Ceritasilat Novel Online

Duel Dua Jago Pedang 3

Eps 3 Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Baca online Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Cersil Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung.

Lu Xiao Feng memandang patung di tangannya dengan seksama, matanya kembali terlihat bersinar-sinar.

"Masih ada satu cara lagi bagiku untuk mengetahui siapa dirinya."

"Cara apa?"

"Aku bisa pergi mencari si Manusia Tanah Liat Zhang, aku yakin ia tahu cara untuk mengembalikan patung ini kembali ke keadaannya semula."

XiMen Chui Xue menatap matanya dengan secercah senyuman.

"Kau benar-benar cerdas."

"Aku memang tidak bodoh."

Lu Xiao Feng tertawa.

"Kau akan pergi sekarang juga?"

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya, sebuah kehangatan yang lembut dan halus pun muncul di matanya.

"Sekarang aku hanya ingin menemui seseorang…."

Ia tidak menyebutkan nama orang itu, tapi XiMen Chui Xue telah tahu siapa orang tersebut.

Bintang perlahan-lahan menghilang, langit yang tiada batas dan berangin akhirnya lenyap.

Sinar yang terang pun mulai muncul.

Bab 8.

Pertempuran Awal Tanggal 15 September pagi.

Lu Xiao Feng berjalan keluar dari sebuah pintu di sudut halaman belakang toko roti itu, berbelok keluar dari halaman, dan berjalan menelusuri jalan yang tertutup oleh kabut pagi.

Walaupun ia tidak tidur malam sebelumnya, ia tidak lelah.

Setelah mandi air dingin, ia merasa lebih segar dan bertenaga, seluruh tubuhnya bahkan lebih siap untuk menghadapi hari ini.

Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membongkar persekongkolan ini dan menemukan dalang di balik semua ini.

Patung lilin itu masih berada di dalam kantung sebelah dalam bajunya.

Ia bersumpah akan meratakan wajah orang itu seperti wajah patung ini.

"Manusia Tanah Liat Zhang tinggal di Jalan Ikan Mas di belakang Jalan Cherry. Pintu depannya bercat hitam dan di depannya ada sebuah papan nama, sangat mudah untuk ditemukan."

Ia telah menemui OuYang Qing.

Walaupun gadis itu tidak berkata apa-apa, warna wajahnya telah berubah jauh lebih sehat, jelas ia telah melalui saat-saatnya yang kritis.

--XiMen Chui Xue bukan hanya memiliki ilmu pedang pembunuh, ia juga memiliki obat penolong jiwa.

"Menolong nyawa tampaknya benar-benar lebih nikmat daripada mencabut nyawa."

Lu Xiao Feng tersenyum.

Ia hanya bisa berharap bahwa seseorang yang biasa membunuh bisa berubah menjadi orang yang suka menolong nyawa orang lain.

Ia pun telah bertemu dengan Sun Xiu Qing.

Sun Xiu Qing yang dulu suka bicara dan orangnya terus terang juga telah berubah, berubah menjadi seorang wanita yang lembut dan sabar.

Karena ia bukan lagi seorang jago pedang wanita yang mencari nama di dunia persilatan, ia segera akan menjadi seorang ibu.

"Kalian telah lupa mengundangku minum arak, sebaiknya kalian jangan lupa untuk mengundangku makan telur merah!"

"Kapan kau akan mengundang kami untuk meminum arakmu?"

Lu Xiao Feng melihat kehangatan dan kelembutan di mata OuYang dan bertanya sendiri di dalam hatinya.

"Apakah ini sudah waktunya aku mulai berkeluarga?"

Tentu saja hal ini masih terlalu dini.

Tapi jika sebuah fikiran seperti itu muncul di hati seorang laki-laki, hari di mana hal itu menjadi kenyataan tentu tidak akan lama lagi.

Daun jatuh tidak jauh dari akar, manusia pun akhirnya akan selalu menetap.

Di samping itu, ia pun telah terlalu lama mengembara.

Hidup seorang perjaka yang tidak terikat mungkin mengalami banyak masa suka, tapi kekosongan dan kesepian setelah masa suka itu adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa menahannya.

Dan juga merupakan sesuatu yang hanya bisa difahami oleh sedikit orang.

Malam-malam yang panjang tanpa tidur, perasaan sunyi setelah musik berhenti dan orang-orang pergi, air mata dan penyesalan saat terbangun setelah mabuk semalaman….

Bagaimana sebenarnya rasanya?

Hanya di lubuk hatinya mereka benar-benar mengetahui yang sebenarnya.

Manusia Patung Zhang adalah seorang laki-laki tua.

Tampaknya ia telah lupa bahwa ia pernah memiliki seorang anak yang pemboros seperti Zhang Ying Feng.

Di benak orang-orang tua ini, semua anak muda yang pergi keluar dan mengembara di dunia serta tidak menetap dan mempersembahkan hidupnya untuk bisnis keluarga adalah anak yang boros.

Tentu saja Lu Xiao Feng tidak mengungkit-ungkit kematian Zhang Ying Feng.

Usia, dalam bentuk apa pun, adalah sejenis kesedihan.

Ia tidak ingin menambahkan selapis kesedihan lagi pada hidup orang tua ini.

Tapi saat pokok pembicaraan beralih pada keahliannya, orang tua yang bungkuk ini seperti tegak lagi tubuhnya dan sinar matanya berkerlap-kerlip dengan bangga.

"Tentu saja aku bisa memperbaiki patung lilin ini ke bentuk aslinya. Tidak perduli seperti apa patung ini sebelumnya, aku bisa mengembalikannya seperti semula."

Orang tua ini berkata dengan bangga.

"Kau datang pada orang yang tepat, anak muda."

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?"

Mata Lu Xiao Feng pun tampak bersinar-sinar.

"Paling lama dua jam."

Orang tua itu tampak amat yakin.

"Datanglah kembali dan ambil ini dua jam lagi."

"Tidak bisakah aku menunggu di sini?"

"Tidak."

Orang tua itu memperlihatkan keangkuhannya.

"Aku tidak membiarkan orang lain melihatku bekerja."

Ini adalah aturannya.

Bila mengerjakan hal ini, kata-katanya adalah hukum, karena Lu Xiao Feng tidak bisa melakukan apa yang ia bisa.

Maka Lu Xiao Feng pun terpaksa pergi.

Di samping itu, daripada selama dua jam tidak berbuat apa-apa, lebih baik pergi minum teh di warung teh di jalan depan sana.

Warung Kedamaian Surgawi merupakan sebuah warung teh yang besar.

Bukanya tepat mulai fajar, dan tempat itu selalu dipenuhi oleh pembeli sejak buka.

Karena warung-warung teh di ibukota tidak sesederhana warung-warung teh di tempat lain, para pembeli datang ke sana juga bukan sekedar untuk minum teh.

Terutama di pagi hari, sebagian besar orang sedang menunggu untuk dijemput atau ditawari pekerjaan.

Tukang batu, tukang kayu, tukang antar barang, penjahit, dan segala macam tukang dan pedagang lain tentu akan berdatangan ke sekitar warung teh di pagi hari setelah memenangkan sebuah kontrak yang besar atau mendapat tugas untuk mencari pekerja.

Jika mereka terlambat datang, mungkin mereka hanya akan mendapatkan pekerja yang buruk.

Bagian dalam warung teh itu mungkin tampak semrawut, tapi kenyataannya setiap profesi memiliki wilayah sendiri di dalamnya.

Para tukang kayu tidak akan pernah duduk bersama dengan tukang batu, karena duduk di tempat yang salah berarti tidak akan mendapat pekerjaan.

Ada yang disebut "tempat persinggahan".

Setiap profesi memiliki beberapa buah meja yang membentuk "tempat persinggahan"

Dan tidak boleh ada kekeliruan.

Ini bukan pertama kalinya Lu Xiao Feng mengunjungi ibukota, dan ia pun tahu pasti mengenai aturan-aturan ini.

Maka ia mengambil tempat duduk di dekat pintu dan menuangkan secangkir teh "Delapan-Ratus-Sekantung"

Untuk dirinya sendiri. Teh di sini tidak dijual menurut bobotnya, tapi dijual per kantung. Satu kendi teh, satu kantung daun teh. Ada yang disebut "Dua-Ratus-Sekantung".

"Empat-Ratus-Sekantung", dan yang terbaik.

"Delapan-Ratus-Sekantung" . Delapan ratus itu sebenarnya berarti delapan tael perak sekantung. Tentu saja karena ini ibukota, yang tentu saja harus lebih mengesankan daripada tempat-tempat lain, delapan tael perak tadi disebut saja sebagai delapan ratus. Lu Xiao Feng menghirup cangkirnya sebanyak dua kali dan baru saja hendak memanggil pelayan untuk memesan kacang goreng saat dua orang tiba-tiba duduk di mejanya dan menghadap ke arahnya. Berbagi meja di sebuah warung teh adalah hal biasa. Tapi raut wajah kedua orang ini terlihat amat aneh, tatapan mata mereka malah lebih aneh lagi. Di antara mereka berdua, keempat mata mereka menatap tak berkedip pada wajahnya. Mereka mengenakan pakaian yang indah, mata mereka pun tampak bersinar-sinar, dan kening mereka pun menonjol. Jelas mereka adalah jago-jago kungfu. Salah seorang di antara mereka tampaknya berusia lebih tua, ia adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dengan gaya mengancam, dan walaupun ia tidak membawa senjata, ia memiliki sepasang tangan penuh otot dengan buku jari yang menonjol yang tampaknya bisa menghancurkan batu cadas. Orang yang lebih muda mengenakan pakaian yang lebih mewah, tampaknya ia memiliki kening yang tinggi dan memancarkan hawa yang lebih kuat daripada si tua tadi. Matanya yang jernih terlihat merah seperti darah, seakan-akan ia tidak tidur semalaman, seakan-akan mata itu dipenuhi oleh kebencian dan kemarahan. Mereka menatap Lu Xiao Feng, tapi Lu Xiao Feng tidak melirik mereka sedikit pun. Mereka berdua saling berpandangan. Laki-laki yang lebih tua tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak kayu dan meletakkannya di atas meja.

"Tuan, apakah Tuan ini Lu Xiao Feng?"

Lu Xiao Feng terpaksa mengangguk, dan menggigit bibirnya sedikit tanpa sadar. Kedua kumisnya yang ia sukai itu sepertinya telah banyak membawa masalah yang tidak diinginkan.

"Aku Bu Ju."

"Halo."

Lu Xiao Feng menjawab tanpa memperlihatkan ekspresi sedikit pun, seakan-akan ia tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya.

Kenyataannya, tentu saja ia pernah.

Mungkin tidak banyak orang di dunia ini yang pernah mendengar nama itu.

"Telapak Pembelah Langit" . Nama Bu Ju telah mengendalikan sejumlah wilayah, mulai dari Sichuan hingga Hunan. Ia adalah Ketua Umum dari 36 kelompok bajak laut dan penjahat di daerah itu! Sudut mata Bu Ju tampak berkedut. Biasanya, bila sudut matanya berkedut, itu berarti bahwa ia hendak membunuh. Tapi kali ini ia terpaksa menahannya.

"Kau pernah mendengar namaku, Tuan?"

Ia menekan kemarahannya.

"Tidak."

"Kalau begitu, seharusnya kau telah mendengar apa yang ada di dalam kotak ini."

Bu Ju mengejek.

Ia membuka kotak itu.

Di dalamnya ada tiga buah cincin giok yang amat besar, berkilauan, dan benar-benar tanpa cacat.

Lu Xiao Feng adalah orang yang pandai menaksir.

Dengan mudah ia bisa melihat bahwa ketiga cincin giok ini adalah harta yang tak ternilai harganya.

Tapi ia kembali menggelengkan kepalanya.

"Belum pernah melihat benda-benda ini sebelumnya."

"Aku tahu kau belum pernah melihatnya, tak banyak orang yang punya kesempatan untuk melihat harta ini."

Bu Ju menjawab dengan cepat sebelum tiba-tiba mendorongkan kotak itu ke sisi Lu Xiao Feng.

"Tapi jika kau mau melakukan sesuatu untukku, semua ini menjadi milikmu!"

"Sesuatu seperti apa?"

Lu Xiao Feng pura-pura tidak tahu.

"Ketiga cincin giok ini ditukarkan dengan tiga helai sabuk sutera itu."

"Sabuk yang mana?"

"Tidak ada gunanya bermain-main, jadi atau tidak?"

Bu Ju menjawab dengan dingin, langsung ke tujuannya.

Lu Xiao Feng pun tersenyum.

Ia telah menduga apa yang mereka kehendaki sejak mereka duduk tadi.

--"Kami telah menyuruh orang untuk mulai menyebarkan informasi ini pada teman-teman di dunia persilatan!" --"Tanpa sabuk itu di tubuh mereka, tanpa memandang siapa pun orangnya, akan dieksekusi di tempat jika tertangkap saat memasuki Istana Terlarang tanpa izin!"

Ia tahu masalah yang akan terjadi saat ia mendengar kedua kalimat ini.

"Ya atau tidak?"

Bu Ju mendesak dengan marah, ia mulai kehilangan kesabarannya.

"Tidak!"

Jawabannya sederhana dan langsung.

Ia bukanlah tipe orang yang takut pada masalah.

Bu Ju hampir melompat bangkit dan buku-buku jarinya terdengar bergemeretak seperti bunyi batu berjatuhan, ekspresi wajahnya pun tampak tidak bersahabat lagi.

Tapi ia tidak bergerak, karena orang muda itu menahan tubuhnya dengan sebelah tangan dan mengeluarkan sebuah benda lagi dengan tangannya yang lain dan meletakkannya di atas meja.

Benda itu adalah sebutir anggur beracun.

Tidak lain daripada Anggur Beracun Keluarga Tang yang terkenal ke seluruh dunia, racunnya akan segera menghentikan nafas orang saat bersentuhan dengan darah.

Di bawah sinar matahari, jelas terlihat bahwa Anggur Beracun ini bukan hanya terbuat dari baja yang paling murni, desainnya pun amat rumit, pada setiap lembar daunnya tersembunyi 7 buah jarum baja.

Saat terbentur, jarum-jarum ini akan beterbangan sehingga, tidak perduli apakah anggur ini mengenai tulang atau pun darah, orangnya pasti akan mati.

Senjata semacam ini tidak biasanya diletakkan di atas meja untuk dilihat oleh orang lain, dan amat sedikit orang yang sempat mengamatinya dengan teliti.

Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa mengakui bahwa senjata ini membawa semacam kekuatan yang tak dapat difahami.

Walaupun tergeletak di atas meja, ia masih bisa merasakan kekuatannya.

"Nama keluargaku Tang."

Suara orang muda itu tiba-tiba memecahkan keheningan.

"Tang Tian Zong?"

"Ya!"

Orang muda itu mengakui dengan bangga.

Ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri.

Kemampuannya adalah yang terbaik di antara saudara-saudaranya dan murid-murid keluarga Tang, walaupun usianya adalah yang termuda.

"Kau hendak menukar senjata rahasiamu ini dengan sabuk suteraku?"

"Senjata ini benda mati. Jika kau tidak tahu cara menggunakannya, aku bisa memberimu sekantung penuh senjata seperti ini dan tetap tidak akan ada gunanya!"

Tang Tian Zong memberi komentar dengan dingin. Lu Xiao Feng menghela nafas.

"Ternyata kau hanya bermaksud memperbolehkan aku melihatnya."

"Tidak banyak orang yang bisa melihat senjata seperti ini."

"Aku pun bisa mengeluarkan sabuk sutera itu untuk kalian lihat, juga tidak banyak orang yang bisa melihatnya!"

"Sayangnya sabuk itu tidak bisa digunakan untuk membunuh."

"Tergantung berada di tangan siapa sabuk itu, kan? Di tangan yang tepat, bahkan sehelai rumput pun bisa membunuh."

Ekspresi wajah Tang Tian Zong menjadi gelap dan ia menatap langsung ke mata Lu Xiao Feng.

Tiba-tiba, ia menekan dengan menggunakan tangannya yang berada di atas meja dan Anggur Beracun itu segera melompat ke udara.

"Sing!"

Dengan sebuah bunyi desiran, senjata rahasia itu telah melesat sejauh lebih dari 6 m.

"Tak!"

Senjata itu melesak ke salah satu balok di langit-langit.

Bukan hanya ke langit-langit, tapi hingga melesak ke dalam kayunya.

Ternyata bukan hanya senjata pemuda ini didesain dengan terampil, keahlian tangannya pun mengejutkan.

Tapi Lu Xiao Feng tampaknya sama sekali tidak memperhatikan.

Tatapan mata Tang Tian Zong tampak semakin menyeramkan.

"Itulah kemampuan membunuh yang sebenarnya dari senjata tersebut."

"Oh!"

"Tiga cincin giok serta satu nyawa, kau setuju untuk bertukaran?"

"Nyawa siapa?"

"Nyawamu."

Lu Xiao Feng kembali tersenyum.

"Jika aku menolak, kau akan mengambil nyawaku?"

Sebuah seringai pun muncul di wajah Tang Tian Zong saat Lu Xiao Feng mengajukan pertanyaan itu.

Dengan perlahan, Lu Xiao Feng menghirup cangkirnya sebanyak dua kali sebelum tiba-tiba ia menyadari sebuah hal yang amat penting.

Jika Tang Tian Zong dan Bu Ju bisa menemukannya, maka orang lain pun tentu dapat melacak keberadaannya.

Jika Manusia Tanah Liat Zhang benar-benar mampu mengembalikan patung lilin itu ke bentuknya semula, maka tentu akan ada orang yang ingin membunuhnya dan menghilangkan petunjuk itu.

Lu Xiao Feng meletakkan cangkir tehnya, ia memutuskan untuk berhenti bermain-main dengan kedua orang ini.

Patung itu adalah petunjuk terakhirnya, Manusia Tanah Liat Zhang tidak boleh mati.

"Kau telah mengambil keputusan?"

Tang Tian Zong mendesak. Lu Xiao Feng tertawa kecil sambil bangkit dengan perlahan, mengambil 3 buah cincin giok itu dari atas meja, dan memasukkannya ke dalam kantungnya.

"Kau menyetujui pertukaran itu?"

Bu Ju mulai tersenyum.

"Tidak."

Senyuman Bu Ju segera berubah menjadi kerutan.

"Lalu mengapa kau mengambil cincin giok-ku?"

"Aku telah berbincang-bincang dan menemani kalian untuk beberapa lama, maka aku harus mendapatkan sesuatu sebagai balasannya."

Lu Xiao Feng menerangkan dengan santai.

"Waktuku amatlah berharga."

Sekali lagi Bu Ju melompat bangkit.

Kali ini Tang Tian Zong tidak menariknya kembali, karena kedua tangannya telah berada di dalam kantung kulit macan tutul di pinggangnya.

Tapi Lu Xiao Feng tidak memperdulikan semua itu.

"Jika kalian benar-benar menginginkan sabuk sutera itu, masih ada sebuah cara, tapi aku punya syarat."

Ia berkata sambil tersenyum.

"Syarat apa?"

Bu Ju mendesak, hampir tak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Kalian berdua harus berlutut sekarang juga dan memberi hormat padaku sebanyak tiga kali."

Sambil meraung murka, Bu Ju menyerang. Tangan Tang Tian Zong pun bergerak.

"Prang!"

Sebuah poci tiba-tiba muncul di tangan Bu Ju dan ia menghancurkan poci itu hingga berkeping-keping, menumpahkan isinya ke seluruh jubah sutera ungu yang ia kenakan.

Anehnya, ia tidak tahu bagaimana poci itu bisa berada di tangannya.

Tadi ia ingin mencengkeram pundak Lu Xiao Feng, tapi entah bagaimana caranya ia malah mencengkeram poci teh ini.

Tang Tian Zong telah mengeluarkan sebelah tangan dari kantungnya dengan sebuah senjata rahasia di tangan, tapi, entah karena alasan apa, ia tetap menggenggamnya saja.

Lu Xiao Feng telah berada di seberang jalan, sambil melambai-lambaikan tangannya dengan gembira pada mereka.

"Kalian telah menghancurkan poci itu, maka kalian harus memberi ganti rugi. Kupersilakan juga kalian berdua untuk membayar tagihanku. Terima kasih banyak."

Bu Ju hendak mengejar waktu tiba-tiba ia mendengar suara desisan beberapa kali dari mulut Tang Tian Zong.

Wajahnya tampak pucat seperti kertas, tapi kemudian segera berubah menjadi hijau sebelum berubah lagi menjadi merah darah dan keringat dingin pun mengalir di keningnya.

Jalan darahnya telah tertotok.

Kapan Lu Xiao Feng melakukan gerakannya?

Wajah Bu Ju yang membaja tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi dan ia menghela nafas panjang dan menjatuhkan dirinya kembali ke atas kursi.

"Sudah kubilang, jika kalian ingin Lu Xiao Feng mendengarkan kalian, kalian harus bergerak lebih dahulu."

Tiba-tiba, dari luar pintu, terdengar suara tawa.

"Asal ia masih bisa bergerak, kalianlah yang harus mendengarkan dia."

Seseorang berjalan masuk sambil bicara, kepalanya gundul dan saat tersenyum ia terlihat seperti sebuah patung Budha.

"Aku jujur, aku selalu mengatakan hal yang sebenarnya. Kalian percaya sekarang?"

Lu Xiao Feng tidak melihat Hwesio Jujur.

Jika ia melihatnya, tentu ia akan semakin gelisah.

Tapi walaupun ia tidak melihat Hwesio Jujur, ia merasa seakan-akan ia sudah hampir mati karena cemas.

Bukan hanya ia merasa amat cemas, ia pun merasakan penyesalan yang teramat dalam.

Seharusnya ia tidak meninggalkan si Manusia Tanah Liat Zhang sendirian.

Seharusnya ia setidaknya duduk di sana dan berjaga di pintu.

Sayangnya jika Lu Xiao Feng bisa duduk dan minum secangkir teh, ia tidak akan pernah mau berdiri di luar dan menunggu orang.

Sekarang ia hanya bisa berharap bahwa "orang ketiga"

Itu belum menemukan Manusia Tanah Liat Zhang.

Ia bahkan bersumpah, jika Manusia Tanah Liat Zhang masih hidup dan bisa mengembalikan patung itu padanya, ia tidak akan minum teh selama 3 bulan berikutnya, tak perduli betapa enaknya rasa teh itu.

Manusia Tanah Liat Zhang ternyata masih hidup, dan dilihat dari tampangnya ia bahkan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.

Karena patung lilin itu telah diperbaiki, itu berarti ia akan dibayar.

Saat seseorang bertambah tua, ia semakin jarang memiliki kesempatan untuk membelanjakan uangnya, karena rasa tertariknya dalam mencari uang akan semakin bertambah dan bertambah.

Mendapatkan dan membelanjakan uang sepertinya selalu terlihat berbanding terbalik satu sama lain, hal yang amat aneh, bukan?

Setelah ia masuk dan melihat Manusia Tanah Liat Zhang, barulah Lu Xiao Feng akhirnya menghela nafas lega.

Anehnya, ia tidak lupa untuk memperingatkan dirinya sendiri.

--Tidak minum teh selama 3 bulan berikutnya, tak perduli betapa enaknya rasa teh itu.

Teh juga bisa membuat orang kecanduan.

Orang yang suka minum akan merasa amat sukar untuk tidak minum teh.

Untunglah baginya, ia pun tidak lupa untuk mengingatkan dirinya mengenai satu hal lagi.

ia masih bisa minum arak, arak yang banyak.

Manusia Tanah Liat Zhang mengulurkan kedua tangannya, patung itu berada di satu tangan, tangan yang lain kosong.

Lu Xiao Feng faham benar apa maksudnya.

Orang yang benar-benar ahli selalu ingin dibayar sesegera mungkin setelah mereka menyelesaikan tugasnya, kalau tidak mereka akan merasa amat tidak senang walau kau hanya terlambat sedikit.

Kenyataannya, tindakannya tadi untuk tidak meminta Lu Xiao Feng membayar terlebih dulu adalah suatu hal yang mengagumkan.

Setelah tangan yang kosong itu terisi oleh cek, barulah Manusia Tanah Liat Zhang melepaskan genggamannya pada patung lilin di tangan yang lain.

Setelah itu barulah sebuah senyuman muncul di wajahnya.

Tapi Lu Xiao Feng tidak mampu tersenyum.

Wajah di patung lilin itu tidak lain daripada wajah XiMen Chui Xue.

Jalan Ikan Mas adalah sebuah jalan yang amat sepi dan tenang.

Matahari bulan September yang menyinari punggung orang tidak terasa dingin atau pun panas.

Dapat berjalan di sebuah jalan seperti ini pada hari seperti ini adalah suatu hal yang amat menyenangkan.

Tapi Lu Xiao Feng tidak merasa gembira.

Ia benar-benar tidak percaya kalau XiMen Chui Xue yang membunuh Zhang Ying Feng, ia pun tidak percaya kalau XiMen Chui Xue bekerja sama dengan kasim-kasim itu.

Yang terpenting, ia tidak percaya kalau XiMen Chui Xue akan berdusta, apalagi berdusta padanya.

Tapi wajah patung ini memang wajahnya XiMen Chui Xue.

"Apakah kau membuat kekeliruan?"

Ia ingin bertanya begitu pada Manusia Tanah Liat Zhang, tapi tidak jadi.

Ia selalu menghormati keahlian dan kedudukan orang lain.

Dalam bidang ini, Manusia Tanah Liat Zhang memiliki kemampuan yang tidak perlu dipertanyakan lagi.

Jika ia menyatakan bahwa Manusia Tanah Liat Zhang telah membuat kekeliruan, perbuatan itu akan dianggap lebih menghina daripada sebuah tamparan di pipi.

Lu Xiao Feng tidak pernah suka membuat orang lain merasa tidak enak, tapi saat ini ia sendiri yang merasa tidak enak.

Patung ini merupakan petunjuknya yang paling menjanjikan, tapi sekarang setelah ia mendapatkan petunjuknya, ia malah lebih bingung daripada sebelumnya.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Ia tidak bisa membayangkannya.

Sinar matahari yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas pun memandikan wajahnya, dan juga wajah patung lilin di tangannya.

Sambil menatap patung itu, ia pun terus berjalan.

Tapi, saat ia berjalan keluar dari gang itu dan masuk ke jalan raya, tiba-tiba ia melompat di tempat, segera berputar, dan berlari kembali ke arah semula, seakan-akan seseorang telah mencambuknya dari belakang.

Apa yang baru saja ia temukan?

Tempat Manusia Tanah Liat Zhang bertemu dengan pelanggan-pelanggannya juga merupakan ruang kerjanya.

Jendela menutupi ketiga sisi ruangan itu.

Di sana juga ada sebuah meja besar dengan bermacam-macam benda keramik, debu, cat, pisau ukir, dan sikat.

Selain dari membuat patung lilin, ia juga membuat ukiran peta dan melukis beberapa gambar jimat yang bisa menakut-nakuti setan.

Kali ketiga Lu Xiao Feng masuk ke sini, orang tua itu sedang membungkuk di meja sambil mengukir.

Ia bahkan tidak mengangkat kepalanya saat Lu Xiao Feng masuk.

Walaupun ada jendela, ruangan itu masih terasa gelap.

Pandangan mata orang tua itu, tentu saja, tidak tertuju ke arah semula, wajahnya saat itu sudah hampir menyentuh meja.

Lu Xiao Feng berdehem beberapa kali, tidak ada reaksi dari orang tua itu.

Ia berdehem lagi, kali ini lebih keras.

Masih tidak ada reaksi.

Bahkan tidak ada gerakan sedikit pun, begitu juga dengan pisau di tangannya.

Bagaimana dia bisa mengukir peta tanpa menggerakkan pisaunya?

Apakah ada orang yang telah mendatangi orang tua ini?

Jantung Lu Xiao Feng seperti karam, tapi ia lalu melompat dan berdiri di belakang si Manusia Tanah Liat Zhang dan hendak menarik tubuhnya untuk melihat apa yang telah terjadi.

"Di luar sana amat berangin, pergilah tutup pintu!"

Orang tua itu tiba-tiba memberi perintah.

Jantung Lu Xiao Feng pun berdetak lagi mendengar suara itu, lalu ia mundur dan, sambil menertawakan kebodohannya sendiri, menutup pintu dengan perlahan.

Ia merasa seperti seorang wanita tua yang gila.

"Apa yang kau inginkan?"

"Aku ke sini untuk menukar patung lilin tadi!"

"Menukar patung lilin yang mana?"

"Yang kau berikan tadi itu adalah patung yang salah, jadi aku menginginkan kembali patung yang kuberikan padamu!"

Tadi waktu ia berjalan keluar dari gang, barulah ia menyadari bahwa patung lilin yang diberikan si Manusia Tanah Liat Zhang itu berwarna kekuning-kuningan, sementara yang diberikan Yan Ren Ying padanya berwarna hijau terang.

Tentu patung-patung itu ditukar oleh orang tua ini untuk mengarahkan tuduhan pada XiMen Chui Xue sebagai si pembunuh.

Jika orang tua ini bukan salah satu dari mereka, setidaknya dia tentu telah dibeli mereka.

"Aku tadi memintamu untuk mengembalikan patung lilin itu ke bentuknya semula, bukan untuk dibuatkan sebuah patung lainnya."

Dengan lambat ia kembali mendekati orang tua itu, tanpa mengalihkan matanya dari pisau di tangannya.

Sebatang pisau yang digunakan untuk mengukir peta pun bisa digunakan untuk membunuh, ia tidak ingin diperlakukan seperti peta itu dan membiarkan orang lain membuat beberapa ukiran di tenggorokannya.

Anehnya, si Manusia Patung Lilin Zhang lalu menurunkan pisau di tangannya sebelum berpaling dengan lambat.

"Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."

Lu Xiao Feng juga tidak, karena ia baru melihat wajah orang tua ini.

Manusia Tanah Liat Zhang ini bukanlah Manusia Tanah Liat yang tadi ia temui.

Ia hampir menelan lidahnya sendiri.

Setelah beberapa saat barulah ia bisa menarik nafas lagi dan kemudian memandang orang tua itu beberapa kali lagi.

"Kau ini Manusia Tanah Liat Zhang?"

Akhirnya ia bertanya. Orang tua itu tersenyum dan terlihatlah barisan giginya yang kuning.

"Memang ada Tukang Cukur Wang Bopeng yang asli dan palsu, tapi hanya ada satu Manusia Tanah Liat Zhang yang asli, tidak ada toko lainnya!"

"Lalu siapa yang tadi itu?"

Manusia Tanah Liat Zhang menyipitkan matanya dan memandang ke sekeliling ruangan.

"Siapa yang kau bicarakan? Aku baru saja kembali, bahkan bayangan pun tidak ada di sini."

Lu Xiao Feng merasa seakan-akan seseorang baru saja menyumpalkan segenggam buah persik busuk ke dalam tenggorokannya.

Jadi Manusia Tanah Liat Zhang yang tadi ia temui adalah yang palsu.

Ternyata lebih mudah menipunya daripada mencuri permen dari seorang anak bayi.

Manusia Tanah Liat Zhang menatap patung lilin yang berada di tangannya.

"Tapi aku memang membuat patung ini, bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

Tiba-tiba ia bertanya.

"Kau pernah melihat orang ini sebelumnya?"

Lu Xiao Feng segera memburu.

"Tidak."

"Bagaimana kau bisa membuat patung yang mirip dirinya tanpa pernah bertemu dengannya sebelumnya?"

Manusia Tanah Liat Zhang tersenyum.

"Aku belum pernah bertemu Guan Yu, tapi aku juga bisa membuat patungnya!"

"Apakah seseorang membawakan lukisan dirinya padamu dan memintamu untuk membuatkan patung ini untuknya?"

"Akhirnya kau faham juga."

"Siapa yang memintamu untuk membuat ini?"

"Orang ini."

Ia berputar dan mengambil sebuah patung lilin dari atas meja.

"Waktu ia datang, kebetulan aku memegang sepotong tanah liat di tanganku, maka aku pun membuatkan patung dirinya tanpa sadar. Tapi aku lupa memberikan patung ini padanya."

Mata Lu Xiao Feng tampak bersinar-sinar.

Tapi tangan orang tua itu kebetulan memegang patung tersebut di bagian kepala, maka ia tidak bisa melihat hal yang paling ingin ia lihat, wajah itu.

Manusia Tanah Liat Zhang menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Waktu kau bertambah tua, ingatanmu pun tidak bekerja dengan baik lagi. Jika kau lupa yang ini, kau pun lupa yang itu."

Ia bergumam.

"Mungkin ingatanmu tidak bekerja dengan baik lagi, tapi keberuntunganmu masih bekerja dengan amat baik."

Lu Xiao Feng tiba-tiba bergurau.

"Keberuntungan apa?"

"Jika kau tidak lupa memberikan patung ini padanya, kau tentu tidak akan mendapatkan 500 tael perak secara gratis."

Mata si Manusia Tanah Liat Zhang pun tampak bersinar-sinar.

"Kau mau memberiku 500 tael perak?"

"Asal kau berikan patung tanah liat itu padaku, 500 tael perak ini menjadi milikmu!"

Manusia Tanah Liat Zhang tak bisa menahan dirinya lagi dan ia segera mengangsurkan patung tanah liat itu tepat ke arah wajah Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng baru saja hendak mengulurkan tangannya dan menerimanya waktu "brak!" , kepala patung itu tiba-tiba terbuka dan tujuh atau delapan buah bintang jatuh yang berukuran kecil dan dingin pun melesat ke arah tenggorokannya.

Ternyata di dalam patung tanah liat itu tersembunyi sebuah pegas dan pegas itu bekerja pada jarak kurang dari setengah meter dari tenggorokan Lu Xiao Feng!

Jaraknya kurang dari setengah meter, dengan kecepatan yang luar biasa seperti kilat, serangan yang tidak terduga oleh siapa pun, dan tujuh batang jarum beracun yang akan membunuh orang saat menyentuh darahnya.

Tampaknya kali ini Lu Xiao Feng akan mati!

Siapa pun akan tewas dalam kondisi seperti ini!

Jarak sedemikiran rupa, kecepatan seperti ini, senjata semacam ini, tidak satu pun makhluk di khayangan atau di kedalaman neraka yang mampu menghindari serangan ini.

Perangkap ini jelas telah direncanakan dengan teliti hingga detil yang terkecil, jebakan ini bukan hanya seharusnya berhasil, tapi juga hampir mustahil gagal!

Bahkan Lu Xiao Feng pun tidak mampu menghindari serangan ini.

Tapi ia tidak mati, karena masih ada sebuah patung lilin di tangannya.

Waktu pegas tadi mengeluarkan bunyi "brak!" , tangannya pun mengibas dan patung lilin itu melayang dari tangannya dan ketujuh jarum tadi pun menancap di patung tersebut.

Walaupun sudah menancap di patung itu, tenaga jarum beracun itu belum hilang sepenuhnya dan patung tersebut masih membentur tenggorokan Lu Xiao Feng.

Walaupun patung lilin itu tidak bisa membunuh, hal tersebut masih mengejutkan dirinya.

Di saat yang kacau itulah, Manusia Tanah Liat Zhang telah melesat dan melompat melalui salah satu jendela.

Saat Lu Xiao Feng sadar apa yang terjadi, ia telah berada di luar.

Reaksi "Manusia Tanah Liat Zhang"

Ini pun amat cepat, setelah melihat jebakannya gagal, ia pun kabur. Tapi setelah keluar lewat jendela, terdengar serentetan suara teriakan diikuti oleh sebuah suara "duk"

Yang keras dan agak datar, seakan-akan sesuatu yang berat berbenturan dengan sepotong kayu. Setelah suara "duk"

Itu, teriakan tadi pun berhenti.

Saat Lu Xiao Feng keluar dari ruangan itu, orang tersebut tampak tergeletak di atas tanah di tengah-tengah halaman, sepertinya ia pingsan.

Seorang laki-laki sedang berdiri di sampingnya dan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, kepalanya terlihat gundul.

"Hwesio Jujur!"

Lu Xiao Feng hampir menjerit. Sambil memegangi kepalanya, Hwesio Jujur berusaha tersenyum.

"Tampaknya aku harus mengganti namaku, menggantinya jadi Hwesio Sial."

"Kenapa kau jadi sial?"

"Jika aku tidak sial, lalu mengapa orang membenturkan kepalanya pada kepalaku tanpa sesuatu sebab?"

Saat ini sebuah memar yang amat besar dan berwarna hitam terlihat di kepala si "Manusia Tanah Liat Zhang".

Lu Xiao Feng tidak tahu apakah ia harus tertawa atau bingung.

Ia tahu pasti bahwa tidak mungkin dua kepala bisa berbenturan secara tidak sengaja, ia pun tidak bisa membayangkan kenapa Hwesio Jujur mau membantunya.

"Untunglah kepalaku keras."

Hwesio Jujur bergumam dan ia terus-terusan menggosok kepalanya.

"Itulah sebabnya kau mungkin tidak beruntung, tapi Manusia Tanah Liat Zhang ini yang nasibnya jauh lebih buruk."

Lu Xiao Feng bergurau.

"Kau bilang dia ini Manusia Tanah Liat Zhang?"

"Apa bukan?"

"Jika dia adalah Manusia Tanah Liat Zhang, maka aku adalah Lu Xiao Feng."

Tentu saja Lu Xiao Feng tahu Manusia Tanah Liat Zhang ini bukanlah yang asli, tapi ia pun tidak faham mengapa yang pertama, Manusia Tanah Liat Zhang yang asli, mau mengganti patung lilin itu untuk memperdayainya.

"Aku mungkin tidak ganteng, tapi aku pernah datang ke sini dan meminta si Manusia Tanah Liat Zhang untuk membuat patung tiruanku."

"Jadi kau mengenal Manusia Tanah Liat Zhang?"

Hwesio Jujur mengangguk.

"Kau datang ke mari untuk menyuruh Manusia Tanah Liat Zhang membuatkan patung tiruanmu juga?"

"Tak tahu apakah ia mampu menirukan keempat alis mataku dengan baik."

Lu Xiao Feng tertawa.

"Walaupun kau punya 8 alis, ia pasti mampu meniru semuanya dengan baik, hingga ke setiap utas rambut sekalipun. Sayangnya, sekarang dia hanya bisa menunggu orang lain yang membuatkan tiruannya!"

"Mengapa begitu?"

Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.

"Aku tadi datang lewat belakang, di belakang sana ada sebuah sumur."

"Apa yang ada di dalam sumur itu?"

Hwesio Jujur menghela nafas.

"Mungkin sebaiknya kau melihat sendiri!"

Tentu saja di dalam sumur ada air. Tapi di dalam sumur ini, selain air, juga ada darah. Darah si Manusia Tanah Liat Zhang! "Aku datang ke sini karena aku menangkap bau amis darah dari sumur ini."

Dengan sebuah kerutan di wajahnya, Hwesio Jujur merangkap tangannya dan membungkuk.

"Lebih baik aku tidak melihat apa yang telah kulihat. Amida Buddha, Buddha Maha Pengampun."

Yang ia lihat adalah empat sosok mayat, dan sekarang Lu Xiao Feng pun melihat mereka juga.

Empat orang anggota keluarga si Manusia Tanah Liat Zhang telah tewas di dasar sumur.

Lu Xiao Feng tidak bicara ataupun membuka mulutnya, ia tidak ingin muntah di depan si Hwesio Jujur.

Seluruh isi perutnya seperti jungkir balik.

Baru sekarang ia menyadari bahwa kedua Manusia Tanah Liat Zhang yang ia temui hari ini adalah gadungan.

Yang pertama bertanggung-jawab atas penukaran patung dan membuatkan patung XiMen Chui Xue.

Dan bila Lu Xiao Feng tidak terperdaya oleh tipuan itu, ia tentu akan kembali dan gadungan yang kedua menunggu di sini untuk mencabut nyawanya!

Jebakan yang begitu berbahaya dan licik, jika jebakan yang satu gagal maka ada satu jebakan lagi yang menunggumu.

Lu Xiao Feng tiba-tiba menghela nafas.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa nasibnya memang amat baik, ia masih selamat hingga saat ini.

Hwesio Jujur pun menghela nafas bersamanya.

"Dari dulu sudah kubilang, kau diselubungi oleh aura nasib buruk dan tentu akan mengalami nasib buruk!"

"Nasib buruk macam apa yang akan kualami sekarang?"

"Apa yang sedang kau lakukan? Kau datang untuk meminta orang mati membuatkan patung tiruan dirimu. Apakah itu bukan nasib buruk?"

Lu Xiao Feng balas menatap Hwesio Jujur.

"Walaupun aku datang ke mari untuk meminta orang mati membuatkan patung diriku, kau sendiri sedang melakukan apa di sini?"

Pertanyaan itu tampaknya telah membuat Hwesio Jujur tertegun. Untunglah baginya, tepat pada saat itu si "Manusia Tanah Liat Zhang"

Yang kepalanya memar itu tiba-tiba mengeluarkan suara erangan. Waktu mereka pergi ke belakang tadi, mereka tidak membiarkan orang itu tergeletak di sana dan membawanya.

"Tampaknya ia hampir siuman,"

Hwesio Jujur menghela nafas lega.

"Syukurlah aku tidak membenturnya hingga tewas!"

"Apakah kau bermaksud membenturnya hingga tewas?"

Lu Xiao Feng menatapnya. Hwesio Jujur segera merangkap tangannya kembali untuk berdoa.

"Amida Buddha, keliru, keliru. Tuhan menganugerahkan kehidupan, jika aku punya maksud begitu, bukankah aku akan dilemparkan ke neraka tingkat 18?"

Lu Xiao Feng tertawa.

"Di sana tidak seburuk itu, setidaknya kau tentu akan bertemu beberapa teman lama. Di samping itu, jika kau tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk?" {Catatan. Kalimat Lu Xiao Feng "jika kau tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk?"

Adalah analog dengan sebuah ucapan sang Buddha yang berbunyi.

"Jika aku tidak masuk ke neraka, lalu siapa yang akan masuk?" } Hwesio Jujur menggelengkan kepalanya dengan kesal dan mulai bergumam sendiri.

"Tidak boleh berdebat dengan orang ini. Tidak boleh berdebat dengan orang ini. Tidak boleh….."

"Kau sedang berdoa?"

Lu Xiao Feng tak bisa menahan senyumannya.

"Aku hanya mengingatkan diriku sendiri agar aku tidak berdebat tentang neraka lagi di kemudian hari."

Hwesio Jujur menghela nafas.

Lu Xiao Feng ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

Ia melihat orang yang tergeletak di atas tanah itu akhirnya sadar dan berusaha duduk sambil memegangi kepalanya.

Lu Xiao Feng memandangnya, dan waktu ia juga melihat Lu Xiao Feng, matanya segera memperlihatkan perasaan takut.

Ketika ia melihat Hwesio Jujur, ia tampaknya semakin terkejut.

Kelihatannya ia mengenali hwesio ini.

Tapi tidak ada ekspresi sama sekali di wajah Hwesio Jujur, Lu Xiao Feng pun tidak membuka mulutnya.

Mereka berdua berdiri di depannya dalam bisu, menatapnya.

Orang ini mungkin bukan Manusia Tanah Liat Zhang yang sebenarnya, tapi ia memang seorang laki-laki tua.

Lu Xiao Feng tahu tidak ada gunanya baginya untuk bicara, tentu ia telah menyadari situasinya.

Laki-laki tua itu menghela nafas.

"Aku tahu kalian tentu memiliki banyak pertanyaan untukku, dan aku pun tahu apa yang ingin kalian tanyakan."

Tentu saja ia seharusnya tahu.

Siapa pun orangnya, setelah dijebak, tentu ingin bertanya dari mana asal musuhnya dan siapa yang merencanakan jebakan itu.

Seorang laki-laki yang berusia lebih dari 50 tahun bagaimana mungkin tidak tahu akan hal itu?

"Tapi apa pun yang kalian tanyakan, ada satu kalimat yang tidak bisa kukatakan, karena sekali aku mengatakannya, aku tentu akan mati."

"Kau takut mati?"

Lu Xiao Feng bertanya.

"Aku mungkin sudah tua, aku tahu kalau hidupku tidak lama lagi, tapi saat ini aku lebih takut mati daripada sewaktu aku masih muda!"

Ia berkata sambil tersenyum kaku.

Itu adalah kenyataan.

Semakin bertambah usia seseorang, semakin ia takut mati.

Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang tidak kenal takut adalah orang-orang muda, itulah sebabnya orang-orang yang terjun dari gedung-gedung juga adalah orang-orang muda – kapan kau melihat orang yang sudah tua melakukan bunuh diri?

"Jika kau begitu takut pada kematian, apakah kau tidak takut kalau kami membunuhmu?"

Lu Xiao Feng bertanya dengan wajah kosong.

"Tidak, aku tidak takut!"

"Mengapa tidak?"

Lu Xiao Feng heran.

"Karena dilihat dari penampilanmu, aku tahu kalau kau tidak suka membunuh, dan tampaknya kau pun tidak bermaksud untuk membunuhku."

"Kau tahu itu?"

"Aku hidup hingga seusia ini, jika aku tidak tahu itu, lalu apa saja yang kukerjakan seumur hidupku ini?"

Ia pun mulai tertawa, tertawa seperti seekor rubah tua.

"Kau keliru!"

Lu Xiao Feng menatapnya dengan garang dan memotong suara tawanya.

"Oh?"

"Kau tidak keliru tentang diriku, aku tidak akan membunuhmu. Tapi kau keliru tentang orang yang mengirimmu ke mari. Kau tidak berhasil membunuhku, maka tidak perduli apakah kau membocorkan rahasia atau tidak padaku, ia akan tetap membunuhmu."

Senyuman di wajah orang tua itu pun membeku dan perasaan takut muncul di matanya.

"Aku yakin kau tahu bagaimana cara dia bekerja. Jika kau ingin pergi, aku tidak akan mencegahmu. Tapi aku tidak perduli jika kau mati atau tidak!"

Orang tua itu bangkit dan berdiri, tapi ia tidak bergerak dari tempatnya.

"Aku tidak banyak membunuh orang, tapi yang kuselamatkan tidaklah sedikit!"

Lu Xiao Feng meneruskan.

"Kau… kau mau menolongku?"

"Kau mau membocorkan rahasia itu?"

Orang tua itu bimbang, ia belum mampu mengambil keputusan.

"Silakan berfikir, aku….."

Tiba-tiba ia berhenti bicara, hampir berhenti bernafas pula.

Tiba-tiba ia melihat bahwa bagian putih mata orang tua itu telah berubah menjadi hijau pucat.

Tapi di dalam mata yang hijau pucat itu ada setitik darah, siap untuk menetes.

Saat ia berlari ke sisi orang tua itu, sudut matanya telah pecah, tapi tampaknya ia sama sekali tidak merasakan sakit.

Lu Xiao Feng menggenggam tangannya, tangan itu terasa dingin seperti es.

Lu Xiao Feng terperanjat.

"Cepat, beritahukan namanya padaku!"

Bibir orang tua itu bergerak sedikit dan sebuah senyuman yang aneh pun muncul di wajahnya.

Senyuman itu baru saja muncul dan segera membeku.

Seluruh tubuhnya telah menjadi kaku dan kulitnya telah kering seperti kulit sapi.

Lu Xiao Feng mengulurkan tangan dan menyentuhnya.

"Bum!"

Kulitnya berdebum seperti genderang.

"Bubuk Mumi Kayu!"

Hwesio Jujur hampir menjerit, ia pun terperanjat. Lu Xiao Feng menghela nafas perlahan.

"Racun di dalam darah, manusia pun menjadi mumi."

"Mungkinkah dia telah keracunan dari semula dan baru sekarang racun itu bereaksi?"

"Jika kau tadi tidak berbenturan dengannya, mungkin ia telah berubah menjadi mumi segera setelah ia terbang keluar dari halaman."

"Jadi tidak perduli apakah jebakan yang dipasangnya berhasil atau tidak, ia memang pasti mati."

Lu Xiao Feng menghela nafas.

"Rencana yang begini rumit, begitu banyak nyawa yang telah melayang, semuanya ini untuk apa?"

"Untuk membunuhmu!"

Sebuah tatapan tidak percaya pun muncul di wajah Lu Xiao Feng.

"Jika semua ini adalah untuk membunuhku, harga yang mereka bayarkan mungkin sudah terlalu banyak!"

"Dan kau telah menilai dirimu sendiri terlalu rendah!"

"Mereka ingin membunuhku hanya karena mereka takut kalau aku merintangi jalan mereka!"

"Menurutmu, mereka punya tujuan lain?"

"Mm."

"Apa tujuan itu?"

"Dengan melihat besarnya harga yang telah mereka bayarkan sebegitu jauh, tentu ini menyangkut sesuatu yang amat besar!"

"Tapi apakah itu?"

"Mengapa kau tidak bertanya pada sang Buddha-mu Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun itu?"

"Sang Buddha hanya mendengar doa hwesio, dan hwesio tidak bisa mendengar kata-kata sang Buddha."

"Lalu mengapa kau menjadi hwesio?"

Hwesio Jujur tersenyum.

"Karena menjadi hwesio itu lebih baik daripada menjadi Lu Xiao Feng, Lu Xiao Feng terlalu banyak mengalami kecemasan dan masalah, hwesio amat sedikit mengalaminya!"

Tiba-tiba ia mulai bernyanyi dengan keras dan bertepuk-tangan.

"Kau mengalami masalah, aku tidak bermasalah. Masalah yang begitu besar, kau sendiri yang mencari gara-gara. Kau ingin mencari tahu lebih banyak, maka aku ingin pergi!"

Nyanyian itu tidak berhenti, tapi ia benar-benar pergi.

"Masalah yang begitu besar, kau sendiri yang mencari gara-gara."

Lu Xiao Feng menatap sosok tubuhnya hingga menghilang dan tersenyum letih.

"Sayangnya, walaupun aku berhenti mencari masalah, merekalah yang datang mencariku." -------------------Langit cerah, cuaca menyegarkan. Musim gugur telah tiba dengan kekuatan penuh. Lu Xiao Feng berjalan keluar dari gang dan bertemu dengan seorang laki-laki yang berdiri di mulut gang menantinya. Pakaiannya indah, tapi wajahnya pucat. Dia tak lain adalah jago nomor satu dari keluarga Tang, Tang Tian Zong. Mengapa ia menunggu di sini? Masalah apa lagi yang akan ditemui Lu Xiao Feng? Lu Xiao Feng tersenyum.

"Di mana temanmu? Apakah dia telah membayar teh itu?"

Tang Tian Zong menatapnya dengan mata yang merah seperti darah.

Tiba-tiba, ia berlutut dan menyembah Lu Xiao Feng sebanyak 3 kali, sehingga Lu Xiao Feng pun dibuat terkejut bukan main.

--"Masing-masing kalian berlutut sekarang juga dan ber-kowtow padaku sebanyak tiga kali."

Lu Xiao Feng sendiri yang telah memberikan syarat itu, tapi ia tidak pernah menduga kalau Tang Tian Zong benar-benar mau melakukannya.

Seorang pemuda angkuh seperti dirinya biasanya lebih suka kepalanya dipancung daripada ber-kowtow pada seseorang, siapa pun orangnya.

Tapi walaupun demikian, Tang Tian Zong telah melakukannya, dan bukan hanya benar-benar ber-kowtow, bunyi kepalanya saat membentur tanah pun terdengar cukup keras.

Pemuda yang congkak dan sombong ini mau merendahkan diri sedemikian rupa, sebenarnya apa tujuannya?

Lu Xiao Feng menghela nafas.

"Haruskah kau memburu Ye Gu Cheng? Kau mungkin tidak akan berhasil membalaskan dendammu walaupun kau berhasil memburunya!"

Tang Tian Zong bangkit lagi dan kembali menatap Lu Xiao Feng dalam kebisuan.

Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun atau mengeluarkan satu suara pun.

Yang bisa dilakukan Lu Xiao Feng hanyalah melepaskan sehelai sabuk sutera dari pinggangnya dan menyerahkannya.

Tang Tian Zong menerima sabuk itu, berputar, dan berjalan pergi.

Bab 9.

Masalah Sabuk Tanggal 15 September, siang hari.

Sinar matahari tampak berkilauan saat menyinari kota itu.

Lu Xiao Feng berjalan keluar dari Jalan Ikan Mas dan mulai menelusuri jalan raya yang kuno tetapi tetap ramai itu.

Walaupun ia tidak tidur malam sebelumnya, ia masih tampak penuh energi dan semangat.

Laki-laki dan perempuan berjalan mondar-mandir di jalanan dan pedagang besar dan kecil di kedua sisi jalan sedang sibuk menawarkan barang dagangannya.

Walaupun ia lebih sering terlibat dalam masalah daripada yang bisa ia hitung, hatinya tetap dipenuhi oleh perasaan gembira.

Karena ia menyukai manusia.

Ia menyukai wanita, ia menyukai anak-anak, ia suka bersahabat, ia selalu punya hati yang dipenuhi oleh kehangatan untuk semua orang.

Orang-orang pun banyak yang menyukai dirinya.

Pakaian di badannya mungkin agak kotor, tapi matanya tetap bersinar-sinar, ia tetap berdiri tegak dan bangga seperti sebelumnya.

Wanita mana pun, dari usia 14 hingga 40 tahun, sekali melirik dirinya, diam-diam tentu akan meliriknya lagi untuk kedua kalinya.

Ia telah melepaskan sabuk-sabuk yang terlilit di pinggangnya dan meletakkannya di atas pundaknya.

Dari 6 sabuk sutera, ia telah memberikan 2, satu pada Hwesio Jujur, satu lagi pada Tang Tian Zong.

Sekarang ia hanya berharap dapat menyingkirkan ke-4 sabuk sisanya sesegera mungkin.

Satu-satunya pertanyaan yang menghalang adalah ia tidak tahu kepada siapa ia harus menyerahkan sabuk-sabuk itu.

Di depan sana ada sebuah pertunjukan monyet yang baru saja hendak dimulai dan anak-anak segera mengerumuninya.

Seorang laki-laki tua berambut perak, sambil bertopang pada sebatang tongkat, berjalan perlahan-lahan keluar dari sebuah toko obat dan hampir ditabrak jatuh oleh dua orang anak kecil yang sedang berlari-lari ke tempat pertunjukan monyet itu.

Lu Xiao Feng segera berlari menghampiri dan memapahnya, mencegahnya jatuh.

"Bagaimana keadaanmu, Tuan?"

Ia tersenyum.

Laki-laki tua itu terbungkuk-bungkuk, sambil berusaha mengambil nafas.

Tiba-tiba, ia memalingkan kepalanya ke arah Lu Xiao Feng, mengedipkan mata, menjulurkan lidahnya, dan membuat muka setan.

Lu Xiao Feng terheran-heran.

Ia telah banyak melihat kejadian-kejadian aneh, tapi belum pernah ia bertemu laki-laki tua yang membuat muka setan pada dirinya.

Waktu ia akhirnya memperhatikan mata laki-laki tua itu, ia hampir menjerit.

SiKong Zhai Xing!

Ternyata laki-laki tua ini sebenarnya adalah samaran si "Raja Pencuri"

Yang tiada tanding dan tiada banding itu. Walaupun ia berusaha untuk tidak menjerit, ia lalu mengerahkan sedikit tenaga di tangannya dan menjepit lengan atas si raja maling dengan keras.

"Bajingan kecil, kau pun muncul juga?"

Ia berkata dengan suara yang rendah.

"Hehe, karena bajingan besar sepertimu telah muncul, mengapa bajingan kecil sepertiku tidak boleh berada di sini?"

Lu Xiao Feng menambah sedikit tenaga lagi dalam jepitannya.

"Kau hendak mencuri salah satu sabuk suteraku?"

Wajah SiKong Zhai Xing berkerut-kerut karena kesakitan dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan marah.

"Tidak?"

"Tidak, aku benar-benar tidak mengincar sabuk suteramu itu."

Melihat tampangnya, Lu Xiao Feng akhirnya melepaskan jepitannya dan tersenyum.

"Kau sudah berganti profesi?"

"Tidak!"

SiKong Zhai Xing menjawab, ia menghela nafas dan menggosok-gosok pundaknya itu.

"Jika kau belum berganti profesi, lalu mengapa kau tidak mencuri?"

"Aku sudah punya satu, mengapa aku masih harus mencuri satu lagi?"

"Apa yang sudah kau punyai?"

"Sehelai sabuk sutera."

Lu Xiao Feng terdiam sebentar.

"Kau sudah punya sehelai sabuk sutera?"

"Ya."

"Dari mana kau mendapatkannya?"

SiKong Zhai Xing tersenyum.

"Aku baru saja mengambilnya dari seorang teman."

"Dan teman itu adalah aku?"

SiKong Zhai Xing menghela nafas.

"Kau tahu bahwa aku tidak mempunyai teman sebanyak itu."

Lu Xiao Feng tersentak dan mengulurkan tangan, berusaha mencengkeram tangan SiKong Zhai Xing lagi.

Tapi SiKong Zhai Xing tidak mau membiarkan dirinya mencengkeram tangannya lagi dan ia segera berlari menjauh.

"Dari empat helai sabuk yang ada padamu, aku hanya mengambil satu, itu berarti aku sudah cukup murah hati, apakah kau tidak puas?"

Ia bertanya sambil tertawa terbahak-bahak. Lu Xiao Feng menatapnya dengan marah, tapi kemudian tiba-tiba ikut tertawa pula.

"Dulu kukira kau adalah orang yang cerdas, tapi ternyata kau hanya orang tolol!"

SiKong Zhai Xing mengedip-ngedipkan matanya, menunggu apa yang hendak ia katakan selanjutnya.

"Apakah kau telah bertanya pada dirimu sendiri mengapa aku seenaknya saja membawa-bawa sabuk sutera ini jika sabuk-sabuk ini adalah sabuk-sabuk sutera yang sesungguhnya?"

"Apakah sabuk sutera ini palsu?"

SiKong Zhai Xing hampir menjerit.

Lu Xiao Feng mengedipkan mata padanya, menjulurkan lidahnya, dan balas membuat muka setan pada dirinya.

SiKong Zhai Xing berdiri tertegun di sana selama beberapa saat dan kemudian, seperti main sulap, mengeluarkan sabuk sutera itu dari dalam lengan bajunya.

"Tampaknya sabuk ini benar-benar palsu."

Ia bergumam. Lu Xiao Feng tertawa.

"Aku tahu kau selalu mengatakan tidak pernah mencuri barang palsu, tapi siapa yang menduga bahwa hari ini adalah hari di mana kau berhasil diperdayai orang."

"Tolong jangan ceritakan pada siapa pun tentang hal ini, kau akan menghancurkan reputasiku."

"Kau mencuri dariku, dan aku tidak boleh bercerita pada orang lain tentang hal itu?"

Lu Xiao Feng merenung.

"Bagaimana jika aku mengembalikannya?"

"Jika kau mengembalikannya, aku tetap akan bercerita pada orang-orang. Raja Maling telah mencuri barang palsu! Semua pencuri bawahanmu tentu akan tertawa terbahak-bahak hingga gigi mereka copot bila mereka mendengar tentang hal ini!"

"Bagaimana jika aku mengembalikan sabuk sutera ini padamu dan kemudian mengundangmu makan besar?"

Lu Xiao Feng bimbang dan pura-pura menimbang-nimbang tawaran itu.

"Ini patut dipertimbangkan, tapi tergantung makanan macam apa yang akan kau suguhkan padaku."

"Sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang, ditambah dengan dua ekor bebek yang gemuk dan besar, bagaimana menurutmu?" {Catatan. Karena mereka berada di Beijing, dua ekor bebek yang disebut SiKong Zhai Xing itu, tentu saja, bebek Peking} Lu Xiao Feng tampaknya tidak begitu yakin, akhirnya, setelah banyak pertimbangan, ia mengangguk juga. Kenyataannya, ia hampir terbahak-bahak di dalam hatinya dan berguling-gulingan di tanah, hampir mati ketawa. --Akhirnya, ia berhasil memperdayai bajingan kecil ini. Melihat SiKong Zhai Xing mengangsurkan sabuk sutera itu padanya dengan demikian hormat dan sopan, ia hampir tak bisa menahan tawanya. Ia bukan saja hampir bergulingan di tanah sambil tertawa terbahak-bahak, ia pun merasa ingin berjungkir-balik. Tapi kemudian, secara tak terduga, SiKong Zhai Xing tiba-tiba menarik kembali sabuk sutera itu.

"Tidak, tak bisa jadi!"

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apanya yang tak bisa jadi?"

Lu Xiao Feng segera bertanya.

"Bebek-bebek itu terlalu gemuk, dan sirip ikan terlalu berminyak. Jika kau makan terlalu banyak, kau akan sakit perut. Kita kan sahabat lama, aku tidak bisa melakukan itu pada seorang sahabat lama!"

Lu Xiao Feng tertegun sekali lagi. SiKong Zhai Xing mengedip-ngedipkan matanya.

"Di samping itu, aku baru saja teringat sesuatu. Mendapatkan sabuk palsu kan masih lebih baik daripada tidak mendapat sabuk sama sekali, bagaimana menurutmu?"

Ia tampaknya juga sedang berusaha amat keras untuk menahan ledakan tawanya sebelum akhirnya melepaskannya sambil bersalto tiga kali dan melompat ke atas atap sebuah bangunan.

Masih sambil tertawa, ia melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada Lu Xiao Feng dan tiba-tiba menghilang.

Perut Lu Xiao Feng hampir meledak karena marahnya.

"Aku bersumpah, bajingan kecil itu adalah musuhku. Aku tidak mendapat apa-apa selain nasib buruk setiap kali bertemu dengannya."

Ia bergumam dengan gigi yang dikertakkan.

Ia bahkan belum selesai bicara ketika tiba-tiba ia menyadari bahwa anak-anak kecil yang tadinya menonton pertunjukan monyet itu sekarang sedang mengerumuninya.

Setiap pasang mata mereka sedang memandangnya, seakan-akan mereka merasa bahwa dirinya jauh lebih menarik daripada pertunjukan monyet kecil itu.

"Mengapa kalian tidak menonton monyet di sana itu?"

Lu Xiao Feng hampir tak bisa memasang muka kaku, karena ia menyadari nada ironi ucapannya itu. Satu orang anak menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Monyet itu tidak lucu, kau yang lucu."

Lu Xiao Feng tidak tahu apakah ia harus tertawa ataukah marah.

"Apa yang lucu denganku?"

Ia terpaksa bertanya.

"Kau bersahabat dengan kakek tadi, kau tentu juga tahu caranya terbang."

Lu Xiao Feng akhirnya faham, anak-anak ini berkumpul di sekelilingnya untuk melihatnya terbang. Anak-anak itu semuanya mulai berseru dan memohon.

"Tuan, bisakah kau terbang untuk kami? Tolonglah!"

Lu Xiao Feng menghela nafas, tapi tiba-tiba ia kemudian tertawa kecil mengingat kejeniusan dirinya sendiri.

"Aku akan mengajarkan kalian sebuah lagu pendek, dan jika kalian menyanyikannya untukku, aku akan terbang untuk kalian. Bagaimana?"

Semua anak itu segera bertepuk-tangan dengan senang.

"Ya, kami akan bernyanyi, kami akan menyanyikannya setiap hari mulai sekarang!"

Lu Xiao Feng segera duduk untuk mengajari anak-anak itu lagu berikut.

"SiKong Zhai Xing, si peri monyet. Peri nakal, juga bajingan yang busuk. Bajingan yang jahat sekali, patut mendapat pukulan di pantat."

Anak-anak ini adalah pelajar yang baik, mereka segera hafal lagu tersebut dan mulai menyanyikannya sekeras-kerasnya, bernyanyi tiada hentinya.

Semakin lama Lu Xiao Feng mendengarkan lagu ini, semakin lucu rasanya.

Segera ia terbungkuk-bungkuk sambil tertawa terbahak-bahak.

Maka, ia pun lalu bersalto tiga kali, mendarat di atas atap sebuah bangunan, dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan pada anak-anak itu.

"Jika kalian menyanyikan lagu ini kapan pun kalian bisa, aku akan datang kembali dan terbang untuk kalian kapan pun aku bisa!"

Ia berkata di tengah-tengah deraian tawanya.

______________________________ Benar saja, satu sabuk telah berkurang dari 4 sabuk yang tadinya berada di atas pundaknya.

Bahkan Lu Xiao Feng pun terpaksa mengakui bahwa SiKong Zhai Xing benar-benar hebat, peri monyet kecil itu mampu mencuri sesuatu dari Lu Xiao Feng tepat di depan hidungnya sendiri.

Semula ia merasa perutnya hampir meledak karena marahnya, lalu hampir meledak karena tawanya, tapi sekarang ia hanya merasa kekosongan di dalam perutnya.

Ia amat kelaparan.

Untunglah baginya, saat itu sudah tiba waktunya makan siang.

Terdengar dari semua rumah makan, baik besar atau pun kecil, dentingan suara pisau dan peralatan dapur saat mereka mempersiapkan segala jenis masakan.

Bahkan orang-orang yang tidak lapar pun akan segera lapar saat mendengarnya.

Jika ia tidak makan besar sekarang juga, perutnya yang tadi hampir meledak karena marah dan kemudian hampir meledak karena tawa mungkin akan segera mengempis karena kelaparan.

"Bawakan aku sepiring besar sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang, seekor bebek goreng, sekilo biscuit, dan selain itu, berikan aku satu setengah kilo arak Bambu Hijau dan 4 jenis masakan lain yang cocok dinikmati bersama arak."

Ia pergi ke rumah makan terdekat, mengambil meja terdekat, memesan 8 jenis lebih masakan yang teringat di kepalanya, dan menunggu.

Tidak satu pun dari 8 macam masakan itu yang telah tiba, tapi dari luar sana telah berdatangan beberapa orang.

Orang yang di depan mengenakan pakaian sutera terbaik dan bersikap seakan-akan dialah orang yang memiliki tempat itu.

Walaupun sudah ada sedikit uban di kepalanya, ia masih berpakaian seperti seorang pemuda.

Di sekeliling pinggangnya terlilit sehelai sabuk giok yang bertatahkan kristal-kristal yang amat besar dan bahkan jamrud-jamrud yang lebih besar lagi ukurannya.

Sabuk itu saja sudah tak ternilai harganya, tapi pedang yang terikat pada sabuk itu jauh lebih berharga daripada sabuk itu sendiri.

Di belakangnya ada segerombolan pemuda yang tampak angkuh luar biasa, masing-masing berpakaian lebih mentereng daripada yang lain dan mereka semua tampaknya telah memasang matanya tinggi-tinggi di atas kepala.

Tapi setiap orang dari mereka bergerak dengan lincah dan gesit yang menunjukkan bahwa mereka semuanya cukup ahli dalam ilmu kungfu.

Orang-orang ini berjalan masuk, melirik sekilas pada Lu Xiao Feng, dan duduk bergerombol di meja terbesar.

Walaupun mereka tidak memandang orang lain, seakan-akan semua orang tiada harganya untuk dilihat oleh mereka, setidaknya mereka sesekali masih melirik Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng tidak mengalihkan perhatiannya pada mereka, tapi ia masih bisa mengenali pedang yang terikat pada sabuk giok itu.

Sebatang pedang yang bersarungkan kulit ikan hitam dengan mulut terbuat dari emas putih, sebatang pedang yang berbentuk amat aneh dan berukuran luar biasa panjang.

Bersama dengan rumbai-rumbainya yang berwarna merah darah, ada dua buah patung ikan yang terbuat dari giok putih murni.

Siapa saja yang mengenali pedang ini tentu juga akan mengenali orang yang membawa pedang.

Orang setengah umur berpakaian sutera itu, tentu saja, tak lain daripada majikan Gedung Kesenangan Abadi, di Telaga Ikan Kembar, Bukit Harimau, di sebelah selatan sungai Yangtze.

"Jago Pedang Damai dan Tenang"

Si Ma Zi Yi.

"Emas Nan Gong, Perak Ou Yang, Giok Si Ma" . Ungkapan itu khusus ditujukan pada tiga keluarga besar yang kaya-raya di dunia persilatan. Giok selalu dipandang sebagai yang paling berharga di antara ketiganya, maka Gedung Kesenangan Abadi, tak diragukan lagi, merupakan yang terkaya dan termewah di antara ketiganya. Di samping kungfu warisan keluarga yang ia miliki, Si Ma Zi Yi juga merupakan satu-satunya murid "Majikan Pedang Besi"

Yang termasyur puluhan tahun yang lalu.

Dulu dia adalah seorang pemuda yang menonjol baik dalam bidang akademis maupun kungfu, ditambah dengan warisan keluarganya yang terkenal, dan hasilnya adalah ia telah termasyur ke seluruh dunia sebelum usianya mencapai duapuluh tahun.

Walaupun sekarang ia telah memasuki usia setengah baya, ia masih memiliki keangkuhan dan sikap seperti di masa mudanya serta wajah yang tampan.

Bisa melihat seorang laki-laki di masa jayanya adalah sebuah peristiwa yang amat menyenangkan, tapi Lu Xiao Feng lebih suka memasang pandangannya pada sepiring sirip ikan yang dimasak dalam saus kacang.

Sirip ikan itu dimasak dengan baik, dan araknya pun memiliki suhu yang pas.

Lu Xiao Feng mengambil sumpitnya dan baru saja hendak mulai makan saat ia melihat seorang pemuda berpakaian ungu, dengan sepasang patung ikan yang terbuat dari giok putih menggantung di pedangnya, berjalan ke arahnya.

Lu Xiao Feng menghela nafas sendiri.

Masalah kembali datang padanya.

Maka ia segera, sebelum pemuda itu tiba di dekatnya, menyumpal mulutnya sendiri dengan sirip ikan.

Dengan tangan di pedang, pemuda itu beberapa kali memperhatikan Lu Xiao Feng dari atas ke bawah dengan pandangan yang dingin, sebelum akhirnya merangkap tangannya sebagai tanda memberi hormat.

"Tuan tentu Lu Xiao Feng."

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Aku Hu Qing, dari Suzhou, Bukit Harimau, Gedung Kesenangan Abadi di Telaga Ikan Kembar. Yang duduk di sana itu adalah guruku. Kufikir Tuan tentu telah tahu."

Lu Xiao Feng mengangguk lagi.

"Tidak bermaksud mengganggu semak belukar, Guru menyuruhku datang ke sini untuk meminta Tuan meminjamkan sabuk di pundakmu itu dan juga mengundang Tuan untuk minum."

Kali ini Lu Xiao Feng tidak mengangguk, ia pun tidak menggelengkan kepalanya, ia malah menunjuk mulutnya sendiri.

Ia belum menelan sirip ikan itu, maka tidak mungkin ia bisa bicara.

Hu Qing mengerutkan keningnya.

Walaupun kelihatannya ia telah kehilangan kesabarannya, yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri di sana dan menunggu Lu Xiao Feng selesai mengunyah.

"Tuan bisa memberiku sabuk itu sekarang juga jika Tuan mau. Jika Tuan ingin menyimpan satu untuk Tuan sendiri, itu juga boleh."

Ia mengajukan tawaran saat Lu Xiao Feng mengunyah sirip ikan itu.

Kelihatannya ia sudah mulai marah.

Ia bersuara seolah-olah ucapannya itu bukan apa-apa, seakan-akan kenyataan bahwa ia telah membuka mulutnya itu telah amat banyak memberi muka pada Lu Xiao Feng.

Dengan tenang-tenang saja Lu Xiao Feng menelan sirip ikan itu, lalu menghirup araknya sekali sebelum mengeluarkan desahan puas.

Lalu ia melemparkan sebuah senyuman pada Hu Qing.

"Aku telah lama mengagumi kemasyuran dan reputasi Tuan Si Ma, dan aku amat berterimakasih atas maksud baik dan keramahan Tuan Si Ma. Sedangkan sabuk itu…."

"Bagaimana dengan sabuk-sabuk itu?"

"Kalian tidak bisa meminjamnya."

Lu Xiao Feng menolak tawaran itu dengan santai.

Ekspresi wajah Hu Qing tampak tertekuk dan ia segera mencengkeram pedangnya.

Tapi Lu Xiao Feng bahkan tidak meliriknya saat ia mengambil sebuah sirip ikan lagi dan mulai mengunyahnya dengan hati-hati di dalam mulutnya, sambil menikmati rasanya.

Hu Qing memandangnya dengan marah dan urat-urat darah di punggung tangannya tampak berdenyut-denyut, seakan-akan ia telah bersiap-siap untuk menghunus pedangnya.

Tiba-tiba seseorang terbatuk beberapa kali di belakangnya.

"Seharusnya kau tidak menggunakan kata ‘pinjam’ itu, tidak ada orang yang mau meminjamkan benda seperti itu."

Si Ma Zi Yi pun benar-benar telah merendahkan dirinya untuk datang menghampiri, tapi ia masih berhenti pada posisi yang agak jauh, seakan-akan ia mengharapkan Lu Xiao Feng untuk bangkit dan menyambutnya.

Lu Xiao Feng tidak perduli.

Ia jelas lebih memperhatikan piring berisi sirip ikan yang berada di hadapannya daripada benda atau orang lain.

Maka Si Ma Zi Yi sendiri yang terpaksa berjalan menghampiri dan, dengan tangannya yang terawat baik, menunjuk meja.

Hu Qing segera mengeluarkan sehelai cek dan meletakkannya di atas meja.

Dengan menggunakan tangan yang sama, Si Ma Zi Yi mengelus-elus jenggotnya yang juga terawat dengan baik.

"Cincin giok mungkin indah, tapi kurang berguna bila dibandingkan dengan uang. Bu Ju tidak faham sifat orang, maka tentu saja ia pun terjungkal."

Berita benar-benar menyebar dengan cepat di ibukota ini, bahkan seseorang seperti dirinya pun bisa tahu tentang hal itu hanya dalam waktu dua jam.

"Saya yakin Tuan merasakan hal yang sama."

Si Ma Zi Yi mengakhiri. Lu Xiao Feng mengangguk tanda setuju.

"Ini adalah sehelai cek bernilai 50 ribu tael yang bisa diuangkan dengan segera. Dengan uang sebanyak itu, orang biasa akan dapat hidup tanpa perasaan cemas untuk seumur hidupnya."

Lu Xiao Feng pun sependapat mengenai hal itu.

"Lima puluh ribu tael perak sudah lebih dari cukup untuk dua helai sabuk sutera, kapan saja waktunya, di mana pun tempatnya."

Lu Xiao Feng pun amat setuju dengan hal itu. Sebuah senyuman pun muncul di wajah Si Ma Zi Yi dan ia bermaksud untuk pergi, karena kesepakatan telah tercapai. Tapi tiba-tiba Lu Xiao Feng yang bicara.

"Mengapa Tuan tidak membawa cek ini?"

"Membawanya?"

"Ke tukang jahit."

Si Ma Zi Yi tidak faham.

"Di luar sana ada sejumlah tukang jahit. Tuan bisa membuat kesepakatan dengan siapa pun dari mereka, itu jauh lebih sederhana."

Ekspresi wajah Si Ma Zi Yi pun jadi tertekuk.

"Aku ingin menukar cek ini dengan sabukmu."

Lu Xiao Feng tertawa.

"Sabuk ini bukan untuk dipertukarkan."

Wajah Si Ma Zi Yi yang selalu bersinar-sinar sekarang berubah menjadi kehijau-hijauan.

"Jangan lupa, ini bernilai lima puluh ribu tael perak."

Ia membentak. Lu Xiao Feng menghela nafas.

"Jika Tuan mengijinkanku makan sepiring sirip ikan ini dengan tenang, aku akan membayar Tuan lima puluh ribu tael perak!"

Wajah Si Ma Zi Yi yang hijau membesi tampak berubah menjadi merah padam.

Seseorang yang duduk di meja pinggir sana tak dapat mengendalikan dirinya lagi dan tertawa kecil.

Setelah suara tawa itu terdengar, terlihat seberkas sinar pedang.

"Tring!"

Ujung pedang itu telah terjepit oleh sepasang sumpit.

Orang yang tertawa tadi adalah seorang saudagar yang setengah mabuk, pedang itu milik Hu Qing.

Hanya dengan sebuah putaran pergelangan tangannya, pedang panjang di pinggangnya telah terbang.

Tapi Lu Xiao Feng lebih cepat lagi, karena ia secara tiba-tiba, dan dengan santai, mengulurkan sumpitnya dan menjepit ujung pedang itu, seperti seorang pawang ular yang menangkap seekor ular.

Wajah Hu Qing pun tampak membeku dan ia tertegun memandang pada Lu Xiao Feng.

"Dia sedang mabuk."

Lu Xiao Feng berkata. Hu Qing mengigit bibirnya dan berusaha menarik pedang itu, tapi pedang tersebut seperti telah menyatu dengan sumpit.

"Tidak ada aturan tak boleh tertawa di sini, ini bukan Gedung Kesenangan Abadi."

Lu Xiao Feng berkata dengan santai. Keringat pun muncul di kening Hu Qing.

"Trang!"

Tiba-tiba terlihat seberkas sinar pedang lagi dan pedang di tangannya telah patah menjadi dua bagian! Pedang Si Ma Zi Yi telah meninggalkan sarungnya, tapi sekarang telah kembali ke tempatnya.

"Mundur."

Ia memerintah dengan gusar.

"Sejak hari ini, kau dilarang menggunakan pedang."

Dengan kepala tertunduk malu, Hu Qing menatap pedang patah yang berada di tangannya, lalu mulai mundur dengan perlahan. Setelah 7 atau 8 langkah, air mata tiba-tiba muncul di wajahnya.

"Sayang, sia-sia belaka!"

Lu Xiao Feng menghela nafas.

"Sia-sia?"

"Aku mengatakan sayang tentang pedang itu, sayang juga tentang pemuda itu. Tekniknya tidak terlalu jelek, dan pedangnya pun tidak terlalu buruk."

Ekspresi wajah Si Ma Zi Yi masih tetap gelap dan ia berkata dengan dingin.

"Pedang yang bisa terpotong menjadi dua bagian bukanlah pedang yang bagus!"

"Mungkin satu-satunya sebab mengapa pedangnya terpotong menjadi dua bagian adalah karena seseorang sedang menjepit ujung pedang itu."

"Jika pedang itu bisa ditangkap, tentu tidak ada gunanya menyimpannya lagi."

Lu Xiao Feng meliriknya.

"Jadi pedangmu tak akan pernah tertangkap orang jika kau menyerang dengan pedangmu?"

"Tak pernah."

Lu Xiao Feng tersenyum, tersenyum secara tiba-tiba.

"Sabukku bukan untuk dipinjamkan, dipertukarkan, apalagi dijual!"

"Kau menantangku untuk mengambilnya dengan paksa?"

Si Ma Zi Yi mengejek.

"Atau kita bisa bertaruh saja."

"Taruhan seperti apa?"

"Taruhan terhadap pedangmu."

Si Ma Zi Yi tidak faham.

"Jika benar tidak ada orang yang bisa menangkap pedangmu, maka kau menang. Dan kau bukan hanya bisa pergi dengan membawa sabuk suteraku, kau pun boleh mengambil kepalaku kapan saja kau mau."

"Aku tidak menginginkan kepalamu."

"Tapi kau menginginkan sehelai sabuk suteraku."

Si Ma Zi Yi menatap dengan gusar.

"Selain dari itu, apakah tidak ada cara lain?"

"Tidak."

Si Ma Zi Yi tidak berkata apa-apa untuk beberapa lama.

"Aku akan mengincar pundak kirimu, bersiaplah."

Tiba-tiba ia berkata. Sambil tersenyum Lu Xiao Feng menepuk pundak kirinya.

"Bajuku tidak begitu bersih, aku belum mencucinya selama dua hari ini. Jadi kau mungkin harus menyerang secepat yang kau bisa agar pedangmu tidak menjadi kotor."

"Asal ada darah yang bisa dipakai untuk mencuci, tidak masalah jika pedangku jadi kotor."

Si Ma Zi Yi membalas tanpa perasaan humor.

"Aku tak tahu apakah darahku bersih atau tidak."

"Kau akan segera mengetahuinya."

Saat kata "nya"

Terdengar, pedang itu telah terhunus dari sarungnya.

Seperti kilat, sinar pedang pun terbang ke arah pundak kiri Lu Xiao Feng.

Pedang itu jauh lebih panjang daripada pedang biasa, jadi seharusnya lebih sulit untuk dihunus dengan cepat.

Tapi ia menggunakan sebuah teknik khusus untuk menghunus pedangnya, sehingga sekali pedang itu keluar dari sarungnya, senjata itu sudah hampir menyentuh pundak Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng mengulurkan tangannya dan menjepitkan kedua jarinya!

Seharusnya gerakannya itu merupakan sebuah gerakan yang amat sederhana, tapi akurasi dan kecepatannya merupakan hal yang tidak bisa dibayangkan siapa pun, apalagi menguraikannya.

Gerakan ini mungkin sederhana, tapi ia telah menempanya melalui ribuan kali percobaan untuk merubahnya menjadi sesuatu yang luar biasa.

Si Ma Zi Yi bisa merasakan hatinya karam, ia juga bisa merasakan darahnya karam.

Pedangnya telah tertangkap!

Ia mulai berlatih dengan pedang bamboo pada usia empat tahun.

Pada umur 7 tahun, ia mulai menggunakan pedang sebenarnya yang ditempa dengan baja murni.

Saat ini ia telah mempelajari ilmu pedang selama lebih dari 40 tahun.

Bahkan bagaimana cara menghunus pedang pun telah ia pelajari sebanyak lebih dari 130 macam manuver.

Saat ini ia mampu, dalam satu gerakan saja, menghunus pedangnya dan menusukkan ujung pedangnya menembus 12 keping uang perunggu yang dijatuhkan secara sembarangan.

Tapi sekarang, pedangnya telah tertangkap orang.

Saat itu ia hampir tidak bisa mempercayai kenyataan ini.

Ia menatap tangan Lu Xiao Feng, hampir tidak percaya kalau tangan ini benar-benar terdiri dari daging dan darah.

Lu Xiao Feng pun sedang menatap tangannya.

"Kau tidak menggunakan kekuatan penuh dalam serangan tadi."

Tiba-tiba ia berkata.

"Kelihatannya kau benar-benar tidak memburu kepalaku."

"Kau…."

Lu Xiao Feng memotong ucapannya dengan sebuah senyuman.

"Aku bukan orang yang baik, tapi kau pun bukan orang yang jahat. Karena kau tidak menginginkan kepalaku, aku akan memberimu sehelai sabuk sutera!"

Ia melepaskan satu sabuk dan menggantungnya di ujung pedang Si Ma Zi Yi sebelum bangkit dan berjalan keluar tanpa memandang ke belakang lagi.

Ia khawatir berubah fikiran kalau ia melakukannya.

Walaupun ia belum kenyang, Lu Xiao Feng tetap merasa senang dalam hatinya.

Karena ia tahu bahwa saat ini Si Ma Zi Yi tentu telah memahami 2 hal.

Pedang siapa pun bisa tertangkap, dan cara pendekatan yang lembut terhadap orang tertentu akan jauh lebih baik daripada pendekatan yang kasar.

Ia yakin bahwa, setelah mempelajari dua macam hal tersebut, Si Ma Zi Yi tentu akan merubah sikapnya yang angkuh dan suka mengancam itu.

Tapi apa gunanya semua ini bagi dirinya?

Ia bahkan tidak memikirkan hal itu.

Apa pun yang ia lakukan, Lu Xiao Feng tidak pernah berfikir untuk dirinya sendiri.

Tetapi perutnya yang keberatan.

Ia mungkin sedang tidak memiliki selera yang besar seperti biasa, tapi dua suap sirip ikan tentu tidak cukup memuaskan perutnya.

Bagi dirinya, bisa makan penuh dengan tenang seperti telah berubah menjadi sesuatu yang hampir mustahil.

Selama ia membawa-bawa sabuk sutera itu, tidak perduli ke mana pun ia pergi, masalah tentu akan segera mencarinya.

Bagaimana ia harus menyingkirkan dua helai sabuk sutera terakhir?

Kepada siapa ia harus memberikannya?

Tadinya ia bermaksud memberikan salah satunya pada Tosu Kayu, tapi Tosu Kayu tidak kelihatan.

Yang seharusnya tidak muncul malah muncul, tapi yang seharusnya muncul malah tidak satu pun yang terlihat.

Karena ada orang yang tidak pernah muncul bila mereka diharapkan muncul dan selalu muncul saat mereka tidak diduga akan muncul.

Lu Xiao Feng sepertinya selalu bertemu dengan orang-orang semacam ini.

Ia menghela nafas.

Tiba-tiba, ia melihat Hwesio Jujur sedang berjalan dari arah yang berlawanan, sambil menggigit sepotong roti manis yang amat besar di tangannya.

Saat ia melihat Lu Xiao Feng, ia bereaksi seakan-akan ia baru saja melihat hantu dan segera berusaha untuk kabur.

Tapi Lu Xiao Feng telah menghadangnya dan menariknya hingga berhenti.

"Pergi begitu tergesa-gesa? Ke mana kau akan pergi?"

Hwesio Jujur memutar-mutar bola matanya dan menjawab.

"Aku tidak mengganggumu, aku tidak melanggar hokum, mengapa kau menghadangku?"

Lu Xiao Feng mengedip-ngedipkan matanya, dan kemudian mengembangkan sebuah senyuman.

"Karena aku ingin membuat kesepakatan denganmu."

"Aku tidak ingin membuat kesepakatan denganmu, aku tidak mau dirampok."

"Kujamin kau tidak akan dirampok."

Hwesio Jujur memandangnya dan terlihat bimbang.

"Coba kudengar dulu kesepakatan macam apa yang ada di benakmu."

"Aku akan menukar dua helai sabuk sutera ini dengan roti manis hangat yang ada di tanganmu itu."

"Tidak bisa."

"Mengapa tidak?"

Lu Xiao Feng berteriak.

"Karena aku tahu tidak ada kesepakatan yang begini bagus di dunia ini."

Ia memutar-mutar bola matanya lagi.

"Bu Ju berusaha menukar sabuk itu dengan cincin giok, kau menolak. Si Ma menawarkan lima puluh ribu tael perak, kau menolak. Sekarang kau ingin menukarnya dengan rotiku yang hangat, dan kau kan tidak gila."

"Kau takut kalau akan memasang perangkap untukmu?"

"Aku tidak perduli kau memasang perangkap atau tidak, aku tidak akan terperdaya."

"Jadi kau sudah tetap pada keputusanmu?"

"Ya."

"Tidak menyesal?"

"Tidak menyesal."

"Baik, tidak jadi kalau begitu. Tapi bila aku ingin bicara, kau tidak bisa mencegahku bicara."

"Bicara tentang apa?"

Hwesio Jujur terpaksa bertanya.

"Bicara tentang kisah seorang hwesio yang pergi ke rumah pelacuran untuk bertemu dengan seorang pelacur."

Hwesio Jujur tiba-tiba menyusupkan roti hangat itu ke tangan Lu Xiao Feng, meraup sabuk-sabuk sutera itu, dan berjalan pergi ke arah yang berlawanan.

"Jangan lupa, salah satu dari sabuk itu adalah untuk Tosu Kayu, kau harus menyimpan satu untuknya. Kalau tidak aku akan tetap bicara."

Lu Xiao Feng berteriak ke arah sosok tubuhnya yang menjauh itu.

Hwesio Jujur bahkan tidak mau berpaling dan ia menghilang lebih cepat daripada seekor kuda jantan yang dicambuk.

Lu Xiao Feng tertawa.

Ia tidak ingat kapan perasaannya pernah seenteng ini, seakan-akan ia tidak pernah sebahagia dan setenang ini dalam hidupnya.

Akhirnya ia berhasil menyingkirkan "bara panas"

Itu pada orang lain.

Rasanya seolah-olah beban seberat satu ton telah terangkat dari punggungnya.

Roti itu masih belum benar-benar dingin, saat menggigitnya ia pun hampir berani bersumpah bahwa roti ini benar-benar lebih enak daripada sirip ikan tadi.

Tadinya ia mencurigai Hwesio Jujur sebagai dalang di balik semua persekongkolan ini, tapi sekarang tampaknya ia telah lupa.

Apakah ia bodoh?

Atau benar-benar cerdik?

Matahari pelan-pelan bergeser ke barat.

Sudah dua jam berlalu sejak Lu Xiao Feng menyerahkan sabuk sutera itu pada Hwesio Jujur.

Tidak ada yang tahu apa yang ia lakukan selama dua jam itu.

Tampaknya ia hanya berjalan-jalan mengelilingi kota beberapa kali.

Walaupun tadi ada beberapa orang yang mengikutinya, sekarang ia telah berhasil melepaskan diri dari untitan mereka.

Tentu saja ia tidak mau mengambil resiko membawa mereka ke Rumah Makan Lezat dan Harum.

Ia masuk lewat pintu belakang, tidak terdengar satu pun suara di halaman belakang.

Udara dipenuhi oleh campuran aroma bunga crysanthemum dan osmanthus.

Bahkan ikan-ikan mas kecil di dalam kolam di bawah pohon delima itu tampak terlalu malas untuk bergerak.

Setelah melewati semak-semak crysanthemum, terlihat seseorang duduk di dalam pondok kecil itu.

Seperti terpesona, orang tersebut duduk di atas pagar pembatas.

Bunga-bunga crysanthemum itu berwarna kuning, pagar tersebut bercat merah, tapi bajunya berwarna hijau cerah dan ujungnya melambai-lambai di sekitar tubuhnya yang langsing bagaikan pohon liu.

Tanda-tanda sakit belum benar-benar hilang dari wajahnya yang pucat, tapi semangat baru bisa terlihat dengan jelas di dalam dirinya.

Tampaknya ia hampir tidak kuat untuk menahan lambaian pakaiannya itu.

Warna musim gugur di halaman ini mungkin indah, tapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikannya.

Tampaknya baru sekarang Lu Xiao Feng menyadari betapa cantiknya OuYang Qing sebenarnya.

Apakah itu hanya karena baru sekarang ia tahu bahwa gadis itu diam-diam mencintainya?

Angin meniup semak-semak bunga crysanthemum yang berada di dekat pagar.

Beberapa helai daun yang gugur telah jatuh di atas jalan setapak.

Diam-diam ia berjalan menghampiri.

Tiba-tiba ia melihat mata OuYang Qing yang bersinar-sinar sedang menatap lurus ke arahnya.

Mereka tidak sering bertemu.

Kenyataannya mereka belum pernah berbincang-bincang lebih dari 10 kalimat.

Tapi sekarang ada sebuah perasaan yang tak dapat diuraikan dan susah difahami yang menyentak jantung Lu Xiao Feng, menyebabkan jantungnya berdebar lebih cepat.

Ia seperti benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Apa yang dirasakan gadis itu di dalam hatinya?

Setidaknya Lu Xiao Feng tidak mampu melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya.

Gadis itu memandang padanya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.

Apakah ia memang orang yang amat tenang pembawaannya, ataukah ia orang yang amat pandai bersandiwara?

Dan berapa banyak wanita di dunia ini yang tidak pintar bersandiwara?

Lu Xiao Feng menghela nafas dan berjalan memasuki pondok itu.

"Kau sudah merasa baikan?"

Ia bertanya sambil tersenyum canggung. OuYang Qing mengangguk dan menunjuk kursi batu di hadapannya.

"Duduklah."

Tadinya Lu Xiao Feng hendak duduk di sampingnya, tapi jika gadis itu bersikap begitu dingin, tentu ia pun tidak bisa bersikap terlalu hangat.

--Mengapa wanita begitu suka bersandiwara?

Apakah itu karena mereka semua tahu bahwa jenis perempuan seperti inilah yang disukai laki-laki?

Jika OuYang Qing sejak dulu bersikap ramah dan hangat pada Lu Xiao Feng, mungkin sudah sedari dulu ia kabur jauh-jauh.

Maka ia pun duduk dengan patuh di atas kursi batu itu.

"Di mana XiMen Chui Xue?"

Ada banyak hal di dalam hatinya yang ingin ia tanyakan, tapi ia tidak sanggup mengatakannya, maka ia sembarangan saja bertanya.

"Ia ada di dalam rumah bersama isterinya, kurasa ada banyak hal yang hendak mereka bicarakan."

Lu Xiao Feng bangkit, tapi kemudian terduduk lagi.

Ia ingin masuk dan berbicara dengan XiMen Chui Xue, tapi ia tidak ingin OuYang Qing menganggap dirinya tidak mengerti keadaan orang.

Duel sudah dekat, hasilnya masih diragukan, perpisahan ini sangat bisa jadi merupakan yang terakhir kalinya bagi mereka.

Seharusnya ia membiarkan mereka berdua menghabiskan sore ini bersama-sama dengan tenang, membiarkan mereka membicarakan semua hal yang seharusnya tidak didengarkan oleh orang lain.

Taman itu seperti menelan mereka, aroma bunga tercium di udara, pemandangan di sekitar mereka terasa seperti mimpi.

Bukankah hanya mereka berdua pula yang ada di sana?

Bukankah ada banyak hal yang juga hendak mereka bicarakan?

Tapi ia tidak bisa memikirkan apa yang hendak dikatakan!

Tampaknya ia seperti telah berubah menjadi anak remaja yang sedang mengalami kencan pertamanya.

"Kau mengenalnya?"

OuYang tiba-tiba memecahkan kesunyian.

"Siapa?"

OuYang Qing menunjuk ke sampingnya, barulah Lu Xiao Feng melihat patung lilin kecil yang duduk di atas pagar pembatas itu.

Itulah patung Tuan Wang.

Ia tak faham mengapa gadis itu tiba-tiba begitu tertarik pada patung kasim tersebut.

"Kau mengenalnya?"

"Aku pernah melihatnya, ia pernah datang ke tempat kami."

Yang dimaksud "tempat kami"

Itu tentu saja rumah pelacuran tempat OuYang Qing bekerja. Lu Xiao Feng semakin bingung.

"Kau tahu kalau orang ini adalah seorang kasim?"

Ia tak tahan untuk tidak bertanya.

"Di tempat kami terdapat segala jenis pelanggan."

OuYang Qing menjawab dengan acuh tak acuh.

"Bukan hanya kasim, hwesio juga ada."

Tampaknya ia masih ingat apa yang terjadi hari itu, masih ingat bahwa Lu Xiao Feng pernah berbuat salah padanya.

Tapi Lu Xiao Feng tampaknya benar-benar telah melupakan hal itu, ada terlalu banyak pertanyaan yang lebih penting baginya untuk direnungkan.

"Ia bukanlah kasim pertama yang datang ke tempat kami, dan pada hari itu, ia tidak datang sendirian!"

OuYang Qing melanjutkan.

"Siapa lagi yang datang bersamanya?"

Lu Xiao Feng segera memburu.

"Waktu ia tiba, ia hanya sendirian, tapi setelah itu dua orang jago pedang dari Sekte Laut Selatan pun muncul mencarinya, seakan-akan mereka telah mengatur sebuah pertemuan sebelumnya."

"Bagaimana kau tahu kalau mereka berasal dari Sekte Laut Selatan?"

"Aku mengenali pedang mereka."

Pedang Sekte Laut Selatan bukan hanya luar biasa panjang dan sempit, tapi juga memiliki bentuk yang istimewa.

"Aku juga tahu bahwa orang tua ini adalah seorang kasim. Tak perduli bagaimana bagusnya ia menyamar, aku selalu bisa tahu."

"Si Untung Besar Sun berada di sana juga hari itu?"

"Mm."

Mata Lu Xiao Feng pun bersinar-sinar.

Tuan Wang tentu telah mengatur pertemuan itu dengan dua jago pedang dari Sekte Laut Selatan di rumah pelacuran untuk membicarakan sebuah rencana rahasia.

Sewaktu mereka tahu bahwa OuYang Qing dan si Untung Besar Sun telah tiba di ibukota, mereka takut kalau salah satu dari keduanya akan mengenali mereka, maka mereka pun memburu keduanya untuk dibungkam.

Kematian Nyonya Pertama Gong Sun tentu ada hubungannya dengan hal ini.

Dua jago pedang Sekte Laut Selatan itu mungkin sama dengan dua jago pedang yang binasa di krematorium.

Lu Xiao Feng menghela nafas dalam-dalam.

Ia akhirnya menemukan benang itu.

Sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari benang yang bisa menghubungkan benang ini dengan benang-benang lain yang telah ia temukan, lalu ia akan berhasil memecahkan kasus ini.

Apakah ia bisa menemukan beberapa benang lagi saat ini?

Banyak hal yang bisa dilakukan dalam waktu dua jam.

"Jika ada kasim yang berkunjung ke tempat kami, aku selalu membawanya ke kamarku!"

OuYang Qing tiba-tiba berkata.

"Mengapa begitu?"

"Karena mereka bukan laki-laki,"

Ia menjelaskan dengan dingin.

"Semakin tidak berguna seorang laki-laki, semakin ia ingin memperlihatkan kejantanannya. Maka walaupun aku memaksa mereka untuk tidur di lantai, mereka tidak akan berani mengeluh dan mau membayar persenan. Karena mereka amat khawatir kalau orang lain tahu tentang kelemahan mereka."

"Malam itu, waktu Hwesio Jujur bermalam di kamarmu, apakah ia pun tidur di lantai?"

Lu Xiao Feng bertanya. OuYang Qing mengangguk.

"Mungkinkah ia juga seorang kasim?"

"Ia mungkin bukan kasim, tapi ia pun bukan seorang laki-laki."

Lu Xiao Feng kembali menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menemukan sebab mengapa Hwesio Jujur berdusta padanya.

"Impoten"

Adalah sebuah kata yang dipandang laki-laki sebagai aib yang amat memalukan.

Itulah sebabnya ada laki-laki yang mau menghabiskan uang untuk tidur di lantai kamar seorang wanita daripada membiarkan orang lain tahu bahwa ia impoten.

Hwesio Jujur adalah seorang laki-laki.

Bahkan hwesio pun tidak terhindar dari perasaan bangga seperti itu.

OuYang Qing menatap patung kecil itu.

"Malam itu, orang tua ini bahkan tidak berani menyentuhku sama sekali karena ia begitu takut kalau aku mengetahui bahwa ia seorang kasim."

Ia berkata sambil tersenyum mengejek.

"Ia tidak pernah curiga bahwa satu-satunya sebab mengapa aku memperbolehkannya tinggal adalah karena aku tahu kalau ia seorang kasim."

Sebuah ekspresi aneh pun tiba-tiba muncul di wajahnya.

"Kau tahu mengapa tidak ada laki-laki yang pernah menyentuhku?"

Tiba-tiba ia bertanya. Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya.

"Karena aku membenci laki-laki."

"Kau pun membenciku?"

Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak bertanya.

OuYang Qing meliriknya dengan dingin.

Walaupun ia tidak menyangkalnya, ia pun tidak mengakui hal itu.

Lu Xiao Feng mulai tertawa.

Tiba-tiba ia menyadari sesuatu – OuYang Qing tidak mencintainya, bahkan sedikit pun tidak ada fikiran ke arah itu.

Jika bukan Nyonya Ke-13 yang berkata begitu padanya, Lu Xiao Feng pun tidak akan pernah berfikir demikian.

Tapi semua ucapan Nyonya Ke-13 itu mungkin memang disengaja, agar ia memakan sepiring rumah siput berlapis mentega itu.

OuYang Qing sendiri bukan hanya tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu, ia bahkan tidak pernah memperlihatkan tanda-tanda perasaan itu.

Setelah mengetahui hal ini, walaupun ada sedikit rasa masam di hatinya, Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak menghela nafas lagi, seakan-akan ia baru saja terbebas kembali dari sebuah beban.

Sikapnya pun tiba-tiba berubah menjadi lebih wajar.

Ia tidak pernah percaya adanya cinta pada pandangan pertama.

"Apa yang sedang kau tertawakan?"

OuYang Qing tampak heran.

"Aku sedang menertawakan Hwesio Jujur. Aku baru saja mengoper dua potong batu bara yang amat panas kepadanya!"

"Batu bara panas?"

"Sabuk sutera."

"Sabuk sutera apa?"

OuYang Qing tidak faham.

Lu Xiao Feng segera menerangkan semua yang telah terjadi.

Waktu ia bercerita tentang SiKong Zhai Xing yang mencuri sehelai sabuk, kemarahannya hampir bangkit lagi.

Waktu ia bercerita tentang Hwesio Jujur, ia hampir terbungkuk-bungkuk karena tertawa, tingkah-lakunya benar-benar seperti seorang anak kecil.

OuYang Qing menatap wajahnya, sebuah tatapan aneh pun muncul kembali di matanya.

Laki-laki ini telah menukar dua helai sabuk sutera yang tak ternilai harganya dengan sepotong roti, dan masih bersikap seolah-olah dialah yang telah merampok Hwesio Jujur.

Ia benar-benar belum pernah bertemu dengan orang seperti ini.

"Sayangnya kau belum benar-benar pulih, kalau tidak aku tentu akan menyimpan satu sabuk untukmu agar kau bisa melihat pertunjukan itu."

"Kau tidak memiliki sehelai pun sekarang?"

"Setengah helai pun tidak."

"Kau akan datang ke lokasi duel itu malam ini?"

"Tentu saja."

"Di mana sabukmu?"

Lu Xiao Feng tertegun.

Baru sekarang ia menyadari bahwa ia sama sekali lupa untuk menyimpan satu sabuk untuk dirinya sendiri.

Mungkinkah itu sebabnya mengapa si Hwesio Jujur pergi begitu cepat setelah mendapatkan sabuk itu, ia takut kalau-kalau Lu Xiao Feng tiba-tiba teringat?

"Hehehe!"

Melihat ekspresi wajahnya, OuYang Qing tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

Bertemu dengan orang yang begini bodoh tidaklah sering terjadi.

Lu Xiao Feng duduk di situ dengan ekspresi tertegun di wajahnya untuk beberapa lama, tanpa bicara sama sekali.

Tiba-tiba ia melompat bangkit dan terbang keluar dari pondok itu.

Secara kebetulan XiMen Chui Xue dan Sun Xiu Qing sedang melangkah menelusuri jalan setapak saat mereka berpapasan dengannya.

Lu Xiao Feng bahkan tidak punya waktu untuk menyapa mereka saat ia terbang melintas di depan mereka, seakan-akan seseorang sedang mengejar-ngejarnya sambil mengacung-acungkan sapu.

Sun Xiu Qing memandang pada OuYang Qing, sambil duduk di atas pagar.

"Apakah kau mengusirnya?"

Ia bertanya. OuYang Qing menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Senyumannya begitu manis, tidak seorang pun akan percaya kalau ia tega mengusir orang lain.

"Jadi kau menakut-nakutinya?"

"Tidak perlu ada orang lain yang menakut-nakutinya, ia sendiri sudah amat pintar menggebah dirinya sendiri."

OuYang Qing menjawab dengan nada main-main. Sun Xiu Qing beberapa kali menatapnya dari atas ke bawah dan tersenyum.

"Tampaknya kau cukup cepat mengenali sifatnya."

"Aku tahu hanya tahu kalau dia adalah seorang badut besar."

"Tapi ia adalah badut yang paling cerdik."

"Ia cerdik?"

"Bila menyangkut dirinya sendiri, ia memang seorang badut, karena ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi jika ada orang yang benar-benar menganggapnya hanya sebagai badut dan berusaha memperdayainya, maka orang itu akan bernasib buruk."

"Tidak perduli apakah ia jenius atau cuma seorang badut, semua itu tidak ada hubungannya denganku."

OuYang Qing berkata. Sun Xiu Qing mengedip-ngedipkan matanya.

"Bukankah kau menyukainya?"

"Kau kira semua wanita di dunia ini harus menyukainya atau bagaimana?"

OuYang Qing mencemooh.

"Aku bukan membicarakan semua wanita, aku membicarakan dirimu!"

"Mengapa kau tidak bicara tentang hal yang lain?"

"Kau sama sekali tidak tertarik padanya?"

"Tidak."

Sun Xiu Qing kembali tersenyum.

"Kau tidak bisa membodohiku, aku bisa melihatnya."

Perlahan-lahan ia meletakkan tangannya di atas perutnya dan sebuah sinar mata yang senang dan bangga pun berkilauan di matanya.

"Aku bukan hanya seorang wanita, aku pun akan segera menjadi seorang ibu. Seorang gadis kecil sepertimu tidak akan bisa mengibuliku."

OuYang Qing tidak menjawab, tapi wajahnya yang pucat telah merah merona.

"Kalian perempuan ini memang aneh."

XiMen Chui Xue tiba-tiba berkata.

"Apanya yang aneh?"

"Semakin kalian menyukai seorang laki-laki di dalam hatimu, semakin kalian bersikap tidak tertarik di luarnya. Aku benar-benar tidak faham mengapa kalian berbuat seperti itu."

"Menurutmu apa yang harus kami lakukan? Melompat ke pelukan laki-laki saat kami melihat mereka?"

"Setidaknya kalian bisa bersikap lebih ramah dan hangat padanya dan tidak menakut-nakutinya hingga dia pergi."

"Waktu kita pertama kali bertemu, apakah aku baik padamu?"

"Tidak."

"Tapi kau tidak ketakutan dan menjauh."

XiMen Chui Xue menatapnya, kehangatan itu kembali muncul di matanya.

"Seorang laki-laki sepertiku tidak bisa ditakut-takuti oleh apa saja atau siapa saja!"

"Benar,"

Sun Xiu Qing mengiyakan dengan nada main-main.

"Laki-laki seperti dirimu inilah yang disukai perempuan."

Ia berjalan menghampiri dan menggenggam tangan suaminya.

"Karena wanita kadang-kadang seperti domba, kami perlu diburu."

Ia menjelaskan dengan lembut.

"Jika kau tidak cukup berani untuk memburunya dan hanya menontonnya saat mondar-mandir di depan matamu, maka kau tidak akan pernah berhasil memegang tanduknya yang berharga."

XiMen Chui Xue tersenyum.

"Kau telah memberikan tandukmu padaku?"

Sun Xiu Qing menghela nafas dengan lembut.

"Aku telah memberimu tandukku, kulit, tulang, segalanya."

Sambil berpelukan, mereka berdiri di sana dalam kebisuan di bawah sinar matahari terbenam.

Mereka seperti telah lupa kalau orang lain masih ada di sana, seperti telah melupakan seluruh dunia ini.

Matahari terbenam mungkin tampak indah, tapi sebentar lagi malam pun tiba.

Berapa lama lagi mereka masih bisa saling berpelukan?

OuYang mengawasi mereka dari kejauhan.

Walaupun di dalam hatinya ia senang melihat kebahagiaan mereka, ia juga merasa amat khawatir, khawatir atas kebahagiaan mereka.

Karena ia faham orang seperti apa XiMen Chui Xue itu, karena ia memahami pedang XiMen Chui Xue.

Pedangnya itu bukanlah pedang manusia.

Orang biasa yang punya perasaan, darah dan daging tidak akan mampu mencapai ilmu pedang tak berperasaan seperti itu.

Pedang itu benar-benar telah mencapai tingkatan "dewata".

XiMen Chui Xue bukanlah orang biasa yang punya perasaan, daging dan darah.

Hidupnya telah lama dikorbankan untuk pedangnya, pada pedangnya.

Seakan-akan dirinya dan pedangnya telah melebur menjadi satu, dan juga telah mencapai tingkatan "dewata".

Tapi sekarang ia telah berubah menjadi orang biasa, sekarang ia juga terdiri dari daging dan darah, ia juga punya perasaan.

Masih mampukah ia menggunakan pedang tanpa perasaan itu?

Mungkinkah ia mampu mengalahkan Ye Gu Cheng?

Matahari terbenam mungkin terlihat indah, tapi sebentar lagi akan berlalu dan bulan pun segera akan muncul.

Bulan malam ini tampaknya telah ditakdirkan akan berlumuran darah oleh darah seorang laki-laki.

Tapi darah siapa?

Bab 10.

Sabuk Sutera Yang Ketujuh Tanggal 15 September, senja hari.

Warna-warna matahari terbenam yang spektakuler tampak memenuhi angkasa.

Lu Xiao Feng terbang keluar dari toko roti itu dan mulai melesat di sepanjang jalan raya yang tampak kemerah-merahan.

Ia harus menemukan satu sabuk sutera sebelum bulan terbit.

Ia tidak boleh ketinggalan acara duel malam ini.

Sama sekali tidak boleh!

Karena Ye Gu Cheng dan XiMen keduanya adalah sahabatnya, karena ia telah menyadari bahwa, di bawah sinar bulan purnama, saat duel mereka, sesuatu yang mengguncangkan dunia akan terjadi, sesuatu yang bahkan lebih mengejutkan daripada duel itu sendiri.

Tentu saja ia tidak bisa meminta kembali sabuk-sabuk sutera yang telah ia berikan pada orang lain.

Tetapi sabuk curian tentu berbeda.

Kau bukan hanya bisa menuntut kembali apa yang telah dicuri orang darimu, kau pun bisa balas mencurinya, atau bahkan mengambilnya secara paksa.

Ia telah memutuskan apa yang harus ia lakukan.

Satu-satunya masalah adalah bagaimana cara ia menemukan SiKong Zhai Xing?

Orang ini seperti angin, malah mungkin lebih sukar dilacak daripada angin.

Orang yang tidak ingin mencari tentu akan sering bertemu dengannya, tapi yang ingin mencarinya tentu tidak akan pernah menemukannya.

Untunglah bagi Lu Xiao Feng, ia masih memiliki satu petunjuk.

Ia masih ingat nama toko obat dari mana SiKong Zhai Xing tampak berjalan keluar.

SiKong Zhai Xing jauh lebih sehat daripada sebagian besar orang yang telah menjadi korbannya, tidak mungkin ia mencari semacam obat di toko itu.

Maka, jika ia berjalan keluar dari toko obat itu, tentu toko obat itu setidaknya ada hubungannya dengan dirinya.

Huruf-huruf emas nama toko obat itu tampak berkilauan tertimpa sinar matahari.

Di depan pintu ada seorang anak kecil yang sedang bermain bulu ayam.

Saat ia melihat Lu Xiao Feng mendekat, ia segera memasukkan jarinya ke dalam mulut dan bersuit.

Dengan tiba-tiba, dari kedua ujung jalan, kiri dan kanan, selusin atau lebih anak-anak kecil yang tertawa cekikikan tampak berhamburan ke jalan dan berkumpul di depan Lu Xiao Feng.

Mereka masih mengenali Lu Xiao Feng, dan tentu saja, masih ingat pada lagu pendek yang bisa membunuh orang dengan cara membuatnya meledak karena marah atau sesak nafas karena tertawa itu.

Lu Xiao Feng pun tertawa cekikikan, ia yakin anak-anak ini hendak menyanyikan lagu "SiKong Zhai Xing, si peri monyet"

Lagi. Tapi anak-anak itu malah mulai bernyanyi sekuat-kuatnya.

"Xiao Feng bukanlah burung, tapi kutu busuk, Kutu busuk berkepala runcing, suka menggali lubang seharian, Anjing buang air di lubang itu, maka dia pun makan kotoran, Setumpuk besar kotoran anjing yang bau, kutu busuk pun bisa terbang di atasnya."

Baris-baris kalimat macam apa itu?

Hampir tidak ada artinya.

Lu Xiao Feng tidak bisa memutuskan apakah ia harus tertawa ataukah marah.

Sepertinya ia telah lupa kalau baris-baris lagu yang ia berikan dulu pun sama sekali tidak berirama.

Tentu saja ia tahu dari mana asal lagu itu.

SiKong Zhai Xing tentu telah kembali ke tempat itu.

Setelah bersusah-payah, akhirnya ia berhasil menyuruh anak-anak itu berhenti.

"Apakah laki-laki tua berambut putih itu datang kembali?"

Ia segera bertanya, tidak mau mengambil resiko sedikit pun. Anak-anak itu mengangguk.

"Ia mengajari kami lagu itu, ia bilang lagu itu adalah lagu kesukaanmu dan jika kami menyanyikannya dengan baik, kau akan membelikan kami permen!"

Mereka semua berteriak.

Lu Xiao Feng merasa dirinya hampir tertawa terbahak-bahak lagi, siapa yang mau membelikan orang lain permen setelah dihina habis-habisan?

Anak-anak itu mengedip-ngedipkan mata sambil menatapnya dengan penuh harap.

"Bagaimana lagu kami tadi?"

"Bagus, sangat bagus."

Lu Xiao Feng mengangguk.

"Kau akan membelikan kami permen?"

Lu Xiao Feng menghela nafas dan tertawa pertanda mengaku kalah.

"Ya, tentu saja."

Apa saja yang orang lain tidak mau melakukannya, Lu Xiao Feng sering kali melakukannya.

Bagaimana mungkin ia mengecewakan hati anak-anak ini?

Ia segera pergi dan membelikan permen, permen yang amat banyak.

Saat melihat keceriaan anak-anak itu, hatinya pun mencair.

Dengan permen di mulut, dua orang anak lalu menarik-narik bajunya.

"Kakek itu benar, kau adalah orang yang baik, Tuan!"

Mereka bersorak.

"Ia benar-benar mengatakan kalau aku orang yang baik?"

Lu Xiao Feng tampak acuh tak acuh.

"Ia bilang kau ini amat penurut, bahkan sejak kau masih bayi."

Lu Xiao Feng makin tidak percaya.

"Bagaimana ia tahu seperti apa diriku saat aku masih bayi?"

"Ia melihatmu tumbuh, ia bahkan sering mencebokimu saat kau buang kotoran, tentu saja ia tahu."

Lu Xiao Feng menggeram tanpa sadar, saat itu tidak ada yang lebih ingin ia lakukan daripada mengikat peri monyet itu dan memukulinya beberapa kali, mungkin lebih.

"Kakek itu tadi ada di sini, jika kau datang lebih cepat, Tuan, kau tentu akan bertemu dengannya."

"Ke mana dia pergi?"

"Ia terbang lagi, dan begitu tinggi! Tuan, kau bisa terbang lebih tinggi darinya?"

Lu Xiao Feng merapikan leher baju dan lengan bajunya.

"Aku tidak begitu yakin, mengapa kalian tidak memperhatikan saja dan melihatnya?"

Karena SiKong Zhai Xing tidak berada di sana, tidak ada gunanya baginya untuk tinggal di sini lebih lama lagi. Tapi anak-anak itu segera mencegahnya.

"Tunggu sebentar, Tuan, ada satu hal lagi yang hendak kami beritahukan padamu."

"Apa itu?"

"Kakek itu meninggalkan sebuah bungkusan kecil untukmu. Ia bilang, kami harus memberikannya padamu jika kau membelikan kami permen dan membuangnya ke selokan jika kau tidak membelikan permen."

Anak yang larinya tercepat telah berlari masuk ke dalam toko obat dan berjalan keluar dengan sebuah bungkusan di tangan.

Tak pernah terduga oleh Lu Xiao Feng kalau di dalam bungkusan itu terdapat dua helai sabuk sutera.

Di bawah sinar matahari terbenam, sabuk-sabuk itu telah berubah warna menjadi kemerah-merahan.

Selain dari sabuk, di dalam bungkusan itu juga terdapat secarik kertas.

"Mencuri satu darimu, mengembalikan dua padamu. Aku seorang peri monyet, kau seekor kutu busuk. Kau ingin memukul pantatku? Aku akan membuatmu makan kotoran."

Lu Xiao Feng tertawa, tertawa dengan keras.

"Bajingan kecil itu benar-benar tidak waras, ya kan?"

Mengapa ia mengembalikan dua helai sabuk sutera lagi setelah mencuri satu?

Dari mana asal sabuk sutera yang satunya lagi?

Lu Xiao Feng tidak mau lama-lama memikirkan pertanyaan itu.

Sekarang kedua sabuk sutera ini telah berada di tangannya tanpa harus bersusah-payah, jelas ia lebih gembira daripada anak-anak itu saat mereka melihat banyaknya permen yang ia belikan untuk mereka.

"Perhatikan sekarang, katakan siapa yang terbangnya lebih tinggi ya?"

Masih sambil tertawa, ia bersalto tiga kali dan mendarat lagi di atas atap bangunan.

"Kau lebih tinggi! Kau terbang lebih tinggi daripada kakek itu!"

Anak-anak itu bersorak.

Dengan mata yang jernih dan kepolosan mereka, mereka tidak akan pernah berdusta.

Lu Xiao Feng merasa lebih enak, jika itu mungkin.

Ia merasa seakan-akan sedang melayang, seakan-akan sepasang sayap baru saja tumbuh di tubuhnya dan ia pun seakan terbang ke bulan.

Bulan mungkin belum terbit, tapi matahari terbenam telah menghilang di cakrawala.

Malam pun perlahan-lahan turun.

Lu Xiao Feng kembali ke Rumah Makan Lezat dan Harum lewat pintu belakang.

Melalui jendela, ia bisa melihat kalau lampu telah dinyalakan.

Sinar lampu yang lembut itu membuatnya lebih mudah melihat Sun Xiu Qing dan OuYang Qing melalui jendela yang terbuka dari semak-semak bunga.

Mereka berdua memang cantik, dan di bawah sinar lampu, mereka bahkan terlihat lebih cantik.

Pintu itu tidak tertutup rapat.

Lu Xiao Feng sama sekali lupa untuk mengetuk karena hatinya terasa berat.

Kapan XiMen Chui Xue pergi?

Ia ingin bertanya, tapi tidak jadi.

Ia tidak berani, juga tidak bisa menahan fikiran itu.

Di atas meja ada tiga buah cangkir kosong dan satu poci arak.

Ia menuangkan secangkir untuk dirinya sendiri dan perlahan-lahan meminum isi cangkir itu sebelum menuangkan secangkir lagi dan dengan cepat menghabiskan isinya lagi.

"Ia sudah pergi."

Tiba-tiba terdengar Sun Xiu Qing berkata.

"Aku tahu."

"Ia bilang, ia ingin pergi lebih cepat agar ia bisa meninggalkan kota dan masuk lagi, sehingga orang-orang tidak mengira kalau selama ini ia sebenarnya telah berada di dalam kota!"

"Aku bisa menduganya."

"Kuharap kau pun pergi ke sana lebih cepat, karena…. karena ia tidak punya sahabat lain."

Lu Xiao Feng tidak bisa berkata apa-apa dan Sun Xiu Qing pun tidak berkata apa-apa lagi.

Ia berpaling dan menatap kegelapan melalui jendela.

Malam pun perlahan-lahan turun, bulan purnama pelan-pelan telah naik ke angkasa.

Angin pun terasa semakin dingin.

Setelah beberapa lama, Sun Xiu Qing bicara lagi dengan perlahan.

"Malam ini amat indah, jauh lebih indah daripada biasanya. Tapi segera ia pun hilang."

Ia menutup matanya dan air mata pun mengalir di pipinya. Setelah hening beberapa saat, ia meneruskan.

"Mengapa sesuatu yang bagus dan indah selalu begitu cepat menghilang? Mengapa mereka tidak bisa tinggal di dunia ini sedikit lebih lama?"

Apakah ia sedang bertanya pada Tuhan?

Atau ia bertanya pada Lu Xiao Feng?

Lu Xiao Feng tak tahu harus menjawab apa.

Tidak ada yang tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan ini.

Ia menghabiskan secangkir arak lagi sebelum ia bisa memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.

"Aku pergi juga. Aku berjanji akan membawanya pulang!"

Ia tidak berani berkata apa-apa lagi, juga tidak berani melirik pada OuYang Qing.

Tadinya ia bermaksud memberikan sabuk sutera yang satunya lagi pada gadis itu agar ia pun bisa menyaksikan duel abad ini.

Tapi ia tidak jadi menyebut-nyebut tentang hal itu.

Ia tahu OuYang Qing tentu lebih suka tinggal di sini untuk menemani Sun Xiu Qing.

Ia faham bagaimana perasaan Sun Xiu Qing, perasaannya itu bukanlah cemas, takut, berat hati..… Kata-kata itu mungkin tidak cukup.

Saat ini ia benar-benar berharap dapat membawa pulang XiMen Chui Xue.

Tepat saat ia bangkit dan hendak pergi, OuYang Qing tiba-tiba menggenggam tangannya, memaksanya berpaling dan melihat matanya.

Air matanya juga tampak menetes.

Bahkan orang tolol pun bisa melihat perhatian dan kasih sayangnya.

Tentu saja Lu Xiao Feng bisa melihatnya juga, walaupun ia hampir tidak bisa percaya.

– Bagaimana mungkin OuYang Qing yang sedang menatapnya saat ini sama dengan OuYang Qing sebelumnya yang sedingin es?

Mengapa ia tiba-tiba berubah?

Lu Xiao Feng baru menyadari betapa sedikitnya pengetahuan yang ia miliki tentang wanita.

Untunglah ia cukup faham bahwa seorang wanita tidak akan pernah menatapnya seperti ini jika ia benar-benar membencinya, ia juga tak akan menggenggam tangannya.

Tangan OuYang Qing terasa dingin, tapi tangan itu menggenggam tangannya dengan erat.

Baru sekarang gadis ini benar-benar faham betapa sakit rasanya bagi seorang wanita jika ia kehilangan laki-laki yang dicintainya.

Mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa lama.

"Kau juga akan pulang?"

Ia akhirnya bertanya dengan suara hampir berbisik.

"Aku akan pulang!"

"Kau berjanji?"

"Aku berjanji!"

OuYang Qing pelan-pelan berpaling dan ia melepaskan tangan Lu Xiao Feng dengan perlahan-lahan.

"Aku akan menunggumu."

"Aku akan menunggumu."

Perasaan yang berada di lubuk hati seorang laki-laki saat ia tahu ada seorang wanita yang menunggunya adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh perasaan apa pun.

"Aku akan menunggumu."

Betapa indah, hangat, dan ajaib kalimat itu.

Lu Xiao Feng seperti mabuk, tapi ia bukan mabuk karena alkohol.

-----------------------Bulan yang terang terlihat jauh di angkasa, dan Lu Xiao Feng sedang menghadapi satu teka-teki lagi – Ada sehelai sabuk sutera lagi yang harus diberikan, tapi pada siapa ia harus memberikannya?

Orang-orang yang patut menerima sabuk sutera itu tidak terlihat di mana-mana.

Jalan raya itu terlihat ramai, tetapi lebih ramai lagi di dalam rumah-rumah makan dan warung arak.

Segala jenis orang sedang duduk di meja, membicarakan urusan mereka malam itu.

Lu Xiao Feng tidak perlu mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena ia tahu bahwa mereka sedang menunggu hasil duel malam ini.

Tak diragukan lagi, banyak di antara mereka yang telah mempertaruhkan uang untuk XiMen Chui Xue atau pun Ye Gu Cheng.

Duel ini bukan hanya mengguncangkan dunia persilatan, bahkan telah menembus hingga kedalaman masyarakat ibukota.

Tidak pernah ada duel yang berdampak luas seperti ini sebelumnya.

Lu Xiao Feng merasa hal itu amat lucu.

Ia yakin, jika XiMen Chui Xue dan Ye Gu Cheng tahu tentang ini, mereka pun akan merasa hal ini amat lucu.

Saat itulah ia melihat seorang laki-laki berjalan keluar dari sebuah warung teh di seberang jalan.

Orang ini bertubuh amat jangkung dan kurus, berpakaian mewah, gayanya pun amat berbudaya, dan mengenakan sehelai jubah biru yang indah.

Di pelipisnya ada beberapa helai rambut perak.

Dia tidak lain adalah "Majikan Kota Selatan", Du Tong Xuan.

Ini mungkin bukan wilayah Li Yan Bei lagi, tapi tetap merupakan wilayah saingan Du Tong Xuan.

Mengapa ia tiba-tiba muncul di sini?

Dan bahkan tanpa membawa satu pun pengawal?

Lu Xiao Feng segera memburunya dan menepuk pundaknya.

"Sarjana Du, apa kabar?"

Du Tong Xuan benar-benar terperanjat dan ia memutar kepalanya dengan segera. Ketika ia menyadari bahwa orang yang menyapanya itu adalah Lu Xiao Feng, ia lalu memaksakan sebuah senyuman yang palsu.

"Lumayan, terima kasih!"

"Di mana pengawalmu?"

Ia bertanya, menyebut laki-laki misterius yang berpakaian hitam itu.

"Ia sudah pergi!"

"Mengapa dia pergi?"

"Kolam yang kecil tidak bisa menghidupi ikan besar, tentu saja ia pergi!"

Lu Xiao Feng diam-diam melihat ke sekelilingnya sebelum merendahkan suaranya dengan sengaja.

"Jadi kau datang sendirian ke wilayah Li Yan Bei ini?"

Du Tong Xuan tersenyum.

"Rasanya ini bukan wilayah Li Yan Bei lagi."

Ia menjawab dengan santai.

"Ia mungkin sudah mati, tapi ia masih memiliki sekelompok anak buah!"

"Setelah seseorang mati, bahkan isterinya pun boleh menikah lagi, apalagi ‘anak buah’!"

Lu Xiao Feng pun tertawa.

"Tampaknya kau bukan hanya tahu kalau Bos Li sudah mati, tapi kau juga tahu bahwa orang-orangnya pun telah ditelan oleh Kuil Awan Putih!"

Tapi wajah Du Tong Xuan tetap tidak memperlihatkan emosi.

"Di dalam bisnis kami, yang tidak bisa mendapatkan berita dengan cepat tidak akan berumur panjang."

Ia berkata dengan dingin.

"Mungkinkah Gu Qing Feng adalah temanmu?"

"Ia mungkin bukan seorang teman, tapi setidaknya ia juga bukan seorang musuh!"

"Tak heran kau berada di sini sendirian."

Lu Xiao Feng tersenyum.

"Jika kau punya waktu, Tuan, kedatanganmu selalu diterima di wilayahku. Dan kau boleh membawa berapa banyak pun orang yang kau inginkan."

Bola mata Lu Xiao Feng pun berputar-putar dan sebuah ide muncul di benaknya.

"Karena kau telah memasang taruhan begitu besar untuk Ye Gu Cheng, aku berani bertaruh kalau kau sebenarnya ingin sekali menyaksikan langsung duel malam ini!"

Du Tong Xuan tidak mengakui, juga tidak menyangkal.

"Aku punya satu sabuk sutera, jika kau tertarik, aku bisa memberinya padamu!"

Du Tong Xuan tidak menjawab selama beberapa saat, seakan-akan ia sedang mempertimbangkan tawaran itu.

"Bos Bu Ju pun berada di warung teh tadi."

"Oh?"

"Mengapa kau tidak memberikan sabuk sutera itu padanya?"

Lu Xiao Feng terdiam.

Orang lain mencoba segalanya untuk mendapatkan sabuk sutera ini, tapi sekarang saat ia menawarkannya pada Du Tong Xuan secara gratis, secara tak terduga malah ditolak.

Du Tong Xuan merangkap tangannya dan memberi hormat sekilas pada Lu Xiao Feng.

"Jika tidak ada yang lain, Tuan, aku harus pergi. Selamat tinggal."

Dan hanya begitu saja, ia pun pergi, bahkan tanpa memperlihatkan sedikit pun tanda-tanda ingin tinggal sebentar.

Dengan bingung Lu Xiao Feng berdiri di sana seperti orang tolol selama beberapa saat sebelum tiba-tiba mengangkat kepalanya dan melihat bahwa Bu Ju baru saja berjalan keluar dari warung teh itu.

Bu Ju juga melihatnya serta sabuk sutera di pundaknya itu.

Tiba-tiba ia tersenyum.

"Kau belum menjual seluruh sabukmu?"

Senyuman itu tampak amat ganjil, seperti ada tanda-tanda ejekan di dalamnya.

"Sabuk sutera ini bukan untuk dijual, tapi bisa diberikan pada siapa pun. Jika kau masih menginginkannya, aku akan memberikannya padamu."

Bu Ju kembali menatapnya, senyumannya bahkan semakin ganjil.

"Sayangnya aku tidak suka ber-kowtow!"

"Tak perlu ber-kowtow."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

"Dan aku pun benar-benar tidak menginginkannya!"

Ekspresi wajahnya tiba-tiba tampak tertekuk dan ia mengibaskan lengan bajunya pada Lu Xiao Feng dan berjalan pergi, bahkan tidak melirik ke arah Lu Xiao Feng lagi.

Kembali Lu Xiao Feng terdiam.

Ini adalah orang yang sama dengan orang yang tadi siang bersedia menukarkan 3 buah cincin giok yang amat besar dengan sehelai sabuk sutera, tapi sekarang ia bahkan tidak menginginkannya walaupun gratis.

Lu Xiao Feng tidak faham apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak punya waktu untuk merenungkannya.

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 2

Baca Juga: Pedang Gadis Yueh 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert