Ceritasilat Novel Online

Rahasia Mo Kau Kaucu 1

Eps 1 Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Baca online Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung

Cersil Rahasia Mo Kau Kaucu - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com RAHASIA MO-KAU KAUCU The Flying Eagle in the Ninth Month Jiu Yue Ying Fei Karya. Khu Lung -Diceritakan oleh. Gan K.H. Ebook oleh . Dewi KZ

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com

http.//dewikz.byethost22.com

http.//cerita-silat.co.cc/

http.//ebook-dewikz.com Jilid-1 Hujan salju berlarut panjang, pagi itu udara tampak cerah, namun hawa tetap dingin, salju bertumpuk tebal dan mengeras menjadi es.

Jalan raya itu masih sepi belum kelihatan orang berjalan, setiap pintu dan jendela rumah-rumah sepanjang jalan raya ini masih tertutup, alam semesta seakan-akan diliputi keheningan yang menegangkan serta bau membunuh.

Dengan mengenakan mantel kulit rase tebal, Tong Thong-san duduk di atas kursi besar yang dilembari kulit harimau di ujung jalan raya, matanya memandang lurus ke jalan raya di hadapannya nan sunyi beku, dalam hati dia bersorak gembira.

Dia amat puas karena perintahnya dilaksanakan dengan baik.

Jalan raya ini tertutup untuk penduduk, kini dia jadikan sebagai medan laga, dalam jangka setengah jam, dia sudah siap mencuci tumpukan salju yang mengeras itu dengan cucuran darah Lo Toh dari Sek-ek.

Detik-detik yang ditunggu menjelang datang, jika ada orang, perduli siapa dia beranjak di jalan raya ini, maka orang itu harus dibunuh, meski hanya kakinya saja yang menginjak jalan raya ini, maka kaki itu harus dipotong.

Kota ini miliknya, siapapun jangan harap bercokol di tanah kekuasaannya, demikian pula Lo Toh dari Sek-ek pun.

Kecuali Wi-pat-tay-ya, siapapun jangan harap bisa menghalangi kemauannya.

Puluhan laki-laki tegap berpakaian ketat siap-siaga, berdiri jajar di belakangnya, tangan lurus, muka beringas diliputi hawa membunuh.

Di kanan kiri Tong Thong-san terdapat dua kursi besar pula.

Seorang pemuda bermuka pucat, bersifat congkak dan dingin, duduk bermalas-malasan di kursi kiri, tubuhnya berselimut kulit bulu panjang warna kelabu, harganya ribuan tahil emas, jari kelingkingnya menggantol sebilah pedang panjang yang dihiasi jamrut dan permata kemilau, bersarung hitam, pedang di obat-abitkan.

Pemuda ini merasa tugas yang harus dia selesaikan terlalu membosankan, karena dia merasa kurang setimpal turun tangan terhadap lawan sejenis Lo Toh dari Sek-ek ini.

Orang di sebelah kanan berusia lebih muda, dengan sebatang Yan-ling-to yang kemilau, dia sibuk membersihkan kuku jarinya.

Kelihatan dia pura-pura tenang, namun wajahnya yang menampilkan watak kanak-kanak kelihatan merah lantaran tegang dan emosi.

Tong Thong-san memahami perasaan pemuda ini.

Waktu pertama kali dia menjalankan tugas yang diperintahkan Wi-pat-tay-ya dulu, demikian pula keadaannya.

Tapi dia tahu kalau pemuda ini berjajar nomor dua belas di antara Cap-sha-thay-po dalam perguruan Wi-pat-tay-ya.

Yan-ling-to yang selalu dibawanya itu pasti takkan mengecewakan orang.

Memang Cap-sha-thay-po asuhan Wi-pat-tay-ya selama ini belum pernah mengecewakan orang.

ooo)dw(ooo Tiba-tiba seekor anjing kurus berlari mencawat ekor dari ujung lorong di bawah tembok sana melintas jalan raya.

Pemuda bermuka tahi lalat mengawasi anjing yang berlari di jalan itu, wajahnya menampilkan mimik aneh, pelan-pelan tangan kiri merogoh ke saku, mendadak tangannya terayun ke depan.

Sinar putih pelan berkelebat secepat kilat, tahu-tahu anjing itu mampus terpantek di jalan raya.

Sebilah golok pendek kecil menembus tenggorokannya, darahnya mengalir membasahi salju, kelihatan merah menyolok.

Menyala semangat Tong Thong-san, dia berseru memuji.

"Bagus, cepat benar Cap Ji-te turun tangan."

Pemuda itu amat puas akan buah karyanya, katanya angkuh.

"Tong Lo-toa sudah memberi perintah, perduli manusia atau anjing, asal keluyuran di jalan raya ini, aku Toan Cap-ji pasti akan merenggut jiwanya."

Tong Thong-san mendongak tertawa gelak-gelak, serunya.

"Ada Sin Su-te dan Cap Ji-long yang gagah perkasa di sini, jangan hanya seorang Lo Toh saja, umpama sekaligus datang sepuluh, kitapun tak perlu takut."

Sin-su justru menanggapi dengan sikap dingin.

"Hari ini tiada giliranku turun tangan." . Pedang yang kontal-kantil di ujung jari kelingkingnya tiba-tiba berhenti, demikian pula gelak tawa Tong Thong-san sirap seketika. Dari ujung jalan sebelah sana, muncul serombongan orang dengan melangkah cepat mendatangi. Jumlahnya tiga puluhan orang, semua mengenakan seragam hitam, baju pendek celana kencang, kakinya mengenakan sepatu tinggi, langkah mereka berderap serempak di atas salju. Yang terdepan adalah seorang laki-laki bermata besar beralis tebal, kulit mukanya gosong dan tebal serta ulet. Dia inilah laki-laki gagah nomor satu dari Sek-ek, Toa-gan (Si Mata Besar) Lo Toh. Melihat orang ini, kulit muka Tong Thong-san mengejang dan kedutan, kelopak matanya mengerut bergetar. Seorang pemuda berpedang tiba-tiba lari ke belakangnya, berdiri tegak memegang gagang pedang. Maka terdengarlah pedang golok terlolos serta busur dan anak panah yang siap dibidikkan. Suasana menjadi tegang, kecuali suara langkah yang makin dekat, alam semesta ini seolah-olah sudah beku dan lengang. Lekas sekali rombongan serba hitam itu sudah dekat, sekonyong-konyong sebuah pintu kecil sempit di pinggir jalan sana menjeblak, empat belas orang berpakaian serba putih beruntun keluar, menyongsong kedatangan Lo Toh dari Sek-ek, satu diantaranya tampil bicara dengan suara pelan, entah apa yang dibicarakan, tapi Lo Toh berdiri tegak tanpa bergerak, juga tidak memberi reaksi. Kejap lain rombongan serba putih ini menghampiri Tong Thong-san. Baru sekarang Tong Thong-san sempat perhatikan orang ini mengenakan pakaian tipis dari kaci putih. Di punggung mereka menggendong tikar, tangannya menjinjing pentung, semua mengenakan sepatu rumput. Hawa sedingin ini, tapi orang-orang ini tidak kelihatan kedinginan, padahal kaki tangan mereka sudah merah biru karena hampir beku, raut muka mereka sudah membesi hijau pucat seperti mayat hidup, kelihatannya seram menakutkan. Waktu mereka tiba di pinggir bangkai anjing, malah seorang berjongkok menurunkan gulungan tikar serta menggulung bangkai anjing di dalamnya serta diikatnya kencang di ujung tongkatnya, lalu tersipu mengejar kawan-kawannya. Air muka Toan-cap-ji sudah berubah, tangan kirinya merogoh ke dalam baju, dia siap menimpukkan golok pendeknya pula. Namun Tong Thong-san mencegah dengan kerlingan mata, katanya menekan suara.

"Kelihatannya orang-orang ini agak aneh, lebih baik kita cari tahu dulu maksud kedatangan mereka" . Toan-cap-ji tertawa dingin, jengeknya.

"Umpama benar mereka aneh, setelah menjadi mayat tentu tak aneh lagi."

Meski mulut membantah, namun dia urung turun tangan. Maka berserulah Tong Thong-san dengan suara rendah.

"Tong Yang!."

Pemuda seragam ketat menyoren pedang di belakangnya segera mengiakan.

"Sebentar kau maju dan jajal kepandaian mereka, kalau kurang beres, harus segera mundur, jangan lama-lama melayani mereka" . Bercahaya biji mata Tong Yang, sahutnya.

"Tecu mengerti."

Tampak laki-laki baju putih yang tampil bicara tadi mengulap tangan, rombongan itu segera berhenti setombak jauhnya.

Laki-laki ini bermuka lonjong seperti muka kuda, mukanya penuh berewok, berkulit ungu, ke dua biji matanya sipit panjang, tulang pipinya tinggi, mulutnya besar dan lebar seperti hampir mencapai kupingnya, dan dandanannya tidak beda dengan rombongan lain, tapi sekilas pandang orang sudah tahu bahwa dia adalah pemimpin rombongan ini.

Dengan tatapan tajam Tong Thong-san awasi muka orang, mendadak bertanya.

"Siapa nama besar tuan?"

"Bak Pek.", sahut orang itu.

"Datang dari mana?"

"Dari Ceng-seng"

"Untuk apa kemari?"

"Semoga pertumpahan darah dapat dicegah dan damailah abadi" , sahut Bak Pek dingin. Mendadak Tong Thong-san terloroh-loroh, serunya.

"Jadi saudara hendak memisah perkelahian?"

"Begitulah maksud baik kami"

"Memangnya kau mampu dan setimpal jadi pemisah?"

Muka Bak Pek tidak menampilkan perasaan apa-apa, agaknya dia ogah bicara lagi. Tong Yang sebaliknya sudah amat gatal, segera ia maju ke depan, bentaknya bengis.

"Mau memisah gampang, kau tanya dulu pedang di tanganku ini mau dipisah tidak?".

"Sreng..." , tiba-tiba tangannya terbalik, pedang sudah terlolos dari serangkanya. Jangan kata meladeni, melirikpun Bak Pek tidak kepadanya, dari belakangnya tampil seorang anak laki-laki serba putih bertubuh kecil, usia orang ini baru empat lima belas tahun, jadi masih bocah. Keruan Tong Yang mengerut alis, tanyanya.

"Kau, setan cilik ini mau apa-apa?"

Muka bocah baju putih dingin kaku tidak berperasaan, sahutnya tawar.

"Mau tanya apakah pedangmu mau dipisah tidak?"

"Kau yang mau tanya?", Tong Yang gusar.

"Kau pakai pedang", ujar bocah baju putih.

"kebetulan akupun pakai pedang."

Mendadak Tong Yang terbahak-bahak seperti orang gila, serunya.

"Bagus, biar ku singkirkan kau lebih dulu, bicara belakangan." , di tengah gelak tawanya, tahu-tahu pedangnya menusuk ke depan laksana ular beracun memagut, yang diincar ulu hati bocah baju putih. Bocah baju putih pentang kedua tangannya, dari dalam pentung pendek, dia mencabut sebilah pedang tipis sempit. Tampak jelas oleh Tong Yang tusukan pedang dengan tipu Tok-coa-toh-sin (ular beracun menjulurkan lidah) secara telak menusuk ulu hati orang, namun bocah ini tidak berkelit atau menangkis, matanyapun tidak berkesip.

"Cras..." , pedang di tangan Tong Yang menghujam ke ulu hatinya. Darah segar muncrat beterbangan, namun saat itu juga pedang di tangan si bocah baju putih bergerak dengan tipu yang sama.

"Bles..." , dengan telak menusuk di ulu hati Tong Yang. Sekonyong-konyong seluruh gerakan berhenti, deru napasnyapun tertahan. Gebrakan ini berlangsung amat cepat pula. Air muka hadirin berubah hebat, sungguh mereka tidak percaya akan akhir dari pertempuran ini. Bagai air mancur darah masih bercucuran membasahi salju. Muka si bocah baju putih tetap kaku dingin tak berubah, namun kedua biji matanya melotot keluar seperti mata ikan mas, menatap ke arah Tong Yang, sorot matanya melontarkan ejekan menghina dan mencemoohkan. Sebaliknya kulit muka Tong Yang kelihatan tegang, berkerut-kerut seperti orang menahan sakit, sorot matanya menampilkan rasa heran, marah dan takut. Sampai ajal dia tidak percaya, dalam dunia ini ada bocah senekad ini, berani mati tanpa berkesip. Lebih tak nyana bahwa kejadian tragis ini justru menimpa dirinya. Sudah tentu matipun dia penasaran. Keduanya masih beradu pandang, lambat laun sorot mata kedua orang makin pudar, kosong dan tak bercahaya lagi, lalu keduanya terjungkal roboh. Seorang laki-laki baju putih muncul dari rombongan belakang, dia turunkan gulungan tikar, lalu dibungkusnya mayat bocah itu serta diikat dengan tali panjang serta digantung di ujung tongkatnya, pelan-pelan dia balik ke dalam barisannya. Muka orang ini tetap dingin dan kaku seperti temannya yang membereskan bangkai anjing tadi. ooo)dw(ooo Angin kencang tiba-tiba menghembus datang dari kejauhan, hawa terasa lebih dingin. Tapi semua laki-laki yang berdiri di belakang Tong Thong-san mencucurkan keringat dingin, telapak tanganpun basah kuyup. Bak Pek menatap Tong Thong-san, katanya tawar.

"Apakah tuan sudah mau damai?"

Toan-cap-ji tiba-tiba melompat ke depan, bentaknya bengis.

"Kau tanya dulu golokku......."

Seorang laki-laki baju putih kembali tampil dari belakang Bak Pek, katanya.

"Biar aku yang tanya."

"Kaupun menggunakan golok?", tanya Toan-cap-ji.

"Benar" , sahut laki-laki baju putih. Begitu tangannya terkembang, dari tongkat pendeknya dia keluarkan sebilah golok. Baru sekarang Toan-cap-ji sempat perhatikan, tongkat pendek yang mereka bawa beraneka bentuknya, ada yang lebar, tipis, ada yang bundar atau gepeng, jelas di dalamnya menyimpan berbagai senjata yang berlainan. Kalau lawan menggunakan pedang, mereka menghadapi dengan pedang, demikian pula kalau musuh pakai golok, merekapun gunakan golok. Toan-cap-ji tertawa dingin, jengeknya.

"Baik, kau lihat golokku ini" , tubuhnya bergerak setengah lingkar, tahu-tahu Yan-ling-to menyambar dengan suara menderu kencang membabat ke pundak kiri laki-laki baju putih. Ternyata laki-laki baju putih tidak berkelit tidak menghindar, golok di tangannya berbareng bergerak dengan jurus Li-pik-hoa-san (berdiri membelah gunung Hoa-san), goloknyapun membabat pundak kiri Toan-cap-ji. Tapi tingkat kepandaian Toan-cap-ji lebih tinggi dari Tong Yang, kelihatannya jurus serangannya sudah dilancarkan sepenuhnya, namun laksana kuda berhenti di ambang jurang, badan berputar kaki menggeser sekaligus tajam goloknya ikut berputar balik, dari gerak delapan penjuru yang mengandung serangan golok, mendadak berubah terbalik memukul genta mas, sinar goloknya yang kemilau laksana bianglala membelah dada laki-laki baju putih. Tak nyana laki-laki baju putihpun laksana menghentikan kuda di ambang jurang, dari gerakan delapan penjuru mengandung serangan, golok berubah terbalik memukul genta mas. Walau gerakannya sedikit terlambat, tapi jikalau Toan-cap-ji tidak lekas merubah gerakannya, umpama dia membelah lawannya, jiwa sendiripun takkan selamat. Kalau laki-laki baju putih tidak hiraukan mati hidupnya, dia justru masih ingin hidup. Waktu melancarkan serangannya ini, sebelumnya sudah siaga menghadapi segala perubahan. Mendadak mulutnya bersiul nyaring, kedua tangan terkembang dan menggetar, badannya melambung ke tengah udara, waktu menukik turun, goloknya membacok leher laki-laki baju putih dari kiri. Kali ini dia menyerang dari atas, jelas kedudukannya lebih menguntungkan, seluruh badan laki-laki baju putih sudah terkurung di dalam sinar goloknya, bukan saja tak mampu merubah permainan, untuk menyelamatkan diripun tak mungkin lagi. Tapi orang baju putih memang tidak mau berkelit. Di kala golok Toan-cap-ji membabat leher, golok lawanpun menusuk lambung Toan-cap-ji. Golok tiga kaki itu amblas seluruhnya, tinggal gagangnya yang masih terpegang. Keruan Toan-cap-ji memekik bagai guntur menggelegar, badannya yang kekar meluncur tegak bagai roket yang meninggalkan landasan setinggi dua tombak. Darah segar muncrat bagaikan hujan lebat, membasahi sekujur badan laki-laki baju putih. Mukanya tetap dingin kaku tak berperasaan. Setelah Toan-cap-ji terbanting jatuh dari tengah udara, baru dia ikut terjungkal roboh. Keruan berubah hebat muka Tong Thong-san, bergegas dia melompat bangun, bentaknya beringas.

"Ilmu silat macam apa itu?".

"Memangnya ini bukan ilmu silat", sahut Bak Pek tawar.

"Lalu terhitung apa?"

"Hanya sebagai peringatan belaka."

"Peringatan?"

"Peringatan ini memberitahu kepada kita, jikalau kau bertekad membunuh orang, orangpun akan membunuhmu"

Sin Su tertawa dingin.

"Kukira belum tentu" , jengeknya. Dia tetap menggantol ujung pedangnya dengan jari kelingking, pelan-pelan dia maju sehingga ujung pedangnya terseret di atas salju, mengeluarkan suara gemerincing. Raut mukanya yang pucat seperti bercahaya, demikian pula sorot matanya bersinar tajam, katanya dingin.

"Jikalau aku ingin membunuh, jangan harap kau bisa membunuhku."

"Kukira belum tentu."

Seorang laki-laki baju putih lain tampil ke depan. Habis bicara orang itu sudah berada di depan Sin Su, gerak-geriknya lincah dan cekatan.

"Belum tentu?,"

Sin Su menegas.

"Betapapun ketat dan ganasnya ilmu pedang, pasti dapat dipatahkan."

"Tapi ilmu pedang pembunuh takkan ada orang yang bisa mematahkan."

"Ada semacam orang."

"Orang macam apa?."

"Orang yang tidak takut mati."

"Jadi kau ini orang yang tidak takut mati?."

"Apa senangnya hidup, kenapa harus takut mati?."

"Jadi kau hidup hanya untuk mati?."

"Ya, mungkin demikian."

"Kalau demikian, biarlah ku tamatkan riwayatmu." . Pedang tiba-tiba keluar dari serangka, dalam sekejap beruntun menusuk tujuh kali. Deru angin seperti bambu pecah. Sinar pedang bagaikan kilat. Tampak udara diliputi bintik-bintik kemilau yang bertebaran, sehingga orang sukar membedakan dan menentukan posisi yang akan di arah. Laki-laki baju putih tidak ingin berdebat, maka dia tidak menghindar, dia berdiri diam di tempatnya tanpa bergeming, menunggu dengan tenang. Memang dia sudah siap gugur, perduli dari arah mana pedang lawan menusuk dirinya, dia tidak perduli lagi. Tujuh kali Sin Su melancarkan tusukan, laki-laki baju putih bergerakpun tidak, gerak pedang Sin Su amat cepat dan tangkas, sekali menyerang terus ditarik balik, tujuh kali tusukan pedang hanya serangan gertak sambel belaka, mendadak kaki bergerak di permukaan salju, tahu-tahu bayangan sudah meluncur ke belakang laki-laki baju putih. Sebelumnya sudah dia perhitungkan, kedudukan mematikan lawan amat menguntungkan dirinya, jelas betapapun lihay seorang tokoh silat, takkan mungkin turun tangan pada sudut yang mematikan. Untuk membunuh lawan, maka sedikit kesempatanpun pantang memberi peluang kepadanya sehingga diri sendiri yang terbunuh malah. Maka tusukan gertak sambel terakhir menjadi tusukan yang sesungguhnya, sinar pedang laksana kilat menusuk ke punggung laki-laki baju putih. Terdengar "Cras...."

Ujung pedang yang tajam itu berbunyi masuk ke dalam kulit daging.

Sin Su merasakan ujung pedang amblas menyentuh tulang di badan lawan.

Tapi pada saat itu pula, dia melihat tusukan pedangnya tidak amblas di punggung orang, namun menusuk dada.

Karena pada saat tusukan hampir mengenai sasaran, tiba-tiba laki-laki baju putih membalikkan badan, dengan dadanya dia sambut tusukan pedang Sin Su.

Takkan ada orang menduga kejadian ini, siapapun takkan mau menggunakan badan sendiri untuk menahan tusukan pedang.

Tapi kenyataan laki-laki baju putih ini pakai badan sendiri sebagai tameng.

Keruan berubah muka Sin Su, sekuatnya dia menarik pedang, sayang ujung pedang terjepit di sela-sela tulang iga lawan dengan kencang.

Waktu dia menarik pedangnya, pedang laki-laki baju putih juga sudah menusuk dirinya tanpa bersuara sedikitpun, tak ubahnya seperti seorang gadis yang gemulai lembut menancapkan sekuntum kembang mekar ke dalam botol, maka pedang itu amblas ke dadanya.

Rasa sakit tidak terasakan lagi olehnya, hanya dadanya tiba-tiba dingin, kejap lain sekujur badan menjadi dingin kaku.

ooo)dw(ooo Bagai kelopak kembang merah berhamburan darah muncrat dari luka-luka mereka.

Berdiri berhadapan, kau pandang aku, aku pandang kau.

Laki-laki baju putih tidak mengunjuk perasaan apa-apa, sebaliknya muka Sin Su berkerut kaget dan ketakutan.

Walau ilmu pedangnya jauh-jauh lebih tinggi, meski serangannya jauh lebih lihay dari Tong Yang, namun akhirnya gugur bersama.

Babak ini berakhir begitu saja.

Tong Thong-san berjingkrak berdiri, namun selekasnya dia meloso jatuh duduk pula dengan lemas, selebar mukanya pucat pias.

Bukan dia tidak pernah melihat orang dibunuh, tapi selamanya tak pernah terpikir olehnya, membunuh orang ternyata begini ganas dan mengenaskan, begitu menakutkan.

Membunuh dan dibunuh sama-sama keji dan menakutkan.

Bak Pek menatapnya lekat-lekat, katanya dingin.

"Jikalau kau ingin membunuh orang, orang lainpun akan membunuhmu pula, pelajaran ini tentu sudah dapat kau insyafi sekarang."

Pelan-pelan Tong Thong-san manggut-manggut, sepatah katapun tak bicara, karena tiada yang perlu dia katakan.

"Oleh karena itu, kaupun harus mengerti,"

Demikian ujar Bak Pek lebih lanjut.

"membunuh dan dibunuh sama-sama menderita."

Tong Thong-san percaya dan mengakui, menghadapi kenyataan ini terpaksa dia harus percaya.

"Lalu kenapa kamu masih ingin membunuh orang?" , tanya Bak Pek. Terkepal kencang tinju Tong Thong-san, katanya tiba-tiba.

"Aku hanya ingin tahu, kalian bertindak demikian apa maksudnya?"

"Tiada maksud apa-apa!"

"Apakah Lo Toh yang memanggil kalian kemari?"

"Bukan, aku tidak kenal kau, akupun tidak kenal Lo Toh"

"Tapi, kalian tidak segan-segan berkorban bagi mereka"

"Bukan, kami rela gugur demi kepentingannya, kita mau mati, supaya orang lain hidup" , dipandangnya mayat-mayat yang bergelimpangan, lalu berkata pula.

"Ketiga orang ini memang sudah mati, tapi puluhan jiwa orang lain akan bertahan hidup lantaran kematian mereka, apalagi sebetulnya mereka tak perlu mati."

Tong Thong-san menatapnya dengan kaget, katanya.

"Apa benar kalian dari Ceng-seng?"

"Kau tidak percaya?"

Tong Thong-san memang tak percaya, dia menduga orang-orang ini datang dari neraka. Tidaklah pantas dalam dunia fana ini ada manusia seperti mereka.

"Kau sudah terima?"

"Terima apa?"

"Merobah banjir darah menjadi damai tentram."

Mendadak Tong Thong-san menghela napas, katanya.

"Sayang sekali umpama aku mau terima toh tak berguna."

"Kenapa?"

"Karena masih ada seorang lain yang tak mau terima."

"Siapa?"

"Wi-pat-tay-ya."

"Boleh kau suruh dia mencari aku."

"Kemana mencarimu?"

Sorot mata Bak Pek yang dingin terjun ke tempat jauh, lama sekali baru dia berkata pelan-pelan.

"Di dalam kota Tiang-an, kembang Bwe di dalam Leng-hiang-wan, tentu sekarang sudah mekar........"

Ooo)dw(ooo Jikalau hati Wi-pat-tay-ya sedang riang, selalu mengulum senyum, menepuk pundakmu, mengucapkan kata-kata lucu yang dia anggap jenaka dan menyenangkan.

Tapi bila dia sedang marah, diapun berubah seperti orang-orang marah lainnya.

Raut mukanya yang bersemu merah bercahaya, mendadak berubah bengis laksana singa yang kelaparan.

Sorot matanya mencorong buas, berubah sekasar dan seliar singa yang mengamuk setiap waktu, dia bisa mencakar orang yang membuatnya murka, dikoyak dan disayat-sayat hancur lebur, lalu ditelannya bulat-bulat.

Sekarang dia sedang marah.

Tong Thong-san berdiri di depannya dengan mengerut alis.

Orang gagah dari Bu-lim yang menjagoi belahan dunia ini sekarang berdiri tak ubahnya seperti anak kambing berhadapan dengan harimau, bernapaspun ketakutan.

Biji mata Wi-pat-tay-ya yang beringas merah berdarah tengah mendelik kepadanya, katanya dengan kertak gigi.

"Katamu bedebah yang dipelihara lonte itu bernama Ban Pek?"

Tong Thong-san mengiakan dengan menunduk.

"Katamu dia datang dari Ceng-seng?"

Kembali Tong Thong-san mengiakan, suaranya lirih.

"Kecuali itu, kau tidak tahu apa-apa?"

Semakin rendah kepala Tong Thong-san, kembali dia mengiakan. Wi-pat-tay-ya menggerung seperti singa murka, dampratnya.

"Bedebah yang dipelihara lonte itu membunuh dua muridku, namun asal-usulnya saja kau tidak mengetahuinya, masih ada muka kau kemari menemui aku, kenapa tidak kau mampus saja!"

Mendadak dia melompat berdiri dari kursi menerjang maju, sekali raih dia renggut baju di depan Tong Thong-san, sekali tarik pula pakaiannya dia robek menjadi dua.

Di susul telapak tangannya melayang pulang pergi, dia tampar muka Tong Thong-san bolak-balik tujuh delapan belas kali.

Darah sudah meleleh dari ujung mulut Tong Thong-san, tapi kelihatannya dia tidak merasa sakit, juga tidak merasa marah atau penasaran, sebaliknya mengunjuk mimik senang dan tentram lega.

Karena dia tahu bila Wi-pat-tay-ya menghajarnya dengan kejam, memakinya semakin garang, itu pertanda bahwa orang menganggapnya sebagai orang sendiri, dan itu berarti pula bahwa jiwanya dipungut kembali.

Sebaliknya bila sikap Wi-pat-tay-ya sopan santun dan lemah lembut kepadamu, jangan harap jiwamu dapat bertahan hari ini.

Setelah tamparan pulang-pergi, Wi-pat-tay-ya masih menambahkan sekali tendang lagi pada perutnya, sehingga dia menungging kesakitan, namun Tong Thong-san sedikitpun tidak mengeluh atau berani banyak tingkah, padahal darah bercucuran dari mulut dan hidungnya, keringat dingin gemerobyos membuatnya tele-tele.

Akhirnya Wi-pat-tay-ya menghela napas, serunya murka sambil mendelik.

"Tahukah kau, Siau-su-cu (maksudnya Sin Su) dan lain-lain kuperintahkan untuk bantu kau membunuh orang?"

"Aku tahu", tersipu-sipu Tong Thong-san menjawab.

"Kini mereka justru terbunuh orang, dan kau masih segar bugar berlompatan kehadapanku. Kau ini terhitung barang apa?"

"Aku ke sini bukan barang, tapi aku harus kembali ke sini."

"Kau bedebah, kau berani kembali? Memangnya kau tidak bisa mencawat ekor lari ke tempat jauh, supaya aku orang tua tidak marah melihat congormu?"

"Aku juga tahu kau orang tua pasti marah, oleh karena itu terserah kau orang tua, mau hajar atau mau bunuh, aku tidak akan banyak komentar, tapi jikalau aku harus mengkhianati kau orang tua atau melarikan diri, matipun aku tidak sudi."

Lama Wi-pat-tay-ya mendelik, mendadak tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Bagus, punya pambek!.", lalu diulur kedua tangannya memeluk pundak Tong Thong-san, katanya lantang.

"Coba kalian lihat, inilah putraku yang sejati, kalian harus belajar dan meniru padanya, memangnya kenapa harus takut berbuat salah? Memangnya nenek-moyang siapa yang tidak pernah berbuat salah selama hidupnya, sampai aku Wi Thian-bing juga pernah berbuat salah, apalagi orang lain."

Begitu dia tertawa, perasaan tertekan puluhan orang yang hadir dalam ruang pendopo itu menjadi lega dan longgar. Berkata Wi Thian-bing.

"Diantara kalin siapa yang tahu barang apa sebenarnya bedebah yang bernama Ban Pek itu?" . Jelas ucapannya ditujukan kepada seluruh hadirin, namun sorot matanya hanya menatap ke muka seorang saja. Orang ini bermuka putih, dua jalur jenggot kambing menghias dagunya, kelihatannya sopan santun, lemah lembut dan ramah tamah pula. Orang yang tidak mengenalnya, takkan tahu bahwa pemuda pelajar ini ternyata adalah tokoh penting yang paling lihay di antara sekian banyak murid-murid Wi-pat-tay-ya, golongan hitam atau aliran putih ketakutan bila mendengar nama julukannya Thi-cui-cu Han Tin. Pemuda pelajar ini memang mirip Thi-cui-cu (bor besi), betapapun keras kerangka milikmu, dia tetap bisa mengebormu sampai bolong. Tapi selintas pandang orang akan mengira dia seorang supel, suka bersahabat dan bersikap lembut, wajahnya selalu dihiasi senyum manis yang tentram damai, namun bicarapun kalem dan tenang serta mantap. Setelah pasti tiada orang lain yang menjawab pertanyaan ini, baru dia bersuara pelan-pelan.

"Beberapa tahun yang lalu, terdapat satu keluarga she Bak. Karena menghindari bencana, maka mereka lari dan menyembunyikan diri ke Ceng-seng-san. Bak Pek adalah salah satu anggota keluarga she Bak itu."

Wi Thian-bing tertawa pula, matanya mengerling ke empat penjuru, katanya tertawa gelak-gelak.

"Memangnya sering kukatakan, kejadian dalam dunia ini tiada yang tidak diketahui bocah ini."

Han Tin tersenyum, ujarnya.

"Tapi aku tidak tahu di tempat mana mereka menyembunyikan diri di Ceng-seng-san itu, selama beberapa tahun ini, belum pernah ada orang yang menemukan tempat persembunyian mereka, namun setiap tiga atau lima tahun, mereka pasti keluar sekali berombongan."

"Untuk apa mereka keluar?", tanya Wi Thian-bing.

"Mencampuri urusan orang lain." , sahut Han Tin. Seketika Wi Thian-bing menarik muka, selamanya dia paling benci pada orang yang suka usil mencampuri urusan orang lain.

"Mereka dipaksa mencampuri urusan orang lain,"

Demikian Han Tin melanjutkan uraiannya.

"Karena mereka mengagulkan sebagai keturunan Bak Ti. Anak murid keluarga Bak turun temurun tidak diperbolehkan menjadi pertapa yang mengasingkan diri hanya mengurus diri sendiri belaka."

Berkerut alis Wi Thian-bing, katanya.

"Barang apa pula Bak Ti itu?"

"Bak Ti bukan barang, diapun seorang manusia,"

Sahut Han Tin tawar.

Wi Thian-bing malah tertawa mendengar penjelasan itu, seperti kebanyakan orang yang dipanggil tay-ya (tuan besar), ada kalanya diapun senang bila ada orang mendebat dan membantah omongannya.

Han Tin berkata lebih lanjut.

"Bak Ti adalah Bak Cu, keluarga Bak memangnya sering mempersulit generasi mendatang, sampaipun jiwa seseorang takkan gentar menghadapi kobaran api atau lautan golok, oleh karena itu keturunan keluarga Bak dilarang menjadi orang pengasingan, tapi mereka diharuskan menjadi Gi-su (manusia berani mati)."

Han Tin tertawa, sahutnya.

"Gi-su ada terbagi beberapa macam. Ada semacam Gi-su, apa yang dilakukan kelihatan gagah perwira, tapi Bak Pek bergerak secara sembunyi-sembunyi, agaknya dia mempunyai maksud tertentu."

"Jadi, kau golongkan Bak Pek pada Gi-su macam ini?"

"Kelihatannya begitu."

"Gi-su semacam ini gampang dihadapi."

"Dihadapi bagaimana?"

"Bunuh satu kurang satu."

"Mereka tak boleh dibunuh"

"Kenapa tidak boleh dibunuh?"

"Seperti Kuncu (sosiawan), peduli Gi-su itu tulen atau palsu, dia tak boleh dibunuh."

Wi Thian-bing tertawa tergelak-gelak, katanya.

"Benar, jikalau kau membunuh mereka, pasti ada orang mengatakan kau ini seorang yang tak berbudi, tidak kenal cinta kasih dan tidak tahu diri."

"Oleh karena itu mereka tidak boleh dibunuh."

"Memang tidak boleh, siapa bilang hendak membunuh mereka, biar kubunuh dia lebih dulu."

"Apa lagi bukan kerja gampang untuk memberantas mereka"

"Memang bedebah itu boleh juga"

"Sosok dari orang-orang itu mungkin tidak menakutkan, yang harus ditakuti adalah jago-jago berani mati yang dipimpinnya itu."

"Jago-jago berani mati? Apa maksudnya?", tanya Wi Thian-bing tidak mengerti.

"Maksudnya bahwa orang-orang itu setiap waktu siap berkorban demi kepentingannya."

"Memangnya mereka tidak ingin hidup?"

"Orang yang tidak pikirkan mati hidup sendiri justru merupakan musuh yang paling menakutkan. Ilmu silat yang berani mati adalah ilmu silat yang paling menakutkan pula."

Wi Thian-bing diam saja, dia menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Karena sekali tabas kau membunuhnya, diapun akan membunuhmu dengan sekali tabasan pula."

Agaknya Wi Thian-bing kurang puas akan penjelasan ini, alisnya berkerut. Lekas Han Tin menambahkan.

"Walau kau lebih cepat turun tangan dari dia, tapi dikala kau membunuhnya, dia masih sempat membalas membunuhmu, karena begitu golokmu membacok, hakikatnya dia tidak berkelit, juga tidak berusaha menghindar, oleh karena itu pada saat golokmu membacok badannya, dia masih punya waktu untuk membunuhmu."

Tiba-tiba Wi Thian-bing maju mendekat, dengan keras dia tepuk pundak orang, katanya.

"Uraian bagus! Uraian masuk di akal."

Han Tin mengawasinya saja tanpa bersuara, sekilas pandang, dia sudah mengerti maksudnya.

Kalau bukan musuh yang harus diberantas, maka dia termasuk kawan sendiri, harus dirangkul.

Ini bukan saja merupakan prinsip bagi Wi Thian-bing, sejak jaman dahulu kala, seluruh keluarga besar atau pentolan Bu-lim berkuasa mempunyai prinsip yang seperti ini.

Bagi orang-orang seperti mereka, prinsip ini jelas jitu dan tak terkalahkan.

"Tong Lotoa pernah bilang,"

Han Tin berkata lebih lanjut.

"mereka hendak pergi ke kota Tiang-an."

Wi Thian-bing manggut-manggut, katanya.

"Kabarnya Leng-hiang-wan adalah sebuah tempat bagus, sejak lama aku sudah ingin berkunjung ke sana."

"Leng-hiang-wan merupakan sebidang tanah luas beberapa hektar, di dalam taman tertanam laksaan pucuk kembang Bwe, sekarang sedang musimnya kembang Bwe mekar, karena itu...... ' "

Oleh karena itu bagaimana?", Wi Thian-bing menegas.

"Kalau Bak Pek bisa berada di sana, kenapa kita tidak bisa ke sana pula?"

"Sudah tentu kita harus ke sana."

"Kalau mau ke sana, lebih baik seluruh tempat itu kita sewa dan monopoli sendiri."

"Akal bagus."

"Begitu Bak Pek ke sana, kita mengundangnya secara sopan, biar dia saksikan orang macam apa sebenarnya Wi-pat-tay-ya, jikalau dia bukan orang pikun, selanjutnya tentu takkan berani bertingkah di hadapan kita."

"Apakah dia orang pikun?"

"Tentunya bukan....."

Wi Thian-bing tepuk tangan sambil tertawa gelak-gelak, serunya.

"Bagus, akal bagus."

Ooo)dw(ooo Tong Thong-san bersama Han Tin beranjak di serambi panjang yang sunyi sepi itu, memangnya sudah lama mereka sebagai teman kental, namun sudah beberapa tahun ini tak pernah bertemu lagi karena kesibukan tugas masing-masing.

Tiba-tiba Tong Thong-san menghentikan langkahnya, katanya sambil menatap Han Tin.

"Ada sebuah hal aku selalu merasa heran."

"Soal apa?,"

Tanya Han Tin.

"Kenapa setiap patah kata yang kau ucapkan Lo-ya-cu selalu anggap akal bagus?"

Han Tin tertawa, ujarnya.

"Karena hal itu merupakan maksud tujuannya pula. Aku hanya mewakilkan dia mengemukakan di hadapan umum saja."

"Kalau benar memang maksudnya sendiri, kenapa harus kau yang mengutarakan?"

"Sudah berapa lama kau bekerja bagi Lo-ya-cu?"

"Sudah puluhan tahun."

"Menurut pendapatmu, orang macam apa dia sebenarnya?"

Tong Thong-san ragu-ragu, akhirnya balas bertanya.

"Menurut pendapatmu sendiri?"

"Kukira kau tentu anggap dia seorang kasar, ceroboh, ugal-ugalan, seorang yang selamanya tidak pernah menggunakan otak."

"Memangnya dia bukan manusia seperti yang kau lukiskan?", tanya Tong Thong-san.

"Dulu sewaktu Tiong-goan-pat-kiat menjagoi dunia, semua orang beranggapan Lau-sam adalah orang yang paling cerdik pandai, Li jit-ya adalah orang yang paling lihay, dan Wi pat-ya adalah orang yang paling gegabah dan sembrono."

"Pernah juga kudengar cerita ini."

Han Tin tertawa, katanya.

"Tapi Lau-sam yang paling cerdik pandai dan Li jit-ya yang paling lihay sudah almarhum, justru Wi pat-ya yang berangasan masih hidup segar bugar."

Tiba-tiba Tong Thong-san tertawa, mendadak dia mengerti kemana juntrungan kata-kata Han Tin.

Hanya seorang yang pandai berpura-pura sembrono, berangasan dan gegabah saja, justru merupakan orang yang paling cerdik dan lihay.

Tiba-tiba Tong Thong-san menghela napas, katanya.

"Sayangnya pura-pura gegabah juga bukan suatu hal yang gampang dilakukan."

"Memangnya sulit, kecuali kau seorang pemain sandiwara yang ulung."

"Agaknya kau justru tak pandai berpura-pura dan bermuka-muka."

"Umpama sekarang aku benar-benar berpura-pura bodoh, aku tetap bisa melakukannya."

"Kenapa...?"

"Karena seorang gegabah selalu didampingi seorang cerdik pandai, peranan yang kulakukan sekarang adalah tokoh cerdik, pandai dan lihay itu."

"Oleh karena itu, setiap patah kata yang kau ucapkan, Lo-ya-cu selalu anggap akal bagus."

"Oleh karena itu, yang dibenci orang tetap adalah kau pula, bukan Lo-ya-cu."

Han Tin manggut-manggut, ujarnya.

"Oleh karena itu sekarang kau harus sadar, kenapa seorang cerdik pandai biasanya lebih cepat mati."

Tong Thong-san tiba-tiba tertawa, katanya.

"Tapi masih ada semacam orang yang mati lebih cepat dari orang-orang cerdik dan lihay."

"Orang macam apa?"

"Orang-orang yang melawan Lo-ya-cu."

Han Tin tertawa, ujarnya.

"Oleh karena itu aku selalu bersimpati kepada orang-orang seperti itu, untuk mempertahankan hidup memangnya suatu hal yang teramat sulit bagi mereka."

Ooo)dw(ooo Pang Lak tengah melintasi gang kecil sempit yang dipenuhi tumpukan salju, dari kejauhan sudah kelihatan kembang-kembang Bwe yang sedang mekar semarak di dalam Leng-hiang-wan.

"Pergi kau ke Tiang-an, borong seluruh Leng-hiang-wan, tamu-tamu yang semula sudah menetap di sana usir semua, peduli mati atau hidup, semua harus keluar dari sana."

Itulah perintah Wi pat-ya, perintah yang paling khas dari Wi pat-ya.

Bila kau di utus melaksanakan tugas, maka kau harus menunaikan tugas itu dengan baik dan sukses, tak boleh gagal.

Cara apa dan bagaimana kau bekerja boleh kau halalkan, dia tidak peduli kesulitan apa yang kau hadapi dalam menyelesaikan tugasmu, dia lebih tak mau ambil tahu.

Seluruh kesulitan harus kau atasi sendiri, jikalau kau tak kuat mengatasinya, maka kau tidak setimpal menjadi murid Wi pat-ya.

Sekarang Pang Lak sedang menunaikan tugas yang dibebankan pada dirinya.

Biasanya dia seorang yang paling teliti dan cermat di dalam menjalankan tugas apapun.

Setelah keluar dari gang sempit ini, tibalah dia di muka pintu kamar salah satu dari Leng-hiang-wan.

Pengurus yang piket biasanya berada di dalam kamar ini, diam-diam dia berdoa semoga pengurus yang piket sekarang adalah seorang pandai yang tahu diri dan bisa melihat gelagat.

Semua cerdik pandai tahu bahwa perintah atau permintaan Wi pat-ya tidak boleh di tolak.

ooo)dw(ooo Orang yang piket dalam Leng-hiang-wan hari ini adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan lebih, agaknya memang tidak begitu pintar, namun jelas tidak bodoh.

"Cayhe Nyo Kan, terserah Kongcu hendak menikmati kembang atau mau minum arak, atau ingin dolan beberapa hari di sini, silahkan memberi perintah saja."

Demikian pengurus yang piket memperkenalkan diri serta menyambut kedatangan Pang Lak. Jawaban Pang Lak pendek, tegas dan langsung.

"Kita akan borong seluruh taman ini"

Nyo Kan melengak, merasa amat di luar dugaan, namun dia tetap tersenyum, katanya.

"Di sini seluruhnya ada dua puluh satu pekarangan, empat belas bangunan gedung berloteng, tujuh aula, dua puluh delapan kamar kembang, dua ratusan kamar tamu, apa Kongcu ingin memborongnya semua?"

"Begitulah maksudku."

Ujar Pang Lak. Sekilas Nyo Kan termenung dan bimbang, katanya.

"Berapa banyak orang yang hendak di undang Kongcu?"

"Umpama seorang yang ku undang, tetap akan kuborong seluruhnya."

Seketika Nyo Kan unjuk rasa tidak senang, katanya dengan sikap menjadi dingin.

"Itu tergantung orang macam apa yang hendak berkunjung kemari."

"Yang akan datang adalah Wi pat-ya."

Tersirap jantung Nyo Kan, serunya.

"Wi pat-ya, Wi-pat-tay-ya dari Po-ting-hu?"

Pang Lak manggut-manggut, hatinya amat puas dan bangga, betapapun ketenarannya dan kebesaran nama Wi pat-ya cukup menggetarkan nyali orang, tak sedikit orang yang mengenalnya.

Mengawasinya, tiba-tiba sorot mata Nyo Kan mengunjuk senyuman yang licik dan licin, katanya.

"Perintah Wi pat-ya sebetulnya Cayhe tidak berani membangkang, hanya.......barusan datang juga seorang tamu yang berkata hendak memborong seluruh taman ini, malah dia berani membayar tarip tinggi seribu tahil perak seharinya. Cayhe belum berani menerimanya, sekarang jikalau aku menerima permintaan Kongcu, cara bagaimana aku harus memberi pertanggungan jawab kepada orang itu?"

Berkerut alis Pang lak, tanyanya.

"Dimana sekarang orang itu?"

Nyo Kan tidak menjawab dengan mulut, namun sorot matanya lewat pundaknya tertuju ke arah jauh di belakangnya.

Waktu Pang Lak putar badan, maka dilihatnya seraut wajah yang hijau bersemu putih, seraut wajah yang tidak menunjukkan sedikit perasaanpun.

Seseorang tengah berdiri di belakangnya memojok di kamar sana, badannya mengenakan pakaian serba putih yang terbuat dari kaci tipis, di punggungnya menggendong segulung tikar, tangannya memegang tongkat pendek.

Waktu Pang Lak masuk tadi tidak melihat orang ini, kini orang inipun seperti tidak melihat kehadirannya, sepasang biji matanya yang dingin bening sedikitpun tidak menampilkan perasaan apa-apa, seolah-olah menatap ke tempat nan jauh.

Seolah-olah semua manusia, segala urusan dalam dunia ini, tiada satupun yang terpandang dalam matanya, yang diperhatikan agaknya hanya udara kosong di tempat nan jauh dan tidak menentu itu, hanya di sana baru dia benar-benar berhasil mendapatkan suatu tempat yang tenang dan tentram.

Hanya sekilas Pang Lak melihatnya, terus putar badan lagi.

Dia sudah tahu siapa laki-laki jubah putih ini, maka dia tidak perlu mengawasinya secermat mungkin, diapun tidak ingin bicara sama dia.

Sorot mata Nyo Kan masih memancarkan tawa hina dan mencemooh.

Tiba-tiba Pang Lak berkata.

"Kau sedang berdagang, bukan?"

"Memangnya Cayhe berdagang."

Sahut Nyo Kan.

"Lalu apa tujuan orang berdagang?."

"Tentunya mencari untung."

"Baik, aku berani membayar seribu lima ratus tahil perak sehari, disamping kuberi seribu tahil untuk persenmu sendiri." , demikian Pang Lak main diplomasi. Dia tahu bicara dengan seorang pedagang jauh lebih gampang daripada seorang yang tidak perdulikan mati hidup jiwanya sendiri. Selama bertahun-tahun bekerja bagi Wi-pat-ya, dia sudah berpengalaman untuk cara bagaimana memberi keputusan dan memilih jalan yang terbaik dalam menempuh keberanian kerjanya. Nyo Kan ternyata ketarik dan mulai bimbang. Tiba-tiba terdengar laki-laki jubah putih bersuara.

"Akupun menawar seribu lima ratus tahil ditambah ini."

Terasa oleh Pang Lak dari belakang ada sejalur angin menyambar seperti tabasan golok dingin, tak tahan dia berpaling ke belakang.

Ternyata laki-laki jubah putih sudah melolos sebilah golok pendek dari tongkatnya, sekali gerakan membalik tahu-tahu golok pendek itu mengiris sekerat daging di pahanya sendiri.

Pelan-pelan dia taruh kulit daging hasil irisannya itu di atas meja.

Darah bercucuran, namun air mukanya tetap dingin beku, agaknya sedikitpun tidak merasa sakit.

Pang Lak mengawasinya, terasa ujung matanya bergidik.

Lama sekali baru dia berkata dengan kalem.

"Tarip setinggi ini akupun mampu membayarnya."

Sekilas sinar mata dingin laki-laki jubah putih mengerling kepadanya, lalu memandang canang ke depan nan jauh.

Pelan-pelan Pang Lak keluarkan sebilah pisau, diapun mengiris sekerat daging di pahanya sendiri.

Dia mengiris pelan-pelan, amat hati-hati dan teliti.

Perduli apapun yang dia kerjakan, biasanya memang teliti dan seksama.

Bahwa kulit daging sendiri diiris tentunya sakit bukan buatan, namun perintah Wi-pat-ya jikalau tidak terlaksana, maka siksaan yang dia alami jauh lebih menderita.

Agaknya putusan dan jalan yang dia tempuh memang tepat atau mungkin memang dia tiada kesempatan atau tiada peluang main pilih segala.

Dua kerat daging paha yang berlepotan darah ditaruh di atas meja.

Jantung Nyo Kan sudah berdegup, seluruh badan merasa lemas.

Sekilas laki-laki jubah putih melirik kepada Pang Lak, tiba-tiba golok pendeknya berkelebat, tahu-tahu dia tabas sebuah kupingnya sendiri.

Terasa oleh Pang Lak lengannya sendiri sudah kaku dan gemetar.

Dia pernah memotong kuping orang, waktu itu dia merasa senang dan terhibur meski dia tahu caranya itu agak keji, tapi memotong kuping sendiri merupakan suatu hal yang lain.

Sebetulnya dia bisa main pisaunya untuk bunuh laki-laki jubah putih ini, namun peringatan Han Tin selalu terngiang di dalam benaknya.

'Walau kau turun tangan cepat, namun di kalau kau berhasil membunuhnya, diapun masih sempat membalas membunuhmu.' Setiap orang yang cermat dan hati-hati selalu sayang pada jiwa raganya sendiri dan Pang Lak adalah orang yang paling teliti.

Pelan-pelan dia angkat kepalanya, lalu dipotongnya sebelah kupingnya, gerak-geriknya pelan-pelan dan hati-hati.

Pundak laki-laki jubah putih sudah berlepotan darah, sorot matanya yang semula kosong tak berperasaan, kini tiba-tiba menampilkan rasa senang nan buas, seolah-olah dia sendiri yang memotong kuping Pang Lak ini.

Dua kuping yang terpotong terletak di atas tanah.

Nyo Kan sudah tak kuasa berdiri lagi.

Mengawasi darah segar yang bertetesan dari kuping Pang Lak, laki-laki jubah putih berkata dingin.

"Apakah kau masih berani menawar setinggi ini?" , mendadak dia ayunkan golok pendeknya pula, membacok pergelangan tangan kirinya. Hati Pang Lak serasa ikut terayun mengikuti samberan golok orang. Pada saat itu mendadak terasa angin menghembus lalu, hembusan angin yang membawa serangkum bau wangi aneh. Disusul ujung matanya lantas melihat bayangan seorang. Seorang perempuan. Terkesima mata Pang Lak, belum pernah dia melihat perempuan secantik ini selama hidupnya. Bayangan orang melayang tiba, seolah-olah dibawa hembusan angin lalu. Waktu laki-laki jubah putih melihat gadis ini, tahu-tahu dia merasa sikut tangan kanannya yang memegang golok tersanggah oleh lengan orang. Orang tengah tersenyum manis kepadanya, tawa nan hangat dan genit, demikian pula suaranya merdu dan manis mesra.

"Golok membacok daging orang rasanya sakit sekali."

"Ini bukan kulit dagingmu,"

Jengek laki-laki jubah putih. Gadis cantik itu berkata lembut.

"Walau bukan badanku sendiri, hatikupun ikut sakit!" . Jari-jarinya nan runcing halus tiba-tiba mengebas seperti seorang kekasih yang memetik sekuntum kembang dari vas kembang. Sekonyong-konyong laki-laki jubah putih merasa golok di tangannya sudah berpindah ke tangan orang. Golok cepat yang terbikin dari baja murni, tipis dan tajam luar biasa. Jari-jarinya begitu runcing dan lembut, hanya sekali potes dan telikung seperti gadis ayu memetik kembang, terdengar "Pletak...!" , golok cepat tipis terbuat dari baja murni itu tahu-tahu sudah dia tekan putus dengan enteng.

"Apalagi tempat ini sudah kuborong seluruhnya, buat apa kalian masih bersitegang di sini?"

Demikian katanya lebih lanjut.

Sembari bicara tahu-tahu potongan ujung golok yang terbuat dari baja murni itu dia jepit dengan dua jari terus diangsurkan ke mulutnya, pelan-pelan dikunyah terus ditelannya mentah-mentah.

Maka tampak wajahnya nan cantik seketika menampilkan rasa senang dan puas, seolah-olah baru saja dia mengulum dan menikmati sebutir gula-gula yang enak sekali.

Pang Lak melenggong.

Hampir dia tidak berani akan penglihatan matanya sendiri, sampaipun sorot mata laki-laki jubah putihpun menyorotkan rasa kaget dan ketakutan.

Mana mungkin dalam dunia ini terjadi peristiwa seaneh ini, ilmu silat atau Lweekang yang menakutkan?

Memangnya dia tidak takut, besi baja yang tajam itu mengkoyak isi perutnya?.

Kembali gadis ayu itu memotes sekeping golok baja itu serta dimasukkan ke mulut pula terus ditelan, katanya perlahan sambil menghela napas.

"Golokmu ini memang bagus, bukan saja terbuat dari baja murni yang berkwalitet tinggi, gemblengannya cukup matang, jauh lebih enak dan lezat dari golok yang kumakan kemarin."

"Setiap hari kau makan golok?", tak tahan Pang lak bertanya.

"Makanku tidak banyak, setiap hari hanya tiga batang, ketahuilah pedang dan golok mirip pula ikan dan daging, kalau terlalu banyak kau makan, perutmu bisa mules dan mangsur-mangsur."

Pang Lak mengawasinya dengan mendelong, jarang dia bersikap linglung di hadapan gadis secantik ini, namun sekarang agaknya tidak kuasa menguasai perasaannya sendiri.

Gadis cantik itu belum mengawasi dirinya, katanya pula.

"Sebaliknya pisau di tanganmu itu rasanya tentu tidak enak lagi."

"Kenapa?", tanya Pang Lak. Gadis itu tertawa cekikikan, katanya tawar.

"Dengan pisau itu sudah terlalu banyak orang yang kau bunuh, bau anyirnya darah sudah terlalu tebal."

Sekilas laki-laki baju putih melirik kepada si gadis, tiba-tiba dia putar badan lalu melangkah pergi dengan cepat.

Dia tidak takut mati, namun jikalau suruh dia memotong golok baja dan menelannya bulat-bulat, jelas dia takkan mampu melakukannya.

Takkan ada dalam dunia ini yang bisa melakukannya, bahwasanya kejadian ini memang luar biasa.

Kembali gadis itu tertawa, katanya.

"Agaknya dia tidak ingin rebutan dengan aku, lalu kau....?"

Pang Lak tak bersuara, hakekatnya dia tidak bisa berbicara lagi.

"Seorang laki-laki sejati, perduli apapun yang dia perebutkan dengan perempuan, umpama akhirnya menang, juga tidak boleh dibanggakan, coba katakan benar tidak?"

Akhirnya Pang Lak menghela napas, katanya.

"Harap tanya siapakah nama besar nona yang harum, supaya Cayhe kembali bisa membuat laporan."

Gadis itu menghela napas, katanya.

"Akupun hanya seorang suruhan, tiada gunanya kau tanya namaku."

Gadis secantik bak bidadari ini, berkepandaian silat tinggi lagi, kiranya hanyalah budak atau pelayan orang. Memangnya orang macam apa pula majikannya?.

"Boleh kau kembali dan beritahu kepada Wi-pat-ya, katakan bahwa tempat ini sudah diborong seluruhnya oleh Lam-hay-nio-cu. Jikalau dia orang tua ada waktu, boleh silahkan kemari untuk bermain beberapa hari."

"Lam-hay-nio-cu.", mulut Pang Lak mendesis. Gadis ayu itu manggut-manggut, katanya.

"Lam-hay-nio-cu adalah majikanku, pulanglah dan laporkan kepada Wi-pat-ya, dia pasti tahu."

Ooo)dw(ooo Di kala Wi-pat-ya marah dan senang bagaikan langit dan bumi perbedaannya dan ini sudah terlalu sering disaksikan oleh banyak orang.

Namun selama ini belum pernah mereka melihat Wi-pat-ya sedemikian tegang, begitu keheranan dan kuatir, sampai kulit mukanya yang selalu bercahaya itu berubah membesi hijau.

"Lam-hay-nio-cu. Apakah benar dia belum mati?"

Kedua jari-jarinya terkepal, suaranyapun mengandung rasa heran dan tegang, malah seolah-olah mengandung rasa ketakutan dan ngeri.

Tiada orang yang berani berisik meski hanya helaan napas panjang.

Tiada yang menduga bahwa masih ada seseorang dalam dunia ini yang masih mampu membuat Wi-pat-ya takut dan bersitegang leher begitu rupa.

Melotot biji mata Wi Thian-bing, serunya.

"Apakah kalian tahu orang macam apa sebenarnya Lam-hay-nio-cu itu?."

Pertanyaan ditujukan kepada seluruh hadirin, namun matanya dengan tajam menatap Han Tin.

Tapi kali ini Han Tin diam saja tak kuasa menjawab.

Keruan Wi Thian-bing gusar serta menghampirinya dan merenggut bajunya, bentaknya beringas.

"Lam-hay-nio-cu pun tidak kau ketahui? Memangnya apa pula yang kau ketahui?."

Muka Han Tin tiba-tiba berubah tidak menunjukkan perasaan seperti muka orang-orang jubah putih itu, sepasang matanyapun seperti memandang ke tempat jauh.

Lama Wi Thian-bing menatapnya lekat-lekat, rasa gusarnya pelan-pelan mereda, jari-jarinya yang merenggut baju orang mulai mengendor dan lepas.

Mendadak dia menghela napas panjang, katanya.

"Memang tak bisa salahkan kau, usiamu masih amat muda, di kala Lam-hay-nio-cu hidup digdaya malang melintang di dunia ini, mungkin kau belum dilahirkan."

Tiba-tiba dia membusungkan dadanya pula, suaranya lebih keras.

"Tapi aku justru pernah melihatnya. Dalam kolong langit ini, yang pernah melihat wajah aslinya mungkin kecuali aku Wi Thian-bing, pasti takkan ada orang kedua."

Kulit mukanya kembali merah bercahaya, bisa melihat wajah asli Lam-hay-nio-cu seolah-olah merupakan kebanggaan terbesar selama hidupnya. Dalam hati semua hadirin tengah bertanya-tanya.

"Siapakah sebenarnya Lam-hay-nio-cu? Bagaimana pula tampang mukanya?" . Sudah tentu tiada orang yang berani mengutarakan hal ini, di hadapan Wi-pat-ya semua orang hanya boleh menjawab, dilarang mengajukan pertanyaan, Wi-pat-ya tidak suka berhadapan dengan orang ceriwis. Tiba-tiba Wi Thian-bing berkata pula lebih keras.

"Lam-hay-nio-cu adalah Jian-bin-koan-im (Koan-im seribu muka), itu berarti dia punya seribu tangan, seribu pasang mata dan punya seribu muka."

Mendadak dia bertanya kepada Pang Lak.

"Perempuan yang kau temui itu bagaimana pula tampangnya?"

"Gadis itu kelihatannya cukup lumayan."

"Cukup lumayan atau teramat cantik?"

"Ya, cantik sekali."

Sahut Pang Lak tertunduk.

"Berapa usianya menurut taksiranmu?"

Semakin rendah kepala Pang Lak, dia mendadak menyadari bahwa dirinya ternyata tidak dapat menaksir berapa usia gadis itu sebenarnya.

Waktu pertama kali dia melihatnya, terasa meski gadis itu masih muda belia, tapi sedikitpun sudah berusia enam likuran.

Tapi belakangan setelah berhadapan langsung dan bicara, terasa pula orang adalah nona cilik seusia empat lima belasan.

Tapi waktu dia menegasi dua kali pandang pula, dilihatnya di ujung mata orang seperti sudah berkeriput, jadi usianya sekitar tiga puluhan lebih!.

Kini setelah dipikir dan dibayangkan, dengan kepandaian memutus golok dan menelan golok tajam itu, jikalau membekal latihan Lweekang selama empat lima puluhan tahun secara tekun dan giat, masakah dia memiliki kekebalan ilmu yang begitu tinggi?.

Wi Thian-bing berkata.

"Kau tidak bisa menaksir berapa usianya?"

Dari menunduk Pang Lak membungkuk badan malah, mulutnya terkancing. Mendadak Wi Thian-bing tepuk tangan, serunya.

"Gadis itu sendiri mustahil adalah Jian-bin-koan-im."

Tak tahan Pang Lak bersuara.

"Jikalau sudah ada tiga empat puluhan tahun dia mengasingkan diri, bukankah sekarang dia sudah patut menjadi nenek renta?" . Wi Thian-bing tertawa dingin, katanya.

"Waktu dia berusia tujuh belasan, pernah ada orang menganggapnya seorang nenek tua, dua tiga puluh tahun kemudian, ada orang mengatakan dia seorang nona mungil yang lincah malah." (Bersambung ke Jilid-2) Jilid. 2 Pang Lak terkesima, sungguh dia tidak habis mengerti.

"Orang ini bisa merobah dirinya dalam berbagai rupa dan bentuk, siapapun di antara orang-orang yang pernah kau lihat, bukan mustahil adalah samarannya. Konon pernah suatu ketika, Po-hoat Taysu dari Siauw-lim-pay berkhotbah di puncak Thay-san, di antara pendengar khotbah itu ada beberapa adalah teman tua Po-hoat Taysu sendiri, dua hari dua malam, kemudian setelah khotbah itu berakhir, mendadak datang pula seorang Po-hoat Taysu yang lain, maka banyak orang baru sadar bahwa Po-hoat Taysu yang memberi khotbah terdahulu ternyata adalah samaran Lam-hay-nio-cu."

Peristiwa ini laksana dongeng belaka, hampir tiada yang mau percaya, namun semua pendengar toh sudah tahu juga bahwa Wi-pat-ya selamanya tidak pernah bohong.

"Siapapun bila dia pernah melihat wajah asli dari Lam-hay-nio-cu, maka dia pasti menemui ajalnya, oleh karena itu di kala kebesaran namanya memuncak dulu, toh tiada seorangpun yang pernah tahu, orang macam apakah dia sebenarnya, hanya aku yang tahu..... hanya aku saja yang tahu......"

Suaranya semakin rendah lirih, wajahnya tiba-tiba membayangkan mimik yang aneh sekali, lama sekali baru dia berkata pula pelan-pelan.

"Kepandaian menyambit dan menyambut senjata rahasia serta Siau-kiau-kim-na-jiu pada waktu itu sudah tiada bandingannya sejak dahulu kala. Sayang sekali di saat-saat namanya menjulang tinggi, mendadak dia justru menghilang, tiada orang yang tahu kenapa dia tiba-tiba menghilang dan pergi kemana. Selama tiga puluhan tahun ini, sudah tiada orang yang pernah menyinggung namanya lagi di kalangan Kang-ouw, sampai akupun sudah tidak pernah mendengarnya lagi."

Semua saling beradu pandang, tiada orang yang berani bicara.

Semua orang sudah sama-sama menerka di dalam hati bahwa di antara Wi-pat-ya dengan Lam-hay-nio-cu pasti mempunyai sesuatu hubungan, pasti mempunyai sangkut paut yang misterius dan tidak diketahui orang luar.

Tapi hati semua orang terlebih heran dan ketarik pula, bahwa Lam-hay-nio-cu sudah menghilang selama tiga puluhan tahun, kenapa sekarang mendadak muncul?.

Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba Wi Thian-bing berseru lantang.

"Lo Mo, kau kemari!"

Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap dan gagah berpakaian hijau bermantel bulu beranjak keluar sambil mengiakan.

Pakaiannya serba mewah dan perlente, potongannya bagus dan cocok benar dengan perawakan badannya, seraut wajahnya yang elok, tidak tertawa namun orang sudah merasa simpatik seperti dia sedang tersenyum, kelihatannya tipe laki-laki yang paling disenangi oleh kaum hawa yang genit, hanya kedua biji matanya kelihatan sedikit merah melepuh, naga-naganya sering kurang tidur.

Apakah setiap pemuda yang sering dipuja-puja gadis-gadis remaja memang sering kurang tidur?.

Pemuda ini adalah salah satu dari Cap-sha-thay-po, murid-murid kesayangan Wi-pat-ya digelari Hun-long-kun Sebun Cap-sha.

Sepasang mata Wi Thian-bing setajam golok tengah menatapnya lekat-lekat, lama sekali baru dia bersuara dingin.

"Malam Tiong-chiu bulan delapan yang lalu, bukankah kau ada berkenalan dengan seorang kawan yang bernama Lim Thing?"

Kelihatan Sebun Cap-sha rada kaget, namun akhirnya dia menunduk sambil mengiakan.

"Sejak kau keluntang-keluntung dengan anak keparat piaraan lonte itu, dalam bulan-bulan belakangan ini, apa saja yang pernah kau lakukan?."

Selebar muka Sebun Cap-sha tiba-tiba merah malu, mulutnya terkancing tak bisa menjawab. Wi Thian-bing tertawa dingin, katanya pula.

"Aku tahu kau takkan berani buka bacot. Baik, Han Tin, kau wakilkan dia bicara."

Tanpa pikir Han Tin segera buka suara pelan-pelan.

"Tanggal dua puluh bulan delapan malam, mereka pergi ke gudang uang, pinjam tiga laksa tahil perak. Tanggal tiga puluh bulan delapan, kembali mereka pinjam dalam jumlah yang sama."

Wi Thian-bing tertawa dingin, katanya sinis.

"Sepuluh hari menghabiskan tiga laksa tahil, kedua kurcaci ini ternyata amat royal merogoh kantong."

Han Tin berkata lebih lanjut.

"Tanggal enam bulan sembilan malam, karena terlalu banyak tenggak air kata-kata, di kala mabuk mereka bertengkar dengan murid Kun-lun-pay dari Kwan-gwa, walau waktu itu mereka mengalah, tapi setelah Kun-lun sam-hiap itu tahu asal-usul mereka, malam itu juga mereka melarikan diri, mereka lantas mengejar sejauh delapan puluh li, akhirnya Kun-lun sam-hiap mereka bunuh semuanya."

Wi Thian-bing menyela dengan dingin.

"Agaknya murid Kun-lun-pay sejak kematian Liong Tojin, satu generasi lebih payah dari generasi yang lain."

Han Tin berkata.

"Setelah mereka membunuh ke tiga orang itu, selera mereka makin berkobar, di saat mabuk itulah mereka menerjang masuk ke Giok-keh-ceng, di sana mereka menggusur sepasang cewek kembar yang baru berusia empat belasan untuk menemani mereka tidur sehari semalam."

Sampai di sini Han Tin bercerita, sorot mata Sebun Cap-sha sudah mengunjuk rasa belas kasihan, tak henti-hentinya dia memberi isyarat kedipan mata kepada Han Tin, maksudnya supaya Han Tin berhenti saja.

Tapi Han Tin tidak gubris dan anggap tidak melihat isyaratnya, katanya lebih lanjut.

"Sejak itu, nyali mereka semakin besar, tanggal tiga puluh bulan sembilan itu...."

Sebelum cerita Han Tin berakhir Sebun Cap-sha sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kaku di depan Wi-pat-ya, lalu ditariknya baju di depan dadanya sampai robek, ratapnya.

"Tecu memang berdosa, kau orang tua bunuh aku saja."

Melotot biji mata Wi Thian-bing, lama sekali matanya tidak berkesip, mendadak dia tertawa gelak-gelak, serunya.

"Bagus, patut dipelihara, seorang laki-laki berani berbuat, berani bertanggung jawab, membunuh beberapa orang yang tidak becus, main-main dengan nona-nona cilik yang tidak genah, trondolo..... memangnya terhitung dosa apa?"

Saking kaget mendengar ucapan Wi-pat-ya, Sebun Cap-sha sampai kesima, tanyanya melongo.

"Kau orang tua tidak menyalahkan aku?."

"Kesalahan apa yang harus kutimpakan kepadamu? Jikalau kedua nona cilik itu tidak menyukai kau, memangnya mereka tidak bisa membenturkan kepala bunuh diri, kenapa sampai suka menemani tidur sehari semalam? Kalau memang mencintai kau, memangnya siapa yang bisa perduli? Memangnya jamak seorang gadis jatuh cinta kepada pemuda tampan, sampai raja langitpun tak kuasa mencampuri."

Tak tertahan Sebun Cap-sha tertawa katanya.

"Lapor kepada kau orang tua, beberapa hari yang lalu secara diam-diam mereka malah kemari mencariku."

Wi Thian-bing tertawa gelak-gelak, serunya.

"Laki-laki hidup dalam dunia harus punya nyali untuk membunuh orang, punya daya memelet nona cilik, kalau tidak, lebih baik mampus saja."

Gelak tawanya mendadak berhenti, katanya melotot kepada Sebun Cap-sha.

"Walau aku tidak menyalahkan kau, lalu tahukah kau kenapa aku menyuruh kau keluar?"

"Tidak tahu" , sahut Sebun Cap-sha. Mendadak Wi Thian-bing layangkan kakinya menendang sampai orang mencelat setombak lebih, sebelum Sebun Cap-sha sempat merangkak bangun, dia sudah jambak rambutnya serta menariknya ke atas, sebelah tangan yang lain segera bekerja pergi datang menampar mukanya sekeras-kerasnya, baru dia bertanya.

"Tahukah kau kenapa aku memukulmu?"

"Tidak tahu,"

Sahut Sebun Cap-sha ketakutan sambil menahan sakit. Memang dia tidak tahu sampai matanya terbelalak keheranan. Bentak Wi Thian-bing bengis.

"Laki-laki sejati main bunuh, main bakar, tidak menjadi soal, tapi jikalau siapa sebenarnya teman karibnya sendiri tidak diketahui asal-usulnya, sungguh kau kurcaci ditambah bedebah, dicacah hancur seratus bacokanpun masih kurang."

Baru saja berakhir kata-katanya, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu sudah berdiri disamping Sebun Cap-sha.

Dua tiga puluh pasang mata yang hadir dalam pendopo besar ini seluruhnya tumplek mengawasi ke arah orang yang baru datang, tiada yang tahu dari jurusan mana orang meluncur turun.

Di bawah penerangan cahaya lilin, tampak orang ini berwajah putih bersih, perawakannya tinggi rada kurus, tampangnya lumayan, sikapnya sopan santun, tindak-tanduknya seperti membawa gerak-gerik malu-malu seperti nona-nona pingitan.

Tapi tiba-tiba saja dia muncul, kaki menyentuh lantai tanpa bersuara, betapa tinggi Ginkangnya, jelas di antara Cap-sha-thay-po tiada yang kuasa menandinginya.

Begitu berdiri tegak, langsung dia menjura, katanya memperkenalkan diri."

Wanpwe Ting Ling, sengaja kemari menghadap Wi-pat-ya."

Melotot bundar biji mata Wi Thian-bing, bentaknya bengis.

"Berani kau kemari?"

"Tidak berani tidak Wanpwe harus kemari."

Sahut Ting Ling. Mendadak Wi Thian-bing terloroh-loroh serunya.

"Bagus, boleh dipelihara, aku orang tua justru suka anak-anak muda yang punya pambek dan pemberani."

Sebun Cap-sha dia lepaskan, lalu katanya.

"Kau keparat ini sekarang sudah mengerti belum, Lim Thing adalah Ting Ling, kau bisa bersahabat dengan teman seperti ini, terhitung besar keberuntunganmu."

Dengan kesima Sebun Cap-sha mengawasi temannya yang satu ini.

Setiap hadirin memang sedang perhatikan temannya ini.

Nama Ting Ling memang sering mereka dengar, namun tiada orang yang pernah menduga, bahwa pemuda lemah lembut dan bergaya malu-malu seperti nona pingitan ini, kiranya adalah tokoh silat kosen dari generasi muda di Bu-lim, terutama ilmu Ginkang-nya tertinggi, yaitu Hong-long-kun Ting Ling.

Kecuali Han Tin dan Wi-pat-ya, memang tiada seorangpun yang pernah menduga, namun selebar muka Ting Ling malah merah seperti kepiting direbus.

Kata Wi Thian-bing.

"Kuhajar kurcaci ini memang hendak kupancing kau keluar!."

"Entah Cianpwe ada petunjuk apa?", tanya Ting Ling dengan muka merah.

"Ada sebuah tugas ingin aku minta kau wakili aku, memangnya tugas ini hanya kau saja yang bisa melaksanakan."

Sikapnya tiba-tiba menjadi amat serius, katanya lebih lanjut.

"Tapi bukan maksudku kau pergi mengantar jiwa, oleh karena itu sebelumnya aku ingin saksikan dulu sampai di mana tingkat ilmu Ginkang-mu?."

Ting Ling tetap berdiri di tempatnya, pundaknya tidak bergeming, lengan tidak terangkat, seolah ujung jarinyapun tidak bergerak.

Tapi pada saat itu juga, badannya tiba-tiba mencelat terbang laksana burung walet, bagai angin lesus pula, tahu-tahu melesat terbang seperti hembusan angin lalu di atas kepala hadirin.

Di kala kesiur angin lesus itu putar balik tahu-tahu Ting Ling sudah berdiri di tempatnya semula, di tangannya sudah menenteng sebuah lampion besar.

Lampion merah ini semula tergantung di pucuk tiang bambu di luar ruangan, tingginya ada tiga tombak lebih, dari tempatnya berdiri jaraknya ada enam tombak, tapi orang melesat terbang pulang pergi dengan cepat, enteng dan napaspun tidak memburu.

Wi Thian-bing tepuk tangan seraya tertawa gelak-gelak.

"Bagus, orang sering bilang bahwa tingkat kepandaian Ginkang Hong-long-kun katanya boleh sejajar di dalam urutan lima tokoh kosen jaman ini. Hari ini setelah kusaksikan sendiri, memang tidak bernama kosong."

Dengan keras tangannya menepuk pundak Ting Ling, katanya pula.

"Dengan bekal Ginkang-mu ini, kau boleh pergi menunaikan tugas."

"Pergi kemana?", tanya Ting Ling.

"Pergilah ke Leng-hiang-wan, periksalah apakah Lam-hay-nio-cu sebetulnya tulen atau palsu!."

Mendadak pucat raut muka Ting Ling.

"Kau tahu akan Lam-hay-nio-cu?"

Tanya Wi Thian-bing. Ting Ling manggut-manggut.

"Kaupun tahu kelihayannya?"

Kembali Ting Ling manggut-manggut. Wi Thian-bing menatapnya pula sekian lamanya, tiba-tiba bertanya.

"Siapa dan orang apa gurumu?"

Ting Ling ragu-ragu seperti serba sulit, mendadak dia melangkah maju, dia melangkah mendekat serta mengucapkan dua patah kata yang amat lirih di pinggir telinga Wi-pat-ya.

Seketika berubah muka Wi Thian-bing, katanya.

"Tak heran kalau kaupun tahu dulu dalam pertempuran di Thian-san, gurumu juga pernah mendapat petunjuknya yang luar biasa."

"Guru sering bilang, Ginkang dan Am-gi (senjata rahasia) Lam-hay-nio-cu tiada tandingannya di seluruh jagat. Wanpwe kuatir malam ini......."

"Kau kuatir sekali pergi takkan bisa kembali?"

Sela Wi Thian-bing. Merah muka Ting Ling, katanya.

"Wanpwe tidak berani terlalu mengagulkan diri, namun sedikit banyak masih mempunyai sedikit pertimbangan akan hal ini."

"Tapi ada sebuah hal yang masih belum kau ketahui."

"Mohon petunjuk."

"Untuk merawat dan mempertahankan badaniahnya supaya tidak menjadi tua, Lam-hay-nio-cu ada meyakinkan semacam lwekang dari aliran sesat yang aneh, tapi entah mengapa, latihannya belum sempurna, oleh karena itu, setiap hari tepat pada jam 12 malam, hawa murninya mendadak sering nyeleweng, paling cepat setengah jam, seluruh badannya pasti kaku mengejang, tanpa bergerak."

Ting Ling mendengar dengan seksama.

"Tapi jejaknya selalu amat terahasia, saat-saat hawa murninya sesat itu hanya terjadi pada saat yang pendek saja, oleh karena itu mesti ada orang tahu akan ciri satu-satunya ini, tiada orang yang berani mencarinya."

Lalu dengan suara pelan dia menambahkan.

"Sekarang kita sudah tahu dalam beberapa hari ini dia jelas berada di Leng-hiang-wan. Ginkang-mu begini tinggi, asal kau bisa menemukan tempat latihan Lwekang-nya, nah...... pada tengah malam itulah kau boleh mencari akal untuk masuk membongkar kedoknya...."

"Kedoknya?"

Tak tahan Ting Ling bertanya.

"kedok apa?."

"Biasanya dia selalu mengenakan kedok, karena sebelum dia merias dan berdandan, biasanya tak pernah menghadapi siapapun dengan muka aslinya."

Ting Ling berkata.

"Kalau tiada orang melihat muka aslinya, walau Wanpwe berhasil membuka kedok dan melihat wajah aslinya, tetap aku tidak tahu tulen atau palsu?"

"Aku pernah melihat muka aslinya, pada mukanya terdapat suatu tanda yang luar biasa, asal kau melihat tanda khas ini, pasti kau mengenalnya."

"Tanda apa?"

Tanya Ting Ling.

Kini giliran Wi Thian-bing yang mendekat tempelkan mulut ke telinga orang, membisikkan dua patah kata.

Berubah muka Ting Ling, lama dia terlongong dan serba susah, akhirnya dia coba-coba mencari tahu.

"Bahwa Cianpwe pernah melihat muka aslinya, tentunya adalah teman baiknya, kenapa tidak Cianpwe sendiri yang ke sana menengok asli palsunya?"

Tiba-tiba terunjuk rasa gusar pada muka Wi Thian-bing, katanya marah-marah.

"Kusuruh kau pergi, kau harus pergi, urusan lain kau tidak usah peduli!."

Ting Ling tidak banyak bicara lagi, di kala Wi-pat-ya mengamuk, tiada orang yang berani bersuara. Dengan mendelik Wi Thian-bing bertanya bengis.

"Kau mau pergi tidak?"

Ting Ling menghela napas, katanya.

"Bahwa Wanpwe sudah tahu akan rahasia ini, tidak inginpun terpaksa harus pergi."

Kembali Wi Thian-bing tertawa gelak-gelak, serunya.

"Bagus, kau memang seorang pintar, aku orang tua biasanya suka orang-orang pintar."

Dengan keras dia tepuk pundak Ting Ling, katanya pula.

"Asal kau mau pergi, peduli ada urusan lain apa saja, aku boleh memberikan kepadamu."

Tiba-tiba Ting Ling tertawa, katanya.

"Sekarang Wanpwe hanya mohon Cianpwe suka mengijinkan sebuah permintaanku."

"Permintaan apa?"

"Wanpwe ingin memukul seseorang."

"Siapa yang ingin kau pukul?"

Tanya Wi Thian-bing. Han Tin segera menjawab di sebelah sana.

"Aku!"

Benar juga Ting Ling sudah putar badan pelan-pelan melangkah mendekati ke depan Han Tin, katanya tersenyum.

"Benar, memang aku ingin memukulmu."

Senyumannya masih begitu lembut dan halus, seperti orang malu-malu, tapi tangannya tiba-tiba terayun, sekali dia hantam hidung Han Tin, kontan Han Tin terhantam terbang ke belakang beberapa kaki jauhnya.

Ting Ling menjura kepada Wi-pat-ya, katanya tersenyum.

"Segera Wanpwe pergi ke Leng-hiang-wan, dalam waktu lima hari pasti ada khabarnya."

Habis kata-katanya, orangnya sudah menghilang. Wi Thian-bing menghela napas, mulutnya seperti mengigau.

"Anak-anak muda generasi mendatang, jauh lebih celaka di banding generasi kita, sungguh suatu kenyataan yang mengenaskan......"

Ooo)dw(ooo Malam dingin.

Dari pojok tembok tinggi di sana, tiba-tiba muncul bayangan orang yang berjalan dengan langkah pelan, wajah yang semula tampan kelihatan peyot dan bengap membiru, dia bukan lain adalah Sebun Cap-sha yang baru dihajar gurunya, pemuda bangor yang suka main perempuan ini agaknya belum kapok, secara diam-diam dia keluyuran lagi.

Setiba di luar gang sempit, ternyata sebuah kereta antik yang bercat hitam sudah menunggunya, begitu dia muncul, sais kereta lantas larikan keretanya berhenti di sampingnya.

Begitu pintu kereta terbuka, dia langsung melompat masuk, sebuah cangkir penuh arak sudah menunggunya di dalam kereta.

Secangkir arak merah simpanan puluhan tahun yang harum wangi dan hangat.

Dalam kereta sudah menunggu pula dua gadis belia yang molek laksana kembang mekar.

Kelihatannya sang Taci seperti bayangan adiknya, sang adik walau genit dan merangsang, namun sang Taci lebih menimbulkan gairah seorang laki-laki.

Seorang pemuda bermantel bulu memegang cangkir mas sedang malas-malasan di dalam pelukan sang Taci, segera dia dorong sang adik kepada Sebun Cap-sha, katanya tertawa.

"Bocah ini baru dihajar, lekas kau menghiburnya."

Sang adik dengan lahap menciumi muka Sebun cap-sha yang melepuh membiru.

Kereta segera dikaburkan ke arah Tiang-an.

Deru angin malam sedingin es setajam pisau.

Hari sudah jauh malam, namun di dalam kereta terasa hangat dan nyaman seperti di musim semi.

Setelah menenggak habis araknya, baru Sebun Cap-sha berpaling kepada pemuda bermantel bulu, katanya.

"Kau tahu aku akan kemari?"

Pemuda itu sudah tentu Ting Ling adanya, keadaannya jauh berbeda dengan Ting Ling yang tadi.

Tadi sikapnya sopan-santun, lemah-lembut dan malu-malu, kini adalah pemuda bangor hidung belang yang romantis.

Dengan ujung matanya dia mengerling kepada Sebun Cap-sha, katanya dengan bermalas-malasan.

"Sudah tentu aku tahu, kunyuk tua itu kalau tidak suruh kau menunggu kabarku, siapa lagi yang diutus kemari?"

Sebun Cap-sha tertawa.

"Kalau kau anggap dirimu berani, kenapa tidak di hadapan tua bangka itu kau membuka kedoknya yang munafik, serta memakinya keparat? Kenapa kau menjadi kura-kura yang terima ditusuk hidungmu?"

"Karena aku kuatir dan kasihan melihat cucu kura-kura macammu ini dihajarnya lagi sampai mukamu hancur."

Kedua gadis kembar yang jelita itu cekikikan.

Usia mereka memang belum banyak namun potongan dan perawakan mereka memang menggiurkan.

Seorang picakpun dapat merasakan bahwa mereka bukan anak-anak lagi.

Sebun Cap-sha tertawa pula, katanya.

"Bagaimanapun juga, pukulanmu menghajar Han Tin tadi menyenangkan dan melampiaskan penasaranku."

"Sebetulnya aku tidak patut menghajarnya."

"Kenapa?"

"Karena dia penyambung keparat tua itu, dia hanya boneka hidupnya saja,"

Terunjuk senyuman sinis pada ujung bibirnya, katanya lebih lanjut.

"Keparat itu sebetulnya adalah rase tua yang licik dan licin, tapi berkedok harimau yang galak, dia bisa mengelabui dan membuat gentar nyali orang lain, jangan harap dia bisa mendustai aku."

"Tak heran, bapak mengatakan kau lihai, ternyata memang tidak meleset pandangannya."

"Generasi muda sebaya kita, siapa tidak lihay jangan harap bisa berkecimpung di dunia Kang-ouw, namun yang benar-benar lihay mungkin belum dia hadapi secara nyata."

"Memangnya masih ada tokoh kosen siapa lagi dalam dunia Kang-ouw yang melebihi kau?"

Tanya Sebun Cap-sha.

"Orang seperti diriku sedikitpun masih ada puluhan banyaknya, cucu kura-kura seperti kalian setiap harinya selalu sembunyi dalam celana bapakmu itu, betapa tinggi dan luas dunia di luar lingkunganmu, bayangannyapun tidak bisa kalian raba,"

Setelah tertawa dingin lalu Ting Ling melanjutkan.

"Menurut hematku kalian tidak setimpal dijuluki Cap-sha-thay-po, kalian makan terlalu kenyang, hingga kepala selalu berat dan pusing tujuh keliling, kentut bapak juga kalian katakan harum."

Bukan saja tidak marah oleh olok-olok orang, Sebun Cap-sha malah menghela napas, katanya getir.

"Belakangan ini mereka memang makan terlalu kenyang, hidupnya terlalu mewah dan foya-foya, begitu menghadapi persoalan, dua orang lantas mati secara konyol."

"Dalam pandanganmu, peristiwa itu merupakan kejadian besar?"

Tanya Ting Ling.

"Walau tidak besar, juga bukan kecil, sedikitnya bapak sudah siap turun tangan sendiri."

"O, Wi Thian-bing hendak keluar kandang?"

"Justru karena dia siap turun tangan, maka kau diundang untuk mencari kabar ke Leng-hiang-wan."

"Kau kira dia benar-benar hendak menghadapi Bak Pek, baru meluruk ke Leng-hiang-wan?"

"Memangnya bukan?"

"Umpama Bak Pek membuat onar, aku berani bertaruh dia tetap akan meluruk ke Leng-hiang-wan."

Bercahaya sorot mata Sebun Cap-sha.

"Jadi kalau dia tidak mencarimu, dia tetap akan mencari tahu jejak Lam-hay-nio-cu?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Untuk apa mereka meluruk ke Leng-hiang-wan?"

"Lantaran urusan lain, urusan itulah boleh dikata besar."

"Apakah lantaran urusan besar ini pula sampai Lam-hay-nio-cu meluruk datang?"

"Agaknya kau sudah tambah maju dan cerdik otakmu."

"Bukan saja urusan ini memancing bapak keluar kandang, malah Lam-hay-nio-cu yang sudah menghilang tiga puluh tahun keluar kandang pula, agaknya persoalan ini cukup genting."

"Kecuali orang-orang yang sudah kalian ketahui,"

Demikian Ting Ling lebih lanjut.

"Menurut apa yang ku tahu, dalam jangka lima hari, sedikitnya ada enam tujuh orang yang akan meluruk ke Leng-hiang-wan juga."

"Orang-orang apa saja mereka itu?"

"Sudah tentu orang-orang yang sudah punya kepandaian tinggi."

"Mereka sudah tahu bahwa bapak siap turun tangan?"

"Usia orang-orang ini memang belum tua, tapi belum tentu mereka memandang sebelah mata bapak tuamu itu."

Sebun Cap-sha tertawa dipaksakan, katanya.

"Bapak bukan orang yang gampang dihadapi lho!".

"Tapi tokoh-tokoh kosen dari generasi muda di kalangan Kang-ouw, hanya beberapa orang saja yang memandang dirinya, seperti juga dia tidak memandang sebelah mata anak-anak muda itu."

Tak tahan Sebun Cap-sha bertanya.

"Apapun yang terjadi, pengalaman anak muda memang kurang matang."

"Pengalaman bukan kunci untuk menentukan kalah menang di dalam sesuatu persoalan."

"O, lalu apa kuncinya?"

"Menurut apa yang kukatakan, orang-orang yang berani meluruk ke Leng-hiang-wan jelas tiada seorangpun yang ilmu silatnya lebih rendah dari Wi Thian-bing, terutama satu diantaranya......"

"Kau maksudmu!"

"Sudah tentu aku punya ambisi, tapi setelah aku tahu orang ini juga datang, aku sudah siap menjadi penonton saja di luar gelanggang."

"Jadi kaupun tunduk lahir batin terhadapnya?"

Tanya Sebun Cap-sha mengerut alis. Ting Ling menghela napas, katanya.

"Tadi sudah kubilang, aku punya kepandaian meramal sesuatu yang bakal terjadi."

Agaknya Sebun Cap-sha merasa uring-uringan, katanya.

"Siapakah sebetulnya orang itu?"

Pelan-pelan Ting Ling minum habis secangkir arak, lalu berkata kalem.

"Pernahkah kau mendengar Siau-li Tham-hoa?"

Tersirap darah Sebun Cap-sha, saking kaget dia berjingkat dan hampir saja cangkir di tangannya terlepas jatuh.

"Siau-li si pisau terbang?,"

Serunya terkesima. Nama Siau-li atau Li si pisau terbang seolah-olah mempunyai daya hipnotis yang menyedot sukma orang.

"Pisau terbang Siau-li juga mau datang?"

Teriak Sebun Cap-sha.

"Jikalau pisau terbang Siau-li juga datang, bapak kalian dan Jian-bin-koan-im pasti sudah melarikan diri dan sembunyi di tempat yang jauh."

Sebun Cap-sha menghela napas lega, katanya.

"Aku tahu sudah sekian tahun Siau-li si pisau terbang tidak mencampuri urusan Kang-ouw, malah ada orang bilang, dia seperti pendekar besar Sim Long dan lain-lain, pergi ke pulau dewata di luar lautan, hidup bahagia dan menjadi dewa yang hidup bebas."

"Orang yang kumaksud walau bukan Siau-li si pisau terbang, namun dia punya hubungan yang amat erat dengan Siau-li si pisau terbang."

"Hubungan erat apa?"

"Di kolong langit ini hanya dia satu-satunya yang pernah mendapat warisan murni dari Siau-li si pisau terbang."

Tegang hati Sebun Cap-sha dibuatnya, katanya.

"Tapi kenapa selama ini tak pernah terdengar di Kang-ouw ada murid Siau-li si pisau terbang?"

"Karena dia tidak mengangkat guru secara resmi dengan Siau-li si pisau terbang, hubungan erat dengan Siau-li si pisau terbang baru belakangan ini saja diketahui khalayak ramai."

"Kenapa kami belum tahu juga?"

Tanya Sebun Cap-sha.

"Karena kalian makan terlalu kenyang."

Sebun Cap-sha tertawa kecut, tanyanya.

"Siapakah nama orang itu?"

Kembali Ting Ling menghirup araknya pelan-pelan, setelah habis satu cangkir baru pelan-pelan dia menjawab.

"Dia she Yap, bernama Kay" . Yap Kay. Sebun Cap-sha menepekur diam, matanya memancarkan cahaya terang, agaknya dia sudah berkeputusan untuk mengukir nama ini di dalam sanubarinya. Berkata Ting Ling.

"Yap Kay memang luar biasa, namun anak-anak muda yang lain itupun bukan kepalang menakutkan,"

Tiba-tiba dia tertawa seraya menambahkan.

"Kau adalah Hun-long-kun dan aku adalah Hong-long-kun, tahukah kau masih berapa banyak lagi Long-kun yang lain?"

Sebun Cap-sha manggut-manggut, katanya.

"Aku tahu masih ada Bek-long-kun, Thi-long-kun, kalau tak salah masih ada Kui-long-kun."

"Kali ini kau akan bertemu dengan mereka, hanya perlu kau ingat bila kau benar-benar sudah berhadapan dengan mereka, mungkin kau bisa menyesal."

"Menyesal?"

Sebun Cap-sha menegas tidak mengerti. Tiba-tiba terpancar aneh dari sorot mata Ting Ling, katanya pelan-pelan.

"Karena siapa saja melihat orang-orang ini, akibatnya tentu amat menyedihkan, oleh karena itu, lebih baik kalau kau tidak berhadapan dengan mereka."

Ooo)dw(ooo Malam gelap.

Malam tanpa awan tak berbintang.

Kereta itu berhenti di belakang Leng-hiang-wan bagian gudang rumput, seolah-olah gudang rumput untuk rangsum kuda ini memang dibangun khusus untuk menunggu kedatangan mereka.

Sementara kedua gadis kembar itu sudah meringkuk di pojok mendengkur lelap dalam mimpi.

Mengawasi badan sang adik yang sudah kelihatan montok dan padat, tak tahan Sebun Cap-sha menghela napas, katanya.

"Malam ini, apa kita istirahat di sini saja?"

Ting Ling manggut-manggut, katanya menengadah.

"Kalau sudah tidak tahan, boleh kau anggap mataku picak saja."

Sebun Cap-sha menyengir, katanya.

"Aku sih tidak begitu ketagihan, cuma aku heran kenapa hari ini kau kelihatan alim?"

"Malam ini aku punya janji."

"Ada janji? Janji dengan siapa?"

"Sudah tentu janji dengan seorang gadis."

"Bagaimana perawakannya, montok dan cantik?"

Tanya Sebun Cap-sha.

"Cantiknya luar biasa."

Sahut Ting Ling sambil tertawa penuh arti.

"Memangnya kau pergi seorang diri? Kau tinggal aku sendirian?"

"Kau mau ikut juga boleh."

"Nah, kan begitu, memangnya aku tahu kau bukan kawan yang kemaruk paras ayu lantas melupakan teman baik."

"Namun perlu kujelaskan lebih dulu, kepergian kami kali ini bukan mustahil takkan kembali dengan nyawa masih hidup."

Tersirap darah Sebun Cap-sha, tanyanya.

"Siapakah yang ada janji dengan kau?"

"Jian-bin-koan-im alias Lam-hay-nio-cu"

Sebun Cap-sha melongo. Dengan ujung matanya Ting Ling meliriknya, katanya.

"Kau ingin ikut tidak?"

Jawaban Sebun Cap-sha pendek dan tegas.

"Tidak saja."

Namun tak tertahan dia bertanya.

"Benarkah malam ini kau hendak menepati janjinya?"

"Aku sendiri memang sudah tidak sabar ingin melihat orang macam apa sebenarnya Lam-hay-nio-cu yang pernah membalikkan dunia itu?"

"Lalu apa pula yang kau tunggu di sini?"

"Menunggu seseorang."

"Menunggu siapa?"

Tiba-tiba kusir kereta di luar menjentik jari tiga kali. Mata Ting Ling seketika bersinar.

"Nah, itu dia datang."

Katanya.

ooo)dw(ooo Sebun Cap-sha membuka pintu kereta, maka dilihatnya seorang laki-laki bermantel rumput tengah mendatangi, bertopi rumput lebar pula.

Tangannya memegang sebatang galah bambu panjang tiga tombak, setiap kali galah menutul tanah, orangnya lantas melompat lima tombak jauhnya dengan ringan hingga di luar gubuk rumput.

"Bagaimana Ginkang-nya menurut pandanganmu?"

Tanya Ting Ling. Sebun Cap-sha tertawa getir, sahutnya.

"Orang-orang di sini agaknya memang lihay semua."

Saat mana orang itu sudah mencopot mantel rumputnya, lalu dicantelkan di atas saka, katanya dengan tersenyum.

"Aku bukan pamer Ginkang, soalnya aku tidak ingin meninggalkan jejak di permukaan salju."

"Bagus, sikap kerjamu memang teliti."

Kata Ting Ling.

"Karena aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi."

Ujar orang itu.

Pelan-pelan dia menghampiri, sembari menanggalkan topi rumputnya.

Baru sekarang Sebun Cap-sha melihat jelas, laki-laki ini berusia tiga puluhan, di samping mengenakan jubah biru, bagian luarnya memakai pula kain hangat dari kulit rase, tindak-tanduknya mirip seorang pedagang, namun sepasang matanya berkilat, selalu menampilkan senyuman sinis yang licin.

Ting Ling tersenyum, katanya.

"Inilah pengurus besar Leng-hiang-wan Nyo-toa-cong-koan Nyo Kan."

Nyo Kan mengawasi Sebun Cap-sha, katanya.

"Dia tentunya Cap-sha Kang-ouw murid Wi pat-ya, beruntung bertemu di sini."

Sebun Cap-sha melongo mengawasi orang, tanyanya.

"Kau kan Nyo Kan yang dilihat oleh Lak-ko tempo hari."

"Ya, Nyo Kan hanya satu."

Sebun Cap-sha tertawa kecut, katanya.

"Dia bilang kau seorang pedagang yang bernyali kecil, agaknya dia memang sering makan kenyang."

Berkata Nyo Kan tawar.

"Memang, aku pedagang yang tidak bernyali, dia tidak salah lihat."

"Tapi akulah yang salah lihat,"

Sela Ting Ling.

"Lho!"

"Semula aku kira kau ini adalah Hwi Hou (Rase Terbang) Nyo Thian."

Nyo Kan mengerut kening.

Sebun Cap-sha tersirap darahnya.

Nama Hwi Hou Nyo Thian pernah dia dengar.

Sebetulnya jarang kaum persilatan yang tidak kenal namanya, asalnya dia seorang begal tunggal malang melintang selama puluhan tahun di Kang-ouw, hanya dia seorang yang mempunyai latihan ilmu lemas paling lihay sepuluh tahun belakangan ini.

Khabarnya meski kau membelenggunya dengan kacip besi, lalu mengikat sekujur badannya dengan otot sapi, dikurung di dalam penjara yang hanya ada jendela kecil saja, dia masih bisa melarikan diri.

Bahwa orang selihay itu berada di Leng-hiang-wan dan menjadi pengurusnya malah, sudah tentu takkan mungkin kalau tidak mempunyai tujuan tertentu.

Dan tujuan yang diincarnya itu, tentu bukan suatu pekerjaan ringan.

Tiba-tiba Sebun Cap-sha merasa urusan ini semakin aneh dan menarik, namun semakin tegang menakutkan.

Agaknya Ting Ling menyadari bahwa mulutnya terlalu cerewet, lekas dia mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.

"Apakah Lam-hay-nio-cu sudah datang?"

"Baru saja tiba,"

Sahut Nyo Kan manggut.

"Kau sudah melihatnya?"

Nyo Kan geleng-geleng, sahutnya.

"Aku hanya melihat beberapa kacung dan babu-babu saja."

"Berapa jumlah mereka seluruhnya?"

"Tiga puluh tujuh!"

"Perempuan yang bisa makan golok itu ada diantaranya mereka?"

Nyo Kan manggut-manggut, sahutnya.

"Dia dipanggil Thi Koh, kelihatannya dialah yang menjadi pemimpin rombongan."

"Jangan lupa kaupun seorang pengurus, agaknya kalian memang jodoh yang setimpal!"

Nyo Kan menarik muka, tak bersuara. Agaknya dia memang laki-laki yang tak suka berkelakar. Ting Ling batuk-batuk, tanyanya.

"Mereka tinggal di pekarangan yang mana?"

"Menetap di Thing-siu-lau."

"Masih berapa lama untuk menunggu sampai tengah malam?"

Ujar Ting Ling.

"Kurang dari setengah jam, di dalam ada tukang ronda yang menabuh kentongan, begitu masuk kau akan segera mendengarnya."

Bercahaya mata Ting Ling, katanya.

"Agaknya menghabiskan secangkir arak lagi, aku boleh lantas berangkat."

Nyo Kan mengawasinya, lama sekali tiba-tiba dia bersuara.

"Kali ini kita kerja sama, karena aku membutuhkan kau dan kaupun membutuhkan aku."

Ting Ling tertawa, ujarnya.

"Memangnya kita setimpal untuk kerja sama?"

"Tawar tanggapan Nyo Kan, ujarnya.

"Tapi kita bukan teman sejati, untuk satu hal ini kau harus selalu mengingatnya."

Tanpa menunggu Ting Ling bersuara, dia sudah putar badan mengenakan topi rumputnya pula, tangan meraih baju rumput, galahnya menutul ringan, tahu-tahu bayangannya sudah melayang lima tombak jauhnya, kejap lain bayangannya sudah menghilang di tempat gelap.

Mengantar bayangan orang, Ting Ling mengulum senyum, katanya.

"Gerakan bagus, memang tidak malu dia dijuluki rase terbang."

"Apa benar dia itu rase terbang Nyo Thian?"

Tanya Sebun Cap-sha.

"Rase terbang hanya satu orang,"

Sahut Ting Ling menghela napas, lalu menambahkan dengan tertawa getir.

"Untung hanya ada seorang saja."

Ooo)dw(ooo Ting Ling siap-siap mengencangkan pakaiannya yang serba hitam dan ketat, namun dia tidak sempat menghabiskan araknya yang terakhir, sorot matanya berkilau, lenyap senyum tawa yang biasa menghias wajahnya.

Dalam waktu singkat, seolah-olah dia berubah menjadi orang lain.

Kini dia bukan lagi pemuda bajul yang suka keluyuran, sikapnya tampak prihatin dan tabah, kelihatannya amat menakutkan.

Dengan nanar Sebun Cap-sha mengawasi temannya yang satu ini, matanya menampilkan mimik yang aneh, seperti kagum juga kepingin, namun seperti merasa jelus dan cemburu pula.

Ting Ling berkata.

"Lebih baik kalau kau menungguku di sini, dalam waktu satu jam aku pasti kembali."

Tiba-tiba Sebun Cap-sha tertawa, katanya.

"Bagaimana kalau kau tidak kembali?"

Ting Ling tertawa, ujarnya tawar.

"Kalau begitu kedua cewek itu milikmu, bukankah kau sudah punya angan-angan demikian?."

Belum habis bicara, badannya sudah melesat keluar, seperti walet hitam yang terbang di malam gelap, belum lenyap suaranya, bayangannya sudah ditelan kegelapan entah kemana.

Sebun Cap-sha duduk melamun seorang diri, lama dia tidak bergerak.

Sebetulnya dia beranggapan bahwa ilmu silatnya tidak asor di banding jago silat kenamaan di kang-ouw, baru sekarang dia menyadari bahwa pikirannya meleset.

Kenyataan pemuda tingkatannya sekarang jauh lebih menakutkan dari apa yang pernah dia bayangkan.

Tanpa sadar tangannya terangkat mengelus muka sendiri yang masih bengap, sorot matanya seketika mengunjukkan derita yang mengetuk sanubarinya.

Sang kakak sebetulnya sudah mendengkur, tiba-tiba membalik badan terus memeluk pahanya.

Sebun Cap-sha tidak bergerak.

Sang kakak bukan miliknya, hanya adiknyalah yang menjadi kawan mesumnya.

Tak nyana sang kakak menggigit pahanya dengan gregetan, sudah tentu sakitnya bukan main.

Tapi derita yang terunjuk pada sorot mata Sebun Cap-sha tiba-tiba sirna.

Disadari olehnya, untuk mengalahkan seseorang bukan hanya mengandalkan kepandaian silat.

Tiba-tiba senyuman manis menghias wajahnya, dengan senyum lebar, dia tenggak habis arak yang ditinggalkan Ting Ling tadi, dan.........

ooo)dw(ooo Yang terdengar di Thing-siu-lau bukan deru ombak di lautan, tapi deru bambu.

Di dalam Leng-hiang-wan kecuali ditanam laksaan pucuk kembang Bwe, juga terdapat ratusan pucuk cemara dan ribuan pucuk bambu yang lebat.

Di luar Thing-siu-lau itulah hutan bambu laksana lautan lebatnya.

Ting Ling mendekam di tempat gelap di luar hutan bambu.

Pelan-pelan dia membuka sebuah kantong kulit yang semula diikat di pinggangnya, dari dalam kantong dia mengeluarkan sebuah bumbung semprotan.

Di dalam bumbung semprotan di isi minyak kental warna hitam, hasil barter dengan para gembala di tapal batas Tibet dengan garam.

Pelan-pelan dia putar dulu tutup bagian ujung bambu itu, kebetulan ada angin menghembus, pelan-pelan ia mulai semprotkan minyak hitam dalam bumbung secara teliti dan rata.

Maka semburan minyak yang merata halus itu laksana kabut hitam terhembus angin menyiram ke arah Thing-siu-lau.

Gerakannya pelan dan hati-hati, dia simpan bumbung semprotan itu, lalu mengeluarkan puluhan butir pelor sebesar buah kelengkeng, dengan kekuatan dua jarinya dia jentik satu persatu pelor-pelor ini ke atap rumah di seberang sana.

Sekonyong-konyong terdengar "Blup...!"

Seluruh atap Thing-siu-lau tiba-tiba menjadi lautan api, kobaran api yang menyala setinggi tiga tombak.

Kebetulan dari kejauhan terdengar suara kentongan, ternyata tepat pada jam 24.00 tengah malam.

Tapi suara kentongan di telan suara jerit kaget orang-orang di sekitarnya.

"Api! Kebakaran!"

Puluhan orang berlari ke luar dari Thing-siu-lau, kobaran api amat ganas dan mengamuk makin besar, seorang yang tenang dan tabahpun takkan berpeluk tangan.

Di saat gawat dan ribut itulah Ting Ling sudah menyelundup masuk seenteng asap ke sebuah kamar dari jendela di belakang loteng.

Langsung menembus ke sebuah ruang kecil yang dipajang amat serasi, suasana tenang sunyi tak kelihatan bayangan orang.

Mendadak Ting Ling berteriak keras.

"Api! Ada kebakaran!" . Tiada orang keluar dan tiada reaksi. Sigap sekali Ting Ling dorong pintu menerjang masuk ke kamar sebelah, soalnya dia belum tahu di kamar mana Lam-hay-nio-cu meyakinkan ilmunya, maka gerak-geriknya harus cepat dan tangkas. Maklum, dia harus mengadu untung dan nasib. ooo)dw(ooo Ternyata nasibnya tidak jelek, daun pintu ketiga ternyata diganjel dari dalam, segera dia keluarkan golok terus menyungkil dari luar. Kiranya kamar ini adalah ruang pemujaan. Asap mengepul wangi dari tempat pembakaran dupa, sehingga suasana ruang pemujaan ini bertambah hikmat, mengandung kekuatan magis. Sekilas pandang Ting Ling tidak mendapatkan bayangan orang di sini. Tapi Ting Ling yang cerdik tidak habis pikir, sebuah ruang pemujaan yang berpalang dari dalam masa tanpa penghuni, maka tanpa banyak pikir segera dia segera menerjang masuk, sekali raih langsung dia tarik kain gordyn bagian belakang tempat pemujaan. Seketika dia berdiri menjublek. Di belakang gordyn ada empat orang. Empat orang yang mengenakan jubah hijau panjang dari sutra, rambut kepalanya tersanggul di atas kepala, mengenakan topeng yang terbuat dari ukiran kayu cendana. Dandanan ke empat orang ini sama, duduk bersimpuh tidak bergerak, sinar api yang berkobar-kobar di luar loteng menyinari muka mereka yang menyeringai sadis, menambah suasana jauh lebih seram dan menggiriskan. Ke empat orang ini mungkin Lam-hay-nio-cu, padahal Lam-hay-nio-cu hanya ada satu. Ting Ling insyaf kesempatan baik tak terulangi lagi, maka dia berkeputusan untuk menyerempet bahaya. Sigap dia menubruk maju, merenggut topeng orang terdekat. Di belakang topeng adalah seraut wajah halus putih ayu molek, bulu matanya yang panjang dengan alis melengkung laksana bulan sabit menaungi matanya yang meram. Siapapun akan tahu gadis ayu ini belum genap dua puluh tahun, Lam-hay-nio-cu tidak mungkin semuda ini. Ting Ling menarik topeng kedua, ternyata orang ini laki-laki, mukanya kasar pula. Lam-hay-nio-cu terang bukan laki-laki. Orang ke tiga kelihatan masih muda, namun ujung matanya dihiasi keriput seperti ekor ikan. Sedang orang ke empat adalah nenek tua yang peyot dan penuh keriput. Kembali Ting Ling menjublek. Belum berhasil menemukan wajah yang ingin dia lihat, padahal dia tak boleh terlalu lama di tempat ini. Begitu putar tubuh, cepat sekali badannya mencelat, sekilas ujung matanya sempat melihat tangan laki-laki penuh brewok itu bergerak. Tahu gelagat jelek, sigap sekali reaksinya, tapi luar biasa cepat orang ini turun tangan. Baru saja tangan orang bergerak, tahu-tahu pinggangnya dirangsang rasa sakit seperti ditusuk jarum besar. Kontan badannya tersungkur jatuh. ooo)dw(ooo Ruang pemujaan itu tetap hening, asap dupa masih mengepul menjadikan ruang itu harum semerbak membangkitkan semangat orang. Kobaran api di luar sudah padam sewaktu Ting Ling membuka mata, didapati dirinya berpakaian perempuan, saking terkejut, tangan segera terulur meraba kepala, ternyata rambutnya sekarang sudah berubah, tersanggul dengan mode yang paling digemari kaum remaja jaman itu, pakai tusuk kundai dan perhiasan segala. Hong-long-kun Ting Ling sejak berusia tujuh belas sudah berkelana di Kang-ouw, dalam tiga tahun, namanya sudah menjulang tinggi dan disegani oleh kaum muda persilatan. Kaum persilatan tahu, Ginkang-nya amat tinggi, dia cerdik pandai, tapi juga luar biasa tabah dan beraninya. Tapi kali ini dia sendiri berjingkrak kaget. Sayang dia tak mampu bergerak karena bagian bawah pinggangnya lemah lunglai tak mampu bergerak. Seketika hatinya lemas, badanpun berkeringat dingin. Di tempat pemujaan bercokol tinggi Koan-im Posat, tangannya memegangi sebatang dahan pohon Liu yang piranti menolong umat manusia. Patung Koan-im Posat sedang mengawasi dirinya dengan tersenyum penuh arti. Di tengah kepulan asap dupa yang semakin tebal, senyumnya itu terasa aneh dan menyembunyikan maksud-maksud tertentu. Tiba-tiba terasa oleh Ting Ling raut muka Koan-im Posat itu mirip pinang di belah dua dengan wajah gadis ayu di belakang topeng tadi. Apakah gadis ayu tadi Lam-hay-nio-cu? Tapi orang yang meringkus dirinya adalah laki-laki brewok kasar itu, semula dia menduga Lam-hay-nio-cu menyamar laki-laki muka kasar, tapi sekarang dia bingung dan tak habis mengerti, sampai berpikirpun tak berani membayangkan lagi. Dia takut bila hal itu terlalu dipikirkan, bukan mustahil dirinya jadi gila. Untunglah pada saat itu ruang pemujaan itu pelan-pelan membuka, seseorang beranjak masuk sambil mengulum senyum aneh yang misterius, mirip Koan-im Posat di atas pemujaan itu. Ting Ling celingukan, dari wajah Koan-im Posat di atas pemujaan lalu berpaling mengawasi orang yang baru masuk ini, tiba-tiba dia menghela napas, matanya terpejam. Wajah gadis jelita ini ternyata mirip wajah Koan-im Posat. Dia tidak ingin melihatnya lebih lama, kuatir jadi gila. Sayang sekali meski dia sudah pejamkan mata, tak urung dia sudah hampir gila dibuatnya. Sementara itu gadis jelita sudah beranjak ke depannya, katanya tiba-tiba.

"Hari ini elok benar sisiran sanggulmu, siapakah yang menyisirnya?"

Tak tahan Ting Ling melotot padanya, katanya.

"Memangnya aku ingin tanya kau siapa yang mendandan dan menyanggul rambutku?"

Kelihatan gadis itu melengak heran, tanyanya.

"Masa kau sendiri tidak tahu?"

"Darimana aku bisa tahu?"

"Masakah sedikitpun tidak teringat olehmu?"

Ting Ling tertawa getir, sahutnya.

"Bagaimana aku bisa ingat, perasaan aku tidak punya, umpama kau pukul pecah kepalaku, tetap tak bisa menebak siapakah orang yang menyulap diriku menjadi perempuan."

Semakin kaget dan heran gadis jelita ini, katanya.

"Apa? Kau tuduh kami yang mendandani kau jadi begini? Masa kau lupa bahwa sebetulnya kau memang perempuan?"

Tak tahan Ting Ling berteriak.

"Siapa bilang aku perempuan?"

Gadis itu melongo dan mengawasi dengan terbelalak, mimiknya mirip gadis yang berhadapan dengan orang gila. Tak tahan Ting Ling berkata pula.

"Kalau kau mengatakan aku mirip perempuan, tentu kau gila."

Gadis itu menghela napas, ujarnya.

"Bukan aku yang gila, tapi kau!"

Tiba-tiba dia berpaling dan berseru.

"He...., lekas kemari dan lihatlah, kenapa Ting-siau-moay berubah menjadi begini?"

Ting-siau-moay?

Hong-long-kun Ting Ling tiba-tiba berubah menjadi Ting-siau-moay?

Ingin Ting Ling tertawa, namun kulit mukanya kaku, ingin menangis diperaspun air mata tidak keluar.

Tampak dari luar beranjak masuk lima perempuan, satu di antaranya nyonya pertengahan umur yang tadi bertopeng.

Ternyata dia inilah Thi Koh, karena gadis di depannya sedang memanggilnya.

"Thi Koh, lekas kemari dan lihatlah, tadi Ting-siau-moay masih baik-baik saja, kenapa sekarang berubah.....berubah begini?"

Thi Koh mengamati Ting Ling katanya tersenyum.

"Bukankah selintas pandang dia masih baik? Malah rambutnya disisir lebih elok dari biasanya."

"Tapi.......", gadis itu ragu-ragu.

"Dia tidak mengakui bahwa dirinya seorang perempuan."

Sedapat mungkin Ting Ling berusaha mengekang diri, dia insyaf keadaan seperti sekarang, dirinya harus berkepala dingin dan tabah hati. Tapi tak tahan dia tetap membantah.

"Memangnya aku bukan perempuan?"

Tiba-tiba Thi-koh menghela napas, katanya.

"Aku dapat memahami perasaanmu, adakalanya aku sendiripun mengharap aku ini bukan perempuan, di dalam dunia, perempuan memang sering dirugikan."

Ting Ling menghela napas, katanya.

"Sebetulnya aku tidak menentang perempuan, tapi sejak dilahirkan kodrat menentukan aku adalah laki-laki, barusan aku masih seorang laki-laki."

Sesungguhnya dia sudah menekan perasaan dan bersabar untuk mengendalikan diri. Maka Thi Koh menampilkan rasa heran dan tak mengerti, tiba-tiba dia berpaling tanya kepada yang lain.

"Sejak kapan kalian kenal Ting-siau-moay?"

"Sudah dua tiga bulan."

Sahut perempuan-perempuan itu bersama.

"Apa dia laki-laki, atau perempuan?"

"Sudah tentu perempuan,"

Sahut orang-orang sambil cekikikan.

"kalau Ting-siau-moay laki-laki, kita bisa celaka tidur sekamar dengan dia."

Terasa oleh Ting Ling kulit mukanya menghijau kaku, namun dia tetap bersabar, katanya.

"Sayang sekali aku bukan Ting-siau-moay yang kalian kenal."

Dengan mengulum senyum Thi Koh bertanya.

"Lalu siapa kau ini?"

"Aku she Ting, bernama Ling."

"Aku tahu kau bernama Ting Hung-pin."

"Bukan Ting Hun-pin, tapi Ting Ling."

"Bukan Ting Ling, tapi Ting Hun-pin. Kenapa namamu sendiri sudah kau lupakan?"

Gadis yang mirip Koan-im Posat tiba-tiba tertawa, katanya.

"Untung suara bicaranya belum berubah, siapapun bisa mendengar bila dia memang perempuan tulen."

Ting Ling tertawa dingin, jengeknya.

"Siapapun bisa membedakan bahwa aku adalah lela....."

Suaranya tiba-tiba berhenti, keringat dingin gemerobyos.

Tiba-tiba disadarinya bahwa suaranya memang berubah, berubah nyaring melengking, mirip suara perempuan.

Apa benar aku tiba-tiba-tiba berubah jadi perempuan?

Rasa takut merangsang hatinya.

Dia coba menggerakkan setiap jengkal kulit daging badannya, sayang selewat pinggang ke bawah, ternyata kaku dan pati rasa.

Ingin ulur tangan meraba ke bagian itunyapun sungkan, maklum di hadapan sekian banyak perempuan, tak berani dia bertindak kasar dan melakukan rabaan yang memalukan.

Thi Koh tetap mengawasinya, sorot matanya menampilkan rasa iba dan simpatik, katanya lembut.

"Belakangan ini hatimu kurang enak, terlalu banyak minum lagi, tak heran kalau kau melupakan diri sendiri, apalagi kejadian masa lalu memangnya sudah tidak ingin kau pikirkan lagi."

Terpaksa Ting Ling bungkam dan mendengarkan saja.

"Tapi kita bisa memberi peringatan kepadamu, kejadian masa lalu amat menyedihkan, tapi kalau semua itu sudah terlupakan, terhadap dirimu takkan membawa manfaat."

Akhirnya Ting Ling menghela napas, ujarnya.

"Baik, silahkan kau bicara, aku sedang mendengarkan."

"Kau bernama Ting Hun-pin,"

Ujar Thi Koh lebih lanjut.

"seorang gadis cantik dan jelita, semula kau punya seorang kekasih atau pujaan hati yang baik sekali, tapi kalian bertengkar karena seseorang, maka kau berusaha bunuh diri terjun ke laut, untung Sim Koh menolong jiwamu."

Gadis yang senyumannya seperti Koan-im Posat ternyata bernama Sim Koh, dia segera menyambung.

"Untung aku cepat menarikmu, kalau tidak, hari itu kau sudah kecemplung ke laut."

Ting Ling kertak gigi, tanpa bersuara. Mendadak dia amat takut dan ngeri mendengar suaranya sendiri.

"Kekasihmu itu she Yap, bernama Kay, dia......."

Thi Koh mengoceh.

Yap Kay.

Mendengar nama ini, serasa meledak jantung Ting Ling.

Sekonyong-konyong segala sesuatu menjadi terang baginya.

Dia insyaf bahwa dirinya jatuh oleh tipu daya keji, misterius dan lihay.

Jelasnya tipu daya atau muslihat ini sebetulnya dipersiapkan untuk menghadapi Yap kay, namun dirinyalah yang menjadi kambing hitamnya tanpa dia sadari sebelumnya.

Apa yang diocehkan Thi Koh, bahwasanya tidak didengarnya lagi, dia memusatkan sekuat daya pikirnya.

Dia harus berusaha lolos dari belenggu tipu daya yang mengekang dan melibatkan dirinya, tapi dia tahu hal ini bukan mustahil, namun sulit sekali.

Sang waktu rasanya sudah berselang lama, namun ocehan Thi Koh masih juga belum berhenti.

Karena ceritanya diulang beberapa kali, seperti hendak paksakan Ting Ling menerima dan mengingat peristiwa yang menimpa dirinya.

"Kekasihmu itu bernama Yap Kay, dia putra Tong-cu Sin-to-tong yang masih muda belia, tapi belakangan dia diberikan kepada keluarga Yap."

"Sementara ayahmu bernama Ting Jun-hong, bibimu bernama Ting Pek-hun, semula adalah musuh besar keluarga Yap, tapi belakangan Yap Kay berhasil menghapus permusuhan kedua keluarga ini, hubungan cinta kalian justru makin erat dan mendalam."

"Sebelum ketemu dia kau sudah bersumpah tak mau kawin, demikian pula dia takkan mempersunting gadis lain kecuali kau, tapi tahu-tahu muncullah seorang gadis jelita yang bernama Siangkwan Siau-sian."

"Gadis yang bernama Siangkwan Siau-sian ini khabarnya adalah putri dari Kim-cie Pangcu Siangkwan Kim-hong yang pernah menggetarkan Kang-ouw itu. Dia dilahirkan oleh Lim Sian-ji perempuan tercantik pada masa dulu yang tiada bandingannya. Memang kecantikan Lim Sian-ji melebihi bidadari, tapi kerjanya justru menjebloskan laki-laki ke dalam neraka. Maka anak yang dilahirkanpun mengikuti jejak ibunya, jahat, kotor dan sadis. Hubunganmu pecah dengan Yap Kay gara-gara dia, maka jangan kau lupakan peristiwa ini. Sekali-kali jangan melupakannya."

Ting Ling mendengar orang mengucapkan sekali dan diulang sekali hingga berulang kali, tiba-tiba disadari bukan saja pikiran sendiri tidak bisa tentram, malah seperti terkekang dan terkendali oleh ocehan orang.

Sekonyong-konyong timbul dalam benaknya kebencian yang luar biasa di dalam sanubarinya terhadap gadis yang bernama Siangkwan Siau-sian.

Hampir saja dia sudah mengakui bahwa dirinya memang benar Ting Hung-pin adanya, mengakui bahwa dirinya memang perempuan.

Asap dupa terus mengepul memenuhi udara hingga ruang pemujaan itu semakin gerah, asap dupa mengikuti keluar masuk pernapasannya, merangsang otaknya.

Lama-kelamaan dia menjadi tak kuasa kendalikan diri dan tak punya daya pikir untuk membedakan salah benar dan baik atau buruk.

Thi Koh terus mengawasinya, raut mukanya menampilkan senyum sinis yang aneh, pelan-pelan dia berkata pula.

"Kau bernama Ting Hun-pin, gadis remaja yang amat cantik sekali, kau......."

Mendadak dengan sisa tenaganya Ting Ling gigit bibirnya sekeras-kerasnya, rasa sakit seketika menyadarkan otaknya. Kontan dia menggerung keras.

"Tak usah omong lagi, aku sudah tahu apa maksudmu."

"Apa benar kau sudah mengerti?"

Tanya Thi Koh tersenyum.

"Tentunya aku mirip dengan Ting Hun-pin, oleh karena itu kalian hendak memperalat aku untuk mencelakai Yap Kay."

"Lho, kau memang Ting Hun-pin."

Ting Ling tertawa dingin.

"Sebetulnya kau tak perlu membuang tenaga, apa yang kalian ingin aku lakukan, akan kulakukan dengan baik."

"Oh, apa benar?"

"Benar! Tapi kalianpun harus berjanji untuk melakukan beberapa persoalanku."

"Silahkan berkata."

"Pertama aku menuntut penjelasanmu, secara kebetulan saja kalian menemukan wajahku seperti Ting Hun-pin, lalu mengatur tipu daya ini? Atau memang sejak semula kalian sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi aku?"

Thi Koh tidak bersuara.

"Dan selanjutnya kalian harus membuka tutukan Hiatto-ku, beri kesempatan aku bertemu dengan Lam-hay-nio-cu. Setelah usaha ini berhasil, aku minta bagian satu prosen."

Tiba-tiba Thi Koh tertawa, katanya.

"Sejak tadi Lam-hay-nio-cu sudah berada di sini, masakah kau tidak melihatnya?"

"Dimana dia?"

Sebuah suara yang merdu nyaring berkata kalem.

"Aku ada di sini."

Ternyata patung Koan-im yang berada di tempat pemujaan terselubung gordyn itu yang bersuara.

(Bersambung ke Jilid-3 Jilid-3 Tiba-tiba Ting Ling berpaling, sekilas dia memandang ke arah patung pahatan yang dipuja itu, seketika sorot matanya terkesima dan menjublek tak bergerak lagi.

Di antara kepulan asap dupa yang bergulung-gulung itu, tampak wajah patung Koan-im Posat yang satu ini sudah berubah.

Raut muka yang semula mengulum senyum bahagia, kini serius dan berwibawa, alisnya tegak, sorot matanya beringas memantulkan perasaan marah.

Patung pemujaan yang semula tidak bernyawa mendadak berubah menjadi manusia.

"Aku adalah orang yang ingin kau temui, maka kau harus mengawasiku, setiap patah kata yang kuucapkan, harus kau ingat betul-betul."

Terasa oleh Ting Ling sekujur badannya sudah basah berkeringat, tanpa sadar dia manggut, walau dalam hati tidak ingin melihatnya, namun sorot matanya sukar beralih ke arah lain, tatapan tajam mata patung misterius ini seperti mengandung hawa gaib.

"Kau adalah Ting Hun-pin, Yap Kay adalah kekasihmu, suamimu, tapi Siangkwan Siau-sian merebutnya dari tanganmu. Setiap detik setiap saat mereka berpelukan main cinta, kau ditinggal seorang diri hidup merana."

Ting Ling menatapnya kaku, tiba-tiba wajahnya menampilkan derita dan sedih serta pilu yang tak tertahankan.

"Aku tahu akan dirimu dan jelas akan dirinya, sakit hati ini takkan bisa terlupakan karena itu kau harus menuntut balas."

Wajah Ting Ling beringas, gusar dan buas, mulutnya mengguman.

"Aku harus menuntut balas.......aku akan menuntut balas......"

"Tidak lama lagi Yap Kay hendak membawa perempuan genit dan jahat itu kemari. Kebetulan ada kesempatan bagimu menuntut balas kepadanya."

Ting Ling mendengarkan, sorot matanya yang semula bercahaya, lambat laun berubah menjadi kosong hambar, sebaliknya rasa kebencian di mukanya bertambah tebal dan liar.

"Yap Kay pasti tak menduga kau bakal berada di sini, oleh karena itu munculmu yang mendadak ini pasti akan membuatnya kaget bukan main."

"Dia pasti takkan menaruh prasangka terhadapmu, maka kau harus cari kesempatan untuk merebutnya dari tangan perempuan jahat yang bernama Siangkwan Siau-sian itu, bawa dia kemari, biar kami bantu kau merusak mukanya, supaya dia tidak memelet laki-laki dan menjebloskan kaum Adam ke dalam neraka."

"Bagaimana, kau sudah mengerti maksudku?"

Ting Ling manggut, sahutnya.

"Aku sudah mengerti."

"Apa kau mau bertindak menurut petunjukku?"

"Baik! Aku akan bertindak sesuai petunjukmu."

"Setiap patah kata perintahku, kau percaya sepenuhnya?"

"Baik! Aku percaya sepenuhnya."

"Bagus! Sekarang kau boleh berdiri. Hiat-to mu sudah terbuka, berdirilah pelan-pelan."

Benar juga, Ting Ling ternyata bisa berdiri. Kedua kakinya yang semula kaku lemas, kini punya tenaga.

"Baik, di dalam bajumu ada sebatang golok, sekarang aku perintahkan kau membunuh seseorang dengan golokmu itu."

"Membunuh siapa?"

"Bunuhlah Nyo Kan."

Ting Ling pelan-pelan membalik badan, kakinya beranjak pergi dari depan Sim Koh dan Thi Koh.

Sorot matanya kaku tertuju ke depan nan jauh, tangannya merogoh ke dalam pakaiannya mengeluarkan sebatang golok.

Hanya ada satu pikiran yang bergolak dalam benaknya.

"Gunakan golok ini, bunuhlah Nyo Kan."

Ooo)dw(ooo Api unggun sudah berkobar dalam ruangan itu, namun hawa masih terasa dingin.

Nyo Kan duduk menyanding tungku yang menyala, agaknya hatinya mulai gelisah duduk tidak tenang.

Dia sedang menunggu kabar dari Ting Ling.

Ternyata Ting Ling tidak kunjung datang, meski waktu yang dijanjikan sudah berselang beberapa lamanya.

Di saat dia gelisah itulah, dilihatnya seseorang mendorong pintu dan melangkah masuk.

Itulah perempuan yang cantik molek, rambutnya yang hitam gelap tersanggul rapi dengan model mutakhir, tusuk kundai hijau pupus yang terbuat dari batu giok menghias sanggulnya.

Nyo Kan segera berdiri dan menyambutnya dengan tersenyum.

"Nona ada pesan apa?"

Agaknya dia kira perempuan ini adalah murid atau pesuruh Lam-hay-nio-cu, maka melirikpun dia tidak memandangnya lagi.

Tapi sejak melangkah masuk, perempuan ini menatapnya nanar, sorot matanya menampilkan mimik yang aneh sekali.

Tak tahan Nyo Kan angkat kepala melihatnya sekali lagi, tiba-tiba terasa olehnya wajah orang seperti mirip seseorang.

Gadis itu tetap menatapnya, tanyanya dengan suara tandas.

"Kau inikah Nyo Kan?"

Nyo Kan manggut-manggut, tiba-tiba dia berteriak kaget.

"Kau adalah Ting Ling!"

"Aku bukan Ting Ling, aku Ting Hung-pin"

Sahut Ting Ling. Melotot biji mata Nyo Kan, serunya.

"Kau...... bagaimana kau berubah begini rupa?"

"Memang demikianlah keadaanku semula, memangnya aku seorang perempuan?"

Berubah air muka Nyo Kan, katanya.

"Apa kau sudah gila?"

"Aku tidak gila, kaulah yang gila, maka kau harus kubunuh!"

Tiba-tiba dia keluarkan goloknya terus menusuk ke dada Nyo Kan.

Mimpipun Nyo Kan tidak pernah menduga orang akan membunuh dirinya, bahwasanya dia tidak bersiaga, maka untuk berkelitpun tak sempat lagi.

Darah menyembur dari lubang dadanya, menyemprot membasahi pakaian Ting Ling.

Tidak terunjuk perubahan mimik muka Ting Ling, dengan kaku dia awasi Nyo Kan roboh pelan-pelan, lalu pelan-pelan dia putar badan.

Kabut tebal di luar pintu terasa dingin membeku, malam semakin gelap.

Pelan-pelan dia beranjak di tengah kabut.

Dari tempat gelap berkumandang suara misterius yang merdu.

"Bagus! Kau menunaikan tugasmu dengan baik, tapi kau sudah terlalu letih, saking lelah matapun tak kuasa melek lagi."

"Ya, aku memang terlalu penat."

Sahut Ting Ling. Betul juga kelopak matanya pelan-pelan terpejam.

"Di sini ada ranjang paling baik dan nyaman, sekarang kau boleh tidur sepuasmu, setelah Yap Kay dan perempuan jahat itu datang, kami akan membangunkan kau."

Tanah itu bukan saja kotor juga dingin bertumpuk salju, tapi pelan-pelan Ting Ling sudah merebahkan dirinya, seolah-olah dia di atas ranjang yang benar-benar empuk dan nyaman.

Tiba-tiba dia sudah pulas dan kelelap di alam mimpi.

Kabut semakin tebal.

ooo)dw(ooo Sang adik tetap tidur pulas, sang taci sedang mendengus napas sambil di tahan-tahan kelopak matanya, akhirnya terpejam.

Air mukanya menampilkan kelelahan dan senyum manis puas.

Ganti berganti Sebun Cap-sha mengawasi kedua kakak beradik kembar ini, tiba-tiba hatinya dirangsang rasa riang dan puas serta bangga, seolah-olah dia berhasil mengalahkan Ting Ling.

"Belum tentu setiap orang selalu menang di bidang tertentu, ternyata aku punya kekuatan yang melebihi keampuhannya."

Demikian dengan tersenyum dia angkat cangkir arak.

Baru saja dia hendak minum, tiba-tiba didengarnya suara ketukan pintu dari luar.

Apakah Ting Ling sudah kembali?

Kerai jendela sudah tersingkap, namun matanya tidak melihat jelas siapa yang berada di luar.

"Siapa?"

Tanyanya tanpa mendapat jawaban. Sejenak Sebun Cap-sha ragu-ragu akhirnya dia memberanikan diri membuka pintu. Tiada seorangpun di luar. Tabir malam menelan segala makhluk di atas bumi ini.

"Barusan siapa mengetuk pintu?"

Tanyanya sembari mengencangkan pakaiannya.

Tetap tidak mendapat jawaban.

Kemanakah kusir kereta yang berjaga di luar?

Hawa malam ini sungguh terlalu dingin.

Sebetulnya dia tidak ingin meninggalkan bilik kereta yang hangat dan nikmat itu, tapi seseorang setelah melakukan sesuatu yang tidak berkenan dalam sanubarinya selalu merasa kurang tentram hatinya.

Akhirnya dia kenakan sepatu tinggi, melompat turun ke tanah.

Kabut tebal nan gelap pekat, dingin dan sunyi senyap.

Kusir kereta mengenakan pakaian tebal berkulit kapok sedang jongkok di tumpukan jerami di luar gubuk sana, dengan dengkul sebagai bantal, tangan memeluk kaki, agaknya sudah lelap dalam tidurnya.

Lalu siapa yang barusan mengetuk pintu?

Apakah dia salah dengar?

Jelas tidak.

Usianya masih muda, kuping dan matanya masih tajam.

Entah darimana Ting Ling mengundang kusir kereta ini, kalau barusan ada orang kemari, tentu dia tahu atau mendengar suara.

Sebun Cap-sha segera menghampiri, baru saja dia hendak dorong dan membangunkan orang, sekonyong-konyong kusir kereta yang jongkok memeluk kaki itu melejit ke atas tumpukan jerami, di tengah udara jumpalitan terus melesat keluar laksana anak panah.

Kecepatan gerak badannya memang tidak selincah dan segesit Ting Ling, namun jelas tidak lebih asor dari Sebun Cap-sha sendiri.

Sebun Cap-sha tidak sempat melihat muka orang.

Ingin dia mengejar, namun sekilas dia ragu-ragu, bayangan kusir itu sudah menghilang di tempat gelap.

Kabut tebal pasti bisa menyesatkan arah, hawa begini dingin setajam golok mengiris kulit.

Tiba-tiba dia bergidik kedinginan, akhirnya dia berkeputusan untuk kembali ke bilik kereta sambil menunggu kedatangan Ting Ling saja.

Ternyata pintu kereta sudah tertutup pula.

Sebun Cap-sha tidak ingat, dirinyakah yang menutup atau tertutup sendiri ditiup angin lalu.

Lentera yang terbuat dari tembaga itu masih menyala, cahaya lentera yang redup menembus jendela menyorot keluar.

Sebun Cap-sha menjadi gegetun dan menyesal, kenapa dia keluar meninggalkan bilik kereta yang hangat itu, maka bergegas dia melangkah balik terus menarik daun pintu.

Tapi hatinya yang hangat menyala seketika mendelu dingin seperti batu yang tenggelam ke dasar air.

Badannya tegak gemetar di luar kereta, bergerakpun tidak berani.

Ternyata di bilik kereta sudah ketambahan satu orang.

Seorang berkepala gundul berhidung elang, laki-laki tua yang berwajah merah segar, bertengger di mana tadi dia duduk.

Dia bukan lain adalah Wi-pat-ya.

Kedua kakak beradik kembar itu masih meringkuk di pojok, tidurnya nyenyak sekali.

Bagai tajam golok, sorot mata Wi-pat-ya yang berwibawa menatap muka Sebun Cap-sha, katanya dingin.

"Masuklah!"

Dengan tunduk kepala Sebun Cap-sha masuk ke dalam kereta, sekilas ujung matanya sempat melirik ke sana, dilihatnya kusir kereta tadi sudah jongkok kembali di tempatnya semula memeluk kedua kaki berjongkok seperti tertidur, seolah-olah dia tidak pernah bergerak dari tempatnya.

Bilik kereta ini terlalu rendah, siapapun tak bisa berdiri tegak di dalam bilik.

Tapi Sebun Cap-sha tidak berani duduk, terpaksa dia membungkuk dan menunduk kepala lagi.

Wi-pat-ya tetap menatapnya dingin, tanyanya.

"Dimana teman baikmu itu?"

"Sudah masuk sejak tadi."

"Kapan dia masuk."

Semakin rendah kepala Sebun Cap-sha, dia tidak mampu menjawab, karena dia lupa diri untuk memperhitungkan waktu.

Memangnya tadi dia sudah melupakan segala-galanya.

Umpama dunia kiamatpun takkan terasakan olehnya.

"Apa yang kau lakukan setelah dia pergi?"

Hardik Wi-pat-ya gusar.

Sebun Cap-sha tidak berani menjawab.

Apa yang dia lakukan barusan malu untuk diberitahukan meski terhadap gurunya sendiri.

Seorang laki-laki main perempuan adalah jamak, namun serong dengan perempuan milik temannya sudah tentu merupakan persoalan lain pula.

Wi-pat-ya tertawa dingin, katanya.

"Agaknya nyalimu memang setinggi langit. Memangnya kau tidak takut diketahui oleh Ting Ling?"

Merah muka Sebun Cap-sha, katanya gemetar.

"Kami....... kami kan teman baik."

Wi-pat-ya gusar.

"Justru kalian teman baik, kenapa kau justru melakukan perbuatan ini, jikalau di luar tahumu dia merebut dan main dengan perempuanmu, bagaimana perasaanmu?"

Sebun Cap-sha tidak berani menjawab.

"Kau kira Ting Ling takkan ambil perduli, setiap laki-laki akan berpeluk tangan jika melihat hal-hal buruk seperti ini?"

Sebun Cap-sha hanya manggut perlahan tak bersuara.

"Apa kepintaranmu sekarang, seorang diri dia mampu menghadapi delapan kau. Setelah tahu akan perbuatan curangmu, jikalau dia ingin menghajarmu, apa pula yang kau bisa lakukan?"

Akhirnya Sebun Cap-sha memberanikan diri, sahutnya.

"Kukira dia takkan tahu."

"Kau kira dia tidak tahu? Dengan alasan apa kau berpikir demikian?"

Sebun Cap-sha menyeringai getir.

"Aku sendiri tentu tidak bilang kepadanya."

"Kau tidak bilang, tapi perempuan ini?"

"Dia sendiri yang minta, mana berani beritahu kepadanya."

"Kau kira dia jatuh hati kepadamu, maka dia memelet kau?"

Sebun Cap-sha tidak berani menyangkal, namun diapun tak berani mengakui.

"Apakah kedua perempuan ini hasil rebutanmu dari Giok-keh-ceng?"

Sebun Cap-sha manggut-manggut.

"Kau kira mereka rela kalian rebut dan di bawa pergi?."

Memang tiada manusia di dunia ini yang rela di tengah malam buta, diculik secara kekerasan lalu dibuat main-main. Wi-pat-ya tertawa dingin.

"Memangnya matamu tidak bisa melihat, lonte ini memang memelet kau, maksudnya untuk menimbulkan rasa sirik dan jelus antara kau dan Ting Ling, baru mereka punya kesempatan untuk membalas."

Agaknya Sebun Cap-sha tidak sependapat, katanya.

"Mungkin dia......"

"Kau masih berpendapat dia jatuh hati kepadamu? Dalam hal apa kau lebih kuat dari Ting Ling? Apalagi nona cilik berusia empat belas tahun, umpama dia perempuan jalang yang tebal muka, memangnya tidak malu di hadapan adiknya main sex dengan kau?"

Sebun Cap-sha terdiam.

"Apalagi kalian bermain begitu asyik, dari kejauhan sudah kudengar, adiknya kan bukan babi, kalian bergulat disampingnya, memangnya dia bisa tidur nyenyak?"

Seketika berubah air muka Sebun Cap-sha, tiba-tiba terbayang olehnya, mungkin hal ini memang sudah terencana oleh kedua kakak beradik kembar ini, maka begitu Ting Ling pergi, sang taci lantas bangun, sementara sang adik tetap pura-pura tidur, maksudnya untuk memberi kesempatan bagi mereka.

Tiba-tiba otaknya sadar, betapapun jahe yang tua lebih pedas.

Tiba-tiba Wi-pat-ya bertanya lagi.

"Apakah kedua lonte ini memang lahir di Giok-keh-ceng?"

"Agaknya bukan, dulu aku pernah ke Giok-keh-ceng, namun belum pernah melihat mereka."

Wi-pat-ya tertawa dingin, katanya.

"Agaknya tidak lepas dari dugaanku."

Setajam golok sorot matanya menatap ke arah kedua gadis kembar, katanya pelan-pelan.

"Nona-nona cantik seperti kedua orang ini, sebetulnya tak tega aku melihat mereka mampus dihadapanku."

Kedua gadis kembar itu masih meringkel di pojok dengan memeluk kepala, pernapasannya masih enteng teratur, sedikitpun tidak menjadi takut atau gelisah, tidurnya seperti nyenyak.

Tiba-tiba Wi-pat-ya berpaling menatap Sebun Cap-sha.

"Oleh karena itu di kala kau membunuh mereka, aku pasti akan memejamkan mata."

"Aku?"

Sebun Cap-sha tertegun.

"Benar! Kau!", sahut Wi-pat-ya menarik muka. Terkejut dan kesima Sebun Cap-sha dibuatnya.

"Aku...... aku harus membunuh mereka?"

"Jikalau kau tidak tega bunuh mereka, akupun akan beri kesempatan mereka membunuhmu."

Pucat muka Sebun Cap-sha, katanya.

"Tapi kalau Ting Ling kembali, jikalau tahu mereka sudah mati, bukankah........"

"Dia tidak akan tahu."

Tukas Wi-pat-ya.

"Kenapa?"

"Orang mati bisa tahu apa?"

Kembali Sebun Cap-sha berjingkrak kaget, serunya.

"Ting Ling sudah mati?"

"Kalau dia tidak mampus, kaulah yang harus mampus....."

Lama Sebun Cap-sha mengawasi gurunya, akhirnya dia tahu apa maksudnya.

Di waktu dia suruh Ting Ling kemari, tujuannya supaya dia menempuh bahaya dan mungkin jiwanya sudah melayang dalam menjalankan tugas.

Bila Ting Ling berhasil menyelidiki keadaan Lam-hay-nio-cu yang sebenarnya, begitu dia kembali, maka dia harus mampus, karena itu maka Wi-pat-ya menyusul kemari, kusir kereta itupun sudah diganti salah seorang muridnya.

Sebun Cap-sha mengawasi muka orang yang kaku dingin dan kejam, hampir dia percaya bahwa orang tua yang disanjung sebagai guru dan bertabiat kasar ini tak berambisi dan pemarah.

Namun dalam detik terakhir ini kelihatannya berubah menjadi bentuk orang lain, lebih tabah tenang dan cerdik, lebih lihay dari Ting Ling.

Tiba-tiba disadari oleh Sebun Cap-sha, bila seseorang ingin dirinya menonjol dan angkat nama di kalangan Kang-ouw, maka dia harus mempunyai dua wajah yang berlainan dengan watak dan jiwanya yang asli, hingga orang terdekatpun takkan gampang tahu macam apa sebetulnya muka aslinya.

Sorot mata Wi-pat-ya yang tajam laksana ujung golok masih menatap mukanya, katanya tawar.

"Menunggu ajal jauh lebih menderita daripada mampus, jikalau kau kasihan terhadap gadis-gadis ayu ini, lebih baik kau buat mereka mati lebih cepat."

Sebun Cap-sha kertak gigi, mendadak dia turun tangan, jari tengahnya tertekuk menjojoh seperti paruh elang, menotok Hiat-to mematikan di bawah tulang iga sang adik.

Sang taci sudah mempersembahkan permainan hebat yang cukup mengesankan hatinya, betapapun dia tidak tega, memangnya dia bukan laki-laki kejam bertangan gapah.

Tak nyana sebelum totokan jarinya mengenai sasaran, kedua kakak beradik yang meringkel nyenyak itu tahu-tahu membalik badan bersama.

Entah darimana tahu-tahu kedua tangan mereka mencekal sebatang golok melengkung yang berbentuk aneh dan mengeluarkan sinar hijau.

Biasanya mereka lembut dan jinak seperti burung dara yang kasmaran, tapi sekarang kelihatan mereka jauh lebih jahat dari ular berbisa, buas dan liar daripada serigala.

Begitu membalik badan, sang taci menendang perutnya, berbareng golok melengkung di tangannya sudah menusuk ke tenggorokan Wi-pat-ya.

Saking kesakitan air mata dan air liur Sebun Cap-sha bercucuran, begitu kedua tangan memeluk perut dengan badan terbungkuk, golok melengkung sang adik sudah membacok ke lehernya dari sebelah kiri.

Wi-pat-ya tidak menunjukkan perubahan perasaannya, agaknya dia sudah menduga akan kejadian ini.

Baru saja golok kedua gadis kembar itu terayun, terdengarlah suara 'ting, ting, ting, ting"

Empat kali, empat golok melengkung itu tahu-tahu sudah putus ujungnya.

Entah kapan tangan Wi-pat-ya sudah mencekal sebatang tongkat pendek panjang satu kaki tiga dim.

Tongkat pendek warna hitam legam, gelap tak bersinar, tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa pada tongkat pendek ini, tahu-tahu golok melengkung yang tajam berkilau terbuat dari baja asli itu sudah protol ujungnya, hanya dengan sekali ketukan saja.

Saking kaget ke dua gadis kembar itu terkesima mengawasi golok kutung di tangannya, hampir mereka tidak percaya akan kenyataan ini.

Kilas lain mereka merasa kedua lengan mereka linu kemeng, sehingga tak kuat lagi menyekal golok melengkungnya yang sudah kutung.

Dengan menyeringai dingin Wi-pat-ya menatap mereka.

"Kalian selalu bawa sepasang mestika, kini masih ada satu yang belum dikeluarkan."

Sang taci tiba-tiba menarik napas panjang, katanya tertawa.

"Agaknya kau sudah tahu asal usul kami."

"Hm...."

Wi-pat-ya hanya mendengus.

"Wanpwe berdua adalah murid Ouyang Shia-cu dari Kwi-cu-to di laut timur, dari dalam Tin-cu-shia (kota mutiara). Kami di utus untuk menghadap kepada Wi-pat-ya."

Kelihatannya sedikitpun tidak menunjukkan rasa takut, hanya sikapnya kelihatan hormat terhadap Wi-pat-ya.

"Kalian sengaja hendak menyambangi aku?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Sejak lama Ouyang Shia-cu sudah mendengar dan kagum akan nama besar Wi-pat-ya."

"Diakah yang suruh kalian kemari?"

"Benar!"

Sahut sang taci.

"Kalian sembunyi di Giok-keh-ceng, maksudnya hendak menghadap aku?"

"Gedung rumahmu di jaga keras dan ketat, orang-orang seperti kami untuk menemui kau orang tua bukannya soal gampang."

"Oleh karena itu kalian sengaja main mata dengan laki-laki hidung belang ini. Kalian sudah membuat rencana bagus untuk melaksanakan tugas."

Merah muka sang taci, katanya tertawa.

"Di hadapan kau orang tua, mana berani kami berdusta, sebetulnya kami tidak menduga di tengah malam mereka bakal mencari kami, walau cara yang digunakan tidak baik, tapi amat manjur."

Wi Thian-bing tiba-tiba tertawa gelak-gelak, serunya.

"Sejak lama kudengar murid-murid Ouyang Siau-cu adalah kuntum-kuntum kembang yang mekar, baru hari ini aku saksikan sendiri ternyata benar!"

Dia tertawa dengan menengadah, seolah-olah sudah lupa bahwa salah satu mestika kedua gadis kembar ini belum digunakan.

Betul juga, kesempatan yang baik ini tidak disia-siakan oleh kedua gadis kembar ini, terdengar 'cret' dua kali, puluhan bintik-bintik sinar bintang dingin tahu-tahu melesat keluar dari lengan baju mereka, laksana hujan deras menyerang ke dada Wi Thian-bing.

Gelak tawa Wi Thian-bing tidak berhenti, Cuma tongkat pendek di lengannya tiba-tiba bergerak melingkar di depan dada, puluhan sinar bintang yang dingin itu ternyata seperti mendadak disedot kekuatan gaib, tahu-tahu meluncur masuk di tengah lingkaran di susul bunyi 'tring, tring' yang ramai, ternyata puluhan titik sinar dingin itu tersedot dan lengket pada tongkat pendeknya, seperti puluhan lalat hijau hinggap di atas sepotong gula-gula panjang.

Keruan kedua gadis kembar seketika tertegun melongo.

Berkata Wi-pat-ya dingin.

"Aku tahu sebelum kalian keluarkan kedua mestikamu, kalian takkan putus asa."

Sang adik tiba-tiba menghela napas, katanya.

"Agaknya kami yang salah menilai dirimu."

"Lho, kenapa salah nilai?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Kami kira kau sudah tua, kami duga kalangan kang-ouw sekarang sudah menjadi dunianya kaum muda. Dari situasi sekarang aku menilai seorang diri, kau bisa menandingi mereka sepuluh orang,"

Kepala tertunduk sorot matanya melirik ke arah Wi Thian-bing, sorot mata kagum dan hormat. Kelihatan Wi-pat-ya jauh lebih muda dari usianya, katanya tersenyum.

"Jahe yang tua lebih pedas, kalian anak-anak muda harus selalu ingat akan kenyataan ini."

"Kita terpaksa turun tangan, kami berdua adalah orang yang harus dikasihani, apa yang orang lain ingin kami lakukan, kami harus melakukan, bukan saja tidak boleh membangkang, kamipun tidak berani melawan."

Agaknya sang adik pandai mengoceh dengan mengucurkan air mata segala. Terunjuk mimik simpati pada muka Wi-pat-ya, katanya menghela napas.

"Aku tak salahkan kalian, bagaimana Ouyang Shia-cu menghukum anak didiknya, setiap insan persilatan di Kang-ouw tahu semua."

Sang taci menambahkan dengan mimik yang harus dikasihani.

"Tapi kecuali kau orang tua, siapa pula yang sudi menyelami penderitaan kami?"

Suara Wi-pat-ya menjadi lembut dan iba.

"Asal kalian terus terang akan tugas kedatanganmu, aku tidak akan mempersulit kalian."

"Dihadapan kau orang tua, kami tak berani berbohong lagi."

Sahut sang taci.

"Tentunya kau orang tua juga tahu."

Demikian sang adik menambahkan.

"untuk Yap Kay dan Siangkwan Siau-sian lah kami datang kemari."

"Untuk urusan ini, berapa orang yang datang dari kota mutiara kalian?"

Tanya Wi Thian-bing.

"Hanya kami berdua saja,"

Jawab sang adik. Sang taci menambahkan.

"Ouyang Shia-cu bukan menginginkan barang-barang itu, kami hanya disuruh melihat saja orang apa sebenarnya Yap Kay itu dan seberapa lihaynya."

"Lekas sekali kalian bisa melihatnya secepatnya dia akan datang."

Kata Wi Thian-bing.

"Tapi kami........."

"Kalian boleh pergi sekarang, kelak, kalau ada kesempatan, boleh sembarang waktu datang menengokku, tidak perlu main sembunyi di Giok-keh-ceng lagi."

Sang taci tertawa.

"Kelak kami pasti datang untuk menyambangi kau orang tua."

"Ya, kita pasti datang,"

Sang adik menyambung.

Kakak beradik tertawa manis, putar badan, terus buka pintu kereta.

Melompat keluar, laksana sepasang burung walet yang lepas dari kurungan.

Sebun Cap-sha sejak tadi tertunduk lesu, merasa amat di luar dugaan.

Dia tidak mengira Wi-pat-ya membiarkan mereka pergi.

Namun pada saat itu pula, mendadak di dengarnya dua kali suara aneh, seperti batang bor menghujam daging manusia, disusul dua kali jeritan yang mengerikan.

Tak tertahan lagi dia melongok keluar, maka dilihatnya seorang berpakaian tebal kapas anti dingin berdiri di luar kereta.

Dengan saputangan putih laksana salju, sedang membersihkan noda-noda darah.

Darah di atas sebatang bor senjata yang dipegang ditangannya ternyata sebatang bor gede yang berkilauan.

Han Tin.

Baru sekarang Sebun Cap-sha tahu, kusir yang antar mereka ke tempat ini ternyata adalah Han Tin.

Semula hidung Han Tin mancung tinggi, namun hidung mancungnya itu ringsek oleh pukulan Ting Ling, Tulang hidungnya patah dan sekarang peyot, sehingga raut wajahnya tidak enak dipandang, orang pasti menyangka mimiknya selalu menampilkan senyum sinis.

Wi-pat-ya tidak menunjukkan perasaan apa-apa, tiba-tiba dia bertanya.

"Keduanya sudah mampus?"

Han Tin manggut-manggut.

"Agaknya kau laki-laki culas yang tidak tahu bagaimana harus menaruh belas kasihan terhadap cewek-cewek ayu."

"Memangnya aku bukan."

Terunjuk senyum pada sorot mata Wi-pat-ya, katanya.

"Jikalau Ting Ling tahu kau membunuh mereka, hidungmu akan lebih berbahaya lagi."

"Dia tidak akan tahu."

Sahut Han Tin.

"Lho, kenapa?"

"Orang mati masa bisa bicara?"

Wi Thian-bing tertawa lebar mendengar ucapan ini. Dia suka mendengar orang meniru nadanya. Han Tin berkata pula.

"Waktu berangkat dia hanya mengatakan supaya kita menunggunya satu jam saja."

"Tentu dia sudah memperhitungkan waktu dengan persis."

"Segala persoalan sudah selalu diperhitungkan dengan tepat olehnya."

"Memang dia seorang lihay, ciri satunya hanya karena dia terlalu muda."

"Selamanya dia tidak akan pergi."

"Kenapa?"

"Orang mati masa bisa pergi?"

Kata Han Tin.

"sekarang satu jam sudah berselang, dia belum kembali."

Bercahaya sorot mata Wi Thian-bing, katanya.

"Oleh karena itu mungkin dia tidak akan kembali untuk selamanya, dan hal ini menandakan bahwa Lam-hay-nio-cu memang kenyataan."

Han Tin manggut-manggut, katanya.

"Orang yang bisa menahan atau membunuh Ting Ling memang tidak banyak."

Tiba-tiba rona muka Wi Thian-bing berubah kereng dan dingin, katanya pelan-pelan.

"Bak Pek dari Ceng-seng-san, Ouyang Shia-cu dari kota mutiara, ditambah Lam-hay-nio-cu....... dalam dunia ini, sebetulnya tiada sesuatu persoalan yang mengusik keinginan mereka, tapi mereka meluruk datang bersama."

"Kalau Yap Kay tahu, tentu dia amat gembira."

"Gembira?", Wi Thian-bing menegas.

"Untuk memancing orang-orang itu bukan tugas yang sepele, kecuali dia, memangnya siapa dalam dunia ini yang mampu memancing orang-orang itu keluar?"

Wi Thian-bing diam saja, agaknya dia mengakui kebenaran ucapan Han Tin.

Sudah tentu Sebun Cap-sha lebih tidak berani sembarang buka mulut, tapi dalam hati dia semakin keheranan.

Tiba-tiba terasakan olehnya setiap orang menyebut nama Yap Kay selalu mengunjuk mimik muka yang aneh, perduli itu merasa hormat, benci atau dendam serta ketakutan, semua mimik perasaan yang berlainan ini kelihatannya amat menyolok.

Seorang anak muda yang masih terlalu asing bagi setiap orang yang mendengar dan mengenal namanya, memangnya dia mempunyai tenaga gaib yang begitu besar daya tariknya?

Bukankah hal ini terlalu luar biasa untuk diterima?

Diam-diam Sebun Cap-sha bersyukur dalam hati, karena dirinya bukan Yap Kay.

Tiba-tiba disadari olehnya menjadi seorang awam malah bisa hidup tentram dan bahagia.

Lama sekali Wi Thian-bing menepekur, akhirnya bersuara pelan-pelan.

"Setahun yang lalu, aku belum pernah dengar nama Yap Kay disinggung teman-teman Kang-ouw."

"Setahun yang lalu hakekatnya belum ada orang yang pernah dengar namanya."

Sahut Han Tin.

"Tapi sekarang mendadak dia menjadi tokoh paling kenamaan di kalangan Kang-ouw."

"Bahwa orang ini muncul dan terus menjagoi dunia persilatan, memangnya tunas muda menimbulkan gelombang badai yang menakjubkan sekali."

"Untuk menimbulkan gelombang menakjubkan seperti itu bukannya suatu pekerjaan gampang."

"Sudah tentu tidak gampang."

"Apa benar dia begitu menakutkan seperti yang tersiar di luar?"

"Dia belum pernah membunuh jiwa seorangpun, malah jarang sekali turun tangan. Tiada tokoh Kang-ouw yang jelas sampai dimana tingkat kepandaian silatnya."

"Mungkin disitulah letak yang paling menakutkan daripadanya."

"Tapi yang paling menakutkan tetap adalah pisaunya."

"Pisau apa?"

"Pisau terbang!."

Sahut Han Tin. Kembali raut mukanya menampilkan mimik yang aneh, katanya lebih tandas.

"Khabarnya begitu pisau terbang keluar, selamanya belum pernah luput."

Seketika berubah rona muka Wi Thian-bing, tiba-tiba teringat olehnya sepatah kata pameo "Siau-li si pisau terbang, selamanya tidak disambitkan sia-sia"

Pameo inilah yang merupakan daya tekanan bagi batin setiap insan persilatan yang tersedot oleh tenaga gaib.

Selama puluhan tahu, tiada seorang tokoh silat manapun di kang-ouw yang meragukan pameo ini.

Tiada orang berani coba-coba.

Demikian pula empat pendeta besar Siau-lim-si yang paling diagungkan dunia persilatanpun tak berani menantangnya.

Dua puluh tahun yang lalu, Siau-li Tham-ha seorang diri meluruk ke Siau-lim-si yang biasanya tak berani sembarangan dijajah kaum persilatan dari cabang manapun, seperti berjalan di tempat datar yang tidak berpenghuni saja layaknya, ratusan Hwesio dalam Siau-lim-si tiada satupun yang berani merintangi kedatangannya.

Apakah Yap Kay mempunyai wibawa begitu besar?

Watak gagah yang tinggi pula?

Umpama benar dia membekal semua itu, sepak terjang orang-orang kota mutiara dan Lam-hay-nio-cu, jelas tidak sebanding bila dijajarkan dengan kaum Hwesio di Siong-san Siau-lim-si.

"Kota mutiara berada jauh di ujung dunia, betapa tinggi dan anehnya ilmu silat kakak beradik Ouyang yang menduduki kota mutiara itu, maka Pek Siau-seng yang dulu membuat daftar senjatapun sukar mengukurnya, oleh karena itu mereka tidak termasuk dalam daftar yang dibuatnya."

Han Tin berkata.

"Itulah karena seluruh anak murid perguruan di Kwi-cu-to itu semua harus saudara kembar, seumpama Kwi-cu (sumpit) selamanya tak pernah berpisah, maka dalam daftar senjata, mereka tidak dicantumkan."

Wi Thian-bing manggut-manggut, katanya.

"Di dalam daftar senjata tidak mencantumkan tokoh-tokoh kosen dari Mo Kau, tapi Pek Siau-seng sendiri mau tidak mau harus mengakui, kalau dinilai dari kepandaian untuk mengalahkan musuh serta membunuhnya, paling sedikit ada tujuh tokoh kosen dari Mo Kau yang patut dicantumkan di daam daftarnya, malah termasuk di antara jago-jago nomor dua puluhan."

"Sayang orang-orang Mo Kau satu sama lain saling curiga dan bunuh membunuh, jago-jago tinggi dari Mo-kiong (istana iblis) kabarnya sudah hampir mampus seluruhnya."

"Tapi Lam-hay-nio-cu dapat berubah ribuan bentuk, kepandaian iblisnya yang tunggal, jelas takkan lebih asor dibanding Jit-toa-thian-ong dari Mo Kau."

Han Tin tertawa, ujarnya.

"Sebetulnya Cap-pui-ji-gi-pang senjata andalan kau orang tua berani dibanding dengan Thian-ki-pang yang tercantum nomer nomer satu dalam daftar senjata."

Mendadak Wi Thian-bing tertawa gelak-gelak, katanya.

"Jikalau Yap Kay tahu banyak orang dari berbagai golongan sedang menunggu dirinya, mungkin dia tak berani datang."

Sekonyong-konyong seseorang menjawab tegas lantang.

"Dia pasti datang, karena dia dipaksa untuk datang."

Suara ini merdu lembut seperti berkumandang dari langit, orang yang bicara kedengarannya berada di sampingnya, namun terasa seperti di ujung langit.

Gelak tawa Wi Thian-bing seketika sirap, rona mukanyapun berubah, lama sekali baru dia tanya dengan pancingan.

"Lam-hay-nio-cu?"

"Ah, kenalan lama sejak puluhan tahun yang lalu, memangnya kau sudah melupakan suaraku?"

Suaranya kedengaran lebih dekat namun bayangannya belum kelihatan. Jidat Wi Thian-bing dihiasi keringat dingin, katanya dengan tertawa dipaksakan.

Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 5

Baca Juga: Kesatria Baju Putih 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert