintaanku ini?" "Aneh, kapan aku tak menurut kata-katamu?" Balas bertanya Hiang Hiang. Keh Lok menyatakan terima kasihnya, kemudian dengan bergandengan tangan ke 2nya ber-jalan 2 diluar Tembok Besar. "Toako, aku teringat, sesuatu," Tiba-tiba Hiang Hiang berkata. "Apakah itu?" "Hari ini aku merasa bergembira sekali bukan karena keindahan pemandangan tempat ini, tapi karena kau berada didampingku." Mendengar uCapan itu, hati Keh Lok makin tak tega mengutarakan maksudnya. "Kau punya permintaan apa padaku?" Katanya kemudian. "Toako, kau sangat baik kepadaku. Segala apa, tanpa kuminta, kau tentu mengerjakan permintaanku," Kata Hiang Hiang seraya mengeluarkan bunga swat-tiong-lian (terata salju) dahulu itu. Walaupun sudah laju, bunga itu masih putih meletak dan harum baunya. "Hanya suatu hal yang kau tak mau melakukan, kuminta kau menyanyi, tapi kau menolak." "Ha, sungguh mati, aku selamanya tak pernah menyanyi," Keh Lok terta,wa geli. "Sudahlah, akupun tak sudi menyanyi untukmu lagi," Hiang Hiang pura-pura meng'ambek. Mengingat hanya sehari itu mereka dapat berkumpul, terpaksa Keh Lok mengalah, katanya. "Ya, baiklah, kuingat sewaktu masih kecil ibu sering menyanyikan beberapa lagu untukku. Biar kunyanyikan, tapi awas, yangan kau menertawakan ja?!" "Bagus, bagus, Ayo mulailah!" Seru Hiang Hiang bertepuk tangan. Setelah mengingat sebentar, mulailah Tan Keh Lok menyanyi. "Hujan rintik'~ ditiup angin sepoi 2. Dibawah loteng terdengar bisik orang me-raju 2. Kukira dia kekasihku. Tanpa terasa, mulutku samar-mengoCeh. Tapi ketika kuperhatikan, ternyata bukan si dia. Bukan main terkejutku, sehingga jantungku berdebar keras saking takut." Tan Keh Lok menjelaskan nyanyian itu dalam basa Ui, Hiang Hiang tertawa dan berkata. "Oh, kiranya nona itu matanya kurang awas." Tanpa terasa, sepasang mata Keh Lok mengembeng air mata. Hiang Hiang terkejut. "He, mengapa? Kau tentu terkenang pada ibumu. Sudahlah, baik kau berhenti menyanyi." Ke 2nya bermain-main pula diluar dan didalam tembok. Bangunan tembok raksasa itu memang luar biasa kokohnya. Ditengahnya terdapat lorong. Setiap jarak tiga puluhan tumbak terdapat sebuah menara. Menara itu untuk melepas api pertandaan. Tan Keh Lok teringat bagaimana didaerah Hwe dahulu, Hwe Ceng Tong membuat asap long-yan dan memukul pecah pasukan Ceng. Terkenang akan nasib yang belum ketahuan dari nona itu, hati Tan Keh Lok menjadi tawar. Sekalipun hendak ditutupnya, tak urung wajahnya nampak tanda-tanda kemasgulan itu. "Kutahu apa yang kaupikirkan saat ini," Kata Hiang Hiang. "Apa?" "Ketika kita bertiga terkurung di Kota Sesat, meski dalam bahaya, tapi kau tetap bergembira. Ah, yangan kuatirlah!" "Asri, apa maksudmu?" Tanya Tan Keh Lok seraya memegang tangan sinona. Hiang Hiang mengelah napas, sahutnya. "Dulu aku masih seorang anak, apapun tak mengerti. Tapi setelah agak lama tinggal di stana raja, kini baru aku jelas kesemuanya itu. Cici-ku suka padamu, dan kaupun membalas suka padanya, bukan?" "Benar, sebenarnya tak harus aku mengelabui kau," Sahut Keh Lok. "Tapi akupun tahu, kau juga suka padaku. Tanpa kau, aku segan hidup. Mari kita Cari Cici, sampai dapat. Kita bertiga hidup dengan bahagia se-lama-lamanya." Sewaktu menguCap kata-kata itu, mata Hiang Hiang yang bening itu memanCarkan Cahaja gilang gemilang, pertanda luapan hatinya yang bahagia. Keh Lok kepal tangan Hiang Hiang erat 2, bisiknya. "Asri, hatimu murni sekali. Kau dan Cicimu adalah insan yang terbaik didunia." Hiang Hiang tak menyahut, hanya memandang jauh kemuka. Tiba-tiba diantara sorot matahari itu seperti mengandung Cahaja air. Ia memasang telinga betul-betul dan sajup 2 terdengar suara khim berbunyi. "Dengarlah, betapa merdu nyanyian itu." "Itu selat Than-Khim-kiap (selat menabuh harpa)!" Kata Keh Lok. Hiang Hiang minta dibawa kesana. Melalui beberapa semak pegunungan itu, mereka tiba disebuah umbul (air sumber) yang memanCur dari sela 2 batu gunung. Karena tinggi rendahnya air yang jatuh, maka timbul ah semacam bunyi yang seolah-olah merupakan bunyi khim. Air sumber itu jernih dan sejuk sekali. Hiang Hiang membasuh kakinya. Ke 2nya duduk ditepi aliran. Keh Lok mengeluarkan ransum kering. Begitulah Hiang Hiang senderkan kepalanya dipunggung kekasihnya, sembari memakan, ia mengulap 2 kakinya dengan saputangan. "Asri, hendak kubiCarakan suatu hal padamu," Kata Keh Lok kuatkan hatinya. Hiang Hiang balikkan tubuhnya, terus memeluk dan sesapkan kepalanya kedada sianak muda. "Kutahu kau Cinta padaku. Kau tak menyatakan, akupun sudah mengerti. Sudahlah, tak usah kau mengatakannya." Hati Keh Lok terCekat. Kata-kata yang sudah siap diujung lidah, ditelannya kembali. Beberapa saat kemudian, dia berkata pula. "Asri, kau tentu masih ingat akan riwajat puteri Mamir digunung Giok-nia itu?" "Ya, kini ia bersama Ali-nya berada disorga". "Apakah kamu umat Islam perCaja bahwa setelah meninggal, arwah kita akan berada ditaman Gembira Loka yang abadi?" "Sudah tentu," Sahut sigadis tanpa ragu-ragu. "Nanti sekembalinya ke Pak-khia akan kudapatkan Haji dari bangsamu. Akan kuminta dia mengajar supaya aku menjadi seorang penganut Islam yang saleh". Hiang Hiang girang sekali mendengarnya, serunya. "Toako, apakah kau ber-sungguh-sungguh?" "Tentu!" "Karena mencintai aku, kau sampai berlaku begitu. Benar-benar tak kusangka". "Ya, sebab dalam penghidupan didunia fana ini kita tak dapat bersama, biarlah nanti dialam baka kuselalu berdampingan dengan dikau." Mendengar itu, tergetarlah tubuh Hiang Hiang hingga beberapa saat ia termangu-mangu. "Apa katamu? Dalam penghidupan sekarang kita tak dapat berkumpul bersama?" Katanya. "Ya, selewatnya hari ini, kita bakal berpisah se-lama-lamanya". "Kenapa?!" Menegas Hiang Hiang dengan berdebar. Air matanya berCucuran menetes kepakaian Keh Lok. "Asri, kalau dapat kumendampingimu, sekalipun tak makan, berpakaian Compang Camping, dihina orang, relalah aku. Tapi ingatlah kau akan sejarah Mamir? Ja, Mamir yang bnyaksana itu? Demi kepentingan rakyatnya, ia rela berpisah dengan Ali yang diCintainya itu, rela mengorbankan diri pada raja lalim itu..............." Hiang Hiang menelungkup dikaki Keh Lok, katanya dengan lemah. "Jadi kau maukan aku menyerahkan diri pada raja busuk itu? Supaya aku dapat kesempatan untuk membunuhnya?" "Bukan, dia adalah kakakku sendiri," Lalu panyang lebar Tan Keh Lok tuturkan riwajat hubungannya darah dengan kaisar Kian Liong. Selesai mendengar, pingsanlah Hiang Hiang. Kebahagiaan yang selama itu diCita 2kan, baru saja dikiranya terlaksana, ternyata dibanting hanCur lagi. Ja, siapakah orangnya yang kuat menghadapi derita yang sedemikian beratnya itu? Ketika, sadar, didapatnya Tan Keh Lok masih memeluk dirinya. Tapi sementara itu, ia rasakan badannya basah semua. Itu tentulah air mata Tan Keh Lok yang membanjirimja. "Tunggulah sebentar disini," Kata Hiang Hiang seraya berbangkit. Ia menuju kesebuah batu besar disebelah sana, lalu berlutut menghadap kebarat. Kiranya ia sedang bersembahyang meminta kekuatan pada Al ah. Selang tak berapa lama kemudian, kelihatan ia berbangkit. "Kau menghendaki bagaimana, biar aku menurut, saja," Katanya. Keh Lok memburu untuk memeluknya dengan perasaan hanCur. "Kalau kuketahui akan terjadi peristiwa sekarang ini, aku tak mau pesiar kemari. Akan kuminta agar kau sehari penuh memeluk aku saja," Kata Hiang Hiang. Keh Lok kembali menciumnya. "Nanti kalau aku berada di stana, aku tak mau mandi. Sekarang aku akan mandi untuk yang penghabisan kali," Kata Hiang Hiang pula. "Baiklah, biar kutunggu disebelah sana." "Tidak, kau harus berada disini. Pertama kali kau berjumpa dengan aku, sewaktu aku sedang mandi. Maka untuk penghabisan kali, akupun minta kau menunggui aku mandi. Untuk kenang 2an agar selamanya kau tak melupakan diriku." "Asri, apakah kau kira aku dapat melupakan kau?" "Ya, aku kesalahan omong, yangan marah, Toako, kau tunggui disini." Keh Lok terpaksa duduk kembali menyaksikan puteri harum itu menanggal pakaian dan mandi dengan riangnya...... Sehabis mandi, kembali Hiang Hiang dekapkan tubuhnya kepada "ianak muda. "Asri, sekalipun kita bakal berpisah, namun hati kita tetap bersatu. Dipadang pasir, disini, sekalipun kebahagiaan itu hanya singkat sekali, namun melebihi kebahagiaan suami isteri yang berkumpul beberapa puluh tahun." "Toako, Toako, matahari sudah mulai silam!" Tiba-tiba Hiang Hiang menjerit dengan ratap tangisnya sambil memandang kearah barat. Hati Keh Lok seperti diremas. "Asri, maafkanlah, kait sampai menderita begini!" Katanya. "Betapa baiknya bila matahari bisa terbit lagi, sekalipun hanya untuk sebentar "Demi untuk kepentingan bangsaku, sudah selajaknya kumenderita," Kata Keh Lok. "Tapi kau belum pernah melihat mereka, belum pernah mengenalnya............" "KuCinta padamu, seharusnya pun terhadap bangsamu. Bukankah kau d juga menyayang saudara-saudara bangsa Ui kami?"' Tapi ternyata matahari terus tenggelam, hal ini membuat hati Hiang Hiang makin menCelus, katanya. "Mari pulang, aku merasa berbahagia sekali!" Begitulah dengari hati yang kosong, ke 2nya naik kuda kembali. Sepanyang jalan, mulut mereka serasa terkanCing-. Tak berapa lama kemudian, beberapa ..puluh Si-wi dibawah pimpinan Pek Cin datang menyambutnya. Ternyata kawanan Si-wi ,yang menerima titah baginda untuk membuntuti ke 2 anak muda itu, jauh. ketinggalan dibelakang. Beberapa kali mereka mesti tukar kuda baru, sampai beristirahat makanpun mereka tak berani, supaya yangan sampai ketinggalan. Tapi ternyata tetap kehilangan jejak ke 2 anak muda. itu. Maka ketika berpapasan dengan 2 orang muda itu, girang mereka tak terkatakan lagi. Tan Keh Lok tak menghiraukan kawanan Siwi itu dan terus menCongklangkan kudanya. Tiba-tiba dari arah depan tampak serombongan penunggang kuda. Pek Cin Cepat-cepat memberi perintah agar Kawan-kawan nya mempersiapkan senjatanya masing-. "CongthoCu, kita sekalian sama datang," Seru seorang' yang ternyata adalah Jun Hwa. Dibelakangnya tampak Liok Hwi Ching, Bu Tim, Tio Pan San, Bun Thay Lay, ke 2 saudara Siang dan lain-lain pemimpin HONG HWA HWE Melihat itu, terkejutlah Pek Cin............................ Kini kita tengok akan keadaan baginda Kian Liong. Sepeninggal Tan Keh Lok membawa Hiang Hiang, hati kaisar itu gelisah sekali. Hidangan yang bagaimana lezatpun, sedikit tak dnyamahnya. Hari itu dia tak adakan sidang menteri. Seharian dia tidur-bangun tak keruan. Beberapa rombongan Siwi dititahkan untuk menCari kabar. Tapi sampai petang hari, belum seorang siwipun yang pulang melapor. Demikianlah baginda berada dipagoda Po Gwat Lauw, duduk salah berdiri pun salah. Ketika mengawasi lukisan ko-leksinya dari ahala Han, tiba-tiba terbitlah suatu pikiran. "Anak perempuan itu sayang pada Keh Lok, tentunya iapun menyukai akan pakaian orang Han. Kalau nanti ke 2nya sudah balik, tentulah Keh Lok sudah dapat menundukkan hatinya. Kalau kumengenakan pakaian orang Han, tentunya ia akan menyukainya." Thaikam diperintahkan untuk menyediakan seprangkat pakaian orang Han. Tapi ternyata hal itu tak terdapat didalam istana. Seorang thaikam kecil mendapat akal, dia menCarinya ketempat sandiwara wayang. Baginda girang sekali dan berkenan terus memakainya. BerkaCa diCermin, beliau dapatkan dirinya lebih tampan. Tiba-tiba terdengar derap kaki orang mendatangi dengan pelan-pelan . "Hongthayhouw (ibusuri) berkunjung kemari!" Bisik sithaikam kecil. Kian Liong melengak, ketika mengawasi kearah Cermin. Benar, disitu tampak thayhouw berdiri dengan wajah bengis, mengunjuk kemarahan. Buru-buru Kian Liong membalik diri untuk menyambutnya. "Apakah thayhouw belum beristirahat?" Thayhouw mengisyaratkan supaya sekalian thaikam meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian, kedengaran Thayhouw berkata dengan suara parau. "Hamba istana sama melapor hari ini bahwa kau tak enak badan, tidak mengadakan rapat dan persidangan, tak suka dahar. Karena itu, kudatang menjengukmu!" "Anakda kini sudah enakan. Hanya sedikit tak bernapsu makan, tapi tak apa-apa, jadi tak berani membikin kaget thayhouw." Thayhouw tak menyahut untuk beberapa saat. Lalu katanya. "Apakah karena terlalu kenyang makan hidangan Hwe atau hidangan Han?" Kian Liong terkesiap, sahutnya. "Kemaren mendapat hidangan sate kambing." "Itu kan masakan orang Boan-Ciu, hm, rupanya kau sudah bosan menjadi orang Boan". Alas uCapan thayhouw yang sekeras baja itu, Kian Liong tak berani segera menyahut. "Budak perempuan Hwe itu sekarang kemana?" Tanya thayhouw pula. "Ia kurang baik perangainya, anakda titahkan orang membawanya keluar supaya diajar adat". "Ia selalu membawa pedang, berkeras tak mau menuruti kau, apa gunanya kau suruh orang menundukkan hatinya? Dan siapa yang kau suruh ittu?" Didesak begitu, terpaksa Kian Liong menjawab. "Seorang kepala Siwi yang sudah tua, orang, she Pek". Thayhouw memandang kemuka, katanya dengan mendalam. "Kini kau sudah berusia 40 th. lebih, tentu tak perlu akan ibu lagi?" Kian Liong terkejut bukan main, buru-buru menyanggapinya. "Mengapa thayhouw menguCap begitu, kalau anakda tidak berbakti, mohon thayhouw memberi hukuman". "Kau adalah kaisar, orang yang dipertuan diseluruh negeri, mau berbuat apa tentu bisa, mau membohong pun lebih dari bisa." Tahu Kian Liong' bahwa thayhouw mempunyai banyak sekali kaki-tangan, jadi tak dapatlah dia untuk mengelabuinya. Maka katanya dengan pelan. "Yang-mengajar perempuan itu, ada lagi yang anakda titahkan, yaitu seorang terpelajar yang anakda jumpakan di Kangiam. Dia berpengetahuan luas..........................." "Bukankah orang she Tan dari Hayleng?" Tanya thayhouw dengan keren. Kini Kian Liong tak berani berkutik lagi. "Ah, makanya kau kini mengenakan pakaian orang Han!' Mengapa kau tak bunuh aku sekali?" Desak thayhouw. Kian Liong mengelah napas, terus mendumprah dan berlutut, katanya. "Kalau anakda mempunyai hati yang tak berbakti, biarlah langit dan bumi menumpasnya!" Thayhouw kibaskan lengan bayunya, lalu turun keloteng bawah. Kian Liong serta merta mengikutinya. Meskipun ibu suri itu sudah berusia lanjut, tapi gerakannya masih gesit. Ia menuju ke paseban Bu Ing Tian. Selagi Kian Liong mengikuti, dilihatnya ditepi lorong itu berdiri 2 orang Siwi yang diutusnya untuk menCari kabar perihal Hiang Hiang. Mereka akan melapor. Betapa inginnya Kian Liong untuk mendengar laporannya, tapi dalam keadaan seperti waktu itu, dia tak berani dan terus mengikuti thayhouw. "Harap thayhouw yangan marah, bilamana anakda bersalah mohon diberi pengampunan," Kata Kian Liong. Thayhouw duduk disebelah kursi. Setelah napasnya kembali tenang, berkatalah beliau. "Untuk apa kau undang orang she Tan itu kemari? Dan kau berbuat apa saja di Hayleng?" Kian Liong tundukkan kepala tak menyaut. "Kau memperingati jasa menteri besar dari marhum ayahandamu, aku tak menjalankan," Kata thayhouw. Tiba-tiba suaranya berobah keren ber-sungguh-sungguh, lalu berseru. "Apakah betul-betul kau bermaksud membangun kerajaan Han lagi?" Kau akan membasmi kita bangsa Boan bukan?" "Harap thayhouw yangan memperCajai kabar 2 yang tidak 2. Sekali-kali anakda tak ada hati demikian." "Orang she Tan itu dari gereja Siao Lim Si di Hokkian, membawa apa saja untukmu?" Kembali Kian Liong melengak. Diam-diam dia heran, mengapa thayhouw yang hanya dikelilingi oleh para kiong-li (dayang istana), bisa mendapat laporan yang sedemikian Cepatnya. "Orang she Tan itu hendak menghaturkan renCana berontak, anakda telah memusnakan kesemua renCana itu," Kian Liong terpaksa menerangkan. "Kalau begitu, hukuman apa yang hendak kau berikan padanya?" "Dia mempunyai komplotan yang Anggota 2nya terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi yang berani mati. Mengapa anakda masih belum bertindak, itulah karena akan menunggu kesempatan baik akan membasmi mereka semua, untuk menjaga yangan sampai ada yang lolos hingga menimbulkan bahaya dikemudian hari." Mendengar itu wajah thayhouw agak berobah tenang. "Apakah uCapanmu itu dapat diperCaja?" Desaknya pula. Bermula sejak pertemuannya dengan Tan Keh Lok dipagoda Liok Hap Ta, hati Kian Liong memang agak terpengaruh. Tapi ketika kini diketahuinya rahasia renCana itu sudah terbongkar', dia anggap hal itu besar sekali resikonya. Yangan-yangan "bermaksud menggambar harimau, tapi berbalik merupakan gambar anjing" Atau karena mendongak keatas hendak menCapai rembulan, tak tahu kaki terperosok kedalam lubang. SeCepat itu tergoreslah suatu keputusan dalam hati Kian Liong. HONG HWA HWE harus dibasmi! "Dalam tiga hari, anakda pasti akan titahkan tabas kepala orang she Tan itu!" Katanya kemudian. Roman yang bengis dari thayhouw, segera mengunjuk kegembiraan, serunya. "Bagus, itu baru dinamakan berbakti pada leluhur!" Memang Thayhouw itu sangat prihatin bahwa baginda bukan anak' kandungnya sendiri. Asal rahasia itu bocor, kerajaan tentu gonCang. Syukurlah, berpuluh tahun, hal itu tetap tersimpan rapat-rapat. Kematian yang mendadak dari mak inang Liauw-si yang memberi air susu pada baginda, menimbulkan keCurigaan thayhouw. Ia Coba menyelidiki, namun tak mendapat keterangan apa-apa. Dipanggilnya rombongan hiat-thi-Cu, untuk melakukan penyelidikan kerumah keluarg Tan di Hayleng. Soal lenyapnya baginda di HangCiu (ditawan dipagoda Liok Hap Ta), pertemuan dengan Tan Keh Lok, kunjungan kemakam keluarga Tan, kesemuanya dilaporkan kepada thayhouw oleh kawanan hiat-thi-Cu itu. Thayhouw menjadi gelisah, karena dianggapnya baginda kini sudah mengetahui asal usul dirinya. Jalan satu 2nya, ialah mengadakan pen-jagaan seCara diam-diam. Pikirnya. "Dia bersembahyang kemakam orang tuanya, pun hanya suatu kebaktian, asal dia tak berbuat apa-apa, akupun takkan mau bertindak." Maka pada hari itu sewaktu baginda menerima kunjungan Tan Keh Lok, dan kemudian menitahkannya membawa gadis Ui itu keluar istana, tahulah Thayhouw bahwa baginda tentu akan membuat renCana gelap. Begitulah malam itu lebih dulu ia mengatur penjagaan kuat, baru mengunjunginya sendiri. Ketika didapati baginda tengah mengenakan pakaian orang Han, bukan main gusarnya Thayhouw. Ia telah mengambil keputusan penting yang "drastis" Dan maha dahsyat. turun tangan lebih dulu untuk melenyapkan baginda! "Dari beberapa tempat anakda telah mendapat banyak sekali orang berilmu, kiranya Cukup kuatlah untuk menghadapi kawanan pemberontak itu. Juga anakda bermaksud untuk pinjam beberapa tenaga Si-wi dari Thayhouw," Demikian kata Kian Liong lebih lanjut. "Hm, terhadap orang-orangku, biasanya kau tak menyukai. Kini hendak kau adu dengan orang-orang HONG HWA HWE supaya Dua-2nya musna. Siasat 'pinjam pisau membunuh orang' itu, masa aku tidak tahu?" Pikir Thayhouw. Lalu jawabnya. "Baik, nanti kalau sudah sampai saatnya, kau boleh menggunakannya." Oleh karena baginda kepingin mendengar laporan tentang keadaan Hiang Hiang, beliau lalu menyilahkan agar Thayhouw beristirahat. "Hm, baik, kau ikutlah kemari," Sahut Thayhouw, lalu menuju keruangan tengah dari paseban Bu Ing Tian. Thayhouw lantas mengetok pintunya 2 kali. Pintu pa-;ban itu segera terbuka. Kian Liong terkejut demi nampak didalam ruangan itu terang benderang dengan penerangan lilin. Para thaikam berjajar 2 dalam 2 barisan, sedang delapan orang menteri-besar tengah berlutut menyambutnya. Thayhouw dan Kian Liong segera mengambil tempat duduk pada kursi ditengah 2 ruangan. Demi mengawasi keadaan disitu, hati Kian Liong berCekat. Ke-delapan menteri-besar itu, kesemuanya adalah pangeran 2 keluarga kerajaan. Yang berada dimuka sendiri adalah saudara baginda, pangeran Hong Ciu, putera kelima dari Yong Ceng. Kemudian The-jinong, Kiong-jinong, Lu-jinong, Ju-jinong, serta Pak Ung pweklek dan Tiau Hwi Tay-Ciangkun. Kian Liong gelisah, hatinya menebak 2 apakah gerangan maksud Thayhouw itu. Thayhouw berdehem satu kali, lalu berkata. "Sewaktu Sian-te (kaisar almarhum) mangkat, beliau pesan agar pasukan Pat-ki-ping dipecah jadi delapan dan dipimpin oleh kedelapan puteranya. Tapi karena beberapa tahun ini tentara itu diperlukan untuk mengamankan daerah perbatasan, maka pesan Sian-te tersebut belum terlaksana. Kini berkat rejeki dari para leluhur dan berkat kebnyaksanaan dari baginda yang sekarang, daerah perbatasan (Hwe) sudah dapat diamankan. Maka mulai saat ini, Pat-ki-ping tersebut kuserahkan padamu berdelapan. Harap kalian pergunakan sebagaimana mestinya untuk membalas budi baginda." "Hm, kiranya ia masih tak memperCajaiku, kekuasaanku atas ketentaraan di-pecah 2," Pikir Kian Liong. "Nah, kini silakan baginda yang membagikannya," Seru Thayhouw. "Ah, kini aku betul-betul kalah angin. Tapi karena akupun sudah tak berniat untuk melaksanakan gerakan itu, kiranya pemeCahan kekuasaan militer inipun tak menjadi soal," Kembali Kian Liong menimbang 2. Maka segera induk pasukan Pat-ki-ping dipecah dan ditimbang terimakan kepada kedelapan saudaranya itu. Thayhouw minta supaya penyerahan itu diberikutkan juga dengan surat penyerahan yang resmi. Atas isyaratnya, Ti Hian thaikam lalu maju berlutut dengan membawa sebuah nenampan emas. Diatasi nenampan itu terdapat sebuah kotak besi. Thayhouw membuka kotak tersebut, mengambil segulung kertas yang diberikan kepada baginda. Tampak oleh baginda pada bagian luar dari gulungan kertas itu terdapat 2 huruf Boan dan 2 huruf Han yang berbunyi "testamen." Disebelah huruf-huruf itu, terdapat pula selarik tulisan berbunyi. "Bila negara ada perubahan besar, kedelapan pangeran Pat-ki-jin-ong supaya bersama-sama membukanya." Tanpa terasa tangan Kian Liong gemetar. Insyaplah beliau, bahwa mendiang baginda Yong Ceng jauh-jauh hari telah membuat persiapan rapi. Apabila rahasianya (Kian Liong) sampai bocor dan baginda itu sampai memberontak, menurut testamen, kedelapan pangeran itu harus melenyapkan baginda dan mengangkat kaisar baru. Tapi baginda Kian Liong ternyata seorang yang bisa Cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, sembari angsurkan testamen itu kepada thayhouw, beliau bersehjum, katanya. "Ayah baginda berpemandangan jauh, dapat mengetahui hal yang bakal terjadi ratusan tahun kemudian". "Taruhkan testamen Sian-te ini dipaseban Sui Seng Tian di stana Yong Ho Kiong. Suruh 100 pengawal Istimewa untuk menjaganya. Sekalipun baginda yang memerintahkan, tak boleh mereka tinnggalkan tempat itu!" Seru thayhouw kepeda Ho-jin-ong, siapa segera melakukan perintah itu. Istana Yong Ho Kiong terletak didalam pintu An-ting-mui disebeiah utara barat kota Pak-khia. Dahulu menjadi tempat kediaman Yong Ceng sewaktu belum menjadi Hongte dan masih menjadi Su-pwelek. Untuk mengenangkan marhum ayahandanya itu, Kian Liong menitahkan membangun sebuah kuil Lama disitu. Maksud thayhouw mengunjukkan testamen itu kepada Kian Liong jalah agar Kian Liong mau perhatikan bahwa kalau dia berani berbuat sesuatu yang membahayakan kedudukan pemerintah Boan, thayhouw itu sudah mempunyai renCana tetap untuk membasminya. Lain dari itu, dengan ditaruhnya testamen tersebut. digedung lama kediaman Yong Tiong dahulu, alasannya adalah yangan sampai melupakan pada mendiang kaisar itu. Tapi hal yang sebenarnya, thayhouw menaruh kekuatiran kalau 2 Kian Liong nanti diam? mengambil dan memusnakannya. Kini legalah hati thayhouw. Kedengaran ia menguap dan mengelah napas. "Usaha yang beribu tahun dasarnya itu, harap kau menjaganya dengan baik-baik ." Sehabis meninggalkan pesan itu, ia segera berbangkit dan terus masuk kedalam istana Cinkiong. Setelah mengantar thayhouw, buru-buru Kian Liong mendapatkan Pek Cin untuk meminta keterangan. "Tan-kongCu sudah membawa nio-nio balik keistana. Kini nio-nio berada di Po Gwat Lauw," Kata Pek Cin. Bergegas-gegas Kian Liong meninggalkan paseban itu. Sampai dimuka pintu, baginda bertanya pula. "Ditengah jalan kau mengalami kejadian apa?" "Hamba berjumpa dengan rombongan orang HONG HWA HWE Syukur Tan-kongCu menCegahnya hingga tak sampai kejadian apa-apa." Kian Liong mengangguk dan suruh Pek Cin mengikutnya. Sampai di Po Gwat Lauw, benar juga Hiang Hiang KiongCu sudah berada disitu. "Bagaimana, bagus apa tidak Tembok Panyang itu?" Tegurnya dengan girang. Hiang Hiang tak mau menyahut. "Sebentar setelah kusiapkan urusan 2 penting, nanti akan kutanyai kau lagi," Seru baginda seraya ajak Pek Cin kelahi ruangan. Disitu beliau titahkan Pek Cin siapkan barisan Siwi yang paling boleh diperCaja, untuk menjaga diluar pagoda dan dipunCaknya. Tak seorang thaikam yang diperbolehkan masuk keluar. Setelah itu, baginda panggil pemimpin barisan Gi-lim-kun, Hok Gong An. Kesemuanya itu telah dikerjakan Pek Cin dengan Cepat. Hok Gong An bergegas-gegas menghadap. Baginda titahkan dia membawa anak buahnya untuk mempersiapkan bayhok diluar dan didalam istana Yong Ho Kiong. Kemudian titahkan Pek Cin persiapkan bayhok pada setiap ruangan dari istana Yong Ho Kiong tersebut. "Besok akan kuadakan perjamuan di stana itu. Undanglah Tan-kongCu dan semua pentolan HONG HWA HWE kesana," Kata Kian Liong. Kini tahulah Pek Cin apa maksud baginda itu. Ini berarti suatu pembunuhan besar 2an. Diapun menurut saja dan segera akan berlalu. Tapi tiba-tiba baginda menCegahnya, dan menitah. "Undang kemari Lama Besar Fuinke dari Yong Ho Kiong!" Tak berapa lama Lama Besar itu menghadap. "Sudah berapa tahun kau berada di Pakkhia sini?" Tanya baginda. "Hamba mengabdi baginda sudah 2tiga tahun," Jawab paderi itu. "Ha, kau ada ingatan balik ke Tibet apa tidak?" Lama Besar itu hanya menjura tanpa menyahut. "Di Se-Ciong (Tibet) kini ada Dalai Lama dan Panhen Lama yang dianggap rahajatnya sebagai penjelmaan Buddha. Tapi mengapa tiada Buddha hidup yang ketiga?" "Itu peraturan yang berlangsung dari dahulu, sejak......" "Kalau kuangkat kau menjadi Buddha hidup ketiga, mempunyai daerah kekuasaan sendiri, apa kau suka mentaatinya?" Sela Kian Liong mendadak. Mendapat kebahagiaan yang tak pernah di mpikan itu, Fuinke girang setengah mati, berulang-ulang dia menjura, serunya. "Budi yang baginda limpahkan itu, sampai mati hamba takkan lupakan." "Sekarang akan kuminta kau mengerjakan suatu hal. Sepulangnya dari sini, kumpulkan semua Lama yang boleh diperCaja. Siapkan belirang, minyak dan kayu bakar. Begitu kau terima berita dari dia," Kata Kian Liong sambil menunjuk Pek Cin. "kau harus lekas be-ramai 2 melepas api dari paseban besar Yong Ho Kiong hingga sampai paseban Sui Seng Tian." Kini Fuinke berbalik kaget tak terkira. Buru-buru dia menjura. "Itu adalah bekas kediaman baginda Yong Ceng almarhum. Disitu terdapat banyak sekali barang-barang peninggalan yang berharga. Hamba tak berani .............................." "Kau berani membangkang titah raja?!" Seru Kian Liong dengan bengis. Semangat Fuinke serasa terbang, peluh dingin membasahi tubuhnya. Katanya. "Hamba akan melakukan titah baginda." "Kalau perkara ini sedikit saja sampai bocor, delapan00 Lama dari istana Yong Ho Kiong akan kubasmi habis," AnCana baginda. Tapi lewat beberapa jurus kemudian, katanya pula dengan ramahnya. "Dipaseban Sui Seng Tian dnyaga oleh anak buah Ki-ping, ber-hati-hatilah hendaknya. Yangan hiraukan mereka, biar merekapun turut terbakar sekali. Kalau pekerjaan itu sudah selesai, kaulah yang jadi Buddha hidup ketiga! Nah, kau boleh pulang." Kaget terCampur girang Fuinke, lalu mohon diri. Dengan renCananya yang hebat itu, lapanglah dada baginda. Sekali tepuk 2 ekor lalat. Orang-orang HONG HWA HWE dan pengawal 2 thayhouw sekali gebrak, sama 2 musna. Dan barulah beliau dapat, ber-senang 2 sepuasnya menikmati kekaisarannya. Saking girangnya dia segera menyembat sebuah khim. Lagu yang dimainkan itu berirama lagu peperangan, penuh hawa pembunuhan. Baru beroleh separoh, putuslah snaar yang ke7. Kian Liong kaget, tapi dilain saat dia tertawa keras dan masuk kedalam ruangan Hiang Hiang. "Tan-kongCu ajak pesiar kau ke Tembok Panyang, bukanlah diam-diam memberi bisikan padamu supaya bunuh aku?" Tanya Kian Liong seraya duduk berjauhan dari nona itu. "Dia anjurkan aku supaya menurut padamu." "Dan kau turut anjurannya, bukan?" "Aku mendengar setiap katanya." Kian Liong girang berCampur dengki. "Habis mengapa kau masih membekal pedang? Mari berikan benda itu padaku!" Katanya lagi. "Tidak, nanti setelah kau benar-benar menjadi kaisar yang baik." "Ha, kiranya mereka pakai siasat begitu untuk menekan aku," Pikir Kian Liong. Seketika pikirannya penuh sesak dengan kemarahan, kedengkian, gemas dan bernapsu. Katanya kemudian. "Bukankah aku sekarang ini seorang raja yang baik?" "Hm, dari suara khim tadi, kutahu ada pembunuhan besaran. Tak seharusnya kau menambah kejahatanmu," Sahut Hiang Hiang. Kian Liong amat terkejut. Tanpa disadari, tadi beliau tumpahkan isi hatinya dalam irama khim. Seketika terkilaslah sesuatu dalam pikirannya, katanya. "Benar, aku akan membunuh orang. Tan-kongCu itu tadi telah kusuruh tangkap. Kalau kau menurut aku, nanti kulepaskan dia. Tapi kalau kau tetap membangkang, hm, kaupun sudah tahu bahwa kuhendak lakukan pembunuhan besar 2an." "Jadi kau mau bunuh adikmu sendiri?" Tanya Hiang Hiang dengan terkejut. "Ha, jadi dia telah tuturkan segala apa padamu?" Balas bertanya Kian Liong dengan roman bengis. "Aku tak perCaja kau mampu menangkap dia. Dia jauh lebih pandai dari kau," Seru Hiang Hiang. "Pandai? Hm, taruh kata tidak hari ini, besok pagi tentu dapat, lihat saja," Kata Kian Liong. Hiang Hiang tak menyahut. "Sebaiknya kau kikis saja pikiranmu itu. Aku seorang kaisar baik atau busuk, kau tetap takkan berjumpa lagi dengan dia untuk se-lama-lamanya," Kata Kian Liong lagi. "Kau kan sudah berjanji padanya akan menjadi seorang kaisar yang budiman, mengapa kini berbalik pikiran?" Tanya Hiang Hiang. "Aku akan berbuat bagaimana, itulah menurut sesuka hatiku. Siapa berani melarang?" Tadi kaisar itu mengalami tekanan jiwa yang hebat dari thayhouw. Untuk menumpahkan kemengkalan hatinya, kini dia tumpahkan pada sinona. Dan memang akibatnya, Hiang Hiang rasakan dadanya seperti dihantam martil. "Oh, kiranya raja ini hanya menipu saja. Kalau siang 2 tahu begitu, perlu apa aku kembali kemari," Pikir Hiang Hiang. Saking tak kuasa menahan marahnya hampir-hampir ia pingsan. "Kau menurutlah saja padaku. Tak nanti kumenyusahkan dia. Malah akan kuberinya kedudukan tinggi, agar dia menikmati kesenangan hidup," Bujuk Kian Long pula. Seumur hidup belum pernah Hang Hiang ditipu orang. Pada perasaannya, raja itu hanya seorang yang jahat karena bertabiat kejam. Tapi kini ia tahu pula, raja kejam itu ternyata juga liCik. "Begitu jahatlah raja ini, tentu diapun dapat berusaha untuk menganiayanya. Meskipun dia jauh lebih lihai dari raja ini, namun dia tentu tak sedikitpun Curiga kalau tega menganiayanya. Aku harus berusaha supaya dia tak terjebak dalam perangkap raja. Tapi bagaimana bisa kukatakan padanya?" Pikir Hiang Hiang. Dalam sikapnya sedang masjgul itu, Hiang Hiang tampak lebih aju, sehingga baginda untuk beberapa saat berdiri terlongong-longong mengawasinya. "Seluruh istana ini semua adalah kaki-tangan baginda. Siapa dapat kusuruh menyampaikan surat padanya? Dalam keadaan mendesak seperti ini, aku harus bertindak tegas", pikir Hiang Hiang, siapa lalu berkata. "Maukah kau berjanji takkan menganiayanya?" "Ya, aku takkan menCelakakannya," Seru baginda dengan girang. Melihat Caranya menyanggupi itu hanya seCara serampang-an saja, tahulah Hiang Hiang, bahwa baginda takkan sungguh-sungguh menetapi janjinya itu. Kebenciannya makin mendalam. Kini ia mendapat suatu ketetapan, katanya. "Besok pagi 2 aku hendak berkunjung kemesjid. Disana dengan semua kaumku, aku akan bersembahyang dan setelah itu baru aku akan menurut padamu". "Bagus, setelah besok pagi, yangan kau ingkar lagi!" Seru Kian Liong dengan girang, lalu turun kebawah. Hiang Hiang segera menulis sepucuk surat, maksudnya untuk memperingatkan Tan Keh Lok, bahwa kaisar itu akan menganiayanya, bahwa renCananya untuk membangun kerajaan Han itu hanya suatu impian kosong saja, maka dia minta agar anak muda itu lekas Cari daya untuk menolongnya keluar dari istana neraka itu. Surat itu dibungkusnya dengan seCarik kertas dan ditulisi dengan huruf Uigor, maksudnya surat itu dialamatkan pada ketua HONG HWA HWE Tan Keh Lok. Pikir Hiang Hiang, semua orang Ui bangsanya itu sangat mengindahkan sekali pada ayah, Cici dan dirinya. Begitu ada kesempatan, surat itu akan diberikan pada salah seorang Ui dan ia perCaja tentu orang itu pasti suka mengerjakannya. Setelah itu, ia merasa, bahwa batu yang mendidih dihatinya selama ini seperti terangkat, dan dengan hati lega pulaslah ia. Ketika ia membuka mata, ternyata hari sudah hampir terang tanah. Buru-buru ia bangun dan berhias. Semua dayang yang melihat perubahan sikap dari puteri Ui itu, sama bergirang. Setelah surat itu disembunyikan dalam lengan bayunya, Hiang Hiang lalu berjalan keluar. Diluar pagoda, sebuah tandu dengan empat orang thaikam sudah siap untuk membawanya ke mesjid. Memandang kepunCak menara mesjid itu, hati Hiang Hiang agak terhibur. Didalam mesjid, tampak 2 baris pengawal berdiri di kanan-kiri. Bermula ia girang demi dilihatnya diantara pengawal itu terdapat 2 orang Ui. Buru-buru hendak diangsurkannya surat itu kepada orang tersebut. Tapi demi matanya terbentrok dengan sinar mata orang itu, Hiang Hiang bersangsi dan batal menyerahkan surat itu. Kiranya walaupun orang mengenakan pakaian orang Ui, tapi wajah, dan sorot matanya tak mirip dengan suku Ui. Kembali Hiang Hiang memandang kesebelah kiri pada seorang Ui lainnya. Orang itu mirip sekali dengan orang Ui, tapi sikapnyapun agak aneh. "Apakah kamu disuruh kaisar untuk menjaga aku?" Tanya Hiang Hiang sengaja dilam bahasa Ui. Benar juga, ke 2 orang Ui itu tak menaati, hanya angguk kepala saja. Kini putuslah sudah harapan Hiang Hiang. Ketika dia melangkah kedalam, ada delapan orang Ui yang mengikutinya. Orang-orang Ui itu sebenarnya adalah Si-wi istana yang berpakaian seperti orang Uigor. Karena orang Ui yang sesungguhnya, tak boleh dekat 2 dengan puteri Ui tersebut. Kini imam mulai memimpin upaCara sembahyangan. Dengan berlutut, air mata Hiang Hiang membanjir turun, hatinya remuk rendam. Dalam hatinya, hanya sebuah tekad. "bagaimana mendapat jalan untuk memberitahukan kepadanya? Sekalipun aku harus binasa, aku harus dapat menyampaikan berita ini padanya!" "Ya, sekalipun aku harus binasa," Pikiran itu tiba-tiba terkilas dalam hatinya. Dan seCepat itu pula ia telah mengambil keputusan yang bulat. "Kalau aku binasa disini, berita itu tentu akan dapat diterimanya. Ja, hanya itulah satu 2nya jalan!" Tapi tiba-tiba ia teringat akan ajat keempat dari kitab Quran. "Kamu yangan bunuh diri. Al ah tetap akan melindungimu. Barang siapa yang melanggar pantangan ini, akan kulempar kedalam api. Demikian sabda Nabi Mohammad itu terus berkumandang ditelinganya. "Barang siapa membunuh diri, se-lama-lamanya akan dijebloskan dalam api neraka!" Bukannya ia takut mati, karena ia perCaja bila nanti meninggal, tentu akan naik kesorga, kelak akan dapat berkumpul dengan kekasihnya. Kata ajat Quran. "Mereka akan mendapat pasangannya disorga dan berkumpul se-lama-lamanya." Tapi tidakkah ia akan menyalahi ajaran itu, apabila ia sampai bunuh diri? Teringat hal itu, hatinya kunCup. Berbareng pada saat itu terdengar suara orang banyak sekali tengah menyanyikan lagu puji kebahagiaan ditaman sorga. Bagi seorang ummat yang patuh akan agamanya, tiada hal yang lebih menakutkan dari hukuman 2 yang mengerikan dineraka. Namun keCuali dengan cljalan nekad itu, rasanya ia sudah tak mempunyai lain daya lagi. Begitulah setelah terjadi pertentangan dalam batinnya yang hebat, akhirnya Cintalah yang menang. "Al ah yang Maha SuCi, bukan hamba tak perCaja akan keadilanMu. Tapi selain mengorbankan jiwa ragaku, aku tak dapat menCari daya lain untuk memberitahukan padanya." Sehabis berdoa begitu, badi-badi diCabutnya keluar, lalu menggurat batu merah, dari lantai disitu dengan kata-kata. "Yangan perCaja raja itu."-Habis itu, ia berteriak pelan-pelan . "O, Toako!" Kemudian ujung badi-badi yang tajam itu, ditusukkan kedadanya, dada yang paling suCi dan Cantik dikolong langit. Rombongan orang-orang Ui tengah bersembahyang, sedang beberapa Siwi pengangkut tandu itupun ikut serta berlutut. Tiba-tiba Siwi yang berada disebelah kanan Hiang Hiang tadi, melihat ada darah segar mengalir dilantai. Dengan terkejut diawasinya arah alir darah itu yang ternyata berasal dari bawah tubuh Hiang Hiang. Pakaiaan sinona yang serba putih itu sudah berlumuran warna merah. Saking kagetnya, Siwi itu berteriak, lalu lompat untuk menarik lengan Hiang Hiang, yang ternyata kepalanya sudah terkulai dan matanya tertutup. Sedang didadanya tertanCap sebuah badi-badi. Kini kita tengok keadaan rombongan HONG HWA HWE yang tengah berunding diruangan tengah. Mereka tengah mendengarkan laporan dari Cio Su Kin yang baru kembali dari Kwitang dan menCeritakan tentang keadaan orang-orang gagah didaerah itu. Tiba-tiba orang melapor bahwa Pek Cin minta bertemu. Buru-buru Tan Keh Lok menyambutnya sendiri. Pek Cin segera menyampaikan firman baginda yang maksudnya mengundang semua pemimpin HONG HWA HWE untuk hadir dalam pesta di Yong Ho Kiong. Pesta itu sengaja diadakan oleh baginda di stana tersebut., karena baginda kuatir nanti thay-houw dan bangsawan 2 Boan menaruh keCurigaan. Mendengar itu hati Keh Lok tak keruan rasanya. Girang karena Hiang Hiang berhasil mempengaruhi baginda. Tapi hatinya mendelu dan terharu mengingat gadis yang dikasihinya itu telah mengorbankan diri menurut kehendak baginda. Setelah Pek Cin pergi, orang-orang HONG HWA HWE berapat. Semua orang sama bergirang mendengar baginda betul-betul mau melaksanakan gerakan besar itu. Sampaipun Bu Tim, Liok Hwi Ching, Tio Pan San dan Bun Thay Lay, orang-orang yang pernah mengalami kekejaman pemerintah Ceng dan paling tidak perCaja pada kaisar Boan itu, kini mau-tak-mau turut bergembira juga. Mereka anggap, kesemua itu dapat berjalan lanCar disebabkan baginda itu telah menginsyapi asal usul dirinya dan ke 2 kalinya, adalah kakak kandung dari CongthoCu mereka. Karena kuatir tak dapat mengatasi perasaannya kalau berada seorang diri, maka Tan Keh Lok ajak semua saudaranya untuk pasang omong dengan bebas dan biCara tentang ilmu silat, berkatalah Bu Tim. "Kali ini didaerah Hwe dan gereja Siao Lim Si, CongthoCu telah dapat mempelajari beberapa macam ilmu silat yang lihai, maukah CongthoCu mempertunjukkannya barang beberapa jurus?" "Baiklah" Sahut Keh Lok. "Memang sedianya kuhendak minta Liok-loCianpwe dan sekalian saudara mengujinya, karena kukuatir ada beberapa bagian yang masih belum dapat kupahami." Oleh karena ilmu silat "Hang-liong-Cap-pwe-Ciang" Adalah ilmu pusaka Cabang Siao Lim yang menurut pesanan Thian Keng Siansu tak boleh diturunkan pada lain orang, maka Tan Keh Lok bermaksud hendak menunjukkan ilmu silat dari tengkorak digunung Sin-nia itu saja. "Sipsute, tolong kau tiup serulingmu," Pinta Keh Lok. Hi Tong mengiakan. Wan Ci buru-buru lari kedalam kamarnya untuk mengambilkan benda itu. "Bagus, kini kepunyaan lain orang pun mau menyimpannya." Lou Ping menggoda. Selebar muka Wan Ci berobah merah. Kiranya waktu lengan Wan Ci dipatahkan Ciauw Cong itu, sepanyang perjalanan Hi Tong merawatnya dengan telaten sekali. Karena kasihan, timbul ah rasa sayang. Dan rasa sayang itu, betul-betul merupakan benih Cinta yang setulusnya. Hi Tong adalah seorang pemuda yang jujur. Setelah rasa Cinta itu sungguh-sungguh keluar dari hatinya, diapun tak malu 2 lagi untuk mengutarakannya. Bagi Wan Ci, itu merupakan obat mujarab pelipur lara. Karena kini Cintanya itu telah terbalas. Begitulah apabila mereka ber 2an, tentu lantas kesak-kusuk menumpahkan rasa hati masing-masing. Ada kalanya mereka terkenang akan pertemuan mereka pertama kali dihotel, dimana Hi Tong dengan gunakan serulingnya telah dapat menotok tubuh kawanan Siwi. "Koko, mengapa suhu tak mau mengajarkan ilmu tiam-hiat padaku?" Demikian pernah Wan Ci bertanya. "Ha, meski Liok-susiok sudah berusia tua, tapi ia tentu merasa segan untuk menutuk badanmu, dan sebaliknya pun sungkan kalau kau menjamah tubuhnya. Padahal tiam-hiat harus betul-betul dikenakan pada bagian tubuh. Tak apalah, kelak kalau kita sudah menjadi suami isteri, nanti kuajarkan padamu." "Ah, tadi aku menduga salah pada Suhu," Ujar sigadis. "Ya, tapi kalau kuajarkan ilmu itu padamu, kau harus berlutut menjalankan penghormatan mengangkat Suhu padaku", Hi Tong menggoda. "Fui, Hiapa sudi?!" Omel Wan Ci. Begitulah sejak itu, Hi Tong mulai mengajarkan dasar ilmu tiam hiat pada Calon isterinya. Karena pelajaran itu memakai seruling, maka seruling Hi Tong dipinjam oleh Wan Ci. Sementara itu, Tan Keh Lok sudah lantas bersilat menurut irama aeruling. "CongthoCu, dengan ilmu silat itu kau berhasil merobohkan Ciauw Cong. Bagaimana kalau sekarang kutemani kau ber-main-main dengan pedang?" Kata Bu Tim lalu melolos pedang dan lonCat ketengah. "Baiklah, Totiang!" Ujar Keh Lok seraya menyerang bahu imam itu. Bu Tim membabat turun mengarah pinggang lawannya, namun Keh Lok miringkan tubuh menghindar sembari memutar kebelakang dan menyerang punggung orang. Tanpa berpaling, Bu Tim sabetkan pedangnya kebelakang. Walaupun demikian, sabetan itu tepat kenanya. Itulah gerak "memandang gunung mengenang yang lalu," Salah suatu jurus yang luar biasa dari ilmu pedang "tui-hun-toh-bing," Ciptaan imam itu sendiri. Gerakan Bi Tim itu mendapat sorok pujian dari orang-orang yang menonton. Meskipun pertandingan itu hanya bersifat "Coba 2," Tapi tak urung berjalan dengan seru dan tegang. Selagi pertandingan berjalan seru, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara nyanyian sedih. Bermula orang-orang HONG HWA HWE itu sama tak menghiraukan, namun nyanyian itu makin lama makin dekat kedengaran, hingga merawan hati orang. Karena agak lama berdiam didaerah Hwe, tahulah Sim Hi bahwa nyanyian itu adalah lagu berkabung yang biasa diujanjikan oleh rombongan orang Ui yang tengah mengantar jenazah. Karena ingin tahu, larilah anak itu keluar. Tak antara beberapa lama, dia kembali masuk dengan wajah puCat pasi, tubuhnya agak sempoyongan, ia mendekati Tan Keh Lok dan berseru dengan suara sember. "CongthoCu!" Bu Tim buru-buru tarik pulang pedangnya, sedang Keh Lok pun segera bertanya ada apa pada Sim Hi. "Hiang ............... Hiang KiongCu meninggal!" Tutur Sim Hi tak lanCar. Seketika semua orang sama melengak kaget. Keh Lok rasakan matanya berkunang-kunang, Bu Tim Cepat buang pedangnya untuk memegang bahu ketua HONG HWA HWE itu. "Bagaimana ia meninggal?" Tanya Lou Ping Cepat. "Menurut keterangan salah seorang saudara Ui, katanya puteri itu meninggal dimesjid. Ia bunuh diri dengan badi-badi," Sahut Sim Hi. "Mengapa orang-orang Ui sama menyanyi?" Tanya pula Lou Ping. "Kaisar telah menyerahkan jenazah KiongCu pada orang Ui. Sepulangnya dari pemakaman, hati mereka sama berduka dan menyanyikan lagu itu." Semua orang sama me-maki-maki kaisar, karena sudah begitu kejam hingga seorang gadis yang tak berdosa apa-apa sampai mengambil keputusan yang begitu nekad. Teringat akan hubungannya, Lou Ping menangis sesenggukan. Sebaliknya Tan Keh Lok nampak membisu saja. Semua orang sama berkuatir dan Coba menghiburnya. Tapi sekonyong-konyong ketua HONG HWA HWE itu berkata. "Totiang, ilmu silat yang kupertunjukkan tadi belum selesai, mari kita lanjutkan pula." Semua orang sama heran, melihat sikapnya yang aCuh tak aCuh itu. "Dia sedang berduka, baiklah kumengalah sedikit," Pikir Bu Tim. Begitulah ke 2nya mulai bertanding lagi. Nyata-nyata gerakan Tan Keh Lok tetap linCah dan berbahaya, seolah-olah tak terpengaruh akan kejadian tadi. "Huh, kebanyak sekalian orang laki 2 itu tak berperasaan. Hanya karena urusan negara, sedikitpun dia tak menaruh kasihan atas kematian kekasihnya," Demikian Wan Ci menumpahkan kemendongkolannya kepada Hi Tong. Sembari terus meniup serulingnya, diam-diam Hi Tong berpikir. "CongthoCu sungguh berhati baja. Kalau aku, tentu sudah menjadi sinting." Kuatir CongthoCu itu sampai kena apa-apa, Bu Tim tak mau gunakan jurus-jurus yang berbahaya. Sebenarnya pertandingan berjalan dengan berimbang, tapi sengaja Bu Tim berlaku ajal dan mundur. Dan karena lambat menarik pedangnya, lengan Bu Tim telah kena tertusuk tiga jari tangan Keh Lok. Begitu terjadi benturan itu, ke 2nya sama lonCat menyingkir. "Bagus, CongthoCu!" Seru Bu Tim. "Ah, totiang sengaja mengalah", kata Keh Tok dengan tertawa. Tapi belum saja suara ketawanya itu habis, tiba-tiba dia menguak dan muntah darah. Semua orang terkejut bukan main serta buru-buru memegangnya. "Ah, tak apalah!" Keh Lok tertawa, lalu dengan menggelandot pada Sim Hi terus masuk kedalam kamar. Melihat kejadian itu, Wan Ci sesalkan diri karena tadi teiah menduga keliru pada ketua itu. "Karena menahan perasaan duka, dia sampai tumpah darah. Tapi kalau sudah beristirahat, tentu baiklah", kata Hwi Cing. Mendengar keterangan jago tua yang sudah kenyang pengalaman itu, barulah semua orang lega hatinya. Setelah tidur kira-kira sejam lebih, Keh Lok terbangun. Teringat akan urusan penting pada pertemuan nanti malam, dia sesalkan diri mengapa begitu tak dapat menjaga diri. Namun kalau teringat akan kebinasaan nona yang dikasihinya itu, hatinya tak terkatakan sedihnya. "Asri telah berjanji padaku akan menurut baginda, mengapa mendadak bisa terjadi begitu? Ia tahu bahwa pengorbanannya itu demi untuk kepentingan negara, kalau tak terjadi perubahan penting, tak nanti ia sampai berlaku begitu nekad. Ah, disitu tentu terselip apa-apa", demikian pikir Keh Lok. Sampai lama dia merenung, namun tetap tak mengerti. Kemudian dia mendapat akal, ia menyaru sebagai orang Ui mukanya dipupuri dengan arang. Lalu katanya kepada Sim Hi. "Aku akan keluar sebentar." Sim Hi tak berani menCegah, tapi diapun kuatir, maka dikuntitnya dengan diam-diam. Keh Lok tahu, namun dibiarkan saja, karena menganggap anak itu mengandung maksud baik. Dnyalan hiruk pikuk, dengan orang dan kendaraan. Namun kesemuanya itu dianggap sepi saja oleh Keh Lok. Begitulah setelah sampai dimesjid, dia terus langsung memasukinya dan berlutut mendoa. "Asri, kau tentu menunggu aku dialam baka. Aku telah berjanji padamu untuk menjadi umat Islam, supaya kau tidak menunggu dengan sia-sia." Ketika mendongak, tiba-tiba dilihatnya dilantai terdapat beberapa tulisan yang sudah tak jelas kelihatannya. Nyata tulisan itu digurat dengan pisau dan berbunyi. "Yangan perCaja pada raja." Guratan tulisan itu berwarna merah darah. Malahan pada beberapa bagian dari lantai itu terdapat warna merah yang agak tua. "Masakah itu ketesan darah Asri?" Pikirnya, ia Coba menunduk untuk membaunya. Ternyata bekas itu berbau darah. Tanpa terasa, air matanya membanjir turun. Setelah puas menangis, tiba-tiba pundaknya terasa ditepuk pelan-pelan oleh orang. Bagi seorang yang mengerti silat, sedikit saja tubuhnya disentuh orang, tentu reakslnya Cepat sekali. Demikian dengan Tan Keh Lok yang segera lonCat bangun sembari gerakkan tangan kirinya untuk menangkis. Tapi ketika diawasinya, bukan main heran dan girangnya. Orang itu mengenakan pakaian seorang lelaki suku Ui, tapi sepasang alisnya yang bagus menawungi sepasang biji mata yang bersorot bening. Dia bukan lain adalah Chui-ih-wi-sam Hwe Ceng Tong. Hari itu sigadis sebetulnya ikut sang suhu Thian-san Siang Eng kekota Pakkhia untuk menolong adiknya. Tapi, mungkin geledek ditengah hari masih kalah dibanding ketika dari seorang Ui ia mendapat warta tentang meninggalnya sang adik. Maka bergegas-gegaslah ia pergi kemesjid dan disitu dilihatnya seorang lelaki Ui tengah berlutut menangis sambil menyebut 2 nama Asri. Sedikitpun ia tak menyangka, kalau orang itu ternyata Tan Keh Lok adanya. Baru saja ke 2nya mulai menuturkan pengalamannya, tiba-tiba 2 orang si-wi tampak masuk. Buru-buru Keh Lok menarik lengan Ceng Tong diajak berlutut bersembahyang. "Bangun!" Seru salah seorang si-wi ketika lewat didekat Keh Lok. Terpaksa Keh Lok bangun. Tiba-tiba ke 2 si-wi itu memakai linggis untuk menCongkel lantai 2 yang tergurat tulisan berdarah tadi, terus dibawanya pergi. "Apakah itu?" Tanya Ceng Tong. "Disini banyak sekali telinga, lebih baik kita tengkurep sembahyang lagi, nanti kukasih tahu." Dengan bisik-bisik, Keh Lok lalu menCeritakan apa yang dilihatnya tadi. Dengan sedih dan marah berkatalah Ceng Tong. "Ya, mengapa kau begitu sembarangan perCaja pada omongan raja itu?" "Kuanggap dia itu seorang Han, pula kakandaku sendiri," Sahut Keh Lok dengan menyesal. "Huh, orang Han! Apakah orang Han tak ada yang busuk? Kalau sudah enak-' menjadi kaisar, masakah ingat sanak famili lagi!." "Ya, aku berdosa kepada Asri," Kata Keh Lok berlinang 2 air mata. Merasa tadi kata-katanya terlalu tajam, sedangkan orang menyesal dan berduka, buru-buru Ceng Tong menghiburnya. "Ah, sudahlah, kau memang tak bersalah. Karena kau berjoang untuk nasib rakyatmu. Lalu pesta di stana Yong Ho Kiong nanti malam, kau pergi atau tidak?" "Tentu! Akan kubunuh raja itu untuk membalaskan sakit hati Asri," Seru Keh Lok dengan menggretek lagi. "Benar, juga untuk membalaskan sakit hati ayah dan saudara-saudara bangsaku!" Ceng Tong pun geram sekali. "Tapi kau belum menCeritakan bagaimana kau lolos dari serangan pasukan Ceng waktu itu?" "Itu waktu aku tengah menderita sakit dan musuh menyergap dengan tiba-tiba. Syukur dengan gagah berani saudara HuVun berempat menolong aku dan dibawa ketempat suhuku." "Asri. mengatakan padaku, biarpun keujung langit kita tetap akan menCarimu," Kata Keh Lok kemudian. Mata Ceng Tong tampak merambang merah, katanya. "Mari pulang untuk berunding dengan Sekalian saudara." Nampak nona itu, bukan kepalang girangnya Hi Tong. "Nona Hwe, aku senantiasa memikirkan dirimu," Sapanya. Setelah ayah-bunda dan ke 2 saudaranya meninggal, Ceng Tong merasa sebatangkara. Ia tak menaruh ganjelan apa-apa lagi terhadap kekurangajaran Sim Hi tempo hari. "Kau kini sudah tambah besar ja?" Sahutnya kemudian. Tahu nona itu tak membencinya lagi, Sim Hi girang sekali. Setibanya dirumah, Thian-san Siang Eng tengah pasang omong dengan orang-orang. Segera Keh Lok tuturkan pengalamannya dimesjid tadi, Tan Ceng Tik yang aseran sudah lantas menggebrak meja. "Nah, apa kataku dulu? Kaisar tentu akan menCelakakan kita. Anak itu (Hiang Hiang) tentunya sudah mengetahui tipu kejinya, maka ia korbankan diri untuk memberi peringatan padamu," Teriak jago tua itu. "Kami sepasang suami isteri tak beruntung akan keturunan. Sebenarnya kami bermaksud untuk mengambil Cici-beradik itu sebagai anak, siapa nyana.........," Demikian kata Kwan Bing Bwe yang tak dapat langsung karena sesenggukan. "Nanti kepesta di Yong Ho Kiong, kita harus membekal senjata. Karena senjata panyang tak diperbolehkan dibawa masuk, kita bawa saja senjata yang pendek dan senjata rahasia," Kata Keh Lok kemudian. Usul Keh Lok itu disetujui semua orang. "Nasi dan sajur dalam hidangannya nanti, kebanyak sekalian tentu diCampur obat bius. Sebaiknya yangan kita makan," Kata ketua HONG HWA HWE itu pula. Kembali semua orang mengiakan. "Bahwa kita bunuh kaisar itu malam nanti, itulah sudah pasti. Tapi perlu kiranya kita mengatur renCana untuk lolos," Kata Keh Lok lagi. "Kita tentu tak dapat tinggal di Tiong-goan lagi, sebaiknya kita menyingkir kedaerah Hwe saja," Usul Ceng Tek. Sebenarnya rombongan HONG HWA HWE tidak lama berada didaerah Kanglam. Dalam hati, tiada seorangpun yang tak merindukan kampung halaman masing-masing. Namun tak ada lain pilihan lagi bagi mereka. membunuh atau dibunuh kaisar. Begitulah setelah berunding, renCana segera ditetapkan. Bun Thay Lay pimpin Seng Hiap, Jun Hwa, Siang Ing dan Su Kin untuk mempersiapkan bayhok dipintu kota sebelah barat. Begitu saatnya tiba, mereka harus membasmi tentara penjaga pintu dan menyambut rombongan Tan Keh Lok untuk terus lolos kearah barat. Sim Hi disuruh mengepalai rombongan thauwbak, siapkan kuda dan anak panah, menyambut diluar istana Jong Ho Kiong. Dan Hi Tong ditugaskan untuk memberi tahu pada semua thauwbak HONG HWA HWE dikota Pakkhia supaya menyampaikan berita pada seluruh Anggota HONG HWA HWE diberbagai wilayah, bahwa pucuk pimpinan pindah kedaerah Hwe. Dan bahwasanya Cabang 2 HONG HWA HWE supaya membubarkan diri dan bekerja dibawah tanah saja untuk menghindari penangkapan dari perintah Ceng. Setelah selesai membagi 2 tugas, Tan Keh Lok minta pertimbangan pada Thian-san Siang Eng dan Lok Hwi Ching bagaimana renCana pembunuhan terhadap kaisar itu nanti. "Gampang, nanti kupuntir batang lehernya raja itu, Coba dia masih bisa menjadi raja apa tidak" Kata Ceng Tik. "Kalau bisa begitu, itulah bagus!" Hwi Ching tertawa. "Tapi karena dia sudah siap merenCanakan membunuh kita, tentu akan membawa sejumlah besar si-wi, jadi penjagaannya tentu luar biasa rapatnya!" "Kurasa lebih baik Tio-sam-te gunakan senjata rahasia untuk menghabisi dia", kata Bu Tim. Ketika dipagoda Liok Hap To dahulu, Ceng Tik pernah saksikan kelihaian Tio Pan San dalam ilmu senjata rahasia. Maka seketika itu juga dia menunyang usul itu. Pan San mengeluarkan tiga biji 'tok-Cit-le' yang beracun, katanya dengan tertawa. "Satu saja yang kena, sudah Cukup untuk mengantar jiwa kaisar itu kelain dunia." "Kukuatir orang she Pui itu masih didalam istana, tentu dapat mengobatinya," Kata Keh Lok. Yang dimaksud oleh Keh Lok itu, jalah Pui Liong Cun, pemilik senjata rasia yang hebat itu. "Biar, telah kurendam piauw itu dalam raCun lain. Mungkin orang she Pui itu bisa mengobati yang satu macam raCun, tapi tidak yang lainnya," Kata Pan San. "Sebaiknya hui-to kepunyaanmu dan jarum hu-yong-Ciam punyaku direndam raCun juga." Kata Hwi Ching pada Lou Ping-. Demikian semua orang sama sibuk menCelup senjatanya dengan raCun. Mengingat baginda itu adalah kakandanya sendiri dari lain ayah. hati Keh Lok agak tak tega. Tapi kalau ingat perbuatannya yang kejam itu, dia marah dan ikut masukkan badi-badinya kedayam raCun. Kira-kira jam 5 sore, semua orang gagah itu sudah berkemas 2. Setelah dahar, mereka menunggu. Tak berapa lama, munCul ah Pek Cin dengan anak buahnya, empat orang siwi. Begitulah mereka berangkat keistana Yong Ho Kiong. Ketika dipagoda Liok Hap Ta dahulu, Pek Cin pernah tempur Ceng Tik. Demi nampak jago Thian-san itu juga ikut, ke 2nya saling berpandangan. Setiba di stana, Pek Cin meneliti rombongan HONG HWA HWE sama tak membawa senjata. Melihat itu, dia mengelah napas dan memimpin mereka masuk. Diruangan besar, sudah disiapkan tiga meja perjamuan. Pek Cin silakan mereka duduk. Meja tengah, tempat duduk utama, diduduki Tan Keh Lok. Meja disebelah kiri, Tan Ceng Tik dan meja sebelah kanan Liok Hwi Ching. Dibawah patung HudCouw, ada pula sebuah meja. Kursinya ditutup dengan sutera benang kuning emas. Disitulah tempat duduk baginda. Diam-diam Hwi Ching, Pan San dkk. sama memperhitungkan Cara bagaimana nanti, apabila saatnya sudah tiba melepas senjata rahasia kearah tempat duduk kaisar itu. Hidangan mulai dikeluarkan, rombongan HONG HWA HWE menanti kehadiran baginda. Beberapa saat kemudian, kedengaran tindakan kaki orang, yang ternyata adalah 2 orang thaikam, Ti Hian dan Bu Bing Hu. Dibelakangnya mengikut seorang menteri besar yang mengenakan topi merah. Itulah Li Khik Siu, ayah Wan Ci. Hampir-hampir nona itu berseru memanggilnya, Coba tak keburu Ti Hian lantas berleriak "Titah raja!" Pek Cin dan kawanan siwi segera berlutut. Sedang Keh Lok dkk. terpaksa ikut berlutut juga. Pada lain saat, terdengarlah Ti Hian membaca titah raja tersebut.. "Tan Keh Lok dkk setia pada negara, aku girang mengetahuinya. Kini kuangkat Tan Keh Lok menjadi 'Cinsu', lain-lainnya pun akan diberi pangkat. Pesta untuk menghormat pengangkatan itu diadakan di Yong Ho Kiang sini dan Li Khik Siu Ciangkun dititahkan menemaninya. Sekian." Mendengar itu, tawarlah hati Keh Lok. Kiranya kaisar itu sungguh liCik, karena tak mau hadir sendiri. "Selamat, Tan-heng menerima anugerah baginda itu, sungguh beruntung sekali," Li Khik Siu menghampiri Tan Keh Lok sambil menjura. Keh Lok menjawab merendah, Sedang Wan Ci dan Hi Tong menghampiri sang ayah dan menyapa. Khik Siu terkejut dan berpaling mengawasi. Betapa girangnya ketika didapatinya sang puteri tunggal tampak berada disitu dengan tak kurang suatu apa. Buru-buru ditariknya tangan Wan Ci, dan air matanya ber-linang 2. Karena sejak berpisah, siang malam selalu memikiri sang anak itu. "Wan Ci, bagaimana keadaanmu?" Tanya Khik Siu. "Ayah............" Ingin Wan Ci menuturkan halnya, namun sang mulut berat mengatakan. "Mari, kau duduk dengan aku semeja!" Kata Khik Siu terus menarik lengan puterinya. Wan Ci dan Hi Tong tahu kalau hal itu disebabkan rasa sayang seorang ayah, maka setelah saling memberi isyarat mata, ke 2nya berpisah duduknya. Lalu Ti Hian dan Bu Bing Hu menghampiri ketengah perjamuan dan berkata pada Tan Keh Lok. "Saudara, kelak sesudah jadi menteri, yangan lupa pada kami ber 2." "Sudah tentu tak kulupakan kongkong," Sahut Keh Lok. Ti Hian lambaikan tangan dan 2 orang thaikam kecil menghampiri dengan membawa sebuah nenampan berisi 2 poCi arak dan beberapa Cawan. Ti Hian mengangkat poCi itu terus dituang kedalam 2 buah Cawan. Dia sendiri segera ambil yang secawan, katanya. "Kuhaturkan selamat pada saudara dengan secawan arak ini!" Arak segera diminumnya, lalu mengambil Cawan berisi arak. yang satunya, diberikan pada Keh Lok. Melihat itu semua mata orang-orang HONG HWA HWE ditujukan kearah ketuanya. Tahu mereka kalau keburu napsu mungkin menggagalkan renCananya. Dan itu perCuma saja karena, toh orang yang dinantinya (kaisar) tak ada disitu. Sejak datang keperjamuan itu, Keh Lok sudah penuh berlaku waspada. Dia sudah insyap bahwa perjamuan itu tentu tidak sewajarnya. Segala sesuatu ditelitinya dengan seksama. Benar1 juga ia mengetahui bahwa pada ke 2 samping dari poCi arak masing-masing terdapat sebuah lobang kecil. Ketika pertama kali menuang arak tadi, Ti Hian telah gunakan ibu jarinya untuk menutup lubang yang disamping kiri. Dan arak dalam Cawan itu diperuntukkan pada Tan Keh Lok. Sedang ketika menuang yang ke 2 kalinya, ibu jarinya dijentikkan untuk menutup lobang sebelah kanan. Kini tahulah Keh Lok bahwa poCi arak itu terisi 2 macam arak. Kalau lobang kiri ditutup, maka lobang kanan memanCur arak. Begitu pula sebaliknya. Jadi nyata, kalau lobang sebelah kanan itu terisi arak raCun. "Oh, kanda, kau begitu kejam, rela menganiaya aku dengan siasat memberi pangkat, supaya aku memperCajaimu. Kalau tidak Asri mengorbankan jiwanya, tentu arak beracun ini terminum olehku," Mengeluh Keh Lok seorang diri. Dia angkat ke 2 tangannya untuk menghaturkan terima kasih lalu mengambil Cawan seperti hendak diminumnya. Melihat itu Ti Hian dan Bu Bing Hu bersorak dalam hati. Tapi pada lain saat, sekonyong-konyong Keh Lok letakkan Cawannya, kemudian menyembat poCi dan dituangkan kedalam Cawan kosong. Sewaktu menuang, jempolnya ditutupkan kelobang sebelah kanan. Setelah itu, isi Cawan terus ditenggaknya. Cawan pertama yang tak jadi diminumnya tadi diberikan kepada Bu Bing Hu. Jilid 37 Tamat "AYO, silakan Bu kongkong juga menemani minum secawan!" Mengetahui rahasianya telah bocor, berobahlah wajah ke 2 thaikam itu. Kembali Keh Lok menuang secawan dan disodorkan kepada Ti Hian. "Harap Ti-kongkong suka menerima pembalasan hormatku!" Kini tak tahan lagi rupanya Ti Hian, dia tendang Cawan yang diangsurkan itu sambil membentak. "Tangkap mereka semua!" Seketika dari empat penjuru ruangan itu menyerbu keluar ratusan siwi istana dan Anggota gi-lim-kun. "Jiwi kongkong kiranya tak gemar minum. Itu tak apa, mengapa marah-marah?" Tanya Keh Lok dengan tertawa. "Dengarkan titah raja ini," Bu Bing Hu berteriak. "HONG HWA HWE berniat memberontak dan mengaCau. Harus segera ditangkap dan dibunuh tanpa diadili lagi." Atas isyarat Keh Lok, ke 2 saudara Siang segera lonCat kebelakang ke 2 thaikam itu terus membekuk tengkuk lehernya. Ke 2 thaikam itu Coba melawan, tapi sudah terlambat, karena seluruh tubuh mereka terasa lemas kesemutan. Keh Lok menuang lagi secawan arak. "Arak kehormatan ditolak, rupanya ingin arak hukuman." Segera Lou Ping dan Ciang Cin masing-masing mengambil arak beracun itu, lalu diCekokkan kemulut Ti Hian dan Bu Bing Hu. Melihat ke 2 thaikam itu diringkus, rombongan siwi dan gi-lim-kun tadi tak berani mendekati, kuatir kalau ke 2 thaikam itu dibunuh. Sedang orang-orang HONG HWA HWE itu sudah bersiap dengan senjatanya. Tapi ketika hendak menobros keluar, tiba-tiba dibelakang ruangan besar timbid kebakaran, berbareng terdengar suara obat peledak. Keh Lok heran dan menduga yangan-yangan ada saudara-saudaranya kaum HONG HWA HWE yang terkepung disana, maka segera dia memerintahkan agar menyerbu saja keruangan belakang. Karena senjata yang dibekalnya keliwat pendek, Bu Tim tak dapat leluasa bergerak. Segera dia rampas sebilah pedang, dari seorang si-wi. Dalam beberapa kejap saja, dia sudah dapat membunuh tiga orang musuh, terus memepelopori menyerbu kebelakang, di kuti oleh Kawan-kawan nya. Li Khik Siu tarik tangan puterinya, serunya. "Kau tinggal bersama aku!" Dia bersama Pek Cin lalu memberi komando, menyuruh anak buah si-wi menghadang. Melihat itu, Hi Tong mengelah napas, pikirnya. "Dengan ayahnya aku di baratkan seperti minyak dengan air. Jadi nyata ia bukan jodoku!" Dengan hati berat, anak muda itu segera memutar kim-tioknya untuk ikut pada rombongannya. Melihat itu, Wan Ci kibaskan tangan ayahnya yang memeganginya, begitu terlepas, ia terus lari menyusul Hi Tong sambil berseru. "Ayah, harap kau menjaga diri baik-baik , puterimu akan pergi!" Saking kesimanya, Li Khik Siu berdiri seperti patung, kemudian setelah sadar, dia berseru memanggil. "Wan-Ci, Wan-Ci, kembalilah!" Namun Wan Ci sudah menghilang keluar. Menduga sang bakal isteri telah mengikut ayahnya, bukan main sedihnya Hi Tong. Ketika Wan Ci menyusul datang, dilihatnya anak muda itu tengah bertempur dengan lima-enam si-wi. Keadaannya berbahaya, karena anak muda itu sudah terluka beberapa kali. "Suko, ikut aku kemari!" Teriak sigadis. Mendengar sang kekasih datang, semangat Hi Tong timbul seketika. Dengan hebat, kim-tiok dibabatkan. Sedang Wan Cipun maju membantunya, hingga kawanan si-wi itu mundur. Kemudian dengan bergandengan tangan, ke 2 pasangan itu maju menyusul Lou Ping. Pada saat itu, api semakin besar. Suara pekik orang, seperti memeCah telinga. Rombongan Tan Keh Lok sudah sampai diluar paseban Sui Seng Tian. Disitu mereka menjadi kaget tak terkira ketika menampak berpuluh paderi Lama sedang bertempur mati-matian dengan sekawanan serdadu Ceng. Nyata rombongan Lama itu sudah hampir tak dapat bertahan lagi. Tak terduga-duga, Pek Cin berbalik memimpin anak buahnya membantu rombongan Lama, hingga kawanan serdadu itu kena didesak masuk kembali kedalam ruangan yang tengah dimakan api. Sudah tentu Keh Lok tak mengetahui akan pertentangan antara Kian Liong dengan thayhouw. Kejadian itu sungguh membuat ia tak habis heran. Namun dia tak mau menyianyiakan kesempatan yang bagus itu, terus ajak Kawan-kawan nya lonCat keluar dari tembok istana. Pek Cin dan Li Khik Siu sudah mendapat perintah rahasia dari Kian Liong supaya rombongan HONG HWA HWE dan pasukan Ceng yang menjaga paseban Sui Seng Tian itu dimusnahkan dengan api. Tapi ternyata renCana telah berjalan bukan seperti yang diharapkan. Karena Li Khik Siu, ingat akan keselamatan puterinya. Sedang Pek Cin ingin membalas budi Tan Keh Lok. Maka sengaja mereka memberi kesempatan supaya orang-orang HONG HWA HWE itu bisa melarikan diri. Sedang yang dibasmi, hanyalah pasukan Ceng, anak buah pasukan ki-ping, yang ditugaskan thayhouw untuk menjaga paseban tersebut. Tak berapa lama kemudian, seluruh anak buah pasukan kiping itu terbakar musna. Sedang paseban itupun roboh. Dengan begitu, surat testamen Yong Ceng yang disimpan dalam paseban itu, turut terbakar musna. Setiba diluar istana, rombongan HONG HWA HWE itu berbalik menjadi kaget bukan kepalang. Diluar istana itu, be-ratus 2 tentara Ceng sudah siap menunggu dengan busur, tombak dan pedang. Ratusan obor menyala dengan terangnya, masih ditambah dengan ratusan teng, sehingga suasana saat itu seolah-olah siang hari. "Rupanya dia kuatir kita tak sampai mati diraCun dan dibakar, sehingga diadakan persiapan barisan pembunuh itu!" Pikir Keh Lok. Tapi Bu Tim dan Tan Ceng Tik tak mau banyak sekali pikir, terus mau menyerbu. Dari empat penjuru, anak panah segera dilepas bagaikan hujan derasnya. "Ayo, kita serbu!" Teriak Ceng Tong. Dengan bahu membahu orang-orang HONG HWA HWE itu lantas mengikuti jejak Bu Tim dan Ceng Tik. Tapi kawanan serdadu Ceng itu, tak terhitung jumlahnya. Makin dibasmi makin banyak sekali. Bobol yang selapis, masih ada lain lapisan lagi. Kali ini kaisar Kian Liong betul-betul mau membasmi musna jago-jago dari HONG HWA HWE Ini untuk menjaga bahaya dikemudian hari. Maka dikerahkannya gi-lim-kun, jago istana pilihan dan bayhok yang kokoh. Bagaimanapun gagahnya jago-jago HONG HWA HWE, namun kewalahan juga mereka menghadapi lapisan tembok manusia yang sedemikian tebalnya itu. Keadaan rombongan HONG HWA HWE betul-betul berbahaya. Sinar pedang Bu Tim berkelebat pergi datang, dan belasan anak buah gi-lim-kun tersungkur binasa. Dia berhasil menobros keluar, tapi ketika berpaling dan menunggu sampai sekian saat, tak nampak lain-lain kawannya datang. Hal ini membuat ia kuatir. Dia balik menobros lagi. Tampak Ciang Cin tengah dikepung oleh 7 siwi. Ciang Cin mandi darah, dia berkelahi dengan nekad. "Sipte, yangan takut. Aku datang," Seru Bu Tim terus meneryang. Tiga orang siwi terpapas tenggorokannya terus roboh. Kawan-kawan nya segera mundur. "Sipte, kau tak kena apa-apa?" Tanya Bu Tim. Sebagai jawaban, tahu-tahu Ciang Cin menggerung lalu membaCok jikonya itu. Bukan kepalang kagetnya Bu Tim, Cepat ia berkelit seraya berseru berulang-ulang. "Sipte, kau bagaimana, ini adalah aku!" Tapi Ciang Cin laksana kerbau gila menggerung. "Saudaraku telah kamu aniaya, akupun tak mau hidup sendiri!" Sepasang kampaknya kembali dibaCokkan pada Bu Tim, siapa terpaksa berkelit lagi dan berseru keras. "Sipte, ini aku, jiko-mu!" Sepasang mata Ciang Cin tampak melotot mengawasi, tiba-tiba kampaknya dibuang dan menjerit. "Jiko, aku tak kuat lagi!" Diantara Cahaja lampu dan obor, tampak oleh Bu Tim bagaimana seluruh tubuh Ciang Cin itu mandi darah. Dada, bahu, lengan dan lain-lain bagian tubuhnya terluka. Bu Tim bingung, karena dia hanya berlengan satu, jadi tak dapat akan memondongnya. Namun dengan kertek gigi disuruhnya sang Sipte itu menggamblok dibelakang punggungnya. "Sipte, kau rangkul leherku, biar aku gendong kau!" Serunya. Bu Tim rasakan ketesan darah Ciang Cin mengalir dibadannya. Dengan gagah, tokoh ke 2 dari HONG HWA HWE itu membuka jalan darah. Kemana pedangnya menyamber, disitulah kawanan serdadu musuh terpaksa menyingkir memberi jalan. Tiba-tiba disebelah muka dilihatnya ada 2 tiga serdadu musuh yang ganti berganti membal keatas, seperti dilontarkan orang. "Ha, selain Si-te, tak ada orang lain yang mempunyai kekuatan seperti itu. Apakah ada terjadi perubahan dipos penjagaan pintu kota?" Pikir Bu Tim. Dia menyerbu kearah itu dan ternyata betul didapatinya Bun Thay Lay, Lou Ping, Hi Tong dan Wan Ci tengah bertempur hebat dengan kawanan siwi. "Mana CongthoCu?" Seru Bu Tim. "Entah, mari kita menCarinya!" Sahut Hi Tong. Bu Tim terkesiap. Ciang Cin terluka sedemikian beratnya, yangan-yangan kawannya yang lain-lain sudah sama binasa. Bun Thay Lay membuka jalan darah untuk menghampiri Bu Tim. "Disana tak terjadi suatu apa. Karena aku kuatir, maka aku menengok kemari!" Tutur Thay Lay. "Bagus!" Sahut Bu Tim yang meskipun menggendong Ciang Cin, tapi lak mengurangkan kelihaiannya. Musuh tak berdaya untuk menghadangnya. "CongthoCu!" Pada lain saat Wan Ci berseru keras. Seorang berpakaian putih, tampak melesat kesana sini diantara lautan api itu. Rupanya dia tengah menCari orang. Sedang dari arah barat, tampak Liok Hwi Ching mengaduk keluar. "Kembali ketembok istana!" Seru Keh Lok. Berbareng dengan seman itu, agak jauh disebelah sana, diantara lautan api dan manusia, tampak bulu burung hnyau ber-gerak-gerak. "CongthoCu, pimpinlah semua saudara mundur ketembok istana, biar kujemput nona Hwe itu!" Seru Hwi Ching terus menyerang kearah sana. Begitulah dengan Tan Keh Lok dan Bun Thay Lay yang membuka jalan, rombongan HONG HWA HWE terpaksa kembali lagi keistana, karena mereka merasa tak ungkulan menembus dinding kepungan tentara Ceng yang sebanyak sekali itu. "Sipte, luruhlah!" Kata Bu Tim. Ciang Cin, si Bongkok itu, tak bergerak. Lou Ping bantu menunyangnya, tapi segera didapatinya tubuh Ciang Cin sudah kaku, sudah tak bernyawa lagi. Lou Ping menjerit dengan ratap tangisnya. Pada saat itu Bun Thay Lay tengah bertempur dengan kawanan siwi. Dia hendak menyambut Tio Pan San, Siang-si Siang Hiap dkk. Demi didengar tangis sang isteri, tahulah bahwa sang Sipte (adik angkat ke 10) sudah meninggal. Tanpa terasa beberapa titik air matanya berketesan turun. Seketika meluaplah hawa amarahnya, dia mengamuk hebat. Kembali ada tiga orang siwi yang roboh. Liok Hwi Ching yang menyerbu untuk menolong Ceng Tong, kini sudah dapat menghampirinya. Mereka berusaha untuk membuka jalan menggabungkan diri dengan rombongan Tan Keh Lok. Setindak demi setindak, tampak Ceng Tong makin mendekati. Tapi sekalipun jarak mereka hanya terpisah berpuluh tindak, namun tampaknya sukar untuk menyingkirkan rintangan manusia yang menghadang itu. Ke 2 saudara Siang telah merebut tombak musuh untuk bantu membuka jalan. Wajah Ceng Tong tampak puCat, pakaiannya penuh dengan Cipratan noda darah. "Ayo kita serbu lagi. Tapi kali ini yangan sampai terpenCar," Seru Keh Lok. Tapi belum seruan ketua HONG HWA HWE reda, dari arah istana turun hujan anak panah. Kiranya setelah Li Khik Siu dan Pek Cin dapat membasmi kawanan anak buah ki-ping yang menjaga paseban Seng-Swi Tian, kini mereka mulai menggempur rombongan HONG HWA HWE Jadi kini rombongan HONG HWA HWE terkepung diantara 2 musuh! Selagi keadaan mereka dalam bahaya, tiba-tiba dari arah pasukan gi-lim-kun yang menghadang disebelah depan, timbul kekaCauan. Mereka sama mundur dengan kalut, Diantara Cahaja api yang marong itu, tampak berpuluh-puluh 2 paderi berjubah kuning, menyerbu masuk. Yang berada didepan sendiri, adalah seorang tua berambut putih, bersenjata golok 'kim-pwe-to'. Gagahnya bukan main, seperti gajah yang tak dapat ditahan. Ternyata dia adalah Thiat-tan Ciu Tiong Ing. Melihat itu, orang-' HONG HWA HWE bersorak kegirangan. "Saudara-', ikutlah' saja", seru Tiong Ing. Dengan memanggul mayat Ciang Cin, Bun Thay Lay ikut saudara-saudaranya, menobros keluar. Di antara rombongan Tiong Ing itu, terdapat juga tokoh 2 gereja Siao Lim Si a.l. Thian Keng Siansu, Tay Tian, Tay Leng, Gwan Thong, Gwan Hui, Gwan Siang dan lain-lain. Merekapun sudah terlibat dalam pertempuran dengan gi-lim-kun. Tapi kepungan musuh itu luar biasa rapatnya. Mereka seolah 2 membayangi kemana rombongan orang gagah itu menujti. Otak Ceng Tong yang tajam itu segera mulai bekerja. Ia mendongak memandang keempat penjuru. Segera tampak olehnya diatas wuwungan sebuah rumah penduduk didekat situ, ada belasan orang. Di antaranya ada 4 orang masing-masing dengan menentang teng merah, berpenCar diempat ujung. Kalau rombongan HONG HWA HWE berusaha meneryang kesebelah barat, maka teng merah yang diujung barat itu segera diangkat tinggi-tinggi. Meneryang ketimur, teng merah disebelah timur diangkat keatas. Nona yang Cerdas itu segera dapat menangkap artinya. "HanCurkan teng 2 merah itu, kita pasti tertolong!" Ia menyerukan pada Keh Lok. Mendengar itu, Tio Pan San sudah lantas menyembat busur dan beberapa anak panah. Setelah berturut-turut membidik, keempat teng merah itu padamlah. Dugaan Ceng Tong itu memang tepat. Tanpa pertandaan teng 2 merah, pasukan gi-lim-kun kalut. "Diantara orang-orang diatas wuwungan itu, tentu ada pemimpinnya. Kalau hendak tangkap penCuri, tangkap benggolannya dahulu!" Ceng Tong memberi saran lagi. Semua orang-orang HONG HWA HWE pernah menyaksikan keCakapan Hwe Ceng Tong sebagai pemimpin tentara Hwe ketika berperang melawan pasukan Ceng dahulu. Maka setiap pendapatnya, selalu diperhatikan dan di ndahkan oleh orang-orang HONG HWA HWE "Si-te, ngo-te, liok-te, mari kita menyerang kesana!" Mengajak Bu Tim. Bun Thay Lay dan ke 2 saudara Siang terus ikut menyerbu. Kawanan gi-lim-kun tak kuasa menghadangnya. Tan Keh Lok dan rombongan Thian Keng Siansu ikut meneryang. Dan kali ini, rupa-rupanya mereka akan berhasil. Tapi tak disangka 2, terdengar tampik sorak menggelegar. Li Khik Siu dan Pek Cin dengan barisan pengawal serta si-wi datang menyerang, kembali rombongan HONG HWA HWE terkurung rapat. Malah Wan Ci, Lou Ping dan beberapa paderi Siao Lim Si menderita luka-luka. Setelah berhasil mendekati tembok, Bu Tim berempat lonCat keatas rumah. Begitu kaki mereka menginjak genteng, 7 orang sudah lantas menyerang. Mereka adalah jago-jago istana yang lihai-lihai. Yang tiga mengembut ke 2 saudara Siang, sedang Bu Tim dan Bun Thay Lay masing-masing mendapat 2 lawan. Pertempuran berjalan sangat seru. "Ha, mengapa disini terdapat begini banyak sekali Cakar alap-alap yang lihai-lihai," Mengeluh Bu Tim. Selagi berkelahi, Bu Tim melihat diseberang sana, ada serombongan si-wi menjaga seorang pembesar yang memakai topi berjambul merah. Dengan memegang leng-ki (panji-komando), dia tengah memberi perintah. "Serahkan kawanan Cakar alap-alap ini padaku!" Seru Bir Tim. Berbareng itu, dia kiblatkan ujung pedang-nya menusuk ulu hati seorang lawannya, dan Cepat pula dia beralih membabat kaki lawan satunya. Ke 2 pengerojoknya itu masing-masing menghindar dengan lonCat mundur. Pada kesempatan itu, Bu Tim Cepat menyerang ke 2 musuh Bun Thay Lay. Yang satu, dibabat iganya, yang satu dibaCok pinggangnya. Serangan 2 itu dilakukan luar biasa sebatnya. Terlepas dari serangan musuh, Bun Thay Lay terus meneryang kepada pembesar topi merah tadi. Empat orang pengawalnya, segera menghadang. Pembesar itupun agak terkejut dan menoleh. Ketika melihat wajahnya, Bun Thay Lay terkesiap. Hampir-hampir mulutnya akan berteriak "CongthoCu." Memang pembesar itu sangat mirip dengan Tan Keh Lok. Kalau ke 2nya mengenakan pakaian serupa, tentu orang sukar membedakannya. Betul-betul seperti pinang dibelah . Sekilas teringatlah Bun Thay Lay akan Cerita isterinya tentang peristiwa Thian Hong mengatur siasat merampas vaas giok tempo hari serta peristiwa menangkap Ong Wi Yang. Tan Keh Lok menyaru sebagai seorang pembesar Boan. Semua orang mengiranya sebagai kepala barisan gi-lim-kun merangkap 'kiu-bun-tetok' Hok Gong An. Maka. teranglah kalau pembesar itu tentu Hok Gong An adanya. Segera dia mengambil putusan. tawan pembesar itu untuk dnyadikan barang jaminan. Saat itu dia tarik mundur tubuhnya, kemudian sebat luar biasa dia menyelinap diantara golok dari 2 orang pengawal terus meneryang pembesar itu. Memang pemimpin pasukan gi-lim-kun yang ditugaskanmenangkap orang-orang HONG HWA HWE itu, adalah orang kesayangan baginda sendiri, yaitu Hok Gong An. Karena tugas membakar paseban Swi Seng Tian itu sangat terahasia, maka baginda titahkan Hok Gong An sendiri yang melaksanakan. Namun karena baginda amat sayang padanya, dan kuatir kalau sampai kena apa-apa, maka baginda mengutus 1enam orang pengawal istana kelas satu, untuk melindungi orang kesayangannya itu. Karuan saja pengawal 2 istimewa itu menjadi gugup, ketika nampak Bun Thay Lay seperti orang kalap hendak membekuk thongleng (pemimpin) mereka. Dua orang si-wi maju menghadang, sedang Kawan-kawan nya lalu menyingkirkan Hok Gong An kewuwungan lain rumah. Bu Tim tumplek seluruh kepandaiannya, dan memang gerakan ilmu pedangnya luar biasa Cepatnya. Dalam beberapa d jurus saja, dia berhasil melukai 2 orang musuhnya. Setelah itu, dia makin mengamuk. Meneryang kesana, menyerang kemari. Tangan dan kakinya berbareng dikerjakan. Dan betul juga penghadang 2 Bun Thay Lay itu menjadi pontang-panting menghindar. Kini kembali Bun Thay Lay agak longgar. Sekali kaki dienjot, dia melayang meneryang Hok Gong An! Pertempuran diatas wuwungan itu, diketahui juga oleh kawanan gi-lim-kun dan rombongan HONG HWA HWE yang berada disebelah bawah. Belasan Si-wi kelas satu yang melindungi pemimpin gi-lim-kun itu ternyata tak berdaya untuk menghadang rangsakan 2 tokoh HONG HWA HWE yang berkelahi laksana harimau lapar itu. 7 atau delapan orang dari barisan siwi lonCat keatas untuk memberi bantuan. Pertempuran seolah-olah berhenti sendiri. Semua mata ditujukan kearah wuwungan! Hok Gong An juga mengerti sedikit ilmu silat. Dia segera menabas dengan goloknya. Berbareng itu 2 batang tombak dan 2 batang golok dari kawanan pengawalnya, menyerang Bun Thay Lay pula. "Kalau kali ini gagal membekuknya, tentu bala-bantuan keburu datang," Pikir Bun Thay Lay. Maka ia telah mengambil keputusan untuk mengadu jiwa. Dia samplok ke 2 tangannya kearah ke 2 ujung tombak musuh. Begitu keras samplokan itu, hingga ke 2 tombak itu terpental keatas. Berbareng itu dia dupak dada seorang penyerangnya, dan tangannya menghantam muka seorang musuhnya yang lain. Sudah menjadi kebiasaan Bun Thay Lay, sewaktu menyerang dia barengi dengan menggerung. Sedemikian dahsyat suara gerungannya itu, sehingga pecahlah nyali musuh dibuatnya. Itulah maka orang kangouw menjulukinya sebagai "pan-lui-Chiu." Pukulan dan gerungannya seperti geledek kerasnya! Dua antara 7 siwi yang baru saja melonCat keatas untuk memberi bantuan tadi, saking kagetnya sudah terpeleset jatuh kebawah lagi. Juga Hok Gong An saking terkejutnya, kaki tangannya menjadi lemas lunglai. Sebelum lain pengawal sempat berbuat apa-apa, tangan Bun Thay Lay sudah dapat menCengkeram dada Hok Gong An, terus diangkat keatas. Seluruh anak buah pasukan Ceng, gi-lim-kun dan siwi, baik yang berada diatas wuwungan maupun yang disebelah bawah, telah menjadi gempar! Pada saat itu, ke 2 saudara Siang sudah berhasil merobohkan ketiga siwi lawannya. Merekapun lonCat kesebelah Bun Thay Lay. Diambilnya senjatanya Cakar terbang yang berkilat 2, terus diputar 2 merupakan sebuah lingkaran besar. Sudah tentu, tak seorang Anggota pasukan Ceng yang berani mendekati. Pada lain saat, tampak Hok Gong An mengangkat panji leng ki-nya, seraya berteriak keras-keras. "Berhenti menyerang! Pasukan gi-lim-kun dan semua siwi, baliklah kebarisanmu masing-masing!" Segenap anak buah gi-lin-kun dan siwi, sama terkesiap kaget. Tiga orang siwi yang husus dititahkan untuk melindungi Hok Gong An, tak hiraukan seruan itu, terus nekad menyerbu. "Ngo-te, liok-te, simpan senjatamu itu!" Seru Bu Tim pada ke 2 saudara Siang. Ke 2 saudara itu menurut, karena mengira Bu Tim akan membereskan ketiga siwi itu. Tapi ternyata Bu Tim bertindak lain. Pedang dia djujukan ketenggorokan orang tawanannya seraya tertawa keras-keras. "Ayo, majulah!" Ketiga siwi itu merandek, setelah saling memberi isyarat, mereka lonCat menyingkir. Ketika Bun Thay Lay keraskan tangannya, dan Hok Gong An rasakan lengannya seperti mau putus. Terpaksa dia berkaok 2. "Lekas mundur, dengar apa tidak!" Pasukan Ceng dan kawanan siwi terpaksa mundur. "Ayo, kita sama naik keatas!" Ajak Keh Lok. Rombongan HONG HWA HWE menghampiri tembok, kemudian satu persatu lonCat keatas wuwungan. Disitu Tio Pan San menCatat Kawan-kawan nya. Selain Ciang Cin yang tewas, masih ada lagi delapan atau sembilan lainnya yang terluka. Malah ketika itu, tampak Beng Kian Hiong dan Thian Hong yang memanggul Ciu Ki lonCat keatas. Rambut nyonya itu terurai, mukanya seperti kertas. "Mengapa kau juga kemari? Sungguh kau tak tahu menjaga diri!" Memaki Tiong Ing. "Aku maukan anakku, anakku, kembalikanlah anakku!" Teriak Ciu Ki tiba-tiba. Keh Lok terkesiap mendengar nyonya Thian Hong mengoCeh seperti orang yang tak sadar itu, kemudian dengan gunakan sandi (code) HONG HWA HWE dia mengeluarkan perintah. "Kita serbu kedalam istana, bunuh raja itu guna membalaskan sakit hati Ciang-sipko!" Lou Ping menterjemahkan sandi itu kepada Liok Hwi Ching, Thian Keng Siansu, Tbian San Siang Eng, Hwe Ceng Tong dkk. Mereka sama mengaCungkan senjata tanda setuju. "Siao Lim Si telah dimusnakan olehnya, hari ini aku akan melanggar pantangan membunuh!" Seru Thian Keng. "Susiok, kau sungguh baik, tapi mengapa Siao Lim Si musna?" Seru Keh Lok dengan kaget. "Siao Lim Si sudah rata dengan tanah dibakar mereka. Thian Hong suheng telah gugur," Sahut Thian Keng. Keh Lok terharu. Kemarahannya makin meluap. Dengan menggusur Hok Gong An, rombongan HONG HWA HWE berjalan diantara barisan golok dan tombak gilim-kun. Karena ingat akan keselamatan pemimpinnya, anak buah gi-lim-kun itu tak berani berbuat apa-apa. Setelah melalui lapisan yang terakhir dari pasukan Ceng tersebut. orang-orang gagah itu nampak Sim Hi sudah siap menyambut dengan rombongan anggota HONG HWA HWE dan berpuluh-puluh 2 ekor kuda. Bergegas-gegas mereka naik kuda, ada yang sendirian, ada yang bonCengan. Kemudian laksana badai menderu, mereka menyerbu kearah istana. "CongthoCu, jalan mundur apa sudah siap?" Tanya Ji Thian Hong seraya mendekatkan kudanya kesamping Keh Lok. "Kiu-ko dkk sudah menunggu dipintu kota. Mengapa kau baru sekarang tiba?" Tanya Keh Lok. "Gara 2 Pui Ju Tek sibangsat itu!" Sahut Thian Hong menggeram. "Ada apa dengan dia?" Tanya Keh Lok pula. "Dialah yang bersekongkel dengan Seng Hong dan Swi Tay Lim dengan membawa pasukan, malam 2 menyerbu Siao Lim Si. Thian Hong losiansu tetap tak mau keluar, sehingga binasa ikut terbakar." "Jadi jahanam 2 itu yang melakukannya?" Tanya Keh Lok. "Ya merekapun merampas putraku!" Kata Thian Hong. Mendengar adik angkat itu punya anak laki 2, ingin benar Tan Keh Lok menguCapkan selamat kepada Thian Hong, tapi pada saat seperti itu, tak dapat mulutnya ber-kata-kata. "Thian Keng supeh telah pimpin semua paderi untuk menCari penghianat itu, sehingga sampai kemari. Kami menuju ke Song Liu Cu (markas HONG HWA HWE di Pakkhia) dan mengetahui kalau kalian berada di stana Yong Ho Kiong sini," Tutur Thian Hong akhirnya. Kini rombongan HONG HWA HWE itu sudah mendekati Kota Terlarang. Gi-lim-kun dan kawanan si-wi tetap mengikut dari belakang. Walaupun tak berani menyerang, tapi mereka tetap tak mau melepaskan musuhnya. "Kalau kaisar itu sudah mendapat warta dan keburu bersembunyi, tentang menCarinya didalam istana, kami mohon bantuan ke 2 loCianpwe," Kata Thian Hong pada Thian-san Siang Eng. Setempo dipagoda Liok Hap Ta, Thian Hong pernah saksikan kepandaian sepasang suami isteri yang tak pernah memberi ampun pada musuhnya. Apalagi ke 2nya orang-orang suka menang. Penangkapan Hok Gong An tadi, ke 2nya belum memperlihatkan jasanya. Maka tepatloh kiranya kalau Thian Hong mengajukan permintaan itu kepada mereka. "Kita nanti lakukan itu!" Sahut Thian San Siang Eng. Sekalipun pikirannya sedang kalut memikirkan puteranya, namun Thian Hong masih tetap lihai. Dia ambil 4 buah 'Iiu-sing-hwe-bao' (obat pasang yang dapat menyambar merCon sreng), diberikan kepada Ceng Tik. "Bila Cianpwe dapat menemukan kaisar, kalau bisa bunuh, bunuhlah saja. Tapi kalau menemui kesukaran, harap loCianpwe segera lepas api ini selaku pertandaan," Pesan Thian Hong. "Baik!" Jawab Kwan Bing Bwe. Ke 2 suami isteri itu segera lonCat keatas tembok, terus masuk kedalam istana. Gerakan mereka sebat sekali, seakan-akan sepasang garuda. Ketika Hok Gong An berseru memerintahkan pasukannya membuka pintu istana, ke 2 suami isteri itu sudah tak kelihatan lagi. Sewaktu berlarian diatas genteng istana, Thian San Siang Eng segera menghadapi kesukaran. Karena ruangan dan pintu dalam istana itu tak terhitung jumlahnya. Sukar rasanya untuk mendapatkan tempat persembunyian raja itu. "Kita bekuk seorang thaikam!" Kata Kwan Bing Bwe. Ceng Tik setuju. Begitulah ke 2nya melayang turun dan bersembunyi ditempat gelap. Tak antara lama, didengarnya ada tindakan orang mendatangi. Ketika mereka hendak membekuknya, ternyata ada pula lain tindakan kaki mendatangi, rupanya bergegas-gegas seperti ada urusan penting. "Ke 2 orang itu mengerti ilmu silat rasanya," Bisik Ceng Tik. "Benar, kita kuntit saja," Jawab sang isteri. Tepat dengan itu, ke 2 orang itu sudah lewat disitu. Segera Ceng Tik dan sang isteri menguntitnya. Yang dimuka tubuhnya kurus, nampaknya lebih lihai dari kawannya yang berperawakan tegap dan tindakan kakinya lebih berat. Berkali 2 si kurus berhenti untuk menunggu, dan setiap kali menyuruh kawannya supaya lekas. "Lekas, kita harus mendahului, supaya bisa memberi warta kepada baginda," Kata orang itu. Ceng Tik suami isteri girang, karena tanpa sengaja mendapat penunjuk jalan itu. Diam-diam ke 2nya berSyukur kepada si tegap yang lambat gerakannya itu. Setelah beberapa kali membiluk, tibalah mereka dimuka pagoda Po Gwat Lauw. "Kau tunggu disini," Kata si kurus, lalu masuk. Thian San Siang Eng mulai bekerja. Mereka memanjat keatas dari samping pagoda. Tanpa mengalami kesukaran apa-apa, ke 2 suami isteri itu Cepat sudah berada dipunCak pagoda. Dengan gaetan kaki ketiang serambi, mereka menggelantung dengan kepala dibawah. Didalam terdapat sederek jendela panyang, diluarnya ada sebuah lorong. Tampak sebuah bayangan munCul dibalik kertas penutup jendela. Kwan Bing Bwe ajak sang suami melorot kesana, lalu gunakan ludah untuk bikin lobang pada kertas jendela dan mengintai kedalam. Benar seperti yang diharap, Kian Liong tampak duduk disebuah kursi. Sedang yang berlutut dihadapannya, sikurus tadi, bukan lain adalah Pek Cin, orang yang pernah bertempur dengan Ceng Tik di HangCiu dahulu. "Paseban Sui Seng Tian sudah terbakar musna. Tiada seorang penjaganya yang bisa lolos," Terdengar Pek Cin melapor. "Bagus!" Seru Kian Liong dengan girang. "Hamba patut menerima hukuman. Rombongan pemberontak HONG HWA HWE sebaliknya bisa lolos," Pek Cin berdatang sembah pula. "Apa?!" Teriak Kian Liong. "Ke 2 thaikam keperCajaan thayhouw hendak menghaturkan selamat dengan arak beracun. Tapi entah bagaimana, rahasianya ketahuan dan diringkus musuh. Hamba waktu itu tengah berada di Sui Seng Tian, hingga tak mengetahui kalau mereka telah lolos gara 2 ke 2 thaikam itu." Pek Cin tahu bentrokan antara baginda dengan thayhouw, maka kini dia sengaja timpahkan semua kegagalan diatas bahu ke 2 orang keperCajaan thayhouw tersebut. Kian Liong menggerang dan tundukkan kepalanya merenung sejenak. Ceng Tik tunjukkan jarinya kearah Pek Cin, kemudian menunjuk pula kearah kaisar, lalu memberi tanda rahasia dengan isyarat tangan pada sang isteri, maksudnya. "Aku tempur si Pek Cin dan kau yang membereskan kaisar!" Kwan Bing Bwe mengangguk. Selagi ia akan menobros jendela, tiba-tiba Pek Cin kedengaran bertepuk tangan 2 kali. Ceng Tik Cepat-cepat menarik lengan isterinya, dan mengisyaratkan supaya tunggu dahulu. Benar juga dari balik tempat tidur, lemari, pintu angin, tahu-tahu munCul ah selosin si-wi lengkap dengan senjatanya. "Pengawal 2 kaisar itu tentu pahlawan 2 kelas satu. Meski kita tak nanti tertangkap oleh mereka, tapi andaikata sampai tak dapat membunuh kaisar itu, bukanlah seperti 'keprak rumput membikin kaget sang ular' saja? Atau seperti menyuruhnya bersembunyi lebih* rapat. Ah, lebih baik tunggu sampai rombongan HONG HWA HWE datang," Demikian pikir Thian San Siang Eng. Sementara itu terlihat Pek Cin membisiki salah seorang si-wi, siapa turun kebawah untuk mengundang orang yang menunggu diluar pagoda tadi. Orang itu berpakaian jubah warna kuning tua dan tampak menjura dihadapan kaisar. Ketika mendongak, diluar dugaan Thian San Siang Eng, ternyata adalah seorang Lama. "Fuinke, kau sudah bekerja dengan baik. Kau tidak sampai menerbitkan keCurigaan bukan?" Tanya baginda. "Semua telah hamba kerjakan menurut titah baginda. Sui Seng Tian musna sampai habis," Kata paderi itu. "Bagus, bagus!" Kata Kian Liong. "Pek Cin, telah kujanjikan padanya untuk menjadi budha hidup. Nah, kau uruskanlah!" Pek Cin mengiakan dan Fuinke tampak berseri-seri kegirangan seraya menghaturkan terima kasih kepada baginda. Begitulah Pek Cin lalu membawa Lama itu keluar, di ring oleh 2 orang siwi. Sampai dimuka pagoda, berserulah Pek Cin. "Fuinke, lekas haturkan terima kasih atas budi kaisar!" Lama itu melengak kaget. Tadi dia sudah menghaturkan terima kasih kepada baginda, mengapa pemimpin siwi itu memerintahkan lagi begitu. Tapi iapun lantas berlutut ke-arah Po Gwat Lauw. Setelah menyembah tiga kali, dia terus akan berbangkit, tapi mendadak batang tengkuknya terasa ditempeli dengan benda dingin. Ternyata golok dari ke 2 siwi tadi dilekatkan kebatang lehernya. "Me............ mengapa-apa" Tanyanya ter-iba 2. "Baginda berkenan mengangkat kau menjadi buddha hidup, maka kini aku akan mengirim kau kesjorga untuk menjabat pangkat itu," Menerangkan Pek Cin dengan tertawa. Hati Fuinke seperti disiram ds. Insyaplah dia kalau baginda hendak membunuhnya supaya rahasianya tak bocor. Pada saat itu tangan Pek Cin mengibas, dan 2 golok dari ke 2 siwi itu segera menabas leher Lama yang malang itu. Dua orang thaikam munCul membawa permadani untuk menutup mayat sang korban. Menyaksikan kekejaman kaisar itu, makin berkobarlah kemarahan Thian San Siang Eng. Tengah ke 2 orang itu termangu, sekonyong-konyong berpuluh-puluh 2 orang dengan menenteng teng menyergapnya. "Ada pemberontak datang mengaCau, silakan baginda beristirahat kedalam istana," Teriak Pek Cin dan buru-buru naik keatas menghadap kaisar. Setelah peristiwa di HangCiu tempo hari, tahulah Kian Liong bahwa pahlawan 2nya itu bukan tandingannya jago-jago dari HONG HWA HWE Maka tanpa banyak sekali tanya lagi, kaisar itu terus tinggalkan tempat itu. Tan Ceng Cik segera melepas sebuah merCon sreng. Selarik sinar terang menobros diangkasa yang gelap gulita. "Kami memang sudah menunggu lama, yangan harap kamu bisa lolos!" Seru Ceng Tik keras-keras. Sepasang suami isteri itu tahu kalau rombongan HONG HWA HWE takkan Cepat-cepat tiba, maka perlulah mereka menCegat kaisar itu dulu. Maka dengan sebat, ke 2nya menobros masuk dari jendela ruang tingkat keempat. Kawanan siwi itu tak tahu jelas berapa jumlah musuh yang memasuki istana itu. Maka sudah tentu mereka menjadi kaget demi melihat dimulut tangga ruangan itu berdiri tegak seorang tua bermuka merah dan seorang wanita yang sudah beruban rambutnya, dengan menghunus pedang. Dua orang siwi maju, tapi begitu beradu senjata, segera merasa betapa sebat gerakan musuh. Pek Cin gendong baginda dipunggungnya, dikanan, kiri, muka, belakang dilindungi oleh 4 orang siwi. Dari samping langkah mereka lonCat kebawah, terus turun ketingkat tiga . Kwan Bing Bwe kibaskan tangannya melepas tiga butir thi-lian-Cu. Begitu musuh menyingkir, ia enjot kakinya keatas langkan diantara ruang keempat dan ketiga. Dan seCepat Itu pula, ia tusukkan ujung pedangnya kearah Kian Liong. Pek Cin terkesiap dan mundur 2 tindak. Berbareng itu, 2 orang siwi segera menghadang serangan Kwan Bing Bwe. Bertarung dengan tiga orang siwi, segera Ceng Tik mengetahui bahwa lawannya itu berat 2. Segera dia keluarkan ilmu simpanannya merangsak kian kemari agar tak sampai terlibat oleh pengerojokan itu. Pek Cin bersuit, dari empat ujung munCul ah 4 orang siwi. Malah ada lagi tiga orang siwi munCul dari belakang. Ke7 orang itu kini mengerubuti Ceng Tik. Betapa lihainya jago tua dari Thian San Itu, namun kewalahan juga menghadapi kerojokan 7 orang jago istana kelas satu. Kira-kira berlangsung belasan jurus, Ceng Tik menangkis tusukan tombak dari sebelah kiri, Tapi berbareng itu sebuah Cambuk menghantam lengan kanannya. Bukan kepalang sakit dan marahnya Ceng Tik sesaat itu. Berpuluh tahun ini belum pernah dia rontok bulu romannya apalagi terluka seperti saat itu. Pedang segera dipindahkan ketangan kiri, dengan gerak "angin pujuh menggulung padang pasir," Didesaknya kawanan siwi itu kebelakang. Lalu sebat luar biasa, dia tusuk perut orang yang menCambuknya tadi. Nampak suaminya terluka, Kwan Bing Bwe merangsek ke muka untuk menggabungkan diri. Kemudian ke 2nya mundur ketingkat ke 2. Mengetahui rombongan HONG HWA HWE tetap belum munCul, karena kuatir kawanan siwi itu akan melibatnya dalam suatu pertempuran hebat, buru-buru Ceng Tik menobros keluar pagoda untuk melepas api pertanda lagi. Ketika masuk kedalam lagi, dilihatnya sang isteri tetap menjaga ditangga loteng dengan gigih sekali. Setiap beberapa jurus, ia mundur setingkat. Betul-betul setiap jengkal dipertahankan mati-matian. Untungnya, tangga loteng itu sempit, hingga hanya Cukup untuk berkelahi tiga atau empat orang saja. Sekalipun begitu, Kwan Bing Bwe tampak keripuhan juga. Tiba-tiba dalam pikiran Ceng Tik terkilas suatu siasat jakni "menyerang untuk bertahan." Maka seCepat itu pula, dia menyerbu kearah kaisar. Begitu kawanan siwi serentak melindungi baginda, siang 2 dia sudah menyingkir lagi untuk menggempur para pengerojok Kwan Bing Bwe. Kalau banyak sekali orang datang memberi bantuan, Ceng Tik serang baginda lagi. Dan kembali kawanan siwi itu mengerumun baginda. Demikianlah dengan Cara bertempur begitu musuh kaCau dibuatnya. Selagi musuh kaCau, Ceng Tik dapat melukakan 2 orang lagi. Kwan Bing Bwe pun naik pula keatas untuk merangsek. Melihat gelagat kurang baik, Pek Cin berseru kepada seorang siwi. "Ma-hengte, kau gendong baginda ini!" Orang she Ma itu ternyata adalah Ma King Hiap, itu siwi yang pernah ditawan HONG HWA HWE ketika pertempuran di Hang-Ciu dahulu, yang kemudian setelah diadakan perundingan perserikatan, dia dilepaskan lagi. Setelah kaisar didukung Ma King Hiap, Pek Cin bersuit seraya menerkam Ceng Tik. Dia adalah ahli kenamaan dari Cabang Ko Yang Pai. Ilmu eng-jiao-kong (Cakar elang) sangat dimalui dikalangan kangouw. Meski dia setingkat dibawah Ceng Tik, namun dalam berpuluh jurus, masih dapat dia melayani dengan berimbang. Malah diam-diam Ceng Tik mengeluh, karena sukar untuk loloskan diri dari libatan orang she Pek itu. Apa lagi lengannya kanan terluka makin lama makin terasa sakitnya. Dalam keadaan begitu, bertarung dengan Pek Cin seorang saja, dia sudah kepayahan apalagi kini dikerojok empat-lima orang siwi. Sepasang jari Pek Cin yang bagaikan Cakar besi itu me-layang 2 menginCar bagian 2 yang berbahaya dari tubuh musuh. Ceng Tik tumplek seluruh perhatiannya untuk melayani Cengkeram maut itu, jadi dia agak lengah akan lain-lain serangan. Maka pada lain saat tahu-tahu punggungnya tertusuk ujung pedang salah seorang si-wi yang menyerang dari belakang. Tengah si-wi itu. bergirang hati, seCepat kilat Ceng Tik berputar untuk menghantam kepala lawan tersebut dengan sikunya. Begitu sebat dan dahsyat hantaman itu, sehingga si-wi tersebut tak sempat mundur dan seketika itu juga batok kepalanya pecah. Tapi dalam pada itu, keadaan Ceng Tik makin payah. Tahu dia kalau tusukan pedang tadi telah mengenai bagian yang berbahaya, dan insyap kalau ia tentu binasa ditempat itu. Dia menggerung keras, seperti harimau terluka. Saking kagetnya, Pek Cin mundur setindak, Ceng Tik timpukkan pedangnya kearah baginda. Melihat pedang melayang datang, hendak Ma King Hiap menghindar, tapi kalah Cepat. Dan karena kuatir baginda terluka, si-wi itu menangkis dengan tangannya. Tapi tim-pukan Ceng Tik itu, adalah timpukan dari orang yang mendekati ajal, karena marah dan penasaran telah tumplek seluruh sisa tenaganya yang masih ada, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya. Maka sudah tentu tangan kosong Ma King Hiap tak dapat menahannya, 'brekk', tangan King Hiap papas separoh, dan pedang tetap memberosot masuk kedada terus menembus kebelakang, kepunggung............... Ceng Tik bersorak girang. Puas dia dengan hasil timpukannya itu, ia pikir Ujung pedangnya tentu dapat mengenai tubuh baginda. Selebar jiwanya yang sudah setua itu, ditukar dengan jiwa seorang kaisar, sungguh lebih dari berharga. Melihat ujung pedang menembus dada Ma King Hiap, Pek Cin dan kawanan si-wi pun terkesiap kaget. Begitu pula Kwan Bing Bwe ketika menampak suaminya terluka. Serentak mereka sama berhenti bertempur dengan sendirinya, masing-masing memburu untuk menolong fihaknya. Pek Cin membopong baginda dengan hati-hati, seraya bertanya. "Baginda, bagaimana?" Wajah Kian Liong puCat seperti kertas, namun dia Coba untuk berlaku tenang, katanya dengan tersenyum. "Syukur aku. sudah membuat penjagaan lebih dulu." Ujung pedang Ceng Tik tadi menembus punggung King Hiap sampai setengah kaki, hingga pakaian kaisar yang ber-lapis 2 itu kerowak dibuatnya. Pek Cin berdebar 2, namun dia heran juga mengapa baginda tak kena apa-apa, katanya. "Baginda mempunyai rejeki sebesar langit, sungguh mendapat lindungan dari para arwah." Kiranya semenjak baginda bermaksud mengingkari janjinya. dengan HONG HWA HWE dia sangat menguatirkan akan pembalasan dari kawanan orang gagah itu. Teringat akan kejadian 20 tahun yang lalu., dimana almarhum ayahandanya, kaisar Yong Ceng, telah dibunuh seCara mengenaskan oleh pembunuh gelap, hati kaisar itu menjadi kedar dan jeri. Maka sengaja dia pakai baju 'kim-si-joan-kah', baju benang emas yang tahan baCokan senjata tajam. Dan ternyata baju itu telah menolong jiwanya. Pek Cin menggendong Kian Liong pula. Kini ditangga loteng sudah tak nampak ke 2 suami isteri penghadang itu. Dia bersuit keras, dan kawanan si-wi segera melindunginya pula, untuk turun kebawah. Hampir sampai diambang pintu pagoda, tiba-tiba Kian Liong mengeluarkan jeritan tertahan, terus meronta 2 turun dari gendongan Pek Cin. Ternyata diambang pintu, tegak berdiri Tan Keh Lok, dibelakangnya kelihatan barisan ujung pedang dari kawanan orang gagah yang lain. Kian Liong terus berputar dan lari balik keatas lagi. Sedang kawanan si-wi pun segera ikut untuk melindunginya. Ada 2 orang si-wi yang agak lambat mengangkat kaki, telah diCegat oleh ke 2 saudara Siangi Beberapa jurus saja, ke 2 si-wi itu telah dapat dibunuh. Kiranya setelah nampak pertandaan dari api merCon yang dilepas Ceng Tik, Tan Keh Lok dkk segera menuju ke Po Gwat Lauw. Tapi disepanyang jalan, selalu dirintangi oleh kawanan si-wi. Hal ini telah membuat kedatangannya agak terlambat sedikit. Setiba di Po Gwat Lauw, mereka dapatkan kaisar sedang dilibat oleh Thian San Siang Eng. "Jahanam, kau juga disini!" Bun Thay Lay menggerung demi melihat Seng Hong dan Swi Tay Lim juga berada disitu. Kian Liong sendiripun sedari tadi belum mengetahui akan kedatangan ke 2 orang itu, maka dia lantas berteriak supaya mereka turut menangkap pada orang-orang HONG HWA HWE itu. Tan Keh Lok segera pecah rombongannya. Setiap lorong dan undak 2an disuruhnya jaga keras. Bu Tim menjaga tmdak 2an bawah dari loteng ketiga, sedang Siang-si Siang Hiap menjaga diatas, Tio Pan San, Tay Hiong, Tay Tian, menjaga dibawah, tak nanti Kian Liong dapat lolos dari kepungan itu. Ceng Tong kuCurkan air mata ketika nampak suhunya tengah memeluk pada suaminya. Iapun turut menghampiri. Ceng Tik mengeluarkan darah terus menerus Hwi Ching pun datang dan mengambil obat luka lalu ditempelkannya. Namun kesemuanya itu tak banyak sekali menolong. Ceng Tik tersenyum tawar dan meng-gelengskan kepala kepada Kwan Bing Bwe. "Maafkan aku............ Berpuluh-puluh tahun kumembuat kau hidup getir, bila nanti kau kembali kedaerah Hwe, dan bersama Wan......... Wan-toako menjadi suami isteri......... aku dialam baka, akan merasa lega. Liok-hengte, tolong kau bantu aku untuk menjadikan soal itu............" Tapi mendadak alis Kwan Bing Bwe terangkat naik, ia mengelah napas. "Selama beberapa bulan ini, apakah kau masih belum menginsyapi betapa perasaan hatiku kepadamu?" Ingin Hwi Thjing menasehati wanita itu, supaya mengiakan saja segala kata-kata suaminya yang sudah mendekati ajalnya itu, biar lega. Tapi belum sampai dia membuka mulut, tiba-tiba terdengar Kwan Bing Hwe berteriak. "Kalau sudah begini, tentu puaslah kau!" Berbareng dengan uCapannya itu, pedang yang dipegang itu ditusukkan ketenggorokannya sendiri. Darah menyembur keluar, dan jago wanita itu roboh binasa seketika. Dengan demikian tamatlah riwajat dari seorang wanita yang selama hidupnya, selalu merasa tak berbahagia. Saking terkesiapnya, Ceng Tong dan Hwi Ching tak keburu menCegah perbuatan wanita yang keras hati itu. Ceng Tik tertawa puas. Tapi pada lain saat, suara ketawanya itu segera sirap dengan tiba-tiba. Hwi Ching berjongkok untuk memeriksanya. Ternyata Ceng Tik telah memeluk sang isteri. Diantara kobakan darah, ke 2nya bersama 2 menghembuskan napas. Ceng Tong mendumprah disamping ke 2 suhunya, menangis sedu-sedan seperti anak kecil. Sementara itu Tan Ke Lok sudah sambut khim dari Sim Hi dan mendamprat Kian Liong. "Yangan kata tentang perjanjian persekutuan di Liok Hap Ta, sedang di Hayleng kita pernah kuCurkan darah, bersumpah takkan saling menCelakan. Tapi kenyataan, kau akan meraCuni aku! Apa katamu sekarang?" Habis berkata, khim dibanting kelantai. Sebuah benda pusaka yang ribuan tahun umurnya, kini menjadi kepingan kayu. "Kau akui musuh sebagai ayahmu untuk menindas rahajat. Kau merupakan musuh rahajat yang Cinta tanah airnya! Hubungan darah antara kita ber 2, mulai saat ini putuslah sudah dan kini juga akan kuminum darahmu untuk menebus hutangmu pada ke 2 loCianpwe, pada saudara-saudaraku dan pada rahajat sekalian". Kata-kata yang diuCapkan Tan Keh Lok dengan keren itu, telah membuat Kian Liong puCat pasi. "Kita mensuCikan diri digereja Siao Lim Si untuk membebaskan diri dari urusan dunia. Tapi mengapa kau utus pembesar jahat untuk membakar gereja kita? Hari ini biarlah aku akan membuka larangan membunuh", seru Thian Keng. Seng Hong rupanya tak tahan. Dia meneryang dengan tojanya. Tapi paderi dari Siao Lim Si itu tetap tenang 2 saja. Begitu tongkat lawannya tiba, dia segera menyawut daa menariknya. Seng Hong tak dapat mempertahankan kuda 2nya, terus memberosot jatuh. Membarengi itu Thian Keng menghantam dan separoh kepala orang she Seng itu melesak kedalam. Dia mati seketika! Tatkala tangan kanan Thian Keng mengibas, tongkat Seng Hong itu telah patah menjadi tiga. Menampak kegagahan yang luar biasa dari paderi tersebut., kawanan siwi disitu menjadi pecah nyalinya. Hanya Pek Cin yang terpaksa memberanikan diri. "Biar kuminta pengajaran dari Losiansu untuk beberapa jurus saja!" Tantangnya. Thian Keng hanya mengeluarkan suara jemu, terus akan melangkah maju. "Susiok, kau telah turunkan 'Hong-liang-sip-pat-Ciang' padaku, idinkan teCu menCobanya, mana yang salah harapsusiok kasih unjuk!" Tiba-tiba Keh Lok berseru. "Baiklah!" Sahut Thian Keng. "Pek-loCianpwe, silakan!" Kata Keh Lok, terus mengirim pukulannya. Pek Cin tak menghindar, ia menangkis, tapi begitu saling bentrok, dia rasakan separoh tubuhnya kesemutan. Dia sangat terkejut. Belum setengah tahun dia bertempur dengan ketua HONG HWA HWE itu di HangCiu, itu waktu kekuatannya berimbang, Tapi kini, ternyata dia sudah bukan tandingannya lagi. Tan Keh Lok mengirim serangan lagi, malah dengan 2 tangan sekali gus. Yang satu, Pek Cin berkelit dan yang satunya ditangkis. Tapi seCepat itu dia lantas lonCat menyingkir seraya berseru. "Tahan!" "Dia 'kan penolongmu, mengapa kau layani dia berkelahi!" Tiba-tiba Kian Liong menyelatuk. Kini insyaplah Pek Cin bahwa baginda mencurigainya. Dia mengambil sebatang golok dari seorang siwi, katanya. "CongthoCu, aku bukan tandinganmu." "Aku hargakan kau sebagai seorang hohan. Asal kau tak menjual jiwa untuk kaisar ini, silaukan kau tinggalkan tempat ini!" Kata Keh Lok. Tio Pan San yang menjaga dijendela timur, lantas memberi jalan. Tapi bukannya segera berlalu, Pek Cin kedengaran tertawa hampa. "Terima kasih atas kebaikan kalian. Tapi karena tak dapat melindungi baginda, aku menjadi seorang yang put-tiong (tak sstia). Tak dapat membalas budimu, aku menjadi seorang put-gi (tak bermoral). Put-tiong dan put-gi, adakah kau masih berharga untuk hidup didunia?" Belum lagi semua orang mengerti apa yang dimaukan, sekonyong-konyong Pek Cin menabas batang lehernya sendiri. 'Bluk', buah kepalanya tahu-tahu jatuh dilantai. Kemudian Keh Lok pimpin Ceng Tong keruangan dalam. Badi-badi mustika diserahkan kepada nona itu, katanya. "Ceng Tong, ayah bundamu, kakak dan adikmu, ke 2 suhumu serta berpuluh-puluh 2 ribu suku bangsamu, semua binasa ditangannya. Mari, kau bunuh dia dengan tanganmu sendiri!" Segera Ceng Tong maju menghampiri Kian Liong. Swi Tay Lim Coba menghadang, tapi segera disambar dari samping oleh Bun Thay Lay, terus diCengkeram, punggungnya diangkat naik, dihantam berulang-ulang. Ketika dilepaskan, Swi Tay Lim sudah numprah ditanah, seperti segumpal daging. Tulang 2nya sudah patah 2 semua. Bun Thay Lay masih ingat akan hinaan dari musuhnya itu, yang pernah memukulinya ketika dia tertangkap. Maka kali ini, dia umbar napsunya untuk melampiaskan sakit hati itu. Kini tinggal 5 atau enam orang siwi saja yang masih disamping Kian Liong. Maka Bun Thay Lay hanya tertawa dan berdiri disamping untuk mengawasi Ceng Tong menghampiri baginda. Tapi baru saja Ceng Tong berjalan beberapa tindak, tiba-tiba dibawah pagoda terdengar suara hiruk pikuk. Tio Pan San melongok kejendela dan dapatkan diluar Po .Gwat Lauw ribuan tentara tengah membawa obor. Mereka adalah pasukan gi-lim-kun, siwi, thaikam 2 yang pandai ilmu silat, kira-kira sejumlah ribuan. Tiau Hwi, Li Khik Siu dan The jin-ong sibuk memberi perintah. Bun Thay Lay menghampiri jendela dan berseru dengan lantang. "Kaisar ada disini. Siapa yang berani naik, kaisar ini segera akan kujadikan frikadel lebih dulu!" Mendengar suara yang menggeledek dari Pan-lui-Chiu itu, suasana berisik itu sirap seketika. Thian Hong beserta Sim Hi segera lemparkan mayat Pek Cin, Swi Tay Lim, Ma King Hiap, Seng Hong dkk.nya kebawah. Melihat, jago-jago yang tangguh itu sudah menjadi mayat, mereka tambahi jeri lagi dan makin Cemas akan keselamatan baginda. Juga orang-orang gagah HONG HWA HWE itu sama berdiam diri untuk menantikan Ceng Tong, siapa dengan badi-badi yang bergemerlapan tengah maju setindak demi setindak kearah Kian Liong. Dalam suasana yang menyeramkan itu, tiba-tiba dari balik tempat tidur diruangan situ, sebuah bayangan ber-gerak-gerak terus menghadang dimuka baginda. Ceng Tong merandek untuk mengawasinya. Ternyata dia adalah seorang tua yang berambut putih, tangannya memondong seorang baji. Sambil tertawa dingin, dengan tangan kanan, orang tua itu mengangkat si baji kemuka, sedang tangannya kiri mendekap leher sibaji. Sekali jari 2nya itu dikenCangkan, tak ampun lagi baji tentu binasa. Baji itu putih montok, menyenangkan sekali dan tengah asjik mengisap jarinya. Mendadak memberosot dari belakang sang ibu dan menjerit keras. "Kembalikan anakku!" Terus saja ia akan. maju merebutnya. "Majulah, kalau kau ingin menerima mayat baji, mari!" Orang tua itu menganCam. Ciu Ki linglung seperti kehilangan semangat. Kiranya orang tua itu adalah bekas Sunbu dari wilayah Anhui, Pui Ju Tek. Ketika dia kembali kekampungnya di Hokkian, dia akan mengambil selir, tapi diobrak-abrik oleh orang-orang gagah HONG HWA HWE Berkat siasatnya yang liCin, dia berhasil loloskan diri. Kemudian dia menggabungkan diri dengan Seng Hong dan Swi Tay Lim. Dari ke 2 orang itu, diketahuinya kalau baginda bermaksud akan menumpas orang-orang H.H.H, Untuk meriCari pahala, Sunbu itu telah mengatur renCana." Dengan membawa sejumlah besar pasukan, dia menggerebek gereja Siao Lim Si pada tengah malam. Gereja itu dibakarnya, dimana turut pula binasa pemimpin pertamanya Thian Hong Siansu. Kemudian dirampasnya pula putera Ciu Ki yang masih baji itu. Dia anggap, hal itu sebagai jasa kepada negeri, maka diajaklah Swi Tay Lim dkk. ke Pakkhia untuk menghadap kaisar. Malam itu juga baginda menitahkan mereka menghadap untuk ditanya lebih jelas apakah gereja Siao Lim Si masih meninggalkan sisa. Begitulah malam itu ketiganya pergi menghadap baginda di Po Gwat Lauw. Tak mereka sangka kalau disitu mereka kesamplokan dengan rombongan Tari Keh Lok yang tengah mengamuk. Pui Ju Tek buru-buru bersembunyi dibelakang tempat tidur. Tak berani dia nampakkan diri. Tapi ketika diketahuinya suasana sangat gawat, meskipun dia tak bisa silat, tapi dengan tipu dayanya yang liCin, dia munCul menghadangi. "Ayo, kamu semua keluar dari istana. Nanti kukembalikan baji ini!" Kembali situa itu berseru setelah merasa mendapat angin. "Setan tua, kau tentu akan menipu kami!" Bentak Ceng Tong, yang karena kemarahannya, sampai lupa kalau ia memaki dengan bahasa Ui. Sudah tentu semua orang tak mengerti maksudnya. Sungguh hal yang tak terkirakan sama sekali oleh orang-orang gagah itu. Mereka telah ambil putusan, kaisar tentu takkan lepas dari kebinasaan. Sekalipun pasukan istimewa dikerahkan untuk menolongnya, mereka tetap akan membunuh kaisar itu, sekalipun mereka harus berkorban jiwa. Tapi renCana itu digagalkan serta merta oleh seorang tua yang tak pandai silat, tak membawa senjata apa-apa, keCuali seorang anak baji. Semua orang sama memandang kepada Tan Keh Lok untuk menanti keputusannya. Ketua HONG HWA HWE itu memandang pada Ceng Tong. Sakit hati yang diderita nona itu melebihi lautan besarnya, tak boleh tidak, harus dibalaskan. Dan ketika ketua itu memandang kearah jenazah Thian San Siang Eng dan Ciang Cin, hatinya seperti disajat sembilu. Namun ketika nampak wajah Cemas dari Thian Hong dan Ciu Ki, hatinya bersangsi. Dengan sorot mata yang Cemas sayang, sepasang suami isteri itu tak hentinya mengawasi orok yang berada dalam telapak tangan Pui Ju Tok, tangan yang penuh dilingkari dengan otot besar 2. Anak yang baru berusia 2 bulan nampak tertawa 2, memain dengan jari tangan situa. Sedikitpun dia tak mengetahui, bahwa jari 2 itu kalau tak kebetulan, hakal merampas jiwanya. Tan Keh Lok alihkan pandangannya. Dilihatnya sorot mata. Thian Keng yang tadinya penuh dengan hawa pembunuhan, kini berganti dengan sorot yang mengunjuk kewelas-asihan. Liok Hwi Ching kedengaran mengeluarkan elahan napas. Tiong Ing gemetar, jenggotnya yang putih turut bergoyang 2. Sedang Ciu-naynay ternganga mulutnya, seperti orang kena sihir. "Kepada kaum kita, Ciu-loCianpwe telah bunuh putera keturunannya sendiri. Baji itu adalah untuk menyambung keturunan satu 2nya......... tapi kalau dia (kaisar) tak dibunuh sekarang, mungkin tak ada kesempatan yang sebagus ini lagi dan sakit hati kita tentu takkan terbalas selama-lama-nya", demikian Keh Lok me-nimbang 2 dalam pikirannya. Tengah dia bingung mengambil putusan, terdengar Ciu Ki menjerit seraya akan menyerbu kemuka, tapi diCegah oleh Lou Ping dan Wan Ci hingga ia meronta-ronta seperti orang kalap. Pemandangan itu, telah membuat Bu Tim, Bun Thay Lay ke 2 saudara Siang, orang-orang yang biasa membunuh orang tanpa terkesip, kini menjadi tak tega hatinya. Tiba-tiba Ceng Tong balik kembali untuk serahkan badi-badi para TanKeh Lok, bisiknya. "Yang mati tetap mati! Biarlah anak itu dididik, agar kelak dapat membalaskan sakit hati kita!" Keh Lok mengangguk, lalu dengan suara lantang dia berseru pada Pui Ju Tek. "Baiklah, kami menyerah. Kami tak membunuh kaisar, dan kau serahkan orok itu padaku!" Untuk membuktikan kata-katanya, badi-badi disarungkan, lalu angsurkan ke 2 tangannya untuk menyambuti sibaji. "Hm, siapa sudi memperCajaimu? Nanti kalau kamu sudah keluar dari istana, baru orok ini kuserahkan!" Pui Ju Tek menjawab dengan dingin. "Kami kaum HONG HWA HWE selalu memegang kata-kata tak pernah ingkar janji. Masa kami akan menipu seorang tua!" Keh Lok sangat gusar. "Ya, tapi aku tetap tak mau perCaja". kata situa bangka. "Sudahlah, mari ikut kami keluar!" Ajak Keh Lok. Pui Ju Tek bersangsi. Tapi Kian Liong yang mengetahui jiwanya tertolong, tak mempedulikan keadaan tua bangka itu lagi, serunya. "Turut saja pada mereka. Jasamu sangat besar, aku tentu takkan melupakan". Hati Pui Ju Tek menjadi tawar. Kaisar mau supaya dia berkorban, untuk itu kaisar akan mengganjarnya pangkat besar (seCara posthum). "Hamba haturkan terima kasih atas budi baginda", katanya dengan hati yang berat, kemudian berpaling kearah Tan Keh Lok, katanya. "Ya, aku ikut. Akupun sudah tak menyayang selebar jiwa yang sudah bangkotan ini!" Nyata dia harap Tan Keh Lok suka mengampuninya seorang tua, tapi anak muda itu tak menghiraukan, sahutnya. "Dosamu sudah lebih dari takeran, maka harus lekas-lekas masuk keneraka!" "Lekas ikut mereka!" Bentak Kian Liong yang kuatir kalau memakan tempo kelwat lama, yangan-yangan nanti timbul perubahan buruk lagi. "Kalau aku ikut keluar, yangan-yangan kau tinggalkan beberapa kawanmu untuk menCelakakan baginda", Pui Ju Tek tak pedulikan perintah kaisar dan masih mengotot. "Apa kehendakmu?" Sahut Keh Lok gusar karena jengkelnya. "Kuakan persilakan baginda tinggalkan tempat ini dahulu, setelah itu baru aku ikut padamu", kata Pui JuTek. "Baik", sahut Keh Lok. Tanpa hiraukan etiket kaisar lagi, Kian Liong terus lari kepintu. Ketika lewat disamping Tan Keh Lok, tiba-tiba ketua HONG HWA HWE itu memegangnya. Sebelum orang dapat menduga apa-apa, tangan kiri Keh Lok sudah diayunkan beberapa kali untuk menampar muka Kian Liong, seketika muka kaisar itu benjol 2 matang biru. "Kau ingat apa tidak sumpahmu dulu itu?" Keh Lok mendampratnya. Kian Liong tak menjawab, Keh Lok dorong tubuh kaisar itu hingga sempoyongan, siapa tanpa hiraukan apa-apa, keCuali keselamatan jiwanya, terus lari tunggang langgang keluar dari pagoda. "Sekarang serahkan orok itu padaku!" Seru Keh Lok. Pui Ju Tek melihat kesana kemari, hendak dia menCari akal lagi untuk lolos. Sebagai seorang pembesar jahat yang sudah bandotan, segera dia nampak suatu harapan pada diri Tio Pan San, yang dilihat dari wajahnya yang berseri-seri itu, tentu orangnya penuh welas asih. "Lebih dulu akan kusaksikan sendiri bahwa baginda tak kurang suatu apa, baru kuserahkan baji ini!" Katanya seraya melangkah kejendela. "Kura-kura tua, mati kau sudahlah pasti, yangan banyak sekali tingkah!" Memaki Siang Pek Ci. sambil mengikutinya dari belakang-. Begitu baji diserahkan, dia akan turun tangan meremuk bandot tua itu. Kian Liong ternyata sudah keluar dari Po Gwat Lauw dan disambut oleh para siwi. "Penghianat busuk!" Tio Pan San memakinya. Demi melihat barisan siwi berada dibawah pagoda, timbul ah pikiran nekad dari Pui JuTek. Daripada menunggu kematian diatas pagoda, lebih baik dia terjun kebawah saja. Besar kemungkinannya tentu ada siwi yang berkepandaian tinggi akan menyanggapinya dari bawah. Tapi andaikata sampai tak ada yang menolong, diapun akan mati bersama 2 orok itu. Secepat dapat pikiran, secepat itu pula dia terus loncat dari mulut jendela. Semua orang sama. menjerit kaget. Siang Pek Ci sebat sekali terus ulurkan Hui-Cao (Cakar terbang) untuk menggaet kaki Pui Ju Tek, terus ditariknya. Seorang tua lemah seperti Pui Ju Tek, mana dapat menahan tarikan itu. Seketika tubuhnya kaku, berbareng itu orok terlepas dari genggamannya/ Dua-'nya kini melayang jatuh! Tanpa pikir lagi Tio Pan San enjot tubuhnya keluar. Dengan kepala menjulai (menjungkel) kebawah, dia ulur sebelah tangannya untuk menjambret kaki si orok, dan berbareng itu tangannya kanan menyambitkan tiga biji piauw beracun kearah batok kepala dan dada Pui Ju Tek. Semua orang, baik kawan maupun lawan, sama menjerit kaget. Tapi selagi melayang turun itu, Tio Pan San sudah empos semangatnya. Pertama, dia tarik orok itu untuk dikempit, kemudian begitu sang kaki menginjak bumi, dia sudah gerakkan ilmu "hun Chiu" Dari Thay-kek-kun, untuk menghalau serangan dari 2 orang siwi yang meneryangnya. Sedang lain-lain siwipun segera maju mengepung. Ke 2 saudara Siang, Thian Hong, Ciu Tiong Ing dan Bun Thay Lay, serentak lonCat kebawah untuk melindungi Tio Pan San. Pan San melihati orok itu ternyata masih memain dengan kaki dan tangannya sembari ter-tawa 2. Seolah-olah kejadian yang hampir mengambil jiwanya itu, tak dirasakannya. Segera Keh Lok dorong Hok Gong An kemulut jendela, serunya keras-keras. "Kamu menghendaki keselamatannya apa tidak?" Saat itu ternyata Kian Liong masih disitu. Hanya kini berada dibawah lindungan barisan siwi yang kokoh, dia tak takut lagi. Demi diketahui Hok Gong An tertawan, berobahlah wajahnya. "Tahan, tahan!" Serunya berulang-ulang. Pasukan siwi segera mundur, sedang Ciu Tiong Ing dkk. pun tak mengejarnya. Mengapa kaisar begitu sayang kepada Hok Gong An? Kiranya permaisuri kaisar itu, adalah adik perempuan dari menteri besar Pok Heng. Pok Heng mempunyai isteri yang luar biasa Cantiknya. Ketika masuk keistana, wanita Cantik itu telah dapat menCuri hati Kian Liong, siapa lalu mengadakan hubungan gelap. Hasil dari perhubungan rahasia itu, ialah lahirnya Hok Gong An itu. Pok Heng mempunyai 4 orang putera. Tiga dari mereka, diangkat menjadi huma (menantu raja). Kian Liong paling menyayangi Hok Gong An. Karena tak mengetahui latar belakangnya, Pok Heng beberapa kali mohon pada kaisar Kian Liong, supaya berkenan mengambil menantu pada Hok Gong An. Tapi dengan tersenyum, kaisar itu selalu menolak. Kian Liong mempunyai banyak sekali putera. Tapi anehnya, dia paling sayang kepada Hok Gong An, puteranya yang tak resmi itu. Roman Hok Gong An mirip sekali dengan Tan Keh Lok, ini disebabkan ke 2nya itu masih ada hubungan darah antara paman dengan keponakan. Tan Keh Lok tak mengetahui hubungan rahasia itu, tapi demi dilihatnya kaisar menjadi gelisah, dia mendapat akal bagus. Dengan menggusur Hok Gong An, dia ajak semua saudaranya turun kebawah. Demi sudah diluar pagoda, Ciu Ki segera merebut anaknya dari tangan Tio Pan San. Orok itu segera dipondong dan diCiumnya berulang-ulang seperti orang mendapat mustika yang sangat berharga. Po Gwat Lauw yang biasanya dikitari oleh taman padang pasir yang sunyi senyap, kini merupakan medan perang. Diseberang sini rombongan HONG HWA HWE dan rombongan paderi Siao Lim Si, sedang disana tampak berjajar barisan siwi dan pasukan gi-lim-kun. Li Khik Siu tahu isi hati kaisar, lalu tampil kemuka, katanya. "Tan-CongthoCu, lepaskan Hbk-thongleng, nanti kamipun lepaskan kalian sampai keluar kota!" "Apa kata baginda?" Tanya Keh Lok. Muka kaisar yang kena tampar tadi, masih panas sakitnya. Maklum dia seorang kaisar yang seumur hidupnya belum pernah merasakan tamparan, apalagi yang menampar Seorang ahli silat seperti Tan Keh Lok. Namun nampak puteranya teranCam bahaya, ditahannya juga rasa sakit itu, serunya. "Kau boleh pergilah!" "Baik, kuminta Hok-thongleng yang mengantarkan kami sampai keluar kota!" Kata Keh Lok bersenyum. Dan sebelum pergi, ketua HONG HWA HWE itu berteriak keras-keraskepada kaisar. "Rahajat di seluruh negeri selalu ingin bisa memakan dagingmu dan membeset kulitmu. Kalau kau bisa hidup seratus tahun lagi, seratus tahun itu pula kau bakal hidup dalam keCemasan. Setiap malam setan 2 akan mengganggu tidurmu!" Sehabis itu, sembari menggiring Hok Gong An dan mengusung jenazah Thian San Siang Eng serta Ciang Cin, rombongan orang gagah itu segera tinggalkan istana, di ring oleh ribuan pasang mata dari barisan siwi dan gi-lim-kun yang hanya dapat mengawasi, tapi tak berani mengejar. Tak lama setelah keluar dari istana, 2 orang penunggang kuda memburunya. Itulah Li Khik Siu, siapa kedengaran berseru. "Tan-CongthoCu, Li Khik Siu ingin membicarakan, sesuatu." Ternyata kawannya yang seorang, adalah Can Tho Lam, tangan kanan Ciangkun itu. Begitu sudah dekat Li Khik Siu berkata pula. "Baginda mengatakan, kalau Hok-thongleng dilepas tak kurang suatu apa, apa permintaanmu, baginda akan mengabulkan." "Hm, siapa yang masih dapat memperCajai kata-kata kaisar jahanam itu!" Balas Keh Lok dengan tawar. "Mohon Tan-CongthoCu mengatakan, biar SiaoCiang yang menyampaikan," Li Khik Siu mengulangi permintaannya. "Baik!" Kata Keh Lok. "Pertama, baginda harus mengeluarkan uang dari kas negara untuk membangun lagi gereja Siao Lim Si. Arca 2 Buddha disitu, harus lebih besar dari dahulunya. Pembesar 2 pemerintah dilarang mengganggu gereja itu se-lama-lamanya." "Hal itu dapat dilaksanakan," Sahut Li Khik Siu. "Ke 2, baginda tak boleh menindas suku 2 dari daerah Hwe. Semua tawanan perang, laki atau perempuan, harus segera dilepas!" "Itupun tak sukar," Jawab Li Khik Siu. "Ketiga, baginda tak boleh membenci dan menangkapi anggota-anggotaHONG HWA HWE yang tersebar diseluruh negeri." Kali ini Li Khik Siu membisu. "Hm, jadi memang mau menangkapi? Apa dikira kami jeri? Pan-lui-Chiu Bun-suya ini, bukankah pernah mengeram ditempat markas Li-Ciangkun?" Jengek Keh Lok. "Baiklah, aku memberanikan diri untuk menyanggupi permintaan itu," Buru-buru Li Khik Siu menjawab. "Nah, Tahun muka pada hari ini, kalau tiga hal tadi sudah dilaksanakan sungguh-sungguh, Hok-thongleng tentu akan kuantarkan pulang" Kata Keh Lok akhirnya. "Baiklah kalau begitu", sahut Li Khik Siu, lalu berpaling kearah Hok Gong An. "Hok-thongleng, Tan-CongthoCu adalah seorang yang berbudi tinggi, harap kau yangan kuatir. Bagindapun tentu akan melaksanakan ketiga hal tadi, mungkin juga Tan-CongthoCu akan mengantar kau pulang lebih lekas". Hok Gong An diam saja. Teringat akan peristiwa penyerangan Li Khik Siu dan Pek Cin terhadap penjaga paseban Swi Seng Tian, Tan Keh Lok menduga, tentu disitu terselip rahasia apa-apa. Maka pura-pura ia menggertak. "Katakan kepada baginda, peristiwa di Swi Seng Tian, kami telah mengetahuinya. Kalau dia berani main gila lagi, awasiah!" Li Khik Siu terkejut, dan terpaksa mengiakan. "Li-Ciangkun, nah, selamat tinggal! Kalau nanti kau naik pangkat dan menjadi kaja, harap yangan menindas pada rahajat!" Akhirnya Tan Keh Lok memberi hormat dan meminta diri. "Ah, CongthoCu,' SiaoCiang tentu tak berani," Buru-buru Li Khik Siu membalas hormat. Li Wan Ci dan le Hi Tong ber 2 turun dari kudanya menghampiri dan berlutut dihadapari Ciangkun itu. Hati Li Khik Siu seperti dibetot, karena tahu dia bahwa kedepannya dia bakal tak bertemu lagi dengan puterinya. Katanya dengan suara sember. "Anak, jagalah diri baik-baik !" Lalu kudanya diputar, terus kembali kearah istana, tinggalkan Wan Ci numprah tersedu-sedu. Hi Tong pimpin bangun idterinya itu. Sampai dipintu kota, Seng Hiap, Jun Hwa dkk. sudah siap menyambut. Atas perintah Hok Gong An, pintu dibuka. Hampir jam 4 pagi, barulah rombongan orang-orang gagah itu keluar dari kota raja. Rembulan sisir tampak diantara aliran sebuah sungai. Didekat situ tampak sebuah kuburan, dimana ada beberapa orang tengah menyanyi dan menangis. Mereka menyanyikan lagu berkabung dari suku Ui. Tan Keh Lok dan Ceng Tong buru-buru turun dari kudanya, dan bertanya. "Kamu sedang berkabung untuk siapa?" Seorang tua Ui dengan berCucuran air mata, menyahut. "Hiang Hiang KiongCu!" "Hiang Hiang KiongCu dimakamkan disini?" Tanya Keh Lok dengan terkejut. Menunjuk kepada sebuah kuburan baru yang masih belum kering, orang itu menyahut pula. "Ya, itulah!" "Tak boleh kita biarkan adik dikubur disini!" Tiba-Ceng Tong menangis. "Benar, ia senang akan Telaga Warna didalam perut gunung Sin-nia. Sering ia mengatakan. 'aku akan merasa bahagia kalau dapat berada disini selama-lamanya'. Kita pindahkan jenazahnya kesana saja!" Kata Keh Lok. "Siapa kalian ini?" Tanya orang tua Ui tadi. "Aku adalah Cici dari Hiang Hiang KiongCu!" Sahut sigadia. "Ah, kau tentu Chui-ih-wi-sam, aku dulu menjadi anak buah dari regu ke 2 pasukan Pek Ki, pernah bertempur dibawah perintahmu," Tiba-tiba seorang Ui lain berseru. Begitulah orang-orang Ui dan orang-orang gagah HONG HWA HWE dibantu pula oleh paderi 2 Siao Lim Si mulai menggali. Dalam sekejap saja, terbongkarlah sudah makam itu. Ketika papan batu yang menutup lubang tempat jenazah diangkat, hawa harum menyerbak keras. Tapi untuk kekagetan orang-orang itu, mereka dapatkan lubang itu kosong melompong. Keh Lok menyuluhinya dengan obor, yang tampak hanya segumpal darah ke-biru 2an, disamping situ terletak batu giok pemberiannya kepada Hiang Hiang dulu. "Jenazah itu kami sendiri yang menanamnya disini. Dan sejak itu kami terus menungguinya disini. Mengapa kini jenazah itu hilang?" Juga orang-orang Ui itu menyatakan keheranannya. "Nona itu sedemikian Cantiknya, tentulah titisan dewi. Kini ia tentu sudah kembali ketempat asalnya. Cici Ceng Tong dan CongthoCu harap yangan bersedih," Menghibur Lou Ping. Keh Lok memungut, mainan giok itu untuk disimpannya. Diapun agak mempercajai keterangan Lou Ping itu. Tiba-tiba angin mengembus, dan bau harum kembali menyampok hidung orang-orang itu. Lewat beberapa saat kemudian, mereka menguruk kuburan itu lagi. Seekor kupu 2, entah dari mana datangnya tampak terbang diatas kuburan tersebut. "Akan kutulis beberapa huruf, harap nanti kau suruh "tukang yang pandai mengukirnya diatas batu nisan dan dif pasang dimuka kuburan ini," Kata Keh Lok kepada siorang tua tadi. Cepat Sun Hi mengambil 2 potong emas untuk diserahkan kepada orang1 Ui itu. Lalu diambilnya kertas dan alat tulis. Setelah merenung sejurus, mulailah Keh Lok menulis sebuah sjair. Penderitaan yang hebat, hati yang berkabut sesal, berakhirlah nyanyian merdu, susutlah sang rembulan. Didalam kota nan indah, terdapat segumpal darah kemilau. Sesaat kilau pudar, sesaat darah lenyap. Namun ban harum semerbak senantiasa! Benarkah gerangan dia? Menjelma seekor kumis. Setelah mengheningkan Cipta sampai sekian lama, barulah rombongan orang-orang gagah itu berangkat kearah barat. Matahari bersinar gilang gemilang diufuk timur. Dan sampai disini Cerita ini telah. TAMAT. Document Outline Su Kiam in Siu Lok (Puteri Harum dan Kaisar) Atau Pedang dan Kitab Suci Karya . Khu Lung Penerbit . Melati Jakarta Jilid 1 Jilid 2 Jilid 3 Jilid 4 Jilid 5 Jilid 6 Jilid 7 Jilid 8 Jilid 9 Jilid 10 Jilid 11 Jilid 1 2 Jilid 13 Jilid 14 Jilid 15 Jilid 16 Jilid 17 Jilid 18 Jilid 20 Jilid 21 Jilid 2 2 Jilid 23 Jilid 24 Jilid 25 Jilid 26 Jilid 27 Jilid 28 Jilid 29 Jilid 30 Jilid 31 Jilid 3 2 Jilid 33 Jilid 34 Jilid 35 Jilid 36 Jilid 37 Tamat Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis Gkh Baca Juga: Si Bangau Merah Kho Ping Hoo