Eps 11 Pisau Terbang Li - Gu Long
Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long
Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.
Di mata orang lain, mungkin perbuatannya dianggap bodoh, namun di mata mereka, tidak ada alasan lain yang lebih penting daripada ini.
Kata Lim Si-im.
"Namun sekarang aku menyesal. Seharusnya aku memberikan kitab itu kepadanya."
"Kau menyimpannya demi kebaikannya sendiri,"
Kata Sun Sio-ang.
"Tapi…..kalau ia sempat mempelajari isi ‘Ensiklopedi LianHua’, sekalipun Siangkoan Kim-hong dan Hing Bubing bersama-sama menyerang dia, dia tidak mungkin terkalahkan."
"Ah, jadi karena itu kau merasa bersalah. Karena itulah kau meminta maaf."
Lim Si-im mengangguk. Katanya.
"Aku tahu ia tidak akan menyalahkan aku, tapi jika aku…..jika aku tidak mengakui hal ini kepadanya, aku tidak akan dapat hidup dengan diriku sendiri."
"Tapi kau salah,"
Kata Sun Sio-ang.
"Salah?"
"Jika ia mempelajari isi "Ensiklopedi LianHua’, ia tetap bukan tandingan Siangkoan Kim-hong."
"Kenapa?"
"Tahukah kau mengapa ilmu pedang A Fei begitu ditakuti orang?"
"Karena dia….."
Lim Si-im tidak tahu jawabannya.
"Ia bisa menjadi sangat cepat dan tepat karena ia sangat berdedikasi pada pedangnya, lebih daripada orang lain. Sama seperti Li Sun-Hoan. Jika ia mempelajari ilmu silat yang lain, ia akan kehilangan fokus. Pisaunya tidak mungkin bisa menjadi secepat dan seakurat sekarang."
Lim Si-im kembali menundukkan kepalanya.
"Bagaimanapun juga, kuharap kau berkenan menyampaikan perasaanku kepadanya."
Kata Sun Sio-ang.
"Kalian berdua akan punya kesempatan untuk bertemu. Mengapa tak kau katakan sendiri kepadanya?"
Setelah beberapa saat terdiam, Lim Sian-ji mengertakkan giginya dan bertanya.
"Apa sih yang begitu penting yang harus kau kerjakan hari ini?"
"Kalau seorang wanita ingin mendukung kekasihnya, itu bukan berarti bahwa ia harus ikut serta dalam kematiannya, atau bahwa ia harus mati demi kekasihnya. Tapi ia harus memberikan penghiburan dan kelegaan kepada kekasihnya, supaya ia bisa melakukan apa yang harus dilakukannya dengan tenang. Ia harus membuat kekasihnya merasa dirinyalah yang terpenting dalam hidupnya, dan ia tidak merasa diabaikan,"
Kata Sun Sioang.
"Itu saja?"
"Selain itu, apa lagi yang dapat kuperbuat baginya?"
Memang tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Itu saja sudah cukup. Laki-laki yang beruntung memiliki wanita seperti ini akan merasa puas sepenuhnya. Kata Sun Sio-ang.
"Aku tahu kau sedang berusaha membuatku merasa sedih, tapi aku tidak menyalahkanmu. Aku merasa kasihan padamu."
"Kasihan padaku? Mengapa aku harus dikasihani?"
"Kau pikir kau masih muda, cantik, dan pandai. Kau pikir semua laki-laki di dunia ini akan bertekuk lutut di hadapanmu. Oleh sebab itu, pada saat kau bertemu dengan laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai dan sayang padamu, kau tidak bisa menghargainya. Malah kau menggebahnya pergi dan menganggapnya seperti seorang tolol. Tapi suatu hari nanti kau akan menyadari bahwa orang yang sungguh-sungguh mencintaimu tidaklah banyak. Cinta sejati tidak dapat dibeli dengan kecantikan dan usia muda."
Dengan lembut Sun Sio-ang melanjutkan.
"Dan bila saatnya tiba, kau akan menyadari bahwa kau tidak memiliki apapun juga. Bahwa hidupmu kosong dan tidak berarti. Saat seorang wanita berada pada posisi seperti itu dalam hidupnya, ia sungguh patut dikasihani."
Tanya Lim Sian-ji.
"Kau….Kau pikir aku seperti itu?"
Suaranya bergetar.
Seluruh tubuhnya pun bergetar.
Apakah ia merasa kesal?
Dingin?
Atau takut?
Sun Sio-ang tidak menjawabnya.
Ia hanya memandang dingin pada wajah Lim Sian-ji yang pucat dan gelisah, pada tubuhnya yang penuh lumpur.
Jauh lebih buruk daripada jawaban apapun yang mungkin diberikannya.
Lim Sian-ji tertawa tiba-tiba tiba-tiba.
"Kau benar, aku memang meremehkan dia dan menganggapnya tidak lebih daripada seorang tolol yang dimabuk cinta. Tapi kalau sekarang aku pergi mencari dia, dia pasti akan merangkak kembali kepadaku."
"Lalu mengapa tidak kau coba?"
Tantang Sun Sio-ang.
"Tidak perlu kucoba. Aku sudah tahu hasilnya. Ia tidak mungkin dapat hidup tanpa diriku."
Walaupun bibirnya berkata begitu, tubuhnya sudah berputar dan melangkah pergi.
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan berlari sekuat tenaga, karena ia tahu bahwa inilah kesempatan terakhirnya.
Jika kesempatan ini berlalu, berakhir sudah baginya.
Sun Sio-ang masih berdiri di situ sejenak sebelum memaLingkan wajahnya.
Bumi telah tertutup oleh kekelaman yang tiada berujung.
Dari balik rintik air hujan muncul sesosok bayangan manusia….
Tidak ada yang tahu kapan orang itu datang, tidak ada yang tahu sudah berapa lama ia berada di sana.
Yang pertama terlihat oleh Sun Sio-ang adalah matanya.
Mata seorang wanita.
Matanya tampak suram.
Mungkin mata itu sudah begitu banyak mencucurkan air mata sehingga cahayanya sudah pudar.
Namun kesedihan dan dukacita tanpa katakata yang terkandung di dalamnya dapat membawa lakilaki yang paling gagah sekalipun meneteskan air mata.
Lalu tampaklah wajahnya.
Bukan wajah yang luar biasa cantik.
Wajah itu sangat pucat, seakan-akan sudah begitu lama tidak kena sinar matahari.
Tapi entah mengapa, saat Sun Sio-ang melihatnya, ia serasa sedang melihat wanita yang tercantik di seluruh bumi.
Rambutnya berantakan dan pakaiannya basah kuyup, seperti orang yang sedang putus asa.
Namun anehnya, jika orang yang melihatnya, mereka tidak akan menyangka demikian.
Karena ia masih terlihat begitu muda, begitu anggun.
Apapun situasinya, ia dapat menyentuh perasaan orang lain dengan pribadinya yang unik dan kekuatannya yang luar biasa.
Sun Sio-ang belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, namun hanya dengan sekali pandang ia langsung tahu siapa dia.
Lim Si-im.
Hanya wanita seperti dialah yang dapat membuat orang seperti Li Sun-Hoan jatuh ke dalam jurang cinta begitu dalam.
Sun Sio-ang menghela nafas panjang.
‘Mengapa semua orang menganggap Lim Sian-ji adalah wanita tercantik di dunia?
Wanita inilah yang seharusnya mendapatkan predikat itu.
Apalagi pada masa mudanya.
Bahkan saat ini pun, ia jauh lebih mempesona daripada Lim Sian-ji.’ Mungkin karena malam yang hujan, atau mungkin karena ia adalah seorang wanita, tapi itulah pikirannya yang sejujurnya.
Selera wanita terhadap wanita memang berbeda dari selera pria.
Lim Si-im pun sedang menatapnya.
Perlahan ia berjalan mendekat dan berkata.
"Kau…..kau adalah Nona Sun, bukan?"
Sun Sio-ang mengangguk dan berkata.
"Aku tahu siapa engkau. Aku sering mendengar tentang dirimu dari dia."
Lim Si-im tersenyum, senyum yang penuh derita. Tentu saja ia tahu siapakah ‘dia’ yang disebut oleh Sun Sio-ang. Kata Sun Sio-ang.
"Jadi kau sudah berada di sini dari tadi."
Lim Si-im menundukkan kepalanya dan berkata.
"Aku mendengar bahwa ia akan berduel di sini, maka aku datang untuk berbicara sedikit kepadanya. Tapi sudah lama aku tidak pergi keluar rumah dan aku tersesat dalam perjalanan."
Ia tersenyum sedikit dan menambahkan.
"Tapi tidak mengapa. Apa yang tadinya akan kukatakan kepadanya bisa kusampaikan kepadamu."
Suaranya pelan dan lembut.
Seakan-akan ia perlu berpikir sebelum mengucapkan setiap kata.
Tiap kata yang keluar dari mulutnya jelas dan kaku.
Orang yang mendengarnya berbicara saat itu mungkin akan menganggap bahwa ia adalah wanita yang tidak berperasaan.
Namun Sun Sio-ang sungguh memahami dirinya.
Perkataannya terdengar dingin dan datar karena ia sudah begitu banyak menanggung kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya.
Sun Sio-ang merasa simpati yang begitu besar dalam hatinya terhadap wanita ini.
Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Aku tahu bahwa ia ingin sekali bertemu denganmu. Dan kau pun sudah jauh-jauh datang ke sini, mengapa kau tidak mengikutinya untuk bertemu dengannya sekali lagi?"
"A….Aku tidak bisa."
Awalnya memang ia ingin bertemu dengan Li Sun-Hoan.
Tapi saat dia tiba, sudah ada orang yang berada di sampingnya.
Ia tidak ingin menunjukkan diri karena ia kuatir akan perasaan yang akan timbul dalam hatinya.
Karena ia tahu pasti, jika ia bertemu dengan Li Sun-Hoan lagi, ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya lagi.
Walaupun ia tidak mengatakannya, Sun Sio-ang paham sepenuhnya.
Kata Sun Sio-ang.
"Sebelumnya aku tidak mengerti mengapa ada orang yang mau menuruti semua perkataan orang lain dan membiarkan orang lain menentukan nasibnya. Baru sekarang aku tahu bahwa ia bukan menuruti perkataan orang itu karena takut padanya, tapi karena mencintainya begitu rupa dan tahu bahwa apapun yang diperbuat orang itu adalah demi kebaikannya."
Selama itu Lim Si-im berusaha keras menahan diri, tapi saat itu pertahanannya runtuh.
Air mata membanjiri wajahnya.
Karena setiap kata yang diucapkan Sun Sio-ang terus menusuk ke dalam hatinya.
Tiap kata bagaikan sebatang jarum yang menghunjam jauh ke dalam sanubarinya.
Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri, ‘Aku tidak punya apa-apa lagi.
Aku merasa hampa, sama persis seperti Lim Sian-ji.
Tapi salah siapakah ini?
Apakah akulah yang bersalah waktu dulu itu?’ Tadinya ia begitu geram pada Li Sun-Hoan, begitu benci padanya.
Hidupnya berakhir sedih dan tragis seperti ini, semuanya karena kesalahan Li Sun-Hoan!
Tapi baru sekarang ia menyadari bahwa yang salah bukanlah Li Sun-Hoan, tetapi dirinya sendiri.
‘Mengapa waktu itu aku mendengarkan perkataannya?
Mengapa tak kukatakan dengan tegas kepadanya bahwa aku sungguh mencintainya dan aku tidak akan menikah dengan siapapun juga kecuali dia?’ Sun Sio-ang berkata dengan lembut.
"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi aku tahu bahwa….."
Lim Si-im menyelanya tiba-tiba.
"Tapi sekarang aku tahu. Sekarang, setelah bertemu denganmu, aku tahu bahwa akulah yang salah."
"Kenapa begitu?"
Seru Sun Sio-ang.
"Karena…..jika aku berani berbuat seperti engkau, sekuat dan setegas engkau, aku tidak akan berakhir seperti ini."
"Tapi kau….."
Kembali Lim Si-im memotongnya.
"Sekarang aku tahu bahwa aku tidak pantas menjadi istrinya. Hanya engkaulah yang pantas untuknya."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya.
"Aku….."
Lim Si-im tidak memberinya kesempatan berbicara.
"Karena hanya kau yang bisa menghibur dan mendukungnya. Apapun yang dilakukannya, kepercayaanmu kepadanya tidak pernah berubah. Tapi aku….."
Ia mendesah, dan setetes air mata bergulir ke pipinya. Sun Sio-ang terdiam beberapa saat. Lalu tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.
"Tapi di kemudian hari kau akan punya banyak kesempatan untuk bertemu dengannya. Apapun yang terjadi di masa lalu itu sudah lewat. Kini kalian berdua dapat…."
Lim Si-im memotongnya cepat.
"Kau pikir ia masih punya kesempatan? Masih ada harapan?"
"Tentu saja masih ada!"
Sun Sio-ang tersenyum dan berkata.
"Mungkin semua orang beranggapan bahwa ia sudah kehilangan kepercayaan diri. Jika seseorang sudah kehilangan rasa percaya dirinya, apa lagi harapannya?"
"Betul sekali,"
Sahut Lim Si-im.
"Tapi aku tahu pasti bahwa ia bersikap demikian hanya untuk memancing agar Siangkoan Kim-hong menjadi lengah. Jika Siangkoan Kim-hong mulai meremehkan lawannya, ia pun akan menjadi kurang hati-hati."
Mata Sun Sio-ang berbinar dan menambahkan lagi.
"Jika Siangkoan Kim-hong kurang hati-hati, Li Sun-Hoan pasti bisa mengalahkannya!"
Lim Si-im mendesah dan berkata.
"Ia punya rasa percaya diri yang begitu besar karena kau begitu yakin pada dirinya. Dukungan dan semangatmu sangat berharga baginya. Aku rasa kau tidak menyadari seberapa pentingnya dirimu baginya."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya.
"Aku menyadarinya."
Ia tidak hanya yakin pada Li Sun-Hoan, ia pun yakin pada dirinya sendiri.
Lim Si-im memandang gadis itu dengan perasaan yang tidak terkatakan.
Apakah itu iri hati?
Cemburu?
Atau kasihan pada dirinya sendiri?
Atau mungkin, ia hanya merasa sangat berbahagia bagi Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan telah berkubang dalam kesedihan lebih dari setengah masa hidupnya.
Hatinya pasti merasa sangat lelah.
Hanya orang seperti Sun Sio-anglah yang dapat memberikan penghiburan kepadanya.
Sekalipun ia bisa menang kali ini, akan tiba saatnya suatu hari nanti ia akan kalah.
Walaupun tidak ada orang yang dapat menjatuhkannya, ia pasti bisa menjatuhkan dirinya sendiri!
Lim Si-im kembali mendesah dan berkata.
"Bahwa ia bisa berjumpa denganmu, itu adalah anugerah Tuhan, menggantikan seluruh penderitaan dalam hidupnya. Ia pantas untuk berbahagia, tapi….."
Tiba-tiba ia bertanya.
"Bagaimana dengan Hing Bu-bing? Walaupun ia dapat mengalahkan Siangkoan Kim-hong, tidak mungkin ia dapat mengalahkan serangan gabungan mereka berdua."
Sahut Sun Sio-ang.
"Mungkin Hing Bu-bing tidak akan menyerang sama sekali. Siangkoan Kim-hong sudah begitu yakin bahwa dia tidak mungkin kalah, sehingga ia tidak akan meminta bantuan Hing Bu-bing. Saat ia menyadarinya, sekalipun Hing Bu-bing ingin membantu, itu sudah sangat terlambat."
Pemikirannya sungguh tepat.
Ini adalah kesempatan Li Sun-Hoan satu-satunya.
Jika mereka ingin mengalahkan Li Sun-Hoan, ini juga satu-satunya kesempatan mereka – pisau terbangnya tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi siapapun juga.
Pertanyaannya adalah, siapakah yang dapat memanfaatkan kesempatan yang satu-satunya ini?
Kata Lim Si-im.
"Jadi maksudmu, jika Hing Bu-bing tidak menyerang bersamaan dengan Siangkoan Kim-hong, Li Sun-Hoan masih punya kesempatan?"
"Benar."
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa Hing Bu-bing tidak akan menyerang?"
"Aku tidak bisa yakin,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Namun aku yakin setelah dua jam, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak."
"Meskipun kau benar, bagaimana kita bisa tahu apa yang terjadi selama dua jam ini?"
Tanya Lim Si-im kuatir.
"Sesuatu akan terjadi."
"Apa itu?"
"A Fei,"
Jawab Sun Sio-ang singkat. Walaupun Lim Si-im tidak mengatakan apa-apa, wajahnya menunjukkan kekecewaan. Semua orang pasti merasa kecewa terhadap A Fei. Kata Sun Sio-ang.
"Tidak seorang pun percaya padanya lagi, tapi itu hanya karena saat ini ia masih mengenakan belenggu yang berat pada tubuhnya."
"Belenggu?"
"Ya, belenggu. Dan hanya ada satu orang yang dapat membebaskan dia dari belenggu itu."
"Siapa?"
Tanya Lim Si-im penuh harap.
"Hanya pemukul genta yang dapat melepaskan ikatan genta."
"Maksudmu…..Lim Sian-ji?"
"Tepat sekali. Kalau ia bisa menyadari bahwa Lim Sian-ji tidak pantas memperoleh cintanya, maka ia akan terbebas dari seluruh belenggu yang mengikatnya."
Lim Si-im terdiam sejenak. Lalu ia berkata.
"Mungkin kau benar. Namun ia telah jatuh begitu lama dan begitu dalam, bagaimana mungkin ia dapat bangkit kembali dalam waktu yang sangat singkat?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Untuk alasan lain mungkin dia tidak akan bisa, namun untuk Li Sun-Hoan ia pasti bisa."
Lalu dengan perlahan ia menambahkan.
"Untuk orangorang yang sangat kita kasihi, kadang-kadang kita bisa membuat hal-hal yang luar biasa."
Lim Si-im menghela nafas panjang.
"Jadi begitu…."
Kata Sun Sio-ang.
"Jadi sekarang aku harus pergi mencari A Fei dan memberitahukan padanya apa yang terjadi."
"Tunggu…..ada lagi yang ingin kusampaikan padamu,"
Kata Lim Si-im tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Sudah lama aku tidak pergi dunia luar, tapi aku tahu begitu banyak tentang apa yang terjadi. Apa kau tidak merasa heran?"
"Sama sekali tidak. Karena aku tahu kau memiliki putra yang sangat cerdas,"
Jawab Sun Sio-ang sambil tersenyum. Lim Si-im menundukkan kepalanya dan berkata.
"Apapun yang terjadi, ia tetap adalah anakku. Tidak ada satupun dalam dunia ini yang kumiliki kecuali dia seorang….. Oleh sebab itu aku berharap kau dapat memberitahukan kepadanya, memintakan maaf kepadanya….."
"Ia tidak pernah membenci siapapun juga. Kau seharusnya sudah tahu."
Lim Si-im terdiam. Seolah-olah ada lagi yang ingin dikatakannya, namun ia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Tanya Sun Sio-ang.
"Apakah ini mengenai ‘Ensiklopedi LianHua’?"
Lim Si-im tampak terkejut.
"Kau sudah tahu?"
Sun Sio-ang tersenyum dan menyahut.
"Aku juga sudah memberitahukan kepadanya. Jisusiokku…."
"Benar. Waktu Tuan Wang datang, Tuan Sun juga ada bersamanya."
"Jadi kitab itu memang ada padamu?"
"Ya. Tapi aku tidak pernah memberitahukan kepadanya selama ini."
"Mengapa?"
Jawab Lim Si-im.
"Karena pada saat itu aku merasa bahwa ilmu silat tidak mendatangkan kebaikan baginya, malahan akan membahayakan dirinya. Semakin tinggi ilmu silat seseorang, akan semakin banyak persoalan yang timbul, jadi….."
"Jadi kau tidak memberitahukan kepadanya karena kau ingin dia menjadi orang biasa, dengan kehidupan yang sederhana."
"Itulah alasan utamanya. Tapi tidak seorang pun akan mempercayai aku….."
"Aku percaya padamu,"
Kata Sun Sio-ang. Ia mendesah dan menambahkan.
"Jika aku ada di tempatmu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama."
Hanya seorang wanitalah yang dapat memahami perasaan wanita lain.
Hanya seorang wanitalah yang dapat memahami bahwa seorang wanita sanggup berbuat apapun juga demi lakilaki yang dicintainya.
Di mata orang lain, mungkin perbuatannya dianggap bodoh, namun di mata mereka, tidak ada alasan lain yang lebih penting daripada ini.
Kata Lim Si-im.
"Namun sekarang aku menyesal. Seharusnya aku memberikan kitab itu kepadanya."
"Kau menyimpannya demi kebaikannya sendiri,"
Kata Sun Sio-ang.
"Tapi…..kalau ia sempat mempelajari isi ‘Ensiklopedi LianHua’, sekalipun Siangkoan Kim-hong dan Hing Bubing bersama-sama menyerang dia, dia tidak mungkin terkalahkan."
"Ah, jadi karena itu kau merasa bersalah. Karena itulah kau meminta maaf."
Lim Si-im mengangguk. Katanya.
"Aku tahu ia tidak akan menyalahkan aku, tapi jika aku…..jika aku tidak mengakui hal ini kepadanya, aku tidak akan dapat hidup dengan diriku sendiri."
"Tapi kau salah,"
Kata Sun Sio-ang.
"Salah?"
"Jika ia mempelajari isi "Ensiklopedi LianHua’, ia tetap bukan tandingan Siangkoan Kim-hong."
"Kenapa?"
"Tahukah kau mengapa ilmu pedang A Fei begitu ditakuti orang?"
"Karena dia….."
Lim Si-im tidak tahu jawabannya.
"Ia bisa menjadi sangat cepat dan tepat karena ia sangat berdedikasi pada pedangnya, lebih daripada orang lain. Sama seperti Li Sun-Hoan. Jika ia mempelajari ilmu silat yang lain, ia akan kehilangan fokus. Pisaunya tidak mungkin bisa menjadi secepat dan seakurat sekarang."
Lim Si-im kembali menundukkan kepalanya.
"Bagaimanapun juga, kuharap kau berkenan menyampaikan perasaanku kepadanya."
Kata Sun Sio-ang.
"Kalian berdua akan punya kesempatan untuk bertemu. Mengapa tak kau katakan sendiri kepadanya?"
Bab 84. Mata yang Terbuka Lim Si-im terpekur lama, lalu ia mengangkat wajahnya. Kini wajahnya menjadi sangat tenang dan damai. Katanya.
"Tidak akan ada lagi kesempatan bagi kami untuk bertemu di kemudian hari."
Sun Sio-ang mengerutkan alisnya.
"Mengapa?"
"Karena…..karena aku akan pergi ke tempat yang jauh."
"Kau……mengapa kau harus pergi?"
"Aku harus pergi!"
"Kenapa?"
Tanya Sun Sio-ang tidak mengerti.
"Aku sudah mengambil keputusan yang bulat."
Sun Sio-ang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lim Si-im tersenyum dan berkata.
"Kelemahanku yang terbesar adalah selalu ragu-ragu. Mungkin inilah pertama kalinya aku bertekad bulat. Aku hanya berharap tidak ada orang yang membujukku untuk berubah pikiran."
"Tapi…..tapi inilah pertama kalinya kita berjumpa. Paling tidak, ijinkanlah aku bertemu denganmu sekali lagi. Masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu,"
Pinta Sun Sio-ang. Lim Si-im berpikir sejenak, lalu menjawab.
"Baiklah. Kita akan bertemu lagi di sini, besok pagi-pagi sekali."
Setelah mengatakan itu, Lim Si-im pun pergi.
Seolah-olah Sun Sio-ang adalah satu-satunya orang yang tersisa di bumi ini.
Selama itu, tidak setetes air mata pun keluar dari matanya.
Namun kini, ia merasa matanya mulai basah.
Ia pun berkeputusan bulat.
Selama Li Sun-Hoan masih hidup, ia akan membawanya datang ke sini.
Sejak pertama kali bertemu dengan Li Sun-Hoan, ia sudah memutuskan untuk mendedikasikan seluruh hidupnya bagi laki-laki itu.
Ia belum pernah meragukan keputusannya.
Tapi saat ini, ia merasa begitu egois.
Jadi kini ia memutuskan bahwa ia akan mengorbankan kebahagiaannya demi Li Sun-Hoan!
Karena ia merasa bahwa Lim Si-im memerlukan Li Sun-Hoan lebih daripada dia.
‘Mereka berdua telah menderita begitu lama.
Mereka berhak merasakan kebahagiaan sekarang.
Apapun yang terjadi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan mereka.’ ‘Lim Si-im adalah miliknya.
Tidak ada seorang pun yang berhak memisahkan mereka.’ ‘Liong Siau-hun pun tidak berhak.
Ia tidak pantas bagi Lim Si-im.’ ‘Tapi aku……’ Dan ia pun berkeputusan bulat untuk tidak memikirkan dirinya sendiri.
Ia menggigit bibirnya kuat-kuat dan menyeka air matanya.
Lalu berkata pada dirinya sendiri, ‘Walaupun aku ingin menangis, aku harus menunggu sampai besok.
Masih banyak yang harus dikerjakan hari ini…..’ Ia mengangkat dagunya.
Sekelilingnya gelap gulita.
Malam telah larut.
Namun, saat malam gelap gulita telah tiba, hari yang terang-benderang pun tidak lama lagi akan tiba.
Ada orang yang mengatakan bahwa hanya ada dua macam manusia di dunia ini.
baik dan jahat.
Lim Sian-ji sudah pasti bisa digolongkan jahat, tapi bagaimana dengan Lim Si-im dan Sun Sio-ang?
Walaupun mereka adalah orang-orang yang baik, keduanya sangat berbeda.
Ketika persoalan dan kesulitan muncul, Lim Si-im hanya akan bertahan, dan bertahan….
Ia merasa bahwa kegagahan seorang wanita adalah untuk bisa terus bertahan.
Namun Sun Sio-ang berbeda.
Ia akan selalu melawan!
Jika ia sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, ia akan bertempur habis-habisan.
Ia adalah gadis yang tegas, cerdas, berani dan penuh percaya diri.
Ia tidak takut mencintai, tidak takut membenci.
Dan jika seluruh jiwanya diperiksa dengan seksama, tidak akan ditemukan setitikpun kegelapan ataupun kesedihan.
Karena orang-orang seperti dialah, dunia ini menjadi begitu hidup, maju tanpa kenal rintangan.
‘Wanita-wanita dunia ini memimpin umat manusia ke masa depan’.
Perkataan ini sungguh pantas bagi dirinya.
*** ‘Kalau aku pergi dan mencarinya sekarang, ia pasti akan datang merangkak kepadaku.’ ‘Tanpa diriku, tidak mungkin ia bisa terus hidup.’ Apakah Lim Sian-ji begitu yakin akan hal ini?
Memang ia pantas menjadi begitu yakin, karena ia tahu betul bahwa A Fei sungguh-sungguh mencintainya.
Tapi di manakah A Fei sekarang?
‘Ia pasti masih ada di pondok kecil itu, karena pondok itu adalah ‘rumah kami’.
Barang-barangku masih ada di sana.
Keberadaanku masih ada di sana.’ ‘Ia pasti sedang menantikan kepulanganku.’ Tiba-tiba Lim Sian-ji merasa begitu rileks.
‘Mungkin selama dua hari terakhir ini ia tidak melakukan apapun juga kecuali minum arak.
Mungkin rumah itu sudah berantakan sekarang.
Mungkin mayat-mayat itu masih bergelimpangan di sana.’ Saat ia memikirkan itu, mengerutkan alis pun Lim Sian-ji tidak berani.
‘Tapi bagaimanapun juga, saat ia melihat aku, ia akan berusaha mati-matian untuk melakukan apa saja yang kuminta.
Aku tidak perlu mengangkat seujung jaripun.’ Lim Sian-ji menghela nafas lega.
Ketika wanita seperti dia sudah jatuh ke dasar jurang, namun masih ada tempat pelarian, masih ada orang yang menantikan kepulangannya dengan sabar, tidak heran ia merasa sangat bersuka cita.
‘Aku memang terlalu kejam padanya dulu.
Aku sudah menekannya kelewat batas.
Mulai sekarang aku akan memperlakukan dia dengan baik.’ ‘Laki-laki itu seperti anak kecil.
Jika kau ingin mereka berkelakuan baik, kau harus memberi mereka permen terlebih dulu.’ Tiba-tiba ia merasakan kehangatan dalam dadanya.
‘Kalau dipikir-pikir, dia bukanlah orang yang menyebalkan.
Bahkan mungkin ia jauh lebih baik daripada semua laki-laki yang pernah kutemui seumur hidupku.’ Lim Sian-ji baru menyadari bahwa sebenarnya ia pun sedikit banyak telah jatuh cinta pada A Fei.
Hanya terhadap A Feilah ia memiliki perasaan yang tulus.
Semakin dipikirkannya, semakin ia menyadari betapa berbahagianya dia saat A Fei ada di sisinya.
‘Aku sungguh-sungguh harus memperlakukan dia dengan lebih baik mulai sekarang.
Laki-laki seperti dia jarang ada di dunia ini.
Mungkin aku tidak akan menemukan laki-laki lain yang seperti dia.’ Dan semakin dipikirkannya, semakin dalam ia menyadari bahwa ia tidak boleh membiarkan A Fei pergi dari hidupnya.
Mungkin selama ini sebenarnya Lim Sian-ji pun mencintainya.
Tapi cinta A Fei terhadapnya sungguh jauh lebih besar dan dalam, sehingga Lim Sian-ji tidak menghargainya.
Jika ia tidak begitu dalam mencintai Lim Sian-ji, mungkin Lim Sian-ji akan lebih menginginkannya.
Inilah kelemahan manusia.
Kontradiksi sifat dasar manusia.
Itulah sebabnya mengapa laki-laki yang pintar tidak akan menunjukkan seluruh perasaan mereka kepada wanita yang mereka cintai.
Lebih baik mereka simpan di dalam hati.
‘A Fei, jangan kuatir.
Mulai sekarang, aku tidak akan lagi menyakitimu.
Aku akan setia mendampingimu tiap hari, tiap saat.
Mari kita lupakan masa lalu, dan mulai dengan lembaran baru hidup kita.’ ‘Selama kau memperlakukan aku sama seperti dulu, mulai sekarang akulah yang akan menuruti semua perkataanmu.’ Tapi bisakah A Fei memperlakukan dia sama seperti dulu?
Lim Sian-ji mulai ragu, rasa percaya dirinya mulai memudar.
Belum pernah ia merasa seperti ini, karena belum pernah sebelumnya ia menyadari betapa berharganya A Fei bagi dirinya.
Saat ini, ia bahkan tidak peduli apakah A Fei akan memperlakukannya dengan baik atau tidak.
Hanya pada saat seseorang begitu menginginkan sesuatu, ia akan sangat takut kehilangan.
Perasaan selalu ingin lebih dan selalu tidak puas adalah salah satu kelemahan umat manusia.
Yang lebih menyedihkan adalah, semakin banyak kita ingin, semakin besarlah rasa tidak puas itu.
Lim Sian-ji mengangkat kepalanya dan melihat pondok kecil yang berdiri sendirian di tepi jalan itu.
Ada cahaya dari dalam sana.
Ia berhenti sejenak.
Dirobeknya lengan bajunya, dan dibersihkannya wajahnya dengan air hujan.
Lalu dengan lembut dirapikannya rambutnya dengan jari-jemarinya.
Ia tidak ingin A Fei melihatnya dalam kondisi yang menyedihkan.
Karena saat ini, ia tidak sanggup lagi kehilangan A Fei.
Cahaya dalam pondok itu terlihat sangat terang.
Sebatang lilin menyala di atas meja.
Sepanci besar bubur tampak berada di samping lilin itu.
Rumah itu tidak tampak kotor atau berantakan seperti yang dibayangkan Lim Sian-ji.
Tidak ada lagi mayat yang kelihatan.
Bekas-bekas darah pun sudah tidak tampak.
Semuanya serba bersih dan rapi.
A Fei sedang duduk di depan meja sambil menghirup semangkuk bubur panas.
Ia selalu makan perlahan-lahan karena ia tahu benar bahwa makanan itu harus dihargai.
Oleh sebab itulah ia makan perlahan, untuk menikmati setiap suapan.
Tapi sepertinya ia tidak sedang menikmati saat itu.
Di wajahnya tergambar kepahitan, seakan-akan ia makan dengan terpaksa.
Mengapa ia memaksa diri untuk makan?
Apakah karena ia terpaksa makan demi bertahan hidup?
Malam sudah sangat larut.
Seorang laki-laki duduk menghadapi meja sendirian sambil mengirup buburnya.
Jika kau tidak melihatnya sendiri, sangat sulit membayangkan betapa sedih dan memilukannya pemandangan ini.
Dengan perlahan pintu terbuka.
Saat ia melihat A Fei, ia merasakan kehangatan menjalari sekujur tubuhnya.
Ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa ia bisa memiliki perasaan seperti ini.
Karena darahnya selalu dingin.
A Fei seperti tidak menyadari ada yang masuk ke rumah itu.
Kepalanya masih menunduk, sibuk mengirup buburnya.
Seolah-olah bubur itulah satu-satu hal yang nyata baginya di dunia ini.
Namun otot-otot wajahnya mulai menegang.
Lim Sian-ji tidak bisa menahan diri lagi.
Ia memanggilnya.
"Fei sayang…."
Suaranya masih tetap manis dan lembut seperti dulu. Akhirnya A Fei mengangkat wajah dan memandangnya. Matanya masih tetap bercahaya. Apakah karena air mata? Mata Lim Sian-ji pun mulai tampak basah.
"Fei sayang, aku sudah kembali….."
A Fei tidak bergerak, tidak menyahut. Seolah-olah ia sudah membeku dan tidak bisa bergerak lagi. Perlahan Lim Sian-ji berjalan ke arahnya dan berkata.
"Aku tahu, kau pasti akan menungguku. Karena akhirnya aku menyadari bahwa kaulah satu-satunya yang baik kepadaku di dunia ini."
Kali ini ia tidak berpura-pura. Ia mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam. Perasaannya terhadap A Fei sangat tulus. Lanjut Lim Sian-ji.
"Aku sadar sekarang bahwa semua orang yang lain hanya ingin memanfaatkan diriku….dan aku pun hanya memanfaatkan mereka. Oleh sebab itulah aku tidak peduli bahwa mereka itu memanfaatkan aku. Tapi seberapa buruknya aku memperlakukan engkau, kau tetap setia kepadaku."
Ia tidak memperhatikan perubahan di wajah A Fei. Ia berjalan semakin dekat. Begitu dekat, sampai-sampai ia tidak melihat apa yang seharusnya terlihat jelas.
"Aku telah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah menipumu lagi. Tidak pernah akan menyakitimu lagi. Apapun yang kau inginkan, akan kudengarkan, akan kulakukan, dan aku berjanji….."
Prak! Sumpit di tangan A Fei patah menjadi dua. Lim Sian-ji merengkuh tangan A Fei dan meletakkannya di dadanya. Suaranya sungguh manis, semanis madu.
"Aku telah begitu bersalah padamu di masa lalu. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya di kemudian hari. Aku ingin kau mengerti bahwa seluruh perbuatan baikmu terhadap aku tidaklah sia-sia belaka."
Dadanya terasa hangat dan lembut. Siapapun yang meletakkan tangannya di dada itu tidak akan mungkin ingin melepaskannya lagi. Tapi tiba-tiba A Fei menarik tangannya. Lim Sian-ji terperanjat.
"Kau….kau….kau tidak menginginkan aku lagi?"
A Fei hanya menatapnya terdiam. Seolah-olah inilah pertama kalinya ia melihat Lim Sian-ji.
"Semua yang kukatakan itu benar adanya. Walaupun aku pernah bersama dengan laki-laki lain di masa lalu….aku tidak pernah punya perasaan apa-apa terhadap mereka. Itu semua palsu….."
Suaranya terhenti, karena saat itulah ia melihat ekspresi wajah A Fei. A Fei kelihatan seperti ingin muntah. Lim Sian-ji mundur dua langkah dan berkata.
"Kau……kau tidak suka aku mengatakan yang sebenarnya? Apakah kau lebih suka aku berdusta?"
A Fei memandang lurus padanya cukup lama, dan akhirnya berkata.
"Ada satu hal yang kurasa sangat ganjil."
"Apa itu?"
A Fei bangkit berdiri dan berkata perlahan tapi pasti.
"Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti engkau!"
Lim Sian-ji merasa kejang seluruh tubuhnya.
A Fei tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.
Satu kalimat itu saja sudah cukup.
Sudah cukup untuk mengirim Lim Sian-ji ke neraka yang paling gelap.
Perlahan A Fei melangkah keluar.
Seseorang tidak mungkin dapat menahan rasa sakit, penghinaan dan olok-olok terus-menerus.
Mungkin ada orang dapat menerima dibohongi terusmenerus, tapi ada batasnya orang bisa menerima penghinaan – ini berlaku untuk wanita, juga untuk pria.
Ini berlaku untuk istri, juga untuk suami.
Lim Sian-ji merasa hatinya terperosok semakin dalam, dan semakin dalam….
A Fei membuka daun pintu.
Tiba-tiba Lim Sian-ji melompat dan terpuruk dekat kakinya.
Ia menarik lengan baju A Fei dan menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana mungkin engkau meninggalkan aku seperti ini….. Hanya engkaulah yang kumiliki sekarang….."
Tapi A Fei tidak menoleh.
Perlahan ditanggalkannya bajunya yang terus diganduli oleh Lim Sian-ji.
Ia melangkah keluar dengan dada telanjang menerjang hujan.
Hujan yang sangat dingin.
Namun air hujan yang sangat bersih.
Akhirnya ia dapat melepaskan diri dari Lim Sian-ji.
Melepaskan diri dari belenggu yang mengikat hatinya.
Sama seperti baru saja membuang baju yang sudah lama dan usang.
Lim Sian-ji masih berpegangan pada baju itu.
Ia tahu benar bahwa tidak ada lagi tempat baginya untuk berpegangan.
‘Pada akhirnya, kau menyadari bahwa kau tidak memiliki apa-apa dan hidupmu begitu hampa…."
Air mata mengalir deras di wajahnya.
Saat itulah ia menyadari betul bahwa ia sebenarnya begitu mencintai A Fei.
Mungkin ia menyiksa A Fei karena ia mencintainya, dan karena ia tahu bahwa A Fei mencintainya.
Mengapa wanita suka menyiksa laki-laki yang paling mereka cintai?
Baru sekarang ia menyadari betapa berharganya A Fei dalam hidupnya.
Karena baru sekarang, ia kehilangan A Fei.
Mengapa wanita sering kali tidak menghargai apa yang mereka miliki, dan baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah semuanya hilang?
Mungkin laki-laki pun seperti ini.
Lim Sian-ji tertawa seperti orang kesurupan sambil merobek-robek baju A Fei di tangannya.
‘Apa yang kutakuti?
Aku masih muda dan cantik.
Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan laki-laki manapun juga….
Aku bisa mendapatkan sepuluh laki-laki dalam sehari.’ Ia sedang tertawa, tapi tawanya terasa lebih memilukan daripada air mata.
Karena ia sebenarnya tahu, bahwa laki-laki memang mudah didapatkan, namun cinta sejati tidak dapat dibeli dengan kecantikan dan usia muda.
Bagaimanakah nasib Lim Sian-ji sekarang?
Tidak ada yang tahu.
Seakan-akan ia hilang ditelan bumi.
*** Dua, tiga tahun kemudian, di kompleks pelacuran yang paling terkenal di ChangAn tersiar kabar ada seorang pelacur yang sangat unik.
Ia tidak pernah minta bayaran.
Yang diinginkannya hanya laki-laki.
Bahkan ada yang bilang bahwa ia melayani sedikitnya sepuluh laki-laki dalam sehari.
Awalnya, begitu banyak pria yang berminat kepadanya, namun sejalan dengan waktu, laki-laki yang menginginkannya pun semakin berkurang.
Mungkin karena pelacur itu begitu cepat menjadi tua, tapi lebih mungkin karena lama-kelamaan orang menyadari bahwa ia bukan seperti manusia.
Ia seperti induk serigala yang memangsa laki-laki bulat-bulat.
Ia bukan saja suka menghancurkan laki-laki, namun penyiksaan yang dilakukan terhadap dirinya sendiri jauh lebih mengerikan.
Ada orang bilang bahwa ia adalah wanita yang dulunya dijuluki ‘wanita tercantik di seluruh dunia’, Lim Sian-ji.
Tapi ia sendiri tidak pernah mengakuinya.
Beberapa tahun setelah itu, di sebuah daerah paling kumuh di ChangAn, terdengar lagi ada seorang wanita aneh yang menjadi cukup terkenal.
Ia bukan terkenal karena kecantikannya, tapi karena ia begitu buruk rupa.
Sampai-sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Yang lucu adalah, ketika ia mabuk berat, ia selalu mengatakan bahwa dulunya ia adalah si ‘wanita tercantik di seluruh dunia’.
Tentu saja tidak ada yang percaya.
*** Hujan semakin dingin.
Walaupun A Fei telah basah kuyup dari kepala hingga ujung kaki, entah mengapa ia merasa segar.
Karena hujan telah membuatnya menyadari bahwa ia bukanlah sebatang kayu kering.
Inilah pertama kalinya dalam dua tahun ini ia merasa begitu hidup.
Lagi pula, ia merasa begitu lega.
Seakan-akan beban ribuan ton telah diangkat dari bahunya.
Sayup-sayup terdengar orang memanggil dari kejauhan.
"A Fei….."
Suaranya begitu pelan.
Mungkin beberapa hari yang lalu, ia tidak akan bisa mendengar suara ini.
Tapi sekarang, matanya tidak lagi buta.
Telinganya tidak lagi tuli.
Ia menghentikan langkahnya dan bertanya.
"Siapa itu?"
Seseorang segera bergegas ke arahnya.
Dengan dua kuncir panjang, dua mata besar.
Seorang gadis muda yang cantik.
Ia kelihatan sangat kelelahan.
Akhirnya Sun Sio-ang menemukan A Fei.
Ia berlari ke arah A Fei dengan nafas tersengal-sengal.
"Kau tidak mengenali aku lagi…."
A Fei segera memotong perkataannya.
"Aku ingat siapa engkau. Kita bertemu dua tahun yang lalu. Kau sangat pintar bicara. Aku juga melihat engkau dua hari yang lalu, tapi kau tidak mengatakan apa-apa."
Sun Sio-ang tersenyum dan berkata.
"Kelihatannya ingatanmu masih bagus."
Hatinya merasa lega, karena ia melihat A Fei berdiri, bahkan berdiri tegap.
‘Ada orang yang bisa bangkit, seberapa kali pun mereka jatuh.’ Li Sun-Hoan dan A Fei memang benar-benar sehati sejiwa.
A Fei tahu apa yang akan ditanyakan gadis itu.
Tapi Sun Sio-ang tidak mengatakan apa-apa.
Ia tidak tahu bagaimana harus bertanya.
Kata A Fei.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, karena kau adalah sahabat Li Sun-Hoan."
Tanya Sun Sio-ang.
"Apakah kau telah berjumpa dengannya?"
"Ya."
"Di mana dia sekarang?"
"Dia tidak ada lagi hubungan dengan aku, mengapa kau menanyakannya?"
Di masa lalu, jika ada orang yang berbicara tentang Lim Sian-ji kepadanya, ia selalu merasa tercekat.
Mendengar namanya saja dapat membuat hatinya bergetar.
Namun kini ia terlihat sangat tenang.
Sun Sio-ang menatapnya menyelidik, lalu menghela nafas lega.
"Ternyata kau benar-benar sudah terbebas dari belenggumu."
"Belenggu?"
Tanya A Fei bingung.
"Setiap orang di dunia ini memliki kurungan dan belenggu mereka masing-masing. Tapi hanya sedikit saja yang dapat membebaskan diri."
"Aku tidak mengerti."
Kata Sun Sio-ang.
"Kau tidak perlu mengerti. Yang penting kau sudah berhasil melakukannya."
A Fei terdiam lama. Akhirnya ia berkata.
"Ah, aku mengerti sekarang."
"Kau sungguh-sungguh mengerti?...."
Kini Sun Sio-anglah yang bingung.
"Kalau begitu, aku ingin tahu, dengan cara bagaimana kau dapat membebaskan diri dari belenggumu?"
A Fei berpikir sejenak sebelum menjawab sambil tersenyum.
"Mataku tiba-tiba terbuka." ‘Mataku tiba-tiba terbuka’. Sungguh suatu kalimat yang sederhana. Tapi pada kenyataannya, sangat sulit untuk mengalaminya. Waktu Sang Budha mengalami pencerahan di bawah pohon bodhi, ia pun mengalami mata yang tiba-tiba terbuka. Bodhidharma bermeditasi selama sembilan tahun sebelum matanya terbuka. Bagaimanapun kejadiannya, jika matamu sudah terbuka, pikiranmu pun akan terbebaskan dari segala macam persoalan. Tapi sebelum itu dapat terjadi, seseorang mau tidak mau harus mengalami berbagai macam pencobaan dan kesukaran hidup. Kata Sun Sio-ang.
"Kau pasti telah begitu menderita sebelum mencapai pencerahan itu."
Namun kelihatannya A Fei tidak berminat untuk mendiskusikannya. Tiba-tiba ia bertanya.
"Apakah Li Sun-Hoan menyuruhmu untuk mencari aku?"
"Tidak,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Di manakah ia saat ini?"
Sun Sio-ang terdiam. Senyumnya pun lenyap.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Tanya A Fei mendesak. Wajah Sun Sio-ang bertambah kelam saat ia menjawab.
"Sejujurnya, aku pun tidak tahu di mana tepatnya ia berada saat ini. Aku pun tidak tahu apakah ia masih hidup atau…."
Wajah A Fei langsung memucat.
"Apa maksudmu?"
"Mungkin aku dapat menemukan di mana ia berada, namun hidupnya…."
"Ada apa dengan hidupnya?"
Nada suara A Fei semakin tinggi. Sun Sio-ang menatap matanya sambil berkata.
"Hidup matinya terletak di tanganmu seorang!"
Bab 85.
Salah Siapa?
Hujan masih turun dengan lebat di luar, namun di dalam rumah begitu kering.
Ada sebuah jendela kecil di ruangan itu yang letaknya jauh di atas.
Jendela itu selalu tertutup.
Cahaya matahari jarang masuk melaluinya dan hujan tidak dapat menembusnya.
Temboknya dicat begitu tebal dan putih, sampai-sampai tidak lagi dapat diketahui apakah tembok itu terbuat dari tanah, bata, ataukah besi.
Namun yang pasti, tembok ini sangat sangat tebal, begitu tebal, seolah-olah ingin memisahkan orang yang di dalam dengan dunia luar.
Tidak ada benda apapun dalam ruangan itu kecuali dua buah tempat tidur dan sebuah meja besar.
Tidak ada kursi, tidak ada bangku, bahkan satu cawan pun tidak kelihatan.
Ruangan dan sekelilingnya tampak lebih sederhana dan menderita daripada tempat tinggal seorang pendeta miskin.
Siapa sangka, ini adalah tempat kediaman orang yang terkaya, yang paling berpengaruh, paling berkuasa di seluruh dunia persilatan, Ketua Kim-ci-pang, Siangkoan Kim-hong?
Tapi Li Sun-Hoan tidak punya gairah untuk terkejut.
Siangkoan Kim-hong berdiri tepat di sampingnya dan bertanya.
"Apakah tempat ini cukup memuaskan?"
Sambil tersenyum terpaksa Li Sun-Hoan menjawab.
"Paling tidak di sini kering."
"Memang kering sekali. Aku bisa menjamin bahwa kau tidak akan menemukan setetes pun air di tempat ini,"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Di sini tidak pernah disuguhkan, teh, arak, ataupun air. Bahkan setetes air mata pun tidak pernah dicucurkan."
"Bagaimana dengan darah? Adakah yang pernah mencucurkan darah di sini?"
"Tidak pernah. Sekalipun ada orang yang ingin mati di sini, darah mereka harus habis tercurah sebelum sampai di pintu itu. Jika aku tidak menginginkan orang masuk ke sini, hidup ataupun mati, mereka tidak akan bisa masuk ke sini."
Li Sun-Hoan tertawa kecil. Katanya.
"Sejujurnya, hidup di tempat seperti ini pasti tidak nyaman. Tapi mati di sini, tidak ada masalah."
"O ya?"
"Karena tempat ini memang terasa seperti kuburan saja,"
Kata Li Sun-Hoan ringan.
"Karena tampaknya kau suka mati di sini, akan kukuburkan kau di sini juga,"
Kata Siangkoan Kim-hong sambil tersenyum. Senyumnya terlihat sadis. Ia menunjuk lantai tempat ia berdiri dan menambahkan.
"Aku akan menguburkanmu tepat di bawah sini. Jadi setiap kali aku berdiri di sini, setiap kali aku akan tahu bahwa Li Tamhoa ada di bawah kakiku, dan aku akan merasa segar kembali."
"Segar?"
"Kalau aku tidak selalu segar, suatu hari nanti mungkin saja akulah yang akan berada di bawah kaki orang lain. Tapi kalau aku terus mengingat akan kisahmu, aku akan selalu berjaga-jaga."
"Tapi kalau seseorang selalu segar dan berjaga-jaga setiap saat, pasti ia akan merasa menderita."
"Aku tidak pernah merasa menderita. Sekalipun tidak pernah selama hidupku ini,"
Kata Siangkoan Kim-hong yakin.
"Mungkin karena kau pun tidak pernah merasa bahagia selama hidupmu….. Aku sungguh ingin tahu, sebenarnya untuk apakah kau hidup?"
Tanya Li Sun-Hoan. Mata Siangkoan Kim-hong berkedip. Ia terlihat seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu ia menjawab.
"Ada orang-orang yang tidak tahu untuk apa mereka hidup. Tapi yang lebih buruk lagi adalah orang-orang yang tidak pernah tahu untuk apa mereka mati."
"Hmmm?"
Siangkoan Kim-hong menatap Li Sun-Hoan dan berkata.
"Seperti kau ini. Kau tidak akan pernah tahu untuk apa kau mati."
"Sebenarnya, aku memang tidak pernah ingin tahu,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Mengapa tidak?"
"Karena aku tidak merasa bahwa kematian adalah persoalan besar."
Li Sun-Hoan tidak menunggu Siangkoan Kim-hong menyahut. Ia melanjutkan lagi.
"Di matamu, saat inipun aku sudah mati, bukan?"
"Kau memang sangat memahami dirimu,"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Karena kematianku sudah tidak dapat dihindarkan, mengapa harus pusing akan ini dan itu?"
Tiba-tiba Li Sun-Hoan duduk di lantai dan menyelonjorkan kakinya dengan nyaman. Lalu ia tersenyum dan berkata.
"Kalau aku sekarang ingin duduk, aku akan duduk. Kalau aku ingin memejamkan mata, aku akan memejamkan mata. Apakah kau bisa berbuat demikian?"
Siangkoan Kim-hong mengepalkan tangannya. Kata Li Sun-Hoan lagi.
"Ah, tentu saja kau tidak bisa, karena kau masih kuatir akan begitu banyak hal. Kau masih harus waspada terhadap diriku."
Sambungnya.
"Paling tidak, saat ini aku bisa hidup lebih nyaman daripada engkau."
Siangkoan Kim-hong tersenyum dan berkata.
"Karena aku sudah berjanji aku tidak akan membiarkan engkau mati basah kuyup, tadinya aku berencana akan segera menyerang setelah pakaianmu kering. Namun sekarang aku berubah pikiran."
"Oh?"
"Aku bukan hanya akan memberimu seperangkat pakaian kering, aku juga akan memberimu seguci arak. Karena perkataanmu itu sungguh menyenangkan bagi telingaku. Bisa mendengar perkataan seperti itu dari mulut seorang mati, benar-benar menyenangkan,"
Kata Siangkoan Kimhong.
*** Liong Siau-in meringkuk di bawah selimutnya, tertidur lelap.
Di lantai terlihat beberapa jejak kaki yang basah dan berlumpur.
Lilin masih menyala, namun cahayanya yang pudar membuat kamar penginapan itu tampak semakin muram dan tidak bergairah.
Perlahan-lahan Lim Si-im membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
Langkah-langkah kaki seorang ibu memang selalu ringan.
Ia lebih suka terjaga semalaman daripada membangunkan anaknya yang tercinta dari tidur lelapnya.
Namun Liong Siau-in bukan anak-anak lagi.
Ia lebih dewasa daripada kebanyakan orang di dunia ini.
Walaupun begitu, dalam tidurnya ia masih terlihat seperti seorang anak kecil yang lugu.
Wajahnya masih sangat muda, begitu pucat dan kurus.
Apapun yang telah dilakukannya, ia hanyalah seorang anak yang kesepian, yang tidak tahu apa-apa.
Masih bingung dan tidak mengerti akan dunia di sekitarnya.
Lim Si-im berjalan mendekati tempat tidur dan menatapnya.
Ia merasa kepahitan dalam hatinya.
Ini adalah putra tunggalnya, darah dagingnya.
Satusatunya tambatan hatinya di dunia ini.
Dulu, ia merasa lebih baik mati daripada harus berpisah dengan anaknya.
Namun kini…..
Lim Si-im mengangkat lilin kecil itu dan masih beberapa kali menoleh melihat kepadanya sekali lagi.
‘Aku hanya ingin memandangnya sekali lagi.
Sekali lagi saja.
Karena di kemudian hari…..’ Ia sungguh takut berpikir akan hari depan.
Ia tidak ingin berpikir tentang hari depan.
Air mata tidak terbendung lagi dari matanya.
Walaupun mata Liong Siau-in tertutup rapat, air mata pun mulai mengalir dari sana.
Badannya mulai menggigil.
Apakah ia kedinginan?
Ataukah ia sedang bermimpi buruk?
Lim Si-im membungkuk, hendak merapikan selimutnya.
Ia terkejut ketika menyadari bahwa selimut itu basah.
Baju Liong Siau-in pun basah kuyup.
Ia berusaha menenangkan dirinya.
Katanya.
"Jadi kau pun pergi ke luar."
Mata dan mulut Liong Siau-in terkatup rapat. Tanya Lim Si-im.
"Apakah kau membuntuti aku?"
Akhirnya Liong Siau-in menganggukkan kepalanya.
"Jadi kau sudah mendengar semua yang kukatakan?"
Tiba-tiba Liong Siau-in mengambil bungkusan dari bawah selimutnya dan berteriak.
"Ini, ambil saja."
Lim Si-im mengerutkan keningnya dan bertanya.
"Apa ini?"
"Apa Ibu benar-benar tidak tahu apa ini? Bukankah Ibu pulang kembali hanya untuk mengambilnya?"
Kesedihan tergurat di wajah Lim Si-im. Katanya.
"Aku…..Aku pulang untuk menjumpaimu."
"Kalau bukan karena ini, apakah Ibu maih mau datang untuk menjumpaiku?"
Kata Liong Siau-in dengan sinis. Tiba-tiba ia membuka matanya dan menatap ibunya lekat-lekat. Kesedihan pun tergambar nyata di wajahnya.
"Ibu sudah memutuskan untuk meninggalkan aku. Jika bukan karena ini, Ibu pasti sudah pergi sejak lama."
"Kau benar. Aku memang sudah memutuskan untuk pergi ke tempat yang jauh. Tapi aku…."
Liong Siau-in memotong perkataannya dengan tajam.
"Ibu tidak perlu mengatakannya. Aku tahu ke mana Ibu akan pergi."
"Kau tahu?"
"Ibu akan pergi untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, bukan?"
Kembali Lim Si-im terkejut mendengarnya.
"Ibu bermaksud untuk menggunakan ‘Ensiklopedi LianHua’ untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, bukan?"
Tanya Liong Siau-in menuduh. Ia kembali menyorongkan bungkusan itu dan berkata.
"Lalu mengapa tidak segera Ibu ambil saja? Mengapa Ibu masih saja di sini?"
Tubuh Lim Si-im seperti sempoyongan. Ia merasa hampir tidak bisa berdiri tegak lagi. Liong Siau-in terus berbicara dengan ketus.
"Kalau Ibu menunjukkan ‘Ensiklopedi LianHua’ ini kepada Siangkoan Kim-hong, ia pasti akan bersedia menemuimu, karena ia adalah orang yang suka belajar ilmu silat. Ia tidak akan bisa menahan rasa ingin tahunya."
Ia mengertakkan giginya dan melanjutkan.
"Ibu bermaksud menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan, karena Ibu tahu tidaklah mudah untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong. Jadi Ibu ingin mengulur waktu lebih lama lagi dengan menggunakan kitab ini, supaya Li Sun-Hoan bisa hidup sedikit lebih lama, supaya A Fei punya kesempatan untuk datang dan menolongnya."
Lim Si-im tidak bisa menjawab. Liong Siau-in memang benar-benar cerdas. Ia seakanakan dapat menembus pikiran ibunya. Jadi sekarang Lim Si-im tidak bisa berkata apa-apa.
"Li Sun-Hoan selalu baik pada Ibu. Sampai-sampai sekalipun Ibu mengorbankan anakmu sendiri, bahkan mengorbankan nyawamu sendiri, tidak ada yang bisa bilang bahwa Ibu salah."
Suara Liong Siau-in semakin bergetar saat ia melanjutkan perkataannya.
"Tapi apakah Ibu pernah memikirkan orang lain? Pernahkah Ibu memikirkan diriku? ANAKMU? Aku...Aku…"
Lim Si-im merasa hatinya seperti ditusuk beribu-ribu jarum. Ia hanya bisa meraih tangan anaknya dan berkata.
"Tentu saja aku memikirkanmu. Aku…."
Liong Siau-in mendorong tubuh ibunya kuat-kuat dan berteriak marah.
"Tentu saja Ibu memikirkanku. Ibu pasti akan mengajakku pergi menemui mereka besok pagi, bukan? Mereka tahu Ibu mengorbankan dirimu untuk mereka, jadi pastilah mereka akan bersedia memeliharaku dan memperlakukanku dengan baik."
Lanjutnya lagi.
"Tapi bagaimana Ibu bisa yakin kalau itu dapat menyelamatkan dia? Kalau Ibu mati di hadapannya, bukankah hatinya akan menjadi semakin galau? Dan sekalipun A Fei sempat datang untuk menolongnya, mungkin saja ia tidak akan sanggup bertahan."
Lim Si-im pun mulai gemetar. Kata Liong Siau-in.
"Dan sekalipun ia bisa selamat, dan ia bersedia untuk memeliharaku, aku tidak akan ikut dengan dia. Aku tidak ingin melihat dia sama sekali!"
"Mengapa?"
Tanya Lim Si-im.
"Karena aku sangat membencinya!"
"Tapi kau telah mempelajari….."
Liong Siau-in memotongnya cepat.
"Aku tidak membencinya karena ia telah memusnahkan ilmu silatku."
"Lalu kenapa kau membencinya?"
"Aku benci karena bukan dia yang menjadi ayahku! Mengapa dia bukan ayahku? Mengapa aku tidak bisa menjadi anaknya? Kalau saja ia adalah ayahku, ia tidak mungkin meninggalkan aku dan segala sesuatu tidak mungkin jadi seperti ini!"
Lalu ia menelungkup di tanah dan menangis menjadijadi.
Hati Lim Si-im hancur berkeping-keping.
Seluruh tubuhnya luluh lantak.
Ia tiba-tiba merasa tidak sanggup lagi berdiri dan jatuh terduduk ke kursi di sampingnya.
‘Kalau saja anak ini adalah anaknya, kalau saja ia adalah suamiku….."
Belum pernah sebelumnya ia berani berpikir seperti itu.
Namun jauh dalam relung hatinya yang tergelap, bagaimana mungkin ia tidak diam-diam mengharapkannya?
Seorang anak dari pasangan yang tidak bahagia akan lebih lagi tidak berbahagia dan menderita lebih banyak lagi.
Kesalahannya hanya terletak pada orang tua, bukan pada anak.
Namun, mengapa ia harus ikut menderita penghukuman dan ketidakbahagiaan dengan mereka?
Lim Si-im berusaha menguatkan dirinya untuk bangkit berdiri dan berjalan mendekati anaknya.
Air mata telah berderai membasahi seluruh wajahnya.
Katanya.
"Anakku, aku telah begitu bersalah padamu…. Sungguh bersalah padamu…… Dengan orang tua seperti kami, pasti sangatlah sulit bagimu menjadi seorang anak….."
Tiba-tiba terdengar suara bergetar yang parau dari balik jendela.
"Kau tidak bersalah sama sekali. Akulah yang bersalah."
Liong Siau-hun.
Tidak akan ada yang bisa mengenalinya.
Ia kelihatan begitu lusuh dan lelah.
Ia berdiri di depan pintu, takut untuk melangkah masuk.
Liong Siau-in mengangkat kepalanya.
Bibirnya bergerakgerak, seolah-olah hendak memanggil ‘Ayah’.
Namun suaranya tidak bisa keluar!
Liong Siau-hun mendesah dan berkata.
"Aku tahu bahwa kau tidak lagi menginginkan aku sebagai ayahmu."
Lalu ia menoleh pada Lim Si-im, katanya.
"Dan aku tahu kau tidak lagi menginginkan aku sebagai suamimu. Hidupku sungguh tidak berarti."
"Kau…."
Ia tidak membiarkan Lim Si-im melanjutkan. Segera ia berkata.
"Tapi aku sungguh telah mencoba sekuat tenaga menjadi ayah yang baik, menjadi suami yang baik. Tetapi kelihatannya aku sudah gagal, semua yang kulakukan adalah salah besar."
Lim Si-im hanya menatapnya. Liong Siau-hun adalah lelaki yang tenang dan tegas. Selalu penuh vitalitas dan energi. Namun sekarang? Rasa kasihan memenuhi hatinya. Kata Lim Si-im.
"Aku pun telah bersalah kepadamu. Aku bukan istri yang baik."
Liong Siau-hun tertawa. Tawa yang pahit.
"Itu bukan kesalahanmu. Semuanya adalah kesalahanku. Jika aku tidak pernah berjumpa denganmu, jika aku tidak pernah berjumpa dengan Li Sun-Hoan, semuanya tidak akan jadi begini. Semua orang akan hidup bahagia dan sejahtera."
Apakah nasibnya sungguh berubah karena satu peristiwa itu? Jika ia tidak pernah bertemu dengan Li Sun-Hoan, apakah ia tidak akan pernah menjadi seperti ini? Lim Si-im mulai menangis lagi. Katanya.
"Apapun yang telah kau perbuat, itu adalah untuk melindungi keluargamu, untuk melindungi istri dan anakmu. Jadi….itu bukanlah kesalahan. Aku sungguh-sungguh tidak menyalahkanmu."
Kata Liong Siau-hun.
"Kalau kita berdua tidak bersalah, lalu siapa yang salah?"
Lim Si-im memandang keluar, ke malam hujan yang gelap.
"Siapa yang salah….? Siapa yang salah….?"
Ia tidak menemukan jawabannya.
Tidak seorang pun tahu jawabannya.
Ada banyak hal dalam hidup ini yang tidak akan pernah dimengerti oleh manusia.
Yang tidak akan diketahui jawabannya.
Kata Liong Siau-hun.
"Sebenarnya aku berencana untuk tidak menemui kalian berdua lagi. Karena kaulah yang pergi kali ini, kupikir kau akan pergi untuk selamalamanya. Itulah sebabnya aku tidak berusaha memohon padamu untuk tetap tinggal…."
Ia mengeluh panjang dan air matanya pun mulai menetes.
"Aku tahu bahwa yang telah kuperbuat telah menyakitimu, telah membuatmu sangat kecewa. Tapi aku sungguh tidak bisa untuk tinggal diam. Aku harus mengikuti kalian. Walaupun hanya bisa memandang kalian dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku."
Tangis Lim Si-im tidak tertahan lagi.
"Jangan katakan lagi…..jangan….."
Liong Siau-hun menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Memang aku seharusnya tidak banyak bicara lagi. Apapun yang kukatakan, sudah terlambat."
Kata Lim Si-im.
"Kau tahu bahwa aku berhutang begitu banyak kepadanya. Aku tidak bisa membiarkannya mati begitu saja."
Kata Liong Siau-hun.
"Aku pun berhutang banyak kepadanya. Oleh sebab itulah, aku minta kau menyerahkan persoalan ini kepadaku."
Sepertinya ia telah membulatkan tekad.
"A…Apa yang akan kau perbuat? Jangan katakan…."
Tiba-tiba Liong Siau-hun menutup Hiat-to (jalan darah) Lim Si-im.
"Kau tidak boleh mati, kau tidak bisa mati. Akulah yang harus mati. Semakin lama aku hidup, semakin banyak orang yang akan menderita. Jika aku mati, semua orang akan menjadi lebih baik."
Ia segera merebut ‘Ensiklopedi LianHua’ dan berlari keluar. Dari kejauhan, terdengar suaranya sayup-sayup.
"Anakmu, jagalah ibumu baik-baik. Tentang ayahmu yang tidak berguna ini…..terserah padamu apakah kau mau menerimanya atau tidak."
Mata Liong Siau-in menatap nanar air hujan di luar.
Ia tidak lagi menangis.
Namun sorot matanya terlihat jauh lebih menyedihkan daripada air mata.
Begitu lama ia terkesima.
Lalu tiba-tiba ia berteriak keras.
"Ayah, aku menerimamu! Hanya kaulah seorang yang pantas menjadi ayahku! Hanya kau seorang yang bisa kuanggap ayah! Selain engkau, tidak ada, tidak ada….."
Ini adalah penyesalan seorang anak terhadap ayahnya.
Suatu ikatan yang kuat antara ayah dengan anak, yang tidak bisa digantikan oleh apapun juga di dunia ini.
Sayang sekali, ayahnya tidak akan dapat mendengar perkataan itu.
Semua orang akan mengalami saat pencerahan yang tiba-tiba itu.
Apakah ia baru mengerti setelah terbentur oleh jalan buntu?
Atau karena ia memang memiliki rasa hormat yang murni?
Darah lebih kental daripada air.
Hanya darah yang dapat menghapuskan segala kebencian dan kehinaan.
Bahkan hidup ini pun dimulai dari darah.
Bab 86.
Menebus Dosa dengan Darah Sebuah halaman yang luas dan lega.
Halaman itu tidak jauh berbeda dari halaman rumah keluarga-keluarga kaya yang lain.
Namun sekali orang menjejakkan kaki di tangga yang menuju ke pintu utama, orang itu pasti akan merasakan kekelaman dan aura kematian yang menyelimutinya.
Liong Siau-hun menapaki anak tangga itu.
Di halaman depan, suasana begitu hening, tidak seorang pun nampak di sana.
Namun begitu ia melangkahkan kaki di anak tangga itu, sekelompok orang segera mengepungnya.
Delapan belas orang yang berjubah kuning.
Liong Siauhun tidak bisa melihat wajah mereka.
Tapi itu memang tidak penting.
Memang tidak penting tahu siapakah mereka satu per satu.
Anggota Kim-cipang semuanya sama saja.
Mereka tidak punya mulut, karena mereka tidak perlu bicara.
Sekalipun mereka bicara, yang keluar adalah suara Siangkoan Kim-hong.
Mereka tidak punya mata, karena mereka tidak perlu melihat.
Apa yang mereka lihat adalah apa yang diinginkan oleh Siangkoan Kim-hong untuk mereka lihat.
Mereka hanya memiliki sepasang telinga kecil, karena satu-satunya suara yang perlu mereka dengar adalah suara Siangkoan Kim-hong.
Kelihatannya mereka pun tidak punya lagi jiwa.
Itulah yang membuat mereka selalu bekerja dengan cepat.
Oleh sebab itu, dalam sekejap saja, mereka telah mengelilingi Liong Siau-hun.
Liong Siau-hun menarik nafas dalam-dalam dan berkata.
"Ah, jadi memang di sinilah Markas Besar Kim-ci-pang."
"Siapa kau? Apa kerjamu di sini?"
"Aku mencari seseorang."
"Siapa yang kau cari?"
"Apakah Siangkoan Kim-hong pangcu telah kembali?"
Tanya Liong Siau-hun. Nama ‘Siangkoan Kim-hong’ sepertinya dapat memcengkeram jiwa mereka. Ketika mereka mendengar nama itu disebut, langsung berubahlah perangai mereka.
"Pangcu belum kembali. Dan kau adalah….."
"Aku harus menemui dia. Ada sesuatu yang harus kuberikan kepadanya."
"Tunggulah sebentar. Pangcu sedang menemui tamu saat ini."
Liong Siau-hun kembali mendesah.
"Apakah saat ini ia sedang bersama dengan Li Sun-hoan?"
"Ya."
"Kalau begitu, aku harus menemuinya sekarang juga."
"Bolehkah kami mengetahui nama Tuan yang terhormat?"
"Margaku Liong, dan aku mempunyai sesuatu yang sangat penting yang harus kuberikan kepadanya sekarang juga. Jika kalian berani mencampuri urusan yang maha penting ini, apakah bahu kalian cukup kuat untuk menanggung akibatnya?"
"Jadi margamu Liong….. Apakah kaulah yang mengangkat saudara dengan Pangcu beberapa hari yang lalu?"
"Ya."
Ketika kata ‘Ya’ itu keluar dari mulutnya, kilatan pedang yang dingin segera menyambar. Sebilah pedang dan dua golok menyerang ke arahnya secara bersamaan. Liong Siau-hun berseru.
"Apa-apaan ini?"
Walaupun suaranya keras dan jelas, tidak ada seorang pun yang mengindahkannya.
Tidak ada seorang pun yang menjawabnya.
Liong Siau-hun pun mengaum dan meninju ke depan.
Ilmu silatnya tidak lemah, tinjunya sangat cepat dan penuh tenaga.
Satu tinju yang membawa keganasan seekor macan.
Namun ia hanya memiliki sepasang tinju.
Musuhnya memiliki dua puluh dua macam senjata, termasuk kait, pedang kembar, cambuk ganda, sepasang potlot.
Potlot adalah senjata yang terpendek, namun juga yang paling berbahaya.
Orang yang menggunakannya adalah murid ‘Si Pedang Hidup dan Mati’ yang legendaris, seorang ahli jalan darah.
Dalam Kitab Persenjataan orang ini tidak berada di bawah ‘Si Palu Hujan dan Angin’, Xiang Song.
Pedangnya adalah Pedang Pinus Menyambar.
Arahnya selalu tersembunyi di balik jurus-jurusnya.
Serangannya selalu fatal, dan kekuatannya bergerak mendahului pedangnya.
Di antara para ahli pedang di dunia, tidak lebih dari sepuluh orang yang dapat menandinginya.
Tapi yang paling ganas adalah golok.
‘Golok Sembilan Cincin’.
Gema dari cincin-cincin yang saling bertabrakan itu dapat mengguncangkan jiwa.
Liong Siau-hun segera tersekap dalam libatan angin golok itu.
Potlot Sang Hakim pun berhasil menutup salah satu jalan darah Liong Siau-hun.
Tidak ada suara nafas, yang terdengar hanya jerit kesakitan.
Karena leher Liong Siau-hun telah tertembus.
Suara yang akan keluar pun jadi tertahan dan putus.
Hanya ada darah.
Darah yang muncrat dari lehernya bagaikan anak panah mencelat ke atas.
Ia langsung tumbang ke tanah.
Darah membasahi seluruh tubuhnya.
Ia sudah mati sebelum sempat memejamkan matanya.
Matanya masih menatap orang-orang itu.
Bola matanya melotot.
Walaupun ia memang datang untuk mati, mengapa mereka tidak membiarkannya bertemu dengan Siangkoan Kim-hong walau sebentar saja?
Karena perintah yang mereka terima adalah ‘Bunuh Liong Siau-hun di tempat’!
Dan ini adalah perintah Siangkoan Kim-hong!
Perintah Siangkoan Kim-hong kokoh bagaikan gunung.
Kini ‘Ensiklopedi LianHua’ tergeletak begitu saja, basah oleh darah.
Tidak seorang pun meliriknya.
Siapa yang akan tertarik oleh benda yang dimiliki Liong Siau-hun?
Jadi inilah nasib akhir ‘Ensiklopedi LianHua’ yang begitu misterius itu.
Berakhir sama seperti banyak kitab ilmu silat hebat yang lain, hilang untuk selama-lamanya.
Apakah ini kemalangan umat manusia?
Atau malah keberuntungannya?
Kitab itu dibawa pergi bersama dengan jenazah Liong Siau-hun.
Anggota Kim-ci-pang memang sangat lihai dalam melenyapkan tubuh orang mati.
Mereka punya cara tersendiri yang unik untuk melenyapkan jenazah itu.
Manusia itu memang unik.
Mereka bisa mengorbankan banyak hal untuk mencapai sesuatu, namun hal-hal yang berada di depan hidung mereka sendiri, terkadang tidak terlihat.
Apakah ini kebodohan manusia?
Atau malah kebijakannya?
*** A Fei tidak punya pedang lagi.
Namun itu tidaklah penting, karena tiba-tiba saja ia dipenuhi oleh rasa percaya diri dan semangat yang membara.
Di tepi jalan ada sebuah hutan bambu kecil.
Dan dari tempat ia berdiri saat itu, ia dapat melihat halaman Markas Besar Kim-ci-pang.
A Fei mematahkan satu cabang bambu dan membelahnya menjadi tiga bagian memanjang.
Ia mengasah salah satu ujungnya dan membalutkan kain di ujung yang lain.
Gerakannya sungguh cepat dan akurat.
Tidak ada tenaga yang terbuang percuma.
Tangannya pun kokoh dan kuat.
Sun Sio-ang memandanginya dari samping.
Ia merasa sangat aneh, tapi sangat tertarik juga.
Tapi mau tidak mau ia mulai merasa ragu.
Ia memungut salah satu pedang bambu itu dan merasakan ringannya, bagaikan selembar daun willow.
Lalu ia berseru tertahan.
"Apakah pedang semacam ini cukup untuk menghadang Siangkoan Kim-hong?"
Bab 87. Lahir Kembali A Fei terdiam sekejap, lalu menjawab.
"Tidak ada pedang yang cukup baik untuk bisa menghadang Siangkoan Kimhong."
Sun Sio-ang pun merenung sejenak dan menyahut.
"Lalu…..apa yang harus kita perbuat untuk mengalahkannya?"
A Fei tidak menjawab.
A Fei tahu apa yang harus diperbuat untuk mengalahkan Siangkoan Kim-hong, namun kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya.
Ada banyak kata-kata di dunia ini yang tidak bisa keluar dari mulut manusia.
Sun Sio-ang mengeluh, katanya.
"Dan kau pun harus menghadapi banyak orang di samping Siangkoan Kimhong."
Tanya A Fei.
"Aku hanya ingin tahu, apakah kau yakin bahwa Siangkoan Kim-hong memang ada ke sini?"
"Kurasa dugaanku cukup akurat."
"Mengapa?"
"Karena di sini, ia bisa berbuat apa saja tanpa diketahui orang luar."
Tanya A Fei.
"Bisa mengalahkan Li Sun-hoan adalah prestasi yang sangat membanggakan. Mengapa ia ingin menyembunyikannya dari orang lain?"
"Kalau seseorang sedang menikmati apa yang disukainya, ia tidak ingin dilihat oleh siapapun juga."
"Aku tidak mengerti."
Sun Sio-ang berusaha menjelaskan.
"Apa makanan yang paling kau sukai?"
"Aku suka semua makanan sama saja."
"Kalau aku, aku sangat suka kacang kenari. Setiap kali aku makan kacang kenari, rasanya seperti berada di nirwana. Terlebih lagi di malam musim salju yang dingin. Aku suka bersembunyi dan menikmati kacang kenariku sendirian."
Ia terkikik geli dan melanjutkan.
"Tapi kalau ada orang di sampingku yang melihat aku makan, kacang kenari itu jadi tidak senikmat kalau aku makan sendirian."
"Jadi maksudmu Siangkoan Kim-hong menganggap bahwa membunuh Li Sun-hoan adalah suatu kenikmatan?"
Sahut Sun Sio-ang.
"Itulah sebabnya, aku pun yakin bahwa Siangkoan Kim-hong tidak akan membunuh Li Sun-hoan dengan segera."
"Kenapa?"
"Kalau aku hanya punya sebuah kacang kenari, tentu saja aku akan lambat-lambat memakannya. Semakin lambat aku makan, semakin lama kenikmatan itu dapat kurasakan. Karena aku tahu, berat rasanya setelah kacang kenari itu habis."
Perasaan yang hampa. Namun ia tidak sanggup menucapkan kata ‘hampa’ itu. Lanjut Sun Sio-ang.
"Di mata Siangkoan Kim-hong, hanya ada satu Li Sun-hoan di dunia ini. Setelah ia membunuhnya, ia pasti akan merasa sama seperti aku setelah memakan kacang kenariku yang terakhir. Tapi aku tahu akan lebih berat lagi Siangkoan Kim-hong."
Perlahan A Fei menyelipkan pedang bambu itu di ikat pinggangnya. Tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.
"Kurasa tidak akan berat perasaanku setelah membunuhnya."
Sebelum kalimatnya selesai, ia telah melangkah pergi dengan cepat.
Ia tidak berlari tergesa-gesa karena ia ingin siap pada saat sampai di sana.
Dalam menghadapi orang seperti Siangkoan Kim-hong, persiapan adalah kunci utama.
Tibalah ia di pekarangan itu.
Lalu A Fei menegangkan ototnya dan melemaskannya kembali dengan perlahanlahan.
Ini adalah cara yang terbaik untuk menenangkan dan mempersiapkan diri.
Akhirnya ia melangkah menapaki anak tangga dan menuju ke pintu gerbang itu.
Tiba-tiba, entah dari mana beberapa orang bermunculan – semuanya ada delapan belas orang, semuanya berjubah kuning.
Mereka adalah pasukan garis depan Kim-ci-pang.
Ilmu silat mereka semua sulit ditemukan tandingannya.
A Fei menarik nafas panjang dan berkata.
"Walaupun aku tidak ingin membunuh, aku tidak bisa bertoleransi pada orang yang menghadang jalanku."
Seseorang menjawab dengan suara dingin.
"Aku tahu siapa kau! Dan memangnya kenapa kalau kami menghadang jalanmu?"
"Maka kau akan mati!"
Suara itu tertawa mengejek.
"Membunuh anjing pun kau tidak akan mampu!"
Sahut A Fei tenang.
"Aku tidak suka membunuh anjing, dan kau pun bukan anjing."
Tidak ada kelebat sinar yang tampak, karena pedang bambu memang tidak memantulkan cahaya.
Namun pedang bambu pun bisa membunuh.
Paling tidak, di tangan A Fei pedang bambu pun bisa membunuh.
Sebelum tawa orang itu selesai, pedang bambu itu telah menembus lehernya.
Tapi sekarang, pedang bambu itu malah tampak berkilauan.
Berkilau karena tetes-tetes darah segar!
Sepasang Potlot Sang Hakim, Kait Kembar, Golok Sembilan Cincin, dan lima senjata yang lain menyerbu A Fei dengan tenaga serangan yang hebat.
Sepasang goliong menyambar cepat ke arah pedang bambunya.
Sun Sio-ang merasa agak kuatir.
Ia tahu bahwa pengalaman tempur A Fei kurang baik.
Ia selalu menghadapi musuhnya satu lawan satu.
Sangat jarang ia dikepung dan diserang oleh beberapa orang sekaligus.
Pedangnya memang cukup cepat untuk menghadapi satu lawan, namun apakah cukup cepat juga untuk menghadapi banyak lawan sekaligus?
Sun Sio-ang ingin sekali bergegas ke sana untuk memberikan bantuan.
Namun sebelum ia sempat bergerak, ia telah melihat tiga orang tergeletak di tanah.
Sun Sio-ang bisa bersumpah bahwa ia melihat sepasang golok itu menebas pedang bambu A Fei, tapi entah bagaimana, yang tergeletak di tanah itu bukanlah A Fei.
Hanya si pemegang Potlot Sang Hakim yang mengetahui apa sebabnya.
Jurus menutup jalan darahnya selalu sangat akurat, dan juga bertenaga besar.
Ia yakin sekali, jurusnya akan mengenai tubuh A Fei.
Tapi beberapa saat saja sebelum potlot di tangannya mengenai tubuh A Fei, ia merasa seluruh tenaganya lenyap.
Pedang bambu A Fei telah menembus lehernya.
A Fei hanya lebih cepat sekejap saja daripada dia.
Tapi sekejap itulah yang menentukan.
Akhirnya, Sun Sio-ang pun terjun dalam pertempuran itu.
Tubuhnya menelusup dengan lincah ke sana kemari, bagaikan seekor kupu-kupu yang cantik.
Di antara jago-jago wanita dalam dunia persilatan, banyak yang berilmu tinggi dalam hal meringankan tubuh dan senjata rahasia, karena keduanya tidak memerlukan banyak tenaga.
Sangat jarang ditemukan jago wanita yang ahli dalam hal tenaga dalam dan pukulan telapak tangan.
Sun Sio-ang pun tidak terkecuali.
Senjata rahasianya terbang melesat dengan cepat, namun gerakan tubuhnya lebih cepat lagi.
Posisi langkahnya tidak lazim dan sangat rumit.
Tidak mungkin ada orang yang bisa menangkapnya.
Ia masih yakin bahwa ilmu pedang A Fei hanya bisa digunakan untuk menghadapi satu lawan dan tidak cukup jika digunakan untuk melawan banyak orang.
Cara A Fei memainkan pedangnya memang sangat unik.
Sama sekali berbeda dari ilmu-ilmu pedang dari perguruan besar yang sering kita lihat.
Karena dalam jurusnya tidak ada menebas atau memotong.
Yang ada hanya menusuk.
Hanya menusuk untuk membunuh.
Tapi entah bagaimana, A Fei dapat menusuk ke segala arah, dan ia dapat menusuk dari berbagai posisi.
Tusukannya bisa dimulai dari dadanya, kakinya, bahkan telinganya!
Ia dapat menusuk ke depan, ke belakang, ke kiri, ke kanan.
Tiba-tiba seseorang berguling ke arahnya dari belakang, dan bagaikan badai salju, berbagai macam senjata pisau beterbangan ke arah A Fei.
Golok Penjelajah Bumi!
Ilmu golok ini sungguh sulit dipelajari, namun jika seseorang berhasil menguasainya dengan baik, kekuatannya bukan main-main.
Tapi A Fei seakan-akan mempunya mata di belakang kepalanya.
Dengan lincah ia berkelit dari tombak yang menusuk dari depan dan melontarkan tusukan kuat dari bawah pinggangnya ke belakang, menusuk orang yang menggunakan jurus Golok Penjelajah Bumi itu.
Tepat di lehernya!
Pada saat yang sama, seseorang melompat ke depan dari belakang si pemegang tombak.
Dengan senjata di kedua belah tangannya, ia mengeluarkan jurus ‘Mendorong Gunung Maju ke Depan’ ke arah A Fei.
Jurusnya sangat unik, dan senjatanya lebih unik lagi.
Senjatanya adalah ‘Gada Emas Sayap Burung Hong’.
Senjata ini sangat jarang dijumpai.
Gagangnya dipenuhi oleh duri-duri tajam.
Walaupun gada itu biasanya digunakan untuk memukul, tapi bisa juga digunakan untuk mengangkat dan melukai musuh dengan ujungnya.
Orang yang tidak beruntung, yang terkena serangan senjata ini, pastilah tubuhnya akan terkoyak habis.
Seharusnya A Fei segera melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu.
Tapi jika ia melakukannya, ia akan kehilangan momentum menyerang, dan beberapa senjata yang lain bisa melukainya!
Tapi sudah tentu ia tidak bisa balik menyerang secara langsung.
Gada Emas Sayap Burung Hong dapat merobek-robek tubuhnya dengan mudah.
Ini terlihat jelas bagi siapapun yang menyaksikan.
Tapi pada saat A Fei kelihatannya sudah di ujung tanduk, tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara.
Sun Sio-ang sempat melihatnya dari sudut matanya dan ia memekik tertahan.
Pada saat itulah, pedang A Fei menusuk ke bawah dari kakinya.
Sepasang gada itu pun teracung ke atas.
Bsst!
Ujung pedang bambunya telah tertancap di leher lawannya.
Gada Emas Sayap Burung Hong itu hanya terpaut beberapa inci saja dari dada A Fei.
Namun orang yang memegangnya tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh di lehernya dan ia pun tersungkur ke tanah.
Dengan segenap kekuatannya sekalipun, ia tidak bisa mengacungkan gadanya lebih ke atas sedikit lagi.
Bola matanya seolah-olah akan melompat keluar.
Ia tidak bisa lagi mengendalikan otot-otot di tubuhnya.
Dari pinggang ke bawah, rasanya terasa sangat dingin.
Kakinya lemah lunglai dan ia pun tersungkur ke tanah.
Hanya wajah ketakutannya yang masih terpatri di situ.
Ia tidak bisa percaya ada pedang secepat dan seakurat itu dalam dunia ini!
Tapi kini ia pun tidak mungkin lagi dapat memungkirinya.
Tiba-tiba, keheningan mencekam segala penjuru.
Tidak seorang pun bergerak lagi.
Semuanya terpana memandang kematian Si Gada Emas Sayap Burung Hong yang mengenaskan itu.
Semuanya bisa mencium bau anyir yang keluar dari tubuhnya yang mati.
Beberapa dari mereka mulai bergolak perutnya, serasa ingin muntah.
Tapi mereka bukan ingin muntah karena bau anyir itu.
Mereka muntah karena tercekam rasa takut.
Seolah-olah baru saat itulah mereka tahu betapa mengerikan dan mengenaskannya ‘kematian’ itu.
Bukan karena mereka takut mati.
Hanya saja mati dengan cara seperti itu sungguhlah mengenaskan.
A Fei pun tidak melanjutkan serangannya.
Ia berlalu dari kerumunan orang itu.
Ada sembilan orang yang tersisa, dan pandangan kesembilan pasang mata itu mengikuti langkah A Fei saat ia berlalu dari situ.
Salah seorang dari mereka membungkukkan badannya dan mulai muntah-muntah.
Seorang yang lain menjerit seram.
Seorang yang lain lagi tersungkur ke tanah dan kejang-kejang.
Ada juga yang segera berlari ke kamar kecil.
Bagaimana Sun Sio-ang dapat menahan diri untuk tidak menangis dan tidak ikut muntah-muntah?
Hatinya sungguh dicekam oleh ketakutan yang sangat, juga oleh kesedihan.
Ia tidak bisa mengerti mengapa hidup manusia bisa tiba-tiba menjadi begitu tidak berharga dan rendah.
A Fei terus melangkah maju dengan pedang di tangannya.
Darah masih menetes dari ujungnya.
Pedang ini bukan saja dapat merenggut nyawa manusia, namun juga bisa melucuti harga dirinya.
Pedang yang sangat kejam!
Namun bagaimana dengan si ahli pedang?
Sebuah pintu besar menyambutnya di ujung sana.
Pintu itu tertutup rapat, dan terkunci dari dalam.
Ini adalah kediaman pribadi Siangkoan Kim-hong.
Ia sedang menunggu di dalam.
Demikian pula Li Sun-hoan.
Siangkoan Kim-hong belum keluar.
Artinya Li Sun-hoan belum mati.
Sun Sio-ang penuh dengan rasa suka cita dan ia pun segera menghambur ke depan pintu itu.
Tapi tubuhnya mendadak mengejang!
Pintu itu terbuat dari besi, dan paling tidak tebalnya satu kaki.
Tidak ada seorang pun di seluruh dunia ini yang dapat menjebolnya.
Dan sudah tentu, Siangkoan Kim-hong pun tidak akan begitu saja membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk.
Sun Sio-ang merasa kepalanya berkunang-kunang, seakan-akan ia baru saja melangkah dari tepi jurang ke dalam neraka yang tidak berujung.
Ia tidak sanggup berdiri tegak lagi, dan ia pun tersungkur di depan pintu itu.
Ia pun menangis meraung-raung.
Rencananya sudah gagal.
Seluruh usahanya tidak membuahkan hasil apapun.
Mungkin lebih baik kalau ia sudah gagal di permulaan.
Tapi, ia sudah berhasil sampai sejauh ini dan tiba-tiba saja harapannya putus begitu saja.
Sungguh menyakitkan.
Kekecewaan semacam ini sangat sulit untuk ditanggung.
A Fei yang tadinya berdiri dengan tenang, kini meraung bagaikan binatang buas yang terluka, dan dengan kekuatan penuh ia menyeruduk ke arah pintu besi itu.
Namun ia langsung terpental, lalu tersungkur pula ke tanah.
Dengan cepat ia kembali berdiri dan menusukkan pedangnya dengan sekuat tenaga.
Pedang bambu itu pun patah menjadi dua.
Tidak ada sebilah pedang pun yang dapat menembus pintu besi itu, apalagi sebilah pedang bambu!
Bab 88.
Kemenangan dan Kekalahan Kaki A Fei tertekuk saat ia tersungkur dan tubuhnya mulai mengejang.
Baru ia sadar bahwa mereka tidak punya jalan keluar yang lain lagi.
Perasaan itu membuatnya menjadi setengah linglung.
Namun sudah percuma untuk menangis menggerunggerung sekalipun.
Li Sun-hoan berada di balik pintu besi ini, disiksa perlahan-lahan menantikan kematiannya.
Dan apa yang bisa dilakukan kedua sahabatnya hanyalah menunggu dengan pasrah di luar.
Tapi apakah sebenarnya yang mereka tunggu?
Apakah mereka menunggu Siangkoan Kim-hong membuka pintu itu?
Jika Siangkoan Kim-hong membuka pintu, itu berarti hidup Li Sun-hoan telah berakhir.
Jadi apa yang mereka nantikan?
Mereka sedang menantikan suatu kematian.
Tidak mungkin Siangkoan Kim-hong akan menyayangkan nyawa mereka pula.
Saat Siangkoan Kim-hong keluar dari pintu itu adalah saat mereka menandatangani surat kematian mereka.
Sun Sio-ang berlari ke arah A Fei dan berusaha menarik A Fei bangun.
"Ayo, cepatlah lari,"
Kata Sun Sio-ang.
"Kau…..Kau menyuruh aku lari?"
"Tidak ada lagi yang dapat kau lakukan sekarang, aku….."
Tanya A Fei.
"Bagaimana dengan engkau?"
Sun Sio-ang menggigit bibirnya dan berpikir lama. Lalu ia menunduk dan berkata.
"Situasiku berbeda."
"Berbeda?"
"Aku sudah memutuskan sejak lama bahwa jika ia mati, aku pun tidak akan hidup tanpa dia. Tapi kau….."
Kata A Fei.
"Aku memang tidak bermaksud ikut mati menemani dia."
"Oleh sebab itulah kau harus secepatnya lari."
"Aku pun tidak bermaksud untuk lari."
"Kenapa?"
Jawab A Fei singkat.
"Kau pasti tahu kenapa."
Kata Sun Sio-ang.
"Aku mengerti, kau pasti ingin membalaskan kematiannya. Tapi itu kan tidak harus sekarang. Kau bisa menunggu…."
"Aku tidak bermaksud untuk menunggu."
"Tapi jika kau tidak menunggu, maka…..maka….."
Tanya A Fei.
"Maka apa?"
Bibir Sun Sio-ang mulai berdarah. Serunya lantang.
"Maka kaulah yang akan mati!"
A Fei memandangi bekas noda darah di pedang bambunya. Darah itu sudah kering. Kata Sun Sio-ang.
"Aku tahu, apapun yang akan terjadi, kau akan tetap mencoba. Tapi usahamu akan sia-sia belaka."
Kata A Fei.
"Dan apa gunanya juga kau menunggu di sini untuk mati bersama dengan dia?"
Sun Sio-ang tidak punya jawaban. Kata A Fei lagi.
"Kau menunggu di sini karena kau tahu bahwa ada hal-hal tidak akan berhasil, namun tetap saja harus kau lakukan."
Sun Sio-ang akhirnya mengeluh panjang dan berkata.
"Makin lama perkataanmu semakin mirip dengan perkataannya."
A Fei terdiam dan menganggukkan kepalanya.
Ia mengakuinya.
Tidak mungkin ia menyangkalnya.
Setiap orang yang pernah berteman dengan Li Sun-hoan tidak mungkin tidak terimbas oleh sikapnya yang tidak pernah mementingkan diri sendiri.
Jika ia tidak pernah bertemu dengan Li Sun-hoan, mungkin A Fei telah kehilangan kepercayaan terhadap sesama manusia sejak lama.
‘Jangan percaya kepada siapapun juga, dan jangan pernah menerima kebaikan orang lain; kalau kau tidak menurutinya, hidupmu akan penuh dengan berbagai macam penderitaan.’ Ibu A Fei harus menanggung duka dan derita seumur hidupnya.
Tidak pernah sekalipun A Fei melihat ibunya tersenyum.
Ia telah meninggal dalam usia muda, mungkin karena ia telah putus harapan dalam hidupnya.
‘Aku bersalah kepadamu.
Seharusnya aku menunggu sampai kau dewasa, baru aku meninggalkan dunia ini.
Tapi aku sungguh tidak tahan lagi, aku merasa sangat lelah….
Maafkan aku, aku tidak dapat meninggalkan apaapa untukmu, hanya sedikit pesan ini saja.
Aku harus hidup menderita seumur hidupku untuk mempelajarinya, jadi jangan pernah lupa akan pesanku ini.’ A Fei tidak pernah lupa akan pesan ibunya.
Waktu ia meninggalkan alam bebas dan masuk ke dalam kehidupan bermasyarakat, ia tidak sedang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik.
Sebaliknya, ia ingin membalas dendam terhadap umat manusia, siapa pun juga, atas penderitaan ibunya.
Tapi ironisnya, orang yang pertama ditemuinya adalah Li Sun-hoan.
Li Sun-hoan telah membuatnya sadar bahwa hidup itu tidak melulu penderitaan dan duka nestapa.
Li Sun-hoan membuatnya sadar bahwa kematian bukanlah suatu hal yang buruk dan mengerikan, seperti yang dulu dipikirnya.
Ia telah belajar begitu banyak dari Li Sun-hoan.
Awalnya ia sungguh yakin bahwa moralitas dan keluhuran budi itu tidak ada dalam dunia nyata.
Tapi Li Sun-hoan telah menyentuh hidupnya begitu rupa, bahkan lebih daripada ibunya sendiri.
Karena yang didengungkan Li Sun-hoan adalah ‘cinta’, bukan ‘benci’.
Cinta memang selalu lebih mudah diterima daripada benci.
Namun kini, begitu sulitnya A Fei memadamkan api kebencian yang sedang berkobar dalam hatinya.
Kobaran kebencian ini mendorongnya untuk menghancurkan.
Menghancurkan orang lain, menghancurkan diri sendiri, menghancurkan segala sesuatu.
Ia sungguh merasa bahwa hidup itu sama sekali tidak adil.
Bahwa orang seperti Li Sun-hoan harus berakhir seperti ini.
Sun Sio-ang menghela nafas dengan berat.
Katanya.
"Jika Siangkoan Kim-hong tahu kita berdiri di sini menantikan dia, ia pasti sangat berbahagia."
A Fei mengertakkan giginya dan berteriak.
"Biar saja dia berbahagia! Hanya orang baik saja yang selalu menderita. Kebahagiaan hanya dianugerahkan kepada orang-orang jahat!"
Tiba-tiba terdengar suara berseru.
"Kau salah besar!"
Walaupun pintu besi itu begitu berat, ternyata saat pintu itu dibuka, tidak kedengaran derit sedikit pun.
Oleh sebab itulah, mereka berdua tidak menyadari bahwa pintu itu telah dibuka.
Seseorang melangkah perlahan keluar dari sana…..dan ia adalah Li Sun-hoan!
Ia kelihatan lelah dan letih, namun ia hidup.
Yang terpenting adalah ia hidup!
A Fei dan Sun Sio-ang menoleh dan menatapnya dengan mulut ternganga.
Air mata langsung mengalir membasahi wajah mereka.
Air mata bahagia.
Dalam kegembiraan dan kesedihan, selain air mata, tidak ada lagi yang perlu dilakukan, tidak ada lagi yang perlu diucapkan.
Tidak seorang pun bergerak.
Mata Li Sun-hoan pun telah terasa panas dan basah oleh air mata.
Dengan tersenyum ia berkata.
"Kau salah besar. Orang yang baik tidak akan menderita dalam keputusasaan. Dan penderitaan yang dialami orang yang jahat akan jauh lebih besar daripada kebahagiaannya."
Sun Sio-ang memburu ke arahnya dan jatuh ke dalam pelukan Li Sun-hoan.
Ia menangis tersedu-sedu.
Ia tidak bisa berhenti menangis saking bahagianya.
Setelah beberapa saat, akhirnya A Fei mendesah dan tidak dapat membendung pertanyaannya.
"Di manakah Siangkoan Kim-hong?"
Li Sun-hoan membelai rambut Sun Sio-ang dengan lembut sambil menjawab.
"Ia pasti menderita sekarang, karena ia telah membuat satu kesalahan."
"Kesalahan apa yang diperbuatnya?"
"Sesungguhnya ia punya begitu banyak kesempatan untuk membunuhku. Ia bisa memojokkanku sampai aku tidak bisa lagi mempertahankan diri. Tapi ia tidak menggunakan kesempatan itu."
Bagi seseorang seperti Siangkoan Kim-hong, mengapa ia sengaja melepaskan kesempatan sebaik itu? Sun Sio-ang pun ikut bertanya.
"Kenapa bisa begitu?"
Li Sun-hoan tersenyum dan berkata.
"Karena ia ingin berjudi."
Mata Sun Sio-ang berkilat dan ia berkata.
"Ia pasti tidak percaya akan perkataan ‘Pisau Terbang Li Kecil, sekali sambit tidak pernah luput’!"
"Ia tidak percaya ….. ia tidak percaya pada siapapun juga. Tidak ada satu pun dalam dunia ini yang dipercayainya,"
Kata Li Sun-hoan. Tanya Sun Sio-ang.
"Dan bagaimana jadinya?"
"Jadinya, ia sudah kalah!"
Ia sudah kalah!
Tiga kata yang sederhana.
Kemenangan dan kekalahan ditentukan dalam sekejap saja.
Tapi betapa menegangkannya, betapa menakjubkannya satu kejap itu!
Satu kilatan cahaya itu pasti begitu mengerikan.
Namun juga begitu mempesona.
Satu-satunya kekecewaan Sun Sio-ang adalah bahwa ia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi dalam satu kejap itu.
Ia tidak perlu melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Hanya memikirkannya saja, membuat jantungnya berdegup kencang!
Meteor pun begitu indah dan menawan.
Meteor meluncur membelah langit malam dengan cahayanya yang terang berkilat, membuat siapapun yang melihatnya pasti tergugah hatinya.
Tapi meteor tidak dapat dibandingkan dengan kilatan sinar sebilah pedang.
Cahaya meteor tidak hidup lama.
Namun kegemilangan sebilah pedang akan bercahaya selama-lamanya!
Pintu itu telah terbuka.
Tidak ada yang bisa memisahkan dunia ini lagi.
Jika seseorang ingin mengasingkan diri dari dunia, ia pasti telah terlebih dulu ditolak oleh dunia ini!
A Fei melangkah masuk ke dalam.
Yang pertama terlihat olehnya adalah pisau itu, pisau yang penuh misteri.
Pisau Terbang Li Kecil!
Pisau itu tidak menembus leher Siangkoan Kim-hong, namun cukup untuk mengambil nyawanya.
Pisau itu masuk tepat di pangkal lehernya, menembus tulang bahunya, dan mengarah ke atas.
Pisau itu pasti dilepaskan dari tempat yang sangat rendah.
Wajah Siangkoan Kim-hong kelihatan ketakutan dan tidak percaya.
Sama seperti ekspresi sebagian besar orang yang dibunuh Li Sun-hoan sebelum dia.
Semua kehidupan diciptakan sama.
Terutama di hadapan kematian, kita semua sama.
Tapi sayang, banyak orang menyadarinya setelah hasil akhir ditentukan.
Wajah Siangkoan Kim-hong penuh dengan rasa terkejut, ragu, dan tidak percaya.
Ia sama seperti yang lain, ia tidak percaya ada pisau yang begitu cepat.
Bahkan A Fei pun sulit percaya.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Li Sun-hoan menyambitkan pisau itu.
Ia ingin sekali Li Sun-hoan menceritakan segala sesuatu dengan detil, tapi ia tahu bahwa Li Sun-hoan tidak akan melakukannya.
Kegemilangan cahaya dalam satu kejap itu.
Kecepatan sambitan pisaunya.
Keduanya tidak dapat diterangkan dengan kata-kata.
‘Ia sudah kalah!’ Tangan Siangkoan Kim-hong masih terkepal erat, seolaholah sedang berpegangan pada sesuatu.
Apakah ia masih tidak mau percaya akan apa yang terjadi sampai akhirnya?
A Fei tiba-tiba merasa muram, seakan-akan ia bersimpati pada orang ini.
Ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa begitu.
Mungkin ia bukan bersimpati pada Siangkoan Kim-hong, melainkan pada dirinya sendiri.
Karena ia adalah manusia, dan Siangkoan Kim-hong pun adalah manusia.
Semua manusia memiliki rasa sedih dan penderitaan yang serupa.
Walaupun bukan ia yang kalah, apakah yang ia pegang erat-erat?
Apakah yang sesungguhnya telah didapatkannya?
A Fei terpekur sekian lama, lalu menolehkan kepalanya.
Yang ditemukannya adalah Hing Bu-bing.
Seolah-olah Hing Bu-bing tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ.
Walaupun selama itu ia berdiri tepat di belakang A Fei, seakan-akan ia sedang berdiri di dunia lain.
Walaupun matanya menatap lurus pada Siangkoan Kimhong, sebenarnya ia sedang menatap dirinya sendiri.
Hidup Siangkoan Kim-hong adalah hidupnya.
Ia adalah bayangan Siangkoan Kim-hong.
Ketika hidup sudah musnah, bagaimana mungkin bayangannya bisa tetap ada?
Kapan pun dan di mana pun, setiap kali Hing Bu-bing berdiri di dekatnya, orang akan merasakan aura membunuh melingkupi dirinya.
Tapi sekarang, aura itu sudah hilang lenyap.
Ketika A Fei masuk ke dalam situ, ia bahkan tidak menyadari ada jiwa lain di sana.
Walaupun Hing Bu-bing masih hidup, yang tinggal hanyalah tubuhnya yang hampa.
Ia bagaikan sebilah pedang yang telah kehilangan ketajamannya.
Sama sekali tidak ada fungsinya lagi.
A Fei mengeluh panjang dalam hatinya.
Ia sungguh mengerti perasaan Hing Bu-bing.
Karena ia pun pernah mengalami perasaan yang sama.
Setelah beberapa lama, Hing Bu-bing berjalan menuju mayat Siangkoan Kim-hong dan mengangkatnya dengan kedua tangannya.
Ia masih belum melihat ada orang lain di situ.
Dengan perlahan, ia berjalan menuju ke pintu.
Tanya A Fei.
"Kau tidak ingin membalas dendam?"
Hing Bu-bing tidak menoleh. Kecepatan langkahnya pun tidak berubah. A Fei tertawa dingin.
"Kau takut ya?"
Hing Bu-bing tiba-tiba berhenti. Kata A Fei.
"Masih ada pedang di pinggangmu. Mengapa kau takut untuk menghunusnya? Kecuali pedang itu hanya untuk pajangan saja."
Hing Bu-bing memutar badannya.
Mayat itu jatuh ke tanah dan pedang pun melayang keluar dari pinggangnya.
Pedang itu berkelebat maju, menyerang langsung ke arah leher A Fei!
Ia memang sangat cepat, secepat biasanya.
Tapi entah bagaimana, ketika pedang itu sudah sampai setengah kaki dari targetnya, pedang bambu A Fei telah tiba di lehernya!
A Fei telah membuat tiga pedang bambu.
Ini adalah yang kedua.
Ia memandang Hing Bu-bing dan berkata perlahan.
"Kau memang luar biasa cepat, namun kau tidak bisa lagi membunuh. Tahukah kau kenapa?"
Hing Bu-bing menurunkan pedangnya.
"Karena keinginanmu untuk mati lebih besar daripada musuhmu. Itulah sebabnya kau tidak bisa lagi membunuh."
Mata Hing Bu-bing yang biasanya mati, mendadak bercahaya, penuh kesedihan. Setelah lama memandang A Fei, akhirnya ia menjawab singkat.
"Ya."
Kata A Fei.
"Aku bisa membunuhmu."
"Ya."
"Tapi aku tidak akan membunuhmu."
"Kau tidak akan membunuhku?"
Tanya Hing Bu-bing kaget.
"Aku tidak akan membunuhmu karena engkau adalah Hing Bu-bing!"
Otot-otot wajah Hing Bu-bing bergerak-gerak.
Ini adalah perkataan yang tepat sama, yang diucapkannya kepada A Fei saat pertama kali mereka bertempur.
Namun hari ini, perkataannya telah berbalik menjadi perkataan A Fei.
Ia memikirkan perkataan ini dengan murka.
Seolah-olah api telah berkobar di matanya, bagaikan seonggok abu yang tiba-tiba tersulut lagi.
A Fei memandangnya dan berkata.
"Kau boleh pergi sekarang."
"Pergi…..?"
"Kau pernah memberikan kesempatan kedua kepadaku. Kini aku pun memberikan kesempatan kedua kepadamu….kesempatan yang terakhir."
Ia memandangi punggung Hing Bu-bing yang melangkah keluar.
Perasaan yang aneh bergelora dalam hatinya.
‘Gigi balas gigi, darah balas darah.’ Apa yang dulu diberikan Hing Bu-bing kepadanya, kini telah dibayarnya lunas.
Ketika hati manusia sudah mati, hanya dua hal yang bisa membuat orang itu terus hidup.
Yang satu adalah cinta, yang lain adalah benci.
A Fei bisa terus hidup karena cinta.
Dan kini ia ingin memperpanjang hidup Hing Bu-bing oleh kebencian.
Tapi sungguh, ia hanya ingin Hing Bu-bing terus hidup.
Jika ini adalah balas dendam, ini adalah cara membalas dendam yang tidak mementingkan diri sendiri.
Kalau semua balas dendam dilakukan dengan cara ini, sejarah umat manusia akan jauh lebih cerah.
Dan tidak dapat diragukan bahwa kehidupan umat manusia akan berlanjut untuk selama-lamanya.
Dalam bentuk apapun, balas dendam itu selalu memuaskan hati.
Namun apakah saat ini A Fei sungguh bergembira?
Ia hanya merasa lelah, sangat sangat lelah…..dan pedang di tangannya pun terlepas, jatuh ke tanah.
Selama itu Sun Sio-ang hanya memandangnya dari jauh.
Baru saat itu, ia berani menghela nafas lega.
‘Amat mudah membunuh seseorang.
Yang teramat sulit adalah meyakinkan seseorang untuk mau terus hidup.’ Ini adalah perkataan Li Sun-hoan.
Siapapun dia, apapun situasinya, metode yang digunakannya selalu sama, yaitu dengan cinta kasih, bukan kebencian.
Karena Li Sun-hoan tahu, kebencian hanya akan membawa kehancuran.
Namun kekuatan cinta dapat memberikan hidup yang kekal.
Cintanya hanya akan bertambah lebar seiring dengan waktu.
Kepribadiannya akan selalu mengutamakan sesama manusia, untuk selama-lamanya.
Sun Sio-ang baru menyadari bahwa A Fei telah berubah menjadi sama seperti Li Sun-hoan.
Ia tidak tahan dan melirik ke arah Li Sun-hoan.
Li Sun-hoan tampak begitu letih dan lelah, sampaisampai tidak bisa lagi berbicara.
Sun Sio-ang menatapnya sampai lama, baru akhirnya tersenyum dan berkata.
"Kalian berdua baru saja mengalahkan dua pesilat yang paling tangguh di seluruh dunia. Dua kekuatan gabungan yang terbesar baru saja kalian hancurkan. Kalian berdua seharusnya bergembira, tapi tidak kulihat secercah pun cahaya kebahagiaan di wajah kalian. Seolah-olah kalian berdualah yang baru saja kalah."
Bab 89. Penutup Li Sun-hoan terdiam beberapa saat. Lalu ia mendesah dan berkata perlahan.
"Ketika seseorang menang, ia selalu merasa sangat kelelahan dan kesepian."
"Kenapa?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Karena ia telah berhasil, ia telah mencapai tujuannya. Tidak akan ada lagi yang diharapkannya, yang dinantinantikannya. Tapi orang yang menderita kekalahan justru akan semakin terpacu untuk berusaha lebih giat lagi."
Sun Sio-ang kembali menggigit bibirnya dan berkata.
"Jadi ternyata, kemenangan pun tidak terasa manis."
Li Sun-hoan terdiam. Lalu ia menyahut sambil tersenyum.
"Walaupun rasa kemenangan pun sulit ditanggung, itu masih lebih ringan daripada rasa kekalahan."
Keberhasilan dan kemenangan tidak akan memberikan kepuasan, tidak juga membawa kebahagiaan.
Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih saat menjalani perjuangan yang kau alami seumur hidupmu.
Jika kau sempat menikmati kebahagiaan seperti itu, hidupmu sungguh tidak sia-sia.
Paviliun adalah tempat orang bertemu untuk mengucapkan salam perpisahan.
Perpisahan memang selalu membawa perasaan yang mengharu-biru.
Oleh sebab itu, hanya dengan mengucapkan kata ‘paviliun’, kesedihan pun sudah bisa terasa.
Hujan telah berhenti.
Rerumputan basah dan kelihatan kacau.
Di luar paviliun, dekat jalan raya, sepasang muda-mudi sedang mengucapkan salam perpisahan mereka.
Seorang pemuda yang bersemangat dan seorang gadis yang penuh gairah.
Tampak jelas, bahwa mereka sedang dimabuk cinta.
Ia seharusnya tetap tinggal dan menikmati kegembiraan masa mudanya.
Mengapa ia berkeras ingin pergi?
Terlihat pedang di sisinya.
Namun pedang setajam apapun tidak dapat memisahkan cinta masa muda dan mimpi-mimpinya.
Mata pemuda itu terlihat merah, sepertinya ia habis menangis.
"Kau telah menemaniku sejauh ini. Sudahlah, kau pulang saja."
Si gadis menundukkan kepalanya dan bertanya.
"Kapankah engkau akan kembali?"
"Aku belum tahu. Mungkin setahun, dua tahun,….."
Air mata si gadis kembali mengalir membasahi pipinya. Ia berkata.
"Mengapa kau harus membuatku menunggu begitu lama? Mengapa kau harus pergi?"
Si pemuda menegakkan tubuhnya dan menjawab.
"Aku telah mengatakannya kepadamu. Aku ingin menemukan mereka, dan mengalahkan mereka satu per satu!"
Pandangan mata si pemuda menuju ke kejauhan. Cahaya terang terpancar dari matanya. Lanjutnya.
"Orang-orang yang tercantum dalam Kitab Persenjataan. Siangkoan Kim-hong, Li Sun-hoan, Guo Song Yang, Lu Feng Xian….. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku lebih hebat daripada mereka semua. Dan setelah itu….."
Potong si gadis.
"Dan setelah itu apa? Kita sudah begitu berbahagia sekarang. Setelah kau kalahkan mereka semua, apakah kita akan lebih berbahagia?"
Jawab si pemuda.
"Mungkin juga tidak. Tapi, ini harus kulakukan!"
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa menyia-nyiakan setengah hidupku tanpa arti seperti ini. Aku ingin membuat nama bagi diriku sendiri. Aku ingin terkenal seperti Siangkoan Kimhong dan Li Sun-hoan. Dan aku yakin, aku pasti berhasil!"
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia sungguhsungguh sudah bertekad bulat.
Si gadis memandang kepadanya dengan tatapan kagum.
Matanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan.
Akhirnya ia mendesah dan berkata dengan lembut.
"Aku pun yakin bahwa kau akan berhasil. Sampai kapan pun kau pergi, aku akan menunggumu di sini dengan setia."
Hati mereka penuh dengan kesedihan karena akan berpisah, namun juga penuh dengan harapan akan kebahagiaan yang akan datang.
Tentu saja kedua orang itu tidak akan menyadari kehadiran orang lain.
Dari balik hutan, ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka.
Ketika si pemuda mulai melangkah menapaki jalan raya yang panjang di hadapannya, Sun Sio-ang menghela nafas dan berkata.
"Kalau saja dia tahu nasib seperti apa yang dialami Siangkoan Kim-hong, mungkin ia tidak akan begitu mudah meninggalkan kekasih hatinya…."
Apa yang terjadi setelah seseorang membuat nama untuk dirinya sendiri? Sun Sio-ang memandang Li Sun-hoan dengan mata penuh air mata. Lanjutnya.
"Ia ingin menjadi terkenal seperti engkau, tapi kau…..apakah kau memang lebih berbahagia daripada dia? Kurasa…..Kurasa jika kau berada di tempatnya, kau tidak akan berbuat seperti itu."
Mata Li Sun-hoan masih terpaku pada sosok si pemuda yang berjalan semakin jauh, dan akhirnya hilang dari pandangan. Jawabnya.
"Jika aku ada di tempatnya, aku pun akan berbuat seperti itu."
"Kau……"
"Manusia harus selalu memiliki tujuan dan ambisi. Dan terkadang, kita harus berani meninggalkan segala sesuatu demi meraih cita-cita itu. Apapun hasilnya, apakah itu keberhasilan atau kegagalan, itu tidaklah penting."
Senyum kepuasan tergambar di sudut bibir Li Sun-hoan. Matanya pun cerah dan bercahaya. Lanjutnya.
"Ada orang yang akan menganggap itu sangat bodoh, namun tanpa pikiran seperti itu, apa jadinya dunia kita ini?"
Kini mata Sun Sio-ang pun penuh kelembutan dan kekaguman, sama seperti mata si gadis tadi.
Ia, seperti si gadis di paviliun itu, sangat bangga akan kekasihnya.
A Fei yang sejak tadi berdiri agak jauh, perlahan-lahan berjalan mendekati mereka.
Namun Sun Sio-ang masih menggenggam tangan Li Sunhoan erat-erat, tidak ingin dilepaskannya.
Ia tidak merasa malu.
Ia tidak menganggap bahwa rasa cintanya terhadap Li Sun-hoan harus disembunyikan.
Kalau bisa, ia bahkan ingin menyerukan pada seluruh dunia betapa ia mencintai Li Sun-hoan.
Kata A Fei.
"Kelihatannya ia tidak akan datang."
Mereka berencana untuk bertemu dengan Lim Si-im di situ.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi di antara Lim Si-im dan Liong Siau-hun.
Sama seperti si pemuda tadi, tidak tahu apa yang telah terjadi pada Siangkoan Kim-hong.
Ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui.
Ketika ia berpikir tentang Lim Si-im, tanpa terasa genggaman tangan Sun Sio-ang pada Li Sun-hoan mengendur.
Tapi dengan segera ia kembali menggenggamnya kuatkuat, bahkan lebih dari sebelumnya.
Katanya.
"Ia telah berjanji untuk bertemu denganku di sini. Aku yakin, ia pasti akan datang."
"Ia tidak akan datang!"
Kata A Fei.
"Kenapa?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Karena ia tahu bahwa tidak ada gunanya ia datang kemari."
Sun Sio-anglah yang bertanya, tapi waktu A Fei menjawab, matanya terarah kepada Li Sun-hoan.
Li Sun-hoan pun tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Sun Sio-ang.
Dulu, setiap kali ia mendengar orang menyebut nama Lim Si-im, ia akan merasa sedih dan tertekan.
Seolaholah seluruh tubuhnya dikunci dengan belenggu.
Ia selalu menanggung beban kesedihan ini di punggungnya.
Namun kini, kesedihan itu tidak lagi seberat sebelumnya.
Apakah yang telah membebaskannya?
Perasaannya terhadap Lim Si-im telah terpupuk begitu lama.
Tentu saja perasaan itu menjadi teramat dalam.
Tapi, walaupun ia baru mengenal Sun Sio-ang sebentar saja, mereka berdua telah mengalami kesukaran yang paling berat bersama-sama.
Mereka telah melalui lautan api hidup dan mati.
Oleh sebab itukah, perasaan mereka menjadi lebih dalam?
Saat itu, Lim Si-im telah lama pergi.
A Fei benar – ia tidak datang, karena ia tidak perlu datang.
Liong Siau-hun muda (Liong Siau-in) pun pernah menanyakan pada ibunya.
"Mengapa kau tidak memperbolehkan aku menemuinya sekali lagi saja?"
Lim Si-im balas bertanya.
"Untuk apa kau menemuinya?"
"Aku hanya ingin ia tahu, mengapa ayah sampai mati,"
Kata Liong Siau-hun muda (Liong Siau-in) sambil mengertakkan giginya.
Apapun yang telah diperbuat Liong Siau-hun di masa lalu, ia telah membasuhnya bersih dengan darahnya sendiri.
Sebagai seorang anak, ia pasti ingin seluruh dunia mengetahuinya.
Tapi Lim Si-im tidak berpikir demikian.
Katanya.
"Ia melakukan apa yang dilakukannya, hanya karena ia merasa itulah yang harus dilakukan. Bukan karena ia ingin memohon pengampunan orang lain, juga bukan karena ingin seluruh dunia mengetahuinya."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi.
"Bukan saja ia telah melunasi hutang-hutangnya, ia pun telah melunasi hutang-hutang kita. Selama kita hidup berbahagia, aku yakin ayahmua akan bisa beristirahat dengan tenang."
Lim Si-im pun tidak ingin berjumpa dengan Li Sun-hoan, karena ia tahu bahwa perjumpaan itu hanya akan membawa kesedihan belaka.
Mereka pun tidak berusaha mencari mayat Liong Siauhun, karena mereka tahu bahwa Kim Ci-pang (Partai Uang Emas) selalu membuang mayat orang yang mereka bunuh dengan cepat dan efisien.
Dan jika mereka memaksa mencari, yang akan mereka dapatkan hanyalah kesedihan.
Hal ini pun dipahami oleh Sun Sio-ang.
Mayat kakeknya pun tidak akan pernah ditemukan.
Ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak bisa dikendalikan.
Siapapun tidak dapat mengendalikannya.
Walaupun hal-hal ini sulit diterima, kita hanya dapat mencari jalan untuk melaluinya, dan hidup terbebas dari belenggunya.
Mereka telah bertekad bulat untuk terus hidup!
Karena kematian bukanlah solusi permasalahan mereka – kematian bukanlah solusi permasalahan apapun juga.
Ada sekelompok orang lain yang sedang mengucapkan salam perpisahan di paviliun itu.
Kali ini, A Feilah yang mengucapkan salam perpisahan.
Ia berkata bahwa ia ingin bertualang pergi ke lautan luas, mencari rempah-rempah yang dapat membuat manusia hidup selama-lamanya dan mencari dewa umur panjang.
Tentu saja ia berbohong, namun Li Sun-hoan tidak berusaha mencegahnya pergi.
Karena asal-usul A Fei pun merupakan suatu misteri.
Ia tidak suka membicarakannya, bahkan dengan Li Sunhoan sekalipun.
Namun setiap kali Li Sun-hoan menyebut nama Shen Lang, Xiong Mao Er, Wang LianHua, Zhu QiQi, dan para pendekar lain dari generasi sebelumnya, wajah A Fei selalu berseri-seri dengan suatu ekspresi yang aneh.
Apakah ada hubungan antara A Fei dengan para pendekar di masa lalu itu?
Apakah itulah sebabnya ia memutuskan untuk bertualang di lautan lepas?
Li Sun-hoan tidak berusaha menanyakannya.
Karena ia tahu bahwa masa lalu seseorang tidaklah penting.
Manusia bukanlah anjing, bukan juga kuda.
Silsilah keturunan bukanlah hal yang penting sama sekali.
Kita ingin menjadi orang seperti apa, itu semua ada di tangan kita masing-masing.
Itulah yang terpenting dan terutama.
Ketika sahabat berpisah, biasanya ada ucapan-ucapan selamat, juga ada banyak kesedihan dan emosi.
Tapi di antara Li Sun-hoan dan A Fei, yang ada hanyalah ucapan selamat, tidak ada kesedihan sama sekali.
Karena yang satu tahu pasti bahwa yang lain akan hidup berbahagia.
Bahwa akan ada banyak kesempatan untuk bertemu kembali di kemudian hari.
Terutama ketika A Fei melihat tangan Li Sun-hoan, hatinya menjadi tenteram.
Tangan Li Sun-hoan masih menggenggam erat tangan Sun Sio-ang.
Tangan itu telah memegang pisau terlalu lama.
Telah memegang cawan anggur terlalu lalu lama.
Pisau itu terlalu kejam dan cawan anggur terlalu dingin.
Tangan itu pantas untuk merasakan kehangatan mulai sekarang.
Adakah dalam dunia ini yang lebih hangat daripada tangan kekasih hatimu?
A Fei tahu bahwa Sun Sio-ang akan menghargai tangan itu, lebih daripada orang lain.
Walaupun tangan itu masih penuh dengan luka-luka pertempuran panjang di masa lalu, dengan berjalannya waktu ia pasti dapat pulih kembali.
Tentang dirinya sendiri, tentu saja ia pun mempunyai luka-luka lama.
Tapi ia tidak ingin membicarakannya lagi.
‘Masa lalu sudah berlalu……’ Perkataan ini sepertinya sangat sederhana, tapi orang yang mampu melakukannya sungguh teramat sedikit.
Namun Li Sun-hoan dan A Fei, mereka berdua telah berhasil lepas dari masa lalu mereka masing-masing.
Tiba-tiba A Fei berkata.
"Aku akan kembali tiga tahun lagi."
Ia memandang tangan mereka berdua yang masih bertaut dan tersenyum.
"Waktu aku kembali, sebaiknya kau segera mentraktirku minum arak."
Sahut Li Sun-hoan.
"Itu sudah pasti, tapi tiga tahun adalah waktu yang sangat lama."
"Namun arak yang ingin kuminum itu arak yang spesial. Aku tidak tahu apakah kalian berdua bersedia menjamuku dengan arak itu."
Tanya Sun Sio-ang.
"Arak apa sih yang kau inginkan?"
"Tentu saja arak pernikahan kalian,"
Jawab A Fei sambil tersenyum lebar.
Arak pernikahan.
Tentu saja arak pernikahan.
Karena arak pernikahan memang membutuhkan tiga tahun lamanya.
Tiga tahun untuk berduka atas kematian kakeknya.
Wajah Sun Sio-ang langsung bersemu merah.
Kata A Fei.
"Aku telah mencicipi berbagai macam arak, kecuali yang satu ini. Kuharap kalian berdua tidak mengecewakan aku."
Semakin merah wajah Sun Sio-ang dibuatnya.
Ia menundukkan kepala, namun mencuri-curi pandang pada Li Sun-hoan.
Ekspresi wajah Li Sun-hoan pun tampak aneh.
Kata ‘arak pernikahan’ sama sekali tidak disangkanya.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata.
"Aku telah mengundang orang minum berbagai macam arak, namun aku belum pernah mengundang orang untuk minum arak pernikahan. Kau tahu sebabnya?"
Tentu saja A Fei tahu jawabannya, namun Li Sun-hoan tidak menginginkan dia menjawabnya. Jadi Li Sun-hoanlah yang menjawab sendiri pertanyaannya.
"Arak pernikahan itu terlalu mahal."
"Terlalu mahal?"
Tanya A Fei heran. Li Sun-hoan tersenyum dan berkata.
"Ketika seorang pria menjamu orang lain dengan arak pernikahannya, itu berarti ia mengakui ia bersedia membayar hutanghutangnya sedikit demi sedikit seumur hidupnya. Sayangnya, aku bukan orang yang suka mengecewakan sahabat-sahabatnya."
Sun Sio-ang memekik dan menghambur ke pelukan Li Sun-hoan.
A Fei pun tertawa.
Ia sudah tidak tertawa seperti ini begitu lama.
Dengan satu tawa itu, tiba-tiba ia merasa bertambah muda.
Semangat dan rasa percaya dirinya meluap-luap.
Harapan dan cita-citanya pun bertunas kembali.
Bahkan sepotong kayu kering pun tampak begitu hidup di matanya.
Karena ia tahu bahwa dari kayu lapuk itu akan muncul kehidupan yang baru.
Tidak berapa lama lagi tunas-tunas pohon baru akan bermunculan di sana.
Ia tidak menyangka begitu besarnya pengaruh ‘tawa’ itu.
Ia tidak hanya mengagumi Li Sun-hoan, ia pun sangat berterima kasih kepadanya.
Karena tidak mudah bagi seseorang untuk melepaskan tawa yang sudah terpendam begitu lama.
Tapi jika seseorang bisa membangkitkan tawa orang lain, itu lebih berharga lagi.
‘Menambahkan kaki pada gambar ular’ adalah suatu tindakan yang tidak perlu, juga suatu tindakan yang tolol.
Namun sudah ada begitu banyak ketidakpuasan dalam dunia ini.
Mengapa kita tidak membantu menguranginya dengan sedikit tawa?
Tawa adalah seperti minyak wangi.
Tidak hanya membuat diri sendiri menjadi lebih baik, namun juga membuat orang lain bergembira.
Apa salahnya bersikap sedikit tolol, kalau itu bisa membawa tawa bagi orang lain?
TAMAT
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 14
Baca Juga: Medali Wasiat 2