Eps 6 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.
Tapi bagi kaum gelandangan yang tak punya rumah, tiada sanak kadang di tempat rantau ini, apa pula yang mereka kerjakan?
Yap Kay putar kayun di jalan raya, celingukan kian kemari, yang benar matanya seperti tertutup, tiada sesuatu yang dia lihat, tiada sesuatu yang terpikir dalam benaknya.
Mungkin hanya satu.
Apa kerja Ting Hun-pin sekarang?
Sebetulnya dia sudah berkeputusan tidak memikirkannya untuk selamanya, tapi entah kenapa, otaknya yang bebal dan berat, justru memikirkan dirinya saja.
Kalau tadi dia bertekad untuk tidak menuju ke hotel Hong-ping, tapi waktu dia angkat kepala, tahu-tahu dia menyadari dirinya tengah melangkah di jalan raya itu, dan anehnya dia sudah tidak melihat lagi papan merk hotel Hong-ping yang tergantung tinggi itu, hanya sekelompok orang yang berkerumun.
Ada yang bisik-bisik, ada yang geleng-geleng dan menghela napas, ada pula orang yang memeluk kepala tengah menangis terisak-isak.
Apakah yang terjadi di sini?
Tak tahan Yap Kay menuju ke sana, dia mendesak maju di antara gerombolan orang banyak.
Seketika sekujur badannya seperti diguyur air dingin, berdiri mematung kaku seperti tonggak kayu.
Hotel Hong-ping yang merupakan hotel terbesar dan termewah di seluruh kota Tiang-an ini, kiranya sudah menjadi tumpukan puing.
ooo)dw(ooo Peristiwa yang terjadi di hotel Hong-ping semalam, baru diketahui khalayak ramai setelah hari terang tanah.
Maklumlah kemarin adalah tahun baru.
Setiap malam tahun baru, setiap keluarga pasti makan bersama, semuanya menyekap diri di rumah, tiada yang keluyuran di jalanan.
Umpama ada orang lewat, mereka paling adalah kawanan judi atau bajingan tengik, tiada orang yang mau mengeduk kantong jajan di restoran atau keluyuran di hotel.
Bagi orang-orang yang berada di rumahpun tengah sibuk, kalau tidak main kartu, minum arak dan lain kesibukan, apapun yang terjadi di luar rumah takkan menjadi perhatian mereka.
Karena hari itu adalah hari luar biasa, maka terjadi pula kejadian yang luar biasa ini.
Hal ini pasti bukan kebetulan, karena setiap peristiwa pasti ada sebab musababnya.
ooo)dw(ooo Hotel Hong-ping sudah terbakar habis, namun tidak diketemukan tulang belulang satu orangpun.
"Dimanakah Ciangkui pemilik hotel ini?"
Tiada yang tahu. Semalam apa yang terjadi di sini, boleh dikata tiada orang tahu.
"Hal lain tidak perlu kubuat heran, hanya sepasang mempelai yang katanya mengadakan pesta di hotel ini semalam, tidak berada di kamarnya lagi, demikian juga Ciangkui telah menghilang."
Semua yang hadir sama menebak-nebak dan satu sama lain berdebat. Semakin dibicarakan semakin ribut dan urusanpun semakin kalut.
"Apakah semalam hotel ini kedatangan Dewi Rase? Atau kedatangan setan jahat?"
Jikalau bukan kedatangan setan, masakah hotel ini terbakar, sedikitnya Ciangkui tua itu pasti akan kembali.
Yap Kay tahu dunia ini tiada setan, selamanya dia tidak percaya akan dongeng-dongeng tentang setan.
Tapi peristiwa ini memang seperti dipermainkan setan, umpama dia harus memukul lubang batok kepalanya, persoalan ini tetap menjadi teka-teki.
Terasa dia berdiri seperti kayu, kayu yang dingin dan keras.
Sebetulnya bagaimana hotel ini sampai terbakar?
Kemana Ting Hun-pin dan Kwe Ting yang baru jadi pengantin itu?
Dia harus menyelidiki dan menemukan jejak mereka.
Namun dia tidak tahu kepada siapa dia harus bertanya.
Pada saat itulah, di tengah orang banyak yang berdesakan itu, tiba-tiba ada orang menarik ujung bajunya.
Waktu dia menunduk, maka dilihatnya sebuah jari-jari tangan nan indah putih halus meruncing, tangan seorang perempuan.
Siapakah yang menariknya?
Apakah Ting Hun-pin?
Waktu Yap Kay angkat kepala, orang yang menariknya sudah memutar badan, menuju ke tengah-tengah gerombolan orang banyak.
Orang ini mengenakan kerudung mantel berbulu burung, rambut panjangnya terurai mayang, tergelung oleh sebuah gelang batu giok.
Apakah dia ini Ting Hun-pin?
Yap Kay tidak bisa mengenalinya.
Terpaksa dia ikuti langkah orang, langkah orang gemulai dan enteng.
Tiba-tiba timbul perasaan yang tak bisa terlukiskan dalam benak Yap Kay, sebentar mengharap perempuan ini adalah Ting Hun-pin, namun juga mengharap bukan.
Jikalau dia benar Ting Hun-pin, setelah mereka bertemu, bagaimana perasaan hatinya?
Apa pula yang harus diperbincangkan?
Kalau dia bukan Ting Hun-pin, memangnya siapa dia?
Kali ini Yap Kay tidak mundur, juga tidak menyingkir.
Dia tahu perduli orang ini Ting Hun-pin atau bukan, pasti banyak omongan yang hendak dibicarakan dengan dirinya.
Pelan-pelan orang itu melangkah ke depan, tanpa berhenti juga tidak berpaling.
Setelah menyusuri sebuah jalan panjang, membelok ke jalan lain yang panjang pula.
Tiba-tiba dia membelok ke sebuah gang sempit di pinggir sana.
Gang kecil yang sempit.
(Bersambung ke Jilid-14) Jilid-14 Waktu Yap Kay memburu ke sana, hanya melihat bayangannya berkelebat, terus memasuki sebuah pintu sempit pula, daun pintu hanya setengah dirapatkan.
Di lihat dari luar, rumah ini hanya tempat tinggal orang awam biasa saja, pintu itu penuh ditaburi debu dan gelagasi (sawang laba-laba), jelas sudah lama tidak dibersihkan.
Begitu tiba di depan pintu, jantung Yap Kay mulai berdetak.
Tiba-tiba teringat olehnya bahwa dia pernah datang ke tempat ini, sekarang tak usah dia menerobos masuk, dia sudah tahu siapa orang yang membawanya kemari.
Cui Giok-tin.
Di tempat inilah orang tempo hari membawa Yap Kay merawat luka-lukanya di sini.
Terbayang akan kejadian hari itu, kembali timbul suatu perasaan yang tak bisa dilukiskan dalam benak Yap Kay.
Entah hatinya senang?
Hambar?
Atau kecewa?
Yang menggembirakan adalah bahwa Cui Giok-tin ternyata masih hidup.
Hambar karena kejadian manis itu sudah lama berselang, impian manis sudah tak bisa dikejar.
Lalu apakah yang dia kecewakan?
Apakah relung hatinya yang paling dalam masih mengharapkan dia, yang adalah Ting Hun-pin?
ooo)dw(ooo Impian lama bukannya tak mungkin di kenang kembali, sedikitnya di dalam hawa sedingin ini dia masih bisa sedikit membayangkannya.
Hembusan angin datang dari pekarangan belakang lewat dapur terus ke depan, di tengah angin lalu ini, lapat-lapat tercium bau masakan bubur ayam harum.
Tak urung teringat oleh Yap Kay akan kejadian pagi itu, waktu itu diapun mencium bubur ayam, lamunannya tengah membayangkan suguhan semangkok bubur ayam yang masih panas dengan asap kemepul menimbulkan seleranya, diangsurkan ke hadapannya oleh sepasang tangan yang halus elok.
Siapa tahu bubur ayam itu tahu-tahu terbang masuk dari luar pintu.
Bukan tangan halus nan lembut yang dia lihat, tapi adalah tangan berlepotan darah yang piranti untuk membunuh orang, Jik-mo-jiu, tangannya Ih-me-gao.
Sejak hari itu, dia lantas menghilang tak keruan paran, sungguh tak nyana hari ini dia bisa bertemu lagi.
Dengan menghela napas Yap Kay mendorong pintu, melangkah masuk ke dalam rumah.
Almari kecil pendek itu masih tetap berada di tempatnya, sampaipun cahaya matahari yang menyorot masuk dari pojok rumahpun tiada ubahnya dengan tempo hari.
Entah kondisi badan Yap Kay masih lemah sehabis dihajar orang, atau memang hatinya lemas, setelah masuk langsung dia merebahkan diri ke atas ranjang.
Bantal yang dia tiduri masih berbau wangi dari rambutnya.
Betapapun kehidupan dua hari yang tentram itu takkan terlupakan selama hidupnya.
Dia jadi berpikir-pikir, jikalau hari itu Cui Giok-tin tidak mengalami sesuatu, apakah sampai sekarang dia masih akan menemani dirinya di sini?
Terdengar derap langkah lirih di luar pintu, tampak dia melangkah masuk dengan membawa sebuah mangkok berisi bubur yang panas kemepul.
Dengan senyuman manis mekar dia melangkah mendekati dengan gemulai.
Inilah keadaan yang dihadapi Yap Kay pada pagi hari itu, Cuma sekarang entah sudah berapa lama berselang sejak kejadian hari itu?
Peristiwa apa pula yang telah dialaminya?
Kalau keadaan sekarang masih tetap seperti tempo hari, namun perasaan masing-masing sudah jauh berbeda.
Memangnya siapa dalam dunia ini yang mampu menarik kembali sang waktu yang telah lewat?
Yap Kay unjuk senyum dipaksakan, sapanya.
"Selamat pagi?"
"Selamat pagi!", sahut Cui Giok-tin tersenyum lembut.
"buburnya sudah matang, apa kau makan sambil tiduran saja?"
Yap Kay manggut-manggut.
Maka bubur panas yang hangat dan wangi itu, sesendok demi sesendok dilolohkan ke dalam mulutnya oleh sebuah jari-jari tangan yang halus elok.
Yap Kay memang amat memerlukan makanan, perutnya sudah berontak, sehingga badannya lunglai.
Bubur itu tak ubahnya dengan bubur ayam yang pernah dilalapnya habis tiga mangkok tempo hari, namun sekarang dia hanya mencicipi beberapa sendok lantas dia tidak kuasa menelannya lagi.
Cui Giok-tin menatapnya, katanya lirih.
"Semalam tentu kau mabuk tak sadarkan diri.........."
Yap Kay tertawa ewa, sahutnya.
"Memang, aku mabuk seperti anjing sekarat!"
Lama Cui Giok-tin mengawasinya, akhirnya menghela napas, ujarnya.
"Jikalau kau mabuk, akupun akan mabuk."
"Kau tahu akan peristiwa semalam?"
"Sebetulnya belum tahu,"
Ujarnya. Sorot matanya yang indah cemerlang tiba-tiba berubah menunjukkan kepedihan dan duka, pelan-pelan dia mulai menceritakan pengalamannya.
"Pagi hari itu, aku ditangkap Ih-me-gao dan dipaksa pulang ke tempat Giok-siau, dia lantas..... aku dilarang keluar lagi. Kukira hidupku ini pasti akan berakhir. Sungguh tak terpikir olehku, gembong iblis itu akhirnya mampus juga di tangan orang lain."
"Begitu Giok-siau mati, kau lantas kemana?"
Tanya Yap Kay.
"Begitu mendengar kabar kematiannya, para saudara seperti burung-burung yang terlepas dari kurungan, siapapun ingin terbang bebas ke tempat jauh, setiap orang membagi harta dan uang peninggalan Giok-siau. Dalam jangka satu jam, mereka sudah bubar dan terpencar, hanya aku...."
Sampai di sini Cui Giok-tin menunduk kepala tidak melanjutkan ceritanya.
Hanya dia yang tidak pergi, karena dia masih tak bisa melupakan Yap Kay, maka dia kembali pulang ke tempat ini.
Ingin dia menemukan kembali impian lamanya yang semanis madu.
Sudah tentu dia tidak utarakan isi hatinya, namun Yap Kay sudah mengetahuinya.
"Seorang diri aku mengeram di dalam rumah ini sehari penuh, bukan saja tidak ingin keluar, juga tidak mau tidur,"
Dia tertawa, tertawa getir.
"sebetulnya aku sudah tahu kau tidak akan kembali ke tempat ini."
Betapa hati Yap Kay takkan mendelu mendengar ucapannya ini, tiba-tiba disadarinya bahwa dirinya memang seorang laki-laki yang tak mengenal kasih.
Memang tidak pernah terpercik pikirannya untuk kembali ke tempat ini.
"Sampai kemarin pagi, aku mendengar suara petasan yang ramai di luar, baru aku ingat hari itu tanggal satu tahun baru."
Demikian dia melanjutkan ceritanya.
"sudah tentu aku tidak ingin kelaparan di dalam rumah, akhirnya aku keluar juga keluyuran di jalan raya, tapi tak terpikir olehku, begitu aku keluar, lantas aku mendapat kabar yang menakutkan."
"Kabar apa?"
"Kudengar kabar bahwa nona Ting Hun-pin hendak menikah."
"Kabar ini tidak perlu dibuat takut."
Ujar Yap Kay tertawa dipaksakan.
"Tapi...."
Cui Giok-tin menunduk.
"waktu itu aku kira dia... dia hendak menikah dengan kau."
Bila seorang gadis mendengar laki-laki idamannya hendak menikah, sudah tentu berita ini dianggapnya amat menakutkan.
Yap Kay dapat memaklumi perasaan orang, dia sendiri dulu pernah mengalami kejadian ini, maka dia menghela napas rawan.
"Kudengar pula bahwa nona Ting hendak menikah dengan seorang laki-laki yang terluka, maka aku lebih yakin bahwa pengantin laki-lakinya pasti kau. Waktu itu meski hatiku mendelu, namun aku mengharap bisa melihatmu sekali lagi di perjamuan, maka aku membawa kado, ku antara ke hotel Hong-ping."
Yap Kay tertawa getir, diapun mengirim kado, kado yang luar biasa.
Setelah tahu akan kabar pernikahan Ting Hun-pin, maka dia lantas berkeputusan untuk berusaha berdaya mengobati luka-luka Kwe Ting.
Sayang dia sendiri tidak punya kemampuan dalam bidang ini, maka di dalam waktu semalam itu, dia berlari tujuh ratus li pulang pergi, mengundang Kek Pin datang.
Cui Giok-tin menggigit bibir, katanya pula.
"Tapi setelah malam tiba, aku tak berani hadir dalam perjamuan itu."
"Kau tidak berani?"
Yap Kay menegas.
"apa yang kau takuti?"
"Aku.......mendadak aku takut menemuimu."
"Jadi waktu itu kau belum tahu bahwa pengantin laki-laki bukan aku?"
"Belum tahu! Maka aku lantas mengeram diri di dalam rumah. Ku beli sedikit arak, kuminum sendiri di sini, kupikir, bolehlah anggap akupun sedang minum arak perjamuan perkawinan kalian."
Seperti ditusuk hati Yap Kay, katanya.
"Jikalau aku tahu kau berada di sini, aku pasti kemari menemani kau."
Cui Giok-tin akhirnya tertawa manis. Lama sekali baru dia menambahkan.
"Setelah minum arak, tak tertahan besar keinginanku untuk menengokmu."
"Kau pergi tidak?"
"Lama aku bimbang, pulang pergi tak bisa ambil keputusan, bukan saja aku kuatir aku takkan bisa menahan emosi setelah melihat kalian, namun jikalau untuk selamanya aku takkan melihatmu lagi, akupun tidak rela. Akhirnya aku berkeputusan juga."
"Keputusan apa?"
"Umpama tidak hadir dalam perjamuan pernikahan itu, cukup asal aku mengintip dari luar saja."
"Dan kau pergi juga kesana?"
"Kemarin adalah tanggal satu tahun baru. Setelah hari menjadi gelap, jalan raya menjadi sepi tiada orang lewat, lama aku keluyuran di jalan-jalan raya, baru memberanikan diri, menyusup masuk dari belakang hotel. Tapi begitu aku berada di dalam, aku lantas mendapat firasat jelek karena keadaan teramat ganjil."
"Apanya yang ganjil?"
"Hotel sebesar itu dalam suasana perjamuan lagi, kenapa sunyi senyap tak terdengar suara apa-apa? Bukan saja tidak mirip adanya perjamuan pernikahan, umpama keluarga yang sedang berkabungpun tidak sesunyi itu."
Yap Kay merasakan keganjilan ini, tanyanya.
"Aku tahu yang hadir dalam perjamuan itu tidak sedikit jumlahnya, bagaimana mungkin tidak terdengar suara apapun?"
"Akhirnya aku sampai ruangan perjamuan di mana upacara sembahyang bagi kedua mempelai diadakan. Waktu aku melongok ke dalam dari luar jendela....."
Tiba-tiba terunjuk mimik ketakutan yang mengerikan, seperti melihat pemandangan yang seram, ngeri dan menakutkan sekali.
"Apakah yang kau saksikan?"
Tanya Yap Kay dengan tegang.
"Aku......aku...."
Suaranya gemetar, lama sekali baru dia kuat melanjutkan.
"kulihat ruang perjamuan itu penuh ditaburi darah segar yang muncrat kemana-mana, mayat-mayat bergelimpangan, tiada seorangpun yang ketinggalan hidup."
Yap Kay melongo. Seolah-olah badannya mendadak kejeblos ke dalam jurang neraka yang gelap-gulita.
"Waktu itu aku kira kaupun berada di dalam, maka tanpa hiraukan apa akibatnya, segera aku menerjang masuk,"
Sampai di sini dia menghela napas lirih, katanya menyambung .
"Sampai pada waktu itu, baru aku tahu, nona Ting bukan hendak menikah dengan kau."
"Kau.....kau melihat pengantin prianya?, suara Yap Kay gemetar.
"dia sudah mati?"
Cui Giok-tin manggut-manggut, sahutnya.
"Kematiannya amat mengenaskan."
"Lalu Ting Hun-pin?", walau tidak bertanya, tak tertahan Yap Kay bertanya juga.
"apakah dia juga......."
"Dia tidak mati, waktu itu hakikatnya dia tiada dalam ruang perjamuan itu."
Yap Kay menghela napas panjang, sedikitnya lega hatinya, namun dia keheranan dibuatnya.
Setelah dia berpisah dengan Ting Hun-pin, apakah dia langsung pulang?
Kwe Ting dan lain-lain bagaimana bisa mati seluruhnya?
Siapakah pembunuh kejam ini?
Orang yang hadir dalam perjamuan itu tidak sedikit jumlahnya, tidak banyak orang yang mampu menurunkan tangan sekeji itu terhadap sekian banyak orang.
"Walau waktu itu aku amat kaget dan mengkirik ketakutan, tapi setelah melihat kau tidak di antara mayat-mayat itu, legalah hatiku."
Tiba-tiba Yap Kay bertanya.
"Adakah kau melihat empat orang yang berpakaian kuning emas?"
"Aku tidak memperhatikan orang lain, juga tidak berani menelitinya satu persatu,"
Namun sebentar dia berpikir, lalu berkata pula.
"Tapi di antara mayat-mayat yang bergelimpangan itu, memang seperti ada beberapa orang yang mengenakan jubah kuning."
Bertaut alis Yap Kay, katanya.
"Kalau merekapun mati, lalu siapakah pembunuhnya?"
"Akupun tidak habis mengerti, dalam dunia ternyata ada manusia seganas ini, yang terpikir olehku hanya lekas-lekas meninggalkan tempat yang mengerikan itu. Tak nyana baru saja aku hendak berlalu, tiba-tiba kudengar suara lambaian pakaian dari orang-orang yang berjalan malam. Karena tempat itu memang terlalu sunyi, maka aku bisa mendengarnya dengan jelas, bukan saja gerak-gerik para pendatang itu cepat dan tangkas, malah bukan hanya seorang saja."
Terbeliak mata Yap Kay, katanya.
"Mungkinkah para pembunuh itu putar balik kembali?"
"Waktu itu akupun menduga demikian, saking ketakutan sampai kakiku terasa lemas lunglai, maka aku tidak berani tinggal lama-lama di sana, jikalau diriku dilihat mereka, celakalah jiwaku, untung aku ada sedikit belajar silat. Dalam gugupku, ilmu silatku naga-naganya jauh lebih maju dari biasanya, sekali lompat, ah, begitu tinggi." 'Apakah kau melompat naik ke atas belandar di tengah ruang perjamuan itu?"
"Aku sembunyi di atas, napaspun kutahan-tahan, namun tak tertahan aku melongok ke bawah."
"Apa yang kau lihat?"
"Kulihat beberapa orang yang berpakaian serba kuning begitu menerjang masuk dari luar, mereka bekerja cepat dan cekatan. Satu-persatu mayat-mayat itu mereka lempar keluar lewat jendela, kelihatannya ada orang yang menampani di luar jendela. Dalam waktu sekejap, mayat-mayat yang memenuhi rumah itu sudah diangkut mereka seluruhnya."
Membesi hijau muka Yap Kay, tanyanya.
"Kau melihat jelas bila mereka benar-benar mengenakan seragam kuning?"
"Aku melihat dengan jelas, karena warna kuning mereka teramat menyolok di bawah pancaran sinar api, kelihatan kemilau seperti sinar emas murni."
Terkepal tinju Yap Kay, desisnya.
"Ternyata memang merekalah yang turun tangan sekeji ini."
"Tapi aku tidak melihat mereka membunuh orang."
"Kalau bukan mereka yang membunuh, buat apa mereka wakili pembunuh mengangkuti mayat-mayat itu?"
"Setelah mereka membunuh orang, apakah hendak melenyapkan mayat-mayat itu?"
"Membunuh orang menutup mulutnya, menghilangkan mayat-mayat melenyapkan jejak, memang merupakan sepak terjang Kim-ci-pang yang paling menonjol."
"Kim-ci-pang?"
Tanya Cui Giok-tin tidak mengerti.
"orang macam apakah Kim-ci-pang itu?"
"Mereka bukan manusia."
Melihat muka orang yang murka, Cui Giok-tin tidak berani bertanya pula. Sesaat dia ragu-ragu, lalu katanya.
"Belakangan aku melihat nona Ting pula."
"Dimana kau melihatnya?"
Hampir berteriak pertanyaan Yap Kay.
"Di sana juga!"
"Dia kembali pula?"
"Setelah orang-orang jubah kuning membersihkan mayat-mayat itu, dia kembali pula."
"Waktu itu kau belum menyingkir?"
"Aku sudah ketakutan sampai lemas di atas belandar, setengah harian aku menyembunyikan diri di sana, baru saja aku sempat ganti napas, mereka lantas datang."
"Mereka? Jadi dia tidak seorang diri?"
"Masih ada seorang lain."
"Siapa orang itu?"
"Seorang tua yang aneh dandanannya, tengah malam kok membawa payung."
"O, kiranya Kek Pin."
Yap Kay mengerti.
"Kau mengenalnya?"
"Bukan saja kenal, malah dia teman lamaku."
Cui Giok-tin menghela napas, katanya.
"Kalau begitu sekarang temanmu berkurang satu lagi."
Berubah muka Yap Kay, serunya.
"Diapun mati?"
"Kematiannya amat mengenaskan."
"Siapa yang membunuhnya?"
"Merekapun amat heran waktu mendapatkan mayat-mayat itu sudah dipindah bersih, namun mereka tidak berhenti lama, juga tidak menemukan aku yang berada di atas belandar."
"Belakangan bagaimana?"
"Begitu mereka pergi, aku lantas melorot turun. Tiba-tiba kudengar ada orang meniup seruling di luar, merekapun mendengar suara seruling ini, segera berlari balik, setelah ubek-ubekan di pekarangan, meraka lantas mengejar ke luar tembok."
"Dan kau?"
"Kulihat sikap mereka amat prihatin dan tegang, timbul juga rasa ketarikku."
"Maka kaupun mengintil di belakang mereka?"
"Aku tidak menguntit mereka, hanya sembunyi di atas tembok mengawasi keluar."
"Apa pula yang kau saksikan?"
"Di luar terdapat sepucuk pohon, kelihatan ada lampion yang tergantung di sana, di bawahnya berdiri satu orang."
"Siapa dia?"
"Jarakku terlalu jauh, tidak melihat jelas, untung waktu itu hening lelap, maka percakapan mereka dapat kudengar jelas sekali."
"Apa saja yang mereka bicarakan?"
"Setelah nona Ting mendekati, kelihatannya dia menjerit kaget, lalu tanya apakah orang itu adalah Pu............."
"Putala?"
Teriak Yap Kay. Cui Giok-tin manggut-manggut.
"Benar Putala, kudengar nona Ting menyebut nama ini."
"Bagaimana jawaban orang itu?"
"Dia mengakui, dikatakan pula bahwa dirinya ibarat sebuah puncak tunggal yang amat tinggi."
"Hu-hong Thian-ong?"
"Belakangan baru aku tahu orang itu ternyata adalah salah satu dari Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau."
"Apakah Kek Pin mati di tangannya?"
"Demi menolong nona Ting, baru Kek-lo-sian-sing terkena sekali pukulan telapak tangannya, tapi orang itupun terkena senjata rahasia Kek-lo-sian-sing. Ku dengar Kek-lo-sian-sing ada memberitahu kepada nona Ting, bahwa senjata rahasianya itu teramat lihay."
Sampai di sini Cui Giok-tin menghela napas lalu menyambung.
"tapi pukulan telapak tangannya itu lebih menakutkan, Kek-lo-sian-sing hanya kena sedikit tepukannya, jiwanya sudah tidak tertolong lagi."
Yap Kay terbeliak lagi.
Dia cukup mengerti di mana tingkat kepandaian ilmu silat Kek Pin, juga tahu sampai dimana kelihayan ilmu pengobatan Kek Pin.
Dengan bekal ilmu silat dan ilmu pengobatannya, umpama benar ada orang melukai dia, tentunya dia cukup mampu untuk menolong jiwanya sendiri.
Sungguh Yap Kay tidak mau percaya bahwa dalam dunia ini betul-betul ada pukulan telapak tangan selihay itu.
Masakah hanya sekali tepuk, jiwa dan sukma Kek Pin terpaksa berpisah.
"Tapi dengan mata kepalaku sendiri aku menyaksikan Kek-lo-sian-sing terjungkal roboh, tepat roboh di tempat di mana pengantin pria roboh juga."
Ceritanya ini agaknya masih terdapat sisipan yang dipersingkat.
Kecuali pengantin pria pertama, apakah masih ada pengantin pria kedua?
Hal ini orang lain mimpipun takkan mengiranya, tapi Yap Kay justru dapat merabanya.
Dia cukup memahami hati dan jiwa Ting Hun-pin, seperti pula dia memahami dirinya sendiri.
Maka Yap Kay tidak merasa heran atau di luar dugaan setelah mendengar cerita Cui Giok-tin.
Malah Cui Giok-tin sendiri merasa di luar dugaan.
Dia kira siapapun bila mendengar kejadian ini, sedikit banyak pasti keheranan dan menunjukkan reaksinya.
Tapi Yap Kay hanya menghela napas, katanya.
"Aku tahu dia pasti akan berbuat demikian?"
"Kau tidak menyalahkan dia?"
Tanya Cui Giok-tin.
"Jikalau kau adalah dia, aku percaya kaupun akan berbuat demikian, karena kalian adalah gadis bajik dan bijaksana yang mempunyai ketulusan luhur. Kalian sama-sama rela mengorbankan diri sendiri demi orang lain, betapapun kalian tidak akan tega melihat orang lain menderita."
Suara Yap Kay menjadi lembut dan hangat, karena di dalam hatinya hanya ada cinta kasih dan rasa prihatin, tiada terkandung rasa cemburu dan asal menyalahkan.
Sudah tentu Cui Giok-tin tahu, terhadap siapa rasa prihatin dan cinta kasih itu ditujukan.
Tak tertahan dia menghela napas, katanya menunduk.
"Sayang sekali aku bukan dia, aku..........."
Yap Kay tidak biarkan orang bicara lebih lanjut, tanyanya tegas-tegas.
"Waktu kau pergi, dia masih berada di tengah kobaran api itu?"
Cui Giok-tin manggut-manggut, katanya dengan tertawa dipaksakan.
"Tapi kau boleh tidak usah kuatir, sekarang dia pasti masih hidup segar bugar."
"Karena di dalam puing-puing itu tidak ditemukan mayatnya."
Ujar Yap Kay.
"Dan karena dia memang gadis bajik yang bijaksana, orang baik pasti dilindungi Yang Kuasa. Aku percaya lekas sekali kalian pasti akan bertemu."
Yap Kay berpaling, dia tidak tega melihat mimik muka orang.
Cahaya surya cemerlang di luar jendela, musim semi kelihatannya sudah akan kunjung tiba.
Tiba-tiba dia berdiri melangkah kesana mendorong daun jendela, gumamnya.
"Apapun yang terjadi sekarang aku sudah mendapatkan dua kepastian."
Cui Giok-tin diam saja, dia sedang mendengarkan.
"Perduli Putala itu siapa, sekarang pasti sudah terluka, tidak sukar untuk menemukan dia."
"Kau ingin mencarinya?"
"Tapi aku akan mencari seseorang yang lain."
"Mencari siapa?"
"Pembunuh kejam itu."
"Kau......sekarang juga kau hendak pergi?"
"Sekarang juga aku harus pergi,"
Ujar Yap Kay mengeraskan hati.
"kau......kau boleh menungguku di sini, aku pasti kembali."
Sebenarnya hatinya tidak tega, suaranyapun sudah serak. Cui Giok-tin menunduk mengawasi kakinya, lama sekali baru dia bersuara.
"Kau tidak usah kembali kemari."
"Kenapa?"
"Karena aku..... tidak akan menunggumu di sini."
Suaranyapun mulai gemetar serak. Tak tahan Yap Kay berpaling, tanyanya.
"Kenapa?"
Semakin dalam kepala Cui Giok-tin, katanya sepatah demi sepatah.
"Karena aku bukan dia, aku...."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya, kata-katanya menghancurkan sanubarinya sendiri. Hati Yap Kay seperti ditusuk sembilu.
"Kau hendak kemana?", tanyanya kemudian.
"Banyak tempat bisa kudatangi. Memang aku sudah ada minat untuk pergi kemana-mana, kelak......."
Dia tahan air matanya, mengunjuk senyuman dipaksakan.
"mungkin aku bisa bertemu dengan laki-laki jujur, pandai dan rajin bekerja, menikah sama dia, akan kulahirkan putra-putri yang banyak, mungkin juga aku akan membuka sebuah warung arak. Biarlah aku jadi nyonya majikan yang selalu menunggu tungku menghangatkan arak......"
"Di kala itu pasti aku akan berkunjung ke warung arakmu dan minum sampai mabuk,"
Ujar Yap Kay tertawa. Tawanyapun dipaksakan, karena dia kuatir bila dia tidak tertawa, air mata sendiripun mungkin sudah bercucuran. Cui Giok-tin tersenyum gembira, katanya.
"Tatkala itu aku pasti akan masak semangkok bubur ayam dengan kuah kolesom, atau bubur ayam sarang burung."
Diapun tertawa, tapi air mata sudah meleleh membasahi pipi.
ooo)dw(ooo Cahaya matahari terang benderang.
Yap Kay tengah melangkahkan kakinya di bawah terik matahari ini.
Walau mukanya sudah tiada bekas-bekas air mata, namun dia tahu air mata dan darah segar lekas sekali akan menjadi kering di tingkah terik matahari.
Kalau air mata tidak berbekas, sebaliknya darah tetap meninggalkan noktah-noktah hitam dan noktah-noktah hitam ini akan bisa tercuci bersih kecuali dengan air mata darah pula.
Hutang darah di bayar darah hutang jiwa dibayar jiwa.
Selamanya Yap Kay mengutamakan 'pengampunan' untuk menghadapi dendam kesumat, pisaunya selama ini tak pernah membunuh orang yang tidak perlu di bunuh.
Tapi kini sanubarinya dibakar oleh dendam, diliputi amarah sakit hati yang menyala-nyala.
Mendadak dia menyadari bahwa dirinya tak ubahnya seperti boneka kayu yang lucu dan menggelikan, selalu diikat seutas benang yang tidak kelihatan oleh seseorang, dijinjing di tangannya.
Sudah tentu dia tidak sudi dipermainkan begitu rupa, sudah tentu lebih tidak sudi diperalat oleh orang lain.
Tiada manusia dalam dunia ini yang sudi dijadikan boneka.
Siapapun dan betapapun besar kesabarannya pasti ada batasnya juga, demikian pula Yap Kay adanya.
ooo)dw(ooo Bumi nan luas yang semula ditaburi bunga salju, kini mulai menunjukkan muka aslinya yang gundul gersang oleh teriknya matahari.
Jalan besar yang becek di luar kota Tiang-an kini sudah kering, namun tetap tidak kelihatan ada orang lewat di jalan raya untuk menempuh perjalanan.
Memangnya siapa yang mau tanpa keperluan penting menempuh perjalanan jauh di jalan raya yang kering kerontang di bawah terik matahari?.
Hanya Yap Kay.
Dia sudah mendapatkan sebuah kereta, namun tiada orang yang pegang sais.
Tapi dia tidak perduli.
Dia merebahkan diri di dalam bagasi kereta arang yang terbuat dari kayu keras dan kotor itu.
Keledai dibiarkan jalan sesukanya menuju arah menyusuri jalan raya ke luar kota.
Arang yang keras terasa menusuk kulit punggungnya, namun dia tidak memperdulikan juga.
Keledai penarik kereta ternyata jalannya tidak pelan, tanpa sais dan tidak ada orang yang menggebahnya lari dengan cemeti, namun di bawah teriknya matahari ini, dia malah menarik kereta lebih cepat, lebih semangat dan mengerahkan setaker tenaganya.
Keledai memang begitulah sifatnya.
Anehnya kebanyakan manusia di dalam dunia ini memiliki watak dan karakter yang mirip keledai.
Sebelum berangkat tadi, Yap Kay ada mampir ke sebuah warung membeli sebungkus kacang kulit.
Sambil rebah di dalam kereta, satu persatu dia menguliti kacang, setiap butir kacang dia lempar ke atas terus mulutnya terbuka mencaplok kacang yang meluncur jatuh lalu pelan-pelan mengunyahnya.
Dia sendiri tidak tahu sejak kapan dia mempunyai kebiasaan seperti ini, mungkin memang benaknya belum melupakan Liok Siau-ka si ahli pedang yang selalu mengunyah beberapa butir kacang lebih dulu sebelum membunuh orang.
Sayang sekali tiada arak, tadi dia lupa membeli arak.
Di waktu dia teringat akan arak itulah, di kejauhan depan sana dilihatnya selarik ujung kain hijau, melambai tertiup angin di dedaunan lebat di pinggir hutan.
Walau hari itu tanggal dua masih dalam suasana tahun baru, namun masih ada juga yang buka toko atau warung untuk cari untung.
Segera terkulum senyuman puas pada muka Yap Kay, gumamnya seorang diri.
"Agaknya nasibku mulai baik kembali."
Bila ingin minum arak segera keinginannya bisa terlaksana, bukankah itu merupakan suatu rejeki dan nasib yang baik?
Bergegas dia lompat bangun dan menghentikan kereta di pinggir jalan.
Pelan-pelan dia melangkah ke dalam hutan kurma yang masih ditaburi kembang salju.
Betul juga tak jauh dari jalan raya, di tengah hutan kurma itu terdapat sebuah warung arak kecil.
Tampak tujuh delapan orang berdiri di luar warung kecil itu tanpa bergerak, mata mendelong mulut melongo, seolah-olah manusia-manusia lempung layaknya.
Satu diantaranya ada yang menggubat batok kepalanya dengan selarik kain putih yang terembes darah.
Begitu melihat Yap Kay mendatangi, raut mukanya seketika menampilkan rasa ketakutan.
Yap Kay malah tersenyum senang.
Dia kenal betul siapa laki-laki yang dibalut kepalanya ini, karena dia inilah bajingan setempat yang semalam mengajak dirinya duel dan akhirnya mengeroyoknya setelah dirinya mabuk.
"To-pau-cu, To-toako,"
Begitu dekat Yap Kay segera menyapa. Tiba-tiba Yap Kay ingat panggilan temannya kepada laki-laki ini. Dengan tertawa segera dia menghampiri, katanya.
"To-toako (engkoh gundul) kau sudah tidak mabuk lagi?"
Menghijau muka To-pau-cu (harimau gundul), ingin dia manggut, namun lehernya seperti mengejang, seluruh badannya seakan-akan sudah keras seperti kayu yang dijemur kering.
Bukan saja dia, tujuh temannya yang lainpun sama keadaannya.
Yap Kay semakin lebar senyumannya, katanya.
"Orang yang dihajar tidak takut, kenapa orang yang menghajar malah ketakutan? Apakah tulang-tulangku terlalu keras sehingga tangan kalian kesakitan? Kalau demikian, wah, maaf ya!"
Memang benar rekaan Yap Kay, jari-jari tangan dan punggung tangan orang-orang itu memang melepuh bengkak menghijau, rasa sakitnya bukan buatan.
Memang, jikalau seseorang sudah berhasil meyakinkan ilmu silat setingkat Yap Kay, walaupun di dalam keadaan mabuk seperti anjing geladak yang tak ingat diri, dia tetap memiliki kepandaian lain untuk melindungi badan.
"Tapi kalian tak usah takut,"
Demikian ujar Yap Kay.
"aku kemari bukan mencari perkara dengan kalian, bisa tidur semalam di atas tumpukan sampah, memang rada lucu dan menggelikan juga, seumur hidup baru pertama kali ini. Aku memang ingin mengucapkan terima kasih kepadamu."
Dia tepuk-tepuk pundak To-pau-cu, katanya pula.
"Marilah, biar aku traktir kalian minum sepuasnya."
Mimik muka To-pau-cu justru semakin pucat dan lebih menakutkan.
"Apa lagi yang masih kau takuti?"
Tanya Yap Kay.
"Lotoa,"
Ujar To-pau-cu gemetar dengan suara dipaksakan.
"kami sudah tahu kau memang berisi, namun bukan kau yang kami takuti."
Yap Kay melenggong. Baru sekarang dia menyadari, bahwa orang takut kiranya bukan menakuti dirinya. Katanya tertawa getir.
"Lalu apa yang kalian takuti?"
To-pau-cu tertawa menyengir, katanya.
"Kami hanya takut kau menyentuh barang yang ada di atas kepala kami, kalau sampai barang ini jatuh, kematianlah bagian kami."
Baru sekarang Yap Kay melihat di atas kepala orang-orang ini semuanya ditaruh sekeping uang logam. Uang tembaga ini kelihatan ditingkah sinar matahari, mirip benar dengan uang emas.
"Kim-ci-pang?"
To-pau-cu menghela napas lega, katanya."
Kiranya kaupun sudah tahu aturan dari Kim-ci-pang, legalah hatiku."
Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, tanyanya.
"Aturan apa sih?"
Sebetulnya dia tahu aturan Kim-ci-pang.
Uang tembaga di atas kepala mereka ini merupakan lambang mati hidup jiwa mereka, jikalau orang-orang Kim-ci-pang menaruh sekeping uang tembaga ini di atas kepalamu, maka bergerakpun orang tidak akan berani, karena kalau bergerak sampai uang ini jatuh, maka jiwa orang itupun pasti direnggut elmaut.
"Apakah kau tidak tahu, bila kau sentuh uang tembaga di atas kepala kami sampai jatuh, maka matilah kami, demikian pula kaupun harus mati, kita semua harus mati bersama."
Yap Kay tertawa lebar, katanya geleng-geleng.
"Ah! Ada-ada saja peraturan ini. Aku tidak percaya!"
Tiba-tiba dia ulur tangan menjemput uang tembaga di atas kepala To-pau-cu, mulutnya mengguman.
"Uang seketip ini, entah laku tidak untuk membeli secangkir arak."
Saking ketakutan pucat dan mendelik kaku mata To-pau-cu, seperti badannya tiba-tiba dihajar dengan cambuk, tiba-tiba lemas lunglai kedua kakinya, tanpa kuasa dia lutut menyembah di depan Yap Kay.
Yap Kay seperti tidak melihatnya, katanya pula.
"Uang seketip tentunya tidak cukup untuk beli arak, untung di sini masih ada yang lain."
Badannya tiba-tiba melambung ke atas, waktu dia meluncur turun pula, uang tembaga di atas kepala ke tujuh orang itu sudah berada di tangannya.
Sudah tentu orang-orang itu ikut ketakutan dan melongo, selama hidup mereka kapan pernah melihat kepandaian silat orang yang begini lihay dan hebat.
Mendadak To-pau-cu yang berlutut di tanah berteriak keras.
"Kehendaknya sendiri melakukan pembangkangan ini, sedikitpun tiada sangkut-pautnya dengan kami."
Yap Kay tersenyum, katanya.
"Memang, hal ini tiada sangkut pautnya dengan kalian."
Lalu dijemputnya beberapa butir kacang, diletakkan di telapak tangan To-pau-cu, katanya.
"Tahukah kau apakah maksudnya ini?"
Sudah tentu To-pau-cu tidak tahu. Yap Kay berkata pula.
"Itu berarti sekarang kalian boleh berdiri dan masuk ke warung minum arak, atau kemanapun kalian mau pergi terserah. Jikalau orang-orang Kim-ci-pang berani mencari perkara terhadap kalian, suruh mereka kemari memenuhi Pangcu dari Hoa-seng-pang. Katakan saja bahwa Pangcu dari Hoa-seng-pang telah menangani persoalan ini."
Tak mengerti maka To-pau-cu bertanya gugup.
"Si......siapakah Pangcu dari Hoa-seng-pang?"
Yap Kay tuding hidungnya sendiri, katanya.
"Aku inilah!"
To-pau-cu mendelong melongo. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dingin.
"Baik sekali! Kalau begitu biar sekarang juga kami mencari perkara kepadamu."
Suara yang dingin, nada yang rendah menggiriskan.
Pembicarapun seorang yang memiliki muka kuning dingin, matanya jalang seperti serigala buas, hidung bengkok seperti paruh elang, mukanya dihiasi beberapa baris bekas luka-luka bacokan senjata yang melintang, sehingga kelihatan mukanya yang seram itu lebih menakutkan lagi.
Yap Kay memperhatikan tampang orang.
Yap Kay hanya memperhatikan pakaian yang dikenakan orang itu.
Pakaian serba kuning yang menyolok pandangan, di bawah terik matahari kelihatan seperti emas yang kemilau.
Pembicara ini berdiri di undakan batu di depan warung, masih ada tiga orang yang berseragam sama berdiri di sampingnya.
Yap Kay tertawa pula, katanya.
"Pakaian yang kalian pakai ini memang baik, entah boleh tidak ditanggalkan dan diberikan kepadaku. Kebetulan untuk dipakai keledaiku yang kepanasan."
Laki-laki baju kuning menatapnya lekat-lekat, pelan-pelan kelopak matanya memicing, ternyata dia cukup tabah dan sabar, katanya kalem.
"Apakah kau belum tahu akan aturan Pang kita?"
"Barusan sudah kudengar."
"Selama empat puluhan tahun, tiada orang Kang-ouw yang berani memandang rendah tata tertib dan aturan Pang kita. Tahukah kau kenapa demikian?"
"Coba kau katakan, kenapa?"
"Karena siapapun yang berani melanggar aturan Pang kita, maka dia harus mampus."
Seorang baju kuning yang lain menyambung dingin.
"Perduli kau ini Pangcu Hoa-seng-pang atau Kwa-cu-pang, Pangcu lain sama saja, kau harus mampus."
Yap Kay menghela napas, katanya.
"Tapi aturan apapun, cepat atau lambat pasti akan dilanggar orang juga, seperti pula seorang gadis pingitan yang perawan ting-ting, akhirnya dia toh harus kawin juga dengan seorang laki-laki."
Orang baju kuning saling pandang, dengan menarik muka, serempak mereka beranjak maju menaiki undakan batu.
Langkah ke empat orang sama-sama berat dan tenang mantap, terutama laki-laki yang mukanya penuh codet luka-luka, kedua Thay-yang-hiat di pelipisnya keluar, otot-otot hijau di kedua tangannya merongkol keluar, agaknya dia ini seorang tokoh kosen dari Bu-lim.
Yap Kay mengawasi tangan orang, tiba-tiba dia bertanya.
"Apakah tuan ini pernah meyakinkan Tay-lik-eng-jiau-kang?"
Laki-laki yang ditanya hanya menyeringai dingin.
"Kulihat codet di mukamu ini, apakah kau ini Thi-bin-eng (Elang muka besi) dari Hoay-se?"
Laki-laki itu tertawa dingin, katanya.
"Ternyata tajam juga matamu."
Tiba-tiba Yap Kay menarik muka, katanya.
"Tahukah kau orang macam apa sebenarnya Kwe Ting itu?"
"Agaknya pernah kudengar namanya."
"Dia adalah teman baikku."
"Memangnya kenapa kalau temanmu?"
Tanya Thi-bin-eng.
"Tahukah kau apa aturan Hoa-seng-pang?"
"Ada aturan apa?"
"Aturan Hoa-seng-pang mengatakan, siapapun dilarang membunuh temanku, kalau tidak....."
"Kenapa?"
"Begini."
Seru Yap Kay.
Mendadak dia turun tangan, tinjunya terkepal keras dan terayun menghajar muka Thi-bin-eng.
Thi-bin-eng bukan kaum keroco, dia cukup mempunyai kepandaian sejati, bukan saja namanya amat tenar dan disegani di daerah Hoay-se, di kalangan Kang-ouw diapun terhitung tokoh kelas satu, karena dia memang memiliki kepandaian asli.
Eng-jiau-kang yang dia yakinkan memang benar-benar sudah mendapat warisan dari Eng-jiau-ong yang tulen.
Hoay-se-toa-to yang dulu pernah tercantum di dalam buku daftar alat senjata Pek Hiau-seng, walau berhasil membacok luka-luka mukanya, namun dia tidak terbacok mati, malah Hoay-se-toa-to sendiri akhirnya mati oleh kekuatan Eng-jiau-kang yang hebat.
Maka julukan Thi-bin-eng dia peroleh karena kemenangannya yang gemilang itu.
Umumnya, Eng-jiau (Cakar elang) amat cepat, demikian pula matanya amat jeli, tapi begitu dia melihat Yap Kay mengayun tangan, tahu-tahu tinju orang sudah menghajar hidungnya dengan keras.
Dia tidak merasakan sakit.
Untuk benar-benar merasakan sakit yang luar biasa adalah kejadian selanjutnya.
Kini yang dia rasakan hanyalah pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, mendadak kunang-kunang bertebaran di depan matanya, pelan-pelan menyebar.
Dia tidak segera terjungkal roboh.
Setelah badannya melayang setombak lebih menerjang saka salah satu tiang warung kecil itu, baru badannya terpental balik dan roboh terbanting dengan keras.
Sampaipun suara remukan dari tulang hidungnya yang terpukulpun dia tidak mendengar, malah orang lain yang mendengar dengan jelas sekali.
Yap Kay awasi muka orang yang hancur, katanya tertawa.
"Ternyata bukan muka besi yang asli, kiranya mukamupun bisa ku pukul hancur."
Ketiga temannya sama kertak gigi, melirikpun tidak kepada teman yang dihajar itu.
Sekonyong-konyong sinar gemerlap kemilau saling samber, tahu-tahu tiga orang serempak mengeluarkan senjata.
Sebilah golok, sebatang pedang, dan sepasang Boan-koan-pit.
Dua jurus kemudian Yap Kay sudah tahu, bukan si muka besi yang berkepandaian paling tinggi di antara empat orang lawannya ini, bukan pula si orang tua yang bersenjata sepasang potlot baja, namun justru pemuda yang bersenjatakan pedang.
Ilmu pedang pemuda ini cepat dan ganas, banyak perubahan dan variasinya.
Pedang yang dipakaipun terbuat dari baja pilihan.
Tiga belas jurus kemudian Yap Kay tetap belum turun tangan, atau balas menyerang sejuruspun kepada lawan.
Bila dia mau turun tangan, pasti musuhnya tidak akan luput dari hajarannya yang parah.
Saat itulah ia sudah mulai bergerak.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan kaget disusul tulang rusuk yang remuk, terus suara gebukan yang keras dari jatuhnya sesuatu yang berat.
Tahu-tahu si orang tua yang bergaman sepasang potlot telah tertutuk Hiat-tonya, sedangkan laki-laki yang bersenjata golok memeluk dada meringkel rebah di tanah berkelejetan, goloknya patah jadi dua.
Hanya pemuda bersenjata pedang yang tidak roboh, namun mukanya sudah pucat pias saking kaget dan ketakutan.
Seenaknya saja Yap Kay lemparkan kutungan golok di tangannya.
Mendadak dia bertanya kepada si pemuda.
"Tahukah kau kenapa aku harus mengutungi goloknya?"
Pemuda itu geleng-geleng. Yap Kay berkata tawar.
"Karena serangannya terlalu telengas, maksud serangannya amat jahat pula, manusia seperti dia hakikatnya tidak setimpal bersenjatakan golok."
Pemuda itu menggenggam kencang pedangnya, tiba-tiba bertanya.
"Kaupun pakai golok?"
Yap Kay manggut-manggut.
Mungkin tiada manusia lain dalam dunia yang benar-benar paham cara bagaimana harus menggunakan golok, tiada orang lain yang lebih mengerti dan menyelami betapa besar nilai dari mutu sebuah golok daripada Yap Kay.
"Biasanya aku paling menghargai golok."
Kata Yap Kay.
"jikalau kau sendiri tidak menghargai golokmu, maka tidak setimpal kau pakai golok. Jikalau kau menghargai golokmu, maka dikala kau memanfaatkan nilai-nilainya, maka kau harus hati-hati dan bertindak sesuai dengan penghargaanmu."
Pemuda itu menatapnya, sorot matanya berganti dari rasa ketakutan menjadi rasa heran dan tak mengerti.
Dia sudah tahu bahwa Yap Kay seorang yang luar biasa, orang biasa tak mungkin bisa mengatakan pengertian sedemikian tinggi dan luas.
Maka tak tahan dia bertanya.
"Siapa kau sebetulnya?"
"Aku she Yap, bernama Kay."
Seketika berubah pula roman muka si pemuda.
"Yap Kay!", jeritnya.
"Benar,"
Ujar Yap Kay.
"Yap artinya daun-daun pohon, Kay berarti terbuka, hati riang gembira."
Mendadak si pemuda gunakan gerakan setangkas kera jumpalitan ke belakang dengan badan berputar seperti kitiran terus melambung tinggi melesat ke dalam hutan.
Badannya meluncur seperti kera ketakutan dikejar pemburu.
Akan tetapi baru saja kakinya menutul bumi, mendadak dirasakannya sekujur angin kencang menerjang tiba.
Tahu-tahu selarik sinar berkelebat laksana kilat menyambar melesat lewat dari batok kepalanya, terbang sejauh 5-6 tombak, begitu hebat dan keras kekuatannya.
'Trap...' pisau itu menancap amblas ke dalam pohon, tinggal gagangnya saja yang masih menongol di luar.
Sudah tentu serasa terbang arwah si pemuda saking kaget, segera dia hentikan aksinya.
Tahu-tahu rambutnya sudah terurai awut-awutan, gelang mas yang menggelung rambut panjangnya ternyata sudah terpapas putus jadi dua.
Sekujur badan serasa dingin mengejang.
Selamanya belum pernah dia melihat sambaran pisau secepat ini.
Pisau terbang.
Garan pisau masih bergoyang-goyang, Yap Kay lantas mendekati, mencabutnya.
Sekali tangannya terbalik, tahu-tahu pisau itu sudah lenyap.
Baru sekarang pemuda itu menarik napas panjang, rasa tegang hatinya mereda.
"Apa benar kau ini Yap Kay?"
Tanyanya meyakinkan.
"Memangnya siapa lagi kalau aku bukan Yap Kay? Pemuda itu tertawa getir, katanya.
"Kenapa tidak sejak tadi kau katakan?"
Yap Kay tertawa-tawa. Mendadak dia balas bertanya.
"Apakah kau murid Kim-tam Toan-sian-sing?"
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya pemuda itu kaget.
"Bukankah Thi-bin-eng tadi sudah bilang, pandanganku selamanya tidak pernah meleset?"
Pemuda itu manggut-manggut, ujarnya.
"Memang tajam pandanganmu."
"Kau murid ke berapa dari Kim-tam Toan-sian-sing?", tanya Yap Kay.
"Murid ke tiga!"
"Kau she apa?"
"She sip, bernama Bin."
"Pernahkah kau jadi sais kereta?"
"Tidak!"
"Aku tahu kau tidak pernah,"
Ujar Yap Kay tertawa-tawa.
"tapi kerja apapun memang harus ada permulaannya.", lalu lanjutnya.
"Bawa aku menemui Siangkwan Pangcu kalian, perduli di manapun dia berada, kau harus membawaku menemukan dia."
Itulah permintaan Yap Kay.
Kembali Yap Kay rebah di dalam tumpukan arang, matanyapun sudah terpejam.
Dia tahu pemuda ini pasti tiada pikiran untuk melarikan diri, orang pasti patuh mendengar petunjuknya.
Memangnya siapapun setelah melihat pisau terbangnya, pasti tidak akan berani melakukan sesuatu yang bodoh, apalagi membahayakan jiwa sendiri.
Ternyata Sip Bin benar-benar pegang sais mengendarai kereta itu menempuh perjalanan.
Kerja ini baru pertama kali ini dia lakukan seumur hidup.
Kini setelah ada orang pegang kendali dan mengayunkan cambuknya, keledai itu malah menjadi malas dan perlahan-lahan jalannya.
Entah sejak kapan Yap Kay mulai kebiasaannya pula menguliti kacang, biji kacang dia lempar lalu di caplok oleh mulutnya.
Mendadak dia bersuara.
"Khabarnya Kim-tam Toan-sian-sing adalah seorang yang mengutamakan makanan dan pakaian, apa benar?"
"Ehm,"
Sip Bin menjawab dengan suara dalam tenggorokan.
"Kabarnya murid-murid yang dia terima, semuanya adalah anak atau putra-putra hartawan yang mempunyai kedudukan tinggi dan disegani."
"Ehm"
Kembali Sip Bin hanya mengiyakan saja.
"Dan kau juga?"
"Ehm" , agaknya Sip Bin ogah membicarakan riwayat hidupnya sendiri. Yap Kay justru mempersoalkan hal ini.
"Kau tidak senang akan menyinggung persoalan ini, apakah kaupun merasa segan bicara?"
Akhirnya Sip Bin terpaksa bicara.
"Kenapa harus segan bicara?"
"Karena kaupun tahu, mengandal perguruan dan keluarga besarmu, tidak pantas kau terima menjadi budak di dalam Kim-ci-pang."
Merah muka Sip Bin, katanya membantah.
"Aku bukan budak."
"Akupun tahu bahwa kau masuk ke Kim-ci-pang maksudmu adalah untuk melepaskan diri dari belenggu keluarga, kau ingin berjuang dan mengangkat nama demi kehidupan masa depanmu sendiri, memang setiap pemuda harus mempunyai pambek dan cita-cita."
Dengan tertawa-tawa Yap Kay menambahkan dengan tawar.
"Tapi apa yang kau lakukan sekarang tak ubahnya seperti budak."
"Ini lantaran kau............."
Sip Bin ingin membantah dengan muka merah.
"Benar, akulah yang suruh kau melakukan."
Ujar Yap Kay.
"tapi menaruh uang tembaga di atas kepala orang lain, apakah itu bukan kerja seorang budak?"
Terkancing mulut Sip Bin, dia tak bisa menjawab.
"Apalagi aku suruh kau mengerjakan tugasmu sekarang, karena kau memangnya sudah jadi budak Kim-ci-pang, kalau tidak kau lebih suka jadi kedelai, biar aku menunggangi di punggungmu saja."
Semakin merah padam muka Sip Bin, sorot matanyapun menampilkan rasa duka dan derita. Tiba-tiba Yap Kay bertanya pula.
"Tahukah kau kenapa tadi aku menimpukkan pisau terbangku?"
Sip Bin ragu-ragu, katanya pelan-pelan.
"Akupun pernah mendengar pisaumu jarang membunuh orang, namun untuk menolong sesama umat manusia."
"Benar! Timpukan pisauku tadi adalah supaya kau tahu, di dalam Kim-ci-pang, kau tetap tidak akan bisa melakukan kerja besar."
Sip Bin kertak gigi, katanya.
"Mungkin lantaran ilmu silatku......."
Yap Kay segera menukas.
"Seseorang apakah dia mendapat kehormatan dari orang lain, bukan tergantung ilmu silatnya. Kedua hal ini hakikatnya tiada sangkut pautnya. Jikalau kau melakukan suatu kerja besar yang terang gamblang, pasti takkan ada yang memandang rendah dirimu. Demikian pula pisauku, tidak akan terbang di atas kepalamu."
Setelah menghela napas dia menyambung.
"Kalau tidak umpama aku tidak membunuhmu, cepat atau lambat kau tetap akan terbunuh oleh orang lain."
Kembali mulut Sip Bin terkancing rapat. Kini dia sudah memaklumi apa maksud Yap Kay dengan uraiannya. Yap Kay pun tahu, dia bukan pemuda yang goblok.
"Aku percaya kau pasti tidak akan bikin aku kecewa."
Yap Kay menambahkan.
Lalu dia menguliti sebutir kacang dilempar ke atas, menunggunya melayang jatuh.
Dia tahu kalau biji kacang itu dia lempar ke atas, akhirnya pasti akan melayang jatuh.
Kereta kedelai itu sudah beranjak di jalan raya yang mirip dengan jalan yang berada di kota Tiang-an.
Cuma hotel Hong-ping yang ada di jalan raya ini tidak terbakar seperti yang ada di kota Tiang-an, yang tinggal tumpukan puing.
Sambil mengawasi hotel Hong-ping yang kemilau ditingkah sinar matahari, kembali timbul perasaan aneh dalam benak Yap Kay, seperti melihat seseorang yang sudah ajal tiba-tiba hidup kembali.
Kenyataannya dia memang pernah melihat seseorang yang hidup kembali sesudah mati.
Ada kalanya segala kejadian di dalam kehidupan manusia bermasyarakat ini memang mirip sebuah impian, entah tulen atau palsu, memang jarang orang bisa membedakannya.
Kalau hati Yap Kay tengah berkeluh-kesah, namun mukanya tengah tersenyum.
Dia tahu orang-orang di pinggir jalan tengah mengawasi dirinya.
Waktu itu kebetulan tengah hari, jadi orang-orang yang ada di jalan raya tidak banyak, seperti pula keadaan di kota Tiang-an, kebanyakan orang banyak menyekap diri di dalam rumahnya untuk makan dan istirahat.
Tapi orang-orang yang mondar-mandir di jalan raya ini, semua bersikap serius, kelihatannya semua tegang hati, seolah-olah sudah tahu bahwa sesuatu kejadian besar akan terjadi, sehingga sanubari mereka dirundung firasat jelek.
Yap Kay tahu, memang di sini sudah terjadi sesuatu peristiwa besar, malah diapun tahu jelas peristiwa ini terjadi gara-gara dirinya.
Kini dia berada di sini, kini dia sudah tidak akan bersikap seperti tempo hari, keluar dari tempat ini dengan selamat dan sehat.
ooo)dw(ooo Kereta keledai berhenti di depan hotel Hong-ping.
Begitu Yap Kay melangkah masuk, lantas dilihatnya Siangkwan Siau-sian tengah duduk di meja kasir, sedang membalik-balik buku daftar.
Kelihatannya dia memang mirip kasir atau istri pemilik hotel, cuma usianya terlalu muda dan jauh lebih cantik dari istri para pemilik hotel umumnya.
Mendengar langkah Yap Kay yang mendekati, segera dia angkat kepala sambil berseri tawa, katanya.
"Aku tahu kau pasti akan datang, memang aku sedang menunggu kedatanganmu."
Yap Kay tidak ingin berdebat dan ribut dengannya. Memang tiada tempo buat bertengkar. Mendadak dia bertanya.
"Kau sudah menghitung rekening? Apakah kau sedang menghitung berapa orang yang semalam kau bunuh?"
Siangkwan Siau-sian tertawa, katanya.
"Umpama benar aku membunuh orang, selamanya tidak pernah ku catat di dalam buku."
"Lalu apa yang tercatat di dalam buku daftar ini?"
"Inilah buku catatan kado,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"di sini tercatat banyak nama-nama yang aneh, memberikan berbagai macam kado yang aneh pula."
"Diberikan kepadamu?"
"Aku sih belum saatnya mendapat keberuntungan sebesar ini,"
Ujar Siangkwan Siau-sian tertawa.
"apa kau ingin ku bacakan satu persatu orang-orang pengirim kado yang tercatat di dalam daftar ini?"
Yap Kay diam saja, namun dia tidak menolak.
Yap Kay berdiri di depan meja, mengawasinya, entah mengapa tiba-tiba hatinya sakit seperti ditusuk-tusuk sembilu.
Perduli dia memang bersikap sungguh-sungguh atau pura-pura, yang jelas sikap orang memang tidak jelek terhadap dirinya.
Pernah beberapa hari mereka hidup bersama, hal itu takkan bisa dia lupakan.
Sebetulnya dia tidak mengharap mereka berhadapan sebagai musuh, apalagi musuh besar yang harus menentukan mati hidup dengan duel.
Dari sudut apapun pandangannya, Siangkwan Siau-sian sebetulnya tidak pantas menjadi musuhnya.
"Aku sudah siapkan beberapa macam hidangan yang kau sukai. Kini bukankah saatnya makan siang?"
"Aku kemari bukan untuk makan."
Kata Yap Kay dingin. Siangkwan Siau-sian tertawa manis, katanya.
"Tapi siapapun toh harus makan. Kaupun tidak terkecuali bukan?"
Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.
"Cui Giok-tin mengirim seekor ayam, sekilo sarang burung, Lamkiong Long menyumbang sebuah gambar, Yap Kay mengirim seorang hidup."
Berubah air muka Yap Kay. Sudah tentu dia sudah tahu dafatr siapa buku kado itu. Siangkwan Siau-sian cekikikan, katanya.
"Kenapa Cui Giok-tin mengirimkan ayam, apa dia kira kaulah yang jadi pengantin prianya, supaya kau memasak bubur ayam untuk makan malam bersama istrimu di kamar pengantin?"
Tanpa memberi kesempatan Yap Kay bicara segera dia menyambung sambil tertawa.
"Kado yang paling aneh di dalam daftar ini kukira adalah sumbanganmu, tapi kado yang termahal kukira kau tidak pernah menduga siapakah pengirimnya."
"Siapa? Dan barang apa sumbangannya?"
"Semuanya ada empat orang,"
Ujar Siangkwan Siau-sian, lalu pelan-pelan dia membaca ke empat nama orang.
"Sialpu, Tolka, Putala dan Panjapana."
Berubah rona muka Yap Kay.
"Apa saja barang sumbangan mereka?", tanyanya pula.
"Mereka menyumbang sekantong batu permata, di dalamnya ada terdapat pula sebuah lencana kemala,"
Kata Siangkwan Siau-sian sambil mengacungkan tangan.
"Lencana inilah!"
Lalu dari dalam laci meja kasirnya dia mengeluarkan sebuah lencana kemala yang di atasnya terukir empat iblis langit.
Agaknya dia memang sudah siap untuk memperlihatkannya kepada Yap Kay.
Batu kemala ini mengkilap hijau tua dan indah, ukiran iblis-iblis di atasnya sungguh membuat hati Yap Kay terkejut sekali.
"Tahukah kau apa maksud dari lencana kemala ini?"
Tanya Siangkwan Siau-sian. Yap Kay tidak tahu.
"Inilah lencana penuntut balas,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"kalau Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau mau menuntut balas, maka lencana seperti ini selalu muncul."
Terkepal tinju Yap Kay, desisnya.
"Apakah mereka menuntut balas bagi kematian Giok-siau?"
Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, katanya.
"Sekantong permata itu pertanda nilai pembelian jiwa dari orang-orang yang mereka bunuh itu."
"Uang pembelian jiwa, apa maksudnya?"
"Sebelum melakukan pembunuhan, Su-thoa-thian-ong sebelumnya harus membeli dulu jiwa sang korban, karena mereka tidak ingin hutang jiwa pada penitisan yang akan datang,"
Siangkwan Siau-sian menghela napas.
"memang tidak sedikit permata yang mereka kirimkan, maka tidak sedikit pula jumlah orang-orang yang telah mereka bunuh."
"Apakah mereka pembunuhnya?"
"Umpama kau ini bukannya orang pikun, tentunya kau sudah tahu siapa pembunuh sebenarnya."
"Tapi kaulah yang menyingkirkan mayat-mayat itu."
"Membunuh orang dianggap kejahatan, namun membereskan mayat orang adalah kerja mulia."
"Apa alasanmu membereskan mayat-mayat itu?"
"Karena aku ingin mencari satu hal."
"Hal apa?"
"Aku ingin tahu siapa sebenarnya Tolka dan Putala."
"Sayang sekali, orang-orang mati takkan bisa bicara, apalagi memberikan keterangan, apa pula gunanya kau membereskan mayat-mayat mereka?"
"Sudah tentu ada gunanya."
"Apa gunanya?"
"Aku sudah memperkirakan dengan tetap bahwa waktu itu merekapun ada hadir dalam perjamuan itu."
Yap Kay berpendapat demikian, jikalau mereka tidak hadir dalam perjamuan itu, masakah begitu gampang sekian banyak orang dibunuh.
"Oleh karena itu jikalau orang yang hadir di dalam perjamuan itu ada 100 orang, maka yang mati pasti ada 98 orang."
"Dua orang yang tidak mati pasti adalah Tolka dan Putala."
"Memang aku tahu kau bukan orang pikun."
Olok Siangkwan Siau-sian.
"Oleh karena itu maka kau bereskan mayat-mayat itu. Kau ingin tahu siapa saja yang telah mampus? Berapa banyak jumlah orang yang mati? "
Benar!"
"Tapi kau tetap tidak berhasil, kau belum tahu siapa dua orang yang tidak mati itu?" (Bersambung ke Jilid-15) Jilid-15
"Maka sekalian aku bawa pula daftar kado ini, ingin kuperiksa siapa saja orang-orang yang mengirim kado."
"Orang yang mengirim kado belum tentu hadir di dalam perjamuan itu, demikian pula orang yang hadir di dalam perjamuan itu belum tentu menyumbang."
"Sedikit banyak dari sini aku akan bisa menyimpulkan sesuatu yang tidak mungkin dimengerti orang lain. Aku toh bukan orang linglung."
"Lalu kau sudah berhasil menyimpulkan apa?"
"Begitu kau tiba, hatiku jadi kusut, masakah ada selera aku memeriksa lebih lanjut?"
Dia berdiri dan keluar dari belakang meja kasir, tiba-tiba berkata pula.
"Ada sepatah pertanyaan ingin kuajukan kepadamu."
Terpaksa Yap Kay biarkan orang bertanya.
"Apakah manusia itu harus makan?"
Yap Kay diam saja, dia mengakui.
"Dan kau ini manusia bukan?"
Kembali Yap Kay diam saja, dia harus mengakui juga. Siangkwan Siau-sian sudah menarik tangannya, katanya berseri tawa.
"Kalau begitu, hayolah kita mengisi perut."
Ooo)dw(ooo Yap Kay sedang makan.
Tiba-tiba disadarinya setiap kali berada di depan Siangkwan Siau-sian, dirinya lantas menjadi laki-laki pikun yang terima dituntun hidungnya saja.
Tapi perutnya memang kosong, sudah keroncongan sejak tadi.
Setelah menempuh perjalanan setengah hari, selera makannya tentu amat besar.
Begitu duduk menyanding meja, sepasang sumpitnya bekerja dengan gesit, sulit dia bisa menenteramkan diri menghadapi hidangan serba lezat ini.
Apalagi semua masakan justru menempati seleranya, terutama kuah tahu kacang yang terasa pedas kecut, bukan saja mencocoki perutnya, juga bisa menyadarkan pikirannya dari mabuk arak.
Siangkwan Siau-sian berkata lembut.
"Aku tidak menyediakan arak bagi kau karena aku tahu perutmu sedang kosong. Setelah makan, boleh kuiringi kau minum sepuasmu."
Siapapun yang menghadapi, melihat serta dilayani perempuan selembut dan secantik ini, kesannya adalah dia gadis periang yang halus, prihatin dan pintar meladeni.
Bila seorang laki-laki berhadapan dengan perempuan macam ini, apa pula yang dapat dia lakukan?
Sebetulnya Yap Kay sudah berkeputusan dalam hati tidak perdulikan orang.
Umpama orang bisa bicara semanis madu dan kata-katanya bisa menciptakan sekuntum bunga, dia tetap tidak mau percaya dan tidak mau perduli.
Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.
"Aku tahu dalam hatimu tentu membenci aku, tidak seharusnya aku menahanmu di sini tempo hari, kalau tidak, nona Ting pasti tidak akan menikah dengan Kwe Ting, jikalau dia tidak menikah dengan Kwe Ting, maka peristiwa malam itupun tidak akan terjadi."
Memang itulah unek-unek hati Yap Kay yang ingin dia utarakan. Kalau dia belum sempat mengutarakan, kini Siangkwan Siau-sian sudah membebernya secara gamblang.
"Tapi kau harus memikirkan diriku. Aku inipun seorang perempuan, aku bukan siluman,"
Dengan suara lembut, aleman dan rawan dia menyambung.
"bila seorang perempuan betul-betul jatuh hati kepada seorang laki-laki, pasti takkan bisa menahan diri untuk tidak menahannya. Perduli perempuan macam apa dia, keinginan seperti itu sama saja."
Yap Kay tertawa dingin, tapi dalam lubuk hatinya dia tidak bisa tidak mengakui, bahwa apa yang dikatakan Siangkwan Siau-sian memang beralasan.
Cinta itu sendiri tidak salah, cinta itu pula adalah murni suci, bukan kejahatan.
Adalah jamak dan sudah menjadi suratan takdir bahwa seorang perempuan mencintai seorang laki-laki, sedikitpun tidak akan salah.
Bila hatinya benar-benar kepincut, cinta kepati-pati, sudah tentu dia tidak akan mengharap dirinya ditinggal pergi pujaan hatinya seorang diri.
Untuk ini tiada orang yang berani mengatakan bahwa apa yang dia lakukan salah.
Tiba-tiba Yap Kay menyadari bahwa tekadnya mulai goyah, perasaannya tergerak dan terketuk sanubarinya.
Segera dia bangkit, katanya.
"Sudah selesai belum perkataanmu?"
"Belum! Masih banyak lagi,"
Sahut Siangkwan Siau-sian.
"Nasi sudah ku gares habis."
"Kau tidak ingin minum arak?"
"Tiada selera lagi."
"Kau tidak ingin mencari tahu siapa sebetulnya Tolka dan Putala?"
"Aku bisa mencarinya sendiri."
"Umpama kau bisa menemukan dia, memangnya apa yang dapat kau lakukan? Memangnya seorang diri kau mampu menghadapi seluruh Mo Kau?"
Setelah menghela napas Siangkwan Siau-sian menambahkan.
"tahukah kau berapa banyak anak murid Mo Kau? Tahukah kau berapa besar kekuatan yang mereka milik?"
Yap Kay tahu. Betapa menakutkan Mo Kau, tidak seorangpun di dalam dunia ini yang lebih jelas daripada dirinya.
"Oleh karena itu kaupun harus tahu, untuk menghadapi Mo Kau hanya ada satu cara."
"Cara apa?"
Tanya Yap Kay.
Senyuman lembut dan manis yang menghiasi muka Siangkwan Siau-sian sudah sirna, sorot matanya yang bening jeli tiba-tiba memancarkan cahaya terang yang menekan perasaan orang.
Kini dia bukan lagi nyonya pemilik hotel yang telaten dan prihatin meladeni tamunya, namun dia adalah Kim-ci-pang Pangcu yang ditakuti seluruh dunia.
Katanya dengan menatap Yap Kay bulat-bulat.
"Di seluruh kolong langit ini yang bisa bertanding dan adu kekuatan dengan Mo Kau hanya Kim-ci-pang kita."
Yap Kay bersuara dalam tenggorokan.
"Setelah mengalami persiapan dan perencanaan yang bertahun-tahun dengan pengerahan segala kekuatan, sekarang perduli di dalam tenaga manusia atau kekuatan keuangan, Kim-ci-pang sudah betul-betul mencapai to[p, mencapai tingkat tertinggi,"
Ujar Siangkwan Siau-sian lebih lanjut.
"Siau-lim, Bu-tong, Kun-lun, Go-bi, Hoa-san, Tiam-jong, Kay-pang, Khong-tong dan banyak lagi perguruan silat besar dan kecil di seluruh dunia, sekarang sudah ada orang-orang kita yang menyusup ke dalamnya......"
Yap Kay tiba-tiba menukas perkataannya.
"Oleh karena itu sekarang kaupun hendak menghasut aku."
"Bukan menghasut,"
Kata Siangkwan Siau-sian tegas.
"hanya untuk menghadapi Mo Kau, kau harus kerja sama dengan Kim-ci-pang kita."
Yap Kay tertawa dingin, katanya.
"Apakah kau masih ingin mengangkatku menjadi Hu-hoat dari Kim-ci-pang mu?"
"Asal kau suka, malah aku boleh memberikan kedudukan Pangcu Kim-ci-pang kepadamu."
Siangkwan Siau-sian menghela napas. Kerlingan matanya selembut riak air tenang, lembut hening, katanya pelan.
"Seorang perempuan demi laki-laki yang dia cintai, memang tidak segan-segannya mengorbankan segala miliknya, apalagi........"
"Apalagi Mo Kau memangnya musuh tangguh Kim-ci-pang kalian."
"Bukan saja musuh bebuyutan kita, malah dua musuh yang takkan bisa hidup berdampingan, terutama belakangan ini......"
"Kenapa belakangan ini?"
"Belakangan ini umpama aku tidak mencari perkara dengan mereka, merekapun akan meluruk mencari aku."
Yap Kay tahu orang bukan membual.
Kim-ci-pang dan Mo Kau kedua-duanya belakangan ini sama-sama mau menegakkan wibawa dan mengerahkan kekuatan serta mengumpulkan tenaga serta mengisi keuangan, tujuannya adalah berkuasa dan bersimaharajalela di Kang-ouw.
Bentrokan ke dua belah pihak demi kepentingan masing-masing tentu semakin besar dan meruncing.
Kerang dan bangau saling berebutan, akhirnya nelayanlah yang memungut keuntungan.
Sebetulnya situasi ini merupakan kesempatan baik bagi Yap Kay, walau dia tidak ingin jadi nelayan yang memungut keuntungan tanpa membuang tenaga, namun sedikitnya dia bisa menggunakan kesempatan ini untuk melakukan banyak pekerjaan yang ingin dia lakukan, pekerjaan yang sebetulnya sudah dia selesaikan sejak dulu.
Siangkwan Siau-sian berkata pula.
"Keadaanmu sekarangpun sama, 2 diantara Su-thoa-thian-ong kini sudah berada di Tiang-an, maksudnya terang bukan selalu menghadapi Kim-ci-pang kami, sekaligus merekapun hendak hadapi kau."
"Oleh karena itu umpama aku tidak mencari mereka, merekapun tetap tidak akan berpeluk tangan terhadapku."
"Mereka adalah musuhmu, sedikitnya aku ini masih temanmu, perduli untuk pribadi atau untuk kepentingan umum, adalah pantas kalau kau kerja sama dengan kita."
Yap Kay sudah duduk kembali di kursinya.
"Mungkin dalam hatimu kini masih mengira aku hendak memperalat kau."
"Apa tidak?"
"Umpama aku ingin bantuan tenagamu, bukankah kaupun bisa memperalat diriku? Inilah kesempatan terbaik untuk kerja sama melenyapkan Mo Kau."
Yap Kay tiba-tiba menghela napas, katanya.
"Kau memang perempuan yang pandai bicara."
"Apakah aku sudah berhasil membujukmu?"
"Agaknya memang demikian."
Berseri muka Siangkwan Siau-sian, senyuman yang berubah lembut aleman dan genit, katanya.
"Lalu, apakah sekarang kita perlu minum secangkir arak?"
"Kini aku masih merasakan heran akan satu hal."
"Hal apa yang kau herankan?"
Tanya Siangkwan Siau-sian, matanya berkedip-kedip.
"Kerja apapun yang kau suruh aku lakukan, kenapa selalu aku tak bisa menolaknya?"
Arak sudah siap di atas meja.
Arak itu sendiri tidak memabukkan, malah Siangkwan Siau-sian yang membuatnya kasmaran.
Kelembutannya, telaten meladeni, kerlingan matanya serta senyumannya yang menggiurkan, setiap laki-laki pasti akan kepincut kepadanya.
Apakah Yap Kay sudah jatuh mabuk?
Betapapun dia adalah laki-laki sejati, malah bukan laki-laki yang tidak mengenal kasih seperti yang pernah dia bayangkan sendiri.
Kini dia mulai curiga terhadap dirinya malah, apakah dia sudah kelelap dan terbuai oleh kehalusan dan kehangatan orang?
Siangkwan Siau-sian memang perempuan tulen.
Tiada laki-laki yang bisa menolak diajak kencan oleh perempuan seperti ini.
Mungkin Siangkwan Siau-sian tidak seelok rupawan seperti Ting Hun-pin, tidak aleman dan lemah seperti Cui Giok-tin, tapi gadis yang satu ini jauh lebih unggul di dalam menyelami hati laki-laki.
Dia lebih tahu cara bagaimana untuk menangkap dan menambat lubuk hati seorang laki-laki.
Apakah Yap Kay sudah tertambat olehnya?
Entahlah!
"Kau sudah mabuk belum?"
Tanya Siangkwan Siau-sian.
"Sekarang memang belum, namun cepat atau lambat, aku akan mabuk juga."
"Jadi kau sudah siap untuk mabuk?"
"Asal mulai minum, memang harus siap untuk mabuk."
"Oleh karena itu bila aku ingin bicara, lebih baik lekas kukemukakan sebelum kau mabuk."
"Sedikitpun tidak salah."
"Kau sudah memeriksa buku daftar kado ini?"
"Sudah kuperiksa."
"Apa yang dapat kau lihat?"
"Kudapati setiap Kim-ci-pang turun tangan, tidak seroyal pihak Mo Kau."
Siangkwan Siau-sian tertawa, katanya kalem.
"Kim-ci-pang tidak ingin membeli jiwa orang lain, oleh karena itu tidak perlu mengantar kado yang begitu tinggi nilai harganya."
Yap Kay menatap arak di cangkirnya, katanya pelan-pelan.
"Mungkin kau sendiri sudah melihatnya, kado yang betapa tinggi harganya, mereka tidak akan bisa menerimanya."
"Jikalau aku bisa melihat jelas, mungkin aku bisa memberikan lebih banyak."
"Kenapa?"
"Karena perduli berapapun yang kuberikan, sekarang sudah kurampas seluruhnya."
"Lalu, apa pula yang kau temukan?"
"Aku hanya menemukan kau, seorang laki-laki yang benar-benar romantis,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"oleh karena itu kau jelas bukan satu di antara Su-thoa-thian-ong Mo Kau. Orang-orang Mo Kau semuanya tidak kenal cinta kasih."
"Masa, baru sekarang kau menyadari hal ini?"
"Sekarang juga belum terlambat."
"Jadi dulu kau pernah mencurigai aku?"
"Karena hanya sedikit jumlah orang yang setimpal menjadi Mo Kau Thian-ong."
"Kecuali aku, berapa banyak pula orang di dalam kota Tiang-an ini yang setimpal?"
"Paling hanya empat atau lima saja."
"Pertama sudah tentu adalah Lu Di."
"Tidak salah!"
"Kedua adalah Han Tin."
"Sudah tentu!"
"Dan siapa lagi?"
"Masa kau sudah lupa akan temanmu itu?"
"Nyo Thian?"
"Rase yang tak bisa terbang sudah cukup menakutkan, apalagi rase yang pandai terbang."
"Bukankah dia salah seorang kepercayaanmu?"
"Aku tidak punya orang kepercayaan."
Ujar Siangkwan Siau-sian, lalu angkat kepala menatap Yap Kay, katanya.
"Orang satu-satunya yang dapat kupercaya hanya kau, sayang sekali......"
"Sayang sekali sebaliknya aku tidak percaya kepadamu, mungkin orang yang tidak bisa kupercaya hanya kau seorang."
"Tapi aku tidak akan menyalahkan kau, akan datang suatu ketika, kau akan tahu bahwa sikapmu salah betul."
Yap Kay tidak membantah, dengan tersenyum dia alihkan pembicaraan.
"Lu Di, Han Tin dan Nyo Thian, jumlahnya baru tiga orang."
"Masih ada satu, diapun kemungkinan sekali."
"Siapa?"
"Seseorang yang baru kemarin tiba di Tiang-an."
"Kau mengenalnya?"
"Tidak kenal!"
"Kau tahu siapa?"
"Tidak tahu."
Yap Kay tertawa pula. Sikap Siangkwan Siau-sian sebaliknya serius, katanya.
"Tapi aku tahu jelas, dia cukup setimpal untuk menjadi salah satu Thian-ong (Raja langit) dari Mo Kau."
"Kenapa kau berkesimpulan demikian?"
"Karena orang-orang yang kuutus untuk menyelidiki jejak dan asal-usulnya tiada satupun yang pulang memberikan laporan. Semuanya menghilang."
"Apa maksudnya menghilang."
"Maksudnya menghilang adalah setiap orang yang kuutus keluar, tidak pernah lagi kembali, malah kabar yang seharusnya dia sampaikan ke cabang-cabang tertentu pun tidak diperoleh, lalu kuutus orang untuk mencarinya, orang-orang yang mencarinya inipun tidak kembali."
"Berapa banyak orang yang telah kau utus untuk tugas ini?"
"Seluruhnya tiga kali, pertama dua orang, kedua empat orang dan ketiga enam orang."
"Jadi jumlah total adalah 12 orang?"
"12 orang jago-jago pilihanku semua, enam yang terakhir itu malah jago-jago top."
"Jago-jagomu semuanya lenyap?"
"Setelah mereka berangkat, lantas lenyap tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah mereka ditelan bumi."
"Umpama mereka itu adalah manusia kayu, mencari tempat untuk menyembunyikan diri kedua orang itupun bukan suatu kerja gampang."
"Oleh karena itu, aku berpendapat kemungkinan orang ini jauh lebih menakutkan dari Lu Di dan lain-lain."
Kini sikap Yap Kay pun sungguh-sungguh.
"Sampai detik ini kau masih belum tahu siapa dia sebenarnya?"
"Aku tahu dia kemari, di dalam cuaca sedingin ini, dia hanya mengenakan pakaian yang tipis, kepalanya malah ditutupi topi rumput yang lebar besar."
"Masih ada lagi?"
"Sudah habis bahan-bahan yang kuperoleh."
"Masakah darimana dia datang, kaupun tidak tahu?"
"Tidak tahu!", ujar Siangkwan Siau-sian.
"justru karena aku tidak tahu, maka kuperintahkan orang mencari tahu."
Yap Kay menghela napas, katanya.
"Agaknya ada juga persoalan yang belum kau ketahui."
"Memangnya apa yang kau ketahui bisa lebih banyak dari apa yang ku tahu?"
"Hanya lebih sedikit saja."
"Apa pula yang kau ketahui?"
"Sedikitnya aku sudah punya sumber untuk menyelidiki, aku pasti bisa menemukan Putala."
"Hu-hong-thian-ong maksudmu?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kau sudah tahu orang macam apa dia sebenarnya?"
"Ilmu telapak tangannya teramat lihay, malah diapun sudah terluka."
Cemerlang biji mata Siangkwan Siau-sian, katanya.
"Ilmu yang lihay telapak tangannya adalah Lu Di, namun kurang dimengerti apakah kini dia terluka?"
"Untuk mencari tahu hal ini kurasa tidak sulit."
"Kau ingin mencarinya?"
"Kau menentang?"
Siangkwan Siau-sian geleng-geleng, katanya.
"Aku hanya....."
Yap Kay tertawa, katanya mewakili.
"Hanya menguatirkan diriku tahu-tahu menghilang seperti anak buahmu yang tidak becus bekerja itu."
Siangkwan Siau-sian cekikikan manis, katanya.
"Kali ini aku pasti tidak akan berpeluk tangan membiarkan kau menghilang tanpa bekas, aku....."
Kini Yap Kay tidak meneruskan kata-katanya, tiba-tiba dia berdiri, katanya.
"Oleh karena itu aku ingin segera bergerak mumpung aku belum mabuk."
"Sekarang juga kau ingin pergi?"
"Orang yang harus kucari bukan hanya Lu Di saja, ilmu kepandaian Han Tin dan Nyo Thian pun lihay sekali."
"Jangan lupa laki-laki yang mengenakan topi rumput lebar itu."
"Di mana kira-kira orang ini berada?"
"Tahukah kau di belakang Tay-siang-kok-si masih terdapat Cap-hong-cu-lim-si?"
"Katanya makanan vegetarian di sana lumayan enaknya."
"Kemarin malam dia menetap di sana."
"Nyo Thian tinggal di mana?"
"Kau hendak mencarinya lebih dulu?"
"Jangan lupa dia adalah teman baikku."
"Kau memang teman lamanya, maka kau harus tahu apa yang menjadi hobby-nya."
"Perempuan?"
"Perempuan macam apa?"
"Janda"
Ooo)dw(ooo Jalan raya yang di sini mirip sekali dengan jalan di kota Tiang-an.
"Apakah disinipun ada penjual wedang kacang yang diusahakan oleh Ong-koahu (Janda Ong)?"
"Janda Ong yang jual wedang tahu di sini adalah perempuan genit yang romantis juga."
Yap Kay menghela napas, katanya.
"Sayang Nyo Thian sudah berada di sana lebih dulu."
"Oleh karena itu tiada gunanya sekarang kau buru-buru ke sana. Kenapa tidak kau mampir dulu ke warung wedang di sebelah sini untuk melihat-lihat dulu?"
"Ada tontonan baik apa yang patut dilihat di dalam warung wedang?"
"Ada sebuah gurdi yang elok sekali."
Dengan tersenyum Yap Kay melangkah masuk, katanya.
"Aku hanya mengharap gurdi yang satu ini tidak mengebor badanku sampai berlubang besar."
Betapapun eloknya gurdi, kalau mengebor badanmu, kau pasti tidak akan merasakan keelokannya.
Han Tin memang gurdi yang baik, diapun bukan laki-laki yang tampan.
Memangnya hidung siapapun kalau sudah dipukul ringsek menjadi pesek, mukanya tidak akan menjadi tampan lagi.
Tapi sikap dan hatinya hari ini kelihatannya cukup senang dan riang.
Bukan saja selebar mukanya mengulum senyum dan air mukanya merah bergairah, semangatnya pun menyala-nyala.
Siapapun akan bisa merasa bahwa Han Tin bukan seorang yang telah terluka berat.
Begitu melihat Yap Kay segera dia bangkit menyambut, sapanya dengan tertawa.
"Silahkan duduk. Bagaimana kalau mencicipi arak di sini dulu?"
Yap Kay geleng-geleng.
"Kau tidak ingin minum arak?"
Yap Kay geleng-geleng kepala pula.
"Jajanan di sinipun lumayan, apa kau tidak ingin mencicipi kue-kue?"
Yap Kay tertawa, katanya.
"Sekarang yang ingin kumakan hanya satu, wedang kacang!"
Ooo)dw(ooo Ternyata warung wedang janda Ong tidak hanya jual wedang saja, di sini diapun jual wedang tahu, wedang kacang ijo dan bubur tahu.
Janda Ong adalah seorang perempuan usia semasa, janda Ong ini masih berparas ayu dan genit.
Seorang janda setengah baya yang masih berparas ayu menjual wedang, sudah tentu usahanya cukup laris.
Hari ini janda Ong mengenakan seperangkat pakaian warna hitam ketat dengan kancing berderet putih dari leher menurun ke samping kanan terus ke pinggang.
Rambutnya yang mengkilap hitam tersisir rapi, dengan sanggul melambai kendor, menambah kecantikan potongan mukanya yang bundar telur.
Di dalam kulit mukanya yang putih halus kelihatan semua merah, merah di antara putih.
Dasar wanita pandai bersolek, dalam usia setua ini dia kelihatan belum terlalu tua, malah kelihatan genit dan sempurna dari gadis-gadis remaja umumnya.
Lebih menggiurkan lagi sepasang biji matanya yang dinaungi sepasang alis lentik melengkung seperti bulan sabit, kalau tertawa bibirnya nan tipis merekah seperti delima, seakan-akan laki-laki yang memandangnya pasti bisa tersedot sukmanya.
Kini biji matanya mengerling tajam tengah mengawasi Yap Kay, katanya berseri tawa.
"Wedang tahu tuan ingin dicampuri nyamikan apa?"
"Aku tidak makan wedang tahu."
"Apa wedang tahuku tidak enak?"
"Wedang tahumu enak sekali. Akupun ingin jajal tahu petismu, sayang aku tidak berani."
Semakin genit janda Ong tertawa, katanya.
"Laki-laki segede ini kok takut makan tahu, takut pedas?"
"Tahu orang aku berani makan, tapi tahumu aku tidak berani."
Kata Yap Kay. Tiba-tiba janda Ong tidak tertawa lagi, katanya dingin.
"Kau kemari mau cari Nyo Thian?"
Jari-jari janda Ong yang runcing dengan kuku panjang dipolesi warna-warni menuding ke belakang, seolah-olah dia sudah malas melayani Yap Kay.
Memang banyak perempuan yang menyukai laki-laki yang punya maksud tertentu, menaksir dirinya.
Jikalau kau tidak menaksir dirinya, maka diapun tidak akan ketarik kepadamu.
Yap Kay tertawa menghadapi sikap orang, dengan tersenyum dia melangkah masuk.
Tiba-tiba dia berpaling dan berkata.
"Sebetulnya nyaliku tidak sekecil yang kau kira."
Janda Ong melirik kepadanya, katanya gigit bibir.
"Kenapa hari ini nyalimu menjadi begitu kecil?"
"Karena aku tidak ingin digigit oleh rase,"
Ujar Yap Kay dengan suara rendah seperti berbisik.
ooo)dw(ooo Kelihatannya Nyo Thian tidak mirip rase yang bisa menggigit.
Manusia liar, jahat segalak binatang buaspun, di kala sedang mandi, pasti berubah lebih ramah dan lunak.
Nyo Thian sedang mandi.
Dia merendam diri di dalam sebuah baskom besar terbuat dari kayu dengan air panas yang masih mengepul.
Sedapat mungkin dia lemaskan dan luruskan ke empat kaki tangannya.
Kelihatannya mirip benar dengan lembu yang malas merendam diri di kubangan.
Kulit badannya kelihatan mengkilap merah, seluruh badannya dari atas sampai ke bawah tidak kelihatan bekas-bekas luka sedikitpun.
Tak tertahan akhirnya Yap Kay menghela napas.
Menyongsong kedatangan orang, Nyo Thian menyambut dengan senyuman, sapanya.
"Teman baik bertemu, kenapa kau menghela napas malah?"
"Karena kau tidak terluka."
"Kalau aku terluka, baru kau senang?"
Tiba-tiba Yap Kay tertawa, katanya.
"Karena aku ingin makan tahu."
Nyo Thian tertawa besar, serunya.
"Aku sedang mandi, bukankah kesempatan baik bagi kau?"
"Kesempatan baik apa?"
"Sekarang terserah apapun yang ingin kau lakukan di luar. Memangnya aku harus memburu keluar dengan telanjang bugil begini?"
"Sayang sekali istri teman sendiri tidak boleh dipermainkan."
"Untuk mempermainkan istri teman, harus tunggu setelah teman itu mampus."
"Sayang sekali kau belum lagi mampus."
"Kalau begitu jadi kita sekarang masih teman?"
"Sebetulnya bukan, sekurangnya bolehlah dianggap teman."
Nyo Thian menatapnya tajam, sorot matanya semakin cemerlang, setajam pisau, katanya dingin.
"Kaupun sudah turun ke air?"
"Kau tidak menduga?"
"Kenapa kaupun turun ke air?"
"Tidak pantas kau bertanya ini kepadaku. Bukankah kau sendiri sedang merendam dalam air?"
"Lantaran aku sudah tidak bisa keluar?"
"Kalau ada orang mau menarikmu keluar?"
"Siapa sudi menarikku?"
"Aku!"
Betul juga segera Yap Kay ulurkan tangannya. Tapi Nyo Thian tidak menyambut tangannya, katanya tertawa.
"Terlalu dingin hawa di luar, lebih nyaman aku merendam diri di air hangat ini."
"Betapapun panasnya air itu, akhirnya akan jadi dingin juga."
"Kalau demikian, lebih baik kau lekas lari keluar saja."
"Kau sedang bujuk aku? Atau sedang mengusirku?"
"Menurut pendapatmu?"
"Apa kau rasakan orang yang ada di dalam air terlalu banyak dan berdesakan?"
"Mau pergi tidak, terserah! Kau hanya kita termasuk kawan, ada sepatah kata terpaksa harus ku utarakan kepadamu,"
Ujar Nyo Thian dingin.
"Boleh kau katakan."
"Jangan kau pergi menemui laki-laki yang mengenakan topi rumput itu."
"Kenapa?"
Nyo Thian sudah memejamkan mata, menutup mulut. Yap Kay bertanya pula.
"Darimana kau tahu bila aku hendak mencari dia?"
Nyo Thian tetap tidak bersuara. Air itu panas sekali, uapnya kemebul seperti kabut saja. Tiba-tiba Yap Kay tertawa pula, katanya.
"Memang lebih baik kau merendam diri dalam air saja, keluar dari air sepanas itu, kau pasti kedinginan."
Ooo)dw(ooo Yap Kay sudah pergi.
Nyo Thian tetap pejamkan mata, merendam diri.
Setelah suhu air panas itu menurun dan rada dingin, baru terlihat air mukanya lambat laun menjadi pucat pias, seolah-olah dia benar-benar sudah tidak bertenaga lagi untuk keluar dari tempatnya merendam.
Tapi air sudah dingin, tidak bisa tidak dia harus keluar.
Waktu air mengalir dari pundaknya ternyata air itu berwarna merah, air bercampur darah.
Darimanakah darah itu keluar?
Diam-diam dengan langkah lembut janda Ong berlari masuk, mengawasinya, sorot matanya penuh diliputi rasa iba dan kasih sayang.
Waktu Nyo Thian berdiri, mukanya yang pucat berkerut-kerut saking menahan kesakitan, mulutnya menggerung menahan sakit, katanya.
"Adakah orang bisa menerjang masuk dari luar?"
Janda Ong geleng-geleng, tiba-tiba dia bertanya.
"Sebetulnya bagaimana luka-lukamu? Kenapa takut dilihat orang?"
Nyo Thian kertak gigi, dia tidak menjawab pertanyaan orang, namun jarinya menjawab ke pundaknya, dari sana dia mencomot turun selapis kulit.
Kulit tipis yang berwarna mirip dengan kulit badannya, begitu kulit tipis tercopot, darah dan air nanah segera bercucuran di dadanya.
ooo)dw(ooo Sebuah kereta besar berhenti di ujung jalan.
Siangkwan Siau-sian menggelendot di dinding kereta sambil menunggu.
Waktu dia melihat Yap Kay mendatangi, mukanya yang ditingkah sinar matahari berwarna merah itu kelihatan mekar laksana sekuntum bunga.
Setiap kali kau melihat wajahnya nan cerah, selalu kau akan merasa musim semi sudah menjelang.
Yap Kay menghela napas, karena tiba-tiba dia teringat akan ucapan orang banyak waktu menilai dan menjuluki Lim Sian-ji, ibunya, perempuan secantik bidadari, namun khusus memancing laki-laki masuk ke neraka.
Kalau kata-kata ini sekarang dilukiskan untuk Siangkwan Siau-sian, apakah tepat dan cocok?
"Kau sudah menemukan mereka?"
Tanya Siangkwan Siau-sian dengan senyuman manis.
"Ya!,"
Pendek jawaban Yap Kay.
"Mereka sama-sama tidak terluka?"
"Tidak!,"
Ujar Yap Kay menghela napas.
"sedikitnya aku tak bisa melihatnya."
"Oleh karena itu, mereka tidak mungkin adalah Hu-hong si puncak tunggal?"
Yap Kay manggut-manggut.
Memang dia tidak melihat luka-luka Nyo Thian, kulit tipis yang melekat di pundak Nyo Thian, terendam di air kelihatannya seperti daging yang dimasak.
Tak pernah pula terpikir olehnya, seorang yang sudah terluka parah kok merendam diri dalam air.
"Namun umpama benar mereka tidak terluka,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"belum membuktikan bahwa mereka bukan orang-orang Mo Kau."
"Benar!"
"Tapi kau sudah siap untuk menyelidiki lebih lanjut?"
"Mereka adalah orang-orangmu, untuk menyelidiki pula adalah urusanmu."
"Maka kau hendak tinggal pergi?"
"Bukankah kau sudah persiapkan sebuah kereta untukku?"
Siangkwan Siau-sian tertawa, tawa yang syahdu.
"Karena aku tahu takkan bisa menahanmu."
Yap Kay lompat naik ke atas kereta, tiba-tiba dia berkata pula.
"Nyo Thian tadi memberi advis kepadaku."
"Apa yang dia katakan?"
"Dia menganjurkan kepadaku supaya jangan pergi menemui orang bertopi rumput lebar itu."
Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.
"Bujukan orang lain, kenapa selalu tidak kau turuti?"
Yap Kay menutup pintu kereta, namun dia menongolkan kepalanya keluar dari jendela, katanya tertawa.
"Karena aku ini biasanya dihinggapi penyakit."
"Penyakit apa?"
"Penyakit goblok!"
Ooo)dw(ooo Lari kereta itu menimbulkan debu yang tinggi di belakangnya.
Cepat sekali laju kereta, sudah hampir jauh, hampir tidak kelihatan lagi.
Roman muka Siangkwan Siau-sian masih mengulum senyuman mekar yang menggiurkan karena kepala Yap Kay masih menongol keluar mengawasi dirinya.
Dia tertawa riang, tiba-tiba dia lambaikan sapu tangan yang ada di tangannya.
Di saat dia mengangkat tangan inilah senyumannya tiba-tiba sirna, mukanya yang merah di tingkah sinar matahari tiba-tiba berubah pucat, mengernyit menahan sakit.
Sayang sekali tatkala itu kereta Yap Kay sudah membelok di pengkolan gunung sana, tidak kelihatan lagi.
ooo)dw(ooo Di dalam bilangan kelenteng itu, suasana sepi nyaman dan menyegarkan, pekarangan penuh ditumbuhi pohon bambu.
Hutan bambu.
Pekarangan yang ditumbuhi hutan bambu biasanya memang membawakan suasana nyaman, segar dan tentram.
Terutama pada saat magrib, angin lalu menghembus daun-daun bambu, suaranya kedengarannya mirip deru gelombang ombak lautan yang mengalun kalem.
Yap Kay tengah mondar-mandir di hutan bambu ini.
"Kalau aku tahu di kota Tiang-an ada tempat sesepi dan nyaman tentram seperti ini, aku pasti akan menetap di sini."
Demikian dia bicara seorang diri.
"sayang sekali orang-orang yang tahu adanya tempat ini agaknya tidak banyak."
Agaknya dia tidak mengoceh seorang diri, kelihatannya dia tujukan kata-katanya kepada Goh-cu.
Goh-cu adalah pendeta penerima tamu dari Cap-hong-cu-tim-si ini.
Sesuai dengan namanya, Goh-cu berbadan kurus lencir seperti galah.
Walau badannya kurus kering, namun sikapnya amat ramah.
Dia sedang tersenyum dan membantah.
"Memang jarang Sicu yang berkunjung kemari, tapi tidak sedikit juga jumlahnya."
Yap Kay tertawa, sejak dari luar sampai di sini matanya melihat ada orang berkunjung ke tempat ini, memasang hio, menaikkan dupa. Demikian pula bilangan luar dan dalam ruang sembahyang kosong.
"Ke tujuh kamar ini semua diperuntukkan kamar tamu, sebetulnya tidak kosong lagi,"
Demikian pula kata Goh-cu.
"semalam ada beberapa Sicu menetap di sini, mereka adalah orang-orang yang suka keindahan alam dan ketentraman hidup."
"Sekarang di mana mereka?"
Tanya Yap Kay.
"Kini berada di Tay-siang-kok-si."
"O, jadi mereka semalam baru pergi?"
Goh-cu manggut-manggut, katanya.
"Begitu Pek Sicu yang mengenakan topi rumput itu datang, yang lain-lain segera pergi."
"Apakah dia yang mengusirnya?"
"Dia sih tidak mengusir orang, namun begitu dia datang, orang lain tak betah tinggal di sini."
"Lho? Kenapa?"
Goh-cu menghela napas, mukanya yang kurus kering tiba-tiba menampilkan mimik yang aneh. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Yap Kay, namun menepekur.
"Marilah ku ajak kau masuk ke kamar, kau akan segera mengerti."
Kamar tidur itu empat dinding kosong memutih, tiada gambar tiada lukisan.
Ternyata tiada meja kursi, juga tiada ranjang.
Kamar tidur (biasanya kamar semedi) sebesar ini hanya terdapat dua batang paku, satu di paku di dinding kanan, yang lain di paku dinding kiri.
Tak tertahan Yap Kay tertawa pula, sekarang dia mengerti, kenapa orang lain tidak betah tinggal di sini lama-lama.
"Agaknya akupun takkan betah tinggal di sini."
Katanya tersenyum.
"aku bukan lalat, juga bukan nyamuk, masakah harus tidur di atas paku? "Di sini ada dua paku."
"Satu paku atau dua paku apa bedanya?"
"Ada saja bedanya."
"Aku sih tidak bisa membedakan, coba kau katakan di mana bedanya."
"Tapi sebetulnya kau bisa memikirkannya. Dua paku kau bisa untuk mengikat seutas tali."
Yap Kay masih belum mengerti, katanya.
"Gunanya tali?"
"Tapi itu bisa untuk gantung pakaian, juga bisa untuk tidur."
"Jadi Pek Sicu yang pakai topi rumput itu kalau malam tidur di atas tali?"
"Malah tali kecil yang lembut sekali."
Yap Kay melongo. Bila seseorang suka tidur di atas seutas tali, bukan saja watak orang itu aneh, ilmu silatnya tentu aneh dan tinggi.
"Kamar ini semula tidak kosong melompong seperti ini,"
Kata Giok-cu lebih lanjut.
"bukan saja ada meja kursi dan ranjang, di sinipun banyak cecak."
"Jadi meja kursi dan ranjang dia yang minta di pindah ke lain tempat? Lalu cecak?"
Kembali terunjuk mimik aneh pada muka Goh-cu.
"Cecak itu semuanya dia makan habis."
Kembali Yap Kay melongo.
Memang aneh orang itu, di musim dingin suka pakai topi rumput, suka tidur di atas tali, suka makan cecak pula.
Belum pernah Yap Kay melihat atau bertemu dengan orang seaneh ini.
Tak urung terunjuk mimik seaneh mimik Goh-cu di muka Yap Kay, katanya kemudian dengan tertawa getir.
"Agaknya selera makannya tidak terlalu besar, hanya makan beberapa ekor cecak, masakah bisa kenyang?"
"Kecuali cecak, sudah tentu dia masih makan barang-barang lain."
"Makan apa lagi?"
"Para Sicu yang tinggal di sini, begitu makan tiba, biasanya mereka tidak berani keluar kalau tidak ada keperluan penting, karena disekitar sini banyak ular berbisa."
"O, jadi ular-ular beracun itupun habis dia makan."
"Kecuali ular, masih ada kelabang, ketunggeng (kalajengking) dan lain-lain."
"Agaknya takaran makannya cukup besar."
"Oleh karena itu aku sudah mulai kuatir akan satu hal."
"Apa pula yang kau kuatirkan?"
"Kalau cecak, ular dan binatang-binatang beracun lainnya sudah habis dia makan, makanan apa pula yang dapat dia makan?"
"Apa kau takut dia bakal makan dirimu?"
Goh-cu menghela napas. Belum sempat dia membuka suara, tiba-tiba seseorang berkata dingin.
"Manusia ada kalanya kumakan juga, namun jarang aku makan Hwesio."
Ooo)dw(ooo Entah kapan seseorang yang bertopi rumput lebar berdiri di luar hutan bambu, Di dalam cuaca sedingin ini, ternyata dia hanya mengenakan kain katun tipis warna putih mangkak, bentuk topi rumput di kepala rada aneh, kelihatannya mirip kepis tempat ikan yang dibawa orang mancing.
Topi selebar itu dia pakai begitu rendah lagi, hampir seluruh mukanya tertutup tidak kelihatan, hanya kelihatan mulut dan bibirnya yang tipis kalau tidak bicara tertutup rapat, seolah-olah rangkapan dari bibir pisau.
Tiba-tiba Yap Kay tertawa.
Di saat orang lain tidak bisa tertawa, dia malah ingin tertawa, katanya.
"Kau jarang makan Hwesio atau tak pernah makan?"
"Biasanya aku hanya makan satu macam manusia."
Ujar laki-laki bertopi rumput lebar.
"Orang macam apa?"
"Orang yang patut mati."
Yap Kay menyengir getir. Memang dalam dunia ini ada semacam manusia yang mirip ular beracun, jikalau kau tidak ingin dilalap olehnya, maka kau harus mencaploknya lebih dulu.
"Tapi orang yang benar-benar patut mampus tidak banyak."
Ujar Yap Kay.
"Benar, memang tidak banyak."
"Kalau demikian kenapa tidak kau tiru orang lain, mengganyang makanan yang lebih gampang diperoleh?"
"Kau makan apa?"
Tanya orang bertopi rumput berbaju putih mangkak.
"Aku suka makan daging babi, juga suka daging sapi, terutama daging sapi yang dipanggang dengan saus tomat, dengan abon sapi juga tidak kurang sedapnya."
Laki-laki baju putih tiba-tiba berkata.
"Thio Sam adalah manusia kerdil yang jahat, keji dan telengas. Li Su sebaliknya seorang Kuncu yang mau kerja giat dan rajin berusaha, berhati jujur polos. Jikalau kau harus memilih satu di antaranya untuk kau bunuh, siapa yang kau bunuh?"
"Sudah tentu Thio Sam."
"Tapi yang kau bunuh sekarang justru Li Su."
"Aku sudah membunuh Li Su?"
Laki-laki baju putih manggut-manggut. Yap Kay tertawa getir, katanya.
"Sayang sekali, dimanakah dia orang toh aku tidak tahu."
"Seharusnya kau sudah tahu, karena dia sudah berada di dalam perutmu."
Yap Kay tidak mengerti. Ucapan laki-laki baju putih putar balik tiada juntrungannya, sungguh mengherankan. Kata laki-laki baju putih sambil tertawa dingin.
"Ularlah yang beracun, bukan sapi, tapi kau membunuh sapi, setelah kau membunuhnya, malah kau simpan mayatnya ke dalam perutmu."
Kontan terasa kecut dan mual perut Yap Kay, seakan-akan dia ingin muntah-muntah.
Memang dalam perutnya masih terdapat daging sapi, daging yang dia makan tadi siang, tentunya belum hancur oleh karena pencernaan dalam perutnya.
Lain kali bila ada orang menyuguhkan masakan daging sapi lagi, pasti dia sukar untuk menelannya.
Mata laki-laki baju putih menatapnya dari bawah topi.
"Sekarang apa kau sudah paham akan maksudku?"
Yap Kay menghela napas, katanya tertawa getir.
"Kedengarannya ucapanmu memang beralasan dan masuk diakal."
"Memangnya kau belum pernah mendengar pengertian tentang semua ini?"
"Jangan kata mendengar, berpikirpun belum pernah."
Ujar Yap Kay menghela napas. Menyimpan daging sapi di dalam perut sungguh jenaka dan ganjil juga kedengaran kata-katanya ini.
"Agaknya walau kau bukan seorang Kuncu yang giat dan rajin bekerja, lugu dan jujur, namun kaupun bukan manusia rendah yang jahat dan telengas."
"Apa kau bisa meramalkan diriku?"
"Justru aku bisa meramalkan keadaan dirimu, maka sekarang kau masih tetap hidup."
"Dan kau? Kau orang macam apa?"
"Kau tidak bisa meramal diriku!"
Yap Kay tertawa, katanya.
"Yang terang kau bukan she Pek. Kau datang dari Cheng-shia."
Dengan tatapan tajam Yap Kay menambahkan.
"Khabarnya di dalam Ceng-shia-san ada seorang tokoh kosen, namanya Bak Kiu-sing."
"Agaknya tidak sedikit urusan yang kau ketahui."
Sela laki-laki baju putih dingin.
"Walau tidak terlalu banyak, tapi juga tidak sedikit."
"Sayang sekali, apa yang harus kau ketahui sekarang, kau justru tidak tahu."
"Ah, apa iya?"
"Tahukah kau siapakah Tolka sebenarnya?"
"Ya, memang aku belum tahu."
"Tahukah kau siapakah Putala?"
"Agaknya memang tidak banyak urusan yang kuketahui."
"Kau ingin tidak bertemu dengan mereka?"
"Apa aku bisa bertemu dengan mereka?"
"Asal kau menunggu di sini, kau akan bisa menemuinya."
Bersinar biji mata Yap Kay. Sudah tentu dia rela menunggunya di sini.
"Umpama aku harus menunggu tiga hari tiga malam, akupun akan menunggunya dengan senang hati."
"Tidak perlu kau menunggu tiga hari tiga malam, kedatanganmu amat kebetulan."
Terbangkit semangat Yap Kay, katanya.
"Apakah hari ini mereka akan datang ke sini?"
"Kalau kau sudah mau menunggu, tak usah banyak tanya, kalau tidak mau menunggu, akupun tidak menahanmu."
Yap Kay segera tutup mulut, tapi matanya malah dipentang lebar. Memang dia bukan laki-laki cerewet. Laki-laki baju putih tiba-tiba berkata pula.
"Hwesio seharusnya tidak cerewet."
Goh-cu lantas menundukkan kepala.
"Hwesio seperti kau ini sudah terlalu banyak kau pentang bacot."
Maka Goh-cu tutup mulut kencang-kencang, sepatah katapun dia tidak berani bercuit lagi.
"Seorang Hwesio bukan saja harus tahu kapan dia harus tutup mulut, diapun harus tahu kapan menutup matanya."
Goh-cu segera pejamkan matanya juga, dengan menggeremet dan tangan menggapai-gapai, dia beranjak pergi. Tak tahan Yap Kay tertawa, katanya.
"Kelihatannya dia memang Hwesio yang tahu diri."
"Hwesio yang benar-benar tidak tahu diri hanya satu."
"Hwesio macam apa itu?"
"Hwesio yang harus mampus."
"Dalam pandanganmu, manusia dalam kolong langit ini agaknya hanya ada dua macam saja."
"Memang hanya ada dua macam, yang harus hidup dan yang harus mati."
"Lalu orang macam apa yang akan datang kemari nanti malam?"
"Mereka termasuk orang yang harus mati."
Ooo)dw(ooo Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya.
Laki-laki baju putih mengeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari kayu, lalu menuang sedikit bubuk warna putih mengkilap seperti perak di atas tanah.
Kelihatannya seperti kapur, tapi begitu sinar bintang di langit mulai kelap-kelip, bubuk putih seperti kapur di tanah itupun mulai memancarkan sinar kemilau.
Kata Yap Kay.
"Malam nanti apakah kau sudah siap hendak menelan pekarangan ini, sampai perlu kau membubuhi merica lebih dulu?"
Laki-laki baju putih menjengek, sentaknya.
"Mulutmu terlalu cerewet."
Yap Kay melongo dan bersuara dalam mulut.
"Kaupun terlalu banyak tawa."
"Ya, soalnya aku ada melihat suatu hal."
"Hal apa?"
"Aku bisa merasakan kau bukan manusia yang dingin kejam, ada kalanya kaupun ingin tertawa, namun selalu kau berusaha untuk menahannya."
"Kenapa aku harus menahannya secara paksa?"
"Karena kau ingin supaya orang lain takut kepadamu."
Laki-laki baju putih memutar badan, dia dorong jendela. Lama sekali baru dia bersuara pula.
"Apa pula yang dapat kau lihat?"
"Jikalau kau mengijinkan aku melihat mukamu, aku pasti bisa melihat banyak persoalan."
Laki-laki baju putih tiba-tiba berpaling seraya mengangkat topi rumputnya.
Sebetulnya muka orang ini tak ubahnya seperti muka orang lain, namun dia hanya kelebihan sembilan buah bintang di atas jidatnya.
Sembilan bintang warna hitam mengkilap.
ooo)dw(ooo Pada malam musim dingin seperti saat itu, sinar bintang yang menyendiri di atas angkasa raya, biasanya kelihatan lebih menyolok, kelihatannya lebih cemerlang.
Tapi bintang-bintang di muka laki-laki baju putih ini rasanya malah lebih dingin, lebih terang.
Ke sembilan bintang ini berderet menggambarkan sebuah bentuk aneh yang sukar diraba juntrungannya, setiap bintang-bintang itu seperti melekat kencang di dalam kulit dagingnya.
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Apakah kau sedang menghukum dan menyiksa dirimu sendiri?"
Ternyata laki-laki baju putih manggut-manggut, katanya.
"Setiap orang kan punya dosa."
"Dan kaupun tidak terkecuali?"
"Akupun manusia."
"Apa dosamu?"
"Aku hanya gegetun kenapa aku tidak mampu memberantas manusia-manusia kerdil, jahat dan kejam."
"Itu belum bisa dianggap berdosa, siksaan yang kau alami kurasa terlalu berat."
"Tapi bila aku berhadapan dengan manusia yang berdosa besar, maka bintang ini merupakan alat senjata yang ampuh untuk merenggut jiwanya."
"Senjata untuk membunuh?"
"Masa kau tidak bisa melihatnya?"
Yap Kay geleng-geleng, katanya tertawa getir.
"Memikirkanpun aku tidak pernah."
Kembali laki-laki baju putih turunkan topinya, katanya dingin.
"Tidak banyak orang yang bisa melihat muka asliku ini, terutama yang hidup hanya beberapa gelintir saja."
"Bukankah di atas mukamu semula hanya ada lima buah bintang?" , tanya Yap Kay. Laki-laki baju putih manggut-manggut membenarkan.
"5 buah bintang kenapa sekarang berubah menjadi 9 bintang?"
"Karena manusia yang berdosa dalam jagat ini semakin banyak, maka dosaku pun semakin bertumpuk."
"Oleh karena itu Bak Ngo-sing menjadi Bak Kiu-sing."
"Sekarang tiada Bak Ngo-sing, yang ada adalah Bak Kiu-sing."
"Kalau begitu tak heran kalau dia bisa salah duga."
"Dia siapa yang kau maksudkan?"
"Masa kau tidak tahu?"
"Apakah Siangkwan Siau-sian?"
"Kau tahu tentang dirinya?"
Bak Kiu-sing tertawa dingin.
"Kau tahu orang macam apa dia sebenarnya?"
"Orang yang akan kubunuh kali ini semuanya ada tiga."
"Salah satu adalah dia?"
"Semula memang dia satu di antaranya."
"Sekarang?"
"Baru sekarang ku sadari, bahwa manusia yang lebih jahat dan harus diganyang melebihi dia tidak sedikit jumlahnya."
"Yang harus mati ada berapa orang?"
"Tolka dan Putala."
"Untuk membunuh ke dua orang ini, kukira bukan soal gampang."
"Memangnya aku sudah siap untuk tidak kembali dengan jiwa segar."
Kata Bak Kiu-sing tegas dan mantap. Lalu pelan-pelan dia melanjutkan.
"Bila masih ada satu di antara Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau hidup dalam dunia ini, maka aku pasti tidak akan kembali ke Ceng-shia."
"Tapi umpama kau berhasil membunuh yang dua ini, toh masih ada dua yang lain."
"Sudah tiada lagi!"
"Lho, kenapa tiada lagi?"
"Panjapana sudah mampus di tangan Kwe Ting."
"Masih ada Sialpu, bukan?"
Tiba-tiba Bak Kiu-sing merogoh keluar sebuah lencana kemala terus dilempar kepada Yap Kay.
Di atas lencana batu kemala yang mengkilap bening itu terukir malaikat -iblis yang menjunjung sebuah tongkat batu pertanda kepintaran.
"Itulah tanda pengenal milik Sialpu, di kala dia masih hidup, barang itu pasti digembol di badannya."
"Sekarang kenapa berada di tanganmu?"
"Karena dia sekarang sudah menjadi mayat."
"Kaukah yang membunuhnya?", berjingkat kaget Yap Kay. Bak Kiu-sing manggut-manggut.
"Di mana kau kesamplok dengan dia?"
"Di luar kota Tiang-an."
"Jadi diapun sudah turun dari gunung iblis?"
"Gunung iblis mereka memangnya berada di dalam pengembaraan yang tidak menentu tempatnya, di mana orang-orang mereka berada di situlah letak gunung iblis mereka."
"Oleh karena itu gunung iblis mereka sekarang berada di kota Tiang-an."
"Jikalau mereka belum mampus, di dalam jangka waktu 8x8 sama dengan 9 hari, kota Tiang-an ini akan menjadi kota iblis."
"Hah, kota iblis?"
"Di dalam Mo Kau juga hanya ada dua kelas manusia."
"Apa saja kedua kelas mereka?"
"Kelas pertama adalah murid-murid Mo Kau, kelas ke dua adalah orang-orang yang sudah mampus."
"Untung rahasia mereka sudah kau bongkar dan kau ketahui."
"Bagi aku, hakekatnya tiada sesuatu yang terahasia di dalam dunia ini."
"Agaknya memang tidak sedikit yang kau ketahui?", ujar Yap Kay. Bak Kiu-sing tidak menyangkal.
"Aku hanya heran, dari mana kau bisa tahu begini banyak, bukankah kau seorang yang lama mengasingkan diri?"
"Kau salah!. Semangat keluarga Bak kita bukan keluar dunia, namun masuk dunia, demi menolong kepentingan orang banyak, murid-murid keturunan keluarga Bak kita takkan segan-segan mengorbankan jiwa raga sendiri untuk menegakkan kebenaran dengan keberanian nan suci, bijaksana dan tahu cinta kasih."
Yap Kay mengawasi orang, sorot matanya menampilkan perasaan hormat.
Kelihatannya orang ini dingin kaku dan aneh, yang benar hatinya suci, luhur budi dan bajik.
Tiada banyak manusia yang benar-benar sudi berkorban demi kepentingan orang lain, selamanya Yap Kay paling hormat dan salut terhadap orang-orang macam ini.
Gelap gulita.
Kamar itu dipasang pelita.
Biji mata Bak Kiu-sing tetap memancarkan sinar kemilau dari bawah topi rumputnya, namun sulit ditentukan apakah itu sinar matanya atau cahaya bintang-bintang di mukanya.
Dengan menatap Yap Kay tiba-tiba ia berkata.
"Sejak lama akupun sudah tahu akan dirimu."
"Tahu apa tentang diriku?"
"Kau she Yap, bernama Kay."
"Benar! Yap daun dan Kay riang."
"Kau selalu periang?"
"Karena aku jarang memikirkan urusan yang membuat hati duka-lara."
"Khabarnya pisau terbangmu sudah boleh diagulkan nomor satu di seluruh jagat raya"
"Akupun pernah dengar orang bilang demikian, oleh karena itu kesulitan yang selalu melilit diriku juga nomor satu di seluruh dunia."
Memang tiada orang yang bisa menandingi Yap Kay di dalam menghadapi setiap kesulitan yang selalu merecoki dirinya. Bak Kiu-sing diam saja. Lama sekali baru dia bersuara kalem.
"Akan datang suatu hari akupun pasti tahu."
"Tahu apa?"
"Apakah benar pisau terbangmu nomor satu di seluruh jagat?"
"Jikalau kau benar-benar ingin tahu, itu berarti kesulitan bertambah satu lagi."
"Apa kau tidak ingin tahu, benarkah bintangku ini bisa membunuh orang?"
"Aku tidak ingin tahu."
"Kenapa?"
"Karena sekarang kita sudah boleh dianggap teman."
"Mungkin kawanmu sudah terlalu banyak."
"Banyak kawan kurasa lebih baik daripada tidak punya teman sama sekali."
"Mungkin lantaran kawan yang kau kenal terlalu banyak, maka kesulitanpun lebih banyak dari orang lain. Karena orang yang benar-benar tidak mempunyai kesulitan pun hanya ada satu saja."
"Orang mati?"
Tanya Bak Kiu-sing.
Yap Kay manggut-manggut dengan tersenyum.
Sekonyong-konyong 'Blang....' tembok rendah di pekarangan diterjang jebol berlubang besar, seseorang dengan menggendong ke dua tangan di punggung beranjak masuk pelan-pelan.
(Bersambung ke Jilid-16) Jilid-16 Bintang masih bercokol di angkasa raya.
Sinar bintang yang pudar menyinari muka orang ini.
Muka orang kelihatan memancarkan cahaya hijau.
Tiada manusia yang mukanya bisa memancarkan sinar hijau seperti ini, kecuali dia mengenakan kedok muka yang terbuat dari tembaga hijau.
Memang orang ini menggunakan topeng tembaga hijau, di bawah pancaran sinar bintang, kelihatan menyeringai seram dan aneh, menakutkan.
Tapi pakaian yang dia kenakan justru jubah sutra panjang yang tersulam indah.
Di pinggangnya terselip tiga batang golok melengkung, golok sabit pendek.
Sarung goloknya yang berwarna putih pucat penuh ditaburi mutiara dan berlian.
"Nah, sudah datang, akhirnya datang juga."
Yap Kay menghela napas.
"dia Tolka atau Putala?"
"Masa kau tidak bisa membedakan?"
Kini Yap Kay sudah melihat jelas, sulaman di atas jubah sutra orang ini melambangkan gada iblis yang berkuasa.
"Dia Tolka?"
"Mungkin dia bukan Tolka."
"Lho, masih bukan?"
"Duplikat Tolka seluruhnya ada tiga."
Apakah yang dimaksud dengan duplikat?
Yap Kay tidak bertanya, kini dia sudah melihat satu.
Begitu angin lalu menghembus datang, sesosok bayangan orang tampak melayang masuk dari luar tembok, jubah panjangnya yang tersulam indah itu, dengan topeng yang menyeramkan pula, demikian pula diikat pinggang terselip tiga batang golok sabit yang penuh ditaburi batu-batu permata.
Hampir dalam waktu yang sama, dari belakang hutan bambu dan dari bawah payon rumah di sebelah samping sana muncul lagi dua orang.
Dua orang yang mirip satu sama lain.
Baru sekarang Yap Kay betul-betul melongo.
Dia menjublek sekian lama.
Sungguh dia tidak bisa membedakan yang mana satu di antara empat orang ini adalah Tolka yang tulen.
"Umpama kau dapat membunuh tiga duplikatnya, satu yang tulen itu tetap akan bisa melarikan diri."
Kata Yap Kay. Bak Kiu-sing tertawa dingin, jengeknya.
"Setelah kemari jangan harap mereka bisa pergi."
"Darimana kau tahu bila dia benar-benar datang? Kau bisa membedakannya?"
"Aku tidak bisa membedakannya."
Bak Kiu-sing tetap menyeringai dingin.
"aku hanya tahu bahwa dia pasti dan tidak bisa tidak harus datang."
"Kenapa? "Karena aku di sini."
Yap Kay tidak bertanya lebih lanjut, juga tidak bisa mengajukan pertanyaan lagi.
Dia melihat seorang tengah melangkah dengan menginjak sinar bintang.
Bubuk perak toh juga memancarkan sinar.
Setiap langkah kakinya, tanah segera meninggalkan bekas telapak kakinya yang cetek.
Hanya mengandal tapak kaki ini apakah bisa membedakan betulkah dia ini Tolka yang tulen?
Akhirnya Yap Kay menghela napas, betapapun dia tidak bisa membedakan.
ooo)dw(ooo Tiga orang mondar-mandir dengan menggendong tangan di pekarangan.
Seorang maju mendekat, juga menggendong tangan.
Bukan saja dandanan mereka sama, sampaipun perawakan badan, gaya dan langkah kaki mereka sama.
Mengandal apa Bak Kiu-sing bisa membedakan mereka?
Tolka akhirnya bersuara.
"Ceng-shia Bak Kiu-sing?"
Bak Kiu-sing manggut-manggut.
"Kaukah yang ingin aku kemari?"
Bak Kiu-sing manggut-manggut.
"Sekarang aku sudah datang."
"Menggelindinglah pergi."
"Aku sudah kemari, masakah begitu gampang di suruh pergi."
"Jadi kau ingin mampus di sini?"
Ancam Bak Kiu-sing. Jari-jari Tolka sudah menjamah garan sebuah golok sabitnya.
"Sebetulnya tidak setimpal aku turun tangan kepadamu, tapi sekarang............"
"Sekarang kalau kau tidak turun tangan, maka kau akan mati....."
Kata Tolka.
Di mana sinar golok berkelebat, tahu-tahu goloknya sudah terlolos dari sarungnya.
Golok sabitnya yang putih kemilau itu tahu-tahu sudah bergerak membacok tiga kali dalam waktu secepat kilat.
Bak Kiu-sing tidak bergerak, ujung jarinya tidak bergeming.
Dia sudah melihat bahwa tiga kali bacokan orang ini hanya gertakan belaka.
Tahu-tahu pergelangan tangan Tolka terbalik, jurus ke empat, tahu-tahu sudah membacok lagi.
Sudah tentu kali ini bukan serangan gertak sambel.
Ujung goloknya memapas sobek ujung topi rumput Bak Kiu-sing yang lebar, menyerempet turun hanya setengah dim di depan ujung hidung Bak Kiu-sing.
Kelihatannya muka Bak Kiu-sing bakal terbelah oleh bacokan ini.
Sayang sekali samberan ujung goloknya masih terpaut setengah dim.
Ternyata Bak Kiu-sing tetap tidak turun tangan, tanpa bergeming, namun dia mengerut alis.
Sekonyong-konyong sebintik sinar bintang melesat terbang memukul ke pundak Tolka.
Bukannya Tolka tidak berkelit, namun sinar bintang ini datangnya luar biasa cepat, di luar dugaan lagi.
Begitu dia melihat bintang itu melesat datang, untuk berkelitpun sudah terlambat.
Mendadak dia kertak gigi, tahu-tahu goloknya berputar balik terus menghunjam ke perutnya sendiri.
Darah muncrat bagai air ledeng, pelan-pelan badannyapun roboh terkapar.
Bak Kiu-sing tetap tidak bergerak, ujung jarinyapun tidak bergeming, namun sebuah bintang di tengah ke dua alisnya ternyata sudah lenyap.
Ternyata tanpa bergerak, senjata rahasia ini sudah bisa ditimpukkan, cukup asal dia mengerut kening, orang yang diincar bakal melayang jiwanya.
Yap Kay menghela napas, katanya.
"Ternyata benar senjata piranti membunuh jiwa manusia."
"Tolka yang satu ini palsu."
Ujar Bak Kiu-sing.
"Kau bisa membedakan?"
Bak Kiu-sing manggut-manggut, katanya dingin.
"Kematian orang inipun hanya pura-pura saja."
"Ya, aku sendiripun bisa melihatnya,"
Ujar Yap Kay.
"golok iblis yang bisa menyurut mundur sendiri, bukan hanya sekali ini aku melihatnya, namun setiap kali tiada yang pernah menipuku."
Tawar kata Bak Kiu-sing.
"Untuk menipu kau memang tidak gampang."
Tolka yang rebah dengan bercucuran darah ternyata benar-benar hidup kembali.
Mendadak dia melompat bangun seraya mencabut golok yang lain terus menubruk maju.
Tapi goloknya yang sudah terayun ke atas kepala itu sempat dia bacokkan, tahu-tahu sebintik bintang melesat terbang pula, telah menancap di tenggorokannya.
Kembali dia terpelanting untuk tidak bangun lagi.
Yap Kay tertawa, katanya.
"Agaknya kali ini tidak pura-pura lagi."
"Sebetulnya dia tidak perlu mengantar kematian."
Ujar Bak Kiu-sing.
"Memang tidak setimpal kau turun tangan membunuhnya."
"Tapi aku memang tidak turun tangan."
Memang, ujung jarinyapun tak pernah bergoyang, siapapun takkan bisa melihat jelas kapan dan cara bagaimana senjata rahasia bintang ini dia lepaskan, oleh karena itu sudah tentu si korban tak mampu meluputkan diri.
Yap Kay tertawa pula, katanya.
"Agaknya yang dikatakan Siangkwan Siau-sian memang tidak salah."
"Apa yang dia katakan?"
"Katanya, kau adalah salah satu dari tiga orang yang paling menakutkan di dunia ini. Malah kau adalah orang yang paling ditakutinya."
Dingin suara Bak Kiu-sing.
"Memang, tidak salah omongannya."
Di pekarangan sana ada tiga orang tertawa dingin, entah siapa.
Tiga orang yang sama, semuanya menggendong tangan, berdiri di bawah pancaran sinar bintang.
Sorot mata Bak Kiu-sing setajam golok itu menyapu pandang ke arah kaki mereka, tiba-tiba tatapnya berhenti pada salah satu di antaranya, katanya dingin.
"Tidak usah kau suruh orang lain menjual jiwa bagi dirimu."
"Aku maksudmu?"
Kata orang itu.
"Ya, kaulah!" , jengek Bak Kiu-sing. Biji matanya bercahaya di bawah topi rumputnya, demikian pula sorot mata orang itupun bercahaya di balik topeng tembaga hijaunya. Sorot mata ke dua orang bentrok dan beradu sekeras golok dan pedang. Orang ini tiba-tiba gelak-gelak, nada tawanya lebih dingin dari ujung golok, lebih tajam.
"Bagus! Tajam benar pandangan matamu. Cara bagaimana kau bisa membedakan diriku?"
"Bentuk badan kalian bisa dipalsukan, namun kepandaian di telapak kaki kalian takkan bisa ditiru."
Berapa tinggi kepandaian silatmu dan meninggalkan bekas telapak kaki sesuai dengan tingkat kepandaianmu.
Semakin tinggi kepandaiannya, semakin cetek dan samar-samar bekas telapak kakinya.
Dan kenyataan ini tak bisa dipalsukan lagi.
Baru sekarang Yap Kay paham kenapa tadi Bak Kiu-sing menaburkan bubuk perak di pekarangan.
Tolka pun menghembuskan napas dari mulutnya, katanya.
"Tak nyana terhadap kepandaian ilmu perguruan kita, kaupun begitu hapal."
"Thian-mo-cap-sha-tay-hoat di dalam pandanganku, hakikatnya tidak berharga sepeserpun."
Jengek Bak Kiu-sing.
"Baik, baik sekali."
Ejek Tolka tertawa dingin.
Dia ulapkan tangan, dua orang yang lain segera mengundurkan diri.
Tiba-tiba terlihat oleh Yap Kay tangan orang laksana tajamnya golok yang mengkilap di bawah sinar bintang.
Jelas bahwa tangannya itu merupakan senjata ampuh yang piranti membunuh orang.
Memang sesuatu alat yang bisa untuk membunuh.
Itulah senjata tajam.
Senjata tajam yang menamatkan jiwa.
Setiap orang Mo Kau pasti membedakan senjata tajam seperti itu yang mampu menamatkan jiwa musuhnya, karena senjata itu sudah bersatu padu dengan jiwa raganya.
Paling kau hanya bisa merenggut jiwanya, dan di situlah justru letak yang paling mengerikan dari mereka.
Kekuatan jiwa itu, bukankah merupakan kekuatan yang paling menakutkan di dalam dunia ini?
Yap Kay menghela napas.
Dia tahu duel akan terjadi ini akhirnya akan merubah nasib banyak insan persilatan di kalangan Kang-ouw menghadapi situasi duel sengit bakal terjadi ini diapun menaruh perhatian besar.
Tapi dia hampir tidak tega untuk menyaksikan lagi, karena diapun tahu untuk membuat senjata tajam seperti itu, entah berapa keringat, darah dan air mata harus dikucurkan.
Sungguh dia tidak tega menyaksikan kehancuran ini, karena akhir dari duel seru ini jelas adalah suatu kehancuran, antara hidup dan mati.
Sebelum kehancuran terjadi, suasana biasanya memang tenang tentram.
Demikian pula keadaan pekarangan ini amat hening.
Memang hawa membunuh tidak kelihatan, tak bisa diraba dan tak bisa didengar.
Orang yang bisa merasakan adanya hawa membunuh ini, maka indra dari orang itu sendiri pasti sudah terlalu tajam.
Mendadak Yap Kay rasakan sekujur badannya menjadi dingin.
Rasa dingin yang meresap ke tulang sumsum, laksana pisau kecil meresap ke dalam tubuhnya.
Nah, itulah hawa membunuh.
Topi rumput itu sudah koyak, namun tetap bercokol di atas kepala Bak Kiu-sing.
Yap Kay tak bisa melihat mimik muka Bak Kiu-sing, tapi dia bisa melihat jelas sorot mata Tolka.
Kelopak mata Tolka mulai mengerut kecil memicing.
Mendadak dia bersuara.
"Kini tinggal aku seorang saja."
Dua orang yang lain memang sudah mengundurkan diri keluar dari pekarangan ini.
"Tapi pihakmu masih ada dua orang."
"Yang berduel hanya ada satu."
Yap Kay mendahului menjawab.
"Walau kau tidak turun tangan, kehadiranmu tetap merupakan ancaman juga."
"Kenapa?"
"Karena pisaumu!"
"Pisauku tidak untuk membokong orang."
"Namun asal pisau itu ada, itu sudah merupakan ancaman bagi diriku."
"Jadi kau ingin supaya aku menyingkir?"
"Kau tidak boleh menyingkir."
"Kenapa?"
"Kita bertiga sudah kumpul di sini, sedikitnya harus ada dua orang yang mampus di sini."
"Setelah kau membunuh dia lalu hendak membunuh aku?"
"Maka kau tidak boleh menyingkir."
"Memangnya kau ingin aku menyerahkan pisauku dulu lalu menunggu ajal di sini?"
"Aku hanya minta kau menerima dua syaratku."
"Boleh kau sebutkan syaratmu."
"Tadi kau katakan kalian pasti tidak akan turun tangan bersama."
"Benar, tadi kukatakan demikian."
"Apa yang kau katakan, aku percaya, kau memang bukan manusia rendah yang menjilat ludahnya sendiri."
"Terima kasih!"
"Maka jikalau dia masih hidup, pisaumu tidak boleh kau keluarkan."
"Kalau dia mati?"
"Begitu kau melihat sejurus aku berhasil menamatkan jiwanya, kau boleh segera mengeluarkan pisaumu menyerang aku."
"Bagaimana baru boleh dinamakan sejurus berhasil menamatkan jiwa orang?"
"Asal tanganku berhasil mengenai badannya, itu namanya sejurus berhasil menamatkan dia."
"Asal tanganmu mengenai badannya, maka dia pasti mampus?"
"Tanganku ini adalah senjata ampuh, alat yang bisa membunuh orang dalam satu jurus serangan, baru boleh dinamakan senjata tajam."
"Sekarang aku mengerti."
"Kau mau terima syarat ini?"
Yap Kay menatapnya lekat-lekat, sorot matanya menampilkan perasaan aneh, lama sekali baru dia menarik napas dan berkata pelan-pelan.
"Baik, kuterima, karena aku pernah hutang budi terhadapmu."
Tolka menatapnya juga, lama kemudian diapun bersuara kalem.
"Kaupun pernah hutang budi terhadapku?"
"Kalau aku, tidak melupakan peristiwa tempo hari itu, tentu kaupun takkan melupakannya."
"Apakah akupun berhutang kepadamu?"
Yap Kay geleng-geleng, katanya.
"Oleh karena itu, bila kali ini kau bisa membunuhku, akupun tidak akan menyalahkan kau."
"Baik sekali, beberapa patah kata-katamu ini aku memang tidak akan melupakan."
Seru Tolka. Tiba-tiba dia putar badan menghadapi Bak Kiu-sing, katanya dingin.
"Hanya orang yang harus mampus pertama kali tetap kau!"
Bak Kiu-sing menyeringai, katanya.
"Agaknya kau masih melupakan satu hal. Jikalau aku tidak yakin untuk bisa membunuhmu, masakah aku berani wakilkan dia mengundangmu kemari."
"Mungkin kau memang ada sedikit keyakinan."
Ujar Tolka.
"sayang kaupun melupakan satu hal."
"Hal apa yang kulupakan?"
"Tidak seharusnya kau membocorkan rahasiamu sendiri."
"Rahasia apa?"
"Rahasiamu untuk membunuh manusia."
Bak Kiu-sing tertawa dingin, namun tanpa sadar matanya tertuju ke arah mayat yang menggeletak di tanah.
"Seharusnya tidak perlu kau membunuhnya dengan caramu ini, seharusnya kau gunakan jurus serangan simpananmu ini menghadapiku."
Tolka gelak-gelak.
Siapapun di kala gelak-gelak, semangatnya tempur pasti mengendor, pertahanan dirinya rada lemah, maka sedikit banyak dia pasti lena.
Begitu dia mulai tertawa, Yap Kay lantas merasakan orang menemukan titik kelemahannya, dan kelemahan atau kekosongan ini berarti kematian.
Di dalam waktu sekejap itu, tiba-tiba Bak Kiu-sing menubruk maju.
Gerak tubuhnya enteng gesit dan lincah sekali laksana burung walet saja tangkasnya, namun serangannya justru ganas dan keras laksana paruh burung elang yang tajam dan keras laksana kilat menyambar.
Dia sudah mengincar tepat titik kelemahan Tolka.
Tolka masih tertawa, tapi begitu Bak Kiu-sing menubruk maju, titik kelemahannya itu tiba-tiba lenyap pada saat-saat segawat itu, lubang kelemahannya itu secara ajaib sekali tiba-tiba tak kelihatan.
Tahu-tahu tangannya sudah menunggu di sana.
Tangan orang lain adalah tangan biasa, namun tangannya ini adalah senjata ampuh yang mampu membunuh orang.
Begitu menyerang, baru Bak Kiu-sing menyadari sasaran yang diincarnya bukan lagi titik kelemahan musuh, namun adalah tangan orang yang ampuh.
Tangan Bak Kiu-sing adalah tangan biasa, tiada orang yang mampu mengadu tangannya secara kekerasan dengan senjata ampuh lawannya.
Ingin Bak Kiu-sing menarik balik jurus serangannya ini, namun sudah tidak keburu lagi, karena serangannya ini sudah dilandasi seluruh kekuatannya.
Bagitu tangannya mendekati tangan Tolka, seketika terasa adanya hawa membunuh dingin yang merangsang.
Mirip dengan hawa pedang yang teruar keluar dari ujung pedang.
Tolka tertawa dingin.
Yap Kay malah menghela napas.
Diapun tahu, tangan siapapun bila diadu dengan tangan Tolka, akibatnya pasti suatu tragedi yang mengenaskan.
Hampir dia membayangkan betapa mengenaskan keadaan tangan Bak Kiu-sing yang hancur dan remuk itu.
Maka terdengarlah 'Plok....' telapak tangan ke dua pihak saling bentrok.
Ternyata tangan Bak Kiu-sing tidak hancur.
Di dalam waktu sesingkat itu, kiranya dia berhasil menarik balik seluruh kekuatan yang dia salurkan ke ujung tangannya.
Agaknya latihannya sudah mencapai tingkat yang paling sempurna.
Dalam saat genting dengan mudah dia bisa meritul balik seluruh tenaga yang sudah dia kerahkan menurut jalan pikirannya, sehingga serangan derasnya itu berubah menjadi tepukan ringan belaka, begitu ringannya hampir mirip telapak tangan orang yang meraba sesuatu.
Rabaan tangan sudah tentu tidak akan bisa melukai orang lain, juga tidak bisa melukai diri sendiri.
Asalkan tenaga yang kau gunakan teramat lemah, umpama kau mengelus atau meraba pedang yang tajam luar biasapun tidak akan terluka.
Tolka tertegun.
Tepukan ringan enteng ini ternyata betul-betul membuatnya terkejut bukan main seperti dipukul oleh kekuatan gugur gunung.
Selamanya belum pernah dia menerima pukulan orang seringan ini.
Duel antara dua jago kosen, sering kali ditentukan dalam satu gebrakan saja untuk menentukan siapa menang atau kalah, karena segebrakan ini mengandung ribuan perubahan, perubahan yang tidak menentu dan aneh.
Letak keanehan dari tepukan tangan Bak Kiu-sing bukan pada gerak perubahannya yang cepat atau pukulannya terlalu berat.
Hanya sejurus dia mampu menundukkan lawan hanya karena dia turun tangan dengan tepukan ringan.
Yap Kay lagi-lagi menghela napas.
Dia anggap apa yang dia saksikan merupakan peristiwa besar dan pengalaman yang takkan terlupakan seumur hidupnya.
Baru sekarang dia benar-benar mengerti perubahan, keanehan, dan intisari suatu ilmu silat.
Memang luar biasa sekali, sulit dijajaki dan selamanya takkan ada batasnya.
Di saat-saat Tolka tertegun, meski hanya sekilas saja, tahu-tahu telapak tangan Bak Kiu-sing sudah menyisir naik menggesek punggung tangannya, tahu-tahu mencengkeram pergelangan tangannya, kembali hatinya tercekat, namun ia tidak menjadi gugup, sebelah tangannya yang lain tahu-tahu menyelinap balik dari bawah ke atas, dengan keras menabas ke sikut Bak Kiu-sing.
Tapi kembali dia melupakan satu hal, bila pergelangan tangan orang, di mana Hiat-to penting badannya tercengkeram oleh musuh, walau kau membekal tenaga raksasapun takkan mampu dikerahkan lagi.
Yap Kay sudah mendengar suara tulang berkeretekan remuk, bukan tulang tangan Bak Kiu-sing, tapi tulang tangan Tolka.
Tolka menjerit kaget.
"Kau........"
Hanya sepatah kata.
'Kau' itulah kata-kata terakhir dari hidupnya, karena tahu-tahu sebuah bintang sudah berada di tenggorokannya.
Sebuah bintang yang dapat merenggut jiwa manusia.
Tiada suara, hening lelap, suara lirihpun tak terdengar, sampai anginpun seperti berhenti.
Tolka roboh di antara genangan darah sendiri, begitu badannya terkapar di tanah, badannya seketika lantas seperti mengkeret kering, tak ubahnya karet yang kepanasan.
Peduli dia seorang Eng-hiong, pahlawan gagah perkasa di masa hidupnya ataukah gembong iblis, kini tidak lebih dia hanya mayat yang bergelimang di antara ceceran darahnya belaka.
Orang mati tetap orang mati.
Andaikata ada manusia yang paling ditakuti di jagat ini, setelah dia mati keadaannya tidak akan berbeda dengan manusia mati umumnya.
Hanya satu yang tidak, yaitu tangannya.
Di bawah sinar bintang yang guram, tangannya masih kelihatan mengkilap, seakan-akan sedang menantang dan unjuk kegarangan terhadap Bak Kiu-sing.
'Walau kau membunuhku, menghancurkan aku, tetap kau tidak bisa menghancurkan tanganku ini.
Sepasang tanganku tetap merupakan senjata terampuh yang tiada tandingannya di seluruh jagat.' ooo)dw(ooo Tetap tidak menyalakan lampu.
Bak Kiu-sing berdiri di bawah bintang-bintang, berdiri tanpa bergeming.
Setelah berduel, walau dia sebagai pihak pemenang, tetap dia akan merasakan kehampaan yang tak bisa dilimpahkan dengan perasaan atau kata-kata.
Demikianlah keadaannya.
Lama sekali baru dia berpaling.
Yap Kay tengah menghampiri.
Bak Kiu-sing mengawasinya, tiba-tiba bertanya.
"Kau tidak ingin membuka topengnya?"
"Kukira tak perlulah."
Ujar Yap Kay menghela napas.
"Kau sudah tahu siapa dia sebenarnya?"
"Aku kenal tangannya itu."
Ujar Yap Kay. Tangan yang memancarkan cahaya. Mengawasi sepasang tangan itu, tak urung Yap Kay menghela napas pula.
"Memang tangannya ini merupakan senjata ampuh yang tiada bandingannya di kolong langit."
Selamanya takkan ada tangan seampuh itu dalam dunia ini. Bak Kiu-sing berkata tawar.
"Sayang sekali betapapun sesuatu alat senjata itu menakutkan, dia sendiri toh tidak mampu membunuh manusia."
Yap Kay mengerti kemana juntrungan kata-kata ini. Yang membunuh orang memang senjata, tapi yang membunuh adalah manusia.
"Apakah senjata itu menakutkan?"
Ujar Bak Kiu-sing.
"yang penting harus dipandang dulu di tangan siapa senjata ampuh itu."
Sudah tentu Yap Kay pun maklum akan lika-liku hal ini.
"Jikalau jurus seranganku tadi sedikit menggunakan tenaga lagi, kemungkinan sekali tanganku sudah dia hancurkan."
Yap Kay manggut-manggut, katanya.
"Ya, mungkin sekali!"
"Tapi seranganku itu terlalu enteng, dan di situlah letak kunci kemenanganku."
"Permainanmu tadi memang hebat dan menakjubkan."
Puji Yap Kay sambil tertawa getir.
"Kunci kalah menang bagi seorang tokoh kosen dalam menghadapi musuh tangguh ada kalanya justru terletak pada jurus-jurus permulaannya itu."
Yap Kay diam menepekur, tiba-tiba dia membongkok badan merenggut topeng yang dipakai di muka Tolka.
"Katanya kau sudah tahu siapa dia, kenapa masih ingin melihat mukanya juga?"
Tanya Bak Kiu-sing.
"orang mati masakah elok dipandang?"
"Tapi aku memang ingin melihatnya. Sebelum dia ajal, apakah diapun tahu akan lika-liku ini?"
Topeng tembaga hijau, kelihatan memancarkan sinar mengkilap di bawah cahaya bintang nan guram.
Muka Lu Di pun kelihatan membesi hijau, namun sudah mengkeret berkeriput.
Pada sorot matanya yang melotot keluar, penuh diliputi rasa kaget, takut dan tidak percaya.
Kiranya sampai mati dia tetap tidak percaya akan satu hal.
Suatu hal apa?
Yap Kay berkata sambil menghela napas.
"Sampai mati agaknya dia tetap tidak percaya bila kau mampu membunuhnya."
Bak Kiu-sing menyeringai lebar, katanya dingin.
"Justru karena dia tidak percaya, maka dia bisa mati."
"Ada kalanya seseorang memang sulit untuk memahami sesuatu hal sampai dia ajal......."
Masih ada sebuah hal yang masih belum dimengerti oleh Yap Kay.
"Kalau Tolka ternyata adalah Lu Di, lalu siapakah sebenarnya Putala alias Hu-hong-thian-ong itu? ooo)dw(ooo Mayat sudah digotong pergi, tapi kamar itu masih belum dipasangi lampu.
"Setiap malam, kaupun tidak pernah memasang lampu?"
Tanya Yap Kay.
"Kenapa harus pasang lampu?"
Bak Kiu-sing balas bertanya. Lucu benar pertanyaan ini sampai Yap Kay melongo dibuatnya. Katanya kemudian menyengir.
"Setiap orang setelah malam tiba, pasti pasang lampu, setelah ada penerangan baru bisa jelas melihat banyak yang dapat kita lihat."
"Tanpa pasang lampu, aku tetap juga bisa melihat jelas."
Jawab Bak Kiu-sing, lanjutnya.
"Sembarang waktu kau boleh pergi, aku tidak menahanmu. Yap Kay tertawa, katanya.
"Tapi kau kan juga tidak mengusirku?"
"Aku tidak perlu mengusirmu."
"Tidak perlu?"
"Bila saatnya tiba kau harus pergi, masakah kau akan tinggal di sini?"
"Kira-kira kapan baru tiba saatnya aku harus pergi?"
"Setelah kau menemukan Hu-hong?"
Bercahaya mata Yap Kay, tanyanya.
"Kau juga tahu siapa sebenarnya Hu-hong?"
Bak Kiu-sing tidak menjawab, dia malah balas bertanya.
"Selama ini kau mengira Lu Di adalah Hu-hong-thian-ong?"
"Karena dia memang laki-laki yang tinggi hati, congkak dan sombong!"
"Sekarang kau sudah berani memastikan bahwa dia bukan Hu-hong?"
"Hu-hong sudah terluka, sebaliknya Lu Di tidak."
Tadi Yap Kay sudah memeriksa mayat Lu Di dengan seksama, satu-satunya luka yang mematikan di badan Lu Di adalah serangan telak yang ditinggalkan oleh Bak Kiu-sing.
"Kau yakin benar bahwa Hu-hong sudah terluka?"
"Ada orang dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan."
"Siapa yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri?"
"Seseorang yang pasti boleh dipercaya."
"Agaknya tidak sedikit orang-orang yang kau percayai."
"Aku tahu, memang itulah ciri khasku, sayang sekali, aku selalu tidak bisa merubahnya."
Bak Kiu-sing tidak bicara lagi.
Walau topinya sudah koyak, namun tetap masih bisa menutupi selebar mukanya, siapapun tetap tidak bisa melihat mimik mukanya, atau mungkin memang mukanya tidak menunjukkan perubahan perasaan hatinya?
Tak tahan Yap Kay bertanya.
"Kenapa kau masih kenakan juga topimu yang robek?"
"Karena di luar masih ada anjing menyalak."
Yap Kay melengak, ujarnya.
"Anjing menyalak di luar, apa sangkut pautnya dengan topi yang kau pakai?"
"Aku pakai tidak topiku, apa pula sangkut pautnya dengan kau?"
Yap Kay tertawa geli.
Tiba-tiba dia merasakan kelihatannya orang ini pendiam atau tidak suka bicara, yang benar dia adalah orang yang pandai bicara, kalau mau bicara, kadang-kadang malah bisa menyumbat mulut orang, sehingga bukan saja orang tidak mampu mendebat, orangpun segan mengajukan pertanyaan lebih lanjut.
Tapi Yap Kay justru masih punya banyak persoalan yang perlu dia utarakan, maka dia terpaksa harus bertanya pula.
Sementara Bak Kiu-sing sedang mengikat tali di atas paku.
Betul juga dia lompat di atas tali dan merebahkan diri.
Dia benar-benar tidur enak dan nyaman di atas seutas tali.
Di kala tidur, dia tetap menggunakan topinya itu.
Karena kamar itu memang kosong melompong, terpaksa Yap Kay berdiri saja.
Sambil lalu dia buka suara ajak mengobrol.
"Khabarnya, Ceng-shia adalah salah satu dari 36 gua dari To-keh (Taoisme). 'Gua langit, bumi bahagia'. Pemandangannya indah permai luar biasa."
Bak Kiu-sing diam saja.
"Tempat di mana kalian mengasingkan diri, tentu merupakan taman Firdaus di dalam bilangan dunia lain, entah kapan aku punya rejeki besar bisa berkunjung dan tamasya ke sana."
Bak Kiu-sing tetap tidak perdulikan ocehannya.
"Kabarnya belum pernah dia ada orang luar pernah masuk ke sana, kalianpun selamanya tak pernah berhubungan dengan dunia luar, namun sekali kau muncul di dunia ramai ini, langsung kau bisa menemukan Tolka. Kepandaianmu memang luar biasa."
Bak Kiu-sing pejamkan mata, napasnya menggeros, seakan-akan sudah pulas. Namun Yap Kay belum putus asa, tanyanya.
"Darimana kau bisa tahu bahwa Tolka adalah Lu Di? Cara bagaimana pula kau bisa menemukan dia?"
Tiba-tiba Bak Kiu-sing membalikkan badan, lompat turun terus beranjak keluar dengan langkah lebar. Sudah tentu Yap Kay ikut keluar di belakangnya, tanyanya.
"Kau hendak kemana?"
"Mencari sesuatu."
"Apa yang kau cari? Apakah mencari Putala? Kau bisa temukan dia?"
"Barang yang kucari, bila kau mau, boleh aku bagi separo untuk kau."
"Kemana kau hendak mencarinya?"
"Di tempat ini saja."
"Barang apa yang dapat kau temukan di sini?"
Bak Kiu-sing tidak banyak mulut lagi, namun dia merogoh keluar sebuah botol kayu kecil lainnya.
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 3
Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis Gkh