Eps 3 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung
Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.
Tak nyana ilmu silat Han Tin ternyata puluhan kali lebih menakutkan dari apa yang pernah dia bayangkan.
Sekali bergerak dengan kecepatan luar biasa tahu-tahu dia sudah menangkap ujung tombaknya.
Sungguh tidak pernah terpikir oleh Nyo Thian, orang ini mampu menangkap ujung tombaknya.
Seketika dia kerahkan tenaganya menyendal sekuatnya untuk merebut kembali senjatanya.
Tak terduga, Han Tin tiba-tiba lepaskan ujung tombaknya.
Keruan Nyo Thian tergetar mundur oleh tenaga sendalan sendiri sampai terhuyung mundur.
Laksana kilat Han Tin menubruk maju, sekali jarinya terulur, dia telah tutuk Hian-ki-hiat di dada orang.
Kejadian berlangsung dalam waktu singkat.
Yap Kay menghela napas, diapun tak pernah mengira, laki-laki yang pernah dia pukul hidungnya sampai ringsek ini ternyata membekal ilmu silat begitu tinggi.
'Blaang...' badan Nyo Thian terbanting keras di lantai.
Han Tin tidak perdulikan dia lagi, cepat dia membalik badan menarik Yap Kay, katanya dengan berat.
"Kau bisa berdiri tidak?"
Yap Kay meraba-raba kepalanya, tanyanya dengan tertawa getir.
"Apa benar kau hendak menolong aku?"
Membesi muka Han Tin, tanpa bersuara dia jinjing badan Yap Kay, terus dikempitnya, katanya.
"Kau ikut aku dulu."
"Masih ada Ting Hun-pin."
Pinta Yap Kay. Han Tin mengerut kening, katanya.
"Kau masih ingin bawa dia?"
"Tadi ada orang bilang, ciriku yang terbesar adalah hatiku lemah."
"Kenyataan kakimu sekarang memang lemah."
Jengek Han Tin.
"Untung hanya tertutuk Hiat-to nya saja, asal kau membuka Hiat-to nya, toh sudah cukup."
Lekas dia menambahkan dengan tertawa.
"Cuma jangan kau turun tangan seberat Nyo Thian tadi, aku tidak ingin punya bini yang sudah mati."
Ooo)dw(ooo Ruang di bawah tanah itu lembab dan gelap, terutama dinginnya tak tertahan.
Untung di ujung kamar terdapat sebuah dipan, di atas dipan terdapat kemul tebal.
Setelah rebah di atas dipan, baru Yap Kay merasa lega, dia tahu dirinya takkan menjadi boneka orang.
Dengan mengawasi Han Tin tiba-tiba dia bertanya.
"Bagaimana rasa hidungmu sekarang?"
"Masih sakit!"
Yap Kay tertawa getir, katanya.
"Kalau hidungku masih sakit, aku tidak akan menolong orang yang membuat hidungku ringsek."
Han Tin menjawab.
"Mungkin karena hatiku terlalu lemah."
Tiba-tiba Yap Kay bertanya pula.
"Aku pernah melihat tokoh-tokoh Bu-lim masa kini yang paling top, semuanya boleh terhitung puncak persilatan, tapi satu di antaranya yang paling berilmu paling tinggi, tahukah kau siapa dia?"
"Aku bukan?"
Sahut Han Tin.
"Agaknya kau tidak sungkan."
"Ya, selamanya aku berlaku jujur."
"Maka aku heran."
"Heran karena aku jujur?"
"Banyak persoalan yang harus dibuat heran."
Ujar Yap Kay.
"Boleh kau katakan satu persatu."
Ujar Han Tin. Ting Hun-pin datang menghampiri, lalu duduk menggelendot di samping Yap Kay, tangan Yap Kay dipegangnya, diapun pasang kuping.
"Khabarnya kau terkena racun yang bisa mematikan bila kau bergerak, kenyataan kau bergerak dan jiwamu masih segar bugar."
"Racun apapun toh ada obat penawarnya."
"Jadi racun dari Mo Kau pun dapat kau tawarkan?"
"Yang terang aku tetap hidup!"
"Maka aku lebih heran,"
Ujar Yap Kay.
"kenapa kehidupanmu kurang baik."
"Kenapa hidupku kurang baik?"
"Orang seperti dirimu, seharusnya bisa hidup lebih senang dan terawat."
Han Tin menepekur, katanya.
"Maksudmu, aku tidak pantas mencari sesuap nasi di bawah Wi Thian-bing?"
Yap Kay mengiakan, katanya.
"Wi Thian-bing bukan majikan yang baik, tidak pantas kau merendahkan derajatmu, apalagi terima kugenjot hidungmu di tempatnya itu."
Han Tin menepekur lagi, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
Ada omongan yang perlu dia pikirkan, apakah pantas dia utarakan?
"Kau mandah ku genjot, karena kau tidak ingin pamer kepandaian aslimu di hadapan orang banyak."
Han Tin akhirnya menghela napas, katanya.
"Aku punya alasan."
"Aku tahu, alasan itu pula yang menjadi sebab."
"Aku sedang menyembunyikan diri dari tuntutan balas orang. Musuhku pasti takkan menduga aku berada di rumah Wi Thian-bing."
"Jadi nama aslimu bukan Han Tin? Siapa musuhmu itu?"
"Seseorang yang amat menakutkan."
"Aku maklum, orang seperti kau harus main sembunyi, sudah tentu dia amat menakutkan."
"Kukira kau sudah mengerti, kenapa aku menolongmu?"
"Kau ingin aku membantumu menghadapi musuhmu itu?"
"Aku tahu, kau adalah teman yang berguna, kau adalah orang yang tegas membedakan antara budi dan dendam."
"Akupun tidak ingin sungkan-sungkan lagi."
Ujar Yap kay.
"Seseorang yang tegas membedakan budi dan dendam, untuk membalas budi pertolongan jiwanya, ada kalanya dia rela melakukan apapun."
"Sedikitnya kau harus menjelaskan kepadaku, tugas apa yang harus kulakukan?"
"Kelak pasti akan kukatakan kepadamu, sekarang.......", tiba-tiba dia merubah pokok pembicaraan.
"luka-lukamu kelihatannya tidak berat, kenapa berdiripun tidak bisa?"
"Karena aku belum minum arak."
"Sekarang juga kau ingin minum?"
"Setelah minum, mungkin hatiku semakin lemah, namun kakiku tidak lemah lagi."
"Arak bisa mengobati luka-lukamu?"
"Luka-lukaku ini memang agak istimewa."
Baru sekarang Ting Hun-pin menyeletuk dengan tertawa.
"Aku percaya, kebanyakan setan arak rela menderita luka-luka seperti yang kau alami ini."
"Baik, sekarang juga aku pergi cari arak."
"Araknya jangan kepalang tanggung."
Pinta Yap Kay.
"Benar, nyamikannyapun jangan sedikit."
Timbrung Ting Hun-pin.
"lebih baik kalau kau tolong carikan juga pakaian laki-laki, aku jadi sebal melihat pakaiannya yang serba kedodoran ini."
Han Tin menyapu pandang ke arahnya, katanya tawar.
"Keadaanmu toh tidak lebih baik dari dia."
Seketika merah muka Ting Hun-pin, baru sekarang dia sadar, dirinyapun mengenakan pakaian laki-laki.
ooo)dw(ooo Han Tin sudah pergi.
Hanya ada sebuah pintu dalam kamar di bawah tanah ini.
Bagian atas adalah salah satu dari taman Leng-hiang-wan.
Han Tin berpendapat, Siangkwan Siau-sian pasti takkan mengira mereka masih tetap berada di Leng-hiang-wan.
Yap Kay pun sependapat.
Tempat yang menyolok, biasanya memang tidak diperhatikan orang, memang itulah salah satu ciri dari manusia.
Entah berapa lamanya mereka mengobrol memperbincangkan pengalaman akhir-akhir ini, lalu dengan cekikikan Ting Hun-pin memeluk leher Yap Kay, katanya lembut.
"Bicaralah terus terang, kapan kau hendak mempersunting aku?"
"Di saat kau tidak cemburu saja."
Sahut Yap kay.
"Bodoh! Kalau perempuan tidak cemburu, dia bukan perempuan. Memangnya hal ini kau tidak tahu?"
Tiba-tiba seseorang menyeletuk.
"Ya! Dia hanya tahu membunuh orang."
Pintu kamar di bawah tanah ini berada di bagian atas dan suara orang ini terdengar dari atas.
Waktu Han Tin berlalu tadi, mereka terlalu asyik bercumbu rayu sehingga lupa memalang pintu dari dalam, kini untuk menutupnya sudah terlambat.
Habis suaranya, orang itupun sudah melangkah masuk.
Semula Ting Hun-pin amat kaget, namun lekas sekali dia sudah menghela napas lega, yang datang jelas bukan Siangkwan Siau-sian, yang datang adalah seorang laki-laki.
Orang takkan senang melihat laki-laki ini, laki-laki yang menyerupai mayat hidup.
Mukanya kaku dingin dan memutih kapur, tulang pipinya tinggi, hidungnya bengkok seperti patuk elang, badannya kurus lencir seperti genter (tiang bambu), tinggal kulit pembungkus tulang.
Sorot matanya memancar kuning kemilau.
Badannya yang jangkung menggunakan jubah panjang kedodoran, warna merah yang penuh disulami kembang Botan.
Yang luar biasa adalah lengannya yang berkepanjangan, kedua tangannya terselubung di dalamnya.
Siapapun melihat orang macam ini pasti kaget, sebaliknya Ting Hun-pin malah menghela napas.
Menurut pendapatnya orang ini tidak lebih menakutkan dari gadis boneka Siangkwan Siau-sian yang elok itu.
Waktu Yap Kay melihat orang ini beranjak turun, hatinya seketika tenggelam seperti batu kecemplung air.
Melihat gaya orang lantas ia tahu bahwa Ting Hun-pin bukan tandingan orang ini.
Dirinya juga dalam keadaan lemah, dipukul bocah belasan tahunpun ia tak mampu membalas.
Ting Hun-pin berjingkrak bangun menyambut kedatangan orang itu, semprotnya.
"Kau ini apa-apaan, tanpa permisi lantas main terjang masuk ke kamar orang, kau tahu aturan tidak?"
"Aku memang tidak tahu aturan.
"sahut orang itu dingin.
"akupun hanya tahu membunuh, tapi aku masih belum mampu mengungkuli dia."
Yap Kay tertawa getir, katanya.
"Ah, kau terlalu merendah."
"Barusan kuhitung, dari muka sampai belakang luar dalam seluruhnya sudah mati delapan puluh tiga orang. Murid-murid keluarga Bak, anak buah Thi Koh dan seluruh pekerja di dalam Leng-hiang-wan ini, ternyata tiada satupun yang ketinggalan hidup."
Berkata orang itu dengan menyeringai sadis.
"Dalam semalam sekaligus membunuh delapan puluh tiga jiwa, sungguh suatu kerja berat dan keberanian luar biasa......"
"Kau kira akulah yang membunuh mereka?"
Tanya Yap Kay.
"Yang jelas mereka sudah mati, hanya kau saja yang tinggal hidup."
"Bukan aku saja yang masih hidup."
"Aku yakin hanya kau saja seorang."
"Lho, lalu kemana Siangkwan Siau-sian?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Memangnya aku ingin tanya kalian, di mana dia sekarang?"
Ting Hun-pin naik pitam, serunya.
"Semula dia bersama kami, soalnya kami tertipu mentah-mentah olehnya."
Orang itu menyeringai sadis.
"Dia pula yang membunuh orang-orang itu......"
"Kenapa kalian tidak dibunuhnya sekalian?"
Tukas orang itu.
"Karena Han Tin menolong kami."
"Mana Han Tin?"
"Pergi cari arak."
"Waktu Siangkwan Siau-sian membunuh orang, kalian mengawasi saja di sampingnya?"
"Karena Hiatto ku tertutuk tak bisa berkutik."
"Dan kau?"
Tanya orang itu berpaling kepada Yap Kay. Ting Hun-pin menyela.
"Diapun terbokong, seluruh badannya lemas lunglai, tidak bisa........."
Sampai di sini baru dia sadar mulutnya yang usil telah terlepas omong. Biji mata orang itu seketika bersinar, katanya sinis seraya melotot kepada Yap Kay.
"Apa benar kau tidak mampu mengerahkan tenaga sedikitpun?"
Yap Kay hanya tertawa meringis.
Mendadak dia sadar, untuk mencegah perempuan jangan cerewet jauh lebih sukar daripada mengajar unta menyusupkan benang ke lubang jarum.
Kata orang itu tandas dengan menatapnya lekat-lekat.
"Apa benar kau tidak punya tenaga? Baik, biar kubunuh saja sekarang."
Sebelum orang bertindak, Ting Hun-pin sudah menghardik dan menubruk maju lebih dulu.
Ilmu silatnya memang tidak lemah, Toh-bing-kim-ling (Kelinting emas pencabut nyawa) memang tidak dia bawa serta, namun tubrukan dengan setaker tenaga ini bukan sembarang orang kuat menghadapinya.
Tak nyana, orang itu cukup mengebaskan lengan bajunya saja yang panjang, segulung angin kencang seketika menerpa maju menggetar pergi Ting Hun-pin sampai menumbuk tembok dengan keras.
Kejap lain, jari tangan orang itu sudah terulur dari dalam lengan bajunya, cepat bagai kilat mencengkeram ke tenggorokan Yap Kay.
Tangan itu ternyata berwarna merah, merah darah, Ang-mo-jiu (Tangan iblis merah).
Siapapun bila tercengkeram oleh tangan iblis ini, jiwanya pasti melayang.
Yap Kay sudah tentu tidak mandah diserang dan mau terima ajal begitu saja, sedapat mungkin dia kerahkan seluruh tenaganya yang ada mendoyongkan badan ke belakang.
Tanpa punya tenaga sudah tentu dia tidak berani menangkis atau melawan.
Tak nyana tahu-tahu badannya melambung tinggi ke atas.
Entah bagaimana dan dari mana datangnya, tahu-tahu tenaganya sudah pulih.
Begitu dia mundur, badannya segera terbang mepet tembok meluncur pelan-pelan.
Agaknya Ang-mo-jiu tidak berani mengejar dengan serangan ganasnya.
Dengan dingin dia pandang orang, katanya menyeringai.
"Katamu kau tidak punya tenaga, lalu darimana tenagamu itu?"
Yap Kay tertawa kecut, sahutnya.
"Aku sendiripun tidak tahu."
Hal ini memang kenyataan, namun jawabannya ini takkan dipercaya oleh siapapun. Tiba-tiba terdengar sebuah suara berkata dingin di luar pintu.
"Apakah kau hanya tahu membunuh orang?"
Yang datang kali ini juga bukan Siangkwan Siau-sian.
Pendatang adalah seseorang berbaju hitam, berperawakan jangkung tapi kekar dan gagah.
Di punggungnya menggendong sebatang pedang panjang.
Pedang yang hitam, pakaiannya hitam, mukanya legam, sepasang matanya berkilat cemerlang.
Memang orang ini berperawakan tinggi besar, namun badannya tidak tambun.
Selintas pandang orang ini laksana seekor elang raksasa, lincah cekatan, gagah keras, sadis, diliputi kekuatan liar dan buas.
Waktu Ang-mo-jiu angkat kepala, dia melihat pedang panjang di punggung orang, kelopak matanya seketika memicing.
Mata laki-laki baju hitam yang cemerlang sedang mengawasi tangan merah itu, itu tangan yang tidak mirip tangan manusia umumnya, yang berdaging dan bertulang.
Hanya dalam neraka saja orang baru melihat tangan seperti itu.
Lambat-lambat namun pasti, kelopak mata laki-laki baju hitampun semakin menyipit, suaranya mantap tandas.
"Ih-me-gao?"
Ih-me-gao manggut-manggut, katanya pelan-pelan.
"Iblis hijau nangis siang, iblis merah nangis malam, langit dan bumi sama-sama nangis, matahari dan rembulan takkan keluar."
"Aku tahu kau siapa."
Kata laki-laki baju hitam tawar.
"Akupun tahu kau siapa."
Jengek Ih-me-gao.
"kau dari keluarga Kwe di Siong-yang."
"Ya, akulah Kwe Ting!"
"Siong-yang-thi-kiam (Pedang besi dari Siong-yang), tak terhitung banyaknya membunuh orang, tapi tentu takkan bisa mengungkuli orang ini."
Demikian kata Ih-me-gao sinis.
"Yap Kay maksudmu?"
"O, kaupun tahu siapa dia?"
"Dalam semalam dia beruntun membunuh delapan puluh tiga jiwa, memang bukan kerja ringan."
"Tapi dia sendiri menyangkalnya."
Kwe Ting menyeringai dingin.
"Menurut katanya pembunuhnya adalah Siangkwan Siausian."
"Siangkwan Siau-sian seorang pikun, gadis boneka yang berjiwa kanak-kanak, memangnya orang pikun bisa membunuh orang?" , demikian bantah Kwe Ting.
"Katanya jiwanyapun hampir melayang di renggut Siangkwan Siau-sian, karena dia tidak punya tenaga sedikitpun."
"Kelihatannya dia tidak mirip orang yang terluka."
"Katanya dia masih hidup berkat pertolongan Han Tin."
"Menurut apa yang ku tahu, justru Han Tin lah yang dibokong orang."
"Katanya pula Han Tin tak di sini, karena sedang pergi mencari arak."
"Sekarang bukan saatnya orang minum arak."
Yap Kay menghela napas, memang diapun tidak mengerti jawabannya tadi tak mungkin dipercaya orang. Tapi Ting Hun-pin segera berseru.
"Kalian hanya tahu Han Tin terbokong orang, Siangkwan Siau-sian datang bersama-sama kami."
Kwe Ting menatapnya lekat-lekat, pelan-pelan dia manggut.
"Lalu siapa yang memberitahu semua hal ini kepadamu?", tanya Ting Hun-pin.
"Seseorang yang beruntung belum mati."
"Nyo Thian maksudmu."
Kwe Ting diam saja.
"Darimana kau yakin bahwa apa yang dikatakannya itu kenyataan?"
"Nyo Thian adalah temanku."
Ting Hun-pin menyeringai dingin.
"Kau punya teman seperti itu, sungguh beruntung."
Ih-me-gao menyeletuk.
"Walau dia bukan temanku, akupun percaya!"
"Kenapa?", tanya Ting Hun-pin.
"Kenyataan di depan mata, tidak bisa tidak aku harus percaya."
"Kenyataan apa?"
"Kalian bunuh semua orang yang tahu seluk beluk persoalan ini, lalu menyembunyikan Siangkwan Siau-sian untuk menimpakan bencana kepada orang lain, bukankah harta terpendam milik Kim-cie-pang itu bakal terjatuh ke tangan kalian?"
Ting Hun-pin berjingkrak kaget. Mendadak dia sadar bahwa analisa orang memang masuk akal. Kwe Ting tetap menatapnya, katanya.
"Jikalau ada orang yang dapat membuktikan omonganmu, aku mau percaya."
"Untung ada seseorang yang masih bisa membuktikan kebenaran omonganku."
Kata Ting Hun-pin girang.
"Han Tin maksudmu?", tanya Kwe Ting.
"dia sedang keluar mencari arak untuk kalian?"
Ting Hun-pin mengiyakan.
"Kalau hanya mencari arak, sebentar dia pasti kembali. Baik, aku tunggu di sini."
"Apa benar kau ingin menunggunya?", tanya Ih-me-gao.
"Barusan sudah kukatakan."
"Menunggu bantuan mereka datang untuk menggasak kami di sini?" , semprot Ih-me-gao. Kwe Ting menarik muka, katanya dingin.
"Kau adalah kau, aku adalah aku, bukan kami."
Tatapan biji mata Ih-me-gao dingin seram seperti nyala api setan, katanya.
"Memangnya kau tidak sudi berdampingan dengan aku?"
Kwe Ting tertawa dingin, maksud dari tertawa dingin adalah membenarkan.
"Dulu Siong-yang-thi-kiam tercantum nomor empat di dalam daftar senjata, memang boleh dihitung sebagai Enghiong yang luar biasa, hanya sayang.............."
Kwe Ting seketika menarik muka, tanyanya.
"Sayang apanya?"
"Sayang kau bukan Kwe Siong-yang, mayat Kwe Siong-yang sudah jadi abu."
Muka Kwe Ting yang legam tiba-tiba membesi hijau.
"Orang mati itu sama saja, jangan lupa, perduli dia ahli pedang yang kenamaan, setelah mampus tak ubahnya seperti mayat-mayat manusia lainnya, akhirnya berubah membusuk juga."
Terkepal jari-jari Kwe Ting, katanya sepatah demi sepatah.
"Lebih baik kau tidak melupakan satu hal."
"Hal apa?"
"Kwe Siong-yang memang sudah mati, tapi Siong-yang-thi-kiam belum mati."
"Memangnya Siong-yang-thi-kiam masih ingin membela pembunuh ini untuk menghadapi aku?"
Kwe Ting tidak bicara lagi.
"Kwe Siong-yang ajal ditangan Ki Bu-bing, ilmu silat Ki Bu-bing hasil didikan Siangkwan Kim-hong."
Demikian sinis suara Ih-me-gao.
"jikalau kau keturunan keluarga Kwe yang berbakti, kau harus bergabung dengan aku menghadapi Yap Kay, lalu dari buku pelajaran silat peninggalan Siangkwan Kim-hong, menemukan di mana letak kelemahan ilmu silat mereka, untuk menentukan siapa menang dan asor melawan Ki Bu-bing, menuntut balas demi kegagahan Kwe Siong-yang di alam baka."
Sayang sedikitpun Kwe Ting tidak terpengaruh oleh sahutannya. Ih-me-gao memperhatikan perubahan mimik mukanya, katanya pula.
"Bagaimana maksudmu?"
"Baik sekali!"
"Kau menerima uluran tanganku?"
"Hm....,"
Kwe Ting hanya menggeram dalam mulut.
"Asal kau mau bergabung dengan aku,"
Kata Ih-me-gao sambil tertawa besar.
"jangan kata hanya Yap Kay seorang, seluruh tokoh-tokoh silat di kolong langit ini memangnya siapa yang berani menentang kita?"
Kwe Ting membalik tangan memegang gagang pedangnya. Tawa Ih-me-gao tiba-tiba sirap, dengan nanar dia tatap Yap Kay, katanya menyeringai.
"Tempat ini tiada jalan keluar lainnya, agaknya ajalmu memang sudah tiba."
Lekas Ting Hun-pin berlari mendekati Yap Kay dan menggelendot di sampingnya.
Yap Kay berdiri diam saja, tidak bersuara, tidak bergeming, sorot matanya seperti mengandung tawa sinis yang aneh.
Ih-me-gao menatap tangannya, katanya datar.
"Kau hadapi dia, setelah membunuh cewek ini, baru kubantu kau."
Kembali Kwe Ting hanya bersuara dalam mulut.
"Awas! Pisau terbangnya."
Ih-me-gao memperingatkan.
"Kaupun harus hati-hati,"
Sahut Kwe Ting.
"hati-hati dengan pedangku."
Ih-me-gao melengak, tanyanya.
"Apa? Awas pedangmu?"
Kwe Ting mengiakan.
Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, tahu-tahu pedangnya bergerak laksana kilat menusuk ke dada Ih-me-gao.
Samberan pedang tidak sama seperti samberan kilat karena batang pedang yang satu ini serba hitam legam tanpa memancarkan cahaya, namun hawa pedangnya yang dingin tajam menyedot sukma orang melebihi renggutan halilintar.
Itulah Siong-yang-thi-kiam.
Tiada Siong-yang-thi-kiam yang ke dua, inilah satu-satunya pedang hitam legam di kolong langit.
Begitu pedang terlolos, seketika Ih-me-gao merasakan hawa pedang yang menyedot sukmanya sudah menyambar tiba di ujung alisnya.
Keruan tak terbilang rasa kejutnya, dengan murka dia menggerung keras, berbareng Ang-mo-jiu laksana panah darah melesat keluar.
Dulu Ceng-mo-jiu terdaftar nomor sembilan dalam daftar senjata karya Pek Siau-seng, yang benar kekuatan dan perbawanya tidak lebih asor dari Pian-sin-coa-pian yang tercantum nomor enam dan Kim-kong-thi-koay yang tercantum nomor tujuh.
Yang terang karena senjata ini terlalu ganas dan sesat, maka Pek Siau-seng sengaja menilainya rada rendah.
Apalagi Ang-mo-jiu yang satu ini buatannya jauh lebih halus, lebih hebat dari Ceng-mo-jiu, jurus tipunyapun jauh lebih telengas dan aneh, banyak ragamnya lagi.
Tampak cahaya merah menyala berkelebat, malah membawa deru angin keras yang berbau amis memualkan.
Kwe Ting menghadapi dengan tawa dingin seraya mundur dua langkah, mendadak kakinya dijejak sehingga badannya melambung ke tengah udara seraya bersuit nyaring.
Pedang besinya seketika berubah menjadi bianglala panjang yang mewarnai udara jadi hitam gelap.
Ternyata badan dan pedangnya sudah bersatu padu.
Memang inilah jurus-jurus mematikan yang paling dahsyat dari Siong-yang-thi-kiam.
Boleh dikata sudah mendekati keampuhan yang tiada taranya, tiada sesuatu benda yang disentuhnya takkan hancur lebur.
Maka terdengarlah 'ting..."
Sekali dan pendek, tahu-tahu Ang-mo-jiu sudah terketuk hancur lebur tak berbekas lagi, kelihatan seperti ditaburi hujan darah yang memenuhi angkasa.
Suitan Kwe Ting tidak menjadi sirap begitu saja, tahu-tahu badannya membalik ke samping, lembayung hitam yang memanjang itu tiba-tiba berubah menjadi bintik-bintik sinar yang tak terhitung banyaknya.
Maka hujan darah yang bertebaran di tengah angkasa itu seketika tertekan turun ke bawah, demikian pula seluruh badan Ih-me-gao tahu-tahu sudah terkurung di dalam hawa pedang yang hebat itu.
Perduli ke arah manapun dia berkelit, jelas takkan bisa menyelamatkan diri lagi.
Pada saat itulah, suitan tiba-tiba sirap, hawa pedangnya kuncup, badan Kwe Ting melayang turun dengan enteng tanpa mengeluarkan suara, pedang besinyapun sudah masuk ke dalam sarung.
Sedang Ih-me-gao berdiri dengan ke dua tangan lurus ke bawah, pandangannya terlongong dengan badan mengejang, mukanya yang aneh dan serba menakutkan itu basah kuyup oleh keringat dingin yang gemerobyos.
Sesaat lamanya Kwe Ting mengawasinya dingin, katanya sepatah demi sepatah.
"Kau ingin bergabung dengan aku? Kau belum setimpal!"
Ih-me-gao kertak gigi, sahutnya.
"Kenapa tidak kau tusuk mampus jiwaku saja?"
"Kaupun tidak setimpal kubunuh!"
"Lalu apa kehendakmu?"
"Lekas menggelinding pergi!"
Ih-me-gao menyengir tawa dingin, katanya.
"Kalau aku pergi begini saja, akan datang satu ketika kau akan menyesal setelah kasep."
Dia tidak lari, dengan langkah pelan-pelan dia beranjak keluar lewat hadapan Kwe Ting.
Ang-mo-jiu yang sudah hancur lebur berserakan di atas lantai, mirip benar dengan noda-noda darah yang berceceran.
Pelan-pelan Kwe Ting memutar badan menghadapi Yap Kay.
Dilihatnya Yap Kay sedang tersenyum.
Seketika dia menarik muka, katanya dingin.
"Agaknya kau tabah sekali!"
Yap Kay manggut-manggut. Inilah jawabannya.
"Kau tidak takut aku bergabung sama dia membunuhmu?"
"Aku tahu!,"
Sahut yap Kay menyimpang dari pertanyaan orang.
"Kau tahu apa?"
"Aku tahu pewaris Siong-yang-thi-kiam, pasti tidak akan sudi bergabung dengan orang macam dia, meski menghadapi persoalan pelik apapun."
Dengan tajam Kwe Ting mengawasinya, sorot matanya memancarkan mimik yang aneh, lama sekali baru pelan-pelan dia berkata.
"Kwe Siong-yang adalah saudaraku tertua."
"Memang ada abang tentu ada pula adiknya."
Demikian puji Yap Kay.
"Betapa gagah dan besar jiwanya, sayang sekali gugur di tangan Ki Bu-bing."
Ujar Kwe Ting dengan gemas dan penasaran. Yap Kay menghela napas, katanya.
"Peristiwa itu merupakan penyesalan terbesar pula bagi Siau-li Tham-hoa selama hidupnya."
Semula Kwe Siong-yang dan Siau-li Tham-hoa adalah musuh, karena masing-masing pihak menghormati dan mengagumi musuhnya, dari musuh mereka menjadi kawan karib yang sejajar dan sederajat.
Selama hidup mereka saling hormat menghormati.
Untuk menepati janji undangan Li Sin-hoan, akhirnya Kwe Siong-yang gugur oleh tusukan pedang Ki Bu-bing.
Walaupun peristiwa itu merupakan tragedi yang mengerikan, namun merupakan kisah yang patut dipuji pula.
"Apa yang dikatakan Ih-me-gao memang tidak salah, kedatanganku memang untuk memiliki Pit-kip peninggalan Siangkwan Kim-hong."
Kwe Ting berterus terang.
"Aku tahu,"
Jawaban Yap Kay tegas dan tandas.
"Oleh karena itu aku tetap akan menunggu Han Tin. Seharusnya aku tidak perlu percaya akan obrolanmu, namun untuk sementara ini biarlah aku percaya, karena kau adalah murid pewaris Li Sin-hoan satu-satunya."
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Yang terang beliau orang tua tidak benar-benar mengangkatku sebagai ahli warisnya, demikian pula ilmu silatnya aku belum memperoleh ajaran seper-sepuluh perbendaharaan ilmu silatnya."
"Tapi sudah jelas bahwa dia menurunkan kepandaian menimpuk pisau terbang itu kepadamu."
Yap Kay diam saja, dia mengakui hal ini.
"Di waktu engkohku masih hidup, cita-citanya yang terbesar adalah bertanding dan menentukan siapa menang dan siapa asor dengan Siau-li si pisau terbang,"
Demikian Kwe Ting seperti berkisah.
"dalam duel di hutan flamboyan di luar Hin-in-ceng, akhirnya dia kalah oleh Siau-li si pisau terbang."
"Yang terang duel kali itu merupakan pertempuran yang tak pernah terjadi sejak jaman dahulu kala dan takkan pernah terjadi pada masa yang akan datang, membuka lembaran baru sejarah persilatan."
Dalam duel itu sebetulnya Li Sin-hoan memperoleh tiga kali kesempatan untuk menyerang Kwe Siong-yang, sehingga orang terkalahkan dan bukan mustahil mati, namun dia tidak pernah turun tangan.
Belakangan pisau Li Sin-hoan sendiripun tertabas kutung, bukan mustahil pula Kwe Siong-yang bisa menusuknya mampus, tapi Kwe Siong-yang pun tidak menurunkan tangan kejinya, malah secara sukarela dia mengaku kalah.
"Orang-orang seperti mereka,"
Demikian ujar Yap Kay.
"baru boleh dipandang sebagai laki-laki sejati, baru tidak malu mereka diagulkan sebagai Enghiong tulen."
"Cuma bagaimana juga, Siong-yang-thi-kiam kenyataan sudah terkalahkan oleh Li Sin-hoan."
Kwe Ting mengawasinya lekat-lekat, matanya memancar terang, katanya kereng.
"Khabarnya belakangan ini ada pula yang membuat buku daftar senjata, dan pisau terbangmu dicantumkan paling atas, diagulkan nomor satu di seluruh kolong langit."
Yap Kay tertawa getir.
Diapun dengar kabar ini.
Sejak dia mendengar ini, dalam hati dia lantas tahu bahwa banyak kesukaran akan selalu melibatkan dirinya di dalam kancah kehidupan yang menegangkan jiwa.
Jelas takkan ada tokoh-tokoh Bu-lim yang rela direndahkan derajatnya di bawah urutan orang lain, dan karena julukan yang mungkin berlebihan itu, tentu menimbulkan banyak pertempuran duel adu kekuatan, entah berapa banyak jiwa akan berkorban, betapa banyak darah akan berceceran.
Kwe Ting berkata.
"Oleh karena itu perduli apa yang kau ucapkan benar atau tidak, setelah persoalan ini selesai, aku tetap akan minta bertanding dengan aku untuk menentukan menang dan kalah. Boleh buktikan Siong-yang-thi-kiam apakah masih di bawah pisau terbang."
Yap Kay tertawa getir saja. Ting Hun-pin malah tidak sabar lagi, katanya.
"Lebih baik kalau kau mengerti satu hal, pisaunya diagulkan nomor satu di seluruh jagat lantaran pisaunya sering menolong entah berapa banyak jiwa manusia, bukan karena banyak membunuh orang."
Kwe Ting manggut-manggut, ujarnya.
"Ya, akupun pernah dengar."
"Oleh karena itu jikalau kau ingin mengungkuli dia, maka pergilah kau menolong jiwa manusia, bukan main bunuh sesuka hatimu."
Kwe Ting menarik muka, katanya dingin.
"Jikalau aku membunuhnya, berarti aku sudah mengungkuli dia."
"Kau salah, umpama benar kau bisa membunuhnya, selamanya jangan harap kau bisa mengalahkannya."
Kwe Ting tertawa dingin. Maksud tawa dingin adalah menyangkal dan tidak percaya. Ting Hun-pin jadi sengit, jengeknya dingin.
"Jangan kau kira kau sudah mengalahkan Ang-mo-jiu sudah anggap dirimu jempolan, memang Ang-mo-jiu lebih jahat dan telengas dari Ceng-mo-jiu, namun dia tetap bukan tandingan Ceng-mo-jiu, karena Ih-me-gao tidak punya pambek dan jiwa besar, dia tidak punya watak."
Kwe Ting bersuara dalam tenggorokan, dia sedang pasang kuping.
"Memang kelihatannya dia congkak dan tinggi hati, yang benar hanya mulutnya saja yang pintar mengoceh dan bermanis-manis muka. Seorang kerdil yang menggunakan setiap kesempatan untuk menguntungkan diri sendiri. Untuk hal ini jelas dia sudah bukan tandingan Ceng-mo-jiu."
Kwe Ting mendengarkan sambil mengawasi muka orang, biji matanya mengunjuk sorot aneh.
"Sejak dahulu kala, seorang tokoh Bu-lim yang sejati berdikari dan tak tergoyahkan, tidak mau dan tidak pernah terpengaruh oleh keadaan atau seseorang. Bilamana seseorang tidak mempunyai watak dan pendirian, memangnya cara bagaimana dia bisa meyakinkan ilmu silat yang luar biasa?"
Kwe Ting tertawa dingin, katanya.
"Ucapanmu memang beralasan. Sayang, ocehanmu terlalu banyak."
Lalu dia membalik badan membelakangi mereka menghadap ke dinding, melirikpun tidak memandang kepada Ting Hun-pin. Ting Hun-pin malah tertawa, katanya.
"Agaknya orang ini punya wataknya tersendiri."
"Memang dia punya watak."
Ujar Yap Kay tersenyum.
"Sayang, dia tidak bisa membedakan salah dan benar, tidak tahu baik atau jahat, celakanya Nyo Thian si keparat itu dipandangnya sebagai teman baik."
Yap Kay menghela napas gegetun, katanya.
"Bukankah sebelum peristiwa ini, akupun pandang Nyo Thian sebagai teman sendiri?"
"Oleh karena itu sekarang kau ketiban nasib jelek."
Sebetulnya Kwe Ting sudah berkeputusan tidak akan mendengarkan ocehan mereka, kini dia berpaling, katanya.
"Nyo Thian bukan teman baikmu?"
Terpaksa Yap Kay mengakui.
"Dia bukan."
"Dia menjual kalian?"
Yap Kay terpaksa harus mengakui juga.
"Dia sekongkol dengan Siangkwan Siau-sian menjual kalian?"
"Kelihatannya dia sudah kepincut kepati-pati oleh Siangkwan Siau-sian."
"Tapi kalian yang semula melindungi Siangkwan Siau-sian, juga terpincut olehnya bukan?"
"Mereka hendak membangun Kim-cie-pang pula, Nyo Thian sudah menjadi Tongcu Kim-cie-pang."
"Maka mereka harus memberantas habis semua orang-orang yang kemungkinan menentang usaha mereka untuk membangun Kim-cie-pang kembali?"
Kwe Ting menegas. Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya.
"Akhirnya kau mengerti juga."
"Jikalau Kim-cie-pang bangkit kembali, akupun pasti akan menentang mereka."
Demikian Kwe Ting nyatakan pendiriannya.
"Oleh karena itu, dia mengundangmu kemari, jelas mengandung maksud tidak baik."
"Sekarang aku sudah di sini, kenapa mereka tidak turun tangan terhadapku? Memangnya mereka sudah tahu bahwa kalian ditolong oleh Han Tin? Sengaja dia atur sedemikian rupa sehingga akulah yang berhadapan dengan kalian? Ataukah Han Tin pun adalah anggota Kim-cie-pang? Sengaja dia menolong kalian kemari untuk menghadapi aku?"
Ting Hun-pin tidak mampu memberi jawaban. Jalan pikirannya tidak sedemikian luas, baru sekarang dia teringat bahwa hal itu bukan mustahil. Yap Kay tiba-tiba menghela napas, katanya.
"Bagaimanapun juga Han Tin adalah penolong yang menyelamatkan jiwaku."
"Dia punya alasan untuk menolong kalian?"
Tanya Kwe Ting.
"Sudah tentu ada."
Sahut Yap Kay.
"Adakah dia punya alasan mengkhianati kalian?"
"Tidak pernah dan tidak akan kupikirkan ke arah itu."
"Agaknya kau adalah orang yang tegas membedakan budi dan dendam."
"Ada orang pernah bilang demikian."
Sahut Yap Kay getir.
"Jikalau benar Han Tin teman kalian, tentu sekarang dia sudah kembali."
"Bukan di setiap tempat pasti bisa mencari arak."
Sahut Yap Kay.
"Tapi menurut apa yang ku tahu, di tempat ini pasti terdapat gudang arak di bawah tanah."
"Mungkin Siangkwan Siau-sian sudah hancurkan gudang arak itu."
"Kenapa?"
"Karena hanya arak yang bisa menawarkan racun yang mengeram dalam tubuhku."
"Sekarang belum minum arak, tapi racun dalam badanmu sudah tawar sendiri."
Yap Kay tak mampu menjelaskan.
"Semua keterangan yang kau berikan bukan saja membual, malah satu sama lain serba kontras, anak umur tiga tahunpun takkan percaya akan obrolanmu."
Yap Kay tak ingin berdebat, memang dia tidak bisa berdebat. Kwe Ting mengawasinya, tiba-tiba dia menghela napas, katanya.
"Tapi entah kenapa aku justru percaya."
Bersinar sorot mata Ting Hun-pin, katanya tertawa.
"Memang aku tahu kau orang yang gampang mengerti."
Kwe Ting tiba-tiba jadi kereng, katanya.
"Mungkin justru aku ini orang yang sukar diberi pengertian, mana aku mau percaya begini saja?"
"Kau tak usah kuatir, kami pasti takkan bikin kau kecewa."
"Sebaliknya jikalau kau tidak bisa menemukan Siangkwan Siau-sian, Nyo Thian dan han Tin, aku justru bisa membuat kalian menyesal. Aku beri waktu tiga puluh enam jam untuk kalian mencarinya."
Tanpa memberi kesempatan Ting Hun-pin bersuara, segera dia menambahkan.
"Tiga hari kemudian, aku akan kembali pula mencari kalian. Demi kebaikan kalian sendiri, aku harap kalian bisa temukan orang-orang itu."
"Waktu tiga hari, kukira lebih dari cukup."
Kwe Ting melangkah keluar, tapi tiba-tiba dia berpaling, katanya.
"Masih ada sebuah hal, aku perlu beritahu kepada kalian. Bahwa orang-orang yang ingin membuat perhitungan dengan kalian bukan hanya aku seorang, belum tentu mereka mau percaya obrolan kalian, oleh karena itu dalam dua hari ini kalian harus lebih waspada."
Yap Kay bertanya.
"Kecuali kau dan Ih-me-gao, masih ada siapa lagi?"
Kwe Ting menepekur, tiba-tiba dia balas bertanya.
"Pernahkah kau berburu rase?"
Yap Kay manggut-manggut. Sorot mata Kwe Ting tertuju ke tempat jauh, katanya pelan-pelan.
"Musim berburu rase paling baik kalau di bulan sembilan."
"Bulan sembilan?"
Tanya Ting Hun-pin menegas.
"Waktu itu musim rontok, hawa panas dan sejuk, padang rumput nan liar dan luas, bila ada seekor rase muncul, beberapa ekor burung elang akan mengintainya dari tengah udara, maka begitu burung elang terbang di angkasa, maka rase itu jelas akan jadi mangsanya."
"Buat apa kau ngelantur ke persoalan ini, sekarang bukan bulan sembilan."
Sela Ting Hun-pin.
"Tapi sekarang justru tiba musimnya berburu rase, maka beberapa rombongan elang sudah mulai terbang."
Demikian Kwe Ting seperti mengigau dengan kata-katanya, sorot matanya cemerlang, seolah-olah dia sudah melihat beberapa ekor elang yang gagah dan galak sedang terbang berputar-putar di atas kota Tiang-an.
Akhirnya Ting Hun-pin mengerti juga, katanya.
"Apakah kita ini kau ibaratkan sebagai rase itu?"
Kwe Ting tidak menjawab. Tanpa berpaling dia beranjak keluar. Mengantar bayangan punggung orang yang menghilang di balik pintu, Ting Hun-pin terlongong sekian lamanya, gumamnya.
"Sebetulnya orang ini teman kita atau justru musuh bebuyutan."
Yap Kay diam saja, seakan-akan dia tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.
"Eh!", Ting Hun-pin menyikutnya.
"apa sih yang kau pikirkan?"
"Tidak pikir apa-apa."
Sahut Yap Kay ,"
Aku hanya ingin makan tapak beruang yang gemuk dan berminyak."
"Dan apalagi?"
Tanya Ting Hun-pin dengan gigit bibir. (Bersambung ke Jilid-7 Jilid-7
"Di sini ada sebaskom air panas, sebuah ranjang besar yang empuk, bersih dan hangat...."
Seperti merintih, Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya.
"Apa yang kau pikirkan kenapa mirip dengan jalan pikiranku?"
Yap Kay tersenyum, ujarnya.
"Karena sudah lama kita tidak bertemu, benar tidak?"
Merah muka Ting Hun-pin, mendadak dia berjingkrak bangun serta menggigit lengan Yap Kay, omelnya.
"Kau ini memang laki-laki bejat, ku gigit kau biar mampus........"
Ooo)dw(ooo Ranjangnya empuk dan bersih, hangat lagi.
Yap Kay rebah di atas ranjang, dia tidak mati tergigit, namun kelihatannya dia sudah loyo dan empas-empis kehabisan napas.
Ting Hun-pin rebah di atas dadanya, dada yang bidang dan kekar kuat.
Kamar yang mereka tempati sejuk dan nyaman, seperti di dalam musim semi.
Api di dalam tungku tengah menyala, menghangatkan udara yang dingin ini.
Di dalam kamar yang sudah hangat ini, seorang diri boleh tidak usah pakai baju.
Apalagi dua orang berlainan jenis, maka boleh tidak usah pakai selembar benangpun.
Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, katanya.
"Kita belum menikah secara resmi, lantas main begituan, sungguh tidak pantas."
Suaranya seperti orang mengigau dalam mimpi.
"selalu aku merasa perbuatan kita sudah melanggar kesopanan dan budi pekerti, namun entah kenapa, setiap kali aku selalu sukar menolaknya."
"Aku tahu!", sahut Yap Kay.
"Kau tahu apa?"
Yap Kay mengawasinya, sorot matanya mengandung kasih sayang, katanya pelan-pelan.
"Kau tidak menolak, karena kau lebih bergairah untuk melakukan perbuatan terkutuk ini."
Merah muka Ting Hun-pin, dengan keras dia puntir telinga orang, katanya gemas.
"Kau begini jahat, apa pula yang kau ketahui?"
"Dia masih tahu membunuh orang,"
Sekonyong-konyong seseorang menyeletuk, suaranya nyaring dan lincah seperti suara kanak-kanak.
Itulah suara Siangkwan Siau-sian.
Ting Hun-pin berjingkrak bangun, namun dia tersipu-sipu dibuatnya, baru dia sadar dirinya telanjang bulat.
Sebelum dia berbuat apa-apa, tiba-tiba pintu yang terpalang dari dalam sudah pelan-pelan terpentang.
Dengan tersenyum Siangkwan Siau-sian beranjak masuk, tangannya menggendong boneka tanah liat pula.
Bola matanya yang bundar jeli berputar ke arah mereka berdua.
Katanya kemudian dengan cekikikan geli sambil geleng-geleng.
"Waktu kalian main begituan, seharusnya mengganjel pintu dengan sebuah meja dari dalam, bukankah kalian tahu, hanya membuka pintu yang terpalang dari dalam bukan suatu kerja yang sulit?"
Gemas, dongkol dan malu, seru Ting Hun-pin.
"Siapa kira ada gadis perawan seperti kau yang tidak tahu malu bakal menerjang masuk kemari?"
"Aku tidak tahu malu? Memangnya kalian tahu malu. Hari belum lagi gelap, kalian sudah begini mesra, apa tidak memalukan?"
Semakin merah muka Ting Hun-pin, lekas dia alihkan pembicaraan, katanya keras.
"Kebetulan kau mau datang, kami memang sedang mencarimu. Cara bagaimana kau bisa temukan tempat ini?"
"Bukan saja di sini terdapat koki yang paling pintar, masih ada ranjang paling nyaman. Kebetulan aku tahu bahwa kalian memang orang-orang yang suka bersenang-senang."
Berputar biji mata Ting Hun-pin.
"Kau ini tamu, maka berlakulah sopan sedikit sebagai tamu."
"Bagaimana perilaku seorang tamu?"
"Paling tidak sekarang kau keluarlah, biar kami bangun menyambut kedatanganmu."
Siangkwan Siau-sian cekikikan, katanya.
"Aku mengerti maksudmu. Bagaimana kalau aku putar badan tidak melihat kalian?"
Gemeretak gigi Ting Hun-pin saking gemas dan benci, tapi orang tidak keluar, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Untung Siangkwan Siau-sian sudah putar badan membelakangi mereka, katanya.
"Aku amat heran, dalam hawa sedingin ini kelihatannya kalian tidak takut kedinginan sedikitpun."
Ting Hun-pin diam saja, dia tidak menanggapi ocehan orang.
"Khabarnya dulu kau selalu membawa banyak kelinting emas, jikalau tidak ditanggalkan, bukankah amat menyenangkan buat main-main?" , demikian goda Siangkwan Siau-sian. Memang Ting Hun-pin sedang gegetun dan menyesal, jikalau dia membawa kelinting pencabut nyawa itu, sejak tadi dia sudah persen beberapa lubang di badan Siangkwan Siau-sian. Pada saat itulah, sekonyong-konyong Siangkwan Siau-sian berteriak sekeras-kerasnya, seperti mendadak melihat setan, badannya segera menerjang jendela menerobos keluar, boneka di tangannya jatuh hancur. Ting Hun-pin berteriak.
"Bagaimana juga jangan biarkan dia merat!"
Belum habis dia bicara, Yap Kay sudah menerobos jendela.
Umumnya perempuan memang lambat bila mengenakan pakaiannya, bayangan Yap Kay dan Siangkwan Siau-sian sudah tidak kelihatan lagi.
ooo)dw(ooo Yap Kay memang orang aneh, sebetulnya dia tidak ingin dirinya kenamaan, maka pertama kali dia berkecimpung di kalangan Kang-ouw pernah dia menggunakan beberapa nama samaran yang berlainan.
Kejadian di dunia ini memang serba-serbi, orang yang tidak ingin ternama, malah disegani orang dan tenar.
Sehingga setiap nama yang pernah dipakai boleh dikata semuanya tenar, satu diantaranya yang paling terkenal sudah tentu adalah Hwi-long-kun.
Karena Ginkang-nya memang amat tinggi, malah ada orang berpendapat bahwa kepandaian pisau terbangnya mungkin belum sebanding dengan Siau-li si pisau terbang, tetapi Ginkang-nya jelas tokoh silat kosen manapun tak ada yang bisa mengungkulinya.
Malah ada sementara orang yang berpendapat, delapan puluh tahun belakangan ini, tokoh Bu-lim yang memiliki ilmu Ginkang tertinggi adalah dia.
Akan tetapi, waktu dia menerobos keluar jendela ternyata secara aneh Siangkwan Siau-sian menghilang, jadi dia tidak berhasil menangkapnya.
Cukup jauh Yap Kay berlari-lari mengejarnya, namun bayangan orang tak dilihatnya.
Tatkala itu sudah menjelang magrib.
Angin menjelang petang ini rasanya dingin.
Sudah tentu Yap Kay tidak ingin berdiri menjublek di tempat terbuka seperti orang linglung yang diterpa angin barat laut.
Tahu dirinya takkan bisa mengejar orang, terpaksa dia kembali dulu.
Entah kenapa belakangan ini perhatiannya terhadap Ting Hun-pin semakin berat.
Dia kembali melalui jalan dimana tadi dia datang.
Daun jendela yang keterjang semplak tadi, kini berbunyi nyaring seperti orang bertabuh gendang dihembus angin keras.
Baru saja dia hendak melayang turun melalui jendela, tahu-tahu dia menjublek di tempatnya.
Rumah yang sepi kini mendadak begitu ramai.
Kamar kecil yang ia tempati, kini ramai dihuni oleh tujuh delapan orang, hampir sebagian besar penghuni kamar itu adalah perempuan, malah semuanya adalah gadis-gadis belia yang molek.
Lebih aneh lagi bahwa ke sembilan gadis-gadis ayu itu semuanya mengenakan pakaian tosu.
Darimana datangnya tosu-tosu perempuan ini?
Hampir Yap Kay menyangka dirinya salah tujuan dan mendatangi tempat lain, tetapi jelas dilihatnya Ting Hun-pin berada di dalam kamar.
Ting Hun-pin duduk tidak bergeming di tempatnya, sorot matanya menunjukkan rasa keheranan dan kaget, seperti mengandung ketakutan pula.
Di belakangnya dua tosu perempuan berdiri menjaganya, di depannya masih ada lima orang lagi, tapi sorot matanya menatap ke arah badan seorang laki-laki.
Seorang laki-laki tua, seorang tosu yang sudah lanjut usia.
Tosu tua ini duduk di atas sebuah kursi dekat jendela.
Jubah tosu yang dipakai terbuat dari sutra disulam dengan benang-benang emas yang indah.
Rambutnya yang ubanan tersisir halus dan rapi laksana perak mengkilap, digelung tinggi dengan tusuk kondai hijau dari batu giok (jade), sabuknya terdiri dari sutra warna jambon, di mana terselip miring sebatang seruling panjang yang halus mengkilap seperti warna pualam.
Usia tosu ubanan ini sedikitnya sudah mencapai enam puluh tahun, tapi rona mukanya masih kelihatan merah segar, halus dan mengkilap, sedikitpun tiada kerut keriputnya, demikian pula biji matanya hitam putihnya masih kelihatan cemerlang dan bercahaya terang.
Walau dia duduk dengan bersimpuh, namun kelihatan perawakannya yang tinggi tegap, sedikitpun tidak kelihatan loyo atau ketuaan jiwanya, jenggot ubanan yang terurai memanjang di depan dadanya melambai-lambai tertiup angin, namun jelas teratur rapi dan terpelihara baik sekali.
Selama hidupnya belum pernah Yap Kay melihat atau berhadapan dengan tosu segagah, mewah, setampan dan berdandan begitu rapi.
Kini Ting Hun-pin sudah melihat kedatangannya, mulutnya sudah terbuka, namun suaranya tak terdengar.
Agaknya Hiatto-nya sudah ditutuk orang.
Yap Kay menghela napas, katanya getir.
"Agaknya kamar ini memang membawa berkah, baru saja seorang tamu berlalu, tahu-tahu ketambahan delapan lagi."
Tosu ubanan berjubah sutra tengah menatapnya, suaranya keras dan kereng.
"Kau inikah Yap Kay?"
Yap Kay manggut-manggut sebagai jawabannya.
"Hwi-long-kun juga adalah kau?"
"Ada kalanya memang benar!"
Si Tosu menarik muka, suaranya tetap kereng.
"Belakangan ini memang banyak generasi muda yang muncul, orang gagah mampu membunuh delapan puluh tga jiwa dalam semalam, sejak dulu kala Pinto belum pernah menyaksikannya."
"Akupun belum pernah melihatnya."
Ujar Yap Kay.
"Di hadapan Pinto, kau masih berani bertingkah?"
"Kalau Totiang tidak senang melihat orang bertingkah, kenapa kau berada di kamar milik seseorang yang suka bertingkah?"
"Agaknya kau belum tahu siapa aku ini?"
"Ya, belum tahu!"
"Pinto Giok-siau."
"Giok-siau dari laut timur?". Melihat si Tosu manggut, Yap Kay menambahkan dengan tertawa getir.
"Seharusnya aku terperanjat, sayangnya hari ini sudah banyak kali aku dibuat terkejut."
Ooo)dw(ooo Tang-hay-giok-siau atau Seruling Giok dari Laut Timur.
Memang siapapun yang mendengar nama ini pasti akan terkejut.
Tempo dulu waktu Pek Siau-seng membuat buku daftar senjata, Tang-hay-giok-siau tercantum nomor 10.
Bahwasanya Giok-siau Tojin ini adalah satu dari 10 tokoh besar Bu-lim yang sekarang masih ketinggalan hidup, kecuali Li Sin-hoan.
Khabarnya jejak pengembaraannya selalu berada di luar lautan.
Sungguh tak pernah terpikir oleh Yap Kay, orangnya tahu-tahu sudah berada di sini.
Terdengar Giok-siau Tojin berkata.
"Untuk apa Pinto datang kemari, tentunya kau sudah tahu."
"Aku tidak tahu."
Sahut Yap Kay.
"Kelihatannya kau bukan laki-laki goblok."
"Tapi aku pandai main pura-pura."
Sahut Yap Kay.
Tosu-tosu perempuan yang hadir sejak tadi sudah main lirik secara diam-diam kepada Yap Kay, kini tak tertahan mereka seperti ingin tertawa.
Kembali berubah rona muka Giok-siau Tojin, katanya dingin.
"Kau lebih pantas kalau pura-pura mampus saja."
"Lho! Kenapa pura-pura mati?"
"Karena Pinto tidak akan bunuh orang mati."
"Jadi yang masih hidup kau bunuh semuanya?"
"Ya, aku hanya ingin bunuh orang yang ingin mampus."
"Syukurlah, aku orang yang tidak ingin mampus."
"Bila orang ini tetap hidup segar bugar, di hadapan Pinto dia harus bicara terus terang."
"Ya, apa yang kuucapkan semua terus terang."
"Milik siapakah boneka tanah liat ini?"
"Milik Siangkwan Siau-sian."
"Tadi dia berada di kamar ini?"
"Dialah tamuku yang pertama."
"Sekarang di mana dia?"
"Entah!"
"Barusan dia masih di sini, kenapa kau katakan tidak tahu di mana dia pergi?"
"Sekarang kau masih berada di sini, sebentar lagi kemana kau pergi, aku takkan tahu."
Giok-siau Tojin tiba-tiba menghela napas, katanya.
"Betapa berharganya jiwa manusia, kenapa ada orang yang ingin mampus?"
Tiba-tiba dia keluarkan seruling bundar pualam yang terselip di pinggangnya.
Dulu Tang-hay-giok-siau tercantum nomor sepuluh dalam deretan daftar senjata, sumber kepandaian silat Giok-siau Tojin khabarnya mendapat didikan tiga belas aliran, seruling di tangannya ini bukan saja khusus untuk menutuk Hiat-to, namun bisa digunakan sebagai pedang, malah di dalam lubangnya yang bundar itu tersembunyi senjata rahasia yang lihay dan keji benar.
Semula Yap Kay kira orang sudah siap turun tangan, tak nyana Giok-siau Tojin tetap duduk tidak bergeming, seruling dielusnya pelan-pelan, lalu ditempelkan ke bibir dan ditiupnya.
Pertama kali irama serulingnya riang enteng, seolah-olah di puncak gunung menghijau dibuaian hembusan angin lalu yang membawa awan berkembang, sehingga orang yang mendengar merasa hatinya tentram, riang dan gembira.
Lambat laun lagunya semakin rendah dan memabukkan, membawa pikiran pendengar ke dalam alam mimpi yang indah dan mengasyikkan.
Tiada kerisauan dan derita dalam alam mimpi itu, tiada kejahatan tiada angkara murka, sudah tentu tiada tanda-tanda nafsu membunuh.
Siapapun mendengar lagu seruling ini, pasti takkan pernah membayangkan persoalan dunia yang penuh diliputi ketamakan, kekejian dan kejahatan saling membunuh sesama hidup manusia.
Akan tetapi saat itulah Giok-siau Tojin justru melakukan perbuatan yang paling keji, rendah, kotor dan hina serta memalukan.
Dari dalam batang serulingnya tiba-tiba melesat tiga bintik sinar bintang yang dingin, melesat kencang mengarah dada Yap Kay.
Itulah senjata gelap sebangsa Song-hun-ting (Paku duka cita), luncurannya kencang, bagai sambaran kilat.
Di dalam suasana dibuai irama seruling yang memabukkan ini, siapa akan menyangka dan menduga bahwa orang akan membokong dengan senjata rahasia yang keji dan jahat secara rendah.
Akan tetapi Yap Kay selalu sudah siap waspada.
Senjata rahasia yang betapapun keji dan jahatnya, dihadapannya seolah-olah menjadi tak berguna sama sekali.
Karena dia membekal semacam kepandaian khusus yang luar biasa untuk menyambuti senjata rahasia, jari-jarinya seperti dilandasi semacam daya sedot yang gaib.
Cukup dia melambaikan tangan, ketiga bintik sinar dingin itu seketika lenyap tak berbekas.
Apakah itu kepandaian Lwekang Ban-liu-kui-cong (Laksana aliran kembali ke sumbernya) yang sudah lama putus turunan di Bu-lim?
Sedikit berubah rona muka Giok-siau Tojin.
Yap Kay malah tersenyum, katanya.
"Teruskan tiupanmu, jangan berhenti, aku senang mendengar orang meniup seruling."
Giok-siau ternyata tidak menghentikan tiupan irama serulingnya, tapi lagu yang ditiupnya jauh berbeda, berubah semacam lagu liar yang penuh mengandung daya pancingan, seperti gadis yang rindu akan kekasih, menggeliat ketagihan nafsu birahi yang merintih-rintih.
Memang itu pula harapan setiap laki-laki yang juga dirangsang nafsu liar yang menjalari sanubarinya.
Dua tosu perempuan yang berdiri paling dekat dengan Yap Kay tengah pelirak-pelirik kepadanya dengan senyum genit merangsang, senyum yang mempesonakan penuh diliputi daya rangsang yang pasti menimbulkan gairah terhadap keinginan yang membangkitkan kelelakiannya.
Tidak mungkin Yap Kay takkan melihat dan mengawasi mereka.
Tiba-tiba terasa olehnya bahwa dirinya menjadi bocah ingusan yang mendadak baru pertama kali ini melihat gadis ayu telanjang dihadapannya.
Di dalam alam pikirannya seolah-olah mereka menjadi telanjang bugil sama sekali, buah dada nan putih kenyal, pinggang yang ramping dan paha yang panjang mempesonakan.
Sekonyong-konyong terasakan olehnya sesuatu telah berubah pada salah satu bagian tubuhnya.
Memang, nafsu birahi yang merangsang ini sukar dikendalikan laki-laki manapun dalam dunia ini.
Senyum tawa mereka semakin genit, lembut dan merangsang dengan kerlingan matanya, pinggangnya yang ramping kecil menggeliat laksana egolan ikan lele yang mengundang.
Pandangan siapa yang mampu beralih dari tempat-tempat vital yang menyolok, merangsang dan mengundang birahi ini?.
Lalu siapa pula yang bakal mau memperhatikan urusan lainnya?
Meski dunia hampir kiamatpun takkan dipedulikan lagi.
Dua orang yang menjaga Ting Hun-pin pelan-pelan menggusurnya keluar.
Di dalam keadaan seperti itu, kalau terjadi pada laki-laki lain, pasti tidak akan memperhatikan gerak-gerik mereka, tapi Yap Kay bukan laki-laki lain.
Yap Kay adalah Yap Kay.
Matanya masih menatap ke arah gadis bugil yang sedang menari-nari telanjang, namun tahu-tahu badannya sudah melejit ke sana.
Sekonyong-konyong pula irama serulingpun terhenti.
Sebatang seruling yang kemilau itu tahu-tahu sudah menuding miring kemari, cepat sekali mengincar Siau-yau-hiat di pinggang Yap Kay.
Itulah gerakan jurus Boan-koan-pit yang khusus mengincar Hiat-to dengan telaknya.
Di tengah udara Yap Kay membalik badan terus jumpalitan, arahnya tidak berubah, tetap menubruk ke arah dimana Ting Hun-pin sedang digusur keluar.
Kini gerakan Boan-koan-pit itu langsung berubah menjadi jurus-jurus pedang nan lincah enteng, sekujur bayangan Yap Kay sudah terselubung di dalamnya.
Melihat Ting Hun-pin digusur orang pergi, namun Yap Kay menginsyafi bahwa dirinya tidak bisa meloloskan diri lagi.
Tiba-tiba pula disadari olehnya bahwa musuh yang dia hadapi sekarang merupakan musuh tertangguh yang belum pernah dia temui selama hidupnya.
Jikalau dia masih merisaukan keselamatan Ting Hun-pin melulu, bukan mustahil dirinya sendiri bisa menjadi korban pula.
Daya luncuran badannya yang pesat ke depan itu sekonyong-konyong terhenti begitu saja secara mentah-mentah, mirip sekali dengan gangsingan yang sedang berputar-putar kencang, mendadak terpaku di atas tanah begitu saja.
Tokoh kosen manapun yang sedang bertempur takkan mungkin mampu melakukan tindakan seperti ini.
Sampaipun Giok-siau Tojin yang punya pengalaman tempur ratusan kali, menghadapi berbagai macam musuh yang berbeda-beda, namun belum pernah dia mengalami kejadian seperti ini.
Sungguh tak bisa dia menyelami maksud juntrungan Yap Kay.
Namun kejap itu pula dia menyadari bahwa Yap Kay adalah pemuda yang kelewat cerdik, orang pintar tak mungkin mendadak melakukan perbuatan bodoh, memangnya di dalam hal ini ada muslihatnya?
Giok-siau Tojin menyeringai dingin, jengeknya.
"Apa-apaan maksudmu ini?"
"Tiada maksud apa-apa,"
Sahut Yap Kay.
"Kau ingin mampus?"
"Sudah tentu tidak."
"Barusan kau tidak tahu di dalam sekejap tadi aku bisa bikin kau mampus sepuluh kali."
"Aku tahu!", sahut Yap Kay tertawa, lalu menambah dengan suara tawar.
"tapi aku juga tahu, begitu aku berhenti, kaupun pasti berhenti."
"Jikalau aku tidak berhenti?"
"Kalau begitu aku benar-benar sudah mampus sepuluh kali."
Tiba-tiba memucat muka Giok-siau Tojin, agaknya dia amat menyesal, sayang menyesalpun sudah terlambat.
Kesempatan sebaik itu dia sia-siakan, lain kali jangan harap dia memperoleh peluang seperti itu pula.
"Aku berhenti karena sekarang aku tidak yakin dapat mengalahkan kau!" , Yap Kay berterus terang. Giok-siau Tojin menyeringai.
"Karena sekarang hatiku kalut, apalagi di sekitarmu kau membawa pembantu-pembantu yang begini ayu-ayu lagi."
Memang siapa yang hatinya takkan kecut melihat pujaan hatinya digusur pergi oleh pihak musuh.
"Agaknya kau memang jujur dan suka berterus terang,"
Demikian ejek Giok-siau Tojin.
"Buat apa aku menipumu, belum tentu aku bisa menipumu, sudah tentu kaupun sudah tahu bahwa pikiranku sudah kalut."
"Maka pikiran orang yang kalut harus mampus."
"Apa benar kau punya keyakinan membunuh aku?" , tantang Yap Kay. Giok-siau Tojin tidak buka suara. Memang dia tidak yakin. Ilmu silat pemuda satu ini memang luar biasa, kecerdikan otaknya di dalam menghadapi setiap perubahan adalah begitu sigap dan cekatan, merupakan musuh tertangguh yang belum pernah dia hadapi selama hidupnya, musuh yang paling sukar dijajagi dan diraba juntrungannya. Apalagi orang masih memiliki senjata pisau terbang yang belum dia keluarkan. Bahwa pisau terbang Yap Kay belum dikeluarkan, sudah tentu Giok-siau tidak berani memancing dan memaksanya untuk digunakan atas dirinya. Yap Kay berkata tawar.
"Cepat atau lambat pasti datang suatu ketika kau dan aku akan duel, tapi jelas bukan malam ini."
"Kapan?"
"Dikala hatiku tidak kalut. Disaat aku yakin dapat mengalahkan kau."
"Umpama benar ada hari yang kau harapkan, kenapa aku harus memberi peluang menunggu datangnya hari itu?"
"Karena mau tidak mau kau harus menunggunya. Sekarang umpama benar kau mampu membunuhku, kau takkan turun tangan, karena tujuanmu yang utama adalah Siangkwan Siau-sian."
Giok-siau Tojin tidak bisa menyangkal akan kebenaran ini.
"Sekarang umpama kau membunuhku, kau takkan bisa menemukan Siangkwan Siau-sian, maka kau menawan Ting Hun-pin, menggusurnya pergi, maksudmu supaya aku membawa Siangkwan Siau-sian untuk menukar dia."
Mendadak Giok-siau menghela napas panjang, ujarnya.
"Ternyata kau memang tidak bodoh."
"Aku tidak suka membual."
Ujar Yap Kay.
"sekarang aku benar-benar tidak tahu di mana Siangkwan Siau-sian berada."
"Kalau begitu akupun tidak tahu di mana Ting Hun-pin berada."
"Aku bisa berdaya untuk mencarinya."
"Baik! Kuberi waktu dua belas jam untuk mencarinya."
"Dua belas jam?"
"Besok pada waktu sekarang ini, jikalau tidak kau serahkan Siangkwan Siau-sian kepadaku, selama hidupmu jangan harap kau bisa berjumpa pula dengan Ting Hun-pin."
Lalu dengan suara kalem dia menambahkan.
"Kim-hoan (Gelang emas) tak kenal budi, Pisau terbang mengenal kasih, Thi-kiam (Pedang besi) senang tenar, Giok-siau (Seruling pualam) senang paras ayu. Tentunya kau tahu maksud dari pameo ini."
Sudah tentu Yap Kay pernah mendengar dan tahu artinya. Giok-siau Tojin menambahkan.
"Ting Hun-pin adalah gadis jelita, dan aku adalah laki-laki yang senang paras ayu, maka lebih baik kalau secepatnya kau menemukan Siangkwan Siau-sian, kalau tidak........"
Dia tidak melanjutkan ancamannya.
Siapapun maklum apa yang diartikan ucapannya.
ooo)dw(ooo Giok-siau Tojin sudah pergi membawa para murid-murid perempuannya yang cantik-cantik dan sama menggiurkan.
'Besok pada waktu ini aku datang kemari pula.' Dua belas jam.
Hanya dua belas jam.
Siapa yang punya keyakinan di dalam dua belas jam bisa menemukan Siangkwan Siau-sian?
Siapa yang mampu di dalam waktu yng pendek ini mencari perempuan yang licin seperti rase, dan jahat seperti ular itu?
Yap Kay sendiripun tiada keyakinan.
Tapi pedang besi mengejar nama, Giok-siau senang paras ayu.
Memang siapa yang tega dan tentram hati membiarkan pujaan hatinya berada dicengkeraman laki-laki hidung belang yang senang mempermainkan paras ayu?
Tabir malam sudah menyelimuti jagat raya.
Yap Kay diam dan termenung-menung duduk di tempat gelap, dia tidak menyulut pelita, rasanya bergerakpun dia merasa malas.
Hawa dalam kamar rasanya masih tercium bau harum Ting Hun-pin, samar-samar seperti tampak sepasang matanya yang jeli di kegelapan diliputi rasa ketakutan yang tak terperikan.
Cara bagaimana dia harus menolongnya?
Cara bagaimana pula dia harus menemukan Siangkwan Siau-sian?
Sedikitpun tak pernah tersimpul dalam benak Yap Kay cara yang sempurna untuk selekasnya membereskan persoalan pelik ini.
Tempat ini begitu sunyi dan hening, tempat yang cocok untuk orang memeras otak memecahkan masalah rumit, biasanya reaksinya teramat cepat, otaknya amat encer dan lincah dalam memecahkan berbagai masalah, tapi entah mengapa otaknya sekarang terlalu bebal, seperti goblok benar, tak ubahnya kepala batu layaknya.
Pekarangan luar yang semula hening dan sepi, mendadak kumandang percakapan orang banyak yang sedang ribut-ribut entah memperbincangkan persoalan apa.
Seolah-olah serombongan orang berbondong berdatangan ke tempat yang sunyi ini.
Lambat laun percakapan mereka semakin dekat dan jelas, kiranya mereka sedang memperbincangkan Kwe Ting.
"Saudara Siong-yang-thi-kiam kiranya memang tidak bernama kosong,"
"Memangnya Lamkiong bersaudara tidak patut menantangnya berduel pedang?"
"Tapi Lamkiong bersaudara adalah keturunan dari keluarga besar persilatan yang kenamaan di Bu-lim, mana mereka sudi dihina dan diremehkan."
"Terutama Lamkiong Wan, bukan saja dunia membekal ilmu silat warisan keluarga yang tinggi, malah diapun diangkat sebagai murid penutup dari Siau-in-kiam-khek, betapa tinggi ilmu silatnya, khabarnya boleh diagulkan sebagai salah satu dari tujuh tokoh kosen dalam Kang-ouw pada jaman ini."
"Maka orang banyak sama yakin Lamkiong Wan pasti akan menang di dalam duel ini, memangnya Kwe Ting kan tunas muda yang baru saja keluar kandang."
"Menurut apa yang ku tahu, di warung makan Laras Hati tadi ada orang berani bertaruh satu lawan tiga, bahwa Lamkiong Wan pasti menang dalam duel ini."
"Kalau tahu demikian, akupun ingin bertaruh."
"Tadi kau berani bertaruh bahwa Kwe Ting yang akan menang?"
"Memangnya siapa menyangka, ahli pedang kenamaan seperti Lamkiong Wan ternyata tidak mampu melawan sepuluh jurus serangan Kwe Ting."
"Siong-yang-thi-kiam memang teramat lihay dan dahsyat, terutama jurus terakhir dari ilmu pedangnya Thian-te-ki-hun (Bumi dan langit hangus bersama), aku berani bertaruh, tokoh kosen dalam Bu-lim yang kuasa menghadapi jurus ini, pasti takkan lebih dari lima orang."
"Kali ini Kwe Ting benar-benar menjadi tokoh berita yang paling top di segala lapisan, sampaipun beberapa juragan dari piaukiok yang biasanya tinggi hatipun, beramai-ramai menampilkan diri sebagai tuan rumah hendak mentraktirnya makan minum."
"Sekarang memang dia sudah menjadi orang yang paling terkenal di seluruh lapisan kota ini, bisa makan minum mengiringi tokoh setenar dia, sudah tentu pamorku akan ikut menanjak."
"Bila dia ingin senang-senang main perempuan, tanggung tak sedikit cewek-cewek yang suka rela menyerahkan dirinya dalam pelukannya."
"Aku ini tidak terhitung hidung belang, sungguh aku jadi iri hati padanya."
"Khabarnya laki-laki yang berkulit hitam, wah, amat hebat kalau main dengan perempuan."
"Memang, perempuan yang kulitnya hitam, tempat itunya juga.............."
Pembicaraan selanjutnya terlalu menusuk perasaan untuk didengarkan.
Yap Kay segan mendengarkan lebih lanjut.
Tadi suasana di luar begitu hening dan sepi, kiranya semua orang berduyun-duyun pergi melihat duel Kwe Ting melawan Lamkiong Wan.
Kalau dalam keadaan biasa, Yap Kay pasti akan menonton.
Dia tahu siapa sebenarnya Lamkiong Wan itu, diapun tahu betapa tinggi tingkat kepandaian ilmu silat orang ini, kenyataannya memang sudah mewarisi kepandaian leluhurnya secara menyeluruh.
Beberapa tahun belakangan ini namanya bagai kilauan pedangnya, selalu menonjol dan menjagoi dalam setiap gelanggang adu kepandaian di Bu-lim, sayang ketenaran dan kecemerlangan namanya hari ini habis direnggut oleh Kwe Ting.
Tentunya Kwe Ting sekarang amat gembira.
Masih muda sudah kenamaan, memangnya merupakan perjalanan hidup manusia yang paling menggembirakan sepanjang umurnya.
Yap Kay dapat memaklumi dan bisa merasakan akan kegembiraan seperti itu, namun dia sendiri tidak ingin merasakan dan tidak kepingin.
Dia hanya ingin menemukan suatu tempat sunyi, sunyi seorang diri, makan minum dengan tenang, arak ada kalanya memang bisa membius pikiran manusia, tapi ada kalanya juga bisa menjernihkan otak orang.
Pelan-pelan dia bangkit, beranjak lambat-lambat keluar.
Tiada orang memperhatikan dia, malah tiada orang yang melirik atau memandangnya sebelah mata, hanya seorang pemenang dan penggondol piala saja yang benar-benar menarik perhatian orang banyak.
Kenyataan sekarang dirinya adalah pihak yang dikalahkan.
ooo)dw(ooo Di ujung gang sempit itu terdapat sebuah warung arak, merk warungnya sudah menghitam hangus karena asap yang mengepul dari dalam kedai.
Penerangan di dalam rumah pun remang-remang.
Seorang pelayan yang sedang malas duduk di dingklik kecil mendekati api unggun.
Tamu yang hadirpun hanya seorang saja, duduk membelakangi pintu, menempati meja di pojok yang gelap, seorang diri menikmati araknya.
Agaknya seperti Yap Kay, orang itu mungkin sedang di rundung kesedihan karena sesuatu kekalahan, atau mungkin pula pedagang yang sedang bangkrut.
Kalau dalam keadaan biasa, mungkin Yap Kay akan menghampirinya, menemaninya minum arak sesama orang yang terpojok dalam kehidupan bermasyarakat ini.
Buat apa harus kenal satu sama lain di dalam setiap pertemuan?
Tapi sekarang dia memang rela menyendiri, dia suka kesepian seorang diri.
Pelayan acuh tak acuh menghampiri, setelah menatakan sepasang sumpit, orang kembali membersihkan meja.
Yap Kay pun acuh tak acuh.
"Ingin pesan apa?"
Tanya pelayan.
"Arak, arak lima kati, terserah arak apa saja yang tersedia."
"Tidak pesan sayur atau kacang bawang?"
"Kalau memang sudah sedia, boleh bawakan ala kadarnya." 'Tamu yang satu ini agaknya tidak pandai memilih makanan', pikir si pelayan. Akhirnya terunjuk senyum pada muka si pelayan, katanya.
"Tamu yang ini memesan sepiring roti kering, baiklah kusiapkan nyamikan yang sama saja."
"Ya, boleh!" , sahut Yap Kay. Agaknya tamu yang duluan itupun tidak pandai menikmati makanan. Sebelum arak disuguhkan, terpaksa Yap Kay harus menunggu diam dengan sabar, memang dia tidak mengharap pelayanan luar biasa di tempat seperti ini. Tamu yang di sebelah sana selama itu menikmati hidangannya sendiri, tak pernah berpaling ke sini. Kini tiba-tiba dia bersuara.
"Aku masih ada sisa arak, kenapa tidak kemari saja minum secangkir dulu?"
Suara orang yang pernah amat dikenal Yap Kay. Memangnya siapa dia? Tengah Yap Kay ragu-ragu, orang itu sudah bersuara pula.
"Sebetulnya kau kemari harus menyuguh secangkir kepadaku untuk membayar hutang budimu kepadaku."
"O, kau!"
Akhirnya Yap Kay mengenal suaranya.
Orang yang menyendiri minum arak dan disangkanya pedagang bangkrut ini, kiranya bukan lain adalah Kwe Ting, tokoh yang sedang menjadi pembicaraan ramai penduduk kota.
"Ya, inilah aku!,"
Akhirnya Kwe Ting berpaling dengan tertawa.
"kau tidak nyana akan diriku?"
Yap Kay memang tidak pernah menduganya. Segera dia menghampiri dan duduk di hadapan orang. Dengan nanar dia tatap Kwe Ting, katanya.
"Tidak pantas kau sekarang berada di sini."
"Kenapa?", tanya Kwe Ting.
"Tempat seperti ini hanya pantas didatangi orang seperti aku ini. Memangnya kau tidak tahu, sekarang kau sudah menjadi tokoh yang paling terkenal di seluruh pelosok kota?"
"Lantaran aku berhasil menusuk Lamkiong Wan?"
"Bisa mengalahkan Lamkiong Wan memang bukan pekerjaan gampang."
Kwe Ting menyeringai dingin. Yap Kay tetap mengawasinya, katanya.
"Entah berapa orang dalam kota yang ingin benar mencarimu untuk diajak makan minum, seolah-olah hal ini sudah menjadi mode perlombaan mereka. Kenapa kau malah menyembunyikan diri di tempat seperti ini?"
Kwe Ting tidak menjawab, dia malah mengisi secangkir arak, katanya.
"Terlalu banyak kau mengoceh. Nah, minumlah! Sedikit sekali arak yang kau minum."
Yap Kay angkat cangkir itu serta diteguknya habis. Kwe Ting mengawasinya, katanya.
"Dulu, pernahkah kau menang dalam duel?"
Sudah tentu pernah, Yap Kay tidak perlu memberi jawaban.
"Di kala kau menang dalam duel, apakah banyak orang yang berlomba hendak mentraktirmu minum dan makan sepuasnya?"
Yap Kay manggut-manggut sambil mengiakan.
"Dan kau terima ajakan mereka?"
"Sudah tentu tidak!"
Kwe Ting tertawa, tawa yang mengandung kesunyian. Kembali dia minum araknya lalu menyambung dengan suara kalem.
"Dulu selalu ingin mengalahkan orang lain, menandingi dan mengungguli orang lain, tapi sekarang.........."
"Sekarang bagaimana.................?"
Kwe Ting sibuk mengawasi cangkir dalam tangannya, sahutnya.
"Baru sekarang aku tahu, menang rasanya ternyata tidak seenak seperti yang pernah kubayangkan."
Tiba-tiba dia letakkan cangkir araknya yang sudah kosong di atas meja, katanya.
"Kau lihat apa ini?"
"Itu cangkir arak yang kosong,"
Sahut Yap Kay.
"Seseorang yang habis menang duel, ada kalanya diapun akan berubah menjadi orang yang mirip dengan cangkir kosong ini........."
Arak di dalam cangkir sudah tertenggak habis, seseorang yang habis menang duel, maka gairah tempur dan hasrat untuk menang, akhirnya akan berubah seperti arak di dalam cangkir, mendadak berubah menjadi kosong.
Walaupun dia tidak utarakan perasaannya ini, tapi Yap Kay sudah cukup memakluminya, perasaan kosong, hampa dan kesepian yang tak terlukiskan dengan kata-kata ini, diapun pernah mengalami dan menyelaminya, maka dia tidak berkata apa-apa.
Dia tuang secangkir penuh untuk Kwe Ting, lalu katanya tersenyum.
"Kaupun terlalu banyak ngoceh, minummu sedikit sekali."
Kwe Ting angkat cangkirnya dan menenggaknya habis. Yap Kay tetap tersenyum, katanya.
"Apapun yang terjadi, rasa kemenangan itu jelas jauh lebih nikmat daripada kalah."
Ooo)dw(ooo Malam nan dingin.
Angin menderu-deru di luar pintu.
Api di dalam tungku hampir padam.
Pelayan yang acuh dan malas tadi menyusupkan kepalanya ke dalam baju kapasnya yang tebal dan longgar, seperti tertidur sambil memeluk dengkul.
Dalam suasana malam nan sunyi ini, hanya di dalam rumah baru bisa terasa hangat.
Wahai para gelandangan yang keluyuran di luaran, di manakah tempat tinggalmu?
Kenapa kau tidak lekas pulang ke rumah?
Arak yang kelihatannya butek itu dingin merangsang perut.
Tapi arak dingin begitu masuk ke dalam perut, seketika berubah laksana bara yang menyala.
Berapa cangkir sudah kau habiskan?
Siapa mau mengingat atau menghitungnya?
Kembali Yap Kay penuhi secangkir arak penuh, lekas sekali dia tenggak habis.
Dia ingin mabuk?
Dia ingin melarikan diri dari tanggung jawab?
Memangnya siapa yang tidak ingin mabuk saja, bila menghadapi persoalan yang tak mungkin diselesaikan?
Kwe Ting menatapnya, katanya.
"Sebetulnya aku ingin mabuk di sini seorang diri, tak nyana bisa bertemu kau di sini."
"Kau tidak menyangka aku bisa kemari minum arak seorang diri?"
"Aku tak nyana kau datang seorang diri."
Setelah menghabiskan secangkir lagi, Yap Kay tiba-tiba tertawa gelak-gelak, katanya.
"Aku sendiripun tidak menyangka."
Sahutnya getir. Kwe Ting bertanya dengan tak habis mengerti.
"Kau sendiripun tidak menyangka?"
Yap Kay menepekur, lama sekali baru balas bertanya.
"Tahukah kau akan Tang-hay-giok-siau?"
Sudah tentu Kwe Ting tahu, katanya.
"Cuma kau belum pernah melihatnya."
"Aku pernah berhadapan dengannya."
"Sudah sekian tahun Tang-hay-giok-siau tidak muncul di dunia persilatan,"
Kata Kwe Ting, tanyanya. lebih lanjut.
"Kapan kau pernah berhadapan dengannya?"
"Baru saja!"
Mendadak bersinar biji mata Kwe Ting, tanyanya.
"Kalian sudah bergebrak?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kaupun sudah mengalahkan dia, maka kau kemari hendak minum arak?"
"Aku tidak menang, juga tidak kalah."
Kwe Ting bingung dan tidak mengerti. Di dalam pikirannya, dua orang yang berduel, kalau tidak kalah tentu salah satu pihak menang.
"Kita memang sudah bergebrak, cuma tidak dilanjutkan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin dikalahkan dia."
"Kau tidak punya keyakinan untuk mengalahkan dia?"
Yap Kay geleng-geleng.
"Kau sudah merasakan ilmu silatnya lebih unggul dari kau?"
"Ilmu silatnya memang amat aneka ragam dan campur aduk, mungkin karena itu maka tiada satupun keahliannya yang berhasil dilatihnya sampai matang betul."
"Jadi sebetulnya kau bisa mengalahkan dia?"
Yap Kay tidak menyangkal dan tidak membenarkan.
"Tapi hari ini kau tidak yakin dapat mengalahkan dia?"
"Lho, kok aneh benar?"
"Karena hatiku amat kalut."
"Agaknya kau bukan laki-laki yang gampang dibuat risau hatimu."
"Memang, aku tidak pernah risau memikirkan apa-apa, tapi hari ini................."
Tiba-tiba Kwe Ting mengerti duduknya persoalan, tanyanya.
"Apakah nona Ting terjatuh ke tangan Giok-siau?"
Yap Kay manggut-manggut, kembali dia habiskan secangkir arak.
Kwe Ting pun mengikuti habiskan secangkir, sudah tentu diapun pernah kenal dengan pameo yang bilang 'Thi-kiam kemaruk nama, Giok-siau kepincut paras ayu'.
Tiba-tiba dia rebut cangkir Yap Kay, katanya.
"Hari ini kau tidak boleh minum arak lagi."
Yap Kay tertawa getir.
"Kau harus lekas berusaha merebutnya."
"Aku tak bisa merebutnya."
"Memangnya apa kehendak Giok-siau?"
"Dia minta tukar dengan Siangkwan Siau-sian."
"Kau tidak menerimanya?"
"Sudah tentu aku mau, tapi kemana aku harus mencari Siangkwan Siau-sian?"
"Kau tidak tahu di mana sekarang dia berada?"
"Tiada orang yang tahu!"
"Jadi dia tidak pikun seperti yang disiarkan di luaran?"
"Sebetulnya aku sendiripun ditipu dan dikelabui mentah-mentah, selama hidupku belum pernah aku berhadapan dengan orang yang begitu licin dan begitu menakutkan."
Lama Kwe Ting menatapnya, akhirnya berkata pelan-pelan.
"Sebetulnya aku tidak akan percaya semua obrolanmu ini."
"Aku mengerti."
"Tapi sekarang aku justru percaya."
Lama juga Yap Kay termenung, katanya kemudian.
"Seharusnya aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu, tapi sekarang aku sudah membebernya di hadapanmu."
Matanya tidak lagi tertuju ke arah Kwe Ting, demikian pula Kwe Ting tidak mengawasinya lagi.
Seolah-olah mereka sama berusaha menghindar dari tatapan mata yang lain.
Mereka bukan orang yang suka memamerkan gejolak perasaan hatinya di hadapan orang lain.
Apakah mungkin mereka kuatir begitu dirinya terbawa oleh gejolak emosi sehingga sampai mengucurkan air mata?
Akan tetapi persahabatan biasanya memang tidak perlu dinilai dengan pandangan mata.
Walau tidak perlu beradu pandang, akan tetapi jalinan persahabatan sudah mulai berbenih di dalam sanubari masing-masing, cepat sekali sudah berakar kokoh dan kuat.
Hal ini sungguh merupakan suatu kejadian aneh.
Ada kalanya seseorang bisa bersahabat dan menjadi teman intim dengan seseorang yang lain di suatu tempat yang aneh dan di waktu-waktu yang aneh pula, sampaipun orang-orang yang bersangkutanpun tidak tahu dan tidak menyadari bahwa persahabatan ini entah bagaimana datangnya dan menjalin sanubari mereka.
Entah berapa lamanya, Kwe Ting tiba-tiba bersuara.
"Siangkwan Siau-sian memang tak bisa ditemukan, tetapi Tang-hay-giok-siau pasti gampang ditemukan."
Yap Kay diam saja, dia sedang pasang kuping.
"Giok-siau adalah tua bangka yang suka hidup foya-foya, tidak banyak tempat seperti itu di dalam kota ini."
"Tempat yang baik sebetulnya Leng-hiang-wan, tapi tempat itu sekarang sudah menjadi dingin dan tidak harum lagi."
"Tapi kemungkinan besar Giok-siau tetap berada di sana. Khabarnya setiap pergi ke suatu tempat, biasanya dia membawa banyak pembantu."
"Umpama benar dia berada di sana, memangnya kenapa?"
"Kalau dia di sana, nona Ting pasti di sana juga."
"Kau ingin supaya aku menolongnya?"
"Memangnya kau tidak ingin menolongnya?"
"Hatiku sekarang amat kalut, tidak yakin aku bisa mengalahkan dia."
"Memang kau kira aku ini bukan manusia?"
"Kau...?", tiba-tiba Yap Kay angkat kepala mengawasinya.
"Memangnya aku tidak bisa menyertai kau?"
"Tapi... Ting Hun-pin terjatuh di tangannya."
"Aku mengerti maksudmu, kekuatiranmu tidak beralasan. Kau takut orang mengancammu dengan alasan keselamatan jiwa nona Ting?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Tapi kau melupakan satu hal."
"Melupakan apa?"
Tanya Yap Kay.
"Sekarang dia tentu menyangka kau sedang sibuk dan ubek-ubekan mencari Siangkwan Siau-sian, pasti tidak menyangka tahu-tahu kau meluruk ke sana hendak menolong orang, maka dia tentu tidak akan berjaga-jaga."
Memang sebagai orang luar tentu hati Kwe Ting tidak kalut dan pikirannya jernih.
"Ya, memang begitu", ujar Yap Kay.
"Apalagi dia lebih tidak mengira bahwa kita sudah menjadi kawan."
Kawan.
Betapa besar makna dari sepatah kata ini di dalam situasi seperti ini.
Sungguh tak pernah terpikir oleh Yap Kay bahwa pemuda dingin dan sombong ini bakal mengucapkan sepatah kata ini.
Memangnya apa pula yang bisa dikatakan Yap Kay?
Apa pula yang perlu dia utarakan?
Maka tanpa banyak bicara lagi, segera dia berdiri.
Tiba-tiba dengan kencang dia pegang kedua pundak Kwe Ting, katanya.
"Baik, sekarang juga kita ke sana."
"Memang, hayolah berangkat!"
Ooo)dw(ooo Leng-hiang-wan. Malam dingin, kembang berbau harum, namun bayangan satu orangpun sudah tak kelihatan.
"Sejak kemarin kau tidak pernah bertemu dengan Han Tin lagi?"
"Tidak!"
"Kalau demikian, mungkin dia berada di sini."
"Aku harap bisa secepatnya menemukan dia, bukan mayatnya."
"Kemanakah mayat-mayat delapan puluh tiga orang itu?"
Ternyata tiada satupun mayat yang mereka temukan, sampai noda-noda darahpun sudah dibersihkan di Thing-siu-lau.
Siapakah yang membereskan mayat-mayat itu?
"Semalam mayat-mayat itu masih ada di sini.
Siapakah yang menguburnya?"
Tiada jawaban, memang tiada orang yang bisa memberi jawaban. Hembusan angin dingin laksana tajam pisau menyayat kulit muka. Di dalam hawa nan dingin ini bau kembang Bwe rasanya semakin harum.
"Adakah kau melihat sinar api?"
"Tidak!"
"Apakah Giok-siau tidak di sini?"
Sekonyong-konyong pada ujung jalan kecil yang berliku-liku menembus keluar hutan sana berdentam suara langkah orang yang mendatangi.
Malam sedingin ini, siapa yang berjalan di tanah bersalju yang dingin ini?
Mungkinkah sukma-sukma gentayangan dari para korban itu?
Kalau setan gentayangan, masakah terdengar derap langkahnya?.
Alam gelap gulita, tiada sinar api, tiada bintang tiada rembulan.
Di tengah kegelapan di depan sana seperti muncul sesosok bayangan orang, pelan-pelan tengah beranjak di jalan kecil yang berliku-liku di dalam hutan kembang Bwe itu.
Langkah orang itu amat pelan, malah sering celingukan kian kemari, seperti tengah mencari sesuatu.
Malam selarut dan sedingin ini, di tengah hutan lebat nan harum ini memangnya apa yang sedang dia cari?
Setelah jaraknya semakin dekat, sayup-sayup terdengar mulut orang seperti mengigau.
"Mana araknya?...... Mana araknya?....... Di mana ada arak........ ?"
Tak tertahan Yap Kay hampir berteriak.
"Han Tin!"
Orang itu ternyata Han Tin.
Apakah dia masih sibuk mencarikan arak buat Yap Kay?
Reflek sinar salju menerangi mukanya, ternyata selebar mukanya berlepotan darah, darahpun sudah membeku jadi es.
Darah terasa bergolak di rongga dada Yap Kay, segera dia menerobos keluar dari belakang batu tempat persembunyiannya, langsung dia menghampiri Han Tin, sekali raih dia tekan kedua pundak Han Tin.
Han Tin menatapnya, tiba-tiba bertanya.
"Mana araknya?..........Tahukah kau di mana aku bisa mendapatkan arak?" , ternyata dia tidak kenal Yap Kay lagi, tapi dia sibuk mencari arak buat Yap Kay. Selebar mukanya boleh dikata sudah hancur dan berubah bentuknya, mirip benar dengan buah kelapa yang diinjak remuk oleh orang. Tak tahan Yap Kay mengawasi muka orang, katanya.
"Kau........bagaimana kau bisa berubah begini rupa? Siapakah yang turun tangan sekeji ini?"
Agaknya Han Tin ingin tertawa, namun tak mampu, mulutnya masih mengigau.
"Mana araknya? Di mana ada arak?"
Jantung Yap Kay seperti dipukul oleh godam. Kwe Ting berdiri di belakang, tanyanya.
"Dia inikah Han Tin?"
Yap Kay menjawab dengan anggukan kepala. Tak tertahan Kwe Ting menghela napas.
"Agaknya di kala dia mencarikan arak untukmu, muka dan dadanya kena dihajar orang habis-habisan, begitu parah hajaran itu sampai-sampai dia kehilangan ingatan."
Terkepal kencang kedua tinju Yap Kay, katanya prihatin.
"Tapi dia masih ingat mencari arak untuk aku."
"Agaknya dia memang teman baik."
"Sayang sekali aku tidak tahu siapa yang turun tangan sekeji ini? Kalau tidak......."
"Kukira ini bukan perbuatan Siangkwan Siau-sian."
"Darimana kau berkesimpulan demikian?"
"Seorang perempuan, tak mungkin punya pukulan tangan seberat ini."
Memang hajaran yang dialami Han Tin amat mengenaskan, bukan saja mukanya sudah hancur peyot, sampaipun tulang rusuknya melesak ke dalam, agaknya ada yang patah enam tujuh batang.
Bagaimana mungkin dengan luka-luka separah ini dia masih kuat bertahan hidup sampai sekarang?
Apalagi malam gelap nan dingin seperti ini?
Bagaimana dia tidak sampai mati kedinginan?
Yap Kay ingin bertanya, tapi Han Tin sudah kipatkan kedua tangannya, katanya.
"Lepaskan aku, aku hendak mencari arak." , kecuali hal itu, apapun dia tidak ingat lagi. Yap Kay menghela napas, katanya.
"Baik, mari ku ajak kau mencari arak." , habis kata-katanya, diapun sudah menotok Hiat-to penidur Han Tin, segera dia peluk pinggang Han Tin terus dipanggulnya. Kwe Ting berkata.
"Asal bisa tidur sehari penuh dengan tenang, mungkin dia bakal siuman."
"Semoga demikian."
Ujar Yap Kay. ooo)dw(ooo Dalam kamar ada ranjang dan pelita. Pelan-pelan Yap Kay rebahkan Han Tin di atas ranjang, katanya.
"Kau bawa ketikan api tidak?"
Tanpa diminta Kwe Ting sudah menyalakan lampu.
Sinar api yang redup menerangi muka Han Tin, kelihatan begitu mengerikan.
Walau tidak tega melihat, namun tidak bisa tidak Yap Kay harus melihatnya, dia harus memeriksa dan ingin tahu siapakah yang turun tangan sekeji ini.
Walau dia tidak suka mencatat dendam permusuhan dengan orang lain, tapi keadaan hari ini jauh berbeda.
Jikalau tidak pergi mencari arak untuk dirinya, Han Tin tidak akan berakibat begini mengenaskan.
Demi kawan yang begini setia, apapun yang terjadi dan harus dia lakukan, dia tidak akan pandang bulu lagi.
Kwe Ting pun sedang mengawasi muka Han Tin, katanya.
"Ini bukan bekas pukulan senjata berat."
Yap Kay manggut-manggut.
Kalau terluka dipukul benda berat, dari bekas pukulan dapat dilihat jelas.
Memangnya siapa yang mempunyai pukulan tangan seberat ini?
"Ilmu silat Han Tin tidak lemah, tidak banyak orang yang mampu memukul remuk mukanya sampai sedemikian rupa."
Tiba-tiba dirinyapun pernah memukul ringsek hidung orang, tapi luka-luka pukulannya dulu jauh lebih ringan di banding luka-lukanya sekarang.
Jelas pukulan orang itu bukan saja amat berat, yang jelas di dalam bidang pukulan tangan, orang itu tentu memiliki keistimewaan.
Waktu pakaian Han Tin dibuka, ternyata tulang rusuknya patah lima batang.
Malam sedingin ini, pakaian yang dipakai Han Tin sudah tentu cukup tebal.
Kwe Ting mengerut kening, katanya.
"Terpaut lapisan baju setebal ini, orang masih bisa memukul patah lima tulang rusuknya, sungguh tak banyak orang sekuat ini."
"Malah luka-luka kekerasan ini hanya luka luar, bukan luka dalam."
Yap Kay menambahkan.
Pada pakaian yang dipakai Han Tin tidak meninggalkan bekas-bekas hantaman senjata berat, siapapun pasti akan menyangka luka-luka seperti ini pasti akibat pukulan senjata sebangsa palu atau godam.
"Memangnya kepalan orang itu sekeras palu besi?", kata Kwe Ting.
"Dari luka-lukanya, tidak mirip terpukul oleh ilmu sebangsa Thi-sa-ciang dan lain-lain pukulan berat yang ampuh."
"Kalau pukulan tangan seperti itu, pasti akan menimbulkan luka-luka dalam."
"Maka aku tidak habis mengerti, ilmu pukulan macam apakah yang melukainya?"
"Cepat atau lambat........."
Kata-kata Kwe Ting seketika berhenti. Dari hembusan angin dingin di luar jendela, tahu-tahu berkumandang irama seruling yang menyedihkan.
"Tang-hay-giok-siau!"
Sebat sekali Kwe Ting balikkan tangan, lampu seketika padam, katanya.
"Ternyata dia memang berada di sini."
"Dapatkah kau di sini men........."
Kwe Ting menukas ucapan Yap Kay.
"Han Tin sudah tidur, tak perlu aku menunggunya di sini. Kau sebaliknya tak boleh pergi seorang diri."
Inilah persahabatan. Persahabatan adalah pengertian dan prihatin. Yap Kay mengawasi Han Tin.
"Tapi dia........."
Kembali Kwe Ting memutus ucapannya.
"Mati hidupnya sekarang sudah tiada membawa akibat apa-apa bagi orang lain, maka dia baru bisa bertahan hidup sampai sekarang, tapi kau................." , dia tidak melanjutkan kata-katanya, memang dia tidak perlu melanjutkan. Serasa darah bergolak di rongga dada Yap Kay, tidak bisa tidak dia harus mengakui apa yang dikatakan memang betul.
"Baiklah! Mari kita kesana."
Ooo)dw(ooo Irama seruling yang memilukan pada malam sedingin ini, kedengarannya amat menghancurkan hari orang.
Irama seruling berkumandang dari luar hutan kembang Bwe.
Pada sisi gunung-gunungan palsu di luar hutan terdapat sebuah gardu, di dalam gardu lapat-lapat seperti ada bayangan orang.
Seseorang sedang duduk dan meniup seruling.
Yap Kay berdua berindap-indap maju mendekat dari arah belakang, sudah tentu gerak-gerik mereka pantang menimbulkan suara berisik.
Orang yang meniup seruling masih asyik meniup, iramanya kedengaran mulai gemetar.
Tiba-tiba disadari oleh Yap Kay, peniup seruling ini bukan Tang-hay-giok-siau.
Setelah dekat dan lebih jelas dilihatnya orang memang berpakaian tosu, namun pinggangnya lencir ramping, kiranya adalah tosu perempuan.
Pada saat itulah irama serulingnya tiba-tiba berhenti.
Tosu perempuan yang meniup seruling seperti terduduk dan menahan isak tangis.
Sekilas Yap Kay ragu-ragu akhirnya dia maju menghampiri, pelan-pelan dia batuk dua kali.
Tosu perempuan ini seperti dihajar lecutan cambuk sekujur badannya bergetar keras, ratapnya mengharukan.
"Biarlah ku tiup....... aku pasti takkan berhenti lagi."
"Tapi aku toh tidak suruh kau meniup seruling tak henti-hentinya."
Kata Yap Kay. Baru sekarang tosu perempuan ini berpaling ke belakang, walaupun kaget namun kelihatan hatinya amat lega dan menghela napas panjang.
"O, kau!" , katanya. Dia kenal Yap Kay, Yap Kay pun mengenalnya. Tosu perempuan ini adalah salah satu murid perempuan Giok-siau Tojin, malah dia ini yang kemarin tertawa dan menari paling genit dan rupawan. Maka Yap Kay bertanya.
"Kenapa seorang diri meniup seruling di sini?"
"Orang... orang lainlah yang memaksaku kemari."
"Siapa?"
"Seseorang yang mengenakan kedok muka."
"Kenapa dia paksa kau kemari dan meniup seruling di sini?"
"Entahlah! Dia paksa aku kemari dan suruh aku meniup terus tak boleh berhenti, kalau tidak katanya aku hendak ditelanjangi pakaianku, lalu menggantungku di sini."
"Bagaimana kau bisa terjatuh ke tangannya?"
"Waktu itu aku sedang di.............. di belakang, hanya aku sendiri, tak kira tiba-tiba dia menerobos masuk."
Sudah tentu Yap Kay maklum apa yang diartikan 'di belakang'.
Setiap perempuan yang melepaskan hajatnya, sudah tentu hanya sendirian, sudah tentu hal ini tak enak dia jelaskan seterangnya.
Tapi Yap Kay bertanya.
"Waktu itu dimanakah kau berada?"
"Berada di dalam pekarangan di belakang warung nasi Laras Hati itulah."
Warung nasi Laras hati juga merupakan sebuah penginapan, di sanalah Yap Kay menginap, bukan saja, di sana ada koki yang paling pandai masak, di sana juga kau bisa merasakan ranjang yang empuk, hangat dan menyegarkan.
Yap Kay geleng-geleng sambil menghela napas, ujarnya.
"Tak nyana kalian berada di pekarangan di belakangku, aku malah cari kemari."
Tosu perempuan ini menutup mulutnya kencang, agaknya walau matipun tak mau buka mulut lagi. Dia tahu sekali dirinya kelepasan omong, umpama sekarang tidak mau bicarapun sudah terlambat.
"Ada sebuah pertanyaan ingin kuajukan, boleh kau tidak usah menjawabnya."
Kata Yap Kay. Tosu perempuan itu tetap bungkam.
"Tapi kalau kau tidak mau bicara, terpaksa ku tinggal kau di sini supaya orang berkedok itu kemari lagi."
Seketika terunjuk rasa kaget dan takut pada muka si tosu perempuan, segera dia bersuara.
"Baiklah aku bilang."
"Nona yang kalian bawa itu apakah diapun berada di pekarangan yang sama?"
Walau tosu perempuan tidak menjawab, itu berarti mengakui kebenaran ini.
"Baiklah, tiada halangannya kita mengadakan transaksi dagang, kau bawa aku mencari dia, maka akupun mengantarmu pulang!"
Tosu perempuan tidak menolak atau menentang, agaknya rasa takutnya terhadap orang berkedok itu jauh melebihi rasa takutnya terhadap persoalan apapun yang pernah dihadapinya.
Matipun dia tidak mau ditinggalkan di tempat ini.
Siapakah orang berkedok itu?
Kenapa memaksanya meniup seruling di sini?
Apa dia tahu Yap Kay hendak kemari mencari Giok-siau, maka sengaja menggunakan cara ini untuk memberi penuntun jalan?
Lalu untuk apa pula dia berbuat demikian?
Apakah dia mempunyai tujuan lain?.
Semua pertanyaan ini sudah tentu Yap Kay mampu menjawabnya, maka akhirnya dia bertanya.
"Orang macam apakah sebenarnya orang berkedok itu?"
"Dia bukan manusia, boleh dikata dia setan, setan jahat!"
Menyinggung orang berkedok itu sekujur badannya kembali gemetar.
Agaknya begitu turun tangan, orang itu lantas berhasil membekuknya, sehingga sama sekali dia tidak mampu melawan sedikitpun, padahal sebagai murid Tang-hay-giok-siau, ilmu silatnya tentu tidak lemah.
Yap Kay mengawasi Kwe Ting, katanya setelah menghela napas.
"Apa yang kau katakan memang tidak salah. Walau sekarang bukan bulan sembilan, namun kawanan elang sudah terbang berombongan, malah semuanya sudah terbang kemari."
Ooo)dw(ooo Kemul, seprei dan bantal guling awut-awutan.
Di atas bantal masih ketinggalan beberapa utas rambut Ting Hun-pin.
Sekembali ke tempat ini, hati Yap Kay lantas cekot-cekot seperti ditusuk sembilu.
Bagaimana keadaannya?
Mungkinkah Tang-hay-giok-siau sudah ..........?.
Yap Kay tidak berani membayangkan.
Mengawasi keadaan ranjang yang awut-awutan, terpancar mimik aneh pada sorot mata Kwe Ting.
Tapi dia tidak perlu memandang ke dua kalinya, seakan-akan sanubarinya terketuk berat dan sakit.
Baru sekarang dia benar-benar tahu dan mengerti apa hubungan Yap Kay dengan Ting Hun-pin.
(Bersambung ke Jilid-8 Jilid-8 Han Tin yang tidur di atas ranjang lelap di dalam impiannya.
Hiat-to penidur memang salah satu jalan darah yang paling aneh.
Tosu perempuan itu duduk di pojok rumah dengan menundukkan kepala, mukanya yang pucat lambat-laun mulai bersemu merah.
Setiap murid Tang-hay-giok-siau memang cantik-cantik, terutama yang satu ini, justru paling ayu.
Keayuannya lain dengan kecantikan Ting Hun-pin, bukan saja cantik, dia ini juga genit.
Memang perempuan ini sudah matang dan cukup umur di dalam segala bidang.
Siapapun bila melihat egolan pinggangnya seperti dahan pohon nan gemulai, lirikan matanya yang genit merangsang, pasti akan tergerak dan terbangkit rangsangan kelelakiannya.
"Silahkan duduk,"
Kata Yap Kay. Tosu perempuan itu geleng-geleng. Tiba-tiba dia bersuara.
"Sekarang aku boleh pulang?"
"Tidak boleh!", sahut Yap Kay. Tosu perempuan tundukkan kepala dengan gigit bibir, katanya.
"Kalian hendak gunakan diriku untuk mengancam Giok-siau Tojin?. Kalau benar, tindakan kalian salah besar."
"Kenapa salah, bukankah kau muridnya?"
"Umpama kalian membunuhku di hadapannya, diapun tidak akan ambil perhatian sedikitpun."
Di antara kerlingan mata yang jeli, mengandung rasa kepedihan dan penasaran, katanya lebih lanjut dengan suara lebih lirih.
"Selamanya belum pernah aku melihat dia memperhatikan keselamatan orang lain."
Kwe Ting menatapnya, tiba-tiba bertanya.
"Jikalau aku membunuhnya di hadapanmu?"
"Akupun tidak akan menitikkan air mata,"
Sahut tosu perempuan. Kata-katanya enteng dan tanpa dipikir lagi.
"Lalu kenapa kau ingin kembali?"
Tanya Kwe Ting.
"Karena aku...... aku......"
Dia tidak meneruskan jawabannya.
Suaranya tersendat di tenggorokan.
Biji mata yang jeli indah sudah berlinang air mata.
Yap Kay maklum apa artinya.
Dia harus pulang karena tiada tempat berpijak untuk dirinya.
Dan Yap Kay bukan laki-laki yang punya hati keras dan tega terhadap perempuan, tiba-tiba dia bertanya.
"Kau she apa?"
"Aku she Cui."
"Cui?"
"Cui.....Cui Giok-tin."
Yap Kay tertawa, katanya.
"Kenapa tidak duduk, apa kursi itu bisa gigit orang?"
Cui Giok-tin tertawa geli.
Di saat dia sadar dirinya sedang tertawa, kerisauan hatinya seketika hilang dan merah mukanya.
Waktu Yap Kay melihat perempuan ini legak-legok mengiringi irama seruling Giok-siau kemarin sore, dikiranya perempuan ini sudah lupa akan rasa malu.
Baru sekarang dia melihat orang ternyata masih memiliki sifat-sifat malu diri dan kepolosan seorang gadis.
Memang siapapun di kala terpaksa sudah tentu bisa saja melakukan sesuatu yang orang lain anggap rendah dan memalukan, dan akhirnya diri sendiripun akan menyesal.
Ada kalanya manusia mirip benar dengan keledai yang ditutupi kedua matanya disuruh menyurung gilingan.
Hidup ini laksana cambuk, di kala cambuk melecut ke punggungmu, terpaksa kau harus maju ke depan, walau kau sendiri tidak tahu kemana kau harus menuju dan kapan harus berhenti.
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Kalau kau tidak ingin pulang, boleh tidak usah pulang."
Cui Giok-tin menunduk pula, katanya.
"Tapi aku......."
"Aku mengerti maksudmu, tapi dunia sebesar ini, pelan-pelan kau merasakan banyak tempat boleh kau tuju dan kau tempati."
Akhirnya Cui Giok-tin pun mengerti apa yang diartikan oleh ucapan Yap Kay. Tak tertahan terangkat kepalanya, sorot mata terpancar rasa haru dan terima kasih.
"Kaupun tak usah bawa kami mencari nona Ting,"
Kata Yap Kay lebih lanjut.
"cukup asal kau beritahu di mana dia berada."
Sesaat ragu-ragu, akhirnya Cui Giok-tin mengangguk, katanya.
"Dia berada di belakang pekarangan."
Yap Kay menunggu keterangannya lebih lanjut.
"Pekarangan itu amat besar, seluruhnya kalau tidak salah ada empat belas kamar, nona Ting disekap di kamar samping yang berada paling belakang, di sebelah luar jendela, terdapat tiga vas kembang seruni."
"Adakah orang yang menjaganya di sana?"
"Hanya seorang yang menemani dia di dalam, karena dia tetap tak bisa bergerak. Giok-siau tidak kuatir dia melarikan diri."
"Lalu di mana Giok-siau tidur?"
"Dia jarang tidur malam hari."
"Tidak tidur, memangnya apa yang dia lakukan?"
Cui Giok-tin kertak gigi, tidak menjawab, namun mukanya menampilkan rasa sedih, marah dan mimik yang harus dikasihani.
Memang dia tidak perlu menjelaskan pula, Giok-siau memang suka main paras ayu, usianya sudah menanjak 70 tahun, namun kelihatannya masih begitu muda dan kuat.
Murid-murid perempuannya semua ayu-ayu dan muda belia.
Setiap malam apa yang dia lakukan, sudah tentu Yap Kay dapat menduganya.
Kwe Ting malah yang unjuk rasa marah, katanya menyeletuk.
"Apakah kalian dipaksa untuk mengikuti keinginannya?"
Cui Giok-tin geleng-geleng, katanya.
"Kita adalah anak-anak dari keluarga miskin."
"Jadi kalian dibeli olehnya?" , ujar Kwe Ting. Semakin rendah kepala Cui Giok-tin tertunduk, air matanya sudah bercucuran. Mendadak Kwe Ting menggebrak meja sekeras-kerasnya, katanya mendesis dingin.
"Umpama tidak kebentur persoalan nona Ting, akupun takkan lepaskan manusia cabul ini."
"Tapi sekarang..........."
"Aku tahu!,"
Kwe Ting tukas ucapan Yap Kay.
"sudah tentu sekarang harus cepat-cepat menolong nona Ting."
Tiba-tiba Cui Giok-tin berkata pula.
"Walau malam dia tidak tidur, tapi menjelang pagi dia harus tidur tiga jam lamanya."
Sekarang kira-kira masih setengah jam sebelum fajar. Malam hari pada musim dingin memang lebih panjang. Setelah melihat cuaca, Yap Kay berkata.
"Baik! Kita tunggu sebentar lagi."
Han Tin yang tidur nyenyak di ranjang, tiba-tiba membalik badan seraya mengigau. Memang, waktu menutuk Hiat-to penidur, Yap Kay tidak gunakan tenaga besar. Seolah-olah dia masih tetap mengigau.
"Mana araknya......?" . Setelah berulang kali, tiba-tiba dia mencelat bangun seraya mencak-mencak dan berteriak.
"Orang she Lu, aku kenal kau, kau kejam benar!" . Habis kata-katanya dia roboh tertidur lagi, keringat dingin gemerobyos.
"Orang she Lu?"
Kata Yap Kay dengan mendelik.
"Agaknya orang yang melukainya itu she Lu."
Yap Kay menerawang, katanya.
"Tahukah kau di kalangan Kang-ouw belakangan ini ada tokoh kosen she Lu?"
"Belakangan ini memang ada, tapi hanya satu."
"Lu Di maksudmu?"
Kwe Ting manggut-manggut, katanya.
"Benar! Pek-ie-kiam-khek (Ahli pedang baju putih) Lu Di."
"Kau pernah menyaksikan kepandaiannya?"
"Aku hanya tahu kalau dia keponakan lurus dari Oen-ho-gin-kan Lu Hong-sian, namun ilmu yang dia yakinkan adalah Bu-tong-kiam-hoat. Bu-tong adalah aliran lurus dari golongan Lwe-keh, takkan......."
Kini Yap Kay yang menukas.
"Katamu dia keponakan siapa?"
"Lu Hong-sian yang dijuluki Oen-ho-gin-kan, dalam daftar senjata dulu dia tercantum nomor 5."
Tiba-tiba terpancar cahaya terang pada sorot mata Yap Kay, katanya.
"Lu Hong-sian, kenapa aku melupakan orang satu ini?"
"Kau sudah mengenalnya?"
"Nama julukannya tercantum nomor 5 di dalam buku daftar senjata, kalau orang sudah merasa bangga, namun olehnya dipandang sebagai suatu hal yang memalukan."
Kwe Ting cukup mengerti akan perasaan seseorang yang ingin menangnya sendiri.
"Memang banyak orang yang tidak terima di rendahkan derajatnya di bawah orang lain."
"Tapi diapun tahu bahwa penilaian Pek Siau-seng pasti tidak akan salah, maka dia hancurkan senjatanya itu lalu meyakinkan ilmu silat lain yang lebih menakutkan."
"Ilmu silat apa?"
"Tangannya itu!"
Seketika bercahaya mata Kwe Ting.
"Khabarnya dia sudah melatih sehingga tangannya itu sekeras batu dan setajam senjata."
"Dari siapa kau tahu akan hal ini?"
"Seseorang yang pernah menyaksikan sendiri tangan itu, seseorang yang takkan salah lihat dan menilainya."
"Siau-li Tham-hoa?"
Yap Kay manggut-manggut, katanya.
"Kalau dalam dunia ini ada orang yang mampu menghajar Han Tin sampai begini rupa, maka orang itu pasti adalah Lu Hong-sian."
"Tapi sejak beberapa tahun yang lalu, dia sudah menghilang."
"Orang yang sudah mati toh bisa bangkit kembali, apalagi cuma orang yang menghilang saja."
"Kau kira diapun sudah sampai di sini?"
"Kau pernah bilang, walau sekarang belum bulan sembilan, walau bukan musimnya orang berburu, tapi kawanan elang sudah beterbangan."
"Tak perlu disangsikan lagi bahwa Lu Hong-sian pun salah satu dari rombongan elang-elang itu."
"Bukan mustahil, dia merupakan elang yang paling menakutkan dui antara kelompok elang-elang itu."
"Jikalau benar dia datang kemari, kau ingin menghadapinya?"
Yap Kay mengawasi Han Tin yang rebah di atas ranjang, mulutnya terkancing tidak menjawab.
Memang dia tidak perlu banyak mulut lagi.
Maka semakin terang pancaran sinar mata Kwe Ting, namun seperti menatap ke tempat yang jauh, malah gumamnya.
"Dapat berduel dengan tokoh yang dulu tercantum di dalam buku daftar senjata, sungguh merupakan kebanggaan di dalam pengalaman hidup ini."
"Tapi ini bukan urusanmu."
Kata Yap Kay.
"Bukan urusanku?"
"Jelas bukan!"
Ujar Yap Kay tegas dan serius. Kwe Ting tertawa, katanya tersenyum.
"Tak usah kau kuatir aku merebut usaha dagangmu, Han Tin adalah temanmu, bukan temanku."
Yap Kay juga tertawa, katanya.
"Kuharap kau tidak melupakan ucapanmu ini."
Sikap Kwe Ting berubah serius pula, katanya.
"Lebih baik kalau kau pun jangan melupakan satu hal."
"Hal apa?"
"Oen-ho-gin-kan tercantum nomor 5, tapi tangannya itu lebih menakutkan dari senjatanya,"
Dengan menatap Yap Kay dia menambahkan pelan-pelan.
"Aku tidak ingin melihat kau digasak seperti keadaan Han Tin."
Yap Kay tiba-tiba memutar badan, membuka daun jendela.
Angin dingin di luar laksana tajamnya golok, tapi hatinya panas membara, seperti baru saja menenggak habis sepuluh cangkir arak.
Jauh di kaki langit yang semula hitam gelap, kini pelan-pelan mulai berubah menjadi kelabu.
Maka kupingnya segera mendengar kokok ayam.
ooo)dw(ooo Pekarangan di bilangan belakang memang amat luas, walau sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur, sinar lampu masih kelihatan menyala di dalam jendela.
Terdengar orang cekikikan tawa di dalam kamar.
"Pinto kali ini terjun ke kalangan Kang-ouw, maksudku memang ingin melihat, di bawah kekuasaan siapakah dunia yang lebar dan besar ini?"
Itulah suara Giok-siau. Di dalam rumah ternyata masih ada orang yang lain.
"Wanpwe takkan berani bertanding dan berlomba dengan Totiang, sayang sekali dalam kalangan Kang-ouw justru banyak terdapat kaum muda yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi."
Ini bukan suara Giok-siau, namun kedengarannya sudah amat dikenalnya.
Itulah suara Ih-me-gao.
Pandangan dan penilaian Ting Hun-pin ternyata tidak meleset.
Manusia yang satu ini ternyata memang berjiwa sempit dan pintar melihat arah angin, berlaku hina demi keuntungannya sendiri.
Agaknya tidak segan-segan dia rela pasrahkan jiwa raganya kepada Giok-siau.
Serasa berat perasaan Yap Kay, bukan saja Giok-siau tidak tidur, malah dia mempunyai pembantu yang boleh diandalkan.
Terdengar Giok-siau sedang bertanya.
"Tahukah kau siapa saja kaum muda yang tidak tahu diri itu?"
"Siong-yang Kwe Ting, Bu-tong Lu Di, Cui-cu Han Tin, Hwi-hou Nyo Thian, Lam-hay-tin-cu, keluarga Bak dari Ceng-seng dan Lian-lian. Menurut yang kutahu, orang-orang ini sudah berada di Tiang-an."
Agaknya dia belum melupakan dendamnya akan senjata yang diandalkan telah dihancurkan orang, maka yang dia sebut pertama kali adalah Kwe Ting.
Dia memang ingin supaya Giok-siau turun tangan membunuh Kwe Ting lebih dulu.
Giok-siau masih bertanya pula.
"Masih ada orang lain yang akan datang?"
"Sudah tentu ada!"
"Sedikitnya masih ada Yap Kay."
Ih-me-gao tertawa dingin, jengeknya.
"Yap Kay tidak perlu dikuatirkan."
"O,"
Giok-siau bersuara heran, soalnya betapa tinggi ilmu silat Yap Kay dia sendiri sudah menyaksikannya.
"Karena orang ini sekarang tak ubahnya seperti orang mampus."
"Ah, masa?"
"Entah berapa banyak penghuni kota Tiang-an ini yang ingin membunuh dia, boleh dikata nasibnya sudah berada di tangan orang-orang yang ingin membunuhnya."
Giok-siau tertawa besar, katanya.
"Giok-yong, hayo lekas tuangkan arak buat Ih-sian-sing."
Agaknya mereka sudah bertekad untuk ngobrol semalam suntuk, sedikitpun tiada niat hendak tidur.
Tapi waktu tinggal satu jam lagi buat Yap Kay, jikalau sekarang dia tidak turun tangan, kesempatan takkan pernah ada pula.
Kwe Ting berbisik di pinggir telinganya.
"Aku akan menahan dan merintangi mereka di sini, pergilah kau menolong orang."
"Tidak mungkin,"
Yap Kay geleng kepala dengan tegas.
"Kenapa tidak mungkin?"
"Aku tidak ingin membereskan mayatmu,"
Dingin suara Yap Kay, namun perasaan yang dia limpahkan di dalam kata-katanya lebih panas dari bara yang membakar dadanya. Kwe Ting sudah membuka pakaiannya, katanya dingin.
"Memangnya kau ingin membereskan mayat Ting Hun-pin."
"Aku punya akal, aku pasti punya akal......"
Hakekatnya akal apapun dia tidak punya.
Kembali hatinya kalut, demi keselamatan Ting Hun-pin, sedikitnya dia tidak pantang menyerempet bahaya.
Kwe Ting tahu orang sudah siap menerjang keluar.
Sebetulnya dia bukan orang yang tabah dan tenang di dalam menghadapi setiap persoalan, dia beranggapan asal dirinya menerjang keluar, maka Yap Kay akan dipaksa ke belakang menolong orang.
Tapi langkahnya ini salah besar.
Jikalau dia benar-benar menerjang keluar, tentu saja Yap Kay tidak akan meninggalkan dirinya.
Kalau mereka bergabung, akan kuat menghadapi Giok-siau dan Ih-me-gao, namun Ting Hun-pin tetap berada dicengkeram Giok-siau.
Jikalau Giok-siau mengancam Yap Kay dengan jiwa Ting Hun-pin, maka jiwa Yap Kay jelas pasti akan jadi korban dengan sia-sia.
Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan kaget di dalam jendela.
Itulah jeritan Ih-me-gao yang ketakutan.
"Kau......! Apa yang ingin kau lakukan?"
Suara Giok-siau dingin.
"Aku ingin membunuhmu!"
"Dengan baik hati aku kemari hendak kerja sama dengan kau, kenapa kau hendak membunuhku?"
"Memangnya kau pandang orang macam apa kau ini? Berani kau hendak memperalat aku? Kau ini manusia kerdil, kunyuk yang tidak tahu diri, kalau tidak kubunuh kau, siapa yang harus kubunuh?" . Maka terdengarlah suara ribut dari pecahnya cangkir dan mangkok serta meja kursi terbalik. Saat mana badan Kwe Ting sudah kebacut melambung ke depan, namun sigap sekali di tengah udara dia merubah arah luncuran badannya. Badannya menerjang ke sana mepet dinding. Yap Kay pun tidak mau ketinggalan. Mereka sama-sama tahu dan menginsyafi kesempatan inilah yang terbaik untuk menolong orang. Paling tidak Ih-me-gao kuat bertahan dua tiga puluh jurus. Walau jangka waktunya tidak lama, namun asal gerak-gerik mereka cukup cepat dan cekatan, peluang selintas ini sudah lebih dari cukup. Oleh karena itu sedetikpun mereka tidak boleh berayal lagi. ooo)dw(ooo Untung di atas para-para di luar jendela ada tiga buah vas kembang, merupakan pertanda yang gampang di kenali, maka mereka tidak perlu susah-susah mencari kian kemari. Lampu dalam kamar masih menyala, dua sosok bayangan orang kelihatan berada di dalam, seorang tosu perempuan dan seorang lagi adalah Ting Hun-pin. Dari gaya duduk ke dua orang ini kelihatannya mereka sedang main catur. Tanpa membuang waktu Kwe Ting menerjang jendela terus menerobos masuk. Melakukan pekerjaan apapun dia memang suka cepat dan lekas beres. Namun hati Yap Kay malah merasa diketuk palu godam, dia tahu bayangan yang satu itu jelas bukan Ting Hun-pin. Ting Hun-pin tidak mungkin bermain catur, walaupun Toako-nya Ting Ling-ho seorang ahli di bidang ini, namun dia sendiri menata caturpun tidak bisa. Karena biasanya dia berpendapat dua orang duduk berhadapan main catur adalah kerja yang sia-sia, membuang tenaga dan pikiran. Apakah ini merupakan jebakan pula? Tapi Kwe Ting sudah kebacut menerjang masuk, terpaksa Yap Kay keraskan kepala ikut memburu ke dalam. Begitu berada di dalam kamar, baru Kwe Ting mendapati seseorang yang lain ternyata bukan Ting Hun-pin. Ting Hun-pin ternyata tak berada di dalam kamar. Gadis yang duduk di hadapan tosu perempuan memang mengenakan pakaian Tin Hun-pin, menyanggul rambut mirip mode yang disukai Ting Hun-pin, namun dia bukan Ting Hun-pin. Kalau orang lain pasti melongo kaget dan menjublek, tapi setiap melaksanakan kerja Kwe Ting ternyata mempunyai caranya yang tersendiri pula. Begitu tangannya membalik, tahu-tahu pedang sudah terlolos, ujung pedangnya sudah mengancam tenggorokan tosu perempuan itu. Tanpa mengeluarkan suara kaget, tosu perempuan ini kontan terjungkal jatuh. Gadis yang lainpun tidak menjerit, karena sigap sekali pedang Kwe Ting sudah mengancam tenggorokannya pula.
"Dimana nona Ting?"
Ancamnya bengis.
Saking kaget dan ketakutan, muka gadis itu sudah memutih hijau, namun sikapnya kukuh dan keras kepala, matipun dia tidak mau menyerah.
Kwe Ting tidak banyak tanya lagi, tangan kirinya terulur merenggut bajunya, sekali tarik dia sobek pakaian orang menjadi dedel dowel, sehingga kulit badannya yang montok berisi terpampang di hadapan orang.
Gadis ini tidak menjerit dan tidak bersuara, namun rona mukanya berubah berulang kali, dari putih menghijau lalu merah padam.
Kwe Ting tertawa, katanya.
"Tidak lekas kau bicara, biar kusobek badanmu menjadi dua potong."
Mungkin karena terlalu ketakutan, gadis ini tidak kuasa bersuara, hanya jarinya yang menuding ke arah almari, almari pakaian yang amat besar.
Tanpa ayal Yap Kay segera menerjang ke sana menarik pintu, ternyata benar ada orang meringkuk di dalamnya, seorang perempuan yang berpakaian tosu.
Agaknya ditutuk Hiat-to-nya sehingga badannya lemas lunglai, tapi dia memang benar Ting Hun-pin.
"Ada tidak?"
Tanya Kwe Ting.
"Ada!"
Sahut Yap Kay.
Tanya jawab yang singkat sekali.
Cepat Yap Kay sudah melesat ke luar jendela pula seraya membopong Ting Hun-pin.
Kwe Ting menepuk pelan-pelan perut si gadis yang mulai bunting, katanya tersenyum.
"Sebentar lagi kau akan gendut, selanjutnya kau ingat, jangan makan terlalu banyak supaya tidak terlalu gemuk."
Ooo)dw(ooo Lampu sudah padam.
Cahaya pagi sudah menerangi kamar.
Dengan tekun dan hati-hati Cui Giok-tin tengah membersihkan kulit muka Han Tin dengan handuk yang dibasahi air hangat.
Ternyata dia belum pergi.
Melihat Yap Kay pulang memondong Ting Hun-pin, dia sambut dengan senyuman lebar.
Han Tin yang rebah di ranjang masih tidur nyenyak.
Terpaksa Yap Kay turunkan Ting Hun-pin di atas kursi.
Akhirnya dia menghela napas lega.
Cui Giok-tin berkata.
"Ada orang mengejar di belakang tidak?"
Yap Kay geleng-geleng, sahutnya tertawa.
"Umpama Giok-siau sudah tahu dia di tolong orang, pasti takkan menduga kita semua masih berada di sini."
Kejap lain Kwe Ting pun sudah menyusul pulang, katanya dingin.
"Sekarang aku malah mengharap dia menyusul kemari, umpama dia tidak mengejar datang, aku pasti akan mencarinya."
"Tanpa bantuanmu, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana memaksa gadis itu bicara terus terang."
"Memaksa perempuan bicara jujur, bukan perkara sulit."
Ujar Kwe Ting.
"jikalau pakaian seorang gadis mendadak disobek dan ditelanjangi, jarang yang berani tidak bicara sejujur-jujurnya."
"Sungguh tak nyana kau banyak pengalaman dalam menghadapi perempuan."
"Memang, latihanku bukan Tong-cu-kang!"
"Laki-laki macam tampangmu, kukira takkan bisa meyakinkan Tong-cu-kang."
Kwe Ting berpaling ke arah Ting Hun-pin, namun cepat sekali dia melengos, katanya.
"Apakah dia tertutuk Hiat-to penidurnya?"
"Ya, mungkin!. Aku belum memeriksanya."
"Sekarang dia tidak perlu tidur lagi."
Yap Kay tersenyum, segera dia menepuk Hiat-to yang tertutuk di badan Ting Hun-pin.
Melihat biji mata Ting Hun-pin sudah terbuka sedang mengawasi dirinya, sungguh tak terbilang senang hatinya.
Agaknya Ting Hun-pin belum sadar, mata masih kelihatan sipit dan kedip-kedip memandang dua kali, tanya ragu-ragu.
"Yap Kay?"
Yap Kay tertawa, katanya.
"Memang, kau tidak mengenalku lagi?"
"Aku mengenalmu!, teriak Ting Hun-pin. Mendadak dia ulurkan tangannya. Jari-jarinya ternyata menggenggam sebilah pisau dan ditusukkan ke dada Yap Kay. Darah seperti panah muncrat membasahi muka Ting Hun-pin. Kulit mukanya yang pucat pias seketika menjadi merah berdarah. Adalah muka Yap Kay seketika berubah memutih bening. Dengan kaget dia mengawasinya. Setiap hadirin mengawasi dengan terbelalak kaget, siapapun takkan menyangka, mimpipun tidak menduga bahwa Ting Hun-pin bakal turun tangan melukai sekeji ini terhadap Yap Kay. Ting Hun-pin malah terkial-kial, tertawa besar yang menggila seperti kesurupan setan. Mendadak dia melompat bangun menerjang keluar jendela. Dengan mendekap dada dengan sebelah tangannya, Yap Kay masih ingin mengejar, namun badannya segera tersungkur, teriaknya gemetar.
"Kejar........ candak dia dan tarik kembali!"
Tanpa menunggu dia bicara habis, Kwe Ting sudah mengejar keluar.
Yap Kay ingin berdiri meloncat keluar jendela melihat ke arah mana mereka pergi, namun kakinya terasa lemah lunglai, pandangan mendadak gelap gulita.
Kegelapan yang mencemaskan.
Yang terlihat terakhir kalinya adalah sorot pandangan Cui Giok-tin yang diliputi kekuatiran dan perhatian yang sangat terhadap keselamatannya, dan suara yang didengar terakhir kali adalah suara berdentam dari badannya yang menerjang meja.
ooo)dw(ooo Fajar.
Cuaca masih remang-remang penuh diliputi kabut, orang masih kelelap dalam tidurnya.
Seperti kerbau liar yang mengamuk, Ting Hun-pin berlari dan berlompatan dari wuwungan rumah ini ke wuwungan rumah yang lain, mulutnya terus terkial-kial seperti orang gila.
"Aku membunuh Yap Kay..... aku membunuh Yap Kay........"
Seakan-akan dia anggap hal ini suatu tugas mulai yang patut dibanggakan.
"Dia sudah gila!"
Demikian gerutu Kwe Ting. Ilmu ginkangnya sudah dia kembangkan sampai puncak tertinggi, namun setelah sekian lama dan jauhnya, baru dia berhasil menyandaknya.
"Nona Ting, ikut aku pulang!"
Ting Hun-pin melotot kepadanya, seakan-akan dia sudah tidak mengenalnya sama sekali.
Mendadak pisau di tangannya bergerak menusuk ke tenggorokannya, pisau yang masih berlepotan darahnya Yap Kay.
Kwe Ting kertak gigi sambil membalik badan, tangannya terayun balik pula untuk merebut pisau orang.
Namun dia tidak bertujuan merebut pisau sungguhan hanya sebelah tangan yang lain secepat kilat menyanggah ke atas menopang dagu orang, disusul telapak tangan yang lain membelah ke belakang leher orang.
Pandangan Ting Hun-pin tiba-tiba membelalak, orangnya tersungkur roboh.
Sekelilingnya tiada orang, salju masih bertaburan memutih di atap genteng.
Teriakan Ting Hun-pin yang begitu keras kumandangnya di tengah kesunyian pagi ternyata tidak mengejutkan Giok-siau serta membuatnya meluruk keluar.
Sebat sekali Kwe Ting sudah memanggul Ting Hun-pin.
Dia harus cepat-cepat kembali ke tempat semula untuk memeriksa luka-luka Yap Kay, maka dia tidak hiraukan pantangan laki-laki dan perempuan.
Akan tetapi setiba di sana, tiada kelihatan bayangan seorangpun di rumah itu, tiada seorangpun yang ketinggalan hidup di sana.
Han Tin yang tidur semaput dan tidak sadar itu kini sudah terpantek di atas ranjang.
Sebilah pedang tepat menembus ulu hatinya.
Noda-noda darah Yap Kay yang berlepotan di lantai sudah membeku kering.
Demikian pula darah yang berceceran di atas mejapun sudah mengering beku.
Tapi bayangan Yap Kay entah di mana, demikian pula Cui Giok-tin ikut menghilang.
Pedang siapakah itu?
Siapakah pula yang turun tangan sekeji ini?
Kenapa turun tangan terhadap orang yang sudah sekarat?
Kemana Yap Kay?
Mungkinkah dibawa Cui Giok-tin dan diserahkan kepada Giok-siau?
Apapun yang terjadi, jiwa Yap Kay pasti terancam, bukan mustahil malahan sudah celaka.
ooo)dw(ooo Rumah itu kecil, namun segalanya bersih dan teratur.
Di pojok rumah terdapat sebuah lemari kayu pendek yang terkunci, di sebelah lagi sebuah toilet, di mana diletakkan sebuah cermin tembaga bundar.
Daun jendela berbunyi berisik dihembus angin, bau obat tercium keras terbawa hembusan angin dari luar.
Yap Kay ternyata belum ajal, dia sudah siuman, waktu dia terjaga didapatinya dia berada di dalam rumah kecil ini.
Di susul disadarinya pula bahwa dia telanjang bulat rebah di atas ranjang, badannya tertutup tiga lapis kemul tebal.
Luka-luka di dada sudah terbalut kencang.
Siapakah yang membalut luka-lukanya?
Tempat apakah ini?
Ingin dia duduk, namun rasa sakit di dada tak tertahankan, sedikit bergerak, sekujur badan rasanya seperti dikoyak-koyak.
Baru saja dia hendak buka suara, pada saat itulah kerai tersingkap, muncullah seseorang diam-diam dengan membawa semangkok obat.
Cui Giok-tin.
Jubah tosunya sudah dicopot, kini dia mengenakan seperangkat baju lengan panjang dan kun hijau panjang berlepit.
Alis tetap tegak, pipi tidak berpupur dan bibirpun tidak dipoles gincu.
Lapat-lapat kelihatan alisnya seperti mengandung rasa kekuatiran.
Begitu melihat Yap Kay sudah sadar, kerutan alis seketika terbuka.
"Bagaimana aku bisa berada di sini?" , begitu mengajukan pertanyaan ini Yap Kay lantas menyadari akan kebodohannya, sudah tentu Cui Giok-tin yang membawanya kemari. Cui Giok-tin sudah mendekat dan meletakkan mangkok obat itu di atas meja di pinggir ranjang. Setiap gerak-geriknya kelihatan begitu lembut dan gemulai, tidak mirip seperti tosu perempuan yang telanjang megal-megol seperti ikan lele mengikuti irama seruling itu. Mengawasi orang, tiba-tiba terasa tentram sanubari Yap Kay, tapi tak urung dia masih bertanya.
"Tempat apakah ini?"
Untuk menjawab pertanyaan ini Cui Giok-tin menundukkan kepala sambil meniup obat yang panas, sahutnya kemudian.
"Rumah dari seseorang."
"Rumah siapa?"
"Rumah seorang pedagang yang jualan daun teh."
"Kau kenal dia?"
Cui Giok-tin tidak menjawab pertanyaan ini, namun berkata pelan-pelan.
"Luka-lukamu cukup parah. Aku kuatir Giok-siau dan lain-lain meluruk datang, terpaksa lekas-lekas kubawa kau menyingkir."
Memang dia seorang perempuan yang teliti, setiap kerja yang dia lakukan dipikirkannya dengan seksama.
Memang, bilamana Yap Kay masih tertinggal di rumah itu, mungkin diapun sudah terpantek pedang dan mampus di atas ranjang seperti Han Tin.
Berkata pula Cui Giok-tin.
"Tapi baru pertama ini aku berada di Tiang-an, seorangpun tiada yang kukenal. Waktu itu hari baru saja terang tanah, sungguh aku tidak tahu kemana aku harus membawamu pergi."
"Maka kau lantas menerjang masuk ke rumah orang lain ini?"
Cui Giok-tin manggut-manggut, katanya.
"Inilah rumah dari keluarga kecil yang biasa, pasti takkan ada orang mengira kau berada di tempat ini."
"Tentu kaupun tidak kenal siapa pemilik rumah ini?"
"Tidak kukenal!", sahut Cui Giok-tin. Tadi sudah dikatakan di Tiang-an tiada punya kenalan.
"Lalu di mana pemilik rumah ini sekarang?"
Cui Giok-tin ragu-ragu, sekian lama dia plegak-pleguk, akhirnya dia menjawab juga.
"Sudah kubunuh!"
Kepalanya tertunduk tidak berani mengawasi Yap Kay.
Dia takut Yap Kay memakinya.
Tapi tak sepatah katapun Yap Kay memberikan komentar.
Memang Yap Kay bukan laki-laki sejati yang berpendidikan tinggi dari keluarga bangsawan yang mematuhi adat kuno.
Yang terang dia menyadari tanpa pertolongan Cui Giok-tin kini jiwanya entah sudah ajal di tangan entah siapa.
Memang tidak sedikit orang-orang yang ada di Tiang-an yang ingin membunuhnya.
Seorang perempuan yang belum dikenalnya betul, dengan menyerempet bahaya sudi menolong jiwanya serta merawatnya lagi dengan sepenuh hati.
Demi keselamatannya tidak segan-segannya dia membunuh orang.
Apakah dia tega mengoreksi kesalahannya?
Sampaikah hatinya untuk memakinya?
Tiba-tiba Cui Giok-tin berkata pula.
"Tapi sebetulnya aku tidak ingin membunuh mereka?"
Yap Kay diam saja, dia menunggu cerita lebih lanjut.
"Waktu aku menerjang masuk ke sini, kudapati dua orang tengah main di atas ranjang. Semula kukira mereka adalah suami-isteri."
Akhirnya Yap Kay bertanya.
"Apa benar mereka bukan suami-isteri?"
"Perempuan itu sudah berusia 30-an, sebaliknya laki-lakinya masih hijau plonco, paling baru berusia tujuh belas. Setelah ku ancam baru bocah itu berterus terang."
Kiranya di waktu sang suami keluar daerah membeli daun teh, sang istri lantas memelet pembantu suaminya yang belajar dagang teh. Muka Cui Giok-tin rada merah, katanya lebih lanjut.
"Kedua orang ini yang satu mengkhianati suami, yang lain mengkhianati guru, maka aku baru tega membunuh mereka, aku........ aku harap kau tidak beranggapan bahwa aku ini adalah perempuan jahat bertangan gapah."
Yap Kay mengawasinya, entah bagaimana perasaannya, dia sendiri tidak bisa menjelaskan.
Bahwa orang menolong jiwanya, melakukan apa saja dengan menyerempet bahaya demi keselamatan jiwanya, namun dia tidak minta imbalan, hanya satu yang dia inginkan supaya Yap Kay tidak memandang rendah dirinya.
Akhirnya Yap Kay menghela napas, katanya.
"Kalau ada orang anggap perbuatan salah, anggap kau perempuan jahat, maka orang itu pasti seorang kunyuk keparat." , lalu dengan tertawa dipaksakan dia menambahkan.
"Kuharap kaupun percaya kepadaku, aku pasti bukan kunyuk keparat itu!"
Cui Giok-tin cekikikan geli. Seolah-olah musim dingin sudah berlalu, dan tibalah musim semi.
"Obatnya sudah dingin. Nah, habiskan semangkok ini,"
Lalu dia bantu memapah Yap Kay. Seperti seorang ibu mencekoki obat kepada anaknya, dia sodorkan mangkok obat itu kepada Yap Kay. Hangat dan syur hati Yap Kay, katanya tersenyum dengan mengawasi orang.
"Bertemu dengan kau merupakan keberuntunganku. Segala kerja apapun, agaknya sudah kau perhitungkan dengan baik."
Sesaat Cui Giok-tin kelihatan ragu-ragu, akhirnya berkata.
"Tapi aku tak menduga bahwa dia tega hendak membunuhmu."
Yap Kay tertawa kecut, ujarnya.
"Kukira........ dalam hal ini pasti ada sebabnya. Banyak kejadian dalam dunia persilatan ini yang sukar diterima oleh nalar sehat, umpama dijelaskan, kaupun tidak akan tahu."
"Apakah kau tidak menyalahkan perbuatannya?", tanya Cui Giok-tin. Yap Kay menggeleng, sahutnya.
"Mungkin dia terpengaruh oleh semacam ilmu sihir sehingga bertindak di luar kesadarannya. Setelah dia sadar, dia pasti akan lebih tersiksa dari aku. Apakah aku pantas menyalahkan dia?"
Tiba-tiba berkaca-kaca mata Cui Giok-tin yang mengawasi dirinya.
Akhirnya tak tertahan air mata bercucuran dengan derasnya.
Hatinya amat haru, bukan derita bukan cemburu, sebagai seorang perempuan dewasa yang sudah matang, dia hanya merasa kesepian saja.
ooo)dw(ooo Lama-kelamaan cuaca kembali menjelang petang.
Dalam rumah sudah menjadi gelap, sang malam tahu-tahu sudah menyelimuti jagat raya.
Sisa nasi yang dimasaknya tadi pagi ditambah kecap lantas dimakannya dengan lahap.
Tapi untuk Yap Kay, Cui Giok-tin sengaja memasak bubur ayam.
Setelah mengeluarkan banyak darah, Yap Kay memang perlu banyak istirahat dan makanan yang bergizi dan banyak vitamin, maka setelah makan semangkok bubur, Yap Kay lantas merasa badannya letih sekali, malah dingin lagi.
Lama-kelamaan dia rebah dengan setengah sadar setengah tidur, yang terang badannya masih terasa dingin, seolah-olah dirinya berada di dalam gunung es.
Saking dingin, sekujur badannya gemetar, bibirnyapun sampai biru.
Tiga lapis kemul sudah menutupi badannya, tapi dia tetap bergemetaran.
Cui Giok-tin kebingungan.
Apa pula yang harus dia lakukan?
Apalagi melihat wajah orang yang pucat dan semakin memburuk, hatinya sungguh kuatir dan tidak tentram.
Cara bagaimana untuk membuat badannya hangat?
Asal orang tidak gemetar kedinginan, apapun yang harus dia lakukan, dia akan rela melakukannya.
Tiba-tiba dia teringat akan cara baik, tapi mukanya sudah merah malu sebelum bertindak.
Itulah cara liar yang mungkin sudah dilakukan manusia pada umumnya.
ooo)dw(ooo Yap Kay tidak gemetar lagi.
Mukanyapun sudah bersemu merah.
Lambat-laun kesadarannya pulih kembali, lalu dia merasakan ada seseorang rebah telanjang bulat di sampingnya, dengan kencang memeluk dirinya.
Kulit badannya halus licin, panasnya bagai bara yang menyala.
Melihat Yap Kay tengah mengawasi dirinya, mukanya seperti terbakar pula, lekas dengan suara aleman segera dia susupkan kepalanya ke dalam kemul.
Bagaimana perasaan Yap Kay?
Yang terang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
Lambat laun terasakan olehnya badan Cui Giok-tin mulai gemetar, tentunya bukan lantaran kedinginan.
Sayang sekali kondisi badan Yap Kay begitu lemah, luka-lukanya belum sembuh.
Jangan kata untuk main begituan, buat menggerakkan tangan dan kakipun rasanya seperti diboboti barang ribuan kati.
Tapi sang waktu berlalu tanpa terasa, malam semakin larut, akhirnya mereka sama kelelap di dalam buaian pelukan yang manis mesra.
ooo)dw(ooo Entah berapa lamanya, tiba-tiba pintu di dorong orang.
Seseorang menerjang masuk.
Seseorang yang tak terkirakan oleh mereka.
Lampu belum padam, sinarnya menyorot muka orang ini, kelihatan mukanya membesi hijau, sorot matanya diliputi napsu membunuh.
Dengan penuh kebencian dan kemarahan dia melotot kepada mereka, seakan-akan ingin menusuknya mampus dengan golok di atas ranjang.
Yang terang mereka tidak kenal siapa laki-laki ini.
Tiba-tiba Cui Giok-tin berteriak kaget.
"Siapa kau? Kenapa main terjang ke dalam rumah?"
Orang itu melototinya, mendadak tertawa dingin, katanya.
"Inikan rumahku? Kenapa aku tidak boleh pulang?"
Sudah tentu Yap Kay dan Cui Giok-tin sama-sama melengak.
Kiranya pemilik rumah sudah pulang.
Bila seorang suami pulang dari perjalanan jauh, mendadak sepasang laki perempuan yang asing baginya sedang tidur di atas ranjang, betapapun besar kemarahannya, adalah patut kalau kita bersimpati kepadanya.
Semula Cui Giok-tin memang amat marah, kaget dan malu, kini seperti balon kempes saja layaknya dia, rebah lemas tak bersuara lagi.
Dengan kertak gigi, orang itu menatapnya, suaranya menggerung gusar.
"Dua bulan aku keluar berdagang, kau lantas berani curi laki-laki di rumah? Memangnya kau tidak takut kubunuh?"
Kembali Cui Giok-tin tersentak kaget, teriaknya.
"Kau......apakah kau tidak salah melihat orang?"
"Aku salah lihat?", damprat orang itu dengan mencak-mencak seperti kebakaran jenggot.
"sejak umur enam belas, kau sudah kukawini, umpama terbakar jadi abu juga tetap kukenali kau."
Tak tahan Cui Giok-tin berkaok-kaok.
"Kau sudah gila, melihat tampangmupun aku tidak pernah."
"Jadi kau berani menyangkal bahwa kau ini bukan biniku?"
"Sudah tentu bukan."
"Kalau bukan biniku, kenapa kau tidur di ranjangku?" , lalu laki-laki itu berpaling kepada Yap Kay, katanya.
"Kau ini siapa? Kenapa tidur seranjang dengan biniku?"
Cui Giok-tin dan Yap Kay sama-sama kelakep, tiba-tiba dia menyadari dirinya kebentur suatu kejadian yang menggelikan, namun juga memalukan.
Sungguh dia sendiri bingung apa yang terjadi sebetulnya.
Berkata pula orang itu.
"Untung aku ini orang bajik, perduli apapun yang pernah kalian lakukan, aku tetap akan mengampuni dan memaafkan kalian, tapi sekarang aku sudah kembali, kau harus bangun dan serahkan tempat tidur ini kepadaku." , sembari bicara dia maju menghampiri seraya siap-siap membuka pakaian. Cui Giok-tin menjerit-jerit. Dengan kencang dia tarik Yap Kay.
"Aku bukan istrinya, bahwasanya aku tidak mengenalnya. Jangan kau bangun menyerahkan tempat ini kepadanya."
Sudah tentu Yap Kay tidak bisa bangun.
Apa yang harus dia lakukan?
Untunglah, pada saat itu dari luar kumandang tawa seseorang yang terkial-kial, seseorang tengah memeluk perut saking tertawa geli melangkah masuk.
Begitu melihat orang ini seketika Yap Kay terbeliak.
Siangkwan Siau-sian.
Gadis ini ternyata muncul di saat yang begini memalukan.
Dengan sebelah tangan memegangi perut, tangan Siangkwan Siau-sian yang lain menuding Yap Kay, katanya masih cekikikan geli.
"Kau mengangkangi rumah orang, menempati ranjangnya lagi. Ini yang empunya sudah pulang, tanpa banyak rewel hanya suruh kau menyingkir, kau tetap mendablek, apa tidak keterlaluan sikapmu ini?" . Belum habis bicara, air matanya bercucuran saking terpingkal-pingkal dengan menahan perut yang mules. Yap Kay sekarang mulai tabah. Baru kini dia menyadari apakah yang telah terjadi. Perempuan ini bukan saja licik dan licin seperti rase, boleh dikata segala perbuatan apapun bisa saja dia lakukan. Siangkwan Siau-sian masih terus tertawa tak henti-hentinya, seakan-akan belum pernah dia melihat adegan lucu yang menggelikan ini. Dengan melongo kaget Cui Giok-tin mengawasinya, tanyanya.
"Siapakah dia?"
"Dia bukan manusia."
Sahut Yap Kay.
"Benar! Sebetulnya aku bukan manusia, aku ini adalah malaikat hidup, perduli kemanapun kau menyembunyikan diri, aku tetap bisa menemukan kau."
Yap Kay tidak perlu tanya cara bagaimana orang bisa menemukan dirinya.
Jelas orang selalu menguntit dan mengawasi setiap gerak-gerik Yap Kay, seperti bayangan setan layaknya.
Berkata Siangkwan Siau-sian.
"Tapi aku benar-benar tidak pernah pikir, nona tosu bisa menemukan tempat seperti ini, kalau bukan karena dia tergesa-gesa hendak cari obat, sungguh hampir saja aku tak berhasil menemukan kalian."
Dia maju ke sana menjemput mangkok kosong lalu diendusnya ke dekat hidung, katanya pula dengan tertawa.
"Sayang sekali dia belum boleh dianggap tabib yang baik, obat macam ini umpama kau habiskan satu gentongpun takkan berguna."
Sudah tentu Cui Giok-tin naik pitam, katanya dengan merah padam.
"Memangnya kau mampu mengobati luka-lukanya?"
"Akupun bukan tabib, tapi aku sudah mengundang seorang tabib yang paling baik kemari."
Laki-laki yang mengaku sebagai suami tadi kini tidak marah lagi, malah dengan tersenyum mengawasi mereka. Siangkwan Siau-sian memperkenalkan.
"Inilah satu-satunya dari Biau-jiu-sin-ih pada jaman yang lalu, Biau-jiu-long-tiong Hoa Cu-ceng. Pengetahuan dan pengalamanmu cukup luas, tentunya tahu akan dirinya."
Yap Kay memang tahu benar.
Keluarga Hoa, ayah beranak memang merupakan tabib sakti yang kenamaan di Kang-ouw.
Terutama untuk penyembuhan luka-luka luar, mempunyai cara pengobatan khusus.
Akan tetapi dua ayah beranak ini mempunyai ciri khas yang aneh, yaitu mencuri.
Sebetulnya mereka tidak perlu mencuri, namun sejak dilahirkan sudah menjadi pembawaan, yakni hobbynya mencuri, jadi apapun bila ada kesempatan pasti mereka mencuri.
Maka orang-orang atau pasien-pasien yang minta tolong untuk menyembuhkan luka-luka atau sakitnya, pasti akan dikuras kantongnya sampai ludes.
Dari situlah mereka mendapat julukan Biau-jiu.
Yap Kay tertawa, katanya.
"Tak nyana, bukan saja kepandaian ilmu pengobatan tuan amat tinggi, malah kaupun pandai main sandiwara."
Hoa Cu-ceng tertawa, katanya.
"Dalam hal ini ada yang tidak kau ketahui. Untuk belajar mencuri, maka kau harus pandai main sandiwara."
"Kenapa begitu?"
Tanya Yap Kay.
"Karena kau harus belajar menyaru jadi berbagai orang, baru bisa berhasil mendapatkan barang yang beraneka ragamnya pula,"
Dengan tersenyum Ho Cu-ceng menjelaskan.
"umpamanya kau hendak mencuri buku ajaran agama di kelenteng, maka kau harus menyamar jadi Hwesio, kalau ingin mencuri lonte, maka kau harus pura-pura jadi laki-laki iseng."
"Jikalau kau hendak mencuri uang di Bank, maka kau harus menyaru jadi pedagang kaya untuk mencari tahu seluk beluknya lebih dulu."
Yap Kay menambahkan. Ho Cu-ceng tepuk tangan, katanya.
"Tuan memang pintar, tahu satu lantas jelas tiga. Kalau kau mau ngobyek dalam bidang ini, aku berani tanggung dalam tiga bulan kau pasti sudah menjadi seorang ahli dalam bidang ini."
Siangkwan Siau-sian berkata dengan tertawa manis.
"Sekarang juga dia sudah menjadi ahli, maka bila kau menyembuhkan luka-lukanya, lebih baik kau hati-hati, kalau tidak bukan mustahil barang milikmu bakal digerogoti sampai ludes."
Hoa Cu-ceng tertawa, ujarnya.
"Sudah puluhan tahun aku selalu mencuri milik orang lain, bila ada barang milikku juga tercuri orang, rasanya menyenangkan juga,"
Dengan tersenyum segera dia maju menghampiri, katanya.
"Asal pisau itu tidak beracun, aku berani tanggung, dalam tiga hari tuan pasti akan bisa pergi membunuh orang."
"Tunggu sebentar!"
Tiba-tiba Cui Giok-tin berteriak.
"Tunggu apa lagi?"
Tanya Hoa Cu-ceng.
"Darimana aku tahu kau kemari benar-benar ingin menyembuhkan luka-lukanya?"
Tanya Cui Giok-tin.
"Nona tosu ini agaknya orang cermat dan hati-hati,"
Kata Siangkwan Siau-sian.
"sayang sekali otaknya rada kurang beres. Memangnya kau sudah dibikin pusing tujuh keliling oleh Yap Kongcu ini?"
Merah muka Cui Giok-tin, katanya.
"Terserah apapun yang ingin kau katakan, aku..........."
"Sekarang kalau aku ingin membunuhmu, boleh dikata segampang makan kacang, buat apa aku susah-susah membuang tenaga?"
Cui Giok-tin tertawa dingin.
"Kau tidak percaya?" , ancam Siangkwan Siau-sian. Cui Giok-tin tetap menyeringai dingin. Tiba-tiba badan Siangkwan Siau-sian melayang enteng laksana segumpal mega, melampaui kepala mereka. Seketika terasa oleh Cui Giok-tin seperti ada sebuah tangan dingin terulur masuk ke dalam kemul, serta mencubit sekali di tengah dadanya. Waktu dia mengawasinya lagi, tahu-tahu Siangkwan Siau-sian sudah melayang balik ke tempat semula. Dengan cengar-cengir Siangkwan Siau-sian mengawasi diri Cui Giok-tin, lalu katanya.
"Khabarnya Giok-siau Tojin pandai memetik kembang menyerap sarinya, tapi kurasakan badanmu masih kenyal dan agaknya kau memang pandai melayani keinginan laki-laki."
Merah hijau dan pucat pergantian perubahan rona muka Cui Giok-tin, saking jengkel hampir saja dia menangis.
"Itulah suatu hal yang pantas dibuat bangga dari setiap perempuan, buat apa kau malu-malu segala?"
Ujar Siangkwan Siau-sian.
"kapan kau ada waktu, mungkin aku akan mohon belajar dan petunjukmu."
Muka Cui Giok-tin sudah memutih kaku.
Dia tahu perempuan ini sengaja hendak menghina dirinya, namun dia terima segala hinaan ini.
Kenapa ada orang ingin orang lain menderita, baru diri sendiri merasa senang?
Kalau Cui Giok-tin mengucurkan air mata, sebaliknya Siangkwan Siau-sian sedang tersenyum kesenangan.
"Menggelinding pergi!"
Tiba-tiba Yap Kay menghardik. Agaknya Siangkwan Siau-sian terkejut, serunya.
"Kau suruh siapa menggelinding pergi keluar?"
"Kau!", sentak Yap Kay.
"Aku baik hati mengundang tabib untuk menyembuhkan luka-lukamu, kau malah suruh aku menggelinding pergi!"
Yap Kay menarik muka, katanya.
"Benar! Kusuruh kau menggelinding keluar."
Baca Juga: Pendekar Patung Emas Qing Hong
Baca Juga: Bakti Pendekar Binal 5