Eps 9 Pisau Terbang Li - Gu Long
Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long
Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.
"Dewa-dewa dan setan-setan tidak datang menghormatiku. Mengapa aku harus menghormati mereka?"
"Memang, Paman adalah pahlawan yang sangat agung dunia ini, bahkan di dunia lain. Dewa-dewa dan para setan pun pasti sangat segan padamu."
"Aku tidak menghormati mereka, mengapa mereka harus menghormati aku?"
Liong Siau-in kehabisan kata-kata dan terbatuk dua kali. Akhirnya ia berkata.
"Jadi Paman, maksudmu adalah…."
Potong Siangkoan Kim-hong tidak sabar.
"Yang akan mengangkat saudara dengan aku itu kau atau ayahmu?"
"Tentu saja ayahku."
"Kalau begitu, minggir dan diam!"
"Baiklah,"
Sahut Liong Siau-in pelan. Ia menundukkan kepalanya dengan hormat dan mundur ke belakang. Wajahnya tidak berubah sedikitpun. Sementara itu wajah Liong Siau-hun menjadi tegang, katanya tegas.
"Anakku yang tidak berguna itu memang tidak punya sopan santun. Toako, mohon jangan tersinggung."
Siangkoan Kim-hong tiba-tiba menggebrak meja dan berkata tajam.
"Anak seperti itu, bagaimana ia bisa menjadi penerusmu?"
Ia mengeluh dan meneruskan.
"Sayang sekali ia bukan anakku."
Muka Liong Siau-hun menjadi merah dan tidak tahu harus bilang apa.
Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung menuju Siangkoan Kim-hong.
Alisnya tebal dan matanya melengkung.
Ketika ia tepat berada di belakang Siangkoan Kim-hong, ia berbisik.
"Perintahmu sudah diberikan, namun…."
"Namun apa?"
"Ia sedang mabuk. Sangat mabuk."
Siangkoan Kim-hong mengerutkan alisnya dan berkata.
"Siram dia dengan air dingin. Jika belum bangun juga, siram dengan air kencing."
"Ya,"
Jawab orang itu dengan tatapan penuh kekaguman.
Kecuali orang mati, siapapun dapat dibangunkan dengan siraman air kencing.
Liong Siau-hun tidak dapat mendengar apa yang sedang dipercakapkan.
Ia lalu berkata.
"Toako, apakah kau sedang menantikan seseorang?"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Siapakah yang cukup pantas untuk kunantikan?"
Kata Liong Siau-hun.
"Kalau semua sudah hadir, mengapa kita tidak…."
Siangkoan Kim-hong memotongnya dengan tawa dan berkata.
"Usiamu?"
"Lima puluh satu."
"Hm, ternyata kau lebih tua daripada aku. Kelihatannya aku yang harus memanggilmu Kakak."
Wajah Liong Siau-hun kelihatan tidak sabar. Ia segera berdiri dan berkata.
"Ah, tidak jadi soal siapa yang tua siapa yang muda. Yang penting adalah apakah seseorang mampu atau tidak. Toako, tolong jangan puji aku berlebih-lebihan."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kalau kau menganggapku lebih tua, maka kau harus mendengarkan petunjukku."
"Ya."
"Bagus. Duduklah dan mari minum…. Pertama-tama mari minum untuk sahabat-sahabat di sini."
Orang yang dapat duduk dan minum di situ, sudah jelas adalah orang yang cukup terkemuka.
Siangkoan Kim-hong belum mengangkat sumpitnya, maka sumpit semua orang pun seolah-olah beratnya menjadi beratus-ratus kilo.
Siapa yang bisa makan?
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Makanan sudah siap. Jika tidak dimakan, makanan ini akan jadi mubazir. Aku tidak suka menyia-nyiakan barang. Mari, silakan dicicipi."
Setelah perkataannya ini, tujuh delapan pasang sumpit mulai bergerak. Kata Liong Siau-hun.
"Ikannya kelihatan sangat segar. Toako, cobalah sedikit."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku makan kalau aku lapar. Saat ini, aku tidak lapar."
Tambahnya.
"Makan sewaktu tidak lapar adalah sama dengan menyia-nyiakan barang."
Setelah perkataan itu, beberapa pasang sumpit kembali diletakkan ke atas meja.
Salah satu di antara yang datang adalah seseorang dengan wajah pucat dan tubuh yang tinggi.
Di jarinya terlihat sebentuk cincin kumala yang sangat indah.
Sarung pedang yang tergantung di pinggangnya pun dihiasi dengan batu-batu kumala yang indah.
Walaupun orang ini tidak berkata sesuatupun, wajahnya kelihatan sangat gelisah.
Ia belum pernah merasakan kegelisahan seperti ini.
Kini, ia menyesal datang ke tempat ini.
Seharusnya ia tidak perlu datang.
‘Kumala Gemerlapan Hin’ adalah merek yang terkenal.
Jika orang dalam dunia bisnis mendengar nama ‘Kumala Gemerlapan Hin’, itu sama dengan orang dalam dunia persilatan mendengar nama ‘Pisau Kilat si Li’.
Siauya ‘Kumala Gemerlapan Hin’, Sebun Yu sudah terbiasa dimanjakan dan dilayani sejak masih kecil.
Kalau ia ingin pergi ke timur, siapapun tidak berani mengusulkan untuk pergi ke barat.
Waktu ia ingin belajar ilmu pedang, banyak guru pedang diundang untuk mengajarnya, bahkan mencarikan untuknya sebilah pedang mustika.
Pada usia 10 tahun, Sebun Yu sudah menggunakan pedang itu untuk membunuh….
Membunuh tanpa alasan.
Ia hanya ingin tahu rasanya membunuh seseorang.
Maka segera dicarikan untuknya orang yang bisa dibunuhnya.
Orang seperti ini harus duduk di meja dan dipaksa untuk mengikuti tekanan semacam ini.
Tidak heran ia merasa sangat gelisah.
Ia pun belum menyentuh sumpitnya sama sekali.
Mata Siangkoan Kim-hong memandang Sebun Yu.
Sebun Yu ingin menoleh dan melepaskan diri dari pandangan itu, tapi mata Siangkoan Kim-hong seakanakan mempunyai kekuatan magnetis yang membuatnya tidak dapat melengos sedikitpun.
Jika ia ingin memandang seseorang, orang itu hanya bisa membiarkan dia memandangnya.
Sebun Yu merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin.
Mulai dari ujung jemarinya, perasaan dingin itu merayap ke punggung, masuk ke dalam tulang-tulangnya, dan merembes ke dalam hatinya.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berseru.
"Apakah makanan ini beracun?"
Tanya Sebun Yu.
"Mengapa beracun?"
"Kalau tidak beracun, mengapa tidak kau makan?"
"Aku juga tidak lapar, jadi aku tidak mau menyia-nyiakan makanan."
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Benarkah kau tidak lapar?"
"Ben….Benar."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Menyia-nyiakan makanan masih dapat dimaafkan, tapi berbohong tidak dapat ditolerir. Mengerti?"
Sebun Yu tidak dapat menahan rasa marahnya. Katanya.
"Buat apa aku berbohong untuk hal sepele macam ini?"
"Berbohong adalah berbohong. Tidak jadi soal apakah kau berbohong mengenai hal sepele atau hal penting."
"Aku sudah bilang, aku tidak lapar,"
Tegas Sebun Yu. Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Ini sudah lewat waktu makan. Bagaimana mungkin kau tidak lapar?"
"Karena makananku sebelumnya belum habis tercerna."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau makan di Rumah Makan Fuiyun di bagian selatan kota. Benar kan?"
"Ya, benar."
"Kau memesan sepiring ayam wijen, semangkuk sup mi belut, dan bakpao daging. Kau makan dua potong ayam, setengah mangkuk mi, dan tujuh bakpao. Benar?"
Sebun Yu tertawa dan berseru.
"Aku tidak menyangka Siangkoan-pangcu sudah menyelidiki setiap gerak langkahku sampai sedetil ini!"
Siangkoan Kim-hong tidak menggubrisnya. Ia terus berkata.
"Karena tadi kau bilang apa yang kau makan belum habis tercerna, maka seharusnya masih ada dalam perutmu, bukan?"
"Ya, kurasa begitu."
Siangkoan Kim-hong menurunkan pandangannya dan berkata.
"Coba buka perutnya dan mari kita lihat apakah masih ada atau tidak."
Walaupun setiap orang di situ tahu bahwa ia sedang mencari gara-gara dengan Sebun Yu, mereka semua terkejut bahwa peristiwa ini tiba-tiba menjadi separah itu.
Tapi tidak seorang pun berani menunjukkan reaksi negatif atau rasa heran akan perkataannya itu.
Perintah Siangkoan Kim-hong tidak bisa ditarik kembali.
Sekali diberikan, harus dilaksanakan.
Wajah Sebun Yu langsung memucat.
Ia berkata raguragu.
"Ketua, kau hanya bercanda denganku, bukan?"
Siangkoan Kim-hong tidak mempedulikannya sama sekali.
Empat orang berjubah kuning masuk.
Sebun Yu melompat dan menghunus pedangnya.
Gerakannya sangat cermat dan akurat.
Tidak seorangpun pernah melihat dia bertempur, namun mereka segera tahu bahwa ilmu pedangnya tidak lemah.
Namun sebelum pedang keluar dari sarungnya, terdengar bunyi ‘Siut’.
Sepasang sumpit di tangan Siangkoan Kimhong telah tertancap di bahu kiri dan kanan Sebun Yu.
Bab 67.
Puncak Tertinggi Ilmu Silat Semua orang tahu bahwa ilmu silat Siangkoan Kim-hong memang begitu lihai.
Namun tidak seorang pun pernah melihat dia bertempur.
Bahkan sekarang pun, tidak seorang pun melihat dia menyerang.
Seakan-akan tangannya tidak bergerak sama sekali.
Mereka hanya melihat dia menekan meja sedikit sebelum sepasang sumpit itu terbang melesat di udara.
Lalu Sebun Yu pun terkulai dan rebah ke tanah.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Bawa dia pergi dan periksa dengan seksama."
Orang-orang berjubah kuning itu langsung membawa tubuh Sebun Yu keluar.
Bibir Sebun Yu seolah-olah bergerak sedikit, namun ia bergitu ketakutan sehingga tidak secuil suara pun keluar dari mulutnya.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Jika memang makanan itu masih ada di perutmu, aku akan membayar dengan nyawaku, sehingga kematianmu tidak sia-sia."
Tidak seorang pun berani bicara.
Tidak seorang pun berani bergerak.
Setiap orang terlihat seolah-olah sedang duduk di papan berpaku.
Pakaian mereka semua basah oleh keringat dingin.
Salah satu orang berjubah kuning tadi masuk kembali dan berkata.
"Kami telah memeriksanya."
"Apa yang kalian temukan?"
"Tidak ada. Perutnya kosong."
"Bagus,"
Kata Siangkoan Kim-hong. Matanya lalu menyapu ke setiap wajah di ruangan itu dan berkata.
"Jika kalian berdusta di hadapanku, maka kalian akan mengalami nasib yang sama. Semua mengerti?"
Semua mengangguk. Tanyanya lagi.
"Apakah semuanya juga tidak lapar?"
Semua langsung menjawab.
"Tidak…tidak, kami lapar….kami lapar."
Mereka semua langsung berlomba-lomba menyantap makanan di meja.
Tidak ada yang mengunyah lagi.
Suapan demi suapan langsung ditelan dan masuk perut begitu saja.
Tiba-tiba, seseorang yang basah kuyup dari kepala sampai ujung kaki, masuk ke situ dan berdiri dekat pintu.
Matanya merah, penampilannya kusut masai, tubuhnya lemas.
Ia terus-menerus menggumam.
"Seseorang yang berbaju ungu kemerahan, seseorang yang berbaju ungu kemerahan."
A Fei! Liong Siau-hun langsung bangun berdiri. Mata A Fei hinggap padanya dan berkata.
"Ternyata kau."
Walaupun matanya sayu dan penampilannya kusut dan mengantuk, ada pedang dalam genggamannya.
Selama ada pedang di tangannya, itu cukup untuk membuat Liong Siau-hun merasa tidak nyaman.
Liong Siau-hun mundur selangkah demi selangkah.
A Fei maju selangkah demi selangkah.
Pedang itu bergoyang-goyang dalam genggamannya.
Langkahnya pun tidak mantap.
Namun ketika Liong Siau-hun melihat pedang itu teracung, segera ia memutar badannya dan lari.
A Fei melompat ke arahnya.
Sebelum ia sampai ke situ, orang-orang sudah bisa mencium bau arak.
Kini wajah Liong Siau-in pun berubah.
Ia segera mengangkat kursi tempat ayahnya tadi duduk dan melemparkannya ke arah A Fei, untuk menghadang langkahnya.
A Fei sama sekali tidak melihat kursi itu dan jatuh tersandung.
Ia langsung jatuh ke tanah dan pedangnya terlontar dari genggamannya.
Ia bahkan tidak bisa menahan pedang itu dalam genggamannya!
Liong Siau-hun sangat kaget, namun pada saat yang sama sangat gembira.
Ia segera memutar badannya kembali dan memungut pedang itu.
Dalam sekejap mata saja, kini ujung pedang itu telah tertuju pada kepala A Fei.
Namun ia tidak langsung menusukkan pedang itu.
Karena dari sudut matanya ia dapat melihat sekilas wajah Siangkoan Kim-hong.
Wajah Siangkoan Kim-hong saat itu sangat kosong, terlihat sangat mengerikan.
Ia duduk di situ seperti patung, bergerak seinci pun tidak.
Karena ia tidak bergerak, tidak seorang pun di situ berani bergerak.
Seru Liong Siau-hun.
"Orang ini berani-beraninya berbuat onar di depan Toako. Ia pantas mati!"
Siangkoan Kim-hong tetap diam. Setelah sekian lama, barulah ia berbicara.
"Ada seekor anjing di depan sana. Kau lihat tidak?"
Jawab Liong Siau-hun.
"Ya, rasanya tadi aku melihatnya."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kalau kau ingin membunuh orang itu, lebih baik kau bunuh anjing di depan sana."
Tanya Liong Siau-hun.
"Toako, apakah maksudmu orang ini tidak ada harganya, bahkan dibandingkan dengan seekor anjing sekalipun?"
Siangkoan Kim-hong balik bertanya.
"Bagaimana dengan engkau?"
Liong Siau-hun sangat terperanjat.
"Aku….?"
"Dia tidak berharga dibandingkan dengan seekor anjing sekalipun, namun kau lebih rendah lagi. Ketika anjing melihat dia, setidaknya anjing itu tidak melarikan diri."
Liong Siau-hun diam seribu bahasa. Mata Siangkoan Kim-hong menyapu pada orang-orang yang ada di situ dan bertanya.
"Apakah di antara kalian ada yang bersedia mengangkat saudara dengan seekor anjing?"
Jawab semua orang serempak.
"Tentu saja tidak!"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Mereka saja tidak mau. Apalagi aku…."
Lalu Siangkoan Kim-hong memandang Liong Siau-hun dan berkata.
"Kurasa kau dan anjing ini bisa menjadi sahabat baik. Mengapa tidak kalian berdua saja yang menjadi saudara angkat?"
Kata-katanya tidak dapat ditarik kembali. Namun siapakah yang dapat menahan penghinaan sejauh itu? Wajah Liong Siau-hun berkeringat dan mulai tergagapgagap.
"Kau…. Kau…."
Liong Siau-in segera berlari ke sana dan mengambil pedang. Katanya.
"Ini semua adalah usulanku. Aku tidak menyangka hal ini akan mendatangkan penghinaan bagiku dan bagi ayahku. Aku tidak dapat lagi membasuh kesalahanku. Hanya dengan mencurahkan darah aku dapat membalas kebaikan ayah padaku. Sungguh sayang, ibu tidak hadir di sini, karena aku tidak dapat memutuskan hidup matiku tanpa kehadiran beliau."
Tiba-tiba diangkatnya pedang itu dan ditebasnya tangannya sendiri.
Mulut semua orang ternganga, namun tidak ada yang berani berbuat apa-apa.
Liong Siau-in sangat kesakitan dan tubuhnya pun gemetaran.
Namun ia hanya mengatupkan mulutnya erat-erat dan mengambil potongan tangannya, lalu diberikannya kepada Siangkoan Kim-hong.
Katanya.
"Apakah kau sudah merasa puas?"
Wajah Siangkoan Kim-hong tidak berubah. Ia memandang anak itu dingin dan berkata.
"Kau ingin menukar tangan ini dengan nyawamu dan nyawa ayahmu?"
"A….Aku…."
Sebelum ia bisa berbicara lebih lanjut, rasa sakitnya sudah begitu dahsyat sehingga ia jatuh pingsan.
Walaupun hati Liong Siau-hun sangat sedih, ia tidak berani menunjukkannya.
Ia hanya berdiri di situ tanpa bicara.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Demi anakmu, aku ampuni nyawa kalian berdua. Sekarang pergilah, dan jangan sampai kulihat kau lagi!"
Akhirnya A Fei pun bangkit berdiri.
Seolah-olah ia tidak menyadari sama sekali apa yang baru saja terjadi di situ.
Kelihatannya, ia pun tidak menyadari bahwa ada banyak orang di situ.
Matanya langsung tertuju pada guci arak di atas meja dan perlahan-lahan ia berjalan ke sana dan segera menyambarnya.
Ia memeluk guci itu erat-erat, seakan-akan guci itu adalah seluruh hidupnya.
‘Prang’, guci itu pun pecah.
Arak tumpah ke lantai.
Tangan A Fei gemetaran, masih memegangi guci yang pecah itu.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Arak ini hanya untuk manusia. Kau tidak pantas meminumnya!"
Lalu ia melemparkan sekeping perak ke lantai dan berkata.
"Jika kau masih ingin minum, sana beli sendiri."
A Fei mengangkat kepalanya dan memandang Siangkoan Kim-hong.
Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi.
Kepingan perak itu ada di samping kakinya.
Ia menatap kepingan perak itu sejenak, lalu membungkukkan badannya…..
Seulas senyum tergambar di wajah Siangkoan Kim-hong.
Ia terlihat lebih mengerikan saat tersenyum.
Tiba-tiba terlihat selarik cahaya terang.
Sebilah pisau melesat bagaikan kilat dan memaku kepingan perak itu di lantai.
A Fei terkejut dan mengangkat kepalanya.
Sekujur tubuhnya membeku.
Seseorang berdiri dekat pintu sedang memandangnya lalu berkata.
"Arak di sini lebih enak daripada arak di tempat lain. Jika kau ingin minum, akan kutuang secawan untukmu."
Masih ada satu guci arak lagi di atas meja.
Orang itu berjalan menuju ke meja, menuang arak ke cawan dan menyuguhkannya kepada A Fei.
Tidak seorang pun buka suara.
Bahkan suara nafas pun tidak dapat terdengar.
Siangkoan Kim-hong pun tidak bersuara.
Ia hanya menatap orang ini dengan mulut terkunci.
Orang ini tidak jangkung, tapi tidak pendek juga.
Pakaiannya kumal dan lusuh.
Ia tampak seperti seorang laki-laki setengah baya yang penyakitan.
Tapi waktu Siangkoan Kim-hong melihat dia menuang arak dan memberikan cawan itu kepada A Fei, ia tidak berusaha mencegahnya.
Bahkan ia tidak menunjukkan reaksi apapun sedikitpun.
Tidak ada seorang pun yang berani membangkang perintah Siangkoan Kim-hong!
Namun orang ini jelas-jelas mengabaikan perkataan Siangkoan Kim-hong barusan.
Kini cawan arak itu sudah berada di tangan A Fei.
A Fei menatap itu seperti orang tolol.
Dua tetes air mata perlahan jatuh ke dalam cawan itu.
Ia tidak pernah ragu-ragu mencucurkan darah, namun air mata selalu berusaha keras dibendungnya.
Mata Sun-hoan pun mulai berkaca-kaca, dan setetes mulai membasahi sudut matanya.
Namun di bibirnya tetap tersungging senyum yang hangat dan bersahabat.
Senyum itu seakan-akan mengubah penampilan lusuh lelaki setengah baya ini menjadi seseorang yang begitu bercahaya dan berkarisma.
Tidak ada pernah membayangkan bahwa seulas senyum bisa begini besar pengaruhnya.
Ia pun tidak berbicara lagi.
Perasaan yang terkandung dalam senyuman dan air mata itu tidak dapat diekspresikan dalam kata-kata.
A Fei tidak dapat mengendalikan tangannya yang mulai gemetaran.
Tiba-tiba ia meraung dan membanting cawan di tangannya itu.
Ia segera bangkit dan berlari ke arah pintu.
Sun-hoan sepertinya sudah akan pergi mengejarnya.
Seru Siangkoan Kim-hong.
"Tunggu sebentar!"
Lelaki itu masih melangkah dua langkah lagi sebelum berhenti. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Jika kau ingin pergi, seharusnya tadi kau tidak usah datang. Jika sudah datang, mengapa hendak pergi?"
Sun-hoan berdiri di situ sejenak, lalu menyahut.
"Benar. Aku sudah datang, mengapa hendak pergi?"
Sebelumnya, tidak sekalipun ia melirik Siangkoan Kimhong.
Kini ia memutar tubuhnya perlahan.
Tatapan matanya bertemu dengan mata Siangkoan Kimhong.
Tatapan yang berkobar-kobar!
Bertemunya tatapan kedua orang ini, seakan-akan dapat menyulut kobaran api.
Kobaran api yang menyala tanpa suara, tanpa bentuk.
Walaupun tidak ada orang yang dapat melihatnya, mereka semua dapat merasakannya.
Hati semua orang berdebar-debar, seakan-akan jantung mereka hendak melompat keluar.
Mata Siangkoan Kim-hong bagaikan tangan setan.
Tatapannya dapat mencekik mati jiwa seseorang.
Mata lelaki setengah baya itu bagaikan samudra raya yang tiada berujung, begitu luas dan tenang membiru.
Begitu luas, sehingga dapat memerangkap semua setan dan iblis yang gentayangan di dunia ini.
Jika mata Siangkoan Kim-hong diibaratkan pedang, mata orang ini adalah sarungnya!
Hanya dengan melihat matanya, semua orang tahu bahwa ia bukan lelaki setengah baya biasa.
Sebagian dari mereka sudah bisa menebak siapa dia.
Akhirnya suara Siangkoan Kim-hong memecahkan kesunyian.
"Mana senjatamu?"
Pergelangan tangan lelaki itu mengedik sedikit, dan terlihatlah sebilah pisau di antara jemarinya!
Pisau Kilat si Li!
Setelah semua orang melihat pisau itu, mereka tahu bahwa tebakan mereka memang tepat.
Lelaki itu adalah Li Sun-Hoan!
Akhirnya Li Sun-Hoan datang!
Tangannya sangat mantap.
Seakan-akan membeku di udara.
Jari-jemarinya panjang dan kurus.
Kukunya dipotong rapi.
Tangan ini tampak lebih cocok memegang sebatang pena daripada memegang sebilah pisau.
Namun dalam dunia persilatan, tangan ini adalah tangan yang paling berharga, tangan yang paling menakutkan dari semua tangan yang ada di dunia.
Pisaunya adalah pisau biasa dan sederhana.
Namun di tangan orang ini, pisau itu dapat menjadi senjata yang amat berbahaya!
Siangkoan Kim-hong berdiri dan berjalan ke hadapan Li Sun-Hoan.
Jarak di anatara mereka ada tujuh meter.
Tangan Siangkoan Kim-hong masih berada dalam lengan bajunya.
Ia telah merajai dunia persilatan sejak dua puluh tahun yang lalu dengan Cincin Naga dan Burung Hong miliknya.
Dalam Kitab Persenjataan, senjata ini berada di urutan kedua.
Satu tingkat di atas Pisau Kilat si Li!
Dalam dua puluh tahun belakangan ini, tidak seorang pun pernah melihatnya menggunakan cincin itu.
Walaupun semua orang tahu senjata itu amat ampuh, tidak seorangpun mengetahui sampai sejauh mana keampuhan senjata itu.
Apakah cincin itu ada di tangannya sekarang?
Kini mata semua orang beralih dari pisau Li Sun-Hoan ke tangan Siangkoan Kim-hong.
Perlahan-lahan tangannya keluar dari lengan bajunya.
Tangan itu kosong.
Tanya Li Sun-Hoan.
"Di mana cincinmu?"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Ada di sini."
"Di mana?"
"Dalam hatiku."
"Dalam hatimu?"
"Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam hatiku!"
Mata Li Sun-Hoan menyipit.
Cincin Siangkoan Kim-hong tidak dapat dilihat!
Karena tidak dapat dilihat, cincin itu dapat berada di segala tempat.
Bisa berada di hadapan matamu, di depan lehermu, atau di tepat samping nyawamu.
Setelah seluruh jiwamu dihabisinya sekalipun, kau tetap tidak tahu dari mana cincin itu datang!
‘Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam hatiku.’ Puncak dari segala ilmu silat!
Ini adalah tingkatan para dewa.
Namun tidak seorang pun mengerti.
Tidak seorang pun, kecuali Li Sun-Hoan.
Semuanya terlihat kecewa.
Begitu banyak orang ingin sekali melihat cincin itu, dan ingin menyaksikan kekuatan dan kehebatannya.
Mereka tidak dapat mengerti bahwa yang tidak terlihat itulah yang benar-benar kuat dan hebat.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Tujuh tahun yang lalu akhirnya tanganku menjadi tidak lagi berbentuk."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku sungguh kagum."
"Kau mengerti?"
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Begitu samar dan berseni. Tidak ada cincin, tidak ada keakuan. Tidak ada jejak yang dapat ditemukan, tidak ada halangan yang tidak tertembus."
"Luar biasa! Kau betul-betul mengerti!"
Siangkoan Kimhong berseru kegirangan.
Mengerti adalah tidak mengerti.
Tidak mengerti adalah mengerti.
Mereka berdua seakan-akan adalah dua Master Zen yang sedang beradu filsafat.
Selain mereka berdua, tidak ada seorang pun di situ yang mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan.
Mereka tidak mengerti sama sekali.
Itulah sebabnya ini sangat mengerikan bagi mereka….
Satu per satu diam-diam berdiri dan mundur ke sudut ruangan.
Siangkoan Kim-hong menatap Li Sun-Hoan dan berkata.
"Li Sun-Hoan memang benar-benar Li Sun-Hoan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Dan hanya Siangkoan Kim-hong yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau adalah generasi ketiga keluarga Tamhoa, terkenal di seantero dunia dan berpendidikan tinggi. Kaya dan termashur, membuat iri semua orang di dunia. Mengapa kau akhirnya menjadi seorang petualang di kelas bawah dunia persilatan?"
"Aku datang kalau aku mau, aku pergi kalau aku ingin."
"Kau pikir kau bisa pergi?"
Li Sun-Hoan terdiam sesaat sebelum menjawab.
"Aku tidak bisa pergi dan aku pun tidak ingin pergi."
"Baiklah. Silakan mulai jurusmu,"
Tantang Siangkoan Kimhong.
"Aku sudah mulai."
Siangkoan Kim-hong kelihatan bingung. Tanyanya.
"Mana?"
"Dalam hatiku. Jurusku tidak berada dalam pisau ini, namun ada dalam hatiku."
Kini mata Siangkoan Kim-hong yang menyipit.
Mereka yang tidak dapat melihat cincin Siangkoan Kimhong juga tidak akan dapat melihat mulainya jurus Li Sun-Hoan.
Namun ketika cincin datang, jurus pun akan menyambutnya!
Walaupun semua orang sepertinya berdiri dengan tenang, mereka merasa seolah-olah merekalah yang sedang bertempur hidup dan mati.
Hidup atau mati dapat ditentukan oleh satu helaan nafas saja!
Walaupun semuanya sudah mundur ke sudut ruangan, mereka masih dapat merasakan hawa yang sangat mengerikan.
Tiap-tiap orang dapat merasakan hati mereka makin mengkerut setiap detiknya!
*** Darah dalam tubuh A Fei mulai menggelegak.
Saat ia berlari kesetanan, ia tidak tahu apa yang dipikirkannya, apa yang diperbuatnya.
Ia sedang lari dari kenyataan.
Tapi kemanakah ia bisa lari?
Dan berapa lama ia dapat bersembunyi?
Ia tidak mungkin berlari selama-lamanya, karena sebenarnya ia sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.
*** Sementara itu, Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong sedang saling memandang.
Keduanya tidak bersuara, keduanya tidak bergerak.
Yang dapat didengar semua orang di situ hanyalah debur jantung mereka sendiri.
Satu-satunya yang dapat mereka lihat adalah butiran keringat mereka sendiri yang menetes dari dahi ke lengan mereka.
Karena sekali salah seorang bergerak, gerakan ini akan mengguncangkan langit dan bumi.
Duel ini dapat meledak sewaktu waktu.
Dan dapat berakhir pada detik yang sama.
Karena pada detik itu salah satu pasti kalah.
Tapi siapakah yang akan kalah?
‘Pisau Kilat si Li, tidak akan lepas dari tangan kalau tidak akan kena sasaran’ Dalam dua puluh tahun ini, tidak seorang pun dapat lolos dari pisau Li Tamhoa!
Namun cincin Siangkoan Kim-hong berada di urutan yang lebih atas.
Apakah artinya cincin itu lebih hebat?
Dua orang ini seolah-olah membeku di tempat masingmasing.
Keduanya seakan-akan bercahaya penuh rasa percaya diri.
Siapakah di dunia ini yang dapat menerka hasil pertarungan ini?
*** A Fei telah jatuh ke tanah.
Nafasnya tersengal-sengal.
Setelah diam di situ beberapa saat, ia mengangkat kepalanya.
Ia tidak tahu di mana ia berada.
Tempat itu adalah sebuah pekarangan kecil.
Di tengah pekarangan itu ada sebatang pohon willow yang terayun-ayun ditiup angin musim gugur.
Di beranda ada sebuah spanduk yang setengah tergulung.
Pintu tertutup rapat.
Tidak terdengar secuil suara pun dari dalam rumah itu.
Ini adalah tempat ia mabuk-mabukan semalam.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini lagi.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Seraut wajah yang cantik mengintip dari dalam.
Hasrat yang begitu besar langsung memuncak dalam diri A Fei, namun wajah itu segera masuk lagi ke dalam.
Ia adalah salah satu dari gadis-gadis yang menemani dia semalam.
Bab 68.
Antara Dewa dan Setan A Fei bangkit dan berjalan menuju ke pintu itu.
‘Bruk’.
Pintu segera tertutup rapat kembali dan terdengar suara kunci diselot.
A Fei menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga.
Setelah beberapa saat terdengar suara dari dalam.
"Siapa itu?"
"Aku,"
Jawab A Fei.
"Siapa engkau?"
"Aku adalah aku."
Terdengar suara cekikikan di dalam.
"Orang ini sudah gila."
"Dari nada suaranya, seolah-olah ia adalah pemilik tempat ini."
"Tapi siapa yang kenal padanya?"
"Siapa yang bisa menerka orang macam apa dia? Dia kelihatan seperti habis melihat hantu."
Suara-suara itu sudah dikenalnya.
Baru semalam, suarasuara yang sama terus-menerus membisikkan kata-kata yang manis dan merayu di telinganya.
Mengapa sekarang mereka berubah?
Tiba-tiba A Fei merasakan kemarahan dalam hatinya.
Dalam kemarahannya, ia mendobrak pintu itu sampai terbuka.
Tujuh pasang mata yang cantik sedang menatapnya.
Semalam, ketujuh pasang mata itu tampak seperti air yang sejuk dan tenang, seperti madu yang manis.
Namun kini, rasa sejuk, tenang, dan manis itu telah menguap entah ke mana.
Air itu telah membeku menjadi es.
A Fei masuk dan tersandung.
Ia langsung menyambar seguci arak.
Guci itu sudah kosong.
"Mana araknya?"
"Tidak ada arak."
"Cepat ambilkan!"
"Kenapa? Ini bukan pabrik arak!"
A Fei berjalan limbung ke arah gadis itu dan memandangnya sambil berkata.
"Kalian tidak mengenali aku?"
Sepasang mata yang cantik memandangnya dingin dan menjawab.
"Dan apakah kau mengenali aku? Tahukah kau siapa aku?"
A Fei jadi bingung.
"Apakah semalam aku tidak di sini?"
Sebuah suara lain menjawabnya.
"Ini memang tempat engkau bermalam tadi malam. Tapi kau bukan orang yang sama seperti orang yang semalam berada di sini."
Suara yang manis itu rasanya sudah sangat dikenalnya.
Seluruh tubuh A Fei mulai gemetar lagi.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat.
Ia tidak ingin melihat wanita itu lagi.
Ia tidak berani melihat wanita itu lagi.
Ia adalah wanita yang tidak dapat pergi dari mimpimimpinya.
Ia sanggup mengorbankan apapun juga dengan rela hati asalkan dapat memandangnya sekejap saja.
Namun saat ini, rasanya ia lebih suka mati daripada harus melihatnya.
Wanita itu masih seperti dulu.
Namun A Fei tidak seperti yang dulu lagi!
*** Semua orang masih terdiam, segala sesuatu masih tidak bergerak.
Debu dari langit-langit perlahan-lahan melayang turun.
Apakah tertiup angin?
Apakah karena suasana yang begitu mencekam di situ?
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong melangkah maju!
Dan Li Sun-Hoan tetap tidak bergerak!
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memecahkan keheningan.
"Bergerak adalah tidak bergerak. Tidak bergerak adalah bergerak. Tahukah kau apa artinya?"
Suara itu terdengar seperti suara orang tua yang bijaksana.
Semua orang dalam ruangan itu dapat mendengarnya dengan jelas.
Namun tidak seorang pun tahu dari mana datangnya.
Kini terdengar suara lain sedang tertawa.
Lalu katanya.
"Kalau begitu, bertempur adalah tidak bertempur. Tidak bertempur adalah bertempur. Lalu apa gunanya bertempur?"
Suara ini masih sangat muda, manis dan penuh semangat Juga tidak ada seorang pun yang tahu dari mana datangnya. Kata suara yang tua.
"Mereka bertempur karena mereka tidak tahu apa inti sebenarnya dari ilmu silat itu."
Suara gadis muda itu terdengar cekikikan sambil berkata.
"Maksudmu mereka berdua sebenarnya tidak mengerti, walaupun mereka menyangka bahwa mereka mengerti segala sesuatu dengan jelas?"
Setelah dua kalimat itu diucapkan, kecuali Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong, wajah semua orang di situ langsung berubah.
Seseorang berkata bahwa dua orang ini tidak mengerti ilmu silat.
Jika dua orang ini tidak mengerti ilmu silat, siapakah di dalam dunia ini yang dapat mengaku mengerti ilmu silat?
Kata suara yang tua lagi.
"Mereka berpikir bahwa ‘senjata itu tidak berada di tangan, namun ada dalam hati’ adalah puncak tertinggi dari ilmu silat. Namun sebenarnya mereka salah besar."
"Salah sebesar apa?"
Tanya suara yang muda sambil tertawa geli.
"Sedikitnya 1800 li."
"Lalu apa sebenarnya puncak tertinggi ilmu silat itu?"
Sahut suara yang tua.
"Ketika tangan sudah menjadi kosong, dan hati sudah menjadi hampa. Senjata dan diri sudah menjadi satu. Jika mereka mengerti sampai di sini saja, mereka tidak akan salah terlalu jauh."
"Tidak salah terlalu jauh? Maksudmu tingkatan itu pun belum yang tertinggi?"
Tanya suara yang muda kaget.
"Ya, ada yang lebih tinggi lagi. Tingkatan ilmu silat yang tertinggi adalah ketika segala sesuatu muncul dari ketiadaan. Tidak ada lagi senjata, dan tidak ada lagi diri. Senjata dan diri sudah terlupakan. Ini adalah ketiadabentukan yang sejati, kedigdayaan yang sejati."
Saat itu, Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong tidak berani berubah ekspresi. Terdengar suara yang muda berkata lagi.
"Setelah mendengarkan penjelasanmu, aku jadi teringat satu cerita."
"Hmmm?"
"Ada satu cerita dalam agama Budha Zen. Ketika murid utama dari Leluhur Kelima, Shen Hsiu sedang melantunkan sebuah sajak. ‘Tubuh bagaikan pohon bodhi, pikiran bagaikan cermin yang mengkilat. Tiap saat kita menjaganya tetap bersih Dan tidak sedikit pun ternoda debu’ Ini adalah tingkat pencerahan yang sangat tinggi."
"Ya, ini sama seperti mengatakan ‘senjata itu tidak berada di tangan, namun dalam hati’. Untuk sampai ke tingkat inipun bukan hal yang mudah."
"Namun kemudian Leluhur Keenam Hui Neng menjawab dengan sajak yang lebih mendalam lagi. ‘Tidak ada pohon bodhi, tidak ada cermin yang mengkilat. Tidak ada sesuatu pun dan tidak akan ada apa pun. Lalu di manakah debu akan menodai?’ Oleh sebab itulah ia menjadi tokoh agama Budha Zen yang paling dihormati."
"Betul sekali. Itulah tingkat pencerahan yang tertinggi. Jika seseorang sudah mencapai tingkat itu, orang itu adalah sahabat para dewa."
"Kalau begitu, teori yang baru saja kau ajarkan padaku sebenarnya adalah ajaran agama Budha Zen?"
Tanya suara yang muda "Dalam segala hal di dunia ini, ketika seseorang mencapai tingkat yang tertinggi, teori satu sama lain tidaklah jauh berbeda,"
Jawab suara yang tua.
"Jadi dalam segala perbuatan, kita harus selalu menuju pada ‘Tanpa benda, tanpa diri’. Hanya dengan begitu kita dapat mencapai puncak kesempurnaan."
"Tepat sekali."
"Akhirnya aku mengerti!"
Seru suara yang muda dengan gembira.
"Sayang sekali ada orang-orang yang setelah mencapai tingkat ‘senjata itu tidak berada di tangan, namun dalam hati’ saja sudah menjadi senang luar biasa dan sombong. Sayang sekali mereka tidak menyadari bahwa itu hanyalah kulit luar dari sesuatu yang jauh lebih indah dan mendalam."
"Jadi kalau orang di tingkat itu sudah merasa berada di puncak, mereka tidak akan mungkin maju lebih jauh,"
Kata suara yang muda.
"Betul sekali."
Saat itu, baik Li Sun-Hoan maupun Siangkoan Kim-hong berkeringat dingin pun tidak berani. Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata.
"Tuan Sun yang Terhormat?"
Tidak ada jawaban. Kata Siangkoan Kim-hong lagi.
"Jika Tuan Sun sudah datang, mengapa tidak memperlihatkan diri?"
Masih tetap tidak ada jawaban.
Angin bertiup masuk dari jendela, dan tirai di sisi yang lain pun menjadi tegak.
Jika Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong ingin bertempur, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat menghalangi mereka.
Namun percakapan orang tua dan orang muda tadi telah menyedot seluruh rasa persaingan yang begitu tebal dalam ruangan itu tadi.
Mereka berdua masih saling berhadapan.
Keduanya masih berdiri dengan cara yang sama.
Namun kini semua orang lain dalam ruangan itu dapat bernafas dengan lega.
Suasana mencekam yang merundung ruangan itu kini telah lenyap.
Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata.
"Naga hanya menunjukkan kepalanya, tidak menunjukkan ekornya. Sudah tentu Tuan Sun ada di antara kita."
Kata Siangkoan Kim-hong dingin.
"Semua orang bisa menyombongkan teori mereka. Pertanyaannya adalah bisakah mereka mendukung teori mereka dengan perbuatan nyata?"
Sahut Li Sun-Hoan sambil tertawa.
"Mengemukakan teori seperti itu pun bukan pekerjaan mudah."
Sebelum kalimatnya selesai, terdengar suara ribut-ribut di luar.
Empat orang menggotong sebuah peti mati masuk ke dalam pekarangan.
Peti mati itu masih baru.
Catnya pun seolah-olah masih basah.
Keempat orang itu membawa peti mati itu masuk ke dalam ruang perjamuan.
Seorang penjaga berjubah kuning berjalan menghampiri mereka dan berkata.
"Kalian salah alamat. Cepat pergi sekarang juga!"
Salah seorang dari penggotong peti mati itu bertanya.
"Apakah di sini ada Tuan Siangkoan?"
"Apa urusanmu dengan Tuan Siangkoan?"
Tanya si penjaga tajam.
"Kalau begitu kami tidak salah alamat. Peti mati ini adalah untuk Tuan Siangkoan."
Si penjaga melotot dengan garang. Bentaknya.
"Jika kalian mau cari gara-gara, kurasa peti mati ini lebih cocok untuk kalian berempat."
Jawab si penggotong peti.
"Peti mati ini terbuat dari kayu Nanmu yang sangat mahal harganya. Kami tidak pantas dikuburkan dengan peti mati seperti ini."
Tinju si penjaga sudah hampir melayang ke wajah si penggotong peti. Siangkoan Kim-hong tiba-tiba menyela.
"Siapa yang menyuruh kalian membawa peti mati itu kemari?"
Saat si penjaga mendengar suara itu, tinjunya berhenti di udara. Si penggotong peti kini terlihat sangat ketakutan. Katanya dengan terbata-bata.
"Ada seorang Tuan Sung yang memberikan empat tail perak kepada kami dan menyuruh kami mengantarkan peti mati ini ke sini. Ia secara khusus memesan pada kami untuk menyerahkannya kepada Tuan Siangkoan."
"Tuan bershe Sung? Orangnya seperti apa?"
Tanya Siangkoan Kim-hong. Jawab seseorang.
"Seorang laki-laki tidak terlalu tua, tidak muda juga. Ia sangat murah hati, tapi sayang kami tidak melihat wajahnya."
Tambah seorang yang lain.
"Ia datang lewat tengah malam kemarin. Waktu datang, ia langsung meniup lilin sampai mati, sehingga kami sama sekali tidak dapat melihat wajahnya."
Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya dan berpikir keras. Ia tidak menanyai keempat orang itu lebih lanjut. Ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan keterangan apapun dari mereka.
"Peti mati ini kelihatannya cukup berat…. mungkin ada seseorang di dalamnya,"
Kata salah seorang dari mereka. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Buka peti ini."
Tutupnya belum dipakukan, jadi bisa dibuka dengan mudah.
Baru saat itu, wajah Siangkoan Kim-hong berubah total.
Wajahnya masih tetap kosong.
Bahkan alis dan bibirnya pun tidak bergerak.
Namun air mukanya sudah berubah.
Begitu berubah, sampai-sampai ia terlihat seperti orang lain.
Seperti seseorang yang sedang mengenakan topeng.
Ia tidak ingin seorang pun melihat wajahnya saat itu.
Ada begitu banyak orang di dunia ini yang mengenakan topeng seperti itu.
Biasanya tidak akan kelihatan, namun di saat-saat genting, topeng itu akan terlihat nyata.
Ada yang mengenakannya untuk menutupi kesedihan, ada yang untuk menutupi kemarahan, memaksakan seulas senyum, atau menghadapi suasana yang menekan.
Dan ada pula yang mengenakannya untuk menutupi rasa takutnya!
Apa alasan Siangkoan Kim-hong mengenakannya?
Memang betul ada mayat dalam peti mati itu!
Mayat itu tidak lain adalah mayat anak Siangkoan Kimhong satu-satunya, Siangkoan Hui!
Waktu Siangkoan Hui terbunuh, Li Sun-Hoan menyaksikannya.
Ia tidak hanya menyaksikan Hing Bu-bing membunuh Siangkoan Hui, ia pun melihat Hing Bu-bing menguburkannya.
Bagaimana mayat ini bisa ada di sini sekarang?
Siapa yang menggali kuburannya?
Siapa yang mengirimkannya ke sini?
Untuk apa?
Mata Li Sun-Hoan mengejap beberapa kali.
Ia berpikir keras.
Topeng di wajah Siangkoan Kim-hong seolah-olah makin lama makin tebal.
Ia terdiam beberapa saat, lalu menoleh ke arah Li Sun-Hoan.
"Apakah kau pernah melihat orang ini?"
"Ya."
"Apa pendapatmu saat melihatnya sekarang?"
Mayat itu terlihat sudah dibersihkan dengan seksama.
Sama sekali tidak terlihat bahwa mayat itu digali dari kuburannya.
Ia pun mengenakan jubah yang baru, tidak ada setitik debu pun, sebercak darah pun yang mengotorinya.
Hanya terlihat satu luka.
Luka itu di lehernya.
Luka tusukan yang dalamnya tujuh per sepuluh bagian.
Kata Li Sun-Hoan.
"Kurasa……ia tidak merasa sakit dalam kematiannya."
"Maksudmu, kematiannya sangat cepat?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Kematian itu sendiri tidak menyakitkan. Yang menyakitkan adalah saat menunggu kematian datang. Tapi aku yakin ia tidak mengalaminya."
Wajah Siangkoan Hui terlihat begitu damai, seolah-olah ia hanya tertidur.
Seseorang telah berhasil menghapus wajah ketakutannya sewaktu ia terbunuh.
Walaupun Siangkoan Kim-hong mengenakan topeng di wajahnya, topeng itu tidak dapat menyembunyikan matanya.
Matanya menyala karena marah.
Dan mata itu tertuju pada Li Sun-Hoan.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Orang yang dapat membunuh dia begitu cepat jumlahnya sangat sedikit."
Jawab Li Sun-Hoan.
"Memang sangat sedikit. Mungkin tidak lebih dari lima."
"Dan kau adalah salah satunya."
Li Sun-Hoan mengangguk dan berkata.
"Benar, aku adalah salah satunya. Demikian juga engkau."
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Dan mengapa aku membunuhnya?"
"Tentu saja kau tidak membunuhnya. Aku hanya ingin kau menyadari bahwa orang yang bisa membunuhnya, belum tentu adalah orang yang ingin membunuhnya. Dan orang yang membunuhnya, belum tentu adalah orang yang dikategorikan bisa membunuhnya."
Tambah Li Sun-Hoan.
"Ada hal-hal yang terjadi di dunia ini yang tidak dapat kita kendalikan, yang tidak pernah kita sangka akan terjadi."
Kini Siangkoan Kim-hong tidak berbicara lagi.
Namun matanya terus memandang Li Sun-Hoan.
Tatapan Li Sun-Hoan menjadi lembut, bahkan hampir memancarkan rasa simpati.
Sepertinya ia telah berhasil menembus topeng Siangkoan Kim-hong dan melihat kekagetan dan kesedihan hatinya yang begitu dalam.
Biasanya Siangkoan Kim-honglah yang menyiksa dan mengancam orang lain.
Kini ia berada di pihak yang kalah, walaupun ia tidak tahu dari siapa.
Darah lebih kental daripada air.
Anak tetap adalah anak.
Siapapun juga dia, rasa sedih kehilangan anak bukan rasa sedih biasa.
Siangkoan Kim-hong terlihat agak gelisah.
Perilakunya yang dingin dan tidak berperasaan itu sedikit demi sedikit pudar.
Rasa simpati dalam tatapan Li Sun-Hoan terasa bagaikan palu godam yang sedikit demi sedikit mengikis topeng besi di wajah Siangkoan Kim-hong.
Ia tidak dapat menahan diri lagi dan tiba-tiba berteriak.
"Pertempuran antara kau dan aku sudah tidak dapat dihindarkan lagi."
Li Sun-Hoan mengangguk mengiakan.
"Memang tidak terhindarkan."
"Sekarang…,"
Kata Siangkoan Kim-hong.
Bab 69.
Pria Sejati Karena putra tunggal Siangkoan Kim-hong telah terbunuh, ia sedang dikuasai amarah yang tidak terkendali.
Ia ingin bertempur dengan Li Sun-Hoan sampai mati.
Dan ia ingin melakukannya sekarang juga…..
Li Sun-Hoan segera memotong perkataan Siangkoan Kim-hong.
"Jika kau ingin berduel sampai mati, aku akan menerima tantanganmu kapanpun juga. Kecuali hari ini."
"Kenapa?"
"Hari ini…..aku hanya ingin minum hari ini."
Matanya memandang mayat dalam peti mati itu. Katanya.
"Ada waktu-waktu tertentu yang tidak cocok untuk bertempur, tidak cocok untuk berbuat apapun juga selain untuk minum arak. Hari ini adalah salah satunya."
Perkataannya sungguh menyentuh perasaan.
Namun mungkin tidak ada orang lain yang bisa mengerti.
Hanya Siangkoan Kim-hong yang sungguh mengerti.
Karena ia menyadari sepenuhnya perasaannya sendiri.
Dengan beban seperti ini, berduel sama seperti bertempur dengan satu tangan terikat.
Ia akan memberikan keuntungan yang begitu besar bagi lawannya!
Li Sun-Hoan bisa saja memanfaatkan kesempatan ini demi keuntungannya, tapi ia tidak melakukannya, walaupun ia tahu kesempatan seperti jarang sekali terjadi.
Mungkin tidak akan pernah ada lagi!
Siangkoan Kim-hong terdiam begitu lama.
Akhirnya ia bertanya.
"Kalau begitu, kapan waktu yang baik?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Aku sudah bilang, kapan pun kau kehendaki."
"Ke mana harus kucari dirimu?"
"Kau tidak perlu mencariku. Cukup bilang saja dan aku akan menunggu di sana."
"Waktu aku bilang, kau akan mendengar?"
Li Sun-Hoan tertawa, katanya.
"Waktu Siangkoan-pangcu berbicara, seluruh dunia mendengarkan. Tidak sulit untuk mendengarmu."
Siangkoan Kim-hong terdiam lagi. Lalu ia berkata.
"Jika kau ingin minum, ada arak di sini."
Li Sun-Hoan tertawa lagi.
"Apakah aku pantas meminumnya?"
Jawab Siangkoan Kim-hong.
"Jika kau tidak pantas, tidak ada seorang pun di dunia ini yang pantas."
Ia memutar badannya dan menuang dua cawan besar arak. Katanya.
"Aku minum cawan ini untukmu."
Li Sun-Hoan minum secawan sekali teguk. Senyumnya yang lebar menghiasi wajahnya. Ia berseru.
"Arak yang bagus! Secawan arak yang sungguh lezat!"
Cawan Siangkoan Kim-hong pun telah kosong. Ia memandang cawan itu dan berkata.
"Ini adalah cawan arak yang pertama dalam dua puluh tahun." ‘Prang’. Cawan pun pecah berkeping-keping. Siangkoan Kim-hong berjalan ke arah peti mati itu dan mengangkat tubuh anaknya. Lalu ia berjalan keluar. Li Sun-Hoan memandangnya tanpa suara. Setelah Siangkoan Kim-hong keluar dari pintu ia menghela nafas panjang dan menggumam.
"Walaupun hanya Siangkoan Kim-hong yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong, tapi mengapa ia tidak bisa menjadi seorang sahabat?"
Ia menuang secawan arak lagi dan meminumnya habis. Lalu ia berteriak.
"Kekasih seorang pria sejati, mengapa ia mengkhianati niat baiknya?" ‘Prang’. Cawannya pun pecah berantakan di lantai. Semua orang dalam ruangan itu terlihat seolah-olah terbuat dari kayu. Segera setelah Li Sun-Hoan keluar dari sana, semua orang menghela nafas lega. Beberapa orang mulai kasak-kusuk di antara mereka.
"Li Sun-Hoan memang Li Sun-Hoan. Di dunia ini, kurasa hanya dia seoranglah yang dapat membuat Siangkoan Kim-hong bersulang baginya."
"Sayang sekali mereka tidak bertempur."
"Entah mengapa, kurasa dua orang itu sangat mirip."
"Li Sun-Hoan mirip dengan Siangkoan Kim-hong?....Apa kau sudah gila?"
"Walaupun pembawaan dan perilaku mereka jauh berbeda, keduanya….keduanya seperti bukan manusia. Hal-hal yang mereka lakukan tidak dapat dilakukan oleh manusia."
"Ya….ada benarnya juga perkataanmu. Mereka berdua memang seperti bukan manusia, hanya saja….yang satu adalah orang suci, dan yang satu lagi adalah iblis."
Garis pemisah antara kebaikan dan kejahatan sangatlah tipis.
Perbedaan antara orang suci dan iblis terletak di antaranya.
Betul, jika Li Sun-Hoan bukanlah seorang Li Sun-Hoan, ia pun sangat bisa menjadi seorang Siangkoan Kim-hong.
*** A Fei tidak menoleh.
Lim Sian-ji memindahkan kursinya dan duduk tepat di belakang A Fei, menutup jalan menuju ke pintu.
Ia hanya duduk di situ saja sampai cukup lama.
A Fei pun tetap berdiri masih dengan cara yang sama.
Gaya berdirinya terlihat agak lucu.
Lim Sian-ji mengikik dan berkata.
"Apa kau tidak merasa lelah berdiri seperti itu? Mengapa tidak duduk dan bersantai sejenak? Ini ada kursi di sampingku. Kau tidak ingin duduk? Ah, aku tahu, kau tidak akan bisa duduk di sini. Bukan seleramu. Lalu mengapa kau tidak pergi saja? Walaupun aku duduk di depan pintu, apa susahnya bagimu untuk menyingkirkan aku. Selain itu, masih ada juga jendela di situ. Kau bisa keluar dari sana seperti seorang maLing kecil. Kau sebenarnya takut, bukan? Aku tahu, walaupun kau menginginkan aku mati, kau tidak berani menyentuhku sedikitpun. Bahkan memandangku pun kau tidak berani. Karena dalam hatimu, kau tahu bahwa kau masih mencintai aku. Bukankah begitu?"
Suaranya masih tetap merdu dan merayu seperti dulu.
Suara tawanya bahkan terdengar semakin menarik dan manis.
Karena ia begitu gemar melihat orang menderita, ia selalu menebarkan bibit-bibit penderitaan kepada setiap orang di dekatnya.
Sayang sekali, orang-orang yang menderita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai dia.
Walaupun ia tidak bisa melihat rasa pedih di wajah A Fei, ia dapat melihat dengan jelas pembuluh darah di belakang lehernya begitu tegang, seolah-olah akan meletus.
Bagi Lim Sian-ji, ini adalah suatu kenikmatan.
Ia duduk dengan nyaman di kursi itu sambil menonton.
Sebenarnya ia ingin sekali bisa menonton sambil menikmati secawan arak yang lezat.
Tiba-tiba kursi yang didudukinya ditendang orang sampai ia jatuh terjengkang.
Siangkoan Kim-hong telah kembali dengan menggendong mayat putranya!
Waktu kursi yang sedang kau duduki dijungkirbalikkan orang, rasanya hatimu juga terjungkal bersamanya.
Namun Lim Sian-ji tidak mengucapkan sepatah katapun.
Menggerakkan satu otot pun tidak.
Ia tahu apapun juga yang diperbuatnya sekarang, ia tetap akan kelihatan seperti orang tolol.
Siangkoan Kim-hong pun sedang memandangi leher A Fei dari belakang.
Bentaknya.
"Balikkan badanmu dan lihat siapa ini!"
A Fei masih tidak bergerak, namun pembuluh darah di lehernya sudah hampir melompat keluar dari dalam kulitnya.
Akhirnya, perlahan-lahan ia menoleh dan melihat orang dalam gendongan Siangkoan Kim-hong.
Kini matanya pun seakan-akan hendak melompat keluar.
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Kau pasti tahu siapa dia, bukan?"
A Fei mengangguk. Tanya Siangkoan Kim-hong lagi.
"Ia masih hidup, sehidup-hidupnya, beberapa hari yang lalu, bukan?"
A Fei mengangguk lagi.
"Sekarang kau melihatnya mati, kau tidak kelihatan sangat terkejut. Itu karena kau tahu bahwa dia sudah mati, bukan?"
A Fei terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Ya, aku tahu ia sudah mati."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Tanya Siangkoan Kim-hong tajam. Jawab A Fei.
"Karena pembunuhnya adalah aku."
Ia mengatakannya tanpa beban sedikitpun.
Matanya pun tidak berkedip.
Seolah-olah ia tidak tahu apa konsekuensinya ia mengaku.
Gadis-gadis di sana ketakutan setengah mati.
Bahkan Lim Sian-ji pun terlihat terhenyak dan kaget.
Pada saat itu, ia merasa ada suatu perasaan aneh merayapi hatinya.
Seperti kesedihan, seperti simpati.
Ia tidak mengerti mengapa ia memiliki perasaan itu pada A Fei.
Namun ia tahu, sekali Siangkoan Kim-hong bertindak, nyawa A Fei tidak akan bisa selamat.
Dan kapan pun Siangkoan Kim-hong dapat bertindak.
Ia melihat sorot mata A Fei.
Tatapannya sama seperti tatapan orang mati.
Seorang mati yang sangat bodoh.
Bukan saja orang ini sangat bodoh, ia pasti mabuk berat.
Kalau tidak, mengapa ia mengaku seperti itu?
Ah, memang orang ini sudah tidak ada harapan lagi, buat apa kupikirkan hidup dan matinya?
Lim Sian-ji melengos dan tidak memandang A Fei lagi.
Ia berharap Siangkoan Kim-hong membunuhnya dengan cepat.
Makin cepat makin baik, supaya ia tidak terlalu lama terganggu oleh perasaannya.
Namun yang tidak berani ia tanyakan pada dirinya sendiri adalah, ‘Jika aku memang tidak peduli hidup dan matinya, mengapa perasaanku terasa amat gundah?’ Siangkoan Kim-hong masih belum juga bertindak.
Ia masih menatap mata A Fei lekat-lekat.
Seolah-olah ia sedang berusaha mengerti sesuatu yang begitu rumit.
Namun ia tidak menemukan jawabannya.
Tatapan A Fei sangat kosong.
Itu bukan mata orang yang masih hidup.
Siangkoan Kim-hong baru menyadari bahwa kini sorot mata A Fei seakan-akan sudah dikenalnya, seperti sudah sering dilihatnya sebelum ini.
Sudah pasti ia pernah melihatnya sebelum ini.
Saat ia mengambil pedang Hing Bu-bing dan menyerahkannya kepada A Fei, sorot mata Hing Bu-bing sama persis seperti ini.
Saat ia mengambil nyawa seseorang, tatapan kosong orang itu, sama dengan sorot mata ini.
Tidak berperasaan, tidak bernyawa, tidak peduli lagi akan apapun juga.
A Fei masih menunggu, menunggu dengan diam.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong bertanya.
"Apakah kau sedang menunggu mati?"
A Fei diam saja.
"Kau mengaku membunuh dia, hanya supaya aku membunuhmu, bukan?"
A Fei tetap diam saja. Senyum licik tersirat di wajah Siangkoan Kim-hong. Lalu panggilnya.
"Mandor Lu!"
Seseorang segera muncul.
Tidak ada yang tahu bahwa orang ini sudah bersembunyi di situ selama ini.
Dan tidak ada yang tahu apakah ada orang lain lagi yang bersembunyi di situ.
Tidak ada yang menyangka ada orang yang berani bersembunyi begitu dekat dengan Siangkoan Kim-hong.
Karena jika memang begitu, maka pasti ada begitu banyak orang yang juga sedang bersembunyi di situ.
Seseorang yang tidak terlihat, seorang hantu.
Ke mana pun Siangkoan Kim-hong pergi, hantu itu akan mengikuti tepat di belakangnya.
Perintahnya terdengar seperti mantra.
Hanya dialah yang dapat memanggil hantu itu!
Jika Mandor Lu memang benar adalah hantu, ia sudah pasti bukan hantu yang kelaparan.
Hantu yang kelaparan tidak mungkin bertubuh segendut itu.
Ia hampir menyerupai sebuah bola raksasa, namun gerak-geriknya cukup Lincah.
Entah dari mana ia menggelinding ke situ dan berkata.
"Hamba siap mendengarkan."
Siangkoan Kim-hong masih menatap A Fei. Lalu katanya perlahan.
"Orang ini ingin mati. Kita tidak akan membiarkannya mati."
"Mengerti!"
Jawab Mandor Lu bersemangat. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kita akan memberikan sesuatu yang lain baginya."
"Mengerti!"
"Kita akan memberinya arak yang terbaik, wanita yang tercantik. Semakin banyak yang diinginkannya, semakin banyak kita akan menyediakannya."
"Mengerti!"
Siangkoan Kim-hong terdiam sesaat, lalu melanjutkan.
"Apapun yang dia inginkan, berikan padanya."
"Mengerti!"
Tiap kali jawabannya keluar tanpa dipikir dua kali. Tapi kali ini matanya melayang menuju Lim Sian-ji, dan ia bertanya.
"Siapapun juga?"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Siapapun juga yang diinginkannya. Wanita tua bangka sekalipun, jika ia menginginkannya, berikan padanya!"
Mandor Lu tersenyum, katanya.
"Aku mengerti sekarang. Akan kubawakan untuknya seorang wanita tua bangka sesegera mungkin."
Lim Sian-ji menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Dan bagaimana jika ia menginginkan aku?"
Jawab Siangkoan Kim-hong dingin.
"Aku sudah bilang, siapapun yang diinginkannya."
"Ta….tapi aku kan lain. Aku adalah milikmu. Selain engkau, tidak ada seorang pun yang…."
Ia berjalan ke samping Siangkoan Kim-hong dengan senyum menghiasi wajahnya.
Senyum yang luar biasa cantik, dengan gerak langkah yang luar biasa mengundang.
Siangkoan Kim-hong tidak melirik sedikitpun padanya.
Tiba-tiba ia menampar pipi Lim Sian-ji dan berkata keras.
"Siapapun bisa memilikimu, kenapa dia tidak bisa?"
Tubuh Lim Sian-ji terjengkang karena kerasnya tamparan itu. Ia sampai terjatuh di halaman depan. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku akan memberikan segala sesuatu yang diinginkannya, karena aku tidak ingin dia pergi. Aku ingin tahu, akan jadi orang macam apakah dia setelah tiga bulan."
"Mengerti!"
Jawab Mandor Lu. Siangkoan Kim-hong memutar badannya dan melangkah keluar. A Fei menggigit bibirnya dan mengertakkan giginya kuatkuat. Dengan suara serak ia bertanya.
"Aku telah membunuh putramu, mengapa kau belum juga membunuh aku?"
Siangkoan Kim-hong sudah berada di luar pintu. Ia tidak menoleh sewaktu menjawab.
"Karena aku ingin kau hidup menderita. Sampai kau tidak punya keberanian lagi, bahkan untuk mati!" ‘Siapapun dapat memilikimu, kenapa dia tidak?’ ‘Hidup dalam penderitaan, sehingga tidak punya keberanian lagi, bahkan untuk mati!’ A Fei meringkuk, menggulung tubuhnya seperti bola, seakan-akan sedang menghindari lecutan cemeti yang tidak kasat mata. Cemeti itu terus-menerus melecut dia tanpa berhenti. Mandor Lu berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Katanya.
"Jika cawan dalam hidupmu sudah kosong, mengapa repot-repot mengangkatnya menghadap bulan? Kehidupan memang seperti ini, jangan terlalu diambil hati."
Lalu ia menoleh pada gadis-gadis di situ dan dengan wajah garang ia berseru.
"Mengapa kalian tidak segera mengambilkan arak untuk Siauya?"
Orang ini memiliki satu wajah untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong, satu wajah lain untuk menghadapi A Fei.
Dan kini, saat bicara dengan para gadis itu, ia menggunakan wajah yang lain.
Memang sebagian besar orang di dunia ini punya begitu banyak wajah.
Mereka berganti wajah seperti pemain sandiwara bertukar topeng di atas panggung.
Mungkin bahkan lebih mudah dan lebih cepat daripada bertukar topeng.
Semakin sering mereka berganti wajah, semakin cepat mereka lupa seperti apa wajah mereka yang sebenarnya.
Lebih lama mereka mengenakan topeng-topeng mereka, lebih susah untuk mencopotnya lagi.
Karena akhirnya mungkin mereka merasa bahwa dengan mempunyai lebih banyak topeng, akan lebih sedikit kekecewaan yang mereka alami.
Namun untungnya, masih ada orang-orang yang tidak punya topeng sama sekali.
Satu-satunya wajah yang mereka miliki adalah wajah mereka sendiri!
Apapun situasinya, betapapun beratnya kegagalan yang dialaminya, wajah mereka tidak pernah berubah!
Waktu mereka ingin menangis, mereka menangis.
Waktu ingin tertawa, tertawa.
Waktu ingin hidup, mereka hidup.
Dan waktu ingin mati, mereka pun akan mati!
Dalam menghadapi kematian sekalipun, mereka tidak akan berkompromi!
Ini adalah sikap seorang pria sejati!
Jika orang-orang seperti ini tidak ada lagi dalam dunia, maka kehidupan hanya akan menjadi satu kekecewaan yang luar biasa besar.
Dan tidak akan ada yang tahu akan jadi apa dunia ini nantinya.
Arak pun tiba.
Mandor Lu menuang secawan dan berkata.
"Minumlah! Makin banyak kau minum arak, makin kau tahu bahwa semua wanita itu sama saja. Tidak perlu terlalu dipusingkan!"
A Fei mengertakkan giginya dan berkata.
"Mereka tidak sama."
Mandor Lu tertawa keras-keras.
"Lalu siapa yang kau inginkan?"
Mata A Fei berkobar karena marah. Lalu perlahan ia berkata.
"Aku mau istrimu!" *** Malam. Pasar malam. Pasar malam selalu penuh gairah. Berbagai macam orang dapat ditemui di sini. Tapi Li Sun-Hoan merasa sebatang kara. Tidak ada seorang pun yang tertinggal di dunia ini. Karena orang-orang yang dikasihinya telah menjadi jauh, sangat jauh. Mereka telah berubah menjadi orang-orang yang tidak dikenalnya lagi, sangat aneh, sampai-sampai ia merasa mereka sebenarnya sudah tidak ada lagi. Ia mendengar bahwa Liong Siau-hun dan putranya sudah menghilang selama beberapa waktu, tapi….. Bagaimana dengan Lim Si-im? Tanpa jejak, tanpa sepatah katapun. Yang tertinggal hanya kerinduan, kenangan yang membekas sampai selamanya. ‘Bahkan sampai akhir masa, ada luka yang tidak akan pernah sembuh’. Walaupun arti kalimat ini sangat sederhana, perasaan yang terkandung di dalamnya mungkin lebih dalam dari lautan yang terdalam. Namun kecuali mereka yang pernah merasakannya, siapakah yang dapat memahami betapa pahit dan pedihnya perasaan itu? Dari kejauhan terdengar suara seruling mengiringi lagu yang murung. Suara seruling itu seakan-akan sedang bercakap-cakap dengan langit malam. ‘Mengapa perasan kita begitu dalam?’ ‘Mengapa kita begitu dimabuk cinta?’ Waktu sekuntum bunga telah mekar dengan segala keindahannya, ia akan layu dan mati. Waktu manusia dimabuk cinta, mereka akan menjadi tidak berdaya…. Ia sedang berada di tepi jurang hidup dan mati, tidak heran ia merasa begitu tidak berdaya. Hanya ditemani seguci arak, tidak heran ia merasa begitu putus harapan. Matanya yang mabuk mengawasi orang-orang yang berpasang-pasangan. Teringat lagi pada air mata yang menetes di saat-saat yang gelap dan sepi….. Si peniup seruling sudah cukup kesepian. Mengapa ia harus menaburkan air mata dan kepedihan hatinya pada orang lain juga? Li Sun-Hoan meminum cawannya sekali teguk. Tiba-tiba ia mengetuk-ngetuk cawan itu dengan sumpitnya dan bernyanyi lembut. ‘Bunga-bunga bertumbuh tanpa perasaan, Cepat atau lambat akan layu dan mati, Manusia tanpa gairah Juga akan berakhir lelah dan lesu, Tanpa cinta, Kemanakah hidup harus mencari cita rasanya? Kenangan akan air mata di tempat yang gelap dan sepi, Masih lebih baik daripada tidak bisa meneteskan air mata.’ Suara seruling pun terdengar semakin sayup. Dan berganti dengan suara tawa. Cita rasa apa yang terkandung dalam suara tawa ini? Bagaimana dengan A Fei? Sudah setengah harian Li Sun-Hoan pergi ke segala tempat mencari, mengais-ngais berita. Tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi. Tidak seorang pun merasa melihat orang seperti dia. Li Sun-Hoan tidak tahu bahwa pelarian A Fei berakhir di markas besar Kim-ci-pang. Namun walaupun ia tahu, ia tidak tahu di mana tempat itu berada. Lentera terombang-ambing dipermainkan angin. Arakpun bergolak dalam cawannya. Arak yang kental dan pekat. Lentera yang gelap dan suram. Ia sedang minum di sebuah warung bakmi kecil. Sepanjang jalan dipadati dengan tenda-tenda kecil. Orang-orang yang datang ke situ adalah orang biasa. Tidak ada yang mengenalinya dan ia pun tidak mengenali siapapun. Ia menikmati suasana seperti ini. Walaupun rasanya suram dan terasing, ia merasa bahwa ini sebuah pergantian suasana yang baik. Keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup, itu semua tidak ada artinya bagi orangorang ini. Selama ada secawan arak, itu sudah lebih dari cukup. Di tempat seperti ini tidak ada tawa yang mengundang, tidak ada lagu yang menyedihkan. Malam begitu tenang, malam begitu hambar…. Tiba-tiba ketenangan ini terusik. Seseorang berteriak dan menyumpah-nyumpah.
"Pemabuk yang tidak berguna! Tidak tahu malu! Minum lalu tidak mau bayar! Walaupun arak itu sudah ada dalam perutmu, ayo muntahkan segera!"
Mau tidak mau Li Sun-Hoan menoleh.
Ia menoleh begitu cepat karena ia mendengar kata ‘pemabuk’.
Ia melihat seseorang sedang berpegangan kuat pada seguci arak.
Walaupun ia sudah dipukuli, sepertinya orang itu tidak peduli lagi akan hidup matinya, asalkan ia bisa minum arak seteguk lagi.
Seorang lelaki tua dengan kain minyak terikat di pinggang terus berterak dan mencaci-maki, sambil memukuli orang itu.
Li Sun-Hoan menghela nafas dan melangkah ke sana.
Katanya.
"Biarkan dia minum. Aku yang akan membayar."
Caci-maki langsung berhenti.
Demikian juga pukulan.
Uang dapat mengikat tangan manusia dan dapat menutup mulutnya.
Orang yang tadi dipukuli masih meringkuk di lantai, ia tidak bisa bangun.
Ia mengangkat guci itu ke mulutnya dan berusaha minum.
Tapi arak malah mengucur membasahi kepala dan badannya.
Tapi kelihatannya ia tidak peduli.
Seakan-akan ia sedang berusaha tenggelam dalam arak itu.
Jika bukan karena kenangan yang pahit, mana mungkin seseorang bisa menjadi seperti ini?
Jika seseorang begitu bergairah, bagaimana ia harus mengatasi kenangan yang pahit?
Li Sun-Hoan sungguh bersimpati dan berkata.
"Tidak ada selera makan sendirian. Di mejaku masih ada makanan dan arak. Maukah kau makan dan minum bersamaku?"
Orang itu minum seteguk lagi dari gucinya, lalu tiba-tiba melompat berdiri dan berseru.
"Kau pikir kau ini siapa? Kau pikir kau pantas minum bersama denganku? Walaupun kau membeli tiga ratus guci arak, aku tetap tidak akan minum bersamamu…."
Pada saat itu, sumpah serapahnya berhenti dan kedua tangannya segera melingkari lehernya sendiri. Li Sun-Hoan sungguh terkejut dan berkata.
"Kau….benar kau?"
Orang itu lalu membanting guci arak ke lantai dan segera berlari pergi. Li Sun-Hoan mengejarnya.
"Tunggu, tunggu sebentar. Sahabat, apakah kau tidak mengenaliku?"
Orang itu lari semakin cepat.
"Aku tidak mengenalmu dan aku tidak ingin minum arakmu…."
Dua orang itu, satu melarikan diri dan satu mengejar, dalam sekejap saja sudah hilang dari pandangan. Siapapun yang melihat pasti merasa bahwa ada sesuatu yang aneh di antara mereka.
"Orang yang mencuri arak itu memang orang gila. Sudah tahu akan dipukuli masih juga datang untuk minum. Lalu ada seseorang yang mau membayari, eh dia malah lari."
"Orang yang mau membayari juga pasti orang gila. Setelah uangnya diambil, dicaci-maki, ia masih memanggil si pemabuk itu sahabat. Aku belum pernah melihat orang seperti dia."
Tentu saja ia belum pernah melihat orang seperti dia, karena memang hanya sedikit saja orang di dunia ini yang seperti itu.
Siapakah orang yang melarikan diri itu?
Mengapa ia melarikan diri saat melihat Li Sun-Hoan?
Orang lain tentu saja tidak akan tahu alasannya.
Bahkan Li Sun-Hoan sendiripun tidak pernah menyangka bahwa di tempat seperti itu, dalam suasana seperti itu, ia akan bertemu dengan orang itu.
Pertama kali Li Sun-Hoan bertemu dengannya adalah di bawah balkon sebuah rumah, di salah satu jalan yang panjang.
Saat itu di sana juga ramai orang.
Pakaiannya putih bagai salju.
Di antara orang banyak, ia tampak seperti seekor bangau di antara kerumunan ayam.
Walaupun seluruh emas di dunia ini dikumpulkan dan diserahkan padanya, ia tidak akan sudi berbicara sepatah katapun pada orang yang tidak disukainya.
Namun kini, hanya karena seguci arak, ia mau menerima hinaan dan cercaan orang, bahkan rela dipukuli seperti seekor babi dalam lumpur.
Li Sun-Hoan tidak bisa percaya bahwa dua orang ini adalah orang yang sama.
Ia tidak mau percaya.
Namun ia tidak bisa menyangkal kebenaran.
Orang yang tadi meringkuk di lantai yang kotor itu bukan lain adalah Lu Hong-sian yang agung dan terhormat!
Apa yang menyebabkan perubahan ini?
Perubahan yang begitu cepat, dramatis, dan sangat mengerikan!
Penerangan di jalan terlihat makin jauh dan suram, dan bintang-bintang terasa semakin mendekat.
Tiba-tiba Lu Hong-sian berhenti berlari.
Karena ia sudah berada dalam keadaan yang sama dengan A Fei.
Ia sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.
Ada banyak orang di dunia ini yang mencoba melarikan diri dari dirinya sendiri.
Namun tidak seorang pun berhasil!
Li Sun-Hoan pun berhenti saat jaraknya masih cukup jauh.
Ia membungkuk dan mulai terbatuk-batuk.
Ia merasa bahwa akhir-akhir ini, ia memang jarang batuk.
Namun jika sudah batuk, sangat sulit untuk menghentikannya.
Bukankah ini sama dengan dimabuk cinta?
Jika kau semakin jarang mengingat akan seseorang, itu bukan berarti bahwa kau sudah melupakan orang itu.
Itu hanya berarti bahwa kenangan itu sudah semakin mendarah daging.
Ketika Li Sun-Hoan tidak batuk-batuk lagi, Lu Hong-sian bertanya.
"Mengapa tidak kau biarkan aku lari?"
Ia berusaha menggalang kegagahannya saat berbicara, namun tidak terlalu berhasil.
Suaranya gemetar seperti seekor kelinci yang tercebur ke air dingin.
Li Sun-Hoan tidak menjawab, karena ia tidak ingin menyakiti Lu Hong-sian dengan perkataannya.
Karena jawaban apapun akan menyakiti perasaannya.
Tanya Lu Hong-sian lagi.
"Aku tidak berhutang padamu dan tidak harus melakukan apapun bagimu. Mengapa kau memaksaku?"
Akhirnya Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata.
"Akulah yang berhutang padamu."
"Kau tidak perlu membayarnya."
"Aku tidak bisa membayar hutangku padamu, namun setidaknya aku bisa membelikan arak untukmu."
Lu Hong-sian tertawa getir dan berkata.
"Aku belum lupa, kau sudah mengatakannya tadi."
Tangan Lu Hong-sian terus gemetar, gemetar begitu hebat sampai tidak dapat memegang cawan araknya dengan baik.
Ia sudah menggunakan kedua tangannya untuk memegang cawan itu, namun arak tetap tumpah.
Beberapa hari yang lalu, tangan ini adalah senjata yang sangat berbahaya!
Apapun yang mengakibatkan perubahan ini, perubahan ini begitu mengerikan.
Li Sun-Hoan tidak bisa menebak apa sebabnya.
Lu Hong-sian meraih guci arak itu dan menuang lagi.
‘Prang’.
Tangannya malah membuat guci itu jatuh dan pecah.
Matanya memandang tangannya sampai lama, tanpa berkedip.
Lalu tiba-tiba ia meraung keras dan menjejalkan tangan itu ke dalam mulutnya.
Ia terus menjejalkan dan terus menggigit.
Darah menetes dari sudut mulutnya.
Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menghalangi apapun yang diperbuatnya.
Namun ia tidak tahan untuk membiarkannya.
Ia menarik tangan itu keluar dari mulutnya.
Lu Hong-sian berteriak marah.
"Lepaskan aku. Aku ingin menggigitnya sampai putus. Menggigitnya sampai putus dengan mulutku sendiri dan menelannya bulat-bulat."
Tangan ini tadinya adalah miliknya yang paling berharga dan paling dibanggakannya.
Namun ketika kesedihan mendera seseorang, mereka selalu ingin menghancurkan miliknya yang paling berharga.
Karena satu-satunya cara meringankan penderitaan itu adalah dengan merusak!
Melumatnya sampai hancur lebur!
Kata Li Sun-Hoan.
"Jika seseorang telah bersalah padamu, orang itulah yang pantas mati. Mengapa kau menyiksa dirimu sendiri?"
Teriak Lu Hong-sian.
"Akulah yang pantas mati, akulah…."
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong Li Sun-Hoan, namun malah dia sendiri yang terjatuh dari kursinya.
Ia tidak berusaha bangun.
Ia hanya bersimpuh di lantai dan mulai menangis.
Akhirnya ia menceritakan segala-galanya pada Li Sun-Hoan.
Cerita yang didengarnya adalah cerita Lu Hong-sian.
Orang yang dilihatnya adalah Lu Hong-sian.
Namun yang terbayang dalam benaknya adalah A Fei!
Hati Li Sun-Hoan tercekat.
Apakah A Fei pun mengalami goncangan serupa ini?
Apakah A Fei pun telah berubah dan menjadi seperti ini?
Li Sun-Hoan tidak ingin bicara pada Lu Hong-sian lagi, namun entah mengapa pertanyaan ini tidak tertahankan.
"Mengapa kau masih tinggal di sini?"
"Kalau tidak di sini, ke mana aku harus pergi?"
"Pulang, kembali pada keluargamu."
"Keluarga….."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau sedang sakit sekarang. Dan hanya ada dua cara untuk menyembuhkannya."
"Dua cara?"
"Yang pertama adalah keluarga. Yang kedua adalah waktu. Jika kau pulang ke rumah….."
Potong Lu Hong-sian.
"Aku tidak akan pulang."
"Kenapa?"
"Karena….karena itu bukan rumahku lagi."
Kata Li Sun-Hoan.
"Keluarga adalah tetap keluarga, tidak akan pernah berubah. Itulah sebabnya mengapa keluarga itu begitu berharga."
Sahut Lu Hong-sian.
"Bukan keluargaku yang berubah, akulah yang telah berubah. Aku bukan lagi seperti dulu."
"Jika kau pulang dan beristirahat untuk sementara waktu, kau pasti akan bisa kembali seperti dulu."
Ia masih ingin menambahkan, namun terdengar seseorang menyela dari belakangnya.
"Dan bagi orang yang tidak lagi punya keluarga, bagaimana cara menyembuhkannya?"
Bab 70.
Hati Berbisa Seorang Wanita Suara yang sangat manis dan merdu.
Yang dapat membangkitkan hasrat seseorang untuk membunuh.
Li Sun-Hoan tidak menoleh.
Lu Hong-sian langsung berdiri dan berlari keluar seperti orang kesetanan.
Seakan-akan ia baru saja melihat hantu.
Li Sun-Hoan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berbicara.
Ia sudah mengerti arti perkataan itu.
A Fei tidak punya keluarga.
Hati Li Sun-Hoan merosot.
Ia mengepalkan tangannya dan berkata.
"Aku tidak akan pernah menyangka akan bertemu denganmu di tempat seperti ini. Tidak akan pernah menyangka kau mau datang ke tempat seperti ini."
Orang itu tidak lain adalah Lim Sian-ji. Ia tertawa merdu, katanya.
"Aku memang biasanya tidak datang ke tempat seperti ini, tapi aku tahu bahwa aku bisa menemukan engkau di sini. Untuk dapat menemukanmu, aku rela pergi ke manapun juga."
Kata Li Sun-Hoan dingin.
"Seharusnya kau tidak datang mencariku, karena sekarang kau akan menyesal."
"Menyesal? Kenapa? Kita kan sahabat lama. Kalau aku sudah tahu kau ada di sini, mengapa tidak boleh mampir sebentar dan menanyakan kabarmu?"
Suaranya terdengar semakin merayu. Lanjutnya.
"Kau seharusnya tahu bahwa aku selalu merindukanmu selama ini."
Jawab Li Sun-Hoan.
"Kau seharusnya pun tahu bahwa aku tahu bagaimana kau memperlakukan A Fei dan Lu Hong-sian."
Ia tidak menyambungnya lagi. Ia tidak suka mengancam. Karena ia tidak merasa perlu untuk mengancam. Kata Lim Sian-ji.
"Jadi kalau aku membuang A Fei seperti aku membuang Lu Hong-sian, apa yang akan kau lakukan? Membunuhku?"
"Kau tahu apa maksudku."
"Yang aku tahu hanyalah bahwa kau sudah berkali-kali membujuknya untuk meninggalkan aku. Dengan aku melepaskannya lebih dulu, bukankah itu berarti aku menolongmu?"
Kata Lim Sian-ji.
"Itu tidak sama."
"Apanya yang berbeda?"
"Aku hanya ingin kau meninggalkannya, bukan menghancurkannya."
Tanya Lim Sian-ji tenang.
"Lalu bagaimana jika aku sudah menghancurkannya?"
Kini Li Sun-Hoan menoleh dan menatapnya.
"Maka kau benar-benar menyesal telah datang hari ini."
Wajah Li Sun-Hoan tetap tenang.
Namun entah mengapa Lim Sian-ji dapat merasakan tekanan-yang-hu begitu berat di atas bahunya, sampai-sampai sulit baginya untuk tersenyum.
Itu suatu hal yang sangat aneh bahwa ia tidak bisa tersenyum.
Senyum adalah senjatanya yang paling ampuh.
Kecuali saat menghadapi Siangkoan Kim-hong.
Saat itu, senyumnya sama sekali tidak berguna.
Kini di hadapan Li Sun-Hoan, ia merasakan hal yang sama.
Ketika rasa percaya diri seseorang sudah habis tersedot, itu akan tampak nyata di wajahnya.
Setelah sekian lama, akhirnya Lim Sian-ji menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Aku tahu, kau tidak akan melakukannya."
"Apakah kau yakin betul?"
"Ya."
"Aku sendiri saja tidak yakin. Kadang-kadang aku melakukan hal-hal yang mengejutkan diriku sendiri."
Kata Lim Sian-ji.
"Tapi jika kau ingin membuat diriku menyesal, kaulah yang akan lebih menyesal."
"Bagaimana bisa begitu?"
"Jika kau masih ingin bertemu dengan A Fei….."
Tanya Li Sun-Hoan cepat.
"Kau tahu di mana dia berada?"
"Tentu saja aku tahu."
Lim Sian-ji mulai bisa tersenyum. Lalu ia menambahkan.
"Kurasa, akulah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat mengantarkan dirimu bertemu dengannya. Aku pun satu-satunya orang yang dapat menolongnya….karena akulah yang menghancurkannya, tentu saja aku dapat menyelamatkannya!"
Wajah Li Sun-Hoan langsung berubah.
Ia tahu, kali ini Lim Sian-ji tidak berdusta.
Lim Sian-ji bisa jadi begitu mengerikan saat ia berdusta.
Tapi ternyata ia jauh lebih mengerikan saat ia mengatakan yang sejujurnya.
Karena untuk membuat orang seperti dia berkata jujur, sudah pasti harga yang harus dibayar sangatlah tinggi.
Li Sun-Hoan mulai menggosok-gosok jari-jemarinya, karena tiba-tiba ia merasa dingin.
Akhirnya ia berkata.
"Baiklah. Apa yang kau inginkan?"
Lim Sian-ji hanya menatapnya, tanpa berkata apa-apa.
"Apa yang kau inginkan?"
Desak Li Sun-Hoan. Lim Sian-ji tersenyum. Katanya.
"Dulu ada begitu banyak hal di dunia ini yang kuinginkan….. Namun kini, yang kuinginkan adalah menatap wajahmu sedikit lebih lama lagi."
Ia berbicara sambil menggigit bibirnya. Lanjutnya.
"Karena aku belum pernah melihatmu marah. Aku selalu berpikir bagaimana wajah Li Sun-Hoan saat ia marah. Dan saat ini aku bisa melihatnya. Aku tidak bisa membiarkannya berlalu begitu saja."
Li Sun-Hoan terdiam dan kembali duduk.
Ia meraih sebatang lilin dan meletakkannya dekat wajahnya.
Lalu dituangnya arak.
Kalau wanita itu ingin melihat, biarlah ia melihat.
Ia ingin memastikan bahwa wanita itu dapat melihatnya dengan terang dan jelas.
Kalau seorang wanita menginginkan sesuatu, biarkanlah dia mendapatkannya.
Mereka akan segera menyadari bahwa yang diinginkannya itu ternyata tidak seindah bayangan dalam benak mereka.
Rasa tertarik seorang wanita akan sesuatu tidak akan bertahan lama.
Namun jika kau menolak permintaan mereka, itu hanya akan menambah rasa tertarik mereka akan hal itu.
Ini adalah salah satu masalah yang terbesar yang dimiliki wanita.
Beribu-ribu tahun yang lalu mereka sudah memilikinya.
Beribu-ribu tahun yang akan datang pun mereka akan tetap memiliki masalah yang sama.
Anehnya, selama beribu-ribu tahun ini, begitu sedikit lakilaki yang memahaminya.
Li Sun-Hoan duduk tenang di situ sambil minum araknya.
Lim Sian-ji tersenyum padanya dan berkata.
"Kau memang orang yang aneh. Perkataanmu aneh, perbuatanmu juga aneh, bahkan cara minummu pun aneh. Tiap kali aku melihatmu minum arak, aku lalu ingin menjadi cawan arak di tanganmu. Karena aku sungguh ingin tahu apakah kau memperlakukan seorang wanita selembut engkau membelai cawan arak itu."
Li Sun-Hoan diam mendengarkan. Lanjut Lim Sian-ji.
"Sebenarnya, caramu memperlakukan wanita lebih aneh lagi. Seolah-olah kau selalu mengerti apa yang mereka pikirkan, kau selaku melakukan apa yang mereka harapkan…. Bahkan ada kalanya, waktu kau tidak melakukan apapun juga, mereka tetap saja terjerat."
Ia mendesah dan menambahkan.
"Bahkan seorang wanita yang paling berbisa pun, ketika ia bertemu denganmu, ia tidak mungkin bisa lolos."
Li Sun-Hoan duduk tenang mendengarkan.
"Tiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu merasa itulah hari yang terindah. Namun setelah aku memikirkannya lagi baik-baik, aku baru menyadari bahwa kau tidak berbicara sepatah katapun."
Memang kadang-kadang, orang yang paling pandai berbicara adalah orang yang tidak berbicara sama sekali. Sayang sekali, banyak orang tidak mengerti akan hal ini.
"Tapi kali ini, aku tidak akan terjebak lagi. Kali ini, aku ingin mendengar kau berbicara."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Kalau kau sudah selesai menatapku, aku akan bicara."
"Baik, aku sudah cukup memandangmu."
"Lalu apa lagi yang kau inginkan?"
Tanya Li Sun-Hoan.
Lim Sian-ji menatapnya lekat-lekat.
Jika matanya punya mulut dan gigi, sudah ditelannya Li Sun-Hoan bulat-bulat.
Jika seorang wanita seperti dia memandangmu seperti itu, walaupun menyenangkan, ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan.
Karena seolah-olah ia sengaja ingin membuatmu menjadi gila.
Hanya seorang Li Sun-Hoan yang dapat mengatasinya.
Kata Lim Sian-ji.
"Aku tidak ingin apapun juga, aku hanya menginginkan dirimu!"
"Kau meginginkan diriku?"
"Memberikan dirimu sebagai ganti A Fei. Bukankah itu cukup adil?"
"Tidak,"
Sahut Li Sun-Hoan datar.
"Apa yang tidak adil? Apakah kau pikir dia bukan milikku lagi?"
"Ya, karena kau sudah menghancurkannya….."
Lim Sian-ji tertawa dengan lebih memikat. Katanya.
"Aku berjanji kau tidak akan menyesal…"
Tiba-tiba perkataannya terhenti. Karena tangan Li Sun-Hoan telah menampar wajahnya. Tapi ia tidak menghindar. Bahkan ia mengerang perlahan, lalu jatuh ke dada Li Sun-Hoan sambil terengah-engah.
"Jika kau ingin memukulku, pukullah aku. Selama kau mau, aku rela kau memukuliku siang dan malam."
Tiba-tiba terdengar suara orang bertepuk tangan. Katanya.
"Bagus sekali. Karena ia sudah mengatakannya, mengapa kau tidak memukulnya sekali lagi?"
Bab 71.
Adu Kecerdikan Lentera yang tergantung di depan warung bakmi itu sudah menghitam akibat asap lilin.
Di bawah cahaya yang guram itu, seseorang dengan mata besar dan rambut panjang terkuncir, sedang berdiri.
Li Sun-Hoan berseru gembira.
"Nona Sun!"
Kata Sun Sio-ang.
"Aku biasanya tidak suka melihat wanita dipukul laki-laki. Namun kali ini aku merasa gembira melihatnya."
Kata Lim Sian-ji.
"Aku pun gembira. Aku sangat menikmati dipukul laki-laki seperti dia."
Ia merangkul lengan Li Sun-Hoan dan berkata sambil tersenyum.
"Jika kau cemburu, kau boleh datang ke sini dan minum bersama dengan kami. Arak dapat mengobati rasa cemburu."
Sun Sio-ang benar-benar datang mendekat. Ia menuang arak ke dalam cawan Li Sun-Hoan dan menghabiskannya dalam sekali teguk. Ia meleletkan lidahnya dan mengerutkan alisnya. Lalu tersenyum dan berkata.
"Walaupun arak murahan sulit dibedakan dari arak bagus jika kau minum cukup banyak, cawan pertama tetap saja sulit ditelan."
Lim Sian-ji pun tersenyum dan menyahut.
"Lain kali, kalau Nona Sun mengunjungi rumah kami, kami pasti akan menyuguhkan arak yang terlezat!"
Lalu ia memandang Li Sun-Hoan dan berkata.
"Benar kan?"
Sebelum Li Sun-Hoan menjawab, Sun Sio-ang sudah berkata lagi.
"Senyummu memang menawan. Walaupun aku seorang wanita, aku pun ingin memandangnya lamalama."
Lim Sian-ji tertawa.
"Gadis kecil, kau belum menjadi seorang wanita. Kau masih anak-anak."
Sahut Sun Sio-ang.
"Boleh saja kau tertawa sekarang, karena sebentar lagi kau tidak akan bisa tertawa lagi."
"Hmmm?"
"Karena ia tidak mungkin memenuhi permintaanmu."
"Hmmm?"
"Karena apa yang dapat kau lakukan, akupun dapat melakukannya."
Lim Sian-ji tertawa geli. Katanya.
"Dan apa yang dapat kau lakukan? Bocah kecil adalah tetap bocah kecil. Walaupun mereka tidak tahu apa-apa, tapi mereka berlaku seolah-olah serba tahu."
Lim Sian-ji mengikik dan menambahkan.
"Memang ada hal-hal yang dapat kau lakukan karena kau adalah seorang wanita. Namun bisa tidaknya kau melakukannya dengan baik, tergantung dari orangnya…. Apakah kau mengerti maksudku?"
Wajah Sun Sio-ang terlihat bersemu merah. Ia menggigit bibirnya dan berkata.
"Apa yang dapat kulakukan adalah membawanya kepada A Fei."
Tanya Lim Sian-ji.
"Kau tahu ia ada di mana?"
"Tentu saja. Dan aku pun tahu cara menolongnya."
"Hmmm?"
"Untuk bisa menolongnya, hanya ada satu cara."
"Dan apakah itu?"
Tanya Lim Sian-ji.
"Dengan membunuhmu! Untuk menyelamatkannya, kami hanya perlu membunuhmu. Kalau kau tidak ada lagi dalam dunia ini, ia akan terbebas dari segala sakit dan penderitaannya."
Li Sun-Hoan minum secawan lagi dan tertawa keras.
"Bagus, benar sekali."
Lim Sian-ji mendesah dan berkata.
"Aku tidak menyangka kau pun sama seperti A Fei. Tidakkah kau tahu bahwa perkataan seorang wanita sekali-kali tidak boleh dipercaya? Kau yakin bahwa ia memang dapat membawamu kepada A Fei?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Bahkan semua laki-laki penipu di dunia ini mengasuh anak-anak perempuan yang jujur."
Tambah Sun Sio-ang.
"Benar sekali. Jangan pikir semua wanita itu seperti dirimu."
Kata Lim Sian-ji.
"Baik, Sekarang katakan, di mana A Fei sekarang?"
"Bersama dengan kakekku. Kakekku telah melepaskan dia dari tangan Siangkoan Kim-hong."
Lim Sian-ji tergelak dan memandang Li Sun-Hoan.
"Dan kau percaya bualan anak ini? Siapakah yang bisa melepaskan A Fei dari tangan Siangkoan Kim-hong?"
Li Sun-Hoan tersenyum. Jawabnya.
"Dalam dunia ini, hanya ada satu. Orang itu adalah kakeknya, Tuan Sun yang Terhormat."
Wajah Lim Sian-ji berubah. Katanya.
"Baik. Jika memang demikian, akupun ingin ikut untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri."
Sahut Sun Sio-ang.
"Tidak bisa. Ia tidak ingin bertemu denganmu."
Lalu tambahnya.
"Lagi pula, kami tidak punya alasan untuk membiarkanmu tetap hidup."
"Kau ingin aku mati?"
"Kau seharusnya mati sejak lama."
"Tapi tidakkah kau pikirkan siapa yang tega membunuhku?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Kau pikir aku tidak bisa menemukan orang yang dapat membunuhmu?"
"Dalam dunia ini, hanya ada satu orang yang dapat membunuhku. Tapi bahkan diapun, tidak berani maju."
Matanya lalu memandang Li Sun-Hoan dan berkata lagi.
"Karena ia tahu, jika ia membunuhku, A Fei akan membencinya."
Kata Sun Sio-ang.
"Sepertinya kau lupa bahwa aku bukan laki-laki dan aku pun tidak peduli apakah A Fei akan membenciku atau tidak."
Lim Sian-ji tertawa terbahak-bahak.
"Gadis kecil, jangan bilang bahwa ini adalah lokasi yang tepat untuk berduel, dan bahwa kau ingin menantangku?"
Sahut Sun Sio-ang.
"Benar sekali. Kau boleh memilih tempatnya, aku memilih waktunya."
"Lalu kapan?"
"Sekarang."
Bukan hanya para lelaki yang berduel, kaum wanita pun berduel. Tapi apakah kaum wanita berduel dengan cara yang sama? "Aku sudah menentukan waktunya. Sekarang kau yang menentukan tempatnya,"
Kata Sun Sio-ang. Lim Sian-ji berpikir sejenak lalu berkata.
"Tidak perlu pilih-pilih tempat. Di sini pun jadi. Hanya saja…."
"Hanya saja apa?"
"Bagaimana cara kita berduel?"
"Duel adalah duel. Ada berapa macam cara?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Sudah tentu ada banyak cara. Ada duel terpelajar, ada duel silat, ada duel senjata, ada duel meringankan tubuh, ada duel racun, dan masih banyak lagi. Karena kita adalah wanita, cara kita berduel pun harus lebih canggih dan anggun."
"Lalu duel macam apa yang kau usulkan?"
Tanya Sun Sioang.
"Kau ingin aku juga yang memilih cara kita berduel?"
Kata Li Sun-Hoan tiba-tiba.
"Mungkin dia akan mengusulkan duel racun."
Sun Sio-ang tersenyum padanya dan berkata.
"Duel racun pun bukan masalah. Paman Ketujuhku adalah ahli racun. Kehebatannya tidak berada di bawah Ngo-toktongcu. Hanya saja ia menggunakan racun untuk menyelamatkan orang, bukan untuk membunuh."
Kata Lim Sian-ji.
"Jika ia bisa menggunakan racun untuk menyelamatkan orang, sudah pasti ia cukup sakti. Karena menggunakan racun untuk menyelamatkan orang jauh lebih sulit daripada untuk membunuh orang."
Lim Sian-ji mendesah dan melanjutkan.
"Kelihatannya aku tidak akan menang jika kita berduel racun."
"Pilih apa maumu,"
Kata Sun Sio-ang mantap.
Karena ia terlihat yakin akan kemampuannya, Li Sun-Hoan pun diam saja.
Ia pun ingin menyaksikan ilmu silat seorang murid Tuan Sun yang Terhormat.
Lim Sian-ji memandang Li Sun-Hoan dan berkata.
"Di hadapan seorang ahli seperti Li Tamhoa, sungguh memalukan untuk bertanding ilmu silat. Kita akan kelihatan seperti dua orang tolol."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
Tanya Sun Sio-ang mulai tidak sabar.
"Karena kita adalah wanita, mari kita berduel seperti wanita."
"Apakah ada cara khusus wanita berduel?"
"Tentu saja,"
Sahut Lim Sian-ji.
"Seperti apa?"
"Laki-laki memang lebih kuat daripada wanita, tetapi ada hal-hal tertentu wanita lebih cakap melakukan daripada laki-laki."
"Contohnya?"
"Contohnya, melahirkan anak…."
Jawab Lim Sian-ji. Sun Sio-ang jadi bingung.
"Melahirkan anak?"
"Ya, melahirkan anak adalah keahlian khusus wanita. Itu juga adalah kebanggaan wanita. Seorang wanita yang tidak dapat melahirkan anak dipandang rendah oleh semua orang. Bukankah demikian?"
Kembali wajah Sun Sio-ang merona merah.
"Jangan katakan…."
Kata Lim Sian-ji.
"Kita bisa bertanding siapa yang bisa melahirkan lebih banyak anak, dan siapa yang lebih cepat."
"Kau sudah gila ya? Bagaimana mungkin kita bertanding seperti itu?"
Teriak Sun Sio-ang.
"Siapa bilang tidak mungkin? Apakah kau tidak bisa melahirkan anak?"
Kini wajah Sun Sio-ang menjadi merah padam. Ia tidak dapat menyangkal ataupun mengiakan. Kata Lim Sian-ji.
"Jika kau merasa itu terlalu lama, kita bisa memikirkan pertandingan yang lain."
"Sudah tentu kita harus bertanding dengan cara lain."
"Ada sesuatu yang para lelaki tidak ragu melakukannya, namun seorang wanita yang paling hebat pun sangat sulit untuk melakukannya."
Lim Sian-ji terkikik, lalu menambahkan.
"Karena kau tidak ingin bertanding dalam hal yang dapat dilakukan setiap wanita, mari kita bertanding dalam hal yang biasanya para wanita tidak berani melakukannya."
Kata Sun Sio-ang.
"Jelaskan dulu apa itu."
"Kita bisa membuka baju…..pertandingannya adalah siapa yang bisa menjadi telanjang bulat lebih cepat. Jika aku kalah, aku bersedia memberikan kepalaku kepadamu."
Mereka berada di tengah-tengah pasar malam.
Walaupun biasanya orang-orang tidak peduli apa yang dilakukan orang lain, namun jika dua orang wanita menanggalkan pakaian mereka di situ, mereka tidak mungkin melewatkannya.
Wajah Sun Sio-ang kembali merah padam.
Ia menggigit bibirnya dan berkata.
"Tidak heran bahwa lelaki yang paling pandai pun tidak berani bertaruh dengan seorang wanita. Karena wanita semacam engkau selalu bisa menemukan cara untuk berkelit dari kekalahan."
"Mengambil keuntungan dari laki-laki adalah hak setiap wanita. Wanita yang tidak bisa mengambil keuntungan dari laki-laki adalah wanita yang sangat bodoh, atau sangat buruk rupa."
"Aku bukan laki-laki,"
Tandas Sun Sio-ang.
"Dan aku tidak pernah berusaha mengambil keuntungan darimu. Kau yang bilang bahwa aku boleh menentukan cara kita berduel,"
Sergah Lim Sian-ji.
"Tapi bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan memilih cara-cara yang begitu memalukan?"
"Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau ingin membunuhku, mengapa tidak langsung menyerang? Siapa suruh mulutmu begitu besar dan mengusulkan untuk berduel ini dan bertanding itu?"
Kata Lim Sian-ji mengejek. Lalu lanjutnya.
"Tapi bukan kesalahanmu sepenuhnya. Aku belum pernah bertemu dengan wanita yang tidak besar mulut."
Jadi akhirnya berduel memang lebih cocok dilakukan oleh para pria.
Karena duel harus diselesaikan dengan tinju, bukan dengan mulut.
Makin banyak orang berbicara, makin luntur rasa percaya dirinya dan makin berkurang semangat tempurnya.
Ketika dua orang yang akan berkelahi mulai adu mulut, kemungkinan besar perkelahiannya jadi batal.
Walaupun ada juga pepatah yang mengatakan bahwa pria sejati bertarung dengan kata-kata, bukan dengan tinju.
Angin musim gugur bertiup lembut dan matahari senja mulai terbenam di sebelah barat.
Dua wanita berdiri berhadapan tanpa berkata-kata.
Menunggu keputusan yang bisa berarti hidup atau mati.
Siapakah yang pernah melihat pemandangan seperti ini?
Mendengarnya pun belum ada yang pernah.
‘Wanita memanglah wanita’.
Walaupun wanita dan pria sederajat, ada beberapa hal dalam dunia ini yang tidak pernah akan dilakukan seorang wanita.
Walaupun ada juga wanita yang mungkin pernah mencobanya, hasilnya pun sia-sia belaka.
‘Wanita memanglah wanita’.
Tidak ada yang pernah mengerti pikiran mereka.
Senyum di bibir Lim Sian-ji sungguh manis menggiurkan.
Melihat senyuman itu, Li Sun-Hoan jadi teringat pada Na Kiat-cu.
Walaupun banyak orang memandang rendah pada Na Kiat-cu, ada yang sangat luar biasa dalam kepribadiannya.
Li Sun-Hoan merasa sayang mengapa Na Kiat-cu harus mati.
Wajah Sun Sio-ang yang bersemu merah kini menghijau.
"Kita sudah menentukan waktu, tempat, dan metode duel ini. Jadi, apakah kau bersedia mulai atau tidak, itu terserah padamu,"
Kata Lim Sian-ji. Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya. Kata Lim Sian-ji lagi.
"Kalau kau tidak mau, aku akan pergi."
Sahut Sun Sio-ang.
"Pergi saja."
Ia mendesah dan menambahkan.
"Salahkan saja nasib sialmu."
Tanya Lim Sian-ji.
"Maksudmu nasib sialmu?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Bukan. Nasib sialmu."
Lim Sian-ji tidak mengerti.
"Mengapa aku yang bernasib sial?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Walaupun kata-kata yang keluar dari mulutku sangat keras, seranganku tidak akan sejahat perkataanku. Aku tidak pernah bermaksud membunuhmu. Hanya ingin sedikit melukaimu untuk memberimu pelajaran."
Tanya Lim Sian-ji lagi.
"Jadi maksudmu, nasibku baik, bukan?"
Kata Sun Sio-ang.
"Jika aku melukaimu dan ada orang lain yang datang membunuhmu, pasti aku tidak akan membiarkannya, bukan?"
Lalu ia tertawa dan melanjutkan.
"Tapi jika sekarang ada orang yang datang dan membunuhmu, aku tidak peduli sama sekali."
Sebelum kalimatnya selesai, Lim Sian-ji sudah menoleh cepat ke belakangnya.
Dalam situasi tertentu, reaksi Lim Sian-ji tidak lebih lambat daripada Li Sun-Hoan ataupun A Fei.
Ia memandang menyelidik ke sekitarnya.
Ke setiap arah, ke setiap sudut yang gelap.
Namun ia tidak melihat siapapun juga.
Sun Sio-ang meraih tangan Li Sun-Hoan dan berkata.
"Ayo kita pergi. Aku tidak suka melihat orang dibunuh."
Tanya Lim Sian-ji cepat.
"Maksudmu, ada orang di sini yang ingin membunuhku?"
Sun Sio-ang balik bertanya.
"Kapan aku bilang begitu?"
Lim Sian-ji terus mendesak.
"Di mana orang itu? Apakah kau melihatnya?"
Sun Sio-ang tidak menghiraukannya. Kini Lim Sian-ji mulai menjadi panik dan berkata lagi.
"Aku tidak melihat orang lain di sini."
Sahut Sun Sio-ang dingin.
"Sudah tentu kau tidak melihat siapapun. Waktu kau melihatnya, itu sudah terlambat."
Tanya Lim Sian-ji gugup.
"Jika aku tidak bisa melihatnya, bagaimana kau bisa melihatnya?"
Jawab Sun Sio-ang tenang.
"Karena bukan aku yang ingin dibunuhnya."
Ia tersenyum dan menambahkan.
"Sudah pasti mereka tidak ingin melihatmu jika mereka ingin membunuhmu. Karena setelah mereka melihatmu, mana mungkin mereka sanggup membunuhmu?"
"Si….Siapakah mereka itu?"
"Bagaimana aku bisa tahu siapa yang ingin membunuhmu? Seharusnya kau lebih tahu."
Lim Sian-ji masih terus menoleh kiri kanan depan belakang.
Matanya mulai memancarkan rasa ketakutan.
Padahal dia hampir-hampir tidak pernah merasa takut.
Karena ia begitu yakin, bahwa ia pasti dapat membujuk orang yang ingin membunuhnya untuk membatalkan niat mereka.
Namun kini, melihat orang yang ingin membunuhnya pun tidak bisa.
Orang itu pun tidak ingin melihatnya.
Senjatanya yang satu-satunya telah dirampas.
Kata Sun Sio-ang.
"Jangan bilang kau tidak tahu siapa yang ingin membunuhmu? Ataukah karena terlalu banyak orang yang menginginkan kematianmu?"
Perasaan Lim Sian-ji sangat galau dan ia mulai menyeka peluh di dahinya.
Biasanya, setiap tindakannya, setiap gerakannya, selalu menggoda dan merayu.
Namun kini, cara ia menyeka peluhnya pun terlihat sangat menggelikan.
Jika kau ingin menakut-nakuti seseorang, cara yang terbaik adalah dengan membangkitkan rasa takut dalam hati mereka sendiri.
Dengan begitu, tanpa kau menggerakkan seruas jaripun, mereka bisa ketakutan setengah mati.
Li Sun-Hoan memandang Sun Sio-ang, hampir tidak bisa menahan tawanya.
Saat itu, ia baru menyadari bahwa Sun Sio-ang bukan anak-anak lagi.
Dalam segala hal, ia telah menjadi seorang wanita dewasa.
Hanya seorang wanita dewasa yang dapat mengatasi seorang wanita dewasa.
Bab 72.
Sifat Dasar Manusia, Tidak Bagus Tidak Juga Jelek Walaupun kedua wanita ini tidak menggerakkan jari mereka sedikit pun, Lim Sian-ji dan Sun Sio-ang telah melewati dua pertarungan besar.
Ini adalah adu kecerdikan, bukan adu otot.
Lim Sian-ji telah memenangkan pertarungan yang pertama.
Ia memahami kelemahan seorang wanita, dan ia tahu bagaimana cara memanfaatkannya demi keuntungannya.
Pertarungan yang kedua jelas dimenangkan oleh Sun Sio-ang.
Ia pun menang dengan cara yang sama.
Ia tahu bahwa wanita itu selalu curiga, curiga akan segala sesuatu.
Kecurigaan akan berbuah ketakutan.
Jika Sun Sio-ang adalah seorang laki-laki, ia pasti langsung membunuh Lim Sian-ji begitu saja.
Jika Lim Sian-ji adalah seorang laki-laki, apapun yang dikatakan Sun Sio-ang tidak akan digubrisnya, dan dia sudah pergi sejak lama.
Hanya karena keduanya adalah wanita, maka inilah yang terjadi.
Jika seorang wanita dan seorang pria bermaksud mengerjakan hal yang sama, apapun juga itu, cara yang mereka pilih selalu akan berbeda.
Hasilnya pun akan berbeda.
Sama halnya dengan duel.
Ketika dua wanita berduel, duel itu tidak akan berlangsung berat, bertenaga dan penuh semangat seperti duel laki-laki.
Duel wanita lebih kompleks, penuh gaya, dan menarik.
Karena itulah, pasti juga lebih banyak kejutan dan variasinya.
Perubahan dan variasi dalam duel mereka tidak sama dengan ilmu silat.
Perubahan dan variasinya lebih cepat dan lebih rumit.
Sayang sekali perubahan dan variasi ini tidak kasat mata.
Jika seseorang dapat melihat variasi yang begitu kompleks dalam pikiran seorang wanita, orang itu baru akan menyadari bahwa duel wanita jauh lebih menarik daripada duel laki-laki.
Wanita memanglah wanita, dan mereka akan selalu berbeda dari laki-laki.
Siapapun yang mengingkarinya adalah orang bodoh.
Ini adalah pemikiran yang begitu logis, juga sangat sederhana.
Anehnya, masih banyak orang di dunia ini yang belum juga memahaminya.
Sun Sio-ang terus menarik tangan Li Sun-Hoan.
Lim Sian-ji mengikuti mereka dari belakang.
Kata Sun Sio-ang.
"Kami punya tujuan sendiri, kau punya tujuan sendiri. Mengapa terus mengikuti kami?"
"A….Aku juga ingin menjumpai A Fei,"
Sahut Lim Sian-ji terbata-bata.
"Buat apa kau menemuinya? Apa belum cukup kau menyakitinya?"
"Aku hanya ingin….."
Sun Sio-ang memotong cepat.
"Kami tidak akan membiarkanmu menemuinya."
Sahut Lim Sian-ji.
"Aku hanya akan melihat dari jauh. Terserah apakah dia mau menemui aku atau tidak."
"Keputusannya ada padamu. Jika kau memang ingin mengikuti kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya saja….karena kaulah yang memilih untuk mengikuti kami, jangan menyesal kemudian."
"Aku tidak pernah menyesali perbuatanku."
Sun Sio-ang tertawa tiba-tiba dan berkata.
"Lihat, bukankah tadi aku sudah bilang bahwa ia pasti akan mengikuti kita. Tebakanku selalu tepat."
Ia berbicara pada Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Kau memang ingin dia mengikuti kita."
"Sudah tentu."
"Kenapa?"
"Tadi aku tidak menemukan cara untuk mengatasinya. Aku hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya. Jika ia tidak mengikuti kita, bagaimana aku bisa mendapatkan kesempatan itu?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau tidak perlu menunggu. Seharusnya sejak tadi kau serang saja dia. Apapun yang dikatakannya, tidak usah kau pedulikan."
Sahut Sun Sio-ang.
"Biasanya lelaki berkata ‘Janji itu harganya lebih dari segunung emas’. Apa kau pikir wanita bisa ingkar janji begitu saja seperti kentut?"
"Namun bagaimana kau bisa tahu kalau ia pasti akan mengikuti kita?"
"Karena ia ingin perLindungan kita. Ia tahu, dengan berada dekat Li Tamhoa, siapapun yang ingin membunuhnya harus berpikir dua kali."
Sun Sio-ang tersenyum dan menambahkan.
"Inilah yang disebut ‘Rubah pura-pura jadi harimau’. Atau dengan kata lain, ‘Anjing bersembunyi di belakang manusia’."
Kata Li Sun-Hoan.
"Keduanya tidak kedengaran enak di telinga."
Kata Sun Sio-ang datar.
"Jika orang memilih untuk berbuat begini, bagaimana pun tidak enak kedengarannya, dia hanya bisa mendengarkan."
Sudah tentu, Lim Sian-ji dapat mendengar percakapan mereka.
Sun Sio-ang sengaja membiarkan dia mendengarnya.
Namun Lim Sian-ji pura-pura tidak dengar.
Ia pun tidak berkata apa-apa.
Seolah-olah tiba-tiba ia menjadi bisu-tuli.
Tidaklah mudah berpura-pura menjadi bisu-tuli.
Tiba-tiba Sun Sio-ang mengganti pembicaraan.
Katanya.
"Tahukah kau apa yang terjadi di antara Liong Siau-hun dan Siangkoan Kim-hong?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Aku mendengarnya….kau dan kakekmu datang karena peristiwa itu."
"Betul. Karena kami tahu kami bisa bertemu dengan banyak orang di sana."
Ia menoleh, memandang Li Sun-Hoan dan berkata.
"Namun yang paling utama, aku tahu bahwa kau pasti datang."
Li Sun-Hoan balas memandangnya.
Tiba-tiba rasa hangat menjalari hatinya, seolah-olah ia baru saja minum arak yang terlezat.
Sudah sangat lama ia tidak pernah merasa seperti ini.
Sun Sio-ang merasa seakan-akan berada di kahyangan saat Li Sun-Hoan memandang langsung ke bola matanya.
Lalu Li Sun-Hoan berkata.
"Jika bukan karena kau dan kakekmu, mungkin aku sudah…."
Sun Sio-ang memotong dengan cepat.
"Siangkoan Kimhonglah yang pasti berakhir dalam peti mati itu."
Li Sun-Hoan tertawa kecil, dan tidak melanjutkan pembicaraan ini lagi.
Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus berhadapan dengan Siangkoan Kim-hong.
Namun ia tidak suka membicarakannya.
Ia tidak suka memikirkannya terlalu sering.
Karena jika ia sering-sering memikirkannya, ia akan menjadi kuatir, konsentrasinya akan terbelah, dan kemungkinannya untuk menang menjadi lebih tipis lagi.
Kata Sun Sio-ang.
"Waktu berhadapan dengan orang seperti Siangkoan Kim-hong, jangan pikirkan masalah kehormatan. Jika kau menyerangnya saat ia baru saja melihat mayat Siangkoan Hui, kau pasti sudah membunuhnya."
"Belum pasti,"
Kata Li Sun-Hoan.
"Belum pasti? Kau pikir pikirannya tidak terpecah saat melihat anak tunggalnya sudah menjadi mayat?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Darah memang lebih kental daripada air. Siangkoan Kim-hong masih punya rasa kemanusiaan dalam dirinya."
"Lalu mengapa kau tidak menyerangnya saat itu? Kau kan tahu ia belum tentu akan membalas rasa hormat dan keadilanmu dengan cara yang sama."
"Aku dan dia tidak dapat hidup bersama dalam dunia ini. Tentu saja tidak perlu ada rasa hormat di antara kami berdua."
"Lalu mengapa…."
Li Sun-Hoan segera memotongnya dengan tertawa.
"Aku tidak menyerangnya karena aku masih menunggu kesempatan yang baik."
Kata Sun Sio-ang.
"Namun kesempatan itu adalah kesempatan yang terbaik yang akan pernah ada."
"Kau salah."
"Hah?"
"Walaupun pikirannya terpecah saat melihat anaknya mati, kesedihan dan kemarahan pun pasti meluap-luap dalam hatinya. Jika aku menyerangnya saat itu, ia pasti melampiaskan seluruh kesedihan dan kemarahannya padaku!"
Li Sun-Hoan mendesah dan melanjutkan lagi.
"Ketika seseorang merasa sangat berduka, kekuatan mereka bukan saja akan bertambah, semangat dan keberanian mereka pun akan lebih dari biasanya. Jika saat itu Siangkoan Kim-hong balas menyerang, aku tidak yakin aku mampu menahan serangannya."
Sun Sio-ang tersenyum padanya dan berkata.
"Jadi ternyata kau tidak begitu terhormat seperti yang kupikir. Kau bisa juga main curang."
Li Sun-Hoan pun tersenyum.
"Jika aku begitu terhormat dan gagah seperti yang dipikir orang-orang, aku mungkin sudah mati delapan kali."
"Jika Siangkoan Kim-hong tahu maksudmu yang sebenarnya, ia pasti menyesal telah minum cawan arak itu bersamamu."
"Ia tidak akan menyesal."
"Mengapa?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Karena ia mengerti maksudku yang sebenarnya."
"Lalu mengapa ia mau minum bersamamu?"
"Ia minum bersamaku bukan untuk menghormati keadilan. Dalam pandangannya, orang yang terhormat dan orang yang adil hanyalah orang-orang tolol."
Tanya Sun Sio-ang.
"Lalu apa alasannya?"
"Karena ia tahu maksudku yang sebenarnya, ia tahu bahwa aku bukan orang tolol."
"Ia tahu bahwa kau pun seperti dia. Kau bisa menunggu, menunggu untuk saat yang baik, menunggu kesempatan yang sempurna. Itukah sebabnya ia minum bersamamu?"
"Ya."
Kata Sun Sio-ang lagi.
"Ia merasa bahwa kalian berdua sebenarnya sangat mirip, maka ia mengagumimu. Biasanya kita mengagumi orang yang mirip dengan kita, karena jauh dalam lubuk hati kita, kita mengagumi diri kita sendiri."
"Uraian yang sangat bagus. Aku kagum kau dapat memahami hal-hal seperti ini dalam usiamu."
Tanya Sun Sio-ang.
"Namun, benarkah antara kau dan dia ada banyak kesamaan?"
"Dalam hal-hal tertentu, ya. Namun karena kami berdua tumbuh dalam Lingkungan yang berbeda dan kami pun menjumpai orang-orang yang berbeda, mengalami peristiwa yang berbeda, kami menjadi dua pribadi yang sangat berbeda pula."
Ia mendesah dan menambahkan.
"Ada orang yang bilang bahwa sifat dasar manusia itu baik, ada yang bilang jahat. Menurutku, kita tidak dilahirkan baik atau jahat. Siapa diri kita, dan apakah kita ini baik atau jahat, ditentukan oleh apa yang kita perbuat dalam hidup ini."
Kata Sun Sio-ang.
"Sepertinya kau bukan hanya mengerti tentang orang lain, namun kau pun mengerti mengenai dirimu sendiri dengan baik."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Bukan hal yang mudah untu mengerti diri kita sendiri seutuhnya."
Wajahnya menjadi sedikit muram. Secercah rasa pedih dan duka terbayang di matanya. Sun Sio-ang mengeluh dan berkata.
"Jika seseorang ingin memahami dirinya sendiri baik-baik, mereka harus melewati lautan kesedihan dan kesengsaraan. Benarkah begitu?"
"Betul sekali."
"Kalau begitu, aku tidak ingin memahami diriku sendiri. Semakin aku mengerti diriku sendiri, semakin banyak duka dan derita yang harus kulalui. Jika aku tidak memahami diriku sama sekali, aku pasti adalah orang yang paling berbahagia."
Kali ini, Li Sun-Hoanlah yang mengganti pembicaraan.
"Waktu Siangkoan Kim-hong bersulang untukku, apakah kau dan kakekmu masih di sana?"
"Tidak, kami sudah pergi. Kami mendengar ceritanya dari orang lain."
Ia tersenyum dan melanjutkan.
"Kau dan Siangkoan Kimhong sudah menjadi orang terkenal sekarang. Apapun yang kau lakukan akan menjadi berita besar. Dalam kota ini saja, aku berani bertaruh ada ratusan ribu orang yang sedang membicarakanmu pada detik ini. Kau percaya?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Itulah sebabnya aku sangat mengagumi kakekmu. Perbuatannya seperti awan yang melayang, pikirannya seperti air yang mengalir. Ia bebas melakukan apapun yang diinginkannya dan tidak pernah dibebani oleh segudang kekuatiran. Orang semacam itu sungguh mengagumkan."
Kata Sun Sio-ang.
"Ia memang bisa melihat jauh ke depan."
Kembali Sun Sio-ang bertanya hal yang lain.
"Tahukah kau siapa yang mengirim peti mati itu?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Aku tidak bisa menebak."
"Bukan orang yang membunuh Siangkoan Hui?"
Sun Sio-ang tahu siapa pembunuh Siangkoan Hui.
Namun Lim Sian-ji tidak tahu.
Ia diam saja selama itu, namun ia mendengarkan pembicaraan ini dengan seksama.
Ia sangat berharap salah satu dari mereka akan menyebutkan siapa pembunuhnya.
Jawab Li Sun-Hoan.
"Mungkin juga orang yang sama. Hanya beberapa orang saja yang tahu di mana mayat Siangkoan Hui dikuburkan."
Tanya Sun Sio-ang.
"Menurutmu, mengapa orang itu berbuat demikian?"
"Karena ia ingin menakut-nakuti Siangkoan Kim-hong."
"Orang itu juga membenci Siangkoan Kim-hong?"
Li Sun-Hoan terdiam sesaat, lalu berkata.
"Mungkin saja orang itu tidak membenci Siangkoan Kim-hong. Mungkin orang itu melakukannya untuk memberi bantuan Siangkoan Kim-hong setelah ia jatuh."
"Aku tidak mengerti. Jika orang itu ingin membantu Siangkoan Kim-hong, mengapa ia harus menakutnakutinya terlebih dahulu?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Mungkin juga orang itu ingin Siangkoan Kim-hong menyesali keputusannya."
Sun Sio-ang mengeluh dan berkata.
"Maksud hati manusia sungguh sulit dipahami, lebih rumit daripada apapun juga di muka bumi ini."
"Betul. Pikiran manusia dan sifat dasar manusia adalah dua hal yang paling sulit dimengerti dalam hidup ini. Lebih rumit daripada ilmu silat yang paling hebat sekalipun."
Lalu Li Sun-Hoan menambahkan lagi.
"Namun jika kau mengerti sifat dasar manusia, kau bisa mencapai puncak ilmu silat. Karena semua hal dalam dunia ini berhubungan dengan sifat dasar manusia. Demikian juga ilmu silat."
Kalimat yang bijak ini terlalu dalam untuk dapat dimengerti sepenuhnya oleh Sun Sio-ang. Entah ia mengerti perkataan Li Sun-Hoan atau tidak, namun ia terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata.
"Aku tidak peduli apakah aku mengerti akan ini dan itu. Aku hanya ingin mengerti tentang dirimu."
Matanya tertuju pada Li Sun-Hoan.
Dalam tatapannya, terkandung rasa kagum dan kepercayaan yang penuh.
Seakan-akan berkata bahwa Li Sun-Hoanlah satu-satunya orang tempat ia membuka hatinya lebar-lebar.
Kembali Li Sun-Hoan merasa hatinya dipenuhi kehangatan.
Ia sungguh ingin membelai wajahnya yang cantik.
Namun tentu saja ia tidak melakukannya.
Ia tidak bisa.
Perlahan dipalingkannya wajahnya, dan mulai terbatuk kecil.
Sun Sio-ang masih menatapnya lekat-lekat, menunggu jawabannya.
Sedikit demi sedikit, harapan mulai pupus dari matanya.
Katanya.
"Tapi kelihatannya kau takut membiarkan orang mengerti akan dirimu. Kau terusmenerus berusaha menggagalkannya."
"Takut? Takut apa?"
Tanya Li Sun-Hoan.
"Takut kalau ada orang lain yang jatuh cinta padamu."
Dan Sun Sio-ang menambahkan.
"Karena siapapun yang sungguh-sungguh memahamimu pasti akan jatuh cinta padamu. Bagimu, lebih baik orang membencimu daripada jatuh cinta padamu. Benar kan?"
Sahut Li Sun-Hoan sambil tertawa.
"Jaman memang sudah berubah. Gadis-gadis muda dulu tidak pernah bicara tentang ‘cinta’."
Kata Sun Sio-ang.
"Dan mungkin gadis-gadis sekarang pun tidak. Tapi aku tidak peduli di jaman apa aku dilahirkan, apakah seratus tahun yang lalu atau seribu tahun yang akan lalu. Apa yang kurasakan dalam hatiku, akan kunyatakan dengan mulutku."
Di jaman apapun juga, pasti ada orang-orang seperti dia.
Orang-orang ini tidak takut berbicara, tidak takut bertindak, mencintai, membenci.
Mungkin karena mereka sedikit lebih maju dari jamannya, maka orang lain menganggap mereka aneh atau bahkan sedikit tidak waras.
Namun mereka tidak akan peduli.
Apapun pendapat orang lain akan mereka, tidak pernah mereka pusingkan.
Malam itu malam yang berkabut.
Walaupun masih musim dingin, kabut tipis membuat seolah-olah musim semi telah tiba.
Sun Sio-ang berharap bahwa jalan berkabut ini tidak akan pernah berakhir.
Awalnya Li Sun-Hoan sangat berharap bisa segera bertemu dengan A Fei, namun kini rasanya tidak begitu mendesak lagi.
Dua tahun belakangan ini, perasaannya sungguh tertekan.
Seakan-akan ada belenggu yang tidak kasat mata yang mengungkung dirinya, sampai-sampai bernafas pun terasa sulit.
Hanya beberapa hari belakangan saja, saat bersama Sun Sio-ang, ia merasa lega.
Ia mulai merasa bahwa gadis ini memahami dirinya, lebih daripada yang dapat dibayangkannya.
Jika bisa melewatkan waktu dengan seseorang yang bisa memahami diri kita, inilah waktu yang sangat berharga.
Namun Li Sun-Hoan sudah ingin lari lagi.
‘Kau lebih suka orang membencimu daripada jatuh cinta padamu.
Benar kan?’ Hati Li Sun-Hoan mulai terasa perih.
Bukannya ia tidak mau, tapi ia tidak bisa.
Setiap orang punya masalah emosional.
Tidak ada orang lain yang bisa membuatnya dapat mengatasi masalah itu, kecuali dirinya sendiri.
Itulah problem Li Sun-Hoan.
Dan itulah problem A Fei.
Apakah masalah emosional ini akan terus menghantui mereka selama-lamanya?
Apakah mereka akan terus membawa kenangan pahit dalam hidup mereka sampai ke liang kubur?
Tiba-tiba Sun Sio-ang berhenti mengoceh dan berkata singkat.
"Sudah sampai."
Jalan itu seakan-akan tidak berujung.
Ada sebuah pondok kecil di tepi jalan.
Cahaya lentera terlihat dari jendela kecil di sisi pondok itu.
Cahaya lentera itu sangat terang.
Pondok sekecil itu biasanya tidak diterangi oleh lentera sebesar itu.
Sun Sio-ang menoleh ke arah Lim Sian-ji dan bertanya.
"Kau pasti tahu tempat ini, bukan?"
Tentu saja dia tahu tempat itu. Itu adalah rumahnya dan A Fei. Ia menggigit bibirnya dan mengangguk, lalu berjalan malu-malu ke sana. Katanya.
"A Fei sudah kembali ke sini?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Kau masih ingin masuk dan menjumpainya?"
"Bo….Bolehkah aku masuk?"
"Ini kan rumahmu. Jika kau ingin masuk, kau tidak perlu minta izin orang lain."
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya.
"Tapi sekarang….."
Sun Sio-ang tersenyum dingin.
"Tapi sekarang memang tidak seperti dulu. Kau pasti tahu salah siapa."
Lalu ia melanjutkan.
"Sebenarnya dulu kau bisa hidup dengan damai dan sejahtera, tapi kau tidak mau. Rumah ini tidak cukup indah untukmu, lelaki itu tidak cukup baik untukmu."
Lim Sian-ji masih menunduk.
"Aku tahu bahwa akulah yang salah. Kalau aku bisa bertahan hidup sampai sekian lama, itu karena dialah yang melindungi aku. Jika bukan karena dia, aku pasti sudah lama terbunuh."
Tanya Sun Sio-ang dingin.
"Kau pikir sekarang ia akan melindungimu seperti dulu?"
Air mata Lim Sian-ji mulai menggenang, katanya.
"Aku tidak tahu, aku tidak akan menyalahkan dia…."
Lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan tegas.
"Aku ingin menjumpainya dan mengatakan dua hal saja. Lalu aku akan pergi. Permintaanku tidak berlebihan, bukan? Maukah kalian berdua berjanji mengabulkannya?"
Jawab Sun Sio-ang.
"Bukan aku tidak mau berjanji. Hanya saja janjimu itu sangat sulit dipercaya."
"Jika aku tidak pergi setelah mengatakan dua kalimat itu, silakan kalian mengusirku."
Sun Sio-ang terdiam.
Ia memandang Li Sun-Hoan.
Selama itu, Li Sun-Hoan hanya berdiri tanpa suara.
Air mukanya pun terlihat kosong.
Namun pikirannya sungguh porak-poranda.
Kelemahannya yang utama adalah bahwa ia terlalu pemaaf.
Walaupun sering kali ia merasa bahwa ia tidak seharusnya mengalah, rasa simpatinya tidak dapat terbendung.
Banyak orang tahu kelemahannya ini.
Dan mereka suka memanfaatkannya.
Ia sendiripun menyadarinya, namun entah mengapa, ia tidak bisa berubah.
Walaupun seseorang menyakitinya sepuluh ribu kali, ia tetap tidak ingin menyakitinya sekali pun juga.
Kadangkadang ia tahu orang itu menipunya, namun ia tetap membiarkan dirinya ditipu.
Karena ia sungguh yakin bahwa kalau sekali saja, seseorang berkata jujur padanya, seluruh pengorbanannya ini tidak sia-sia.
Li Sun-Hoan adalah orang semacam itu.
Ada yang menganggap dia pria sejati, ada yang menganggapnya tolol sekali.
Tapi paling tidak, semua orang setuju, ia adalah pribadi yang unik.
Paling tidak, ia tidak menyesali perbuatannya.
Ia hampir-hampir tidak pernah membuat orang berkeringat dingin, sangat jarang membuat orang mengucurkan darah.
Lebih baik keringat dan darahnya sendirilah yang terkucur.
Namun hal-hal yang dilakukannya selalu membuat orang mencucurkan air mata.
Air mata kekaguman.
Air mata terima kasih.
Sun Sio-ang mengeluh dalam hati.
Ia tahu Li Sun-Hoan tidak akan tega menolak permintaannya.
Mungkin ia tidak pernah menolak permintaan siapapun dalam hidupnya.
Kata Lim Sian-ji.
"Ini adalah terakhir kali aku menemuinya. Jika ia tahu kalian berdua menghalangi aku menemuinya untuk terakhir kali, ia akan membenci kalian berdua seumur hidupnya."
Sun Sio-ang menggigit bibirnya dan berkata.
"Kau hanya akan mengatakan dua kalimat saja, bukan? Setelah selesai, kau akan segera pergi?"
"Aku tidak akan tinggal lebih lama. Akankah kubiarkan kalian mengusirku keluar? Berjanjilah padaku sekali ini saja, baru aku bisa meninggal dengan tenang."
Li Sun-Hoan menghela nafas dan berkata.
"Biarkanlah dia masuk. Dua kalimat tidak akan membahayakan dia."
Bab 73.
Kurungan dan Belenggu Dalam rumah, hawa terasa sangat panas.
Empat tiang api terbakar menjilat-jilat.
Kobaran api memanasi keempat dinding rumah dan langit-langit hingga membara.
Wajah A Fei terlihat merah padam.
Sekujur tubuhnya pun merah padam.
Ia berada di tengah-tengah keempat tiang api itu.
Dadanya telanjang.
Ia hanya mengenakan celana yang sudah lusuh.
Celananya basah kuyup oleh air.
Keringatnya mengucur keluar dengan deras dan nafasnya memburu.
Seluruh tubuhnya terlihat sangat lelah, bahkan kelihatannya ia hampir semaput.
Seorang tua berambut putih terlihat duduk di salah satu pojok rumah itu sambil mengisap pipanya.
Asap putih mengalir keluar dari lubang hidungnya dan memenuhi pojok rumah itu dengan kabut tipis.
Ia memang orang yang aneh.
Tidak ada yang tahu dari mana dia datang, tidak ada yang tahu ke mana ia akan pergi.
Sebenarnya, bahkan tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.
Mungkin ia hanya seorang tukang cerita yang miskin.
Atau mungkin ia adalah ‘Si Bijak dari Surga’ yang tiada tandingannya!
Siapapun dia, ialah yang pertama kali terlihat saat orang memasuki pondok kecil itu.
Mata A Fei terpejam.
Ia tidak menyadari ada orang yang masuk ke situ.
Sun Sio-ang terkejut melihatnya dan berseru.
"Kakek, apa yang kau lakukan?"
Mata Tuan Sun pun terpejam. Ia mengisap pipanya sekali dan menghembuskan segulung uap putih dari mulutnya. Jawabnya.
"Aku sedang mengukusnya."
Mata Sun Sio-ang makin terbelalak. Katanya.
"Mengukusnya? Memangnya dia bakpao atau kepiting? Buat apa Kakek mengukusnya?"
A Fei benar-benar kelihatan seperti kepiting yang dikukus hidup-hidup. Tuan Sun tersenyum dan berkata.
"Aku mengukusnya karena aku ingin memaksa seluruh alkohol dalam tubuhnya menguap, supaya ia bisa segera sadar."
Lalu matanya beralih pada Li Sun-Hoan dan berkata.
"Aku juga sedang berusaha memompa semangat ke dalam pembuluh darahnya, supaya ia bisa menjadi manusia seutuhnya lagi."
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Kalau begitu, mungkin berikutnya adalah giliranku untuk dikukus. Tapi takutnya, setelah semua alkohol dalam tubuhku menguap, aku ternyata tinggal kulit saja."
Kata Tuan Sun.
"Jadi selain arak, tidak ada yang lain dalam tubuhmu itu?"
Li Sun-Hoan mendesah dan berkata.
"Mungkin juga perutku ini penuh dengan kesempatan yang buruk."
Tuan Sun tertawa dan menjawab.
"Bagus. Jika perutmu itu tidak penuh dengan pengetahuan, bagaimana mungkin perkataan yang begitu dalam keluar dari mulutmu."
Tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata.
"Sebenarnya sudah lama juga aku ingin mengukusmu. Aku ingin tahu, apa lagi yang ada dalam tubuhmu selain arak dan pengetahuan. Aku ingin tahu apa yang digunakan oleh Tuhan yang di Surga untuk membentuk orang seperti engkau."
"Setelah itu mau diapakan?"
Tanya Sun Sio-ang.
"Setelah itu aku ingin mengumpulkan semua orang dalam dunia ini dan menjejalkannya apapun yang kutemukan dalam tubuhnya ke dalam perut mereka."
"Maksud Kakek, supaya semua orang sedikit banyak menjadi serupa dengan dia?"
"Bukan hanya sedikit, makin banyak makin baik."
Tanya Sun Sio-ang.
"Bukankah dengan demikian semua orang akan menjadi seperti dia?"
Jawab Tuan Sun.
"Apa salahnya jika semua orang menjadi seperti dia?"
"Ada yang salah."
"Apanya yang salah?"
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya dan terdiam.
Kakek dan cucu ini memang selalu berbicara dalam bentuk tanya jawab.
Orang akan merasa sulit untuk menyela pembicaraan mereka.
Baru sekarang Li Sun-Hoan punya kesempatan untuk berbicara.
"Cianpwe, jika kau ingin menjadikan seluruh dunia persis seperti aku, rasanya hanya ada satu jenis orang yang akan setuju."
"Jenis orang bagaimana?"
Tanya Tuan Sun.
"Penjual arak,"
Jawab Li Sun-Hoan. Tuan Sun tersenyum dan berkata.
"Dalam pandanganku, hanya ada satu jenis orang yang tidak akan setuju."
"Siapa?"
Tanya Sun Sio-ang. Namun segera setelah pertanyaan itu keluar dari mulutnya, ingin sekali kata itu ditariknya kembali. Ia sudah tahu apa jawaban kakeknya. Kakeknya tersenyum padanya dan menyahut.
"Kau."
Wajah Sun Sio-ang langsung bersemu merah. Ia menundukkan kepalanya dan berkata dengan gugup.
"Meng….Mengapa aku tidak setuju?"
Jawab kakeknya sambil tersenyum.
"Jika semua orang di dunia ini menjadi persis sama dengan dia, kau jadi tidak tahu lagi siapa yang kau inginkan."
Sun Sio-ang langsung menoleh menyembunyikan wajahnya yang merah padam bagai bara api.
Apakah hatinya pun membara bagai api?
Api yang membara dalam hati perawan muda.
Tuan Sun tergelak dan kembali mengisap pipanya.
Seakan-akan ia tidak melihat Lim Sian-ji dalam ruangan itu sama sekali.
Mungkin ia berusaha mengacuhkannya, sebab tidak diliriknya wanita itu sekalipun juga.
Ia juga tidak menyadari bahwa pipanya sudah mati.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening.
Satu-satunya suara yang terdengar adalah letikan bunga api pada tiang api yang berkobar di situ.
Lim Sian-ji berjalan perlahan menuju ke depan A Fei.
Matanya hanya tertuju pada A Fei.
Cahaya kobaran api itu menerpa tubuhnya.
Wajahnya menjadi sesaat putih, sesaat merah.
Waktu wajahnya merah, ia kelihatan seperti malaikat yang nakal.
Waktu wajahnya putih, ia tampak seperti hantu penasaran.
Manusia memang selalu punya dua wajah.
Sesaat cantik, sesaat mengerikan.
Tapi Lim Sian-ji berbeda.
Ia selalu terlihat cantik.
Jika ia adalah seorang malaikat, pasti ia adalah malaikat yang tercantik di seluruh nirwana.
Jika ia adalah hantu penasaran, ia pasti adalah hantu penasaran yang tercantik di seantero neraka.
Namun kelihatannya A Fei sudah bertekad bulat.
Secantik apapun dia, A Fei tidak akan memandangnya lagi.
Lim Sian-ji mendesah dan berkata.
"Aku jauh-jauh datang ke sini karena aku ingin mengatakan dua hal padamu. Apakah kau mau mendengarnya atau tidak, terserah padamu."
A Fei tampak tidak peduli.
Namun mengapa tubuhnya kini terlihat membeku seperti sepotong kayu?
"Hari itu, aku tahu aku sangat menyakiti hatimu.
Namun aku tidak bisa berbuat lain.
Aku tidak ingin kau mati di tangan Siangkoan Kim-hong.
Itu adalah satu-satunya cara untuk membujuk Siangkoan Kim-hong supaya tidak membunuhmu."
A Fei masih tampak acuh. Namun mengapa tangannya kini terkepal erat?"
Hari ini aku datang bukan untuk memohon supaya kau mau mengerti, atau supaya kau mau mengampuni aku. Aku sudah tahu bahwa kita sudah selesai…."
Ia mendesah panjang sebelum meneruskan.
"Aku mengatakannya karena aku ingin hatimu menjadi tenang. Selamanya, aku hanya ingin kau hidup berbahagia. Itu saja. Tentang diriku…."
"Sudah cukup,"
Potong Sun Sio-ang tajam. Lim Sian-ji tersenyum pahit. Katanya.
"Kau benar, aku sudah bicara terlalu banyak."
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Lim Sian-ji membalikkan badannya dan berjalan keluar.
Ia tidak tergesa-gesa, namun ia juga tidak menoleh ke belakang.
A Fei masih terdiam.
Matanya terpejam rapat.
Mata Lim Sian-ji manatap lurus ke pintu.
Li Sun-Hoan menahan nafas.
Ia tahu, jika Lim Sian-ji keluar dari pintu itu, A Fei tidak akan pernah melihatnya lagi untuk selama-lamanya.
Selama A Fei tidak melihatnya lagi, A Fei bisa mulai dengan hidup barunya.
Lim Sian-ji pun tahu dengan pasti, jika ia keluar dari pintu itu, ia sama saja dengan keluar dari dunia ini.
Langkahnya tidak menjadi lambat, namun di matanya kini tersirat rasa takut.
Dalam rumah itu, suasana terang benderang bagai siang, di luar, malam gelap gulita tanpa cahaya bulan.
Walaupun bintang bersinar terang di angkasa, Lim Sian-ji tidak pernah peduli dengan langit malam.
Ia hanya menyukai gemerlap dunia materi.
Ia sangat suka pujian, kata-kata manis, tepuk tangan meriah.
Ia menikmati pesta pora, kelimpahan, dan kemewahan.
Ia suka dicintai, ia suka dibenci.
Ia hanya hidup untuk hal-hal ini.
Tanpa hal-hal ini, walaupun hidup, rasanya seperti hidup dalam kubur.
Kegelapan malam terasa semakin mendekat.
Rasa takut yang terbersit di matanya kini menjadi kejengkelan dan kebencian.
Saat itu, rasanya ia ingin membunuh semua orang di dunia ini.
Namun saat itulah, tiba-tiba A Fei berdiri dan berseru.
"Tunggu dulu." ‘Tunggu dulu’. Siapa sangka, dua kata ini dapat mengubah hidup begitu banyak manusia? Saat itu, Lim Sian-ji pun berubah total. Kini matanya penuh dengan pesona, rasa percaya diri, dan kebanggaan. Ia telah kembali berubah menjadi seorang dewi yang cantik molek. Belum pernah ia terlihat secantik ini selama hidupnya. Kebanggaan dan rasa percaya diri adalah riasan wanita yang paling sempurna. Seorang wanita tanpa kebanggaan dan rasa percaya diri, betapapun cantiknya, tidak akan terlihat menarik sama sekali. Sama halnya seperti wanita menganggap pria yang sukses adalah pria yang sangat menarik. Kesuksesan adalah riasan pria yang paling sempurna. Langkah Lim Sian-ji terhenti. Ia tidak menoleh, hanya mendesah halus. Desahannya sangat lembut, namun membawa nada yang begitu sedih dan berduka. Tidak pernah ada yang mengira desahan seperti itu dapat keluar dari mulutnya, apalagi dengan kecantikannya saat itu yang tiada taranya. Hati Li Sun-Hoan melorot. Ia tahu bahwa tidak ada musik ataupun suara dalam dunia ini yang lebih efektif daripada desahan seorang wanita yang tidak berdaya, untuk menggerakkan hati seorang pria. Tidak juga suara daun beterbangan di musim gugur, tidak juga suara aliran air sungai yang deras, tidak juga suara harpa yang merdu di malam terang bulan, tidak juga suara suling yang merayu-rayu dalam kegelapan malam. Tidak ada yang bisa menyaingi desahannya yang putus asa. Li Sun-Hoan berharap A Fei menoleh padanya dan mendengar penjelasannya. Namun mata A Fei lekat pada Lim Sian-ji. Telinganya hanya bisa mendengar suaranya. Kata Lim Sian-ji.
"Aku sudah selesai berbicara. Aku tidak bisa tinggal lebih lama."
"Mengapa?"
"Karena aku sudah berjanji, aku hanya akan mengatakan dua kalimat, sesudah itu aku akan pergi."
"Apakah kau memang ingin pergi?"
Tanya A Fei "Kalau aku tidak segera pergi, mereka akan mengusirku."
"Siapa? Siapa yang akan mengusirmu?"
Tiba-tiba matanya menyala dengan semangat yang baru dan berseru lantang.
"Mengapa kau membiarkan orang mengusirmu. Ini kan rumahmu."
Kini Lim Sian-ji menoleh dan menatap A Fei.
Matanya sudah basah oleh air mata.
Mata itu begitu lembut, selembut tetesan embun di pagi hari.
Sampai lama ia hanya menatap A Fei, lalu kembali ia mendesah dan bertanya.
"Apakah ini masih rumahku?"
Sahut A Fei.
"Tentu saja. Selama kau mau, ini tetap adalah rumahmu."
Hati Lim Sian-ji bergejolak. Ia sudah akan menghambur ke pelukan A Fei, namun tidak jadi dilakukannya. Katanya.
"Tentu saja aku mau, tapi aku takut yang lain tidak akan setuju."
A Fei mengertakkan giginya.
"Yang tidak setuju, boleh keluar."
Tuan Sun sungguh berhasil membuat darah A Fei mendidih dan membangkitkan semangatnya.
Bukan itu saja, namun seluruh emosi dalam hatinya pun kini terangkat ke permukaan.
Jika tubuh seseorang menjadi lemah, perasaannya akan semakin meluap-luap.
Matanya tidak pernah lepas dari Lim Sian-ji.
Lalu katanya.
"Di rumah ini, tidak ada yang berhak mengusirmu. Engkaulah yang berhak mengusir orang lain."
"Aku sungguh ingin hidup bersamamu, tapi mereka juga adalah teman-temanmu…."
Kata Lim Sian-ji sambil tersenyum. Setetes air mata bergulir ke pipinya. Sahut A Fei.
"Siapapun yang tidak ingin bersahabat denganmu, bukan sahabatku."
Kini dikalungkannya lengannya di leher A Fei dan berkata.
"Aku sudah puas hanya mendengar engkau mengatakannya. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan orang akan aku. Aku tidak peduli bagaimana mereka memperlakukan aku."
Pintu masih terbuka lebar. Perlahan Li Sun-Hoan berjalan ke arah pintu dan keluar ke kegelapan malam. Sun Sio-ang mengikutinya. Ia menggigit bibirnya dan berkata.
"Apakah kita pergi begitu saja?"
Li Sun-Hoan tidak menjawab. Kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya. Sun Sio-ang berjalan menjajarinya. Katanya dengan marah.
"Aku tidak bisa percaya, ternyata dia adalah orang semacam itu! Masih juga ia memperlakukan wanita seperti itu dengan baik…. Tidak tahu terima kasih! Ia hanya peduli akan cintanya dan tanpa ragu-ragu mengkhianati sahabat-sahabatnya!"
Li Sun-Hoan mengeluh panjang. Katanya.
"Kau salah menilai dia."
"Bagaimana salahnya? Apakah menurutmu dia bukan orang seperti itu?"
"Bukan."
"Kalau bukan, kenapa dia bertindak seperti barusan?"
Suara Li Sun-Hoan tercekat.
"Karena….karena…."
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Sunlah yang melanjutkan kalimatnya.
"Ia berbuat begitu karena ia tidak bisa mengendalikan diri saat ini,"
Kata Tuan Sun sambil menghela nafas. Tanya Sun Sio-ang.
"Mengapa ia tidak bisa mengendalikan diri? Tidak ada yang mengancamnya dengan pisau. Tidak ada yang mengikatnya dengan tali."
Sahut kakeknya.
"Memang benar tidak ada yang memaksanya. Dia sendirilah yang membelenggu dirinya."
Tuan Sun kembali mendesah dan menambahkan.
"Sebenarnya, setiap orang memang punya belenggu dan penjaranya masing-masing."
Sahut Sun Sio-ang cepat.
"Aku tidak punya."
"Kau pikir kau tidak punya, karena kau masih anak-anak dan kau belum mengerti."
Suara Sun Sio-ang meninggi karena kesal.
"Kalau aku dianggap masih anak-anak, ya sudah! Bagaimana dengan dia?"
Ia menunjuk Li Sun-Hoan dan melanjutkan.
"Ia bukan anak-anak, tapi dia tidak punya belenggu ataupun penjara."
Sahut kakeknya sabar.
"Tentu saja dia punya."
Sun Sio-ang memandang Li Sun-Hoan dengan matanya yang besar.
"Benarkah?"
Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab.
"Harus kuakui, aku memang punya."
Kata Tuan Sun.
"Ia tidak pernah menyimpan amarah dalam hatinya. Walaupun orang menghina dia, atau menyakitinya, ia tidak pernah marah. Sampai-sampai orang berpikir ia berbuat begitu karena semangat hidupnya sudah tidak ada."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Namun ketika ia tahu bahwa sahabatnya ada dalam bahaya, ia akan meninggalkan segala sesuatu untuk menolong mereka. Apakah itu artinya masuk ke dalam air mendidih, atau berjalan melewati bara api, atau ditusuk dengan pisau di dadanya, ia akan melakukan segalanya…."
Tuan Sun mendesah dan melanjutkan lagi.
"Karena ‘persahabatan’ adalah penjaranya. Hanya penjara ini yang dapat mendorong semangatnya ke permukaan. Hanya penjara ini yang dapat membuat darahnya bergolak."
Tanya Sun Sio-ang.
"Lalu bagaimana dengan orang seperti Liong Siau-hun. Apakah ia pun mempunyai penjara?"
"Tentu saja."
"Apa penjaranya?"
Jawab Tuan Sun.
"Kekayaan dan kekuasaan!"
"Namun ia ingin membunuh Li Sun-Hoan bukan demi harta atau kekuasaan. Ia tahu pasti bahwa Li Sun-Hoan bukan orang yang akan bertempur demi harta atau kekuasaan."
"Ia ingin membunuh Li Sun-Hoan karena belenggu dalam hatinya,"
Sahut kakeknya.
"Belenggu apa?"
Tuan Sun menoleh pada Li Sun-Hoan dan berhenti bicara.
Wajah Li Sun-Hoan terlihat lebih muram daripada kegelapan malam.
Sun Sio-ang jadi tahu jawabannya.
Liong Siau-hun membenci Li Sun-Hoan karena ia selalu curiga, selalu cemburu.
Ia curiga Li Sun-Hoan akan membalas perbuatannya yang dulu.
Ia cemburu akan kehormatan dan kemurahan hati Li Sun-Hoan.
Karena ia tidak mungkin pernah menjadi seperti itu.
Kecurigaan dan kecemburuan adalah belenggunya.
Sebagian besar orang dalam dunia juga punya belenggu ini.
Lalu apakah belenggu A Fei?
Tuan Sun menengadah, memandang bintang-bintang yang gemerlapan di langit malam.
"Belenggu A Fei berbeda sama sekali dengan belenggu Liong Siau-hun. A Fei dibelenggu oleh cinta."
Sun Sio-ang jadi bingung.
"Cinta pun dapat dianggap sebagai belenggu?"
"Tentu saja. Sebenarnya belenggu cinta itu lebih berat daripada belenggu apapun juga."
"Tapi, apakah betul ia mencintai Lim Sian-ji? Sepertinya ia mencintai Lim Sian-ji hanya karena ia tidak dapat memiliki wanita itu,"
Kata Sun Sio-ang. Tidak ada jawaban. Karena memang tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan ini. Sun Sio-ang mendesah dan memandang Li Sun-Hoan. Katanya.
"Ia adalah sahabatmu. Kau harus memikirkan bagaimana caranya membebaskan dia dari belenggunya itu."
Perlahan Li Sun-Hoan menoleh ke belakang…..
Cahaya dalam rumah itu sudah padam.
Pondok kecil itu berdiri sendirian di tengah hembusan angin barat dalam kegelapan malam.
Seolah-olah menjadi serupa dengan A Fei, keras kepala, tahan bantingan, kesepian.
Li Sun-Hoan membungkukkan badannya dan mulai terbatuk-batuk lagi.
Ia tahu tidak ada yang bisa membantu A Fei lepas dari belenggunya.
Hanya A Fei sendirilah yang dapat melepaskannya.
Bab 74.
Orang yang Paling Murah Hati Api telah padam.
Namun ada kobaran lain yang di sulut dalam rumah itu.
Sepasang tungkai yang panjang dan langsing terjulur di sisi ranjang.
Tampak semakin mempesona di bawah sinar bulan yang remang-remang.
Kaki wanita itu sedikit tertekuk saat tubuh sang pria bergetar.
Tubuh A Fei kaku seperti busur yang ditarik.
Anak panah pun sudah siap di atas busur itu untuk dibidikkan.
Seorang yang berpengalaman pasti tahu betapa sulitnya bertahan dalam situasi ketegangan seperti itu.
Lim Sian-ji, tidak perlu diragukan, adalah seseorang yang berpengalaman.
Ia terus menerus menghindar dan mendorong tubuh A Fei, sambil terus berbisik.
"Tunggu….tunggu…."
A Fei tidak menjawab dengan kata-kata, namun dengan perbuatan. Ia tidak bisa lagi menunggu. Lim Sian-ji menggigit bibirnya dan menatap mata A Fei yang merah terbelalak.
"Meng….Mengapa kau tidak pernah bertanya padaku?"
"Bertanya apa?"
"Apakah Siangkoan Kim-hong dan aku sudah….."
Tubuh A Fei mengejang tiba-tiba, seolah-olah seseorang menendangnya di bawah sana.
"Apakah karena hal itu tidak mengganggumu lagi?"
Tanya Lim Sian-ji A Fei mulai berkeringat. Keringat menandakan kelemahan seseorang. Lim Sian-ji mulai melihat kelemahannya.
"Aku tahu, hal itu pasti mengganggumu, karena aku tahu kau sangat mencintaiku."
Suara Lim Sian-ji terdengar sedih dan tertekan, namun matanya memancarkan kesenangan yang sadis.
Ia seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus di bawah tangannya.
Ia seperti Siangkoan Kim-hong yang memandangnya saat ia berada dalam situasi yang kurang menguntungkan.
"Jadi apakah kau melakukannya atau tidak?"
Tanya A Fei dengan suara parau. Lim Sian-ji mendesah dan menjawab.
"Seekor tikus yang malang dalam genggaman seekor kucing yang kejam. Kau tidak perlu menanyakan hasil akhirnya."
Tiba-tiba A Fei tersungkur. Ia merasa sangat marah, seluruh tubuhnya terasa lemas. Lim Sian-ji memandang wajahnya, air matanya seolaholah akan menetes.
"Aku tahu, hal ini pasti membuatmu sangat marah, tapi aku tidak dapat menyembunyikannya dari dirimu. Aku ingin mempersembahkan diriku padamu suci dan tidak bernoda, tapi…."
Ia merayap ke atas dada A Fei dengan air mata di wajahnya dan berkata.
"Kini aku menyesal menunggu terlalu lama. Walaupun semuanya itu demi engkau, kini aku…."
Tiba-tiba A Fei berseru.
"Aku tahu bahwa semuanya itu demi diriku. Oleh sebab itu, aku bersumpah akan mengembalikan kesucianmu kepadamu."
"Kesucian tidak mungkin didapatkan kembali!"
Sahut Lim Sian-ji.
"Bisa, aku punya cara."
Ia mengepalkan tangannya dan berkata dengan tegas.
"Jika aku membunuh Siangkoan Kim-hong, jika aku membunuh orang yang telah menodaimu, maka kau akan kembali suci bersih…"
Ia berhenti bicara, karena tiba-tiba terdengar suara tawa melengking dari luar jendela.
"Kalau begitu, kau harus siap membunuh banyak sekali orang!"
Terdengar suara lain menambahkan.
"P-e-l-a-c-u-r itu selamanya tidak pernah bersih! Selain engkau, semua lelaki yang pernah melihatnya, pernah juga tidur dengan dia!"
Suara yang ketiga menambahkan.
"Jika kau ingin membunuh semua orang yang pernah tidur dengan dia, sekalipun kau bunuh 80 orang sehari, sampai tua pun kau belum akan selesai!"
Rumah itu memiliki tiga jendela, dan ketiga orang itu berada di balik tiap-tiap jendela.
Ketiga suara itu berbeda, tapi ada juga kesamaannya yang aneh.
Melengking dan sember.
Siapapun yang mendengarnya pasti merasa mual.
A Fei segera bangkit berdiri dan menutupi tubuh Lim Sian-ji dengan selimut.
Ia menendang sebuah bantal yang kemudian menggulingkan sebatang lilin di atas meja.
Dengan suara tajam ia bertanya.
"Siapa kalian?"
Sebenarnya ia ingin segera memburu keluar, namun setelah ia berdiri ia memutuskan untuk tetap berada di samping Lim Sian-ji. Ketiga orang di luar sana kembali tertawa tergelak.
"Jangan bilang bahwa kau kuatir kami akan melihat tubuhnya yang telanjang!"
"Baginya, sudah biasa orang memandang tubuhnya. Ia malah akan merasa tidak nyaman jika orang tidak memandang tubuhnya!" ‘Pang’. Ketiga jendela itu terpentang. Tiga larik cahaya masuk ke dalam ruangan itu, langsung tertuju pada Lim Sian-ji. Ketiganya itu adalah Lentera Kongming. Hanya terlihat cahayanya yang terang, tapi tidak terlihat dari mana datangnya atau siapa yang memegangnya. Cahayanya begitu terang menyilaukan, sampai-sampai orang sulit membuka mata. Lim Sian-ji menutup matanya dengan tangannya. Selimut katun yang menutupi tubuhnya perlahan-lahan jatuh, memperlihatkan kakinya, lalu pahanya…. Ia tidak berusaha menarik selimut itu. Ia memang tidak takut dilihat orang. A Fei mengertakkan giginya. Ia merenggut pakaiannya dan memberikannya kepada Lim Sian-ji.
"Pakailah ini."
Lim Sian-ji memutar bola matanya dan tersenyum mengejek.
"Kenapa? Apakah kau malu dengan tubuhku?"
Walaupun ia telanjang bulat, ia masih dapat tersenyum penuh percaya diri.
Ia telah menggunakan dua senjatanya yang paling mematikan.
A Fei membanting kursi ke lantai dan mengoyakkan kaki kursi itu.
Katanya.
"Siapa yang berani masuk ke sini akan mati!"
Terdengar ketiga suara itu tertawa lagi. Kali ini terdengar dari balik pintu.
"Ia masih ingin membunuh."
"Dalam kondisinya saat ini, lebih baik ia tidak berpikir untuk membunuh orang."
"Ia masih bisa membunuh satu orang….dirinya sendiri!"
Terdengar suara ‘Pang’ sekali lagi.
Kini pintu kayu yang tebal itu telah hancur berkeping-keping.
Serpihan kayu masih beterbangan saat ketiga orang itu masuk ke dalam.
Ketiganya mengenakan jubah kuning.
Ketiganya mengenakan topi bambu yang terikat erat di kepala mereka, menutupi wajah mereka.
Ini adalah penampilan khas anggota Kim-ci-pang.
Yang pertama mempunyai rantai emas yang terlibat di tangannya.
Cambuk rantai itu terdiri dari dua bagian yang dihubungkan oleh sebuah palu besi yang besar.
Yang kedua bersenjatakan golok, yang ketiga bersenjatakan pedang.
Golok Kepala Setan dan Pedang Pintu Kematian.
Ketiga senjata itu telah siap sedia, seolah-olah mereka kuatir akan melewatkan kesempatan untuk membunuh.
A Fei tiba-tiba berdiri tanpa bergerak.
Ia seperti serigala kelaparan yang mencium daging segar.
Walaupun reaksinya sudah banyak berkurang dan kekuatannya sudah melemah, naluri alamiahnya belum menjadi tumpul.
Ia telah mencium bau darah.
Lim Sian-ji terkikik geli saat berkata.
"Ah, ternyata Si Meteor Kembar Angin dan Hujan, Ketua Cabang Hiang Siong yang terkenal itu. Sungguh aku merasa terhormat."
Palu meteor kembar di tangannya terayun ringan ke depan ke belakang. Ia tampak teguh dan kokoh bagaikan gunung batu.
"Apakah Ketua Cabang Xiang datang atas perintah Siangkoan Kim-hong untuk membunuhku hari ini?"
Tanya Lim Sian-ji menantang.
"Tebakanmu memang tepat,"
Jawab Hiang Siong. Lim Sian-ji mengeluh dan berkata.
"Aku tidak percaya kalau Siangkoan Kim-hong ingin membunuhku sesegera ini."
Sahut Hiang Siong.
"Orang yang tidak berguna lagi, harus mati."
"Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku untuk alasan itu."
"Hmmm?"
"Ia ingin aku mati karena ia kuatir aku akan menemukan laki-laki lain dan menodai reputasinya."
Hiang Siong menjawab dingin.
"Perintah Siangkoanpangcu tidak perlu penjelasan. Hanya perlu dilaksanakan."
Lim Sian-ji melirik A Fei sekilas dan berkata.
"Kalian bertiga menerobos masuk ke sini untuk membunuhku, karena kalian pikir ia tidak bisa lagi melindungi aku."
Jawab Hiang Siong.
"Dia boleh mencoba."
"Tidak ada gunanya mencoba,"
Kata yang bersenjatakan golok sambil tertawa dingin.
"Hmmm?"
"Kau sendiri sudah mengatakan di depan mukanya. Kau pun tidak percaya bahwa ia dapat melindungimu. Kita semua pun tahu itu. Apa gunanya mencoba?"
Lim Sian-ji tertawa dan berkata.
"Benar. Bahkan saat ini, melindungi diri sendiri saja dia tidak bisa. Aku hanya akan mempersulit dia, kecuali….."
Perlahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya yang telanjang diterangi cahaya lentera dan melanjutkan.
"Kalian pikir aku tidak dapat melindungi diriku sendiri?"
Payudaranya tegak menantang, kakinya lurus jenjang.
Di bawah cahaya lentera, kulitnya tampak putih mulus bagaikan kain sutra yang mahal.
Memang pantas ia bangga akan kemolekan tubuhnya.
Wajah A Fei berkerut kesakitan.
Keringat dingin, hampir sebesar butiran kacang poLiong mulai mengalir dari dahinya.
Tangan Lim Sian-ji perlahan bergerak turun membelai tubuhnya sendiri.
Dengan suara serak ia berkata.
"Tidak sayangkah jika kalian bertiga membunuhku?"
Hiang Siong mengeluh dan berkata.
"Ada wanita yang menggunakan tubuhnya untuk membeli barang-barang tertentu. Waktu memilih minyak wangi, atau mencoba baju baru, dan mereka tidak malu. Tapi kau sama sekali berbeda."
"Tentu saja aku berbeda."
"Kau jauh lebih murah hati dibandingkan mereka. Kau menggunakan tubuhmu untuk membayar hal-hal sepele. Selama hatimu senang, kau akan memuaskan nafsu pegawai rendahan yang membukakan pintu untukmu,"
Kata Hiang Siong.
"Apakah kau ingin minta bayaran?"
Lim Sian-ji berjalan perlahan ke arahnya dan berkata.
"Mari datang dan ambillah. Kalau aku ingin membayar sedikit upah untukmu, tidak ada yang akan bilang itu terlalu sedikit."
Hiang Siong berdiri tegak seperti sebatang pohon.
Lim Sian-ji berjalan ke hadapannya dan mulai menciumi lehernya.
Namun Hiang Siong menyerang tiba-tiba.
Palunya menghantam dada Lim Sian-ji.
Tubuh Lim Sian-ji terpelanting, dan jatuh tepat di atas ranjang!
Topi bambu lepas dari kepala Hiang Siong, dan tampaklah wajahnya.
Seraut wajah putih pucat, penuh kerut merut, tapi tanpa sehelai rambut atau bulu di wajahnya.
Tiba-tiba Lim Sian-ji tergelak dan berkata.
"Tidak heran kaulah yang dikirim Siangkoan Kim-hong untuk membunuhku. Kau bukan lelaki, bukan juga perempuan! Kau setengah lelaki-setengah perempuan. Dasar orang aneh!"
Hiang Siong menatapnya dingin, tanpa perasaan di wajahnya. Setelah beberapa saat ia berpaling pada A Fei dan berkata.
"Lebih baik kau pergi dulu."
"Pergi?"
Tanya A Fei.
"Jangan bilang kau masih ingin melindungi p-e-l-a-c-u-r ini."
A Fei menundukkan kepalanya.
"Sebaiknya kau pergi sekarang. Lebih baik kau tidak berada di sampingnya saat aku membunuh dia."
"Kenapa?"
"Karena kau pasti ingin muntah waktu melihatnya,"
Jawab Hiang Siong dengan garang.
A Fei terdiam, lalu kembali menundukkan kepalanya.
Lim Sian-ji pun sudah berhenti tertawa.
Saat ini, ingin tertawa pun tidak bisa lagi.
Saat itulah A Fei menyerang!
Naluri A Fei masih amat tajam.
Ia benar-benar memilih saat yang tepat untuk menyerang.
Sayangnya, gerakannya lambat dan tenaganya lemah.
Selarik cahaya emas berkelebat dan meteor kembar pun menyambar.
Serpihan kayu kembali beterbangan dan kaki kursi di tangan A Fei sudah hancur.
"Perintah yang kuterima adalah membunuhnya, bukan membunuhmu. Kau masih hidup karena aku tidak suka ikut campur,"
Kata Hiang Siong dingin.
A Fei menggenggam erat dua serpihan kayu di tangannya, bagaikan orang yang sekarat berpegangan pada harapannya yang terakhir.
Tapi harapan apakah ini?
Dulu ia adalah sang pembunuh.
Kini ia tidak bisa lagi membunuh.
Bahkan di mata orang lain, ia pun tidak berharga lagi untuk dibunuh.
Ini tandanya ia tidak berguna lagi di mata orang lain.
Apakah dia mati atau hidup, tidak ada bedanya.
‘Begitu sulit untuk merangkak ke atas, bergitu mudah untuk jatuh ke bawah’.
Tiba-tiba A Fei teringat saat ia pergi untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan.
Saat pertama kali ia beradu pedang dengan Hing Bu-bing….
Saat itu, tidak ada yang berani meremehkan dia.
Tapi sekarang?
Kejadian itu baru beberapa hari yang lalu saja, namun rasanya seperti kenangan masa silam.
Suara Hiang Siong pun terdengar seperti datang dari kejauhan.
"Kalau mau, kau boleh tetap di sini dan menyaksikannya. Akan kuperlihatkan bagaimana seorang pembunuh membunuh orang."
Tiba-tiba sebuah suara yang lain masuk ke dalam ruangan itu.
"Dan kau adalah ahli dalam hal membunuh? Kurasa kau belum pantas disebut pembunuh!"
Bab 75.
Antara Hidup dan Mati Suara itu monoton dan datar.
Tidak tinggi, tidak rendah.
Tidak mengandung emosi sedikitpun.
Hiang Siong kenal baik dengan suara ini.
Satu-satunya orang yang bersuara seperti ini adalah Hing Bu-bing!
Hing Bu-bing!
Hiang Siong terperanjat.
Ia menoleh perlahan….betul, Hing Bu-bing adanya!
Pakaiannya tampak lusuh.
Ia kelihatan lelah dan letih.
Namun matanya…..
Matanya yang kelabu mati masih tetap dingin seperti sedia kala.
Tatapannya masih dapat membuat darah orang yang dipandangnya membeku seketika.
Hiang Siong mengalihkan pandangan dari matanya ke tangannya.
Tangan kirinya masih digendong dengan kain pembalut.
Warnanya terlihat kelabu seperti abu, seperti tangan yang menggapai-gapai dari liang kubur.
Tangan ini dulu bisa membunuh, namun kini hanya membuat mual orang yang melihatnya.
Hiang Siong tertawa kecil dan berkata.
"Walaupun aku mungkin tidak mengerti cara yang canggih membunuh orang, setidaknya aku masih bisa membunuh. Mungkin Hing-siansing tahu cara yang canggih membunuh orang, tapi sayangnya, membunuh tidak bisa dilakukan dengan mulut, harus dengan tangan."
Mata Hing Bu-bing menyipit. Ia menatap Hiang Siong dan berkata perlahan.
"Kau tidak melihat tanganku?"
"Ada banyak macam tangan. Apa yang kulihat adalah tangan yang tidak bisa membunuh."
"Kau pikir tangan kananku tidak dapat membunuh?"
"Ada banyak macam manusia juga. Ada yang mudah dibunuh, ada yang tidak."
Tanya Hing Bu-bing.
"Macam manakah engkau?"
Hiang Siong mengalihkan pandangannya dan berkata dingin.
"Macam yang tidak bisa kau bunuh."
Matanya penuh kebencian, seolah-olah ingin memancing Hing Bu-bing untuk menyerang.
Seolah-olah mencari-cari alasan untuk membunuhnya.
Tiba-tiba Hing Bu-bing tertawa terbahak-bahak.
Ia sama seperti Siangkoan Kim-hong.
Ia tampak lebih mengerikan saat tertawa.
Tanpa sadar Hiang Siong mundur selangkah.
Kata Hing Bu-bing.
"Jadi selama ini kau membenciku?"
Hiang Siong mengertakkan giginya dan berkata.
"Rasanya tidak banyak orang di dunia ini yang tidak membenci dirimu."
"Dan kau ingin membunuhku?"
"Dalam hal ini, aku juga bukan satu-satunya."
"Lalu mengapa menunggu sampai sekarang?"
"Kau harus menunggu kesempatan yang terbaik untuk membunuh. Seharusnya kau lebih mengerti akan hal ini daripada siapapun juga."
Tanya Hing Bu-bing.
"Dan kau pikir kesempatan itu sudah datang sekarang?"
Sahut Hiang Siong.
"Benar."
Hing Bu-bing mengeluh dan berkata.
"Sayangnya aku punya rahasia yang tidak kau ketahui."
"Rahasia apa?"
Mata Hing Bu-bing tertuju pada lehernya saat berkata.
"Tangan kananku pun bisa membunuh. Sebenarnya, dibandingkan dengan tangan kiri, tangan kananku bisa membunuh lebih cepat!"
Saat mengucapkan kata yang terakhir, pedangnya telah menembus leher Hiang Siong!
Tidak ada yang melihat dari mana datangnya pedang itu dan bagaimana pedang itu menembus leher Hiang Siong.
Yang terlihat hanyalah selarik sinar dan semburan darah.
Dengan suara ‘Ge’, nafas Hiang Siong berhenti.
Matanya seolah-olah hendak melompat keluar.
Mata Si Golok Kepala Setan dan Si Pedang Pintu Kematian pun terlihat hendak melompat keluar.
Keduanya perlahan-lahan mundur ke arah pintu.
Hing Bu-bing tidak menoleh.
Ia berkata dingin.
"Kalian berdua berpikir masih bisa pergi setelah mengetahui rahasiaku?"
Selarik sinar kembali berkelebat!
Darah muncrat membasahi lantai.
Di bawah cahaya lentera, butiran-butirannya bagaikan untaian mutiara merah yang berkilauan.
Obat yang manjur rasanya selalu pahit, dan racun yang mematikan selalu manis bagai madu.
Ada hal-hal tertentu dalam hidup ini yang tidak dapat dimengerti….bahkan hal-hal yang sangat jelek dan menjijikkan, jika dilihat dari sudut pandang lain bisa tampak indah dan berharga.
Itulah sebabnya, pedang yang membunuh selalu tampak berkilau dan darah yang tercurah selalu tampak gemerlapan.
Itulah sebabnya ada pepatah, ‘Kecantikan pudar dalam sekejap mata.
Hanya keahlian sejati yang bertahan abadi’.
‘Keahlian sejati’ tidak pernah tampak cantik.
Pedang yang membunuh sama saja dengan pisau pemotong sayuran.
Dua-duanya terbuat dari baja yang sama.
Perbedaannya adalah sedalam apa kau melihatnya.
Ada juga pepatah yang mengatakan, ‘Biarkan aku menikmati sekejap saja kecantikan itu.
Biarkanlah hal-hal yang abadi menunggu sampai selamanya, mereka tidak berguna bagiku’.
Beberapa saat yang lalu, Hiang Siong adalah Si Meteor Kembar Angin dan Hujan yang sangat disegani, Ketua Cabang Kedelapan Kim-ci-pang.
Tapi kini, ia hanyalah seorang mati.
Tidak banyak berbeda dari orang-orang mati yang lain.
Hing Bu-bing memandangi mayatnya.
Air mukanya berubah agak aneh.
Seolah-olah baru pertama kali melihat orang mati.
Apakah ini pertama kalinya ia merasakan ‘kematian’?
Apakah setelah orang merasa benar-benar sebatang kara, barulah ia dapat merasakan ‘kematian’?
Lim Sian-ji menghela nafas panjang.
Ia telah menahan nafas sangat lama.
Baru kini akhirnya ia berani menghembuskan nafas lega.
Ia tersenyum manis pada Hing Bu-bing dan berkata.
"Aku tidak menyangka bahwa kau akan datang untuk menyelamatkan aku."
Hing Bu-bing tidak mengangkat kepalanya. Ia menyahut dingin.
"Kau pikir aku datang untuk menyelamatkanmu?"
Lim Sian-ji mengangguk dan berkata.
"Aku tahu maksudmu."
Perlahan Hing Bu-bing mengangkat wajahnya dan berkata.
"Apa yang kau tahu?"
"Kau menyelamatkan aku karena Siangkoan Kim-hong ingin membunuhku."
Hing Bu-bing terus menatapnya.
"Kau membencinya. Jadi apapun yang direncanakannya, kau akan menggagalkannya."
Hing Bu-bing masih terus menatapnya.
"Bahkan sekarang pun, aku tahu orang macam apakah engkau. Dan akupun tahu bahwa Siangkoan Hui mati dalam tanganmu."
Mata Hing Bu-bing beralih pada pedangnya. Katanya.
"Kau tahu terlalu banyak."
Lim Sian-ji tertawa dan berkata.
"Aku pun tahu kau tidak akan membunuhku. Karena jika kau membunuhku, kau melakukan apa yang diinginkan Siangkoan Kim-hong."
Ia tersenyum lembut dan menambahkan.
"Kau tidak hanya akan membiarkan aku hidup, kau juga akan membawaku pergi bersamamu. Betul kan?"
"Membawamu pergi bersamaku?"
"Karena jika kau tidak ingin aku mati di tangan Siangkoan Kim-hong, dan kaupun tidak ingin aku membocorkan rahasiamu, kau tidak punya pilihan. Kau harus membawaku pergi bersamamu."
Suaranya menjadi makin lembut dan merayu.
"Sepenuh hati, aku rela pergi bersamamu. Ke mana pun juga kau pergi, aku akan ikut."
Hing Bu-bing terdiam sesaat, lalu melirik A Fei.
Seolah-olah ia baru menyadari A Fei ada di situ.
Lim Sian-ji pun meliriknya.
Ia menghampiri A Fei dan mencium pipinya.
Lim Sian-ji tidak berbicara apa-apa lagi.
Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
Lalu ia pergi keluar mengikuti Hing Bu-bing.
A Fei diam tidak bergerak.
Mulutnya terasa kering.
Ia terus mematung.
Sinar matahari masuk melalui jendela.
Hari sudah pagi.
A Fei masih tidak bergerak.
Ia terbaring di lantai basah kuyup oleh darah dari mayat di sampingnya.
Ia tergantung di antara hidup dan mati hanya dengan seutas benang…… *** ‘Tanggal X X, sepuluh li di luar tembok barat, di bawah pohon dekat paviliun.
Siangkoan Kim-hong’ Musim dingin telah tiba.
Angin barat bertiup merontokkan sisa-sisa daun kering yang tersisa di atas pohon.
Surat itu berwarna sama seperti daun kering yang menguning.
Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 0384779408
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 2