Ceritasilat Novel Online

Rahasia Mo Kau Kaucu 2

Eps 2 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.

"Kalau sudah kemari kenapa tidak keluar saja?"

"Apa benar kau ingin melihat aku?"

"Bertahun-tahun sudah aku kangen kepadamu, mohon bisa bertemu dengan kau."

"Baik, marilah kau ikut aku."

Tiba-tiba suaranya seperti berada di tempat gelap nan jauh.

Di tempat gelap sana tiba-tiba menyala sebuah lentera.

Sinar lentera seperti kunang-kunang, kelap-kelip dihembus angin malam nan dingin, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun.

Sesaat Wi Thian-bing ragu-ragu, tahu-tahu dia tepuk pundak Han Tin, katanya.

"Hayolah kaupun ikut aku."

Ooo)dw(ooo Akhirnya Sebun Cap-sha bisa duduk, namun hatinya amat sedih dan mendelu.

Waktu dia menjengking kesakitan memeluk perut tadi ternyata gurunya tidak berusaha menolongnya.

Jagat seluas ini seperti hanya dia seorang diri saja yang masih ketinggalan hidup.

Wi-pat-ya tinggal pergi bersama Han Tin yang pandai menjilat itu, seolah-olah melupakan dirinya yang masih kesakitan.

Tiada seorangpun di dunia ini yang sudi memandang dirinya, bila seseorang sampai merendahkan dirinya, bagaimana dia bisa mengharap orang lain memandang tinggi dirinya.

Dengan seluruh kekuatannya dia mengepal tinju, hatinya diliputi dendam dan penasaran, dia sadar harus melakukan sesuatu yang menggemparkan dan mengejutkan orang banyak supaya Sebun Cap-sha tidak dipandang sebagai manusia yang tidak berguna, biar orang banyak berlutut mencium kakinya.

Namun dengan cara apa dia harus melakukan kerja yang mengejutkan dan menggemparkan?.

Bahwasanya dia sendiri tidak bisa menyimpulkan apa-apa.

Hal ini kembali membuat hatinya merana dan kesepian, lebih baik mencari suatu tempat minum sepuas-puasnya sampai mabuk, setelah mabuk akan terasa olehnya bahwa dirinya adalah Enghiong besar yang tiada tandingan di seluruh jagat raya ini.

Sayang sekali jadi Enghiong hanyalah angan-angan kosong belaka, yang terang sekarang dia harus pasang pelana jadi kusir kendalikan kereta.

Dengan menghela napas pelan-pelan dia berdiri tanpa semangat.

Sekonyong-konyong di luar kereta seseorang berkata.

"Seorang diri kau duduk di sini, apa tidak merasa kesepian?" . Suara merdu nyaring misterius tadi, cuma nada bicaranya lebih lembut dan hangat. Tiba-tiba berdiri bulu roma Sebun Cap-sha, mengkirik dia dibuatnya, teriaknya.

"Siapakah kau? Dimana kau?"

"Aku kan di sini, masa kau tidak melihatku?"

Lapat-lapat seperti tampak bayangan seseorang di luar kereta, mengenakan jubah halus ringan semampai, rambutnya yang hitam panjang menjuntai mayang.

Sekujur badan Sebun Cap-sha basah kuyup oleh keringat dingin, seperti mendadak dia kecemplung ke dalam perigi es tak terlihat dasarnya.

Kini dia sudah melihat jelas orang itu, mukanya pucat seperti kapur, jubahnya melambai, darah berlepotan di depan dada, perut sampai ke bawah darah masih mancur dari tenggorokannya yang bolong, dia bukan lain adalah sang taci yang mampus tertusuk bor Han Tin.

Biji mata yang jeli dan bening tadi melotot keluar, darah segar meleleh di ujung mulutnya, di dalam kegelapan tampak seram menakutkan.

Lemas kedua kaki Sebun Cap-sha.

Sungguh tak tega dia melihat keadaan orang, namun entah kenapa dia terkesima tak ingin berpaling ke arah lain.

"Lihatlah aku......aku tahu kau pasti melihat aku."

Suaranya berubah dibanding waktu dia masih hidup, tapi suaranya keluar dari tenggorokan yang bolong.

"Sebetulnya aku mencintaimu sepenuh hati, sebetulnya aku sudah berkeputusan menjadi istri dan selamanya mengikuti jejakmu, tapi dengan kejam mereka membunuhku, kini kau sebatangkara, tiada orang menemanimu."

Suaranya menjadi sedih pilu dan rawan, dari biji matanya yang melotot berlinang dua butir air mata.

Serasa remuk hati Sebun Cap-sha, rasa takut entah sirna kemana.

Mendadak dia ikut merasa sedih dan rawan, betapapun masih ada orang yang sudi memandang dirinya, sayang orang ini sudah ajal.

Tadi dia hanya berpeluk tangan menonton dengan mendelong tanpa berbuat apa-apa.

"Begitu kejam dan tega mereka membunuhku di hadapanmu, bahwasanya mereka tidak memandangmu sebagai manusia,"

Suaranya semakin memilukan.

"tapi aku tahu, kau tidak akan membiarkan aku mati penasaran, kau pasti menuntut balas, supaya mereka tahu bahwa kau bukan pemuda yang tidak berguna."

Terkepal kedua tinju Sebun Cap-sha, kepalanya manggut-manggut, katanya mendesis benci.

"Aku akan bikin perhitungan, aku akan memberitahu kepada mereka."

"Nah, aku membawa sebatang golok, kenapa tidak sekarang kau pergi bunuh mereka?."

Dari tengah udara tiba-tiba melayang jatuh sebuah benda, 'Ting...' ternyata sebilah golok kemilau yang menancap di atas tanah.

"Asal kau membunuh Han Tin dan Wi Thian-bing, kau adalah Enghiong yang paling hebat dan kenamaan di Kang-ouw, selanjutnya takkan ada orang berani memandang rendah dirimu. Di alam baka akupun bisa mati dengan meram dan tentram."

Suaranya melayang terombang-ambing di tengah udara, semakin jauh dan jauh.

"Inilah permintaanku terakhir kepadamu, kau harus melaksanakan permintaanku......"

Makin jauh dan akhirnya tak terdengar lagi.

Maka robohlah jazat yang sudah dingin kaku itu.

Malam gelap tak berujung pangkal.

Tiba-tiba Sebun Cap-sha memburu maju menggenggam erat tangannya, tapi tangan orang sudah kaku dingin, jelas orang sudah mati cukup lama.

Tapi kenyataan barusan dia berdiri dan bicara, sebatang golok benar-benar menancap di atas salju.

Dengan tangan yang basah oleh keringat, Sebun Cap-sha jemput golok itu.

Mengawasi golok di tangannya, dia hanyut oleh emosi, mukanya tampak haru dan berkerut-kerut menahan pilu, namun sepasang matanya menatap lurus kosong, mirip pandangan orang mati.

Dengan kencang dia genggam golok itu, lalu disimpan di dalam lengan baju, pelan-pelan dia beranjak pergi.

ooo)dw(ooo Nyala api yang kelap-kelip terhembus angin terus melayang ke depan, terpaksa Wi Thian-bing dan Han Tin berjalan cepat mengikuti arah kemana api itu pergi.

Jalan yang mereka lewati licin, salju sudah membeku.

Di dalam hutan yang luas ini, hanya kelihatan beberapa titik api yang tersebar seperti sinar bintang di cakrawala.

Menyusuri jalan kecil licin ini mereka terus menerobos hutan Bwe, tiba-tiba muncul sinar api yang menyala terang di sebelah depan, puluhan orang serba putih berbaris mengejar sinar api itu dan tiba-tiba lenyap seluruhnya di balik pepohonan.

Begitu keluar dari hutan lebat itu, baru Wi Thian-bing melihat deretan rumah-rumah petak yang rendah, gaya dan bentuk bangunannya amat aneh, orang-orang baju putih tentu masuk ke dalam rumah ini.

Pada saat itu pula api yang menuntun mereka tiba-tiba lenyap, di tengah hembusan angin kembali kumandang suara merdu misterius itu, kali ini hanya dua patah kata saja yang diucapkan.

"Silahkan masuk."

Setelah berada di dalam baru Wi Thian-bing berdua merasakan bahwa rumah-rumah ini bukan saja tidak rendah, malah kelihatan luas dan megah, lantainya tertutup permadani yang masih baru, begitu dihadang deretan pintu angin, dimana terdapat lukisan pemandangan alam, puncak gunung yang memutih salju, warna kembang merah yang menyolok, kelihatan bukan pemandangan dari daratan Tiong-goan.

Waktu tulisan pada lukisan itu ditegasi, kiranya pemandangan ini diambil dari kepulauan Hu-siang-to (Jepang) di luar lautan, warna kembang yang merah menyolok itu adalah kembang yang paling kenamaan di Hu-siang-to yaitu kembang sakura.

Jadi bentuk rumah juga diciptakan menurut seni bangunan dari Hu-siang-to.

Di dalam rumah tiada kursi, kecuali beberapa buah meja pendek, di atasnya hanya terdapat tempat lilin warna hijau, sinarnya guram, hiolo di ujung rumah masih mengepulkan asap tebal berbau harum semerbak.

Di tengah rumah di mana sebuah meja pendek terdapat sebuah patung Koan-im Posat setinggi tiga kaki, tangannya memegangi dahan pohon Yang-liu, mukanya tersenyum halus lembut.

Dua orang gadis jelita berpakaian serba putih bagai salju berdiri disamping meja, memejamkan mata menurunkan alis, seorang usianya lebih tua, berperawakan tinggi semampai, potongannya elok, satunya lebih muda dan lebih cantik, bagai bidadari yang turun dari khayangan.

Mereka adalah Thi Koh dan Sim Koh.

Sementara orang-orang baju putih bersimpuh di atas lantai, semua duduk mematung, sorot matanya tertuju ke tempat jauh.

Suasana hening lelap dengan kepulan asap dupa yang semerbak, hingga keadaan rumah terasa seram dan tentram.

Kini belum tiba saatnya buka suara.

Wi Thian-bing langsung bersimpuh di atas permadani, baru sekarang dia melihat di belakang pintu angin ada dua pemuda bersutra yang beralis tegak bermata terang, berwajah cakap kereng, keduanya berdiri tegak memegangi pedang.

Sarung pedang masing-masing dihiasi mutiara berkilauan, setiap butir tak ternilai harganya, barang mestika yang jarang terdapat di dunia ini.

Bukan saja raut muka mereka mirip satu sama lain, di antara kedua alisnya juga memancarkan watak sombong, seakan-akan seluruh hadirin tiada yang terpandang dalam mata mereka.

Sekilas Wi Thian-bing dan Han Tin beradu pandang, dalam hati mereka tahu, bahwa kedua pemuda ini datang dari kota mutiara.

Setelah berdiam lama satu di antara saudara kembar yang berperawakan agak tinggi bertanya.

"Dimanakah sebetulnya Lam-hay-nio-cu? Kami sudah berada di sini. Kenapa ia belum muncul?"

Suara misterius yang berkumandang itu menjawab.

"Sejak tadi aku berada di sini, memangnya kalian tidak melihatku?"

Ternyata patung Koan-im itu bersuara, jelas bibir Thi Koh dan Sim Koh tidak pernah bergerak. Berubah air muka kedua saudara kembar, katanya dingin.

"Dari tempat jauh kami kemari bukan ingin berhadapan dengan patung ukiran."

"Tapi orang yang kalian ingin lihat dan hadapi adalah aku."

"Jadi kau inikah Jian-bin-koan-im Lam-hay-nio-cu?"

"Memang inilah aku."

Saudara kembar itu tiba-tiba menyeringai dingin, berbareng mencabut pedang, sinar pedang laksana bianglala menyambar ke depan menusuk patung Koan-im, gerak-gerik mereka begitu mirip satu sama lain, seolah-olah kerja dari satu bayangan orang.

Ilmu pedang mereka begitu lincah, enteng dan cepat, begitu pedangnya menusuk, sasarannya berubah di tengah jalan, sinar pedang menyambar menyilang, berbintik-bintik bagai kuntum salju berterbangan.

Mendadak 'trap"

Dua jalur pedang bergabung menjadi satu, laksana kilat menyambar muka patung Koan-im Posat.

Pada detik yang menentukan serangan mereka itulah, tiba-tiba terasa oleh saudara kembar ini rona muka Koan-im itu rada berubah, senyum lembut menjadi dingin, serius dan kereng.

Di dalam waktu sekejap saja, perempuan cantik yang berusia lebih tua tiba-tiba turun tangan.

Terdengar 'pletak' dan ujung pedang yang bergabung satu itu tahutahu tergencet di antara kedua telapak tangannya, disusul suara keras yang bergetar, ujung ke dua pedang saudara kembar itu ternyata putus menjadi dua potong.

Agaknya saudara kembar dari kota mutiara ini dipaksa merubah serangan karena kaget, akhirnya kalah karena melihat perubahan air muka Koan-im tadi, meski menghadapi perubahan di luar dugaan, namun mereka tidak gugup karenanya, sebat sekali mereka menggeser kedudukan mundur delapan kaki, kembali ke belakang pintu angin, pedang mereka sudah kembali ke dalam sarungnya.

Reaksi mereka menghadapi perubahan cukup cepat dan cekatan, namun tak urung rona muka mereka mengunjuk rasa heran, karena dengan mata mendelong mereka saksikan kutungan pedang dimasukkan ke dalam mulut dan dimakan secara lahap oleh perempuan cantik setengah umur itu.

Mereka hampir tidak percaya, betapa tajamnya ujung pedang mereka, memangnya perut perempuan cantik setengah umur ini dibuat dari besi baja?

Lam-hay-nio-cu yang misterius itu menghela napas, katanya.

"Ouyang Shia-cu tidak pantas mengutus kalian datang kemari."

Kedua saudara kembar dari kota mutiara tengah mendengarkan.

"Hanya dengan bekal kepandaian kalian bersaudara, memangnya setimpal menghadapi Yap Kay?"

Tak tahan kedua saudara kembar membantah.

"Yap Kay toh juga seorang manusia."

Hanya satu suara, tapi bibir keduanya seperti bergerak.

"Benar, Yap Kay memang hanya seorang manusia, tapi dia bukan manusia sembarangan."

Terunjuk senyum sinis pada ujung mulut ke dua saudara kembar, mimik wajahnya mencemoohkan.

"Dinilai ilmu silatnya, diantara kita yang ada di sini, tiada satupun yang unggul melawannya."

"Jakalau dia datang, kami bersaudara yang pertama ingin menghadapinya."

Lam-hay-nio-cu menghela napas, katanya.

"Mungkin sekarang dia sudah datang."

Kata-kata ini bukan saja membuat Wi Thian-bing mengkirik, orang-orang seragam putih yang dipimpin Bak Pek itupun menunjukkan mimik aneh.

Terutama kedua saudara kembar lebih hebat perubahan mukanya, tanyanya bengis.

"Apa benar dia sudah datang?"

"Di saat kalian kemari, keretanyapun sudah masuk Leng-hiang-wan."

"Bagaimana dengan Siangkwan Siau-sian?"

"Kalau Siangkwan Siau-sian tidak datang, buat apa dia kemari?"

Jadi kedatangan Yap Kay juga lantaran Siangkwan Siau-sian.

"Apa benar Siangkwan Siau-sian adalah putri dari perkawinan Siangkwan Kim-hong dengan Lim Sian-ji?"

"Kenapa diragukan?"

"Di kala hidupnya Siangkwan Kim-hong dan Siau-li Tham-hoa adalah musuh yang tak mau sejajar, mana mungkin putrinya sudi ikut Yap Kay?"

"Karena Ah Hwi menyerahkan dia kepada Yap Kay dan Yap Kay melindunginya kemari."

"Lalu apa pula sangkut paut persoalan ini dengan Hwi-kiam-kek?"

"Sebagai perempuan centil yang suka mempermainkan cinta, sampai usia lanjut baru Lim Sian-ji menginsyafi kesalahan hidupnya, selama hidupnya hanya Ah Hwi saja yang paling dipercayanya, maka sebelum ajal dia suruh putrinya mencari Ah Hwi."

"Cara bagaimana dia bisa membuktikan diri bahwa dirinya adalah putri Lim Sian-ji?"

"Sudah tentu dia punya cara yang tidak diketahui orang lain, kalau tidak masakah Ah Hwi mau percaya?"

Tiba-tiba dia bertanya.

"Agaknya kalian bersaudara tidak banyak tahu seluk beluk persoalan ini."

"Kami hanya tahu satu hal."

"O, apa itu?"

"Kami hanya tahu Shia-cu suruh kami kemari untuk membawa Siangkwan Siau-sian kembali."

"Maka kalian bertekad hendak membawanya pulang?"

"Sudah tentu."

"Sekarang dia sudah datang, kenapa tidak lekas kalian kesana?"

Kedua saudara kembar dari kota mutiara tidak banyak bicara lagi, mendadak keduanya melambung terus jumpalitan melampaui pintu angin, dalam sekejap sudah menghilang di luar.

"Kepandaian bagus!"

Tak tertahan Wi Thian-bing berseru memuji. Suara Lam-hay-nio-cu menjadi dingin ketus, katanya.

"Antar dua buah peti mati ke Biau-hiang-wan, siapkan urusan belakang ke dua saudara kembar itu."

Walaupun ujung pedang kedua saudara kembar itu kutung, namun ilmu pedang mereka dilandasi kekuatan dasar yang mengeluarkan deru angin santer di saat membelah udara, terutama gerak badan mereka yang lincah dan kerja sama yang begitu serasi, jelas tingkat kepandaian mereka sudah boleh dikategorikan kelas satu di dalam Bu-lim, terutama perpaduan pedang mereka yang melesat laksana bianglala menembus sinar matahari, betapa hebat kekuatannya, sampaipun Wi Thian-bing sendiri tidak punya keyakinan untuk melawannya.

Tapi di dalam pandangan Lam-hay-nio-cu, asal mereka kebentur Yap Kay, berarti mereka antarkan jiwa secara cuma-cuma.

Tentunya pandangan Lam-hay-nio-cu takkan keliru.

Suasana rumah itu menjadi hening laksana di dalam sebuah kuburan raksasa, seakan-akan mereka tengah menunggu dengan sabar orang-orang Lam-hay-nio-cu menggotong mayat kedua saudara kembar dari kota mutiara itu kemari.

Entah berapa lama kemudian Wi Thian-bing mendahului buka suara.

"Diwaktu Siangkwan Kim-hong menjagoi dunia, Sin-to-tong belum berdiri, sekarang keturunan Sin-to-tong tumbuh dewasa, maka usia Siangkwan Siau-sian tentunya tidak kecil lagi."

Lam-hay-nio-cu berkata.

"Ya, sekarang sedikitnya dia sudah berusia dua puluh tahun."

"Gadis likuran tahun, apakah selama ini dia belum menikah?"

"Jikalau dia sudah punya suami, buat apa minta Yap Kay melindunginya?"

"Kecantikan Lim Sian-ji diagulkan nomor satu di seluruh dunia, tentunya Siangkwan Siau-sain bukan gadis jelek."

"Bukan saja tidak jelek, malah boleh juga terhitung gadis cantik yang jarang ada di dunia."

"Kalau dia gadis cantik, kenapa tidak atau belum mendapat suami?"

Lam-hay-nio-cu menghela napas, katanya.

"Soalnya meskipun kecantikannya melebihi bidadari, tapi ingatannya, daya pikirnya lebih rendah dari bocah umur tujuh delapan tahun, gadis yang minus jiwanya."

Wi Thian-bing mengerut kening, katanya.

"Perempuan secantik itu, memangnya dia seorang linglung?"

"Dia bukan anak terbelakang sejak lahirnya, khabarnya waktu berumur tujuh tahun pernah terluka parah, hingga gegar otak, karena itu otaknya tak pernah tumbuh dan tetap pada usia tujuh tahun saja."

"O, aneh juga kejadian ini."

Ujar Wi Thian-bing.

"Tapi perawakan dan potongan serta kecantikannya dapat membuat gila laki-laki."

"Takdir memang sudah menentukan nasib seseorang, agaknya nasibnya jauh lebih mengenaskan dari pengalaman hidup ibunya yang rusak itu."

"Perempuan seperti itu, jikalau tiada orang yang melindunginya, entah berapa banyak laki-laki yang akan menipu dan mempermainkan dia."

"Oleh karena itu diwaktu Lim Sian-ji hampir meninggal dunia, hatinya tidak tega meninggalkan putri satu-satunya ini, maka dia cari Hwi-kiam-kek minta dia melindungi putrinya."

Ujar Wi Thian-bing menegas.

"Selama hidup Ah Hwi berkelana dan belum pernah punya tempat tinggal tetap, karena itu di saat dia ketemu Yap Kay di Kang-lam, maka dia serahkan tanggung jawab ini kepada Yap Kay."

"Apakah dia bisa percaya penuh terhadap Yap Kay seperti Lim Sian-ji percaya terhadapnya?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Siapapun boleh percaya terhadap Yap Kay, walau orang ini berwatak bebas, liar dan tak mau terkekang, tidak mementingkan adat istiadat, namun setiap pesan yang diserahkan kepadanya oleh seorang teman, umpama harus menempuh gunung apipun tidak akan ditolaknya."

Selama ini Bak Pek hanya mendengarkan saja, tiba-tiba menyeletuk.

"Bagus, laki-laki sejati, laki-laki gagah."

"Justru karena dia berjanji untuk melindungi Siangkwan Siau-sian, maka dia bertengkar dengan kekasihnya Ting Hun-pin, hingga tunangannya itu minggat tak karuan parannya, sampai sekarang belum terdengar kabar beritanya."

Wi Thian-bing tertawa, katanya.

"Aku pernah dengar putri keluarga Ting memang nona cemburuan."

"Perempuan memang dilahirkan untuk cemburuan."

Ujar Lam-hay-nio-cu. Setelah berpikir sebentar Wi Thian-bing berkata pula.

"Tempo dulu Kim-cie-pang menguasai dunia tujuh selatan tiga puluh enam utara, hampir seluruh propinsi di tanah Tiong-goan ini berada dalam kursinya, betapa besar kekayaannya, hampir menandingi kekayaan negara, tapi umum tahu bahwa Siangkwan Kim-hong adalah manusia yang hidup sederhana dan kikir."

"Dia bukan kikir dan hidup sederhana, yang terang segala hidup foya-foya dan segala kemewahan di dunia ini tiada yang menarik perhatiannya, kecuali kekuasaan, jelas tiada sesuatu apapun dalam dunia ini yang bisa menggerakkan perhatian Siangkwan Kim-hong, sampai perempuan secantik Lim Sian-ji pun dalam pandangannya tidak lebih hanya alat pemuas napsu belaka."

Kata Wi Thian-bing.

"Konon, disaat Siangkwan Kim-hong masih hidup, seluruh kekayaan Kim-cie-pang dan ilmu silatnya disimpan pada suatu tempat rahasia."

"Memang di kalangan Kang-ouw banyak orang memperbincangkan soal ini."

"Tapi sejak Siangkwan Kim-hong meninggal, sampai sekarang sudah dua puluhan tahun lebih, belum pernah ada orang menemukan tempat penyimpanan harta itu."

"Memang belum pernah ada."

Ujar Lam-hay-nio-cu. Bercahaya mata Wi Thian-bing, katanya pelan-pelan.

"Soalnya di mana letak penyimpanan harta ini memang tiada orang tahu."

Lam-hay-nio-cu bersuara heran dalam tenggorokan. (Bersambung ke Jilid-4 Jilid-4

"Yang tahu rahasia ini hanya Ki Bu-bing, tapi orang yang satu ini tak kemaruk harta, maka selama puluhan tahun, belum pernah timbul ambisi atau ketamakannya untuk mengeduk harta kekayaan yang berlimpah-limpah itu."

"Memang, Ki Bu-bing adalah bayangan Siangkwan Kim-hong."

"Ilmu silatnya amat ganas, serangannya tak kenal kasihan, maka tiada orang berani mengusik padanya, apalagi jejaknya tidak menentu, umpama ada orang ingin mencarinya, selamanya takkan bisa menemukan dia."

"Umpama berhasil menemukan dia, tentu jiwanya melayang di pedangnya."

Timbrung Lam-hay-nio-cu.

"Tapi belakangan dia memberitahu rahasia ini pada seseorang."

"O, kepada siapa?"

Tanya Lam-hay-nio-cu ketarik.

"Dia memberitahu rahasia ini kepada keturunan atau darah daging Siangkwan Kim-hong satu-satunya."

"Siangkwan Siau-sian maksudmu?"

"Benar, memang Siangkwan Siau-sian. Oleh karena itu bukan saja dia gadis tercantik di seluruh jagat ini, dia pula gadis yang terkaya di seluruh dunia, ditambah ilmu silat peninggalan Siangkwan Kim-hong, siapapun yang menemukan dia, bukan saja dapat menjulang tinggi menjadi manusia yang terkaya di seluruh kolong langit, kelak akan menjadi tokoh silat kosen yang tiada bandingannya, sudah tentu daya tariknya teramat besar bagi manusia yang tamak."

"Sayang dia tidak mengetahui, karena dia tidak lebih hanya seorang gadis cilik yang baru berusia tujuh delapan tahun."

"Oleh karena itu untuk melindungi dan menjaga gadis seperti ini, boleh dikata tak mungkin terlaksana."

"Mungkin saja."

"Kalau orang lain tidak mungkin melindungi dia, tapi Yap Kay pasti mungkin."

Wi Thian-bing tertawa dingin, katanya.

"Umpama kata Yap Kay benar-benar tunas muda yang luar biasa bakatnya, ilmu silatnya sudah memuncak tingkat yang tiada bandingannya di seluruh jagat, hanya tenaga dia seorang, memangnya mampu menghadapi puluhan tokoh-tokoh kosen kelas wahid dari seluruh pelosok dunia ini?"

"Yang terang dia tidak hanya seorang diri."

Sahut Lam-hay-nio-cu tegas.

"Tidak seorang diri? Lalu dengan siapa?"

"Memang tidak sedikit yang ingin membunuh dia dan merebut Siangkwan Siau-sian, tapi demi kesetiaan dan budi pekerti, tidak sedikit pula orang-orang yang bertekad melindunginya."

"Kesetiaan dan budi pekerti masa lalu?"

"Jangan lupa dia adalah pewaris Siau-li Tham-hoa satu-satunya, dan yang pernah mendapat budi pertolongan Li Sin-hoan tidak sedikit jumlahnya."

"Peristiwa sudah berselang sekian tahun, umpama orang-orang itu belum mati, tentu sudah melupakan hutang budinya, budi lebih cepat dilupakan orang daripada dendam kesumat."

"Sedikitnya masih ada seorang yang tidak pernah melupakannya."

"Siapa?"

"Aku!", sahut Lam-hay-nio-cu. Seluruh hadirin tersentak kaget oleh jawaban pendek dan tegas ini.

"Jikalau kalian kira aku kemari juga ingin merebut Siangkwan Siau-sian, maka meleset jauh dugaan kalian."

"Lalu apa maksudmu mengundang kami kemari?"

"Tidak lebih hanya satu permintaanku, sukalah pandang mukaku, batalkan niat kalian semula."

"Kau minta kami melepaskan Yap Kay?"

"Begitulah."

"Jikalau kami tidak setuju?"

"Kalau begitu bukan saja kalian lawan Yap Kay, kalianpun akan jadi musuhku, maka untuk keluar dari rumah ini, kukira bukan pekerjaan mudah."

Mendadak Wi Thian-bing terloroh-loroh, serunya.

"Aku mengerti, akhirnya aku mengerti."

"Kau mengerti apa?"

Tiba-tiba terhenti loroh tawa Wi Thian-bing, katanya.

"Kau minta kami membatalkan niat, hanya karena kau ingin mencaploknya sendiri, sengaja kau agulkan Yap Kay setinggi langit segagah naga, yang terang kau sudah mencari akal jahat untuk menghadapinya."

Suara Lam-hay-nio-cu berubah, katanya.

"Wi-pat-ya, kau pandanglah aku."

Wi Thian-bing malah berpaling muka ke lukisan di pintu angin, katanya dingin.

"Kau hendak gunakan Kou-hun-sip-tay-hoat dari Mo Kau untuk menundukkan aku, kau salah alamat."

"Aku hanya ingin memperingatkan kepadamu tiga puluh tahun yang lalu, aku pernah melepasmu tanpa kurang suatu apa."

"Benar, tiga puluh tahun yang lalu, aku hampir mampus di tanganmu."

"Waktu itu kau bersumpah berat, asal aku melihatmu lagi, perduli apapun yang kuperintahkan, kau tidak akan menolak, kalau sebaliknya kau rela terbunuh mampus dengan badan tercacah hancur lebur."

Sampai di sini suaranya semakin seram menggiriskan.

"Apa kau masih ingat akan sumpahmu dulu itu?"

"Sudah tentu aku masih ingat, hanya..........."

"Hanya apa lagi?"

"Waktu itu aku bersumpah terhadap Lam-hay-nio-cu."

"Aku inilah Lam-hay-nio-cu!"

"Kau bukan!"

Seru Wi Thian-bing geram seraya mendelik beringas.

"Lam-hay-nio-cu sudah lama meninggal, kau kira aku tidak tahu?"

Bak Pek yang biasanya tenang seketika terkesima dan tersentak kaget mendengar kabar ini. Kata Wi Thian-bing lebih lanjut.

"Waktu berada di belakang gubuk rumput itu, kau tanya aku kenapa aku tidak mengenal suaramu, waktu itu juga aku sudah tahu, kau pasti bukan Lam-hay-nio-cu, maka dia tentu sudah meninggal, kalau tidak masakah aku berani kemari?"

Lama berdiam diri, akhirnya suara misterius itu berkata kalem.

"Cara bagaimana kau bisa tahu?"

"Karena selamanya tak pernah kau mengajukan pertanyaan ini."

"Kenapa?"

"Karena aku tak bisa membedakan suaranya, memang hanya aku laki-laki yang pernah melihat wajah aslinya, namun selamanya tak pernah aku mendengar sepatah katapun suaranya."

Tawa Wi Thian-bing amat aneh, katanya lebih lanjut.

"walau kau tahu. aku adalah laki-laki yang pernah melihat wajahnya dan masih hidup sampai sekarang, namun kau tak mungkin tahu apa yang pernah terjadi antara kami berdua, karena dia takkan memberi tahu hal itu kepadamu."

Lama suara misterius itu diam, akhirnya tak tahan dia bertanya.

"Kenapa?"

"Karena itu rahasia, tak ada orang di kolong langit ini yang tahu akan rahasia itu."

Terunjuk cahaya cemerlang di wajahnya yang berseri lebar pada muka si orang tua ini, seolah-olah kembali pada masa dulu, diliputi impian muluk-muluk di masa remajanya.

Maka tercetuslah sebuah cerita yang tak ubahnya seperti dongeng jaman kuno.

"Tiga puluh tahun yang lalu, aku adalah pemuda yang suka menimbulkan gara-gara dimana aku berada. Suatu hari aku membuat onar di daerah Biau-kiang, terpaksa aku melarikan diri ke atas gunung sembunyi di dalam hutan belantara, tak kusadari aku tersesat di atas gunung belukar."

"Di Biau-san, dimana-mana kau dapat bertemu dengan ular atau binatang liar, malah di sana-sini kau bisa menghirup hawa beracun, untuk menghindari dan menyelamatkan diri dari Tho-hoa-ciang yang selalu muncul pada magrib, maka aku sembunyi dalam gua yang amat dalam."

"Gua ini adalah sarang rase, karena lapar aku berburu rase untuk mengisi perut, dan karena aku mengejar rase itulah akhirnya aku mengalami peristiwa yang selama hidup tak pernah kulupakan."

Sorot mata setajam golok tadi berubah lembut dan hangat, lalu dia lanjutkan ceritanya.

"Aku kejar rase itu ke dalam sehingga mencapai ujung gua, akhirnya kutemukan di belakang dinding gunung bagian bawahnya ada sebuah jalan keluar pula yang tersembunyi."

"Setelah aku bersihkan semak-semak rotan, aku lantas keluar, tak lama kemudian kudengar suara gemerciknya air, aku menyusuri aliran sungai ke depan, aku tiba di alam terbuka dan di luar gua merupakan alam permai laksana di tempat dewata."

"Waktu itu kebetulan musim semi, ratusan kembang mekar bersama, pepohonan menghijau permai laksana permadani, air terjun mencurah ke bawah, air terasa hangat dan hawapun sejuk. Maka di bawah pancuran air yang bening laksana sebuah jambangan itu, kudapati seorang gadis sedang mandi."

Sampai di sini ceritanya berhenti, namun orang banyak tahu siapa gerangan gadis yang ditemuinya sedang mandi itu.

Pandangan mata Wi Thian-bing terpantul di tempat jauh, seolah-olah dia melihat pula lembah pegunungan nan indah permai itu, seperti menghadapi gadis rupawan yang sedang keluar dari air.

"Waktu itu diapun masih amat muda, rambutnya yang panjang terurai berwarna hitam legam, halus mengkilap, laksana benang sutra layaknya, terutama sepasang matanya yang jeli bening, selama hidupku belum pernah aku saksikan sepasang mata perempuan seindah dan seelok kedua matanya itu. Seperti orang linglung aku mengawasinya dengan kesima, seolah-olah aku sudah kehilangan kesadaran."

"Semula kelihatannya dia amat gugup dan malu serta marah, namun lambat laun gejolak hatinya mulai reda, kami lantas beradu pandang tanpa bersuara. Begitulah entah berapa lamanya kami beradu pandang tanpa berkesip, tiba-tiba terkulum senyuman mekar pada mukanya, bak kuntum kembang yang paling elok di seluruh jagat ini, mekar bersama pada raut mukanya."

"Tanpa sadar aku maju menghampirinya, tak kusadari bahwa di depanku adalah jambangan, lupa bahwa aku mengenakan sepatu. Boleh dikata apapun sudah kulupakan, hanya satu keinginanku, memeluknya........"

Hadirin yang mendengarkan mengunjuk rasa iri dan kepingin, mereka lantas membayangkan adegan mesra dan hangat serta hot. Lama sekali baru Wi Thian-bing menghela napas, melanjutkan ceritanya.

"Sejak permulaan kita tidak pernah mengucapkan sepatah kata, jadi siapa nama masing-masing kami tidak pernah saling tanya. Semua kejadian berjalan secara wajar, tanpa paksaan sedikitpun, tidak kikuk-kikuk, seolah-olah Yang Maha Esa memang sudah mengatur pertemuan kami berdua di tempat yang sepi itu."

"Setelah cuaca menjadi gelap seluruhnya, waktu dia hendak pergi, baru aku tahu siapa dia sebetulnya, karena pada waktu itu aku menemukan di atas jidatnya yang tertutup rambut, terukir sekuntum kembang teratai yang hitam, itulah pertanda khas Lam-hay-nio-cu. Di saat aku kaget keheranan, tanpa sadar aku melakukan kesalahan yang akan menjadi penyesalan besar seumur hidupku. Tanpa terasa tercetus namanya dari mulutku. Seketika sikapnya berubah, wajahnya nan ayu lembut seketika dilambari nafsu membunuh yang berkobar, dia menyerangku dengan Toa-thian-mo-jiu, ilmu kepandaian yang paling menakutkan dari Mo Kau, seakan-akan dia hendak mengorek keluar jantungku."

"Aku tidak berkelit, kenyataan memang aku tidak mampu berkelit. Waktu itu aku merasa dapat mati ditangannya sungguh merupakan suatu hal yang membahagiakan hidupku. Mungkin karena sikapku ini, dia tidak tega turun tangan, sebetulnya sudah terasa olehku jari-jari tangannya yang runcing halus itu menusuk dadaku, aku sudah pejam mata menunggu ajal."

"Akan tetapi, dia menarik tangannya, waktu aku membuka mata pula, bayangannya sudah hilang. Tabir malam sudah menyelimuti lembah gunung itu, namun pemandangan lembah gunung itu tetap kelihatan indah permai, namun dia menghilang begitu saja seperti di tiup angin lalu. Seperti baru sadar dari mimpi, jikalau dadaku tidak mencucurkan darah, sungguh aku tidak percaya bahwa yang kualami itu memang kenyataan."

"Aku berlutut di atas tanah, mohon dia kembali, supaya aku dapat melihatnya sekali lagi, namun aku tahu dia tak mungkin kembali. Oleh karena itu aku lantas bersumpah, asal aku bisa bertemu sama dia pula, apapun yang dia perintahkan pasti takkan kutolak. Akan tetapi sejak hari itu, untuk selamanya aku tak pernah melihatnya lagi, selamanya tak........"

Suaranya semakin lirih, lalu diakhiri dengan hembusan napas panjang.

Itulah cerita yang elok, memilukan dan penuh diliputi suasana khayal dan misterius.

Begitu indahnya sehingga kedengarannya mirip dongeng.

Tapi hadirin tahu cerita ini bukan impian, juga bukan dongeng.

Asal kau mengawasi mimik perubahan muka Thi Koh dan Wi Thian-bing, maka kau akan tahu bahwa cerita ini adalah kenyataan.

Raut muka Thi Koh yang semula dingin kaku dan bengis, kini berubah seperti diliputi kepedihan, kaget dan heran.

Demikian pula rona muka Sim Koh ikut berubah.

Hanya patung Koan-im Posat yang membawa setangkai dahan pohon Yang-liu masih tetap tersenyum di antara kepulan asap dupa.

Entah berapa lama kemudian, Wi Thian-bing sudah tenang kembali, katanya dingin.

"Oleh karena itu aku tahu Lam-hay-nio-cu sudah meninggal, akupun tahu dari Mo Kau ada semacam kepandaian bicara dari perut, dengan menggunakan patung ini, kalian ingin menggertak aku, sungguh terlalu jenaka kalian."

Sim Koh tiba-tiba berkata.

"Benar, memang kami bicara meminjam patung Koan-im ini, tapi apa yang kuucapkan sama saja hasilnya."

"Hasil apa?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Jikalau kau masih ingin mengincar Siangkwan Siau-sian, aku tanggung kau akan menyesal."

Wi Thian-bing tertawa gelak-gelak, katanya.

"Sejak umur tiga puluh Wi-pat mengembara, selama lima enam puluh tahun berkecimpung di kalangan Kang-ouw, sampai sekarang belum pernah aku menyesal lantaran sesuatu yang pernah kulakukan."

"Jadi kau bertekad merebutnya?"

"Harapanku supaya kalian membagi semangkok nasi kepada orang banyak, jangan kau monopoli sendiri."

"Baik! Mengingat hubunganmu dengan Cosuya kita dahulu, sekarang masih kuberi kesempatan kepadamu untuk keluar dengan masih hidup."

"Selanjutnya?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Setelah kau keluar dari rumah ini, selanjutnya kau adalah musuh besar Lam-hay-bun kita, maka kuanjurkan lekas kau persiapkan urusan belakangmu, mungkin sembarang waktu jiwamu bisa melayang."

Tawar suara Wi Thian-bing.

"Mengingat hubunganku dengan Lam-hay-nio-cu dulu, aku tidak akan menindas orang muda, apalagi terhadap kalian, hanya............."

"Hanya apa?"

"Jikalau kalian benar-benar menentang kehendakku, belum tentu kalian bisa berumur panjang."

Dengan tertawa dingin tiba-tiba dia mencelat bangun, katanya kepada Bak Pek.

"Pertikaian kita sementara ini biarlah dianggap lunas, sejak sekarang kau lawan atau temanku, terserah kepadamu sendiri."

Habis bicara tanpa berpaling lagi dia beranjak keluar.

ooo)dw(ooo Kabut tebal hawa dingin, jagat raya diliputi kepekatan malam.

Menyongsong angin malam dingin, Wi Thian-bing menghirup napas panjang, mendadak dia berseru.

"Han Tin!"

Han Tin selalu membuntutinya, sahutnya.

"Ada!"

"Tahukah kau di mana letak Biau-hiang-wan?"

"Sekarang juga kita sedang ke sana."

"Turun tangan dulu lebih menguntungkan, tentunya kau pernah dengar perkataan ini."

"Tapi Yap Kay......"

"Yap Kay kenapa?"

"Sekarang Yap Kay tentu sudah bersiaga, jikalau sekarang kita menggunakan kekerasan, peduli siapa kalah atau menang, jelas kedua pihak akan mengalami rugi, bukankah pihak lain akan memungut hasilnya?"

"Siapa bilang kita hendak bentrok sama dia?"

"Jadi bukan?"

"Sudah tentu tidak."

Terunjuk senyuman licik selicin rase di ujung mulutnya, katanya.

"Secara baik-baik kita ke sana memberikan kabar, langsung bersahabat dengan dia."

Bersinar mata Han Tin, katanya tersenyum.

"Karena dulu Siau-li Tham-hoa pernah menanam budi kepada kita, kedatangan kita bukan mencari setori, tapi untuk membalas budi."

"Sedikitpun tidak salah."

"Bahwa Lam-hay-nio-cu sudah meninggal, orang lain tidak perlu dibuat kuatir, kita harus menghasutnya supaya menggunakan kesempatan baik ini, turun tangan lebih dulu menyingkirkan orang-orang yang punya maksud jahat terhadapnya."

"Dia orang cerdik pandai, pasti gampang diberi pengertian."

"Apalagi kita masih bisa menjadi tulang punggungnya, peduli siapa yang ingin dia bunuh, kami siap bantu dia angkat golok."

Wi Thian-bing tertawa gelak-gelak, serunya.

"Bagus, kau semakin pintar dan tahu urusan, tidak sia-sia kau ku didik selama ini."

Mereka sudah memasuki hutan, hembusan angin membawa serangkum bau harum semerbak. Di tengah kabut tebal di depan sana, tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang.

"Siapa di sana?"

Bentak Wi Thian-bing.

"Inilah aku!"

Sahut orang itu beranjak maju sambil menunduk, kiranya Sebun Cap-sha. Seketika Wi Thian-bing menarik muka, bentaknya.

"Siapa suruh kau kemari?"

"Tecu ada urusan penting yang perlu kulaporkan kepada kau orang tua,"

Sahut Sebun Cap-sha.

"Urusan apa?"

Sebentar Sebun Cap-sha ragu-ragu, lalu maju mendekat.

"Aku tahu Yap Kay......."

Suaranya mendadak menjadi lirih.

Terpaksa Wi Thian-bing maju mendekat.

Selama hidupnya entah berapa banyak orang yang pernah dibunuhnya, setiap waktu selalu bersiaga kuatir dibunuh orang, namun sekarang mimpipun tak terpikir olehnya, murid terkecil yang paling di sayang ini sudah mempersiapkan sebatang golok untuk menusuk ke dadanya.

Badan kedua orang sudah berhadapan dekat sekali, Wi Thian-bing menyentaknya pula.

"Ada urusan apa lekas katakan!"

Terpaksa Sebun Cap-sha menjawab.

"Aku ingin kau mampus!"

Mendengar kata 'mampus' baru Wi Thian-bing benar-benar tersentak kaget, namun berkelitpun sudah tidak keburu lagi.

Tahu-tahu sebatang golok dingin sudah menusuk lewat jaket kulitnya amblas ke dalam dadanya.

Sampai bagaimana rasanya kematian itu seperti sudah dinikmatinya.

Untung pada saat-saat gawat itu mendadak Sebun Cap-sha juga menjerit ngeri dan roboh terkapar.

Golok di tangannya berkilauan berlepotan darah segar, darah Wi Thian-bing.

Baru sekarang Wi Thian-bing bergetar menahan sakit, baru sekarang dia benar-benar ketakutan menghadapi ajal.

Dilihatnya Sebun Cap-sha terlentang di atas salju, biji matanya melotot, kuping, hidung dan mata serta mulutnya mendadak mengucurkan darah segar berbareng, darah yang hitam kental.

Waktu Wi Thian-bing berpaling ke arah Han Tin, Han Tin berdiri terkesima saking kagetnya.

Jelas kematian Sebun Cap-sha bukan hasil karyanya, lalu siapakah yang turun tangan secara gelap menolong jiwa Wi Thian-bing?

Tak sempat dia memikirkan hal ini.

Di tengah kabut tebal dalam hutan, setiap jengkal mengandung hawa pembunuhan yang tebal pula.

Dengan mendekap luka-luka di dadanya Wi Thian-bing banting kaki serta memberi perintah dengan suara berat.

"Lekas mundur!"

Mendadak seseorang berkata.

"Berdirilah, jangan bergerak, kalau racun di atas golok itu bekerja, jiwamu takkan tertolong lagi."

Suaranya merdu dan genit, maka muncullah sesosok bayangan orang bagai setan gentayangan dari kabut tebal, ternyata adalah Thi Koh.

"Barusan kaukah yang menolong aku?"

Tanya Wi Thian-bing terbelalak heran. Thi Koh manggut-manggut.

"Yang suruh dia membunuhku juga kau?"

Tanya Wi Thian-bing pula. Thi Koh manggut-manggut pula. Wi Thian-bing menyurut mundur dua langkah, gemetar.

"Jadi kau...........kau.........apakah kau adalah........."

Agaknya dia tidak berani mengatakan adalah putriku. Ternyata Thi Koh tidak menyangkal, sorot matanya menampilkan rasa kaku, katanya kemudian.

"Selama hidupnya, hanya kau laki-laki yang pernah dimilikinya."

Wi Thian-bing menyurut dua langkah lagi, sekujur badannya gemetar, selama hidupnya Lam-hay-nio-cu hanya mempunyai seorang suami yaitu dirinya.

Hatinya entah sedih, haru, heran ataukah senang?

Berkaca-kaca Thi Koh, katanya.

"Oleh karena itu aku tidak akan berpeluk tangan melihat jiwamu terancam."

Memangnya manusia mana di dunia ini yang tega melihat ayahnya mati dibunuh orang.

Apa benar dia putri kandungnya?

Hampir Wi Thian-bing tidak berani percaya, namun tidak bisa tidak dia harus percaya.

Dengan nanar dia pandang mukanya, suatu hal yang menjadi penyesalan seumur hidup adalah dia tidak punya keturunan, siapa tahu menjelang hari tuanya, mendadak muncul seorang perempuan yang mengaku sebagai anaknya, anak yang begini cantik, yang patut dibuat bangga.

Tanpa terasa berlinang air matanya, terlupakan olehnya bahwa barusan dia membuat rencana untuk membunuhnya, meminjam tangan orang lain.

Darah lebih kental dari air, binatang buas seperti harimaupun tak pernah makan anaknya sendiri, apalagi manusia.

Dengan gemetar, tangan Wi Thian-bing terulur, seakan-akan dia ingin mengelus kepala putrinya, meraba raut mukanya, tapi dia tidak berani.

Pada saat itulah dari luar hutan menerjang masuk seseorang yang mengawasinya dengan pandangan kejut dan terkesima, ternyata Sim Koh pun menyusul datang.

Thi Koh menghela napas, katanya.

"Sebetulnya kau tak usah kemari."

Dengan kencang Sim Koh gigit bibirnya, mendadak dia berkata dengan suara keras.

"Kenapa tidak boleh kemari? Jikalau benar dia ayahmu, berarti kakekku pula, kenapa aku tidak boleh menemui kakekku?"

Wi Thian-bing tertegun, kiranya bukan saja dia sudah punya anak, malah sudah punya cucu.

Darah sekujur badannya serasa mendidih, hampir tak tertahan ingin dia menggembor sekeras-kerasnya.

Sigap sekali mendadak Sim Koh turun tangan membalikkan badan, sehingga tidak terduga sama sekali, dalam sekejap tujuh Hiat-to di dadanya sudah tertutuk.

Han Tin hanya melongo di tempatnya, sedikitpun dia tidak memberi reaksi.

Melihat Sim Koh turun tangan, hendak menolongpun dia sudah tak sempat lagi.

Siapa tahu Sim Koh malah membimbing Wi Thian-bing, katanya.

"Golok itu sudah berlepotan darah, tentunya dia sudah keracunan, lekas gendong dia dan ikuti aku."

Kiranya tutukan Hiat-to yang dia lakukan adalah untuk menolong jiwa Wi Thian-bing.

Han Tin menghela napas, apa yang dia saksikan dan dia dengar hari ini, untuk selama hidupnya takkan pernah dilupakan.

Sebesar ini dia hidup, belum pernah dia alami peristiwa aneh seperti ini.

ooo)dw(ooo Asap dupa di ruang pemujaan masih mengepul tinggi, sehingga pernapasan terasa sesak, asap tebal di dalam rumah tak ubahnya seperti kabut dingin di luar hutan.

Pelan-pelan Han Tin letakkan Wi Thian-bing di atas pembaringan.

Di depan meja pemujaan terdapat beberapa kasur bundar, seorang gadis berjubah sutra dengan rambut tergelung tinggi di atas kepala duduk di kasur bundar itu, kelihatan amat cantik.

Alisnya turun, mata terpejam, duduk bersimpuh tak bergerak, mirip pendeta samadhi.

Di sekian banyak orang beranjak masuk, ternyata dia tidak ambil perduli seperti tidak melihat tidak mendengar.

Tapi tak tertahan Han Tin berpaling mengawasinya.

Laki-laki mana yang takkan keranjingan melihat perempuan cantik duduk di depannya, kecuali dia banci.

Yang nyata Han Tin adalah laki-laki sejati.

Sekilas dia memandang, tak tertahan dia melirik lagi.

Mendadak terasa olehnya gadis ini mirip sekali dengan seseorang.

Mirip Ting Ling.

Hong-long-kun yang sudah malang melintang di Kang-ouw, kenapa mendadak bisa berubah jadi perempuan?

Sudah tentu Han Tin tidak gampang percaya begitu saja, namun semakin dipandang semakin mirip, umpama perempuan ini bukan Ting Ling, pasti dia adalah adik Ting Ling.

Lalu di mana Ting Ling berada?

Jikalau dia sudah dibunuh Thi Koh, masakah kakak atau adiknya bisa duduk begitu anteng di sini?

Han Tin bukan seseorang yang gampang ketarik pada sesuatu, biasanya diapun tidak suka mencampuri urusan orang lain, tapi sekarang dia benar-benar merasa aneh dan ketarik.

Itulah sifat manusia dan Han Tin memangnya seorang manusia.

Thi Koh dan Sim Koh sedang sibuk mengobati luka-luka Wi Thian-bing, seperti tidak memperhatikan dirinya.

Tak tertahan Han Tin maju mendekat, panggilnya dengan suara lirih.

"Ting Ling."

Gadis jubah sutra tiba-tiba angkat kepala melirik kepadanya, tapi seperti tidak mengenal dirinya, sahutnya geleng-geleng kepala.

"Aku bukan Ting Ling."

"Lalu kau siapa?"

Tanya Han Tin.

"Aku adalah Ting Hun-pin."

Ting Hun-pin.

Agaknya Han Tin pernah mendengar nama ini, bukankah Ting Hun-pin adalah kekasih Yap Kay?

Bagaimana mungkin paras mukanya mirip dengan Ting Ling?

Memangnya apa sangkut pautnya dengan Ting Ling?

Kini gadis jubah sutra sudah menunduk dan pejamkan matanya lagi.

Thi Koh justru sedang perhatikan gerak-geriknya.

Begitu Han Tin berpaling, seketika dia bentrok dengan sorot mata Thi Koh, sinar matanya yang lebih tajam dari ujung golok.

Sedapat mungkin Han Tin tenangkan diri, katanya tertawa nyengir.

"Beliau sudah lolos dari bahaya, bukan?"

Thi Koh manggut-manggut, mendadak dia bertanya.

"Menurut pandanganmu dia Ting Ling atau Ting Hung-pin?"

"Sukar aku mengenalnya."

Sahut Han Tin. Jawabannya memang jujur, dia benar-benar tidak bisa membedakan.

"Seharusnya kau bisa membedakan, siapapun harus bisa membedakan bahwa dia seratus persen adalah perempuan."

"Sekarang dia memang seorang perempuan."

Ujar Han Tin.

"Memangnya dulu bukan?"

"Aku hanya heran."

Ujar Han Tin tertawa.

"kenapa Ting Ling mendadak hilang."

"Kau amat memperhatikan dia."

Han Tin meraba hidungnya yang penyok, katanya.

"Dia memukul ringsek hidungku."

"Kau ingin menuntut balas?"

"Tiada orang yang bisa lolos setelah dia membuat ringsek hidungku."

"Mungkinkah dia mati?"

"Kukira dia bukan laki-laki yang bisa cepat mati."

"Tapi kenyataan dia sudah mampus."

"Maksudmu Ting Ling sudah mati?"

"Tidak salah."

"Tapi Ting Hun-pin masih hidup."

Lama Thi Koh menatapnya, akhirnya berkata.

"Kau sudah melihat jelas?"

Han Tin tertawa pula, sahutnya.

"Aku tak bisa membedakan, aku hanya mereka-reka saja."

"Apa pula yang berhasil kau reka?"

"Walau Yap Kay seorang cerdik pandai, tapi terhadap kekasihnya yang asli, tentunya dia takkan berjaga-jaga atau curiga."

"Bagus sekali akalmu."

"Jikalau ada seseorang mampu membokong Yap Kay, lalu merebut Siangkwan Siau-sian dari tangannya, maka orang itu pasti adalah Ting Hun-pin."

"Bagus sekali uraianmu."

"Sayang sekali Ting Hun-pin pasti tak sudi membokong Yap Kay, oleh karena itu......."

"Karena itu bagaimana?"

"Jikalau ada seseorang yang bermuka dan berperawakan mirip Ting Hun-pin, maka dia bisa menyamar jadi Ting Hun-pin, bukankah orang ini bakal menjadi alat yang paling berguna dan manjur untuk menghadapi Yap Kay?"

"Bagaimana jikalau orang itu seorang laki-laki?"

"Peduli dia laki-laki atau perempuan, tiada bedanya."

Sahut han Tin dengan tertawa.

"kabarnya ilmu tata rias dari Lam-hay-nio-cu tiada bandingannya di seluruh jagat dan lagi punya cara untuk mengekang denyut nadi kulit daging tenggorokan orang sehingga suara orang itu berubah."

Dingin suara Thi Koh.

"Tidak sedikit yang kau tahu."

"Jikalau orang ini tidak mau menurut, juga tidak menjadi soal, karena Lam-hay-nio-cu masih punya semacam cara untuk mengekang dan menguasai daya pikiran seseorang yang dinamakan Kao-hun-sip-tay-hoat."

Lama Thi Koh menatapnya lekat-lekat, katanya pelan-pelan.

"Khabarnya orang-orang Kang-ouw memanggilmu Cui-cu (bor atau gurdi)."

"Ah, tidak berani aku menerimanya."

"Kabarnya peduli betapa keras batok kepala seseorang, kau tetap bisa mengebornya sampai bolong."

"Itu hanya kabar angin belaka."

"Tapi kabar angin itu agaknya bukan bualan belaka."

"Umpama benar aku punya nama, betapapun aku tetap adalah didikan Wi-pat-ya sendiri."

"Kau tak usah memperingati aku, aku tahu kau adalah orang kepercayaannya."

Han Tin menghela napas lega, katanya.

"Cukuplah bila Hujin mengerti akan hal ini, legalah hatiku."

"Bahwa aku membiarkan kau ikut dia kemari, sudah tentu aku tidak perlu pakai tedeng aling-aling lagi kepadamu."

"Banyak terima kasih, Hujin sudi percaya kepadaku."

"Apakah kau sudah paham seluruhnya tentang persoalan ini?"

"Ada sedikit yang belum kupahami."

"Coba katakan."

"Apakah Hujin sudah memperhitungkan bahwa Ting Ling akan meluruk kemari?"

"Benar, maka aku sudah siap menunggu kedatangannya."

"Tapi cara bagaimana Hujin bisa mengetahui bahwa dia pasti datang?"

"Ada orang yang memberitahu kepadaku."

"Siapakah orang itu?"

"Seorang teman."

"Teman Ting Ling atau menurut dugaan Hujin saja?"

"Jikalau bukan teman Ting Ling, cara bagaimana dia bisa tahu setiap gerak-geriknya?"

Han Tin menghela napas, katanya.

"Ada kalanya seorang teman justru jauh lebih menakutkan daripada musuh besar."

Tiba-tiba dia bertanya pula.

"Apa dulu Hujin pernah bertemu dengan Ting Hun-pin?"

"Tidak pernah."

"Lalu darimana Hujin tahu bahwa paras Ting Ling mirip Ting Hun-pin?"

"Khabarnya mereka adalah saudara kembar."

"O, kembar dampit."

"Menurut adat istiadat keluarga mereka, jikalau yang dilahirkan adalah kembar dampit (laki-laki dan perempuan), maka satu diantaranya harus diberikan kepada orang lain."

"Menurut adat kebiasaan suku bangsakupun demikian."

"Oleh karena itu banyak orang-orang Kang-ouw tak tahu bahwa Ting Ling sebenarnya adalah keturunan keluarga Ting pula."

"Lalu dari mana Hujin tahu?"

"Seseorang teman memberitahu kepadaku."

"Teman yang tadi kau maksudkan itu?"

"Benar!"

Han Tin manggut-manggut, ujarnya.

"Bahwa dia adalah teman Ting Ling, sudah tentu dia jauh lebih tahu mengenai seluk beluk Ting Ling yang tidak diketahui orang lain?"

"Apakah kau ingin tahu siapakah dia itu?"

"Ya, aku ingin tahu kalau boleh."

"Kenapa?"

Han Tin tertawa tawar, katanya "Karena aku tidak ingin bersahabat dengannya."

"Agaknya kau memang seorang cerdik dan teliti."

"Malah aku ini adalah sebuah gurdi."

"Benar, malah gurdi yang punya mata."

"Walau hidungku sudah dipukul ringsek, untung masih tajam untuk mengendus sesuatu."

"Oleh karena itu jikalau kau mau pergi ke suatu tempat dan melihat sesuatu, maka kau akan banyak memberi bantuan kepadaku."

"Silahkan kau katakan."

"Kau mau pergi?"

"Umpama Hujin suruh aku menempuh gunung berapi, aku tetap akan melaksanakannya."

Thi Koh menghela napas, katanya.

"Tak heran Wi-pat-ya amat percaya kepadamu, agaknya kau memang laki-laki yang setia dan dapat dipercaya."

"Bisa mendapat pujian Hujin, badan Han Tin hancur leburpun takkan menyesal."

Thi Koh tertawa berseri, katanya.

"Bukan aku ingin kau pergi mengantar jiwa, aku hanya ingin kau pergi ke Biau-hiang-wan."

"Melihat keadaan Yap Kay?"

"Sekaligus boleh kau tengok keadaan gadis gede berjiwa anak-anak itu."

Ooo)dw(ooo Sesuai dengan namanya, Biau-hiang-wan diliputi harumnya kembang yang semerbak, sinar api masih menyala dan menyorot keluar dari jendela, pada kertas jendela tampak dua bayangan orang, seorang lelaki dan seorang perempuan.

Bayangan Tin-cu-heng-te (saudara kembar mutiara) tidak kelihatan, tapi di atas tanah tampak menggeletak sepasang pedang yang kutung, mutiara yang menghias di gagang pedang tampak kemilau di tingkah sinar api yang menyorot dari jendela.

Agaknya nasib bersaudara kembar dari kota mutiara teramat jelek.

Sekonyong-konyong daun jendela terbuka.

Seorang gadis jelita dengan menggendong boneka kecil terbuat dari tanah liat berdiri di ambang jendela.

Kulit mukanya nan halus putih bersemu merah, matanya bundar besar bersinar bening, bibirnya kecil merah seperti delima merekah, kelihatannya begitu lincah dan aleman.

Gadis sebesar ini tapi sikap dan tindak-tanduknya tak ubahnya seperti boneka tanah liat yang digendong dalam pelukannya.

Cuma perawakan dan potongan badannya saja yang tidak mirip boneka, setiap jengkal kulit dagingnya seolah-olah memancarkan daya tarik yang hangat dan menggiurkan.

Muka kanak-kanak dengan potongan gadis montok dan mempesona, walaupun satu sama lain tidak seimbang, namun secara wajar menjadikan suatu daya tarik yang luar biasa merangsang, daya tarik yang selalu menimbulkan gairah daya kelakian siapa saja yang melihatnya.

Memang bukan suatu tugas gampang untuk melindungi perempuan seperti ini.

Di belakangnya ada seorang laki-laki, kelihatan masih muda, tampan dan gagah.

Agaknya Yap Kay adalah pemuda yang elok dipandang, sayang dia berdiri rada jauh.

Walau dari luar Han Tin dapat melihat bayangannnya, namun dia tidak jelas melihat wajah orang.

Dengan menggendong boneka kecilnya, seperti ibu inang yang sedang menina-bobokkan orok kecil, Siangkwan Siausian bernyanyi-nyanyi kecil sambil menggoyang badan, suaranya nyaring merdu dan manis.

Terdengar Yap Kay berkata.

"Di luar amat dingin, kenapa tidak lekas kau tutup jendela?"

Siangkwan Siau-sian memonyongkan mulut, sahutnya.

"Popo amat gerah, Popo ingin menghirup hawa segar."

Yap Kay menghela napas, katanya.

"Sudah saatnya Popo tidur."

"Tapi dia tidak bisa tidur,"

Sahut Siangkwan Siau-sian.

"semangat Popo masih begini baik."

Yap Kay tertawa getir, katanya.

"Malam sudah selarut ini, masih tidak mau tidur, Popo memang anak nakal."

Siangkwan Siau-sian segera berteriak melengking.

"Popo bukan anak nakal, Popo amat pintar dan anak baik."

Lalu diulurkan sebelah tangannya yang putih halus, menggoyang-goyang boneka di pelukannya. Dia mengelus-elus sambil mengawasinya, katanya halus.

"Popo jangan menangis, memang dia orang jahat, Popo jangan nangis, Popo minum tetek ibu."

Dia buka baju di depan dadanya, seperti seorang ibu yang meneteki bayinya, dia meneteki boneka itu.

Dadanya montok dan padat, matang seperti gadis dewasa umumnya.

Dari kejauhan Han Tin pasang mata, terasa jantungnya berdetak dan melonjak-lonjak hampir keluar dari rongga dadanya.

Tak nyana Yap Kay memburu maju, 'Blang...' kontan dia tutup daun jendela.

Terdengar suara Siangkwan Siau-sian cekikikan nakal, katanya.

"Buat apa kau menarik aku? Apa kau juga minta tetek.......?"

Ooo)dw(ooo Dupa dalam tungku sudah habis, asappun sudah sirna.

Wipat-ya rebah memejamkan mata, rona mukanya merah, seperti sudah tertidur.

Setelah habis mendengar laporan Han Tin, Thi Koh lantas bertanya.

"Begitu daun jendela tertutup, kau lantas kembali?"

Han Tin tertawa kecut, katanya.

"Memangnya aku harus minta air tetek?"

Terunjuk tawa geli pada sorot mata Thi Koh, katanya.

"Agaknya kau cemburu dan ingin menggantikan kedudukan Yap Kay."

"Akupun simpati terhadapnya."

"Kau bersimpati terhadapnya?"

"Sehari-hari menemani perempuan gede berjiwa kerdil seperti itu sungguh merupakan siksaan."

Sim Koh tiba-tiba menyelutuk.

"Apa benar dia cantik?"

Diam-diam Han Tin mengerling sebentar, sahutnya.

"Boleh terhitung cantik."

Tiada perempuan yang suka mendengar laki-laki memuji perempuan lain dihadapannya. Sim Koh segera menjengek dingin "Khabarnya orang linglung biasanya memang cantik."

"Ya."

Han Tin mengiakan saja. Tiba-tiba Sim Koh tertawa geli, katanya.

"Untung setiap gadis cantik belum tentu linglung."

Memang, dia sendiripun seorang gadis jelita, gadis rupawan. Tiba-tiba Thi Koh bertanya.

"Apakah hanya mereka berdua yang berada di Biau-hiang-wan?"

"Dari depan sampai ke belakang dan sekitarnya sudah kuperiksa, memang tiada orang lain."

"Agaknya tiada? Atau memang tiada?"

"Memang tiada!."

Sahut Han Tin setelah bimbang sebentar.

"Mungkin ada lain orang yang sudah tidur?"

"Kamar lain tiada yang menyalakan api, hawa sedingin ini, siapa yang tahan tidur di dalam kamar tanpa membuat api?"

Akhirnya Thi Koh tertawa, katanya.

"Agaknya bukan saja kau pintar, kerjamu amat teliti."

Mendadak Sim Koh menyeletuk.

"Sayang hidungnya menjadi pesek."

Thi Koh kontan mendelik, katanya.

"Kau toh tidak ingin kawin sama dia, perduli hidungnya pesek atau tidak."

"Memangnya laki-laki hidung pesek pasti tidak lekas kawin?"

Spontan Sim Koh membantah. Thi Koh tertawa geli, katanya.

"Setan cilik, ngaco-belo, tidak malu kau didengar orang."

Tiba-tiba Han Tin rasakan detak jantungnya bertambah cepat.

Bukan tidak pernah dia memikirkan kemungkinan ini, cuma dia memang tidak berani memikirkan.

Kini kedua ibu beranak seakan-akan memberi hati kepadanya.

Memangnya mereka ada persoalan pelik yang ingin dia lakukan?.

Betul juga, Thi Koh lantas bertanya.

"Ilmu silatmu apa kau belajar dari Wi-pat-ya?"

"Bukan!" , sahut Han Tin. Memang dia bukan murid Wi Thian-bing, juga bukan salah satu dari Cap-sha-thay-po.

"Senjata yang kau gunakan adalah gurdi itu?"

Han Tin mengiakan.

"Belum pernah kudengar tokoh-tokoh kosen mana dalam Kang-ouw yang menggunakan gurdi sebagai senjata."

"Memang, aku menggunakan sambil lalu saja."

"Apakah gurdi itu juga mempunyai jurus-jurus yang khas?"

"Tidak ada, tapi jurus ilmu senjata apapun, semuanya bisa digunakan memakai gurdi."

"Dari jawabanmu ini aku jadi berkesimpulan, ilmu silat yang pernah kau pelajari tentu amat rumit dan luas sekali."

"Memang rumit dan luas, tapi semua tidak matang."

Tiba-tiba Sim Koh cekikikan geli, katanya.

"Tak nyana orang ini pandai juga berpura-pura."

Jantung Han Tin serasa hendak melonjak keluar.

"Hanya beberapa tahun saja kau bekerja untuk Wi-pat-ya,"

Kata Thi Koh.

"cepat sekali kau sudah menjadi orang kepercayaannya, tentunya ilmu silatmu boleh dibanggakan."

Han Tin mengakui.

"Ya, hanya lumayan saja."

"Oleh karena itu aku masih ingin minta sedikit bantuanmu."

"Silahkan katakan!"

"Tugas ini makin cepat kau laksanakan semakin baik, malam ini adalah kesempatan terbaik untuk kau turun tangan."

"Baik, malam ini nanti akan kukerjakan."

"Maka sekarang aku ingin Ting Hun-pin turun tangan."

Han Tin menepekur, katanya.

"Entah Yap Kay bisa mengenalinya tidak?"

"Pasti tidak, umpama ada sedikit cirinya di bawah sinar lampu yang remang-remang, pasti tidak kentara."

"Tapi mereka sepasang kekasih, jikalau dipandang seksama beberapa kali, bukan mustahil.........."

"Masakah kita bakal memberi kesempatan sehingga dia melihat jelas, asal Ting Hun-pin mendekati dia, urusan pasti berhasil dengan baik........"

Sim Koh menimbrung dengan tertawa.

"Bukankah dia amat cepat turun tangan, kalau tidak masakah sekali pukul bikin hidungmu ringsek?"

Han Tin menyengir getir, namun hatinya merasa syuur.

"Akan tetapi kita harus berhati-hati untuk menjaga segala kemungkinan, maka aku ingin kau mengiringi dia."

Sekilas Han Tin melengak, katanya.

"Cara bagaimana aku bisa temani dia?"

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku.......aku terhitung orang apa?"

"Anggap saja sebagai pengurus di sini. Bawa dia ke Yap Kay, karena Ting Hun-pin belum pernah kemari, sudah tentu harus ada orang yang menunjuk jalan."

Han Tin manggut-manggut sambil menghela napas.

"Hujin memang bisa mengatur dengan baik."

Thi Koh tertawa, katanya.

"Kalau tidak bisa mengatur dengan baik, bagaimana berani menghadapi Yap Kay?"

"Sekarang hanya ada satu kekuatiranku."

"Apa yang kau kuatirkan?"

"Kuatir akan pisau terbang Yap Kay."

"Kau takut?"

"Yang kukuatirkan Ting Hun-pin yang satu ini tidak bisa membunuhnya sekali turun tangan, mungkin punya kesempatan balas menyerang."

Jawaban Thi Koh dingin dan meyakinkan.

"Jangan lupa akupun mempunyai pisau, tiada orang bisa hidup oleh pisauku."

Mendadak tangannya bergerak.

"Tring..."

Sebilah pisau tahu-tahu jatuh di hadapan Ting Ling. Sebilah pisau kemilau warna hijau. Mata Ting Ling seketika berubah lebar, dengan mendelong kaku mengawasi pisau ini.

"Ambil pisau itu dan sembunyikan di dalam lengan bajumu."

Thi Koh memerintah. Ting Ling segera menjemput pisau itu dan disembunyikan di dalam lengan baju.

"Sekarang angkat kepalamu, pandanglah orang ini."

Thi Koh menuding Han Tin. Ting Ling lantas angkat kepala, matanya mendelong mengawasi Han Tin.

"Kau kenal orang ini?"

Ting Ling manggut-manggut.

"Kau harus ikut dia. Dia akan membawamu mencari Yap Kay yang adalah laki-laki yang tidak kenal budi dan tidak setia kawan, kau dibuang secara semena-mena, mencari gadis lain di depan hidungmu, maka begitu kau berhadapan dengan dia, tusuk saja sampai mampus dengan pisaumu, lalu bawa gadis itu kemari."

"Aku pasti akan membunuhnya, serta membawa gadis itu kemari."

Ting Ling mengulang perintah.

"Sekarang juga kau berangkat."

Ting Ling manggut-manggut mengulang perintah Thi Koh. Terunjuk mimik aneh pada raut mukanya, seolah-olah hambar, tapi juga seperti amat menderita.

"Kenapa tidak lekas kau pergi?"

Sentak Thi Koh.

"Sekarang juga aku pergi."

Mulut Ting Ling menjawab, namun dia tetap bersimpuh di tempatnya tanpa bergeming. Sim Koh menghela napas, katanya.

"Agaknya dia memang teramat cinta terhadap Yap Kay, urusan sudah berlarut demikian jauh, namun dia masih tidak tega membunuhnya."

Thi Koh menyeringai dingin, katanya.

"Dia pasti pergi!"

Tiba-tiba dia tepuk-tepuk tangan, sebuah pintu di samping tiba-tiba terbuka sendiri, seorang melangkah masuk pelan-pelan.

Itulah laki-laki berusia tiga puluh tahun, mengenakan jubah kulit rase yang mahal, bagian luarnya ditambahi baju lengan pendek.

Jelas sekali gayanya seperti orang dagang.

Orang ini ternyata Hwi Hou si Rase Terbang Nyo Thian.

Mendadak muka Ting Ling berkerut ketakutan badanpun gemetar keras.

Nyo Thian mengawasinya dingin, tidak tampak mimik apa-apa pada mukanya.

Sebilah pisau menancap di dadanya, bajunyapun berlepotan darah.

"Kau kenal orang ini?"

Tanya Thi Koh. Ting Ling manggut-manggut, mukanya pucat dan semakin ketakutan. Sudah tentu dia kenal orang ini, karena ingatannya belum lenyap.

"Sekarang dia sudah mampus, apakah kau ingat, kaulah yang membunuhnya."

"Ya....ya, akulah yang membunuhnya."

"Sebetulnya dia teman karibmu, namun kau membunuhnya, menjadi setan dia akan membalas dendam kepadamu."

"Kau..... kau yang menyuruhku membunuh dia!"

Bantah Ting Ling.

"Sekarang kusuruh kau pergi membunuh Yap Kay........ kau mau pergi tidak?"

"Aku.....baiklah aku pergi."

"Sekarang juga kau pergi."

"Benar, sekarang juga aku berangkat,"

Sahut Ting Ling. Benar juga pelan-pelan dia berdiri, lalu beranjak keluar, tapi badannya kelihatan masih gemetar.

"Tunggu di luar, tunggu Han Tin yang akan membawamu."

"Aku akan menunggu di luar. Han Tin akan membawaku, pergi membunuh Yap Kay."

Sahut Ting Ling. Setelah Ting Ling di luar pintu, baru Thi Koh berpaling dan tertawa kepada Han Tin, katanya.

"Sekarang kau harus tahu, siapakah teman baiknya itu."

Han Tin hanya menyengir kecut sambil mengawasi Nyo Thian.

"Kau tidak mengenalnya?"

Tanya Thi Koh. Nyo Thian berkata dingin.

"Dia tidak mengenalku, dia tidak ingin bersahabat dengan aku."

Tiba-tiba tangannya terbalik mencabut pisau di dadanya terus dibuang ke lantai. Baru sekarang Han Tin melihat jelas pisau itu hanya gagangnya saja. Terdengar "Cret..."

Sebatang pisau tajam menjepret keluar dari gagangnya, hanya sedikit tekan saja, tajam pisau itu kembali melesak masuk ke dalam gagangnya pula, kiranya pisau ini hanya alat permainan belaka yang tidak mungkin bisa membunuh orang.

Han Tin menghela napas, katanya.

"Kalau ada pisau semacam ini dalam dunia ini, tidak heran ada teman baik seperti dirimu."

"Tapi lebih baik kau selalu ingat,"

Thi Koh memperingatkan.

"pisau semacam ini dan teman seperti itu, bukan tiada gunanya sama sekali."

Ooo)dw(ooo Setelah menyusuri ratusan pucuk pohon kembang Bwe, akhirnya sampai di Biau-hiang-wan.

Selama ini Ting Ling mengintil di belakangnya tanpa bersuara, selangkah Han Tin bertindak, selangkah pula kakinya bergerak.

Jikalau Han Tin tiba-tiba berhenti, Ting Ling pun seketika berhenti.

Tiba-tiba Han Tin membalik badan sambil menatap orang.

"Temanmu Sebun Cap-sha sudah mati."

"Sebun Cap-sha sudah mati"

Ting Ling mengulang perkataannya.

"Kau tidak ingin tahu oleh siapa dia menemui ajalnya?"

"Aku tidak ingin tahu siapa yang membunuhnya."

Sahut Ting Ling.

"Tapi jika kau adalah temannya, pantas kau menuntut balas sakit hatinya."

"Kalau aku memang teman baiknya, aku harus menuntut balas sakit hatinya."

Begitulah dia selalu mengulang perkataan orang yang mengajaknya bicara, cuma kau mungkin takkan tahu apakah dia benar-benar sudah memahami maksudmu.

"Orang sepintar kau akhirnya dikendalikan orang juga, sungguh aku tidak mau percaya."

Dengan ujung matanya dia melirik kepada Ting Ling. Tidak terunjuk mimik apapun di muka Ting Ling. Han Tin menghela napas, katanya.

"Di depan ada sinar lampu, nah, di sanalah Biau-hiang-wan."

Ting Ling mengiakan.

"Yap Kay berada di sana. Apa benar kau tega turun tangan? Sebetulnya tak perlu kau membunuhnya."

"Ya, memang tidak perlu."

Sahut Ting Ling.

"Kau boleh menutuk Hiat-to nya saja, sehingga dia tidak bisa berkutik lagi."

"Aku bisa membuatnya tidak berkutik."

"Segera aku akan membawa gadis itu pergi ke tempat jauh, supaya dia tidak melihat Yap Kay lagi."

"Biar dia tidak melihat Yap Kay lagi."

"Maka selanjutnya kau bisa hidup berdampingan dengan Yap Kay."

Di lihatnya sorot mata Ting Ling tiba-tiba memancarkan sinar terang.

"Coba katakan, apakah cara ini baik?"

Ting Ling seperti berpikir-pikir, katanya dengan sikap ketakutan.

"Tapi aku membunuh Nyo Thian, menjadi setan diapun akan selalu mengganggu kami."

"Sebetulnya kau tidak membunuhnya dan dia belum mati."

"Jelas aku telah membunuhnya."

Bantah Ting Ling. Han Tin keluarkan pisau mainan itu, katanya.

"Dengan pisau ini kau membunuhnya."

Ting Ling manggut-manggut.

"Pisau ini hanya mainan yang tidak bisa membunuh orang, coba kau lihat.........."

Dengan tersenyum dia angkat pisau itu terus menusuk ke dada sendiri.

Senyum yang menghiasi mukanya seketika kaku.

Tadi hanya sedikit tekan, tajam pisau menyurut masuk ke dalam.

Tapi sekarang batang pisau yang tajam ternyata tidak mau menyurut masuk pula.

Sedikit dia gunakan tenaga, ujung pisau sudah menusuk melukai kulit dagingnya.

Walau tidak dalam namun darah sudah bercucuran.

"Kelihatan darah menyumbat tenggorokan, pasti mati tak bisa di tolong." . Ingat akan pepatah ini, seketika sekujur tubuh Han Tin dingin. Tiba-tiba di dengarnya seseorang berkata dingin.

"Lebih baik kau berdiri tidak bergerak, bila racun menjalar pasti melayang jiwamu."

Han Tin tidak berani bergerak, dia sudah mendengar suara Sim Koh.

Betul juga dilihatnya Sim Koh melangkah dari hutan, di belakangnya ada seseorang ternyata Nyo Thian.

Dengan dingin Sim Koh mengawasinya, katanya.

"Pisau itu adalah pisau iblis, walau tak bisa membunuh orang lain, tapi pasti bikin kau mampus."

Nyo Thian menyeringai dingin, jengeknya.

"Kalau di dunia ada manusia seperti tampangmu, maka ada pula pisau seperti itu."

Sim Koh berseri tawa, katanya.

"Sedikitpun tidak salah, pisau macam ini memang khusus untuk menghadapi orang seperti kau."

Tersendat perkataan Han Tin di tenggorokan.

"Aku......aku hanya........"

Sim Koh menarik muka, dengusnya.

"Kau hanya ingin menjual dan mengkhianati kita, maka kau harus mampus!"

"Harap nona suka pandang muka Wi-pat-ya, ampunilah jiwaku sekali ini."

"Kau masih ingin hidup?"

Han Tin manggut-manggut, keringat dingin gemerobyos.

"Baik,"

Ujar Sim Koh.

"kau harus berdiri dengan baik di sini, jangan bergerak, kepalapun jangan bergeming, bila aku merasa senang, mungkin aku datang menolongmu."

"Entah kapan nona baru senang hati?"

"Wah, susah dikatakan, biasanya aku periang, tapi begitu melihat orang seperti kau, bukan mustahil aku bisa marah-marah lagi."

Han Tin kertak gigi, sungguh gemasnya bukan main, ingin rasanya dia pukul ringsek hidung si gadis kurang ajar ini.

Sayangnya umpama dia mampu berbuat demikian, dia toh tidak berani bergerak, ujung jaripun tidak berani bergerak.

Sim Koh tiba-tiba mengelus mukanya, katanya lembut.

"Sebetulnya aku ingin kawin denganmu, sayang hanya sedikit ujian begini saja kau tidak mampu mengatasi, sungguh bikin aku kecewa."

Setelah menghela napas, kedua pipi Han Tin dia jewer pulang pergi, lalu menamparnya puluhan kali.

Hampir tak tertahan Han Tin hendak muntah-muntah darah, namun sedapat mungkin dia pertahankan.

Agaknya Sim Koh amat puas, katanya sambil berpaling kepada Nyo Thian.

"Sekarang boleh kau pergi bawa nona Ting itu."

Nyo Thian mengiakan. Sim Koh tersenyum, katanya menambahkan.

"Aku tahu kau pasti tidak kenal budi pekerti seperti dia ini, ya tidak?"

"Sedikitnya aku tidak segoblok dia."

Sahut Nyo Thian.

Tiba-tiba Han Tin merasa dirinya memang benar-benar bodoh, sungguh ingin rasanya dia bentur kepalanya biar pecah dan mampus saja.

Ting Ling masih mengawasinya, mukanya tidak tampak berubah.

Nyo Thian menepuk pundaknya, katanya.

"Ikut aku!"

Ting Ling lantas mengintil di belakangnya.

Nyo Thian maju selangkah, Ting Ling ikut maju selangkah, lekas sekali kedua orang ini sudah keluar dari hutan kembang Bwe.

ooo)dw(ooo Sinar api masih menyorot keluar dari jendela, Nyo Thian sedang mengetuk pintu.

"Siapa?"

Pertanyaan dari dalam.

"Cayhe Nyo Thian, pengurus tempat ini."

"Apakah pengurus Nyo tidak tahu waktu apa sekarang?"

Orang di dalam menegur tanpa sungkan-sungkan.

"Sudah tentu Cayhe tahu sekarang waktu apa, soalnya ada seorang tamu, begitu besar keinginannya dan tergesa-gesa ingin bertemu dengan Yap Kongcu."

"Siapa ingin mencari aku?"

"Seorang nona she Ting, Ting Hun-pin."

Baru habis keterangannya, pintu lantas terbuka.

"Yang membuka pintu pasti Yap Kay,"

Demikian sebelumnya Nyo Thian sudah membisiki Ting Ling.

Cahaya lampu dari dalam kebetulan menyorot mukanya.

Seorang pemuda berparas tampan dengan dandanan sederhana membuka pintu, seketika dia berdiri menjublek di ambang pintu, mimiknya heran, kaget dan senang.

"Benarkah kau?"

Bersambung ke Jilid-5 Jilid-5 Ting Ling menutuk kepala, sahutnya.

"Ya, aku!"

Yap Kay tertawa besar, saking riang dia berjingkrak maju serta memeluknya, serunya.

"Kau tidak marah lagi kepadaku?"

"Aku tidak marah lagi kepadamu."

Sahut Ting Ling.

Dia balas memeluk Yap Kay, namun jarinya langsung menutuk Giok-sim-hiat di belakang batok kepala Yap Kay.

Yap Kay menjerit kaget sambil lepas tangan mendorongnya, dengan pandangan terbelalak dia pandang Ting Ling.

Terdengar Ting Ling berkata.

"Tidak pantas lantaran perempuan jahat itu kau meninggalkan aku."

Yap Kay menghela napas.

Pelan-pelan dia roboh terkapar di atas tanah.

Orang yang dianggap paling sudah dilayani oleh kaum persilatan sekarang roboh tak berkutik.

Sekonyong-konyong persoalan berakhir begitu saja.

Nyo Thian menjublek di samping, agaknya diapun kaget, seakan-akan tidak menduga bila urusan bisa berjalan lancar dan berakhir dengan begini mudah.

Sebetulnya semua orang tidak perlu bersitegang leher lantaran urusan ini.

Kepala Ting Ling tertunduk mengawasi Yap Kay yang roboh di tanah, mukanya menunjuk perasaan hambar dan mendelu.

Pada saat itulah dari dalam rumah menerjang keluar seorang gadis yang cantik luar biasa, kedua tangannya menggendong boneka tanah liat.

Melihat Yap Kay rebah di tanah, sepasang matanya yang jeli indah seketika memancar marah, kaget dan heran, mendadak dia berteriak.

"Kalian sudah membunuhnya, dia orang baik, kenapa kalian membunuhnya?"

Tak tahan Nyo Thian bertanya.

"Kau inikah Siangkwan Siau-sian?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, sahutnya.

"Kau membunuhnya, tentu kau orang jahat!"

Ting Ling mendadak berteriak.

"Kaulah perempuan jahat!"

Sembari berteriak mendadak dia menerjang maju dengan kapal, seakan-akan hendak mencekik lehernya. Tahu-tahu tangannya dipegang orang, ternyata Thi Koh telah menangkap dan menyeretnya ke samping.

"Tugasmu sudah selesai, tentu kau sudah letih, kenapa tidak tidur saja?"

Sorot mata Ting Ling mendelong, kaku pula, pelan-pelan dia manggut, katanya.

"Aku sudah letih, aku hendak tidur saja."

Betul juga, segera dia merebahkan diri di atas tanah bersalju, seolah-olah dia rebah diri di atas ranjang yang empuk. Dengan kaget Siangkwan Siau-sian mengawasinya serta berteriak.

"Aku bukan perempuan jahat, aku adalah anak manja, kau inilah perempuan jahat, maka kau sekarang harus mati."

Thi Koh berkata lembut.

"Benar, memang dia perempuan jahat, Yap Kay pun laki-laki jahat."

"Tidak! Yap Kay orang baik."

Bantah Siangkwan Siau-sian.

"Dia bukan orang baik, dia selalu melarang kau meneteki Popo, benar tidak?"

Siangkwan Siau-sian berpikir sebentar, katanya.

"Ya, dia selalu melarang aku meneteki Popo."

Thi Koh menatap matanya, katanya.

"Sekarang Popo tentu amat lapar."

"Benar! Popo memang kelaparan. Popo jangan menangis, nih, mama beri tetek kepadamu."

Benar-benar dia membuka baju di depan dadanya, maka menongollah bukit tandus nan halus putih laksana salju dengan hiasan putih merah dipucuknya.

Napas Nyo Thian menjadi sesak, jantungnya berdetak tiga kali lebih cepat.

Thi Koh menghela napas, katanya dengan sorot mata senang.

"Agaknya tidak mirip anak-anak berusia tujuh tahun lagi."

Sim Koh tertawa dingin, ejeknya.

"Tergantung ke mana arah pandanganmu tertuju."

Thi Koh cekikikan geli.

"Coba kau lihat sepasang bukit dadanya yang montok, aku tidak percaya gadis sebesar ini belum pernah disentuh laki-laki."

Bibirnya tergigit kencang, sorot matanya cemburu.

Gadis manapun bila melihat sepasang payudara Siangkwan Siau-sian, siapa yang takkan merasa iri?.

Pelan-pelan Thi Koh mendekati Siangkwan Siau-sian, katanya sambil memeluk pundaknya.

"Popomu bagus benar?"

Terunjuk senyum mekar jenaka pada raut muka Siangkwan Siau-sian, katanya.

"Memangnya Popo adalah anak baik."

"Bolehkah aku coba menggendongnya sebentar?"

Tanya Thi Koh. Sekilas Siangkwan Siau-sian ragu-ragu, katanya kemudian.

"Tapi kau harus hati-hati, jangan memeluknya kencang-kencang, Popo amat takut sakit"

"Aku tahu,"

Sahut Thi Koh tertawa.

"akupun punya seorang Popo."

Sesaat Siangkwan Siau-sian bimbang, akhirnya dia serahkan bonekanya. Begitu menerima boneka itu, Thi Koh segera melangkah pergi. Keruan Siangkwan Siau-sian berteriak-teriak.

"Kenapa kau bawa Popoku pergi? Kau......kau..... perempuan jahat."

Begitulah kedua orang ini jadi saling kejar. Nyo Thian tetap menjublek, seperti kaget keheranan, namun seperti simpati juga. Mendelik mata Sim Koh, katanya dingin.

"Nona besar yang meneteki sudah pergi, apalagi yang kau lamunkan di sini?"

Nyo Thian tertawa dipaksa, katanya.

"Aku........aku hanya merasa urusan ini berakhir dengan gampang sekali."

"Perduli urusan rumit apapun, jikalau sebelumnya sudah direncanakan lebih dulu, waktu kau turun tangan, tentu jauh lebih gampang."

"Ya, rencana ini memang rapi dan baik sekali."

Puji Nyo Thian. Tiba-tiba Sim Koh berseri sambil mengawasinya, katanya.

"Sebetulnya payudaraku jauh lebih indah dari dia punya, kau percaya tidak?"

Nyo Thian seketika menggeleng, katanya tergagap dengan muka merah.

"Aku....aku......"

Sim Koh mengerling genit, katanya tertawa.

"Kelak akan kuberi kesempatan kepadamu untuk melihatnya sepuas-puasnya, waktu itu kau pasti percaya."

Jantung Nyo Thian berdebur kencang seperti gelombang lautan.

"Sekarang kau bawa pulang orang she Yap ini."

"Bagaimana dengan nona.......nona Ting ini?"

"Dia akan ikut aku pulang,"

Ujar Sim Koh. Lalu dengan keras dia tendang pantat Ting Ling, katanya tertawa sambil berpaling kepada Nyo Thian.

"Asal kau mau menjadi anak jinak, mama kelak akan memberi air tetek kepadamu."

Ooo)dw(ooo Thi Koh langsung berlari ke dalam ruang pemujaan. Siangkwan Siau-sian pun mengejar masuk, serunya merengek.

"Serahkan Popo kepadaku, lekas kembali!"

"Duduklah dengan tenang, kalau tidak Popo tidak kukembalikan."

Terpaksa Siangkwan Siau-sian duduk di atas sebuah kasur bundar.

"Ada beberapa patah kata ingin aku tanya kepadamu, kaupun harus menjawab dengan baik."

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut.

"Siapa namamu?"

"Siangkwan Siau-sian."

"Siapa bapakmu?"

"Bapak adalah malaikat. Selamanya belum pernah aku melihatnya."

"Lalu ibumu?"

"Ibu sedang tidur."

"Tidur di mana?"

"Di dalam kotak kayu panjang dan besar, sudah lama dia tidur di sana."

Terunjuk kedukaan pada muka Siangkwan Siau-sian, katanya pula.

"Katanya lekas sekali dia akan bangun, tapi sampai sekarang dia belum bangun juga."

"Setelah ibumu tidur lalu kau ikut siapa?"

"Aku lantas ikut paman yang bisa terbang, ibu suruh aku panggil dia Hwi-siok-siok."

"Lalu bagaimana?"

"Belakangan Hwi-siok-siok mencari Yap Kay, suruh aku ikut dia."

Terpancar rasa puas pada sorot mata Thi Koh, katanya.

"Hwi-siok-siok itu tentu amat baik kepadamu, bukan?"

"Dia amat senang dan sayang kepadaku, baik sekali kepadaku."

"Bukankah dia memberi banyak mainan kepadamu?"

"Dia membelikan sepatu dan pakaian baru, lalu membelikan mainan dan barang lain yang baik."

"Bukankah masih ada seorang paman bertangan satu? Apakah dia juga memberi banyak mainan kepadamu?"

"Paman bertangan satu?"

Siangkwan Siau-sian mengerut kening.

"Masakah kau tidak mengenalnya lagi? Dai selalu mengenakan pakaian kuning, tampangnya amat garang?"

Siangkwan Siau-sian tiba-tiba tepuk tangan seraya berjingkrak, serunya.

"Ya, teringat aku sekarang, pada suatu hari dia *********************** Hal 13 -14 hilang *********************** "

Jikalau kau tidak memberitahu kepadaku, biar Popo ku banting mati saja."

Berubah muka Siangkwan Siau-sian, teriaknya keras.

"Tidak boleh kau banting mati Popoku, dia adalah anak baik."

"Aku tahu Popo memang anak bagus dan sayang, tapi asal ku banting ke lantai, selanjutnya kau tidak akan menemukan dia lagi, tiada orang yang temani kau main-main."

Siangkwan Siau-sian hampir menangis, katanya merengek.

"Jangan, aku mohon kepadamu.........."

"Tiada gunanya kau minta kepadaku, kecuali kau mau memberitahu nama tempat itu kepadaku."

"Asal aku memberitahu, Popo lantas kau kembalikan?"

"Malah kau akan kubelikan banyak mainan dan pakaian baru, kue-kue enak yang paling kau sukai."

"Baiklah, ku beritahu kepadamu. Tempat itu berada di.........."

Belum lagi Siangkwan Siau-sian sempat menyebutkan tempat itu, mendadak Thi Koh menukas.

"Nanti dulu, tunggu sebentar."

"Kenapa?"

"Karena tempat itu kau hanya boleh memberitahu kepadaku saja, sekali-kali tak boleh didengar orang lain."

Terdengar seorang batuk-batuk kecil di luar pintu, tampak Nyo Thian melangkah masuk sambil mengempit Yap Kay.

Sim Koh beriring melangkah masuk, di belakangnya adalah Ting Ling.

Thi Koh menarik muka, bentaknya beringas.

"Siapa suruh kau membawa mereka kembali?"

"Tidak di bawa pulang, memangnya mau diapakan?"

"Memangnya kau tidak bisa bunuh mereka?"

"Keduanya dibunuh?"

"Siapa yang masih ingin kau tinggalkan?"

"Sekarang juga dibunuh bagaimana?"

"Baik, sekarang juga bunuh!"

Yap Kay meringkuk di tanah, kelihatannya seperti orang mati, Ting Ling memang masih hidup, namun pandangan matanya mendelong kaku, orang bilang hendak membunuh dia, dia seperti tidak mendengar.

Sim Koh menghela napas, katanya.

"Laki-laki sebagus ini, sungguh aku tidak tega membunuhnya."

"Nyo Thian menyahut dingin.

"Aku tega!"

Sim Koh meliriknya, katanya tertawa genit.

"Kau cemburu?"

"Buat apa aku cemburu dengan orang mati?"

"Baik! Nah, golok ini kuberikan kepadamu." 'Klontang....' sebilah golok jatuh di lantai. Nyo Thian membungkuk mengambilnya, dipandangnya Ting Ling lekat-lekat, katanya tertawa dingin.

"Kau pernah membunuhku sekali, sekarang akupun akan membunuhmu sekali, hutang piutang ini terhitung lunas, tak perlu kau menebusnya di lain penitisan."

Ting Ling mengawasi golok di tangannya, sedikitpun dia tidak memperlihatkan reaksi apa-apa. Terpancar nafsu membunuh pada sorot mata Nyo Thian, kontan dia ayun goloknya membacok.

"Tunggu dulu!"

Sekonyong-konyong seseorang berseru mencegah.

Lekas Nyo Thian tarik tangannya, dengan mengerut kening dia berpaling, ternyata yang menyerukan dia berhenti adalah Wi Thian-bing.

Entah kapan Wi Thian-bing sudah siuman, pelan-pelan dia merangkak bangun dan duduk di pembaringan.

"Kenapa kau suruh dia menunggu?"

Tanya Thi Koh mengerut alis.

"Apa kau pasti hendak membunuh ke dua orang ini?"

Kata Wi Thian-bing.

"Ya, harus dibunuh."

"Di sini juga membunuhnya."

"Di tempat ini juga."

"Di dalam ruang pemujaan yang ini boleh membunuh orang?"

"Yang kita punya memangnya dewa pembunuh."

Wi Thian-bing menghela napas, katanya.

"Aku tahu kau tidak akan membiarkan Yap Kay hidup, tapi orang she Ting ini...?"

"Kau ingin mempertahankan jiwanya?"

"Tak ubahnya dia seorang yang cacat, buat apa pula kau harus merenggut jiwanya?"

"Apakah Wi-pat-ya menjadi laki-laki welas asih yang kenal kasihan?"

Jengek Nyo Thian.

"kau ingin mengajaknya pulang dijadikan putra pungutmu?"

"Kau ini siapa?"

Damprat Wi-pat-ya.

"berani kurang ajar di hadapanku!"

"Aku hanya memperingatkan kau."

Sahut Nyo Thian.

"supaya kau tidak kecewa."

"Kecewa? Kenapa harus kecewa?"

"Nona ini jelas takkan bisa melahirkan anak."

"Kau kira aku tidak tahu siapa dia?"

"Kalau tahu kenapa kau mempertahankan jiwanya?"

"Setelah usiamu mencapai umurku sekarang, kau akan tahu, orang yang tak usah dibunuh, lebih baik jangan kau bunuh."

Setelah menghela napas, dia meneruskan.

"Di waktu muda banyak membunuh orang, setelah usia lanjut kau akan menyesal seumur hidup."

Nyo Thian menyeringai dingin, katanya.

"Sejak kapan hati Wi-pat-ya berubah begini lemah?"

"Barusan."

"Barusan?"

"Seseorang setelah tahu dirinya punya keturunan, hatinya pasti berubah banyak."

Thi Koh tiba-tiba tertawa sinis, jengeknya.

"Kau sudah punya anak? Kau kira aku benar-benar adalah anakmu?"

"Masa kau bukan anakku?"

Wi Thian-bing menegas dengan mata terbelalak.

"Selama hidup Lam-hay-nio-cu, entah berapa banyak laki-laki yang pernah dipermainkan, sayang dia justru tidak pernah melahirkan anak."

"Dan kau siapa?"

"Bukan anaknya, juga bukan kadangnya."

"Kau.......siapa kau sebetulnya?"

"Iblis langit tak berbentuk, kesaktian tiada taranya, naik ke langit masuk ke bumi, hanya akulah yang berkuasa."

Seketika berubah muka Wi Thian-bing, serunya.

"Kau anak Mo Kau?"

"Supaya Wi-pat-ya tahu,"

Demikian timbrung Sim Koh.

"dia salah satu Sam-kong-cu di bawah Su-thay-thian-ong dari Mo Kau."

Pucat pias muka Wi Thian-bing, mulutnya gemetar tak kuasa bicara lagi. Kata Thi Koh.

"Lam-hay-nio-cu adalah murid pengkhianat Mo Kau, dia beranggapan dirinya bisa menandingi kaucu kita, maka sengaja aku masuk ke dalam perguruannya, kupelajari ilmu-ilmu iblisnya, setelah tamat, baru ku bunuh dia dengan ilmu yang ku pelajari dari dirinya."

Sim Koh menyeletuk.

"Itulah yang dinamakan, 'hutang darah bayar darah' dari Mo Kau kita, Sin-liong-bu-siang-tay-hoat."

Pucat pasi muka Wi Thian-bing, mulutnya mengigau.

"Ternyata kau bukan putriku....... ternyata......"

Berulang kali dia mengguman, akhirnya menjublek seperti orang pikun.

Kejadian ini sungguh merupakan pukulan batin yang dahsyat, sungguh lebih parah dari tusukan golok di ulu hatinya.

Sim Koh berkata pula.

"Tadi sengaja kami menolongmu, karena kematianmu pada waktu itu tiada manfaatnya bagi kami."

"Tapi sekarang Han Tin sudah tahu bahwa aku adalah putrimu, jikalau sang ayah mati secara mengenaskan, maka harta kekayaannya sewajarnya diwariskan kepada putrinya."

Demikian kata Thi Koh. Kembali Sim Koh meneruskan.

"Tapi setelah kita berhasil mengeduk kekayaanmu dan Siangkwan Kim Hong, segala persiapan kita sudah sempurna, tinggal tunggu waktu untuk bergerak."

Wi Thian-bing masih mengigau, sekonyong-konyong dia menjerit keras serta muntah darah, lalu badannya tersungkur roboh. Melirikpun Thi Koh tidak mengawasinya, katanya dingin.

"Nyo Thian, apalagi yang kau tunggu?"

Nyo Thian sudah pucat ketakutan, sejak dulu dia sudah mendengar kekejaman Mo Kau, sekarang dia mengalami dan menyaksikan sendiri.

Golok iblis yang kemilau di tangannya teracung tinggi, untuk kedua kalinya dia ayunkan goloknya.

Ting Ling masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun, bukan saja tidak tahu takut, diapun tidak berusaha berkelit.

Untunglah pada detik-detik yang menentukan itu, tiba-tiba di luar rumah terdengar jeritan orang yang mengerikan.

Suaranya melengking keras dan ramai seperti dipekikkan oleh mirip beberapa ekor serigala kelaparan yang sekaligus digorok lehernya.

Tangan Nyo Thian yang terangkat sampai bergetar dan tergantung di tengah udara, hampir saja golok terlepas dari cekalannya.

Sim Koh tiba-tiba putar badan menarik pintu.

Seorang berseragam putih berdiri kaku di depan pintu, jubahnya yang putih berlepotan darah, punggungnya menggendong tikar, tangannya menjinjing tongkat pendek.

Ternyata Bak Pek datang.

Bukan saja tidak kaget Sim Koh malah tertawa menyambutnya.

"Kau sudah datang, kenapa berdiri di luar pintu, silahkan masuk duduk di dalam."

"Berdiri kurasa lebih baik."

"Kau kemari memangnya hanya ingin berdiri di luar pintu?"

"Aku kemari juga bukan lantaran Siangkwan Siau-sian."

"Khabarnya hidup kalian di Ceng-seng-san juga memerlukan perongkosan yang cukup besar, sekarang kalian kekurangan uang."

"Kita punya asal usul."

Sim Koh mengedip mata seraya tersenyum genit, katanya.

"Lalu memangnya kau kemari lantaran aku?"

Sikap Bak Pek tenang dingin, sedikitpun tidak terpengaruh oleh sikap genit gadis molek ini, katanya.

"Aku datang bukan lantaran perempuan."

"Bukan karena perempuan? Kau........ suka main dengan laki-laki?"

"Aku kemari lantaran Yap kay."

"Kau menyukainya?"

"Aku suka membunuhnya."

"Kau ada permusuhan dengan dia?"

"Permusuhan sedalam lautan."

"Dia membunuh bapakmu, atau merebut binimu?"

"Bak Pek menarik muka.

"Aku minta kalian serahkan dia supaya kubawa pulang."

"Memangnya kami hendak membunuhnya, kau, kau ingin turun tangan tidak jadi soal, hanya......"

"Hanya bagaimana?"

"Cara bagaimana aku tahu kau hendak membunuhnya? Bukan mustahil kau hendak menolongnya malah."

Sebentar Bak Pek menepekur, katanya.

"Aku bisa turun tangan di hadapan kalian."

Thi Koh tiba-tiba menyeletuk.

"Baik, berikan golok supaya dia turun tangan."

Nyo Thian lantas lemparkan golok di tangannya, 'Klontang....' jatuh di depan kaki Bak Pek.

Bak Pek menjungkitnya dengan ujung kaki, terus disambar dengan tangan, pelan-pelan dia melangkah masuk, matanya menatap Yap Kay, tiba-tiba golok ditangannya menusuk.

Gerak tusukannya amat cepat dan mendadak.

Tapi tusukannya tidak kepada Yap Kay, sebaliknya golok berkelebat menusuk Thi Koh.

Agaknya Thi Koh tidak menduga cara licik dan keji ini, sehingga tidak sempat berkelit lagi.

Tahu-tahu golok di tangan Bak Pek sudah menusuk ulu hatinya.

Akan tetapi rona muka Thi Koh sedikitpun tidak berubah, yang berubah malah muka Bak Pek.

Dalam detik-detik yang menentukan itu tiba-tiba terasa olehnya ujung golok di tangannya ini ternyata bergerak hidup, begitu ujung golok mengenai sasaran, tahu-tahu menyurut amblas dan mundur masuk ke gagang malah.

Kejadian berlangsung cepat, tahu-tahu terdengar 'Blum.."

Suatu ledakan yang cukup keras, tiga bintik sinar terang melesat keluar dari ujung belakang gagang golok yang terpegang di tangannya, semua mengenai dada Bak Pek dengan telak.

Seketika badannya bergetar, biji matanya melotot, raut mukanya yang semula kaku dingin berubah ngeri ketakutan dan tidak percaya akan kenyataan yang dihadapinya.

Dingin Thi Koh mengawasinya, katanya.

"Itulah golok iblis, golok iblis takkan membunuh majikannya."

Kiranya waktu golok terlempar di lantai, di tengah suara kelontangan tadi sekaligus telah merubah alat pegas yang terpasang di dalam gagangnya.

Muka Bak Pek dari pucat menjadi merah pada, tiba-tiba kembali menjadi putih laksana kapur, katanya mendesis seraya kertak gigi.

"Tidak jadi soal kau membunuhku, majikanku takkan melepasmu."

Bertaut alis Thi Koh, tanyanya.

"Kau masih punya majikan? Siapa majikanmu?"

Tenggorokan Bak Pek mengeluarkan suara 'krok..krok...' seperti hendak bicara, tapi tak kuasa mengeluarkan omongan, mendadak dia menggerung bagai harimau gila menubruk ke arah Thi Koh.

Thi Koh tetap tidak bergeming di tempatnya.

Seakan-akan jari-jari Bak Pek sudah hampir mencekik lehernya, tapi badannya malah tersungkur roboh tak berkutik lagi.

Thi Koh menghela napas, katanya.

"Agaknya orang-orang di sini sudah mampus seluruhnya."

"Tinggal Yap Kay dan Ting Hun-pin dua orang saja."

Kata Sim Koh.

"Kenapa kita tidak membunuh mereka secara berpasang saja?"

Nyo Thian mengusulkan.

"Jikalau kau turun tangan tanpa ayal-ayalan, bukankah sekarang mereka tidak tersiksa lagi."

Sim Koh mencemoohnya. Tiba-tiba Nyo Thian mengeluarkan sebatang golok dari lengan bajunya, katanya.

"Kali ini biar kubunuh dia lebih dulu."

"Tunggu sebentar."

Tiba-tiba seseorang membentak, tapi yang bersuara kali ini adalah Thi Koh.

"Kenapa harus tunggu lagi?"

Tanya Nyo Thian tidak mengerti.

"Bak Pek datang karena dia, malah berani mengorbankan jiwa sendiri untuk membawanya pulang."

Sim Koh menyeletuk.

"Jikalau benar dia ada permusuhan dengan Yap Kay, sebetulnya bisa turun tangan di sini."

"Namun dia bertekad untuk membawa Yap Kay pergi."

Bantah Thi Koh.

"Kenapa dia harus berbuat demikian?"

Tanya Sim Koh.

"Bak Pek bukan orang pikun, sudah tentu ada maksud dan latar belakangnya."

"Memangnya Yap Kay sendiri membawa rahasia apa?"

Berputar biji mata Sim Koh.

"Baik, biar aku menggeledahnya."

Nyo Thian lantas menimbrung.

"Dia seorang laki-laki, biarlah aku saja yang menggeledahnya."

"Memangnya laki-laki tidak boleh ku geledah?"

Bantah Sim Koh.

"aku justru senang menggeledah badan laki-laki, terutama laki-laki setampan ini."

Nyo Thian menggigit bibir, mulutnya terkancing. Sim Koh cekikikan senang, katanya.

"Kalau kau cemburu, tunggu sebentar, nanti giliranmu ku geledah badanmu." . Dengan tertawa genit dia membungkuk badan, tangan terulur membuka kancing baju di depan dada Yap Kay. Tapi baru saja tangannya menyentuh dada orang, tiba-tiba dia menjerit kaget, tangan ditarik balik seperti tergigit ular beracun. Thi Koh mengerut alis, katanya.

"Ada apa berteriak-teriak, memangnya kau belum pernah menyentuh laki-laki?"

Terunjuk rasa heran dan tak mengerti pada rona muka Sim Koh, sahutnya.

"Tapi, dia adalah perempuan....."

"Perempuan?"

Tersirap darah Thi-koh.

"Maksudmu Yap Kay yang ini adalah perempuan?"

"Ya, seratus persen perempuan, buah dadanya malah lebih montok dan lebih besar dari Siangkwan Siau-sian punya."

Berkilat biji mata Thi Koh, katanya tertawa dingin.

"Ting Hun-pin adalah laki-laki, Yap Kay malah jadi perempuan, sungguh kejadian yang menyenangkan."

Sim Koh rebut pisau di tangan Nyo Thian terus membacok.

Pisau panjang ini berkilauan, terang gaman yang amat tajam, untuk memotong tangan orang, tentu segampang potong sayur.

Tak nyana pada saat itu pula, Yap Kay yang semula rebah terkulai tak bergerak, mendadak balik badan, tahu-tahu kakinya melayang menendang perut Sim Koh.

Sudah tentu Sim Koh tersirap dan mencelat mundur, kebetulan dia mundur ke depan Nyo Thian.

Sejak tadi Nyo Thian memang sedang menunggu dirinya, secepat kilat tangan kanannya menutuk lima Hiat-to di punggungnya berbareng tangan kiri melingkar memeluk pinggangnya.

Seketika berubah air muka Thi Koh.

Nyo Thian menyeringai, ancamnya.

"Lebih baik kalau kau tidak sembarang bergerak, kalau tidak biar kubunuh dulu putri kesayanganmu ini."

Thi Koh benar-benar tidak berani bergerak. Memang, dia bukan orang yang mau sembarang bertindak. Sementara itu dilihatnya Yap Kay tengah merangkak berdiri sambil berseri tawa, tawa manis dan elok.

"Kau.......... kau memang perempuan?"

Tanya Thi Koh.

"Benar, perempuan tulen yang tak boleh ditawar lagi."

"Kau bukan Yap Kay?"

Tanya Thi Koh tak mengerti. Yap Kay yang ini tertawa, katanya.

"Yap Kay sudah tentu adalah laki-laki sejati, laki-laki tulen, masakah mungkin aku ini Yap Kay?"

"Kau siapa?"

"Ting Hun-pin"

"O, jadi kau inilah Ting Hun-pin."

Mimik mukanya seperti baru saja digigit orang. Ting Hun-pin berdiri tak bergeming di tempatnya dengan tersenyum simpul. Ting Hun-pin menghampiri, katanya dengan tertawa.

"Kau sedikitpun tidak mirip dengan aku, bukankah aku lebih cantik dari tampangmu?"

Memang di antara mereka tiada yang mirip. Tak tahan Thi Koh bertanya pula.

"Jikalau kau ini Ting Hun-pin, lalu di mana Yap Kay?"

"Sejak tadi Yap Kay sudah berada di sini."

Sahut Ting Hun-pin.

"Sejak tadi dia sudah berada di sini?"

"Malah sejak tadi sudah berada di hadapanmu."

"Apakah Nyo Thian?"

Tanya Thi Koh.

"Nyo Thian adalah Nyo Thian, dia bukan Yap Kay."

Rasanya hampir gila Thi Koh dibuatnya, teriaknya.

"Siapakah sebenarnya Yap Kay?"

"Aku inilah!"

Terdengar seseorang menjawab dengan suara kalem.

"Siapakah sebenarnya Yap Kay itu?"

Ting Ling menjawab.

"Aku inilah. Aku inilah Yap Kay."

Mimiknya yang linglung seperti terpengaruh sihir dan pandangannya yang hampa, mendadak lenyap tak berbekas lagi, dalam waktu sekejap mendadak sudah berubah menjadi orang lain.

Thi Koh mengawasinya, mimik kagetnya sudah tidak kentara lagi, tiada menunjukkan perasaan apa-apa.

Sekujur badannya seperti sudah mengejang kaku, sekeras kayu, dia juga merasakan dirinya tak ubahnya seperti sebatang kayu.

Selama hidupnya belum pernah dia mengalami peristiwa yang benar-benar membuatnya kaget kelewat batas.

Ting Hun-pin tertawa cekikikan, dari dalam bajunya dia keluarkan secarik sapu tangan sutra putih, dilemparkan kepada Yap Kay seraya berkata.

"Lekas bersihkan pupur dan gincu di mukamu itu, aku muak melihat tampangmu."

"Kau muak?"

Tanya Yap Kay tertawa.

"tapi banyak orang justru anggap aku teramat cantik."

"Cantik kentut!"

Cemooh Ting Hun-pin.

"Jikalau tidak cantik, masakah ada orang anggap aku mirip Ting Hun-pin?"

Tak tahan Ting Hun-pin cekikikan geli, katanya.

"Kalau rupaku mirip keadaanmu sekarang, sejak lama aku sudah menumbuk kepalaku sampai pecah."

"Jikalau aku benar-benar mirip kau, tahukah kau apa yang akan kulakukan?"

Tanya Yap Kay. Ting Hun-pin membusungkan dada, katanya.

"Aku begini memangnya tidak baik?"

"Bukannya tidak baik, cuma dadamu membusung terlalu tinggi, maka orang segera mengetahui penyamaranmu."

Seketika merah muka Ting Hun-pin, tiba-tiba dia ulur tangan membuka kancing baju Sim Koh. Sejak tadi kepala Sim Koh tertunduk, seperti empas-empis, tak tahan dia berjingkrak kaget, serunya.

"Apa yang ingin kau lakukan?"

"Tidak apa-apa, tadi kau hendak menggeledah badanku, sekarang aku malah yang hendak menggeledah badanmu, aku ini selamanya tidak mau dirugikan."

"Kalau mau geledah, tiba giliranku untuk menggeledahnya."

Pinta Nyo Thian.

"Tapi dia seorang perempuan."

"Kenapa perempuan tidak boleh ku geledah? Aku justru senang menggeledah perempuan, terutama perempuan yang cantik dan montok."

Ting Hun-pin tertawa besar.

Nyo Thian-pun ikut terloroh-loroh senang.

Memang mereka pantas tertawa riang, karena sandiwara yang mereka lakukan sungguh amat baik dan sukses sekali.

Mimik Thi Koh seperti hendak menangis, tapi air matanya sudah kering.

Siangkwan Siau-sian sudah merebut boneka dari tangannya, katanya.

"Popo sayang, sayang Popo, ibu takkan biarkan kau direbut orang jahat."

Perhatiannya hanya tertuju kepada bonekanya itu, apapun yang terjadi, bukan saja dia tak perduli, memangnya dia tidak bisa turut campur.

Bukankah anak-anak sering menganggap khayalannya selalu menjadi kenyataan?

Tapi khayalan Thi Koh justru sudah lenyap tak berbekas seperti asap yang tertiup angin lalu.

Semula dia mengira semua orang sudah masuk ke dalam muslihat dan tipu dayanya, sekarang baru dia insyaf bahwasanya dirinyalah yang sudah masuk perangkap Yap Kay, bukankah khayalannya mirip boneka di tangan gadis yang linglung ini?

Tak tahan akhirnya dia menghela napas, katanya sambil mengawasi Yap Kay.

"Baru sekarang aku mau percaya."

"Kau percaya apa?"

Tanya Yap Kay.

"Aku percaya bahwa kau memang orang yang paling sukar dilayani dan paling ditakuti di kolong langit ini."

"Aku mengakui,"

Ujar Yap Kay menghela napas.

"aku memang bukan kuncu."

"Berani mengakui bahwa dirinya bukan kuncu, juga bukan suatu hal yang gampang."

Kata Thi Koh.

"Berani mengakui kekalahannya pun tidak gampang."

Ujar Yap Kay.

"Kau sudah tahu bahwa kita beberapa rombongan orang menunggumu di sini?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Maka kau bersekongkol dengan Nyo Thian, suruh dia sengaja bekerja bagi aku, supaya aku beranggapan bahwa Ting Ling adalah saudara kembar Ting Hun-pin, lalu membantu aku mengajukan usul dan akal segala, suruh aku menyalin Ting Ling menjadi Ting Hun-pin. Lalu kau muncul sebagai Ting Ling dan sengaja menyerahkan diri untuk kutangkap?"

"Yang benar aku ini memang Ting Ling!"

"Lho? Kau ini Yap Kay atau Ting Ling?"

Thi Koh semakin bingung.

"Aku ini Yap Kay alias Ting Ling."

Thi Koh semakin tidak mengerti.

"Ting Ling adalah salah satu nama yang dulu kupakai waktu kelana di Kang-ouw."

Demikian Yap Kay menerangkan. Thi Koh paham, katanya tertawa getir.

"Seluruhnya berapa nama yang pernah kau pakai?"

"Tidak banyak."

"Semua nama yang pernah kau pakai, seluruhnya tenar?"

"Agaknya nasibku memang mujur."

"Agaknya aku memang tidak pantas memilih lawan seperti kau ini."

"Kau salah pilih,"

Sela Ting Hun-pin.

"tapi aku tidak salah pilih."

Sorot matanya yang jeli bening diliputi rasa hormat dan kasih mesra.

"Apakah selamanya kau tidak pernah bertengkar dengan dia?"

Tanya Thi Koh.

"Siapa bilang tidak pernah, entah berapa kali aku bertengkar dengannya,"

Sahut Ting Hun-pin, lalu dengan muka merah dia menambahkan.

"Tapi tiga hari setelah kami bertengkar, ternyata aku sudah tidak betah, merindukan dia mencarinya."

"Seharusnya sudah kuduga akan hal ini."

Ujar Thi Koh.

"Apa yang kau duga?"

"Laki-laki seperti kekasihmu ini tidak banyak, jikalau aku jadi kau, akupun takkan tega purikan dengannya."

"Oleh karena itu aku selalu menjaga dan mengawasinya, supaya orang lain tidak sempat main-main terhadapnya."

Suara tawanya kedengarannya seperti suara rase.

"Apapun yang telah terjadi, mimpipun tak pernah kuduga bahwa kaulah yang menyaru jadi Yap Kay"

"Walau Yap Kay tiada di sini, yang benar harus selalu ada orang yang melindungi Siau-sian, kalau aku yang melindungi dia, bukankah cara yang paling aman?"

"Benar, memang cara yang paling aman,"

Puji Thi Koh.

"karena kau yang melindungi dan mengawasinya, bukan saja orang lain tidak mampu mengusiknya, Yap Kay pun takkan bisa menyentuhnya."

"Bahwasanya Yap Kay tak mungkin punya maksud terhadapnya."

"Agaknya kau amat yakin?"

"Selalu aku punya keyakinan teguh, maka siapapun jangan harap mengadu domba."

Terpaksa Thi Koh berpaling kepada Yap Kay, katanya.

"Sungguh aku tidak menyangka Kou-hun-sip-tay-hoat yang kugunakan ternyata tidak berguna sedikitpun terhadapmu."

"Memang tiada gunanya."

"Seharusnya aku sudah dapat menduganya."

"Menduga apa?"

"Khabarnya ibumu dulu juga dari Mo Kau kita, tapi lantaran laki-laki she Pek, dua puluh tahun yang lalu dia berani mengkhianati Mo kau."

Terunjuk sorot derita dari pandangan Yap Kay, agaknya dia tidak senang mendengar orang menyinggung persoalan ini. Oleh karena itu, Thi Koh justru mengungkatnya.

"Di dalam Mo Kau ada Su-toa-thian-ong dan Su-toa-kongcu, ibumu adalah salah satu di antaranya, akupun satu diantaranya, oleh karena itu seharusnya kau memanggilku kokoh (bibi)."

"Dan kau ingin membunuhku, tentunya itupun salah satu dari sebab musabab itu."

Ujar Yap Kay. Thi Koh pun menarik muka, katanya sinis.

"Aku tidak menyangkal, murid-murid dari Mo Kau, tiada satupun yang bisa lolos dari hukum undang-undang perguruan."

"Ah, masa?"

Yap Kay tidak percaya.

"Bukan saja orang yang bersangkutan selalu dikejar hukuman berat itu, sampaipun keturunannya takkan terhindar pula."

"Aku harap kau suka memahami satu hal."

"Coba katakan!"

"Ibuku sudah bukan anggota Mo Kau lagi, sejak lama beliau sudah tiada sangkut pautnya dengan kalian."

"Siapapun sekali dia masuk anggota Mo Kau, selama hidupnya dia tetap menjadi warga Mo Kau, hubungan tali temali ini selamanya tak pernah putus."

Tawar suara Yap Kay.

"Kalau kau seorang pintar, sekarang tidak pantas kau berkata demikian."

"Kenapa?"

"Sekarang agaknya kau harus menunggu hukuman apa yang akan ku jatuhkan kepadamu."

"Maksudku hanya ingin supaya kau mengerti.

"debat Thi Koh.

"di dalam aliran darahmu ada pula darah kita, asal kau suka berpaling dan kembali ke haribaan kita, sembarang waktu kita akan menyambutmu dengan tangan terbuka."

"Aku akan selalu ingat hal ini."

Ujar Yap Kay.

"Yang terang dia tidak akan sudi kembali."

Sela Ting Hun-pin.

"Kalau begitu kalian akan menyesal di kelak kemudian hari,"

Kata Thi Koh.

"ketahuilah, akhir-akhir ini di puncak Sin-san, Mo Kau sudah menegakkan ajarannya dan membangun kembali kekuatannya. Salah satu hasil keputusan dari pertemuan Su-thoa-thian-ong dan Su-thoa-kongcu adalah menghukum berat setiap murid-murid murtad."

"Oleh karena itu, kau memperingati aku supaya hati-hati."

"Selama lima puluh tahu terakhir ini, hanya ada lima murid-murid murtad dalam Mo Kau, empat diantaranya sudah mampus."

"Jadi ketambahan aku semuanya lima?"

"Tidak Salah! Kau adalah yang ke lima."

"Sayang sekali, aku masih segar bugar dan takkan gampang dibuat mati."

"Kau dapat lolos untuk yang pertama dan belum tentu lolos untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya, sehari kau belum mampus, setiap detik setiap saat kau harus waspada, maka jangan harap di dalam mengarungi kehidupan sebagai manusia ini, kau bisa hidup tentram dan damai."

"Aku cukup tahu!", ujar Yap Kay.

"Kau tidak perduli?"

"Aku amat perduli, akupun amat takut."

"Kalau begitu, lekaslah ku bawa Siangkwan Siau-sian dan ikut aku pulang, tebuslah dosa dan hukumanmu dengan jasa-jasa baik."

Yap Kay menyengir tawa.

"Apa yang kukatakan bukan lelucon yang menggelikan."

"Akupun amat takut bila ada anjing menggigitku, tapi memangnya aku harus jadi anjing, makan tahi dan minum air seni?"

Ting Hun-pin terpingkal-pingkal, saking geli sampai ia memeluk perut dan terbungkuk-bungkuk. Sebaliknya selembar muka Thi Koh membesi hijau.

"Sejak pertama aku tahu kalian mengatur tipu daya hendak menghadapi aku, tapi apa yang dilakukan sekarang bukan maksudku hendak menghadapi kalian."

Thi Koh melengak keheranan.

"Jikalau untuk menghadapi kalian, hakekatnya aku tidak perlu membuang banyak tenaga."

"Sudah tentu kaupun tahu bahwa Wi Thian-bing dan Bak Pek hendak menghadapimu, oleh karena itu kau sengaja memberi peluang kepada kami hingga berhasil, dan mereka dipaksa untuk bentrok dengan kami, semua pihak saling cakar dan bunuh, kau akan memungut keuntungannya."

Yap Kay geleng-geleng kepala sambil menghela napas, ujarnya.

"Kalau hanya untuk menghadapi Wi Thian-bing dan Bak Pek, aku lebih tidak perlu memeras keringat."

"Memangnya kau kira gampang menyuruhnya menyaru jadi perempuan?"

Sela Ting Hun-pin tertawa.

"Lalu untuk menghadapi siapa kau melakukan semua ini?"

Tanya Thi Koh.

"Menghadapi seseorang yang lain. Orang ini jauh lebih menakutkan daripada kalian digabung menjadi satu."

Thi Koh menyeringai dingin, dia tidak percaya.

"Kami kemari sebetulnya kalian tidak mungkin tahu,"

Kata Yap Kay pula. Mau tidak mau Thi Koh harus mengakui hal ini.

"Tapi orang ini justru sudah tahu sebelumnya, oleh karena itu dia sengaja menyebarkan berita di luar supaya kalian meluruk kemari mencariku."

"Beberapa bulan yang lalu, memang kita menerima sepucuk surat tanpa diketahui siapa pengirimnya,"

Demikian tutur Thi Koh.

"yang tertulis di dalam surat adalah rahasiamu dengan Siangkwan Siau-sian. Kalau tiada surat itu, hakekatnya kita tidak punya maksud mengerjai kau."

"Kalian menerima surat kaleng yang aneh, memangnya tidak merasa heran?"

"Soalnya dia menjelaskan dalam suratnya bahwa kau adalah musuhnya, tujuan surat itu hanya ingin meminjam tangan kita untut menuntut balas sakit hatinya."

"Alasan yang masuk di akal."

Ujar Yap Kay.

"Setelah kita selidiki, ternyata apa yang ditulis dalam surat memang tidak bohong, oleh karena itu baru kami berkeputusan untuk turun tangan."

Demikian Thi Koh menjelaskan lebih lanjut, katanya.

"Apa kau tidak tahu siapa penulis surat itu?"

"Untuk menebaknya pun tidak bisa."

Sahut Yap Kay.

"Gerak-gerikmu diketahui begitu jelas, tapi kalian tidak tahu siapa dia sebenarnya?"

"Justru karena itulah maka kurasa amat menakutkan."

Ujar Yap Kay.

"kukira setelah kalian berhasil, dia akan muncul sendirinya."

"Maka kau selalu menunggunya. Sayangnya secara tidak sengaja kami membongkar rahasiamu, maka kau tidak sempat menunggu perkembangan lebih lanjut."

"Agaknya dia memang tidak suka berhadapan langsung dengan aku, kalau tidak mengapa harus berlarut sedemikian jauh?"

Tiba-tiba Thi Koh tertawa, katanya.

"Kenapa tidak segera kau tinggal pergi saja?"

"Memangnya aku harus pergi demikian saja?"

"Kalau tidak pergi begini saja, memangnya kau hendak membunuhku lebih dulu?"

Yap Kay tersenyum, katanya.

"Apakah orang-orang Mo Kau tidak boleh dibunuh?"

"Terserah kepadamu sendiri, yang terang aku berani tanggung, siapapun yang mencari gara-gara dengan Mo Kau, dia takkan memperoleh ahsil yang baik dan kau akan menyesal seumur hidup."

Yap Kay hanya menyengir saja.

"Perlu ku peringatkan kepadamu,"

Kata Thi Koh lebih lanjut.

"Li Sin-hoan pun tidak berani bermusuhan dengan Mo Kau, apalagi kau. Jangan lupa kau membawa gadis boneka yang masih hijau, kalau terjadi apa-apa atas dirinya, kau takkan bisa memberikan pertanggungan jawab."

Tak tahan Yap Kay melirik ke arah Siangkwan Siau-sian.

Saat mana Siangkwan Siau-sian sedang menggendong bonekanya dan menepuk-nepuknya seperti menana-bobokkan orok kecil.

Kini dia angkat kepala sambil tertawa berseri, katanya.

"Popo sudah tidur, tadi kau menolongnya, sekarang kau boleh membopongnya. Bukankah sudah lama kau tidak pernah menggendongnya?"

Yap Kay pelototkan matanya, katanya.

"Dia ngompol tidak?"

"Popo anak sayang, dia tidak ngompol."

Sahut Siangkwan Siau-sian.

Dengan langkah riang dan lincah dia datang menghampiri, pelan-pelan dan hati-hati dia angsurkan bonekanya kepada Yap Kay.

Terpaksa Yap Kay menerimanya, katanya tertawa getir.

"Biar aku membopongnya sebentar saja, biasanya aku gampang bosan."

Siangkwan Siau-sian menarik tangan Ting Hun-pin, katanya tertawa.

"Setelah dia, kaupun boleh membopongnya."

Lekas Ting Hun-pin geleng-geleng kepala, katanya.

"Kemarin aku sudah membopongnya, pekerjaan yang meringankan hati tidak boleh dilakukan setiap hari, seperti juga orang makan gula-gula........"

Tiba-tiba suaranya terputus, rona mukanya berubah, matanya melotot kaget mengawasi Siangkwan Siau-sian, teriaknya tertahan.

"Kau................."

Baru sepatah kata tercetus dari mulutnya, seketika dia tersungkur jatuh.

Pada saat yang sama, dari dalam perut boneka berbunyi 'Plok...' rona muka Yap Kay seketika berubah, mendadak dia menjengking seperti orang kesakitan yang dipukul perutnya.

Kedua tangannya terlepas, sehingga boneka tanah liat yang dipegangnya terlepas jatuh dan 'pyaaarrr...' hancur berantakan.

Sebuah benda bundar kemilau ketika menggelundung keluar dari dalam pecahan boneka itu, kiranya itulah sebuah kepelan baja yang dibuat sedemikian bagusnya dengan pegas-pegasnya yang kuat.

Kedua tangan Yap Kay masih memeluk perutnya, saking sakit keringat dingin berketes-ketes, ingin bicara mulut hanya megap-megap.

Siangkwan Siau-sian memonyongkan mulut, katanya.

"Coba lihat, kau banting hancur Popoku, tak heran perutmu kesakitan."

Yap Kay mengawasinya, sorot matanya mengandung takut dan keheranan. Mendadak dia menggerung.

"Kau......"

Belum banyak ucapannya dia sudah roboh tersungkur.

Thi Koh pun berubah air mukanya, perubahan yang beruntun ini sungguh amat mengejutkan hatinya.

Hanya Nyo Thian saja yang berdiri adem-ayem mengulum senyum simpul, sebelah tangannya masih memeluk Sim Koh.

Sekilas Thi Koh melotot kepadanya, lalu dia berpaling mengawasi Siangkwan Siau-sian.

Siangkwan Siau-sian sedang berseri tawa, tawa yang manis dan genit, sikapnya yang linglung kekanak-kanakan tadi sudah tak berbekas lagi dimukanya.

"O, kau! Kiranya kau!"

Ujar Thi Koh menghela napas.

"Kaupun tak mengira bukan?"

Tanya Siangkwan Siau-sian.

"Sungguh, mimpipun tak pernah kukira."

"Kaupun mengagumi aku?"

"Tak mungkin aku tidak mengagumi kecerdikanmu."

Siangkwan Siau-sian tepuk tangan gembira.

"Tak nyana ada juga orang yang mengagumi aku, sungguh senang ke pati-pati."

"Yap Kay juga pasti mengagumimu."

Ujar Thi Koh.

"sepenuh hati dia melindungi kau, tak nyana bahwasanya kau tidak perlu dilindungi, dengan seksama dia berusaha mencari biang keladi orang yang hendak mencelakainya, tak nyana orang yang dicari-carinya adalah kau sendiri."

Setelah menghela napas dia berkata pula.

"Yap Kay, Yap Kay, kau kira dirimu pintar, anggap dirimu jempolan, yang benar seujung jari orangpun kau bukan apa-apanya."

Siangkwan Siau-sian cekikikan, ujarnya.

"Apa kau sudah lupa aku ini putrinya siapa?"

"Sejak mula seharusnya aku ingat......"

Sahut Thi Koh getir.

Memang putri keturunan Siangkwan Kim-hong dengan Lim Sian-ji mana mungkin seorang linglung.

Tabir malam mulai menghilang, sinar lampu menjadi guram.

Sinar mata Siangkwan Siau-sian malah menyala, siapapun yang melihat dirinya sekarang, takkan percaya bahwa gadis gede yang semula dianggap seperti boneka ini adalah gadis linglung yang berjiwa kanak-kanak.

"Agaknya Ah Hwi pun kau kelabui."

"Memang laki-laki dilahirkan untuk ditipu oleh perempuan."

"Mereka kira kau ini linglung, orang pikun, justru kebalikannya yang pikun bukan kau, tentunya dalam pandanganmu, mereka itulah baru benar-benar orang pikun."

"Laki-laki yang tidak pikun memang sedikit jumlahnya,"

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"Nyo Thian bukan?"

"Sudah tentu dia bukan."

"Hanya kau yang tahu rahasianya?"

"Seorang gadis harus punya laki-laki yang menjadi sandarannya, kalau tidak bukankah dia akan selalu kesepian?"

"Lalu siapa yang menulis surat itu? Kau atau dia?"

"Sudah tentu dia yang menulis, tulisannya lebih elok dari tulisanku."

"Agaknya rencanamu memang sempurna, tak heran Yap Kay sendiripun kau kelabui."

"Untuk mengelabui dia memang bukan kerja yang gampang."

"Sayang sekali kau masih salah melakukan satu hal."

"Hal apa?"

"Seharusnya pihak kita tidak perlu kau jebloskan ke dalam pertikaian ini."

Ujar Thi Koh.

"sudah kukatakan perduli siapapun, bila berani cari gara-gara dengan Mo Kau, dia tidak akan memperoleh manfaat apa-apa, malah bukan mustahil bencana akan selalu mengintainya. Demikian pula keadaanmu."

"Siapa bilang aku hendak mencari permusuhan dengan kalian? Hakekatnya aku tiada maksud ini."

"Tapi kau..."

Siangkwan Siau-sian menukas.

"Tahukah kau Kaucu kalian yang baru saja menduduki jabatannya ada mengikat janji dengan seseorang?"

Seketika berubah muka Thi Koh, sudah tentu dia tahu, namun tak pernah terpikir olehnya bahwa Siangkwan Siausian pun mengetahui hal ini, bahwasanya hal itu amat rahasia.

Siangkwan Siau-sian tertawa, katanya.

"Tahukah kau siapakah orang yang mengikat janji dengan Kaucu kalian yang baru itu?"

Tiba-tiba bersinar biji mata Thi Koh, katanya.

"Memangnya orang itu adalah kau?"

"Seharusnya kau bisa menduganya,"

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"toh kau tahu bahwa Kaucu kalian adalah tokoh yang cerdik pandai dan cendekia, lihay lagi. Jikalau sebelumnya kita tiada ikatan janji, memangnya dia sudi hanya karena sepucuk surat kaleng mengerahkan begitu banyak tenaga dan menghabiskan banyak energi?"

"Apa dia tahu bahwa surat itu adalah tulisanmu?"

"Hal itu kulaksanakan setelah kita berunding cukup masak, mana mungkin dia tidak tahu."

Thi Koh tertawa sekarang, katanya.

"Setiap langkah kerjamu seolah-olah orang lain takkan pernah menduganya."

"Kalau aku bukan orang seperti yang kau bayangkan, masakah Kaucu kalian sudi berserikat dan mengikat janji segala dengan aku?"

Tak tahan Sim Koh yang masih lemas tertutuk dipeluk Nyo Thian itu menyeletuk.

"Kalau kau adalah serikat kita, kenapa tidak segera kau bebaskan aku?"

"Wah, ya, hampir saja kulupakan!"

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"Nyo Thian, kenapa tidak segera kau bebaskan Hiat-to nona ini?"

Nyo Thian mengiyakan.

Dengan senyum dia tepukkan telapak tangannya.

Mendadak Sim Koh menjerit mengerikan, darah menyembur dari mulutnya, badannya bergetar keras terus menjengking, ternyata tulang punggungnya tertepuk patah mentah-mentah.

Siangkwan Siau-sian mengerut alis, katanya.

"Aku hanya suruh kau membuka Hiat-to nya, kenapa kau gunakan tenaga sekeras itu?"

"Bukankah aku sudah membuka Hiat-to nya?"

"Tapi dia kau pukul mampus."

Tawar jawaban Nyo Thian.

"Tugasku hanya membuka Hiat-to nya, peduli dia hidup atau mati."

Siangkwan Siau-sian tersenyum ewa, katanya.

"Alasanmu memang masuk di akal."

Belum habis dia bicara, tiba-tiba Thi Koh melambung ke atas terus jumpalitan keluar, menerjang ke arah pintu.

Sayang sekali sebelum dia melayang keluar, jalannya sudah buntu dicegat Siangkwan Siau-sian.

Terpaksa dia beratkan badan melorot turun di tengah jalan.

Tanpa membuang waktu, dengan kertak gigi sekali renggut dia tarik rambut kepalanya, sigap sekali jari-jari tangannya membalik melolos sebilah pisau melengkung.

Di mana pisau berkelebat, bukan menyerang Siangkwan Siau-sian, tapi malah menusuk ke pundak sendiri.

Tak nyana lengan baju Siangkwan Siau-sian terayun dan dari dalam lengan bajunya terbang seutas selendang sutra laksana ular sakti saja membelit pergelangan tangannya sehingga orang tak bisa berkutik lagi.

Beringas muka Thi Koh, sentaknya.

"Aku ingin matipun tidak boleh?"

"Sudah tentu kau boleh mampus, tapi aku tak ingin kau mampus di tanganmu sendiri."

"Aku toh tidak akan membunuhmu."

"Aku tahu, tapi kau hendak menggunakan Sin-to-hoat-hiat (golok sakti berubah darah) dari Mo-hiat-tay-hoat untuk menghadapiku. Waktu darahmu muncrat, asal setetes saja menyentuh badanku, aku bisa mati, kan lebih baik kalau aku kau gorok saja dengan pisaumu?"

"Kau juga tahu Mo-hiat-tay-hoat?"

"Tidak banyak yang kutahu, tapi sepuluh ilmu sakti Mo Kau jelas kuketahui."

Tiba-tiba Thi Koh pentang mulutnya, seperti hendak menggigit putus lidahnya.

Tapi dagunya tiba-tiba dijepit, sakitnya luar biasa.

Gerak-gerik Siangkwan Siau-sian seakan lebih cepat dari jalan pikirannya.

Gemetar dingin sekujur badan Thi Koh.

"Tadi sudah kukatakan, sepuluh ilmu sakti dari Mo Kau kalian tiada gunanya kau paparkan di hadapanku, malah aku bisa mendemonstrasikan dua macam diantaranya di hadapanmu."

Tiba-tiba dia lepaskan dagu Thi Koh, merebut pisau melengkung di tangan orang, terus diangsurkan ke dalam mulutnya, seperti makan pisang saja nikmatnya dia gerogoti ujung pisau melengkung itu dan ditelan bulat-bulat.

Lau dengan tersenyum dia berkata pula.

"Kau saksikan sendiri, Kiau-thi-tay-hoat kalian bukankah akupun bisa menggunakan?"

Mencotot biji mata Thi Koh saking ngeri dan ketakutan, suaranya serak.

"Kau.......... apa yang sebenarnya kau inginkan?"

"Seharusnya kau tahu sendiri, kenapa masih tanya kepadaku?"

"Kau adalah serikat Kaucu, kenapa kau tega turun tangan sekeji ini kepada kami?"

"Justru karena aku serikatnya, maka dia tidak akan menduga aku tega turun tangan keji terhadapmu, aku lebih leluasa dan boleh lega hati membunuh kalian."

Lalu dengan tersenyum sadis dia menambahkan.

"Kau pernah bilang, mimpipun orang tidak pernah menduga akan tindakan kami."

Belum habis dia bicara, tangannya tiba-tiba bergerak, pisau melengkung yang tersisa separo tahu-tahu menghunjam tenggorokan Thi Koh.

Melotot besar biji mata Thi Koh, tak sempat mengeluarkan sepatah kata, pelan-pelan dia terjungkal roboh.

Dengan mendelong Siangkwan Siau-sian mengawasi badan orang roboh, katanya menghela napas.

"Selamanya tak pernah terasa olehnya bahwa membunuh orang adalah kerja yang tak menggembirakan, kenapa banyak orang justru senang membunuh orang?" (Bersambung ke Jilid-6 Jilid-6 Nyo Thian tersenyum, katanya.

"Karena manusia dalam dunia ini sudah terlalu berdesakan."

"Agaknya hanya kau seorang saja yang menjadi kawan dekatku dalam dunia ini."

"Memangnya aku ini kan rase, rase yang bisa terbang malah."

Ujar Nyo Thian.

"Julukanmu agaknya tidak akan meleset dari kenyataan."

"Orang boleh salah mengambil nama, tapi julukan tidak akan keliru."

"Agaknya kau memang seekor rase."

Puji Siangkwan Siau-sian. Tiba-tiba Siangkwan Siau-sian bertanya.

"Bagaimana dengan Han Tin?"

"Tentunya masih berdiri di dalam hutan, menunggu Sim Koh untuk menolongnya."

"Tentu hatinya sudah terbakar saking gugup."

Ujar Siangkwan Siau-sian.

"kenapa tidak lekas kau tolong membebaskan deritanya?"

"Tak perlu aku susah-susah, lama-lama dia akan bebas sendiri."

"Tapi kau harus lekas bantu dia supaya tidak menderita terlalu lama? Apa sih jeleknya seseorang ada kalanya berbuat baik?"

"Kau ingin aku pergi membantunya?"

"Aku ingin kau pergi, aku senang orang yang suka berbuat baik."

"Sebetulnya aku membatasi diriku sendiri, sehari hanya boleh membunuh satu orang, agaknya hari ini aku harus melanggar pantanganku sendiri."

Ujar Nyo Thian.

Waktu Nyo Thian keluar, fajar sudah menyingsing.

Ganti berganti Siangkwan Siau-sian mengawasi Bak Pek, Wi Thian-bing, Sim Koh, Thi Koh yang rebah di lantai, wajahnya mengulum senyum manis, gumamnya.

"Agaknya tempat ini sudah cukup lebar dan terbuka......"

Sinar terang sudah kelihatan di luar jendela. Malam sudah berganti pagi. Siangkwan Siau-sian membungkukkan badan, menggoyang badan Yap Kay pelan-pelan, katanya lembut.

"Hari sudah terang tanah, kau pemalas ini kenapa tidak lekas bangun?"

Yap Kay merintih sekali, pelan-pelan dia membuka mata, pandangannya kosong dan nanar, seperti hendak meronta bangun, namun dia jatuh pula.

Sekujur badannya lemas lunglai, sedikitpun tak mampu mengerahkan tenaga.

Terpancar rasa prihatin dari sorot mata Siangkwan Siausian, katanya.

"Kau tidak enak badan?"

Yap Kay manggut-manggut, sahutnya tertawa getir.

"Agaknya aku jatuh sakit."

"Sakit apa?"

Tanya Siangkwan Siau-sian.

"Sakit goblok!"

Sahut Yap Kay.

"Apa goblok juga penyakit?"

"Bukan saja penyakit, malah penyakit kronis yang berbahaya."

Ujar Yap Kay.

"Tahukah kau cara bagaimana nenek moyang anjing beruang mampus?"

Siangkwan Siau-sian geleng-geleng.

"Mati lantaran goblok."

"Mana mungkin orang mati lantaran goblok"

"Sebetulnya aku sendiri tidak percaya, baru sekarang aku tahu, orang-orang dalam dunia yang mati lantaran goblok ternyata tidak sedikit jumlahnya."

"Kau takut, kaupun bakal mati lantaran penyakit goblok?"

"Penyakitku sekarang sudah cukup parah."

"Sebetulnya kau ini tidak goblok, hanya hatimu terlalu lemah."

"Kalau hatiku tidak lemah, memangnya aku sudi menggendong boneka orang?"

"Itu bukan boneka, itu adalah Popoku, Popoku sayang."

"Agaknya dia tidak sayang, dia bisa gigit orang malah."

"Yang terang dia ingin menggigitmu sampai mati, kalau tidak sebelum kau mati lantaran penyakit goblokmu, kau sudah mampus keracunan."

"Jadi waktu kau serahkan kepadaku, kau sudah membuka kunci rahasianya?"

"Aku hanya membuka separo saja."

"Begitu aku melihat Ting Hun-pin roboh, karena gugup dan jari tangan sedikit menggunakan senjata, maka kunci rahasianya lantas terbuka seluruhnya."

Ujar Yap Kay.

"Walau dia sedikit membuat kau kesakitan, tapi kau membantingnya juga."

Katanya sambil menuding ke lantai.

"coba lihat, kau sudah membantingnya sampai hancur."

Yap Kay tidak melihat ke arah boneka yang sudah hancur. Sebaliknya matanya tertuju ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan itu, katanya menghela napas.

"Agaknya memang tidak malu kau jadi putri Siangkwan Kim-hong dan Lim Sian-ji."

"Lambat laun kau akan menyadari, masih banyak kebaikanku."

"Kini hanya sepatah kata yang ingin kutanya kepadamu."

"Boleh kau tanya sesuka hatimu"

"Kau ini manusia atau bukan?"

Sedikitpun tak berubah muka Siangkwan Siau-sian, sahutnya tersenyum.

"Sudah tentu aku manusia, malah perempuan, perempuan cantik molek lagi."

"Sayangnya menurut pandanganku kau tidak mirip manusia, kalau manusia dia takkan melakukan semua ini."

"Melakukan apa?"

"Kau ingin mencelakai aku, hal ini sudah kumaklumi, karena kau ingin menuntut balas, karena secara kebetulan pula aku adalah murid Siau Li Tham-hoa."

"Ya, memang kebetulan sekali."

Ujar Siangkwan Siau-sian menghela napas.

"Tapi orang-orang ini tiada bermusuhan, tidak dendam kepadamu, kenapa kau bunuh mereka?"

"Karena satu benda!"

"Benda apa?"

"Coba lihat, apakah ini?"

Dia merogoh keluar sebuah benda kuning kemilau.

"Itu seketip uang."

Kata Yap Kay.

"Ya, tapi uang apa?"

"Uang mas!"

"Bisakah kau membaca huruf-huruf di atas uang ini?"

Sudah tentu Yap Kay bisa membacanya.

Di atas uang ada tulisan yang berbunyi "Memerintah setan menjadi malaikat".

Waktu sinar surya menyorot masuk ke dalam rumah, kebetulan menyinari uang mas di tangan Siangkwan Siau-sian.

Sinar mata Siangkwan Siau-sian pun seterang kemilau uang mas ini, katanya.

"Uang bisa memerintah setan, bisa mengendalikan malaikat. Pelan-pelan kau akan menyadari, bahwa tiada sesuatu benda di dalam dunia ini yang lebih baik daripada uang."

Bergetar perasaan Yap Kay, serunya.

"Inilah pertanda khas dari Kim cie-pang dulu?"

Siangkwan Siau-sian manggut-manggut, ujarnya.

"Kim-cie-pang didirikan Siangkwan Kim-hong, kebetulan aku adalah putrinya Siangkwan Kim-hong. Walaupun Siangkwan Kim-hong sudah mati, namun aku belum mati."

"Maka kau hendak membangkitkan Kim-cie-pang dari liang kubur?"

"Yang terang aku tidak akan berpeluk tangan melihat keruntuhan total Kim-cie-pang."

"Sudah lama kau merencanakan hal ini?"

"Bukan saja sudah lama, bahkan rencanaku amat baik."

"Sampai Nyo Thian pun kau peralat?"

"Memangnya dia itu seekor rase, rase yang bisa terbang."

"Bukan saja bisa terbang, diapun bisa menggigit orang, terutama menggigit teman sendiri."

"Untung aku bukan temannya."

"Lalu, kau pernah apa dengan dia?"

"Aku adalah majikannya. Aku adalah Pangcu-nya."

"Kau sudah mengangkat diri sebagai Kim-cie-pang Pangcu?"

"Usaha yang diwariskan sang ayah, apa tidak setimpal putrinya yang menerimanya?"

"Kecuali Nyo Thian, berapa pula anak buahmu?"

"Yang kecil-kecil atau pekerja kasar tak terhitung jumlahnya, yang besar-besar saja sih, baru ada lima."

"Lima orang saja?"

"Menurut susunan organisasi Kim-cie-pang, seharusnya ada dua Hu-hoat besar dan empat Tong-cu."

"Kenapa dulu aku tidak pernah dengar tentang ketentuan ini?"

"Memang, ketentuan ini baru saja ditegakkan."

"Siapa yang menentukan?"

"Aku!", sahut Siangkwan Siau-sian.

"empat Tongcu sudah kuperoleh, Nyo Thian adalah salah satu di antaranya."

"Lalu siapa pula tiga Tongcu yang lain?"

Senyum Siangkwan Siau-sian penuh arti, katanya.

"Kelak kau akan mengerti."

"Sekarang aku tak bisa menebaknya?"

"Mimpipun kau tidak akan menduganya."

"Lalu siapa pula ke dua Huhoat?"

"Huhoat berarti pembantu di kanan-kiriku, untuk ini tentunya aku tidak boleh serampangan."

"Maka kau baru memperoleh satu saja."

"Sekarang aku memang sedang mencari seseorang lain."

"Siapa yang kau penujui?"

"Kau!"

Yap Kay tertawa besar.

"Bukan aku sedang berkelakar dengan kau, asal kau mau menerima, kau adalah Huhoat nomor satu dari Kim-cie-pang."

"Kalau aku menerima, apa kau mau percaya?"

"Ya, aku tidak akan percaya kepadamu."

Jawaban Siangkwan Siau-sian terus terang. Ditatapnya Yap Kay lekat-lekat, katanya menghela napas.

"Memang kelihatannya kau bukan laki-laki yang bisa dipercaya oleh perempuan."

"Maka terpaksa kau hendak membunuhku?"

"Tidak perlu tergesa-gesa membunuhmu."

"Sebaliknya aku ingin mati secepatnya, soalnya bila tenagaku pulih, sekali tangkap kau berhasil kubekuk, terus ku banting hancur seperti bonekamu itu, apa tidak runyam jadinya?"

"Memang runyam juga, tapi untungnya tenagamu takkan pulih secara mendadak. Jarum yang menusuk perutmu ada tercampur obat bius."

"Obat bius?"

"Obat bius yang cukup membuat orang kehilangan tenaga saja, asal sekaligus kau mampu menghabiskan lima kati arak, baru kadar biusnya akan hilang sendirinya."

"Obat bius ini tentu bikinan setan arak, kebetulan aku inilah setan araknya."

"Yang tidak kebetulan, di daerah sekitar sini tiada orang yang jual arak."

"Kau memang bukan tuan rumah yang baik, masakah arak untuk suguhan tamupun tidak sedia?"

"Kau harus tahu, biasanya aku menyuguh air tetek kepada tamu-tamuku."

"Sayang, aku bukan boneka."

"Siapa bilang kau bukan, selanjutnya kau akan kupandang sebagai bonekaku."

Kalau orang tertawa riang dan jenaka, sebaliknya merinding bulu kuduk Yap Kay.

Jikalau dirinya sampai jadi boneka dan minum tetek gadis ini, rasanya tentu lebih tersiksa daripada terenggut jiwanya.

Untunglah pada saat itu dia melihat Nyo Thian melangkah masuk.

Air mukanya lesu dan jelek, mirip suami yang cemburu melihat bininya kencan dengan laki-laki lain.

Bertaut alis Siangkwan Siau-sian, segera dia berpaling dengan tertawa manis, katanya.

"Kelihatannya kau belum membunuh orang. Setelah membunuh orang biasanya kau riang hati."

"Sungguh hatiku tidak bisa riang."

"Kenapa?"

"Karena aku tak membunuh orang."

"Lalu di mana Han Tin?"

"Entahlah, Han Tin hilang!"

"Manusia segede itu masakah hilang tanpa bekas?"

"Bekas kakinya memang ada."

"Kau sudah memeriksa dan mengikuti jejaknya?"

"Setelah keluar hutan, jejak kakinya tiba-tiba hilang."

"Dia sudah keracunan, sedikit bergerak saja racun bekerja dan jiwanya tamat."

"Tapi kenyataan dia menghilang. Agaknya penilaian kita keliru terhadapnya."

"Tentunya dia sudah merasakan keganjilan urusan ini, maka sengaja pura-pura keracunan, sehingga orang lain tidak memperhatikan dia, sudah tentu dengan leluasa dia mengundurkan diri."

"Jangan lupa julukannya adalah gurdi."

"Hanya dua cara untuk menghadapi orang seperti dia,"

Kata Siangkwan Siau-sian.

"kalau tidak bisa merangkulnya ke pihak kita, terpaksa harus dibunuh secepatnya."

"Tapi dia sudah pergi dan entah kemana?"

"Jangan kuatir, kan masih ada aku. Tugasmu sekarang menjaga Yap Kay di sini. Tunggu sampai aku kembali, nanti kubelikan gula-gula."

Ooo)dw(ooo Nyo Thian duduk-duduk di hadapan Yap Kay.

"Sejak umur tiga tahun, aku sudah tidak pernah makan gula-gula,"

Ujar Yap Kay membuka kesunyian.

"sekarang aku hanya ingin minum arak."

"Apa benar kau ingin minum arak?"

"Kecuali minum arak, apa pula yang dapat kulakukan?"

Nyo Thian seperti mempertimbangkan, mendadak dia berdiri, katanya.

"Baiklah! Kucarikan arak, tapi kau tunggu saja di sini, jangan berusaha lari lho!"

Yap Kay mengantar punggung orang keluar, sorot matanya bercahaya.

Timbullah setitik harapan.

Cepat sekali Nyo Thian sudah kembali, tangannya menjinjing sebuah ceret besar dari tembaga, bobotnya amat berat.

Umpama ceret besar ini tidak terisi penuh, sedikitnya dia sudah membawa lima enam kati arak.

"Eh, ternyata kau tidak lari."

Sapa Nyo Thian.

"Aku tahu diriku takkan lolos."

"Bagus sekali!"

Ujar Nyo Thian seraya meletakkan ceret itu di atas lantai. Yap Kay tidak mampu berdiri, terpaksa dia memohon.

"Tolong kau angsurkan kemari."

"Lebih baik jarakmu lebih jauh dari aku."

Ujar Nyo Thian.

Yap Kay menghela napas, terpaksa dia meronta merangkak maju terus ulurkan mulutnya ke mulut ceret serta menyedot sekuatnya.

Tapi hanya sekumur tegukan, air mukanya lantas berubah, serunya.

"Ini bukan arak, kenapa kau menipu aku?"

"Karena aku ingin lihat apa macammu di waktu merangkak di tanah."

Ujung jari Yap Kay terasa dingin, ingin rasanya dia menubruk Nyo Thian serta menuang seluruh air dingin seceret besar itu ke dalam perutnya. Nyo Thian tertawa dingin, katanya.

"Memang ini hanya air kuning melulu, bahwa aku tidak meloloh air kencing untuk kau minum sudah merupakan keberuntungan."

Yap Kay menghela napas, katanya.

"Sebetulnya aku tidak jelek, kenapa kau membenciku?"

"Selamanya aku tidak suka boneka."

"O, jadi kau cemburu?"

Yap Kay mengerti dibuatnya.

"apa benar kau menyukai Siangkwan Siau-sian, memangnya kau belum mengerti perempuan macam apa dia sebenarnya?"

Kedutan ujung mata Nyo Thian, kelopak matanya memicing, kedua jari-jarinya mengepal kencang, desisnya mengancam.

"Aku hanya mengerti satu hal, sekali lagi kau buka mulut, biar ku rontokkan seluruh gigi dalam congormu."

Yap Kay angkat pundak, dia menghela napas.

Seluruh mulut terasa getir, dia ingin benar lekas minum arak sepuasnya.

Habis mengancam dengan marah-marah, Nyo Thian berdiri mendorong daun jendela terbuka.

Angin dingin segera meniup masuk ke dalam.

Baru saja Nyo Thian menarik napas panjang, tiba-tiba didengarnya seseorang berkata dingin di belakangnya.

"Kau mencari aku?"

Han Tin, si gurdi, tahu-tahu sudah berada di belakangnya.

Tanpa berpaling badan Nyo Thian tiba-tiba melambung ke atas, di tengah udara badannya bersalto menempel atap rumah.

Dia tidak melihat Han Tin.

Tahu-tahu kumandang suara orang dari luar pintu.

"Ginkang bagus, memang tidak malu kau dijuluki rase terbang."

Suara Han Tin.

Sigap sekali Nyo Thian membalikkan tangan, tahu-tahu dia lolos tombak berantai yang membelit di pinggangnya.

Di atap rumah dia melesat satu tombak, lalu menempel dinding, seperti seekor cecak dia melorot turun ke belakang pintu.

Sekonyong-konyong tombak berantai yang kemilau perak itu terayun terus menerjang keluar.

Tiada orang di luar pintu.

Terdengar di belakangnya orang berkata pula.

"Nah, aku di sini!"

Ternyata Han Tin sudah berputar masuk dari luar, melayang masuk dari jendela, berada di belakangnya pula.

Rantai perak lemas di tangan Nyo Thian diayun dengan landasan lwekangnya yang hebat menjadi kaku lempang, langsung menusuk ke tenggorokan Han Tin.

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 2

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert