Ceritasilat Novel Online

Pisau Terbang Li 7

Eps 7 Pisau Terbang Li - Gu Long

Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long

Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.

Bab 49. Rencana Tiap-Tiap Orang Saat bicara, air mata turun membasahi wajahnya. Ia berkata pelan.

"Kau tahu bahwa aku sudah mengembalikan uang yang dulu itu, sesuai dengan perkataanmu. Kau tidak percaya?"

A Fei menghela nafas panjang. Katanya.

"Bukan aku tidak percaya. Hanya saja…..akulah yang harus mengurusmu. Aku tidak mau membiarkan kau yang bekerja mencari uang."

Lim Sian-ji masih menangis sambil menyahut.

"Tapi kita sudah saling mencintai. Tidak ada lagi ‘milikku’ atau ‘milikmu’ di antara kita. Bahkan hatiku adalah milikmu. Tidakkah kau tahu?"

A Fei memejamkan matanya dan menggenggam tangan Lim Sian-ji erat-erat.

Kalau saja ia dapat menggenggam tangan ini selamanya, A Fei tidak akan menginginkan apa-apa lagi.

Akhirnya A Fei jatuh tertidur.

Lim Sian-ji menarik tangannya dari genggaman A Fei.

Lalu ia berjalan ke kamarnya sendiri.

Dari balik dadanya, ia mengambil sebuah botol kecil.

Ia menyedu secangkir teh.

Lalu diambilnya sedikit bubuk dari botol itu dan meminumnya.

Ia tidak pernah lupa minum bubuk itu setiap hari.

Bubuk ini terbuat dari mutiara yang ditumbuk sampai halus.

Seorang wanita dapat mempertahankan kecantikannya dengan minum bubuk itu.

Sambil memandang botol di tangannya, Lim Sian-ji terkekeh sendiri.

Jika A Fei tahu berapa harga sebotol kecil bubuk mutiara ini, mungkin ia akan mati berdiri.

Ia tahu bahwa laki-laki begitu mudah dibohongi, terlebih oleh wanita yang dicintainya.

Oleh sebab itu ia selalu menganggap bahwa laki-laki itu patut dikasihani, walaupun mereka lucu juga.

Ia belum pernah bertemu dengan seorang laki-laki pun yang tidak bisa diperdaya.

Mungkin hanya satu….Li Sun-Hoan.

Setiap kali mengingat Li Sun-Hoan, perasaan Lim Sian-ji jadi jengkel.

Hari ini adalah tanggal lima bulan sepuluh.

Apakah Li Sun-Hoan sudah mati?

Mengapa belum ada kabar?

Tiba-tiba terdengar langkah orang dari kejauhan.

Dua orang pemuda datang membawa tandu.

Mereka berjalan cepat ke arah rumah itu dan berhenti tepat di depan pintu.

Lim Sian-ji pun keluar tanpa suara.

Ia mengunci pintu dan naik ke atas tandu.

Diturunkannya tirai bambu yang menutupi jendela tandu itu.

Tirai itu tidak rapat, sehingga ia bisa melihat ke luar, tapi orang di luar tidak bisa melihat ke dalam.

Tandu itu segera diangkat dan pergi dengan cepat.

Dekat rumah itu ada hutan yang cukup lebat.

Dedaunan di sana belum lagi gugur.

Di sebelah hutan itu ada sebuah kuil kecil.

Di sebelah kanannya ada tanah pemakaman yang gundul.

Tandu itu berhenti di sana.

Pemuda yang di depan mengambil lentera dari bawah tandu dan mengangkatnya di atas kepalanya.

Pada lentera itu ada gambar bunga Bwe berwarna merah.

Setelah lentera itu diangkat, embat sosok bayangan datang dari empat arah.

Keempatnya datang ke arah cahaya ini.

Keempat orang ini bergerak sangat cepat, seolah-olah mereka tidak sabar menunggu sesuatu.

Tapi waktu mereka tahu ada orang lain yang datang, langkah mereka melambat.

Mereka saling pandang dengan pandangan menyelidik, juga dengan rasa permusuhan.

Orang yang datang dari arah hutan adalah seorang lakilaki setengah baya dengan wajah bulat.

Ia mengenakan pakaian yang sangat indah, seperti seorang pedagang yang kaya raya.

Gerakannya menunjukkan bahwa ia mempunyai tenaga dalam yang sangat hebat.

Dua orang datang dari arah kuburan.

Yang sebelah kanan adalah seorang laki-laki kecil yang bertingkah seperti seorang pencuri yang mengendap-endap.

Namun jelas ilmu meringankan tubuhnya tidaklah rendah.

Yang sebelah kiri tidak jangkung tidak pendek, tidak gemuk tidak kurus.

Pakaiannya pun biasa saja.

Tidak ada yang istimewa dari seluruh penampilannya.

Namun ilmu meringankan tubuhnya satu tingkat lebih tinggi daripada orang pendek di sebelahnya.

Orang yang datang dari arah kuil adalah yang paling muda, tapi tampaknya kedudukannya lebih tinggi dari yang lain.

Walaupun menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, ia tetap membuat langkah-langkahnya berat.

Jelas bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang paling tinggi di antara keempat orang itu.

Lim Sian-ji sudah tahu bahwa keempat orang ini akan datang.

Ia tidak keluar dari tandu.

Melongok keluar pun tidak.

Ia hanya tersenyum dan berkata.

"Kalian berempat sudah menempuh perjalaLam-yang-hu cukup jauh. Maaf tidak ada arak untuk menyambut kalian."

Ketika mereka mendengar suara Lim Sian-ji, tanpa sadar keempatnya tersenyum. Mereka ingin mengatakan sesuatu, tapi setelah saling pandang, tidak seorang pun mengatakan apa-apa. Kata Lim Sian-ji.

"Aku tahu kalian berempat ingin bicara. Siapa yang akan mulai?"

Orang yang berpenampilan biasa memandang tanpa ekspresi.

Kelihatannya ia takut mulai lebih dulu.

Si pemuda berjubah biru mengangkat alisnya.

Ia menaruh tangannya di balik punggungnya dan segera memutar badannya.

Ia menganggap orang-orang ini tidak sederajat dengannya, oleh sebab itu ia tidak sudi bicara di depan mereka.

Sun-hoan berwajah bulat tersenyum dan berkata kepada lelaki berjubah hitam.

"Kau saja yang mulai duluan."

Kelihatannya si jubah hitam tidak keberatan. Ia langsung maju ke depan tandu itu. Kata Lim Sian-ji sambil tersenyum.

"Sejak pertemuan kita dua bulan yang lalu, kelihatannya ilmu meringankan tubuhmu sudah ada kemajuan. Selamat!"

Wajah si jubah hitam yang kelihatan jahat itu berbinarbinar dengan bangga. Katanya.

"Terima kasih, Nona."

Kata Lim Sian-ji.

"Aku menyuruhmu melakukan dua hal. Sudah kau bereskan keduanya, bukan?"

Si jubah hitam mengeluarkan segepok uang kertas dari sakunya, dan diserahkannya dengan patuh kepada Lim Sian-ji. Katanya.

"Aku sudah berhasil menagih semua hutang itu. Totalnya 9850 tail. Ginbio (uang kertas) ini berasal dari Bank ‘Tong-hok-ho’ di Propinsi Soasay. Tangan Lim Sian-ji yang putih mulus terjulur dari dalam tandu dan mengambil kertas-kertas itu. Lalu sambil tersenyum ia berkata.

"Maaf telah merepotkanmu. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu."

Si jubah hitam terkesima memandangi tempat tangan Lim Sian-ji keluar tadi. Ia tersadar dan tertawa terpaksa. Katanya.

"Oh, tidak perlu berterima kasih. Kalau kau masih mengingatku, itu sudah cukup."

Tanya Lim Sian-ji.

"Bagaimana dengan si tukang cerita Si Tua Sun dan cucu perempuannya? Kau sudah menemukan lokasi mereka, bukan?"

Si jubah hitam menundukkan kepalanya dan berkata.

"Aku telah membuntuti mereka. Namun tiba-tiba mereka menghilang begitu saja. Seperti….seperti hilang ditelan bumi."

Lim Sian-ji diam saja. Si jubah hitam tersenyum kaku dan berkata.

"Gerak-gerik kedua orang ini sangat misterius. Mereka pura-pura tidak tahu ilmu silat, tapi sudah pasti tidak demikian. Jika Nona bersedia memberi sedikit lagi waktu, aku pasti akan menemukan lokasi mereka."

Lim Sian-ji berpikir sejenak, lalu mendesah dan berkata.

"Tidak usahlah. Aku memang sudah tahu kau tidak akan bisa membuntuti mereka. Jadi walaupun kau gagal, aku tidak menyalahkanmu. Sesudah ini, aku ada beberapa tugas lain untukmu."

Si jubah hitam menghela nafas lega dan segera mundur ke belakang. Si lelaki berwajah bulat memberi hormat kepada yang lain dan berkata.

"Maafkan aku. Maafkan aku."

Sambil berbicara ia berjalan ke depan tandu Lim Sian-ji. Lim Sian-ji tersenyum dan berkata.

"Seorang pedagang memang selalu memiliki sopan santun yang tinggi. Kau tampak seperti Loya (tuan besar) saja."

Orang ini tersenyum cerah dan berkata.

"Ah, aku hanya pelayanmu Nona. Tanpa belas kasihan Nona, aku ini bukan apa-apa. Aku sama sekali tidak pantas disebut Loya (tuan besar)."

Lim Sian-ji menjawab dengan lembut.

"Pelayan, majikan, apalah bedanya? Bisnisku adalah bisnismu juga. Jika kau terus bekerja dengan giat, tidak lama lagi usaha ini akan jadi milikmu sendiri."

Wajah si lelaki bersemu merah. Ia terus-menerus berterima kasih pada Lim Sian-ji, sebelum mengeluarkan setumpuk uang kertas dari sakunya dan menghaturkannya dengan hormat kepada Lim Sian-ji. Katanya.

"Ini adalah penghasilan tahun lalu. Semuanya dalam bentuk uang kertas dari Bank ‘Tonghok-ho"

Juga."

Sahut Lim Sian-ji.

"Ah, kau sudah bekerja begitu keras. Aku tahu kau memang orang yang sangat jujur dan rajin…."

Sambil berbicara Lim Sian-ji menerima kertas-kertas bank itu dan mulai menghitungnya. Tiba-tiba suaranya berubah bengis. Tanpa sedikit pun kelembutan ia berkata.

"Mengapa cuma ada 6000 tail?"

Kata Sun-hoan.

"6300 tail."

Tanya Lim Sian-ji tajam.

"Tahun sebelumnya berapa?"

"9400 tail."

"Dan sebelumnya lagi?"

Sun-hoan menyeka peluh yang mulai bercucuran. Jawabnya.

"Kurasa….lebih dari 10000 tail."

Lim Sian-ji tersenyum sinis. Katanya.

"Kau memang hebat. Kau sanggup membuat usaha itu semakin kecil saja tiap tahunnya. Beberapa tahun lagi kurasa aku bisa menutup saja toko-toko itu."

Kini seluruh tubuh Sun-hoan basah kuyup oleh keringat. Ia berbicara terbata-bata.

"Dua tahun terakhir ini, jubah kain satin tidak lagi digemari. Penghasilan dari kain popLim pun kurang bagus. Tapi aku yakin, tahun depan pasti lebih baik."

Lim Sian-ji berpikir sejenak, lalu berkata dengan lembut.

"Aku tahu kau sudah begitu bersusah-payah dua tahun terakhir ini. Sebaiknya kau kembali ke kampung halamanmu dan beristirahat."

Wajah Sun-hoan langsung berubah total.

"Ta…tapi, tokotoko itu…."

Sahut Lim Sian-ji cepat.

"Jangan kuatir, akan kusuruh orang lain untuk mengurusnya."

Kini wajah Sun-hoan sangat pucat dan penuh kemarahan.

Ia mundur selangkah demi selangkah.

Lalu tiba-tiba meloncat dan lari masuk ke hutan.

Setelah ia berlari beberapa langkah, terlihat sinar terang berkilat.

Di antara suara jeritan keras, darah mengucur deras ke tanah.

Dan tubuhnya pun berdebam jatuh.

Sebilah pedang baja berwarna hijau terlihat di tangan si pemuda berjubah biru.

Darah menetes dari ujungnya.

Si baju abu-abu memandang pemuda itu sekilas, namun wajahnya tetap kaku.

Katanya singkat.

"Jurus pedang yang bagus."

Si pemuda berjubah biru tidak menggubrisnya sedikitpun.

Ia lalu membersihkan noda darah dari sol sepatunya.

Lalu diputarnya pedang itu dengan gaya yang indah sebelum dimasukkannya ke dalam sarungnya.

Si baju abu-abu pun tidak berkata apa-apa lagi.

Ia berdiri di situ saja.

Ia menunggu sekian lama, sampai ia pasti bahwa si pemuda berjubah biru tidak akan berbicara.

Lalu ia maju perlahan-lahan ke depan tandu.

Mungkin Lim Sian-ji tahu bahwa orang ini tidak dapat digerakkan dengan kata-kata manis.

Oleh sebab itu ia segera menuju ke pokok pembicaraan.

Katanya.

"Apakah Liong Siau-hun sudah kembali ke Hin-hun-ceng?"

Si baju abu-abu menjawab.

"Ya, sudah hampir dua minggu. Ia kembali bersama Oh Put-kiu, juga bersama dengan seseorang bershe Lu. Kudengar ia adalah saudara tiri Lu Hong-sian. Kelihatannya ilmu silatnya pun cukup tinggi."

Tanya Lim Sian-ji lagi.

"Bagaimana dengan Si Bungkuk Sun?"

"Ia masih ada di warung itu. Ia menyembunyikan jati dirinya dengan sangat ketat. Tidak seorang pun tahu apa pun tentang dia."

Kata Lim Sian-ji.

"Namun aku tahu kau pasti dapat mengetahuinya cepat atau lambat. Tidak ada sesuatu pun yang dapat lolos dari pandanganmu."

Si baju abu-abu tersenyum bangga.

"Perkiraanku, si bungkuk itu ada hubungan keluarga dengan tukang cerita Si Tua Sun. Mungkin ia adalah ‘Si Gunung di Punggung, Si Penghancur Gunung’, Jisuheng Sun yang terkenal di masa lalu itu."

Lim Sian-ji terlihat agak terkejut mendengar hal ini. Setelah berpikir-pikir, ia berkata.

"Coba kumpulkan lagi informasi yang lebih banyak. Besok…."

Suaranya terdengar semakin lembut.

Si baju abu-abu harus mendekat untuk bisa mendengarnya.

Setelah mendengar beberapa kalimat, wajahnya yang selalu terlihat kaku menjadi berbinar-binar.

Ketika ia melangkah pergi, langkah-langkahnya pun menjadi lebih ringan dan lebih hidup.

Lim Sian-ji memang sungguh tahu bagaimana menghadapi laki-laki.

Lalu lengan Lim Sian-ji keluar dari tandu itu dan memberi tanda pada si jubah hitam untuk datang mendekat.

Si jubah hitam berdiri di situ seakan-akan terhipnotis.

Kata Lim Sian-ji dengan lembut.

"Mendekatlah. Aku ingin bicara denganmu. Besok malam….."

Ia berbisik mesra ke telinga si jubah hitam. Si jubah hitam tersenyum bahagia sambil menganggukangguk. Sahutnya.

"Ya…ya….ya… Aku mengerti….. Mana mungkin aku bisa lupa?"

Waktu ia berjalan pergi, seakan-akan tubuhnya bertambah tinggi satu meter. Setelah orang itu tidak kelihatan lagi, si pemuda berjubah biru berjalan mendekat dan berkata dingin.

"Nona Lim. Kau benar-benar orang sibuk."

Lim Sian-ji mendesah dan menyahut.

"Apa lagi yang dapat kulakukan? Mereka semua tidak seperti engkau. Aku harus berhati-hati terhadap mereka."

Ia mengulurkan tangannya dan merengkuh tangan pemuda itu. Ia berkata dengan manja.

"Apakah kau masih marah?"

Wajah si pemuda tetap garang.

"Mmmhh."

Lim Sian-ji terkekeh geli.

"Lihatlah dirimu. Seperti anak kecil saja. Ayo naik ke tandu, akan kuredakan amarahmu."

Si pemuda berjubah biru masih ingin bersikap garang, namun akhirnya tidak tahan juga untuk tidak tersenyum.

Saat itulah terdengar jeritan melengking….

Jeritan itu berasal dari dalam hutan.

Si jubah abu-abu sudah masuk ke dalam hutan, namun saat itu ia melangkah mundur satu-satu.

Terlihat jejak darah mengikuti langkah mundurnya.

Si jubah hitam yang baru akan masuk ke dalam hutan jadi berhenti di tempat karena melihat pemandangan itu.

Si jubah abu-abu tersungkur di depan kakinya.

Apakah si jubah abu-abu melihat hantu di dalam hutan?

Hantu yang bisa membunuh?

Si jubah hitam tercekat.

Ia mengambil pisau dari kakinya.

Ia menatap ke arah hutan lebat itu, dan berkata dengan terbata-bata.

"Siapa di sana?"

Tidak ada suara apapun yang menjawab.

Setelah beberapa saat, seseorang keluar dari sana.

Orang ini sangat jangkung.

Ia memakai topi bambu yang sangat lebar sampai menutupi seluruh wajahnya.

Ia berjalan dengan sangat aneh.

Ia pun menempatkan pedangnya di posisi yang tidak biasa.

Pedang itu terlibat begitu saja di pinggangnya.

Pedang itu tidak panjang dan tidak bersarung.

Wajah orang ini pun tidak menakutkan.

Namun ketika si jubah hitam melihatnya, tubuhnya langsung gemetaran.

Keringat dingin membasahi tangannya.

Orang itu memancarkan hawa pembunuhan yang sangat kuat.

Hing Bu-bing.

Karena Hing Bu-bing masih hidup, pasti Li Sun-Hoanlah yang mati.

Lim Sian-ji tersenyum menang.

Namun ia hanya tersenyum dalam hatinya.

Wajahnya sangat ketakutan.

Ia memeluk si pemuda erat-erat, katanya.

"Orang itu mengerikan sekali. Tahukah kau siapa dia?"

Si pemuda berjubah biru memaksakan seulas senyum, katanya.

"Tidak jadi soal dia itu siapa. Selama aku ada di sini, kau tak perlu merasa takut."

Kata Lim Sian-ji.

"Aku tidak takut. Aku tahu kau akan melindungi aku. Selama aku ada di sampingmu, tidak akan ada yang dapat menyakitiku."

Si pemuda berjubah biru membusungkan dadanya.

"Baik. Siapapun dia, jika dia berani mendekat, akan kucabut nyawanya!"

Sebetulnya ia sangat takut melihat hawa membunuh Hing Bu-bing.

Tapi ia masih amat muda dan ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang dicintainya.

Hing Bu-bing berdiri di hadapan si jubah hitam.

Si jubah hitam masih memegang pisaunya.

Pisau yang telah menelan begitu banyak korban.

Namun saat ini pisau itu tidak dapat menyerang.

Ia menatap mata Hing Bu-bing yang kosong.

Hing Bu-bing sendiri seperti tidak melihatnya.

Ia hanya bertanya dingin.

"Dapatkah pisau di tanganmu itu membunuh orang?"

Si jubah hitam diam mematung. Pertanyaan itu terdengar bodoh. Namun karena seseorang menanyakannya, ia harus menjawab. Maka jawabnya.

"Tentu saja bisa."

Kata Hing Bu-bing.

"Bagus. Bunuhlah aku."

Si jubah hitam ragu-ragu sesaat, lalu berkata.

"Kita kan bukan musuh. Mengapa aku harus membunuhmu?"

Sahut Hing Bu-bing.

"Karena jika kau tidak membunuhku, akulah yang akan membunuhmu."

Si jubah hitam mundur beberapa langkah.

Ia mengertakkan giginya dan tiba-tiba pisau itu teracung ke depan secepat kilat.

Saat pisaunya teracung, sebilah pedang pun berkilat di tengah gelapnya malam.

Terdengarlah suara jeritan keras.

Hing Bu-bing masih berdiri dengan pedang di pinggangnya, seolah-olah tidak bergerak sedikitpun.

Betapa cepatnya pedang itu!

Si pemuda berjubah biru adalah seorang ahli pedang yang ternama.

Ia selalu berpikir bahwa jurus pedangnya sangatlah cepat.

Tak pernah terpikir olehnya ada yang lebih cepat lagi.

Sampai saat ini.

Lim Sian-ji melihat urat-urat di wajah pemuda itu menegang.

Tiba-tiba dikendurkannya pelukannya dan berkata.

"Pedang orang ini sangat terlalu dahsyat. Kau…kau lari saja. Jangan pedulikan aku."

Jika si pemuda berjubah biru itu sudah berusia empat puluh atau lima puluh tahun, ia pasti akan segera mengikuti perkataan Lim Sian-ji.

Jika seseorang sudah hidup sekian lama, ia pasti tahu bahwa hidup itu jauh lebih berharga daripada wajah yang cantik.

Jika ada yang berkata, ‘Hidup itu sangat berharga, namun cinta itu lebih berharga’, orang itu pastilah seorang muda yang masih hijau.

Dan orang seperti itu tidak mungkin hidup sampai lima puluh tahun.

Si pemuda berjubah biru mengertakkan giginya dan berteriak.

"Jangan kuatir. Akan kubereskan dia!"

Namun tidak ada semangat dalam kata-katanya. Ia pun tidak mulai menyerang. Kata Lim Sian-ji.

"Tidak…kau tidak boleh mati. Kau masih punya orang tua, istri dan anak-anak yang harus kau pikirkan. Larilah selagi masih ada kesempatan. Aku akan manahan dia sedapat mungkin. Aku tidak punya sanak saudara. Tidak ada yang peduli apakah aku hidup atau mati."

Si pemuda berjubah biru meraung keras dan menerjang ke muka.

Lim Sian-ji pun tersenyum.

Jika seorang wanita menginginkan seorang laki-laki berkorban untuk dirinya, cara yang terbaik adalah dengan mengungkapkan rasa cintanya pada si lelaki.

Bahwa ia rela berkorban jiwa raga demi si lelaki.

Lim Sian-ji sudah menggunakan cara ini ratusan kali.

Selalu berhasil.

Kali ini, ia bukan hanya tersenyum dalam hati.

Di wajahnya pun terlihat senyumnya yang cantik.

Karena ia tahu, inilah terakhir kali si pemuda berjubah biru dapat melihat senyumannya.

Pemuda ini bukan hanya mahir ilmu pedang, namun pedangnya pun pedang pusaka.

Sekejap saja ia telah menyerang Hing Bu-bing lima kali.

Namun ia tidak berkata apa-apa, karena ia menyadari perkataannya tidak akan berarti apa-apa.

Hing Bu-bing tidak menyerang.

Kelima serangan itu diarahkan ke tempat-tempat yang sangat berbahaya, namun tidak satupun mengenai sasaran.

Tiba-tiba Hing Bu-bing bertanya.

"Apakah kau dari aliran Tiam-jong-pay?"

Si pemuda berjubah biru tertegun. Serangannya yang Keenam batal. Ia tidak menyangka bahwa orang itu dapat mengenali jurus pedang gurunya yang istimewa. Tanya Hing Bu-bing lagi.

"Apa hubunganmu dengan Cia Thian-leng?"

Si pemuda berjubah biru menjawab terbata-bata.

"Ia…Ia adalah guruku."

Kata Hing Bu-bing singkat.

"Aku telah membunuh Kwe ko-yang."

Kalimat ini seakan-akan berasal dari antah berantah.

Sama sekali tidak berhubungan dengan percakapan mereka.

Namun si pemuda berjubah biru mengerti apa maksudnya.

Bab 50.

Perangkap Kelembutan Cia Thian-leng adalah ketua aliran Tiam-jong-pay.

Ia dijuluki Si Pedang Pertama Langit Selatan.

Ia tidak pernah menemukan lawan setanding dalam hidupnya, kecuali tiga kali dikalahkan oleh Kwe ko-yang.

Tigatiganya, ia kalah telak.

Jika seseorang mampu membunuh Kwe ko-yang, sudah pasti ia lebih baik daripada Cia Thian-leng.

Murid Cia Thian-leng bukanlah lawannya.

Wajah si pemuda berjubah biru menjadi muram.

Setiap orang bisa merasakan bahwa Hing Bu-bing bukanlah seseorang yang gemar menyombongkan diri.

Kata Hing Bu-bing.

"Aku bisa membunuhmu dalam satu jurus. Kau percaya?"

Si pemuda berjubah biru hanya menggigit bibirnya.

Ia tidak menyahut.

Terlihat sebilah pedang berkelebat.

Pedang Hing Bu-bing yang muncul entah dari mana.

Ujung pedang yang dingin itu berada tepat di depan leher si pemuda.

Kata Hing Bu-bing sekali lagi.

"Aku bisa membunuhmu dalam satu jurus. Kau percaya?"

Keringat membasahi wajah si pemuda berjubah biru. Ia menggigit bibir kuat-kuat sampai berdarah. Lalu ia berteriak.

"Bunuh saja aku!"

"Kau ingin mati?"

"Seorang pria sejati tidak takut mati. Silakan saja bunuh aku!"

Tanya Hing Bu-bing.

"Jika aku tidak ingin membunuhku, apakah kau masih ingin mati?"

Si pemuda berjubah biru terhenyak. Kalau tidak harus mati, siapakah yang ingin mati? Kata Hing Bu-bing.

"Aku tahu kau ingin mati demi wanita itu. Supaya ia berpikir bahwa kau adalah pahlawan penyelamatnya. Tapi jika kau benar-benar mati, apakah ia masih menyukaimu?"

Ia menambahkan dengan dingin.

"Jika ia mati, masihkah kau mencintainya?"

Si pemuda berjubah biru tidak bisa menjawab. Ia merasa ujung pedang yang dingin itu menjauh dari lehernya. Ia merasa seperti seorang tolol. Kata Hing Bu-bing.

"Dalam pandangan seorang wanita, seratus pahlawan yang mati lebih kecil nilainya daripada seorang pengecut yang masih hidup. Sama seperti dalam pandanganmu, seratus wanita cantik yang mati tidak ada harganya dibandingkan dengan seorang wanita yang hidup….. Mengertikah engkau?"

Si pemuda berjubah biru menyeka keringat dari wajahnya.

"Aku mengerti."

Tanya Hing Bu-bing.

"Jadi apakah kau masih ingin mati?"

Si pemuda menjawab dengan wajah merah.

"Hidup juga bukan hal yang jelek."

Kata Hing Bu-bing.

"Bagus. Akhirnya kau mengerti."

Lanjutnya lagi.

"Biasanya aku tidak suka bicara berteletele, namun hari ini aku sudah bicara begitu banyak, hanya supaya kau mengerti akan hal ini….. Sekarang kau sudah mengerti, jadi aku bisa membunuhmu."

Si pemuda berjubah biru jadi terkejut.

"Kau ingin membunuhku?"

Sahut Hing Bu-bing.

"Aturannya adalah aku hanya bertanya, tidak pernah menjawab. Tapi aku selalu membuat perkecualian bagi orang yang sebentar lagi akan mati."

"Ta….Tapi kalau kau ingin membunuhku, buat apa kau katakan semua nasihat itu?"

"Karena aku tidak pernah membunuh orang yang ingin mati…. Jika kau memang ingin mati, aku tidak mendapat kepuasan apa-apa waktu membunuhmu."

Maka si pemuda pun meraung keras dan segera menyerang dengan pedangnya.

Tapi teriakan itu terpotong pendek, karena saat ia mengangkat tangannya, pedang Hing Bu-bing sudah masuk ke dalam mulutnya.

Ujungnya yang tajam dan dingin telah menembus lidahnya.

Rasanya asin.

Akhirnya ia merasakan kematian.

Pedang itu masuk kembali ke dalam sarungnya.

Hing Bu-bing punya kebiasaan yang baik.

Ia selalu menyimpan pedang di dalam sarungnya setelah digunakannya.

Seolah-olah ia tidak akan menggunakannya lagi dalam waktu dekat.

Ia tahu, jika orang melihat pedangnya berada dalam sarungnya, mereka akan menjadi lebih sembrono.

Ia suka orang yang sembrono.

Mereka biasanya mati lebih cepat.

Selama itu Lim Sian-ji hanya memandanginya, mengawasi setiap gerakannya.

Di wajahnya terbayang seulas senyum yang lembut, seperti seorang gadis memandang kekasihnya.

Hing Bu-bing sedikitpun tidak memandangnya.

Lim Sian-ji berdiri dengan gaya menantang, namun Hing Bu-bing masih tetap mengacuhkannya.

Walaupun wajahnya masih tersenyum, Lim Sian-ji mulai merasa gelisah.

Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Setiap lelaki yang pernah tidur dengan dia akan berusaha memandangnya setiap ada kesempatan.

Namun mata orang ini sengaja menghindarinya seperti menghindari racun.

Sebaliknya, kedua pengangkat tandu itu memandangi Lim Sian-ji sampai mata mereka seolah-olah akan copot sewaktu-waktu.

Mereka tidak melihat sinar pedang yang berkelebat.

Tiba-tiba keduanya menjerit, dan pedang Hing Bu-bing telah kembali ke dalam sarungnya.

Kini ia berdiri di depan Lim Sian-ji.

Matanya yang dingin dan mati tetap memandang ke kejauhan.

Hanya ada kegelapan pekat di kejauhan.

Lim Sian-ji mendesah, katanya.

"Mengapa kau tidak mau memandangku? Apakah kau kuatir bahwa setelah memandangku, kau tidak sanggup membunuhku?"

Otot-otot di sekitar bibir Hing Bu-bing bergerak-gerak. Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata.

"Kau tahu bahwa aku datang untuk membunuhmu?"

Lim Sian-ji mengangguk dan berkata.

"Aku tahu…. Betapapun dinginnya, kejamnya seseorang, kalau ia harus membunuh seseorang yang dicintainya, wajahnya pasti akan berbeda."

Ia melanjutkan sambil tersenyum.

"Aku hanya ingin menanyakan satu hal saja. Karena sebentar lagi aku akan mati, kau pasti mau menjawab, bukan?"

Hing Bu-bing diam saja. Namun akhirnya ia menyahut.

"Tanyakan saja. Di depan orang yang sebentar lagi mati, aku tidak pernah berbohong."

Lim Sian-ji menatap wajah Hing Bu-bing yang kaku dan bertanya.

"Aku hanya ingin bertanya, siapakah yang menyuruhmu untuk membunuh aku? Apa alasannya?"

Hing Bu-bing mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu berseru.

"Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada alasan."

Kata Lim Sian-ji.

"Pasti ada orang lain….karena kau pasti tidak ingin membunuhku…."

Lim Sian-ji tertawa dingin. Lalu ia berkata dengan suara pelan.

"Aku tahu kau mencintaiku, dan kau tidak akan pernah menyakitiku."

Hing Bu-bing mengepalkan tangannya makin kuat. Suara tulang yang gemeretak hampir bisa terdengar. Namun wajahnya tetap kaku. Ia bertanya.

"Apakah kau betul-betul tahu? Apakah kau sungguh yakin?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Ya, aku sungguh yakin. Jika kau tidak mencintaiku, kau tidak akan membunuh orang-orang ini."

Hing Bu-bing diam saja, memberi kesempatan bagi Lim Sian-ji untuk terus bicara. Sambung Lim Sian-ji.

"Kau membunuh mereka….karena kau cemburu pada mereka."

Dahi Hing Bu-bing berkerut.

"Cemburu?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Setiap orang yang pernah menyentuhku, bahkan hanya melihatku, kau ingin membunuhnya. Itu namanya cemburu. Jika kau tidak mencintaiku, buat apa cemburu?"

Wajah Hing Bu-bing pucat seperti kertas. Ia berkata dengan dingin.

"Aku hanya tahu bahwa aku ingin membunuhmu Dan jika aku ingin membunuh seseorang, orang itu tidak mungkin bisa hidup lebih lama!"

Kata Lim Sian-ji.

"Jika kau benar-benar ingin membunuhku, mengapa tak kau pandang diriku sama sekali? Kau takut?"

Tangan Hing Bu-bing memegang pedangnya erat-erat.

Di bawah sinar bulan yang remang-remang sekalipun, terlihat jelas keringat membasahi wajahnya.

Keringat dingin.

Lim Sian-ji menatap wajahnya lekat-lekat.

Perlahan-lahan ia berkata.

"Melihatku saja kau tidak sanggup. Jika kau membunuhku, kau pasti akan menyesal."

Ia mengulurkan tangannya, ingin melihat apa reaksi Hing Bu-bing.

Hing Bu-bing diam tidak bergeming.

Akhirnya, tangan Lim Sian-ji merengkuh tangan Hing Bubing.

Dan ia segera menghambur ke pelukan lelaki itu.

Katanya.

"Jika kau tidak dapat mengambil keputusan, bawalah aku padanya."

Belaian Lim Sian-ji sangat lembut, dan ia benar-benar tahu kapan harus berhenti. Nafas Hing Bu-bing memburu. Tampak jelas bahwa ia sangat gelisah.

"Si…siapa yang ingin kau temui?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Orang yang menyuruhmu untuk membunuhku. Aku tahu aku akan dapat mengubah pikirannya…."

Ia menggigit telinga lelaki itu dengan mesra. Katanya lagi.

"Jangan kuatir, kau tidak akan menyesali keputusanmu ini."

Hing Bu-bing tetap tidak mau memandangnya. Namun kepalanya menoleh ke arah hutan yang gelap itu. Lim Sian-ji memutar bola matanya dan berbisik.

"Apakah ia ada di dalam hutan?"

Hing Bu-bing tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab. Lim Sian-ji berkata dengan lembut.

"Baiklah, akan kutemui dia sekarang. Jika ia tetap tidak mau melepaskan aku, maka kau boleh membunuhku."

Setelah Lim Sian-ji memutar badan, barulah Hing Bu-bing berani memandangi punggungnya.

Di tengah-tengah tatapannya yang kelabu dan mati, untuk pertama kali terlihat sebersit perasaan.

Perasaan apakah itu?

Bahagia?

Sedih?

Benci?

Ia sendiri pun tidak tahu.

Tidak ada cahaya sama sekali dalam hutan itu.

Walaupun Lim Sian-ji berjalan pelan-pelan, ia tiba-tiba hampir menabrak seseorang.

Orang itu hanya berdiri saja di situ, seperti sebuah gunung.

Seperti sebuah gunung es.

Lim Sian-ji bisa saja menghindarinya, namun ia sengaja menubruknya.

Tubuhnya jatuh ke dada orang itu.

Orang itu diam saja, tidak berusaha menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.

Lim Sian-ji berusaha mengatur nafasnya dan berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

Katanya.

"Di sini gelap sekali…. Maafkan aku."

Jaraknya dari orang itu kira-kira satu kaki.

Ia yakin bahwa orang itu dapat mencium wangi nafasnya.

Ia sungguh yakin bahwa nafasnya dapat menggetarkan hati lelaki manapun.

Namun orang itu berbicara dengan tenang.

"Apakah kau menggunakan cara ini juga supaya Hing Bu-bing tidak membunuhmu?"

Kata Lim Sian-ji.

"Oh, engkaukah yang ingin membunuhku? Apakah engkau Siangkoan-pangcu?"

Jawab orang itu.

"Ya. Aku juga bisa memberitahukan padamu bahwa cara ini tidak akan berhasil menaklukkan aku."

Nada suaranya tidak dingin, tidak juga kejam, tapi datar saja, tanpa emosi. Perkataannya seolah-olah sedang dibacakan dari sebuah buku. Tanya Lim Sian-ji.

"Lalu cara apa yang dapat menaklukkanmu?"

Jawab Siangkoan Kim-hong.

"Jika kau masih punya caracara yang lain, silakan dicoba saja."

Kata Lim Sian-ji.

"Aku tahu bahwa kau bukan laki-laki yang mudah dirayu. Tapi mengapa kau menyuruh Hing Bu-bing untuk membunuhku?"

Sahut Siangkoan Kim-hong.

"Seorang pembunuh yang terlatih tidak boleh berperasaan. Dan tidak mudah melatih seorang pembunuh yang kejam. Aku tidak ingin ia rusak hanya karena engkau."

Lim Sian-ji tertawa. Katanya.

"Tapi jika engkau membunuhmu, kerugianmu akan lebih besar."

"O ya?"

"Karena aku lebih berguna daripada Hing Bu-bing."

"O ya?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Hing Bu-bing hanya tahu bagaimana caranya membunuh. Akupun tahu bagaimana caranya membunuh. Ia harus membunuh menggunakan pedang dan menumpahkan darah. Aku dapat membunuh tanpa senjata, tanpa ada darah."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Tapi ia bisa membunuh lebih cepat daripada engkau."

"Bukankah kadang-kadang lebih baik membunuh perlahan-lahan?"

Siangkoan Kim-hong termenung lama. Akhirnya ia bertanya.

"Selain membunuh, apa kehebatanmu yang lain?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Aku punya banyak uang. Begitu banyak sampai tidak terhitung. Sangat banyak sampai tidak habis dibelanjakan."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Itu memang sangat hebat."

Perkataannya seolah-olah mengandung senyum, karena ia tahu persis kegunaan uang yang banyak. Sambung Lim Sian-ji.

"Aku juga sangat pandai. Aku bisa membantumu dalam banyak masalah."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Kau benar. Orang bodoh tidak mungkin jadi kaya."

"Selain itu, aku juga bisa memberikanmu satu hal yang lain…."

Suaranya semakin lembut sampai seperti berbisik saja. Lanjutnya.

"Kalau kau laki-laki, kau akan segera tahu."

Setelah berpikir sejenak, Siangkoan Kim-hong berkata.

"Aku laki-laki."

Kabut menyelimuti seantero hutan itu.

Tubuh Hing Bu-bing terlibat oleh kabut itu.

Ia berdiri diam tidak bergerak.

Seolah-olah tubuhnya adalah sebatang pohon.

Kabut itu sangat tebal.

Tidak ada sesuatupun yang terlihat.

Suara apakah itu?

Erangan?

Atau helaan nafas?

Kata Lim Sian-ji.

"Sudah hampir fajar. Aku harus pulang."

Tanya Siangkoan Kim-hong.

"Kenapa?"

"Seseorang menungguku."

"Siapa?"

"A Fei. Kau pasti pernah mendengar tentang dia."

Sahut Siangkoan Kim-hong.

"Tak kusangka kau belum membunuhnya. Kau membuang terlalu banyak waktu."

Kata Lim Sian-ji.

"Aku tak bisa membunuhnya. Juga tidak berani."

"Kenapa?"

"Jika aku membunuhnya, Li Sun-Hoan pasti akan membunuhku."

Siangkoan Kim-hong terdiam. Lim Sian-ji menghela nafas.

"Aku tahu kau belum membunuh Li Sun-Hoan. Kalau sudah, kau tidak akan menyuruh Hing Bu-bing untuk membunuhku. Kau masih membutuhkan Hing Bu-bing untuk membunuh Li Sun-Hoan, sehingga kau menginginkan dia dalam kondisi prima."

Siangkoan Kim-hong berpikir lama sebelum menyahut.

"Apakah kau benar-benar takut sekali pada Li Sun-Hoan?"

"Aku takut setengah mati padanya."

"Kau lebih takut padanya daripada aku?"

"Ya. Ia lebih parah daripada engkau. Karena aku masih dapat menggerakkan hatimu, tapi aku tidak dapat menyentuh hatinya."

Ia mendesah dan menambahkan.

"Ia tidak menginginkan apapun juga. Itulah yang membuat dia menjadi sangat berbahaya."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Tapi ia kan manusia juga. Ia pasti punya kelemahan."

Sahut Lim Sian-ji.

"Satu-satunya kelemahannya adalah Lim Si-im. Tapi aku tidak dapat menggunakan Lim Si-im untuk mengancamnya."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak yakin bisa berhasil. Setiap kali aku melihat Li Sun-Hoan memegang pisau, kepercayaan diriku melayang entah ke mana."

Ia menghirup nafas panjang dan melanjutkan.

"Selama ia masih hidup, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap A Fei."

Siangkoan Kim-hong berpikir sekian lama, lalu berkata.

"Jangan kuatir. Ia tidak akan hidup lama."

Bab 51.

Peristiwa Aneh Kabut mulai menipis.

Hing Bu-bing masih berdiri tegak di tempat yang sama.

Matanya yang kelabu dan mati tertuju pada embun yang menetes di salah satu sisi topinya.

Ia seperti tidak melihat Siangkoan Kim-hong yang berjalan keluar hutan sendirian.

Siangkoan Kim-hong pun tidak memandangnya.

Ia berjalan terus melewati Hing Bu-bing dan berkata dengan ringan.

"Ada kabut hari ini. Pasti hari baik."

Hing Bu-bing terlihat ragu-ragu sesaat, lalu berkata.

"Ada kabut hari ini. Pasti hari baik."

Ia memutar badannya dan berjalan seirama di belakang Siangkoan Kim-hong.

Seorang di muka, seorang di belakang.

Keduanya lenyap ditelan kabut.

*** Jalanan sangat ramai, hampir seramai Jembatan Langit di Ibukota.

Banyak macam barang yang bisa dibeli di sini.

Hari belum lagi siang, namun para pedagang sudah mulai mendirikan tenda-tenda di tepi jalan.

Macam-macam makanan, macam-macam orang menari dan menyanyi, macam-macam pembeli.

Perasaan Ling Ling meluap-luap melihat pemandangan yang meriah ini.

Ia belum pernah merasa bahagia seperti ini.

Dia memang masih anak-anak.

Ia tidak menyangka Li Sun-Hoan akan mengajaknya ke tempat seperti ini.

Ada kepolosan anak-anak dalam hati kecilnya.

Melihat Li Sun-Hoan memegang gulali, Ling Ling ingin tertawa terbahak-bahak.

Mereka membeli beberapa tusuk gulali.

Gulali yang berwarna merah cerah, seperti batu mirah besar yang berkilauan.

Semua anak gadis pasti suka perhiasaan.

Ling Ling ingin membeli semua gulali itu.

Sayangnya ia hanya punya dua tangan, dan tidak mungkin bisa membawa semuanya.

Seorang gadis tidak pernah merasa membeli terlalu banyak.

Li Sun-Hoan harus membantu membawakan sebagian.

Sebenarnya, Li Sun-Hoan pun pernah membeli gulali.

Tapi sudah lama sekali.

Waktu itu, ia belum paham apa artinya duka lara, artinya kekuatiran.

Namun sekarang?

Yang pasti ia sedang menguatirkan sesuatu.

Ia menatap seseorang.

Ia sudah menatap orang itu sejak lama.

Orang itu berjalan di depannya.

Ia mengenakan jubah yang kotor dan sepasang sandal jerami.

Di atas kepalanya bertengger sebuah topi jerami yang besar.

Orang ini terus menunduk, seolah-olah ia tidak ingin melihat atau dilihat orang.

Ia berjalan seperti orang bungkuk.

Namun terlihat bahunya yang bidang.

Kalau ia berdiri tegak, pasti ia akan kelihatan gagah.

Tapi orang ini tidak kelihatan luar biasa.

Paling-paling ia hanya pesilat rendahan.

Atau bahkan mungkin hanya seorang pengemis biasa.

Namun Li Sun-Hoan tertarik padanya sejak pertama kali melihatnya.

Ke manapun ia pergi, Li Sun-Hoan mengikutinya.

Oleh sebab itulah kini mereka ada di jalanan itu.

Anehnya, bukan hanya Li Sun-Hoan yang menguntitnya.

Sebetulnya Li Sun-Hoan berencana untuk menghampiri dan melihat wajahnya.

Tapi tiba-tiba ia melihat ada orang lain yang menguntit pengemis itu.

Orang itu sangat kurus, sangat jangkung dan mempunyai langkah yang sangat ringan.

Walaupun pakaiannya sederhana, mata orang itu bersinar terang, penuh dengan semangat dan tenaga.

Li Sun-Hoan tahu orang ini pasti bukan orang sembarangan.

Akan tetapi, orang itu tidak memperhatikan Li Sun-Hoan.

Pandangannya hanya tertuju pada si pengemis.

Ketika si pengemis mempercepat langkahnya, ia pun berjalan lebih cepat.

Waktu si pengemis berjalan pelan-pelan, ia pun berjalan pelan-pelan.

Waktu si pengemis berhenti, ia pun berhenti dan pura-pura merapikan bajunya atau mengikat sepatunya.

Namun matanya tidak pernah lepas dari pengemis itu.

Orang ini memang mata-mata yang hebat.

Tapi mengapa ia memata-matai seorang pengemis?

Apa tujuannya?

Apa hubungan orang ini dengan si pengemis?

Si pengemis sepertinya tidak tahu bahwa ia sedang dikuntit.

Ia terus berjalan perlahan-lahan, tidak pernah menoleh ke belakang.

Jika seseorang memberinya uang, ia menerimanya dengan sopan.

Namun ia tidak pernah berusaha minta uang.

Mata Ling Ling berputar terus.

Tiba-tiba ditariknya lengan baju Li Sun-Hoan dan bertanya.

"Apakah kita mengikuti pengemis itu?"

Gadis ini memang sangat pandai. Li Sun-Hoan mengangguk dan berbisik padanya.

"Oleh sebab itu kita harus bicara pelan-pelan."

"Siapakah dia? Mengapa kita membuntutinya?"

"Itu bukan urusanmu."

Katan Ling Ling.

"Itu sebabnya aku bertanya. Kalau kau tidak mau menjawab, aku akan bertanya keras-keras."

Li Sun-Hoan mendesah, katanya.

"Ia seperti teman lamaku."

Ling Ling tampak terkejut. Katanya.

"Teman lamamu? Apakah ia anggota Partai Pengemis?"

"Tidak."

"Lalu siapakah dia?"

Wajah Li Sun-Hoan tampak kesal.

"Walaupun kuberi tahu namanya, kau pasti tidak kenal."

Ling Ling terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya.

"Ada orang lain yang membuntuti pengemis itu juga. Apakah kau melihatnya?"

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Pandanganmu cukup cermat juga."

Ling Ling pun terkekeh dan bertanya lagi.

"Siapakah orang itu? Apakah ia temanmu juga?"

"Bukan."

"O ya? Jadi apakah ia adalah musuh temanmu itu?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Mungkin…."

Tanya Ling Ling.

"Lalu mengapa kau tidak memperingatkan temanmu itu?"

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Temanku itu agak aneh tabiatnya. Ia tidak suka orang lain membantunya."

"Tapi…."

Ling Ling tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia sudah sibuk memperhatikan sesuatu yang lain.

Memandangnya dengan serius.

Jalan itu cukup panjang.

Mereka baru berjalan separuh saja.

Si pengemis berjalan melewati tukang pangsit.

Di dekatnya ada seorang penjual arak pikulan.

Beberapa pembeli sedang minum dekat si penjual arak.

Ada juga seorang peramal buta, wajahnya agak pucat.

Di seberang jalan berdiri seorang bertubuh kekar berjubah hijau.

Seorang penjual tahu pikulan membawa dua keranjang tahu yang bau lewat di dekatnya.

Terlihat pula seorang wanita yang sangat jangkung.

Ia sedang melihat-lihat alat-alat rias dan keperluan menjahit.

Tapi pada saat itu ia mengangkat wajahnya.

Satu matanya sudah buta.

Ketika si pengemis berjalan mendekat….

Tiba-tiba si penjual arak menurunkan pikulannya.

Si peramal buta menaruh cawan araknya.

Si lelaki kekar berjubah hijau berjalan keluar.

Si wanita bermata satu memutar badannya dengan cepat, hampir saja membuat alat-alat rias di sampingnya jatuh berantakan.

Selain orang kurus jangkung yang sejak tadi menguntitnya, orang-orang ini mengelilingi si pengemis.

Si penjual tahu tiba-tiba berjalan ke depan si pengemis, menghalangi langkahnya.

Ada banyak orang lain di jalan itu.

Namun orang-orang ini terlihat sangat menonjol.

Bahkan Ling Ling pun merasa ada sesuatu yang ganjil.

Wajah Li Sun-Hoan menjadi gelap.

Ia sudah mengira sejak tadi bahwa si pengemis adalah Thi Toan-kah.

Kini ia tidak ragu-ragu lagi.

Ia harus bersikap ekstra hati-hati.

Ia tahu orang-orang ini mempunyai dendam kesumat terhadap Thi Toan-kah.

Mereka pasti telah merencanakan perangkap ini matang-matang.

Tidak memberi jalan sedikit pun bagi Thi Toan-kah untuk lolos.

Jika mereka tahu ada orang yang bermaksud menolong Thi Toan-kah, mereka pasti akan membunuh orang itu seketika.

Walaupun itu berarti mengorbankan nyawanya, Li Sun-Hoan tidak akan membiarkan Thi Toan-kah disakiti orang.

Ia tidak berhutang pada banyak orang di dunia ini.

Tapi Thi Toan-kah adalah salah satunya.

Li Sun-Hoan tidak bisa kehilangan sahabat seperti dia.

Saat itu, orang-orang ini telah mengepung si pengemis.

Sekejap saja, tiga pisau yang sangat tajam telah mengancam tubuh si pengemis.

Orang-orang lain di jalan itu segera menyadari apa yang terjadi, dan cepat-cepat berlalu.

Tidak ada seorang pun yang ingin terlibat peristiwa macam ini.

Terdengar si peramal buta berkata dingin.

"Ayo ikut dengan kami. Jangan bicara apapun juga. Mengerti?"

Si lelaki kekar berjubah hijau pun berkata.

"Ikuti perintah kami, dan kau akan hidup sedikit lebih lama. Jika kau berbuat nekad, kau pasti akan mati seketika."

Reaksi si pengemis sangat lamban. Setelah beberapa lama, barulah ia mengangguk. Si wanita bermata satu mendorongnya dari belakang. Katanya.

"Ayo jalan. Apa lagi yang kau tunggu?"

Karena dorongannya, topi jerami itu jatuh, dan terlihatlah wajah pengemis itu.

Wajahnya tampak kuning, seperti baru saja sembuh dari sakit parah.

Hidungnya bengkok dan bersemu merah.

Mulutnya melebar, tersenyum tidak mengerti.

Apakah orang ini adalah Thi Toan-kah?

Tentu saja bukan.

Ia tampak seperti orang terbelakang.

Li Sun-Hoan ingin tertawa.

Si wanita bermata satu menjadi sangat marah.

Serunya tidak sabar.

"Gosuheng. Bagaimana ini bisa terjadi?"

Wajah si kurus jangkung pucat pasi. Katanya.

"Tapi…..aku tadi yakin bahwa orang ini adalah Thi Toankah. Aku tidak pernah melepaskan pandanganku dari dirinya. Bagaimana mungkin….bisa jadi begini?"

Si lelaki kekar berjubah hijau menampar wajah pengemis itu dan membentak.

"Siapa kamu?"

Si pengemis masih tersenyum seperti orang bodoh. Katanya.

"Aku ya aku. Kamu ya kamu. Mengapa kau memukul aku?"

Kata si penjual arak.

"Mungkin dia adalah Thi Toan-kah yang sedang menyamar. Mari kucoba menanggalkan topengnya."

Si peramal buta segera berkata.

"Tidak perlu. Orang ini bukan Thi Toan-kah."

Hanya wajah si buta saja yang tetap tenang dan dingin. Si lelaki kekar bertanya.

"Jisuheng, apakah kau mengenali suaranya?"

Sahut si buta.

"Thi Toan-kah lebih baik mati daripada ditampar olehmu."

Kata si kurus jangkung.

"Orang ini pasti bersekongkol dengan Thi Toan-kah. Entah bagaimana, mereka pasti bertukar tempat, sehingga Thi Toan-kah bisa lolos."

Si wanita bermata satu menjerit dengan marah.

"Bagaimana kau dapat membiarkannya lolos begitu saja?"

Si kurus jangkung menundukkan kepalanya. Katanya.

"Mungkin….waktu ia pergi ke kamar kecil. Tapi aku kan tidak bisa…."

Si lelaki kekar berjubah hijau membentak si pengemis lagi.

"Jadi kau bersekongkol dengan Thi Toan-kah ya. Akan kubunuh kau!"

Ia mengangkat pikulannya hendak menghajar si pengemis.

Saat itu, mau tidak mau Li Sun-Hoan harus campur tangan.

Pengemis itu mungkin memang terbelakang, mungkin juga tidak.

Ia mungkin bersekongkol dengan Thi Toankah, mungkin juga tidak.

Tapi paling tidak ia telah membantu Thi Toan-kah.

Maka Li Sun-Hoan tidak bisa membiarkan dia mati begitu saja.

Lagi pula, Li Sun-Hoan ingin menanyakan tentang Thi Toan-kah kepada orang ini.

Tubuh Li Sun-Hoan menerjang ke depan.

Namun segera ia berhenti.

Gerakan maju dan berhenti ini berlangsung sekedip mata saja.

Tidak ada yang tahu bahwa ia sudah bergerak.

Kini ia tidak perlu lagi campur tangan.

Terdengar suara berderak dan pikulan si lelaki kekar berjubah hijau itu patah menjadi dua.

Ia pun kehilangan keseimbangannya dan hampir terjungkal.

Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana pikulan itu bisa patah.

Wajah semua orang langsung tegang.

Mereka sama-sama berteriak.

"Siapa yang berani ikut campur?"

Seseorang yang berdiri di samping sebuah toko menjawab dengan tenang.

"Aku."

Semua orang menoleh le arah orang itu.

Ia mengenakan jubah putih bagai pualam.

Tangannya berada di balik punggungnya.

Ia sedang melihat-lihat sangkar burung di depan toko itu.

Burung di sangkar itu berkicau riang.

Si jubah putih seakan-akan menganggap burung itu jauh lebih menarik daripada manusia.

Ia tidak melirik sedikit pun pada orang-orang ini.

Di sudut matanya terlihat kerut-kerut kecil.

Namun dengan alis yang lebat dan wajah yang putih bersih, lakilaki ini terlihat sangat gagah.

Tidak seorang pun bisa menebak berapa usianya.

Si lelaki kekar berjubah hijau bertanya garang.

"Jadi kau yang mematahkan pikulanku?"

Kali ini si jubah putih tidak menggubrisnya sama sekali.

Si lelaki kekar dan si wanita bermata satu menjadi sangat berang.

Mereka ingin segera menghajar laki-laki ini.

Tiba-tiba si peramal buta berkata.

"Berhenti."

Ia memungut kepingan perak dari tanah dan berkata dingin.

"Walaupun tuan ini mematahkan pikulanmu, kepingan peraknya dapat membeli beratus-ratus pikulan yang baru. Kau seharusnya berterima kasih akan kebaikan hatinya, bukan malah marah-marah."

Si lelaki kekar berjubah hijau melihat pada pikulan yang patah di tangannya, kemudian pada kepingan perak di tangan si buta.

Ia tidak bisa percaya bahwa kepingan perak kecil itulah yang sudah mematahkan pikulannya.

Si jubah putih tiba-tiba tertawa.

Katanya.

"Baik. Kelihatannya kau lebih bijaksana daripada orang-orang yang bisa melihat. Kau boleh simpan perak itu."

Si peramal buta menyahut dingin.

"Mataku memang buta, tapi hatiku tidak. Aku tidak mengambil apa yang bukan hakku."

Ia mengelus kepingan perak di tangannya dan melanjutkan.

"Satu uang perak cukup untuk membeli satu pikulan baru. Kepingan perak ini paling tidak berharga 10 tail. Kau tidak perlu mengganti begini banyak."

Sambil berbicara, ia menggosok-gosok kepingan perak itu menjadi batang kecil. Lalu dengan sentilan tangan kirinya, sebagian kecil batang itu putus. Kata si peramal buta.

"Terima kasih untuk uang perak ini. Silakan kau ambil kembaliannya."

Tangannya melambai dan sejalur perak terlihat mengalir di udara.

Batang perak kecil itu melesat ke arah si jubah putih.

Sambitan itu mengandung teknik ‘Seni Pedang Kebajikan Ganda’ dari Bu-tong-pay.

Sejalur cahaya perak itu terarah pada lima Hiat-to (jalan darah) utama di dada si jubah putih.

Ketika batang perak itu sampai dekat dada si jubah putih, tiba-tiba ia menjepit batang perak itu dengan tangan kanannya.

Lalu dua jari yang memegang batang perak itu dengan lambat mengatup dan memotong batang perak itu.

Kata si jubah putih.

"Jurus pedangmu cukup bagus juga. Tapi sayang agak terlalu lambat."

Sambil mengucapkan tiap kata, dipotong-potongnya batang perak itu dengan jarinya.

Ketika selesai bicara, 12 potongan perak telah jatuh ke tanah.

Ling Ling memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Ia ternganga melihatnya dan berkata.

"Apakah tangan orang itu terbuat darah dan daging?"

Melihat potongan perak di tangan si buta, wajah semua orang menjadi kelabu. Semuanya terdiam. Si jubah putih berkata dingin.

"Sekali kulemparkan keping perak itu, itu sudah menjadi milikmu. Mengapa tak kau ambil?"

Si peramal buta tiba-tiba membungkuk dan memunguti potongan-potongan perak itu. Tanpa bicara ia memutar badan dan pergi. Semua orang yang lain pun pergi mengikutinya. Ling Ling tersenyum dan berkata.

"Paling tidak mereka tahu kapan harus pergi."

Li Sun-Hoan masih muram. Tiba-tiba ia berkata.

"Kau lihatkah toko pangsit itu?"

Jawab Ling Ling.

"Tentu saja. Sudah sejak tadi aku ingin mencoba pangsit di situ."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagus. Tunggu aku di situ."

Ling Ling tampak ragu-ragu, lalu bekata.

"Apakah kau masih ingin mengejar si pengemis itu?"

Si pengemis sudah mulai berjalan lagi.

Ia tidak berterima kasih pada si jubah putih, juga tidak memandang siapa pun juga.

Seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi.

Li Sun-Hoan mengangguk dan menjawab.

"Aku perlu menanyakan sesuatu padanya."

Ling Ling menundukkan kepalanya dan bertanya pelan.

"Aku tidak boleh ikut?"

Jawab Li Sun-Hoan singkat.

"Tidak."

Air mata Ling Ling sudah hampir menetes. Katanya.

"Aku tahu apa yang kau perbuat. Kau bermaksud meninggalkan aku di sini."

Li Sun-Hoan mengeluh dan berusaha berbicara dengan lembut.

"Aku juga ingin mencicipi pangsit di situ. Masakan aku tidak kembali?"

"Baik. Aku percaya padamu. Jika kau berbohong, aku akan menunggumu di sini selama-lamanya."

Si pengemis tidak berjalan cepat.

Li Sun-Hoan pun tidak terburu-buru mengejarnya.

Ada begitu banyak orang di jalan itu.

Di tengah-tengah keramaian tidak leluasa bercakapcakap.

Lagi pula, ia merasa bahwa si jubah putih pun sudah mengawasinya.

Seolah-olah kini ia lebih menarik daripada burung-burung itu.

Li Sun-Hoan juga ingin berjumpa dengan si jubah putih.

Gayanya memotong batang perak dengan jarinya sangat menarik hati Li Sun-Hoan.

Tidak banyak orang memiliki kemampuan seperti ini.

Sebenarnya, belum pernah Li Sun-Hoan menjumpai seseorang dengan kekuatan jari seperti itu.

Deskripsi Ling Ling memang sangat tepat.

Tangan orang itu memang tidak terlihat seperti darah dan daging.

Setiap pesilat tangguh yang menemui orang seperti dia, pasti ingin melakukan dua hal.

Menantang dia berduel, atau minum bersama dengannya.

Di hari-hari lain, Li Sun-Hoan pun tidak akan berbeda.

Tapi hari ini tidak.

Ia telah berusaha mencari Thi Toankah sekian lama.

Ia tidak dapat melepaskan kesempatan ini.

Si jubah putih berjalan ke arah Li Sun-Hoan.

Seolah-olah ingin menghalangi jalannya.

Untungnya, kerumunan orang segera mengerubungi si jubah putih.

Mereka ingin melihat orang yang luar biasa ini.

Li Sun-Hoan menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap pergi.

Ketika ia melihat ke depan, si pengemis sudah sampai di ujung jalan dan berbelok ke kiri.

Jalan ini jauh lebih sepi.

Dan jauh lebih pendek.

Li Sun-Hoan segera pergi ke sana, namun si pengemis sudah tidak tampak lagi.

Li Sun-Hoan terus menyusuri jalanan di depan jalan pendek itu.

Tetap tidak ada seorang pun yang kelihatan.

Ke mana perginya si pengemis itu?

Li Sun-Hoan memperlambat langkahnya dan mulai mencari dengan seksama.

Jalan itu adalah jalan belakang rumah-rumah orang.

Seorang laki-laki duduk dekat sebuah pintu.

Ia sedang menggosok-gosok sesuatu di dadanya.

Sebelum ia melihat wajah orang itu, ia melihat topi jerami itu.

Jadi si pengemis pergi ke situ.

Apa yang sedang dilakukannya?

Li Sun-Hoan tidak ingin si pengemis menjadi takut.

Ia berjalan perlahan-lahan.

Namun si pengemis masih ketakutan juga.

Ia segera berusaha menyembunyikan barang di tangannya.

Sayangnya, mata Li Sun-Hoan jauh lebih cepat daripada tangan si pengemis.

Ia melihat bahwa si pengemis memegang sepotong perak.

Satu potongan yang dipotong oleh si jubah putih.

Li Sun-Hoan tersenyum dan bertanya.

"Bolehkah kutahu nama sahabat ini?"

Si pengemis menatapnya lama. Lalu ia menjawab.

"Aku bukan sahabatmu. Kau bukan sahabatku. Aku tidak mengenalmu. Kau tidak mengenalku."

Li Sun-Hoan masih tersenyum. Katanya.

"Aku ingin bertanya padamu tentang seseorang. Aku tahu kau pasti mengenalnya."

Bab 52. Jebakan Si pengemis menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.

"Aku tidak mengenal siapapun. Siapapun tidak mengenalku. Aku tidak mengenal seorangpun. Seorangpun tidak mengenal aku."

Orang ini pasti agak terbelakang.

Kalau tidak, buat apa ia membuat jawaban yang singkat begitu bertele-tele?

Baru saja Li Sun-Hoan ingin bertanya lagi, si pengemis sudah kabur.

Larinya cukup cepat, tapi ia pasti tidak bisa ilmu meringankan tubuh.

Sepertinya semua pengemis bisa berlari cepat.

Itulah keahlian mereka yang mendarah daging.

Tentu saja Li Sun-Hoan bisa berlari lebih cepat.

Sambil berlari, si pengemis bertanya.

"Apa yang kau inginkan? Kau mau mengambil perakku?"

Lalu ia pun berteriak.

"Tolong! Tolong! Ada orang yang mau merampok uangku!"

Untungnya, di jalan ini sama sekali tidak ada orang.

Kalau tidak, Li Sun-Hoan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Apa sebutan untuk seseorang ingin merampok seorang pengemis?

Bandit kelas delapan?

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku tidak menginginkan uangmu. Tapi jika kau bisa menjawab pertanyaanku, kau bisa mendapatkan kepingan perak yang lebih besar lagi."

Si pengemis termenung sejenak, lalu mengangguk. Katanya.

"Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Apakah kau mengenal seseorang bernama Thi Toan-kah?"

Si pengemis menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak kenal seorangpun. Bagaimana seorang pengemis bisa memiliki teman?"

Tanya Li Sun-Hoan.

"Kalau begitu, mengapa engkau membantunya?"

Si pengemis menggelengkan kepalanya lagi. Katanya.

"Aku tidak pernah menolong orang lain. Orang lain tidak pernah menolongku."

"Jadi hari ini kau tidak pernah bertemu dengan seorang lelaki tinggi, kekar, berkulit gelap dan berjenggot besar?"

Si pengemis berpikir sejenak dan menjawab.

"Mungkin."

Li Sun-Hoan bertanya dengan tidak sabar.

"Di mana?"

"Di kamar kecil."

"Kamar kecil?"

Si pengemis berkata.

"Kamar kecil adalah tempat buang air. Aku sedang buang air besar, ketika ia tiba-tiba masuk. Ia bertanya apakah aku ingin uang untuk minum arak."

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Siapa yang tidak mau uang minum arak."

Si pengemis melanjutkan.

"Tapi kulihat pakaiannya saja lebih jelek daripada pakaianku. Bagaimana mungkin ia punya uang untuk diberikan padaku?"

Li Sun-Hoan berkata dengan tersenyum.

"Semakin kaya seseorang, semakin sering ia bergaya seperti orang miskin. Apakah kau tahu?"

Si pengemis pun tersenyum. Katanya.

"Kau benar. Orang itu betul-betul punya uang. Ketika ia menunjukkan kepingan peraknya, aku langsung bertanya bagaimana aku bisa mendapatkannya."

"Apa jawabnya?"

"Aku pikir ia akan menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang sulit. Tapi ternyata ia hanya ingin bertukar pakaian. Lalu aku harus berjalan sambil menunduk. Apapun yang terjadi, aku harus tetap menundukkan kepala."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Cara yang sangat mudah untuk mendapatkan uang."

Kali ini, hatinya pun ikut tersenyum. Ia sangat senang bahwa kini Thi Toan-kah sudah bisa merancang tipuan seperti ini. Si pengemis bahkan lebih gembira lagi. Katanya.

"Aku tahu. Oleh sebab itu aku rasa otak orang itu memang tidak beres."

Kata Li Sun-Hoan.

"Otakku lebih tidak beres lagi. Lebih mudah lagi bagimu untuk mendapatkan kepingan perakku."

"O ya?"

Li Sun-Hoan mengeluarkan semua perak dari sakunya.

Ketika ia meninggalkan rumah, Thi Toan-kah sengaja memeberikan uang padanya untuk keperluan sehari-hari.

Dengan uang inilah Li Sun-Hoan bisa hidup sampai sekarang.

Mata si pengemis berbinar-binar melihat semua perak itu.

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Jika kau bisa mengantarkan aku pada orang yang otaknya tidak beres itu, akan kuberikan semua perak ini padamu."

Si pengemis segera menyahut.

"Baik, akan kuantarkan kau padanya. Tapi kau harus memberikan perak ini lebih dulu padaku."

Li Sun-Hoan mengulurkan tangannya untuk memberikan seluruh perak itu.

Ia bersedia memberikan jantungnya demi bertemu dengan Thi Toan-kah.

Air liur si pengemis sudah membasahi kepingan perak itu.

Ia menerimanya sambil terkekeh.

"Kau pasti mencuri perak ini ya? Kalau tidak, bagaimana mungkin kau memberikannya kepada orang lain begitu saja?"

Waktu ia menerima kepingan perak itu, tentu saja tangannya menyentuh tangan Li Sun-Hoan.

Saat tangannya menyentuh tangan Li Sun-Hoan, kelima jarinya tiba-tiba terpentang dan tertekuk….

Li Sun-Hoan merasa sepasang borgol besi telah melingkari tangannya.

Ia pun terjengkang jatuh di tanah.

Kecepatan si pengemis memang luar biasa.

Gerakannya sederhana, namun menggunakan empat kekuatan ilmu silat di dalamnya.

Ketika jari-jarinya menyentuh jari-jari Li Sun-Hoan, ia menggunakan tenaga dalam penyedot yang sangat kuat.

Siapapun yang tertangkap, tidak akan dapat melepaskan diri dari genggamannya.

Sesudah itu, ia menggunakan 72 Jalan Meringkus Tangan dari Bu-tong-pay dan menutul salah satu Hiat-to (jalan darah) penting Li Sun-Hoan.

Siapapun yang diringkus dengan cara ini akan kehilangan seluruh tenaganya.

Lalu ia menggunakan jurus Tangan Memisahkan Tulang untuk memisahkan tulang-tulang Li Sun-Hoan.

Akhirnya, ia menggunakan teknik gulat dari Mongol.

Siapapun yang diangkat dan dibanting dengan cara ini tidak mungkin dapat berdiri lagi.

Si pengemis menggunakan keempat teknik ini dengan sempurna, dengan kekuatan maksimum.

Sekalipun jika Li Sun-Hoan tahu bahwa ia bukan seorang pengemis biasa, ia pun tidak akan menyangka bahwa ilmu silatnya setinggi ini.

Sekalipun Li Sun-Hoan tahu bahwa ia adalah pesilat kelas wahid, ia pun tidak akan menyangka bahwa orang ini akan menyerang tanpa peringatan apapun.

Li Sun-Hoan belum pernah seterkejut ini dalam hidupnya.

Li Sun-Hoan tergeletak di tanah seperti ikan mati.

Ia merasa sangat pusing, hampir pingsan.

Ketika ia menyadari apa yang terjadi, si pengemis datang ke sampingnya.

Dengan satu tangan ia mencengkeram leher Li Sun-Hoan.

Ia tersenyum lebar.

Siapakah orang ini?

Mengapa ia berbuat demikian padaku?

Apakah sudah sejak tadi ia tahu siapa aku?

Apa hubungan orang ini dengan Thi Toan-kah?

Begitu banyak pertanyaan dalam benak Li Sun-Hoan.

Namun satu pun tidak ditanyakannya.

Dalam situasi seperti ini, ia pikir lebih baik ia diam saja.

Namun si pengemislah yang bicara.

Katanya sambil tersenyum.

"Mengapa kau diam saja?"

Li Sun-Hoan pun tersenyum, jawabnya.

"Jika lehermu sedang dicengkeram orang, apa yang dapat kau katakan?"

Kata si pengemis.

"Jika seseorang menyerangku tiba-tiba seperti ini, dan mencengkeram leherku seperti ini, aku akan menyumpahi delapan belas keturunannya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mataku tidak buta, namun aku tidak bisa melihat kehebatan ilmu silatmu. Jika aku harus menyumpahi, yang pertama kusumpahi adalah diriku sendiri."

Si pengemis terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya.

"Kau memang orang aneh. Aku belum pernah bertemu dengan orang seperti engkau. Jika kau terus bicara, mungkin mukaku akan bersemu merah seperti seorang gadis."

Tiba-tiba ia berseru lantang.

"Orang ini bukan saja orang yang terhormat, ia pun seorang yang baik. Orang seperti inilah yang paling menyebalkan. Jika kalian tidak keluar sekarang juga, akulah yang akan pergi."

Ah, jadi ia punya pembantu.

Li Sun-Hoan tidak dapat mengira-ira siapakah para pembantunya itu.

Lalu pintu di sebelah mereka terbuka.

Tujuh orang keluar dari sana.

Li Sun-Hoan sangat kaget melihat siapa yang keluar dari pintu itu.

Ia tidak pernah menyangka bahwa orang-orang inilah pembantu si pengemis.

Orang yang pertama adalah si peramal buta.

Lalu si wanita bermata satu, si lelaki kekar berjubah hijau, si penjual tahu…..

Li Sun-Hoan mendesah.

Katanya.

"Rencana yang bagus, rencana yang bagus. Aku sungguh kagum."

Si peramal buta berkata dingin.

"Kau terlalu berlebihan."

Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi ini sama sekali tidak berhubungan dengan Thi Toan-kah?"

Jawab si buta.

"Tidak sepenuhnya benar, kecuali...."

Si pengemis memotong cepat.

"Kecuali bahwa aku tidak pernah bertemu dengan Thi Toan-kah. Mengenal juga tidak. Pertunjukan yang baru saja berlangsung adalah untuk dirimu."

Li Sun-Hoan tersenyum getir.

"Pertunjukan yang sangat hebat."

Si buta pun berkata.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin kami dapat menipu Li Tamhoa?"

"Oh, jadi kalian sudah tahu siapa aku dan sudah tahu bahwa aku datang ke kota ini?"

Jawab si buta.

"Seseorang sudah melihatmu sebelum kau masuk kota."

"Tapi bagaimana kalian dapat mengenaliku?"

Kembali si buta menjawab.

"Mungkin kami tidak mengenalimu, tapi ada orang yang mengenalimu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kalau kalian tidak kenal denganku, mengapa kalian merancang pertunjukan ini untuk diriku?"

Sahut si buta.

"Karena Thi Toan-kah!"

Tiba-tiba wajahnya menjadi beringas, dan ia melanjutkan.

"Kami telah mencari-cari dia selama ini. Namun kami tidak berhasil menemukan dia. Kalau dia tahu Li Tamhoa ada di tangan kami, dialah yang akan datang mencari kami."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Bagaimana kalau ia tidak datang?"

Jawab si buta dingin.

"Kau tidak pernah mengacuhkannya saat ia membutuhkan pertolonganmu, sama seperti dia tidak akan mengacuhkanmu saat kau butuh pertolongan. Kami yakin ia pasti akan datang. Kalau tidak, kami tidak akan repot-repot merancang rencana ini."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku harus memuji kalian atas rencana yang hebat ini."

Sahut si buta.

"Jika kami cukup pandai untuk merancang renana ini, mungkin hari ini aku tidak buta."

"Maksudmu, bukan kalian yang merancangnya?"

"Bukan."

Si pengemis berkata.

"Aku pun tidak merancangnya. Aku punya problem yang aneh. Setiap kali aku berpikir untuk menyakiti orang lain, kepalaku berdenyut-denyut."

Li Sun-Hoan mengguman.

"Jadi ada orang lain dibalik semuanya ini….."

Kata si buta.

"Kau tidak perlu tanya siapa orang itu, karena sebentar lagi kau akan bertemu dengannya."

Lalu ia menutup Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan dengan tongkatnya dan menambahkan dengan dingin.

"Saat kau berjumpa dengannya, mungkin kau merasa bahwa hidup di dunia ini tidak ada artinya dan bahwa kematian mungkin adalah jalan yang lebih baik."

Pintu itu tidak besar. Temboknya cukup tinggi. Tidak ada suara dari dalam pekarangan. Terdengar suara tawa gembira, dan seseorang berkata.

"Jadi kau sudah berhasil mengundang Toako datang?"

Li Sun-Hoan terkesiap mendengar suara itu. Itu adalah suara Liong Siau-hun. Jadi dialah sutradara pertunjukan barusan. Si buta berkata dingin.

"Ya, kami sudah berhasil mengundang Li Tamhoa ke sini."

Sebelum kalimatnya selesai, seseorang telah masuk melalui pintu itu. Orang itu bukan lain adalah Liong Siauhun. Setibanya di ruangan itu, segera ia meraih tangan Li Sun-Hoan. Katanya.

"Tidak terasa sudah dua tahun, Toako. Setiap hari kuingat akan dirimu."

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Jika Toako ingin bertemu, mengapa tidak kau katakan saja? Tidak perlu repot-repot begini."

Si pengemis tiba-tiba tertawa keras. Katanya.

"Bagus! Bagus! Aku kagum akan ketenanganmu. Aku tidak menyangka kau masih bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini."

Liong Siau-hun seolah-olah telah menjadi tuli dan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu. Liong Siau-hun masih memegang tangan Li Sun-Hoan dan berkata.

"Aku tahu kau pasti akan datang. Maka sudah kupersiapkan arak istimewa untukmu."

Ia membantu Li Sun-Hoan bangkit berdiri dan berkata kepada yang lain.

"Mari kita bersama-sama merayakan pertemuan kembali dua saudara angkat."

Si buta tidak bergeming. Tidak satupun dari saudara-saudaranya bergerak. Liong Siau-hun tersenyum dan berkata.

"Oh, kalian tidak bisa ikut?"

Sahut si buta.

"Kami hanya melakukan ini demi mendapatkan Thi Toan-kah. Kami telah memenuhi tugas kami. Jika Thi Toan-kah sudah datang, jangan lupa beri tahukan pada kami."

Wajahnya lalu menjadi muram dan melanjutkan.

"Untuk arak Liong-siya, aku tidak berani menyentuhnya. Sudah jelas, aku tidak cukup pantas menjadi sahabat Siya."

Setelah selesai bicara, ia segera melangkah pergi.

Meja di pekarangan itu penuh dengan arak dan makanan.

Makanannya terlihat sangat indah dan lezat.

Araknya semua adalah arak kualitas atas.

Si pengemis tidak merasa perlu untuk berbasa-basi.

Ia segera duduk di salah satu kursi dan berkata.

"Sejujurnya, aku pun ingin segera pergi. Tapi aku tidak bisa membiarkan makanan dan arak sebaik ini terbuang percuma."

Ia mengangkat secawan arak ke arah Li Sun-Hoan dan berkata.

"Kau harus minum secawan dua cawan juga. Tidak ada gunanya menolak arak Saudara ini. Walaupun meminum araknya pun juga tidak ada gunanya."

Kata Liong Siau-hun.

"Ini adalah Oh-tayhiap. Toako, aku rasa kau belum bertemu dengan…."

Potong Li Sun-Hoan.

"Oh-tayhiap? Apakah namamu adalah Put-kui?"

Si pengemis tersenyum dan menjawab.

"Benar. Oh Putkiu adalah aku! Kau mungkin memanggilku dengan sebutan tayhiap, namun dalam hatimu, aku yakin bahwa kau berpikir ‘Jadi inilah Oh si gila. Tidak heran ia bersikap seperti orang gila.’ Bukankah begitu?"

Li Sun-Hoan terkekeh. Jawabnya.

"Kau benar."

Oh Put-kiu tertawa.

"Kau memang benar-benar orang aneh, mungkin sebenarnya kau juga gila. Jika kau tidak gila, bagaimana mungkin kau mau menjadi sahabat orang seperti Liong Siau-hun?"

Li Sun-Hoan hanya tersenyum. Lanjut Oh Put-kiu.

"Tapi kurasa, aku pun bukan sahabatnya. Aku hanya membantunya karena aku pernah berhutang budi padanya. Setelah tugas ini selesai, aku tidak ingin punya hubungan apa pun lagi dengan dia."

Tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata lagi.

"Namun tugas ini begitu licik, sangat penuh tipu muslihat yang jahat. Sangat memalukan, sangat jelek, sangat hina,…."

Sambil berbicara ia menampar pipinya sendiri 17 atau 18 kali.

Lalu ia mulai menangis tersedu-sedu dan menelungkup di atas meja.

Sepertinya Liong Siau-hun sudah terbiasa dengan tingkahnya yang aneh dan tidak merasa heran sedikitpun.

Namun Li Sun-Hoan merasa sedikit menyesal.

Katanya menenangkan.

"Apapun yang terjadi, walaupun aku bersiaga penuh, aku tidak mungkin dapat menghindari serangan terakhir Oh-heng itu."

Sekali lagi Oh Put-kiu menggebrak meja dan berseru dengan marah.

"Jangan ngomong sembarangan! Tanpa tipu daya, mana mungkin aku bisa menyentuhmu? Aku sudah mencelakaimu, tapi kau masih berusaha menghibur aku? Apa maksudmu?"

Li Sun-Hoan tidak tahu harus menjawab apa? Kata Oh Put-kiu.

"Aku memang mudah berubah-ubah, marah tanpa sebab, aku tidak tahu membedakan yang benar dan yang salah, selalu berbuat kebalikan dari yang biasanya, menangis jika ingin menangis, tertawa jika ingin tertawa…. Aku memang penuh kebusukan."

Tiba-tiba ia melotot pada Liong Siau-hun dan berkata.

"Tapi kau lebih busuk lagi. Dan anakmu ini jauh lebih busuk lagi. Ia punya sepasang kaki, tapi ia bertingkah seperti anjing dan merangkak di bawah meja. Apakah ia mau mengais-ngais tulang di bawah sana?"

Wajah Liong Siau-hun memerah.

Ia melihat ke bawah meja, dan melihat bahwa Liong Siau-in memang sedang merangkak di bawah sana.

Ia memegang sebilah pisau dan sedang merangkak ke arah Li Sun-Hoan.

Liong Siau-hun segera menariknya keluar dan mengangkatnya ke atas.

Dengan wajah kesal ia membentak.

"Kau ini sedang buat apa?"

Wajah Liong Siau-in terlihat sangat tenang. Katanya.

"Kau pernah mengatakan bahwa seorang laki-laki harus tahu siapa kawan dan siapa lawan, bukan?"

Sahut ayahnya.

"Betul."

"Bukankah dalam dunia persilatan seseorang harus berusaha membalas dendam dan membalas budi? Ia telah menghancurkan seluruh ilmu silatku, sehingga aku menjadi cacad seumur hidup. Menginginkan sepasan kakinya bukan keterlaluan, bukan?"

Wajah Liong Siau-hun memucat. Katanya.

"Jadi kau ingin membalas dendam?"

"Ya."

Tanya ayahnya keras.

"Tahukah kau siapa dia?"

Jawab Liong Siau-in.

"Aku hanya tahu bahwa ia adalah musuhku…."

Sebelum kalimatnya selesai, ayahnya telah menampar dia kuat-kuat dan berteriak dengan marah.

"Tapi kau kan juga tahu bahwa ia adalah saudara angkat ayahmu? Ia berhak memberi pelajaran padamu. Bagaimana kau bisa berpikir tentang membalas dendam? Bagaimana kau bisa begitu tidak sopan terhadap dia?"

Setelah kena marah begitu rupa, Liong Siau-in berlutut di hadapan Li Sun-Hoan. Katanya.

"Maafkan aku. Aku sudah mengerti sekarang. Paman Li, kuharap kau mau memaafkan keponakanmu."

Li Sun-Hoan tidak tahu harus bilang apa. Namun Oh Putkiu telah melompat dari kursinya dan berseru.

"Ya, Tuhan, aku sungguh tidak tahan menghadapi dua anakberanak ini. Aku sungguh ingin muntah rasanya."

Sambil berteriak, ia keluar dari tempat itu. Bab 53. Tipuan Liong Siau-hun berpura-pura tertawa. Katanya.

"Seseorang mungkin punya nama yang salah, tapi julukan itu selalu benar. Seseorang yang bodoh seperti keledai mungkin bernama Tuan Pintar. Tapi jika seseorang dijuluki Si Gila, dia pasti benar-benar gila. Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menanggapi. Namun akhirnya ia berkata.

"Namun jika seseorang itu terlalu pandai, tahu terlalu banyak, mungkin sedikit demi sedikit ia bisa menjadi gila."

"O ya?"

"Karena pada akhirnya ia mungkin merasa hidup itu lebih menyenangkan jika ia menjadi orang gila. Untuk sebagian orang, penderitaan yang terbesar adalah bahwa mereka ingin menjadi gila, tapi tidak bisa."

Liong Siau-hun tersenyum. Katanya.

"Untungnya aku tidak sepandai itu. Jadi aku tidak mungkin mempunyai penderitaan semacam itu."

Tentu saja ia tidak mempunyai penderitaan semacam itu.

Ia bahkan tidak pernah menderita.

Karena ia memberikan penderitaannya untuk dipikul orang lain.

Li Sun-Hoan termenung lama.

Lalu ia menundukkan kepalanya dan minum arak perlahan-lahan.

Liong Siau-hun hanya mengawasinya, menunggu.

Ia tahu bahwa jika Li Sun-Hoan minum perlahan-lahan, ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

Sampai cukup lama, akhirnya Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan berkata.

"Toako…."

"Ya?"

"Ada sesuatu yang mengganggu hatiku yang ingin aku utarakan. Namun aku tidak tahu apakah aku sebaiknya mengatakannya atau tidak."

Kata Liong Siau-hun.

"Katakan saja."

Kata Li Sun-Hoan.

"Apapun yang terjadi, kita sudah bersahabat bertahun-tahun."

Ralat Liong Siau-hun.

"Bukan sahabat, saudara angkat."

"Jadi kau pasti tahu orang macam apa aku."

"Ya…."

Walaupun ia hanya mengatakan satu suku kata, Liong Siau-hun mengambil waktu begitu lama.

Kata itu pun mengandung sedikit rasa penyesalan.

Apapun yang dilakukannya ia masih seorang manusia.

Setiap manusia pasti masih punya rasa kemanusiaan dalam dirinya.

Kata Li Sun-Hoan.

"Oleh sebab itu, jika kau ingin aku melakukan sesuatu, seharusnya kau cukup mengatakannya padaku. Jika hal itu dapat kulakukan, pasti aku akan melakukannya."

Perlahan-lahan Liong Siau-hun mengangkat cawan araknya, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.

Li Sun-Hoan sudah berbuat terlalu banyak bagi dirinya.

Setelah sekian lama, ia menghela nafas dan berkata.

"Aku tahu maksudmu. Tapi…..waktu dapat mengubah begitu banyak hal."

Wajah Li Sun-Hoan terlihat semakin muram. Katanya.

"Aku tahu ada salah paham di antara kita…."

Tanya Liong Siau-hun cepat.

"Salah paham?"

"Ya, salah paham. Namun dalam hal-hal tertentu, Toako, seharusnya kau tidak salah paham padaku."

Kini wajah Liong Siau-hun sudah pucat pasi. Ia terdiam sekian lama, dan akhirnya berkata.

"Namun dalam satu hal itu, sama sekali tidak ada kesalahpahaman."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Hal yang mana itu?"

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, Li Sun-Hoan merasa sangat menyesal menanyakannya.

Seharusnya ia sudah tahu jawabannya.

Liong Siau-in sepertinya merasa bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu yang sangat penting, sehingga ia segera keluar tanpa bersuara.

Liong Siau-hun tidak menjawab sampai cukup lama.

Akhirnya ia berkata.

"Aku tahu kau telah menanggung penderitaan yang cukup berat beberapa tahun terakhir ini."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sebagian besar orang hidup menderita."

"Namun penderitaanmu lebih besar daripada orang lain."

"Hah?"

Kata Liong Siau-hun.

"Karena kau telah melepaskan wanita yang paling kau cintai. Memberikannya kepada orang lain untuk menjadi istrinya."

Sepercik angur tumpah dari cawan, karena tangan Li Sun-Hoan bergetar hebat. Lanjut Liong Siau-hun.

"Namun penderitaanmu tidak sangat sangat dalam. Karena jika seseorang merasa bahwa dirinya telah berkorban untuk orang lain, ia akan berbesar hati. Dan hal ini dapat mengurangi penderitaannya."

Perkataan ini sangat tajam, namun juga sangat masuk akal. Tentu saja, hal ini tidak bisa disamaratakan untuk semua situasi. Tangan Liong Siau-hun pun bergetar. Katanya.

"Mungkin kau masih belum memahami arti penderitaan yang sesungguhnya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mungkin….."

Kata Liong Siau-hun.

"Ketika seorang laki-laki mengetahui bahwa istrinya adalah hasil pemberian orang lain, dan bahwa istrinya masih tetap mencintai orang itu….. Itu adalah penderitaan yang terbesar dalam hidup manusia!"

Benar sekali.

Ini bukan saja penderitaan yang terbesar, namun juga penghinaan yang terbesar.

Biasanya, seorang laki-laki merasa lebih baik mati daripada mengungkapkan hal ini.

Bahkan mengucapkannya pun terasa sangat menyakitkan!

Tidak seorang pun yang ingin menyakiti dirinya sendiri, mempermalukan dirinya sendiri, seperti ini.

Namun Liong Siau-hun telah mengatakannya.

Ia telah mengatakannya pada Li Sun-Hoan.

Hati Li Sun-Hoan pun hancur.

Dari perkataan ini, ia menyadari dua hal.

Yang pertama, Liong Siau-hun pun ternyata merasakan penderitaan yang sangat besar.

Oleh sebab itulah ia berubah, berubah begitu drastis.

Siapapun yang berada di tempatnya, pasti akan berubah seperti dia juga.

Tiba-tiba Li Sun-Hoan merasa kasihan pada Liong Siauhun.

Yang kedua, karena Liong Siau-hun telah mengatakan hal ini padanya, dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi!

Li Sun-Hoan tidak pernah peduli akan hidup dan mati.

Namun dapatkah ia mati sekarang?

Mereka berdua tidak berbicara banyak.

Namun tiap kata keluar dengan hati-hati, setelah dipikirkan masak-masak, setelah jeda yang begitu lama.

Hari itu mendung.

Senja pun sudah mulai turun.

Walaupun hari belum malam, langit sudah sangat gelap.

Namun wajah Liong Siau-hun lebih gelap daripada warna langit saat itu.

Ia mengangkat cawan araknya, lalu diturunkannya kembali.

Diangkat, lalu diturunkan…..

Bukan karena ia tidak bisa minum arak itu.

Namun karena ia tidak ingin minum arak itu.

Karena ia tahu, semakin banyak seseorang minum arak, ia akan menjadi lebih ceroboh.

Seorang yang sangat tenang sekalipun, kalau ia bertindak ceroboh, keputusan yang diambilnya adalah berdasarkan perasaannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Liong Siau-hun berkata.

"Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu hari ini."

Li Sun-Hoan tersenyum dan menyahut.

"Setiap orang pernah mengatakan hal-hal yang tidak ingin mereka katakan. Itulah manusia."

"Namun aku tidak mengundangmu ke sini untuk mengatakan hal itu."

"Aku tahu."

"Apakah kau tahu mengapa aku mengundangmu ke sini?"

"Ya."

Untuk pertama kalinya, Liong Siau-hun terlihat terkejut.

"Kau sungguh-sungguh tahu?"

"Aku tahu."

Li Sun-Hoan tidak menunggu Liong Siau-hun menanyakan lagi. Ia segera melanjutkan.

"Apakah kau betul-betul mengira bahwa ada harta karun di Hin-hunceng?"

Liong Siau-hun berpikir sejenak dan menjawab.

"Ya."

"Di mana kau pikir harta karun itu berada?"

"Kau pasti tahu tempatnya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku selalu mempunyai masalah aneh."

"Masalah aneh apa?"

"Masalahku adalah bahwa aku tahu hal-hal yang seharusnya aku tidak tahu. Namun aku malah tidak tahu hal-hal yang seharusnya aku tahu."

Mulut Liong Siau-hun terbungkam. Lanjut Li Sun-Hoan.

"Seharusnya kau sudah tahu. Masalah harta karun ini hanyalah tipuan…."

Liong Siau-hun memotong cepat.

"Aku percaya padamu. Karena kau tidak pernah berdusta padaku."

Ia memandang Li Sun-Hoan lekat-lekat dan menambahkan.

"Jika ada seseorang yang dapat kupercaya di dunia ini, orang itu adalah engkau. Jika aku masih mempunyai seorang sahabat di dunia ini, orang itu adalah engkau. Semua perkataanku mungkin adalah dusta, namun kali ini aku sungguh-sungguh mengatakan yang sebenarnya."

Li Sun-Hoan pun menatap Liong Siau-hun lekat-lekat. Ia menghela nafas panjang dan berkata.

"Aku percaya padamu karena….."

Ia tidak melanjutkannya, karena ia sudah mulai terbatukbatuk. Waktu batuknya berhenti, Liong Siau-hunlah yang menyelesaikan kalimatnya.

"Kau percaya padaku karena kau menyadari bahwa dirimu sudah tidak berguna lagi bagiku, sehingga aku tidak lagi punya alasan untuk menipumu. Betul kan?"

Li Sun-Hoan menjawab pertanyaan ini dengan diam.

Liong Siau-hun bangkit berdiri dan berjalan mengitari meja.

Tidak ada suara lain di pekarangan itu.

Langkahnya makin lama makin terasa berat.

Seakan-akan ia merasa gelisah….

Atau mungkin ia hanya ingin Li Sun-Hoan berpikir demikian.

Lalu ia berhenti.

Ia berhenti tepat di depan Li Sun-Hoan, katanya.

"Kau pasti mengira aku akan membunuhmu."

Wajah Li Sun-Hoan tetap tenang, sangat tenang. Ia pun menyahut dengan tenang.

"Apapun yang kau perbuat, aku tidak mempersalahkanmu."

Kata Liong Siau-hun.

"Namun aku tidak akan membunuhmu."

"Aku tahu."

"Ya, kau pasti tahu. Kau sangat memahami diriku."

Tiba-tiba ia berbicara dengan berapi-api dan melanjutkan.

"Karena walaupun aku membunuhmu, aku tetap tidak dapat memiliki hatinya. Aku hanya akan membuatnya membenciku lebih dalam lagi."

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang dan berkata.

"Ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang berada di luar kendali manusia."

Di luar kendali manusia.

Kalimat yang sangat sederhana.

Namun merupakan satu yang yang paling menyakitkan dalam hidup ini.

Ketika kau berjumpa dengannya, kau tidak dapat melawannya, kau tidak dapat bertempur dengannya.

Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau usahakan, hal itu tetap berada di luar kuasamu.

Liong Siau-hun mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Katanya.

"Aku tidak bisa membunuhmu, tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu."

Li Sun-Hoan mengangguk.

Karena aku masih berguna bagimu dalam keadaan hidup.

Namun ia tidak mengatakannya.

Bagaimanapun Liong Siau-hun menyakitinya, mengkhianatinya, ia tidak akan mengucapkan sepatah katapun yang dapat menyakiti hati Liong Siau-hun.

Liong Siau-hun mengepalkan tangannya lebih kuat lagi.

Karena hanya di hadapan Li Sun-Hoanlah ia merasa sangat kecil, sangat tidak berarti.

Oleh sebab itulah, rasa setia kawan Li Sun-Hoan yang begitu besar bukannya melunakkan hatinya, namun malah membuat amarahnya makin berkobar-kobar.

Ia memandang benci pada Li Sun-Hoan dan berkata.

"Aku akan membawamu menemui seseorang. Orang ini ingin bertemu denganmu sejak lama. Mungkin….kau juga ingin menemuinya." *** Ruangan itu besar. Namun walaupun ruangan itu besar, hanya ada satu jendela di situ. Satu jendela yang sangat kecil dan sangat jauh di atas. Jendela itu terbuka. Namun pemandangan di luar tidak bisa terlihat dari jendela itu. Pintunya juga sangat kecil. Seseorang yang berbahu lebar harus masuk dengan memiringkan badannya. Pintu itu juga terbuka. Dinding ruangan itu dicat putih. Catnya sangat tebal, seolah-olah supaya orang tidak tahu apakah itu adalah dinding batu, dinding beton, atau dinding besi. Ada dua tempat tidur di sudut ruangan. Tempat tidur kayu. Seprainya sangat bersih, walaupun tampak sederhana. Selain kedua tempat tidur itu, hanya ada lagi satu meja besar di ruangan itu. Meja itu penuh dengan buku-buku rekening dan berkasberkas. Seseorang berdiri di depan meja itu. Kadang-kadang ia memberi satu dua tanda di buku rekening itu dengan kuasnya. Sekali waktu, terbayang seulas senyum di sudut bibirnya. Ia mengerjakannya dengan berdiri! Ia merasa bahwa jika seseorang duduk, orang itu menjadi rileks. Dan jika seseorang menjadi rileks, ia akan lebih sering melakukan kesalahan. Ia tidak pernah rileks. Ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tidak pernah kalah. Ada seseorang lagi di belakangnya. Orang itu berdiri bahkan lebih tegak lagi, seperti sebatang tombak. Ia hanya berdiri di situ. Tidak tahu berapa lama. Ia tidak bergerak seujung jari pun. Seekor nyamuk terbang mengitarinya. Bahkan matanya pun tidak berkedip. Nyamuk itu hinggap di hidungnya dan mulai mengisap darahnya. Ia tetap tidak bergeming. Seolah-olah ia tidak punya perasaan. Tidak merasa sakit, tidak merasa senang. Mungkin ia pun tidak tahu mengapa ia hidup. Bab 54. Transaksi Kedua orang ini tentunya adalah Hing Bu-bing dan Siangkoan Kim-hong. Mungkin dalam dunia ini tidak ada orang lain seperti kedua orang ini. Seseorang yang begitu kaya, begitu ternama, begitu berpengaruh, seperti Ketua Kim-ci-pang hidup di tempat yang begitu sederhana seperti ini. Tidak pernah akan pernah ada yang mengira. Karena dalam pandangan mereka, uang hanyalah sebuah sarana. Demikian pula, wanita adalah sebuah alat. Semua kemewahan di dunia ini adalah alat bagi mereka. Mereka tidak pernah mempedulikan semuanya itu. Mereka hanya peduli akan kekuasaan. Kekuasaan. Selain kekuasaan, mereka tidak membutuhkan apa-apa. Mereka hidup untuk kekuasaan, dan bahkan mungkin mati demi kekuasaan. Suasana hening. Selain suara kertas dilembari, hanya ada kesunyian. Cahaya lilin menerangi mereka. Tidak ada yang tahu sudah berapa lama mereka bekerja, berdiri di situ. Yang terlihat hanyalah terang berubah menjadi gelap, dan gelap berubah lagi menjadi terang. Seolaholah mereka tidak pernah lelah, tidak pernah lapar. Saat itu terdengar seseorang mengetuk pintu. Hanya satu ketukan, sangat perlahan. Tangan Siangkoan Kim-hong tidak berhenti bekerja. Mengangkat matanya pun tidak. Tanya Hing Bu-bing.

"Siapa?"

Orang di luar menjawab.

"It-jit-kiu )Seratus tujuh puluh sembilan)."

"Apa yang kau inginkan?"

"Ada seseorang yang ingin menemui Pangcu."

"Siapa?"

"Ia tidak mau menyebutkan namanya."

Tanya Hing Bu-bing.

"Untuk apa ia hendak menemui Pangcu?"

Jawab orang di luar.

"Katanya ia akan menyampaikan langsung pada Pangcu."

Hing Bu-bing berhenti bicara. Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata.

"Di mana dia?"

Sahut orang di luar.

"Di pekarangan luar."

Tangan Siangkoan Kim-hong masih terus membalik lembaran-lembaran buku itu. Ia tidak mengangkat kepalanya sewaktu berkata.

"Bunuh dia."

Sahut orang di luar.

"Baik."

Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong bertanya.

"Siapa yang mengantarkan orang itu kemari?"

"Pat-tocu (kepala seksi delapan), Hiang Siong."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Bunuh Hiang Siong juga."

"Baik."

Lalu Hing Bu-bing berkata.

"Aku pergi."

Saat ia mengucapkan perkataan itu, sebelah kakinya sudah berada di luar, dan dalam sekejap saja ia sudah berlalu.

Kalau soal membunuh, Hing Bu-bing selalu bersemangat.

Lagi pula, julukan Hiang Siong adalah Hong-ih-liu-sing (Si Meteor Angin dan Hujan).

Liu-sing-tui (Sepasang Palu Meteor)nya ada di peringkat ke-19 dalam Kitab Persenjataan.

Bukan hal yang mudah untuk membunuhnya.

Siapa yang diantarnya untuk menemui Siangkoan Kimhong?

Apa alasannya ia datang?

Sepertinya Siangkoan Kim-hong sama sekali tidak ingin tahu.

Orang ini sungguh tidak berperikemanusiaan.

Kepalanya tidak pernah terangkat.

Tangannya tidak pernah berhenti bekerja.

Pintu terbuka.

Hing Bu-bing sudah kembali.

Siangkoan Kim-hong tidak perlu bertanya ‘Apakah dia sudah mati?’ Karena Hing Bu-bing tidak pernah gagal dalam membunuh.

Siangkoan Kim-hong hanya berkata.

"Jika Hiang Siong tidak melawan, berikan 10000 tail emas pada keluarganya. Jika ia melawan, bunuh seluruh keluarganya."

Kata Hing Bu-bing.

"Aku tidak membunuhnya."

Akhirnya Siangkoan Kim-hong mengangkat kepalanya dan melotot pada Hing Bu-bing. Wajah Hing Bu-bing tetap kosong. Katanya.

"Karena orang yang diantarkannya itu tidak dapat kubunuh."

Suara Siangkoan Kim-hong mengguntur.

"Semua orang bisa dibunuh. Mengapa dia tidak bisa?"

Sahut Hing Bu-bing.

"Aku tidak membunuh anak kecil."

Siangkoan Kim-hong tertegun. Perlahan-lahan diletakkannya kuasnya. Katanya.

"Maksudmu ada seorang anak kecil yang ingin menemui aku?"

"Ya."

"Anak macam apa?"

"Seorang anak cacad."

Mata Siangkoan Kim-hong berkilat tajam. Ia berpikir sejenak lalu berkata.

"Bawa dia masuk!"

Seorang anak kecil berani menemui Siangkoan Kimhong?

Bahkan Siangkoan Kim-hong pun tidak bisa percaya.

Anak ini bukan saja berani mati, mungkin dia sudah gila.

Namun benar-benar seorang anak kecil yang masuk.

Wajahnya putih seperti kertas, seperti mayat hidup.

Ia pun tidak berekspresi seperti seorang anak kecil.

Wajahnya serius seperti orang dewasa.

Ia berjalan perlahan-lahan, dengan punggung agak terbungkuk.

Anak kecil ini lebih mirip seorang kakek tua.

Anak kecil ini bukan lain adalah Liong Siau-in.

Siapapun yang bertemu dengan Liong Siau-in akan memperhatikannya dengan seksama.

Demikian pula Siangkoan Kim-hong.

Matanya mengawasi wajah anak kecil ini.

Siapapun yang dipandang seperti ini oleh Siangkoan Kimhong akan langsung gemetaran.

Paling tidak lutut mereka akan merasa lemas dan tersungkur.

Tapi Liong Siau-in adalah perkecualian.

Ia masuk perlahan-lahan, membungkukkan badannya memberi hormat dan berkata.

"Aku Liong Siau-in, datang menghaturkan hormat pada Pangcu."

Tanya Siangkoan Kim-hong.

"Liong Siau-in? Liong Siauhun itu siapamu?"

Jawabnya.

"Ia adalah ayahku."

"Apakah ayahmu menyuruhmu datang ke sini?"

"Ya."

"Mengapa ia tidak datang sendiri?"

Sahut Liong Siau-in.

"Jika ia sendiri yang datang, belum tentu ia bisa bertemu dengan Pangcu. Malah mungkin ia akan mati terbunuh."

Siangkoan Kim-hong membentak.

"Kau pikir aku tidak akan membunuhmu?"

"Aku hanya seorang anak kecil. Hidupku ada dalam genggamanmu. Bukannya kau tidak akan membunuhku, namun aku tidak cukup berharga untuk dibunuh olehmu."

Wajah Siangkoan Kim-hong berubah cerah. Katanya.

"Kau mungkin sangat muda, dan kau mungkin sakit. Namun kau sungguh berani."

Kata Liong Siau-in.

"Jika seseorang membutuhkan sesuatu, ia pasti akan menjadi lebih berani."

"Kata-kata yang sangat bagus."

Tiba-tiba ia terkekeh pada Hing Bu-bing. Katanya lagi.

"Jika kau hanya mendengar perkataannya, dapatkah kau tahu bahwa ia hanya seorang anak kecil?"

Walaupun kepalanya masih tertunduk, Liong Siau-in mengawasi kedua orang ini baik-baik. Ia merasa bahwa hubungan dua orang ini sangat menarik. Akhirnya Siangkoan Kim-hong berkata.

"Kelebihanmu yang terutama adalah bahwa kau tidak pernah bicara. Namun kelemahanmu yang terbesar adalah bahwa kau tidak pernah mendengarkan orang lain bicara."

Hing Bu-bing diam saja. Setelah sekian lama, akhirnya Siangkoan Kim-hong bertanya pada Liong Siau-in.

"Apa yang kau inginkan?"

"Ada banyak cara untuk mengatakan sesuatu. Aku dapat menyatakan permohonanku dengan cara berputar-putar. Namun aku tahu, waktu Pangcu sangat berharga. Jadi aku akan menyampaikannya secara langsung, tanpa tedeng aLing-aLing."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Bagus. Aku punya satu cara yang mujarab untuk mengobati orang yang terlalu banyak omong. Dengan memotong tenggorokan mereka."

Kata Liong Siau-hun.

"Aku datang untuk melakukan transaksi."

"Transaksi?"

Wajah Siangkoan Kim-hong kembali membeku. Lanjutnya.

"Banyak orang mau bertransaksi dengan aku. Kau tahu apa yang kulakukan terhadap mereka?"

Sahut Liong Siau-hun.

"Aku mendengarkan."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Aku punya satu cara yang mujarab untuk menghadapi mereka. Dengan membunuh mereka semua!"

Wajah Liong Siau-in tidak berubah sedikitpun. Dengan tenang ia berkata.

"Tapi transaksi ini berbeda. Kalau tidak, aku tidak mungkin berani datang."

"Transaksi adalah transaksi. Apa yang berbeda dengan yang satu ini?"

"Transaksi ini hanya menguntungkan Pangcu."

"O ya?"

Liong Siau-in berkata.

"Pangcu sangat ternama di seluruh dunia. Kekayaanmu pun tidak terhingga. Kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan di dunia ini."

Sahut Siangkoan Kim-hong.

"Tepat sekali. Oleh sebab itu, aku tidak bertransaksi."

Kata Liong Siau-in.

"Namun ada sesuatu di dunia ini yang mungkin tidak bisa didapatkan oleh Pangcu."

"O ya?"

"Barang ini mungkin tidak berharga tinggi. Namun nilainya bagi Pangcu berbeda dari orang lain."

"Barang apa yang kau bicarakan ini?"

Jawab Liong Siau-in.

"Nyawa Li Sun-Hoan!"

Siangkoan Kim-hong tiba-tiba merasa sangat tertarik.

"Apa kau bilang?"

Sahut Liong Siau-in.

"Nyawa Li Sun-Hoan ada di tangan kami. Jika Pangcu berkenan melakukan transaksi, aku akan membawanya kepadamu kapan pun kau inginkan."

Siangkoan Kim-hong mulai berpikir-pikir. Setelah cukup lama, wajahnya kembali menegang. Katanya.

"Li Sun-Hoan tidak berharga sama sekali. Aku tidak peduli padanya."

Kata Liong Siau-in.

"Jika demikian, maka aku mohon diri."

Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia memutar badan dan berjalan pergi. Liong Siau-in berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata.

"Tunggu."

Senyum puas terbayang di bibir Liong Siau-in. Namun pada saat ia memutar badannya, di wajahnya hanya terlihat rasa hormat dan tunduk. Ia membungkukkan badannya dan berkata.

"Ada lagi yang Pangcu ingin sampaikan?"

Siangkoan Kim-hong tidak memandangnya. Matanya tertuju pada cahaya lilin di atas meja itu. Katanya.

"Apa yang ingin kau tukarkan dengan nyawa Li Sun-Hoan?"

Sahut Liong Siau-in.

"Ayah telah lama mendengar kebesaran nama Pangcu. Ia sangat bersusah hati karena belum pernah bertemu dengan Pangcu."

Potong Siangkoan Kim-hong tidak sabar.

"Omong kosong. Cepat katakan yang kau inginkan."

Kata Liong Siau-in.

"Ayah berharap untuk dapat mengikat persaudaraan denganmu di hadapan semua pendekar dunia persilatan."

Mata Siangkoan Kim-hong menyala karena amarah, namun segera padam. Ia berkata dengan tenang.

"Sepertinya Liong Siau-hun memang orang yang pandai. Sayangnya ia mengajukan permintaan yang sangat bodoh."

Kata Liong Siau-in.

"Mungkin juga. Namun kadangkadang cara yang paling bodoh adalah cara yang paling efektif."

Tanya Siangkoan Kim-hong.

"Apakah kau yaking aku akan setuju dengan transaksi ini?"

"Jika tidak, mengapa aku mempertaruhkan nyawaku datang ke sini?"

Tanya Siangkoan Kim-hong lagi.

"Kau adalah anak tunggal Liong Siau-hun, bukan?"

"Ya."

"Seharusnya ia tidak menyuruhmu datang ke sini."

Kata Liong Siau-in.

"Tapi jika ia menyuruh orang lain, kemungkinan besar orang itu tidak akan dapat menemui Pangcu."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Pada awalnya ini hanyalah sebuah transaksi. Namun sekarang kau sudah ada di sini. Situasinya pun kini berbeda."

"Kau berpikir untuk menggunakan diriku untuk menyuruh ayah menyerahkan Li Sun-Hoan padamu, bukan?"

"Tepat sekali."

Liong Siau-in tiba-tiba terkekeh dan berkata.

"Pangcu mungkin tahu segala sesuatu, namun kau salah sangka terhadap ayahku."

Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek.

"Kau pikir ia lebih suka membiarkan aku membunuhmu daripada menyerahkan Li Sun-Hoan?"

"Betul sekali."

Tanya Siangkoan Kim-hong tidak percaya.

"Apa dia bukan manusia?"

Jawab Liong Siau-in.

"Dia manusia biasa. Namun ada bermacam-macam jenis manusia."

"Jenis yang mana dia?"

"Sama dengan engkau. Segala sesuatu bisa dimanfaatkan, bisa dikorbankan, demi mencapai suatu tujuan."

Siangkoan Kim-hong mengatupkan mulutnya. Setelah sekian lama akhirnya ia berkata.

"Selama dua puluh tahun ini, belum pernah ada seorang pun yang bicara seperti ini kepadaku."

Sahut Liong Siau-in.

"Oleh sebab itulah aku mengatakannya padamu. Untuk dapat membangkitkan perasaanmu dengan perkataanku."

Siangkoan Kim-hong melotot padanya dan berkata.

"Jika aku tidak setuju, apakah kalian akan melepaskan Li Sun-Hoan begitu saja?"

"Ya."

Siangkoan Kim-hong tertawa dingin. Katanya.

"Kalian tidak kuatir ia akan membalas dendam?"

Jawab Liong Siau-in.

"Ia bukan orang semacam itu. Ia tidak akan pernah berbuat seperti itu."

Ia tertawa dan melanjutkan.

"Jika ia seperti itu, ia tidak mungkin terjerat dalam situasi seperti ini."

Siangkoan Kim-hong membentak.

"Jika kalian melepaskan dia, kalian pikir aku tidak sanggup membunuhnya dengan tanganku sendiri?"

Liong Siau-in tersenyum dan menjawab dengan tenang.

"Pisau Kilat si Li tidak pernah luput."

"Kau pikir aku tidak dapat menghindar dari pisaunya?"

"Paling tidak kau tidak yakin betul, bukan?"

Siangkoan Kim-hong hanya mendengus. Kata Liong Siau-in.

"Mengingat kedudukan dan keberhasilan Pangcu, mengapa harus mengambil resiko yang tidak berguna seperti itu?"

Siangkoan Kim-hong tidak menyahut. Kata Liong Siau-in lagi.

"Lagi pula, walaupun ilmu silat dan ketenaran ayahku biasa-biasa saja, ia adalah salah satu orang terpandai di dunia ini. Pangcu pasti hanya akan mendapatkan keuntungan jika memiliki saudara angkat seperti dia."

Siangkoan Kim-hong merenung sejenak, lalu tiba-tiba bertanya.

"Li Sun-Hoan pun adalah saudara angkatnya, bukan?"

"Ya."

"Jika ia dapat mengkhianati Li Sun-Hoan, mengapa ia tidak akan mengkhianati aku?"

Sahut Liong Siau-in.

"Karena Pangcu bukan Li Sun-Hoan."

Siangkoan Kim-hong tertawa terbahak-bahak.

"Kau betul sekali. Walaupun Liong Siau-hun berani mengkhianati aku, ia tidak akan bisa."

Tanya Liong Siau-in.

"Apakah ini berarti bahwa Pangcu telah setuju?"

Siangkoan Kim-hong berhenti tertawa.

"Bagaimana aku bisa yakin bahwa kalian memang sudah mendapatkan Li Sun-Hoan?"

Sahut Liong Siau-in.

"Jika Pangcu mengirimkan pemberitahuan kepada para pendekar dunia persilatan dan mengundang mereka menghadiri upacara pengangkatan saudara antara Pangcu dengan ayahku…."

Potong Siangkoan Kim-hong.

"Kau pikir mereka berani datang?"

"Itu tidak jadi soal. Yang penting semuanya tahu."

Siangkoan Kim-hong tersenyum sinis.

"Rencana yang sangat rapi."

Kata Liong Siau-in.

"Aku tahu Pangcu membutuhkan waktu untuk berpikir. Aku tinggal di Ji-in-kek-can (Hotel Awan Rejeki), menunggu jawaban Pangcu."

Lalu tambahnya.

"Setelah pemberitahuan disebarkan dan diterima oleh para pendekar, aku akan mengantar Li Sun-Hoan ke sini."

Siangkoan Kim-hong mengejek.

"Mengantar dia ke sini…. Hmmmh. Mana kalian sanggup?"

Kata Liong Siau-in.

"Sudah tentu kami menyadarinya. Jika Sim-bi Taysu dari Siau-lim-si dan Dian-jitya tidak dapat melakukannya, bagaimana mungkin aku dapat melakukannya. Akan tetapi…."

"Teruskan."

"Jika Hing-siansing dapat membantu mengawal, pasti tidak akan ada masalah."

Siangkoan Kim-hong diam saja. Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata.

"Aku akan pergi."

Untuk pertama kalinya, seulas senyum tersungging di bibir Liong Siau-in. Ia segera berlutut dan menyembah.

"Terima kasih."

Siangkoan Kim-hong masih terdiam sampai lama. Tibatiba ia bertanya.

"Apakah ilmu silatmu sungguh punah untuk selama-lamanya? Apakah Li Sun-Hoan yang melakukannya?"

Wajah Liong Siau-in berubah. Ditundukkannya kepalanya dan menjawab pendek.

"Ya."

Siangkoan Kim-hong mengawasi wajahnya dan bertanya.

"Apakah kau membencinya?"

Liong Siau-in berpikir lama sebelum menjawab.

"Ya."

Kata Siangkoan Kim-hong.

"Sebetulnya kau seharusnya membenci dia, malah seharusnya kau berterima kasih padanya."

Liong Siau-in mengangkat kepalanya sedikit karena kaget.

"Berterima kasih?"

Sahut Siangkoan Kim-hong dingin.

"Jika ia belum memusnahkan ilmu silatmu, hari ini kau pasti mati di ruangan ini."

Liong Siau-in menundukkan kepalanya semakin dalam. Sambung Siangkoan Kim-hong.

"Kau sudah begitu licik di usiamu yang sangat muda. Dalam dua puluh tahun kau pasti bisa menandingi aku. Jika kau tidak cacad, mungkinkah aku membiarkanmu hidup?"

Liong Siau-in mengertakkan giginya kuat-kuat.

Begitu kuat sampai gusinya berdarah.

Namun kepalanya tetap tertunduk.

Bab 55.

**** Kegelapan.

Dalam kegelapan itu terdengar suara nafas merintih.

Lalu sunyi senyap.

Setelah sekian lama, terdengar suara seorang wanita.

Ia berbisik.

"Tahukah kau, aku selalu ingin menanyakan satu hal saja."

Suara wanita ini sangat lembut dan menggoda. Jika seorang laki-laki tidak ingin digoda oleh suara ini, ia sebaiknya menjadi tuli saja. Seorang laki-laki berbicara.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Suara laki-laki ini sangat aneh. Jika engkau berada di dekatnya, suaranya terasa datang dari jauh. Jika engkau berada di kejauhan, suaranya seakan-akan berada di sampingmu. Tanya wanita itu.

"Apakah kau benar-benar laki-laki? Atau kau terbuat dari besi baja?"

Sahut sang pria.

"Kau tidak tahu?"

Suara wanita itu terdengar semakin lembut. Katanya.

"Jika engkau adalah seorang laki-laki, mengapa kau tidak pernah merasa lelah?"

Tanya sang pria.

"Kau perlu istirahat?"

Si wanita mengikik manja. Katanya.

"Kau pikir aku tidak bisa mengiringimu? Bagaimana kalau kita coba lagi?"

Kata sang pria.

"Tidak sekarang!"

"Kenapa?"

"Karena aku memerlukan engkau untuk berbuat sesuatu."

Sahut si wanita.

"Akan kulakukan apapun yang kau minta."

Kata sang pria.

"Bagus. Pergilah sekarang membunuh A Fei."

Si wanita seperti terhenyak mendengarnya. Setelah beberapa saat, ia menghela nafas dan berkata.

"Telah kukatakan padamu. Belum saatnya membunuh dia."

Kata sang pria.

"Saat ini saat yang tepat."

"Kenapa? Apakah Li Sun-Hoan sudah mati?"

"Belum. Tapi sebentar lagi."

Tanya si wanita tidak sabar.

"Di mana… Di mana dia?"

Sahut sang pria.

"Dalam genggamanku."

Si wanita tersenyum dan berkata.

"Aku ada bersamamu setiap malam beberapa hari terakhir ini. Bagaimana kau dapat menangkapnya? Kau bisa terbelah menjadi dua?"

Sahut sang pria.

"Jika aku menginginkan sesuatu, aku tidak harus melakukannya sendiri. Orang lain akan membawanya kepadaku."

Kata si wanita.

"Siapa yang membawanya kepadamu? Siapa yang sanggup menangkap Li Sun-Hoan?"

Sahut sang pria.

"Liong Siau-hun."

Si wanita tercekat. Namun ia segera tersenyum dan berkata.

"Ah, sudah tentu Liong Siau-hun. Hanya sahabat karib Li Sun-Hoanlah yang dapat mencelakai dirinya. Ia sepertinya kebal akan segala senjata, kecuali perasaan."

Sang pria berkata dingin.

"Sepertinya kau sangat memahami dirinya."

Si wanita tertawa, katanya.

"Aku memang memahami lawanku lebih baik daripada sahabatku. Contohnya, aku sama sekali tidak memahami dirimu."

Segera si wanita mengalihkan pembicaraan, dan menyambung.

"Aku pun mengenal Liong Siau-hun. Tidak mungkin ia akan memberikan Li Sun-Hoan kepadamu tanpa alasan."

"O ya?"

"Ia tidak ingin membunuh Li Sun-Hoan dengan tangannya sendiri. Ia hanya ingin memanfaatkan dirimu untuk melakukan pekerjaan itu."

Tanya sang pria.

"Kau pikir hanya itu tujuannya?"

"Apa lagi yang dia inginkan?"

"Ia ingin menjadi saudara angkatku."

Si wanita mendesah, katanya.

"Dia benar-benar tahu caranya tawar-menawar. Apakah kau sudah menyetujuinya?"

"Ya."

"Apakah kau tidak menyadari bahwa ia hanya ingin memanfaatkanmu?"

Sang pria tersenyum sinis. Tiba-tiba ia tertawa bengis. Katanya.

"Sayang sekali rencananya terlalu polos."

Tanya si wanita.

"Terlalu polos?"

"Ia pikir jika ia menjadi saudara angkatku, maka aku tidak akan mencelakainya. Hmmmh, sekalipun ia adalah saudara kandungku, tidak akan ada perbedaan."

Si wanita terkekeh. Katanya.

"Kau benar. Jika ia bisa mengkhianati Li Sun-Hoan, pasti ia akan mengkhianatimu juga."

Kata sang pria.

"Walaupun Liong Siau-hun tidak berarti apa-apa di mataku, anaknya cukup menarik juga."

"Kau sudah bertemu dengan setan cilik itu?"

Kata sang pria.

"Liong Siau-hun tidak datang sendiri menemui aku. Anaknyalah yang datang."

Si wanita menghela nafas, katanya.

"Kau benar. Anaknya adalah seorang setan cilik yang sudah matang."

Sang pria berpikir sejenak lalu tiba-tiba berkata.

"Kau boleh pergi sekarang."

Kata si wanita.

"Kau tidak ingin aku menemanimu lebih lama sedikit?"

"Tidak."

Si wanita berkata dengan lembut.

"Laki-laki lain selalu tidak rela ketika mereka harus berpisah denganku. Mereka ingin berada di sampingku selama mungkin. Hanya engkau. Hanya engkaulah yang menyuruhku pergi setelah kita selesai."

Sang pria menyahut dingin.

"Karena aku bukan laki-laki lain. Akupun bukan sahabatmu. Kita hanya saling memanfaatkan. Kita berdua tahu akan hal ini, mengapa harus berpura-pura akrab?"

Ruangan itu gelap gulita, namun ada cahaya dari luar.

Remang-remang, cahaya bintang.

Di bawah cahaya bintang berdirilah seseorang.

Ia berdiri di luar ruangan itu.

Matanya yang kelabu dan mati menatap ke kejauhan.

Tubuhnya tegak seperti patung.

Namun kini, dalam mata yang kelabu dan mati itu terbayang suatu penderitaan yang dalam.

Ia tidak tahan berdiri di situ.

Ia tidak tahan mendengar suara yang terdengar dari ruangan itu.

Namun ia harus bertahan.

Dalam hidupnya, ia hanya setia kepada satu orang….Siangkoan Kim-hong.

Hidupnya, jiwa raganya, adalah milik Siangkoan Kimhong.

Pintu terbuka.

Sesosok bayang-bayang muncul di balik punggungnya.

Cahaya bintang menyinari wajahnya.

Kecantikan, keayuan, kepolosannya….siapapun yang melihatnya tidak akan menyangka apa yang baru saja diperbuatnya.

Seorang dewi dari luar, seorang iblis di dalam….

Siapa lagi kalau bukan Lim Sian-ji?

Hing Bu-bing tidak berpaling.

Lim Sian-ji mengitari tubuhnya dan berhenti di hadapannya, menatapnya.

Matanya menatap lembut, selembut cahaya bintang di langit.

Pandangan Hing Bu-bing tetap tertuju pada kegelapan di kejauhan sana.

Seolah-olah wanita itu tidak ada.

Tangan Lim Sian-ji menyentuh bahunya, membelai tubuhnya.

Hing Bu-bing tidak bereaksi.

Seolah-olah sekujur tubuhnya sudah mati rasa.

Lim Sian-ji tersenyum.

Dengan lembut ia berkata.

"Terima kasih karena kau telah menjaga pintu untuk kami. Ketika aku tahu kau berada di luar, aku merasa aman, merasa lebih bergairah melakukan apapun juga."

Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hing Bu-bing dan berbisik.

"Aku juga akan memberi tahu padamu sebuah rahasia. Ia mungkin sudah tua, tapi ia masih hebat di atas ranjang. Mungkin karena ia lebih berpengalaman daripada yang lain."

Lalu ia segera melenggok pergi dengan senyum lebar di bibirnya.

Hing Bu-bing masih berdiri di situ.

Namun sekujur tubuhnya gemetar hebat.

*** Ji-in-kek-can adalah hotel terbesar di kota itu.

Di situlah orang-orang kaya menghamburkan uang mereka.

Jika seorang pelanggan punya uang, ia dapat menikmati segala kemewahan tanpa harus keluar dari kamarnya.

Di sini ia hanya menjentikkan jari dan para pelayan akan membawakan makaLam-yang-hu terlezat, penyanyi dan penari yang terbaik, bahkan pelacur yang paling hebat ke kamarnya.

Di sini, sepanjang hari kamar-kamar tertutup, seperti kota mati.

Tapi di malam hari, semua pintu terbuka.

Pertama-tama terdengar bunyi air mengalir.

Lalu para pengangkut barang berteriak-teriak, para pelayan sibuk mengucapkan terima kasih.

Terdengar pula suara cekikikan para wanita dan sapaan-sapaan seperti ‘Tuan Zhang’ atau ‘Tuan Ketiga Wang’.

Lalu terdengar suara denting cawan orang bersulang, wanita-wanita menyanyi dan tawa genit mereka, suara para pria menyombongkan diri….

Di tempat ini, di tengah malam, akan terdengar segala macam suara yang tidak pantas.

Hanya satu kamar yang tidak bersuara.

Hanya kadang-kadang terdengar satu dua suara rintihan, lalu jerit kesakitan.

Pintu kamar itu selalu tertutup.

Tiap malam, jika senja sudah tiba, seorang gadis akan masuk ke sana.

Gadis-gadis ini sangat cantik, sangat muda, dan sangat lembut.

Ketika mereka memasuki kamar itu, mereka berdandan cantik sekali.

Senyum lebar menghiasi wajah mereka.

Walaupun senyuman itu palsu, senyuman itu tetap menggairahkan.

Namun ketika mereka keluar dari kamar itu di pagi harinya, semua telah berubah.

Rambut yang tersisir rapi akan berantakan, kadangkadang malah terjambak sana-sini.

Mata mereka yang berbinar-binar akan menjadi lesu dan kuyu.

Wajah mereka yang cerah dan berdandan rapi terlihat berantakan dan basah oleh air mata.

Tujuh hari.

Setiap kali kejadiannya sama selama tujuh hari.

Awalnya, tidak seorangpun memperhatikan.

Namun lama-kelamaan orang-orang mulai curiga.

Di tempat orang lain mencari kebahagiaan, kejadian seperti ini cepat terlihat.

Orang pun mulai kasak-kusuk.

Tapi setiap orang terkesiap mendengar jawabannya.

"Orang di kamar itu sebenarnya belum benar-benar dewasa!"

Ketika ditanyai, beberapa orang gadis langsung gemetar. Air mata langsung meleleh, dan mereka tidak berani mengatakan apa-apa. Sewaktu terus didesak, mereka hanya bisa bilang.

"Ia….bukan manusia….bukan manusia."

Senja sudah turun lagi.

Pintu kamar itu masih tertutup.

Di seberang pintu ada sebuah jendela.

Seorang anak berwajah pucat duduk dekat jendela itu, memandang ke luar.

Ia tidak bergerak sedikit pun.

Termenung sangat, sangat lama.

Kadang-kadang di matanya terpancar suatu kilatan yang berbisa.

Liong Siau-in.

Makanan di meja hampir-hampir tidak disentuh.

Ia makan sangat sedikit.

Ia sedang menunggu.

Menunggu kenikmatan yang lebih besar.

Ia memang tidak suka makan.

Ia merasa, jika seseorang makan terlalu banyak, kepalanya akan menjadi tumpul.

Akhirnya, terdengar suara ketukan pintu.

Liong Siau-in tidak menoleh.

Ia hanya berkata dingin.

"Pintu tidak dikunci. Masuklah."

Pintu terbuka.

Suara langkah yang ringan dan perlahan terdengar.

Satu lagi gadis kecil yang lemah dan sedikit pemalu.

Ini adalah tipe gadis kesukaan Liong Siau-in.

Karena fisiknya sendiri lemah, ia ingin bersikap ‘gagah’.

Hanya di hadapan gadis-gadis semacam inilah ia bisa berpura-pura ‘gagah’.

Langkah itu berhenti dekat meja.

Tanya Liong Siau-hun.

"Apakah orang yang membawamu ke sini sudah memberitahukan harganya?"

Jawab si gadis malu-malu.

"Ya."

"Harga itu tiga kali lipat harga biasa, bukan?"

Lagi-lagi si gadis mengiakan. Kata Liong Siau-hun.

"Jadi kau akan menuruti perkataanku, bukan? Kau tidak akan melawan, bukan?"

"Betul."

"Bagus. Sekarang tanggalkan pakaianmu. Semuanya."

Gadis itu diam saja. Setelah beberapa saat ia berkata.

"Kau tidak ingin melihatku menanggalkan pakaianku?"

Suara itu merdu, sangat sangat merdu. Liong Siau-in tertegun. Gadis itu tertawa merdu dan berkata.

"Tahukah kau bahwa melihat seorang gadis menanggalkan pakaiannya itu sangat menggairahkan. Mengapa tidak kau coba?" ‘Gadis’ itu adalah Lim Sian-ji! Lim Sian-ji memamerkan senyuman dewinya. Liong Siau-in seolah-olah berubah menjadi batu. Namun hanya sekejap saja. Segera ia tertawa dan berdiri, katanya.

"Ah, ternyata Bibi Lim yang datang untuk bercanda denganku."

Lim Sian-ji memandangnya mesra dan berkata.

"Kau masih memanggilku bibi?"

Liong Siau-in tersenyum dan menyahut.

"Bibi tetap adalah bibi."

Tanya Lim Sian-ji.

"Tapi kau sekarang sudah dewasa, bukan?"

Ia mendesah lembut dan menggumama.

"Aku baru pergi tiga tahun saja, dan lihatlah kau sudah begini gagah."

Liong Siau-in segera mengalihkan pembicaraan.

"Kami tidak pernah berhasil menemukan Bibi Lim selama tiga tahun ini."

Kata Lim Sian-ji.

"Tapi aku tahu banyak tentang engkau. Kudengar…..terhadap wanita, kau jauh lebih hebat daripada orang-orang yang jauh lebih tua."

Liong Siau-in menundukkan kepalanya malu-malu. Katanya.

"Tapi di hadapan Bibi Lim, aku masih anakanak."

Lim Sian-ji mengangkat alisnya. Ia merengut dan berkata manja.

"Masih juga kau panggil aku bibi? Apakah aku sudah setua itu?"

Lim Sian-ji berdiri di depannya dengan santai.

Namun keanggunannya, ekspresi wajahnya, senyumnya yang begitu menggoda, tidak dapat ditemukan pada wanita lain.

Mata Liong Siau-in mulai berbinar.

Lim Sian-ji menggigit bibirnya, katanya.

""Kudengar kau suka gadis muda. Aku…Aku hanya seorang wanita tua."

Liong Siau-in merasa jantungnya berdegup makin kencang. Ia tidak bisa tidak berkata.

"Ah, kau sama sekali belum tua."

"Benarkah?"

Kata Liong Siau-in.

"Jika seseorang mengatakan bahwa kau sudah tua, ia pasti seorang tolol, atau seorang buta."

Lim Sian-ji terkekeh.

"Jadi apakah kau adalah orang tolol? Atau orang buta?"

Sudah tentu Liong Siau-in bukan orang tolol, bukan pula orang buta.

Ketika Lim Sian-ji meninggalkannya, ia merasa agak kesakitan.

‘Anak’ ini bukan seorang anak, bukan juga seorang tolol, karena ia adalah seorang gila!

Orang gila yang mengerikan.

Bahkan Lim Sian-ji sekalipun belum pernah bertemu dengan orang segila ini.

Namun di matanya terbayang suatu kepuasan.

Akhirnya ia mendapatkan informasi yang diinginkannya.

Dalam urusan tentang laki-laki, ia tidak pernah gagal.

Apakah orang itu seorang tolol, seorang pria baik-baik, ataupun seorang gila!

Walaupun hari sudah mulai fajar, terlihat beberapa orang yang masih minum.

Seseorang berseru.

"Jika kau ingin minum, minumlah sampai fajar tiba, atau sampai kau jatuh rebah ke tanah…."

Sepertinya, sebelum kalimatnya selesai, ia pun sudah rebah ke tanah.

Mendengar kata-kata itu, Lim Sian-ji teringat pada seseorang.

Bahkan serasa suara batuknya pun dapat terdengar.

Setiap kali ia ingat akan orang ini, kemarahannya memuncak.

Karena ia tahu bahwa ia dapat menaklukkan semua pria di dunia ini, tapi bukan dia.

Dan karena ia tidak dapat memiliki pria itu, maka ia harus menghancurkannya!

Jika ia tidak dapat memiliki seseorang, siapapun tidak boleh memilikinya.

Ia mengertakkan giginya dan berpikir.

"Walaupun aku menginginkan engkau mati, kau belum boleh mati sekarang. Lebih-lebih lagi, aku tidak dapat membiarkanmu mati di tangan Siangkoan Kim-hong. Jika ia membunuhmu, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menghentikannya."

"Namun suatu hari nanti kau pasti mati di tanganku. Mati perlahan-lahan….oh, sangat perlahan-lahan…."

Bab 56.

Pedang Keluar dari Sarungnya Pedang.

Sebilah pedang yang sangat tipis.

Sangat ringan.

Bahkan pegangannya pun terbuat dari kayu yang paling ringan.

Senjata lain bisa dengan mudah menghancurkan senjata ini.

Namun ketika ia sudah menyerang, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya.

Pedang ini teramat unik.

Mungkin hanya ada satu orang di dunia ini yang bisa menggunakannya, berani menggunakannya.

Pedang itu tergeletak di samping meja bersama dengan seperangkat pakaian bersih.

Waktu A Fei terjaga, yang pertama dilihatnya adalah pedang itu.

Matanya bercahaya.

Ketika ia melihat pedang itu, seolah-olah ia bertemu kembali dengan kekasihnya yang telah lama pergi, dengan sahabat lamanya.

Darah bergolak di dadanya.

Ia mengangsurkan tangannya dan meraih pedang itu.

Tangannya gemetar.

Namun sewaktu ia menggenggam pegangan pedang itu, tangannya langsung tenang.

Tangannya menggenggam pedang itu, namun matanya memandang ke tempat yang sangat…sangat jauh….

Pikirannya pun melayang jauh.

Ia teringat ketika pertama kali ia menggunakan pedang itu.

Pertama kali darah menetes dari ujung pedang itu.

Orang-orang yang mati di bawah pedang itu…..

orangorang yang jahat itu.

Darahnya bergejolak.

Waktu itu adalah waktu yang penuh duka dan cobaan, namun juga waktu yang penuh kejayaan dan semangat!

Namun waktu itu telah berlalu, berlalu sangat sangat lama.

Ia telah berjanji pada wanita yang dicintainya untuk melupakan masa lalunya.

Walaupun kini ia hidup damai sejahtera, ia hidup kesepian.

Tapi apa salahnya?

Bukankah semua orang berharap untuk bisa hidup tenang?

Tidak ada suara langkah yang terdengar.

Namun Lim Sian-ji sudah berdiri di muka pintu.

Walaupun ia tampak agak lelah, senyumnya tetap memikat.

Apapun yang dikorbankan A Fei, senyum itu telah membayar lunas seluruhnya.

A Fei segera melepaskan pedang itu dari genggamannya.

Katanya sambil tersenyum.

"Hari ini kau bangun lebih dulu. Lihat, makin lama aku jadi semakin malas."

Lim Sian-ji tidak menggubrisnya. Ia malah bertanya.

"Kau suka pedang ini?"

A Fei tidak menjawab pertanyaannya. Ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga tidak ingin berdusta. Kata Lim Sian-ji.

"Tahukah engkau dari mana pedang ini berasal?"

Jawab A Fei.

"Tidak."

Lim Sian-ji berjalan perlahan-lahan menghapirinya dan duduk di sampingnya. Katanya.

"Aku menyuruh orang membuatnya semalam."

A Fei terkejut.

"Kau?"

Lim Sian-ji mengangkat pedang itu dan berkata.

"Apakah pedang ini seperti yang dulu kau miliki?"

A Fei diam saja. Tanya Lim Sian-ji.

"Kau tidak menyukainya?"

A Fei berpikir cukup lama sebelum balik bertanya.

"Mengapa kau membuatkan pedang ini untukku?"

"Sebab kau akan memerlukannya."

Tubuh A Fei menegang. Katanyanya ragu-ragu.

"Kau….Kau ingin aku membunuh seseorang?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Bukan. Aku ingin kau menyelamatkan seseorang."

"Menyelamatkan seseorang? Siapa?"

"Sahabatmu yang terbaik….."

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, A Fei melonjak dan berseru.

"Li Sun-Hoan?"

Lim Sian-ji mengangguk. Wajah A Fei menjadi sangat merah dan berkata.

"Di manakah dia? Apa yang terjadi?"

Lim Sian-ji meraih tangannya dan berkata dengan lembut.

"Duduklah dulu. Kau harus sabar. Mari kuberi tahu keseluruhan ceritanya."

Beberapa kali A Fei menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya, baru akhirnya ia duduk. Kata Lim Sian-ji.

"Selain engkau, ada empat pesilat yang tangguh di dunia ini. Apakah kau tahu siapa saja mereka itu?"

"Beritahukan saja padaku."

"Yang pertama sudah pasti Si Tua Sun Yang Misterius. Yang kedua adalah Siangkoan Kim-hong. Sudah tentu, Li Sun-Hoan pun setaraf dengan mereka."

Tanya A Fei tidak sabar.

"Lalu yang terakhir?"

Lim Sian-ji mendesah dan berkata.

"Namanya Hing Bubing. Ia adalah yang paling muda, namun juga yang paling mengerikan."

"Mengerikan?"

"Karena ia seperti bukan manusia. Ia tidak punya peri kemanusiaan. Tujuan utama dalam hidupnya adalah membunuh. Kepuasan yang terbesar yang dirasakannya adalah saat membunuh. Selain membunuh, ia tidak tahu apapun juga, tidak peduli apapun juga."

Terlihat api mulai berkobar di mata A Fei.

"Senjata apa yang digunakannya?"

Sambil meletakkan pedang di tangannya Lim Sian-ji menjawab.

"Pedang!"

Tanpa sadar, tangan A Fei terjulur mengambil pedang itu dan menggenggamnya erat-erat. Kata Lim Sian-ji.

"Kudengar seni pedangnya sungguh serupa dengan engkau, cepat dan telengas."

Sahut A Fei.

"Aku tidak tahu seni pedang apa segala. Aku hanya bisa menggunakan pedang untuk menusuk leher lawanku."

"Itulah seni pedangmu. Tujuan dari segala macam seni pedang itu sama saja."

Kata A Fei.

"Jadi maksudmu….Li Sun-Hoan ditahan oleh orang ini?"

"Bukan hanya dia, namun juga Siangkoan Kim-hong…. Tapi Siangkoan Kim-hong mungkin tidak akan berada di sana. Hanya dia sendiri."

Ia tidak membiarkan A Fei menjawab dan terus bicara.

"Hanya jika kau pernah bertemu dengan orang ini sajalah kau akan tahu betapa mengerikannya dia! Pedangmu mungkin lebih cepat, namun perasaanmu…."

A Fei mengertakkan giginya. Katanya.

"Aku hanya ingin tahu di mana ia sekarang."

Lim Sian-ji meremas tangannya dengan lembut.

"Aku tidak ingin kau menggunakan pedangmu lagi, tidak ingin kau membunuh lagi, menyerempet bahaya lagi. Namun demi Li-heng ….aku….aku harus merelakan kepergianmu. Aku tidak boleh egois."

A Fei memandangnya. Wajahnya penuh rasa terima kasih. Air mata mulai membasahi wajah Lim Sian-ji. Katanya.

"Aku bisa memberitahukan padamu di mana dia berada. Namun kau….kau harus berjanji satu hal padaku."

"Berjanji apa?"

Lim Sian-ji kembali meremas tangan A Fei dan berkata sambil menangis.

"Kau harus berjanji padaku bahwa kau akan kembali. Aku akan menantikanmu di sini selamanya…." *** Kereta itu sangat besar. Liong Siau-in duduk di sudut kereta itu sambil menatap orang di depannya. Orang itu sedang berdiri. Bahkan di dalam kereta pun, orang ini tetap berdiri. Betapapun tidak ratanya jalan itu, ia tetap berdiri tegak seperti patung. Liong Siau-in belum pernah melihat orang seperti ini. Ia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa ada orang seperti ini di dunia. Ia selalu menganggap bahwa orang-orang di dunia ini sebagian besar sangat tolol, semua bisa dipermainkan olehnya. Namun entah mengapa, di depan orang ini ia merasa sedikit ketakutan. Selama orang itu ada di situ, ia merasa hawa pembunuhan yang tebal menyesaki dadanya. Namun ia pun merasa sangat puas. Siangkoan Kim-hong telah setuju akan semua permintaannya. Surat pemberitahuan itu telah disebarkan. Sebagian besar orang telah menerima dan membacanya. Upacara itu sudah ditetapkan akan berlangsung satu bulan lagi. Sekarang, dengan kedatangan Hing Bu-bing bersamanya, Li Sun-Hoan pasti akan mati. Ia tidak bisa membayangkan dengan cara apa Li Sun-Hoan bisa lolos. Ia menarik nafas panjang dan memejamkan matanya. Seraut wajah yang cantik terbayang di benaknya. Orang itu berbaring di pangkuannya dan berkata dengan mesra.

"Sungguh kau memang bukan anak-anak lagi. Kau tahu jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang. Aku tidak tahu bagaimana caranya kau mempelajari semua ini."

Saat itu Liong Siau-in tidak dapat menahan senyumnya.

"Ada hal-hal yang tidak perlu dipelajari. Kau akan tahu saat kau siap melakukannya."

Ia merasa sungguh dewasa.

Perasaan ini memang selalu membahagiakan bocah lakilaki manapun juga.

Anak laki-laki berusaha keras bersikap seperti orang dewasa.

Orang-orang tua bangka berusaha mati-matian bersikap seperti bocah-bocah….

Sungguh, inilah salah satu ironi kehidupan manusia.

Saat itu, siapapun juga akan berhenti berpikir.

Namun Liong Siau-in malah terus berpikir lebih dalam.

Mengapa Bibi Lim datang kepadaku?

Apakah ia hanya ingin mengetahui di mana Li Sun-Hoan berada?

Saat ide itu meLimtas dalam pikirannya, Liong Siau-hun menjadi lebih waspada.

Mengapa ia begitu ingin tahu di mana Li Sun-Hoan berada?

Apakah ia ingin menyelamatkan Li Sun-Hoan?

Sudah pasti tidak demikian.

Liong Siau-in tahu berapa besar Lim Sian-ji membenci Li Sun-Hoan.

Ia pun tahu bahwa wanita itu pernah berusaha menggunakan Siangkoan Kim-hong untuk membunuh Li Sun-Hoan.

Lalu mengapa?

Ia tidak bisa berpikir lagi, karena ia sungguh tidak dapat menemukan alasannya.

Ia tidak tahu bahwa keadaan sudah berubah.

Dulu memang Lim Sian-ji menginginkan Siangkoan Kim-hong membunuh Li Sun-Hoan.

Namun kini sudah berbeda.

Jika ia ingin membuat Siangkoan Kim-hong tetap memerlukan dia, ia tidak boleh membiarkan Li Sun-Hoan dan A Fei mati!

Kalau tidak Siangkoan Kim-hong akan langsung menghabisinya, karena pernah terlepas dari mulut Siangkoan Kim-hong.

"Aku adalah aku. Aku bukan A Fei, bukan Hing Bu-bing. Kita hanya saling memanfaatkan. Jika kita tidak saling membutuhkan lagi, sampai sekian saja perjumpaan kita."

Arah angin dalam dunia persilatan begitu sering berganti, sesering bergantinya perasaan hati seorang wanita.

Tidak ada yang tahu ke mana ia akan bertiup selepas ini.

Kereta itu berhenti di tempat yang sangat ramai di tengah kota.

Di depan sebuah toko sutra yang ramai dan megah.

Apakah Li Sun-Hoan disembunyikan di sini?

Liong Siau-hun dan anaknya ini memang adalah orangorang yang jenius.

Mereka tahu bahwa keramaian adalah tempat yang paling baik untuk bersembunyi.

Liong Siau-in bangkit berdiri dan berkata.

"Silakan."

Kata Hing Bu-bing.

"Kau jalan dulu."

Inilah pertama kalinya ia berbicara pada Liong Siau-in.

Ia tidak ingin berjalan di depan siapapun juga.

Lebih tidak ingin lagi ada seseorang yang berjalan di belakangnya.

Mereka berjalan masuk ke toko sutra itu sampai ke dalam.

Di belakang ada gudang.

Apakah Li Sun-Hoan disembunyikan di sini?

Tempat ini memang tempat yang sangat baik.

Namun Liong Siau-in terus saja berjalan, melewati gudang itu.

Kini mereka sudah melewati pintu belakang.

Ada sebuah kereta kuda di balik pintu belakang itu.

Kali ini Liong Siau-in tidak berkata apa-apa.

Ia membungkuk hormat kepada Hing Bu-bing, lalu langsung masuk ke dalam kereta itu.

Ternyata Li Sun-Hoan tidak ada di sana.

Liong Siau-in hanya mampir ke tempat itu untuk menyamarkan jejak mereka, jika ada orang yang menguntit mereka.

Ayah dan anak ini memang pasangan yang sangat licik.

Kereta kuda itu kini melaju menuju ke luar kota.

Mereka berhenti di gudang beras di luar kota itu.

Namun di sini Li Sun-Hoan pun tidak ada.

Di sini mereka turun dari kereta dan naik pedati pengangkut beras yang ditarik oleh sapi.

Pedati ini mengantarkan mereka kembali masuk ke dalam kota.

Tempat dalam pedati itu sempit, sehingga mereka berdesakan.

Kata Liong Siau-in.

"Maafkan atas ketidaknyamanan ini."

Hing Bu-bing diam saja.

Rencana mereka memang tidak bercacad.

Gerakan mereka sigap dan perubahan arah pun tajam dan sangat tiba-tiba.

Bahkan penguntit yang sangat teliti pun akan kehilangan jejak mereka.

Liong Siau-in tahu bahwa Hing Bu-bing tidak akan memujinya.

Ia hanya berharap dapat melihat secercah senyum Hing Bu-bing di wajahnya.

Jika seseorang sudah berbuat sesuatu yang sangat dibanggakannya tapi tidak mendapat pujian, itu sama saja dengan seorang wanita yang sudah berdandan begitu cantik untuk kekasihnya namun tidak dilirik sedikitpun juga.

Lagipula, bagaimana pun juga Liong Siau-in memang masih anak-anak.

Pikiran anak-anak dan pikiran wanita memang mirip.

Wajah Hing Bu-bing tetap kosong.

Kini pedati itu sudah berada di gang yang sepi.

Di gang ini ada tujuh buah rumah.

Ketujuh rumah ini adalah milik orang-orang penting.

Kerabat kaisar atau pejabat penting pemerintahan.

Tiba-tiba salah satu pintu terbuka.

Semua orang tahu ini adalah rumah Gubernur Han Limcoan.

Bagaimana mungkin seseorang dari kaum persilatan memiliki hubungan dengan orang yang berkedudukan tinggi seperti ini?

Tidak ada seorang pun yang akan menyangka.

Namun yang menunggu di ruang utama bukan lain adalah Liong Siau-hun.

Ketika Hing Bu-bing keluar dari pedati, Liong Siau-hun segera menghampirinya dengan senyum lebar.

"Telah lama kudengar kebesaran nama Hing-siansing. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagiku untuk dapat bertemu dengan Tuan hari ini."

Hing Bu-bing hanya memandangi pedangnya. Ia tidak melirik sedikitpun pada Liong Siau-hun. Liong Siau-hun tetap tersenyum. Katanya.

"Aku telah mempersiapkan makanan dan arak. Silakan Tuan mencicipinya."

Hing Bu-bing hanya berdiri saja tidak bergerak. Tanyanya dingin.

"Apakah Li Sun-Hoan ada di sini?"

Sahut Liong Siau-hun.

"Ini rumah Han-tayjin. Beberapa hari yang lalu Han-tayjin ingin pergi cuti untuk beberapa saat. Kaisar mengijinkan dia beristirahat tiga bulan."

Sampai di situ senyum puas terbayang di wajahnya. Lanjutnya lagi.

"Han-tayjin tidak punya sanak saudara. Dan pengurus rumah tangganya adalah sahabat baikku. Jadi setelah dia pergi, aku meminjam rumah ini untuk sementara waktu."

Sebenarnya cara dia bisa meminjam tempat ini mudah saja.

Memang uang dapat mengantarkan orang masuk ke dalam berbagai macam tempat.

Namun tidak banyak orang yang dapat memikirkan tipuan semacam ini.

Tidak heran Liong Siau-hun merasa puas diri.

Hing Bu-bing masih memandangi tangannya sendiri.

Tiba-tiba ia berkata.

"Kau pikir tidak seorang pun dapat menguntit kita ke sini?"

Wajah Liong Siau-hun langsung berubah, namun senyum tidak pernah lepas dari wajahnya.

"Jika seseorang dapat menguntitmu ke sini, aku akan menyembah dia menyampaikan rasa kagumku."

Kata Hing Bu-bing dingin.

"Bersiaplah untuk menyembah."

Liong Siau-hun tetap tersenyum.

"Tapi jika….."

Setelah dua kata ini, ia berhenti bicara.

Senyum pun segera lenyap dari wajahnya.

Liong Siau-in mengikuti arah pandangan ayahnya.

Wajahnya yang pucat kini bersemu hijau.

Ada orang berdiri di sudut ruangan.

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia datang, bagaimana dia masuk.

Bab 57.

Kembang Api Ia mengenakan jubah biasa berwarna hijau.

Waktu ia pertama mengenakannya jubah itu sangat bersih, namun kini jubah itu penuh dengan lumpur dan keringat.

Celananya robek di lutut.

Tubuhnya kotor dan rambutnya berantakan.

Namun walaupun orang itu hanya berdiri di sudut sana, Liong Siau-hun dapat merasakan hawa pembunuhan yang terpancar dari tubuhnya.

Orang itu sama dengan pedang yang terselip di pinggangnya.

Sebilah pedang tanpa sarung.

A Fei!

A Fei berhasil juga datang.

Mungkin hanya A Fei yang mampu menguntit mereka sampai di situ.

Binatang yang paling licik, yang paling mudah lolos, adalah rubah.

Bahkan seekor anjing yang sangat terlatih dan sangat pandai pun mungkin tidak bisa menangkap rubah.

Namun A Fei bisa menangkap rubah sejak berusia sebelas tahun.

Bukan pekerjaan mudah menguntit kedua orang ini.

Oleh sebab itu sekujur tubuh A Fei sampai kotor begini.

Namun inilah A Fei yang sesungguhnya.

Hanya dengan cara inilah ia dapat memperlihatkan semangatnya, keteguhan hatinya, bahkan kebrutalannya yang menggetarkan hati manusia!

Kebrutalan yang tenang!

Sungguh kebrutalan yang luar biasa!

Liong Siau-hun segera menenangkan dirinya.

Katanya.

"Oh, ternyata Saudara A Fei. Senang berjumpa kembali denganmu."

A Fei melotot, memandangnya dingin. Kata Liong Siau-hun lagi.

"Aku sungguh kagum kau berhasil tiba di sini."

A Fei masih melotot padanya.

Matanya bercahaya dan tajam.

Setelah dua hari menguntit mereka, akhirnya matanya kembali memancarkan sinar tajam seperti dulu lagi.

Ketajaman yang menandingin ketajaman Hing Bu-bing.

Liong Siau-hun tersenyum dan berkata lagi.

"Walaupun kau adalah penguntit yang hebat, Hing-siansing masih dapat menemukanmu."

A Fei memandang Hing Bu-bing.

Mata mereka beradu, seperti sebilah pedang dingin beradu dengan batu yang keras.

Tidak ada yang tahu mana yang lebih tajam.

Pedang ataukah batu?

Walaupun tidak seorang pun bicara, sepertinya bunga api terpercik dari tatapan mata mereka.

Liong Siau-hun memandang Hing Bu-bing, lalu memandang A Fei.

Katanya.

"Walaupun Hing-siansing menemukanmu, ia tidak berkata apa-apa? Tahukah kau apa sebabnya?"

A Fei seolah-olah terhipnotis oleh Hing Bu-bing. Kepalanya sama sekali tidak pernah menoleh. Liong Siau-hun terkekeh. Jawabnya sendiri.

"Karena Hing-siansing ingin kau hadir di sini."

Lalu ia menoleh ke arah Hing Bu-bing dan bertanya.

"Benar bukan Hing-siansing?"

Hing Bu-bing pun seperti terhipnotis oleh tatapan mata A Fei. Ia pun tidak bergerak sedikitpun. Setelah cukup lama akhirnya Liong Siau-hun mulai tertawa. Katanya.

"Hanya ada satu alasan mengapa Hing-siansing ingin kau hadir di sini. Karena ia ingin membunuhmu!"

Perlahan-lahan tatapan A Fei bergeser ke arah pedang Hing Bu-bing.

Tatapan Hing Bu-bing pun sepertinya bergerak ke arah pedang A Fei.

Mungkin dua pedang inilah yang paling mirip satu sama lain di dunia ini.

Kedua senjata ini bukanlah senjata mustika yang dibuat oleh pembuat senjata yang ternama.

Walaupun kedua pedang ini sangat tajam, keduanya pun sangat tipis dan sangat rapuh.

Mudah dipatahkan.

Walaupun kedua pedang ini bagaikan kembar, posisi mereka sangat berlainan.

Pedang A Fei berada di pinggang depan, dengan pegangan mengarah ke kanan.

Pedang Hing Bu-bing ada di sebelah kanan, dengan pegangan mengarah ke kiri.

Di antara kedua pedang ini seolah-olah muncul suatu medan magnet yang luar biasa kuat.

Mata kedua orang ini pun tidak pernah lepas menatap pedang lawan.

Mereka berjalan maju saling mendekat, namun tatapan mereka tetap pada pedang lawan.

Saat mereka berjarak kurang lebih dua meter, tiba-tiba mereka berhenti!

Lalu tubuh mereka kaku, tidak bergerak seperti patung.

Hing Bu-bing mengenakan jubah sederhana yang pendek dan berwarna kuning.

Jubahnya itu hanya sampai ke lutut.

Lengan jubahnya sangat ketat.

Jari-jarinya kurus dan panjang, dengan tulang-tulang yang menonjol ke luar, menandakan kekuatannya yang besar.

Jubah A Fei lebih pendek lagi.

Jari-jarinya pun kurus panjang, dan sangat keras bagai terbuat dari batu.

Mereka tidak peduli penampilan namun kuku-kuku mereka terpotong pendek.

Mereka tidak ingin apapun juga mengurangi kecepatan mereka menghunus pedang.

Betapa serupanya kedua orang ini!

Akhirnya mereka berjumpa.

Hanya ketika mereka berdiri berdekatan, dan ketika orang mengamati mereka dengan cermat, baru terlihat bahwa di balik persamaan kulit luar mereka, terlihat pula perbedaan mereka.

Wajah Hing Bu-bing terlihat seperti sebuah topeng.

Air mukanya kosong dan tidak pernah berubah.

Walaupun wajah A Fei serius dan dingin, selalu ada api dalam pandangan matanya.

Api yang begitu membara, yang bahkan dapat membakar jiwa dan raganya.

Keseluruh raga Hing Bu-bing seolah-olah mati.

Mungkin sebelum ia dilahirkan, tubuhnya sudah mati lebih dulu.

A Fei adalah orang yang sangat sabar.

Ia bisa menunggu dengan sabar, namun ia tidak pernah bisa sabar menghadapi manusia.

Hing Bu-bing bisa membunuh seseorang hanya karena sepatah kata, mungkin bahkan karena sekilas pandangan.

Namun jika perlu, ia dapat sabar menghadapi apapun juga.

Keduanya memang unik.

Keduanya sama mengerikan.

Tidak ada yang tahu mengapa Tuhan membuat dua orang macam ini, dan mengapa membiarkan kedua orang ini bertemu.

Ini sudah akhir musim gugur.

Daun-daun sudah mengering semuanya.

Angin tidak bertiup kencang, namun daun-daun terus berguguran.

Apakah mungkin ini karena hawa pembunuhan yang begitu tebal?

Hawa dingin yang mencekam memenuhi tempat itu.

Walaupun kedua bilah pedang masih berada di pinggang masing-masing, walaupun kedua orang ini belum lagi menggerakkan tangan mereka sedikitpun, nafas Liong Siau-hun dan anaknya sudah kembang kempis seperti kekurangan oksigen.

Tiba-tiba, selarik cahaya berkilat!

Sepuluh kali cahaya itu berkelebat cepat ke arah A Fei!

Liong Siau-hun menyerang.

Sudah tentu ia tidak berpikir bahwa sambitan senjata rahasianya akan mengenai A Fei.

Namun jika A Fei kerepotan melayani senjata rahasianya, maka pedang Hing Bu-bing pasti akan dapat menembus tenggorokannya!

Pedang berkilat di udara!

Serentetan bunyi ‘Ding, Ding’ terdengar.

Sinar-sinar itu jatuh ke tanah.

Pedang Hing Bu-bing sudah keluar.

Ujung pedangnya menyambar di sebelah telinga A Fei.

Tangan A Fei memegang pedangnya, tapi pedang itu masih tersemat di pinggangnya.

Senjata rahasia Liong Siau-hun dihalau oleh Hing Bubing.

Wajah ayah dan anak sama-sama keruh.

Hing Bu-bing dan A Fei saling pandang.

Ekspresi keduanya tetap kosong.

Lalu Hing Bu-bing pelan-pelan memasukkan pedangnya ke dalam sarungnya.

A Fei pun mengendurkan pegangannya pada pedangnya.

Setelah cukup lama, akhirnya Hing Bu-bing berkata.

"Apakah kau tahu bahwa tadi pedangku terarah pada senjata rahasia itu, bukan padamu?"

"Ya, aku tahu."

Ketika senjata rahasia itu disambitkan, pedang Hing Bubing langsung bergerak. A Fei bukannya menghunus pedang, malahan diam saja. Sebelum A Fei berkata apa-apa lagi, Hing Bu-bing menambahkan.

"Namun reaksimu sudah menjadi lambat."

A Fei berpikir lama. Wajahnya menjadi muram. Sahutnya.

"Kau memang benar."

Kata Hing Bu-bing.

"Aku bisa membunuhmu."

A Fei tidak perlu lagi berpikir.

"Ya."

Liong Siau-hun dan putranya saling pandang. Keduanya menghela nafas lega. Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata.

"Tapi aku tidak akan membunuhmu!"

Wajah dua anak-beranak Liong ini berubah lagi. A Fei menatap mata Hing Bu-bing yang kelabu dan mati itu lekat-lekat. Setelah sekian lama, ia bertanya.

"Kau tidak akan membunuhku?"

"Aku tidak akan membunuhmu karena kau adalah A Fei."

Matanya memancarkan rasa kepedihan yang begitu dalam.

Kini matanya bahkan tampak lebih muram daripada mata A Fei.

Benaknya melayang jauh, memandang seseorang.

Seorang yang merupakan perpaduan seorang dewi dan iblis.

Akhirnya ia berkata lagi.

"Jika aku adalah engkau, kau dapat membunuhku hari ini."

Bahkan A Fei tidak mengerti apa maksudnya.

Hanya Hing Bu-bing yang tahu.

Siapapun yang hidup selama dua tahun seperti A Fei akan mempunyai kecepatan reaksi yang jauh lebih buruk.

Terlebih lagi, ia telah dicekoki obat tidur setiap malam selama dua tahun ini.

Obat-obatan ini pasti akan membuat reaksi orang menjadi lambat.

Alasan Hing Bu-bing tidak membunuh A Fei pasti bukan karena belas kasihan.

Namun karena ia mengerti penderitaan A Fei.

Karena ia pun merasakan penderitaan yang sama.

Mungkin juga ia membiarkan A Fei hidup supaya ada orang yang sama menderita seperti dirinya.

Ketika seorang yang patah hati mengetahui bahwa ada orang lain yang juga ditinggalkan oleh kekasihnya, penderitaannya akan berkurang.

Jika seseorang yang kehilangan uang mengetahui ada orang lain yang kehilangan lebih banyak, ia akan merasa terhibur sedikit.

A Fei hanya berdiri di situ, seakan-akan sedang berusaha mencerna kata-kata Hing Bu-bing.

Kata Hing Bu-bing.

"Sekarang, pergilah kau."

A Fei mengangkat kepalanya dan berkata.

"Aku tidak akan pergi."

Hing Bu-bing jadi bingung.

"Kau tidak akan pergi? Kau ingin aku membunuhmu?"

"Ya!"

Liong Siau-in tiba-tiba berteriak.

"Bagaimana dengan Lim Sian-ji? Apakah kau tega meninggalkannya sendirian?"

Kata-kata ini menusuk hati A Fei bagai sebatang jarum yang tajam. Tubuhnya menjadi lemas. Hing Bu-bing menoleh ke arah Liong Siau-hun dan berkata pelan-pelan.

"Aku suka membunuh orang. Aku suka membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Mengerti?"

Liong Siau-hun memaksakan diri untuk tersenyum.

"Aku mengerti."

Kata Hing Bu-bing.

"Sebaiknya kau benar-benar mengerti. Kalau tidak, kaulah yang akan kubunuh."

Ia mengalihkan pandangan dari Liong Siau-hun dan bertanya.

"Di mana Li Sun-Hoan? Antarkan aku menemuinya."

Liong Siau-hun melirik sekilas pada A Fei.

"Bagaimana dengan dia….."

Sahut Hing Bu-bing dingin.

"Aku bisa membunuhnya kapan saja aku mau."

A Fei merasa perutnya bergolak.

Tiba-tiba ia membungkukkan badan dan mulai muntah-muntah.

Muntahnya adalah ludah yang terasa pahit.

Hanya ludah yang terasa pahit.

Sudah dua hari ini dia tidak makan apa-apa.

"Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali. Aku akan menunggumu di sini selamanya….."

Perkataan ini adalah perkataan wanita yang dikasihinya.

Demi perkataan ini, ia tidak bisa mati.

Tapi Li Sun-Hoan…..

Li Sun-Hoan bukan saja sahabatnya, ia adalah pahlawannya.

Bagaimana mungkin ia hanya berdiri di situ menonton orang membunuh Li Sun-Hoan?

Ia terus muntah-muntah.

Kini ia sudah muntah darah.

*** Li Sun-Hoan tidak tahu di mana ia berada.

Ia pun tidak peduli.

Ia tidak tahu apakah ini siang atau malam.

Ia tidak bisa bergerak karena semua Hiat-to (jalan darah) utamanya telah ditutup.

Tidak ada makanan, tidak ada air.

Ia sudah berada di situ lebih dari sepuluh hari.

Walaupun Hiat-to (jalan darah)nya tidak ditutup, kelaparan juga akan membuatnya tidak bisa bergerak.

Hing Bu-bing memandangnya.

Ia tergolek di sudut ruangan.

Ruangan itu remang-remang.

Tidak ada yang tahu seperti apa air muka Li Sun-Hoan.

Yang terlihat hanyalah bajunya yang kotor dan sobek-sobek, wajahnya yang kurus dan lemah, matanya yang sedih.

Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata.

"Jadi inilah Li Sun-Hoan."

Sahut Liong Siau-hun.

"Benar."

Sepertinya Hing Bu-bing kecewa akan apa yang dilihatnya dan tidak percaya pada Liong Siau-hun. Ia bertanya lagi.

"Inikah Li-tamhoa yang ternama itu?"

Liong Siau-hun mengeluh.

"Aku tidak ingin memperlakukan dia seperti ini. Namun….’Manusia tidak ingin menyakiti harimau, tapi harimau ingin membunuh manusia’. Keadaanlah yang memaksaku berbuat seperti ini."

Hing Bu-bing terdiam sesaat. Lalu bertanya.

"Di mana pisaunya?"

Liong Siau-hun pun berpikir sejenak.

"Apakah Hingsiansing ingin melihat pisaunya?"

Hing Bu-bing tidak menjawab, karena pertanyaan ini sungguh bodoh.

Akhirnya Liong Siau-hun mengeluarkan sebilah pisau.

Pisau itu ringan, pendek, sangat tipis, seperti selembar daun.

Hing Bu-bing memegang pisau itu erat-erat, seolah-olah tidak ingin melepaskannya lagi.

Liong Siau-hun tersenyum sambil berkata.

"Sebenarnya pisau ini tidak istimewa. Juga tidak terlalu tajam."

Kata Hing Bu-bing.

"Tajam? Apakah kau pantas bicara mengenai senjata yang tajam?"

Matanya melotot ke arah Liong Siau-hun. Katanya.

"Apakah kau tahu apa artinya senjata yang tajam itu?"

Matanya masih kelabu dan mati seperti biasanya.

Namun ada suatu yang menakutkan dalam mata itu, seperti mata iblis dalam mimpi-mimpimu.

Sangat mengerikan, sampai-sampai kau tetap merasa takut walaupun sudah terbangun.

Liong Siau-hun merasa ia mulai sesak nafas.

Ia memaksakan diri tersenyum dan berkata.

"Tolong jelaskan padaku."

Mata Hing Bu-bing kembali menatap pisau itu. Katanya.

"Selama dapat membunuh, maka senjata itu adalah senjata yang tajam. Kalau tidak, betapa mahalnya dan tajamnya senjata itu, jika jatuh ke tangan orang yang tidak berguna seperti engkau, senjata itu adalah sampah."

Sahut Liong Siau-hun.

"Ya, ya. Hing-siansing memang benar. Aku mengerti….."

Hing Bu-bing tidak menggubrisnya sedikitpun. Ia tiba-tiba memotong.

"Tahukah kau ada berapa orang yang sudah mati karena pisau semacam ini?"

"Mungkin….mungkin sudah tidak terhitung."

Kata Hing Bu-bing.

"Terhitung!"

Walaupun Kim-ci-pang baru berdiri kira-kira dua tahun, mereka telah melakukan penelitian yang mendalam terhadap dunia persilatan.

Semboyan Siangkoan Kimhong adalah ‘Setiap detil itu penting.

Jangan ada sedikitpun yang terlewatkan’, ‘Sepeser uang, sejumput panen’.

Bukan keberuntungan yang membuat Kim-ci-pang menjadi sangat berpengaruh.

Liong Siau-hun pun mendengar bahwa seberlum partai itu berdiri, Siangkoan Kim-hong telah menyelidiki semua toloh persilatan.

Berapa besar usaha yang diperlukan untuk mendapatkan semuanya itu?

Liong Siau-hun sepertinya tidak betul-betul percaya.

Ia tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Jadi ada berapa?"

"Enam puluh tujuh."

Lalu ditambahkannya dengan dingin.

"Dari Keenampuluh tujuh orang itu, tidak ada yang ilmu silatnya berada di bawahmu."

Liong Siau-hun hanya dapat pura-pura tersenyum.

Pandangannya beralih pada Li Sun-Hoan, seakan-akan ingin Li Sun-Hoan menegaskan perkataan ini.

Namun Li Sun-Hoan tidak punya kekuatan sama sekali untuk melakukan apapun juga.

Liong Siau-in tersenyum dan berkata.

"Jika Li Sun-Hoan mati di bawah pisau semacam ini. Hehehe….bukankah itu lucu?"

Sebelum kalimatnya selesai, pisau itu sudah berkilat dan melesat ke arah Li Sun-Hoan.

Liong Siau-in hampir saja melompat kegirangan.

Namun pisau itu tidak mendarat di leher Li Sun-Hoan, tapi di batu yang berada di samping Li Sun-Hoan.

Ternyata Hing Bu-bing pun adalah seorang ahli senjata rahasia.

Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata.

"Buka Hiat-to (jalan darah)nya."

Liong Siau-hun tergagap.

"Tapi….."

Hing Bu-bing tidak memberikan kesempatan padanya untuk membantah. Ia berkata dingin.

"Aku bilang, buka Hiat-to (jalan darah)nya."

Liong Siau-hun dan putranya saling pandang. Mereka tahu persis apa maksud Hing Bu-bing. Kata Liong Siau-hun.

"Siangkoan-pangcu hanya menginginkan Li Sun-Hoan. Tidak harus dalam keadaan hidup."

Liong Siau-in menyambung.

"Siangkoan-lopek tidak minum arak. Ia pun pasti membenci pemabuk. Hanya pemabuk yang mati yang tidak minum arak dan tidak menyebalkan."

Liong Siau-hun berkata lagi.

"Lagi pula, lebih mudah membawa orang mati daripada orang yang masih hidup."

Kata Liong Siau-in.

"Tentu saja Hing-siansing tidak akan membunuh orang yang tidak dapat membela diri. Jadi…."

Potong Hing Bu-bing tidak sabar.

"Kalian terlalu berteletele."

Kata Liong Siau-hun.

"Baik, baik. Aku akan buka Hiat-to (jalan darah)nya sekarang."

Ialah yang menutup Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan. Jadi membukanya pun tidak sulit baginya. Liong Siau-hun menepuk pundak Li Sun-Hoan dan berkata dengan lembut.

"Toako, sepertinya Hing-siansing ingin berduel denganmu. Ilmu pedang Hing-siansing sangat ternama di dunia persilatan. Kau harus berhatihati."

Di saat seperti ini ia masih punya muka untuk memanggil Li Sun-Hoan ‘Toako’.

Bahkan mengucapkannya dengan rasa kasih sayang.

Tidakkah orang ini mengagumkan?

Li Sun-Hoan tidak berkata apa-apa.

Tidak ada yang perlu diucapkan.

Ia hanya tersenyum lemah dan perlahan-lahan mengambil pisau di sampingnya.

Ia menatap pisau itu.

Seolah-olah air mata akan menetes dari matanya.

Ini adalah pisau yang terkenal tidak pernah luput.

Kini pisau ini ada di tangannya.

Namun apakah ia masih punya kekuatan untuk menyambitkannya?

Seorang wanita yang kehilangan kecantikannya, seorang pahlawan yang sampai pada ujung jalannya.

Keduanya adalah tragedi kehidupan.

Orang hanya dapat merasa kasihan pada mereka.

Namun saat ini, tidak ada yang mengasihani Li Sun-Hoan.

Mata Liong Siau-in berbinar.

Ia tersenyum sambil berkata.

"Pisau Kilat si Li tidak pernah luput. Apakah masih bisa dikatakan seperti itu sekarang?"

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan menatap Liong Siau-in. Lalu ditundukkannya kembali. Kata Hing Bu-bing.

"Waktu aku akan membunuh lawanku, aku selalu memberi kesempatan padanya. Inilah kesempatanmu yang terakhir. Mengerti?"

Li Sun-Hoan tersenyum sedih. Kata Hing Bu-bing lagi.

"Baiklah, kau boleh bangkit sekarang."

Li Sun-Hoan mulai batuk-batuk. Liong Siau-in berkata dengan lembut.

"Jika Paman Li tidak bisa bangun sendiri, mari aku bantu."

Ia mengejapkan matanya dan melanjutkan.

"Namun kupikir tidak perlulah. Kudengar Paman Li dapat menyambitkan pisau sambil berbaring."

Li Sun-Hoan mendesah, seperti ingin berbicara.

Namun sebelum ia mengatakan apa-apa, seseorang telah masuk ke dalam ruangan itu.

A Fei!

Wajahnya sangat pucat, seperti tidak ada darah.

Tapi malah ada sedikit darah di sudut mulutnya.

Saat itu ia tampak sangat tua.

Ia masuk secepat kilat, namun ketika ia sudah berada di dalam, ia diam seperti patung.

Tanya Hing Bu-bing.

"Kau masih belum menyerah?"

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya. Kali ini air mata menetes dari sudut matanya. A Fei hanya meliriknya sekilas, hanya sekejap saja. Lalu ia menoleh pada Hing Bu-bing dan berkata.

"Sebelum membunuhnya, kau harus membunuhku!"

Ia mengatakannya dengan tenang, dengan serius. Tidak dengan emosi. Ini menunjukkan ketetapan hatinya. Mata Hing Bu-bing kini berubah.

"Kau tidak peduli padanya lagi?"

Sahut A Fei.

"Walaupun aku mati, ia bisa tetap hidup."

Ia mengatakannya dengan tenang. Namun di wajahnya terbayang rasa sedih. Nafasnya memburu. Hing Bu-bing melihatnya. Sepertinya ia merasa puas mendengar perkataan itu. Tanyanya lagi.

"Kau tidak peduli jika ia merasa sedih?"

"Jika aku tidak merasa puas dalam hidupku, lebih baik aku mati. Jika aku tidak mati ia akan menjadi lebih sedih lagi."

"Kau pikir ia adalah wanita seperti itu?"

"Tentu saja!"

Dalam pikiran A Fei, Lim Sian-ji bukan saja seorang dewi, ia adalah wanita yang suci bersih.

Sebersit senyum terbayang di bibir Hing Bu-bing.

Tidak ada seorang pun yang pernah melihat dia tersenyum.

Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kapan pertama kali ia tersenyum.

Senyumnya sungguh kaku.

Seolah-olah otot bibirnya tidak tahu bagaimana caranya tersenyum.

Ia tidak pernah ingin tersenyum, karena senyum hanya akan melunakkan hati manusia.

Namun kali ini senyumnya adalah senyum jenis lain….senyum yang setajam pedang.

Hanya saja, pedang melukai tubuh manusia, seyum ini melukai hati manusia yang terdalam.

A Fei sama sekali tidak mengerti arti senyum ini.

Katanya dingin.

"Kau tidak perlu tersenyum. Walaupun ada 80% kesempatanmu membunuhku, ada 20% kesempatan aku membunuhmu."

Senyum Hing Bu-bing segera lenyap. Katanya.

"Karena aku sudah bilang aku tidak akan membunuhmu, kini aku tidak akan menyayangkan nyawamu lagi."

"Memang tidak perlu."

Kata Hing Bu-bing.

"Aku ingin kau tetap hidup supaya aku dapat melihat….."

Sebelum kalimatnya selesai, pedang sudah berbicara.

Cahaya pedang menyambar satu sama lain, bergerak secepat kilat.

Namun ada selarik sinar yang melesat lebih cepat lagi daripada kedua pedang ini.

Apakah itu?

Saat berikutnya, tidak tampak cahaya apapun lagi.

Seluruh gerak berhenti.

Bab 58.

Pendekar Pedang Hing Bu-bing telah menusuk bahu kanan A Fei.

Namun hanya satu inci saja.

Pedang A Fei masih terpaut beberapa inci dari leher Hing Bu-bing.

Darah mengalir dari bahu A Fei, membuat bajunya menjadi merah.

Mengapa pedang Hing Bu-bing berhenti sampai di situ saja?

Di bahu Hing Bu-bing telah tertancap sebilah pisau!

Pisau Kilat si Li!

Kekuatan dari mana yang membuat Li Sun-Hoan sanggup menyambitkan pisaunya?

Wajah Liong Siau-hun ayah dan anak menjadi pucat pasi.

Tangan mereka langsung gemetar, dan sedikit demi sedikit mereka melangkah mundur.

Mereka berdua sungguh tidak tahu dari mana Li Sun-Hoan mendapatkan tenaga.

Li Sun-Hoan bangkit berdiri!

Hing Bu-bing memutar badannya dan mengawasi Li Sun-Hoan.

Wajahnya tetap kosong.

Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata.

"Pisau yang hebat!"

Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya.

"Ah, tidak juga. Hanya saja kau terlalu meremehkan aku. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melukaimu?"

Sahut Hing Bu-bing dingin.

"Kau telah berhasil memperdayai aku. Itu tandanya kau lebih hebat daripada aku."

"Aku tidak memperdayaimu. Aku juga tidak pernah bilang bahwa aku tidak punya tenaga untuk menyambitkan pisau. Kaulah yang berpikir demikian. Matamu sendiri yang telah menipumu."

Hing Bu-bing berpikir sejenak.

"Kau benar. Akulah yang salah. Tidak ada hubungannya denganmu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagus. Kau mungkin adalah pembunuh, namun kau bukan orang licik."

Baca Juga: Pedang Gadis Yueh Jin Yong

Baca Juga: Beruang Salju 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert