Ceritasilat Novel Online

Rahasia Mo Kau Kaucu 7

Eps 7 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.

Botol itu berisi bubuk atau puyer juga, namun berwarna kuning gelap.

Puyer kuning itu dia taburkan di atas tanah dengan sebuah lingkaran, namun ada sebagian garis lingkaran yang dia kosongkan.

Lalu dia menyingkir ke samping menunggu sambil berpeluk dada.

Yap Kay tidak mengerti, tanyanya.

"Apa sih yang kau kerjakan?"

"Aku sedang bikin makanan."

"Bikin makanan?"

"Setiap orang kan harus makan, aku inipun manusia biasa."

Yap Kay ingin bertanya lagi, tapi tiba-tiba dilihatnya di pekarangan luar ada cahaya lampu.

Tampak seorang Hweshio tinggi kurus, tangan kiri menenteng lampion, tangan kanan menyanggah nampan kayu, dari luar dia melangkah masuk ke pekarangan.

Mukanya masih menunjuk rasa takut, ragu-ragu, ingin maju namun tidak berani.

Hwesio ini ternyata Goh-cu.

"Untuk apa kau kemari?"

Bak Kiu-sing menegur.

"Aku mengantar barang-barang ini."

"Barang apa?"

Goh-cu acungkan nampan kayu di tangan kanan, katanya.

"Mayatnya sudah kumandikan dan masukkan ke dalam peti. Inilah barang-barang yang ku keluarkan dari kantong bajunya, semuanya ada di sini."

"Kau Hweshio ini kiranya jujur juga."

Jengek Bak Kiu-sing. Goh-cu tertawa dingin, katanya.

"Ada kalanya Hwesio memang ada yang tamak, namun dia tetap tidak akan berani melalap barang-barang milik orang yang sudah mati."

Pelan-pelan dia maju mendekat.

Setelah meletakkan nampan kayu, tersipu-sipu dia berlari keluar.

Hweshio memang selalu takut kesulitan, namun dia tidak suka mencampuri urusan orang lain.

Yap Kay berkata.

"Agaknya seseorang, asal sudah menjadi Hwesio, ingin tidak jujurpun tidak bisa lagi."

"Oleh karena itu, lekaslah kau cukur rambutmu menjadi Hwesio, setelah jadi Hwesio, sedikitnya kau bisa hidup berusia lebih tua."

Ooo)dw(ooo Di dalam nampan itu terdapat lima golok sabit, sebuah lencana kemala, delapan butir mutiara dan sepucuk surat yang sudah terbuka sampulnya.

Di atas lencana itu ada diukir sebuah tongkat kebesaran pertanda kekuasaan.

Setiap Su-toa-thian-ong dari Mo Kau pasti membawa sebuah lencana tanda pengenal kedudukan dan simbol kebesarannya.

Semua itu tidak perlu dibuat heran, yang aneh adalah sampul suratnya.

Surat itu ditulis dengan darah, hanya ada puluhan huruf saja yang kira-kira berbunyi demikian.

TENGAH HARI TANGGAL 3 MASUK TIANG-AN.

BERTEMU DI WAN-PING-BUN.

HARAP DITUNGGU.

Dibawah surat tidak ada tanda tangan penulisnya, hanya dilukis sebuah gambar puncak gunung.

Puncak tunggal alias Hu-hong.

Yap Kay pelan-pelan menghela napas, katanya.

"Pastilah surat-surat Hu-hong yang ditujukan kepada Tolka, dia minta supaya Tolka menunggunya di Wan-ping-bun."

"Besok adalah tanggal 3."

"Apa besok dia betul-betul datang?"

Yap Kay ragu-ragu.

"Sudah tentu datang, dia kan belum tahu bahwa Tolka sekarang sudah ajal."

"Sekarang di mana dia? Apakah di sana tiada tinta bak atau alat lainnya? Kenapa dia menulis surat dengan air darah?"

"Surat darah biasanya mempunyai dua arti."

Ujar Bak Kiu-sing.

"Dua arti bagaimana?"

"Surat terakhir yang merupakan pesannya sebelum ajal, atau menandakan bahwa keadaannya teramat gawat dan perlu segera ditolong."

Tiba-tiba Yak Kay tertawa, katanya.

"Mungkin lantaran dia terluka, bukankah ada darah yang mengalir dari luka-lukanya?"

"Orang-orang Mo Kau bila menulis surat darah, biasanya tidak pernah pakai darah sendiri."

"Kau kira surat ini tulen?"

"Pasti tidak salah."

"Darimana kau begitu yakin?"

Bak Kiu-sing tutup mulut.

Pada saat itulah dari luar hutan bambu sana tiba-tiba terdengar suara berisik yang aneh kedengarannya.

Suatu suara yang tidak bisa dilukiskan dan tidak enak didengarkan.

Luar biasa.

Siapapun yang mendengar suara ini pasti berdiri bulu romanya, seram dan giris, malah mungkin ada yang muntah-muntah pula.

Apa yang dilihat oleh Yap Kay justeru lebih menakutkan lagi dari suara itu.

Mendadak dilihatnya entah berapa banyaknya ular-ular beracun, cecak, kelabang dan binatang-binatang beracun lainnya yang besar kecil tidak merata, ogat-oget merayap masuk dari luar hutan, langsung memasuki lingkaran bubuk kuning yang dibuat Bak Kiu-sing.

Serasa mual dan mengkeret perut Yap Kay, namun sedapat mungkin dia bertahan diri, tanyanya.

"Inilah makanan yang kau buat?"

Bak Kiu-sing manggut-manggut, gumamnya.

"Untuk makanku seorang sudah cukup, kalau untuk dua orang, jadi kurang banyak."

"Untuk dua orang?"

Teriak Yap Kay.

"siapa lagi yang akan kemari?"

"Tiada orang lagi, biasanya aku jarang mentraktir orang."

"Sekarang hanya kau seorang saja."

"Apa kau bukan manusia?"

Bergidik Yap Kay dibuatnya, katanya menyengir kecut.

"Makanan seenak ini biarlah kau makan sendiri saja. Maaf, aku tidak mengiringi kau."

"Kau tidak sudi ikut menikmati makananku?"

"Aku.....aku masih ada janji, aku akan makan di luar saja. Setelah kenyang nanti, aku kembali."

Selama hidupnya belum pernah dia digebah lari oleh orang dengan ketakutan seperti itu, namun sekarang dia lari tidak kalah cepatnya dengan kelinci yang ketakutan.

Bak Kiu-sing tertawa gelak-gelak, katanya."

Kalau di luar kau kurang kenyang, boleh kau kembali makan nyamikan. Aku sediakan dua ekor kelabang yang gemuk-gemuk untuk kau."

Yap Kay sudah lompat keluar dari pagar tembok, tanpa menoleh lagi dia pergi.

Pertama kali inilah dia mendengar gelak tawa Bak Kiu-sing dari kejauhan, namun juga yang terakhir.

ooo)dw(ooo Warung nasi itu kecil, namun bersih.

Hari sudah gelap gulita, saat makan sudah lewat sejak tadi, maka kecuali Yap Kay, warung nasi itu tiada orang lain.

Yap Kay memesan dua macam sayuran dan sepoci arak.

Sebetulnya dia tidak ingin minum arak.

Mungkin secangkir arak masuk ke perutnya bisa menimbulkan kenangan pahitnya dan arak itu akan bercucuran berubah air mata.

Sekarang bukan saatnya berduka, umpama ingin sedih hati, asalkan persoalan yang dihadapi sudah lalu.

Sayang sekali seseorang bila dia berusaha menekan perasaannya dengan paksa, di kala kau tidak minum arak, kau malah semakin besar hasratmu untuk minum dua tiga cangkir.

"Aku hanya minum dua cangkir saja,"

Demikian dalam batin dia memperingatkan dirinya, tak boleh lebih banyak, malam masih cukup panjang, besok mungkin merupakan hari-hari yang paling sulit bagi dirinya.

Tapi setelah dua cangkir arak masuk perutnya, lantas dia merasakan banyak persoalan dalam dunia ini hakikatnya tidak segenting seperti apa yang barusan dia bayangkan.

Oleh karena itu dia menambah dua cangkir lagi.

Mendadak teringat olehnya akan Ting Hun-pin, kalau Ting Hun-pin berada di sini, pasti akan mengiringi dia minum arak juga.

Sering mereka berada di warung kecil seperti ini, minum dua cangkir dengan beberapa butir kacang goreng, menikmati malam nan tenang dan damai.

Waktu itu dia selalu merasa kehidupan seperti terlalu tawar dan basi, terlalu tenang, namun baru sekarang dia menyadari akan kesalahan dirinya.

Baru sekarang dia benar-benar merasakan menyadari ketenangan itu berarti kebahagiaan.

Kenapa setelah manusia kehilangan kebahagiaan baru menyadari, apakah kebahagiaan itu sebenarnya?

Angin dingin.

Malam semakin larut.

Di malam musim dingin nan dingin membeku ini seorang gelandangan yang kesepian, mungkinkah tidak akan mabuk?

Sunyi senyap.

Bagi seseorang yang benar-benar sudah mengecap kebahagiaan, sunyi sepi tidak perlu ditakuti, malah kadang-kadang dianggapnya merupakan suatu kenikmatan.

Tapi setelah kebahagiaan itu lenyap, dia akan mengerti kesepian itu adalah suatu yang amat menakutkan.

Yap Kay tengah merasakan kesakitan seperti ulu hatinya disayat-sayat.

Jikalau mendadak dia mendengar jeritan keras yang mengerikan dari luar, dia pasti bisa mabuk, karena dia sudah tidak bisa mengendalikan diri lagi.

Namun di saat cangkir ke tujuh sudah dia angkat, di tengah hembusan angin dingin itulah, tiba-tiba kumandang jeritan yang menyayat hati.

Jeritan itu kumandang dari arah Cap-hong-cu-lim-si.

Warung nasi ini terletak di belakang Cap-hong-cu-lim-si.

Begitu jeritan itu kumandang, laksana anak panah segera Yap Kay melesat keluar.

Maka dia melihat dua orang.

Dua orang mati, seperti karung kosong yang dicantelkan di atas pagar, jubah sutra bersulam, dengan topeng tembaga menutup muka.

Kedua mayat itu adalah duplikat Tolka.

Yap Kay menghela napas lega.

Bukan dia tidak simpati dan kasihan, tapi terhadap kedua orang ini, memang dia tidak perlu merasa iba.

Mereka sudah pergi?

Untuk apa pula kembali?

Kalau mereka kembali, sudah tentu Bak Kiu-sing tidak akan biarkan mereka hidup.

Hal ini tidak perlu dibuat heran dan kaget.

Yap Kay hanya menghela napas saja, namun setelah dia melihat seorang lagi adalah Bak Kiu-sing, baru dia benar-benar terkejut luar biasa.

Sungguh tidak pernah terpikir olehnya, bahwa Bak Kiu-sing kinipun adalah seorang yang sudah melayang jiwanya.

ooo)dw(ooo Tetap tiada penerangan di dalam pekarangan ini.

Bak Kiu-sing rebah di pekarangan yang gelap, badannya meringkel, menyusut mengecil seperti trenggiling.

Yap Kay benar-benar melongo dan menjublek.

Dia tahu dua orang yang mati di atas tembok itu karena termakan oleh serangan Bak Kiu-sing, namun dia tidak habis mengerti bagaimana Bak Kiu-sing sendiripun bisa mati.

Dia pernah saksikan ilmu silat Bak Kiu-sing.

Seorang tokoh silat kalau dia sudah mampu mengerahkan Lwekang-nya sesuai dengan jalan pikirannya, tidaklah mudah orang bisa membunuhnya.

Apalagi Bak Kiu-sing cukup tabah, tenang dan berani, jarang ada orang yang bisa menandingi dia.

Siapakah yang membunuhnya?

Siapa pula yang mampu membunuhnya?

Yap Kay berjongkok memeriksa.

Topi rumput masih di atas kepalanya, namun sekarang dia sudah tidak bisa merintangi orang menanggalkannya.

Begitu topi orang terangkat, Yap Kay lantas melihat seraut muka coklat gelap.

Kulit mukanya sudah mengkeret berkeriput, berubah dari bentuk asalnya, jelas dia mati lantaran keracunan.

Lalu siapakah yang meracuni dia?

Tanpa bergeming Yap Kay berdiri di tempatnya.

Angin dingin setajam pisau menyampok mukanya.

Akhirnya dia mengerti kenapa jiwa Bak Kiu-sing melayang, namun dia tetap tidak mengerti, kenapa Bak Kiu-sing selalu mengenakan topi rumputnya ini.

Topi rumput ini tiada keistimewaannya.

Demikian pula muka Bak Kiu-sing, tiada sesuatu yang perlu dirahasiakan dan pantang dilihat oleh Yap Kay, kecuali beberapa buah bintang-bintang di mukanya, diapun seperti manusia awam lainnya, bersahaja.

Cuma kerut mukanya jauh lebih tua dari apa yang dibayangkan Yap Kay.

Seorang biasa dan topi yang biasa pula.

Tapi apakah diantara yang biasa ini ada terselip sesuatu rahasia yang luar biasa?

Pelan-pelan Yap Kay teruskan topi rumput itu menutupi muka Bak Kiu-sing, katanya seorang diri.

"Kenapa kau tidak meniru orang lain yang suka makan daging sapi? Sedikitnya daging sapi tidak akan meracunmu sampai mampus."

Ooo)dw(ooo Jenazah Bak Kiu-sing pun sudah diangkut ke belakang dan dibereskan. Goh-cu merangkap kedua telapak tangannya di depan dada, katanya menghela napas.

"Cuaca silih berganti tak menentu, manusia selalu dipermainkan rejeki dan elmaut, semogalah sang Buddha maha pengasih melindungi umatnya. Omitohud."

Mulutnya komat-kamit memanjatkan doa, namun mukanya sedikitpun tidak menunjukkan duka cita. Agaknya sedikitpun dia tidak simpati akan kematian Bak Kiu-sing. Yap Kay tertawa, katanya.

"Orang beribadah kok mengutuk orang malah?"

"Siapa yang mengutuk orang?"

Tanya Goh-cu.

"Siapa lagi, kau!"

"Orang beribadah harus berhati bajik dan ikut berduka bagi kematian umatnya, tapi aku memang tidak merasa duka untuknya."

"Kau Hwesio ini memang cerewet, namun apa yang kau katakan agaknya jujur juga."

"Bicara terus terang, jikalau karena aku ini sudak cerewet, sekarang aku sudah diangkat menjadi ketua di dalam Tay-siang-kok-si ini."

Yap Kay tertawa.

Rasanya bukan saja Hwesio ini tidak mirip orang beribadah, diapun rada lucu.

Goh-cu tengah membaca mantram pula, mungkin mendoakan arwah Bak Kiu-sing mendapat tempat di sisi Thian.

Tak tahan akhirnya Yap Kay mengganggu mantramnya.

"Hanya kau seorang saja yang mengurusi sembahyangan?"

"Hwesio yang lain sudah tidur. Tempat ini memang biara pemujaan, tapi orang yang sembahyangan di sini terlalu sedikit. Para Sicu yang sudi kemari, kebanyakan hanya untuk membayar kaul dan makan masakan tidak berjiwa, lihat-lihat pemandangan belaka."

Dengan menghela napas dia menambahkan.

"Terus terang, biara di sini tidak ubahnya dengan sebuah rumah penginapan belaka."

Yap Kay tertawa pula, tiba-tiba dia bertanya.

"Tahukah kau kenapa dia mati?"

Goh-cu geleng-geleng kepala.

"Lantaran kau cerewet, maka dia mati!"

Berubah muka Goh-cu, katanya menyengir.

"Sicu tentu sedang menggoda aku."

"Aku tak pernah berkelakar di hadapan orang mati."

"Apakah Sicu tidak bisa melihatnya, dia mati keracunan."

"Jadi kau bisa melihatnya?"

"Ular-ular yang ada di sini kebanyakan beracun, apalagi masih ada kelabang, kalajengking."

"Ada sementara orang sejak dilahirkan memang sudah berani makan Ngo-tok (Lima racun), betapapun beracunnya ular itu takkan bisa membuatnya mati keracunan."

"Tapi kecuali binatang-binatang beracun yang dia tangkap sendiri, dia tidak pernah makan barang lain."

"Kalau binatang-binatang berbisa itu hasil tangkapannya sendiri, kenapa setelah dimakan membuatnya mati keracunan malah?"

Goh-cu melongo, gumamnya.

"Agaknya kejadian ini memang rada ganjil."

"Sebetulnya hal ini tidak perlu di buat heran."

Goh-cu tidak mengerti.

"Dia memang mati keracunan oleh binatang-binatang beracun itu, namun lantaran badan binatang beracun itu dilumuri racun lain yang tak kuat ditahannya."

"Lalu siapa yang meracun dia?"

"Dua orang yang mampus di atas tembok itu."

"Lalu apa sangkut pautnya dengan cerewetku?"

"Sudah tentu ada sangkut pautnya. Bila kau tidak cerewet, orang lain takkan tahu kalau dia biasa makan Ngo-tok."

Memang, jikalau orang lain tidak tahu yang dia makan hanya Ngo-tok, bagaimana mungkin mereka melumuri jenis racun lain di atas binatang-binatang beracun itu. Goh-cu kelakep.

"Kedua orang yang menaruh racun ingin membuktikan apakah dia betul-betul keracunan, tak kira sebelum dia ajal, dia masih mampu turun tangan menuntut balas kematiannya sendiri" . Penjelasan ini memang masuk akal.

"Orang seperti dia ini,"

Ujar Yap Kay lebih lanjut.

"siapapun bila bersalah terhadapnya, perduli dia hidup atau sudah mati, tetap tidak akan membiarkan orang hidup."

Goh-cu mengguman.

"Di kala hidup adalah manusia galak, setelah mati tentu jadi setan jahat."

"Oleh karena itu kau harus selalu hati-hati,"

Yap Kay memperingatkan. Berubah muka Goh-cu, katanya tergagap.

"Aku........apa yang harus ku jaga?"

Yap Kay menatapnya, katanya pelan-pelan.

"Hati-hatilah bila mendadak dia melompat keluar dari layonnya, memotong lidahmu, supaya selanjutnya kau tidak cerewet lagi."

Semakin buruk muka Goh-cu, tiba-tiba dia putar badan seraya berkata.

"Kepalaku pusing sekali, aku ingin segera tidur saja."

"E, eh, jangan kau pergi!"

Yap Kay menahannya. Kelihatannya Goh-cu amat kaget, tanyanya.

"Kenapa?"

"Kalau kau pergi, siapa yang akan menyembahyangkan arwahnya ke alam baka?"

"Dia tidak memerlukan sembahyangan, orang seperti dia terang akan masuk ke neraka."

Sinar lampu minyak kelap-kelip.

Ruang sembahyangan itu diliputi suasana seram nan dingin dan menggiriskan.

Di tengah keremangan malam di dalam biara itu, seolah-olah ada setan-setan jahat yang gentayangan, tengah menunggu orang untuk memotong lidahnya.

Sekejappun Goh-cu sudah tak berani menunggu lagi, sampai kayu pemukul Bokhi di tangannyapun lupa diletakkan, cepat-cepat dia putar badan terus lari keluar, waktu tiba di ambang pintu, hampir saja terjerembab jatuh kesandung palang pintu.

Yap Kay mengawasi orang berlari keluar.

Sorot matanya tiba-tiba menunjukkan perasaan aneh.

Orang beribadah lazimnya tidak takut setan, kecuali dia pernah melakukan perbuatan yang menakutkan hatinya sendiri.

Memangnya perbuatan tercela apa yang pernah dia lakukan?

Apa benar dia takut setan?

Atau takut lainnya?

ooo)dw(ooo Lima peti mati diplitur baru berderet di tengah ruang sembahyang.

Yap Kay masih belum pergi.

Dia tidak takut setan, dia tidak pernah melakukan perbuatan tercela.

Dia berdiri di tengah hembusan angin lalu, mengawasi ke lima peti, mulutnya mengguman.

"Biara ini jarang mengadakan upacara bagi arwah-arwah yang meninggal, namun peti-peti mati yang disimpan di sini tidak sedikit jumlahnya. Apakah para Hwesio di sini sebelumnya sudah meramalkan bahwa malam ini akan banyak orang mati di sini?"

Suaranya amat lirih, karena dia tahu semua persoalan ini tiada orang yang bisa mencari jawaban.

Memang dia bicara untuk di dengar sendiri.

Pada saat itulah tiba-tiba Goh-cu berlari masuk pula dari luar.

Mulutnya terpentang lebar, menjulurkan lidah seakan-akan ingin berteriak, namun suaranya tidak keluar.

Tiba-tiba didapati oleh Yap Kay bukan saja roman mukanya sudah berubah, warna lidah dan bentuknyapun sudah berubah, menjadi hitam legam.

Jarinya menuding lidahnya sendiri, seperti mau bicara dengan Yap Kay,.

Namun tidak kuasa bicara.

Yap Kay segera memburu maju, setelah dekat baru dilihatnya di atas lidahnya itu ada bekas gigitan ular beracun.

Lidahnya berada di dalam mulut, lalu bagaimana cara ular bisa menggigit lidahnya?

Apakah di sini benar-benar ada setan jahat yang ingin menyumpal mulutnya?

Tiba-tiba Goh-cu mengeluarkan sepatah kata.

"Pisau......pisau...."

"Kau ingin supaya aku mengiris lidahmu dengan pisauku?"

Tanpa merasa Yap Kay merinding sendiri waktu bicara.

Dilihatnya lidah Goh-cu semakin membengkak besar, napasnyapun semakin memburu, mendadak dia kerahkan seluruh tenaganya menggigit sekeras-kerasnya.

Sepotong lidahnya seketika tergigit putus dan darahpun muncrat.

Darahnyapun sudah berwarna hitam.

Akhirnya Goh-cu mampu menjerit ngeri, tapi tiba-tiba jeritannya terputus.

Pelan-pelan dia tersungkur jatuh.

Sebelum ajal, ternyata dia menggigit putus lidahnya sendiri.

Hweshio yang cerewet ini entah mati atau masih hidup, selanjutnya tidak akan cerewet lagi.

ooo)dw(ooo Angin semakin dingin.

Yap Kay malah melangkah menyongsong hembusan angin.

Keringat dingin yang membasahi badannya lekas sekali menjadi butiran es.

Sungguh diapun tak berani lama-lama tinggal di biara itu.

Bukan dia takut kepada setan, tapi biara itu seperti menyembunyikan sesuatu yang menakutkan.

Sayup-sayup terdengar suara kentongan dari kejauhan.

Kentongan ketiga.

Sudah tidak kelihatan lampu menyala di dalam kota tua yang sudah kelelap di selimuti tabir malam.

Di manapun kau sampai, kegelapan melulu yang menyambut kedatanganmu.

Kalau di musim panas, mungkin di malam selarut ini masih gampang orang mencari tempat untuk mengisi perut dan memanaskan badan dengan arak keras.

Sayang sekali saat itu musim dingin.

Mungkin karena kesulitan mencari minuman, selera Yap Kay bertambah besar.

Ingin benar dia minum dua cangkir.

Dengan menghela napas dia keluar dari jalanan itu, dia jadi kebingungan sendiri, entah ke arah mana dia harus pergi, sampaipun tempat untuk tidurpun tiada lagi bagi dirinya.

Pada saat itulah tiba-tiba didengarnya seseorang berkata sambil tertawa.

"Aku tahu suatu tempat di mana kau bisa memperoleh arak. Kau mau ikut tidak?"

Walau ada sinar bintang, namun jalanan tetap gelap.

Orang itu melambaikan lengan bajunya yang tertiup angin beranjak ke depan.

Yap Kay mengintil di belakangnya.

Orang di depan itu tidak pernah berpaling.

Yap Kay pun tidak bertanya, diapun tidak memburu dekat.

Langkah orang di depan tidak terlalu lebar atau cepat, namun dia cukup hapal akan seluk-beluk jalanan di sini.

Yap Kay mengikuti langkah orang, putar sana, belok sini beberapa kali, arahnya sampai sudah tidak tertentu lagi.

Akhirnya dilihatnya di depan sana dihadang pagar tembok tinggi.

Agaknya pekarangan rumah di balik tembok itu amat luas panjang.

Sekali mengebaskan lengan baju, dengan ringan orang itu melayang naik ke pagar tembok.

Bukan saja Ginkang orang ini tinggi, gerak langkah dan gaya badannyapun lincah, indah dan menakjubkan, sampaipun Yap Kay jarang melihat orang yang punya Ginkang setinggi itu.

Keadaan dibalik tembokpun gelap gulita, hembusan angin nan dingin membawa bau wangi yang menyegarkan badan.

Tampak bayangan pohon berjajar, luas dan banyak, di mana-mana tumbuh pohon Bwe melulu.

Setelah Yap Kay melompat ke dalam tembok, baru dia sadar bahwa tempat itu adalah Leng-hiang-wan yang pernah dia datangi, tempat kenamaan di kota Tiang-an.

Setelah mengalami pertempuran besar yang acak-acakan serta misterius tempo hari, taman nomer satu di kota Tiang-an yang biasanya ramai, kini menjadi sepi, tiada jejak manusia.

Sinar lampupun tak kelihatan lagi.

Hanya hembusan angin lalu saja yang membawa bau wangi.

Daun-daun yang gemerisik laksana suara helaan napas.

Siapakah yang menghela napas?

Apakah setan-setan gentayangan yang menjadi korban di dalam taman ini?

Leng-hiang-wan terkenal luas, rumit, dengan jalan-jalan yang simpang siur.

Orang yang tak mengenal jalan bisa tersesat dan tak bisa keluar.

Tapi orang di depan itu seperti hapal betul keadaan di sini.

Yap Kay dipaksa ikut putar kayun sekian lamanya.

Setelah melewati sebuah pintu sabit, mereka tiba di sebuah pekarangan kecil.

Di sinipun tiada orang, tiada lampu dan tiada suara.

(Bersambung ke Jilid-17) Jilid-17 Pintu terpentang lebar.

Orang itu terus maju membuka daun pintu lebih lebar, terus menyingkir ke samping, katanya.

"Silahkan masuk."

Tapi Yap Kay tidak masuk.

"Kau tidak mau masuk?"

Tanya orang itu.

"Kenapa aku harus masuk?"

"Ada orang menunggumu di dalam."

"Siapa?"

"Setelah kau masuk, kau akan melihatnya sendiri."

"Aku tidak mau masuk."

Ujar Yap Kay.

"Yang ditunggu adalah kau, bukan aku lho!"

Suaranya kedengaran aneh, mukanya ditutupi kain sewarna pakaian yang dipakainya. Yap Kay menatapnya, tiba-tiba dia tertawa, katanya.

"Kau tahu, bahwa aku mengenalmu, kenapa kau justru main kucing-kucingan? Kelihatannya orang itu terkejut, teriaknya tertahan.

"Kau.......kau mengenali aku?"

"Kalau aku tidak mengenalmu, bukan saja aku ini orang picak, mungkin orang linglung!"

"Kenapa?"

Tanya orang itu.

"Kau tidak tahu?"

Makin lirih suara orang itu.

"Apakah dalam hatimu sudah ada diriku?"

Yap Kay tidak menjawab.

Mimik sorot matanya mendadak berubah aneh.

Perduli apa maksud dari mimiknya ini, paling tidak menyangkal akan kebenaran ini.

Akhirnya orang itu angkat kepala serta menanggalkan kedoknya.

Sinar bintang seketika meningkah roman mukanya.

Di alam setenang itu, di bawah sinar bintang-bintang yang guram, wajahnya kelihatan secerah dan secantik kembang Bwe yang sedang mekar, laksana bidadari dari kahyangan.

Terutama sorot matanya lebih jeli dan elok, namun seperti menampilkan rasa duka lara, muram dan rawan yang tak bisa dilimpahkan.

Dengan nanar dia menatap Yap Kay, katanya pelan.

"Memang aku harus tahu, kau pasti bisa mengenaliku, karena umpama kau menjadi abu, akupun tetap bisa mengenalimu."

Suaranya ternyata lebih merdu, semerdu kicauan burung di musim semi, laksana bunyi hembusan angin lalu yang meniup padang ilalang.

Mata nan indah jeli, suara nan merdu mempesonakan, siapa lagi kecuali Siangkwan Siau-sian?

Yap Kay tengah menatapnya, katanya.

"Tapi kau justru mengharap aku tidak mengenalimu?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.

"Kenapa?"

Tanya Yap Kay. Siangkwan Siau-sian ragu-ragu, katanya kemudian.

"Masuklah dulu, kau akan tahu apa sebabnya."

"Kau tidak mau masuk?"

"Aku boleh menunggumu di luar."

"Kenapa harus menunggu di luar?"

"Karena setelah aku masuk, pasti kau mengharap aku menunggu di luar."

Bukan saja tawanya pilu dan sedu, malah rada misterius juga.

Memang Siangkwan Siau-sian adalah gais misterius, selalu dia melakukan sesuatu yang tak pernah terpikir oleh orang lain.

Yap Kay tidak bertanya pula, karena dia cukup memahaminya, sesuatu yang tidak mau dia jelaskan, siapapun takkan bisa memaksa dia menerangkan.

Daun pintu terbuka lebar, hembusan angin berkeriyat-keriyut.

Akhirnya dengan langkah pelan-pelan Yap Kay melangkah ke dalam kegelapan.

Kalau di luar ada sinar bintang, sebaliknya di dalam rumah lebih gelap pekat.

Apapun tak terlihat oleh Yap Kay, sampaipun ke lima jarinya sendiri yang dia dekatkan di depan mata.

Namun, kupingnya menangkap dengus pernapasan orang yang lirih sekali.

Kiranya memang di dalam rumah ada orang.

"Siapa?"

Tiada reaksi tak ada jawaban.

Malah dengus napas lirih itu seakan-akan berhenti.

Kalau orang itu menunggu Yap Kay di dalam rumah, kenapa tidak mau menjawab pertanyaannya?

Apakah ini muslihat Siangkwan Siau-sian, ataukah di tempat ini ada perangkap pula?

Kalau tidak, waktu orang membawa Yap Kay kemari, kenapa dia tidak menunjukkan muka aslinya?

Kenapa menyaru orang lain?

Kalau orang lain mungkin sudah mengundurkan diri, tapi Yap Kay tidak, karena dalam hatinya tiba-tiba dilempar suatu perasaan aneh yang dia sendiripun tidak bisa menjelaskan.

'Blang' hembusan angin kencang menyebabkan daun pintu berdentam menutup, kini ingin keluarpun dia tidak bisa lagi.

Sudah tentu keadaan dalam rumah menjadi lebih gelap lagi, namun dengus napas itu kembali terdengar jelas.

Tadi dengus napas ini terdengar di sebelah depan, kini berganti tempat di pojok rumah.

Kenapa dia main mundur dan sembunyi atau menyingkir?

Apakah karena dia merasa takut?

Yap Kay telah menabahkan diri, katanya.

"Perduli kau siapa, bahwa kau sudah menungguku di sini, tentunya kau sudah tahu siapa aku ini?"

Hening lelap, tetap tiada jawaban.

"Aku bukan manusia jahat yang kejam, oleh karena itu kau boleh tidak usah takut terhadapku."

Sembari bicara kakinya melangkah maju, langkahnya amat pelan.

Sekonyong-konyong sejalur angin dingin menyampuk datang ke arah mukanya.

Matanya seakan-akan tertutup rapat oleh kain tebal karena saking gelapnya, namun dia tetap bisa merasakan.

Hanya samberan angin golok baru terasa begini dingin.

Tapi diapun tidak melihat adanya samberan golok.

Golok yang tidak kelihatan, justru merupakan golok mematikan bagi jiwa manusia.

Siapakah dia?

Kenapa mau membunuh dirinya?

Deru angin golok ini bukan saja dingin, juga kencang.

Sebat sekali Yap Kay berkelit, mendadak secepat kilat tangannya bergerak mencengkeram pergelangan tangan orang.

Tangan yang dingin.

Sudah tentu diapun tidak melihat tangan itu, namun diapun bisa merasakannya, maka sekali sambar dia bisa menangkapnya.

Bagi seorang tokoh kosen yang tulen, memang dilandasi suatu nalar atau perasaan aneh yang sukar dijelaskan, mirip juga dengan reaksi binatang di saat dia menghadapi mara bahaya secara mendadak.

Tangan orang itu terasa gemetar, namun dia tetap tidak mau bersuara.

Tiba-tiba tangan Yap Kay ikut gemetar juga, karena lapat-lapat dia sudah merasakan siapakah orang yang tangannya dia pegang, sekaligus dia sudah mencium dengus dan bau badan orang.

Setiap manusia mempunyai bau badannya sendiri yang khas, demikian pula bau badan orang yang satu ini, selama hidupnya takkan pernah dia lupakan.

Matipun tidak akan dia lupakan.

Sekonyong-konyong orang itu meronta sekuat-kuatnya melepaskan diri terus menyurut mundur ke pojok dinding pula.

Kali ini Yap Kay tidak memburunya, sebetulnya sekujur badan tengah bergetar seakan-akan badannya mengejang kaku seperti kayu.

Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa orang ini berada di sini, tak terpikir pula olehnya bahwa dia bakal membunuhnya.

Keringat dingin sudah bercucuran dari atas jidatnya.

"Aku adalah Siau Yap", sedapat mungkin dia menguasai emosinya.

"apakah kau tidak mengenal suaraku?"

Tetap tiada jawaban.

Suara pernapasan semakin memburu, seolah-olah dia mulai ketakutan.

Yap Kay kertak gigi, bukan melangkah ke depan, dia malah menyurut mundur ke arah pintu.

Tiba-tiba dia putar badan serta menarik daun pintu sekuatnya.

Ternyata sekali tarik, pintu lantas terbuka.

Waktu dia menerjang keluar, Siangkwan Siau-sian ternyata masih menunggunya di pekarangan.

Melihat mimik mukanya, sorot matanya menampilkan rasa kasihan dan prihatin.

Lekas dia menyongsong maju seraya bertanya.

"Kau sudah tahu siapa yang ada di dalam rumah?"

Yap Kay manggut-manggut. Kedua tangannya terkepal kencang, katanya.

"Kenapa tidak kau sulut pelita?"

"Aku kan tidak berada di dalam rumah."

"Kau bawa ketikan api?"

"Ada"

"Kenapa tidak kau berikan kepadaku sejak tadi?"

Siangkwan Siau-sian tidak menjawab tegurannya, diam-diam dia angsurkan batu ketikan api kepada Yap Kay.

Yap kay segera berlari masuk pula, batu ketikan api segera dia kerjakan.

Seseorang berdiri melongo di pojok kamar sana.

Dia bukan lain adalah Ting Hun-pin.

Akhirnya Yap Kay berhasil melihatnya, akhirnya menemukan dia di sini.

Tiada orang yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan hatinya saat itu dengan kata-kata, orangpun takkan pernah membayangkan.

Tapi tiba-tiba Ting Hun-pin berjingkrak dan berteriak-teriak seperti orang gila, terus membelakangi cahaya api di tangan Yap Kay.

"Api..... api......."

Setelah melihat api, mendadak dia berubah laksana binatang liar yang terluka dan ketakutan.

Sekujur badannya gemetar keras mengkeret.

Saking takutnya sampai wajahnya yang cantik molek itu kini berubah bentuk dan pucat berkeringat.

Mulutnya tak henti-hentinya berteriak.

"Api.......kebakaran......."

Dia sudah melihat api, namun tidak melihat Yap Kay, seakan-akan dia memang sudah tidak kenal Yap Kay lagi.

Api segera padam, kamar kembali menjadi gelap.

Hati Yap Kay pun seketika terselubung di dalam kegelapan nan tak berujung pangkal.

Entah berapa lama kemudian, secara diam-diam dia mengundurkan diri pula.

Tanpa bersuara dia kembalikan ketikan api itu kepada Siangkwan Siau-sian.

Siangkwan Siau-sian tertawa getir, katanya.

"Apakah sekarang kau sudah mengerti, kenapa tadi aku tidak memberi ketikan api ini kepadamu?"

Yap Kay diam.

"Dia lari keluar dari kobaran api besar itu. Terlalu besar pukulan batin yang menimpa dirinya, namun.....sungguh aku tidak habis pikir, sampai kaupun dia sudah tidak kenal lagi."

Lama Yap Kay diam, akhirnya dia bertanya.

"Dimana kau bisa menemukan dia?"

"Di tempat ini juga."

"Kapan kau temukan dia?"

"Begitu lolos dari kobaran api, kukira dia langsung lari kemari, tapi baru malam tadi aku menemukan dia."

Ujar Siangkwan Siau-sian menunduk.

"aku tahu melihat keadaannya pasti hatimu amat sedih, tapi tidak bisa tidak aku harus membawamu kemari."

"Kau......"

"Semula aku tidak ingin kau tahu, bahwa akulah yang membawamu kemari, karena......karena....."

"Karena apa?"

"Akupun tidak tahu kenapa, mungkin karena aku tidak suka kau merasa haru, terima kasih karena hal ini, atau mungkin karena aku takut."

"Takut? Takut apa?"

Semakin sedih sikap Siangkwan Siau-sian.

"Dia berubah begitu rupa, sedikit banyak akupun punya tanggung jawab, aku takut kau membenciku, membenciku........ aku lebih takut setelah kau melihatnya, selanjutnya tidak akan menghiraukan aku lagi."

"Tapi kau toh membawaku kemari."

"Oleh karena itulah aku sendiripun tidak tahu, apakah sebetulnya yang kulakukan?"

Di bawah pancaran sinar bintang-bintang, tampak pipinya sudah basah oleh air mata.

Siapapun akan dapat merasakan betapa kontras dan derita hatinya.

Yap Kay malah seperti tidak melihat, mendadak dia melangkah ke tengah pekarangan, beruntun dia lompat bersalto tiga kali, lalu berdiri tegak laksana tombak, menghirup napas panjang serta membetulkan pakaiannya.

Salju yang bertumpuk di tanah belum cair, entah siapa yang memetik sekuntum kembang Bwe, jatuh di atas tumpukan salju.

Yap Kay memungutnya serta menancapkan di atas bajunya, lalu dia beranjak kembali.

Mendadak dia tertawa kepada Siangkwan Siau-sian, katanya.

"Coba terka, apa yang sekarang akan kulakukan?"

Siangkwan Siau-sian mengawasinya sambil melongo kaget.

"Aku ingin cari tempat untuk tidur."

Ujar Yap Kay tertawa.

"Sekarang kau masih ingin tidur?"

Tanya Siangkwan Siau-sian semakin terkejut. Yap Kay manggut-manggut, katanya.

"Besok siang masih ada urusan, aku harus memelihara kesehatan, memulihkan tenaga dan semangatku."

"Kau......masih bisa tidur?"

"Kenapa aku tidak bisa tidur?"

"Tapi Ting Hun-pin......?"

"Apapun yang terjadi, sekarang aku sudah menemukan dia. Soal lain boleh diselesaikan belakangan saja."

"Dia begitu rupa, kau tega meninggalkannya?"

"Ada Kim-ci-pang Pangcu yang melindunginya di sini, apa pula yang tidak kulegakan?"

Siangkwan Siau-sian mengawasinya, seolah-olah belum pernah dia melihat laki-laki macam ini.

Memang jarang ada orang berwatak begini.

Siapapun menghadapi persoalan ini, hatinya pasti berduka dan kuatir, tapi dia cukup jumpalitan tiga kali, mendadak segala kekuatiran, kerisauan hatinya lenyap tak berbekas lagi.

Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.

"Agaknya walau ada kerisauan hati sebesar gunung, akupun tetap bisa melemparkannya dalam waktu sekejap."

"Memang tiada sesuatu persoalan dalam dunia ini yang perlu dirisaukan."

"Kau memang orang yang punya rejeki."

Yap Kay tidak menyangkal.

"Besok siang, kau ada urusan apa yang perlu diselesaikan?"

"Aku punya janji."

"Janji apa?"

"Hu-hong dan Tolka sudah berjanji besok akan bertemu di Wan-ping-bun."

"Itukan janji mereka, kau......"

"Sekarang Tolka sudah mampus,"

Tukas Yap Kay.

"maka janji ini menjadi aku yang menepatinya."

"Kau ingin gunakan kesempatan ini untuk menemukan Hu-hong?"

Yap Kay manggut-manggut seraya mengiyakan.

"Besok tengah hari, entah berapa banyak orang yang keluar masuk di Wan-ping-bun, darimana kau bisa tahu siapa Hu-hong sebenarnya?"

"Tentu aku punya akal untuk menemukan dia."

"Akal apa?"

"Sekarang aku sendiri belum tahu, tapi tiba saatnya aku pasti bisa menemukan akalku."

Yap Kay tersenyum lalu menambahkan.

"memangnya tiada sesuatu persoalan dalam dunia ini yang tak bisa diselesaikan, benar tidak?"

Siangkwan Siau-sian mandah tertawa getir.

Sudah tentu banyak tempat di dalam Leng-hiang-wan ini untuk tidur.

Yap Kay ternyata benar-benar melaksanakan kata-katanya, bilang tidur, dia tetap pergi tidur.

Mengawasi orang beranjak pergi, tiba-tiba Siangkwan Siau-sian berseru lantang.

"Kau sendiri tidur, masakah aku harus wakili kau melindungi dia di sini."

Tak tertahan Siangkwan Siau-sian menghela napas pula, ujarnya seorang diri.

"Baru sekarang aku tahu kenapa dia selamanya tidak pernah risau, karena selalu bisa memberikan kerisauan hatinya kepada orang lain."

Memang itulah kemahiran Yap Kay yang tidak dipunyai orang lain.

Jikalau dia tidak punya kemahiran ini, mungkin sekarang dia sudah menumbukkan kepalanya ke dinding dan mampuslah jiwanya dengan kepala pecah.

ooo)dw(ooo Tanggal 3.

Hari masih pagi.

Dengan langkah lebar Yap Kay memasuki pekarangan.

Baju yang dipakainya masih kumal, kotor dan berbau apek.

Sedikitnya sudah beberapa hari tidak ganti pakaian dan tidak dicuci.

Rambutnya awut-awutan, kembang Bwe yang dia cantelkan di atas bajunyapun sudah layu.

Urusan yang dia hadapi belakangan ini jikalau orang lain yang mengalami pasti takkan hidup lagi.

Akan tetapi waktu dia melangkah ke dalam pekarangan, kelihatan air mukanya cerah, bersemangat dan semu merah, gairahnya berkobar, seperti orang yang baru saja mendapat anugerah dan pangkat.

Tak akan ada orang yang bisa dibanding sikapnya seperti dia sekarang.

Siangkwan Siau-sian tengah bersandar di jendela, mengawasi kedatangan orang.

Mimik mukanya seperti geli, ingin tertawa atau ingin menangis.

Yap Kay langsung mendekati dengan langkah lebar, sapanya dengan senyum simpul.

"Selamat pagi."

Siangkwan Siau-sian gigit bibir, katanya.

"Sekarang sudah tidak pagi lagi."

"Walau tidak pagi, namun masih belum terlambat."

"Agaknya kau bisa tidur dengan nyenyak."

"Wah! Seperti mayat saja dengkurku."

"Sungguh aku tidak habis pikir, kau benar-benar bisa tidur pulas."

"Jikalau aku ingin tidur, umpama langit ambrukpun aku tetap bisa tidur dengan nyenyak."

Ting Hun-pin juga sedang tidur. Diapun tidur nyenyak sekali, tangannya masih menggenggam golok.

"Kapan dia tidur?"

Tanya Yap Kay.

"Setelah terang tanah baru dia tidur."

Di atas meja ada sebuah mangkok kuah yang sudah kosong.

"Agaknya barusan dia sudah makan sesuatu makanan."

"Sudah makan semangkok penuh mie ayam. Setelah kenyang baru dia tidur."

Ujar Siangkwan Siau-sian, lalu dengan tertawa meringis dia menyambung.

"untunglah akhirnya dia mau tidur, kalau tidak aku tidak bisa masuk ke pintu ini."

"Kenapa?"

"Siapapun yang melangkah masuk, goloknya itu lantas menyerang hendak membunuh orang."

"Apapun yang terjadi atas dirinya, setelah dia mau makan, bisa tidur lagi, melegakan juga."

"Sayang sekali aku sendiri malah tidak doyan makan, tidurpun tidak terpejam mataku, sungguh aku tidak beruntung seperti kalian."

Biji mata Siangkwan Siau-sian berputar, tiba-tiba dia bertanya.

"Kau sudah memikirkan caranya belum?"

"Belum! Aku lagi mulai memikir."

"Kapan kau baru akan memikirkannya?"

"Setelah tiba di pintu kota, baru akan kupikir."

"Agaknya sedikitpun kau tidak merasa gugup?"

"Setelah perahu sampai di dermaga, akan berhenti juga. Kata-kata ini selalu kupercayai."

"Sekarang apa yang ingin kau lakukan?"

"Ingin makan semangkok mie ayam."

Ooo)dw(ooo Cuaca cerah, mentari memancarkan sinarnya semarak merah bercahaya.

Dengan langkah lebar Yap Kay keluar dari Leng-hiang-wan.

Kelihatan semangatnya menyala, tekadnya bergairah, tenaganya penuh, karena semangkok besar mie ayam telah masuk ke perutnya.

Dia gegares habis semangkok mie itu di dalam Leng-hiang-wan.

Hari ini pagi-pagi benar Siangkwan Siau-sian sudah suruhan koki bekerja di dapur memasakkan apa saja yang diminta.

Ada uang setanpun bisa diperintah.

Kerja apapun yang dilakukan Kim-ci-pang, selalu pasti lebih cepat dari kerja orang lain.

Demikian pula rasa mie ayam berkaldu itu, rasanya jauh lebih lezat dan enak daripada mie ayam yang pernah dimakan Yap Kay selama hidupnya.

Bukan lantaran perutnya sudah keroncongan, yang benar karena koki yang memasak mie ayam itu ternyata dia koki asal dari rumah makan Wa-goan-koan di Hang-ciu yang sengaja didatangkan oleh Siangkwan Siau-sian, Perduli tukang kerja apapun di dalam Kim-ci-pang selalu orang-orang pilihan yang paling top dan kelas wahid.

Untuk ini pihak Kim-ci-pang tidak perlu mengagulkan diri.

Setelah menghabiskan semangkok mie ayam kaldu itu, hati Yap Kay malah kurang enak.

Semakin dipikir semakin bingung dan tidak habis mengerti, betapa besar kekuatan Kim-ci-pang sebetulnya.

Hal ini sulit dia bayangkan dan dia pikirkan.

Setelah berputar kayun dari jalan satu ke jalan lain, akhirnya Yap Kay tiba di Thay-ping-pui yang ramai.

Yap Kay merogoh kantong menghabiskan tiga puluh ketip untuk membeli sebungkus besar kacang kulit, dan kembali dia habiskan lima puluh ketip untuk membeli dua batang joran panjang.

Dia sudah belajar dan terbiasa, di saat hatinya tegang, dia menguliti kacang untuk menekan perasaannya.

Kalau tangan punya kerja, betapapun pikiran dan perhatian seseorang selalu mengendor.

Tapi untuk apa dia membeli joran?

Mau mancing?

ooo)dw(ooo Wan-ping-bun terletak di selatan kota.

Setelah melewati Hong-pau-pui dan Thay-hian-pui, maju tak jauh lagi akan tiba di Wan-ping-bun.

Setelah hari menjelang lohor, entah ada berapa banyak orang yang mondar-mandir keluar masuk lewat Wan-ping-bun.

Kenyataan apa yang pernah didengarnya memang tidak akan salah.

Di ujung jalan raya Thay-hian-pui selayang mata memandang luar dalam kota, manusia berjubel-jubel lalu lalang simpang siur, berbagai macam manusia ada.

Kau tetap tidak akan bisa membedakan siapa sebenarnya Hu-hong itu.

Yap Kay juga tidak akan bisa membedakan.

Sebelum bekerja dia masuk ke warung teh dulu menghabiskan dua poci air teh.

Kepada pelayan dia minta seutas tali, lalu minta pula selembar kertas merah.

Lalu pinjam alat tulis di meja kasir warung teh itu.

Di atas kertas merah itu dia menulis delapan huruf-huruf besar yang berbunyi.

'Dijual dengan harga tinggi, barang dijual kepada pembeli yang mengenal kwalitet barang.' Walau sudah lama Yap Kay tidak pernah menulis, namun ke delapan huruf yang ditulisnya kelihatan indah dan bergaya gagah.

Dengan ke dua batang joran panjang yang dibelinya, Yap Kay membentang kertas merah panjang yang dia tulisi, lalu digantung di atas pintu kota.

Beruntun dua kali dia mengawasi hasil karyanya, akhirnya dia manggut-manggut puas.

Tapi barang apakah yang hendak dijual dengan harga tinggi?

Apakah dirinya sendiri?

Sudah tentu Yap Kay tidak akan menjual dirinya sendiri.

Sang surya semakin memuncak tinggi ke tengah cakrawala.

Hari sudah hampir tengah hari.

Tiba-tiba dari dalam kantong bajunya dia keluarkan sebuah topeng tembaga dengan sekeping lencana batu kemala.

Lalu diikatnya bersama pada seutas tali, serta dia gantung di pucuk joran.

Itulah barang-barang peninggalan Tolka.

Topeng tembaga hijau yang menyeringai seram kelihatan kemilau di tingkah sinar matahari, demikian pula lencana batu kemala itu, bening mengkilap, elok menyenangkan.

Semua orang yang masuk ke dalam kota tiada yang tidak mendongak membaca tulisan itu dan melihat ke dua benda aneh itu, namun tiada seorangpun yang maju menanyakan soal jual beli kedua barang antik ini.

Topeng itu memang terlalu menakutkan, tiada orang yang sudi membeli topeng seseram itu untuk di bawa pulang.

Sudah tentu Yap Kay sendiripun tidak perlu tergesa-gesa.

Topeng ini hanya umpannya saja, dia ingin mengail seekor ikan besar, ikan besar yang bisa mencaplok manusia.

Tiba-tiba sebuah kereta besar bercat hitam berhenti di sebelah depan.

Kereta ini datang dari luar kota.

Sebetulnya sudah berlari lewat, maka berhentinya terlalu mendadak.

Seorang laki-laki setengah baya dengan pakaian perlente bermuka putih dengan jenggot pendek menongolkan kepalanya menatap ke atas membaca huruf-huruf itu serta mengawasi topeng dan batu kemala itu.

Lekas sekali dia sudah mendorong pintu kereta dan melangkah turun.

Akhirnya ada juga orang yang mau menawar barang-barang yang akan dijual ini.

Tapi Yap Kay masih tetap tenang dan bisa menekan sabar.

Dengan menggendong ke dua tangannya, laki-laki setengah baya itu maju menghampiri.

Sepasang matanya yang jeli, tajam dan bercahaya terus menatap ke atas kertas galah, tiba-tiba dia bertanya.

"Apakah mau dijual?"

Yap Kay manggut-manggut sambil menuding huruf-huruf di atas kertas merah itu. Berkata laki-laki setengah baya tawar.

"Lencana ini memang terbuat dari Han-giok, sayang sekali ukirannya kurang halus."

Yap Kay menambahkan, katanya.

"Memang, tukang ukirnya kurang ahli, kwalitet batu kemala inipun kurang baik."

Laki-laki itu seketika mengunjuk senyum lebar, katanya.

"Kau ini ternyata terlalu jujur di dalam dagang."

"Memang, aku ini orang jujur."

Ujar Yap Kay.

"Entah berapa harganya?"

"Harganya terlalu tinggi."

"Harga tinggi berapa?"

"Tiada halangannya kau ajukan dulu tawaranmu."

Kata Yap Kay. Dari atas ke bawah, laki-laki ini mengamati Yap Kay beberapa kali, lalu dia berpaling memandang batu kemala di atas joran itu, katanya.

"Bagaimana kalau tiga puluh tail?"

Yap Kay tertawa. Laki-laki itu juga tertawa, katanya.

"Tawaranku memang sedikit tinggi, namun seorang Kuncu selalu menepati apa yang diucapkan, akupun tidak akan main gorok soal harga."

"Tiga puluh tail saja?"

Laki-laki itu manggut-manggut.

"Ya tepat tiga puluh tail."

"Barang yang mana yang kau pilih?"

"Sudah tentu batu kemala ini."

"Tapi tiga puluh tail hanya cukup untuk beli jorannya saja."

Seketika lenyap senyuman yang menghias muka laki-laki setengah baya, katanya menarik muka.

"Berapa yang kau inginkan?"

"Tiga laksa (puluh ribu) tail."

Hampir berteriak laki-laki setengah baya itu.

"Hah, tiga laksa tail?"

"Tepat tiga laksa tail, harga pas tidak boleh kurang."

Dengan melongo kaget laki-laki ini mengawasinya, seperti dia berhadapan dengan orang gila. Tiba-tiba Yap Kay berkata.

"Walau batu kemala ini kurang baik, ukirannya jelek, tapi kalau kau ingin memilikinya, keluarkan dulu tiga laksa tail perak, sesenpun tidak boleh kurang."

Tanpa mengucap sepatah katapun, laki-laki setengah baya melengos terus tinggal pergi dengan uring-uringan. Yap Kay tertawa lagi. Orang-orang yang berkerumun melihat tontonan inipun ikut tertawa riuh.

"Sekeping batu kemala, kok minta tiga laksa tail, memangnya bocah ini sudah gila."

"Harga setinggi itu, memang hanya orang gila yang menjual."

Sementara itu kereta hitam itu sudah melaju ke depan dan belok di pengkolan jalan sana, tak bisa kelihatan lagi.

Karena tiada tontonan yang bisa dilihat, orang-orang yang berkerumun itupun mulai bubar.

Tak kira dari jalan belakang sana tiba-tiba berderap pula langkah kaki kuda yang menyeret kereta, tahu-tahu kereta hitam itu sudah putar balik, datangnya malah lebih cepat dari perginya tadi.

Kusir kereta mengayun cambuknya tinggi-tinggi, seraya membentak-bentak, cepat sekali kereta itu sudah dilarikan datang dan berhenti pula di depan pintu kota.

Laki-laki setengah umur itu mendorong pintu dan melompat turun pula.

Mukanya yang putih tampan kini menampilkan mimik yang aneh.

Dengan langkah lebar dia menghampiri Yap Kay, katanya.

"Tadi kau minta tiga laksa tail perak?"

Yap Kay manggut-manggut. Tiba-tiba laki-laki tengahan umur merogoh kantong mengeluarkan setumpuk uang kertas. Setelah dihitung, genap tiga puluh lembar terus diangsurkan ke depan Yap Kay.

"Nah, ambillah."

Tapi Yap Kay tidak menyambuti, dia malah mengerut kening, tanyanya.

"Apakah ini?"

"Inilah uang kertas, hanya bank Toa-hin di kota raja saja yang bisa mengeluarkan uang kertas ini, jumlahnya tepat tiga laksa tail."

"Apakah berani ditanggung uang ini bisa laku?"

Tanya Yap Kay pura-pura bodoh. Berkata laki-laki itu dengan suara berat.

"Aku orang she Song, toko Cap-po-cay yang menjual barang-barang antik di sebelah barat kota itu adalah milikku, orang-orang di daerah sinipun tidak sedikit yang mengenalku."

Cap-po-cay adalah merk yang terkenal sejak puluhan tahun yang lalu.

Song Lopan adalah salah satu hartawan besar yang paling kaya di kota ini.

Di antara orang-orang yang berkerumun itu ada yang mengenalnya juga.

Akan tetapi, Song Lopan yang biasanya cerdik dan teliti di dalam berdagang barang-barang antik ini, kenapa sudi merogoh kantong mengeluarkan tiga laksa tail untuk membayar batu kemala sekecil ini.

Memangnya diapun sudah gila?

Tapi Yap Kay tetap tidak mau menerima uang itu, tanyanya.

"Berapa jumlah uangmu ini?"

"Tentunya tiga laksa tail, inilah lembaran ribuan uang kertas, seluruhnya berjumlah 30 lembar, boleh kau menghitungnya dulu."

"Tak usah dihitung, aku percaya kepadamu."

"Nah, bolehkah aku membawa batu kemala ini?"

"Tidak boleh!"

Song Lopan tertegun, tanyanya dengan suara meninggi.

"Mengapa masih belum boleh?"

"Karena harganya belum cocok."

Muka tampan Song Lopan yang putih berubah menguning, teriaknya tertahan.

"Bukankah tadi kau bilang tiga laksa tail?"

"Itu harga tadi."

"Dan sekarang?"

"Sekarang harganya adalah 30 laksa tail"

"Hah! 30 laksa tail?"

Akhirnya Song Lopan berteriak.

Mimik mukanya mirip seekor kucing yang tiba-tiba ekornya diinjak orang.

Orang-orang yang berkerumun di sekelilingnya pun menunjukkan mimik yang sama.

Yap Kay malah tidak menunjukkan perubahan hatinya.

Tiba-tiba dia berkata.

"Batu kemala ini memang kurang baik, tukang ukirnyapun bukan ahli, tapi sekarang ini siapapun kalau ingin memilikinya, dia harus bayar 30 laksa tail, sesenpun tidak boleh kurang."

Song Lopan membanting kaki kembali dia melengos terus tinggal pergi, langkahnya tergopoh-gopoh, namun setiba dia di depan kereta langkahnya merandek, mukanya mengunjuk mimik yang aneh seperti tadi.

Kelihatannya amat takut.

Apa sih yang dia takuti?

Apakah di dalam keretanya itu ada sesuatu yang patut dia takuti?

Dan yang paling mengherankan adalah dengan harga tiga laksa tail saja jelas sudah membuatnya pergi dengan marah-marah, kenapa setelah pergi malah putar balik lagi?

Mata Yap Kay bersinar terang, dengan tajam dia menatap ke arah jendela kereta.

Sayang sekali keadaan terlalu gelap di dalam kereta.

Dari luar yang bercahaya terang oleh sinar matahari, tetapi tetap tidak bisa melihat apa-apa.

Song Lopan sudah siap menarik pintu kereta, tapi entah kenapa, tangan yang sudah dia ulur, tiba-tiba dia tarik kembali.

Namun dari dalam kereta seakan-akan ada seseorang, entah mengucapkan perkataan apa, tiada orang yang mendengar apa yang diucapkan orang di dalam kereta.

Tapi Song Lopan yang mendengar, seketika berobah pula mimik mukanya, seperti orang yang kena tendang di mukanya.

Siapakah yang berada di dalam kereta?

Kenapa dia menyembunyikan diri di dalam kereta tidak mau keluar?

Apa pula yang dia katakan kepada Song Lopan?

Kenapa setelah mendengar perkataannya, Song Lopan kelihatan begitu takut?

Berkilat biji mata Yap Kay, seolah-olah dia sudah memperoleh jawaban dari teka-teki yang tak terpecahkan selama ini.

Orang yang ingin membeli batu kemala ini sekarang, bukan keinginan Song Lopan sendiri, namun kehendak orang yang sembunyi di dalam kereta itu.

Karena dia sendiri tidak mau unjuk muka di hadapan orang banyak, maka dia paksa Song Lopan untuk membelinya.

Naga-naganya Song Lopan sudah tunduk dan diancamnya, sehingga terpaksa dia harus membelinya.

Dengan cara atau kekerasan apakah yang digunakan orang itu untuk menekan dan mengancam Song Lopan?

Kenapa dia begitu getol untuk memperoleh lencana kemala itu?

Kecuali orang-orang Mo Kau, siapa pula yang sudi mengeluarkan uang setinggi itu untuk membeli batu kemala ini?

Apakah orang ini adalah Hu-hong alias si Puncak Tunggal?

ooo)dw(ooo Sinar surya di musim semi sudah tentu tidak begitu terik, hembusan angin lalu masih terasa dingin.

Tapi Song Lopan justru gemerobyos keringat.

Sekian lamanya dia berdiri melongo dan menjublek di depan pintu kereta, kedua tangannya gemetar keras, mendadak dia menghela napas panjang, kembali dia putar badan.

Mimik mukanya sekarang mirip benar dengan pesakitan yang dijatuhi hukuman mati dan digusur ke tengah lapangan untuk dipenggal kepalanya.

Melihat orang mendatangi lagi, Yap Kay mendahului bersuara.

"Sekarang kau berani bayar 30 laksa tail?"

Terkepal kedua tinju Song Lopan, ternyata dia manggut-manggut. Keringat dinginnya berketes-ketes, katanya kertak gigi.

"Baiklah! 30 tail ya 30 tail kubayar!"

Yap Kay hanya tertawa lebar saja. Song Lopan seperti disengat kala kagetnya, katanya terbelalak.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku tertawai kau."

"Menertawai aku?"

"Aku sedang tertawa, kenapa tidak sejak tadi kau membelinya saja?"

"Sekarang......"

"Harganya sekarang sudah tidak sama lagi. Sekarang aku minta 300 laksa tail, tidak boleh kurang sesenpun juga."

Sudah tentu Song Lopan berjingkrak mencak-mencak.

"300 laksa tail? Taoke besar yang biasanya congkak dan terlalu tinggi hati, sekarang ini seperti anak kecil layaknya mencak-mencak.

"Kau......kau......memang kau ini perampok! Kau........ tamak benar kau ini."

Yap Kay berkata tawar.

"Jikalau kau anggap harganya terlalu tinggi, kau boleh tidak hendak membelinya, aku toh tidak memaksa kau."

Song Lopan melotot gusar, seperti ingin mengerumusnya.

Mulutnya sudah terbuka lebar seperti ingin bicara, namun tahu-tahu napasnya menjadi sesak.

Mendadak dia tersungkur roboh, saking gusar ternyata dia jatuh semaput.

Orang-orang berkerumun itupun sama-sama melotot kepada Yap Kay, semua orangpun merasa Yap Kay tak ubahnya seperti perampok yang memeras mangsanya, malah lebih tamak lagi.

Tapi Yap Kay acuh tak acuh, dia tetap tidak perdulikan orang lain.

Tiba-tiba dia berkata ke arah kereta hitam itu.

"Tuan ingin benar memiliki barang ini, kenapa tidak kau sendiri yang membelinya?"

Tidak ada reaksi dari dalam kereta. Yap Kay berkata pula.

"Kalau tuan sendiri mau unjuk muka, mungkin tanpa membayar sesenpun aku haturkan batu kemala ini kepadamu."

Dari dalam kereta yang sejak tadi tenang-tenang sepi, mendadak berkumandang suara tawa dingin setajam golok.

"Apa betul?"

"Aku ini orang jujur,"

Yap Kay berkata tersenyum.

"selamanya aku tidak membual."

"Bagus!"

Lenyap seruannya mendadak 'Brak...' seperti ledakan kerasnya, tahu-tahu kereta kuda yang besar itu seperti disambar geledek, pecah dan hancur berantakan.

Kusir kereta sampai terpental sungsang-sumbel.

Kedua kuda kekar yang menarik keretapun berjingkrak berdiri dengan kedua kaki belakangnya.

Tahu-tahu dari dalam kereta hancur itu muncul seorang laki-laki.

Seorang laki-laki raksasa yang telanjang bagian badan atasnya, hanya mengenakan celana pendek ketat warna merah.

Pinggangnya mengenakan sabuk kuningan selebar telapak tangan orang biasa.

Sepasang matanya yang melotot besar seperti kelintingan menatap tajam penuh kebencian kepada Yap Kay, tak ubahnya seperti siluman iblis jahat yang baru terlepas dari dalam kerangkeng.

Orang-orang yang berkerumun melihat keramaian seketika bubar dan kalut, lari lintang-pukang.

Raksasa itu sudah mengepal kedua tinjunya kencang-kencang, selangkah demi selangkah menghampiri Yap Kay.

Perduli manusia atau kuda, setelah mendadak dibuat kaget, reaksi pertama yang diperlihatkan adalah sama yaitu lari.

Semakin cepat lari semakin baik dan selamat, semakin jauh semakin beruntung.

Tapi ke dua ekor kuda yang berjingkrak-jingkrak itu tak mampu melarikan diri, namun masih terus mencak-mencak berdiri turun naik, karena raksasa itu menekan pinggir kereta yang sudah hancur, namun kedua kuda itu sudah tidak mampu melarikan diri.

Walau orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi ribut, namun mereka tidak lari sembunyi.

Maklumlah, siapa yang tidak ingin melihat akhir dari keramaian ini.

Apapun yang terjadi atas diri mereka nanti, tontonan aneh yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini adalah setimpal untuk disaksikan.

Semua orang celingukan kian-kemari, mengawasi raksasa yang mampu menekan sebelah tangan ke atas kereta sehingga kedua kuda tidak bergeming, lalu memandang kepada Yap Kay pula.

Semua hadirin sudah yakin dan sepakat pendapat, pasti Yap Kay yang akhirnya akan dirugikan dan dihajar konyol.

Mungkin cukup menggunakan sebuah jarinya saja, raksasa ini sudah mampu memites gepeng batok kepala Yap Kay.

Tapi Yap Kay malah tertawa, sikapnya tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba dia malah bertanya.

"Berapa tinggimu?"

"Sembilan kaki setengah."

Dalam situasi segenting ini, walau pertanyaan ini kedengaran aneh dan lucu, tapi si raksasa memberi jawaban juga.

"Sembilan kaki setengah, kau memang tidak terhitung pendek."

Ujar Yap Kay. Berkata si raksasa dengan sombong sambil angkat dada.

"Mungkin hanya beberapa gelintir saja manusia dalam dunia ini yang lebih tinggi dari aku."

"Alat senjata biasanya mengutamakan satu dim lebih panjang, lebih berguna dan lebih kuat. Jikalau kau ini sebatang tombak, pasti kau adalah tombak sakti."

"Aku bukan tombak."

Seru si raksasa.

"Masih banyak lagi barang-barang lain, biasanya tinggi rendah dari nilai barang itu juga ditentukan dari panjang pendek bentuknya, umpamanya galah yang lebih panjang, sudah tentu harganya lebih mahal, oleh karena itu kalau kau ini sebatang galah, tentu kau inipun cukup berharga,"

Setelah menghela napas Yap Kay menambahkan.

"sayang sekali kaupun bukan galah."

"Aku adalah manusia."

"Justru karena kau ini manusia, maka harus dibuat sayang."

"Kenapa harus dibuat sayang?"

Tanya si raksasa mendelik. Tawar suara jawaban Yap Kay.

"Hanya manusia saja yang tidak ditentukan dari panjang pendeknya. Orang cebolpun kadang-kadang bisa jadi raja. Seseorang bilamana kaki, tangan dan badannya terlalu subur dan tumbuh keliwat batas, biasanya otaknya terlalu sederhana, oleh karena itu manusia yang semakin panjang, ada kalanya malah dipandang rendah dan tidak berharga lagi."

Si raksasa menggerung murka, bagai seekor gajah mengamuk dia menerjang maju.

Kelihatannya tidak perlu dia turun tangan kalau Yap Kay keterjang tentu badannya remuk dan mampus.

Umpama sebatang pohon besarpun takkan kuat ditumbuk raksasa ini.

Sayang sekali Yap Kay bukan pohon.

Sudah tentu raksasa ini tidak akan mampu menerjangnya sampai roboh, tiada orang yang bisa sekali tumbuk menerjangnya sampai jatuh.

Akan tetapi di saat raksasa menerjang tiba, Song Lopan yang tadi kelengar semaput di tanah mencelat bangun segesit tupai dan secepat anak panah melesat maju.

Bukan saja gerakannya secepat kilat, cara menyerangnya juga teramat ganas dan lebih menakutkan.

Sekali lagi sayang, dia tidak berhasil merenggut jiwa Yap Kay.

Kalau si raksasa menerjang dari depan, sebaliknya Song Lopan menggempur dari belakang dengan pukulan mematikan.

Hebat memang kepandaian Yap Kay, di saat-saat gawat itu entah bagaimana tahu-tahu badan Yap Kay sudah mencelat naik ke atas joran.

Takkan ada orang menduga bahwa Song Lopan akan turun tangan, tapi orang lebih tidak menduga lagi bahwa Yap Kay bisa meluputkan diri dari bokongannya.

Seperti dihembus angin lesus saja tahu-tahu badannya terangkat naik ke pucuk joran, laksana segulung mega terbang, seperti daun melayang jatuh.

Keruan Song Lopan terkejut.

Dia yakin benar bahwa serangan bokongannya tadi pasti dengan telak mengenai sasarannya.

Entah bagaimana tahu-tahu tangannya mengenai tempat kosong.

Tapi dia cukup cekatan dan tegas bertindak.

Sebat sekali dengan sikut menutul tanah, berbarengan itu tangan kanannya sudah melolos golok.

Sekali sinar golok berkelebat, dia babat putus joran panjang itu.

Sementara si raksasa sudah pentang ke dua tangannya, siap menunggu di sebelah bawah.

Begitu joran putus, orang dipucuk joran pasti akan jatuh terjungkal.

Begitu Yap Kay melayang turun, maka pasti dia terjatuh kecengkeraman tangan si raksasa.

Siapapun jikalau terjatuh ke tangan si raksasa, jelas nasibnya tentu amat mengenaskan.

Untuk meremas remuk batok kepala orang, hakikatnya lebih gampang dari anak-anak meremas kepala boneka tanah liat.

'Krak...' tahu-tahu joran itu putus dua.

Orang-orang yang menonton di kejauhan malah sudah menjerit kaget dan ngeri.

Betul juga tampak badan Yap Kay sudah melayang jatuh ke tengah-tengah kedua tangan si raksasa yang terbuka lebar.

Maka terdengarlah suara 'Blang...', seseorang terbanting jatuh dengan keras, dan terpental terbang dua sosok badan orang.

Yang berdentam jatuh adalah si raksasa, sementara Yap Kay dan Song Lopan sama-sama melambung ke atas.

Ternyata begitu badannya melayang turun, lekas Yap Kay gunakan sikut dan sebelah dengkulnya menyodok dengan telak ke dada si raksasa.

Begitu si raksasa terpental roboh, dia meminjam tenaga daya pental sodokannya mencelat terbang lagi.

Tapi ternyata Song Lopan tidak tinggal diam, diapun jejakkan kakinya ikut melesat mengejar.

Sinar golok bagaikan bianglala membabat ke pinggang Yap Kay.

Tak nyana pinggang Yap Kay bagai ular air, sekali meliuk dan mengegos, tahu-tahu tangan kirinya sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan Song Lopan.

Golok melayang jatuh menancap miring di atas kereta.

Mereka berduapun jatuh ke atas kereta.

Bagasi kereta memang sudah diterjang hancur oleh si raksasa, namun alas dasarnya masih utuh tidak kurang suatu apa, demikian pula tempat duduknya.

Dua orang sama-sama jatuh di atas tempat duduk, kedua kuda yang menarik kereta menjadi kaget, serempak keduanya meringkik panjang dan angkat langkah membedal pergi.

Kali ini tiada orang yang menarik dan menahan mereka.

Memang tiada orang mampu menahan mereka pula.

Kusir kereta sudah ketakutan dan sembunyi entah di mana.

Dua ekor kuda yang ketakutan seketika mencongklang menarik kereta gundul tanpa kusir.

Jalan raya penuh sesak, namun ke dua ekor kuda itu seperti kesetanan terus menerjang maju tanpa hiraukan orang-orang yang ada di tengah jalan, terus diterjangnya.

Kecuali orang gila, siapa lagi yang masih mampu menghadang larinya kuda yang sudah kesetanan.

Di atas kereta Song Lopan menjatuhkan diri terus menggelinding.

Pikirnya hendak mencelat bangun, namun sebuah tinju sudah menunggu di depan hidungnya.

Baru saja dia meronta berduduk, matanya lantas ketumbuk tinju ini, selanjutnya hanya kunang-kunang di kegelapan saja yang dilihatnya.

Kali ini dia benar-benar jatuh semaput.

Pelan-pelan Yap Kay menghela napas,.

Perduli orang macam apa sebenarnya Song Lopan ini, jelas dia bukan orang sembarangan.

Bisa menyuruhnya rebah tak berkutik saja, juga bukannya kerja gampang.

Ke dua kuda itu masih membedal kencang, tiada maksud Yap Kay untuk menahannya.

Tapi tiba-tiba dia malah melompat ke tempat duduk kusir, tali kendali dipegangnya seraya menggebah kuda supaya lari lebih cepat lagi.

Dia harus mengejar seseorang.

Waktu itu sudah lewat tengah hari.

Yap Kay masih belum menemukan Putala.

Apakah Putala yang hendak dia kejar?

ooo)dw(ooo Kota kuno sudah tentu mempunyai bentuk jalanan yang kuno pula.

Jalan raya di sini dilandasi oleh papan batu hijau, sempit dan miring.

Di sebelah depan ada sebuah kereta barang ditarik keledai.

Di atas kereta penuh bertumpuk kurungan ayam, di dalam kurungan penuh ayam pula, agaknya ayam yang baru dibeli dari luar kota.

Yang pegang kendali adalah seorang kakek tua, sementara yang memberi makanan ayam adalah seorang nenek tua, kedua orang sudah sama-sama beruban.

Si nenek berjongkok di atas kereta, sedang memberi umpan kepada ayam yang baru dibelinya, pinggangnya sudah bungkuk dan tak bisa tegak lagi, demikian pula si kakek duduk di depan pegang kendali, mengayun cambukpun sudah tidak kuat lagi.

Setiap kota pasti ada penduduk yang makan ayam, malah setiap hari entah berapa ayam yang menjadi kurban untuk mengenyangkan perut manusia.

Kalau penduduk kota banyak yang makan ayam, sudah tentu ada penjual dan pembeli ayam, kehidupan seperti ini adalah jamak.

Demikian pula kakek dan nenek ini kelihatannya tiada menunjukkan sesuatu yang luar biasa.

Tapi yang dikejar oleh Yap Kay kelihatannya justru mereka.

Melihat kereta mereka di sebelah depan, Yap Kay bedal keretanya semakin kencang.

Si kakek berpaling ke belakang, sepasang matanya yang semula guram seperti lamur, tiba-tiba bersinar terang.

Demikian pula si nenek yang kelihatan lemah, tiba-tiba menjinjing sebuah keranjang ayam seraya membentak, tahu-tahu dia tuang ayam-ayam yang berada di dalam kurungan.

Besar kecil ayam jantan betina seketika beterbangan seraya berkotek riuh rendah, anjing-anjing liar di sepanjang jalanpun ikut memburu seraya menggonggong dengan ramainya.

Ayam terbang, anjing berlompatan, jalan raya yang biasanya ramai tenang itu mendadak gempar dan kacau balau.

Kedua kuda yang menarik kereta Yap Kay menjadi kaget dan meringkik panjang sambil berjingkrak berdiri.

Setelah Yap Kay berhasil mengendalikan serta memburu ke depan pula, kereta keledai di depan itu sudah belok ke jalan lain dan menghilang.

Yap Kay tertawa dingin, mendadak dia jejak kaki, badannya melambung naik ke atas rumah.

Dia bertekat betapapun kakek tua itu jangan sampai lolos dari kejarannya.

Kenapa dia mengejar kakek dan nenek?

Kenapa pula kedua orang ini melarikan diri?

ooo)dw(ooo Kereta keledai itu masih terus mencongklang dengan kencang, ayam masih berkotek dengan ributnya, namun bayangan kedua orang yang ada di atas kereta tahu-tahu sudah lenyap entah kemana.

Waktu itu kereta keledai lari di jalan samping yang sempit, kereta kuda yang lebih besar pasti tidak akan bisa masuk kemari.

Jalan sempit ini sepi, tidak kelihatan bayangan seorang manusiapun, pintu-pintu rumah sepanjang jalan sempit ini semuanya tertutup rapat, pekarangan rumah-rumah itu kosong tak kelihatan ada orang.

Lalu kemana dan cara bagaimana kakek dan nenek itu mendadak bisa lenyap?

Mereka sembunyi ke rumah siapa?

Sudah tentu Yap Kay tidak mungkin menggeledah setiap rumah.

Dia tetap mengejar kereta keledai yang masih lari kencang itu.

Setelah tiba di ujung jalan sempit ini, kereta tiba di sebuah tanah miring.

Kereta keledai itu tanpa ada orang yang mengendalikan, tapi keledai yang membawa lari kereta itu ternyata cukup cerdik membawanya lari setengah lingkaran dulu baru menyusuri tanah miring itu menerjang ke bawah.

Mendadak Yap Kay kembangkan Ginkang-nya, sekali lompat sejauh empat tombak, di tengah udara badannya terapung meluncur lempang, sebelum badannya mencapai kereta, di tengah udara dia bersalto.

Sekali meluncur turun dan hinggap tepat di punggung keledai.

Setiba di tanah miring itu, lari keledai menjadi sedikit lambat, tapi Yap Kay duduk seenaknya di punggung keledai yang menarik kereta itu.

Mendadak dia tertawa, katanya.

"Sebetulnya aku tidak mengenalmu, sayang sekali waktu kau datang amat kebetulan sekali."

Dengan siapa dia bicara? Tiada lain di atas kereta, kecuali ayam dan keledai. Seorang laki-laki yang normal jelas takkan ajak keledai bicara. Tapi Yap Kay melanjutkan kata-katanya.

"Waktu kalian masuk kota, adalah saat-saat yang paling ribut tadi. Sebetulnya aku tidak akan bisa melihat kalian."

"Sayang, waktu itu kebetulan aku lompat berdiri di atas joran."

"Tatkala itu, orang-orang yang memasuki pintu kota, bukan hanya kalian berdua saja. Sebetulnya umpama aku melihat kalian, aku tetap tidak akan menaruh curiga."

"Sayang sekali keadaan kalian waktu itu justru berbeda sekali dengan orang lain."

Sampai di sini Yap Kay mengoceh, baru terdengar seseorang menghela napas dari bawah kereta keledai.

"Dalam hal apa keadaan kami berbeda dengan orang lain?"

"Masa kau sendiri tidak tahu?"

Yap Kay balas bertanya.

"Sedikitpun tidak tahu,"

Orang di bawah kereta berkata.

"kurasa keadaan kita sedikitpun tidak menunjukkan keistimewaan atau keganjilan apa-apa."

"Mungkin! Tapi justru karena keadaan kalian tiada sesuatu yang menonjol dan berbeda dengan yang lain, maka kalian menjadi luar biasa."

Orang di bawah kereta tidak mengerti apa maksud perkataan Yap Kay. Kecuali Yap Kay sendiri, mungkin orang lainpun takkan mengerti akan maksud perkataannya. Oleh karena itu Yap Kay segera menambahkan.

"Karena keadaan orang lain waktu itu luar biasa."

Waktu semua orang yang menyaksikan perkelahian itu sama kaget dan terpesona, suasananya tegang, haru dan bersemangat, umpama orang-orang yang baru datang dan mau masuk kotapun takkan urung menoleh dengan mata terbelalak mengawasi Yap Kay dan si raksasa berkelahi, dengan kaget dan takut-takut.

Akan tetapi kedua kakek dan nenek ini sebaliknya seperti tidak melihat apa-apa, acuh tak acuh seolah-olah tiada kejadian apa-apa, malah berpaling mukapun tidak.

Yap Kay berkata.

"Kalian melirikpun tidak, karena sebelumnya kalian sudah tahu di tempat itu akan terjadi keonaran, lantaran keonaran itu pula sudah kalian rencanakan sebelumnya untuk menutupi dan mengelabui pandangan mata orang sehingga kalian bisa leluasa masuk kota."

Tak terdengar suara apapun dari bawah kereta.

Yap Kay pun tidak bersuara pula.

Dengan pegang kendali dia perlambat lari kereta keledai itu.

Entah berapa lamanya kereta itu berjalan lambat-lambat, tiba-tiba orang di bawah itu berkata dengan tertawa dingin.

"Aku memang salah menilaimu, sungguh tak terduga olehku bahwa kau adalah orang demikian."

"Aku orang apa?"

Tanya Yap Kay.

"Orang yang harus mampus!"

Belum habis perkataan ini, keledai penarik kereta tiba-tiba meringkik kaget dan berjingkrak-jingkrak.

Yap Kay pun ikut melompat.

Di dalam waktu yang sama, dua orang menerobos keluar dari bawah kereta.

Yang satu ke timur dan yang lain lari ke barat.

Gerak-gerik kedua orang sama cepat dan tangkas, jelas kedua orang ini adalah si kakek dan si nenek yang tadi terbungkuk-bungkuk lemah seperti tak kuat berdiri.

(Bersambung ke Jilid-18) Jilid-18 Yang dikejar Yap Kay adalah si kakek.

Ginkang kakek ini teramat tinggi, sampaipun Yap Kay, sebetulnya belum tentu bisa mengejarnya.

Tapi gerak-gerik orang kelihatan sedikit kurang leluasa.

Mungkinkah karena sebelumnya sudah mengendap luka-luka yang amat parah?.

Apakah si kakek ini adalah penyamaran Hu-hong alias Puncak Tunggal yang terluka oleh Payung Sengkala Kek Pin?

Kali ini Yap Kay tidak menggunakan pisaunya.

Bila tidak saking terpaksa dia tidak akan mau menggunakan pisaunya karena pisaunya tidak khusus untuk membunuh.

Namun Yap Kay sendiripun tidak kalah cepat dan tajamnya dari pisaunya itu.

Pisau terbang.

Berurutan tiga kali lompatan turun naik berjarak, dia sudah berhasil mengejar kakek tua itu.

Sekali jejak kaki dan badan meluncur tinggi ke depan, terus bersalto sekali, waktu turun lagi dia sudah menghadang di depan si kakek.

Si kakek masih ingin menerjang ke jurusan lain, namun entah kenapa badannya tiba-tiba seperti mengejang dan bergemetaran, seakan-akan ada seutas cambuk yang tidak kelihatan melecut ke pundaknya dengan keras sekali.

Roman mukanya sudah dipoles dengan samaran bentuk lain, sudah tentu tidak kelihatan bagaimana mimik perasaannya saat itu.

Tapi sorot matanya penuh diliputi derita dan kesakitan, amarah serta kebencian, laksana tajam golok matanya menatap Yap Kay.

Ternyata kali ini Yap Kay tidak tertawa, diapun prihatin.

Mungkin dia ingin tertawa, namun tak bisa keluar tawanya.

Karena dia sudah kenal siapa orang yang menyamar jadi kaek tua ini.

"Jikalau kau belum terluka, aku terang takkan bisa menyandakmu,"

Kata Yap Kay menghela napas.

"memang kenyataan Ginkang-mu tiada bandingannya di seluruh dunia."

Terkepal kencang tinju si kakek, tanyanya.

"Kau sudah mengenaliku?"

Yap Kay manggut-manggut, katanya muram.

"Jangan lupa, sebetulnya kita kan kawan baik, teman kental."

Kakek tua menyeringai dingin, ejeknya.

"Aku tidak punya teman seperti tampangmu."

Dia masih ingin mengepal tinjunya kencang-kencang, membusungkan dada, sayang sekali badannya sudah mengkeret dan lunglai saking menahan kesakitan.

Sampai sorot matanya yang tajam tadipun mulai pudar.

Umpama kedua matanya itu memang seperti sebatang pisau, namun pisau yang sudah karatan.

"Luka-lukamu amat berat,"

Kata Yap Kay. Kakek itu kertak gigi, tidak bersuara. Yap Kay menghela napas, katanya pula.

"Setelah terluka parah, seharusnya tidak perlu kau merendam diri di dalam air panas."

Memang benar, dia sudah mengenali siapa kakek tua ini sebenarnya.

Kecuali Hwi-hou si Rase Terbang Nyo Thian, siapa pula yang memiliki Ginkang sehebat itu dan betul-betul membuat Yap Kay takluk?

Seseorang hendak menyembunyikan luka-luka di badannya sendiri, ada tempat mana lagi yang lebih baik daripada berendam di dalam air panas?

Yap Kay berkata pula.

"Tapi orang-orang Kang-ouw, siapapun takkan terhindar dari luka-luka, dan luka-luka itu bukannya sesuatu hal yang harus dibuat malu dan takut diketahui orang lain. Kenapa kau mengelabui aku?"

"Karena.............."

Nyo Thian tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

Apakah karena dia tidak mampu memberi penjelasan?

Hakikatnya mulutnya tak kuasa membeber kedok aslinya sendiri?

"Kau mengelabui aku karena kau tentu mengira aku sudah tahu bila Hu-hong sudah terluka dan kau harus mengelabui aku lantaran kau adalah Putala Thian-ong alias Hu-hong si Puncak Tunggal dari Mo Kau."

Badan Nyo Thian mulai gemetar, namun sepatah katapun tak kuasa dia katakan.

Apakah karena dia tahu hal yang dituduhkan atas dirinya tak mungkin di sangkal lagi?

Yap Kay menghela napas panjang, ujarnya.

"Kepintaranmu selalu kukagumi. Oleh karena itu sungguh aku tidak habis mengerti, orang sepintar kau, kenapa justru sudi masuk anggota Mo Kau?"

Nyo Thian akhirnya mengeluarkan suara.

Gelak tawa yang aneh dan tak bisa dilukiskan dengan rangkaian kata-kata.

Kekeh tawanya semakin keras, suaranya berkumandang dan bergema di udara, anehnya badannya malah semakin menyurut kecil, mengkeret menjadi kecil.

Di dalam waktu sekejap itu, seolah-olah dia sudah berubah menjadi seorang kakek tua yang sebenarnya.

Begitu gelak tawa itu terputus dan berhenti, maka badannyapun tersungkur roboh.

ooo)dw(ooo Sinar surya tetap cemerlang, namun Yap Kay sudah tidak merasakan kehangatan sinar surya lagi.

Sudah tentu Nyo Thian lebih tidak merasakan lagi.

Dia mati dengan gelak tawanya.

Seseorang bila menjelang ajal masih bisa tertawa, sungguh bukan suatu hal yang gampang dilakukan.

Akan tetapi sebetulnya dia tiada alasan untuk tertawa.

Bila rahasia seseorang terbongkar dan ditelanjangi secara terbuka, perduli dia masih hidup atau mau mati, jelas tidak akan bisa tertawa.

Lalu kenapa dia tertawa?

Kenapa bisa tertawa?

Jari-jari Yap Kay terasa dingin, jidatnya basah oleh keringat, keringat dingin.

Terasakan olehnya di sela-sela gelak tawa Nyo Thian tadi, seolah-olah mengandung nada mengejek dan menghina yang aneh.

Tapi dia tidak bisa menyelaminya, apa maksud gelak tawanya?

Perduli apa maksudnya, sekarang sudah tiada makna dan sudah tak berarti lagi, setelah orang mati, segala hak miliknyapun ikut lenyap, ikut kematiannya.

Dan hanya satu hal saja yang dapat di bawa oleh orang mati, yaitu rahasia.

Apakah Nyo Thian pun membawa rahasia?

Orang mati kadang-kadang juga bisa bicara, cuma cara bicaranya saja yang berlainan.

Apakah diapun bisa mengutarakan rahasianya ini?

Orang hidup bicara dengan mulut, lalu dengan apa orang mati harus bicara?

Menggunakan luka-lukanya.

Luka-luka itu sudah membusuk, yang mengalir keluar dari luka-lukanya adalah darah yang berbau dan berwarna hitam, namun luka-lukanya ini tidak besar.

Jikalau Yap Kay tidak menyaksikan sendiri, sungguh takkan pernah dia mau percaya, luka-luka sebesar lubang jarum ini, ternyata bisa dan mampu merenggut jiwa si Rase Terbang Nyo Thian.

Angin menghembus dingin setajam pisau, namun suasana sepi lengang.

Pisau piranti membunuh bukankah juga tidak pernah mengeluarkan suara?

Tapi suara yang didengar Yap Kay adalah langkah kaki yang berlari-lari mendatangi tergopoh-gopoh.

Dia tidak berpaling, karena dia tahu siapa yang tengah mendatangi.

Yang mendatangi adalah si nenek yang lari ke jurusan lain tadi.

Pakaian yang dipakainya sekarang sudah tentu bukan baju lengan panjang dan gaun ketat warna hitam itu.

Roman mukanya yang putih halus berbentuk bulat telur itu, sekarang sudah berganti corak lain.

Hanya sepasang matanya saja yang tetap tidak berubah, sepasang mata nan sipit dinaungi alis lentik.

Bila tertawa laksana gantolan yang mampu menggantol hati laki-laki.

Nyo Thian berada di depannya, di bawah kakinya, namun melirikpun dia tidak kepadanya.

Dia menatap kepada Yap Kay, seolah-olah dengan tatapan mata tua ini hendak menggantol sukma Yap Kay.

Yap Kay menyingkap lengan baju sang korban lalu berdiri.

Lama sekali baru dia bersuara.

"Dia sudah mati!"

"Aku dapat melihatnya."

"Apakah dia laki-lakimu?"

"Waktu dia masih hidup."

"Laki-lakimu sudah mati, perduli perempuan macam apapun, sedikit banyak pasti sedih hati."

Yap Kay kini balas menatapnya.

"Tapi kulihat kau sedikit sedihpun tidak."

"Memang aku ini seorang janda. Dia bukan laki-lakiku yang pertama, bukan hanya dia seorang saja orang mati yang pernah kulihat."

Demikian ujar janda Ong.

"peduli kejadian apa, asal sudah biasa, maka hatipun takkan merasa duka lagi."

Walau dia menghela napas, namun siapapun yang mendengar akan tahu di dalam helaan napasnya itu sedikitpun tidak menandakan perasaan dukanya.

Yap Kay tidak bisa bicara apa-apa pula.

Sedikitnya apa yang diucapkan memang benar, dan kata-kata yang benar itu biasanya sulit orang untuk mendebatnya.

Tiba-tiba janda Ong balik bertanya.

"Kaukah yang membunuhnya?"

"Tentunya kau sudah tahu bahwa dia sudah terluka."

"Tapi barusan dia masih segar bugar, kenapa sekarang tahu-tahu sudah mati?"

"Karena luka-lukanya tidak berat, namun racun yang mengendap di badannya terasa amat parah."

"Oh..", Janda Ong bersuara dalam mulut.

"Walau dia gunakan obat-obatan menekan dan kendalikan kadar racun itu sehingga tidak melebar, tapi karena dia lari tadi, dia harus gunakan tenaga, maka kadar racunnya lantas bekerja dan kumat."

Tiba-tiba janda Ong tertawa dingin, katanya.

"Tahukah kau siapa dia sebenarnya?"

Sudah tentu Yap Kay tahu.

"Tahukah kau bukan saja si Rase Terbang Nyo Thian memiliki Ginkang tinggi, malah diapun memiliki kepandaian serba bisa."

"Mengobati luka-luka memunahkan racun adalah salah satu keahliannya."

"Tapi sekarang kau justru mengatakan dia mati keracunan?"

"Dalam dunia ini masih ada semacam racun yang tak mungkin dia punahkan, maka kemungkinan saja dia mati keracunan."

"Jadi bukan kau yang membunuhnya?"

"Selamanya aku tidak membunuh temanku sendiri."

"Apa benar dia temanmu?"

Yap Kay menghela napas, katanya muram.

"Asal dia sehari pernah menjadi temanku, selamanya adalah temanku."

Berputar mata janda Ong, tiba-tiba dia merubah sikap, katanya tertawa genit.

"Akupun pernah dengar bahwa kau adalah temannya."

"Memang dia temanku."

Ujar Yap Kay.

"Tapi akupun ada pernah dengar orang bilang sepatah kata."

"Perkataan apa?"

"Istri teman tak boleh dipermainkan untuk main-main setelah teman mati."

Tawanya genit dan matanyapun jeli, bercahaya laksana rembulan. Katanya pula.

"Kalau tidak salah, kaupun pernah mengatakan perkataan ini."

Yap Kay tertawa getir.

"Sekarang dia sudah meninggal, dan aku masih hidup segar bugar, kau......."

Janda Ong tidak melanjutkan perkataannya. Yap Kay tahu apa maksud perkataannya. Asal laki-laki tentu mengerti apa yang dimaksud. Lama dia mengawasinya, tiba-tiba berkata.

"Pernahkah kau melihat Han Tin?"

Sudah tentu janda Ong pernah melihatnya, katanya dengan tertawa.

"Bocah itu sebetulnya juga ada naksir kepadaku, sayang begitu melihat dia, aku lantas muak."

"Kenapa?"

"Karena hidungnya."

Yap Kay tertawa geli.

"Kelihatannya hidungnya itu mirip benar dengan terong yang busuk."

Kata janda Ong. Yap Kay tersenyum, tanyanya.

"Tahukah kau kenapa hidungnya itu berubah begitu jelek?"

"Apakah dipukul orang?"

"Betul!"

"Kau tahu siapa yang memukulnya?"

"Bukan saja tahu, malah aku tahu jauh lebih jelas dari orang lain."

Janda Ong sudah mengerti, katanya tersenyum manis.

"Tentu kaulah yang memukulnya sampai pesek, benar tidak?"

"Benar!,"

Ujar Yap Kay.

"oleh karena itu, lebih baik kau lekas menyingkir, bawa jenazah laki-lakimu ini, kebumikan secara baik-baik."

Janda Ong merasa amat di luar dugaan, katanya.

"Kau mengusirku? Kenapa?"

"Karena tanganku sedang gatal, kalau kau tidak lekas menyingkir, aku berani tanggung, cepat sekali hidungmu akan bisa ku rubah menjadi penyok seperti hidungnya Han Tin itu."

Seperti dikemplang muka janda Ong.

Sesaat dia kemekmek melongo, tanpa bicara lagi.

Agaknya dia cukup tahu diri, tersipu-sipu dia angkat badan Nyo Thian terus menyingkir.

Setelah orang memasukkan jenazah Nyo Thian ke dalam kereta dan mencongklangnya pergi, baru Yap Kay putar balik ke arah datangnya semula.

Langkahnya amat lambat.

Di kala otaknya berpikir, biasanya dia berjalan pelan-pelan.

Keluar dari gang sempit itu, akhirnya dia tiba di jalan besar, di depan masih berkerumun banyak orang, mengerumuni sebuah kereta bobrok.

Song Lopan sudah mati di atas kereta, badannya hanya dilubangi oleh luka-luka sebesar jarum.

Luka-lukanya tepat di tengah-tengah kedua alisnya.

Yap Kay mendesak ke tengah kerumunan orang, sebentar saja dia memeriksa, lalu mendesak keluar pula.

Ternyata sedikitpun tidak terunjuk rasa kejut di mukanya, seakan-akan kejadia ini memang sudah berada dalam dugaannya.

Akhirnya dia melangkah balik ke Wan-ping-bun.

Raksasa itupun sudah mati, sama-sama hanya terluka kecil sebesar jarum di tengah-tengah jidatnya.

Luka-luka hanya sebesar jarum, namun si raksasa laksana menara ini mampu dibikinnya tak berkutik dan melayang jiwanya.

Orang-orang yang berkerumun menyaksikan kematian si raksasa ini lebih banyak.

Baru saja Yap Kay hendak menyingkir diam-diam, mendadak seseorang merenggut bajunya, katanya menyeringai dingin.

"Kau tidak lolos lagi."

Ooo)dw(ooo Seseorang perduli pernah tidak melakukan perbuatan tercela atau melanggar hukum, kalau mendadak dia direnggut bajunya oleh seorang petugas hukum, seorang opas, siapapun pasti akan terkejut.

Orang yang merenggut baju Yap Kay ini adalah seorang opas yang memegang pentung pendek dengan topi beledru yang diberi kuncir merah.

Dari samping ada orang yang berteriak.

"Yang berkelahi dengan Song Lopan tadi memang dia........."

"Aku sudah tahu memang dia........."

Opas itu ganti memegang pergelangan tangan Yap Kay, cara pegangnya menggunakan Siau-kim-na-jiu-hoat. Kata opas tertawa dingin.

"Kau menamatkan dua jiwa manusia, masih berani muncul lagi, tidak kecil ya nyalimu!"

Sudah tentu kalau mau Yap Kay gampang saja membebaskan diri dari pegangan tangan orang.

Menghadapi ilmu Siau-kim-na-jiu-hoat yang ada 72 jalan itu, sedikitnya dia punya 144 macam cara untuk memecahkannya.

Tapi dia tidak berbuat demikian.

Dia mandah saja tangannya dipegang.

Bukan dia takut menghadapi opas ini, namun dia patuh dan menghormati petugas hukum ini.

Peduli opas ini manusia macam apa, dia tetap sama patuh dan menghormatinya, karena yang dia hormati bukan pribadi opas, namun adalah undang-undang hukum yang diwakili oleh si opas untuk ditegakkan pada jalan yang lurus dan benar.

Malah membela diri atau mungkir serta mendebatpun tidak.

Peristiwa serumit ini memang si opas takkan bisa memberi pengertian.

Tak mungkin orang paham meski kau menjelaskan sampai ludahmu kering.

Hakekatnya Yap Kay memang tidak bisa memberi sangkalan atau penjelasan.

Di tempat seramai inipun bukan letaknya untuk dia bicara.

Lekas sekali opas itu sudah mengurusnya naik ke sebuah kereta, bentaknya beringas.

"Jiwa manusia menyangkut firman Thian, undang-undang kerajaan harus ditegakkan, umpama kau punya nyali setinggi langit, akupun tak usah kuatir kau takkan mengaku."

Yap Kay menurut saja digusur naik kereta. Setelah kereta bergerak meluncur ke depan, tak tahan baru dia bertanya.

"Sebetulnya apa keinginanmu atas diriku?"

"Peduli apa, ku sekap kau lebih dulu."

"Lalu bagaimana?"

"Lalu kugunakan ayam muda membikin kaldu dicampur kolesom yang paling baik mutunya. Kubikinkan empat lima macam hidangan untuk teman arak Cu-yap-ceng yang kupanasi. Silahkan kau makan sekenyangmu."

Seketika bersinar kedua biji mata si opas, sorot mata yang senang dan geli, suaranyapun berubah lembut dan halus laksana hembusan angin sepoi-sepoi di musim semi.

Yap Kay menghela napas, katanya getir.

"Sekarang terhitung aku sudah mengerti, kiranya kau hendak melolohku sampai mati."

Ooo)dw(ooo Tim ayam yang disedu dengan kolesom masih mengepulkan uap hangat.

Enam masakan mengiring makan adalah sepiring daging kepala babi goreng, sepiring saos udang, sepiring ayam Pauhi, sepiring rebung goreng masak Haysom, semangkok sop telur burung dan sepiring sosis babi dicampur tiram goreng.

Di samping itu ada pula sebungkus kacang kulit.

Cu-yap-ceng ternyata sudah dihangatkan pula.

Bagi orang-orang daerah utara minum arak memang ada seninya.

Bukan saja arak kuning harus diseduh baru diminum, demikian pula Cu-yap-ceng yang disuguhkan inipun menirukan cara yang berseni itu.

Tiga cangkir arak masuk perut, seketika pertempuran sengit di malam hari, luka-luka kecil yang mengeluarkan darah kental hitam, seakan-akan sudah terlupakan sama sekali oleh Yap Kay.

Siangkwan Siau-sian mengawasinya sambil bertopang dagu di seberang meja, katanya tertawa lebar.

"Untuk meloloh kau sampai mati, agaknya bukan soal gampang."

Yap Kay tidak bersuara, mulutnya tidak sempat menjawab.

"Walau cepat sekali kau melalap hidangan ini, namun arak sedikit yang kau minum."

Dengan ujung matanya Yap Kay melirik orang, katanya.

"Sebetulnya kau hendak melolohku mati dengan arak ini atau ingin aku menghabiskan hidanganmu sampai perutku pecah?"

"Sebetulnya aku ingin membuatmu kaget sampai mati,"

Kata Siangkwan Siau-sian.

"jelas kau tahu bahwa orang-orang di sekitar kejadian itu sama tahu bahwa barusan kau bertengkar dan berkelahi dengan Song Lopan dan si raksasa, ternyata kau masih berani putar kayun di tempat itu. Kiranya nyalimu memang keliwat besar."

"Kau kuatir aku dikenali orang dan ditangkap serta diserahkan kepada opas?"

"Bagaimana juga daripada terlibat banyak urusan lebih baik kau menghindarinya, kenapa harus mencari kesulitan?"

"Oleh karena itu kau lantas menyibukkan diri menyamar jadi opas pura-pura membekukku?"

"Sebetulnya aku sendiripun rada takut."

"Apa yang kau takutkan?"

"Aku takut bila kesamplok dengan opas yang sungguhan."

Yap Kay menghela napas, katanya.

"Tak kukira, ada juga sesuatu dalam dunia ini yang masih ditakuti Siangkwan Pangcu."

"Memangnya kau kira hanya satu hal itu belaka yang selalu kutakuti?"

Ujar Siangkwan Siau-sian menghela napas.

"Apa lagi yang kau takuti?"

"Yang jelas akupun takut kepada Yap Pangcu."

"Yap Pangcu?"

"Siapakah Yap Pangcu dari Hoa-seng-pang, masakah kau sudah melupakannya?"

Yap Kay tertawa besar, segera dia angkat cangkirnya terus tenggak secangkir penuh. Tiba-tiba dia bertanya.

"Menurut pendapatmu, Hoa-seng (kacang) lebih baik atau Kim-ci (uang emas) lebih baik?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Siangkwan Siau-sian.

"yang jelas uang seketip cukup untuk membeli banyak kacang."

"Tapi sifat kacang itu sendiri sedikitnya ada yang lebih baik dari uang emas."

"Dalam hal apa kacang lebih baik dari uang emas?"

"Kacang boleh dimakan."

Yap Kay menguliti sebutir kacang, terus dilempar ke atas dan dicaplok mulutnya waktu melayang jatuh. Pelan-pelan dikunyahnya, lalu meneguk araknya pula. Katanya.

"Jikalau kau bisa mengiring arak dengan uang emasmu, baru aku betul-betul tunduk dan mengakui kau memang hebat."

"Apa yang kau katakan selalu rasanya memang masuk di akal."

"Sudah tentu, memangnya harus disangsikan?"

"Sayang kau melupakan satu hal,"

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"tanpa uang, tiada arak, tak bisa makan kacang."

Sekilas Yap Kay berpikir, akhirnya dia mengakui.

"Apa yang kau katakan kedengarannya juga bukannya tidak beralasan."

"Sudah tentu,"

Ujar Siangkwan Siau-sian senang.

"Tapi kaupun melupakan satu hal."

Ujar Yap Kay.

"belum cukup kalau punya uang saja, uang emas itu sendiri belum tentu bisa membikin hidup manusia gembira."

Tanpa pikir Siangkwan Siau-sian lantas mengakui.

"Oleh karena itu selama ini aku sedang berusaha mencarinya."

"Mencari apa?"

Siangkwan Siau-sian menatapnya, matanya nan indah selembut alunan air, katanya.

"Mencari sesuatu yang benar-benar bisa membuat hatiku gembira."

Dingin suara Yap Kay.

"Kecuali uang emas, apa pula yang ada dalam dunia ini bisa membuatmu gembira?"

"Hanya satu saja."

"Apakah itu?"

"Kacang!"

Yap Kay terloroh-loroh. Kembali dia membuka sebutir kacang, serta berkata tertawa.

"Kau kembali melupakan satu hal, bahwa uang emas dan kacang hakikatnya bukan pasangan yang setimpal."

"Bukankah paku dan palu juga bukannya pasangan setimpal?"

Yap Kay mengakui dan sepandangan.

"Tapi bilamana mereka berada bersama, semuanya sama-sama senang."

"Sama-sama senang?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.

"Karena tanpa palu, paku itu tidak akan berguna, tiada paku, palu itu sendiripun tidak bisa menunjukkan manfaatnya."

Dengan tersenyum dia menambahkan.

"Jikalau seorang tidak bisa mengembangkan bakat dan manfaat dirinya bagi orang banyak, itu berarti barang rongsokan yang tak berguna lagi. Bukankah barang buangan takkan bisa senang?"

Yap Kay setuju dan dapat menerima perumpamaan ini.

"Oleh karena itu mereka hanya bersatu padu baru bisa sama-sama senang."

Sorot matanya memandang tajam, meneliti mimik muka Yap Kay. Yap Kay malah melengos menghindari tatapan orang. Dia menyingkir dari kenyataan? Siangkwan Siau-sian meneruskan.

"Aku tahu dalam hatimu pasti juga sudah mengerti, bahwa apa yang ku utarakan seratus persen memang beralasan."

Yap Kay tidak bisa menyangkal.

"Sekarang Tolka, Putala dan Panjapana sudah mati, tiga di antara Su-toa-thian-ong sudah mati. Walaupun rongsokan-rongsokan itu belum seluruhnya dihancurkan, tetap takkan berguna lagi."

Kerlingan matanya selembut alunan ombak, kembali berubah setajam paku yang menancap di ulu hati orang. Tapi dia bukannya paku, dia hanyalah sebuah palu.

"Kalau Mo Kau sudah runtuh, di seluruh jagat raya ini, aliran atau golongan mana yang bisa berdiri menandingi kebesaran kita?"

"Kita?"

Seru Yap Kay melengak.

"Ya, kita!"

Ujar Siangkwan Siau-sian. Diapun tidak tertawa.

"Sekarang Kim-ci ditambah Hoa-seng, yang dilambangkan di dalam simbol persatuan ini bukan hanya kesenangannya saja."

Yap Kay tengah mengunyah kacang.

Kacang biasanya dikunyah orang, sebaliknya kalau paku selalu di palu.

Akan tetapi bilamana tiada manusia mengunyah, tetap kacang itu akan membusuk juga, kalau tiada orang yang memalu, paku itu sendiripun akhirnya bisa karatan.

Lalu apakah nilai kehidupan itu?

Bukankah kacang memang harus dikunyah oleh orang?

Demikian pula bukankah paku pasti harus di palu bila dimanfaatkan manusia?

Lalu kehidupan atau manfaat mereka baru bisa berguna secara nyata.

Agaknya hati Yap Kay sudah tergerak dan mulai terbujuk.

Halus lembut suara Siangkwan Siau-sian.

"Aku tahu di dalam benakmu pasi beranggapan bahwa aku menginginkan kau menjadi paku."

"Memangnya kau tidak berpikir demikian?"

Tanya Yap Kay.

"Kau tentu bisa melihatnya, bahwa aku bukan sebuah palu yang menakutkan."

Kata Siangkwan Siau-sian seraya mengulur tangan mengenggam tangan Yap Kay. Tangannya halus lembut laksana sutra. Yap Kay menghela napas, katanya.

"Kau memang bukan, sayang sekali........."

"Sayang sekali, di antara kacang dan uang emas itu, masih ada sebuah kelintingan?"

Yap Kay hanya menyengir kecut.

"Ting Hun-pin memang seorang gadis yang baik sekali, jikalau aku ini laki-laki, akupun akan mencintainya."

"Tapi kau bukan laki-laki."

"Sedikitnya aku tidak membenci dia."

"Apa benar?"

Siangkwan Siau-sian tertawa-tawa, katanya tawar.

"Jikalau aku membenci dia, kenapa aku membawa kau untuk menemui dia?"

"Lalu kenapa?"

Tanya Yap Kay menatap muka orang.

"Karena aku sekarang sudah mengerti, laki-laki seperti dirimu, bukan hanya seorang perempuan saja yang boleh memilikinya, kau tidak bisa di monopoli seorang perempuan, aku sendiri sudah tiada pengharapan seperti itu."

Tatapannya lebih manis, aleman, katanya pula merdu.

"Uang emas bisa digembleng jadi sebuah kelinting, kelinting itupun bisa dipukul gepeng menjadi besi, lalu kenapa aku tidak bisa berubah menjadi satu orang sama dia?"

Yap Kay tetap menyingkir dari tatapan mata orang.

"Umpama kata, kau dapat memandangku sama dia menjadi satu orang, kita pasti bisa memperoleh kesenangan, kalau tidak.....?"

"Kalau tidak bagaimana?"

Tanya Yap Kay tak tertahan.

"Kalau tidak Kim-ci (Uang emas), Hoa-seng (Kacang) dan Ling-tang (Kelinting) bukan mustahil akhirnya akan sama-sama menderita dan hidup merana sepanjang umurnya."

Akhirnya Yap Kay berpaling mengawasinya.

ooo)dw(ooo Hari sudah mendekati magrib.

Matahari sudah sampai di garis cakrawala, pelan-pelan tapi pasti, sinarnya sudah tidak lagi dapat menembus tabir gelapnya malam yang turun pelahan-lahan, tetapi pasti akan menelan bumi.

Dan sinar surya terakhir kali masih menyinari daun jendela itu, memancarkan cahaya kuning nan guram mirip sinar lampu yang terpasang di dalam rumah, hangat laksana di musim semi.

Kerlingan mata Siangkwan Siau-sian justru lebih hangat dan cemerlang dari cahaya surya terakhir menjelang senja ini.

Mungkin musim semi adalah dia yang membawanya dtang.

Seorang perempuan yang bisa membawa datangnya musim semi, bukankah merupakan impian bagi setiap laki-laki yang merindukannya?

Siangkwan Siau-sian menggigit bibir, katanya.

"Gelagatnya belum pernah kau memandangku seperti kali ini."

"Aku....."

"Kau jarang mengawasi aku, maka kau belum jelas mengetahui hakikatnya perempuan macam apa aku ini, dan justru karena kau belum tahu perempuan macam apa sebetulnya aku ini, maka kau jarang mau melihati diriku."

Yap Kay mengakui kebenaran ini. Kerlingan lembut mata Siangkwan Siau-sian kelihatan muram dan syahdu, katanya.

"Aku tahu kau pasti beranggapan bahwa aku ini perempuan yang paling sembarangan, punya dan sering bergaul dengan banyak laki-laki, yang benar.....yang benar, kelak kau akan tahu sendiri....."

"Tahu apa?", tanya Yap Kay Tertunduk kepala Siangkwan Siau-sian, katanya lirih.

"Kelak kau akan tahu, kau bukan saja adalah laki-lakiku yang pertama, juga laki-lakiku yang terakhir."

Ini jelas bukan membual, seorang perempuan yang pintar, jelas tidak akan sudi membual karena bualannya itu sembarangan waktu mungkin saja terbongkar.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa dia memang betul-betul seorang gadis yang cerdik.

Hati Yap Kay yang kukuh keras itu seakan-akan sudah luluh, tanpa sadar dia menggenggam kencang tangannya, katanya halus.

"Tak perlu menunggu sampai kelam, sekarang juga aku sudah percaya."

Bercahaya mata Siangkwan Siau-sian, segera dia berjingkrak berdiri serunya.

"Hayolah, kita cari kelintingan."

"Dia..."

"Bahwa dia tahu menyembunyikan diri ke sini, pastilah kesadarannya belum lenyap seluruhnya, asal kita merawat dan mengasuhnya dengan baik dan hati-hati, dia pasti akan lekas sembuh."

Terunjuk rasa terima kasih pada pandangan mata Yap Kay, kelihatannya selama ini dia memang belum menyelami jiwa gadis ini sesungguhnya.

"Tadi, waktu aku keluar, dia sudah tidur lagi, aku suruh Han Tin menunggu dan melindunginya."

"Si gurdi itu?"

"Asal kau bisa menggunakannya, gurdipun banyak manfaatnya."

"Kau sudah bisa mempercayai dia?"

"Dia bukan laki-laki baik, tapi aku sudah yakin, dia pasti tidak akan berani berbuat sesuatu yang mendurhakai diriku."

Tempat di mana mereka minum arak, sudah tentu berada di Leng-hiang-wan juga, maka cepat sekali merekapun bisa sampai ke tempat Ting Hun-pin.

Melewati pintu di pojok tembok sana, mereka memasuki pekarangan di mana Ting Hun-pin menempati sebuah kamar.

Senjapun menjelang.

Suasana dalam pekarangan tenteram, tenang dan damai.

Pintu hanya dirapatkan saja, lampu belum di sulut di dalam kamar.

Melewati pekarangan kecil yang lengang itu, mereka tiba di depan pintu.

Baru sekarang Siangkwan Siau-sian melepaskan tangan Yap Kay.

Bukan saja dia lembut, diapun prihatin dan telaten meladeni.

Lelaki selalu haru dan bisa tunduk karena perempuan yang telaten meladeni.

"Dia tentu masih tidur nyenyak."

"Bisa tidur adalah keberuntungannya."

Siangkwan Siau-sian tersenyum.

Pelan-pelan dia mendorong daun pintu, Yap Kay ikut masuk di belakangnya, namun belum lagi kakinya melangkah ke kamar, tiba-tiba terasa olehnya badan Siangkwan Siau-sian berhenti dan kaku mengejang.

ooo)dw(ooo Di dalam rumahpun sunyi lengang, tenang dan tenteram, kehangatan sinar surya masih terasakan di pojokan rumah sana, namun orang yang sebetulnya ada di rumah sudah tidak kelihatan lagi.

Ting Hun-pin hilang, demikian pula Han Tin lenyap.

Dengan terbelalak kaget Siangkwan Siau-sian mendelong mengawasi ranjang yang kosong.

Saking gugup air matapun sudah bercucuran membasahi pipinya.

Yap Kay malah lebih tenang dan tabah, dengan kalem dia menyulut lampu, lalu bertanya.

"Kau menyuruh Han Tin menjaga di sini?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.

"Mungkinkah dia meninggalkan tempat ini?"

"Tidak mungkin! Aku berpesan wanti-wanti kepadanya, tanpa perintahku, dia tidak akan berani meninggalkan ini barang satu langkahpun."

"Kau yakin benar?"

"Dia tidak akan berani menentang kehendakku. Dia masih ingin hidup."

"Tapi kenyataan sekarang dia tidak berada di sini."

Pucat muka Siangkwan Siau-sian, ujarnya.

"Kukira pasti ada sebabnya, pasti ada........."

"Menurut pendapatmu, karena apa dia pergi dari sini?"

Siangkwan Siau-sian tidak menjawab, dia tidak bisa memberi jawaban.

"Bukan saja dia pergi, malah diapun menggondol Ting Hun-pin, dia.............."

"Ting Hun-pin pasti bukan dia yang membawa pergi."

Tukas Siangkwan Siau-sian.

"Kau berani memastikan?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut. Dia memang bukan orang yang berani berkeputusan secara serampangan, analisa dan putusannya biasanya amat tepat.

"Pukulan batin dan rasa kagetnya terlalu berat, oleh karena itu hatinya selalu diliputi ketegangan, sekali-kali tidak boleh mengalami sedikit pukulan lahir batin lagi."

"Menurut pendapatmu, apa pula yang terjadi si ini, sehingga dia kaget, maka mendadak dia melarikan diri."

"Tentunya begitulah kejadiannya."

"Kalau dia melarikan diri, sudah tentu Han Tin harus mengejarnya."

"Oleh karena itu mereka berdua tidak berada di sini pula."

"Di kala dia pergi mengejar, kenapa tidak meninggalkan sesuatu tanda, supoaya kita bisa ikut mengejar menurut petunjuknya."

"Pasti mengejar secara mendadak dan tergopoh-gopoh, di dalam waktu sesingkat itu tidak sempat lagi untuk meninggalkan sesuatu petunjuk."

Yap Kay hanya menghela napas saja, tidak bertanya lebih lanjut.

Biasanya memang dia bukan orang yang selalu panik dan kebingungan sendiri setiap menghadapi persoalan, selamanya dia tetap tenang dan tabah menghadapi peristiwa segenting apapun.

Semakin besar tekanan dan peristiwa yang dia hadapi, semakin tabah dan mantap hatinya.

Kata Siangkwan Siau-sian menggigit bibir.

"Kalau dia pergi mengejar, perduli kucandak atau tidak, akhirnya pasti akan kembali memberi kabar."

"Ya!", kata Yap Kay.

"Sekarang umpama kita mau keluar mencarinya, juga tidak tahu kemana harus menemukan dia."

Demikian dia mengoceh sendirian "Oleh karena itu sementara kita hanya bisa menunggu saja di sini, menanti kabar."

Yap Kay tetap tenang-tenang seraya bersuara dalam mulut. Siangkwan Siau-sian mengawasinya, akhirnya dia sendiri tidak sabar lagi, tanyanya.

"Kelihatannya kau sendiri malah tidak gugup?"

"Buat apa gugup, apa gunanya gugup?"

"Tidak ada gunanya?"

"Kalau tiada gunanya, kenapa aku harus gugup."

Kedengaran jawaban Yap Kay acuh tak acuh dan wajar, namun air mukanyapun sudah tidak seperti biasanya.

Pelan-pelan dia duduk di pinggir ranjang setelah ada tempat buat duduk.

Kenapa dia tidak merebahkan diri?

Dan akhirnya memang dia merebahkan diri di atas ranjang.

Sebaliknya saking gelisah dan gugup Siangkwan Siau-sian tidak betah lagi duduk di kursinya, katanya mengerut alis.

"Tempat ini terlalu dingin, lebih baik kita........."

Belum habis dia bicara, tiba-tiba Yap Kay berjingkrak bangun, seolah-olah dia terbacok golok saking kagetnya.

Kebetulan dia menghadap ke arah lampu, tampak mimik mukanya seperti diiris pisau.

Selamanya belum pernah Siangkwan Siau-sian melihat mimik orang yang begitu kaget dan ketakutan.

Sesaat dia melongo dengan jantung berdebar-debar, tanyanya memberanikan diri.

"Ada apa?"

Yap Kay tidak bersuara, seakan-akan tenggorokannya sudah mengejang kaku sampai mulutnya tak kuasa terpentang lagi, sehingga suaranyapun tak bisa keluar.

Lekas Siangkwan Siau-sian maju menghampiri.

Begitu dia tiba di depan ranjang, wajahnya nan cantik jelita seketika berubah hebat.

Berbareng hidungnya mencium sesuatu bau yang aneh, bau yang memualkan dan bisa bikin orang muntah-muntah.

Bau anyirnya darah.

Mereka tiada yang terluka dan mengeluarkan darah, lalu darimana datangnya bau amis ini?

Cari punya cari akhirnya ketemu, bau amis itu keluar dari bawah ranjang.

Darimana datangnya bau amis itu, kok bisa berada di bawah ranjang?

Memangnya di bawah ranjang ada orang mati?

Lalu siapakah yang mati di bawah ranjang?"

Ranjang dipan itu tidak terlalu besar, sekali angkat dengan gampang segera tersingkap.

Beberapa pertanyaan itu lekas sekali sudah terjawab.

Namun Yap Kay tidak mengulurkan tangan, lengannya kaku, jari-jarinya mengejang, sungguh dia tiada keberanian untuk mengangkat ranjang ini.

Jikalau benar ada mayat di bawah ranjang, maka yang mati pasti adalah Ting Hun-pin.

Sementara itu Siangkwan Siau-sian sudah ulurkan tangan.

Memang benar di bawah ranjang ada sesosok mayat.

Belum lama dia mati karena darah masih mengalir dan belum kering.

Ternyata yang mati bukan Ting Hun-pin, namun Han Tin.

ooo)dw(ooo Yap Kay melongo, Siangkwan Siau-sian terkejut dan menjublek.

Bagaimana mungkin yang mati malah Han Tin?

Yap Kay tidak mengira, Siangkwan Siau-sian tidak habis mengerti.

Bahwa kenyataan Han Tin sudah mati di sini, lalu dimana Ting Hun-pin?

Pelan-pelan Siangkwan Siau-sian menurunkan ranjang, pelan-pelan putar badan melangkah lambat-lambat ke jendela serta mendorongnya membuka.

Di luar jendela tabir malam hitam pekat, tanpa belas kasihan dia sudah menelan bumi bulat-bulat.

Menghadapi tabir malam yang tidak kenal kasihan ini, lama Siangkwan Siau-sian menepekur.

Setelah menghirup napas segar, baru dia bersuara pula.

"Ternyata dia membunuh Han Tin lebih dulu, baru melarikan diri."

"Kau kira diakah yang membunuh Han Tin?"

"Kau kira bukan dia yang membunuhnya?"

"Pasti bukan!"

"Kau bisa membuktikannya?"

"Ilmu silat banyak ragamnya, yang paling menakutkan dan paling manjur justru hanya satu."

"Satu yang mana?"

"Hanya ilmu silat piranti membunuh baru betul-betul kepandaian silat yang paling manjur."

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, dia dapat menerima pendapat ini. Diapun tahu banyak orang memiliki sifat tinggi hati, namun dia tidak bisa membunuh dan takut berani membunuh orang.

"Di dalam ilmu kepandaian untuk membunuh orang, jelas sekali Ting Hun-pin terpaut jauh dibanding Han Tin, dia bukan tandingan Han Tin."

"Oleh karena itu kau berani memastikan bahwa kematian Han Tin bukan karena Ting Hun-pin yang membunuhnya."

"Ya, pasti bukan!"

"Tapi sekarang Ting Hun-pin sudah pergi, Han Tin kenyataan sudah mati di sini."

Inilah kenyataan, siapapun takkan bisa mendebat dan menumbangkan kenyataan.

"Jikalau bukan Ting Hun-pin yang membunuhnya? Lalu siapakah yang membunuhnya?"

Memang tidak banyak tokoh-tokoh silat yang mampu membunuh Han Tin, apalagi kecuali Ting Hun-pin, tiada orang lain di dalam rumah ini.

"Jikalau dia tidak mati, pasti tidak akan membiarkan Ting Hun-pin pergi, memangnya ada orang membunuhnya lebih dahulu baru menggondol pergi Ting Hun-pin?" , Siangkwan Siau-sian mengutarakan pikirannya. Siapa yang mampu menjawab pertanyaan ini? Yap Kay bergerak ke arah jendela yang lain, diapun mendorong daun jendela. Lain jendelanya, namun tabir malam di luar jendela sama-sama gelap pekat, sama-sama dingin dan sama-sama tidak kenal kasihan. Lama dia berdiri menjublek tanpa bergeming sedikitpun, sorot matanya segelap tabir malam yang menelan bumi di luar jendela. Siangkwan Siau-sian tertunduk dan termangu-mangu, akhirnya dia menghela napas, katanya.

"Tadi seharusnya tidak pantas kuajukan pertanyaanku."

Yap Kay diam saja.

"Satu hal yang paling penting sekarang adalah selekasnya berusaha menemukan Ting Hun-pin, dia.........."

"Tidak perlu mencarinya,"

Tiba-tiba Yap Kay menukas kata-katanya.

Siangkwan Siau-sian melengak keheranan, selamanya tak pernah terpikir olehnya bahwa Yap Kay bakal mengeluarkan perkataan ini.

Tak tahan dia berpaling serta mengawasinya dengan kaget.

"Maksudmu, kita tidak perlu mencarinya?"

"Ya, tidak perlu."

"Kenapa tidak mencarinya?"

"Kalau sudah ada orang yang tahu di mana dia sekarang berada, kenapa susah-susah mencarinya?"

"Siapa yang tahu dimana sekarang dia berada?"

"Kau!"

Siangkwan Siau-sian semakin kaget, serunya.

"Maksudmu, bahwa aku tahu di mana dia berada?"

"Sudah kukatakan dengan jelas, kau sendiripun mendengar dengan terang."

Terbeliak mata Siangkwan Siau-sian mengawasi Yap Kay, tidak bergerak, tidak bersuara, seperti terlongong. Yap Kay berkata.

"Tiga dari Su-toa-thian-ong Mo Kau memang sudah mati, namun Hu-hong si Puncak Tunggal sendiri belum mati."

"Nyo Thian belum mati maksudmu?"

"Nyo Thian bukan Hu-hong, juga bukan Lu Di."

"Apakah Nyo Thian tidak terluka?"

"Dia memang terluka, cukup parah malah, tapi orang yang terluka belum tentu pasti Hu-hong."

Memang, bola itu bundar, tapi belum tentu setiap benda bundar pasti bola.

"Jikalau dia bukan Hu-hong karena tidak berani memberitahu kepadamu kalau dia terluka, kenapa dia mengelabui kau?"

"Karena diapun menyangka aku adalah budakmu, dikiranya aku sudah masuk Kim-ci-pang."

Siangkwan Siau-sian tiba-tiba menghela napas, ujarnya.

"Apa yang kau katakan, sepatah katapun aku tidak mengerti."

"Kau harus mengerti, dan hanya kau saja yang mengerti."

"Kenapa?"

"Karena orang yang turun tangan melukai dia adalah kau."

"Jikalau aku tidak memahami dirimu, pasti mengira kau sedang mabuk."

"Selamanya belum pernah aku berpikiran sejernih dan sesadar sekarang."

"Nyo Thian sebetulnya adalah pembantuku, kenapa aku turun tangan melukai dia?"

"Karena dia hendak membunuhmu lebih dulu."

Siangkwan Siau-sian tertawa, tawanya mirip sekali dengan senyuman Yap Kay dikala dia kehabisan akal bersikap apa boleh buat.

Namun kali ini justru Yap Kay tidak tertawa.

Sikap dan mukanya kini selamanya tak pernah seserius seperti sekarang ini.

Dengan muka sungguh-sungguh, dia berkata.

"Sudah lama dia punya niat hendak membunuhmu, namun tiada kesempatan, terpaksa dia mencoba membunuhmu dengan menyerempet bahaya."

"Membunuh secara gelap?"

Yap Kay manggut-manggut, katanya.

"Mungkin dia menilai rendah ilmu silatmu, mungkin secara tidak sengaja dia menemukan dirimu terluka, maka dia berkeputusan menggunakan kesempatan ini untuk mencoba menyerempet bahaya."

Siangkwan Siau-sian diam saja, dia sedang pasang kuping. Dia tidak mendebat, seakan-akan dia anggap persoalan ini tidak perlu dia debat meski secara langsung menyangkut dirinya.

"Di kala dia berkeputusan turun tangan, tentunya terjadi pada malam tanggal satu yaitu malam tahun baru."

Siangkwan Siau-sian tertawa, katanya.

"Jikalau hendak membunuh seseorang secara diam-diam, malam tahun baru memang waktu yang tepat dan paling baik."

"Waktu dia pergi membunuh, sudah tentu mengenakan kedok muka."

"Sudah tentu!"

Ujar Siangkwan Siau-sian.

Memang siapapun yang hendak jadi pembunuh secara diam-diam, pasti menutupi mukanya dengan secarik kain atau sapu tangan.

Memangnya siapa yang sudi kebongkar kedok aslinya?

"Semula dia kira rencananya sudah matang, maka keyakinannya terlalu besar.

Tak tahunya kepandaian ilmu silatmu jauh lebih tinggi dari apa yang dia bayangkan, oleh karena itu bukan saja dia tidak berhasil, malah dia kena kau lukai."

"Untuk membunuh aku, memang bukan suatu hal yang gampang."

"Tapi, kaupun agak menilai rendah dia."

"Apanya yang kunilai rendah?"

"Ginkangnya teramat tinggi, walau tidak tercapai keinginannya membunuhmu, dia tetap masih bisa melarikan diri."

"Hendak menangkap seekor rase yang bisa terbang, sudah tentu bukan kerja yang mudah."

"Kau kira dia sudah tersambit jarummu yang beracun, umpama bisa melarikan diri, pasti takkan bisa lari jauh. Siapa tahu dia ada memiliki obat mujarab yang khusus untuk mengobati macam-macam racun, ternyata obatnya itu sementara dapat mempertahankan jiwanya."

"Tapi asal aku bisa mencari tahu siapa-siapa yang terluka, aku akan segera tahu siapakah pembunuh gelap itu."

"Oleh karena itulah dia mengelabui aku, tidak berani memperlihatkan luka-lukanya kepadaku."

"Pasti dia menyangka akulah yang mengutusmu untuk menyelidiki siapakah pembunuh itu."

"Sudah tentu dia tidak pernah menyangka bahwa kau sudah tahu bahwa pembunuhnya adalah dia."

"Darimana aku tahu?"

"Dia kira janda Ong itu sudah tunduk lahir batin dan patuh kepadanya, dia kira janda Ong bisa menyimpan rahasianya, tak nyana......"

"Tak nyana janda Ong justru memberitahu rahasia ini kepadaku."

"Betapapun cerdik pandainya laki-laki, bukan mustahil bila akhirnya dia jatuh karena dijual dan dikhianati oleh perempuan."

"Mungkin lantaran kaum laki-laki umumnya selalu menyangka perempuan adalah kaum lemah, perempuan semuanya bodoh."

Yap Kay manggut dan sependapat.

"Kalau aku sudah tahu bahwa dia itulah pembunuhnya, kenapa tidak kubunuh dia?"

"Karena untuk membunuh orang yang kau incar, biasanya kau suka meminjam tangan orang lain."

"Bisa meminjam senjata orang lain untuk membunuh seseorang yang diincarnya, memang suatu hal yang menggembirakan."

"Kalau kau gembira, sebaliknya aku tidak senang."

"Kenapa?"

"Karena kali ini yang ingin kau pinjam adalah pisauku."

"Aku ingin meminjam pisaumu untuk membunuh Nyo Thian?"

"Hu-hong terluka, aku sedang mencari Hu-hong, kebetulan Nyo Thian pun terluka, malah dia tidak berani memberitahu tentang luka-lukanya itu kepadaku, soal lain tak ubahnya seperti satu tambah satu ditambah lagi satu, sudah tentu menjadi tiga."

"Oleh karena itu aku berpendapat bilamana kau bisa menemukan Nyo Thian, pasti bisa mengira bahwa dia itulah Hu-hong."

"Semula aku sendiripun hampir menyangka bahwa dia itulah Hu-hong."

"Penjelasanmu yang panjang lebar ini kedengarannya masuk di akal, sayang kau melupakan satu hal."

"Satu hal apa?"

"Untuk membunuh orang pasti ada sebab musababnya. Untuk membunuhku, sudah tentu harus mempunyai alasan yang baik, karena siapapun harus tahu bahwa apa yang harus dia kerjakan bukanlah suatu kerja yang mudah."

Yap Kay membenarkan. Memang bukan soal gampang untuk membunuh Siangkwan Siau-sian.

"Nyo Thian cukup tahu akan keadaan diriku, terhadapnya akupun cukup baik, kenapa dia berani menyerempet bahaya hendak membunuhku?"

"Akupun cukup mengenal watak dan karakternya, dia memiliki ambisi yang terlalu besar, karena ambisinya itulah maka dia mau masuk ke Kim-ci-pang."

Untuk pendapat Yap Kay ini, Siangkwan Siau-sian dapat menerimanya.

"Semakin mendalam dan tinggi kedudukannya, semakin jelas mengetahui betapa besar kekuatan Kim-ci-pang, maka semakin besar pula ambisinya."

"Sayang sekali sehari aku masih hidup, untuk selamanya ambisinya itu tidak akan terlaksana."

"Oleh karena itu, betapapun besar bahaya yang harus dia hadapi, akhirnya dia nekad untuk membunuh juga."

Ambisi memang tak ubahnya seperti air bah, begitu melanda, pasti takkan ada orang yang mampu mengendalikannya, sampaipun diri sendiri, takkan bisa menekan keinginan hati sendiri.

(Bersambung ke Jilid-19) Jilid-19 TAMAT Oleh karena itu bukan saja ambisi ini bisa menghancurkan orang lain, sekaligus ambisi itupun bisa menghancurkan diri sendiri.

Malah sering terjadi sebelum kau bisa menghancurkan orang lain, kau sendiri sudah hancur lebur.

Akan tetapi bila seseorang sedikitpun tidak mempunyai ambisi, bukankah hidupnya akan tawar, tiada artinya lagi?

Bukankah ini merupakan salah satu tragedi yang mengenaskan pada kehidupan manusia?

Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.

"Sekarang analisamu seakan-akan sudah mendekati kesempurnaannya."

"Tapi belum sempurna seluruhnya."

"O, jadi kau sendiripun tahu?"

"Apa yang ku tahu, mungkin jauh lebih banyak dari apa yang kau duga."

"Sampai sejauh mana kau sudah mengetahuinya?"

"Sekarang analisaku masih terdapat beberapa kekurangan."

"Coba kau katakan."

"Sejak lama Nyo Thian ragu-ragu untuk turun tangan membunuhmu, kenapa mendadak dia mempunyai keberanian?"

"Itulah yang pertama."

"Yang kutunggu sebetulnya adalah Hu-hong si Puncak Tunggal, kenapa kebetulan diapun masuk ke kota pada waktu yang sama?"

"Itulah yang ke dua."

"Jikalau Nyo Thian bukan Hu-hong? Lalu siapakah Hu-hong sebenarnya?"

"Inilah yang ke tiga."

"Jikalau Hu-hong tidak berjanji lebih dulu dengan Tolka untuk bertemu di Wan-ping-bun, darimana mungkin surat berdarah itu bisa berada di badan Tolka?"

"Itulah yang ke empat."

"Bak Kiu-sing sebenarnya adalah seorang pengasingan, kenapa begitu tiba di Tiang-an lantas bisa menemukan jejak Tolka?"

"Inilah yang ke lima."

"Kalau Bak Kiu-sing setiap hari biasa makan Ngo-tok, bagaimana mungkin segampang itu mati keracunan?"

"Inilah yang ke enam."

"Goh-cu sebenarnya orang di luar kalangan dalam persoalan ini, kenapa mendadak diapun menjadi korban secara konyol?"

"Sekarang analisamu agaknya terdapat tujuh kekurangan."

"Ya, hanya tujuh kekurangan saja."

"Analisa siapapun andaikata dia seorang kritikus, bila terdapat tujuh titik kekurangan, maka analisanya itu hakikatnya tidak boleh diterima."

"Tapi lain lagi dengan analisaku, analisaku justru bisa diterima secara logis."

"Apanya yang logis?"

"Karena aku bisa menjelaskan satu persatu ke tujuh kekuranganku itu."

"Nah, sekarang coba kau jelaskan satu persatu."

"Kalau kekurangannya ada tujuh titik persoalan, namun jawabannya justru hanya ada satu, cukup asal kuterangkan dengan dua buah kalimat saja."

"Aku sedang mendengarkan."

"Hu-hong adalah kau, demikian pula Bak Kiu-sing adalah duplikatmu."

Siangkwan Siau-sian tertawa lebar.

Jikalau kau menyukai seseorang, dan sering menemuinya, ciri-ciri kekurangannya pasti akan menular kepadamu.

Naga-naganya Siangkwan Siau-sian sudah ketularan akan kebiasaan Yap Kay, di kala dia kepepet dan tak bisa berbuat apa-apa, maka setiap menghadapi persoalan yang rumit dan bahaya yang mengancam, diapun bisa tertawa, cuma tawanya sudah tentu lebih manis dibanding Yap Kay.

Berkata Yap Kay lebih lanjut.

"Justru kau ini adalah Hu-hong, maka Nyo Thian berani turun tangan, karena belakangan dia tahu bila kau sudah terluka."

"Inilah penjelasan pertama, kedengarannya memang masuk akal."

"Dan karena kau adalah Hu-hong, maka kau jadikan Nyo Thian sebagai kambing hitammu."

"Inipun bisa diterima dengan pikiran sehat."

"Hanya kau yang tahu bahwa Lu Di adalah Tolka, dan hanya kau saja yang bisa mengundangnya bertemu di Cu-lim-si."

"Oleh karena itu, Bak Kiu-sing pun adalah aku?"

"Sengaja kau tempatkan sembilan bintang di mukamu, sejak mula tidak mau menurunkan topi rumputmu, karena betapapun lihay tata riasmu, kau tetap kuatir kukenali."

"Akan tetapi kenapa aku harus menyaru menjadi Bak Kiu-sing?"

"Karena kau ingin membunuh Tolka."

"Aku ingin membunuhnya? Kenapa mengundangmu juga ke sana?"

"Karena kau ingin supaya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri akan kematian Tolka yang mati di tangan Bak Kiu-sing."

Sampai di sini Yap Kay merandek menelan ludah, lanjutnya.

"Kemungkinan sekali Tolka memang sudah tahu bahwa yang menyaru menjadi Bak Kiu-sing adalah kau. Oleh karena itu jurus serangan yang mematikan terakhir itu tidak dia lancarkan sesungguh hati, tak nyana kau justru memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuhnya."

Siangkwan Siau-sian diam, dia pasang kuping mendengarkan.

"Yang benar, kalian memang sengaja bermain sandiwara untuk ku tonton, sebelumnya Tolka sudah berintrik dengan kau untuk memerankan lakonnya itu, sampaipun dialog kalian waktu itupun sebelumnya sudah dirangkai sedemikian rupa olehmu sebagai sutradaranya."

"Kenapa dia harus ikut memerankan lakon dalam sandiwara ini?"

"Karena tujuan dari permainan sandiwara ini adalah untuk membunuhku, oleh karena itu sengaja dia wanti-wanti janji kepadaku, melarang aku turun tangan dengan pisau terbangku, supaya kau mempunyai kesempatan membunuhku."

"Tapi aku tidak membunuhmu."

"Kau tidak membunuhku, karena benar-benar yang harus dibunuh bukan aku, tapi adalah Tolka, sampai matipun dia tidak pernah sangka bahwa akhir dari permainan sandiwara itu berubah seratus delapan puluh derajat, lebih celaka lagi karena dia sendiri yang menjadi korban malah."

Membayangkan mimik muka Tolka yang kelihatan kaget, heran, menderita serta mendelik penasaran itu, tak urung Yap Kay menghela napas, katanya.

"Kematiannya sungguh penasaran."

"Kau kasihan kepadanya?"

"Aku hanya kasihan akan kematiannya."

"Setiap orang akhirnya kan harus mati, matinyapun penasaran, lantaran dia memang seorang yang bodoh."

"Dia bodoh?"

"Bodoh banyak ragamnya, congkak dan sombong, bukankah merupakan salah satu penyebabnya?"

Yap Kay tak kuasa mendebat. Congkak dan sombong merupakan suatu kebodohan, malah kemungkinan merupakan salah satu penyebab yang paling berat akibatnya.

"Tapi aku tidak bodoh, sekarang aku akhirnya mengerti juga akan maksudmu."

"Memang kau harus mengerti."

"Maksudmu bahwa setelah aku menyaru jadi Bak Kiu-sing lalu menemui Tolka dan mengundangnya untuk bertemu di Cu-lim-si serta membuat rencana untuk membunuhmu, belakangan malah dia sendiri yang menjadi korban."

"Kedengarannya memang terlalu mustahil, namun rencana itu amat berhasil."

"Mungkin lantaran terlalu luar biasa, maka hasilnyapun memuaskan sekali."

"Surat berdarah sudah tentu juga merupakan salah satu dari rencana itu."

"Bagaimana bisa?"

"Sudah tentu Nyo Thian sendiri sudah tahu cepat atau lambat rahasia dirinya pasti bisa diketahui orang, maka dia berkeputusan untuk melarikan diri."

"kekuatan Kim-ci-pang dengan kaki tangannya tersebar di seluruh pelosok dunia, kemana dia bisa melarikan diri?"

"Dia sudah pernah mengalami sekali pelajaran, maka langkah geraknya kali ini sudah tentu harus amat hati-hati, oleh karena itu setelah pilih pergi datang, akhirnya dia memilih suatu tepat yang terang tidak pernah kau duga."

"Tempat apa?"

"Kota Tiang-an."

"Di sini adalah kota Tiang-an."

"Dia sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa kau pasti mengira dia sudah lari ke tempat jauh, oleh karena itu dia justru mencari tempat yang paling dekat."

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut bahwa pilihan tempat untuk menyembunyikan diri ini memang tepat. Yap Kay berkata.

"Sayang sekali dia tuturkan rencananya ini kepada janda Ong."

"Tidak mungkin dia tidak memberi tahu kepada janda Ong. Seorang yang telah terluka parah ingin melarikan diri, dia harus dan memerlukan bantuan orang lain."

"Dia memberitahu kepada janda Ong, secara tidak langsung berarti memberitahu kepadamu."

"Setelah aku tahu rencananya untuk melarikan diri, lalu aku memalsu surat berdarah itu."

"Kaupun sudah perhitungkan dengan tepat, begitu aku membaca surat berdarah itu, pasti akan menunggu di Wanping-bun."

"Lalu bagaimana surat berdarah itu bisa berada di badan Lu Di?"

"Surat berdarah memangnya tidak berada di tangan Lu Di, Goh-cu lah yang sengaja mengantarnya."

"Jadi Goh-cu juga ikut sekongkol di dalam peristiwa ini?"

"Oleh karena itu pula maka kau membunuh dia untuk menutup mulutnya. Semua orang yang tersangkut paut dengan peristiwa ini semuanya kau bunuh supaya tidak membocorkan rahasia ini."

"Bagaimana dengan Song Lopan dan si raksasa itu?"

"Mereka adalah teman baik Nyo Thian, melihat aku ada di Wan-ping-bun, sengaja merekapun bermain sandiwara, maksudnya untuk melindungi Nyo Thian masuk kota. Bagaimana Nyo Thian bisa terluka, sudah tentu merekapun tahu jelas."

"Sudah tentu kau tidak boleh tahu akan rahasia ini, maka akupun membunuh mereka untuk menutup mulutnya."

"Aku sudah menduga kau akan bertindak demikian, maka sedikitpun aku tidak jadi heran akan kematian mereka."

"Kalau demikian tidak sedikit orang yang telah kubunuh."

"Memang tidak sedikit!"

"Malahan mungkin aku bisa membunuh diriku sendiri."

Ujar Siangkwan Siau-sian menghela napas.

"jikalau aku adalah Bak Kiu-sing, bukankah aku sudah membunuhku sendiri?"

"Bak Kiu-sing yang mati bukan dirimu."

"Hah, bukan aku?"

"Kau tahu tentunya aku takkan ada selera menemani kau makan hidangan semacam itu, maka sebelumnya kau sudah mempersiapkan orang lain untuk kau jadikan kambing hitam. Begitu aku pergi, kau lantas membunuhnya dengan racun."

"Karena begitu Bak Kiu-sing mati, peristiwa ini takkan terbongkar oleh siapapun yang bisa jadi saksi."

"Memang, rencana itu teramat teliti dan baik sekali."

"Juga merupakan suatu cerita yang menarik."

"Akupun mengharap ini hanya sebuah cerita saja."

Siangkwan Siau-sian seperti kaget, serunya.

"Apakah ini bukan cerita?"

"Kejadian yang kebetulan di dalam peristiwa ini terlalu banyak, dan hanya kejadian yang sesungguhnya saja baru bisa terjadi 'kebetulan' seperti itu."

"Apakah kejadian yang sesungguhnya jauh lebih aneh dan ceritanya menakjubkan?"

"Biasanya memang demikian."

"Mendengar ceritamu, aku sendiri sampai percaya bahwa kejadian itu memang peristiwa sesungguhnya."

Tawa Siangkwan Siau-sian masih manis dan murni, bukan tawa palsu yang dibuat-buat.

"tapi kalau rencanaku itu sempurna dan terperinci ketat sekali, cara bagaimana dapat kau ketahui?"

"Betapapun sempurna sesuatu, pasti ada lubang kelemahannya."

"Demikian pula rencana itu?"

"Tujuh kekurangan yang terdapat di dalam analisaku itu, justru merupakan kelemahan pula di dalam rencanamu itu."

"O,"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.

"Karena jikalau kau bukan Hu-hong si Puncak Tunggal, jelas tidak akan terjadi semua kebetulan itu."

"Sekarang kau yakin semua itu pasti benar?"

"Setelah aku memeriksa semua luka-luka mereka, baru aku berani memastikan seluruhnya."

"Mereka? Siapa yang kau maksud dengan mereka?"

"Nyo Thian, Song Lopan, si raksasa dan Goh-cu. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tiada sangkut pautnya satu sama lain, sebetulnya tidak mungkin mereka mati di tangan seorang dalam keadaan yang sama, luka-luka yang mematikan di badan mereka satu sama lain tidak berbeda."

"Ya, sungguh kebetulan sekali."

"Kebetulan itu juga merupakan lubang kelemahan."

"Oleh karena itu, bukan saja aku ini Kim-ci-pang Pangcu, aku pula salah satu dari Su-toa-thian-ong dari Mo Kau."

"Kau adalah Hu-hong?"

"Jangan lupa Mo Kau dan Kim-ci-pang merupakan musuh yang tidak mau hidup berdampingan."

"Aku tidak melupakannya."

"Kalau demikian mana mungkin Kim-ci-pang Pangcu sudi menjadi anggota Mo Kau?"

"Karena Kim-ci-pang Pangcu ini seorang pandai, maka dia tahu menghancurkan dan memberantas habis musuh, secara kekerasan dengan kekuatan bukanlah suatu cara yang baik."

"Lalu cara apa yang boleh dikata paling baik?"

"Menundukkan nya serta merangkulnya dan memperalat dia. Gunakan kekuatan musuh menjadi alat kepentingan diri sendiri."

"Cara ini memang baik sekali."

"Akan tetapi struktur pengurusan Mo Kau yang besar lingkupnya terlalu rahasia, kekuatannya terlalu besar dan luas, sudah berakar lagi. Untuk menundukkan dan merangkulnya hanya ada satu cara."

"Cara apa?"

"Menjadi Mo Kau Kaucu."

"Untuk menjadi Mo Kau Kaucu, maka harus menjadi anggota Mo Kau lebih dulu."

"Oleh karena itu maka kau sudah menjadi orang Mo Kau."

"Sejak Kaucu tua dari Mo Kau meninggal, kekuasaan di dalam Mo Kau lantas tersebar berada di tangan Su-toa-thian-ong yang saling membagi rata, siapapun tiada yang sudi memilih Kaucu baru, karena itu berarti menyerahkan kembali kekuasaan yang berada di tangannya sendiri."

"Tapi jikalau tiga di antara Su-toa-thian-ong itu sudah mati?"

"Kalau demikian sisa satu yang ketinggalan hidup. Umpama tidak mau jadi Kaucu pun tak mungkin lagi."

"Sayang sekali orang-orang seperti Tolka itu sebetulnya mereka tidak seharusnya mati begitu cepat."

"Sudah tentu."

"Sudah tentu kau sendiri tidak mungkin turun tangan menghadapi mereka secara terang-terangan."

"Di dalam setiap melaksanakan pekerjaan, biasanya aku tidak suka menyerempet bahaya."

"Kemungkinan sekali sampai mereka mati, masih belum tahu bahwa Pangcu dari Kim-ci-pang adalah kau."

"Mimpipun mereka tidak pernah menduga."

"Oleh karena itu hanya dengan satu cara saja kau dapat membunuh mereka."

"Coba kau katakan pakai cara apa yang paling baik?"

"Meminjam senjata orang lain."

"Betul!", seru Siangkwan Siau-sian tepuk tangan.

"untuk membunuh orang-orang seperti mereka harus tangan orang lain, malah harus pinjam pisau orang yang luar biasa."

"Tapi kau juga tahu, walau pisauku cepat, namun jarang membunuh orang."

"Oleh karena itu aku terpaksa memeras keringat mengatur tipu daya menggunakan akal yang putar-putar."

"Tentunya mimpipun kau sendiri tidak pernah menyangka, akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar rahasia dan menelanjangi kedokmu."

"Aku.......terhadapmu aku benar-benar suci atau palsu? Memangnya sedikitpun kau tidak bisa merasakannya?"

Sorot matanya yang jeli bening kembali menampilkan perasaan sedih pilu dan rawan.

Sebetulnya tulen atau palsukah perasaannya?

Kembali Yap Kay melengos, menghindari bentrokan tatapan mata.

Perduli tulen atau palsu, sekarang sudah tidak penting lagi.

Akhirnya Yap Kay pun menghela napas panjang, katanya.

"Waktu aku datang, sebetulnya aku masih belum ingin menelanjangi kedokmu."

"Kenapa?"

"Karena......."

"Apakah karena kau kurang tega?"

Yap Kay menyengir tawa. Dia tidak bisa menyangkal. Bukannya dia tidak tahu dan tidak bisa merasakan cinta orang terhadap dirinya.

"Bukan saja kau tidak tega, kaupun tidak berani."

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"Tidak berani? Kenapa?"

"Karena sedikitpun kau tidak punya bukti-bukti yang nyata, hanya mengandalkan analisa dan rekaan saja belum bisa menjatuhkan hukuman dosa kepada seseorang."

Yap Kay tidak bisa menyangkal.

"Tapi begitu Ting Hun-pin mengalami sesuatu, kau lantas panik dan nekad."

Sorot matanya yang sedih kini berubah jadi jelas.

"sebetulnya apakah yang pernah dia lakukan untukmu sehingga kau sudi rela bersikap setia terhadapnya begitu rupa? Dalam hal apa pula aku bukan bandingannya?"

Yap Kay tidak memberi tanggapan. Siangkwan Siau-sian menyeringai sinis, katanya mencibir bibir.

"Di mana-mana dia menimbulkan keonaran, membuat banyak kesulitan, malah menusuk pisau ke dadamu sehingga kau hampir mati, di waktu tak bersama kau, seharipun dia tidak sabar menunggu, terus tergesa-gesa ingin kawin dengan orang lain, belum cukup sekali, dalam satu malam sudi merelakan diri kawin dengan dua orang laki-laki, perempuan seperti ini di dalam hal apa kebaikannya sehingga kau patut dan sudi berkorban demi dirinya?"

"Aku sendiripun tidak habis pikir."

"Lalu kau........"

"Aku hanya tahu,"

Tukas Yap Kay.

"umpama dia hendak membunuhku pula sepuluh kali, lalu menikah sekaligus dengan 10 laki-laki, aku akan tetap bersikap demikian terhadapnya."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu, terhadapku cintanya suci dan murni. Aku percaya kepadanya."

Siangkwan Siau-sian sudah berjingkrak berdiri, namun pelan-pelan dia duduk pula.

Waktu dia duduk tidak lagi sebagai perempuan yang terlalu hanyut oleh emosinya yang lemah.

Waktu dia berdiri perasaannya seolah-olah sudah remuk redam, namun begitu dia terduduk kembali, dia sudah berubah sedingin puncak gunung es, tajam dan runcing, laksana sebatang golok dari Pangcu Kim-ci-pang.

Mungkin perempuan itu memang sering berubah, hanya perubahan yang terjadi pada gadis yang satu ini mungkin jauh lebih cepat dari orang lain, atau mungkin pula dia tidak berubah, yang berubah hanyalah kedok samarannya belaka.

"Sekarang masih ada omongan apa lagi yang ingin kau katakan?", kata Yap Kay.

"Tiada lagi!"

"Tapi aku masih ada satu hal yang belum ku mengerti."

"Boleh kau tanyakan."

"Memang sedikit buktipun aku tidak punya, semua hal yang ku tuduhkan tadi sebenarnya boleh saja kau sangkal atau tolak."

"Akupun tidak perlu menyangkal."

"Kenapa?"

"Karena bukan saja aku ini Pangcu dari Kim-ci-pang, aku pula Mo Kau Kaucu. Bukan saja aku sudah menguasai dan menggenggam dua pang dan aliran agama yang terbesar di seluruh jagat ini, akupun menggenggam jiwa Ting Hun-pin. Perduli aku mengakui atau menyangkal, kau tetap harus tunduk kepada setiap perintahku."

Yap Kay benar-benar terlongong.

Dia mendadak sadar bahwa dirinya memang tidak punya akal sehat dan cara apapun untuk melawan atau menghadapi gadis jelita yang satu ini, sedikitpun tidak mampu berbuat apa-apa.

"Masih ada omongan apa pula yang ingin kau katakan?" , Siangkwan Siau-sian balas bertanya. Memang Yap Kay sudah tidak habis pikir dan tiada omongan yang perlu dibicarakan lagi.

"Ting Hun-pin sekarang masih hidup, kau pingin dia tetap hidup?"

"Sudah tentu pingin."

"Kalau begitu apa yang kukatakan kau harus mematuhi dan menurut, setiap patah kataku harus kau perhatikan dengan baik."

Tapi Yap Kay tak perlu mendengar dan tidak usah memperhatikan, karena mendadak dia sudah mendengar suara orang lain.

"Apa yang dia katakan, sepatah katapun tak usah kau dengar, karena dia sebenarnya sedang mengentut!"

Suara ini keluar dari bawah ranjang.

Jelas di bawah ranjang tadi hanya ada satu mayat orang.

Orang mati masakah bisa bicara?

Siangkwan Siau-sian adalah gadis yang teramat cerdik pandai, demikian pula Yap Kay, namun merekapun tidak tahu menahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Bilamana sesuatu hal tidak sampai mereka ketahui, memangnya orang mana yang bisa memecahkan teka-teki ini?

Jelas hanya ada satu mayat di bawah ranjang, hal ini sudah mereka buktikan waktu mereka mengangkat ranjang itu memeriksanya, kini ranjang ini kembali terangkat naik dan dipindah ke samping, tapi bukan Siangkwan Siau-sian atau Yap Kay yang mengangkat.

Ranjang itu diangkat dan dipindah oleh seseorang dari bawah.

Seketika hati Siangkwan Siau-sian tersirap, jantungnya seketika dingin seperti tenggelam dalam air.

Orang yang barusan bicara jelas adalah suaranya Ting Hun-pin.

Dia kena betul suara Ting Hun-pin.

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 6

Baca Juga: Pendekar Binal 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert