Eps 4 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.
Muka Siangkwan Siau-sian sedikit berubah, katanya menyeringai dingin.
"Apa kau tidak takut aku membunuhmu?"
"Kau kira kau bisa membunuhku?"
Yap Kay balas menjengek.
"Kaupun tidak percaya?"
"Aku hanya ingin memperingatkan kau satu hal."
"Hal apa?"
"Hal ini!"
Pelan-pelan Yap Kay acungkan tangannya dari dalam kemul, ternyata jari-jarinya menjepit sebilah pisau.
Pisau terbang sepanjang tiga dim tujuh mili.
Pisau nan tipis tajam kelihatan kemilau ditingkah sinar lampu.
Muka Siangkwan Siau-sian berubah membesi hijau tertimpa sinar reflek dari cahaya pisau kemilau itu, sebaliknya raut muka Hoa Cu-ceng tegang dan merah coklat.
Pisau terbang warisan Siau-li Tham-hoa.
Itulah pisau terbang warisan tunggal dari Siau-li Tham-hoa yang tiada taranya, tak pernah luput saat pisau ditimpukkan.
Betapapun jago kosen paling ditakuti di kang-ouw, selamanya tiada satupun yang berani melawan dan kuasa meluputkan diri dari timpukan pisau terbang ini.
Yap Kay tertawa dingin, katanya.
"Sebetulnya aku tidak suka membunuh orang, maka kau jangan memaksaku."
Siangkwan Siau-sian balas mengejek, katanya.
"Sekarang kau masih bisa membunuh orang?"
"Kau ingin mencobanya?"
Siangkwan Siau-sian tidak berani.
Tiada manusia dalam dunia ini yang berani main-main dengan pisau terbang yang satu ini.
Memang siapa yang berani mempertaruhkan jiwa raga sendiri untuk main coba-coba, hanya untuk memperebutkan menang atau kalah?.
Siangkwan Siau-sian tekan perasaannya, dengan menghela napas panjang, katanya.
"Apa kau tidak ingin luka-lukamu lekas sembuh?"
"Aku hanya ingin kau lekas menggelinding pergi."
Siangkwan Siau-sian menghela napas pula, katanya.
"Aku tidak bisa menggelinding, bagaimana kalau aku berjalan keluar saja?" . Benar juga bilang keluar lantas dia beranjak keluar pintu. Sudah tentu Hoa Cu-seng tersipu-sipu lebih cepat. Di depan pintu Siangkwan Siau-sian berpaling muka, katanya.
"Ada sebuah hal hampir saja aku lupa memberitahu kepadamu."
"Ada hal apa?"
"Apa kau tidak ingin tahu jejak dan keadaan nona Ting kesayanganmu itu?"
Yap Kay tidak memberi komentar, yang terang sudah tentu dia ingin tahu.
"Sekarang dia berada bersama Kwe Ting, seperti juga kalian, sama-sama tidur di atas ranjang."
Yap Kay tertawa dingin, katanya.
"Kenapa kau bicara seperti ini di hadapanku? Kau tahu tiada gunanya kau mengoceh di sini."
"Kau tidak percaya bila mereka melakukan hal itu?"
Sudah tentu Yap Kay tidak percaya.
"Sebetulnya mungkin mereka cukup setia terhadapmu, tapi jikalau nona Ting sendiripun sedang kedinginan, seperti tosu perempuan ini, Kwe Ting membantu menghangatkan badannya? Jikalau pada sesuatu tempat pada badan nona Ting yang tidak boleh dilihat orang lain terkena sebangsa jarum beracun, untuk menolong jiwanya, apakah Kwe Ting tidak akan mengisap dengan mulutnya?"
Baru sekarang berubah roman muka Yap Kay. Maka tersimpullah senyum kemenangan pada muka Siangkwan Siau-sian, dengan menggandeng tangan Hoa Cu-seng, ia berkata.
"Walau dia tidak kenal persahabatan terhadapku, namun aku tidak boleh bersikap tidak setia, tidak dapat dipercaya kepadanya. Nah, tinggalkan sebungkus obat kepadanya. Marilah kita pergi."
Kali ini dia benar-benar berlalu. Yap Kay sudah duduk, kini dia jatuh tertidur pula dengan lunglai. Cui Giok-tin sampai menjerit kaget.
"Kau..............kau kenapa?"
Yap Kay menghela napas, katanya getir.
"Untung kau taruh pisauku di bawah bantal, untung dia tidak berani mencobanya."
"Tadi kau sebetulnya tidak mampu melukai dia?"
Tanya Cui Giok-tin. Mengawasi pisau di tangannya, berubah muka Yap Kay, katanya.
"Pisauku ini bukan hanya ditimpukkan dengan tenaga jari saja, juga harus dilandasi seluruh himpunan semangat dan perhatian untuk memusatkan setaker kekuatan, baru bisa menimpukkan, tapi aku sekarang......"
Sampaipun bicara dia merasa sulit dan berat. Mengawasi muka orang, bercucuran air mata Cui Giok-tin, katanya.
"Aku tahu untuk menolong aku, maka kau mengusirnya. Kenapa kau harus menyerempet bahaya ini? Aku......... aku memang orang yang pantas dihina orang."
Lembut suara Yap Kay, katanya.
"Tiada orang yang harus dihina, tiada orang punya hak untuk menghina orang lain."
Suaranya lembut dan tegas.
"Walau dia orang tua menurunkan pisau ini kepadaku, adalah supaya aku memberitahu kepada seluruh manusia di dalam dunia agar mengetahui akan hal ini, dan yang penting siapapun dilarang melupakannya."
Bercahaya pula mata Cui Giok-tin, katanya pelan-pelan.
"Kukira beliau tentu seorang yang luar biasa sekali."
Pandangan Yap Kay tertuju ke tempat nan jauh, sorot matanya mengandung rasa hormat.
"Beliau sendiri sering bilang bahwa dirinya hanyalah seorang awam yang biasa saja, tapi apa yang dia lakukan, terang tiada seorangpun yang kuasa memadai, tiada orang lain yang mampu mengerjakan."
Memang itulah salah satu kebesaran dan keagungan Li Sin-hoan.
Oleh karena itu tak peduli ia berada di mana, selamanya jiwa kebesarannya selalu hidup di dalam sanubari setiap orang.
Sinar lampu sudah semakin guram, agaknya minyak sudah hampir kering.
Tiba-tiba Cui Giok-tin menghela napas pelan-pelan, katanya.
"Kini aku hanya menguatirkan satu hal."
"Kuatir dia membocorkan jejak kita di sini? Kau kuatir dia akan kembali pula?", ujar Yap Kay.
"Dia tidak akan berbuat demikian, dia hanya mengharap luka-lukaku lekas sembuh."
"Kenapa?"
"Karena dia ingin supaya aku wakili dia menghadapi orang lain."
Cui Giok-tin tidak mengerti. Terpaksa Yap Kay menjelaskan.
"Hari itu dia memancing Giok-siau untuk menemui aku, tujuannya supaya aku bentrok dan adu jiwa sama dia. Diapun mengharap supaya aku membunuh Kwe Ting, demikian pula Ih-me-gao, membunuh siapa saja yang kemungkinan menghalangi tujuannya."
"Tapi, dia kan sudah tahu, kau jelas takkan sudi diperalat olehnya."
"Walau aku tidak akan membunuh orang-orang itu karena dia, sebaliknya orang-orang itu hendak membunuh aku."
Ujar Yap Kay.
"maka dia tidak mengharap aku terluka, dan sudah tentu dia tidak akan berpeluk tangan melihat kematianku."
Terasa tangan Cui Giok-tin menjadi dingin basah, sungguh tak habis pikir olehnya bahwa dalam dunia ini ternyata ada perempuan yang begitu licin, keji dan jahat.
Terkandung maksud yang mendalam pada pandangan mata Yap Kay, katanya tiba-tiba.
"Oleh karena itu ada beberapa hal yang membuatku tidak mengerti."
"Hal apa?"
Sesaat Yap Kay menepekur, lalu berkata lirih.
"Orang yang memaksamu meniup seruling di Leng-hiang-wan ini, kemungkinan adalah Giok-siau sendiri."
Cui Giok-tin tertegun, tanyanya.
"Kenapa dia berbuat demikian?"
"Karena dia cukup tahu bahwa kau adalah perempuan yang berhati bajik dan bijaksana. Sudah tahu bahwa kau tidak menyukai sepak terjangnya, sudah lama ingin meninggalkan dia."
Cui Giok-tin tertunduk, katanya pelan-pelan.
"Belakangan ini memang aku berusaha menghindari dia."
"Diapun tahu bahwa aku pasti akan ke Leng-hiang-wan, maka sengaja dia menggondolmu, dan memberi kesan kau menunggu, agar supaya kau membocorkan jejak di mana Ting Hun-pin sebetulnya berada."
Kini giliran Cui Giok-tin yang tidak paham, tanyanya.
"Apa dia sengaja ingin supaya kau berusaha menolong nona Ting?"
Yap Kay manggut-manggut, katanya.
"Karena dia sudah gunakan ilmu sihirnya untuk mengendalikan daya pikir Ting Hun-pin, dia suruh, begitu Ting Hun-pin melihat diriku, lantas membunuhku."
"Benar, maka sengaja dia taruh tiga pot kembang di luar jendela, maksudnya supaya kau gampang menemukan tempat itu."
"Tapi kuatir aku curiga, maka dia mengatur sedemikian rupa sehingga aku tidak gampang mencapai tujuanku."
"Oleh karena itu dia sengaja memerankan sandiwara itu supaya kau selamanya tidak menduga akan muslihatnya."
"Dia membekuk Ting Hun-pin, tujuannya bukan ingin membunuh Siangkwan Siau-sian, tapi adalah ingin membunuhku."
Cui Giok-tin kertak gigi, katanya geram.
"Dulu aku tidak tahu bahwa dia tosu tua bangka yang ganas dan begitu jahat!"
"Tapi dia terang bukan anggota Kim-cie-pang, karena Siangkwan Siau-sian tidak ingin aku mati, diapun tidak tahu bahwa akalnya ini semakin membuat aku tak habis mengerti."
"Apa yang tidak kau mengerti?", tanya Cui Giok-tin.
"Dari mana dia bisa menggunakan ilmu Sip-sim-sut, semacam sihir itu?"
Ujar Yap Kay.
"memang tidak sedikit orang yang pandai menggunakan ilmu ini, namun yang benar-benar boleh dianggap ahli hanya beberapa gelintir saja, di antara mereka sebagian besar adalah orang-orang Mo Kau. Pernahkah kau dengar Giok-siau membicarakan soal Mo Kau?"
"Tidak!"
Sahut Cui Giok-tin sambil geleng kepala.
"Selamanya kau mendampingi dia, di mana saja dia berada?"
"Dia punya kapal laut yang amat besar. Hidupnya di tengah lautan. Setiap bulan atau dua bulan, baru berlabuh di salah satu pelabuhan untuk menambah bahan makan. Tapi beberapa bulan yang lalu, dia pernah berlabuh di suatu pulau liar yang tiada penghuninya selama enam tujuh hari. Tiada orang yang diajaknya turun, kitapun dilarang berlayar." (Bersambung ke Jilid-9) Jilid-9 Tiba-tiba bercahaya sinar mata Yap Kay, mendadak teringat olehnya ucapan Thi Koh.
"...........kali ini Mo Kau mengadakan pertemuan di Gunung Malaikat, mendirikan dan menegakkan pula kejayaannya. Kami memilih Su-toa-thian-ong dan Su-toa-kong-cu.............."
"Apa yang sedang kau lamunkan?", tanya Cui Giok-tin melihat Yap Kay terlongong.
"Aku memang sudah curiga, namun masih belum yakin."
"Apa yang kau curigai?"
"Aku curiga kalau Giok-siau pun anak buah Mo Kau, malah bukan mustahil salah satu dari Su-toa-thian-ong."
Berubah muka Cui Giok-tin, tiba-tiba dia genggam tangan Yap Kay, katanya.
"Lukamu sakit tidak?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Khabarnya orang-orang Mo Kau menggunakan pisau beracun."
"Memang."
"Kalau benar beracun, kenapa luka-lukamu terasa sakit?"
Jikalau luka-luka kena pisau yang beracun, bekas lukanya tidak akan terasa sakit, hanya terasa linu dan pati rasa. Yap Kay tertawa, ujarnya.
"Umpama benar pisau itu beracun, jiwaku takkan mati keracunan."
"Kenapa?"
"Karena aku ini orang aneh, di dalam darahku ada daya kekuatan untuk menolak kadar racun apapun, terutama melenyapkan racun orang-orang Mo Kau."
Terbeliak kaget mata Cui Giok-tin, katanya kurang percaya.
"Apakah pembawaan sejak lahirmu?"
Yap Kay geleng-geleng, ujarnya.
"Baru akhir-akhir ini saja kurasakan."
"Bagaimana bisa demikian?"
"Karena ibuku dulu adalah salah satu Toa Kongcu dari Mo Kau."
Semakin kaget Cui Giok-tin dibuatnya.
"Dan sekarang?"
"Dia sekarang hanya perempuan awam yang tiada bedanya dengan kau. Kini menghabiskan masa tuanya di suatu tempat yang tenang dan tentram. Hanya satu harapannya supaya putra kesayangannya selalu pulang menjenguk dirinya."
"Tapi kau jarang pulang?"
"Karena masih ada seorang putra lain yang mendampinginya."
Ujar Yap Kay, sorot matanya tertuju ke tempat jauh pula, katanya kalem.
"Walau putra yang satu ini bukan anak kandungnya, tapi dia lebih berbakti dari anak kandungnya sendiri."
"Diapun tumbuh seperti dirimu?"
Tanya Cui Giok-tin ketarik.
"Seperti pula diriku, diapun seorang yang aneh, tapi lebih tampan dari aku, tidak cerewet seperti aku pula, aku mengharap kelak aku bisa sering kumpul sama dia."
Tiba-tiba Cui Giok-tin tertawa berseri, katanya.
"Akupun ingin menemuinya, kalau toh dia adalah saudaramu, maka dia pasti seorang yang baik hati pula."
Tiba-tiba seperti terbayang akan kehidupan masa depan yang penuh harapan dan bahagia, tak tahan dia bertanya.
"Siapakah namanya?"
Maka Yap Kay lantas menyebutkan namanya.
"Pho Ang-swat."
Ooo)dw(ooo Obat peninggalan Hoa Cu-ceng ada dua bungkus, satu diminum dan lain dibubuhkan pada luka-luka.
Obat yang harus diminum berdaya lamban, tenang tapi menghanyutkan, seakan-akan mempunyai daya penenang, maka lekas sekali Yap Kay lantas tidur nyenyak.
Waktu dia terjaga pula, hatinya amat gembira, karena rasa sakit pada luka-lukanya sudah berkurang, malah terasakan pula bau bubur yang sudah hampir masak dari luar.
Agaknya Cui Giok-tin sedang sibuk di dapur, masak bubur.
Sinar surya menyorot masuk dari jendela, angin pagi menghembus sepoi-sepoi, tentunya hari ini cuaca cerah.
Yap Kay sudah lupakan segala kerisauan hatinya, teriaknya lantang.
"Buburnya sudah matang belum? Lekas tambah tiga mangkok besar untuk aku!"
"Ya, inilah datang!"
Sahutan ini dibarengi dengan tersingkapnya kerai, tahu-tahu sebuah mangkok besar berisi bubur ayam panas mengebul melayang masuk, 'blang...!' menghantam dinding.
Keruan Yap Kay melongo.
Bubur berceceran di atas dinding terus mengalir turun pelan-pelan.
Terdengar seseorang tertawa dingin, dan tahu-tahu sudah muncul di ambang pintu.
Ih-me-gao (Setan tangis malam).
Dia tetap mengenakan jubah merah lebar dan panjang yang disulami kembang Botan warna hitam, kelihatannya mirip sekali dengan sesosok mayat hidup.
Mendadak Yap Kay tertawa kepadanya, sapanya.
"Selamat pagi."
Ih-me-gao menyeringai dingin, katanya.
"Memang kepagian kau bangun, tapi kebetulan malah. Jikalau kau terlambat bangun sekejap lagi, mungkin untuk selamanya takkan siuman lagi."
"Walau tidak kebetulan, kedatanganmu tadi cukup pagi juga."
Demikian Yap Kay balas berolok-olok.
"Ya, burung yang bangun pagi makan gabah, yang bangun siang makan tahi, jikalau bangunku tidak pagi, bagaimana aku bisa kebetulan kesamplok dengan murid perempuan yang mengkhianati gurunya itu?"
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Agaknya bangun pagi juga tidak beruntung, jikalau dia bangun siang, masakah sepagi ini dia sudah ketemu setan?"
"Kau sendiri yang harus disalahkan."
"Aku yang disalahkan?"
"Kalau dia tidak kepincut oleh ketampananmu, masakah sepagi ini dia sudi keluyuran, kembali ke penginapan itu mencari tahu keadaan Han Tin?"
Mendelu dan berdegup keras hati Yap Kay.
Semalam memang dia pernah tanya Cui Giok-tin.
Sudah tentu diapun tidak tahu bagaimana sekarang Han Tin.
Walau Yap Kay hanya tanya sambil lalu, tanpa menyalahkan dia, tidak sekalian menolongnya, namun hati terasa amat menyesal, sedikit sedih.
Karena Yap Kay merasa bersalah dan kurang mampu melindungi orang, maka Cui Gio-tin pun ikut merasa sedih.
Namun tak pernah terpikir dalam benaknya bila orang sepagi ini sudah pergi mencari kabar Han Tin.
"Dia kira Giok-siau pasti sudah pergi, namun tak terpikir olehnya bahwa aku justru masih tinggal di sana."
Yap Kay bertanya.
"Jadi malam itu dia tidak membunuhmu?"
"Kau kira dia benar-benar hendak membunuhku?"
"Jadi hanya main-main?"
"Memang, kita hanya bersandiwara, sengaja untuk memberi kesempatan kepadamu untuk menolong tunanganmu itu."
"Waktu itu kalian sudah tahu kedatanganku?"
"Begitu kau memasuki halaman rumah, dia lantas tahu kedatanganmu."
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Agaknya aku terlalu rendah menilainya."
"Diapun menilaimu terlalu rendah. Dia sangka kau pasti sudah mampus."
"Kali ini ternyata kau memang tidak meleset."
"Tapi jikalau Siangkwan Siau-sian tidak kau serahkan, sekarang juga kau mampus."
"Kali ini kau salah lihat."
"Lebih baik kau mengerti akan satu hal."
"Coba kau katakan."
"Aku suka membunuh orang,"
Ujar Ih-me-gao.
"dan orang yang ingin kubunuh adalah kau."
"Aku percaya kau bicara dengan jujur."
"Oleh karena itu jikalau Siangkwan Siau-sian tidak kau serahkan, aku tidak akan menunggu lagi, lebih baik aku tidak usah mendapatkan dia, namun kau harus kubunuh lebih dahulu."
"Nah, sekarang kuharap kaupun tahu akan satu hal."
"Kuberi kau kesempatan bicara."
"Aku tidak suka membunuh orang, tapi manusia macam tampangmu menjadi kekecualian."
Ih-me-gao menyeringai dingin, ejeknya.
"Sekarang apakah kau mampu membunuh aku?"
"Aku tidak bisa, namun dia bisa!" , sekali tangan Yap Kay terbalik dan diacungkan, pisau tahu-tahu sudah berada di tangannya. Pisau terbang. Mengawasi pisau ini, seketika berkerut-kerut muka Ih-me-gao, matanya memicing. Sudah tentu dia tahu pisau terbang ini merupakan warisan Siau-li Tham-hoa yang tak pernah luput mengincar sasarannya. Yap Kay berkata pula.
"Kuharap kau tidak memaksaku turun tangan."
Sebelum dia turun tangan, setiap kali dia pasti mengeluarkan peringatan ini.
"Aku kenal baik pada pisau ini,"
Ujar Ih-me-gao kalem seraya menatapnya.
"Lebih baik bila kau mengenalnya."
"Sayangnya, kau bukan Siau-li Tham-hoa."
"Benar, memang aku bukan."
"Sekarang kau ini manusia tidak berguna yang terluka parah, untuk membunuh anjingpun pisaumu tidak mampu."
"Pisau ini tidak pernah membunuh anjing, hanya membunuh manusia yang pantas dibunuhnya."
"Aku ingin mencobanya, apa benar dia bisa membunuhku."
Sembari gelak tawa tahu-tahu Ih-me-gao melejit tinggi ke atas menubruk ke arah Yap Kay.
Sepasang tangannya memiliki kepandaian khusus yang benar-benar ahli untuk memunahkan serangan senjata rahasia musuh.
Tapi spekulasinya kali ini meleset jauh sekali, karena pisau terbang yang satu ini bukan senjata rahasia.
Pisau ini sebetulnya bukan pisau, namun merupakan suatu kekuatan yang tiada lawan dan tiada sesuatu yang tidak bisa ditembus dan dihancurkan olehnya.
Begitu sinar pisau berkelebat, badan Ih-me-gao yang tengah terapung di tengah udara seketika melorot turun dan jungkir balik, berdentam keras terbanting di lantai.
Dia tidak sempat menjerit, juga tidak meronta, tanpa meregang jiwa, mendadak seperti sebuah karung layaknya meringkel lemas di lantai tak bergerak lagi.
Tepat pada tenggorokannya pisau terbang itu menancap.
Pisau terbang yang tiada keduanya di langit dan di bumi, pisau terbang yang tiada bandingannya.
ooo)dw(ooo Yap Kay diam saja duduk di tempatnya, sorot matanya menampilkan mimik yang sukar diraba, seperti kasihan, mendadak pula merasa amat kesepian.
Memang, membunuh orang bukan suatu hal yang patut dibuat senang.
Pada saat itulah di luar jendela kumandang tawa cekikikan semerdu kicauan burung Kenari.
Itulah tawa Siangkwan Siau-sian.
"Pisau terbang yang cepat sekali."
Demikian pujinya.
Kalau tawa cekikikannya masih kedengaran di luar jendela, tahu-tahu orangnya sudah melesat masuk ke dalam pintu, ringan dan tangkas, selincah burung Walet.
Yap Kay tetap duduk diam di tempatnya, melirikpun tidak kepada orang.
Kapan dan di manapun gadis yang satu ini muncul, tidak akan bikin Yap Kay kaget dan heran lagi.
Seru Siangkwan Siau-sian dengan tepuk tangan.
"Aku memang tidak salah menilaimu, selamanya belum pernah kulihat pisau secepat itu."
Yap Kay mendadak menyentak dingin.
"Kau masih ingin melihatnya?"
"Aku tidak ingin, akupun tahu kau takkan membunuhku. Kalau Siau-li Tham-hoa tahu kau gunakan pisau itu untuk membunuh gadis sebatang kara, kau pasti dimarahi." , lalu dengan cekikikan dia menambahkan pula.
"Dan lagi, seharusnya kau berterima kasih kepadaku, kalau kemarin aku tidak suruh Hoa Cu-ceng meninggalkan obatnya, hari ini belum tentu kau mampu membunuhnya."
Yap Kay tidak bisa menyangkal.
"Tapi akupun amat berterima kasih kepadamu,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"yang jelas kau sudah membunuh orang ini demi kepentinganku."
Kata-kata ini laksana cemeti melecut badan Yap Kay.
Meski tahu diri sendiri akan diperalat orang, tetap dia melakukannya juga dengan terpaksa, betapapun hal ini membuatnya mendelu.
Kata Yap Kay dingin.
"Aku sudah membunuh satu orang, tak segan aku membunuh orang lagi."
"Aku percaya!"
"Maka lebih baik kalau kau lekas menyingkir."
"Kau hendak mengusirku lagi?", ujar Siangkwan Siau-sian menghela napas.
"masakah parasku lebih jelek dari nona tosu itu, masakah aku tidak boleh merawat dan melayanimu seperti dia merawat dan melayani kau?"
Pakaian Yap Kay yang sudah tercuci bersih dan dilempit rapi berada di atas meja di pinggir ranjang. Yap Kay segera mengambilnya, dia sudah tak betah rebah lagi.
"Kau hendak pergi? Kemana?, tanya Siangkwan Siau-sian. Yap Kay diam saja.
"Apakah kau hendak pergi cari tosu perempuan itu?", tanya Siangkwan Siau-sian.
"kau takkan menemukan dia. Demikian juga Ting Hun-pin, lebih baik kau tak usah menemuinya lagi, supaya tidak bersedih hati. Mungkin hanya satu orang saja yang bisa kau temui sekarang, yaitu Han Tin. Sekarang dia sedang rebah di dalam peti mati, bergerakpun tidak bisa."
Kebetulan Yap Kay sudah selesai mengenakan sepatunya, mendengarkan ucapan ini, segera ia berjingkrak berdiri, sorot mata laksana obor menyala di mukanya.
Siangkwan Siau-sian mandah tertawa-tawa, katanya.
"Kau tahu, bukan aku yang membunuhnya, kenapa mendelik kepadaku? Kalau kau ingin menuntutkan balas kematiannya, silahkan kau cari dulu pembunuhnya."
Lalu dengan tawar dia menambahkan.
"Tapi kuharap kau tidak usah mencarinya, yang penting bagi dirimu sendiri sekarang adalah rebahlah istirahat memulihkan kesehatanmu."
Yap Kay tidak mendengar habis kata-kata orang.
Dia sudah menerjang keluar pintu.
ooo)dw(ooo Peti mati sudah ditutup namun belum dipaku.
Peti yang terbuat dari kayu tipis.
Jiwa mudanyapun pendek.
Muka Han Tin membayangkan dia masih tidur dengan nyenyak, memang dia meninggal di saat dia tidur nyenyak.
"Waktu aku menemukan dia, keadaannya sudah payah dan tak tertolong lagi. Terpaksa kubelikan peti ini untuk mengurus jenazahnya, aku tidak tahu apakah dia punya sanak famili yang bisa menyelesaikan penguburannya,"
Demikian tutur Ciangkui, pemilik rumah penginapan yang ternyata cukup dermawan juga. Setipis-tipisnya peti mati, jauh lebih baik daripada dibungkus tikar.
"Banyak terima kasih,"
Kata Yap Kay.
Hatinya haru dan simpati, namun juga penuh penyesalan.
Jikalau bukan lantaran dirinya, Han Tin tidak akan terluka.
Jikalau bukan karena keteledorannya, luka-luka Han Tin sebenarnya bisa disembuhkan.
Tapi sekarang Han Tin sudah meninggal, dirinya malah masih hidup.
"Bagaimana dia bisa mati?", tanyanya kemudian.
"Terpantek mati oleh sebilah pedang di atas ranjang."
"Mana pedangnya?"
"Masih kusimpan."
Pedang itu kemilau memancarkan reflek yang cemerlang ditingkah cahaya lampu.
Itulah sebentuk pedang yang kuno dan panjang, terbuat dari besi baja yang digembleng oleh seorang ahli, tajamnya luar biasa.
Di punggung pedang malah ada ukiran tulisan kuno pula.
Noda darah sudah mengering, dibungkus dengan kain kuning.
"Dua orang pembantu kita dengan kerahkan setaker tenaganya baru berhasil mencabut pedang ini."
Ciangkui sedang mengobral jasa dan mohon penghargaan.
Walau dia bukan orang kikir, namun manusia siapa yang tidak ingin memperoleh keuntungan, mendapat imbalan, sudah tentu kesempatan ini tidak ia sia-siakan.
Yap Kay seperti tidak mengerti atau tidak acuh akan perkataannya.
Dalam hati sedang merenungkan suatu hal.
'Mungkinkah pedang ini ditimpukkan dari luar jendela, begitu amblas ke tubuh Han Tin baru memanteknya di atas ranjang?
Sungguh besar dan kuat tenaga timpukkannya ini.' Berkata pula Ciangkui.
"Nona yang ikut Toaya datang kemari kemarin malam pernah datang sekali, kelihatannya dia jatuh sakit, karena dia dibopong pulang oleh Kwe Tayhiap yang mengalahkan Lamkiong Wan itu."
"Kemana mereka sekarang?"
"Entahlah! Mereka hanya muncul sebentar saja."
Seorang pelayan segera menambahkan.
"Malam itu kebetulan giliranku lembur, baru saja aku masuk pekarangan, kulihat selarik sinar terang seperti kilat menyambar. Waktu aku memburu ke sana, kulihat teman Toaya ini sudah mati terpantek di atas ranjang. Tak lama kemudian Kwe Tay-hiap datang membopong nona itu. Waktu Kwe Tay-hiap berduel dengan Lamkiong Wan, akupun mencari kesempatan menonton, maka aku mengenalnya. Namun setelah aku memberi laporan kepada Ciangkui dan memburu ke kamar itu, ternyata Kwe Tay-hiap sudah pergi dengan nona itu."
Rekaan Yap Kay memang tidak salah.
Pedang ini memang ditimpukkan dari luar jendela, maka pelayan ini melihat selarik sinar pedang laksana kilat menyambar.
Waktu si pembunuh hendak menjemput pedangnya, Kwe Ting pun keburu datang.
Agaknya orang turun tangan setelah Cui Giok-tin membawa lari Yap Kay dan sebelum Kwe Ting membawa Ting Hun-pin kembali.
Waktu hanya sekejap saja, kemungkinan memang dia tidak sempat lagi menjemput pedangnya, atau mungkin karena timpukkannya terlalu besar sehingga dalam waktu mendesak, dia tidak kuasa mencabutnya.
Bukankah dua orang pelayan hotel ini harus mengerahkan setaker tenaga baru bisa mengeluarkan pedang itu?.
Kemana Kwe Ting membawa Ting Hun-pin?
Kenapa tidak menunggunya di sini?
Tidak mencari dirinya pula?
Semua persoalan ini tak ingin Yap Kay memikirkan lagi.
Hanya satu yang terpikir di dalam benaknya, jangan biarkan Han Tin mati secara konyol.
Penyesalan hatinya sudah berubah menjadi amarah dan dendam kesumat.
"Bolehkah pedang ini kubawa?"
Tanya Yap Kay.
"Sudah tentu boleh....................."
Tanpa banyak bicara Yap Kay segera berlalu. Keruan Ciangkui tersipu-sipu.
"Toaya, apakah kau tidak mau bawa pulang dan mengebumikan jenazah temanmu ini?"
"Aku akan datang lagi, besok lusa aku pasti kembali."
Bukannya Yap Kay tidak tahu maksud Ciangkui, cuma seseorang yang kantongnya kosong tanpa punya sepeser uangpun, terpaksa harus pura-pura bodoh.
ooo)dw(ooo Cahaya mentari cerlang cemerlang.
Selama sepuluh hari belakangan ini, baru hari ini kelihatan adanya cahaya mentari yang begini benderang.
Salju yang membeku sudah mencair, lumpur di sepanjang jalan.
Tapi orang yang hilir mudik di jalan raya tak terhitung banyaknya.
Semua ingin kelayapan atau melakukan kerja apapun mumpung cuaca begini baik.
Merk ema dari Pat-hong Piau-kiok kelihatan kemilau menguning dan angker sekali ditingkah sinar matahari.
Seorang tua yang mengenakan baju hijau celana sutra tengah menyapu salju di depan rumah.
Dengan langkah lebar Yap Kay langsung mendekati.
Begitu kakinya melangkah lebar dan berderap kencang, luka-luka di dadanya lantas senut-senut kesakitan, namun langkahnya masih tetap cepat.
Rasa sakit badaniah sudah tidak dihiraukan sama sekali olehnya.
Waktu dia memasuki pekarangan, kebetulan dua orang tengah melangkah keluar dari pendopo besar.
Seorang berusia empat puluhan, pakaiannya perlente, sikap dan mukanya gagah keren.
Tangannya memegang pelor besi, berkericikan berbunyi nyaring.
Seorang lagi berusia lebih muda, namun memelihara kumis dan jenggot pendek yang terpelihara baik, mukanya putih halus, demikian pula jari-jarinya halus terpelihara baik.
Yap Kay segera memapak maju.
Di waktu hatinya senang dan perasaan longgar, biasanya dia cukup sopan santun dan ramah tamah.
Akan tetapi sekarang hatinya sedang dirundung sedih dan dilandasi dendam kesumat dan amarah yang meluap.
Tanpa bersoja atau memberi hormat, langsung dia bertanya.
"Siapakah yang menjadi Cong-piau-thau di sini?"
Laki-laki setengah baya yang memegangi pelor besi mengawasi dari kepala sampai ke kaki, katanya menarik muka.
"Akulah yang jadi Cong-piau-thau di sini."
Terhadap orang yang tidak sopan sudah tentu diapun tidak sungkan-sungkan lagi. Memang Thi-cui-tin-pat-hong (Mulut besi menggetarkan delapan penjuru angin) Cay Ko-kang tidak gampang dibuat permainan.
"Memangnya kau ini siapa? Mencari siapa pula?"
"Aku mencarimu."
Sahut Yap Kay.
"Ada petunjuk apa?"
"Ada dua hal."
"Silahkan katakan dulu satu persatu."
"Aku minta pinjam 500 tail perak. Dalam tiga hari pasti kukembalikan."
Cay Ko-kang tertawa, namun sorot matanya dingin tajam, katanya sambil menatap dada Yap Kay.
"Kau terluka."
Ternyata luka-luka di dada Yap Kay pecah pula, darah merembes keluar membasahi pakaiannya. Cay Ko-kang menyeringai dingin, katanya kalem.
"Kalau kau ingin terluka sekali lagi, lebih baik kau lekas kembali dari arahmu datang tadi."
Yap Kay balas menatapnya bulat-bulat, katanya tak kalah kalemnya.
"Sudah lama kudengar, Thi-cui-tin-pat-hong adalah laki-laki yang malang melintang dan sewenang-wenang, agaknya memang tidak salah ucapan orang lain itu."
Cay Ko-kang hanya menyeringai lebar. Yap Kay berkata.
"Aku hanya minta 500 tail, kau boleh tidak usah memberi. Kenapa ingin aku terluka sekali lagi? Kenapa aku harus menggelinding pergi?"
Cay Ko-kang murka, bentaknya.
"Aku justru ingin kau menggelinding pergi." , mendadak dia turun tangan merenggut baju leher Yap Kay, pikirnya dia hendak cengkeram kuduk Yap Kay lantas melemparnya keluar. Jari tangannya kasar, besar dan kuat, otot hijau merongkol keluar, jelas dia ada meyakinkan Eng-jiau-kang atau ilmu sebangsa itu. Yap Kay tidak bergerak. Tapi cengkeraman orang tidak mengenai Yap Kay, namun dia mencengkeram tangan Yap Kay. Karena tahu-tahu Yap Kay angkat tangan menepak cengkeraman jari tangan orang. Jadi sepuluh jari saling cengkeram dan pegang. Cay Ko-kang tiba-tiba menghardik.
"Putus!"
Dia yakin Eng-jiau-kang latihannya sudah mencapai tingkat ke sembilan, maka dia bermaksud menekuk dan meremas putus jari-jari Yap Kay.
Sudah tentu jari-jari Yap Kay tidak terluka tidak putus.
Sekonyong-konyong Cay Ko-kang sendiri rasakan jari lawan mempunyai tenaga remas dan gerakan yang lebih kuat puluhan lipat dari kekuatannya.
Asal orang mau kerahkan tenaga, kelima jarinya terang akan putus sendiri.
Memang, pisau terbang hanya bisa disambitkan dengan kekuatan tenaga jari, tanpa dilandasi kekuatan jentikan jari yang maha kuat, mana mungkin timpukan pisau terbang tak pernah gagal dan mampu menembusi apapun jua.
Berubah hebat muka Cay Ko-kang, dia tidak berani bercuit lagi.
"Bila kelak kau hendak memotes putus jari orang, lebih baik kau gunakan otakmu lebih dulu."
Demikian Yap Kay memberi peringatan.
Mendadak dia lepaskan tangannya terus putar badan tinggal pergi.
Laki-laki muda yang sejak tadi menggendong tangan dan menonton dari samping, kini tiba-tiba bersuara.
"Harap tunggu sebentar."
Yap Kay berhenti, tanyanya.
"Kau punya 500 tail untuk ku pinjam?"
Laki-laki muda itu tertawa, tanyanya tanpa menjawab pertanyaan orang.
"Saudara she apa?"
"Aku she Yap."
Sahut Yap Kay.
"Yap artinya daun?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Yap Kay?"
Seru laki-laki muda dengan menatapnya. Yap Kay manggut-manggut.
"Ya, Kay artinya senang terbuka."
Tersirap darah Cay Ko-kang, serunya terbeliak.
"Kenapa tidak tuan katakan sejak tadi?"
"Aku ini bukan orang yang suka main-main ketenaran, yang jelas aku kemari mau pinjam uang, dalam tiga hari pasti kukembalikan."
"500 tail sudah cukup?"
"Aku hanya ingin membeli dua buah peti mati saja."
Cay Ko-kang tidak berani banyak tanya lagi. Kasirnya yang cerdik ternyata sudah mempersiapkan 500 tail uang dan berdiri di belakangnya.
"Silahkan terima!"
Katanya kemudian.
Tanpa sungkan-sungkan Yap Kay menerimanya.
Penguburan Han Tin bukan saja harus segera diselesaikan, demikian pula jenazah Ih-me-gao harus dia kubur.
Cay Ko-kang yang sekarang munduk-munduk hormat bertanya pula.
"Tuan tadi ada dua persoalan?"
"Aku masih ingin mencari tahu seseorang."
"Siapa?"
"Lu Di, Pek-ie-kiam-kek Lu Di."
Tiba-tiba terunjuk mimik yang aneh pada muka Cay Ko-kang.
"Khabarnya dia sudah berada di Tiang-an, kau tahu di mana dia berada?"
Tanya Yap Kay. Pemuda yang memelihara kumis jenggot itu tiba-tiba tertawa, katanya.
"Inilah aku, ada di sini."
Sikap dan tindak-tanduk pemuda ini amat sopan dan ramah tamah.
Tampangnya ganteng, lemah lembut, pakaiannya adalah jubah putih mulus, sorot matanya berkilauan dingin menampilkan rasa congkak dan bangga akan diri sendiri.
"Jadi kau ini Lu Di?"
Tanya Yap Kay dengan mengawasinya lekat-lekat.
Pemuda itu mengiyakan seraya menganggukkan kepala.
Yap Kay lantas membuka buntalan kain kuning, serta keluarkan pedang, lalu menjepitnya dengan kedua jarinya serta angsurkan gagang pedang ke depan orang.
"Kau kenal pedang ini?"
Lu Di tidak menerima, hanya dipandangnya sebentar, katanya.
"Inilah Siong-hun-kiam dari Bu-tong-pay."
"Apakah hanya murid Bu-tong-pay saja yang bisa memakainya."
Lu Di mengiyakan.
"Apakah kaupun murid Bu-tong-pay? Apakah pedang ini milikmu."
"Ya, aku murid Bu-tong-pay, tapi pedang ini bukan milikku."
"Lalu di mana pedangmu?"
"Belakangan ini aku tidak pernah pakai pedang lagi."
"Menggunakan tangan?"
Lu Di menggendong tangannya, sahutnya dingin.
"Benar! Ada tangan sementara orang juga boleh dianggap sebagai senjata tajam."
"Tapi kalau kau ingin membunuh orang dari luar jendela, tetap harus pakai pedang."
Lu Di mengerut kening, agaknya tidak mengerti apa maksud perkataannya.
"Karena tanganmu kurang panjang!"
"Apa sih maksudmu?"
"Apa maksudku kau sudah tahu sendiri."
"Maksudmu, aku membunuh orang dengan pedang ini? "Kau menyangkal?"
"Siapa yang kubunuh?"
"Setiap kali kau bunuh orang, selamanya tidak pernah tanya siapa dia."
"Sekarang aku bertanya."
"Dia she Han bernama Tin."
"O, Han Tin?"
Lu Di berpaling kepada Cay Ko-kang, tanyanya.
"Kau tahu orang ini?"
Cay Ko-kang manggut-manggut, sahutnya.
"Dia adalah kantong wasiat Wi Thian-bing, orang menjulukinya gurdi."
Terunjuk rasa lega dan menyepelekan pada sorot mata Lu Di, tanyanya pada Yap Kay.
"Pernah apa si gurdi ini dengan kau?"
"Seorang temanku!"
"Kau menuntut balas bagi temanmu?"
Tanya Lu Di.
"kau kira akulah pembunuhnya?"
"Memangnya bukan kau?"
"Anggaplah aku pembunuhnya, memangnya kenapa?. Jangan kata hanya terbunuh seorang, sepuluh seperti itu yang kubunuh, tidak menjadi soal, dan boleh anggap akulah pembunuhnya."
Yap Kay tertawa ringan, katanya dingin.
"Kau kira kau siapa?"
"Seorang yang tidak gentar menghadapi perkara. Setelah luka-lukamu sembuh, kapan saja kau ingin menuntut balas, pasti kulayani."
"Tidak usahlah! Kenapa mengulur waktu?"
"Sekarang juga kau ingin turun tangan?"
"Cuaca hari ini cukup baik, tempat inipun tidak jelek."
Lu Di mengawasinya lekat-lekat, katanya kemudian.
"Tadi kau bilang beli dua peti mati, satu untuk Han Tin, lalu yang lain untuk siapa?"
"Untuk Ih-me-gao."
"Jik-mo-jiu Ih-me-gao?"
Seru Lu Di.
"dia sudah terbunuh olehmu?"
"Setiap membunuh orang, takkan kulupakan untuk membereskan jenazahnya."
"Baik! Jikalau kau mampus, anggap[lah aku yang membeli dua peti mati ut, demikian pula peti matimu."
"Tidak perlulah!", ujar Yap Kay.
"kalau aku mati, lebih baik kau lempar mayatku ke selokan menjadi mangsa anjing keparat."
Tiba-tiba Lu Di gelak-gelak, serunya menengadah.
"Bagus, bagus sekali!"
"Bagaimana kalau kau yang mampus?"
Tanya Yap Kay.
"Kalau aku mati, boleh kau teliti badanku, duduklah di depan layon Han Tin, dan sayatlah daging badanku dan telanlah diiringi arak!"
Yap Kay bergelak tawa, serunya.
"Bagus, bagus sekali! Laki-laki sejati menuntut balas bagi sakit hati teman, memang harus demikian."
Tiba-tiba dia putar badan membelakangi Lu Di.
Karena gelak tawanya barusan sehingga luka-lukanya pecah dan darahpun merembes keluar.
Berdiri di bawah pancaran sinar surya, Lu Di tetap menggendong ke dua tangannya.
Agaknya dia teramat sayang dan memandang ke dua tangan sendiri bagai pusaka lebih berharga dari jiwa sendiri, maka menjadi pantangan bagi dia kalau tanpa perlu, tangannya takkan boleh dilihat orang.
Pelan-pelan Yap Kay menghampiri ke depan orang.
Kembali dia angsurkan pedang kepada orang.
"Inilah pedang milikmu!"
Dengan tertawa dingin Lu Di terima pedang itu.
Mendadak dia ayun tangan, pedang itu melesat terbang, 'tok' menancap amblas seluruhnya ke batang pohon 5 tombak di depan sana.
Betapa besar tenaga timpukannya ini, kiranya cukup untuk melubangi badan orang dan cukup memantek badan orang di atas ranjang.
Memicing mata Yap Kay, katanya dingin.
"Bagus, memang pedang piranti membunuh orang."
Lu Di tetap menggendong tangan, katanya congkak.
"Sudah kukatakan, aku tak pernah pakai pedang lagi."
"Tadi sudah kudengar."
"Waktu membunuh orang, tentunya kaupun tidak menggunakan pedang?"
Tanya Lu Di.
"Selamanya tidak."
Lu Di menatap tangannya, tanyanya tiba-tiba.
"Mana pisaumu?" . Sudah tentu dia tahu akan pisau Yap Kay. Boleh dikata tiada insan persilatan yang tidak kenal akan pisaunya. Yap Kay balas menatapnya bulat-bulat. Lama sekali baru dia bersuara dingin.
"Di sini!" , sekali tangannya berbalik dan diacungkan, tahu-tahu pisau sudah berada di antara sela-sela jarinya. Pisau yang kemilau menyilaukan mata. Pisau yang tipis tajam ditingkah matahari menimbulkan sinar reflek yang cemerlang. Kalau di tangan orang lain, pisau ini takkan dipandang senjata ampuh, tapi di tangan Yap Kay? Tiba-tiba mengerut kejang kelopak mata Lu Di, demikian pula Cay Ko-kang yang jauhnya lima tombak di belakang sana, merasakan napasnya sesak dan seperti mau berhenti. Akhirnya tercetus pujian dari mulut Lu Di.
"Bagus! Memang pisau yang membunuh orang."
Yap Kay tertawa, tiba-tiba dia ayunkan pisaunya, sekali berkelebat, tiba-tiba pisau sudah lenyap.
Pisau itu seolah-olah menghilang di telan angin tanpa bekas.
Umpama orang yang punya pandangan mata paling tajam dan jeli sekalipun hanya melihat sinar pisau berkelebat sekali di tempat kejauhan, tahu-tahu sudah tak berada lagi di tangannya.
Jelas kekuatan dan kecepatan dari gerak pisau ini, takkan ada orang yang bisa melukiskan dengan kata-kata.
Mau tak mau berdegup dan tersirap darah Lu Di, teriaknya bertanya.
"Apa sih maksudmu?"
Yap Kay tertawa tawar.
"Kau tidak menggunakan pedang, kenapa aku harus pakai pisau?"
Lu Di mengawasinya dengan tajam, sorot matanya menampilkan mimik aneh, lama sekali tiba-tiba dia ulurkan ke dua tangannya.
"Lihatlah tanganku ini."
Dalam pandangan orang lain, tangan itu tiada ubahnya seperti tangan orang biasa, tiada sesuatu tanda dari keistimewaan atau keluar biasaannya.
Jari-jarinya lencir panjang terpelihara baik, selalu terpelihara bersih.
Memang cocok bagi pemuda yang punya pendidikan tinggi dan suka kebersihan.
Tapi Yap Kay justru sudah mendapatkan sesuatu keanehan, kalau tidak mau dibilang sebagai sesuatu keajaiban.
Tangan ini kelihatannya tidak berotot dan berurat nadi, kulitnya yang mengkilap licin dan halus memancarkan kemilau tak ubahnya seperti barang keras sebangsa logam.
Jari-jari tangan ini seperti bukan terbuat dari darah daging manusia umumnya, kelihatannya mirip logam yang aneh, bukan emas, tetapi lebih mahal dari emas, bukan baja tapi lebih keras dari baja.
Berkata Lu Di dengan menatapi ke dua tangannya.
"Kau sudah melihat jelas, ini bukan tangan, inilah senjata piranti membunuh orang."
Yap Kay tak bisa menyangkalnya.
"Kau kenal pamanku?"
Tanya Lu Di. Yang dimaksud adalah Oen-ho-gin-kan Lu Hong-sian. Sudah tentu Yap Kay tahu akan kebesaran nama orang.
"Inilah ilmu yang dulu beliau yakinkan. Nasibku jauh lebih beruntung karena sejak berumur tujuh tahun aku meyakinkan ilmu ini."
Setelah namanya kenamaan, baru Lu Hong-sian latihan, maka hasilnya hanya tiga jari tangannya saja yang berhasil dilatihnya sempurna. Lu Di berkata.
"Dia yakinkan ilmu macam ini karena selamanya dia tidak sudi diungkuli orang lain."
Perlu diketahui, di dalam buku daftar senjata ciptaan Pek Siau-seng, Oen-ho-gin-kan terdaftar nomor lima di abwah Thian-ki-sin-pang, Liong-hong-siang-hoan, Siau-li-hwi-to dan Siong-yang-thi-kiam.
Lu Di berkata.
"Setelah Pek Siau-seng membuat daftar senjata itu, pamanku berlatih tekun selama sepuluh tahun, baru muncul pula di Kang-ouw. Dengan tangan hasil gembelengannya itu, dia ingin menjajal siapa sebenarnya yang patut dicantumkan di urutan paling atas."
Sampai di sini dia berhenti dan tidak melanjutkan keterangannya, karena Lu Hong-sian belakangan kalah.
Kalah di tangan seorang perempuan.
Perempuan secantik bidadari, namun hidupnya seolah-olah sudah dikodratkan untuk menjebloskan laki-laki ke dalam neraka.
Itulah Lim Sian-ji.
"Pamanku pernah bilang,"
Kata Lu Di lebih lanjut.
"ini bukan terhitung tangan manusia lagi, namun adalah gaman tajam piranti membunuh orang. Kini patut diagulkan dan berani dicantumkan di deretan teratas dalam buku daftar alat senjata."
Yap Kay diam dan mendengarkan tanpa memberi komentar, dia tahu apa yang dikatakan Lu Di memang kenyataan.
Selamanya dia tidak pernah menukas pembicaraan orang.
Lu Di angkat kepala menatapnya pula, katanya.
"Bagaimana kau bisa menghadapi senjata tajam yang khusus untuk menamatkan jiwa orang dengan bertangan kosong saja?"
"Aku ingin mencobanya."
Sahut Yap Kay.
Lu Di tidak banyak tanya, Yap Kay pun tidak bicara pula.
Kini apapun yang dibicarakan rasanya sudah berlebihan.
ooo)dw(ooo Cahaya matahari semakin terik, namun Cay Ko-kang justru merasa bergidik kedinginan dicekam oleh suasana tegang yang dihadapinya.
Bahwa pakaian yang dipakainya sebetulnya sudah mulai hangat karena cahaya matahari yang mulai panas.
Tapi tiba-tiba terasa hawa dingin mulai timbul dalam lubuk hatinya.
Kalau pisau sudah lenyap di balik mega, pedangpun sudah menancap di dahan pohon, maka dingin ini bukan lantaran hawa pedang atau pisau, namun rasa dingin ini jauh lebih tajam dari ujung pisau atau tajamnya pedang.
Sebetulnya Cay Ko-kang sudah tidak ingin tinggal di dalam pekarangan ini, tapi betapapun dia berat dan tak tega meninggalkan pekarangan ini.
Siapapun bisa membayangkan duel ini pasti merupakan pertempuran seru dan sengit yang menggetarkan nyali dan hati setiap orang yang menontonnya, akan selalu berkumandang dan abadi di dalam lembaran sejarah dunia persilatan.
Memangnya siapa yang mau menyia-nyiakan kesempatan baik ini?.
Hanya satu harapan Cay Ko-kang, supaya mereka lekas mulai dan lekas berakhir, tapi Yap Kay tidak turun tangan, demikian pula Lu Di berdiri diam tak bergeming.
Sebagai penonton Cay Ko-kang tidak kuat mengendalikan diri karena adanya tekanan yang menakutkan ini, namun mereka-mereka yang bersangkutan justru kelihatannya acuh tak acuh.
Apakah lantaran tekanan ini adalah mereka sendiri yang mengeluarkan, maka mereka sendiri tidak merasakannya sama sekali?
Jelas terlihat oleh Cay Ko-kang, sikap dan mimik Yap Kay masih sedemikian tenang, dingin dan tabah.
Sorot matanya yang mengandung dendam membara kini sudah mereda dan tidak kelihatan lagi.
Tentunya dia sudah tahu di dalam keadaan dan situasi seperti ini, kemarahan dan emosi hanya merupakan pukulan batin yang akan mengakibatkan kekalahan.
Sikap congkak Lu Di pun sudah tak kelihatan pula.
Di saat-saat duel yang menentukan mati hidup ini sekali-kali pantang sedikit lena, congkak juga merupakan titik kelemahan yang bisa mengakibatkan kematian.
Tidak sedikit Cay Ko-kang pernah melihat duel dua tokoh silat kosen, namun kesalahan seperti congkak, marah, sedih, takut dan lain, semua merupakan titik tolak yang paling sulit untuk dihindari oleh setiap insan persilatan.
Tapi sekarang, tiba-tiba terasakan olehnya, kedua pemuda yang berhadapan ini sedikitpun tidak menunjukkan kesalahan-kesalahan yang pernah dilihatnya pada orang lain.
Perasaan hati dan sikap mereka, gayanya berdiri, jelas merupakan kesempurnaan di dalam membina diri demi mencapai kemenangan yang mutlak.
Memangnya siapa yang bakal menang dalam duel ini?
Sulit Cay Ko-kang memberikan penilaian.
Yang jelas baginya bahwa tidak sedikit insan persilatan sana beranggapan bahwa Yap Kay merupakan musuh paling menakutkan dalam Bu-lim jaman ini.
Pernah dia dengar orang bilang, bila sekarang ada orang menciptakan buku daftar senjata, pasti pisau Yap Kay akan dicantumkan paling atas.
Tapi sekarang dia tidak membawa pisau, namun demikian sikap dan perbawanya sudah menunjukkan tekanan yang mendesak, apakah Yap Kay bisa menang?.
Cay Ko-kang juga tahu, sepasang tangan Lu Di merupakan tangan yang paling menakutkan di bilangan dunia persilatan, kedua tangan itu sudah mendekati Kim-kong-put-hoay, sudah tiada seorang atau senjata apapun yang mampu merusak atau menghancurkan tangan ini.
Lu Di bisa menang?
Sudahkah Cay Ko-kang memberikan putusannya?
Kelihatan Yap Kay amat tenang tabah dan punya keyakinan, kecuali pisau, dia pasti mempunyai ilmu silat yang menakutkan.
Ilmu yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun, kalau sekarang ada seorang lain mengajak Cay Ko-kang bertaruh, mungkin dia berani bertaruh bagi kemenangan Yap Kay.
Dia beranggapan kesempatan Yap Kay mencapai kemenangan dua bagian lebih unggul dari Lu Di.
Tapi dia salah, karena dia tidak bisa meraba perasaan anubari Yap Kay saat ini, diapun tidak tahu bahwa sesuatu yang terlihat oleh Yap Kay sudah cukup bikin dia tertawa getir, perutnya mual dan mengeluarkan air getir.
ooo)dw(ooo Sejak Lu Di melemparkan pedangnya tadi, Yap Kay sudah merasa simpati kepada pemuda yang congkak ini, tapi dia pernah mendengar dua patah kata 'Perbedaan antara musuh dan sahabat, tak ubahnya seperti perbedaan antara hidup dan mati'.
'Jikalau ada orang ingin kau mati, maka kaupun harus menginginkan kematiannya, dalam hal ini kau tidak akan diberi kesempatan untuk memilih', itulah wejangan yang pernah diberikan Ah Hwi kepadanya.
Ah Hwi tumbuh dewasa di dalam kehidupan liar yang menelan kelemahan dan jayalah yang kuat.
Itulah hukum rimba yang berkuasa atas insannya, merupakan perundangundang akan mati hidup di dalam kehidupan liar itu pula.
Maka di saat menghadapi detik-detik menentukan dalam duel antara mati dan hidup ini, sekali-kali pantang timbul rasa simpati dan bersahabat dengan musuh, terlebih pula tidak boleh merasa sayang dan suka padanya.
Yap Kay cukup mengerti akan pengertian ini, maka dia tahu unsur untuk mencapai kemenangan dalam duel ini bukan melulu mengutamakan 'kecepatan' dan 'telengas', tapi adalah 'tabah' dan 'telak', karena mungkin saja Lu Di lebih cepat, lebih telengas dari dirinya.
Karena dadanya sekarang sedang terbakar dan sakit seperti disulut api, bukan saja karena luka-lukanya pecah dan kambuh, luka-lukanya itupun sudah mulai bernanah dan membusuk.
Yang terang obat yang diberikan Biau-jiau-long-tiong bukan obat dewa yang dapat menimbulkan keajaiban di dalam waktu dekat.
Derita dan sakit ada kalanya memang menimbulkan kesadaran dan kejernihan pikiran.
Sayang sekali kondisi dan tenaga badan sudah tidak mungkin bekerja dan berpadu dengan semangatnya.
Maka sekali turun tangan dia harus yakin dapat merenggut jiwa lawan, sedikitnya bila dirinya sudah mendapat tujuh keyakinan, baru boleh turun tangan.
Oleh karena itu dia perlu dan harus menunggu kesempatan yang paling baik.
Bila lawan menunjukkan perubahan kelemahannya, dan setelah lawan menjadi lemah dan patah semangat, dia menunggu kesempatan yang diberikan kepadanya.
Tapi dia menjadi kecewa dan putus asa, selama ini dia belum juga mendapat peluang yang diharapkan dari Lu Di.
Kelihatannya Lu Di hanya berdiri adem-ayem dan sembarangan saja, seluruh badannya dari atas sampai bawah kelihatan terdapat banyak peluang yang kosong.
Perduli dari arah manapun Yap Kay turun tangan, kelihatannya akan mencapai harapan dengan mudah.
Akan tetapi terbayang pula olehnya kata-kata yang pernah dikatakan Siau-li Tham-hoa kepadanya dulu.
Dulu, duel yang terjadi antara Ah Hwi dengan Lu Hong-sian hanya Li Sin-hoan saja yang hadir dan menyaksikan.
Lu Hong-sian pada waktu itu tak ubahnya dengan Lu Di yang sekarang dihadapinya.
'Waktu itu pedang Ah Hwi kelihatan sembarang waktu bisa menusuk kemana saja sesuai keinginan hatinya mengarah ke badan orang, tapi kalau peluang yang kosong itu terlalu banyak, malah bukan menjadi peluang lagi.
Seluruh badannya seolah-olah sudah berubah menjadi sesuatu yang kosong melompong.
Kekosongan ini justru merupakan taraf tertinggi dari latihan ilmu silat yang sudah mencapai tingkatan yang tiada taranya.
Pisau terbangku sedikitnya mempunyai banyak kesempatan dan aku punya sembilan keyakinan.
Tapi kalau waktu itu aku menjadi Ah Hwi, pisau terbangku belum tentu berani kusambitkan kepada Lu Hong-sian lebih dahulu.
", setiap patah kata yang pernah diucapkan Li Sin-hoan, tidak pernah dilupakan oleh Yap Kay. Kini apakah Lu Di juga sudah mencapai kekosongan itu? Tiba-tiba Yap Kay menyadari bahwa dirinya terlalu rendah menilai pemuda yang satu ini. Orang ini baru benar-benar merupakan lawan tertangguh yang belum pernah dia jumpai selama hidup. Walau dia tidak sampai melanggar kesalahan yang mematikan, tapi dia justru telah kehilangan unsur terpenting untuk mencapai kemenangan, yaitu dia kehilangan keyakinan dan kepercayaan pada diri sendiri untuk mencapai kemenangan. Lu Di terus menatapnya dingin, sorot mata semakin cemerlang, semakin dingin dan sadis, mendadak tercetus dua patah kata dari mulutnya.
"Kau kalah!"
Yap Kay belum turun tangan, tapi Lu Di sudah mengatakan dia kalah.
Kata-katanya memang tidak berlebihan, laksana ujung pedang yang menghunjam luka-luka akan kepercayaan Yap Kay pada dirinya.
Ternyata Yap Kay tidak menyangkal, karena secara tiba-tiba dia melihat Lu Di akhirnya memberi kesempatan kepadanya.
Seseorang bila buka mulut berbicara, semangat dan ketegangan kulit dagingnya pasti akan mengendor.
Muka Yap Kay menampilkan rasa sedih, karena dia tahu semakin sedih sikap yang dia tampilkan, muka Lu Di semakin tidak akan memberi peluang kepadanya.
Di dalam duel antara mati hidup ini, kalau bisa dan dapat cara untuk menyiksa musuhnya, siapapun takkan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lu Di berkata lebih lanjut.
"Tenagamu sudah takkan kuat bertahan lebih lama, cepat atau lambat pasti akan berantakan, maka tak usah kau turun tangan, aku tahu kau sudah kalah."
Tepat pada perkataannya terakhir, tiba-tiba Yap Kay turun tangan.
Hanya kesempatan baik inilah yang dia peroleh.
Di saat semangat dan pertahanannya mengendor, meski orang tiada titik kelemahan, tapi Yap Kay sudah punya kesempatan untuk menggempurnya.
Yap Kay memang tidak menggunakan pisau, tapi kecepatan turun tangannya takkan lebih lambat dari samberan pisaunya.
Jari-jari tangan kiri mencakar seperti kuku harimau, seperti cakar garuda, sementara jari-jari tangan kanan terjulur lempang, tiada orang yang bisa membedakan, dia pakai kepelan, telapak tangan atau Eng-jiau-lat?
Atau menggunakan Thi-ci-lat?
Perubahan dari jurus serangan tangannya ini rumit dan bervariasi, tiada orang yang bisa menentukan ke arah mana sasaran serangan ke dua tangannya ini.
Dia harus memancing gerakan Lu Di untuk menggugurkan pertahanan dan ketenangan orang.
Sedikit bergerak saja kekosongan itu akan seketika berubah berisi.
Itu pertanda orang sudah menunjukkan lubang kelemahan.
Ternyata Lu Di memang bergerak, lubang kelemahannya berada di atas kepala.
Kontan Yap Kay gerakkan kedua tangannya menggempur ke atas kepalanya.
Inilah serangan mematikan, serangan yang menamatkan jiwa orang.
Tapi belum lagi serangannya mencapai sasaran, tiba-tiba hatinya merasa mendelu dan mencelos, karena disadarinya bahwa serangannya ini membuat lubang kelemahan di depan dada sendiri terpampang kelemahan di hadapan orang.
Memang, dada merupakan titik kelemahan yang paling vital di seluruh badan, apalagi dadanya sedang terluka.
Siapapun bila tahu titik kelemahan sendiri, kemungkinan digempur musuh, hatinya pasti akan lembek, kuatir dan tanganpun akan menjadi lemas.
Kekuatan gempuran Yap Kay tidak sedahsyat biasanya.
Demikian pula kecepatannya tidak lebih pesat dari biasanya.
Mendadak dia menyadari pula bahwa Lu Di memang sengaja memancing dengan menunjukkan lubang kelemahan di atas kepala ini.
Sengaja orang memberi kesempatan dirinya turun tangan, lalu sengaja pula menunjukkan lubang kelemahan ini, maksudnya untuk mengincar lubang kelemahan dirinya.
Inilah suatu jebakan atau perangkap yang benar-benar mematikan.
Kini bagai seorang picak yang kecemplung ke dalam lubang jebakan, untuk menolong dan memperbaiki kesalahannya sudah tak sempat lagi.
Tangan Lu Di yang menakutkan itu tahu-tahu sudah tiba di depan dadanya.
Bukan tangan, namun senjata yang mematikan.
Seketika berubah air muka Cay Ko-kang.
Baru sekarang dia menyadari bahwa penilaiannya barusan salah sama sekali.
Dia lihat itulah serangan telak dan mematikan, yang tak mungkin bisa dielakkan.
Tak nyana pada detik-detik yang amat kritis itu, badan Yap Kay tiba-tiba melambung ke atas seperti daun yang tiba-tiba terhembus angin melayang ke udara.
Takkan ada orang di dalam detik-detik yang kritis seperti itu bisa melompat ke atas di dalam keadaan dan dengan gaya seperti itu, boleh dikata hal ini sudah tidak mungkin dan dibayangkan.
Tapi Ginkang Yap Kay memang sudah mencapai taraf yang tidak mungkin ini.
Tak tertahan Cay Ko-kang menjerit memuji keras.
"Ginkang bagus!"
Tidak ketinggalan Lu Di pun ikut berseru memuji.
"Ginkang hebat!"
Kata-kata pujian ini serempak terucapkan, namun belum lagi suara mereka lenyap, tiba-tiba Yap Kay melorot jatuh mentah-mentah dari atas.
Ternyata tangan Lu Di sudah memukul ke tulang selangkangan.
Waktu menggunakan gerakan Ginkang untuk menolong diri, Yap Kay pun sudah menyadari bahwa dirinya berhasil lolos dari pukulan maut Lu Di yang pertama, sayang sekali jurus kedua tak mampu lagi ia kelit.
Di waktu badannya melambung ke atas, kekosongan pada bagian badan bawahnya sudah digempur pecah oleh lawan.
Hanya itulah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan, yang jelas dadanya terang takkan kuat menerima gempuran dahsyat tangan Lu Di.
Akan tetapi pukulan yang mengenai tulang selangkangannya inipun amat besar deritanya.
Terasa tangan Lu Di seperti godam yang menghancurkan tulangnya, malah kuping sendiripun mendengar suara tulangnya yang pecah terpukul.
Kembali tak terpikir oleh Yap Kay bahwa tanah yang becek inipun ternyata sekeras baja, karena waktu dirinya melorot jatuh, justru bagian yang terpukul luka terlebih dahulu menyentuh bumi.
Hampir kelengar dia dibuatnya.
Tapi cepat sekali dia sudah tersentak sadar, karena didapatinya tangan Lu Di sudah berada di depan dadanya.
Kali ini dirinya terang takkan kuasa meluputkan diri dari pukulan tangan orang, tak mungkin melawan dengan tangkisan segala.
Kalau tangannya tetap tangan biasa, sebaliknya tangan Lu Di adalah alat piranti membunuh orang.
Bagaimanakah rasanya orang mati?
Belum sempat Yap Kay memikirkan hal ini, tiba-tiba didengarnya Cay Ko-kang menjerit.
"Jangan membunuhnya!"
Kedua tangan Lu Di terhenti di tengah jalan, katanya dingin.
"Kau tidak ingin aku membunuhnya?"
Cay Ko-kang menghela napas, ujarnya.
"Kenapa kau harus membunuhnya?"
"Siapa bilang aku hendak membunuh dia?"
"Tapi kau.........."
Lu Di menyeringai dingin.
"Kalau aku benar hendak membunuhnya, hanya kata-katamu kuasa mengendalikan aku?"
Cay Ko-kang menyengir kecut. Dia tahu dirinya takkan mampu merintangi orang turun tangan, mungkin tiada orang dalam dunia ini yang mampu mencegahnya. Lu Di berkata.
"Kalau aku benar ingin membunuhnya, sudah sepuluh kali dia mampus."
Memang bukan kata-kata sombong.
Mengawasi pemuda congkak ini, rasa sakit membuat kulit mukanya mengerut kejang, tapi sepasang matanya malah tenang dan berubah aneh pula.
Malah seperti mengandung senyum simpati.
Kenapa dia malah tertawa?
Dirobohkan dan terluka cukup parah, memangnya sesuatu yang menarik dan membuat hatinya senang?
Lu Di berpaling muka, katanya dengan menatap.
"Tahukah kau kenapa aku tidak membunuhmu?"
Yap Kay geleng-geleng.
"Karena kau memang sudah terluka, kalau tidak dengan Ginkangmu yang tinggi, umpama tak bisa mengalahkan aku, akupun takkan bisa mencandak kau."
Yap Kay tertawa, ujarnya.
"Bahwasanya kau tidak perlu mencandakku, karena meskipun aku kalah, aku tidak akan melarikan diri."
Lu Di menatapnya lagi, lama sekali baru pelan-pelan dia manggut, katanya.
"Aku mempercayaimu,"
Tiba-tiba terunjuk sorot dan mimik yang sama pada Yap Kay, katanya pula.
"Aku yakin kau bukan manusia macam itu, maka aku lebih baik takkan membunuhmu, karena akan kutunggu setelah luka-lukamu sembuh untuk menentukan duel ini sekali lagi."
"Kau......."
Lu Di menukas.
"Karena aku percaya kau takkan melarikan diri, maka aku yakin kau pasti akan kembali."
"Bila saat-saat yang menentukan itu tiba, kalau aku kembali kau kalahkan, kau hendak membunuhku?"
Lu Di manggut-manggut, katanya.
"Pada saat itu, jikalau kau mengalahkan aku, akupun rela kau bunuh."
"Kejadian dalam dunia ini laksana main catur belaka, serba-serbi, dan tidak menentu darimana kau tahu, bila kita bisa menunggu dan mendapatkan kesempatan yang kau harapkan itu."
"Aku tahu dan yakin."
Tiba-tiba terdengar seseorang menghela napas di luar tembok, katanya.
"Tapi ada sebuah hal tidak kau ketahui."
Lu Di tidak bertanya, diapun tidak mengejar keluar. Dia sedang pasang kuping. Orang di luar tembok itu berkata.
"Kalau hari ini kau benar-benar ingin membunuhnya, sekarang kau sendiripun pasti sudah menggeletak tak bernyawa. Ketahuilah bukan hanya sebatang pisau yang dia bawa."
Kelopak mata Lu Di memicing dan menyusut.
Pada detik-detik itu pula tiba-tiba badannya melambung tinggi menerjang ke arah tembok.
Cay Ko-kang tidak ikut mengejar, dia malah menghampiri dan memayang Yap Kay, katanya menghela napas.
"Sungguh tak pernah terpikir olehku, kau bakal dikalahkan."
Yap Kay malah tersenyum, katanya.
"Akupun tidak menduga kau malah menolongku."
Cay Ko-kang tertawa getir, katanya.
"Bukan aku menolongmu, akupun tak bisa menolongmu."
"Cukuplah asal kau mempunyai maksud luhur ini."
Cay Ko-kang tertawa dipaksakan. Mendadak dia berdiri tegak serta berpesan dengan suara keras.
"Lekas siapkan kereta!"
Ooo)dw(ooo Bagasi kereta lebar dan luas, nyaman lagi.
Kereta ini memang biasanya muat pemilik barang yang hendak menempuh perjalanan jauh.
Kepercayaan Pat-hong Piau-kiok kepada para langganannya memang baik sekali, servis yang diberikan kepada tamu-tamunya teliti dan luar biasa.
Tak terpikir oleh Yap Kay bahwa Cay Ko-kang ternyata seseorang yang bekerja rapi dan teliti.
Di dalam kereta di alasi dulu dengan kemul tebal dari kain beludru, lalu dia bopong Yap Kay naik ke atas kereta.
"Luka-lukanya tidak ringan, harus cepat mencari tabib untuk diobati."
Perhatian dan ketelitian kerja orang benar-benar membuat Yap Kay haru dan berterima kasih. Kata Yap Kay menghela napas.
"Sebetulnya tak perlu kau bersikap demikian kepadaku, tadi sikapku terlalu kasar kepadamu."
"Siapapun di dalam keadaan seperti dirimu tadi, sikapnya pasti kasar dan berangasan."
"Agaknya bukan saja aku salah menilai Lu Di, pandangankupun keliru terhadapmu."
"Memang dia tokoh kosen yang belum pernah kulihat seumur hidupku, namun belum tentu dia lebih unggul dari kau."
"Kenyataannya aku sudah dikalahkan."
"Tapi kalau dia benar-benar ingin membunuh kau, sekarang diapun sudah mampus di tanganmu."
"Kaupun percaya akan hal itu?"
Cay Ko-kang manggut-manggut. Yap Kay menatapnya, tiba-tiba bertanya.
"Tahukah kau siapa yang bicara di luar tembok?"
Cay Ko-kang geleng-geleng, katanya.
"Malah aku hendak tanya kepadamu, kau pasti tahu siapa dia."
"Kenapa kau berkesimpulan demikian?"
"Kupikir dia pasti teman dekatmu."
Jawab Cay Ko-kang.
"karena dia sudah keluarkan isi hatimu yang tidak ingin kau katakan, malah diapun kuatir Lu Di menurunkan tangan jahat kepadamu, maka sengaja dia memancingnya pergi."
"Pikiranmu amat cermat, namun dugaanmu salah."
"Dia bukan temanmu?"
Tanya Cay Ko-kang.
"Semula memang kukira dia temanku. Kini aku mengharap selamanya tidak pernah aku melihatnya, demikian pula selanjutnya lebih baik tidak melihat."
"Kau tahu siapa dia?"
Yap Kay tidak menjawab pertanyaan ini, dia malah balas bertanya.
"Siapakah tabib yang hendak kau minta mengobati luka-lukaku?"
"Tabib ini juga seorang aneh, namun kepandaian pengobatannya amat lihay."
Pelan-pelan Yap Kay manggut-manggut.
Cay Ko-kang masih ingin mengobrol, namun dilihatnya Yap Kay sudah memejamkan mata.
Kelihatannya dia amat letih, memang dia manusia biasa, bukan manusia besi.
Setelah luka-luka dan belum sembuh, kini dia harus terluka pula, sudah tentu kondisi badannya makin lemah.
Maka ditariknya kemul oleh Cay Ko-kang untuk menutupi badan Yap Kay.
Terunjuk mimik aneh pada muka Cay Ko-kang, dari mimiknya ini seolah-olah dia teramat gemas dan penasaran.
Ingin rasanya dia sekap kepala Yap Kay dengan kemul tebal ini sampai orang mati tak bisa bergerak.
Tapi dia kemudian hanya menutupkan kemul saja ke badan Yap Kay.
Agaknya Yap Kay sudah tertidur.
Umpama dia tahu orang hendak menyekap dirinya dengan kemul sampai matipun, dia takkan kuat melawannya.
ooo)dw(ooo Tengah hari.
Kereta itu masih terus melaju, agaknya menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Dengan menggerogoti paha ayam, Cay Ko-kang mengawasi muka Yap Kay yang pulas dalam impiannya.
Agaknya dia memang sudah mempersiapkan diri menempuh perjalanan jauh, sampai ransumpun sudah dia siapkan.
Sebagai orang yang cermat, dia hanya seorang diri makan siang.
Yang adapun hanya paha ayam, sekerat daging sapi, sepotong roti dan sebotol arak.
Agaknya diapun sudah tahu bahwa Yap Kay akan tertidur pulas di perjalanan, karena sebelum naik kereta tadi, dia sudah cekoki Yap Kay semangkok kuah kolesom yang katanya untuk memulihkan semangatnya.
(Bersambung ke Jilid-10) Jilid-10 Sebagai majikan dari sebuah perusahaan ekspedisi pengangkutan, makanan Cay Ko-kang cukup mewah dan lezat, namun sebelum tugas yang dipikulnya selesai, segala apa yang bisa diinginkan terpaksa dikesampingkan.
Satu jam lagi, dia sudah akan menyerahkan Yap Kay kepada orang yang harus dia temui di tempat tujuan, sebelum senja tiba, dia sudah ada di rumah dan makan minum sepuas hatinya.
Habis menenggak sebotol arak, tiba-tiba dia sendiri merasa letih.
Biasanya dia tidak pernah tidur siang hari, namun mumpung iseng, apa halangannya tidur barang satu atau setengah jam untuk memulihkan semangat.
Setelah makan malam nanti dia masih merencanakan sesuatu hiburan yang menyenangkan.
Kereta berjalan di jalan raya yang tidak rata, berguncang seperti perahu yang diombang-ambingkan lautan.
Dengan memejamkan mata, otaknya merancang dan membayangkan siapa kiranya nanti malam yang harus ditemuinya untuk menghibur diri?.
Untuk senang-senang ini sudah tentu harus mengeduk banyak uang dari kantongnya, tapi dua tahun belakangan ini, dia boleh tidak risau dalam menggunakan uang.
Maka dengan senyuman lebar, akhirnya dia pulas.
ooo)dw(ooo Rasanya dia hanya tidur sebentar saja, namun di kala dia tersentak siuman, Yap Kay ternyata sudah tak berada di tempatnya.
Pintu kereta masih tertutup, kereta masih melaju ke depan, tapi Yap Kay sudah lenyap tanpa bekas.
Seketika pucat dan gemetar sekujur badan Cay Ko-kang, teriaknya.
"Berhenti!", sebelum kereta berhenti dia sudah melompat turun merenggut sais kereta.
"Adakah kau melihat orang she Yap tadi turun dari kereta?"
"Tidak!", sahut sais dengan kaget dan melenggong.
"Lalu di mana dia?"
Sais kereta menyengir dingin, katanya.
"Dia berada di dalam kereta bersama kau, kalau kau tidak tahu, darimana aku bisa tahu?"
Agaknya sais kereta ini bukan anak-buahnya dan tindak-tanduknya tidak hormat terhadapnya.
Kontan Cay Ko-kang rasa perutnya seperti dipelintir hendak muntah-muntah.
Hampir tak tertahan lagi paha ayam dan daging sapi serta arak yang dimakannya tadi hendak dia tuang keluar dari perutnya.
Sais kereta menatapnya dingin-dingin.
"Lebih baik lekas kau naik kereta, pulang mempertanggung-jawabkan tugasmu."
Cay Ko-kang tidak punya pikiran untuk melarikan diri.
Dia tahu kemanapun dia melarikan diri takkan berguna, akibatnya malam semakin mengerikan.
Di kala kereta berjalan, dia mendekam di pinggir jendela mulai muntah-muntah.
Ketakutan tak ubahnya bau ikan busuk yang amis, selalu bikin orang muntah-muntah.
Setelah melampaui sebuah selat gunung dan maju tak berapa jauh, tampak di depan sebuah papan lebar di mana ada tertuliskan "Di atas gunung ada harimau, orang lewat ke jalan lain", tapi kereta ini tidak lewat jalan lain.
Jalanan gunung semakin sempit dan rusak, tapi cukup lebar untuk lewat sebuah kereta yang menyerempet dinding gunung.
Setelah tiba di tikungan gunung lain, mereka tiba di sebuah jalan raya.
Jalan raya yang tidak kalah lebar dan ramainya dari jalan raya di sebuah kota besar.
Sepanjang jalan dipagari oleh warung-warung makan, berbagai macam manusia berlalu lalang di tengah jalan.
Siapapun yang berada di sini pasti mengira dirinya tahu-tahu sudah kembali ke kota Tiang-an.
Tapi setelah tiba di ujung jalan raya ini, kembali mereka dihadang oleh gunung yang liar dan belukar.
Lari kereta mulai diperlambat pula.
Orang-orang yang lalu lalang di jalan seolah-olah adem-ayem dan acuh kepada kereta yang lewat di samping mereka.
Karena mereka sudah kenal kereta ini juga kenal siapa pemiliknya, demikian pula sais kereta sudah mereka kenal betul.
Jikalau orang asing yang mengendalikan kereta ini mencongklang di jalan raya ini, perduli siapa dia, di dalam waktu singkat pasti jiwanya bakal melayang di tengah jalan.
Tentunya di jalan raya ini takkan ada harimau buas, tapi ada orang-orang yang lebih buas dan lebih liar dari harimau yang paling galak.
ooo)dw(ooo Kereta itu akhirnya masuk ke dalam pekarangan sebuah penginapan.
Papan yang terpancang di depan pintu bertuliskan Hong-ping.
Hotel yang mirip benar dengan tempat penginapan Yap Kay waktu dia berada di kota Tiangan.
Seorang pelayan yang menyanding kain lap meja di pundaknya dengan menjinjing sebuah teko segera memapak maju, sapanya.
"Apakah Cay-cong-piau-thau datang seorang diri?"
Cay Ko-kang unjuk tawa dipaksakan, sahutnya.
"Ya, seorang diri saja."
Tak terunjuk perasaan pada muka pelayan ini, katanya.
"Kamarnya sudah kami siapkan untuk Cay-cong-piau-thau, silahkan ikut aku........"
Pekarangan luas di sebelah belakang rumah terdapat tujuh kamar besar dan sejuk, tak ubahnya seperti kamar di dalam pekarangan yang di tempati Giok-siau Tojin dan murid-muridnya.
Pada ruang tamu di bagian depan, sudah dipersiapkan sebuah poci arak, sebuah nampan perak terukir yang dipenuhi berbagai kue-kue tujuh macam.
Seseorang tengah duduk membelakangi pintu, makan minum sendirian.
Seorang yang berperawakan ramping bersanggul kepala tinggi dengan hiasan tusuk kondai dan mainan yang serba mewah.
Itulah seorang gadis jelita yang rupawan melebihi bidadari.
Dengan menunduk kepala, Cay Ko-kang beranjak masuk, berdiri di belakang orang, menghela napas keras-keraspun tidak berani.
Tanpa berpaling gadis itu pelan-pelan angkat cangkir araknya serta ditenggak habis, baru dengan suara merdu dia bertanya.
"Kau datang seorang diri?"
Cay Ko-kang mengiyakan.
"Lalu kemana seorang yang lain?"
"Sudah pergi!,"
Jawab Cay Ko-kang gemetar.
Baru sekarang si jelita ini berpaling, raut mukanya mengulum senyuman mekar.
Siangkwan Siau-sian.
Sudah tentu dia adalah Siangkwan Siau-sian.
Berhadapan dengan gadis jelita ini, namun Cay Ko-kang ketakutan seperti berhadapan dengan iblis jahat.
Halus suara Siangkwan Siau-sian, katanya.
"Apa kau mau bilang bahwa Yap Kay sudah menghilang?"
Cay Ko-kang manggut-manggut, giginya gemerutuk, saking ketakutan mulutnya menjadi kaku tak kuasa bersuara.
"Kuah kolesom yang kau siapkan itu, apa tidak kau minumkan kepadanya?", tanya Siangkwan Siau-sian.
"Dia.......sudah dia minum."
"Lalu bagaimana?"
"Lalu kupayang dia naik ke kereta,"
Walau musim dingin, namun keringat Cay Ko-kang gemerobyos.
"Di atas kereta dia sudah pulas belum?"
"Dia sudah tertidur."
"Bagaimana keadaan luka-lukanya?"
"Luka-lukanya tidak ringan."
"Aku tidak mengerti, seseorang yang terluka berat, sudah tidur lagi, cara bagaimana kau melepas dia pergi?"
Cay Ko-kang seka keringatnya, sahutnya.
"Aku........tidak melepasnya pergi."
"Aku tahu dia sendiri ingin pergi, tapi masa kau tidak bisa menahannya?"
Semakin di seka semakin gemerobyos keringat dingin Cay Ko-kang, katanya.
"Waktu dia pergi, sedikitpun aku tidak tahu."
"Bukankah kau duduk sekereta sama dia?"
"Ya"
"Kan aneh, kau duduk sekereta, bagaimana kau tidak tahu kapan dia pergi?"
"Karena.......karena........karena akupun tertidur."
Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian tertawa cekikikan, tawa yang manis dan lembut, katanya.
"Aku tahu kau pasti terlampau letih, belakangan ini kau memang terlalu repot."
Pucat pias muka Cay Ko-kang, sahutnya tersendat.
"Aku.....aku tidak letih sedikitpun tidak."
"Kau harus melayani banyak langganan, bukan saja harus melayani para tamu, kau juga harus melayani hiburan cewek-cewek ayu itu. Bagaimana tidak akan meletihkan badanmu?,"
Setelah menghela napas dia menambahkan.
"Kupikir kau memang perlu istirahat, biarlah kuberi kau cuti dua puluh tahun saja. Dua puluh tahun kemudian kau akan hidup kembali sebagai laki-laki yang segar bugar."
Jari-jari tangan Siangkwan Siau-sian tengah pegang sepasang sumpit gading yang dihiasi perak, mendadak dia tusukkan masuk ke tenggorokan Cay Ko-kang dengan sepasang sumpitnya ini.
Cay Ko-kang tidak berkelit, dia tidak berani berkelit, yang terang memang dia tidak mampu menyelamatkan diri dari tusukan ini.
Memang, siapa yang mampu meluputkan diri dari serangan Siangkwan Siau-sian.
Tapi pada detik-detik yang menentukan itulah, sekonyong-konyong sinar kemilau berkelebat, 'Ting...' sumpit gading di tangan Siangkwan Siau-sian tahu-tahu putus terpapas di tengah-tengah.
Kekuatan samberan sinar kemilau itu masih terlampau kuat dan 'Trap...' akhirnya menancap ke dinding yang dua tombak jauhnya dari tempat duduk Siangkwan Siau-sian.
Itulah sebatang pisau, panjang tiga dim tujuh inci.
Entah sejak kapan seseorang tengah beranjak masuk pelan-pelan dengan tangan berpegang daun pintu.
Yap Kay.
Akhirnya Yap Kay datang juga.
Pisau terbangnya selalu keluar dan lebih banyak menolong jiwa orang daripada membunuh orang.
Mukanya kelihatan pucat.
Dengan menggeremet meronta, pelan-pelan dia beranjak maju menepuk pundak Cay Ko-kang, katanya.
"Kau menolongku sekali, akupun menolongmu sekali. Kini kita masing-masing tidak berhutang kepada siapa."
Siangkwan Siau-sian tertawa, katanya.
"Ternyata tidak meleset omonganku, memang bukan hanya sebatang pisau yang kau bawa."
"Mana Lu Di?", ujar Yap Kay tertawa.
"Mana bisa dia mengejarku?"
Ujar Siangkwan Siau-sian sambil mengawasinya, senyumannya lembut manis.
"Kecuali kau, tiada laki-laki dalam dunia ini yang bisa mengejarku."
Ucapan manis yang mengandung dua arti tersembunyi.
Tapi Yap Kay berlagak tidak mengerti, pura-pura bodoh memang salah satu keahliannya, malah sorot matanya celingukan ke sekelilingnya.
Katanya sambil menghela napas panjang.
"Sungguh tempat ini amat baik sekali!"
"Kau suka tinggal di tempat ini?"
"Kalau aku tertidur terus, setiba di sini baru bangun, pasti kukira aku masih berada di dalam kota, pasti tidak terpikir olehku bahwa markas pusat Kim-cie-pang ternyata berada di sini."
"Sayang, agaknya kau tidak sudi menerima kebaikanku."
"Memang untuk membuatku tidur pulas kau harus menaruh obat tidur sepuluh sendok di dalam kuah kolesom itu."
"Memang aku yang harus disalahkan, kenapa aku lupa bahwa kau adalah putra tersayang dari salah satu yang tertua dari Su-thoa-kong-cu dari Mo Kau."
"Oleh karena itu jangan kau menyalahkan Cay-cong-piau-thau, kupercaya dia sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa pulas."
"Tapi kau tahu bukan?"
"Begitu berada di dalam kereta, lantas aku mendapatkan ransum yang dia bekal untuk tangsel perut di tengah jalan."
"Apakah kau selalu juga bawa obat bius?"
Yap Kay tertawa, katanya.
"Aku hanya sedikit berludah pada paha ayamnya."
"Apakah ludahmu masih mengandung kuah kolesom itu?"
Cay Ko-kang menunduk, mimik mukanya seperti orang yang mendadak mulutnya disumbat.
"Darimana kau bisa tahu bila Cay-cong-piau-thau hendak membawamu kemari?" , tanya Siangkwan Siau-sian.
"Kecuali kau, siapa pula yang mampu membikin kuah kolesom dengan obat bius yang mahal itu?"
"Kau sudah lari, kenapa datang kemari?"
"Karena tiada tempat lain yang cukup buat aku berteduh."
Ujar Yap Kay.
Memang hal ini kenyataan.
Dia tahu luka-lukanya berat, bila dia tetap berada di kota Tiang-an, mungkin jiwanya takkan berumur panjang.
Dirinya tak ubah seekor rase gemuk, berkulit dan berbulu indah, para pemburu sedang mengejar-ngejar dirinya, burung-burung elang tengah beterbangan di kota Tiang-an mencari jejaknya.
Tiba-tiba Cay Ko-kang angkat kepala, timbrungnya.
"Ada sebuah hal belum ku mengerti."
"Hal apa? Kau boleh tanya."
Ujar Yap Kay.
"Kau punya maksud datang kemari, kenapa pula harus mempermainkan aku?"
"Karena aku tidak sudi dianggap anak bodoh oleh orang lain, perduli ke manapun, aku harus cari tahu tempat macam apakah yang akan ku tuju."
Siangkwan Siau-sian menghela napas, ujarnya.
"Kini terhitung kau sudah tahu tempat apa kediamanku ini. Untunglah kini akupun sudah memahami satu hal,"
Matanya mengerling ke arah Cay Ko-kang, katanya menambahkan.
"Kini aku betul-betul tahu siapa sebenarnya yang bodoh."
"Aku....."
Baru sepatah kata yang keluar dari mulut Cay Ko-kang.
Untuk bicara mulutnya harus terbuka, mendadak selarik sinar berkelebat melesat masuk ke dalam mulutnya.
Seketika terasa mulutnya manis dingin, seperti dia makan gula-gula yang mengandung arak.
Siangkwan tersenyum manis, katanya.
"Aku tahu kau suka makan permen. Senjata rahasia di kolong langit ini, tiada satupun yang lebih manis dari permen saljuku ini, benar tidak?"
Cay Ko-kang tidak menjawab.
Tiba-tiba kulit mukanya berubah hitam, tenggorokannya tiba-tiba tersumbat, seperti ada dua tangan yang tidak kelihatan mencekik lehernya.
Cepat sekali napasnya tiba-tiba putus.
Waktu arwahnya melayang, mulutnya masih terasa manis.
Siangkwan Siau-sian tetap tersenyum manis, lebih manis dari permen esnya.
Yap Kay tidak tertawa, dia tak bisa tertawa, dia tutup mulut.
"Kau tidak senang?"
Tanya Siangkwan Siau-sian.
"dia pernah menolongmu, kaupun sudah menolongnya, bukankah utang piutang kalian sudah lunas? Kubunuh dia tiada sangkut pautnya dengan kau lagi."
"Sedikitnya kau bisa membunuhnya di luar, atau di mana saja asal tidak di hadapanku. Tapi kenapa......?"
"Karena aku ingin kau mengerti akan dua hal,"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"jikalau kau ingin seseorang bodoh, tidak sebodoh orang lain, hanya ada satu cara."
Dengan tersenyum dia awasi mayat Cay Ko-kang serta menambahkan.
"Kini bukankah dia tidak lebih bodoh dari orang lain?"
Di manapun juga orang mati sama saja, tiada orang mati yang lebih pintar dan tiada orang mati yang luar biasa bodoh. Dengan kalem Siangkwan Siau-sian melanjutkan.
"Akupun ingin supaya kau tahu, bila aku ingin membunuh orang, maka dia harus mati. Tiada manusia siapapun dalam jagat ini yang bisa menolongnya, demikian pula dirimu."
Yap Kay tetap tutup mulut. Mengawasi orang, Siangkwan Siau-sian tertawa menggiurkan, ujarnya.
"Sekarang kau masih segar bugar, karena aku tidak ingin membunuhmu, tidak akan kuberikan permen es untuk kau. Kenapa kau membisu saja? Yang benar ku anggap perbuatanmu terlalu goblok, kenapa tidak kau pakai saja pisaumu menghadapi Lu Di?"
Yap Kay tertawa dingin, sesaat dia termenung, katanya kalem.
"Karena aku ingin membuktikan satu hal."
"Hal apa?"
"Aku ingin tahu apakah Han Tin benar-benar mati karena timpukan pedangnya."
"Jikalau jiwamu sendiri mampus, apa pula untungnya kau tahu akan rahasia itu?"
"Memang, aku terlalu rendah menilai kepandaiannya."
"Kepandaiannya lebih tinggi daripada yang kau bayangkan?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kau sudah tahu bahwa Han Tin bukan mati di tangannya?"
"Kalau benar dia yang membunuh Han Tin, pasti diapun akan membunuhku.", ujar Yap Kay.
"kenyataan Han Tin bukan dia yang membunuh, maka pasti kaulah yang membunuhnya. Setelah membunuh Han Tin, sengaja kau jatuhkan dosamu atas dirinya, maksudmu supaya aku adu jiwa dengan dia."
Siangkwan Siau-sian menatapnya bulat-bulat, matanya yang jeli menampilkan perasaan yang rumit. Lama sekali baru dia berkata pelan-pelan.
"Apa kau yakin bahwa akulah yang membunuh Han Tin?"
"Kecuali kau, tak terpikir orang kedua."
Sahut Yap Kay menatapnya juga.
"Tapi, aku benar-benar tidak membunuhnya."
Kata Siangkwan Siau-sian. Yap Kay menyeringai dingin.
"Kau tidak percaya?"
Kata Siangkwan Siau-sian, sambil menghela napas melanjutkan.
"Memang aku duga kau tidak akan percaya, apapun yang kukatakan sekarang, kau pasti tidak percaya."
Yap Kay mengakui.
"Tapi kalau aku bisa membuktikan bukan aku yang membunuh dia, kau bagaimana?"
"Kau bisa membuktikan? Bagaimana kau akan membuktikan?"
"Sudah tentu aku punya caraku sendiri."
"Aku tahu kau punya akal, malah kaupun punya akal bahwa akulah yang membunuh Han Tin."
"Yang terang buktiku ini kenyataan."
"Aku tahu kau punya bukti yang nyata, sembarang waktu kau bisa saja menonjolkan ratusan bukti-bukti."
"Hanya ada satu bukti pada diriku, kalau kau tidak percaya akan bukti yang kutunjukkan, aku rela kau gorok leherku untuk membalaskan sakit hati Han Tin."
Kata-katanya tegas penuh keyakinan. Hampir saja Yap Kay sudah termakan oleh kata-katanya, namun dia segera meningkatkan kewaspadaan, supaya dirinya jangan gampang diakali dan mau percaya begitu saja.
"Perduli bukti apapun yang kau tunjukkan, aku tidak akan mau percaya."
"Jikalau kau percaya, bagaimana?"
"Kalau benar kau bisa membuat aku percaya bahwa bukan kau yang membunuh Han Tin, aku akan....."
"Kau akan apa?"
"Terserah apa yang kau inginkan."
"Kau tahu aku jelas tidak akan bertindak apa-apa terhadapmu, bukan saja tidak ingin membunuhmu, akupun tidak ingin kau berduka, aku hanya ingin kau menerima sebuah permintaanku."
"Permintaan apa?"
"Sesuatu yang tidak akan mencelakai jiwa orang lain, juga tidak akan merugikan seujung rambutmu."
"Baik, kuterima!"
Dia yakin Siangkwan Siau-sian tidak akan bisa mengeluarkan buktinya, tiada sesuatu dalam dunia ini yang bisa membuatnya percaya akan obrolan Siangkwan Siau-sian.
Tapi kali ini dia salah pikir.
Masih ada satu orang dalam dunia ini yang bisa membuktikan bahwa bukan Siangkwan Siau-sian yang membunuh Han Tin.
Lalu siapakah orang ini?
Orang ini bukan lain adalah Han Tin sendiri.
Hakekatnya Han Tin belum mati, ternyata dengan segar bugar, kembali dia muncul di hadapannya.
Sekali Siangkwan Siau-sian tepukkan tangannya, dia lantas muncul dari belakang, tangannya menenteng sebuah guci arak, dengan tersenyum dia angsurkan ke depan Yap Kay, katanya.
"Akhirnya aku temukan arak ini untuk kau. Kalau tidak cukup, aku masih bisa mencari yang lain."
Sudah tentu Yap Kay melenggong dan tak habis mengerti. Kali ini dia benar-benar menjublek. Siangkwan Siau-sian tertawa-tawa, ujarnya.
"Apa orang ini bukan Han Tin?"
Tidak perlu disangsikan lagi. Jelas terlihat oleh Yap Kay hidung orang yang penyok bekas pukulannya tempo hari.
"Bahwa Han Tin masih hidup, sudah tentu aku tidak pernah membunuh Han Tin."
Demikian kata Siangkwan Siau-sian.
"kau sudah percaya bahwa aku tidak membunuhnya bukan?"
Yap Kay tidak bersuara.
Kini dia mengerti, orang yang terpantek pedang, mampus di ranjang itu bukan Han Tin.
Muka orang itu sudah dirusak maka dia tidak bisa membedakan apakah dia itu Han Tin yang asli atau palsu.
Terpaksa Yap Kay hanya menyengir tawa, katanya.
"Agaknya dalam Kim-cie-pang memang tidak sedikit kaum ahli. Kau suruh seseorang menyaru jadi Han Tin, lalu menghancurkan mukanya, menyuruhnya menipu aku."
Siangkwan Siau-sian berkata.
"Han Tin sendiri yang melaksanakan, kepalannya amat keras, sedikitnya lebih keras dari kepalanku."
"Tapi aku tetap tidak mengerti, cara bagaimana ada orang sudi bekerja demi kau, setelah kau hajar dan kau rusak mukanya, masih mau diperalat untuk menipu orang?"
"Waktu kau keluar dari kereta tadi, adakah kau melihat orang-orang di luar itu? Cukup sepatah kataku, apapun yang kuinginkan, mereka akan suka rela melaksanakannya."
"Setelah mereka melaksanakannya, kau tetap membunuh mereka?"
"Memang, aku ini perempuan telengas yang gapah tangan, jiwa orang-orang itu dalam pandanganku tidak berharga sepeserpun."
Tiba-tiba terunjuk pula sorot mata aneh, katanya lebih lanjut.
"Tapi terhadap kau.................bagaimana sikapku terhadap kau, tentu kau tahu sendiri."
"Sekarang aku hanya ingin tahu, kerja apa yang harus kulaksanakan untukmu?"
Lama Siangkwan Siau-sian menatapnya, katanya.
"Aku hanya minta kau mematuhi permintaanku, tinggallah di sini, setelah luka-lukamu sembuh seluruhnya, baru berlalu."
"Hanya itu saja?"
"Hanya ini saja."
Kembali Yap Kay melongo.
Mengawasi orang tiba-tiba timbul perasaan yang sukar dia resapi sendiri.'........terhadap orang lain aku bertindak kejam, tapi bagaimana terhadapmu, tentu kau mengerti sendiri......'.
Jadi sengaja perbuatan segala usahanya melulu hanya untuk Yap Kay.
Yap Kay bingung dan tidak habis mengerti, selalu dia tidak mau percaya dan tidak rela percaya, tapi dia di hadapi kenyataan dan mau tidak mau harus percaya.
Siangkwan Siau-sian berkata dengan perasaan seorang gadis yang dilanda asmara.
"Sebetulnya banyak cara bisa kugunakan untuk menahanmu di sini, tapi aku tidak ingin memaksa kau, maka ku ingin kau sendiri yang menerima permintaanku."
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Memang, aku toh sudah menerimanya."
Ooo)dw(ooo Di belakang pekarangan terdapat sebuah dapur kecil, bau bubur yang wangi telah teruar dari dapur kecil itu.
Siangkwan Siau-sian berada di dapur, tengah memasak bubur, bubur ayam dicampur kolesom.
Bau makanan yang sedap menjadikan perut Yap Kay keroncongan.
Sejak tadi dia masih mempertahankan diri, namun begitu dia merebahkan diri di atas ranjang, baru dia sadar, bahwa dirinya kuat bertahan sekian lamanya sungguh merupakan keajaiban.
Bukan saja luka-lukanya sedang cekat-cekot, seluruh tulang-tulang badannya seperti berontak, rasanya linu dan senut-senut.
Tak lama kemudian Siangkwan Siau-sian beranjak masuk dengan membawa semangkok bubur, katanya berseri tawa.
"Inilah bubur yang ku masak sendiri, boleh kau rasakan bagaimana rasanya?" . Apa benar diapun pandai masak? Bisa masak bubur? Mungkin karena sudah kelaparan, Yap Kay makan dengan lahapnya. Kata Siangkwan Siau-sian tertawa senang.
"Dalam bubur ku campur obat kuat untuk mempercepat sembuh badanmu."
Kini pupur dan gincu sudah dia bersihkan sama sekali, pakaiannyapun sederhana, kain hijau dan celana dari kain kasar yang bersahaja, siapapun yang berhadapan dengan dia takkan menyangka dan percaya bahwa gadis jelita ini adalah Kim-cie-pang Pangcu, lebih takkan mau percaya bahwa gadis yang satu ini adalah gembong iblis yang bertangan gapah berhati kejam.
Kini seolah-olah dia sudah berubah menjadi perempuan lain, dari seorang gadis linglung, gadis boneka menjadi gembong iblis yang jahat, kini berubah lagi seperti seorang istri yang telaten yang meladeni suaminya yang sakit.
Menghadapi perubahan orang, Yap Kay sendiri sukar membedakan perempuan macam apa dia sebenarnya?
Mungkinkah setiap manusia mempunyai dua watak dan jiwa yang berlainan?
Ada kalanya berhati bajik dan luhur, namun ada kalanya pula dia berbuat jahat.
Yap Kay sendiripun tidak terkecuali akan hal ini.
Apakah dia membelenggu watak jahat Siangkwan Siau-sian?
Dia tidak yakin, tapi dia berkeputusan untuk mencobanya.
Setelah habis mendulangi bubur, Siangkwan Siau-sian telah memeriksa tulang selangkangan Yap Kay yang putus, katanya menghela napas.
"Luka-lukamu memang tidak ringan, agaknya tangan Lu Di memang dibuat dari besi baja."
"Kalau tidak mirip besi, aku yakin tidak ada lagi besi yang lebih menakutkan dari tangannya itu."
Ujar Yap Kay tertawa kecut. Siangkwan Siau-sian menepekur, katanya kemudian.
"Semula aku memang ingin kau mencari Lu Di menuntutkan balas sakit hati Han Tin, aku ingin kau membunuhnya."
Yap Kay diam saja, dia sedang mendengarkan.
"Kini Siau-li Tham-hoa, Hwi-kiam-khek dan Kek Bu-si walau masih hidup, namun takkan mau mencampuri urusan duniawi lagi. Kecuali ketiga orang ini, dalam dunia ini yang benar-benar bisa merupakan ancaman berat bagi usahaku hanya tiga orang saja."
"Siapa saja ketiga orang itu?"
Tanya Yap Kay.
"Coba kau terka?"
Biji mata Siangkwan Siau-sian berkedip-kedip.
"Tentunya kaupun masukkan diriku di dalam hitunganmu itu."
"Kau justru tidak!"
Yap Kay melengak, tanya.
"Apakah aku belum terhitung tokoh kosen?"
"Kalau menilai ilmu silat, sudah tentu kau merupakan tokoh kosen yang paling top. Sebaliknya kalau dinilai kecerdikan otak serta akal muslihatnya, akupun tidak lebih asor dari orang lain, terutama pisau terbangmu, tiada bandingannya kecuali gurumu sendiri, dan merupakan senjata ampuh yang paling menakutkan dalam dunia ini."
Ini memang kenyataan.
Yap Kay tidak suka menimbrung ucapan tulus orang, sudah tentu lebih tidak suka menukas ucapan yang mengagulkan dirinya.
Betapapun dipuji dan diagulkan merupakan suatu yang menyenangkan.
"Sayang hatimu kurang hitam (kejam), sepak terjangmu kurang telengas pula. Pisau terbangmu selalu keluar hanya untuk menolong jiwa orang, jarang untuk membunuh orang."
Yap Kay tertawa, katanya.
"Oleh karena itu aku tidak bisa menekan dan mengancam?"
"Ku anggap kau tidak atau bukan merupakan ancaman bagi usahaku, yang penting lantaran...... lantaran kita adalah sahabat, aku takkan mencelakai kau. Aku percaya, kaupun segan melukai aku."
"Kalau aku tidak masuk hitungan, Tang-hay-giok-siau apakah masuk diantaranya?"
"Diapun tidak masuk hitungan,"
Sahut Siangkwan Siau-sian.
"tiga puluh tahun yang lalu, namanya sudah tercantum di dalam urutan sepuluh tokoh kosen di dalam buku daftar senjata, kini sudah menjadi anggota Mo Kau pula, sudah tentu ilmu silatnya amat menakutkan, tapi dia tetap tidak akan mengancam usaha dan kedudukanku."
"Kenapa?"
"karena dia sudah pergi dan lagi dia punya ciri kelemahan."
"Giok-siau doyan paras ayu."
Ujar Yap Kay.
"Maka aku tidak perlu gentar menghadapinya, laki-laki yang doyan paras ayu, teramat mudah untuk menghadapinya."
"Giok-siau pun tidak masuk hitungan, lalu Kwe Ting?"
"Kwe Ting juga tidak masuk hitungan."
Yap Kay tidak setuju, katanya.
"Menurut apa yang ku tahu, tingkatan ilmu pedangnya takkan lebih asor dari Siong-yang-thi-kiam di masa jayanya dulu."
"Memang ilmu pedangnya mungkin lebih tinggi dari Siong-yang-thi-kiam, bukankah Lamkiong Wan termasuk ahli pedang kelas wahid di Bu-lim, sepuluh juruspun dia tidak kuat melawannya."
"Kaupun saksikan pertempuran itu?"
"Duel tokoh Bu-lim pada jaman ini, bila aku punya kesempatan, pasti tidak akan kusia-siakan."
"Ya, malah ada kalanya kau cukup mencuri lihat saja dari luar tembok,"
Olok Yap Kay tertawa.
"Gerakannya memang kuat dan mantap, perubahannyapun cepat sekali, boleh dikata sudah tiada kelemahan yang patut digempur, tapi dia orang yang tetap mempunyai ciri."
"O,ya"
Yap Kay bersuara heran.
"apa cirinya."
"Dia terlalu romantis."
Yap Kay harus mengakui kebenaran ini, Kwe Ting memang terlalu romantis.
"Orang yang terlalu romantis, pasti seseorang yang lemah hati, betapapun kuat dan hebat ilmu silatnya, jikalau hatinya lemah, tidak perlu dia ditakuti."
Yap Kay menghela napas.
Mengingat Kwe Ting, serta merta terbayang juga Ting Hun-pin.
Bukan saja Ting Hun-pin terlalu romantis, diapun terlalu gampang jatuh cinta dilandasi perasaan yang lembut.
Untuk ini dia tidak ingin memikirkannya lebih lanjut.
Tanyanya.
"Bagaimana dengan majikan kota mutiara?"
"Majikan kota mutiara bersaudara memang boleh dihitung orang ajaib, keanehan ilmu pedang mereka boleh terhitung nomor satu di seluruh jagat."
"Lian-cu-su-pek-kiu-cap-kiam?"
Seru Yap Kay. Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, katanya.
"Kedua kakak beradik ini memang dilahirkan tidak normal seperti manusia umumnya, yang satu lengan kanannya lebih panjang tujuh dim dari lengan kiri, sementara tangan kiri lebih panjang tujuh dim dari tangan kanan. Masing-masing pegang pedang di tangan kiri dan kanan, Cuma pedang yang satu panjang yang lain pendek. Memang mereka saudara kembar, daya pikiran seia sekata. Di waktu bergabung menghadapi musuh, dua orang bersatu padu seperti satu orang. Begitu ilmu pedang rangkaian mutiara yang berjumlah empat ratus sembilan puluh jurus itu dikembangkan, tiada orang dalam dunia ini yang mampu memecahkannya."
"Bukan saja tiada orang bisa memecahkan, malah tiada tokoh kosen siapapun dalam dunia ini yang mampu melawannya sampai empat ratus sembilan puluh jurus itu dikembangkan seluruhnya."
"Lalu mereka termasuk hitungan tidak?"
"Tidak!"
"Lho! Kok Tidak? Kenapa?"
"Karena mereka sudah mati."
"Kapan mati? Cara bagaimana bisa mati?"
"Setiap orang akhirnya ajal, kenapa dibuat heran?"
"Lalu siapakah ketiga orang yang kau maksud? Apa mereka bukan tokoh kenamaan?"
"Paling tidak mereka bukan tokoh kenamaan segolongan dengan orang-orang yang kau sebut tadi."
Yap Kay menepekur, tiba-tiba dia bertanya.
"Kau tahu Pho Ang-swat?"
"Aku tahu, dia adalah temanmu, boleh terhitung sebagai adikmu, wataknya aneh, ilmu goloknyapun aneh luar biasa."
"Bukan aneh, tapi cepat, cepatnya luar biasa."
"Aku pernah melihat permainannya."
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"memang goloknya teramat cepat dan telak, bolehlah disejajarkan dengan Hwi-kiam-khek yang kenamaan dulu......"
"Diapun belum bisa masuk hitungan"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena dia tidak mau keluar lagi di kalangan Kang-ouw, terhadap kehidupan Kang-ouw ini agaknya dia sudah bosan, dia hanya ingin jadi seorang pertapa, mengasingkan diri tanpa pertentangan dan berlomba mengadu untung dan mempertaruhkan jiwa, diapun tidak ingin menjadi pendekar besar, seorang Enghiong yang menggetarkan jagat, apalagi dia mengidap penyakit ayan yang menakutkan."
Yap Kay kelakep.
Kali ini Siangkwan Siau-sian tidak meleset lagi menguraikan setiap tokoh yang dia kenal dengan baik.
Lebih menakutkan lagi, siapapun asal dia punya setitik kelemahan., pasti takkan bisa mengelabui dirinya.
Tiba-tiba Yap Kay merasakan orang berubah pula menjadi orang lain, seorang kritikus yang tahu segala seluk beluk dunia, seorang strategis perang yang bisa mengendalikan tentaranya untuk menggempur kelemahan musuh yang jauhnya ribuan Li untuk mencapai kemenangan gemilang.
Semula Yap Kay sudah amat letih, namun kini semangatnya terbangkit, katanya.
"Lalu, siapakah sebenarnya tiga orang yang kau maksudkan itu?"
"Tiga orang yang kumaksud barulah benar-benar manusia yang amat menakutkan dalam dunia ini, karena mereka boleh dikata sudah hampir tidak mempunyai kelemahan apa-apa."
Tiba-tiba terpancar cahaya pada sorot mata Siangkwan Siau-sian, katanya melanjutkan.
"Orang pertama she Bak, bernama Bak Ngo-sing."
"Bak Ngo-sing?"
"Kau belum pernah mendengar nama orang ini?"
"Apakah dia salah satu keluarga marga Bak dari Ceng-seng-san?"
"Memang, dia inilah majikan tulen dari pasukan berani mati dari Ceng-seng itu. Bak Pek tidak lebih hanyalah budak piaraannya belaka."
Bak Pek sudah terhitung tokoh yang menakutkan, namun orang ternyata hanyalah budaknya belaka.
"Orang macam apakah sebenarnya Bak Ngo-sing ini? Bagaimana pula ilmu silatnya?"
"Aku tidak bisa menerangkan,"
Sahut Siangkwan Siau-sian.
"oleh karena itu ku anggap menakutkan. Soal lain tidak perlu kubiarkan, anak buahnya kira-kira ada 500 orang, sembarang waktu siap gugur demi kepentingan junjungannya Untuk hal ini, kau sudah bisa membayangkan betapa menakutkan dia itu."
Teringat akan orang-orang yang berani mati itu, menghadapi kematian seperti pulang keharibaan Thian dengan sikap gagah dan perkasa, mau tak mau Yap Kay merinding dibuatnya.
"Orang ke dua yang kumaksud pernah bergebrak dengan kau."
"Lu Di?"
"Benar! Lu Di. Mungkin selama ini kau terlalu rendah menilainya."
"Sedikitnya kini aku tidak akan memandangnya rendah, aku hampir mampus di tangannya."
"Tapi kau toh belum tahu, di mana leak dari rahasianya yang paling menakutkan."
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"ilmu silatnya kau sudah pernah menghadapi, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Pertahanannya tiada lowongan untuk kau gempur. Waktu menyerang sedahsyat geledek menyamber, dan lagi cara serangannya banyak variasi dan susah diraba juntrungannya. Dia pandai memakai pancingan untuk menjebak musuh terjerumus ke dalam perangkapnya."
"Akan tetapi bila pisau terbangmu kau kerjakan, dia tetap takkan bisa meluputkan diri."
Yap Kay tidak menyangkal, tapi juga tidak mengakui. Bagi pisaunya sendiri, biasanya dia tidak pernah mau menilai atau menganalisa.
"Letak rahasia yang paling menakutkan bisa dilukiskan dengan enam belas huruf. Tadi kau sudah mengatakan empat huruf. Yaitu pandai merubah situasi menggempur kelemahan musuh dengan kelicikan jiwanya."
"Masih ada dua belas huruf lagi, apakah itu?"
"Tabah, kejam, jahat sebuas binatang, bermuka ganteng berhati palsu."
Yap Kay tertawa, katanya.
"Usianya masih begitu muda, kedengarannya keterlaluan sekali."
Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian bertanya.
"Tahukah kau kenapa dia bisa mengalahkan kau?"
Yap Kay geleng-geleng kepala. Bukannya dia tidak tahu, namun dia tidak ingin mengatakannya. Siangkwan Siau-sian membeber secara blak-blakan.
"Dia dapat mengalahkan kau karena pisau terbangmu tidak kau gunakan."
Lalu dia bertanya.
"Tapi tahukah kau, kenapa pisau terbangmu tidak kau gunakan?"
Kali ini mulut Yap Kay sudah bergerak hendak bicara, tapi Siangkwan Siau-sian tidak memberi kesempatan, katanya mendahului.
"Karena dia lempar dulu pedangnya, sudah tentu kau malu menggunakan pisaumu."
"Apakah sebelumnya dia sudah memperhitungkan hal ini bakal terjadi, maka dia tidak mau menggunakan pedang?"
"Tidak akan salah!"
"Tapi dengan tegas dia sendiri mengatakan, bahwa tangannya itu merupakan gaman ampuh."
"Soalnya diapun sudah tahu orang macam apa kau ini, dia tahu semakin begitu perkataannya, kau tidak akan mempergunakan pisau terbangmu, maka dia pura-pura bersikap luhur dan gagah. Tahukah kau kenapa akhirnya dia tidak membunuhmu?"
"Karena....."
Kembali Siangkwan Siau-sian menukas.
"Karena dia sendiri sudah menginsyafi bila dia benar-benar berniat hendak membunuh kau, bukan mustahil pisau terbangmu bisa ku keluarkan, tentunya diapun tahu bahwa bukan hanya sebatang saja pisau yang kau gembol."
"Tapi dia mengajakku berduel lagi, kelak...."
"Kali ini sudah menaruh belas kasihan terhadapmu, kelak bila berduel betul-betul, apakah kau tega membunuhnya?" , dengan tertawa dia menyambung.
"apalagi setelah pertempuran kali itu, kau sudah beranggapan dia seorang Enghiong, sudah timbul simpati dan ingin bersahabat dengan dia, kelak umpama dia ingin menjajalimu, kau tetap akan selalu menghindarinya."
Yap Kay tidak menyangkal akan penjelasan ini.
"Oleh karena itu, bukan saja dia sudah mengalahkan kau, bukan saja berkenalan dengan seorang sahabat seperti dirimu yang begini berguna, namanyapun akan tenar dan dikagumi serta disegani sebagai pendekar budiman yang masih muda usia."
Lalu dengan suara kalem dia menyambung.
"maka berani aku melukiskan dia sesuai dengan maksud ke enam belas huruf tadi, dan tidak akan meleset dari kenyataannya. Di samping itu, ada pula muslihat dan besar pula ambisinya."
Yap Kay tertawa getir, katanya.
"Oleh karena itu, maka kau mengharap aku wakili kau membunuhnya."
Siangkwan Siau-sian mengakui.
"Ada manusia seperti dia ini sungguh merupakan ancaman serius bagi usaha dan cita-citaku."
"Kau tidak mampu menghadapinya?"
"Sedikitnya sampai detik ini, aku belum memperoleh cara yang sempurna untuk menghadapinya."
"Oleh karena itu kau berpendapat dia lebih menakutkan dari Bak Ngo-sing?"
Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, ujarnya.
"Tapi yang paling menakutkan justru adalah orang ketiga."
"Lalu siapakah orang ketiga yang kau maksud?"
"Han Tin!"
Yap Kay melongo.
"Kau tidak mengira kalau dia?"
"Orang ini memang pendiam, banyak akalnya dan tabah sekali, namun....."
"Tapi kau tidak percaya kalau dia lebih menakutkan dibanding Bak Ngo-sing dan Lu Di?"
Yap Kay tidak menyangkal bahwa pendapatnya memang demikian.
"Kau kira ilmu silatnya terlampau rendah?", tanya Siangkwan Siau-sian.
"kau yakin dapat mengalahkan dia bukan?"
"Aku......"
"Kau tidak yakin, karena hakikatnya kau tidak tahu sampai di mana tingkat kepandaian silatnya, mungkin tiada seorangpun dalam dunia ini yang bisa mengukur sampai di mana tingkat kepandaian silat orang ini sebenarnya."
"Kau sendiripun tidak tahu?"
Tanya Yap Kay.
"Akupun tidak tahu!"
"Kau kira dia tidak benar-benar setia terhadap kau?"
"Aku tiada keyakinan itu."
"Tapi dia selalu berada di sampingmu."
"Karena sampai detik ini, belum pernah kutemukan sesuatu perbuatannya yang menandakan pengkhianatannya terhadapku, hakikatnya aku tidak memperoleh bukti apa-apa."
"Mungkin bahwa dia memang benar-benar setia terhadapmu, mungkin pula kecurigaanmu terhadapnya merupakan kesalahan pula, memangnya penyakit curiga kaum Hawa jauh lebih besar dari kaum Adam."
"Akan tetapi perempuan memiliki sesuatu perasaan yang aneh, perasaan ini seolah-olah menjadi matanya yang ke tiga, adakalanya perasaan ini dapat melihat perbuatan apa saja yang pernah dilakukan oleh laki-laki."
"Lalu apa yang pernah kau lihat atau rasakan?"
"Sejak lama sudah kurasakan, di antara sekian banyak pembantuku yang terpercaya terdapat seorang mata-mata, sekali aku kurang hati-hati, kemungkinan besar aku bisa hancur di tangannya."
"Jadi kau curiga orang yang kau curigai itu adalah Han Tin?"
"Karena tindak-tanduknya dan segala sikapnya menimbulkan kecurigaan yang paling besar, malahan aku curiga bila dia adalah satu dari Su-thoa-thian-ong Mo Kau."
"Tapi kau belum mendapatkan bukti."
"Ya, bukti apapun belum kuperoleh."
"Oleh karena itu pula mata-mata yang tulen bukan dia, mungkin orang lain."
"Justru karena sedikitpun aku tidak punya pegangan, maka selama ini aku belum bisa turun tangan kepadanya, yang benar dia pernah melaksanakan banyak bantuan untuk perjuanganku. Memang dia seorang pembantu yang baik sekali, jikalau tanpa sebab aku melenyapkan dia, bukan saja bisa menimbulkan curiga orang dan menakuti orang lain, aku sendiripun merasa sayang."
Tawar kata Yap Kay.
"Agaknya jabatan Pangcu Kim-ci-pang memang tidak gampang diduduki."
"Memang, tidak enak duduk sebagai Pangcu."
"Kalau begitu, kenapa kau melakukan usaha yang sukar, makan tenaga dan pikiran, serta berbahaya lagi?"
Jauh pandangan Siangkwan Siau-sian tertuju, lama sekali baru dia bersuara pelan-pelan.
"Karena aku adalah Siangkwan Siau-sian, karena aku adalah putri Siangkwan Kim-hong."
"Oleh karena itu kau harus bersabar dan menunggu serta memancing mata-mata ini turun tangan terlebih dahulu kepadamu?"
Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, katanya tertawa getir.
"Terpaksa aku harus menunggu dia turun tangan lebih dahulu."
"Tapi bukan mustahil sekali dia menyerang, kau sudah sempat dihancurkan lebih dulu."
"Ya, mungkin saja!"
"Oleh karena itu jangan harap kau bisa tidur nyenyak dan makan dengan kenyang."
Siangkwan Siau-sian tarik pandangannya dari kejauhan, berkisar ke muka Yap Kay.
"Beberapa tahun ini, hanya di kala kau menemani aku, baru malamnya aku bisa tidur nyenyak dan tentram."
Yap Kay menyingkir dari tatapan mata orang, ujarnya tawar.
"Itu kejadian masa lalu, waktu itu aku belum tahu orang macam apa kau sebenarnya, sekarang......................."
Siangkwan Siau-sian menggenggam tangannya, katanya.
"Sekarangpun sama saja, asal kau sudi selalu berada di sampingku, terhadap siapapun aku tidak perlu takut."
"Kau tidak kuatir bila aku.........."
"Kau tidak perlu kutakuti,"
Tukas Siangkwan Siau-sian.
"aku percaya padamu. Dalam hidupku ini hanya kau seorang yang kupercaya."
Suaranya lembut aleman, rasanya silir seperti hembusan angin lalu di musim semi, katanya pelan-pelan.
"Asal kita berdua bisa bersama, umpama ada 10 Lu Di, 10 Han Tin memusuhiku, aku yakin dengan gampang akan memukul mereka. Asal kita bersatu padu, dunia ini milik kita."
Yap Kay tidak bersuara pula, kelopak matanya sudah terpejam.
Ternyata dia sudah pulas.
Lama Siangkwan Siau-sian mengawasinya.
Entah berapa lama kemudian, baru pelan-pelan dia lepaskan genggamannya, beranjak keluar pelan-pelan pula.
Waktu mengawasi Yap Kay, sorot matanya penuh diliputi keyakinan seolah-olah laki-laki yang satu ini akhirnya pasti akan menjadi miliknya.
Agaknya dalam hal ini dia sudah punya pegangan yang kuat.
ooo)dw(ooo Han Tin tunduk kepala, kedua tangan lurus ke bawah, berdiri tegak di pekarangan.
Sudah lama dia menunggu di situ, karena Siangkwan Siau-sian minta dia menunggu di situ.
Umpama Siangkwan Siau-sian suruh dia menunggu di atas wajan yang panas, dia takkan berani menggeser barang selangkah., tunduk dan setia terhadap perintah junjungan.
Tiada orang yang tidak merasa haru dan kagum kepadanya.
Siangkwan Siau-sian sedang beranjak turun dari undakan batu, mengawasi orang, sorot matanya memancarkan rasa puas dan senang.
Orang galak dan garang serta keji.
Dengan adanya seorang pembantu seperti dia, hatinya pasti akan puas dan senang.
"Orang-orang yang kusuruh kau cari sudah dikumpulkan belum?", tanya Siangkwan Siau-sian.
"Sudah ketemu semua, kini menunggu di luar."
Sahut Han Tin manggut-manggut.
"Suruh mereka masuk!" , Siangkwan Siau-sian memerintahkan. Han Tin lantas tepuk tangan. Dari pekarangan luar beruntun beranjak masuk belasan orang, di antara mereka ada laki-laki dan ada juga perempuan, ada tua muda, ada pedagang kelontong, ada tukang pikul, ada perempuan centil, ada nenek-nenek, ada juga bajingan dan buaya darat. Dandanan mereka berlainan, namun mereka termasuk dalam satu kelompok yang sama. Di dalam Kim-ci-pang ada semacam manusia-manusia yang patuh, tunduk setia seratus persen. Setiap patah kata Siangkwan Siau-sian adalah perintah. Perintahnya kali ini.
"Pergilah ke kota Tiang-an, sebarkan berita bahwa Yap Kay sudah mati. Tak perduli cara apapun yang kalian gunakan, yang terang kalian harus bikin orang percaya dan yakin bahwa Yap Kay sudah mati. Awas bila ada orang masih berpendapat Yap Kay masih hidup, kalian harus menebus dengan batok kepala."
Perintahnya memang cekak aos, namun amat berhasil.
Mengawasi anak buahnya ini, keluar sorot matanya menunjuk rasa puas dan terhibur, suruh orang-orang ini pergi menyebar kabar bohong, segampang kumbang menyebar madu kembang.
Dia yakin rencananya kali ini pasti berhasil dengan baik.
ooo)dw(ooo "Yap Kay sudah mati?"
"Mana mungkin Yap Kay mati?"
"Manusia siapa yang tidak bisa mati, Yap Kay kan manusia biasa."
"Tapi dia manusia yang tidak gampang mati. Khabarnya dia sudah terhitung tokoh kosen nomor satu pada jaman ini."
"Jangankan jago kosen nomor satu di dunia, raja agungpun akhirnya bisa mati juga. Bukankah tokoh-tokoh kosen nomor satu pada jaman yang lalu kini sudah mati seluruhnya?"
"Di antara orang-orang kosen selalu ada yang lebih kosen, jikalau seseorang menjadi tokoh kosen nomor satu di dunia, malah mungkin dia bisa mati lebih cepat dari orang biasa."
"Tapi tak habis aku pikir, siapa yang mampu membunuh dia?"
"Ada dua orang yang mampu membunuhnya."
"Siapakah kedua orang itu?"
"Yang satu bernama Lu Di."
"Lu Di? Apakah Pek-ie-kiam-khek Lu Di dari Bu-tong-pay?"
"Tidak salah lagi!"
"Apalagi ilmu silatnya lebih tinggi dari Yap Kay."
"Kukira belum tentu, kalau Yap Kay tidak terluka lebih dulu di tangan orang lain, kali ini dia pasti takkan meninggal."
"Memangnya siapa yang bisa melukai dia? Siapakah dia?"
"Seorang perempuan, khabarnya perempuan ini adalah kekasihnya yang paling dicintai."
"Laki-laki sepintar Yap Kay, kok gampang ditipu perempuan?"
"Ah, laki-laki gagah selalu tunduk dan tekuk lutut di bawah kaki perempuan cantik."
"Siapakah perempuan itu?"
"Dia she Ting, bernama Ting Hun-pin."
Ooo)dw(ooo Ting Hun-pin tidur di atas ranjang.
Kamar itu dingin gelap, namun hangat, disekap di dalam kemul tebal.
Sudah lama dia siuman, namun bergerakpun tidak bisa.
Dia merasa amat letih, seperti baru saja menempuh perjalanan jauh, seperti pula baru saja mimpi di alam buruk.
Di dalam mimpinya seakan-akan dia menusuk Yap Kay dengan sebatang pisau.
Tentunya memang hanya sebuah mimpi buruk belaka.
Sudah tentu dia tidak akan melukai Yap Kay, dia rela jiwa sendiri berkorban, seujung rambutpun dia tidak sampai hati melukai kekasihnya itu.
Terdengar langkah kaki di dalam rumah.
"Mungkinkah Yap Kay datang?"
Ting Hun-pin ingin membuka mata lantas melihat Yap Kay.
Sayang yang dia lihat adalah Kwe Ting.
Raut muka Kwe Ting juga menunjukkan keletihan, kurus pucat seperti kurang tidur, namun sorot matanya memancarkan warna senang dan lega.
"Kau sudah bangun?"
Tidak menunggu orang bicara habis, Ting Hun-pin sudah bertanya.
"Tempat apakah ini? Bagaimana aku bisa berada di sini? Mana Yap Kay?"
"Kau berada di hotel, kau terkena obat bius Giok-siau, akulah yang membawamu kemari."
Giok-siau mendadak muncul dan menggondolnya pergi dari hadapan yap Kay.
Kejadian ini masih bisa diingatnya dengan segar, selanjutnya apa pula yang terjadi?
Bagaimana Kwe Ting menolongnya?
Semua ini dia tidak jelas lagi.
Tapi hal ini tidak menjadi perhatiannya, hanya seorang yang menjadi perhatiannya.
"Mana Yap kay? Yap Kay tidak di sini?"
Kwe Ting geleng-geleng, katanya.
"Tidak di sini, aku........ selama ini belum sempat menemuinya."
Dia tidak bicara sejujurnya, kuatir Ting Hun-pin tidak kuat menerima pukulan lahir batin ini.
Jikalau dia tahu dirinya menusuk luka di dada Yap kay, betapa sedih dan duka hatinya.
Kwe Ting tidak berani membayangkannya.
Ting Hun-pin menarik muka, katanya.
"Selama ini kau tidak bertemu dengan Yap Kay? Apakah karena kau tidak pergi mencarinya?"
Kwe Ting diam dan mengakui.
"Kau menolongku kemari tanpa memberitahu kepadanya. Apa sih maksudmu?"
Ting Hun-pin tertawa dingin.
Kwe Ting tidak bisa menjawab.
Dia sendiripun tidak mengerti dan bertanya-tanya pada diri sendiri, apa maksud dirinya menolong dan membawa orang kemari?
Semula mereka sama-sama tidak kenal, namun dia mengiringi Yap Kay pergi menolongnya keluar dari cengkeraman maut.
Kuatir Giok-siau meluruk datang, terpaksa dia membawanya lari dan sembunyi di sini, untuk merawat dan meladeninya.
Dia sudah berdiam tiga hari dalam kamar yang gelap dingin ini, entah berapa derita dan kesulitan serta kerendahan hati yang sudah dia alami.
Maklumlah perempuan yang kehilangan kesadaran bahwasanya memang sulit diladeni, apalagi dia tidak punya pengalaman menjaga dan merawat orang lain.
Dalam tiga hari ini, boleh dikata matanya tidak pernah terpejam barang sekejappun, namun imbalan yang dia terima sekarang hanyalah jengek tawa dan kecurigaan pada dirinya, namun dia rela dicurigai, rela dimaki, namun duduk persoalan sebenarnya pantang dia beritahu kepadanya.
Dia tidak ingin orang mengalami pukulan batin yang mendalam.
Ting Hun-pin masih melotot kepadanya, katanya dingin.
"Aku tanya kepadamu, kenapa tidak kau jawab?"
Kwe Ting tetap bungkam, tak mungkin dia utarakan isi hatinya.
Tangan Ting Hun-pin sedang meraba-raba di dalam kemul, dia masih mengenakan pakaian, maka rada lega roman mukanya.
Namun dia bertanya pula.
"Berapa lama aku berada di sini?"
"Kalau tidak salah sudah tiga hari?"
Hampir saja Ting Hun-pin berjingkrak bangun, teriaknya.
"Tiga Hari? Sudah tiga hari aku terbaring di sini? Dan kau selalu mendampingiku?"
Kwe Ting manggut-manggut. Semakin melotot biji mata Ting Hun-pin, serunya.
"Selama tiga hari ini, apakah aku terus pulas?"
Kwe Ting mengiyakan.
Suaranya enteng dan lirih, karena dia berbohong.
Selama tiga hari ini Ting Hun-pin bukan kelelap dalam tidurnya, banyak sekali yang dia lakukan, tingkah lakunya sukar dijajagi dan di luar dugaan.
Tiba-tiba nangis, tahu-tahu tertawa dan banyak lagi tingkah laku yang aneh dan mengerikan.
Hanya Kwe Ting yang tahu dan menyaksikan, selama hidupnya tidak akan dia ceritakan kepada siapapun.
Ting Hun-pin menggigit bibir, sesaat dia ragu-ragu, akhirnya bertanya.
"Dan kau?"
"Aku?"
"Waktu aku tidur, apa pula kerjamu?"
Kwe Ting tertawa getir.
"Tiada yang kulakukan."
Akhirnya Ting Hun-pin menghela napas lega, namun mukanya tetap cemberut keren, katanya.
"Kuharap kau tidak membual di hadapanku, karena kalau kau berbohong, cepat atau lambat, aku bisa merasakan."
Kwe Ting hanya pasang kuping tanpa bersuara.
"Kau menolongku, kelak aku akan membalas kebaikanmu, tapi kalau akhirnya kuketahui kau berbohong, akan kucabut nyawamu." , seperti malas memandang Kwe Ting lagi dia berkata dingin.
"Sekarang aku harap kau keluar, lekas keluar!"
Kwe Ting tidak memandangnya lagi. Dalam hati dia bertanya-tanya.
"Apa sih yang sedang kulakukan? Kenapa aku terima dihina dan dicaci olehnya?" , segera dia beranjak keluar tanpa berpaling. Mengawasi punggung orang yang berperawakan tinggi dan kelihatan kurus lenyap di balik pintu, tiba-tiba timbul rasa menyesal dalam sanubari Ting Hun-pin. Bukan dia membenci laki-laki ini, bukannya dia tidak tahu bahwa laki-laki ini ada menaruh hati atau naksir kepada dirinya, tapi dia pura-pura tidak tahu. Sekali-kali dia tidak akan memberi kesempatan tumbuhnya bibit cinta di dalam lubuk hati orang, karena hanya satu orang direlung hatinya. Yap Kay. Dia harus selekasnya menemukan Yap Kay. ooo)dw(ooo Tempat pertama yang harus dia tuju sudah tentu adalah penginapan Hong-ping. Tapi waktu orang-orang di Hong-ping hotel melihatnya, semua memandangnya seperti melihat setan, benci, muak dan takut. Memangnya perempuan mana yang tidak dibenci orang, karena dengan pisau, dia telah menusuk luka parah dan akhirnya mati kepada kekasihnya sendiri.
"Adakah kalian melihat Yap Kongcu?"
Tanyanya.
"Tidak!", jawaban setiap orang ketus.
"Kalian tidak tahu di mana dia berada?"
"Tidak tahu! Semua urusan Yap Kongcu kami tidak tahu. Kenapa kau tidak pergi ke Piau-kiok mencari tahu di sana?"
Maka Ting Hun-pin pergi ke Hou-hong Piau-kiok. Para piausu Piau-kiok menunjukkan mimik lucu dan aneh seperti orang-orang yang ada di Hong-ping hotel waktu mendengar nama Ting Hun-pin.
"Biasanya kami tidak pernah berhubungan dengan Yap Tayhiap, jikalau kau ingin mencari tahu beritanya, silahkan datang ke Pat-hong Piau-kiok. Cong-piau-thau dari Pat-hong Piau-kiok, Thi-tan-tin-pat-hong Cay Ko-kang, khabarnya adalah sahabat karib Yap Tayhiap."
Heran hati Ting Hun-pin dibuatnya, kenapa selama ini belum pernah dia dengar Yap Kay punya sahabat karib dari kalangan Piau-kiok, apalagi Thi-tan-tin-pat-hong segala.
Ingin dia bertanya lebih lanjut, namun dia sebal dan muak melihat sorot mata dan sikap para piausu ini.
"Apapun yang terjadi, asal aku bertemu dengan Cay Ko-kang, pasti bisa kucari tahu di mana jejaknya."
Demikian dia menghibur diri sendiri, namun tak pernah terpikir olehnya bahwa selamanya dia tidak akan bisa berhadapan dengan Cay Ko-kang, apalagi mendapat keterangan dari mulutnya.
ooo)dw(ooo Di pekarangan luar di dalam Pat-hong Piau-kiok, beberapa tukang kuda tengah membersihkan sebuah kereta besar yang bercat hitam mulus.
Seorang laki-laki setengah baya berperawakan jangkung bermuka kaku kasar tengah menggendong ke dua tangannya, berdiri di undakan batu, menyaksikan anak buahnya mencuci kereta.
Dia bukan lain adalah wakil Cong-piau-thau Thi-siang-kay-pi (Pukulan besi membelah pilar) Toh Tong.
Ting Hun-pin langsung menerjang ke depan orang, serunya.
"Kau kan Cay Ko-kang, Cay-cong-piau-thau?" . Caranya bicara tidak kenal sopan santun, roman mukanya beringas membesi, namun betapapun dia adalah gadis belia yang cantik rupawan. Mulai dari kepala, Toh Tong mengamatinya sampai ke kaki, katanya dengan tertawa dipaksakan.
"Nona she apa? Ada keperluan apa mencari beliau?"
"Aku she Ting, ingin aku mencari seseorang dari keterangannya."
Mendengar she Ting, seketika berubah rona muka Toh Tong.
"Kau she Ting? Apakah kau Ting Hun-pin?" (Bersambung ke Jilid-11) Jilid-11 Ting Hun-pin manggut-manggut, tanyanya.
"Adakah dia di sini? Aku ingin bertanya beberapa patah kata kepadanya."
Tiba-tiba Toh Tong menarik muka, katanya tertawa menyeringai.
"Apakah kau hendak mencari Yap Kay?"
Bersinar sorot mata Ting Hun-pin, tanyanya.
"Kau juga kenal Yap Kay? Dia di sini?"
"Benar, diapun berada di sini. Dia pulang bersama Cay-cong-piau-thau. Mereka kembali naik kereta yang dibersihkan itu."
Roman mukanya mengunjuk rasa sedih dan gusar. Sayang sekali Ting Hun-pin tidak memperhatikan sedikitpun. Bila teringat akan segera bertemu dengan Yap Kay, urusan lain boleh tidak usah dia perdulikan.
"Di mana mereka sekarang?"
Ooo)dw(ooo Ruang pendopo itu terasa dingin seram seperti berada di dalam sebuah kuburan gelap nan menakutkan, karena pendopo besar ini sekarang memang berubah sifatnya menjadi ruang kuburan.
Begitu Ting Hun-pin beranjak masuk, dia lantas melihat dua peti mati.
Dua peti mati yang masih baru, pliturannya belum kering, malah belum dipaku.
Di dalam kedua peti masing-masing terdapat satu mayat, mayat yang tidak berkepala.
Toh Tong berkata dingin.
"Mereka keluar naik kereta, pulang bersama naik kereta pula. Cuma, meskipun badan mereka kembali, namun kepalanya entah terbang kemana."
Hakikatnya Ting Hun-pin tidak mendengar apa yang dikatakan Toh Tong, perhatiannya tertuju kepada mayat yang berada di dalam peti.
Satu di antaranya dia kenal betul pakaiannya.
Seketika terasa dunia seperti anjlok dan berputar.
Orang-orang Hong-ping hotel dan kerabat Pat-hong Piau-kiok sama-sama mengelilingi dirinya, semuanya berputar mengelilingi dirinya, semuanya mengunjuk seringai sinis dan sikap bermusuhan kepadanya.
'Mereka tahu bahwa Yap Kay sudah mati.
Apa benar Yap Kay betul-betul mati?' Ingin Ting Hun-pin pentang mulut berteriak sekeras-kerasnya, namun dia tidak tahu apakah pekik suaranya terdengar.
Mendadak dia meloso jatuh semaput.
ooo)dw(ooo Pendopo yang dingin gelap, cahaya lampu yang remang-remang.
Waktu Ting Hun-pin siuman, didapatinya dirinya masih rebah di tempat semula di mana tadi dia jatuh semaput.
Tiada orang yang menolong atau memayangnya, tiada orang yang membujuk dan menghibur dirinya.
Toh Tong tetap berdiri menggendong tangan, mengawasinya dengan pandangan sinis, malah mukanya menunjukkan sikap muak dan menghina.
Pelan-pelan Ting Hun-pin meronta bangun, katanya dengan kertak gigi.
"Dia........mati di tangan siapa?"
"Masa kau tidak tahu?"
Toh Tong balas bertanya.
"Cara bagaimana aku bisa tahu?", keras suara Ting Hun-pin.
"Apa maksudmu? Siapakah sebetulnya yang membunuhnya?"
"Bukankah kau?"
Desis Toh Tong mengertak gigi. Dua patah kata ini laksana godam memukul dada Ting Hun-pin, sampai kakinya hampir tak kuasa menopang badannya lagi.
"Akukah......?"
"Kalau kau tidak menusuknya dulu, mana mungkin dia dikalahkan Lu Di. Kalau bukan hendak mengantar dia pergi mencari tabib mengobati luka-lukanya, masakah Cay-cong-piau-thau ikut mati di atas kereta."
Demikian seru Toh Tong penuh emosi.
Hancur redam hati Ting Hun-pin, sekujur badan seakan-akan sudah loyo dan lebur.
Terbayang pula olehnya mimpi yang buruk itu, terbayang pula waktu Giok-siau menatapnya dulu, kedua sorot matanya penuh diliputi maksud jahat dan keji.
'Lekas bunuhlah Yap Kay dengan pisau ini.......' "Apakah itu bukan mimpi buruk?
Apakah dirinya benar-benar melakukan perbuatan yang menakutkan itu?"
Ting Hun-pin tidak percaya, matipun dia tidak mau percaya. Dia memburu maju merenggut baju di depan dada Toh Tong, teriaknya serak beringas.
"Kau bohong!"
"Apakah aku bohong, kau lebih tahu."
"Aku tahu kau sedang membual, sepatah kata lagi berani kau mengatakan, kubunuh kau!"
Toh Tong tertawa dingin.
Mendadak dia turun tangan, telapak tangannya tegak menebas lurus ke pundak Ting Hun-pin.
Namun sungguh tak pernah dia bayangkan bahwa ilmu silat Ting Hun-pin kenyataan jauh lebih tinggi dari apa yang pernah dia bayangkan.
Baru saja telapak tangan besinya bergerak, mendadak Ting Hun-pin putar badan, dengan sikutnya dia jojoh ke tulang rusuknya.
Kontan Toh Tong terpental jatuh menumbuk dinding.
Saking kesakitan, dia mendekap dada sambil terbungkuk-bungkuk.
Kembali Ting Hun-pin memburu maju, menarik dia berdiri, hardiknya serak dan kalap.
"Katakan! Bukankah kau sedang membual?"
Keringat dingin gemerobyos membasahi muka Toh Tong yang pucat menahan sakit, napasnya tersengal-sengal. Tiba-tiba dia tertawa dingin pula katanya.
"Baik! Kau bunuhlah aku. Yap Kay pun bisa kau bunuh, manusia mana lagi yang tak bisa kau bunuh? Meski kau membunuhku, jawabanku tetap tak berubah."
Terlepas renggutan jari-jari Ting Hun-pin, tiba-tiba sekujur badannya gemetar keras, seperti kelintingan tembaga yang dihembus angin kencang.
Seolah-olah ratusan pasang mata yang hadir memenuhi ruang pendopo ini, tengah menatapnya dengan penuh kebencian dan mual.
"Seharusnya kita membunuhmu untuk menuntut balas kematian Cay-cong-piau-thau dan Yap Kay, tapi perempuan macammu ini, hakikatnya tidak setimpal kita turun tangan. Pergilah....... pergilah......."
"Aku telah membunuh Yap Kay.......... aku benar-benar telah melakukan perbuatan terkutuk ini?" . Dengan menutup muka Ting Hun-pin lari gentayangan seperti orang gila keluar dari Piau-kiok, langsung menuju ke jalan raya. Jalan raya terasa berputar, dunia seakan-akan mulai kiamat, tak tertahan akhirnya dia tersungkur jatuh di tengah jalan raya. Jalan yang becek terasa dingin bagai es, lumpur becek yang tercampur segala kotoran, namun semua ini sudah tidak dihiraukan oleh Ting Hun-pin. Orang-orang di jalan sama mengawasinya, seolah-olah penduduk kota ini sudah tahu bahwa dialah perempuan pembunuh. Tapi diapun tak peduli. Dia ingin dirinya menjadi tanah lumpur saja, biarlah dirinya diinjak-injak orang yang berlalu-lalang menjadi debu yang beterbangan, biarlah deru angin badai nan dingin menghembus seluruh jazatnya. Tapi tiba-tiba terasa sebuah tangan menarik dirinya. Sebuah tangan yang kokoh kuat, seraut muka yang mengunjuk rasa simpatik dan belas kasihan. Dia tetap tidak menangis, memang air matanya sudah kering. Setelah bentrok dengan muka orang ini, baru tak tertahan air matanya bercucuran seperti sumber air. Kwe Ting memapahnya bangun, langsung dia tergerung-gerung di dalam pelukannya. Kwe Ting diam saja, dia biarkan orang menangis sepuasnya, dia harap tangis ini dapat mencuci kepedihan hatinya. Setelah Ting Hun-pin merasa puas menangis, baru dia sadar dirinya ternyata sudah kembali ke kamar gelap nan dingin di mana sebelumnya dia rebah tiga hari tanpa ingat diri. Cahaya lampu remang-remang. Kwe Ting di bawah sinar lampu, duduk termenung mengawasi dirinya. Dia tidak mengeluarkan kata-kata hiburan, namun sorot matanya sudah cukup untuk menenteramkan hatinya. Akhirnya Ting Hun-pin meronta bangun berduduk, dengan terlongong dia awasi sinar lampu yang kelap-kelip. Entah berapa lama berselang, akhirnya dia bersuara seraya melamun.
"Aku membunuhnya..... akulah yang membunuhnya."
"Bukan kau!"
Suara Kwe Ting tegas dan lembut.
"Dalam peristiwa itu kau tidak bisa disalahkan."
"Kau tahu akan kejadian ini?"
"Akulah yang menolongmu bersama Yap Kay."
"Waktu aku menusuknya dengan pisau, kaupun menyaksikan dari samping?"
"Justru karena akupun menyaksikan, maka aku tahu kau tidak boleh disalahkan, karena waktu itu, hakikatnya kau bertindak bukan atas kehendakmu sendiri."
Ting Hun-pin mengawasi dengan tanda tanya, lalu mengawasi jari-jari tangan sendiri.
Apapun yang telah terjadi, kedua tangannya ini sudah kenyataan.
Dia tahu betapa sedih dan besar tekanan batin yang mengganjel dalam sanubari, selamanya tidak akan tercuci bersih.
Siapapun yang perduli dengan membujuk dan menghiburnya dengan kata-kata, apapun takkan berguna lagi.
Pelan-pelan Kwe Ting berkata pula.
"Jikalau kau ingin menuntut balas sakit hati Yap Kay, maka kau tidak pantas menyiksa dirimu sendiri, tak perlu kau hidup merana dan mereras hati. Giok-siau lah musuh yang harus kita cari, demikian pula Lu Di."
"Kita? Maksudmu?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Ya, kita!", sahut Kwe Ting manggut-manggut.
"aku dan kau!"
"Tapi persoalan ini tidak sangkut pautnya dengan kau."
"Siapa bilang tiada sangkut-pautnya? Kau adalah temanku, demikian pula Yap Kay adalah sahabatku. Urusan kalian adalah urusanku pula."
Tiba-tiba Ting Hun-pin angkat kepala menatapnya bulat-bulat. Lama sekali baru dia bersuara.
"Kau selalu menyembunyikan ini kepadaku, kau rela kumaki, ku hina daripada membeber persoalan yang sebenarnya. Apakah kau kuatir aku bersedih hati?"
"Aku........."
Ting Hun-pin tidak beri kesempatan dia bersuara, katanya lebih lanjut.
"Sekarang kau ingin menuntut balas sakit hati Yap Kay, karena kau tahu bahwa aku bukan tandingan Giok-siau dan Lu Di."
Kwe Ting tunduk kepala, mengawasi tangannya, karena dia tidak berani beradu pandang dengan kerlingan mata orang yang tajam mempesonakan. Tak lagi berlinang air mata Ting Hun-pin, katanya.
"Aku sudah mengerti seluruh maksud hatimu, sekarang aku hanya ingin supaya kau memahami maksudku."
Kwe Ting diam saja.
"Kematian Yap Kay adalah tanggung-jawabku, kau tidak perlu turut campur. Walau Giok-siau dan Lu Di musuh yang menakutkan, aku tetap punya akal untuk menghadapi mereka. Tak perlu kau kuatirkan keselamatan diriku."
"Kau punya akal apa untuk menghadapi mereka?", tanya Kwe Ting.
"Aku ini perempuan, untuk menghadapi laki-laki biasanya banyak cara yang bisa digunakan perempuan,"
Suaranya berubah dingin serta sadis dan tandas.
Semula Ting Hun-pin adalah gadis periang yang lincah dan jelita, namun sekarang seolah-olah dia sudah berubah jadi perempuan lain yang sadis dan kejam.
Mencelos dingin hati Kwe Ting, tiba-tiba timbul rasa takut yang mengerikan dalam sanubarinya.
Lapat-lapat dia sudah mendapat firasat bahwa kemungkinan Ting Hun-pin hendak melakukan sesuatu yang menakutkan.
Ingin dia mencegahnya, namun tidak tahu cara bagaimana dia harus mencegah tindakan nekat.
Pelan-pelan Ting Hun-pin bangkit berdiri, turun dari ranjang, beranjak ke arah jendela.
Dia termenung di ambang jendela, pandangannya menatap tabir malam nan pekat di luar sana.
Malam belum berlarut.
Tiba-tiba dia berpaling serta bertanya.
"Kau ada membawa uang tidak?"
"Ada!", sahut Kwe Ting pendek.
"Berapa yang kau miliki?"
"Cukup banyak!"
Ting Hun-pin menggelung rambutnya, katanya.
"Sekarang belum terlalu malam, aku ingin keluar membeli barang-barang dan makanan untuk makan malam. Maukah kau menyertai aku?"
Ooo)dw(ooo Restoran memang belum kukut, Ting Hun-pin pesan tujuh macam sayuran.
Perlahan sekali dia makan, namun banyak sekali yang dia gares, arakpun tidak ketinggalan dia minum beberapa cangkir.
Setelah kenyang dia ajak Kwe Ting ngelencer di jalan raya yang paling ramai di seluruh kota Tiang-an, di toko kelontong dia membeli pupur gincu dan beberapa potong pakaian yang berwarna-warni amat menyolok, demikian pula perhiasan-perhiasan elok yang tidak terlalu mahal harganya.
Memang gadis-gadis jelita biasa suka membeli barang-barang seperti itu.
Tapi di dalam keadaannya sekarang dia masih punya selera membeli barang-barang itu, rasanya rada janggal juga.
Kini dia kelihatan tenang dan pendiam, hanya seorang yang diam-diam sudah berkeputusan dengan tekadnya yang teguh, baru bisa berubah begitu tenang pendiam.
Tekad apa pula yang sudah dia putuskan dalam sanubarinya?
Semakin tebal rasa kuatir dan takut dalam relung hati Kwe Ting, tapi dia bisa mengikuti langkah orang kemanapun dia pergi, sepatah katapun dia tidak bersuara.
Betapapun orang belum melaksanakan apa yang sudah menjadi keputusan dalam benaknya.
Tanpa merasa karena putar kayun tanpa tujuan itu, tahutahu mereka menuju ke Pat-hong Piau-kiok.
Tiba-tiba Ting Hun-pin serahkan buntalan besar kecil dari barang-barang keperluannya kepada Kwe Ting.
Dengan langkah lebar segera dia melangkah masuk.
Para piausu yang kebetulan ada di depan pintu sama mengawasinya dengan mendelong kaget, tiada orang yang berani maju merintangi dirinya, karena mereka merasakan adanya perubahan yang mendadak pada gadis satu ini, begitu cepat dan menakutkan perubahan ini.
Perempuan yang tadi baru saja dirundung sedih, haru dan emosi, kini berubah begini tenang dan pendiam, siapapun takkan bisa membayangkan keluar-biasaan ini, sampaipun Toh Tong yang melihatnya amat terperanjat, tanyanya.
"Untuk apa kau datang kemari lagi?"
"Aku minta kau suka memberitahu kepada Giok-siau dan Lu Di, jikalau mereka masih ingin mencari Siangkwan Siau-sian, jikalau masih ingin mendapatkan Pit-kip (Buku silat) dan harta terpendam itu, suruhlah besok tengah hari menunggu kedatanganku di hotel Hong-ping."
"Aku........cara bagaimana aku bisa menemukan mereka?"
"Carilah akal dan usahakan sampai ketemu, kalau tidak ketemu, tumbukkan kepalamu ke dinding sampai pecah dan mampus."
Suara Ting Hun-pin tenang dan mantap, ujung mulut malah mengulum senyum.
Senyum yang jauh lebih menakutkan daripada mimik muka apapun.
Sepatah katapun Toh Tong tidak berani bersuit lagi.
Ting Hun-pin melangkah keluar pula dengan langkah gemulai wajar, tak lupa dia mampir di warung makan minta semangkok mie ti-te (kaki babi) dan minum sedikit arak, katanya dengan tersenyum.
"Hari ini selera makanku besar sekali, ya!"
Mengawasi senyum tawa orang, Kwe Ting hanya melongo saja, sepatah katapun dia tidak bersuara.
Tatkala itu malam sudah larut, mereka melangkah di tengah kegelapan yang sudah terasa dingin.
Pelan-pelan mereka kembali ke hotel kecil itu, pulang ke kamar kecil yang lembab itu.
"Aku mau tidur!"
Kata Ting Hun-pin. Kwe Ting diam saja, lalu dia manggut. Baru saja dia bergerak hendak keluar, tiba-tiba Ting Hun-pin tertawa, katanya.
"Kau tidak usah keluar, ranjang ini cukup besar berkelebihan untuk tidur dua orang."
Kwe Ting tertegun. Tapi Ting Hun-pin sudah menarik kemul ke bawah, katanya.
"Kau tidur di sebelah dalam, aku tidur di bagian luar."
Suaranya tetap tenang wajar dan halus seperti seorang ibu yang menganjurkan putranya tidur.
Bahwasanya Kwe Ting tidak bisa menolak, terpaksa dia merangkak naik dan merebahkan diri dengan badan kaku, badan mepet dinding tak berani bergerak.
Ting Hun-pin juga naik ke ranjang, katanya tersenyum.
"Malam ini mungkin aku bermimpi buruk sekali, kuharap kau tidak menjadi kaget dan berjingkat kaget."
Kwe Ting menggerakkan kepala mengangguk. Kecuali mengangguk, sedikitpun dia tidak berani bergeming. Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, mulutnya mengoceh.
"Tahukah kau, selamanya belum pernah aku tidur seranjang dengan laki-laki lain, semula aku yakin selama hidupku ini takkan tidur seranjang dengan laki-laki lain."
Suaranya semakin rendah lirih, sesaat kemudian ternyata dia sudah pulas.
Malam sunyi dan tenang.
Pernapasan Ting Hun-pin enteng perlahan seringan hembusan angin lalu di musim semi yang sepoi-sepoi.
Kwe Ting pun amat penat, sangat mengantuk, diapun ingin tidur sebentar.
Tapi bagaimana dia bisa pulas.
Selama hidup belum pernah dia mengalami kekalutan pikiran seperti saat ini, banyak persoalan yang dia pikirkan, semua gejolak di rongga dadanya sehingga hatinya tidak bisa tentram.
Mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa malam ini dirinya bakal tidur seranjang dengan Ting Hun-pin, mimpipun tak pernah terbayang olehnya di waktu dia tidur dengan seorang gadis belia, keadaannya bisa sedemikian runyam.
Dia adalah laki-laki sejati, laki-laki yang baru menanjak dewasa dan besar napsu birahinya.
Dia pernah main perempuan, di dalam bidang ini, sikapnya tidak begitu serius seperti lahirnya sekarang ini.
Kini perempuan yang tidur di sampingnya justru adalah gadis yang dia idam-idamkan dan selalu dia jumpai di dalam impian.
Sejak pertama kali dia melihatnya, timbul suatu perasaan mendalam di relung hatinya yang tidak mungkin dia sadari dan tidak bisa dia jelaskan sendiri.
Akan tetapi sekarang sedikitpun dia tidak punya angan-angan nyeleweng, tiada keinginan main, tiada napsu bergaul, hanya ketakutan dan sedih serta pilu yang menggejolak di benaknya.
Kini dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Ting Hun-pin setelah dia bertekat dan berkeputusan.
Hanya perempuan yang sudah berkeputusan dan bertekat untuk mati saja yang bisa berubah sedemikian tenang dan pendiam.
Tapi dalam hati Kwe Ting diam-diam sudah berkeputusan.
Sekali-kali dia tidak akan berpeluk tangan membiarkan Ting Hun-pin mati.
Asal gadis idamannya ini tetap bertahan hidup, apapun akibatnya dan apapun yang harus dia lakukan, dia akan bekerja secara sukarela.
Malam semakin larut, deru angin malam menderu-deru di luar jendela.
Tiba-tiba didapatinya badan Ting Hun-pin mulai gemetar, tak henti-hentinya gemetar, malah semakin keras, merintih dan tersedu-sedu.
Sinar bintang menyorot masuk dari lubang jendela, menyoroti mukanya, air mata sudah membasahi selebar mukanya.
Hati Kwe Ting pun seperti ditusuk sembilu, hampir tak tertahan lagi dia hendak membalik badan serta memeluknya kencang-kencang.
Ingin dia bilang di dalam kehidupan dunia fana ini masih banyak sesuatu yang patut dia kenang dan senangi, betapapun berat dan parahnya luka-luka, akhirnya kan sembuh dan merapat pula walau perlahan-lahan.
Akan tetapi dia tak berani berbuat demikian.
Terpaksa dia hanya temani orang mengucurkan air mata.
Setelah air matanya kering, baru dia tidur pulas.
Tak lama kemudian tahu-tahu sekujur badannya mulai gemetar, semakin keras dan tidak berhenti.
Waktu Kwe Ting membuka kelopak matanya, tiba-tiba didapatinya Ting Hun-pin sedang mengawasi mukanya, sorot matanya diliputi kepedihan, simpati, kasihan serta rawan dan risau.
Rasa terima kasih yang berkelebihan dan tidak mungkin dinyatakan dengan perkataan, atau tak mungkin di balas selama hayat masih di kandung badannya.
ooo)dw(ooo Waktu Kwe Ting bangun, hari sudah terang tanah.
Ting Hun-pin sudah ganti pakaian, mengenakan baju baru yang semalam baru dibelinya, duduk di depan kaca, orang tengah berdandan merias diri.
Gerak-geriknya sedemikian gemulai dan elok mempesonakan, di tingkah sinar matahari yang menyorot masuk dari luar jendela, kelihatan wajahnya cerah cemerlang, sampaipun kamar kecil yang gelap lembab ini masanya menjadi semarak karena perubahannya ini.
Hampir gila Kwe Ting dibuatnya.
Jikalau ini rumahnya, jikalau Ting Hun-pin adalah bininya, begitu dia bangun, lantas melihat istrinya tercinta yang jelita sedang berdandan menyanding cermin, tentulah tiada sesuatu kehidupan di dunia ini yang lebih bahagia dari hidupnya.
Kembali dia rasakan hatinya seperti ditusuk sembilu.
Dia tidak berpikir lebih lanjut.
Dia tahu bahwa semua cemerlang dan semarak yang terjadi dalam sekejap ini tidak lebih hanyalah merupakan pertanda lebih mendekatnya ajal jiwanya.
Kematian itu sendiri ada kalanya memang terasa indah.
"Kau sudah bangun?" , tiba-tiba Ting Hun-pin berkata. Kwe Ting manggut-manggut, dia berduduk, katanya dipaksakan tertawa.
"Tidurku tentu seperti orang mati."
"Kau memang harus tidur sepuasnya."
Suara Ting Hun-pin halus merdu.
"aku tahu sudah beberapa hari kau tidak tidur."
"Jam berapa sekarang?"
Tanya Kwe Ting.
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 22
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 21