Ceritasilat Novel Online

Golok Kumala Hijau 2

Eps 2 Golok Kumala Hijau - Gu Long

Baca online Golok Kumala Hijau - Gu Long

Cersil Golok Kumala Hijau - Gu Long.

Kali ini untuk pertama kalinya dia meninggalkan rumah, meski Toan loyacu memberi sangu sepuluh lembar uang kertas yang nilai per lembarnya mencapai seratus tahil, namun berulang kali orang tua itu berpesan agar dia tidak memakainyasecara boros, apalagi menghabiskannya.

Seribu tahil uang kertas yang digembolnya sekarang merupakan harta kekayaan paling besar yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Biarpun ia termasuk royal, namun semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati, bahkan daun emas pemberian ibunya yang dipersiapkan bila keadaan mendesak pun dia sudah berencana untuk sama sekali tidak menyentuhnya.

Dalam anggapannya, bila orang ingin menghamburkan uang, dia harus menghamburkan uang hasil keringat sendiri.

Selama ini dia selalu memandang rendah kawanan manusia yang selalu mengandalkan kekayaan orang-tuanya untuk berfoya-foya.

Kenyataan, belum pemah dia menghambur-hamburkan uang, walau hanya setahil pun.

Tapi barusan, tanpa diketahui apa yang sebenarnya telah terjadi, dia telah menghadiahkan ribuan tahil untuk seorang pelayan muda, kemudian menghadiahkan enam-tujuh puluh laksa tahil perak untuk Ku-tojin.

Toan Giok menarik napas dalam-dalam, lalu duduk kembali, dengan termangu diawasinya tumpukan emas yang berserakan di hadapannya.

Sepanjang hidup, belum pemah dia memiliki uang sebanyak ini.

Kini ia sudah mempunyai sepuluh laksa tahil, apa pun yang dulu mustahil bisa dilakukan, kini dapat dilakukan sepuas hati.

Mau arak wangi, perempuan cantik … apa yang dia inginkan, semuanya akan segera terpenuhi.

Paling tidak ia tak usah berusaha keras 'mengekang diri, paling tidak dia harus mencari kegembiraan selatna beberapa hari, menikmati semua kenikmatan yang belum pernah dicicipi.

Bagi seorang pemuda yang baru keluar rumah, jelas keadaan itu merupakan godaan yang susah dilawan.

Sekali pun bagi seorang kakek tua, siapa bilang hal ini bukan godaan yang merangsang?

Ku-tojin menatapnya, kemudian berkata sambil tertawa.

"Menggembol sepuluh laksa tahil, naik bangau pesiar ke Hang-ciu. Setelah mempunyai uang sebanyak ini, mau kemana pun kau bisa bermain dan berpesiar sepuas hati!"

"Betul,"

Sambung Ong Hui sambil tergelak.

"Apalagi kalau uang itu diperoleh dari menang judi, biar habis pun bukan masalah."

"Padahal di kota Hangciu pun banyak terdapat tempat tempat yang menarik hati, perempuan cantik dari Hangciu juga selama ini tersohor di seantero jagat. Toan-kongcu masih muda dan banyak duit, kenapa tidak kau gunakan kesempatan ini untuk mencari kenikmatan duniawi?"

Toan Giok termenung sejenak, tiba-tiba ujarnya.

"Sepuluh laksa tahil perak ini pun aku tak bisa menerimanya."

"Kenapa ?"

Tanya Ku-tojin dengan kening berkerut. Setelah menghela napas dan tertawa getir, kata Toan Giok.

"Aku sama sekali tak tahu kalau sekali pasang adalah seribu tahil perak'"

Tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk buka suara, dengan cepat dia menambahkan.

"Seandainya tahu, aku tak bakal ikut bertaruh, sebab kalau aku kalah, dengan uang apa aku mesti membayarnya?"

"Tapi kenyataannya sekarang kau tidak kalah."

"Kalau kalah tak mampu membayar, bila menang pun tidak seharusnya menerima uangnya!"

"Kalau kau tidak bicara, siapa pun tak tahu kalau kau tak mampu membayar bila kalah?"

"Tapi aku sendiri tahu dengan jelas, mungkin saja aku bisa membohongi orang lain, tapi tak mampu membohongi diri sendiri, maka dari itu bila kuambil uang ini, setiap malam pasti tak dapat tidur."

Ku-tojin segera tertawa, setelah memandang Ong Hui dan Lu Kiu sekejap, tanyanya.

"Pernahkah kalian bertemu dengan pemuda segoblok ini?"

"Belum pernah,"

Lu Kiu menggeleng.

"Ai, aku lihat pemuda masa kini makin lama semakin pintar saja,"

Keluh Ong Hui sambil menghela napas. Merah jengah wajah Toan Giok.

"Mungkin aku tidak terlalu pintar, tapi masih tahu dengan jelas mana yang boleh diambil dan mana yang tidak boleh,"

Katanya. Ong Hui segera memandang Toan Giok, lalu Lu Kiu, teriaknya tak puas.

"Memangnya uang itu kau peroleh dan mencuri?"

"Tidak,"

Lu Kiu menggeleng. Sambil tertawa tergelak, seru Ong Hui.

"Setiap orang persilatan tahu, mungkin asal-usul Ku-loto memang kurang begitu jelas, tapi yang pasti dia bukan bandit, apalagi begal."

"Apakah kita main judi juga hanya pura-pura?"

Ku-tojin menambahkan.

"Semua orang tahu, main judi di sini paling keras. Kalau tidak, hampir setiap sudut kota Hangciu terdapat rumah perjudian, mengapa kami justru lebih suka main judi di tempat bobrok seperti ini?"

Sahut Ong Hui. Kini Ku-tojin baru berpaling, katanya sambil melotot ke arah Toan Giok.

"Kalau memang uang itu bukan diperoleh dengan mencuri, main judi pun bukan pura-pura. Setelah menang, kenapa uang itu tidak kau ambil?"

"Aku aku,"

Saking cemasnya, merah padam seluruh wajah Toan Giok, ucapannya pun tergagap.

"Seandainya kalah, mungkin kau tak mampu membayar, tapi kenyataannya kau tidak kalah, karena nasibmu memang mujur. Oleh sebab itu kau sudah sepantasnya memenangkan uang ini dan pantas juga menikmati hidup yang lebih nyaman."

"Tepat sekali,"

Sambil tertawa Ong Hui menambahkan.

"Kalau nasib orang lagi mujur, sedang berjalan di jalan raya pun kakinya bisa tersandung Goanpo."

"Memang tak ada nasib mujur lain yang jauh lebih baik daripada kejad ian seperti ini,"

Kata Lu Kiu sambil tersenyum.

"Tapi orang bemasib mujur memang tak banyak di dunia ini"

Sambung Ong Hui.

"Apalagi kau bukan cuma bernasib mujur, jiwamu pun sangat jujur, biasanya Thian akan memperlakukan orang semacam ini secara istimewa,"

Kata Ku-tojin lagi.

"Jadi semua uang itu memang seharusnya menjadi milikmu. Ayo cepat bawa pergi!, kalau tidak, mungkin kami akan ikut sial."

"Tapi aku…"

Ku-tojin segera menukas, malah sambil menarik wajah dia berteriak.

"Bila kau masih saja berlagak sungkan, artinya kau tak sudi berkena lan dan bersahabat dengan kami."

ToanGiok masih tampak ragu, akhirnya dia menghela napas.

"Ai, kalau memang begitu, akan kuterima uang ini."

Kemudian dengan wajah bersemu merah dan tertawa geli, tambahnya.

"Terus terang aku bukannya benar-benar tak mau, hanya saja selama hidup belum pernah kumiliki uang sebanyak ini. Jadi bingung cara bagaimana menghamburkan?"

"Kalau masalah ini tak perlu terburu-buru, kujamin di kemudian hari kau pasti pandai menghamburkannya,"

Seru Ku-tojin tertawa, Ong Hui ikut tertawa.

"Seorang lelaki boleh saja tak sembarangan menghamburkan uang, tapi tak boleh tak mengerti bagaimana menghamburkan uang."

"Ha ha ha, lelaki yang tak paham cara menghamburkan uang dia pasti seorang lelaki tak berguna!"

"Betul, oleh karena itu kau harus mengerti bagaimana menghamburkannya, lalu baru mengerti cara mencarinya."

Toan Giok ikut tertawa.

"Aku berjanji di kemudian hari pasti akan mempelajarinya dengan seksama,"

Janjinya.

"Aku pun menjamin, mempelajari ilmu semacam ini bukan saja jauh lebih cepat daripada mempelajari ilmu lain, bahkan pasti sangat gembira,"

Tambah Ong Hui sambil tertawa.

"Aku percaya."

Selama ini Lu Kiu hanya mengamati dengan seksama, tiba-tiba is bertanya.

"Sebetulnya kau datang bukan untuk berjudi, bukan?"

"Bukan!"

"Lantas apakah kau menjumpai kesulitan?"

"Darimana Cianpwe bisa tahu?"

Toan Giok balik bertanya dengan tertegun. Lu Kiu tertawa.

"Kalau bukan sedang menghadapi masalah, siapa bakal mau datang menjumpai Tojin dekil macam dia?"

"Karena sekarang kita sudah menjadi teman, kesulitan apa pun yang sedang kau hadapi, boleh kau utarakan,"

Sela Ong Hui cepat.

"Hahaha, mungkin kau masih belum tahu asal-usul orang ini,"

Seru Ku-tojin sambil tertawa.

"Mohon petunjuk."

"Kalau disinggung asal-usul orang ini, sebetulnya dia amat tersohor di seantero jagat,"

Lanjut Ku-tojin.

"Pernah kau dengar Pi-lik-tong yang tersohor di wilayah Kanglam karena senjata apinya?"

"Sudah lama kudengar nama ini."

"Nah, dia adalah Tongcu baru dari Pi-lik-tong, orang persilatan menyebutnya Pi-lik-hwe (Api gedelek)."

Sambil menepuk dada, Ong Hui menambahkan.

"Oleh sebab itu, bila kesulitanmu tak bisa diselesaikan kami bertiga, mungkin di wilayah Kanglam tak ada orang lagi yang bisa menyelesaikan masalahmu itu."

Toan Giok menghela napas panjang, ujarnya.

"Padahal tanpa sengaja aku telah menyalahi seseorang."

"Menyalahi siapa?"

"Orang menyebutnya si Raja pendeta Thiat Sui."

"Bagaimana ceritanya sampai kau menyalahi dia?"

Tanya Ong Hui dengan kening berkerut. Merah padam wajah Toan Giok lantaran jengah.

"Ai, gara-gara seseorang!"

"Siapa?"

"Hoa Ya-lay."

"Apakah si begal wanita Hoa Ya-Iay?"

"Mungkin dia"

Ong Hui menarik muka, tegumya.

"Apa hubunganmu dengan perempuan itu? Dia apamu?"

"Sesungguhnya aku tak kenal perempuan itu,"

Ujar Toan Giok sambil tertawa getir.

"Tapi gara-gara dia, kau tak segan menyalahi Raja pendeta Thiat Sui?"

"Aku sama sekali tak tahu kalau keempat orang Hwesio itu adalah muridnya,"

Kembali Toan Giok menghela napas.

"Empat orang Hwesio?"

"Aku sendiri pun tak tahu mengapa Thiat Sui mengirim anak muridnya untuk mencari Hoa Yalay. Waktu itu aku bahkan tidak mengetahui asal-usul mereka, juga Aku tak tahu kalau Hoa Ya-lay sendiri pun seorang bandit. Aku hanya merasa sepak terjang keempat orang Hwesio itu buas dan galak sekali"

"Maka kau merasa tak terima, dan tanpa mencari tahu dulu duduk persoalan langsung ikut campur urusan mereka?"

Sela Ong Hui Kembali paras muka Toan Giok berubah merah padam..

"Aku memang kelewat ceroboh dan gegabah, tapi keempat orang Hwesio itu benar-benar kelewat buas."

Tiba-tiba Ku-tojin menghela napas, katanya.

"Thiat Sui sendiri memang seseorang yang tak tahu aturan, tentu saja anak muridnya meniru gaya gurunya, tapi kau…. kenapa kau tidak mencampuri urusan lain, justru mencampuri urusan Hoa Ya-lay?"

Selama ini Lu Kiu hanya mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba ia menimbrung.

"Tahukah kau mengapa Thiat Sui pergi mencari Hoa Ya-lay?"

Toan Giok menggeleng. Lu Kiu mengambil dulu saputangan untuk berbatuk beberapa kali, setelah itu perlahan-lahan baru berkata.

"Dia berbuat begitu lantaran aku!"

Sekali lagi Toan Giok terperangah. Terdengar Lu Kiu berkata lebih jauh.

"Aku mempunyai seorang putra, bernama Lu Siau-hun."

"Aku pernah mendengar nama ini."

"O ya? Selama ini kau berada di daratan Tionggoan bagaimana mungkin bisa mendengar tentang dia?"

"Karena ayah pernah memberitahu kepadaku,"

Sahut Toan Giok tergagap.

"Beliau bilang, aku pasti akan bertemu dengannya di Po-cu-san-ceng, bahkan minta aku menyampaikan salam untuk kau orang-tua."

Dia memang tidak berbohong, namun semua jawabannya pun bukan kata sejujurnya.

Toan-loyacu minta dia secara khusus mewaspadai Lu Siau-hun, sebab di antara para pemuda yang datang mencari jodoh di Po-cu-san-ceng, hanya ada dua-tiga orang di antaran yang merupakan musuh tangguh, Lu Siau-hun adalah salah satu di antaranya.

Tapi Lu Kiu sangat mempercayai perkataannya itu perlahan dia mengangguk.

"Betul, kali ini aku pun minta dia datang ke Po-cu-sa ceng untuk menyampaikan selamat ulang tahun. Apaka lantaran alasan yang sama kau datang ke wilayah Kanglam ini?"

"Benar."

"Tapi setibanya di kota Hangciu, tiba-tiba ia hilang!"

Kata Lu Kiu lebih lanjut.

"Hilang? Darimana Cianpwe tahu kalau dia hilang?"

"Sebetulnya aku datang bersamanya, karena aku harus pergi menjumpai Thiat Sui. Tapi pada empat hari berselang, setelah bocah itu keluar rumah, dia tak pernah muncul kembali."

Lagi-lagi dia terbatuk beberapa kali, kemudian baru melanjutkan, Pada hari itulah ada orang melihat dia berada bersama Hoa Ya-lay, si bandit wanita itu."

"Oh, jadi Thiat Sui memerintahkan muridnya pergi mencari Hoa Ya-lay karena ia hendak mencari tahu kabar berita tentang putramu?"

"Betul."

Toan Giok tak dapat bcrsuara lagi. Tiba-tiba Lu Kiu bertanya lagi.

"Tahukah kau mengapa aku datang kemari mencari Ku-tojin?"

"Memangnya bukan untuk main judi?"

"Selain main judi, masih ada sebuah alasan penting lainnya"

"Alasan apa?"

"Mencari kau"

Sekali lagi Toan Giok tertegun. Kembali Lu Kiu berkata.

"Kemarin aku mendapat laporan kalau ada seorang pemuda yang tak jelas asal-usulnya telah membantu Hoa Ya-lay menghajar keempat Hwesio murid Thiat Sui hingga tercebur ke air, kemudian pemuda itu pergi bersama Hoa Ya-lay dan kabar beritanya lenyap begitu saja."

"Maka kau pun datang ke tempatku untuk mencari tahu jejak pemuda ini?"

Sambung Ku-tojin.

"Untuk wilayah seputar sini, siapa lagi orangnya yang lebih jelas mengetahui berita baru di tempat ini?"

"Tapi hingga sekarang kau belum buka suara?"

Lu Kiu tertawa.

"Siapa pun orangnya, mereka pasti tahu, untuk datang minta bantuan kepadamu paling tidak harus menemanimu bermain judi lebih dulu hingga puas."

Ku-tojin ikut tertawa.

"Ha ha ha, tak nyana nama besarku sebagai setan judi ternyata sudah tersiar juga sampai ke Say-hun-san-ceng."

Lu Kiu menatap Toan Giok sekejap, kemudian setelah berbatuk katanya.

"Tadi, seandainya kau tidak berjudi melawan kami, mungkin sekarang aku telah turun tangan terhadapmu, sebab sewaktu berjudi paling gampang untuk menilai watak seseorang. Oleh karena itu aku percaya kau adalah seorang pemuda jujur, maka aku pun percaya kau sama sekali tidak berbohong."

"Sungguh tak nyana, berjudi pun ada manfaatnya,"

Ujar Toan Giok sambil tertawa getir. Setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Jadi putramu lenyap sejak empat hari berselang?"

"Benar."

"Selama empat hari Cianpwe tak berhasil menemukan Hoa Ya-lay?"

"Jejaknya memang tak menentu dan sukar dilacak. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa hidup hingga sekarang?"

Jawab Lu Kiu dingin.

"Tapi kenyataan dua hari berselang secara tiba-tiba ia menampakkan diri."

"Itulah, aku sendiri pun tak menyangka, aku tak mengira bandit perempuan itu masih berani muncul dan berpesiar di telaga."

Toan Giok menghela napas panjang.

"Kemarin baru saja aku tiba di telaga Se-ouw, dia pun muncul. Kejadian ini terasa sangat kebetulan."

Ku-tojin ikut menghela napas, katanya pula.

"Memang banyak kebetulan yang sering terjadi di kolong langit."

"Mungkin inilah yang disebut orang 'kalau tak ada kebetulan, tak akan jadi cerita',"

Ujar Ong Hui pula.

"Jadi hingga sekarang belum ada kabar tentang Lu kongcu?"

Tanya Toan Giok.

"Ya, belum ada!"

Lu Kiu mengangguk sedih.

"Maka persoalan ini pun belum ada penyelesaian?"

Bag 5.

Arak darah Bunga mawar yang tumbuh di atas dinding pagar bergoyang lembut terhembus angin, jalan kecil beralas batu tampak berliku¬-liku menghubungkan kebun bunga dan bangunan kecil di belakangnya.

Jendela itu berada dalam keadaan terbuka, tirai bambu setengah tergulung, lamat-lamat masih dapat terlihat beberapa pot bunga di atas beranda.

Toan Giok masih teringat dengan jelas, memang tempat inilah yang ia datangi semalam bersama Hoa Ya-lay.

Tapi ia tak tahu kemana Hoa Ya-lay telah pergi, terlebih tak tahu darimana munculnya pendeta berjubah hitam itu.

Semua orang yang ditemui hari ini, tak seorang pun yang pernah dijurnpai semalam.

Tentu saja gadis berbaju putih itu bukan melemparkan senyuman untuknya, karena yang dia kenal adalah Lu Kiu.

Ini berarti Lu Kiu pun pernah berkunjung ke tempat ini.

Lalu tempat apakah sebenarnya bangunan kecil ini?

Sebuah persoalan yang seharusnya amat sederhana, kini sudah berubah makin bertambah kacau dan rumit.

Dalam pada itu pendeta berjubah hitam tadi telah menuang secawan arak untuk Lu Kiu, tanyanya, 'Bagaimana rasa arak ini?"

Lu Kiu mencicipinya seteguk, kemudian memuji.

"Arak bagus, arak bagus!"

Arak dari daratan Tionggoan kebanyakm dibuat tepung beras, sementara arak ini dibuat dari anggur, bisa disimpan amat lama, manis dan lembut. Dibandingkan arak Li ji yang wanya setingkat lebih unggul.

"Betul,"

Sahut Lu Kiu setelah mcncicipi seteguk lagi, ''Bila diteguk, memberikan semacam rasa yang luar biasa.'"

Arak semacam ini gampang diteguk, tapi tendangannya datang belakangan, bahkan sangat bagus untuk menyembuhkan hawa mumi.

Bukankah belakangan kondisi badanmu kurang sehat?

Minumlah barang dua cawan siapa tahu akan lebih bermanfaat untukmu."

Temyata dia malah mengajak Lu Kiu membicarakan soal kualitas arak, bahkan cara bicaranya seakan dia memang seorang ahli.

Hingga kini dia masih tetap tak pandang sebelah mata tcrhadap Toan Giok sekalian, sedang Lu Kiu sendiri pun seolah telah mclupakan juga rekan-rekannya.

Tak tahan Ku-tojin menghela napas panjang, gumamnya.

"Padahal Pinto pun seorang setan arak, heran kenapa tuan rumah yang punya arak wangi justru tidak menawarkan barang secawan untuk kucicipi?"

Saat inilah pendeta berjubah hitam itu baru berpaling sambil melotot, tegurnya dengan wajah masam.

"Siapa kau?' "Pinto Ku Tiang-cing!"

Jawab Ku-tojin.

"Apakah kau adalah Ku-tojin yang disebut orang gila judi bagaikan orang kalap, gila arak bagaikan orang kehausan?"

"Betul sekali."

Mendadak pendeta berbaju hitam itu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha, bagus, bagus sekali!Kalau memang kau adalah Ku-tojin, sudah seharusnya kuberi secawan untukmu."

Dia segera mengulap tangan, gadis herbaju putih itu segera mengangsurkan sebuah cawan. Dengan tangan tunggalnya Ku-tojin terima cawan itu dan sekaligus menghabiskan isinya.

"Oh, benar-benar arak bagus!"

Teriaknya. Pendeta berjubah hitam itu menarik wajah. Dengan dingin ia mendengus.

"Hm, walaupun arak bagus, sayang kau hanya pantas untuk mInum secawan."

Ku tojin sama sekali tidak marah, sahutnya sambil tersenyum.

"Secawan pun sudah lebih dari cukup, terima kasih."

Sementara itu paras muka Ong Hui telah berubah hebat, teriaknya lantang.

"Kau anggap aku tak pantas minum arakmu?"

"Siapa kau?"

"Pik-lik-hwe Ong Hui dari Kanglam."

"Apakah kau tahu siapakah aku?' Ong Hui tertawa dingin.

"Paling juga si Raja pendeta Thiat Sui,"

Sahutnya.

"Hm! Biar kau akan membunuhku pun, aku tetap akan minum arakmu."

"Hahaha, bagus, bagus sekali,"

Pendeta berbaju hitam itu tertawa nyaring.

"Memandang ucapanmu itu, kau pun pantas dijamu secawan arak."

Ternyata dia adalah si Raja pendeta Thiat Sui.

Kecuali Thiat Sui mana mungkin di dunia ini masih terdapat seorang Hwesio macam dia?

Gadis berbaju putih itu segera menyodorkan kembali secawan arak.

Sekali tenggak, Ong Hui menghabiskan isi cawan itu, jengeknya sambil tertawa dingin.

"Ternyata arak ini bukan arak yang luar biasa, aku lihat rasanya seperti air gula biasa, minum secawan pun sudah lebih dari cukup."

"Bagus, bagus sekali,"

Kembali Thiat Sui mendongakkan mendongakkan kepala sambil tertawa tergelak.

"Alas dasar ucapanmu itu, kau harus minum secawan Iagi."

Mula-mula Ong Hui tertegun, kemudian dia pun ikut tertawa tergelak.

"Hahaha, kalau memang begitu, biar rasanya seperti air gula pun aku tetap akan menghabiskannya."

Ku-tojin menghela napas panjang, gumamnya.

"Ai, tidak kusangka takaran minummu jauh lebih hebat daripada diriku."

"Kalau memang begitu, Kongcu ini pantas minum secawan arak,"

Tiba-tiba Lu Kiu menyela.

"Atas dasar apa dia pantas minum?"

Tanya Thiat Sui.

"Tahukah kau siapakah Kongcu ini?"

"Memangnya siapa dia?"

"Dia adalah Toakongcu dam Tionggoan Tayhiap Toan Hui-him, she Toan bemama Giok."

"Hm, belum pantas untuk minum arak ini"

"Kenapa tak pantas? Dialah yang kemarin menghajar keempat orang muridmu di atas perahu pesiar hingga tercebur ke dalam air!"

Berubah paras muka Thiat Sui, kontan tegurnya.

"Kenapa kau mengajaknya datang kemari?"

"Bukan aku yang mengajaknya kemari, dialah yang membawa aku datang kemari."

"Dia yang membawamu datang kemari?"

Thiat Sui berkerut kening.

"Dia mengajakku kemari untuk mencari Hoa Ya-lay."

"Mana mungkin bandit wanita itu bisa berada di sini?"

Teriak Thiat Sui gusar.

"Jadi dia tidak berada di sini?"

"Tentu saja tidak."

"Berarti semalam pun dia tak berada di sini?"

"Selama ada aku di tempat ini, mana mungkin ia berani datang kemari!"

Lu Kiu mulai menghela napas. Dengan sapu-tangannya ia menutupi mulut, lalu mulai terbatukbatuk, sembari berpaling ke arah Toan Giok, ujamya.

"Sudah kau dengar?"

"Ya, sudah kudengar,"

Jawab Toan Giok sambil tertawa getir.

"Ai, kalau begitu kau pergilah!"

Ujar Lu Kiu lagi sambil menghela napas. Belum sempat Toan Giok buka suara, Thiat Sui telah melompat bangun. Bentaknya sambil melotot ke arah anak muda itu.

"Setelah tiba di sini, memangnya kau masih ingin pergi dari tempat ini?"

"Dia tak ingin pergi, akulah yang menyuruh dia pergi,"

Sela Lu Kiu cepat.

"Kenapa kau menyuruhnya pergi?"

"Karena dia adalah sahabatku."

"Dia telah membohongimu, kau masih menganggapnya sebagai teman?"

"Mungkin bukan dia yang sedang membohongiku, tapi orang lain yang telah menipu dia."

"Dan kau percaya?"

"Dia seorang pemuda jujur. Tak mungkin anak muda semacam ini berbohong."

Dengan mata mendelik Thiat Sui memperhatikan Toan Giok dari atas hingga ke bawah, kembali ia tertawa tergelak.

"Hahaha, bagus! Hei, anak muda, kemarilah untuk minum arak"

"Aku pantas untuk minum arak itu?"

Tanya Toan Giok.

"Terlepas orang macam apa dirimu, tidak gampang membuat Lu Kiu menaruh rasa percaya padamu."

"Betul, dan dia pantas meneguk arak cawan ketiga,"

Sambung Lu Kiu sambil tersenyum.

Gadis muda itu kembali membuka sebotol arak lalu menuang ke dalam cawan.

Dengan sepasang tangan yang putih halus dan wajah dihiasi senyuman manis, perlahan-lahan ia mendekat ke hadapan Toan Giok.

Cahaya musim semi tampak terang menawan, angin berhembus sepoi-sepoi.

Aneka bunga yang memenuhi kebun itu sedang mekar dan tampak cantik.

Biar pun Thiat Sui jumawa dan angkuh, biarpun dia suka minum dan suka main wanita, tapi kelihatannya tak malu disebut seorang Hohan.

Sejak zaman dulu, ada berapa banyak Enghiong Hohan yang bisa lolos dari godaan minum dan main perempuan?

Walaupun Toan Giok belum menangsal perut dengan makanan, namun dalam keadaan dan situasi ini tak tahan dia pun ingin turut meneguk dua cawan arak.

Arak dalam cawan emas tampak merah segar.

Sambil tersenyum Than Giok menerima cawan berisi arak itu.

Tiba-tiba senyumannya membeku, tiba-tiba sepasang tangannya gemetar, lalu membeku kaku.

Ternyata isi cawan itu bukan arak, melainkan darah!

Darah yang tampak masih segar!

"Tring!", cawan emas itu terjatuk ke tanah.

Darah segar pun berhamburan rnembasahi lantai.

Mendadak Thiat Sui membentak penuh amarah.

"Arak kehormatan tidak kau minum, memangnya kau sedang menanti arak hukuman?"

Toan Giok tak menjawab, hanya tertunduk, mengawasi darah berwama cerah yang perlahanlahan mengalir membamhi rerumputan nan hijau.

"Itu bukan arak, tapi darah!"

Seru Lu Kiu pula dengan wajah berubah.

Paras muka Thiat Sui ikut berubah, tiba-tiba ia berpaling, mengawasi gadis muda itu dengan penuh amarah.

Paras muka nona itu pun pucat pias bagai mayat, cepat dia membuka botol arak lain, tapi lagilagi dia menjerit kaget, baki arak terjatuh dari pegangannya.

Ternyata cairan yang meleleh keluar dan baki itu pun cairan darah.

Semua darah itu masih tampak segar, sama sekali belum menggumpal.

Dengan suara lengking gadis itu menjent.

"Tadi isi botol itu jelas masih berupa arak, kenapa secara tiba-tiba bisa berubah jadi darah?' "

Arak berubah jadi darah, pertanda buruk,"

Bisik Ku-tojin dengan wajah berubah.

"Pertanda buruk?"

Tanya Ong Hui "Memangnya akan terjadi suatu peristiwa di tempat ini?"

"Betul,"

Ucap Thiat Sui sepatah demi sepatah, wajahnya telah berubah hijau membesi.

"Mungkin ada seseorang harus mati di tempat ini"

"Siapa?"

Tanya Ong Hui.

Thiat Sui tak menjawab, perlahan-lahan dia mendongak, sinar matanya yang tajam perlahan menyapu wajah setiap orang yang hadir.

Sorot mata itu bagaikan sebilah golok, golok yang digunakan untuk membunuh manusia!

Golok pembunuh!

Telapak tangan setiap orang mulai terasa basah, basah oleh peluh dingin.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang muncul dari balik kebun bunga dan berjalan mendekat dengan langkah lebar.

"Perahu pesiar milik Hoa Ya-lay telah ditemukan"

Teriaknya keras. Orang itu berkepala gundul, bermata besar dan beralis tebal. Dia tak lain adalah salah seorang Hwesio yang dihajar Toan Giok hingga tercebur ke dalam telaga.

"Ada dimana perahu pesiar itu?"

Thiat Sui bertanya.

"Di sana, di samping tanggul Tiang-ti."

Selesai berkata, Hwesio itu mending ke arah belakang, lima jari tangannya terlihat gemetar tiada hentinya.

*** Di tepi tanggul Tiang-ti.

Sebuah perahu pesiar tanpa penghuni terapung di atas permukaan air berwarna hijau.

Atap perahu berwarna hijau pupus dengan tiang penyangga berwama merah darah.

Dari balik jendela terlihat tirai bambu tergulung setengah.

Kemana perginya orang di depan jendela?

Di tengah alam yang begitu indah, terlihat banyak perahu pesiar berlalu lalang di tengah telaga.

Namun tak satu pun di antara perahu-perahu itu yang berani mendekati perahu pesiar yang satu ini.

Semua perahu membuang sauh jauh di tengah telaga, sementara para penghuninya dengan mata melotot sedang mengawasi perahu pesiar itu.

Sinar mata mereka tampak gugup, panik, ngeri dan seram, seakan-akan mereka menganggap perahu itu sebagai perahu setan, perahu yang penuh bermuatan bencana dan musibah yang menakutkan.

Tibadiba tampak sebuah sampan kecil menerjang ombak bergerak cepat mendekati perahu pesiar itu.

Thiat Sui sambil bercekak pinggang berdiri bergermng di ujung sampan, jubah pendetanya yang berwama hitam tampak berkibar kencang terhembus angin.

Ketika tiba lebih-kurang empat tombak dari perahu pesiar itu mendadak ia melompat ke atas dan melambung ke udara.

Terlihat bagaikan segumpal awan hitam yang tiba-tiba terbang di atas ombak berwama hijau.

Dengan sekali lompatan, empat tombak telah terlampaui, dengan indahnya ia melayang turun di atas perahu pesiar itu.

Tempik sorak pun bergema gegap-gempita, tak tahan semua orang yang berada di seputar telaga memberi pujian alas kehebatannya.

Di tengah sorak-sorai yang nyaring, Toan Giok ikut meluncur pula ke tengah udara.

Dia bukannya ingin ikut pamer kepandaian, tapi hatinya benar-benar gelisah bercampur camas, dia ingin secepatnya mengetahui kejadian menyeramkan apa yang telah berlangsung di atas perahu itu.

Dan sekarang dia telah melihatnya.

Begitu melompat naik ke atas perahu pesiar, ia segera dapat melihat semuanya.

Ruang perahu itu tertata rapi dan indah, keempat dindingnya dilapisi kertas berwarna putih salju, membuat seluruh ruang perahu tampak begaikan sebuah gua salju.

Di antara kertas dinding yang putih bagai salju itu, kini sudah dihiasi dengan berkuntumkuntum bunga Bwe.

Bunga Bwe yang dilukis dengan darah segar.

Seseorang berdiri di bawah rangkaian bunga Bwe, kepalanya tertunduk rendah, mukanya lusuh, layu dan pucat, darah yang meleleh dari tujuh lubang indranya kini telah mengeras, sebilah golok terhujam di dadanya, ternyata tubuh orang itu sudah terpantek di atas dinding perahu.

Pita merah terlilit pada gagang golok, angin berhembus masuk melalui jendela, tampak cahaya golok yang berwarna merah darah itu berkibar mengikuti hembusan angin.

Dengan gerakan cepat Thiat Sui mencabut golok itu.

Golok itu segera dicengkeram olehnya.

Pendeta itu harus menggunakan seluruh tenaganya sebelum berhasil mencabut golok itu.

Darah yang menodai tubuh golok telah mengering.

Ternyata belum seluruhnya mengering, paling tidak masih ada setetes yang masih basah.

Setetes darah perlahan-lahan menetes jatuh dari ujung golok, mata golok itu terang dan bening, sebening air telaga.

Betul-betul sebilah golok yang indah dan menawan.

Dengan sorot mata tajam Thiat Sui mengawasi mata golok.

Lama kemudian tiba-tiba ia memuji.

"Golok hebat!"

Ong Hui yang memburu mendekat ikut memuji.

"Benar-benar sebuah golok yang bagus!"

"Kau mengenal golok ini?"

Kembali Thiat Sul bertanya. Ong Hui menggeleng. Thiat Sui segera membalik tubuh, sambil melotot ke arah Toan Giok, sepatah demi sepatah tanyanya.

"Bagaimana dengan kau? Apakah kenal golok ini?"

Sementara itu paras muka Toan Giok telah berubah, berubah sangat hebat. Sejak awal tadi dia sudah mengenali golok itu.

"Kau tentunya mengenalinya, bukan?"

Jengek Thiat Sui lagi dengan suara dingin.

"Bila aku tak salah lihat, seharusnya golok ini adalah Bi-giok-jit-seng-to (Golok tujuh bintang kumala hijau) keluarga Toan, bukan?"

Tak salah, golok itu memang Bi-giok-jit-seng-to keluarga Toan.

Yakni golok milik Toan Giok yang hilang sewaktu berada dalam kamar tidur Hoa Ya-lay.

Di ujung mata golok bahkan tertera pertanda khusus dari keluarga Toan.

Sorot mata Thiat Sui jauh lebih tajam daripada mata golok, dia mendelik, lagi-lagi tegurnya.

"Kau kenal orang ini?"

Toan Giok menggeleng.

Sejujurnya, dia memang tidak mengenali orang ini.

Walaupun raut wajah orang ini sudah berkerut dan layu, namun masih tampak jelas bahwa semasa hidupnya dulu pastilah seorang pemuda tampan, pakaian yang dikenakan pun terlihat indah dan mahal harganya.

Ketika golok itu tercabut, tubuh orang itu pun perlahan-lahan terperosok jatuh ke bawah, kepalanya seakan ikut mendongak, memandang ke arah Toan Giok, biji matanya yang melotot dipenuhi perasaan sedih, marah dan penasaran yang sulit dilukiskan dengan perkataan.

Kematiannya memang kelewat mengenaskan, bankan sampai mati pun tetap tak memejamkan mata.

Tiba-tiba saja Toan Giok dapat menebak siapa gerangan orang ini.

Dia bukan mengenali orang ini dari bentuk wajah mayat itu, melainkan dari perubahan mimik muka Lu Kiu.

Dalam waktu yang teramat singkat ini usia Lu Kiu seakan bertambah tua sepuluh tahun, seluruh tubuhnya terlihat lemas dan kehilangan tenaga.

Ia bersandar di atas dinding, seakan-akan setiap saat bakal roboh terjungkal ke lantai.

Mungkinkah pemuda yang tewas secara mengenaskan di ujung golok itu adalah putra kesayangannya, Lu Siau-hun?

Tiba-tiba hati Toan Giok bergidik, perasaannya seolah tenggelam ke dasar lautan yang paling dalam.

"Kedatanganmu ke wilayah Kanglam tentunya karena ingin turut mencari jodoh di Po-cu-sanseng, bukan?"

Sambil melotot Thiat Sui menenegur. Toan Giok tak dapat menghindar, terpaksa mengakui.

"Oleh karena itu kau anggap, asal dapat menyingkirkan dia, maka tak ada orang lain yang akan menjadi sainganmu lagi, bukan?"

Lanjut Thiat Sui.

"Aku…aku…jangan lagi membunuh, bertemu muka pun belum pernah"

Toan Giok mencoba membela diri.

"Hm, membunuh orang memakai golok, bukan memakai yang lain"

Pendeta itu mengacungkan golok dalam genggamannya, kemudian bentaknya lebih jauh.

"Apakah golok ini milikmu?"

"Betul. Tapi bukan aku yang menggunakan golok itu untuk membunuh orang."

Kontan saja Thiat Sui tertawa dingin.

"Bi-giok-jit-seng-to adalah golok mestika warisan keluarga Toan, bagaimana mungkin bisa terjatuh ke tangan orang lain?"

"Ini disebabkan…"

"Dengan kekuatanmu seorang, tentu saja tak gampang menghabisi dirinya, Hoa Ya-lay pasti merupakan pembantu setiamu,"

Tukas Thiat Sui.

"Tapi kemarin malam…"

"Bukankah kemarin malam kau tidur bersama Hoa Ya-lay?"

Ejek pendeta itu.

Toan Giok terbungkam, dia hanya bisa tertunduk lemas.

Tiba-tiba ia sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam sebuah lingkaran perangkap yang amat keji dan busuk.

Fitnah yang ditimpakan kepadanya tak nanti bisa tercuci bersih walaupun ia berusaha menghapusnya dengan berendam dalam telaga Se-ouw.

Sementara itu sinar mata Thiat Sui telah dialihkan ke wajah Ku-tojin, ujarnya dengan suara dalam.

"Arak berubah jadi darah, memang pertanda buruk."

"Benar, memang begitu,"

Ku-tojin menghela napas panjang.

"Apakah sekarang di sini ada sescorang yang harus mati?' "Benar."

Tiba-tiba Thiat Sui juga menghela napas panjang, katanya.

"Dalam tiga bulan terakhir, orang persilatan hampir semuanya mengatakan Thiat Sui membunuh orang bagai mencabut rumput, tapi apakah mereka tahu bahwa mereka yang mati di ujung golokku, tak seorang pun yang bukan merupakan orang bersalah?"

Dia mengawasi sekejap golok dalam genggamannya, kemudian perlahan-lahan melanjutkan.

"Golok ini memang sebilah golok bagus, menggunakan golok semacam ini untuk membunuh orang berhati keji sungguh memuaskan. Tampaknya hari ini aku lagi-lagi akan melanggar pantangan membunuh!"

Ternyata Toan Giok seolah belum tahu siapa yang hendak dibunuh, dia ikut menghela napas dan berkata.

"Menggunakan golok mestika untuk membunuh manusia laknat memang jelas merupakan sesuatu yang memuaskan, tapi sayang hingga sekarang kita masih belum tahu siapa pembunuhnya?"

"Masa kau tidak tahu?"

Tanya Thiat Sui seakan tertegun. Toan Giok menggeleng.

"Walaupun saat ini belum tahu, namun jaring langit maha luas, tak mungkin orang yang telah melakukan kejahatan akan lolos dari hukuman, aku yakin suatu hari pasti akan ditemukan siapa pembunuhnya."

Thiat Sui menatap pemuda itu dengan melongo. Sinar matanya seolah sedang menatap seorang idiot.

"Lebih baik Cianpwe kembalikan dulu golok itu padaku,"

Kata Toan Giok.

"Bila kita berhasil menemukan pembunuhnya, boanpwe pasti akan menyerahkan kembali golok ini agar Cianpwe bisa menggunakan golok itu untuk memenggal batok kepalanya untuk membalas dendam atas kematian Lu-kongcu."

"Kau minta aku mengembalikan golok ini kepadamu?"

Tanya Thiat Sui. Toan Giok m anggut-manggut.

"Sesuai dengan apa yang Cianpwe katakan, golok ini merupakan benda mestika keluarga Boanpwe, sudah seharusnya golok itu berada bersamaku,"

Katanya. Tiba-tiba Thiat Sui tertawa tergelak.

"Hahaha, bagus sekali, kalau memang kau minta, nih, ambillah!"

Serunya.

Cahaya golok tampak berkelebat.

Secepat sambaran petir ia bacok bahu anak muda itu.

Golok itu memang sebilah golok yang bagus, ditambah lagi orang yang menggunakan golok itu merupakan jagoan silat berilmu tinggi.

Begitu bacokan dilontarkan, tampak cahaya golok menyilaukan membelah angkssa, angin tajam menyambar, membuat Ku-tojin pun tak tahan ikut bergidik, ia merasakan selapis hawa pembunuhan yang mengerikan serasa menghimpit dirinya.

"Cianpwe, kenapa kau akan rnembunuhku,"

Toan Giok segera menjerit.

"Kau jangan salah orang!"

Golok itu datang dengan cepat, namun gerakan tubuhnya lebih cepat lagi.

Baru mengucapkan dua patah kata, ia sudah menghindari semua serangan itu.

Seluruh ruangan perahu itu tidak terlampau luas, tempat yang bisa digunakan untuk berkelit pun tidak banyak.

Andai kata Lu Kiu ikut melancarkan serangan, niscaya Toan Giok akan tewas di ujung goloknya.

Siapa sangka Lu Kiu sama sekali tidak turun tangan.

Dia masih berdiri sambil bersandar di dinding, berdiri tertegun, seluruh tubuhnya seolah telah kaku dan mati rasa.

Serangan golok yang dilancarkan Thiat Sui makin lama semakin cepat, ternyata tokoh silat yang baru muncul tapi telah menggetarkan sungai telaga ini benar-benar memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya.

Biarpun ilmu silat aliran Siau-lim bukan mengandalkan golok, namun permainan golok yang dia lakukan saat ini begitu hebat dan dahsyat, sama sekali tidak kalah dengan kehebatan jago golok mana pun di koiong langit.

Kini permainan goloknya telah berubah, yang digunaka adalah ilmu Luan po-hong (Angin topan) yang merupakan ilmu golok paling ganas dan paling dahsyat.

Dalam waktu singkat, cahaya golok telah menyelimuti seluruh ruangan perahu, Toan Giok nyaris sudah tak ada tempat untuk mundur lagi.

Bahkan Ku-tojin serta Ong Hui pun sudah terdesak hingga terpaksa harus keluar dari ruang perahu.

Toan Giok sendiri bukannya tak ingin mundur dari situ, apa daya, kemana pun ia berusaha mundur, cahaya golok selalu menyumbat mati jalan perginya.

Betul ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya sangat hebat, tapi berada dalam tempat seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat menggunakannya?

Ong Hui yang menonton dari luar ruang perahu tak tahan untuk menghela napas, katanya.

"Aku masih tak percaya kalau seorang pemuda yang begitu jujur ternyata merupakan seorang pernbunuh keji."

"Mungkin saja selama ini dia berlagak bodoh,"

Kata Ku tojin setelah berpikir sejenak "Apakah kau tak dapat melihat kalau dia pandai sekali berlagak bodoh?"

"Aku hanya dapat melihat kalau Thiat Sui adalah seorang manusia buas yang suka membunuh,"

Kata Ong Hui dingin.

"Oh, ya?"

"Bila ingin membunuh Toan Glok tampaknya bukan karena dia ingin membalaskan dendam bagi Lu Kiu melainkan karena dia sendiri memang gemar membunuh."

Ku-tojin menghela napas panjang, katanya.

"Asal orang yang dia bunuh adalah orang bersalah ...."

"Bagaimana kau tahu kalau orang yang akan dibunuhnya adalah orang bersalah,"

Tukas Ong Hui cepat.

"Bukankah kenyataan sudah terpampang di depan mata?"

"Kenyataan apa? Golok itu?"

"Hm"

"Setelah membunuh seseorang, rnungkinkah kau sengaja meninggalkan golok milik sendiri?"

Ku-tojin kembali berpikir sejenak, kemudian katanya, Kenyataannya golok itu sudah terjepit di tubuh korban, mungkin juga dia pergi tergesa-gesa hingga tak sempat mencabut kembali senjatanya"

"Jadi kau anggap dia pantas dibunuh?"

Tanya Ong Hui lagi setelah termenung sejenak.

"Apakah kau anggap dia tidak pastas?"

"Bagaimana pun juga harus kita tanya dulu sebelum membunuhnya,"

Tukas Ong Hui.

"Berarti kau ingin menolongnya?"

Ong Hui bungkam, tapi tangan sebelah telah merogoh ke dalam kantong kulit yang tergembol di pinggangnya.

Dalam kantong kulit itu berisi senjata api yang nama Pi-lik-hwe di wilayah Kanglam tersohor di seantero jagat.

Tangan Ku-tojin menarik tangannya dan berkata dengan suara dalam.

"Masalah ini mempunyai dampak yang sangat besar. Kita berdua adalah orang di luar garis. Lebih baik jangan bergerak secara sembarangan."

Belum sempat Ong Hui buka suara, tiba-tiba "Blam!,"

Terdengar suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan.

Begitu kerasnya guncangan itu membuat seluruh perahu seolah hendak terbalik Dengan sendirinya para jago yang berada dalam perahu pun ikut tergetar hingga berjatuhan.

Begitu muncul kilatan cahaya golok, perahu-perahu yang sebelumnya mengerubungi untuk menonton keramaian pun makin lama semakin banyak.

Mendadak terlihat sebuah perahu besar menerjang tiba dengan kecepatan tinggi.

Di ujung geladak terlihat seorang pemuda berbaju ungu berdiri sambil memegang galah panjang untuk mendayung.

Walaupun sepintas ia nampak sangat lemah, ternyata kekuatan kedua lengannya sangat besar dan hebat.

Ketika galah bambunya ditutulkan beberapa kali, perahu besar itu segera menerjang ke muka bagaikan panah yang terlepas dari busur dan menumbuk lambung kiri perahu pesiar itu.

Saat itu ruang lingkaran yang digunakan Toon Giok untuk menghindar makin lama semakin bertambah sempit.

Baru saja dia menyambar sebuah bangku untuk menangkis, mendadak terlihat cahaya golok berkelebat, tahu-tahu bangku itu sudah terpapas hingga tinggal sebelah kaki.

Menyusul Thiat Sui melancarkan kembali tiga bacokan kilat.

Siapa tahu lambung perahu bergetar keras, kuda-kudanya langsung goyah, otomatis mata golok yang sedang membacok pun meleset dari sasaran.

Tubuh Toan Giok bergetar keras hingga terpelanting keluar.

Di saat cahaya golok kembali menyambar, tubuhnya sudah mencelat keluar dari jendela dan "Plung!", langsung tercebur ke dalam telaga.

Tampak gelembung udara muncul di permukaan telaga, dengan cepat tubuh pemuda itu tenggelam ke dalam air.

Tubuh perahu masih bergoncang keras, diiringi bentakan gusar, Thiat Sui melompat keluar lewat daun jendela.

Tiba-tiba pemuda berbaju ungu yang berada di ujung geladak perahu yang menumbuk perahu pesiar itu tertawa lebar, tangannya segera diayun, selapis cahaya tajam berhamburan menyelimuti seluruh angkasa.

Menghadapi datangnya ancaman, Thiat Sui mengayunkan goloknya berulang kali, cahaya golok bagai lapisan dinding tebal langsung membuyarkan cahaya tajam yang sedang menyambar tiba.

Tapi pada aat itulah pemuda berbaju ungu itu sudah lompat ke udara, lalu dengan gerakan Hieng-ji-sui (Ikan pari masuk ke air) dia ceburkan diri pula ke dalam telaga.

Belum hilang riak di atas permukaan air, tubuhnya turut tenggelam ke dasar telaga dan lenyap.

Thiat Sui segera mcnyerbu maju.

Sekali cengkeram, dia cekal ujung baju Ku-tojin, lalu bentaknya penuh amarah.

"Darimana datangnya bocah keparat itu?"

"Mungkin saja datang menguntit di belakang Toan Giok,"

Jawab Ku-tojin.

"Apakah kau tahu siapa dia?"

"Cepat atau lambat, akhirnya pasti akan ketahuan juga."

Thiat Sui menghentakkan kaki berulang kali, serunya dengan jengkel.

"Menunggu kita tahu dengan jelas, Toan Giok sendiri sudah kabur kemana?"

"Taysu kuatir dia kabur? Tak usah kuatir ...."

"bagaimana mungkin aku tidak kuatir?"

Thiat Sui semakin sewot.

"Keluarga besar Toan berdiam di daratan Tionggoan. Selama dia berada di daratan dia gagah bagaikan seekor naga kecil, tetapi begitu bertemu air, mungkin sulit baginya merangkak keluar lagi."

Sambil tersenyum, ia berpaling.

Tiba-tiba dijumpai Ong Hui sedang melototkan mata, mendelik ke arahnya.

Siapakah pemuda berbaju ungu yang berdiri di ujung geladak perahu?

Tanpa pikir panjang, siapa pun pasti dapat menduga, tentu saja dia adalah Hoa Hoa-hong.

Bila seorang perempuan selalu mencari gara-gara padamu, makan cuka oleh tingkah-polahmu, senang beradu mulut denganmu.

Tentu saja perempuan semacam ini tak bakal kelewat bodoh.

Oleh sebab itu di kala kau sedang menghadapi masalah atau kesulitan, seringkali justru dialah yang akan muncul untuk menyelamatkan jiwamu.

Sejak awal Hoa Hoa-hong sudah menduga kalau Toan Giok bukan seekor bebek, tapi ayam.

Tak ada ayam yang bisa berenang.

Kalau sudah tercebur, biasanya tinggal menunggu saat mampusnya.

Begitu berada dalam air, ia bergerak cepat bagaikan seekor ikan, sepasang matanya yang besar bulat bagaikan mata ikan duyung.

Akan tetapi kemana pun ia bergerak, tak dijumpai tubuh Toan Giok di seputar sana.

Bukankah dengan sangat jelas ia melihat Toan Giok tercebur ke air dan tenggelam?

Mengapa tubuhnya bisa hilang tak berbekas?

Apakah tubuhnya berat bagai timbangan besi?

Begitu tercebur langsung tenggelam ke dasar telaga?

Baru saja Hoa Hoa-hong ingin muncul ke atas permukaan untuk berganti napas, kemudian menyelam lagi ke dasar telaga, tiba-tiba ia merasa ada semacam benda menyelinap ke arah tengkuknya.

la segera berbalik melancarkan cengkeramen, benda itu segera menyelinap keluar dari cengkeraman tangannya, ternyata seekor ikan kecil.

Begitu dia membalikkan badan, kembali diliharnya seekor ikan besar sedang bergerak mendekat.

Anehnya, ikan besar itu mulai menggapai ke arahnya.

Ikan tak mungkin punya tangan, manusia beru memiliki sepasang tangan.

Toan Giok memiliki sepasang tangan.

Tapi sekarang dia tampak jauh lebih gesit daripada seekor.

Begitu membalikkan tubuh, ia sudah melesat jauh sekali dari posisi semula.

Sambil mengigigit bibir, sekuat tenaga Hoa Hoa-hong mengejar dari belakang, namun sayang, bagaimana pun dia mencoba, ternyata tetap gagal menyusulnya.

Sejak kecil gadis ini hidup di wilayah Kanglam.

Sudah sejak dulu, ia suka bermain air, tapi kenyataannya sekarang, seekor itik ternyata tak mampu mengejar seekor ayam dalam air.

Kenyataan ini betul-betul membuatnya tak puas.

Dasar perahu yang begitu banyak, terlihat bagaikan wuwungan rumah yang berlapis-lapis dari bawah air.

Dia seakan sedang berlarian di antara wuwungan rumah, perasaannya sekarang tak jauh berbeda dengan perasaan di kale ia sedang berkejaran dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Hanya satu yang berbeda, paling tidak ia butuh tempat untuk berganti napas, sebab bagaimana pun juga dia bukanlah seekor ikan.

Toan Giok pun bukan seekor ikan.

Ketika berenang kian kemari, tiba-tiba ia mengeluarkan dua batang gelugu dari sakunya, ujung sini dikulum di mulut dan ujung yang lain muncul di atas permukaan untuk menghirup udara, lalu menyerahkan sisa yang satu ke arah Hoa Hoa-hong.

Dengan menggunakan batang gelugu itulah Hoa Hoa-hong menarik napas panjang.

Sekarang dia baru tahu, ternyata hal yang paling membahagiakan bagi seorang manusia adalah hidup bebas di dunia dan menarik napas sebanyak-banyaknya.

Karena bisa hidup dalam udara babas merupakan satu hal yang beruntung, karena itu sudah seharusnya merasa puas.

Dalam kehidupan manusia sebenarnya banyak terdapat pelajaran yang berharga, tapi seringkali pelajaran itu baru kau pahami bila suatu ketika kau telah mengalami kejadian yang paling menyiksa.

Di atas telaga Se-ouw alam mau pun benda yang ada di sekitamya indah bagaikan lukisan.

Hampir setiap orang mengetahui akan hal ini, tapi orang-orang yang berada di balik keindahan bukan saja sulit dipandang.

Bahkan jauh lebih keruh daripada dasar telaga dan hal ini jarang diketahui orang.

Orang yang bisa mengetahui semua keindahan itu tak bisa dibilang mereka beruntung, sebaliknya justru karena mereka sedang sial.

Walaupun pengalaman pahit semacam ini sesungguhnya memang sulit dijumpai.

Ada begitu banyak manusia yang berpesiar di telaga Se¬ouw, namun ada berapa banyak di antara mereka yang pernah terjun ke dasar telaga?

Mereka menyelam dan berenang menjauhi tempat semula.

Setiap kali berganti napas, bayangan dasar perahu yang tampak makin lama semakin sedikit jelas mereka telah tiba di sebuah tempat yang terpencil.

Saat itulah Toan Giok baru berenang naik ke atas dan muncul dari permukaan air.

Hoa Hoa-hong segera mengikut di belakangnya, ikut muncul di atas permukaan, kemudian dengan sepasang matanya yang besar, dia mengawasi wajah pemuda itu tanpa berkedip.

Toan Giok masih tersenyum, ia menarik napas panjang, seolah saat itu merasa gembira sekali.

Hoa Hoa-hong tak kuasa menahan diri, sambil menggigit bibir, tegurnya.

"Kau masih bisa tertawa?"

"Asal manusia masih hidup, dia tentu bisa tertawa. Asal masih bisa tertawa, seharusnya banyaklah tertawa."

"Aku hanya heran, mengapa kau belum juga mati tenggelam?"

Sumpah Hoa Hoa-hong. Toan Giok hanya menatapnya tiba-tiba tidak bersuara lagi. Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi.

"Sudah jelas kau adalah seekor ayam, kenapa secara tiba-tiba pandai berenang?"

Dari logat bicaranya, dia seolah berharap Toan Giok paling tidak harus tenggelam dan setengah mampus, kemudian memberi kesempatan kepadanya untuk datang menolong.

Namun kenyataan Toan Giok tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menunjukkan kebolehannya.

Oleh sebab itu dia merasa sangat marah.

Toan Giok masih menatapnya lekat-lekat tanpa bicara.

"Hey, kenapa kau terus menatap aku?"

Teriak Hoa Hoa-¬hong dengan suara lantang.

"Kau anggap mukaku penuh bisul?"

Toan Giok tertawa, ujarnya sambil tersenyum.

"Aku hanya secara tiba-tiba berpendapat, seharusnya kau berada dalam air lebih lama lagi."

"Kenapa?"

Tak tahan Hoa Hoa-hong bertanya.

"Sebab sewaktu berada dalam air, kau kelihatan amat cantik dan menarik."

Dia tahu Hoa Hoa-hang pasti tak paham dengan maksudnya, maka kembali ia menjelaskan.

"Sewaktu berada dalam air, matamu masih tetap nampak sangat besar, tapi sayang tak mampu buka mulut."

Mungkin di sinilah satu-satunya bagian yang paling menyenangkan bagi seekor ikan jantan ketimbang kaum lelaki.

Sekalipun ikan betina bisa buka mulut pun, hal itu dilakukan untuk bernapas dan bukan untuk banyak bicara.

Oleh sebab itulah sekali lagi Toan Giek menyelam ke dalam air.

la tahu Hoa Hoa-hong pasti tak akan mengampuninya, berada dalam air jauh lebih aman baginya.

Kini Hoa Hoa-hong mau bicara pun, dia tak bakal mendengarnya lagi.

Tapi sayang dia bukanlah seekor ikan, cepat atau lambat harus muncul juga di atas permukaan.

Sambil menggigit bibir Hoa Hoa-hong menunggu di atas, menunggu sampai pemuda itu muncul lagi di atas permukaan.

Siapa tahu, walau sudah ditunggu setengah hari pun belum Nampak juga dia muncul.

"Jangan-jangan bocah keparat itu mendadak kejang otot hingga tak mampu muncul di atas permukaan?"

Pada dasamya Hoa Hoa-hong memang seorang gadis yang tak sabaran, tak tahan ia menyelam kembali ke dalam air, kali ini dengan cepat ia berhasil menemukan Toan Giok.

Saat itu dia sedang menarik segumpal rumput air dengan sekuat tenaga, menariknya dari dasar telaga yang berlumpur.

Andaikata waktu itu mereka berada di atas permukaan, Hoa Hoa-hong pasti tak akan mengabaikan kesempatan baik ini.

"Sinting".

"Idiot".

"Goblok"

Atau kata sebangsanya pasti sudah menerocos keluar dari mululnya.

Untung tempat itu adalah di bawah air, oleh sebab itu dia hanya bisa mengawasinya.

Tiba-tiba ia menemukan benda yang sedang dibetotnya bukan segumpal rumput air, melainkan sebuah peti.

Lumpur maupun rumput air yang semula menempel di alas peti itu, kini sudah dibersihkan dari tempatnya.

Peti itu terlihat masih sangat baru, bahan kayu pun berkualitas tinggi, malah bagian atasnya dilapisi tembaga kuning.

Tembaga kuning itu pun masih tampak baru.

Hal ini membuktikan kalau benda itu belum lama ditenggetamkan dalam air.

Siapa pun yang telah melihat benda itu, pasti tahu kalau peti itu tak mungkin berisikan pakaian rombeng atau benda tak berharga lainnya.

Peti berharga semacam ini kenapa bisa ditenggelamkan ke dasar telaga?

Mengapa tak ada orang yang mengambilnya?

Hoa Hoa-hung segera membantu Toan Giok menyeret keluar peti itu.

Sesungguhnya dia memang terhitung seorang gadis yang besar rasa ingin tahunya.

Menjumpai kejadian semacam ini, tentu saja dia tak akan melepaskan peluang itu begitu saja.

Apa isi peti itu?

Apakah menyimpan sebuah rahasia yang sangat besar?

Bila ada orang melarangnya membuka peti itu, aneh bila dia tidak mengajak orang itu beradu jiwa *** Jarak tempat itu dengan tepi telaga sangat dekat, tak lama kemudian mereka telah menyeret peti it naik ke daratan.

Saat itulah Hoa Hoa-hong baru bisa menghembuskan napas lega, keluhnya.

"Peti itu berat sekali."

"Benar, memang tak enteng."

"Jadi peti ini pasti bukan peti kosong."

Toan Giok kembali mengangguk.

"Menurut dugaanmu, apa isi peti ini?"

Tanya Hon Hoa-hong lagi. Toan Giok segera tertawa.

"Aku tidak memiliki mata sakti yang bisa melihat sejauh seribu li, kecerdasanku pun tak bisa melampaui Cukat Liang."

"Kalau begitu, kenapa kau tidak segera membukanya?"

Desak Hoa Hoa-hong sambil mengedipkan matanya.

"Kenapa mesti terburu napsu? Peti ini kan tak bakal kabur dari sini."

"Apalagi yang kau nantikan?"

Hoa Hoa-hong semakin tak sabar.

"Paling tidak, tunggulah kita mencari tempat untuk berganti pakaian,"

Sahut Toan Giok sambil tertawa.

Belum habis dia berkata paras muka Hoa Hoa-hong telah berubah jadi merah padam.

Akhirnya dia pun dapat melihat keadaan dirinya saat itu.

Bila pakaian yang dikenakan seorang wanita tak lebih hanya sebuah baju yang sangat tips dan pakaian itu basah kuyup, maka keadaannya saat ini pastilah tak sesuai untuk tampil di hadapan seorang lelaki.

Apa mau dikata saat itu Toan Giok justru sedang mengamatinya, bagian tubuh yang sedang ia perhatikan pun kebetulan bagian-bagian yang tidak seharusnya terlihat orang lain.

Pikiran pertama yang terlintas dalam benaknya adalah secepat mungkin terjun kembali ke dalam air, pikiran kedua adalah mencongkel keluar sepasang mata bandit Toan Giok.

Tentu saja hal itu pun hanya berada dalam pikirannya saja.

Seluruh tubuhnya terasa mulai lemas dan kaku, lantaran tatapan mata pemuda itu.

Dalam keadaan begini, dia paling hanya bisa bersembunyi di belakang peti itu.

Dengan wajah bersemu merah, umpatnya lirih.

"Eh, sepasang mata banditmu memang tak bisa memandang ke arah lain?"

Ternyata tempat itu adalah sebuah tempat yang sangat indah, bahkan Toan Giok sendiri pun tidak menyangka di tengah hutan yang begitu sunyi ternyata terdapat sebuah rumah kecil yang sangat indah dan menawan.

Rumah itu biar pun kecil namun tak kalah indah dan mewahnya daripada rumah kecil yang pernah dia datangi bersama Hoa Ya-lay semalam.

Hanya kali ini bukan Hoa Ya-lay yang mengajaknya ke sana, melainkan Hoa Hoa-hong, kelihatannya kaum wanita selalu memiliki lebih banyak akal daripada kaum lelaki.

Saat ini Hoa Hoa-hong sedang berganti pakaian di dalam.

Hoa Hoa-hong belum mulai berganti pakaian.

Walaupun pakaiannya yang basah telah ditanggalkan, namun ia masih berdiri termangu-mangu di sana, termangu-mangu sambil mengawasi bentuk tubuh sendiri.

Di hadapannya persis terdapat sebuah cermin yang besar sekali.

Di depan cermin itulah ia berdiri, berdiri sambil memandang bentuk tubuh sendiri.

Kini dia sudah bukan lagi seocang anak-anak.

Dada dengan payudara yang montok dan kenyal, pinggang yang ramping, sepasang paha yang mulus dan halus disertai kulit badan yang begitu mulus dan lembut bagaikan kain sutera.

Bahkan dia sendiri pun sulit untuk menemukan cacat atau kotoran yang melekat di badannya, jangankan orang lain, bahkan dia sendiri pun terkadang terangsang setiap kali memandang bentuk tubuh sendiri.

Bagaimanakah perasaan Toan Giok bila menyaksikan tubuhnya yang bugil?

Tangan Hoa Hoa-hong mulai bergerak.

Dengan lembut, dengan halus dan perlahan ia mulai meraba payudara sendiri, lalu meraba pinggangnya, terus turun ke bawah, meraba perut sendiri… semakin ke bawah kemudian...

kemudian..

Daun jendela berada dalam keadaan tertutup, tirai bambu pun tertutup hingga ke bawah.

Tiba-tiba saja gadis itu merasakan sekujur badannya mulai panas, rasa panas yang aneh, rasa panas yang cepat menjalar ke seluruh tubuhnya.

Tahun ini dia baru tujuh belas tahun.

Bukankah usia tujuh belas merupakan usia yang paling aneh, paling indah dan paling sensitif sepanjang hidup manusia?

Akhirnya Hoa Hoa-hong selesai berganti pakaian, ia keluar dari dalam kamar.

Kini dia mengenakan sebuah gaun panjang berwarna hijau apel, potongan mau pun jahitannya sangat pas dengan bentuk tubuhnya dan kebetulan semakin menonjolkan bentuk kematangan tubuh seorang gadis yang telah berusia tujuh belas tahun.

Pakaian yang dikenakan merupakan mode mutakhir dari kaum gadis muda saat itu, kulit tubuhnya yang memang halus dan lembut, kini dibedaki sedikit pupur yang amat tipis.

Bag 6.

Orang dalam peti dari dasar telaga Tentu saja tampilannya saat ini jauh lebih menawan, jauh lebih mempesona dan jelas jauh lebih menarik daripada sewaktu ia berdandan sebagai lelaki.

Kalau dilihat dari gayanya, mungkin dia memang sengaja berdandan untuk diperlihatkan kepada Toan Giok.

Siapa bilang perempuan bukan berdandan untuk dinikmati kaum lelaki?

Kalau ada yang menentang ungkapan ini, sudah pasti orang itu sangat tidak memahami jalan pikiran kaum wanita.

Kenyataan, setiap wanita pasti berdandan secantik mungkin karena ingin diperlihatkan kepada kaum lelaki yang menyukai dan mencintainya.

Tapi sayang Toan Giok justru tidak memandang ke arahnya, melirik sekejap pun tidak.

Ia sedang mengamati peti itu.

Peti yang terbuat dari kayu jati kualitas tinggi, dilapisi tembaga kuning, kunci pun terbuat dari tembaga kuning.

Peti itu sangat kokoh, begitu juga dengan kuncinya, tampaknya tidak mudah bagi siapa pun untuk membukanya.

Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu gumamnya.

"Sebelum ini, pernahkah kau menyaksikan peti semacam ini?"

"Belum pernah!"

"Aku pernah melihatnya, peti semacam ini biasanya dipakai keluarga kaya untuk menyimpan perhiasan, intan permata atau lukisan dan barang berharga lainnya."

Oh ...."

"Oleh karena itu biasanya peti semacam ini disimpan secara hati-hati dan penuh rahasia. Mengapa sekarang bisa ditemukan di dasar telaga?"

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong tertawa dingin, ejeknya.

"Siapa tahu isi peti itu hanya sesosok mayat. Lebih baik jangan bermimpi di siang hari bolong, mengharapkan harta-karun milik orang lain."

Sudah berapa kali ia berjalan mondar-mandir di hadapan Toan Giok, namun jangankan katakata pujian, mendongakkan kepala untuk menengok sekejap ke arahnya pun tidak.

Ia betul-betul naik darah, marah bercampur mendongkol.

Dalam pada itu, setelah termenung beberapa saat Toan Giok kembali berkata sambil tertawa.

"Betul juga perkataanmu. Bisa jadi isi peti ini benar-benar adalah manusia, tapi pasti manusia hidup, bukan orang mati."

"Hm, lagi-lagi kau sedang bermimpi,"

Sekali lagi Hoa Hoa-hong mengejek sambil tertawa dingin. Terdengar Toan Giok berkata lebih lanjut.

"Dulu, aku pernah mendengar sebuah kisah yang amat menarik."

Tiba-tiba ia membungkam dan tidak berbicara lagi.

Seandainya dia melanjutkan ceritanya, mungkin saja Hoa Hoa-hong tak akan mendengarkan, atau paling tidak akan berlagak tidak mendengarkan.

Tapi sekarang, setelah ia tidak melanjutkan kisahnya, Hoa Hoa-hong malah tak tahan, tanyanya.

"Kisah apa?"

"Cerita yang berhubungan dengan peti."

"Peti macam apa?"

"Peti yang bentuknya tak jauh berbeda dengan peti ini"

"Kalau akan diceritakan, cepat katakan,"

Tak tahan Hoa HoaHoa hong berteriak. Kini Toan Giok baru tertawa, ceritanya.

"Konon dahulu ada seorang pemburu muda pintar dan pemberani, suatu hari dia berhasil menangkap seekor beruang dengan perangkapnya dan bersama rekan-tekannya mengikat beruang itu dengan tali dan siap dibawa pulang ke rumah, tiba-tiba dari balik semak belukar dalam perjalanan pulangnya, menemukan sebuah peti besar."

"Apakah petinya seperti peti ini?"

Tanya Hoa Hoa-hong.

"Peti itu jauh lebih besar. Tentu saja pemburu muda itu keheranan, mengapa peti semacam ini bisa dibuang di tengah semak belukar?"

"Maka dia pun ingin membuka peti itu dan memeriksa isinya?"

Tanya Hoa Hoa-hong.

"Betul."

"Apa isi peti itu?"

"Seorang wanita yang masih muda dan cantik sekali,"

Jawab Toan Giok sambil tertawa. Hoa Hoa-hong tertawa dingin, katanya menggeleng kepala.

"Aku tak percaya, mana ada perempuan masuk ke dalam peti besar?"

"Sebetulnya pemburu itu pun heran, maka ditunggunya hingga nona itu tersadar kembali, dia pun segera bertanya."

"Apa jawaban nona itu?"

"Ternyata dia adalah putri seorang hartawan kaya, keluarganya dirampok habis-habisan oleh sekawanan begal, seluruh anggota keluarganya mati terbunuh."

"Lantas darimana ia bisa lobos dari terkaman mulut harimau?"

"Dia sendiri pun tidak lolos dari ancaman bahaya, ternyata pentolan begal itu ada dua orang, mereka adalah dua orang Hwesio. Kedua orang ini jatuh hati pada kecantikannya, maka sengaja mereka menyembunyikan nona itu ke dalam peti dan hendak dibawa pulang."

"Kalau memang mereka tidak bermaksud baik, mengapa pula meninggalkan peti itu di pinggir jalan?"

"Tempat itu sebetulnya hutan yang sepi dan jauh dari keramaian manusia. Untuk menghindari pengawasan orang banyak, sengaja peti itu disembunyikan di sana. Seandainya ada dua orang Hwesio menempuh perjalanan sambil menggotong sebuah peti besar, tingkah laku mereka pasti akan dicurigai orang banyak, bukan?"

"Oh, jadi mereka pun tidak menyangka bakal ada orang yang pergi ke tempat terpencil itu?"

Tanya Hoa Hoa-hong. Toan Giok manggut-manggut.

"Bagaimana kemudian?"

Tanya si nona.

"Tentu saja kawanan pemburu itu merasa terharu dan setelah mendengar cerita nona itu, maka mereka pun menolongnya keluar dari dalam peti dan memasukkan beruang yang baru saja ditangkap itu ke dalam peti."

Setelah tersenyum, lanjutnya.

"Sudah kukatakan tadi, peti itu jauh lebih besar dari peti yang ada di hadapan kita sekarang."

Tak tahan Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap peti di hadapannya, kemudian berkata.

"Peti ini pun tidak terhitung kecil"

"Memang tidak kecil, jika dipakai untuk memasukkan seseorang, rasanya hal ini pun tidak terlalu sulit."

"Kau belum menyelesaikan ceritamu,"

Kata Hoa Hoa hong.

"Karena merasa berterima kasih kepada sang pemburu yang telah menyelamatkan jiwanya, nona kaya itu pun kawin dengannya."

"Ah, belum tentu begitu,"

Sindir Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin.

"Mungkin saja dia terpaksa kawin dengannya karena memang tak ada tempat lagi yang bisa dia tuju."

"Mungkin pendapatmu benar, aku hanya tahu dia benar-benar menikah dengan pemburu itu."

"Bagaimana dengan kedua orang Hwesio itu?"

"Sejak itu mereka tak pernah melihat lagi kedua Hwesio iyu hanya saja dari dalam kota tersiar sebuah berita aneh."

"Berita aneh apa?"

"Hari itu di sebuah rumah penginapan terbesar di kota itu kedatangan dua orang tamu, mereka memakai baju baru, mengenakan topi baru, tapi anehnya kedua orang itu membawa sebuah peti yang besar sekali."

"Peti itu yang dibawa?"

Toan Giok tidak menjawab, hanya lanjutnya.

"Mereka memesan kamar yang paling besar, minta hidangan paling lezat, kemudian mengunci pintu dari dalam. Sebelum itu mereka berpesan kepada para pelayan penginapan, meski mendengar suara apa pun, tak ada yang boleh pergi mengganggu mereka"

"Kedua orang Hwesio bajingan itu benar-benar bukan manusia baik-baik,"

Sumpah Hoa Hoahong gemas.

"Kemudian, benar saja, para pelayan mendengar suara yang sangat aneh berkumandang dari dalam kamar, sekalipun mereka tak berani bertanya, namun tak urung ingin memeriksa juga apa gerangan yang telah terjadi."

"Apa yang mereka saksikan?"

"Tidak lama mereka menunggu, tahu-tahu terlihat ada seekor beruang besar menerjang keluar dari kamar, mulutnya masih dipenuhi noda darah. Menanti beruang itu kabur jauh, baru berani masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan."

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya.

"Waktu itu keadaan ruangan porak-poranda tak keruan, bahkan terlihat kedua orang Hwesio itu mati secara mengenaskan dalam kamar itu. Sewaktu mati, wajah mereka mengunjuk perasaan kaget, ngeri, seram dan ketakutan yang luar biasa."

Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa geli, serunya "Tentu saja mimpi pun mereka tak menyangka kalau perempuan cantik dalam peti tiba-tiba berubah jadi beruang besar."

Toan Giok ikut tertawa.

"Buat orang lain, tentu mereka tak pernah bisa menduga mengapa ada seekor beruang bisa bersembunyi dalam peti besar Oleh karena itu peristiwa ini menjadi kasus besar yang diliputi misteri, hanya sepasang muda-mudi pemburu yang kini telah menjadi suami-istri yang tahu akan rahasia itu sebenarnya."

Setelah tertawa, kembali ujarnya.

"Mereka menyimpan rahasia itu rapat-rapat dan hidup bahagia hingga hari tua bahkan kehidupan mereka amat kaya dan berkecukupan, sebab harta yang dirampok Hwesio itu disembunyikan juga dalam peti."

Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi wajah Hoa Hoa-hong, pujinya.

"Ceritamu memang sangat menarik."

"Justru karena itu hingga sekarang aku tidak pernah melupakannya,"

Sambung Toan Giok.

"Apakah kau sangat mengagumi pengalaman yang dialami pemburu muda itu?"

Tanya Hoa Hoahong sambil melirik sekejap ke arahnya.

"Ai, siapa tak iri dengan pengalaman yang dialaminya?"

Toan Giok sambil menghela napas. Mendadak paras muka Hoa Hoa-hong berubah hebat. Sambil cemberut, teriaknya ketus.

"Jadi kau pun berharap isi peti itu pun seorang wanita cantik yang kaya-raya?"

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa sangat riang. Kembali Hoa Hoa-hong melotot, katanya sambil tertawa dingin.

"Darimana kau tahu kalau isi peti ini adalah perempuan cantik, bukannya beruang pemangsa manusia?"

"Karena hanya orang jahat yang akan memperoleh pcmbalasan yang setimpal. Ketika cerita ini disampaikan kepadau dulu, orang itu pun berharap agar aku tidak melakukan perbuatan jahat."

"Kau tak pernah melakukan perbuatan jahat?"

Toan Giok manggut-manggut sambil tertawa.

"Oleh sebab itulah isi peti ini sudah pasti bukan seekor beruang besar."

"Dan tak mungkin seorang wanita cantik."

"Kenapa?"

Sengaja Toan Giok bertanya.

"Karena tak mungkin di dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan, lagi pula kisah itu hanya cerita karanganmu sendiri. Oleh karena baru saja kau menderita kerugian di tangan Hwesio, maka kau mengatakan Hwesio itu bandit."

"Kau keliru besar,"

Kata Toan Giok serius.

"Cerita ini tidak bohong, tapi tercantum dalam kumpulan cerita Se-yang-ca-cu buah karya Toan Seng-si. Inti cerita itu adalah siapa berbuat baik dia akan menuai kebaikan, siapa berbuat jahat dia akan menuai kejahatan. Oleh karena itu hidup sebagai manusia di dunia ini, lebih baik janganlah berbuat jahat."

Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arahnya, tapi tak tahan katanya juga sambil tertawa.

"Terlepas apa pun yang akan kau katakan, aku tetap tak percaya kalau ada orang dimasukkan dalam peti ...."

Ucapan itu tidak dilanjutkan lebih jauh, karena pada saat itulah tiba-tiba dari dalam peti berkumandang semacam suara yang sangat aneh, seperti ada orang sedang merintih dari dalam peti besar itu.

Tak salah lagi, ternyata isi peti itu benar-benar seorang manusia, bahkan seorang manusia hidup.

Hoa Hoa-hong mengawasi peti itu dengan mata terbelalak lebar, seakan melihat setan di siang hari bolong, tertegun, terperangah dan ngeri.

Begitu juga Toan Giok, ia merasa amat terperanjat.

Sekalipun dia percaya bahwa peristiwa semacam itu bisa terjadi di dunia ini, namun tak pernah menyangka dia akan mengalami sendiri kejadian seperti itu.

Beberapa saat kembali sudah lewat, namun suara itu masih berkumandang tiada hentinya.

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong berkata.

"Kau yang menemukan peti itu, bukan?"

Terpaksa Toan Giok mengangguk.

"Jadi kaulah yang seharusnya membuka tutup peti itu,"

Hoa Hoa-hong menambahkan. Toan Giok menghela napas panjang dan tertawa getir, jawabnya cepat.

"Tentu saja aku tak akan membuangnya lagi ke dalam air."

"Mengapa hingga sekarang kau belum turun tangan?"

"Kunci ini sangat besar, belum tentu aku sanggup membukanya,"

Kata Toan Giok sambil berkerut kening.

"Kau pasti bisa membukanya, aku tahu kepandaianmu luar biasa."

"Bagaimana dengan kau sendiri? Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak turun tangan sendiri?"

"Tentu saja tidak, aku kan seorang wanita."

Tampaknya hingga sekarang dia baru teringat kalau dirinya adalah seorang wanita.

Bila seorang wanita tak ingin melakukan suatu pekerjaan, biasanya dengan cepat dia akan teringat hal ini.

Dan alasan itu, kebetulan merupakan alasan yang tak bisa disangkal lelaki mana pun.

Oleh sebab itu terpaksa Toan Giok harus turun tangan sendiri membuka peti besar itu.

Cepat Hoa Hoa-hong membalikkan tubuh memandang ke arah lain.

Bukan saja dia enggan membantu, melihat pun tak mau, seolah-olah takut bila makhluk yang melompat keluar dari dalam peti adalah setan hidup berwajah seram.

"Tring!" , akhirnya Toan Giok berhasil mematahkan kunci tembaga dan membuka peti itu. Hoa Hoa-hong menunggu beberapa saat lamanya, ketika mendengar sesuatu gerak-gerik, tak tahan tanyanya.

"Apakah isi peti itu benar-benar manusia?"

"Ehm!"

"Manusia hidup?"

"Ehm!"

"Tua atau muda?"

Tanya Hoa Hoa-hong lagi sambil menggigit bibir.

"Muda."

Kembali Hoa Hoa-hong menggigit bibir, tapi akhirnya tak tahan ia bertanya lagi.

"Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki."

Kini Hoa Hoa-hong baru menghembuskan napas lega, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya.

Dia lebih rela isi peti itu adalah seekor beruang besar daripada seorang gadis muda.

Ada orang bilang, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah ular.

Ada juga yang mengatakan, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah tikus.

Padahal makhluk apakah yang sebenarnya paling dibenci kaum wanita?

Wanita!

Makhluk yang paling dibenci perempuan sesungguhnya adalah perempuan lain.

Apalagi wanita itu adalah seorang perempuan yang mungkin bisa menjadi musuh cintanya, terlebih seorang wanita yang jauh lebih cantik daripada diri sendiri.

Orang yang berada dalam peti itu bukan hanya masih muda, bahkan tampan.

Hanya sayang paras mukanya pucat-pias menakutkan, pakaian yang dikenakan pun hanya pakaian dalam yang tipis sehingga tampang dan keadaannya terlihat sangat mengenaskan.

Dia merintih tiada hentinya, sementara sepasang matanya masih terpejam rapat, agaknya belum sadar, Baru saja Hoa Hoa-hong membalikkan badan, ia sudah mengendus bau arak yang kental, tak tahan serunya sambil berkerut kening.

"Ternyata orang ini pun seorang setan arak."

"Tapi arak yang masuk ke dalam perutnya pasti tidak sebanyak arak yang tertuang di pakaiannya."

Benar saja, pakaian dalam yang dikenakan orang itu terendus bau arak yang sangat kuat.

"Kalau dia tidak mabuk, mengapa belum juga sadar?"

Tanya Hoa Hoa-hong. Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu sahutnya.

"Aku rasa dia sudah terkena bubuk pemabuk atau obat pelupa diri dan sebangsanya hingga tak sadarkan diri, bahkan kadar yang merasuk ke dalam tubuhnya tidak terhitung ringan."

"Maksudmu dia dibuat mabuk dan tak sadarkan diri lebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam peti?"

"Siapa pun orangnya, tak mungkin ada yang bersedia dimasukkan ke dalam peti secara sukarela."

Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap paras mukanya yang pucat-pias, tiba-tiba katanya sambil tertawa.

"Jangan¬ jangan dua orang Nikoh yang memasukkan orang ini ke dalam peti?"

Toan Giok segera mengedipkan matanya berulang kali, balasnya.

"Aku rasa dia pasti sudah kehilangan tempat tinggal dan tak tahu kemana harus pergi. Apa salahnya kalau kau ambil dia sebagai calon suami?"

Kontan saja paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi cemberut, teriaknya ketus.

"Terima kasih banyak, idemu memang sangat bagus. Tak nyana kau bisa memikirkannya untukku."

Toan Giok kembali tertawa, tampaknya ia merasa sedikit lebih lega. Dengan gemas, Hoa Hoa-hong melotot ke arahnya. Setelah tertawa dingin, kembali ujarnya.

"Kau benar-benar takut aku tak mendapat jodoh?"

"Aneh, masa hanya boleh kau yang mengejek diriku, sementara aku tak boleh mengejekmu?"

"Tidak, pokoknya kau tak boleh!"

"Ai ...."

Toan Giok menghela napas panjang.

"Padahal anak muda ini tampaknya lumayan juga, belum tentu dia tak pantas mendampingimu."

"Ai ...."

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas.

"Sayangnya orang ini pun berpenyakit persis seperti kau."

"Penyakit apa?"

"Penyakit goblok!"

Setelah tertawa nyengir, tambahnya.

"Kalau dia tidak mengidap penyakit goblok, kenapa bisa dimasukkan orang ke da lam peti!"

Untuk kesekian kalinya Toan Giok menghela napas panjang.

Kali ini dia benar-benar menghela napas.

Sekarang dia memang mempunyai perasaan begitu, merasa seolah dia sendiri yang dimasukkan ke dalam peti, bahkan dengan cepatnya peti itu tenggelam ke dasar telaga.

Yang paling menyakitkan adalah hingga sekarang dia masih belum tahu siapakah orang yang telah memasukkan dirinya ke dalam peti itu.

Berputar sepasang biji mata Hoa Hoa-hong.

Sesaat kemudian kembali ujarnya.

"Menurut kau, kenapa ia bisa dimasukkan ke dalam peti?"

Toan Giok hanya bisa menghela napas, ia menggeleng kepala berulang kali.

"Entah apakah dia sama seperti dirimu? Apa pun yang dikatakan orang lain, ia tetap tak percaya,"

Kata Hoa Hoa-hong lagi. Toan Giok hanya tertawa getir, tidak menjawab.

"Tampaknya pasti ada orang ingin merampas hartanya dan menghilangkan nyawanya,"

Ujar Hoa Hoa-hong lebih jauh.

"0, ya?"

"Setelah merampas hartanya dan mencabut nyawanya, kemudian ingin melenyapkan semua bukti."

"Kalau dilihat dari pakaian dalam yang dikenakan orang ini, tampaknya dia memang berasal dari keluarga kaya, tidak sembarangan orang bisa mengenakan pakaian semacam itu."

"Ai, sungguh tak disangka di seputar telaga Se-ouw pun terdapat bandit seganas ini. Setelah dia sadar nanti, kita harus bertanya kepadanya, ada dimana bandit-bandit jahanam itu."

Hoa Hoa-hong tak perlu menunggu terlalu lama, orang itu telah tersadar kembali.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan dirinya berada di suatu tempat yang amat asing, ia tampak kaget dan terperangah.

Dengan cepat orang itu berhasil menenangkan hatinya.

Bila berganti orang lain, tatkala tersadar kembali dalam keadaan seperti ini, pasti ada banyak pertanyaan yang akan dia ajukan kepada Toan Giok berdua.

Tapi orang itu tidak buka suara, sepatah kata pertanyaan pun tidak diajukan, bahkan ungkapan rasa "terima kasih"

Pun tak ada. Orang lain telah menyelamatkan jiwanya, tapi dia malah menganggap orang lain terlalu banyak urusan. Hoa Hoa-hong tak bisa menahan sabar lagi, segera tegurnya.

"Tahukah kau kenapa bisa sampai di tempat ini?"

Orang itu memandangnya sekejap, lalu menggeleng kepala berulang kali.

"Kau berhasil kami keluarkan dari dalam sebuah peti, sebelumnya peti itu berada di dasar telaga."

Bila berganti orang lain yang mengetahui dirinya berada dalam sebuah peti, ia pasti akan sangat terperanjat. Tapi orang itu sama sekali tak bereaksi, mengedipkan matanya pun tidak.

"Kenapa kau bisa dimasukkan ke dalam peti? Apakah ada orang ingin mencelakaimu?"

Desak Hoa Hoa-hong. Orang itu masih tetap tutup mulut, tapi kali ini sinar matanya dialihkan ke wajah Toan Giok.

"Orang yang sedang kau pandang saat ini she Toan bernama Giok,"

Kembali Hoa Hoa-hong berkata.

"Dia adalah seorang jagoan berilmu tinggi. Bila kau beritahu kepadanya siapa yang telah mencelakaimu, pasti dia akan membantumu membalas dendam."

Bukan saja orang itu tetap rnenutup mulut, bahkan wpasang matanya ikut dipejamkan.

"He, apa kau bisu?"

Tak tahan Hoa Hoa-hong berteriak.

Orang ini bukan saja mirip orang bisu, bahkan tuli pula.

Hoa Hoa-hong benar-benar kehabisan daya.

Sambil menghela napas dia berpaling ke arah Toan Giok, lalu ujarnya sambil tertawa getir.

"Ternyata kita keliru."

"Bagian mana yang keliru?"

"Kelihatannya orang itu seperti secara sukarela masuk ke dalam peti itu. Buat apa kita mesti membuang banyak pikiran dan tenaga untuk menyelamatkan jiwanya?"

"Seandainya aku sendiri yang baru dikeluarkan dari dalam sebuah peti, mungkin aku pun tak berminat untuk banyak bicara,"

Sahut Toan Giok sambil tertawa.

"Tapi kalau apa pun tak mau dia ucapkan, mana mungkin kita bisa membantunya membalas dendam?"

"Ada sejenis orang, bila ingin menuntut balas kepada seseorang, dia akan pergi sendiri dan tak sudi minta bantuan orang lain."

Kontan Hoa Hoa-hong tertawa dingin.

"Hm, aku tahu, memang banyak lelaki yang mempunyai watak bau seperti itu,"

Jengeknya. Mendadak orang itu membuka mata, memandang gadis itu sekejap dan akhirnya buka suara.

"Terima kasih!"

Hingga kini dia hanya mengucapkan dua patah kata itu, seakan bukan berterima kasih karena Toan Giok yang telah menyelamatkan jiwanya, melainkan karena pemuda itu telah mengungkap suara hatinya.

Bcgitu selesai mengucapkan perkataan itu, dia pun segera berdiri dan siap beranjak pergi.

"Sekarang juga kau akan pergi?"

Tegur Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

Orang itu manggut-manggut, tapi baru berjalan selangkah, tiba-tiba wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah tubuhnya tertusuk jarum tajam secara tiba¬tiba.

Menyusul tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.

Kini Toan Giok baru tahu kalau bahu belakangnya basah oleh darah.

"Kau terluka?' jerit Hoa Hoa-hong. Orang itu tidak menjawab, kembali dia meronta untuk bangkit, tapi sekali lagi roboh terungkal. Begitu roboh kali ini, dia tak sadarkan diri. Ternyata tubuhnya memang terluka. Mulut luka berada di bahu bagian belakang, besarnya hanya semata jarum, tapi seluruh bahu sudah berubah hijau kehitam-hitaman dan membengkak. Jelas ia sudah terkena senjata rahasia beracun yang lembut dan tajam, kemungkinan besar ia dibokong dari belakang.

"Wah, tampaknya senjata rahasia itu beracun,"

Seru Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

"Bukan hanya beracun, bahkan racunnya sangat lihai."

"Apakah masih ada harapan untuk ditolong?"

Toan Giok tertawa.

"Walaupun aku tidak ahli dalam urusan membunuh, tapi menolong orang adalah ahlinya."

Sambil tersenyum dia menggulung lengan baju sendiri, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Kau cukup membantu aku memanaskan sepoci arak kualitas baik, kujamin akan kubuat dia menjadi manusia hidup lagi."

Hoa Hoa-hong melirik sekejap ke arahnya dengan sorot mata ragu dan penuh curiga, gumamnya.

"Jangan-jangan orang ini sedang menipu arakku?"

Ternyata Toan Giok tidak sedang menipu araknya, dia pun tidak mengibul atau omong besar, anak muda ini benar¬benar memiliki kepandaian yang luar biasa.

Mula-mula dia menghirup arak seteguk, lalu arak itu disemburkan ke atas mulut luka orang itu, setelah itu dari dalam sakunya dia mengeluarkan Bi-giok-to yang berwarna hijau pupus itu dan mulai mengorek daging busuk di sekeliling mulut luka.

Menanti darah hitam yang meleleh keluar dari mulut luka itu berubah merah segar, ia baru mencampur bubuk obat ke dalam arak panas kemudian dibubuhkan di seputar luka.

Selesai semua itu, dia menghembuskan napas panjang dan berkata sambil tertawa.

"Sekarang kau tentu percaya bukan bahwa aku bukan sedang mengibul?"

"Tidak kusangka ternyata kau memang mempunyai kepandaian hebat,"

Sahut Hoa Hoa-hong sambil tersenyum.

"Bukan hanya itu saja kepandaianku, sesungguhnya aku masih memiliki kemampuan lain."

"Kau benar-benar dapat mengobati berbagai macam penyakit?"

"Hanya satu macam penyakit yang tak dapat kuobati."

"Penyakit apa?"

"Penyakit lapar."

Setelah menghela napas, lanjutnya sambil tertawa getir.

"Boleh tahu, di tempatmu ini apakah tersedia obat mujarab yang bisa dipakai untuk mengobati penyakit laparku?"

"Kau ingin makan apa?"

Tanya Hoa Hoa-hong sambil tertawa.

"Kau punya apa saja di sini?"

"Tempat ini hanya sebuah rumah kosong, mana mungkin tersedia aneka makanan?"

"Jadi seorang manusia pun tak ada?"

"Tak ada!"

"Kau sendiri tak bisa menanak nasi?"

"Tidak, tapi aku bisa pergi membeli."

Kali ini ia pun tidak omong besar, nona itu membuktikan dia memang pandai berbelanja.

Baru saja Toan Giok merebahkan orang sakit itu di dalam rumah, tak selang berapa lama Hoa Hoa-hong telah pulang membeli aneka macam bungkusan, ada bungkusan besar, ada pula bungkusan kecil.

Ketika bungkusan pertama dibuka, ternyata isinya adalah udang bago masak saus tiram.

Berkilat mata Toan Giok, serunya sambil tertawa.

"Wah, udang besar ini pasti udang masakan rumah makan Thay-hap¬ lau!"

Bungkusan kedua berisi baikut panggang.

"Kalau masakan baikut ini pasti berasal dari rumah makan Gui-goan-koan!"

Bungkusan ketiga adalah bakpao.

"Apakah bakpao ini adalah bakpao daging bikinan rumah makan Yu-it-cun?"

Seru Toan Giok. Bungkusan keempat berisi potongan daging panggang, setiap potong paling tidak tiga inci tebalnya. Sambil membasahi bibirnya dengan ludah, kata Toan Giok seraya tertawa senang.

"Kalau ini daging panggang dari rumah makan Ong-heng-seng di lorong Cing-hap-hong."

Bungkusan kelima berisi hi-wan, bakso yang terbuat dari daging ikan segar. Kembali Toan Giok memuji.

"Bakso ikan buatan Gwe-lau memang terkenal akan kegurihan dan kekenyalannya."

Bungkusan keenam berisi ca rebung.

"Ehm, kalau ini ca rebung!"

Seru Toan Giok. Mendengar ocehan pemuda itu, Hoa Hoa-hong tertawa tergelak, pujinya.

"Tak kusangka ternyata kau memang ahli makan."

"Ah, sekalipun belum pernah mencicipi daging babi, paling tidak aku pernah melihat babi berjalan."

Padahal semua hidangan itu jangankan dicicipi, melihat pun belum pernah, dia hanya pernah mendengar orang bercerita akan hal ini.

Ca rebung dari telaga Se-ouw memang amat tersohor di seantero kolong langit.

Bungkusan terakhir berisi ayam goreng dari gang Thay peng serta sebotol arak Tiok-yap-cing dari dusun Sin-hoa-cun.

Kecuali berada di telaga Se-ouw, mungkin hanya sewaktu bermimpi kau baru bisa mencicipi semua hidangan itu.

Kenyataan, rumah makan Gwe-goan-koan, Ong-huan-ji, Tek-gwe-lau dan lain-lain merupakan tempat-tempat yang sering diimpikan setiap orang.

Sementara Toan Giok masih menikmati semua hidangan itu dengan santai, mendadak Hoa Hoahong mengeluarkan selembar kertas dari dalam keranjang belanjanya, lalu dengan mengulum senyuman yang misterius tanyanya.

"Tahukah kau siapa orang yang berada dalam lukisan ini?"

Di atas kertas itu terlukis wajah seseorang, seorang pemuda tampan dengan senyuman yang manis. Di bawah lukisan itu, tertera sederet tulisan dengan huruf benar.

"Dicari. hadiah lima ribu tahil perak" . Orang yang dikenal Toan Giok memang tidak terlalu banyak, tapi dengan lukisan orang itu, dia sangat mengenalnya. Karena orang itu tak lain adalah dirinya sendiri. Ditatapnya lukisan di atas kertas itu, lalu meraba wajah sendiri, setelah tertawa getir gumamnya.

"Lukisan ini tidak terlalu mirip, gambar ini jauh lebih tampan ketimbang wajah asliku."

"Mungkin kau sendiri pun tidak menyangka bukan kalau dirimu masih laku dijual lima ribu tahil perak,"

Ejek Hoa Hoa¬ hong sambil tertawa. Toan Giok menghela napas panjang.

"Ai, entah siapa yang rela mengeluarkan uang sebesar lima ribu tahil perak hanya untuk mencari diriku?"

"Masa tak bisa kau duga?"

"Maksudmu Thiat Sui?"

"Tepat sekali!"

"Dengan orang ini aku tak punya dendam, tak punya permusuhan, aku benar-benar tak habis mengerti, mengapa dia bermusuhan dengan aku?"

"Tampaknya dia memang enggan melepas dirimu begitu saja. Pengumuman semacam ini paling tidak telah tersebar ribuan lembar di setiap pelosok kota, mungkin dalam setiap rumah makan maupun rumah penginapan telah tertempel beberapa lembar."

Kemudian setelah tertawa, kembali gadis itu melanjutkan.

"Aku yakin dalam kota Hangciu saat ini, sedikit sekali orang yang tidak mengenali wajahmu lagi."

"Ehm, lima ribu tahil perak memang tidak terhitung sedikit."

"Tentu saja tidak sedikit, demi uang lima ribu tahil perak, ada sementara orang yang rela menjual nama baik leluhurnya."

"Oleh sebab itu aku sudah tak bisa berpikir lagi cara mengatasinya."

"Sekarang pada hakikatnya kau sudah tak dapat pergi kemana pun. Sekalipun tak ada iming iming hadiah sebesar lima ribu tahil perak, pembunuh yang telah menghabisi nyawa seseorang merupakan musuh masyarakat yang dibenci setiap orang. Begitu kau keluar selangkah dari tempat ini, pasti ada orang yang segera melaporkan kemunculanmu itu kepada Thiat Sui."

Toan Giok tertawa getir sambil menggeleng kepala berulang kali, gumamnya.

"Pembunuh, aku sendiri pun tak habis pikir, kenapa secara tiba-tiba aku bisa berubah jadi pembunuh? Janganjangan ini pun termasuk nasibku?"

"Kau benar tak habis berpikir?"

Tanya Hoa Hoa-hong. Toan Giok menuang secawan arak, meneguknya hingga habis. Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi.

"Coba kau pikir, paling baik lagi bila dibayangkan sejak awal."

Kembali Toan Giok memenuhi cawan araknya, setelah itu baru berkata.

"Waktu itu, ketika pertama kali kau melihat diriku, baru saja aku tiba di sini."

"Kemudian?"

"Kemudian secara kebetulan aku melihat kejadian itu, Hoa Ya-lay pun secara kebetulan muncul."

"Kemudian kau pun mengikuti dia masuk ke kamar tidumya,"

Sambung Hoa Hoa-hong cepat.

"Ketika aku muncul kembali dari rumah itu, secara kebetulan aku bertemu Kiau-losam yang suka mencampuri urusan orang."

"Betul, dan dia minta kau datang ke Hong-lin-si untuk mencari Tosu bermarga Ku."

Toan Giok manggut-manggut.

"Sebenarnya belum tentu aku bisa menemukan tempat itu, tapi secara kebetulan bertemu dirimu."

"Ya, karena secara kebetulan aku tabu dimana letak Hong lin-si."

"Ternyata dalam biara Hong-lin-si memang terdapat seorang yang bernama Ku-tojin. Bukan saja telah bertemu dengan dirinya, bahkan berkenalan pula dengan dua orang teman baru dan berhasil menangkan puluhan laksa tahil perak, kusangka nasibku memang sedang mujur."

"Kebetulan mereka pun mengetahui kejadian ini, maka minta kepadamu untuk pergi mencari Hoa Ya-lay,"

Sambung Hoa Hoa-hong. Toan Giok menghela napas panjang.

"Ya, karena itu secara tiba-tiba aku berubah menjadi seorang pembunuh, secara kebetulan golok yang ditemukan di tubuh sang korban adalah golok milikku."

"Kau anggap di dunia ini benar-benar terdapat kejadian yang begitu kebetulan?"

"Aku rasa hal semacam ini tak mungkin terjadi, tapi apa mau dikata, aku justru telah menjumpainya,"

Sahut Toan Giok tertawa getir. Hoa Hoa-hong ikut menghela napas panjang.

"Kejadian ini pada hakikatnya seperti kejatuhan segepok Goanpo dari tengah udara sewaktu kau berjalan di tengah jalan dan Goanpo itu menimpa di atas kepalamu."

"Tapi justru merasa seolah tubuhku saat ini sudah dimasukkan ke dalam sebuah peti besar, bahkan peti itu adalah sebuah peti mati yang sangat rapat dan tak tembus udara."

"Siapa yang memasukkan dirimu ke dalam peti? Hoa Ya lay atau Thiat Sui?"

"Aku tak bisa menjawab."

"Masa kau tak pernah berpikir, mungkin saja kau sendiri yang telah memasukkan dirimu ke dalam peti itu?"

"Sudah pasti bukan diriku sendiri, tentu ada seseorang lain dan orang itu entah mengapa berniat mencelakai diriku. Mungkin jauh sebelum aku tiba di sini, dia telah menyiapkan sebuah liang perangkap di tempat ini dan menanti aku terjerumus ke dalamnya."

Selesai meneguk cawan arak keempat, sepatah demi sepatah dia menambahkan.

"Tapi kau tak usah kuatir! Cepat atau lambat aku pasti berhasil menyeret keluar orang itu."

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, katanya.

"Aku hanya kuatir sebelum kau berhasil menyeretnya keluar, dirimu sudah terkubur lebih dulu di balik lumpur di dasar telaga."

Ia memenuhi cawan sendiri dengan arak, kemudian menuangkan pula untuk Toan Giok.

Sekarang Toan Giok merasa seakan tak mampu lagi menghabiskan arak itu, ia merasa arak yang diminum kini rasanya amat getir.

Dia sama sekali tidak menyadari, ada seseorang telah berjalan menghampiri mereka secara diam-diam, kemudian mengawasi kertas pengumuman yang tergeletak di atas meja.

Orang itu mempunyai paras muka yang lebih putih daripada kertas, namun memiliki sepasang mata yang tajam sekali.

Bila seseorang pernah dimasukkan ke dalam peti, tanpa memiliki nasib yang istimewa, rasanya sulit untuk berjalan keluar lagi dari dalam peti dalam keadaan hidup.

Bag 7.

Memancing naga hijau di bawah sinar rembulan.

Tidak banyak manusia yang pernah dimasukkan ke dalam peti, lebih sedikit lagi yang bisa lobos dan peti dalam keadaan selamat.

Orang itu dapat bertemu Toan Giok, boleh dibilang merupakan nasib mujurnya.

Sekarang ia sudah bisa duduk, tapi sepasang matanya sedang mengawasi kertas pengumuman di meja dengan mata melotot.

Paras muka Hoa Hoa-hong ikut berubah, tapi Toan Giok masih tersenyum, malah tanyanya.

"Menurut kau, apakah dia mirip seorang pembunuh?"

"Tidak mirip!"

Jawab orang itu. Akhimya orang itu buka suara juga! Tampaknya Toan Giok semakin kegirangan, lagi-lagi ujarnya sambil tertawa.

"Aku pun merasa tidak mirip."

"Orang lain menuduh dia membunuh siapa?"

Tiba-tiba orang itu bertanya lagi.

"Seseorang yang sama sekali belum pernah dijumpainya, orang itu she Lu bemama Siau-hun."

"Padahal Lu Siau-hun bukan mati dibunuh olehnya."

"Tentu saja bukan,"

Sahut Toan Giok sambil tertawa getir.

"Akan tetapi bila ada sepuluh orang mengatakan kau telah membunuh orang, maka secara tiba-tiba kau pun akan berubah menjadi seorang pembunuh."

Perlahan-lahan orang itu mengangguk.

"Aku bisa merasakan bagaimana rasanya menerima tuduhan semacam itu, karena aku pun pernah dimasukkan orang ke dalam peti,"

Katanya.

"Tapi sekarang kau berhasil lobos dari dalam peti dan dialah yang telah menyelamatkan jiwamu,"

Tak tahan Hoa Hoa-hong menimbrung. Sekali lagi orang itu mengangguk, mengangguk perlahan.

"Oleh karena itu, meski kau tak berdaya menyelamatkan dirinya, paling tidak kau pun tidak seharusnya menginginkan lima ribu tahil perak itu,"

Kata Hoa Hoa-hong lagi. Tiba-tiba terlintas perasaan pedih dan menderita di wajah orang itu, sahutnya dengan sedih.

"Aku memang tak mampu menyelamatkan dia, sekarang aku hanya ingin minum arak."

"Oh, jadi kau pun pandai minum arak?"

Tegur Toan Giok sambil tertawa. Orang itu tertawa, senyumannya amat getir, sahutnya.

"Buat orang yang pernah dimasukkan ke dalam peti, paling tidak dia pasti pandai minum."

Ternyata arak yang diteguknya tidak sedikit.

Kenyataan dia minum arak begitu cepat dan banyak, cawan demi cawan sambung menyambung.

Pada hakikatnya dia tak pernah berhenti meneguk.

Semakin banyak yang diteguk, semakin pucat paras mukanya, mimik penderitaan pun makin lama semakin menebal.

Toan Giok memandangnya sekejap, kemudian setelah menghela napas, katanya.

"Aku tahu, kau ingin sekali membantu diriku, namun sekalipun kau tak bisa membantu pun tak perlu sedih dan menderita, karena sekarang memang tak ada orang yang bisa menyelamatkan aku dari dalam peti besar."

Mendadak orang itu mendongakkan kepala dan menatap pemuda itu, tanyanya.

"Bagaimana rencanamu?"

"Mungkin saja saat ini tinggal sebuah jalan yang dapat kutempuh,"

Jawab Toan Giok setelah berpikir sejenak.

"Jalan yang mana?"

"Temukan dahulu Hoa Ya-lay, sebab hanya dia seorang yang dapat membuktikan kalau kemarin malam aku memang berada di dalam rumah itu. Siapa tahu hanya dia pula yang tahu siapakah pembunuh Lu Siau-hun yang sebenarnya."

"Kenapa?"

Tanya orang itu.

"Sebab hanya dia pula yang tahu jejak Lu Siau-hun selama beberapa hari belakangan ini."

"Atas dasar apa kau berkata begitu?"

"Selama beberapa hari ini Lu Siau-hun pasti berada bersamanya, karena itu untaian mutiara serta lencana Giok-pay dari keluarga Lu terjatuh ke tangannya."

"Kau dapat menemukan dirinya?"

Tanya orang itu.

"Hanya ada satu cara bila ingin menemukan dirinya."

"Cara apa?"

"Dia bagaikan seekor ikan. Bila ingin memancing ikan besar, kau harus menyiapkan dulu umpannya."

"Kau hendak menggunakan apa sebagai umpan?"

"Menggunakan diriku sendiri!"

"Menggunakan dirimu sendiri? Tidak kuatir tertelan olehnya?"

Tanya orang itu dengan kening berkerut. Toan Giok tertawa getir.

"Kalau sudah dimasukkan ke dalam peti besar, apa bedanya dimasukkan ke dalam perut ikan?"

Katanya. Orang itu termenung, kembali dia habiskan tiga cawan arak, kemudian baru ujamya.

"Padaha] tidak seharusnya kau ucapkan perkataan itu kepadaku, karena aku tak lebih hanya seorang asing. Kau sama sekali tidak mengetahui asal-usulku."

"Tapi aku mempercayaimu!"

Orang itu segera mendongakkan kepala.

Dan balik matanya yang sayu segera terpancar perasaan terharu dan terima kasihnya.

Bila tanpa sengaja kau menyelamatkan seseorang, hal semacam ini bukanlah suatu kejadian yang mengharukan, tapi bila kau dapat memahami perasaannya, dapat mempercayainya, maka hal ini jelas berbeda sekali.

Tapi bila secara kebetulan Toan-loyacu berada di situ, dia pasti akan marah besar.

Sebab Toan Giok kembali melupakan nasehat dan pesannya.

"Jangan bersahabat dengan seorang asing yang tak jelas asal-usulnya" . Tiba-tiba Toan Giok membalikkan tubuh, mengambil sebuah cawan arak dari sisi jendela. Dalam cawan itu tak ada arak, hanya ada sebuah benda yang berkilat tajam, bentuknya mirip kait ikan, tapi di atas kait masih tersisa noda darah yang belum mengering.

"Inilah senjata rahasia yang berhasil kukorek keluar dari tubuhmu,"

Ujar Toan Giok kemudian.

"Tak ada salahnya kau simpan sebagai kenang-kenangan."

"Kenang-kenangan apa?"

"Kenang-kenangan untuk pelajaran kali ini,"

Sahut Toan Giok sambil tertawa.

"agar di kemudian hari tidak membiarkan orang lain membokongmu dari belakang, atau paling tidak memperkecil peluangnya untuk berbuat demikian."

Orang itu masih meneguk arak tiada hentinya, jangankan menerimanya, berpaling untuk melihat sekejap pun malas.

"Kau tak ingin melihat senjata rahasia macam apakah ini?"

Tanya Toan Giok. Dengan malas orang itu mendongakkan kepala dan memandang sekejap.

"Kelihatannya mirip sebuah pancing ikan."

"Ya, memang agak mirip,"

Sahut Toan Giok sambil tertawa. Tiba-tiba orang itu ikut tertawa, ujarnya.

"Oleh sebab itu tak ada salahnya memakai kail itu untuk memancing ikan."

"Memangnya benda ini bisa dipakai untuk mengail ikan?"

"Bukan hanya bisa mengail ikan, terkadang malah bisa memancing seekor naga besar."

Toan Giok mulai tertawa, dia menganggap orang itu sudah mulai mabuk. Namun orang itu kembali berkata.

"Di dalam air bukan saja ada ikan, juga ada naga. Ada naga besar, juga ada naga kecil, ada naga betulan, ada juga naga gadungan, ada naga putih, naga merah, bahkan naga hijau."

"Naga hijau?"

"Naga hijau adalah sejenis naga yang paling susah dihadapi. Bila kau ingin memancing naga hijau, lebih baik pergilah pada malam ini, karena malam ini adalah malam bulan dua tangggal dua, saat naga mendongakkan kepala."

Dia memang sudah mabuk, karena semua perkataannya adalah kata-kata orang mabuk.

Hari ini jelas sudah lewat bulan tiga, kenapa dia mengatakan masih bulan dua tanggal dua saat naga mendongakkan kepala?

Kini dia tak bisa lagi mengangkat kepala, kemudian bukan saja mulutnya tak bisa bicara lagi, tangannya gemetar, mendadak cawan dalam genggamannya terjatuh ke tanah, jatuh dan hancur berantakan.

"Ah, ternyata dia adalah orang macam begini,"

Seru Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa.

"Tak heran ia dimasukkan orang ke dalam peti besar."

Namun Toan Giok tidak menjawab, dia hanya mengawasi mata kail dalam cawan dengan termangu, dia seolah tidak mendengar apa yang barusan dikatakan gadis itu.

Bakpao buatan rumah makan Yu-it-cun memang amat tersohor.

Oleh sebab itu harganya sedikit lebih mahal daripada bakpao buatan tempat lain, selain rasanya memang luar biasa lezat, tak pernah ada pembeli yang protes ataupun menggerutu.

Tapi bila dimakan setelah bakpaonya dingin, rasanya jadi tak keruan, bahkan terkadang jauh lebih tak enak ketimbang bakpao hangat buatan tempat lain.

Toan Giok sedang mengunyah bakpao dingin, tiba-tiba ia menemukan sebuah teori yang dulunya belum pernah terpikir olehnya.

Dia menganggap tak ada kejadian yang "pasti"

Di dunia ini. Kalau memang tak ada bakpao yang "pasti"

Enak, berarti tak ada pula bakpao yang "pasti"

Tak enak.

Enak tidaknya sebiji bakpao tergantung pada saat apa kau memakannya dan berada dimana.

Sebuah benda yang sama, bila berganti waktu atau dipandang dan sudut yang berbeda, kemungkinan besar akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.

Oleh sebab itu bila kau ingin mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya dari suatu masalah, cobalah memandang dan menganalisa dan sudut pandang yang berbeda.

Paling baik bila satu per satu dipilah dan diurai sebelum satu per satu disambung dan disatukan kembali.

Tampaknya teori ini telah memberi banyak masukan dan petunjuk bagi Toan Giok, dia seakanakan terpesona, saking kesemsemnya sampai bakpao yang sudah dikunyah dalam mulut pun lupa ditelan.

Pintu di seberang sana dilapisi sebuah tirai kain, tirai itu bersulamkan sebuah lukisan bunga di malam musim semi.

Hoa Hoa-hong telah berjalan masuk ke dalam, tampaknya ruangan itu adalah kamar tidurnya.

Lelaki asing yang keluar dari dalam peti itu telah dipapah Toan Giok untuk dibaringkan dalam sebuah ruangan lain.

Tampaknya dia mabuk berat.

Saat ini dalam keadaan tak sadarkan diri.

Takaran arak tidak selalu menunjukkan kemampuan minum seseorang.

Sekalipun kondisi tubuhmu kuat, bila pikiran dan perasaanmu sedang kalut, sedikit saja minum arak, kadangkala sudah cukup membuat dirimu mabuk.

Toan Giok menghela napas, dia memenuhi cawan sendiri dengan arak.

Rencananya sehabis minum secawan, dia akanpergi memancing ikan.

Siapa tahu ia benar-benar berhasil mendapatkan seekor naga, bukankah tak ada kejadian yang tak mungkin di dunia ini?

Pada saat itulah dari balik tirai kamar muncul sebuah tangan.

Tangan yang halus dan lembut, sedang menggapainya agar dia masuk ke dalam.

Mana boleh seorang lelaki sembarangan masuk ke kamar tidur seorang gadis?

Toan Giok agak sangsi.

"Ada apa?"

Tanyanya.

Tiada jawaban.

Tiada jawaban terkadang merupakan jawaban yang paling baik.

Meski dalam hati kecilnya Toan Giok masih penuh diliputi kesangsian, namun sepasang kakinya telah bangkit dan berjalan menghampiri ruang kamar itu.

Pintu berada dalam keadaan terbuka, bau harum semerbak terendus dan balik ruangan, menyusul di atas ranjang berkelambu teronggok beberapa stel pakaian, salah satu di antaranya adalah pakaian yang baru saja dikenakan Hoa Hoa hong.

Jelas baru saja dia mencoba beberapa stel pakaian sebelum akhirnya memutuskan mengenakan salah satu di antaranya.

Tapi sekarang dia telah melucuti kembali pakaiannya dan berganti dengan satu stel pakaian hitam yang sangat ketat, rambutnya dibungkus pula dengan kain hitam, dandanannya sekarang tak berbeda dengan dandanan bandit wanita yang siap melakukan pencurian.

"Eh, apa yang hendak kau lakukan?"

Tegur Toan Giok dengan kening berkerut. Hoa Hoa-hong berputar beberapa kali di depannya, kemudian bertanya.

"Menurutmu, aku mirip orang yang mau kemana?"

"Kau lebih mirip bandit wanita."

Hoa Hoa-hong segera tertawa, tertawa manis.

"Jika bandit wanita pergi bersama seorang pembunuh, orang yang melihatnya pasti akan gempar."

"Jadi kau hendak mengajak aku keluar?"

"Kalau tidak keluar, buat apa aku mesti mengenakan pakaian macam begini?"

"Tapi aku hanya ingin pergi memancing ikan."

"Kalau begitu kita pergi memancing ikan."

"Kau tak boleh ikut,"

Cegah Toan Giok.

"Kenapa?"

"Orang yang memancing ikan terkadang bisa juga dilarikan ikan yang hendak dipancing, kau tidak kuatir ditelan ikan besar?"

"Baguslah kalau begitu, setiap hari aku makan ikan, apa salahnya kalau sekali-kali aku merasakan dimakan ikan?"

"Kau sangka aku sedang bergurau? Tahukah kau betapa berbahayanya masalah ini?"

"Kalau aku tidak melihatnya, lantas buat apa mesti pergi menemanimu?"

Jawab Hoa Hoa-hong santai.

Biarpun jawaban itu disampaikan amat ringan dan tanpa beban, namun dari sorot matanya dapat terlihat betapa perhatian dan rasa kuatirnya atas keselamatan Toan Giok, bahkan dia menunjukkan pula sikap dan tekadnya untuk mati-hidup, gembira-susah bersama anak muda itu.

Luapan perasaan semacam ini seharusnya bisa dirasakan setiap pria yang mendengamya, kendatipun dia adalah manusia yang terbuat dari balok kayu.

Toan Giok bukan manusia yang terbuat dari balok kayu, perasaan hatinya telah berubah menjadi segumpal bola gula yang tercebur ke dalam air.

Tampaknya ia sudah tak berani memandangnya lebih Ianjut, kini dia alihkan sorot matanya mengawasi gaun hijau apel yang tergeletak di atas ranjang.

"Pakaianmu ini sungguh indah,"

Katanya. Hoa Hoa-hong mengerlingnya sekejap, tak tahan serunya sambil tertawa.

"Apakah kau tidak merasa, sejak tadi aku sedang menunggu perkataanmu itu? Apakah perkataanmu sekarang tidak kelewat terlambat untuk disampaikan?"

Toan Giok pun tak tahan ikut tertawa.

"Disampaikan sedikit terlambat jauh lebih mendingan daripada sama sekali tidak dikatakan, bukan begitu?"

Kembali Hoa Hoa-hong tersenyum, ia membalikkan badan dan segera menutup pintu kamar.

Bukankah sudah siap pergi dari situ?

Mengapa secara tiba-tiba ia menutup pintu kamar?

Tiba-tiba jantung Toan Giok mulai berdebar, berdebar kencang sekali.

Kini Hoa Hoa-hong telah mengunci pintu kamar tidurnya..

Jantung Toan Giok berdebar begitu keras hingga nyaris melompat keluar dari rongga dadanya.

Sejak kecil hingga dewasa, belum pernah ia jumpai situasi seperti ini.

Apakah dia benar-benar tak tahu bagaimana harus bersikap?

Hoa Hoa-hong telah membalikkan badan, ujarnya sambil tersenyum.

"Sekarang, biarpun orang yang berada di kamar sebelah mendusin pun, dia tak bakal tahu apa yang sedang kita lakukan."

Senyumannya tampak sangat manis, sangat indah menawan. Merah padam wajah Toan Giok, tanyanya agak tergagap.

"Apa yang hendak kita lakukan?"

"Bukankah kau mengatakan akan pergi memancing ikan?"

"Masa memancing ikan dalam kamar?"

Hoa Hoa-hong tertawa cekikikan, tiba-tiba saja paras mukanya berubah merah padam.

Akhirnya dia mengerti juga apa yang sedang dipikirkan Toan Giok.

Apalagi bagi muda-mudi yang mulai menginjak dewasa.

Hoa Hoa-hong menyerahkan sebuah dayung kepada Toan Giok.

Tanpa bicara Toan Giok menerima dayung itu dan duduk di sampingnya, maka dua buah dayung pun mulai mendayung di atas permukaan air, mendayung bersama.

Di bawah cahaya rembulan, butiran air yang gemercik tampak bagaikan perak yang berserakan.

Air telaga telah pecah, pecah menjadi pusaran air yang melingkar, lingkaran demi lingkaran membentur pusaran yang lembut.

Siapakah yang sedang meniup seruling di kejauhan sana?

Mereka menikmati suara seruling itu dengan tenang, mendengarkan suara dayung-mereka dengan seksama.

Ternyata suara dayung terdengar jauh Iebih merdi , daripada suara seruling, Iebih berirama, dua pasang tangan seakan telah berubah menjadi satu tubuh.

Mereka berdua tak ada yang bicara.

Tapi kedua orang itu dapat merasakan, belum pernah mereka seakrab dan serapat ini dengan orang lain.

Bila dua hati telah tertaut menjadi satu, buat apa banyak bicara?

Entah berapa lama sudah lewat, akhimya Toan Giok menghela napas sambil berkata.

"Betapa nikmatnya bila aku tidak direcoki berbagai persoalan yang memusingkan kepala."

Hoa Hoa-hong tidak langsung menjawab, dia termenung sampai lama sekali sebelum menyahut.

"Bila tiada berbagai kesulitan yang menimpa dirimu, di atas perahu sekarang tiada kau, juga tak akan ada aku."

Toan Giok menatap wajahnya, begitu pula gadis itu pun menatap Toan Giok, tangan mereka telah dijulurkan ke depan saling bersentuhan, tapi dengan cepat ditarik kembali.

Meski hanya sentuhan yang amat singkat, namun jauh lebih berarti daripada beribu patah kata.

Sampan kecil telah merapat ke tepian.

Pohon Liu tumbuh rimbun sepanjang pantai.

Di sinilah Toan Giok bertemu dengan Kiau-losam.

Sambil meletakkan dayungnya, kata Hoa Hoa-hong.

"Kau minta aku membawamu kemari, apa yang harus kita lakukan sekarang? "

Sekarang kita mendarat, aku ingin melakukan pencarian sekali lagi."

"Menyatroni rumah itu?"

"Aku tetap tak percaya telah mendatangi tempat yang salah"

"Di dunia ini banyak terdapat orang yang salah mengetuk pintu, karena mereka pun tidak percaya kalau dirinya telah mendatangi tempat yang salah."

"Itulah sebabnya aku harus mencarinya sekali lagi."

Kali ini dia bertindak lebih hati-hati, nyaris setiap sudut rumah dan tempat diperiksa dan diamati cukup lama.

Beruntung malam kelam, tiada orang yang menyaksikan perbuatan mereka.

Kalau tidak, sudah pasti perbuatannya akan dianggap sebagai usaha begal akan mencuri atau merampok.

Cukup lama mereka berdua melakukan pencarian dan penggeledahan, sudah puluhan rumah disatroni.

Kesimpulan terakhir, tempat yang didatangi Toan Giok siang hari tadi memang tidak salah.

"Apakah tempat ini yang kau datangi bersama Ku-tojin sekalian pada siang tadi?"

Tanya Hoa Hoa-hong. Toan Giok manggut-manggut.

"Tempat ini juga rumah yang kau datangi bersama Hoa Ya-lay pada kemarin malam?"

"Rasanya tak mungkin salah."

"Lalu mengapa Thiat Sui bisa muncul di sini? Bahkan sudah menempatinya cukup lama?"

"Inilah persoalan pertama yang harus kuselidiki hingga tuntas."

Dalam halaman tiada cahaya lentera, juga tak terdengar suara apa pun.

"Kau ingin masuk ke dalam?"

Tanya Hoa Hoa-hong.

"Kalau tidak masuk, bagaimana bisa menyelidiki hingga jelas?"

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, bisiknya.

"Tapi kali ini bila kau tertangkap Thiat Sui lagi, aku tak akan mampu membebaskan dirimu."

"Oleh karena itu jangan sekali-kali kau ikuti aku masuk ke dalam."

Hoa Hoa-hong tertawa, dia hanya tertawa dan tidak berkata apa -apa.

Toan Giok sendiri pun tak berdaya untuk bicara lebih jauh, sebab gadis itu sudah masuk lebih dulu, ternyata ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya terhitung cukup Iihai.

Suasana di dalam halaman gedung amat sepi, bunga-bunga mawar yang berada di bawah cahaya rembulan meski tidak sesegar siang hari, namun terlihat lebih lembut dan menggoda.

Setelah berada di situ, mereka baru tahu bahwa dalam ruangan terlihat ada secercah cahaya lentera.

Cahaya lentera yang redup memancar dari balik jendela, membiaskan bayangan tiga pot bunga yang berada di atasnya.

Sambil merendahkan suaranya, Toan Giok berbisik.

"Dalam ruangan itulah kemarin malam aku tidur."

"Hoa Ya-lay?"

"Dia pun berada di sana."

Begitu ucapan itu diutarakan, pemuda itu segera sadar kalau dirinya telah salah bicara.

Seketika itu juga paras muka Hoa Hoa-hong berubah bagaikan wajah tukang tagih hutang.

Sambil tertawa dingin, ejeknya.

"Hm, kalau begitu, nikmat benar tidurmu semalam."

Merah padam wajah Toan Giok.

"Aku aku ...."

"Kalau kau sudah merasakan kenikmatan, apa salahnya sekarang merasakan sedikit penderitaan?"

Teriak Hoa Hoa-hong dengan suara keras.

Dia seolah lupa kalau saat ini masih berada dalam halaman rumah orang lain, dia pun seperti lupa apa maksud kedatangannya.

Konon bila seorang perempuan sedang minum cuka (cemburu), biar kaisar pun tidak dipedulikan, apalagi hanya Toan Giok.

Dalam keadaan begini, Toan Giok hanya bisa tertawa getir, hatinya panik bercampur gelisah.

Siapa sangka sama sekali tiada gerakan apa pun dari dalam ruangan itu, seakan-akan penghuninya sudah terlelap seperti babi mampus.

Terlepas mau dipandang dari sudut mana pun, mustahil Thiat Sui bisa tertidur begitu nyenyak seperti babi mampus.

Beda dengan Hoa Ya-Iay, konon perempuan jalang biasanya amat gemar tidur.

Apakah malam ini dia tidak berada di sini?

Mungkinkah Hoa Ya-lay telah balik kemari?

Sambil menggigit bibir, Hoa Hoa-hong merangsek maju, kemudian dengan kuku jarinya ia lubangi kertas jendela.

Perempuan ini memang tak punya bakat menjadi pencuri, dia tak tahu membasahi jari tangannya lebih dulu dengan air ludah hingga ketika merobek kertas jendela tak menimbulkan suara.

"Kres!" , dengan cepat dia telah membuat sebuah lubang besar di kertas jendela. Kini paras muka Toan Giok telah berubah sedikit pucat. Siapa tahu dari dalam ruangan tetap tak terdengar sedikit suara pun. Mungkinkah ruangan itu tanpa penghuni? Ternyata benar, rumah itu memang kosong tanpa penghuni. Bukan saja tanpa penghuni, bahkan semua barang yang berada dalam ruangan itu pun telah dipindah keluar, kini rumah itu telah berubah menjadi sebuah rumah kosong, hanya tersisa tiga buah pot bunga di luar jendela yang lupa dibawa pergi. Toan Giok tertegun, begitu juga dengan Hoa Hoa-hong. Lama sekali kedua orang itu berdiri termangu-mangu, akhirnya Hoa Hoa-hong berkata.

"Mungkin bukan tempat ini yang kau datangi siang tadi."

Toan Giok manggut-manggut.

"Sepeninggalmu, Hoa Ya-lay pasti takut kau datang lagi mencarinya, maka cepat ia pindah dari sini,"

Kata Hoa Hoa-hong lagi.

"Lalu dimanakah letak rumah yang kudatangi siang tadi?"

Tanya Toan Giok ragu-ragu.

"Mungkin saja berada di seputar sini, tapi sekarang kau pun gagal menemukannya kembali."

Toan Giok menghela napas, ujarnya sambil tertawa getir.

"Mungkin aku telah bertemu setan hidup."

"Hm, kau memang telah bertemu setan, bahkan setan perempuan,"

Ejek Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin.

Toan Giok tak berani menjawab dan beruntung dia tidak menjawab lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara suitan yang sangat aneh berkumandang dari luar sana.

Biasanya suara suitan semacam ini merupakan kode rahasia bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan malam.

Benar saja, di luar sana terdapat orang yang sedang melakukan perjalanan malam, terdengar ada dua ora ng sedang bercakap-cakap di luar sana.

"Kau yakin di sini tempatnya?"

"Tak mungkin salah, aku baru saja kemari satu bulan berselang."

"Tapi mengapa tak ada orang yang keluar dari rumah itu?"

"Mungkin saja sudah tertidur."

"Sekalipun sudah tidur, masa mereka tidur seperti orang mati?"

"Jago silat mana yang berani mencari gara-gara di sini? Orang yang sudah terbiasa hidup tenang, biasanya akan tidur jauh lebih nyenyak."

"Tapi ...."

"Bagaimana pun juga aku tak bakal salah tempat. Ayo, lebih baik kita masuk dulu."

"Masuk begitu saja?"

"Kita adalah orang sendiri, apa yang mesti ditakuti?"

Biarpun ucapan itu muncul dari luar dinding pekarangan, namun di tengah malam yang hening dapat terdengar sangat jelas. Toan Giok segera memandang Hoa Hoa-hong sekejap, kemudian bisiknya.

"Kelihatannya kedua orang itu adalah sahabat pemilik rumah ini."

"Oleh sebab itu kita harus menanyai mereka. Paling tidak harus tahu siapa sebenarnya tuan rumah tempat ini."

Tidak menunggu persetujuan dari Toan Giok, ia sudah melompat keluar lewat jendela.

Kebetulan kedua orang di luar itu sedang melompat masuk melalui tembok pekarangan; ternyata mereka berdua sama-sama mengenakan pakaian ringkas.

Jelas merupakan jago silat yang sedang menempuh perjalanan malam.

Begitu bertemu Hoa Hoa-hong, kedua orang itu segera membalikkan sebelah tangan menghadap langit sementara jari tangan yang lain menuding ke bumi, memperagakan sebuah gerakan yang aneh sekali.

Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 3

Baca Juga: Pedang Kayu Cendana 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert