Eps 10 Pisau Terbang Li - Gu Long
Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long
Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.
Warna kuning yang membawa hawa kematian.
Warna kuning yang membawa rasa kelayuan dan kengerian.
Surat itu hanya terdiri dari 17 kata.
Singkat dan sederhana.
Sama seperti cara Siangkoan Kim-hong membunuh.
Tidak pernah banyak gaya.
Surat itu diantarkan oleh seorang pegawai penginapan.
Setelah membacanya, tangannya terus gemetaran.
Sun Sio-ang menyambar surat itu dan membacanya.
Rasa dingin mencekam merembes dari tulang punggungnya naik sampai ke bahu dan turun ke tangannya.
Ujung-ujung jarinya tiba-tiba terasa kaku kedinginan.
Besok…harinya adalah besok….
"Menurut kalender, besok bukanlah hari baik. Ada banyak hal yang salah,"
Gumam Sun Sio-ang. Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Mengapa harus cari hari baik untuk membunuh?"
Tatapan Sun Sio-ang tajam menusuk Li Sun-Hoan. Sampai sekian lama, lalu ia pun bertanya dengan lantang.
"Bisakah kau membunuhnya?"
Mulut Li Sun-Hoan terkatup rapat.
Senyum di bibirnya sedikit demi sedikit lenyap.
Tiba-tiba Sun Sio-ang bangkit berdiri dan keluar dari kamar itu.
Li Sun-Hoan tidak dapat menerka apa yang akan diperbuatnya.
Gadis itu segera kembali berlari masuk dengan kuas, tinta, dan kertas di tangannya.
Kuas yang bergagang mengkilap dan kertas berkualitas tinggi.
Ia tidak memandang Li Sun-Hoan saat berkata.
"Kau bicara, aku menulis."
Li Sun-Hoan terhenyak.
"Apa yang kau ingin aku katakan?"
"Apakah kau punya keinginan yang belum kesampaian? Atau masalah yang belum selesai?"
Suaranya sangat tenang, namun kuas di tangannya terlihat gemetar. Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Apakah kau mau aku mengatakannya sekarang? Aku kan belum mati."
"Setelah kau mati, kau tidak bisa mengatakannya lagi padaku,"
Jawab Sun Sio-ang datar.
Selama itu, kepalanya terus menunduk.
Matanya tertuju pada kuas di tangannya.
Namun ia tidak dapat mengabaikan tatapan mata Li Sun-Hoan.
Mata gadis itu mulai basah.
Ia menggigit bibirnya kuatkuat dan berkata.
"Kau boleh bilang apa saja. A Fei, contohnya. Adakah yang kau ingin aku katakan kepadanya? Atau adakah yang kau ingin aku perbuat baginya?"
Rasa pedih terbayang jelas dalam mata Li Sun-Hoan. Ia menghela nafas dan berkata.
"Tidak ada."
"Tidak ada? Sama sekali tidak ada?"
"Aku bisa saja menasihatinya untuk tidak membunuh seseorang, tapi bagaimana aku dapat membujuknya untuk tidak mencintai seseorang?"
"Bagaimana jika ada orang yang ingin membunuhnya?"
Tanya Sun Sio-ang. Li Sun-Hoan tertawa pahit.
"Sekarang ini, siapa yang ingin membunuhnya?"
"Siangkoan Kim-hong….."
"Jika Siangkoan Kim-hong telah membiarkan ia pergi. Tidak mungkin tiba-tiba saja ia mau membunuhnya sekarang. Kalau memang Siangkoan Kim-hong ingin membunuhnya, ia pasti sudah mati sejak lama."
"Bagaimana di kemudian hari?"
Desak Sun Sio-ang. Li Sun-Hoan memandang ke luar jendela, ke kejauhan, dan berkata perlahan.
"Saatnya bangun tetap akan tiba, setelah mimpi yang paling panjang sekalipun. Jika saat itu tiba, ia akan mengerti segala sesuatu. Apapun yang kukatakan padanya saat ia masih tidur, tidak akan ada gunanya."
Sun Sio-ang terdiam cukup lama, lalu berkata.
"Bagaimana dengan dia?"
Seakan-akan Sun Sio-ang harus mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengatakan kalimat itu.
Tentu saja Li Sun-Hoan tahu siapa yang dimaksudkannya.
Rasa pedih di matanya terlihat semakin dalam.
Tiba-tiba ia berjalan ke arah jendela dan membukanya.
Sun Sio-ang, dengan kepala tetap tertunduk, berkata lirih.
"Jika kau….kau ada pesan untuknya, apa saja….."
Li Sun-Hoan memotongnya cepat.
"Tidak ada. Sama sekali tidak ada."
"Tapi kau….."
Kata Li Sun-Hoan.
"Selama ia hidup, akan ada orang yang menjaganya. Saat ia meninggal, akan ada orang yang mengurus penguburannya. Ia tidak memerlukan aku. Kematianku hanya akan membawa kelegaan baginya."
Suaranya tenang, namun ia tidak memaLingkan wajahnya.
Ia terus memandang ke luar.
Mengapa ia takut untuk menoleh?
Sun Sio-ang memandang tubuhnya yang kurus dari belakang.
Setetes air mata jatuh ke atas kertas kosong itu.
Tanpa suara ia menyeka air matanya dan berkata.
"Tapi pasti ada yang hendak kau katakan. Mengapa kau tidak mau memberitahukannya kepadaku?"
Li Sun-Hoan balik bertanya.
"Mengapa kau begitu ingin aku bicara?"
"Kau beri tahu aku sekali saja dan aku akan mengingatnya selama-lamanya. Setelah kau meninggal, aku akan melaksanakannya satu per satu. Dan kemudian…."
Li Sun-Hoan segera berbalik dan bertanya.
"Dan kemudian apa?"
"Dan kemudian aku pun akan mati!"
Jawab Sun Sio-ang. Ia berdiri tegak dan memandang lurus pada Li Sun-Hoan. Ia tidak memaLingkan wajahnya dan ia tidak berusaha menyembunyikan apapun juga.
"Meng….Mengapa kau ingin mati?"
"Aku tidak bisa menghindar dari kematian, karena setelah kau pergi, hidup akan lebih menderita daripada mati."
Ia terus menatap Li Sun-Hoan tanpa berkedip.
Lalu gejolak hatinya mulai mereda dan tenang.
Jelas sudah bahwa gadis itu telah bertekad bulat.
Tidak ada orang yang bisa membujuknya untuk berubah pikiran.
Li Sun-Hoan merasa hatinya seperti ditusuk.
Ia membungkuk dan mulai batuk-batuk keras.
Setelah batuknya mereda, Sun Sio-ang mendesah dan berkata dengan tenang.
"Jika kau ingin aku terus hidup, kau tidak boleh mati…. Siangkoan Kim-hong belum tentu ingin bertemu denganmu untuk berduel. Ia pun cukup segan padamu."
Tiba-tiba ia menghambur ke arah Li Sun-Hoan, meraih tangannya dan be kata.
"Kita bisa lari, lari sejauh mungkin. Kita lupakan semuanya. Aku….Aku bisa membawamu pulang ke rumahku. Tidak ada yang tahu tempat itu. Sekalipun Siangkoan Kim-hong ingin mencarimu, ia tidak mungkin dapat menemukan engkau di sana."
Li Sun-Hoan tidak menjawab.
Ia tidak mengatakan sepatah kata pun.
Ia hanya menatap gadis itu lekat-lekat.
Angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar itu.
Segulung asap ikut masuk memenuhi kamar itu dan menghalangi pandangannya.
Suara Tuan Sun yang bijak kedengaran memenuhi ruangan itu.
"Apapun yang kau katakan, ia tidak akan melarikan diri."
Sun Sio-ang menghentakkan kakinya dan berkata dengan kesal.
"Bagaimana Kakek bisa tahu kalau ia tidak akan pergi?"
"Jika ia adalah macam orang yang melarikan diri, kau tidak akan mempunyai perasaan apa-apa terhadap dia."
Sun Sio-ang terdiam, lalu membalikkan badannya dan menutup mukanya. Li Sun-Hoan mengeluh dan berkata.
"Cianpwe…."
Tuan Sun menyelanya dan berkata.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi….aku hanya bisa menasihatinya untuk tidak membunuh seseorang. Aku tidak bisa membujuknya untuk tidak mencintai seseorang…."
Cinta.
Satu-satunya hal dalam hidup ini yang tidak dapat dipaksakan.
Li Sun-Hoan mulai terbatuk-batuk lagi.
Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
*** ‘Sepuluh li di luar tembok barat, di bawah pohon dekat paviliun.’ Paviliun itu bersegi delapan.
Tempatnya tepat di kaki gunung, di sebelah luar hutan.
Hutan itu sudah gundul.
Cat pada tiang-tiang paviliun itu pun telah mulai mengelupas.
Angin barat menderu-deru.
Dataran yang luas itu terdiam dalam keheningan.
Li Sun-Hoan berjalan masuk keluar hutan.
Sepertinya ia telah berjalan melewati setiap inci hutan itu.
‘Besok, harinya adalah besok.’ Matahari mulai condong ke barat.
Hari akan segera berlalu.
Esok hari, di bawah matahari senja yang sama, seluruh permusuhan antara Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kimhong akan diselesaikan.
Ini akan menjadi pertarungan yang terhebat sepanjang sejarah!
Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan mengangkat kepalanya.
Matahari terbenam memancarkan sinarnya ke seluruh jagad raya, memenuhinya dengan keindahan dan keagungan yang tiada taranya.
Tapi, di mata seorang yang hampir mati, apakah matahari terbenam pun akan tampak indah?
Tuan Sun dan Sun Sio-ang duduk diam dalam paviliun itu.
Tiba-tiba Sun Sio-ang bertanya.
"Waktunya berduel masih lama. Mengapa ia datang ke sini begitu awal?"
"Dalam duel dua orang ahli, yang harus diperhitungkan bukan hanya kekuatan dan kelemahan ilmu silatnya, namun kau juga harus memperhatikan cuaca, keadaan sekitar, dan orang-orang lain. Karena Siangkoan Kimhong memilih lokasi ini, ia pasti punya alasan,"
Jawab Tuan Sun.
"Apa alasannya?"
"Ia pasti sudah terbiasa dengan keadaan di tempat ini. Bahkan ia mungkin telah memasang perangkap di sini sebelumnya."
"Jadi Li Sun-Hoan harus datang ke sini lebih dulu dan memeriksa keadaan sekitar, apakah Siangkoan Kim-hong telah memasang perangkap dan di mana ia memasangnya."
"Benar sekali. Jenderal-jenderal jaman dulu pun selalu memeriksa medan laga sebelum perang yang penting berlangsung. Perang apapun itu, jika seseorang memeriksa dengan seksama medan laganya, ia pasti akan mempunyai keuntungan."
"Tapi mengapa ia berjalan bolak-balik di tempat itu saja?"
Tanya Sun Sio-ang. Jawab kakeknya.
"Jalan bolak-balik pun ada maksudnya."
"Hah?"
"Ia ingin berjalan melewati setiap jengkal tanah di situ dan memeriksa keadaan permukaan tanah. Ia ingin tahu apakah tanahnya lembut atau keras, kering atau lembab."
"Dan untuk apa dia tahu?"
"Karena tiap jengkal tanah itu berbeda dan dapat mempengaruhi kemampuan meringankan tubuhnya. Jika dengan tujuh puluh persen tenagamu, kau dapat melompat tujuh meter di atas tanah yang lembab, di atas tanah yang keras, kau dapat melompat sepuluh meter."
"Perbedaannya tidak begitu jauh."
Tuan Sun mengeluh.
"Jika dua orang orang ahli bertempur, kesalahan mereka tidak boleh lebih besar dari satu inci!"
Tiba-tiba Li Sun-Hoan berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan paviliun itu.
Ia menghadap ke barat, ke arah terbenamnya matahari di atas hutan yang gundul itu.
Dalam sosoknya terkandung segulung perasaan yang kuat, namun tidak seorang pun dapat menerka apa yang ada dalam pikirannya.
Sun Sio-ang tidak tahan untuk tidak bertanya pada kakeknya.
"Dan sekarang apakah yang sedang dilakukannya, berdiri mematung seperti itu?"
Bab 76. Taktik yang Cemerlang Jawab Tuan Sun dengan suara rendah.
"Siangkoan Kimhong pasti datang awal esok hari."
"Mengapa begitu?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Karena siapa yang datang lebih awal, punya kesempatan untuk memilih lokasi yang paling menguntungkan. Tidak mungkin Siangkoan Kim-hong menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Lalu mengapa Li Sun-Hoan tidak datang lebih awal lagi saja?"
"Mungkin dia tidak ingin berlomba datang lebih awal. Atau mungkin juga ia punya alasan yang lain sama sekali."
Tuan Sun terkekeh pelan dan menambahkan.
"Li Tamhoa bukan orang biasa. Kadang-kadang aku pun dibuatnya bingung, tidak mengerti apa maksud perbuatannya."
Kata Sun Sio-ang.
"Dalam pandanganku, seluruh tempat ini tampak sama saja. Aku tidak bisa menentukan tempat mana yang paling menguntungkan."
"Tempat di mana ia berdiri saat ini,"
Kata Tuan Sun.
"Apa istimewanya tempat itu?"
"Jika Siangkoan Kim-hong berdiri di situ, Li Sun-Hoan pasti harus berdiri tepat di depannya."
"Mmmm."
"Waktu berduel telah ditentukan, yaitu pada saat matahari terbenam."
"Aaah, sekarang aku mengerti. Jika seseorang berdiri di situ, punggungnya akan tepat menghadap cahaya matahari terbenam, jadi cahaya itu tidak akan mempengaruhinya sama sekali. Namun, orang yang berada tepat di depannya, akan silau oleh cahaya itu. Dan jika sekali saja kau berkedip, lawanmu akan mempunyai kesempatan yang sempurna untuk menyerangmu."
"Tepat sekali."
"Namun mengapa Siangkoan Kim-hong memilih untuk berdiri di situ?"
"Hanya dengan cara berdiri di situ, baru ia tahu kelemahan tempat itu. Lalu ia dapat mencari tempat yang lain,"
Kata Tuan Sun.
"Jika kau melihat hutan di sana, sinar matahari senja pun dipantulkan oleh embun yang membeku di atas dedaunan. Jadi berdiri di situ pun akan silau juga."
Kini Li Sun-Hoan berjalan menuju sebatang pohon tepat di hadapan mereka.
Mata Sun Sio-ang terus mengikuti gerakannya.
Tiba-tiba selarik sinar menyilaukan matanya….
Pohon itu mempunyai paling banyak embun yang membeku, dan sinar matahari yang dipantulkannya pun paling banyak.
Tanya Tuan Sun.
"Kini kau mengerti?"
Sun Sio-ang tidak menjawab. Tiba-tiba tubuh Li Sun-Hoan melesat ke atas pohon dan dengan cepat mengitari pohon itu.
"Semua orang tahu bahwa ‘Pisau Kilat si Li tidak pernah luput’. Namun ilmu meringankan tubuhnya pun ternyata sangat tinggi. Tidak banyak orang di dunia ini yang dapat menandinginya,"
Seru Tuan Sun.
"Tapi, apa yang sedang dilakukannya di pohon itu?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Ia sedang memeriksa tiap ranting dan cabang pohon itu, berapa kuatnya mereka itu. Ada dua alasan mengapa ia melakukannya."
"Dua alasan?"
"Yang pertama, ia ingin memastikan bahwa pohon itu belum ‘dikerjai’ oleh Siangkoan Kim-hong."
"Dikerjai?"
"Ketika ia sedang berhadapan dengan Siangkoan Kimhong, apa yang akan terjadi jika tiba-tiba ranting-ranting pohon itu patah?"
"Kalau patah yang pasti akan jatuh ke bawah."
"Jatuh ke mana?"
"Ke tanah."
Tiba-tiba Sun Sio-ang jadi mengerti maksudnya.
"Atau di depannya, sehingga menghalangi pandangannya. Atau mungkin di atas kepalanya. Yang pasti, itu akan memecahkan konsentrasinya dan memberikan keuntungan bagi Siangkoan Kim-hong."
"Lagi pula, jika ia tidak punya pilihan lain, ia bisa naik ke atas pohon itu. Apa yang akan terjadi jika tiba-tiba pohon itu berubah menjadi medan laga?"
Tanya Tuan Sun.
"Oleh sebab itulah, ia harus memeriksa segala sesuatu dengan seksama. Pohon itu dan juga segala sesuatu di sekitar sini,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Akhirnya kau mengerti."
"Ya, kini aku mengerti. Siapa sangka ada begitu banyak persiapan sebelum berduel."
"Apapun yang kau kerjakan, jika kau telah mencapai tingkatan yang tertinggi, selalu akan lebih rumit dan mendetil. Bahkan dalam hal menyulam atau memasak sekalipun."
Tuan Sun melirik pada Li Sun-Hoan dan melanjutkan.
"Walaupun waktu duelnya ditentukan esok hari, sebenarnya duel itu telah dimulai sejak pertama kali mereka bertemu. Yang diuji adalah perhatian mereka akan hal-hal yang mendetil, kesabaran mereka, dan pengetahuan mereka. Kesempatan mereka menang telah ditentukan sejak saat itu, namun pemenang akhirnya baru ditentukan esok hari saat berduel."
"Namun apa yang dilihat orang adalah apa yang terjadi di saat yang sangat singkat itu. Ada pepatah, ‘Menang kalah dalam pertarungan antara dua jagoan ditentukan oleh satu langkah saja’. Namun siapa yang dapat membayangkan betapa banyak persiapan di balik satu langkah itu,"
Kata Sun Sio-ang. Wajah Tuan Sun menjadi muram. Ia memantik api dan menyalakan pipanya. Matanya tertuju pada api dalam pipa itu. Katanya.
"Seorang ahli silat yang sejati selalu hidup kesepian. Orang hanya melihat mereka dalam kejayaan dan kesuksesan mereka. Tidak ada yang melihat betapa banyak pengorbanan mereka. Karena itulah, tidak ada orang yang dapat memahami mereka."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya dan bermain-main dengan ujung lengan bajunya. Katanya.
"Tapi apakah mereka tidak ingin dimengerti oleh orang lain?"
Sementara itu, Li Sun-Hoan mengencangkan ikat pinggangnya dan dengan sedikit tekanan di kakinya ia melompat ke atap paviliun itu. Tuan Sun menghembuskan asap dan berkata.
"Semua orang selalu menganggap Li Sun-Hoan sebagai orang yang berantakan dan sembarangan. Siapakah yang pernah melihat sisi kerapiannya? Namun untuk hal-hal yang penting, ia tidak melewatkan satu detil yang terkecil sekalipun."
Sun Sio-ang mendesah dan berkata.
"Mungkin karena ia telah membiarkan begitu banyak hal berlalu….."
Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan bertanya.
"Tadi Kakek bilang pertempuran ini sudah berlangsung sejak lama. Dalam pandanganmu, siapakah yang saat ini berada di atas angin?"
Jawab Tuan Sun.
"Sepertinya tidak ada yang tahu jawabannya."
Ia menggigit-gigit bibirnya lagi.
Jika pikirannya sedang kusut, ia selalu menggigit-gigit bibirnya.
Semakin kusut pikirannya, semakin kuat gigitannya.
Saat ini, ia hampir menggigit bibirnya sampai lepas.
"Apa pendapatmu?"
Tanya kakeknya.
"Mmm…. Siangkoan Kim-hong terlihat begitu percaya diri."
"Betul. Dan ini karena pada tahun-tahun terakhir ini ia selalu berhasil dalam usahanya. Hanya saja, mungkin kematian anaknya bisa mempengaruhi sedikit konsentrasinya."
Kata Sun Sio-ang.
"Juga Hing Bu-bing. Kepergiannya bisa dianggap sebagai kehilangan yang besar bagi Siangkoan Kim-hong."
Kata Tuan Sun.
"Inilah sebabnya ia ingin segera berduel dengan Li Sun-Hoan, karena ia takut rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit mulai berkurang."
Tuan Sun mengeluh dan melanjutkan.
"Itulah sebabnya, duel ini bukan hanya menyangkut hidup Siangkoan Kimhong dan Li Sun-Hoan, tapi juga menyangkut seluruh dunia persilatan."
Sun Sio-ang tampak kaget.
"Apa betul pengaruhnya sedemikian besar, Kek?"
"Yang pertama, jika Siangkoan Kim-hong menang, rasa percaya dirinya pasti akan melambung semakin tinggi. Perbuatannya pasti akan semakin berani dan aku kuatir, tidak akan ada yang dapat menghalanginya."
Mata Sun Sio-ang berkejap-kejap.
"Sebetulnya, kurasa tidak mungkin Siangkoan Kim-hong bisa menang."
"Kenapa begitu?"
"Pisau Kilat si Li tidak pernah luput! Pisaunya tidak pernah gagal!"
Seru Sun Sio-ang.
"Tapi Siangkoan Kim-hong pun tidak pernah kalah,"
Kata Tuan Sun lirih. Sun Sio-ang tertawa keras dan berkata.
"Apakah Kakek sudah lupa? Siangkoan Kim-hong pernah kalah sekali."
"Oh?"
"Hari itu, di paviliun di luar kota Lokyang. Bukankah Kakek mengalahkannya?"
Tuan Sun diam saja.
"Kakek, sebelum ini, aku belum pernah minta apapun darimu. Tapi kali ini, aku minta tolong satu saja."
"Apa itu?"
Tanya Tuan Sun sambil meniup pipanya dan menyelubungi dirinya sendiri dengan asap putih. Kata Sun Sio-ang.
"Aku mohon Kakek memastikan Li Sun-Hoan tetap hidup, bagaimanapun caranya…."
Tiba-tiba ia berlutut di hadapan kakeknya dan berkata.
"Kakek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat mengatasi Siangkoan Kim-hong. Kakeklah satu-satunya yang dapat menolong Li Sun-Hoan. Dan Kakek pasti tahu bahwa jika Li Sun-Hoan mati, aku sungguh tidak sanggup hidup tanpa dirinya."
Lautan asap itu telah lenyap.
Namun asap tebal seolah-olah membayangi mata Tuan Sun.
Kabut musim gugur, muram dan sedih…..
Namun secercah senyum menghiasi wajahnya.
Matanya menatap ke kejauhan, dan dengan lembut tangannya membelai rambut cucunya.
Katanya.
"Dari semua cucu-cucuku, kaulah yang paling nakal. Kalau kau mati, siapa yang akan mencabuti jenggotku dan menjambak rambutku?"
Sun Sio-ang bangkit perlahan.
"Jadi Kakek berjanji?"
Tuan Sun menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Selama ini kau hanya menunggu aku mengatakannya, bukan?"
Pipi Sun Sio-ang bersemu merah dan ia pun menyahut.
"Kakek kan tahu setelah seorang gadis menjadi dewasa, ia tidak bisa terus tinggal di rumah. Hatinya akan berpaling ke tempat lain."
Tuan Sun tertawa dan berkata.
"Namun kulitmu masih tebal. Aku tidak tahu, apakah ada orang yang menginginkanmu atau tidak."
Sun Sio-ang beringsut dan mendekatkan bibirnya ke telinga kakeknya. Ia berbisik.
"Aku tahu. Dan jika ia tidak menginginkan aku, aku punya cara untuk membuatnya menginginkan aku."
Tuan Sun memeluknya, seolah-olah ia kembali menjadi seorang gadis kecil dan berkata dengan lembut.
"Kau adalah cucu kesayanganku, tapi kau terlalu nakal dan terlalu berani. Tadinya aku sungguh kuatir kau tidak akan menemukan jodohmu, tapi kini paling tidak kau telah menemukan orang yang betul-betul kau sukai. Aku hanya bisa berbahagia untukmu."
Kata Sun Sio-ang sambil cekikikan.
"Aku memang sungguh beruntung bertemu dengan dia. Tapi ia juga beruntung bertemu dengan aku. Dalam dunia ini, tidak banyak orang yang seperti aku."
Tuan Sun tersenyum.
"Memang kau adalah satu-satunya dalam dunia ini."
Ia duduk di pangkuan kakeknya dengan hati ringan dan gembira.
Karena ia bukan saja memiliki kakek yang hebat, namun ia juga memiliki orang yang sangat mengagumkan dalam hatinya.
Keluarga, kekasih, ia punya keduanya.
Apalagi yang diinginkan seorang gadis?
Ia merasa ialah orang yang paling berbahagia di seluruh dunia.
Ia merasa, masa depannya sungguh gilang gemilang.
Kini hari sudah mulai malam.
Kegelapan telah menelan habis sinar matahari yang cerah.
Tapi seakan-akan ia tidak menyadarinya.
‘Cinta dapat membutakan mata manusia’.
Walaupun ini adalah perkataan kuno, kebenarannya tidak pernah berubah.
Jika Sun Sio-ang dapat membuka matanya sekarang, ia akan melihat betapa dalam kesedihan dan kepedihan dalam sorot mata kakeknya.
Walaupun orang lain dapat melihat kesedihan itu, tidak akan ada yang bisa menebak apa sebabnya.
Malam semakin dekat, hembusan angin semakin dingin.
Suasana begitu hening, hanya suara dahan dan dedauLam-yang-hu berdansa mengikuti irama angin.
Di manakah Li Sun-Hoan?
Sun Sio-ang sudah tidak sabar.
Ia berjalan keluar dan berseru.
"Apa yang kau lakukan di atas sana? Mengapa kau belum turun juga?"
Tidak ada jawaban.
Ke mana perginya Li Sun-Hoan?
Apakah ada jebakan licik di atas atap paviliun itu?
Apakah Li Sun-Hoan sudah terjebak?
Atap paviliun itu terbuat dari genteng berwarna merah dengan hiasan keemasan di puncaknya.
Di atas puncak itu ada sebuah kotak hitam terbuat dari besi.
Kotak besi hitam yang sederhana, sama sekali tidak ada hiasannya.
Tidak juga ada jebakan yang akan melontarkan panah beracun pada orang yang membukanya.
Tapi, apa maksudnya kotak besi itu berada di atas puncak atap paviliun itu?
Dalam kotak besi itu ada sehelai rambut.
Sehelai rambut yang hitam panjang.
Tidak ada istimewanya.
Namun entah berapa lama Li Sun-Hoan terpekur memandangi sehelai rambut itu.
Ketika Sun Sio-ang berseru memanggilnya, seolah-olah ia tidak mendengar apa-apa.
Apa istimewanya sehelai rambut ini?
Sun Sio-ang tidak habis pikir.
Tidak ada seorang pun yang habis pikir.
Wajah Li Sun-Hoan tampak begitu mendung, matanya mulai kelihatan merah.
Sun Sio-ang belum pernah melihat dia seperti ini sebelumnya.
Bahkan ketika mereka minum begitu banyak arak, mata Li Sun-Hoan selalu segar dan terang.
Apa yang mengakibatkan perubahan yang begitu tibatiba ini?
Mereka meletakkan sehelai rambut itu di meja batu dalam paviliun.
Sun Sio-ang tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Rambut siapa ini?"
Tidak ada jawaban. Tidak ada yang bisa menjawab. Kelihatannya mirip dengan rambut siapapun juga di dunia ini. Kata Sun Sio-ang.
"Rambut sepanjang ini, pastilah rambut seorang wanita."
Ia tahu bahwa pernyataannya tidak sepenuhnya betul karena laki-laki pun bisa berambut sepanjang itu.
Memotong rambut dapat diartikan tidak hormat terhadap orang tua.
Dalam cerita-cerita, selalu dikisahkan anak-anak gadis yang berdandan seperti pria akan segera ketahuan jika rambut mereka yang asli terlihat.
Namun cerita itu hanya dapat menipu anak-anak kecil.
Anehnya, cerita-cerita semacam itu masih juga diceritakan sampai saat ini.
Sun Sio-ang menghentakkan kakinya dan berkata.
"Rambut siapapun juga, ini kan cuma sehelai rambut saja. Apa sih anehnya?"
"Ada,"
Kata Tuan Sun singkat.
"Ada apanya?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Ada yang aneh. Ada yang sangat aneh tentang rambut ini."
"Apa anehnya?"
"Segalanya aneh,"
Jawab Tuan Sun.
"Mengapa sehelai rambut berada dalam kotak besi? Bagaimana kotak besi itu berada di atas puncak atap paviliun ini? Siapa yang meletakkannya di sana? Apa alasannya?"
Sun Sio-ang terkesima. Tuan Sun menghela nafas dan berkata.
"Jika tebakanku tepat, ini adalah perbuatan Siangkoan Kim-hong."
Tanya Sun Sio-ang.
"Siangkoan Kim-hong? Mengapa ia melakukannya?"
"Karena ia ingin Li Sun-Hoan melihat sehelai rambut itu."
"Tapi…tapi dia…."
"Ia pasti telah mengira bahwa Li Sun-Hoan pasti datang sebelumnya untuk memeriksa keadaan tempat ini. Mungkin ia telah mengira bahwa Li Sun-Hoan pasti akan memeriksa atap paviliun ini, sehingga dengan sengaja ia meletakkan kotak besi ini di atas sana."
"Tapi apa istimewanya sehelai rambut ini? Memangnya kenapa kalau Li Sun-Hoan melihatnya? Bukankah ini sungguh bodoh?"
Tanya Sun Sio-ang tidak mengerti.
Namun saat ia mengatakan kalimat itu, ia merasa memang ada yang salah, ada yang betul-betul salah.
Siangkoan Kim-hong bukanlah orang melakukan hal-hal bodoh yang tidak berguna.
Mata Tuan Sun tertuju pada Li Sun-Hoan dan bertanya.
"Apakah kau tahu rambut siapa ini?"
Li Sun-Hoan terdiam beberapa saat. Akhirnya ia mendesah dan menjawab.
"Aku tahu."
"Tapi apakah kau sungguh-sungguh yakin?"
Tanya Tuan Sun. Nada suaranya tajam dan tegas. Li Sun-Hoan hanya dapat menjawab.
"Aku….."
"Kau tidak yakin, kan?"
Ia tidak menunggu jawaban Li Sun-Hoan. Segera ia menambahkan.
"Siangkoan Kim-hong melakukannya karena ia ingin kau percaya bahwa sehelai rambut ini adalah milik Lim Si-im, dan bahwa ia telah jatuh ke dalam tangannya. Ia ingin kau terganggu, sehingga ia berkesempatan untuk membunuhmu. Mengapa kau jatuh dalam jebakannya?"
"Betul. Jika Nyonya Lim telah jatuh ke dalam tangannya, mengapa ia tidak membawanya saja ke sini untuk mengancammu?"
Tambah Sun Sio-ang. Jawab Li Sun-Hoan.
"Karena ia tidak bisa melakukannya….. Orang lain mungkin bisa, namun dia tidak bisa."
"Mengapa?"
"Karena jika ada orang yang tahu ia menggunakan cara serendah itu untuk mengalahkan Li Sun-Hoan, ia akan menjadi bahan tertawaan seluruh dunia."
"Namun ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan engkau melihat sehelai rambut."
"Karena itulah, taktiknya sungguh cemerlang,"
Sahut Li Sun-Hoan. Sun Sio-ang masih terus mendebatnya.
"Tapi rambut ini belum tentu miliknya."
"Mungkin juga, mungkin juga tidak…. Tidak ada yang bisa memastikan,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Lalu mengapa tidak kau lupakan saja, dan anggap saja kau tidak pernah melihat rambut itu. Dengan begitu, jebakannya gagal total."
"Sayang sekali, aku sudah melihatnya."
Kata Sun Sio-ang.
"Karena ia tidak mengatakan apa-apa, maka kau malah menjadi curiga. Karena ia tahu bahwa kau akan menjadi curiga, maka ia membuat rencana seperti ini. Walaupun kau tahu maksud yang sebenarnya, kau tetap memilih untuk terjebak dalam permainannya."
Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata.
"Mengapa aku selalu dihadapkan pada situasi seperti ini?"
Bab 77. Rahasia Hin-hun-ceng Lalu Li Sun-Hoan pun tersenyum dan berkata.
"Yah, begitulah hidup. Kadang-kadang, walaupun tahu kau sedang berjalan menuju perangkap, kau harus terus berjalan maju."
Kata Tuan Sun.
"Benar. Jika itu adalah orang yang sangat kusayangi, aku pun akan masuk ke dalam perangkap itu."
Sun Sio-ang menghentakkan kakinya dengan kesal sambil memandang dua laki-laki itu. Katanya.
"Walaupun kalian berdua bersedia ditipu, aku tidak mau!"
"Ah, kau pun sudah masuk perangkapnya. Kau pun telah curiga bahwa rambut itu adalah milik Nyonya Lim. Kau pun telah terusik. Jika kau harus berduel dengan seseorang sekarang, walaupun dia bukan tandinganmu, kau pasti akan kalah di tangannya,"
Kata Tuan Sun.
"Tapi….tapi….."
Jika ia dihadapkan pada situasi seperti itu, ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.
Siangkoan Kim-hong memang bermaksud mengacaukan pikiran Li Sun-Hoan.
Apakah Li Sun-Hoan percaya itu adalah rambut Lim Si-im atau tidak, bukan masalah.
Jika Li Sun-Hoan mulai berpikir, itu artinya rencana Siangkoan Kim-hong telah berhasil.
Bagaimana mungkin hal ini tidak mengganggu pikiran Li Sun-Hoan?
Wanita itu menghiasi setiap mimpinya.
Bagaimana mungkin ia melupakannya begitu saja?
Walaupun ia tahu itu bukan rambut Lim Si-im, Li Sun-Hoan akan tetap merasa kuatir dan pikirannya akan kalut.
Hanya karena Siangkoan Kim-hong telah berhasil membuat dia berpikir tentang Lim Si-im.
Masalahnya bukan terletak pada milik siapakah sehelai rambut itu, namun pada kepribadian Li Sun-Hoan.
Ini adalah satu-satunya cara mengatasi Li Sun-Hoan.
Jika cara yang sama digunakan untuk orang lain, mungkin tidak akan berhasil sama sekali, karena orang lain mungkin tidak berpikir terlalu panjang dan dalam.
Inilah sebabnya mengapa Siangkoan Kim-hong sangat berbahaya.
Ia tahu caranya mengatasi tiap-tiap musuh.
Walaupun caranya sering kali tampak aneh, bahkan bodoh, caranya selalu terbukti efektif.
Karena ia memahami betul strategi tempur militer ‘Selalu menyerang pikiran lawan’.
Li Sun-Hoan duduk di lantai dan menyelonjorkan kaki dan tangannya.
Walaupun ia tidak mengatakan apa-apa, Tuan Sun dan Sun Sio-ang tahu benar apa yang berada dalam pikirannya.
pergi ke Hin-hun-ceng untuk memastikan bahwa Lim Si-im berada di sana.
Sebelum memulai perjalanannya, ia harus melepas lelah terlebih dahulu.
Setiap kali ia membuat keputusan penting, ia selalu berusaha menenangkan tubuh dan pikirannya.
Ini adalah salah satu kebiasaannya.
Kebiasaan yang sangat baik.
Sun Sio-ang memandang dia lekat-lekat.
‘Jadi ia belum melupakan wanita itu.
Bahkan, wanita itu lebih penting daripada segala sesuatu.
Tidak seorangpun dapat menggantikan tempatnya di hatinya….tidak juga aku.’ Mata Sun Sio-ang menjadi merah.
Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Apakah kau harus pergi?"
Li Sun-Hoan tidak menjawab. Kadang-kadang tidak menjawab adalah jawaban yang terbaik.
"Ia harus pergi. Kalau tidak pergi, pikirannya tidak mungkin bisa tenang,"
Kata Tuan Sun.
"Tapi….bagaimana jika ia memang tidak ada di sana?"
Tanya Sun Sio-ang ragu. Mata Li Sun-Hoan menjadi kelam, sekelam malam tanpa bulan.
"Bagaimana pun juga, aku harus pergi. Apa yang akan terjadi kemudian akan kuputuskan kemudian."
"Tapi jika kau pergi, artinya kau langsung masuk ke dalam perangkap Siangkoan Kim-hong,"
Kata Sun Sioang.
"Hmmm?"
"Tujuan Siangkoan Kim-hong adalah supaya kau pergi ke Hin-hun-ceng. Waktu duel sudah ditetapkan, yaitu esok hari. Hin-hun-ceng letaknya cukup jauh. Sekalipun kau dapat pergi ke sana dan pulang kembali sebelum waktu berduel, kau akan sangat kelelahan, sedangkan dia pasti sudah cukup beristirahat dan menghimpun tenaganya."
Kata Li Sun-Hoan datar.
"Ada hal-hal yang kau tahu seharusnya tidak kau lakukan, tapi tetap saja kau lakukan."
"Tapi jika kau pergi, itu sama saja dengan menyerahkan nyawamu kepadanya dengan cuma-cuma. Apakah dia betul-betul sangat berharga bagimu? Lebih berharga daripada nyawamu sendiri?"
Tanya Sun Sio-ang menusuk.
Li Sun-Hoan terdiam sejenak.
Lalu ia mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada Sun Sio-ang.
Mata Sun Sio-ang sudah basah oleh air mata.
Ia segera memaLingkan wajahnya, menghindari tatapan Li Sun-Hoan.
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku hanya berharap kau mengerti hatiku. Jika kau ada pada posisiku, kau pasti akan berbuat sama. Dan jika kau berada dalam posisinya, aku pun pasti berbuat yang sama bagimu."
Sun Sio-ang tidak bergeming, seakan-akan ia tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan Li Sun-Hoan.
Namun air matanya mengalir semakin deras.
Ketika seorang wanita mencintai seorang laki-laki, ia ingin menjadi wanita satu-satunya dalam hidup sang pria.
Ia tidak ingin siapapun juga berada dalam dunia mereka.
Tapi apapun yang terjadi, Lim Si-im sudah berada dalam hati Li Sun-Hoan sejak lama.
Sun Sio-ang berdiri di situ tidak bergerak.
Apakah perasaannya sekarang?
Manis?
Kecut?
Atau pahit?
Tuan Sun menghela nafas panjang dan berkata.
"Ada yang harus dilakukannya. Biarkanlah dia pergi."
Sun Sio-ang mengangguk perlahan dan tersenyum. Senyum yang pahit, tapi paling tidak ia masih bisa tersenyum. Dengan mata basah ia tersenyum dan berkata.
"Tiba-tiba saja aku merasa sangat bodoh. Ia sudah mengenal wanita itu jauh sebelum ia mengenalku. Bahkan mereka sudah mengukir sejarah jauh sebelum aku ada dalam hidupnya. Jika ada orang yang boleh merasa kesal, dialah lebih berhak merasa kesal daripada aku."
"Jika seseorang dapat mengakui bahwa dirinya bodoh, itu menunjukkan bahwa ia telah menjadi pandai,"
Kata kakeknya sambil tertawa.
"Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan juga,"
Kata Sun Sio-ang.
"Apa itu?"
"Aku akan pergi bersamanya. Aku harus pergi bersamanya."
"Itu tidak jadi soal, tapi….."
Tuan Sun berbicara sambil menoleh pada Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Dia bilang dia harus pergi, maka dia harus pergi."
Kata Tuan Sun sambil tertawa.
"Aku perlu waktu 60 tahun untuk belajar bahwa berdebat dengan wanita itu sia-sia saja. Kelihatannya kau belajar jauh lebih cepat."
Li Sun-Hoan bangkit berdiri dan berkata.
"Karena kita harus pergi, lebih baik kita pergi secepatnya. Kau….."
"Jangan berasumsi bahwa semua wanita itu lamban dan pLim plan. Banyak wanita yang tegas seperti pria. Kalau sudah bilang pergi, ya pergi,"
Kata Sun Sio-ang. Kata Tuan Sun.
"Kalau kalian sudah tiba di sana, jangan lupa sekalian menengok Jisusiok dan melihat keadaannya."
"Pasti, Kek,"
Kata Sun Sio-ang. Lalu ia melirik Li Sun-Hoan dan berkata.
"Jika ia tidak ingin aku masuk bersamanya ke dalam Hin-hun-ceng, aku akan menunggunya di tempat Jisusiok."
"Pendekar Kedua Sun sudah tinggal dekat Hin-hun-ceng lebih dari dua belas tahun. Apakah kalian tahu sebabnya?"
Tanya Li Sun-Hoan.
Ia selalu menganggap hal ini sangatlah aneh.
Dua belas tahun yang lalu adalah saat ia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya untuk selama-lamanya.
Pada saat yang hampir sama, Si Bungkuk Sun memutuskan untuk tinggal tepat di seberang Hin-hun
KANG ZUSI at
http.//cerita-silat.co.cc/ ceng.
Ia sudah begitu lama memikirkannya, tapi tetap ia tidak menemukan apa hubungannya.
Si Bungkuk Sun tidak punya hubungan apa-apa dengan Keluarga Li.
Ia pun tidak ada hubungan dengan Liong Siau-hun.
Lim Si-im sudah menjadi yatim piatu dari kecil dan hidup bersama keluarga Li sejak itu.
Lim Si-im adalah gadis yang sangat pendiam.
Mungkin seumur hidupnya ia tidak pernah meninggalkan Puri itu, tidak mungkin ia punya hubungan dengan orang penting dalam dunia persilatan.
Jika Si Bungkuk Sun hanya melaksanakan perintah seseorang, siapakah yang menyuruhnya berjaga-jaga tepat di muka Hin-hun-ceng?
Apa sebenarnya yang dijaga oleh Si Bungkuk Sun?
Mungkin hanya ada satu orang di muka bumi ini yang tahu jawaban semua pertanyaannya.
Orang itu adalah Tuan Sun.
Ia hanya bisa berharap bahwa Tuan Sun mau memberitahukan kepadanya rahasia ini.
Namun ia harus kecewa.
Tuan Sun meletakkan pipa di bibirnya dan mulai mengisapnya.
Sun Sio-ang memandang sekejap pada kakeknya dan berkata.
"Ada satu hal yang selalu kuanggap aneh."
Li Sun-Hoan memandang padanya dan menunggu ia melanjutkan perkataannya. Lanjut Sun Sio-ang.
"Liong Siau-in menebas putus tangannya sendiri di hadapan Siangkoan Kim-hong. Apakah kau mengetahuinya?"
Li Sun-Hoan mengangguk dan mendesah.
"Ia memang anak yang agak aneh. Perbuatannya pun selalu sulit dimengerti."
"Yang kuanggap aneh adalah bahwa ia bisa memotong tangannya sendiri."
"Hah?"
"Pada saat itu, Siangkoan Kim-hong sudah hampir membunuh mereka. Maka ia bertindak lebih lebih dulu, supaya Siangkoan Kim-hong tidak jadi membunuh mereka. Dengan berbuat begitu, ia bukan saja menyelamatkan nyawanya sendiri, namun ia pun menjadi lebih terhormat karena ia berani mengorbankan diri demi menyelamatkan ayahnya."
Sun Sio-ang mengeluh dan menambahkan.
"Ini menunjukkan kepandaian dan kecerdikannya. Tapi memang ia selalu pintar dan banyak akal. Aku tidak heran akan hal itu."
"Lalu, apa yang membuatmu merasa heran?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Kau telah memusnahkan ilmu silatnya. Seharusnya, kekuatannya pasti lebih lemah daripada orang biasa. Setuju?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku sungguh tidak tahu apakah perbuatanku saat itu benar atau salah."
Sun Sio-ang tidak menggubrisnya.
"Tulang manusia itu tebal dan keras. Hanya orang-orang dengan kekuatan pergelangan tangan yang sangat kuatlah yang dapat memotong putus tangannya sendiri dengan sekali tebasan. Kecuali yang digunakan adalah pedang yang sangat sangat tajam atau pedang mustika."
"Apakah pedangnya seperti itu?"
"Sama sekali bukan!"
"Namun ia hanya menebas sekali dan tangannya langsung putus,"
Kata Li Sun-Hoan mulai tidak mengerti.
"Bahkan ia tidak kelihatan mengerahkan tenaga sedikitpun,"
Kata Sun Sio-ang.
"Ternyata pandanganmu jauh lebih tajam daripada aku. Setelah mendengarkan penjelasanmu, akupun merasa ada kejanggalan."
"Lagi pula, jika orang biasa baru tertebas tangannya, tidak mungkin mereka sanggup menahan sakit. Orang biasa pasti langsung pingsan,"
Kata Sun Sio-ang.
"Betul sekali. Orang yang kuat sekalipun tidak akan mampu menahan sakitnya, kecuali mereka mempunyai dasar tenaga dalam yang sangat kuat,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Tapi, Liong Siau-in kan hanya seorang anak kecil yang lemah. Bagaimana mungkin ia dapat menahan rasa sakit tangannya tertebas?"
Li Sun-Hoan diam saja, namun matanya mengejapngejap, seakan-akan ia baru menemukan ide yang baru. Kata Sun Sio-ang lagi.
"Bukan saja ia bisa menahan rasa sakit yang demikian hebat, ia masih sanggup berbicara, bahkan memungut tangannya yang putus itu. Bagaimana orang biasa sanggup melakukan hal seperti ini?"
"Apa kau pikir ia sudah memulihkan kembali ilmu silatnya? Penampilannya yang kelihatan lemah itu cuma pura-pura saja?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Aku tidak tahu,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Waktu aku memusnahkan ilmu silatnya, aku mengerahkan tenaga cukup banyak. Tidak mungkin ia bisa pulih, kecuali….."
Ia memandang Sun Sio-ang dan melanjutkan.
"Kecuali kabar burung itu memang benar. Bahwa ada kitab ilmu silat yang sudah lama hilang yang tersembunyi dalam Hin-hun-ceng dan Liong Siau-in berhasil menemukannya."
"Aku tidak tahu."
"Apakah alasan Pendekar Kedua Sun berjaga di depan Hin-hun-ceng lebih dari dua belas tahun ini ada hubungannya dengan kitab ilmu silat itu?"
"Aku tidak tahu,"
Kembali Sun Sio-ang menjawab demikian. Kata Tuan Sun.
"Kalau kau ingin dia tahu, mengapa tidak kau ceritakan saja selengkapnya?"
Sun Sio-ang memandang kakeknya dan berkata.
"Aku takut diomeli."
Tuan Sun tertawa dan berkata.
"Satu-satunya cara membuat wanita menyimpan rahasia, adalah tidak memberitahukan rahasia itu kepada mereka."
"Tapi aku kan tidak bilang apa-apa…."
"Caramu bahkan lebih baik lagi. Kau tidak perlu mengatakannya, tapi kau membuat aku harus mengatakannya,"
Kata Tuan Sun.
"Walaupun aku mengatakannya, aku kan cuma memberitahukan kepadanya. Dia kan bukan orang luar,"
Kata Sun Sio-ang membela diri.
"Ya, dia bukan orang luar."
Waktu Li Sun-Hoan mendengarnya, ia tidak tahu harus merasa apa.
Ia tahu bahwa ia sudah berhutang begitu banyak dalam hidupnya, sampai ia tidak tahu bagaimana harus membayarnya.
Ketika seorang wanita telah menganggap seorang pria bukan lagi orang luar, artinya ia telah menentukan pilihannya.
Walaupun orang itu kemudian bertambah satu kakinya atau mukanya berubah menjadi kuda, ia tidak akan pernah bisa lolos lagi.
Nada suara Tuan Sun kini menjadi serius dan berkata.
"Memang benar ada kitab ilmu silat yang tersembunyi dalam Hin-hun-ceng. Itu bukan hanya kabar burung."
"Punya siapa? Mengapa aku tidak pernah tahu?"
Tanya Li Sun-Hoan. Tuan Sun menyalakan pipanya lagi dan meniupnya. Asap putih bergulung-gulung ke segala arah. Ia bertanya.
"Apakah kau pernah mendengar tentang Wang LianHua?"
"Tentu saja. Semua orang di dunia pernah mendengarnya."
"Awalnya, Wang LianHua adalah musuh bebuyutan dari pendekar besar Sim Long. Baru belakangan mereka menjadi sahabat sehidup semati. Wang LianHua selalu merupakan tokoh antara baik dan jahat. Walaupun kadang-kadang jahat, ia tidak pernah betul-betul jahat. Walaupun kadang-kadang licik dan rakus, ia bisa juga menjadi adil dan setia. Ia pernah menyakiti Sim Long beberapa kali, namun Pendekar Shen selalu mengampuninya,"
Kata Tuan Sun. [Kisah tentang Sim Long dan Wang LianHua diceritakan dalam karya Gu Liong yang lain.
"Pendekar Baja"] Kata Li Sun-Hoan.
"Aku pun mendengar bahwa Wang LianHua akhirnya memutuskan untuk mundur dari dunia persilatan bersama dengan Sim Long dan pergi ke sebuah pulau di lautan lepas. Kejadiannya sudah lama sekali."
"Betul. Akhirnya Sim Long berhasil membujuk Wang LianHua untuk berbalik ke jalan yang lurus."
Ia mendesah, lalu melanjutkan.
"Sangat mudah untuk membunuh seseorang, yang sulit adalah membuat orang berubah. Pendekar Shen memang adalah orang yang luar biasa. Jika kau dilahirkan beberapa tahun lebih awal, aku yakin kalian berdua pasti menjadi sahabat kental."
Li Sun-Hoan tidak dapat menahan rasa kagum yang terpancar dari matanya terhadap Pendekar Sim Long.
Ia tidak menyadari bahwa di kemudian hari, keharuman namanya dan kisahnya pun, juga kekaguman generasi yang akan datang terhadap dirinya, tidak lebih kecil daripada Pendekar Sim Long.
Kata Tuan Sun.
"Sim Long memiliki bakat yang luar biasa, namun Wang LianHua pun bukan orang biasa. Kalau ia biasa-biasa saja, bagaimana mungkin ia bisa menjadi musuh bebuyutan Pendekar Shen?"
Jika di antara dua manusia ada perbedaan besar dalam hal kepandaian dan bakat, mereka tetap bisa menjadi sahabat, namun mereka tidak mungkin menjadi musuh besar.
Itulah sebabnya, hanya Siangkoan Kim-honglah yang layak menjadi musuh bebuyutan Li Sun-Hoan.
Kata Li Sun-Hoan.
"Katanya ia adalah orang yang paling berbakat yang pernah hidup dalam dunia persilatan. Bukan hanya dalam hal ilmu silat namun juga dalam ilmu pengetahuan. Pengetahuannya dalam berbagai bidang sangat luas dan dalam, tidak ada tandingannya."
"Betul sekali. Ia sangat mahir dalam ilmu astrologi dan ramalan, musik, catur, sastra, juga kesenian. Ia pun ahli dalam bidang kedokteran dan juga penyamaran. Belum tentu sepuluh orang dapat mempelajari semua pengetahuannya, namun ia seorang diri mampu mendalami seluruhnya."
Lanjut Tuan Sun lagi sambil mendesah.
"Tapi karena minatnya terlalu luas, ia tidak mengkhususkan diri dalam ilmu silat. Kalau tidak, dengan kepandaian dan bakatnya, kurasa ia tidak akan dapat dikalahkan oleh Sim Long."
Tiba-tiba Li Sun-Hoan teringat akan A Fei.
Apakah bakat A Fei lebih besar daripada Wang LianHua?
Namun ia hanya berkonsentrasi pada satu bidang, pedang.
Oleh sebab itu, ilmu pedangnya menjadi sangat dalam dan dalam proses menuju pada tingkatan tidak terkalahkan.
‘Sangat disayangkan, orang berbakat selalu memilih untuk melakukan hal-hal yang bodoh’.
Li Sun-Hoan mendesah dan tidak ingin memikirkannya lagi.
Kata Tuan Sun lagi.
"Setelah Wang LianHua bertobat, ia menyadari bahwa apa yang telah dipelajarinya ternyata bukan hanya terlalu campur aduk dan acak-acakan, tapi juga sangat kontemporer. Awalnya ia ingin membakar saja ‘Ensiklopedi LianHua’ yang telah disusunnya."
"Ensiklopedi LianHua?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Isinya adalah seluruh pengetahuan yang dipelajarinya seumur hidupnya,"
Papar Tuan Sun.
"Mengapa ia ingin membakarnya?"
Bab 78. Pertempuran yang Mengerikan Li Sun-Hoan merasa heran mengapa Wang LianHua ingin memusnahkan kitab yang merupakan hasil karya, jerih payah seumur hidupnya. Tuan Sun menjelaskan.
"Kitab itu bukan hanya berisikan teori-teori ilmu silat. Kitab itu juga berisikan ilmu tentang racun, cara mengubah wajah, memanggil dan menjinakkan serangga dari suku Miao, teknik hipnotis dari Persia…."
Ia mendesah dan melanjutkan.
"Jika kitab seperti itu jatuh ke tangan yang salah, konsekuensinya sangat fatal."
Kata Li Sun-Hoan.
"Ya, sangat menyeramkan."
Kata Tuan Sun.
"Di lain pihak, kitab ini adalah darah dan keringat seumur hidupnya. Ia tidak sanggup memusnahkannya. Jadi sebelum ia mundur dari dunia persilatan, ia menitipkan kitab itu pada seseorang yang betul-betul dapat dipercayainya."
Setelah mendengarnya, perlahan-lahan Li Sun-Hoan dapat merangkaikan kisah itu dalam benaknya dan menyimpulkan bahwa kitab ilmu silat yang tersembunyi dalam Hin-hun-ceng adalah ‘Ensiklopedi LianHua’.
Namun masih ada beberapa hal yang tidak dapat ia mengerti.
Contohnya, kepada siapakah Wang LianHua mempercayakan kitab itu?
"Ia mempercayakannya kepadamu!"
Kata Tuan Sun. Li Sun-Hoan terperanjat.
"Aku?"
Tuan Sun tertawa dan berkata.
"Selain Li Tamhoa, siapa lagi dalam dunia ini yang lebih layak menerima kitab seperti itu?"
Lalu Tuan Sun melanjutkan.
"Ia mempercayakan ‘Ensiklopedi LianHua’ kepadamu bukan hanya untuk kau jaga, namun ia ingin menyerahkannya kepada seorang murid yang berhati mulia, supaya ilmu warisannya dapat terus hidup dan berkembang."
"Tapi aku sama sekali tidak tahu akan hal ini."
"Karena pada saat yang sama, kau memutuskan untuk pergi."
"Dua belas tahun yang lalu….betul. Saat itu aku harus pergi ke perbatasan dan pulang dengan luka parah. Jika bukan karena Liong Siau-hun menyelamatkan nyawaku, mungkin aku sudah….."
Saat itu, ia merasa seperti tenggorokannya tersumbat sesuatu dan ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
Ini adalah salah satu peristiwa dalam hidupnya yang tidak akan pernah dilupakannya.
Karena peristiwa itulah seluruh hidupnya berubah total….dari kebahagiaan menjadi kenestapaan!
"Walaupun Wang LianHua tidak berjumpa denganmu, ia bertemu dengan Nona Lim.
Karena ia harus segera berangkat, ia tidak dapat menunggu lagi dan akhirnya ia terpaksa meninggalkan ‘Ensiklopedi LianHua’ pada Lim Si-im.
"Tidak ada yang lebih memahami hubungan antara pria dan wanita lebih baik daripada Wang LianHua. Ia bisa langsung tahu bahwa ada hubungan yang lebih jauh dari sekedar teman antara Lim Si-im dan Li Sun-Hoan. Namun mengapa Lim Si-im tidak pernah menyampaikan hal ini kepadanya? "Dari manakah Cianpwe mendengar kisah ini? Apakah sumbernya bisa dipercaya?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Sangat bisa dipercaya."
Sun Sio-ang tidak bisa menahan diri untuk diam saja.
"Kami mendengarnya langsung dari Jisusiok. Waktu Tuan Wang mengunjungi Hin-hun-ceng dan bertemu dengan Nona Lim, pamanku menunggu di luar."
Ia mengeluh lalu menambahkan.
"Sejak hari itulah, Jisusiok tidak pernah pergi dari tempat itu!"
"Apakah Wang LianHua menyuruhnya untuk mengawasi aku?"
Tanya Li Sun-Hoan. Jawab Tuan Sun.
"Karena Tuan Wang telah memilih engkau untuk memikul tanggung jawab yang berat itu, sudah pasti ia tidak meragukan engkau. Namun ia tidak merasa yakin dengan kemampuan ilmu silatmu saat itu. Ia kuatir, jika cerita itu sampai tersebar, orang-orang akan berlomba-lomba mencuri kitab itu. Oleh sebab itulah ia menyuruh Jisuheng untuk tinggal di sana, membantumu jika sewaktu-waktu engkau memerlukannya."
Kata Sun Sio-ang.
"Dalam petualangannya di dunia persilatan, Jisusiok pernah ditolong oleh Tuan Wang. Pamanku adalah orang yang selalu ingin membalas budi, jadi ketika Tuan Wang memintanya untuk melakukan hal ini, ia melakukannya dengan senang hati."
Sambung Tuan Sun.
"Namun kemudian, ia mengetahui bahwa Nona Lim tidak pernah memberikan kitab itu kepadamu. Dan karena engkau telah pindah ke perbatasan, ia menjadi sangat kuatir dan tidak berani pergi dari tempat itu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Pendekar Kedua Sun memang seseorang yang sungguh memegang teguh janjinya. Ia menganggap permintaan seseorang sebagai urusan pribadinya. Hanya saja…."
Tambahnya.
"Hanya saja, bagaimana dia tahu bahwa Nona Lim tidak pernah memberikan ‘Ensiklopedi LianHua’ kepadaku? Bahkan aku tidak tahu adanya kitab seperti itu."
Tuan Sun mengisap pipanya sekali, lalu menjawab.
"Kau saja tidak tahu, apalagi aku."
Li Sun-Hoan tidak berbicara lagi. Ia tidak bisa percaya bahwa Lim Si-im menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Sesuatu yang begitu penting. Kata Tuan Sun.
"Wang LianHua bukan hanya pandai membunuh orang, ia pun sering menolong orang. Metode penyembuhannya sungguh luar biasa. Bahkan ada yang bilang bahwa ia bisa membuat orang mati hidup kembali, menambahkan daging di atas tulang."
Kata Sun Sio-ang.
"Dan Liong Siau-in adalah putra Lim Si-im satu-satunya. Seorang ibu akan melakukan apapun juga demi anaknya. Itulah sebabnya mengapa aku kuatir ia…."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Li Sun-Hoan mengerti apa yang hendak dikatakannya….
Siapapun juga mengerti apa yang hendak dikatakannya.
Pasti Lim Si-im telah memberikan ‘Ensiklopedi LianHua’ pada putranya.
Selama itu, ia telah menyembunyikannya dan menyimpan rapat-rapat rahasia itu.
Tapi mengapa ia tidak pernah mengatakannya kepada Li Sun-Hoan?
Saat pertama kali Li Sun-Hoan bertemu dengannya, ia adalah seorang gadis kecil.
Hari itu turun salju.
Bunga Bwe di halaman baru saja bermekaran.
Salju yang terhampar di bawah pohon-pohon Bwe terlihat begitu putih dan bersih.
Saat itu Li Sun-Hoan sedang berada di bawah pohon Bwe, membuat orang-orangan salju.
Ia sedang berjalan ke sana ke mari mencari potongan arang yang paling hitam untuk mata orang-orangan salju itu.
Itu adalah salah satu saat terindah dalam hidupnya.
Bukan karena ia suka membuat orang-orangan salju.
Ia hanya membuat orang-orangan salju supaya ia bisa memberi mata pada orang-orangan salju itu.
Gumpalan salju itu seolah-olah menjadi hidup.
Dan ia begitu menikmati dan puas memandangnya.
Ia suka membuat sesuatu.
Ia benci merusak.
Ia selalu cinta akan kehidupan.
Dan setelah itu, diam-diam ia akan meruntuhkan orangorangan salju itu, karena ia tidak ingin orang lain mencuri kebahagiaannya.
Pada saat itu, ia belum mengerti bahwa ada kebahagiaan yang tidak mungkin dapat direnggut oleh orang lain.
Di kemudian hari, ia baru menyadari bahwa kebahagiaan itu sama seperti sebuah kantong ajaib.
Semakin banyak engkau memberi, semakin banyak engkau mendapatkannya.
Demikian pula halnya dengan penderitaan.
Jika kau ingin orang lain ikut merasakan kesulitanmu, penderitaanmu sendirilah yang akan semakin bertambah.
Wajah orang-orangan salju itu itu bundar.
Ia sedang berpikir-pikir, di mana hendak diletakkannya matanya.
Tiba-tiba, ibunya yang sedang sakit parah, yang hampir tidak pernah bangkit dari tempat tidurnya, berjalan ke halaman menggandeng seorang gadis kecil berjubah merah.
Jubahnya merah terang, lebih cerah daripada bungabunga Bwe yang bermekaran di situ.
Namun wajah gadis kecil itu begitu pucat, lebih pucat dari salju yang putih.
Merah dan putih adalah warna kesukaannya.
Putih melambangkan kesucian, merah melambangkan semangat.
Saat pertama ia memandang gadis itu, ia merasakan kasih sayang yang besar terhadapnya.
Rasanya ia ingin segera menghampirinya dan memegang tangannya eraterat supaya ia tidak diterbangkan angin.
Kata ibunya.
"Ini adalah putri bibimu. Bibimu harus pergi ke tempat yang sangat jauh, jadi mulai sekarang ia akan tinggal bersama-sama dengan kita. Kau selalu bilang, kau ingin adik perempuan. Nah, ini aku sudah menemukannya untukmu. Kau harus selalu baik padanya, jangan membuatnya sedih."
Namun seakan-akan ia tidak mendengar perkataan ibunya. Karena gadis kecil itu telah berlari ke arahnya dan menatap orang-orangan salju buatannya. Tanya gadis kecil itu.
"Mengapa dia tidak punya mata?"
Tanyanya.
"Kau ingin meletakkan matanya?"
Gadis itu mengangguk.
Ia memberikan dua potong arang itu kepadanya.
Inilah pertama kalinya ia membagi kebahagiaannya dengan orang lain.
Sejak saat itu, ia selalu membagi apapun yang dimilikinya dengan gadis itu.
Ketika orang memberi biskuit padanya, ia selalu menyimpannya di kantongnya.
Ketika ia bertemu dengan gadis itu, barulah ia membelahnya menjadi dua, dan makan bersama dengan dia.
Selama ia dapat melihat sorot mata bahagia di mata gadis itu, kebahagiaan itu tidak dapat digantikan dengan apapun juga di dunia ini.
Ia bersedia membagi hidupnya dengan gadis itu.
Gadis itu pun merasa demikian.
Ia tahu.
Ia percaya.
Saat mereka berpisah sekalipun, ia selalu merasa di hatinya yang terdalam bahwa ialah satu-satunya yang dapat berbagi kesusahan, kegembiraan, rahasia, segala sesuatu dengan gadis itu.
Bahkan sampai sekarang pun ia masih mempercayainya…..
Gang yang sempit.
Salju telah menimbun dari sehari sebelumnya.
Salju itu mulai mencair dan tanah menjadi lembab dan berlumpur.
Ada bagian tanah yang kering dekat tembok, tapi Li Sun-Hoan sengaja berjalan di salju yang bercampur lumpur.
Ia menikmati rasa sejuk saat kakinya masuk ke dalam lumpur yang lembut itu.
Entah mengapa, hal itu dapat menenangkan hatinya.
Dulu, ia benci lumpur.
Lebih baik ia mengambil jalan memutar yang jauh daripada harus berjalan lewat lumpur.
Namun kini ia menyadari bahwa lumpur pun ada sisi baiknya.
Ia menahan pijakan langkahmu, dan pada saat yang sama melindungi dan menyelimuti kakimu dengan kelembutannya.
Bukankah ada juga orang-orang di dunia ini yang seperti lumpur?
Mereka terus menerus melapangkan dada dari rasa benci dan hinaan orang lain, tanpa pernah menyimpan dendam dan menuntut balas….
Jika tidak ada tanah dan lumpur dalam dunia ini, bagaimana biji-bijian bisa tumbuh?
Bagaimana pohon yang tinggi besar bisa ada?
Mereka tidak pernah mendendam dan merasa benci karena mereka sadar sepenuhnya akan harga diri mereka.
Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan mengangkat kepalanya.
Temboknya tampak baru saja dibersihkan, namun papan nama di depan warung Si Bungkuk Sun sudah tua dan kusam.
Dari tempat ia berdiri, ia tidak bisa melihat siapa pun juga di dalam sana.
Hari belum gelap, sehingga lilin dan lentera pun belum dipasang.
Waktu hari mulai gelap, apakah lentera kecil di pondok kecil itu pun akan dinyalakan?
Benak Li Sun-Hoan berkelana, berpikir tentang hal-hal yang tidak ingin dipikirkannya.
Selama dua tahun ia selalu duduk di kursi di sudut sana menunggu dan memandangi lentera kecil itu.
Si Bungkuk Sun dengan setia menemaninya.
Ia tidak pernah bicara, tidak pernah bertanya.
Sun Sio-ang pun mendesah dan berkata.
"Waktu makan malam belum tiba. Warungnya pasti masih sepi. Apa yang sedang dilakukan Jisusiok sekarang ya? Apakah ia sedang sibuk membersihkan meja?"
Si Bungkuk Sun tidak sedang membersihkan meja.
Ia tidak akan pernah membersihkan meja-meja itu lagi!
Mereka melihat tangan di atas meja.
Tangan itu menggenggam lap meja.
Menggenggamnya erat-erat.
Pintu tertutup rapat.
Mereka menggedornya kuat-kuat, namun tidak ada jawaban.
Mereka memanggil keraskeras, tapi tidak ada yang menyahut.
Sun Sio-ang tampak lebih kuatir daripada Li Sun-Hoan.
Ia mendobrak pintu dan melihat tangan itu.
Tangan itu telah terpotong di pergelangannya.
Sun Sio-ang sangat terkejut dan segera menghampiri meja.
Itu adalah meja tempat Li Sun-Hoan selalu duduk dan minum arak selama dua tahun.
Wajah Li Sun-Hoan menjadi pucat.
Ia mengenali tangan itu.
Selama dua tahun, tangan itulah yang dengan setia menuangkan arak ke cawannya, tidak terhitung berapa kali banyaknya.
Ketika ia mabuk, tangan itulah yang membimbing dia masuk ke kamarnya.
Ketika ia sakit, tangan itulah yang menyeduhkan obat untuknya.
Tapi sekarang, tangan itu telah berubah menjadi seonggok daging kering yang mati.
Darahnya sudah membeku dan otot-ototnya kejang.
Jari-jari yang memegang lap meja itu menggenggam begitu kuat seakan-akan berpegangan pada nyawanya.
Apakah ia sedang mengelap meja saat seseorang tibatiba menebas tangannya?
Meja itu terlihat bersih mengkilap.
Ketika ia mengelap meja itu, apakah ia teringat pada Li Sun-Hoan?
Tiba-tiba Li Sun-Hoan merasa sakit di dadanya seperti tertusuk sembilu.
Air mata Sun Sio-ang sudah mengalir deras ke pipinya saat ia bertanya.
"Apakah kau tahu tangan siapa ini?"
Li Sun-Hoan mengangguk perlahan.
"Di manakah dia….di manakah tubuhnya?"
Suara Sun Sio-ang terdengar gemetar.
Tiba-tiba ia berlari ke luar.
Warung kecil itu kosong, kosong sama sekali.
Ketika ia masuk kembali, Li Sun-Hoan masih berdiri di samping meja itu.
Pandangannya masih tetap tertuju pada tangan itu.
Empat jarinya tertekuk memegang lap itu.
Satu jari menunjuk ke arah luar.
Lurus bagai anak panah, menunjuk ke arah jendela warung itu.
Jendela itu terbuka lebar.
Li Sun-Hoan menengadah dan memandang ke luar jendela.
Sun Sio-ang mengikuti arah pandangannya dan memandang ke luar jendela juga.
Tiba-tiba keduanya berlari ke sana dan melompat ke luar secara bersamaan.
Di luar, angin bertiup menembus sumsum.
Air di selokan pun sudah membeku.
Di luar sana ada gang kecil yang tidak lebih besar daripada selokan itu.
Mungkin juga sebenarnya itu bukan gang, tapi hanya selokan kering.
Mereka menyusuri gang itu sampai ujungnya dan melihat ada sebuah pintu kecil.
Mereka tidak tahu rumah siapakah itu.
Bahkan mungkin pintu kecil itu tidak pernah digunakan.
Itu hanyalah sebuah gang buntu.
Pintu itu tidak terkunci.
Di pegangannya terlihat sebuah cap tangan berwarna merah.
Tangan yang berlumuran darah.
Sun Sio-ang segera berlari ke sana dan memeriksanya.
Lalu ia menoleh ke arah Li Sun-Hoan.
Bibirnya sudah berdarah karena digigitnya begitu keras.
Katanya.
"Siangkoan Kim-hong sudah memperhitungkan bahwa kau akan datang ke sini."
Mulut Li Sun-Hoan tetap terkatup. Lanjut Sun Sio-ang.
"Ia tahu bahwa kau tidak akan langsung pergi ke Hin-hun-ceng karena kau tidak ingin bertemu dengan Liong Siau-hun. Ia menduga pasti kau akan menemui Jisusiok terlebih dahulu."
Li Sun-Hoan tetap diam.
"Ini semua adalah jebakan yang sudah dipersiapkannya bagimu."
Mulut Li Sun-Hoan masih terkancing.
"Jadi kau tidak boleh masuk ke sana."
"Dan kau?"
Tanya Li Sun-Hoan tiba-tiba. Sahut Sun Sio-ang.
"Bagiku tidak ada masalah. Bukan aku yang ingin dibunuh oleh Siangkoan Kim-hong."
"Jadi kau boleh masuk."
"Tidak ada yang bisa menghalangi aku masuk,"
Kata Sun Sio-ang tegas. Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata.
"Sepertinya kau tidak memahami aku sebaik Siangkoan Kim-hong."
"Oh?"
"Jika ia memang memasang perangkap untukku, ia tahu aku pasti akan masuk melalui pintu ini. Sekalipun ada orang yang menggergaji kedua kakiku, aku tetap akan merangkak masuk ke dalam sana!"
Sun Sio-ang menatapnya.
Air matanya yang hangat kembali membasahi wajahnya.
Ia menghampiri Li Sun-Hoan dan memeluknya.
Kini air matanya membasahi wajah Li Sun-Hoan.
Ia menyeka wajah Li Sun-Hoan, seolah-olah ia sedang menggunakan air matanya untuk menghapus kelelahan Li Sun-Hoan.
Karena memang hanya ada satu hal yang dapat menghapus kelelahan seorang laki-laki, yaitu air mata kekasihnya.
Lengan dan kaki Li Sun-Hoan yang tegang mulai mengendur.
Akhirnya ia pun tidak dapat menahan diri dan membalas pelukan Sun Sio-ang.
Keduanya saling berpelukan begitu erat.
Karena inilah kali pertama mereka saling berpelukan, tapi mungkin juga untuk yang terakhir kalinya!
Seakan-akan matahari pun tidak ingin menyinari gang kecil itu.
Suasana terasa sangat suram dan keruh.
Di balik pintu, kegelapan lebih pekat lagi.
Ketika mereka mendorong pintu itu terbuka, tercium bau busuk yang sangat menusuk yang membuat mereka merasa ingin muntah.
Bau daging dan darah yang membusuk!
Lalu mereka mendengar suara-suara yang sangat aneh.
Seperti seekor binatang yang sedang kesakitan menunggu ajalnya.
Seperti hantu yang sedang menjeritjerit minta dilepaskan dari siksaan neraka.
Tapi suara itu memang kedengaran dari bawah tanah!
Ada lebih dari dua puluh orang di bawah sana.
Mereka mengertakkan gigi bagaikan binatang yang sedang bertempur hidup dan mati.
Tidak ada yang buka mulut.
Diancam dengan pisau sekalipun, tidak ada yang berani buka suara.
Tadinya ada 26 orang.
9 sudah gugur.
17 orang yang tersisa dipisahkan menjadi dua.
Kelompok yang lebih kuat jumlahnya lebih banyak daripada kelompok yang lebih lemah.
Mereka berjumlah 12 dan semuanya berpakaian kuning.
Mereka semua mempunyai senjata yang tidak lazim, salah satunya bersenjatakan sipoa besi.
Kelompok yang lain awalnya berjumlah 9 orang, namun kini tinggal 5.
Salah satunya buta.
Ada juga seseorang yang tinggi kekar berikat pinggang merah.
Ia tidak bersenjata.
Tubuhnya adalah senjatanya!
Terlihat selarik sinar menyambar, sebuah golok penyisik ikan menyerang bahu kirinya.
Seperti sebuah kampak memotong kayu.
Golok yang tajam itu membelah dagingnya, namun tertahan oleh tulang bahunya!
Orang berbaju kuning itu berusaha keras menarik goloknya, namun orang tinggi kekar itu sudah menghantam dadanya dengan telapak tangannya.
Terdengar suara gemeretak tulang-tulang yang patah.
‘Peng’.
Tubuh itu sudah melayang dan jatuh berdebam.
Tapi orang tinggi kekar itu sudah tidak bisa lagi menggerakkan tangan kirinya.
Tiba-tiba ia berseru.
"Kalian semua pergi dulu, aku akan tinggal dan menahan mereka. Cepat!"
Tidak ada yang bergerak mundur. Tidak seorang pun menjawabnya juga. Seseorang yang sudah rebah di tanah berusaha berdiri dan berkata dengan suara parau.
"Kita tidak bisa mundur. Walaupun mati, kita harus membawanya bersama dengan kita!"
Mereka berada di terowongan bawah tanah.
Di sana, lentera menyala sepanjang hari, sepanjang tahun.
Lentera itu dipasang di dinding.
Dalam cahayanya yang remang-remang terlihat bahwa yang baru saja bicara adalah seorang wanita.
Seorang wanita yang tinggi besar dan gemuk.
Di wajahnya tampak bekas luka yang memanjang dari mata sampai ke sudut mulutnya.
Mata kanannya buta.
Dengan mata kirinya ia sedang memandang orang tinggi kekar itu.
Tatapan itu penuh dengan dendam kesumat.
Dendam kesumat yang tidak akan padam, sekalipun dalam kematian.
Si Wanita Tukang Jagal, Ang-toanio!
Dan siapakah orang tinggi kekar itu?
Mungkinkah ini adalah orang yang sudah bertahun-tahun tidak didengar kabarnya, Thi Toan-kah?
Saat ini, wanita itu sudah tidak mungkin bangun lagi.
Matanya masih terbuka lebar, masih menatap Thi Toankah.
Dia telah mati tanpa kesakitan, tanpa ketakutan sedikit pun.
Karena yang ada di benaknya hanyalah membalas dendam.
Selain membalas dendam, ia tidak memikirkan dan tidak merasakan yang lain.
Thi Toan-kah mengatupkan giginya saat sebilah pedang kembali menusuk tubuhnya.
Ia menghentakkan kakinya dan berkata.
"Kalian benar-benar tidak mau pergi? Jika kalian semua mati, siapa yang akan membawaku pergi?"
Si buta tertawa dingin dan berkata.
"Sekalipun kami semua mati, kami tetap akan membawa jiwamu pergi bersama dengan kami!"
Walaupun ilmu silatnya lebih tinggi daripada mereka yang tidak buta, ia tetaplah seorang buta.
Ia bergantung sepenuhnya pada telinganya untuk mengetahui gerakan lawan dan menentukan posisi mereka.
Namun jika ada orang yang berbicara, telinganya tidak akan setajam biasanya.
Sebelum dua kalimatnya selesai, sebuah kait harimau telah menyambar dan menoreh dadanya.
Kait itu dipuntir dan ditarik ke atas, sehingga daging dan darah menggantung di situ.
Thi Toan-kah hampir tidak tahan dan ingin muntah melihatnya.
Walaupun sudah sering membunuh, ia bukanlah orang yang kejam.
Walaupun tubuhnya sangat keras, hatinya teramat lembut.
Namun kini tangannya pun sudah menjadi lembut.
Ia tidak lagi mampu membunuh.
Tiba-tiba ia berteriak.
"Lalu bagaimana jika aku mati di tanganmu?"
Si buta kembali tertawa dan berkata.
"Kami tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi di sini. Kami hanya datang untuk mencarimu."
Seorang lagi berkata dengan suara kasar.
"Jika ‘Tionggoan-pat-gi’ tidak bisa mencabut nyawamu dengan tangan kami, kematian kami akan sia-sia belaka!"
Wajah orang itu burikan dan ia menggunakan dua buah golok, satu pendek satu panjang.
Ia adalah keturunan Sekte Utara Si Golok Yin Yang, Kongsun Uh.
Thi Toan-kah pun tertawa.
Dalam situasi seperti ini, mengapa seseorang malah tertawa?
Tapi itu adalah tawa yang membuat bulu kuduk orang berdiri.
Lalu katanya.
"Jadi kalian hanya ingin membunuhku dengan tangan kalian sendiri. Itu gampang saja….."
Ia melayangkan tangannya ke belakang dan mendorong seseorang berpakaian kuning ke belakang.
Lalu tiba-tiba ia berlari cepat, langsung ke arah golok Kongsun Uh.
Kongsun Uh terbelalak, tidak percaya apa yang terjadi, saat golok pendeknya menembus dada Thi Toan-kah!
Darah muncrat membasahi dadanya.
Raungannya terputus saat ia jatuh tersungkur ke tanah.
Di punggungnya tertancap tombak berbunga sepanjang satu meter.
Rumbai berwarna merah yang menghiasi mata tombak itu masih terayun-ayun.
Thi Toan-kah pun jatuh tersungkur.
Dari mulutnya terusmenerus terdengar gumaman.
"Semua hutangku kini sudah terbayar lunas, mengapa kalian belum pergi juga?"
Ia hanya memandang kosong saat sebuah tombak menusuk ke arahnya.
Ia tidak berusaha menangkisnya, tidak berusaha mengelak.
Bab 79.
Persahabatan yang Tulus dan Setia Kongsun Uh berteriak lagi saat ia berusaha merangkak mengangkat tubuhnya.
"Kita pasti telah salah sangka. Ia pasti tidak….."
Suaranya putus.
Sebatang tombak lagi menusuk punggung Kongsun Uh!
Dan tombak itu pun dicabut.
Dalam keremangan cahaya lentera di dinding sana, tampak kabut tipis menyelimuti terowongan itu.
Kabut tipis berwarna merah muda.
Kabut darah!
Awalnya ada 26 orang.
Kini 16 orang sudah gugur.
Tapi pembantaian berdarah ini tampaknya belum selesai.
Kini kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah tampak makin besar perbedaannya.
Seorang penjual obat dengan enam luka di tubuhnya berkata dengan suara serak.
"Thi Toan-kah sudah mati, mari kita pergi dari tempat ini!"
Hanya tinggal 3 orang yang hidup dari kelompok mereka.
Dan mereka kini berada di pihak yang kalah.
Tidak mungkin mereka bisa terus bertahan.
Seseorang dengan kapak di tangannya, Kapak Pembelah Gunung Hua, mengertakkan giginya dan berkata.
"Jisuheng, apakah kita harus mundur?"
Si buta menjawab.
"Mundur? ‘Tionggoan-pat-gi’ lebih baik mati daripada mundur. Siapa yang mengatakan kata ‘mundur’ sekali lagi akan kubunuh sekarang juga!"
Salah seorang yang berpakaian kuning tertawa dan berkata.
"Bagus! Kalian memang punya nyali! Maka hari ini, biarlah kami yang melaksanakan impian kematian….."
Suaranya tiba-tiba terputus.
Matanya melotot seperti mata ikan mati.
Kematiannya tiba-tiba dan hampir tanpa suara.
Hanya terdengar bunyi ‘Gaak’ ‘Gaak’ yang lemah dari tenggorokannya.
Nafasnya belum putus, namun ia sudah tidak bisa lagi melanjutkan perkataannya.
Ia mencoba sekuat tenaga, namun tiada sepatah katapun yang bisa keluar.
Karena di lehernya terlihat ada sebilah pisau menancap.
Pisau sepanjang 15 cm.
Pisau Kilat si Li!
Tiba-tiba semua gerakan berhenti.
Mata semua orang tertuju pada pisau itu.
Tidak ada yang tahu dari mana datangnya pisau itu, tapi semua orang tahu siapa yang sudah tiba.
Setiap orang di terowongan bawah tanah itu ternganga mulutnya.
Li Sun-Hoan berdiri tepat di hadapan mereka semua.
Tapi tidak seorang pun berani menoleh memandangnya.
Mereka kuatir, saat mereka menoleh, pisau pencabut nyawa itu tiba-tiba bersarang di leher mereka.
Mereka semua adalah anggota papan atas yang setia dalam Kim-ci-pang.
Tidak seorang pun pengecut dan takut mati.
Namun saat ini, mereka semua sudah lemah dan kehabisan tenaga.
Mereka sudah melihat terlalu banyak kematian, terlalu banyak darah yang tertumpah.
Hal ini telah banyak melunturkan semangat mereka.
Lagi pula, ‘Pisau Kilat si Li’ sudah terkenal di seluruh dunia.
Ini bukan pisau biasa, pisau ini seakan-akan punya jiwa dan roh yang haus darah!
Empat kata itu kini terasa semakin erat hubungannya dengan arti kematian.
Atau mungkin baru sekarang mereka sungguh-sungguh mengerti arti kematian.
Mayat teman seperjuangan mereka masih tergeletak dekat kaki mereka.
Sedetik yang lalu ia masih merupakan manusia hidup yang bernafas.
Lalu pisau yang mengerikan itu telah mengubahnya menjadi tubuh yang kaku dan mati.
Hidupnya menjadi tidak berarti, bahkan sebelum ia menyadarinya.
Tidak ada yang lebih mengerikan daripada perubahan mendadak.
Yang menakutkan bukanlah kematian itu, namun penantian akan kematian itu sendiri.
Tiba-tiba Si Buta bertanya.
"Li Tamhoa?"
Walaupun ia tidak bisa melihat apapun juga dan tidak terdengar suara apapun juga, entah bagaimana ia bisa merasakan kehadiran Li Sun-Hoan. Ia bisa merasakan hawa membunuh yang begitu kental.
"Ya,"
Jawab Li Sun-Hoan.
Si Buta menghela nafas, lalu duduk bersila.
Kim Hong-pek dan Si Penebang Kayu mengikutinya dan duduk perlahan.
Mereka duduk tepat di antara genangan darah yang mengalir dari tubuh Kongsun Uh dan Thi Toan-kah.
Dari sorot mata mereka, seakan-akan mereka sedang duduk di dunia yang lain.
Dalam dunia itu, tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi penderitaan.
Li Sun-Hoan berjalan perlahan ke kelompok orang berpakaian kuning itu.
Tangannya kosong.
Tidak ada pisau di sana.
Namun seolah-olah pisau itu ada di matanya.
Ia menatap mereka dan bertanya.
"Di mana orang yang mereka bawa?"
Orang-orang berbaju kuning itu menunduk memandangi kaki mereka. Li Sun-Hoan mengeluh dan berkata perlahan.
"Aku tidak ingin memaksa kalian, namun kuharap kalian pun tidak memaksaku juga."
Salah satu dari mereka yang berdiri tepat di hadapannya, yang wajahnya sudah basah oleh keringat dingin dan yang tubuhnya sudah gemetar hebat, tiba-tiba bertanya.
"Apakah kau bertanya mengenai Si Bungkuk Sun?"
"Ya."
Orang itu tersenyum janggal lalu berseru.
"Baik! Akan kubawa kau padanya. Ikuti aku!"
Senjatanya adalah kait kepala harimau.
Setelah kalimatnya selesai, tangannya naik ke atas.
Ujung kaitnya menembus lehernya sendiri.
Ia tidak bisa lagi menahan penantian yang mengerikan ini.
Kematian adalah jalan keluar yang paling cepat.
Li Sun-Hoan menyaksikan tubuhnya berdebam jatuh ke tanah.
Tangannya terkepal erat.
Si Bungkuk Sun sudah mati!
Kematian si kait kepala harimau itulah jawabannya.
Tapi bagaimana dengan Lim Si-im?
Tiba-tiba sinar ketakutan terpancar dari mata Li Sun-Hoan.
Perlahan matanya terangkat dari tubuh yang mati itu.
Tiba-tiba ia mendengar suara Thi Toan-kah.
Keringat dan darah sudah membasahi wajahnya dan menutupi matanya.
Ia hampir-hampir tidak bisa melihat dan nafasnya tersengal-sengal.
Katanya.
"Ih Beng-oh, Ihjiko….."
Wajah Si Buta yang biasanya kaku seperti batu mulai bergerak-gerak. Ia mengatupkan giginya dan menjawab.
"Aku di sini."
"Apa….Apakah hutangku sudah terbayar lunas?"
"Hutangmu sudah terbayar lunas."
"Ada satu hal lagi yang ingin kukatakan,"
Kata Thi Toankah.
"Katakan saja."
"Walaupun aku sudah bersalah terhadap Ang-heng, aku tidak pernah mengkhianatinya. Aku hanya…."
Ih Beng-oh segera memotongnya dan berkata.
"Kau tidak perlu bicara lagi, aku sudah mengerti."
Ia benar-benar mengerti.
Seseorang yang mengkhianati sahabatnya tidak mungkin mau mengorbankan dirinya dalam situasi seperti tadi.
Bukan hanya Ih Beng-oh yang mengerti.
Kim Hong-pek dan Si Penebang Kayu pun mengerti betul.
Sayang sekali mereka terlambat menyadarinya.
Air mata mulai meleleh dari mata Ih Beng-oh.
Mata yang sudah buta bertahun-tahun lamanya.
Li Sun-Hoan melihatnya.
Melihatnya dengan jelas.
Itulah pertama kalinya ia menyadari bahwa orang buta pun dapat meneteskan air mata.
Air mata yang hangat pun telah mengalir dari matanya sendiri.
Air mata yang hangat itu jatuh ke atas wajah Thi Toankah yang mulai dingin.
Ia berlutut dan menyeka keringat dan darah dari wajah Thi Toan-kah.
Akhirnya Thi Toan-kah membuka matanya dan segera setelah dilihatnya Li Sun-Hoan, ia berseru gembira.
"Siauya! Siauya….kau benar-benar telah datang!"
Ia sungguh penuh dengan suka cita, ia berusaha bangun, namun terus-menerus roboh kembali. Li Sun-Hoan berlutut di sampingnya dan berkata.
"Aku sudah datang. Kita punya banyak waktu untuk bercakapcakap nanti."
Thi Toan-kah berusaha keras menggelengkan kepalanya dan tersenyum pedih. Katanya.
"Kini aku bisa mati tanpa menyesal. Tidak ada lagi yang perlu kukatakan."
Li Sun-Hoan tersenyum dengan mata penuh air mata.
"Tapi masih banyak yang seharusnya kau katakan. Kau tidak pernah mengkhianati Ang-heng. Mengapa tidak kau ceritakan seluruhnya? Mengapa kau menunda-nunda begitu lama?"
Sahut Thi Toan-kah.
"Aku menundanya bukan demi diriku sendiri."
"Lalu demi siapa?"
Thi Toan-kah kembali menggelengkan kepalanya.
Lengan dan kakinya mulai mengejang karena kesakitan, namun wajahnya tetap tenang dan damai.
Bahkan seulas senyum gembira terkulum di sudut bibirnya.
Kematiannya sungguh penuh kedamaian.
Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup ini adalah mati dengan damai!
Li Sun-Hoan terus berlutut di sampingnya.
Seluruh tubuhnya mati rasa.
Ia tahu demi siapa Thi Toan-kah mati.
Kemungkinan besar Thi Toan-kah tiba di Hin-hun-ceng sebelum Li Sun-Hoan dan mengetahui rencana Siangkoan Kim-hong untuk menjebaknya, maka ia mengikuti rombongan orang berbaju kuning ini ke dalam terowongan bawah tanah.
Jika Thi Toan-kah tahu bahwa ada kemungkinan Li Sun-Hoan berada dalam bahaya, tidak mungkin Thi Toan-kah hanya berpangku tangan.
Kemana pun juga, ia akan pergi menolongnya.
Namun bagaimana ia bisa tahu rencana Siangkoan Kimhong?
Dan apa sebenarnya rahasia antara dia dengan Ang Thian-kiat, atau Ang-heng itu?
Yang sampai matipun tidak dibeberkannya?
"Apakah sebenarnya yang kau sembunyikan?
Walaupun kau bisa mati tanpa penyesalan, bagaimana aku bisa hidup dengan tenang jika kau berakhir seperti ini?"
Kata Li Sun-Hoan dengan muram.
"Kurasa aku tahu apa yang disembunyikannya,"
Kata Kim Hong-pek tiba-tiba.
"Kau…..kau tahu?"
Tanya Li Sun-Hoan tidak percaya. Wajah Kim Hong-pek selalu tampak kelam dan sedih. Namun kini warnanya hijau seperti sedang sakit. Ia mengertakkan gigi dan berkata.
"Persahabatan dan kesetiaan Ang toako sudah terkenal sangat luas. Kurasa kau pun pasti mengetahuinya."
"Ya, aku tahu."
"Selama itu adalah permintaan sahabatnya, ia tidak akan pernah menolak. Karena itu, pengeluarannya pun menjadi tidak sedikit. Namun ia tidak seperti engkau, ia tidak mempunyai ayah yang menjabat sebagai Menteri Kerajaan."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Jadi ia selalu hidup dalam kemiskinan. Seseorang yang miskin, namun mempunyai banyak sahabat, tapi juga menginginkan penghormatan, harus memikirkan cara lain untuk membayar hutang-hutangnya,"
Kata Kim Hongpek.
"Maksudmu…. Ang-heng terlibat urusan yang tidak halal?"
Tanya Si Penebang Kayu terbelalak.
"Betul, aku secara tidak sengaja mendengarnya. Tapi aku tidak sanggup mengatakannya, karena aku tahu bahwa Ang-heng melakukannya karena ia sangat terdesak kebutuhan,"
Kata Kim Hong-pek. Lalu ia melanjutkan dengan lantang.
"Lagi pula semua orang yang ditipu Ang-heng memang pantas mendapat ganjaran! Walaupun ia memang menipu dan memanfaatkan orang, ia tidak pernah melakukan yang bertentangan dengan moral dan hati nuraninya."
Tanya Ih Beng-oh.
"Lalu apa hubungan Thi Toan-kah dengan kasus ini?"
"Setelah ada banyak yang aneh, orang mulai curiga dan menyelidiki transaksi-transaksinya. Salah satu sahabat Thi Toan-kah adalah inspektur yang bertanggung jawab akan kasus ini. Mereka berdua sudah mencurigai Ang toako sejak lama, namun mereka tidak punya bukti."
"Mungkin itulah sebabnya Thi Toan-kah pura-pura bersahabat dengan Ang toako, supaya ia dapat menyelidiki lebih jauh dan menemukan bukti-bukti yang kuat,"
Kata Si Penebang Kayu.
"Mungkin itulah yang terjadi."
Kim Hong-pek melanjutkan.
"Namun Thi Toan-kah tidak ingin mengungkapkannya karena Ang toako selalu baik padanya. Ia sudah menganggap Ang toako sebagai sahabatnya, dan ia tidak mungkin mengungkapkannya dan merusak reputasi Ang toako setelah ia meninggal. Oleh sebab itulah ia menanggung semua kesalahan dan tuduhan kita. Ia bukan melarikan diri demi dirinya sendiri."
Tanya Ih Beng-oh.
"Lalu mengapa kau tidak pernah memberitahukannya kepada kita semua?"
"Aku….? Bagaimana aku dapat mengungkapkannya? Ang toako begitu murah hati dan baik kepadaku. Thi Toankah saja tidak mau mengatakannya, bagaimana mungkin aku tega melakukannya?"
"Bagus sekali! Kau memang sahabat sejati Ang toako!"
Kata Ih Beng-oh. Terlihat senyum dingin menghiasi wajahnya, namun seluruh tubuhnya bergetar hebat. Kata Kim Hong-pek.
"Aku tahu bahwa ini memang tidak adil bagi Thi Toan-kah, tapi aku tidak punya pilihan lain, aku sungguh-sungguh tidak punya pilihan lain….."
Suaranya makin lirih saat ia berbicara, dan tiba-tiba diangkatnya sebatang golok.
Golok yang sama yang telah mengambil nyawa Thi Toan-kah.
Ia mengarahkannya pada tubuhnya sendiri dan menusuk dadanya, tepat di tempat golok itu menusuk dada Thi Toan-kah.
Walaupun ia mengerang kesakitan, di wajahnya terbayang senyuman yang sama dengan senyuman Thi Toan-kah.
"Aku sudah berhutang begitu banyak kepadanya, namun sekarang, paling tidak hutang itu sudah kubayar lunas!"
Dan ia pun mati dengan tenang….. Salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup ini adalah mati dengan tenang. Tiba-tiba Ih Beng-oh tertawa seperti orang kesurupan.
"Bagus sekali! Kau sudah berani untuk mengatakan kebenaran, juga berani untuk membayar hutang darah ini, kau sungguh-sungguh adalah sobat sejatiku! Paling tidak kita, ‘Tionggoan-pat-gi’ tidak pernah sekalipun mempermalukan diri kita sendiri!"
Lama-kelamaan suara tawanya menjadi seperti tangisan yang memilukan.
Lalu Si Penebang kayu pun berlutut di hadapan tubuh Thi Toan-kah yang berlumuran darah, dan membungkuk sekali.
Kemudian ia menoleh pada Ih Beng-oh dan berkata.
"Jisuheng, aku pergi duluan."
Tawa Ih Beng-oh pun terhenti mendadak dan sikapnya kembali menjadi dingin dan tenang. Sahutnya.
"Baiklah."
Kapaknya terangkat ke atas, darah tersembur ke tanah, ia pun mati.
Bahkan lebih cepat, lebih tenang.
Jika Li Sun-Hoan tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah percaya bahwa ada orangorang yang sama sekali tidak takut akan kematian seperti mereka ini.
Ih Beng-oh menoleh pada Li Sun-Hoan.
Di wajahnya tidak tergambar emosi apapun.
Katanya.
"Aku masih belum pergi, karena masih ada yang harus kukatakan kepadamu."
Li Sun-Hoan hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Mungkin sekarang kau sudah bisa menebak bahwa kami telah bersembunyi di sini sejak lama. Kami sudah mengira bahwa cepat atau lambat, Thi Toan-kah akan kembali ke sini. Oleh sebab itu, kami tahu banyak hal yang telah terjadi di sini."
Lanjut Ih Beng-oh perlahan-lahan.
"Kami tahu akan rencana Siangkoan Kim-hong sejak awal. Liong Siau-hun pun mengetahuinya. Aku selalu merasa heran, mengapa kau mau berteman dengan orang semacam dia."
Tentu saja Li Sun-Hoan tidak bisa menjawabnya.
"Thi Toan-kah mengetahui akan perangkap ini dari Liong Siau-hun. Ia sengaja membocorkan rahasia ini, karena ia ingin mengantarkan Thi Toan-kah ke dalam liang kuburnya. Tapi dia tidak menyangka bahwa kami mengikutinya kemari, karena kami tidak akan membiarkan dia mati di tangan orang lain."
Lanjutnya lagi.
"Namun tentang Nyonya… Nyonya Lim Siim, ia sama sekali tidak berada dalam bahaya. Ia tidak berada di tangan Siangkoan Kim-hong. Jika kau mampir ke Hin-hun-ceng, kau pasti akan menjumpainya di sana."
Li Sun-Hoan merasakan kehangatan di dadanya.
Apakah itu rasa terima kasih?
Apakah itu rasa bahagia?
"Dan sekarang, segala permusuhan di antara kami telah selesai.
Aku hanya bisa berharap bahwa kau sudi menguburkan kami bersama-sama.
Dan jika ada yang bertanya tentang ‘Tionggoan-pat-gi’, aku berharap kau bisa menjelaskan kepada mereka bahwa walaupun kami telah berbuat kesalahan dalam hidup kami, kami telah berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya dalam kematian kami,"
Kata Ih Beng-oh.
Orang-orang berjubah kuning yang masih hidup diamdiam meloloskan diri keluar.
Walaupun Li Sun-Hoan melihat mereka pergi, ia tidak merasa perlu untuk menghalangi mereka.
Ia pun tidak merasa perlu untuk menghalangi Ih Bengoh.
Karena ia tahu pasti, Ih Beng-oh tidak mungkin bisa terus hidup.
Jikalau seseorang bisa mati dengan tenang, apa lagi yang diinginkannya?
Kematian tidak berarti apapun juga bagi mereka.
Kini, saat Li Sun-Hoan memandangi lantai yang penuh mayat, ia pun bergidik.
Ia menyadari betapa brutal dan mengerikannya pembalasan dendam itu.
Namun sedalam apapun dendam mereka, kini semuanya telah selesai.
Perkataan Ih Beng-oh sungguh tepat.
Walaupun mereka melakukan kesalahan dalam hidup mereka, mereka telah mati dengan terhormat, dengan gagah, dengan hati nurani yang bersih.
Begitu sedikit orang dalam dunia ini yang dapat mati seperti mereka.
Lengan dan kaki Li Sun-Hoan terasa begitu dingin, sampai ia menggigil.
Namun dalam dadanya, terasa api yang membara.
Ia menjatuhkan diri, berlutut dalam genangan darah mereka.
Darah ksatria sejati!
Ia berlutut dengan hati tenang.
Ia sungguh lebih suka berada di sini, bersama dengan orang-orang benar yang mati, daripada bersama dengan senyuman orang-orang licik yang hidup.
‘Pria sejati tidak lupa diri oleh kesukaan dalam hidup dan tidak terguncang oleh ketakutan dalam kematian’.
Jika seseorang bisa mati tanpa penyesalan, apakah yang harus ditakuti dari kematian?
Tapi sungguh-sungguh teramat sulit untuk mati seperti itu!
Selama itu, Sun Sio-ang sama sekali tidak menginjakkan kaki di tempat itu.
Bukan karena ia takut, namun karena ia tidak tahan melihat adegan berdarah seperti itu.
Ia baru menyadari, laki-laki memang berbeda dari wanita.
Ia baru menyadari bahwa menjadi wanita pun merupakan suatu anugerah.
*** Malam.
Dalam warung kecil itu ada setitik cahaya dan dua orang manusia.
Cahayanya guram, namun hati mereka lebih muram lagi…..
Lilin itu berada tepat di hadapan Li Sun-Hoan.
Arak pun ada di hadapan Li Sun-Hoan.
Namun seakan-akan ia tidak bertenaga untuk mengangkat cawan itu.
Yang bisa dilakukannya adalah menatap cawan itu saja dengan pandangan kosong.
Cahaya lilin menari dan berkelap-kelip.
Setelah sekian lama, akhirnya Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata.
"Mari kita pergi."
"Ak….Aku ikut denganmu?"
Tanya Sun Sio-ang ragu.
"Kita datang bersama. Tentu saja kita pulang bersama."
"Pulang? Tapi, apakah kau tidak jadi berkunjung ke Hinhun-ceng?"
Li Sun-Hoan menggeleng.
"Tapi bukankah tujuan kedatangan kita ke sini adakah untuk mengunjungi Hin-hun-ceng?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Sekarang tidak perlu lagi."
"Kenapa?"
Li Sun-Hoan menatap lurus pada lilin itu dan berkata.
"Ih Beng-oh telah mengatakan padaku bahwa dia tidak berada dalam bahaya. Itu sudah cukup bagiku."
"Dan kau percaya begitu saja pada perkataannya?"
"Ia adalah tipe orang yang bisa dipercaya."
Sun Sio-ang mengejapkan matanya dan bertanya.
"Tapi….bukankah kau ingin bertemu dengannya?"
Li Sun-Hoan terdiam. Lalu perlahan menjawab.
"Berjumpa dengannya akan seperti tidak berjumpa. Karena ia tidak berada dalam bahaya, tidak ada gunanya aku pergi ke sana."
"Tapi kau kan sudah sampai di sini. Tidak ada salahnya kau menjumpainya,"
Kata Sun Sio-ang mendesak. Kembali Li Sun-Hoan terdiam. Lalu tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.
"Tiba-tiba aku merasa bahagia. Karena perasaanku sudah tenang, tidak ada bedanya aku berjumpa dengan dia atau tidak."
Sun Sio-ang mengeluh dan tersenyum.
"Kau memang orang aneh. Orang lain tidak akan pernah mengerti apa yang kau lakukan."
"Cepat atau lambat kau akan mengerti."
Gadis itu menatap Li Sun-Hoan bengong. Lalu katanya.
"Namun paling tidak kau harus menguburkan mereka dengan sepantasnya."
"Mereka bisa menunggu, Siangkoan Kim-hong tidak,"
Sahut Li Sun-Hoan Lalu ia tersenyum pahit dan menambahkan.
"Orang mati memang jauh lebih sabar daripada orang hidup."
Bab 80. Kesalahan Fatal "Ternyata kau tidak begitu setia kawan seperti yang kusangka. Paling tidak, kau lebih setia kawan pada yang hidup daripada yang mati,"
Ejek Sun Sio-ang nakal. Tiba-tiba Li Sun-Hoan bertanya.
"Kemarin, kapan kita berangkat?"
"Malam hari, seperti sekarang ini."
"Dan kapan kita tiba hari ini?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Hampir petang, hari belum lagi gelap."
"Dan bagaimana kita bisa sampai ke sini?"
Tanya Li Sun-Hoan lagi.
"Kita naik kereta untuk beberapa saat, kemudian kita berjalan kaki sampai pagi tadi. Setelah itu kita naik kuda."
"Jadi jika kita kembali dengan cara yang sama, kita tidak mungkin bisa sampai sebelum matahari terbenam."
"Betul,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Tapi sekarang, kita sudah terjaga begitu lama. Kekuatan kita tidak sebesar kemarin. Jadi kita tidak mungkin berjalan secepat kemarin."
Sahut Sun Sio-ang.
"Dan lagi kemarin, hampir-hampir aku tidak bisa mengikutimu. Tidak heran kakek bilang bahwa kecepatanmu berjalan hampir sama dengan kecepatan pisaumu."
"Jadi walaupun kita pergi sekarang, belum tentu aku bisa datang tepat waktu untuk duel dengan Siangkoan Kimhong?"
Sun Sio-ang terdiam. Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan memandang gadis itu. Katanya.
"Seharusnya kau mendorong aku untuk segera kembali. Kau kan tahu, aku tidak bisa terlambat untuk duel itu."
Sun Sio-ang memaLingkan wajahnya dan menggigit bibirnya. Seakan-akan ia sedang menghindari tatapan mata Li Sun-Hoan. Kemudian ia berkata dengan lembut.
"Aku ingin kau berjanji padaku."
"Apa itu?"
"Kali ini, mari kita pulang dengan kereta. Jangan kita berjalan ataupun naik kuda."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau ingin aku beristirahat selama perjalanan."
"Ya. Jika kau tidak beristirahat, kau akan kehabisan tenaga sebelum menghadapi Siangkoan Kim-hong. Kau tidak akan bisa berduel jika belum apa-apa kau sudah terpuruk ke lantai."
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Baiklah, aku menurutimu. Kita pulang dengan kereta."
Seketika wajah Sun Sio-ang berbinar karena gembira.
"Kita bisa membawa arak dalam kereta. Jika kau tidak bisa tidur, aku akan minum bersamamu sepanjang perjalanan."
"Kalau aku mulai minum, lama-lama aku pasti akan tertidur,"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Bagus. Selama kau bisa beristirahat dalam perjalanan, Siangkoan Kim-hong tidak akan mampu melawanmu."
"Kau sungguh yakin akan diriku,"
Kata Li Sun-Hoan sambil tersenyum. Gadis itu menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat. Katanya.
"Tentu saja aku yakin padamu. Kalau tidak mengapa aku…."
Wajahnya menjadi bersemu merah. Tiba-tiba ia berlari keluar dan berseru dengan riang.
"Aku akan pergi mencari kereta. Kau siapkan araknya ya. Dan jika masih ada waktu, pergi dan temuilah dia. Aku berjanji, aku tidak akan cemburu."
Kuncir rambutnya melambai-lambai saat ia berlari dan dalam hitungan detik, ia sudah tidak kelihatan lagi.
Li Sun-Hoan memandanginya sampai ia tidak terlihat lagi, baru ia bangkit berdiri dan berjalan keluar.
Ia menengadah.
Di balik tembok itu, terlihat ruangan kecil di pojok atas.
Cahaya masih tampak bersinar dari kamar itu.
Namun bagaimana dengan orang di dalamnya?
Apakah ia sedang sibuk menjahit pakaian untuk putra kesayangannya?
Cinta seorang ibu akan anaknya bagaikan seutas benang yang tiada putusnya.
Namun masih belum dapat menandingi panjangnya kesepian.
Tidak ada satupun di dunia ini yang dapat menandingi panjangnya kesepian hidup.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun.
Benang yang tidak habis terjahit.
Kesepian yang tidak dapat disembuhkan.
Wanita itu telah mengubur hidupnya, dan ruang kecil itu adalah kuburannya.
Seseorang……seorang wanita…..tanpa masa muda, tanpa cinta, tanpa suka cita.
Untuk apa ia hidup?
‘Si-im, Si-im, kau telah menderita begitu banyak.’ Tiba-tiba Li Sun-Hoan membungkuk dan mulai terbatuk.
Batuk darah!
Bagaimana mungkin ia tidak ingin menemuinya?
Walaupun tubuhnya masih berdiri di situ, hatinya telah melayang pergi ke ruang kecil itu.
Walaupun hatinya telah melayang ke kamar itu, tubuhnya masih berdiri tidak bergerak di luar.
Ia tidak berani pergi ke sana.
Ia tidak sanggup.
Walaupun mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa bertemu dengannya, ia masih tetap tidak sanggup…..
Berjumpa dengannya sama seperti tidak berjumpa.
Dan walaupun ia pergi menjumpainya, apakah yang bisa diperbuatnya?
Wanita itu bukan lagi miliknya.
Ia sudah bersuami, mempunyai seorang anak, hidup dalam dunianya sendiri.
Ia sepenuhnya berada di dunianya sendiri, dunia yang lain.
Li Sun-Hoan menyeka darah dari bibirnya dan mencoba menelan kembali darah yang masih ada dalam mulutnya.
Bahkan darahnya pun terasa pahit, amat sangat pahit.
‘Si-im….Si-im, aku akan merasa puas selama kau hidup damai sejahtera.
Apakah itu di surga atau di neraka, suatu hari nanti kita akan bertemu kembali."
Namun, apakah Lim Si-im hidup damai sejahtera?
Di tengah hembusan angin malam yang dingin, Li Sun-Hoan terlihat lebih lemah daripada setangkai bunga seruni.
Li Sun-Hoan berdiri sendirian di tengah angin barat yang menderu.
Apakah ia sedang berharap bahwa angin barat itu akan menerbangkan dirinya pergi?
Akhirnya, Sun Sio-ang pun kembali.
Ia memandang Li Sun-Hoan dan bertanya.
"Kau….Kau tidak pergi menemuinya?"
Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya.
"Kau berhasil menemukan kereta?"
"Kereta sudah menunggu di depan sana. Jika kau tidak ingin menemuinya, mari kita segera pergi."
"Ayo, kita pergi!"
Jawab Li Sun-Hoan.
Kereta itu berguncang-guncang sepanjang perjalanan.
Arak pun bergoyang-goyang dalam cawannya.
Arak yang cukup umur.
Kereta itu sepertinya berusia lebih tua daripada arak itu.
Dan kudanya lebih tua lagi.
Li Sun-Hoan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum.
"Jika kuda yang menarik kereta ini adalah Si Surai Merah milik Jenderal Guan, pasti kereta ini langsung menjadi barang antik. Hebat juga kau bisa menemukan kereta seperti ini."
Sun Sio-ang tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ia mengangkat dagu sambil berkata.
"Kau tidak puas atas persiapanku?"
"Tidak, tidak, aku sangat puas. Sangat sangat puas."
Li Sun-Hoan memejamkan matanya dan menambahkan.
"Saat aku masuk ke dalam kereta ini, aku langsung teringat pada sesuatu di masa lalu."
"O ya? Apa itu?"
"Aku teringat akan kuda kayu mainanku waktu aku masih kecil. Rasanya sama seperti terayun-ayun di atas kereta ini."
Sebelum ia selesai bicara, ia merasa ada sesuatu yang dijejalkan ke dalam mulutnya.
"Habiskan kurma itu dan cepat tidur,"
Kata Sun Sio-ang sambil tersenyum. Sahut Li Sun-Hoan.
"Seandainya aku bisa tertidur dan tidak bangun lagi, ah, sungguh menyenangkan. Sayangnya….."
Sun Sio-ang segera memotongnya dan berkata.
"Aku bersusah-payah mendapatkan kereta ini supaya kau bisa beristirahat. Jika kau bisa tidur nyenyak, besok pagi kita bisa berganti kereta."
Li Sun-Hoan menghabiskan cawan araknya dan berkata.
"Kalau begitu, aku akan minum beberapa cawan lagi supaya aku bisa tidur nyenyak."
Arak di cawannya bergoyang-goyang.
Kuncir Sun Sio-ang pun terayun-ayun ke kiri ke kanan.
Matanya bercahaya dan teduh, seperti sinar bintang yang menerangi langit malam di luar sana.
Cahaya bintang tampak seperti mimpi.
Li Sun-Hoan mulai mabuk.
Di malam yang begitu indah, ditemani wanita yang begitu cantik, bagaimana mungkin ia tidak mabuk?
Karena ia sudah mabuk, bagaimana mungkin ia tidak jatuh terlelap?
Li Sun-Hoan bersandar pada salah satu sisi kereta dan mengangkat kakinya ke atas kursi kereta itu.
Ia bergumam.
"Orang bijak dan para pendekar selalu dihantui kesepian dan tidak punya sahabat kecuali guci araknya….. Namun ternyata, minum semalam suntuk pun sama menderitanya."
Lalu semuanya hening. Hanya kesunyian yang tinggal. Akhirnya ia jatuh terlelap. Sun Sio-ang memandangnya sampai lama. Lalu ia menjulurkan tangannya dan membelai rambutnya dengan lembut.
"Tidur, tidurlah dengan tenang. Setelah kau bangun, segala kesedihan dan persoalan akan berlalu. Dan bila saatnya tiba, aku tidak akan membiarkanmu minum sebanyak ini lagi."
Mata Sun Sio-ang bersinar semakin terang, penuh dengan harapan dan suka cita.
Ia masih sangat muda.
Orang-orang muda selalu optimis menghadapi dunia ini.
Mereka selalu beranggapan bahwa segala sesuatu akan terjadi sesuai dengan rencana mereka.
Ia belum mengerti bahwa dunia ini tidak berjalan seperti itu.
Apa yang terjadi selalu saja jauh dari bayangan dan rencana kita.
Jika saat itu ia tahu seberapa jauhnya kenyataan yang akan terjadi dari bayangannya, bajunya pasti sudah basah kuyup oleh air mata.
Kusir kereta pun sedang menghirup araknya dengan santai.
Ia tidak terburu-buru.
Karena si wanita muda penyewa keretanya telah memerintahkannya begitu!
‘Pelan-pelan saja di jalan.
Kami tidak tergesa-gesa pergi.’ Sang kusir tersenyum sendiri.
Jika ia sedang naik kereta bersama kekasih hatinya, ia pun tidak akan tergesa-gesa pergi.
Ia sungguh iri pada Li Sun-Hoan.
Ia merasa, Li Sun-Hoan adalah orang yang sangat beruntung.
Namun jika ia tahu situasi macam apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh Li Sun-Hoan dan Sun Sio-ang, mungkin ia tidak akan sanggup menelan arak dalam cawannya.
Hari esok telah tiba.
Waktu Li Sun-Hoan bangun, cahaya matahari telah menerangi seluruh kereta dari jendela.
Ia tidak tahu berapa lama ia sudah tertidur.
Apakah ia sungguh kelelahan?
Apakah karena arak?
Li Sun-Hoan memungut cawan arak dan menciumnya, lalu diletakkannya kembali.
Kereta itu masih bergoyang-goyang ke kiri ke kanan selagi melaju di sepanjang jalan itu.
Jalan kereta itu sangat lambat, bahkan kadang-kadang berhenti sejenak, seakan-akan kusirnya pun tertidur.
Sun Sio-ang masih tidur di pangkuan Li Sun-Hoan.
Rambutnya yang panjang terurai di atas kaki Li Sun-Hoan bagaikan aliran air.
Li Sun-Hoan melongok ke luar jendela, namun ia tidak bisa melihat bayangan kereta itu.
Matahari tepat berada di atas.
Setelah beberapa lama, Li Sun-Hoan melihat batu penunjuk di sisi jalan.
Pada batu itu terukir nama desa yang akan mereka masuki.
Waktu perjanjian dengan Siangkoan Kim-hong tinggal sebentar lagi.
Namun ternyata mereka baru setengah perjalanan.
Dalam sekejap tangan Li Sun-Hoan menjadi dingin dan mulai gemetaran.
Ada kalanya ia merasa kuatir, sedih, gelisah.
Ada kalanya pula ia merasa bahagia.
Jarang sekali ia merasa marah.
Saat ini, ia belum marah betul, namun sudah dekat sekali.
Tiba-tiba Sun Sio-ang terjaga dan merasa tubuh Li Sun-Hoan menggigil.
Ia memandang wajah Li Sun-Hoan dan melihat ekspresi kemarahannya.
Belum pernah ia melihat Li Sun-Hoan seperti itu.
Ia menundukkan kepalanya.
Matanya langsung memerah dan ia bertanya.
"Apakah kau marah padaku?"
Mulut Li Sun-Hoan terkatup. Terkatup erat.
"Aku tahu kau akan marah padaku, tapi aku akan tetap melakukannya. Aku tidak peduli apakah kau akan membentakku atau memukul aku. Tapi kau harus tahu bahwa aku melakukannya demi kebaikanmu,"
Kata Sun Sio-ang.
Li Sun-Hoan mengeluh panjang.
Seluruh tubuhnya yang tegang mulai mengendur.
Hatinya pun mulai lumer.
Sun Sio-ang melakukan semuanya demi dirinya.
Apa salah Sun Sio-ang?
Selama ia sungguh-sungguh menginginkan yang terbaik bagi Li Sun-Hoan, bagaimana mungkin ia menyalahkan gadis itu?
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku mengerti perasaanmu. Aku tidak menyalahkanmu. Tapi, bisakah kau juga berusaha mengerti perasaanku?"
"Kau…..kau pikir aku tidak mengerti perasaanmu?"
"Jika kau sungguh mengerti perasaanku, kau akan tahu bahwa sekalipun kau berhasil mencegah aku bertemu dengan Siangkoan Kim-hong kali ini, bagaimana dengan nanti? Cepat atau lambat, aku harus berhadapan dengannya. Mungkin juga besok,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Kalau besok, semuanya akan berbeda."
"Apa yang akan berbeda besok?"
"Besok, Siangkoan Kim-hong sudah mati. Mungkin ia tidak akan melewati malam ini,"
Kata Sun Sio-ang.
Caranya berbicara sungguh aneh, seakan-akan ia sudah tahu pasti apa yang akan terjadi.
Li Sun-Hoan tidak bisa menebak mengapa Sun Sio-ang kedengaran begitu pasti.
Ia berpikir-pikir sejenak.
Kata Sun Sio-ang.
"Tidak akan ada yang menyalahkan kalau hari ini kau tidak hadir. Itu kan semua salah Siangkoan Kim-hong. Jika ia tidak memaksamu pergi ke Hin-hun-ceng, kau tidak mungkin terlambat datang."
Li Sun-Hoan masih berkutat dengan pikirannya. Wajahnya sedikit demi sedikit berubah. Perasaan Sun Sio-ang semakin ringan saat ia bersandar di lengan Li Sun-Hoan. Katanya.
"Kalau Siangkoan Kimhong sudah mati, tidak ada yang akan bilang bahwa….."
Tiba-tiba Li Sun-Hoan memotongnya.
"Apakah kakekmu yang menyuruhmu berbuat begini?"
Sun Sio-ang mengedipkan matanya dan berkata sambil berkelakar.
"Mungkin ya, mungkin tidak."
"Apakah ia yang pergi menghadapi Siangkoan Kimhong?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Betul sekali. Kau pasti tahu, Siangkoan Kim-hong melihat kakek sama seperti seekor tikus kecil melihat kucing. Kurasa, kakeklah satu-satunya orang di dunia ini yang bisa menghadapi Siangkoan Kim-hong."
Lalu Sun Sio-ang meraih tangan Li Sun-Hoan dan hendak melanjutkan perkataannya.
Namun akhirnya ia terdiam, karena ia merasa tangan Li Sun-Hoan begitu dingin seperti es.
Waktu hati manusia diliputi ketakutan, mengapa tangannya selalu dingin membeku?
Namun apakah yang ditakutinya?
Melihat ekspresi wajah Li Sun-Hoan, Sun Sio-ang pun takut bertanya.
Akhirnya Li Sun-Hoan bertanya.
"Apakah kakekmu sendiri yang ingin pergi, atau engkaukah yang memintanya pergi?"
"Apakah….Apakah itu ada bedanya?"
Tanya Sun Sio-ang tergagap.
"Ya, sangat jauh perbedaannya."
"Akulah yang meminta dia pergi. Karena untuk menghadapi orang seperti Siangkoan Kim-hong, tidak jadi masalah siapa yang membunuhnya. Tidak harus kau yang melakukannya."
Li Sun-Hoan mengangguk, sepertinya ia pun setuju dengan pendapatnya.
Namun ekspresi wajahnya tampak berbeda.
Ia bukan hanya kelihatan takut, tapi juga kelihatan sangat berduka.
Sun Sio-ang tidak bisa menahan diri, tanyanya.
"Apakah kau kuatir?"
Li Sun-Hoan tidak perlu menjawab. Wajahnya telah menjawab dengan jelas.
"Aku tidak mengerti apa yang kau kuatirkan…. Kau menguatirkan Kakek?"
Tanya Sun Sio-ang. Li Sun-Hoan mendesah dan menjawab dengan suara rendah.
"Aku menguatirkan dirimu."
"Menguatirkan diriku? Kenapa?"
Tanyanya tidak mengerti.
"Semua orang pasti pernah membuat kesalahan dalam hidupnya. Ada kesalahan yang bisa diperbaiki, tapi ada juga yang selamanya tidak dapat ditarik kembali."
Kini dalam pandangan matanya, bukan hanya tampak duka namun juga kepedihan yang begitu mendalam. Ia menatap lurus pada gadis itu, lalu melanjutkan.
"Jika kau membuat kesalahan yang tidak mungkin diperbaiki, apapun juga niatmu, kau harus menanggung beban itu selamanya seumur hidupmu. Walaupun orang lain sudah mengampunimu, kau tidak akan pernah bisa mengampuni dirimu sendiri. Suatu perasaan yang sangat tidak menyenangkan."
Li Sun-Hoan sangat memahami perasaan ini.
Karena satu kesalahan yang diperbuatnya, ia harus membayar harga yang sangat mahal.
Sun Sio-ang balik menatapnya dan tiba-tiba merasakan suatu firasat buruk.
Tanyanya.
"Apakah kau kuatir aku akan melakukan suatu kesalahan?"
Setelah lama terdiam, Li Sun-Hoan balik bertanya.
"Selama bertahun-tahun ini, apakah kau selalu bepergian dengan kakekmu?"
"Ya."
"Apakah kau pernah melihat beliau bertempur?"
"Mmmm, rasanya tidak pernah…."
Jawab Sun Sio-ang. Bab 81. Tragedi yang Tidak Terduga Lalu dengan cepat Sun Sio-ang menambahkan.
"Tapi itu karena Kakek tidak punya kesempatan, tidak perlu bertempur."
"Tidak pernah perlu?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Beliau tidak ada tandingannya."
"Bagaimana dengan Siangkoan Kim-hong?"
"Dia….."
Sun Sio-ang tiba-tiba terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya. Apakah tiba-tiba ia terpikir akan sesuatu? Kata Li Sun-Hoan.
"Kakekmu pasti tidak setuju akan sepak terjang Siangkoan Kim-hong."
"Ia…Ia sungguh jengkel dengan perbuatan Siangkoan Kim-hong,"
Sahut Sun Sio-ang.
"Tapi beliau tidak pernah pergi menantangnya."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya. Sahutnya.
"Tidak pernah….."
"Mengapa beliau membiarkan Siangkoan Kim-hong membabi buta begitu lama? Dan mengapa ia baru mau menghadapi Siangkoan Kim-hong setelah kau memintanya?"
Mulut Sun Sio-ang terasa kering. Ia pun kehilangan katakata. Kata Li Sun-Hoan.
"Waktu ilmu silat seseorang telah mencapai puncaknya, ia pasti akan mulai merasa takut. Takut orang lain bisa menandinginya, takut kalau setelah itu kemampuan mereka akan menurun. Dan bila saat itu tiba, ia akan menghindarinya dengan segala cara. Secara ekstrem, menghindar untuk melakukan apapun juga."
Ia mendesah dan menambahkan.
"Semakin ia tidak ingin bertindak, semakin cepat ia menjadi tidak bisa bertindak. Ada yang tiba-tiba memutuskan untuk mengasingkan diri, ada yang merusak diri sendiri – ingin segera mengakhiri segalanya dengan kematian…. Inilah yang biasanya terjadi sepanjang sejarah manusia. Kecuali jika orang itu bisa melangkah melewati dunia materi dan masuk ke tingkat di mana tidak ada lagi emosi manusia yang bermain. Menjadi tidak peduli lagi akan seluruh dunia dan umat manusia di dalamnya."
Sun Sio-ang merasa tubuhnya mengejang, dan keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.
Karena ia tahu pasti bahwa kakeknya bukanlah orang yang ‘tidak berperasaan’.
Ia masih peduli akan banyak hal, akan banyak orang.
Kata Li Sun-Hoan lagi.
"Mungkin aku salah….."
Tiba-tiba Sun Sio-ang menghambur ke arah Li Sun-Hoan dan memeluknya erat-erat.
Tubuh gadis itu menggigil luar biasa.
Ia ketakutan, sangat sangat ketakutan.
Li Sun-Hoan membelai rambutnya.
Apakah itu rasa kasihan?
Simpati?
Kesedihan?
Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan berbuat demikian.
Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan membuat kesalahan.
Namun mengapa alam selalu memaksa mereka yang penuh cinta membuat kesalahan-kesalahan fatal?
Apakah salah menjadi seseorang yang penuh perasaan?
Pecahlah tangis Sun Sio-ang dan ia mulai sesenggukan.
"Tolong, tolong kembali segera bersamaku. Jika kita segera kembali…..apapun harganya…..aku bersedia melakukan apapun juga."
Terdengar suara ringkik kuda dari jendela kereta.
Kini mereka sedang berada di kandang kuda.
Salah satu keahlian Li Sun-Hoan adalah memilih kuda yang baik.
Banyak orang tahu bahwa Li Sun-Hoan bukan hanya ahli dalam hal wanita, tapi juga dalam hal kuda.
Tidaklah mudah menjadi seorang ahli dalam dua bidang ini.
Kuda dan wanita.
Dua-duanya sangat sulit dimengerti.
Ia segera memilih dua ekor kuda yang tercepat.
Wanita yang tercantik belum tentu yang terbaik.
Kuda yang tercepat belum tentu yang terkuat.
Wanita cantik sering kali kurang tulus, kuda yang cepat sering kali kurang ketahanannya.
Dua ekor kuda terguling.
Dua orang berlari kesetanan.
Matahari sudah mulai tenggelam.
Kedua orang itu terus berlari sekuat tenaga.
Mereka tidak peduli apa yang dipikirkan orang yang di sekitarnya.
Mereka tidak peduli akan kelelahn tubuh mereka sendiri.
Mereka tidak peduli akan apapun juga.
Malam pun semakin dekat.
Tidak ada orang lagi di jalan.
Malam ini, bulan dan bintang entah pergi ke mana.
Tidak ada setitik cahaya pun yang tampak.
Hutan yang gelap berada di samping jalan.
Di luar hutan itu tampak siluet sebuah paviliun.
Bukankah ini tempat perjanjian duel?
Di tengah malam yang gelap itu, sepertinya ada secercah cahaya di kejauhan.
Cahaya itu tampak semakin terang, dan sesosok manusia terlihat dari jauh.
Sun Sio-ang mendesah lega dan seluruh tubuhnya yang tegang mulai rileks.
Sungguh merupakan suatu keajaiban ia bisa berlari begitu lama.
Mungkin juga karena rasa takutlah yang menggerakkan kakinya.
Rasa takut memang bisa membangkitkan kekuatan manusia yang terpendam.
Namun kini, ia telah melihatnya.
Ia telah melihat apa yang diharapkannya.
Nafasnya yang tersengal-sengal langsung seolah-olah berhenti dan ia pun tersungkur ke tanah.
Li Sun-Hoan belum berani bernafas lega.
Ia melihat cahaya itu terombang-ambing dan ia melihat cahaya itu berkelap-kelip aneh.
Kadang-kadang sangat terang, kadang-kadang redup tiba-tiba.
Mendadak cahaya itu berkobar seperti lentera raksasa.
Pada suatu hari dulu, di luar sebuah kota yang lain, dalam paviliun yang lain, Li Sun-Hoan pernah melihat kelap-kelip lampu persis seperti ini.
Pada saat itu, Tuan Sunlah yang berada di paviliun itu sedang mengisap pipanya.
Selain Tuan Sun, Li Sun-Hoan belum pernah melihat orang lain bisa mengisap pipa seperti itu.
Li Sun-Hoan merasa air mata yang hangat membasahi bola matanya.
Sun Sio-ang masih rebah di tanah, perlahan menangis sambil berusaha bangkit berdiri lagi.
Ini adalah air mata bahagia.
Air mata penuh rasa terima kasih.
Tuhan belum mengijinkan ia membuat kesalahan fatal.
Li Sun-Hoan membantunya bangkit berdiri dan mereka berdua segera berjalan menuju paviliun itu.
Paviliun itu sudah penuh asap dan seseorang duduk tepat di tengahnya.
Wangi asap itu sudah sangat dikenal oleh Sun Sio-ang.
Ia merasakan kehangatan dalam dadanya.
Segera dilepaskan pegangan tangan Li Sun-Hoan dan dengan cepat ia berlari ke paviliun itu.
Ia hanya ingin segera memeluk kakeknya dan mengatakan padanya betapa ia sungguh berterima kasih.
Sebelum tiba pun ia sudah berseru-seru.
"Kakek! Kami sudah sampai…..kami sudah sampai!"
Tiba-tiba cahaya di paviliun itu padam. Lalu terdengar seseorang berkata dengan kaku.
"Bagus. Aku memang menunggu kalian berdua!"
Suara itu dingin, tidak bersahabat, tegas.
Tanpa nada, tanpa perasaan.
Langkah Sun Sio-ang terhenti.
Kehangatan yang baru dirasakannya langsung berubah menjadi kebekuan.
Sangat dingin sampai ia tidak bisa bergerak lagi.
Suara itu seperti sebuah pentungan yang menghajar dia dari langit jatuh berdebam kembali ke bumi.
Lalu empat buah lentera menyala terang.
Empat lentera kuning yang tergantung di tongkat bambu.
Dibawah gemerlap cahaya keemasan itu, duduklah seseorang.
Dingin seperti emas, anggun seperti emas, bahkan hatinya pun sepertinya terbuat dari bongkahan emas.
Ia sedang mengisap pipa.
Pipa yang diisapnya adalah pipa Tuan Sun.
Tapi orang itu adalah Siangkoan Kim-hong!
Orang yang sedang mengisap pipa di paviliun itu adalah Siangkoan Kim-hong!
Angin dingin bertiup kencang, hujan es mengguyur bumi.
Tidak ada yang menyadari kapan hujan mulai turun.
Sun Sio-ang berdiri mematung dalam hujan.
Seluruh tubuhnya mengejang, kaku sekujur tubuh.
Ia ingin berteriak, namun tidak bertenaga.
Ia ingin menyeruduk masuk, namun tubuhnya tidak bisa bergerak.
Dadanya mulai sesak, ia ingin muntah.
Tapi bahkan setetes air mata pun tidak bisa keluar.
Li Sun-Hoan berjalan lebih lambat daripada Sun Sio-ang.
Kini ia terus berjalan menuju ke paviliun itu.
Langkahnya tetap dan pasti.
Namun nafasnya telah berhenti.
Ia berjalan perlahan masuk ke paviliun itu dan berhadapan dengan Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong tidak menoleh ke arahnya.
Matanya masih terfokus pada pipa di tangannya.
"Kau terlambat."
Setelah terdiam lama, Li Sun-Hoan menyahut.
"Ya, aku terlambat."
Mulut Li Sun-Hoan terasa kering. Pahit. Seolah-olah lidahnya sedang menjilati sebatang besi berkarat. Rasanya sangat sulit diutarakan. Apakah ini rasa ketakutan? Kata Siangkoan Kim-hong.
"Lebih baik terlambat daripada tidak hadir."
Kata Li Sun-Hoan.
"Seharusnya kau tahu, cepat atau lambat aku pasti datang."
Lalu Siangkoan Kim-hong berkata.
"Sayangnya, orang yang seharusnya datang, datang terlambat. Dan orang yang tidak seharusnya datang, datang awal."
Setelah perkataan itu, keduanya terdiam.
Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang satu dengan yang lain.
Tidak seorangpun bergerak sedikitpun.
Mereka berdua menunggu kesempatan.
Sekali mereka bergerak, tidak akan mungkin ditarik kembali!
*** Di tengah-tengah hujan dan angin, di tengah-tengah hutan yang gelap, ada dua orang lagi, dua pasang mata lagi.
Kedua pasang mata itu tertuju pada Siangkoan Kim-hong dan Li Sun-Hoan.
Sepasang mata yang tenang dan lembut, bagaikan air yang mengalir.
Terang dan bercahaya, bagaikan bintang.
Di seluruh dunia, sulit ditemukan sepasang mata seindah ini.
Sepasang mata yang satu lagi berwarna kelabu, seolaholah menyatu dengan kegelapan malam yang tidak berjiwa.
Di seluruh neraka pun, sulit ditemukan sepasang mata yang begitu mengerikan seperti ini.
Jika ada setan dan dedemit yang bersembunyi di hutan itu pun, mereka pasti sudah kabur sejak tadi.
Sepasang mata itu bisa membuat setan dan dedemit gemetar lututnya.
Lim Sian-ji dan Hing Bu-bing telah berada di sana sebelum yang lain tiba.
Mereka sudah bersembunyi di sana sejak lama.
Lim Sian-ji berdiri di samping Hing Bu-bing dan berpegangan kuat-kuat pada lengannya.
Hing Bu-bing tidak bersuara dan tidak bergerak sedikitpun.
Bisik Lim Sian-ji.
"Jika kau ingin membunuhnya, ini adalah kesempatan yang paling baik. Tidak akan ada lagi kesempatan sebaik ini."
Sahut Hing Bu-bing.
"Saat ini ada orang lain yang sedang berusaha membunuhnya. Aku tidak perlu lagi menyerang."
"Aku bukan menyuruhmu membunuh Li Sun-Hoan."
"Lalu siapa?"
"Siangkoan Kim-hong. Bunuh Siangkoan Kim-hong!"
Pekik Lim Sian-ji tertahan.
Tubuhnya gemetar sedikit saking gembiranya.
Kukukukunya tertanam di kulit tangan Hing Bu-bing.
Hing Bu-bing tidak bergerak.
Ia pun tidak merasa sakit sedikitpun.
Namun ada api yang berkobar di matanya.
Seperti kobaran api neraka.
"Saat ini, ia sedang berkonsentrasi penuh pada Li Sun-Hoan. Ia tidak bisa menghadapi orang lain lagi. Lagi pula, ia tidak tahu sama sekali mengenai tangan kananmu. Kau pasti dapat membunuhnya,"
Kata Lim Sian-ji. Hing Bu-bing masih tidak bergeming.
"Kau kan tahu peraturan Kim-ci-pang. Kalau Siangkoan Kim-hong tidak ada lagi, kaulah yang akan menjadi ketua yang baru,"
Desak Lim Sian-ji lagi. Ia mulai menggerutu dengan suara pelan. Suaranya sungguh tidak enak didengar. Seperti suara anjing yang akan melahirkan.
"Walaupun kau tidak menginginkan kedudukan itu, kau harus membalas perbuatannya dulu terhadapmu. Supaya waktu ia masuk ke neraka, ia akan menyesal telah memperlakukan engkau seperti itu,"
Lim Sian-ji terus membujuknya. Mata Hing Bu-bing masih berkobar dengan api dari neraka. Dan kobaran api itu makin lama makin besar.
"Ayo, cepat. Kalau kau melewatkan kesempatan ini, kaulah yang akan menyesal, bukan dia."
Akhirnya Hing Bu-bing mengangguk dan menjawab.
"Baiklah, aku pergi!"
"Cepatlah, aku akan menunggumu di sini. Setelah kau berhasil, aku akan menjadi milikmu seorang untuk selama-lamanya."
Kata Hing Bu-bing.
"Kau tidak perlu menungguku."
"Kenapa?"
"Karena kau akan ikut bersamaku!"
Tiba-tiba Lim Sian-ji merasa ada sesuatu yang salah.
Setitik rasa takut terlihat dalam matanya yang indah.
Hing Bu-bing mencekal pergelangan tangannya.
Lim Sian-ji tidak suka menangis.
Ia merasa wanita yang menangis adalah wanita yang lemah, wanita yang menjijikkan dan sangat bodoh.
Lagi pula, ia masih punya banyak cara untuk membuat laki-laki melakukan kehendaknya.
Namun saat ini ia sungguh merasa kesakitan dan air mata pun tidak dapat dibendungnya.
Ia serasa mendengar tulang-tulang tangannya gemeretuk.
"Apa kesalahanku? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?"
"Seumur hidupmu, kau telah membuat satu kesalahan besar,"
Kata Hing Bu-bing.
"Apa itu?"
"Kau tidak boleh menganggap semua orang mencintaimu seperti A Fei mencintaimu!" *** Li Sun-Hoan berdiri membelakangi hutan itu. Ia tidak melihat Lim Sian-ji dan Hing Bu-bing, saat mereka keluar dari sana. Perhatiannya tercurah pada Siangkoan Kim-hong. Namun ia dapat melihat ekspresi aneh di wajah Siangkoan Kim-hong. Tiba-tiba perhatian Siangkoan Kim-hong terpecah. Tidak pernah ia memberi kesempatan pada lawan seperti ini. Dan sudah tentu ia tidak akan pernah lagi melakukannya. Namun Li Sun-Hoan tidak menyerang. Pisaunya masih tetap berada di tangannya. Karena ia dapat merasakan hawa membunuh yang mengerikan datang dari arah punggungnya. Pisaunya tidak hanya disambitkan oleh tangannya, tapi oleh seluruh tubuh dan seluruh keberadaannya. Jika ia menyambitkan pisau saat itu, ia tidak mungkin bisa melindungi diri dari serangan dari arah belakangnya. Kakinya berputar dan bergeser tujuh kaki. Kini ia melihat Hing Bu-bing. Hing Bu-bing berdiri tepat di belakangnya. Lalu ia pun melihat Lim Sian-ji. Ia belum pernah melihat Lim Sian-ji kelihatan sangat tertekan seperti itu. Hujan turun semakin lebat. Mereka semua sudah basah kuyup. Walaupun empat lentera tergantung di sudut-sudut paviliun itu, namun cahayanya redup karena malam gelap gulita. Hing Bu-bing masih berdiri dalam kegelapan. Ia tampak seperti bayangan saja. Seolah-olah ia tidak betul-betul ada di sana. Namun Li Sun-Hoan telah mengalihkan pandangannya. Dari Siangkoan Kim-hong pada Hing Bu-bing. Siangkoan Kim-hong pun mengalihkan pandangannya. Dari Li Sun-Hoan pada Hing Bu-bing. Karena mereka kini merasa bahwa kemenangan bukan lagi terletak di tangan mereka, namun di tangan Hing Bubing. Hing Bu-bing mulai tertawa. Tertawa sangat keras. Seumur hidupnya, belum pernah ia tertawa sekeras itu. Siangkoan Kim-hong menghela nafas dan berkata.
"Teruslah tertawa, karena kau memang berhak tertawa."
Tanya Hing Bu-bing.
"Mengapa engkau tidak tertawa?"
"Tawaku tidak bisa keluar."
"Kenapa?"
"Kau tahu sebabnya,"
Jawab Siangkoan Kim-hong.
"Memang benar. Aku tahu sebabnya,"
Kata Hing Bu-bing. Kini ia berhenti tertawa dan perlahan-lahan meluruskan tubuhnya. Katanya.
"Karena kini, akulah yang bisa menentukan nasib kalian. Kalian berdua tidak akan berani menyerang aku."
Ia memang benar.
Tidak ada yang berani menyerang dia.
Jika saat itu Siangkoan Kim-hong menyerang Hing Bubing, itu berarti membiarkan dirinya terbuka bagi Li Sun-Hoan.
Tidak mungkin ia mengambil resiko sebesar itu dan memberi kesempatan pada Li Sun-Hoan.
Hal yang sama juga berlaku bagi Li Sun-Hoan.
Kata Hing Bu-bing.
"Aku dapat membantumu membunuh Li Sun-Hoan, atau aku dapat membantu Li Sun-Hoan membunuhmu."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Kurasa memang demikian."
"Benarkah? Bukankah bagimu aku hanya seorang cacad yang sudah tidak berguna lagi?"
"Setiap orang pasti pernah sekali-sekali salah menilai."
"Bagaimana kau tahu kau telah salah? Mungkin aku memang hanya seorang cacad yang tidak bisa apa-apa lagi."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Tangan kananmu lebih kuat daripada tangan kirimu."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Lim Sian-ji bukan wanita lemah. Sulit bagi siapa saja untuk menahannya dengan satu tangan saja."
Perlahan Hing Bu-bing menganggukkan kepalanya dan berkata.
"Ternyata kau memang tahu. Sayang sekali kau tahu sedikit terlambat."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku tahu. Dan aku juga tahu bahwa aku telah membuat kesalahan."
Tanya Hing Bu-bing.
"Kau menyesal akan apa yang telah kau perbuat kepadaku?"
"Aku sangat menyesal. Seharusnya aku sudah membunuhmu saat itu!"
"Mengapa kau tidak membunuhku saat itu?"
"Aku tidak sanggup."
Hing Bu-bing memandang Siangkoan Kim-hong dengan tatapan aneh.
"Bahkan kau pun ada kalanya tidak sanggup membunuh?"
"Aku masih manusia."
"Jadi sekarang kau pikir aku pun tidak akan membunuhmu?"
Siangkoan Kim-hong melirik Lim Sian-ji.
"Dia pasti menginginkan kau membunuhku."
"Memang begitu."
"Tapi jika kau memang ingin membunuhku, kau tidak akan membawanya ke sini bersamamu."
Tiba-tiba tawa Lim Sian-ji meledak. Kini ia terjatuh ke tanah dan tertawa seperti orang kesurupan. Pemandangan yang sangat aneh. Kata Lim Sian-ji.
"Sudah tentu ia takut membunuhmu. Kalau kau mati, ia pun tidak akan bisa hidup. Kini aku baru mengerti bahwa ia hanya hidup demi dirimu. Ia datang ke sini karena ia menginginkanmu untuk menghargainya. Walaupun di mata orang lain, ia tidak berharga sepeser pun juga."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau tahu, ia dapat membunuhmu dengan sangat mudah?"
"Kau pikir ia sanggup membunuhku?.... Waktu kau ingin membunuhku, ia malah ingin menyelamatkan aku. Kau tahu kenapa?"
Jawab Siangkoan Kim-hong dingin.
"Karena ia ingin membunuhmu di hadapanku."
"Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku di hadapanmu. Ia ingin kau membunuhku dengan tanganmu sendiri,,,,,"
Lim Sian-ji tertawa lagi dan melanjutkan.
"Waktu kau dan aku sedang bersama, ia menjadi gila karena cemburu. Saat itu, kupikir ia cemburu padamu, tapi sekarang baru aku tahu bahwa ia cemburu padaku. Ia membenci siapa saja yang kau sukai. Bahkan putramu sendiri, tidak terkecuali…. Kau tahu siapa membunuh anakmu, bukan?"
"Selama ia membunuh demi aku, aku tidak peduli siapa yang dibunuhnya,"
Sahut Siangkoan Kim-hong datar. Senyum di bibir Lim Sian-ji perlahan lenyap. Ia menghela nafas panjang dan berkata.
"Aku selalu menganggap bahwa aku mengerti jalan pikiran laki-laki, tapi aku sungguh tidak mengerti pikiran kalian berdua. Aku sungguh tidak mengerti hubungan macam apa yang ada di antara kalian berdua."
Lalu ia pun tersenyum dingin dan menambahkan.
"Yang aku tahu, apapun juga itu, itu pasti sangatlah menjijikkan. Aku tidak peduli apa yang kalian ingin katakan. Aku tidak mau mendengarnya."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Yang kau tahu terlalu sedikit, yang kau katakan terlalu banyak."
"Tapi apapun juga yang kukatakan, aku tidak mungkin dapat membujukmu untuk membunuh dia, bukan?"
"Tidak mungkin!"
Lalu Lim Sian-ji menoleh pada Hing Bu-bing dan bertanya.
"Dan aku pun tidak mungkin membujukmu untuk membunuh dia, bukan?"
"Benar,"
Jawab Hing Bu-bing. Lim Sian-ji mengeluh dan berkata.
"Sepertinya aku sebentar lagi akan mati dalam tangan kalian. Pertanyaannya adalah, tangan siapa? Tanganmu? Atau tanganmu?"
Hing Bu-bing tidak menjawab.
Ia menggerakkan tangannya dan melemparkan Lim Sianji ke dekat kaki Siangkoan Kim-hong.
Kali ini, Lim Sian-ji tidak berusaha bangkit.
Ia tidak bergerak sedikit pun.
Ia hanya meringkuk seperti sebuah bola.
Tapi ia adalah seorang wanita.
Kau bisa menyuruhnya tidak bergerak dan tidak melawan, namun kau tidak mungkin menutup mulutnya.
Bab 82.
Penghiburan dalam Keheningan Jika kau pernah memperhatikan dengan seksama seorang wanita yang hampir mati, maka kau pasti tahu bahwa bagian tubuhnya yang menjadi kaku paling terakhir adalah lidahnya.
Ini karena bagian tubuh yang paling sensitif dalam tubuh wanita adalah lidahnya.
Kata Lim Sian-ji.
"Seharusnya aku tahu kaulah yang akan membunuhku. Seluruh alasan mengapa ia membawaku ke sini adalah untuk menyaksikan engkau membunuhku dengan kedua tanganmu. Pada saat itu, barulah ia merasa puas."
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Dan apakah kau merasa puas bisa mati di tanganku?"
"Tergantung dari bagaimana kau akan membunuhku. Kuharap bukan kematian yang cepat. Dengan mati perlahan-lahan, barulah seseorang dapat menikmati rasa kematian yang sesungguhnya."
Tiba-tiba Lim Sian-ji mulai tertawa.
"Kan hanya ada satu kesempatan untuk mati. Walaupun aku harus menanggung kesakitan yang luar biasa, itu pasti menyenangkan."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Dan jika kau mati perlahanlahan, kau masih bisa mengoceh satu dua kalimat lagi. Bicara memang bisa mengurangi sedikit kesakitan dalam kematian. Juga bisa mengurangi kengeriannya."
"Tidak mungkin kau membunuhku dengan cepat bukan? Aku tahu kau menikmati melihat orang mati perlahanlahan dan menderita. Dan selama ini, aku telah memperlakukan engkau dengan cukup baik, bukan? Aku telah mempercayakan seluruh kekayaan yang kudapatkan dengan susah-payah kepadamu, dan membiarkan engkau menggunakannya dengan bebas. Waktu kau menyuruh orang membunuhku, itu sudah jelas bahwa kau sudah tidak menginginkan aku dalam hidupmu lagi."
"Benar. Kini kau tidak berharga sepeser pun. Oleh sebab itu, aku tidak ingin membunuhmu dan mengotori tanganku."
Ia menendang wanita itu ke arah Li Sun-Hoan.
Kali ini Lim Sian-ji tidak bisa berkata apa-apa.
Bajunya yang basah kuyup melekat erat pada tubuhnya.
Kemolekan lekuk tubuhnya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Memang dia adalah wanita tercantik sejagad raya.
Ia bukan saja sangat mempesona, ia pun sangat pandai.
Ia sebenarnya bisa menjadi orang besar.
Namun kini, kematian yang layak pun tak bisa didapatkannya.
Seharusnya ia bisa menjadi seperti malaikat yang hidup bahagia di antara awan-awan, namun kini ia hanyalah seperti seekor anjing yang terpuruk dalam lumpur.
Bagaimana bisa sampai seperti ini?
Apakah ini karena ia tidak tahu menghargai apa yang dimilikinya?
Hujan bertambah lebat lagi.
Li Sun-Hoan hanya memandangi Lim Sian-ji yang merangkak dalam lumpur.
Ia merasa sedih dan simpati.
Bukan kepadanya, tapi pada A Fei.
Lim Sian-ji membawa kemalangan ini pada dirinya sendiri, tapi A Fei?
A Fei tidak melakukan apa pun yang salah.
Walaupun ia memilih orang yang salah untuk dicintai, ia sama sekali tidak salah untuk jatuh cinta.
Siangkoan Kim-hong memandang Li Sun-Hoan dan berkata.
"Aku tidak membunuhnya karena aku merasa kau punya lebih banyak alasan untuk membunuhnya daripada aku. Jadi kuserahkan dia padamu."
Li Sun-Hoan terdiam sampai lama. Akhirnya ia mengeluh panjang dan berkata.
"Lagi-lagi kau meremehkan aku."
Hening sejenak, lalu Siangkoan Kim-hong mengangguk perlahan. Katanya.
"Benar, aku sudah meremehkan engkau. Kau pun tidak akan membunuhnya."
Lalu ia pun menambahkan.
"Untuk membunuh, kau memerlukan niat membunuh. Seluruh niat membunuhmu harus terfokus padaku. Buat apa menyia-nyiakannya untuk orang seperti dia."
Kata Li Sun-Hoan.
"Untuk membunuh, harus membunuh orang yang tepat. Untuk membunuh, harus membunuh di tempat yang tepat."
"Ada yang salah dengan tempat ini?"
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Tadinya sih tidak ada. Tapi sekarang ada."
"Apa yang salah?"
"Terlalu banyak orang di sini."
"Hing Bu-bing membuatmu merasa tidak nyaman?"
"Ya."
Li Sun-Hoan tidak berusaha menutup-nutupi.
Walaupun Hing Bu-bing tidak menyerangnya, ia tetap merupakan ancaman.
Karena pedangnya dapat keluar kapan saja.
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup melawan gabungan kekuatan mereka berdua.
Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya dan berkata.
"Aku mengerti maksudmu. Namun sekarang ia sudah datang, tidak ada yang bisa menyuruhnya pergi, bukan?"
Bagian kalimatnya yang terakhir ditujukan pada Hing Bubing.
"Benar,"
Jawab Hing Bu-bing.
Walaupun ia berdiri cukup jauh dari Siangkoan Kim-hong, siapapun yang melihat pasti tahu bahwa mereka berdua tampak seperti satu kesatuan, satu kekuatan adi daya yang tidak bisa dibendung.
Li Sun-Hoan mendesah.
Tiba-tiba ia teringat pada A Fei.
Kalau saja A Fei ada di sini….
Siangkoan Kim-hong seolah-olah bisa membaca pikiran Li Sun-Hoan dengan tepat.
Katanya.
"Jika A Fei yang dulu ada di sini, mungkin kau masih punya kesempatan. Sungguh sayang…..ia sungguh mengecewakan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku tidak pernah kecewa padanya. Berapa kali pun manusia jatuh, ia pasti akan bisa bangkit kembali."
"Kau sungguh percaya ia adalah orang semacam itu?"
"Tentu saja."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Sekalipun kau benar, pada saat ia bisa bangkit lagi, kaulah yang telah mencium tanah. Dan aku bisa menjamin, kali ini kau jatuh, kau tidak akan mungkin akan bangun lagi."
Kata Li Sun-Hoan.
"Sekarang….."
Siangkoan Kim-hong menyelanya.
"Sekarang kau tidak punya kesempatan sedikitpun."
Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa dan berkata.
"Kalau begitu, paling tidak kau harus memberiku kesempatan untuk menentukan tempatnya. Orang yang hampir mati paling tidak boleh memilih tempat di mana ia akan mati."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Kau salah. Orang yang akan membunuhlah yang punya kekuasaan. Orang yang akan dibunuh tidak punya hak apapun juga. Namun….."
Ia menatap Li Sun-Hoan dan melanjutkan.
"Namun kali ini aku membuat perkecualian bagimu. Kau bukan hanya sahabat baik, kaupun adalah musuhku yang berharga."
"Terima kasih,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Jadi di mana kau ingin mati?"
"Seseorang yang sudah menderita seumur hidupnya, pasti ingin mati dalam kenyamanan."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Mati itu tidak pernah nyaman."
"Aku hanya ingin tempat yang tidak basah oleh air hujan, supaya aku bisa berganti pakaian. Aku tidak ingin mati basah kuyup di tempat kotor berlumpur seperti ini."
Ia tersenyum dan menambahkan.
"Sejujurnya, selain waktu sedang mandi, aku lebih suka tubuhku tetap kering."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku sudah sering mendengar bahwa kau sama sekali tidak takut mati, tapi aku tidak pernah percaya. Aku tidak percaya ada orang di dunia ini yang tidak takut mati. Namun sekarang…..aku bisa melihat bahwa yang kudengar itu benar adanya."
"O ya?"
"Kalau orang masih bisa bicara seperti itu walaupun tahu sebentar lagi akan mati, itu sungguh menunjukkan bahwa baginya tidak ada lagi perbedaan antara hidup dan mati. Oleh sebab itulah aku merasa agak aneh."
"Aneh?"
"Satu-satunya yang harus ditakuti selama kita hidup adalah kematian. Tapi jika pada kematian pun kau tidak takut, mengapa kau harus pilih-pilih apakah kau basah atau kering waktu mati?"
Ia memandang Li Sun-Hoan dan melanjutkan.
"Oleh sebab itu, aku pikir kau pasti punya maksud-maksud lain meminta ini."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Dan maksud apakah itu?"
"Mungkin ada orang yang akan berpikir bahwa kau hanya berusaha mengulur waktu. Karena untuk sebagian orang, pada saat mereka menghadapi kematian di depan mata, mereka akan terus berusaha dengan segala cara untuk menundanya, bahkan semenit saja. Mungkin mereka pikir akan ada semacam kesempatan atau seorang penyelamat akan datang, atau paling tidak mereka bisa hidup semenit lebih lama."
"Dan kau pikir, itukah maksudku?"
"Tentu saja tidak. Aku tidak pernah meremehkanmu,"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau tahu pasti bahwa tidak akan ada mujizat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menyelamatkanmu. Dan juga, aku tahu bahwa kau tidak takut mati."
"Kalau begitu, menurutmu apakah maksudku?"
"Kurasa kau hanya mencari kesempatan agar mereka berdua bisa lolos. Kau tahu pasti bahwa aku tidak akan membunuh siapapun sebelum membunuhmu. Seseorang tidak akan makan roti banyak-banyak kalau tahu ada hidangan yang lezat yang akan datang."
Kata Li Sun-Hoan.
"Perumpamaan yang buruk."
"Mungkin, tapi tidak meleset jauh."
Li Sun-Hoan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Apakah kau peduli apakah kedua orang itu hidup atau mati?"
"Aku tidak peduli."
Memang bukan urusannya.
Kalau pun mereka hidup, mereka bukan ancaman baginya.
Jika ia ingin mereka mati, ia bisa membunuh mereka kapan pun juga.
Li Sun-Hoan tidak sanggup melihat pada Sun Sio-ang.
Tapi apapun yang akan terjadi, ia masih hidup saat ini.
Ia masih bernafas.
Itu sudah cukup baginya.
Apalagi yang dapat diperbuatnya bagi gadis itu?
"Tapi aku sudah bilang bahwa aku akan membuat perkecualian bagimu, karena kau berbeda dari orang lain,"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau sudah hidup begitu bersih, paling sedikit aku harus memastikan kau tidak mati secara kotor, seperti anjing liar mati dalam lumpur."
Mati.
Bagaimana ia akan mati?
Di mana ia akan mati?
Ini semua tidaklah penting.
Yang terpenting adalah bahwa ia dapat mati dengan tenang.
Namun bagaimana dengan Sun Sio-ang?
Selama itu, ia tidak sanggup memandangnya.
Ia tidak berani.
Karena ia tidak bisa memecahkan konsentrasinya.
Namun kini ia harus pergi.
Gadis itu pasti tahu bahwa mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa melihat Li Sun-Hoan.
Ia bukan hanya akan pergi ke negeri asing, ia akan pergi meninggalkan dunia ini.
Bagaimana ia akan mengikuti Li Sun-Hoan kali ini?
Li Sun-Hoan kuatir ia akan memaksa pergi mengikuti dia dan mati bersama.
Kalau ia melakukannya, Li Sun-Hoan mungkin harus memukulnya sampai pingsan atau menutup Hiat-to (jalan darah)nya dan perlahan-lahan membujuknya untuk terus hidup tanpa dirinya.
Akan menjadi adegan yang sangat sedih dan menyayat hati.
Li Sun-Hoan sungguh berharap ia tidak harus melakukannya.
Sun Sio-ang sudah cukup mempunya beban yang berat yang harus dipikul dalam hatinya.
Ditambah dengan beban yang lain, mungkin hatinya akan hancur berkeping-keping.
Walaupun ia adalah gadis yang berkemauan keras, hatinya agak lemah.
Sun Sio-ang tidak melakukan apa yang dipikirkan Li Sun-Hoan.
Ia bahkan tidak menghampirinya untuk mengucapkan selamat tinggal.
Apa alasannya?
Akhirnya Li Sun-Hoan tidak dapat menahan diri dan menoleh memandangnya.
Gadis itu tidak jatuh pingsan, tidak bergeser sedikit pun dari tempat dia berdiri dari semula.
Ia menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat.
Walaupun wajahnya penuh dengan kepedihan, tatapan matanya masih tetap tenang dan teduh.
Walaupun ia tidak mengatakan sepatah katapun, matanya seolah-olah berkata pada Li Sun-Hoan, ‘Kalau inilah yang harus kau perbuat, perbuatlah dengan konsentrasi penuh.
Jangan biarkan diriku menghalangimu.
Aku mengerti dan aku tidak akan menghalangimu.
Aku percaya sepenuhnya kepadamu.’ Walaupun Li Sun-Hoan hanya memandangnya sekilas, beban yang berat dalam hati Li Sun-Hoan terangkat seketika.
Karena ia menyadari, betapa kuatnya gadis itu dan betapa ia tidak ingin Li Sun-Hoan menguatirkan dirinya.
Tanpa Li Sun-Hoan harus membujuknya, ia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk terus hidup.
Ia hanya ingin menjadi sumber penghiburan dan kekuatan bagi Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan tidak dapat mengungkapkan dengan katakata, betapa ia berterima kasih pada Sun Sio-ang.
Karena hanya dialah yang mengerti betapa besar arti pengertian dan dukungan Sun Sio-ang bagi dirinya saat itu.
Tiba-tiba ia menyadari betapa beruntungnya dia mengenal gadis itu.
Li Sun-Hoan sudah melangkah pergi.
Langkahnya lebih mantap dan lebih tenang daripada waktu ia datang tadi.
Sun Sio-ang hanya memandangi kepergiannya tanpa bicara.
Setelah sekian lama, ia menoleh ke arah Lim Sian-ji.
Lim Sian-ji sedang berusaha keras untuk bangkit berdiri dari tanah yang berlumpur itu.
Ia berusaha sekuat tenaga untuk kelihatan anggun dan gagah, namun ia tahu bahwa usahanya itu sia-sia belaka.
Karena itu, dalam hatinya ia merasa sangat kesal dan jengkel.
Sun Sio-ang memandangnya tanpa perasaan di wajahnya.
Tanpa perasaan adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa muak.
Lim Sian-ji tertawa dingin.
Katanya.
"Aku tahu bahwa saat itu kau memandang rendah padaku. Tapi kurasa, kau lebih buruk lagi daripada aku. Kau tahu sebabnya?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Tidak tahu."
"Ia telah membunuh kakekmu, dan sekarang ia akan membunuh Li Sun-Hoan. Tapi yang bisa kau perbuat hanya berdiri di sini seperti sebatang kayu kering."
"Lalu apa yang harus kuperbuat?"
"Pertanyaan itu seharusnya ditujukan pada dirimu sendiri…. Jangan bilang bahwa kau tidak tahu apa yang kau rasakan dalam hatimu."
"Aku tahu."
Kata Lim Sian-ji.
"Jadi seharusnya kau merasa sedih, menyesal, berduka cita."
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak berduka? Waktu seseorang bersedih hati atau berduka cita, ia tidak harus menunjukkannya dengan kata-kata, namun dengan perbuatan,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Lalu dengan apakah kau tunjukkan perasaanmu? Dengan perbuatan seperti apa?"
"Apakah yang dapat kuperbuat sekarang?"
"Kau tahu bahwa Li Sun-Hoan sedang berjalan menuju pada kematiannya. Setidaknya kau berusaha mencegahnya…."
"Kau pikir aku bisa mencegahnya?"
Sun Sio-ang mendesah dan berkata.
"Kalau aku melakukannya, pikirannya akan menjadi lebih kalut dan ia akan mati lebih cepat lagi."
"Tapi kau…..kau tidak meneteskan setetes air mata pun."
Sun Sio-ang terdiam sejenak sebelum menyahut.
"Aku memang ingin menangis sekarang, ingin membanjiri wajahku dengan air mata. Namun saatnya belum tiba."
Tanya Lim Sian-ji tidak mengerti.
"Apa lagi yang kau tunggu?"
"Besok….."
"Setelah esok tiba, akan ada esok hari lagi."
"Karena selalu akan ada hari esok, selalu akan ada harapan baru,"
Kata Sun Sio-ang. Lalu perlahan ia melanjutkan.
"Walaupun aku telah melakukan kesalahan, itu sudah berlalu dan aku harus hidup menanggung akibatnya. Walaupun aku ingin menangis meraung-raung, aku harus menunggu sampai besok. Karena ada yang harus kukerjakan hari ini!"
Hanya orang bodoh yang menangisi masa lalu.
Orang-orang yang gagah berani, mengakui kesalahan mereka, sehingga mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi masa kini.
Bukannya menenggelamkan diri dalam kubangan air mata.
Air mata tidak dapat menghapuskan penghinaan, tidak dapat memperbaiki kesalahan di masa lampau.
Jika seseorang ingin memperbaiki kesalahan yang ia perbuat, satu-satunya yang dapat diperbuatnya adalah menggali semangatnya dan memulai segala sesuatu lagi dari awal, mulai saat ini.
Lim Sian-ji berdiri mematung.
Ia mengatakan segala sesuatunya hanya untuk membuat Sun Sio-ang sedih.
Karena ia tahu Sun Sio-ang memandang rendah pada dirinya, ia pun ingin membuat Sun Sio-ang memandang rendah pada dirinya sendiri.
Tapi ia telah gagal.
Sun Sio-ang jauh lebih kuat dan jauh lebih gagah daripada perkiraan Lim Sian-ji.
Bab 83.
Cinta yang Dalam dan Luas Setelah beberapa saat terdiam, Lim Sian-ji mencibir dan bertanya.
"Apa sih yang begitu penting yang harus kau kerjakan hari ini?"
"Kalau seorang wanita ingin mendukung kekasihnya, itu bukan berarti bahwa ia harus ikut serta dalam kematiannya, atau bahwa ia harus mati demi kekasihnya. Tapi ia harus memberikan penghiburan dan kelegaan kepada kekasihnya, supaya ia bisa melakukan apa yang harus dilakukannya dengan tenang. Ia harus membuat kekasihnya merasa dirinyalah yang terpenting dalam hidupnya, dan ia tidak merasa diabaikan,"
Kata Sun Sioang.
"Itu saja?"
"Selain itu, apa lagi yang dapat kuperbuat baginya?"
Memang tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Itu saja sudah cukup. Laki-laki yang beruntung memiliki wanita seperti ini akan merasa puas sepenuhnya. Kata Sun Sio-ang.
"Aku tahu kau sedang berusaha membuatku merasa sedih, tapi aku tidak menyalahkanmu. Aku merasa kasihan padamu."
"Kasihan padaku? Mengapa aku harus dikasihani?"
"Kau pikir kau masih muda, cantik, dan pandai. Kau pikir semua laki-laki di dunia ini akan bertekuk lutut di hadapanmu. Oleh sebab itu, pada saat kau bertemu dengan laki-laki yang sungguh-sungguh mencintai dan sayang padamu, kau tidak bisa menghargainya. Malah kau menggebahnya pergi dan menganggapnya seperti seorang tolol. Tapi suatu hari nanti kau akan menyadari bahwa orang yang sungguh-sungguh mencintaimu tidaklah banyak. Cinta sejati tidak dapat dibeli dengan kecantikan dan usia muda."
Dengan lembut Sun Sio-ang melanjutkan.
"Dan bila saatnya tiba, kau akan menyadari bahwa kau tidak memiliki apapun juga. Bahwa hidupmu kosong dan tidak berarti. Saat seorang wanita berada pada posisi seperti itu dalam hidupnya, ia sungguh patut dikasihani."
Tanya Lim Sian-ji.
"Kau….Kau pikir aku seperti itu?"
Suaranya bergetar.
Seluruh tubuhnya pun bergetar.
Apakah ia merasa kesal?
Dingin?
Atau takut?
Sun Sio-ang tidak menjawabnya.
Ia hanya memandang dingin pada wajah Lim Sian-ji yang pucat dan gelisah, pada tubuhnya yang penuh lumpur.
Jauh lebih buruk daripada jawaban apapun yang mungkin diberikannya.
Lim Sian-ji tertawa tiba-tiba tiba-tiba.
"Kau benar, aku memang meremehkan dia dan menganggapnya tidak lebih daripada seorang tolol yang dimabuk cinta. Tapi kalau sekarang aku pergi mencari dia, dia pasti akan merangkak kembali kepadaku."
"Lalu mengapa tidak kau coba?"
Tantang Sun Sio-ang.
"Tidak perlu kucoba. Aku sudah tahu hasilnya. Ia tidak mungkin dapat hidup tanpa diriku."
Walaupun bibirnya berkata begitu, tubuhnya sudah berputar dan melangkah pergi.
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan berlari sekuat tenaga, karena ia tahu bahwa inilah kesempatan terakhirnya.
Jika kesempatan ini berlalu, berakhir sudah baginya.
Sun Sio-ang masih berdiri di situ sejenak sebelum memaLingkan wajahnya.
Bumi telah tertutup oleh kekelaman yang tiada berujung.
Dari balik rintik air hujan muncul sesosok bayangan manusia….
Tidak ada yang tahu kapan orang itu datang, tidak ada yang tahu sudah berapa lama ia berada di sana.
Yang pertama terlihat oleh Sun Sio-ang adalah matanya.
Mata seorang wanita.
Matanya tampak suram.
Mungkin mata itu sudah begitu banyak mencucurkan air mata sehingga cahayanya sudah pudar.
Namun kesedihan dan dukacita tanpa katakata yang terkandung di dalamnya dapat membawa lakilaki yang paling gagah sekalipun meneteskan air mata.
Lalu tampaklah wajahnya.
Bukan wajah yang luar biasa cantik.
Wajah itu sangat pucat, seakan-akan sudah begitu lama tidak kena sinar matahari.
Tapi entah mengapa, saat Sun Sio-ang melihatnya, ia serasa sedang melihat wanita yang tercantik di seluruh bumi.
Rambutnya berantakan dan pakaiannya basah kuyup, seperti orang yang sedang putus asa.
Namun anehnya, jika orang yang melihatnya, mereka tidak akan menyangka demikian.
Karena ia masih terlihat begitu muda, begitu anggun.
Apapun situasinya, ia dapat menyentuh perasaan orang lain dengan pribadinya yang unik dan kekuatannya yang luar biasa.
Sun Sio-ang belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, namun hanya dengan sekali pandang ia langsung tahu siapa dia.
Lim Si-im.
Hanya wanita seperti dialah yang dapat membuat orang seperti Li Sun-Hoan jatuh ke dalam jurang cinta begitu dalam.
Sun Sio-ang menghela nafas panjang.
‘Mengapa semua orang menganggap Lim Sian-ji adalah wanita tercantik di dunia?
Wanita inilah yang seharusnya mendapatkan predikat itu.
Apalagi pada masa mudanya.
Bahkan saat ini pun, ia jauh lebih mempesona daripada Lim Sian-ji.’ Mungkin karena malam yang hujan, atau mungkin karena ia adalah seorang wanita, tapi itulah pikirannya yang sejujurnya.
Selera wanita terhadap wanita memang berbeda dari selera pria.
Lim Si-im pun sedang menatapnya.
Perlahan ia berjalan mendekat dan berkata.
"Kau…..kau adalah Nona Sun, bukan?"
Sun Sio-ang mengangguk dan berkata.
"Aku tahu siapa engkau. Aku sering mendengar tentang dirimu dari dia."
Lim Si-im tersenyum, senyum yang penuh derita. Tentu saja ia tahu siapakah ‘dia’ yang disebut oleh Sun Sio-ang. Kata Sun Sio-ang.
"Jadi kau sudah berada di sini dari tadi."
Lim Si-im menundukkan kepalanya dan berkata.
"Aku mendengar bahwa ia akan berduel di sini, maka aku datang untuk berbicara sedikit kepadanya. Tapi sudah lama aku tidak pergi keluar rumah dan aku tersesat dalam perjalanan."
Ia tersenyum sedikit dan menambahkan.
"Tapi tidak mengapa. Apa yang tadinya akan kukatakan kepadanya bisa kusampaikan kepadamu."
Suaranya pelan dan lembut.
Seakan-akan ia perlu berpikir sebelum mengucapkan setiap kata.
Tiap kata yang keluar dari mulutnya jelas dan kaku.
Orang yang mendengarnya berbicara saat itu mungkin akan menganggap bahwa ia adalah wanita yang tidak berperasaan.
Namun Sun Sio-ang sungguh memahami dirinya.
Perkataannya terdengar dingin dan datar karena ia sudah begitu banyak menanggung kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya.
Sun Sio-ang merasa simpati yang begitu besar dalam hatinya terhadap wanita ini.
Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Aku tahu bahwa ia ingin sekali bertemu denganmu. Dan kau pun sudah jauh-jauh datang ke sini, mengapa kau tidak mengikutinya untuk bertemu dengannya sekali lagi?"
"A….Aku tidak bisa."
Awalnya memang ia ingin bertemu dengan Li Sun-Hoan.
Tapi saat dia tiba, sudah ada orang yang berada di sampingnya.
Ia tidak ingin menunjukkan diri karena ia kuatir akan perasaan yang akan timbul dalam hatinya.
Karena ia tahu pasti, jika ia bertemu dengan Li Sun-Hoan lagi, ia tidak akan dapat mengendalikan dirinya lagi.
Walaupun ia tidak mengatakannya, Sun Sio-ang paham sepenuhnya.
Kata Sun Sio-ang.
"Sebelumnya aku tidak mengerti mengapa ada orang yang mau menuruti semua perkataan orang lain dan membiarkan orang lain menentukan nasibnya. Baru sekarang aku tahu bahwa ia bukan menuruti perkataan orang itu karena takut padanya, tapi karena mencintainya begitu rupa dan tahu bahwa apapun yang diperbuat orang itu adalah demi kebaikannya."
Selama itu Lim Si-im berusaha keras menahan diri, tapi saat itu pertahanannya runtuh.
Air mata membanjiri wajahnya.
Karena setiap kata yang diucapkan Sun Sio-ang terus menusuk ke dalam hatinya.
Tiap kata bagaikan sebatang jarum yang menghunjam jauh ke dalam sanubarinya.
Ia pernah bertanya pada dirinya sendiri, ‘Aku tidak punya apa-apa lagi.
Aku merasa hampa, sama persis seperti Lim Sian-ji.
Tapi salah siapakah ini?
Apakah akulah yang bersalah waktu dulu itu?’ Tadinya ia begitu geram pada Li Sun-Hoan, begitu benci padanya.
Hidupnya berakhir sedih dan tragis seperti ini, semuanya karena kesalahan Li Sun-Hoan!
Tapi baru sekarang ia menyadari bahwa yang salah bukanlah Li Sun-Hoan, tetapi dirinya sendiri.
‘Mengapa waktu itu aku mendengarkan perkataannya?
Mengapa tak kukatakan dengan tegas kepadanya bahwa aku sungguh mencintainya dan aku tidak akan menikah dengan siapapun juga kecuali dia?’ Sun Sio-ang berkata dengan lembut.
"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di antara kalian berdua, tapi aku tahu bahwa….."
Lim Si-im menyelanya tiba-tiba.
"Tapi sekarang aku tahu. Sekarang, setelah bertemu denganmu, aku tahu bahwa akulah yang salah."
"Kenapa begitu?"
Seru Sun Sio-ang.
"Karena…..jika aku berani berbuat seperti engkau, sekuat dan setegas engkau, aku tidak akan berakhir seperti ini."
"Tapi kau….."
Kembali Lim Si-im memotongnya.
"Sekarang aku tahu bahwa aku tidak pantas menjadi istrinya. Hanya engkaulah yang pantas untuknya."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya.
"Aku….."
Lim Si-im tidak memberinya kesempatan berbicara.
"Karena hanya kau yang bisa menghibur dan mendukungnya. Apapun yang dilakukannya, kepercayaanmu kepadanya tidak pernah berubah. Tapi aku….."
Ia mendesah, dan setetes air mata bergulir ke pipinya. Sun Sio-ang terdiam beberapa saat. Lalu tiba-tiba ia tersenyum dan berkata.
"Tapi di kemudian hari kau akan punya banyak kesempatan untuk bertemu dengannya. Apapun yang terjadi di masa lalu itu sudah lewat. Kini kalian berdua dapat…."
Lim Si-im memotongnya cepat.
"Kau pikir ia masih punya kesempatan? Masih ada harapan?"
"Tentu saja masih ada!"
Sun Sio-ang tersenyum dan berkata.
"Mungkin semua orang beranggapan bahwa ia sudah kehilangan kepercayaan diri. Jika seseorang sudah kehilangan rasa percaya dirinya, apa lagi harapannya?"
"Betul sekali,"
Sahut Lim Si-im.
"Tapi aku tahu pasti bahwa ia bersikap demikian hanya untuk memancing agar Siangkoan Kim-hong menjadi lengah. Jika Siangkoan Kim-hong mulai meremehkan lawannya, ia pun akan menjadi kurang hati-hati."
Mata Sun Sio-ang berbinar dan menambahkan lagi.
"Jika Siangkoan Kim-hong kurang hati-hati, Li Sun-Hoan pasti bisa mengalahkannya!"
Lim Si-im mendesah dan berkata.
"Ia punya rasa percaya diri yang begitu besar karena kau begitu yakin pada dirinya. Dukungan dan semangatmu sangat berharga baginya. Aku rasa kau tidak menyadari seberapa pentingnya dirimu baginya."
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya.
"Aku menyadarinya."
Ia tidak hanya yakin pada Li Sun-Hoan, ia pun yakin pada dirinya sendiri.
Lim Si-im memandang gadis itu dengan perasaan yang tidak terkatakan.
Apakah itu iri hati?
Cemburu?
Atau kasihan pada dirinya sendiri?
Atau mungkin, ia hanya merasa sangat berbahagia bagi Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan telah berkubang dalam kesedihan lebih dari setengah masa hidupnya.
Hatinya pasti merasa sangat lelah.
Hanya orang seperti Sun Sio-anglah yang dapat memberikan penghiburan kepadanya.
Sekalipun ia bisa menang kali ini, akan tiba saatnya suatu hari nanti ia akan kalah.
Walaupun tidak ada orang yang dapat menjatuhkannya, ia pasti bisa menjatuhkan dirinya sendiri!
Lim Si-im kembali mendesah dan berkata.
"Bahwa ia bisa berjumpa denganmu, itu adalah anugerah Tuhan, menggantikan seluruh penderitaan dalam hidupnya. Ia pantas untuk berbahagia, tapi….."
Tiba-tiba ia bertanya.
"Bagaimana dengan Hing Bu-bing? Walaupun ia dapat mengalahkan Siangkoan Kim-hong, tidak mungkin ia dapat mengalahkan serangan gabungan mereka berdua."
Sahut Sun Sio-ang.
"Mungkin Hing Bu-bing tidak akan menyerang sama sekali. Siangkoan Kim-hong sudah begitu yakin bahwa dia tidak mungkin kalah, sehingga ia tidak akan meminta bantuan Hing Bu-bing. Saat ia menyadarinya, sekalipun Hing Bu-bing ingin membantu, itu sudah sangat terlambat."
Pemikirannya sungguh tepat.
Ini adalah kesempatan Li Sun-Hoan satu-satunya.
Jika mereka ingin mengalahkan Li Sun-Hoan, ini juga satu-satunya kesempatan mereka – pisau terbangnya tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi siapapun juga.
Pertanyaannya adalah, siapakah yang dapat memanfaatkan kesempatan yang satu-satunya ini?
Kata Lim Si-im.
"Jadi maksudmu, jika Hing Bu-bing tidak menyerang bersamaan dengan Siangkoan Kim-hong, Li Sun-Hoan masih punya kesempatan?"
"Benar."
"Bagaimana kau bisa yakin bahwa Hing Bu-bing tidak akan menyerang?"
"Aku tidak bisa yakin,"
Jawab Sun Sio-ang.
"Namun aku yakin setelah dua jam, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak."
"Meskipun kau benar, bagaimana kita bisa tahu apa yang terjadi selama dua jam ini?"
Tanya Lim Si-im kuatir.
"Sesuatu akan terjadi."
"Apa itu?"
"A Fei,"
Jawab Sun Sio-ang singkat. Walaupun Lim Si-im tidak mengatakan apa-apa, wajahnya menunjukkan kekecewaan. Semua orang pasti merasa kecewa terhadap A Fei. Kata Sun Sio-ang.
"Tidak seorang pun percaya padanya lagi, tapi itu hanya karena saat ini ia masih mengenakan belenggu yang berat pada tubuhnya."
"Belenggu?"
"Ya, belenggu. Dan hanya ada satu orang yang dapat membebaskan dia dari belenggu itu."
"Siapa?"
Tanya Lim Si-im penuh harap.
"Hanya pemukul genta yang dapat melepaskan ikatan genta."
"Maksudmu…..Lim Sian-ji?"
"Tepat sekali. Kalau ia bisa menyadari bahwa Lim Sian-ji tidak pantas memperoleh cintanya, maka ia akan terbebas dari seluruh belenggu yang mengikatnya."
Lim Si-im terdiam sejenak. Lalu ia berkata.
"Mungkin kau benar. Namun ia telah jatuh begitu lama dan begitu dalam, bagaimana mungkin ia dapat bangkit kembali dalam waktu yang sangat singkat?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Untuk alasan lain mungkin dia tidak akan bisa, namun untuk Li Sun-Hoan ia pasti bisa."
Lalu dengan perlahan ia menambahkan.
"Untuk orangorang yang sangat kita kasihi, kadang-kadang kita bisa membuat hal-hal yang luar biasa."
Lim Si-im menghela nafas panjang.
"Jadi begitu…."
Kata Sun Sio-ang.
"Jadi sekarang aku harus pergi mencari A Fei dan memberitahukan padanya apa yang terjadi."
"Tunggu…..ada lagi yang ingin kusampaikan padamu,"
Kata Lim Si-im tiba-tiba.
"Apa itu?"
"Sudah lama aku tidak pergi dunia luar, tapi aku tahu begitu banyak tentang apa yang terjadi. Apa kau tidak merasa heran?"
"Sama sekali tidak. Karena aku tahu kau memiliki putra yang sangat cerdas,"
Jawab Sun Sio-ang sambil tersenyum. Lim Si-im menundukkan kepalanya dan berkata.
"Apapun yang terjadi, ia tetap adalah anakku. Tidak ada satupun dalam dunia ini yang kumiliki kecuali dia seorang….. Oleh sebab itu aku berharap kau dapat memberitahukan kepadanya, memintakan maaf kepadanya….."
"Ia tidak pernah membenci siapapun juga. Kau seharusnya sudah tahu."
Lim Si-im terdiam. Seolah-olah ada lagi yang ingin dikatakannya, namun ia tidak tahu bagaimana harus memulainya. Tanya Sun Sio-ang.
"Apakah ini mengenai ‘Ensiklopedi LianHua’?"
Lim Si-im tampak terkejut.
"Kau sudah tahu?"
Sun Sio-ang tersenyum dan menyahut.
"Aku juga sudah memberitahukan kepadanya. Jisusiokku…."
"Benar. Waktu Tuan Wang datang, Tuan Sun juga ada bersamanya."
"Jadi kitab itu memang ada padamu?"
"Ya. Tapi aku tidak pernah memberitahukan kepadanya selama ini."
"Mengapa?"
Jawab Lim Si-im.
"Karena pada saat itu aku merasa bahwa ilmu silat tidak mendatangkan kebaikan baginya, malahan akan membahayakan dirinya. Semakin tinggi ilmu silat seseorang, akan semakin banyak persoalan yang timbul, jadi….."
"Jadi kau tidak memberitahukan kepadanya karena kau ingin dia menjadi orang biasa, dengan kehidupan yang sederhana."
"Itulah alasan utamanya. Tapi tidak seorang pun akan mempercayai aku….."
"Aku percaya padamu,"
Kata Sun Sio-ang. Ia mendesah dan menambahkan.
"Jika aku ada di tempatmu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama."
Hanya seorang wanitalah yang dapat memahami perasaan wanita lain.
Hanya seorang wanitalah yang dapat memahami bahwa seorang wanita sanggup berbuat apapun juga demi lakilaki yang dicintainya.
Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 6
Baca Juga: Pengelana Rimba Persilatan 10