Eps 8 Pisau Terbang Li - Gu Long
Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long
Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.
Hing Bu-bing melirik pada Liong Siau-hun dan putranya, lalu berkata dingin.
"Orang yang licik tidak pantas menjadi pembunuh."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau boleh pergi sekarang."
Tanya Hing Bu-bing.
"Mengapa kau tidak membunuh aku?"
"Karena kau tidak bermaksud untuk membunuh sahabatku."
Hing Bu-bing menundukkan kepalanya dan memandang pisau di bahunya. Katanya.
"Namun aku berniat untuk membuat tangannya cacad."
"Aku tahu."
"Tapi luka di bahuku sangat sangat ringan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Jika seseorang memberiku sepeser, aku akan membayar kembali tiga peser."
Hing Bu-bing mengangkat kepalanya lagi dan menatap Li Sun-Hoan.
Walaupun ia tidak mengatakan apa-apa, suatu perubahan aneh terjadi di matanya.
Ia memandang Li Sun-Hoan seperti ia memandang Siangkoan Kim-hong.
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku juga ingin memberi tahu padamu dua hal."
"Apa?"
"Walaupun aku telah melukai 67 orang, 28 dari mereka tidak mati. Mereka yang mati, memang pantas mati."
Hing Bu-bing terdiam. Li Sun-Hoan terbatuk-batuk kecil beberapa kali. Lalu lanjutnya.
"Aku belum pernah salah membunuh orang dalam hidupku! Oleh sebab itulah….kuharap kau pun berpikir dua kali sebelum membunuh orang."
Hing Bu-bing terdiam cukup lama. Lalu katanya.
"Aku pun ingin mengatakan sesuatu."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku mendengarkan."
"Aku tidak pernah menerima kebaikan orang lain, ataupun pengajaran orang lain!"
Pada saat yang sama ia menghunjamkan pisau itu dengan tangannya.
Pisau itu menembus tubuhnya sampai ke belakang.
Darah pun tersembur keluar.
‘Tang’, pedang pun jatuh ke tanah.
Tubuh Hing Bu-bing gemetar beberapa saat, namun wajahnya tetap kosong.
Ia tidak menunjukkan rasa sakit sedikitpun.
Tidak di wajahnya, tidak di tubuhnya.
Ia tidak mengatakan sepatah katapun, dan tidak memandang kepada siapapun.
Ia hanya melangkah keluar ruangan.
Pendekar?.....
Seperti apakah pendekar itu?
Apakah arti seorang pendekar?
Seorang pendekar biasanya menggambarkan seorang yang dingin, brutal, kesepian, tanpa perasaan.
Seseorang pernah berkata begini tentang pendekar.
‘Membunuh orang seolah-olah mereka hanya rumput kering, berjudi seperti tidak ada hari esok, minum arak yang terlezat, mengambil tanpa penyesalan’.
Tentu saja tidak semua pendekar seperti ini.
Ada juga yang berbeda.
Namun ada berapa banyak pendekar semacam Li Sun-Hoan?
Mungkin hanya ada satu hal yang pasti ditemukan dalam semua pendekar.
Hidup mereka sungguh menyedihkan.
A Fei menghela nafas panjang.
Katanya.
"Mungkin ia tidak akan bisa menggunakan pedang lagi dalam hidupnya."
Kata Li Sun-Hoan.
"Ia masih punya tangan kanan."
Sahut A Fei.
"Tapi ia sudah terbiasa menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya pasti jauh lebih lambat."
Ia mendesah lagi dan menambahkan.
"Bagi ahli pedang, ‘lambat’ berarti ‘mati’."
Padahal biasanya A Fei tidak pernah mendesah. Namun kini, ia bukan hanya mendesah bagi Hing Bubing, namun juga bagi dirinya sendiri. Li Sun-Hoan mengawasinya, lalu berkata.
"Jika seseorang punya kemauan kuat, walaupun ia tidak punya tangan, ia masih bisa memainkan pedang dengan mulutnya. Tapi jika ia patah semangat, walaupun ia punya dua tangan, keduanya tidak berguna sama sekali."
Ia terkekeh dan melanjutkan.
"Banyak orang di dunia ini memiliki dua tangan yang sehat. Namun berapa dari tangan-tangan itu yang memiliki kecepatan kilat?"
A Fei mendengarkan dengan seksama. Setelah beberapa saat matanya mulai berbinar-binar. Tiba-tiba ia berlari ke samping Li Sun-Hoan dan mencengkeram lengannya. Katanya.
"Aku mengerti maksudmu."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku tahu kau pasti mengerti."
Saat ia mengatakannya, air mata mengalir membasahi wajah kedua laki-laki itu.
Jika ada orang lain yang melihat adegan ini, hati mereka pun pasti tergerak.
Sayang sekali Liong Siau-hun dan putranya bukan orang semacam ini.
Diam-diam mereka berusaha kabur.
Li Sun-Hoan memunggungi mereka.
Sepertinya ia tidak tahu apa yang mereka lakukan.
A Fei memandang mereka sekilas saja, dan tidak berkata apa-apa.
Setelah mereka keluar, A Fei baru mendesah dan berkata.
"Aku tahu kau pasti melepaskan mereka pergi."
Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya.
"Ia pernah menyelamatkan aku satu kali."
"Ia menyelamatkanmu sekali, namun ia telah menyakitimu berkali-kali."
Li Sun-Hoan terkekeh lagi.
"Bukannya aku lupa. Tapi lebih baik aku tidak mengingat-ingatnya, karena ia pun memiliki kesusahannya sendiri."
A Fei berpikir sejenak, lalu tersenyum.
"Akhirnya aku menyadari bahwa ada begitu banyak ketidakadilan dalam dunia ini."
"Ketidakadilan?"
"Ya, ketidakadilan. Misalnya, ada orang yang selalu melakukan kebajikan dalam hidupnya, namun melakukan satu kesalahan. Satu kesalahan inilah yang akan mengikuti dia seumur hidupnya. Orang lain tidak bisa mengampuninya, dia pun tidak bisa mengampuni dirinya sendiri."
Li Sun-Hoan terdiam. Ia tahu, kata-kata A Fei sungguh benar adanya. A Fei melanjutkan.
"Namun ada juga orang-orang seperti Liong Siau-hun. Mungkin hanya satu kali ia berbuat kebaikan dalam hidupnya, yaitu dengan menolongmu satu kali itu. Dan kau tidak pernah berpikir bahwa dia orang jahat."
Kini Li Sun-Hoan menyadari maksud A Fei mengatakan semuanya itu.
Ia sedang membela Lim Sian-ji.
Ia merasa Lim Sian-ji hanya melakukan satu kesalahan dalam hidupnya, namun Li Sun-Hoan tidak dapat memaafkannya.
Memang cinta itu luar biasa.
Kadang manis, kadang pahit, kadang mengerikan….
Ia bisa membuat pikiran orang menjadi bodoh, membuat mata menjadi buta.
Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa sumbang.
Katanya.
"Ada kenangan yang begitu mudah terlupakan, namun ada juga yang teringat sampai selama-lamanya."
A Fei menghela nafas. Katanya.
"Itu karena kau menolak untuk mengingat kenangan-kenangan tertentu."
A Fei memang masih muda, namun pandangannya tentang hidup terkadang lebih dalam daripada orangorang yang lebih tua. Kata Li Sun-Hoan.
"Jika kau berusaha melupakan hal-hal tertentu, pikiranmu malah akan terus memikirkan tentang hal itu. Seseorang tidak bisa memilih apa yang ingin diingatnya. Mungkin ini adalah salah satu duka kehidupan."
Tanya A Fei.
"Bagaimana dengan engkau? Apakah kau secara jujur hanya mengingat bahwa ia telah menyelamatkanmu? Apakah kau sungguh melupakan perbuatannya yang lain?" *** Ketika Liong Siau-hun dan putranya berhasil lolos, mereka berdua sungguh merasa puas. Liong Siau-hun tidak dapat menahan senyumnya dan berkata.
"Ingat, kau harus selalu memanfaatkan kelemahan orang lain. Jika kau bisa memanfaatkan lawanmu, kau tidak akan pernah kalah."
Anaknya menjawab.
"Aku sudah tahu semua kelemahan Li Sun-Hoan."
Sahut ayahnya.
"Jadi kita pasti akan mengalahkannya, cepat atau lambat."
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Suara itu datang dari sisi atap yang lain.
Seseorang sedang duduk di atas atap sambil makan sepotong ayam.
Tidak lain adalah Oh si gila.
Matanya memandang pada paha ayam yang sedang dimakannya, bukan pada Liong Siau-hun atau putranya.
Seolah-olah paha ayam itu lebih menarik baginya.
Katanya.
"Kalian tidak perlu buru-buru kabur. Li Sun-Hoan tidak akan mengejar. Kalau tidak, mana mungkin ia membiarkan kalian keluar dari sana?"
Wajah Liong Siau-hun berubah bengis. Kini ia tahu bagaimana Li Sun-Hoan mendapatkan tenaga. Namun ia tidak bisa menuduh Oh si gila. Liong Siau-hun terpaksa terkekeh dan berkata.
"Aku minta maaf kalau kau harus mengurus Toako beberapa hari ini."
Sahut Oh si gila.
"Tidak jadi soal. Li Sun-Hoan tidak makan banyak. Ia hanya makan dua paha ayam dan sekerat roti setiap hari. Lagi pula, kau menempatkan orang tolol untuk menjaga pintu. Aku hanya perlu menutup Hiat-to (jalan darah) tidurnya dua kali sehari, dan ia benar-benar menyangka bahwa ia ketiduran sebentar."
Liong Siau-hun mengertakkan giginya. Ia ingin memastikan bahwa penjaga pintu itu akan tidur selamalamanya secepat mungkin. Oh si gila melanjutkan.
"Yang pasti, aku sudah membayar lunas hutang-hutangku. Kita impas sekarang. Dan aku tidak sudi berbicara dengan orang semacam dirimu lagi."
Liong Siau-hun cuma bisa pura-pura tersenyum. Kata Oh si gila.
"Tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan sebelum pergi."
"Aku mendengarkan."
"Kau memang orang busuk, namun Siangkoan Kim-hong lebih busuk lagi. Jika kau ingin menjadi saudara angkatnya, kusarankan lebih baik kau mencari tali untuk menggantung diri saja."
Ini memang perkataannya yang terakhir. Waktu kalimatnya selesai, orangnya pun telah pergi. Liong Siau-hun tersenyum, katanya menggumam.
"Aku tidak menyangka begitu banyak orang yang tahu bahwa Siangkoan Kim-hong dan aku akan mengangkat saudara." *** Mereka berjalan perlahan-lahan. Li Sun-Hoan dan A Fei tidak berbicara. Mereka tahu bahwa kadang-kadang diam itu lebih berharga daripada banyak kata-kata. Senja. Terdengar bunyi seruling. Musiknya pun bersenandung lagu-lagu musim gugur. Irama semacam ini mudah membuat orang teringat akan masa lalu, mengingatkan pada orang yang dikasihinya. Tiba-tiba A Fei berkata.
"Aku harus pulang."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Apakah dia menantikanmu?"
"Ya."
Li Sun-Hoan diam saja. Tapi tidak berapa lama, ia tidak dapat menahan pertanyaannya.
"Apakah kau yakin ia sedang menantikanmu?"
Wajah A Fei memucat. Setelah beberapa saat akhirnya ia menjawab.
"Dialah yang menyuruhku pergi untuk menyelamatkanmu."
Li Sun-Hoan terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Ia cukup memahami jalan pikiran Lim Sian-ji. Namun kali ini, ia tidak mengerti mengapa Lim Sian-ji berbuat seperti itu. Kata A Fei.
"Ada dua orang yang begitu berharga dalam hidupku. Kuharap….kau bisa berkawan dengannya."
Ia mengatakannya sepatah demi sepatah, dengan sangat lambat, dengan kepedihan di hatinya.
Melihat duka di wajahnya, hati Li Sun-Hoan pun sama pedihnya.
Hanya orang yang pernah mencintai sepenuh hati, tahu betapa besar kuasa cinta, betapa mengerikannya cinta.
Kata Li Sun-Hoan tiba-tiba.
"Aku pun ingin menemuinya."
Bibir A Fei terkatup rapat. Kata Li Sun-Hoan.
"Tapi jika kurang enak, tolong sampaikan saja terima kasihku padanya."
Akhirnya A Fei menjawab.
"Aku….Aku hanya berharap kau tidak akan menyakitinya."
Sebenarnya A Fei tidak perlu mengatakannya.
Karena ia tahu bahwa Li Sun-Hoan tidak pernah menyakiti orang lain….hanya menyakiti dirinya sendiri saja.
Namun ia tetap mengatakannya, demi Lim Sian-ji.
Ketika mereka mengangkat kepala, sejuta cahaya lilin menyambut mata mereka.
Entah bagaimana, mereka sudah berada di jalan besar yang ramai.
Jalan ini lebih ramai dan sibuk di malam hari daripada siang hari.
Ada banyak warung kecil di situ, dengan begitu banyak lilin yang menerangi barang-barang dagangan.
Sederetan gulali berkilauan di bawah cahaya lilin.
Tiba-tiba langkah Li Sun-Hoan terhenti.
Seraut wajah seakan-akan tergambar di permukaan gulali itu.
Wajah seorang gadis muda berbaju merah, dengan mata besar dan senyum ceria.
Lalu dilihatnya rumah makan yang menjual pangsit itu.
Apakah Ling Ling masih di sana?
Li Sun-Hoan merasa sangat malu karena ia sudah melupakan gadis itu sama sekali.
Ia melihat wajah A Fei sama persis seperti wajah Ling Ling ketika mereka pertama kali tiba di situ….
A Fei belum pernah mengunjungi tempat seperti ini.
Li Sun-Hoan tertawa.
Ia merasa bahagia karena sahabatnya ini ternyata belum kehilangan jiwa kanak-kanaknya.
Tiba-tiba A Fei berkata.
"Sudah lama kita tidak minum arak bersama."
"Apakah kau ingin minum sekarang?"
"Entah mengapa, kalau bersama denganmu, aku jadi ingin minum."
Lalu A Fei pun tertawa. Perasaan Li Sun-Hoan pun menjadi gembira. Katanya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke restoran pangsit di depan sana?"
A Fei tersenyum dan menjawab.
"Boleh juga. Lagi pula aku memang tidak mampu membayar yang lebih mahal."
Ada hal-hal yang aneh dalam hidup ini.
Makin jelek seorang wanita, semakin aneh tindakannya.
Makin miskin seseorang, semakin sering ia menjamu sahabatnya.
Memang menjamu seseorang adalah hal yang menyenangkan.
Sayang sekali, tidak banyak orang yang tahu bagaimana menikmatinya.
Di meja sudut itu duduk seseorang berjubah putih.
Waktu masuk, Li Sun-Hoan langsung melihatnya.
Siapapun akan tertarik melihat orang itu.
Walaupun tempat ini penuh minyak dan asap, pakaiannya tampak begitu indah dan bersih.
Jubahnya seperti baru saja dicuci.
Jubahnya tampak sederhana, namun sangat mewah.
Tapi yang paling menarik adalah gayanya.
Ia memiliki karisma yang luar biasa.
Meja-meja di sekelilingnya kosong.
Karena semua orang merasa tidak pantas duduk bersebelahan dengan dia.
Ia adalah orang yang menggunakan sekeping perak untuk mematahkan pikulan si lelaki kekar berjubah hijau tempo hari.
Orang yang memotong-motong kepingan perak menjadi serpihan kecil.
Mengapa ia masih di sini?
Apakah ia sedang menantikan seseorang?
Ia sedang mengangkat cawannya.
Pada saat Li Sun-Hoan masuk, tangannya berhenti di udara.
Matanya langsung tertuju pada wajah Li Sun-Hoan.
Di depannya duduk seseorang.
Seorang gadis berbaju merah dengan kuncir panjang.
Bab 58.
Pendekar Gadis itu mengikuti pandangan si jubah putih dan menoleh.
Ketika ia melihat Li Sun-Hoan, segera ia berlari menyongsong dan memeluk pinggang Li Sun-Hoan.
Ia tersenyum lebar.
"Aku tahu kau pasti kembali. Aku tahu kau tidak akan melupakanku."
Ling Ling sungguh-sungguh menantikannya…. Li Sun-Hoan kelihatan gembira. Ia menggenggam tangan Ling Ling dan berkata.
"Kau….Kau menungguku selama ini?"
Ling Ling mengangguk. Ia menggigit bibirnya dan berkata.
"Mengapa kau begitu lama? Kau membuatku sangat kuatir…."
Kata A Fei tiba-tiba.
"Kau sungguh-sungguh menantikan dia?"
Baru sekarang Ling Ling melihat A Fei. Wajahnya langsung berubah….. Tentu saja ia mengenali A Fei, tapi A Fei belum pernah melihatnya. Ling Ling mengejapkan matanya. Akhirnya ia berkata.
"Jika aku tidak menantikan dia, buat apa aku ada di sini?"
Sahut A Fei dingin.
"Kau bisa berada di sini untuk banyak alasan. Namun jika kau menantikan seseorang, matamu akan selalu memandang ke arah pintu. Siapapun yang sedang menantikan seseorang tidak akan duduk membelakangi pintu."
Li Sun-Hoan tidak menyangka A Fei akan berkata demikian.
A Fei tidak pernah menyakiti perasaan siapapun.
Namun perkataannya kali ini sungguh tajam, sungguh mengerikan.
Karena ia tidak tahan ada orang membohongi sahabatnya.
Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati.
A Fei memang bisa mengawasi situasi lebih tajam daripada kebanyakan orang di dunia ini.
Namun bagaimana ia bisa menjadi begitu buta di hadapan Lim Sian-ji?
Mata Ling Ling memerah.
Air mata segera meleleh di wajahnya.
Katanya.
"Jika kau sudah menunggu di tempat yang sama selama sepuluh hari, kau akan tahu mengapa aku memunggungi pintu."
Ia menyeka air matanya dan melanjutkan.
"Awalnya, hatiku selalu berdegup saat ada pelanggan yang masuk. Pikirku, ah, dia sudah kembali. Namun setelah berharihari, aku merasa jika orang yang kau tunggu tidak akan datang, apa gunanya memandangi pintu. Mengawasi pintu akan membuat perasaanmu semakin tertekan."
A Fei diam saja. Ia merasa, ia sudah kelepasan bicara. Ling Ling menundukkan kepalanya, katanya.
"Jika bukan karena Saudara Lu yang menemani aku, mungkin aku sudah menjadi gila."
Mata Li Sun-Hoan beralih pada si jubah putih, menemui tatapannya. Li Sun-Hoan berjalan menghampirinya dan berkata.
"Terima kasih…."
Si jubah putih langsung memotongnya.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku bukan tinggal untuk menemaninya, tapi untuk menunggumu."
"Menungguku?"
"Betul."
Si jubah putih tersenyum dan melanjutkan.
"Tidak banyak orang di dunia ini yang layak untuk kutunggu. Namun Li-tamhoa adalah salah satunya."
Sebelum Li Sun-Hoan sempat menyahut, Ling Ling sudah menyela.
"Aku tidak pernah memberi tahu padamu siapa dia. Dari mana kau tahu?"
Jawab si jubah putih.
"Jika kau ingin berkelana dalam dunia persilatan dan ingin hidup lebih lama, kau harus mengenal beberapa orang. Li Tamhoan Kecil adalah salah satunya."
Tanya A Fei tiba-tiba.
"Lalu siapa yang lain?"
Si jubah putih memandangnya dingin dan menjawab.
"Paling tidak, kau dan aku juga termasuk!"
A Fei memandangi kedua tangannya. Rasa letih terbayang di matanya. Ia duduk di meja sebelah dan berseru.
"Minta arak!"
Si pelayan segera menghampiri.
"Selain itu, Tuan ingin makan apa?"
Sahut A Fei.
"Arak kuning."
Setiap orang yang suka minum tahu, bahwa supaya lebih cepat mabuk, minumlah arak dengan arak.
Minum arak kuning sebagai teman minum arak.
Namun sebagian besar orang tidak berbuat demikian.
Selain orang yang sangat sedih hatinya, tidak ada orang yang ingin mabuk terlalu cepat.
Si jubah putih mengawasi A Fei lekat-lekat.
Matanya yang mencorong tajam perlahan-lahan mengendur, lalu malah kelihatan kecewa.
Namun ketika matanya sampai pada Li Sun-Hoan, kembali pandangannya menjadi waspada.
Kata Li Sun-Hoan.
"Bolehkah kutahu namamu…."
Jawab si jubah putih.
"Lu Hong-sian."
Li Sun-Hoan tidak kelihatan terkejut. Ia tersenyum dan berkata.
"Jadi kau memang benar Si ‘Ruyung Perak Leher Hangat’, Lu-tayhiap."
Sahut Lu Hong-sian dingin.
"Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati sepuluh tahun yang lalu!"
Saat itu Li Sun-Hoan tampak terkejut. Namun ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Lu Hong-sian akan menjelaskan. Lanjut Lu Hong-sian.
"Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati, namun Lu Hong-sian belum."
Li Sun-Hoan merenungkan apa arti perkataannya.
Lu Hong-sian adalah orang yang sombong.
Pek-hiau-sing menempatkan Ruyung Raja Peraknya di urutan kelima dalam Kitab Persenjataan.
Untuk orang lain, hal ini sangat membanggakan.
Namun baginya, ini adalah penghinaan.
Ia tidak bisa berada di bawah orang lain.
Namun ia juga tahu bahwa Pek-hiau-sing tidak mungkin salah.
Jadi pasti dia sendiri sudah menghancurkan Ruyung Raja Peraknya, dan menciptakan ilmu silat yang lebih mematikan.
Li Sun-Hoan perlahan-lahan mengangguk dan berkata.
"Kau benar. Aku seharusnya sudah tahu bahwa Si Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati."
Lu Hong-sian berkata dingin.
"Lu Hong-sian juga sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Namun kini ia telah dilahirkan kembali."
Mata Li Sun-Hoan berbinar, tanyanya.
"Apakah yang sudah membangkitkan Lu-tayhiap kembali?"
Lu Hong-sian mengangkat sebelah tangannya, tangan kanannya. Ia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata.
"Tangan inilah yang telah membangkitkan aku kembali."
Bagi orang lain, tangan ini kelihatan biasa saja.
Jari-jarinya panjang dan kukunya terpelihara rapi.
Terlihat sangat halus.
Sangat cocok dengan penampilan Lu Hong-siang.
Namun ketika diperhatikan lebih jauh, akan segera tampak keistimewaannya.
Warna kulit jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis agak berbeda dari yang lain.
Kulit di ketiga jari ini tampak lebih berkilauan.
Kelihatannya bahkan terbuat dari logam, bukan kulit manusia.
Namun ketiga jari itu benar-benar menyatu dengan tangannya.
Bagaimana tangan manusia yang terdiri dari kulit dan daging mempunyai tiga jari yang terbuat dari logam?
Lu Hong-sian memandangi tangannya sendiri dan mendesah.
Katanya.
"Sayang sekali Pek-hiau-sing sudah meninggal."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Memang kalau belum, kenapa?"
"Jika ia belum meninggal, aku akan bertanya padanya apakah tangan juga termasuk senjata."
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Aku mendengar perkataan lain yang menarik hari ini."
Tanya Lu Hong-siang.
"Apa perkataan itu?"
"Seseorang berkata bahwa jika suatu benda dapat membunuh, benda itu termasuk senjata tajam."
Lanjutnya.
"Tangan adalah senjata. Tapi jika tangan itu dapat membunuh, ia bukan saja merupakan senjata, ia adalah senjata tajam."
Lu Hong-sian tidak menjawab.
Bergerak sedikitpun tidak.
Namun tiba-tiba tiga jarinya itu melubangi meja.
Tanpa suara.
Cawan arak di meja tidak bergoyang sedikit pun.
Jari-jarinya menembus meja seolah-olah meja itu terbuat dari tahu.
Kata Lu Hong-sian.
"Jika tangan ini termasuk senjata, di urutan berapakah dia dalam Kitab Persenjataan?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Sulit dikatakan."
"Kenapa?"
"Karena senjata adalah untuk menyerang manusia, bukan untuk menyerang meja."
Lu Hong-sian tertawa terbahak-bahak. Tawanya dingin dan sinis. Katanya.
"Dalam pandanganku, manusia di dunia ini tidak ada bedanya dengan meja ini."
"Benarkah?"
"Tentu saja ada beberapa perkecualian."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Siapa?"
"Sebelumnya kupikir ada enam, tapi kini aku rasa hanya ada empat."
Sengaja ia melirik A Fei sebelum melanjutkan.
"Karena Kwe ko-yang sudah meninggal. Dan satu yang masih hidup tidak ada bedanya dengan orang mati."
A Fei memunggungi Lu Hong-sian, sehingga tidak tampak air mukanya. Namun saat itu, wajah A Fei berubah hijau. Ia tahu apa maksud perkataan Lu Hong-sian. Li Sun-Hoan tiba-tiba tertawa. Katanya.
"Namun orang itu pun akan bangkit kembali, dan tidak perlu menunggu sepuluh tahun."
Kata Lu Hong-sian.
"Aku ragu."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Jika kau bisa bangkit kembali, mengapa dia tidak bisa?"
"Aku berbeda."
"Apa bedanya?"
"Aku tidak ‘mati’ di tangan seorang wanita. Dan hatiku tidak pernah mati." ‘Prang’. Cawan arak di tangan A Fei pecah berantakan. Namun ia masih duduk di situ tanpa bicara. Lu Hong-sian tidak melirik sedikitpun padanya. Matanya terus tertuju pada Li Sun-Hoan. Katanya.
"Alasanku masuk kembali ke dunia persilatan adalah untuk menemukan keempat orang ini. Untuk membuktikan apakah tanganku ini dapat disebut sebagai senjata tajam. Itulah alasannya mengapa aku menunggumu di sini."
Li Sun-Hoan berpikir cukup lama sebelum bertanya.
"Kau harus membuktikannya?"
"Ya."
"Untuk siapa kau buktikan hal ini?"
"Untuk diriku sendiri."
Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya.
"Betul sekali. Seseorang bisa berdusta kepada semua orang, kecuali dirinya sendiri….."
Lu Hong-sian segera bangkit berdiri dan berkata.
"Aku tunggu kau di luar!"
Entah mengapa, semua pelanggan restoran itu sudah pergi semua. Ling Ling ketakutan setengah mati. Li Sun-Hoan bangkit perlahan-lahan. Tiba-tiba Ling Ling menarik jubahnya dan berbisik.
"Kau…. Kau benar-benar akan pergi?"
Li Sun-Hoan tersenyum pahit dan menjawab.
"Ada beberapa kewajiban dalam hidup ini yang tidak dapat dihindari."
Lalu ia memandang A Fei. A Fei tidak menoleh. Lu Hong-sian baru akan keluar pintu. Tiba-tiba A Fei berkata.
"Tunggu sebentar."
Langkah Lu Hong-sian terhenti, namun ia tidak menoleh. Katanya.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Tangan A Fei masih menggenggam erat cawan pecah tadi. Darah menetes dari tangannya. Katanya.
"Aku ingin membuktikan sesuatu. Membuktikan apakah aku hidup atau mati!"
Lu Hong-sian langsung memutar badannya. Seolah-olah ia baru menyadari keberadaan A Fei di situ. Lalu matanya memicing dan seulas senyum terbayang di sudut bibirnya. Katanya.
"Bagus. Akan kutunggu kau juga!"
Kuburan.
Ada banyak duel yang terjadi dalam dunia persilatan tiap-tiap hari.
Beragam orang berduel dengan beragam cara di berbagai tempat.
Padang rumput, hutan, kuburan….
Pertarungan hidup dan mati hampir pasti berlangsung di salah satu tempat ini.
Karena tempat ini sendiri sudah berbau kematian.
Hari sudah hampir malam.
Kabut tebal menyelimuti tempat itu.
Jubah Lu Hong-sian putih bagai salju.
Ia berdiri di depan sebuah batu nisan berwarna abu-abu.
Di tengah kabut, ia tampak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang dikirim dari neraka, datang mengantarkan surat undangan bagi orang-orang yang akan mati.
Ling Ling berdiri di samping Li Sun-Hoan.
Tubuhnya terus gemetar.
Apakah ia kedinginan?
Atau ketakutan?
Tiba-tiba A Fei berseru.
"Pergi dari sini!"
Ling Ling langsung meringkuk dan bertanya.
"Aku?"
Jawab A Fei.
"Kau."
Ling Ling menggigit bibirnya dan memandang Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan sedang memandang ke kejauhan.
Apakah hatinya sudah pergi jauh?
Ataukah kabut terlalu tebal?
Ling Ling menundukkan kepalanya dan menggumam.
"Aku tidak boleh mendengar percakapanmu?"
Jawab A Fei.
"Tidak. Tidak ada yang boleh."
Li Sun-Hoan mendesah dan berkata.
"Ia telah menemanimu selama tujuh hari. Kini kau harus menemaninya."
Ling Ling berpikir sejenak dan menghentakkan kakinya. Ia berseru.
"Kau tidak bermaksud datang atau tinggal di sini. Kalian ini memang orang-orang bodoh. Yang kalian tahu cuma membunuh. Kau bunuh aku, aku bunuh kau. Apa arti semuanya ini? Kalian pun tidak tahu mengapa kalian melakukannya…. Jika semua pendekar seperti kalian, aku berharap seluruh pendekar di dunia ini mati saja!"
Li Sun-Hoan, A Fei, dan Lu Hong-sian hanya mendengarkan saja.
Lalu mereka membiarkan gadis muda itu berlari pergi.
A Fei tidak meliriknya sedikitpun.
Setelah didengarnya langkah kakinya sudah jauh, ia berkata pada Li Sun-Hoan.
"Aku belum pernah minta apa-apa padamu, bukan?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Kau tidak pernah minta apa-apa kepada siapapun."
Kata A Fei.
"Namun aku ada permohonan saat ini."
"Katakan saja."
A Fei mengertakkan giginya. Katanya.
"Aku tidak ingin kau menghalangi aku. Aku harus melakukannya. Jika kau menghalangi aku, aku akan…aku akan mati!"
Wajah Li Sun-Hoan tampak kusut. Katanya.
"Namun kau tidak perlu melakukannya."
Kata A Fei.
"Aku harus melakukannya karena…."
Dengan penuh kepedihan ia melanjutkan.
"karena Lu Hong-sian memang benar. Jika aku terus begini, aku tidak ada bedanya dengan orang mati. Aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini lalu begitu saja."
"Kesempatan?"
"Jika aku ingin bangkit kembali, inilah kesempatanku yang terakhir."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Maksudmu tidak akan ada kesempatan lain lagi?"
A Fei menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ada. Tapi aku…. Jika aku kehilangan rasa percaya diriku hari ini, aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Jika seseorang mengalami kemunduran, ia akan merasa tertekan.
Jika seseorang merasa sangat tertekan, bagaimanapun kuatnya dia, akhirnya ia akan kehilangan semangat.
Li Sun-Hoan berpikir lama dan mengeluh.
Akhirnya ia berkata.
"Aku tahu maksudmu, tapi…."
Potong A Fei.
"Aku tahu, aku tidak lagi secepat dulu. Karena aku merasa gerak refleksku semakin lama semakin lambat dalam dua tahun ini."
Li Sun-Hoan berkata dengan lembut.
"Selama kau punya niat, segalanya pasti akan membaik lagi. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat."
"Sekarang adalah waktu yang tepat."
"Sekarang? Kenapa?"
A Fei membuka tangannya. Masih ada pecahan cawan tertancap di sana. Jawab A Fei.
"Karena tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Rasa sakit di tubuh tidak akan mengurangi rasa sakit di hati. Tapi paling tidak dapat membuat seseorang lebih waspada, lebih cepat bereaksi."
Memang benar.
Rasa sakit dapat membangkitkan pikiran manusia.
Seperti kuda tunggangan.
Jika kuda itu dicambuk, rasa sakit itu akan membuatnya lari lebih kencang.
Li Sun-Hoan terdiam sejenak dan bertanya.
"Apakah kau yakin?"
A Fei balik bertanya.
"Apakah kau tidak yakin akan kemampuanku?"
Li Sun-Hoan tertawa. Ia menepuk pundak A Fei keraskeras.
"Baiklah. Cepat kalahkan dia!"
Bab 60. Persahabatan A Fei masih berdiri di situ ragu-ragu. Akhirnya ia bertanya.
"Gadis yang tadi…..siapakah dia?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Namanya Ling Ling. Ia adalah seorang anak yang tidak bahagia."
Kata A Fei.
"Aku hanya tahu bahwa ia adalah seorang penipu."
"O ya?"
"Ia tidak sungguh-sungguh menunggumu….. Atau jika ia memang menunggumu, ia punya maksud-maksud lain."
"Begitukah?"
"Jika ia memang berada di situ untuk menunggumu, ia pasti akan merasa kuatir akan keadaanmu."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Mungkin…."
A Fei langsung memotong.
"Hanya dengan melihatmu, semua orang tahu bahwa kau baru saja mengalami kesusahan besar. Namun ia tidak pernah bertanya mengapa kau sampai begini."
Kata Li Sun-Hoan.
"Mungkin belum ada kesempatan."
"Jika ia betul-betul sayang padamu, ia tidak perlu ‘kesempatan’ untuk menanyakan keadaanmu."
Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu terkekeh.
"Kau kuatir aku akan tertipu oleh gadis itu?"
Jawab A Fei.
"Aku hanya tahu bahwa ia tidak jujur."
Li Sun-Hoan tertawa. Katanya.
"Jika kau ingin hidup lebih bahagia, lebih baik jangan berharap bahwa wanita akan jujur padamu."
Tanya A Fei.
"Menurutmu, semua wanita adalah penipu?"
Seolah-olah Li Sun-Hoan tidak ingin menjawab pertanyaan ini. Katanya.
"Jika kau pandai, jangan katakan pada wanita itu bahwa kau tahu bahwa dia berdusta. Karena apapun yang kau katakan, ia selalu siap dengan penjelasannya. Walaupun kau tidak percaya penjelasannya, sampai matipun ia tidak akan mengaku kalau ia berdusta."
Ia terkekeh lagi dan melanjutkan.
"Jadi, jika kau bertemu dengan wanita yang menipumu, paling baik adalah purapura percaya. Kalau tidak, kau hanya akan menyusahkan dirimu sendiri."
A Fei menatap Li Sun-Hoan sangat, sangat lama. Tanya Li Sun-Hoan.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
Tiba-tiba A Fei tertawa.
"Walaupun ada, tidak ada gunanya diucapkan. Kau sudah tahu apa yang akan kuucapkan."
Lalu ia segera memutar badan.
Memandang punggung A Fei, kegembiraan bergelora di hati Li Sun-Hoan.
Anak muda yang gagah ini belum tamat.
Kali ini, ia bicara banyak, namun tidak sedikitpun menyinggung Lim Sian-ji.
Apapun yang terjadi, cinta tidak dapat mengendalikan seluruh hidup seorang laki-laki.
A Fei memang laki-laki sejati.
Jika seorang laki-laki sejati merasa terhina, ia lebih baik tidak bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya, lebih baik hidup menyepi, lebih baik mati.
Karena ia tidak akan punya muka bertemu dengan wanita itu.
Namun apakah A Fei benar-benar dapat mengalahkan Lu Hong-sian?
Jika ia kalah, meskipun Lu Hong-sian tidak membunuhnya, dapatkah ia terus hidup?
Li Sun-Hoan membungkukkan badannya dan mulai terbatuk-batuk.
Batuk darah.
Lu Hong-sian sudah berdiri menunggu.
Ia tidak berkata apa-apa.
Orang ini cukup sabar.
Lawan yang sabar adalah lawan yang mematikan.
A Fei segera merobek pakaiannya dan membalut luka di tangannya.
Pecahan cawan itu masuk semakin dalam ke dagingnya.
Darah, dalam kabut setebal apapun, masih merah menyala!
Hanya darah segar yang dapat membangkitkan kekuatan primitif dalam diri manusia.
Yang lain, seperti cinta atau benci, juga bisa membangkitkannya.
Namun darah adalah cara yang paling cepat dan tepat.
Seolah-olah A Fei telah kembali ke alam bebas yang buas.
Jika kau ingin tetap hidup, lawanmu harus mati.
Lu Hong-sian mengawasi A Fei yang datang mendekat.
Tiba-tiba ia merasa suatu kekuatan meLingkupinya.
Ia merasa bahwa yang datang ini bukanlah manusia, melainkan binatang buas.
Binatang buas yang terluka!
‘Perbedaan antara sahabat dan musuh sama dengan perbedaan antara hidup dan mati.’ ‘Jika seseorang menginginkan kematianmu, bunuhlah dia lebih dulu.
Tidak ada pilihan lain!’ Inilah hukum rimba.
Inilah cara bertahan hidup.
Tidak ada belas kasihan dalam situasi seperti ini.
Darah terus mengucur, tidak berhenti.
Otot-otot A Fei gemetar karena kesakitan.
Selain lengannya, seluruh tubuhnya diam tidak bergerak.
Tatapan matanya semakin lama semakin dingin.
Lu Hong-sian tidak bisa mengerti bagaimana anak muda ini dapat berubah drastis dalam sekejap.
Namun ia tidak mengerti gaya ilmu pedang A Fei.
Kunci dari ilmu pedang A Fei bukanlah ‘cepat’ atau ‘kejam’, namun ‘tiba-tiba’ dan ‘akurat’.
Tusukan yang pertama harus mematikan, paling tidak 70% kemungkinan berhasil.
Oleh sebab itulah ia harus ‘menunggu’!
Menunggu sampai lawannya memperlihatkan titik kelemahan mereka, menunggu kesempatan yang terbaik untuk menyerang.
A Fei bisa menunggu jauh lebih lama dari kebanyakan orang di dunia ini.
Akan tetapi, Lu Hong-sian sudah bertekad bulat, tidak akan memberi kesempatan sedikitpun padanya.
Kelihatannya Lu Hong-sian sedang berdiri dengan santai di sana.
Seolah-olah seluruh tubuhnya penuh kelemahan, terbuka untuk diserang.
Seolah-olah pedang A Fei dapat menusuk tempat mana pun pada tubuhnya.
Namun ketika seseorang kelihatan penuh dengan kelemahan, ia sebenarnya tidak punya titik kelemahan tertentu.
Tubuhnya telah menjadi sangat fleksibel.
Bisa menjadi ‘fleksibel’ adalah kemampuan tertinggi dari ilmu silat.
Li Sun-Hoan memandang dari jauh dengan hati yang risau.
Lu Hong-sian memang pantas untuk menjadi sombong.
Li Sun-Hoan cukup terkejut melihat kehebatan ilmu silatnya.
Ia tidak tahu bagaimana A Fei bisa mengalahkannya….karena A Fei tidak punya kesempatan sama sekali untuk menyerang.
Malam bertambah larut.
Tiba-tiba secercah sinar tampak di tengah-tengah padang rumput itu.
Kebakaran hutan!
Angin bertiup dari arah barat.
Kebetulan wajah Lu Hongsian menghadap ke arah barat.
Angin bertiup membawa sepercik api ke wajah Lu Hongsian.
Mata Lu Hong-sian berkedip.
Tangan kirinya bergerak sedikit, seperti akan menyeka percikan api itu, namun segera berhenti.
Dalam duel hidup dan mati, gerakan-gerakan yang tidak perlu dapat mendatangkan bahaya bagi diri sendiri.
Namun walaupun tangannya hanya bergerak sedikit, otot tangan kirinya sudah mengejang karena ‘sudah akan bergerak’.
Ini membuat fleksibilitas totalnya menjadi berkurang.
Walaupun ini bukanlah kesempatan yang terbaik, ini lebih baik daripada tidak ada kesempatan sama sekali.
A Fei tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Pedang segera melesat!
Serangan ini sangat menentukan.
Seluruh hidup A Fei bergantung dari berhasil atau tidaknya serangan ini.
Jika berhasil, ia akan menemukan kembali jati dirinya, membersihkannya dari semua kekalahan sebelumnya.
Jika gagal, ia tidak akan pernah bisa memiliki kepercayaan diri lagi.
Walaupun ia hidup, mungkin kematian akan lebih baik baginya.
Oleh sebab itu, ia harus berhasil.
Ia tidak boleh gagal.
Namun apakah ia bisa berhasil?
Selarik cahaya berkilat, lalu berhenti.
Pedangnya patah.
A Fei melangkah mundur.
Pedang yang patah itu masih tergenggam di tangannya.
Patahannya terjepit di antara jari-jari Lu Hong-sian.
Namun ujungnya tertanam di bahu Lu Hong-sian.
Walaupun ia berhasil menangkis serangan pedang A Fei, Lu Hong-sian terlambat sedikit.
Darah mengucur dari bahu Lu Hong-sian.
Akhirnya A Fei berhasil.
Wajah A Fei berbinar aneh…..cahaya kemenangan.
Wajah Lu Hong-sian kosong.
Ia melotot ke arah A Fei.
Patahan pedang itu masih tertancap di bahunya, tapi ia tidak berusaha mencabutnya.
A Fei berdiri tidak bergerak.
Ia tidak berusaha menyerang lagi.
Seluruh kegalauan hatinya telah lenyap bersama dengan serangannya yang pertama tadi.
A Fei hanya menginginkan ‘kemenangan’ bukan ‘pembunuhan’.
Seolah-olah Lu Hong-sian masih menunggu A Fei untuk menyerang lagi.
Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata.
"Bagus. Bagus sekali."
Semua orang akan merasa bahagia, merasa bangga, dipuji oleh orang sekaliber Lu Hong-sian. Sebelum pergi, tiba-tiba Lu Hong-sian berkata.
"Perkataan Li Sun-Hoan sungguh tepat. Ia pun tidak salah menilai engkau!"
Apa maksudnya? Apa yang dikatakan Li Sun-Hoan padanya? Akhirnya Lu Hong-sian menghilang ditelan malam. Li Sun-Hoan tersenyum. Ia menepuk pundak A Fei dan berkata.
"Lihat, kau masih seperti dulu. Aku kan sudah bilang tidak ada yang dapat menghalangimu. Ingatlah, tiap orang punya masa-masa suramnya. Jangan biarkan hal itu mempengaruhi pikiranmu."
Lalu tambahnya.
"Kini kau bisa mulai hidup baru. Aku yakin sepenuhnya padamu…."
A Fei memotong perkataannya.
"Kau pikir aku tidak akan pernah kalah?"
Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab.
"Kelihaian Lu Hong-sian tiada tandingannya. Jika ia tidak mampu menghidar dari pedangmu, siapa yang bisa?"
Kata A Fei.
"Tapi…..sebetulnya aku tidak merasa betulbetul menang."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak secepat dulu lagi."
"Siapa yang bilang?"
"Tidak perlu ada yang bilang. Aku sendiri bisa merasakannya….."
Matanya masih tertuju ke arah perginya Lu Hong-sian. Lanjutnya.
"Aku merasa, sebenarnya ia bisa mengalahkan aku. Tidak mungkin ia selambat itu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Mungkin ia memang lebih hebat daripadamu. Tapi kau telah memanfaatkan kesempatan yang terbaik untuk menyerang. Di situlah kau lebih unggul. Itulah sebabnya kau menang!"
Ia terkekeh dan menambahkan.
"Itu sebabnya Lu Hongsian mengaku kalah tanpa protes. Bagaimana mungkin kau masih meragukan pujiannya?"
Akhirnya A Fei tersenyum. Bagi seseorang yang sudah melalui penderitaan yang begitu berat, apa yang lebih menyejukkan daripada dukungan seorang sahabat? Kata A Fei.
"Kita harus merayakannya. Apa lagi yang lebih pantas daripada minum arak?"
Li Sun-Hoan tertawa, sahutnya.
"Kau benar. Sudah tentu kita harus minum arak. Perayaan tanpa arak adalah seperti sayur tanpa garam…."
A Fei tersenyum. Katanya.
"Sebenarnya perayaan macam itu akan terasa lebih hambar daripada sayur tanpa garam."
Kini A Fei pun terlelap.
Arak memang minuman yang aneh.
Kadang membuat orang bahagia, kadang membuat orang cepat tidur.
A Fei hampir-hampir tidak pernah tidur beberapa hari terakhir ini.
Namun setiap kali terlelap, begitu cepat pula ia bangun kembali.
Ia heran mengapa di rumah ia bisa tidur begitu lama.
Segera setelah A Fei terlelap, Li Sun-Hoan segera meninggalkan penginapan.
Ia menuju ke penginapan yang lain.
Ia pun masuk ke dalam pekarangan penginapan itu.
Apa yang dilakukannya di situ tengah malam buta seperti ini?
Hari sudah lewat tengah malam, namun dalam satu kamar masih tampak cahaya lilin.
Li Sun-Hoan mengetuk pintu perlahan.
Orang di dalam segera menyahut.
"Li-tamhoa?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Ya."
Pintu pun terbuka.
Lu Hong-sianlah yang membuka pintu.
Mengapa ia ada di sini?
Bagaimana Li Sun-Hoan bisa tahu ia akan berada di sini?
Apa maksud kunjungan ini?
Apakah mereka membuat janji pertemuan secara diamdiam?
Samar-samar terbayang senyuman aneh di wajah Lu Hong-sian.
Katanya dingin.
"Li Tamhoa memang orang yang tepat janji. Kau telah datang."
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis muda.
"Aku kan sudah bilang ia pasti menepati janjinya."
Gadis muda itu tidak lain adalah Ling Ling.
Mengapa Ling Ling ada di sini bersama dengan Lu Hongsian?
Apa yang dijanjikan Li Sun-Hoan?
Li Sun-Hoan masuk ke kamar itu.
Lalu ia membungkuk di hadapan Lu Hong-sian.
Katanya.
"Terima kasih."
Sahut Lu Hong-sian.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini hanyalah kesepakatan di antara kita."
Kata Li Sun-Hoan.
"Tapi tidak semua orang mau menerima kesepakatan ini. Oleh sebab itu aku tetap harus berterima kasih."
Sahut Lu Hong-sian.
"Kesepakatan ini memang aneh. Aku kaget waktu mendengarnya dari Ling Ling."
Kata Li Sun-Hoan.
"Oleh sebab itu aku memintanya untuk menjelaskan kepadamu."
"Sebenarnya penjelasan itu tidak perlu. Kau ingin aku mengalah dari A Fei karena kau ingin ia mendapatkan kepercayaan dirinya kembali."
"Memang itulah tujuanku. Aku merasa ia pantas mendapat kesempatan."
"Itu karena kau adalah sahabatnya. Sedangkan aku bukan….. Aku tidak pernah menyangka ada orang yang akan memintaku untuk berbuat sekonyol itu."
"Tapi kau toh menyanggupinya."
Lu Hong-sian menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat. Katanya.
"Kau sungguh yakin aku akan menyanggupinya?"
Li Sun-Hoan terkekeh. Sahutnya.
"Setidaknya ada kemungkinan, karena aku melihat bahwa kau bukanlah orang biasa. Hanya orang yang luar biasa yang sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa."
Lu Hong-sian masih menatap Li Sun-Hoan.
"Kau juga yakin bahwa A Fei tidak akan membunuhku."
"Aku tahu bahwa ketika ia menang, walaupun hanya seinci saja, ia tidak akan bertindak lebih jauh."
Lu Hong-sian mendesah.
"Kau memang tidak salah menilai dirinya, juga diriku."
Lalu tiba-tiba ia tersenyum mengejek. Lanjutnya.
"Namun aku hanya menyanggupinya kalah sekali ini saja. Lain kali, sudah tentu akan kuhabisi dia."
Mata Li Sun-Hoan bersinar. Tanyanya.
"Apakah kau begitu yakin?"
Lu Hong-sian balik bertanya.
"Kau tidak percaya?"
Dua pasang mata saling pandang. Setelah sekian lama, akhirnya Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.
"Mungkin sekarang kau bisa yakin, namun di kemudian hari belum tentu."
Kata Lu Hong-sian.
"Oleh sebab itu mungkin seharusnya aku tidak menyanggupi permintaanmu. Membiarkannya hidup adalah ancaman bagi hidupku."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Tapi kadang-kadang ancaman itu baik bagi manusia, supaya ada semangat untuk terus memperbaiki diri. Orang yang betul-betul ‘tidak terkalahkan’ pasti sangat membosankan hidupnya."
Lu Hong-sian termenung lama. Akhirnya ia berkata.
"Mungkin….tapi aku tidak menyanggupinya karena alasan ini."
"Sudah pasti tidak."
"Aku menyanggupinya karena aku suka akan balasan yang akan kau berikan padaku."
"Sudah pasti."
Lu Hong-sian menegaskan.
"Kau berjanji jika aku melakukannya, kau akan melakukan apapun yang aku inginkan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Betul sekali."
Bab 61.
Permintaan Tiba-tiba di wajah Lu Hong-sian terbayang kesepian yang mendalam…..
Jika seseorang merasa kesepian, ia pasti sangat merindukan persahabatan.
Sayangnya, persahabatan sejati tidak dapat dimiliki setiap orang.
Lu Hong-sian berkata dingin.
"Jadi maksudmu, kau sanggup mati demi dia, dan dia sanggup mati demi engkau?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Betul sekali."
"Tapi kau tahu bahwa aku tidak akan membunuh engkau. Paling tidak aku tidak akan membunuhmu dengan cara ini."
Li Sun-Hoan diam saja. Lu Hong-sian melotot ke arah Li Sun-Hoan, namun akhirnya ia menghembuskan nafas lega. Katanya.
"Aku sungguh-sungguh tidak akan membunuhmu…. Kau tahu sebabnya?"
Li Sun-Hoan tetap diam. Lanjut Lu Hong-sian.
"Karena aku ingin kau selama-lamanya berhutang budi padaku. Selamanya merasa berhutang padaku…."
Ia tersenyum sambil terus bicara.
"Jika aku ingin membunuhmu, masih ada banyak kesempatan di kemudian hari. Tapi kesempatan yang ini tidak akan datang lagi."
Apa maksudnya? Apakah ia ingin bersahabat dengan Li Sun-Hoan? Li Sun-Hoan berpikir cukup lama. Lalu ia pun tersenyum dan berkata.
"Sebenarnya akan ada kesempatan lagi."
Lu Hong-sian terkejut.
"O ya?"
"Aku ingin kau melakukan satu hal lagi."
Lu Hong-sian menatapnya seperti tidak mengenalnya sampai sekian lama. Akhirnya ia berkata.
"Kau belum lagi membayar kesepakatan kita yang pertama. Kini kau sudah minta aku melakukan tugas lain?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Ini bukan kesepakatan. Kali ini aku mohon bantuanmu."
Wajah Lu Hong-sian menjadi suram, namun matanya berbinar-binar. Katanya.
"Jika tidak mendapat apa-apa, buat apa aku melakukannya?"
Li Sun-Hoan tersenyum. Senyumnya tenang dan tulus. Ia menatap Lu Hong-sian lekat-lekat. Sahutnya.
"Karena ‘aku’ yang meminta bantuanmu."
Perkataannya terdengar janggal.
Juga terkesan sombong.
Tidak disangka kata-kata ini keluar dari mulut Li Sun-Hoan.
Namun Lu Hong-sian tidak marah.
Ia malah merasakan suatu kehangatan dalam dadanya.
Karena ia merasa bahwa Li Sun-Hoan sedang mengulurkan persahabatan kepadanya.
Mungkin persahabatan seperti inilah yang dapat menyinari hidup manusia yang sepi.
Cahayanya tidak akan pernah padam.
Selama masih ada kehidupan, masih akan terus ada persahabatan yang menghiasinya.
Sahut Lu Hong-sian.
"Semua orang bilang bahwa Li Sun-Hoan tidak pernah minta bantuan. Namun hari ini ia minta bantuan kepadaku. Mungkin aku harus merasa terhormat."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Aku kan sudah berhutang padamu. Tidak ada masalah berhutang sedikit lagi, bukan?"
Lu Hong-sian tertawa. Kali ini, tertawa lepas. Katanya.
"Ada yang bilang bahwa hal yang terpenting untuk seorang pedagang adalah belajar untuk bisa mendapatkan bantuan orang lain. Kelihatannya kau ini pedagang yang hebat."
Tanya Li Sun-Hoan.
"Jadi kau bersedia?"
Lu Hong-sian mengeluh. Katanya.
"Aku tidak punya alasan yang cukup kuat untuk menolakmu. Cepat katakan permintaanmu sebelum aku berubah pikiran."
Li Sun-Hoan terbatuk-batuk beberapa kali, lalu wajahnya menjadi serius. Katanya.
"Jika kau bertemu dengan A Fei beberapa tahun yang lalu, ia pasti akan mengalahkanmu tanpa aku harus memohon padamu untuk mengalah."
Lu Hong-sian terdiam. Apakah ia setuju dengan pernyataan ini? Lanjut Li Sun-Hoan.
"Jika kau bertemu dengannya saat itu, kau akan melihat orang yang sangat berbeda."
"Bagaimana ia bisa berubah begitu banyak hanya dalam waktu dua tahun?"
"Karena ia bertemu dengan seseorang."
Tanya Lu Hong-sian.
"Seorang wanita?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Sudah pasti seorang wanita. Hanya seorang wanitalah yang dapat mengubah pria 180 derajat."
Kata Lu Hong-sian.
"Kalau begitu ia tidak betul-betul berubah. Ia hanya sedang mabuk. Orang yang mabuk karena seorang wanita patut dikasihani. Patut ditertawakan."
Li Sun-Hoan mendesah.
"Mungkin kau benar. Namun kau belum pernah bertemu dengan wanita ini."
"Apa bedanya?"
"Jika kau bertemu dengannya, mungkin kau juga akan menjadi seperti A Fei."
"Kau pikir aku bocah kecil yang belum pernah melihat wanita?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Mungkin kau pernah bertemu dengan bermacam-macam wanita. Namun dia….dia sungguh berbeda dari yang lain."
"O ya?"
"Ada orang yang menggambarkan dia dengan tepat…. Ia serupa dewi kahyangan namun ia menyeret laki-laki ke neraka."
Mata Lu Hong-sian berbinar. Katanya.
"Aku tahu siapa dia."
Kata Li Sun-Hoan.
"Memang kau pasti bisa menerka. Hanya ada satu wanita seperti itu dalam dunia ini. Untung saja hanya satu. Kalau tidak, aku bergidik membayangkan apa jadinya dunia ini."
Kata Lu Hong-sian.
"Aku mendengar banyak cerita tentang wanita ini."
Li Sun-Hoan kembali pada pokok pembicaraan.
"Akhirnya A Fei telah menemukan dirinya kembali. Aku tidak tega melihatnya terjerumus lagi. Oleh sebab itulah…..
"Kau ingin aku membunuh wanita itu?"
"Aku hanya ingin A Fei tidak bertemu dengan dia lagi. Jika ia bertemu dengan wanita itu, ia tidak akan dapat menolaknya."
Lu Hong-sian berpikir sejenak, lalu berkata.
"Kau kan bisa melakukannya sendiri."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Karena jika A Fei sampai tahu, ia akan membenciku seumur hidup."
Kata Lu Hong-sian.
"Namun ia harus menyadari bahwa kau melakukannya demi kebaikannya sendiri."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Betapapun pandainya seseorang, ia akan menjadi orang tolol jika sedang dimabuk cinta."
Lu Hong-sian berpikir lagi.
"Mengapa tidak kau minta orang lain? Mengapa kau minta aku?"
"Karena jika orang lain dapat mengalahkannya sekalipun, mereka pasti tidak akan tega membunuhnya. Karena….."
Ia mengangkat kepala dan memandang Lu Hong-sian. Lanjutnya.
"Lagi pula aku pun sulit menemukan orang yang bisa kumintai bantuan."
Dua pasang mata itu kembali bertemu.
Kembali hati Lu Hong-sian penuh dengan kehangatan.
Ia dapat melihat dari mata Li Sun-Hoan seluruh kesedihannya, seluruh kesepiannya.
Kesepian dan kesedihan seorang pendekar.
Hanya dapat dipahami oleh para pendekar.
Tiba-tiba Lu Hong-sian bertanya.
"Di mana wanita itu?"
Jawab Li Sun-Hoan.
"Ling Ling tahu di mana dia berada. Tapi…."
Ling Ling sudah tertidur. Li Sun-Hoan memandangnya sekilas, lalu berkata.
"Mungkin kau tidak bisa memaksanya memberitahu di mana lokasi persisnya."
Lu Hong-sian tersenyum.
"Jangan kuatir. Aku punya cara tersendiri." *** A Fei terbangun. Li Sun-Hoan sudah terlelap. Dalam tidur pun ia terus menerus terbatuk-batuk. Setiap kali terbatuk, tubuhnya terguncang karena kesakitan. Matahari mulai beranjak naik perlahan-lahan di luar jendela. A Fei tiba-tiba menyadari bahwa kini ia punya lebih banyak rambut putih, lebih banyak keriput. Hanya matanya yang masih berjiwa muda. Dalam tidurnya Li Sun-Hoan selalu tampak sangat tua, sangat lemah. Jubahnya pun kotor. Siapa yang bisa mengira bahwa dalam kulit seperti itu terdapat hati yang begitu kuat, karakter yang begitu agung, dan semangat yang begitu membara? A Fei memandangnya. Setitik air mata jatuh ke pipinya. Ia hidup hanya untuk melewati penderitaan demi penderitaan… dalam berbagai bentuk, kepedihan. Namun ia tidak jatuh! Ia pun tidak pernah merasa hidup itu suram dan murung. Selama ia masih hidup, ia selalu menebarkan kehangatan, cahaya terang. Ia selalu membagi kebahagiaan dengan yang lain, dan menyimpan kesedihan untuk dirinya sendiri. Air mata A Fei terus menetes. Li Sun-Hoan terus tertidur pulas. Baginya, tidur merupakan suatu kemewahan. Tiba-tiba A Fei merasa ingin pulang. Ingin cepat-cepat bertemu dengan wajah manis itu. Namun ia tidak ingin membangunkan Li Sun-Hoan. Maka A Fei membuka pintu perlahan-lahan dan pergi tanpa suara. Hari masih pagi. Matahari baru saja melewati atap rumah. Orang-orang yang terburu-buru pergi sudah berangkat dari penginapan itu, jadi pekarangan sudah lengang. Hanya terlihat sebatang pohon yang rindang, berdiri sendirian di tengah-tengah angin musim gugur yang dingin. Li Sun-Hoan bisa diibaratkan seperti pohon ini. Walaupun ia tahu bahwa musim gugur hampir berlalu dan musim dingin sebentar lagi akan tiba, ia tidak mau menyerah, sampai pada detik terakhir. A Fei mendesah. Perlahan-lahan ia berjalan ke luar pekarangan itu. Daun-daun di pohon rindang itu sudah mulai layu. Satu per satu berguguran. Di depan matanya, jatuh ke tubuhnya…. *** Api masih menyala. Sup kacang sudah mendidih. A Fei tidak pernah makan terburu-buru. Ia menyuap sup ke dalam mulutnya dan menelannya perlahan-lahan. Jika perut seseorang kenyang, ia akan merasa lebih bersemangat. Ia suka perasaan ini. Seorang pegawai jaga malam akhirnya mempunyai sedikit waktu senggang. Ia duduk dekat api unggun dan minum arak perlahan-lahan. Arak ini arak sisa, sudah dingin. Namun pegawai itu merasa cukup puas. Ia berbahagia karena ia merasa puas. Hanya orang yang sungguh merasa puas dapat merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. A Fei selalu mengagumi orang seperti ini. Ia ingin minum bersama dengan orang ini. Namun ia berusaha menahan diri. ‘Mungkin aku akan segera bertemu dengannya…..’ Ia tidak ingin si dia mencium bau alkohol di tubuhnya. Sebagian besar orang di dunia ini hidup demi orang lain….. Sebagian untuk orang yang mereka cintai, sebagian untuk musuh mereka. Keduanya sama-sama hidup menderita. Sangat sedikit orang di dunia ini yang sungguh-sungguh berbahagia. Angin bertiup sangat kencang. Debu ikut menari-nari mengikuti tiupan angin. Tidak banyak orang berjalan di luar sana. A Fei mengangkat kepalanya dan melihat ke luar pintu. Kebetulan dua orang sedang lewat. Dua orang ini tidak berjalan cepat, namun kelihatannya mereka sedang terburu-buru. Pikiran mereka terpusat pada jalan di hadapan mereka, tidak menghiraukan yang lain. Orang yang berjalan di depan adalah seorang tua bertubuh kecil dan berambut putih. Ia memegang pipa di sebelah tangannya. Jubahnya yang berwarna biru sudah sangat pudar, hampir kelihatan putih. Seorang gadis muda berjalan mengiringinya. Matanya besar dan rambut panjangnya dikuncir ekor kuda. A Fei mengenali dua orang ini. Ia pernah melihat mereka dua tahun yang lalu. Mereka adalah si tua tukang cerita dan cucunya. Ia juga ingat bahwa nama mereka adalah Sun. Namun mereka tidak melihat A Fei. Jika mereka melihatnya, mungkin kejadiannya akan menjadi lain. A Fei menghabiskan supnya. Ia mengangkat kepala lagi dan melihat seorang lain yang sedang lewat. Orang ini sangat jangkung. Ia mengenakan jubah berwarna kuning, topi bambu yang lebar dan ditarik ke bawah dalam-dalam sehingga wajahnya tidak kelihatan. Cara berjalannya sungguh janggal. Kelihatannya ia juga sedang terburu-buru dan tidak menoleh untuk melihat A Fei. Hati A Fei melonjak. Hing Bu-bing! Mata Hing Bu-bing tertuju lurus ke depan. Sepertinya ia sedang menguntit si tukang cerita. Ia pun tidak melihat A Fei. Namun A Fei melihatnya, juga melihat pedang di pinggangnya. Namun A Fei tidak melihat tangan yang buntung, yang dibalut kain. Karena jika A Fei sudah melihat pedangnya, ia tidak bisa melihat yang lain. Karena pedang inilah yang telah membuatnya mencicipi pahitnya kekalahan. Karena pedang inilah yang hampir saja menghancurkan hidupnya. A Fei mengepalkan tangannya. Luka di tangannya terbuka kembali. Darah mengalir keluar. Tubuhnya mengejang karena rasa sakit itu. Ia lupa akan tangan Hing Bu-bing yang buntung. Ia hanya ingin menantang Hing Bu-bing sekali lagi. Hanya itu yang diinginkannya. Hing Bu-bing cepat berjalan lewat depan pintu itu. A Fei bangkit berdiri. Ia mengepalkan tangannya lebih kuat lagi. Semakin sakit rasanya, semakin tajam kewaspadaannya. Tiba-tiba pegawai itu merasa dingin di sekitarnya. Ia menoleh kiri-kanan dan bertemu dengan mata A Fei. Sepasang mata yang berkobar-kobar, namun membuat orang yang melihatnya merasa dingin sekujur tubuh. Cawan arak yang sedang di pegang pegawai itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Namun cawan itu tidak sampai menyentuh tanah. Tibatiba A Fei mengulurkan tangannya dan menangkapnya. Tidak ada yang bisa melihat bagaimana ia menangkap cawan itu. Pegawai itu ketakutan setengah mati. Perlahan-lahan diletakkannya cawan itu di atas meja. Lalu ia mengisinya dengan arak dan minum secawan penuh. Rasa percaya diri bergolak memenuhi hatinya. Saat itu, seorang lagi berjalan lewat depan pintu. Orang inipun berjubah kuning, dengan topi bambu yang lebar dan ditarik ke bawah dalam-dalam. Ia pun berjalan dengan gaya aneh. Siangkoan Hui! A Fei tidak kenal Siangkoan Hui. Namun ia bisa merasakan bahwa hubungan orang ini dan Hing Bu-bing cukup dekat. Dan ia sedang berjalan menguntit Hing Bubing. Siangkoan Hui sedikit lebih pendek daripada Hing Bubing, dan juga lebih muda. Namun ekspresi wajah mereka yang kaku, gaya berjalan mereka yang aneh. Seakan-akan mereka bersaudara! Mengapa ia menguntit Hing Bu-bing? Tempat ini desa yang terpencil. A Fei berjalan cepat, namun tetap menjaga jarak aman di belakang Siangkoan Hui. Si tukang cerita sudah lama berlalu. Hing Bu-bing terlihat bagaikan bayangan kuning. Namun Siangkoan Hui berjalan lambat, tidak terburu-buru. A Fei menyadari bahwa anak muda ini pun pandai menguntit orang. Menguntit seseorang diam-diam memerlukan banyak kesabaran. Ada sebuah bukit di depan sana. Hing Bu-bing baru setengah jalan mengitarinya. Siangkoan Hui mempercepat langkahnya. Sepertinya ia ingin menyusul Hing Bu-bing di balik bukit itu. Ketika ia sudah menghilang di balik bukit, A Fei segera berlari sekencang-kencangnya. Ia tahu dari puncak bukit itu, ia akan bisa melihat sesuatu yang menarik. Ia pun tidak kecewa. Hing Bu-bing tidak pernah merasa takut sebelumnya…. Apa lagi yang kau takuti jika terhadap kematian sekalipun kau tidak takut? Namun kini, entah mengapa, mata Hing Bu-bing memancarkan sedikit rasa takut. Apa yang ia takuti? Bab 62. Rahasia Besar Puncak bukit adalah tempat sangat gersang. Angin musim gugur bertiup tanpa kenal belas kasihan. Tangan Hing Bu-bing tiba-tiba meraba gagang pedangnya….tapi ini tangan kanannya, bukan tangan yang biasa ia gunakan untuk memegang pedang. Di tangan ini, pedang tidak bisa disebut senjata yang mematikan. Ia hanya meraba gagang pedang itu, lalu segera melepaskannya. Langkahnya makin lambat, akhirnya berhenti. Seolaholah inilah ujung jalan. Saat itulah terdengar suara tawa Siangkoan Hui. Siangkoan Hui sudah menyusulnya. Ia tersenyum mengejek dan berkata.
"Berhentilah bersandiwara!"
Hing Bu-bing menoleh. Matanya tidak menunjukkan perasaan apapun. Ia hanya menatap Siangkoan Hui lekat-lekat. Setelah cukup lama akhirnya dia berkata.
"Kau pikir ini hanya sandiwara?"
Sahut Siangkoan Hui.
"Sudah pasti cuma sandiwara. Kau berpura-pura menguntit Si Tua Sun. Padahal tidak ada maksudnya kau menguntit dia."
"Kalau begitu, mengapa aku menguntit mereka?"
"Karena aku."
"Karena kau?"
"Karena kau sudah tahu bahwa aku sedang menguntitmu."
Hing Bu-bing menyahut dingin.
"Itu karena kau yang tidak tahu bagaimana menguntit orang."
Kata Siangkoan Hui.
"Mungkin. Namun aku tahu bagaimana caranya membunuhmu. Tentu saja kau pasti tahu bahwa aku datang untuk membunuhmu."
Hing Bu-bing memang tahu, oleh sebab itu dia tidak terkejut.
A Feilah yang terkejut.
Kedua orang ini sudah pasti berasal dari kelompok yang sama.
Mengapa mereka ingin saling membunuh?
Siangkoan Hui bertanya.
"Sepuluh tahun yang lalu aku sudah ingin membunuhmu. Kau tahu sebabnya?"
Hing Bu-bing diam saja…. Ia hanya bertanya, tidak pernah menjawab. Siangkoan Hui menjadi semakin kesal. Matanya penuh dengan bisa dan berteriak.
"Jika kau tidak ada, aku bisa hidup lebih bahagia. Kau bukan saja mengambil kedudukanku, kau bahkan mengambil ayahku. Setelah kau datang, kau merampas semua milikku!"
Hing Bu-bing menyahut dingin.
"Yang salah kau sendiri. Aku selalu lebih hebat daripada engkau."
Siangkoan Hui mengertakkan gigi. Katanya.
"Kau tahu dalam lubuk hatimu bahwa itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah….."
Siangkoan Hui berusaha menahan emosinya, namun gagal. Ia mulai berteriak dengan marah.
"Karena kau adalah anak haram ayahku! Ibuku sampai mati saking sedihnya akibat perbuatan rendah ibumu!"
Mata Hing Bu-bing yang dingin dan kelabu tiba-tiba memicing, tampak seperti dua tetes darah.
Dua tetes darah kering yang sudah berubah warna.
Di atas bukit, rasa sedih juga terbayang di wajah A Fei.
Sama seperti yang terbayang di wajah Hing Bu-bing, malah mungkin lebih dalam.
Lanjut Siangkoan Hui.
"Kalian berdua telah menipuku selama ini. Kalian pikir aku tidak tahu?"
Ketika ia berkata ‘kalian berdua’, yang ia maksudkan adalah Hing Bu-bing dan ayahnya.
Ketika Siangkoan Hui mengucapkannya, ia hanya menyakiti dirinya sendiri, bukan orang lain.
Ia merasa lebih sedih lagi, sehingga ia bisa menjadi lebih tenang.
Siangkoan Hui berbicara lagi.
"Aku sudah tahu semuanya pada waktu ia membawamu pulang. Sejak hari itulah, aku menunggu kesempatan untuk bisa membunuhmu."
Kata Hing Bu-bing.
"Kau tidak punya banyak kesempatan."
Sahut Siangkoan Hui.
"Walaupun aku punya kesempatan sebelum ini, aku pun tidak akan membunuhmu. Karena kau masih berguna. Tapi sekarang, tidak lagi."
Ia tersenyum mengejek dan berkata.
"Dulu kau adalah pedang di mata ayahku, pedang untuk membunuh. Ia tidak akan memaafkanku jika aku merusak senjatanya. Namun kini, kau tidak ada bedanya dengan besi rongsokan. Ayah tidak akan peduli akan hidup matimu lagi."
Hing Bu-bing berpikir cukup lama, lalu mengangguk. Katanya.
"Kau benar. Aku sendiri tidak peduli akan hidup dan matiku. Mengapa dia harus peduli?"
"Orang lain mungkin akan percaya pada bualanmu, namun aku tidak."
"Aku membual?"
"Jika kau benar-benar tidak takut mati, mengapa kau melarikan diri?"
Tanya Hing Bu-bing.
"Melarikan diri?"
Kata Siangkoan Hui tidak sabar.
"Sandiwara kecilmu menguntit Si Tua Sun. Itu hanya topengmu untuk menutupi fakta bahwa kau sedang melarikan diri."
"O ya?"
"Jika kau sedang menguntit orang lain, aku pasti akan membiarkanmu menguntit mereka. Supaya kau tahu kemana mereka pergi atau menunggu waktu yang tepat untuk membunuh mereka. Baru sesudah itu aku akan membunuhmu."
Ia tertawa dan melanjutkan lagi.
"Sayangnya kau memilih orang yang salah. Karena kau tidak akan mungkin mengetahui ke mana mereka pergi, apalagi membunuh mereka. Kau tidak pantas menguntitnya karena kau tidak sepadan dengan dia!"
Hing Bu-bing tiba-tiba tersenyum. Katanya.
"Mungkin….."
Senyumnya tampak aneh, seolah-olah menyembunyikan suatu rahasia. Tapi Siangkoan Hui tidak memperhatikan. Ia berkata.
"Oleh sebab itu kau pasti hanya menguntit dia untuk menutupi hal lain. Kau hanya ingin menunda waktuku membunuhmu."
Lalu ia menatap Hing Bu-bing lekat-lekat dan berseru.
"Karena kau takut mati!"
"Takut mati?"
"Sebelum ini kau tidak takut mati, karena memang tidak ada seorang pun yang mampu membunuhmu dulu."
Terdengar suara ‘criing’, dan terlihat Liong-hong-sianggoan (Cincin Naga dan Burung Hong) di tangan Siangkoan Hui. Katanya dingin.
"Namun kini, aku dapat membunuhmu kapan saja aku mau."
Hing Bu-bing diam saja sampai cukup lama. Lalu ia berkata.
"Sepertinya kau memang serba tahu."
Sahut Siangkoan Hui.
"Paling tidak aku jauh lebih pandai daripada yang kau sangka."
Tiba-tiba Hing Bu-bing tertawa.
"Sayangnya ada satu hal yang tidak kau ketahui."
"Apa?"
Jawab Hing Bu-bing.
"Tidak ada gunanya kau tahu segala sesuatu yang lain. Jika kau tidak tahu hal ini, kau pasti akan mati."
"Jika itu adalah hal yang sangat penting, maka aku pasti mengetahuinya."
"Ah, tapi kau tidak mungkin tahu. Karena itu adalah rahasia pribadiku. Dan aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun….."
Tanya Siangkoan Hui.
"Apakah kau ingin memberitahukannya kepadaku?"
Jawab Hing Bu-bing.
"Ya. Aku akan memberitahukannya kepadamu sekarang. Tapi ada satu syarat."
"Apa?"
"Jika kuberitahukan padamu, maka kau harus mati!"
Siangkoan Hui menatapnya, lalu tertawa keras-keras.
Kata-kata Hing Bu-bing memang sangat menggelikan.
Bagaimana seseorang yang baru dibuat cacad dapat membunuh?
Di antara tawanya Siangkoan Hui berkata.
"Kau ingin membunuhku dengan apa? Apa kau akan menggigitku sampai mati?"
Jawaban Hing Bu-bing sangat pendek, sangat tenang, hanya satu kata.
"Tidak."
Tawa Siangkoan Hui mulai reda. Sepertinya Hing Bu-bing tidak sedang berusaha menakutnakuti ataupun sedang bercanda dengan jawabannya itu. Kata Hing Bu-bing.
"Untuk membunuh, aku gunakan tangan ini!"
Ia mengangkat tangannya, tangan kanannya. Siangkoan Hui masih tertawa, tapi kini sudah tampak dipaksakan. Katanya.
"Tangan itu…. membunuh anjing pun tidak bisa."
Kata Hing Bu-bing.
"Aku hanya membunuh orang, tidak membunuh anjing."
Siangkoan Hui berhenti tertawa.
Liong-hong-siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong) telah meluncur ke depan.
Ada perkataan ‘Seinci lebih pendek, seinci lebih berbahaya’.
Liong-hong-siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong) ini adalah semacam itu.
Dan jurus ini, ‘Naga Terbang Menari Mengelilingi Burung Hong di Udara’, adalah jurus yang paling mematikan.
Namun kalau seseorang belum terdesak hampir kalah, atau tidak tahu pasti bahwa musuhnya dapat menangkis serangan ini atau tidak, sebaiknya ia tidak menggunakan jurus ini.
Sekali dipakai, musuh tidak akan bisa lolos.
Pada saat yang sama, cahaya pedang pun berkilat.
Pedang itu, dalam sekejap saja, sudah tertancap di leher Siangkoan Hui.
Ujung pedang itu masuk sampai lebih dari dua pertiga bagian leher.
Sepertinya Siangkoan Hui masih bisa bernafas.
Urat-urat mulai tampak menonjol di keningnya.
Bola matanya serasa hampir copot, menatap Hing Bu-bing.
Dalam kematian sekalipun, ia tidak bisa percaya bagaimana pedang Hing Bu-bing dapat menusuknya.
Hing Bu-bing hanya menatapnya dingin.
Katanya.
"Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku. Itu rahasiaku!"
Pedang pun ditarik dan darah muncrat keluar.
Siangkoan Hui masih memandang Hing Bu-bing, penuh dengan rasa tidak percaya, rasa sedih, rasa kaget….
Ia masih tidak bisa percaya, sampai ia mati.
Namun ia harus percaya.
Liong-hong-siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong) di tangan Siangkoan Hui mengenai lengan kiri Hing Bubing.
Lengannya yang patah.
Ia menggunakan lengan ini untuk menangkis serangan cincin Siangkoan Hui, lalu dengan cepat melakukan serangan balasan dengan tangan kanannya.
Pedang pun langsung menembus leher Siangkoan Hui.
Serangan yang sangat licik.
Serangan itu pun sangat tepat.
Sangat mematikan.
Sangat keji.
‘Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku.
Itulah rahasiaku!’ Ia tidak berdusta.
Namun kebenaran ini sangat sulit dipercaya, sangat mengagetkan.
Siangkoan Hui sudah hidup bersama Hing Bu-bing lebih dari sepuluh tahun.
Tidak sekalipun ia pernah melihat Hing Bu-bing berlatih menggunakan tangan kanannya.
Itulah sebabnya dalam kematian sekalipun ia tidak tahu darimana Hing Bu-bing mempelajari ilmu pedang dengan tangan kanannya.
Namun mau tidak mau ia harus percaya.
Karena kematiannya telah menjadi bukti nyata.
Hing Bu-bing memandangi tubuh Siangkoan Hui.
Ia terlihat sedikit kecewa.
Setelah lama memandang, akhirnya ia menghela nafas perlahan dan menggumam.
"Mengapa kau ingin membunuhku? Mengapa aku harus membunuhmu?...."
Ia memutar badan dan berjalan pergi.
Ia masih berjalan dengan gaya aneh, seolah-olah sedang berusaha membuat harmoni dengan sesuatu yang lain.
Kedua cincin itu masih tertancap di lengan kirinya.
Ragu-ragu, terkejut, tidak percaya.
Itulah perasaan A Fei saat itu.
Ilmu pedang Hing Bu-bing sangat mengerikan.
Mungkin memang tidak lebih cepat daripada ilmu pedangnya, namun lebih mematikan, lebih penuh rahasia.
Apakah aku akan pernah bisa mengalahkannya?
Walaupun ini adalah fakta, ini adalah fakta yang tidak akan bisa diterima oleh A Fei!
Memandang punggung Hing Bu-bing seakan-akan membuat tingkat adrenalin A Fei meluap-luap dalam tubuhnya.
Ia ingin sekali segera meloncat dan berlari turun bukit untuk mengejarnya.
Namun sebuah tangan menahan tubuhnya dari belakang.
Tangan itu sangat tegas dan penuh tenaga.
A Fei menoleh dan menemukan mata Li Sun-Hoan yang tenang dan bersahabat.
Yang menahan kepergian A Fei bukanlah tangannya, melainkan matanya.
A Fei menundukkan kepalanya dan mengeluh.
Katanya.
"Mungkin dia memang lebih hebat daripada aku."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau hanya lebih buruk daripada dia dalam satu hal saja."
"Apa itu?"
"Demi membunuh, Hing Bu-bing bisa melakukan apa saja, termasuk mengorbankan nyawanya. Kau tidak bisa."
A Fei terdiam cukup lama, lalu berkata.
"Kau memang benar. Aku tidak bisa."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau tidak bisa, karena kau mempunyai perasaan. Ilmu pedangmu mungkin memang keji, namun kau adalah ahli pedang yang penuh perasaan."
"Jadi…aku tidak mungkin bisa mengalahkan dia?"
Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya. Katanya.
"Salah. Kau pasti bisa mengalahkannya."
A Fei tidak berusaha memotong. Ia hanya mendengarkan. Lanjut Li Sun-Hoan.
"Dengan perasaan, seseorang dapat memiliki hidup. Dengan hidup, seseorang dapat memiliki jiwa, dapat berubah."
A Fei berpikir lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia mengangguk dan berkata.
"Aku mengerti sekarang."
"Namun ini bukanlah hal yang terpenting."
"Lalu apa lagi?"
"Yang terpenting adalah bahwa kau tidak perlu membunuh dia. Kau tidak boleh membunuh dia"
Tanya A Fei bingung.
"Mengapa aku tidak perlu membunuh dia?"
"Karena ia sudah mati. Mengapa harus dibunuh lagi?"
"Kau benar. Hatinya sudah mati….jadi tidak perlu dibunuh lagi. Tapi mengapa aku tidak boleh membunuh dia?"
Li Sun-Hoan tidak menjawab. Ia malah balik bertanya.
"Tahukah kau mengapa ia melatih tangan kanannya secara diam-diam?"
Tanya A Fei.
"Menurutmu karena apa?"
"Menurut pendapatku, karena Siangkoan Kim-hong."
Kata A Fei.
"Ia bertempur secara frontal dengan Lionghong-siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong) Siangkoan Hui. Ia ingin menemukan cara untuk mengalahkan Liong-hong-siang-goan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Pikiranku juga begitu."
"Dengan begitu….jika suatu hari perlakuan Siangkoan Kim-hong terhadap dia berubah, Hing Bu-bing sudah mempunyai cara untuk membunuh Siangkoan Kimhong."
"Mungkin dia akan gagal, tapi paling tidak ia bisa mencoba."
A Fei berhenti bicara. Matanya menjadi lebih santai. Sepertinya ia sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Kata Li Sun-Hoan.
"Alasan mengapa Liong-hong-sianggoan milik Siangkoan Kim-hong berada di urutan kedua dalam Kitab Persenjataan, bukanlah karena senjata itu sangat mematikan atau penuh tipu daya, namun karena senjata itu sangat pasti."
"Pasti?"
"Ia telah berhasil melatih senjata yang paling berbahaya di dunia sampai pada taraf ‘pasti’. Itulah yang membuat Siangkoan Kim-hong berada di atas yang lain. Kemampuan Siangkoan Hui masih jauh di bawah ayahnya."
"Benarkah?"
"Siangkoan Hui benci sekali pada Hing Bu-bing, terutama karena Siangkoan Hui menganggap bahwa ayahnya tidak mengajarkan kepadanya ilmu-ilmu rahasia tingkat yang tertinggi. Ia malahan mengajarkannya kepada Hing Bubing."
A Fei merenung. Lanjut Li Sun-Hoan.
"Jika Siangkoan Kim-hong tidak menggunakan jurus ‘Naga Terbang Menari Mengelilingi Burung Hong Di Udara’, kemungkinan besar Hing Bu-bing tidak akan dapat membunuhnya."
"Mungkin benar."
"Namun Siangkoan Kim-hong mungkin akan menggunakannya, karena ia tahu bahwa lengan kiri Hing Bu-bing sudah patah, jadi ia tidak perlu terlalu waspada. Oleh sebab itu, Hing Bu-bing masih punya kesempatan untuk bisa membunuhnya."
A Fei seperti baru saja terjaga dari mimpi. Ia tiba-tiba berseru.
"Tapi apapun yang terjadi Siangkoan Kim-hong adalah ayah Hing Bu-bing!"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Tidak mungkin."
"Tapi kata Siangkoan Hui…."
Li Sun-Hoan memotongnya.
"Itu hanya terkaan Siangkoan Hui. Terkaan yang salah."
"Kalau begitu, mengapa ia mengatakan semua itu? Apakah dia bohong?"
"Ia memang tidak bohong. Ia hanya keliru menafsirkan hal-hal yang terjadi."
"Keliru?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Ia bilang bahwa setelah kedatangan Hing Bu-bing, ayahnya seperti menjauhi dirinya. Ini memang benar. Tapi dia tidak menyadari bahwa ayahnya melakukan ini karena mencintainya."
Tanya A Fei.
"Bagaimana mungkin ayahnya menjauhi dia karena mencintainya?"
"Karena Siangkoan Kim-hong memang bermaksud untuk membuat Hing Bu-bing sebagai mesin pembunuhnya. Bisa dikatakan bahwa hidup Hing Bu-bing berakhir di tangan Siangkoan Kim-hong."
A Fei berpikir sejenak. Lalu katanya.
"Kau benar. Jika seseorang hanya hidup untuk membunuh, hidupnya pasti sangat menderita."
"Itulah sebabnya Hing Bu-bing sudah mati saat ia bertemu Siangkoan Kim-hong."
Lanjut Li Sun-Hoan lagi.
"Namun Siangkoan Kim-hong juga adalah seorang manusia. Manusia mencintai anaknya sendiri dan tidak akan membiarkan anaknya mengalami siksaan semacam itu. Oleh sebab itulah, Siangkoan Kim-hong tidak mengajarkan ilmu silat yang tertinggi kepada Siangkoan Hui."
Ia tertawa dan menambahkan.
"Sayangnya Siangkoan Hui tidak pernah mengerti maksud ayahnya yang sesungguhnya."
Kata A Fei tiba-tiba.
"Kalau begitu, sebenarnya Siangkoan Hui pun mati di tangan ayahnya juga."
Kata Li Sun-Hoan.
"Jika seseorang menginginkan terlalu banyak, ia pasti akan membuat banyak kesalahan….."
Bab 63.
Putus Hubungan Hutan di musim gugur.
Hutan yang kering dan layu.
Di luar hutan yang mati ini terdapat jalan setapak yang sepi.
A Fei menunjuk pada secercah cahaya di ujung jalan itu dan berkata.
"Itu rumahku."
Rumah. Bagi telinga Li Sun-Hoan kata ini sangat asing, hampir tidak dikenal. Mata A Fei masih tertuju pada cahaya itu saat ia berkata.
"Lilin masih hidup, dia pasti belum tidur."
Dalam rumah kecil itu ada lilin yang terang, baju katun yang tebal, dan kerjapan bulu mata wanita yang cantik.
Wanita itu sedang duduk menjahit baju dekat cahaya lilin itu, sambil menunggu kembaLimya sang kekasih pulang ke sisinya.
Gambaran yang luar biasa indah.
Hanya membayangkannya membuat hati A Fei penuh dengan kerinduan dan kehangatan.
Matanya yang setajam pisau pun menjadi lembut dan tenang.
Ia adalah orang yang selalu sendirian dan kesepian.
Namun kini ia tahu ada seseorang yang sedang menantikannya….
Wanita yang paling dicintainya di seluruh dunia, sedang menantikan kepulangannya.
Perasaan ini sudah tentu sangat menyejukkan hati, tidak dapat dibandingkan dengan perasaan yang lain, tidak dapat digantikan oleh apapun juga dalam dunia ini.
Hati Li Sun-Hoan melorot.
Melihat rasa bahagia yang terpancar di wajah A Fei membuat ia merasa bersalah.
Sebenarnya ia tidak ingin membuat A Fei kecewa.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi A Fei ketika tahu bahwa Lim Sian-ji tidak ada di sana.
Walaupun ia melakukannya demi kebaikan A Fei, supaya ia dapat terus hidup berbahagia sebagai seorang laki-laki sejati, Li Sun-Hoan masih tetap merasa bersalah terhadap sahabatnya ini.
Kesedihan yang seumur hidup tidak dapat dibandingkan dengan kesedihan sesaat.
Li Sun-Hoan hanya dapat berharap bahwa A Fei dapat segera pulih dari kesedihan yang akan dialaminya dan segera melupakan segala sesuatu tentang wanita itu.
Wanita itu tidak pantas mendapatkan cintanya, bahkan tidak pantas ditangisi.
Sayangnya, orang selalu jatuh cinta pada orang-orang yang salah.
Karena perasaan adalah seperti kuda liar, sama sekali tidak bisa dikendalikan dan tidak terelakkan.
Ini adalah kesedihan yang terbesar dalam hidup manusia.
Karena inilah, tidak habis-habisnya tragedi menimpa hidup manusia.
Cahaya terang dan pintu terbuka sedikit.
Cahaya mengalir melalui lubang itu dan menyinari jalan setapak di luar.
Jalan itu basah karena hujan semalam dan di bawah cahaya remang-remang tampak jejak-jejak kaki yang tidak beraturan di sana-sini.
Jejak seorang laki-laki.
"Siapa yang datang?"
Tanya A Fei sambil mengerutkan alisnya.
Namun perlahan-lahan ia kembali tenang.
Ia selalu percaya pada Lim Sian-ji.
Ia yakin bahwa Lim Sian-ji tidak mungkin mengkhianati kepercayaannya.
Li Sun-Hoan mengikutinya di belakang.
Seakan-akan ia takut masuk ke dalam rumah itu.
A Fei menoleh dan tersenyum sambil berkata.
"Kuharap sup yang dimasaknya hari ini tidak pakai rebung. Cobalah sedikit dan kau akan tahu kehebatannya di dapur lebih daripada kehebatannya menggunakan pedang."
Li Sun-Hoan hanya menjawab dengan tersenyum.
Siapa yang mengira bahwa senyum ini sarat dengan sejuta kesedihan?
Jika mangkuk besar berisi sup iga sapi itu memang tidak ada rebungnya, Li Sun-Hoan sungguh tidak mengerti apa rahasianya.
Tapi mungkin apa yang terjadi hari ini akan berbeda sama sekali.
Li Sun-Hoan sungguh tidak habis pikir bagaimana seorang wanita dapat menggunakan cara yang begitu keji untuk menipu laki-laki sungguh-sungguh mencintai dan memperhatikannya.
Tapi apa bedanya dengan aku?
Akupun menipunya.
Demikian pikiran Li Sun-Hoan.
Mengapa aku tidak bisa berterus terang saja bahwa Lim Sian-ji tidak ada lagi di sini.
Bahwa ini semua adalah rencananya.
Li Sun-Hoan membungkuk dan mulai batukbatuk keras.
A Fei menoleh ke belakang dan berkata.
"Jika kau bersedia tinggal bersamaku di sini untuk beberapa hari, batukmu pasti akan sembuh. Karena di sini tidak ada arak, yang ada hanya sup hangat."
Namun A Fei tidak pernah menyadari betapa berbahayanya ‘sup’ itu untuk tubuhnya. Jauh lebih berbahaya daripada arak. Tidak sedikit suara pun terdengar dari dalam rumah.
"Ia pasti sedang ada di dapur. Kalau tidak, ia pasti sudah keluar untuk menyambutmu,"
Kata A Fei.
Li Sun-Hoan tidak menjawabnya, karena ia tidak tahu harus bilang apa.
Akhirnya pintu pun terbuka.
Ruang duduk yang kecil itu masih bersih seperti dulu.
Lilin di atas meja sudah tidak menyala, namun masih memancarkan kehangatan.
A Fei menghela nafas lega.
Akhirnya ia pulang ke rumah dengan selamat.
Ia tidak mengecewakan kekasihnya.
Tapi di manakah dia?
Di dapur juga tidak tampak cahaya, apalagi sup yang menantinya.
Pintu kamar Lim Sian-ji tertutup rapat.
A Fei memandang Li Sun-Hoan di belakangnya yang masih berdiri di depan pintu.
Katanya.
"Ia pasti sudah tidur. Ia selalu tidur sangat awal."
Li Sun-Hoan ingin tersenyum, namun otot-otot wajahnya terasa tegang.
Ia mendengar rintihan dari dalam kamar.
Rintihan seorang wanita.
Rintihan seorang wanita yang sedang sekarat!
Wajah Li Sun-Hoan berubah, dan langsung menuju ke pintu dan menggedornya.
"Apakah kau baik-baik saja? Segera buka pintunya!"
Tidak ada jawaban.
Rintihan itu pun tidak terdengar lagi.
Siapapun yang berada di dalam sana pasti sedang berusaha menjawab, namun tidak bisa bersuara.
Keringat A Fei mulai mengucur deras dan ia pun mendobrak pintu dengan bahunya.
Li Sun-Hoan memejamkan matanya.
Ia tidak ingin melihat wajah A Fei saat itu.
Wajah seseorang yang memandang kekasihnya yang hampir mati.
Siapakah yang ingin melihat wajah seperti itu?
Li Sun-Hoan tidak saja tidak berani melihat, ia pun tidak mampu melihat.
Bahkan memikirkannya pun tidak sanggup.
Namun ketika pintu sudah terbuka, ia tidak mendengar apa-apa.
Apakah mungkin A Fei begitu kaget melihat apa yang terjadi dan jatuh pingsan?
Li Sun-Hoan membuka matanya dan melihat A Fei berdiri mematung di depan pintu kamar Lim Sian-ji.
Yang aneh adalah wajah A Fei tidak menggambarkan suatu kesedihan, tapi malah kebingungan.
Apa yang terjadi dalam kamar itu?
Li Sun-Hoan sungguh tidak dapat menerka.
Darah.
Yang pertama dilihat Li Sun-Hoan adalah darah.
Lalu ia melihat seseorang terbaring dalam genangan darah.
Namun ia tidak akan pernah bisa menebak siapa yang tergolek dalam genangan darah itu, sedang megapmegap mengambil nafas-nafas terakhirnya.
Ling Ling.
Darah Li Sun-Hoan pun membeku.
A Fei memandang tubuh yang tergeletak di lantai itu dengan tenang.
Suatu ekspresi yang aneh tergambar di wajahnya.
Apakah ia mengerti?
Ia tidak bertanya, ‘Apa yang dilakukan gadis ini di sini?’ Tapi ia malah bertanya.
"Kali ini, apakah ia juga sedang menunggumu di sini?"
Li Sun-Hoan merasa hatinya terbelah menjadi dua.
Ia segera meluruk ke dalam kamar dan mengangkat tubuh Ling Ling yang penuh darah.
Segera diperiksanya nadi dan nafasnya.
Ia hanya berharap bahwa ia belum terlambat untuk menyelamatkan nyawanya.
Ia putus asa.
Akhirnya Ling Ling membuka matanya dan memandang Li Sun-Hoan.
Air mata menetes ke wajahnya.
Air mata ini adalah air mata kesedihan.
Namun juga air mata kegembiraan.
Sebelum mati, ia bisa melihat Li Sun-Hoan untuk terakhir kalinya.
Mata Li Sun-Hoan pun kini telah basah oleh air mata.
Dengan lembut ia berkata.
"Kau masih muda, kau tidak mungkin mati sekarang."
Seolah-olah Ling Ling tidak mendengar perkataannya. Dengan suara bergetar ia berkata.
"Kali ini kau salah."
"Kali ini aku salah,"
Kata Li Sun-Hoan tanpa bisa menahan tangisnya.
"Kau seharusnya tahu bahwa tidak ada seorang lelaki pun yang mau membunuhnya."
Suara Li Sun-Hoan menjadi parau, hampir-hampir tidak terdengar.
"Aku telah menyeretmu ke dalam persoalan ini. Aku telah bersalah kepadamu."
Ling Ling menggapai-gapai ingin meraih tangan Li Sun-Hoan.
"Kau selalu baik padaku. Bukan kau yang bersalah padaku. Laki-laki itulah yang bersalah."
"Dia?"
"Dia telah menipuku, dan aku….akupun telah menipumu."
"Kau tidak……"
Kuku Ling Ling tertanam kuat di lengan Li Sun-Hoan. Potongnya.
"Aku telah menipumu…. Aku telah menyerahkan keperawananku kepadanya sejak lama. Ketika aku menunggumu di sini…. Aku sungguh membenci diriku karena tidak mengatakannya kepadamu sejak dulu."
Suara Ling Ling menjadi lebih jernih, seolah-olah ia mendapatkan tenaganya kembali.
Tapi Li Sun-Hoan tahu itu hanya bayangannya saja.
Kalau bukan karena usianya yang sangat muda, tidak mungkin ia bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Kata Ling Ling.
"Aku berusaha tetap hidup sampai saat ini, karena aku ingin menjelaskannya kepadamu. Jika kau bisa mengerti, aku bisa mati tanpa penyesalan."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Ini adalah kesalahanku. Aku salah karena aku tidak melindungimu…."
"Walaupun ia menipuku, aku tidak membencinya. Karena aku tahu ia akan mendapatkan balasannya. Ia akan mendapatkan hukuman yang sepuluh kali lebih berat daripada yang kualami."
"Dia yang……"
Sebelum Li Sun-Hoan menyelesaikan kalimatnya, tibatiba A Fei mendorongnya kuat-kuat ke samping. Ia menatap Ling Ling dan bertanya.
"Kau membawa Lu Hong-sian ke sini?"
Ling Ling hanya menggigit bibirnya. Lagi A Fei bertanya.
"Diakah yang menyuruhmu membawa Lu Hong-sian ke sini?"
Ling Ling mengerahkan tenaganya yang terakhir dan berteriak keras.
"Ya, memang dia. Tapi tahukah kau mengapa dia melakukannya? Tahukah kau betapa banyak yang telah diperbuatnya demi dirimu? Demi engkau…."
Suaranya tiba-tiba tercekik dan nafasnya pun berhenti.
Sungguh tenang, kematiannya sungguh tenang.
Tubuhnya tidak bergerak lagi.
Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya lagi.
Selain angin yang terus menderu, seluruh bumi sepertinya kehilangan gairah.
Semuanya seolah-olah menjadi tanah pekuburan yang mati.
Tanah pekuburan tempat segala yang hidup terkubur habis.
Bahkan suara deru angin pun seperti sedang menangis sedih.
Suara tangisan yang dapat mencabik-cabik hati manusia.
Entah berapa lama, akhirnya A Fei bangkit berdiri.
Ia tidak melirik sedikitpun pada Li Sun-Hoan.
Ia hanya bertanya dingin.
"Mengapa kau melakukannya?"
Biasanya Li Sun-Hoan akan segera menjawab pertanyaan ini tanpa ragu-ragu.
Tapi kali ini, ia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ia tahu dengan berbicara ia tidak hanya menyakiti dirinya sendiri, namun juga yang mendengar.
A Fei masih memandang ke arah lain.
Ia melanjutkan perlahan-lahan.
"Kau menyangka dialah yang membuat hidupku tertekan. Dan jika ia pergi, aku akan kembali hidup bersemangat. Tapi tahukah engkau bahwa tanpa dirinya, aku tidak mungkin terus hidup?"
Li Sun-Hoan menjawab dengan pahit.
"Aku hanya berharap bahwa kau tidak lagi ditipu orang. Berharap engkau akan bertemu dengan orang yang pantas mendapatkan cinta dan kasih sayangmu. Berharap bahwa kau segera dapat melupakan semua ketidakbahagiaan dalam hidupmu ini."
A Fei tampak terkejut dan berkata.
"Kau pikir ia menipuku? Dan bahwa ia tidak pantas mendapatkan kasih sayangku?"
"Yang aku tahu hanyalah sejak kau bertemu dengan dia, dia hanya membawa keburukan bagi dirimu."
"Lalu bagaimana kau bisa tahu apakah aku bahagia atau tidak bahagia?"
Akhirnya A Fei memutar badannya dan menatap Li Sun-Hoan dengan marah.
"Kau pikir kau ini siapa? Kau ingin mengatur pikiranku dan mengendalikan nasibku? Kau bukan apa-apa. Kau hanya orang bodoh yang sedang menipu dirimu sendiri. Kau membiarkan wanita yang kau cintai masuk dalam bahaya, dan kau masih menganggap dirimu tinggi dan terhormat?"
Setiap kata terasa tajam seperti pisau. Tidak ada perkataan lain di dunia ini yang dapat lebih menyakiti hati Li Sun-Hoan. A Fei mengertakkan giginya dan melanjutkan.
"Dan walaupun dia hanya membawa keburukan bagiku, apa bedanya dengan engkau? Apa yang kau bawa untuk orang-orang di sekitarmu? Kebahagiaan Lim Si-im rusak total akibat perbuatanmu. Dan masih belum puaskah engkau, sampai kau harus datang dan merusak habis kebahagiaanku?"
Tangan Li Sun-Hoan mulai gemetar hebat dan sebelum ia bisa membungkuk ia sudah batuk darah.
A Fei memandangnya lama sebelum memutar badannya dan berjalan menuju ke pintu.
Sebelum Li Sun-Hoan berhenti batuk-batuk, ia sudah menerjang ke arah pintu dan menghalangi jalan A Fei.
"Apa lagi yang kau inginkan?"
Tanya A Fei tajam. Li Sun-Hoan menyeka darah di sudut mulutnya dengan lengan bajunya dan berusaha mengatur nafasnya kembali.
"Kau…. Kau akan mencarinya?"
"Ya!"
"Kau tidak boleh pergi."
"Siapa bilang?"
"Aku yang bilang. Karena jika kau menemukan dia dan membawanya pulang, akan lebih menyakitkan bagimu. Cepat atau lambat, akan tiba harinya dia akan menghancurkanmu. Aku tidak bisa melihatmu menderita di bawah cengkeraman wanita seperti dia."
A Fei berpegangan sangat kuat.
Namun setiap kata diucapkan Li Sun-Hoan, pegangannya pun bertambah kuat.
Buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang begitu kuat.
Wajahnya pun memucat.
Matanya menjadi merah menyala.
Lanjut Li Sun-Hoan.
"Kalau kau berpisah dengannya sekarang, itu hanya membuat dirimu sedih untuk sebentar saja. Namun jika kau terus hidup bersamanya, kau akan menderita seumur hidupmu. Waktu kalian berpisah, sebenarnya kau pasti menyadari apa yang sudah terjadi…."
A Fei menyelanya.
"Kau adalah sahabatku."
"Ya."
"Sampai saat ini kau masih sahabatku."
"Ya."
"Tapi sejak saat ini, kita tidak bersahabat lagi!"
Li Sun-Hoan terkesiap mendengarnya.
"Kenapa?"
"Karena aku tahan jika kau menghinaku, tapi aku tidak bisa memaafkanmu karena kau telah menghina dia!"
"Kau pikir aku hanya bermaksud menghina dia?"
"Aku sudah berusaha sabar sampai sekarang, karena kita bersahabat. Tapi mulai hari ini, jika kau menghinanya sekali lagi, penghinaan itu harus dicuci dengan darah!"
Tubuh A Fei bergetar hebat saat mengatakannya.
"Darahmu atau darahku!"
Li Sun-Hoan tampak seperti baru saja ditonjok orang di perutnya. Ia melangkah mundur dua kali ke samping pintu. Ia mengatupkan mulutnya, tapi darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Kata A Fei.
"Sekarang aku akan mencari dia, dan aku akan menemukan dia kembali. Kuharap kau tidak berusaha mengikuti aku. Jika kau melakukannya, kau hanya akan menyesal!"
Sedikitpun tidak dipandangnya Li Sun-Hoan.
Setelah mengatakannya, ia segera pergi dari rumah itu.
Air mata biasanya terasa asin.
Tapi ada air mata yang masuk langsung ke dalam perut.
Rasanya bukan saja asin, namun sungguh-sungguh pahit.
Darah pun biasanya terasa asin.
Namun darah orang yang terluka hatinya, rasanya lebih pahit daripada air mata.
Li Sun-Hoan tidak tahu berapa lama ia sudah batuk darah.
Namun seluruh lengan bajunya sudah berwarna merah.
Ia pun tidak bisa berdiri tegak.
Jejak kaki di lantai semua berbercak darah.
Tiba-tiba Li Sun-Hoan teringat pada jejak kaki yang tidak beraturan di luar sana yang dilihatnya sebelum masuk.
Hatinya membeku.
A Fei pasti akan dapat menemukannya, karena Lim Sianji sengaja meninggalkan jejak di sana-sini.
Memang supaya A Fei dapat menemukannya.
Tidak harus sesuatu yang kelihatan jelas, karena A Fei memang sangat berbakat mencari jejak orang.
Kepandaiannya mungkin lebih daripada seekor anjing pelacak yang terlatih.
Tapi apakah yang akan terjadi waktu A Fei menemukannya?
Dapat dipastikan bahwa A Fei pasti akan menantang Lu Hong-sian berduel hidup dan mati.
Dan Lim Sian-ji sungguh menikmati dua laki-laki bertarung hidup dan mati demi dirinya.
Hanya memikirkan kemungkinan ini membuat Li Sun-Hoan berkeringat dingin.
Saat ini, A Fei bukan tandingan Lu Hong-sian.
Orang yang dapat menyelamatkannya hanya Li Sun-Hoan, namun…..
‘Kuharap kau tidak berusaha mengikuti aku.
Jika kau melakukannya, kau hanya akan menyesal!’ Dan Li Sun-Hoan tahu A Fei tidak pernah main-main dengan perkataannya.
Lagi pula, sudah sangat gelap di luar sekarang.
Kemampuan Li Sun-Hoan mengikuti jejak orang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan A Fei.
Walaupun ia ingin mengejar mereka, kemungkinan berhasilnya hampir tidak ada.
Li Sun-Hoan berusaha berdiri.
Ia mengangkat tubuh Ling Ling dan meletakkannya di atas tempat tidur dan menyelimuti dia.
Apapun konsekuensinya, ia akan berusaha mengejar mereka.
Li Sun-Hoan sudah berkeputusan bulat.
Walaupun A Fei Sudah tidak menganggap dirinya sebagai sahabat, Li Sun-Hoan akan selalu menganggap A Fei sebagai sahabatnya.
Rasa persahabatannya terhadap A Fei tidak akan pernah berubah.
Sama seperti rasa cintanya.
Walaupun laut menjadi kering dan gunung terbelah dua, hatinya tidak akan pernah berubah.
‘Si-im, Si-im, bagaimana kabarmu?’ Bab 64.
Sumber Segala Masalah Hanya kenangan akan Lim Si-im, sudah membawa rasa sakit yang menusuk hati Li Sun-Hoan.
Tapi ia tidak merasa perlu untuk mencarinya.
Karena ia tahu bahwa Liong Siau-hun akan selalu memperlakukannya dengan baik.
Walaupun Liong Siauhun telah banyak berubah, ia tahu bahwa perasaan Liong Siau-hun terhadap Lim Si-im tetap sama.
Selama ia masih setia terhadap Lim Si-im, Li Sun-Hoan dapat mengampuni semua kesalahannya.
Saat ini, tidak ada yang dapat menggambarkan betapa bahagianya perasaan Liong Siau-hun.
Dalam beberapa hari, ia akan menempati posisi Loji (Jisuheng) dalam Kim-ci-pang, menjadi saudara angkat seseorang yang paling kuat dan paling berpengaruh dalam dunia persilatan.
Bahkan wajah anaknya pun tampak begitu cerah.
Tapi yang mengecewakan dia adalah istrinya.
Mengapa ia tidak mau ikut bersamaku?
Mengapa ia tidak ingin berbagi dalam kejayaan dan keberhasilanku?
Namun ia tidak akan membiarkan hal ini merusak suasana hatinya.
Bagi sebagian orang, keinginan mereka yang terbesar dalam hidup adalah kekayaan.
Sebagian yang lain menginginkan kekuasaan.
Jika seseorang bisa mendapatkan salah satu saja, segala penderitaan dan kesakitan dalam kehidupan pribadinya akan terasa lebih ringan.
Liong Siau-in sedang memandang ke luar jendela, namun pikirannya melayang-layang entah ke mana.
Liong Siau-hun menepuk pundak anaknya dan bertanya.
"Apakah menurutmu kali ini Siangkoan Kim-hong sendiri yang akan datang dan menyambut kita?"
Anaknya menoleh dan menjawab.
"Sudah pasti. Dan upacaranya pun pasti akan sangat mewah."
Liong Siau-hun pun mengangguk setuju.
"Aku pun berpikir begitu. Aku sudah menjadi saudara angkatnya. Kalau ia memberi muka padaku, artinya ia pun mengangkat martabatnya sendiri."
Suaranya merendah saat berkata.
"Ketika ia datang, apakah aku harus menyebutnya ‘Ketua’ atau ‘Toako’?"
Sahut Liong Siau-in.
"Tentu saja ‘Toako’. Aku pun harus mengubah kebiasaanku dan membiasakan diri memanggilnya ‘Paman’."
Liong Siau-hun tertawa senang, katanya.
"Mempunyai paman seperti dia…. Kau sangat beruntung. Tapi….."
Tawanya berhenti saat ia melanjutkan.
"Li Sun-Hoan masih hidup. Apakah kau pikir Siangkoan Kim-hong akan mengingkari kata-katanya?"
Anaknya tersenyum dan menjawab.
"Semua pendekar sudah tahu akan acara ini. Undangan pun telah disebarkan. Jika ia mungkir, ialah yang akan kehilangan kredibilitas dan siapapun tidak akan mempercayai dia lagi."
Senyum kembali menghiasi wajah Liong Siau-hun.
"Kau benar. Reputasinya dalam dunia persilatan tergantung dari ketegasan perkataannya. Jika sudah keluar dari mulutnya, perkataannya tidak mungkin bisa ditarik kembali. Walaupun Siangkoan Kim-hong ingin mengubah keputusannya, sekarang sudah terlambat." *** Kertas-kertas di meja luar biasa banyaknya, sepertinya semakin hari bertambah semakin banyak. Tanggung jawabnya pun semakin hari semakin besar. Setiap persoalan selalu memerlukan perhatian dan keputusan pribadinya. Ia tidak percaya pada siapapun juga. Siangkoan Kim-hong berada di mejanya sampai subuh, bekerja tanpa istirahat sejak lama. Tapi ia tidak merasa lelah, bahkan sangat menikmatinya. Pintu terbuka. Seseorang melangkah masuk. Siangkoan Kim-hong tidak perlu menoleh untuk melihat siapa yang masuk. Karena hanya satu orang yang bisa langsung masuk ke dalam kamarnya. Hing Bu-bing. Hing Bu-bing berlaku seperti biasa. Setelah masuk ia berjalan menuju ke belakang Siangkoan Kim-hong. Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Di mana Li Sun-Hoan?"
"Ia sudah pergi."
Siangkoan Kim-hong menoleh memandang Hing Bu-bing.
Pandangannya langsung tertuju pada lengan Hing Bubing yang patah.
Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ia tidak berkata sepatah katapun.
Wajahnya pun tidak menunjukkan perasaan apapun.
Di wajah Hing Bu-bing pun tidak tampak ada perasaan apapun.
Matanya yang sangat pucat itu hanya memandang ke kejauhan.
Seolah-olah tidak ada yang berubah.
Ia tidak dimarahi, tapi ia pun tidak dihibur.
Apakah tangannya yang patah, atau kakinya yang patah, bukan urusan Siangkoan Kim-hong.
Setelah sekian lama, terdengar ketukan pintu.
Setumpuk lagi dokumen dibawa masuk.
Semuanya berwarna kuning.
Hanya ada satu yang berwarna merah, yang kelihatan sangat menyolok.
Siangkoan Kim-hong langsung membukanya dan membacanya cepat.
Hanya tertulis kata-kata singkat.
"Datang ke tempat biasa. Lu Hong-sian menunggu."
Siangkoan Kim-hong berdiri tanpa suara dan seperti sedang berpikir keras.
Ia segera membuat keputusan.
Ia pergi ke luar tanpa tergesa-gesa.
Hing Bu-bing mengikutinya di belakang seperti bayangan.
Keduanya keluar dari pintu, melalui jalan rahasia, melalui pekarangan terbuka, melalui seorang penjaga yang membungkuk dalam-dalam, dan sampai ke tempat yang terang, penuh sinar matahari.
Matahari musim gugur bagaikan seorang wanita di masa tuanya.
Tidak mampu lagi menggerakkan hati laki-laki.
Kedua orang ini masih berjalan beriringan, satu di depan satu di belakang….tapi tiba-tiba Hing Bu-bing merasa bahwa irama langkah Siangkoan Kim-hong telah berubah sedikit.
Hing Bu-bing tidak lagi dapat mengikuti iramanya dengan harmonis.
Walaupun langkah Siangkoan tidak bertambah cepat, namun jarak di antara mereka semakin lama semakin lebar.
Langkah Hing Bu-bing makin lama makin pelan, dan akhirnya berhenti sama sekali.
Siangkoan Kim-hong tidak menoleh.
Hanya dari sudut matanya ia melihat bayangan Hing Bu-bing yang makin lama makin jauh.
Mata yang kelabu dan mati itu sedikit demi sedikit memancarkan kepedihan yang mendalam dan tak terkatakan….
*** Hutan pinus yang lebat.
Begitu lebat sampai-sampai sinar matahari tidak dapat menembusnya sepanjang tahun.
Walaupun gelap, udara di situ lembab.
Angin sepoi-sepoi membawa wangi daun cemara.
Lim Sian-ji sedang bersandar pada sebatang pohon.
Tangannya menggenggam erat tangan Lu Hong-sian.
Tatapan matanya yang lembut dan merayu itu tidak pernah lepas dari wajah Lu Hong-sian.
Wajah Lu Hong-sian pucat.
Keriput mulai tampak di sudut matanya.
Angin musim gugur bertiup melalui hutan itu dan membawa kesejukan yang menentramkan hati.
Dengan suara lembut Lim Sian-ji bertanya.
"Apakah kau menyesal?"
Lu Hong-sian menggelengkan kepalanya dan balik bertanya.
"Menyesal? Mengapa aku menyesal? Bersama denganmu, tidak ada seorang laki-laki di dunia ini yang merasa menyesal."
Lim Sian-ji bersandar pada lengan Lu Hong-sian dan bertanya setengah berbisik.
"Apakah aku begitu istimewa?"
Lu Hong-sian meraih pinggangnya dan tersenyum.
"Tentu saja. Kau jauh melebihi bayanganku sebelumnya, melebihi apa yang dapat diimpikan laki-laki manapun…"
Perlahan-lahan tangannya meraba naik turun tubuh Lim Sian-ji. Suara nafas Lim Sian-ji terdengar semakin berat dan memekik kecil.
"Jangan sekarang…."
"Kenapa?"
Lu Hong-sian bertanya dengan tidak sabar. Sambil menggigit bibirnya Lim Sian-ji menjawab.
"Kau harus menjaga tenagamu untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong."
Ia melenggokkan tubuhnya, seolah-olah sedang berusaha menghindar dari Lu Hong-sian, namun akhirnya lebih mirip sebagai gerakan yang menggoda Lu Hongsian.
Lu Hong-sian terdiam sebentar sebelum ia mulai membelai tubuh Lim Sian-ji lagi dan berkata dengan nakal.
"Aku bisa ‘bertempur’ denganmu dulu sebelum bertempur dengan Siangkoan Kim-hong."
Kata Lim Sian-ji.
"Kau tidak boleh meremehkan dia. Ia tidak mudah dikalahkan seperti yang kau kira."
"Kau pikir aku tidak setanding dengannya?"
"Bukan….bukan begitu maksudku, hanya saja…."
Lim Sian-ji menggigit mesra telinga Lu Hong-sian, dan berbisik tepat di samping telinganya.
"Setelah kau membunuh Siangkoan Kim-hong, seluruh dunia akan menjadi milik kita. Kita akan bisa selalu bersama setiap saat. Kenapa harus terburu-buru sekarang?"
Kata-katanya yang sangat manis di antara angin musim gugur terdengar bagaikan lagu yang sangat merdu. Hati Lu Hong-sian pun terharu dan memeluknya semakin erat. Katanya.
"Kau sungguh memperhatikan aku…."
Tiba-tiba ia terdiam.
Lim Sian-ji segera mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukannya.
Suara langkah yang unik terdengar memenuhi seluruh hutan raya.
Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari suara langkah itu.
Namun entah mengapa, setiap langkah seakan-akan sedang menginjak-injak hati manusia.
Kini suara langkah itu berhenti.
Siangkoan Kim-hong berdiri di bewah bayangan sebatang pohon pinus di depan mereka.
Ia berdiri di situ tanpa bicara, tanpa bergerak.
Ia kelihatan seperti sebuah gunung es.
Gunung es yang tidak terduga.
Nafas Lu Hong-sian seakan-akan tercekat saat kata-kata ini keluar dari mulutnya.
"Siangkoan Kim-hong?"
"Lu Hong-sian?"
Siangkoan Kim-hong membalasnya dari bawah sebuah topi bambu yang lebar, yang menutupi matanya. Ia tidak menjawab, malah balik bertanya.
"Ya,"
Sahut Lu Hong-sian.
Namun sesaat setelah menjawab, Lu Hong-sian merasa sangat menyesal karena ia menjawab.
Ia merasa kehilangan kendali.
Kini kendali berada di tangan Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong tersenyum dingin dan berkata.
"Bagus, memang Lu Hong-sian pantas untuk kulayani secara pribadi."
Lu Hong-sian pun tertawa dingin.
"Jika kau bukan Siangkoan Kim-hong, kau pun tidak cukup berharga untuk kubunuh."
Setelah mengucapkannya, kembali ia merasa menyesal.
Walaupun perkataannya penuh dengan hasrat membunuh, ia kedengaran seperti hanya membeo ucapan Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong masih berdiri di sana tidak bergerak sampai cukup lama.
Tiba-tiba ia melirik tajam ke arah Lim Sian-ji dari balik topi bambunya.
Lim Sian-ji masih berdiri di samping pohon pinus tadi.
Tatapan matanya yang lembut, perlahan-lahan berubah menjadi tajam dan panas.
Ia tahu sebentar lagi darah akan tercurah.
Ia sangat suka melihat laki-laki mencucurkan darah demi dirinya!
"Kemari kau,"
Perintah Siangkoan Kim-hong pada Lim Sian-ji. Mata Lim Sian-ji memancarkan rasa kuatir. Ia menoleh pada Lu Hong-sian, lalu memandang pada Siangkoan Kim-hong. Lu Hong-sian tertawa. Katanya.
"Ia tidak akan datang padamu."
Lagi, Lim Sian-ji bolak-balik memandangi Siangkoan Kimhong dan Lu Hong-sian.
Lim Sian-ji tahu, saat ini ia harus memilih salah satu di antara mereka berdua.
Ia pun tahu siapa pun yang dipilihnya harus menjadi pemenang.
Tapi masalahnya, siapakah yang akan menang?
Siangkoan Kim-hong masih tetap berdiri di situ dengan tenang.
Matanya memancarkan rasa percaya diri yang besar.
Nafas Lu Hong-sian sudah menjadi tidak teratur.
Ia mulai kelihatan kuatir.
Tiba-tiba Lim Sian-ji menertawainya.
Lu Hong-sian hanya bisa menyumpah-nyumpah dalam hati saat Lim Sian-ji berlari kecil ke arah Siangkoan Kimhong bagaikan seekor burung walet.
Ia telah menjatuhkan pilihan.
Ia tahu bahwa pilihannya tidak mungkin salah!
Lu Hong-sian menyipitkan matanya.
Hatinya pun mulai mengkerut.
Inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hinaan orang.
Dan ini pun pertama kali dalam hidupnya ia merasakan kekalahan.
Dua rasa sakit hati bergabung, dua kali lipat pula beratnya untuk menanggungnya!
Ia juga merasakan dua pukulan hebat.
Rasa percaya diri dan kehormatannya hancur berkeping-keping.
Tangannya mulai gemetar.
Siangkoan Kim-hong memandangnya dingin dan berkata.
"Kau sudah kalah!"
Tangan Lu Hong-sian makin gemetaran tidak tertahankan. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kau tidak akan membunuhmu karena kau tidak lagi cukup berharga untuk kubunuh!"
Siangkoan Kim-hong langsung memutar badannya dan melangkah pergi. Lim Sian-ji mengekor di belakangnya. Setelah beberapa langkah, ia menoleh pada Lu Hong-sian dan berkata sambil cekikikan.
"Kurasa kau lebih baik mati saja."
Lu Hong-sian telah kalah dalam pertempuran ini sebelum bergerak satu jurus pun.
Dalam pikirannya pun dia tahu dia sudah kalah telak.
Ia tidak mengucurkan darah setetes pun, namun jiwa dan seluruh kehidupannya sudah hancur lebur.
Semangat dan rasa percaya dirinya sudah hilang sama sekali.
Ia hanya bisa memandang Siangkoan Kim-hong berjalan ke luar hutan itu.
Ia tidak punya semangat dan keberanian untuk mengejarnya.
Walaupun Siangkoan Kim-hong tidak menyerang sama sekali, ia telah merenggut hidup Lu Hong-sian.
‘Kurasa kau lebih baik mati saja.’ Memang sudah tidak ada lagi gunanya terus hidup.
Tiba-tiba Lu Hong-sian jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
Lim Sian-ji berlari ke samping Siangkoan Kim-hong dan menggamit lengannya.
Katanya dengan manis.
"Hanya kau yang ada di hatiku sekarang!"
"Aku?"
"Ya. Walaupun Hing Bu-bing dengan pedangnya dapat membunuh paling cepat, kau jauh lebih cepat lagi. Karena….karena kau dapat membunuh tanpa mengangkat seujung jari pun!"
"Itu karena aku belum pernah bertemu dengan siapapun yang cukup berharga bagiku untuk mengangkat seujung jari."
"Orang di dunia ini yang setanding denganmu jumlahnya sangat sedikit…. Aku pikir hanya ada satu."
Saat mengatakannya, mata Lim Sian-ji bercahaya. Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Li Sun-Hoan?"
Lim Sian-ji menghela nafas dan berkata.
"Orang itu adalah orang yang dapat menghilang sewaktu-waktu, namun juga orang yang tidak pernah mau pergi. Kadangkadang aku sendiri tidak tahu orang macam apakah dia. Apakah ia seorang pria sejati? Apakah ia seorang tolol? Atau seorang pendekar?"
Jawab Siangkoan Kim-hong dingin.
"Sepertinya kau selalu memperhatikannya."
Lim Sian-ji tertawa.
"Tentu saja aku harus selalu memperhatikannya, sebab aku tidak ingin mati di tangannya."
"Hmm?"
Lim Sian-ji menjelaskan.
"Terhadap kekasihnya, perhatian seseorang pun semakin lama semakin luntur. Namun terhadap musuhnya, tidak boleh demikian."
Ia menatap Siangkoan Kim-hong dan melanjutkan.
"Aku yakin kau pasti memahaminya lebih daripada siapapun juga."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Ada beberapa jenis perhatian. Apakah kau membencinya? Kau takut padanya? Atau kau mencintainya?"
Lim Sian-ji tertawa merajuk.
"Apakah kau mulai cemburu?"
Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan A Fei?"
"Dia jelas cemburu."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku hanya ingin tahu mengapa kau belum juga membunuhnya?"
Lim Sian-ji balik bertanya.
"Aku pun ingin tahu, mengapa Hing Bu-bing tidak membunuhnya?"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Karena awalnya aku ingin kau yang membunuhnya. Kau tidak tega?"
"Membunuh orang itu gampang. Yang lebih sulit adalah membuat orang menuruti setiap perkataanmu. Sampai sekarang, aku belum pernah bertemu dengan orang yang sepatuh dia."
Lalu Lim Sian-ji menghambur ke pelukan Siangkoan Kimhong dan berkata lagi.
"Aku datang bukan untuk berdebat denganmu. Jika kau memang ingin aku membunuhnya, masih banyak kesempatan di kemudian hari. Aku pasti akan menuruti keinginanmu."
Tidak ada seorang pun yang bisa kesal pada Lim Sian-ji.
Ia sama halnya seperti seekor kucing yang mahal.
Sewaktu ia mencakar wajahmu, sebelum kau merasa sakit, ia sudah menjilatimu dengan sayang.
Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat.
Di bawah sinar matahari terbenam, wajahnya tampak begitu rapuh bagai porseLim.
Sentuhan yang paling ringan pun dapat merusaknya.
Kelembutan angin musim gugur yang sepoi-sepoi tidak dapat dibandingkan dengan kelembutan nafas yang keluar dari mulutnya.
Perlahan-lahan Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya.
Bibirnya melekat di bibir Lim Sian-ji.
Tiba-tiba Lim Sian-ji mengangkat kepalanya dari dada Siangkoan Kim-hong dan jatuh ke tanah.
Bola mata Siangkoan Kim-hong berputar, namun tubuhnya tidak bergerak.
Bahkan ujung jarinya pun masih ada di tempat yang sama.
Ia tidak melirik sedikitpun pada Lim Sian-ji, malah memandangi rumput yang sudah menguning di situ.
Tidak ada sesuatupun di rumput yang menguning itu.
Namun setelah beberapa saat, sesosok bayangan terlihat di situ.
Ada yang datang!
Bayangan orang itu memanjang akibat sinar matahari sore.
Langkah kakinya tidak bersuara.
Langkah kaki orang itu ringan bagaikan seekor rubah.
Siangkoan Kim-hong tetap tidak menoleh.
Lim Sian-ji yang masih terbaring di tanah mulai merintih.
Bayangan itu sudah dekat sekarang.
Ia berhenti tepat di belakang Siangkoan Kim-hong.
Terdengar suara.
"Aku tidak pernah membunuh dari belakang. Tapi kali ini, aku harus membuat pengecualian."
Suara orang itu dingin dan tegas.
Namun karena marah dan kegalauan hatinya, terdengar gemetar.
Nada suaranya memang seperti orang yang sebentar lagi akan membunuh.
Namun Siangkoan Kim-hong tidak bergerak.
Ia pun tidak berbicara.
Bayangan itu mengangkat tangannya.
Ada sebilah pedang di tangannya, namun ia tidak menusukkannya.
Lagi suara itu bertanya.
"Apakah kau tetap tidak mau menoleh?"
Siangkoan Kim-hong menjawab dengan tenang.
"Aku masih bisa membunuh orang yang berdiri di belakangku. Buat apa repot-repot menoleh?"
Setelah kalimatnya selesai, suara rintihan pun berhenti. Mata Lim Sian-ji terbelalak dan berseru.
"A Fei!"
Ia bangkit dari sisi Siangkoan Kim-hong dan menghampiri A Fei.
Bayangannya menyatu dengan bayangan di atas rumput kering itu.
Siangkoan Kim-hong menatap dua bayangan di atas tanah itu.
Lalu ia mulai berjalan ke depan perlahanlahan….
dan berhenti saat ia berada tepat di atas kedua bayangan itu.
Pedang di tangan A Fei telah jatuh ke tanah.
Lim Sian-ji menggenggam tangannya dan berbisik.
"Kau akhirnya datang, aku tahu kau pasti datang…."
Ia mengulanginya sampai beberapa kali.
Tiap kali makin halus, makin lembut, makin merdu.
Kelembutan suaranya dapat mencairkan gunung es.
Hati A Fei pun mulai mencair.
Kegelisahannya, kegundahannya, kebenciannya, langsung mereda.
Kata Lim Sian-ji.
"Aku tahu jika kau tidak menemukanku, kau pasti akan kuatir dan kau pasti akan datang mencariku."
Ia melihat wajah A Fei pucat kehijauan. Matanya menjadi merah dan mulai tersedu-sedu sambil berkata.
"Selama mencariku, kau pasti sangat menderita."
Sahut A Fei.
"Kalau bisa menemukanmu, aku sudah sangat puas."
Apapun resikonya, ia akan mempertaruhkan segalanya demi menemukan Lim Sian-ji.
Apapun yang harus dideritanya, ia akan menanggungnya demi menemukan Lim Sian-ji.
Tiba-tiba, sebilah pedang berkilat!
Pedang yang tadi tergeletak di tanah telah terangkat naik, kilat sinarnya secepat pagutan ular, dan pedang pun kini telah tergenggam.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong telah berdiri di depan mereka.
Tatapannya yang tanpa emosi terfokus ke ujung pedang.
Pedang ini pedang baja biasa.
Sebilah pedang yang ‘dipinjam’ A Fei dari orang yang ditemuinya dalam perjalanan.
Namun kelihatannya Siangkoan Kim-hong tertarik sekali pada pedang itu.
Dengan Lim Sian-ji di sampingnya, tidak ada yang dapat mencuri perhatian A Fei.
Baru kini ia menyadari ada orang lain di situ.
Orang yang tadinya hendak ia bunuh.
Kini pedangnya sudah berada di tangan orang itu.
Pedang biasa itu kini telah berubah menjadi sebilah pedang yang memancarkan hawa membunuh!
Tanya A Fei tajam.
"Siapa kau?"
Siangkoan Kim-hong tidak menjawab.
Ia tidak memandang A Fei sedikit pun.
Tatapan matanya yang dingin masih terpaku pada ujung pedang itu.
Akhirnya senyum enggan tampak di sudut mulutnya.
Senyum yang mengejek.
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Kau ingin membunuh dengan pedang ini?"
"Memang kenapa pedang itu?"
"Pedang ini tidak bisa membunuhku."
Jawab A Fei.
"Semua pedang bisa membunuh."
Siangkoan Kim-hong tertawa dan menyahut.
"Tapi ini bukan pedangmu. Jika kau memaksa ingin menggunakan pedang ini, maka yang akan terbunuh adalah kau sendiri."
Pedang berkilat lagi, dan berputar. Kini Siangkoan Kim-hong memegang ujung pedang itu di antara kedua jarinya dan menyorongkan gagang pedang itu ke hadapan A Fei. Katanya sambil tersenyum lebar.
"Kalau kau tidak percaya, coba saja."
Sebelum A Fei mengulurkan tangannya, otot-ototnya telah mengejang.
Ia menyadari bahwa di hadapan orang ini ia merasakan suatu perasaan aneh.
Perasaan yang tidak pernah dirasakannya sebelum ini.
Perasaan yang membuat hatinya galau, membuat perutnya terasa melilit, membuat dia ingin muntah.
Namun bagaimana mungkin ia tidak mengambil pedang itu?
Akhirnya ia mengulurkan tangan.
Sebelum tangannya menyentuh gagang pedang itu, pedang itu telah dirampas oleh tangan yang lain.
Tangan yang halus dan lembut.
Mata Lim Sian-ji berkaca-kaca saat memandang A Fei dan berkata.
"Apakah kau ingin membunuhnya? Tahukah kau siapa dia?"
Lanjut Lim Sian-ji.
"Ia adalah penyelamatku."
Bab 65. Manipulasi Tanya A Fei.
"Penyelamat?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Lu Hong-sian telah……memaksaku, menyiksaku. Aku ingin mati, tapi tidak dapat. Jika bukan karena dia, aku tidak tahu apa yang….."
Air matapun membasahi wajahnya. A Fei sungguh terkejut. Lim Sian-ji masih terisak-isak waktu berkata.
"Aku berharap kau dapat membalas kebaikannya, tapi sekarang kau malah….."
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong menyela.
"Membunuh seseorang juga bisa menjadi salah satu cara untuk membalas budi."
Lim Sian-ji menoleh dan bertanya.
"Kau….kau ingin dia membunuh seseorang untukmu?"
Jawab Siangkoan Kim-hong.
"Karena ia berhutang satu nyawa padaku, mengapa tidak membiarkannya membalas dengan satu nyawa lain?"
Kata Lim Sian-ji.
"Tapi akulah yang kau selamatkan, bukan dia."
"Hutangmu adalah hutangnya. Benar kan?"
Tanya Siangkoan Kim-hong pada A Fei. Lim Sian-ji memandang wajah A Fei. A Fei mengertakkan giginya dan menjawab.
"Aku akan membayar lunas hutangnya!"
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Pernahkah kau berhutang?"
Jawab A Fei tegas.
"Tidak pernah!"
Siangkoan Kim-hong tersenyum kecil.
"Dengan nyawa siapa kau akan membayarnya?"
Jawab A Fei.
"Siapa saja yang kau inginkan, kecuali satu orang."
"Satu orang siapa?"
"Li Sun-Hoan."
Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek.
"Apakah kau takut padanya?"
Mata A Fei penuh dengan kesedihan saat menjawab.
"Aku tidak akan membunuhnya, karena aku berhutang padanya lebih banyak lagi."
Siangkoan Kim-hong tertawa, katanya.
"Baik. Kalau kau mengingat hutangmu padanya, kaupun akan mengingat hutangmu padaku."
Tanya A Fei datar.
"Nyawa siapa yang kau inginkan?"
Perlahan-lahan Siangkoan Kim-hong memutar badannya dan berkata.
"Ikut aku."
Hari mulai gelap.
A Fei tidak menggandeng tangan Lim Sian-ji karena ia merasakan kegalauan dalam hatinya.
Hanya saja ia tidak tahu apa yang mengganggu perasaannya.
Siangkoan Kim-hong yang berjalan di depan tidak pernah menoleh.
Namun, entah bagaimana A Fei merasa bahwa Siangkoan Kim-hong sedang mengawasinya sepanjang waktu.
Ia merasakan tekanan yang begitu kuat mengganduli hatinya.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin berat tekanan itu.
Bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam.
Padang luas itu bagaikan kehampaan yang tidak terbatas.
Suara anginpun tidak terdengar lagi.
Tidak ada secuilpun suara yang terdengar.
Bahkan serangga yang biasanya berdengung dengan giat di malam musim gugur pun tidak bersuara.
Seakan-akan satu-satunya suara di alam semesta ini adalah suara langkah kaki mereka.
A Fei baru menyadari bahwa langkahnya yang biasanya tidak terdengar kini bersuara.
Terlebih lagi, suaranya seirama dengan suara langkah Siangkoan Kim-hong.
Satu setelah yang lain, membuat langkah-langkah mereka melebur menjadi suatu ritme yang aneh.
Seekor jangkrik yang baru saja melompat dari rumput kering dekat situ seakan-akan ketakutan mendengar ritme langkah mereka, dan melompat balik ke dalam rerumputan itu.
Bahkan derap langkah mereka mengandung hawa membunuh.
Apa yang menyebabkannya?
A Fei tidak pernah bersuara saat berjalan.
Tapi mengapa tiba-tiba kakinya terasa amat berat?
Apa penyebabnya?
A Fei memandang ke bawah dan baru tahu apa sebabnya.
Langkahnya tepat jatuh di antara dua langkah Siangkoan Kim-hong.
Waktu ia melangkah, Siangkoan Kim-hong akan melangkah yang kedua.
Waktu ia melangkah ketiga, Siangkoan Kim-hong akan melangkah yang keempat.
Tiap langkah sangat teratur dan tanpa cela.
Jika ia mempercepat langkahnya, Siangkoan Kim-hong pun akan mempercepat langkahnya.
Jika ia memperlambat, Siangkoan Kim-hong pun akan memperlambat.
Dari semula, Siangkoan Kim-honglah yang mengkoordinasi langkah mereka.
Namun kini, ia baru menyadari bahwa waktu Siangkoan Kim-hong mempercepat langkahnya, secara otomatis kaki A Fei pun akan mempercepat langkahnya juga.
Waktu Siangkoan Kim-hong memperlambat langkahnya, kaki A Fei akan memperlambat langkahnya.
Seolah-olah Siangkoan Kim-hong mengendalikan gerakan kakinya dan ia tidak mampu melepaskan diri dari kendalinya!
A Fei mulai berkeringat dingin.
Namun entah mengapa, ia merasa bahwa berjalan seperti ini terasa menenangkan.
Ia merasa tiap inci ototototnya menjadi rileks.
Seakan-akan seluruh jiwa dan raganya terhipnotis oleh ritme langkah ini.
Derap langkah ini dapat menggetarkan sukma manusia.
Lama-kelamaan, Lim Sian-ji pun merasakannya.
Matanya yang indah itu menjadi awas dan waspada, memancarkan kekejaman.
A Fei adalah miliknya.
Hanya dia yang boleh mengendalikan A Fei.
Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun merampas A Fei dari genggamannya!
Matahari sudah mulai condong ke barat.
Malam akan segera tiba.
Bintang-bintang akan segera menghiasi langit malam….
*** Hing Bu-bing masih berdiri di situ.
Masih berdiri di tempat yang sama tempat jejaknya yang terakhir.
Tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Pandangan matanya pun tidak berganti.
Namun bayangan Siangkoan Kim-hong yang tadi nampak di atas tanah sudah menghilang untuk selamanya.
Tapi kini, sosok Siangkoan Kim-hong tiba-tiba muncul kembali.
Mula-mula Hing Bu-bing melihat pucuk topi bambunya, lalu jubah kuningnya, lalu pedangnya yang berkilauan diterpa cahaya bulan.
Lalu ia melihat A Fei.
Jika seseorang melihat mereka sepintas saja dari kejauhan, pasti mereka mengira Hing Bu-binglah yang berjalan bersama Siangkoan Kim-hong, karena irama langkah mereka begitu unik dan serasi.
Siapa sangka kini A Fei telah mengambil posisi Hing Bubing?
Mata Hing Bu-bing kelihatan lebih gelap daripada abu.
Sangat gelap, sampai cahaya bulan dan bintangbintangpun kelihatan redup.
Kegelapan yang dapat menyedot fajar yang akan tiba menjadi suatu kehampaan, kesia-siaan hidup; yang membuat ‘kematian’ pun menjadi tidak berarti apa-apa.
Kehampaan total.
Ekspresi wajahnya lebih kosong lagi daripada sorot matanya.
Siangkoan Kim-hong berjalan mendekatinya dan berhenti tepat di hadapannya.
Langkah A Fei pun berhenti.
Tatapan Siangkoan Kim-hong terfokus pada sesuatu di kejauhan.
Tidak sedikitpun ia melirik Hing Bu-bing.
Tibatiba tangannya terulur ke arah pinggang Hing Bu-bing dan diambilnya pedang Hing Bu-bing.
Katanya dingin.
"Kau tidak akan bisa lagi menggunakan pedang ini."
"Ya,"
Jawab Hing Bu-bing pendek.
Suaranya pun mengandung kehampaan.
Bahkan dirinya sendiri pun tidak yakin bahwa perkataan itu keluar dari mulutnya.
Siangkoan Kim-hong masih memegang pedang baja biru itu di antara jemarinya.
Ia menyerahkan gagang pedang itu pada Hing Bu-bing.
Katanya.
"Pedang ini untukmu."
Perlahan-lahan tangan Hing Bu-bing terulur untuk menerimanya. Kata Siangkoan Kim-hong lagi.
"Pedang apapun sekarang tidak ada bedanya bagimu."
Walaupun ia begitu dekat dengan Hing Bu-bing, tidak sekalipun Hing Bu-bing dipandangnya.
A Fei pun berada dekat situ dan ia pun tidak memandang Hing Bu-bing sama sekali.
Lim Sian-ji tersenyum nakal padanya dan berkata.
"Apakah matipun jadi begitu sulit?"
Segumpal awan melayang menutupi langit.
Tiba-tiba suara guntur menggelegar memecahkan kesunyian dan hujan pun turun.
Hing Bu-bing tetap tidak bergerak, dan berdiri mematung dalam hujan.
Kini badannya sudah basah kuyup.
Titik-titik air mengumpul di sudut matanya.
Apakah itu air hujan?
Atau air mata?
Namun bagaimana mungkin Hing Bu-bing bisa meneteskan air mata?
Orang yang tidak pernah mengucurkan air mata, biasanya hanya mengucurkan darah!
Pedang itu.
Setipis kertas dan setajam belati.
Cahaya pelita tampak tenang.
Terlihat kilatan pedang.
Kilatan biru.
*** Jendela itu tertutup rapat.
Hujan begitu lebat di luar.
Hawa dalam rumah sangat sejuk.
Di bawah cahaya pelita yang tenang A Fei dapat meneliti pedang itu.
Matanya terpaku sangat lama pada pedang itu.
Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat dan bertanya.
"Apa pendapatmu tentang pedang ini?"
"Bagus. Sangat bagus."
"Dibandingkan dengan yang biasanya kau gunakan?"
"Terasa lebih ringan."
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong merebut pedang itu dengan dua jarinya dan membengkokkan ujungnya, sampai menyentuh badan pedang, sehingga membentuk Lingkaran.
Terdengar bunyi ‘Wung’ yang keras.
Suaranya seperti naga mengaum.
Mata A Fei yang dingin menjadi tertarik.
Siangkoan tersenyum dan bertanya.
"Dalam hal ini, bagaimana jika dibandingkan dengan pedangmu?"
"Pedangku akan patah jika dibengkokkan seperti itu."
Lalu Siangkoan Kim-hong melepaskan jarinya dan pedang itu pun melesat kembali.
Cawan teh yang berada di atas meja terbelah menjadi dua, seakan-akan terbuat dari kayu yang sudah lapuk.
A Fei tidak dapat menahan rasa kagumnya dan berseru.
"Pedang yang luar biasa!"
Siangkoan Kim-hong menjelaskan.
"Memang pedang yang sangat baik. Sangat ringan dan tidak tumpul. Sangat ringan tapi tidak ringkih. Kuat dan sangat fleksibel. Walaupun terlihat biasa dan tidak menarik, pedang ini adalah karya agung seorang ahli pembuat pedang nomor satu di dunia, Tuan Gu. Dan lagi, pedang ini khusus dibuat untuk mengakomodasi gaya permainan pedang Hing Bu-bing."
Sambung Siangkoan Kim-hong sambil tertawa.
"Memang pedang ini sangat mirip dengan Hing Bu-bing, bukan?"
Sahut A Fei.
"Sangat mirip."
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Walaupun serangan Hing Bubing sangat kejam dan mematikan, seranganmu lebih tepat dan akurat. Karena kau jauh lebih sabar dari dia. Mungkin pedang ini lebih cocok untukmu."
A Fei terdiam cukup lama sebelum menjawab.
"Pedang ini bukan pedangku."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Pedang tidak punya pemilik khusus. Siapa pun yang bisa, dapat menggunakannya."
Ia meletakkan pedang itu ke samping A Fei dan dengan sorot mata sinis ia berkata.
"Dan kini, pedang ini sudah menjadi milikmu."
Kembali A Fei terdiam lama. Kata-kata yang keluar dari mulutnya masih sama.
"Ini bukan pedangku."
"Dengan pedang ini, pedang manapun juga bisa menjadi milikmu. Dengan pedang ini, kau dapat membunuh siapapun juga."
Lalu dengan tersenyum ia menambahkan.
"Bahkan kau dapat membunuhku."
Kali ini A Fei diam saja. Lanjut Siangkoan Kim-hong.
"Kau berhutang padaku. Kau harus membunuh untukku. Maka aku memberikan senjatanya kepadamu. Cukup adil, bukan?"
A Fei mengulurkan tangannya dan mengambil pedang itu. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Bagus! Bagus sekali! Dengan pedang ini, hutangmu dapat terbayar lunas besok."
"Siapa yang kau ingin aku bunuh?"
"Jangan kuatir. Aku tidak akan menyuruhmu membunuh seorang sahabat…."
Sebelum kalimatnya selesai, Siangkoan Kim-hong sudah keluar dari ruangan itu dan menutup pintu. Mereka dapat mendengar suaranya di luar.
"Kedua orang dalam kamar ini adalah tamu-tamuku. Sebelum tiba besok pagi, jangan biarkan siapapun mengganggu mereka."
Kini hanya A Fei dan Lim Sian-ji yang berada di kamar itu.
Lim Sian-ji dari tadi hanya duduk tenang, tidak mengangkat kepalanya sama sekali.
Ketika Siangkoan Kim-hong masih berada di sana, ia pun tidak melirik sedikitpun pada Lim Sian-ji.
Selama itu, ia pun tidak berbicara.
Hanya sewaktu A Fei mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang itu, mulutnya tampak bergerak sedikit, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi.
Kini setelah tingga mereka berdua di sana, barulah ia bicara.
"Apakah kau benar-benar akan membunuh untuk dia?"
A Fei mendesah.
"Aku berhutang padanya, dan aku sudah berjanji padanya."
"Tahukah kau siapa yang harus kau bunuh?"
"Ia belum bilang."
"Apakah kau belum bisa menerka?"
A Fei balik bertanya.
"Apakah kau sudah tahu?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Jika tebakanku benar, orang itu adalah Liong Siau-hun."
"Liong Siau-hun? Mengapa?"
Lim Sian-ji tersenyum dan menjawab.
"Karena Liong Siau-hun bermaksud untuk memanfaatkan dia. Tapi ia tidak akan membiarkan orang memanfaatkannya. Hanya dialah yang boleh memanfaatkan orang lain."
"Liong Siau-hun seharusnya sudah dibunuh dari dulu."
"Tapi sebaiknya kau tidak melakukannya."
"Kenapa?"
Lim Sian-ji tidak menjawab, malah balik bertanya.
"Tahukah kau mengapa Siangkoan Kim-hong menyuruhmu membunuh Liong Siau-hun, dan tidak melakukannya sendiri?"
"Lebih mudah menyuruh orang lain daripada melakukannya sendiri."
"Namun jika Siangkoan Kim-hong menginginkan kematian Liong Siau-hun, itu bukan hal yang sulit. Lagi pula, pesilat tangguh dalam Kim-ci-pang jumlahnya tidak sedikit. Jangankan seorang Liong Siau-hun, seratus atau seribu Liong Siau-hun pun tidak sulit dibasmi. Jika Siangkoan Kim-hong tidak ingin membunuhnya dengan tangannya sendiri, ia cukup mengucapkannya dan semua bawahannya siap melakukannya."
Tanya A Fei.
"Jadi tahukah kau maksud sesungguhnya?"
"Sudah pasti aku tahu….dua hari lagi adalah tanggal satu."
"Ada apa dengan tanggal satu?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Semua orang dalam dunia persilatan tahu bahwa pada tanggal satu, Liong Siau-hun dan Siangkoan Kim-hong akan mengangkat persaudaraan."
A Fei tercengang.
"Apakah mata Siangkoan Kim-hong sudah lamur?"
"Sudah tentu ia tidak ingin menjadi saudara angkat Liong Siau-hun. Namun ia pun tidak ingin orang menganggapnya sebagai orang yang tidak pegang janji. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan membunuh Liong Siau-hun."
Lim Sian-ji tersenyum sambil menambahkan.
"Orang mati kan tidak bisa menjadi saudara angkat orang hidup."
A Fei terdiam. Kata Lim Sian-ji lagi.
"Tapi karena mereka sudah menyebarkan pemberitahuan bahwa mereka akan mengangkat persaudaraan, Siangkoan Kim-hong tidak dapat turun tangan padanya lagi. Ia pun tidak dapat menyuruh bawahannya untuk membereskannya. Maka ia harus menggunakan tanganmu."
Tambahnya lagi sambil tersenyum lebar.
"Lagi pula, kau memang orang yang paling cocok untuk membunuh Liong Siau-hun."
Tanya A Fei.
"Kenapa?"
"Karena kau sama sekali tidak terkait dengan Kim-cipang. Dan juga karena Li Sun-Hoan adalah sahabatmu. Semua orang tahu Liong Siau-hun pernah mengkhianati Li Sun-Hoan."
Lim Sian-ji menghela nafas panjang dan melanjutkan.
"Oleh sebab itu, jika kau membunuh Liong Siau-hun, semua orang akan menyangka bahwa kau membunuhnya demi Li Sun-Hoan. Tidak ada yang akan tahu bahwa ini semua dirancang oleh Siangkoan Kimhong."
Kata A Fei dingin.
"Walaupun bukan demi siapapun juga, aku tidak ingin membiarkan orang semacam itu hidup lebih lama di dunia ini."
"Akan tetapi, setelah kau membunuh Liong Siau-hun, Siangkoan Kim-hong akan membunuhmu."
A Fei terdiam. Lanjut Lim Sian-ji.
"Ia akan membunuhmu bukan saja untuk menutup mulutmu, tapi ia akan membunuhmu supaya semua orang mengira bahwa ia melakukannya sebagai pembalasan kematian saudara angkatnya. Dan semua orang akan memuji perbuatannya."
Mata A Fei beralih ke arah pedang di tangannya. Kata Lim Sian-ji.
"Ilmu silat Siangkoan Kim-hong sangat dalam dan hebat, kau….kau tidak berpikir untuk….."
I tidak menyelesaikan perkataannya. Ia menghambur ke dalam pelukan A Fei dan berbisik perlahan.
"Ia tidak ada di sini. Mari kita melarikan diri saja."
"Melarikan diri?"
"Aku tahu bahwa kau tidak pernah melarikan diri dari apapun juga. Tapi kali ini, hanya sekali ini saja, bisakah kau melakukannya demi aku?"
"Tidak,"
Jawab A Fei datar.
"Tidak juga demi aku?"
Suara Lim Sian-ji menjadi sangat lembut, dan air mata mulai mengalir dari matanya.
Ia telah menggunakan senjatanya yang paling mematikan.
A Fei tidak memandangnya.
Matanya memandang ke kejauhan.
Ia menjawab perlahan.
"Demi dirimulah, aku tidak dapat melakukannya."
"Kenapa?"
"Demi dirimu, aku tidak akan menjadi pengecut dan ingkar janji."
"Ta…tapi…."
Lim Sian-ji meringkuk di dada A Fei dan menangis tersedu-sedu. Katanya.
"Aku tidak peduli apakah kau seorang pengecut atau pemberani. Kau adalah orang yang kucintai, dan aku hanya ingin kau tetap hidup dan berada di sisiku."
Wajah A Fei yang tegang kembali melemah. Katanya dengan lembut.
"Bukankah aku ada di sisimu sekarang?"
Lim Sian-ji terus menangis.
"Kadang-kadang aku tidak mengerti jalan pikiranmu."
"Jalan pikiranku sangat sederhana, dan tidak akan pernah berubah."
Memang semakin sederhana pikiran manusia, ia pun semakin teguh dan tidak mudah berubah. Lim Sian-ji menatapnya dengan air mata berLimang-Limang.
"Apakah prinsipmu tidak akan pernah berubah?"
"Tidak akan."
Jawabannya pun sangat sederhana.
Lim Sian-ji bangkit dan perlahan-lahan berjalan menuju ke jendela.
Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar di luar.
Bahkan tidak terdengar suara dengung serangga ataupun kicau burung.
Mahluk hidup apapun yang datang ke tempat ini tiba-tiba merasa bahwa hidup ini sungguh sia-sia.
Satu-satunya yang pati di tempat ini adalah rasa ‘kematian’.
Berdiri atau duduk.
Di luar atau di dalam.
Perasaan itu terus membuntutimu.
Setelah sekian lama, akhirnya Lim Sian-ji mendesah dan berkata.
"Aku baru menyadari bahwa hubunganmu dengan Li Sun-Hoan sangat mirip dengan hubungan Siangkoan Kim-hong dengan Hing Bu-bing."
"Hmm?"
"Tujuan hidup Hing Bu-bing adalah mengikuti perintah Siangkoan Kim-hong. Maka sudah tentu Siangkoan Kimhong memperlakukannya dengan baik, sampai hari ini….."
Senyum pahit terbayang di wajahnya saat ia melanjutkan.
"Kini, Hing Bu-bing tidak berguna lagi, sehingga Siangkoan Kim-hong mengusirnya begitu saja seperti seekor anjing liar. Kurasa, ia tidak pernah menyangka bahwa semua akan berakhir seperti ini."
Kata A Fei.
"Seharusnya ia sudah menyadari sejak lama."
"Kalau ia sudah menyadarinya, apakah ia akan terus melakukannya?"
"Ia melakukannya karena tidak ada pilihan lain."
Tanya Lim Sian-ji tajam.
"Lalu bagaimana dengan engkau?"
A Fei kembali terdiam. Kata Lim Sian-ji.
"Li Sun-Hoan memperlakukanmu dengan baik karena kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat membantunya. Tanpa dirimu, ia sebatang kara. Tapi jika kau sudah tidak berguna lagi baginya, tidakkah iapun akan memperlakukanmu sama seperti Siangkoan Kim-hong memperlakukan Hing Bu-bing?"
Tidak terdengar suara apapun sampai lama. Lalu A Fei tiba-tiba berkata.
"Lihatlah ke sini."
Ia berkata dengan perlahan namun tegas. Ia tidak pernah bicara seperti ini terhadap Lim Sian-ji sebelumnya. Tangan Lim Sian-ji yang masih memegang daun jendela mempererat pegangannya. Tanyanya.
"Untuk apa?"
"Karena aku ingin menjelaskan dua hal kepadamu."
"Aku dapat mendengar dengan baik dari sini."
"Karena aku ingin kau melihat mataku. Ada perkataan yang harus kau dengarkan dengan telingamu dan kau lihat dengan matamu. Kalau tidak, kau tidak akan mengerti artinya."
Ia mempererat pegangannya lagi, tapi akhirnya ia menolehkan wajahnya.
Setelah ia melihat sorot mata A Fei, ia langsung mengerti apa maksudnya.
Matanya sudah berubah menjadi sama seperti mata Siangkoan Kim-hong.
Jika sorot mata seseorang terlihat seperti ini, artinya apapun yang dikatakan orang itu harus didengarkan baik-baik dan dipatuhi dengan seksama.
Kalau tidak, kau pasti akan menyesal!
Pada saat itulah Lim Sian-ji tahu bahwa ia salah.
Ia mengira bahwa A Fei sepenuhnya berada di dalam kendalinya, bahwa A Fei akan memenuhi semua permintaannya.
Baru sekarang ia tahu bahwa ia salah sangka.
A Fei memang sangat mencintainya.
Tergila-gila padanya.
Namun dalam hidup seorang laki-laki, ada yang lebih penting daripada ‘cinta’, bahkan lebih penting daripada hidup itu sendiri.
A Fei selalu mematuhi permintaannya, karena sebelum ini ia belum pernah menyinggung tentang hal ini.
Ia memang bisa meminta A Fei mati demi dirinya, tapi ia tidak dapat menepis persoalan ini begitu saja.
Tanya Lim Sian-ji sambil memamerkan senyumannya yang termanis.
"Apa yang hendak kau katakan? Aku mendengarkan."
Walaupun senyuman itu memang manis, tapi terasa dipaksakan.
"Aku ingin kau memahami bahwa Li Sun-Hoan adalah sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menghina dia…SIAPAPUN!"
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya.
"Dan….."
Kata A Fei.
"Apa yang kau katakan tadi….bukan hanya merendahkan diriku, tapi kau pun merendahkan Hing Bubing."
"Hah?"
Mata Lim Sian-ji terbelalak.
"Ia pergi karena ia memang ingin pergi. Bukan karena seseorang mengusirnya pergi."
Kata Lim Sian-ji.
"Tapi aku tidak mengerti…."
Potong A Fei cepat.
"Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya perlu mengingatnya."
"Aku akan mengingat setiap perkataanmu. Tapi aku berharap kau tidak lupa bahwa kau pernah berkata….bahwa perasaanmu terhadap aku tidak pernah akan berubah,"
Kata Lim Sian-ji sambil menundukkan kepalanya.
A Fei menatap mata Lim Sian-ji.
Menatap dan terus menatapnya.
Walaupun hatinya seperti gunung es, namun gunung es itu sedang mencair dengan sangat cepat.
A Fei berjalan perlahan ke arah Lim Sian-ji.
Tubuh Lim Sian-ji seakan-akan memancarkan gaya magnet yang menarik A Fei terus mendekat.
Seolah-olah A Fei tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Lim Sian-ji meliuk menghindari pelukannya dan purapura enggan.
Katanya.
"Jangan hari ini…."
Tubuh A Fei langsung menegang. Lim Sian-ji cekikikan dan berkata.
"Hari ini kau harus banyak istirahat dan tidur lebih awal. Aku akan berjaga di sampingmu." *** Siangkoan berdiri tidak bergerak. Matanya tertuju ke arah pintu. Ia sedang menunggu. Siapakah yang ditunggunya? Penjaga di depan pintu telah undur karena Siangkoan Kim-hong telah memberi perintah.
"Hari ini aku akan kedatangan tamu dan aku tidak ingin diganggu."
Siapakah yang akan datang?
Mengapa Siangkoan Kim-hong sangat memperhatikan orang ini?
Setiap perbuatan Siangkoan Kim-hong pasti ada tujuannya.
Kali ini, apa tujuannya?
*** Hari bertambah malam.
Suasana pun bertambah sunyi.
Mata A Fei terpejam.
Suara nafasnya teratur.
Seakanakan ia tidur lelap.
Sebenarnya, ia masih terjaga.
Betul-betul terjaga dan awas.
Biasanya ia tidak pernah susah tidur.
Karena jika ia tidak betul-betul lelah, ia tidak akan pergi tidur.
Dan di harihari sebelum itu, sekali kepalanya menyentuh bantal, ia pasti langsung terlelap.
Tapi sekarang, ia tidak bisa tidur.
Di sampingnya, Lim Sian-ji sudah terlelap.
Nafasnya pun terdengar sangat teratur.
Jika A Fei mau, ia tinggal membalikkan badannya dan memeluk tubuhnya yang hangat dan lembut.
Namun A Fei berusaha menahan hasratnya.
Ia tidak memandangnya sedikitpun.
Ia kuatir jika ia memandangnya sedikit saja, pertahanannya akan runtuh.
Lim Sian-ji selalu mempercayainya sepenuh hati.
Bagaimana mungkin ia mengkhianatinya?
A Fei dapat mencium keharuman nafas Lim Sian-ji.
Ia memusatkan konsentrasinya dan memusatkan pikirannya untuk mengendalikan hasratnya.
Bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Hasrat adalah seperti gelombang lautan.
Sedetik ia diam dan tenang, detik berikutnya ia bergelora dengan kekuatan penuh.
Terus-menerus ia harus mengendalikannya.
Ia mulai menjadi serupa ikan dalam penggorengan.
Bagaimana mungkin ia bisa tidur?
Nafas Lim Sian-ji terdengar makin berat.
Namun matanya sedikit demi sedikit terbuka.
Matanya yang bercahaya tajam memandangi A Fei dalam kegelapan.
Rambutnya terlihat acak-acakan di dahinya.
Ia terlihat sangat lelap seperti seorang bayi.
Lim Sian-ji baru menyadari bulu mata A Fei yang lentik.
Ia ingin sekali mengulurkan tangan dan membelainya.
Saat itu, jika ia sungguh-sungguh mengulurkan tangannya, A Fei akan menjadi miliknya untuk selama
KANG ZUSI at
http.//cerita-silat.co.cc/ lamanya.
Ia akan meninggalkan segala sesuatu demi Lim Sian-ji.
Saat itu, tatapan matanya sungguh lembut dan tulus.
Namun saat itu berlalu sekejap saja.
Ia menarik tangannya kembali.
Tatapannya yang lembut dan tulus telah berubah dingin dan kejam.
Ia berbisik.
"Fei sayang, apakah kau sudah tidur?"
A Fei tidak menjawab.
Ia pun tidak membuka matanya.
Ia sungguh tidak berani.
Ia takut ia akan…..
Lim Sian-ji menanti sebentar lagi.
Lalu tiba-tiba ia turun dari tempat tidur tanpa suara dan mengambil sepatunya.
Dengan sepatu di tangannya, ia membuka pintu diamdiam dan keluar.
Malam selarut ini, ke manakah dia pergi?
A Fei merasa hatinya begitu sakit seperti ditusuk beriburibu jarum.
‘Apa yang kau tidak ketahui tidak akan merisaukanmu.
Dalam hidup ini ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui.’ A Fei sungguh memahami hal ini.
Kenyataan memang kejam, memang menyakitkan.
Akan tetapi, ia tidak bisa menahan diri lagi.
*** Pintu pun terbuka.
Seulas senyum terlihat di bibir Siangkoan Kim-hong.
Sebenarnya ia tampak lebih menakutkan saat tersenyum.
Lim Sian-ji membuka pintu dan berdiri di situ.
Matanya menatap Siangkoan Kim-hong.
‘Pluk’, sepatu di tangannya jatuh ke lantai.
Ia mendesah dan berkata.
"Kau sudah tahu bahwa aku akan datang?"
"Ya."
Lim Sian-ji menggigit bibirnya, katanya.
"Aku sendiri tidak tahu mengapa aku datang ke sini."
"Aku tahu kenapa."
Tanya Lim Sian-ji dengan mata besar.
"Kau tahu?"
"Kau datang karena kau sudah tahu bahwa A Fei tidak begitu penurut seperti yang kau sangka. Jika kau ingin tetap hidup, kau harus bergantung padaku."
"Dan aku…..dapatkah aku bergatung padamu?"
Siangkoan Kim-hong tertawa.
"Itu, kau sendiri yang harus menjawabnya."
Tidak ada seorang laki-laki pun di dunia ini yang dapat sungguh-sungguh dipercaya.
Seorang wanita dapat bergantung padanya selama wanita itu memperlakukannya dengan baik.
Tentu saja Lim Sian-ji memahaminya sungguh-sungguh.
Ia tertawa dan menjawab.
"Kalau begitu, aku pasti dapat bergantung padamu, sebab aku tidak akan pernah mengecewakanmu."
Matanya pun mulai tertawa.
Lalu tangannya, pinggangnya, pahanya….
Ia telah berkeputusan bulat.
Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan laki-laki ini.
Dalam tempo yang singkat, ia harus menggunakan senjatanya yang paling ampuh.
Di mata seorang pria, tidak ada wanita yang lebih memukau daripada wanita tanpa sehelai benang di tubuhnya.
Dan wanita ini bukan sembarang wanita, wanita ini adalah Lim Sian-ji.
Anehnya, mata Siangkoan Kim-hong masih tertuju ke arah pintu.
Seakan-akan pintu itu lebih menarik daripada Lim Sian-ji yang telanjang bulat.
Lim Sian-ji terengah-engah dan berkata.
"Dukunglah aku. Aku….aku hampir tidak bisa bergerak lagi."
Siangkoan Kim-hong menggendongnya, namun matanya masih melihat ke arah pintu.
‘BLANG’.
Pintu pun terbuka lebar.
Seseorang meluruk masuk ke dalam kamar seperti sebuah bola api.
Bola api yang berkobar-kobar!
A Fei!
Tidak dapat dibayangkan kemarahannya saat ini.
Seulas senyum kembali terbayang di wajah Siangkoan Kim-hong.
Apakah ia sudah mengira bahwa A Fei akan datang?
A Fei tidak melihatnya.
Ia tidak melihat seorang pun di situ.
Apa yang dilihatnya adalah mimpi buruknya.
Seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Lim Sian-ji tidak berkedip.
Ia mengalungkan tangannya pada leher Siangkoan Kim-hong.
Katanya dingin.
"Orang yang datang ke sini tidak pernah mengetuk ya?"
Tangan A Fei terkepal dan ditinjunya pintu itu.
Pintu besi itu!
Darah mengucur dari tinju A Fei.
Rasa sakit bergelora di sekujur tubuhnya dan bibirnya menjadi pucat pasi.
Tapi rasa sakit macam apa yang dapat dibandingkan dengan rasa sakit dalam hati?
Lim Sian-ji tertawa.
Katanya.
"Ternyata orang ini sudah gila."
A Fei meraung dan berseru.
"Jadi kau memang wanita semacam ini!"
Lim Sian-ji menjawab dengan ringan.
"Kau baru tahu? Aku memang seperti ini. Dari dulu sampai sekarang, tidak berubah. Kau tidak menyadarinya karena kau begitu bodoh."
Ia tertawa dingin dan menambahkan.
"Jika kau lebih pintar sedikit saja, kau tahu lebih baik kau tidak datang ke sini."
"Tapi aku sudah di sini."
"Apa untungnya kau datang? Supaya kau bisa memaki aku? Ada hubungan apa di antara kita? Kau pikir kau bisa mencampuri urusanku? Kau pikir kau kau harus menjagaku?"
Tanyanya dengan nada mengejek.
Air mata membasahi mata A Fei.
Namun air mata itu membeku.
Matanya menjadi kelabu dan mati.
Warna kelabu yang habis harapan.
Sama seperti mata Hing Bu-bing.
Saat itu, ia merasa ia sudah mencucurkan air mata darahnya yang terakhir.
Saat itu, hidupnya sudah berakhir.
Ia sudah berubah menjadi orang mati.
‘Seharusnya aku tidak datang, seharusnya aku tidak datang…..’ Jika ia tahu seharusnya ia tidak datang, mengapa ia tetap datang?
Orang selalu melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya sendiri, walaupun mereka tahu bahwa seharusnya mereka tidak melakukannya.
Bab 66.
Menghina Diri Sendiri A Fei tidak tahu mengapa ia berlari keluar dari ruangan itu.
Pandangan Siangkoan Kim-hong tetap dingin selama peristiwa itu, juga saat A Fei berlari ke luar.
Lim Sian-ji berkata dengan lembut.
"Aku tunduk sepenuhnya pada dirimu. Kau percaya sekarang?"
"Aku percaya,"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
Namun sebelum kalimatnya selesai, Siangkoan Kim-hong telah menghempaskan tubuh Lim Sian-ji ke atas ranjang dan melompat ke luar.
Tubuh Lim Sian-ji mengejang.
Namun di wajahnya tidak terbayang rasa sedih atau kuatir.
Yang terbayang malahan rasa takut.
Rasa takut yang sama saat ia menyadari bahwa ia belum menaklukkan A Fei sepenuhnya.
Namun ketakutan ini tidak berlangsung lama.
Apa yang telah kuperbuat?
Apa untungnya bagiku?
Apa sebenarnya yang sungguh berharga dalam kehidupan ini?
Lim Sian-ji bangkit dan memunguti pakaiannya dari lantai.
Lalu dilipatnya perlahan-lahan dengan sangat rapi.
Setelah tubuhnya telah kembali rileks, ia berbaring di tempat tidur.
Senyum yang sangat manis terkembang di bibirnya.
Ia sudah memutuskan bahwa ia akan terus mencoba.
*** Ujung koridor itu adalah sebuah pintu.
A Fei berlari menerjang pintu itu dan terjatuh.
Ia terkulai ke lantai.
Ia tidak berusaha bangkit, tidak berusaha melakukan apapun juga.
Saat itu, pikirannya sungguh kosong.
Pemandangan yang sangat sulit dibayangkan….
Musim gugur telah lewat.
Sebidang tanah kering memancarkan keharuman dedaunan kering.
A Fei menggigit tanah kering itu dan menelan segumpal.
Tanah yang kasar dan kering itu masuk ke dalam kerongkongannya dan ke dalam perutnya.
Seolah-olah ia sedang berusaha mengobati rasa laparnya dengan memakan tanah itu.
Ia telah menjadi seseorang yang berdaging, namun hampa di dalam.
Ia tidak punya pikiran, perasaan, tidak punya jiwa.
Dua puluh sekian tahun kehidupannya seolah-olah menghilang begitu saja ditelan kehampaan.
Siangkoan Kim-hong berhasil mengejarnya.
Ia melirik A Fei sebentar sebelum melangkah di atas tubuhnya dan masuk ke dalam rumah di dekat situ untuk mengambl sebilah pedang.
‘Peng’.
Pedang itu menembus tanah, persis di sebelah kanan wajah A Fei.
Ujung pedang yang dingin itu menjilat darah saat menggores pipi A Fei.
Darah panah mengalir dari badan pedang, setetes demi setetes jatuh ke tanah.
Lalu terdengar suara Siangkoan Kim-hong yang lebih tajam daripada pedang itu.
"Ini pedangmu!"
A Fei diam tidak bergerak. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Jika kau mati sekarang, tidak akan ada seorangpun yang akan menangisi kematianmu. Tidak akan ada seorang pun yang akan mengasihanimu. Dalam tiga hari mayatmu akan membusuk dalam selokan seperti bangkai anjing liar."
Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek dan melanjutkan.
"Karena seseorang yang mati gara-gara seorang wanita seperti itu, lebih tidak berharga daripada seekor anjing liar."
Tiba-tiba A Fei berdiri dan mencabut pedang itu.
Matanya merah bagai darah.
Mulutnya masih belepotan tanah dan lumpur.
Ia betul-betul terlihat seperti seekor binatang buas.
Tanya Siangkoan Kim-hong tenang.
"Kau ingin membunuhku, bukan? Ayo, kenapa tidak kau serang aku?"
Tangan A Fei gemetar. Pembuluh darahnya terlihat menonjol di sekujur tangannya. Kata Siangkoan Kim-hong lagi.
"Kalau kau berniat membunuh wanita itu, aku tidak akan menghalangimu."
A Fei memutar badannya, tapi langsung berhenti.
"Apakah kau juga sudah kehilangan keberanian untuk membunuh?"
Tanya Siangkoan Kim-hong dengan sinis. A Fei membungkukkan badannya dan mulai muntahmuntah. Tatapan Siangkoan Kim-hong tidak lagi setajam tadi. Katanya.
"Aku tahu, saat ini hidup rasanya jauh lebih mengerikan daripada mati. Namun kalau kau mati sekarang, artinya kau melarikan diri. Dan aku tahu bahwa kau bukan seorang pengecut."
Tambahnya.
"Lagi pula, kau belum memenuhi janjimu padaku."
A Fei sudah tidak muntah-muntah lagi, namun nafasnya masih tersengal-sengal. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Jika kau masih berani hidup, ikut aku!"
Lalu ia segera memutar badannya dan berjalan pergi.
A Fei memandangi muntahannya tadi, lalu ia pun memutar badannya dan pergi mengikuti Siangkoan Kimhong.
Selama itu, tidak setetes air mata pun keluar dari matanya.
Orang yang tidak mencucurkan air mata, hanya mencucurkan darah!
Dan ia sudah siap untuk mencucurkan darah.
Di sebelah luar pintu terdapat sebuah pekarangan kecil.
Dalam pekarangan itu ada sebatang pohon willow putih yang mengangguk-angguk sedih ditiup angin musim gugur.
Seakan-akan sedang bersedih karena singkatnya kehidupan ini, bersedih karena kebodohan manusia yang tidak menyadari betapa berharganya hidup yang singkat ini.
Masih terlihat cahaya di salah satu kamar.
Cahaya itu mengalir keluar dari bawah pintu dan menyinari kaki Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong memandang A Fei, lalu menepuk bahunya.
Katanya.
"Tegakkan dadamu. Masuklah ke dalam dan hapuslah kesedihan hatimu."
A Fei pun masuk ke dalam kamar itu.
Mengapa Siangkoan Kim-hong membawanya kemari?
A Fei tidak peduli.
Jika hati seseorang sudah mati, apalagi yang ditakutinya?
Ada tujuh orang dalam kamar itu.
Tujuh orang gadis cantik.
Tujuh senyuman yang memikat ditujukan hanya padanya, tujuh pasang mata yang genit memandanginya.
A Fei sungguh terperanjat.
Siangkoan Kim-hong tersenyum lebar, katanya.
"Dia bukannya satu-satunya wanita cantik di dunia ini."
Ketujuh gadis cantik itu langsung mengerubungi dan menariknya ke dalam sambil tertawa cekikikan.
Keharuman tubuh mereka membawa selentingan aroma arak.
Di sudut ruangan terlihat beberapa kotak kayu yang ditumpuk.
Siangkoan Kim-hong membuka salah satu di antaranya dan terlihat cahaya yang gemerlapan di dalamnya.
Kotak itu penuh dengan emas dan permata.
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Dengan kotak-kotak ini, kau dapat membeli cinta seratus lebih wanita."
Salah satu gadis itu berkata dengan genit.
"Hati kami sudah menjadi miliknya. Tidak perlu dibeli lagi."
Siangkoan Kim-hong tertawa mendengarnya dan berkata.
"Lihat, dia juga bukan satu-satunya wanita yang bisa berkata-kata manis padamu. Semua wanita sama, terlahir dengan mulut semanis madu."
Gadis yang lain cekikikan sambil berkata.
"Tapi kami mengatakan yang sebenarnya!"
Kata Siangkoan Kim-hong.
"Kebenaran adalah kebohongan, kebohongan adalah kebenaran. Kebenaran dan kebohongan, sama sekali tidak ada bedanya."
Perlahan ia menghampiri A Fei dan bertanya.
"Kau masih ingin mati?"
A Fei menenggak seguci arak dan tersenyum lebar sambil menjawab.
"Mati? Siapa yang ingin mati?"
"Bagus. Selama kau tetap hidup, semua yang ada di sini adalah milikmu!"
A Fei merengkuh salah satu gadis itu ke dalam pelukannya.
Ia memeluknya erat-erat, seakan-akan ingin melumatnya.
Siangkoan Kim-hong berjalan ke luar dan menutup pintu.
Suara tawa yang silih berganti terdengar sampai ke luar.
Siangkoan Kim-hong berjalan meLimtasi pekarangan kecil itu sambil menyilangkan tangan di dadanya.
Ia menengadah melihat bulan dan menggumam.
"Hari akan cerah besok."
Siangkoan Kim-hong suka hari yang cerah.
Dalam hari yang cerah, darah lebih cepat mengalir dan orang lebih cepat mati!
Hari yang cerah!
*** Debu beterbangan tertiup angin.
Jalan sangat panjang.
Cahaya matahari menyegarkan dan penuh vitalitas.
Seorang penunggang kuda mengendarai kudanya dengan cepat keluar dari penginapan.
Alis matanya tebal, matanya melengkung, dan wajahnya gagah.
Ia mengenakan jubah kuning yang Longgar.
Dadanya yang bidang menentang angin dan debu yang beterbangan di bawah cahaya matahari yang hangat.
Hanya ada satu hal dalam pikirannya.
‘Bawa datang A Fei untuk membunuh dua orang, yang satu berbaju ungu, yang satu berbaju merah.’ Itu perintah langsung Siangkoan Kim-hong.
Jika seorang anggota Kim-ci-pang menerima perintah Siangkoan Kim-hong, pikiran mereka hanya terfokus pada perintah itu.
Warna muka Liong Siau-hun hampir sama dengan warna baju yang dikenakannya, ungu kemerahan.
Ia bukannya baru saja minum arak.
Kekuasaan pun dapat memabukkan orang bahkan lebih daripada arak.
Siangkoan Kim-hong menyambutnya secara pribadi.
Acara ini pasti akan sangat agung dan megah.
Ia berharap dapat mengundang semua orang dalam dunia persilatan untuk menyaksikan dirinya dalam keagungan dan kemegahan ini.
Sayang sekali orang yang datang hari ini sangat sedikit.
Tidak ada orang yang ingin mengundang bahaya yang tidak perlu bagi dirinya sendiri.
Tiga cawan arak sudah membasahi kerongkongannya.
Wajah Liong Siau-hun makin memerah.
Ia mengangkat cawannya lagi dan berkata.
"Toako, kebaikanmu padaku sungguh tidak dapat kubalas dengan apapun juga. Aku tidak akan pernah melupakan kemurahan hatimu. Aku bersulang untukmu dengan cawan ini!"
Kata Siangkoan Kim-hong dingin.
"Aku tidak minum arak."
Liong Siau-in yang berdiri di belakan mereka segera menuang secawan teh dan menghaturkannya kepada Siangkoan Kim-hong. Katanya.
"Kalau begitu, Paman, harap berkenan menerima secawan teh ini."
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Aku juga tidak minum teh."
Liong Siau-hun tertawa, dan bertanya.
"Kalau begitu, apa yang biasanya Saudara minum?"
"Air putih."
Wajah Liong Siau-hun terlihat kaget.
"Kau hanya minum air putih?"
"Air putih sangat menyejukkan jiwa. Orang yang suka minum air putih, pikirannya jernih."
Liong Siau-in pun mengambil cawan yang lain dan mengisinya dengan air putih, dan menyuguhkannya pada Siangkoan Kim-hong. Kata Siangkoan Kim-hong.
"Aku hanya minum kalau aku haus. Saat ini, aku tidak haus."
Liong Siau-hun mulai tampak gelisah. Liong Siau-in berkata dengan tenang.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang menggantikanmu minum cawan ini?"
Sahut Siangkoan Kim-hong.
"Kau yang mengisinya, minumlah."
Liong Siau-in mengangkat cawan arak, cawan teh, dan cawan air putih, dan minum ketiganya. Kemudian Liong Siau-in pun berkata.
"Di jaman dahulu, orang mengangkat saudara dengan mengangkat sumpah dengan darah. Tapi Paman dan ayah adalah orang-orang yang pandai dan terpelajar, tidak perlulah menggunakan adat istiadat semacam itu. Tapi kebiasaan untuk saling memberi hormat dengan hio tidak boleh dikesampingkan."
Tanya Siangkoan Kim-hong.
"Apa gunanya hio?"
Jawab Liong Siau-in.
"Untuk berterima kasih kepada langit dan bumi. Untuk memberi hormat pada dewadewa dan setan-setan."
Baca Juga: Maling Romantis 1
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 13