Ceritasilat Novel Online

Rahasia Mo Kau Kaucu 8

Eps 8 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.

Tapi bagaimana mungkin Ting Hun-pin bisa muncul dari bawah ranjang?

Han Tin yang sudah mati dan mayatnya sudah dingin, kenapa kok tiba-tiba berubah menjadi Ting Hun-pin yang hidup segar?

Siangkwan Siau-sian geleng-geleng kepala, otaknya serasa tumpul, namun tetap dia tidak bisa memberi jawaban.

Yap Kay juga tidak mengerti.

Jikalau mereka berdua tidak bisa memecahkan teka-teki suatu persoalan, memangnya siapa orang di dunia ini yang bisa menyimpulkan jawabannya.

Hanya ada satu orang saja, yaitu Ting Hun-pin sendiri.

Hakekatnya Ting Hun-pin tidak gila benar-benar.

Orang yang pandai bersandiwara dan pura-pura menjadi gila, pikun atau linglung bukan hanya Siangkwan Siau-sian saja, kini Ting Hun-pin membuktikan bahwa diapun bisa.

"Apa yang kau bisa, akupun bisa,"

Kata Ting Hun-pin setelah keluar dari bawah ranjang. Mengawasi Siangkwan Siau-sian, sorot matanya menyala terang bergairah.

"Kau bisa menipu orang, akupun bisa. Kau pandai membunuh orang, akupun tidak kalah pintarnya."

"Kau suruh Han Tin kemari untuk membunuhku, lalu berdaya supaya Siau Yap menyangka aku mati karena gila."

"Kau pasti tidak menduga bahwa aku yang membunuh dia."

"Kau bisa menaruh obat bius di dalam bubur ayamku, akupun bisa menaruh racun di dalam arak yang dia minum."

"Sudah tentu dia tidak akan berjaga-jaga dan waspada terhadap perempuan yang sudah gila, seperti juga kita waktu menghadapi dulu tanpa pernah berpikir untuk hatihati dan mengawasimu."

"Jadi cara ini aku mempelajari dari kau."

"Han Tin yang asli kini masih rebah di bawah kolong ranjangku, kali ini tak perlu diragukan akan kematiannya."

"Di waktu aku menyembunyikan mayatnya ke bawah ranjang, baru aku temukan pintu rahasia dari lubang kamar di bawah tanah, kamar bawah tanah untuk menyimpan arak."

"Ternyata seluruh simpanan arak di Leng-hiang-wan ada disimpan di dalam kamar bawah tanah ini, oleh karena itu, hari itu kami mencari sebotol arakpun tidak bisa mendapatkannya."

"Aku tahu kalian pasti akan kembali, maka aku lantas sembunyi di kamar bawah tanah, namun mayat Han Tin ku letakkan di luar."

"Sudah kuperhitungkan dengan tepat begitu kau melihat mayat Han Tin pasti amat terkejut, pasti tidak akan memperhatikan bahwa di sebelahnya ada pintu rahasia yang menembus ke kamar di bawah tanah. Aku masih ingin mendengar apa yang kalian percakapkan di sebelah atas, ingin aku melihat apakah dia betul-betul dapat kau tipu dan memincutnya pergi."

Mengawasi Yap Kay, biji matanya penuh diliputi rasa bahagia dan kemenangan yang cemerlang, katanya lembut.

"Sebetulnya akupun sudah tahu, kali ini kau pasti tidak akan kena ditipunya lagi, ternyata kau tidak membikin aku kecewa."

Kata-katanya sederhana.

Betapapun berbelitnya suatu persoalan, setelah dijelaskan dan tertembus segala rintangan, kau pasti akan mendapatkan persoalan itu hakikatnya tidak serumit dan sesukar yang kau pikirkan sebelumnya.

Memang banyak persoalan dalam dunia ini terjadi seperti itu.

Siangkwan Siau-sian terus mendengarkan tanpa memberi komentar, mukanya yang pucat pasi sedikitpun tidak menunjukkan perasaan hatinya.

Setelah Ting Hun-pin mengoceh panjang lebar, baru pelan-pelan dia angkat kedua tangannya, diletakkan di atas meja.

Tangan putih yang semula berjari-jari runcing halus lembut itu, kini tiba-tiba berubah sekeras logam.

Lampu berada di atas meja di depannya.

Tampak kedua tangannya itu mengkilap mengkilau ditingkah sinar lampu.

Bukan tangannya bercahaya, namun sebuah tangan yang putih bening laksana es batu berkaca yang keras tajam terbuat dari logam.

Malam hari itu, waktu berada di belakang tembok rendah di hotel Hong-ping, yang terlihat oleh Ting Hun-pin adalah tangan ini.

Yang pernah dilihat oleh Cui Giok-tin yang sembunyi di belakang tembokpun adalah kedua tangan ini.

"Inilah Kim-kong-put-hoay Toa-siu-sin-jiu yang didongengkan orang secara luas."

Yap Kay manggut-manggut.

"Semula aku mempersiapkan diri untuk menghadapi Lu Di dan Kwe Ting."

"Aku bisa menebaknya."

"Sayang mereka bikin aku kecewa."

Bahwasanya kedua orang ini tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjajal dengan senjatanya ini yang ampuh.

Terbuka lebar dan teracung kedua telapak tangannya itu.

Tampak di telapak tangannya ada beberapa batang jarum hitam legam yang lebih kecil dari jarum jahit biasa.

"Inilah Toa-siu-hun-ciam yang bisa naik ke langit menembus bumi."

Yap Kay manggut-manggut pula dengan melongo.

"Nyo Thian dan empat orang lainnya semua mampus oleh jarum ini."

"Aku sudah memeriksanya."

"Bwe-hoa-ciam milik Bwe-hoa-to dulu sudah cukup menggetarkan nyali setiap insan persilatan."

"Aku pernah mendengarnya."

"Tapi aku berani tanggung, jarumku yang ini pasti jauh lebih lihay, hebat dan menakutkan dari Bwe-hoa-ciam itu."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Jarum yang kau latih dan kau persiapkan ini tentunya khusus akan kau gunakan di waktu menghadapi aku."

Siangkwan Siau-sian mengakui.

"Mana pisaumu?"

Tanyanya dengan menatap Yap Kay.

"Ada di sini,"

Sahut Yap Kay.

"Di mana?"

Yap Kay tidak menjawab.

Di langit dan di bumi tiada seorangpun yang tahu di mana pisau terbangnya di simpan, juga tiada orang pernah tahu cara bagaimana dia menyambitkan pisaunya itu.

Sebelum ditimpukkan, siapapun tiada yang pernah membayangkan betapa cepat dan besar kekuatannya.

Khalayak ramai hanya tahu satu hal, pisau itu pasti berada di mana dia harus berada.

Siangkwan Siau-sian berkata pelan-pelan.

"Aku tahu di manapun pisaumu bisa berada dan tiada sesuatu yang tidak mungkin dicapai olehnya."

Untuk ini Yap Kay tidak perlu merendahkan diri.

Hal itu memang kenyataan, karena meski pisau itu miliknya, walau berada di badannya, namun kehebatan, kemurnian serta kebesaran dari pisau itu tergantung dan berada pada diri orang lain.

Seseorang yang digdaya, perkasa dan sakti mandraguna.

Entah di langit atau di bumi, jelas takkan ada orang lain yang bisa menempati kedudukannya ini sama tinggi dan jaya.

Apalagi jikalau tidak bisa menyelami dan memahami kebesaran kekuatan dan semangatnya, jelas takkan mungkin bisa cukup diri untuk melepaskan pisau sakti yang bisa mengejutkan dan menggetarkan bumi.

Pisau Terbang Li kecil.

ooo)dw(ooo Pisau terbang itu belum dikeluarkan, namun semangat kebesaran pisau itu sudah terasa.

Ini bukan hawa membunuh, namun jauh lebih menakutkan dan menciutkan nyali orang daripada hawa yang menggetarkan sanubarinya setiap insan persilatan.

Pelan-pelan tapi pasti kelopak mata Siangkwan Siau-sian mulai mengkeret memicing, katanya.

"Pisaumu dapat berada di manapun dan bisa mencapai ke sasaran mana juga, demikian pula jarumku."

"Jarummu bagaimana?"

"Selamanya kaupun takkan bisa membayangkan darimana arah datangnya jarumku, terutama tidak bisa kau jajaki cara bagaimana jarum-jarumku itu dilepaskan."

"Aku tidak akan berpikir dan tidak perlu kupikir."

Siangkwan Siau-sian tertawa dingin, jengeknya.

"Jikalau kau beranggapan kau bisa menyetop aku turun tangan, kau salah besar!"

Yap Kay diam saja, entah termakan oleh provokasi? "Jarumku laksana pasir di sungai yang tak terhitung banyaknya, sebaliknya jumlah pisaumu terbatas."

"Aku hanya sebatang saja sudah cukup."

Ujung mata Siangkwan Siau-sian berkerut-kerut. Lama sekali akhirnya dia menghela napas.

"Mungkin inilah dinamakan nasib."

"Nasib?"

"Mungkin hidupku sudah ditakdirkan cepat atau lambat harus berduel melawanmu."

Bola matanya menyorotkan kedukaan yang sangat.

"Seperti juga Siangkwan Pangcu yang dahulu, sudah ditakdirkan untuk berduel melawan Siau-li Tham-hoa Li Sin-hoan" . Tak urung Yap Kay menghela napas juga, katanya.

"Siangkwan Pangcu dahulu memang tidak malu diagungkan sebagai gembong persilatan yang tiada taranya. Dia cukup kuat dan mampu bersimaha-rajalela di seantero dunia ini, sayang sekali sekarang............."

Siangkwan Siau-sian tidak biarkan orang bicara lebih lanjut.

"Walau Siangkwan Pangcu yang dahulu sudah tiada, namun Siangkwan Pangcu generasi muda masih digdaya."

"Pisau terbangku masih ada."

"Duel kedua tokoh besar pada waktu itu, walau cukup menggetarkan bumi mengejutkan langit, setanpun kaget ketakutan dan menangis, namun tiada seorangpun yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri."

Tak tahan Ting Hun-pin menyeletuk.

"Duel kalian hari ini pasti ada orang lain yang menyaksikan."

"Takkan ada!"

Sentak Siangkwan Siau-sian.

"Ada saja!"

Sahut Ting Hun-pin ketus. Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian berpaling menatapnya, katanya dingin.

"Kau ingin menyaksikan?"

"Aku pasti bisa menyaksikan"

"Kalau begitu kau hanya akan menunggu Yap Kay mampus di depanmu."

Ting Hun-pin membalas dengan seringai hina dan merendahkan.

"Jikalau kau berada di sini, begitu jarumku kusambitkan, sasaran pertama yang ku arah adalah kau. Jikalau dia harus memencarkan perhatiannya demi keselamatanmu, maka diapun pasti mampus."

Ting Hun-pin tertegun, mulutnya melongo, matanya terbeliak.

Siangkwan Siau-sian tidak berkata sepatah katapun lagi, diapun tidak meliriknya lagi, namun Ting Hun-pin dipaksa untuk beranjak keluar.

Waktu kaki Ting Hun-pin melangkah keluar, sekujur badannya dingin dan basah oleh keringat dingin yang gemerobyos.

ooo)dw(ooo Pintu tertutup dan dipalang serta terkunci dari dalam.

Segala sesuatu yang tercakup di dalam kehidupan manusia seluruhnya terkunci di dalam pintu.

Hanya kematian yang masih tersisa di dalam pintu.

Tapi siapakah yang akan mati?

Ting Hun-pin sudah terbungkuk-bungkuk, rasanya ingin muntah dan tak tertahankan lagi.

Kembali rasa apa boleh buat menjalari sanubarinya dan perasaan yang menjalari sanubarinya inilah yang dahulu pernah menyebabkan dia hampir gila.

Tapi menjadi gilapun tiada gunanya.

Duel kedua tokoh besar pada masa silam dia tidak menyaksikan, namun dia dengar dari cerita orang yang dapat dipercaya.

Sampai Siau-li Tham-hoa Li Sin-hoan sendiri mengakui, Siangkwan Kim-hong memang memiliki banyak kesempatan menamatkan jiwanya, malah dirinya dipojokkan sedemikian rupa sampai tak mampu balas menyerang lagi.

Tapi Siangkwan Kim-hong memang sengaja menyia-nyiakan semua kesempatan baik itu, karena sudah lama dalam sanubarinya ingin bertaruh dengan jiwanya sendiri melawan keyakinannya akan kepandaian silatnya sendiri yang tinggi tiada taranya, apakah dia mampu meluputkan diri atau menghindarkan sambitan atau serangan pisau terbang Li Sin-hoan yang sudah disohorkan tak pernah meleset setiap kali mengincar sasarannya.

Sudah tentu untuk kali ini Siangkwan Siau-sian tidak akan sudi melakukan kesalahan yang sama seperti ayahnya dulu.

ooo)dw(ooo Perut Ting Hun-pin seperti dipelintir dan air asam sudah bergolak di tenggorokkannya.

Mungkin Yap Kay tengah berada di balik pintu ini sedang mengalami siksaan batin di dalam menghadapi elmaut yang bakal merenggut jiwanya, dan dia dipaksa untuk menunggunya di luar pintu.Tak ubahnya seperti Sun Siau-hong dan Ah Hwi waktu menunggu Li Sin-hoan dulu.

Tapi mereka masih dua orang, berteman di luar kamar rahasia Siangkwan Kim-hong yang pintunya terbuat dari papan besar baja.

Diterjang dan ditumbukpun tidak akan bobol.

Lain halnya keadaan yang dia hadapi sekarang, di depannya ini kalau mau sembarang waktu dia mampu menendangnya roboh, namun dia justru tidak berani berbuat demikian.

Sekali-kali dia tidak berani bergerak secara gegabah sehingga memencarkan perhatian dan mengganggu konsentrasi Yap Kay.

Sungguh besar harapannya pintu di depannya inipun terbuat juga dari papan baja yang sudah kokoh kuat.

Hal itu sedikit banyak akan mengurangi tekanan hatinya yang harus ditekan dan ditahan oleh kesadaran dan derita.

Orang yang tidak pernah mengalaminya sendiri, pasti tidak akan bisa membayangkan betapa menakutkannya derita dan tekanan batin yang berat ini.

Sungguh ingin sekali bila bisa dia memaku ke dua kakinya di atas tanah supaya tidak bisa bergerak.

ooo)dw(ooo Malam semakin larut.

Ting Hun-pin masih menunggu terus, karena menunggu ini sekujur badannya sudah luluh sama sekali dan yang harus dibuat sedih adalah dia sendiri tidak tahu sebetulnya apa yang sedang dia nantikan?

Mungkin hanya kematian Yap Kay saja yang sedang dia tunggu.

Teringat betapa cerdik pandai dan tinggi ilmu silat Siangkwan Siau-sian, sungguh dia tidak tahu betapa persen keyakinan Yap Kay bisa mengalahkan musuh dan bertahan hidup serta keluar dengan selamat dan segar bugar.

Oleh karena itu di kala daun pintu itu tampak terbuka perlahan-lahan, detik-detik yang dia nanti-nantikan itu seakan-akan menyetop denyut jantungnya sama sekali.

Sampai matanya melihat Yap Kay pula, baru jantungnya berdetak secara normal kembali seperti kereta api selesai memburu waktu.

Kelihatannya Yap Kay amat lelah, namun lebih penting bahwa dia masih hidup.

Hidup dan selamat tak kurang suatu apa.

Itulah yang terpenting bagi Ting Hun-pin.

Menyongsong kedatangan orang, Ting Hun-pin mematung di tempatnya, tak tertahan air mata pelan-pelan meleleh membasahi mukanya, tentunya air mata kegirangan yang keliwat batas.

Saking kegirangan dan terlalu berduka sama-sama mendatangkan air mata, kecuali menangis, orangpun tak bisa mengeluarkan suara karena tenggorokan tersumbat oleh rasa haru, segala persoalan sudah tidak diperdulikan lagi, sampaipun untuk bergerak kadang-kadang sulit.

Lama sekali baru Ting Hun-pin kuasa bertanya dengan lirih.

"Di manakah Siangkwan Siau-sian?"

Jawaban Yap Kay hanya tiga huruf.

"Dia sudah kalah."

Dia sudah kalah?

Betapa gampangnya jawaban tiga huruf ini.

Penentuan kalah menang memang hanya terjadi dalam kilasan waktu belaka.

Tapi siapakah yang bisa membayangkan di dalam waktu sekilas itu betapa tegang dan tertusuk perasaan orang?

Betapa besar dan mendalamnya akibat dari penentuan waktu yang sekilas itu bagi dunia persilatan.

Sekejap mata atau sepercikan api.

Sebatang pisau.

Sekilas dari samberan cahaya pisau, betapa pula besar akibatnya.

Begitu mengejutkan dan amat gagah perkasa.

Boleh dikata tidak usah melihat dengan matamu sendiri, cukup asal kau bisa membayangkan, maka jantungmu takkan terasa akan berhenti berdenyut.

Akan tetapi Ting Hun-pin tidak berpikir demikian.

Segala persoalan sudah tidak penting bagi dia, yang penting sekarang ini bahwa Yap Kay masih hidup.

Asal Yap Kay masih hidup, maka hatinya sudah cukup daripada puas yang paling puas.

ooo)dw(ooo Di belakang pintu terdengar isak tangis sesenggukan.

Orang mati jelas takkan bisa menangis.

Apakah Siangkwan Siau-sian belum mati?

Pisau Yap Kay memang bukan senjata pembunuh.

Dia beri kesempatan orang bertahan hidup.

Apakah lantaran dia sudah tahu bahwa selanjutnya dia sudah tidak lagi sama seperti Siangkwan Siau-sian yang satu dulu itu?

Pengampunan itu jauh lebih suci dan agung daripada dendam kesumat.

Hutang darah bayar darah, hutang jiwa bayar jiwa.

Pameo ini sudah tidak berlaku bagi Yap Kay, karena dia menggunakan Siau-li si Pisau Terbang.

Kekuatan pisau seperti ini adalah cinta kasih, bukan kebencian.

Ting Hun-pin tidak mengajukan pertanyaan, karena di dalam sanubarinya hanya ada cinta kasih, tiada kebencian.

Dia sedang mengawasi bola mata Yap Kay.

Kehidupan begini indah.

Cinta itu adalah sedemikian elok, begitu harmonis.

Jikalau seseorang tidak bisa melupakan dendam sakit hati, bukankah dia itu manusia bodoh?

-TAMAT

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Rahasia Bukit Iblis Kauw Tan Seng

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert