Eps 9 Bara Maharani - Khu Lung
Baca online Bara Maharani - Khu Lung
Cersil Bara Maharani - Khu Lung.
Untuk sesaat dua pasang mata saling bertemu dan memancarkan rasa berat hati untuk berpisah kemudian menunduk dan sama-sama membungkam.
Lama sekali suasana jadi hening, tiba-tiba Hoa Thianhong menengadahkan dan berkata.
"Nona, baik-baiklah jaga diri, aku mohon diri lebih dahulu"
Dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, angin berhembus sepoi-sepoi mengibarkan ujung baju Pek Soh-gie yang berdiri seorang diri....
ia begitu polos dan sama sekali tak nampak genit, begitu tenang dan kalem seakan-akan tak tahu betapa licik dan berbahayanya kehidupan manusia di kolong langit....
Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya ia putar badan dan berangkat menuju ke arah timur laut meskipun perjalanan dilanjutkan dengan ilmu meringankan tubuh namun sikapnya masih tetap tenang dan sama sekali tidak menunjukkan tergesa-gesa atau gelisah.
Tiba-tiba dari balik kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, muncul empat sosok bayangan manusia yang menghadang jalan perginya.
Buru-buru Pek Soh-gie menghentikan langkahnya dan memandang ke depan, setelah mengetahui bahwa keempat orang itu bukan lain adalah empat orang yang selama ini membuntuti perjalanannya, ia segera memberi hormat dan menyapa.
"Saudara-saudara sekalian ada urusan apa menghalangi jalan pergiku? Kalau ada persoalan harap segera diutarakan keluar"
"Kami rasa nona sudah tahu tentang asal usul kami semua bukan?"
Ujar kakek baju hitam yang ada disebelah kiri.
"Jika kutinjau dari pembicaraan kalian yang seringkali mengungkap tentang Tang-kee kalian, aku juga saudara berempat tentulah para enghiong dari perkumpulan Hong-im-hwie, bukan begitu?"
Rupanya kakek baju hitam itu adalah pemimpin rombongan diantara keempat orang itu, ia segera menjawab.
"Tebakan nona sedikitpun tidak salah, kami berempat memang saudara-saudara dari perkumpulan Hong-im-hwie, lalu tahukah nona apa maksud kami datang kemari?"
"Itulah yang tidak kuketahui! Sedari wilayah Kanglam sampai ke tempat ini, saudara berempat selalu mengikuti di belakang siaute, bolehkah aku tahu apa maksud kalian semua?"
"Cong Tang-keeh kami ada sedikit urusan hendak ditanyakan Kepada nona, maka dari itu kami berempat sengaja ditugaskan untuk datang mengundang kehadiran nona, tetapi berhubung nona adalah kaum wanita yang patut dihormati maka selama ini kami tak berani mengganggu secara gegabah!"
"Kalau begitu, siaute ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati saudara berumpat"
"Nona tak usah mengucapkan terima kasih kepadaku, kini situasinya agak berbeda dan terpaksa kami harus menyalahi diri nona.
"Jadi apa maksud kalian semua?"
Seru Pek Soh-gie dengan mata terbelalak. Kakek baju hitam itu tertawa kering.
"Haaah.... haaah.... haaah.... dari sini menuju ke timur kita akan bertemu dengan para enghiong dari peibagai aliran, kami tahu bahwa kedudukan nona sangat terhormat, asal telah bertemu dengan anak buah dari perkumpulan Sin-kie-pang, maka dengan andalkan muka , kami tak mungkin undangan kami bisa dipenuhi oleb nona"
"Kalau tidak kupenuhi bagaimana?"
Kakek baju hitam itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah.... haaaah.... kalau kami gagal untuk mengundang kehadiran nona, terpaksa kita musti menanggung dosa dan harus menerima pancung kepala"
Tertegun hati Pek Soh-gie mendengar ucapan itu.
"Kalau memang begitu, aku akan mengikuti saudara sekalian untuk berjumpa dengan Jin Loo enghiong!"
Katanya.
"Oooh.... nona sungguh berbesar hati, kami ucapkan banyak terima kasih lebih dahulu"
Bicara sampai disini kakek baju hitam itu segera berpaling, dan memberi tanda kepada salah seorang pria berpakaian ringkas yang ada disisinya....
Pria baju ringkas itu Segera mengangguk dan menggerakkan tubuhnya, sekali lompat ia sudah berada di samping tubuh Pek Soh-gie, jari tangannya bagaikan sebatang tombak langsung menotok jalan darah cian ji hiat di tubuh gadis itu.
Pek Soh-gie terperanjat, tubuhnya laksana kilat menyingkir ke samping, lima jari di pentang dan baru balas menyambar urat nadi dipergelangan pria baju ringkas tadi.
Kebutan lima jarinya ini sepintas lalu nampak enteng dan lambat, tetapi penggunaan waktu dan ketelitian arahnya ternyata luar biasa sekali, andaikata pria baju ringkas itu tidak segera batalkan ancaman-nya maka dia tentu akan tersambar oleh ujung jari Pek Soh-gie.
"Oooh.... kepandaian itu adalah ilmu andalan dari Kho Hong Kui tempo hari!"
Terdengar kakek baju hitam yang lain berseru.
"ilmu silat keluarga kenamaan memang luar biasa sekali!"
Sementara itu pertarungan di tengah kalangan sudah berlangsung lima jurus banyaknya, seharusnya ilmu silat yang dimiliki pria baju ringkas itu masih bukan tandingan dari Pek Soh-gie, sayang sekali dalam setiap serangannya gadis itu hanya berusaha untuk memunahkan ancaman lawan sambil melakukan pertahnan diri belaka, tak satu jurus seranganpun yang ditujukan untuk merobohkan musuh, dalam keadaan begini walaupun pria baju ringkas tadi tak mampu merebut kemenangan namun keadaannya tetap seimbang dan siapapun tak bisa merubuhkan lawannya.
Setelah menyaksikan jalannya pertarungan beberapa saat, kakek baju hitam yang memegang komando itu mengerutkan alisnya, ia memberi tanda kepada pria baju ringkas lainnya.
Pria tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menerjang masuk ke dalam gelanggang.
Dalam waktu singkat dua orang pria kekar itu segera mengerubuti seorang gadis yang cantik jelita dengan ketat.
Pek Soh-gie yang baru pertama kali bergebrak melawan orang melayani serangan-serangan musuhnya dengan serius dan penuh ketegangan, semua serangan yang dilancarkan hanya ditujukan untuk memunahkan ancaman serta melakukan pertahanan diri, rupanya ia memang tak mampu melakukan serangan balasan.
Tiba-tiba terdengar kakek baju hitam yang lain berkata.
"Ang Jit ko, tadi setelah bajingan cilik itu meringkus tiga orang toojin dari perkumpulan Thongthian-kauw, ketiga orang hidung kerbau itu pasti tak mau sudahi persoalan itu sampai disitu saja, urusan dinas kita penting sekali, lebih baik cepat-cepat kita ringkus orang itu dan melaporkan kepada Tang-kee kita!"
Benar, ayoh kita turun tangan!"
Jawab kakek baju hitam yang satu sambil mengangguk.
Tubuhnya segera menerjang ke depan, telapak tangannya menyambar dan membacok tubuh gadis itu.
Pek Soh-gie yang sedang bertempur dengan serunya melawan dua orang musuh, jadi amat terperanjat ketika munculnya segulung desiran angin tajam yang mengancam punggungnya.
Ia segera tekuk pinggang, bungkukkan badan lalu loncat maju ke depan, sepasang telapak disilangkan ke samping membendung datangnya ancaman itu.
Kakek baju hitam kedua selama ini hanya berdiri di sisi lapangan segera ikut menerjang pula ke depan setelah menyaksikan kelincahan dan kegesitan gerak tubuh musuhnya, telapak tangan bagaikan golok langsung membacok kemuka.
Dalam waktu singkat empat orang pria kekar bersamasama turun tangan mengerubuti seorang gadis cantik, hal ini membuat dara ayu itu jadi kerepotan dan musti loncat ke kanan berkelit ke kiri untuk meloloskan diri dari ancaman.
Diam-diam Pek Soh-gie jadi gelisah melihat keadaan itu, cepat teriaknya dengan suara lantang.
"Saudarasaudara Sekalian adalah orang gagah dari dunia persilatan, masa kalau ingin bertarung musti main kerubut? Hey.... kalian tahu akan peraturan Bulim atau tidak?"
Kakek baju hitam yang memberi komando itu segera tertawa dingin.
"Ayahmu sendiri juga suka berbuat demikian, apa salahnya kalau kami pun meniru cara ayahmu itu? Kalau nona ingin bicara tentang cengli, lebih baik bicarakan saja persoalan ini dengan ayahmu di kemudian hari!"
"Hmm! Sedari tadi aku sudah tahu kalau kalian adalah manusia-manusia yang menggemaskan dan tak tahu dirif"
Tiba-tiba terdengar seseorang membentak dengan penuh kegusaran.
Di tengah kegelapan meloncatlah keluar sesosok bayangan manusia, dia bukan lain adalah Hoa Thianhong, dengan serangan jari di tangan kanan serangan telapak di tangan kiri serentak dia lancarkan serangan secara berbareng.
Plooook....!
telapak kirinya dengan telak bersarang di atas bahu pria baju ringkas yang berada di hadapannya membuat tulang bahu pria itu terpukul hancur dan menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar sejauh beberapa tombak dari tempat semula.
Sebaliknya totokan tangan kanannya segera mengakibatkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema di angkasa, kakek baju hitam yang turun tangan belakangan tiba-tiba mundur sempoyongan ke belakang dengan tubuh gemetar keras, kemudian badannya roboh terjengkang ke atas tanah dan binasalah seketika itu juga.
Hoa Thian-hong jadi sangat terperanjat, tiga jurus ilmu totokan 'menyerang sampai mati' yang dipelajari dari kitab Ci yu jit ciat itu sebenarnya hendak diturunkan kepada Bong Pay tempo hari, sewaktu bergebrak melawan Yan-san It-koay ia pernah menggunakannya satu kali, tapi karena kepandaian silat yang dimiliki Yansan It-koay jauh lebih tinggi daripada dirinya, maka keampuhan dari tiga jurus totokan itu tidak terlihat.
Siapa tahu serangan yang dilancarkan saat ini tanpa maksud apa-apa telah mengakibatkan kematian dari musuhnya, hal ini membuat dia jadi melongo dan berdiri tertegun.
Semua kejadian berlangsung dalam sekejap mata, ketika jeritan ngeri itu berkumandang di angkasa kedua belah pihak sama-sama terperanjat dan pertempuranpun terhenti untuk sementara waktu.
Dalam hati Hoa Thian-hong segera berpikir.
"Jin Hian adalah seorang manusia yang licik dan berbahaya, dengan pembunuhan yang kulakukan sekarang berarti antara kita berdua sudah terikat oleh dendam, kenapa aku tidak bunuh sekalian keempat orang ini sehingga persoalan untuk sementara waktu bisa ditutup...."
Setelah ambil keputusan di dalam hati, nafsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya, dengan ganas ia terjang kakek baju hitam yang memberi komando itu.
"Hoa toako, jangan turun tangan keji!"
Teriak Pek Sohgie secara tiba-tiba.
"Eeei.... aneh benar nona ini,"
Batin pemuda itu dalam hati.
"aku bantu dirinya untuk mengusir musuh, dia malah mintakan ampun bagi musuh-musuhnya"
Tangan kanan bagaikan pagutan ular berbisa, laksana kilat segera menyeruduk ke depan.
Melihat datangnya ancaman totokan jari yang begitu aneh, kakek biju hitam itu jadi terkesiap karena dia tak tahu bagaimana caranya untuk memunahkan ancaman tersebut, dalam gugupnya pinggang segera dite-kuk dan ia jatuhkan diri berguling di atas tanah, dengan suatu gerakan yang manis kakek itu melepaskan diri dari ancaman dan menggulung sampat sejauh satu dua tombak dari tempat semula.
Tentu saja Hoa Thian-hong tidak mengijinkan lawannya kabur dengan begitu saja, kakinya segera melangkah ke depan dan dalam waktu singkat ia sudah berada di depan tubuhnya, dua jari ditekuk dan langsung menotok tubuh lawannya.
"Hoa toako...."
Tiba-tiba Pek Soh-gie berteriak.
Bentakan keras bergema di angkasa, pria baju ringkas yang masih segar tiba-tiba maju menyerang dari belakang.
Hoa Thian-hong sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap datangnya ancaman itu, telapak kiri diayun kemuka dan dengan jurus Kun-siu-ci-tauw, ia sambut datangnya serangan itu.
Tenaga pukulan yang dipancarkan dari telapak kirinya jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan kekuatan serangan ketiga jari tangan kanannya, serangan yang dilancarkan laksana kilat itu dengan telak bersarang di atas tengkuk pria baju ringkas itu.
"Aduuuh....!"
Jerit kesakitan berkumandang di angkasa, tubuh pria itu terpental ke udara dan segera roboh terjengkang di atas tanah, Karena harus dibaginya kekuatan serangan ini, datangnya serangan jari di tangan kanannya jadi lebih terlambat dari gerakan semula, menggunakan kesempatan itulah kakek baju hitam tersebut mendorong telapak nya ke depan lalu mengundurkan diri dari sana.
"Hmmm.... mau lari kemana?"
Jengek Hoa Thian-hong sambil tertawa dingin.
"kau tak bisa diampuni....!"
Bagaikan bayangan tubuhnya segera mengejar ke depan.
Tenaga dalam yang dimiliki si anak muda ini telah mendapat kemajuan yang amat pesat, serangan yang dilancarkan pada saat ini sukar ditandingi oleh manusia biasa.
Kakek baju hitam itu tahu bahwa dirinya bukan tandingan lawan, melihat pemuda itu mengejar terus sadarlah dia bahwa sulit bagi dirinya untuk melepaskan diri.
Dalam nekadnya ia segera membentak keras, telapak tangan didorong berbareng dan sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya ia hajar si anak muda itu.
Hoa Thian-hong mendengus dingin, telapak kiranya diayun menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Blaam di tengah bentrokan nyaring kakek baju hitam itu mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan, sepasang kakinya jadi lemas dan robohlah ia ke atas tanah.
Tenaga dalam yang dimiliki Hoa Thian-hong sekarang amat sempurna sekali, pukulan itu menggetarkan sekujur tubuh kakek baju hitam tadi sehingga isi perutnya bergeser semua dari tempat semula, pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia muntah segar, jelas luka dalam yang dideritanya teramat parah.
Hoa Thian-hong maju ke depan sambil ayun tangannya, tapi tangan itu diturunkan lagi, pikirnya.
"Seharusnya aku tak boleh melepaskan mereka berempat barang seorangpun, tetap membunuh orang yang sudah tak punya kekuatan untuk melawan adalah suatu perbuatan yang melanggar semangat jantan seorang pendekar sejati....
"Hmm! apa yang musti kulakukan?"
Tiba-tiba terdengar Pek Soh-gie berkata dengan nada lembut.
"Hoa toako, apakah beberapa orang ini hendak kau bunuh?"
"Siaute masih muda dan tak tahu urusan harap nona tak usah sungkan-sungkan kalau ingin bicara"
Pek Soh-gie mengerutkan dahinya lalu maju selangkah ke depan, ujarnya.
"Diantara keempat orang itu ada satu sudah mati terbunuh sedang sisanya terluka parah, Hoa toako! bagaimana kalau engkau bermurah hati serta mengampuni jiwa mereka untuk kali ini saja?"
"Mereka sudah kenal siapa aku, bila kulepaskan mereka pergi maka Jin Hian pasti tak akan menyudahi persoalan ini...."
Pek Soh-gie tundukkan kepalanya setelah mendengar ucapan itu, kepada kakek baju hitam itu segera tegurnya.
"Kau kenal dengan kongcu ini?"
Kakek baju hitam itu meronta bangun, sorot mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya, sambil menggigit bibir dia menjawab.
"Hmm! telapak kiri Hoa Thian-hong.... sampai matipun aku tetap ingat."
Pek Soh Oie jadi tertegun mendengar perkataan itu, meskipun ia berhati Welas dan tak suka membunuh orang, tetapi diapun merasa tak leluasa untuk memaksa Hoa Thian-hong melepaskan harimau pulang gunung, apalagi kalau sampat menanam permusuhan dengan orang.
Tiba-tiba terdengar Hoa Thian-hong berkata dengan suara hambar.
"Mengingat kau tidak takut mati dari masih terhitung sebagai seorang pria sejati, ini hari aku orang she Hoa mengampuni selembar jiwamu, setelah pulang katakan kepada Jin Hian bahwa dibalik peristiwa pembunuhan itu masih terdapat hal-hal yang lain. pembunuhnya adalah orang lain yang jauh diluar dugaannya, bila kami berjumpa lagi di kemudian hari akan kujelaskan sendiri persoalan itu kepadanya"
Sementara itu dua pria baju ringkas yang terkejar oleh Hoa Thian-hong tadi, yang satu menderita patah tulang kaki sedang yang lain menderita patah tulang tangan, berhubung pemimpin mereka belum mati maka merekapun tak berani kabur lebih dahulu, kini setelah mendengar ucapan tersebut, mereka baru maju ke depan membopong tubuh kakek tadi kemudian kabur dari situ.
Menanti ketiga orang itu sudah pergi jauh, Pek Soh-gie baru maju ke depan sambil berkata.
"Hoa toako, kenapa kau balik lagi setelah pergi?"
"Sejak tadi aku sudah melihat kalau keempat orang itu sedang berjaga-jaga di sekitar tempat ini, karena itu aku tidak pergi terlalu jauh"
Perlahan-lahan mereka lanjutkan perjalanan ke depan, sambil tundukan kepalanya Pek Soh-gie berkata.
"Terima kasih atas pertolongan dari toako...."
Hoa Thian menghela napas panjang.
"Aaaai....! Urusan sepele kenapa musti dipikirkan terus?"
Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan.
"Bertempur adalah suatu kejadian yang tak kenal akan belas kasihan, dalam menghadapi serangan musuh kita harus berusaha membuat posisi di atas angin, jangan hanya bertahan melulu tanpa melakukan serangan, sebab jika kau bertindak begitu maka menang tak mungkin bisa diraih, bila kau kehabisan tenaga maka saat itulah kematian akan membayangi dirimu.
"Aku hanya bisa bertahan, tak bisa melancarkan serangan balasan"
Sahut Pek Soh-gie dengan kepala tertunduk.
"Ilmu silat macam apapun bisa digunakan untuk bertahan maupun menyerang, asal kau punya niat untuk memukul orang maka serangan bisa kau lancarkan dengan segera"
"Tapi aku tak ingin pukul orang"
"Aaai....! Kau tak ingin pukul orang, sebaliknya orang lain ingin memukul dirimu, selama manusia masih hidup di kolong langit maka dia harus berusaha untuk mempertahankan diri, manusia itu berhati dengki dan penuh kebusukan, bila kau mudah dianiaya maka yang rugi akhirnya adalah engkau, sendiri, apakah kau ingin mati dengan penasaran?"
"Aku bisa mempertahankan diri dengan sepenuh tenaga!"
Bisik gadis itu.
"Nona ini punya watak suka damai.... lumrahnya tabiat itu sukar dirubah...."
Pikir pemuda itu. Dalam pada itu Pek Soh-gie sudah menengadah ke atas dan memandang wajah si anak muda itu dengan sepasang biji matanya yang bening, kemudian ujarnya.
"Hoa toako, ada permusuhan apa antara engkau dengan Thong-thian Kaucu....?"
"Thian Ik-cu sitosu tua itu adalah salah satu diantara pembunuh ayahku....!"
Pek Soh-gie membungkam sejenak, selelah berpikir ia berkata kembali.
"Daerah kekuasaan perkumpulan Thong-thian-kauw amat luas dan pengikutnya banyak sekali, dengan kekuatan Hoa toako seorang, mana kau mampu menandingi dirinya? Aku lihat lebih baik engkau cari ayahku saja serta merundingkan suatu siasat yang bagus untuk menyelesaikan persoalan ini...."
Hoa Thian-hong tertawa nyaring dan segera gelengkan kepalanya.
"Persoalan yang terjadi dalam dunia persilatan seringkali didasarkan pada budi dan dendam, bagaimanakah keadaannya sukar ditebak secara jitu, sekalipun memandang di atas wajah nona mungkin ayahmu suka menolong aku, tapi aku rasa ayahmu tak akan sudi bentrok secara langsung dengan orang-orang dari perkumpulan Thong-thian-kauw"
Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie setelah mendengar perkataan itu, bisiknya kemudian.
"Adikku sangat mengagumi diri pribadi Hoa toako, dia pasti akan membantu diri toako untuk mewujudkan cita-cita tersebut, aku rasa ayah yang amat mencintai adikku pasti akan mengabulkan permintaannya.... tentang soal ini aku rasa toako tak perlu pusing kepala"
"Huuh.... mana kau tahu tentang peristiwa yang baru saja lewat, berhubung pinangan ayahmu yang kutolak, mungkin karena cinta bisa berubah jadi dendam,"
Pikir Hoa Thian-hong.
"hal ini semakin tak mungkin terjadi lagi...."
Tiba-tiba terdengarlah suara irama musik dan tetabuhan berkumandang datang dari kejauhan, dari ujung jalan raya sebelah tenggara muncullah beberapa titik cahaya lampu.
Pek Seh Gie angkat kepala memandang sekejap ke arah pemuda itu, lalu katanya.
"Toako, kalau kau ada urusan lebih baik berangkatlah lebih dahulu.... jangan karena aku urusanmu jadi berabe...."
"Hehmm.... aku akan menghantar nona beberapa jauh lagi.
"Bagaimana kalau kita bersama menemui ayah? Aku akan suruh dia orang tua untuk mengutus seseorang pulang ke markas besar serta ambilkan pedang baja milik toako?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Pedang baja itu terjatuh ke tangan seorang manusia aneh yang bernama Ciu It-bong, orang itu ada permusuhan dengan ayahmu, aku rasa tidak gampang untuk merampas kembali pedang bajaku itu...."
Mendadak dia angkat kepala dengan wajah tertegun, kiranya dari arah depan muncullah delapan orang tosu cilik berusia dua belas tahunan yang memakai jubah warna putih, di tangan mereka masing-masing memegang sebuah lampu lentera, dibelakangnya mengikuti pula delapan orang tosu cilik berjubah kuning, di tangan mereka memegang alat musik dan sambil memainkan alat tetabuhan itu selangkah demi selangkah mereka berjalan mendekat.
Di belakang keenam belas orang tosu cilik tadi mengikuti pula delapan orang tosu berjubah merah yang pada bahunya tergantung sebilah pedang pendek, usia mereka rata-rata diantara empat lima belas tahunan, dan pada barisan paling belakang mengikuti pada sebuah tandu kecil yang digotong oleh empat orang tosu cilik berjubah kuning.
Di atas tandu duduklah seorang tosu tua yang rambutnya berwarna keperak-perakan, dua orang tosu baju merah yang berusia tanggung mengikuti di kedua belah samping tandu tersebut, di tangan mereka yang seorang memegang sebilah senjata Ji gi berwarna hijau kumala sedang yang lain membawa sebilah pedang mustika.
Beberapa saat kemudian kedua bilah pihak sudah semakin mendekat, terlihatlah tosu tua yang duduk di atas tandu kecil itu punya muka yang merah segar bagaikan bayi, sepasang alisnya yang putih bergoyang dan matanya memandang ke depan dengan sorot cahaya tajam Sekejap mata kedelapan buah lampu lentera itu telah menyebarkan diri ke kedua belah samping, permainan musikpun tiba-tiba berhenti.
Pek Soh-gie segera menggeserkan badannya mendekati Hoa Thian-hong, bisiknya lirih.
"Toako, rupanya ada urusan lagi?"
"Benar!"
Jawab Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"rupanya mereka sengaja datang untuk mencari garagara dengan kita...."
Sementara itu tanda telah berhenti, tosu tua itu menekuk pinggangnya dan bangkit berdiri, tosu cilik yang membawa senjata Ji gi serta Poo kiam tadi segera berdiri di kedua belah sisinya.
Tosu tua itu membuka matanya, sambil memandang ke arah Hoa Thian-hong dengan sorot mata tajam ia menegur.
"Ooh, jadi kau adalah Hoa Thian-hong putra dari Hoa Goan-siu? Kenapa wajahmu kotor kakimu telanjang dan pakaianmu tidak genah?"
Hoa Thian-hong tersenyum.
"Dan kau sendiri? Apakah Thian Ik tosu tua dari perkumpulan Thong-thian-kauw? Kenapa lagakmu seperti pembesar korup begitu?"
"Kurangajar!"
Bentak tosu cilik yang membawa senjata Ji gi di belakang tosu tua itu.
"Berhadapan dengan Kaucu, kau berani kurangajar.... ayoh berlutut!"
"Oooh.... rupanya benar-benar tosu Siluman ini,"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"aku harus tetap bersikap tenang dan jangan menyebut dulu soal dendam ayahku...."
Berpikir sampai disitu dia pun tertawa, katanya.
"Pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang serta Cong Tangkee dari perkumpulan Hong-im-hwie sudah kutemui beberapa kali, mereka semua tak seorangpun yang bersikap lucu dan membadut seperti ketua dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini"
"Haaah.... haaaah.... haaaah...."
Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu segera tertawa terbahak-bahak, tukasnya.
"perkumpulan kami adalah perhimpunan suatu agama, jauh berbeda kalau dibandingkan dengan Sin-kie-pang ataupun Hong-imhwie, kami sengaja berbuat demikian demi laki perempuan penganut agama kami, tiupan terompet dan pukulan genderang adalah demi mengundang perhatian dari para penganut agama kami.... tentu saja keadaannya berbeda jauh sekali"
"Oooh, kiranya begitu,"
Ujar Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"Kaucu tidak bersemayan dalan kuil It-goan
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com koan untuk menyucikan diri, mau apa engkau berkunjung kesini?"
Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu mengelus jenggotnya dan menjawab.
"Tempat bersemayanku tidak jauh letaknya dari tempat ini, kuil It-goan-koan hanya kugunakan sebagai tempat penyebaran agama kami, tempat itu bukan tempat kediamanku....
"Kaucu,"
Tukas Hoa Thian-hong sebelum iman tua itu menyelesaikan kata-katanya.
"pasukan musuh telah masuk ke wilayah kekuasaanmu, engkau bukannya pusing kepala menyusun siasat dan rencana untuk menghadapi serangan total itu, enaknya saja hidup senang di dalam rumah, apakah kan hendak menunggu sampai pasukan musuh telah tiba diambang pintu, kau baru buka pintu benteng untuk menyerah?"
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah.... haaah. .haaaah.... bulan tujuh tanggal lima belas nanti, pinto akan membuka suatu pertemuan besar Kian ciau tay bwee di See thian, pada waktu itu aku mengharapkan pelbagai orang gagah dari segala lapisan masyarakat bisa ikut menghadiri pertemuan tersebut. Undangan buat saudara kecil telah kami sampaikan dan sekarang disimpan oleh Ciong Lian-khek....!"
Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa tergelak lanjutnya.
"Saat ini pelbagai orang gagah di kolong langit sedang siapkan kuda melatih tentara agar bisa memperlihatkan kelihaiannya dalam pertemuan besar itu, saudara cilik, kenapa kau masih berlarian di tempat luaran? Kalau sampai jiwamu melayang, pertemuan besar Kian ciau tay hwee pasti akan keku-rangan kau seorang.... waaah! Kalau sampai begitu suasana tentu kurang meriah"
"Bulan tujuh tanggal lima belas?"
Tanya Hoa Thianhong dengan alis berkerut."
Bukankah berarti tinggal delapan hari lagi?"
Sambil tertawa Thong-thian Kaucu mengangguk.
"Betul, selama beberapa hari ini sebagai besar para orang gagah dari kolong langit telah berdatangan semua kemari"
"Senja tadi, aku telah menyalahi tiga orang muridmu,"
Ujar sang pemuda sambil tersenyum.
"Aaai.... itu bukan soal besar"
Tukas sang kaucu sambil tertawa.
"Mereka berani mencari gara-gara dengan dirimu, itu berarti bahwa mereka tak tahu diri. Manusia yang tak tahu dari memang sudah sepantasnya kalau diberi hukuman"
Setelah tertawa tergelak, lanjutnya.
"Kalau dibandingkan terhadap beberapa orang dari Hong-imhwie, saudara cilik sudah bersiap lebih murah hati terhadap mereka, disini pinto ucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"
Selesai berkata ia segera memberi hormat.
Hoa Thian-hong balas memberi hormat, mereka berdua bicara dan bergurau dengan bebasnya seakanakan dua sahabat lama yang saling bertemu lagi setelah lama berpisah.
Thong-thian Kaucu alihkan sorot matanya ke samping, sambil memandang wajah Pek Soh-gie dengan muka berseri-seri serunya.
"Siapa nona ini? wajahnya cantik jelita bagaikan bidadari sedang pakaiannya sederhana sekali, sampai pinto sendiripun tak bisa menebak asal usulnya"
Menyaksikan tingkah laku iman tua itu sedikit kurang beres, Pek Soh-gie tak sudi menjawab.
Ia segera melengos dan memandang ke arah Hoa Thian-hong yang berada di sisinya.
Hoa Thian-hong dapat menangkap maksud hati gadis itu, dengan wajah dingin jawabnya.
"Dia adalah putri kesayangan dari Pek loo pangcu dari perkumpulan Sinkie-pang, lebih baik pangcu tak usah banyak bertanya"
Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw ini benarbenar bermuka tebal, bukan gusar malah dia tertawa.
"Sudah lama aku dengar katanya Pek Siau-thian mempunyai sepasang putri kembar yang memiliki raut wajah cantik jelita, raut wajah nona ini mirip sekali dengan wajah Pek Kun-gie yang seringkali berkelana di dalam dunia persilatan, apakah dia adalah siputri sulung nona Soh-gie?"
"Hmmm.... sungguh banyak utusan yang diketahui kaucu, tidak salah nona ini memang nona Pek Soh-gie"
"Kalau memang begitu sungguh aneh sekali,"
Kata Thong-thian Kaucu dengan alis berkerut.
"sudah lama aku dengar berita yang tersiar dalam Bulim mengatakan bahwa antara saudara cilik dengan Pek Kun-gie dari bermusuhan akhirnya berubah jadi sahabat dan kemudian jadi sahabat kental, kenapa sekarang malah melakukan perjalanan bersama dengan si sulung?"
Hawa amarah kontan membakar dalam dada Hoa Thian-hong sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya di dalam hati.
"Thian Ik si hidung kerbau ini adalah salah seseorang diantara pembunuh ayahku, cepat atau lambat aku akan mencabut pula selembar wajahnya, kenapa aku musti memburu napas pada saat ini....?"
Ia tahu gelagat serta enteng beratnyan urusan, setelah berpikir begitu hawa amarah pun segera ditekan kembali, ujarnya dengan suara ketus.
"Urusan pribadi dari aku orang she Hoa lebih baik tak usah dicampuri oleh Kaucu, saat pertemuan pada bulan tujuh tanggal lima belas sebentar lagi sudah tiba, bila perkataan dari kaucu belum selesai maka silahkan dilanjutkan pada pertemuan Kiam ciau tay hwee nanti!"
Kepada Pek Soh-gie serunya.
"Nona mari kita pergi"
Gadis itu mengangguk, mereka berdua segera putar badan dan berlalu dari situ.
Tiba-tiba Thong-thian-kauw mengerdipkan matanya ke kiri dan kanan, seketika itu juga terdengarlah desiran angin tajam menderu-deru, delapan orang tosu cilik berbaju merah segera menyebarkan diri di tengah jalan dan menghadang jalan pergi kedua orang itu dengan pedang pendek terhunus ditangan.
Di bawah sorot cahaya bintang tampaklah sinar tajam yang mengilaukan mata memancar keudara, rupanya pedang pendek yang berada di dalam genggaman kedelapan orang tosu cilik jubah merah itu merupakan senjata mustika yang tajam sekali.
0000O0000 TERDENGARLAH Thong-thian Kaucu angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak, suaranya keras hingga menggetarkan seluruh jagad, ia berkata.
"Hoa Thianhong, kau jangan gegabah dan bertindak seenaknya sendiri, ketahuilah bahwa ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu digunakan untuk menerobos pertahanan ilmu barisan Kan lee kiam tin dari pun kaucu ini!"
"Ilmu barisan Kan lee kiam-tin?"
Tanya sang pemuda dengan alis berkerut.
"belum pernah kudengar nama barisan itu!"
"Kalau engkau tak puas, silahkan untuk mencobanya sendiri!"
Hoa Thian-hong mendengus dingin, sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, rupanya dalam waktu yang amat singkat itulah kedelapan orang tosu cilik berjubah merah itu telah menyebarkan diri ke sekeliling kalangan, setiap orang menyilangkan pedangnya di depan dada dan berdiri tegak bagaikan batu karang, dilihat dari wajah mereka yang begitu serius tampaklah bahwa barisan itu benar-benar luar biasa sekali.
Setelah seringkali mengalami bencana, pengalaman yang dimiliki Hoa Thian-hong luas sekali.
Setelah mengamati sebentar situasi yang terbentang di depan mata saat ini, sadarlah pemudaitu bahwa musuh tangguh sedang dirinya lemah, kalau pertarungan dilangsungkan maka dialah yang bakal kalah atau bahkan terancam jiwanya.
Oleh sebab itu sambil menahan hawa amarah yang berkobar dalam dadanya, ia berkata kepada Pek Soh-gie.
"Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan dengan kaucu ini, silahkan nona berangkat lebih dahulu"
Melangak hati Pek Soh-gie mendengar perkataan itu, setelah termenung sebentar katanya lirih.
"Aku tidak terburu-buru ingin pergi, lebih baik kutunggu saja dirimu di tempat ini!"
Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya, ia berpikir.
"Aaaai....! Nona ini benar-benar terlalu jujur, musuh berada di depan mata ia masih tak sadar, bukannya berusaha untuk mencari akal guna meloloskan diri, ia malah bersikeras untuk tinggal disini.... aaai, apa dayaku sekarang?"
Sementara itu Thong-thian Kaucu dengan sorot mata yang tajam sedang mengawasi kedua orang itu, dia merasa yang pria tinggi kekar dan berwajah tampan sedang perempuan lemah lembut berwajah cantik, bila mereka berdua berdiri berdampingan nampaklah begitu serasi dan mempersonakan hati orang.
Lama kelamaan hatinya jadi panas, dari rasa kagum ia jadi dengki dan iri, sambil mendengus berat segera ujarnya.
"Hoa Thian-hong, ayah dan ibumu adalah jagojago lihay dari kalangan lurus, sebaliknya kau rela menggabungkan diri ke dalam tubuh perkumpulan Sinkie-pang, apakah tindakanmu ini tidak takut memalukan nama keluarga serta menurunkan derajat nenek moyangmu?"
"Hmm! Selamanya aku orang she Hoa berkelana kesana kemari seorang diri, perbuatan suci bersih dan yakin tak pernah ternoda!, sampai sekarang aku sama sekali tidak bergabung dengan pihak Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie...."
Tidak menanti sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, kaucu dari perkumpula Thong-thian-kauw itu sudah menukas, Pengaruh perkumpulan Sin-kie-pang meliputi tujuh propinsi, jago lihay yang tergabung dalam perkumpulan itu banyak sekal sukar dihitung dengan jari, bilamana engkau memang bukan anak buah dari perkumpula Sin-kie-pang, lebih baik janganlah mencampuri urusan kami, tinggalkan Pek Soh Gi di tempat ini dan berlalulah seorang diri "Eeei....
ada apa?
jadi engkau hendak menahan nona Pek Soh-gie di tempat ini?"
Seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.
Dia adalah enghiong sejati, dalam pemikirannya Pek Soh-gie yang mulia dan halus berbudi tak pernah bermusuhan dengan orang, tak pernah bermusuhan dengan umat Bulim, siapapun tak punya alasan untuk bermusuhan dengan dirinya, tindakan Thong-thian Kaucu yang hendak menahan dirinya benar-benar merupakan satu kejadian yang sama sekali berada diluar dugaannya.
Terdengar kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu tertawa dingin, lalu berkata.
"Kau tak mau banyak bicara lagi, sekarang pun kaucu akan membuka sebuah jalan hidup bagimu, asal engkau suka berpeluk tangan dalam soal ini maka kau akan kubiarkan berlalu dari sini dalam keadaan sela-mat, sebaliknya kalau engkau membangkang maka kemungkinan besar dalam pertemuan Kiam ciau Tay hwee pada bulan tujuh tanggal lima belas nanti akan kekurangan engkau seorang"
Hoa Thian benar-benar jadi naik pitam, bentaknya.
"Sungguh memalukan sekali, tak kusangka engkau sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar ternyata bermoral sebejad itu, aku orang she Hoa...."
Tiba-tiba ia marasa bahwa sikap Thong-thian Kaucu sama sekali berdiam.
ketika datang tadi ia bersikap bebas dan wajah penuh senyuman, sebaliknya sekarang nampak begitu licik dan memuakkan sekali.
Tiba-tiba Pek Soh-gie berkata.
"Kaucu! aku masih ada urusan dibadan sehingga tak dapat berdiam terlalu lama di sini, bila kaucu ada urusan harap segera diutarakan sekarang juga!"
"Eeei.... bukankah barusan kau mengatakan sendiri bahwa kau tak ada urusan dan tidak ingin cepat-cepat berlalu dari sini?"
Seru sang kaucu dengan mata berkilat.
Merah padam selembar wajah Pek Soh-gie karena jengah, bibirnya bergerak seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya maksud itu dibatalkan, dengan wajah berubah ia bungkam dalam seribu bahasa.
Thong-thian Kaucu tertawa dingin, sorot matanya dengan pandangan tengik menyapu terus raut wajahnya yang cantik itu, ujarnya kembali.
"Dewasa ini para jago sedang saling bermusuhan satu sama lainnya, masingmasing pihak berusaha agar rencana besarnya bisa dicapai dengan sukses, Jin Hian serta ayahmu juga sedang bentrok dan kini malah bermusuhan satu sama lainnya, jika mereka tahu akan jejakmu dan engkau lanjutkan kembali perjalanannya ke depan, maka orangorang dari pihak Hong-im-hwie pasti akan berusaha menangkap dirimu"
"Terima kasih atas petunjuk dari kaucu, asal aku bersiap lebih hati-hati, rasanya itu sudah lebih dari cukup"
"Pihak Hong-im-hwie sangat berhasrat menangkap dirimu, sekalipun engkau bersikap hati-hati juga tak ada gunanya, apakah kau mampu menahan serangan mereka?"
Jilid 23.
Bertemu Kakek Telaga Dingin lagi KINI aku sedang menjalankan titah dari ibuku untuk segera berangkat ke kota Ceng kang guna menjumpai ayahku, sekalipun harus menempuh mara bahaya, tugas ini tak bisa kutunda dengan begitu saja"
"Haaah.... haaaah.... haaaah...."
Thong-thian Kaucu segera tertawa terbahak bahak"
Meskipun kau memiliki keberanian untuk melanjutkan perjalanan dengan menempuh bahaya, tetapi pun-kaucu merasa tidak lega membiarkan engkau lanjutkan perjalanan seorang diri"
Dari pembicaraan yang selama ini berlangsung, Hoa Thian-hong dapat menarik kesimpulan bahwa Thongthian Kaucu mempunyai maksud jelek terhadap dara ayu itu, dengan gusar ia mendengus lalu serunya.
"Hmmm! Musuh tangguh sedang berada diambang pintu, kau sebagai kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw bukanya memikirkan perkumpulannya yang berada dipintu gerbang kehancuran, sebaliknya malah mencampuri urusan orang lain.... apakah engkau tak takut kalau perbuatanmu itu akan ditertawakan orang?"
Dengan wajah berubah dan mata melotot besar Thong-thian Kaucu berpaling, kemudian serunya ketus.
"Kau sibocah cilik, tahu apa? Saat ini situasi amat kritis dan masing-masing pihak sekarang berusaha merebut posisi yang lebih menguntungkan dengan menggunakan kecerdikan-nya masing-masing, andaikata Jin Hian berhasil menawan putri sulung dari Pek Siau-thian ini, dengan adanya sandera di tangan maka apa yang dia minta pasti akan dikabulkan oleh orang she Pek itu.... coba bayangkan apakah urusan ini tidak menyangkut soal keamanan dari pihak Thong-thian-kauw? Apakah pun kaucu tidak pantas untuk mengurusinya?"
"Benar juga perkataan itu,"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"Seandainya pihak Hong-im-hwie berhasil menguasai Sin-kie-pang, maka dengan kekuatan gabungan dua perkumpulan yang maha besar, pihak Thong-thian-kauw pasti akan mengalami kehancuran total."
Sementara itu Pek Soh-gie telah berkata.
"Kecerdasan kaucu benar-benar mengagumkan hati siau li, tolong tanya apakah maksud kaucu dan apa pula yang musti siau li lakukan sekarang...."
"Turutilah anjuran dari kaucu dan jadilah tamu dari perkumpulan Thong-thian-kauw untuk sementara waktu, dengan cepat aku akan mengirim orang untuk memberi kabar kepada ayahmu agar dia datang menjemput sendiri dirimu...."
Setelah mendengar perkataan itu, adalah Hoa Thianhong tentang apa yang sedang terjadi, bukannya gusar dia malah tertawa, katanya.
"Haaah.... haaah.... suatu rencana yang amat bagus, suatu siasat yang benar-benar licik, rupanya bicara pulang pergi selama ini tujuannya tidak lain adalah engkau sedang menjalankan rencana besarmu.... agaknya kau hendak menganggap nona ini sebagai saudara agar pangcu dari Sin-kie-pang menuruti kemauanmu...."
"Hmmm! bukan begitu, saja,"
Tukas kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw dengan alis berkerut.
"engkaupun akan sekalian kuringkus, agar orang tuamu serta komplotanmu bisa kupergunakan pula tenaganya"
"Seandainya Sin-kie-pangcu serta sahabat dan kerabat keluarga Hoa kami tak mau menuruti kemauanmu, apa yang hendak kaulakukan?"
"Hmmm! gampang sekali, kalau memang demikian keadaannya maka jiwa kalian berdua tak bisa diselamatkan lagi!"
Hoa Thian-hong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaaah.... haaaaah.... cara kerjamu benarbenar terkutuk dan memalukan sekali, aku rasa Jin Hian pribadi belum tentu mempunyai jalan pikiran serendah itu, ditinjau dari hal ini bisa ditarik kesimpulan bahwa kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw ada lah manusia yang paling tak tahu malu diantara tiga kekuatan besar"
"Hmmm! Siapa yang berhasil dia jadi raja, siapa yang gagal dia jadi buronan, siapa tinggi siapa rendah tak bisa ditetapkan dengan perkataan semacam itu!"
"Haah.... haah.... haaah.... pendapat yang tinggi, pendapat yang tinggi.... meskipun aku orang she Hoa tidak becus, namun aku tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja, silahkan kaucu turun tangan, aku ingin sekali minta beberapa petunjuk darimu!"
"Hmm! aku sebagai ketua dari suatu kekuatan besar tak sudi turun tangan melayani kurcaci macam engkau!"
Sambil berkata dia segera angkat senjata hudtimnya dan dikebutkan ke arah kawanan tosu cilik berjubah merah itu. Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya.
"Kau anggap sebuah barisan pedang yang begini kecil benar-benar mampu mengurung kami...."
Teriaknya.
Bentakan keras berkumandang di angkasa, cahaya tajam berkelebat menyilaukan mata, tiba-tiba selapis hawa pedang yang amat tajam mengurung datang dengan hebatnya.
Hoa Thian-hong melototkan matanya, ia lihat kabut pedang yang menyelimuti tempat itu rapat sekali seolaholah dari enpat penjuru memancar masuk sinar perak yang amat tajam, begitu cepat datangnya serangan itu hingga tahu-tahu sudah tiba di depan mata.
Dalam keadaan dan apa boleh buat, terpaksa dia enjotkan badan dan berkeling ke samping.
Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, tiba-tiba terasa beberapa desiran angin tajam kembali membokong tubuhnya dan mengancam jalan darah penting di belakang pinggang.
Buru-buru ia tekuk pinggang ke depan, menyalurkan hawa pukulan dan putar badan mengirim satu serangan dengan jurus Kun Siu Ci sau untuk membendung datangnya ancaman angin dingin dari belakang itu.
Sementara itu Pek Soh-gie yang masih tetap berdiri di sisi lapangan, tiba-tiba diserang oleh seorang tosu cilik baju merah dengan sebuah totokan kilat, ia jadi kaget dan buru-buru loncat ke belakang untuk menghindar, dalam waktu singkat kedua orang itu segera terjerumus di dalam kepungan delapan orang tosu cilik dengan barisan pedangnya yang lihay itu.
Hoa Thian-hong yang harus menerima kekalahan dalam satu jurus belaka, diam-diam merasa amat terkejut, ia segera pertingkat kewaspadaannya untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Dengan telapak kiri mainkan jurus Kun siu ci sau untuk melak ukan pertahanan, tangan kanannya diam-diam disaluri dan siap melancarkan serangan dengan jurus 'menyerang sampai mati' yang diketahui amat ampuh dan mengerikan itu.
Sebagai pemuda yang, berpengalaman dan tenaga dalamnya cukup sempurna, setelah bertempur beberapa jurus dia mulai bisa menangkap gerak-gerik kedelapan orang tosu cilik baju merah itu, ia tahu bahwa mereka memiliki serangkaian ilmu pedang yang amat sakti dengan kematangan yang luar biasa, bila harus bertempur satu lawan satu mungkin mereka masih bukan tandingannya, tetapi setelah bergabung di dalam barisan pedang Kan Lee kiam tin ini maka kehebatan-nya sungguh luar biasa.
Di tengah pertempuran, bayangan tubuh kedelapan orang tosu cilik baju merah itu mendadak lenyap tak berbekas, yang terrlihat hanyalah cahaya pedang yang berkelebat silih berganti, kian lama pertempuran itu berlangsung barisan pedang itupun bergerak semakin cepat, dengan sendirinya daya tekanan pun semakin hebat sehingga jauh diluar dugaan Hoa Thian-hong....
Hoa Thian-hong serta Pek Soh-gie yang terjebak dalam barisan itu lama kelamaan jadi gugup dan gelagapan, mereka merasa keteter hebat dan tak mampu bergerak lebih banyak.
Untung tujuan lawan ingin menangkap mereka dalam keadaan hidup, sehingga setiap saat terancam bahaya mereka selalu berhasil meloloskan diri dalam keadaan selamat kendati begitu keadaan mereka cukup mengcemaskan.
Tiba-tiba terdengar Thong-thian Kaucu berteriak dengan suara keras.
"Pek Soh-gie, pedang dan golok tak bermata kalau kau mau menyerah dan mengaku kalah maka jiwamu bisa selamat, tetapi kalau tetap membandel, jangan salahkan kalau sampai jiwamu terancam"
Pek Soh-gie tetap berlagak pilon dan seolah-olah tidak mendengar sesuatu di tengah pertarungan ia tetap bekerja keras menangkis serta membendung datangnya ancaman ancaman pedang yang muncul dari empat penjuru....
Pada dasarnya kepandaian silat yang dia kuasahi hanya ilmu mempertahankan diri, justru karena itulah kepandaian tersebut se gera menunjukkan manfaatnya dalam kerubutan barisan pedang itu.
Lain keadaannya dengan Hoa Thian-hong, ilmu pukulan tangan kirinya hanya khusus digunakan untuk menyerang belaka, di bawah perubahan barisan Kan Lee Kiam tin yang serba rumit dan membingungkan ia jadi kewalahan sendiri, sebaliknya ilmu totokan Ci yu jit ciat di tangan kanannya tak mampu mengimbangi permainan telapak kirinya yang begitu cepat dan gencar itu....
Dalam waktu singkat pertempuran sudah berlangsung ratusan jurus banyaknya, tampak cahaya tajam memancar keempat penjuru, hawa pedang membumbung ke angkasa, cahaya tajam yang menyilaukan mata memancar keluar dari barisan Kan Lee kiam tin itu dan menelan tubuh Hoa Thian-hong berdua....
Kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw yang menonton jalan-nya pertempuran itu dari sisi lapangan diam-diam merasa senang hati setelah menyaksikan kemenangan berada di pihaknya, setelah menyaksikan pula kecantikan wajah Pek Soh-gie yang begitu menawan hati, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
"Gadis itu begitu cantik dan menawan hati, dalam seratus tahun sulit untuk menemui perempuan semacam ini, sedang Hoa Thian-hong adalah pemuda berbakat yang bisa di pakai tenaganya, aku tak boleh bertindak gegabah sehingga melukai kedua orang itu...."
Berpikir sampai disitu ia segera enjotkan bidan dan menerjang masuk ke dalam barisan, jari tangannya bekerja cepat melancarkan sebuah totokan ke arah tubuh Pek Soh-gie.
Sementara itu putri sulung dari Pek Siau-thian ini sudah tak kuasa menahan diri, ketika Thong-thian Kaucu melancarkan serangannya ia tak mampu melakukan perlawanan lagi.
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu jalan darah Gi sim nya jadi kaku dan sambil menjerit tertahan robohlah tubuhnya terkulai ke atas tanah.
Thong-thian-kauw bekerja cepat, ia segera menyambar pinggangnya dan mengepit di bawah ketiak, senjata hud-timnya berkelebat kemuka langsung menyapu tubuh Hoa Thian-hong.
Pemuda itu sangat gusar, tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping menghindarkan diri dari kebutan tersebut, telapaknya lang sung membabat ke depan.
Serangan yang dilancarkan dalam keadaan marah ini sungguh luar biasa sekali, sulit bagi Thong-thian Kaucu untuk melayani dengan begitu saja, suara bentakan segera berkumandang diangkat, cahaya pedang yang menyilaukan mata meluncur datang dari depan belakang kiri maupun kanan, begitu gencar serangan itu memaksa Hoa Thian-hong harus menarik kembali serangannya sambil loncat ke samping.
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, dia putar senjata hud-timnya, kemudian laksana kilat berkelebat kemuka.
Sebelum Hoa Thian-hong sempat melakukan suatu tindakan, dua buah jalan darahnya tahu-tahu sudah ditotok oleh kebutan tersebut, kakinya jadi lemas dan tak tahan lagi ia roboh terjengkang ke atas tanah.
Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, angin malam masih berhembus sepoi-sepoi.
cahaya bintang bertaburan di angkasa, fajar sama sekali belum menyingsing.
Air muka Thong-thian Kaucu berseri-seri, ia memandang sekejap ke arah Pek Soh-gie yang berada dalam kepitannya, dari balik mata memancarkan sorot cahaya yang mengandung birahi.
Setelah jalan darah kakunya tertotok, Pek Soh-gie kehilangan semua tenaganya dan tak bisa berkutik, ketika ia sadar dan menyaksi kan dirinya berada dalam pelukan orang, wajahnya berubah jadi merah karena jengah, rasa malu dan marah bercampur aduk membuat gadis itu hampir saja menangis.
Dalam keadaan begini ia tak bisa berbuat lain kecuali pejamkan mata rapat-rapat dengan wajah hijau kepucatpucatan, diam-diam ia merasa menyesal sekali....
Hoa Thian-hong sendiri berbaring di atas tanah dengan mata melotot bulat, ia memandang ke arah Thong-thian Kaucu dengan sorot mata dingin penuh kegusaran, ingin sekali dia loncat bangun dan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tapi sayang, jalan darahnya tertotok dan ia tak mampu melakukan apa yang diinginkannya itu.
Dalam keadaan begini pemuda tersebut hanya bisa mengatur napas sambil berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan.
"Hoa Thian-hong!"
Terdengar kaucu dari perkumpulan Thong-thian-kauw itu berseru.
"menurut laporan anak buahku, katanya kau malang melintang di dalam dunia persilatan tanpa tandingan, menurut penglihatanku berita yang tersiar dalam dunia persilatan tak bisa dipercaya sama sekali"
"Tak usah banyak bacot"
Tukas Hoa Thian-hong dengan mata melotot.
"mau cincang mau bunuh, cepat lakukan!"
"Haah.... haaah.... haah...."
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak sambil mengelus jenggotnya.
"hanya beberapa orang bocah cilik saja tak mampu menangkan, buat apa engkau melakukan penjalanan di dunia persilatan serta mencari nama di kolong langit?"
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, dengan gusar ia berseru.
"Seorang lelaki boleh dibunuh tak sudi di hina, engkau sebagai ketua dari suatu perkumpulan besar apakah tidak malu merosotkan derajat sendiri dengan sikap seperti itu?"
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, ia duduk kembali di atas tandunya dan meletakkan tubuh Pek Sohgie disampingnya, kemudian kepada tosu cilik yang membawa senjata Ji gi titahnya.
"Totok jalan darah Sam yang nya!"
Toosu cilik itu mengiakan dengan hormat lalu berjalan menghampiri si anak muda itu, dia ambil keluar tiga batang jarum perak yang panjangnya dua cun kemudian di tancapkan di atas jalan darah Gi cung, Gi ji serta Jit kan tiga buah jalan darah penting.
Setelah jarum itu ditusuk ke dalam tubuhnya, dengan gerakan yang cekatan sekali dia tepuk bebas jalan darah sang pemuda yang tertotok.
Setelah tiga urat pentingnya terkunci maka hawa murni tak dapat disalurkan lagi, dalam keadaan begini sekalipun seorang jago lihay yang memiliki tenaga dalam amat sempurnapun akan berubah menjadi seorang manusia lemah yang sama sekali tidak bertenaga.
Cara ini aneh sekali dan hanya Thong-thian Kaucu seorang yang memahami.
Hoa Thian-hong berusaha mencoba beberapa kali tapi setiap kali hawa murninya tak mampu dikerahkan keluar, akhirnya dia menghela napas panjang dan tanpa mengatakan sepatah katapun menantikan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.
Thong-thian Kaucu tertawa, dia ketuk gagang hudtimnya di atas tandu, empat tosu cilik baju kuning itu segera menggotong tandu tadi dan diiringi bunyi musik aneh, berangkatlah rombongan itu balik melalui jalan semula....
Hoa Thian-hong dengan digotong oleh dua orang tosu cilik baju merah berjalan di belakang tandu itu, sepanjang perjalanan otaknya berputar terus memikirkan semua ke jadian yang dialaminya selama sehari ini....
Pagi tadi ia masih menjadi tamu terhormat dari Giok Teng Hujin.
waktu itu keadaannya begitu agung dan penuh wibawa.
Kemudian tengah hari....
terbayang kembali kejadian ditepi laut, dimana Giok Teng Hujin munculkan diri di depannya dalam keadaan telanjang ia gelengkan kepala berulang kali, rasa malu dan menyesal muncul dalam hati kecilnya.
Terbayang akan diri Giok Teng Hujin, tanpa terasa dia angkat kepala dan menengok ke arah Pek Soh-gie yang berbaring di atas tandu, ia temukan ketika itu Thongthian Kaucu yang berada disisinya dengan mengamati tubuh gadis itu dengan sorot mata aneh, ia segera teringat akan soal pedang emas, pikirnya.
"Menurut petunjuk dari Giok Teng Hujin, katanya pedang itu semuanya terdiri dari dua batang yakni pedang jantan dan pedang betina, menurut dia pedang yang betina sekarang tersimpan di dalam pedang pusaka milik Thong-thian Kaucu...."
Berpikir sampai disini tanpa terasa sinar matanya segera dialihkan ke arah kanan di mana tosu cilik baju merah itu memegang sebilah senjata pedang pusaka, ditinjau dari warna sarung pedangnya yang coklat dan antik bisa dibayangkan bahwa pedang itu tentulah sebilah pedang mustika....
Tapi....
benarkah pedang emas berada di dalam pedang pusaka itu?
dan Thong-thian Kaucu sendiri tahukah tentang persoalan ini?
Kemudian ia teringat kembali akan nenek baju abuabu yang munculkan diri secara mendadak, ia teringat kembali ketika pipinya di tampar dengan keras....
Pikirnya di dalam hati.
"Aaaai....! Seharusnya dari dulu aku mesti tahu diri, berbicara tentang adat istiadat aku tidak terlalu terikat oleh adat yang tetek bengek tak karuan itu, sebaliknya tentang ilmu pedang aku hanya mengandalkan sejurus ilmu pukulan belaka, bukan saja ilmu pedang sudah kulupakan, tiga jurus ilmu totokan dari Ci yu jit ciat pun tak berhasil kuyakini...."
Makin kupikir ia semakin menyesal hingga tanpa terasa keringat mengucur keluar membasahi tubuhnya, kini ia sudah tertawan dan mati hidupnya sukar diramalkan, kemungkinan bagi dirinya untuk merubah semua kesalahan itu kian menipis.
Sementara ia sedang menyesal dan kecewa sambil berusaha mencari akal untuk meloloskan diri, tiba-tiba suara musik berhenti dan suasana berubah jadi sunyi senyap.
Ia segera menengadahkan ke atas, tampaklah sebuah kuil yang megah dengan atap hijau tembok merah muncul di depan mata.
Beberapa saat kemudian rombongan imam itu sudah berada diruang dalam, sambil bangkit dari tandunya Thong-thian Kaucu segera, memerintahkan.
"Bawa nona itu masuk istana Yang sim tian dan jebloskan Hoa Thianhong ke dalam penjara bawah tanah!"
Mendengar perintah itu Hoa Thian-hong serta Pek Soh-gie tanpa sadar saling bertukar pandangan, sorot mata mereka berdua sama-sama memancarkan kecemasan, bibir bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun tak sepatah katapun yang diutarakan keluar.
Tampaklah empat orang tosu cilik itu segera menggotong tandu itu dan membawa Pek Soh-gie berlalu dari sana, sebaliknya dua orang tosu yang lain segera menggusur tubuh Hoa Thian-hong menuju ke arah bela kang istana....
Di belakang bangunan kuil itu didirikan sebuah rumah yang terbuat dari batu, disanalah biasanya Thong-thian Kaucu memenjarakan buronannya, setelah tiba disana kedua orang tosu baju merah itu segera serahkan Hoa Thian-hong kepada petugas penjara, oleh sang petugas pemuda itu dijebloskan ke dalam sebuah ruang batu yang kecil dan bertirai besi.
Ruangan itu luasnya hanya delapan depa, ampat penjuru tiada jendela kecuali sebuah lubang hawa sebesar mangkuk di atas pintu baja, karena itu meskipun di tengah hari namun suasana dalam ruangan itu tetap gelap gulita dan terasa lembab sekali.
Terdengar bunyi suara gemerincingan yang menggema memecahkan kesunyian, pintu ruangan ditutup dari depan.
Hoa Thian-hong melihat ruangan itu kosong melompong, kecuali ia sendiri tak nampak ada benda lain lagi yang berada disitu.
Diam-diam segera pikirnya.
"Asal ketiga batang jarum perak yang menancap di atas dadaku bisa kucabut keluar, niscaya penjara batu yang kecil ini tak mampu mengurung diriku, cuma...."
Dia lepaskan pakaiannya dan meraba ketiga batang jarum perak itu, terasalah bendabenda itu menancap ke dalam tubuhnya hingga lenyap, bila dihari biasa asal dia mengerah kan tenaga dalam di atas jarinya maka jarum itu akan segera tercabut keluar, tapi sekarang hawa murninya tak mampu disalurkan maka tindakan semaeam itupun tak mungkin bisa dilakukan.
Dengan putus asa pemuda itu hanya bergumam seorang diri.
"Waaah.... kalau aku mati di tempat ini, hal itu benar-benar tak ada harganya...."
Setelah termenung sebentar, ia berpikir lebih jauh, Bulan tujuh tanggal lima belas pihak perkumpulan Thong-thian-kauw akan mengadakan pertemuan Kian ciau tay-hwee....
Hmmm!
pertemuan Kian ciau tay hwee....
hanya akan berlangsung tujuh delapan hari lagi, waktu itu pelbagai aliran akan saling berjumpa, pelbagai keluarga yang bermusuhan akan bertemu satu sama lainnya pada waktu itu pembicaraan yang tidak cocok akan mengakibatkan banjir darah....
mayat akan bertumpuk bagaikan bukit....
dalam menghadapi pertemuan yang begini pentingnya, apa ibu akan hadir atau tidak....
Terbayang akan ibunya, ia merasa rindu bercampur sedih, rasa ingin hidup semakin menjadi....
dia ingin cepat-cepat lolos dari tempat itu dan bertemu kembali dengan ibunya.
Mendadak suara gemerincingan berkumandang dari luar ruangan.
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, seolah-olah dia melihat Giok Teng Hujin dengan sanggulnya yang tinggi serta gaunnya yang panjang sedang munculkan diri diternpat itu.
Suara gemerincingan sekali demi sekali berkumandang terus tiada hentinya, jantung terasa berdebar semakin keras, lama kelamaan ia mulai tak kuasa menahan diri....
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki yang santai berhenti tepat di depan pintu ruangannya, diikuti pintu besi itupun dibuka orang....
Hoa Thian-hong mengintip keluar lewat celah pintu yang terbuka, namun tidak nampak seorang manusiapun berada disana, tanpa terasa ia bertanya dengan suara lirih.
"Siapa?"
Gelak tertawa yang rendah dan berat bergema diseluruh ruangan, suara tertawa itu begitu dingin dan menyeramkan seakan-akan muncul dari liang salju yang amat dalam, Hoa Thian-hong jadi merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri.
Tiba-tiba pintu besi dibuka orang, seorang imam perawakan tinggi dengan sebilah pedang tersoren pada punggungnya bagaikan sukma gentayangan murcul di depan pintu.
Hoa Thian-hong dengan tajam menatap imam itu beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia teringat kembali siapakah orang itu, tanpa te rasa sambil tertawa nyaring serunya.
"Oooh.... aku kira siapa yang datang, tak tahunya adalah Ang Yap tootiang.... selamat datang, selamat datang...."
Ang Yap toojin mendengus dingin, sambil menyeringai seram serunya, Hoa Thian-hong, kau tak mengira bukan, bakal menjumpai hari seperti ini....?"
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya lalu tertawa, katanya.
"Kenapa musti ini hari? Kalau engkau hendak membalas dendam silahkan saja untuk turun tangan...."
"Huuuh....! dalam keadaan begini kau masih bisa bicara keras? Kalau sucoumu sudah turun tangan.... Hmmm! Mungkin kau tak kuat menahan diri"
Sembari berkata perlahan-lahan imam itu maju ke depan. Dari sikap lawannya dingin menyeramkan, diam-diam Hoa Thian-hong terkejut juga, pikirnya.
"Kedatangannya pasti mengandung maksud maksud tertentu, tosu tua ini tentu akan menyiksa dan membunuh aku untuk melampiaskan rasa dendamnya...."
Setelah tiga buah jalan darahnya disumbat oleh tusukan jarum perak, segenap kepandaian silatnya tak mampu digunakan lagi, sekalipun mara bahaya mengancam di depan mata namun ia tak mempunyai kemampuan untuk melarikan diri.
Kiranya Ang Yap toojin secara diam-diam menaruh hati kepada Giok Teng Hujin, siapa tahu pihak perempuan sama sekali tidak punya minat terhadap dirinya, membuat hasrat yang terbenam itu selalu gagal un tuk mencapai apa yang dikehendakinya.
Setelah melihat kemesraan yang di perlihatkan Giok Teng Hujin terhadap Hoa Thian-hong, rasa dengki dan cemburunya kontan berkobar dalam benak imam itu, rasa marah dan iri tadi berkecambuk terus kian lama kian bertambah tebal sehingga akhirnya hawa amarahnya tadi dilampiaskan pada si anak muda she Hoa.
Suatu ketika pukulan Sau yang ceng kie yang dilancarkan Hoa In telah mengakibatkan ia menderita luka parah dan sampai saat itu belum juga sembuh, kejadian ini semakin membuat imam itu mendendam Hoa Thian-hong hingga merasuk ketulang sumsum, ia bersumpah dalam hatinya hendak membinasakan musuh cintanya itu dalam keadaan apapun jua.
Criiing....!
Suara gemerincingan bergema memenuhi angkasa, perlahan-lahan Ang Yap Toojin meloloskan pedangnya, dengan sorot mata memancarkan hawa nafsu membunuh dan muka menyeringai menyeram-kan, serunya.
"Manusia she Hoa, kau pingin mati atau pingin hidup?"
"Eeei.... aneh sekali pertanyaanmu itu!"
Kata sang pemuda dengan alis berkerut.
"bukankah engkau bermaksud menghabisi jiwaku? Apa gunanya mengajukan penawaran tersebut?"
Ang Yap Toojin tertawa dingin.
"Heeeh.... heeeh.... jika engkau ingin hidup, tentu saja Too-ya dapat memberikan sebuah jalan kehidupan bagimu, cuma jalan itu sempit dan kecil sekali, aku takut engkau tak punya keberanian untuk melewatinya!"
"Aku orang she Hoa tidak memiliki kemampuan apaapa, tapi aku rasa masih memiliki sedikit keberangan untuk menghadapi segala kejadian yang bakal menimpa diriku, coba katakanlah bagaimana sempit dan ke-cilnya jalan tersebut? Seandainya aku merasa sanggup untuk melewatinya, aku orang she Hoa pasti akan mencobanya"
Ang Yap Toojin menggetarkan ujung pedangnya di atas raut wajah Hoa Thian-hong, ujarnya sambil tertawa menyeringai.
"Jika dibicarakan sebenarnya tidak begitu menakutkan, bilamana engkau ingin hidup maka Too-ya akan merobek raut wajahmu yang tampan itu, agar Ciong Lian-khek mendapat kawan berwajah busuk macam diri mu itu!"
Mendengar perkataan tersebut, dalam benak Hoa Thian-hong segera terbayang kembali raut wajah Ciong Lian-khek yang penuh bercodet dan bekas bacokan senjata itu, wajah yang menyeramkan membuat hati pe muda itu jadi bergidik, pikirnya di dalam hati.
"Sungguh aneh sekali peristiwa ini, apa sih sangkut pautnya antara wajahku dengan rasa dendamnya?"
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar ia berteriak.
"Oooh....! Sekarang aku mengerti"
"Hmm! engkau belum tentu mengerti,"
Jengek Ang Yap toojin dengan suara dingin. Hoa Thian-hong tersenyum.
"Kedatanganmu kesini adalah masuk secara pribadi dan tanpa sepengetahuan ataupun seijin kaucu kalian, karena kau takut tidak mendapat persetujuan dari sang kaucu untuk mencabut jiwaku, maka muncullah ingatan dalam benakmu untuk merusak raut wajahku ini agar rasa dendam yang berkecamuk dalam dadamu bisa dilampiaskan, bukankah begitu?"
"Heeeeh.... heeeh.... heeeh.... tebakanmu memang sama sekali tidak salah,"
Jawab Ang Yap Toojin sambil tertawa seram.
"tapi tahukah engkau bahwa Too-ya pun sudah mengambil keputusan Untuk ber buat nekad? Asal engkau ingin mati maka Too-ya akan segera memenggal batok kepala ku kemudian kabur jauh-jauh dari tempat ini, perduli amat dengan kaucu atau bukan!"
"Oooh....! rupanya rasa benci orang ini terhadap diriku sudah terlalu mendalam"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"waah.... berabe juga ini, apa yang musti kulakukan?"
Setelah berpikir sebentar, dia alihkan kembali sorot matanya menatap tajam raut wajah imam tersebut, ia temukan bahwa ketika itu sepasang matanya telah berubah jadi merah membara, bibirnya bergetar keras sekali dengan air mukanya berubah jadi begitu mengerikan macam malaikat pembunuh dari neraka, sadarlah pemuda itu bahwa apa yang diucapkan lawannya mungkin sekali dapat dilakukan benar-benar.
Maka diapun lantas mengangguk sambil ujarnya sungguh-sungguh.
"Kalau begitu.... baiklah, akan kupikirkan sebentar...."
"Too-ya malas untuk menunggu terlalu lama!"
Bentak Ang Yap Toojin sambil menggerakkan senjata pedangnya. Hoa Thian-hong berlagak pilon dan seolah-olah tidak mendengar perkataan itu pikirnya.
"Meskipun raut wajah Ciong Lian-khek cianpwee sudah rusak dan menjadi buruk, akan tetapi ia tetap merupakan seorang lelaki sejati, ia tetap merupakan seorang pendekar besar yang berjiwa pahlawan.... urusanku belum sempat kuselesaikan semua, aku tak boleh mati dengan begitu saja.... aku harus berusaha untuk mempertahankan hidupku agar semua pekerjaan yang tertunde bisa kuselesaikan...."
Berpikir sampai disitu, ia terbayang kembali akan pinangan dari Pek Siau-thian untuk putri bungurnya, lalu teringat pula akan perbuatan Giok Teng Hujin dirinya....
setelah berpikir sebentar akhirnya dia mengambil keputusan, dengan terus terang ujarnya.
"Ang Yap, akan menyerah kalah.... anggap saja ini hari engkau lebih lihay dariku, si1ahkan merusak raut wajahku ini dengan ujung pedangmu itu.... aku orang she Hoa sudah ambil keputusan untuk memilih jalan kehidupan saja.... Rupanya Ang Yap Toojin merasa tercengang dan diluar dugaan mendengar keputusan dari lawannya, setelah tertegun sejenak ia segera menengadahkan ke atas dan tertawa seram.
"Haahh.... haahh.... bagus sekali! rupanya kau si bangsat cilikpun merupakan manusia kurcaci yang takut mati!"
Tubuhnya menerjang maju ke depan, pedangnya dikebaskan dan....
Sreeet!
langsung membacok wajah pemuda itu.
Keputusan Hoa Thian-hong untuk mengorbankan raut wajahnya dan mempertahankan kehidupan diambil karena keadaan yang terpaksa dan mendesak sekali, melihat datangnya sambaran cahaya pedang yang menyilaukan mata, hati terasa tercekat, tak mungkin bagi dirinya untuk menghindarkan diri lagi dari bacokan tersebut, terpaksa ia pejamkan matanya rapat-rapat.
Criiing....!
terdengar bunyi gemerincingan yang amat nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa, pintu besi di depan penjara seolah-olah didorong oleh suatu kekuatan yang maha besar, tiba-tiba terbentang lebar dengan sendirinya.
Begitu keras bunyi gemerincing tersebut sehingga membuat Ang Yap Toojin maupun Hoa Thian-hong merasakan telinganya jadi amat sakit sekali, imam setengah baya itu segera menghentikan gerakan pedangnya di tengah udara sedang Hoa Thian-hong pun membuka matanya kembali, tubuh mereka berdua samasama tergetar keras, pada saat yang ber samaan pula mereka sadar bahva diluar pintu ada orang, hanya tak tahu jago lihay darimanakah yang telah muncul disitu?
Sementara itu pantulan suara yang amat nyaring tadi masih mendengung tiada hentinya diseluruh penjuru ruang penjara itu, dari kedahsyatan suara pantulan tersebut Ang Yap Toojin semakin yakin kalau orang yang bersembunyi di balik pintu adalah seorang jago lihay berkepandaian tinggi, dalam kejutnya dan kedernya timbul pikiran dalam benak imam tersebut untuk mengundurkan diri dari tempat itu.
Tetapi ia merasa amat membenci terhadap Hoa Thianhong, rasa dendamnya sudah merasuk ketulang sumsum, meskipun berada dalam keadaan gugup dan kacau pikiran, namun imam tersebut tak rela melepaskan Hoa Thian-hong dengan begitu saja, pedangnya segera digetarkan kembali dan langsung menusuk ke arah ulu hati si anak muda itu.
Hoa Thian-hong sangat terperanjat, dalam keadaan yang kritis dan sargat berbahaya itu dia himpun sisa tenaga yang dimilikinya dan segera lompat ke arah samping.
"Binatang, sungguh besar nyalimu!"
Mendadak serentetan suara bentakan keras yang amat nyaring berkumandang memenuhi angkasa.
Weeesss....!
diiringi suara benturan keras, tiba-tiba pintu baja itu terpentang lebar.
Semua peristiwa itu berlangsung hampir pada saat yang bersamaan, ketika mendengar suara bentakan, Ang Yap Toojin merasa hatinya tercekat, tanpa sadar tangannya jadi lemas dan tusukan pedangnya pun jadi miring ke samping hingga menyambar dada sebelah kiri lawannya.
Selesai melancarkan tusukan tersebut, tanpa memandang sekejappun ia segera putar badan dan kabur keluar dari ruangan itu.
Mendadak....
dihadapannya muncul seorang manusia aneh berperawakan tinggi basar, berambut panjang bagaikan akar dan berlengan tunggal menghadang tepat di depan pintu.
Keempat anggota badan manusia aneh itu!
ada tiga yang cacad, tinggi badannya mencapai empat depa dan persis menyumbat seluruh pintu masuk itu, mulutnya besar dengan sepasang mata memancarkan Cahaya biru, satu-satunya anggota badan yang masih utuh hanyalah tangan kirinya, waktu itu dalam genggaman tangan kirinya mencekal sebilah pedang baja yang besar dan berat sekali.
Ang Yap Toojin amat terperanjat, tanpa berpikir panjang dia segera enjotkan badan dan melayang ke tengah udara, laksana anak panah yang terlepas dari busnrnya ia menerjang keluar dari ruangan itn lewat atas kepala manusia aneh tadi.
Terdengar manusia aneh itu tertawa seram.
"Heeeh.... heeeh.... kau anggap bisa berlalu dari sini dengan begitu saja?"
Pedang baja ditangannya disodok lalu di tebas ke bawah, di tengah jeritan kesakitan sepasang kaki Ang Yap Toojin seketika kutung jadi dua, darah dan daging berhamburan ke atas tanah, tubuh iman tersebut dengan sepasang kaki yang kutung langsung muluncur keluar dari ruangan dan terhempas ke atas tanah.Pada dasarnya luka dalam yang diderita iman tersebut belum sembuh, sekarang setelah mendapat luka baru lagi, ia jatuh tak sadarkan diri.
Hoa Thian-hong sendiri merasa sangat terkejut setelah menyaksikan peristiwa itu, dia lupa akan luka pedang yang dideritanya....
lewat beberapa saat kemudian pikirannya baru bisa ditenangkan, sambil tertawa paksa serunya engkau, telah berhasil mengelesaikan masa penderitaanmu selama sepuluh tahun"
Kiranya manusia aneh itu bukan lain adalah kakek telaga dingin Giu It Bong yang selama ini dikurung dalam markas besar perkumpulan Sin-kie-pang, saat itu dia mengenakan sebuah jubah pendek berwarna biru, pinggangnya terikat seuntai tali serat yang kecil sedang raut wajahnya menunjukkan kegembiraan yang amat tebal.
Kakek telaga dingin Ciu It-bong mengerutkan alisnya lalu tertawa terbahak-bahak, tidak melihat ia menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu manusia aneh itu sudah berada dihadapan Hoa Thian-hong, sambil ayun pedang bajanya ia menegur dengan suara lantang.
"Bocah keparat! Sekarang kau masih bernama Hong-po Seng ataukah bernama Hoa Thian-hong?"
Pemuda itu tersenyum.
"Aku telah pulihkan kembali raut wajah asliku, tentu saja bernama Hoa Thian-hong"
Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serius ia melanjutkan.
"Terima kasih atas bantuan dari Loocianpwe, berkat pertolongan itu boanpwee telah telah berhasil menyelamatkan raut wajahku ini!"
Kakek telaga dingin Ciu It-bong mendengus dingin.
"Hmmm....! Selamanya aku tak sudi menolong orang tanpa mengharapkan imbalan siapa tahu kalau justru karena pertolonganku ini maka engkau akan ketimpa bencana?"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Sudah banyak gelombang dahsyat dan angin topan yang kuhadapi, terhadap keselamatan pribadiku aku sudah memandang terlalu tawar.... kau tak usah menakut-nakuti diriku lagi, aku bukan orang yang jeri menghadapi bencana...."
Serunya.
Tiba-tiba dadanya terasa sakit, ia segera tundukkan kepalanya, tampaklah luka bacokan didadanya mencapai lima cun dalamnya, meskipun tidak sampai melukai tulang tetapi darah segera mengalir keluar tiada hentinya, sebentar saja separuh bagian bajunya telah basah kuyup dengan darah.
Dengan wajah mengejek kakek telaga dingin Ciu Itbong tertawa seram, akhirnya dia angkat jari tangannya menotok beberapa buah jalan darah di atas dada pemuda itu, darah yang mengalir keluar dari mulut lukapun segera jauh berkurang.
"Waah.... merepotkan loocianpwee...."
Seru Hoa Thianhong sambil tertawa.
Kakek telaga dingin Ciu It-bong melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dari sikapnya seakan-akan menunjukkan bahwa ia segan untuk turun tangan menolong pemuda itu, tapi sebentar kemudian ia berubah pikiran, tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, ia telah membuka pakaian pemuda tadi lalu mencabutkan pula jarum jarum perak yang mengunci jalan darahnya.
Meskipun jarum itu menancap di dalam daging, tapi bagi Ciu It-bong seorang jago lihay yang punya tenaga besar, tindakan itu dilakukan gampang sekali, dalam waktu singkat ketiga batang jarum perak yang mengunci jalan darahnya itu sudah dicabut semua.
Buru-buru Hoa Thian-hong duduk bersila di atas tanah kemudian mengatur pernapasan dan pulihkan kembali tenaga dalamnya.
"Bajingan cilik!"
Terdengar kakek telaga dingin Ciu Itbong menegur dengan suara kasar.
"apakah Pek Kun-gie sudah kau bunuh?"
"Loocianpwee, kau tidak merasa pertanyaanmu itu kau ajukan dengan percuma...."
Kakek telaga dingin Ciu It Beng mendengus dingin, ia ulurkan tangannya ke depan dan serunya kembali.
"Mana pedang emas itu? Berikan kepadaku!"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Pedang emas itu belum berhasil kudapatkan, tapi sudah kudengar kabar berita mengenai senjata mustika itu, kemungkinan besar pada bulan tujuh tanggal lima belas nanti dikala pertemuan besar Kian ciau Tay hwee diselenggarakan, pedang emas itu akan muncul kembali di depan umum!"
Kakek telaga dingin Ciu It-bong mendengus, dia cengkeram bahu si anak muda itu dan bentaknya dengan suara dalam.
"Ayoh mengaku terus terang! pedang emas itu sudah terjatuh di tangan siapa?"
"Aku sendiripun tak tahu begitu pasti,"
Jawab Hoa Thian-hong sambil menggertak gigi menahan rasa sakit dibahunya.
"sebelum saatnya tiba, aku tak berani bicara secara Sembarangan"
"Kau berani mempermainkan aku?"
Teriak Ciu It-bong teramat gusar, kelima jarinya mencengkeram semakin kencang.
Hoa Thian-hong yang tulang bahunya dicengkeram keras-keras-keras merasa sekujur badannya jadi sakit hingga keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya, darah segar yang menyembur keluar dari mulut, luka didadapun memancar semakin deras.
Buru-buru bentaknya keras.
"Lepas tangan."
Kakek telaga dingin Ciu It-bong mengendorkan cengkeramannya, kemudian berseru.
"Ayoh cepat jawab, pedang emas itu terjatuh di tangan siapa?"
OoooOoooo PEDANG emas itu berada di tangan Thian Ik tosu tua itu, kau punya kemampuan untuk merampasnya kembali?"
Teriak Hoa Thian-hong dengan gusar.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Seru Ciu It-bong dengan sepasang mata melotot bulat.
"Hmmm mau percaya atau tidak terserah kepadamu, kalau engkau merasa tidak percaya pergilah menghadap Thian Ik tosu tua itu dan tanyakan sendiri kepadanya, coba lihat apa yang dia jawab!"
Ciu It-bong tersenyum.
"Thian Ik sihidung kerbau itu sedang repot karena ingin mengawasi putri sulungnya Pek looji, sekarang dia tak ada waktu luang, mau bertanya nanti saja kita baru menghadapi"
Air muka Hoa Thian-hong berubah hebat, dia loncat bangun dari atas tanah dan teriaknya .
"Loocianpwee, mari cepat kita kesana!"
"Hmmm! budi kebaikan apa sih yang telah diberikan Pek Siau-thian kepadamu?"
Jengek Ciu It Boog dengan suara dingin.
"toh yang ketimpa urusan adalah putrinya Pek Loji? Kenapa kau musti gelisah macam begitu?"
"Pek Soh-gie adalah seorang gadis yang halus, berbudi dan baik hati, kita tak boleh berpeluk tangan belaka membiarkan dia ketimpa malang....!"
Ciu It-bong kontan tertawa dingin sualah mendengar parkataan itu.
"Heehh.... heeehhh.... heehhh.... Pek Siau-thian tidak setia kawan, setelah melihat barang pusaka, memenjarakan diriku selama se puluh tahun lamanya, untuk membalas dendampun tak sempat, kenapa aku musti menolong putrinya? haaah.... haaaah.... haaah justru aku malah gembira sekali melihat dia akan menerima pembalasan.... Hmm! aku bu kan anak jadah yang tak punya otak, segan aku untuk menolong gadis itu!"
"Hmmm! akupun terlalu goblok"
Seru Hoa Thian-hong dengan gusar.
"sepantasnya kalau aku menyadari bahwa engkau bukan manusia budiman yang bisa diajak kompromi.... bicara dengan engkau sama halnya memetik khiem di depan kerbau!"
Sebagai penutup kata, tangannya langsung menyambar pedang baja di tangan orang.
Ciu It-bong tarik kembali pedang bajanya ke belakang dan berseru, Eeei, perkataanmu tak bisa dipercaya, enghiong hoohan macam apakah dirimu itu?"
"Sejak kapan aku mengingkari perkataan ku sendiri?"
Teriak Hoa Thian-hong dengan penuh kegusaran, hatinya gelisah sekali karena ingin menolong kesucian dari Pek Soh-gie.
Rupanya Ciu It-bong sengaja henkak mengulur waktu, setelah tertawa mengejek, jawabnya perlahan-lahan.
"Bukankah kau telah menyanggupi untuk membunuh Pek Kun-gie...."
"Aku punya keinginan tapi tenaga tak memadahi, apa yang musti kulakukan?"
"Dan kaupun pernah berjanji akan carikan pedang emas untuk menolong aku lepas dari kurungan...."
Hoa Thian-hong semakin gelisah, serunya.
"Pedang emas itu belum berbasil kudapatkan!"
"Setahun demi setahun dilewatkan dengan begitu saja, seharusnya kau pergi kesitu dan menjenguk mati hidupku!"
"Aku tidak sebebas seperti apa yang kau bayangkan!"
Bentak sang pemuda itu sambil meraung gusar, habis berkata dia loncat ke depan siap menerjang keluar dari pintu.
Ciu It-bong putar pedang bajanya menciptakan sekilas cahaya tajam yang menyilaukan mata, begitu dahsyat setangan itu memaksa Hoa Thian-hong harus membatalkan maksudnya dan menghentikan gerakan tubuhnya secara paksa.
Kegusaran yang berkobar dalam dada Hoa Thian-hong sukar dibendung lagi, dengan wajah mendongkol teriaknya.
"Kalau engkau tak mau tolong orang, akupun tidak memaksa, tapi tidak sepantasnya kalau engkau menghalangi jalan pergiku...."
"Haaah.... haaah...."
Ciu It-bong tertawa terbahakbahak.
"inilah hukuman yang ditimpahkan Thian kepada Pek Siau-thian, kau harus tahu bahwa ilmu silatmu masih terlalu cetek, kau masih bukan tandingan dari Thian Ik si hidung kerbau itu.... percuma saja engkau pergi kesitu, sebab paling banter jiwamu ikut melayang.... Hmmm....Hmmm.... apa kau anggap puterinya Pek Siauthian bisa ditolong?"
Hoa Thian-hong merasa darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras setelah membayangkan bahwa Pek Soh-gie seorang gadis yang berhati mulia sebentar lagi bakal dinodai oleh seorang tosu siluman secara brutal, ia tak dapat menahan diri lagi, sambil membentak keras telapak kirinya diayun kemuka nelancarkan sebuah pukulan dengan jurus Kun-siu-ci-tauw.
Kakek telaga dingin Ciu It-bong jadi bergirang hati melihat pemuda lawannya menyerang dengan menggunakan jurus ajarannya, ia berseru sambil tertawa.
"Bagus sekali!"
Sambil melepaskan pedang bajanya, ia sambut datangnya serangan itu dengan jurus Kun-siu-ci-tauw pula.
Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya menimbul-kan suatu ledakan yang amat keras, Ciu Itbong segera mengepos tenaga dan hawa pukulannya yang sebesar tujuh bagian kontan menggulung keluar dengan hebatnya.
Dalam keadaan begini Hoa Thian-hong tidak punya minat untuk bertarung melawan, dirinya, ketika suasana jadi tegang mendadak ia menggetarkan pergelangannya dan memunahkan daya tekanan seberat beberapa ribu kati itu hingga lenyap tak berbekas, meminjam kesempatan itu tubuhnya melesat ke tengah udara membentuk gerakan busur kemudian meluncur keluar dari balik ruangan itu.
"Keparat licik!"
Teriak kakek telaga dingin Ciu It-bong setengah menjerit, ia sambar pedang bajanya lalu mengejar dari belakang.
Hoa Thian-hong mengenjotkan badannya di atas tanah, setelah melirik sekejap ke arah Ang Yap Toojin yang kakinya telah kutung dan baru saja mendusin dari pingsannya itu, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dia lari keluar dari tempat itu.
Para imam penjaga penjara telah roboh tertotok jalan darahnya oleh Ciu lt Bong, pintu terali besi terbentang lebar dan seakan-akan sama sekali tak ada penjaganya, Hoa Thian-hong segan memeriksa tempat itu dengan teliti, bagaikan hembusan angin dalam sekejap mata ia sudah menerjang keluar dari rumah penjara.
Sementara itu fajar telah menyingsing dan seluruh jagad terang benderang oleh sinar sang surya yang berwarna keemas-emasan, Hoa Thian-hong menghembuskan napas panjang lalu menengadah dan bersuit nyaring, dengan tangan kanan ia tekan mulut luka didadanya, kemudian setelah menentukan arah dia meluncur ke arah sebuah bangunan loteng yang megah.
Kakek telaga dingin Ciu It-bong menggunakan pedang baja itu sebagai pengganti tongkat, tubuhnya bergerak bagaikan hembusan angin dan menguntit terus di belakang Hoa Thian-hong dengan ketat.
Sewaktu mendengar suitan nyaring itu, ia tertawa dan segera menegur.
"Hey bocah cilik, tenaga dalammu telah mendapat kemajuan yang amat pesat, apakah hasil dari teratai beracun itu?"
"Benar! hasil dari teratai racun empedu, tapi...."
Ia berpaling sekejap ke belakang, lalu berpikir.
"Rupanya pedang bajaku dipergunakan sebagai pengganti tongkat, tidak aneh kalau ia tak mau mengembalikan kepadaku"
Sementara itu Ciu It-bong sudah berkata lagi sambil tertawa keras.
"Hey bocah cilik, aku dengar katanya Teng Hujtn telah berhasil kau gaet sehingga tergila-gila kepadamu, kenapa sekarang menaruh perhatian pula terhadap Pek Soh-gie?"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong, dengan gusar bentaknya.
"Kentut busukmu!"
Meskipun sudah tua, Ciu It-bong selamanya tak tahu adat, maka ucapan yang diutarakan Hoa Thian-hong terhadap dirinyapun kian lama kian bertambah kasar dan tak sopan.
"Hoa Thian-hong, berhenti!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras berkumandang.
Bersamaan dengan bentakan tersebut, dari arah depan muncullah seorang tosu cilik berbaju merah, rupanya tosu cilik itu tahu akan kelihayan lawannya, sebelum tiba dihadapan pemuda itu pedangnya telah dicabut keluar dari sarungnya.
Hoa Thian-hong menatap tajam raut wajah orang itu, dengan cepat dia dikenali kembal iimam cilik itu sebagai salah satu diantara delapan imam cilik baju merah yang memainkan barisan Kan Lee Kian tin.
Dalam hati segera pikirnya.
"Thian Ik tosu tua itu merupakan salah satu diantara pembunuh ayahku, cepat atau lambat aku pasti akan melangsungkan petarungan secara terbuka dengan dirinya, barisan pedang Kan Lee Kian tin tersebut luar biasa hebatnya, aku harus mematahkan lebih dahulu sebuah kaki dari barisan itu...."
Setelah ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ia segera keraskan hati dan ayunkan telapak kirinya siap melancarkan serangan.
Gerakan tubuh imam kecil baju merah itu cepat bagaikan hembusan angin, dalam sekejap mata telah tiba di depan mata.
ketika dilihatnya Hoa Thian-hong tidak menghentikan langkah kakinya, ia segera membentak gusar, pedangnya laksana kilat ditusuk ke arah ulu hatinya.
Setelah kemarin malam jatuh kecundang di tangan orang, sampai ini hari rasa mendongkol dalam hati Hoa Thian-hong masih belum tersalur keluar, ia segera mendengus dingin, sepasang kakinya merendah ke bawah dan tubuhnya bergeser dua depa ke samping pinggang digoyang-kan dan telapaknya langsung menggaplok punggung lawan.
Baru saja imam cilik baju merah itu merasakan tusukan pedangnya mengenai sasaran kosong, tiba-tiba ia merasa munculnya segulung daya tekanan yang maha berat menumbuk punggungnya, hal ini membuat ia jadi terperanjat.
Dalam gugup dan gelisahnya, cepat-cepat ia gulingkan badannya ke atas tanah dan meloloskan diri dari hantaman telapak pemuda itu.
Kakek telaga dingin Ciu It-bong tertawa dingin, ejeknya.
"Huuh....! Kepandaian mu masih belum sempurna. Sambil berkata dengan seenaknya saja dia lancarkan sebuah pukulan menghantam punggung imam cilik baju merah itu Blaaam....! di tengah benturan keras, punggung si iman cilik baju merah itu terhajar telak oleh serangan tersebut, seketika itu juga jantungnya tergetar putus dan berhenti berdetak, sambil menjerit ngeri, binasalah iman itu seketika itu juga. Kedua orang itu menggunakan gerakan serangan yang sama, bedanya bukan terletak pada enteng atau beratnya tenaga pukulan juga bukan tercepat atau lambatnya serangan, melainkan terletak pada kesempurnaan tenaga dalamnya serta ketepatan dalam melakukan serangan. Ketika melancarkan pukulan tadi, bukan saja Ciu Itbong bisa mengatur waktunya dengan tepat bahkan arah yang dituju serta saat mengirim pukulan bisa diatur sedemikian rupa sehingga waktu serangan tersebut dilancarkan maka sulit bagi lawannya untuk menghindarkan diri atau melarikan diri dari sana. Hoa Thian-hong kagum sekali terhadap ilmu silat yang dimiliki Ciu It-bong, ketika menyaksikan kakek itu melayang di udara dengan begitu enteng, segera serunya.
"Heh, jangan keburu bangga dulu, hati-hati kalau sampai ditertawakan orang...."
Selesai berkata, ia lanjutkan kembali gerakan tubuhnya meluncur ke arah depan.
Beberapa saat kemudian sampailah pemuda itu di depan sebuah bangunan loteng yang tinggi, di depan loteng itu terpancang sebuah papan nama yang bertulisan.
Yang sim tiam, tiga huruf besar terbuat dari emas, ke tempat inilah Pek Soh-gie dibawa oleh kawanan iman baju merah kemarin malam.
Sementara ia masih celingukan, dari balik ruang loteng tiba-tiba muncul kembali serombongan iman cilik baju merah, dengan senjata terhunus mereka lari keluar dari ruangan dan langsung mengepung si anak muda itu....
Hoa Thian-hong tidak memberi waktu bagi iman-imam cilik tersebut untuk menyusun barisan pedangnya lagi, dia ikut menerjang ke depan dan langsung melancarkan sebuah pukulan ke arah seorang iman kecil yang berada dipaling depan, bentaknya.
"Thian Ik-cu, cepat gelinding keluar dari sarangmu! Ciu It-bong telah datang untuk menagih pedang emas!"
"Bajingan yang tak tahu diri!"
Bentak iman cilik baju merah yang lari mendekat lebih dahulu itu dengan suara gusar.
"tahukah engkau tempat apakah ini? Siapa suruhn kamu berteriak seenaknya sendiri?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua belah pihak telah melakukan pertempuran sebanyak dua puluh jurus lebih, Hoa Thian-hong menyumbat pintu keluar istana itu dan tidak membiarkan pihak lawannya sempat mengatur barisan pedang.
Tujuh orang imam cilik baju merah itu segera mengepung Hoa Thian-hong rapat-rapat, namun setelah kehilangan daya tekanan dari barisan Kan Lee Kiam tin maka untuk beberapa saat lamanya mereka tak mampu berbuat apa-apa terhadap si anak muda itu.
Hoa Thian-hong yang harus bertempur melawan tujuh bilah pedang mustika, terpaksa musti mengerahkan segenap tenaganya untuk mempertahankan diri, darah segar yang mengucur keluar dari mulut luka didadanya menyembur semakin deras, dalam keadaan begitu ia harus menutup mulut lukanya dengan tangan kanan, sedang telapak kiri diputar sedemikian rupa menahan serangan dari musuhny.
Ciu It-bong yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi lapangan, segera berteriak keras dengan wajah berseri-seri.
"Hey, keparat cilik, bagaimana dengan ilmu silat hasil ciptaanku ini....?"
Setelah bertempur beberapa saat lamanya hawa amarah yang berkobar dalam dada Hoa Thian-hong makin memuncak, mendengar ucapan itu dia segera meraung keras.
"Huuuh.....cuma menghadapi beberapa orang imam cilikpun tak bisa digunakan dengan baik, kau masih bisa merasa bangga.... tak tahu malu!"
Ciu It-bong jadi amat gusar, dia lemparkan pedang baja ditangannya ke arah pemuda itu dan bentaknya.
"Hmmm! aku ingin lihat ilmu pedang ajaran bapakmu mempunyai kelihayan sampai di mana!...."
Pedang baja yang di sambit ke depan itu laksana anak panah yang terlepas dari busur, diiringi sekilas cahaya hitam langsung meluncur ke arah Hoa Thian-hong.
Seorang imam cilik baju merah menghadang di tengah jalan, ketika mendengar datangnya desiran tajam, buruburu ia menyingkir ke samping, tatkala menyaksikan ada sebilah pedang baja sedang meluncur dari sisi tubuhnya tanpa berpikir panjang dia segera lancarkan sebuah babatan.
Traaaang....!
di tengah suara bentrokan nyaring yang bergema di angkasa, imam cilik baju merah itu merasa lenganya tergetar kaku, cekallan-nya jadi enteng dan tahu-tahu pedang pusaka dalam genggamannya telah patah jadi beberapa bagian, kutungan pedang itu segera tersebar di atas tanah....
Tenaga dalam yang dimiliki Ciu It-bong benar-benar luar biasa sekali, walaupun pedang itu terkena sebuah tangkisan akan tetapi gerakannya sama sekali tidak berubah, seperti sedia kala senjata itu langsung meluncur ke arah Hoa Thian-hong.
Dengan cekatan pemuda itu menyingkir ke samping lalu mencekal gagang pedangnya, mengikuti gerakan tadi ia bacok batok kepala seorang imam cilik baju merah yang berada dihadapannya.
Serangan yang dilancarkan dengan meminjam sisa tenaga sambitan dari Ciu It-bong ini benar-benar luar biasa sekali, serangan itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Tak sempat lagi bagi imam cilik baju merah itu untuk menghindarkan diri, dalam keadaan begitu terpaksa ia harus angkat pedangnya sambi1 balas membabat pergelangan tangan lawannya.
Walaupun Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thongthian-kauw sama-sama merupakan perkumpulan kalangan hitam dalam dunia persilatan namun berhubung anggota perkumpulan Thong-thian-kauw seringkali mengganggu anak gadis orang dan melakukan perbuatan-perbuatan yang amoral, maka rasa benci Hoa Thian-hong terhadap mereka jauh lebih tebal daripada terhadap perkumpulan lain, sekarang melihat pihak lawannya balas melancarkan satu sabatan, ia tidak berubah jurus malah mengerahkan tenaga dalamnya makin hebat, pergelangan tangannya ditekan ke bawah dan langsung membacok tubuh iman-imam tersebut.
Satu pihak melancarkan satu bacokan ke arah batok kepala lawannya sedang dipihak lain mengebaskan pedang mustikanya membabat pergelangan orang, nampaknya kedua belah pihak akan sama-sama menderita luka, pada saat yang kritis itulah tiba-tiba Hoa Thian-hong menekan pedang bajanya ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa ia mendahu1ui musuhnya.
"Aduuuh....!"
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa, tubuh imam cilik baju merah itu terbelah jadi dua bagian dan roboh binasa ke atas tanah, darah segar berhamburan di lantai membuat pemandangan terasa memuaskan sekali.
Menerima pedang, membinasakan musuh semua gerakan dilakukan dalam sekejap mata dan siapapun tak menyangka kalau dalam detik yang amat singkat pemuda itu mampu membereskan jiwa seorang imam cilik yang lihay.
Pedang baja yang berat itu sudah dua tahun lamanya berada di tangan Ciu It-bong, setelah pedang itu terjatuh kembali ke tangan nya tanpa sadar semangat bertempur dari pemuda itu bangkit kembali.
Dengan langkah yang lebar ia segera menerjang maju ke depan, pedang baja berputar keempat penjuru....
jurus demi jurus dilancarkan secara gencar mendesak lawan-nya, begitu bersemangat pemuda itu melancarkan serangan hingga tidak sadar kalau darah yang mengucur keluar dari dadanya bertambah deras.
Dalam Waktu singkat keenam Orang iman cilik baju merah itu sudah didesak hingga kalang kabut dan tak mampu mempertahankan diri lagi, jangan dibilang untuk mengatur barisan pedang Kan Lee kiam tin, tena-ga untuk melancarkan serangan balasanpun sudah tak dipunyai lagi.
Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong tertawa dingin, lalu berkata.
"Huuuuh....! aku mengira ilmu pedang dari Hoa Goan-siu sampai dimana lihaynya.... ternyata cuma begitu saja!"
Sambil menggertak gigi Hoa Thian-hong membungkam dalam seribu bahasa, dengan penuh semangat dia melayani serangan-serangan musuhnya.
Ketidak munculan Thong-thian Kaucu selama ini membuat Hoa Thian-hong semakin gelisah, dia kuatir Pek Soh-gie sudah keburu diperkosa oleh iman tua cabul itu, dalam keadaan begini dia cuma berharap bisa cepatcepat bereskan beberapa orang iman cilik itu serta mener-jang masuk ke dalam ruang istana.
Tetapi rombongan iman cilik baju merah itu merupakan anak murid yang dididik langsung oleh Thong-thian Kaucu , ilmu silat mereka luar biasa sekali, walaupun dengan adanya pedang ditangan, keadaan dirinya laksana harimau tumbuh sayap, namun untuk membereskan iman-iman cilik itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.
Dalam pada itu empat penjuru disekeliling tempat itu telah dipenuhi dengan para iman yang bersenjata lengkap, mereka bersiap sedia melakukan pertarungan, ada pula yang melihat gelagat kurang baik segera masuk keruang istana untuk memberi laporan.
Mulut luka di atas dada Hoa Thian-hong merekah makin besar, darah mengalir terus tiada hentinya, namun ia tetap tidak merasa, hal ini membuat Ciu It-bong yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi lapangan diam-diam mengerutkan dahinya.
Ketika itulah dari balik pintu istana Yau sim tian berjalan keluar seorang imam cilik baju merah, sambil mengangkat tinggi-tinggi sebilah senjata Ji gi yang terbuat dari batu kumala hijau serunya dengan suara lantang.
"Atas titah dari kaucu, diperintahkan semua murid perkumpulan untuk menghentikan pertempuran, dan mempersilahkan Ciu Loo-cianpwee masuk ke dalam ruangan istana!"
Enam orang imam cilik baju merah yang sedang bertempur segera menghentikan serangannya dan loncat mundur ke belakang.
Imam cilik yang memegang senjata Ji gi tadi perlahanlahan turun dari undakan batu, setelah memberi hormat kepada Ciu It-bong, ujarnya penuh kesopanan.
"Tecu Cing Lian memberi hormat untuk Ciu Locianpwee!"
"Kenapa?"
Teriak Ciu It-bong dengan mata melotot.
"sepasang kakiku telah kutung apakah sepasang kaki dari Thian Ik sihidung kerbau itupun juga ikut kutung?"
"Tiga orang cosu ya dari perkumpulan kami yang sudah lama mengasingkan diri baru saja berkunjung tiba, saat ini kaucu sedang mendampingi beliau bertiga, karena itu ia tidak bisa menyambut sendiri kedatangan locianpwee, atas kekurangan adat ini harap locianpwee suka memberi maaf!"
Ciu It-bong tertawa seram.
"Heeehhh.... heeehhh.... heeehhh.... akupun sudah lama mengasingkan diri dan belum lama berselang baru tinggalkan tempat pertapaan, ketiga orang cou su ya kalian itu tak akan membuat diriku jadi gentar"
Setelah berhenti sebentar, ia lantas menegur.
"Apakah engkau adalah murid didikan langsung dari Thian Ik-cu?"
Semua murid baju merah dalam perkumpulan kami adalah murid didikan langsung dari Kaucu"
"Hmm! bagus sekali!"
Seru Ciu It-bong ketus.
"aku adalah kenalan lama dari suhu kalian, ayoh cepat carikan sebuah kursi dan perintahkan empat orang imam cilik baju merah untuk menggotong aku masuk ke dalam istana!"
Imam cilik yang bernama Cing Lian itu berpikir sebentar, kemudian kepada para imam cilik baju merah yang berada di bawah tangga serunya, Ciu Loocianpwee adalah sahabat karib dari kaucu kita, berhubung gerakgerik dia orang tua leluasa....
harap kalian segera mencari sebuah kursi dan menggotong Loocianpwee ini masuk istana!"
"Keparat cilik"
Teriak Ciu It-bong dengan mata melotot dan wajah menyeringai seram, tajam amat selembar mulutmu itu....
Hmmm!
Suatu ketika aku akan suruh engkau menyaksikan sendiri apakah gerak-gerikku cukup leluasa atau tidak"
Cing Lian pura-pura tidak mendengar, beberapa saat kemudian sebuah kursi telah disiapkan dan digotong oleh empat orang imam ci lik baju merah, serunya.
"Ciu loocianpwee, silahkan duduk!"
Ciu It-bong mendengus, ia loncat keudara dan melayang di atas kursi lalu duduk tak berkutik disana.
Cing Lian buru-buru membawa jalan dan di bawah gotongan keempat orang imam cilik tersebut berangkatlah mereka masuk keruang istana.
Istana Yang sim tian adalah tempat kediaman dari Thong-thian Kaucu , lotengnya bertingkat tiga dan penuh dihiasi aneka lukisan yang indah, bangunan itu begitu megah dan mewah seakan-akan keraton tempat kediaman kaisar, pada setiap pintu masuk serta tikungan strategis, seorang imam berbaju kuning dengan senjata tersoren melakukan penjagaan.
Hoa Thian-hong sambil mencekal pedang bajanya mengikuti di belakang orang-orang itu, sebentar saja mereka sudah tiba diloteng tingkat ketiga dan mendekati sebuah ruangan dengan sinar yang redup.
Dipintu depan berdirilah dua orang iman cilik baju kuning, ketika melihat munculnya orang-orang itu mereka segera menyingkap horden dan membuka tabir di depan pintu.
Cing Lian melangkah masuk ke dalam ruangan, serunya sambil memberi hormat"
"Lapor kaucu, Ciu Locianpwee telah tiba!"
Thong-thian Kaucu segera munculkan diri di depan pintu, setelah memberi hormat, ujarnya sambil tertawa.
"Ciu heng, selama bertemu muka.... maapkanlah pinto kalau aku tak bisa menyabut dirimu dari depan"
Ciu It-bong tertawa dingin.
"Hidung kerbau tua, besar amat lagakmu!"
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, dengan sorot mata yang tajam ia menatap sekejap wajah kakek telaga dingin, lalu sambil tertawa serunya.
"Ciu neng, panjang amat usiamu.... sungguh mengagumkan! Sungguh mengagumkan!"
Ia menyingkir ke samping dan mempersilahkan tamunya masuk, Ciu It-bong mendengus dingin, ujung bajunya berkibar terhembus angin, tubuhnya segera meloncat turun dari atas kursi dan melayang masuk ke dalam ruangan.
Hoa Thian-hong diam-diam merasa kagum juga melihat kegesitan kakek aneh itu walaupun anggota badannya tinggal satu yang utuh, tanpa terasa semangatnya berkobar kembali, dengan langkah lebar dia ikut masuk ke dalam ruangan.
Jilid 24 .
Nenek dewa bermata buta KETIKA sorot matanya membentur dengan sorot mata Thong-thian Kaucu disisi pintu, senyuman dingin segera tersungging di ujung bibir mereka.
Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap, kecuali Thong-thian Kaucu serta Cing Lian, hanya seorang tosu cilik pemegang pedang saja yang masih ada disana.
Ciu It-bong segera duduk di atas sebuah bantal semedi, sambil menatap tajam wajah kaucu itu serunya, Thian Ik-cu, aku dengar di tempat ini sudah kedatangan beberapa orang tua bangka dari Thong-thian-kauw, mengapa tidak kau undang mereka untuk unjukkan diri?"
"Hmm.... tidak ada manfaatnya bila kau berjumpa dengan mereka,"
Sahut Thong-thian Kaucu sambil tersenyum.
"Hmm! aku si Ciu tua merasa berumur panjang.... kalau engkau tak tahu diri jangan salahkan kalau sahabat lama tak kenal adat. Thong-thian Kaucu tertawa, ia tidak menggubris ocehan manusia aneh itu, sambil berpaling tiba-tiba tegurnya.
"Hoa Thian-hong kau celingukan sedari tadi.... apa sih yang sedang kau cari?"
"Kau bawa kemana Pek Soh-gie?"
Bentak pemuda itu sambil melirik sekejap ke arah kedua belah sisi pintu. Thong-thian Kaucu mengerutkan dahinya.
"Huuu.... Pek Siau-thian memandang tinggi dirimu, tapi dalam pandangan pun-kaucu, engkau bukanlah seorang manusia yang luar biasa,"
Jengeknya ketus.
"Kalau memang begitu, aku menantikan petunjuk darimu!"
"Oooh....! jadi kau belum takluk?"
"Tentu saja!"
Suatu perasaan memandang hina pada lawannya terlintas di atas wajah Thong-thian Kaucu ,ia berkata.
"Pek Soh-gie adalah putri sulung dari Pek Siau-thian, aku hendak membunuh atau memperkosa dirinya itu bukan urusanmu dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, Pek Siau-thian bisa datang untuk bikin perhitungan sendiri dengan diriku. Perkumpulan Sin-kie
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com pang toh tiada bubungan dengan engkau, sedang Pek Soh-gie pun bukan sanak keluargamu.... kenapa kau musti mencampuri urusan ini?"
"Tepat sekali ucapan itu!"
Teriak Ciu It-bong dengan suara keras, Hoa Thian-hong, budi kebaikan apa sih yang telah diberikan Pek Lo ji kepadamu?
Kenapa kau musti kuatirkan bagi keselamatan putrinya?
Bila perkumpulan Sin-kie-pang sampai bentrok dengan Thong-thian-kauw bukanlah yang bakal mengeruk keuntungan adalah dirimu sendiri?"
Air muka Hoa Thian-hong berubah jadi merah darah bagaikan babi panggang, pikirnya, Mencampuri urusan orang serta memberantas ketidakadilan adalah tugas utama kaum pendekar, meskipun Pek Soh-gie adalah orang gadis yang baik hati akan tetapi ayahnya Pek Siauthian adalah seorang gembong iblis dari kalangan hitam, tidak aneh kalau orang akan salah paham terhadap tindak tandukku....
.apalagi kalau bisa memancing terjadinya bentrokan kekerasan antara pihak Sin-kiepang dengan Thong-thian-kauw, hal itu merupakan suatu perbuatan yang luar biasa sekali....
jika kutolong putri dari Pek Siau-thian ini, bukankah berarti merusak suasana yang menguntungkan bagi pihakku?"
Berpikir sampai disini ia jadi ragu-ragu dan untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Melihat keraguan pemuda itu, Thong-thian Kaucu jadi amat bangga, ia segera berpaling ke arah Ciu It-bong dan berseru.
"Ciu heng, kau telah melukai Ang Yap toojin dari perkumpulan kami kemudian membinasakan pula seorang muridku, bagaimana pertanggungan jawabmu atas hutang ini?"
Ciu It-bong menengadah memandang seangkasa, lalu dengan sombong menjawab.
"Kapan sih Thian Ik-cu pernah menangkan Ciu It-bong?"
"Diantara kita berdua belum pernah saling bertempur satu sama lainnya, sudah tentu menang kalah sukar untuk dikatakan"
"Hmmm! aku rasa sekarang bertarungpun belum terlambat!"
Habis berkata dia ayun telapaknya melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah imam tua itu.
Hoa Thian-hong memahami sampai dimanakah kelihaiannya dari jurus pukulan Kun-siu-ci-tauw tersebut, melihat Ciu It-bong telah turun tangan ia segera pusatkan perhatiannya untuk melihat bagaimana caranya Thong-thian Kaucu menangis datangnya serangan tersebut.
Rupanya Thong-thian Kaucu tidak menyangka kalau Ciu It-bong segera melancarkan serangannya setelah habis bicara, melihat datangnya ancaman tersebut buruburu ia letakkan senjata kebutannya ke atas tanah, lalu mendorong sepasang telapaknya ke depan untuk membendung datangnya ancaman tersebut.
"Ciu Loji, jangan bertindak gegabah!"
Teriaknya.
Blaaaam....!
di tengah benturan keras, sepasang telapak kedua orang itu telah bertemu satu sama lainnya.
Dalam perkiraan Hoa Thian-hong kedua orang tokoh sakti itu tentu akan beradu tenaga dalam setelah terjadi bentrokan kekerasan itu, dan akibatnya seluruh ruangan itu tentu akan bergoncang keras atau bahkan roboh sama sekali.
Siapa tahu kecuali terjadi bentrokan yang begitu dahsyat, tidak nampak sesuatu yang luar biasa lagi.
Terdengar Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak dan berseru.
"Ciu heng, selama sepuluh tahun terakhir ini ternyata engkau tidak buang waktu dengan percuma, sungguh luar biasa.... sungguh luar biasa....!"
"Hmm! engkau Thian Ik-cu pantas lebih hebat dari aku si Lo Ciu...."
Seru Ciu It-bong ketus. Hoa Thian-hong menyaksikan jalannya bentrokan itu dari samping, diam-diam merasa terperanjat, pikirnya.
"Thian Ik-cu saja sudah begitu hebatnya apalagi ketiga orang cou sunya, tentu semakin luar biasa. Aaaaai....! rupanya untuk menumpas kaum iblis dan manusiamanusia laknat itu dari muka bumi, aku harus berusaha untuk memancing bentrokan serta pertikaian diantara mereka sehingga saling bunuh membunuh"
Karena pikiran yang kusut tanpa terasa semangat bertempuran-nyapun semakin berkurang, dia merasa kepalanya pusing tujuh keliling dan dadanya yang terluka terasa panas menyengat badan, sakitnya bukan kepalang.
"Thian Ik-cu!"
Tiba-tiba terdengar Ciu It-bong membentak keras"
Ayoh cepat kembalikan pedang emas itu kepadaku"
"Ciu-heng, engkau benar-benar tak tahu aturan!"
Tegur Thong-thian Kaucu dengan alis berkerut.
"hutang ada pemiliknya kalau mau tagih pergilah cari orangnya yang benar.... orang yang merampas pedang emas itu toh Jin Hian, kenapa kau menagihnya kepada pinto? Apakah tidak salah cari orang....?"
"Hmm....Hmm....!kau tahu bahwa pedang emas itu berada ditanganmu, maka aku datang menagihnya kepadamu, ayoh cepat kembalikan pedang emas itu kepadaku dan akupun akan memetikkan batok kepala Jin Hian untukmu, tukar menukar ini tidak merugikan kedua belah pihak.... kau suka mengerjakannya atau tidak?"
"Apa gunanya batok kepala Jin Hian bagi ku?"
Ciu It-bong tertawa dingin.
"Heeeh.... heehh.... heehh.... hidung kerbau tua, buat apa engkau berlagak pilon? jengeknya, sekarang Sin-kiepang telah bekerja sama dengan Hong-im-hwie untuk menghantam perkumpulanmu, sebentar lagi perkumpulan Thong-thian-kauw bakal mengalami kehancuran total dan musnah dari muka bumi.... haaahh.... haaahh.... haaahh.... jangan dibilang ketiga orang Cou su ya mu, sekalipun locou yang mendirikan perkumpulanmu diundang turun ke atas bumi pun tak bisa kau selamat kan perkumpulanku ini dari lembah kehancuran.
"Setelah Jin Hian dibunuh, apakah situasinya bisa dirubah dan perkumpulanku tertolong?"
Tukas Thongthian Kaucu sambil tertawa. Ciu It-bong melototkan sepasang matanya bulat-bulat.
"Apa yang musti dikatakan lagi?"
Sahutnya, setelah Jin Lo-ji mati konyol maka perkumpulan Hong-im-hwie akan buyar bagaikan buyarnya mega terhembus angin, sekalipun Cong Tang-kee lain bisa segera dipilih tapi apakah orang lain sudi menuruti perintahnya?
dan anak buah dari Jin Hian apakah mudah diperintah orang dengan begitu saja?
Asal Hong-im-hwie batalkan perjanjiannya untuk bersekutu dengan Sin-kie-pang, maka apa yang ditakuti lagi oleh perkumpulan Thongthian-kauw?"
"Ehmmm! pendapat yang tinggi.... pendapat yang tinggi...."
Puji Thong-thian Kaucu sambil mengelus jenggotnya.
"cuma.... ilmu silat yang dimiliki Jin Hian tidak berada di bawah kita berdua, siasat bagus apa yang dimiliki Ciu beng untuk memenggal batok kepalanya?"
"Tentang soal itu kau tak usah tahu dan tak perlu kuatir. kembalikan pedang emas itu kepadaku maka kutanggung batok kepalanya berhasil kupetik untukmu!"
Thong-thian Kaucu tersenyum.
"Kalau memang begitu, silahkan Ciu heng pergi memenggal batok kepalanya Jin Hian lebih dahulu, setelah kau berhasil maka pinto akan kembalikan pedang emasmu itu kepadamu!"
Hoa Thian-hong yang mendengar perkataan itu, dalam hati jadi curiga bercampur ragu, pikirnya.
"Menurut Giok Teng Hujin, pedang emas itu semuanya terbagi jadi dua yakni pedang jantan dan pedang betina, pedang jantan berada ditangannya sedang pedang betina tersimpan di dalam pedang mustika milik Thong-thian Kaucu , menurut Thong-thian Kaucu sama sekali tidak tahu akan persoalan ini"
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh.
"Ia mengaku dirinya bernama Siang Hoa apakah dia punya hubungan yang erat dengan pemilik pedang emas itu? Aaah....! benar, jangan-jangan dia memang punya hubungan yang istimewa dengan 'It kiam kay-tionggoan' pedang sakti penyapu daratan Tionggoan, Sang Tay Lay!"
Berpikir sampai disini jantungnya terasa berdebar keras ia ingin bertemu segera Giok Teng Hujin serta menanyakan persoalan ini kepadanya. Sementara itu Ciu It-bong telah berkata kembali.
"Sebenarnya boleh saja kalau suruh aku bunuh Jin Hian lebih dahulu baru minta kembali pedang emas itu, tetapi bila aku kekurangan sebilah senjata tajam yang akan kugunakan untuk memenggal batok kepala Jin Hian itu, keberhasilanku dalam usaha ini jadi agak meragukan!"
"Haaah-haaah.... siasat disusun oleh manusia dan keberhasilan ditentukan Thian, bila cara yang satu tak bisa digunakan apa salah nya kalau mencoba dengan cara yang lain"
"Jin Hian bukan manusia sembarangan, bila seranganku gagal maka sulitlah bagiku untuk mengulangi kembali pembunuhan itu"
"Jika sampai begitu keadaannya, maka Ciu heng harus menunggu sampai bulan tujuh tanggal lima belas nanti, dalam pertemuan besar Kian ciau Tay hwee itu kau boleh berduel melawan Jin Hian disaksikan oleh para enghiong dari seluruh kolong langit, asal Ciu heng berhasil membinasakan Jin Hian maka pintopun akan serahkan kembali pedang emas itu kepadamu"
"Hidung kerbua tua, apakah kau bersikap keras tak akan serahkan pedang emas itu kepadaku sebelum kubunuh Jin Hian?"
Thong-thian Kaucu tertawa.
"Kalau pedang emas itu kukembalikan ke padamu lebih dulu. kemudian Ciu heng tak mau membunuh Jin Hian, apa yang bisa pinto lakukan?"
"Hihi! Sebaliknya kalau kubunuh Jin Hian lebih dahulu kemudian kau mengingkari janji dan tak mau serahkan pedang emas itu ke padaku, apa yang bisa aku lakukan?"
"Haaaah.... haaaahh.... haah...."
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak bahak, bila pinto berani mengingkari janji, maka dipersilahkan Ciu heng sekalian untuk memenggal batok kepalaku ini!"
"Hmm, kau anggap aku tak berani melakukannya?"
Teriak Ciu It-bong penuh kegusaran.
Tubuhnya mendadak mencelat keudara dan langsung menerjang ke arah Tnian Ik-cu.
Thong-thian Kaucu tak berani bertindak gegabah, sepasang kakinya menjejak tanah lalu loncat bangun dari atas kasur, sepasang telapaknya disilangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan, Terdengar Ciu It-bong mendengus dingin dengan gunakan jurus Kun-siu-ci-tauw ia kirim satu pukulan yang maha dahsyat bagaikan tindihan gunung Thay san ke atas batok kepala Thian Ik-cu.
Serangan yang dilancarkan oleh Ciu It-bong sendiri ini benar-benar luar biasa sekali, melihat datangnya ancaman itu Thong-thian Kaucu tahu bahwa tak mungkin bagi dirinya untuk memunahkan serangan tadi, sepasang bahunya segera bergerak, tubuhnya merandek setengah depa ke belakang dan dalam sekejap mata dia meloloskan diri dari kepungan angin pukulan lawan.
Sreeet!
Senjata hud-timnya yang langsung dibahat kemuka.
Ciu It-bong putar badannya di tengah udara untuk meloloskan diri dari babatan senjata hud-tim tersebut, kemudian rentangkan lengannya dan melakukan terjangan untuk kedua kalinya.
Thong-thian Kaucu tertawa terbahak-bahak, tubuhnya melayang keudara dan hinggap di atas tempat duduk dimana Ciu It-bong berada tadi, katanya sambil tertawa.
"Tidak aneh kalau ketiga orang Cousu perkumpulan kami selalu memuji akan kehebatan Ciu heng, jurus pukulanmu ini memang betul-betul luar biasa dan cukup untuk menjagoi kolong langit"
Ciu It-bong yang bergebrak satu jurus melawan kaucu dari Thong-thian-kauw dengan hasil kedua belah pihak saling bertukar tempat belaka kontan melototkan matanya sesudah mendengar perkataan itu, serunya sambil tertawa dingin.
"Heehhh.... heeehhh.... heeehhh dari perkumpulan Thong-thian-kauw masih ada berapa orang tua bangka yang berani mengejek kemampuan dari aku orang she Ciu? Kalau engkau tidak undang mereka untuk tampil ke depan lagi, jangan salahkan kalau aku akan mulai memaki!"
"Dimaki juga tak ada gunanya,"
Jawab Thong-thian Kaucu sinis, ketika engkau berada di dalam penjara batu tadi, ketiga orang Cou-su kami berada tepat di belakang tubuhmu, tapi sekarang mereka telah berlalu semua dari tempat ini."
Ciu It-bong berkaok-kaok aneh, mendadak ia tutup mulut dan gelengkan kepalanya berulang kali.
"Hidung kerbau tua, kau ngaco belo dan bicara tak karuan, aku percaya di kolong langit belum ada orang yang mampu mengutil di belakang punggungku tanpa diketahui!"
Thong-thian Kaucu tersenyum, dia alihkan pembicaraan ke soal lain dan bertanya.
"Engkau dengar dari siapa kalau pedang emas itu berada di tanganku....?"
"Bocah itu yang bilang!"
Jawab Ciu It-bong sambil menuding ke arah Hoa Thian-hong.
"Hey, bocah keparat, kau dengar dari siapa kalau pedang emas itu berada disini?"
Tegur kaucu itu kemudian sambil berpaling.
Sejak dadanya tertusuk oleh ujung pedang Ang Yap toojin, mulut luka didada Hoa Thian-hong telah melebar sampai dua cun panjangnya, meskipun tidak sampai melukai otot dan tulangnya namun karena tidak dibalut maka darah mengalir keluar tiada hentinya, hal ini sangat merugikan kesehatan tubuhnya.
Ditambah lagi pikirannya sedang kusut dan hatinya terasa berat, maka wajah pemuda itu kelihatan lesu dau kacau sekali.
Ketika Thong-thian Kaucu ajukan pertanyaan tadi, ia gerakan bibirnya hendak menjawab, tapi secara tiba-tiba timbul keseganan untuk buka suara, maka akhirnya tetap ia membungkam dalam seribu bahasa.
Melihat pemuda itu tetap membungkam dan tidak menggubris pertanyaan, air muka Thong-thian Kaucu berubah hebat, sambil mengebaskan senjata Hudtimnya kemuiian dia membentak, Bocah keparat.
Engkau melongo dan duduk termangu-mangu seperti orang bodoh, apa sedang bermimpi?"
Sejak ia bertukar tempat dengan Ciu It-bong, jaraknya dengan Hoa Thian-hong jadi lebih dekat lagi, kebasan senjata hudtim nya itu kelihatan akan segera mengenai tubuhnya....
buru-buru ia angkat pedang untuk menangkis.
Thong-thian Kaucu amat benci dan mendendam karena murid didikannya dibunuh orang, dia ingin sekali membinasakan Ciu It-bong dan Hoa Thian-hong pada saat itu juga, namun karena situasinya tidak mengijinkan maka niat tersebut untuk sementara tak dapat dilaksanakan.
Sekarang melihat pemuda itu menangkis serangannya dengan angkat pedang, pergelangan segera digetarkan dan senjata Hudtim menggulung ke arah depan, tiba-tiba pedang lawan dijangkau dan di tengah sentakan iman tua itu membentak keras.
"Enyah kau dari sini!"
Hoa Thian-hong merasa telapaknya jadi kaku, pedang bajanya seketika terlepas dari cekalan dan meluncur ke arah Ciu It-bong.
Hoa Thian-hong menjadi gusar bercampur malu, ia takut Ciu It-bong tak mau mengembalikan ketangannya, sambil menahan sakit tubuhnya segera meluncur keudara dan menubruk ke arah pedang bajanya.
Thong-thian Kaucu menyeringai seram, hud tim nya kembali dikebut kemuka....Weess!
dengan telak bersarang di atas lutut pemuda itu.
Sambil menggertak gigi Hoa Thian-hong mendengus berat, celananya robek dan kakinya berdarah, sementara tubuhnya segera terbanting jatuh di atas tanah.
Dua orang iman cilik baju merah yang berdiri disisi arena segera tertawa cekikikan karena geli ketika melihat Hoa Thian-hong roboh dalam keadaan yang mengenaskan.
Si anak muda itu sendiri walaupun badannya terbanting ke tanah, namun pedang bajanya berhasil dirampas kembali, dia loncat bangun ke atas dan menyilangkan pedangnya di depan dada dengan mulut membungkam.
Sepasang matanya berubah jadi merah berdarah, rasa benci dan dendam berkecambuk dalam dadanya, ia sadar bahwa kepandaian silatnya masih jauh ketinggalan kalau dibandingkan dengan Thian Ik-cu, karena itu untuk beberapa saat lamanya ia tak berani bergerak secara sembarangan.
Ciu It-bong jadi iba dan kasihan melihat pemuda itu terluka di ujung senjata Thong-thian Kaucu , apalagi setelah dilihatnya darah masih mengucur keluar dari dada dan kakinya, bagaimanapun ia pernah mewaris-kan ilmu silatnya kepada pemuda itu, maka dengan suara dalam ia berseru.
"Hidung kerbau tua, kalau engkau teruskan perbuatanmu yang brutal dan tak tahu malu itu, maka kesulitan akan kau hadapi dengan segera.... ayoh cepat ambil keluar obat luka luar untukku, akan kubalutkan luka bocah itu. Apalagi sekarang tengah hari sudah lewat, perutku sudah harus diisi...."
"Oohoo.... kau tak usah kuatir, selamanya keparat ini tak pernah mendendam kepada orang, aku dengar orang berkata tempo hari Pek Siau-thian ayah dan anak pernah menghina dan menyiksa dirinya habis-habisanan, ternyata di kemudian hari bukan saja ia tidak mendendam terhadap mereka malah rela tenaga buat keluarga Pek, karena itulah walaupun sekarang pinto sudah kasih pelajaran yang berat kepadanya, lewat beberapa waktu toh dia akan melupakannya kembali!"
Tertegun Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, kemudian pikirnya lebih jauh.
"Aku mengira jika menghadapi manusia dengan kebajikan maka dunia akan jadi aman, tak tahunya justru perbuatanku ini maka sampai pihak musuh pun memandang rendah diriku!"
Berpikir sampai disitu ia jadi kecewa dara menyesal sekali....
tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, wajahnya seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras.
Ciu It-bong yang melihat keadaanya itu segera mengira kalau pemuda itu telah naik pitam dan siap beradu jiwa dengan Thian Ik-cu, buru-buru teriaknya dengan suara lantang.
"Hoa Thian-hong, hidung kerbau itu ini sudah duapuluh tahun lamanya memegang pucuk pimpinan perkumpulan Thong-thian-kauw, bapakmu sendiri pun tak berani pandang enteng dirinya, kalau engkau tak tahu diri maka itu berarti mencari penyakit buat diri sendiri"
Hoa Thian-hong menggelengkan kepalanya, ia tetap membungkam.
"Ciu heng!"
Terdengar Thong-thian Kaucu mengejek."
Rupanya kesanmu terhadap bocah keparat itu tidak terlalu jelek!"
"Hmm! Kalau tidak terlalu jelek lantas kenapa?"
Teriak Ciu It Boug dengan nada ketus.
"kalau engkau tidak puas, silahkan cari aku orang she Ciu untuk bikin perhitungan" 00000O00000 Thong-thian Kaucu tertawa, katanya.
"Kau repot benar untuk melakukan pembalasan dendam sedang pinto repot untuk pukul mundur musuh tangguh, boleh dibilang kita punya persoalan yang sama-sama repotnya.... kalau ingin bertempur aku rasa lebih baik ditunda saja sampai diselenggarakannya pertemuan besar Kian ciau Tay hwee!"
"Hmm! Siapa yang takut terhadap dirimu?"
"Locianpwee, aku ingin mohon diri terllebih dahulu,"
Tiba-tiba Hoa Thian-hong berseru sambil memberi hormat, kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari sana.
Cing Lian siauto jadi naik pitam menyaksikan pemuda itu hendak berlalu dengan seenaknya, ia melesat ke depan dan menghadang di depan pintu, hardiknya.
"Hoa Thian-hong, siapa yang suruh engkau pergi?"
Dia adalah murid tertua dari Thong-thian Kaucu , sejak Hoa Thian-hong membinasakan seorang imam cilik baju merah serta Ciu It-bong membunuh pula seorang imam cilik dan menguntungi kaki Ang Yap toojin, ia catat semua hutang tersebut atas nama si anak muda itu, maka setelah menyaksikan Hoa Thian-hong hendak berlalu, ia bersikeras menghalanginya.
Hoa Thian-hong segera membentuk keras, pedang bajanya diayun kemuka melancarkan sebuah bacokan.
Sreeet.
desiran angin tajam menyapu ke muka, sebelum pedang itu tiba, segulung hembusan hawa pedang yang dahsyat telah mennyambar datang lebih dahulu.
Cing Lian siauto amat terperanjat, buru-buru ia jejak kakinya ke atas tanah dan menyingkir kesamping Thong-thian Kaucu merasa terkejut bercampur gusar, dia putar badan dan berseru sambil menyeringai seram.
"Keparat cilik, lihat dulu dimanakah saat ini engkau berada.... berani benar main kasar disini.... Hmm....! Nyalimu benar-benar tidak kecil....!"
Senjata Hud-timnya diputar ke depan, tiba-tiba ia totok jalan darah Gi cung hiat di tubuh Hoa Thian-hong.
Mendengar muncilnya desiran angin tajam dari arah belakang, pemuda itu segera putar badan, tanpa memandang barang sekejappun pedangnya dibacok ke belakang.
Serangan itu tajam dan cepat sekali, kendati Thongthian Kaucu mempunyai ilmu silat yang maha tinggipun tak berani menangkis dengan keras lawan keras, buruburu ia mengepos tenaga dan tarik lambungnya ke belakang.
Weeees....!
Ujung pedang itu diiringi desiran angin tajam menyambar lewat di atas dadanya dan hampir saja merobek jubah pertapaan yang dia kenakan.
"Hidung kerbau tua!"
Teriak Ciu It-bong dengan cepat, dia hendak pergi 'lari racun' mau apa kau tahan dirinya?"
"Keparat itu merupakan satu-satunya saksi hidup yang mengetahui peristiwa pembunuhan atas diri Jin Bong aku ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadanya"
Sambil menerjang kemuka, lengannya di rentangkan, dengan gagang Hudtimdnya sodok perut pemuda itu.
Hoa Thian Hone membentak keras, pedang bajanya ditekan ke bawah dan langsung membacok musuhnya.
Setelah hawa amarah menyelimuti wajahnya, keadaan pemuda itu boleh dibilang sudah berubah sama sekali, matanya melotot alisnya berkerut seolah-olah malaikat bengis yang sedang mencari mangsa.
Ruangan itu merupakan tempat Thian Ik-cu berlatih tenaga dalam, setelah Hoa Thian-hong menghadang di depan pintu sambil mengirim bacokan-bacokan mautnya, sulit bagi imam tua itu untuk menerjang ke depan, beberapa kali ia terdesak mundur kembali ke belakang.
Melihat serangannya berulang kali digagalkan oleh pemuda itu, Thong-thian Kaucu jad i gusar dan marah sekali, senjata hud-timnya dipindahkan ke tangan kiri lalu dengan telapak disilangkan di depan dada perlahan-lahan ia maju ke depan.
Ciu It-bong takut si anak muda itu tak tahu lihay, buru-buru bentaknya keras, Hoa Thian-hong, cepat mundur ke belakang!"
Bersama itu pula terdengar teriakan seoang perempuan dengan suara yang gelisah.
"Kaucu.... jangan turun tangan keji!"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Giok Teng Hujin diiringi Hoa In telah muncul di atas loteng.
Semua peristiwa itu berlangsung pada waktu yang hampir bersamaan begitu menyaksikan keadaan dari majikan kecilnya, Hoa In jadi amat terperanjat, bagaikan hembusan angin puyuh dia meloncat ke muka dan membentak keras.
"Siau Koan-jin, cepat menyingkir!"
Setelah dada dan kakinya terluka sehingga darah banyak yang hilang, Hoa Thian-hong sadar bahwa ia tak mampu membendung datangnya angin pukulan dari Thong-thian Kaucu , mendengar Hoa In sudah datang cepat-cepat ia menyingkir ke samping.
Thong-thian Kaucu bermata tajam, sekilas memandang dia sudah mengenali orang itu sebagai Hoa In, ditambah pula dari laporan Ang Yap toojin ia sudih tahu kalau ilmu pukulan Sau yang ceng ki nya lihay sekali, maka dalam keadaan itu terpaksa ia manambahi tenaganya menjadi sepuluh bagian dan mengirim satu pukulan gencar.
Setelah mengetahui majikan mudanya terluka parah, Hoa In sudah diliputi oleh hawa gusar yang memuncak, ketika menerjang ke depan pintu hawa sakti Sau yang ceng ki nya telah dihimpun sampai sepuluh bagian, dengan cepat dia lancarkan satu pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Blaaam....!
Ketika sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya, terjadilah ledakkan dahsyat yang menggetarkan seluruh ru angan, gulungan angin tajam memancar keempat penjuru, pintu depan ruangan itu seketika ambruk dari tempatnya, lukisan di atas dinding terlempar jauh ke belakang dan separuh bagian diantaranya tersayat robek.
Tong Thiao Kaucu berdiri saling berhadapan dengan Hoa In pada jarak kurang dari lima langkah, dada mereka bergelombang dan empat mata bertemu jadi satu memandangkan rasa gusar, kaget dan tercengang.
"Loo koankee, harap tahan dulu...."
Teriak Giok Teng Hujin dengan alis berkerut.
Sejak lenyap Hoa Thian-hong ketika keluar rumah bersama perempuan itu, Hoa In sudah merasa amat tidak puas terhadap Giok Teng Hujin, bila ia tidak membuka suara mungkin masih mendingan, ucapan itu seolah-olah api bertemu dengan bensin, kegusaran Hoa In semakin memuncak.
Dengan mata melotot besar, Hoa In berteriak keras.
"Thian Ik-cu, dengarkan baik-baik.... barang siapa berani melukai majikan muda dari perkumpulan Liok Soat Sanceng, maka Hoa In akan mempertaruhkan selembar jiwanya untuk melukukan membalasan!"
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, sepasang telapak diayun berbareng ke depan dengan gunakan tenaga sebesar duabelas bagian. Thong Thian Kjucu merasa terkejut bercampur gusar, makinya.
"Tua hangka sialan....!"
Kakinya melangkah ikuti gerak pat kwi, sepasang telapak didorong kemuka dan menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.
Blaaam....!
Suara yang menggelegar kembali bergema di angkasa, kali ini masing-masing pihak mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyong, di atas lantai lonteng tertera bekas-bekas telapak kaki yang dalam.
Adu kekuatan yang berlangsung saat itu betul-betul mengerikan sekali, seluruh ruangan dalam bangunan loteng itu bergoncang keras, keadaan mengerikan sekali.
Sau yang ceng ki adalah kepandaian ampuh yang diandalkan Hoa Goan-siu sewaktu berkelana di dalam dunia persilatan tempo dulu, meskipun Thong-thian Kaucu memiliki tenaga dalam sebesar enam puluh tahun hasil latihan, akan tetapi setelah bertanding dengan Hoa In keadaan ternyata seimbang.
Setelah dua kali bentrokan kekerasan itu lewat, diamdiam Thong-thian Kaucu merasakan isi perutnya tergoncang dan darah dalam tubuhnya tergolak keras, hal itu menunjukkan hawa isi perutnya sudah terluka, sebaliknya Hoa In sendiri walaupun merasakan pula golakan darah dalam tubuhnya, namun isi perutnya tidak sampai terluka.
Suasana hening untuk beberapa saat lama nya, tibatiba Giok Teng Hujin menggoyang bahu Hoa Thian-hong sambil serunya.
"Adik Hong kalau ada persoalan kita bicarakan secara baik-baik, cepat perintahkan pengurus tuamu untuk mengundurkan diri"
"Thian Ik-cu adalah salah seorang pembunuh ayahku,"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"sudah sepantasnya kalau kubereskan jiwanya, apalagi ia mentertawakan aku lupa akan dendam....Hmm! Sekarang juga aku akan menuntut balas...."
Berpikir demikian selangkah demi selangkah ia segera maju menuju ke tengah gelanggang. Hoa In yang menyaksikan tingkah laku majikannya jadi gelisah, buru-buru teriaknya.
"Siau Koan-jin, jangan ikut campur! engkau berdiri disisi arena saja...."
Ia takut kalau Hoa Thian-hong turut campur dalam pertarungan itu, belum habis perkataannya diucapkan ia sudah menghimpun segenap kekuatan yung dimilikinya dan langsung disodokan ke tubuh Thian Ik-cu.
Thong-thian Kaucu jadi terkejut bercampur gusar, bentaknya dengan hati mendongkol.
"Tua bangka sialan, kau benar-benar cari mati?"
Dari perubahan wajah iman tua itu, rupanya Ciu Itbong sudah tahu kalau ia tak mampu melanjutkan pertarungan itu dengan adu kekerasan, tanpa terasa sambil tertawa terbahak-bahak jengeknya.
"Haaah.... haaah.... haaah.... hidung kerbau tua gunakan pedangmu, kalau tidak maka pertemuan Kiau ciau tay hwee yang akan diseleng garakan pada bulan tujuh tanggal lima belas bakal gagal dilang-sungkan!"
Iman cilik pembawa pedang yang berdiri disisi kalangan buru-buru loncat maju ke depan setelah mendengar perkataan itu, pedang pusaka digenggamannya langsung diangsurkan ke depan.
Thong-thian Kaucu jadi bergirang hati, dia pegang gagang pedangnya dan pencet tombol disana....Crriing....!
cahaya tajam berkilauan di angkasa dan muncullah sebilah pedang pusaka di depan mata.
"Pedang bagus!"
Puji Ciu It-bong dengan suara keras. Thong-thian Kaucu tidak mengubris seruan orang, dengan wajah hambar katanya.
"Hoa In, tempat ini tidak cocok untuk digunakan sebagai gelanggang pertempuran, ayoh kita cari tempat yang lebih lebar untuk menentukan siapa menang siapa kalah diantara kita berdua!"
Sebelum Hoa In sempat menjawab, Ciu It-bong telah berteriak kembali.
"Hidung kerbau sialan, kalau kau pingin mati, serahkan dulu pedang emas itu kepada ku"
Hoa Thian-hong yang melihat hal itu segera berpikir di dalam hati.
"Ciu It-bong gembar gembor sedari tadi, rupanya ia memang sengaja mengacau terus agar pertarungan tak bisa dilangsungkan. Aa ai....! bagaimana baiknya...."
Sementara itu Giok Teng Hujin sudah maju ke depan, katanya.
"Pengurus tua, racun teratai dalam tubuh majikan mudaku sebentar lagi bakal kambuh, sekalipun kau tangguh dan hebat tidak seharusnya kalau berkeras kepala terus.... aaah!"
Mendadak dengan air muka berubah, teriaknya.
"Adik Hong cepat balut mulut lukamu itu! jangan biarkan darah mengalir tiada hentinya!"
Teringat akan luka yang diderita majikan mudanya, Hoa In jadi amat terperanjat, buru-buru ia dekati Hoa Thian-hong sambil tegurnya.
"Siau Koan-jin, apakah racun teratai yang mengeram dalam tubuhmu sudah mulai bekerja?"
Hoa Thian-hong sudah tahu bahwa racun teratai itu bila kambuh maka darah yang mengalir dalam tubuhnya akan bergolak keras, mulut luka akan merekah semakin besar mengakibatkan darah mengalir makin deras.
Dengan mempertahankan ketegangannya ia menjawab sambil tertawa.
"Racun teratai baru saja kambuh, untuk beberapa waktu sih tak menjadi soal, perhatikan sekeliling tempat ini baik-baik, hati-hati terhadap serangan bokongan orang!"
Hoa In mengangguk tanda mengerti, setelah menyambut pedang baja itu dia belalakan matanya bulat-bulat, sambil melotot ke arah Thong-thian Kaucu tanpa berkedip ia berjaga-jaga atas serangan yang mungkin dilakukan oleh lawan.
Dari dalam sakunya Giok Teng Hujin ambil keluar sebuah botol porselen, setelah membubuhkan obat luka luar dimulut luka Hoa Thian-hong, dirobeknya pakaian sendiri untuk membungkus dada orang, sikapnya yang gugup dan cemas menunjukkan betapa kuatirnya hati perempuan ini.
Thong-thian Kaucu jadi sangsi dan ragu-ragu melihat tingkah laku perempuan itu, beberapa kali dia hendak bicara namun niat itu selalu dibatalkan, sepasang alisnya berkerut kencang....
kalau ditinjau dari keadaan itu, jelas sekali menunjukkan bahwa ia sangat gusar.
Setelah merawat mulut luka Hoa Thian-hong di atas dada, Giok Teng Hujin berjongkok kembali untuk merawat luka disepasang kakinya, waktu itu tengah hari sudah tiba, kadar racun teratai dalam tubuh si anak muda itu mulai membubung naik dari atas pusar dan bercampur dengan darah dalam nadinya, dalam waktu singkat darah yang mengucur keluar dari mulut lukanya berubah jadi hitam pekat bagaikan tinta.
Terdengar Ciu It Boag menghela napas panjang dan berkata.
"Aaai....! Keajaiban alam, sungguh tak nyana luar biasa sekali...."
Setelah berhenti sebentar, teriaknya kembali.
"Hoa Thian-hong, totoklah jalan darah pingsanmu.... bagaimana kalau beristirahat sejenak?"
Hoa Thian-hong segera menggeleng.
"Setelah racun teratai itu kambuh, cara apapun tak bisa menolong diriku, apa lagi menotok jalan darah...."
Mendadak pemuda itu merasa bahwa banyak bicara akan merugikan diri sendri, buru-buru ia tutup mulut dan tidak membocorkan rahasia itu lagi....
Tindak tanduk Giok Teng Hujin sungguh cekatan, dalam waktu singkat ia telah membalut luka yang diderita pemuda itu pada sepasang kakinya, hanya darah masih belum berhenti maka sebentar saja kain pembungkus luka itu telah berubah jadi hitam karena darah mengandung racun, terutama sekali luka didadanya membuat orang yang memandang jadi ngeri dan bergidik sekali.
Hoa Thian-hong merasakan sekujur badannya gatal seperti dirambat oleh berjuta-juta ekor semut, rasanya amat tersiksa, menanti lukanya telah dibalut ia segera berkata.
"Terima kasih atas bantuan dari cici, siaute ingin mohon diri terlebih dahulu"
"Kau hendak pergi kemana?"
Tanya perempuan itu sedih.
"Aku sudah tidak tahu dan ingin berlari-lari sebentar...."
Sambil berpaling teriaknya.
"Ciu Locianpwse....! Thian Ik su....! Sampai jumpa lain waktu...."
Tanpa menanti jawaban dia lari lebih dahulu tinggalkan tempat tersebut. Giok Teng Hujin segera menyusul dari belakangnya, ia berteriak.
"Adik Hong, jangan terlalu cepat.... tunggu aku sebentar, ada urusan penting hendak kusampaikan kepadamu!"
Thong-thian Kaucu amat gusar melihat perbuatan perempuan itu, bentaknya nyaring.
"Hujien.... berhenti!"
Tapi Giok Teng Hujin tidak menggubris teriakan tersebut, sambil mendampingi Hoa Thian-hong dia lari turun dari loteng, Hoa In berjalan dipaling belakang dan bersama-sama tinggalkan istana Yang sim tian.
Sepanjang jalan walaupun ada orang yang melakukan penjagaan, tapi berhubung Giok Teng Hujin berada bersama mereka, maka siapapun tak berani menghalangi kepergian beberapa orang itu.
Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah berada diluar kuil.
Setelah racun teratainya kambuh, rasa sakit didada dan kaki pemuda itu sudah tidak terasa lagi, tetapi setelah menyaksikan darah yang mengucur keluar dari dadanya tidak berhenti, ia jadi gugup sekali.
Sambil lari ia tutup mulut lukanya dengan sepasang tangan, teriaknya.
"Cici.... benarkah engkau she Siang?"
Giok Teng Hujin tertegun lalu mengangguk.
"Benar aku bernama Siang Hoa, tetapi kecuali engkau seorang tak ada yang tahu tentang namaku ini"
"Apa hubunganmu dengan Pedang sakti yang menyapu daratan Tionggoan, Siang Tang Lay?"
Air muka Giok Teng Hujin berubah hebat setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu ia menjawab sambil tertawa....
"Si Tolol.... akhirnya engkau berhasil menebaknya juga dengan jitu,"
Setelah berhenti sebentar, dengan wajah sedih lanjutnya.
"Pedang sakti yang menyapu daratan Tiong goan Siang Tang Lay bukan lain adalah ayah enci, sekarang kau tentu sudah mengerti bukan?"
Meskipun Hoa Thian-hong telah menebaknya sejak semula, namun setelah mendengar pengakuan dari perempuan itu tak urung hatinya merasa terperanjat juga, teringat bahwa dia adalah putri dari Siang Tang Lay maka bisa diduga maksudnya perempuan itu jadi anggota perkumpulan Thong-thian-kauw tentu mengandung rencana tertentu.
Terdengar Giok Teng Hujin berkata lagi.
"Adik Hong, persoalan yang paling menyedihkan hati cici selama ini adalah peristiwa ditepi sungai Huang-ho tempo hari, aku menyesal mengapa tidak tampilkan diri untuk menyelamatkan jiwamu...."
"Ketika itu kita tak pernah saling kenal mengenal, mau menolong atau tidak bukanlah suatu masalah yang penting, toh sekarang aku masih hidup segar bugar? Buat apa kau ungkap kembali peristiwa yang sudah lewat itu....?"
Giok Teng Hujin meagbela napas panjang.
"Engkau adalah pendekar sejati yang berhati bajik, kau hanyalah tahu menyalahkan diri sendiri tak tahu menyalahkan orang. Aaaaai....! ayahmu pernah melepaskan budi pertolongan kepada ayahku, aku hanya ingin membalas dendam dan tak tahu membalas budi.... sekarang keadaan berubah jadi begini inilah dosa yang harus kupikul"
"Bagaimana sih keadaan cici pada saat ini?"
Tanya Hoa Thian-hong tidak habis mengerti.
"apakah Thian Ik-cu sudah menaruh curiga terhadap dirimu?"
"Huuuh....! Siapa sih yang ajak engkau bicarakan tentang persoalan itu?"
Tukas Giok Teng Hujin sambil tertawa.
"Coba pikir lah, seandainya pada tempo hari akulah yang menolong dirimu, maka sekarang orang yang selalu kau ingat dan kau bayangkan adalah diriku, dan bukan Chin Wan-hong"
Hoa Thian Hang tersenyum mendengar perkataan itu.
"Cici, pikiranmu terlalu picik"
Serunya, tiba-tiba ia menghela napas dan melanjutkan.
"Pek Soh-gie yang melakukan perjalanan bersama aku kini ditawan oleh Thian Ik-cu, bagaimanakah nasibnya hingga kini belum diketahui, bila berbicara tentang soal setia kawan, sudah sepantasnya kalau aku harus berusaha menolong dirinya lebih dahulu, tetapi...."
Mula-mula Giok Teng Hujin tertegun, kemudian serunya dengan nada agak mendongkol.
"Pek Siau-thian adalah pangcu dari perkumpulan Sin-kie-pang, siapa suruh engkau mencampuri urusannya?"
"Kita sebagai manusia harus berbuat kebajikan dan kebaikan tanpa memandang bulu dan memilih orang. Aaai....! Mungkin saja aku adalah orang yang terlalu memandang penting persoalan yang remeh...."
Buru-buru Giok Teng Hujin tertawa ketika melihat pemuda itu mengeluh dan tiba-tiba tidak senang hati, ujarnya.
"Kau tak usah berpikir yang bukan-bukan.... ketahuilah jago lihay yang dimiliki perkumpulan Thongthian-kauw banyak sekali, sekali pun engkau pertaruhkan selembar jiwamu belum tentu gadis itu berhasil kau selamatkan"
Bicara sampai disitu kembali ia berpaling memandang sekejap sekeliling tempat itu, melihat disitu tak ada orang, lanjutnya.
"Adik Hong, bersabarlah sedikit.... coba berhentilah sebentar, akan kuperiksakan lukamu itu"
Hoa Thian-hong berhenti berlari, ketika melihat darah racun telah membasahi seluruh dadanya, ia menghela napas panjang.
"Waaah.... kalau begitu terus keadaannya darahku akan mengalir sampai habis dan akhirnya aku tentu akan mati kekeringan,"
Keluhnya. Hoa In sudah cemas sekali sedari tadi, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, mendengar perkataan itu ia berseru.
"Siau Koan-jin, mari kita menuju keutara kita coba minta pertolongan dari Dewa suka pelancongan Cu tayhiap"
Namun Hoa Thian-hong segera gelengkan kepalanya.
"Cu locianpwee suka berpesiar kemana-mana, sekarang dia entah berada dimana? Sekalipun kita berhasil temukan dirinya juga belum tertu ada gunanya"
"Kalau begitu kita cari Cu Im taysu saja."
"Penyakitku adalah penyakit yang sangat aneh, percuma.... mereka tak mungkin bisa mengobatinya,"
Jawab pemuda itu sambil tertawa.
Sementara pembicaraan itu masih berlangsung, Giok Teng Hujin telah putar badan melepaskan jubah luarnya, dari saku dia ambil keluar sebuah kotak kumala yang panjangnya empit cun dengan tebal delapan dim, ujarnya sambil tertawa.
"Adik Hong, coba tebak api isi kotak ini.
"Coba kulihat dulu....!"
Seru Hoa Thian-hong dengan wajah tercengang. Giok Teng Hujin tertawa, dengan sangat hati-hati ia membuka kotak kumala itu, sambil diangsurkan kehadapan pemuda itu serunya manja.
"Coba lihatlah....Leng-ci berusia seribu tahun ini sudah disimpan ayahku selama sebelas tahun lamanya, kemudian aku pun menyimpan kembali selama belasan tahun.... obat ini merupakan obat mujarab yang bisa digunakan untuk menolong orang yang hampir mati, perduli obat ini bisa memunahkan racun dari Teratai empedu api atau tidak, makanlah lebih dahulu!"
Hoa Thian-hong jadi sangat kegirangan, ketika ia periksa isi kotak itu maka tampaklah dalam kotak berisikan sebatang rumput aneh yang bentuknya luar biasa, separuh bagian kotak itu berisikan tanah berwarna hitam, rumput mujarab itu tertanam di atas tanah yang lembab dan seolah-olah baru saja digali dari atas tanah, bau harum semerbak yang menyegarkan badan segera tersiar ke luar.
Hoa Thian-hong yang mencium bau harum itu merasakan badannya nyaman dan segar sekali.
Melihat pemuda itu menunjukkan rasa kejut bercampur girang, Giok Teng Hujin jadi amat senang, katanya.
"Aku sendiripun tak tahu bagaimanakah cara menggunakan obat Leng-ci ini, telan saja seakarakarnya.... aku rasa tak mungkin bisa terlalu salah....!"
Melihat perempuan itu hendak mencabut obat, buruburu Hoa Thian-hong mencegahnya, sambil berseru.
"Cici.... jaa.... jangan kau sentuh...."
"Kenapa? tumbuhan yang ada di kolong langit adalah diberikan kepada umat manusia kalau manusia tak mau memakainya maka semuanya akan jadi barang yang tak berguna"
"Siaute hendak...."
"Kau hendak berbuat apa?"
Tanya Giok Teng Hujin dengan halus bercampur sayang.
"berada dihadapan cici, utarakan saja semua perkataanmu itu....!"
Titik air mata tiba-tiba jatuh berlinang di atas wajah Hoa Thian-hong, ujarnya, Sejak termakan oleh sebuah pukulan dahsyat waktu menghadiri perempuan besar Pek Beng Tay hwee, ibuku menderita luka dalam yang amat parah....
hingga kini keadaannya belum sembuh benar....
selama belasan tahun selalu menderita dan tersiksa....!"
Pemuda itu berhenti sebentar, dengan wajah menyesal, serunya.
"Bila cici suka menghadiahkan Lengci ini kepadaku maka penyakit yang diderita ibuku tentu akan sembuh.... budi dari cici ini."
"Apa itu budi?"
Tukas Giok Teng Hujin cepat.
"Lengci berusia seribu tahun ini toh sudah kuhadiahkan kepadamu, benda itu hendak kau pergunakan untuk apa adalah urusanmu sendiri...."
Berbicara sampai akhirnya, suara perempuan itu berubah jadi ketus dan keras.
"Persoalan ini menyangkut tentang kesehatan ibuku, terpaksa aku harus tebalkan muka."
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. Berpikir demikan ia segera menerima kotak kumala itu dari tangan Giok Teng Hujin kemudian dengan sangat hati-hati menyimpannya ke dalam saku.
"Terima kasih cici!"
Serunya dengan hati kegirangan.
Giok Teng Hujin jadi serba salah dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali berdiri melongo, walaupun hatinya merasa kecewa namun perasaan tersebut tak berani diutarakan ke luar.
Hoa In tak bisa menahan diri, ia segera melangkah maju ke depan dan berseru.
"Siau Koan-jin, Teratai racun empedu api adalah racun yang tak bisa dipunahkan.... sedangkan Leng-ci berusia seribu tahun merupakan obat mujarab di kolong langit, inilah berkat perlindungan dari sukma toa ya serta, cinta kasih nona Siang, engkau harus...."
Hoa Thian-hong amat cemas, tidak menunggu perkataannya selesai diucapkan, dengan lagak tuan mudanya ia membentak dengan suara gusar.
"Teratai racun empedu api tak akan meracuni diriku sampai mati. kau tak usah berpikir yang bukan-bukan lagi, kalau berani mem-bangkang maka aku tak sudi melakukan perjalanan bersama dirimu!"
Tertegun hati Hoa In mendengar perkataan itu, tanpa terasa air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengeluh.
"Siau Koan-jin, dari keluarga Hoa tinggal sau ya seorang yang masih hidup...."
"Apa ibuku bukan orang? Apa engkau bukan orang? Bentak Hoa Thian-hong dengan gusar, sehabis berkata ia putar badan dan segera berlalu dari sana. Tertegun hati Giok Teng Hujin menyaksikan kesemuanya itu, setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tertawa lalu membisikan sesuatu kesisi telinga Hoa In. Pelayan tua itu segera mengangguk berulang kali dan buru-buru menyusul majikan mudanya. Setelah berlarian beberapa saat lamanya Hoa Thianhong berpaling, ketika dilihatnya hanya Hoa In seorang yang menyusul dirinya ia jadi tak tenang, segera tegurnya.
"Dimanakah enci Siang?"
"Nona Siang telah kembali ke kuil It-goan-koan!"
"Thian Ik-cu adalah seorang manusia yang cabul dan berhati kejam"
Pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
"lain kali kalau bertemu lagi, aku akan menasehati dirinya untuk cepat-cepat lepaskan diri dari perkumpulan Thongthian-kauw!"
Tiba-tiba terdengar Hoa In berseru.
"Siau Koan-jin, darah di atas dadamu masih mengalir terus, bagaimana baiknya?"
"Tidak menjadi soal, perlahan-lahan toh akan sembuh dengan sendirinya....!"
"Sekarang kita akan pergi kemana?"
Hoa Thian-hong berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Aku hendak mencari sesuatu tempat yang tersembunyi letaknya di sekitar sini, di samping merawat luka aku hendak berlatih ilmu pedang, sedang engkau boleh berangkat ke kota Ceng kang dan beri tahu kepada Pek Siau-thian kalau putri sulungnya Pek Soh-gie telah diculik oleh Thian Ik-cu, setelah itu pergilah mencari Cu Im taysu serta Ciong Lian-khek cianpwee, kalau bisa berangkatlah secara berombongan menuju ke gunung See thian pada tanggal limabelas nanti, aku sendiri akan langsung pergi menghadiri pertemuan Kian ciau Tay hwee tersebut!"
Dengan tenang Hoa In mendengarkan perkataannya itu hingga selesai, kemudian menggeleng dan menjawab.
"Siau Koan-jin boleh menyusun rencana lain, sekalipun budak akan dibunuh tak nanti akan kutinggalkan diri Siau Koan-jin lagi"
Perkataannya begitu tegas dan keras membuat Hoa Thian-hong jadi tertegun.
"Tapi urusan ini penting sekali...."
Serunya.
"Perduli urusan ini penting atau tidak, sekalipun budak dibunuh juga tak akan kutinggalkan Siau Koan-jin barang selangkah pun"
Hoa Thian-hong jadi amat terharu mendengar keputusan pelayan tuanya, ia tidak ingin mengecewakan hati orang itu lagi, setelah tertegun sebentar, katanya.
"Kalau begitu mari kita pergi mencari Chin Locianpwee lebih dahulu, ooh yaa.... masih ada si pahlawan tua berkerudung itu, kitapun harus saling berkenalan"
Yang dipikirkan Hoa In adalah jangan sampai berpisah dari sisi majikan mudanya, tentang soal lain dia tidak menaruh perhatian.
Begitulah setelah mengambil keputusan maka berangkatlah kedua orang itu dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, ketika tengah hari sudah lewat racun teratai dalam tubuh Hoa Thian-hong pun tenggelam kembali ke dasar pusar, tetapi karena terlalu banyak darah yang mengalir keluar, wajahnya kelihatan lesu dan layu.
Beberapa waktu kemudian, sampailah kedua orang itu diluar sebuah kota.
Hoa Thian-hong menghentikan langkah kakinya, sambil menghembuskan napas panjang katanya.
"Aku sudah lelah sekali, mari kita bersantap sambil beristirahat sebentar!"
"Leng-ci berusia seribu tahun itu adalah satu benda yang mujarab sekali, cuma dicium saja sudah mendatangkan manfaat yang besar.... Siau Koan-jin! Kalau badanmu merasa kurang enak, ciumlah beberapa kali agar kesehatanmu segar kembali!!"
Hoa Thian-hong menggeleng.
"Benda mustika akan memancing keserakahan orang, benda itu mempunyai hubungan yang erat sekali dengan diriku, mulai hari iui janganlah sekali-kali kau sebut lagi tentang obat itu, kalau sampai kabar ini bocor di tempat luaran.... waah! bakal banyak kerepotan yang akan kita jumpai"
Hoa In menyanggupinya tanpa membantah maka masuklah kedua orang itu ke dalam sebuah rumah makan dan bersantap sampai kenyang.
Baru saja mereka selesai bersantap, tiba-tiba dari luar rumah makan berkumandang datang suara seseorang yang serak dan tak aneh didengar sedang berkata.
"Seng sam ko, kita harus mencari satu akal untuk menyingkirkan nenek tua itu, kita musti lihat macam apa sih goa malaikat yang dia katakan hebat itu...."
Hoa Thian-hong merasa suara itu sangat dikenal olehnya, ia segera menengadah ke atas dan memandang ke depan....
tapi sebentar saja ia telah berdiri tertegun.
Rupanya dari luar rumah makan telah muncul tiga orang jago.
ketika mereka bertiga menjumpai Hoa Thianhong pun berada disitu orang-orang itu nampak melengak dan ragu-ragu untuk masuk ke dalam ruangan.
Kiranya tiga orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah jago-jago lihay dari perkumpulan Hongg In Hwee, salah satu diantaranya berpotongan hwesio dengan badan yang gemuk bulat, dia bukan lain adalah Seng Sam Hau, orang yang barusan bicara adalah seorang pria berbadan pendek, sedang orang ketiga berbadan tinggi kurus dengan muka hijau menyeramkan, dia bukan lain adalah Siang Kiat.
Orang ini mempunyai saudara bernama Siang Hau, ketika melancarkan serangan bokongan dengan ilmu cakar walangnya sewaktu berada di rumah makan Kie ing loo di kota Cho ciu tempo hari, telah menemui ajal nya di tangan Hoa Thian-hong.
Dalam pada itu si anak muda tersebut pun diam-diam berpikir setelah menyaksikan kehadiran ketiga orang itu.
"Ketiga orang itu masih bukan tandingan dari Hoa In, aku benar-benar sudah teramat payah.... aaai....! Segala macam kurcaci macam dia, lebih baik dilepaskan saja!"
Berpikir demikian ia segera memberi tanda kepada Hoa In kemudian bangkit tinggalkan tempat duduknya.
Pemuda itu segan mencari gara-gara, pada dasarnya ia sudah bersantap kenyang dan hendak berlalu maka tanpa banyak bicara pemuda itu berjalan menuju keluar.
Hoa In tak tahu maksud hati majikannya melihat ia bangkit dan berlalu pelayan tua ini segera menyambar pedang bajanya dan mengikuti dengan langkah lebar.
Waktu itu Seng Sam Hau bertiga masih berdiri di depan pintu, ketika menyaksikan kemunculan Hoa In mereka jadi terperanjat tanpa banyak bicara ketiga orang itu segera loncat mundur ke belakang dan berdiri di tengah jalan raya.
Hoa In tertegun, dengan langkah lebar ia berjalan keluar dari ruang rumah makan, setelah menyorenkan pedang bajanya di atas punggung, ia menegur dengan suara dingin.
"Hmm! Mau turun tangan? Majulah bertiga.... daripada aku musti buang waktu dan tenaga dengan percuma"
Dengan Cepat ketiga orang itu saling bertukar pandangan sekejap, tiba-tiba Seng Sam Hau tertawa terbahak-bahak.
"Haaah haaah....Hoa In, kau benar-benar ingin bertarung....?"
Serunya. Hoa In tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.
"Ciong Lian-khek toako apakah masih berada di dalam perkumpulanmu?"
"Ciong Lian-khek telah dibunuh oleh sam ko kami,"
Jawab Seng Sam H&u, ketika dilihatnya dada dan kaki si anak muda itu penuh dengan darah berwarna hijau, ia jadi curiga, tegurnya lebih jauh.
"Hoa Thian-hong, siapa yang melukai dirimu hingga menjadi begitu rupa....?"
Hoa Thian-hong mendengus dingin pikirnya.
"Perkataan orang ini ngawur dan tidak katuan, kalau dilihat keadaannya yang tidak tenang rupanya ada satu kejadian sedang ber langsung...."
Dalam hati ia herpikir demikian, sedang diluaran ia segera bertanya.
"Dimana Cia Kim? dan Jien Tang-kee kalian kini berada dimana?"
Jejak dari Cong-Tang-kee kami tidak jelas sebaliknya Cia Samko berada di sekitar tempat ini, kalau kau punya nyali, ayoh ikut kami pergi kesitu...."
Teriak Seng Sam Hau dengan mata melotot. Hoa Thian-hong tertawa, ia ulapkano tangannya dan berseru.
"Bawa jalan, kalau Cia Kim tidak berhasil ditemukan....Hmm! akan kusuruh engkau rasakan kelihayanku!"
Seng Sam Hau mendengus dingin, dia ulapkan tangannya dan segera berangkat lebih dahulu.
Siang Kiat serta pria pendek itu buru-buru menyusul di belakang rekannya, Hoa Thian-hong pun menggape ke arah Hoa In kemudian mengikuti di belakang ketiga orang itu.
Sebentar saja mereka sudah keluar dari kota itu dan berlarian menuju ke arah selatan.
"Siau Koan-jin, permainan setan apa yang sedang dilakukan bajingan itu....?"
Tanya Hoa In dengan wajah bingung. Hoa Thian-hong tertawa.
"Seng Sam Hau adalah seorang hweesio yang tidak pantaDg arak dan daging, sudah terlalu banyak perbuatan jahat yang dia lakukan, tadi ia ketakutan karena mengira kau hendak turun tangan.... dalam keadaan begini tak mungkin dia bisa bermain setan...."
"Tadi mereka membicarakan tentang gua malaikat dan nenek tua.... permainan apa pula yang sedang berlangsung?"
"Ikuti saja jejak mereka! Sekarang adalah saatnya banyak urusan, mereka bisa berkeliaran di tempat luaran itu berarti bahwa orang-orang itu sedang melakukan tugas!"
Sementara itu Seng San Hau sekalian yang menyaksikan Hoa Thian-hong berdua menguntil terus di belakang mereka, buru-buru mem percepat larinya dan berbelok ke tempat yang terpencil kemudian menuju kederetan bukit disebelah Barat daya.
Setengah jam sudah lewat, namun mereka masih juga berlarian di tempat yang sunyi itu....
lama sekali belum sampai juga di tempat tujuan, baru saja Hoa Thian-hong merasa curiga, tiba-tiba Hoa In menuding ke depan sambil berteriak.
"Siau Koan-jin, coba lihat! disana ada orang sedang bertempur....!"
Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya kemuka, tampaklah dihadapan mereka terbentang dua buah bukit yang dipisahkan oleh sebuah jurang, di atas jurang terbentang sebuah jembatan batu yang luasnya beberapa depa tapi terpatah-patah, dua orang nenek tua berambut putih duduk berhadapan muka di tengah jembatan batu itu.
pukulan demi pukulan dilancarkan tiada hentinya satu sama lain....
pertarungan sedang mencapai pada keadaan yang amat seru.
Sementara itu Seng Sam Hau bertiga telah tiba di ujung jalan, dikedua belah sisi jurang, tampaklah serombongan jago sedang menyaksikan jalannya pertarungan itu.
Orang pertama yang kelihatan paling menonjol adalah seorang kakek tua berwajah persegi dengah mata yang gede dan alis yang tebal, dia adalah Tang-kee kedua dari perkumpulan Hong-im-hwie yakni Cu Goan-khek, di samping itu nampak delapan sembilan orang jago mengerubungi di sekitarnya, kebanyakan terdiri, dari jago-jago lihay perkumpulan Hong In Im Hwee.
Diantara mereka bukan saja tidak nampak Jin Hian, bahkan malaikat berlengan delapan Cia Kim pun tidak kelihatan batang hi dungnya.
Setibanya ditepi jurang, Hoa Thian-hong saling menyapa sekejap dengan Cu Goan-khek kemudian seluruh perhatiannya terhisap oleh jalannya pertarungan yang sedang berlangsung di atas jembatan batu itu.
Kiranya telapak kiri kedua orang nenek tua itu telah saling menempel satu sama lainnya beradu tenaga dalam, sementara tangan kanannya yang bebas secara beruntun melancarkan serangan-serangan dahsyat dengan tujuan untuk merobohkan, pelbagai jurus ampuh yang lihay dan aneh dilancairkan tiada hentinya kedua belah pihak berusaha untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan.
"Nenek tua yang duduk disebelah sana adalah seorang nenek buta.
"tiba-tiba Hoa In berbisik dengan suara lirih,"
Semua orang menyebut dirinya sebagai nenek dewa bermata buta, ia merupakan salah seorang tulang punggung dari perkumpulan Hong-im-hwie, bukan saja nenek ini berhati kejam dan telengas sekali bahkan hatinya sangat licik dan banyak akal, bila Siau Koan-jin bertemu dengan orang itu di kemudian hari, engkau harus berhati-hati sekali"
Hoa Thian-hong mengangguk.
"Nenek tua baju abu-abu yang duduk dihadapannya pernah kutemui,"
Katanya, separuh bagian kitab catatan Ci yu jit ciat milIk-cu locianpwee telah dirampas olehnya.
"Oooh....! dia bernama Tio Tiang Geng"
Ujar Hoa In dengan nada tercengang hubungannya dengan ibu majikan tidak jelek, sepantasnya ia tidak mungkin akan merampas kitab pusaka ilmu silat milikku!"
Teringat akan gaplokan yang pernah diterima olehnya, Hoa Thian-hong berseru gelagapan.
"Oooh.... mungkin saja ia hanya bergurau!"
Tiba-tiba dari dinding bukit sebelah depan berkumandang datang suara rentakan seorang perempuan dengan nada yang rendah tapi berat.
"Tio Sam kau, tak usah bertempur lagi, biarkan dia datang kemari!"
Perkataan itu seolah mendengung keluar dari balik awan membuat orang tak bisa menebak dengan tepat berasal dari manakah suara tadi, Hoa Thian-hong jadi tercengang dan keheranan, sepasang matanya dipentang lebar-lebar dan mengawasi dinding tebing disebelah depan sana tanpa berkedip.
Terdengar nenek baju abu-abu Tio Tiang Geng berseru.
"Nenek buta sudah dengar belum?"
Sambil berkata tangan kanannya melancarkan beberapa serangan, telapak kirinya tiba-tiba digetarkan dan tubuhnya laksana kilat meloncat pergi dari atas jembatan batu itu.
Nenek dewa bermata buta ikut bangkit berdiri, sambil memegang sebuah bambu ramping berwarna hijau yang panjangnya empat depa dengan besar sepertiga jari kelingking, perlahan-lahan ia maju ke depan, katanya.
"Tio Tiang Geng sekalipun ada malaikat yang bertindak sebagai tulang punggungmu, ini kali aku si nenek buta tetap akan mencabut selembar jiwamu."
"llmu silat yang dimiliki kedua orang ini boleh dibilang sudah mencapai taraf yang luar biasa sekali pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, sekalipun ada orang yang memiiiki kepandaian silat lebih lihaypun aku rasa tak akan lebih lihay berapa banyak!"
Sementara ia masih termenung, nenek buta itu sudah melewati jembatan batu dan tiba ditepi seberang saja, Cu Goan-khek sekalian buru-buru loncat naik pula ke atas jembatan batu itu.
"Cepat ikut menyeberang kesitu!"
Serunya kemudian kepada Hoa In.
"ayoh kita tengok apa yang telah terjadi di tempat itu!"
Sambil berkata ia loncat lebih dahulu ke atas jembatan dan buru-buru lari ke depan.
Dengan perasaan ingin tahu, Hoa Thian-hong bagaikan sambaran kilat cepatnya menerjang lebih dahulu ke atas jembatan batu itu.
Hoa In dengan kencang menyusul di belakang majikan mudanya, dengan demikian maka Seng Sam Hau sekalian yang menyeberang lebih dahulu telah tiba ditepi seberang jauh lebih lambat daripada pemuda itu berdua.
Sementara itu dengan bambu kecil ditangannya sebagai pencari jalan, dengan gerakan yang amat gesit nenek buta itu sudah berada dua tiga tombak tingginya dari permukaan tanah, tubuhnya bergerak terus naik ke atas puncak bukit itu tanpa berhenti barang sekejappun.
0000O0000 Hoa Thian-hong amat terperanjat melihat kegesitan orang itu, pikirnya dalam hati, Nenek buta itu bisa mendaki ke atas gunung yang licin bagaikan berjalan ditanah datar belaka, ia betul-betul luar biasa sekali, ka lau orang tidak tahu tentu tak akan percaya kalau dia adalah seorang nenek buta...."
Bukit itu tingginya mencapai seratus tombak, kurang lebih belasan tombak dari puncak bukit tersebut terdapat sebuah gua karang, perkataan yang berkumandang di angkasa barusan bukan lain berasal dari balik gua itu, rupanya nenek buta itu mengandalkan ketajaman pendengarannya untuk menentukan arah yang benar.
Jilid 25 . Oh Ibu..akhirnya bertemu lagi TAMPAKLAH bambu kecil ditangan-nya bergetar tiada hentinya, dalam waktu singkat ia sudah berada di depan mulut gua.
"Nenek tua!"
Tiba-tiba Tio Sam-koh membentak keras.
"cepat hentikan langkahmu, daripada mencari penyakit buat diri sendiri!"
Agaknya ilmu meringankan tubuh yang di miliki nenek baju abu-abu ini jauh di atas nenek buta, sebelum orang lain menyadari apa yang telah terjadi tahu-tahu ia sudah berada di hadapan lawannya.
Nenek buta itu tidak menggubris bentakan orang, sambil bersuit nyaring, ia jejakkan kakinya ke atas tanah dan menerjang masuk ke dalam gua karang itu....
Tio Sam-koh sendiri meskipun buka suara memberi peringatan, akan tetapi tubuhnya tetap berdiri ditepi gua dan sama sekali tidak menghalangi perbuatan orang itu.
Hoa Thian-hong yang berdiri kurang lebih puluhan tombak dari mulut gua itu segera pusatkan perhatian ke arah depan setelah melihat kejadian itu, dia ingin tahu manusia macam apakah yang bersembunyi di dalam gua itu.
Baru saja nenek dewa bermata buta menerjang masuk kemulut gua, mendadak suitan tajamnya itu terhenti sampai di tengah jalan, te lapak kirinya diayun dan mengirim satu pukulan ke arah dalam gua.
Jeritan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, tiba-tiba bambu kecil yang dipegang di tangan kanannya terlepas dari cekalan, sementara tubuhnya terlempar ke belakang dan jatuh terguling dari atas bukit curam itu.
Peristiwa tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian aneh yang sukar dipercayai orang, dengan tenaga lweekang yang dimiliki nenek dewa bermata buta dari peikumpulan Hong-im-hwie ternyata tak sanggup mempertahankan diri terhadap sebuah pukulan dahsyat dari orang lain, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa jago lihay yang berada di dalam gua merupakan seorang tokoh silat yang maha dahsyat.
Semua orang saling pandang dengan mata terbelalak, sementara nenek buta itu dengan baju yang koyak dan kulit robek tersayat batu tajam, menggelinding terus sampai di bawah bukit, keadaannya mengenaskan sekali dan nenek itu ketika jatuh tak sadarkan diri.
Hoa Thian-hong berdiri dipaling depan, sebagai seorang jago Bulim yang berhati mulia, meskipun tahu bahwa nenek buta adalah musuh tadi ia merasa tak tega membiarkan badannya tersayat hancur, buru-buru telapaknya diayun ke depan melancarkan sebuah pukulan angin lunak, dengan demikian tertahanlah tubuh nenek buta itu sehingga tidak sampai terbanting di bawah jurang.
Sreeet....!sreeet....!
Cu Goan-khek serta seorang kakek baju hijau bersama-sama loncat maju ke depan, mereka segera membangunkan tubuh nenek buta itu dari atas tanah.
Kakek baju hijau itu memeriksa sebentar denyutan nada si nenek buta, lalu ujarnya.
"Jiko, Sian poo terpukul oleh segulung hawa pukulan yang maha dahsyat sehingga napasnya tersumbat...."
Dengan air muka hijau membesi, Cu Goan-khek mengangguk, buru-buru ia gerakkan tangannya menguruti seluruh jalan darah dan nadi penting di tubuh nenek buta itu.
Tio Sam-koh yang selama ini hanya berdiri saja di depan gua, tiba-tiba menyambar bambu kecil berwarna hijau milik nenek buta itu, sambil diayun kemuka, bentaknya.
"Cu Goan-khek! ayoh cepat enyah dari tempat ini.... kalau sampai menggunakan hati aku si nenek tua....Hmm! akan kuusir kalian kawanan bajingan tengiK dari tempat ini!"
Cu Goan-khek menengadah ke atas dan memandang sekejap ke arah Tio Sam-koh dengan pandangan dingin, sementara dalam hati sumpahnya.
"Setan tua.... Hmmm! Sekarang engkau bisa berlagak, suatu hari kalau terjatuh ketanganku.... Heeeh heeeh heeeh.... lihatlah sampai di manakah kelihaian ji-ya mu...."
Walaupun makian itu cukup tajam dan pedas namun tak sampai diutarakan keluar. Lain halnya dengan Seng Sam Hau yang berwatak berangasan, dengan mata melotot dan wajah penuh hawa pembunuhan teriaknya.
"Nenek edan, kau musti tahu bahwa saudara dari Hong-im-hwie bukanlah manusia yang gampang dihina, Hmm.... hati-hati dengan mulutmu itu, kalau sampai nanti salah bicara. Tio Sam Kau adalah jago tua yang berwatak berangasan pula, ibaratnya jahe, semakin tua semakin pedas, mendengar ucapan itu ia naik pitam, teriaknya pula.
"Bajingan tengik kenapa kalau sampai salah bicara?"
Bambu hijau dalam genggaman tangannya langsung dibabat ke arah depan.
Bambu kecil itu tersohor sebagai bambu mustika dari negeri Thiam tok (India), dan merupakan senjata andalan dari nenek dewa bermata buta selama berkelana dalam dunia persilatan, walaupun sepintas lalu kelihatannya kecil dan lunak namun dalam kenyataannya kuat dan keras sekali, bambu itu merupakan sejenis senjata yang sangat lihay.
Babatan yang dilancarkan Tio Sam-koh ini membawa desiran angin tajam yang amat membisingkan pendengaran, bayangan hijau berlapis-lapis dan dengan cepat menyelimuti daerah seluas beberapa depa disekeling tempat itu.
Seng Sam Hau tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang secara begitu hebat, menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat ia menjadi keder dan buru-buru melompat mundur ke belakang.
Bluuuk....!
dengan telak bambu mustika dari negeri Thiam tok itu bersarang di atas punggUng Seng Sam Hau yang lebar, hwesio gede itu menjerit kesakitan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Untung Thio Sam-koh tidak menguasai sifat-sifat dari bambu mustika itu, sehingga tenaganya tidak sampai dipergunakan tepat pada waktunya, kalau tidak tulang punggung hwesio, gede she Seng ini tentu akan patah jadi beberapa bagian.
Para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie jadi amat gusar menyaksikan peristiwa itu, bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, masing-masing orang mencabut senjatanya dan terjun ke dalam gelanggang pertarungan, Dalam sekejap mata lima orang pria telah mengepung Tio Sam-koh rapat-rapat, pertempuran sengitpun dengan cepat berlangsung di atas bukit yang tidak rata itu, deruan angin tajam bentakan nyaring berkumandang silih berganti.
Hoa Thian-hong mengikuti jalannya pertarungan itu, diam-diam merasa kagum, ia tak menyangka kalau Tio Sam-koh begitu ampuh meskipun harus menghadapi kerubutan lima orang jago lihay, pikirnya.
"Nenek tua ini benar-benar merupakan seorang panglima angkatan perang yang tangguh, seandainya ilmu silat yang dimiliki dewa pelancongan Cu Tong serta Cu Im taysu sekalian serta beberapa orang sederajat dengan ilmu silatnya, maka pihak kami tak usah jeri untuk menghadapi tiga besar dari dunia persilatan...."
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa timbullah kesan yang baik dan mendalam terhadap nenek baju abu-abu yang pernah menghadiahkan sebuah gaplokan kepadanya itu, kepada Hoa In segera pesannya.
"Berjaga-jagalah di samping arena dengan waspada, andaikata nenek tua itu menunjukkan tanda kewalahan, segera terjun ke dalam gelangang dan bantulah dirinya"
"Siau Koan-jin akan pergi kemana?"
"Aku hendak menengok sebentar ke atas"
Sambil berjalan ia menuju ke arah gua.
"Hoa Thian-hong!"
Tiba-tiba Tio Sam-koh membentak dengan suara keras.
"kau sudah bosan hidup?"
Pemuda itu tersenyum.
"Nenek gagah dan tangguh sekali, boanpwee merasa amat kagum!"
Serunya. Tio Sam-koh semakin naik pitam, teriaknya.
"Siapa suruh kau sanjung diriku? Bila kau berani masuk ke dalam gua itu, maka nenek buta adalah contoh yang paling tepat!"
Rupanya nenek itu gelisah sekali, karena harus pecahkan perhatian untuk berbicara maka seketika itu juga ia terjepit dan menjumpai bahaya Hoa In sendiripun tahu bahwa dalam goa tersebut bersemayam seorang tokoh sakti yang berkepandaian tinggi, sebelum teman atau musuh bisa ditetapkan, ia tak ingin membiarkan Hoa Thian-hong menempuh bahaya, buru-buru serunya.
"Tio Lo thay adalah angkatan tua yang harus kita hormati, Siau Koan-jin kau harus turuti perkataannya"
Hoa Thian-hong tertawa.
"Hati-hatilah berjaga-jaga disitu, tak usah banyak urusi persoalanku...."
Ia loncat kemuka dan melayang turun di luar gua.
Walaupun nyalinya besar, tetapi setelah menyaksikan keadaan dari nenek buta yang terlempar keluar dari gua dalam keadaan luka parah sebelum melangkah masuk ke tempat itu, Hoa Thian-hong sadar bahwa orang di dalam goa itu lihay sekali.
Dengan pandangan tajam ditatapnya lebih dahulu suasana dalam gua karang itu.
Mulut gua luasnya hanya enam depa, suasana gelap gulita ibaratnya sumur yang tak nampak dasarnya, lama sekali pemuda itu melongok ke dalam namun tak suatu apapun yang terlihat.
Dalam keadaan begini timbullah rasa ingin tahu dalam hatinya, ia semakin bernafsu untuk menyelidikinya.
"Hoa Thian-hong!"
Kembali Thio Sam-koh membentak dengan keras.
"cepat mundur ke belakang, kalau tidak akan kuberitahukan kepada ibumu kalau engkau tak mau dengarkan nasehat angkatan yang lebih tua.... Hmm! waktu itu sepasang kakimu tentu akan digebuk sampai kutung!"
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa geli, pikirnya.
"Asal aku bisa bertemu dengan ibu, sekalipun bakal digebuk juga tak menjadi soal"
Berpikir demikian dengan wajah serius ia segera memberi hormat ke arah gua yang gelap gulita itu, serunya dengan lantang.
"Cianpwee darimanakah yang berada di dalam gua? Aku yang rendah Hoa Thian-hong mohon bertemu"
Ditunggunya beberapa saat tapi suasana dalam gua tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Hoa Thian-hong jadi sangsi, pikirnya.
"Kalau dilihat dari keadaan ini, semestinya berarti orang itu tak mau berjumpa dengan aku!"
Kendati ia berpengalaman namun usianya yang masih muda membuat pemuda itu tak terima kalau sudah persoalan itu sampai di situ saja, dengan memberanikan diri ia maju beberapa langkah lagi ke depan, lalu menjura dan berseru.
"Cianpwee yang berada dalam gua, maafkanlah diriku bila hamba terpaksa harus masuk sendiri kedalam"
Selesai berkata ia langsung berjalan menuju ke dalam gua.
Tiba-tiba terdengar Tio Sam-koh membentak gusar, begitu keras suaranya sampai mengejutkan hati Hoa Thian-hong, ia menghentikan langkahnya dan segera berpaling ke belakang.
Tampaklah Tio Sam-koh sambil meraung gusar, bambu mustika dari negeri Thiam tok itu diputar dan dibabat secara ngawur, serangan yang dilancarkan tanpa memakai aturan ini seketika menggusarkan jago Hongim-hwie yang berada disekeliling itu, mereka sama-sama mencabut senjata dan segera meluruk ke depan.
Hoa In jadi gelisah menyaksikan permainan bambu dari nenek tua itu bertambah kalut, teriaknya.
"Tio Loo thay, tenangkan hatimu dan bertempurlah dengan pikiran yang mantap...."
Simbil tertawa telapaknya segera disodok kemuka melancarkan satu pukulan dahsyat.
"Tua bangka!"
Tiba-tiba Tio Sam-koh berteriak.
Baca Juga: Bangau Sakti 30
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana 1