Ceritasilat Novel Online

Sang Ratu Tawon 4

Eps 4 Sang Ratu Tawon - Khulung

Baca online Sang Ratu Tawon - Khulung

Cersil Sang Ratu Tawon - Khulung.

"Cambuk!"

Berubah hebat wajah Kiong Kiu, tanyanya.

"Cambuk?"

"Betul,"

Jawab Siau-hong dingin. Kiong Kiu menghela napas berulang kali, kemudian ia pun bertepuk tangan. Kini Siau-hong telah menggenggam cambuk, cambuk yang cukup panjang, tanyanya pula.

"Kau akan melawanku dengan tangan kosong?"

"Ya,"

Jawab Kiong Kiu angkuh.

"Bagus kalau begitu,"

Kata Siau-hong, lalu ia menggetarkan cambuk itu hingga menimbulkan suara yang menusuk telinga.

Tiba-tiba paras muka Kiong Kiu berubah hebat, matanya merah membara, ia terus mengawasi belakang Siau-hong tanpa berkedip.

Semua orang juga mengawasi belakang Siau-hong.

Siau-hong segera mengerti apa yang terjadi.

Sekarang ia pun paham apa yang dibisikkan Samon di tepi telinga itu.

Samon tidak melakukan apa-apa, ia hanya melepas pakaiannya satu per satu sampai bugil.

Bugil yang menimbulkan rangsangan birahi.

Rangsangan birahi yang merupakan kelemahan manusia hidup, apalagi bagi orang yang sedang hertarung, paling pantang terpengaruh.

Inilah titik kelemahan Kiong Kiu.

Samon sangat memahami Kiong Kiu, terlebih titik kelemahannya, maka ia minta Siau-hong memakai cambuk, sementara ia berbugil untuk memancing birahi Kiong Kiu.

Getar cambuk kembali menggeletar, sorot sinar sang surya memantul di tubuh Samon yang bugil, membuat napsu birahi Kiong Kiu makin memuncak.

Ketika Samon menari-nari erotis, Kiong Kiu pun mulai tak tahan, ia mulai merobek pakaiannya, mencakar badan sendiri bagai orang kalap, napasnya terengah-engah.

"Cambuk aku! Cambuk aku!"

Teriaknya berulang-ulang. Namun Siau-hong justru menarik cambuknya, diam mengawasi Kiong Kiu.

"Cepat!"

Teriak Samon.

Siau-hong tidak mencambuk Kiong Kiu, ia salurkan tenaganya ke cambuk panjang itu hingga melurus keras, lalu ditusukkan ke tubuh Kiong Kiu.

Menusuk tepat di jantungnya!

Suasana hening.

Sinar mentari menyinari seluruh jagad.

Sampan.

Sampan yang terombang-ambing mengikuti gelombang ombak.

Dengan nyaman dan santai, Siau-hong berbaring di tengah sampan, di atas dadanya tergeletak secawan arak, arak Tiok-yap-jing kesukaannya.

Samon dengan manja bersandar di tubuhnya.

Bisiknya mesra di tepi telinga Siau-hong.

"Tahukah kau akan satu hal?"

"Apa itu?"

"Baginda raja ingin bertemu denganmu."

Siau-hong tersenyum, ia balas bertanya.

"Kau pun harus tahu akan satu hal?"

"Apa?"

"Sekarang aku justru ingin menjadi 'manusia yang bisa menghilang'."

"Kenapa? Apakah kau ingin membunuh baginda raja?"

"Bodoh kau,"

Kata Siau-hong menatap Samon dengan mesra.

"Aku memang bodoh, kalau kau tak suka, buang saja ke laut."

Liok Siau hong memeluk Samon erat-erat, bisiknya.

"Siau Giok, Sebun Jui-soat, Hoa Ban-lau juga sudah pulang. Dunia kembali tenang, kalau aku tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk bersenang-senang, terhitung manusia apakah aku?"

"Pada dasarnya kau memang bukan manusia,"

Kata Samon sambil tersenyum.

"Memangnya aku babi."

"Kau bukan manusia, juga bukan babi, kau adalah burung Hong kecil, Liok Siau-hong!"

T A M A T

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Rahasia Bukit Iblis 1

Baca Juga: Pedang Ular Emas 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert