Ceritasilat Novel Online

Duel Dua Jago Pedang 5

Eps 5 Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Baca online Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung

Cersil Duel Dua Jago Pedang - Khu Lung.

Belum lagi pedang mereka saling bersentuhan, gerakan pedang mulai menunjukkan perubahan yang tiada hentinya.

Orangnya sendiri bergerak dengan amat lambat.

Tetapi perubahan gerak pedangnya teramat cepat, karena sekali mereka memulai gerakannya, maka gerakan itu akan mengalir sesuai kehendak hati.

Orang biasa mungkin menganggap pertarungan ini tidak menegangkan, tidak seru, dan tidak luar biasa, tetapi Gui Cu-hun, Ting Go, In Cu dan To Hong berempat semuanya telah mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuh mereka.

Keempat orang ini adalah jago-jago pedang kelas satu di jaman itu.

Mereka melihat gerak perubahan pedang itu sudah melewati batas kemampuan manusia, sudah melewati tingkat yang bisa dicapai manusia.

Jika Yap Koh-seng bukan tandingan Sebun Jui-soat dan sebaliknya, tentu setiap gerakan dan serangan pedang itu sudah berhasil membunuh salah satunya.

Pedang dan orangnya berbaur menjadi satu, ini sudah menjadi ilmu pedang batin.

Liok Siau-hong pun tiba-tiba mengucurkan keringat dingin.

Mendadak dia menyadari bahwa, walaupun gerak perubahan pedang Sebun Jui-soat terlihat lincah dan gesit, tapi di dalamnya ternyata lamban, tidak seringan dan selancar gerakan pedang Yap Koh-seng.

Pedang Yap Koh-seng bagaikan hembusan angin dari balik awan putih.

Pada pedang Sebun Jui-soat seakan ada benang yang menghubungkan dirinya dengan isterinya, keluarganya, perasaannya…… Liok Siau-hong pun menyadari, dalam 20 gerak perubahan lagi, pedang Yap Koh-seng tentu akan berhasil menembus tenggorokan Sebun Jui-soat.

Dua puluh gerak perubahan akan berlalu dalam sekejap mata.

Ujung jari Liok Siau-hong sudah terasa dingin bagaikan es.

Sekarang, siapa pun tak akan mampu merubah takdir Sebun Jui-soat.

Liok Siau-hong tidak bisa, Sebun Jui-soat pun tidak.

Jarak kedua orang itu sudah amat dekat.

Tiba-tiba kedua pedang itu saling menusuk dengan seluruh tenaga dan kekuatannya.

Ini sudah menjadi akhir pertarungan, akhir yang akan menentukan siapa yang menang dan kalah.

Baru sekarang Sebun Jui-soat menyadari bahwa pedangnya selangkah lebih lamban, pedangnya baru menusuk ke arah dada Yap Koh-seng, tapi pedang Yap Koh-seng sudah hampir menembus tenggorokannya.

Tampaknya, Sebun Jui-soat tidak punya pilihan lain kecuali menerima nasibnya ini.

Tapi saat itulah mendadak ia menyadari bahwa arah ujung pedang Yap Koh-seng tiba-tiba menyimpang, mungkin hanya berselisih sejauh 2 inci, tapi tentu saja selisih itu sudah cukup untuk menentukan hidup dan mati.

Bagaimana kesalahan ini bisa terjadi?

Apakah karena Yap Koh-seng tahu hidupnya tak jauh lagi dari kematian?

Ujung pedang terasa dingin bagaikan es.

Ujung pedang yang dingin bagaikan es itu pun menusuk dada Yap Koh-seng.

Ia bahkan bisa merasakan ujung pedang itu menyentuh jantungnya.

Lalu dia merasakan semacam rasa sakit yang aneh, seakan dia melihat kekasihnya tercinta mati di atas pembaringan, rasa sakit yang menusuk ke hati itu persis sama.

Itu bukan hanya rasa sakit, tapi juga rasa takut, takut yang luar biasa.

Karena ia tahu, semua kegembiraan dan kesenangan dalam hidupnya telah berakhir dalam sekejap ini.

Sekarang hidupnya telah berakhir, berakhir di ujung pedang Sebun Jui-soat.

Tapi tentu saja dia tidak membenci Sebun Jui-soat, malah yang ada hanyalah perasaan terima kasih, yang selamanya tak akan dapat difahami orang.

Di saat terakhirnya itu – sekilas ia melihat gerakan pedang Sebun Jui-soat pun melambat, seakan siap untuk menarik kembali serangannya ini.

Yap Koh-seng melihat dan dapat merasakannya dengan jelas.

Ia tahu Sebun Jui-soat tentu saja tidak ingin membunuhnya, tapi tetap harus membunuhnya, karena Sebun Jui-soat tahu bahwa dia lebih suka mati di bawah pedangnya.

Karena harus mati, mengapa tidak mati saja di bawah pedang Sebun Jui-soat?

Mati di bawah pedang Sebun Jui-soat, setidaknya merupakan kematian yang terhormat.

Sebun Jui-soat memahami perasaannya ini, karena itu dia pun membantunya.

Karena itu ia pun merasa berterima-kasih.

Saling pengertian dan simpati semacam ini hanya bisa timbul di antara seorang enghiong terhadap enghiong lainnya.

Dalam sekilas itu, sorot mata kedua orang itu pun bentrok, Yap Koh-seng berusaha membuka suaranya yang seperti berasal dari dunia lain.

"Terima kasih."

Sesungguhnya kalimat itu tidak keluar dari bibirnya, tapi bisa dibaca dari sorot matanya.

Dia tahu bahwa Sebun Jui-soat tentu akan mengerti.

Sinar bulan yang terang-benderang telah menghilang, cahaya bintang pun sudah lenyap, akhirnya jago pedang yang tiada duanya itu rebah di atas tanah untuk selama-lamanya.

Apakah reputasinya pun akan menghilang sesudah ini?

Di ujung langit terlihat segumpal awan datang melayang, apakah dia akan membawa berita ini ke dunia luar?

Ataukah dia datang untuk memberi penghormatan terakhir pada jago pedang tanpa tanding ini?

Cuaca seakan bertambah dingin, semakin gelap.

Wajah Yap Koh-seng terlihat dingin, samar-samar dan penuh kegaiban.

Di ujung pedang masih menempel noda darah.

Sebun Jui-soat meniup darah itu, matanya menatap ke segala penjuru.

Setelah terdiam sekian lama, tiba-tiba perasaan sepi terasa mencekam hatinya.

Sebun Jui-soat meletakkan pedangnya di pinggir, lalu ia membopong jenazah Yap Koh-seng.

Pedang itu dingin, tapi mayat itu lebih dingin lagi.

Tapi yang paling dingin adalah hati Sebun Jui-soat.

Pertarungan yang menggoncangkan dunia itu telah berakhir, musuh yang lebih berharga daripada sahabat setia itu pun sudah mati di bawah pedangnya.

Urusan apa lagi di dunia ini yang mampu menghangatkan hatinya?

Yang mampu membakar darahnya?

Apakah dia telah memutuskan untuk menggantung pedangnya buat selamanya?

Seperti tubuh Yap Koh-seng yang akan terbaring di dalam tanah untuk selamanya?

Dia tidak mau orang lain mencampuri urusan itu.

Ting Go tiba-tiba menerobos maju, melintangkan pedangnya untuk menghadang jalannya, lalu menghardik dengan keras.

"Kau tidak boleh membawa orang ini. Tak perduli dia masih hidup atau sudah mati, kau tetap tidak boleh membawanya."

Sebun Jui-soat sama sekali tidak memperdulikannya. Ting Go berkata pula.

"Orang ini adalah buronan pemerintah, siapa pun yang merawat mayatnya, akan menanggung akibatnya."

Sebun Jui-soat berkata.

"Kau ingin aku meninggalkan jenazahnya?"

Ting Go mendengus dan berkata.

"Apakah aku perlu memaksamu?"

Urat-urat di tubuh Sebun Jui-soat tampak menggelembung biru. Ting Go berkata pula.

"Bila Sebun Ji-soat dan Yap Koh-seng bergabung, mungkin tidak ada orang di dunia ini yang sanggup menghadapinya, tapi sayangnya Yap Koh-seng sekarang telah mampus, apakah kau seorang diri sanggup menghadapi tiga ribu orang tentara?"

Baru saja ia selesai bicara, tiba-tiba didengarnya seseorang mendengus. Orang itu pun berkata sambil tersenyum.

"Walaupun Yap Koh-seng sudah mati, tapi Liok Siau-hong masih hidup."

Dan Liok Siau-hong pun muncul. Ting Go tiba-tiba membalikkan badan dan berseru dengan keras.

"Apa yang kau inginkan?"

Liok Siau-hong berkata dengan enteng.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu, Sebun Jui-soat dan Yap Koh-seng adalah sahabatku."

Ting Go berujar.

"Kau ingin melindungi buronan pemerintah? Kau tahu apa hukumannya?"

Liok Siau-hong berkata.

"Aku hanya tahu 1 hal."

Ting Go berucap.

"Katakanlah."

Liok Siau-hong berkata.

"Aku hanya tahu, bila suatu urusan tidak seharusnya dilakukan, maka aku tidak akan melakukannya. Tapi bila urusan itu harus dilakukan, biarpun kau tebas kepalaku, aku tetap akan melakukannya."

Wajah Ting Go tampak berubah.

To Hong dan In Cu segera melangkah maju, para pengawal pun menghunus senjata mereka.

Ketegangan semakin terasa.

Tiba-tiba seseorang melompat maju dan berteriak dengan keras.

"Walau kalian berjumlah tiga ribu orang, tapi Liok Siau-hong adalah temanku. Aku tidak takut kepalaku dipenggal karena membela teman."

Orang ini adalah Pok Ki. Bok-tojin pun segera melangkah ke depan dan berseru.

"Walaupun pinto adalah seorang tosu yang tidak mau mencampuri urusan duniawi, tapi orang sepertiku juga harus membela seorang teman."

Ia berpaling, memandang Lau-sit Hwesio dan bertanya.

"Bagaimana denganmu, Hwesio?"

Lau-sit Hwesio pun menyahut.

"Kalau tosu tua pun mempunyai seorang sahabat, mengapa hwesio tidak?"

Ia melirik Sukong Ti-sing dan bertanya.

"Dan kau bagaimana?"

Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata.

"Para pengawal istana selain bertubuh besar, juga memiliki kepandaian yang tinggi, apalagi mereka pun pejabat-pejabat negara. Aku hanya maling kecil, maling paling takut pada pejabat, karena itu........"

Lau-sit Hwesio bertanya.

"Karena itu bagaimana?"

Sukong Ti-sing tersenyum getir dan berkata.

"Karena itu, sebenarnya aku tidak ingin mengakui Liok Siau-hong sebagai sahabatku. Sayangnya, mau tak mau aku harus mengakuinya."

Lau-sit Hwesio berujar.

"Bagus sekali."

Sukong Ti-sing berucap.

"Sama sekali tidak bagus."

Lau-sit Hwesio bertanya.

"Mengapa tidak bagus?"

Sukong Ti-sing berkata pula.

"Jika mereka tetap memaksa Sebun Jui-soat untuk meninggalkan mayat itu, Liok Siau-hong tentu akan membelanya?"

Lau-sit Hwesio berkata.

"Ya."

Sukong Ti-sing berkata lagi.

"Jika kita mendukung Liok Siau-hong, berarti kita pun tidak akan menurut?"

Lau-sit Hwesio menyahut.

"Ya."

Sukong Ti-sing pun berujar.

"Jadi kita tentu harus menghadapi mereka semua?"

Lau-sit Hwesio hanya mengiyakan. Sukong Ti-sing berkata pula.

"Aku sudah menghitung. Jika kita harus bentrok dengan mereka, setiap orang dari kita setidaknya harus menghadapi 317 orang musuh."

Ia menghela nafas, lalu menambahkan.

"Dua kepalan saja sulit mengatasi empat kepalan. Sekarang sepasang kepalan harus menghadapi 600 kepalan, membayangkannya saja rasanya sudah mengerikan."

Lau-sit Hwesio tiba-tiba tersenyum dan berkata.

"Jangan lupa kalau kau mempunyai tiga tangan."

Sukong Ti-sing juga tersenyum.

Mereka tersenyum dengan ringan, di atas Thay-ho-tian, di Kota Terlarang, menghadapi gunung pedang dan hutan golok yang berkilauan, mereka masih tetap bisa bersikap santai.

Ting Go dan kawan-kawannya yang malah merasa gelisah, para pengawal itu sudah merasakan keadaan yang amat genting.

Bila pertempuran ini terjadi, siapa pun tidak berani membayangkan akibatnya.

Agaknya, mau tak mau pertempuran akan berlangsung juga.

Wajah Gui Cu-hun tampak tegang, kedua tangannya terkepal erat-erat.

Dengan perlahan dia bekata.

"Kalian semua adalah jago-jago Kangouw yang sudah lama kuhormati, sebenarnya aku tidak berani bersikap kurang sopan, sayangnya aku memiliki tanggung jawab terhadap negara, karena itu........."

Tiba-tiba Liok Siau-hong memotong perkataannya.

"Maksudmu, kau berharap kami semua memahamimu, tapi aku juga berharap kau mau memahami kami."

Gui Cu-hun berujar.

"Katakanlah."

Liok Siau-hong berkata pula.

"Di antara kami, ada yang suka uang, ada pula yang suka perempuan. Ada yang berani mati, ada juga yang takut mati. Tapi bila tiba di saat yang kritis, kami selalu menghargai kesetiakawanan, kami memandangnya lebih berat dari segalanya."

Gui Cu-hun terdiam sekian lama, baru kemudian ia menghela nafas dan mengangguk, lalu berkata.

"Aku mengerti."

Liok Siau-hong berkata.

"Kau seharusnya memang mengerti."

Gui Cu-hun berujar.

"Tapi kau juga seharusnya mengerti."

Liok Siau-hong berucap.

"Oh?"

Gui Cu-hun berkata.

"Akibat dari pertempuran ini, kedua pihak tentu akan ada yang terluka atau binasa, hal yang mengerikan untuk dibayangkan. Lalu siapa yang harus bertanggung-jawab nantinya?"

Liok Siau-hong tidak membuka mulut, di dalam hatinya pun diam-diam terasa berat. Gui Cu-hun menatap ke segala penjuru, lalu ia menghela nafas dan berkata.

"Tak perduli siapa pun yang bertanggung-jawab, tampaknya pertempuran ini tak akan dapat dihindarkan, tak seorang pun yang bisa mencegahnya."

Liok Siau-hong merenung, lalu berkata dengan lambat.

"Mungkin ada seseorang yang mampu mencegahnya."

Gui Cu-hun berkata.

"Siapa?"

Liok Siau-hong berpaling dan menatap istana di kejauhan, di matanya terpancar sebuah ekspresi yang amat aneh. Saat itulah dari dalam istana tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan keras.

"Firman Kaisar tiba!"

Seorang Thaykam berbaju kuning yang memegang selembar kertas, tampak berlari keluar dengan tergesa-gesa. Semua orang segera berlutut. Thaykam itu segera membacakan firman dari Kaisar.

"Kaisar memerintahkan Liok Siau-hong untuk segera pergi ke Lam-siu-hong. Orang lainnya segera tinggalkan istana."

Perintah Kaisar tentu tak boleh dibantah.

Yang disebut 'orang lainnya' tentu saja termasuk orang mati, karena itu pertempuran itu pun sudah berakhir sebelum dimulai.

Tanggal 16 bulan sembilan.

Malam hari.

Bulan purnama mulai naik.

Malam ini bulan tentu akan berbentuk lebih bundar daripada tanggal 15.

Sukong Ti-sing entah sudah berapa kali berjalan mondar-mandir di sepanjang pagar istana.

Ia ingin menghitung berapa jumlah tiang pagar istana, tapi tidak berhasil juga, karena benaknya pun sibuk memikirkan Liok Siau-hong yang belum keluar juga dari istana.

Mengapa kaisar menahannya?

Menemani seekor harimau masih lebih aman daripada menemani kaisar.

Bila berada di hadapan kaisar, orang tidak boleh sembarangan bicara, kalau tidak kepala pun bisa pindah dari sarangnya.

Tetapi bukan cuma Sukong Ti-sing yang merasa khawatir.

Asalkan dia sahabat Liok Siau-hong, tentu akan merasa cemas.

Dan sahabat Liok Siau-hong berjumlah banyak.

Gui Cu-hun sendiri pun amat gelisah.

Sudah beberapa kali dia keluar masuk istana, tapi keadaan di dalam Lam-siu-hong tampaknya tenang-tenang saja.

Tanpa titah Kaisar, tentu saja Gui Cu-hun tidak berani masuk ke dalam ruangan itu.

Setiap kali dia keluar dari istana, semua orang tentu mengharapkan munculnya berita darinya.

Saat keenam kalinya dia keluar dari dalam istana, beberapa orang sudah merasa begitu gelisahnya hingga hampir gila.

Tapi sikap Gui Cu-hun malah berbeda dari sebelumnya, matanya tampak bersinar-sinar.

Melihat sorot matanya, Sukong Ti-sing segera menyambutnya dan bertanya.

"Ada kabar?"

Gui Cu-hun mengangguk. Sukong Ti-sing berkata.

"Bocah busuk itu sudah keluar?"

Gui Cu-hun menggelengkan kepalanya. Sukong Ti-sing bertanya lagi.

"Kau melihatnya?"

Gui Cu-hun kembali menggelengkan kepalanya. Sukong Ti-sing hampir berteriak karena kesalnya.

"Lalu terhitung berita apa ini?"

Gui Cu-hun berujar.

"Walaupun aku tidak melihatnya, namun aku mendengar suaranya."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Suara apa?"

Gui Cu-hun menjawab.

"Tentu saja suara tawanya."

Ia pun tersenyum dan menambahkan.

"Di samping suara tawa, kau kira suara apa lagi yang bisa dia keluarkan?"

Sukong Ti-sing membelalakkan matanya dan berkata.

"Bukankah suara tawanya amat keras?"

Gui Cu-hun berkata.

"Kau adalah sahabatnya, tentunya kau yang lebih jelas."

Mata Sukong Ti-sing semakin melotot, dia berkata.

"Di depan Kaisar pun dia berani tertawa seperti itu?"

Gui Cu-hun berujar.

"Coba kau fikir, urusan apa di dunia ini yang tidak berani dia lakukan?"

Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata.

"Tak ada."

Gui Cu-hun pun berkata.

"Aku juga merasa tidak ada."

Sukong Ti-sing berkata lagi.

"Tapi urusan apa di Lam-siu-hong sana yang bisa membuatnya begitu gembira?"

Gui Cu-hun merendahkan suaranya dan berkata.

"Kudengar mereka sedang minum arak."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Siapa mereka itu?"

Gui Cu-hun menekan suaranya rendah-rendah dan menyahut.

"Mereka adalah Kaisar dan Liok Siau-hong."

Sukong Ti-sing makin heran dan bertanya.

"Dari mana kau tahu?"

Gui Cu-hun berkata.

"Ketika aku berada di dalam, kebetulan lewat seorang Thaykam cilik yang hendak mengantarkan arak."

Sukong Ti-sing segera bertanya lagi.

"Lalu kau meminta dia untuk memata-matai keadaan di sana?"

Gui Cu-hun menghela nafas dan berkata.

"Setelah aku berjanji untuk membelikan sebuah gedung di luar kota untuknya, barulah dia mau memenuhi permintaanku."

Sukong Ti-sing kembali bertanya.

"Apa yang dia dengar?"

Gui Cu-hun menjawab.

"Dia mendengar sebuah kalimat."

Sukong Ti-sing tertegun.

"Sebuah kalimat dibayar dengan sebuah gedung? Kalimat itu benar-benar terlalu mahal."

Gui Cu-hun berujar.

"Sama sekali tidak mahal."

Sukong Ti-sing semakin heran dan bertanya.

"Tidak mahal?"

Gui Cu-hun berkata.

"Mungkin kalimat itu sama nilainya dengan selaksa gedung mewah."

Dia benar-benar bisa menahan dirinya.

Sampai sekarang, dia tetap belum memberitahukan kalimat itu.

Sukong Ti-sing sudah mengucurkan keringat di sekujur tubuhnya karena merasa gelisah, tak tahan lagi dia pun bertanya.

"Sebenarnya siapa yang mengucapkan kalimat itu? Apa yang dikatakannya?"

Gui Cu-hun akhirnya menjawab.

"Kalimat itu merupakan janji Kaisar pada Liok Siau-hong tentang suatu urusan."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Urusan apa?"

Gui Cu-hun menyahut.

"Apa pun permintaan Liok Siau-hong, beliau akan mengabulkannya."

Gui Cu-hun berkata pula.

"Di dunia ini, urusan apa lagi yang tidak bisa diwujudkan jika Kaisar sudah mengabulkan?"

Sukong Ti-sing merasa lega, benar-benar lega.

Walaupun yang bicara sejak tadi hanya dia sendiri, tentu saja yang lain pun ikut mendengarkan.

Maka semua orang pun sekarang merasa lega.

Di dunia ini, ucapan Kaisar mungkin sama mukjizatnya dengan seorang tukang sihir yang bisa mengubah besi menjadi emas, atau orang miskin menjadi kaya dan terhormat.

Setelah terdiam sekian lama, akhirnya Sukong Ti-sing menghela nafas dan berkata.

"Apa permintaannya?"

Gui Cu-hun berkata.

"Tidak tahu, Thaykam cilik itu hanya mendengar kalimat tadi."

Sukong Ti-sing berujar.

"Walaupun dia tidak mendengarnya, aku bisa menduga apa yang diminta bocah itu."

Gui Cu-hun berkata.

"Oh!"

Sukong Ti-sing berkata.

"Di dalam istana kerajaan tentu terdapat segala jenis arak yang enak."

Gui Cu-hun bertanya.

"Kau menduga bahwa yang dia inginkan adalah arak?"

Sukong Ti-sing berujar.

"Ternyata ada juga orang yang tidak menghendaki nyawanya sendiri."

Gui Cu-hun berkata.

"Kalaupun ada biasanya amat jarang."

Sukong Ti-sing berkata.

"Arak adalah kehidupan bocah itu, apalagi yang dia inginkan selain arak?"

Tiba-tiba Lau-sit Hwesio berkata.

"Yang dia inginkan pasti akar nyawa."

Sukong Ti-sing bertanya.

"Akar nyawa?"

Lau-sit Hwesio berujar.

"Walaupun arak adalah kehidupannya, tapi yang benar-benar merupakan akar nyawanya adalah perempuan."

Bok-tojin bertanya.

"Kau benar-benar menduga bahwa yang dia minta dari Kaisar adalah seorang perempuan cantik?"

Lau-sit Hwesio berkata.

"Mungkin bukan seorang perempuan, tapi 365 orang perempuan cantik agar dia bisa berganti pasangan setiap harinya."

Bok-tojin berkata sambil tersenyum.

"Itu adalah pendapat hwesio sendiri, hwesio memang sudah hampir sinting karena selalu memikirkan perempuan. Kita tidak bisa menilai Liok Siau-hong hanya berdasarkan pendapat seorang hwesio semacam kau."

Lau-sit Hwesio pun berkata.

"Bagaimana pendapat tosu tua?"

Bok-tojin berkata.

"Walaupun bocah itu suka minum arak dan main perempuan, tapi dia bukan orang bodoh apalagi pikun. Dia tahu, dengan harta, tidak akan kekurangan arak dan perempuan. Apalagi dia sendiri sering kesulitan uang."

Lau-sit Hwesio menghela nafas dan berkata.

"Tak heran kalau orang berkata, makin tua orangnya maka semakin tamak pula dia terhadap harta. Orang tua memang selalu gila harta."

Tiba-tiba Pok Ki pun mengajukan pendapatnya.

"Seandainya aku menjadi dia, maka yang kuminta dari Kaisar adalah agar aku diangkat menjadi seorang panglima yang memimpin penyerangan ke barat. Pengaruhku akan menyebar ke segala penjuru, namaku akan dikenang selamanya."

Gui Cu-hun segera menyetujui pendapat itu.

Nama, harta, wanita cantik, kekuasaan dan pengaruh, itu semua adalah hal yang selalu diimpikan setiap orang.

Kecuali itu, apalagi yang mungkin diminta oleh Liok Siau-hong?

Sukong Ti-sing pun berkata.

"Sudah lama kutahu, bocah ini memang berhati hitam, benar-benar hitam."

Lau-sit Hwesio berkata pula.

"Tak perduli apa pun, yang dia inginkan pasti salah satu dari yang telah kita sebutkan tadi."

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata.

"Bukan."

Seseorang melangkah keluar dari dalam istana. Dadanya membusung, wajah tampak berkilauan penuh semangat, Liok Siau-hong akhirnya muncul juga. Semua orang segera menyambut dan berebut bertanya.

"Apakah semua tebakan kami salah?"

Liok Siau-hong mengangguk. Lau-sit Hwesio pun berkata.

"Sebenarnya apa yang kau minta?"

Liok Siau-hong berujar.

"Tidak bisa kukatakan, tidak bisa."

Ia lalu memisahkan diri, berjalan di depan rombongan itu.

Bagaimana pun orang bertanya, dia tidak mau membuka mulutnya.

Tampaknya dia sudah bertekad untuk membuat orang-orang ini mati kesal.

Tapi orang-orang ini tentu saja bukan orang yang mudah menyerah.

Mereka segera membuntuti di belakangnya.

Lau-sit Hwesio menarik Sukong Ti-sing ke pinggir dan berkata.

"Kau adalah batu sandungan bocah busuk itu. Di dunia ini, orang yang bisa membuatnya buka mulut tentu saja cuma dirimu."

Sukong Ti-sing memutar-mutar biji matanya, lalu berkata.

"Baiklah, aku akan mencobanya."

Lalu ia berjalan dengan cepat untuk menyusul Liok Siau-hong dan berkata.

"Kau benar-benar tidak mau mengatakannya?"

Liok Siau-hong menyahut.

"Ya."

Sukong Ti-sing pun berujar.

"Bagus."

Liok Siau-hong bertanya.

"Apanya yang bagus?"

Sukong Ti-sing berkata pula.

"Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku.... aku akan......."

Lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Liok Siau-hong dan membisikkan sesuatu.

Liok Siau-hong tiba-tiba menghentikan langkahnya, tertegun sekian lama di tempatnya, menghela nafas panjang, lalu balas berbisik di telinga Sukong Ti-sing.

Sukong Ti-sing tampak terperanjat, raut mukanya seperti orang yang baru saja menelan dua butir telur ayam, dua butir telur bebek, dan empat buah bakpao gede.

Liok Siau-hong pun meneruskan langkahnya ke depan.

Sukong Ti-sing pun mulai melangkah lagi.

Tapi baru selangkah, tiba-tiba dia pun mulai tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak hingga air matanya bercucuran.

Lau-sit Hwesio menarik bajunya dan berkata.

"Apa yang dia katakan padamu?"

Sambil tersenyum dan sambil menggelengkan kepalanya, Sukong Ti-sing berkata.

"Tidak boleh kukatakan, tidak boleh."

Lau-sit Hwesio pun berkata.

"Jangan lupa siapa yang mengajarimu tadi. Apalagi, jika tidak kau katakan, maka aku akan........."

Ia pun mendekatkan mulutnya ke telinga Sukong Ti-sing dan membisikkan beberapa patah kata.

Sukong Ti-sing segera menghentikan langkahnya.

Setelah tertegun sekian lama, dia pun balas berbisik di telinga Lau-sit Hwesio.

Lau-sit Hwesio pun tampak tertegun, lalu dia pun tersenyum dan tertawa terbahak-bahak seperti seorang hwesio yang baru saja mengawini tiga orang nikouw dewasa, dua orang nikouw cilik, dan empat orang nikouw yang tidak besar dan juga tidak kecil.

Lalu Bok-tojin pun memaksanya bicara, Gui Cu-hun meminta Bok-tojin untuk bicara.

Ting Go, To Hong, In Cu, Pok Ki, akhirnya semua pun tahu.

Lalu setiap orang mulai tersenyum dan tertawa terbahak-bahak........

Malam tanggal 16 bulan sembilan.

Sinar bulan tampak jernih seperti air.

Di bawah sinar bulan, Liok Siau-hong melangkahkan kakinya di atas jembatan, dengan semangat yang tinggi dan tenaga penuh, seluruh tubuhnya tampak penuh dengan energi.

Dia tidak tersenyum, tapi orang-orang di belakangnya semua tersenyum, tertawa, tersenyum sambil tertawa, tertawa terbahak-bahak seperti segerombolan bocah kecil.

Mereka tertawa sambil melangkah di atas jembatan, lalu masuk ke jalan raya yang diterangi oleh sinar bulan.

Orang-orang di jalan, di jendela, di warung, semuanya menatap mereka dengan heran.

Tak seorang pun yang tahu bahwa orang-orang ini adalah jago-jago paling tangguh di dunia persilatan dewasa ini, juga tidak ada yang tahu mengapa mereka tertawa begitu gembiranya.

Tidak seorang pun yang tahu........

TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Legenda Pendekar Ulat Sutera 3

Baca Juga: Lima Jago Luar Biasa 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert