Ceritasilat Novel Online

Pendekar Binal 7

Eps 7 Pendekar Binal - Khu Lung

Baca online Pendekar Binal - Khu Lung

Cersil Pendekar Binal - Khu Lung.

"Maksudku sebelum kita mati kelaparan lebih dulu kita akan mati pengap."

Kiranya lorong di bawah tanah itu telah disumbat dari atas oleh Siau Mi-mi, zat asam di dalam gua itu makin lama makin menipis sehingga lentera itu pun hampir padam.

Maklumlah, api tak dapat menyala kalau hawa udara kurang zat asam.

Meski Siau-hi-ji sangat pintar, tapi teori zat asam itu tidak dipahaminya.

Pada jamannya itu memang belum ada seorang pun yang tahu tentang teori itu, dia hanya merasakan napasnya mulai sesak, kelopak matanya terasa berat seperti orang mengantuk.

"Segalanya sudah kuperhitungkan, hanya hal ini saja tidak terpikir olehku,"

Kata Kang Giok-long.

"Setengah jam ... setengah jam ...."

Tanpa terasa gigi Kang Giok-long gemertuk. Siau-hi-ji juga muram durja kehabisan akal, gumamnya.

"Mati sesak napas .... Ehm, entah bagaimana rasanya mati pengap."

"Menurut cerita orang,"

Tukas Kang Giok-long.

"mati sesak napas jauh lebih menderita daripada mati dengan cara lain. Sebelum mati orangnya bisa seperti gila, mungkin muka sendiri juga akan dicakar hingga luluh."

Dalam keadaan demikian ia masih dapat bercerita, soalnya ia merasa tidak adil kalau dia sendiri yang ketakutan, ia ingin membikin Siau-hi-ji juga ikut merasakan seramnya orang mati begitu.

Siau-hi-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Bagus juga kalau begitu. Aku justru khawatir akan mati terlalu biasa, syukur kalau sekarang bisa mati dengan cara luar biasa. Betapa pun tidak banyak orang di dunia ini yang mati pengap begini."

Kang Giok-long juga termenung sejenak, katanya kemudian.

"Tapi kukira tidak sedikit, bukankah orang-orang yang membangun istana di bawah tanah ini akhirnya juga terbunuh semua, bisa jadi mereka pun mati pengap seluruhnya."

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya.

"Sampai saat ini, tampaknya kau masih berusaha membuat aku marah. Memangnya begitu hebat bencimu padaku?"

"Hm,"

Dengus Giok-long tanpa menjawab.

"Kau benci padaku lantaran dalam segala hal aku lebih kuat daripadamu, begitu bukan?"

"Mungkin kita memang dilahirkan sebagai musuh!"

Ucap Kang Giok-long.

Sama sekali tak disadarinya bahwa apa yang dikatakannya itu memang tidak salah sedikit pun.

Cahaya lentera semakin redup.

Sambil memandangi sumbu lentera yang semakin guram itu, Siau-hi-ji bergumam.

"Arak, arak sialan dan kau yang celaka. Mestinya aku dapat minum lagi, dalam keadaan begini masakan ada urusan lain yang lebih baik daripada minum dan mabuk?"

Tanpa sengaja sorot matanya beralih ke tanah.

Guci yang pecah berantakan itu masih berserakan di tanah.

Arak yang bertumpah itu sudah hampir kering.

Tapi aneh, arak itu ternyata tidak merembes ke dalam tanah, tapi mengalir, sudah tentu tanah di situ tidak rata, jadi arak mengalir ke bagian tanah yang rendah ....

Seketika Siau-hi-ji melompat bangun, ia tuang pula seguci air minum ke tanah dan air itu pun mengalir ke tempat yang rendah.

"Hei, lih ... lihatlah!"

Seru Siau-hi-ji mendadak.

"Lihat ... apa yang perlu dilihat?"

Tak acuh ucap Kang Giok-long.

"Lihatlah air ini, airnya mengalir!"

"Dengan sendirinya air mesti mengalir, dengan sendirinya pula mengalir ke tempat yang rendah."

"Tapi ... lihatlah air mengalir ... mengalir semua ke sini dan tidak menggenang di situ,"

Seru Siau-hi-ji pula sambil menuding sudut sana, karena tegangnya sampai ucapannya tergagap. Mendadak mata Kang Giok-long juga terbelalak, tukasnya.

"He, betul air itu tidak tergenang di situ."

"Kalau air tidak berhenti di sini berarti air terus mengalir keluar, dan kalau air mengalir keluar berarti di sana ada sebuah lubang, tapi tempat ini sudah berada di bawah tanah, masakan masih ada lubang yang dapat dialiri air?"

Habis itu Siau-hi-ji tidak bicara lagi, ia ambil sepotong pecahan guci dan mulai korek-korek tempat itu.

Kang Giok-long menyaksikan dengan terkesima dan tangan rada gemetar.

Soalnya napas kedua orang itu sudah semakin sesak.

Mendadak lentera yang redup itu padam, keadaan menjadi gelap gulita hingga jari sendiri pun tidak kelihatan.

Kang Giok-long juga tidak tahu bagaimana hasil galian Siau-hi-ji.

Hanya terdengar suara napas Siau-hi-ji yang megap-megap, ia sendiri pun terengah-engah.

"Blang" , tiba-tiba terdengar suara keras, seperti suara pecahnya papan kayu. Menyusul lantas terdengar teriakan Siau-hi-ji.

"He, ada lubang, dapat kutemukan lubang di sini ... di luar sana ternyata tempat kosong!"

"Kau ... engkau tidak salah?"

Tanya Giok-long dengan terputus-putus.

"Api, mana korek api .... Demi Tuhan, jangan kau bilang tidak punya korek api!"

Tapi apa gunanya korek api?

Mungkin Siau-hi-ji linglung ketika berucap begitu.

Akan tetapi korek api benar-benar telah dinyalakan dan Siau-hi-ji tidak nampak lagi, di sudut sana sudah bertambah satu lubang, angin semilir meniup dari situ dengan bau apek.

Napas Kang Giok-long terasa lancar, dengan girang ia lantas berseru.

"Kang ... Kang-kongcu, Kang-heng."

"Aku berada di sini, lekas kemari, lekas!"

Itulah suara Siau-hi-ji di luar sana.

Suaranya penuh rasa kejut dan kegirangan.

Seperti tikus saja Kang Giok-long terus menyusup ke sana dengan cepat.

Lalu ia pun terkesima di situ.

Ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan segi delapan, kedelapan sisi dinding itu terbuat dari logam yang berlainan, ada besi, ada baja, ada batu, bahkan ada satu sisi yang menyerupai emas.

Puji syukur ke hadirat Tuhan, sisi dinding dari mana mereka masuk itu ternyata dinding kayu.

Kalau saja dinding itu bukan kayu, mungkin saat ini mereka sudah mati sesak.

Di ruangan segi delapan itu tidak ada meja, tidak ada kursi, sebab di bawah tanah, maka juga tidak ada galagasi atau debu kotoran, entah dari mana pula masuknya hawa udara.

Yang ada di ruangan itu hanya roda bergigi belaka, besar kecil dan berbagai bentuk roda itu, ada yang terbuat dari besi, dengan sendirinya juga ada yang terbuat dari emas.

Kang Giok-long hampir tidak percaya pada matanya sendiri, ia bergumam.

"O, Tuhan ... tempat apakah ini? Sumpah mampus tak pernah kupikir di sini masih ada ruangan begini, sedangkan tempat ini hanya terpisah oleh papan kayu saja dengan gua yang kugali itu."

Siau-hi-ji juga putar-putar di ruangan itu, kejut dan heran membuatnya bingung entah apa yang harus dilakukannya sekarang.

Tempat apakah ini?

Untuk apakah roda-roda sebanyak itu?

Ia coba mengamat-amati kian kemari, tapi tak diketahuinya di mana letak kegaiban roda-roda itu, yang jelas roda bergigi itu satu sama lain berkaitan, entah berapa banyak biaya dan pikiran yang dikorbankan untuk membuat roda-roda begitu?

"Persetan, siapa yang tahu apa gunanya roda-roda ini,"

Omel Siau-hi-ji dengan menyeringai. Mendadak Kang Giok-long melompat ke sana, dengan lengan bajunya ia gosok-gosok dinding sekian lamanya, habis itu ia berteriak.

"O, Tuhan, dinding ini terbuat dari emas."

"Dinding emas tidak mengherankan, yang aneh adalah tempat ini ternyata tembus hawa,"

Kata Siau-hi-ji.

"Kukira orang yang membangun tempat ini kalau bukan orang gila tentu mempunyai maksud tujuan tertentu."

"Maksud tujuan tentu apa?"

Tanya Kang Giok-long "Ya, mungkin inilah rahasia terbesar yang kita temukan selama hidup ini,"

Ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas panjang, lalu ia pegang sebuah roda.

"Akan kau putar rodanya?"

Tanya Giok-long.

"Tahankah kau tanpa memutarnya?"

Kata Siau-hi-ji, ia memicingkan sebelah mata kepada Kang Giok-long, lalu menambahkan pula dengan tertawa.

"Bisa jadi inilah pintu neraka, bila lalu roda ini berputar, mungkin kawanan setan akan terlepas semua."

"Boleh juga leluconmu ini, sungguh menggelikan leluconmu,"

Ucap Kang Giok-long dengan mendongkol.

"Ciiit ... ciittt ...."

Roda itu mulai berputar, dinding batu itu mendadak bergeser dan terbukalah sebuah pintu.

"Haha, lihatlah pintu neraka benar-benar terbuka,"

Seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

Padahal ia pun tahu entah betapa sumbang suara tertawanya.

Cepat Kang Giok-long merangkak balik ke gua tadi untuk mengambil lentera.

Dengan memegang geretan Siau-hi-ji jalan di depan, bau apek terus menyerang, bau busuk yang selama hidup tak pernah terendus oleh Siau-hi-ji.

Nyali kedua anak muda itu terhitung tabah juga.

Akhirnya mereka masuk ke sana.

Tapi apa yang mereka lihat di situ membuat bulu roma berdiri serentak.

Mayat, di ruangan itu penuh mayat.

Sebenarnya istilah "mayat"

Juga tidak tepat, di situ hanya penuh jerangkong atau tengkorak yang berpakaian.

Tanpa terasa Siau-hi-ji bersin dan baju jerangkong di depannya lantas berhamburan menjadi bubuk.

Ngeri juga Siau-hi-ji, katanya.

"Orang-orang ini mungkin sudah mati berpuluh tahun yang lalu."

"Mereka ... mereka semuanya mati kelaparan,"

Ucap Kang Giok-long.

"Coba lihat bentuk mereka, mungkin mereka jadi hampir gila karena laparnya ketika mendekat ajalnya, lihatlah ... lihatlah tangan mereka."

Teringat dirinya hampir juga bernasib seperti jerangkong itu, Siau-hi-ji jadi mual, akhirnya ia muntah sungguh-sungguh sehingga arak dan sosis yang dimakannya tadi tertumpah keluar.

"Entah siapa orang-orang ini?"

Gumam Giok-long. Setelah air kecut terakhir tertumpah keluar, dengan tergopoh-gopoh barulah Siau-hi-ji berkata.

"Melihat pakaian mereka yang kasar ini, mungkin mereka adalah tukang kayu dan tukang batu yang membangun tempat ini."

"Mereka ini tentu serombongan orang tolol,"

Ujar Giok-long.

"Orang tolol?"

Tukas Siau-hi-ji.

"Kalau bukan orang tolol, untuk apa mereka mau membangun tempat rahasia ini, kan setelah membangun tempat rahasia ini berarti hidup mereka pun berakhir?"

"Kau tidak menaruh kasihan terhadap orang-orang yang mati ngeri begini?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Kalau aku mati, siapa yang akan merasa kasihan padaku?"

"Bagus, bagus, kau sungguh hebat. Belasan tahun kubelajar di pusatnya orang jahat, tapi tampaknya aku masih kalah dibandingkan dirimu, aku masih harus belajar padamu."

"Aneh juga, mengapa Siau ...."

Belum habis ucapan Kang Giok-long, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang di bagian atas, suara tindakan itu terasa perlahan dan berat seperti orang menyeret sesuatu barang berat.

Sekujur badan Siau-hi-ji terasa merinding, biarpun dia adalah orang paling tabah, pada saat demikian mau tak mau ia pun merasa takut.

Tidak terkecuali, Kang Giok-long juga gemetar.

Kendati keji hatinya, tapi nyalinya kecil.

"trang" , lentera tembaga yang dipegangnya sampai terjatuh. Suara langkah orang itu berkumandang dari atas dan semakin dekat. Kaki dan tangan Siau-hi-ji serasa lemas, geretan api entah sudah jatuh sejak kapan sehingga keadaan gelap gulita sama sekali. Suara tindakan orang yang berat itu tiba-tiba berhenti tepat di atas mereka. Mendadak bagian atas itu merekah sebuah lubang, cahaya senja menembus masuk melalui lubang itu. Siau-hi-ji dan Kang Giok-long sama menahan napas dan tak berani bergerak sedikit pun. Mereka dapat melihat sepasang kaki. Itulah kaki yang halus dengan sepatu bersulam. Ujung gaun di kaki itu berwarna hijau, bagian lebih atas kaki tidak kelihatan. Kedua anak muda itu saling pandang sekejap dan hampir berseru berbareng.

"Siau Mi-mi!"

Jelas itu bukan badan halus atau setan gendruwo, tapi ialah Siau Mi-mi, si tukang pikat mati orang tak ganti nyawa. Terdengar Siau Mi-mi sedang bergumam.

"Silakan kalian istirahat untuk selamanya di sini, tempat ini sangat tenang, cuma rada terlalu berimpitan ...."

Di tengah suaranya itu, berturut-turut beberapa sosok tubuh lantas jatuh ke bawah.

Siau-hi-ji berdua terkejut, mereka mengira Siau Mi-mi sedang membunuh pula, tapi segera mereka tahu tubuh yang berjatuhan itu hanya mayat belaka, yaitu para pemuda linglung yang diaku sebagai selir Siau Mi-mi itu.

Segera terdengar pula Siau Mi-mi bergumam.

"Selamat tinggal para kekasihku! Istirahatlah dengan tenang di sini, bisa jadi terkadang kalian akan terkenang olehku."

"Blang" , lubang itu lantas tertutup dan suasana kembali menjadi gelap gulita. Sampai lama sekali Siau-hi-ji dan Kang Giok-long menunggu dalam kegelapan, akhirnya mereka menghela napas lega.

"Kang Giok-long,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Mayat-mayat ini adalah orang yang kau bunuh itu, apakah kau tidak takut mereka akan menagih nyawa padamu?"

"Di waktu hidup saja tidak takut pada mereka, apalagi sudah mati,"

Jawab Kang Giok-long. Siau-hi-ji berhasil menemukan kembali geretan yang jatuh di samping kakinya, segera api menyala pula sehingga wajah Kang Giok-long kelihatan pucat seperti mayat.

"Katamu tidak takut, mengapa mukamu pucat begini?"

Tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tetapi mendadak Kang Giok-long menjemput lentera yang jatuh tadi terus melangkah keluar.

Cepat Siau-hi-ji menyusul keluar, betapa pun ia tidak ingin tertutup di sini oleh Kang Giok-long, sesungguhnya ia pun tidak ingin masuk lagi ke ruangan istimewa itu.

Jelas demikian pula jalan pikiran Kang Giok-long, ini terbukti sekeluarnya dari ruangan itu, kontan ia muntah habis-habisan sehingga air kecut dalam perut tertumpah keluar.

Siau-hi-ji bergumam sendiri.

"Memangnya sudah kuragukan tempat ini pasti bukan dibangun oleh Siau Mi-mi. Perempuan, huh, mana mungkin perempuan mampu mencapai hasil karya sehebat ini, sekarang terbukti keraguanku itu memang tidak keliru."

"Hm,"

Giok-long hanya mendengus saja.

"Mungkin waktu itu Siau Mi-mi sedang mujur hingga dapat ditemukan tempat di atas itu. Tapi ketika dia sampai di sini dan melihat kerangka jerangkong sebanyak ini, dia tidak berani menyelidiki lebih lanjut, ia tidak tahu bahwa apa yang dilihatnya ini hanya sebagian kecil saja dari istana di bawah ini, bahkan bagian yang lebih hebat masih berada di belakang."

Setelah menghela napas panjang, lalu Siau-hi-ji menyambung pula.

"Namun siapa pula yang membangun tempat ini? Siapakah gerangan yang mampu mencapai hasil karya setinggi ini?"

"Paling tidak pasti bukan dirimu,"

Jengek Kang Giok-long. Mendongkol juga Siau-hi-ji melihat sikap orang, ia mencibir dan berkata.

"Jangan lupa bahwa ilmu silatku jauh lebih kuat daripada ilmu silatmu dan setiap saat dapat kusembelih kau."

Mau tak mau Kang Giok-long menjadi jeri, ia menyurut mundur selangkah dan berkata.

"Kau ... kau ...."

"Namun kau pun jangan khawatir, yang kuhendaki adalah cara bicaramu yang sopan sedikit,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Kang Giok-long melenggong sejenak, akhirnya ia menunduk dan menjawab.

"Usiaku terlalu muda sehingga tidak tahu sopan santun, bilamana ada yang tidak berkenan di hatimu, hendaklah memaafkan diriku. Betapa pun dalam hatiku selalu menganggap engkau sebagai kakakku."

"Untung kau bukan adikku sungguh-sungguh,"

Kata Siau-hi-ji. Dengan api geretannya ia lantas mengitari ruangan segi delapan itu sambil meraba dan mengetuk ke sana-sini, kemudian ia bergumam pula.

"Dinding segi delapan ini hanya satu sisi saja terbuat dari bata tanah, tujuh sisi dinding yang lain kecuali dinding batu dan dinding kayu yang sudah diketahui, selebihnya adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah."

"Mereka membangun dinding segi delapan ini dengan bahan yang berlainan, tentu ada maksud tujuan tertentu,"

Kata Kang Giok-long.

"Benar, tahukah kau maksud tujuannya?"

"Justru karena aku tidak tahu, maka ingin kuminta petunjuk Toako."

Siau-hi-ji melotot sejenak, katanya kemudian.

"Coba dengarkan, ingin kuberitahukan dua hal padamu."

"Mohon Toako memberi wejangan,"

Kata Gioklong.

"Pertama, selanjutnya jangan memanggil Toako (kakak) padaku, merinding rasanya bila mendengar panggilanmu ini,"

Ucap Siau-hi-ji dengan melotot. Terkesiap juga Kang Giok-long, segera ia tertunduk pula dan mengiakan.

"Dan kedua, selanjutnya kau pun jangan berlagak pilon. Kutahu kau adalah orang pintar, bahkan sangat pintar, jadi tiada gunanya berlagak bodoh."

Kembali Kang Giok-long mengiakan dan mengangguk.

"Nah, sekarang coba katakan apa maksud tujuan mereka membangun tempat ini menurut dugaanmu?"

"Entah betul tidak tebakanku ...."

Ucap Kang Giok-long dengan ragu-ragu.

"terutama cara mereka membangun delapan sisi dinding yang berlainan ini, pertama menandakan di balik kedelapan sisi dinding ini tersimpan benda-benda yang berlainan pula."

"Benar, dan yang kedua?"

"Kedua, jelas ada hubungannya dengan roda-roda putaran ini. Roda batu ini menguasai dinding batu, maka roda emas itu tentu juga menguasai dinding emas."

"Bagus, coba teruskan!"

Seru Siau-hi-ji.

"Dinding kayu itu adalah arah kedatangan kita, keadaannya tidak perlu dijelaskan lagi, di balik dinding batu itu adalah kuburan, maka juga tidak perlu diperbincangkan lagi. Mengenai dinding tanah ini, tampaknya memang benar-benar tanah, jadi tiada sesuatu yang menarik. Yang tertinggal kini adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah."

"Betul, di balik kelima dinding ini pasti ada permainannya,"

Kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip, lalu ia menambahkan.

"Menurut pendapatmu, dinding mana yang akan kita coba lebih dulu."

"Emas,"

Jawab Giok-long.

"Tepat,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Sekali ini kau telah bicara dengan setulus hati, sesungguhnya aku pun telah berpikir akan mencoba dinding emas lebih dulu, padahal manusia mana di dunia ini yang tidak berpikir demikian?"

Ketika roda emas itu berputar, benar saja dinding emas itu mulai bergeser dan terlihatlah sebuah pintu, belum lagi mereka masuk ke sana mata mereka sudah disilaukan oleh cahaya kemilauan.

Di balik dinding emas itu ternyata penuh benda mestika, mutu menikam yang sukar dinilai jumlahnya, siapa pun tak pernah bermimpi akan harta pusaka sebanyak ini.

Seketika Kang Giok-long terkesima, wajahnya yang pucat itu tampak bersemu merah aneh, jarinya juga rada gemetar.

Sedangkan Siau-hi-ji hanya memandang sekejap saja ke arah harta pusaka itu, lalu ditatapnya muka Kang Giok-long yang terangsang itu.

"Kau suka bukan?"

Tanyanya dengan tersenyum.

"Aku ... aku ...."

Biji leher Kang Giok-long yang baru mulai tumbuh itu bergerak naik-turun.

"Kupikir setiap orang di dunia ini pasti menyukai barang beginian."

"Jika kau suka, anggaplah semua ini milikmu,"

Kata Siau-hi-ji. Kang Giok-long meliriknya dengan kejut-kejut girang, tapi cepat ia menunduk pula dan berkata.

"Harta pusaka ini ditemukan dulu olehmu, dengan sendirinya adalah milikmu, aku ... aku cukup diberi sebagian saja sudah sangat berterima kasih."

"Aku tidak mau,"

Kata Siau-hi-ji.

"Engkau tidak mau?"

Tukas Kang Giok-long dengan kaget, tapi segera ia menunduk pula dan menambahkan.

"Jiwaku saja atas hadiahmu, sekali pun kau tidak mau membagi padaku juga aku tidak menyesal."

"Haha, mungkin kau sangka aku mencoba hatimu dan berdusta padamu?"

"Aku ... aku tidak ...."

"Ketahuilah bahwa aku benar-benar tidak mau, sedikit pun tidak mau."

Mata Kang Giok-long terbelalak, tanyanya.

"Seb ... sebab apa?".

"Barang-barang ini tidak ada gunanya bagiku,"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Lapar tidak dapat dimakan, haus tidak dapat diminum, kalau dibawa hanya menjadi beban belaka, malahan senantiasa berkhawatir kalau dibegal orang, untuk apa aku memilikinya?"

Kang Giok-long jadi melenggong. Siau-hi-ji tidak menggubrisnya, ia mengitari ruangan itu dan bergumam pula dengan gegetun.

"Tempat ini pun buntu, jelas jalan keluarnya tidak terletak di sini."

Mendadak Kang Giok-long bergelak tertawa, tertawa keras.

"Ada apa? Kau melihat setan?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Aku pun tidak menginginkan barang ini."

"O, sungguh aneh. Sebab apa?"

"Sedangkan soal kita dapat keluar dari sini dengan hidup atau tidak juga belum diketahui, untuk apa memikirkan barang begini?"

"Haha, tampaknya kau tidak terlalu bodoh dan masih bisa berpikir,"

Seru Siauhi-ji sambil berkeplok tertawa.

"Justru banyak orang yang lebih suka mengorbankan jiwa demi barang beginian, sungguh aku menyangsikan otak mereka itu apakah waras?"

Begitulah kemudian Siau-hi-ji memutar lagi roda tembaga, apa yang dilihatnya di dalam ruangan itu adalah berbagai bentuk senjata yang jumlahnya tak terhitung banyaknya, aneka macam senjata berat dan juga senjata rahasia.

Banyak senjata yang dikenalnya, tapi lebih banyak senjata yang aneh dan tidak diketahui namanya.

Mungkin segala macam senjata pembunuh di dunia ini terdapat di ruangan ini.

Sekenanya Siau-hi-ji melolos sebatang pedang.

"trang", terdengar suara mendering dengan cahaya yang menyilaukan. Tanpa terasa ia berseru memuji.

"Pedang bagus!"

"Biarpun pedang ini terhitung senjata tajam, tapi belum apa-apa kalau dibandingkan senjata yang lain,"

Ujar Giok-long. Lalu ia mengambil semacam senjata dan berkata pula.

"apakah kau kenal senjata ini?"

Senjata itu berbentuk kepala naga, ada tanduknya dan mulut terbuka sehingga kelihatan lidahnya.

"Tampaknya seperti Kim-liong-pian (ruyung naga emas)"

Kata Siau-hi-ji.

"Betul, ini memang Kim-liong-pian, tapi ruyung ini berbeda daripada ruyung umumnya."

"O, ya?"

"Ruyung ini bernama Kiu-hian-sin-liong-pian (ruyung naga nawa sakti), senjata ini sekaligus mencakup sembilan daya-guna."

"Wah, sungguh menarik, coba ceritakan!"

"Sepanjang ruyung ini penuh sisik terbalik yang dapat dibuat membetot senjata musuh atau juga buat melengket senjata rahasia lawan, tanduk yang bercabang ini khusus mengatasi segala macam senjata lemas lawan, kalau lidah terjulur dapat digunakan untuk menutuk Hiat-to. Mulut naga yang terbuka itu dapat menggigit senjata musuh, selain itu sepasang naga itu adalah senjata rahasia yang dapat meletus, di mulut naga tersimpan pula tiga belas biji paku berbisa, asal lawan berdarah segera tutup napas. Dalam keadaan kepepet, batang ruyung yang penuh sisik itu pun dapat dihamburkan untuk menyerang musuh."

"Wah, benar-benar senjata bagus, senjata lihai!"

"Cuma sayang senjata macam begini, di seluruh jagat ini hanya ada dua buah saja. Entah mengapa yang sebuah ini dapat berada di sini."

"Dan di mana pula yang sebuah?"

"Senjata ini sudah lama menghilang di dunia Kangouw, yang sebuah lagi juga entah lenyap ke mana. Kalau saja yang sebuah itu muncul pula di dunia Kangouw, maka sukar dibayangkan betapa banyak akan mengambil korban."

"Sungguh tidak menyangka usiamu sebelia ini, tapi sudah sangat hafal terhadap senjata yang hebat itu,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Tiba-tiba Kang Giok-long mengedip seakan-akan menyadari apa yang diucapkannya itu agak terlalu banyak, cepat ia menjawab.

"Ah, aku pun dengar dari orang lain. Kau tahu ayahku sangat luas pergaulannya dan di antara sahabatnya tentu ada satu-dua orang yang serba tahu."

"Jika demikian, jadi kau dapat menggunakan senjata ini?"

Tanya Siau-hi-ji dengan tertawa hambar.

"A ... alangkah baiknya jika kudapat menggunakan senjata ini,"

Jawab Gioklong dengan menyeringai.

Seperti acuh tak acuh ia taruh kembali ruyung itu, padahal matanya terus mengincar gerak-gerik tangan Siau-hi-ji.

Siau-hi-ji tertawa-tawa saja seperti menaruh perhatian apa-apa, tapi pandangannya sebenarnya juga tidak pernah meninggalkan ruyung sakti yang dipegang Kang Giok-long.

Meski keduanya masih muda belia, tapi betapa licin jalan pikiran mereka biarpun dua puluh tujuh kakek berumur tujuh puluh tahun bergabung menjadi satu juga tiada melebihi salah satu di antara mereka.

"Kalau begitu, bila salah sebuah senjata yang terdapat di sini dikeluarkan pasti juga akan membikin geger dunia persilatan,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Lebih-lebih ruyung sakti ini .... Ai, toh aku tidak mahir menggunakannya, biarlah kau ambil saja."

Tapi sebelum habis Siau-hi-ji berkata, lebih dulu Kang Giok-long sudah menyingkir ke sana, jawabnya dengan tertawa.

"Senjata keji begitu, lebih baik tak kupakai."

"Padahal senjata adalah benda mati, yang hidup manusianya, asalkan manusianya kuat, senjata apa pun yang dipakainya juga sama saja, senjata begini memang sebaiknya jangan digunakan,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Mendadak ia lolos sebilah pedang yang tajam, ia tabas ruyung beracun itu hingga terkutung menjadi berpuluh bagian.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tetap tersenyum simpul dan berulang-ulang menyatakan setuju senjata keji itu dimusnahkan saja.

Tapi berbareng ia lantas berpaling ke sana, matanya merah beringas, kalau bisa Siau-hi-ji hendak diganyangnya bulat-bulat.

Perlahan Siau-hi-ji meraba pedangnya, katanya dengan tertawa.

"Sungguh pedang bagus, mestinya akan kubawa serta, tapi kupikir lebih baik tetap kutinggalkan di sini saja, bagi orang seperti diriku ini, biarpun bertangan kosong juga ...."

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar Kang Giok-long menjerit.

"He, lihat ini ...."

Kiranya di pojok sana tergeletak serangka jerangkong yang bersandar miring pada dinding.

Pakaian pada jerangkong yang bersandar miring itu pun sudah hancur, kerangka tulang yang mestinya berwarna putih kelabu kini telah berubah menjadi kehitam-hitaman, di bawah kemilau sinar berbagai senjata itu tampaknya menjadi seram.

"Aneh, mengapa orang ini bisa mati di sini?"

Mengapa dia tidak dibuang ke dalam kuburan tadi?"

Demikian Kang Giok-long bergumam sendiri.

"Orang yang dapat masuk ke kamar ini mungkin adalah tuan rumahnya,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Tuan rumah di sini dengan sendirinya mutlak tokoh terkemuka dunia persilatan."

"Tapi tuan rumah mengapa bisa mati di sini?"

Demikian ia menambahkan pula dengan berkerut kening.

"Siapakah yang membunuhnya? Kalau melihat caranya bersandar di situ jelas tiada tanda-tanda gerakan melawan, terang dia dibinasakan lawannya dengan sekali hantam."

"Bila melihat warna tulangnya, tampaknya dia mati keracunan,"

Kata Gioklong.

"Benar,"

Tukas Siau-hi-ji. Sejenak kemudian, mendadak kedua orang berseru berbareng.

"He, kiranya dia terkena senjata rahasia berbisa."

Kiranya mereka menemukan di antara ruas tulang jerangkong itu tertancap berpuluh-puluh jarum lembut, jarum perak sekecil itu ternyata dapat menembus kulit daging dan menancap di tulang.

"Lihai amat senjata rahasia ini dan luar biasa kejinya,"

Kata Siau-hi-ji dengan ngeri.

"Entah sia ... siapa yang turun tangan sekeji ini,"

Ucap Giok-long. Siau-hi-ji memandangnya sekejap, katanya kemudian.

"Tidak perlu kau ganti ucapan, tidak cuma kau yang kenal senjata rahasia ini, aku pun tahu."

"Ya, Tau-kut-coan-sim-ciam (jarum penembus tulang dan penancap hati) ini memang tidak malu sebagai senjata rahasia nomor satu di dunia,"

Kata Kang Giok-long dengan menyengir.

Mendadak sekilas dilihatnya di rak senjata sana ada sebuah bumbung kecil berwarna kuning kemilau, cepat ia menggunakan tubuhnya untuk mengalingi pandangan Siau-hi-ji, sembari berbatuk-batuk ia terus menggeser ke sana.

"Ah, jika kau terbatuk-batuk terus, aku bisa ketularan olehmu,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Habis itu ia benar-benar ikut terbatuk-batuk sehingga berjongkok.

Pada waktu Siau-hi-ji berjongkok itulah, secepat kilat tangan Kang Giok-long terus meraih bumbung kecil tadi.

Tak diketahuinya bahwa pada saat yang sama Siau-hi-ji juga telah mengambil sesuatu benda dari tangan jerangkong itu terus disisipkan ke baju.

Yang diambil Siau-hi-ji itu hanya sepotong bambu dan tak diketahui apa gunanya, dia hanya merasakan benda yang tergenggam kencang di tangan orang mati, mustahil kalau benda itu tiada gunanya.

Kang Giok-long sendiri berusaha menahan rasa girangnya, ia pura-pura berkerut kening dan berkata.

"Jika orang mati ini pemilik tempat ini, mengapa dia bisa diserang orang mati di sini? Apabila dia bukan tuan rumahnya, tentunya tiada alasan dia mati di sini."

"Ya, kalau dia bukan tuan rumahnya, pada hakikatnya dia tidak dapat masuk ke sini,"

Siau-hi-ji menambahkan.

"Tampaknya di sini masih banyak tersimpan rahasia dan teka-teki yang belum tersingkap."

"Rahasia yang menakutkan,"

Tukas Giok-long.

"Di dunia ini tidak ada rahasia yang menakutkan, semua rahasia di dunia cukup menarik,"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Begitulah mereka lantas keluar dari ruangan yang menakutkan dan juga menarik itu, mereka jalan berjajar sambil mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan mereka yang memegangi lentera untuk membuktikan bahwa mereka tidak mengambil sesuatu benda yang berada di kamar itu.

Waktu mereka memutar lagi roda besi, cahaya lentera lantas menembus ke dalam kamar besi yang berhawa dingin.

Kang Giok-long melangkah masuk lebih dulu, baru saja ia memandang sekejap sekeliling, sekonyong-konyong ia menjerit dan mundur kembali, sikap kagetnya itu mengingatkan orang pada perempuan yang kaget melihat lelaki telanjang.

"Ada apalagi di dalam situ?"

Tanya Siau-hi-ji. Dengan muka pucat Giok-long menjawab.

"Pernahkah kau lihat jerangkong berdiri?"

"Jerangkong berdiri? Belum pernah lihat."

"Segera kau dapat melihatnya."

"Ehm, jerangkong berdiri, menarik juga!"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa sambil melangkah masuk.

Tapi segera ia tidak jadi tertawa lagi.

Ruangan besi sangat luas dan amat tinggi.

Sekeliling kosong melompong tiada sesuatu barang pun, seorang kalau berdiri di situ akan merasa seperti berdiri di tengah lapangan yang luas.

Justru di tengah ruangan yang luas dan seram itulah terkontal-kantil berdiri dua kerangka jerangkong.

Dua jerangkong yang putih dan saling rangkul dengan erat.

Sudah tentu kulit daging kedua orang mati itu sudah hancur dan musnah, tapi kedua kerangka jerangkong itu masih berdiri saling rangkul.

Merinding juga Siau-hi-ji menyaksikan keadaan itu, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa.

"Mungkin mereka ini lelaki dan perempuan, bahwa menghadapi ajal mereka tetap berpelukan, dapat diduga hubungan mereka pasti sangat istimewa, bisa jadi mereka mati demi cinta."

"Kalau antara mereka ada hubungan istimewa, tentunya mereka tidak mati berdiri,"

Kata Giok-long yang telah ikut masuk.

"Ah, hal ini tak terpikir olehku,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Ya, dalam hal ini kau memang lebih berpengalaman daripadaku. Tapi kalau kedua orang ini lelaki semua, sebab apa pula berpelukan?"

Sembari bicara ia pun mendekat ke sana, ia termenung di depan kedua jerangkong itu, kemudian ia menghela napas panjang dan berkata pula.

"Kedua orang ini ternyata lelaki semua."

"Sudah jelas engkau melihatnya?"

Tanya Kang Giok-long.

"Ehm,"

Jawab Siau-hi-ji.

"Hubungan antara lelaki dan lelaki terkadang juga bisa mesra."

"Tapi hubungan kedua orang ini bukan saja tidak mesra, bahkan sangat buruk."

"Dari mana kau tahu?"

Tanya Giok-long.

"Lihat saja sendiri dan tentu kau akan tahu,"

Jawab Siau-hi-ji.

Kiranya kedua kerangka jerangkong itu sebenarnya tidak berpelukan, tapi telapak tangan orang sebelah kiri langsung menusuk masuk ke dalam iga orang yang sebelah kanan, dengan tangan telanjang dapat menusuk ke dalam lambung lawannya, betapa hebat ilmu silatnya sungguh sukar dibayangkan.

Akan tetapi rusuk sendiri juga patah tujuh atau delapan batang, tulang tenggorokannya juga kena diremas hancur oleh lawannya sehingga kepalanya terkulai di atas pundak lawan.

Jadi kedua orang ini saling melancarkan serangan maut dalam satu duel sengit dan akhirnya gugur bersama.

"Sungguh Eng-jiau-kang (ilmu cakar elang) yang lihai dan tenaga pukulan yang dahsyat,"

Kata Kang Giok-long dengan kagum.

"Tampaknya kedua orang ini adalah tokoh terkemuka dunia persilatan, entah mengapa bisa mati di sini."

Belum habis ucapannya, terdengarlah suara gemeresak, kedua kerangka jerangkong itu serentak ambruk dan berubah menjadi onggokan tulang. Siau-hi-ji termenung sejenak, katanya.

"Melihat kelihaian ilmu silat mereka, mungkin mereka pun salah satu tuan rumah di sini, mereka mengasingkan diri bersama di tempat rahasia begini, hubungan mereka tentu sangat karib, tapi mengapa mereka saling labrak mati-matian dan berakhir dengan gugur bersama."

Sembari berkata ia menjemput pula dua macam barang dari onggokan tulang itu.

"Yang kuherankan adalah sebab apa tiada yang mengurus kematian kedua orang ini? Bahwa jerangkong mereka sampai tadi masih berdiri, ini menandakan kamar ini sudah berpuluh tahun tidak pernah dimasuki orang,"

Ujar Kang Giok-long.

"Betul juga,"

Ucap Siau-hi-ji sambil menyimpan kedua barang yang ditemukannya tadi.

"Lalu, ke mana perginya orang-orang lain yang menghuni istana bawah tanah ini? Memangnya sudah mati semuanya?"

"Bukan saja mati semua, bahkan mati dalam waktu yang sama, kalau tidak, kerangka tulang mereka tentu takkan tertinggal sampai sekarang."

Baru sekarang mereka menemukan di ruangan longgar dan seram ini masih ada lima buah meja pendek, di atas meja ada alat-alat tulis dan buku.

"Tampaknya ruangan ini adalah kamar tulis, sungguh menarik,"

Kata Siau-hi-ji.

"Bukan kamar tulis, kamar tulis tidak seluas ini,"

Ujar Giok-long.

"Orang suka kamar yang besar, peduli apa kau?"

Kata Siau-hi-ji sambil melangkah ke sana.

Ia membalik-balik iseng halaman buku yang terletak di meja itu.

Mendadak air mukanya berubah hebat.

Melihat itu, cepat Kang Giok-long juga mendekat ke sana, ia pun membalik-balik halaman buku di meja lainnya.

Hanya sebentar saja membaca isinya, seketika air mukanya juga berubah.

Buku-buku itu tersusun dari kain sutera yang halus, yang tercatat di situ ternyata adalah ajaran ilmu silat yang mahatinggi.

Meski ilmu silat Siau-hi-ji dan Kang Giok-long diperoleh dari guru yang ternama, tapi kini mereka pun merasa tercengang ketika mengetahui ilmu silat yang pernah mereka pelajari itu pada hakikatnya tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan ilmu silat yang tercatat dalam buku itu.

Buku sutera itu masih terpegang di tangan mereka dan terasa berat untuk dikembalikan ke tempat semula.

Sampai agak lama barulah Siau-hi-ji menarik napas panjang, katanya.

"Tahulah aku sekarang."

"Kau tahu apa?"

Tanya Giok-long sambil tetap memandangi buku yang dipegangnya itu.

"Di sini tentu ada lima orang top jago silat, mereka berlima berkumpul di ruangan ini untuk berlatih, dari hasil teori dan praktik mereka inilah segera mereka catat di meja pendek itu."

"Betul juga,"

Kata Giok-long.

"Makanya ruangan ini sangat luas karena memang tempat latihan ilmu silat."

"Lima tokoh, yang sudah kita lihat baru tiga,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Jika tidak keliru dugaanku, pada dua kamar yang lain pasti ada jenazah kedua orang lagi. Marilah kita pergi."

Baru sekarang pandangan Kang Giok-long beralih dari buku yang dipegangnya itu dan menegas.

"Pergi? Kau ... kau bilang pergi?"

"Ada apa? Masa mendadak kau tidak paham perkataanku?"

"Tapi ... tapi kitab pusaka ilmu silat ini? ...."

Tanya Kang Giok-long.

"Taruh saja di situ, toh mereka takkan lari,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Ba ... baiklah ... aku menurut saja,"

Belum habis ucapannya, mendadak ia keluarkan bumbung warna emas yang ditemukannya di kamar senjata tadi, lalu menyambung pula dengan menyeringai.

"Apakah engkau masih kenal barang ini?"

Siau-hi-ji seperti terkejut, jawabnya.

"Tau-kut-coan-sim-ciam ...."

"Benar, tajam benar ingatanmu,"

Kata Giok-long.

"Sebenarnya barang ini baru akan kugunakan terhadapmu bila kita keluar dari sini. Tapi sekarang tak dapat kuampunimu lagi."

"Kau ... kau ingin membunuhku?"

"Kecuali kau mampu menghindari paku penembus tulang ini. Tapi kulihat kau tidak mempunyai kemampuan ini, di dunia ini memang tidak banyak yang memiliki kemampuan demikian."

"Jika kau bunuh diriku, apakah kau takkan kesepian tinggal sendirian di sini."

"Ilmu silat mahatinggi dan harta karun maha besar yang terdapat di sini kini sudah menjadi milikku seluruhnya, setelah kutemukan jalan keluarnya segera aku akan menjadi tokoh nomor satu di dunia, ya mahakaya, ya mahalihai, lalu apalagi yang perlu kutakuti?"

"Ah, baiklah jika begitu, silakan kau bunuh saja,"

Ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas.

"Kau tidak takut?"

Tanya Giok-long sambil menyeringai. Mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa, katanya.

"Kutakut? Hahahaha, apa yang perlu kutakuti? Bumbung jarum berbisa yang kau pegang itu kosong!"

"Kosong?"

Giok-long menjadi pucat.

"Masakah tak kau pikirkan, apabila bumbung jarum itu tidak kosong, kenapa orang membuangnya di lantai. Jarum yang tersimpan di dalam bumbung itu sudah digunakan pemiliknya untuk membunuh lawannya, habis itu barulah dia buang bumbung kosong ini. Teori sederhana begini masakan tak terpikirkan olehmu?"

"Kau ... kau ...."

Suara Giok-long menjadi gemetar.

"Tadi kau pura-pura batuk untuk menjemput bumbung ini, jika aku tidak yakin bumbung ini kosong, mana bisa kubiarkan kau mengambilnya,"

Setelah tertawa, lalu Siau-hi-ji menyambung pula.

"Apalagi jarum ini sangat sukar cara pembuatannya, bumbung tanpa jarum sama dengan benda tak berguna."

Dahi Kang Giok-long tampak berkeringat, katanya dengan tergagap.

"Bukan ... bukan maksudku hendak membunuhmu sungguh-sungguh, aku hanya ... hanya ...."

Mendadak "trang"

Sekali, bumbung yang dipegangnya itu jatuh ke lantai.

"Ya, ya, kutahu engkau hanya bercanda saja denganku,"

Ucap Siau-hi-ji setengah mengejek.

"Sumpah mati, sejak awal mula kupandang engkau sebagai kakakku,"

Kata Giok-long pula dengan sikap sungguh-sungguh, sedikit pun tidak malu.

"Memangnya, kau pandang diriku sebagai kakak, mana bisa kau membunuhku."

"Asalkan Toako tahu saja, maka legalah hati Siaute (adik),"

Kata Kang Gioklong.

"Dan sekarang, kau mau keluar bukan?"

Giok-long mengiakan dan terpaksa melangkah keluar dengan tertunduk. Kini yang diputar Siau-hi-ji adalah roda timah. Dengan tertawa ia berkata.

"Kamar batu itu adalah kuburan, kamar besi dijadikan ruangan latihan, kamar emas tempat harta pusaka, kamar tembaga tempat senjata, semua itu memang masuk di akal. Dan apa isi kamar timah ini, dapatkah kau menerkanya?"

"Jangan-jangan kamar tidur?"

Ucap Giok-long sambil berkedip-kedip.

"Persetan! Masa tidur di kamar timah?"

Kata Siau-hi-ji sambil tertawa.

"Menurut pendapatmu, apa isi kamar ini?"

"Kukira ...."

Belum lanjut ucapan Siau-hi-ji, terlihatlah dinding timah telah mulai bergerak dan mendadak dari dalam menerjang keluar seekor singa sehingga Giok-long yang tepat berdiri di depan dinding itu hampir kena terkam.

Keruan anak muda itu terkejut dan cepat melompat mundur.

Waktu diteliti, kiranya singa itu sudah tidak bernyawa lagi, bulunya masih utuh, tapi kulit dagingnya sudah tidak ada lagi, hanya tertinggal kerangka tulang berbalut kulit yang menakutkan itu saja.

"Singa itu tentu kelaparan setengah mati dan berusaha keluar, waktu mati dia masih berdiri bersandar pintu sehingga membuat kaget kita pula,"

Kata Siauhi-ji.

"Sungguh tak tersangka bahwa tempat ini adalah kandang binatang buas,"

Ucap Giok-long.

"Mereka memelihara binatang buas di kamar ini, kukira pasti juga mempunyai maksud tujuan ...."

Sembari berkata begitu ia pun sudah melangkah masuk dan mendadak berseru pula.

"Ah, kiranya begitu tujuannya."

Cepat Kang Giok-long ikut masuk ke situ, dilihatnya ruangan yang berwarna putih kelabu itu penuh bercahaya gemilapan menyilaukan mata.

Dipandang dari jauh bisa jadi orang akan menyangka ruangan ini tersimpan harta pusaka pula.

Tapi setelah diawasi barulah jelas bahwa harta pusaka yang beraneka warna itu tidak lain daripada berbagai benda jenis botol kecil yang bentuknya aneh dan berbeda-beda.

"Tentunya kau tahu apa isi botol-botol ini?"

Tanya Siau-hi-ji. Giok-long menarik napas dingin, katanya.

"Racun!"

"Benar, mereka memelihara singa ini untuk menjaga obat racun di sini."

"Tapi ... tapi siapakah yang mampu masuk ke sini? Pada hakikatnya mereka tidak perlu menjaganya."

"Yang mereka jaga justru kawan sendiri."

"Kawan sendiri?"

Giok-long mengeret dahi.

"Ya, misalnya kau tinggal bersamaku setiap saat aku pun harus waspada kalau-kalau kau meracuni aku. Tapi dengan singa penjaga ini tentu sukar jika ingin masuk ke sini untuk mencuri racun, sebab pasti akan ketahuan kawan yang lain."

Habis itu, mendadak Siau-hi-ji berjongkok memandang lantai dan berseru.

"Ah, jenazah orang keempat ternyata betul berada di sini!"

Giok-long melihat Siau-hi-ji hanya menjemput sekerat tulang dari lantai. Setelah berpikir ia pun berseru.

"Hah ... jangan-jangan mayatnya telah menjadi isi ... isi perut singa?"

"Ya, mungkin sudah nasib bagi orang ini, bukan saja terbunuh di sini, bahkan mayatnya dimakan singa,"

Ucap Siau-hi-ji dengan gegetun. Lalu ia jemput pula dua kerat tulang, katanya sambil mengernyit kening.

"Tampaknya selain singa di sini masih ada serigala dan harimau."

"Serigala dan harimau? Di mana?"

"Kakap makan teri, yang lemah menjadi mangsa yang kuat. Tentunya lebih dulu kawanan binatang buas itu makan manusia, habis itu serigala dimakan harimau dan singa, lalu giliran harimau dimakan singa. Maklumlah, selera makan singa biasanya lahap dan tidak pandang bulu."

Sekonyong-konyong Kang Giok-long tertawa ngakak.

"Urusan apa membuatmu bergembira?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Coba menoleh!"

Sahut Kang Giok-long dengan tertawa. Entah sejak kapan dia ternyata sudah memegang sesuatu benda kehitam-hitaman seperti bumbung bambu. Sambil tertawa ia berkata pula.

"Sungguh mujur aku sehingga dapat menemukan mestika ini."

"Apa itu?"

Tanya Siau-hi-ji sambil berkedip.

"Kau tidak kenal benda ini? Sungguh dangkal pengetahuanmu? Dahulu jago pedang nomor satu di dunia Bu-tim Totiang juga tewas oleh barang-barang ini, supaya kautahu, inilah Ngo-tok-cui (air pancabisa) yang lihai, tubuh siapa saja asalkan kena setitik air ini, dalam waktu setengah jam saja sekujur badan pasti akan membusuk dan mati."

"Wah, jika begitu, bawalah ke sana agak jauh agar aku tidak kena,"

Kata Siauhi-ji.

"Hm, kau berlagak pilon atau memang bodoh dan tidak paham?"

Jengek Kang Giok-long sambil menyeringai.

"Hah, masakah kau ... kau hendak membunuhku?"

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

"Sekali ini jangan harap kau mampu lolos lagi,"

Ancam Giok-long.

"Air berbisa ini baru saja sudah kucoba, asalkan tanganku sedikit bergerak, maka tamatlah riwayatmu."

"Apakah kau benar-benar harus membunuh diriku?"

Tanya Siau-hi-ji sambil tersenyum getir.

"Kalau tadi kau tidak banyak cincong dan membiarkan kubawa serta kitab pusaka ilmu silat itu, bisa jadi kau akan hidup lebih lama, tapi sekarang mau tak mau kau harus mati."

"Jangan lupa, mestinya aku dapat membunuh dirimu, tapi selama ini tidak kulakukan."

"Hm, itu kan salahmu sendiri, jangan menyesalkan diriku,"

Jengek Kang Gioklong.

"Hah, bagus ...."

Seru Siau-hi-ji gegetun. Habis ini mendadak ia tertawa dan berkata.

"Hahaha, coba lihat dulu apa yang kupegang ini."

Yang dipegangnya ternyata adalah bumbung jarum berbisa yang dibuang Kang Giok-long tadi. Dengan sendirinya Kang Giok-long tertawa geli, ejeknya.

"Hahaha, mungkin kau ketakutan sehingga otakmu miring, masa menggunakan bumbung kosong itu untuk menggertak orang."

"Kosong? Siapa bilang?"

Tanya Siau-hi-ji dengan terkikik.

"Kau ... kau sendiri tadi ...."

Kang Giok-long jadi melenggong malah.

"Ya, memang benar tadi kubilang bumbung ini kosong, tapi itu tipu belaka. Coba pikir, dalam keadaan begitu, kalau aku tidak menipumu, lalu apa jadinya?"

Jilid 7. Pendekar Binal Air muka Kang Giok-long berubah pucat, tapi ia menjengek.

"Hm, sekarang kau hendak menipuku pula, bukan? Bumbung jarum itu jelas sudah terpakai ...."

"Benar, sudah terpakai, tapi terpakai berapa kali"

"Berapa kali? Sudah tentu hanya sekali."

"Itu dia, di situlah letak kebodohanmu,"

Siau-hi-ji berolok-olok.

"Tahukah kau bahwa karena cara pembuatan jarum berbisa ini memakan waktu lama, maka setiap pesawat bumbung ini diisi dengan tiga susun jarum. Dengan demikian bumbung ini sekaligus dapat digunakan tiga kali berturut-turut."

Seketika keringat dingin mengucur di muka Kang Giok-long, katanya dengan suara gemetar.

"Habis apa ... apa kehendakmu?"

"Aku tidak menghendaki apa-apa, cukup kau pikir saja, apakah air berbisa yang kau pegang itu lebih cepat semprotnya atau jarum berbisa yang kubidikkan ini lebih cepat?"

Tangan Kang Giok-long mulai gemetar, jawabnya.

"Kau ... kau jangan menipu aku lagi, kau tidak ... tidak tahu ...."

"Hm, aku tidak tahu?"

Jengek Siau-hi-ji.

"Sejak kecil aku dibesarkan di Ok-jin-kok. Senjata berbisa macam apakah yang tidak kuketahui?"

Tubuh Kang Giok-long menjadi lemas, ucapnya dengan menyengir.

"Ya, dengan sendirinya pengetahuan dan pengalaman Toako jauh lebih luas, mana Siaute dapat menandingi."

Belum habis ucapannya, botol berisi air berbisa itu cepat-cepat dikembalikannya ke tempat semula.

"Hehehe, kalau aku tidak membunuhmu, tentunya salahku sendiri, begitu bukan?"

Demikian Siau-hi-ji mengulangi ejekan Kang Giok-long tadi.

"O, ma ... maaf Toako, usiaku terlalu muda sehingga sembarangan omong, harap Toako sukalah me ... memaafkan,"

Kata Giok-long sembari menyurut mundur.

"Ai, memang anak pintar, tidak sedikit pengetahuanmu, cuma sayang dibandingkan aku masih terpaut sedikit,"

Kata Siau-hi-ji dengan gegetun, perlahan jarinya menekan pesawat bumbung jarum.

"Klik" , bumbung jarum itu berbunyi satu kali, sekujur badan Kang Giok-long terasa lemas dan hampir semaput karena takutnya. Tapi bumbung jarum berbisa itu ternyata tidak membidikkan sesuatu. Dalam pada itu botol air berbisa tadi pun sudah diambil oleh Siau-hi-ji, katanya dengan bergelak tertawa.

"Hahaha, supaya kau tahu bahwa bumbung ini memang kosong sungguh-sungguh. Sekali jepret jarum berbisa ini 130 biji, bumbung sekecil ini, mana bisa menyimpan tiga susun jarum sebanyak itu. Teori sederhana begini saja tak terpikir olehmu?"

Kang Giok-long menggerung sekali dan benar-benar jatuh pingsan.

Bukan pingsan lantaran ketakutan tapi pingsan saking dongkolnya.

***** Minyak lentera tembaga itu sudah hampir kering, terpaksa Kang Giok-long merangkak balik ke gua yang digalinya itu untuk menambah minyak, ia pun mengambil sedikit ransum dan air minum, dengan munduk-munduk ia antar semua itu ke hadapan Siau-hi-ji.

Setelah Siau-hi-ji kenyang makan barulah ia berani makan sisanya.

Kalau saja bapaknya melihat sikap Kang Giok-long itu, bisa jadi ayahnya akan mati melotot karena keki.

Soalnya belum pernah Kang Giok-long berbuat sebakti itu kepada bapaknya.

Selesai makan, Siau-hi-ji mengusap mulut dan bergumam.

"Kini tinggal sebuah kamar saja yang belum kita periksa. Kukira jalan keluarnya berada di situ."

Akhirnya ia memutar roda perak, di balik dinding perak itu ternyata lain daripada yang lain.

Di sinilah letak istana di bawah tanah yang sebenarnya.

Beberapa kamar Siau Mi-mi terhitung indah dan mewah, tapi kalau dibandingkan kamar perak ini boleh dikatakan seperti rumah kampung berbanding gedung megah di kota.

Tepat di balik dinding perak itu adalah sebuah lorong, lantainya dilapisi permadani halus tebal, kedua sisi lorong itu ada enam daun pintu yang diberi berkerai mutiara.

Cahaya lampu menyinari kerai mutiara yang gemerlapan itu.

Siau-hi-ji merasa seperti berada di Surgaloka.

Tetapi sedikit pun ia tidak tertarik oleh keindahan hiasan itu, dia hanya bergumam.

"Sungguh aneh, lima orang mengapa ada enam kamar? Orang keenam, mungkin juga tidak mahir ilmu silat, kalau tidak, mengapa meja pendek di sana cuma ada lima buah saja?"

Sembari berucap ia pun melangkah masuk ke kamar pertama.

Kamar ini dipajang seperti kamar perempuan, di samping meja tertaruh bahan dan alat rias komplet.

Di belakang tempat tidur bahkan ada sebuah Bhe-tang, yakni tong yang terbuat dari kayu untuk buang air.

Siau-hi-ji jadi tercengang sehingga matanya terbelalak, serunya.

"He, kamar wanita? Jadi tuan rumah di sini seorang perempuan? Ah, mati pun aku tidak percaya."

Kelambu bersulam tampak setengah terjuntai.

Waktu Siau-hi-ji menyingkap kelambu itu, di atas ranjang berbaring sesosok jerangkong, rambut dan tusuk kundai masih utuh tertinggal di atas bantal, jadi jelas memang seorang perempuan.

Siau-hi-ji berkerut kening, katanya sambil menoleh.

"Beberapa kerangka jerangkong tadi lelaki atau perempuan, apakah kau memperhatikannya?"

"Lelaki, kalau perempuan tentu tulang pinggulnya lebih besar,"

Jawab Gioklong.

"Dalam hal membedakan beginian kau memang ahli, itulah sebabnya aku tidak membunuh "

Bisa jadi orang keenam adalah perempuan."

"Betul,"

Kata Siau-hi-ji.

Tetapi mereka ternyata salah duga semuanya.

Kamar kedua tetap kamar orang perempuan, yang menggeletak di ranjang situ juga jerangkong perempuan.

Kamar ketiga, keempat, semuanya juga begitu.

Siau-hi-ji menggeleng-geleng kepala, katanya.

"Kiranya di sini tidak hanya ada lima orang atau enam orang, rupanya para tokoh Bu-lim ini datang ke sini dengan istri masing-masing. Mereka terbunuh sehingga istri mereka pun ikut menjadi korban."

"Tampaknya Hiat-to perempuan-perempuan ini tertutuk, habis itu baru mati kelaparan,"

Ujar Giok-long.

"Tapi kukira orang yang menutuk mereka itu tiada maksud hendak membunuhnya."

"Namun mereka telah mati semua."

"Mungkin orang yang menyerang mereka itu bermaksud kembali lagi untuk membuka Hiat-to mereka, tapi entah mengapa ia sendiri pun terbunuh dan yang celaka adalah perempuan-perempuan ini."

"Jika begitu, mana orang yang membunuh mereka itu?"

Melongo juga Siau-hi-ji oleh pertanyaan itu, jawabnya kemudian.

"Setan yang tahu."

Lalu ia masuk ke kamar kelima dan menyingkap kelambu pula sambil berkata.

"Manusia memang aneh, sekalipun sudah tahu yang berbaring di ranjang ini adalah tulang belulang orang perempuan, toh dia tetap ingin membuka kelambu untuk melihatnya ...."

Belum habis ucapannya segera ia tahu dugaan sendiri kembali salah lagi.

Di atas ranjang itu ada kerangka jerangkong, lelaki dan perempuan, yang lelaki tengkurap menindih di atas jerangkong perempuan, tulang punggungnya hancur terpukul, tampaknya sekali dihantam orang terus binasa.

Agaknya sebelum terbunuh, kedua orang itu sedang main cinta.

"Inilah orang yang sedang lupa daratan dibuai asmara dan mendadak disergap orang,"

Kata Giok-long.

"Ai, orang yang menyerang ini sungguh keterlaluan."

Mereka menuju ke kamar keenam, baru saja Siau-hi-ji menyingkap kerai dan melongok sekejap ke dalam, seketika melongo terkesima.

Di bawah gemerlapnya cahaya lampu, seorang lelaki kekar bercambang berkopiah tampak duduk menghadap pintu, kedua tangannya memegang meja seperti orang hendak menubruk ke depan.

Waktu diteliti, terlihat alisnya tebal dan matanya melotot penuh hasrat membunuh, tertampak dari mata, mulut dan telinganya mengeluarkan darah, cuma noda darah itu sudah mengering, maka tidak terlihat jelas.

"Ah, kiranya orang ini juga sudah mati,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Dia pasti mati berbareng dengan kelima orang lainnya,"

Ujar Kang Giok-long.

"Tetapi mayatnya mengapa masih utuh begini,"

Kata Siau-hi-ji. Giok-long memetik satu biji mutiara dari kerai pintu terus disambitkan ke tubuh lelaki godek itu, terdengar "tek"

Satu kali, mutiara itu terpental balik. Tubuh orang itu ternyata keras sebagai batu.

"Jangan-jangan ini cuma patung kayu saja,"

Kata Siau-hi-ji.

"Bukan patung, tapi manusia dan sudah mati,"

Lalu Kang Giok-long langsung menuju ke tempat tidur sana dan menyingkap kelambunya.

Di atas ranjang juga menggeletak sesosok tubuh perempuan, perempuan yang mahacantik.

Tubuh juga utuh seperti orang hidup, sedikit pun tidak rusak.

Kalau air mukanya tidak pucat menghijau sungguh boleh dikatakan wanita cantik yang sukar dicari bandingnya.

Sesungguhnya selama hidup Kang Giok-long juga tidak pernah melihat perempuan secantik itu, walaupun tahu orang mati, tidak urung ia pun agak terkesima memandangnya.

"Di waktu hidupnya entah berapa banyak lelaki yang terpikat olehnya,"

Ujar Siau-hi-ji dengan gegetun.

"Kalau dibandingkan perempuan ini, Siau Mi-mi paling-paling hanya dapat angka lima."

"Sungguh tak tersangka di dunia ini ada wanita secantik ini,"

Kang Giok-long juga gegetun.

"Cuma sayang dia sudah mati sangat lama."

"Ya, sedikitnya ada beberapa puluh tahun."

"Sungguh aku tidak paham, mengapa jenazahnya tetap utuh."

"Cara mati kedua orang ini berbeda dengan yang lain, tampaknya mereka mati oleh sejenis racun yang sangat aneh, kadar racun ini dapat membuat mayat mereka tidak membusuk dan tetap utuh,"

Kata Giok-long setelah berpikir sejenak.

"Ai, tampaknya perempuan ini sangat sayang akan wajah cantik sendiri ... ya, memang juga pantas disayangi."

"Apakah maksudmu dia membunuh diri sendiri?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Jika orang lain hendak membunuh dia, buat apa susah payah mencari racun yang begitu aneh."

"Ehm, masuk akal juga,"

Kata Siau-hi-ji sambil mengangguk.

"Cuma ... bagaimana pula dengan lelaki cambang ini? Sudah mati berpuluh tahun orang ini masih begini gagah, waktu hidupnya tentu seorang tokoh pilihan."

"Mungkin dia adalah tuan rumah yang sesungguhnya,"

Kata Giok-long.

"Betul, tampaknya dia memang mampu menciptakan hasil karya sehebat ini."

"Tetapi kalau kelima orang itu dibunuh olehnya, lalu cara bagaimana pula ia sendiri pun mati dan mengapa istrinya membunuh diri? Apa hubungannya dengan kelima orang itu? Untuk apa dia membuang tenaga dan biaya sebesar ini hanya untuk membangun istana di bawah tanah ini dan mengapa dia bersembunyi serahasia ini?"

"Pertanyaanmu ini membuat kepalaku menjadi pusing,"

Kata Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Meskipun kedua anak itu adalah manusia mahapintar, akan tetapi sampai pecah kepala mereka juga sukar memecahkan rahasia ini.

Kendatipun kedua orang mempunyai empat mata, tapi siapa pun tidak melihat bahwa di samping bantal terdapat satu

Jilid buku kain sutra, jika mereka tidak melihat isi buku itu, maka selama hidup mereka jangan harap akan dapat memecahkan teka-teki istana bawah tanah ini.

Syukurlah akhirnya Siau-hi-ji dapat melihatnya.

Cepat ia ambil buku itu dan membacanya dua-tiga halaman, mendadak ia berteriak.

"Aha, ini dia ... segala rahasianya berada di sini."

Buku itu penuh tertulis huruf-huruf kecil, gaya tulisannya yang lembut bagus itu jelas tulisan tangan orang perempuan.

Itulah kisah hidup perempuan mahacantik yang berbaring di ranjang itu, kisah yang asyik tapi juga tragis sehingga membuat orang sukar mempercayai pengalamannya itu.

Sebelum ajalnya perempuan cantik itu telah menyingkap seluruh rahasia yang menyangkut istana bawah tanah ini.

Dengan sendirinya tulisannya bukan sengaja diperlihatkan kepada Siau-hi-ji, tapi ditujukan kepada siapa saja yang dapat melihatnya atau membacanya.

Perempuan itu hanya ingin membeberkan segenap isi hatinya sebelum ajalnya.

Cuma waktu dia akan mati di sekitarnya sudah tiada manusia hidup lagi, terpaksa isi hatinya itu dituangkan dalam bentuk tulisan.

Menurut kisahnya, perempuan itu bernama Pui Leng-ki, berasal dari keluarga bahagia di daerah Kang-lam.

Tapi ia sendiri ternyata tidak menikmati penghidupan yang bahagia.

Pada waktu berumur empat tahun ia ikut sang ibu menjenguk sanak keluarga di Sohciu, waktu mereka pulang, rumah mereka yang cukup megah itu telah berubah menjadi puing belaka.

Berpuluh anggota keluarga mereka pun habis terbunuh.

Menghadapi musuh keji yang pasti akan babat rumput sampai akar-akarnya itu, terpaksa dia bersama ibunya memulai pelariannya, meski dia tidak menguraikan secara jelas kisah pelariannya ini, tapi dapat dibayangkan pasti mengalami pahit getir yang sukar dilukiskan.

Selama masa menderita itulah, akhirnya mereka dapat mengetahui nama musuhnya, yaitu Auyang Ting.

"Tang-se-jin-kiat" (manusia ksatria jaman) Auyang Ting. Musuh itu ternyata adalah pendekar besar yang paling termasyhur pada jaman itu, salah satu tokoh dunia silat yang paling tangguh dan seorang hartawan yang kaya raya. Dengan sendirinya juga salah seorang yang paling licin di dunia Kangouw. Hidup sengsara mengembara kian kemari, meski mereka ibu dan anak juga memiliki sedikit ilmu silat, tapi untuk menuntut balas, ibaratnya telur membentur batu, jelas tidak mungkin tercapai. Dalam keadaan merana, akhirnya sang ibu jatuh sakit dan meninggal. Tiga tahun kemudian, Pui Leng-ki akhirnya berhasil mendekati musuhnya karena dia telah diperistri oleh Auyang Ting. Terpaksa ia harus memperalat kecantikannya yang tiada taranya sebagai senjata untuk menuntut balas. Tapi Auyang Ting ternyata mempunyai suatu kebiasaan aneh, yaitu tidak suka tidur bersama siapa pun, tanpa kecuali istrinya sendiri. Jadi sebagai istrinya ia pun tidak tahu sang suami itu suka tidur di mana? "Tentu inilah Auyang Ting yang dimaksud,"

Ucap Siau-hi-ji sambil memandang sekejap lelaki godek itu.

"Orang ini benar-benar tidak malu sebagai manusia ksatrianya jaman,"

Kata Kang Giok-long dengan gegetun.

"Biarpun Pui Leng-ki membencinya sampai ke tulang sumsumnya, tapi di bawah tulisannya tetap kelihatan rasa kagumnya kepada sang suami."

"Selekasnya kau pun akan menjadi Auyang Ting kedua, soal waktu saja,"

Kata Siau-hi-ji. Kang Giok-long tidak berani menanggapinya, ia membelokkan pokok pembicaraannya dan berkata pula.

"Sungguh aneh, kalau Auyang Ting cukup ternama dan berkedudukan, untuk apa dia membangun istana di bawah tanah ini? Urusan apa yang membuatnya bertekad mengeram di tempat yang terasing dari dunia luar ini?"

"Baca saja lebih lanjut tentu semuanya akan ketahuan,"

Ujar Siau-hi-ji dan mereka pun membaca pula buku tadi ....

Menurut catatan Pui Leng-ki, demi membangun istana bawah tanah ini entah betapa banyak tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan oleh Auyang Ting.

Sedikitnya tiga bulan dalam setahun Auyang Ting mengawasi sendiri pembangunan istana ini.

Sesudah istana ini selesai dibangun, entah dengan cara bagaimana Auyang Ting menipu datang lima tokoh ilmu silat yang paling terkemuka pada jaman itu, ia berhasil membujuk mereka agar bersama-sama menciptakan sejenis ilmu silat yang tiada taranya dan tiada bandingannya dengan alasan kalau ilmu silat ciptaan mereka itu diturunkan pada angkatan selanjutnya, maka nama mereka pasti akan terukir dengan harum sepanjang jaman.

"Meninggalkan nama harum sepanjang jaman" , bujukan ini benar-benar mengetuk hati sanubari kelima tokoh itu, dengan gabungan daya cipta dan pengalaman mereka berlima, bersama-sama mereka lantas mencari dan menggali rahasia paling tinggi dari intisarinya ilmu silat. Tetapi sama sekali tak terpikir oleh mereka bahwa pada hari berhasilnya mereka juga merupakan hari ajal mereka. Seterusnya Pui Leng-ki mencatat.

"Setelah pindah ke istana bawah tanah ini dia tidak tidur sendirian lagi, sebab sedikit pun dia tidak mencurigai diriku, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa aku adalah musuhnya. Meski aku sudah ada kesempatan untuk turun tangan, tapi sejauh itu belum kulakukan. Aku masih harus menunggu. Ingin kutunggu bila dia sudah mencapai puncak kejayaannya barulah akan kubinasakan dia."

Karena namanya termasyhur, hidupnya mewah, dengan sendirinya banyak juga kawan yang suka menjilat dan menyanjungnya, hidupnya yang serba kecukupan ini seharusnya membuatnya puas.

Akan tetapi dia ternyata masih mempunyai ambisi lain lagi, ia ingin memiliki kepandaian yang tertinggi, yang tiada tandingannya di kolong langit ini, yang nomor satu di dunia.

Oleh sebab itulah dengan segala tipu daya ia telah menipu kedatangan kelima tokoh top dunia persilatan itu.

"Sungguh kasihan kelima tokoh yang di dunia Kangouw terkenal sebagai 'Thian-he-ngo-coat' (lima top di dunia) itu harus menjadi korban ambisi gilanya itu. Soalnya kelima orang itu masing-masing juga mempunyai kelemahan, mencengkeram titik kelemahan orang adalah kepandaiannya yang khas, apalagi tipu muslihatnya, soalnya Auyang Ting terkenal sebagai pendekar budiman, ksatria yang suka menolong."

Begitulah Auyang Ting sudah mempunyai rencana membunuh kelima tokoh itu, meski aku tidak tahu bagaimana rencananya, tapi tipu keji Auyang Thing selamanya sangat sempurna, biarpun aku bermaksud membongkar muslihat kejinya itu, tapi sukar memperoleh buktinya, andaikan kubeberkan juga orang takkan percaya.

Makanya aku tidak berani sembarangan bertindak, terpaksa aku hanya menunggu saatnya dia mencapai hasilnya saja.

"Kini sudah dekat dengan hari suksesnya yang ditunggu-tunggu itu, tampaknya dia akan menjadi manusia super yang belum pernah dicapai siapa pun juga selama ini. Dan kini yang sudah menunggunya adalah secangkir arak, arak beracun. Aku harus minum bersama dia ...."

Sampai di sini Siau-hi-ji menjadi terharu sehingga matanya basah, mendadak ia lemparkan buku itu dan berkata.

"Untuk apa dia mencatat semua ini sehingga orang yang membacanya juga merasa sedih, sungguh membikin celaka orang saja .... Ai, perempuan, dasar perempuan!"

"Manusia super, ksatria terbesar sepanjang jaman ...."

Tiba-tiba Giok-long bergumam seperti orang linglung.

"Tapi, ai, sayang, sungguh sayang!"

Sambil memandangi Auyang Ting yang sudah tak bernyawa itu, Siau-hi-ji berkata.

"Setelah membunuh kelima tokoh itu dan selagi hendak minum arak bersama sang istri tercinta untuk merayakan hasil gemilangnya, tak tahunya arak bahagia yang diminum ternyata arak beracun .... Hah, sungguh lucu, sungguh menarik!"

"Pui Leng-ki itu pun orang yang luar biasa,"

Ujar Kang Giok-long dengan gegetun.

"Sebenarnya sudah cukup baginya bila dia berhasil menuntut balas, untuk apa dia mesti mati bersama musuhnya?"

"Kan sudah kukatakan sejak mula bahwa hati perempuan paling sukar diraba,"

Ucap Siau-hi-ji menguap kemalasan.

"Jika ada lelaki yang sengaja hendak menyelami jalan pikiran perempuan, maka orang itu kalau bukan orang tolol tentulah orang sinting."

Tiba-tiba Kang Giok-long menjemput kembali buku tadi dan membacanya pula, ia bergumam mengulang suatu kalimat di dalam buku itu.

"Sedikit pun dia tidak menaruh curiga padaku .... Ai, dapat dibayangkan Auyang Ting itu pasti sangat mencintai istrinya, sebaliknya Pui Leng-ki pasti juga terguncang perasaannya setelah menjadi suami istri sekian lamanya. Tokoh ksatria begitu, biarpun dibenci perempuan juga tetap membuat kagum orang perempuan ...."

"Ah, dasar perempuan ...."

Gumam Siau-hi-ji.

"Namun Pui Leng-ki tetap bertekad membunuh Auyang Ting, setelah membunuhnya dia sendiri juga menderita, maka terpaksa ia ikut mati bersamanya, sebab ia merasa tidak sanggup hidup lagi sendirian,"

Giok-long menghela napas panjang, lalu menyambung pula.

"Kisah Pui Leng-ki dengan Auyang Ting ini banyak miripnya dengan kisah Sesi dengan Go-ong (di jaman Cunciu), antara dendam dan kepentingan negara dengan cinta pribadi, pilih yang mana? Mungkin tak banyak orang yang mampu memecahkan soal ini dengan bijaksana."

Siau-hi-ji memandang Kang Giok-long dengan tak berkedip, mendadak ia tertawa dan berkata.

"Terkadang aku heran, entah kau ini lelaki atau perempuan?"

Giok-long melengak, tapi cepat menjawab dengan tertawa.

"Masa engkau tidak tahu aku lelaki atau perempuan?"

"Sudah tentu kau lelaki, tapi juga mirip perempuan,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Aku ... aku mirip perempuan?"

"Ya, terkadang hatimu keji dan tanganmu ganas, tidak kenal kawan tanpa peduli keluarga. Tapi ada kalanya kau pun berubah menjadi alim, berperasaan dan baik hati. Jarang lelaki yang berhati begitu, hanya hati perempuan saja yang dapat berubah sebanyak dan secepat itu,"

Siau-hi-ji bergelak tertawa, lalu menyambung pula.

"Jika telingaku tidak mendengar sendiri kau dipanggil Siau-sik-kui (setan cilik penggemar perempuan) oleh Siau Mi-mi, bisa jadi aku akan mengira kau ini orang perempuan menyamar sebagai lelaki ...."

"Betul, aku dapat menjadi saksi baginya bahwa sekujur badannya, setiap senti, setiap mili, sepenuhnya adalah tubuh lelaki, sedikit pun tidak palsu!"

Mendadak seorang menanggapi dengan tertawa genit.

Suara tertawa genit begitu jelas sudah sangat dikenal mereka, siapa lagi dia kalau bukan Siau Mi-mi.

Seketika ruas tulang Siau-hi-ji serasa terlepas semua, badan menjadi lemas lunglai, segera dirasakannya sepotong benda runcing dingin menempel di kuduknya.

"Jangan bergerak, sayang, jangan menoleh!"

Terdengar Siau Mi-mi berkata pula dengan suara lembut. Lalu ia memanggil Kang Giok-long yang ketakutan itu.

"Kemarilah Giok-long .... Nah, beginilah, kau memang anak penurut. Sekarang kau pun membalik ke sana, berdiri berjajar dengan dia."

Siau-hi-ji berharap Kang Giok-long jangan terlalu penurut, diharapkan dia melakukan sedikit pembangkangan, dengan demikian Siau-hi-ji akan sempat mengeluarkan air berbisa dari bajunya.

Akan tetapi Kang Giok-long yang sialan itu justru sangat penurut, dengan tunduk kepala dan tangan lurus ia menuruti semua perintah Siau Mimi, isyarat yang diberikan Siau-hi-ji dianggap sepi olehnya.

Diam-diam Siau-hi-ji mendongkol dan geregetan, tapi apa daya, kuduknya terancam pedang, biarpun mempunyai seribu satu upaya juga tak bisa berkutik.

Namun dia juga tidak putus asa, ia tetap menantikan kesempatan baik, asalkan dia sempat mengeluarkan air berbisa itu atau bumbung jarum, maka Siau Mi-mi pasti dapat dibereskan.

Sungguh celaka tiga belas, yang dibereskan ternyata bukan Siau Mi-mi melainkan Siau-hi-ji sendiri.

Tiba-tiba Siau Mi-mi menggagapi baju anak muda itu sehingga semua isi diambilnya.

"Wah, setan cilik, banyak juga barangmu, ada Tau-kut-ciam, ada Ngok-tok-cui, untung aku tidak lengah, kalau tidak pasti celakalah aku,"

Kata Siau Mi-mi dengan tertawa.

"Yang celaka sekarang kan aku,"

Ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas.

"Juga tidak terlalu celaka, sementara ini belum akan kubunuhmu,"

Kata Siau Mi-mi dengan tertawa dan mendadak ia tarik tangan kanan Siau-hi-ji dan tangan kiri Kang Giok-long, lalu menyambung pula.

"Kalian adalah sahabat baik, silakan berjabat tangan ...."

Siau-hi-ji merasa tangan Kang Giok-long itu sedingin es dan gemetar serta penuh keringat dingin. Padahal tangannya sendiri juga begitu.

"Klik"

Mendadak tangan mereka itu telah bertambah dengan sebuah borgol yang hitam dan berat, tangan mereka terbelenggu menjadi satu.

Dengan tertawa nyaring lalu Siau Mi-mi berputar ke depan mereka, dengan kerlingan genit dan tertawa kenes ia memandangi kedua anak muda itu, katanya dengan suara lembut.

"Sekarang kalian benar-benar sahabat karib sehidup semati, tiada satu pun yang meninggalkan yang lain."

"Sekarang aku justru berharap dia benar adalah perempuan,"

Ujar Siau-hi-ji dengan menyengir.

"Sungguh aku suka padamu,"

Kata Siau Mi-mi pula.

"Dalam keadaan begini kau masih dapat berkelakar, rasanya di dunia ini tidak banyak orang macam dirimu. Sebenarnya, belenggu ini memang disediakan untuk seorang lelaki dan seorang perempuan."

Dia meraba-raba pipi Siau-hi-ji dengan penuh gairah, lalu berkata pula.

"Apakah kau tahu nama belenggu ini? Belenggu cinta, inilah namanya, kau harus tahu bahwa selamanya tiada orang yang mampu membuka belenggu cinta."

"Belenggu cinta?"

Siau-hi-ji menegas dan gegetun.

"Kenapa tidak dibelenggu bersamamu saja?!"

Tapi Siau Mi-mi lantas meraba-raba pipi Kang Giok-long pula, katanya dengan suara halus.

"Sayangku, jangan takut, jangan gentar, jika tiada kau, tentu aku tidak tahu di bawah tanah sini masih ada tempat pesiar seindah ini. Sungguh aku harus berterima kasih padamu."

"Cara ... cara bagaimana kau masuk ke sini?"

Tanya Giok-long.

"Kalian heran bukan?"

Siau Mi-mi tertawa.

"Setan yang tidak heran,"

Omel Siau-hi-ji.

"Anak-anak yang pintar, mengapa mendadak kalian berubah menjadi bodoh?"

Siau Mi-mi berseloroh.

"Pikirkanlah, kalian sedemikian baik padaku, mana aku tega membikin kalian mati pengap?"

"O, jadi ... jadi maksudmu ingin membunuh kami dengan tanganmu sendiri, begitu?"

Kata Giok-long.

"Sedikitnya aku kan harus menyaksikan kematian kalian barulah hatiku merasa lega,"

Jawab Siau Mi-mi.

"Ah, aku ... aku salah,"

Ucap Giok-long tertunduk.

"Kau memang salah,"

Kata Siau Mi-mi.

"Seharusnya kau pikirkan apabila aku tidak tahu jelas kalian berdua anak pintar ini masih hidup atau sudah mati, mana aku dapat makan dengan enak dan tidur dengan nyenyak?"

"Aku tidak paham ...."

Kata Siau-hi-ji.

"Tidak paham apa? Jelas kalian sembunyi di bawah tanah dan aku tidak tahu keadaan di bawah, jika kumasuk begitu saja mustahil aku takkan mampus dijebak kalian?"

Siau Mi-mi menghela napas, lalu menyambung pula.

"Cara kalian terhadapku tentu tidak sebaik caraku terhadap kalian."

"Kau memang baik, makanya sengaja kau bikin kami mati sesak,"

Ucap Siauhi-ji.

"Kukira kalian belum tentu mati pengap, tapi sedikitnya akan membikin kalian lengah dan tidak berjaga-jaga lagi terhadap diriku,"

Ujar Siau Mi-mi.

"Kalian pasti mengira bila aku toh ingin mematikan kalian tentunya aku takkan masuk lagi ke bawah sini untuk melihat kalian. Betul tidak?"

"Tapi bisa jadi kami akan mati sesak,"

Kata Siau-hi-ji.

"Jika kalian benar-benar mati sesak, kan aku juga perlu menguburkan kalian,"

Kata Siau Mi-mi dengan tersenyum genit.

"Memang begitulah sifatku, sekali berbuat tidak boleh tanggung-tanggung. Apalagi kalian adalah anak-anak kesayanganku."

"Sekarang baru kutahu, adalah malang bagi seorang yang tidak jadi mati pengap, apalagi bila dia disukai oleh perempuan, maka dia akan tambah sial,"

Kata Siau-hi-ji.

"Ucapanmu sungguh lucu, sungguh menggelikan,"

Kata Siau Mi-mi dengan tertawa ngikik.

"Lain kali akan kuberitahukan kepada siapa pun bahwa orang yang dibenci adalah bahagia dan mujur bila mati pengap."

Dengan lagak seperti terpingkal-pingkal hingga hampir tak dapat bernapas, lalu Siau Mi-mi melanjutkan pula.

"Sungguh aku ingin tahu setelah orang mendengar ceritaku ini entah bagaimana perasaan dan mimik wajahnya, mungkin dia akan ... akan mengira aku ini orang gila."

"Haha, memangnya kau sangka kau orang waras?"

Kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tampaknya ia sengaja memancing kemarahan Siau Mi-mi.

Soalnya dia sudah kehabisan akal, ia tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk lolos.

Sebenarnya ia bukan orang yang mudah menyerah pada nasib, tapi kalau menurut keadaan sekarang, betapa pun ia sudah putus harapan sama sekali.

Makanya ia pikir harus membuat Siau Mi-mi marah, dengan begitu mungkin keadaan akan berubah.

Sialnya Siau Mi-mi sama sekali tidak naik pitam, hakikatnya ia tidak ambil pusing terhadap ocehan Siau-hi-ji, seluruh perhatiannya kini dicurahkan kepada barang-barang yang terdapat di kamar ini.

Ia mulai memeriksa dan menggeledah setiap pelosok kamar itu, betapa teliti cara memeriksanya dapat digambarkan seperti istri yang suka cemburu sedang menggeledah saku baju suaminya.

Tidak lama kemudian tiba-tiba wajahnya bercahaya, matanya juga bersinar.

Sebab akhirnya ia menemukan apa yang ingin dicarinya.

Yaitu buku kain sutera kekuning-kuningan itu yang berisi intisari ilmu silat ciptaan bersama kelima top jago silat itu.

Dia pegang kencang-kencang buku itu dan dipeluknya dengan kegirangan, lalu diciumnya dengan mesra dan ditempelkannya ke pipi seperti seorang kekasih yang lagi main cinta.

Dia tertawa, tertawa ngikik terus-menerus, lalu bergumam.

"O, jantung hatiku, setelah kumiliki dikau, apa pula yang perlu kutakuti?.... Eh, selanjutnya siapakah tokoh nomor satu di dunia? Tahukah kalian .... Dia bukan lain daripada diriku ini, nona Siau"

Sambil melototi kitab pusaka di tangan Siau Mi-mi, mata Kang Giok-long yang merah itu seakan-akan menyala. Siau Mi-mi colek pipi Giok-long, katanya dengan terkikik.

"Bicara sejujurnya aku harus berterima kasih juga kepada kalian. Jika tiada kalian, mana bisa aku menemukan si 'dia' ini?"

Dengan berlenggang menggiurkan ia membalik tubuh, gayanya seperti benar-benar lebih muda belasan tahun. Lalu ia berkata pula.

"Kini, ayolah kalian jadi penunjuk jalanku, bawalah aku meninjau setiap tempat di sini, kukira barang-barang itu memang ditakdirkan bagiku, kalau aku tidak menerimanya bisa jadi kau akan kualat."

Padahal Siau Mi-mi sendiri juga tidak menyangka barang-barang yang "ditakdirkan untuknya"

Ini berjumlah sebanyak ini, ia sampai tidak percaya pada matanya sendiri. Dengan tertawa ia meraba setiap benda yang dilihatnya, ucapnya dengan suara lembut.

"O, sayangku, tinggal di sini dan tunggulah aku, kini kalian telah menjadi milikku. Kuyakin kalian pasti gembira mempunyai majikan seperti diriku."

Setelah memeriksa setiap kamar rahasia itu, kemudian Siau Mi-mi memandangi Siau-hi-ji dan Kang Giok-long dengan genit, katanya.

"Anak sayang, tahukah kalian mengapa sampai sekarang tidak kubunuh kalian?"

Siau-hi-ji memandang dinding kamar yang masih utuh itu seperti tak dengar apa yang dikatakan Siau Mi-mi, sedangkan wajah Kang Giok-long pucat pasi, sama sekali ia tidak sanggup bicara lagi.

"Terus terang, suruh berputar sendirian di tempat setan ini, betapa pun aku juga takut, sebab itulah, makanya kutahan kalian untuk menemani aku,"

Ucap Siau Mi-mi pula. Kang Giok-long menggigit bibir, mukanya bertambah pucat. Siau Mi-mi memandang Siau-hi-ji sekejap, lalu. berkata pula.

"Kini tugas kalian telah selesai, kalian sudah terikat menjadi satu, untuk menerobos keluar lagi melalui terowongan itu kukira juga sulit, maka lebih baik kalian tinggal saja di sini."

Bibir Kang Giok-long sampai pecah tergigit, air mata pun bercucuran.

"Jangan menangis, anak manis,"

Bujuk Siau Mimi dengan suara mesra.

"Aku takkan menyakiti kalian, takkan kusiksa kalian, pasti akan kubikin kalian mati dengan enak, betapa pun kalian juga telah berbuat baik bagiku, begitu kan?"

Mendadak Kang Giok-long bertekuk lutut dan berkata dengan suara gemetar.

"Kumohon ... mohon dengan sangat, ampunilah jiwaku, janganlah membunuhku, selama hidup kurela menjadi budakmu, apa pun kusanggup berbuat bagimu ...."

"Sangat menyesal, hanya urusan ini tak dapat kuterima permohonanmu,"

Jawab Siau Mi-mi.

"Selain itu, kalian menghendaki mati cara bagaimana bolehlah kalian pilih sendiri dan pasti akan kululuskan."

Ia memandang sekejap pula ke arah Siau-hi-ji dan menambahkan lagi.

"Kau dengar tidak, Siau-hi-ji?"

Akan tetapi Siau-hi-ji masih memandangi dinding tanah itu dan menjawab dengan tak acuh.

"Ehm, apa?"

"Ada satu cara mati yang paling enak dan khas akan kusarankan bagi kalian, entah kalian dapat menerima atau tidak?"

Ucap Siau Mi-mi.

"Ehmm!"

Kembali Siau-hi-ji menjawab seperti orang linglung.

"Akan kugigit mati kalian, mau tidak?"

Tanya Siau Mi-mi, lalu tangannya yang putih mulus itu meraba-raba tenggorokan Siau-hi-ji dan menambahkan pula dengan tertawa genit.

"Di sini, asalkan kugigit sekali di sini dan bereslah segalanya."

Tanpa berkedip Siau-hi-ji kembali bersuara "ehmmm"

Saja, matanya tetap memandang dinding tanah. Mendongkol juga Siau Mi-mi, katanya sambil berkerut kening.

"Apanya yang menarik pada dinding tanah itu? Sesungguhnya apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku toh bakal mati, berpikir apa pun tiada gunanya,"

Ujar Siau-hi-ji sembari menghela napas.

"Aku jadi ingin tahu apa yang kau pikirkan?"

Kata Siau Mi-mi.

"Kini engkau telah menjadi majikanku, untuk apa ingin tahu jalan pikiranku?"

"Sebagai majikan memang tidak perlu, tapi sebagai wanita, aku ingin tahu jalan pikiranmu. Jangan lupa, kan aku ini perempuan?"

"Kukira lebih baik kau bunuh aku saja daripada bikin susah."

"Semakin kau tak mau omong, semakin aku ingin tahu,"

Kata Siau Mi-mi. Siau-hi-ji menghela napas, katanya.

"Baiklah, kau ingin tahu, terpaksa kukatakan juga."

Setelah merenung sejenak, lalu ia menyambung.

"Kupikir kalau di balik setiap dinding itu ada benda-benda aneh, maka di balik dinding tanah ini tidak mungkin kosong, lalu apakah isinya?"

Mata Siau Mi-mi jadi terang, serunya.

"Betul, apa isinya?"

Matanya jelalatan mengawasi sekelilingnya, lalu bergumam pula.

"Sayang dinding tanah ini tidak terdapat roda putarnya, entah cara bagaimana membuka dinding ini?"

"Meski tiada roda putarnya, tapi di atas situ kan ada gelangan yang belum ditarik,"

Ucap Siau-hi-ji. Siau Mi-mi mendongak, benar, di atas dinding memang ada sebuah gelang tembaga, serunya girang.

"He, betul, lekas menariknya!"

Dengan lagak acuh tak acuh Siau-hi-ji melangkah maju, tapi di dalam hati sebenarnya sangat girang.

Padahal ia pun tidak tahu apa yang berada di balik dinding tanah itu, namun biar bagaimanapun toh takkan membikin lebih buruk daripada keadaannya sekarang, paling-paling hanya mati saja, maka ia tidak peduli apakah di balik dinding sana tersembunyi gerombolan setan iblis sekalipun.

Sebab yang rugi kan cuma Siau Mi-mi saja.

Apalagi ia yakin Siau Mi-mi pasti akan tertipu, betapa pun lihainya Siau Mi-mi kan tetap perempuan, dan di dunia ini hampir tiada perempuan yang tidak sok ingin tahu.

Gelang tembaga itu tergantung rada tinggi, Siau-hi-ji sendiri tak dapat membuat gelang itu bergerak, tapi ketika Kang Giok-long ikut menariknya, seketika gelang tembaga itu tertarik turun.

Maka terdengarlah suara gemuruh yang keras laksana gugur gunung dahsyatnya, dinding tanah itu mendadak runtuh seluruhnya.

Berbareng itu air bah terus melanda seperti dituangkan.

Siau Mi-mi menjadi kaget, wajah menjadi pucat.

Seperti anak perempuan yang melihat seekor tikus, sekuatnya ia meloncat ke atas sebuah roda putar itu.

Namun air bah itu sungguh dahsyat dan terlalu cepat melandanya, hanya sekejap saja roda putar itu pun kelelap.

Dalam keadaan demikian yang terpikir olehnya hanya berusaha lolos secepatnya, bahkan Siau-hi-ji dan Kang Giok-long juga tak dipedulikan lagi.

Akan tetapi satu-satunya jalan keluar, terowongan itu, kini juga sudah terendam air.

Supaya maklum bahwa tempat mereka berada sekarang ini sama tingginya dengan jamban yang merupakan lubang keluar masuk itu, maka air yang memenuhi terowongan itu tidak dapat tersalur.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji dan Kang Giok-long kini juga terendam di dalam air, Kang Giok-long ternyata mahir berenang, dia dapat mengapungkan diri di permukaan air.

Dia tersenyum tenang melihat Siau Mi-mi yang kelabakan itu, gumamnya.

"Siluman perempuan ini ternyata tidak mahir berenang, bagus, sungguh bagus sekali."

"Ini namanya pukul kanan kena kiri!"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Kau sendiri apakah dapat berenang?"

Tiba-tiba Giok-long berpaling dan tanya Siau-hi-ji. Sambil bertahan dengan tangannya, Siau-hi-ji tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa.

"Masa kau lupa akan namaku? Adakah di dunia ini ikan tidak mahir berenang?"

"Tapi tempat kau dibesarkan tiada terdapat sungai segala,"

Jengek Kang Giok-long.

"Untuk ini aku harus berterima kasih kepada Li Toa-jui,"

Tutur Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Waktu aku berumur dua tahun, Li Toa-jui telah merendam diriku di suatu tong besar. Waktu umurku tiga tahun, aku sudah dapat berenang di dalam tong itu seperti seekor ikan, sebab itulah mereka memberi nama ikan padaku?"

Dia bicara dengan lancar sehingga tidak nampak membual sedikit pun. Kang Giok-long melototnya sejenak, akhirnya ia tertawa dan berkata.

"Baiklah, bagus sekali jika begitu!"

Sementara itu air terus mengalir sehingga ruangan itu hampir terendam seluruhnya.

Siau Mi-mi memang tidak pandai berenang, bahkan sangat takut pada air, kini dia benar-benar kelabakan setengah mati, kaki tangannya bergerak-gerak dan meronta-ronta, tapi semakin meronta semakin tenggelam ke bawah.

Dengan suara tertahan Kang Giok-long membisiki Siau-hi-ji.

"Meskipun dia tak bisa berenang, tapi kalau dia dapat bersikap tenang dan tidak sembarang bergerak, tentu takkan tenggelam ke bawah, apalagi Lwekangnya cukup tinggi, andaikan tenggelam juga takkan kemasukan air. Tapi kalau dia terus meronta seperti sekarang, sejenak lagi tentu dia akan minum air, dan sekali minum air, betapa pun tinggi kepandaiannya juga tiada gunanya lagi."

Benar juga, di sebelah sana Siau Mi-mi telah minum dua ceguk air sehingga membuatnya semakin bingung, dia berteriak dengan suara parau.

"Tolong ... tolong, masakah kalian ingin menyaksikan aku mati kelelap?"

"Sebenarnya kami tidak tega melihat kematianmu,"

Ucap Kang Giok-long dengan suara halus.

"asalkan kau lemparkan kitab pusaka itu kemari, segera akan kutolong kau."

Kang Giok-long tidak berani mendekati Siau Mi-mi, sebab kalau dia sampai terpegang, maka ia sendiri pasti juga akan celaka.

Tapi bila kitab pusaka itu terlalu lama terendam air, mungkin tulisannya akan luntur dan pasti sukar lagi untuk dibaca.

Syukurlah Siau Mi-mi kini telah berubah penurut, cepat ia melemparkan kitab pusaka itu ke arah Kang Giok-long sambil berseru.

"Nah, lekas-lekas tolong aku!"

Begitu dia membuka mulut, segera ia gelagapan pula karena kemasukan air.

Dalam pada itu Kang Giok-long telah sambar kitab pusaka itu, Siau-hi-ji tidak berebut dengan dia, sebab tangannya yang memegang kitab terbelenggu bersama dengan tangan Siau-hi-ji, sedangkan tangannya yang lain memegang lentera.

Dengan tertawa terkekeh-kekeh ia mengejek Siau Mi-mi.

"Anak bodoh, memangnya kau kira aku benar-benar hendak menolongmu?"

Terpaksa Siau Mi-mi memohon dengan suara gemetar.

"To ... tolonglah, kumohon tolonglah aku ...."

"Hm, justru ingin kusaksikan kau kenyang minum air, nanti kalau kau mati, perutmu akan melembung seperti balon, bentuknya tentu sangat menarik,"

Kang Giok-long berolok-olok pula. Siau Mi-mi menjadi murka, dampratnya.

"Kau anak jadah, bangsat keparat!"

"Makilah sesukamu, paling baik kalau kau dapat menyeberang ke sini dan pukul aku, tapi apakah kau mampu?"

Ejek Giok-long pula. Dengan meronta-ronta Siau Mi-mi bermaksud menubruk ke sini, tapi semakin meronta semakin banyak air yang diminumnya.

"Nah, siapakah tokoh nomor satu di dunia persilatan yang akan datang, tahukah kau, Siau Mi-mi?"

Kata Giok-long dengan tertawa gembira.

"Hahaha, biar kuberitahukan padamu, tokoh nomor satu itu ialah diriku ini, Kang-toasiauya!"

"Hm, belum tentu,"

Jengek Siau-hi-ji tiba-tiba. Cepat Kang Giok-long menyambung.

"Sudah tentu, masih ada lagi tokoh nomor satu yang lain, yakni Kang Siau-hi, Kang-toako kita ini."

Siau-hi-ji menghela napas dan berkata.

"Kukira kita jangan mimpi muluk-muluk, jalan keluar satu-satunya sekarang sudah terendam air, kecuali kita dapat berenang seperti ikan, kalau tidak kita juga akan mati sesak di sini."

Melenggong Kang Giok-long, seketika mukanya pucat pasi pula, ia pegang tangan Siau-hi-ji dan berseru.

"Le ... lekas engkau cari akal."

"Sudah kupikirkan sejak tadi,"

Jawab Siau-hi-ji.

"Antara dinding-dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah, semuanya jalan mati, jalan buntu. Ruangan batu yang merupakan kuburan itu meski ada lubang ke atas, tapi lubang itu harus dibuka dari luar sana."

"Wah, jika begitu, apakah ... apakah kita benar-benar akan mati di sini?"

Tanya Giok-long dengan tersenyum getir.

"Bisa jadi,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Tapi kita masih ada suatu jalan."

"He, jalan mana?"

Tanya Giok-long girang.

"Roda putaran kayu itu kan belum kita sentuh,"

Kata Siau-hi-ji. Rasa girang Kang Giok-long lantas sirna pula, katanya dengan mendongkol.

"Apakah engkau sudah lupa, bukankah kita masuk dari balik dinding kayu?"

"Betul, kita masuk dari sana, tapi menerobos dari bawahnya, bagaimana bagian atasnya?"

"Aha, betul, mengapa tak terpikir olehku?"

Teriak Giok-long kegirangan.

"Soalnya karena aku jauh lebih pintar daripadamu,"

Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Ya, dalam keadaan begini hanya kau saja yang masih dapat berpikir,"

Ucap Giok-long dengan gegetun.

Dalam pada itu terlihat rambut Siau Mi-mi terapung di permukaan air, tubuhnya tidak dapat bergerak lagi.

Segera Kang Giok-long menyelam ke bawah untuk memutar roda kayu, sebelah tangannya mestinya memegang lentera, kini terpaksa dibuangnya, maka keadaan seketika gelap gulita.

Terdengar suara berkeriut, sekonyong-konyong air bah membanjir keluar sana, tanpa kuasa Siau-hi-ji dan Kang Giok-long juga ikut terhanyut, seketika dada dan pikiran pun terasa longgar.

Di luar dinding kayu itu ternyata betul ada jalan keluarnya, beratus-ratus undak-undakan batu menembus ke atas, selarik cahaya tampak menyorot masuk.

Kang Giok-long berteriak gembira, air mata tanpa terasa pun bercucuran.

Bahwa di ujung undak-undakan batu sana ada cahaya yang menembus masuk, hal ini pun di luar dugaan.

Di samping gembira Giok-long juga heran, katanya.

"Jalan keluar ini juga aneh, masa tidak khawatir diketahui orang? Apa yang terdapat di bawah sini dibuat sedemikian rahasia, seyogianya jalan keluarnya juga harus dirahasiakan."

"Dipandang dari sini tampaknya tidak rahasia, tapi kukira pasti sangat tersembunyi tempatnya, kalau tidak mustahil selama ini tidak dimasuki orang?"

Kata Siau-hi-ji.

"Ya, masuk di akal juga, cuma ...."

Belum habis ucapan Kang Giok-long, tiba-tiba terdengar suara orang bicara di atas sana.

Kedua orang itu terkejut, mereka melangkah dengan lebih hati-hati tapi juga tambah cepat.

Sekaligus mereka naik sampai di ujung atas, terlihat lubang keluarnya tertutup sepotong papan batu, hanya kedua samping diberi celah-celah selebar dua-tiga senti.

Cahaya udara menembus masuk dari celah itu, suara orang bicara itu pun berkumandang dari situ, keruan mereka terheran-heran pula dan coba mengintip ke atas sana.

Kiranya di atas sana adalah sebuah kelenteng kecil, patung malaikat apa yang dipuja di kelenteng ini tak tertampak jelas, sebab patung pemujaan justru terletak di atas papan batu yang berlubang itu.

Dengan sendirinya tiada seorang pun yang menyangka di bawah patung pemujaan kelenteng kecil ini terdapat istana bawah tanah yang paling aneh dan rahasia dan juga paling megah itu.

Di luar situ terdapat sebuah meja sembahyang, meja itu tiada terdapat dupa atau lilin, tapi jelas ada sepasang kaki.

Kaki itu hitam seperti besi, kaki celana tergulung sebatas dengkul, kaki kotor itu memakai sepatu rumput.

Lebih atas daripada dengkul tak terlihat oleh mereka.

Pemilik kaki hitam dan kotor itu memakai sepatu rumput, jelas kini sedang duduk nongkrong di kolong patung pemujaan, maka kakinya terjulur ke meja sembahyang.

Di atas meja terdapat buli-buli arak ukuran besar, ada dua ekor ayam panggang dan sepotong besar daging, satu ikat sosis dan seonggok taukua (tahu kering) serta satu onggok kacang rebus.

Bau sedap arak dan bau lezat makanan bercampur-baur dengan bau apak kaki yang kotor itu terembus angin masuk ke dalam lorong, keruan hidung Siau-hi-ji berkerut-kerut mengendus bau campur aduk alias gado-gado itu.

Sebenarnya Siau-hi-ji ingin menerjang keluar, tapi sekilas terlihat di depan meja sembahyang berdiri berjajar lima orang, maka ia tidak berani sembarangan bertindak lagi, bahkan ia hampir menjerit kaget ketika dilihatnya bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan sana adalah Ong It-jiau, Sun Thian-lam, dan Khu Jing-po, yaitu orang-orang yang telah ikut mencari harta karun bersama Tio Coan-hay dan lain-lain itu.

Dilihatnya pula orang yang berdiri paling kiri berkopiah indah, jubah merah bersulam huruf "Hok" (rezeki), perut rada buncit, usia setengah baya, pinggangnya terikat sebuah kantong dupa dan lilin.

Jelas dia pasti seorang saudagar kaya yang saking iseng maka sengaja bersembahyang ke kelenteng di puncak gunung Go-bi-san.

Di sebelah saudagar kaya ini berdiri pula seorang dengan pakaian cukup mentereng, tapi dari sikapnya dapat diduga dia pasti pengiring si saudagar yang menjadi cukongnya ini.

Siau-hi-ji tidak habis heran, bahwasanya Ong It-jiau bertiga itu biasanya betapa angkuh dan garangnya, tapi sekarang semuanya menunduk lesu dengan wajah cemas dan takut.

Bahwa orang yang berkaki kotor dan duduk nongkrong di kolong patung pemujaan itu dapat membuat ketiga orang itu ketakutan sungguh Siau-hi-ji tak dapat membayangkan tokoh macam apakah orang ini.

Karena Siau-hi-ji tidak berani sembarangan bergerak, Kang Giok-long jadi lebih-lebih tidak berani bertindak.

Tertampak sepasang tangan yang berbulu panjang terjulur ke bawah, tangan kiri hanya tersisa jari-jari telunjuk dan ibu jari saja.

Kedua tangan hitam berbulu itu membeset sepotong paha ayam panggang, lalu paha ayam itu menuding ke arah si saudagar, katanya.

"Coba maju kau!"

Suaranya nyaring seperti bunyi genta sehingga menggetar anak telinga.

Hartawan yang bermuka gemuk itu kini berubah menjadi pucat, dengan tertatih-tatih dan gemetar ia melangkah maju, katanya dengan terputus-putus.

"Hamba ... hamba Thio Thek-bong memberi hormat."

Mendadak suara nyaring laksana bunyi genta tadi bergelak tertawa dan berkata.

"Kakekmu, sudah terang kutahu kau anak kura-kura ini adalah hartawan kampungan di kota bawah sana, namamu Ong Leng-joan alias Ong Pek-ban, masakah kau anak kura-kura ini berani menipu Locu (bapakmu), memangnya kau minta Locu merangket dulu pantatmu?"

Cara bicaranya didahului dengan makian dan diselingi pula dengan istilah khas daerah Sujwan, cuma kedengarannya rada samar-samar, mungkin karena mulutnya lagi sibuk mengunyah paha ayam.

Serentak Ong Pek-ban yang terbongkar rahasianya itu berlutut dan menyembah, katanya dengan bersungut-sungut.

"Hamba tidak banyak membawa uang, kurela persembahkan seluruhnya untuk Tay-ong (tuan besar atau raja besar) ...."

"Kentut makmu!"

Terdengar suara nyaring tadi mendamprat.

"Siapa yang ingin merampas uang busuk anak kura-kura macam kau ini. Soalnya Locu mendengar caramu berjudi sangat pintar dan licin, makanya Locu sengaja mencari kau ke sini untuk berjudi."

Agaknya Ong Pek-ban merasa lega setelah mengetahui maksud tujuan orang, dengan menyengir ia menjawab.

"Jika Tay-ong berminat judi, baik main dadu, pay-kiu, ma-ciok, cap-ji-ki, apa pun akan kulayani. Cuma di sini tiada tersedia peralatan judi, biarlah hamba pulang dulu dan menyiapkan segalanya untuk menantikan kedatangan Tay-ong dan ...."

Mendadak orang itu mencak-mencak dan membentak.

"Persetan! Siapa yang ingin berjudi secara bertele-tele dengan kau anak kura-kura ini, kita berjudi secara cepat saja, ini mata uang, nah, kita bertaruh muka gambar atau muka angka, satu kali jadi."

"Tapi ... tapi Tay-ong ingin taruhan apa? Modal judi yang kubawa tidak ... tidak banyak,"

Ucap Ong Pek-ban dengan tergagap-gagap.

"Locu bertaruh sebelah tanganmu dan sebelah kakimu."

Ong Pek-ban baru saja berbangkit, seketika kakinya lemas dan jatuh terduduk pula. Setelah diam sejenak, akhirnya ia menjawab dengan nekat.

"Tapi kalau Tay ... Tay-ong yang kalah, bagaimana?"

"Bila Locu kalah, segera kupotong satu jariku untukmu,"

Kata suara itu.

"Ah, ini ... ini ...."

"Ini apa? Memangnya jariku tidak lebih berharga daripada sebelah kaki dan sebelah tanganmu?"

Gigi Ong Pek-ban gemertak karena tubuh menggigil ketakutan, jawabnya.

"Ham ... hamba tidak ... tidak ingin berjudi."

"Kakekmu, tidak bisa, mau tak mau kau harus berjudi denganku."

Agaknya Ong Pek-ban menjadi nekat juga, jawabnya dengan suara keras.

"Di dunia ini hanya ada perkosaan, mana, ada orang dipaksa berjudi?"

"Selama hidup Locu tidak melakukan kejahatan lain kecuali suka paksa orang berjudi. Kau anak kura-kura ini pun gemar berjudi, mujurlah hari ini kau bertemu dengan aku si Ok-tu-kui (setan judi jahat)."

Seketika mata Ong Pek-ban terbelalak, ia menegas.

"Jadi ... jadi engkau ini Han-wan ...."

"Betul, Locu inilah Han-wan Sam-kong, rupanya kau anak kura-kura ini juga tahu namaku?"

Dengan meringis Ong Pek-ban menjawab.

"Setiap orang yang gemar judi di mana-mana selalu menggunakan namamu sebagai kutukan, katanya siapa yang main curang semoga kepergok Han-wan Sam-kong. Padahal ... padahal selamanya aku berjudi secara jujur, tak pernah curang, mengapa ... mengapa aku malah kebentur padamu."

Orang yang bersuara nyaring dan berkaki kotor alis Han-wan Sam-kong itu bergelak tertawa.

"Kalau kau sudah kenal Locu, seharusnya kau tahu cara judi Locu selamanya jujur dan tidak pernah curang, apa pula yang kau khawatirkan?"

Habis berkata, mendadak sebuah mata uang telah melayang ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, lalu "trang" , mata uang jatuh di atas meja, tangan Han-wan Sam kong yang besar itu segera menutupnya sembari berseru.

"Gambar atau angka? Tebak, lekas!"

Dengan melongo heran Siau-hi-ji mengikuti semua percakapan itu di tempat sembunyinya, sungguh tak pernah terbayang olehnya bahwa lelaki berkaki kotor ini adalah Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong, si setan judi jahat, salah satu di antara Cap-toa-ok-jin.

Tak terduga olehnya bahwa baru saja dia lolos dari cengkeraman salah seorang Cap-toa-ok-jin, kini dia harus kepergok lagi salah seorang dari kesepuluh top penjahat itu.

Malahan anggota Cap-toa-ok-jin yang ditemukannya berturut-turut satu terlebih garang dan jahat daripada yang lain.

Baru saja ia lihat mata uang yang dilemparkan Ok-tu-kui itu jatuh dengan muka angka di atas, ia percaya Ong Pek-ban, si jutawan yang kelihatan tolol tapi sebenarnya cerdik itu pasti juga melihatnya.

Maka dapat diduga si setan judi itu pasti akan kalah.

Dilihatnya Ong Pek-ban itu pucat dan gemetar, bibirnya bergerak-gerak, beberapa kali hendak bicara, tapi tiada sepatah kata pun tercetus dari mulutnya.

Han-wan Sam-kong menjadi tidak sabar, otot hijau telapak tangannya yang menutup mata uang itu tampak menonjol besar, agaknya dia juga agak tegang.

Akhirnya ia membentak.

"Ayo, lekas tebak, jika tidak, kuanggap kau kalah!"

"Ang ... angka!"

Tercetus juga dari mulut Ong Pek-ban akhirnya. Segera Han-wan Sam-kong mengangkat tangannya dan berteriak dengan terbahak-bahak.

"Hahahaha! Anak kura-kura, kau kalah!"

Seketika Ong Pek-ban hampir kelengar.

Siau-hi-ji juga terkejut.

Sudah jelas dilihatnya sisi angka mata uang itu menghadap ke atas, mengapa bisa berubah mendadak?

Apakah barangkali Han-wan Sam-kong sengaja membiarkan Ong Pek-ban melihat muka angka mata uang itu, tapi ketika tangannya menutup segera ia menyulapnya?

Secara jujur harus diakui bahwa cara Han-wan Sam-kong ini tidak dapat dikatakan curang, salah Ong Pek-ban sendiri yang mengintip.

Diam-diam Siau-hi-ji menghela napas gegetun dan mengakui kelihaian setan judi ini, waktu ia pandang Ong Pek-ban, jutawan she Ong itu tampak lemas terkulai di lantai.

"Trang", sebilah belati terlempar di sampingnya, seketika tubuh hartawan itu menggigil ketakutan.

"Kau sudah kalah, ayo lekas potong sebelah kaki dan sebelah tanganmu,"

Seru Han-wan Sam-kong.

"Aku ... aku ... mo ... mohon ...."

"Anak kura-kura, kau hendak mungkir janji ya?"

Semprot Han-wan Sam-kong dengan gusar. Dengan suara serak Ong Pek-ban menjawab.

"Ham ... hamba rela menyerahkan seluruh harta bendaku, 17 rumah gadai ditambah tiga toko beras, asalkan engkau suka mengampuni jiwaku."

"Kau binatang tua yang pelit, kaya tapi tak berbudi, memangnya kau kira aku benar-benar menginginkan kakimu yang mirip kaki babi itu? Hm, meski Locu ini juga Ok-jin (penjahat), tapi caramu memeras kaum miskin betapa pun tak dapat kuterima."

Mendadak ia menggabruk meja dan berteriak.

"Baik, rumah gadai dan toko beras kuterima semuanya, lekas enyah dan buatkan kuitansinya untuk menunggu timbang terima denganku, memangnya Locu takut kau anak kura-kura berani ingkar janji?"

"Iya ... iya ...ya ...."

Ong Pek-ban terkencing-kencing saking takutnya, cepat ia lari pergi dengan setengah merangkak.

Yang satu baru saja lari, yang lain segera berlutut dan menyembah, yaitu pengiring Ong Pek-ban tadi, katanya dengan wajah minta dikasihani.

"Hamba ... hamba hanya kaum rendahan, tentunya engkau orang tua tidak sudi bertaruh dengan kaum hamba macamku ini, maka sudilah engkau membebaskan hamba."

"Hehehehe, kau salah, anak kura-kura,"

Han-wan Sam-kong terkekeh-kekeh.

"Tahukah kau bahwa Locu masih mempunyai suatu julukan lain, yakni 'kian-jin-ciu-tu' (ketemu orang lantas bertaruh/berjudi). Tak peduli siapa dia, apakah dia si tua bangka kaisar sekarang ataupun si jembel di tepi jalan, asal ketemu dengan Locu harus taruhan juga denganku."

Pesuruh itu menjadi nekat, katanya.

"Habis engkau ingin bertaruh secara bagaimana?"

"Locu bertaruh kau pasti tidak tahu berapa banyak biji kancing baju yang kau pakai itu,"

Ucap Han-wan Sam-kong.

"Kalau kau kalah, hidungmu akan kupotong, jika kau menang, ke-17 rumah gadai dan tiga buah toko beras itu akan kuberikan seluruhnya padamu."

Muka pesuruh itu menjadi pucat seperti mayat, tanpa terasa ia pegang batang hidung sendiri.

"Nah, coba pikir, biarpun kau banting tulang tujuh turunan juga tidak mungkin mendapatkan kekayaan sebesar itu,"

Han-wan Sam-kong bergelak tertawa, mendadak dia membentak.

"Hai, tidak boleh memandang tubuh sendiri, kalau tidak kuanggap kau kalah dan segera kupotong hidungmu."

Pesuruh itu menjadi ketakutan dan terpaksa memandang lurus ke depan, katanya dengan tergagap.

"Tapi ... tapi rumah gadai dan toko beras itu kini masih berada di tangan Ong-loya."

"Kau anak kura-kura ini jangan khawatir, asalkan kau menang, kujamin dia akan menyerahkan semua miliknya kepadamu,"

Kata Han-wan Sam-kong. Mendadak pesuruh ini tertawa, katanya.

"Sejak kecil hamba mempunyai kebiasaan suka telan biji kancing, oleh karena itu ibu hamba tak pernah memberi kancing pada baju yang dibuatkan untukku, semuanya diikat dengan tali, kebiasaan ini berlangsung hingga kini,"

Sampai di sini ia lantas bangkit dan tepuk-tepuk baju sendiri, lalu menyambung pula.

"Makanya di tubuh hamba ini, dari luar sampai ke dalam, dari kepala sampai ke kaki pada hakikatnya satu biji kancing saja tidak ada."

Seketika Han-wan Sam-kong melenggong, Ong It-jiau, Khu Jing-po dan lain-lain tampaknya juga ingin tertawa, tapi urung, kalau tidak ditahan sebisanya, mungkin perut Siau-hi-ji sudah mules tertawa terpingkal-pingkal.

"Sungguh tak tersangka bahwa ada kalanya Ok-tu-kui juga tertipu,"

Demikian Siau-hi-ji membatin dengan geli. Setelah melenggong sejenak, mendadak Han-wan Sam-kong juga terbahak-bahak, katanya.

"Baiklah anggap kau anak kura-kura ini sedang mujur, lekas pulang ke rumah untuk menunggu menjadi cukong besar!"

Pesuruh itu memberi hormat, katanya dengan tertawa.

"Hamba bernama Ong Tay-lip, kelak bila engkau masuk kota, jangan lupa mampir ke toko hamba agar hamba dapat sekadar bertindak sebagai tuan rumah."

Setelah memberi hormat kepada hadirin, lalu ia melangkah pergi dengan gembira.

"Ong Tay-lip, kau anak kura-kura ini sungguh mujur ...."

Demikian Han-wan Sam-kong belum mereda tertawanya, hanya sekejap saja dia menang harta benda bernilai jutaan dan dalam sekejap pula semuanya itu kalah ludes, tapi sedikit pun dia tidak sayang, bahkan tertawa riang.

Mendadak Khu Jing-po merasa tidak enak ketika sorot mata Han-wan Sam-kong mulai beralih ke arahnya.

"Khu-jitya, hehe, Khu-kongcu,"

Demikian jengek Han-wan Sam-kong.

"Kau putra keluarga terhormat, cakap dan pintar, di rumah tersedia serombongan guru silat, tapi betapa tinggi ilmu silat yang telah kau pelajari?"

Muka Khu Jing-po sebentar merah sebentar hijau, dengan nekat akhirnya ia menjawab.

"Kuhormati engkau sebagai kaum Cianpwe dunia persilatan, tapi kalau engkau ...."

"Betul juga, Khu-kongcu yang gagah dan tampan ini dengan sendirinya serba pintar, makan minum main perempuan dan berjudi, semuanya pasti serba mahir. Nah, cara bagaimana kau ingin bertaruh denganku? Boleh kau sebutkan caranya dan pasti kuterima, tapi jumlah taruhannya aku yang menentukan."

"Kuharap taruhannya jangan terlalu besar, seperti katamu, Cayhe memang serba mahir, maka engkau belum tentu akan menang,"

Ujar Khu Jing-po dengan tertawa. Han-wan Sam-kong tertawa keras, katanya.

"Kau anak kura-kura ini sengaja main gertak ya? Haha, Locu berjudi sejak berumur enam, segala macam permainan juga kukenal, masakah kau bisa lebih mahir daripadaku?"

"Segala permainan pasti bisa main curang, kecuali satu macam saja,"

Jengek Khu Jing-po.

"Satu macam apa? Coba katakan?"

Tanya Ok-tu-kui.

"Berapa renteng uang emas yang berada di ikat pinggangku ini, coba kau terka genap atau ganjil?"

Kata Khu Jing-po. Han-wan Sam-kong berkeplok tertawa, katanya.

"Nenekmu, cara pertaruhan ini memang adil, sama-sama tidak main curang dan cuma untung-untungan. Kau anak kura-kura ini memang pandai berjudi, sedikit pun Locu tak dapat mengakalimu."

Han-wan Sam-kong membetot lagi sepotong paha ayam panggang, sembari melalap ia pun berkata.

"Kudengar binimu adalah wanita cantik nomor satu di kota Sohciu ...."

Baru saja dia berkata satu kalimat, seketika air muka Khu Jing-po berubah, tukasnya.

"Ap ... apa maksudnya?"

"Maksudnya aku ingin taruhan istri,"

Jawab Han-wan Sam-kong.

"Bila kau kalah, maka binimu harus dioperkan padaku, kalau kukalah, istriku juga akan kuserahkan padamu, bahkan ketiga istriku sekaligus, kan lebih menguntungkanmu."

Air muka Khu Jing-po pucat seperti mayat, ucapnya dengan suara terputus-putus.

"Apa ... apa engkau sudah gila?"

"Haha, pikiranku cukup sadar dan segar!"

Kata Han-wan Sam-kong dengan tertawa.

"Tidak, tidak bisa,"

Teriak Khu Jing-po.

"Kenapa tidak bisa,"

Tukas Han-wan Sam-kong.

"kan sudah kita sepakati, caranya menurut kau, taruhannya menurut aku, sekarang mau tak mau kau harus bertaruh, toh Locu juga belum pasti menang."

Gemetar tubuh Khu Jing-po, ia menjadi khawatir kalau-kalau istrinya benar-benar kalah dalam taruhan ini, lalu cara bagaimana dia harus bertanggung jawab kepada keluarga dan orang tua serta sanak saudara?

Betapa pun ia berasal dari keluarga terhormat, perbuatan yang memalukan ini tidak mungkin ditanggungnya.

Dalam pada itu Han-wan Sam-kong tetap adem ayem saja, katanya.

"Nah, sekarang Locu hendak mulai menebak, emas di ikat pinggangmu itu ...."

"Tunggu dulu!"

Teriak Khu Jing-po mendadak.

"Tunggu apa lagi?"

Tanya Ok-tu-kui.

"Kenapa engkau harus paksa setiap orang untuk bertaruh denganmu?"

Teriak Khu Jing-po.

"Setiap orang yang kepergok Ok-tu-kui, mau tak mau harus bertaruh denganku."

"Tapi ada semacam orang yang sama sekali tak dapat kau paksa,"

Jengek Khu Jing-po.

"Hah, masakah ada orang macam begitu?"

"Tentu saja ada,"

Bentak Khu Jing-po.

"Coba katakan, orang macam apa?"

"Orang mati!"

Teriak Khu Jing-po dan mendadak sebelah tangannya menabok batok kepala sendiri sehingga hancur.

Sungguh di luar dugaan bahwa di dunia ini masih ada lelaki keras kepala yang lebih suka mati bunuh diri daripada kehilangan pamor.

Agaknya Han-wan Sam-kong juga terkejut sehingga paha ayam yang belum habis dimakan itu jatuh di meja.

Dalam keadaan demikian pandangan Ok-tu-kui dengan sendirinya hanya tertuju pada jenazah Khu Jing-po dan sama sekali tidak memperhatikan Ong It-jiau dan Sun Thian-lam.

Tapi Siau-hi-ji dapat melihat kedua orang itu saling mengedip mata, mungkin kematian Khu Jing-po telah membangkitkan semangat jantan mereka, mendadak kedua orang bertindak bersama dan menubruk ke arah Ok-tu-kui.

Dengan jelas Siau-hi-ji melihat gerakan kedua orang itu sangat cepat, tipu serangannya juga sangat keji, serangan mendadak itu menurut perkiraan Siau-hi-ji pasti sukar dihindarkan Ok-tu-kui, bahkan menurut pandangan Kang Giok-long jiwa setan judi itu pasti akan melayang.

Tak tahunya mendadak terdengar Han-wan Sam-kong membentak keras dan kedua kepalan terus menonjok ke depan.

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long tidak sempat mengikuti tipu serangan Ok-tu-kui itu, tahu-tahu terdengar suara "blang-bluk"

Dua kali, kontan Ong It-jiau dan Sun Thian-lam mencelat jauh ke sana.

Hanya menonjok dengan seenaknya saja seketika dua jagoan kelas tinggi itu digempur mundur.

Terkesiap Siau-hi-ji menyaksikan adegan luar biasa itu, dilihatnya Sun Thian-lam mencelat keluar jendela dan jatuh terkapar, sedangkan Ong It jiau sempat berjumpalitan satu kali di udara, lalu turun ke bawah dan berdiri tegak, namun wajahnya yang memang kurus itu kini bertambah kering.

"Haha, boleh juga kau anak kura-kura ini,"

Ucap Ok-tu-kui dengan tertawa.

"Ehm,"

Jengek Ong It-jiau.

"Sekarang kau mau bertaruh tidak denganku?"

Ong It-jiau tampak menggereget, jawabnya.

"Bertaruh!"

"Baik, lebih dulu Locu bertaruh bahwa kedelapan belas tulang rusuk di dada Sun Thian-lam itu telah patah seluruhnya, kalau ada satu saja tidak patah anggaplah Locu yang kalah, kuserahkan kepalaku padamu."

"Ehm,"

Dengus Ong It-jiau.

"Lalu Locu bertaruh pula tonjokanku ini pasti membinasakanmu, jika kau tidak mati, boleh kau cengkeram tenggorokanku sesukamu dengan cakar setanmu itu."

Ong It-jiau tidak bersuara lagi, ia terdiam sekian lama, akhirnya tersembul juga senyuman pedih pada bibirnya, lalu berkata dengan suara lemah.

"Aku menyerah kalah!"

Suaranya hampir tak jelas, begitu kata-kata "kalah"

Terucapkan serentak darah segar pun tersembur dari mulutnya dan tubuhnya lantas jatuh terguling.

Kang Giok-long sampai mandi keringat dingin menyaksikan semua kejadian itu, dilihatnya kedua kaki yang dekil tadi perlahan-lahan bergeser ke bawah, menyusul lantas tertampak punggungnya.

Baju yang dipakainya ternyata compang-camping, perawakannya tinggi besar, bahunya lebar, kepalanya juga besar melebihi orang biasa.

Terdengar Ok-tu-kui itu bergumam.

"Sialan, Locu tidak ingin membunuh orang, tapi kawanan kura-kura ini justru tidak mau berjudi denganku."

Buli-buli arak di atas meja mendadak diraihnya, dengan langkah berat ia bertindak keluar. Setiba di ambang pintu, ia mengulet dalam-dalam lalu menghela napas dan bergumam pula.

"Akhir-akhir ini setan judi macam Ong Tay-lip itu agaknya semakin sedikit ...."

Siau-hi-ji merasa lega melihat Ok-tu-kui sudah pergi. Ia melelet lidah dan berkata.

"Lihai benar ilmu silat setan judi ini."

"Ayolah kita lari,"

Kata Kang Giok-long.

"Nenekmu, anak kura-kura mengapa harus lari?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Ternyata makian model Ok-tu-kui itu dalam waktu singkat telah dapat dipelajari Siau-hi-ji dengan baik.

Memang, siapa dan di mana saja, untuk belajar sesuatu bahasa daerah dengan cepat, maka yang pertama dikuasainya pasti istilah makian.

Begitulah dengan gotong royong, akhirnya kedua anak muda itu dapat mengangkat balok batu yang menutupi lubang keluar itu, cepat mereka menerobos ke atas.

Di situ barulah mereka tahu bahwa patung yang dipuja adalah Tio Hian-tan yang bermuka hitam hangus.

Tanpa permisi lagi Siau-hi-ji terus comot ayam panggang dan digerogoti dengan lahapnya, katanya dengan tertawa sembari makan.

"Sayang kita tidak melihat jelas muka Ok-tu-kui tadi, entah wajahnya sama tidak dengan Tio Hian-tan ini atau mungkin lebih hitam lagi."

"Kumohon, marilah lekas berangkat,"

Kata Giok-long.

"Kau ingin menyusul Ok-tu-kui itu?"

Jawab Siau-hi-ji. Kang Giok-long tertegun dan menghela napas.

"Makanlah, ini ayam panggang, itu daging rebus, rugi kau kalau tidak makan,"

Kata Siau-hi-ji.

"Melihat mayat yang bergelimpangan begini, masih nafsu makan?"

"Membunuh orang saja matamu tidak pernah berkedip, melihat mayat masakah kau malah tidak nafsu makan?"

Ucap Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa.

Tapi mendadak ia berhenti ngakak ketika dilihatnya Kang Giok-long terbelalak kesima.

Cepat ia pun menoleh, maka tertampaklah sekarang wajah asli Han-wan Sam-kong alias Kian-jin-ciu-tu, Ok-tu-kui, setan judi, ketemu orang lantas bertaruh.

Muka Ok-tu-kui memang lain daripada yang lain, muka lebar hitam laksana pantat kuali penuh cambang, alis panjang tebal seperti sikat, matanya besar bagaikan gundu, tapi cuma sisa satu mata saja, mata kiri ditutup dengan sepotong kain hitam sehingga menambah keangkerannya dan juga menambah daya gaibnya.

Kini, dengan mata tunggal yang melotot bagai gundu itu sedang menatap Siau-hi-ji.

Kikuk juga Siau-hi-ji, ia menyengir dan berucap.

"Lumayan juga ayam panggang ini, cuma sayang tidak ada arak."

Sorot mata Han-wan Sam-kong tampak gemerdep, agaknya merasa tertarik oleh tingkah laku Siau-hi-ji, tiba-tiba ia menyodorkan buli-buli araknya kepada anak muda itu dan berkata dengan tertawa.

"Minumlah, arak ini sangat keras."

"O, keras?"

Tukas Siau-hi-ji, tanpa pikir ia angkat buli-buli itu terus ditenggaknya belasan teguk sekaligus, lalu ia mengusap mulut, air muka tidak berubah sedikit pun, ucapnya dengan tertawa.

"Arak sehambar begini kau bilang keras? Huh, memangnya kau anggap aku ini anak kecil?!"

"Hahahaha!"

Ok-tu-kui ngakak geli.

"Memangnya kau bukan anak kecil?"

"Anak tua memang bukan, anak kecil juga tidak, tanggung barangkali!"

"Haha, lucu kau setan cilik ini. Kau datang dari mana?"

"Datang dari mana?"

Tukas Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip.

"O, dengan sendirinya merangkak masuk dari jendela sana."

"Masuk dari jendela sana untuk mencuri ayam panggang, tapi lagakmu seperti tuan rumah di sini?"

"Orang mati boleh terbang keluar jendela, orang hidup mengapa tidak boleh masuk dari jendela?"

"Jadi sejak tadi kau sudah berada di situ?"

Ok-tu-kui menarik muka.

"Hihihi, memangnya tidak boleh?"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. Ok-tu-kui mendelik, bentaknya.

"Kau sekecil ini, untuk apa datang ke pegunungan sepi ini?"

"Untuk apa? Sudah tentu untuk mencari lawan bertaruh!"

Sampai sekian lama Ok-tu-kui menatapnya dengan terbelalak, mendadak ia terbahak-bahak pula dan berseru.

"Hahahaha! Menarik, sungguh menarik ...."

Segera buli-buli arak di tangan Siau-hi-ji direbutnya dan "kluk-kluk-kluk", sekaligus ditenggaknya belasan ceguk.

Kontan Siau-hi-ji merampas kembali buli-buli itu, ia pun menenggak belasan ceguk, lalu berkata dengan tertawa.

"Kau jangan pelit, rokok dan arak adalah barang suguhan, ada arak harus diminum bersama."

Mendadak Han-wan Sam-kong menyeringai, katanya dengan melotot.

"Kau setan cilik ini tidak takut padaku?"

Siau-hi-ji balas mendelik, katanya dengan lagak garang.

"Nenekmu, aku tak punya rumah gadai dan juga tidak punya bini untuk dikalahkan olehmu, paling-paling hanya kepalaku saja kuserahkan, kenapa aku harus takut padamu?"

"Hahaha, jadi kau berani taruhan kepala dengan aku?"

"Mengapa tidak berani, cuma ... cuma aku tidak mau kepalamu, kepalamu itu besar lagi hitam, tidak dapat masuk saku bajuku, dijinjing rasanya juga berat ...."

"Aku mau kepalanya!"

Tiba-tiba seorang menimbrung dengan perlahan.

Suara tertawa ngakak Han-wan Sam-kong seketika berhenti seperti pengeras suara yang putus aliran listriknya.

Siau-hi-ji terbelalak dan tercengang.

Ucapan tadi hanya singkat saja, tapi setiap katanya membawa daya pengaruh yang berwibawa.

Ok-tu-kui Han-wan Sam-kong berdiri membelakangi pintu, kini dia tetap tidak menoleh, sebab ia telah merasakan serangkum hawa tajam mengancam di punggungnya, kalau dia bergerak berarti memberi peluang bagi lawan untuk menyerang.

Maka dengan tenang ia berkata.

"Siapakah gerangannya yang menghendaki kepala Han-wan Sam-kong? Jika betul seorang ksatria sejati, kenapa aku harus sayang menyerahkan kepalaku ini?"

"Han-wan Sam-kong memang benar gagah perwira, sungguh menyenangkan!"

Kata orang itu dengan perlahan.

Berbareng dengan ucapannya itu, masuklah seorang Tojin berjubah biru, sebelah tangannya siap pegang gagang pedang yang tergantung di pinggangnya, pedang sudah terlolos sebagian.

Walaupun cuma sebagian kecil saja pedang dilolos dari sarungnya, namun hawa tajamnya sudah cukup membuat gentar setiap orang.

"Apakah yang datang ini ketua Go-bi-pay?"

Bentak Han-wan Sam-kong.

Dengan sendirinya Siau-hi-ji kenal Tojin berjubah biru ini, yaitu Sin-sik Totiang, Ciangbunjin Go-bi-pay.

Tapi tanpa menoleh Han-wan Sam-kong juga tahu siapa pendatang ini, sungguh mengherankan, memangnya punggungnya juga bermata?

Tampaknya Sin-sik Totiang juga merasa heran, dengan suara berat ia tanya.

"Dari mana kau tahu akan diriku?"

Ok-tu-kui tertawa, katanya.

"Kalau bukan Ciangbunjin sesuatu golongan atau aliran, tidak mungkin hawa pedangnya segemilang ini."

"Han-wan Siansing benar-benar hebat,"

Ucap Sin-sik Totiang. Mendadak Ok-tu-kui berhenti tertawa, katanya pula.

"Tapi, belum lagi Totiang masuk pintu sudah lolos pedang lebih dulu, apakah tidak khawatir merosotkan derajatmu sebagai Ciangbunjin sesuatu aliran?"

"Menghadapi Han-wan Siansing yang namanya menggetar dunia ini, betapa pun aku harus hati-hati,"

Jawab Sin-sik Totiang.

"Jika begitu, jadi Totiang sudah bertekad menginginkan kepalaku ini?"

Bentak Ok-tu-kui.

"Di sini adalah tempat suci Go-bi-pay, siapa yang membunuh di sini harus mati!"

Ucap Sin-sik Totiang dengan tegas.

"Hahahaha! Yang membunuh harus mati, hebat benar peraturan ini. Apakah Totiang menghendaki aku mengganti jiwa bagi beberapa anak kura-kura ini?"

"Bukan maksudku hendak menuntut balas bagi mereka, tapi tugas. Adalah kewajibanku untuk menegakkan peraturan ini."

"Bagus, cuma ... untuk mengambil kepalaku ini rasanya tidak semudah apa yang dibayangkan Totiang."

"Han-wan Siansing terkenal suka bertaruh dan entah sudah berapa banyak kepala orang yang telah kau menangkan. Sekarang biarpun kepalamu kalah padaku rasanya juga belum terhitung apa-apa."

"Jika begitu, jadi maksud Totiang hendak taruhan denganku?"

"Ya, begitulah,"

Jawab Sin-sik Totiang.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa kagum juga akan wibawa Sin-sik Totiang.

Tojin berjubah biru yang sudah luntur dan lusuh dan bertubuh kurus itu, tapi pedangnya yang sedikit terlolos itu telah membuat Han-wan Sam-kong tak berani sembarangan membalik tubuh.

Dengan gegetun ia membatin.

"Seumpama aku memang paling pintar di dunia dan beratus kali lebih pintar daripadamu, tapi aku tak dapat membuat orang gentar padaku seperti sekarang ini. Tampaknya seseorang memang perlu belajar ilmu silat dengan tekun jika ingin disegani dan dihormati, kalau tidak jangan harap hidupnya akan berwibawa dan berpengaruh."

Gaya tokoh terkemuka persilatan memang mempesonakan, sekalipun ucapannya saja juga lain bobotnya daripada kata-kata orang biasa. Maka begitu kata-kata.

"Ya, begitulah"

Terucapkan seketika Han-wan Sam-kong tak dapat tertawa lagi, katanya dengan prihatin.

"Lalu cara bagaimana kau hendak bertaruh denganku?"

"Kita kan sama-sama orang persilatan, mau bertaruh, dengan sendirinya bertaruh tentang tinggi rendah ilmu silat masing-masing,"

Kata Sin-sik Totiang.

"Berkelahi dan mengadu jiwa, masakah cara demikian juga termasuk pertaruhan?"

"Badan digunakan sebagai alat judi, jiwa dipakai bertaruhan, masakah di dunia ada pertaruhan sehebat ini? Masa cara begini tidak termasuk pertaruhan?"

"Baik, lalu dengan apa hendak kau gunakan sebagai imbalan taruhan kepalaku?"

Tanya Ok-tu-kui dengan bengis.

"Dengan sendirinya juga dengan kepalaku ini."

"Tidak, tidak bisa. Cara begini terlalu menguntungkan kau,"

Ujar Han-wan Sam-kong. Sin-sik Totiang merasa terhina, jengeknya.

"Sejak umur enam aku memeluk agama. Sampai kini aku menjabat ketua Go-bi-pay, salah satu di antara ketujuh aliran ilmu pedang terkemuka, anak murid berjumlah dua ribu tujuh ratus tiga puluh dua orang, di mana Ciangbun-tang-hu (jimat tanda pengenal ketua) diperlihatkan, bukan saja anak murid Go-bi-pay sendiri akan tunduk pada segala perintah, bahkan kawan-kawan dari golongan lain juga segan dan suka membantu,"

Sampai di sini mendadak ia berteriak.

"Nah, kepala seorang pemimpin begini masakah tidak sesuai mengimbali kepalamu?"

"Meski kepalamu cukup berharga, tapi sayang tiada berguna bagiku,"

Jawab Ok-tu-kui.

"Sebaliknya kalau kau berhasil mengambil kepalaku, maka nama Go-bi-pay kalian pasti akan tambah dihargai, derajat pribadimu juga akan naik. Jadi kalau dihitung-hitung jelas aku yang rugi, maka cara pertaruhan begini tak dapat kuterima."

"Namun sekarang kau tiada pilihan lain lagi, mau tak mau kau harus bertaruh,"

Jengek Sin-sik.

"Hehehe, ucapanmu ini entah sudah berapa kali kukatakan kepada orang lain, tak tersangka sekarang ada juga yang berucap demikian padaku. Namun, aku tetap tidak menginginkan kepalamu, jika kau tetap menghendaki kepalaku, memangnya aku tak dapat pergi saja?"

"Dapatkah kau pergi?"

Jengek Sin-sik.

"Memangnya aku tak dapat pergi?"

Sin-sik terdiam dengan ragu-ragu, akhirnya ia bertanya.

"Kecuali apa kehendakmu?"

"Kecuali kau dapat mengeluarkan sesuatu benda yang sama nilainya dengan kepalaku ini, kalau tidak aku tak mau bertaruh denganmu,"

Kata Ok-tu-kui.

"Di dunia ini, barang apakah yang sekiranya dapat mengimbali kepala Han-wan Siansing?"

"Barang demikian memang tidak banyak, tapi padamu sekarang ada suatu benda yang dapat kuterima sekadarnya."

Terkesiap Sin-sik Totiang.

"Apa itu?"

"Yaitu Ciangbun-tang-hu yang kau bawa,"

Kata Ok-tu-kui dengan tegas.

"Ciangbun-tang-hu?"

Tukas Sin-sik Totiang.

"Betul. Bila kau menang, silakan potong kepalaku, sebaliknya kalau kumenang, jiwamu takkan kuganggu, tapi jabatan ketua Go-bi-pay harus kau serahkan padaku, ingin kucicipi rasanya menjadi ketua sesuatu aliran terkenal."

Air muka Sin-sik Totiang tampak prihatin, dengan perlahan ia berkata pula.

"Kecuali itu ...."

"Kecuali itu tiada jalan lain,"

Jawab Ok-tu-kui.

"Tapi dapat kuberi keuntungan lain pula bagimu."

"Apa maksudmu?"

Tanya Sin-sik.

"Biarlah kutetap berdiri di sini dan kau boleh menyerang tiga kali, jika tiga kali seranganmu dapat melukaiku, dengan sendirinya anggap kukalah, bila kaki terangkat atau menggeser, juga dianggap kalah."

Sungguh tak terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa Ok-tu-kui dapat mengajukan syarat pertaruhan segila dan sesombong itu.

Ia coba menghitung kian kemari sampai kepala, pecah, tapi rasanya tiada harapan satu bagian pun Ok-tu-kui akan menang.

Bayangkan, hanya berdiri tegak, kaki tidak boleh bergerak, kan serupa patung saja.

Padahal ilmu pedang Sin-sik Totiang terkenal ganas dan lihai, selama tiga puluh tahun malang melintang di dunia Kangouw, sekali pedangnya bergerak, biarpun burung juga sukar lolos.

Mustahil tokoh mahalihai begitu tidak mampu merobohkan seorang yang mirip patung?

Diam-diam Siau-hi-ji menertawakan Ok-tu-kui yang sudah keblinger itu, ia pikir mungkin setan judi ini sudah mata gelap, makanya mengusulkan cara bertaruh segila itu.

Namun Sin-sik Totiang tetap prihatin, setelah termenung sejenak, kemudian ia tanya pula.

"Dan kau balas menyerang tidak?"

"Dengan sendirinya tidak!"

Jengek Ok-tu-kui. Sampai di sini, betapa pun sabarnya Sin-sik Totiang juga menampilkan rasa girang, serunya.

"Baiklah, aku setuju!"

"Mana kau punya Ciangbun-tang-hu?"

Tanya Ok-tu-kui.

"Tang-hu berada di pinggangku, tolong Siausicu (budiman kecil) mengambilkan dan perlihatkan padanya,"

Ucapan Sin-sik ini jelas tertuju kepada Siau-hi-ji.

Maklumlah, sejak tadi tangannya siap melolos pedang, kalau sebelah tangannya digunakan mengambil Tang-hu akan berarti perhatiannya terpencar dan bukan mustahil kesempatan itu akan digunakan Han-wan Sam-kong untuk membalik tubuh, jika hal ini terjadi berarti buyarlah keadaan yang sangat menguntungkan ini.

Maka terdengar Ok-tu-kui bergelak tertawa dan berkata.

"Sin-sik Totiang sungguh cerdik, tapi setan cilik ini pun sangat nakal, apakah kau dapat mempercayai dia? "

Siausicu ini masih muda belia, hari depannya pasti gilang-gemilang bagi dunia persilatan, kemajuannya tentu sukar dibandingi orang lain, mana dia mau mengincar sepotong tembaga yang tidak berarti ini,"

Kata Sin-sik dengan sungguh-sungguh. Siau-hi-ji tertawa, katanya.

"Tidak soal bagiku untuk sekadar menjadi pesuruh kalian, tidak perlu Totiang menyanjung diriku setinggi itu."

Walaupun mulutnya bilang begitu, tapi di dalam hati sesungguhnya sangat senang. Segera ia memutar ke belakang Sin-sik Totiang dan merogoh Tang-hu yang terikat di pinggang itu.

"Kuharap Siausicu menjaganya dengan baik,"

Pesan Sin-sik Totiang.

"Jangan khawatir, Totiang,"

Jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Aku pun takkan memperlihatkan padanya, toh Tang-hu ini pasti takkan dimilikinya."

"Hah, baru dipuji begitu saja lantas berat sebelah,"

Ucap Han-wan Sam-kong dengan terbahak.

"Yang jelas kau pasti kalah, maka bukan soal bagiku berat sebelah atau tidak,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Hm, tampaknya kau pasti kecewa,"

Jengek Ok-tu-kui.

"Apakah kau sudah siap?"

Tanya Sin-sik.

"Sebelum kau masuk ke sini aku sudah siap siaga,"

Jawab Ok-tu-kui.

"Jika begitu, awas, aku mulai menyerang!"

Habis ucapan Sin-sik ini, seketika suasana menjadi hening, sampai suara napas juga tak terdengar.

Maklumlah, semua orang menahan napas saking tegangnya, yang terdengar hanya detak jantungnya sendiri saja.

"Cring" , Sin-sik Totiang telah lolos pedangnya, hawa pedang yang dingin terpancar menggigilkan orang. Tapi Han-wan Sam-kong tetap berdiri membelakangi tanpa bergerak. Sejenak Sin-sik mengatur napas dan menghimpun semangat, ujung pedang mengacung lurus ke depan, mendadak sinar pedang berkelebat terus menusuk. Dalam keadaan begitu, bagaimanapun Han-wan Sam-kong berkelit tentu tubuhnya akan bergerak, baik mendoyong ke depan atau miring ke kanan atau ke kiri. Tusukan Sin-sik Totiang ini pun tidak berniat melukai lawan melainkan ingin membuatnya kehilangan imbangan badan, dengan demikian serangannya yang kedua pasti akan lebih jitu mencapai sasarannya. Diam-diam Siau-hi-ji memuji kelihaian ketua Go-bi-pay itu dan juga mengagumi kebesaran jiwanya yang tidak mau turun tangan keji sekaligus. Terlihat Han-wan Sam-kong meliuk pinggangnya yang kasar itu, mendadak ia berputar setengah. badan, bagian perut tersedot kempis sehingga pedang lawan menyambar lewat di depan perutnya. Akan tetapi pedang Sin-sik itu masih mengandung gerakan sampingan, begitu tusukannya mengenai tempat kosong, segera pergelangan tangannya memutar, gerakan menusuk tadi tiba-tiba berubah menjadi menabas, jadi tanpa ditarik kembali pedangnya terus menabas ke perut lawan. Diam-diam Siau-hi-ji menggeleng kepala melihat serangan yang tidak memberi peluang bagi lawan itu, ia pikir sekali ini Ok-tu-kui pasti tidak mampu menghindar lagi. Siapa tahu, sekonyong-konyong pinggang Han-wan Sam-kong seperti patah menjadi dua, tubuh bagian bawah masih tetap bercokol kuat di lantai, tapi tubuh bagian atas mendadak menekuk ke bawah, jadi seperti batang tebu mendadak patah menjadi dua. Karena itu pedang Sin-sik Totiang lantas menyambar lewat di atas mukanya. Cara menghindarnya ini sungguh berbahaya tapi juga menakjubkan. Hampir Siau-hi-ji bersorak memuji, sungguh tak terduga tubuh sebesar itu mendadak menekuk selemas itu ke belakang. Sin-sik Totiang tersenyum, ujung pedangnya segera berputar pula dan mendadak menabas balik, secepat kilat mengarah lutut kiri Han-wan Sam-kong. Perubahan serangan ini lebih cepat lagi daripada tadi, hanya sekejap saja tiga kali serangan dilontarkan sekaligus, tampaknya Sin-sik Totiang memang sudah memperhitungkan, jurus serangannya juga sudah disiapkan lebih dulu, cara Han-wan Sam-kong mengelak dengan memutar dan menekuk itu pun seakan-akan sudah berada dalam perhitungannya. Meski cara menghindarkan serangan kedua tadi sangat bagus, namun Han-wan Sam-kong seperti juga menggusur dirinya ke jalan kematian, luang geraknya sekarang sangat terbatas, hampir tiada kelonggaran lagi. Umpama dia paksakan diri menghindarkan serangan itu dengan melompat, maka itu berarti dia kalah, sebab kedua pihak sudah berjanji, asalkan kaki Han-wan Sam-kong terangkat dianggap kalah. Begitulah diam-diam Siau-hi-ji juga anggap sekali ini Ok-tu-kui pasti tak dapat mengelak dan berarti kalah, kepalanya terpaksa harus diserahkan kepada lawannya. Di luar dugaan, sekonyong-konyong tubuh Han-wan Sam-kong bisa memelintir laksana sebuah handuk yang dipuntir, tiba-tiba ia mengulet ke samping terus membalik ke atas pula, mukanya yang semula menghadap ke atas kini mendadak menghadap ke bawah, mulutnya terpentang terus menggigit pergelangan tangan Sin-sik Totiang yang memegang pedang itu. Mimpi pun Sin-sik tidak menyangka akan gerakan lawan yang aneh itu, pergelangan tangan seketika tergigit dan kesakitan, pedang tak dapat dipegang dengan kencang lagi.

"trang" , pedang jatuh ke lantai. Dengan bergelak tertawa Han-wan Sam-kong lantas berdiri tegak pula, wajah Sin-sik Totiang tampak pucat sebagai mayat, ia berdiri melenggong hingga lama, akhirnya ia menjawab dengan tergagap.

"Ju ... jurus serangan macam apakah ini, rasanya tiada ... tiada golongan atau aliran ilmu silat di dunia ini memiliki gaya serangan seperti ini."

"Jurus serangan kan mati, tapi manusianya kan hidup, kenapa orang hidup mesti menggunakan jurus serangan yang mati?"

Ucap Ok-tu-kui dengan tertawa.

"Tapi kau sudah berjanji takkan balas menyerang?"

Kata Sin-sik Totiang.

"Betul, aku sudah berjanji takkan balas menyerang, tapi kan tidak berjanji takkan balas menggigit?"

Kata Ok-tu-kui dengan ngakak. Sin-sik jadi bungkam, ia termangu-mangu sejenak, akhirnya ia tersenyum kecut dan berkata.

"Ya, aku yang kalah."

"Mana Tang-hu tadi,"

Kata Han-wan Sam-kong sambil menyodorkan tangannya.

"Sementara ini Tang-hu ini belum dapat dianggap milikmu,"

Kata Siau-hi-ji.

"Haha, memangnya kau setan cilik ini mau apa?"

Han-wan Sam-kong menyeringai.

"Katanya kau berjuluk ketemu orang lantas bertaruh, nah, kenapa tidak bertaruh juga denganku?"

Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Kalau kau menang, bukan saja Tang-hu ini menjadi milikmu, bahkan diriku ini juga kuserahkan padamu. Tapi bila kau kalah, Tang-hu in harus diserahkan padaku "

"Kau pun ingin taruhan denganku?"

Tanya Ok-tu-kui dengan terkekeh-kekeh.

"Ya,"

Jawab Siau-hi-ji.

"Dirimu akan dijadikan taruhan dengan Tang-hu ini?"

"Ya, cukup setimpal bukan?"

"Memangnya apa manfaatnya dirimu ini?"

"Banyak sekali manfaatnya! Umpama tatkala kau iseng, aku dapat mencarikan orang untuk berjudi denganmu, bila kau ingin minum tapi tidak ada arak, segera aku berusaha menipukan arak bagimu dan banyak lagi kepandaianku. Pendek kata, asalkan kau dapat mengalahkan diriku, tanggung selama hidupmu takkan kapiran."

"Hahaha, menarik juga jika setan judi tua macamku ini dikawani seorang setan judi cilik,"

Han-wan Sam-kong tertawa.

"Jadi kau setuju?"

Tanya Siau-hi-ji.

"Lalu cara bagaimana taruhannya?"

"Taruhannya aku yang mengemukakan, caranya bertaruh boleh kau saja yang menentukan."

"Ehm, betul, adil ...."

Ok-tu-kui gosok-gosok kedua tangannya sambil menatap tubuh Siau-hi-ji. Sambil meraba biji kancing bajunya, Siau-hi-ji berkata dengan tertawa.

"Apakah kau ingin pula bertaruh menebak jumlah biji kancingku?"

Sekonyong-konyong mata Han-wan Sam-kong bercahaya, serunya.

"Haha, biarlah kita bertaruh tentang bekas luka di tubuhmu, aku bertaruh kau sendiri pasti tidak tahu jumlah bekas luka itu."

Diam-diam Kang Giok-long menghela napas, batinnya.

"Tamatlah kau sekali ini, Siau-hi-ji."

Sin-sik Totiang yang berdiri di samping kini juga tambah muram.

Dada baju Siau-hi-ji terbuka, selain mukanya banyak terdapat codet, tubuhnya yang penuh bekas luka itu pun terlihat jelas, semuanya itu adalah tinggalan cakar harimau, serigala dan binatang lain waktu kecilnya dahulu, selain itu juga ada bekas luka pisau.

Begitu banyak codet itu sehingga biarpun dia telanjang bulat dan menghitungnya sendiri juga sukar terhitung seluruhnya.

Maklumlah, kalau taruhan itu tidak yakin sembilan bagian pasti menang, jelas takkan diterima oleh Han-wan Sam-kong, si setan judi kawakan.

Seketika Siau-hi-ji melenggong, ucapnya dengan tergagap.

"Kau ... kau sungguh-sungguh hendak bertaruh jumlah codet di tubuhku?"

"Sudah tentu sungguh-sungguh,"

Jawab Ok-tu-kui. Setelah merenung sejenak, lalu Siau-hi-ji berkata.

"Baik, supaya kau tahu, codet di tubuhku ini seluruhnya ber ... berjumlah seratus."

"Seratus? Seratus bulat?"

Ok-tu-kui menegas.

"Betul, seratus bulat, tidak lebih tidak kurang,"

Jawab Siau-hi-ji dengan pasti dan yakin.

Melihat jawaban tegas Siau-hi-ji itu, bukan saja air muka Han-wan Sam-kong berubah, bahkan Kang Giok-long juga tercengang.

Sungguh sukar dipercaya bahwa siluman cilik itu mempunyai kesaktian setinggi itu, sampai-sampai bekas luka di tubuh sendiri juga tahu jumlahnya.

Setelah melenggong sejenak, akhirnya Han-wan Sam-kong berkata.

"Baiklah, coba buka bajumu, akan kuhitung."

Tanpa ragu-ragu Siau-hi-ji terus menelanjangi pakaian sendiri dan membiarkan Ok-tu-kui menghitung, tapi ia pun menjemput belati yang masih menggeletak di lantai tadi.

Mendadak Han-wan Sam-kong bergelak tertawa dari berteriak.

"Aha, seluruhnya sembilan puluh satu, codet di tubuhmu hanya berjumlah sembilan puluh satu, kalahlah kau."

"Ah, masa cuma sembilan puluh satu, kau salah hitung,"

Kata Siau-hi-ji, berbareng belati yang dipegangnya secepat koki memotong sayur ia menyayat sembilan kali di lengan dan dada sendiri. Meski tidak berat sayatannya, tapi darah bercucuran juga.

"He, apa-apaan kau, apa artinya ini?"

Tanya Ok-tu-kui heran.

"Ini artinya kau kalah,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Kentut! kau ...."

"Sembilan puluh satu codet lama ditambah sembilan codet baru, total jenderal seratus persis, jadi kalahlah kau."

"Persetan! Masa ini dapat dianggap?"

Teriak Han-wan Sam-kong dengan gusar.

"Kenapa tidak dapat dianggap? Kau hanya bertaruh jumlah codet di tubuhku, kan tidak pernah menegaskan tentang codet lama atau codet baru, ayo, kau berani menyangkal?!"

Debat Siau-hi-ji dengan tertawa. Setan judi itu tertegun, mendadak ia pun terbahak-bahak, katanya.

"Hahaha, lucu, sungguh menarik, kau setan cilik ini memang menarik. Baiklah, aku mengaku kalah."

Lalu ia berpaling dan menggapai Sin-sik Totiang.

"Mari sini, lekas memberi hormat kepada Ciangbunjin baru Go-bi-pay kalian."

Sin-sik Tojin tampak muram dan lesu, tapi ia paksakan diri tersenyum, ucapnya.

"Go-bi-pay semakin maju pesat dan memang memerlukan pimpinan seorang ksatria muda seperti saudara cilik ini, aku sendiri sudah tua, memang sepantasnya memberi tempat kepada yang lebih bijaksana."

"Kau benar-benar menghendaki aku menjadi ketua Go-bi-pay?"

Tanya Siau-hi-ji. Dengan perlahan Sin-sik Tojin menjawab.

"Tang-hu itu dapat dipegang olehmu, sungguh beruntung bagi Go-bi-pay, betapa pun aku ...."

Belum habis ucapannya, mendadak sebentuk benda jatuh ke tangannya, apalagi kalau bukan Ciangbun-tang-hu, tembaga tanda pengenal ketua itu. Dengan tertawa Siau-hi-ji berkata.

"Setelah menjadi ketua Go-bi-pay, setiap hari selain makan sayur melulu juga harus Liam-keng (baca kitab) dan entah apa lagi, mana aku tahan. Nah, kumohon jangan, engkau membikin susah diriku, mainan itu biarlah kau ambil kembali saja."

Kejut dan girang pula Sin-sik Totiang, ucapnya dengan tergagap.

"Tapi ... tapi ... budi kebaikan saudara ...."

"Ah, ini terhitung apa?"

Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Hari depanku gilang-gemilang, masa potongan tembaga begini menarik bagiku? Bukankah kau sendiri yang berucap demikian?"

Sambil menggenggam Ciangbun-tang-hu itu, Sin-sik Totiang memandang Siau-hi-ji dengan kesima. Entah berapa lamanya, tiba-tiba ia menjura dalam-dalam sembari berkata.

"Jika demikian, sekarang juga kumohon diri."

Habis berkata segera ia membalik tubuh terus melangkah pergi tanpa menoleh.

"Hidung kerbau ini sedikit pun tidak berperasaan, masa terima kasih saja tidak diucapkan,"

Omel Han-wan Sam-kong.

"Budi besar tidak mementingkan terima kasih, tentunya kau tahu pemeo ini,"

Kata Siau-hi-ji sambil merobek kain bajunya untuk membalut luka di lengannya. Cuma sebelah tangannya masih terbelenggu dengan tangan Kang Giok-long, dengan sendirinya gerak-geriknya tidak leluasa.

"He, mengapa kalian berdua semesra ini?"

Tanya Han-wan Sam-kong heran.

"Jika kau mampu membuat kami tidak mesra, akan kupuji kau memang jempolan,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Segera Han-wan Sam-kong menjemput pula belati tadi.

"trang" , mendadak ia tebas belenggu itu, tapi hanya lelatu saja tepercik, ujung belati patah menjadi dua, belenggu itu lecet saja tidak. Kang Giok-long menghela napas, sedangkan Siau-hi-ji lantas tertawa dan berkata.

"Nah, tahulah kau sekarang, bukankah mau tak mau kami harus hidup rukun mesra?"

"Juga tidak perlu harus,"

Ujar Ok-tu-kui dengan tertawa.

"kalau kau tidak ingin rukun lagi dengan dia boleh kutebas saja lengannya."

Keruan muka Kang Giok-long pucat seketika. Syukur Siau-hi-ji lantas menanggapi dengan tertawa.

"Walaupun tangannya ditebas, tapi mainan setan ini tetap melengket di tanganku. Maka lebih baik biarkan dia tetap mendampingi aku, bila iseng sedikitnya ada teman ngobrol."

Han-wan Sam-kong menatap tajam wajah Kang Giok-long, katanya kemudian.

"Bila kau tidak mau tebas tangannya sekarang, kelak mungkin sekali tanganmu yang akan ditebas olehnya."

"Jangan khawatir, dia belum lagi mempunyai kemampuan sebesar itu,"

Ujar Siau-hi-ji.

"Ehm, kau setan cilik ini sangat menarik, sebenarnya aku ingin berkumpul dan omong-omong denganmu, cuma bocah di sampingmu ini bermuka memuakkan, aku menjadi bosan ...."

Ia tepuk-tepuk bahu Siau-hi-ji, mendadak ia sudah berada di luar pintu dan menyambung pula.

"Kelak bila kau sudah berada sendirian tentu akan kucari kau untuk minum bersama sepuas-puasnya."

Waktu Siau-hi-ji memburu keluar, namun bayangan Ok-tu-kui sudah tak tertampak lagi.

Waktu itu sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja menghiasi alam pegunungan yang indah itu, Siau-hi-ji jadi teringat kepada istana di bawah tanah yang megah itu, rasanya habis bermimpi saja.

Jalan ke kaki gunung dari kelenteng ini tidak terlalu jauh, setiba mereka di bawah cuaca belum lagi gelap.

Tertampak titik-titik cahaya lampu di kota kejauhan sana.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya dengan tertawa.

"Sungguh tak tersangka aku masih dapat turun gunung dengan badan utuh, agaknya Thian memang sangat sayang padaku."

Sejak tadi Kang Giok-long enggan bicara, kini tiba-tiba bertanya.

"Entah Toako hendak pergi ke mana sekarang?"

"Ke mana kupergi kau harus ikut,"

Jawab Siau-hi-ji.

"Sudah tentu Siaute menurut saja."

"Sebenarnya aku pun tidak ada tempat tujuan, kita berjalan-jalan ke mana saja."

"Jika berjalan-jalan ke mana pun boleh, marilah kita pergi ke Bu-han dulu, di sana Siaute ada sahabat yang mempunyai pedang pusaka, dapat memotong besi seperti menabas tebu ...."

Sampai di sini dia tidak melanjutkan melainkan cuma tersenyum saja.

"Benar juga,"

Segera Siau-hi-ji berseru.

"Baiklah mari berangkat mencari sahabatmu itu."

Setelah melangkah berapa tindak, mendadak ia berhenti dan berkata pula.

"Apakah kau bawa uang? Betapa pun kita harus pergi ke kota untuk membeli pakaian ... kita pun harus membeli sepotong baju untuk menutupi tangan kita ini, kalau tidak mustahil kita takkan disangka pelarian dari bui."

"Ai, coba kalau Toako membiarkan kuambil sepotong dua benda mestika di sana, tentu sekarang kita tidak perlu khawatir kekurangan apa-apa lagi,"

Ucap Kang Giok-long dengan gegetun. Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian dengan tertawa.

"Jika kau pun rudin, terpaksa kita harus menipu."

Baru saja habis perkataannya, tiba-tiba dari depan datang seorang dengan membawa lentera berkerudung, tangan yang lain mengepit satu bungkusan besar.

Cepat Siau-hi-ji menjawil Kang Giok-long dan siap beraksi.

Di luar dugaan, begitu melihat mereka berdua, mendadak orang itu menaruh bungkusannya serta memberi hormat dari kejauhan, habis itu, tanpa bicara apa pun dia terus membalik dan pergi.

Isi bungkusan itu ternyata empat perangkat baju baru gres, bahkan persis dengan ukuran badan Siau-hi-ji dan Kang Giok-long, seakan-akan sengaja dipesan dari tukang jahit.

Maka kedua anak muda itu jadi melongo heran.

"An ... antaran dari siapakah ini?"

"Kita baru saja turun gunung, siapakah gerangannya yang tahu akan kedatangan kita?"

Begitulah meski mereka berusaha mengingat-ingat, tetap tidak tahu siapakah yang sengaja mengantarkan baju baru ini.

Tapi juga kebetulan, segera mereka ganti pakaian.

Sementara itu hari sudah gelap, setiap rumah telah menyalakan lampu.

Mereka menutupi tangan yang terbelenggu dengan sepotong baju, lalu dengan lagak sahabat karib yang bergandengan tangan dengan mesra mereka masuk kota seperti kaum pelancongan.

Perut mereka terasa lapar dan berkeruyukan terus-menerus.

Kata Siau-hi-ji.

"Orang itu mengantarkan baju, mengapa dia tidak antar uang sekalian."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki berdandan seperti pelayan menyongsong kedatangan mereka sambil menyapa.

"Apakah kedua tuan ini Kang-siauya? Barusan ada seorang tuan tamu menitipkan lima ratus tahil perak pada kasir dan suruh hamba menyerahkan kepada tuan-tuan. Selain itu tuan-tuan juga telah dipesankan kamar dan daharan."

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long saling pandang dengan melongo.

"Siapakah she dan nama tuan tamu itu?"

Tanya Giok-long.

"Hamba tidak tahu,"

Jawab pelayan itu.

"Bagaimana bentuknya?"

Tanya Giok-long pula.

"Setiap hari tamu yang pergi datang di tempat kami tidaklah sedikit, maka bagaimana bentuk tuan tamu itu juga tak teringat lagi,"

Berulang-ulang pelayan itu memberi hormat dan mengiring tawa, tapi setiap pertanyaan Kang Giok-long selalu dijawab tidak tahu.

Setelah masuk ke hotel merangkap restoran yang sudah disediakan, betul juga daharan juga sudah siap, tampaknya cukup komplet.

"Orang itu seperti cacing pita dalam perut kita, apa yang kita inginkan seakan-akan sudah diketahuinya,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Walaupun lahirnya dia bicara bergembira, tapi di dalam hati rada khawatir juga.

Lebih-lebih bila teringat pada pengalamannya ketika dalam perjalanan bersama si kambing dan si sapi dahulu, apa yang terjadi pada waktu itu hampir mirip dengan keadaan sekarang.

Padahal dirinya sekarang baru saja turun gunung, dari mana orang sudah tahu akan kedatangannya?

Tampaknya orang ini memberi pelayanan dengan hormat, entah apa maksud tujuannya di balik perbuatannya ini?

Kalau dia memang bermaksud baik, kenapa dia tidak memperlihatkan diri saja?

Di samping lain Kang Giok-long juga sedang berpikir, jelas diam-diam ia pun curiga.

Cuma cara berpikir kedua orang sangat cermat meski usia mereka masih belia, maka keduanya sama-sama tidak mau mengutarakan isi hati masing-masing.

Malamnya, mau tak mau mereka harus tidur sekamar, bahkan satu tempat tidur.

"Apakah kau tahu apa yang kupikirkan saat ini?"

Tanya Siau-hi-ji sambil menguap.

"Barangkali Toako ingin membaca,"

Ucap Kang Giok-long dengan tertawa.

"Haha, tampaknya kau memang sahabat sepahamku,"

Kata Siau-hi-ji dengan bergelak.

Baru saja habis ucapannya, dengan cepat Kang Giok-long telah mengeluarkan kitab pusaka ilmu silat yang direbutnya kembali dari Siau Mi-mi itu.

Kalau Siau-hi-ji ingin membacanya, jelas ia sendiri pun kepingin membacanya.

Apa yang termuat dalam kitab itu dengan sendirinya adalah teori ilmu silat yang paling tinggi.

Kedua orang seperti tidak dapat memahami isi kitab itu, berulang-ulang mereka menggeleng dan menghela napas gegetun, tapi mata mereka pun melotot sebesar gundu seakan-akan seluruh kitab itu ingin ditelannya bulat-bulat.

Sesudah sekian lamanya membaca, Siau-hi-ji menguap pula, katanya dengan tertawa.

"Kitab ini sukar untuk dipahami, aku jadi mengantuk dan ingin tidur, bagaimana kau?"

Giok-long juga menguap, jawabnya dengan tertawa.

"Ya, Siaute juga sudah mengantuk."

Kedua orang lantas berbaring, tapi sudah lebih dari satu jam, mata mereka masih terbelalak lebar, entah apa yang dipikirkan.

Jika mereka dituduh sedang merenungkan ilmu silat yang baru saja mereka baca dari kitab pusaka itu, mati pun pasti mereka akan menyangkal.

Malam kedua, baru habis makan, dengan tertawa Siau-hi-ji lantas bergumam.

"Biarpun sukar dipahami, dari pada iseng, lebih baik membaca saja."

Segera Kang Giok-long menanggapi.

"Kalau mata sudah sepat membaca jadinya akan lebih mudah terpulas. Membaca buku yang menarik malahan sukar tertidur."

"Betul, membaca memudahkan tidur, tidur dini bangun pagi, inilah rahasianya ilmu kesehatan,"

Ucap Siau-hi-ji sambil tepuk tangan.

Padahal kedua orang sama-sama tahu pihak lawan tidak mungkin percaya padanya, namun mereka justru berlagak sungguh-sungguh.

Maklum, tindak-tanduk anak muda seperti mereka ini terkadang membingungkan orang.

Lebih-lebih Siau-hi-ji, ia merasa apa yang dialaminya ini sungguh menarik dan merangsang.

Memang, seorang kalau setiap saat harus selalu waswas, baik waktu makan, berak dan tidur, senantiasa harus waspada akan kemungkinan ditipu atau dicelakai orang, maka kehidupannya ini senantiasa akan berlangsung dengan tegang dan tentu juga sangat merangsang.

Begitulah kedua anak muda itu terus mengadu kepintaran secara diam-diam.

Tanpa terasa tiga hari sudah mereka lalui dalam perjalanan.

Selama tiga hari ternyata tidak terjadi apa-apa, tetap aman sentosa.

Selama tiga hari itu setiap detik Siau-hi-ji merasakan ada seseorang yang menguntitnya, firasatnya itu sama halnya anak kecil berjalan di waktu malam dan merasa dikintil setan, bila menoleh, di belakang ternyata tiada sesuatu apa pun.

Sungguh Siau-hi-ji tidak dapat-mereka siapakah gerangannya dan lebih tidak habis mengerti apa maksud tujuan orang itu.

Yang jelas bilamana ia menginginkan sesuatu, maka segera orang mengantarkan kebutuhannya itu.

Ia merasa orang ini seperti ingin mohon bantuannya, maka lebih dulu mesti menjilatnya.

Tapi urusan apakah yang diharapkan bantuannya, tetap sukar diterka.

Mereka menuju ke selatan menyusuri sungai Bin, suatu hari sampailah mereka di Sikciu.

Daerah tengah propinsi Sujwan memang subur, rakyat hidup makmur hingga suasana menjadi berbeda dengan daerah barat-laut yang tandus dan miskin.

Memandangi arus sungai yang bergulung-gulung itu, Siau-hi-ji sangat gembira, katanya dengan tertawa.

"Bagaimana kalau perjalanan ini kita sambung dengan naik kapal?"

"Bagus, bagus sekali, memangnya Siaute juga ingin naik kapal,"

Jawab Gioklong. Tiba-tiba terlihat sebuah perahu besar meluncur datang, belum lagi mereka berseru memanggil, tukang perahu yang bermantel ijuk dan bercaping bambu telah menyapa lebih dulu.

"Apakah tuan-tuan ini Kang-siauya? Tadi ada seorang tamu telah memborongkan perahu ini bagi kalian."

Siau-hi-ji memandang Kang Giok-long sekejap, gumamnya.

"Orang ini benar-benar seperti cacing di dalam perutku."

Tanpa tanya lagi siapa yang memborongkan perahu itu, sebab ia tahu biarpun ditanya juga takkan mendapat keterangan apa-apa, maka segera mereka naik perahu itu.

Kabin perahu itu cukup luas dan bersih, ada kamar dengan jendela, terbuka dan meja yang bersih.

Selain tukang perahu yang sudah tua itu ada pula seorang nona cilik berusia lima belas sampai enam belas tahun, rambutnya hitam dan mukanya bulat telur, lirikan yang genit dan menggiurkan, berulang-ulang gadis cilik itu melirik Siau-hi-ji, namun anak muda itu kurang minat menggubrisnya.

Maklum, bila ketemu perempuan Siau-hi-ji lantas kepala pusing.

Malamnya, dengan bisik-bisik Kang Giok-long berseloroh.

"Tampaknya nona Su itu penujui Toako."

Siau-hi-ji menguap ngantuk, jawabnya kemalas-malasan.

"Kau lebih cakap daripadaku, yang benar dia penujui kau. Cuma sayang mau tak mau kau harus mendampingi aku, kalau tidak Siau-sik-kui macam kau ini dapat beraksi dengan bebas."

Muka Giok-long menjadi merah, jawabnya.

"Ah, Siaute tidak ... tidak berniat demikian."

"Sudahlah, kalau kau tidak berniat demikian buat apa menyinggung dia dan dari mana pula kau tahu dia she Su?"

"O, secara kebetulan saja Siaute mendengarnya,"

Ucap Kang Giok-long dengan kikuk.

"Hah, kenapa malu, menyukai anak perempuan bukan hal yang memalukan?"

Ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. Segera ia tarik bantal dan bermaksud akan tidur.

"Engkau tidak ingin membaca lagi, Toako?"

"Malam ini rasanya aku dapat pulas dengan cepat dan tidak ingin membaca, kau bagaimana?"

"Toako tidak membaca, dengan sendirinya Siaute juga tidak,"

Cepat Kang Giok-long menjawab dengan tertawa.

Mereka lantas berbaring berjajar di kolong perahu itu, dengan mata terbelalak Kang Giok-long mengawasi Siau-hi-ji, entah selang berapa lamanya terdengar Siau-hi-ji mulai mengorok, jelas sudah tertidur.

Perlahan-lahan Giok-long merogoh keluar kitab pusaka ilmu silat itu, dengan hati-hati sekali ia membuka halaman kitab, baru saja ia hendak membaca mendadak Siau-hi-ji membalik tubuh dan entah sengaja atau tidak, sebelah tangannya tepat menindih di atas kitab yang dipegang Kang Giok-long, sebelah kakinya bahkan menumpuk di atas perutnya.

Keruan Kang Giok-long sangat mendongkol dan geregetan, tapi juga tidak berani membangunkan Siau-hi-ji, terpaksa ia menunggu dan berharap selekasnya Siau-hi-ji membalik tubuh pula dan mengangkat tangannya.

Siapa duga, tidur Siau-hi-ji kali ini benar-benar nyenyak seperti babi mati saja, sedikit pun tidak bergerak lagi.

Gusar Kang Giok-long sungguh tak terkatakan, sorot matanya menjadi beringas, mendadak ia meraba keluar sebuah parang dari bawah dipan terus membacok kepala Siau-hi-ji.

Akan tetapi pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara mendesing dua kali.

"tring" , dua biji teratai kering menyambar masuk dari jendela kabin, satu biji teratai mengenai parang, satu lagi mengenai pergelangan tangan Kang Gioklong, baik tenaga maupun jitunya ternyata mirip berasal dari sambitan ahli senjata rahasia. Karena tangannya tersambit miring ke samping, terpaksa Kang Giok-long mengertak gigi menahan rasa sakit sehingga parang tidak sampai terjatuh, namun tidak urung keringat dingin lantas merembes juga di dahinya. Tiba-tiba Siau-hi-ji seperti setengah mendusin dan seperti mengigau.

"Ada apa? Siapa yang menabuh genta?"

Cepat Giok-long menyembunyikan parangnya dan menjawab "O, ti ... tidak ada apa-apa."

Untung Siau-hi-ji tidak tanya lebih lanjut melainkan terus mengorok lagi lebih keras.

Akan tetapi Giok-long menjadi waswas dan tak dapat tidur.

Siapakah gerangan yang menyambitkan kedua biji teratai itu?

Masa di atas perahu ini terdapat ahli senjata rahasia selihai ini?

Jangan-jangan si kakek tukang perahu yang tampaknya sudah loyo itu adalah orang kosen dunia persilatan yang mengasingkan diri?

Apakah nona cilik yang suka melirik genit itu juga seorang ahli dan dapat menggunakan dua biji teratai sebagai senjata rahasia?

Sungguh semua itu sukar dipercaya oleh Kang Giok-long, akan tetapi, jika bukan mereka, habis siapa?

Di atas perahu ini kan tiada orang lain.

Apalagi seumpama betul mereka, mengapa mereka harus mengawasi dan melindungi Siau-hi-ji secara diam-diam, padahal tampaknya mereka toh tidak saling mengenal?

Begitulah sepanjang malam Kang Giok-long hanya terbelalak memandangi atap perahu dan tak dapat pulas, namun sampai pagi mendatang tetap dia tidak habis paham sebab musababnya.

Dan baru saja ia hendak pulas saking ngantuknya, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mendusin dan membangunkan dia sambil menegur.

"He, apakah nyenyak tidurmu semalam?"

Terpaksa Giok-long menjawab dengan menyengir.

"Ya, nyenyak sekali, sekali pulas langsung hingga pagi."

"Ayolah bangun, terlalu banyak tidur juga kurang sehat,"

Ucap Siau-hi-ji.

"Ya, ya sudah waktunya bangun,"

Kata Giok-long.

Meski wajahnya tersenyum simpul, tapi dalam batin ia sangat mendongkol, kalau bisa sekali jotos ia ingin membinasakan Siau-hi-ji.

Ketika mereka keluar ke haluan perahu, dilihatnya semangat Siau-hi-ji menyala dan tenaga penuh, saking geregetan Kang Giok-long ingin sekali tendang menjungkalkan seterunya itu ke dalam sungai.

Dalam pada itu si nona cilik telah membawakan satu baskom air cuci muka, wajahnya tersenyum manis, matanya juga melirik genit, bahkan dua lesung pipinya juga berseri-seri.

Memangnya apa yang membuatnya tertawa gembira?

Mata Kang Giok-long mengawasi sepasang tangan putih mulus yang mengangkat baskom itu, namun sukar baginya untuk membayangkan tangan kecil halus itu mampu menggunakan senjata rahasia selihai itu.

Perahu itu masih baru, pakaian si kakek dan si nona juga masih baru, tampaknya belum lama mereka menyamar sebagai tukang perahu.

Bukan mustahil sasaran mereka adalah Siau-hi-ji.

Tapi apa pula maksud dan tujuan mereka?

Siau-hi-ji sendiri seperti tidak tahu apa-apa, ia tetap riang gembira.

Habis cuci muka, sekaligus ia habiskan empat mangkuk bubur ditambah empat telur mata sapi.

Sebaliknya Kang Giok-long sama sekali tiada nafsu makan.

"He, Lotiang (pak tua), siapakah she dan namamu?"

Demikian Siau-hi-ji menegur si kakek tukang perahu.

"O, aku she Su ...."

Jawab kakek itu sambil terbatuk-batuk.

"Orang ... huk ... huk ... orang menyebut diriku Su-lothau dan huk ... huk... dan cucu perempuan ini bernama Su ... Su Siok-hun."

Diam-diam Kang Giok-long menertawakan dirinya sendiri yang suka curiga, masakah kakek yang bicara saja sambil terbatuk-batuk bisa jadi tokoh Bu-lim yang tersembunyi segala?

Terdengar Su-lothau berkata pula.

"He, Siok-hun, kau jangan makan lagi biji teratai itu."

Baru sekarang Kang Giok-long terkejut, ia menoleh, dilihatnya tangan si gadis remaja Su Siok-hun itu memang membawa secomot biji teratai kering dan sedang dimakannya seperti orang memakan kuaci.

Berdetak jantung Giok-long ketika nona cilik itu tertawa padanya.

Waktu ia berpaling kembali, dilihatnya Siau-hi-ji sedang berkipas-kipas dengan menggunakan satu

Jilid buku, jelas itulah kitab pusaka ilmu silat mereka.

Baru sekarang Kang Giok-long ingat semalam tubuhnya ditindih Siau-hi-ji, waktu membalik tubuh pagi tadi, rupanya kesempatan itu telah digunakan seterunya untuk menyikat kitab itu.

Ternyata kitab pusaka ilmu silat yang diidam-idamkan setiap insan di dunia persilatan itu kini telah digunakan sebagai kipas oleh Siau-hi-ji, keruan Kang Giok-long merasa gemas dan juga khawatir.

Sementara itu perahu sudah jauh meninggalkan tempat penyeberangan, tiba-tiba sebuah perahu meluncur tiba dari depan, cepat Su-lothau menggunakan gala yang panjang menutul haluan perahu lawan sehingga kedua perahu tidak sampai bertabrakan, tapi terus menyerempet lewat.

"Ai, celaka, jatuh ke sungai!"

Jerit Siau-hi-ji mendadak.

Tahu-tahu kitab pusaka yang dipegangnya tadi jatuh ke dalam sungai, seketika jantung Kang Giok-long seakan-akan copot dan ikut jatuh ke dalam sungai.

Tertampak air sungai yang keras gulung-gemulung, hanya sekejap saja kitab itu sudah hilang ditelan ombak.

Siau-hi-ji bersungut-sungut dan berseru gegetun.

"Wah, celaka! Bagaimana ... bagaimana ini ...."

Sudah tentu dalam hati Kang Giok-long tak terkatakan gemasnya, tapi lahirnya dia tetap tersenyum dan berkata.

"Ah, hanya buku saja, tak apalah kalau sudah jatuh ke sungai."

Diam-diam ia pun tahu bahwa Siau-hi-ji sengaja menjatuhkan kitab itu, ia pikir seterunya pasti sudah menghafalkan dengan baik isi kitab itu.

Dalam hal ini Siau-hi-ji dengan sendirinya juga tahu pasti apa yang dipikirkan Kang Gioklong.

Namun kedua orang sama-sama tidak bicara apa-apa dan inilah yang paling lucu dan menarik.

Kecuali mereka sendiri rasanya di dunia ini tiada orang yang dapat menerka isi hati mereka berdua.

Pepohonan menghijau permai, air sungai beriak menguning, pemandangan kedua tepi sungai indah bagai lukisan.

"Biarkan perahu laju dengan perlahan saja, kita tidak terburu-buru,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Ya, betul, kita tidak terburu-buru,"

Tukas Kang Giok-long.

Pada saat itulah sekonyong-konyong sebuah perahu meluncur cepat dari belakang, haluan perahu berkibar sebuah Piau-ki (panji tanda pengenal perusahaan pengawalan), panji itu terbuat dari kain satin bersulam gambar singa pada panji tengah itu.

Melihat itu, wajah Kang Giok-long menampilkan rasa girang, sinar matanya juga terang, cepat ia bangkit berdiri dan berteriak.

"Siapakah Piauthau Kim-say-piaukiok (perusahaan pengawal singa emas) yang berada di atas kapal situ?"

Laju perahu itu lantas diperlambat, beberapa lelaki kekar dengan badan bagian atas telanjang tampak sibuk bekerja, dari kabin perahu itu menongol keluar kepala seorang dan berteriak.

"Siapa itu yang memanggil ...."

Kang Giok-long mengangkat tangan dan menjawab.

"Aku, Kang Giok-long, masih ingatkah Li-toasiok?"

Orang itu berwajah hitam bergodek, tampaknya sangat tangkas. Tapi demi nampak Kang Giok-long, seketika ia menyambutnya dengan tertawa.

"Ah, bukankah engkau putra Kang-tayhiap, mengapa berada di sini?"

Su-lothau seperti tidak menggubris tegur sapa mereka, dia tetap meluncurkan perahunya ke depan.

Tapi perahu cepat Kim-say-piaukiok itu lantas didayung mendekat ke sini, lelaki bermuka hitam ungu itu lantas melompat kemari.

"Ginkang saudara ini tampaknya masih perlu berlatih lagi,"

Ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Bicaranya tidak keras, agaknya si lelaki muka hitam tidak mendengar, dengan tersenyum simpul orang lantas mendekati Kang Gioklong.

"Inilah To-piauthau dari Kim-say-piaukiok yang termasyhur di daerah Kanglam, di kalangan Kangouw terkenal dengan julukan "

Ci-bin-say " (singa bermuka ungu) Li Ting, kepandaiannya Ngekang (tenaga luar) dan di dalam air terhitung nomor satu di Kang-lam,"

Demikian Kang Giok-long memperkenalkan orang itu sebagai jawaban pada Siau-hi-ji yang mengejek kurang tinggi Ginkangnya tadi.

Namun Siau-hi-ji anggap tidak mendengar saja, ia berpaling ke arah lain dan minum teh.

Terdengar Kang Giok-long dan orang bernama Li Ting itu beramah tamah sejenak, mendadak suara percakapan mereka dikecilkan sehingga seperti orang berbisik-bisik, agaknya supaya tidak didengar oleh Siau-hi-ji.

Tapi Siau-hi-ji juga tidak ingin mendengarkannya, biarpun tahu dengan pasti bahwa Kang Giok-long akan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan dia juga takkan dicegahnya, ia justru ingin tahu seterunya mampu menciptakan permainan apa?

Maklumlah, sejak berumur tiga Siau-hi-ji tidak kenal lagi apa artinya takut terhadap siapa pun, dalam urusan apa pun juga, pada hakikatnya ia tidak kenal "takut"

Itu apa. Semakin berbahaya, semakin menarik baginya. Begitulah kemudian didengarnya Ci-bin-say Li Ting itu berkata.

"Selewatnya Hun-han nanti aku akan menempuh perjalanan darat saja, pesan Kang-kongcu tentu akan kukerjakan dengan baik, jangan khawatir."

Setelah bercakap dan bergurau lagi sejenak, lalu Li Ting melompat kembali ke perahunya sendiri.

"Eh, hati-hati, jangan sampai kecebur!"

Seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

Li Ting menoleh dan melototnya dengan gemas, mulutnya berkomat-kamit seperti memperingatkan Siau-hi-ji harus hati-hati, tapi segera kedua perahu lantas merenggang dan berpisah jauh lagi.

Semangat Kang Giok-long tampaknya terbangkit seperginya Li Ting, dengan tertawa ia berkata.

"Kim-say-piaukiok selain Congpiauthaunya yang bernama Kim-say-cu (singa emas) Li Tik, di bawahnya terkenal pula dua ekor singa dan seekor harimau, mereka semuanya boleh dikatakan sahabat sejati dan berbudi."

"Huh, singa dan harimau segala, kukira paling-paling adalah kawanan anjing dan serigala,"

Terdengar Su-lothau bergumam sendiri.

Baca Juga: Petualang Asmara Kho Ping Hoo

Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert