Ceritasilat Novel Online

Duel Dua Jago Pedang 4

Eps 4 Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Baca online Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Cersil Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung.

Bulan purnama telah naik dan ia harus pergi ke Kota Terlarang sesegera mungkin.

Ia tidak boleh terlambat.

Aula Keselarasan Utama berada di dalam Gerbang Keselarasan Utama.

Di luar Pintu Gerbang Keselarasan Utama terdapat Sungai Sabuk Giok Emas yang, di bawah sinar bulan, terlihat seperti sehelai sabuk giok emas.

Lu Xiao Feng berjalan melalui Gerbang Timur, Gerbang Nenek Moyang, dan Gerbang Tengah yang terletak di bawah Menara Pengawas Naga dan Phoenix sebelum akhirnya tiba di bagian paling terlarang dari Kota Terlarang ini, kota di dalam kota.

Dalam perjalanan ke tempat itu, ada berpeleton-peleton penjaga dan pos penjagaan di setiap beberapa langkah.

Amatlah sukar bagi siapa pun untuk tiba di sana tanpa membawa sabuk sutera, dan walaupun mereka bisa sampai di sana, mustahil bagi mereka untuk maju lebih jauh melewati tempat yang seperti medan ranjau ini.

Walaupun tidak terlihat satu pun bayangan manusia pada saat itu, tentu ada seorang jago kungfu dalam kelompok Penjaga Istana itu yang menunggu untuk menjebakmu di setiap sudut yang gelap.

Segala macam naga yang bersembunyi dan harimau mendekam ada di antara Penjaga Istana, beberapa di antaranya merupakan jago-jago kungfu yang mewarisi ilmu pusaka keluarga mereka, ada yang merupakan pendekar-pendekar muda yang ambisius dan pemberani, dan ada pula beberapa penjahat yang berusaha sembunyi dari musuh-musuhnya.

Ujung-ujungnya, tidak ada orang di dunia ini yang berani memandang rendah kemampuan mereka.

Di bawah sinar bulan, terlihat seseorang duduk di jembatan yang menghubungkan kedua tepi parit itu.

Kepalanya terlihat bersinar-sinar.

"Hwesio Jujur."

Lu Xiao Feng segera berlari menghampirinya.

"Kau tiba di sini sebelum waktunya."

Ia tersenyum.

Hwesio Jujur sedang menggigit sepotong roti hangat waktu ia melihat Lu Xiao Feng berlari menghampiri.

Dengan tergesa-gesa ia membungkus roti itu dan memasang tampang tak bersalah pada Lu Xiao Feng, berharap ia tidak melihat rotinya tadi.

Lu Xiao Feng tertawa.

"Melihatnya berada di tanganmu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu."

"Apa itu?"

"Aku sadar kalau aku tadi lupa makan malam lagi."

Hwesio Jujur memutar-mutar bola matanya.

"Kau hendak mencoba menipu roti ini lagi dariku?"

Lu Xiao Feng balas menatapnya.

"Kapan aku pernah berdusta padamu? Aku bertukar dua helai sabuk sutera untuk satu roti denganmu. Kau merasa dirampok?"

Hwesio Jujur memandang sekelilingnya sebentar sebelum tiba-tiba tersenyum pula.

"Aku akan berkata jujur, aku punya tiga potong roti lagi padaku, ditambah setengah potong. Kau tertarik untuk menukarnya?"

"Ya."

"Apa yang akan kau gunakan sebagai alat tukarnya?"

"Semua yang aku punya, aku membawanya. Apa pun yang kau inginkan, aku akan memberikannya padamu!"

Hwesio Jujur menimbang-nimbang beberapa kali.

"Sepertinya yang kau punya tidak lebih banyak dariku!"

Ia tertawa, menertawakan keadaannya yang sama menyedihkannya dengan Lu Xiao Feng. Lu Xiao Feng pun tertawa.

"Setidaknya aku punya satu kumis lebih banyak darimu, belum lagi beberapa ribu utas rambutku."

"Aku tidak menginginkan rambut atau kumismu, aku hanya ingin kau berjanji satu hal padaku, maka setengah bagian dari makanan ini akan menjadi milikmu."

"Apa itu?"

"Bila lain kali kau bertemu denganku, kau pura-pura tidak mengenalku. Dengan begitu, akhirnya aku tentu bisa menghabiskan hari-hariku dalam ketenangan."

Lu Xiao Feng mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk pundak Hwesio Jujur sambil duduk di sampingnya, ia masih tidak mampu mengendalikan tawanya.

"Jadi bagaimana?"

"Tidak."

"Kau tidak menginginkan rotiku?"

"Ya."

"Lalu mengapa tidak?"

"Karena aku sudah punya sepotong roti hangat."

Hwesio Jujur tertegun.

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Dari SiKong Zhai Xing!"

"Si Kong Zhai Xing?"

Hwesio Jujur semakin bingung. Lu Xiao Feng tersenyum.

"Jika bukan karena sesuatu hal kecil yang kuambil dan kutiru darinya, bagaimana mungkin aku bisa mengambil rotimu? Jadi tentu saja roti ini berasal darinya!"

Hwesio Jujur tidak berkata apa-apa lagi, sekarang ia sadar bahwa rotinya telah berkurang satu.

Roti itu telah berada di tangan Lu Xiao Feng, muncul begitu saja, seperti sulap.

Hwesio Jujur menghela nafas.

"Ia tidak mempelajari yang lain, ia malah belajar mencuri."

Ia bergumam.

"Setidaknya pencuri tak pernah kelaparan."

Lu Xiao Feng tertawa sambil menyumpalkan setengah bagian roti ke dalam mulutnya.

"Apa yang kau tunggu di sini?"

"Menunggu Kaisar pergi tidur."

Hwesio Jujur menjawab dengan muka yang kaku.

"Jadi kita belum bisa masuk?"

"Belum."

"Berapa lama kita harus menunggu?"

"Kita akan tahu bila waktunya telah tiba!"

Lu Xiao Feng mundur dan memandang ke sekelilingnya dengan lebih teliti.

"Apakah XiMen Chui Xue dan Ye Gu Cheng pun belum tiba?"

"Aku tidak tahu."

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Aku tidak tahu."

"Kau melihat orang lain?"

"Aku melihat satu setengah manusia."

"Satu setengah?"

"Yang satu adalah Yin Xian, dialah yang menyuruhku untuk menunggu di sini!"

"Siapa yang setengahnya lagi?"

"Kau, paling banyak kau hanya bisa dihitung sebagai setengah manusia."

Sekali lagi Lu Xiao Feng tertawa. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, sesosok bayangan muncul. Ia melayang di udara, memperlihatkan gerakan "Delapan Langkah Mengejar Jangkrik"

Yang berasal dari aliran lurus.

Setelah beberapa kali lompatan, bayangan itu telah berada di hadapan mereka.

Mengenakan jubah hijau, rambut perak yang berkibar-kibar, ia tidak lain adalah pemimpin Sekte Wu Dang, Tosu Kayu.

"Kau benar-benar jujur."

Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum.

"Jadi kau tidak menelan sendiri apa yang menjadi hak teman pendetamu."

"Aku hanya tahu cara menelan roti, sayangnya roti itu pun sekarang telah dicuri."

Tosu Kayu melirik Lu Xiao Feng dan pura-pura mengerutkan keningnya.

"Orang macam apa yang begitu rendahnya hingga mencuri roti seorang hwesio?"

"Bila punya kesempatan, aku pun akan mencuri dari seorang tosu."

Tosu Kayu tersenyum.

"Setidaknya orang ini jujur, ia mengaku tanpa dipaksa."

Saat ia berkata begitu, sebuah bayangan lain pun muncul. Lu Xiao Feng melirik dan mengerutkan keningnya.

"Pada siapa kau berikan sabuk sutera yang lainnya?"

"Yan Ren Ying."

"Orang ini bukan Yan Ren Ying."

Tosu Kayu segera menyimpulkan.

"Juga bukan Tang Tian Zong, apalagi Si Ma Zi Yi."

Gerakan orang ini amat unik, saat mendekat lengan bajunya tampak berkibar-kibar tertiup angin.

Seakan-akan ia melayang bersama angin tanpa perlu mengeluarkan tenaga sedikit pun.

Yan Ren Ying, Tang Tian Zong, dan Si Ma Zi Yi tidak mampu melakukan gerakan seperti itu.

Kenyataannya, termasuk Lu Xiao Feng, tidak lebih dari tiga sampai lima orang di dunia persilatan yang mampu melakukan hal tersebut.

"Siapa ini?"

Hwesio Jujur bertanya-tanya.

"Ia bukan manusia, bahkan bukan setengah manusia. Ia adalah peri monyet."

Lu Xiao Feng menjawab.

Sebelum ucapannya selesai, bayangan itu melesat ke arah mereka seperti roket, pakaiannya meraung-raung terhembus angin, seakan-akan ia bermaksud untuk menabrak Lu Xiao Feng.

Tapi tepat sebelum ia bertubrukan dengan Lu Xiao Feng, tiba-tiba ia berjumpalitan ke belakang sebanyak tiga kali di udara dan perlahan-lahan mendarat di atas tanah.

Ia adalah seorang laki-laki tua berambut putih, yang terbungkuk-bungkuk karena menahan batuk yang parah.

"Kalian berdua tahu siapa peri monyet ini?"

Lu Xiao Feng berkata dengan muka yang kaku.

"’SiKong Zhai Xing, si peri monyet.’ Aku mendengar lagu itu sore ini."

Tosu Kayu berkata sambil tersenyum.

"Tampaknya samaranku benar-benar tidak berguna!"

SiKong Zhai Xing menghela nafas.

"Seharusnya kau tidak memperlihatkan ilmu meringankan tubuhmu itu, selain dari SiKong Zhai Xing, siapa lagi yang mampu melakukannya?"

Tosu Kayu berujar.

"Aku."

Lu Xiao Feng menukas.

"’Setumpuk besar kotoran anjing, bahkan kutu busuk pun bisa terbang di atasnya.’"

SiKong Zhai Xing bernyanyi sambil tersenyum. Lu Xiao Feng pura-pura tidak mendengarnya dan, malah, menatap sabuk sutera yang ada padanya.

"Kau mencuri salah satu sabukku, dan memberiku dua."

"Kau tahu aku, selalu mengingat sahabat. Saat aku tahu kau lupa untuk menyisakan satu sabuk untuk dirimu sendiri, aku pun pergi dan menemukan dua untukmu."

"Dari mana kau mendapatkannya?"

"Jangan lupa kalau aku adalah si Raja Pencuri!"

"Apakah kau mencuri miliknya Si Ma Zi Yi dan Tang Tian Zong?"

SiKong Zhai Xing hanya tertawa dan tiba-tiba menunjuk ke kejauhan.

"Mengapa kau tidak melihat siapa yang datang itu?"

Dua sosok bayangan kembali mendekat dari kejauhan.

Orang yang di sebelah kiri tampaknya selalu mengangkat bahunya di udara, seakan-akan ia bermaksud untuk melepaskan senjata rahasia, menggunakan ilmu meringankan tubuh milik keluarga Tang.

Orang yang di sebelah kanan tampak amat berat dan canggung, seakan-akan ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu dalam berlatih tenaga luar.

Jika Tang Tian Zong tidak memperlambat kecepatannya, ia tentu akan tertinggal jauh di belakang.

"Tampaknya tuan muda keluarga Tang telah berada di sini!"

Hwesio Jujur berujar.

"Siapa yang satunya lagi?"

Tosu Kayu bertanya.

"Bu Ju!"

Hwesio Jujur menjawab. Itu memang Bu Ju. Sekali lagi senyuman mengejek pun muncul di wajahnya saat ia melihat kehadiran Lu Xiao Feng, seakan-akan ia berkata.

"Kau tidak memberiku sabuk, aku tetap berada di sini."

Anehnya, ada sehelai sabuk sutera terikat di pinggangnya.

Di bawah sinar bulan, warna sabuk itu berubah-ubah dari ungu terang ke perak, tergantung sudutnya.

Jelas sabuk itu terbuat dari bahan yang sama dengan sabuk-sabuk sutera lainnya.

Sabuk sutera yang diterima Lu Xiao Feng berjumlah 6 buah.

Tapi, dengan dua helai yang sekarang ada pada Lu Xiao Feng, satu pada Hwesio Jujur, Tosu Kayu, dan SiKong Zhai Xing, ditambah dua yang ada pada mereka, semuanya ada 7 helai.

Bagaimana mungkin 6 sabuk bisa menjadi 7?

Dari mana asal sabuk yang satunya?

Wajah Bu Ju terlihat bangga saat ia melangkah ke atas jembatan itu dengan angkuh, tapi wajah Tang Tian Zong terlihat kaku saat ia melirik ke arah Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng tahu bahwa mereka tidak akan bercerita walaupun ia bertanya; di samping itu, ia tidak punya waktu untuk bertanya.

Sebuah bayangan melesat keluar dari dalam Gerbang Keselarasan Utama.

Sebatang pedang panjang tampak tersandang di punggungnya dan ia mengenakan seragam Penjaga Istana.

Seragam itu terlihat agak berantakan, jelas ia baru saja bersenang-senang sedikit.

Tapi gerak-geriknya masih tetap tangkas.

Ia tak lain daripada salah seorang Komandan Utama Pengawal Istana, Yin Xian.

Wajahnya juga tampak kaku dan ekspresinya pun muram.

"Aku tahu semua yang ada di sini adalah jago-jago dunia persilatan, tapi kuharap setiap orang pun sadar tempat macam apa ini. Ini bukanlah warung teh, jika kalian ingin berbincang-bincang, maka kalian telah datang ke tempat yang salah."

Ia bicara seperti seorang atasan pada bawahannya, tetapi semua orang terpaksa harus mendengarkan.

Yin Xian dan kawan-kawannya telah mengambil resiko dan tanggung-jawab yang amat besar dalam hal ini, jadi mereka tentu sedikit merasa tertekan.

Di samping itu, ini memang bukan tempat untuk berbincang-bincang.

Setelah gembar-gembor itu, ekspresi Yin Xian sedikit melunak saat ia menatap 6 orang yang hadir.

"Sekarang semua orang telah ada di sini, silakan masuk. Setelah melewati altar besar itu, ada sebuah aula yang amat besar. Itulah Aula Keselarasan Utama."

"Apakah tempat itu juga merupakan ruangan singgasana?"

Yin Xian mengangguk.

"Bangunan tertinggi di Istana Kerajaan adalah Aula Keselarasan Utama. Jika dua jagoan itu akan berduel di puncak Kota Terlarang, mungkin sebaiknya setiap orang menunggu di sana."

Ia melirik Bu Ju, dan memandang orang tua bungkuk itu, dan meneruskan dengan dingin.

"Karena kalian telah bersusah-payah sampai di sini, ilmu meringankan tubuh kalian tentu bagus. Tapi aku harus memperingatkan semua orang bahwa ini bukanlah atap bangunan biasa. Cukup sukar untuk naik ke atasnya, tapi genteng atap itu semuanya merupakan genteng kaca yang licin. Jadi setiap orang harus berhati-hati dalam melangkah karena kita semua akan menanggung akibatnya jika salah seorang dari kita terjatuh dari atas atap."

Ekspresi wajah Bu Ju berubah menjadi muram, senyuman itu tidak terlihat lagi.

Bahkan SiKong Zhai Xing tampak sedikit menarik nafas dalam-dalam.

Hingga saat ini Lu Xiao Feng bahkan tidak punya kesempatan untuk bicara.

Ia baru saja hendak bicara saat Yin Xian memotongnya.

"Jangan naik dulu ke atas atap, ada seseorang yang sedang menunggumu."

"Siapa?"

"Jika kau ingin bertemu dengannya, ikuti aku."

Sambil mengangkat bahunya sedikit, ia pun melayang pergi, seakan-akan ia ingin menunjukkan sedikit kemampuannya di depan semua orang.

Ia cukup cepat, hanya dengan satu lompatan sederhana, ia telah melesat sejauh 8 m.

Lu Xiao Feng mengikutinya dalam jarak dekat, tidak ingin terlalu menonjolkan dirinya.

Maka Yin Xian berusaha lebih keras untuk menjauh dan ia pun berjumpalitan dengan menggunakan gerakan "Burung Walet Meninggalkan Awan".

Tapi saat ia membuat gerakan ini, seseorang dengan perlahan dan tanpa bersusah-payah melesat melewatinya dengan meninggalkan sedikit suara desiran.

Ia tidak lain daripada laki-laki tua yang bungkuk itu.

Saat mereka menerobos Gerbang Keselarasan Utama, sikap dan tingkah laku Lu Xiao Feng pun benar-benar berubah.

Ia bukan hanya tidak tersenyum-senyum lagi, bahkan nafasnya pun semakin perlahan.

Keagungan dan kekuasaan Kaisar tetap merupakan sesuatu yang tidak berani disepelekan oleh orang-orang dunia persilatan.

Bahkan Lu Xiao Feng pun tidak berani.

Dua baris tangga di depan Aula itu tampak seperti tangga biasa yang terbuat dari beberapa lusin lempengan batu.

Tapi bila membayangkan adegan saat Kaisar mengadakan sidang bersama pejabat-pejabat tinggi dan jenderal-jenderal yang berdiri dengan serius di kedua sisi tangga sambil menunggu giliran untuk menjawab setiap isyarat dan perintah Kaisar, suhu tubuh Lu Xiao Feng pun naik karena perasaan tegang.

Semua jenius, orang luar biasa, pendekar dan pemimpin bersedia memeras otaknya, mengorbankan tubuhnya, dan ada pula yang bahkan bersedia untuk mengorbankan nyawanya agar dapat berdiri di atas tangga ini.

Aula Keselarasan Utama bahkan lebih menakjubkan.

Bila kita menengadah, atap yang berkilauan tampak seperti berada di tengah awan.

Di samping Aula Keselarasan Utama ada Aula Keselarasan Abadi.

Di samping Aula Keselarasan Abadi, tepat di sebelah barat tangga di luar Gerbang Nirwana, menempel ke dinding utara, ada tiga buah bangunan beratap datar.

Pintu-pintunya yang bercat hitam tampak tertutup rapat dan melalui jendela, sebuah lampu yang redup berkerlap-kerlip bisa terlihat.

Sinarnya yang redup itu menerangi sebuah logam pipih berwarna putih yang tergantung di atas pintu.

Di atas logam itu ada 5 patah kata yang menyuruh orang untuk menghentikan langkahnya.

"Siapa yang masuk akan dieksekusi!"

Yin Xian membawa Lu Xiao Feng ke sana dan berhenti tepat di depan pintu itu.

"Seseorang menunggumu di dalam, masuklah!"

Lu Xiao Feng segera menggelengkan kepalanya.

"Aku masih bisa membaca, tahu."

Ia berkata dengan sebuah senyuman yang agak lemah.

"Aku tidak ingin kehilangan kepalaku."

Yin Xian pun tersenyum.

"Aku yang menyuruhmu masuk, apa pun yang terjadi, aku akan menanggungnya. Apa lagi yang kau takutkan?"

Lu Xiao Feng memandangnya dan memutuskan bahwa ia tidak terlihat seperti orang yang bermaksud untuk mengirimkan dirinya ke dalam perangkap.

Tapi di sini, di tempat yang begini penting dan khidmat, bahkan Lu Xiao Feng pun tetap harus berhati-hati.

Ia lebih suka berdiri di luar saja.

Yin Xian kembali tersenyum.

"Kau bisa menebak siapa yang menunggumu di dalam?"

Lu Xiao Feng menggelengkan kepalanya.

"Siapa?"

"XiMen Chui Xue."

Lu Xiao Feng terperanjat sebentar.

"Bagaimana ia bisa masuk?"

Yin Xian memandang ke sekelilingnya untuk meyakinkan tidak ada orang di sekitar mereka sebelum ia mendekatkan tubuhnya.

"Kami semua bertaruh untuknya."

Ia berbisik.

"Maka tentu saja kami akan memperlakukannya dengan baik dan memberinya waktu istirahat agar ia memiliki tenaga untuk menghadapi Malaikat Luar Langit itu."

Lu Xiao Feng pun tersenyum.

"Tempat ini mungkin merupakan tempat terlarang, tapi Yang Mulia telah pergi tidur dan sidang pagi masih lama. Jadi selain kami Komandan-Komandan Utama, tidak ada orang yang akan datang ke sini!"

Masih sambil tersenyum, ia menepuk pundak Lu Xiao Feng.

"Jadi hentikan kekhawatiranmu dan masuklah. Jika kau punya beberapa gerakan rahasia untuk menangkal gerakan Ye Gu Cheng, berikanlah dia beberapa petunjuk. Kami semua berada di fihaknya!"

Ia mungkin tadi agak menyombongkan pangkatnya, tapi sekarang ia seperti berubah menjadi orang yang benar-benar berbeda.

Bahkan senyumannya pun tampak lebih ramah, ia bahkan membukakan pintu itu untuk Lu Xiao Feng.

Sambil tersenyum, Lu Xiao Feng pun balas menepuk pundaknya.

"Bila kau punya waktu senggang, aku akan mengundangmu minum."

Ruangan itu tidak besar, juga tidak ada perabotan yang mewah, tapi masih memiliki kesederhanaan yang alami dan menyiratkan perasaan terakhir, semangat dan nasib dari berpuluh-puluh atau beratus ribu nyawa yang nasibnya diputuskan di sini dengan hanya segoresan pena.

Saat seseorang, siapa pun orangnya, memasuki ruangan itu untuk pertama kalinya, tentu ia akan sangat gugup dan tegang.

Saat Lu Xiao Feng berjalan masuk dengan perlahan, jantungnya pun berdebar lebih cepat dari biasanya.

Sambil menggendong tangan, XiMen Chui Xue berdiri dalam bisu di dekat sebuah jendela kecil, pakaiannya putih seperti salju.

Tentu saja ia mendengar seseorang membuka pintu dan masuk, tapi ia tidak berpaling, seakan-akan ia telah tahu bahwa orang itu tentu Lu Xiao Feng.

Lu Xiao Feng pun tidak bicara.

Pintu telah tertutup dan sinar lampu yang redup tampak berkerlap-kerlip dalam kegelapan dan ruangan yang lembab itu.

Tiba-tiba ia menyadari betapa dingin tangan dan kakinya.

Ia benar-benar menginginkan secangkir arak.

Tentu saja tidak ada arak di ruangan ini, tapi berapa banyak darah, air mata, dan keringat yang telah mengalir di sini?

Lu Xiao Feng menghela nafas dalam hati.

Ia akhirnya faham bahwa ia bukanlah orang yang paling banyak menghadapi masalah di dunia ini, orang-orang yang datang ke ruangan ini setiap harinya memiliki masalah yang jauh lebih banyak daripada dirinya.

XiMen Chui Xue tetap tidak berpaling, tapi tiba-tiba suaranya terdengar memecahkan kesunyian.

"Kau tadi kembali ke tempatku?"

"Aku baru saja dari sana."

"Kau bertemu dengannya?"

"Mm…"

"Bagaimana keadaannya?"

Lu Xiao Feng tersenyum lemah.

"Seharusnya kau yang lebih tahu dariku, ia bukanlah wanita yang semangatnya lemah, Tiga Pemberani dan Empat Perempuan Cantik tidaklah kurang terkenalnya dibandingkan dengan kita."

Ia mungkin sedang tersenyum di wajahnya, tapi hatinya karam.

Di saat yang genting sebelum duel, saat hidup atau mati begitu dekat dengan dirinya, orang ini masih memikirkan isterinya, ia bahkan tidak sedang memegang pedangnya.

Lu Xiao Feng merasa hampir tidak percaya kalau ini adalah XiMen Chui Xue yang selama ini dikenalnya.

Tapi ia pun agak terhibur karena akhirnya, XiMen Chui Xue telah berubah menjadi manusia yang terdiri dari darah dan daging.

Sekonyong-konyong, XiMen Chui Xue berputar.

"Apakah kita bersahabat?"

Ia bertanya, sambil menatap mata Lu Xiao Feng.

"Ya."

"Jika aku mati, maukah kau menjaganya?"

"Tidak."

Wajah XiMen Chui Xue berubah menjadi pucat pasi.

"Kau tidak bersedia?"

"Tidak, karena kau tidak bersikap seperti sahabatku lagi. Sahabatku adalah seorang laki-laki sejati dan tidak pernah berharap mati, ia malah selalu berharap untuk hidup."

"Aku tidak berharap mati."

"Tapi satu-satunya hal yang ada di benakmu dan di hatimu adalah kematian."

Lu Xiao Feng berkata dengan dingin.

"Mengapa kau tidak memikirkan tentang kejayaanmu dulu? Mengapa kau tidak memikirkan cara untuk mengalahkan Ye Gu Cheng?"

XiMen Chui Xue menatapnya dengan marah, menatapnya untuk beberapa lama sebelum ia menunduk dan menatap pedang yang berada di atas meja.

Tiba-tiba ia meraih pedang itu dan menghunusnya.

Gerakan tangannya saat menghunus pedang tadi masih tetap cepat, masih indah, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa menandinginya.

Teknik Si Ma Zi Yi saat menghunus pedangnya mungkin juga amat cepat dan cerdik, tapi dibandingkan dengan XiMen Chui Xue, ia seperti seorang tukang jagal yang menarik goloknya dari seekor bangkai babi.

"Kau sahabatku?"

Lu Xiao Feng tiba-tiba balas bertanya. XiMen Chui Xue terdiam sebelum akhirnya mengangguk.

"Kau percaya apa yang kukatakan padamu?"

Kembali XiMen Chui Xue mengangguk.

"Maka akan kukatakan padamu, aku hampir yakin bahwa aku bisa menghadapi serangan dari jago pedang mana pun di dunia ini, kecuali satu orang."

Ia menatap langsung ke mata XiMen Chui Xue, tanpa berkedip sekali pun, dan meneruskan dengan lambat.

"Orang itu adalah kau!"

XiMen Chui Xue menunduk dan menatap pedang di tangannya, sebuah warna merah tua yang aneh tiba-tiba muncul di wajahnya yang pucat.

Sinar lampu tampak lebih terang, sinar pedang itu pun semakin terang.

Segera Lu Xiao Feng merasakan hawa pedang yang mencorong, begitu mencorongnya hawa tersebut sehingga matanya menjadi silau.

Ia tahu kepercayaan diri XiMen Chui Xue telah muncul kembali.

Bagi orang yang sedang tidak bersemangat, kata-kata pembangkit semangat dari seorang sahabat mungkin jauh lebih bermanfaat daripada semua obat di dunia ini digabungkan menjadi satu.

Secercah senyuman pun muncul di wajah Lu Xiao Feng.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia diam-diam berputar dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Di luar, bulan bergantung di angkasa seperti cermin.

Bulan sembilan tanggal 15, tengah malam.

Liok Siau-hong berjalan keluar dari balik pintu bercat hitam yang terkenal angker lantaran tulisan "Hukuman mati bagi siapa yang berani masuk ke sini".

Dengan menyusuri dinding istana, ia berjalan keluar Thay-ho-tian, ingin sekali ia pergi mencari sebuah tempat yang nyaman, damai dan tenang untuk beristirahat.

Pada saat itulah tiba-tiba dia melihat sesosok bayangan hitam berdiri tidak bergerak, berdiri ditutupi bayangan istana yang gelap, dia terlihat lesu dan berwajah kusut.

Tanpa melihat untuk kedua kalinya, segera ia tahu bahwa orang itu adalah Pok Ki.

Ia tahu bahwa ilmu ginkang Pok Ki memang tidak terlalu bagus, untuk dapat melompat naik ke atas wuwungan istana tentu saja ia harus menguasai ginkang yang sempurna.

Ia masih belum melupakan senyuman sinis orang ini waktu bertemu dengannya tadi, maka ia ingin menghampiri dan balas tersenyum dengan cara yang sama, tapi ketika ia berjalan menghampiri, di wajahnya hanya terlihat senyuman yang simpatik dan menghibur.

Tapi perasaan simpatik ada kalanya lebih melukai perasaan orang daripada sindiran.

Pok Ki memandang sekejap kepadanya, lalu membuang muka.

Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

"Dulu ada seekor burung gereja yang selalu menganggap dirinya hebat, karena dia bisa terbang tinggi ke angkasa. Suatu hari dia melihat seekor harimau. Ia pun mengejek harimau itu, dan menantangnya untuk terbang tinggi seperti dirinya. Kau tahu apa yang dilakukan harimau itu?"

Pok Ki menggelengkan kepalanya.

Mulanya ia bermaksud untuk tinggal pergi, siapa yang mengira kalau Liok Siau-hong tiba-tiba malah mendongeng untuknya.

Tanpa sadar dia pun akhirnya mendengarkan.

Rasa ingin tahu memang selalu dimiliki setiap orang.

Liok Siau-hong berkata.

"Tentu saja harimau itu tidak bisa terbang, dia hanya meniup keras-keras sekali, dan burung gereja itu pun ditelan mentah-mentah ke dalam perutnya."

Ia tersenyum dan berkata.

"Sejak itu, tiada lagi burung gereja yang berani mencari harimau tadi untuk ditantang terbang, karena burung gereja akhirnya telah faham, bisa terbang tinggi di angkasa bukanlah berarti telah menjadi ksatria yang luar biasa."

Pok Ki pun tersenyum, wajah yang tersenyum itu penuh dengan rasa haru dan terima kasih, hatinya pun merasakan kehangatan yang luar biasa, tiba-tiba ia menyadari bahwa Liok Siau-hong bukanlah seorang telur busuk seperti yang ia bayangkan semula.

Liok Siau-hong menepuk bahunya dan berkata.

"Kau pernah melihat harimau memanjat naik di atas seutas tali?"

Pok Ki menjawab.

"Belum."

Liok Siau-hong berkata.

"Aku juga belum, tapi aku ingin melihatnya."

Pok Ki berkata.

"Kau pernah melihat harimau yang membawa tali di pinggangnya?"

Liok Siau-hong menjawab.

"Belum."

Pok Ki pun berkata pula.

"Maka kau akan melihatnya sekarang."

Di tubuhnya memang terlilit seutas tali yang panjang.

Semula dia sama sekali tidak berani memperlihatkannya, takut dipandang rendah oleh orang lain.

Liok Siau-hong menerima ujung tali itu, ia mendongakkan kepalanya dan menghela nafas panjang.

"Burung gereja pun belum tentu sanggup terbang melintas di atas sana."

Bangunan istana itu seperti mata kail, kail yang menjulang tinggi ke angkasa seakan hendak menggaet rembulan.

Tempat yang demikian tinggi, tiada seorang pun di dunia ini yang mampu melompat naik ke atasnya.

Liok Siau-hong pun tidak sanggup.

Tapi dia punya cara.

Dengan Pok Ki mengawasi dari bawah, dilihatnya Liok Siau-hong merayap di dinding istana seperti seekor cecak, lalu bergerak melompat-lompat seperti seekor kera, dalam beberapa kali lompatan saja sosok tubuhnya sudah tidak kelihatan lagi.

Karena tidak bisa melihat dengan jelas, Pok Ki lalu menyelinap ke belakang.

Dalam hatinya dia pun yakin bahwa di dalam Bulim tiada seorang pun yang memiliki ginkang setinggi Liok Siau-hong.

Dalam hatinya ia merasa bangga, karena ia telah menganggap Liok Siau-hong sebagai sahabatnya.

Dari atas wuwungan sana telah terjulur seutas tali, dalam hatinya ia merasa hangat!

Bisa bersahabat dengan Liok Siau-hong memang amat bagus.

Di bawah sinar rembulan, wuwungan istana yang beratapkan genteng warna keemasan itu terlihat seperti sekeping dunia emas yang gemerlapan.

Setelah mengikatkan ujung tali itu ke wuwungan, Liok Siau-hong lalu memalingkan mukanya dan merasa terperanjat.

Di atas wuwungan ini seharusnya hanya ada lima orang tamu undangan, tapi sekilas pandang ia melihat 13-14 orang yang memakai sabuk sutera yang bisa berubah warna, selain lima orang undangan tadi.

Hwesio Jujur dan lain-lainnya malah berada di sisi lain wuwungan itu.

Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang itu.

Baru saja dia berdiri tegak, seseorang datang melompat menghampirinya.

Wajah yang pucat, senyuman yang sinis, dia tidak lain adalah jago tangguh istana, Ting Go.

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.

"Apa yang terjadi?"

Ting Go mendengus.

"Aku ingin menanyakan hal yang sama padamu."

Liok Siau-hong berkata.

"Bertanya padaku?"

Ting Go bertanya.

"Berapa sabuk sutera yang kami berikan padamu?"

Liok Siau-hong menyahut.

"Enam helai."

Ting Go berkata.

"Tapi di sini sekarang ada 21 orang tamu, lalu sisanya mereka dapatkan dari mana?"

Liok Siau-hong menghela nafas, lalu menjawab sambil tersenyum pahit.

"Aku juga ingin bertanya begitu padamu."

Di atas wuwungan itu lalu muncul dua orang lagi.

In Cu berjalan dengan cepat di depan, sementara Siau-siang-kiam-khek Gui Cu-hun mengintil dengan langkah yang santai, tenang dan mantap.

Di tempat yang curam seperti lereng, licin, dingin dan tidak rata seperti ini, berjalan cepat tentu lebih sukar daripada melompat.

Dalam kondisi begini, tapi tetap bersikap tenang, itu lebih-lebih sukar.

Liok Siau-hong tahu bahwa jago nomor wahid dari istana, Siau-siang-kiam-khek, tentu memiliki ilmu yang sesuai dengan reputasinya.

Ginkang dan lweekangnya pasti tidak lebih rendah daripada jago kungfu mana pun di Bulim.

In Cu membuka suara.

"Kalian bertanya ke sini, bertanya ke sana, apa yang telah kalian dapatkan?"

Liok Siau-hong memaksakan sebuah senyuman sambil menggelengkan kepalanya. Gui Cu-hun berkata.

"Urusan ini memang tidak bisa diputuskan dengan sepatah dua patah kata, sekarang belum waktunya bagi kita untuk menyelidiki hal ini."

In Cu bertanya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

Gui Cu-hun berkata.

"Perkuat penjagaan, waspadalah terhadap perubahan."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.

"Sampaikan perintah, perketat penjagaan di tempat ini, tidak seorang pun boleh berlalu-lalang sekehendak hatinya."

In Cu menyahut.

"Baik."

Gui Cu-hun berkata lagi.

"Kita harus mengumpulkan semua tenaga, bila perlu kita pun harus memanggil seluruh pengawal termasuk yang sedang tidak bertugas. Sejak saat ini, siapa pun boleh keluar, tapi tidak boleh masuk."

Ting Go menyahut.

"Baik."

Jago-jago pengawal istana memang bukan orang sembarangan, naik-turun wuwungan istana itu bisa mereka lakukan dengan gampang. Gui Cu-hun tersenyum pada Liok Siau-hong, lalu berkata.

"Bagaimana kalau kita melihat-lihat tempat ini?"

Liok Siau-hong menyahut.

"Bagus sekali."

Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilihat di tempat ini.

Tidak seperti atap rumah biasa, tempat ini berbentuk persegi empat yang luas, di sana-sini ada wuwungan atap yang menonjol, persis seperti tanah perbukitan.

Di sisi sini ada 13 orang yang berdiri terpencar, menunggu saat dimulainya pertandingan dengan tenang.

Tiada yang berbincang satu sama lainnya.

Di tubuh mereka tidak terlihat bentuk senjata yang menonjol, topi ditekan amat rendah, beberapa orang di antaranya mengenakan topeng kulit manusia yang amat halus, jelas mereka tidak ingin dikenal oleh orang lain.

Gui Cu-hun dan Liok Siau-hong berjalan melintasi mereka, tapi sepertinya tiada seorang pun yang memperdulikan keduanya.

Dari mana asal orang-orang ini?

Mengapa mereka bersikap begitu misterius?

Gui Cu-hun berjalan dengan amat lambat, lalu tiba-tiba ia berkata dengan suara yang sangat rendah.

"Kau bisa mengetahui asal-usul mereka?"

Liok Siau-hong menyahut.

"Oh?"

Gui Cu-hun berkata.

"Dua hari terakhir ini, di kotaraja telah berdatangan orang-orang dari kalangan Hek-to. Beberapa di antaranya adalah orang-orang angkatan tua yang telah lama mengasingkan diri, ada yang karena terkait dengan perkara hukum, ada pula jago-jago lihai yang menghindarkan diri dari kejaran musuh yang tangguh, semuanya bukanlah orang-orang yang baru sekali dua kali terjun di kalangan Kangouw."

Liok Siau-hong menyahut.

"Tak heran kalau mereka tidak mau identitas mereka yang sebenarnya terlihat orang."

Gui Cu-hun berkata.

"Keberadaan orang-orang itu selama ini merupakan rahasia, tujuan kedatangan mereka tentu tidak berniat jahat, mungkin hanya karena ingin menyaksikan jurus-jurus yang indah luar biasa, ingin melihat ilmu kepandaian dua jago pedang yang paling terkemuka di jaman ini."

Liok Siau-hong menghela nafas, lalu berkata.

"Kuharap begitu."

Gui Cu-hun berkata.

"Yang masih membuatku tak habis fikir, kenapa di tubuh mereka pun terdapat sabuk sutera seperti itu?"

Liok Siau-hong bertanya.

"Apakah di luar istana juga terdapat sutera semacam ini?"

Gui Cu-hun menjawab.

"Tidak ada."

Ia lalu menjelaskan.

"Kain sutera yang bisa berubah warna seperti ini hanya dimiliki oleh Kaisar Tay-heng-hongte, merupakan hadiah dari Persia, awal mulanya memang tidak berjumlah banyak, sekarang mungkin hanya tersisa sebanyak dua balok kain, permaisuri Lian Kungli amat menghargainya."

Liok Siau-hong tidak bicara lagi, tiba-tiba ia teringat pada Sukong Ti-sing. Gui Cu-hun berkata.

"Aku juga tahu bahwa rajanya raja pencuri pun telah tiba di kotaraja, bahkan sudah berada di sini."

Liok Siau-hong tak tahan untuk tidak bertanya.

"Menurutmu dia yang mencuri kain sutera itu?"

Gui Cu-hun menjawab sambil tersenyum.

"Urusan ini baru kita putuskan kemarin pagi, baru ditetapkan di antara kita, kain sutera semacam ini tiada nilainya di matanya. Barang yang tidak ada nilainya, tentu dia tidak mau mencurinya."

Liok Siau-hong berkata.

"Tapi kemarin malam…."

Gui Cu-hun berkata dengan ringan.

"Kemarin malam kami berempat beristirahat di dalam sepanjang malam, berjaga secara bergiliran, seandainya ada lalat yang bisa masuk, tentu dia tidak akan bisa keluar lagi."

Nada suaranya terdengar penuh keyakinan, Liok Siau-hong menghela nafas lega, lalu berkata.

"Karena itu kau benar-benar tidak mencurigainya."

Gui Cu-hun berkata.

"Tidak."

Liok Siau-hong berkata lagi.

"Lalu siapa yang kau curigai?"

Gui Cu-hun menekan suaranya serendah mungkin dan berkata.

"Yang bisa mencuri kain sutera ini hanya empat orang saja."

Liok Siau-hong bertanya.

"Empat orang?"

Gui Cu-hun berkata lagi.

"Yaitu kami empat bersaudara."

Liok Siau-ong menghembuskan nafas dengan perlahan, sebenarnya dia ingin berkata begitu sejak tadi, tak terduga malah Gui Cu-hun yang mengatakannya.

Sepertinya Siau-siang-kiam-khek ini bukan saja orang yang teliti, dia pun suka berterus terang.

Gui Cu-hun berkata.

"Tentu kau pun berfikir demikian. Menurut kabar di luaran, ada orang yang bersedia memberi 50.000 tael perak hanya untuk membeli sehelai sabuk sutera. Di kalangan Liok-lim, uang bisa didapatkan dengan mudah, tentu mereka berani memberikan tawaran yang lebih tinggi."

Liok Siau-hong menghela nafas.

"Manusia mati karena harta, uang menggerakkan hati manusia. Demi harta, orang bersedia melakukan apa saja."

Gui Cu-hun juga menghela nafas, katanya.

"In Cu memiliki pergaulan yang luas, dia menganggap emas bagaikan sampah. Ting Go masih muda, jadi maklum saja kalau agak romantis. Loji meski agak serius dan berhati-hati, jiwanya lapang dan cita-citanya setinggi langit. Sudah lama dia ingin mendirikan sebuah perguruan ternama di kalangan Kangouw, karena itu diam-diam dia tetap menjalin hubungan dengan teman-teman lamanya. Semua urusan ini membutuhkan biaya yang amat besar – gaji seorang pengawal istana tidaklah mencukupi untuk itu."

Ia menatap Siau-hong, lalu berkata pula.

"Tapi mereka semua adalah saudara-saudaraku yang baik. Jika tidak mempunyai bukti yang kuat, walaupun di dalam hatiku sudah ada kecurigaan, tetap tidak boleh menyebutkannya, untuk menghindari pecahnya persahabatan di antara kami."

Liok Siau-hong berkata.

"Kau ingin agar aku menemukan bukti itu untukmu?"

Gui Cu-hun tersenyum dan berkata.

"Kau memang sulit melepaskan diri dari urusan ini. Jika kau bisa menyingkap hal yang sebenarnya, bukankah itu akan mendatangkan kebaikan bagi semua orang?"

Liok Siau-hong tersenyum dipaksa.

Tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya telah salah menilai orang ini, ternyata ada kalanya orang ini mirip dengan seekor rubah tua.

Di atas wuwungan Thay-ho-tian hanya terdapat beberapa orang.

Selain Lau-sit Hwesio, Sukong Tising, Pok Ki yang baru saja naik dan Tong Thian-ciong, cuma ada Giam Jin-eng dan Ko-siong Kisu.

Suma Ci-ih ternyata tidak datang, Ko-siong Kisu pun menjelaskan.

"Dia ada urusan penting dan harus kembali ke Kanglam, maka diberikannya sabuk sutera ini padaku."

Liok Siau-hong mengerti bahwa, berdasarkan sifat Suma Ci-ih, tentu dia harus pulang kembali ke rumahnya.

Dia juga tidak punya muka untuk mengucapkan selamat tinggal pada Liok Siau-hong.

Sebagai seorang jago kenamaan di dunia Kangouw, dia memiliki gengsi yang tinggi serta selalu ingin melindungi nama baik dan pamornya, tentu saja dia tidak mau membeli sabuk sutera yang tidak jelas asal-usulnya, sementara orang lain pun belum tentu mau menjualnya padanya.

Karena itu orang-orang ini pun tidak muncul.

Gui Cu-hun berkata.

"Sejak saat ini kami telah menutup jalan masuk ke Istana Terlarang, tidak ada lagi yang boleh masuk ke mari."

Liok Siau-hong berucap.

"Yap Koh-seng?"

Gui Cu-hun menyahut.

"Pek-in-sengcu telah datang."

Liok Siau-hong bertanya lagi.

"Orangnya berada di mana?"

Gui Cu-hun berkata.

"Mereka sepakat untuk bertarung saat Cu-si (antara pukul 11 hingga pukul 1 malam), aku telah mengatur agar dia beristirahat dulu di kamar tamu di istana Kian-tiong-bun, agaknya dia .…."

Liok Siau-hong berkata.

"Dia kenapa?"

Gui Cu-hun menghela nafas.

"Raut mukanya tampak pucat, orang mengatakan bahwa dia baru saja sembuh dari luka yang berat, kelihatannya itu bukan cuma kabar burung saja."

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.

"Beberapa orang temanmu itu tampaknya sedang menunggumu lewat, lakukanlah apa yang kau suka."

Di sana memang tampak beberapa pasang mata yang sedang menatap Liok Siau-hong.

Mata Sukong Ti-sing seperti tersenyum, mata Lau-sit Hwesio tampak bersemangat, dan mata Giam Jin-eng dan Pok Ki membayangkan perasaan terima-kasih yang besar.

Liok Siau-hong berjalan menghampiri dan menepuk pundak Giam Jin-eng, dia tersenyum dan berkata.

"Kenapa kalian datang terlambat?"

Giam Jin-eng menyahut.

"Mulanya…. mulanya aku tidak berani datang."

Liok Siau-hong berkata.

"Tidak berani? Mengapa tidak berani?"

Wajah Giam Jin-eng tampak memerah, dengan berat hati dia pun menyahut sambil tersenyum.

"Jika bukan karena bantuan Lau-sit Taysu, mungkin aku tidak bisa datang ke mari."

Liok Siau-hong berkata sambil tersenyum.

"Lau-sit Taysu? Baru pertama kali ini aku mendengar orang memanggilnya demikian."

Dia menyeringai pada Lau-sit Hwesio, agaknya dia ingin mencari gara-gara dengan si hwesio.

Siapa tahu, baru saja berjalan dua langkah, tiba-tiba secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan Sukong Ti-sing.

Sukong Ti-sing ketakutan, katanya dengan tergagap.

"Sabuk sutera sudah kuberikan padamu, mengapa kau masih mencari masalah denganku?"

Liok Siau-hong berkata dengan tenang.

"Aku harus bertanya padamu, kedua sabuk sutera itu kau curi dari mana?"

Sukong Ti-sing berujar.

"Haruskah kuberitahukan padamu?"

Liok Siau-hong berkata.

"Jika tidak kau katakan, akan kupatahkan tanganmu agar selamanya kau tidak bisa mencuri lagi."

Tangannya pun tiba-tiba menjepit tangan Sukong Ti-sing hingga mengeluarkan suara gemeretak. Sukong Ti-sing menghela nafas. Dengan menahan sakit dia pun berkata sambil tersenyum.

"Seandainya kukatakan, kau pun belum tentu percaya."

Liok Siau-hong berujar.

"Coba katakan."

Sukong Ti-sing berucap.

"Kedua helai sabuk itu sebenarnya bukan kucuri, tapi orang lain yang membelinya lalu diberikan padaku, karena dia berhutang budi padaku."

Liok Siau-hong bertanya.

"Siapa orang itu?"

Sukong Ti-sing berkata.

"Orang itu menghamburkan beberapa puluh ribu tael perak untuk membelikan barang ini buatku. Jadi kalau aku membuka rahasianya begitu saja, tentu aku bukanlah seorang teman yang baik, setidaknya aku tidak boleh mengkhianati kepercayaannya dengan begitu cepat."

Liok Siau-hong berkata lagi.

"Kapan kau baru boleh mengungkapkan siapa dirinya?"

Sukong Ti-sing menjawab.

"Paling tidak dua atau tiga hari lagi."

Dua hari lagi mungkin hal itu sudah tidak menarik lagi, dan pengungkapan jati diri orang tersebut sudah tidak berguna lagi. Mata Liok Siau-hong tampak berkilauan, dia lalu berkata.

"Apakah orang itu yang memintamu untuk menyimpan rahasianya selama dua-tiga hari lagi?"

Walaupun Sukong Ti-sing tidak mengakui, tapi dia pun tidak menyangkal. Liok Siau-hong berkata lagi.

"Sekarang kau benar-benar tidak mau mengatakannya?"

Sukong Ti-sing dengan enteng menjawab.

"Jika kau patahkan tanganku ini, aku sudah bersiap-siap untuk mengganti pekerjaanku."

Liok Siau-hong tahu bahwa di dalam melakukan pencurian si raja maling ini bahkan tidak kenal saudara, tapi dia tidak pernah mengkhianati sahabatnya, maka sambil tersenyum ia pun berkata.

"Sebenarnya kau tidak perlu mengatakannya, aku sudah tahu siapa orang itu."

Sukong Ti-sing berkata sambil tersenyum.

"Kau tahu? Kenapa tidak kau bisikkan padaku?"

Liok Siau-hong berujar.

"Ke marilah."

Dia benar-benar membisikkan nama orang tersebut di telinga Sukong Ti-sing.

Senyuman Sukong Ti-sing tiba-tiba lenyap, mata Liok Siau-hong pun bersinar-sinar karena dia tahu tebakannya tidak keliru.

Akhirnya, petunjuk pun dapat ditemukan.

Dia sudah berhasil meraba-raba persoalan ini, tapi masih belum mendapatkan benang terakhir yang akan merangkai seluruh perkara ini.

Sukong Ti-sing menghela nafas dan bergumam.

"Orang ini bilang aku adalah siluman monyet, tapi sebenarnya dialah ….."

Perkataannya terpotong secara tiba-tiba, In Cu mendadak muncul di atas wuwungan dan berkata.

"Pek-in-sengcu (Majikan Benteng Awan Putih) telah datang."

Di bawah sinar bulan terlihat sesosok bayangan berbaju putih, datang melayang seperti terapung di udara, seolah terbawa oleh hembusan angin.

Ilmu ginkangnya amat tinggi, sama sekali tidak berada di bawah Sukong Ti-sing.

Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata.

"Tak kusangka Yap Koh-seng juga memiliki ilmu ginkang yang demikian tinggi."

Mata Liok Siau-hong tampak menyorotkan sinar yang aneh. Setelah berdiam diri beberapa lama, akhirnya ia mengeluarkan suara dan berkata sambil tersenyum.

"Jika ilmu ginkang-nya tidak tinggi, bagaimana mungkin dia bisa mengerahkan jurus Thian-gwa-hui-sian (Dewa Terbang Di Angkasa)?" *** Bulan telah berada di titik tertingginya. Di atas wuwungan istana itu telah penuh dengan manusia. Selain tiga belas orang tokoh misterius itu, juga ada 78 orang berpakaian seragam pengawal istana. Semua orang di istana kerajaan pun ingin melihat dua jago pedang yang paling ternama di jaman ini. Di bawah sinar bulan, raut wajah Yap Koh-seng benar-benar pucat tidak berwarna. Walaupun wajah Sebun Jui-soat pun terlihat amat pucat, tetapi masih menampilkan sedikit warna kehidupan. Kedua orang ini sama-sama berpakaian putih seperti salju, tiada bernoda, wajah mereka pun sama-sama dingin tak berperasaan. Orangnya seakan telah berbaur menjadi satu dengan pedangnya, tajam, tanpa emosi. Kedua orang itu saling berpandangan, mata mereka seperti menyorotkan sinar yang amat tajam. Setiap orang yang berada di pinggir merasa, walaupun pedang mereka belum dihunus dari sarungnya, namun hawa pedang seakan telah menggidikkan hati semua orang. Hawa pedang yang tajam dan keji ini sebenarnya berasal dari tubuh kedua orang itu. Yang menakutkan adalah manusianya, bukan pedang di tangannya. Yap Koh-seng tiba-tiba berkata.

"Sekian lama tak berjumpa, bagaimana kabarmu selama ini?"

Sebun Jui-soat menyahut.

"Berkat karunia-Nya, selama ini aku hidup dengan nyaman dan tenteram."

Yap Koh-seng berkata lagi.

"Kenangan masa lampau tak usah disebut-sebut lagi. Dalam pertarungan kali ini, kau dan aku akan mengerahkan segala kekuatan kita, bukan?"

Sebun Jui-soat menjawab.

"Ya."

Yap Koh-seng berkata.

"Bagus sekali."

Walaupun ucapannya bernada dingin, tapi baru mengucapkan sepatah dua patah kata saja, dia sudah seperti kehabisan tenaga.

Sebun Jui-soat seperti tidak menghiraukan hal itu.

Dia mengangkat pedang di tangannya dan berkata.

"Pedang ini adalah senjata yang amat tajam, panjangnya tiga kaki tujuh inci, beratnya tujuh kati lebih."

Yap Koh-seng berujar.

"Pedang yang bagus."

Sebun Jui-soat berkata.

"Memang pedang yang bagus."

Yap Koh-seng pun mengangkat pedang di tangannya dan berkata.

"Pedang ini dibuat dari inti besi dingin yang diambil dari lautan, sangat tajam, diumpamakan dapat memotong benang ataupun rambut, panjangnya tiga kaki tiga inci, bobotnya enam kati lebih."

Sebun Jui-soat berkata.

"Pedang yang bagus."

Yap Koh-seng menyahut.

"Memang ini sebilah pedang yang bagus."

Walaupun pedang kedua orang itu telah diangkat, tapi masih belum dikeluarkan dari sarungnya.

Gerakan menghunus pedang termasuk jurus yang penting, kedua orang ini jelas akan turut mengadu jurus ini.

Gui Cu-hun tiba-tiba berkata.

"Kalian berdua adalah jago-jago ternama yang memiliki reputasi besar dan menjadi tumpuan harapan orang banyak, tentunya pedang kalian tidak dilumuri racun, apalagi diselipi senjata rahasia beracun."

Keempat penjuru terasa hening, hanya desah nafas yang terdengar, semua orang ingin mendengarkan lanjutan ucapannya itu. Gui Cu-hun lalu berkata pula.

"Pertempuran malam ini tentu akan tercantum di dalam sejarah dunia Kangouw dan akan dibicarakan orang selama berabad-abad. Kalian berdua tentu tidak keberatan untuk saling bertukar pedang dan memeriksa pedang lawan masing-masing?"

Yap Koh-seng segera berkata.

"Silakan kau memberi petunjuk."

Sebun Jui-soat tidak membuka mulut.

Setelah berdiam beberapa lama, akhirnya dia pun mengangguk juga.

Jika peristiwa ini terjadi sebulan yang lalu, dia tidak mungkin mau mengangguk.

Dalam pertempuran yang menentukan antara hidup dan mati, bagaimana mungkin dia bersedia menyerahkan pedangnya ke tangan orang lain?

Tetapi sekarang dia telah berubah, dengan lambat dia berkata.

"Pedangku hanya bisa kuberikan pada seseorang."

Gui Cu-hun berkata.

"Bukankah itu Liok-tayhiap?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Ya."

Gui Cu-hun berujar.

"Bagaimana dengan Yap-sengcu?"

Yap Koh-seng menyahut.

"Urusan ini tidak perlu melibatkan lebih dari satu orang, Liok-tayhiap juga merupakan orang yang kupercayai sedalam-dalamnya."

Sukong Ti-sing tiba-tiba menghela nafas dan bergumam.

"Orang ini tega mencuri roti seorang hwesio, tidak disangka kalau ada juga orang yang percaya kepadanya. Aneh, sungguh aneh."

Walaupun nada suaranya rendah, tapi di saat seperti ini semua orang tentu bisa mendengarnya dengan jelas. Semua orang ingin tersenyum, tapi tiba-tiba Pok Ki juga membuka suara dengan keras.

"Sifat keadilan dan kemanusiaan Liok-tayhiap memang tiada bandingnya. Jangankan pedang, seandainya diminta, kepalaku pun akan kuserahkan kepadanya."

Giam Jin-eng juga segera berkata.

"Walaupun Giam Jin-eng hanya seorang Bu-beng-siau-cut, tapi aku pun amat mengagumi Liok-tayhiap, sama seperti Pok-pangcu."

Sebenarnya Giam Jin-eng tentu saja bukan seorang Bu-beng-siau-cut, Pok Ki malah memiliki reputasi yang cukup cemerlang, setiap ucapannya tentu akan dihargai orang.

Kedua orang ini bicara tentang Liok Siau-hong dengan suara yang keras, sepertinya mereka khawatir kalau orang lain tidak memahami ucapan mereka.

Sukong Ti-sing tersenyum dipaksa dan berbisik pada Liok Siau-hong.

"Semua orang di sini datang untuk menonton Yap Koh-seng dan Sebun Jui-soat."

Liok Siau-hong berujar.

"Aku tahu."

Sukong Ti-sing berkata lagi.

"Tapi sekarang semua orang sedang memandang padamu."

Liok Siau-hong tersenyum dan melangkah keluar.

Pertama dia berjalan menghampiri Sebun Jui-soat, menerima pedangnya, lalu berputar lagi.

Ketika ia menerima pedang Pek-in-sengcu, ia lalu menggenggam kedua pedang itu dan bergumam.

"Kedua pedang ini benar-benar pedang yang bagus."

Gui Cu-hun berkata.

"Silakan Liok-tayhiap mempertukarkan kedua pedang itu untuk dilihat oleh masing-masing pihak."

Liok Siau-hong berkata.

"Kau ingin agar pedang Sebun Jui-soat diberikan pada Yap Koh-seng dan pedang Yap Koh-seng diserahkan pada Sebun Jui-soat?"

Gui Cu-hun berkata.

"Benar."

Liok Siau-hong berkata.

"Itu tidak baik."

Gui Cu-hun berkata pula.

"Mengapa tidak baik?"

Liok Siau-hong tiba-tiba berujar.

"Dua batang pedang yang begini bagus, setelah berada di tanganku, kenapa harus kuserahkan lagi?"

Gui Cu-hun tertegun.

Semua orang pun tertegun.

Liok Siau-hong mengempit kedua pedang itu di ketiaknya, tangan pun bergerak, tahu-tahu kedua pedang itu sudah dihunus.

Hawa pedang pun terpancar ke angkasa, sinarnya berkilau gemerlapan – bulan purnama seakan kehilangan warnanya.

Di dalam hatinya setiap orang pun bertanya pada diri sendiri.

"Seandainya kedua pedang ini jatuh ke tanganku, apakah aku pun akan mengembalikannya?"

Liok Siau-hong berkata.

"Pedang pusaka hanya patut dimiliki oleh ksatria sejati, pepatah ini tentu pernah didengar setiap orang?"

Tidak seorang pun yang menjawab, tidak seorang pun yang tahu apa maksud ucapannya itu. Liok Siau-hong berkata lagi.

"Aku pernah mendengar pepatah itu, aku juga melihat kedua pedang ini tidak ada celanya."

Pedang-pedang itu lalu disarungkan kembali.

Tiba-tiba Liok Siau-hong menjejakkan kakinya ke tanah, sebatang pedang lalu dilemparkan ke arah Sebun Jui-soat, pedang lainnya pun dilemparkan pada Yap Koh-seng, lalu dia membalikkan badannya.

Semua orang merasa tertegun.

Sukong Ti-sing tak tahan untuk tidak bertanya.

"Apa yang kau lakukan?"

Liok Siau-hong berkata dengan ringan.

"Aku ingin mereka mengerti bahwa, bila lain kali ada urusan seperti ini, jangan pernah mencariku lagi. Masalahku sudah terlalu banyak, aku tidak ingin menangani urusan yang membosankan seperti ini lagi."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Apakah ini urusan yang membosankan?"

Liok Siau-hong berkata.

"Dua orang yang tidak mempunyai permusuhan satu sama lain, tapi hendak menusuk kerongkongan dan tenggorokan lawannya, jika urusan ini tidak membosankan, lalu urusan apa lagi yang membosankan?"

Ia faham arti ucapan Liok Siau-hong itu, dia tentu berharap Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng dapat mengendalikan nafsu membunuh mereka, pertarungan ini hanya mengadu teknik, tentu saja – tidak perlu harus membunuh lawannya.

Semua orang pun tentu saja memahami ucapan itu.

Gui Cu-hun mendengus dua kali, lalu berkata.

"Waktu pertarungan yang telah ditetapkan ternyata sudah lewat. Besok pagi akan diadakan sidang istana, jadi pertarungan ini sebaiknya dibatasi dalam waktu setengah jam saja. Untuk menentukan yang kalah dan menang, jika bertarung di antara yang ahli, ada kalanya pertarungan cukup berlangsung dalam sejurus dua jurus saja, jadi waktu yang ditentukan itu tentu sudah cukup."

Ia tidak mengungkit-ungkit urusan bertukar pedang itu lagi, duel yang menentukan akhirnya dimulai, setiap orang menahan nafasnya dengan perasaan tegang.

Tangan kiri Sebun Jui-soat menggenggam gagang pedang dengan erat, tangan kanannya terulur sejajar dengan lutut.

Di wajahnya tiada perubahan perasaan apa pun.

Orang ini memang seperti pedang yang terhunus dari sarungnya, tidak berperasaan, dingin dan tajam.

Raut muka Yap Koh-seng kelihatan makin tak sedap dipandang, dia menggenggam pedangnya di belakang punggung, gerakannya tampak berat dan lamban, beberapa kali terdengar dia terbatuk ringan.

Dibandingkan dengan Sebun Jui-soat, ia kelihatan lebih tua dan lemah, di mata sementara orang pun timbul perasaan simpatik.

Pertarungan yang menentukan kalah dan menang ini, tanpa ditanya pun semua orang sudah bisa menduga bahwa Sebun Jui-soat akan unggul.

Dia memang orang yang tidak berperasaan!

Pedangnya lebih tak berperasaan lagi!

Yap Koh-seng akhirnya membusungkan dadanya, menatap pedang di tangannya, lalu berkata dengan lambat.

"Pedang pusaka ini memang senjata yang membawa hawa maut. Sejak muda aku sudah berlatih pedang, sampai sekarang sudah hampir 30 tahun lebih. Di dalam hatiku, sejak dulu aku sudah bertanya-tanya, di tangan siapakah aku akan menemui kebinasaanku."

Sebun Jui-soat hanya mendengarkan. Yap Koh-seng menarik nafas dengan berat, lalu menambahkan pula.

"Karena itu, dalam pertarungan hari ini, pedangku dan pedangmu tidak boleh bersikap lunak. Siapa pun yang belajar pedang harus siap mati di bawah pedang, kenapa hal itu harus disesali?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Ya."

Beberapa orang penonton di dalam hatinya bersorak.

Mereka memang datang untuk menonton pertarungan hidup dan mati di antara dua jago pedang ternama ini.

Jika tidak berlangsung dengan sengit, lalu apa bagusnya menyaksikan pertarungan seperti ini?

Yap Koh-seng menarik nafas dalam-dalam dan berkata.

"Silakan."

Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.

"Tunggu sebentar."

Yap Koh-seng berkata.

"Kita harus menunggu sampai kapan?"

Sebun Jui-soat menyahut.

"Sampai luka itu tidak berdarah lagi."

Yap Koh-seng berkata.

"Siapa yang terluka, siapa yang berdarah?"

Sebun Jui-soat menjawab.

"Kau."

Yap Koh-seng terdiam.

Ia menunduk dan menatap dadanya, tiba-tiba tubuhnya bergetar dengan keras dan mundur dengan limbung.

Semua orang merubunginya, baru kemudian mereka melihat bahwa bajunya yang seputih salju itu telah ternoda – noda darah yang merah menyala.

Dia benar-benar terluka, malah lukanya masih berdarah, tetapi orang yang angkuh dan keras kepala ini hanya mengertakkan giginya dan tidak mau mundur setengah langkah pun walaupun dia tahu kalau dia akan mati.

Sebun Jui-soat mendengus dan berkata.

"Walaupun pedangku adalah senjata pembunuh, tapi tidak pernah membunuh orang yang sengaja menyerahkan dirinya untuk mati."

Yap Koh-seng berkata dengan parau.

"Aku sengaja menyerahkan diriku untuk mati?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Jika kau tidak bermaksud menyerahkan dirimu untuk mati, maka tunggulah sebulan lagi, aku pun akan menunggumu selama sebulan."

Tiba-tiba dia membalikkan badan, lalu melayang pergi dan menghilang ke bawah wuwungan istana. Yap Koh-seng ingin menghentikannya dan berteriak dengan keras.

"Kau….."

Baru saja berkata begitu, tahu-tahu mulutnya menyemburkan darah segar.

Sekarang, jangankan hendak mengejar Sebun Jui-soat, untuk menyusul seorang bocah pun dia tak akan sanggup.

Pertarungan ini tertunda begitu saja, perubahan pun terjadi demikian mendadak.

Keadaan ini mirip seperti panggung sandiwara yang telah membunyikan genderang dan gembreng, penonton pun sudah penuh, tahu-tahu si lelakon yang baru muncul mendadak pergi begitu saja, tentu saja semua merasa kecewa, termasuk para penabuh genderang dan pemukul gembreng.

Sukong Ti-sing tiba-tiba tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak.

Lau-sit Hwesio mendelik padanya dan bertanya.

"Kenapa kau tersenyum?"

Sukong Ti-sing menyahut sambil tersenyum.

"Aku tersenyum karena teringat pada orang-orang yang telah menghabiskan laksaan tael perak hanya untuk membeli sabuk sutera itu."

Tapi senyumannya itu terlalu cepat. Saat itulah Liok Siau-hong melompat dan berseru dengan keras.

"Hentikan!"

Senyuman Sukong Ti-sing memang terlalu cepat.

Tindakan Liok Siau-hong pun terlalu lambat.

Tong Thian-ciong telah melompat ke belakang tubuh Yap Koh-seng, mengayunkan kedua tangannya berulang kali, segumpal pasir yang bagaikan awan gelap pun berhamburan.

Serangan ini membuat Yap Koh-seng yang belum berdiri tegak merasa terperanjat.

Mendadak ia melejit tinggi ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, gerak-geriknya lincah dan gesit, sama sekali tidak seperti orang yang sedang terluka parah.

Sayangnya dia tetap terlambat selangkah.

Pasir beracun keluarga Tong, bila dihamburkan, amat sedikit orang yang mampu menghindarinya.

Sekali dihamburkan, apalagi dalam jarak dekat, mustahil untuk bisa mengelakkannya.

Hanya terdengar suara pekikan yang menyayat hati, tubuh Yap Koh-seng tiba-tiba roboh, di bajunya yang putih seperti salju terlihat banyak bintik-bintik gelap seperti awan hitam.

Itulah Toh-hun-sah (Pasir Pengejar Nyawa) dari keluarga Tong, kekejiannya jauh lebih menakutkan daripada ular berbisa.

Sebagian besar orang di dunia Kangouw tahu, asal sebutir saja dari pasir beracun itu mengenai wajah, maka bagian wajah yang terkena harus diiris.

Jika sebutir saja mengenai tangan, maka tangan itu harus dipotong.

Tubuh Yap Koh-seng sudah terkena pasir beracun itu, jumlahnya tidak terkira.

Tiba-tiba dia bergulingan ke bawah kaki Tong Thian-ciong, lalu mendesis keras.

"Obat penawarnya, cepat berikan obat penawarnya."

Tong Thian-ciong mengkertakkan giginya dan berkata.

"Toako dan Jiko-ku terluka di bawah pedangmu, walau tidak mati tapi sudah menjadi orang cacat. Permusuhan antara kau dan keluarga Tong lebih dalam daripada samudera, kau juga menginginkan obat penawarku?"

Yap Koh-seng berkata.

"Itu…. itu adalah urusan Yap Koh-seng, sama sekali tidak ada hubungannya denganku."

Tong Thian-ciong mendengus dan berkata.

"Bukankah kau Yap Koh-seng?"

Yap Koh-seng berusaha keras menggelengkan kepalanya, tiba-tiba dia mengulurkan tangan, mengusap mukanya sendiri, tahu-tahu ia menarik sehelai kulit yang ternyata merupakan topeng kulit manusia yang amat bagus buatannya.

Wajahnya tirus dan jelek, sepasang matanya terbenam dalam-dalam di kelopaknya, dia adalah orang misterius yang bekerja sebagai pelindung Toh Tong-han.

Liok Siau-hong sudah dua kali melihat orang ini.

Yang pertama di rumah pemandian, dan yang kedua adalah di rumah makan.

Liok Siau-hong tahu bahwa dia merupakan pengawal pribadi Toh Tong-han, tapi sama sekali tak terduga olehnya kalau orang ini sekarang menjadi samarannya Yap Koh-seng.

Walaupun sinar bulan tampak jernih, tapi tentu saja tetap tidak begitu terang.

Liok Siau-hong tahu bahwa Pek-in-sengcu menderita luka yang parah, karena hal itu terlihat jelas di wajahnya.

Tapi dia memang tidak akrab dengan wajah Pek-in-sengcu bila sedang tersenyum.

Yap Koh-seng berasal dari daerah selatan Huang-ho.

Di dunia Kangouw hanya beberapa orang yang pernah bertemu dengannya.

Kalau tidak demikian, tentu orang misterius ini tidak begitu mudah menyamar sebagai dirinya, walaupun menggunakan topeng yang amat bagus buatannya, apalagi di hadapan begini banyak orang yang bermata tajam.

Mata Tong Thian-ciong sudah memerah, dengan tertegun dia memandang orang itu dan menghardik dengan keras.

"Siapa kau? Di mana Yap Koh-seng?"

Orang itu membuka mulutnya hendak bicara, tapi lidahnya terasa kaku dan kejang, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Pasir beracun keluarga Tong benar-benar mampu mengejar nyawa dan merenggut kehidupan dalam waktu yang amat singkat.

Tong Thian-ciong tiba-tiba mengeluarkan sebuah botol kayu dari bajunya, membungkukkan badan, dan menuangkan obat penawar ke dalam mulut orang itu.

Untuk mengetahui keberadaan Yap Koh-seng, tentu saja nyawa orang ini harus diselamatkan.

Selain dia, tidak ada lagi orang yang tahu di mana Yap Koh-seng berada.

Siapa pun tak menduga kalau Pek-in-sengcu yang tiada tandingan itu akan digantikan oleh orang lain dalam pertarungan ini.

Sukong Ti-sing berkata sambil tersenyum getir.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku merasa seperti orang bodoh."

Liok Siau-hong berkata.

"Yang bodoh kan kamu, bukan aku."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Kau tahu mengapa Yap Koh-seng melakukan hal ini? Kau tahu di mana dia berada?"

Mata Liok Siau-hong tampak bersinar-sinar. Tiba-tiba dia melompat bangkit, lalu menatap Gui Cu-hun dan berkata.

"Kau tahu Thaykam tua yang bermarga Ong?"

Gui Cu-hun bertanya.

"Maksudmu Ong-congkoan?"

Liok Siau-hong berujar.

"Bisakah dia mencuri sabuk sutera itu?"

Gui Cu-hun menjawab.

"Sebelum putera mahkota naik tahta sebagai kaisar, Ong-congkoan selalu mengiringinya belajar di Lam-siu-hong. Setelah Tay-heng-hongte wafat, dia pun menjadi orang kesayangan Kaisar yang sekarang."

Liok Siau-hong mengulangi pertanyaannya tadi.

"Aku hanya bertanya, kecuali kalian, bisakah dia mencuri gulungan sabuk sutera itu?"

Gui Cu-hun berkata.

"Bisa."

Mata Liok Siau-hong bersinar semakin terang, tiba-tiba dia bertanya lagi.

"Apakah sekarang Kaisar sudah tidur?"

Gui Cu-hun berkata.

"Setiap hari Kaisar bekerja keras mulai dari pagi hari hingga malam, karena itu beliau selalu cepat tidurnya."

Liok Siau-hong pun berujar.

"Di mana beliau tidur?"

Gui Cu-hun menjawab.

"Walau sudah lama naik tahta, Kaisar masih melakukan kebiasaan lamanya seperti waktu masih menjadi putera mahkota, yaitu membaca buku, karena itu beliau sering beristirahat di Lam-siu-hong."

Liok Siau-hong berkata.

"Di mana letak Lam-siu-hong? Cepat bawa aku ke sana."

In Cu segera menukas.

"Kau ingin kami membawamu menghadap Kaisar? Apa kau sudah gila?"

Liok Siau-hong menyahut.

"Aku tidak gila. Tapi jika kalian tak mau membawaku ke sana, kalianlah yang akan segera menjadi gila."

In Cu mengerutkan keningnya.

"Orang ini benar-benar gila. Bukan hanya bicara tak keruan, tapi dia juga menginginkan kepala kami pindah dari tempatnya."

Liok Siau-hong menghela nafas dan berkata.

"Aku tidak mau kepala kalian pindah dari tempatnya, tapi aku ingin kepala kalian tetap berada di sarangnya."

Gui Cu-hun merenung dalam-dalam, tiba-tiba ia berkata.

"Aku mempercayaimu untuk sekali ini saja."

In Cu berseru.

"Kau benar-benar hendak membawanya ke sana?"

Gui Cu-hun mengangguk dan berkata.

"Kalian juga ikut denganku."

Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang menyayat hati, tahu-tahu sebuah batok kepala manusia menggelinding di atas wuwungan istana itu.

Kemudian sesosok tubuh tanpa kepala pun tampak bergelinding.

Dilihat dari pakaiannya, jelas dia adalah salah seorang pengawal istana.

Gui Cu-hun berpaling dengan terkejut.

Ternyata 12 orang tokoh misterius itu telah membekuk enam orang pengawal istana, sementara seorang laki-laki berbaju ungu tampak memegang sebatang golok yang berlumuran darah.

Tiga belas orang misterius yang tadinya seakan tidak kenal satu sama lain, sekarang telah bergabung.

In Cu berteriak.

"Kalian berani membunuh orang di sini? Kalian tahu kalau hukumannya adalah penggal kepala?"

Orang berbaju ungu itu menjawab.

"Aku tidak perduli, yang dipenggal kan bukan kepalaku."

In Cu menegakkan tubuhnya dan bersiap hendak menghunus pedangnya. Orang berbaju ungu itu segera berkata dengan dingin.

"Kalau kau berani bergerak, maka akan kami binasakan beberapa orang lagi."

In Cu benar-benar tidak berani bergerak.

Tapi tiba-tiba dari mulutnya mulai berhamburan caci-maki yang kotor.

Segala macam makian yang kasar pun dikeluarkan.

Siapa pun tak menduga, orang yang berkedudukan tinggi seperti dirinya pun bisa memaki seperti itu.

Laki-laki berbaju ungu menjadi naik pitam dan berseru.

"Hentikan makianmu itu!"

In Cu mendengus dan berkata.

"Aku tak boleh bergerak, masa mencaci-maki orang pun tidak boleh?"

Orang berbaju ungu berkata.

"Siapa yang kau maki?"

In Cu menyahut.

"Masa kau tidak tahu siapa yang kumaki? Kalau begitu biar aku mencaci-maki sekali lagi."

Ia pun memaki semakin kasar dan kotor. Mata orang berbaju ungu itu menjadi merah. Dia pun mengangkat goloknya, tapi tiba-tiba.

"sret!" , tahu-tahu sebilah pedang telah menembus dadanya. Darah segar pun muncrat. Terdengar seseorang berkata.

"Dia suka mencaci-maki orang, kebetulan aku suka membunuh......"

Ucapan itu tidak lagi terdengar dengan jelas oleh laki-laki berbaju ungu.

Dalam sekejap mata, setelah dia mati, Ting Go pun menarik kembali pedangnya.

In Cu, Gui Cu-hun dan Liok Siau-hong yang berada di depannya segera memburu maju.

Seketika terdengar bunyi gemertak tulang yang berantakan.

Bunyi gemertak tulang yang susul-menyusul.

Sinar bulan yang menerangi jalan tampak jernih seperti air, tapi sinar bulan yang menerangi wuwungan istana terlihat dingin dan mengenaskan.

Darah pun membanjir di atas genteng istana yang berwarna keemasan itu, mengalir cepat jatuh ke bawah.

Ketigabelas orang misterius itu sekarang telah bergelimpangan semua, tidak ada lagi orang yang perduli tentang asal-usul mereka.

Sekarang yang menjadi perhatian setiap orang adalah urusan yang lebih misterius dan lebih serius.

Mengapa Liok Siau-hong mendesak Gui Cu-hun untuk membawanya ke Lam-siu-hong?

Lalu mengapa Gui Cu-hun yang berpengalaman itu bersedia membawanya ke sana?

Pertarungan antara Yap Koh-seng dan Sebun Jui-soat ini walaupun mengguncangkan seluruh dunia, tapi tetap saja hanya merupakan urusan dunia Kangouw, lalu mengapa harus melibatkan kaisar?

Rahasia apa yang tersembunyi di balik semua ini?

Sukong Ti-sing memandang Sebun Jui-soat yang sedang menatap bintang di langit, lalu menoleh pada Lau-sit Hwesio, tak tahan lagi ia pun bertanya.

"Apakah kau tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?"

Lau-sit Hwesio menggelengkan kepalanya dan menjawab.

"Seharusnya kau tidak menanyakan urusan ini pada Hwesio."

Sukong Ti-sing bertanya lagi.

"Lalu pada siapa aku harus bertanya?"

Lau-sit Hwesio menjawab.

"Yap Koh-seng!" *** Tanggal 15 bulan sembilan, larut malam. Bulan tampak bundar seperti cermin. Kaisar muda tiba-tiba terbangun dari mimpinya. Sinar bulan dari luar jendela menyorot masuk ke dalam kamar itu dan menembus kain kelambu yang berwarna hijau. Dalam sinar bulan, kelambu hijau itu tampak seperti kabut, di dalam kabut seolah terlihat sesosok bayangan manusia. Kaisar muda ini tidak pernah memerintahkan seorang pun datang ke sini untuk melayaninya malam ini. Jadi siapa yang tengah malam begini berani datang mendekati tempat tidur kaisar? Kaisar pun melompat turun dari tempat tidur, sikapnya bukan saja tetap tenang, tapi juga bersemangat.

"Siapa?"

"Hamba Ong An, datang membawakan teh untuk Yang Mulia."

Sejak masih menjadi putera mahkota, Kaisar selalu menganggap Ong An sebagai orang yang paling dipercayainya.

Karena itu, walaupun sebenarnya dia tidak pernah memesan teh, dia merasa tak tega untuk menegur orang tua yang setia ini.

Maka dia hanya melambaikan tangannya dan berkata.

"Kalau begitu, sekarang kau boleh mundur."

Ong An menjawab.

"Ya."

Setiap kali Kaisar mengeluarkan perintah, tidak seorang pun yang berani menentang.

Kalau Kaisar memerintahkan seseorang untuk pergi, walaupun kedua kaki orang itu sudah patah pun dia tetap harus pergi dengan merangkak.

Tapi anehnya, Ong An ternyata tidak mengundurkan diri.

Dia malah tak bergerak sama sekali, seakan-akan tidak pernah diperintahkan untuk pergi dari tempat itu.

Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata.

"Kau tidak keluar?"

Ong An pun berkata.

"Ada sesuatu yang harus hamba laporkan."

Kaisar berkata pula.

"Katakanlah."

Ong An berujar.

"Hamba ingin meminta paduka menemui seseorang."

Larut malam begini dia berani mengusik kaisar dan memaksanya untuk menemui seseorang, seakan-akan dia telah melupakan kedudukannya sendiri.

Dia lupa kalau tindakannya ini bisa dianggap sebagai pengkhianatan dan bisa diberi hukuman berat hingga ke anak cucunya.

Sejak umur tujuh tahun dia sudah dikebiri, usia sembilan tahun mulai bekerja di istana, gerak-geriknya selalu sopan dan tahu aturan.

Sekarang usianya hampir 60 tahun, kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini?

Walaupun wajah Kaisar mulai berubah, tapi ia berusaha menahan perasaannya.

Setelah berdiam diri beberapa lama, akhirnya ia pun bertanya.

"Di mana orangnya?"

"Di sini,"

Ong An pun melambaikan tangannya, dari luar kamar tiba-tiba terlihat masuk dua buah lentera.

Di bawah cahaya lentera itu muncullah seseorang.

Seorang pemuda yang amat tampan dan tubuhnya mengenakan sebuah jubah berwarna kuning.

Walaupun cahaya lentera lebih terang daripada sinar bulan, pemuda itu seolah-olah terlihat berdiri dalam kabut.

Kaisar tidak bisa melihat dengan jelas, maka ia pun menyingkap kain kelambu dan berjalan keluar.

Tiba-tiba raut mukanya berubah, berubah demikian menakutkan.

Pemuda itu berdiri di hadapannya, sosoknya amat mirip dengan dirinya.

Penampilannya serupa, tubuhnya pun mengenakan pakaian Pat-po-luo-sui-kun.

Pat-po-luo-sui-kun adalah pakaian dinas kaisar.

Siapakah pemuda ini?

Kenapa dia memiliki raut muka dan bentuk tubuh yang mirip dengan dirinya?

Bagaimana mungkin hal ini terjadi?

Ong An memandang kedua orang itu, di wajahnya pun muncul sebuah senyuman licik.

Kaisar menggeleng-gelengkan kepalanya.

Walaupun tangannya sudah terasa dingin seperti es, dia tetap berusaha mengendalikan dirinya.

Samar-samar ia merasa, di dalam senyuman Ong An itu tersimpan sebuah rahasia yang menakutkan.

Ong An menepuk pundak pemuda itu dan berkata.

"Ini adalah kerabat dekat Tay-heng-hongte sendiri, putera Lam-ong-ya (Raja Muda di Selatan), jadi dia juga merupakan adik sepupu paduka sendiri."

Kaisar menatap pemuda itu, dengan wajah yang tenang dia pun berkata.

"Kau sudah lama datang ke kotaraja?"

Siau-ongya itu menundukkan kepalanya dan menjawab.

"Belum lama."

Kaisar berkata pula.

"Seorang bangsawan meninggalkan tempat tugasnya tanpa mendapat ijin, kau tahu apa hukumannya?"

Siau-ongya menundukkan kepalanya semakin rendah. Kaisar berkata lagi.

"Keluarga istana melanggar aturan, kejahatannya sama dengan orang biasa. Walaupun aku hendak mengampunimu, tapi….."

Siau-ongya tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata.

"Tapi agaknya tetap sukar terhindar dari hukuman penggal."

Kaisar pun berucap.

"Bagus."

Siau-ongya berkata lagi.

"Kau tahu hukum, tapi mengapa tetap melanggar hukum?"

Kaisar menjadi marah.

"Kau…..."

Siau-ongya tiba-tiba memotong ucapannya itu dan berkata.

"Sudah tahu tapi tetap melanggar hukum, maka kejahatannya pun semakin besar. Walaupun bermaksud untuk menyelamatkan nyawamu, tapi aturan nenek moyang kita tetap……"

Kaisar berkata dengan marah.

"Memangnya kau siapa? Berani-beraninya bersikap lancang begini?"

Siau-ongya berujar.

"Aku mendapat mandat dari langit, diberi amanat oleh Tay-heng-hongte, bertugas sebagai Putera Langit untuk memakmurkan rakyat."

Kedua telapak tangan Kaisar sudah terkepal erat-erat, seluruh tubuhnya telah dingin seperti es.

Sekarang akhirnya dia faham betapa mengerikannya persekongkolan ini, tapi dia tetap tak berani untuk percaya.

Siau-ongya berkata.

"Ong-congkoan."

Ong An segera membungkukkan badannya dan berkata.

"Hamba, Yang Mulia."

Siau-ongya berkata pula.

"Setelah menghukum dirinya, segera kirimkan mayatnya secepat mungkin ke Lam-ong-hu (istana raja muda di selatan)."

Ong An menyahut.

"Ya."

Siau-ongya melirik penuh arti pada kaisar, lalu ia tiba-tiba menghela nafas dan bergumam.

"Aku benar-benar tidak mengerti, sudah memiliki kedudukan yang tinggi di selatan, lalu mengapa harus pergi ke kotaraja? Apa maunya?"

Kaisar mendengus.

Akhirnya dia benar-benar memahami rencana busuk orang-orang ini.

Mereka hendak menggunakan pemuda ini untuk menyaru sebagai dirinya, lalu dia sendiri akan dibunuh dan mayatnya dikirimkan ke Lam-ong-hu sebagai pengganti Siau-ongya.

Setelah itu, seandainya ada orang yang melihat kejanggalan ini, tentu tidak ada lagi yang bisa membuktikan.

Ong An berkata.

"Keluarga kaisar melanggar aturan, kejahatannya sama dengan orang biasa. Karena kau juga tahu hal ini, lalu apa lagi yang bisa kau katakan?"

Kaisar pun berujar.

"Hanya satu."

Ong An berkata.

"Katakanlah, aku akan mendengarkan."

Kaisar kembali berkata.

"Bagaimana kalian bisa merencanakan hal ini?"

Ong An berkedip-kedip beberapa kali, akhirnya dia tertawa dan berkata.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi aku tak bisa menahannya."

Kaisar berujar.

"Katakanlah."

Ong An berkata.

"Terus terang, waktu Lo-ongya datang ke kotaraja, kami pun menyadari bahwa kau dan Siau-ongya benar-benar mirip, maka kami lalu merencanakan hal ini."

Kaisar berkata lagi.

"Dia sudah membelimu?"

Ong An berujar.

"Aku bukan hanya suka berjudi, aku pun suka makan enak."

Bicara sampai di situ, sorot matanya pun – tanpa kenal malu, tampak mulai berkilauan. Sengaja dia menghela nafas, lalu menambahkan.

"Karena itu pengeluaranku tidak sedikit, maka aku pun harus mencari sumber penghasilan tambahan."

Kaisar pun berkata.

"Nyalimu tidak kecil."

Ong An berkata.

"Nyaliku sebenarnya tidak begitu besar. Urusan yang tidak aku yakini 9 bagian bakal berhasil, tidak akan pernah kukerjakan."

Kaisar berkata pula.

"Jadi kau merasa yakin 9 bagian dalam urusan ini?"

Ong An berkata.

"Mulanya kami juga mengkhawatirkan Gui Cu-hun dan teman-temannya, tapi sekarang kami sudah mendapatkan cara untuk membuat mereka pergi."

Kaisar berucap.

"Oh?"

Ong An berkata lagi.

"Seperti orang yang gila catur, jika mendengar dua orang juara catur akan bertanding, apakah dia mau berdiam diri begitu saja?"

Jawabannya tentu saja tidak. Ong An berkata.

"Orang yang belajar pedang pun sama. Jika tahu dua orang jago pedang yang paling ternama akan bertanding, mereka tentu juga tidak mau ketinggalan."

Kaisar tiba-tiba bertanya.

"Apakah maksudmu pertarungan antara Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng?"

Ong An tampak terperanjat dan berkata.

"Kau juga tahu? Kau juga kenal kedua orang itu?"

Kaisar berkata dengan perlahan.

"Kedua orang ini mempunyai reputasi yang hebat, tak heran kalau Gui Cu-hun pun sampai tertarik."

Ong An dengan enteng berkata.

"Tidak salah ucapanmu itu."

Kaisar berkata pula.

"Untunglah masih ada orang yang tidak tertarik untuk pergi ke sana."

Baru saja beberapa patah kata itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suara "sret!", tahu-tahu keempat dinding ruangan itu seperti membelah dan empat orang pun melesat masuk.

Tinggi keempat orang ini tidak sampai dua kaki, sosok tubuh, perawakan dan pakaiannya benar-benar mirip satu sama lain.

Mereka berwajah jelek, bermata kecil, berhidung besar, berbibir sumbing, tampangnya pun menggelikan.

Tapi pedang di tangan mereka sama sekali tidak menggelikan.

Pedang mereka yang panjang itu memancarkan sinar berwarna biru, hawanya dingin menggidikkan.

Tiga orang di antaranya menggunakan sepasang pedang, sementara yang seorang lagi hanya menggenggam sebilah pedang.

Tujuh pedang menari-nari dan meliuk-liuk di udara, seperti tetesan air hujan yang menyebar ke segala penjuru, sinarnya terang menyilaukan sehingga orang yang memandang pun akan sukar membuka matanya.

Mereka bukan lain adalah empat bersaudara keluarga Hi dari Hui-hi-po (Benteng Ikan Terbang), Jit-seng-tong Im-bun-san.

Keempat orang ini adalah saudara kembar.

Walaupun masing-masing tidak memiliki kepandaian yang terlalu tinggi, tapi apabila mereka bergabung dan bekerja-sama, menggunakan ilmu pedang andalan keluarga mereka, Hui-hi-chit-seng-kiam (Ilmu Pedang Ikan Terbang Tujuh Bintang) dan membentuk Jit-seng-kiam-tin (Barisan Pedang Tujuh Bintang), maka walaupun kekuatan mereka belum terhitung jagoan kelas satu, tapi tidak banyak orang yang akan sanggup mengalahkan mereka.

Mereka bukan saja orang-orang yang aneh, tindak-tanduknya pun sering kali membingungkan orang lain, tak terduga kalau mereka sekarang bekerja di istana kerajaan dan malah menjadi pengawal pribadi kaisar sendiri.

Sinar pedang mereka membuat wajah kaisar tampak berkilauan.

Kaisar tiba-tiba berkata.

"Serang!"

Tujuh bilah pedang memancarkan cahaya kemilau ke segala penjuru, hawa pedang pun segera mengurung Siau-ongya dan Ong An.

Raut wajah Ong An berubah warna beberapa kali.

Tiba-tiba Siau-ongya melambaikan tangannya sambil berseru.

"Gempur!"

Bersamaan dengan suara seruan itu, sebuah sinar pedang mendadak datang melesat, kecepatannya tidak kalah dengan kecepatan kilat yang mengguncangkan awan dan menggetarkan langit, laksana bianglala yang tiba-tiba muncul di siang hari bolong.

Seluruh hawa pedang tadi seperti terkurung, tiba-tiba terdengar suara "tring!

tring!

tring!

tring!"

Sebanyak empat kali.

Terlihat empat kilauan sinar pedang, tahu-tahu seluruh hawa pedang di angkasa tadi tiba-tiba menghilang.

Begitu pula dengan sinar pedang tadi, yang tersisa hanyalah sebilah pedang.

Sebilah pedang antik yang indah dan berukuran panjang.

Pedang ini tentu saja bukan pedang empat bersaudara Hi dari Hui-hi-po tadi.

Pedang keempat bersaudara itu semuanya telah patah, sementara mereka berempat pun sudah bergelimpangan di lantai.

Pedang ini berada di dalam genggaman seorang laki-laki berpakaian putih seperti salju, berwajah pucat, bermata dingin seperti es dan bersikap angkuh, tak kalah angkuhnya dengan pedang itu sendiri.

Sang Kaisar berdiri dengan tenang di hadapannya.

Tapi orang ini seperti tidak memandang sebelah mata pun padanya.

Sorot mata Kaisar tampak berubah beberapa kali, akhirnya ia berkata dengan perlahan.

"Yap Koh-seng?"

Laki-laki berbaju putih itu menjawab.

"Tak kusangka kalau seorang kaisar pun mengenali orang gunung seperti diriku."

Kaisar berkata pula.

"Thian-gwa-hui-sian (Dewa Terbang Keluar Langit), dengan sebilah pedang menghancurkan barisan Tujuh Bintang, benar-benar ilmu pedang yang bagus."

Pek-in-sengcu menyahut.

"Memang ilmu pedang yang bagus."

Kaisar berkata.

"Mengapa jago pedang sepertimu pun menjadi seorang penyamun?"

Yap Koh-seng menjawab.

"Menang adalah raja, kalah adalah penyamun."

Kaisar bergumam.

"Kalah adalah penyamun."

Yap Koh-seng mendengus, lalu berkata pula.

"Silakan!"

Kaisar pun bertanya.

"Silakan apanya?"

Yap Koh-seng berkata pula.

"Ketenangan dan pengalaman yang diperlihatkan paduka, tentu hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki ilmu kungfu luar biasa. Jika Yang Mulia terjun ke dunia Kangouw, tentu termasuk dalam kelompok sepuluh jago paling top."

Kaisar tersenyum dan berkata.

"Pandangan mata yang tajam."

Yap Koh-seng berujar.

"Sekarang kaisar bukan lagi kaisar, penrampok pun bukan lagi perampok. Di antara kaisar dan perampok, yang berkuasa adalah pemenangnya."

Kaisar berucap.

"Ucapan yang bagus, yang berkuasa adalah pemenangnya."

Yap Koh-seng berkata pula.

"Pedangku sudah berada di tangan."

Kaisar berujar.

"Sayangnya, walaupun tanganmu sudah menggenggam pedang, tapi di hatimu tidak tersimpan pedang."

Yap Koh-seng bergumam.

"Di hatiku tidak tersimpan pedang?"

Kaisar berkata pula.

"Pedang adalah kebenaran, pedang melambangkan keadilan. Di hati orang yang jahat, mana mungkin tersimpan pedang?"

Wajah Yap Koh-seng pun berubah warna. Dia lalu mendengus dan berkata.

"Saat ini sudah cukup kalau di tanganku telah tergenggam pedang."

Kaisar berujar.

"Oh?"

Yap Koh-seng berkata lagi.

"Pedang di tangan bisa melukai orang, tapi pedang di hati hanya bisa melukai diri sendiri."

Kaisar tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Yap Koh-seng berkata dengan dingin.

"Keluarkan pedangmu."

Kaisar menyahut.

"Aku tidak membawa pedang."

Yap Koh-seng pun mendengus.

"Kau tidak berani menerima tantanganku?"

Kaisar tersenyum dan berkata.

"Aku berlatih ilmu pedang Putera Langit, tujuannya adalah mengamankan dunia dan menenteramkan rakyat. Jika kunci semua masalah sudah berada di tangan, semua pertempuran tentu akan dimenangkan."

Ia menatap Yap Koh-seng, lalu menambahkan dengan lambat.

"Mati konyol bukanlah perbuatan yang akan dilakukan oleh seorang Putera Langit."

Wajah Yap Koh-seng yang pucat tampak semakin pucat, tangannya menggenggam pedang lebih kencang, lalu ia berkata.

"Kau lebih suka tanganmu terikat menunggu kematian?"

Kaisar berkata.

"Aku menerima mandat dari langit, kau berani bersikap kasar?"

Tiba-tiba terdengar suara Liok Siau-hong yang menghela nafas.

"Kau seharusnya tidak datang, aku pun seharusnya tidak datang. Tapi sayangnya, kita berdua telah datang."

Yap Koh-seng berujar.

"Ya, sayang."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Benar-benar sayang."

Yap Koh-seng menghela nafas sekali lagi, tiba-tiba pedang di tangannya mulai menari-nari laksana pelangi.

It-kiam-tang-lay, thian-gwa-hui-sian (pedang sakti dari timur, dewa terbang di angkasa).

Sinar pedang seperti pelangi itu pun melesat ke arah Liok Siau-hong.

Liok Siau-hong mengelak ke samping.

Cahaya pedang pun meluncur keluar jendela, orang dan pedangnya berbaur menjadi satu dalam kecepatan yang menakjubkan.

Bukan hanya terasa menarik, tapi juga membangkitkan kegembiraan di hati.

Kuda cepat, kapal cepat, kereta cepat dan ginkang yang cepat, semua itu akan menimbulkan kegairahan di hati manusia.

Tapi jika kau menjadi seorang buronan, kau tidak akan memahami kegembiraan dan perasaan bergairah itu.

Yap Koh-seng adalah orang yang amat menyukai kecepatan, baik itu di tengah lautan, di Pek-in-sia (Kota Awan Putih), di malam hari yang cerah dan terang-benderang, dia suka mengerahkan ginkangnya dalam hembusan angin malam, melesat kencang di bawah sinar bulan.

Pada saat seperti itu, ia selalu merasa suasana hatinya nyaman dan tenteram.

Kali ini, bersama hembusan angin malam, dia telah mengerahkan kecepatan tertingginya, tapi suasana hatinya malah terasa amat kacau.

Dia sudah menjadi seorang buronan, banyak urusan yang harus dia fikirkan --dalam rencana ini, sebenarnya di mana letak kesalahan dan lubang kelemahannya?

Bagaimana Liok Siau-hong bisa menyingkap rahasia ini?

Bagaimana bisa?

Tidak seorang pun yang bisa memberikan jawaban padanya, tidak seorang pun yang tahu angin yang meniup wajahnya ini berasal dari mana.

Sinar bulan dingin menggidikkan hati.

Di depan sana, seolah-olah berada dalam kabut di bawah bayang-bayang dinding istana, berdiri tegak seseorang tanpa bergerak, bajunya putih seperti salju.

Yap Koh-seng tidak melihat orang ini dengan jelas.

Dia seakan tampak lebih putih dari kabut, lebih putih daripada sinar rembulan.

Tapi ia tahu siapa orang ini.

Karena tiba-tiba ia merasakan semacam hawa pedang tak berwujud yang amat kuat seakan sedang menindih dirinya.

Biji matanya tiba-tiba berkontraksi, ototnya tiba-tiba menegang.

Selain Sebun Jui-soat, siapa lagi orang yang mampu memberikan tekanan semacam ini pada dirinya?

Ketika ia melihat wajah Sebun Jui-soat dengan jelas, langkahnya pun tiba-tiba berhenti.

Di tangan Sebun Jui-soat sudah tergenggam pedang, pedangnya masih di dalam sarung, tentu saja bukan pedang itu yang memancarkan hawa pedang tersebut.

Orangnyalah yang lebih tajam, lebih cepat dan lebih tak berperasaan daripada pedangnya.

Saat sorot mata kedua orang ini bentrok, seperti dua bilah pedang tajam yang saling beradu, hawa pembunuhan yang terbias pun terasa sangat menggidikkan hati.

Mereka berdua tidak bergerak, tapi hawa yang muncul dari balik ketenangan itu jauh lebih kuat, jauh lebih menakutkan daripada suatu gerakan.

Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.

"Kau belajar pedang?"

Yap Koh-seng menyahut.

"Aku adalah pedang."

Sebun Jui-soat berkata pula.

"Kau tahu belajar pedang itu harus berlandaskan apa?"

Yap Koh-seng berujar.

"Katakanlah."

Sebun Jui-soat berkata.

"Berlandaskan pada kejujuran."

Yap Koh-seng berucap.

"Kejujuran?"

Sebun Jui-soat berkata lagi.

"Hanya orang jujur yang bisa mencapai puncak ilmu pedang. Orang yang tidak jujur bahkan tidak berhak membicarakan ilmu pedang."

Biji mata Yap Koh-seng tiba-tiba berkontraksi. Sebun Jui-soat menatapnya, lalu berkata.

"Kau tidak jujur."

Yap Koh-seng terdiam beberapa lama, tiba-tiba dia pun bertanya.

"Kau belajar ilmu pedang?"

Sebun Jui-soat menyahut.

"Ilmu pengetahuan tidak berhingga, ilmu pedang tiada batasnya."

Yap Koh-seng berkata.

"Kau pernah belajar ilmu pedang, tentu kau tahu bahwa orang yang belajar pedang kejujurannya cukup berada di pedangnya, dan tidak perlu ada pada orangnya."

Sebun Jui-soat tidak berkata apa-apa lagi, percakapan itu pun berhenti.

Ujung jalan adalah kaki langit, ujung percakapan adalah pedang.

Pedang di tangan sudah terhunus.

Saat itulah sinar pedang tampak gemerlapan, tapi bukan pedang mereka.

Yap Koh-seng berpaling, ternyata keempat penjuru sudah terkepung rapat.

Dinding manusia ada di mana-mana, ribuan pedang tampak memantulkan sinar kemilau yang dingin, pada saat yang bersamaan juga terlihat seperti jaring pedang.

Bukan hanya jaring pedang, tapi juga hutan golok dan gunung tombak.

Di bawah sinar bulan yang terang dan dingin menggidikkan hati, keangkeran Istana Terlarang benar-benar tak bisa dibayangkan siapa pun.

Gui Cu-hun selalu bersikap tenang, tapi sekarang di ujung hidungnya sudah timbul butiran-butiran keringat yang besar.

Tangannya menggenggam pedang panjang, di belakangnya berbaris pengawal bersenjata, sepasang matanya tak pernah lepas dari Yap Koh-seng, terdengar dia berkata.

"Pek-in-sengcu?"

Yap Koh-seng mengangguk. Gui Cu-hun berkata pula.

"It-kiam-tang-lay, thian-gwa-hui-sian. Orang yang dianggap bagaikan dewa, mengapa turun ke tempat ramai dan melakukan perbuatan yang konyol?"

Yap Koh-seng berujar.

"Kau tidak mengerti?"

Gui Cu-hun menyahut.

"Aku memang tidak mengerti."

Yap Koh-seng berkata.

"Urusan semacam ini tak akan pernah bisa kau mengerti."

Gui Cu-hun berucap.

"Aku memang tidak mengerti, tapi….."

Tay-boh-sin-eng (Elang Sakti dari Gurun Pasir) To Hong, yang berada di belakang Gui Cu-hun, tiba-tiba memotong.

"Tetapi kami mengerti bahwa kejahatan yang kau lakukan ini hanya pantas diganjar dengan hukuman berat."

Walaupun pada mulanya dia terkenal dengan Eng-jiau-kang (Ilmu Cakar Rajawali), tapi setelah berusia setengah baya dia tiba-tiba mulai berlatih ilmu pedang.

Pedangnya panjang dan sempit, persis seperti pedang yang biasa digunakan murid-murid Hay-lam-pai, tapi yang dipelajarinya adalah Kun-lun-kiam-hoat yang beraliran lurus.

Yap Koh-seng melirik pedangnya itu, lalu mendengus dan berkata.

"Kau tahu aturan apa yang telah kau langgar?"

To Hong tidak memahami ucapannya itu. Yap Koh-seng berkata pula.

"Tidak sanggup belajar golok, berlatih pedang pun tidak berhasil, tetapi berani bersikap lancang padaku, kau sudah melakukan pelanggaran besar."

Wajah To Hong pun berubah semakin kelam, pedang di tangannya bergerak tiada hentinya, siap untuk melakukan serangan kapan saja.

Perubahan di wajahnya tentu saja bisa dilihat orang lain.

Tapi, walaupun Yap Koh-seng merupakan seorang jagoan tanpa tandingan, dia tak gentar untuk menghadapinya.

Tapi sebelum To Hong maju, mendadak ada orang yang mencegahnya.

Sebun Jui-soat tiba-tiba berkata.

"Tunggu sebentar."

To Hong bertanya.

"Tunggu apa lagi?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Dengarkan dulu perkataanku."

Saat ini, bila Sebun Jui-soat hendak bicara, tentu saja semua orang harus mendengarkan. Gui Cu-hun memberi tanda dengan anggukan, To Hong pun terdiam. Sebun Jui-soat berkata.

"Jika aku bergabung dengan Yap Koh-seng, siapakah di dunia ini yang sanggup mengatasinya?"

Tidak ada.

Jawaban ini tentu saja diketahui semua orang.

Gui Cu-hun menarik nafas dengan berat, butiran-butiran keringat di ujung hidungnya pun semakin deras mengucur.

Sebun Jui-soat menatapnya dan berkata.

"Kau faham maksud ucapanku?"

Gui Cu-hun menggelengkan kepalanya.

Walaupun sebenarnya dia mengerti maksud ucapan Sebun Jui-soat, tapi dia lebih suka pura-pura tidak mengerti, karena dia membutuhkan waktu untuk memikirkan situasi ini.

Sebun Jui-soat berkata.

"Sejak belajar pedang pada usia tujuh tahun, sampai sekarang aku belum pernah bertemu tandingan."

Yap Koh-seng tiba-tiba menghela nafas, lalu ia berkata.

"Kesepian dan kesunyian yang dialami oleh orang yang belajar pedang sampai di tingkat tertinggi, mana mungkin orang-orang ini mengetahuinya? Mengapa kau bicara pada mereka?"

Sebun Jui-soat menatapnya, di matanya terlihat sorot yang amat aneh. Setelah terdiam beberapa lama, akhirnya ia berkata dengan lambat.

"Malam ini adalah malam bulan purnama."

Yap Koh-seng berujar.

"Hmm."

Sebun Jui-soat berkata pula.

"Kau adalah Yap Koh-seng."

Yap Koh-seng kembali berucap.

"Hmm."

Sebun Jui-soat melanjutkan.

"Kau memegang pedang, aku juga."

Yap Koh-seng hanya menggumam.

"Hmm."

Sebun Jui-soat kembali berkata.

"Karena itu, akhirnya aku bertemu tandinganku."

Tiba-tiba Gui Cu-hun memotong.

"Jadi kau tidak akan membiarkan dia menjalani hukuman mati?"

To Hong berseru.

"Kau tidak perduli pada hukum?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Saat ini aku hanya meminta Yap Koh-seng untuk segera bertarung denganku. Mengenai hidup atau mati, hina atau terhormat, aku tidak perduli."

Gui Cu-hun berkata.

"Tampaknya di matamu pertarungan ini bukan saja lebih penting daripada hukum, tapi bahkan lebih penting daripada nyawamu sendiri."

Sorot mata Sebun Jui-soat menatap ke kejauhan, lalu dia berkata dengan lambat.

"Hidup merasakan senang, mati merasakan takut, bisa mendapatkan tandingan seperti Pek-in-sengcu, mati pun tidak akan menyesal."

Bagi dirinya, lawan yang setanding jauh lebih sulit ditemukan daripada sahabat setia.

Melihat wajahnya yang penuh dengan perasaan sepi itu, sorot mata Gui Cu-hun juga tampak berubah amat aneh.

Tak tahan lagi ia pun menghela nafas dan berkata.

"Hidup dan mati bukan masalah penting, aku memahami maksud ucapanmu, tapi….."

Sebun Jui-soat berkata pula.

"Apakah kau ingin agar aku membantunya lolos dulu, baru kemudian kami bertarung di tempat lain?"

Kedua tangan Gui Cu-hun terkepal erat-erat, di ujung hidungnya mengucur keringat dingin. Sebun Jui-soat melanjutkan.

"Pertarungan ini tetap harus terjadi, kau sebaiknya segera mengambil keputusan."

Gui Cu-hun tak mampu mengambil keputusan.

Ia adalah orang yang berpengalaman dan selalu berhati-hati, tapi saat ini ia benar-benar tak berani mengambil resiko.

Tiba-tiba terlihat seseorang melangkah keluar dari balik barisan golok dan pedang.

Melihat orang ini, semua orang pun menghela nafas lega.

Jika di dunia ini ada orang yang sanggup mengambil keputusan dalam urusan ini, orang itu tentu saja Liok Siau-hong.

Walaupun bulan yang bersinar terang mulai menghilang di barat, tapi kabut belum mulai terangkat.

Liok Siau-hong mengalihkan pandangannya dari sang rembulan, lalu matanya menatap Sebun Jui-soat.

Tapi Sebun Jui-soat tidak memandangnya.

Liok Siau-hong tiba-tiba berkata.

"Pertarungan ini benar-benar harus terjadi?"

Sebun Jui-soat berkata.

"Mmm."

Liok Siau-hong berkata lagi.

"Kemudian apa?"

Sebun Jui-soat menyahut.

"Tidak ada lagi."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Maksudmu, setelah pertarungan ini berlangsung, tidak perduli kau menang atau kalah, maka urusan akan berakhir sampai di situ?"

Sebun Jui-soat menjawab.

"Ya."

Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum, lalu dia berpaling dan menepuk pundak Gui Cu-hun serta berkata.

"Kau sudah mengambil keputusan untuk urusan ini?"

Gui Cu-hun menyahut.

"Aku….."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Jika aku adalah kau, aku tentu saja akan mempersilakan mereka untuk segera memulai pertarungan."

Gui Cu-hun berujar.

"Coba jelaskan."

Liok Siau-hong berkata.

"Karena pertempuran ini, tak perduli siapa pun yang menang atau kalah, akan menguntungkan semua pihak dan tidak merugikan kalian sama sekali. Lalu apa lagi yang harus ditunggu?"

Gui Cu-hun mempertimbangkan dengan serius. Liok Siau-hong berkata pula.

"Keuntungan yang kusebutkan itu adalah keuntungan yang akan diperoleh oleh pihak ketiga dalam sebuah pertarungan."

Gui Cu-hun merenung, matanya melirik ke arah Yap Koh-seng, lalu beralih pada Sebun Jui-soat, dan terakhir pada Liok Siau-hong. Akhirnya ia menghela nafas panjang dan berkata.

"Walaupun malam ini adalah malam bulan purnama, tapi tempat ini bukanlah puncak Istana Terlarang."

Liok Siau-hong berucap.

"Maksudmu, kita harus kembali ke istana?"

Gui Cu-hun tersenyum dan berkata.

"Karena pertarungan ini harus terjadi, mengapa kita membiarkan orang yang telah datang dari tempat ribuan li melakukan perjalanan yang sia-sia?"

Liok Siau-hong pun tersenyum dan berujar.

"Siau-siang-kiam-khek benar-benar orang yang bijaksana."

Gui Cu-hun juga menepuk pundaknya, lalu tersenyum dan berkata.

"Dan Liok Siau-hong benar-benar Liok Siau-hong."

Walaupun bulan yang bersinar terang mulai tenggelam di barat, tapi bentuknya malah tampak semakin bundar.

Bulan purnama seakan menggantung di atas wuwungan istana.

Di atas wuwungan itu telah berkumpul banyak orang, tapi tidak terdengar suara sedikit pun.

Sukong Ti-sing, Lau-sit Hwesio, semuanya menutup mulutnya, karena mereka sama-sama bisa merasakan semacam tekanan yang mengancam.

Tiba-tiba, seperti seekor naga yang sedang meraung, sinar pedang tampak menjulang ke angkasa.

Pedang Yap Koh-seng sudah dihunus.

Di bawah sinar bulan, pedang itu seakan tampak pucat.

Bulan yang pucat, pedang yang pucat, wajah yang pucat.

Yap Koh-seng hanya menatap pedang di tangannya dan berkata.

"Silakan."

Ia tidak memandang wajah Sebun Jui-soat, tidak memandang pedang di tangan Sebun Jui-soat, juga tidak menatap mata Sebun Jui-soat.

Ini adalah pertaruhan antara hidup dan mati.

Pertarungan di antara dua jagoan juga sama seperti pertempuran di antara dua pasukan tentara.

Siapa yang mengetahui keadaan musuhnya, selamanya akan memenangkan pertempuran.

Karena itu gerak-gerik lawan harus selalu diamati dengan cermat, sedikit pun tidak boleh lengah.

Karena setiap kemungkinan akan mentukan siapa yang menang dan kalah.

Yap Koh-seng telah mengalami ratusan kali pertarungan.

Sebagai orang yang tidak pernah kalah, tentu saja dia memahami prinsip ini.

Karena itu dia pun tidak boleh melakukan kesalahan, dia tak boleh melanggar prinsip ini.

Sorot mata Sebun Jui-soat tajam bagaikan pedang, seolah-olah tidak hanya bisa melihat tangannya, wajahnya, namun juga menembus hatinya.

Yap Koh-seng kembali berkata.

"Silakan."

Sebun Jui-soat tiba-tiba berujar.

"Sekarang belum bisa."

Yap Koh-seng bertanya.

"Mengapa belum bisa?"

Sebun Jui-soat menyahut.

"Kita harus menunggu sebentar."

Yap Koh-seng bertanya lagi.

"Mengapa?"

Sebun Jui-soat pun menyahut.

"Karena hatimu tidak tenang."

Yap Koh-seng terdiam. Sebun Jui-soat melanjutkan.

"Jika hati dalam keadaan kalut, ilmu pedangnya pun tentu akan kalut, orangnya tentu akan menghadapi kematian."

Yap Koh-seng mendengus dan berkata.

"Menurutmu, sebelum bertanding pun aku sudah kalah?"

Sebun Jui-soat berujar.

"Jika sekarang kau kalah, sebabnya bukan karena kalah bertanding."

Yap Koh-seng berucap.

"Karena itu kau tidak mau memulai pertarungan ini?"

Sebun Jui-soat tidak menyangkal. Yap Koh-seng berkata pula.

"Karena kau tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?"

Sebun Jui-soat pun mengangguk. Yap Koh-seng berkata.

"Tapi pertarungan ini harus terjadi."

Sebun Jui-soat berujar.

"Aku akan menunggu."

Yap Koh-seng bertanya.

"Kau mau menungguku?"

Sebun Jui-soat mengangguk dan berkata.

"Aku yakin aku tidak akan menunggu terlalu lama."

Yap Koh-seng tiba-tiba menatapnya, di matanya sekilas terlihat perasaan terima kasih, yang kemudian segera buyar oleh sinar pedang di tangannya.

Berterima kasih pada musuhmu adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Yap Koh-seng berkata.

"Aku tidak boleh membiarkanmu lama menungguku. Sementara kau menunggu, bisakah aku berbincang-bincang dengan seseorang?"

Sebun Jui-soat bertanya.

"Apakah berbincang-bincang akan membuat fikiranmu lebih tenang?"

Yap Koh-seng menjawab.

"Bila aku bisa berbicara dengan orang ini, barulah fikiranku akan menjadi tenang."

Sebun Ji-soat bertanya pula.

"Siapa orang itu?"

Pertanyaan ini sebenarnya tidak perlu diucapkan.

Tentu saja yang akan diajak bicara oleh Yap Koh-seng adalah Liok Siau-hong, karena hanya si burung hong kecil yang bisa menjawab dan menguraikan seluruh pertanyaan yang ada di hatinya.

Liok Siau-hong sudah duduk, duduk di atas wuwungan Istana Terlarang, duduk di atas genteng licin yang bisa membuat orang tergelincir bila kurang berhati-hati itu.

Bulan yang terang bersinar di belakangnya, bersinar di atas kepalanya, cahaya terangnya yang membias di kepalanya seakan sinar yang berasal dari surga.

Yap Koh-seng menatapnya, menatapnya sekian lama, lalu tiba-tiba dia berkata.

"Kau bukan dewa."

Liok Siau-hong menyahut.

"Memang bukan."

Yap Koh-seng berkata pula.

"Karena itu aku tidak bisa mengerti, bagaimana kau bisa mengetahui rahasia sebanyak itu?"

Liok Siau-hong tersenyum dan berkata.

"Kau benar-benar mengira kalau selamanya kau bisa menyembunyikan rahasia ini dari orang banyak?"

Yap Koh-seng berujar.

"Mungkin tidak seperti itu, tapi rencana kami……"

Liok Siau-hong berkata.

"Rencana kalian itu benar-benar bagus, juga amat teliti. Hanya saja, walaupun rencana itu demikian cermat, tetap saja ada titik kelemahannya."

Yap Koh-seng bertanya.

"Di mana titik kelemahannya? Bagaimana kau bisa melihatnya?"

Liok Siau-hong bimbang sejenak, sebelum akhirnya menjawab.

"Aku sendiri tidak tahu pasti. Hanya saja aku merasa, ada beberapa orang yang seharusnya tidak mati, tapi ternyata malah mati secara misterius."

Yap Koh-seng bertanya pula.

"Maksudmu Thio Eng-hong, Kongsun-toanio dan Auyang Cing?"

Liok Siau-hong berujar.

"Juga si Tuan Besar Cucu Kura-kura."

Yap Koh-seng berkata.

"Mengapa kami harus membunuh mereka?"

Liok Siau-hong menjawab.

"Sekarang aku sudah mengetahui jawabannya."

Yap Koh-seng berucap.

"Katakanlah."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Rencana busuk kalian ini sudah lama berlangsung secara rahasia. Ong-congkoan melakukan hubungan dan kontak dengan fihak Lam-ong-hu, mereka bertemu di rumah bordil Auyang."

Yap Koh-seng berkata.

"Karena mereka yakin, orang tentu tidak akan menduga kalau seorang Thaykam dan Lhama akan sering datang ke rumah bordil."

Liok Siau-hong berujar.

"Tapi kalian tetap tidak merasa lega, karena kalian tahu Sun-loya dan Auyang Cing bukanlah orang biasa. Kalian curiga kalau mereka sudah mengetahui rahasia ini, karena itu – tentu saja kalian harus melenyapkan mereka dari muka bumi ini."

Yap Koh-seng berkata.

"Sebenarnya, aku memang harus membunuh mereka."

Liok Siau-hong berujar.

"Memang."

Yap Koh-seng berkata pula.

"Karena kaitan mereka dengan urusan ini sangatlah besar artinya, aku tidak boleh menyerempet bahaya."

Liok Siau-hong pun berujar.

"Karena itu aku pun kemudian sadar, di balik pertarungan besar kalian ini tentu tersimpan sebuah rahasia yang lebih besar lagi. Pertarungan kalian ini terselenggara bukan hanya karena pertaruhan antara Li Yan-pak dan Toh Tong-han semata."

Yap Koh-seng menghela nafas dan berkata.

"Kami pun memang harus membunuh Thio Eng-hong."

Liok Siau-hong melanjutkan.

"Karena dia terlalu tergesa-gesa dalam mencari Sebun Jui-soat. Dia berhasil menemukan sarang Ong-thaykam dan tanpa disengaja juga mengetahui keberadaanmu di sana, tentu saja dia harus dibunuh secepat mungkin."

Yap Koh-seng berkata.

"Kau tentu sudah tahu, patung lilin ketiga yang diukirnya itu adalah aku."

Liok Siau-hong berujar.

"Dan karena patung lilin ini pula, Thio si Boneka pun harus mati."

Yap Koh-seng berkata.

"Aku membunuh Kongsun-toanio, tujuannya adalah untuk memfitnah dirinya."

Liok Siau-hong berucap.

"Kau juga berharap agar aku mencuriga Lau-sit Hwesio."

Yap Koh-seng mendengus dan berkata.

"Kau benar-benar mengira kalau dia itu Lau-sit (jujur)?"

Liok Siau-hong tiba-tiba tersenyum dan berujar.

"Walaupun aku sering curiga pada orang yang salah, juga sering memilih jalan yang salah, tetapi terkadang aku pun bisa menemukan keberuntungan dalam kesalahan."

Yap Koh-seng bergumam.

"Menemukan keberuntungan dalam kesalahan?"

Liok Siau-hong berkata pula.

"Jika aku tidak curiga pada Lau-sit Hwesio, lalu tidak menanyai Auyang Cing dengan teliti, tentu aku tak akan tahu kalau Ong-thaykam dan Lhama dari Ong-lam-hu pun sering datang ke sana."

Pek-in-sengcu berujar.

"Sejak itu, kau pun mulai curiga padaku?"

Liok Siau-hong menghela nafas dan berkata.

"Sebenarnya aku tidak mencurigaimu. Walaupun aku merasa kau tidak mungkin bisa dibokong orang, apalagi oleh jarum beracun keluarga Tong, tapi aku tidak pernah benar-benar mencurigaimu, karena……"

Ia menatap Yap Koh-seng dan menambahkan dengan lambat.

"Karena aku selalu menganggapmu sebagai sahabatku."

Yap Koh-seng memalingkan mukanya, apakah dia tidak punya muka untuk berhadapan dengan Liok Siau-hong lagi? Liok Siau-hong berkata pula.

"Kau menggunakan pertaruhan Li Yan-pak dan Toh Tong-han sebagai kedok, memanfaatkan pertarungan besar ini sebagai panggung sandiwara. Pertama kau atur dulu orang yang akan menyamar sebagai dirimu di tempat Toh Tong-han sana. Bila kau muncul, seluruh tubuhmu selalu penuh dengan aroma bunga, seakan-akan kau hendak menutupi bau yang berasal dari lukamu. Tapi sebenarnya di tubuhmu sama sekali tidak ada bau itu."

Liok Siau-hong menghela nafas dan menambahkan.

"Rencana ini benar-benar hebat, benar-benar luar biasa."

Yap Koh-seng masih memalingkan mukanya. Liok Siau-hong berkata pula.

"Yang paling luar biasa adalah sabuk-sabuk sutera itu."

Yap Koh-seng bergumam.

"Oh?"

Liok Siau-hong berkata.

"Gui Cu-hun membatasi jumlah orang-orang dunia Kangouw yang mendapatkan sabuk sutera itu, maka kau pun menyuruh Ong-congkoan untuk mencuri sisa gulungan sutera yang bisa berubah warna itu, membuat beberapa sabuk sutera, lalu mengirim orang-orangmu ke tempat pertarungan. Karena jumlah orang yang datang ternyata terlalu banyak, maka Gui Cu-hun terpaksa memusatkan penjagaan di Thay-ho-tian dan kalian akan bisa menerobos masuk ke istana tanpa hambatan."

Yap Koh-seng menengadah dan memandang ke langit. Liok Siau-hong berkata.

"Sayangnya kau tetap salah perhitungan. Walaupun kau sudah menduga kalau Sebun Jui-soat tidak akan mau bertarung dengan orang yang telah terluka, tapi kau lupa kalau Tong Thian-ciong akan membalaskan dendam untuk Toako dan Jiko-nya."

Yap Koh-seng bertanya.

"Tong Thian-ciong?"

Liok Siau-hong berujar.

"Kalau Tong Thian-ciong tidak melukai orang yang menyamar sebagai dirimu itu, aku mungkin tidak akan pernah mencurigaimu."

Yap Koh-seng bergumam.

"Oh?"

Liok Siau-hong berkata lagi.

"Setelah mengetahui rahasiamu, aku pun segera teringat pada istana, juga pada Ong-thaykam. Saat itulah akhirnya aku memahami persengkongkolan kalian, persekongkolan busuk yang begitu menakutkan."

Tiba-tiba Liok Siau-hong bertanya.

"Kau masih bisa tersenyum?"

Yap Koh-seng berujar.

"Aku tidak boleh tersenyum?"

Liok Siau-hong menatapnya, akhirnya ia mengangguk dan berkata.

"Asal masih bisa tersenyum, orang memang harus banyak tersenyum."

Tapi senyuman pun ada banyak jenisnya, ada senyuman bahagia, senyuman dipaksa, senyuman tanda tersanjung, senyuman pahit dan getir.

Yang manakah jenis senyuman Yap Koh-seng?

Tidak perduli apa pun jenis senyumannya, asalkan dia masih bisa tersenyum saat ini, maka dia bukanlah orang biasa, dia adalah seorang enghiong.

Tiba-tiba ia menepuk pundak Liok Siau-hong dan berkata.

"Aku pergi dulu."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Tidak ada lagi yang ingin kau ucapkan?"

Yap Koh-seng berfikir sejenak, lalu berkata.

"Ada."

Liok Siau-hong berujar.

"Katakanlah."

Yap Koh-seng berkata.

"Tak perduli apa pun pandanganmu, kau selalu menjadi sahabatku."

Lalu ia melangkah pergi dan menghampiri Sebun Jui-soat.

Tiba-tiba angin musim gugur terasa dingin seperti di akhir musim dingin…… *** Saat ini sinar bulan terlihat remang-remang, remang-remang seperti sinar bintang.

Sinar bintang memang remang-remang seperti impian, impian seorang kekasih.

Seorang kekasih tentu saja selalu menyenangkan.

Terkadang ada orang yang lebih menyenangkan daripada kekasih, tapi tentu saja amat jarang.

Kebencian tentu saja bukan sekedar luapan perasaan yang kelewat batas.

Dalam kebencian, terkadang juga tercakup pengertian dan perasaan hormat.

Sayangnya, musuh yang berharga tidaklah banyak, musuh yang patut dihormati malah lebih sedikit lagi.

Tapi dendam berbeda.

Kebencian adalah takdir, dendam adalah hasil suatu nasib.

Kebencian menggerakkanmu, sedangkan dendam adalah kau sebagai penggeraknya.

Bisakah kau mengatakan bahwa Sebun Jui-soat membenci Yap Koh-seng?

Bisakah kau mengatakan kalau Yap Koh-seng membenci Sebun Jui-soat?

Di antara mereka tidak ada dendam, yang ada hanyalah kebencian, kebencian karena kelahiran mereka, kebencian karena kehidupan mereka.

Mungkin kebencian Yap Koh-seng adalah karena setelah Yap Koh-seng lahir, lalu mengapa lahir pula seorang Sebun Jui-soat?

Mungkin kebencian Sebun Jui-soat pun sama.

Antara cinta dan benci hanya ada sehelai benang yang amat tipis, lalu mengapa kita selalu memandang salah satunya secara berlebihan?

Sekarang telah tiba saatnya duel yang menentukan itu.

Bila duel yang menentukan ini sudah tiba waktunya, tidak seorang pun yang mampu mencegahnya lagi.

Walau detik ini mungkin singkat, tapi banyak orang yang sudah menunggunya, mereka sudah mengorbankan segala yang mereka miliki untuk menyaksikan duel ini.

Teringat pada orang-orang ini, tiba-tiba Yap Koh-seng merasa pahit dan getir.

Apakah pertarungan ini berharga untuk dilaksanakan?

Apakah berharga juga untuk orang-orang yang menyaksikannya?

Tidak ada yang bisa menjawabnya, tidak seorang pun yang bisa menilai.

Bahkan Liok Siau-hong pun tidak.

Tapi dia juga merasakan tekanan dan hawa pedang itu, ia merasakan tekanan yang mungkin jauh lebih besar daripada yang dirasakan oleh orang lain.

Karena Sebun Jui-soat adalah sahabatnya.

Sekali saja kau menganggap seseorang sebagai sahabatmu, maka selamanya dia adalah sahabatmu.

Karena itu Liok Siau-hong terus memperhatikan pedang Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng, mengawasi setiap gerak-gerik, tatapan mata, ekspresi wajah, bahkan denyutan otot mereka.

Ia mengkhawatirkan Sebun Jui-soat.

Walaupun Sebun Jui-soat dulu dianggap sebagai seorang dewa, dewa pedang, tetapi sekarang dia bukan lagi dewa, dia adalah seorang manusia biasa.

Karena dia sudah mempunyai perasaan cinta, perasaan yang manusiawi.

Manusia selalu bersifat lemah, selalu punya kelemahan.

Karena itu pula, manusia berbakat tetaplah seorang manusia.

Apakah Liok Siau-hong sudah mengetahui kelemahan Sebun Jui-soat?

Liok Siau-hong merasa amat gelisah, apakah karena dia tahu kelemahan itu akan berakibat fatal?

Dia pun tahu bahwa, walaupun Yap Koh-seng mau melepaskan Sebun Jui-soat, Sebun Jui-soat belum tentu mau melepaskan dirinya sendiri.

Yang menang hidup, yang kalah mati.

Anehnya, dia pun mengkhawatirkan Yap Koh-seng.

Dia tidak pernah melihat perasaan cinta Yap Koh-seng pada manusia, dia pun tak pernah melihat luapan emosinya.

Kehidupan Yap Koh-seng adalah pedang, pedang adalah kehidupan Yap Koh-seng.

Tapi kehidupan sendiri merupakan medan pertempuran, baik pertempuran besar maupun kecil.

Tidak perduli pertempuran macam apa pun itu, biasanya hanya ada satu macam tujuan, yaitu kemenangan.

Kemenangan berarti kehormatan, kebanggaan, kebanggaan yang menaikkan derajat seseorang.

Tapi bagi Yap Koh-seng sendiri, kemenangan sudah hilang maknanya, karena kalau kalah dia pasti mati, menang juga pasti mati.

Tidak perduli menang atau kalah, kebanggaan itu tidak dapat mengembalikan kehormatannya.

Semua orang pun tahu, malam ini ia tak dapat meninggalkan Istana Terlarang dalam keadaan hidup.

Karena itu, walaupun kedua orang ini mempunyai semua syarat untuk menang, tapi juga mempunyai alasan untuk kalah.

Sebenarnya siapakah yang akan memenangkan pertarungan ini?

Siapa pula yang kalah?

Saat ini sinar bulan semakin pucat, seluruh perhatian dunia seakan terpusat pada kedua pedang itu.

Dua pedang dewata.

Tiba-tiba pedang itu mulai menusuk.

Tusukan pedang itu tidak begitu cepat, jarak di antara Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng pun masih terlalu jauh.

Baca Juga: Walet Besi Cu Yi

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 21

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert