Eps 5 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.
"Kalau tak salah sudah dekat lohor."
Seperti batu tenggelam di dalam rasa hati Kwe Ting. Tiba-tiba Ting Hun-pin berdiri seperti peragawati saja, dia mendekat ke pinggir ranjang lalu berputar dan bergaya di depannya, katanya tersenyum.
"Coba katakan, dandananku cantik serasi tidak?"
Dengan dandanannya yang luar biasa ini, dia memang teramat cantik.
Kelihatannya tak ubah seperti burung merak yang sedang mementang sayap, bersolek di hadapan para penontonnya.
Mungkin karena baru sampai detik ini, dia baru boleh di bilang sebagai perempuan yang benar-benar sudah dewasa, betul-betul masak dalam kehidupan.
Kecantikan yang luar biasa ini menambah perih dan derita batin Kwe Ting.
Ting Hun-pin menatapnya, tanyanya.
"Kenapa kau tidak bersuara? Apa yang sedang kau pikirkan?"
Kwe Ting tidak menjawab pertanyaannya, lama dia mengawasinya mendelong, tanyanya tiba-tiba.
"Kau mau berangkat?"
"Aku......aku hanya mau ngelencer di luar saja"
"Untuk menemui Giok-siau atau Lu Di?"
"Kau tahu, cepat atau lambat, akhirnya aku pasti akan berhadapan dengan mereka."
"Aku sendiri entah kapan pasti juga berhadapan dengan mereka."
"Kau hendak mengiringi aku?"
"Kau tidak sudi kuiringi?"
"Kenapa aku tidak mau? Lebih baik kalau kau sudi mengiringi aku."
Kwe Ting melenggong.
Semula tak terpikir olehnya bahwa Ting Hun-pin mau mengajak dirinya.
'Ini urusanku, kau tidak perlu ikut campur.'.
Kata-kata orang masih segar dalam ingatannya, tak nyana hari ini orang sudah berubah haluan.
Ting Hun-pin tersenyum manis, katanya.
"Kalau mau pergi, lekaslah bangun, cuci muka dan ganti pakaian, airnya sudah ku sediakan untukmu."
Di pojok kamar memang sudah tersedia sebaskom air.
Bergegas Kwe Ting lompat turun dari ranjang, sorot matanya bercahaya terang dan senang, terasa sekujur badannya diliputi kekuatan yang berkobar-kobar.
Dia tahu Giok-siau dan Lu Di adalah musuh tangguh yang amat berbahaya, tapi dia tidak perduli lagi.
Siapa yang akan menjadi korban di dalam duel yang akan datang sudah tidak menjadi perhatiannya lagi.
Yang penting bagi dirinya, bahwa Ting Hun-pin sekarang sudah kembali hidup dan berjiwa.
Tiba-tiba timbul pula keyakinan dalam benaknya bahwa bukan mustahil di dalam duel nanti dia masih mempunyai setitik harapan.
Kini bukan saja badannya diliputi kekuatan, diapun dilandasi keyakinan dan percaya akan kemampuan sendiri.
Kwe Ting membungkuk badan dengan kedua tangan dia mendulang air untuk mencuci muka, air yang dingin, laksana tajam pisau yang mengiris mukanya, sehingga semangatnya terbangkit, lebih sadar dan lebih gairah.
Ting Hun-pin datang mendekat di belakangnya, katanya lembut.
"Kau tak perlu tergesa-gesa, mereka toh akan menunggu kita."
Kwe Ting tertawa, sahutnya.
"Benar! Biar mereka menunggu sedikit lama juga tidak jadi soal, aku......."
Belum berakhir dia bicara, tiba-tiba terasa sesuatu memukul Hiatto yang terletak di belakang punggungnya. Seketika dia tersungkur jatuh. Terdengar Ting Hun-pin berkata setelah menghela napas.
"Tidak bisa tidak aku harus lakukan ini, aku tak bisa membiarkan kau jadi korban karena aku, kuharap kau suka memaafkan aku."
Kwe Ting bisa mendengar perkataannya, namun dia tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, maka dia hanya mendelong saja membiarkan Ting Hun-pin membopong badannya direbahkan di atas ranjang.
Berdiri di pinggir ranjang Ting Hun-pin mengawasinya, sorot matanya penuh iba, kasihan, haru, terima kasih dan bergairah pula.
"Maksud hatimu terhadapku, seluruhnya ku maklumi, orang macam apa kau sebenarnya, akupun sudah mengerti, sayang sekali...........sayang kita bertemu setelah terlambat."
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Ting Hun-pin kepada Kwe Ting.
Mengawasi bayangan orang yang keluar pintu, sungguh remuk redam hati Kwe Ting.
Dia tahu seumur hidupnya dia tidak akan bisa melihatnya lagi.
Maklumlah, memang banyak cara untuk perempuan menghadapi laki-laki, namun lawan yang harus dia hadapi adalah musuh yang benar-benar lihay, berbahaya dan menakutkan.
Umpama kata dia kuasa merobohkan musuh-musuhynya, diapun sudah berkeputusan takkan kembali lagi, karena keputusannya adalah gugur di medan laga.
Sejak dia membunuh Yap Kay, derita dan penyesalan hatinya hanya bisa diobati dan dibebaskan oleh kematian.
Dia sudah berkeputusan menebus dosanya dengan mati, gugur di medan laga demi menuntut balas sakit hati kekasihnya.
ooo)dw(ooo Lohor.
Hotel Hong-ping.
Waktu Ting Hun-pin melangkah masuk, cahaya matahari kebetulan sedang menyinari papan nama yang bercat kuning emas itu.
Kali ini dia tidak membawa kelinting pencabut nyawa, tidak membawa senjata apapun.
Senjata yang hendak dia gunakan hari ini adalah tekad dan keputusan, keberanian serta kecerdikan dan kesucian arwahnya.
Untuk semua ini dia cukup yakin dan percaya pada kemampuannya.
Entah berapa banyak laki-laki yang pernah terjungkal oleh senjata ampuh kaum perempuan ini.
Dia memang perempuan belia yang cantik sekali, apalagi hari ini dia sengaja berdandan dan bersolek, sudah tentu bertambah luar biasa ayunya.
Tiada mata laki-laki yang tidak melotot waktu melihat dirinya melangkah masuk.
Beraneka ragam pula mimik mereka, ada yang terpesona, ada yang jalang, ada pula yang bernapsu seperti hendak menelannya bulat-bulat.
Hanya Ciangkui tua itu saja yang berhati bajik dan bijaksana, mengunjuk rasa kuatir dan prihatin, seolah-olah dia sudah merasakan firasat jelek, bahwa hari ini elmaut akan menimpa diri gadis molek ini.
Begitu Ting Hun-pin masuk, Ciangkui bergegas memapaknya maju, katanya dengan tertawa meringis.
"Apakah ini nona Ting?"
"Ya, aku!"
"Tamu nona Ting sudah menunggu di pekarangan belakang sejak tadi."
Giok-siau dan Lu Di benar-benar datang.
Tiba-tiba terasa oleh Ting Hun-pin jantungnya mulai berdetak lebih keras.
Walau dia sudah berkeputusan untuk ajal, namun dia tidak bisa mengendalikan ketegangan hatinya.
Sudah tentu dia cukup mengerti, bahwa kedua orang ini terlalu bahaya dan menakutkan.
"Hanya dua orang saja yang datang?" , tanyanya. Ciangkui manggut-manggut, tiba-tiba dia merendahkan suara berbisik.
"Kalau nona tiada urusan penting, kuanjurkan lebih baik nona lekas pulang saja."
"Kau sudah tahu, aku yang mengundang mereka, kenapa suruh aku pulang?"
"Karena...."
Tak kuasa dia utarakan kekuatiran hatinya, akhirnya dia menghela napas.
Dengan tersenyum Ting Hun-pin sudah berjalan masuk, bukannya dia tidak tahu akan maksud baik pemilik hotel, tapi tiada pilihan lain untuk dia tempuh.
Umpama dia tahu ular beracun yang paling jahat tengah menunggu kedatangannya, mau tidak mau dia harus menghadapi juga.
Tumpukan salju dan kotoran daun-daun di pekarangan belakang baru saja di sapu bersih, tanah kelihatan licin mengkilap.
"Kedua tamu itu menunggu di ruang dalam."
Pelayan yang menunjuk jalan memberitahu, lalu diam-diam dia mengundurkan diri.
Agaknya dia sudah mendapat firasat juga, perempuan itu hari ini tidak main-main.
Pintu ruang belakang itu terbentang lebar, tiada orang bicara, tapi kedengaran suara orang tertawa.
Memang Giok-siau dan Lu Di orang-orang yang tidak suka bicara atau berkelakar.
Mereka tertawa bila mereka berkeinginan hendak membunuh orang, atau musuh sudah terkapar di bawah kaki mereka.
Sebentar Ting Hun-pin tenangkan hati, mukanya mengulum senyuman manis, lalu dengan langkah gemulai yang indah mempesonakan dia melangkah masuk.
Dua orang yang menunggu dirinya di dalam rumah ternyata memang Giok-siau dan Lu Di.
Dalam rumah ada cahaya matahari, namun siapapun yang masuk kemari, seketika akan merasakan seolah-olah dirinya memasuki gudang es.
Giok-siau duduk di kursi yang dekat dengan pintu, kalau dia mau duduk, selalu memilih kursi yang paling nyaman diduduki.
Pakaiannya masih begitu perlente, kelihatannya masih begitu agung, besar suci dan tiada tandingannya.
Walau dalam rumah masih ada seseorang yang lain, namun seakan-akan dia tidak tahu akan kehadiran orang itu.
Bahwasanya dia memang tidak pandang orang lain.
Lu Di sebaliknya tengah mengawasinya, mimik mukanya seperti pelancong yang adem-ayem dan acuh tak acuh sedang berdiri di luar kerangkeng menonton seekor singa tua yang sedang unjuk tampang dan kegarangan.
Muka yang pucat menampilkan sikap hina, dingin, merendahkan dan mencemooh karena dia tahu walau singa ini kelihatan gagah garang, namun giginya sudah ompong, cakar-cakarnya sudah puntul, sudah bukan ancaman serius terhadap dirinya.
Pakaiannya sederhana, dalam rumah ada pula kursi-kursi lain yang enak dan nyaman diduduki, namun dia rela berdiri saja.
Ting Hun-pin berdiri di ambang pintu, satu persatu matanya mengerling kepada mereka dengan senyuman yang menggiurkan.
Kedua orang yang dihadapinya ini merupakan dua tokoh silat yang berlawanan.
Sekilas pandang saja Ting Hun-pin lantas merasakan kedua orang ini tak mungkin hidup berdampingan secara damai.
"Aku she Ting,"
Ujar Ting Hun-pin tersenyum manis sembari melangkah maju.
"bernama Hun-pin."
"Aku mengenalmu,"
Dingin suara Giok-siau Tojin.
"Apakah kalian masing-masing juga sudah kenal?" , tanya Ting Hun-pin tetap tersenyum. Sombong sikap Giok-siau, katanya.
"Dia harus tahu siapa aku ini!", jari-jarinya mengelus seruling pualam putih di tangannya.
"dia harus kenal serulingku ini."
Ting Hun-pin tertawa pula, katanya.
"Apakah setiap orang pasti kenal serulingmu ini? Kalau tidak dia harus mati?" , matanya mengerling ke arah Lu Di. Muka Lu Di sedikitpun tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Agaknya dia bukan laki-laki yang gampang tersinggung. Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri.
"Sungguh aku tidak nyana, Lu Kongcu pun sudi datang, aku........."
"Kau harus menduganya."
Tukas Lu Di tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Pit-kip dan harta karun peninggalan Siangkwan Kim-hong, memangnya siapa yang tidak ingin mengangkanginya?"
"Jadi Lu Kongcu juga ingin mengangkanginya?"
"Aku hanya manusia biasa."
"Sayang Lu Kongcu tidak gampang untuk mendapatkan rahasia dari harta karun itu."
Ujar Ting Hun-pin manggut-manggut.
"tapi aku tahu, hanya aku saja yang tahu. Sebetulnya aku tidak ingin membeber rahasia ini, namun sekarang aku dipaksa untuk mengatakannya."
"Kenapa?"
Ting Hun-pin menghela napas, tawanya kelihatan rada sedih, katanya.
"Karena sekarang Yap Kay sudah mati, mengandal tenagaku seorang, jelas takkan mampu melindungi harta karun itu."
"Maka kau mengundang kami kemari."
Ujar Lu Di.
"Setelah ku timang-timang, orang-orang gagah di kolong langit ini, rasanya tiada yang bisa mengungkuli kalian berdua."
Kalau Lu Di mendengarkan tanpa menunjuk perubahan sikap, Giok-siau malah tertawa dingin.
"Hari ini ku undang kalian kemari.
"demikian kata Ting Hun-pin lebih lanjut.
"maksudku hendak memberitahu rahasia itu kepada kalian, karena................."
"Kau tidak usah beritahu kepadaku,"
Tiba-tiba Lu Di menukas kata-katanya.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin tahu!"
Ting Hun-pin melongo, senyuman mukanya menjadi kaku.
"Tapi aku tahu akan satu hal,"
Ujar Lu Di.
"Hal apa?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Jikalau ada dua orang sekaligus tahu akan rahasia ini, mungkin hanya satu saja yang bisa keluar dengan nyawa masih hidup."
Ting Hun-pin sudah tidak bisa tertawa lagi. Kini ganti Lu Di yang tertawa, katanya.
"Harta karun itu memang menarik hatiku, tapi aku tidak mau lantaran memperebutkan harta itu sampai berduel dengan Tang-hay-giok-siau."
Tiba-tiba Giok-siau manggut-manggut, ujarnya.
"Agaknya kau orang pintar."
Dingin suara Lu Di, tanyanya.
"Totiang juga sudah tahu akan maksudnya?"
"Dia tidak secerdik dirimu."
"Tapi dia tidak bodoh, malah begini ayu jelita."
"Dia memang suka mengagulkan diri, aku justru tidak suka perempuan yang ngepinter."
"Perempuan mana dalam dunia ini yang tidak suka mengagulkan diri?"
Tiba-tiba Giok-siau menatap mukanya, tanyanya dingin.
"Memangnya apa yang kau ingin tanyakan?"
"Aku hanya memberi peringatan kepada Totiang, perempuan seperti ini tidak banyak jumlahnya dalam dunia ini."
Tanpa terasa Giok-siau mengawasi Ting Hun-pin dua kali, sorot matanya menunjukkan kekagumannya, tiba-tiba dia menghela napas, mulutnya mengguman.
"Sayang.......... sungguh sayang......"
"Apanya yang sayang?", tanya Lu Di.
"Sebatang pedang kalau sudah gumpil, kau bisa mengetahui tidak?"
Lu Di manggut-manggut.
"Gadis ini sudah gumpil, sudah tidak asli lagi."
"Kau bisa melihatnya?"
Lu Di tahu akan maksud Giok-siau, hubungan Ting Hun-pin dengan Yap Kay memang sudah bukan rahasia lagi.
Dia sering dengar Kwe Siong-yang yang selamanya tidak mau pakai pedang yang sudah gumpil, demikian pula Giok-siau tidak mau main dengan perempuan yang sudah dikerjai laki-laki.
Matanya masih mengawasi Giok-siau, namun dia tidak bertanya lagi, hanya sorot matanya masih menampilkan senyuman mencemooh.
"Kau belum mengerti?"
Tanya Giok-siau.
"Aku hanya heran."
"Apa yang kau herankan?"
"Aku heran kenapa kau memilih kuris yang kau duduki itu?"
"Tentunya kau juga tahu, hanya kursi ini yang paling enak di duduki dalam rumah ini."
"Sudah tentu kau tahu, tapi akupun tahu, entah berapa banyak orang yang dulu pernah menduduki kursi itu."
Tiba-tiba dia mengakhiri percakapan ini, dengan langkah lebar dia beranjak keluar lewat samping Ting Hun-pin.
Hati Ting Hun-pin mencelos, darah dalam tubuhnya seakan-akan menjadi dingin, badannya kaku membesi.
Giok-siau tengah mengamati-amati dirinya, seperti seseorang yang sedang memilih sesuatu barang yang hendak dibelinya.
Seolah-olah sorot mata sudah tembus pakaiannya, menikmati potongan badannya.
Ting Hun-pin seperti dirinya sedang berdiri telanjang bulat di hadapan orang.
Bukan hanya kali ini dirinya pernah dipandang begitu rupa oleh laki-laki, namun kali ini sungguh tak kuat lagi dia menekan perasaannya.
Tiba-tiba dia putar badan terus berlari keluar.
Dia tidak takut mati, namun dia cukup tahu, banyak kejadian yang lebih menakutkan dalam dunia ini daripada mati.
Tak nyana baru saja dia memutar badan, tahu-tahu daun pintu sudah tertutup, Giok-siau sudah berdiri di hadapannya, berdiri menggendong tangan menghadang jalannya, tetap dengan sorot mata yang jalang mengawasi dirinya.
Ting Hun-pin mengepal kencang jari-jari tangannya, kakinya menyurut mundur selangkah demi selangkah, mundur ke kursi yang tadi diduduki orang, lalu dia duduk, katanya tiba-tiba.
"Aku...... aku tahu kau pasti tidak akan menyentuh aku. Memang aku sudah tidak asli lagi, malah sudah terlalu besar gumpilan badanku."
Giok-siau tertawa senang, katanya tersenyum.
"Semula kukira kau sudah dewasa, karena apa yang ingin kau kerjakan hari ini adalah kerja orang besar, baru sekarang aku tahu, kau memang masih kanak-kanak."
Selamanya Ting Hun-pin tidak mau mengakui bahwa dirinya masih kanak-kanak, terutama di hadapan Yap Kay, dia lebih tidak mau mengakui, tapi sekarang mau tidak mau dia harus mengakui.
"Tahukah kau? Kanak-kanak hendak mengerjakan urusan besar, terlalu berbahaya."
Ujar Giok-siau. Ting Hun-pin memberanikan diri, katanya.
"Aku belum melihat adanya bahaya di hadapanku."
Giok-siau tertawa ujarnya.
"Karena kau tahu aku tidak mau menyentuhmu?"
Ingin Ting Hun-pin tertawa paksa, namun dia tidak bisa tertawa, dengan keras dia gigit bibir dan manggut-manggut.
"Sebetulnya aku memang tidak sudi menyentuh perempuan yang sudah pernah ditiduri laki-laki, tapi kepadamu aku boleh melanggar kebiasaanku ini."
Ting Hun-pin duduk kaku, ujung jari kaki dan tangan seperti tidak bisa bergerak, demikian pula lidahnya terasa kaku, seraut mukanya sudah pucat pasi.
Terasa oleh Ting Hun-pin sorot mata orang seakan-akan menampilkan daya sedot yang aneh.
Bukan saja menyedot daya pandangnya, malah seluruh pikiran dan semangatnyapun tersedot kencang.
Dia ingin meronta, ingin lari atau menyingkir, namun dia hanya bisa duduk mematung dan mendelong balas menatap mata orang.
Biji mata orang seakan-akan berkobar seperti api setan.
Menghadapi sepasang mata ini, akhirnya Ting Hun-pin menyadari kejadian tempo hari yang menimpa dirinya.
Kerja apa pula yang harus dia kerjakan menurut kemauan orang?
Mungkinkah lebih menakutkan?.
Dia sudah kerahkan seluruh tenaga dan semangatnya untuk meronta, keringat dingin sudah gemerobyos membasahi seluruh badannya, namun dia tidak berhasil membebaskan diri dari belenggu ini, api setan yang terpancar dari biji mata Giok-siau seakan-akan sudah membakar habis sisa tenaganya.
Terpaksa dia harus menyerah dan tunduk akan segala kehendak orang.
Apapun yang Giok-siau inginkan atas dirinya, dia tidak akan bisa menolak atau menentangnya.
Pada saat itulah 'Blang......!' daun pintu tiba-tiba diterjang orang, seseorang tampak berdiri tegak laksana tombak di luar pintu.
Giok-siau amat kaget, bentaknya seraya membalik badan.
"Siapa?"
"Siong-yang Kwe Ting!"
Kwe Ting.
Akhirnya dia menyusul datang tepat pada waktunya.
Bagaimana dia bisa kemari?
Siapakah yang membuka tutukan Hiat-to nya?
Apakah Siangkwan Siau-sian atau Lu Di?
Sudah tentu mereka tahu, asal Kwe Ting meluruk kemari, maka di antara Giok-siau dan Kwe Ting pasti akan terjadi duel yang sengit, hanya seorang saja yang bisa hidup dan meninggalkan tempat ini.
Sang surya hanya muncul sebentar saja, kembali dia sudah menyembunyikan diri di balik gumpalan awan tebal, hawa dingin kembali mencekam alam semesta.
Angin dingin setajam golok.
Kwe Ting dan Giok-siau sama-sama berdiri berhadapan dihembus angin dingin setajam golok itu.
Hati mereka sama tahu, satu diantara mereka harus ada yang roboh.
Siapapun yang ingin keluar dari pekarangan ini, hanya ada satu jalan, lewat melangkahi mayat lawannya.
Pedang Kwe Ting sudah berada di tangannya, pedang yang legam mulus dengan cahaya mengkilap gelap, namun membawakan hawa membunuh yang tebal dan lebih tajam dari hembusan angin dingin.
Pedang itu sendiri tak ubahnya seperti badan dan jazadnya.
Giok-siau sebaliknya putih mentah mengkilap terang.
Kedua orang inipun merupakan pertentangan yang menyolok.
Kwe Ting mengawasi seruling di tangan Giok-siau, dia berusaha menghindari pandangan mata orang.
Bara setan dalam biji mata Giok-siau menyala lebih terang, tiba-tiba dia bertanya.
"Jadi kau inilah ahli waris dari Kwe Siong-yang?"
Kwe Ting mengiyakan.
"Dua puluh tahun yang lalu, aku sudah punya maksud untuk menjajal kepandaian Kwe Siong-yang, sayang sekali dia sudah mampus."
"Aku masih hidup."
"Kau terhitung barang apa? Siong-yang-thi-kiam di dalam buku daftar senjata tercantum nomor 4, sebaliknya pedang di tanganmu ini sepeserpun tak berharga. Bahwasanya kau tidak setimpal pakai pedang ini."
Kwe Ting menutup rapat mulutnya, dia berusaha menekan hawa amarah dan emosinya.
Kemarahan ada kalanya merupakan kekuatan juga, tapi duel di antara dua tokoh kosen, kemarahan bisa menjadikan bibit bencana yang jahat dan beracun, lebih jahat dari bisa yang manapun.
Giok-siau menatapnya, katanya pelan-pelan.
"Khabarnya kaupun bersahabat baik dengan Yap Kay?"
Kwe Ting diam saja untuk mengakui. Giok-siau berkata pula dingin.
"Kawan macam apakah di antara kalian sebenarnya?"
"Kawan adalah kawan, kawan sejati hanya satu macam."
"Tapi hubungan kawan kalian kelihatannya rada luar biasa, rada janggal."
"Apanya yang janggal?"
"Setelah Yap Kay mampus, ternyata cepat sekali kau sudah bersedia menampani bininya ini. Bukankah jarang ada teman seperti dirimu?"
Terasa bara membakar dada dan tak tertahan lagi mendadak Kwe Ting angkat kepala.
Giok-siau tengah menatapnya lekat-lekat.
Sorot matanya seketika tersedot, seperti besi sembrani yang menyedot besi umumnya.
Sejak tadi Ting Hun-pin duduk di kursi dengan napas tersengal-sengal, saat mana dia bangkit berdiri menuju ke pintu.
Di lihatnya mata Giok-siau yang bentrok dengan pandangan Kwe Ting, seketika tersirap darahnya.
Cepat atau lambat, kekuatan, semangat dan daya pikir Kwe Ting akan terbakar habis oleh bara api yang menyala dari biji mata Giok-siau.
Sekali-kali dia tidak bisa berpeluk tangan mengikuti langkah Kwe Ting yang bakal kejeblos jurang yang dalam.
Sayang hati ada maksud, apa daya tenaga tidak mencukupi.
Dalam saat-saat yang kritis ini, tidak mungkin dia memberi peringatan kepada Kwe Ting.
Sekali perhatiannya terpecah, itu berarti menambah cepat kematiannya.
Angin semakin kencang dan hawa semakin dingin, di tengah-tengah kegelapan mendung ini bunga salju sebentar pasti akan bertebaran.
Di kala kembang salju berjatuhan, mungkin pula darah akan muncrat.
Tentunya darah Kwe Ting yang akan muncrat.
Sebetulnya tidak perlu dia mengadu jiwa dengan Giok-siau, sebetulnya dia bisa hidup sehat, tentram dan senang.
Kenapa sekarang dia menempuh jalan terakhir ini.
Di saat air mata Ting Hun-pin hampir menetes, tiba-tiba di dengarnya Giok-siau bersuara.
"Lempar pedangmu, berlutut!" , suaranya seperti mengandung daya kekuatan yang aneh sekali. Suatu perintah yang tidak mungkin ditentang. Jari-jari tangan Kwe Ting yang memegangi pedang sudah goyah, tangannya gemetar, mengikuti gejolak perasaannya. Berkata pula Giok-siau pelan-pelan.
"Buat apa kau meronta? Kenapa harus menderita? Asal kau lepaskan tanganmu, semua deritamu akan lenyap seketika."
Orang mati sudah tentu akan merasakan derita.
Asal dia lepas tangan, maka jiwanya bakal melayang.
Otot hijau di punggung tangan Kwe Ting sudah merongkol keluar kini lambat-lambat mulai pudar, demikian pula tenaganya mulai mengendor.
Bercahaya terang sorot mata Giok-siau, jari-jari tangannya yang memegang serulingpun mulai mengendor.
Duel ini sudah akan berakhir, dia tidak perlu turun tangan, tidak perlu pakai kekerasan.
Beberapa tahun belakangan ini dia sudah jarang berduel dengan kekuatan dan bergerak sengit melawan setiap musuhnya.
Dia sudah mempelajari suatu cara yang lebih mudah, tanpa banyak membuang tenaga, dengan gampang lawan dirobohkan.
Hal ini membuat dia berubah semakin congkak, namun juga semakin malas.
Setelah biasa lewat jalan dekat, tentu tak mau jalan jauh.
Jalan dekat biasanya bukan jalan yang normal, jalan yang betul.
Kali ini tanpa disadarinya akhirnya Giok-siau melangkah maju juga.
Pedang di tangan Kwe Ting kelihatannya sudah hampir jatuh, namun sekonyong-konyong pegangannya kembali mengencang, di mana sinar pedang berkelebat tahu-tahu melesat terbang ke depan.
Ilmu pedang Siong-yang-thi-kiam memang bukan mengkhususkan diri pada perubahan dan variasi, demikian pula ilmu pedang Kwe Ting.
Jikalau dia tidak yakin dan percaya akan kekuatannya, dia tidak akan turun tangan.
Sekali dia menusuk pedang, serangannya harus berhasil dan musuhpun harus mati.
Gampang, cepat, telak dan nyata serta berhasil.
Di situlah letak kemurnian dan intisari ilmu Siong-yang-thi-kiam.
Serangan pedangnya ini bukan menusuk ke tenggorokan.
Luas dada jauh lebih besar dari leher, lebih gampang diincar dan lebih besar kemungkinan berhasil.
Duel tokoh kosen, sekali salah langkah, meski hanya kesalahan yang tak berarti, mungkin saja merupakan kesalahan yang mengakibatkan kematian bagi jiwanya sendiri.
Seluruh kekuatan dan semangat Giok-siau, dia pusatkan pada kedua biji matanya, dia sangka dirinya sudah menguasai situasi, sayang sekali dia tidak menyadari, bahwa kedua biji matanya bukannya alat senjata yang ampuh.
Betapapun menakutkan biji mata orang, jelas takkan mungkin kuat melawan tusukan pedang yang hebat laksana sambaran kilat.
Di kala dia mengayun seruling pualamnya, ujung pedang sudah menyelinap tembus dari bawah serulingnya dan menusuk amblas ke dadanya.
Kembang salju mulai beterbangan di angkasa, darahpun muncrat.
Tapi bukan darah Kwe Ting, tapi darah yang muncrat dari dada Giok-siau, darah yang merah, menyolok segar.
Kulit mukanya seketika meringkal, biji matanya hampir mencopot, namun bara api di dalam biji matanya sudah lenyap tak berbekas.
Walau dada sudah berlubang, namun dia belum roboh, matanya masih menatap Kwe Ting, dengan beringas tiba-tiba dia bersuara, suaranya serak.
"Kau bernama Kwe Ting?"
Kwe Ting manggut-manggut, sahutnya tenang.
"Ya! Ting artinya tenang."
"Kau memang amat tenang, aku memandang rendah dirimu."
"Tapi aku tidak memandang rendah kau, sudah ku rencanakan cara yang baik untuk menghadapimu."
"Cara yang kau gunakanpun baik sekali!"
"Cara yang kau pakai justru salah besar."
Giok-siau bersuara heran tak mengerti.
"Dengan bekal ilmu silatmu, seharusnya tidak perlu kau menggunakan cara dari aliran sesat ini menghadapiku."
Pandangan Giok-siau yang kosong hampa mengawasi tempat jauh. Katanya pelan-pelan.
"Memang sebetulnya aku boleh tidak usah menggunakannya, hanya seseorang, kalau berhasil mempelajari cara yang gampang untuk mencapai kemenangan, cara yang tidak membuang tenaga......." , kata-katanya kalem dan penuh penyesalan. Baru sekarang dia mengerti, kemenangan selamanya tidak pernah dicapai untung-untungan, untuk menang mempertaruhkan imbalannya. Mendadak Giok-siau berteriak.
"Cabut pedangmu! Biar aku roboh, biar aku mati!"
Ujung pedang masih menancap di dalam dadanya, dia mulai batuk-batuk semakin keras dengan napas yang tersengal-sengal.
Kalau pedang belum tercabut, mungkin jiwanya masih bisa diperpanjang barang sekejap, tapi dia kini malah minta lekas mati.
Kwe Ting berkata.
"Kau......masih ada pesan apa lagi?"
"Tiada, sepatah katapun tidak."
"Baik, mangkatlah dengan lega hati, aku pasti mengurus jenasahmu dengan baik." , ujar Kwe Ting menghela napas. Akhirnya dia mencabut pedangnya. Waktu mencabut pedang, sikutnya harus tertekuk mundur, secara langsung bagian dadanya lantas terbuka tanpa penjagaan yang kuat. Sekonyong-konyong, 'ting....' dari batang seruling pualam di tangan Giok-siau melesat keluar tiga bintik sinar terang, menancap di dada Kwe Ting. Kontan Kwe Ting terjengkang roboh ke belakang. Giok-siau malah masih berdiri, napasnya makin memburu, serunya gelak-gelak.
"Sekarang aku boleh mati dengan lega hati, karena aku tahu sebentar kaupun akan mengikuti jejakku." , akhirnya dia roboh juga, roboh di genangan darahnya. Kembang salju tengah berjatuhan, jatuh di atas mukanya yang pucat. ooo)dw(ooo Ting Hun-pin duduk di bawah lampu, termangu-mangu mengawasi Kwe Ting yang rebah tak bergerak di ranjang. Mata yang tajam terpejam, mukanya putih seperti kapur, kalau napas tidak berdengus pelan-pelan, kelihatannya sudah seperti orang mati. Dia masih hidup karena senjata rahasia yang disimpan di dalam seruling Giok-siau tidak beracun. Batu pualam memang selalu putih bersih dan murni. Kalau jiwa Giok-siau sudah berubah, namun seruling pualamnya tidak pernah berubah. Pualam itu tetap abadi. Tapi betapapun senjata rahasia itu disambitkan dari jarak yang amat dekat. Batang paku pualam itu hampir memutus urat nadi Kwe Ting yang menembus ke jantungnya. Bahwa dia masih bertahan hidup sampai sekarang memang merupakan suatu keajaiban. Entah berapa lamanya Ting Hun-pin duduk termangu di ujung ranjang, air matanya sudah kering, entah berapa kali sudah dia bercucuran air mata. Tiba-tiba terdengar bunyi petasan berenteng yang memecah kesunyian malam di luar. Petasan berbunyi menandakan tahun lama akan berselang, tahun baru bakal mendatangkan garapan baru. Tapi menghadapi Kwe Ting yang sekarat, harapan apa yang bisa dia peroleh? Suara petasan mengejutkan Kwe Ting, tiba-tiba dia membuka mata, seolah-olah hendak bertanya.
"Suara apakah itu?" , namun bibirnya tak bisa bergerak. Ting Hun-pin bisa meraba isi hatinya. Dengan paksa dia unjuk senyum, katanya.
"Besok sudah tahun baru, di luar orang lepas petasan."
Dengan mendelong Kwe Ting mengawasi tabir malam di luar jendela. Besar harapannya bisa melihat sinar surya, namun apa pula yang dapat dia lakukan? Tiba-tiba dia batuk keras tak henti-hentinya.
"Kau mau minum kuah hangat?"
Tanya Ting Hun-pin lembut.
"malam ini mereka tentu ada sedia kuah ayam."
Sekuatnya Kwe Ting geleng-geleng, lalu dia pandang Ting Hun-pin, lekat-lekat tercetus juga suara dari mulutnya.
"Kau pergilah!"
"Kau......ingin aku meninggalkan kau?"
"Aku tahu ajalku sudah dekat, buat apa kau menemaniku?"
Kata Kwe Ting dengan syahdu. Ting Hun-pin gigit bibir, dia tahan air matanya supaya tidak menetes keluar, katanya.
"Kalau kau kira kau sudah dekat ajal, maka kau terlalu menyia-nyiakan harapanku."
"Kenapa?"
"Karena aku.......aku sudah siap menikah dengan kau, kau tega membiarkan aku jadi janda?"
Muka Kwe Ting yang pucat bersemu merah.
"Apa benar?"
"Sudah tentu benar!", ujar Ting Hun-pin.
"kapan saja kita bisa menikah."
Asal dapat mempertahankan kehidupan Kwe Ting, apapun yang harus dia lakukan, dia akan bekerja suka rela.
"Besok adalah hari baik, kita tidak perlu tunggu lagi."
"Tapi aku............."
"Maka kau harus bertahan hidup, harus!"
Sejak hari pertama dia berkenalan dengan Yap Kay, tak pernah terpikir di dalam benak Ting Hun-pin akhir dirinya akan kawin dengan orang lain.
Tapi besok malam..........
ooo)dw(ooo Loteng itu bercat merah, jendela merah, lilin merah, kain gordyn merah, semuanya serba merah.
Siangkwan Siau-sian tertawa manis, katanya mengawasi Yap Kay.
"Coba katakan, mirip tidak kamar pengantin?"
"Tidak!", sahut Yap Kay pendek. Seketika cemberut bibir Siangkwan Siau-sian.
"Dalam hal apa tidak sama? Apa kau tidak mirip pengantin?"
Pakaiannyapun baru, merah lagi.
"Kau memang mirip pengantin, tapi aku tidak."
Sebetulnya diapun mengenakan pakaian baru.
"Kenapa kau tidak bercermin dahulu?"
"Tidak perlu bercermin, aku sudah bisa memandang diriku sendiri, malah jelas sekali.", ujar Yap Kay.
"derita selama hidupku ini justru karena selamanya aku bisa memandang diriku sendiri dengan jelas."
Tiba-tiba dia berdiri mendorong jendela.
Suasana di luar ramai tentram, setiap rumah bertempelan kertas warna-warni yang bertuliskan syair-syair memuji keindahan tahun baru, memujikan bahagia dan mendapat berkah, lekas kaya, banyak anak.
Anak-anak menutup kuping melepas petasan, mereka berpakaian serba baru.
Agaknya Siangkwan Siau-sian sengaja mengatur semua ini, dia harap suasana tahun baru yang ramai dan damai, dapat memberikan kesan dan kehidupan baru bagi Yap Kay.
Beberapa hari ini orang selalu murung.
"Kau suka tahun baru?"
Tanya Siangkwan Siau-sian. Yap Kay memandang ke tempat jauh. Suasana senja mulai gelap tak ubahnya seperti hari-hari biasa yang telah lampau.
"Agaknya selama ini aku tidak pernah bertahun baru."
"Kenapa?"
Tampak hambar, mendelu dan kesunyian di sorot mata Yap Kay, lama sekali baru dia berkata pelan-pelan.
"Kau harus tahu, dalam dunia ini ada semacam orang yang selamanya tidak pernah bertahun baru."
"Orang macam apa?"
"Orang yang tidak punya keluarga, tidak punya rumah."
Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian menghela napas, katanya.
"Sebetulnya aku.............. selama ini akupun tak pernah bertahun baru. Tentunya kau tahu orang macam apa ibuku sebenarnya, tapi takkan kau ketahui betapa hidupnya setelah usia tua, di kala orang lain bertahun baru, dia selalu memelukku, diam-diam menangis di dalam kemul."
Tak terasa Yap Kay menghela napas panjang.
"Kau juga tahu, kita sama-sama orang senasib, kenapa sikapmu begitu dingin kepadaku?"
"Itulah lantaran kau sudah berubah."
Siangkwan Siau-sian maju mendekati, katanya menggelendot.
"Menurut anggapanmu, sekarang aku berubah menjadi perempuan apa?"
Yap Kay diam saja, dia tidak memberi komentar. Selamanya dia tidak suka mengeritik orang lain dihadapannya sehingga orang sedih karenanya. Siangkwan Siau-sian tiba-tiba tertawa dingin, katanya.
"Jikalau kau kira aku berubah seperti.............. seperti dia, kau salah!"
Yap Kay tahu siapa yang dimaksud dengan dia.
Memang semula dia kira Siangkwan Siau-sian sudah berubah mencontoh sepak terjang ibunya, Lim Sian-ji yang centil, cabul dan berhati keji, malah Siangkwan Siau-sian yang sekarang jauh lebih menakutkan.
Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian menariknya serta memutar badan orang, serunya.
"Pandanglah aku, ada omongan yang ingin kutanya kepadamu"
"Kau boleh tanya!"
"Kalau kukatakan bahwa selama hidupku belum pernah ada laki-laki yang menyentuhku, kau percaya tidak?"
Yap Kay tidak menjawab, tidak bisa menjawab.
"Jikalau kau menyangka terhadap laki-laki lain sikapku sama dengan terhadap sikapmu, kau semakin salah duga!"
"Kau.......kenapa kau bersikap demikian terhadapku?"
Siangkwan Siau-sian menggigit bibir katanya.
"Memangnya hatimu belum tahu? Kenapa harus bertanya lagi?"
Tiba-tiba Yap Kay tertawa, katanya.
"Malam ini hari yang baik menjelang tahun baru, kenapa kita membicarakan hal-hal yang kurang menyenangkan?"
"Karena aku bicara atau tidak terhadapmu, kau tetap murung saja."
Tanpa memberi kesempatan Yap Kay menyanggah, lekas dia menambahkan.
"Karena aku tahu sanubarimu selalu merindukan Ting Hun-pin." (Bersambung ke Jilid-12) Jilid-12 Yap Kay tidak bisa menyangkal, katanya dengan tertawa getir.
"Bukan hanya sehari aku mengenalnya, dia memang gadis yang baik, terhadap aku, diapun kelewat baik."
"Memangnya aku tidak baik terhadapmu?"
Yap Kay diam saja, dengan menggendong tangan dia berjalan mondar-mandir.
Tiba-tiba didengarnya suara aneh seperti sempritan yang terbuat dari tembaga kumandang di tengah udara.
Seekor burung dara terbang mendatangi dari kejauhan, hinggap di wuwungan rumah seberang, bulunya hitam legam, kelihatannya seperti burung elang.
Belum pernah Yap Kay melihat burung dara seperti ini, tak tahan dia menghentikan langkahnya, sesaat mengamati dengan seksama.
Waktu dia menoleh pula, baru dilihatnya sorot mata Siangkwan Siau-sian bersinar terang.
Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian keluarkan sebuah sempritan kecil dari kantong bajunya lalu ditiupnya sekali.
Aneh sekali, burung dara itu segera terbang masuk hinggap di atas telapak tangannya, cakarnya seperti baja, paruhnya seperti tombak, biji matanya merah berkilat-kilat, kelihatannya mirip benar dengan garuda yang gagah dan garang.
Burung piaraan siapakah?
Lapat-lapat Yap Kay merasakan majikan dari burung dara itu tentu seorang yang menakutkan pula.
Pada kaki kanan burung dara terikat sebuah bumbung besi, Siangkwan Siau-sian segera mengambilnya, dari dalamnya dia melolos keluar secarik kertas yang penuh bertuliskan huruf-huruf kecil.
Siangkwan Siau-sian mendekati lampu lalu membacanya dengan seksama berulang kali.
Begitu asyik dia baca surat sungguh besar perhatiannya pada apa yang tertulis dalam surat itu sehingga kehadiran Yap Kay pun seperti sudah dilupakan.
Yap Kay malah mengawasinya, cahaya lampu menyinari muka orang, muka orang yang semu merah, berubah pucat, sikapnya serius dan tegang seperti tertekan perasaannya.
Dalam sekejap ini seakan-akan ia menjadi orang lain, menjadi Siangkwan Kim-hong.
Agaknya surat itu amat rahasia, sangat penting.
Yap Kay tidak ingin mencari tahu rahasia orang lain, namun burung dara itu tengah mengawasi dirinya dengan pandangan tajam waspada.
Waktu dia mendekat mengulur tangan hendak mengelus bulunya, tiba-tiba burung dara itu pentang sayap sambil mematuk tangannya.
Yap Kay menghela napas, katanya mengguman.
"Burung dara segalak ini, jarang di dapat di kolong langit ini."
Siangkwan Siau-sian tiba-tiba angkat kepala dengan tertawa, katanya.
"Burung dara jenis seperti ini memang jarang didapat, menurut apa yang ku tahu, di kolong langit ini hanya ada seekor saja. Memang untuk memelihara burung dara ini amat sukar, orang yang mampu dan kuat memeliharanya dalam dunia ini takkan lebih dari 3 orang."
"Kenapa?", tanya Yap Kay heran.
"Tahukah kau makanan apa yang biasa dimakan burung dara ini?" , tanya Siangkwan Siau-sian. Yap Kay geleng-geleng tidak mengerti.
"Memang aku tahu, kau pasti tidak akan menduganya."
Yap Kay tertawa dipaksakan, ujarnya.
"Yang dimakan memangnya daging manusia?"
Siangkwan Siau-sian tertawa, tanpa menjawab dia malah tepuk tangan seraya berseru.
"Siau-cui!"
Seorang nona cilik yang tertawa manis dengan lesung pipit yang elok berlari keluar sembari mengiyakan.
"Mana pisaumu?" , tanya Siangkwan Siau-sian. Siau-cui segera merogoh keluar sebuah pisau melengkung, gagangnya dihiasi jamrut kecil-kecil.
"Bagus! Sekarang kau boleh menyuapi dia makan."
Siangkwan Siau-sian memberi aba-aba.
Siau-cui segera membuka baju, dari badannya dia mengiris sekerat kulit dagingnya dengan pisau melengkung itu.
Saking kesakitan, muka menjadi pucat dan keringat dingin gemerobyos, namun dia masih unjuk senyuman manis.
Burung dara itu segera terbang menyamber daging itu dengan paruhnya, terus terbang keluar jendela.
Yap Kay terbelalak, serunya.
"Makanannya benar-benar daging manusia?"
"Bukan saja daging manusia, malah harus daging segar yang baru diiris dari badan seorang gadis cantik."
Yap Kay jadi mual dan perutnya seperti dipelintir saking jijik dan ngeri.
"Tahukah kau darimana datangnya burung dara ini?", tanya Siangkwan Siau-sian, lanjutnya.
"Dia terbang dari tempat yang ribuan li jauhnya, malah membawa berita yang amat penting, umpama dagingku sendiri yang harus diiris untuk makanannya, akupun rela."
"Berita apa yang dibawanya?"
"Berita dari Mo Kau!"
"Jadi majikan burung dara ini adalah Mo Kau Kaucu?"
"Bukan Kaucu, namun seorang Kongcu (tuan putri), Kongcu yang cantik sekali."
"Bagaimana dia bisa saling berhubungan dengan kau?"
"Karena diapun manusia, asal manusia, aku pasti punya cara untuk membeli hatinya,"
Ujar Siangkwan Siau-sian menghela napas.
"mungkin hanya kau saja yang terkecuali."
"Apa dia berani menjual rahasia Mo Kau kepadamu?" , tanya Yap Kay. Siangkwan Siau-sian menghela napas, ujarnya.
"Sayang sedikit sekali rahasia yang dia ketahui."
"Apa saja yang dia ketahui?"
"Dia hanya tahu, tiga di antara Su-thoa-thian-ong Mo Kau kini sudah berada di Tiang-an, namun dia tidak tahu samaran apa yang mereka pakai di sana."
"Diapun tidak tahu nama dari ketiga orang ini?"
"Tahupun tiada gunanya, siapapun setelah masuk anggota Mo Kau, seluruh jiwa raga dan harta benda miliknya harus dia persembahkan untuk Mo Kau, jangan hanya nama belaka, tak berguna lagi."
"Maka dia hanya tahu nama-nama yang mereka pakai di dalam Mo Kau."
Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, ujarnya.
"Nama-nama Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau semuanya aneh-aneh. Yang pertama bernama Sialpu, kedua bernama Tolka, ketiga bernama Putala, ke empat bernama Panjapana. Nama-nama ini diambil dari bahasa Tibet kuno."
Maksud dari Sialpu melambangkan kecerdikan yang luar biasa, Tolka melambangkan kekuasaan yang besar, Putala adalah sebuah puncak tunggal, sedangkan Panjapana adalah malaikat asmara, malaikat yang suka melampiaskan hawa napsu.
"Sekarang, kecuali Tolka Thian-ong seorang yang masih berada di Mo-san, tiga Thian-ong yang lain kini sudah berada di Tiang-an."
"Berita ini dapat dipercaya?"
"Pasti boleh dipercaya."
"Kau sendiri tidak tahu siapa kiranya mereka itu?"
"Aku hanya ingat satu orang, Panjapana Thian-ong kemungkinan besar adalah Giok-siau."
"Bisakah kau memancing keterangan dua orang yang lain dari Giok-siau?"
"Tidak mungkin,"
Sahut Siangkwan Siau-sian geleng-geleng.
"andaikata punya cara untuk mengompas keterangan dari berbagai orang, hanya satu macam orang saja yang terkecuali."
"Orang mati maksudmu?", tanya Yap Kay. Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.
"Cara bagaimana dia mati?"
"Ada orang yang membunuhnya."
"Siapa yang mampu membunuh Tang-hay-giok-siau?"
"Dalam kota Tiang-an sekarang bukan hanya seorang yang bisa membunuhnya."
Yap Kay menepekur, katanya kemudian dengan menghela napas.
"Baru sepuluhan hari aku di sini, namun kota Tiang-an sudah banyak kejadian pula."
"Kau....apakah kau ingin pergi dari sini?"
"Luka-lukaku sudah sembuh."
"Begitu luka-lukamu sembuh, lalu kau hendak pergi?" , terpancar rasa pilu pada sorot matanya. Yap Kay menyingkir dari tatapan orang, katanya.
"Cepat atau lambat, aku harus pergi juga."
"Kapan kau hendak pergi?"
"Besok....!"
Yap Kay tertawa kecut.
"kalau besok aku pergi, kau bisa memberi selamat tahun baru kepada yang hendak pergi?"
Siangkwan Siau-sian gigit bibir, tiba-tiba dia tertawa, katanya.
"Kecuali memberi selamat tahun baru, kau malah bisa menghadiri sebuah jamuan pernikahan."
"Jamuan pernikahan siapa?"
"Sudah tentu temanmu, seorang teman yang amat baik kepadamu."
Ooo)dw(ooo Akhirnya Yap Kay pergi juga.
Ternyata Siangkwan Siau-sian tidak menahannya lagi, cuma dia gandeng dan peluk lengannya terus mengantar sampai di luar, sampai di ujung jalan.
Siapapun yang melihat sikap mesra mereka pasti menduga mereka adalah pasangan setimpal.
Tapi apakah sebetulnya mereka memang kekasih?
Atau teman biasa?
Atau musuh besar?
Mungkin mereka sendiri sekarang belum bisa membedakan.
Sebelum berpisah, tiba-tiba Yap Kay berkata.
"Sudah lama kupikirkan, namun tak bisa kusimpulkan juga, siapakah sebenarnya Sialpu dan Putala itu?"
"Kalau tidak bisa kau simpulkan, kenapa kau pikiri?"
Ujar Siangkwan Siau-sian tertawa rawan.
"Aku tidak bisa tidak harus memikirkannya."
"Kenapa manusia sering memikirkan persoalan yang semestinya tidak perlu dia risaukan?"
Yap Kay tidak berani menjawab, memang dia tidak bisa menjawab. Cukup lama mereka berdiam diri, akhirnya tak tahan lagi Yap Kay berkata.
"Kuduga Sialpu Thian-ong pasti seorang cerdik cendekia, sementara Putala seorang yang tinggi hati dan congkak."
"Nama-nama yang diambil oleh Mo Kau tentunya tanpa beralasan."
"Menurut pandanganmu, siapa kiranya yang paling cerdik pandai di kota Tiang-an?"
"Kaulah...."
Sahut Siangkwan Siau-sian.
"orang yang benar-benar pintar biasanya kelihatan seperti orang linglung. Tidak sedikit orang-orang yang linglung di dalam kota Tiang-an sekarang ini."
"Lalu siapa kiranya menurut pendapatmu orang yang paling tinggi hati?"
"Kau."
"Aku lagi?"
Tawar suara Siangkwan Siau-sian.
"Hanya orang yang congkak, baru tega menolak uluran cinta murni dan suci orang lain."
Sudah tentu 'orang lain' yang dia maksud adalah dirinya sendiri. Yap Kay berpaling, memandang mega di ujung langit sana dengan mendelong.
"Kecuali kau...,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"mungkin masih ada satu dua orang lagi."
"Siapa?"
"Lu Di, Kwe Ting."
"Tentunya mereka tidak mungkin adalah orang-orang Mo Kau."
Kata Yap Kay.
"Apakah karena kau kira mereka dari keluarga baik-baik, maka tidak mungkin masuk Mo Kau?"
"Aku hanya merasakan mereka tidak sesat dan sejahat seperti murid-murid Mo Kau umumnya."
"Apapun yang terjadi, Sialpu dan Putala berada di kota Tiang-an. Mungkin mereka adalah dua orang yang paling tidak kau duga karena jejak mereka selamanya memang sukar dijajagi dan bisa diraba oleh orang-orang lain, justru di situlah letak paling sesat dari orang-orang Mo Kau itu."
Yap Kay menghela napas, dia unjuk rasa kuatir.
Bila tidak terpaksa betul-betul, murid-murid Mo Kau tidak akan mau menunjukkan bekas-bekas dan asal-usul dirinya.
Seringkali setelah orang mati, baru bisa kelihatan kedok asli mereka.
Lalu apakah tujuan dan apa maksud mereka datang ke Tiang-an?
Apakah Siangkwan Siau-sian atau Yap Kay yang akan dihadapinya?
Dengan tertawa paksa Yap Kay berkata.
"Asal mereka benar-benar sudah di Tiang-an, cepat atau lambat aku pasti akan bisa menemukan jejak mereka."
"Tapi, hari ini kau belum bisa mulai pencarianmu."
"Kenapa?"
"Karena hari ini kau harus hadir dalam perjamuan pernikahan temanmu di hotel Hong-ping,"
Terpancar tawa yang menusuk perasaan pada sorot matanya.
"karena jikalau kau tidak ke sana, banyak orang akan berduka."
Tapi Yap Kay tidak menuju ke hotel Hong-ping.
Sampai hari menjelang maghrib, dia tetap belum muncul di hotel Hong-ping.
ooo)dw(ooo Tanggal satu tahun baru.
Lewat lohor.
Cuaca hari ini ternyata sangat baik, langit membiru gumpalan mega putih berlalu, cahaya matahari cerah cemerlang, alam semesta kembali diliputi kecerahan pada musim semi yang mulai mendatang.
Muka Kwe Ting jauh lebih segar.
Ting Hun-pin tengah menyuapi kuah tim ayam dengan sendok.
Mereka jarang bicara, tidak tahu persoalan apa yang perlu dan harus mereka bicarakan.
Entah hati mereka syukur?
Manis madu?
Atau kecut getir?
Kwe Ting menundukkan kepala mengawasi kuah di dalam mangkok, katanya.
"Bukankah kolesom yang kau seduh ini amat mahal?"
Ting Hun-pin manggut-manggut.
"Apa kita mampu membelinya?"
"Tidak mampu."
"Lalu dari mana........"
"Terpaksa aku mengebon kepada pemilik hotel. Kupikir hari ini pasti banyak orang yang akan mengirim kado kemari. Tiang-an kota sebesar ini, pasti banyak orang yang ingin hadir melihat kita, minum arak bahagia kita. Kukira mereka bukan orang-orang kikir yang tak sudi mengeduk kantong."
Kwe Ting ragu-ragu, katanya.
"Sudah banyak orang yang tahu akan pernikahan kita?"
Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya.
"Makanya kusuruh Ciangkui menyiapkan dua puluh meja perjamuan."
Tak tertahan Kwe Ting angkat kepala mengawasinya, entah senang atau berduka? "Sebetulnya kau tak usah berbuat demikian, aku......"
Ting Hun-pin segera pegang tangannya sebelum orang habis bicara, tukasnya lembut.
"Asal kau bangkitkan semangatmu, lekas menyembuhkan luka-lukamu, jangan kau biarkan aku jadi janda muda."
Akhirnya Kwe Ting tertawa, tawa yang kecut, namun menampilkan juga sedikit manis mesra.
Apapun yang akan terjadi dia sudah berkeputusan untuk menjaga dan melindungi gadis belia yang dia cintai ini seumur hidupnya, dan karena adanya tekad ini, maka dia tidak akan gampang mati oleh luka-lukanya.
Pada saat itulah Ciangkui tiba-tiba bersuara di luar pintu.
"Nona Ting, sudah saatnya kau perlu berdandan, sudah kucari orang untuk bantu Kwe Kongcu mandi dan ganti pakaian."
Ting Hun-pin tepuk tangan Kwe Ting, lalu dia dorong pintu berjalan keluar. Berhadapan dengan orang tua yang baik hati ini, dia menghela napas, katanya.
"Kau memang orang baik!"
Ia membangkitkan semangat, tertawa dipaksakan, lalu bertanya.
"Sekarang sudah ada orang mengirim kado?"
Ciangkui tertawa, sahutnya.
"Yang memberi kado banyak jumlahnya aku sudah catat semua kado yang diterima. Apa nona Ting ingin memeriksanya?"
Ting Hun-pin memang ingin melihatnya.
Sudah diduganya pasti banyak orang-orang aneh yang mengirimkan kado yang aneh dan luar biasa pula.
Banyak urusan yang dipikirkan oleh Ting Hun-pin, namun tak terpikir sedikitpun olehnya bahwa orang pertama yang mengirim kado kepadanya ternyata adalah Hwi-hou (Rase Terbang) Nyo Thian.
Di dalam buku catatan, namanya tercantum nomor satu.
Nyo Thian.
4 macam kado.
Sepasang kembang mutiara, sepasang gelang kumala (jade), seperangkat tutup kepala dengan perhiasannya, empat puluh keping emas kuno murni, jumlah seluruhnya 400 tail.
Emas kuno maksudnya adalah bahwa kadonya itu dia kirim mewakili Kim-ci-pang, yaitu mewakili Siangkwan Siau-sian.
Terkepal kencang jari-jari Ting Hun-pin, dalam hati dia tertawa dingin.
Dia harap nanti malam Siangkwan Siau-sian datang dalam perjamuan pernikahannya.
Lu Di ternyata juga mengirim kado, bersama Toh Tong pemilik Pat-hong Piau-kiok.
Kecuali 4 macam kado, terdapat pula sebotol obat mujarab untuk menyembuhkan luka-luka.
Tak terasa Ting Hun-pin tertawa dingin pula, dia sudah berkeputusan untuk tidak menggunakan obat ini, perduli maksud Lu Di baik, dia tetap tidak akan menyerempet bahaya.
Masih banyak lagi nama-nama lain seperti sudah dikenal oleh Ting Hun-pin, orang-orang itu agaknya adalah kenalan kental dari keluarga Ting.
Dia terus urutkan nama-nama orang yang tercantum di dalam catatan itu, akhirnya dia temukan lagi sebuah nama yang di luar dugaan, Cui Giok-tin.
Ternyata dia belum mati.
Selama ini kenapa dia tidak pernah muncul?
Apakah diapun sudah tahu kabar kematian Yap Kay?
Dari samping Ciangkui tertawa, katanya.
"Sungguh tak terpikir olehku bahwa di kota Tiang-an ini, nona ternyata punya kenalan begini banyak, nanti malam pestanya tentu amat ramai."
Memang pernikahan mereka sudah menggemparkan seluruh kota Tiang-an.
Baru sekarang tiba-tiba Ting Hun-pin mendadak menyadari bahwa dirinya ternyata juga seorang yang terkenal, tapi apakah lantaran Yap Kay?
Waktu dia melihat nama terakhir, seketika hatinya mencelos.
Lamkiong Long.
Sebuah pigura (lukisan).
Dia tahu nama ini, juga kenal orangnya.
Di dalam setiap keluarga besar persilatan, selalu terdapat satu dua orang yang terlalu jahat dan kejam.
Lamkiong Long adalah salah seorang yang paling menakutkan dari keluarga besar persilatan Lamkiong ini.
Sebagai begal besar yang telengas, nama Lamkiong Long amat ditakuti sebagai murid keluarga yang murtad, tapi dia adalah paman Lamkiong Wan yang pernah dikalahkan oleh Kwe Ting itu.
Tiba-tiba Ting Hun-pin bertanya.
"Kau sudah melihat lukisan yang dikirim kemari belum?"
Ciangkui geleng-geleng, katanya.
"Kalau nona ingin memeriksanya, sekarang juga akan kubawa keluar."
Sudah tentu Ting Hun-pin ingin melihatnya.
Waktu gulungan lukisan itu dibuka, tampak dalam lukisan menggambarkan dua orang.
Seorang memegang pedang panjang yang berlepotan darah berdiri di depan sepasang lilin merah.
Pakaian dan pedang yang dilukiskan dalam gambar ini amat jelas menyolok, namun mukanya serba putih kosong.
Orang ini tanpa muka.
Seorang yang lain sudah roboh menggeletak di bawah ujung pedang, pakaian yang dipakainya jelas adalah dandanan mempelai pria.
Berubah air muka Ting Hun-pin.
Maksud Lamkiong Long sudah jelas sekali, dia kemari hendak menuntut balas bagi keponakannya Lamkiong Wan.
Nanti malam Kwe Ting hendak dibunuh dengan pedang di tengah perjamuan pernikahannya.
Kwe Ting sudah terluka parah, jelas takkan mampu dan kuat melawan lagi.
Ciangkui juga merasakan ketakutannya, lekas dia gulung lagi gambar itu.
Tiba-tiba terdengar di luar ada orang berseru.
"Apakah hotel Hong-ping di sini?"
Yang mengajukan pertanyaan adalah laki-laki yang setengah baya berjubah kuning, berambut panjang, jubah kuningnya yang mengkilap hanya menutupi lutut.
Kalau jubahnya kuning emas, sebaliknya mukanya pucat seram tak berperasaan.
Seorang ini sudah cukup aneh dan menarik perhatian orang banyak, lebih aneh lagi di belakangnya masih ada tiga orang, dandanan dan sikap mereka mirip satu sama lain.
Ciangkui merinding dibuatnya, terpaksa dia unjuk senyum meringis dan menjawab gemetar.
"Betul! Hotel kami memang bernama Hong-ping."
"Jadi pernikahan Kwe Ting, Kwe Kongcu dan Ting Hun-pin, Ting Kohnio adalah di sini?"
Tanya laki-laki jubah kuning itu.
"Benar, memang di sini."
Sahut Ciangkui sambil melirik Ting Hun-pin. Dilihatnya muka orang mengunjuk keheranan, namun tidak memberi reaksi, terpaksa Ciangkui bertanya.
"Apakah tuan-tuan hendak mencari Kwe Kongcu?"
"Tidak!", sahut laki-laki jubah kuning.
"Mengantar kado tentunya?"
"Juga tidak."
"Tanpa memberi juga boleh ikut perjamuan. Silahkan kalian duduk sambil menikmati teh."
"Kami tidak minum teh, juga bukan mau ikut perjamuan."
Kata laki-laki jubah kuning. Ting Hun-pin tiba-tiba tertawa, katanya.
"Mungkinkah kalian hendak melihat pengantin perempuan?"
Laki-laki jubah kuning melirik dingin kepadanya, katanya.
"Kau inikah mempelai perempuan?"
Ting Hun-pin manggut-manggut, ujarnya.
"Maka jikalau kalian ingin menyaksikan sekarang boleh melihat sepuas hati kalian."
Laki-laki jubah kuning malah mendelikkan mata, katanya.
"Yang kami ingin lihat juga bukan pengantin."
"Lalu apa yang ingin kalian lihat?"
"Ingin kami saksikan apakah malam nanti ada orang berani kemari mencari onar?"
"Kalau ada?"
"Tidak boleh ada, juga takkan ada."
"Kenapa?"
"Karena kami mendapat perintah untuk menjaga keamanan di sini, melindungi mempelai berdua masuk ke dalam kamar pengantin."
"Kalau ada kalian lantas takkan ada orang berani mencari onar?"
"Kalau ada satu, kota Tiang-an malam ini akan ketambahan satu orang mati."
"Kalau ada seratus orang yang datang, kota Tiang-an ini akan ketambahan seratus orang mati?"
"Seratus empat lebih banyak."
Kata-kata ini sudah jelas menandakan walau mereka berempat bukan tandingan seratus orang, namun merekapun jangan harap bisa pulang dengan tetap hidup. Ting Hun-pin menghela napas, tanyanya.
"Atas perintah siapa kalian bertugas di sini? Apa kalian dari Kim-ci-pang?"
Sepatah katapun tak bicara lagi, muka laki-laki jubah kuning malah membesi keren.
Satu persatu mereka melangkah masuk ke ruang perjamuan.
Di sana mereka berpencar ke empat penjuru, masing-masing menduduki satu sudut, berdiri tegak tanpa bergerak.
Ciangkui menghela napas seraya mengelus dada.
Belum lagi dia bicara, tiba-tiba di luar terdengar ada orang bertanya pula.
"Apakah di sini hotel Hong-ping?"
Yang datang kali ini ternyata seorang pengemis dengan rambut awut-awutan dan pakaian bersih penuh tambalan.
Di punggungnya menggendong karung yang sudah butut dan berlobang-lobang.
Tentunya dia bukan mengantar kado.
Pengemis di dunia ini biasanya minta sekedar uang atau beras, tiada pengemis yang memberi kado.
Ciangkui mengerut kening, katanya.
"Terlalu pagi kau datang, sekarang belum saatnya minta sedekah di sini."
Pengemis itu malah tertawa dingin, katanya.
"Darimana ku tahu kalau aku mendadak minta sedekah?"
"O, bukan minta-minta?"
Ciangkui melengak.
"Andaikan kau berikan hotelmu ini kepadaku, belum tentu aku sudi menerimanya."
Sombong benar kata-kata pengemis ini.
"Lalu untuk apa kau kemari? Mau ikut perjamuan?"
"Tidak! Aku mengantar kado."
"Mana kadonya?"
"Di sini!" , ujar pengemis serta menurunkan karungnya terus ditaruh di atas meja. Belasan butir mutiara sebesar kelengkeng seketika bergelindingan keluar dari dalam karung. Ciangkui tertegun. Ting Hun-pin kaget. Belasan butir mutiara ini, harganya sudah tidak ternilai, jarang dilihatnya mutiara sebesar itu. Tak nyana barang-barang yang berada di dalam karung bukan hanya belasan mutiara itu saja, masih terdapat jamrut mata kucing dan batu-batu permata lainnya yang tidak diketahui jumlahnya. Mulut Ciangkui terbuka lebar, mimpipun tak pernah diduganya bahwa pengemis rudin ini mengirim kado barang-barang antik sebanyak ini.
"Barang-barang ini semua dihaturkan kepada nona Ting untuk menambah pesalin. Harap diterima!" . Habis bicara, sekali badan berputar, tahu-tahu dia sudah mencelat ke jalan raya, kecepatan gerak badannya jarang terlihat di kalangan Kang-ouw. Ting Hun-pin hendak menghadangnya, namun sudah terlambat. Waktu dia memburu ke luar, orang hilir mudik di jalan raya, bayangan pengemis itu sudah tidak kelihatan lagi. Siapakah dia sebetulnya? Kenapa memberi kado semahal itu? "Nah, ini ada kartu namanya."
Seru Ciangkui.
Di dalam kartu nama yang merah besar itu, sebelah kanan atas bertuliskan 'Pernikahan Kwe Kongcu dan Ting Kohnio'.
Di tengah pujian muluk-muluk, bagian bawah kiri tertanda hormat dari Sialpu, Tolka, Putala dan Panjapana.
Ting Hun-pin termangu.
"Nona Ting tidak kenal ke empat orang ini?", tanya Ciangkui.
"Bukan saja tidak kenal, nama-nama aneh inipun belum pernah kudengar."
"Bagaimanapun juga dia mengirim kado, tentu bermaksud baik."
Ting Hun-pin menghela napas, belum dia buka suara, di luar sudah ada orang tanya pula.
"Apakah di sini hotel Hong-ping?"
Pertanyaan yang sama, namun yang datang beruntun ini justru berlainan satu sama lain.
Dua terdahulu sudah termasuk orang-orang aneh, yang ketiga inipun aneh sekali.
Waktu itu hawa cukup dingin, namun orang ini hanya mengenakan baju biru tipis kepalanya mengenakan topi tinggi yang bentuknya aneh, kulit mukanya kuning seperti malam, jenggot kambing yang jarang-jarang kelihatannya seperti orang yang baru sembuh dari penyakit lama, namun orang justru tidak takut dingin.
Tangan kiri pegang payung, tangan kanan menenteng peti, kalau payung itu sudah luntur warnanya, peti itu justru mengkilap bersih, entah terbuat dari bahan apa, yang terang peti ini tentu amat berharga dan luar biasa, karena gagang cekalannya dihiasi batu kemala disepuh emas.
Kalau pakaiannya amat minim, namun sikapnya amat sombong, biji matanya terbeliak ke atas, katanya dingin.
"Apakah di sini ada orang she Kwe yang hendak melangsungkan perkawinan?"
Ciangkui manggut-manggut, tanyanya. sambil mengawasi peti di tangan orang.
"Tuan hendak mengantar kado?"
"Bukan!"
"Untuk memberi doa restu?"
"Juga bukan."
Ciangkui meringis, dia segan bertanya lagi. Tiba-tiba Ting Hun-pin menyeletuk.
"Kau adalah Lamkiong Long?"
Laki-laki itu tertawa dingin, katanya.
"Lamkiong Long terhitung barang apa?"
Ting Hun-pin menghela napas lega, katanya berseri.
"Dia memang bukan barang"
"Aku ini barang!"
Ting Hun-pin melenggong, jarang dan belum pernah dia melihat atau dengar ada orang mengatakan diri sendiri adalah barang, bukan manusia. Laki-laki itu menarik muka, katanya.
"Kenapa tidak kau tanya, aku ini barang apa?"
"Memang aku ingin mengerti."
"Aku ini kadonya."
Terbelalak mata Ting Hun-pin, orang ini benar-benar mirip makhluk aneh.
Tidak sedikit makhluk aneh yang pernah dilihatnya, namun sebuah kado yang bisa bicara dan berjalan, baru kali ini seumur hidupnya mendengar dan membuktikan.
"Kau inikah Ting Hun-pin?"
Tanya laki-laki itu.
"hari ini adalah hari pernikahanmu?"
Ting Hun-pin manggut-manggut.
"Oleh karena itu ada orang mengantarku sebagai kado. Kau sudah tahu?"
Ting Hun-pin masih tidak mengerti, tanyanya.
"Maksudmu ada orang memberikan kau kepadaku sebagai kadonya?"
Laki-laki itu menghela napas lega, katanya.
"Akhirnya kau paham juga."
Ting Hun-pin geleng-geleng, katanya.
"Untuk apa kado seperti dirimu ini?"
"Sudah tentu amat berguna,"
Sahut laki-laki itu.
"aku bisa menolong jiwa orang."
"Menolong jiwa siapa?"
"Menolong jiwa suamimu."
"Kau bisa menolongnya?"
"Kalau aku tidak bisa menolongnya, pasti takkan ada orang kedua dalam dunia ini yang bisa menolongnya."
Ting Hun-pin menatapnya, mengawasi dandanan orang aneh, kulit mukanya yang kuning, melihat payung dan peti di kedua tangan orang.
Tiba-tiba terunjuk cahaya terang dari berkobarnya semangat kesenangan pada roman mukanya.
"Aku bukan diberikan untuk ditonton, aku tidak suka ditatap perempuan."
Ujar laki-laki itu. Bersinar muka Ting Hun-pin, katanya.
"Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya."
"Aku siapa?"
"Kau she Kek, kau adalah Ban-po-siang (Peti berlaksa pusaka), Kan-kun-san (Payung sengkala) Kek Pin yang tidak bisa di urus oleh Giam-lo-ong."
"Kau pernah melihat Kek Pin?"
Tanya laki-laki itu.
"Aku belum pernah melihatnya, namun sering aku dengar Yap Kay membicarakan dirinya,"
Demikian kata Ting Hun-pin.
"katanya sejak kecil Kek Pin sering berpenyakitan, dan lai tiada orang yang mampu menyembuhkan penyakitnya, maka dia berusaha untuk menyembuhkan penyakitnya sendiri. Belakangan dia menjadi seorang tabib hebat nomor satu di seluruh kolong langit, sampaipun Giam-lo-ong, si raja akhirat tak kuasa mengurusmu, karena orang matipun dapat kau hidupkan kembali."
Laki-laki itu tiba-tiba tertawa, jengeknya.
"Yap Kay itu terhitung barang apa?"
"Dia bukan barang, dia adalah temanmu, aku tahu........."
Mendadak dia menubruk maju memegang kencang lengan orang itu, katanya dengan napas memburu.
"Apakah Yap Kay suruh kau kemari, apakah dia belum mati?"
"Kau salah mengenal orang."
"Tidak akan salah"
"Kau ini pengantin, kau harus menggandeng suamimu, kenapa menarik-narik aku?" , kata-kata laki-laki ini mengandung arti rangkap, secara tidak langsung dia menyatakan, kalau kau sudah bertekad hendak menikah dengan Kwe Ting, tidak perlu kau menarikku, tidak pantas lagi mencari Yap Kay. Jari Ting Hun-pin pelan-pelan mengendor, terjulur turun, kepalapun menunduk, katanya rawan.
"Mungkin benar, aku salah mengenalimu."
"Tapi aku tidak salah."
"Kau....kau hendak menemui Kwe Ting?"
Laki-laki itu manggut-manggut, katanya.
"Kalau kau tidak ingin jadi janda, lekaslah kau bawa aku kepadanya."
Batu-batu permata tadi masih berada di atas meja, laki-laki ini tidak tertarik sedikitpun.
Waktu angin dingin menghembus masuk dari luar pintu, kartu nama warna merah itu tertiup jatuh dan kebetulan hampir terinjak di bawah kakinya, dia tidak memungutnya hanya menunduk melihat tulisan di atas kartu nama itu.
Seketika mukanya menunjukkan mimik yang aneh, tiba-tiba dia bertanya.
"Siapa yang mengantar kemari?"
"Seorang pengemis!", sahut Ting Hun-pin.
"Pengemis macam apa?"
Tanya laki-laki itu.
"Pengemis yang berusia belum terlalu tua, selalu mendelikkan mata, kalau bicara seolah-olah hendak ajak orang berkelahi."
Demikian Ciangkui menerangkan. Ingat sesuatu Ting Hun-pin menambahkan.
"Gerak-gerik badannya lincah dan gesit, agak aneh juga."
"Apanya yang aneh?"
"Di waktu badannya berputar, mirip benar dengan gangsingan."
Laki-laki itu menepekur dengan muka membesi, katanya tiba-tiba.
"Di dalam kado perhiasan ini apakah terdapat sebuah lencana kemala yang menggambarkan empat siluman iblis?"
Memang ada.
Lekas sekali Ciangkui menemukannya.
Memang lencana kemala itu diukir empat malaikat iblis, seorang mengangkat sebuah batu bundar besar dan tebal, seorang memegang tongkat kebesaran kekuasaan, seorang menyungging puncak gunung dan seorang lagi telapak tangannya menyanggah perempuan telanjang bulat.
Mengawasi gambar-gambar ukiran di atas lencana ini, memicing berkerut kelopak mata laki-laki ini.
Tak tahan Ting Hun-pin bertanya.
"Kau tahu siapa ke empat orang ini?"
Laki-laki itu tidak menjawab, hanya mulutnya menyungging senyuman dingin.
ooo)dw(ooo Kwe Ting ternyata sudah bisa berdiri.
Kehebatan ilmu pengobatan laki-laki itu memang luar biasa.
Tak heran bila Giam-lo-ong, si raja akhiratpun kewalahan menghadapinya.
Tapi waktu Ting Hun-pin hendak menyatakan terima kasihnya, tahu-tahu orang sudah tiada entah kemana.
Sudah tentu Ting Hun-pin takkan bisa mencarinya.
Dia sudah mengenakan pakaian pengantin, perias yang diundang Ciangkui sedang sibuk merias dirinya.
Di luar sudah mulai ramai, agaknya tamu-tamu yang datang bukan main banyaknya, di antara mereka entah adakah kenalan baiknya?
Nyo Thian dan Lu Di entah datang juga?
Sedikitpun Ting Hun-pin tidak tahu.
Musik mulai kumandang di ruang depan menyambut keluarnya mempelai perempuan untuk sembahyang pada langit dan bumi, pengantin pria malah sudah menunggu.
Tapi Ting Hun-pin tetap tidak bergerak meski pengiring pengantin sudah mendesaknya berulang kali.
Apakah Kek Pin menghilang untuk mencari Yap Kay?
Apakah Yap Kay belum mati?
Hatinya seperti diiris-iris.
Ting Hun-pin menekan gejolak hatinya, sekarang dia pantang mengucurkan air mata.
Hal ini memang dia lakukan atas kesadaran dan kerelaannya sendiri.
Kwe Ting adalah laki-laki baik, seorang laki-laki sejati, cintanya mungkin jauh lebih besar dan murni dibanding cinta Yap Kay terhadapnya.
Selama ini sikap Yap Kay kadang panas kadang dingin, acuh tak acuh seperti orang munafik.
Apalagi Kwe Ting pernah menolong jiwanya.
Demi membalas budi kebaikan orang dia rela kawin sama orang, hal ini bukan terjadi pada dirinya sendiri.
Demikian dia menghibur dan membujuk dirinya sendiri, namun tak urung dalam hati dia tetap bertanya.
"Apakah tindakanku ini benar atau salah?"
Soal ini selamanya takkan ada orang yang bisa menjawab.
Suara musik semakin cepat, beberapa kali orang di luar berdiri masuk mendesak supaya mempelai perempuan lekas keluar.
Akhirnya Ting Hun-pin berdiri, seolah-olah dia harus kerahkan setaker tenaganya untuk bangkit berdiri.
Pengiringnya segera menutup mukanya dengan selembar sapu tangan merah, dua orang memapahnya, pelan-pelan berjalan keluar.
Lewat serambi panjang menuju ke pekarangan terus masuk ke ruang upacara, ruang perjamuan.
Suara di sini amat ramai dan ribut, berbagai suara campur aduk.
Dengan pikiran kalut akhirnya Ting Hun-pin bersanding di samping Kwe Ting.
Terdengar protokol upacara sudah mulai berseru lantang.
"Hormat pertama kepada langit dan bumi."
Baru saja para pengiring hendak memapahnya berlutut, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget, disusul suara lambaian pakaian yang menderu ke depannya.
Apakah Lamkiong Long?
Seketika terbayang oleh Ting Hun-pin gambar lukisan itu.
Tanpa hiraukan segalanya, tiba-tiba dia angkat tangan menyingkap kain merah penutup mukanya.
Segera dia melihat satu orang laki-laki berpakaian hitam menyoren pedang, mukanya pucat memutih, seperti setan gentayangan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Orang ini berdiri tegak dihadapannya, tangannya menjinjing sebuah kotak persegi dari kayu cendana.
Laki-laki baju kuning yang berjaga di empat jurusan sudah siap merubung, muka Kwe Ting pun sudah berubah.
Ting Hun-pin menjengek dingin.
"Lamkiong Long, aku tahu kau memang pasti datang."
Laki-laki baju hitam geleng-geleng, katanya.
"Aku bukan Lamkiong Long!."
"Kau bukan? Kau siapa?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Aku mengantar kado."
"Kenapa sampai sekarang baru di antar kemari?"
"Walaupun agak terlambat, namun lebih mending daripada tidak ku antar."
Mengawasi kotak cendana di tangan orang, Ting Hun-pin bertanya.
"Itukah kado yang kau antar?"
Laki-laki baju hitam manggut-manggut, sebelah tangan mengangkat kotak kayu, tangan yang lain membuka tutupnya.
Dua pengiring pengantin yang berdiri di samping Ting Hun-pin mendadak menjerit keras, terus jatuh semaput.
Ting Hun-pin sudah melihat jelas barang apa yang berada di dalam kotak kayu itu.
Kado yang dibawa laki-laki baju hitam ini ternyata adalah batok kepala yang berlepotan darah.
Batok kepala siapakah?
Seketika pucat muka Ting Hun-pin.
Laki-laki baju hitam menatapnya, katanya tawar.
"Kalau kau kira kado yang ku antar ini mengandung maksud jahat, maka kau salah."
Ting Hun-pin menyeringai dingin.
"Memangnya kau bermaksud baik?"
"Bukan saja bermaksud baik, malah aku tanggung, tamu-tamu yang hadir hari ini, pasti takkan ada yang memberikan kado lebih berharga dari kadoku ini."
Ujar laki-laki baju hitam, lalu dia menuding batok kepala dalam kotaknya itu.
"karena kalau orang ini tidak mampus, mungkin kalian berdua takkan bisa menikmati malam pertama dari pernikahan kalian malam ini dengan tentram."
"Siapakah orang ini?"
"Orang yang hendak memenggal kepala kalian."
"Lamkiong Long maksudmu?"
Jerit Ting Hun-pin.
"Benar! Dia adanya."
"Lalu, kau siapa?"
"Sebetulnya akupun masih Lamkiong Long."
"Sekarang?"
"Sekarang aku adalah tamu yang sudah memberikan kado dan ingin menikmati makan minum dalam perjamuan kawin ini."
Di dalam ruang perjamuan ini penuh sesak berjubel-jubel banyak orang berbagai ragam dan corak, di antara gerombolan orang banyak, tiba-tiba kumandang sebuah suara nyaring menusuk pendengaran berkata.
"Datang ikut perjamuan dengan mengenakan kedok muka, ku kira kau takkan leluasa makan minum."
Muka laki-laki baju hitam tetap tidak mengunjuk perubahan mimiknya, namun kedua biji matanya memicing beringas, bentaknya bengis.
"Siapa itu?"
Suara itu berkata dingin.
"Selamanya kau tidak akan tahu siapa aku, sebaliknya aku tahu jelas kau justru adalah Lamkiong Long."
Sekonyong-konyong laki-laki baju hitam turun tangan, kotak kayu bersama batok kepala itu dia keprukkan ke atas kepala Ting Hun-pin, pedang yang dipanggulnya sudah terlolos keluar, sinar pedang berkelebat tahu-tahu menusuk ke dada Kwe Ting.
Perubahan ini teramat cepat, namun serangan tusukan pedangnya itu lebih cepat lagi.
Bahwa Kwe Ting bisa berdiri sudah terlalu dipaksakan, mana mungkin bisa meluputkan diri dari tusukan pedang yang hebat ini.
Ting Hun-pin pun hanya melongo saja mengawasi.
Siapa yang takkan terkesima bila batok kepala orang yang berlepotan darah tahu-tahu dikeprukkan ke atas kepalamu.
Waktu dia berkelit, ujung pedang orang sudah terpaut satu kaki di depan dada Kwe Ting.
Andaikata dia membekal kelinting mautnya yang lihay, itupun belum tentu sempat memberi pertolongan, apalagi sebagai seorang pengantin, sudah tentu dia pantang membawa senjata tajam.
Keadaan demikian gawat, hampir tiada orang di sekitarnya yang mampu memberikan pertolongan.
Pada detik-detik yang kritis itulah mendadak selarik sinar pisau berkelebat.
Sinar pisau yang kemilau lebih cepat menyambar daripada kilat, lebih cemerlang dari sambaran geledek, seakan-akan melesat masuk dari arah jendela sebelah kiri.
Begitu sinar pisau berkelebat, badan Ting Hun-pin segera melejit ke sana, dia tinggalkan para tamu yang penuh sesak memenuhi ruang perjamuan, meninggalkan Kwe Ting yang terancam tusukan pedang, meninggalkan segalanya.
Soalnya dia yakin benar bahwa sambaran sinar pisau itu pasti berhasil menolong jiwa Kwe Ting.
Orang baju hitam itu pasti dapat dipukul mundur, kalau tidak pasti binasa, atau terluka.
Itulah pisau lambang pertolongan.
Tak terhitung banyaknya jiwa manusia yang tertolong oleh pisau ini.
Dia tahu jelas hanya satu orang dalam dunia ini yang bisa menimpukkan pisau terbang seperti itu.
Hanya satu orang.
Dia tidak bisa tinggal diam membiarkan orang ini pergi begitu saja, umpama dia harus mati, diapun harus melihatnya penghabisan kali.
ooo)dw(ooo Malam sudah larut.
Hanya beberapa bintang yang tersebar di cakrawala masih memancarkan sinarnya yang guram.
Lapat-lapat di kejauhan tampak sesosok bayangan orang berkelebat.
Segera Ting Hun-pin tancap gas mengejar dengan setaker tenaga dan seluruh kecepatan larinya, namun orang itu lebih cepat lagi.
Baru saja dia menerobos keluar jendela, bayangan orang itu sudah puluhan tombak jauhnya.
Tapi dia tidak putus asa, dia tahu dirinya takkan bisa mengejarnya, namun dia tetap mengudak.
Dia sudah kerahkan seluruh tenaganya.
Cepat sekali dia sudah kehilangan jejak orang yang dikejarnya, hanya tabir malam yang menyambut kedatangannya.
Di ujung jalan melintang sana ada sebuah biara pemujaan, di sana masih kelihatan sebuah pelita menyala.
Mendadak dia menghentikan langkah di depan biara serta berteriak sekeras-kerasnya.
"Yap Kay, aku tahu kaulah! Aku tahu kau belum pergi jauh! Kau pasti mendengar suaraku!"
Malam nan gelap sunyi senyap tak terdengar suara apapun, hanya bunyi daun pohon saja yang keresekan di hembus angin lalu.
"Perduli kau sudi tidak keluar menemui aku, kau harus mendengar habis apa yang ingin kulimpahkan."
Dengan gigit bibir, dia menahan air mata.
"Aku tak pernah berbuat salah terhadapmu, jikalau kau tidak sudi menemui aku, akupun tidak menyalahkan kau, tapi....... tapi boleh mati di hadapanmu."
Mendadak sekuat tenaga dia sobek pakaiannya, terpampanglah dadanya yang montok kenyal dihembus angin malam nan dingin. Badannya gemetar karena kedinginan dan menahan emosi.
"Aku tahu mungkin kau tidak percaya kepadaku lagi, aku tahu............. tapi kali ini, aku ingin mati di hadapanmu."
Diulurkannya tangannya yang gemetar, dan dari atas sanggul kepalanya, dia meraih sebuah tusuk kondai.
Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dia tusukkan tusuk kondai ke ulu hatinya sendiri.
Dia benar-benar ingin mati.
Tusuk kondai emas itu sudah menusuk dadanya, darah sudah muncrat keluar.
Pada saat itulah dari kegelapan sana tiba-tiba menubruk keluar sesosok bayangan seenteng asap secepat kilat menangkap tangannya.
'Ting...' tusuk kondai itu jatuh berkerontangan.
Darah segar nan merah menyolok mengalir membasahi dadanya yang halus putih.
Akhirnya dia berhadapan dengan laki-laki yang selalu dia impi-impikan, sampai matipun takkan bisa dia lupakan.
Akhirnya dia berhadapan dengan Yap Kay.
Sinar bintang yang pudar menyinari muka Yap Kay yang tak banyak berubah, sorot matanya masih cemerlang, ujung mulutnya masih menyungging senyum manis.
Tapi jikalau kau menegasi lebih lanjut, sorot matanya bersinar karena berkaca-kaca air mata.
Walau dia masih tersenyum, namun senyum nan syahdu, senyuman rawan dan pilu.
"Tak perlu kau berbuat demikian,"
Katanya pelan dan lembut.
"kenapa kau harus menyakiti badanmu sendiri."
Ting Hun-pin mendelong, mengawasinya dengan termangu-mangu, badannya lunglai. Agaknya Yap Kay pun tengah menekan emosinya, katanya tertekan.
"Aku tahu kau tidak bersalah terhadapku, akulah yang bersalah."
"Aku........."
"Apapun tak perlu kau katakan lagi, apapun yang terjadi aku sudah tahu seluruhnya."
"Kau........kau benar-benar tahu?"
"Kalau aku jadi kau, akupun pasti berbuat demikian. Kwe Ting adalah pemuda yang punya masa depan, seorang yang baik, sudah tentu kau tidak akan berpeluk tangan melihat dia mati karena dirimu."
"Tapi aku............"
Ting Hun-pin tak kuasa meneruskan ucapannya, air matanya bercucuran deras.
"Kau adalah gadis bajik, bijaksana, kau tahu hanya berbuat demikian, baru kau bisa mempertahankan jiwa Kwe Ting."
Yap Kay menghela napas.
"seseorang bila dia sendiri sudah tidak ingin hidup, tiada tabib lihay di dunia ini yang bisa menolongnya, demikian pula Kek Pin takkan bisa mengobatinya."
Dia memang memahami Kwe Ting, lebih menyelami jiwa Ting Hun-pin.
Tiada sesuatu dalam dunia ini yang bernilai lebih tinggi daripada simpati dan memahami jiwa orang lain.
Seperti bocah yang kesedihan mendengar wejangan orang tuanya, saking haru Ting Hun-pin mendekap dada Yap Kay, pecahlah tangisnya yang tergerung-gerung.
Yap Kay dia saja.
Dia tatap orang menangis sepuas hati.
Menangis merupakan pelampiasan.
Biarlah rasa haru, sedih dan penasaran hatinya lenyap tak berbekas mengikuti cucuran air matanya.
Entah berapa lamanya, isak tangis kepedihan akhirnya berakhir, baru pelan-pelan Yap Kay mendorongnya.
"Kau harus segera kembali."
"Kau suruh aku kembali? Kembali kemana?"
"Kembali ke tempat semula,"
Bujuk Yap Kay.
"mereka tentu menunggumu dengan gelisah."
Tiba-tiba bergidik dingin badan Ting Hun-pin, katanya.
"Kau.........kau ingin aku pulang menikah dengan Kwe Ting?"
"Kau tidak bisa meninggalkan dia begitu saja."
Yap Kay mengeraskan hatinya.
"kaupun harus tahu, jikalau kau tinggal pergi begini saja, dia pasti takkan bertahan hidup lebih lama."
Tidak bisa tidak Ting Hun-pin harus mengakui, bahwa Kwe Ting kuat bertahan hidup sejauh itu adalah lantaran dirinya. Jantung Yap Kay seperti mengejang, katanya.
"Jikalau Kwe Ting benar-benar mati, bukan saja aku takkan bisa mengampuni kau, kau sendiri selamanya pasti tidak akan memaafkan dirimu."
Sampai di sini dia tidak bicara lagi, dia tahu Ting Hun-pin pasti maklum maksud hatinya. Ting Hun-pin tunduk kepala, lama sekali baru dia bersuara pilu.
"Kalau aku kembali, lalu kau?"
"Aku akan tetap bertahan hidup,"
Yap Kay tertawa dipaksakan.
"kau tahu aku biasanya cukup tangguh."
"Apakah selanjutnya kita takkan bisa bertemu lagi?"
"Sudah tentu masih bisa bertemu,"
Ujar Yap Kay. Padahal jantungnya seperti ditusuk pisau. Pertama kali ini dia berbohong kepada orang, namun terpaksa dia harus berkata demikian.
"Setelah peristiwa ini, kita tetap akan bertemu lagi."
Tiba-tiba Ting Hun-pin angkat kepala menatapnya, katanya.
"Baik! Aku terima permintaanmu. Aku akan pulang, tapi kau harus berjanji satu hal kepadaku."
"Coba katakan!"
"Kalau urusan sudah selesai, aku tetap tak bisa menemukan kau, maka kau harus memberitahu kepadaku, di mana kau berada!"
Yap Kay menyingkir dari tatapan orang, katanya.
"Setelah tahu urusan menjadi lampau, tak perlu kau mencariku, aku akan menemui kalian."
"Jikalau aku bisa menyelesaikan semua persoalan dengan baik, Kwe Ting bisa hidup sehat dan tenteram, kau akan mencariku?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Apakah yang kau katakan memang benar, kau tidak akan menipu aku?"
"Tidak!"
Hancur hati Yap Kay.
Dia bicara tidak jujur, namun Ting Hun-pin percaya kepadanya.
Tapi sebagai laki-laki sejati, jikalau didesak oleh keadaan dan dipandang mana perlu, dia pasti akan rela mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan hidup orang lain.
Ting Hun-pin berkeputusan.
"Baik! Sekarang juga aku pulang. Aku percaya kepadamu."
"Aku......kelak pasti akan mencarimu."
Ting Hun-pin manggut-manggut.
Pelan-pelan dia membalik badan, seolah-olah dia tidak berani memandangnya lagi meski hanya sekali saja.
Dia kuatir hatinya bisa berubah, dengan tekanan perasaan hatinya, dia kerahkan tenaga untuk mengatakan selamat perpisahan.
"Kau pergilah!"
Ooo)dw(ooo Yap Kay sudah pergi.
Diapun tidak banyak bicara, dengan sisa tenaganya dia baru berhasil menekan emosinya.
Angin dingin laksana pisau menyongsong badannya.
Lama sekali dia berlari-lari.
Tiba-tiba dia membungkuk badannya terus muntah-muntah tak henti-hentinya.
Dalam pada itu, Ting Hun-pin juga sedang muntah-muntah, seluruh isi perutnyapun tumpah habis.
Tapi dia sudah bertekad jika Yap Kay belum mati, maka diapun takkan menikah dengan orang lain.
Bagaimanapun keadaannya, dia pasti takkan menikah dengan orang lain, umpama dia harus mati, dia tidak akan kawin dengan laki-laki lain kecuali Yap Kay.
Dia sudah berkeputusan untuk kembali menemui Kwe Ting, menjelaskan duduk persoalan, akan dia beritahu perasaan hatinya, penderitaan batinnya kepada Kwe Ting.
Jikalau Kwe Ting seorang jantan, dia pasti dapat menyelami hatinya, maka dia harus dan akan berdiri sendiri, bertahan hidup.
Dia yakin Kwe Ting betul-betul jantan, untuk ini dia yakin dan percaya akan usahanya pasti berhasil.
ooo)dw(ooo Ruang perjamuan di dalam hotel Hong-ping masih terang benderang disinari api lilin, suara seruling masih kedengaran mengalun halus.
Laki-laki baju hitam pasti sudah lari, Kwe Ting masih hidup, hadirin pasti sudah menunggu dirinya.
Begitu lompat turun dari wuwungan langsung Ting Hun-pin ke ruang perjamuan.
Tapi tiba-tiba dia berdiri kaku, terasa sekujur badan menjadi dingin membeku seperti tiba-tiba dia kejeblos ke jurang yang dalamnya ribuan tombak dan gelap gulita, seperti dirinya tiba-tiba terjatuh ke dalam neraka.
Keadaan ruang perjamuan yang ramai penuh sesak tadi, kini begitu menakutkan, jauh lebih mengerikan dari keadaan di neraka.
Kalau di neraka api menyala-nyala, asap apipun menyala merah seperti darah, demikian pula ruang pemujaan ini sekarangpun diliputi warna merah, tapi bukan lilin yang merah, bukan pakaian orang yang merah, tapi darah segar dan kental yang merah.
Orang-orang yang mengunjungi perkawinannya sudah roboh semua, bergelimpangan di antara ceceran darah.
Dalam ruang besar pemujaan ini tinggal seorang saja yang masih hidup, seseorang yang sedang meniup seruling.
Muka peniup seruling ini sudah pucat tak berdarah, matanya kaku mendelong, badannyapun mengejang, namun mulutnya masih meniup seruling.
Agaknya dia masih hidup, namun sudah kehilangan sukma.
Tiada orang bisa melukiskan bagaimana perasaan Ting Hun-pin mendengar irama seruling ini, malah orangpun takkan bisa membayangkannya.
Kwe Ting sudah tak bisa mendengar penjelasannya, mendengar keluhan batinnya, diapun rebah di antara ceceran darah, roboh berjajar dengan laki-laki baju hitam itu, demikian pula Ciangkui yang baik hati itu.
Ting Hun-pin tidak tega memandangnya lagi, hanya warna merah melulu yang terpancang di depan matanya, tiada pandangan lain yang bisa dilihatnya.
Siapakah yang turun tangan sekeji ini?
Apa pula tujuannya?
Dia sudah tak mampu memikirkan persoalan ini, tiba-tiba dia meloso jatuh, semaput.
ooo)dw(ooo Di kala Ting Hun-pin membuka mata pula, pertama-tama yang terlihat oleh matanya adalah peti kayu yang mengkilap dan terukir indah itu, Ban-po-siang (Peti berlaksa pusaka).
Laki-laki tua bertopi tinggi berbaju kasar itu tengah berdiri di pinggir ranjang, menatapnya tajam, sorot matanya diliputi rasa pilu dan kasihan.
Ting Hun-pin hendak meronta bangun, tapi Kek Pin lekas menekan pundaknya supaya dia berbaring lagi.
Ting Hun-pin tahu orang tua inilah yang menolong dirinya, akan tetapi..............
"Mana Kwe Ting? Kau tidak menolongnya?"
Kek Pin menggeleng dengan sedih katanya setelah menghela napas panjang.
"Aku terlambat datang."
Ting Hun-pin mendadak berteriak.
"Kau datang terlambat?..... Kenapa kau harus minggat?"
"Karena aku harus lekas-lekas mencari orang."
"Untuk apa kau mencari orang? Kenapa?" , suara Ting Hun-pin memekik kalap. Agaknya dia tak kuasa menahan emosinya, segalanya berantakan dan dia hampir hancur lebur. Setelah perasaannya rada tenang, baru Kek Pin berkata dengan nada tertekan.
"Karena aku harus mencari orang untuk menguasai dan mencegah peristiwa ini terjadi."
"Jadi sebelumnya kau sudah tahu bila peristiwa ini akan terjadi?"
"Setelah melihat bungkusan perhiasan permata dan melihat nama ke empat orang itu, aku segera tahu siapa mereka."
"Kau tahu siapa saja mereka itu?"
Kek Pin manggut-manggut.
"Siapakah mereka sebenarnya?"
"Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau."
Ting Hun-pin rebah pula dengan lemas seperti kepalanya di palu godam, bergerakpun tidak. Berkata Kek Pin pelan-pelan.
"Waktu itu tidak ku beber, hal ini lantaran aku kuatir setelah kalian tahu akan hal ini, bisa takut, gugup dan panik, aku tidak ingin mempengaruhi suasana gembira dari pernikahan kalian."
Pernikahan-pernikahan apakah jadinya. Ingin Ting Hun-pin berjingkrak pula, ingin berteriak, namun sedikitpun dia tidak punya tenaga.
"Dan lagi, akupun sudah melihat empat orang jubah kuning emas itu, kukira dengan adanya Kim-ci-pang yang mencampuri urusan ini, umpama benar Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau pun akan bertindak ragu-ragu dan melihat gelagat."
Namun lekas sekali Kek Pin menambahkan dengan menghela napas.
"Tapi tak terpikir olehku kejadian ini berubah di tengah jalan."
"Apakah kau kira Yap Kay akan melindungi kita secara diam-diam?"
Kek Pin manggut-manggut membenarkan.
"Maka kau tidak menduga bahwa Yap Kay akan lari pergi, tak mengira bahwa aku mengejarnya,"
Suara Ting Hun-pin amat lemah. Jazatnya seakan-akan sudah kosong melompong. Kata Kek Pin.
"Seharusnya aku bisa menduga dia akan tinggal pergi, karena dia tidak melihat lencana batu kemala itu, juga tidak tahu adanya perhiasan-perhiasan itu."
"Apakah kado perhiasan itu mempunyai maksud-maksud tertentu?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Ada saja."
"Apa maksudnya?"
"Perhiasan yang mereka antar itu pertanda untuk membeli jiwa."
"Membeli jiwa?"
Seru Ting Hun-pin mengkirik.
"Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau biasanya jarang turun tangan membunuh orang."
"Kenapa?"
"Karena mereka percaya adanya inkarnasi (penitisan kembali), roh-roh yang sudah berada di neraka akan menjelma pula ke badan manusia, maka selama hidup mereka tidak mau berhutang jiwa. Oleh karena itu, sebelum mereka turun tangan membunuh orang, mereka mengeluarkan imbalannya sebagai pembelian jiwa orang-orang yang hendak dibunuhnya."
"Darimana pula kau tahu, kalau aku pergi, Yap Kay pun pergi?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Ada orang yang memberitahu kepadaku."
"Siapa?"
"Orang yang meniup seruling itu."
"Dia saksikan sendiri peristiwa ini?"
Tanya Ting Hun-pin bergidik seram.
"Sejak mula sampai berakhir disampaikannya dengan jelas, kalau tidak kebetulan dia kebentur aku, mungkin seumur hidupnya dia akan menjadi linglung yang tak berguna lagi."
Siapapun menyaksikan tragedi yang menyeramkan ini, orang pasti akan ketakutan dan jatuh sakit.
"Diapun melihat muka asli dari Su-thoa-thian-ong itu?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Tidak!"
"Kenapa tidak?"
"Karena setiap kali melaksanakan dendam pembunuhnya, Su-thoa-thian-ong selalu mengenakan topeng malaikat iblis."
"Membalas dendam? Sakit hati siapa yang mereka balas?"
"Giok-siau!", sahut Kek Pin.
"bukankah Giok-siau mati di tangan Kwe Ting?" (Bersambung ke Jilid-13) Jilid-13
"Giok-siau adalah salah satu dari Su-thoa-thian-ong itu?"
"Dialah yang dijuluki Panjapana, Thian-ong asmara, raja langit yang cabul."
Terkepal kencang jari-jari Ting Hun-pin, namun badannya masih gemetar keras, katanya.
"Kwe Ting membunuh Giok-siau karena hendak menolong aku."
"Aku tahu!"
"Kalau aku tidak mengejar keluar, Yap Kay pun tidak akan pergi."
Ujar Ting Hun-pin menangis pula.
"Kalau Yap Kay tidak pergi, tragedi ini mungkin tidak akan terjadi."
Kek Pin geleng-geleng kepala, katanya.
"Jangan kau menyalahkan diri sendiri, semua ini memang sudah dalam rencana mereka."
Ting Hun-pin tidak mengerti.
"Laki-laki baju hitam itu bukan Lamkiong Long, aku kenal Lamkiong Long."
"Lalu siapa dia kalau bukan Lamkiong Long?"
Tanya Ting Hun-pin kaget.
"Diapun orang dari Mo Kau."
"Dia muncul mendadak, memang bermaksud memancing Yap Kay turun tangan?"
"Mereka memang sudah memperhitungkan dengan cermat, bahwa Yap Kay pasti akan menolong jiwa Kwe Ting, merekapun sudah menduga begitu jejak Yap Kay kelihatan, kau pasti akan mengejarnya keluar."
Sudah tentu merekapun sudah memperkirakan, bila Ting Hun-pin keluar, Yap Kay pasti menyingkir.
"Memang, sebelum Su-thoa-thian-ong menunjukkan aksinya, sebelumnya mereka sudah mengadakan persiapan dengan rencana yang rapi dan sempurna, oleh karena itu begitu mereka turun tangan, jarang gagal."
"Kalau demikian orang yang sengaja membongkar kedok muslihat laki-laki baju hitam itu sengaja mengatakan dia adalah Lamkiong Long, kemungkinan adalah salah satu Su-thoa-thian-ong."
"Ya, mungkin sekali!", ujar Kek Pin, tiba-tiba dia bertanya.
"Kau bisa tidak membedakan suaranya?"
Ting Hun-pin tidak bisa membedakan.
"Kurasa suara orang itu runcing dan tajam seperti jarum menusuk kuping."
"Masa kau tidak bisa membedakan dia laki-laki atau perempuan?"
"Jelas laki-laki."
"Seseorang bicara mengeluarkan suara dari tenggorokan,"
Demikian kata Kek Pin.
"laki-laki setelah tumbuh dewasa, suaranya akan menjadi kasar dan berat, oleh karena itu suara laki-laki biasanya lebih rendah, berat dan kasar serak."
Ting Hun-pin tidak tahu akan seluk beluk ini, belum pernah dia mendengar akan hal-hal seperti ini, tapi dia percaya sepenuhnya.
Karena dia tahu Kek Pin adalah seorang tabib sakti yang tiada bandingannya di kolong langit, mengenai ilmu tubuh manusia sudah tentu dia jauh lebih tahu dari orang biasa.
Apalagi dia pernah dengar, bahwa di dalam Mo Kau ada semacam ilmu, yang dapat merubah suara tenggorokan orang mengecil dan melengking tajam, berubah dari suara aslinya.
"Oleh karena itu, laki-laki yang normal, suara pembicaraannya tak menjadi tajam merinding, kecuali........."
"Kecuali dia bicara menggunakan suara palsu yang ditekan dari tenggorokan."
Kek Pin manggut-manggut.
"Coba kau pikirkan lagi, kenapa dia harus bicara dengan suara palsu?"
"Karena dia kuatir aku mengenali suaranya?"
"Karena aku pasti pernah melihatnya, pernah mendengar suaranya."
"Di antara orang-orang yang hadir memberi selamat pernikahan itu, ada berapa orang yang pernah kau lihat atau kau kenal sebelumnya?"
Ting Hun-pin tidak tahu.
"Yang terang aku tidak punya kesempatan untuk meneliti mereka."
Katanya gigit bibir.
"orang-orang yang sempat kulihat sekarang sudah terbunuh semua."
Tak tahan Kek Pin mengepal kedua tinjunya. Setiap langkah kerja Mo Kau yang sudah direncanakan, bukan saja amat teliti dan cermat, merekapun menggunakan cara yang keji.
"Tapi mereka masih meninggalkan sebuah sumber penyelidikan untuk kita."
Ujar Kek Pin setelah termenung sebentar.
"Sumber penyelidikan apa?"
"Orang utama yang pegang peranan di dalam melaksanakan kerja ini pasti hadir juga di dalam ruang perjamuan itu."
"Ya, pasti ada!", Ting Hun-pin memperkuat keyakinan ini.
"Orang yang waktu itu berada di ruang perjamuan dan kini masih hidup, maka dia itulah orangnya, atau biang keladi dari pembunuhan besar-besaran ini. Bukan mustahil pembunuhnya adalah Su-thoa-thian-ong."
Bercahaya biji mata Ting Hun-pin.
"Oleh karena itu bila kita bisa menyelidiki siapa saja orang-orang yang hadir di dalam ruang perjamuan, berhasil menemukan siapa-siapa yang sekarang masih hidup, maka kita akan segera tahu siapa sebetulnya Su-thoa-thian-ong itu."
Kek Pin manggut-manggut, namun sorot matanya tidak bercahaya, karena dia tahu persoalan ini bukan urusan yang gampang diselesaikan, untuk melaksanakan sungguh teramat sukar.
"Sayang sekali kita tidak tahu siapa saja tamu yang hadir di dalam ruang perjamuan dan tidak tahu siapa kiranya yang sekarang masih hidup."
"Paling tidak sekarang kita bisa mencari tahu lebih dulu, siapa-siapa saja yang pernah mengirim kado? Lalu siapa saja yang sudah meninggal."
Sekarang berkilat biji mata Kek Pin.
"Nama-nama dan kado yang kita terima ada catatannya di dalam buku daftar tamu."
"Lalu dimanakah buku catatan itu?"
"Tentunya masih berada di dalam hotel Hong-ping."
"Cuaca belum terang, mayat-mayat itu pasti masih berada di ruang perjamuan."
"Tempat apa ini, di mana letaknya?"
"Suatu tempat yang tidak jauh dari hotel Hong-ping."
Ting Hun-pin segera berjingkrak bangun, serunya.
"Apa lagi yang kita tunggu?"
Mengawasi orang, sorot mata Kek Pin menunjuk kekuatiran, pukulan batin yang dialami gadis ini bertubi-tubi dan teramat berat, kalau kini kembali pula ke tempat pembunuhan yang seram itu, melihat mayat-mayat dan darah yang berceceran, kemungkinan bisa menjadi gila.
Ingin dia membujuknya supaya istirahat, namun belum sempat dia buka bicara, Ting Hun-pin sudah menerjang keluar.
Gadis ini ternyata jauh lebih kuat dan keras dari apa yang dia kira semula.
ooo)dw(ooo Ruang perjamuan itu sudah kosong melompong, tanpa seorangpun, sesosok mayatpun tiada lagi.
Kekuatiran Kek Pin atas Ting Hun-pin ternyata berkelebihan, baru saja dia tiba di hotel Hong-ping, lantas didapatinya seluruh mayat-mayat yang bergelimpangan itu sudah diangkut bersih.
Hotel sebesar itu sudah kosong tanpa dihuni seorangpun, demikian pula kado-kado itu sudah lenyap seluruhnya, sudah tentu buku catatan itupun sudah lenyap.
Ting Hun-pin menjublek di pinggir pintu.
Malam sudah berlarut, mereka belum lama meninggalkan tempat ini, tindak tanduk pihak Ma Kau sungguh teramat cepat dan menakutkan.
Tiba-tiba Kek Pin bertanya.
"Kado pertama yang dikirim Su-thoa-thian-ong itu, bukankah berada di kamar kasir juga?"
Ting Hun-pin manggut-manggut.
"Kalau demikian yang mengadakan pembersihan ini pasti bukan kawanan Mo Kau."
"Darimana kau bisa berkesimpulan demikian?"
"Karena permata itu mereka kirim kemari untuk membeli jiwa para korban, jiwa-jiwa para korban sudah mereka beli, tak mungkin permata itu mereka ambil kembali."
"Oleh karena itu mayat-mayat itu pasti bukan mereka yang menyingkirkan."
"Pasti bukan kerja orang-orang Mo Kau."
"Lalu siapa kalau bukan mereka? Kecuali mereka, siapa pula yang punya kecepatan kerja?"
Untuk menguras semua kado dan mayat-mayat itu bukanlah suatu kerja enteng dan gampang.
Apalagi apa gunanya mereka mengangkut mayat-mayat itu?
Ting Hun-pin tidak habis mengerti.
Kek Pin pun tidak mengerti.
Angin malam menghembus dari luar jendela, tiba-tiba Ting Hun-pin bergidik kedinginan.
Sayup-sayup didengarnya irama seruling yang mengalun, terbawa angin lalu.
Suara seruling yang merdu menyedihkan.
Seketika teringat oleh Ting Hun-pin akan peniup seruling yang bermuka pucat kaku itu.
Tak tertahan dia bertanya.
"Tadi kau tidak membawanya menyingkir?"
Kek Pin geleng-geleng.
"Kenapa dia tetap tinggal di sini?"
Ujar Ting Hun-pin.
"apa pula yang dilihatnya?"
Kek Pin dan Ting Hun-pin serentak menerobos keluar jendela, mereka tahu hanya peniup seruling ini saja yang mungkin bisa menjawab pertanyaan mereka.
Mereka harus menemukan peniup seruling ini.
ooo)dw(ooo Tiada orang.
Orang mati atau orang hidup sudah tiada lagi.
Kemanakah peniup seruling itu?
Suara seruling seperti kumandang terbawa hembusan angin, kedengarannya dekat sekali, namun tahu-tahu seperti berada di tempat jauh.
Waktu mereka di dalam rumah, suara seruling itu sudah terdengar di luar tembok.
Tabir malam di luar tembok amat gelap pekat.
Mereka melompati pagar tembok yang penuh dilumuri salju.
Di tengah kegelapan malam yang tak berujung pangkal, tampak hanya setitik sinar pelita yang kelap-kelip seperti api setan.
Di bawah pelita samar-samar seperti ada sesosok bayangan orang tengah meniup seruling.
Siapa orang itu?
Apakah peniup seruling tadi?
Kenapa seorang diri meniup seruling di bawah pelita gantung?
Mungkinkah sengaja menunggu mereka?
Malam seseram ini, dia masih seorang diri berada di tempat ini, apa pula tujuannya?
Semua pertanyaan ini hanya dia seorang yang bisa menjawabnya.
Pelita itu tergantung pada sebatang dahan pohon yang kering, kontal-kantil dihembus angin lalu.
Masih segar dalam ingatan Ting Hun-pin, lampion ini semula tergantung di luar pintu hotel Hong-ping untuk menyambut kedatangan para tamu.
Tapi dia belum melihat jelas orang itu.
Ingin dia memburu ke sana, namun Kek Pin segera menariknya, terasakan olehnya telapak tangan orang tua ini dingin berkeringat.
Seseorang yang mulai menanjak tua usianya, semakin mendekati kematian, kenapa nyalinya semakin kecil?
Kenapa semakin takut mati?
Dengan kertak gigi Ting Hun-pin berkata menekan suaranya.
"Kau pulanglah dulu ke hotel, biar aku saja yang memeriksanya ke sana."
Kek Pin menghela napas. Dia tahu orang salah paham akan maksudnya, bukan dia menguatirkan keselamatan dirinya, namun dia menguatirkan keselamatan jiwa Ting Hun-pin malah.
"Aku sudah berusia lanjut, tiada yang perlu kutakuti, hanya............."
"Aku tahu maksudmu,"
Tukas Ting Hun-pin.
"tapi aku harus kesana."
Suara seruling tiba-tiba terputus dan berhenti. Di kegelapan tiba-tiba terdengar seseorang berkata dingin.
"Aku tahu kalian sedang mencariku, kenapa tidak lekas kalian kemari?"
Suara itu tajam meruncing dari ujung jarum sampai rasanya menusuk kuping.
Basah telapak tangan Ting Hun-pin oleh keringat dingin.
Dia pernah mendengar suara ini, meski hanya sekali, selamanya dia tidak akan melupakannya.
Apakah dia ini salah satu dari Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau?
Berubah muka Kek Pin, tanyanya dengan suara lirih.
"Siapakah kau sebetulnya?"
Seseorang tertawa dingin di bawah lampu, katanya.
"Kenapa tidak kau kemari untuk menyaksikan siapa aku sebenarnya?"
Ting Hun-pin memang hendak maju mendekat, walau tahu bahayanya besar, mungkin jiwa bisa melayang juga tidak terpikir lagi olehnya, dia tetap akan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Tapi Kek Pin tetap menggenggam erat tangannya, katanya lebih dulu.
"Cepat atau lambat aku akhirnya akan tahu siapa dia, aku tidak perlu tergesa-gesa."
"Tapi aku perlu segera tahu."
Sela Ting Hun-pin.
Mendadak dia membalik badan menumbuk ke belakang serta menyodok dengan sikutnya ke tulang rusuk Kek Pin, dan tahu-tahu dia sudah menubruk ke sana.
Tak nyana lampu itu tiba-tiba padam.
Alam semesta menjadi gelap gulita.
Tapi Ting-hun-pin sudah menerjang ke muka orang itu, sudah melihat jelas muka orang itu.
Itulah seraut wajah yang sudah mengkerut, matanya yang melotot keluar menandakan ketakutan dan kaget, seperti mata ikan mas menatap kepada Ting Hun-pin.
Ting Hun-pin pernah melihat muka ini, pernah berhadapan dengan orang ini.
Dialah laki-laki peniup seruling yang menjadi gila karena ketakutan berdiri di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di ruang perjamuan.
Satu-satunya orang yang masih hidup di dalam perjamuan itu.
Apakah dia ini pembunuh dari sekian banyak kurban itu?
Terkepal kencang tinju Ting Hun-pin, tiba-tiba dilihatnya setetes darah segar telah mengalir keluar dari ujung mata orang, mengalir membasahi muka orang yang memutih pucat.
Angin malam nan dingin membuat dia bergidik kedinginan dan seram.
Tiba-tiba didapatinya bahwa orang ini ternyata sudah putus nyawa.
Orang mati mana bisa bicara?
Mana mungkin bisa meniup seruling?
Kini tangannya tidak memegang seruling lagi, lalu darimana datangnya suara seruling tadi?
Ting Hun-pin menyurut mundur selangkah.
Baru dua langkah mendadak sebuah tangan terulur keluar, secepat kilat sudah menggenggam tangannya.
Tangan yang dingin seperti es, dingin kaku.
Orang mati mana bisa menggerakkan tangan?
Seketika sekujur badan Ting Hun-pin ikut dingin, hampir saja dia kelenger, namun dia tidak semaput, karena didapatinya tangan yang menangkap pergelangannya ini terulur keluar dari balik mayat peniup seruling ini.
Tapi tangan itu sungguh teramat dingin, lebih dingin dari mayat manusia.
Dingin dan keras, lebih keras dari besi.
Ting Hun-pin sudah kerahkan setaker tenaganya, namun dia tidak berhasil meronta lepas.
Maka kumandang pula suara runcing tajam itu dari balik mayat peniup seruling.
"Apakah kau benar-benar ingin melihat siapa aku sebenarnya?"
Ting Hun-pin gigit bibir, bibirnya sampai pecah dan berdarah.
"Jikalau kau tahu siapa aku, maka kau harus mampus,"
Genggaman orang itu semakin kencang.
"sekarang kau tetap ingin melihat aku?"
Mendadak Ting Hun-pin manggut-manggut dengan sekuat tenaganya.
Dalam keadaan seperti ini matipun sudah tidak dia takuti lagi.
Dia awasi tangan itu, meski di malam gelap, namun tangan itu memancarkan sinar mengkilap seperti logam.
Lengan baju orang kelihatan berwarna hijau tua, bagian atas disulami sebuah puncak gunung yang menghijau.
Itulah Putala Thian-ong, lambang dari puncak tunggal.
Serasa hampir membeku jantung Ting Hun-pin, dia malah mengharap yang dihadapinya ini adalah setan.
Memang, didalam pandangan setiap insan persilatan, Su-thoa-thian-ong dari Mo Kau dipandangnya sebagai gembong iblis yang lebih menakutkan dari setan jahat.
Dia tidak takut mati, tapi dia insaf, seseorang yang terjatuh ke tangan orang-orang Mo Kau, maka pengalamannya pasti amat menakutkan, amat mengerikan.
Dari tangan orang, dia melihat lengan bajunya terus naik ke atas, akhirnya dia melihat mukanya.
Itulah seraut muka orang yang kaku dingin tak ubahnya seperti mayat hidup.
Dalam pandangan Ting Hun-pin, muka ini jauh lebih menakutkan dari muka orang mati biasa.
Akhirnya dia berteriak juga.
"Kiranya kau!"
"Kau tidak mengira kalau aku?"
"Kau......kau adalah Putala?"
"Benar! Putala adalah aku, itulah raja puncak tunggal yang tingginya tak bisa dijajaki, bertengger tinggi menembus mega, siapapun yang melihat muka asliku, hanya ada dua jalan bisa dia pilih."
"Dua jalan? Kecuali mati, kiranya masih ada jalan lain?"
"Kau tidak perlu harus mati, asal kau mau masuk jadi anggota Mo Kau. Hanya orang kita sendiri yang selamanya boleh bertahan hidup."
"Bertahan hidup untuk selamanya?"
Ting Hun-pin mengejek dingin.
"sedikitnya aku pernah melihat tujuh delapan puluh orang-orang Mo Kau kalian yang mati dipenggal kepalanya seperti orang menggorok leher anjing liar."
"Umpama benar mereka mati, mereka mati dengan gembira."
"Gembira? Apanya yang dibuat gembira?"
"Karena orang-orang yang membunuh mereka juga sudah mempertaruhkan imbalannya."
Terbayang akan mayat-mayat yang bergelimpangan di perjamuan itu, hampir saja Ting Hun-pin muntah-muntah. Berkata Putala atau Hu-hong Thian-ong.
"Sekarang kau memang hidup, namun hidup tidak lebih baik daripada mati, namun asal kau mau masuk Mo Kau, perduli kau mati atau hidup, takkan ada orang berani menganiaya kau."
Ting Hun-pin kertak gigi, bujukan ini agaknya sudah melembekkan hatinya.
Belakangan ini pukulan lahir batin yang menimpa dirinya memang teramat banyak.
Sambil mengawasinya, Hu-hong (Puncak gunung) menampilkan sorot menghina dan mencemoohkan, katanya dingin.
"Aku tahu! Kau bukan ingin mati betul-betul, tiada orang yang ingin mati."
Ting Hun-pin tunduk kepala.
Dia masih muda, belum pernah menikmati kehidupan kaum remaja yang benar-benar nikmat, kenapa dia harus mati semuda ini?.
Seorang gadis yang sudah kenyang dianiaya, menderita dan disiksa, kalau ada kesempatan untuk menyiksa dan menganiaya orang lain, bukankah hal ini cukup mengenyangkan?.
Bujuk rayu ini sungguh teramat besar pengaruhnya.
Memang tidak banyak gadis yang bisa menolak bujukan halus ini, apalagi Ting Hun-pin memang gadis yang suka menang dan membawa adatnya sendiri.
Sudah tentu Hu-hong Thian-ong tahu akan dirinya ini, katanya tawar.
"Tiada jeleknya kau mempertimbangkannya, hanya aku memperingatkan dua hal kepadamu."
Ting Hun-pin tengah mendengarkan.
"Untuk masuk Mo Kau, bukan suatu hal yang gampang, kau punya kesempatan sebaik ini, sungguh merupakan keberuntunganmu."
Lalu dengan suara kalem Hu-hong Thian-ong menambahkan.
"soalnya Mo Kau kita belakangan ini kembali membuka pintu menegakkan dan menyebarkan ajaran kita. Kalau kau sia-siakan kesempatan baik ini, kelak kau akan menyesal seumur hidup."
Tiba-tiba Ting Hun-pin bertanya.
"Apakah kau ingin aku mengangkat guru kepadamu?"
Sombong sekali sikap Hu-hong Thian-ong, katanya.
"Bisa menjadi muridku, merupakan keberuntungan yang terbesar bagi dirimu."
"Apakah aku berguna bagi kau?"
Tanya Ting Hun-pin. Hu-hong Thian-ong tidak menyangkal.
"Apa gunanya aku ini bagi dirimu?"
"Kelak kau tentu akan tahu sendiri."
"Sekarang......"
Hu-hong Thian-ong menukas.
"Kau berguna bagi diriku, aku lebih berguna bagi dirimu. Di antara sesama manusia, memangnya satu sama lain saling memperalat diri, justru kau mempunyai harga diri untuk diperalat orang lain, maka kau masih tetap hidup sampai sekarang."
Ting Hun-pin ragu-ragu, tanyanya.
"Katamu kau masih hendak memperingatkan suatu hal kepadaku?"
"Tak usah kau tunggu Kek Pin untuk menolongmu, dia tidak akan menolongmu, dia tidak akan berani."
"Kenapa?"
"Karena diapun murid anggota Mo Kau kita. Beberapa tahun yang lalu dia sudah masuk Mo Kau."
Ting Hun-pin mendelik.
"Kau tidak percaya?"
Memang Ting Hun-pin tidak percaya.
Walau lama dia kenal Kek Pin, namun biasanya dia amat patuh dan hormat kepada orang lain, karena dia tahu Kek Pin adalah teman baik Yap Kay, seorang cerdik pandai yang serba bisa, namun juga tinggi hati.
Sekali-kali dia tidak akan mau percaya bahwa teman baik Yap Kay, ternyata adalah manusia bermartabat rendah dan hina dina.
Tapi kenyataan Kek Pin memang maju menghampiri, lurus tangan kepala tunduk, berdiri di samping Hu-hong, seperti budak berdiri di samping majikannya.
Mencelos dan putus asa hati Ting Hun-pin.
"Sekarang kau percaya tidak?" , tanya Hu-hong Thian-ong. Walau Ting Hun-pin dipaksa untuk percaya kepada kenyataan, tak urung dia masih bertanya kepada Kek Pin.
"Apa benar kau murid anggota Mo Kau?"
Ternyata Kek Pin mengakui. Terkepal jari-jari Ting Hun-pin, katanya tertawa dingin.
"Kukira selama ini kau amat memperhatikan keselamatanku, membantuku, ku anggap kau adalah teman baik. Tak nyana kau adalah manusia rendah yang tidak tahu malu."
Muka Kek Pin tidak menunjukkan perubahan apa-apa, seperti orang tuli saja.
"Tahukah kau biasanya aku amat menghormati dan menyeganimu, bukan saja mengagumi ilmu pengobatanmu, akupun menghormatimu sebagai seorang kuncu. Kenapa kau rela menjebloskan diri ke dalam dunia nista ini?"
"Masuk anggota Mo Kau bukan masuk ke dunia nista."
Sentak Hu-hong Thian-ong.
"Baiklah!,"
Ujar Ting Hun-pin menghela napas panjang.
"baik sekali, lekaslah kau bunuh aku."
"Kau sudah berkeputusan dan rela mati?"
Ting Hun-pin mengiyakan.
"Kenapa?"
Kelihatannya Hu-hong Thian-ong amat heran. Ting Hun-pin beringas, teriaknya.
"Karena sekarang aku sudah tahu, siapapun asal dia masuk Mo Kau, maka dia akan menjadi manusia kerdil yang rendah martabat, hina dina dan malu dilihat orang."
Mengkeret kelopak mata Hu-hong Thian-ong, katanya kalem.
"Kau tidak ingin mempertimbangkan?"
"Tiada yang perlu kupertimbangkan."
Hu-hong Thian-ong menghela napas, tiba-tiba dia berseru heran.
"Kek Pin?"
"Apa?", Kek Pin segera menyahut.
"Agaknya baru saja kau yang menolong jiwanya?"
Ujar Hu-hong Thian-ong.
"Benar!", jawab Kek Pin.
"Maka kau tidak perlu membeli jiwanya lagi."
Kek Pin mengiyakan.
"Sekarang boleh kau merenggut jiwanya pula."
Sambil mengiyakan, kek Pin menurunkan Ban-po-siang dan Kan-kun-san.
Pelan-pelan dia tudingkan ke tengah alis Ting Hun-pin.
Kalau Ban-po-siang itu piranti menolong jiwa orang, sebaliknya Kan-kun-san khusus untuk membunuh orang, cepat dan telak.
Kek Pin sedikitpun tidak mirip seorang tua yang ayal-ayalan.
Dia jauh lebih mengerti dari kebanyakan orang di mana tempat berbahaya yang benar-benar merupakan titik mematikan di tubuh manusia.
Titik di tengah-tengah alis orang adalah salah satu tempat penting yang mematikan jiwa orang.
Tiada orang yang kuat menahan pukulan atau serangan.
Tapi Ting Hun-pin bukan saja tidak berusaha meluputkan diri malah menyongsong maju dengan tertawa dingin.
Dia tahu dirinya tidak akan bisa lolos.
Pergelangan tangannya masih digenggam erat oleh Hu-hong Thian-ong yang mempunyai jari-jari seperti jepitan besi.
Sementara itu ujung payung sengkala itu sudah menutuk ke jidatnya.
Dilihatnya sinar dingin berkelebat, tiba-tiba 'Trap...' suaranya lirih, seolah-olah ada dua batang jarum saling bentur.
Begitu cepat kejadian selanjutnya sampai dia tidak melihat jelas.
Dia hanya merasakan pegangan tangan Hu-hong Thian-ong yang keras laksana jepitan besi itu tiba-tiba terlepas, mendadak orangnya melambung tinggi bersalto di udara.
Kelihatannya diapun seperti melihat di kala badan Hu-hong Thian-ong mencelat naik itu, tangannya yang lain terulur menepuk ke punggung Kek Pin.
Tepukan ini cepat laksana samberan kilat.
Dia sendiripun tidak melihatnya jelas.
Yang menjadi kenyataan baginya bahwa Hu-hong Thian-ong tahu-tahu sudah menghilang pergi, sementara Kek Pin sudah roboh menggelepar di tanah.
Sedangkan dirinya masih tetap berdiri tak kurang suatu apa.
Sungguh dia tidak mengerti, apakah yang terjadi barusan?
Malam semakin larut, angin menghembus semakin kencang nan dingin, lampion yang sudah luntur warnanya itu masih kontal-kantil di atas dahan.
Demikian pula mayat peniup seruling itu masih bergoyang gontai tertiup angin di atas dahan pula.
Kek Pin rebah tengkurap dengan dengus napas tersengal-sengal berat seperti dengus sapi, terus batuk tak berhenti.
Setiap kali batuk darah menyembur dari mulutnya.
Waktu angin menghembus punggungnya, baju di bagian punggungnya tiba-tiba tertiup beterbangan seperti kupu-kupu terbang, tampak bekas tapak tangan membekas tepat di tengah punggungnya.
Tapak tangan warna merah darah.
Selamanya belum pernah Ting Hun-pin saksikan ilmu pukulan telapak tangan sehebat dan begini menakutkan, tapi akhirnya dia menyadari juga apa yang telah terjadi.
Dia masih hidup, masih berdiri segar bugar, karena Kek Pin bukan saja tidak membunuhnya, malah menolong jiwanya.
Menolong dirinya dengan menyerempet bahaya, dan sekarang orang malah tengah empas-empis meregang jiwa.
Budi besar pertolongan ini laksana jarum tajam menusuk ulu hatinya.
Perduli sedih atau haru dan terima kasih, sesuatu perasaan kalau terlampau panas, terlalu emosi, bisa juga berubah laksana tajamnya jarum mencocok jantung hati.
Lekas dia berjongkok memeluk Kek Pin, tak tertahan air matanya bercucuran, dia kehabisan akal dan tak tahu bagaimana dia harus memberi pertolongan kepada orang yang telah menyelamatkan jiwanya.
Dengan napas memburu, Kek Pin menahan batuknya, tiba-tiba berkata.
"Lekas...........buka peti itu."
Cepat Ting Hun-pin menarik petinya itu serta membukanya.
"Di dalam bukankah ada sebuah botol kayu warna hitam?" . Memang ada. Baru saja Ting Hun-pin menjemputnya, lekas-lekas Kek Pin merebutnya, langsung dia gigit putus leher botol itu, seluruh isi obat dalam botol itu dia tuang seluruhnya ke dalam mulut. Lambat-laun baru napasnya yang memburu mulai reda. Ting Hun-pin baru bisa menghela napas lega juga. Ban-po-siang, Kan-kun-san, raja akhiratpun kewalahan. Jikalau orang yang tak kuasa dikendalikan oleh raja akhirat tentunya takkan bisa mati. Kalau dia bisa menolong jiwa orang lain, sudah tentu bisa juga menolong jiwa sendiri. Akan tetapi rona muka Kek Pin kelihatan masih begitu mengerikan, sorot matanya yang cemerlang tadi sudah pudar, raut mukanya sekarang tidak akan lebih elok dari muka peniup seruling itu. Ting Hun-pin menjadi kuatir dan was-was, katanya.
"Bagaimana kalau ku papah kembali ke hotel?"
Kek Pin manggut-manggut. Baru saja hendak berdiri, tahu-tahu meloso jatuh pula, darah kembali menyembur dari mulutnya. Ting Hun-pin kertak gigi, katanya penuh kebencian.
"Kenapa dia begitu keji menurunkan tangan jahat?"
Tiba-tiba kek Pin tertawa-tawa, katanya.
"Karena akupun turun tangan jahat kepadanya."
Ting Hun-pin tidak tahu, bahwasanya dia tidak melihat kapan Kek Pin pernah turun tangan kepada Hu-hong Thianong.
"Cobalah kau periksa payungku,"
Kata Kek Pin.
"bagian garannya."
Baru sekarang ditemui oleh Ting Hun-pin, kiranya garan payung itu bolong bagian tengahnya.
Tepat pada ujungnya yang lancip masih terdapat sebuah lubang sebesar ujung jarum.
Akhirnya dia mengerti, tanyanya.
"Di dalam garan payung ini ada menyimpan senjata rahasia."
Kek Pin tengah tertawa, derita membuat tawanya kelihatan menyedihkan dari isak tangis.
"Bukan saja ada senjata gelap, malah senjata rahasia yang paling jahat di seluruh jagat."
Kan-kun-san atau Payung sengkala miliknya ini memang senjata piranti menghabisi jiwa orang.
"Waktu aku mengincar kau dengan ujung payungku, garan payung kebetulan tertuju kepadanya pula."
Demikian Kek Pin menerangkan. Ting Hun-pin sudah paham seluruhnya.
"Waktu kau menusukku dengan ujung payungmu, senjata rahasia yang berada di garannya lantas melesat keluar."
Kek Pin manggut-manggut, agaknya dia ingin tawa gelak-gelak.
"Mimpipun dia tidak akan mengira bahwa aku bakal turun tangan kepadanya, betapapun dia sudah kena tipuku."
Bercahaya sorot mata Ting Hun-pin, tanyanya.
"Dia terkena senjata rahasiamu?"
Kek Pin manggut-manggut, katanya.
"Oleh karena itu, walau pukulannya amat menakutkan, kitapun tidak perlu gentar terhadapnya."
Ooo)dw(ooo Dalam ruang perjamuan masih terdapat sebuah pelita yang memancarkan sinar remang-remang.
Memang seluruh hotel Hong-ping gelap pekat, hanya di sini saja yang masih ada penerangan, maka Ting Hun-pin terpaksa membawa Kek Pin kemari, di sini tiada ranjang, tapi banyak meja.
Ceceran darah sudah dibersihkan, dari kamar sebelah dia mendapatkan kemul tebal untuk mengemuli Kek Pin.
Muka Kek Pin masih pucat menakutkan, setiap kali batuk, darah lantas merembes dari ujung mulutnya.
Untung dia mempunyai Ban-po-siang, peti wasiat piranti menolong jiwa orang.
Melihat mimik orang yang menahan sakit, tak tega Ting Hun-pin, tanyanya.
"Adakah obat lain dalam peti untuk mengurangi rasa sakitmu?"
Kek Pin geleng-geleng, katanya tertawa getir.
"Obat untuk merenggut jiwa ada banyak macam, tapi obat yang benar-benar bisa menolong jiwa orang, biasanya hanya ada satu macam."
Ting Hun-pin tertawa dipaksakan.
"Apapun yang terjadi kau sudah berusaha menolong jiwaku."
Sekilas Kek Pin mengawasinya, pelan-pelan dia pejamkan mata, seperti hendak bicara, namun tidak jadi dia utarakan.
"Aku tahu kau akan lekas sembuh, karena kau memang orang baik." , kata Ting Hun-pin. Kek Pin tertawa. Namun Ting Hun-pin malah mengharap dia tidak tertawa, orang lain akan ikut merasakan penderitaannya bila melihat dia tertawa. Angin dingin terlalu keras di luar, lekas Ting Hun-pin tutup rapat semua jendela, namun angin dingin setajam pisau itu masih meniup masuk dari sela-sela pintu atau jendela. Tiba-tiba dia berkata.
"Kau tahu apa yang kupikirkan?"
"Kau ingin minum arak?" , Kek Pin balas bertanya. Ting Hun-pin tertawa, kali ini dia tertawa benar-benar, karena dia melihat di pojok ruangan masih menggeletak sebuah guci arak. Segera dia menjinjingnya sebuah lalu menepuk pecah sumbatnya. Bau arak amat wangi. Begitu mencium bau arak, seketika hati Ting Hun-pin seperti disayat-sayat. Arak ini sebenarnya disediakan untuk perjamuan pernikahannya. Dan sekarang? Apakah dia tega minum arak wangi ini? Terbayang Kwe Ting, teringat kepada Yap Kay dan ingat akan Han Tin yang pergi mencarikan arak buat Yap Kay. Sudah tentu diapun tidak tahu kalau Han Tin hakikatnya belum mati. Dia hanya tahu kalau dia tidak menusuk Yap Kay, maka Han Tin tidak akan mati. Diapun tahu jikalau bukan karena ilmu sihir dari Mo Kau, matipun dia tidak akan sudi menusuk Yap Kay.
"Mo Kau....."
Tiba-tiba tercetus pertanyaan dari mulutnya.
"kenapa orang-orang macam kalian juga sampai masuk Mo Kau?"
Sesaat Kek Pin menepekur, akhirnya dia menghela napas panjang, katanya tertawa getir.
"Justru karena aku ini orang macam beginian, maka aku bisa masuk Mo Kau."
"Jadi kau masuk secara sukarela?"
"Ya."
Sahut kek Pin.
"Aku tak habis mengerti,"
Ujar Ting Hun-pin.
"sungguh aku tidak mengerti."
"Mungkin karena kau belum tahu orang macam apa sebetulnya aku ini."
"Tapi aku tahu kau pasti bukan manusia jahat seperti mereka itu."
Lama sekali Kek Pin termenung-menung, katanya pelan-pelan.
"Aku belajar ilmu pengobatan, tujuanku hanya untuk menolong diriku, karena kutemui semua tabib-tabib kenamaan di dalam dunia ini, sembilan diantara sepuluh adalah orang-orang goblok."
"Aku tahu,"
Ujar Ting Hun-pin.
"Tapi belakangan aku belajar ilmu bukan untuk mengobati diriku sendiri, juga bukan untuk menolong orang lain."
"Jadi apa tujuanmu?"
"Belakangan aku terus memperdalam ilmu pengobatan karena aku boleh dikata sudah kesetanan."
Memang di dalam mempelajari atau mengerjakan sesuatu, kalau terlalu tekun dan tumplek seluruh perhatian, akhirnya orang jadi gila, orang akan kesetanan oleh pekerjaan atau ilmu yang dia pelajari.
"Oleh karena itu, maka kau lantas masuk jadi orang Mo Kau?"
"Di dalam Mo Kau memang banyak sekali ilmu-ilmu setan yang menakutkan untuk membunuh orang, namun banyak juga cara-cara rahasia yang serba aneh untuk menolong orang, umpamanya ilmu Sip-hun-tay-hoat (sebangsa ilmu sihir) mereka, jikalau digunakan secara halal, di waktu memberikan penyembuhan kepada pasien dapat menimbulkan hasil yang luar biasa yang tak pernah terduga sebelumnya."
"Tapi apa manfaatnya Sip-hun-tay-hoat mereka untuk penyembuhan sakit?"
Ting Hun-pin tetap tidak mengerti.
"Mengobati orang harus mengobati hatinya, kau paham maksudnya?"
Tanya Kek Pin.
"maksudnya tekad seseorang apakah teguh, kadang kala merupakan titik tolak untuk menentukan mati hidupnya."
Penjelasan ini bukan saja amat mendalam, juga masih terlalu baru bagi Ting Hun-pin yang tetap belum mengerti. Maka dia memberi penjelasan lebih lanjut.
"Itu berarti seseorang yang sakit keras, apakah dia kuat bertahan hidup lebih lanjut sedikitnya tergantung pada dia sendiri, apakah masih mempunyai tekad untuk hidup."
Ting Hun-pin baru mengerti, karena dia teringat akan cara yang pernah dia praktekkan sendiri.
Jikalau bukan dia yang membakar tekad hidup Kwe Ting, tak perlu dia dibunuh orang-orang Mo Kau, sejak lama dia sudah meninggal.
Hatinya seperti diiris-iris, tak tertahan dia angkat guci arak itu terus tuang ke dalam mulutnya.
"Berikan aku seteguk."
Pinta Kek Pin.
Tahu-tahu mukanya yang semula pucat kini berubah merah membara, seperti kepiting yang direbus.
Agaknya obat di dalam botol tadi bukan untuk menolong jiwanya, paling hanya mempertahankan napasnya sementara.
Mengawasi muka orang yang semakin menakutkan, saking gelisah ingin Ting Hun-pin menangis tersedu-sedu.
"Kau bagaimana perasaanmu?"
"Aku baik sekali."
Ujar Kek Pin memejam mata.
"aku pernah bilang, aku sudah tua, tiada yang perlu ditakuti untuk mati." . Sedikitpun dia tidak takut mati. Baru sekarang Ting Hun-pin sadar, tadi orang merasa kuatir bukan lantaran jiwanya sendiri, namun orang menguatirkan keselamatan dirinya. Hal ini laksana jarum menusuk ulu hatinya pula, tak tahu dia apa yang harus dia katakan, tak tahu dengan cara apa baru dia bisa membalas budi dan kebaikan orang.
"Tadi akupun bilang,"
Ujar Kek Pin lebih lanjut.
"aku sudah kesetanan mempelajari ilmu pengobatan, oleh karena itu bukan saja aku tidak punya teman, akupun tidak punya sanak kadang, karena terhadap siapapun aku tidak ambil perduli."
Tapi dia amat prihatin akan keselamatan Ting Hun-pin.
Ting Hun-pin sendiri merasakan hal ini, tapi dia sendiri tidak tahu kenapa hal ini terjadi?
Betapapun orang sudah berusia lanjut, usia mereka terpaut terlalu jauh, sudah tentu tak mungkin terjadi hubungan antara laki-laki dan perempuan yang tak pernah berani dia pikirkan.
Orang memperhatikan dirinya, mungkin sebagai orang tua yang mengasihi putrinya.
Tapi mata Kek Pin sudah terbuka, tengah menatapnya lekat-lekat.
Mukanya semakin merah, biji matanya seperti menyala, sehingga dia kehilangan kontrol atas dirinya yang biasa tenang, dingin dan tabah.
Lambat laun dia sudah kehilangan kesadarannya.
Tanpa sadar Ting Hun-pin melengos menghindari tatapan mata orang.
Tiba-tiba Kek Pin tertawa, tawa yang pilu, katanya.
"Aku sudah tua bangka, usia kita terpaut terlalu banyak, kalau tidak............."
Kalau tidak kenapa?
Dia tidak melanjutkan, juga tak perlu menanyakan lebih lanjut.
Ting Hun-pin sudah mengerti maksudnya, juga sudah menangkap limpahan isi hatinya.
Setiap manusia mempunyai hal dan kewajiban untuk mencintai dan dicintai orang lain.
Orang tua tak ubahnya seperti anak-anak muda, dia juga mempunyai perasaan, dia bisa jatuh cinta, malah bukan mustahil cinta orang tua jauh lebih murni dan lebih mendalam.
Maka setelah menghela napas, Kek Pin berkata tawar.
"Apapun yang terjadi, kau tidak usah menguatirkan diriku, barusan sudah kukatakan, aku tiada teman dan tak punya sanak kadang...... mati hakikatnya tiada sangkut pautnya dengan orang lain." 'Tapi ada sangkut pautnya dengan aku', demikian batin Ting Hun-pin, hatinya seperti ditusuk-tusuk pula. Jikalau bukan lantaran dia, Kek Pin tidak akan segera mati. Jikalau bukan lantaran dia, sekarang dirinyalah yang mampus. Mana bisa dikatakan mati hidup tiada sangkut pautnya dengan dirinya? Masakah dia harus berpeluk tangan melihat orang mangkat begitu saja? Tapi dengan cara apa baru dia bisa menolongnya? Terpejam pula mata Kek Pin, katanya lirih.
"Kau pergilah..............lekas pergi!"
"Kenapa kau suruh aku pergi?"
"Karena aku tidak suka melihat orang bagaimana keadaan kematianku."
Badan Kek Pin mulai mengejang, berkelejetan, agaknya dia tengah mempertahankan diri mati-matian.
"Maka kau harus pergi!"
Dengan kencang tangan Tin Hun-pin saling genggam, seolah-olah kuatir bila tekadnya berubah.
"Aku tak mau pergi!", tiba-tiba dia berteriak keras.
"tidak mau pergi!"
"Kenapa?"
"Karena aku ingin kawin dengan kau."
Mendadak Kek Pin membelalakkan matanya, mengawasinya dengan rasa kaget.
"Apa katamu?"
"Kataku aku ingin kawin dengan kau, aku harus kawin dengan kau."
Dia betul-betul sudah berkeputusan.
Dalam waktu yang singkat ini, dia sudah lupa kepada Kwe Ting, lupa kepada Yap Kay, melupakan semua orang, melupakan segala urusan.
Dalam waktu dekat ini hanya satu hal yang terpikir olehnya, 'Dia tidak bisa berpeluk tangan mengawasi Kek Pin mati dihadapannya" , asal bisa menolong jiwanya, umpama dia harus kawin dengan babi, dengan anjing sekalipun, sedikitpun dia tidak perlu memikirkannya untuk menerima nasibnya.
Memang Ting Hun-pin adalah seorang gadis yang mempunyai perasaan subur, kalau dia mau melakukan sesuatu boleh tidak usah memikirkan segala sebab dan akibatnya.
Orang lain boleh memaki, menganiaya dan menyakiti hatinya, lekas sekali sudah dia lupakan, namun dia meski hanya sedikit kau pernah menanam kebaikan kepadanya, dia tidak akan melupakannya, akan diukir kebaikanmu di dalam relung hatinya.
Mungkin apa yang dia kerjakan terlalu ceroboh, kalau tidak mau dikatakan terlalu brutal, tapi dia pasti adalah seorang gadis yang suci, lincah dan periang, karena dia dikaruniai hati nan bajik.
ooo)dw(ooo "Kau ingin kawin dengan aku?"
Kek Pin tengah tertawa, tawa yang getir, haru, terima kasih dan entah apalagi?
Dia tidak bisa membedakan, keadaannya belum sadar seratus persen.
Ting Hun-pin sudah berjingkrak berdiri.
Mendadak disadarinya bahwa lampu yang masih menyala di dalam ruang ini adalah sepasang lilin besar.
Bukankah sepasang lilin ini dipersiapkan untuk dirinya dan Kwe Ting bersembahyang langit dan bumi?
Di hadapan sepasang lilin inilah Kwe Ting roboh terkapar.
Kini kedua batang lilin ini belum terbakar habis, namun dia kembali sudah akan kawin dengan orang lain.
Kalau orang lain yang melakukan perbuatan ini, siapapun pasti menganggap perbuatan orang brutal, perbuatan orang gila.
Tapi Ting Hun-pin lain, siapapun akan merasa simpati, kasihan dan haru kepada nasibnya.
Karena apa yang dia lakukan ini bukannya tidak mengenal kasih, namun justru demi cinta kasih terhadap sesamanya.
Bukan pembalasan, namun sebaliknya sebagai pengorbanan.
Tak segan-segannya dia mengorbankan masa remajanya, tak lain hanya untuk membalas kebaikan orang terhadapnya.
Kecuali itu sungguh dia tidak tahu dengan cara apa baru dia bisa menolong Kek Pin.
Sudah tentu cara yang dia tempuh ini belum tentu berhasil, akan tetapi bila seseorang rela berkorban untuk menolong orang lain, walaupun perbuatannya itu terlalu brutal, teramat bodoh, sikapnya ini tetap patut dihormati, patut dipuji dan dikagumi.
Karena pengorbanan ini betul-betul pengorbanan, pengorbanan yang mungkin tak mau dilakukan orang lain, orang lainpun takkan bisa melakukannya.
Lilin merah itu sudah hampir habis, dan lilin itu akan menjadi kering bila sumbunya sudah terbakar habis.
Sumbu lilin itu rela dirinya terbakar menyala, hanya untuk menerangi orang lain.
Bukankah perbuatan ini terlalu bodoh?
Tapi jikalau manusia umumnya sudi melakukan perbuatan bodoh semacam ini, bukankah dunia ini akan selalu cemerlang, akan lebih semarak?
Pelan-pelan Ting Hun-pin papah Kek Pin berdiri di depan sepasang lilin itu, katanya lembut.
"Sekarang juga aku menikah dengan kau, menjadi istrimu, selama hidup mengikuti dan bersandarkan dirimu, maka kau harus tetap hidup."
Kek Pin mengawasinya, bola matanya yang sudah pudar tiba-tiba bercahaya terang, senyuman wajahnya kelihatan berubah tenang dan tentram.
Muka Ting Hun-pin yang masih berlepotan air matapun mengunjuk senyuman manis mesra.
Dia tahu orang akan bisa bertahan hidup, kini dia sudah punya keluarga, punya sanak famili, dia sudah takkan mati.
Dengan berlinang air mata Ting Hun-pin berkata.
"Di sini memang tiada mak comblang, tiada protokol upacara, namun kita tetap masih bisa bersembahyang kepada bumi dan langit, asal kita bersama-sama mau, ada atau tanpa saksipun tidak menjadi soal." . Ini bukanlah main-main, dan bukan suatu perbuatan brutal, karena dia memang jujur dan bermaksud baik dengan hati tulus lagi. Kek Pin manggut-manggut pelan, sorot matanya memancarkan cahaya aneh, mengawasinya lalu mengawasi sepasang lilin di hadapan mereka. Dapat mempersunting gadis yang dia idamkan, sungguh merupakan kesenangan hidup bagi seorang laki-laki yang sudah terlaksana cita-citanya. Katanya dengan tersenyum.
"Selama hidup ini, selalu kuharapkan detik-detik seperti ini, supaya lekas terlaksana........ Semula aku tak mengira selama hayat masih dikandung badan, takkan terjadi hari bahagia seperti ini, tapi sekarang........" . Akhirnya tercapailah cita-citanya. Suaranya menjadi tenang mantap dan tentram, namun dia tidak habis mengutarakan isi hatinya, mendadak dia roboh. Elmaut merenggut jiwanya begitu cepat, sekonyong-konyong menyerangnya sehingga dia tidak kuasa melawan dan bertahan. Tiada orang yang bisa melawan kodrat. Ting Hun-pin berlutut di samping jenazah Kek Pin, air matanya bercucuran. Di dalam tempat yang sama, di hadapan sepasang lilin yang sama pula, di dalam satu malam yang sama juga, dua orang laki-laki yang siap menjadi laki-lakinya roboh dihadapannya. Betapa besar pukulan ini. Mungkin mereka memang akan mati, tanpa dia mereka memang sudah suratan takdir untuk mati, malah mungkin ajal lebih cepat, tapi Ting Hun-pin sendiri tidak pernah berpikir demikian. Tiba-tiba dia merasakan bahwa dirinya adalah perempuan yang membawa sial, selalu membawa bencana dan kematian bagi orang lain. Kwe Ting sudah ajal, Kek Pin kinipun sudah tak bernyawa, demikian pula Yap Kay hampir saja terbunuh olehnya. Dia sendiri malah masih segar bugar. Kenapa aku harus hidup? Buat apa hidup dalam dunia ini? Dunia macam apakah ini? Setiap orang yang dia kenal, kemungkinan adalah orang-orang Mo Kau, sejak kenal dengan Thi Koh sampai Giok-siau dan terakhir Kek Pin. Demikian pula Hu-hong Thian-ong yang dingin kaku dan jahat laksana iblis itu, semuanya orang-orang yang tak pernah dia duga. Masih adakah seseorang yang bisa dia percaya dan menjadi sandaran hidupnya? Hanya Yap Kay. Tapi di mana Yap Kay sekarang berada? Guci arak masih berada disampingnya, arak keras, begitu masuk tenggorokan lantas dadanya dan tenggorokannya seperti dibakar. Tapi seteguk demi seteguk dia terus minum tak kenal puas.
"Yap Kay, kau pernah bilang, setelah segala urusan selesai, kau akan mencariku, kini semua urusan sudah berakhir, kenapa kau belum kunjung tiba..........kenapa?" . Dia lepas suaranya berteriak-teriak, mendadak dia angkat guci arak itu terus membantingnya sekuat tenaga. Guci hancur berkeping-keping, arak keras itu berceceran di atas lantai. Lilin yang kebetulan habis dan masih menyala itu tergetar jatuh dari atas meja, arak yang mengandung alkohol itu seketika berkobar.
"Blup"
Api berkobar-kobar memenuhi seluruh ruangan, meja dan kain gordyn serta gambar-gambar di atas meja sembahyang terjilat api lebih dulu.
Api tidak kenal kasihan, lebih berbahaya dan lebih cepat datangnya dari kematian.
Memangnya siapa yang kuat menahan kobaran api yang sudah menyala-nyala itu?
Tapi Ting Hun-pin masih berlutut terbengong, tanpa bergerak sedikitpun.
Melihat kobaran api, dalam lubuk hatinya yang paling dalam tiba-tiba timbul rasa senang yang memilukan dan sadis.
Dia ingin menyaksikan kobaran api ini membakar hangus semuanya.
Tiada sesuatu yang harus dia kenang dan berat ditinggalkan.
Kehancuran memangnya berat ditinggalkan?
Kehancuran memangnya suatu pelampiasan juga?
Dia harus melampiaskan, maka dia harus menghancurkan.
Cepat sekali api sudah menjilat seluruh benda-benda yang ada di dalam ruangan, menjalar ke dinding naik ke atap rumah, cepat sekali rumah ini akan segera menjadi puing-puing, semuanya akan berakhir.
Tapi mana Yap kay?
Kenapa Yap Kay belum juga datang?
Waktu kobaran api menghiasi udara nan gelap, sang fajarpun telah menyingsing, tapi Yap Kay tetap belum kelihatan.
ooo)dw(ooo Yap Kay telah mabuk.
Biasanya dia tidak pernah mabuk, tiada orang yang bisa melolohnya sampai mabuk, hanya dia sendiri yang bisa meloloh dirinya sampai mabuk.
Tapi diapun jarang meloloh dirinya sampai mabuk.
Orang minum sampai mabuk bukan suatu hal yang menggembirakan, terutama besok paginya setelah kau siuman dari pulasmu rasanya jauh lebih tidak menyenangkan, hal ini dia jauh lebih jelas dari orang lain.
Tapi semalam dia sengaja meloloh dirinya sampai mabuk dan tak sadarkan diri.
Betapapun dia orang biasa, bukan orang sakti, bukan dewa.
Tahu kekasihnya sedang bersembahyang bumi dan langit sementara pengantin lakinya bukan dirinya, memangnya siapa yang bisa tetap sadar dan pikiran jernih?
Keluyuran di jalan raya dengan gembira?
Oleh karena itu dia memasuki sebuah warung arak, di mana dia berdiam satu jam lamanya, tapi waktu dia keluar masih belum mabuk, karena arak yang dijual di sini terlalu tawar, terlalu banyak tercampur air.
Maka dia menuju ke warung arak yang ke dua.
Dengan langkah sempoyongan dia memasuki warung arak ini.
Kali ini apakah dia bisa keluar pula?
Sudah tak teringat lagi olehnya.
Apakah selanjutnya dia pergi ke tempat ketiga?
Diapun tidak tahu.
Yang masih segar dalam ingatannya hanya waktu dia memukul kepala seorang bajingan tengik yang membawa lonte ke warung itu.
Berapa besar lubang di kepala bajingan karena pukulannya?
Diapun sudah tidak ingat lagi.
Waktu dia siuman dan terjaga dari tidurnya, didapatinya dirinya rebah di dalam tumpukan sampah di dalam sebuah gang buntu.
Sampah yang kotor dan berbau busuk, anjing liarpun takkan mau tidur di tempat sekotor ini.
Pastilah bajingan yang bocor kepalanya itu mengundang temannya menuntut balas kepada dirinya, setelah badannya dipermak dan digasak pergi datang, lalu membuang dirinya ke tempat ini.
Lekas sekali dia lantas membuktikan dugaannya ini, karena waktu dia merangkak bangun, bukan hanya kepala terasa pening dan sakit seperti merekah, seluruh badanpun terasa sakit linu.
Entah berapa banyak dan berapa kali kepalan dan tinju orang yang telah menghajar badannya.
Hal ini sudah pernah dia rasakan dulu, karena sebelum dia belajar memukul orang, dia sudah biasa latihan dihajar orang.
Memang siapapun bila menyadari dirinya dilempar di atas tumpukan sampah, dipermak dan digasak begitu rupa, pasti akan naik pitam, sedih dan penasaran.
Tapi Yap Kay malah tertawa.
Adakalanya bila dirinya juga dihajar orang, bukankah suatu hal yang lucu dan menyenangkan?
Apalagi dia yakin tangan orang-orang yang pernah menghajarnya itu, pasti tangannya sedang kesakitan.
ooo)dw(ooo Keluar dari gang buntu itu, dia tiba di sebuah jalan raya, seperti pula jalan-jalan atau gang-gang yang terdapat di kota Tiang-an lainnya, jalan ini teramat kotor, tua dan kuno.
Di seberang jalan dilihatnya ada sebuah warung arak kecil, sebuah holou besar yang terbuat dari besi tergantung di depan pintu.
Tiba-tiba Yap Kay teringat, semalam waktu dia minum arak dan berkelahi, adalah di dalam warung ini.
Di belakang warung itulah, ada terdapat sebuah pintu gelap, pintu belakang yang rahasia.
Lonte yang dibawa bajingan tengik itu masuk lewat pintu belakang itu.
Dari sana membelok ke kiri, lalu membelok pula ke jalan raya, orang akan segera tiba di hotel Hong-ping.
Selama hidupnya mungkin Yap Kay tidak akan mau ke hotel Hong-ping.
Urusan yang membuat hati duka, di sana memang terlalu banyak.
Lalu kemana dia sekarang harus pergi?
Apa pula yang harus dia lakukan?
Yap Kay tidak berpikir.
Dia ingin sementara tak usah memikirkan apa-apa, otaknya sedang bebal, sedang kalut.
Dia hanya tahu langkahnya jangan menuju ke arah kiri.
Hari ini cuaca amat cerah, sinar matahari menyinari badan manusia terasa hangat dan menyegarkan.
Orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya semuanya berpakaian bagus, dan baru, semuanya mengunjuk riang gembira, setiap orang yang kesamplok pasti tak henti-hentinya memberi hormat, soja dan mengucapkan selamat atau Kiong-hi.
Baru sekarang Yap Kay sadar, hari itu tanggal dua.
Apa kerja orang lain pada tanggal dua ini?
Tak lain membawa putra-putrinya pergi ke tetangga, ke rumah familinya, memberi dan menyampaikan selamat tahun baru, terutama anak-anak paling senang menerima angpao.
Pada hari-hari baik ini, siapapun dilarang mengeluarkan kata-kata kotor, tidak boleh berkelahi atau marah.
Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 7
Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 4